Ruang Baca Karya SH Mintardja

Pengantar

Blog ini dibuka sebagai bagian untuk menyebarkan “virus” cerita silat dari bumi sendiri yang dituturkan oleh Almarhum Singgih Hadi Mihardja (SH. Mintadja). Biodata beliau bisa dilihat di sini. Kita tidak membahas biodata beliau tetapi, ingin menyebarkan karya beliau yang banyak dicari oleh para penggemar pada masanya, baik pembaca di Harian Kedaulatan Rakyat (KR) dan Bernas, maupun melalui buku-buku yang diterbitkan oleh berbagai media, Kedaulatan Rakyat, Panuluh atau Muria. Sedangkan buku-buku tersebut sudah mulai langka karena sudah mulai rusak dan tidak dicetak ulang kembali.

SH Mintardja dikabarkan telah menulis lebih dari 400 buku. Cerita berseri terpanjangnya adalah  Api di Bukit Menoreh yang terdiri dari 396 buku. Berikut ini daftar beberapa karya sang pengarang itu:

  1. Pelangi di Langit Singasari (79 jilid)
  2. Sepasang Ular Naga di satu Sarang (37 jilid)
  3. Panasnya Bunga Mekar (31 jilid)
  4. Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan (118 jilid)
  5. Api di Bukit Menoreh (396 jilid)
  6. Tanah Warisan (8 jilid)
  7. Matahari Esok Pagi (15 jilid)
  8. Meraba Matahari (9 jilid)
  9. Suramnya Bayang-bayang (34 jilid)
  10. Sayap-sayap Terkembang (67 jilid)
  11. Istana yang Suram (14 jilid)
  12. Nagasasra Sabukinten (29 jilid)
  13. Bunga di Batu Karang (14 jilid)
  14. Yang Terasing (13 jilid)
  15. Mata Air di Bayangan Bukit (23 jilid)
  16. Kembang Kecubung (6 jilid)
  17. Jejak di Balik Kabut (40 jilid)
  18. Tembang Tantangan (24 jilid)
  19. Arya Manggada (30 jilid)
  20. dll (belum punya datanya)

Belum ada data mana yang paling dulu, dan mana yang terakhir. Tetapi, melihat beberapa judul yang tidak sampai berakhir dengan semestinya ada beberapa yang overlap dan sama-sama tidak berakhir sampai akhir hayat beliau. Seperti pendekar yang diceritakannya, yang bangga kalau mati dalam perang, beliau juga meinggal pada saat bukunya belum selesai (menurut pikiran kita) karena berakhir menggantung.

Sudah banyak blog yang mengupload dalam bentuk ebook maupun ditempel di halaman, semakin baik karena “virus” yang dikembangkan dapat beranak-pinak.

Ada beberapa website yang mengunggah “pertama” kalinya karya-karya adiluhung Almarhum SH Mintardja, dalam format dejavu (djvu) diantaranya adalah: http://adbmcadangan.wordpress.com (Api di Bukit Menoreh) yang dipandegani oleh Ki GD dan Nyi Senopati,  http://pelangisingosari. wordpress.com (Pelangi di Langit Singasari),yang dipandegani oleh Ki Arema dan P. Satpamnya;  http://cersilindonesia.wordpress.com (Mata Air di Bayangan Bukit, Bunga di Batu Karang, Matahari Esok Pagi, dan tembang Tantangan) yang dipandegani oleh Ki Ismoyo dan di facebook group yang dipandegani oleh Ki Laz, Ki Zaki dan Ki Sukra (Suramnya bayang-bayang, Sayap-sayap Terkembang, Jejak di Balik Kabut, Kembang Kecubung, Meraba Matahari, dan Yang Terasing).

Wedaran dalam format dejavu (djvu) telah dikonversi ke berbagai format dan sekarang diupload dimana-mana. Satu lagi disediakan untuk menjadi taman bacaan sanak-kadang yang sedang iseng dan ingin menikmati karya almarhum SH Mintardja di sini. Selama kuota masih belum penuh (3GB) akan diupload satu persatu dimulai dari Seri Pelangi di Langit Singosari, Nagasasra & Sabukinten, Api di Bukit Menoreh, dst.

Khusus Seri Pelangi di Langit Singosari, naskah ini dipindahkan dari tempat aslinya http://pelangisingosari.wordpress.com yang mulai kelebihan memori sehingga menyulitkan upload naskah baru. Api di Bukit Menoreh dipindahkan dengan sedikit editing dari http://adbmcadangan.wordpress.com. Yang lain dicomot sana-sini, khususnya dari website Nyi DewiKZ di http://kangzusi.com.

Terimakasih kepada:

  1. Ki GD (dan Nyi Senopati) yang telah menyediakan blog  ADBM di adbmcadangan.wordpress.com, Ki Ismoyo yang telah menyediakan blog gagakseta di cersilindonesia.wordpress.com, Nyi DewiKZ yang menyediakan kangzusi.com (dkk).
  2. sanak-kadang yang telah bersusah payah konversi dari djvu ke doc/docx sehingga naskahnya bisa diupload disini:
    1. ADBM (kerja keroyokan Ki Prastawa, Ki Abu Gaza, Ki Sugita, Ki Sarip Tambak Oso, Mahesa, Ki Kuncung, Ki Raharga, Ki Arema, Ki Ajargurawa, K4ng tOmmy, dll saya tidak hafal, maaf…)
    2. Pelangi di Langit Singasari; Pasukan Retype: Ki Raharga, Ki Sunda,Ki Sukasasrana dan Dewi KZ; pasukan proofing/editing: Ki Raharga, Ki Sunda, Ki Hartono, Ki Wijil/Wiek, dan Ki Mahesa
    3. Sepasang Ular Naga di satu Sarang, pasukan retype: Ki Mahesa, Ki Ayasdewe, dan Ki Sunda; pasukan proofing/editing: Ki Mahesa, Ki Ayasdewe, dan Ki Sunda
    4. Panasnya Bunga Mekar, convert/proofing/editing; Nyi Dewi KZ dan Ki Banuaji
    5. Hijaunya Lembah dan Hijaunya Lereng Pegunungan,  convert/proofing/editing: Ki Raharga, Ki Dino, Nyi Dewi KZ.
    6. lain-lain: sanak-kadang yang melakukan convert/proofing/editing di website Tirai Kasih yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Selamat menikmati.

Malang, Maret 2011

Arema

————————————————————————————————————

Alamat kontak: pelangisingosari@gmail.com

AM_MR-04

Serial ARYA MANGGADA

Episode II: MAS RARA

JILID 4

kembali | lanjut

AMMR-04“AKU juga mohon diri“ sambung Wirantana, “aku akan kembali menjemput ayah dan ibuku. Sebelum sepekan mereka harus sudah berada di padukuhan ini”

“Baiklah anak-anak muda“ berkata pemimpin prajurit itu, “kami akan menyampaikannya kepada Raden Panji”

Sepeninggal para prajurit itu, Manggada berdesis, “Untuk menyampaikan hadiah seperti ini, kenapa harus sekelompok prajurit. Bukankah satu atau dua orang saja sudah cukup?“

“Satu kehormatan“ desis Wirantana, “bukankah dengan demikian kalian cukup dihormati disini, sehingga untuk menyerahkan hadiah yang tidak berarti itu telah dilakukan oleh sekelompok prajurit?“

“Kami memang tidak pernah memikirkan hadiah. Karena itu, kami tidak memikirkan apakah hadiah itu benilai atau tidak” desis Manggada.

“Justru karena itu“ berkata Wirantana, “justru karena hadiahnya tidak bernilai, maka ada nilai yang lain yang diberikan kepada kalian. Satu penghormatan”

Manggada mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa sambil berkata, “Nilai-nilai yang sulit aku dapatkan di tempat lain”

Ketiga anak muda itu pun tertawa. Namun hati mereka terasa seperti disentuh ujung duri. Mereka merasa betapa perlakuan yang diberikan oleh Raden Panji itu benar-benar menyakiti hati mereka. Terutama Manggada dan Laksana. Namun demikian Manggada juga merasa gelisah karena adiknya yang tentu merasa sangat gelisah pula. Wirantana sudah membayangkan bahwa menjadi isteri Raden Panji bukannya satu peristiwa yang bernilai tinggi, tetapi justru akan merupakan satu penderitaan yang panjang. Apalagi Mas Rara adalah isteri Raden Panji yang keenam. Ia akan menjadi endapan kepahitan hidup kelima isteri Raden Panji sebelumnya.

Namun tiba-tiba terbersit satu pertanyaan, “Apakah aku akan membiarkan penderitaan itu berkepanjangan?“

Wirantana menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, ketiga anak muda itu pun telah berada di dalam biliknya. Laksana sempat membaringkan diri dipembaringan, sementara Manggada dan Wirantana duduk diamben bambu sambil merenung.

Sementara itu maka senja pun menjadi semakin gelap. Lampu telah dinyalakan dimana-mana. Di gandok itu pun lampu telah dinyalakan pula.

“Aku akan berbicara dengan sais dan pembantunya itu“ berkata Wirantana.

Manggada dan laksana mengangguk. Dengan nada datar Manggada berkata, “Aku akan segera tidur agar besok aku dapat bangun dini hari”

Wirantana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukankah kita menunggu makan malam?“

Manggada tidak menjawab. Ia duduk sambil tersenyum, sementara Laksana masih saja berbaring. Sekali-sekali matanya justru terpejam meskipun ia tidak ingin segera tidur.

Kepada kedua orang yang melayani pedati berkuda itu Wirantana sudah berpesan, agar pedati itu dipersiapkan. Mereka akan berangkat menjelang fajar.

“Kita tinggal berangkat“ berkata seorang diantara mereka, “segalanya sudah siap”

“Baiklah“ berkata Wirantana, “besok kita berangkat sebelum padukuhan ini terbangun. Kita berangkat bersama-sama dengan Manggada dan Laksana meskipun tujuan kita berbeda”

“Kedua orang anak itu akan pergi kemana?“ bertanya seorang yang lain.

“Mereka memang sedang mengembara. Mungkin mereka akan pergi ke Pajang“ jawab Wirantana.

Demikian maka Wirantana pun telah meninggalkan kedua orang itu. Sementara itu, kedua orang itu memang sudah menyiapkan segala-galanya. Bahkan senjata mereka pun telah mereka siapkan.

Ketika Wirantana kembali ke gandok ternyata makan malam bagi mereka telah dipersiapkan.

Setelah makan malam maka rasa-rasanya udara menjadi panas sehingga bertiga anak-anak muda itu justru duduk-duduk diserambi yang udaranya terasa lebih sejuk.

Namun mereka tidak terlalu lama berada diserambi. Halaman rumah itu nampak terlalu sepi. Meskipun ada dua orang prajurit yang berjaga, juga diregol dan lima orang yang lain berada di gardu meskipun dua orang diantaranya sudah berbaring karena mendapat giliran tidur disore hari, namun suasananya terasa sangat lengang.

Malam yang menjadi semakin dalam telah membuat ketiga orang itu mulai mengantuk. Tetapi rasa-rasanya mereka masih belum puas berbicara justru disaat terakhir mereka sempat melakukannya. Besok mereka sudah akan berpisah.

Tanpa mereka sadari, maka mereka telah berbicara kian kemari, termasuk membicarakan sifat-sifat Raden Panji serta kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas Mas Rara.

Namun akhirnya mereka memang menjadi mengantuk sekali menjelang tengah malam. Karena itu, maka Wirantana pun berkata, “Baiklah. Kita akan beristirahat sekarang. Besok menjelang fajar kita akan bersiap”

Manggada dan Laksana pun mengangguk-angguk. Dengan nada rendah agak tertelan Manggada berkata, “Aku juga sudah mengantuk”

Demikianlah, maka ketiga orang anak muda itu pun telah membaringkan dirinya di pembaringan. Sekali-sekali mereka menguap dan menggosok mata mereka. Memang terasa sayang sekali bahwa mereka akan melewatkan saat-saat terakhir mereka bertemu hanya untuk tidur. Namun mereka tidak dapat mengelak.

Tetapi ketika mata mereka telah terpejam, maka ketiga anak muda itu telah dikejutkan oleh pembicaraan yang terjadi di halaman. Tidak terlalu keras. Namun nampaknya bersungguh-sungguh.

“Aku mengemban tugas dari Raden Panji” terdengar suara yang berat.

 

“Apakah kau membawa pertanda perintah itu?“ bertanya suara yang lain.

“Ada“ jawab orang yang pertama.

Wirantana memang sangat tertarik oleh pembicaraan itu. Iapun segera bangkit, memadamkan lampu dan dengan sangat berhati-hati membuka pintu bilik gandok.

Manggada dan Laksana pun telah ikut pula mengintip dari sela-sela pintu bilik gandok itu. Mereka melihat dua orang yang berdiri dihadapan salah seorang dari para prajurit yang bertugas, bahkan agaknya pemimpin kelompoknya. Sementara dua orang prajaurit yang lain, yang sudah bersiap-siap untuk beristirahat setelah tugasnya di regol digantikan oleh dua orang kawannya, berdiri termangu-mangu didepan gardu.

Ketiga orang anak muda itu melihat salah seorang dari kedua orang yang mengaku utusan Raden Panji itu telah menunjukkan sesuatu. Agaknya sebuah cincin.

“Kau tentu mengenal cincin ini. Cincin ini memang cincin pertanda perintah Raden Panji“ berkata orang itu.

Pemimpin sekelompok prajurit yang bertugas itu menarik nafas dalam-dalam Namun katanya, “tetapi Mas Rara tentu sudah tidur”

“Tidak apa apa. Kita harus membangunkannya dan segera membawanya menghadap Raden Panji” jawab orang itu.

“Tetapi kenapa harus malam-malam begini?“ bertanya pemimpin prajurit itu.

“Jangan bodoh“ jawab orang yang membawa cincin itu.

Pemimpin prajurit yang sedang bertugas di rumah itu menarik nafas dalam-dalam. Namun keragu-raguannya pun kemudian telah terdesak kesamping ketika utusan Raden Panji itu berkata, “Perintah Raden Panji, kami harus membawa Mas Rara. Tidak boleh ada orang yang menghalanginya”

“Terserahlah” berkata pemimpin prajurit itu, “tetapi sebenarnya aku kasihan melihat gadis itu”

“Apakah kau akan melawan perintah Raden Panji?“ bertanya utusan itu.

“Tentu tidak. Ambillah“ jawabnya.

Tetapi utusan itu berkata, “Kaulah yang membangunkannya dan membawanya kemari. Aku akan membawanya sampai kepada Raden Panji”

“Kau yang mendapat perintah. Lakukan perintah itu“ jawab pemimpin prajurit yang bertugas.

“Perintah Raden Panji termasuk perintah kepada kalian“ jawab utusan itu.

Tetapi pemimpin prajurit itu menggeleng. Katanya, “Tentu tidak. Raden Panji hanya memerintahkan kepadamu untuk mengambil gadis itu. Sekarang terserah kepadamu, apakah kau akan membawanya menghadap atau tidak”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Seorang diantara mereka berkata, “Baiklah. Kami akan mengambilnya”

Meskipun sebenarnya ragu-ragu, tetapi kedua orang itu pun telah menuju ke pintu pringgitan. Dengan perlahan-lahan pintu itu pun diketuknya.

Baru setelah diulang sampai dua tiga kali, maka terdengar seorang perempuan menyapa, “Siapa diluar?“

“Kami bibi. Mengemban perintah Raden Panji“ jawab salah seorang diantara keduanya.

“Kenapa malam-malam?“ bertanya perempuan yang ada didalam itu.

“Kami hanya mengemban perintah bi, “jawab prajurit itu.

“Bagaimana kalau besok saja?“ bertanya perempuan yang ada di dalam.

“Apakah ada diantara kita yang berani menentang perintah Raden Panji?“ prajurit itu justru bertanya.

Perempuan itu pun kemudian telah membuka pintu. Sebelum orang tua itu bertanya, prajurit itu telah menunjukkan cincin yang dipakainya sambil berkata, “Aku membawa pertanda pengemban perintah Raden Panji”

Perempuan tua yang melayani Mas Rara termangu-mangu. Ia menyadari apa yang akan terjadi dengan gadis yang lugu itu. Tetapi ia pun mengerti, apa yang terjadi terhadap seseorang yang berani menentang perintah Raden Panji itu. Apalagi tentang seorang perempuan cantik yang telah mengguncang-kan hatinya sehingga Raden Panji itu tidak sabar lagi menunggu waktu sepekan yang telah ditentukannya sendiri”

Satu gejolak perasaan telah terjadi dihati perempuan tua itu. Rasa-rasanya ia memang ingin menghalangi kedua orang itu mengambil Mas Rara. Tetapi perempuan tua itu menyadari, bahwa ia tidak akan berdaya berbuat sesuatu untuk mencegahnya.

”Maaf bibi“ berkata prajurit itu, “aku minta bibi membangunkannya dan membawanya kemari. Kami akan mengantar mereka kepada Raden Panji sekarang juga. Raden Panji sudah berpesan agar aku segera kembali sambil membawa Mas Rara bersamaku. Raden Panji sudah mengancam, jika aku gagal, maka leherku akan menjadi taruhan”

Perempuan tua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “ Itulah biliknya”

“Bawa gadis itu kemari“ berkata kedua orang itu hampir berbareng.

Tetapi perempuan tua itu menggeleng lemah. Katanya, “Kau ambil gadis itu sendiri, Aku tidak sampai hati membangunkannya dan memberitahukannya bahwa ia diperlukan Raden Panji sekarang juga, sementara masih ada tenggang waktu sepekan dengan hari pernikahan yang ditentukan sendiri oleh Raden Panji”

Kedua orang itu menjadi tegang. Namun ia tidak akan dapat memaksa perempuan tua itu untuk membangunkan Mas Rara. Sementara waktunya sudah menjadi terlalu lama. Raden Panji yang memberikan perintah langsung kepada kedua orang itu nampaknya tidak sabar lagi menunggu.

Karena itu, maka keduanya pun telah menyingkirkan perasaannya sendiri yang justru berlawanan dengan tugas yang harus diembannya. Seorang diantara mereka berkata, “Aku akan membangunkannya”

Orang itu telah mendekati pintu bilik Mas Rara. Namun sebenarnyalah keragu-raguan masih saja mencengkamnya.

Ketika diluar sadarnya prajurit itu menyentuh pintu, maka ia pun tahu bahwa pintu bilik itu telah diselarak dari dalam.

Perlahan-lahan orang itu mengetuk pintu sambil berdesis, “Mas Rara, Mas Rara”

Beberapa saat orang itu mengetuk pintu, namun sama sekali. tidak terdengar jawaban. Karena itu, maka prajurit itu mengetuk semakin keras.

“Mas Rara” panggil prajurit itu.

Mas Rara sebenarnya memang sudah terbangun. Tetapi ia justru menjadi ketakutan. Yang terdengar diluar pintu adalah suara laki-Iaki.

“Mas Rara“ berkata prajurit yang membangunkannya itu, “aku membawa pesan Raden Panji. Pesan yang sangat penting bagi Mas Rara”

Mas Rara masih saja ragu-ragu. Namun karena pintu itu diketuk lagi, maka ia pun bertanya, “Siapa diluar?“

Prajurit yang mendapat tugas untuk menjemput Mas Rara itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Kami adalah utusan Raden Panji. Jika Mas Rara ragu-ragu, maka silahkan membuka pintu. Kami akan menunjukkan pertanda perintah dari Raden Panji”

“Kenapa tidak besok saja?“ bertanya Mas Rara.

“Pesan itu sangat penting Mas Rara” jawab prajurit itu, “aku persilahkan Mas Rara melihat cincin itu. Mas Rara tentu akan yakin, bahwa kami adalah utusan Raden Panji”

Mas Rara memang tidak dapat berbuat lain. Ia menyadari, bahwa dirinya bagaikan seekor kelinci didalam kandang seekor harimau yang ganas.

Ketika prajurit itu mengetuk pintunya lagi, maka Mas Rara pun telah membukanya.

Diluar pintu ia melihat dua orang prajurit berdiri termangu-mangu. Beberapa langkah dibelakangnya, orang tua yang melayaninya berdiri tegak dan tubuh gemetar.

Demikian pintu terbuka, maka perempuan tua itu telah berlari memeluknya. Diluar sadarnya, terasa air mata perempuan tua itu menitik dibahunya.

“Bibi“ desis Mas Rara.

Perempuan tua itu tidak menjawab sama sekali. Tetapi kedua orang prajurit itulah yang kemudian mengangguk hormat.

Mas Rara berdiri tegak memandangi kedua orang prajurit yang menunduk itu. Meskipun keduanya belum mengatakan sesuatu kepadanya, tetapi Mas Rara seakan-akan sudah tahu apa yang akan dilakukan Raden Panji atas dirinya.

Namun kemudian salah seorang dari kedua prajurit itu betapapun segannya, terpaksa mengatakan, “Mas Rara. Kami adalah utusan Raden Panji. Kami membawa pertanda perintah. Kami ditugaskan untuk mempersilahkan Mas Rara bersama-sama dengan kami menghadap Raden Panji”

Meskipun Mas Rara sudah menduga, namun ketika kedua orang prajurit itu menyampaikan perintah Raden Panji, jantungnya masih juga berdentangan keras sekali.

Perempuan tua yang kemudian melepaskan pelukannya itu pun berdiri dengan cemasnya disisi Mas Rara. Sudah beberapa kali ia menyaksikan perempuan yang menjadi isteri Raden Panji. Namun perasaannya terasa lain ketika ia berhadapan dengan Mas Rara. Apalagi jika ia melayani seorang perempuan yang tamak dan sombong. Maka ia sama sekali tidak merasa tersentuh melihat saat-saat seperti yang sedang terjadi itu. Ia merasa sangat benci kepada perempuan yang menyambut perintah Raden Panji itu dengan sangat gembira dan penuh harapan.

Namun ternyata bahwa sikap Mas Rara itu berbeda. Pada saat yang sangat gawat itu, ia justru menemukan keberanian yang sudah terlepas dari dirinya sejak ia dinyatakan akan menjadi isteri Raden Panji. Pribadinya yang serasa hilang itu tiba-tiba pula telah bangkit kembali didalam dirinya. Bahwa tubuhnya rasa-rasanya tidak menjadi miliknya lagi, dengan serta merta telah tersentak dari relung jantungnya.

Karena itu, maka Mas Rara itu dengan tengadah berkata, “Katakan kepada Raden Panji, bahwa aku tidak dapat menghadap sekarang. Kecuali hari telah larut malam, katakan bahwa aku sedang sakit”

“Tetapi perintah Raden Panji mawanti-wanti” berkata prajurit itu, “jika aku kembali tanpa Mas Rara, maka aku akan mendapat hukuman yang sangat berat. Bahkan mungkin aku akan dihukum mati”

“Kau tidak bersalah“ berkata Mas Rara, “perintahnya telah sampai kepadaku. Tetapi akulah yang menolaknya. Bukan kalian berdua”

“Benar Mas Rara. Tetapi apakah aku dapat meyakinkan Raden Panji bahwa Mas Rara menolak perintah itu?“ desis prajurit itu.

“Apakah kau akan membawa cincinku untuk meyakinkan Raden Panji?“ bertanya Mas Rara.

“Tidak Mas Rara. Bukan cincin itu. Yang penting kami mengharap Mas Rara menghadap Raden Panji. Apapun yang akan dilakukan Raden Panji benar-benar diluar tanggung jawab kami. Jika kami melakukannya, itu semata-mata karena kamipun merasa takut untuk menolak perintah itu“ berkata prajurit yang menjadi gelisah itu.

“Katakan kepada Raden Panji, bahwa kau telah melakukan tugasmu dengan baik. Dan katakan pula bahwa akulah yang menolak perintahnya. Jika Raden Panji marah dan akan menjatuhkan hukuman, biarlah aku yang dihukum. Hukuman mati sekalipun“ jawab Mas Rara. Lalu katanya pula, “Sampaikan kepada Raden Panji bahwa aku menolak kemauannya. Aku baru akan menjadi isterinya sepekan lagi.”

Wajah kedua utusan itu menjadi tegang. Mereka tidak mengira bahwa Mas Rara akan menolak perintah yang diberikan Raden Panji. Secara kebetulan, seorang diantara mereka juga melakukan perintah yang sama atas isteri Raden Panji yang ke lima. Tapi perintah itu tidak ditolaknya. Utusan itu tidak tahu perasaan apa yang bergejolak di hati perempuan itu. Tapi perempuan itu tampaknya merasa bangga sekali. Baru beberapa hari kemudian pernikahannya akan berlangsung. Namun keluarga itu tidak lama tampak utuh. Beberapa bulan kemudian hubungan mereka mulai retak dan nasib isteri kelima itu menjadi kurang baik.

Tetapi sekarang, seorang perempuan dari padukuhan Nguter telah berani menentang perintah Raden Panji. Bahkan menentang untuk menerima hukuman mati sekalipun.

Ketika keduanya masih termangu-mangu, Mas Rara yang seakan-akan telah menemukan dirinya kembali itu berkata, “Ki Sanak, kembalilah. Aku masih letih. Aku masih ingin tidur lagi”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun seorang diantara mereka berkata, “Tidak Mas Rara. Aku harus kembali menghadap Raden Panji bersama Mas Rara”

“Aku tidak mau“ bentak Mas Rara.

“Kami juga tidak berani kembali tanpa Mas Rara“ sahut yang seorang lagi.

“Terserah pada kalian. Tapi aku tidak akan pergi“ jawab Mas Rara.

Kedua orang itu menjadi bingung. Dengan gagap, seorang diantara mereka berkata, “Tidak. Mas Rara harus pergi”

“Aku tidak mau“ jawab Mas Rara tegas.

“Kami akan memaksa Mas Rara“ utusan yang kehilangan akal itu mulai mengancam.

Wajah Mas Rara jadi makin tegang. Dengan suara bergetar ia berkata, “Kau tahu siapa aku? Kau tidak akan dapat menakut-nakuti aku. Aku adalah calon isteri Raden Panji. Jika kalian berani menentang perintahku, itu berarti kalian berani menentang Raden Panji”

Kedua orang itu memang menjadi bimbang. Tetapi ketakutan yang bergejolak di jantung mereka ternyata lebih berat dibanding keragu-raguan mereka, sehingga seorang diantara mereka berkata, “Raden Panjilah yang memerintahkan kami datang kemari. Karena itu, yang kami lakukan adalah atas nama dan atas kuasanya. Karena itu, jangan menentang kami”

Debar jantung Mas Rara bagaikan semakin cepat berdegup. Tapi ia masih berkata lantang, “Pergi. Jangan mencoba mengganggu aku. Jika Raden Panji mengetahuinya, kalian akan dihukum gantung”

“Kami mengemban perintah Raden Panji“ ulang salah seorang dari mereka.

Tetapi Mas Rara tetap pada pendiriannya. Katanya, “Aku tidak mau. Jika kau akan memaksakan, kalian akan menyesal. Aku dapat mengatakan hitam atau putih tentang kalian kepada Raden Panji. Aku dapat mengatakan bahwa kalian telah memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingan dan kesenangan kalian sendiri”

“Gila“ wajah orang-orang itu menjadi marah. Seorang diantara mereka berkata, “Kami akan melakukannya dihadapan saksi-saksi, para prajurit yang bertugas di tempat ini akan menjadi saksi apa yang telah kami lakukan. Mereka akan mengatakan sesuai dengan apa yang mereka lihat”

Wajah Rara Wulan jadi panas. Ternyata orang-orang itu tidak lekas menjadi ketakutan. Namun ia sudah bertekad untuk tidak mau pergi mengikuti keduanya. Karena itu, Rara Wulan berkata, “Aku tidak peduli. Tapi aku tidak mau. Jika kalian coba menjamah kulitku dan menjadi kotor, Raden Panji tentu tidak akan memaafkan kalian lagi”

Kedua orang itu memang berpikir. Namun seorang diantara mereka tiba-tiba saja telah mencabut pedangnya sambil berkata, “Mas Rara harus pergi. Aku memiliki wewenang penuh untuk melakukan apa saja sampai Mas Rara berhasil aku bawa menghadap Raden Panji”

“Termasuk membunuh aku?“ tanya Mas Rara.

Orang yang memegang pedang itu menjadi makin bingung. Ternyata Mas Rara sama sekali tidak menjadi gentar melihat ujung pedang yang tajam runcing itu. Bahkan sambil menengadahkan dadanya ia berkata, “Marilah. Jika itu perintah Raden Panji, lakukanlah”

Sejenak kedua orang itu tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Sementara itu, perempuan tua yang melayani Mas Rara menjadi sangat ketakutan. Ketika seorang diantara kedua utusan Raden Panji itu mengacungkan pedangnya, perempuan itu bergeser mendekati Mas Rara.

Karena kedua orang itu tidak segera berbuat sesuatu, sekali lagi Mas Rara berkata, “Ayo, bunuh aku jika kau berani melakukannya. Nanti bawa tubuhku menghadap Raden Panji. Kau tentu akan menerima hadiah yang sangat besar, atau lehermu akan di penggal di halaman rumah Raden Panji untuk dijadikan pangewan-ewan. Kepalamu akan dijadikan peringatan bagi orang-orang yang berani pada calon isterinya. Jika hal seperti ini kau lakukan dua tiga bulan lagi, setelah aku benar-benar jadi isterinya, mungkin kau akan naik pangkat. Tapi jika sekarang kau lakukan, berarti kau akan membunuh diri”

Kedua orang itu benar-benar menjadi bingung. Tampaknya Mas Rara terlalu yakin akan dirinya. Seakan-akan dalam waktu singkat Mas Rara telah berubah sama sekali. Bukan lagi seorang perempuan lembut, penurut dan tanpa berani mengangkat wajahnya dihadapan seseorang. Namun tiba-tiba ia dapat menjadi garang dan menantang ujung pedang.

Perempuan tua yang melayaninya menjadi sangat heran. Kekuatan apa yang telah menggerakkan Mas Rara untuk berbuat demikian.

Namun dalam kebingungan dan tanpa dapat melihat jalan keluar yang lebih baik, kedua orang itu telah melakukan kekerasan. Memang tidak menusuk jantung Mas Rara dengan pedang. Justru senjata tajam yang sudah dicabut itu disarungkan kembali. Keduanya kemudian memaksa Mas Rara untuk mengikutinya. Seorang diantara mereka telah memegang lengan gadis itu dan menariknya sambil berkata, “Aku tidak tahu apakah jalan ini yang terbaik. Tetapi aku tidak mau mendapat hukuman karena perempuan yang keras kepala ini”

Ketika Mas Rara meronta, yang seorang lagi telah membantunya, memegangi lengannya yang satu lagi.

Mas Rara, seorang gadis lembut dan lugu, tidak dapat mengatasi kekuatan kedua orang prajurit itu. Tangannya yang kasar dan tenaganya yang besar, telah menyeret Mas Rara dari ruang dalam.

Mas Rara tidak mengira bahwa ia akan mendapat perlakuan sangat kasar. Sementara itu, perempuan tua yang melayaninya telah memeluk dan menahannya sambil berkata, “Lepaskan. Lepaskan. Kau akan digantung besok jika kau berani berbuat kasar terhadap calon isteri Raden Panji”

Tapi bagi kedua orang itu, berbuat kasar tentu akan lebih baik daripada tidak membawa Mas Rara sama sekali. Apalagi Raden Panji telah mengancam, apapun alasannya, ia tidak mau mendengarkan jika mereka datang tanpa Mas Kara. Ketakutan akan pesan itulah yang telah membuat kedua utusan itu kebingungan dan tidak dapat melihat jalan keluar.

Ketika keduanya menarik Mas Rara keluar ruang dalam, Mas Rara menjerit hingga suaranya yang melengking telah mengejutkan semua orang yang ada di lingkungan rumah itu.

Beberapa orang prajurit berlari-larian ke pendapa, ketika mereka melihat kedua utusan Raden Panji itu keluar dari pintu pringgitan.

“Apa yang terjadi?” tanya pemimpin prajurit yang bertugas sambil mengacungkan tombaknya.

“Aku harus membawa gadis itu menghadap Raden Panji. Beliau yang memerintahkan. Tidak ada alasan untuk mengelakkan perintah itu. Malam ini, Mas Rara harus dihadapkan padanya. Tapi Mas Rara menolak, sehingga kami harus memaksanya. Karena itu, aku minta dua orang diantara kalian pergi bersama kami untuk menjadi saksi bahwa kami melakukan atas perintah Raden Panji dan tidak mengkhianatinya sama sekali“ berkata salah seorang dari kedua utusan itu.

Para prajurit itu termangu-mangu. Seorang diantara mereka bertanya, “Apakah tindakan ini tidak membuat Raden Panji marah?“

“Kami sudah mendapat wewenang. Dengan cara apapun juga, Mas Rara harus dihadapkan padanya malam ini juga“ berkata salah seorang dari utusan itu. Katanya lagi, “Karena itu, bantu aku agar tugas ini dapat kami selesaikan dengan baik, sehingga kita semuanya tidak mendapat hukuman besok pagi”

Para prajurit itu termangu-mangu. Namun mereka yakin bahwa kedua orang itu memang utusan Raden Panji, menilik pertanda yang mereka bawa. Dengan demikian, keduanya telah bertindak atas nama Raden Panji.

Dalam keragu-raguan itu, Mas Rara meronta sekali lagi. Demikian tiba-tiba hingga kedua orang prajurit yang memeganginya terkejut. Mas Rara memang dapat melepaskan diri. Tapi ia tidak sempat berlari turun dari pendapa. Tangan-tangan yang kuat itu telah menggapainya lagi. Bahkan kemudian tangan-tangan kasar itu memeganginya lebih erat di lengannya, sehingga lengan Mas Rara terasa sakit.

Sekali lagi Mas Rara menjerit. Tapi suaranya bagaikan hilang ditelan geiapnya malam.

Namun dalam pada itu, Wirantana, Manggada dan Laksana telah berdiri di halaman rumah itu, Dengan sigapnya mereka meloncat naik ke pendapa Dengan geram Wirantana bertanya, “Apa yang kalian lakukan atas adikku?“

“Kami mengemban tugas dari Raden Panji” berkata utusan itu sambil menunjukkan cincin pertanda kekuasaan Raden Panji.

Wirantana, Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Wirantana telah bertanya kepada Mas Rara, “Apa yang mereka kehendaki?“

“Aku tidak mau. Aku tidak mau“ teriak Mas Rara.

Sedangkan perempuan tua yang melayani Mas Rara itu pun telah berada di pendapa rumuh itu dengan wajah yang tegang.

“Ki Sanak“ berkata Wirantana kemudian, “Mas Rara datang ke rumah ini karena permintaan Raden Panji. Mas Rara itu dalam waktu sepekan lagi akan menjadi isteri Raden Panji. Kenapa sekarang kau perlakukan seperti itu?“

“Kami mengemban tugas. Kami harus membawa Mas Rara menghadap Raden Panji sekarang ini. Seharusnya Mas Rara tidak menolaknya, sehingga tidak akan terjadi sesuatu” berkata salah seorang dari mereka yang membawa Mas Rara itu.

“Tetapi bukankah kau dapat mengatakan kepada Raden Panji bahwa Mas Rara berkeberatan untuk menghadap malam ini?“ sahut Wirantana.

“Kau belum mengenal Raden Panji dengan baik. Tetapi kau seharusnya sudah tahu, meskipun kau baru mengenal beberapa saat, bahwa bagi Raden Panji, tidak akan pernah mau mendengarkan jawaban seperti itu” berkata orang itu selanjutnya.

“Jadi, dianggap apa adikku itu? Apakah ia tidak dianggap sebagai seseorang yang mempunyai perasaan, yang mempunyai kehendak dan harga diri? Ia baru akan menjadi isteri Raden Panji sepekan lagi” berkata Wirantana. Lalu katanya, “Apapun yang akan dilakukannya malam ini, namun Mas Rara harus mendapat hak untuk bersedia atau tidak bersedia datang. Jika Mas Rara tidak bersedia datang, maka tidak ada orang yang dapat memaksanya”

“Raden Panji dapat memaksanya“ jawab orang itu.

“Tidak“ geram Wirantana tegas.

“Jadi kau berani melawan Raden Panji?“ bertanya orang itu kemudian.

“Tidak. Aku tidak berani melawan Raden Panji, tetapi aku pun tidak rela adikku kehilangan haknya untuk menentukan kehendaknya dan mempertahankan harga dirinya“ jawab Wirantana.

“Cukup“ orang yang membawa Mas Rara itu menjadi semakin marah, “Minggir, atau kau akan mendapat hukuman dari Raden Panji. Ketahuilah, Raden Panji tidak pernah tanggung-tanggung jika ia memberikan hukuman kepada seseorang yang telah berani melawan kehendaknya”

“Hukuman sepantasnya hanya diberikan kepada orang-orang yang bersalah. Tidak kepada orang-orang yang mempertahankan haknya” jawab Wirantana.

“Raden Panji tidak akan mempedulikan, apakah ia bersalah atau tidak. Tetapi semua orang yang menentang kehendaknya, ia akan dihukum. Termasuk Mas Rara. Karena itu, maka biarlah Mas Rara datang memenuhi perintah Raden Panji” jawab orang itu.

Wirantana tiba-tiba telah menjadi garang pula. Gejolak perasaannya ternyata tidak dapat dikendalikan lagi. Apalagi sikap kedua orang itu justru menjadi semakin kasar terhadap Mas Rara. Seorang diantaranya seakan-akan telah menyeretnya sementara yang lain berdiri menghadapi Wirantana, Manggada dan Laksana.

Dengan lantang Wirantana berkata, “Lepaskan adikku”

“Kau gila. Raden Panji mempunyai wewenang untuk menghukum mati kepada siapa saja yang dianggapnya menghalangi tugasnya” berkata orang itu.

“Wewenang dari siapa?” bertanya Wirantana. Lalu katanya, “kalau wewenang itu diberikan oleh ayah dan ibunya, maka itu tidak akan mempunyai nilai sama sekali untuk ditrapkan dalam tugas-tugasnya sebagai seorang prajurit”

”Tutup mulutmu. Raden Panji mendapat tugas dari Kangjeng Sultan di Pajang untuk mengamankan daerah ini dari kekuasaan para penjahat dengan wewenang untuk memberikan hukuman mati kepada siapa saja yang berani menentangnya” berkata orang itu.

“Jika demikian, kaulah yang gila. Atau Raden Panji itulah yang sudah menjadi gila“ Wirantana benar-benar telah kehilangan pengekangan diri.

Kedua orang prajurit yang mengambil Mas Rara itu terkejut. Mereka tidak menduga, sama sekali, bahwa kata-kata yang keras itu akan terlontar dari mulut seseorang apalagi dari sebuah padukuhan yang jauh.

Dengan lantang seorang diantara mereka berkata, “Kau sudah benar-benar menjadi jenuh untuk hidup. Kau akan digantung sebagaimana para penjahat yang telah tertangkap”

“Wewenang untuk menghukum mati hanya diberikan kepada Raden Panji dalam tugasnya memberantas kejahatan. Tidak untuk kepentingan diri sendiri, apalagi untuk memaksa perempuan-perempuan muda menjadi isterinya yang ke enam, ketujuh bahkan kelak isterinya yang ke seratus. Apalagi memaksa seorang perempuan yang bukan isterinya datang kepadanya di malam hari seperti ini“ suara Wirantana tidak kalah lantangnya.

“Tutup mulutmu“ bentak prajurit itu, “atas nama Raden Panji dengan wewenang yang diberikan kepadaku, jangan ganggu tugasku. Atau aku akan mempergunakan wewenangku”

“Aku tidak akan mengganggumu jika kau tidak mengganggu adikku“ Wirantana membentak pula.

“Aku melakukan perintah Raden Panji“ orang itu berteriak.

Tetapi Wirantana pun berteriak pula, “Jika demikian, jika kalian telah menjadi budak-budak yang mati, katakan, Raden Panji tidak boleh mengganggu adikku“

Wajah kedua orang prajurit itu menjadi merah. Namun dengan demikian, mereka telah memusatkan perhatian mereka kepada Wirantana.

Dalam kesempatan itu, Mas Rara telah menghentakkan tangannya dan merenggutnya dari pegangan prajurit itu. Demikian tiba-tiba dan diluar dugaan, sehingga sejenak kemudian tangan Mas Rara telah terlepas.

Keberanian Mas Rara benar-benar telah tumbuh tanpa segera berlari kearah Wirantana dan seakan-akan bersembunyi di belakang punggungnya.

Kemarahan kedua orang prajurit yang mengemban tugas Raden Panji itu sudah sampai ke puncak. Kemarahan mereka telah dilandasi pula oleh perasaan takut jika mereka gagal menjalankan perintah. Seandainya mereka tidak dapat membawa Mas Rara menghadap Raden Panji, maka Raden Panji tentu akan menjadi kehilangan kesabaran sebagaimana sering dilakukannya. Keduanya tentu akan mengalami nasib yang sangat buruk. Apalagi tugas mereka adalah tugas yang sangat mudah. Membawa seorang per-empuan menghadap Raden Panji. Hanya itu.

Karena itu, maka seorang diantara mereka berkata, “Aku masih ingin memperingatkan kalian sekali lagi. Aku tengah mengemban perintah Raden Panji. Bahkan lebih dipercaya untuk membawa pertanda kuasanya. Cincin jabatannya. Jika kalian masih menghalangi tugasku ini, maka aku akan mempergunakan kekerasan. Seperti Raden Panji, maka aku berwenang untuk membunuh seorang yang melawan perintahnya, karena seseorang yang melawan perintah Raden Panji yang berkuasa atas nama Kanjeng Sultan adalah pengkhianat”

“Aku tidak berkeberatan disebut pengkhianat oleh Raden Panji karena mencegah tingkah lakunya yang tidak pantas serta menerapkan wewenang yang tidak sewajarnya atas seorang gadis yang tidak berdaya seperti Mas Rara. Meskipun Mas Rara sudah ditetapkan menjadi bakal isteri Raden Panji, tetapi baru sepekan lagi ia sah menjadi isterinya. Baru sepekan lagi Mas Rara wajib tunduk atas segala kemauan Raden Panji. Tetapi tidak sekarang”

“Cukup” bentak prajurit itu, “aku memang harus menyumbat mulutmu”

Kedua prajurit itu tiba-tiba saja telah bergerak. Sementara itu Manggada dan Laksana pun telah bergerak pula. Mereka sama sekali tidak lagi menghiraukan kemungkinan hukuman yang tidak terbayangkan karena kemarahan Raden Panji.

Tetapi kedua anak muda itu merasa wajib membela Wirantana.

“Lindungi adikku“ berkata Wirantana sambil mendorong adiknya kepada Manggada dan Laksana.

Namun Manggada pun berkata, “Jaga Mas Rara baik-baik”

Laksana tidak sempat menjawab. Tetapi iapun bergeser mendekati Mas Rara ketika Manggada bergeser maju dan berdiri disisi Wirantana.

Kedua prajurit yang marah itu tidak berpikir panjang lagi. Dengan serta merta keduanya telah menyerang Wirantana dan Manggada, sehingga sejenak kemudian mereka pun telah bertempur dengan sengitnya.

Keributan itu telah menimbulkan kebingungan beberapa orang prajurit yang bertugas meronda. Mereka berdiri termangu-mangu. Mereka tidak tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan. Mereka mengerti bahwa kedua orang kawannya itu sekedar menjalankan perintah. Tetapi mereka pun tahu, kenapa Wirantana, kakak Mas Rara berkeras untuk mencegah tindakan kedua orang prajurit itu.

Sementara itu, ternyata kemampuan Wirantana dan Manggada untuk bertempur seorang lawan seorang, jauh lebih tinggi dari kedua prajurit itu. Dengan demikian, maka dalam waktu singkat, maka kedua orang prajurit itu sudah terdesak.

Namun dalam pada itu, salah seorang prajurit, yang mengenakan cincin pertanda kekuasaan Raden Panji itu berteriak, “Para prajurit yang bertugas, Atas nama Raden Panji, kalian aku perintahkan untuk menangkap ketiga orang itu serta Mas Rara”

Para prajurit masih juga ragu-ragu. Ada diantara mereka yang memang merasa kasihan kepada Mas Rara. Namun ternyata ketika prajurit yang memakai pertanda kuasa Raden Panji itu menyebut namanya, maka prajurit-prajurit itu pun menjadi cemas tentang nasib mereka sendiri.

Karena itu, maka mereka pun mulai bergerak ke pendapa. Empat orang bersama-sama.

Namun Wirantana dan Manggada pun telah siap menyambut mereka.

Ketika kemudian mereka terlibat dalam perkelahian, maka Laksana tidak dapat tinggal diam. Ia pun telah terjun pula kedalam lingkaran perkelahian. Sementara itu mereka bertigalah yang kemudian berusaha untuk melindungi Mas Rara yang ketakutan.

Tetapi adalah diluar dugaan, bahwa kedua orang yang dikirim oleh Ki Jagabaya untuk melayani kereta berkuda itu pun telah tanggap akan keadaan. Mereka dengan cepat telah mengemasi pedati berkuda mereka.

Wirantana, Manggada dan Laksana yang bertempur melawan beberapa orang sekaligus itu memang mengalami kesulitan, justru karena Rara Wulan menjadi sangat ketakutan. Karena itu maka yang mereka lakukan kemudian adalah bergeser turun ke halaman sambil membawa Mas Rara diantara mereka.

Pada saat itulah, pedati yang ditarik kuda itu telah memasuki halaman pula. Dengan cambuk yang panjang yang diputar dan dihentak-hentakkan sendal pancing, maka beberapa orang justru telah menyibak.

“Cepat, masuk” berkata kedua orang yang melayani pedati itu hampir bersamaan.

Salah seorang diantara kedua orang itulah yang kemudian menolong Mas Rara masuk, sementara Manggada dan Laksana telah menghadangi setiap orang yang berusaha mendekat.

Wirantana masih bertempur dengan sengitnya. Namun kemudian ia pun mulai bergerak, bergeser sejalan dengan gerak pedati menuju ke regol.

Dua orang prajurit masih berada di regol. Mereka pun segera berusaha menghadangi usaha Wirantana melarikan adiknya.

Tetapi Wirantana telah menyerang keduanya sehingga seorang diantara mereka terdesak keluar. Sementara yang lain harus bergeser menjauh ketika cambuk sais pedati yang ditarik kuda itu menghentak-hentakkan cambuknya dengan keras.

Demikian pedati berkuda itu lolos, maka Wirantana yang meloncat naik segera bertindak, “Manggada, Laksana, cepat naik”

Kedua orang anak muda itu pun telah meloncat naik pula. Para prajurit yang berlari-lari memang berusaha untuk mengejar mereka. Semua prajurit yang ada di halaman rumah yang dipergunakan oleh Mas Rara. Beberapa diantara mereka yang semula masih bermimpi, bukan saja karena mereka terbangun dan terkejut, tetapi mereka pun tidak dapat sepenuhnya melakukan perintah kawannya yang membawa cincin kekuasaan Raden Panji, karena mereka menganggap Mas Rara masih terlalu muda untuk mengalami nasib yang buruk.

Tetapi kemudian mereka kemudian tidak dapat ingkar akan tugas mereka. Mereka juga tidak mau mendapatkan hukuman dari Raden Panji karena mereka tidak membantu para prajurit kepercayaannya yang justru memakai cincin kuasanya.

Wirantana, Manggada dan Laksana telah bersiap sepenuhnya. Kedua orang yang melayani pedati itupun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Pedati itu meskipun ditarik oleh kuda, tetapi tidak dapat berlari terlalu cepat. Sementara Wirantana, Manggada dan Laksana tidak sempat mengambil seekor kuda pun meskipun dibelakang terdapat beberapa ekor kuda.

Lebih dari sepuluh orang prajurit telah mengejar mereka. Sementara itu, seorang prajurit yang lain telah berlari minta bantuan prajurit berkuda yang ada di padukuhan itu.

Jalan yang kurang menguntungkan, serta Mas Rara yang beberapa kali memekik kecil oleh guncangan-guncangan roda pedati yang menginjak batu-batu padas, membuat pedati itu semakin lambat. Para prajurit yang berlari itu ternyata semakin lama menjadi semakin dekat. Mereka telah mengacu-acukan senjata mereka sambil berteriak-teriak.

Tetapi yang tidak diduga telah terjadi pula. Beberapa orang berkuda telah muncul dari tikungan. Dengan serta merta orang-orang berkuda itu justru telah menyerang para prajurit yang sedang mengejar pedati itu.

Dengan demikian pertempuran pun telah terjadi, Namun memang tidak terlalu lama. Orang-orang berkuda, yang jumlahnya hanya ampat orang itu ternyata mampu menahan sepuluh orang yang mengejar pedati itu. sehingga jaraknya menjadi semakin jauh. Bahkan kemudian pedati itu telah keluar dari padukuhan menyusuri jalan-jalan bulak.

Dalam kegelapan malam, pedati itu meluncur terguncang-guncang menjauhi padukuhan yang dipergunakan oleh Raden Panji sebagai landasan kekuatannya untuk mengawasi daerah yang luas. Tetapi tidak semua prajurit Raden Panji berada di padukuhan itu. Beberapa kelompok justru tersebar untuk mengawasi keadaan serta untuk menegakkan kekuasaan yang diberikan oleh Pajang kepadanya. Sepuluh orang yang mengejar mereka sudah tidak nampak lagi. Apalagi gelap malam memang telah menghalangi pandangan mata mereka.

Tetapi beberapa saat kemudian, Wirantana, Manggada dan Laksana terkejut. Mereka mendengar derap kaki kuda. Dan bahkan dalam keremangan malam di bulak yang terbuka luas, mereka melihat empat orang penunggang kuda menyusul mereka.

Ketiga orang anak muda itu termangu-mangu. Mereka tidak tahu apa yang dikehendaki oleh ampat orang berkuda itu. Apakah mereka benar-benar ingin menolong atau sebaliknya, mereka menghendaki Mas Rara. Jika mereka berhasil menguasai Mas Rara maka masih ada kemungkinan bagi mereka untuk memeras Raden Panji. Sementara Raden Panji tentu ingin mendapatkan Mas Rara. Tidak sebagai calon isterinya, tetapi sebagai seorang buruan yang harus dihukum berat. Mungkin Raden Panji masih menghendaki Mas Rara sebagai seorang gadis. Tetapi tentu tidak lagi sebagai isterinya kelak setelah Mas Rara berusaha melarikan diri dan apalagi melawan perintahnya.

Bagaiamanapun sais pedati itu melecut kudanya, namun kuda yang menarik pedati itu memang tidak dapat berlari cepat. Sehingga dengan demikian, maka keempat orang berkuda itu semakin lama menjadi semakin dekat.

Seorang diantara mereka yang berkuda itu bergerak maju lebih cepat dari kawan-kawannya sehingga beberapa saat kemudian telah berada hanya beberapa langkah dibelakang pedati itu.

“Berhenti“ teriak orang itu, “berhentilah. Aku ingin berbicara dengan kalian”

Pedati itu tidak juga berhenti. Sementara orang itu sekali lagi berteriak, “Berhenti. Apakah kalian tidak mengenal aku lagi?“

Malam memang gelap. Wirantana, Manggada dan Laksana yang juga berada didalam pedati itu sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

“Pedati itu terlalu berat membawa beban enam orang. Karena itu, maka pedati itu tidak dapat berlari lebih cepat. Berhentilah“ orang itu masih berteriak.

Pedati itu masih saja berlari. Namun roda pedati yang lebih berat dari roda kereta biasa itu, serta enam orang yang ada didalam-nya benar-benar telah membebani tenaga kuda yang menariknya.

Ketika roda pedati itu terperosok kedalam lumpur, maka pedati itu tertahan sejenak. Mas Rara telah menjerit oleh goncangan yang tiba-tiba itu, sehingga gadis itu terkejut bukan buatan.

Kuda-kuda yang menarik pedati itu memang segera dapat mengangkat roda yang terperosok tidak begitu dalam itu. Namun dua orang penunggang kuda telah berhasil menggapai kendali kuda penarik pedati itu dan menghentikannya.

Sais yang mengemudikan pedati itu ragu-ragu. Meskipun cambuknya telah siap terayun, namun kedua orang sais itu masih ragu-ragu untuk menyerang meskipun keretanya sudah berhenti.

Wirantana, Manggada dan Laksana telah berloncatan turun. Mereka telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Dua orang penunggang kuda yang tidak memegangi kendali kuda dan masih berada dibelakang pedati itupun telah meloncat turun pula. Seorang diantara mereka telah melangkah maju. Dengan nada rendah orang itu bertanya, “kau benar-benar tidak mengenal aku lagi?“

Ketiga orang anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun dalam jarak yang semakin dekat ketiganya dapat melihat lebih jelas meskipun malam cukup gelap. Tetapi di tempat terbuka maka cahaya bintang dilangit, membuat malam menjadi remang-remang.

Akhirnya ketiga orang anak muda itu mengangguk-angguk. Wirantana lah yang menyahut, “Ya. Kami mengenal Ki Sanak. Bukankah Ki Sanak orang yang duduk disebelah kami kemarin siang ketika Raden Panji datang menjumpai Mas Rara?“

“Tepat“ jawab orang itu.

“Sekarang, apakah yang Ki Sanak kehendaki?“ bertanya Wirantana.

“Sebaiknya kalian lebih cepat meninggalkan padukuhan ini. Agar pedati itu tidak terlalu berat, pakailah kuda-kuda kami. Tetapi ingat, jika segala sesuatunya sudah selesai, maka kuda itu harus kalian kembalikan kepada kami“ berkata orang itu.

Satu hal yang sama sekali tidak terduga. Namun Wirantana yang sedang menghadapi kesulitan itu tidak sempat berpikir panjang. Apalagi orang itupun berkata, “Cepat. Tinggalkan tempat ini. Sebentar lagi, pasukan berkuda tentu akan menyusul kalian, jika kalian terlambat”

Anak-anak muda itu tidak berpikir panjang lagi. Meskipun segera menerima ampat ekor kuda, Wirantana, Manggada, Laksana dan seorang dari kedua orang sais itu. Mereka berdua akan bergantian mengemudikan pedati yang menjadi semakin ringan itu.

Namun Manggada sempat juga bertanya, “Lalu bagaimana dengan Ki Sanak”

“Jangan pikirkan aku” jawab orang itu.

“Tetapi Ki Sanak telah melawan para prajurit yang mengejar kami“ berkata Manggada.

“Mereka tidak mengenal kami. Malam cukup gelap, sementara kami tidak membiarkan mereka sempat melihat wajah kami dengan jelas. Para prajurit pun tidak akan mengira bahwa kami, yang tinggal disekitar rumah itu, akan melakukan perlawanan seperti ini“ jawab orang itu.

Demikianlah, maka Wirantana dan yang lainpun telah melanjutkan perjalanan mereka yang mendebarkan. Mereka sadar, bahwa prajurit berkuda tentu akan mengejar mereka.

Namun rasa-rasanya perjalanan mereka memang menjadi lebih cepat. Pedati kuda yang menjadi semakin ringan itu dapat melaju meskipun justru terguncang-guncang. Sekali-sekali Mas Rara memekik bukan saja ketakutan, tetapi juga kesakitan.

Ketiga orang anak muda yang berpacu disebelah dan belakang pedati itu, setiap kali mendengar pekik Mas Rara yang berpegangan tiang-tiang pedati itu kuat-kuat.

Manggada yang mendekati Wirantana itupun kemudian berkata, “Kau naik saja menemani Mas Rara. Biarlah kami berkuda dibelakang pedatimu.

“Lalu kuda ini?“ bertanya Wirantana.

“Sangkutkan kendalinya pada tiang pedati itu“ jawab Manggada.

“Terlalu pendek“ desis Wirantana kemudian.

Sais pedati itu ternyata menyahut pula, “Disini ada tambang sabut kelapa”

Sais itu telah memberikan tambang itu kepada Wirantana. Namun Wirantana pun berkata, “Berhentilah sebentar”

Kereta itu memang berhenti. Hanya sebentar. Selama Wirantana mengikat kendali kudanya dengan tali dan mengikatkan ujung tadi yang lain pada tiang kereta berkudanya.

Sejenak kemudian kereta itu sudah berpacu kembali. Ditambah Wirantana, maka berat pedati itu menjadi semakin mantap. Sementara itu, Wirantana pun dapat mengawani Mas Rara yang ketakutan.

Beberapa saat kemudian, kereta berkuda itu melewati simpang empat ditengah-tengah bulak. Beberapa saat kemudian, kereta itu akan memasuki sebuah padukuhan.

Anak-anak muda itu memang menjadi berdebar-debar. Jika para peronda di padukuhan itu menghentikan mereka, maka mereka akan kehilangan waktu.

Namun Manggada lah yang kemudian mendahului kereta itu mendekati regol.

Sebenarnyalah ada beberapa orang yang berdiri di sebelah menyebelah regol. Bahkan dua orang diantara mereka berdiri di tengah-tengah regol sambil mengangkat tangannya.

Tetapi Manggada justru berteriak lebih dahulu, “Minggir. Minggir. Kuda pedatiku menjadi gila”

Teriakan itu begitu tiba-tiba sehingga orang-orang yang ada di regol itu terkejut. Karena pedati itu justru berpacu semakin cepat, maka mereka pun telah berloncatan menepi.

Dengan demikian maka pedati itu pun telah berderap dengan kencangnya lewat gardu peronda di depan pintu gerbang yang terbuka diregol padukuhan.

Para peronda itu termangu-mangu sejenak. Namun mereka pun tidak menghiraukannya lagi. Mereka tidak akan dapat menolong karena kereta itu berpacu terlalu kencang. Sehingga dalam waktu yang pendek, derapnya sudah tidak terdengar lagi.

Manggada yang masih tetap berpacu dipaling depan itu telah melakukan hal yang sama ketika pedati berkuda itu akan keluar dari regol padukuhan di ujung sebelah. Para peronda pun telah meloncat menepi ketika mereka melihat beberapa ekor kuda berpacu seperti dikejar hantu.

Ketika pedati itu sampai ke bulak kembali, rasa-rasanya sesak nafas orang-orang berkuda serta mereka yang ada didalam pedati itu menjadi longgar. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak mengurangi laju kuda-kuda mereka pada kemungkinan yang paling baik.

Namun anak-anak muda yang melarikan Mas Rara itu terkejut. Ketika mereka mendekati simpang empat yang lain di tengah-tengah bulak itu, dalam keremangan malam mereka melihat beberapa orang berkuda tengah memotong jalan mereka dari arah kanan simpang empat itu.

“Tidak ada kesempatan untuk berhenti dan mengambil arah yang lain. Seakan-akan begitu tiba-tiba beberapa orang prajurit berkuda telah berada didepan mereka.

Anak-anak muda yang membawa Mas Rara itu tidak mempunyai pilihan lain. Mereka pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atas mereka.

Beberapa langkah dari para prajurit berkuda yang berhenti di simpang empat itu. Manggada telah memberi isyarat kepada yang lain untuk berhenti. Namun Laksana telah menyusul Manggada dan berhenti disisinya, sementara Wirantana pun telah meloncat pula dari dalam pedati.

“Jaga adikku baik-baik“ pesan Wirantana kepada sais pedati itu.

Beberapa saat anak-anak muda itu saling berhadapan dengan beberapa orang prajurit berkuda. Semuanya ada tujuh orang dengan senjata masing-masing.

Namun pemimpin prajurit itu tiba-tiba saja telah meloncat turun sambil berkata, “Aku mengalami kesulitan malam ini”

Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia dapat mengenali prajurit itu.

Sementara itu pemimpin prajurit itu berkata selanjutnya, “Aku mendapat perintah untuk menangkap kalian, tetapi bagaimana mungkin hal ini dapat aku lakukan?“

“Apakah kalian tidak mengenal kami?“ bertanya prajurit itu.

“Ya. aku kenal. Kau adalah pemimpin prajurit Raden Panji yang mendapat tugas menjemput Mas Rara“ jawab Manggada.

“Ya. Ternyata kalian telah menyelamatkan jiwaku pada saat itu. Karena itu aku tidak berhasil membawa Mas Rara karena tingkah laku pamannya itu, maka aku tentu akan digantung. Tanpa kalian maka Mas Rara tentu sudah hilang. Dan kami akan tergantung di tiang gantungan itu”

Manggada justru menjadi termangu-mangu. Sementara pemimpin prajurit jtu berkata, “Kami adalah prajurit yang membawa Mas Rara itu dari padukuhannya. Kami mendapat perintah dari Raden Panji untuk membawa Mas Rara kembali”

“Dan kalian berusaha untuk membawanya“ bertanya Manggada.

Pemimpin prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menggeleng lemah. Katanya hampir hanya terdengar oleh dirinya sendiri, “Tidak. Aku tidak dapat melakukannya. Aku tahu apa yang akan terjadi dengan Mas Rara jika ia kami bawa kembali. Raden Panji tidak akan memperlakukannya lagi sebagai seorang gadis yang akan dinikahinya sepekan lagi. Ia akan menghukum gadis itu dengan caranya. Cara seorang yang seakan-akan memang sudah tidak wajar lagi. Kelakuannya tidak pantas untuk disebut. Apalagi terhadap gadis-gadis yang diinginkannya”

“Jadi?“ bertanya Manggada.

“Baiklah. Teruskan perjalanan kalian. Aku akan mengatakan bahwa aku tidak dapat menjumpai kalian telah mengambil jalan lain dari jalan yang kami telusuri“ jawab prajurit itu.

“Apakah dengan demikian kalian tidak akan dihukum?“ bertanya Laksana.

“Hukumannya tentu akan lebih ringan. Kami dapat dianggap tidak melakukan tugas kami sebaik-baiknya. Tetapi yang terjadi adalah diluar batas kemampuan kami” jawab pemimpin prajurit itu.

Manggada, Laksana dan Wirantana saling berpandangan

sejenak. Hampir berbareng mereka mengucap, “Terima kasih

atas kebaikan kalian”

“Cepatlah, kamipun akan segera berpacu mengikuti jalan menyilang ini” Namun kemudian pemimpin prajurit itu berdesis perlahan, “mudah-mudahan tidak ada pengkhianatan. Jika Raden Panji mengetahui hal itu, maka kami benar-benar akan digantung di ara-ara”

“Apakah sebenarnya ia berhak melakukannya?“ bertanya Wirantana.

“Raden Panji mendapat wewenang tanpa batas. Maksudnya untuk mengatasi keadaan yang tidak aman di daerah ini karena sebuah gerombolan perampok dan penyamun yang besar dan kuat yang bahkan kemudian menghimpun para penjahat yang lain. Brandal, gegedug dan bahkan pencuri-pencuri kecil, mereka ikut dalam satu gerombolan. Raden Panji memang berhasil. Dengan kekerasan yang tidak tanggung-tanggung Raden Panji berhasil menumpas gerombolan itu. Menangkap beberapa orang diantaranya. Namun sebagian dari mereka sudah dihabisi oleh Raden Panji sendiri sebelum dibawa ke Pajang”

“Bukankah dengan demikian Raden Panji menjadi seorang pahlawan?“ bertanya Laksana.

“Tetapi setelah gerombolan perampok itu dimusnahkannya menjadi debu, maka kekuasaan yang ada ditangannya dipergunakan menurut kehendak hatinya sendiri” jawab prajurit itu. Lalu katanya pula, “Kadang-kadang Raden Panji itu bertindak bijaksana. Namun justru yang sering dilakukan, ia lupa pada sangkan paraning dumadi”

“Apakah tidak ada laporan kepada para Senapati di Pajang?“ bertanya Wirantana.

“Siapa berani memberikan laporan? Jika laporan itu jatuh ketangan sahabat Raden Panji, maka orang yang memberikan laporan itu akan dapat menjadi ndeg pengamun-amun“ jawab prajurit itu. Namun katanya kemudian, “Sudahlah. Lanjutkan perjalananmu. Sebaiknya kalian tidak berhenti sejauh mungkin kuda kalian dapat bertahan. Kalian dapat beristirahat sebentar untuk memberi kesempatan kuda kalian minum dan makan rumput diperjalanan itu. Tetapi kalian harus segera melanjutkan perjalanan kalian sampai ke rumah. Setelah itu terserah kepada kalian. Tetapi pertimbangkan kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas kalian sekeluarga”

“Jadi?“ bertanya Wirantana, “apakah kami harus mengungsi?“

“Aku kira itu adalah kemungkinan yang paling baik” jawab pemimpin prajurit itu. Lalu katanya, “Bawa Mas Rara keluar dari daerah kekuasaan Raden Panji. Tetapi kalian harus tahu, bahwa Raden Panji adalah pendendam. Ia tentu masih akan mencari Mas Rara sepanjang sisa umurnya”

Wirantana mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih atas keterangan Ki Sanak. Bahkan kami segera melanjutkan perjalanan”

Perjalanan ke Nguter memang perjalanan yang agak panjang. Karena itu, maka semua yang ada di iring-iringan itu harus mampu menyesuaikan diri dengan perjalanan mereka yang berat. Jauh lebih berat dari perjalanan ke Pajang pulang balik.

Sejenak kemudian, maka Mas Rara dan para pengawalnya telah melanjutkan perjalanan. Namun mereka masih akan selalu dibayangi oleh kekuasaan dan kewenang-wenangan Raden Panji.

Meskipun demikian di sepanjang perjalanan, anak-anak muda itu masih sempat mengagumi keberanian pemimpin prajurit yang telah memberikan kesempatan kepada Mas Rara untuk melarikan diri.

Dua kali anak-anak muda itu mendapat pertolongan dari orang yang berbeda, sehingga mereka masih dapat melanjutkan perjalanan. Tetapi mereka tidak tahu, apabila sekali lagi ada sekelompok prajurit mampu mengejar mereka lagi, maka apakah mereka masih sempat untuk membebaskan diri.

Malam itu, pedati yang ditarik kuda itu masih berjalan terus diikuti oleh beberapa penunggang kuda yang letih. Tetapi mereka tidak berhenti sejauh dapat mereka capai. Ketika matahari terbit, iring-iringan itu memang sempat berhenti sejenak di sebelah jalan yang tidak begitu besar. Laksana telah dengan tergesa-gesa pergi ke sebuah kedai yang baru saja dibuka, sementara kuda-kuda mereka sempat beristirahat sambil minum air bening yang mengalir disebuah parit.

“Kasihan kuda-kuda itu“ desis Manggada.

Tetapi mereka tidak berhenti terlalu lama. Mereka pun segera melanjutkan perjalanan mereka menuju ke padukuhan Nguter.

Wirantana merasa tidak perlu mencari jalan lain dari jalan yang paling dekat yang dapat ditempuh, karena orang-orang Raden Panji sudah tahu dengan pasti, dimanakah letaknya Nguter.

Yang penting menurut perhitungan Wirantana adalah sampai ke rumah dan langsung mengungsi ke tempat yang berada diluar jangkauan kekuasaan Raden Panji.

“Tetapi kemana?“ pertanyaan itu telah semakin menggelisahkan Wirantana.

“Akan dipikirkan kemudian“ katanya didalam hati.

Demikianlah, maka secepat-cepat dapat dilakukan, pedati itu pun berderap diatas jalan yang tidak terlalu rata. Mas Rara yang telah sama sekali tidak mau makan apapun yang dibeli oleh Laksana. Kegelisahannaya tidak memungkinkan untuk menelan apapun juga.

Tetapi Manggada, Laksana dan Wirantana sendiri sempat makan makanan yang telah dibeli sambil duduk di punggung kuda. Demikian juga kedua orang yang dikirim oleh Ki Jagabaya untuk melayani pedati serta kudanya itu.

Matahari pun menjadi semakin terik. Panasnya terasa makin menggigit kulit. Ketika mereka melampaui jalan yang lewat diantara pegunungan yang kecil berbatu-batu padas, maka mereka menjadi semakin berpengharapan bahwa mereka akan dapat sampai ke rumah dengan selamat. Tetapi perjalanan ke padukuhan Nguter memang jauh.

Dengan demikian maka Wirantana tidak dapat memaksa kuda-kuda dari iring-iringan yang kecil itu untuk berjalan terus. Jika Wirantana memaksanya juga, maka mungkin kuda-kuda itu justru akan kehabisan tenaga diperjalanan. Karena itu, maka perjalanan itu pun menjadi perjalanan yang cukup lama.

Sementara itu, Raden Panji yang mendapat laporan dari penolakan Mas Rara untuk datang ke rumahnya, serta sikap anak-anak muda yang menyertainya dari padukuhan Nguter telah membuatnya sangat marah. Demikian marahnya Raden Panji, sehingga berteriak-teriak memberikan beberapa perintah.

Apalagi ketika ia menyadari bahwa prajurit-prajurit yang ada di rumah pondokan Mas Rara tidak dapat mengatasi anak-anak muda itu. Bahkan hadirnya orang yang tidak dikenal dan ikut campur dalam persoalan itu.

Kemarahan Raden Panji memuncak ketika ia mendapat laporan dari sekelompok pasukan berkuda, bahwa mereka tidak menemukan Mas Rara setelah mereka mengelilingi lingkungan itu, terutama mengikuti jalan kearah padukuhan Nguter.

“Kenapa kau kembali tanpa membawa Mas Rara?“ teriak Raden Panji.

Kakinya tiba-tiba saja telah menghantam pemimpin prajurit yang telah memberikan kesempatan kepada Mas Rara untuk melepaskan diri sehingga prajurit itu jatuh terlentang.

“Ampun Raden Panji” mohon prajurit itu kemudian, “jika Raden Panji berkenan, kami akan menyusulnya ke padukuhan Nguter. Jalan mana pun yang mereka tempuh, maka kami berjanji bahwa kami akan datang lebih dahulu di rumah Mas Rara itu. Kami akan menangkap kedua orang tuanya dan apabila Mas Rara langsung pulang, kamipun akan menangkapnya dan membawanya menghadap Raden Panji”

“Setan kau. Kau akan melarikan diri dari hukuman yang pantas aku berikan kepadamu he?“ bentak Raden Panji.

“Tidak Raden. Hukuman apapun yang akan diberikan kepadaku, akan aku terima dengan kepala tunduk. Namun demi kesetiaanku, maka aku ingin benar-benar membawa Mas Rara menghadap Raden Panji.

 

“Tidak. Kau tidak boleh pergi sendiri. Siapkan kudaku. Aku sendiri akan pergi ke Nguter. Aku sendiri akan menangkap perempuan liar itu dan menghukumnya sepanjang jalan dari Nguter sampai ke rumahku menurut caraku. Ia harus menjalani hukuman yang terberat dari antara semua hukuman yang pernah aku berikan kepada isteri-isteriku sebelumnya, sehingga akhirnya perempuan itu akan aku hukum mati karena ia telah menghina aku yang berkuasa di daerah ini”

Tidak seorang pun yang berani menjawab apalagi membantah. Namun dalam pada itu, Raden Panji itu berdesis dengan nada rendah, “Tetapi ia sangat cantik. Ia harus menjadi isteriku sebelum aku akan menghukumnya dengan hukuman yang terberat”

Pemimpin prajurit itu mengumpat di dalam hati. Tetapi ia masih saja menundukkan kepalanya. Ia tahu, Raden Panji adalah orang yang berilmu sangat tinggi sehingga dengan ilmunya itu ia mampu menduduki jabatannya yang seakan-akan tidak dapat diganggu gugat itu.

Tetapi pemimpin prajurit itu terkejut ketika Raden Panji tiba-tiba saja membentak, “Cepat, sediakan kudaku atau aku bunuh kau”

Pemimpin prajurit itu pun segera bergerak. Ia dengan tergesa-gesa telah pergi ke belakang untuk mencari orang yang terbiasa memelihara kuda yang paling baik milik Raden Panji itu.

Dalam waktu tidak terlalu lama kuda itu memang sudah siap. Tetapi prajurit itu tidak segera membawa kuda itu ke halaman. Ia masih memerintahkan orang yang menyiapkan kuda itu untuk memberi makan lebih dahulu.

“Kuda ini telah makan dengan kenyang“ berkata gamel yang mengurusi kuda-kuda Raden Panji itu.

“Tetapi kuda ini akan menempuh perjalanan jauh“ jawab prajaurit itu.

Gamel itu tidak menjawab lagi. Iapun telah menyiapkan makanan secukupnya bagi kuda yang telah disiapkan bagj Raden Panji itu.

Namun sebelum kuda itu sempat makan, seorang prajurit berlari-lari ke belakang sambil berkata, “Kakang. Raden Panji sudah tidak sabar lagi. Cepat sebelum ia datang sendiri kemari dan membunuhmu disini”

Pemimpin prajurit itu mengangguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan membawa kuda ini ke halaman depan”

Sejenak kemudian itu telah siap. Demikian pula beberapa ekor kuda yang lain.

Dengan lantang Raden Panji berkata, “Kita akan pergi. Lima belas orang akan ikut bersamaku”

Sejenak kemudian, maka enam belas ekor kuda sudah berpacu menuju ke padukuhan Nguter, termasuk pemimpin prajurit yang telah memberi kesempatan Mas Rara pergi, bersama prajurit-prajurit. Sementara itu, beberapa orang yang lain harus tinggal untuk menjaga para tawanan yang disimpan di padukuhan yang menjadi pusat pengendalian dari pasukan Raden Panji itu.

Ternyata Raden Panji dan prajurit-prajuritnya berpacu lebih cepat dari pedati yang ditumpangi Mas Rara. Meskipun jarak pada saat Raden Panji berangkat dengan pedati Mas Rara cukup jauh, tetapi kuda Raden Panji berpacu seperti angin.

Prajurit yang pernah merasa diselamatkan kedudukannya oleh anak-anak muda yang menyertai Mas Rara itu memang menjadi berdebar-debar. Ia telah berusaha menghambat keberangkatan Raden Panji dengan menghambat kesiagaan kudanya. Tetapi ternyata itu tidak berpengaruh banyak.

Kuda Raden Panji yang berpacu didepan memang seperti seekor kuda yang ketakutan karena dikejar hantu. Tanpa menghiraukan bahaya yang dapat terjadi diperjalanan. Raden Panji berpacu dengan cepatnya.

Di jalan yang agak ramai, Raden Panji memang sedikit mengurangi kecepatannya. Tetapi laju kudanya masih tetap jauh lebih cepat dari laju pedati yang ditunggangi oleh Mas Rara.

Hanya karena kesempatan yang telah didapatkannya dengan berlari lebih dahulu sajalah, maka pedati itu tidak segera dapat disusul.

Wirantana rasa-rasanya ingin terbang saja melintasi jarak yang tersisa. Ia pun sudah membayangkan bahwa di belakangnya sekelompok prajurit dibawah pimpinan Raden Panji sendiri tengah memburunya. Seperti dikatakan oleh prajurit yang melepaskannya meneruskan perjalanan itu bahwa Raden Panji adalah seorang pendendam.

Sisa-sisa hari berjalan sangat cepat. Justru perjalanan merekalah yang terasa maju sangat lamban. Ketika matahari terbenam Mas Rara masih belum sampai ke rumahnya

Namun akhirnya, iring-iringan kecil itu telah mendekati padukuhan Nguter. Padukuhan yang nampaknya sudah menjadi sepi. Pintu-pintu sudah ditutup setelah lampu dan oncor mulai dipasang di regol-regol halaman. Nguter agaknya memang sudah lelap.

Ketika pedati yang ditumpangi Mas Rara masuk ke regol padukuhan, maka kegelisahan justru semakin membakar jantung. Rasa-rasanya kudanya sudah tidak mau berlari lagi.

Nampaknya kuda-kuda itu telah menjadi sangat letih.

Dalam pada itu, jarak antara pedati yang membawa Mas Rara dengan iring-iringan orang berkuda yang dipimpin langsung oleh Raden Panji itu menjadi semakin pendek. Meskipun jarak yang ditempuh cukup panjang, tetapi Raden Panji tidak terlalu banyak beristirahat. Kecepatan lari kudanya pun berlipat dengan kecepatan lari kuda pedati Mas Rara.

Wirantana memang menjadi sangat gelisah. Ia harus segera sampai ke rumah. Memaksa ayah dan ibunya berkemas dan dengan cepat pergi mengungsi.

Tetapi pedati itu memang tidak mau berjalan lebih cepat lagi. Sais yang memegang kendali kuda penarik pedati itu pun telah mencoba untuk menyentuh kudanya dengan ujung cemeti. Tetapi kuda itu hanya menghentak dua tiga langkah. Lalu kembali berlari dengan letihnya.

Karena kegelisahan yang menghentak jantung, maka Wirantana itu pun kemudian berkta kepada adiknya, “Kita sudah ada di padukuhan. Biarlah aku mendahului perjalanan kalian agar aku sempat minta kepada ayah dan ibu untuk bersiap-siap. Kita semuanya harus mengungsi ketempat yang tidak diketahui oleh Raden Panji”

“Jangan tinggalkan aku, kakang“ minta Mas Rara.

“Tetapi kita tidak boleh terlambat“ jawab Wirantana.

“Kau tetap bersamaku“ berkata Mas Rara dengan suara yang sangat dalam.

Wirantana tidak sampai hati meninggalkan adiknya yang ketakutan. Namun ia pun berharap agar ayah dan ibunya akan sempat bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang sangat buruk itu.

Karena itu, maka Wirantana menjadi bingung.

Dalam pada itu, Manggada lah yang kemudian berkata, “Apakah kau sependapat, jika aku mendahului perjalanan kalian? Bukankah perjalanan ini sudah tidak jauh lagi?“

Wirantana lah yang ragu-ragu. Jika Raden Panji dan pasukannya datang menyusul, maka ia tidak mempunyai seorang kawan pun untuk melindungi Mas Rara.

Namun akhirnya Wirantana pun setuju. Kedua orang sais dan pembantunya itu tentu akan bersedia berbuat sesuatu.

Karena itu, maka Wirantana pun kemudian berkata, “Baiklah. Pergilah. Biarlah ayah dan ibu menyiapkan kuda agar kita dapat segera berangkat. Kuda pedati itu harus diganti agar kita dapat berjalan lebih cepat. Mudah-mudahan Raden Panji tidak membawa seorang atau lebih orang-orang yang ahli dalam menelusuri jejak”

Manggada dan Laksana pun tidak membuang waktu lagi. Keduanya telah mempercepat derap kuda mereka yang masih lebih segar dari kuda penarik pedati itu. Apalagi kuda-kuda kedua anak muda itu tidak menarik muatan apapun juga.

Demikianlah kedua ekor kuda itupun segera berpacu. Mereka sudah mengenal dengan baik jalan menuju ke rumah Ki Partija Wirasentana. Karena itu, maka kedua anak muda itu dengan cepat telah mendekati regol rumah Ki Partija Wirasentana.

Dengan tergesa-gesa keduanya langsung memasuki regol halaman yang ternyata masih terbuka.

Namun kedua orang anak muda itu terkejut sekali. Demikian mereka memasuki regol, maka beberapa orang yang sudah berada di halaman segera bergeser ke pintu. Tanpa menutup pintu regol, orang-orang itu telah merundukkan ujung tombak pendek mereka.

Manggada dan Laksana segera meloncat turun dari kudanya. Demikian mereka sempat memperhatikan orang-orang yang berdiri dipintu, maka keduanya berdesis, “Prajurit”

“Kita terjebak“ berkata Manggada, “untung Mas Rara tidak bersama kita”

“Tetapi bagaimana kita sempat memberitahukan kepadanya?“ desis Laksana.

Keduanya pun tidak segera mendapatkan jalan yang dapat mereka tempuh untuk menyelamatkan Mas Rara.

Sementara itu, beberapa orang prajurit telah mengepung mereka. Sekilas Manggada dan Laksana sempat menghitung. Delapan orang.

Manggada dan Laksana pun segera berdiri saling membelakangi. Dengan serta merta mereka telah mencabut pedang-pedang mereka dan siap menghadapi segala kemungkinan, meskipun bagi mereka delapan orang itu tentu terlalu banyak.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja dari pringgitan terdengar suara orang bertanya, “Siapakah mereka?“

Salah seorang prajurit menjawab, “Kami tidak tahu. Kedua-duanya langsung menyerbu masuk dan tiba-tiba saja telah mencabut pedang.

Beberapa orang telah melintasi pendapa dan kemudian turun kehalaman. Sementara itu, beberapa buah obor menerangi halaman rumah itu.

Seorang diantara mereka yang turun dari pendapa itu adalah Ki Partija Wirasentana. Berlari-lari ia mendekati Manggada dan Laksana sambil berkata, “Ngger, kaukah itu?“

“Ya“ jawab Manggada, “kami datang tergesa-gesa Ki Partija. Tetapi kami terlambat. Para prajurit ini telah berada disini.”

“Prajurit yang mana? Apakah angger tahu, dari mana datangnya para prajurit ini?“ bertanya Ki Partija.

“Bukankah mereka prajurit Raden Panji?“ bertanya Laksana.

“Raden Panji Prangpranata maksud angger?“ bertanya Ki Partija pula.

“Ya, “ jawab Laksana.

Ki Partija menggeleng. Katanya, “Bukan ngger. Mereka bukan prajurit yang dikirim oleh Raden Panji. Tetapi kenapa angger menjadi tergesa-gesa dan menyangka bahwa para prajurit ini prajurit Raden Panji?“

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggada berkata, “Ada sesuatu yang penting harus aku sampaikan kepada Ki Partija Wirasentana. Tetapi prajurit-prajurit ini datang dari mana dan untuk apa?“

“Marilah, silahkan duduk“ berkata Ki Partija Wirasentana, “tetapi kenapa angger tiba-tiba saja telah menarik pedang? Apa yang sebenarnya terjadi?“

“Ki partija“ berkata Manggada yang menjadi sangat tegang., “Mas Rara berada diperjalanan. Beberapa saat lagi ia akan sampai kehalaman rumah ini. Kami minta Ki Partija dengan cepat bersiap-siap. Kita harus mengungsi”

“Kenapa kita harus mengungsi? Apa yang telah terjadi?“ bertanya Ki Partija tegang.

“Mas Rara melarikan diri dari tangan Raden Panji yang nampaknya ingin melanggar paugeran. Raden Panji menghendaki Mas Rara sebelum hari pernikahan dilangsungkan. Sedangkan Mas Rara berpegang teguh pada batas-batas ketentuan hubungan antara laki-laki dan perempuan menurut paugeran“ jawab Manggada.

“Bagaimana hal itu dapat terjadi?“ bertanya Ki Partija.

“Wirantana tidak sampai hati melihat kesulitan Mas Rara. Kami telah menembus para penjaga dan melarikan diri. Kami tahu, bahwa saat ini Raden Panji dengan pasukannya sedang mengejar kami menuju kemari. Karena itu, Wirantana minta agar Ki partija Wirasentana bersiap untuk mengungsi. Jika tidak, maka kedatangan Raden Panji akan merupakan malapetaka bagi kita semuanya” berkata Manggada kemudian.

Ki Partija memang menjadi bingung. Diluar sadarnya ia memandang orang-orang yang turun bersamanya dari pringgitan.

Seorang diantara mereka, seorang yang bertubuh tinggi tegap berdada bidang dengan lengan dan bahu yang kekar maju selangkah. Ketika ia berbicara, maka Manggada dan Laksana terkejut. Suaranya tidak mencerminkan kegarangan tubuhnya. Tetapi suaranya terdengar lembut, “Aku mendengar ceritamu anak-anak muda. Memang belum begitu jelas. Tetapi yang sedikit itu telah memberikan gambaran, bahwa gadis yang disebut Mas Rara itu lari dari Raden Panji dan menuju kemari”

“Ya, ya Ki Sanak“ sahut Manggada.

Tiba-tiba saja Ki Partija memotong, “Kau tentu belum mengenalnya. Ki Tumenggung Purbarana, sedangkan yang berdiri disebelahnya itu adalah Raden Puspasari. Salah seorang bangsawan keturunan dari Majapahit yang kini berada di istana Pajang”

“Keturunan Majapahit?“ ulang Manggada dan Laksana hampir berbareng. Jantungnya memang menjadi berdebar-debar.

“Tetapi bagaimana dengan Mas Rara?“ bertanya Manggada dengan tegang.

Raden Puspasari yang disebut sebagai keturunan dari Majapahit yang berada di Pajang itu telah menyahut, “Baiklah Ki Sanak. Biarlah Mas Rara kembali ke rumah ini”

“Tetapi jika Raden Panji datang pula dengan prajurit-prajuritnya?“ bertanya Manggada.

“Kami akan berbicara dengan Raden Panji“ jawab Raden Puspasari.

“Apakah Raden mengenal Raden Panji?“ bertanya Laksana tiba-tiba.

Bangsawan itu menggeleng. Katanya, “Secara pribadi belum. Tetapi bukankah kita dapat berbicara dengan baik? Raden Panji adalah seorang Senopati perang. Karena itu, maka penalarannya tentu dapat berjalan dengan baik“

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Partija wirasentana yang juga menjadi cemas bertanya, “Apakah Raden dapat melindungi Mas Rara?“

Raden Puspasari tersenyum. Katanya, “Kita akan berbicara baik-baik. Ki Partija. Bukankah nalar budi yang ada pada kita dapat kita pergunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan? Jika kita bersikap baik dan berbicara dengan baik, aku kira tidak akan ada persoalan yang tidak akan dapat kita selesaikan”

“Tetapi Raden Panji mempunyai sikap yang sangat keras menghadapi orang-orang yang dianggap berani menentang perintahnya“ berkata Laksana dengan nada cemas.

“Ia seorang Senapati yang mendapat tugas untuk menenangkan satu daerah yang bergejolak” sahut Ki Tumenggung Purbarana, “dengan demikian maka memang perlu sikap yang keras dan tegas.

“Tetapi juga kepada orang-orang yang tidak bersalah seperti Mas Rara” desis Laksana.

“Tenanglah anak muda“ berkata Ki Tumenggung sambil tersenyum.

Manggada dan Laksana tidak sempat berbicara panjang. Mereka telah mendengar gemeretak kereta kuda serta derap kaki kuda yang mengikutinya.

“Mereka datang“ berkata Manggada.

Sebenaranyalah sejenak kemudian sebuah pedati yang ditarik kuda telah memasuki halaman rumah Ki Partija. Didalamnya terdapat Wirantana yang terkejut sekali melihat beberapa prajurit telah berada di halaman rumah itu. Terdengar pekik kecil Mas Rara yang ketakutan.

Dengan sigap Wirantana meloncat turun. Ia melihat Manggada dan Laksana memegang pedang ditangannya, sehingga dengan serta merta iapun telah menarik pedangnya pula.

Suasana memang menjadi tegang. Manggada dan Laksana yang semula mulai menundukkan pedangnya, tiba-tiba pedang itu telah terangkat kembali. Terdengar Manggada berdesis, “Apakah kami tidak berada dalam jebakan Raden Panji?“

“Kami bukan sekelompok prajurit dibawah pimpinan Raden Panji“ berkata Ki Tumenggung Purbarana.

Wirantana masih bingung. Namun Ki Partija kemudian telah berlari-lari mendapatkan Mas Rara yang gemetar.

“Ayah“ Mas Rara yang kemudian turun dari pedati itu langsung memeluk ayahnya.

“Marilah. Kita mendapatkan ibumu“ berkata ayahnya.

“Siapakah mereka ayah? Apakah mereka utusan Raden Panji?“ bertanya Mas Rara.

“Bukan. Bukan ngger“ jawab Ki Partija.

“Tetapi siapa?“ desak Wirantana

”Nanti aku ceriterakan. Sekarang marilah, masuklah” ajak Ki Partija.

Tetapi Wirantana berkata, “Ayah. Kita harus menyelamatkan diri dari tangan Raden Panji. Setidak-tidaknya kita harus menyelamatkan Mas Rara. Biarlah aku disini, menghambat Raden Panji yang tentu akan mengejar kami”

“Sudahlah anak muda” berkata Raden Puspasari, “tenanglah. Kita masing-masing membawa ceritera yang panjang yang tidak sempat kita ceriterakan sekarang. Tetapi sebaiknya kita tidak usah gelisah. Biarlah nanti kita bersama-sama berbicara dengan baik-baik jika Raden Panji datang. Betapapun keras hatinya, jika kita bersikap baik dan lunak, maka aku kira hatinya akan menjadi lunak pula”

“Tetapi Raden Panji adalah seorang yang keras hati“ berkata Wirantana.

“Kedua orang anak muda yang datang lebih dahulu itu pun telah mengatakannya” jawab Raden Puspasari, “Tetapi aku masih tetap berkeyakinan, bahwa kita nanti akan dapat berbicara dengan baik”

Wirantana termangu-mangu. Tetapi seperti juga Manggada dan Laksana, masih ada kecurigaan yang memancar disorot mata mereka.

Namun dalam pada itu, Ki Partija telah membimbing Mas Rara naik kependapa, kemudian masuk keruang dalam.

Demikian Mas Rara bertemu dengan ibunya, maka tangannya bagaikan meledak. Bahkan ibunya yang ingin menenangkan hati gadis itu, ternyata telah ikut menangis pula.

“Sudahlah“ berkata Ki Partija, “duduklah dengan tenang., “Mudah-mudahan persoalannya akan segera dapat diselesaikan dengan baik”

Demikian Mas Rara dan ibunya duduk diruang dalam, maka Ki Partija Wirasentana telah kembali ke halaman.

Meskipun Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari nampak tenang, tetapi terasa ketegangan telah mencengkam halaman rumah itu. Beberapa orang prajurit yang bersenjata tombak dan pedang, berdiri tegak tanpa mengetahui persoalan yang sedang berkembang. Namun ketika mereka melihat Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari masih belum menunjukkan kegelisahannya, para prajurit itupun masih berusaha untuk tetap tenang.

Dalam pada itu, maka Raden Panji yang marah berderap bersama para prajuritnya menyusul Mas Rara. Hampir tanpa mengucapkan sepatah katapun di sepanjang perjalanan selain perintah-perintah dan umpatan-umpatan kasar. Raden Panji memacu kudanya secepat-cepatnya. Sementara malam masih mencengkam.

Namun akhirnya Raden Panji dan para pengiringnya itu pun menjadi semakin dekat dengan padukuhan Nguter. Bahkan Raden Panji masih memaksa kudanya berlari lebih cepat lagi.

Beberapa ekor kuda mulai tertinggal beberapa langkah di belakang iring-iringan itu. Semakin lama semakin banyak meskipun jaraknya tidak terlalu jauh. Sementara itu kuda Raden Panji yang tegar itu masih berdiri dengan kecepatan yang sangat tinggi, tanpa menghiraukan kemungkinan buruk yang dapat terjadi jika kuda itu terperosok kakinya ke dalam lubang disepanjang jalan atau terantuk batu yang cukup besar.

Darah Raden Panji justru terasa mendidih ketika ia memasuki pintu gerbang padukuhan Nguter. Rasa-rasanya ia ingin meloncat menerkam dan mencekik Mas Rara yang telah berani menolak kemauannya. Bahkan kemudian telah melarikan diri dari tangannya. Satu hal yang belum pernah terjadi pada isteri-isterinya yang terdahulu. Bahkan tidak seorang pun yang berani menentang kemauannya.

Dalam pada itu, orang-orang yang ada di halaman rumah Ki Partija pun segera mendengar derap kaki kuda yang semakin lama semakin dekat. Ki Tumenggung Purbaranapun segera memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk bergeser dan menempatkan diri ditempat yang tidak menarik perhatian.

Tidak ada tanda-tanda bahwa di halaman itu telah bersiap sekelompok orang untuk melakukan kekerasan. Sementara Wirantana, Manggada dan Laksanapun telah menepi pula, berdiri didepan tangga pendapa. Didepannya Ki Partija Wirasentana berdiri bersama Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari.

Pedati yang ditarik kuda dan membawa Mas Rara melarikan diri itu pun telah digeser ke pinggir halaman, dibawah sebatang pohon nangka. Sedangkan kedua orang yang melayani pedati itu berdiri termangu-mangu menunggu apa yang akan terjadi kemudian.

Sejenak kemudian, maka derap kaki kuda di sepanjang jalan padukuhan itu menjadi semakin dekat. Orang-orang padukuhan yang semula terkejut mendengar derap kaki dua tiga ekor kuda, serta gemeretak pedati, telah terkejut pula mendengar pasukan berkuda lewat jalan padukuhan.

Beberapa orang yang terbangun dari tidurnya yang nyenyak menjadi berdebar-debar. Mereka memang sudah mengira bahwa derap kaki kuda yang rasa-rasanya datang berturut-turut itu ada hubungannya dengan Mas Rara.

“Apa yang telah terjadi?“ desis seorang perempuan yang menjadi cemas mendengar kuda-kuda yang berlari-larian dimalam hari itu.

“Entahlah“ jawab suaminya, “mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu”

Keduanya tidak bercakap-cakap lagi. Mereka sudah tidak mendengar apa-apa diluar. Derap kaki kuda itu sudah menjauh dan keduanya memang yakin, bahwa kuda-kuda itu menuju ke rumah Ki Partija Wirasentana.

Sebenarnyalah Raden Panji telah memacu kudanya langsung memasuki regol halaman yang memang telah dibuka. Para prajuritnya pun telah mengikutinya pula, langsung menebar di halaman yang memang agak luas itu.

Namun ternyata Raden Panji pun terkejut melihat orang-orang yang sudah berada di halaman. Meskipun mereka sama sekali tidak menunjukkan kesiagaan untuk bertempur, namun orang-orang yang berdiri berderet di pinggir halaman, di depan tangga pendapa serta pedati dibawah pohon nangka, membuat jantungnya berdegup semakin keras. Tiba-tiba saja masih diatas punggung kudanya Raden Panji berteriak lantang, “Jadi kalian sudah bersiap-siap untuk melawan aku he? Apakah kalian sudah menjadi gila? Aku mendapat wewenang mengambil tindakan apapun untuk membuat daerah ini tenteram. Siapa yang melawan perintahku sama dengan melawan kekuasaan Pajang, sehingga mereka dapat disebut pemberontak. Dengan dasar itu, aku akan dapat membunuh semua orang yang ada disini, yang sudah bersiap untuk memberontak”

Orang-orang yang berdiri di halaman masih belum ada yang menjawab ketika Raden Panji kemudian berteriak, “Partija, Partija Wirasentana”

Ki Partija Wirasentana terkejut. Seperti seorang yang terbangun dari mimpi. Wajahnya menjadi tegang dan jantungnya berdebar-debar.

Karena Ki Partija Wirasentana masih saja termangu-mangu, maka Raden Panji itu pun telah meloncat turun dari kudanya.

Dengan demikian maka para prajuritnya pun telah berloncatan turun pula. Seorang diantara prajurit-prajurit itu telah mendekati Raden Panji untuk menerima kudanya dan membawanya menepi.

Beberapa langkah Raden Panji bergeser maju. Sekali lagi ia memanggil, “Partija Wirasentana. Kemari. Bukankah kau tidak tuli”

“Ya, ya Raden“ jawab Ki Partija gagap. Selangkah ia maju.

“Mana anakmu itu he?“ bentak Raden Panji.

“Ia ada didalam Raden“ jawab Ki Partija.

“Apakah kau kira kau dapat melawan Pajang?“ suaranya bergetar menghentak-hentak karena kemarahan yang membakar isi dadanya.

Wajah Raden Panji masih tegang. Ia melihat dalam keremangan cahaya obor dan lampu minyak, orang-orang yang berdiri di halaman itu. Mereka tidak menunjukkan sikap bermusuhan. Tetapi mereka pun tidak menjadi ketakutan.

Dengan nada tinggi Raden Panji kemudian bertanya lantang, ”Siapakah mereka? Kau upah orang untuk melindungimu dari kuasaku? Tentu kau bayar mereka dengan Mas Kawin yang kau terima untuk Mas Rara yang ternyata berkhianat itu”

“Sama sekali tidak Raden” berkata Ki Partija Wirasentana dengan jantung yang berdebaran.

“Jadi siapakah mereka yang berada di halaman ini?” bertanya Raden Panji.

“Mereka adalah prajurit dari Pajang“ jawab Ki Partija Wirasentana.

“Kau jangan mengigau seperti orang gila. Aku memang melihat mereka berpakaian seperti prajurit Pajang. Tetapi disini, akulah penguasa tunggal dari Pajang. Tidak ada pasukan yang lain yang mendapat wewenang berkeliaran di daerah ini tanpa ijinku“ Raden Panji hampir berteriak.

“Tetapi mereka benar- benar prajurit Pajang, Raden” jawab Ki Partija Wirasentana.

“Siapa pemimpinnya, aku ingin bicara” geram Raden Panji.

Yang melangkah maju adalah Ki Tumenggung Purbarana. Seorang Tumenggung yang memiliki bentuk tubuh yang meyakinkan. Namun sikapnya bukan sikap seorang prajurit yang kasar.

”Siapa kau?“ bertanya Raden Panji.

“Aku Tumenggung Purbarana” jawab Ki Tumenggung. Raden Panji mengerutkan keningnya. Ia memang melihat tanda-tanda seorang perwira prajurit Pajang.

Raden Panji yang marah itu memang mencoba untuk mengekang diri. Dihadapan seorang Tumenggung Raden Panji harus berpikir ulang untuk membentak-bentak.

Sebelum Raden Panji menjawab, Tumenggung Purbarana berkata selanjutnya, “Yang berdiri disebelah ini adalah Raden Puspasari. Cucu dari Pangeran Kuda Kertanata, putera Prabu Brawijaya Pamungkas. Yang sekarang berada di Pajang, karena ibunda Raden Puspasari yang berada di Demak telah memerintahkannya untuk menyertai pusaka-pusaka yang disemayamkan dari Majapahit dan berada di Demak untuk selanjutnya dibawa ke Pajang.

Wajah Raden Panji nampak menjadi semakin tegang. Namun kemudian tiba-tiba ia berkata, “Aku hormati kedudukan Ki Tumenggung serta Raden Puspasari. Tetapi aku mohon maaf. Daerah ini adalah kuasaku. Aku mendapat wewenang dengan pertanda cincin kekuasaan pemerintah Pajang di daerah ini”

“Ya, ya. Kami tahu Raden Panji“ jawab Ki Tumenggung Purbarana. Lalu katanya, “Raden Panji justru telah dianggap berhasil membuat daerah yang bergolak ini menjadi tenang kembali“

“Tetapi kenapa Ki Tumenggung berada di daerah kuasaku tidak memberitahukan kepadaku lebih dahulu, apalagi mendapat ijinku“ bertanya Raden Panji.

“Persoalan kami sekedar persoalan keluarga. Kami tidak mencampuri keberhasilan Raden Panji di daerah ini. Kami pun sama sekali tidak mengulangi kuasa Raden Panji untuk menentukan kebijaksanaan di daerah ini” jawab Ki Tumenggung Purbarana.

“Jika demikian, kami yang mendapat tugas di daerah ini mohon agar Ki Tumenggung serta Raden Puspasari meninggalkan daerah ini” berkata Raden Panji.

“Tentu. Kami akan segera meninggalkan daerah ini” jawab Ki Tumenggung Purbarana, “bahkan barangkali akan lebih cepat dari yang Raden duga”

“Tetapi apa hubungan Ki Tumenggung dengan Partija Wirasentana sehingga Ki Tumenggung berada di rumah ini?” bertanya Raden Panji kemudian.

“Kami mendapat perintah untuk melihat kembali, apakah benar bahwa di rumah Ki Partija ini telah dititipkan sebilah pusaka dari Majapahit, milik Pangeran Kuda Kertanata yang dibawa oleh puteranya Raden Kuda Respada yang mengembara sejak kanak-kanak. Yang kemudian hidup dan tinggal di padesan dengan nama Ki Respada. Namun ketika isterinya meninggal saat melahirkan, maka Ki Respada telah meneruskan perjalanan menuju ke Demak. Tetapi pusaka yang dibawanya dari Majapahit itu telah ditinggalkan di sebuah padukuhan.

Nama padukuhan itu Nguter. Sedangkan orang yang mendapat titipan itu namanya Partija dan kemudian menjadi Partija Wirasentana“ jawab Tumenggung Purbarana. Lalu katanya pula, ”Raden Puspasari ini adalah orang yang berhak untuk mengambil pusaka itu sesuai dengan pesan ibundanya, karena Raden Kuda Respada itu pun segera meninggal setelah berada di Demak tanpa sempat melihat kembali keris pusakanya yang ditinggalkan”

Raden Panji menjadi semakin tegang. Katanya, “Partija Wirasentana tidak pernah mengatakannya”

“Mungkin Ki Partija menganggap bahwa hal itu tidak perlu dikatakan kepada siapapun” berkata Ki Tumenggung Purbarana.

“Jika demikian, lakukanlah. Ambillah keris itu jika memang ada. Kemudian Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari aku persilahkan untuk meninggalkan tempat ini. Aku masih akan menyelesaikan tugasku disini”

“Apakah disini ada pemberontak atau semacamnya sebagaimana disebut-sebut oleh Raden Panji tadi?” bertanya Ki Tumenggung.

“Ya. Setidak-tidaknya ketiga orang anak muda yang telah melarikan isteriku itu“ jawab Raden Panji. Namun kemudian, “Tetapi ini bukan tugas Ki Tumenggung. Tugas itu adalah tugasku disini. Bukankah tugas Ki Tumenggung mengambil keris dan membawanya kepada ibunda Raden Puspasari?“

“Ya Raden“ jawab Ki Tumenggung. Namun kemudian katanya, “Tetapi selain keris, Raden Puspasari masih mempunyai tugas yang lain”

“Apa?“ bertanya Raden Panji.

Ki Tumenggung Purbarana berpaling kepada Raden Puspasari. Katanya, “Sebaiknya Raden sajalah yang memberikan penjelasan”

Raden Puspasari melangkah selangkah maju. Katanya, “Kami memang sedang mengemban tugas untuk mengambil pusaka yang pernah ditinggalkan oleh paman Kuda Respada disini. Tetapi tugas itu masih disertai dengan tugas yang lain. Tugas inilah yang semula membuat kami agak bingung. Pada saat kami datang ke tempat ini, maka yang ada di rumah ini tinggal keris pusaka itu. Sedangkan yang lain sudah tidak ada di rumah ini”

“Yang lain apa maksud Raden?“ bertanya Raden Panji.

“Raden Panji“ berkata Raden Puspasari, “yang terjadi disini memang membingungkan. Aku tidak tahu, yang manakah yang
sebaiknya dilakukan. Karena itu, maka bukankah sebaiknya kita duduk dan berbicara sebaik-baiknya? Mungkin kita akan dapat memecahkan persoalannya dengan baik”

“Tidak ada yang harus dibicarakan Raden. Raden Puspasari melakukan tugas yang dibebankan di pundak Raden. Aku menjalankan tugas yang memang sudah aku emban sejak lama. Tugas kita memang sangat berbeda“ jawab Raden Panji.

“Tetapi ada yang berkait Raden” berkata Raden Puspasari.

“Bagaimana mungkin tugas kita dapat berkait. Tugas itu tidak ada hubungannya sama sekali, “ jawab Raden Panji dengan nada tinggi.

Raden Puspasari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia masih bertanya, “Jadi, dapatkah kita duduk sejenak untuk berbicara?“

“Apa yang sebenarnya akan Raden katakan? Katakanlah. Aku tidak mempunyai banyak waktu“ berkata Raden Panji.

Namun Raden Puspasari berkata, “Raden. Bukankah hari telah jauh malam. Bahkan sebentar lagi kita akan memasuki dini hari. Apakah kita tidak dapat menunda persoalan kita sampai esok pagi?“

“Aku seorang prajurit Raden“ jawab Raden Panji, “aku harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Aku datang ke rumah ini karena aku mempunyai persoalan. Karena itu, maka aku harus menyelesaikannya segera. Sementara itu aku mohon Raden pun cepat menyelesaikan tugas Raden”

“Aku tidak tergesa-gesa seperti Raden Panji” jawab Raden Puspasari.

“Aku berkeberatan“ jawab Raden Panji.

“Baiklah jika demikian. Aku memang harus mengatakannya karena persoalannya sudah terlanjur terkait. Seandainya, sekali lagi, seandainya Mas Rara tidak Raden bawa, maka persoalannya memang sama sekali tidak bersinggungan dengan tugas Raden“ jawab Raden Puspasari.

“Apa hubungannya dengan Mas Rara?“ bertanya Raden Panji.

“Yang ditinggalkan oleh paman Raden Kuda Respada sebenarnya bukan hanya sekedar sebilah keris pusaka. Tetapi keris itu akan menjadi pertanda kelak, bahwa di rumah ini tinggal seorang anak yang pernah dilahirkan oleh isteri paman Raden Kuda Respada. Namun bibi telah meninggal setelah melahirkan. Sementara paman yang kemudian pergi ke Demak dengan meninggalkan bayi dan pusakanya tidak sempat mengurusinya lagi karena paman juga segera meninggal“ jawab Raden Puspasari. Lalu katanya, “Bayi itu adalah bayi perempuan yang kemudian dibesarkan oleh Ki Partija Wirasentana. Dinamainya bayi perempuan itu Wiranti, namun yang kemudian dipanggil dengan Mas Rara ketika bayi yang telah menjadi gadis dewasa itu akan diambil menjadi isteri Raden Panji. Sebenarnya rencana perkawinan itu sendiri sama sekali tidak berpengaruh. Jika Raden Panji memang mencintainya dan Mas Rara pun mencintai Raden Panji. Bahkan kami telah memutuskan untuk menyusul Mas Rara esok pagi ke rumah Raden Panji. Namun tiba-tiba Mas Rara justru telah kembali ke rumah ini“ Raden Puspasari berhenti sejenak, lalu katanya pula, “Karena itu, silahkan duduk Raden. Ternyata masih ada beberapa masalah yang harus kita bicarakan”

Wajah Raden Panji menjadi tegang. Dipandanginya orang yang menyebut dirinya Raden Puspasari itu. Kemudian Ki Tumenggung Purbarana, seorang yang memang mengenakan pakaian seorang prajurit. Tubuh dan ujudnya memang meyakinkan, bahwa ia adalah seorang prajurit yang berpangkat Tumenggung.

Untuk beberapa saat Raden Panji menjadi bingung. Tetapi tiba-tiba saja ia berkata lantang, “Siapapun kalian, akulah penguasa yang sah di daerah ini atas nama Sultan Pajang. Karena itu, kuasaku adalah sama dengan kuasa Sultan itu sendiri”

“Bukanlah kami sudah menyatakan bahwa kami mengakui kuasa Raden Panji? Sejak dari Pajang kami sudah membekali diri dengan pengakuan, bahwa di daerah ini ada seorang Panji yang mendapat tugas untuk memulihkan keamanan dari gangguan para perampok yang ganas. Raden Panji ternyata telah berhasil menghancurkan perampok itu, sehingga daerah ini telah menjadi aman kembali, “ jawab Raden Puspasari.

“Jika demikian, silahkan kalian meninggalkan tempat ini. Aku berhak menentukan, apakah kalian dapat berbuat sesuatu di sini atau tidak“ jawab Raden Panji dengan wajah yang menjadi tegang.

“Raden Panji“ berkata Raden Puspasari, “aku telah mendapat perintah untuk mengambil pusaka yang ditinggalkan pamanda Raden Kuda Respada. Itu tentu tidak akan ada persoalan. Namun ibunda juga memerintahkan agar aku membawa bayi yang pernah ditinggalkan oleh pamanda Raden Kuda Respada itu, yang sekarang telah mekar menjadi seorang gadis dewasa. Nah, dalam hal inilah persoalan kita berkait, karena gadis itu Raden tetapkan untuk menjadi isteri Raden yang ke enam”

Ketegangan mencengkam, bukan saja wajah Raden Panji, tetapi jantungnya terasa telah berdegup semakin keras. Dengan suara lantang, Raden Panji berkata, “Gadis itu telah melakukan kesalahan yang sangat besar di daerah kuasaku. Ia telah berkhianat. Karena itu ia harus dihukum. Kuasaku di daerah ini belum pernah dicabut”

“Baiklah“ berkata Raden Puspasari, “Mas Rara tidak akan melarikan diri. Aku akan membawanya ke Pajang beserta keris pusaka pamanda Kuda Respada. Namun persoalannya dengan Raden Panji masih belum selesai. Silahkan Raden Panji mengusutnya ke Pajang agar Mas Rara diserahkan kepada Raden Panji untuk menjalani hukuman”

“Jangan menganggap aku kanak-kanak“ jawab Raden Panji, “aku akan menangkap Mas Rara”

“Sudahlah Raden Panji“ potong Ki Tumenggung Purbarana, “sebaiknya kita tidak bersitegang dengan sikap kita masing-masing. Bukankah masih ada orang-orang yang lebih berwenang memutuskan persoalan yang sedang kita hadapi. Kami akan menyerahkan Mas Rara itu kepada ibunda Raden Puspasari. Sementara itu, Raden Panji yang merasa dikhianati atau apa, dapat menuntutnya, sehingga persoalannya akan diselesaikan di Pajang.

“Ki Tumenggung tidak dapat memperkecil kuasaku di sini. Meskipun pangkat Ki Tumenggung lebih tinggi dari pangkatku, tetapi aku mengemban tugas yang mewakili kuasa Sultan di Pajang. Karena itu, silahkan kalian meninggalkan tempat ini tanpa mencampuri persoalan-persoalan yang terjadi di tempat ini, di daerah kuasaku“ suara Raden Panji menjadi semakin keras.

“Baiklah Raden“ jawab Ki Tumenggung Purbarana, “sudah beberapa kali kami katakan. Besok, jika matahari telah terbit, kami akan pergi bersama Mas Rara dan pusaka yang dibawa oleh pamanda Kuda Respada itu. Bukankah cukup jelas”

“Mas Rara tidak dapat dibawa. Ia melakukan kejahatan di sini, di daerah kuasaku. Ia harus diadili di sini. Apalagi ia bakal isteriku yang telah berkhianat“ jawab Raden Panji.

“Raden Panji tidak boleh berbuat demikian, meskipun Raden Panji memiliki pertanda kuasa Sultan Pajang“ jawab Raden Puspasari, “karena Sultan Pajang sendiri tidak akan berbuat sebagaimana dilakukan oleh Raden Panji”

“Jangan mengada-ada“ kesabaran Raden Panji yang kasar itu sudah habis, “sekali lagi aku mempersilahkan kalian pergi sekarang. Tidak besok pagi. Tinggalkan Mas Rara di sini. Ini perintah atas dasar kuasa yang aku terima dari Kangjeng Sultan”

Tetapi Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari masih tetap bersikap tenang. Dengan sareh Ki Tumenggung berkata, “Raden Panji. Jangan perlakukan kami seperti perampok dan penyamun di daerah ini, yang telah berhasil Raden tenangkan. Kami juga prajurit Pajang, sebagaimana Raden Panji. Jika Raden Panji mendapat kuasa untuk menumpas perampok dan penyamun di daerah ini, tentu bukan berarti bahwa Raden Panji juga mendapat kuasa untuk memperlakukan kami seperti itu. Karena itu, sekali lagi aku mengulangi permintaan Raden Puspasari. Silahkan duduk. Kita berbicara. Dengan demikian, kita akan mendapatkan penyelesaian yang terbaik, yang dapat kita pilih”

“Kuasa yang aku terima tidak terkecuali“ jawab Raden Panji, “kedatangan kalian akan dapat menimbulkan persoalan di sini, yang dapat mengguncangkan ketenangan yang dengan susah payah telah aku pulihkan. Karena itu, masih atas dasar kuasa yang aku terima dari Sultan, pergilah”

“Baiklah“ berkata Raden Puspasari kemudian, “kami akan pergi. Tetapi keris pusaka dari Majapahit serta Wiranti akan aku bawa”

“Bawalah pusaka itu. Tetapi Mas Rara tidak. Ia melakukan kejahatan disini. la harus diadili disini, sebagaimana aku mengadili para perampok dan penyamun“ geram Raden Panji.

“Mas Rara bukan perampok dan bukan penyamun“ jawab Raden Puspasari.

“Ia berkhianat terhadapku. Justru terhadap seorang Senapati yang bertugas atas dasar kuasa tertinggi“ jawab Raden Panji semakin keras.

“Raden“ berkata Raden Puspasari kemudian, “baiklah. Marilah kita lihat sebentar saja. Apakah sebenarnya kesalahan Mas Rara sehingga Raden menganggapnya berkhianat, atau memberontak, atau mengganggu ketenangan daerah kuasa Raden Panji”

Wajah Raden Panji menjadi tegang. Sementara Raden Puspasari berkata selanjutnya, “Dalam hal ini, meskipun aku baru mendengar sedikit dari anak-anak muda yang mendahului perjalanan Mas Rara serta kakaknya, aku tahu, bahwa yang terjadi sama sekali tidak dapat disebut sebagai satu pemberontakan atau pengkhianatan atau semacamnya”

“Kalian tidak tahu pasti persoalannya” geram Raden Panji.

“Raden“ Ki Tumenggung Purbarana pun ternyata tidak lagi dapat menahan-perasaannya yang bergejolak, “Raden mendapat tugas di sini untuk menghancurkan para perampok dan penyamun. Itu bukan berarti memberi wewenang kepada Raden Panji justru untuk merampok”

“Merampok?“ wajah Raden Panji menjadi merah membara.

“Berapa tahun Raden Panji berada di tempat ini? Dua atau selama-lamanya tiga tahun. Berapa kali selama itu Raden Panji telah kawin? Dan apa yang sebenarnya Raden Panji lakukan di daerah ini terhadap perempuan-perempuan itu juga atas Mas Rara?“ suara Ki Tumenggung Purbarana mulai bergetar, “saat terakhir Raden akan melakukan pelanggaran karena Raden Panji menghendaki Mas Rara sebelum hari perkawinan dilangsungkan.

“Cukup“ bentak Raden Panji, “aku tidak mau mendengar fitnah buruk itu. Kalian tentu iri melihat keberhasilanku di sini. Namun dengan fitnah itu, aku pun menjadi curiga, apakah benar kalian prajurit Pajang yang mengemban tugas sebagaimana yang kalian katakan”

“Kami juga memiliki pertanda sebagaimana perintah kuasa yang kau bawa Raden“ jawab Ki Tumenggung Purbarana.

“Omong kosong. Pertanda itu dapat dibuat sendiri atau dipalsukan“ geram Raden Panji.

“Apakah Raden Panji juga melakukannya?“ bertanya Raden Puspasari.

“Aku sudah berada di sini lebih dari dua tahun. Jika pertanda yang aku bawa itu palsu, maka Pajang mempunyai kesempatan luas untuk mengambil tindakan” jawab Raden Panji lantang.

“Pertanda yang kau bawa memang tidak palsu Raden, tetapi pengetrapan kuasa di daerah ini itulah yang akhirnya menjadi palsu“ sahut Raden Puspasari.

“Kau menghina seorang Senapati yang berkuasa di sini“ teriak Raden Panji yang marah.

Namun tiba-tiba saja terdengar seseorang berkata, “Raden Puspasari benar. Bukan pertanda kuasa itu yang dipalsukan. Tetapi apa yang dilakukan Raden Panji lah yang palsu”

Semua orang berpaling kearah suara itu. Seorang yang berjalan memasuki halaman itulah yang mengatakannya, sementara seorang yang lain menuntun kudanya mendekat.

“Aku sengaja tidak ingin mengejutkan kalian. Karena itu, aku turun dari kudaku pada jarak yang masih agak jauh. Aku terpaksa berlari-lari kecil kemari agar aku tidak terlambat mendengar pembicaraan ini meskipun aku tidak mengira bahwa di sini ada pihak lain yang telah datang lebih dahulu dari aku”

Manggada, Laksana dan Wirantana terkejut ketika melihat wajah orang itu setelah tersentuh cahaya obor di halaman. Orang itu adalah orang yang pernah duduk di sebelah mereka di pendapa rumah persinggahan Mas Rara. Mereka pulalah yang telah memberikan beberapa ekor kuda. Namun agaknya mereka telah menyusul pula perjalanan para prajurit berkuda yang dipimpin oleh Raden Panji sendiri.

“Aku datang berempat. Dua orang kawanku masih berada di luar regol untuk mengatasi kesulitan jika hal itu terjadi“ berkata orang itu selanjutnya, “namun agaknya dengan kehadiran beberapa orang prajurit Pajang dari kesatuan yang lain, keadaan akan berubah”

“Siapa kau?“ bertanya Raden Panji.

“Aku adalah tetangga Raden Panji“ jawab orang itu, “tetapi mudah-mudahan Ki Tumenggung Purbarana masih mengenal aku”

Ki Tumenggung Purbarana termangu-mangu sejenak. Dipandanginya orang yang mengenakan pakaian sebagaimana orang kebanyakan dalam keremangan cahaya obor.

Orang itu tersenyum sambil berkata, “Aku juga prajurit Pajang. Aku Panji Wiratama”

“O“ Ki Tumenggung Purbarana mengangguk-angguk, “Maaf adhi, aku memang agak lupa. Sudah agak lama kita tidak bertemu”

“Sejak aku mendapat tugas dalam lingkungan prajurit sandi“ jawab Panji Wiratama. Lalu katanya, “Nah, dalam rangka tugas sandiku, aku diperintahkan mengawasi tugas Raden Panji Prangpranata. Beberapa laporan telah sampai ke Pajang tentang tingkah lakunya. Sebenarnya aku tidak perlu terlibat langsung dalam tindakan kewadagan. Tetapi aku tidak sampai hati melihat nasib gadis yang bernama Mas Rara itu. Ia mempunyai kelainan dengan isteri Raden Panji sebelumnya. Agaknya gadis itu tidak pantas mengalami nasib yang buruk karena tingkah laku Raden Panji”

“Cukup“ teriak Raden Panji Prangpranata, “aku tahu. Kalian semua ternyata telah sepakat untuk menjatuhkan namaku. Agaknya kalian merasa iri hati akan keberhasilanku serta kepercayaan yang aku terima dari Kangjeng Sultan di Pajang. Nah, sekarang sekali lagi aku perintahkan kalian untuk pergi atau kalian akan aku hancurkan disini atas nama Kangjeng Sultan Pajang”

“Raden Panji“ berkata Panji Wiratama, “sudahlah. Aku mohon Raden Panji bersedia meninjau kembali segala tingkah laku Raden Panji. Sementara itu Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari juga membawa pertanda kuasa Sultan Pajang. Aku pun memiliki pertanda tugas sandiku. Karena itu bukankah tidak baik terjadi benturan kekerasan antara kekuatan Pajang sendiri, sementara Pajang baru berusaha untuk menyusun diri menjadi negara yang besar”

“Aku tidak memperdulikan sesorahmu” bentak Raden Panji Prangpranata.

“Aku sudah cukup lama tinggal menjadi tetangga Raden Panji. Aku adalah saksi yang akan dapat mengatakan segala tingkah laku Raden Panji yang tidak terpuji bersama orang-orang yang bertugas bersamaku. Tetapi jika Raden Panji bersedia mengerti, maka sudah tentu aku tidak akan sampai hati menjerumuskan Raden Panji ke dalam kubangan yang dalam dan kotor. Apalagi aku tahu bahwa Raden Panji adalah orang yang pernah berjasa disini meskipun dengan cara yang agak kasar menghadapi para penjahat“ berkata Panji Wiratama kemudian.

Tetapi agaknya Raden Panji Prangpranata tidak mau mendengarkan kata-kata Panji Wiratama maupun Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari yang berusaha untuk mencari penyelesaian dengan cara yang lebih baik dari kekerasan.

Bahkan kemudian Raden Panji itu berkata kepada para prajuritnya, “He anak-anak. Bersiaplah. Kalian harus bermain-main lagi. Tidak dengan para prajurit yang sering merampok dan menyamun. Tetapi dengan prajurit-prajurit Pajang sendiri yang ternyata tidak tahu paugeran dan dengan sengaja melanggar hak dan wewenangku. Tunjukkan kepada mereka bahwa kalian adalah prajurit-prajurit Pajang terpilih yang sudah berbilang tahun mengarungi medan demi medan menghancurkan kelompok-kelompok penjahat di daerah ini. Ingat siapa aku. Aku adalah orang yang paling banyak memberikan hadiah kepada prajurit-prajuritku. Tetapi aku juga orang yang tidak segan-segan menghukum prajurit-prajurit yang tidak berbuat sebaik-baiknya dalam pertempuran, apalagi dihadapanku”

Para prajurit Raden Panji memang menjadi berdebar-debar. Mereka sadar, bahwa Raden Panji berkata sesungguhnya. Jika mereka tidak baik menurut penilaian Raden Panji, maka mereka tentu benar-benar akan dihukum. Hukuman yang pernah diberikan oleh Raden Panji kepada prajurit-prajuritnya memang tidak tanggung-tanggung.

Karena itu, apapun yang terjadi, maka para prajurit Raden Panji itu pun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Tiga dari tujuh prajurit yang melepaskan Mas Rara ketika mereka mengejar sesaat setelah Mas Rara meninggalkan pedukuhan Raden Panji, ada diantara para prajurit yang mengiringi Raden Panji itu. Agaknya yang lain mendapat perintah untuk menjaga para tawanan yang belum sempat mendapat perlakuan khusus dari Raden Panji karena kesibukannya mengurus Mas Rara.

Ki Tumenggung Purbarana memang menjadi sedikit cemas menghadapi perkembangan keadaan Raden Panji memang sulit diajak berbicara seperti telah dikatakan oleh anak-anak muda yang menyelamatkan Mas Rara dari tangan Raden Panji.

Karena itu, maka Ki Tumenggung Purbarana pun telah memberikan isyarat pula kepada prajurit-prajuritnya. Bahkan Panji Wiratama pun berkata kepada kawannya, “Panggil kedua kawanmu”

Orang itu pun mengangguk. Kemudian iapun telah bergeser menuju ke regol halaman.

Berapa saat kemudian, maka dua orang menuntun kudanya memasuki halaman itu, langsung mengikat kuda mereka di tepi didekat kedua ekor kuda yang lain.

Halaman rumah Ki Partija Wirasentana itu telah dicengkam ketegangan. Setiap orang telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sementara tangan para prajurit itupun telah berada di hulu senjata mereka masing-masing. Mereka ternyata akan berhadapan dengan semua prajurit Pajang sendiri, sehingga dengan demikian maka pertempuran pun akan menjadi pertempuran yang paling mendebarkan diri berbagai macam pertempuran yang pernah mereka alami melawan para penjahat dan perampok.

Dalam pada itu dengan suara yang bergetar Raden Panji berkata lantang, “Anak-anak, tugas kalian adalah mengambil perempuan liar yang telah berkhianat itu. Siapa yang mencoba menghalangi, singkirkan dengan cara sebagaimana kalian lakukan terhadap para penjahat, karena sebenarnyalah setiap orang yang menghalangi tugasku disini, aku perlakukan sebagai para, penjahat”

Wajah Ki Tumenggung Purbarana menjadi tegang. Dengan lantang iapun berkata, “Aku masih memperingatkan kau sekali lagi Panji Prangpranata” Suara Ki Tumenggung memang berubah. Ia tidak lagi tersenyum dan berbicara dengan suara yang lembut.

Tetapi jawab Raden Panji, “Kesempatan terakhir bagimu Tumenggung Purbarana. Tinggalkan tempat ini”

Namun suara Panji Wiratama tidak lebih garangnya, “Aku berhak menangkapmu berdasarkan tugas dan wewenangku”

“Setan kau“ teriak Raden Panji, “singkirkan orang itu. Dengar perintahku. Ambil perempuan pengkhianat itu. Siapa menghalangi, patahkan lehernya”

Pertempuran memang tidak dapat dicegah. Beberapa orang prajurit mulai bergerak. Sementara Raden Panji masih berteriak, ”Masuk ke dalam rumah itu. cari sampai ketemu. Ia menjadi penyebab peristiwa ini. Jika ada seorang saja diantara prajuritku yang kulitnya tergores senjata, maka hukuman bagi perempuan itu akan berlipat ganda. Ia akan mengalami hukuman picis. Hukuman picis yang pertama yang aku berikan kepada seorang perempuan.”

Pertempuran memang tidak dapat dicegah. Beberapa orang prajurit Pajang di bawah perintah Raden Panji Prangpranata telah berusaha naik ke pendapa, menuju ke pintu pringgitan. Tetapi para prajurit yang datang bersama-sama Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari telah mencegah mereka.

Sementara itu, Ki Partija Wirasentana sendiri menjadi bingung. Wirantana yang gelisah menjadi termangu-mangu. Manggada ternyata masih sempat berpikir dan berkata kepada Wirantana, “Bawa ayahmu masuk. Lindungi adikmu yang ada di dalam. Jika ada orang yang sempat menyusup”

“Baik. Aku dan ayah akan melindungi Mas Rara“ berkata Wirantana.

Ia pun segera berlari mendekati ayahnya sambil berkata, “Marilah. Lindungi Mas Rara”

Ki Partija seperti orang yang terbangun dari mimpi yang sangat buruk. Sementara itu Wirantana telah menariknya naik ke pendapa dan masuk ke ruang dalam.

Di ruang dalam Mas Rara dan ibunya duduk gemetar saling berpelukan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di luar. Mereka hanya mendengar orang-orang saling membentak. Tetapi Mas Rara tidak tatu pasti, apakah yang mereka katakan selain teriakan Raden Panji untuk menghukumnya. Ia tidak mendengar jelas penjelasan Raden Puspasari tentang dirinya.

Keduanya terkejut sekali ketika pintu tiba-tiba terbuka. Tetapi jantung mereka bagaikan disiram setitik embun ketika mereka melihat Wirantana dan Ki Partija Wirasentana yang masuk ke ruang dalam.

“Aku akan menemani kalian“ berkata Ki Partija.

Wirantana pun kemudian berdiri selangkah di sebelah adiknya. Sekilas ia sempat memandang wajah yang basah itu. Baru ia menyadari, bahwa wajah gadis itu memang lain dari wajahnya sendiri. Lain dari wajah ibunya dan lain dan wajah ayahnya.

“Ternyata ia seorang gadis asing“ desisnya.

Ki Partija Wirasentana pun kemudian telah memungut senjatanya dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu, di luar telah terjadi pertempuran yang sengit. Kedua belah pihak memiliki ketangkasan yang seimbang. Prajurit Raden Panji adalah prajurit yang untuk beberapa lamanya menjelajahi arena pertempuran melawan para penjahat, sementara para prajurit yang datang bersama Ki Tumenggung Purbarana adalah prajurit pilihan.

Manggada dan Laksana tidak dapat tinggal diam. Keduanya pun telah terlibat dalam pertempuran melawan prajurit Raden Panji yang garang. Prajurit yang terbiasa bertempur dengan keras dan kasar menghadapi para perampok dan penjahat di daerah yang lain, yang harus mereka amankan.

Tetapi Manggada dan Laksana pun memiliki bekal yang cukup. Mereka memiliki landasan ilmu yang mereka sadap dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Meskipun belum begitu banyak, tetapi keduanya memiliki pengalaman yang keras pula.

Raden Panji Prangpranata sendiri adalah seorang Senapati perang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia telah berhasil menguasai satu daerah yang luas selama ia bertugas. Kekuasaannya seakan-akan tidak terbatas, karena kecuali Raden Panji sendiri seorang yang berilmu tinggi, ia pun memiliki kekuatan. Sepasukan prajurit Pajang yang tangguh. Sehingga untuk beberapa lama Raden Panji merasa bahwa ia adalah orang yang dapat berbuat apa saja menurut kehendaknya. Siapa yang mencoba untuk menentangnya dengan tanpa kesulitan telah disingkirkan. Bahkan jika dianggap perlu disingkirkan untuk selama-lamanya.

Raden Panji Prangpranata memang tidak saja berkuasa untuk menentukan satu kebijaksanaan. Tetapi iapun merasa mempunyai wewenang untuk menghukum orang yang dianggapnya bersalah tanpa dapat dibatalkan oleh orang lain. Bahkan ia pun merasa tidak perlu untuk mendengar pendapat orang lain apabila sendiri sudah menganggap perlu untuk mengambil keputusan.

Namun dalam pada itu, di halaman rumah Ki Partija itu, ia telah bertemu dengan seorang Senapati yang juga seorang pilihan. Ki Tumenggung Purbarana yang dengan sengaja telah menempatkan diri menghadapi langsung Raden Panji Prangpranata.

Beberapa orang prajurit Raden Panji dengan cepat telah bergerak ke segala celah-celah halaman. Mereka yang sudah untuk waktu yang lama mengikuti segala perintah Raden Panji itu pun menjadi sangat garang pula. Satu dua orang prajurit memang berusaha untuk menembus pertahanan dan memasuki rumah lewat seketheng. Namun para prajurit Pajang yang datang bersama Ki Tumenggung Purbarana telah menyebar. Sementara Manggada dan Laksana telah ikut pula menghadapi para prajurit yang berusaha memasuki seketheng sebelah kiri.

Sementara itu Panji Wiratama telah melibatkan diri pula dalam pertempuran itu. Sebagai seorang petugas sandi, Panji Wiratama telah ditempa dengan ilmu kanuragan, sehingga ia sama sekali tidak menjadi bingung menghadapi prajurit-prajurit Raden Panji Prangpranata yang berpengalaman luas.

Raden Puspasari yang mendapat tugas untuk menjemput Mas Rara itu memang termangu-mangu sejenak. Bukannya karena ia menjadi cemas menghadapi pertempuran itu, tetapi pertempuran itu sama sekali tidak dikehendakinya.

Namun ia tidak banyak dapat berbuat sesuatu menghadapi seseorang yang keras seperti Raden Panji Prangpranata, yang merasa dirinya orang yang paling berkuasa.

Ketika pertempuran menjadi semakin sengit, maka Raden Puspasari telah naik ke pendapa. Dengan jantung yang berdebaran ia melihat seluruh arena di halaman itu. Bahkan satu dua orang prajurit telah bertempur di pendapa itu pula.

Mereka adalah prajurit-prajurit Raden Panji yang ingin menerobos memasuki pintu pringgitan untuk mengambil Mas Rara, namun telah dihentikan dan dihadapi oleh para prajurit Pajang yang datang bersama-sama dengan Raden Puspasari itu.

Dalam pada itu, hampir diluar sadarnya, Raden Puspasari sempat melihat Manggada dan Laksana yang sedang bertempur. Dengan kening yang berkerut, Raden Puspasari melihat, bahwa kedua anak muda itu ternyata mampu mengimbangi kemampuan para prajurit Pajang. Mereka sama sekali tidak mengalami banyak kesulitan untuk mempertahankan dirinya. Tangannya pun dengan tangkas mempermainkan pedang.

“Anak-anak muda yang berani“ berkata Raden Puspasari di dalam hatinya, “agaknya tidak banyak dari antara anak-anak muda yang berani mengambil sikap seperti mereka. Di saat Raden Panji berada dalam puncak kekuasaannya, mereka berani mengambil langkah yang dapat membahayakan hidup mereka untuk melindungi Mas Rara yang diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh Raden Panji”

Sementara itu Manggada dan Laksana memang sedang bertempur dengan sengitnya. Masing-masing menghadapi seorang prajurit yang terlatih dengan baik dan berpengalaman luas. Namun kedua anak muda itu sama sekali tidak menjadi gentar. Apalagi mereka sadar, bahwa langkah-langkah yang diambilnya ternyata mendapat sandaran yang mapan. Justru seorang Tumenggung dari Pajang bersama pasukan kecilnya.

Manggada dan Laksana memang telah mengambil jarak. Mereka menahan dua orang prajurit yang akan menyelinap lewat seketheng untuk masuk ke dalam rumah melalui pintu-pintu butulan atau pintu samping. Jika kedua orang prajurit itu berhasil masuk dan menguasai Mas Rara, maka segala bentuk perlawanan memang harus dihentikan, karena jiwa Mas Rara tentu akan terancam.

Namun Manggada dan Laksana memang berhasil menahan kedua orang prajurit itu. Dengan ketangkasannya, kedua anak muda itu telah membuat kedua orang prajurit yang bertempur melawannya menjadi heran

Kedua orang prajurit yang bertempur melawan Manggada dan Laksana itu pernah melihat keduanya ketika Raden Panji mengunjungi bakal isterinya di rumah yang telah disediakan baginya. Tetapi berbeda dengan para prajurit yang menjemput Mas Rara dari rumahnya dan harus bertempur melawan orang-orang yang telah diupah oleh paman Mas Rara sendiri untuk mencegahnya, mereka belum pernah melihat kemampuan kedua anak muda itu. Meskipun mereka mendengar bahwa kedua anak muda itu pernah menolong Mas Rara ketika gadis itu hampir diterkam seekor harimau, serta ceritera beberapa orang kawannya bahwa kedua anak muda itu telah mempertaruhkan nyawanya di saat Mas Rara dijemput dari rumahnya, namun mereka tidak mengira bahwa kedua anak muda itu mampu mengimbangi mereka, prajurit yang berpengalaman.

Karena itu, maka kedua orang prajurit itu pun kemudian telah mengerahkan segenap kemampuannya. Seorang diantara mereka berkata, “Anak-anak muda. Sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Kau bukan sanak bukan kadangnya. Jika perlawanan ini dilakukan oleh kakaknya, maka hal itu masih dapat dimengerti. Tetapi kau bukan. Karena itu, kami memberi kesempatan kepada kalian berdua untuk melarikan diri jika kalian ingin selamat”

“Terima kasih” jawab Manggada, “tetapi sebagaimana kau dengar, ternyata gadis itu bukan sekedar anak Ki Partija Wirasentana. Tetapi ia adalah seorang gadis yang seharusnya tidak berada di padukuhan. Ia seorang gadis bangsawan”

“Siapapun gadis itu, tetapi segala sesuatunya harus dikembalikan kepada kekuasaan yang ada di daerah ini. Yang berkuasa adalah Raden Panji Prangpranata“ berkata prajurit itu.

“Bukan berarti Raden Panji dapat berbuat apa saja tanpa menghiraukan tatanan yang berlaku di Pajang. Raden Panji bukan Sultan Pajang yang berlaku di Pajang yang berhak dan berwenang membuat paugeran sekehendak hatinya“ jawab Manggada.

“Kau anak yang sombong“ geram prajurit itu, “jika kau sia-siakan kesempatan ini, maka kau akan menyesal. Jika kau tidak terbunuh dalam pertempuran ini, maka kau akan mendapat hukuman pula dari Raden Panji. Jika kau tahu, Raden Panji tidak pernah ragu-ragu menghukum orang yang dianggapnya bersalah.

“Tetapi Kangjeng Sultan Pajang pun tidak akan ragu-ragu menghukum Raden Panji dengan kesewenang-wenangannya meskipun ia pernah berjasa dalam tugasnya yang besar dan berat”

“Persetan kalian“ geram prajurit yang seorang lagi. Kalian memang ingin mati. Jangan kau kira, bahwa keberhasilanmu membunuh seekor harimau akan dapat menolongmu menghadapi senjata kami. Dengan membunuh seekor harimau kalian telah menjadi kehilangan akal. Kepalamu menjadi besar dan tidak tahu diri”

Namun Laksana yang menjawab, “Kita buktikan saja. Kepala siapa yang besar sekarang ini”

Prajurit itu menjadi merah. Dengan serta merta ia telah meloncat dengan menjulurkan senjatanya kearah dada. Tetapi dengan tangkas Laksana telah menangkisnya, sehingga ujung senjata itu sama sekali tidak menyentuh sasaran. Bahkan Laksana sempat memutar pedangnya dan seolah-olah menggeliat dengan cepat, sehingga sabetan mendatar justru telah memaksa prajurit itu meloncat surut.

Pertempuran itu pun kemudian telah menjadi semakin sengit. Para prajurit itu memperlakukan kedua anak muda itu seperti para perampok dan penjahat lainnya. Merekalah yang mulai bertempur dengan kasar, keras dan tidak terkendali.

Namun Manggada dan Laksana tidak menjadi kehilangan akal. Mereka telah pernah bertempur melawan orang-orang yang lebih keras dan lebih kasar dari para prajurit itu.

Raden Puspasari menarik nafas dalam-dalam. Namun ia harus bergeser ke samping ketika seorang prajurit menyerangnya dengan tiba-tiba. Namun seorang prajurit Pajang yang datang bersamanya telah menempatkan diri melawan prajurit itu.

Sementara itu, Raden Panji Prangpranata yang bertempur melawan Ki Tumenggung Purbarana menjadi semakin keras pula. Ternyata Raden Panji memang seorang yang berilmu tinggi. Dengan tangkas ia berloncatan di seputar lawannya. Meskipun Raden Panji itu nampaknya sudah mendekati usia lanjutnya, namun ia masih seorang Senapati yang pilih tanding. Tubuhnya yang tua itu masih mampu melenting dengan ringannya, seakan-akan tidak digantungi bobot sama sekali. Senjatanya berputaran dengan cepatnya. Sekali mematuk, dan di kesempatan lain terayun dengan derasnya.

Tetapi lawan yang dihadapi adalah Ki Tumenggung Purbarana. Seorang Tumenggung yang pilih landing. Selain tubuhnya yang meyakinkan, Ki Tumenggung pun memiliki bekal ilmu yang tinggi. Sebagai seorang Senapati perang, maka Ki Tumenggung memiliki pengalaman yang tidak kalah luasnya dari Raden Panji Prangpranata. Meskipun Raden Panji memiliki kecepatan gerak yang tinggi, tetapi Ki Tumenggung sama sekali tidak menjadi bingung.

Sementara itu, di ruang dalam, Ki Partija Wirasentana dan Wirantana menunggui Mas Rara dengan jantung yang berdebar-debar. Namun tidak ada niat mereka untuk meninggalkan ruangan itu dan untuk selanjutnya mengungsi ke tempat lain. Di halaman sudah terlanjur terjadi pertempuran. Karena itu, keduanya justru tidak lagi merasa takut kepada Raden Panji Prangpranata. Apalagi ada beberapa orang saksi yang juga datang dari Pajang.

Yang menjadi sangat gelisah adalah Raden Puspasari. Ia sama sekali tidak menghendaki pertempuran seperti itu terjadi. Namun ia pun tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa Raden Panji Prangpranata sama sekali tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Ia menganggap bahwa kebenaran itu hanya ada pada dirinya.

Dengan jantung yang berdebaran, Raden Puspasari menyaksikan pertempuran yang menjadi semakin sengit. Bahkan korban telah mulai jatuh. Beberapa orang prajurit telah terluka.

Namun Raden Panji sendiri tampaknya tidak begitu menghiraukannya. Ia bertempur dengan garangnya. Namun lawannya pun seakan-akan telah kehabisan pola. Raden Panji yang selalu berhasil menghancurkan lawannya dalam tugasnya di daerah itu, kini telah membentur kekuatan yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Gegedug yang paling garang sekalipun tidak membuatnya mengalami kesulitan. Namun Ki Tumenggung Purbarana justru mulai membuatnya gelisah. Apalagi ketika terasa bahwa Ki Tumenggung Purbarana mulai menekannya.

Dalam pada itu, para prajurit Raden Panji pun mulai mengalami kesulitan. Lawan-lawan mereka ternyata memiliki kelebihan yang sulit mereka atasi. Para prajurit yang berada di bawah perintah Ki Tumenggung Purbarana memang tidak lebih baik dari para prajurit Raden Panji Prangpranata, sehingga iantara mereka terdapat keseimbangan. Tetapi para prajurit yang harus bertempur melawan Panji Wiratama dan kawan-kawannya dari prajurit sandi Pajang, harus memeras tenaganya untuk dapat mengimbangi mereka. Bahkan prajurit-prajurit yang harus bertempur dengan anak-anak muda yang pernah menolong Mas Rara dari cengkeraman kuku-kuku seekor harimau itupun telah mengalami kesulitan pula. Manggada dan Laksana ternyata memiliki bekal yang cukup tinggi untuk melawan para prajurit Pajang, meskipun para prajurit Pajang itu memiliki pengalaman yang sangat luas.

Dengan demikian, semakin lama semakin terasa bahwa Raden Panji Prangpranata dan para prajuritnya menjadi semakin terdesak.

Tetapi karena hal seperti itu belum pernah terjadi selama ia bertugas di daerah yang luas itu, maka Raden Panji masih saja tidak mau mengakui kekalahan yang perlahan-lahan mencengkamnya. Bahkan dengan lantang Raden Panji itu masih meneriakkan aba-aba untuk menghancurkan lawannya.

“Bunuh semua orang yang tidak mau menyerah“ teriak Raden Panji Prangpranata, “jangan takut. Aku mempunyai pertanda kuasa dari Sultan Pajang”

Namun para prajuritnya yang tidak pernah gagal melaksanakan perintah Raden Panji itu mulai menjadi gelisah. Yang mereka hadapi bukan para perampok dan para penjahat, yang harus mereka bunuh jika tidak mau menyerah. Tetapi yang mereka hadapi adalah prajurit-prajurit Pajang. Orang-orang yang memiliki kemampuan setidak-tidaknya setingkat dengan mereka. Bahkan beberapa orang diantara mereka memiliki kelebihan yang sulit diimbangi.

Ki Panji Wiratama ternyata dengan cepat menekan lawannya. Tidak ada niat sama sekali untuk membunuh sesama prajurit Pajang. Namun Panji Wiratama tidak dapat berbuat lain untuk menghentikan perlawanan prajurit Pajang itu tanpa melukainya.

Sebenarnyalah, prajurit yang melawan Panji Wiratama itu sulit untuk dapat melindungi dirinya sendiri dari serangan-serangan yang membingungkan. Karena itu, maka prajurit itu meloncat surut ketika senjata Panji Wiratama menyentuh pundak.

Tetapi Panji Wiratama tidak melepaskannya. Demikian prajurit itu berdiri tegak, maka ujung senjata Panji Wiratama telah memburunya. Seleret luka pun kemudian tergores di dada prajurit itu.

Prajurit itu mengaduh tertahan Namun terasa betapa pedihnya luka di pundak dan di dadanya.

Ternyata Panji Wiratama tidak melepaskannya. Selagi orang itu berusaha memperbaiki keadaannya, maka kaki Panji Wiratama-lah yang menghantam lambungnya, sehingga perutnya terasa mual.

Selagi orang itu terbongkok-bongkok menahan sakit di lambungnya, maka Panji Wiratama telah mengetuk tengkuk orang itu dengan sisi telapak tangannya.

Orang itu pun jatuh menelungkup. Bahkan langsung menjadi pingsan.

Prajurit yang lain sempat melihat apa yang terjadi atas kawannya itu. Ternyata Panji Wiratama tidak mengetuk leher kawannya itu, maka leher prajurit itu akan dapat terpenggal karenanya.

Semakin lama keadaan para prajurit Raden Panji menjadi semakin sulit. Tetapi Raden Panji tidak mau mengakui kenyataan itu. Ia masih menuntut kemenangan sebagaimana setiap terjadi benturan antara para prajuritnya dengan para perampok dan penjahat. Bahkan setiap kali Raden Panji masih mengulangi perintahnya, “Bunuh yang tidak mau menyerah”

Tetapi tidak seperti yang selalu terjadi, maka para prajuritnya tidak dapat melakukan perintah itu. Bahkan Raden Panji sendiri telah mengalami kesulitan menghadapi lawannya, Ki Tumenggung Purbarana.

Raden Puspasari sendiri memang tidak terlibat dalam pertempuran itu. Hanya sekali-sekali ia harus menghindar jika datang serangan tiba-tiba. Namun para prajuritnya selalu berusaha untuk melindunginya.

Dalam kecemasan Raden Puspasari ternyata tertarik sekali kepada Manggada dan Laksana yang dengan tangkas mengimbangi para prajurit yang menjadi lawan mereka. “Meskipun keduanya bukan prajurit dan umurnya masih terhitung sangat muda, namun keduanya nampak tangkas dan cekatan. Keduanya sama sekali tidak mencemaskan, meskipun keduanya harus melawan prajurit-prajurit yang berpengalaman. Bahkan sekali-sekali kedua anak muda itu berloncatan dengan cepatnya, sehingga lawannya menjadi kebingungan. Seperti anak kijang yang bermain-main di rerumputan“ desis Raden Puspasari.

Sementara itu, keadaan Raden Panji Prangpranata bersama para prajuritnya menjadi semakin sulit. Semakin lama semakin banyak orang-orangnya yang terluka, sehingga tidak mampu lagi memberikan perlawanan yang berarti. Meskipun pada kedua belah pihak nampaknya tidak dibakar oleh nafsu untuk saling membunuh, namun bagaimanapun juga di dalam pertempuran yang sengit, kemungkinan itu akan dapat terjadi.

Raden Panji sendirilah yang selalu berteriak-teriak untuk membunuh lawan yang tidak mau menyerah. Namun Raden Panji beberapa kali harus berloncatan surut untuk memperbaiki keadaannya yang semakin sulit.

Pada saatnya, maka Ki Tumenggung Purbarana yang berteriak-teriak, “Raden Panji. Sebagai seorang Senopati kau arus mampu menilai keadaan medan. Menyerahlah. Selagi kita masih dikendalikan oleh penalaran kita. Jika perasaan mulai menguasai otak kita, maka keadaan tentu akan lain”

“Setan kau Purbarana“ geram Raden Panji yang benar-benar tidak man melihat kenyataan itu, “siapapun yang menentang uasaku di sini, akan aku hancurkan sampai lumat”

“Kau jangan kehilangan akal Raden Panji“ sahut Ki Tumenggung Purbarana, “aku akan memberimu kesempatan untuk menilai pertempuran ini dalam keseluruhan”

Tetapi Raden Panji justru meloncat menyerang dengan garangnya.

Ki Tumenggung Purbarana bergeser mengelak. Namun senjatanya telah berputar mematuk tubuh Raden Panji. Tetapi ternyata Raden Panji yang tangkas itu masih sempat menggeliat. Bahkan dengan cepat senjatanya terayun menyambar kearah kening Ki Tumenggung.

Ki Tumenggung dengan cepat mengangkat senjata menangkis serangan Raden Panji itu. Dengan demikian, kedua senjata itupun telah berbenturan. Masing-masing dengan mengerahkan segenap kekuatannya.

Raden Panji mengumpat sejadi-jadinya. Hampir saja senjatanya terlepas dari tangannya. Namun ia masih sempat mempertahankannya meskipun tangannya terasa menjadi pedih.

Sambil meloncat mundur tiba-tiba saja ia berteriak, “Jangan hiraukan yang lain. Ambil perempuan pengkhianat itu. Aku hanya memerlukan perempuan itu. Siapa yang menghalangi, bunuh saja di tempat”

Tetapi tidak seorang pun yang dapat melakukannya. Selain mereka masih harus bertempur, mereka pun tidak akan mampu melakukannya.

Di ruang dalam, Mas Rara mendengar teriakan Raden Panji itu. Dengan gemetar ia telah memeluk ibunya, sementara Wirantana berkata, “Jangan takut, ayah dan aku ada di sini”

Tetapi Mas Rara memang menjadi ketakutan. Apalagi ia tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di pendapa dan di halaman depan rumahnya.

Dalam pada itu, seakan-akan seluruh padukuhan menjadi ketakutan. Satu dua orang yang mendengar keributan itu dan keluar dari rumahnya, menjadi berdebar-debar. Satu dua orang itu mencoba untuk melihat apa yang terjadi di halaman rumah Ki Partija. Tetapi demikian mereka melihat sebuah pertempuran yang sengit, maka mereka pun telah pergi menjauh. Beberapa orang yang lain yang ingin melihat keadaan, telah diberitahu tentang apa yang telah terjadi.

“Apa, yang sebenarnya terjadi di rumah itu?“ desis seseorang.

“Kita tidak tahu. Ada dua pasukan yang datang ke rumah itu. Namun ternyata kedua pasukan itu telah bertempur”

Dengan demikian, meskipun seakan-akan seisi padukuhan itu telah terbangun, namun mereka tidak berani mendekat rumah Ki Partija Wirasentana. Meskipun ada niat diantara mereka untuk membantu jika ada kesulitan yang terjadi. Tetapi mereka tidak akan dapat melibatkan diri dalam pertempuran yang sengit. Merekapun tidak tahu kepada siapa mereka harus berpijak.

Karena itu, mereka hanya dapat mengikuti pertempuran itu dari jarak yang agak jauh, dengan jantung yang berdebar-debar. Namun demikian, pintu setiap rumah telah ditutup rapat-rapat. Nyala lampu diperkecil dan perempuan-perempuan memeluk anak-anak mereka semakin erat.

Seorang anak laki-laki merengek mencari ayahnya. Dengan susah payah ibunya membujuknya agar anak itu diam.

“Ayah sedang meronda ngger. Tidurlah. Masih malam“ bisik ibunya dengan suara yang gemetar.

Sebenarnyalah hampir setiap laki-laki memang keluar dari rumahnya dan berpesan agar isterinya menyelarak pintu rapat-rapat. Yang tidak mendengar keributan telah diketuk pintunya oleh tetangga-tetangganya dan dimintainya keluar rumah, meskipun di luar rumah mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Pertempuran di halaman rumah Ki Partija masih saja berlangsung. Tidak ada tanda-tanda bahwa Raden Panji akan menyerah, meskipun orang-orangnya semakin terdesak. Beberapa orang justru telah terluka. Dan beberapa saat kemudian Raden Panji sendiri telah tergores ujung senjata pula. Meskipun lukanya tidak dalam dan tidak mempengaruhi kemampuannya, tetapi pakaiannya telah terkoyak lebar.

Dalam pada itu, Raden Puspasari akhirnya menjadi tidak sabar lagi. Iapun mulai menyingsingkan kain panjangnya. Sikap Raden Panji menurut Raden Puspasari telah melampaui batas wewenangnya, sementara ia tidak mau mendengarkan pendapat orang lain sama sekali.

“Orang yang semula dianggap berjasa itu ternyata telah menjadi mabuk kekuasaan“ berkata Raden Puspasari di dalam atinya. Namun katanya kemudian kepada dirinya sendiri, “Apa-boleh buat. Aku akan mengambil alih orang itu. Aku harus benar-benar sampai hati untuk melumpuhkannya. Biarlah Ki Tumenggung Purbarana menyelesaikan para prajuritnya”

Tetapi ketika Raden Puspasari melangkah ke tangga pendapa, ia terkejut karenanya. Raden Puspasari telah mendengar derap kaki kuda mendekati halaman rumah Ki Partija Wirasentana.

Karena itu, ia urung turun ke halaman. Dengan berdebar-debar Raden Puspasari menunggu siapa yang telah datang itu. Mungkin prajurit-prajurit Raden Panji yang menyusul. Mungkin orang lain. Atau siapapun.

Ternyata tidak hanya derap beberapa ekor kuda mendekati pintu gerbang halaman. Namun mereka masih saja terikat dalam pertempuran, sehingga mereka tidak dapat memperhatikannya dengan seksama. Tetapi derap kaki kuda itu telah menyentuh setiap jantung yang ada di halaman rumah Ki Partija dan sedang bertempur itu.

Beberapa saat kemudian, beberapa ekor kuda muncul dari luar regol. Dua orang dalam pakaian perwira tinggi Pajang, diikuti oleh lima orang prajurit pengawal. Bahkan menilik pakaiannya, mereka adalah prajurit khusus bagian dari Wiratamtama.

Demikian mereka berada di halaman, maka pertempuran itu pun seakan-akan telah berhenti. Beberapa orang yang sedang bertempur itu telah berloncatan surut mengambil jarak. Bahkan Raden Panji pun telah meloncat menjauhi Ki Tumenggung Purbarana sambil berteriak, “Siapa lagi yang datang ke halaman rumah pengkhianat ini? Jika kalian prajurit Pajang, maka kewajiban kalian adalah melaporkan kehadiran kalian kepada kami. Pasukan yang telah mendapat wewenang untuk memelihara keamanan di daerah ini”

Dua orang perwira yang masih duduk di punggung kudanya itu tidak segera menjawab. Mereka memandang berkeliling halaman. Sekali-sekali mereka mengusap keringat di kening.

Ketujuh orang itu nampak letih. Demikian pula kuda-kuda mereka.

Namun ketika mereka bergerak lebih dekat dan mulai disentuh oleh cahaya lampu minyak di pendapa, maka orang-orang yang ada di halaman itupun terkejut. Raden Puspasari lah yang pertama-tama menyebut namanya, “Paman Wilamarta”

Orang yang disebut namanya itu memandang ke pendapa. Dengan nada rendah ia berdesis, “Raden sudah berada di sini”

“Ya. Aku mendapat tugas bersama Ki Tumenggung Purbarana“ jawab Raden Puspasari.

“Tetapi apa yang telah terjadi di sini?“ bertanya Ki Wilamarta.

Raden Puspasari pun kemudian turun dari pendapa. Sementara Ki Wilamarta dan para pengiringnya pun meloncat turun dari kudanya.

Sambil mendekati Ki Wilamarta Raden Puspasari pun berkata, “Silahkan Ki Wilamarta bertanya kepada Raden Panji Prangpranata”

Ki Wilamarta mengerutkan keningnya. Dipandanginya Raden Panji Prangpranata, Beberapa langkah Ki Wilamarta maju mendekat.

Sebelum Ki Wilamarta bertanya, Raden Panji telah berkata, ”Selamat datang di daerah tugasku Ki Wilamarta”

Ki Wilamarta tersenyum. Katanya, “Aku menjadi kelelahan. Aku datang ke barak induk pengendalian pasukanmu. Tetapi kau tidak ada. Aku mendapat keterangan bahwa belum terlalu lama kau pergi ke Nguter untuk memburu para pengkhianat”

“Ya. Ya, Ki Wilamarta“ sahut Raden Panji dengan serta merta, “aku memang sedang berusaha menangkap pengkhianat yang ternyata mendapat perlindungan dari beberapa orang prajurit Pajang. Mereka datang ke daerah kuasaku tanpa melaporkan kehadirannya kepadaku”

“Siapa“ bertanya Ki Wilamarta.

“Tumenggung Purbarana“ jawab Raden Panji Prangpranata.

“Tetapi aku melihat Panji Wiratama ada di sini pula“ berkata Ki Wilamarta.

“Ya Ki Wilamarta“ jawab Panji Wiratama yang ada dikejauhan, yang telah mengambil jarak pula dari lawannya, ”aku telah datang pula kemari. Aku telah mencoba mencegah tindakan yang diambil Raden Panji Prangpranata meskipun aku datang agak terlambat. Tetapi Raden Panji sama sekali tidak menghiraukannya”

“Aku sedang menjalankan tugasku Ki Wilamarta sahut Raden Panji.

“Tugas apa?“ bertanya Ki Wilamarta.

“Aku sedang memburu pengkhianat dan para perampok Selama ini aku telah berhasil menjalankan tugasku dengan baik. Menguasai daerah yang luas dan membersihkannya dari kejahatan. Tetapi ternyata kemudian justru aku sendirilah yang dirampok dan dikhianati“ jawab Raden Panji.

“Apa saja milik Raden Panji yang dirampok?” bertanya Ki Wilamarta.

Raden Panji termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab, “Justru lebih berharga dari harta benda. Calon isterikulah yang telah dirampok orang”

“Dan siapakah pengkhianat itu?“ bertanya Ki Wilamarta pula.

Raden Panji memang menjadi bingung. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Bakal isteriku itu”

“Jika demikian, kenapa Raden Panji harus menyusul demikian jauhnya untuk mengambil pengkhianat itu? Biar sajalah pengkhianat itu dibawa oleh para perampok. Raden Panji tidak perlu berusaha menolongnya”

“Aku tidak akan menolongnya Tetapi aku akan menangkap mereka semuanya” jawab Raden Panji tersendat-sendat.

Ki Wilamarta tersenyum. Dipandanginya orang-orang yang ada di halaman itu. Raden Puspasari, Ki Tumenggung Purbarana yang termangu-mangu, Panji Wiratama dan para prajurit Pajang yang sedang saling bertempur itu.

Mereka pada umumnya telah mengenal Ki Wilamarta seorang Senapati dari prajurit Wiratamtama Pajang. Seorang yang dekat sekali hubungannya dengan Sultan di Pajang.

Halaman itu pun kemudian telah dicengkam oleh suasana yang tegang namun hening. Tidak seorang pun yang berbicara diantara mereka. Sementara Ki Wilamarta melangkah ke pendapa dan kemudian naik serta berdiri tegak menghadap kehalaman.

“Raden Panji“ berkata Ki Wilamarta, “kami, di Pajang telah menerima laporan tentang tugas-tugas yang kau lakukan. Di samping keberhasilanmu menenangkan daerah ini dari kerusuhan yang ditimbulkan oleh para perampok, maka Raden Panji pun telah menimbulkan kegelisahan tersendiri. Tugas yang kau pikul telah kau laksanakan dalam batas-batas wajar. Tetapi semakin lama menjadi semakin sulit dimengerti, sehingga pada suatu saat, tingkah laku Raden Panji sudah terlepas dari kendali”

“Itu fitnah“ potong Raden Panji.

Tetapi Ki Wilamarta seakan-akan tidak mendengarkannya. Ia berkata selanjutnya, “Aku mendapat tugas untuk mengikuti perkembangan tugas Raden Panji. Karena itu, aku telah menugaskan Panji Wiratama yang belum kau kenal untuk mengamatimu dari dekat. Ia tinggal beberapa rumah saja dari rumah yang kau pergunakan sebagai barak induk pasukanmu. Ia tahu benar apa yang kau lakukan. Ia tahu, berapa orang perempuan yang telah menjadi korbanmu. Selain itu, Raden Panji juga telah merasa berwenang untuk menjatuhkan hukuman apa saja kepada orang yang dianggap bersalah. Bahkan hukuman mati sekalipun”

“Puncak dari kegelisahan tugas Raden Panji adalah keinginan Raden Panji mengambil calon isteri dari Nguter ini. Kami telah mendapat laporan lengkap. Laporan itu kami hubungkan dengan tugas Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari. Kedua-duanya juga menyebutkan padukuhan Nguter. Apalagi ketika laporan yang terperinci itu menyebut tentang Mas Rara“ dia berhenti sejenak.

“Karena itu, aku datang langsung ingin bertemu dengan Raden Panji. Tetapi saat kami datang, Raden Panji sedang memburu pengkhianat dan perampok kemari Ke Nguter. Betapapun kami letih, kami berusaha menyusul kemari, meskipun harus beristirahat beberapa kali di perjalanan”

Wajah Raden Panji menjadi merah. Dipandanginya orang di sekelilingnya. Nampak beberapa orang perwira yang memiliki kekuasaan di dalam tataran keprajuritan Pajang. Bahkan beberapa orang yang kedudukannya lebih tinggi dari kedudukannya. Apalagi Ki Wilamarta sendiri telah datang ke tempat itu.

Sementara itu Ki Wilamarta telah berkata selanjutnya, “Kau masih sempat mengingat apa yang kau lakukan selama ini Raden Panji. Sekarang aku datang tidak untuk melupakan keberhasilanmu. Tetapi aku sekadar membawa perintah baru bagimu. Kembali ke Pajang”

Raden Panji yang tua itupun kemudian menundukkan kepalanya. Ia masih mendengar Ki Wilamarta bertanya, ”Bukankah aku tidak perlu menunjukkan pertanda tugasku kepadamu? Bukankah wajahku yang telah kau kenal ini sudah merupakan pertanda itu?”

“Ya Ki Wilamarta“ desis Raden Panji, “aku tidak akan berani menanyakan pertanda tugas Ki Wilamarta, justru aku mengenal Ki Wilamarta”

“Nah, jika demikian, marilah. Kita akan kembali ke Pajang“ berkata Ki Wilamarta.

“Aku tidak akan melawan perintah itu” jawab Raden Panji, “tetapi aku akan berbicara dengan para prajuritku. Aku akan kembali ke barak induk pengendalian pasukanku. Aku akan mengumumkan mereka dan berbicara kepada mereka”

“Tidak Raden Panji“ jawab Ki Wilamarta, “kita akan langsung pergi ke Pajang. Kita akan mengambil jalan lain dan tidak akan singgah di barak pengendalian pasukanmu itu”

“Tetapi aku masih mempunyai barang-barang di sana” desis Raden Panji.

“Biarlah orang lain mengurusnya“ jawab ki Wilamarta.

Raden Panji tidak menjawab lagi. Kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk.

Namun Raden Puspasari lah yang berkata, “Tentu paman Wilamarta tidak kembali ke Pajang sekarang. Paman telah menjadi sangat letih. Kuda-kuda paman pun letih. Paman akan berada di sini sampai besok siang, sehingga cukup untuk beristirahat. Besok kita bersama-sama menempuh perjalanan ke Pajang“

Ki Wilamarta termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan beristirahat di sini sampai besok siang”

Dengan demikian, maka pertempuran di halaman itu pun telah selesai. Beberapa orang yang terluka sempat mendapat perawatan. Sementara Ki Wilamarta telah memanggil beberapa orang untuk berbicara di pendapa. Raden Puspasari, Ki Tumenggung Purbarana, Panji Wiratama, Raden Panji Prangpranata serta Ki Partija Wirasentana. Sedangkan di halaman para prajurit berada dalam kelompok-kelompok mereka masing-masing. Namun mereka yang terluka telah dibaringkan di pringgitan untuk mendapat perawatan. Apalagi mereka yang terluka cukup parah. Bahkan ada dua diantara mereka yang nyawanya tidak dapat tertolong lagi.

Malam itu Ki Wilamarta telah memberikan beberapa perintah kepada para perwira yang telah dikumpulkannya itu.

Ki Wilamarta yang membawa wewenang penuh dari Kangjeng Sultan itu telah memerintahkan Panji Wiratama untuk menggantikan kedudukan Raden Panji Prangpranata.

“Tugasmu tidak seberat tugas Raden Panji Prangpranata“ berkata Ki Wilamarta, “Apalagi satu atau dua tahun yang lalu”

“Ya Ki Wilamarta“ jawab Panji Wiratama, “aku siap menjalankan perintah”

“Para prajurit yang datang ke Nguter bersama-sama dengan Raden Panji Prangpranata akan menjadi saksi perintahku. Tetapi untuk sandaran Ki Panji Wiratama dalam menjalankan tugasnya, maka aku perintahkan Raden Panji menyerahkan pertanda tugasnya kepada Ki Panji Wiratama”

Raden Panji Prangpranata tidak dapat mengingkarinya melakukan segala perintah Ki Wilamarta.

Sementara itu, di ruang dalam Mas Rara masih saja ketakutan. Namun Wirantana yang menemaninya berkata, “Jangan takut. Segala sesuatunya telah berlalu”

Mas Rara tidak menjawab. Tetapi tubuhnya masih gemetar.

Demikianlah, maka segala sesuatunya telah diselesaikan oleh Ki Wilamarta. Para perwira yang ada di pendapa itu sudah tahu pasti apa yang akan mereka lakukan besok.

Namun masih ada satu hal yang mereka bicarakan, bagaimana mereka akan membawa Mas Rara ke Pajang

“Mas Rara tidak mau duduk di punggung kuda” berkata Ki Partija Wirasentana, “namun atas kebaikan hati Ki Jagabaya, aku telah meminjam pedati kuda itu. Pedati kuda yang beberapa hari yang lalu telah dibawa mengantarkan Mas Rara menghadap Raden Panji Prangpranata”

“Apakah pedati itu masih dapat dipinjam?“ bertanya Ki Wilamarta.

“Besok aku akan berbicara dengan Ki Jagabaya“ jawab Ki Partija Wirasentana.

Tetapi Ki Wilamarta itu pun kemudian telah bertanya kepada Raden Puspasari, “Apakah Mas Rara sudah siap berangkat besok?”

Raden Puspasari itu pun termangu-mangu sejenak. Sambil memandangi Ki Partija Wirasentana, Raden Puspasari itu berkata, “Aku belum mengatakan apa-apa kepada gadis itu”

Ki Wilamarta mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa Raden belum berbicara dengan gadis itu?“

“Gadis itu baru datang. Ketika aku datang ke rumah ini, Mas Rara telah berada di tempat Raden Panji Prangpranata. Namun kemudian telah melarikan diri, “jawab Raden Puspasari.

Ki Wilamarta pun mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Ya. Aku dapat mengerti dan membayangkan peristiwanya. Tetapi bukankah sebaiknya Raden berbicara sekarang dengan Mas Rara jika ia belum tidur?“

“Belum Ki Wilamarta“ jawab Ki Partija Wirasentana, “gadis itu masih ketakutan di dalam, ditunggui kakaknya, maksudku anakku, Wirantana”

Raden Puspasari mengangguk-angguk. Katanya kepada Ki Partija, “Aku dan Ki Tumenggung Purbarana akan berbicara dengan gadis itu”

“Tetapi Wiranti tentu tidak akan berani keluar, “desis Ki Partija Wirasentana.

“Jadi?“ desis Raden Puspasari.

“Biarlah Raden dan Ki Tumenggung masuk ke pringgitan” berkata Ki Partija Wirasentana.

Demikianlah. Diantar oleh Ki Partija, kedua utusan dari Pajang itu telah memasuki pringgitan. Ketika pintu terbuka, Mas Rara telah memeluk ibunya erat-erat.

“Jangan takut” berkata ayahnya, “keduanya adalah utusan dari Pajang yang justru telah menolongmu”

Namun bagaimanapun juga, bayangan ketakutan itu masih nampak di wajah Mas Rara.

Raden Puspasari dan Ki Tumenggung Purbarana itupun kemudian telah duduk di ruang dalam. Dengan sangat berhati-hati Raden Puspasari mulai berbicara dengan Wiranti yang kemudian disebut Mas Rara.

Mas Rara sendiri menjadi sangat terkejut mendengar keterangan itu. Bahkan ketika ia menyadari, bahwa para utusan dari Pajang itu berniat menjemputnya dan membawanya ke Pajang. Mas Rara telah memeluk ibunya erat-erat. Hampir berteriak Mas Rara menangis, “Aku tidak mau. Aku tidak mau”

Bagi Mas Rara memang tidak ada orang lain yang dianggapnya sebagai ayah dan ibunya kecuali Ki Partija Wirasentana suami isteri. Meskipun keduanya tidak lebih dari orang-orang padesan, tetapi Mas Rara merasakan kesejukan kasih sayangnya sejak ia masih belum menyadari kehadiran dirinya.

Namun Raden Puspasari, Ki Tumenggung Purbarana dan bahkan Ki Partija Wirasentana suami isteri, dengan sabar berusaha, meyakinkan bahwa Mas Rara sudah sepantasnya berada di Pajang.

Sampai dini hari mereka membujuk Mas Rara untuk bersedia pergi ke Pajang. Namun mereka masih saja mengalami kesulitan. Apalagi di Pajang, sebenarnya Mas Rara sudah tidak lagi mempunyai ayah dan ibu kandung lagi.

Meskipun demikian, dengan segala macam kesediaan dan janji, maka Mas Rara akan pergi ke Pajang namun bersama dengan orang yang dianggap orang tuanya itu. Ki Partija Wirasentana suami isteri, dan kakaknya Wirantana.

Raden Puspasari dan Ki Tumenggung Purbarana memang tidak berkeberatan. Mereka pun membayangkan bahwa akhirnya Wiranti itu tentu akan kembali lagi kepada Ki Partija Wirasentana suami isteri, karena selain kedua orang tuanya sendiri sudah tidak ada, hubungan antara Wiranti dengan kedua orang tua angkatnya itu sudah terlanjur demikian eratnya.

Ketika fajar mulai membayang di langit, maka di pendapa rumah Ki Partija Wirasentana itu Ki Wiratama telah mendapat laporan tentang kesediaan Mas Rara pergi ke Pajang, namun bersama dengan seluruh keluarganya.

“Tentu tidak berkeberatan” berkata Ki Wilamarta, “bagaimanapun juga, nama Pangeran Kuda Kertanata masih juga dihormati. Demikian pula dengan Raden Kuda Respada, ayah Wiranti itu”

Ketika kemudian matahari terbit, maka para perwira prajurit Pajang itu justru baru mulai beristirahat. Namun demikian, Raden Panji Prangpranata merasa bahwa dirinya selalu berada di dalam pengawasan.

Menjelang siang, mereka akan meninggalkan tempat itu ke arah yang berbeda, meskipun perjalanan mereka akan mereka lakukan sampai jauh malam. Ki Wilamarta akan membawa Raden Panji Prangpranata ke Pajang, bersama-sama dengan Raden Puspasari dan Ki Tumenggung Purbarana yang akan membawa Mas Rara dengan seluruh keluarganya ke Pajang. Sedangkan Ki Panji Wiratama bersama para prajurit yang datang bersama Raden Panji serta para pembantunya, akan kembali ke padukuhan induk pengendalian pasukan Pajang yang semula dipimpin oleh Raden Panji Prangpranata.

Namun dalam pada itu, sebelum semuanya berangkat meninggalkan rumah Ki Partija Wirasentana, setelah Ki Jagabaya meminjamkan pedati kudanya. maka dua orang anak muda telah menemui Ki Partija Wirasentana untuk minta diri.

“Tidak“ jawab Ki Partija Wirasentana, “kalian berdua akan pergi bersama kami ke Pajang”

“Terima kasih Ki Partija“ jawab Manggada, “kami sudah terlalu lama tersangkut di padukuhan Nguter ini. Karena itu, maka kami mohon diri untuk menentukan perjalanan kami. Sebenarnyalah kami sedang menempuh perjalanan pulang untuk menjumpai orang tua kami setelah beberapa lama mengembara”

“Siapakah mereka Ki Partija?“ bertanya Ki Wiratama. Dengan singkat Ki Partija telah menceriterakan tentang kedua orang anak muda itu, yang bersama-sama dengan anaknya telah membebaskan Wiranti dari tangan Raden Panji. Namun Wirantana sempat menceriterakan apa yang pernah dilakukan oleh keduanya. Manggada dan Laksana adalah orang yang telah menyelamatkan Mas Rara dari kuku-kuku dan taring harimau lapar. Namun keduanya pula yang telah melepaskan Mas Rara dari nafsu hitam Ki Resa, pamannya.”

“Tanpa kedua orang anak muda itu, maka para prajurit yang dikirim oleh Raden Panji untuk menjemput Mas Rara tentu akan dihancurkan di perjalanan“ berkata Wirantana kemudian.

Ki Wilamarta mengangguk-angguk. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka ia pun dapat melihat kemampuan yang terpancar pada kedua orang anak muda itu.

Maka katanya kemudian, “Anak-anak muda. Jika berkenan di hati kalian, aku ingin menawarkan, agar kalian bersedia menjadi prajurit di Pajang”

Namun Manggada menjawab, “Kami mengucapkan terima kasih. Memang sangat menarik bagi kami untuk menjadi seorang prajurit. Tetapi kami mohon untuk minta ijin dahulu kepada orang tua kami”

Ki Wilamarta tersenyum. Katanya, “Baiklah. Sebenarnya kalian memang minta ijin lebih dahulu”

Dengan demikian maka Ki Partija Wirasentana suami isteri, Wirantana dan bahkan Mas Rara sendiri tidak dapat lagi mencegahnya. Manggada dan Laksana benar-benar meninggalkan padukuhan Nguter dengan seribu macam kesan dan kenangan.

Kedua anak muda itu sempat melihat sepasang mata Raden Panji Prangpranata yang menyala. Namun ia pun melihat senyum ramah Raden Puspasari dan pandangan lembut Ki Tumenggung Purbarana. Kepada Ki Panji Wiratama, Manggada dan Laksana mengingatkan akan kuda-kuda yang disediakan bagi mereka.

“Kuda itu masih ada di sini“ desis Manggada.

Ketika mereka berdua meninggalkan halaman rumah itu, Mas Rara dan keluarganya telah melepaskan mereka sampai ke regol. Dengan nada yang lemah Mas Rara berbisik, “Terima kasih. Aku tidak akan pernah melupakan kalian berdua”

Manggada dan Laksana hanya dapat menarik nafas. Namun mereka pun kemudian telah melangkah meninggalkan regol halaman semakin lama semakin jauh.

 

T A M A T

Episode berikutnya adalah “SANG PENERUS”

ikuti kisah selanjutnya.

 

kembali | lanjut

ARYA MANGGADA

Yang Terasing selesai diupload Kamis 14 Agustus 2014. Masih tersisa dua buku karangan Ki SHM, yaitu Istana Yang Suram dan Serial Arya Manggada.

Pada kesempatan selanjutnya akan kami upload Setial ARYA MANGGADA yang terdiri dari lima episode:

1. Menjenguk Cakrawala (6 jilid)

2. Mas Rara (4 jilis)

3. Sang Penerus, (7 jilid)

4. Sejuknya Kampung Halaman, (6 jilid) dan

5. Matahari Senja (7 jilid)

Rencananya, episode awal (Menjenguk Cakrawala) akan diupload tanggal 17 Agustus 2014 dengan kecepatan upload 3 hari sekali

AMMC-02 AMMR-01 AMMS-01 AMSKH-01 AMSP-01

Mohon doanya agar kami dapat menyelesaikan rencana tersebut.

Lereng Gunung Kawi Agustus 2014

YANG TERASING

Bunga di Batu Karang akanwedaran terakhir besok pagi, Senin 14 Juli 2014.

Karya SH Mintardja yang masih tersisa adalah:

1. Yang Terasing

2. Istana Yang Suram

3. Serial Arya Manggada (5 seri)

Konversi ke doc yang tersedia adalah YANG TERASING. Oleh karena itu, setelah selesai wedaran Bunga di Batu Karang akan diwedar buku tersebut.

Sayang, kami tidak memiliki buku aslinya, yang kami punyai buku edisi kedua dengan cetak tebal (160 halaman), agak berat kalau diupload satu halaman.

Kami masih coba edit per jilid tebal, kemudian diupload format buku aslinya. Sayangnya, coba dicari covernya tidak lengkap, dan pemotongan halamannya mungkin tidak sama dengan buku asli.

Editing buku ini agak lumayan, dan bulan puasa menyebabkan kesempatan editing menjadi berkurang, oleh karena itu, sanak kadang mohon bersabar. Pada saatnya akan kami upload, meskipun kecepatannya lebih lambat dari buku-buku sebelumnya, munkin pada awalnya maksimum 3 haru sekali. Jika sudah terkumpul cukup banyak, akan dipercepat seperti biasanya menjadi 2 hari sekali.

Mohon doanya, agar kesehatan kami tetap terjaga sehingga bisa mnyelesaikan editing dan upload sampai jilid terakhir.

Nuwun

YT-01

Wedaran pertama sudah bisa dibaca di http://serialshmintardja.wordpress.com/lain-2/yang-terasing/yang%20terasing-01/

Untuk sementara (sebelum terkumpul sejumlah jilid yang selesai edit) wedaran diatur tiga (3) hari sekali mulai 17 Juli 2014, jika sudah terkumpul cukup banyak dan aman untuk wedaran yang ajeg akan dipercepat menjadi dua (2) hari sekali

 

catatan:

Belum bisa memberikan sinopsisnya. karena belum selesai membacanya, memori yang terdahulu sudah banyak hilang, he he he …..

Yang sempat tertangkap di jilid awal, kisah ini berlatar belakang Kerajaan Demak.

 

 

BdBK-22

BUNGA DI BATU KARANG

JILID 22

BdBK-22KEDUA prajurit itu tidak akan dapat ingkar lagi. Mereka harus berada di dalam satu kelompok prajurit yang akan pergi ke Jati Aking untuk melihat keadaan kawan-kawan-mereka, beberapa orang prajurit yang seharusnya sudah kembali ke Surakarta

Ketika kemudian mereka bersiap-siap membenahi diri, kuda-kuda mereka dan senjata masing-masing, maka salah seorang dari kedua orang itu berdesis, “ Surakarta telah terbakar oleh api peperangan. Setiap jengkal tanah di luar kota telah berubah menjadi bara. Dan kita akan masuk ke dalamnya”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita adalah prajurit. Apapun yang akan terjadi, kita memang harus melakukannya jika itu memang tugas dan kewajiban. Namun menjelajahi daerah yang juga menjadi daerah jelajah Pangeran Mangkubumi atau Raden Mas Said, rasa-rasanya memang mengerikan. Bulak-bulak panjang rasa-rasanya telah berubah menjadi jalur jalan menuju ke kuburan”

Yang lain mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bagi para prajurit Surakarta, pecahnya perang melawan Pangeran Mangkubumi yang tidak dapat menahan kesabarannya lagi itu merupakan hantu yang selalu membayangi mereka siang dan malam. Jika semula masih ada keseganan Raden Mas Said terhadap pamandanya, sehingga untuk beberapa saat kegiatannya agak mereda, maka pada saat terakhir sikap Pangeran Mangkubumi justru seperti menyiramkan minyak ke dalam api yang sudah redup itu, sehingga api itu akan menyala semakin besar membakar langit Surakarta

Namun Senapati muda yang akan memimpin sepasukan prajurit pergi ke Jati Aking itu seolah-olah tidak mengerti, apa yang telah terjadi. Karena itu maka ia sama sekali tidak menjadi gentar. Dengan membawa duapuluh lima orang prajurit berkuda terpilih, maka Senapati muda itu pun meninggalkan baraknya atas ijin pimpinan pasukan berkuda.

“Pasukan berkuda adalah pasukan terbaik di Surakarta” berkata Senapati muda itu, “meskipun jumlah pasukan berkuda terhitung sedikit di Surakarta, tetapi yang sedikit ini harus menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang terpilih. Sikap Raden Juwiring telah menaburkan noda atas pasukan berkuda, sehingga kepercayaan para Panglima atas pasukan ini menjadi susut. Adalah kewajiban kita untuk mengangkat kembali nama baik dari pasukan ini”

Para prajurit dari pasukan berkuda itu merasa bangga akan kelebihan mereka. Namun meskipun demikian, setiap mereka menyadari keadaan, maka hati mereka pun menjadi berdebar-debar, betapapun mereka adalah prajurit terbaik. Meskipun demikian mereka harus dapat melakukan tugas mereka melampui prajurit dari kesatuan yang lain.

Dengan dada tengadah prajurit-prajurit dari pasukan berkuda itu berderap melalui jalan-jalan kota. Kemudian mereka pun menuju ke pintu gerbang yang dijaga ketat pada saat-saat yang panas itu. Beberapa orang yang melihat pasukan itu lewat, merasa bangga sehingga mereka pun yakin, bahwa kota Surakarta tidak akan disentuh oleh peperangan.

“Tidak seorang pemberontak pun yang akan dapat memasuki kota” berkata orang-orang itu di dalam hatinya.

Sementara itu, prajurit dari pasukan berkuda itu pun telah melewati gerbang kota. Dengan pandangan acuh tidak acuh mereka sekilas melihat para prajurit yang bertugas di pintu gerbang. Bahkan salah seorang pemimpin kelompok di bagian paling belakang dari iring-iringan itu berdesis, “Apa kerja kalian sebenarnya di situ? Tidur?”

Prajurit yang bertugas di pintu gerbang itu tidak segera menangkap maksudnya. Karena itu tidak seorang pun yang menjawab. Baru kemudian, ketika mereka menyadari arti dari kata-kata itu pun, maka beberapa orang telah mengumpat.

Seorang prajurit yang berkumis lebat menggeram, “Anak setan yang sombong. Dikiranya banyak prajurit dari pasukan berkuda saja yang mempunyai arti bagi Surakarta ?”

Kawannya yang bertubuh kecil yang berdiri di sampingnya meraba hulu pedangnya sambil berkata, “Aku sanggup melawan dalam perang tanding setiap orang dari prajurit berkuda itu”

“Suatu ketika mereka akan mengakui, bahwa mereka bukan prajurit yang paling baik di Surakarta. Bahkan sebagian dari pasukan itu justru sudah berkhianat” gumam yang lain.

“Ya. di bawah pimpinan Senapati muda yang bernama Juwiring itu” sahut yang bertubuh pendek.

Kawan-kawannya tidak menyahut lagi. Namun nampak di wajah mereka, perasaan tidak senang melihat kesombongan prajurit dari pasukan berkuda itu, seolah-olah mereka adalah prajurit-prajurit yang memiliki kelebihan dari prajurit-prajurit yang lain

Dalam pada itu, iringan prajurit dari pasukan berkuda yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil itu pun berpacu ke padepokan Jati Aking. Mereka semakin mencemaskan keadaan kawan-kawannya yang ternyata masih belum kembali.

Ketika iring-iringan prajurit dari pasukan berkuda itu mendekati padepokan Jati Aking, maka mereka memperlambat lari kuda mereka. Bahkan kemudian Senapati muda yang memimpin pasukan berkuda itu pun memerintahkan dua orang untuk mendahului iring-iringan itu.

“Awasi keadaan di seputar padepokan itu” perintah Senapati muda itu, “aku akan membawa seluruh pasukan ini memasuki padepokan. Beri isyarat jika kau melihat sesuatu yang mencurigakan”

Kedua prajurit itu pun mendahului pasukannya dan mencoba memperhatikan keadaan di hadapan mereka. Nampaknya mereka tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, sehingga mereka pun sama sekali tidak memberikan isyarat.

Demikian Senapati muda dengan pasukannya memasuki pintu gerbang halaman padepokan, maka kedua orang prajurit itu pun tinggal di sebelah menyebelah regol untuk mengamati keadaan yang mungkin tidak menguntungkan.

Dalam pada itu, ketika iring-iringan itu memasuki halaman, Para prajurit itu pun segera melihat beberapa orang yang duduk di tangga pendapa. Iring-iringan itu ternyata telah menumbuh-kan kegembiraan setelah sekian lama mereka menunggu. Rasa-rasanya mereka sudah berada di padepokan itu bertahun-tahun tanpa ada seorang pun yang menengoknya.

Sejenak kemudian, Senapati muda itu pun telah mendengar laporan tentang peristiwa yang terjadi di padepokan itu.

“Orang dungu” geram Senapati itu, “kalian adalah prajurit dari pasukan berkuda. Apakah kalian yang berjumlah lebih. banyak itu tidak mampu mengalahkan mereka?”

“Apapun yang dapat kami katakan, namun kenyataannya memang demikian” jawab orang tertua dari para prajurit yang sudah kehilangan kuda itu.

“Aku hampir tidak percaya” sahut Senapati muda yang marah itu.

“Kami memang terlalu lemah” berkata prajurit yang berbeda sikap dari kawan-kawannya, “Aku mencoba menunjukkan harga diri dari para prajurit dari pasukan berkuda. Tetapi kawan-kawanku tidak berbuat demikian”

“Mereka pantas dihukum” suara Senapati muda itu menjadi gemetar menahan gejolak hati.

“Terserahlah” jawab prajurit tertua, “justru pemimpin kami telah terluka parah”

“Prajurit dari pasukan berkuda tidak mengenal menyerah” bentak Senapati muda itu.

“Kami tidak dapat berbuat lain” jawab orang tertua, “dan pendapat itu menjadi semakin mantap melihat sikap dan tingkah laku isi padepokan ini Sebagaimana kau lihat, kami tidak terkapar sebagai mayat di sini”

“Mereka telah terbius oleh sikap manis” sahut prajurit yang berpendirian lain itu seolah-olah para pengikut Pangeran Mangkubumi adalah malaikat-malaikat berhati seputih kapas”

“Jangan menjadi gila” desis orang tertua itu.

“Bukan karena ada pasukan berkuda yang datang menolong kita, tetapi aku sudah mengatakan sejak tadi” sahut prajurit itu.

“Seharusnya kalian bersikap jantan” Senapati muda itu masih marah”, “tetapi untunglah, Setidak-tidaknya masih ada seseorang yang berhati baja. Tetapi karena tidak ada orang lain yang mendukung sikap itu, maka ia tidak akan dapat bertahan”

“Pasukan berkuda sudah dihinakan” geram prajurit itu, “dan sebagian di antara kita ikut pula mencemarkannya”

Dalam pada itu, Senapati yang marah itupun bertanya, “Kemana isi padepokan ini pergi?”

“Kami tidak mengetahuinya” sahut orang tertua.

“Kami seharusnya mengetahui” sahut prajurit yang berpendirian lain, “tetapi kami sama sekali tidak berusaha untuk mengetahui. Meskipun demikian, kuda mereka tentu akan meninggalkan jejak”

“Jangan bodoh” potong Senapati muda itu, “Kita tidak akan mengambil keputusan yang akan dapat menjerat leher kita sendiri. Tetapi seandainya kita mengikuti jejaknya, apakah kita masih akan mungkin dapat menyusulnya?”

Orang tertua itu menggeleng, “Tidak mungkin. Yang mungkin adalah, bahwa iring-iringan kita yang menelusuri jejak itu akan masuk ke dalam perangkap Pangeran Mangkubumi”

“Kau takut?” bertanya Senapati itu.

“Senapati seharusnya sudah mengenal aku di peperangan. Namun baiklah aku menjawab bahwa aku memang takut” jawab orang tertua itu.

Wajah Senapati itu menjadi merah. Namun kemudian ia harus menahan diri. Ia memang mengenal prajurit tertua itu dengan baik. Ia adalah prajurit yang tidak pernah merasa gentar di medan yang bagaimanapun juga. Jika ia mengaku takut, tentu ada alasan yang kuat yang mendorongnya untuk berkata demikian.

“Senapati” berkata prajurit tertua itu, “Kita harus menilai medan sebaik-baiknya”

“Ia merasa berhutang budi” sahut prajurit yang bersikap lain, “Kami tidak dibunuh oleh penghuni padepokan ini. Perbuatan itu adalah perbuatan yang paling sombong. Tetapi ternyata juga mengandung racun yang sangat tajam bagi prajurit Surakarta, karena kami yang berjiwa lemah akan merasa berhutang budi, sehingga kami yang berjiwa lemah itu akan berceritera kepada siapapun juga, termasuk kepada para prajurit dari pasukan berkuda, bahwa para pengikut Pangeran Mangkubumi adalah orang-orang yang baik hati dan berperikemanusiaan tinggi”

Orang tertua yang berhasil dikalahkan oleh penghuni padepokan itu pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Aku adalah seseorang yang masih berjantung. Aku tidak ingkar, bahwa aku memang mempunyai kesan yang demikian. Tetapi aku tidak pernah merasa bersalah karena kesan itu. Bahkan kadang-kadang aku bertanya kepada diri sendiri, apakah yang akan aku lakukan, jika aku mendapat kesempatan menawan beberapa orang pengikut Pangeran Mangkubumi Apakah aku dapat juga berjiwa besar seperti pengikut Pangeran Mangkubumi menghadapi lawan-lawannya”

“Kita berada pada kedudukan yang berbeda” jawab Senapati itu, “Pangeran Mangkubumi adalah seorang pemberontak. Semua pengikutnya juga pengkhianat. Sedangkan kita adalah prajurit Kerajaan. Perlakuan terhadap pengkhianat dan terhadap prajurit Kerajaan memang harus berbeda. Pengkhianat memang harus dibunuh, sementara kita dilindungi oleh angger-angger, bahwa seorang prajurit yang telah menyerah tidak akan dibunuh”

Prajurit Surakarta yang tertua yang tidak berhasil menangkap Juwiring itu tertawa. Katanya, “Itulah sikap seorang prajurit. Masalahnya bukan angger-angger. Tetapi bagaimana warna jantung kita. Apakah kita masih mengenal warna? Apakah kita masih mengenal diri kita sendiri sebagai bangsa? Sama sekali bukan karena seorang prajurit yang menyerah tidak dapat dibunuh. Seandainya para pengikut Pangeran Mangkubumi membunuh kami yang menyerah, tentu tidak akan ada akibat apapun yang akan menjadikan mereka lebih buruk lagi keadaannya. Membunuh atau tidak membunuh, mereka adalah orang-orang yang berkhianat. Membunuh atau tidak, mereka dapat dibunuh tanpa harus dibuktikan kesalahan mereka. Karena itu, yang terjadi bukannya karena angger-angger, tetapi semata-mata karena kebesaran jiwa. Pangeran Mangkubumi mengajari pengikutnya untuk mengerti, bahwa lawan yang sebenarnya bagi mereka bukannya orang-orang yang kulitnya sewarna. Tetapi musuh utamanya adalah kumpeni”

Wajah Senapati itu pun menjadi tegang. Tetapi ia pun kemudian menghentakkan kakinya, “Omong kosong. Jangan gurui aku. Sebenarnyalah kau telah diracuni oleh sikap manis dan karena itu, maka kau telah merasa berhutang budi kepada mereka”

“Senapati” berkata orang tertua itu, “aku tidak akan menolak. Tetapi karena di sini masih ada pemimpin kami, meskipun terluka parah, namun ia masih akan dapat memberikan keterangan”

“Persetan” geram Senapati itu, “ia pun tentu merasa berhutang budi seperti kau. Ditaburkannya pasir lembut di lukanya, dan ia sudah merasa diobati, dimaafkan dan bahkan ditolong jiwanya. Orang-orang berjiwa kerdil. Bersiaplah Kita akan kembali ke Surakarta ”

“Kami tidak mempunyai kuda lagi” sahut prajurit yang berbeda sikap itu.

“Kemana kuda kalian?” bertanya Senapati itu, “dirampas oleh orang-orang yang baik hati itu? Ternyata harga jiwa kalian tidak lebih dari harga kuda kalian. Mereka menghidupi kalian dan menganggap kalian tidak berarti, bagi mereka”

“Tidak Senapati” jawab orang tertua itu, “kuda-kuda itu telah dihalau untuk menghindarkan kemungkinan yang kurang menguntungkan bagi mereka, Mungkin satu dua orang di antara kita akan mengikuti mereka atau Setidak-tidaknya melihat arah kepergian mereka. Atau perbuatan-perbuatan lain yang tidak mereka kehendaki”

“Gila” geram Senapati itu, “orang-orang Pangeran Mangku-bumi memang orang-orang gila. Mereka dapat merampas kuda itu dan mempergunakannya. Tetapi nalar mereka tidak akan sampai sekian panjangnya”

“Karena itu, kami tidak akan dapat kembali berkuda ke Surakarta desis prajurit itu.

“Kalian dapat berjalan kaki” bentak Senapati itu tiba-tiba, “Kalian memang tidak mengenakan pakaian keprajuritan. Tetapi jika demikian akan memerlukan waktu yang terlalu panjang” Senapati itu berhenti sebentar lalu, “ambil kuda yang ada di padukuhan Jati Sari. Berapapun yang ada”

Wajah orang tertua itu menjadi tegang. Katanya, “Kita akan merampas milik rakyat kita sendiri?”

“Kita memerlukannya” jawab Senapati itu.

“Mereka juga memerlukannya” jawab orang tertua itu.

“Aku tidak peduli. Tetapi kepentingan kita jauh lebih besar dari kepentingan mereka. Kita menghormati kepentingan sese-orang. Tetapi jika kepentingan yang lebih besar menghendaki, maka kepentingan yang lebih kecil itu dapat dikorbankan. Dan malanglah nasib mereka yang kebetulan menjadi korban itu” jawab Senapati itu.

“Jika demikian, biarlah kami berjalan kaki” jawab prajurit tertua itu, “Kami akan membawa kawan-kawan kami yang terluka. Dan kami akan memasuki kota pada saat yang manapun juga, bahkan seandainya menjelang dini hari”

“Tidak” bentak Senapati itu, “ini perintahku. Ambil kuda yang ada di padukuhan. Surakarta memerlukan untuk kepentingan yang jauh lebih berarti dari kepentingan mereka sendiri. Kepentingan perseorangan. Tidak perlu kuda yang setegar kuda pasukan berkuda. Kuda yang kerdil sekalipun akan dapat dipergunakan, karena larinya tentu akan lebih cepat dari jika kalian berlari-lari kembali ke Surakarta ”

Bagaimanapun juga, mereka adalah prajurit, Perintah itu tidak dapat dibantah lagi. Karena itu, maka prajurit tertua itu berkata, “Baiklah, jika demikian biarlah mereka yang berpakaian prajurit sajalah yang melakukan. Jika kami yang melakukan, maka orang-orang padukuhan itu tentu akan melawan, karena mereka tidak tahu pasti, siapakah kami”

“Baik” geram Senapati itu. Lalu perintahnya kepada para prajurit dari pasukan berkuda, “pergilah ke padukuhan, dan ambil kuda yang ada. Sedikit-sedikitnya sepuluh ekor”

Tidak seorang pun yang mempersoalkan perintah itu. Beberapa orang prajurit segera meninggalkan halaman itu dan pergi ke padukuhan Jati Sari.

Semua orang merasa keberatan untuk melepaskan milik mereka, meskipun dengan dalih untuk kepentingan yang lebih besar. Pada umumnya, kuda adalah milik yang berharga, dan yang pada umumnya mempunyai arti yang penting bagi pemiliknya. Namun tiba-tiba mereka harus melepaskan kuda itu kepada orang lain begitu saja.

Tetapi mereka tidak dapat menentang kekuasaan Surakarta itu. Dengan hati yang pahit, mereka terpaksa melepaskan kuda mereka. Sehingga akhirnya para prajurit itu mendapat genap sepuluh ekor kuda dari segala sudut padukuhan itu. Memang ada di antaranya kuda yang tegar. Tetapi memang ada kuda yang hampir dapat disebut kerdil.

Para prajurit itu membawa kuda-kuda rampasan itu ke padepokan Jati Aking dan menyerahkannya kepada para prajurit yang telah datang lebih dahulu ke padepokan itu.

“Kami hanya tinggal delapan orang. di antara kami yang tinggal itu telah terluka, sehingga tidak akan mungkin berkuda sendiri” desis orang tertua.

“Terserah kepada kalian. Aturlah orang-orangmu. Jika ada kuda tersisa, kuda itu dapat dipergunakan untuk membawa Barang-barang penting di padepokan ini?”

“Maksud Senapati, kita akan merampok isi padepokan ini” bertanya prajurit tertua itu.

“Tutup mulutmu” bentak Senapati itu, “aku akan membawa semua senjata yang ada di padepokan ini dengan kuda yang tersisa itu”

Orang tertua itu menarik nafas dalam-dalam. Jika benar Senapati itu akan membawa senjata saja, tanpa barang-barang lain, ia tidak akan dapat mencegahnya.

Sebenarnya, bahwa akhirnya prajurit-prajurit itu menemukan sanggar. Kiai Danatirta. Beberapa macam senjata memang tersimpan di dalam sanggar itu, sehingga Senapati itu pun telah memerintahkan mengambil semua senjata dan membawanya ke Surakarta dengan kuda-kuda yang tidak mendapat penunggang-nya.

Demikianlah, segalanya telah dikemasi Karena itu, maka iringan prajurit dari pasukan berkuda itu pun segera kembali ke Surakarta dengan membawa kawan-kawan mereka yang semula tertahan di padepokan Jati Aking karena mereka tidak mempunyai kuda lagi.

Meskipun pada umumnya para prajurit yang tidak memakai gelar keprajuritannya itu merasa senang untuk segera kembali di Surakarta, namun mereka telah mendapat kesan tersendiri atas para pengikut Pangeran Mangkubumi. Rasa dendam dan permusuhan yang sebelumnya menyala di dalam dada mereka, rasa-rasanya menjadi pudar, seperti api lampu yang kehabisan minyak. Meskipun ada juga di antara mereka yang justru merasa terhina oleh sikap para pengikut Pangeran Mangkubumi itu.

Dalam pada itu, maka dengan membawa mereka yang terluka, iring-iringan itu pun menuju ke kota. Beberapa orang yang menyaksikan iring-iringan itu telah menduga-duga. Bahkan ada yang mengira bahwa orang-orang yang tidak dalam pakaian prajurit itu adalah para pengikut Pangeran Mangkubumi yang berhasil ditangkap oleh para prajurit dan pasukan berkuda.

Ketika mereka melewati bulak-bulak panjang, maka mereka pun tidak menjadi lengah sama sekali. Pada saat-saat yang tidak mereka perhitungkan, dapat terjadi, pasukan Pangeran Mangkubumi atau pasukan Raden Mas Said yang bercampur baur di medan yang sama itu akan dapat menyergap mereka.

Namun ternyata bahwa mereka sama sekali tidak mengalami gangguan sampai saatnya mereka kembali memasuki pintu gerbang. Namun agaknya para prajurit yang bertugas di pintu gerbang telah berganti, sehingga para prajurit yang merasa sakit hati atas sikap sombong prajurit dari pasukan berkuda itu telah tidak ada di tempat.

Meskipun demikian, para prajurit yang bertugas itu pun merasa kurang senang melihat sikap kawan-kawannya dari pasukan berkuda yang merasa dirinya lebih penting dari pasukan yang lain.

Sementara itu, maka Surakarta telah mengambil kebijaksanaan-kebijaksanaan baru. Laporan mengenai Rara Warih yang telah sampai kepada Panglima yang mengatur perlawanan terhadap pemberontakan Pangeran Mangkubumi itu, menganggap bahwa Rara Warih adalah seorang tawanan yang penting.

Seperti yang diduga oleh orang-orang yang bersangkutan dengan Rara Warih, maka para pemimpin di Surakarta memang mempertimbangkan untuk mempergunakan Rara Warih untuk memancing Raden Juwiring. Meskipun Raden Juwiring bukan orang yang dianggap terlalu penting di dalam pasukan Pangeran Mangkubumi, namun ia akan dapat di pakai sebagai pancadan untuk mencari orang-orang lain yang telah berkhianat di antara pasukan berkuda dan pasukan yang dipimpin oleh ayahnya, Pangeran Ranakusuma.

“Mungkin masih ada orang-orang lain yang sengaja ditinggalkan di dalam tubuh pasukan berkuda atau di antara pasukan yang lain” berkata para pemimpin prajurit Surakarta atas pertimbangan kumpeni, “karena itu anak muda itu penting bagi kita”

Dengan demikian maka para pemimpin Surakarta itu sudah mulai mencari cara untuk memancing Raden Juwiring agar menyerah dengan taruhan adik perempuannya.

“Tetapi hubungan antara kakak beradik itu kurang baik” berkata salah seorang yang mengenal Raden Juwiring. Namun yang kurang mengetahui perkembangan hubungan itu di hari-hari terakhir, sehingga ia tidak mengerti bahwa kedua kakak beradik itu telah menemukan diri mereka masing -masing di dalam hubungan keluarga.

“Bagaimana menurut pertimbanganmu?” bertanya seorang perwira dari pasukan berkuda.

“Menurut pengenalanku, keduanya seolah-olah saling bermusuhan” jawab orang yang telah mengenal Raden Juwiring itu, “Rara Warih yang kehilangan kakandanya Raden Rudira tidak dapat menerima kehadiran Raden Juwiring, karena menurut pendapatnya, Raden Juwiring yang berlainan ibu itu akan merampas ayahandanya dari padanya”

“Tetapi menurut laporan dari para prajurit dari pasukan berkuda yang mengambil Rara Warih di Jati Aking, Juwiring marah sekali ketika ia mengetahui bahwa adiknya yang berada di padepokan itu pula telah dibawa oleh para prajurit yang lain” jawab perwira itu.

“Mungkin ia marah karena ia merasa terhina. Tetapi aku tidak tahu, bagaimana sikap Rara Warih terhadap kakandanya dan sikap Raden Juwiring apabila sudah diperhitungkan bahwa keadaan adiknya itu tidak menguntungkannya” berkata orang yang mengenal Raden Juwiring itu.

“Maksudmu, Juwiring tidak peduli apa yang akan terjadi dengan adik perempuannya itu?” bertanya perwira itu

“Ya”

“Tetapi kita akan dapat mencoba. Aku akan mengusulkan, agar Rara Warih dipakai sebagai tanggungan untuk menangkap Juwiring. Jika perlu dengan ancaman-ancaman dan janji-janji” berkata perwira itu.

“Memang dapat dicoba. Tetapi aku meragukan hasilnya” berkata orang itu.

Tetapi para perwira itu masih mempertimbangkan untuk melakukan rencana itu. Bahkan mereka pun telah memper-timbangkan kemungkinan sikap keluarga Rara Warih dari pihak ibunya akan mencampurinya”

“Pangeran Sindurata mungkin akan berusaha membebaskan gadis itu pula” berkata seorang perwira ketika mereka mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas gadis yang tertangkap itu.

“Kita mengenal Pangeran Sindurata” berkata seorang perwira yang rambutnya sudah memutih, “Biarlah Pangeran Yudakusuma yang menjelaskan persoalannya kepadanya. Mungkin ia akan mengerti”

“Kita akan mengatakan kepadanya, bahwa keselamatan puteri itu akan kita jamin, sehingga tidak akan terjadi sesuatu atasnya selama puteri itu berada di dalam tahanan” berkata perwira yang lain.

“Aku setuju. Puteri itu memang perlu ditahan untuk memberi-kan tekanan agar Juwiring memperhatikannya” berkata perwira yang lain pula.

Ternyata para pemimpin tertinggi di Surakarta pun sependapat dengan rencana itu. Karena itu, maka segala sesuatunya sudah diatur dengan cepat. Berita penangkapan dan penahanan itu akan segera disebar luaskan, kemudian panggilan bagi Raden Juwiring pun akan segera diumumkan. Namun Pangeran Sindurata harus dihubungi lebih dahulu.

Dalam pada itu, Kiai Danatirta, Ki Dipanala dan anak-anak angkat dari padepokan Jati Aking ternyata menjadi lebih leluasa tanpa Rara Warih. Mereka segera kembali ke dalam pasukan Pangeran Mangkubumi yang bertahan di Gebang.

Namun dalam pada itu, Juwiring tidak dapat melupakan adik perempuannya. Ia membayangkan sesuatu yang sangat mengerikan akan dapat terjadi atas adiknya. Apalagi jika ia jatuh ke tangan kumpeni. Ia masih berharap perlakuan yang baik jika Rara Warih berada di tangan para perwira di Surakarta. Mungkin satu dua orang di antara mereka masih merasa perlu untuk melindungi gadis putera puteri Pangeran Ranakusuma itu, meskipun Pangeran Ranakusuma sendiri oleh beberapa orang di Surakarta dianggap sebagai pengkhianat.

“Yang paling parah, ayah” berkata Raden Juwiring kepada Kiai Danatirta, “jika Warih tetap berada di tangan para prajurit berkuda dan tidak diserahkan kepada para perwira, atau justru diserahkan kepada kumpeni”

“Kita memang harus mencari jalan untuk membebaskannya” berkata Ki Dipanala.

“Tetapi jangan kehilangan pertimbangan” sahut Kiai Danatirta, “Kita harus membuat perhitungan sebaik-baiknya. Jika kita salah langkah, maka kita akan dapat terjebak”

“Tetapi sudah tentu kita tidak akan tinggal diam” sahut Juwiring.

“Ya. Aku mengerti” jawab Kiai Danatirta, “tetapi jika kita terjebak, maka kita akan mengalami kesulitan ganda. Kita sendiri akan tertangkap, sementara kita tidak akan dapat berbuat apa-apa atas puteri”

“Jadi, bagaimana menurut pertimbangan ayah?” bertanya Juwiring

“Kita harus tahu pasti, bagaimana keadaan Surakarta sekarang, kemudian kita pun harus mendapat keterangan pasti, dimana Rara Warih ditahan. Baru kemudian kita menentukan langkah” jawab Kiai Danatirta.

“Jika demikian, biarlah aku masuk ke kota” desis Juwiring.

“Aku tidak keberatan. Tetapi sebaiknya biarlah orang lain lebih dahulu berusaha mencari keterangan” berkata Kiai Danatirta.

“Aku akan dapat melakukannya” potong Buntal, “Aku sudah mengenal kota itu serba sedikit. Aku akan dapat berbuat sesuatu”

“Biarlah aku saja” berkata Ki Dipanala, “Aku masih mempunyai beberapa orang kawan yang dapat dipercaya. Aku akan dapat datang kepadanya dan minta perlindungan barang satu dua hari, sementara aku dapat mendengar dan melihat serba sedikit tentang kota Surakarta ”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk kecil, sementara Juwiring berkata lebih lanjut, “Kita harus melakukannya segera ayah. Aku masih mempunyai tugas yang lain dari ayahanda yang masih belum aku lakukan”

“Apa?” bertanya Kiai Danatirta,

“Menyingkirkan pusaka Tumenggung Sindura yang telah merenggut jiwa ayahanda” jawab Juwiring.

Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula. Katanya, “Baiklah. Kita harus bekerja cepat. Tetapi tidak dengan tergesa-gesa dan kehilangan segala perhitungan. Karena itu, kita harus berhubungan dengan Ki Wandawa, karena masalahnya akan menyangkut babagan sandi”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat ingkar, bahwa persoalannya memang harus dibicarakan lebih dahulu, agar tidak terjadi salah langkah.

Juwiring pun menyadari, bahwa ia tidak dapat mengambil langkah sendiri. Jika ia tertangkap, maka persoalannya tidak akan dapat dibatasi pada dirinya sendiri. Ia adalah salah seorang pengikut Pangeran Mangkubumi yang akan dapat menjadi sumber keterangan tentang pasukan Pangeran Mangkubumi itu”

Karena itu, sambil mengangguk-angguk Juwiring berdesir, “Ya. Aku akan menghadap Ki Wandawa untuk minta petunjuk, apa yang sebaiknya harus aku lakukan”

Juwiring memang tidak ingin menunda-nunda lagi. Ia pun segera menghadap Ki Wandawa untuk mohon petunjuknya, apakah yang sebaiknya dilakukan atas adiknya yang tertangkap itu.

“Aku sedang menunggu laporan terakhir tentang keadaan kota Surakarta ” berkata Ki Wandawa, “Meskipun aku mengerti, betapa gelisahnya kau, tetapi aku mohon kau tetap bersabar barang satu hari”

Juwiring menarik nafas panjang. Betapapun jantungnya bergejolak, namun ia terpaksa mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Aku akan menunggu. Selebihnya, jika diperkenankan, aku akan melihat keadaan itu sendiri”

“Aku belum dapat menjawab. Dan aku pun masih harus mempertimbangkan apakah menguntungkan jika kau sendiri memasuki kota Surakarta ” jawab Ki Wandawa.

Ia menjadi sangat kecewa. Tetapi ia tidak akan dapat melanggarnya.

“Tunggulah” berkata Kiai Danatirta ketika Juwiring memberitahukan kepadanya sikap Ki Wandawa.

Yang sehari itu rasa-rasanya bagaikan sebulan penuh. Ketika malam turun, Juwiring tidak dapat memejamkan matanya. Ia selalu berangan-angan tentang adik perempuannya.

Karena itu, jantungnya menjadi berdebar-debar ketika di keesokan harinya ia dipanggil oleh Ki Wandawa.

“Jangan menentukan sikap sendiri” pesan Kiai Danatirta, “Kau adalah seorang prajurit di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi. Karena itu, kau harus mentaati perintah apapun yang kau terima”

Dengan hati yang berdebar-debar, Juwiring segera menghadap Ki Wandawa untuk mendapat keterangan tentang adik perempuannya yang berada di tangan prajurit Surakarta.

“Raden Juwiring” berkata Ki Wandawa, “Yang pertama, kau dapat sedikit menjadi tenang, karena adikmu. Rara Warih telah berada di tangan pimpinan prajurit dari pasukan berkuda di Surakarta. Dengan demikian, ia akan mendapat perlakuan yang dapat diawasi oleh para perwira yang barangkali ada yang sudah dikenalnya dengan baik”

Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun masih bertanya, “Tetapi apakah mungkin diajeng Warih akan diserahkan kepada kumpeni?”

“Aku tidak dapat meramalkan. Tetapi menurut perhitunganku, adikmu tidak akan diserahkan kepada kumpeni”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih tetap dibayangi oleh kecemasan bahwa orang-orang Surakarta benar-benar telah menjadi kehilangan harga dirinya dan tidak lagi sempat memikirkan kepentingan orang lain.

Namun Juwiring masih dapat menahan dirinya sesuai dengan petunjuk Ki Wandawa. Ia masih harus menunggu. Ia mencoba untuk percaya, bahwa justru adiknya telah berada di tangan pimpinan prajurit dari pasukan berkuda, maka nasibnya tidak akan terlalu buruk.

“Tetapi apakah yang paling menakutkan itu benar-benar belum terjadi?” pertanyaan itu masih saja selalu mengganggu.

Kepada Kiai Danatirta Juwiring pun memberitahukan apa yang diketahuinya. Ternyata bahwa Kiai Danatirta pun menasehatkan. agar ia tetap bersabar sampai ada isyarat dari Ki Wandawa.

Namun dalam pada itu, setelah satu dua hari menunggu, Juwiring tidak mendapat kejelasan persoalan adik perempuannya. Karena itu hatinya menjadi semakin gelisah dan berdebar-debar. Bahkan rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu.

“Kenapa aku harus menunggu ijin dari Ki Wandawa?” geramnya.

“Kau terikat oleh kedudukanmu dalam pasukan ini, seperti juga dalam jenjang keprajuritan” jawab Kiai Danatirta.

Memang tidak ada jalan untuk menembus langsung ke dalam jantung kota, jika Ki Wandawa tidak mengijinkan. Kecuali jika ia bersedia untuk disingkirkan dari lingkungan para pengikut Pangeran Mangkubumi. Namun tentu tidak menyenangkan sekali untuk diperlakukan demikian. Ia sudah dianggap tidak patuh terhadap Pangeran Mangkubumi, maka nasibnya tentu akan sangat pahit di dalam pergolakan suasana yang kemelut Itu.

Juwiring dan para pengikut Pangeran Mangkubumi itu pun kemudian mendapat keterangan, bahwa kumpeni dan para prajurit Surakarta sudah menyiapkan diri untuk bertindak lebih jauh. Mereka sudah mengetahui bahwa Pangeran Mangkubumi berada di Gebang, sementara Raden Mas Said berkedudukan di Penambangan.

Namun agaknya kumpeni tidak ingin bertindak tergesa-gesa. Mereka berusaha untuk melihat keadaan secermat-cermatnya. Kegagalan yang pahit hendaknya tidak terulang lagi.

Tetapi dalam pada itu, selain berita tentang persiapan kumpeni dan prajurit Surakarta yang akan menyerang Gebang, maka seorang petugas sandi telah membawa berita khusus bagi Raden Juwiring.

Karena itu, maka Raden Juwiring bersama saudara-saudara angkatnya telah dipanggil menghadap Ki Wandawa.

“Raden Juwiring” berkata Ki Wandawa, “berita yang akan aku sampaikan mungkin mengejutkan, tetapi mungkin pula tidak bagimu”

Raden Juwiring menjadi berdebar-debar. Dengan gelisah ia menunggu Ki Wandawa berkata selanjutnya, “Seperti yang aku katakan, Rara Warih benar berada di tangan para pemimpin pasukan berkuda Surakarta, sehingga ia mendapat perlakuan yang baik. Para petugas sandi, selain mengamati keadaan dan sikap kumpeni serta sikap Surakarta, mereka pun sempat mencari keterangan tentang Rara Warih yang berada di tangan para pemimpin pasukan berkuda” Ki Wandawa itu terdiam sejenak. Kemudian katanya lebih lanjut, “bahkan Raden, ternyata bahwa Rara Warih telah ditahan di Istana Ranakusuman.

“Di rumah kami sendiri?”. bertanya Raden Juwiring dengan serta merta.

“Ya” jawab Ki Wandawa, “istana Ranakusuman sekarang menjadi pusat kepemimpinan prajurit dan pasukan berkuda yang sekarang ini dijabat oleh Tumenggung Watang.

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Wandawa berkata selanjutnya, “Bahkan Tumenggung Watang telah tinggal di istana itu pula”

“Tumenggung Watang berada di istana Ranakusuman?” Juwiring menjadi semakin tegang.

“Ya. Tetapi ia tidak mempergunakan Dalem Ageng. Ia tinggal di gandok saja bersama keluarganya, Bukankah keluarga Tumenggung Watang termasuk keluarga kecil?” jawab Ki Wandawa.

Juwiring mengangguk-angguk. Hal itu adalah wajar sekali. Istana Pangeran Ranakusuma yang dianggap memberontak itu telah dikuasai oleh pasukan berkuda. Sementara adik perempuannya telah ditahan pula di istana itu pula.

Dalam pada itu, Ki Wandawa pun berkata pula, “Selebihnya Raden, yang kita cemaskan memang telah terjadi. Ternyata kumpeni bersama pimpinan prajurit di Surakarta, khususnya dari pasukan berkuda telah menyebar wara-wara khusus ditujukan kepada Raden Juwiring.

“Wara-wara apa itu Ki Wandawa?” bertanya Juwiring dengan jantung yang berdebar-debar.

“Memang menggelisahkan. Tetapi seperti yang sudah berulang kali aku katakan, jangan kehilangan akal” jawab Ki Wandawa, “namun masalahnya sudah kita duga sebelumnya sehingga kita tidak akan terlalu terkejut, karenanya”

Juwiring menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi keterangan Ki Wandawa itu memang sudah mengarah, sehingga karena itu, maka ia pun sudah menduga, apa yang akan dikatakan selanjutnya.

“Raden” berkata Ki Wandawa kemudian, “ternyata kumpeni dan pimpinan prajurit dari pasukan berkuda telah membuat wara-wara yang khusus ditujukan kepada Raden, agar Raden bersedia menyerah. Adik perempuan Raden itulah yang akan menjadi taruhan”

Raden Juwiring menggeretakkan giginya. Katanya, “Mereka memang licik. Kita memang sudah mengira, bahwa akan demikian jadinya. Tetapi sebenarnya aku masih berharap bahwa orang-orang asing itu masih mempunyai harga diri sedikit, sehingga ia tidak akan mengambil jalan yang licik itu.

“Ternyata cara itulah yang mereka pergunakan Raden” jawab Ki Wandawa, “wara-wara itu sudah disebarkan ke seluruh kota. Dalam waktu lima hari lima malam, Raden harus menyerahkan diri Jika tidak, maka Rara Warih akan diasingkan keluar Surakarta ”

Wajah Raden Juwiring menjadi tegang. Dengan nada berat ia berkata, “Jika lewat waktunya, apakah diajeng Warih akan benar-benar diasingkan?”

“Aku kurang pasti Raden” jawab Ki Wandawa, “mudah-mudahan hal itu hanya sekedar cara untuk memaksa angger menyerah”

“Tetapi bagaimana jika diajeng Warih benar-benar akan diasingkan keluar Surakarta, ke tempat yang tidak diketahui?” bertanya Juwiring.

Ki Wandawa menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Raden Juwiring berkata, “Ki Wandawa, nampaknya tidak ada usaha lain yang pantas selain berusaha membebaskannya”

“Tetapi Raden harus mengetahui, bahwa Rara Warih berada di istana Ranakusuma. Istana Ranakusuman yang kini diper-gunakan sebagai tempat pimpinan pasukan berkuda di Surakarta yang sedang dalam keadaan gawat, sementara Panglima Pasukan berkuda itu sendiri tinggal di istana itu, meskipun hanya di gandok sahut Ki Wandawa, “Segalanya itu harus diperhitungkan. Jika kita salah langkah, maka yang terjadi bukannya puteri itu dibebaskan, tetapi yang ditahan akan bertambah lagi. Apalagi jika kumpeni atau pimpinan pasukan berkuda berhasil menangkap Raden Juwiring, maka tentu puteri tidak akan dilepaskan, karena Raden tidak datang untuk menyerahkan diri, tetapi Raden justru telah tertangkap”

Raden Juwiring mengangguk-angguk. Persoalannya memang rumit. Dan ia tidak boleh bertindak dengan tergesa-gesa.

“Raden Juwiring” berkata Ki Wandawa, “sudah barang tentu, kami akan membantu Raden. Kita akan bersama memikirkan, cara yang paling baik untuk membebaskan Rara Warih. Jika kami menemukan cara itu, kami akan memberitahukannya kepada Raden, tetapi jika Raden melihat satu kemungkinan, maka cepatlah memberitahukan kepada kami. Apa yang kau perlukan, kami akan membantunya, sepanjang menurut perhitungan kami hal itu mungkin dilakukan”

“Terima kasih Ki Wandawa” berkata Raden Juwiring, “Kami akan berusaha untuk melakukan apa saja yang mungkin untuk membebaskan diajeng Warih. Aku mempunyai tanggung jawab terhadapnya. Sepeninggal ayah anda, maka aku, Saudara tuanya, adalah orang yang seharusnya melindunginya”

“Aku mengerti Raden. Sekali lagi aku katakan, bahwa kami di sini akan bersedia membantu, sementara ini para petugas sandi akan tetap mencari berita tentang puteri” jawab Ki Wandawa

Raden Juwiring dan saudara-saudara angkatnya pun kemudian mohon diri. Mereka kembali ke pondok mereka yang dihuni bersama Kiai Danatirta dan Ki Dipanala, yang hanya berbatasan pagar dan sekat halaman sempit dengan pondok yang dipergunakan oleh Ki Sarpasrana dengan beberapa muridnya, yang juga langsung berada di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi.

Dengan cemas, Raden Juwiring menyampaikan berita tentang wara-wara itu kepada gurunya. Batas waktu yang terlalu sempit. Lima hari lima malam.

Kiai Danatirta dan Ki Dipanala pun menjadi cemas pula karenanya. Dengan suara datar Ki Dipanala berkata, “Aku telah gagal melakukan perintah terakhir dari Pangeran Ranakusuma untuk menyelamatkan puteri”

“Aku pun bertanggung jawab” sahut Juwiring.

“Bukan waktunya untuk mencari siapakah yang bersalah” berkata Kiai Danatirta, “tetapi yang penting, bagaimana kita dapat menolongnya”

Dalam pada itu, tiba-tiba saja Ki Dipanala berkata dengan ragu-ragu, “Raden, bagaimana dengan ibunda puteri, Raden Ayu Galih Warit. Apakah masih ada kemungkinan untuk mohon pertolongannya bagi keselamatan puterinya, atau kepada Pangeran Sindurata. Menurut pengamatan beberapa pihak, Pangeran Sindurata masih mempunyai hubungan dekat dengan kumpeni. Mungkin untuk sementara kita akan dapat menitipkan puteri kepada mereka, atau mungkin justru mereka akan dapat mohon puteri untuk tinggal bersama mereka. Nah, nampaknya, di istana Pangeran Sindurata itu segala usaha akan dapat dilakukan lebih mudah”

Sekilas terpancar harapan di wajah Raden Juwiring. Namun kemudian ia menjadi ragu-ragu. Katanya, “Apakah ibunda Galih Warit masih dapat diajak berbicara? Bukankah ibunda sedang menderita sakit?”

“Pada saat-saat tertentu, kesadarannya seakan-akan tidak terganggu Raden. Namun sakitnya itu datang kapan saja dengan tiba-tiba, sehingga memang sulit untuk diperhitungkan. Meskipun demikian, dalam keadaan yang wajar, aku kira Raden Ayu masih dapat berbincang dengan Pangeran Sindurata” jawab ia Dipanala.

Kiai Danatirta mengangguk kecil. Katanya, “Mungkin masih dapat dicoba ngger. Tetapi anggaplah bahwa yang penting kau hubungi adalah Pangeran Sindurata. Jika mungkin, memang perlu berbicara dengan Raden Ayu. Tetapi setidak-tidaknya pengaruh Pangeran Sindurata akan dapat membantu. Pangeran Sindurata akan dapat menjelaskan bahwa cucunya tidak tersangkut kesalahan ayahandanya, sehingga tidak adil jika Rara Warih harus diasingkan ke tempat yang tidak diketahui. Yang pantas dihukum adalah Pangeran Ranakusuma dan Raden Juwiring menurut penilaian orang-orang Surakarta, bukan Rara Warih”

Juwiring mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan menghadap Pangeran Sindurata Aku akan menyampaikan persoalannya. Meskipun mungkin Pangeran Sindurata telah mendengar bahwa Rara Warih ditahan oleh pimpinan pasukan berkuda, namun mungkin ia belum menguasai persoalannya sehingga Pangeran tua itu tidak berbuat apa-apa”

“Tetapi berhati-hatilah” desis Kiai Danatirta, “dan bukankah segalanya harus dibicarakan dengan Ki Wandawa? Temuilah Ki Wandawa dan sampaikan rencanamu untuk menghadap Pangeran Sindurata”

Raden Juwiring tidak menyia-nyiakan waktu. Ia pun segera menghadap Ki Wandawa untuk membicarakan rencananya.

“Sekedar melindungi diajeng Warih” berkata Juwiring

“Apalagi jika Pangeran tua itu bersedia mengambil diajeng Warih dan menempatkannya di istana Sinduratan. Segala usaha nampaknya akan menjadi lebih mudah”

“Apakah kau akan mencobanya?” bertanya Kiai Danatirta

Juwiring termangu-mangu sejenak, Dengan nada rendah ia berkata, “tetapi keluarga ibunda Galihwarit sangat membenciku. Aku telah disingkirkan, dan segalanya tentu akan menimbulkan kemarahan”

“Tetapi keadaan telah berubah” berkata Ki Dipanala, “seperti puteri juga telah berubah sikap terhadap Raden”

“Diajeng Warih melihat dan mendengar apa yang telah? terjadi. Kenyataan ibunda Galihwarit telah membuatnya lebih cepat menyadari keadaan dirinya sendiri” jawab Raden Juwiring, “karena itu, agak berbeda dengan ibunda Galihwarit sendiri atau eyang Pangeran Sindurata. Apalagi jika Eyang Pangeran mendengar apa yang telah aku lakukan”

“Aku dapat melakukannya” tiba-tiba saja Buntal menyahut, “Aku orang yang tidak dikenal di istana itu. Aku dapat menghadap Pangeran Sindurata untuk berbicara tentang puteri Warih”

“Tidak” tiba-tiba Juwiring memotong, “Apapun yang akan terjadi atas diriku, aku tidak peduli. Yang penting ibunda Galihwarit dan eyang Sindurata mengerti apa yang telah terjadi atas diajeng Warih dan bersedia membebaskannya. Jika dengan demikian aku harus ditangkap, maka aku tidak akan berkeberatan”

“Tetapi mungkin Ki Wandawa akan berkeberatan” desis Kiai Danatirta.

“Aku tidak akan memberikan gambaran apapun juga kepada Ki Wandawa yang akan mengarahkan perhitungannya kepada kemungkinan itu” jawab Juwiring, “sementara itu, aku pun sudah bertekad untuk bersikap sebagai seorang prajurit Pangeran Mangkubumi. Jika aku tertangkap, aku tidak akan dapat dipaksa untuk berbicara tentang keadaan pasukan ini”

“Kau akan mengalami penderitaan yang paling pahit yang pernah terjadi atas seseorang jika kau jatuh ke tangan kumpeni. Kumpeni akan mempergunakan segala cara untuk memerasmu, agar kau berbicara tentang pasukan Pangeran Mangkubumi” desis Buntal.

“Aku tahu apa yang harus aku lakukan” jawab Juwiring, “meskipun demikian, aku memerlukan bantuanmu”

“Jika aku mampu melakukannya, aku akan melakukannya” jawab Buntal.

“Kita pergi bersama-sama ke istana Pangeran Sindurata” berkata Juwiring.

“Bagus” jawab Buntal dengan serta merta, “Aku akan pergi bersamamu”

“Aku juga” tiba-tiba saja Arum memotong.

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebaiknya kau tinggal bersama ayah di sini Arum. Yang akan kami lakukan di Surakarta adalah satu loncatan ke dalam gelap. Kami sama sekali belum mengetahui apakah yang akan kami jumpai di dalam kegelapan itu”

“Apa salahnya kita bersama-sama melakukannya” jawab Arum, “Aku seorang perempuan. Mungkin aku akan dapat melakukan lebih banyak dari kalian dalam penyamaran”

Namun Kiai Danatirta pun menengahinya, “Kau akan dapat berbuat sesuatu pada saat yang lebih pasti Arum. Tidak dalam keadaan seperti ini. Semuanya masih tidak pasti. Pada keadaan yang demikian, maka sebaiknya kau tidak pergi bersama kedua kakakmu”

“Apa bedanya aku dengan kakang Buntal dan kakang Juwiring?” bertanya Arum.

“Ada bedanya” jawab ayahnya, “jika kalian tertangkap, maka penderitaan yang akan kau alami, tidak akan sama dengan apa yang akan dialami oleh kedua kakakmu, Rara Warih mungkin masih mendapat perlindungan dari beberapa orang yang mengenalnya atau yang dalam hubungan keluarga masih mempunyai sangkut paut. Tetapi kau tidak sama sekali. Kau adalah pengikut Pangeran Mangkubumi”

“Aku tidak takut” jawab Arum, “Aku dapat membunuh diri jika aku harus menghadapi keadaan yang paling pahit itu”

“Kita masih belum terjebak ke dalam keadaan untuk terputus asa. Hal itu dapat dihindari dengan tidak usah membunuh diri” berkata ayahnya. Lalu, “Cara itu adalah, kau tidak usah ikut bersama mereka”

Arum menarik nafas dalami. Ia mulai menyadari, bahwa ia masih belum waktunya untuk ikut serta bersama kedua kakaknya.

Karena itu, maka katanya, “Baiklah. Jika demikian, aku akan mengurungkan niatku. Tetapi pada suatu saat jika kalian memerlukan aku, maka aku akan bersedia melakukan apa saja”

“Tentu Arum” desis Juwiring, “perjuangan ini masih sangat panjang. Bahkan untuk membebaskan diajeng Warih pun masih diperlukan pengorbanan tersendiri”

“Jika sudah bulat niatmu” berkata Kiai Danatirta kemudian pergilah menghadap Ki Wandawa. Katakan apa yang kau rencanakan. Mungkin ia mempunyai pesan dan nasehat yang akan berarti bagimu”

Demikianlah Juwiring dan Buntal pun pergi menghadap Ki Wandawa lagi untuk menyampaikan rencananya.

Ternyata Ki Wandawa yang mengetahui betapa gelisahnya hati Juwiring dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dicapai lewat Pangeran Sindurata, maka nampaknya ia pun tidak berkeberatan. Namun demikian, ia masih juga berpesan, “Raden Juwiring. Pangeran Sindurata adalah seorang Pangeran yang dekat hubungannya dengan Kumpeni. Aku kira ia mempunyai sikap yang sama dengan beberapa orang bangsawan Surakarta yang lain, yang memusuhi Pangeran Mangkubumi. Karena itu, maka kau harus membatasi persoalan. Persoalan yang dapat kau kemukakan kepada Pangeran Sindurata adalah sekedar memberi tahukan keadaan Rara Warih. Serahkan saja pembebasannya kepada Pangeran Sindurata. Meskipun Pangeran itu mempunyai sikap yang sulit dimengerti, tetapi aku kira ia sangat memperhatikan cucunya itu. Apalagi Pangeran Sindurata tentu sudah mengetahui bahwa Pangeran Ranakusuma sudah tidak ada lagi, sehingga ia akan merasa bertanggung jawab akan nasib cucunya” Ki Wandawa berhenti sesaat, lalu, “kecuali itu, kau pun harus memperhitungkan bahwa Pangeran itu sudah tahu pula bahwa cucunya ditangkap. Jika kau memberitahukan kepadanya, adalah sebagai suatu usaha untuk memperingatkannya, bahwa Rara Warih adalah cucunya yang sedang mengalami suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Tetapi kau pun harus memperhitungkan, bahwa Pangeran Sindurata itu pun dapat dianggap mengetahui bahwa Rara Warih itu ditahan karena kumpeni ingin menangkapmu”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Yang akan dilakukan memang cukup berbabahaya. Namun Ki Wandawa pun berkata, “Tetapi aku masih berharap bahwa Pangeran Sindurata bukan seorang yang licik, yang menganggap kedatanganmu sebagai satu anugerah. Dengan demikian ia tidak akan menangkapmu dan menyerahkanmu kepada kumpeni sebagai satu jaminan bagi pembebasan Rara Warih”

Juwiring mengangguk-angguk. Meskipun Ki Wandawa berharap Pangeran itu tidak akan berbuat licik, namun ia pun memperingatkannya, bahwa kemungkinan yang demikian memang ada.

Karena itu, maka ia pun harus sangat berhati-hati. Segala kemungkinan dapat terjadi. Sementara pesan Ki Wandawa yang terakhir adalah, “Namun aku percaya bahwa kalian berdua adalah pengikut Pangeran Mangkubumi yang baik. Karena itu, jika nasib kalian kurang baik, sehingga kalian tertangkap, maka aku berharap bahwa kalian tidak akan banyak berceritera tentang Gebang, Sukawati, Penambangan dan tempat-tempat lain yang pernah kau dengar namanya dan barangkali pernah kau kunjungi”

“Aku mengerti Ki Wandawa. Aku mohon restu. Mudah-mudahan aku dapat menemukan jalan untuk membebaskan diajeng Rara Warih” berkata Juwiring yang kemudian mohon diri untuk melakukan rencananya bersama Buntal.

Atas restu Ki Wandawa, Kiai Danatirta dan Ki Dipanala maka kedua anak muda itu pun mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melakukan satu tugas yang penting dan gawat. Apalagi keduanya memang bukan petugas sandi yang terbiasa melakukan tugas-tugas yang bersifat rahasia. Namun demikian, ternyata dua orang petugas sandi telah mendapat perintah Ki Wandawa untuk mengamati keadaan mereka.

“Dimana kami dapat bertemu dengan kalian” bertanya Juwiring ketika kedua orang petugas itu memperkenalkan diri.

Salah seorang dari kedua petugas sandi itu menggeleng. Katanya, “Bukan Raden yang mencari kami, tetapi kami yang akan selalu membayangi Raden”

“Tetapi jika kami memerlukan kalian setiap saat?” desis Raden Juwiring.

“Kami minta maaf, bahwa tidak setiap orang dapat mengetahui tempat persinggahan kami. Bukan kami tidak percaya kepada Raden, tetapi siapa tahu nasib seseorang. Karena itu, lebih baik Raden tidak mengetahui dimana tempat persinggahan kami. Tetapi percayalah, bahwa kami tidak akan terlalu. jauh dari Raden. Memang mungkin kami tidak akan dapat mengawasi Raden jika Raden berhasil memasuki istana Sinduratan. Tetapi Setidak-tidaknya kami mengetahui seandainya Raden tidak dapat keluar lagi dari istana itu, atau satu kesempatan lain yang dapat kami lakukan, meskipun sangat terbatas”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa sifat rahasia dari petugas sandi memang dijaga sebaik-baiknya meskipun di antara lingkungan sendiri. Sehingga dengan demikian maka Raden Juwiring tidak dapat mendesak lagi.

Demikianlah, segala yang direncanakan oleh Juwiring telah diperhitungkan masak-masak atas persetujuan kedua orang petugas sandi yang mendapat tugas untuk mengamatinya. Juwiring dan Buntal pun menyadari bahwa yang dapat dilakukan oleh petugas sandi itu memang sangat terbatas. Sehingga dengan demikian, maka keduanya akan lebih banyak tergantung kepada kemampuan mereka sendiri

Ketika keduanya berangkat menuju ke kota, terasa debar jantung seisi pondok kecil itu. Bahkan Kiai Sarpasrana pun telah hadir pula untuk ikut serta melepas mereka.

Tidak banyak orang yang mengetahui, apa yang akan dilakukan oleh kedua orang anak muda itu. Seperti tugas sandi lainnya, maka hanya orang-orang terbatas sajalah yang mengetahui apa yang akan dilakukan oleh kedua orang itu.

Arum, seorang gadis yang memiliki kemampuan olah kanuragan itu, melepas kedua kakak angkatnya dengan jantung yang berdegupan. Ketika ia memandang keduanya berjalan semakin jauh, maka terasa sesuatu mendesak di pelupuk matanya. Yang pergi itu bukan saja kakak angkatnya. Bukan pula sekedar kawan seperjuangan di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi, tetapi keduanya mempunyai arti yang dalam di perjalanan hidupnya. Juwiring benar-benar bagaikan kakak kandungnya yang banyak memberikan tuntunan kepadanya, sementara Buntal telah menyusup ke dalam dasar perasaannya sebagai seorang gadis terhadap seorang anak muda.

Karena itulah, maka kecemasannya pun rasanya menjadi berlipat. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan keduanya. Namun ia pun mengerti, bahwa ia tidak akan dapat mencegah keduanya.

Arum menyadari keadaannya ketika ayahnya menggamitnya sambil berkata, “Berdoalah untuk keduanya. Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan mendengarkan permohonan hambanya”

Arum mengangguk kecil. Namun terasa kerongkongannya bagaikan tersumbat. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke dalam biliknya. Seperti kata ayahnya, maka iapun telah berdoa di dalam hatinya.

Dalam pada itu, Juwiring dan Buntal yang telah bertekad untuk mencari jalan agar Warih dilepaskan, sambil berjalan di sepanjang bulak sibuk membicarakan cara yang sebaik-baiknya untuk menghadap Pangeran Sindurata. Keduanya yang bertugas sandi itu telah mengenakan pakaian yang sama sekali tidak memberikan kesan tentang keduanya. Apalagi bahwa seorang di antara mereka adalah putera seorang Pangeran. Keduanya memakai pakaian petani yang lusuh. Tudung kepala yang runcing dan kain yang tinggi di bawah lutut.

Namun dalam pada itu, seperti yang telah ditentukan, pimpinan pasukan berkuda memang sudah menghubungi Pangeran Sindurata untuk memberi tahukan bahwa Rara Warih ada di dalam tahanan pasukan berkuda.

“Apakah kalian sudah gila” bentak Pangeran Sindurata di hadapan tiga orang perwira dari pasukan berkuda, “Warih adalah cucuku. Kau sangka ia terpercik dosa ayah dan kakaknya anak bengal itu?”

“Bukan begitu Pangeran” jawab salah seorang dari para perwira pasukan berkuda itu, “Kami tahu, bahwa puteri tidak bersalah. Tetapi maksud kami sekedar mempergunakannya untuk memancing agar kakandanya, Raden Juwiring menyerah”

“Itulah kebodohan kalian” Pangeran Sindurata masih membentak, “Kau kira kau akan berhasil? Kau sudah mengorbankan kebebasan seseorang, sementara tujuan kalian sama sekali tidak akan dapat kalian capai. Kau kira Juwiring mengerti arti hubungannya dengan Warih. Anak itu sama sekali tidak tahu diri. Ia merasa dirinya jauh melampaui kedudukannya yang sebenarnya. Karena ia dipanggil oleh ayahandanya masuk ke dalam istana Ranakusuman, maka ia menjadi besar kepala, dan menganggap orang lain tidak berarti apa-apa-Aku kasihan kepada cucuku, di rumah ia dianggap orang lain, tiba-tiba saja di luar kesalahannya ia sudah ditahan. Bukankah itu tindak yang sewenang-wenang”

“Keadaan puteri sangat baik. Ia berada di istananya sendiri. Tiga orang emban khusus telah melayaninya setiap hari. Apapun yang dikehendaki tentu terpenuhi, kecuali meningggalkan istana itu” jawab salah seorang dari para perwira itu.

“Jangan kau tipu aku. Aku mengerti, apa yang kau maksud dengan emban khusus itu” Pangeran Sindurata hampir berteriak.

“Ya, ya Pangeran. Kami mohon Pangeran dapat mengerti. Bukankah dengan demikian berarti bahwa Rara Warih telah berkorban untuk kepentingan Surakarta. Pada saatnya, jika pemberontakan ini sudah dipadamkan, setiap orang akan mengetahui berapa besarnya pengorbanan Rara Warih” jawab perwira itu.

“Omong kosong” geram Pangeran Sindurata, “Kenapa kalian tidak berusaha menangkap pengkhianat itu dengan cara lain. Tidak dengan cara yang sewenang-wenang itu terhadap cucu gadisku. Jika ibunya yang jiwanya tertekan itu mendengar, api jadinya? Sampai saat ini ia tidak tahu apa yang terjadi atas suaminya yang pengkhianat itu. Ia juga tidak mendengar bahwa Warih kalian korbankan untuk menangkap pengkhianat kecil itu” Pangeran Sindurata berhenti sejenak, lalu, “He. apakah kau kira nilai cucuku seimbang dengan nilai anak gila itu he? Kau mempergunakan umpan yang terlalu tinggi nilainya dibanding dengan ikan yang ingin kau tangkap. Itu tidak adil”

“Pangeran” berkata salah seorang perwira itu, “Kami sudah memberikan batas waktu. Lima hari lima malam. Setelah itu, apapun yang akan terjadi, kami tidak akan mempergunakan lagi puteri cucu Pangeran itu. Kami akan mempergunakan cara lain. Kami menyadari bahwa Raden Ayu Galihwarit kadang-kadang masih saja diguncang oleh kegelisahannya sepeninggal Raden Rudira. Jika Raden Ayu mendengar akan hal ini, maka guncangan perasaan itu akan bertambah-tambah parah. Atas segala macam pertimbangan inilah, maka kami telah datang menghadap Pangeran untuk sekedar memberitahukan keadaan yang sebenarnya dari puteri cucunda itu”

Pangeran Sindurata menggeram. Namun ia tidak dapat menolak perlakuan para perwira dari pasukan berkuda yang telah mempergunakan cucunya untuk menangkap Juwiring. meskipun Pangeran itu tidak yakin bahwa usaha itu akan berhasil.

“Kami menjamin Pangeran” berkata para perwira itu, “Kami tidak ingin benar-benar berbuat lebih jauh terhadap puteri. Jika kami membuat wara-wara yang seolah-olah kami benar-benar ingin mengorbankan puteri, itu semata-mata hanyalah satu tekanan untuk memaksa Raden Juwiring menyerah”

Pangeran Sindurata termangu-mangu sejenak. Sebenarnya ia tidak rela menyerahkan cucunya untuk satu kepentingan yang tidak akan berarti apa-apa, selain membuat perasaan cucunya semakin pahit.

“Terserahlah kepada kalian” akhirnya ia berkata, “tetapi jika terjadi sesuatu, maka kalian harus bertanggung jawab. Anak itu tidak boleh bersedih. Lebih baik kalian berterus terang, bahwa tahanan yang dikenakan kepadanya itu sekedar permainan pura-pura. Dengan demikian ia menyadari apa yang dilakukannya, sehingga ia tidak merasa tersiksa karenanya. Kecuali itu, kalian tidak berhak menolak jika aku ingin menjumpainya kapan saja aku mau”

Para perwira dari pasukan berkuda itu saling berpandangan sejenak. Mereka mengerti, agaknya Pangeran Sindurata tidak mengenal cucunya sebaik-baiknya. Nampaknya yang dikatakan oleh Pangeran Sindurata itu tidak sesuai dengan sikap Rara Warih sendiri.

Tetapi para perwira itu tidak membantah. Bahkan seorang di antara mereka, “Baiklah Pangeran. Kami akan melakukannya seperti yang Pangeran kehendaki.

Pangeran Sindurata itu tidak menjawab lagi. Ketika para perwira prajurit dari pasukan berkuda itu minta diri maka dengan pendek ia menjawab, “Ya. Tetapi cucuku adalah tanggung jawabmu”

Para perwira itu pun kemudian meninggalkan istana Pangeran Sindurata. Demikian mereka meloncat ke punggung kuda di luar gerbang halaman istana Pangeran Sindurata, mereka tersenyum-senyum kecil. Seorang di antara mereka berdesis, “Pangeran itu mempunyai penyakit marah. Kadang-kadang saja ia menjadi pening dan marah tanpa sebab. Wajahnya menjadi merah seperti bara. Nampaknya memang ada gejala sakit syaraf turun temurun, sehingga kejutan sedikit atas Raden Ayu Galihwarit saat puteranya meninggal, telah membuatnya kadang-kadang kehilangan kesadaran meskipun tidak setiap saat”

“Puteri yang cantik” sahut yang lain, “Raden Ayu Sontrang yang nampaknya masih terlalu muda dibandingkan dengan usianya itu mengalami sesuatu yang patut disesalkan. Tetapi ternyata kecantikan puterinya itu adalah kecantikan keturunan pula. Karena itu, kehadirannya di lingkungan pasukan berkuda hanya membuat kepalanya pening saja setiap hari.

Para perwira itu tertawa. Yang seorang masih berkata, “Kasihan Pangeran tua itu. Tetapi apaboleh buat”

Para perwira itu pun kemudian menyusuri jalan-jalan kota. Kaki-kaki kudanya berderap tidak terlalu cepat. Sambil menengadahkan kepalanya mereka memandang gadis-gadis yang lewat dan berpapasan.

Namun dalam pada itu, sepeninggal para perwira dari pasukan berkuda itu, kepala Pangeran Sindurata menjadi pening. Sambil menghentak-hentakkan kakinya, ia berjalan hilir mudik. Ketika perasaan pening di kepala dan rasa sakit ditengkuknya itu semakin terasa menggigit, maka seperti biasanya ia pun melepas ikat kepalanya dan mengikat keningnya keras-keras dengan ikat kepalanya itu untuk mengurangi rasa sakit.

“Yang gila adalah Juwiring” geram Pangeran Sindurata, “jika ia tidak berkhianat, maka Warih tidak akan dijadikan taruhan seperti itu. Jika pada suatu saat ibunya mengetahuinya, maka hatinya akan menjadi semakin pedih, dan syarafnya akan menjadi semakin terganggu. Ia akan menjadi kehilangan kesadaran bukan saja di waktu-waktu tertentu. Tetapi setiap saat”

Pangeran Sindurata merasa beruntung, bahwa kehadiran para perwira prajurit Surakarta dari pasukan berkuda itu dapat diterimanya langsung, sehingga tidak ada orang lain yang mengetahuinya.

“Tetapi berita tentang hal itu tentu akan tersebar luas” gumam Pangeran Sindurata, “para perwira itu dengan sengaja akan menyebarkan wara-wara agar Juwiring dapat mendengarnya”

Tiba-tiba saja Pangeran tua itu menggeram, “Jika saja aku dapat menangkapnya. Aku akan menyerahkannya kepada pasukan berkuda agar cucuku itu dapat dilepaskan segera”

Dalam keadaan yang demikian itulah, Juwiring dan Buntal melangkah mendekati istana Pangeran Sindurata. Justru pada saat Pangeran Sindurata sedang dicengkam oleh kegelisahan karena cucunya yang ditahan oleh pimpinan pasukan berkuda.

Di perjalanan Juwiring dan Buntal sedang mereka-reka satu usaha agar mereka dapat memasuki istana Pangeran Sindurata. Dari para petugas sandi keduanya telah mendapat gambaran kota Surakarta dalam keseluruhan, sehingga mereka akan dapat menyesuaikan diri. Jalan yang manakah yang harus dihindari karena kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas mereka, dan jalan-jalan manakah yang dapat mereka lalui dengan aman.

“Eyang Sindurata adalah seorang penggemar burung” desis Juwiring.

“Apakah maksud kakang, kita akan membawa burung?” bertanya Buntal,

“Kita dapat berpura-pura menjadi penjual burung. Kita memasuki istana untuk menawarkan seekor atau dua ekor burung berkicau yang baik” jawab Juwiring.

“Aku mengerti. Tetapi dari mana kita mendapatkan seekor burung dengan sangkarnya. Kita bawa burung itu ke istana Pangeran Sindurata. Setidak-tidaknya kita akan dapat mendekati istana itu tanpa dicurigai” jawab Juwiring.

“Apakah Pangeran Sindurata mengenalmu dengan baik?” desis Buntal.

Juwiring termangu-mangu sejenak. Kemudian ia pun menggelengkan kepalanya, “Aku kira tidak. Eyang Sindurata jarang sekali melihat aku. Bagi Pangeran Sindurata, termasuk seluruh keluarganya, aku adalah orang yang tidak berarti apa-apa. Aku bukan orang yang sederajat, meskipun sebenarnya demikian. Ayahku adalah ayah anak-anak ibunda Raden Ayu Galihwarit. Yang menentukan derajad adalah ayahanda Meskipun derajad ibunda lebih rendah, tetapi itu bukan berarti bahwa derajadku lebih rendah dari anak-anak ibunda Raden Ayu Galihwarit”

“Tetapi mereka menganggap seperti itu” desis Buntal.

“Ya. Tetapi sekarang hal itu merupakan satu keuntungan. Mudah-mudahan bahwa Pangeran Sindurata tidak mengenalku dengan baik akan membuka jalan bagiku untuk berbicara dengan Pangeran Sindurata dan terutama ibunda Raden Ayu Galihwarit meskipun mereka akan memaki aku melampaui seorang pengemis yang paling buruk, sahut Juwiring.

Dalam pada itu, keduanya pun sepakat untuk membeli dua ekor burung jenis burung berkicau yang baik dan kemudian membawanya ke istana Pangeran Sindurata, karena Pangeran itu memang penggemar burung.

Dengan seekor burung kutilang dan seekor burung kepodang, keduanya dengan jantung yang berdebar-debar mendekati regol istana Sinduratan.

Halaman istana itu nampak sepi. Pangeran Sindurata memang bukan seorang Pangeran yang mempunyai kegiatan yang khusus. Ia lebih banyak mengurusi dirinya sendiri dan keluarganya. Meskipun Pangeran itu hadir pada upacara-cara tertentu, namun kehadirannya hanyalah karena kewajiban. Meskipun demikian, kedatangan kumpeni di Surakarta telah membuatnya mendapat satu kesibukan baru. Nampaknya Pangeran Sindurata senang bergaul dengan orang-orang asing itu seperti juga puterinya, Raden Ayu Galihwarit.

“Tidak ada pengawal sama sekali?” desis Buntal.

“Ada. Aku sudah mendapat keterangan. Tetapi pengawal itu berada di dalam, sebagaimana abdi yang lain. Namun bukan berarti bahwa pengawalan di istana ini dapat diabaikan” jawab Juwiring.

Karena halaman istana itu sepi, maka kedua anak-anak muda itu justru menjadi ragu-ragu. Namun sebenarnyalah kehadirannya di regol istana itu sama sekali tidak menarik perhatian. Hampir setiap orang di sekitar istana itu memang mengetahui, bahwa Pangeran Sindurata adalah seorang penggemar burung. Karena itu, maka menurut tanggapan orang-orang yang melihat kehadiran kedua anak muda itu adalah sekedar ingin menawarkan burung.

Baru sejenak kemudian, Juwiring melihat seorang abdi yang lewat melintasi halaman. Dengan ragu-ragu ia pun memasuki halaman itu pula diikuti oleh Buntal. Sambil berjalan-jalan terbungkuk-bungkuk keduanya mendekati abdi yang terhenti ketika ia melihat kedua anak muda yang membawa burung di dalam sangkarnya itu.

“Kalian mau apa?” bertanya abdi itu meskipun ia sudah menduga, apakah maksud mereka.

Juwiring lah yang menjawab, “Sebenarnyalah aku ingin menawarkan burung-burung ini kepada Pangeran. Ayahku memberitahukan kepadaku, bahwa Pangeran memerlukan seekor burung kepodang putih. Aku membawanya. Sementara itu, aku pun mempunyai seekor kutilang yang sudah jadi”

“Hem” gumam abdi itu, “Pangeran sedang sibuk dengan masalah-masalah yang penting”

“Masalah apa?” bertanya Juwiring.

“Aku tidak tahu pasti. Mungkin ada sangkut pautnya dengan keadaan Surakarta sekarang ini. Tetapi mungkin juga karena keadaan cucunda puteri”

“Cucunda Pangeran kenapa?” bertanya Buntal.

“Puteri itu ditangkap oleh pimpinan pasukan berkuda Telah disebarkan wara-wara tentang puteri itu” berkata abdi itu selanjutnya.

“Tetapi mungkin burung-burung ini akan dapat menjadi penghibur. Cobalah Ki Sanak, bawa aku menghadap Pangeran Sindurata. Burungku adalah burung yang sangat baik. Kepodang kuning sudah banyak jumlahnya di istana ini, karena ayahku sering membawakannya. Tetapi kepodang putih nampaknya belum” desak Juwiring.

“Aku akan mencoba menyampaikannya” jawab abdi itu.

“Jika Pangeran sudi membeli burung-burung ini, aku akan tahu apa yang harus aku lakukan terhadap Ki Sanak” desis Juwiring.

“Ah” sahut orang itu, “berapa harga kedua ekor burung itu. Jika kau menyebut-nyebut aku, maka kalian justru tidak akan menerima uang sama sekali”

“Jangan begitu Ki Sanak” jawab Buntal, “semuanya tergantung kepada Pangeran Sindurata. Jika Pangeran sudi membeli mahal, maka besok pagi-pagi kau akan dapat membeli selembar ikat kepala”

Orang itu tertawa. Katanya, “Manakah yang lebih mahal. Burung-burung itu atau ikat kepala?”

Juwiring dan Buntal pun tertawa pula. Namun keduanya pun kemudian disuruh menunggu di bawah sebatang pohon kemuning di halaman depan. Abdi itu akan menghadap Pangeran Sindurata yang nampaknya sedang disibukkan oleh kegelisahan.

Agak berbeda dengan dugaan abdi itu. Ternyata ketika ia menyampaikan kehadiran kedua orang anak muda untuk menjual burung, justru ia segera tertarik. Katanya, “Bawalah mereka kemari. Aku memang ingin membeli seekor burung yang sangat baik. Aku jemu memikirkan keadaan yang semakin panas. Kemelut yang tidak ada akhir-akhirnya. Perselisihan antara keluarga sendiri memang sangat tidak menyenangkan” ia berhenti sejenak, lalu, “bawa anak-anak itu kemari”

Abdi itu pun kemudian memanggil Juwiring dan Buntal menghadap Pangeran Sindurata di serambi, di dalam seketheng.

Abdi itu ternyata tidak berbohong. Kedua anak muda itu memang membawa dua ekor burung yang bagus. Seekor kepodang dan yang seekor kutilang.

“Aku memerlukan kepodang putih ini” desis Pangeran Sindurata, “tetapi tidak kutilangnya. Aku sudah mempunyai beberapa ekor burung kutilang.

Juwiring dan Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Pangeran Sindurata benar-benar ingin membeli seekor burung. Dengan demikian, maka ia akan dapat menghadap dan berbicara dengan Pangeran Sindurata.

Sejenak kemudian Pangeran Sindurata telah duduk di serambi dihadap oleh kedua anak muda yang menawarkan burung itu. Sejenak Pangeran itu asyik memperhatikan burung yang berada di dalam sangkar bambu yang kurang baik.

“Aku akan menggantinya dengan sangkar yang pantas untuk burung kepodang putih ini” gumam Pangeran Sindurata.

“Ampun Pangeran, tentu akan sesuai dengan keindahan bentuk dan bunyinya yang merdu” desis Juwiring.

“Kau jangan memuji” potong Pangeran Sindurata, “Tidak ada orang yang tidak memuji barang yang dijualnya. Aku menjadi kecewa mendengar pujianmu”

“Ampun Pangeran” sahut Juwiring. Sementara Buntal menarik nafas panjang. Ia mulai menilai sifat Pangeran tua itu.

Namun dalam pada itu, telah terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka. Sementara Pangeran Sindurata memperhatikan burung kepodang putih itu, tiba-tiba saja seorang abdi yang juga bertugas sebagai pengawal di istana Sinduratan itu datang menghadap diiringi oleh seorang yang lain beberapa langkah di belakangnya. Dengan ragu-ragu orang itu beringsut mendekat sambil memperhatikan Juwiring dan Buntal yang tidak menghiraukan orang itu.

“Ada apa?” tiba-tiba saja Pangeran Sindurata bertanya kepada pengawal itu.

Pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian dipaksanya dirinya untuk berkata, “Ampun Pangeran. Sebenarnyalah kami mencurigai kedua anak-anak muda ini”

“He” Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya, sementara jantung kedua anak-anak muda itu berdegup semakin keras.

“Kenapa kalian mencurigainya?” bertanya Pangeran Sindurata.

“Kami pernah mengenal seorang di antara keduanya” berkata pengawal itu.

“He, siapa? Yang mana?” bertanya Pangeran tua itu pula.

“Menurut penilikan kami, anak muda yang duduk di sebelah kanan itu adalah Raden Juwiring” berkata pengawal itu pula.

“Juwiring” Pangeran tua itu terkejut sehingga ia terloncat berdiri dan bergeser surut, “He, yang mana?”

Pangeran itu beringsut maju, sementara kawannya pun beringsut pula mendekat, “Maaf Raden” berkata pengawal itu, “aku mengenal Raden dengan baik, karena aku adalah seorang hamba yang sering mendapat perintah ke istana Ranakusuman pada waktu itu, sehingga agaknya aku tidak akan salah lagi”

Wajah Juwiring menjadi tegang. Tetapi jika ia sudah dikenalnya, ia pun tidak berkeberatan. Yang penting bahwa ia sudah berhasil menghadap Pangeran Sindurata untuk menyampaikan persoalan Rara Warih yang sedang ditahan oleh pasukan berkuda dan kumpeni.

Karena itu, maka dengan nada datar ia pun berkata, “Baiklah. Aku tidak akan ingkar. Aku adalah Juwiring”

“Juwiring. Jadi kau pengkhianat itu?” teriak Pangeran Sindurata.

“Ya eyang. Hamba adalah Juwiring” sahut Juwiring ragu.

“Setan alas. Jadi kau ingin membunuh aku he? Kau telah menyusup ke istana ini” geram Pangeran tua itu.

“Ampun eyang. Bukan maksud hamba untuk mengejutkan eyang” desis Juwiring.

Namun dengan serta merta Pangeran Sindurata memotong, “Jangan panggil aku eyang. Aku tidak mempunyai cucu seorang pemberontak. Seorang peng-khianat”

“Baiklah Pangeran” sahut Juwiring, “kedatangan hamba sama sekali tidak bermaksud buruk. Hamba tahu, bahwa hamba tidak akan mungkin dapat berbuat sesuatu di sini, selain mohon perlindungan Pangeran atas saudara perempuan hamba, Rara Warih”

Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya. Juwiring masih tetap duduk bersila sambil menundukkan kepalanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan berbuat jahat. Meskipun demikian, Pangeran Sindurata masih tetap berhati-hati. Demikian pula kedua pengawal itu pun telah bersiaga sepenuhnya, jika terjadi sesuatu dengan kedua anak muda itu.

“Pangeran” berkata Juwiring kemudian, “jika hamba menghadap Pangeran, adalah semata-mata karena hamba ingin mohon perlindungan seperti yang telah hamba katakan. Adik perempuan hamba, Rara Warih”

“Cukup” potong Pangeran Sindurata, “Kau kira bahwa sikapmu itu dapat menyenangkan hatiku. He, anak Pidak pedarakan. Jangan kau sebut cucuku itu sebagai adikmu, dan kau jangan sekali-sekali merasa berjasa bahwa kau telah memberitahukan hal itu kepadaku, karena aku sudah mengetahui segala-galanya. Aku tahu bahwa cucuku telah ditangkap. Tetapi kau terlalu bodoh untuk datang kemari. Kau kira bahwa Warih benar-benar telah ditahan?”

Juwiring beringsut setapak. Terasa jantungnya berdebar semakin cepat. Menurut dugaannya, Rara Warih benar-benar ditahan oleh pasukan berkuda, setelah gadis itu ditangkap di padepokan.

“Pangeran” berkata Juwiring kemudian, “Hamba tidak akan menolak apapun yang akan Pangeran tuduhkan terhadap hamba kemudian, tetapi hamba mohon diperkenankan untuk berbicara serba sedikit tentang Rara Warih?”

“Aku sudah tahu semuanya. Ia sudah ditangkap. Dan seharusnya akulah yang bertanya kepadamu, apakah kau tahu, kenapa ia pura-pura ditahan oleh pasukan berkuda?” bertanya Pangeran Sindurata.

“Apakah menurut Pangeran, yang terjadi itu sekedar pura-pura?” Juwiring ganti bertanya.

“Ya. Aku sudah meyakinkan. Rara Warih tidak boleh meninggalkan rumahnya. Bukan karena ia dianggap bersalah, tetapi justru yang dilakukan itu adalah suatu perjuangan, satu pengorbanan yang dapat diberikan bagi Surakarta ”

Wajah Juwiring menjadi tegang. Sementara Pangeran Sindurata itu berkata seterusnya, “Para pemimpin dari pasukan berkuda tahu, bahwa kau tentu akan berusaha mengambil hasilnya. Kau tentu ingin menjual jasa agar kau dapat diakui sebagai kakaknya. Kau tentu tahu, sepeninggal ayahandanya, istana dan seisinya adalah milik cucuku. Maksudku milik anakku, ibunda Rara Warih. Dan kau merayap untuk merendahkan diri, menjual tenaga untuk sekedar mendapat belas kasihannya atas warisan yang ditinggalkan”

Jantung Juwiring bagaikan meledak mendengar penghinaan itu. Tetapi ia masih tetap berusaha menahan hati. Bahkan Buntal pun menjadi gemetar, meskipun ia tidak berbuat sesuatu selain menahan agar jantungnya tidak meledak.

“Pangeran” berkata Juwiring, “perkenankanlah hamba berbicara sedikit saja mengenai cucunda Pangeran untuk menjadi bahan pertimbangan. Setelah hamba berbicara, terserah kepada Pangeran, apakah yang ingin Pangeran lakukan atas hamba”

Wajah Pangeran Sindurata menjadi semakin tegang. Namun ternyata ia masih memberi kesempatan kepada Juwiring untuk berbicara, “Katakan Cepat, sebelum aku mengambil tindakan” Lalu katanya kepada para pengawal, “Tetaplah di situ”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun berkata, “Pangeran. Apa yang hamba ketahui tentang Rara Warih adalah, bahwa Rara Warih telah dianggap bersalah seperti kesalahan yang pernah dilakukan oleh ayahanda Pangeran Ranakusuma”

“Omong kosong” bentak Pangeran Sindurata.

Juwiring tidak menghiraukannya. Ia pun kemudian berceritera tentang Rara Warih seperti yang telah terjadi sebenarnya Rara Warih tidak ditahan, seolah-olah sekedar tidak boleh keluar dari rumahnya, yang justru dianggap sebagai satu pengorbanan. Tetapi Rara Warih benar-benar telah ditangkap dan dibawa dengan paksa oleh prajurit dari pasukan berkuda dari Padepokan Jati Aking.

“Gila” bentak Pangeran Sindurata, “Kau mengigau he? Kau ingin memfitnah dan membuat segalanya rusak setelah kau rusak hidup dan hati ibunda Rara Warih, karena kedengkianmu terhadap kebahagiaannya di samping orang yang kau sebut ayahandamu”

“Hamba mohon Pangeran sudi mendengarkan keterangan hamba. Kedatangan hamba kemari sekedar untuk memberitahu-kan, bahwa Rara Warih benar-benar memerlukan pertolongan” berkata Juwiring.

Namun dalam pada itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Sikap dan tanggapan Pangeran Sindurata benar-benar tidak menguntungkan. Dengan demikian mungkin sekali Pangeran itu benar-benar seperti yang dicemaskan oleh Ki Wandawa yang menganggap kehadirannya sebagai satu anugerah.

“Apakah Pangeran ini akan bertindak licik dan menangkap aku dan Buntal?” pertanyaan itu telah menyentuh hatinya.

Dalam pada itu sepercik ingatan telah menyentuh hati Juwiring. Jika Pangeran itu tidak mau mendengarkannya, bagaimana dengan Raden Ayu Galihwarit. Betapa bencinya Raden Ayu itu kepadanya. Tetapi ia datang untuk kepentingan puterinya. Hubungan baik keluarga ini dengan kumpeni akan memungkinkan untuk melepaskan Rara Warih tanpa mengorbankan dirinya.

Namun ternyata bahwa Juwiring tidak mempunyai kesempatan. Sementara itu, Pangeran Sindurata telah berkata, “Juwiring. Kedatanganmu kemari adalah satu sikap sombong yang tidak dapat dimaafkan. Seharusnya kau tahu, bahwa cucuku harus berkorban untuk ditahan karena ia sadar, bahwa kau harus ditangkap. Karena itu, menyerahlah. Kau akan aku tangkap. Dengan demikian, maka pengorbanan cucuku tidak berkepanjangan”

Juwiring termangu-mangu sejenak. Jika benar Pangeran itu akan menangkapnya, ia harus mengambil satu sikap. Lebih baik ia menyerahkan diri langsung kepada prajurit pasukan berkuda daripada ia harus menyerah kepada Pangeran Sindurata. Jika ia menyerah kepada prajurit dari pasukan berkuda maka tidak akan ada alasan untuk menunda pembebasan Rara Warih. Tetapi jika ia tertangkap, maka pasukan berkuda akan mempunyai alasan untuk menumbuhkan persoalan baru sebagai alasan untuk tidak membebaskan Rara Warih, karena sebenarnyalah sikap Rara Warih sama sekali berbeda dengan sikap seperti yang diduga oleh Pangeran Sindurata.

Namun dalam pada itu, Juwiring pun selalu ingat pula pesan Kiai Danatirta, bahwa lebih baik ia tidak di tangan lawan karena dengan demikian ia kehilangan segala kesempatan. Kesempatan untuk melanjutkan perjuangan dan kesempatan untuk membebaskan Rara Warih.

Sebenarnyalah bahwa Pangeran Sindurata tidak mau berpikir lebih jauh. Ia lebih senang menangkap Juwiring dan membebaskan cucunya dari tangan prajurit dari pasukan berkuda.

Karena itu, maka katanya, “Juwiring, kau jangan mencoba untuk berbuat sesuatu yang akan dapat mencelakaimu. Menyerahlah. Biarlah pengawalku mengikat tangan dan kakimu, kemudian aku akan membawamu untuk membebaskan cucuku itu”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih berusaha untuk berbicara, “Pangeran, apakah aku dapat memberikan penjelasan kepada Raden Ayu Galihwarit serba sedikit tentang keadaan puterinya? Aku kira persoalannya tidak terlalu sederhana. Menangkap kau aku kemudian melepaskan Rara Warih yang Pangeran anggap telah memberikan pengorbanan bagi Surakarta sekedar untuk menangkap aku, Seharusnya Pangeran mengetahui, bagaimana sikap Rara Warih sendiri”

“Aku tidak peduli” geram Pangeran Sindurata, “Cepat, menyerahlah. Aku tidak akan memberimu kesempatan bertemu dengan puteriku yang sudah kau fitnah itu”

“Jangan berkata begitu Pangeran” jawab Juwiring, “Aku kira Pangeran pun mengetahui persoalan yang seharusnya dari Raden Ayu Galihwarit. Apa yang menyebabkan Raden Ayu sering terganggu. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan hamba karena hamba tidak berada di istana ayahanda pada waktu itu”

“Cukup” bentak Pangeran Sindurata. Namun Juwiring berkata lebih lanjut, “Hamba mohon Pangeran sudi mengenali cucu Pangeran pada saat ini. Dari sikapnya mungkin Pangeran akan dapat mengambil kesimpulan lain.”

“Jangan menggurui aku” potong Pangeran Sindurata, lalu, “sekarang menyerahlah kepada kedua pengawalku itu”

Juwiring tidak melihat kesempatan lain. Namun dalam pada itu keinginannya untuk bertemu dengan Raden Ayu Galihwarit menjadi semakin mendesak, Karena itu, maka ia pun berbisik kepada Buntal, “Tahanlah mereka. Aku akan mencari Raden Ayu Galihwarit”

Buntal mengerti maksud Juwiring, karena itu maka ia pun segera bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu, maka Pangeran Sindurata itu pun menjatuhkan perintah kepada pengawal-pengawalnya. Tangkap anak itu. Aku sendiri akan menyerahkannya kepada pemimpin dari pasukan berkuda yang telah menahan cucuku”

Ketika kedua orang pengawal itu beringsut, maka Juwiring dan Buntal itu pun segera bangkit. Dengan nada tinggi Juwiring berkata, “Hamba mohon maaf Pangeran, bahwa hamba tidak akan menyerahkan diri begitu saja”

“Persetan” geram Pangeran Sindurata, “Kau kira kau akan mampu melarikan diri?”

“Hamba akan berusaha Pangeran, karena sebenarnyalah hamba tidak ingin ditangkap. Kedatangan hamba kemari adalah karena hamba ingin berbicara dengan Pangeran tentang Rara Warih dan sikapnya. Ia bukannya sekedar tidak bersalah dan memberikan pengorbanan bagi Surakarta ”

“Omong kosong. Cepat, tangkap kedua anak itu. Aku akan membawanya untuk pembebasan Warih, dan sekaligus aku akan mendapat seekor burung kepodang putih” geramnya.

Buntal mengumpat di dalam hati. Orang tua itu. masih juga ingat burung kepodang putih.

Namun dalam pada itu, kedua orang pengawal itu benar-benar telah siap menyerangnya. Karena itu, maka dengan rencana Juwiring untuk mencari Raden Ayu Galihwarit, maka ia pun bersiap-siap untuk meninggalkan perkelahian yang akan segera terjadi, dan menyerahkan kedua orang pengawal itu kepada Buntal. Ia berharap bahwa Buntal akan dapat mengatasi keadaan untuk sementara”

“Mudah-mudahan aku akan segera mendapat jalan untuk menolong Buntal, jika Pangeran Sindurata sendiri akan turun ke arena” berkata Juwiring di dalam hatinya.

Karena itu, maka ketika kedua orang pengawal itu sudah mulai bergerak, Buntal lah yang justru mendahului menyerang Meskipun ia belum menjajagi kemampuan kedua pengawal itu, namun ia berharap bahwa kemampuan keduanya tidak melampaui kebanyakan prajurit

Para pengawal itu terkejut melihat kecepatan gerak Buntal Dengan tangkas ia menyerang kedua pengawal itu berurutan. Meskipun kedua serangannya yang beruntun itu tidak mengenai sasaran namun hal itu sudah berhasil menarik perhatian kedua orang pengawal itu.

Pada saat itulah Juwiring telah mengambil kesempatan untuk meloncat berlari meninggalkan kedua pengawal itu. Meskipun ia tidak tahu pasti, dimanakah letak bilik Raden Ayu Sontrang, namun ia pernah mendengar secara tidak langsung dari Rara Warih, bahwa ibundanya berada di bilik belakang.

Kedua pengawal itu tidak sempat mengejar. Bahkan Pangeran Sindurata pun tidak mengejarnya pula, karena demikian ia melangkah, Buntal telah menyerangnya pula

“Anak Setan” geram Pangeran Sindurata. Serangan Buntal sama sekali tidak menyentuhnya. Bahkan masih terlalu jauh. Namun hal itu telah mengurungkan niat Pangeran Sindurata untuk mengejar Juwiring.

“Kita tangkap anak setan ini” perintah Pangeran itu.

Kedua pengawal itu bertempur semakin seru, sementara Pangeran Sindurata pun telah berada di halaman. Sambil menyaksikan kedua pengawalnya berusaha mengalahkan Buntal, Pangeran itu berkata lantang, “Lumpuhkan anak iblis itu. Nampaknya ia mengira bahwa aku yang tua ini tidak mampu melibatkan diri ke dalam arena. Biarlah ia berdua dengan pengkhianat itu sekalipun, aku tidak gentar”

Buntal bertempur dengan sepenuh kemampuannya untuk langsung mengikat para pengawal itu agar mereka tidak mengejar Juwiring. Namun agaknya pengawal di istana itu bukan hanya kedua orang itu saja. Sejenak kemudian, dua orang lainnya telah datang berlari-lari.

“Tangkap pemberontak itu. Ia lari ke belakang” perintah Pangeran Sindurata.

Kedua pengawal itu pun segera memburu ke belakang. Mereka yakin akan dapat menemukannya. Kedua anak itu, atau salah seorang daripadanya tidak akan dapat lari meninggalkan halaman, karena pintu-pintu butulan tertutup. Dinding halaman cukup tinggi dan seorang pengawal telah menjaga regol di depan.

“Anak-anak dungu itu memang ingin mati” geram Pangeran Sindurata, “menyerahlah. Jika tidak, maka aku akan membunyikan isyarat. Prajurit Surakarta yang mendengarnya tentu akan segera datang untuk membantu kami”
Tetapi Buntal tidak menghiraukannya. Ia bertempur dengan tangkasnya. Sekali-sekali menyerang pengawal yang satu, kemudian segera menyerang pengawal yang lain. Sehingga dengan demikian, keduanya tetap terikat dalam perkelahian melawan Buntal.

Dalam pada itu, Juwiring pun segera lari ke belakang. Ia dapat memperkirakan letak bilik Raden Ayu Galihwarit itu. Dengan sedikit salah langkah, akhirnya ia pun mengetahui, bahwa bilik yang sedang terbuka pintunya, menghadap ke kebun di sebelah adalah bilik Raden Ayu Galihwarit, yang kebetulan sekali, sedang berada di serambi untuk melihat-melihat pertamanan.

Sebenarnyalah bahwa Raden Ayu Galihwarit juga mendengar suara ayahandanya berteriak-teriak. Tetap ia tidak jelas, apa yang dikatakannya. Bahkan Raden Ayu mengira, bahwa ayahandanya marah-marah seperti biasanya kepada hamba-hamba di istana itu. Hampir setiap hari Pangeran Sindurata marah-marah dan berteriak-teriak, sehingga karena itu, maka sama sekali tidak menimbulkan dugaan apapun juga pada puteri yang sedang mengalami kepahitan hidup itu.

Namun puteri itu terkejut ketika tiba-tiba saja seorang anak muda berlari ke arahnya. Apalagi ketika puteri itu melihat sebilah pisau belati kecil yang tiba-tiba saja sudah berada di depan dadanya.

“Marilah Raden Ayu” berkata Juwiring, “Jangan menolak. Masuklah ke dalam bilik”

Raden Ayu Galihwarit tiba-tiba menjadi sangat ketakutan. Karena itu, maka ia pun tidak dapat menolak. Perlahan dengan ujung belatinya Juwiring mendorong Raden Ayu itu masuk.

Demikian ia berada di pintu kedua pengawal yang mengejarnya pun sampai di muka bilik itu pula, Namun mereka pun tertegun ketika mereka melihat Juwiring telah mengacukan pisaunya ke dada Raden Ayu Galihwarit.

“Jangan berbuat sesuatu. Puteri ini menjadi taruhannya. Kembalilah kepada Pangeran Sindurata Dan hentikan perkelahian melawan adikku itu, agar puteri ini selamat”

Kedua orang pengawal itu termangu-mangu. Namun Juwiring membentaknya, “Cepat. Sebelum aku bertindak lebih jauh”
Salah seorang pengawal itu beringsut surut. Betapapun ia ragu-ragu, namun ia pun kemudian berlari kembali ke tempat Pangeran Sindurata yang tua menunggui perkelahian di halaman samping, di dalam seketeng.

Dengan tergesa-gesa dan nada tinggi, pengawal itu memberi tahukan apa yang dilihatnya. Ternyata Raden Ayu Galihwarit telah dipergunakan sebagai taruhan.

“Gila” geram Pangeran tua itu, “itu perbuatan gila”

“Terserah kepada Pangeran” gumam Buntal yang masih bertempur melawan dua orang pengawal.

Akhirnya Pangeran Sindurata memerintahkan kedua pengawalnya berhenti. Dengan tergesa-gesa ia pun kemudian pergi ke belakang, ke bilik Raden Ayu Galihwarit.

Di muka bilik itu, seorang pengawal masih berjaga-jaga. Namun ternyata bilik Raden Ayu Galihwarit itu sudah tertutup rapat-rapat.

“Gila, apa yang diperbuatnya?” geram Pangeran Sindurata.

“Raden Juwiring mengancam bahwa ia akan membunuh Raden Ayu, jika seseorang berani membuka pintu itu” jawab pengawal itu.

Pangeran Sindurata menjadi bingung. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sambil menghentak-hentakkan kakinya ia berjalan hilir mudik di depan bilik Raden Ayu. Namun tiba-tiba saja ia berteriak, “Juwiring. Apa sebenarnya yang kau kehendaki”

“Sebentar Pangeran” jawab Juwiring, “Hamba akan berbincang dengan Raden Ayu”

Pangeran Sindurata mengumpat Katanya, “Keluarlah. Kita berbicara di luar”

“Tidak Pangeran. Aku di sini. Dan aku mohon Pangeran tidak berbuat sesuatu yang dapat mencelakai Raden Ayu Galihwarit. Apalagi Pangeran memberitahukan kehadiranku di sini kepada prajurit Surakarta dengan cara apapun juga”

Pangeran Sindurata mengumpat-umpat pula. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Ketika terpandang olehnya Buntal yang berdiri termangu-mangu. maka ia pun menggeram. Seolah-olah ia ingin menerkam anak itu dan meremasnya menjadi debu. Tetapi ia tidak berani berbuat demikian, karena keselamatan anaknya yang berada di dalam bilik yang tertutup.

Sementara itu, di dalam bilik yang tertutup Raden Ayu Galihwarit gemetar ketakutan. Namun ia masih tetap menguasai kesadarannya. Keadaannya memang tidak memaksanya untuk mengenang peristiwa masa lampaunya karena justru ia sedang berhadapan dengan ancaman bagi dirinya sendiri. Dengan demikian Raden Ayu itu tidak segera dibayangi oleh gangguan syarafnya.

Dalam pada itu, ketika Juwiring melihat Raden Ayu Galihwarit yang ketakutan itu, telah timbul ibanya. Karena itu. maka kemudian katanya, “Silahkan duduk Raden Ayu”

Raden Ayu Galihwarit itu pun kemudian duduk di bibir pembaringannya. Namun tubuhnya masih saja gemetar ketakutan. Sementara itu Pangeran Sindurata juga mendengar suara di dalam bilik itu. Namun karena Juwiring tidak berbicara terlalu keras, maka yang berada di luar tidak begitu mengetahui, apa yang sedang mereka bicarakan itu.

Demikian Raden Ayu Galihwarit duduk di pembaringan, maka perlahan-lahan Juwiring pun beringsut mendekat. Kemudian ia pun duduk bersila di lantai di hadapan Raden Ayu Galihwarit yang menjadi heran melihat sikap itu.

“Ampun Raden Ayu” desis Juwiring, “mungkin sikapku mengejutkan Raden Ayu, atau bahkan membuat Raden Ayu ketakutan”

“Siapa kau?” bertanya Raden Ayu Galihwarit

Pangeran Sindurata melekatkan telinganya di pintu bilik itu. Dan ia pun ternyata menjadi agak tenang, karena ia mendengar kata-kata Juwiring, sehingga ia pun dapat membayangkan sikap anak muda itu. Meskipun demikian, Pangeran Sindurata masih harus berhati-hati dan tidak mengambil sikap yang dapat membuat Juwiring menjadi liar kembali.

Juwiring ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ampun Raden Ayu. Mungkin kedatanganku menemui Raden Ayu didorong oleh rasa tanggung jawabku sebagai saudara tua. Mungkin Raden Ayu sama sekali tidak senang melihat kehadiranku di sini. Bahkan memuakkan. Tetapi aku mohon Raden Ayu sempat mendengarkan ceriteraku sampai akhir sehingga Raden Ayu dapat mengambil sikap yang pasti”

Raden Ayu menjadi berdebar-debar. Lalu katanya, “Aku akan mencoba. Tetapi siapa kau dan kepentingan yang kau katakan itu sangat mendebarkan jantung”

“Raden Ayu” berkata Juwiring kemudian, “sebelumnya aku mohon maaf, bahwa aku telah mengambil satu sikap yang kasar. Mungkin namaku akan sangat mengejutkan Raden Ayu. Tetapi jika Raden Ayu sempat memperhatikan aku, maka Raden Ayu akan mengenal aku”

Raden Ayu itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan saksama ia memperhatikan anak muda yang duduk bersila dengan sikap yang mapan di hadapannya.

Namun tiba-tiba saja Raden Ayu itu terpekik kecil, “Juwiring. Kau Juwiring he?”

“Ya Raden Ayu. Tetapi perkenankanlah aku mengatakan alasanku, kenapa aku menghadap Raden Ayu dengan cara yang kasar ini” berkata Juwiring.

Raden Ayu itu beringsut menjauh. Kebencian mulai memancar di wajahnya. Namun ia masih selalu dibayangi oleh ketakutan. Anak itu tiba-tiba saja akan dapat menjadi kasar dan liar.

“Apa maksudmu memasuki bilikku sambil mengancam?” bertanya Raden Ayu.

“Perkenankanlah aku memberitahukan apa yang telah terjadi di luar dinding bilik Raden Ayu” berkata Juwiring.

“Cukup, cukup” terdengar suara Pangeran Sindurata di luar.

Tetapi Juwiring tidak menghiraukannya. Ia ingin mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya, sebelum Raden Ayu itu dijalari oleh gangguan syarafnya. Karena itu, maka katanya, “Ampun Raden Ayu. Kedatanganku, sekedar memberitahukan kepada Raden Ayu, bahwa Rara Warih telah ditangkap oleh prajurit Surakarta dari pasukan berkuda”

“Warih ditangkap?” suaranya menjadi gemetar seperti juga tubuhnya yang gemetar.

“Ya Raden Ayu. Sekarang Rara Warih ditahan oleh pasukan berkuda dan kumpeni. Sebaiknya Raden Ayu mendengarkan semua keteranganku. Dengan demikian Raden Ayu akan dapat mengambil kesimpulan. Aku mohon Raden Ayu untuk sesaat dapat mengesampingkan diri Raden Ayu sendiri. Jangan memikirkan sesuatu. Tetapi aku mohon Raden Ayu mendengarkan kata-kataku” berkata Juwiring kemudian.

Raden Ayu Galihwarit meraba keningnya. Kepalanya mulai menjadi pusing. Tetapi di luar sadarnya ia telah melakukan apa yang dikatakan oleh Juwiring. Dan ia berhasil menyingkirkan kenangan masa lampaunya, sehingga ia tidak segera diterkam oleh penyakitnya yang dapat kambuh setiap saat.

Juwiring pun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi di Surakarta. Pangeran Mangkubumi yang mengangkat senjata karena kebenciannya kepada kumpeni. Kemudian apa yang telah dilakukan oleh Pangeran Ranakusuma di saat terakhir. Pangeran Ranakusuma menjadi muak terhadap kekuasaan kumpeni di Surakarta. Dengan hati-hati Juwiring mencoba mengungkapkan sikap Pangeran Ranakusuma tanpa menyinggung perasaan Raden Ayu Galihwarit. Sementara itu, ia pun mulai membayang-kan sikap Rara Warih yang menyadari apa yang telah terjadi di Surakarta, sehingga akhirnya, Juwiring berkata, “Ampun Raden Ayu. Pada saat terakhir aku ingin mohon perlindungan Raden Ayu. Bukan atas diriku, tetapi atas Rara Warih, karena tidak ada lagi orang yang dapat melindunginya. Rara Warih sekarang sudah tidak berayah lagi. Dalam pertempuran melawan kumpeni dan prajurit Surakarta, Pangeran Ranakusuma telah gugur di peperangan, sampyuh dengan Tumenggung Sindura dan melukai Pangeran Yudakusuma. Aku dapat berbangga bahwa ternyata ayahanda Pangeran Ranakusuma pada saat terakhir telah menempatkan diri sebagai seorang kesatria Surakarta yang sebenarnya”

“Juwiring” suara Raden Ayu kian gemetar sehingga Juwiring terkejut karenanya, “ayahandamu telah gugur?”

Juwiring mengangkat wajahnya. Dipandanginya wajah Raden Ayu Galihwarit yang pucat. Kemudian Juwiring melihat bibir itu bergerak lemah, “Jadi ayahandamu telah gugur?”

Juwiring tanpa sesadarnya beringsut mendekat. Katanya, “Ya Raden Ayu. Tetapi ayahanda gugur sebagai seorang pahlawan Surakarta yang sudah bertekad untuk menyingkirkan kumpeni”

Raden Ayu Galihwarit masih mendengar kata-kata Juwiring itu. Nampak bibirnya mencoba tersenyum. Namun tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit itu rebah. Untunglah Juwiring cepat menangkapnya dan dengan bingung diletakkan tubuh itu di pembaringannya.

Ternyata bahwa Raden Ayu Galihwarit telah pingsan.

Juwiring benar-benar menjadi bingung. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, sehingga karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah bergegas membuka pintu sambil berkata dengan kata-kata yang bergetar, “Raden Ayu Galihwarit telah pingsan”

“He” Pangeran Sindurata pun terkejut. Kemudian ia pun mengumpat, “Kau, kaulah yang menyebabkannya pingsan. Panggil emban”

Juwiring tertegun. Ia tidak tahu emban yang manakah yang harus dipanggilnya. Namun ternyata bahwa salah seorang pengawal itu pun telah berlari memanggil emban yang terbiasa melayani Raden Ayu.

“Cepat. Kenapa kau bersembunyi saja he?” bentak Pangeran Sindurata.

“Hamba takut mendekat Pangeran” jawab emban itu.

“Cepat. Raden Ayu sedang pingsan”

Beberapa orang yang berada di tempat itu pun menjadi sibuk. Pangeran Sindurata telah berdiri di samping pembaringan Raden Ayu Galihwarit, sementara embannya berusaha memijit-mijit keningnya.

“Ambil air” desis Pangeran Sindurata.

Emban itu pun kemudian berlari ke belakang. Seorang emban tua telah memberitahukan kepadanya agar ia membawa jeruk pecel dan enjet putih.

“Berambang dan minyak kelapa” desis yang lain.

Dengan demikian, maka yang kemudian memasuki bilik itu bukannya hanya emban yang membawa minuman saja, tetapi juga seorang kawannya yang membawa berambang, minyak kelapa, jeruk pecel dan enjet.

Dengan berambang dan minyak kelapa emban itu menggosok kaki Raden Ayu yang menjadi sangat dingin, sementara yang Lain berusaha menggosok bagian tangannya dengan jeruk enjet sambil memijit-mijitnya.

Pangeran Sindurata telah menitikkan minum di bibir Raden Ayu yang pingsan itu. Setitik demi setitik. Sementara Juwiring yang kebingungan bagaikan membeku di bawah pembaringan.

Sementara orang-orang yang berada di dalam bilik itu menjadi sibuk, maka pengawal yang berada di depan pintu berdesis kepada Buntal, “Jangan berbuat sesuatu yang akan dapat mencelakaimu”

Buntal memandang pengawal itu sejenak. Namun ia tidak menghiraukannya lagi. Perhatiannya tertuju kepada kesibukan di dalam bilik Raden Ayu Galihwarit itu.

Sementara itu, usaha untuk menolong Raden Ayu itu masih dilakukan. Emban yang berada di dalam bilik itu masih memijit-mijitnya dan mengusap minyak tanah dengan berambang pada kakinya.

Ternyata titik-titik air di bibir Raden Ayu itu membuatnya menjadi segar, sementara berambang dan minyak kelapa serta jeruk pecel dan enjet itu pun membuat tubuhnya menjadi hangat, sehingga perlahan-lahan Raden Ayu itu pun menjadi sadar. Yang bergerak pertama-tama adalah kelopak matanya. Ketika mata itu terbuka, maka terdengar ia merintih.

Namun dalam pada itu, Pangeran Sindurata telah dihinggapi oleh kecemasan baru. Jika Raden Ayu itu kemudian sadar, maka kemungkinan lain akan terjadi. Mungkin ia justru telah kehilangan kesadarannya sama sekali dalam bentuk yang lain. Gangguan syarafnya akan bertambah parah dan bahkan mungkin ia tidak akan pernah menemukan kesadarannya kembali barang sesaat pun.

Kecemasan itu telah membuat perasaan Pangeran Sindurata bagaikan tersayat. Puterinya yang mengalami nasib sangat buruk itu akan semakin menjadi parah. Selebihnya ia akan menjadi beban yang bertambah berat.

Karena itu, ketika kemudian Raden Ayu itu mulai bergerak, Pangeran Sindurata telah bergeser surut. Dipandanginya puterinya yang telah membuka matanya dan mulai memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

“Apa yang telah terjadi?” tiba-tiba saja puteri itu berdesis.

Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya. Kepalanya terasa semakin bertambah pening. Bahkan tengkuknya rasa-rasanya bagaikan ditekan dengan batu.

“Apa yang telah terjadi?” sekali lagi Raden Ayu itu bertanya.

Emban yang terbiasa melayaninya pun beringsut maju sambil berbisik, “Tidak ada apa-apa Raden Ayu. Tidak ada apa-apa. Jika Raden Ayu ingin tidur, sebaiknya Raden Ayu beristirahat dan tidur barang sejenak”

Raden Ayu itu mengerutkan keningnya. Emban itu pun terbiasa, jika gangguan syaraf itu datang, dan pada suatu saat kemudian Raden Ayu itu tidur oleh kelelahan, biasanya jika ia terbangun, gangguan itu sudah jauh berkurang.

Namun Raden Ayu itu pun kemudian justru berusaha untuk bangkit. Emban yang duduk bersimpuh di sisi pembaringan itu pun berdesis, “Sebaiknya Raden Ayu tidur sajalah barang sejenak”

Tetapi Raden Ayu itu telah duduk di bibir pembaringan. Sejenak ia memperhatikan seisi biliknya. Ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Perlahan-lahan ia pun mulai dapat mengumpulkan ingatannya. Ketika ia melihat Juwiring berdiri termangu-mangu, maka lengkaplah ingatannya tentang dirinya dan tentang apa yang telah terjadi sebelumnya.

Sekali lagi hatinya merasa berdesir ketika ia teringat dengan gamblang apa yang dikatakan oleh Juwiring. Pangeran Ranakusuma, suaminya, telah gugur di peperangan melawan kumpeni dan prajurit Surakarta. Bahkan telah sampyuh dengan Tumenggung Widura dan melukai Pangeran Yudakusuma.

Tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit itu menangis. Terdengar isaknya disela-sela kata-katanya, “Kakanda Ranakusuma gugur pada saat ia menyimpan dendam. Aku adalah sumber dari segalanya”

Pangeran Sindurata menjadi berdebar-debar. Kepalanya terasa bertambah pening. Katanya kepada emban yang terbiasa melayani Raden Ayu Galihwarit, “Ia sudah mulai menangis. Ia akan mengingat segalanya dan gangguan itu akan segera datang” Pangeran Sindurata berhenti sejenak, lalu katanya kepada Juwiring, “Keluar dari bilik ini. Kaulah yang menyebabkannya. Karena itu, kau harus ditangkap dengan kesalahan ganda”

Juwiring seolah-olah menjadi sadar. Tetapi ia terlambat. Ia berdiri tidak terlalu dekat dengan Raden Ayu Galihwarit, sehingga ia tidak akan dapat segera meloncat dan mengancamnya. Pangeran Sindurata yang meskipun sudah tua, tetapi ia akan mencegahnya dan barangkali ia masih dapat berbuat sesuatu sambil berteriak memanggil para pengawal.

“Cepat” teriak Pangeran Sindurata Ia menjadi tergesa-gesa. Juwiring harus keluar sebelum Raden Ayu Galihwarit itu mengigau seperti biasanya, sambil menyebut nama-nama orang-orang asing yang pernah berhubungan dengannya.

Namun dalam pada itu. Pangeran Sindurata itu terkejut. Ternyata Raden Ayu Galihwarit yang menangis itu tidak mengigau seperti biasanya. Bahkan dengan suara utuh ia berkata, “Ayahanda, biarlah Juwiring berada di sini”

Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya. Dipandanginya Raden Ayu Galihwarit yang sudah tidak menangis lagi. Sambil mengusap matanya yang basah ia berkata, “Akan berbicara panjang dengan anakku”

“Anakmu yang mana?” bertanya Pangeran Sindurata.

“Juwiring. Ia adalah anakku seperti juga Warih” suara Raden Ayu itu menjadi lembut.

Pangeran Sindurata terkejut. Ketika ia menatap mata Raden Ayu Galihwarit, terasa sesuatu yang lain dari yang biasa dilihatnya. Mata itu menjadi suram, tetapi tidak menjadi liar seperti pada saat-saat sebelumnya dalam keadaan yang serupa.

“Galihwarit” desis Pangeran Sindurata, “Apakah kau menyadari apa yang kau katakan?”

“Aku sadar sepenuhnya ayahanda” jawab Galihwarit, “mungkin ayahanda heran, bahwa pada saat-saat seperti ini aku tidak jatuh ke dalam wajah gelapku. Aku sendiri juga heran, bahwa aku tidak lagi terperosok ke dalam satu pusaran waktu yang membuatku menjadi gila”

Pangeran Sindurata setapak melangkah maju dengan ragu-ragu. Sementara itu Raden Ayu Galihwarit berkata, “Kemarilah ngger. Kemarilah. Anggaplah aku sebagai ibumu. Aku tahu, sebelumnya memang ada jarak di antara kita. Tetapi pada saat terakhir, aku menyadari, bahwa akulah yang telah membuat jarak itu di antara kita, di antara kau dan adikmu Warih dan di antara kita sekeluarga”

“Apa maksudmu Galihwarit?” bertanya Pangeran Sindurata.

“Aku sudah mendengar segala keterangan Juwiring, Aku sudah mendengar permohonannya, agar kita, maksudnya aku dan ayahanda, berusaha menolong Warih, tanpa menyerahkan Juwiring, karena menyerahkan Juwiring dengan cara apapun juga, tidak akan menjamin bahwa Warih akan benar-benar dilepaskan” berkata Raden Ayu Sontrang dengan nada mantap dan kalimat yang utuh.

Pangeran Sindurata termangu-mangu sejenak. Ternyata anaknya berada dalam keadaan yang berbeda.

“Ayahanda” berkata Raden Ayu Galihwarit, “Aku telah diguncang oleh keterkejutanku seperti saat aku melihat Rudira terbujur di pembaringan. Agaknya justru karena itu, aku mendapatkan kembali kesadaranku sepenuhnya. Rasa-rasanya aku sekarang mampu berpikir bening. Aku mengerti, selama ini aku diganggu oleh kelainan syaraf yang tidak dapat aku atasi, sehingga pada saat-saat tertentu aku lupa segala-galanya. Namun sekarang aku sadar sepenuhnya apa yang aku hadapi Mudah-mudahan Tuhan memaafkan aku dan memberikan kesembuhan kepadaku”

“Galihwarit” desis Pangeran Sindurata sambil melangkah maju, “nampaknya kau memang lain. Goncangan perasaanmu agaknya telah membuat kau terlempar kepada keadaanmu yang sebenarnya, kepada duniamu sendiri”

“Tuhan Maha Besar ayahanda” desis Raden Ayu Galihwarit sambil mengusap titik air di pelupuknya, “karena itu, biarlah anakku dekat kepadaku”

Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Raden Ayu Galihwarit berkata, “Kemarilah Juwiring”

“Ampun Raden Ayu” sahut Juwiring sambil berjongkok di dekat pembaringan Raden Ayu Galihwarit yang duduk termangu-mangu.

“Jangan panggil aku Raden Ayu. Aku adalah ibumu ngger. Panggil aku seperti Warih memanggil aku” desis Raden Ayu Galihwarit.

Wajah Juwiring pun menunduk dalam-dalam. Sementara itu Raden Ayu berkata, “Aku mohon ayahanda mengerti perasaanku. Ijinkan aku berbicara dengan Juwiring tentang Warih”

“Lalu, apakah yang harus aku kerjakan?” bertanya Pangeran Sindurata.

“Tidak apa-apa ayahanda. Tetapi jika ayahanda ingin ikut berbicara bersama kami, aku persilahkan ayah tetap berada di bilik ini”

Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam sementara Juwiring berkata, “Hamba tidak seorang diri Raden Ayu”

“Panggil aku sebagaimana kau memanggil ibumu” desis Raden Ayu Galihwarit.

Juwiring beringsut setapak. Ketika ia memandang Pangeran Sindurata, nampak keheranan masih membayang di wajah Pangeran tua itu. Sementara Raden Ayu Galihwarit berkata selanjutnya, “Apakah kau membawa kawan?”

“Ya ibunda” meskipun agak canggung, tetapi Juwiring menyebutnya juga seperti dikehendaki oleh Raden Ayu Galihwarit.

“Bawa kawanmu itu masuk. Eyangmu tentu akan mengijinkannya” berkata Raden Ayu itu lebih lanjut.

Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak membantah. Meskipun ada juga sentuhan yang pahit di hatinya karena anak yang dianggapnya sudah terbuang itu harus menyebutnya seperti cucunya sendiri.

Ketika Juwiring masih nampak ragu-ragu, maka Raden Ayu Galihwarit itu mendesaknya, “Ajaklah kemari. Jika di luar ada satu dua orang pengawal, biarlah eyangmu memberitahukan kepada mereka”

Juwiring pun kemudian beringsut surut dan melangkah keluar. Dilihatnya para pengawal masih tetap bersiaga mengawasi Buntal yang berdiri tegak. Namun sejenak kemudian Pangeran Sindurata pun telah berdiri di pintu sambil berkata, “Biarkan mereka”

Para pengawal itu termangu-mangu sejenak. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa ketika Juwiring kemudian membawa Buntal masuk ke dalam bilik itu.

Ketika semuanya sudah duduk, Raden Ayu Galihwarit pun berkata kepada Juwiring, “Aku sudah mendengar keteranganmu tentang Warih, ngger. Tetapi jelaskan, bagaimana rencanamu seutuhnya”

Juwiring pun sekali lagi menjelaskan, apa yang telah terjadi atas Rara Warih. Lalu katanya, “Jika aku menghadap ibunda, sebenarnyalah maksud kami, orang-orang padepokan Jati Aking, mohon agar ibunda dapat menempuh cara lain untuk membebas-kannya. Memang cara yang paling pendek adalah menangkap aku dan menyerahkan aku kepada para prajurit dari pasukan berkuda. Tetapi apakah hal itu sudah dapat dijadikan jaminan bahwa Warih akan dapat dilepaskan. Memang tidak ada satu kepastian pendapat tentang sikap para prajurit dari pasukan berkuda. Namun jika ibunda mengetahui sikap Rara Warih sendiri, maka ibunda akan dapat membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi atas diajeng Rara Warih itu”

“Aku memang ingin mengetahui sikap Warih itu sendiri” desis Raden Ayu.

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Pangeran Sindurata.

“Menemui Warih” jawab Raden Ayu,

“Tetapi, tetapi ….” kata-kata itu terputus.

Sementara Raden Ayu menarik nafas sambil berdesis, “Aku merasa lain ayahanda. Mungkin ayahanda menjadi cemas, bahwa aku akan kehilangan kesadaran di hadapan banyak orang. Tetapi rasa-rasanya pikiranku menjadi bening. Dan rasa-rasanya aku sudah dapat melepaskan segala penyesalan dan kekecewaan, justru pada saat aku yakin, bahwa segala kesalahan harus ditimpakan kepadaku, sehingga kakanda Ranakusuma mengambil satu sikap yang sama sekali tidak aku duga”

Pangeran Sindurata tidak menyahut. Tetapi kepalanya benar-benar bagaikan dihimpit Gunung Lawu.

“Ayahanda” berkata Raden Ayu kemudian, “nampaknya segalanya memang harus terjadi. Dan segalanya harus aku terima dengan ikhlas. Keikhlasan itulah agaknya sumber pengampunan atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan. Tuhan memang Maha Besar”

“Biarlah aku saja yang menemui Warih” tiba-tiba saja Pangeran Sindurata itu menggeram.

“Aku akan menemuinya sendiri ayahanda. Adalah kewajiban-ku untuk berusaha membebaskan anakku tanpa mengorbankan anakku yang lain. Aku akan mencari jalan pembebasan Warih tanpa menjerumuskan Juwiring ke dalam tangan prajurit Surakarta dan apalagi kepada kumpeni” jawab Raden Ayu Galihwarit, “karena itu, biarlah Juwiring kembali ke induk pasukannya dalam lingkungan Pangeran Mangkubumi. Akulah yang akan berbuat apa saja untuk pembebasan Warih”

Pangeran Sindurata tidak mau berpikir lagi. Kepalanya benar-benar sudah tidak dapat dipergunakan lagi, sehingga ia pun berkata, “Terserah kepada kalian. Aku akan tidur”

“Silahkan ayahanda beristirahat” berkata Raden Ayu Galihwarit.

Pangeran Sindurata itu pun kemudian melangkah keluar dari bilik Raden Ayu Galihwarit. Namun di depan pintu ia berhenti sejenak. Katanya, “Aku akan membeli kepodang putih itu. Tetapi aku tidak memerlukan seekor kutilang, karena aku sudah mempunyai beberapa ekor”

“Ya, ya Pangeran” sahut Juwiring dengan serta merta.

Sepeninggal Pangeran Sindurata, Raden Ayu Galihwarit sempat bertanya kepada Buntal, “Apakah kau juga dari pasukan Pangeran Mangkubumi?”

“Ya Raden Ayu. Kami berdua berasal dari satu kelompok di dalam pasukan Pangeran Mangkubumi” jawab Buntal.

“Ia adalah adik seperguruanku ibunda dan oleh guru, kami berdua telah diangkat menjadi anak angkatnya dan dengan demikian kami berdua selain saudara seperguruan juga saudara angkat” Juwiring menjelaskan.

“Bagus. Karena Juwiring adalah anakku, maka kau pun anakku pula” desis Raden Ayu.

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya memang ada sesuatu kejutan yang telah merubah segala-galanya di dalam hati Raden Ayu Galihwarit. Kejutan itu bukan saja telah menumbuhkan perubahan jiwani, sehingga ia justru telah tidak lagi dihinggapi oleh gangguan kesadaran, namun sifat dan wataknya pun telah bergeser pula.

Dalam pada itu, maka emban di Sinduratan itu pun telah diperintahkan oleh Raden Ayu Galihwarit untuk menjamu kedua anak muda itu. Raden Ayu itu nampaknya benar-benar telah sembuh dan menganggap kedua anak muda itu benar-benar dengan perubahan pandangan dari sifat dan watak yang berubah pula.

Baru kemudian, Raden Ayu itu berkata, “Juwiring, jika kau ingin kembali, kembalilah. Berhati-hatilah, karena banyak kemungkinan dapat terjadi. Serahkan adikmu kepadaku. Pada saat tertentu kau dapat datang untuk menengok, apakah aku sudah berhasil atau belum”

“Dua hari lagi, kami akan datang lagi ibunda” jawab Juwiring.

“Baiklah. Tetapi jangan terlalu sering. Kau adalah buruan yang penting bagi kumpeni. Karena itu, kau harus dapat menjaga diri” pesan Raden Ayu itu pula, “Aku akan berusaha meyakinkan ayahanda, bahwa para hamba di istana Sinduratan ini tidak akan berkhianat kepadamu. Meskipun aku belum melihat keadaan sejak aku dikurung di rumah ini, tetapi aku sudah dapat membayangkan lewat keteranganmu dan pengenalanku sebelumnya atas kumpeni dan sikap beberapa orang Surakarta sendiri”

“Terima kasih atas segala keputusan yang sudah ibunda ambil. Ternyata aku mendapat jauh lebih banyak dari yang aku harapkan” berkata Juwiring kemudian, “karena itu, perkenankan aku mohon diri”

“Hati-hatilah” pesan ibundanya, “tetapi percayalah bahwa penghuni istana ini masih dapat aku yakini kesetiaannya”

Demikianlah Juwiring dan Buntal kemudian mohon diri. Tetapi mereka tidak sempat mohon diri kepada Pangeran Sindurata yang sudah berbaring di dalam biliknya karena kepalanya yang pening. Tetapi Juwiring masih sempat menyerahkan burung kepodang putih kepada seorang hamba.

Namun dalam pada itu, para pengawal yang sudah siap menangkap kedua anak muda itu memandangi saja dari kejauhan. Mereka sama sekali tidak menyapa mereka, karena para pengawal itu masih belum tahu pasti apa yang telah terjadi. Tetapi bahwa Pangeran Sindurata telah memerintahkan agar kedua anak itu dibiarkan saja, telah menimbulkan teka-teki pula di hati mereka.

Tetapi seperti yang dikatakan oleh Raden Ayu Galihwarit, maka ia pun segera mohon kepada ayahandanya untuk memberikan penjelasan tentang Juwiring meskipun tidak seluruhnya.

“Kepalaku sedang pening” desis Pangeran Sindurata.

“Sebentar saja ayahanda” minta Raden Ayu Galihwarit, “dalam waktu dekat, segalanya dapat terjadi. Jika para abdi di istana ini tidak segera diberitahu apa yang sebenarnya telah terjadi, mereka akan mengambil sikap sendiri”

“Apa peduliku” geram Pangeran Sindurata. Raden Ayu Galihwarit pun kemudian duduk dipembaringan ayahandanya sambil berkata, “Aku mohon ayahanda. Jika terjadi sesuatu atas anak itu, yang tanpa aku sadari telah berhasil mengisi kekosongan hatiku setelah aku kehilangan Rudira, maka aku akan merasa sekali lagi kehilangan. Aku tidak tahu, apakah aku masih akan mampu bertahan oleh kepahitan yang demikian”

Pangeran Sindurata mengumpat di dalam hatinya. Namun ia memaksa diri untuk bangkit dan melangkah keluar. Dipanggilnya semua hambanya tanpa ada seorang pun yang ketinggalan.

“Beritahukan kepada mereka” berkata. Pangeran Sindurata kepada Raden Ayu Galihwarit.

Raden Ayu itu pun kemudian menjelaskan persoalannya, meskipun tidak seperti keadaan seutuhnya.

“Aku minta kalian ikut menjaga, agar tidak seorang pun mengetahui bahwa Juwiring pernah datang ke istana ini” berkata Raden Ayu Galihwarit. “Ia telah berhasil mendapatkan obat yang sangat mujarab bagiku, apapun yang telah dilakukan dan dengan cara yang bagaimanapun. Aku memang memerlukannya. Jika kalian berbelas kasihan kepadaku, maka kalian akan membantu aku”

“Tetapi anak itu menjadi buruan kumpeni” salah seorang pengawal berdesis.

“Kau benar. Tetapi manakah yang lebih berarti bagiku, bagi kalian yang sudah lama hidup bersama di dalam rumah ini. Kumpeni atau kesembuhanku seperti yang kau lihat sekarang. Aku sekarang sadar, sesadar-sadarnya siapakah aku ini” berkata Raden Ayu, “persoalannya dengan kumpeni bukan persoalan kita. Dan aku masih percaya kepada kalian, bahwa kalian tidak ingin melihat aku menjadi semakin parah. Aku mengerti, pada saat-saat tertentu aku lupa segala-galanya Meskipun aku tidak tabu apa yang aku lakukan pada saat-saat yang demikian, tetapi tentu tingkah laku yang sangat memalukan”

Para hamba dan pelayan yang mendengarkan keterangan itu mengangguk-angguk. Terlebih-lebih emban yang tahu benar, apa yang terjadi di saat-saat Raden Ayu itu mengalami gangguan syaraf.

Namun dalam pada itu, Pangeran Sindurata pun telah memperkuat permintaan Raden Ayu itu dengan caranya, “Jangan mencoba melanggar. Aku pun sebenarnya tidak senang melihat anak itu. Tetapi aku pun tidak senang melihat Galihwarit selalu diganggu oleh keadaan yang tidak wajar itu. Karena itu dengarlah permintaannya. Karena jika ada yang melanggar permintaan itu, lambat atau cepat, tentu akan aku ketahui pula. Terhadap orang yang demikian, aku akan dapat mengambil sikap yang kasar”

Para hamba, pengawal dan pelayan di istana itu mengangguk-angguk kecil. Mereka sudah mengenal Pangeran Sindurata dengan baik. Namun mereka pun tidak mengabaikan ancaman itu, bahwa mungkin sekali Pangeran itu memang akan berbuat demikian.

Dalam pada itu. Raden Ayu itu pun masih menambah keterangannya, “Aku minta, tidak seorang pun di luar lingkungan kita boleh mengetahui, meskipun itu adikku sendiri”

Sekali lagi mereka yang mendapat pesan itu mengangguk-angguk.

“Nah, kalian boleh kembali ke pekerjaan kalian masing-masing” berkata Raden Ayu itu pula, “doakan agar aku benar-benar dapat sembuh. Tuhan nampaknya sudah memaafkan semua kesalahanku, dan hukuman yang aku jalani sudah cukup. Mudah-mudahan tidak seorang pun di antara kalian yang ingin membuat hukuman-hukuman baru bagiku”

Para hamba, pengawal dan pelayan itu pun kemudian kembali ke tugas mereka masing-masing. Betapapun juga para pengawal merasa heran, namun mereka merasa perlu untuk memenuhi permintaan itu. Kecuali mereka memang merasa abdi dari Sinduratan, mereka pun merasa iba jika Raden Ayu yang sudah nampak berangsur sembuh itu akan mengalami gangguan jiwa kembali.

Sementara itu, Juwiring dan Buntal dengan hati-hati menelusuri jalan kota. Seperti saat ia memasuki kota Surakarta, maka ketika keduanya menuju ke gerbang untuk keluar, mereka pun memilih jalan sebagaimana di tunjukkan oleh para petugas sandi.

Sambil menjinjing seekor burung di dalam sangkar, Buntal berjalan di sebelah Raden Juwiring yang selalu menunduk. Meskipun ia mengenakan pakaian yang lusuh dan memakai tudung kepala, namun ternyata ada juga orang yang dapat mengenalnya.

Karena itu, maka Raden Juwiring itu selalu berusaha untuk menyembunyikan wajahnya.

Namun demikian, keduanya terkejut ketika seorang yang duduk tepekur di bawah sebatang pohon yang rindang di tikungan menyapanya meskipun perlahan-lahan, “Apakah kalian sedang menjajakan burung itu?”

Kedua anak muda itu terkejut. Namun mereka menjadi tegang ketika orang itu berdesis, “Kemarilah Raden Juwiring”

Raden Juwiring menarik nafas dalami. Buntal pun kemudian tersenyum ketika keduanya melihat bahwa orang itu adalah seorang dari petugas sandi yang selalu mengamatinya.

Juwiring dan Buntal pun kemudian mendekat. Mereka duduk di bawah sebatang pohon, sementara burung kutilang di dalam sangkar itu diletakkan di antara mereka bertiga, seolah-olah mereka sedang membicarakan burung di dalam sangkar itu.

“Aku menjadi cemas” berkata orang itu, “apakah kau mengalami kesulitan?”

“Hampir” jawab Juwiring, “tetapi segalanya sudah dapat di atasi, justru di luar dugaan”

Dengan singkat Juwiring menceriterakan apa yang telah dialami di istana Sinduratan. Ia pun mengatakan, bahwa Raden Ayu Galihwarit telah bersedia berusaha membebaskan Warih tanpa menjebak Juwiring.

“Tetapi-usaha itu adalah satu usaha yang sulit Meskipun demikian, mudah-mudahan Raden Ayu berhasil” jawab orang itu.

“Ibunda Galihwarit nampaknya telah terlempar ke dalam dunia yang lain. Nampaknya peristiwa yang telah terjadi di peperangan itu telah mengejutkannya, sehingga terjadi sesuatu di dalam dirinya” jawab Juwiring, “justru karena itu, aku percaya kepada usaha ibunda Galihwarit”

“Syukurlah” berkata orang itu, “kemudian silahkan melanjut-kan perjalanan. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu di sepanjang jalan. Kami akan selalu mengamati perjalanan kalian.

“Dimana kawanmu yang seorang” bertanya Raden Juwiring.

Orang itu tersenyum sambil memandang ke satu arah. Ternyata beberapa puluh langkah, di tikungan, seorang laki-laki duduk di hadapan seorang penjual jamu di pinggir jalan.

Juwiring dan Buntal tersenyum. Sambil bangkit berdiri Buntal berkata, “Mudah-mudahan ia selalu sehat”

Orang itu pun tersenyum pula. Jawabnya, “Kau pandai juga berkicau seperti burung kutilang itu”

Kedua anak muda itu tidak menjawab meskipun keduanya tertawa. Merekapun kemudian melanjutkan perjalanan keluar kota Surakarta kembali ke pondok mereka di Gebang. Namun mereka memang harus berhati-hati karena tidak mustahil bahwa petugas sandi dari Surakarta dan kumpeni pun berkeliaran juga di sepanjang jalan.

Dalam pada itu, di istana Sinduratan, Raden Ayu Galihwarit telah menyusun rencana untuk berusaha membebaskan anak gadisnya. Meskipun ia masih belum yakin bahwa hal itu akan dapat dilakukan. Namun ia berharap, bahwa ia masih akan mendapat kesempatan.

Di hari berikutnya, ketika Juwiring dan Buntal yang sudah berada di pondoknya masih saja dibayangi oleh kegelisahan, maka Raden Ayu Galihwarit sejak pagi-pagi telah bersiap. Raden Ayu yang nampak agak kurus dan pucat itu telah berhias sebaik-baiknya seperti yang selalu dilakukannya pada saat ia masih berada di istana Ranakusuman.

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Pangeran Sindurata.

“Aku akan pergi menengok Warih, ayahanda” jawab Raden Ayu Galihwarit.

“Jangan kau. Biarlah aku saja yang pergi” berkata Pangeran Sindurata.

“Tidak ayahanda, akulah yang akan menjumpai Warih” desis Raden Ayu Galihwarit, “mungkin aku akan mendapat kesempatan lebih banyak dari ayahanda. Justru karena aku seorang perempuan yang kebetulan adalah ibunya”

“Tetapi kau masih nampak kurus dan pucat” sahut ayahandanya.

Jawab Raden Ayu Galihwarit sangat mengejutkan ayahandanya, “Tetapi aku justru kelihatan lebih muda dan cantik ayah”

“Galihwarit?” desis ayahandanya.

Raden Ayu Galihwarit tersenyum. Katanya, “Jangan hiraukan aku ayahanda. Aku ingin membebaskan Warih tanpa mengorbankan anakku laki-laki. Itu saja. Mungkin aku harus mempergunakan cara yang paling aku kuasai”

“Tetapi..” wajah Pangeran Sindurata menjadi tegang.

“Jangan cemas ayahanda. Aku sudah mengalami satu masa yang sangat pahit dalam hidupku. Mudah-mudahan aku sudah benar-benar sembuh. Aku sudah mencoba untuk mengenang segalanya. Sejak aku menjadi isteri Kamas Pangeran Rana-kusuma sampai saat anakku Rudira terbunuh. Ternyata aku tidak lagi terlempar pada satu keadaan yang tidak aku kuasai secara jiwani. Agaknya aku sudah mampu meletakkan persoalan hidupku pada tempat yang seharusnya di dalam hatiku” jawab Raden Ayu Galihwarit, “karena itu, meskipun tubuhku masih belum pulih, namun jiwaku sudah tenang dan aku akan dapat merencanakan segalanya dengan pikiran yang bening. Jika aku berada di jalan yang suram, itu memang sudah aku sengaja, bukan karena kegilaanku”

“O” desis Pangeran Sindurata, “Kau akan membuat dosa-dosa baru?”

“Tidak ayahanda. Justru aku akan menebus dosa-dosaku” jawab Raden Ayu Galihwarit, “Aku mohon ayahanda dapat mengerti”

Pangeran Sindurata itu memegangi keningnya. Kepalanya mulai menjadi pening.

“Sudahlah ayahanda” berkata Raden Ayu Galihwarit

“Sebaiknya ayahanda tidak usah memikirkan aku lagi. Aku sudah tua. Agaknya aku sudah seharusnya dapat memilih, manakah yang baik aku lakukan, dan yang manakah yang tidak”

“Kau tidak tahu manakah yang baik dan manakah yang buruk” geram ayahandanya.

Wajah Raden Ayu Galihwarit berkerut. Terasa jantungnya bergejolak. Namun ia tidak dapat membantah, bahwa beberapa saat yang lampau ia sudah kehilangan kiblat sehingga ia tidak tahu lagi mana yang baik dan mana yang tidak.

Tanpa menyangkal, Raden Ayu itu kemudian berkata, “Ayahanda. Sekarang aku akan mencoba melakukan sesuatu yang baik. Maksudku baik buat anakku, meskipun belum tentu baik menurut ukuran orang lain terhadap aku”

“O” Pangeran Sindurata memegangi kepalanya yang terasa semakin sakit. Tetapi Raden Ayu itu masih saja tersenyum, “Ayahanda, apapun yang akan aku lakukan, aku harap bahwa aku akan dapat membebaskan Rara Warih”

Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah ia ingin menelan segala kepahitan yang dituangkan ke dalam mulutnya.

Namun demikian, Pangeran Sindurata tidak dapat mencegahnya. Raden Ayu Galihwarit bukan seorang gadis remaja lagi. Ia adalah seorang perempuan yang telah masak, yang meskipun baru saja sembuh dari penyakitnya yang aneh, namun agaknya ia telah benar-benar melakukan segalanya dengan penuh kesadaran.

Raden Ayu Galihwarit itu pun kemudian berkemas. Dari embannya ia mengetahui apakah yang telah dilakukan jika ia sedang dicengkam oleh gangguan jiwani. Emban itu semula tidak berani mengatakannya, tetapi karena Raden Ayu itu memaksanya dan berjanji untuk tidak marah, maka akhirnya emban itu pun mengatakannya.

“Terima kasih emban” berkata Raden Ayu itu, “aku sudah dapat mengetahui apakah yang aku lakukan. Memang memalukan. Tetapi aku tidak dapat malu terhadapmu, karena sebenarnyalah kau memang mengetahui dengan pasti, apakah yang telah aku lakukan dalam keadaan yang demikian. Bahkan pada saat-saat aku tidak ingat lagi tentang apapun juga”

Dengan bekal pengertiannya terhadap dirinya sendiri, maka Raden Ayu Galihwarit telah bersiap untuk pergi ke istana Ranakusuman. Dengan kereta Pangeran Sindurata. maka sejenak kemudian Raden Ayu yang nampak agak kekurus-kurusan dan pucat itu meninggalkan pintu gerbang, di dalam sebuah kereta yang ditarik dengan dua ekor kuda.

Kereta itu memang tidak sebagus kereta Pangeran Ranakusuma, tetapi kereta itu cukup memadai. Sebagaimana kereta seorang Pangeran.

Setelah untuk waktu yang cukup lama Raden Ayu tidak keluar dari halaman istananya, maka rasa-rasanya ia melihat sesuatu yang asing. Namun lambat laun ia pun segera mengenalinya kembali, jalan-jalan dan rumah-rumah yang berada di pinggir jalan. Tetapi rasa-rasanya kota Surakarta menjadi bertambah sepi.

Tetapi Raden Ayu Galihwarit pun mengerti, bahwa keadaan menjadi semakin gawat. Meskipun pertempuran yang telah terjadi berada di luar kota Surakarta, namun orang-orang di dalam kota itu pun tentu sudah mendengarnya pula. sehingga mereka menjadi cemas.

Namun dalam pada itu, ternyata kereta yang berisi hanya seorang puteri itu pun telah menarik perhatian. Ketika dua orang perwira, dari pasukan berkuda diikuti oleh beberapa prajurit yang sedang nganglang melihatnya, maka keduanya pun terkejut. Mula-mula mereka tercengang melihat seorang puteri yang sangat cantik duduk sendiri di dalam sebuah kereta. Namun kemudian seolah-olah mereka telah pernah mengenal wajah yang sangat cantik itu.

“He, bukankah yang berada di dalam kereta itu Raden Ayu Ranakusuma?” bertanya yang seorang.

“Ya. Seolah-olah aku memang melihat Raden Ayu Sontrang. Tetapi apakah bukan Rara Warih?” desis yang lain.

“Tidak. Bukankah Rara Warih ada di dalam tahanan?” sahut kawannya.

“Tetapi Raden Ayu Ranakusuma sedang sakit” jawab yang lain.

“Apakah seseorang yang sedang sakit itu tidak akan pernah sembuh? Meskipun sakit Raden Ayu menurut pendengaran kami adalah sakit yang aneh, namun pada suatu saat, mungkin ia menjadi sembuh pula”

Tiba-tiba saja para prajurit yang sedang nganglang itu ingin melihat, siapakah yang berada di dalam kereta itu, sehingga perwira yang masih muda itu memutuskan untuk memutar arah dan mengikuti kereta itu dari kejauhan.

Sebenarnyalah kereta itu memang menuju ke istana Ranakusuman yang sudah dipergunakan oleh pasukan berkuda. Bahkan Tumenggung Watang yang untuk sementara memegang pimpinan pasukan berkuda telah berada dan tinggal di istana itu pula, meskipun hanya di gandok saja.

“Tentu Raden Ayu Sontrang” desis perwira muda itu, “ia nampak lebih muda, lebih kuning dan lebih cantik”

“Ya” jawab kawannya, “mungkin justru karena ia sedang sakit, ia menjadi kurus dan kuning karena tidak pernah keluar dari biliknya”

“Tetapi menjadi bertambah cantik” sahut perwira muda itu.

Bersambung ke jilid 22

 

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/

Ebook oleh : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog http://serialshmintardja.wordpress.com

oleh Ki Arema

BUNGA DI BATU KARANG

Lusa, 21 Mei 2014 wedaran terakhir Mata Air di Bayangan Bukit.

Sudah kami siapkan karya Ki SH Mintardja yang lain, yaitu BUNGA DI BATU KARANG.

BdBK-05

Cerita ini berlatang belakang sejarah Kasunanan Kartasura (atau Kasunanan Surakarta ya?) pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pabubuwana II yang memerintah tahun 1726-1749.

Pada masa itu Kompeni (Belanda) sangat menguasai Kasunanan Kartasura, sehingga membuat beberapa bangsawan yang tidak menyukai ulah kompeni yang merendahkan martabat para pribumi.

Bangsawan yang mempelopori pemberontakan adalah Raden Mas Said dan pangeran Mangkubumi.

Pada masa itu ada sebuah padepokan Jati Aking yang dipimpin oleh Kiai Danatirta yang mempunyai murid Raden Juwiring (anak pangeran Ranukusuma dari selir yang “dibuang” karena ulah isterinya Raden Ayu Sontrang), Buntal (anak pembantu salah seorang pangeran di Surakarta yang telah meninggal dan diusir dari rumah majikannya) dan Arum (cucu kiai Danatirta sendiri).

Ketiga orang anak murid Kiai Danatirta tersebut bergabung dengan pasukan Pangeran Mangkubumi untuk melawan Kompeni.

Sebagaimana cerita yang lain, serial sepanjang 28 jilid ini penuh dengan intrik-intrik dalam keluarga dan dalam pemerintahan.

bagaimana ceritanya?

Sangat menarik dan pantas untuk dibaca.

silahkan ikuti wedaran yang dimulai hari Rabu (21 Mei 2014) dengan kecepatan wedaran dua hari sekali.

saya cuplikkan halaman pembuka setiap jilid buku di seri ini yang dituliskan oleh Ki SH Mintardja

“Katakanlah,

Dengan duka dan keluh kesah,

Barangkali langit mendung dan halilintar menggelegar,

Di bibir kota yang pengap oleh gelisah,

Yang asing, yang datang dengan sepatu tak dilepas,

Bertongkat tebu berwarna kelam,

Ini dadaku, biar koyak oleh peluru,

Ini darahku, yang membasahi tanah ibuku

Ini nyawaku, yang rangkap beratus ribu.”

Lereng Gunung Kawi, 19 Mei 2014

 

Pintu masuk ke gandok BdBK-01  BdBK-02  BdBK-03  BdBK-04  BdBK-05 (sebagian masih terkunci dan/atau belum dibuatkan regolnya, mohon bersabar).

 

 

MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

Mata Air di Bayangan Bukit

Meraba Matahari telah selesai diwedar tanggal 26 Maret 2014.

Selanjutnya akan diwedar karya SH Mintardja yang lain dengan judul Mata Air di Bayangan Bukit (MAdBB).

Tetapi, tidak sebagaimana naskah-baskah yang lalu, yang bisa diwedar secara teratur karena naskah sudah tersedia cukup, untuk naskah MAdBB ini kami tidak bisa menjanjikan keteraturan wedaran, karena benar-benar kejar tayang mulai konversi ke teks dan editing naskah yang tentu membutuhkan waktu yang banyak. Naskah akan diwedar (unggah) jika selesai edit satu jilid, mungkin seminggu sekali, mudah-mudahan bisa dipercepat.

Kisah ini diselesaikan pada jilid 23. Jilid pertama dicetak tahun 1980, jilid 23 dicetak tahun 1982.

cover madbb-01

Sepasang bukit mati
Bukit gundul
Dan bukit berselubung
Lebatnya hutan pegunungan

Di jantungnya air beriak
Menyimpan harapan masa depan

Di sela-sela batu karang
Ketamakan mengeras
Di hati bagai padas

Penulis (SH Mintardja)

Mohon doanya, agar kami memiliki waktu dan kesempatan untuk menyelesaikan wedaran naskah ini.

Wedaran sudah dimulai, silahkan kunjungi http://serialshmintardja.wordpress.com/lain-2/mata%20air%20di%20bayangan%20bukit/

Nuwun

Lereng Gunung Kawi 27 Maret 2014

 

MERABA MATAHARI

Tembang Tantangan akan berakhir di jilid 24. Sebagai kelanjutannya, kami upload Meraba Matahari yang rencana akan diupload tanggal 10 Maret 2014. Semoga, wedaran kami dapat melengkapi koleksi sanak-kadang yang biasa “nongkrong” di blog ini.

Jilid ini merupakan jilid pembuka rontal Meraba Matahari, jilid selanjutnya, tidak di “post” tetapi dalam “page” sebagaimana rontal yang lainnya.

Mohon maaf Nyi Dewi, naskahnya kami “curi” dari http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm. Naskah kami edit, disesuaikan dengan naskah aslinya.

Nuwun

Satpampelangi

SINOPSIS

Berikutnya, akan digelar ceritera baru. Ceritera rekaan murni yang pernah ditayangkan sebagai ceritera “Kethoprak Sayembara” lewat stasiun TVRI Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan Bandung yang penyelenggaraannya didukung oleh B.P. Kedaulatan Rakyat, dengan judul “KEBRANJANG ING GEGAYUHAN”

Ternyata “Kethoprak Sayembara” ini sangat menarik perhatian para pemirsa Televisi.

Dalam buku ini, ceritera tersebut saya susun sebagai satu ceritera yang tentu saja berbeda dengan “skenario” untuk layar Televisi.

Dengan beberapa sisipan dan pemanis disana-sini mudah-mudahan ceritera ini pantas untuk dibaca.

Ceritera “KEBRANJANG ING GEGAYUHAN” dalam penampilannya yang baru serta berbahasa Indonesia berjudul “MERABA MATAHARI” berkisah tentang kehidupan yang mempunyai berbagai macam relung-relung yang kadang-kadang sulit untuk diselami. Sudut-sudut yang terang dan sudut-sudut yang gelap seakan-akan tidak terbatas. Kesadaran akan kegelapan biasanya baru datang kemudian setelah telapak tangannya mulai meraba-raba tajamnya ujung batu karang serta merasa pedih.

Tetapi telapak tangan itu pun akan segera terbakar apabila kita dengan congkak mencoba meraba matahari.

Namun mereka yang tetap berpegang pada kekuasaanNya, maka betapapun derasnya arus akan dapat terseberangi, betapapun tingginya gunung akan dapat terlompati.

Meskipun ceritera ini ceritera rekaan murni, namun ceritera ini tetap akan berbicara tentang manusia yang kita kenali dari berbagai sisi pandang serta berpijak pada warna kehidupan di bumi sendiri.

——————————————————————————————————————-

MERABA MATAHARI

JILID 1

cover  MM-01KETIKA kabut mulai terkuak, maka cahaya fajar pun  mulai mewarnai langit, namun titik-titik embun masih bergayutan di ujung dedaunan.

Dinginnya malam masih terasa, meskipun perlahan-lahan pucuk-pucuk pepohonan bagaikan bermunculan dari kegelapan di lembah-lembah perbukitan.

Di lereng bukit berbatu padas, dua orang anak muda yang berloncatan, saling menyerang dan bertahan, kedua-duanya memiliki bekal ilmu yang tinggi. Kaki-kaki mereka dengan tangkasnya melenting dari bongkah-bongkah batu padas ke bongkah-bongkah yang lain, seakan-akan terbang berputaran diantara bebatuan.

Sekali-kali serangan mereka pun  mengena, sekali-kali berbenturan dengan keras sekali sehingga keduanya tergetar dan terdorong surut beberapa langkah.

Namun ketika cahaya langit menjadi semakin terang, maka keduanya pun  menjadi semakin garang, tangan-tangan mereka yang luput dari sasaran dan menyentuh batu-batu padas di tebing, maka tebing itu pun  telah berguguran. Pepohonan bagaikan diguncang, cabang dan ranting yang tersentuh tangan kedua anak muda itu pun  berpatahan.

Bukit dibawah kaki mereka seakan-akan telah bergetar.

Seluruh tubuh anak muda itu sudah basah, bukan oleh embun saja, tetapi oleh keringat yang bagaikan diperas dari tubuh mereka. Untuk mengatasi rasa sakit dan nyeri, maka keringat mereka pun  menjadi semakin banyak mengalir.

Ketika seorang diantara mereka meloncat dengan cepatnya menyerang dengan kakinya dan tepat mengenai dada lawannya, maka lawannya telah terdorong surut beberapa langkah. Tubuhnya membentur sebongkah batu padas, sehingga kemudian terbanting jatuh.

Dengan tangkasnya yang seorang lagi telah memburunya. Pada saat lawannya akan bangkit, maka kakinya pun  telah terayun bersamaan dengan tubuhnya yang berputar.

Tetapi ternyata serangannya itu tidak mengenai sasaran, karena lawannya dengan cepat bergesar dan bahkan menjatuhkan dirinya.

Kaki yang sudah terlanjur terayun dengan derasnya itu telah menghantam batu padas pada tebing bukit padas itu.

Batu pada itu pun  telah pecah berserakan, untunglah bahwa lawannya dengan cepat berguling, melenting dan sekali berputar di udara, kemudian bangkit berdiri beberapa langkah dari tebing yang runtuh itu.

Bahkan dengan cepat pula, anak muda itu telah meloncat dengan tangan terjulur lurus. Jari-jarinya yang lurus merapat telah berhasil menyusup pertahanan lawannya mengenai lambung.

Lawannya terdorong surut sambil menyeringai menahan sakit, namun pada saat anak muda itu siap memburu, terdengar suara tepuk tangan dari sela-sela bebatuan di bukit itu.

Kedua anak muda yang bertempur itu pun  berhenti dan berloncatan surut mengambil jarak.

Keduanya pun  kemudian berdiri tegak menghadap kepada orang yang bertepuk tangan itu. Serentak keduanya pun  mengangguk hormat.

Seseorang yang sudah melewati usia setengah abad berdiri tegak sambil tersenyum memandang kedua orang anak muda itu. Orang itu masih terlihat kokoh meskipun rambutnya yang selembar-selembar berderai di bawah ikat kepalanya sudah memutih.

“Sudah cukup ngger, kalian sudah berlatih hampir setengah malam, angger berdua tentu sudah letih, mungkin di beberapa bagian tubuh kalian terasa sakit, nyeri dan barangkali pedih, marilah, kita pulang untuk beristirahat.”

“Ya guru” jawab keduanya hampir berbarengan.

Keduanya pun  kemudian berjalan bersama di belakang orang tua itu.

Bertiga mereka berjalan di jalan setapak, di lereng perbukitan yang membujur sejajar dengan pantai lautan yang berombak ganas.

“Lihatlah ngger” berkata orang tua itu, “Gelombang itu bagaikan gejolak kehidupan, ia tidak pernah berhenti, susul menyusul dan silih berganti.”

Sambil berjalan diatas jalan sempit di perbukitan, mereka menyaksikan debur ombak yang tidak pernah ada hentinya, jika angin berhembus semilir, maka gejolak ombak itu memang agak mereda, tetapi jika langit menjadi buram, angin mulai menderu, maka prahara pun  datang mendorong ombak yang semakin besar, sehingga seolah-olah beribu bukit berterbangan bertimbun di tepian. Namun kemudian kembali meluncur hanyut ke kedalaman lautan yang luas.

“Lihatlah gunung itu” berkata orang tua itu pula.

Anak-anak muda itu pun  kemudian memandang kekejauhan. Sebuah gunung yang tinggi menjulang menggapai langit, mega-mega putih yang mengalir dari selatan, bagaikan telah tersangkut di ujungnya yang menjadi kemerah-merahan oleh cahaya matahari pagi yang mulai terbit.

“Didalam gejolak kehidupan yang kadang-kadang bagaikan diguncang oleh prahara, hati kita harus tetap sekukuh dan seteguh gunung itu.” Berkata orang tua itu pula.

Sambil berjalan kedua orang anak muda itu masih juga memandangi gunung yang berdiri tegak dan tidak tergoyahkan oleh prahara dan badai, tidak tergeser oleh angin pusaran dan tidak menggeliat oleh panasnya api.

Beberapa saat kemudian, ketiga orang itu sudah mulai menuruni tebing perbukitan yang curam. Tanah berbatu padas dibawah kaki mereka kadang-kadang terasa licin oleh embun, tajamnya bebatuan terasa menusuk telapak kaki mereka.

Tetapi mereka sudah terbiasa, jari-jari mereka bagaikan mampu mencengkeram jika tanah terasa licin oleh embun. Tajamnya bebatuan terasa menusuk telapak kaki mereka.

Sekali-sekali mereka harus meloncati celah-celah perbukitan, menelusuri relung-relung yang tajam.

Beberapa saat kemudian, mereka telah berada di ngarai yang datar. Di jalan bulak persawahan yang rata. Di sekitarnya terdapat batang-batang padi yang hijau menebar sampai ke ujung pandang.

Ketiga orang itu berjalan dengan cepatnya melintasi bulak menuju ke sebuah padepokan yang terpencil, sebuah padepokan kecil yang letaknya terpisah dari sebuah padukuhan yang terhitung besar.

Atas ijin Ki Bekel Panambangan, Ki Ajar Wihangga mendirikan sebuah padepokan kecil saja yang letaknya terpisah dari padukuhan Panambangan. Hubungan KI Ajar Wihangga dengan Ki Bekel Panambangan cukup akrab, bahkan keduanya sudah menjadi seperti saudara sendiri.

Apalagi umur mereka pun sebaya. Jika mereka bertemu, pembicaraan diantara mereka  pun  selalu sejalan.

Disamping beberapa orang murid yang jumlahnya banyak, Ki Ajar Wihangga mempunyai dua orang murid utama. Dua orang murid yang dibanggakan oleh Ki Ajar Wihangga karena keduanya memiliki banyak kelebihan dari anak-anak muda sebayanya.

Keduanya adalah Raden Madyasta dan Raden Wignyana, kakak beradik, putera Kangjeng Adipati di Paranganom.

Keduanya orang kakak beradik itu umurnya tidak bertaut banyak, ketika Madyasta belum dapat berjalan, ibunya sudah mengandung lagi, maka beberapa bulan kemudian lahirlah adiknya. Juga seorang laki-laki yang diberi nama Wignyana. Dengan demikian maka umur mereka hanya bertaut kurang dari dua tahun.

Keduanya tumbuh dengan baik sebagaimana putera seorang Adipati. Sejak mereka mulai mengenali lingkungannya, maka Kangjeng Adipati sudah menugaskan orang-orang pandai untuk mendidik mereka dalam berbagai macam ilmu. Namun kemudian, menginjak remaja, maka mereka pun telah diserahkan kepada Ki Ajar Wihangga. Seorang yang memilih satu lingkungan kehidupan di sebuah padepokan yang sepi.

“Aku titipkan anak-anakku kepadamu, kakang” berkata Kangjeng Adipati Paranganom yang bergelar Adipati Prangkusuma.

Ki Ajar Wihangga yang sedikit lebih tua dari Kangjeng Adipati itu menarik nafas panjang, Ki Ajar adalah saudara tua seperguruan dari Kangjeng Adipati Prangkusuma.

“Terima kasih atas kepercayaan Kangjeng Adipati kepadaku, tetapi aku sendiri ragu, apakah aku akan dapat memikul kepercayaan itu. Sehingga hasilnya sesuai dengan keinginan Kangjeng Adipati”

Kangjeng Adipati tersenyum, katanya, “Aku mengenal kakang dengan baik, kakang pun mengenal aku dengan baik pula”

Ki Ajar Wihangga tertawa, katanya, “Baiklah, aku akan membawa kedua putera Kangjeng itu ke padepokanku. Pada saat mereka menjadi dewasa penuh, aku akan membawa mereka kembali”

“Apakah selama itu mereka tidak boleh sekali-sekali pulang untuk menengok keluarganya?, ibunya tentu akan sangat merindukannya”

“Tentu, Kangjeng, mereka berada di padepokanku tidak sebagai tawanan atau orang buangan, sehingga tidak boleh meninggalkan tempat. Tetapi mereka akan menjadi murid-murid utama padepokanku”

Sejak saat itu, empat tahun lalu, dua orang remaja putera Kangjeng Adipati Prangkusuma itu berada di padepokan yang dipimpin oleh Ki Ajar Wihangga. Namun seperti yang dimaksudkan oleh Kangjeng Adipati, bahwa sekali-sekali mereka pun pulang karena keluarganya merindukannya.

Namun bukan saja kerinduan seorang ayah dan ibu, tetapi setiap Raden Madyasa dan Wignyana pulang, Kangjeng Adipati selalu menilik kemajuan kedua orang puteranya yang diasuh oleh Ki Ajar Wihangga itu.

Setiap kali Kangjeng Adipati tersenyum, ia bangga dengan kemajuan yang pesat dari kedua orang puteranya itu, kepercayaannya kepada saudara perguruannya tidak sia-sia.

Ki Ajar Wihangga sendiri pun merasa bangga terhadap kedua orang muridnya itu, pada saat-saat terakhir, Ki Ajar Wihangga telah sampai pada puncak ilmu yang dapat diajarkannya kepada kedua orang muridnya yang telah menjadi dewasa penuh itu.

Sebagaimana dijanjikan kepada Kangjeng Adipati, jika keduanya telah menjadi dewasa penuh, maka mereka akan dibawa kembali ke Kadipaten.

Dalam pada itu, beberapa saat kemudian, mereka bertiga telah memasuki sebuah padepokan yang tidak begitu besar. Di pagi hari, sebagian cantrik sibuk menimba air mengisi jambangan pakiwan, ada yang sibuk di dapur merebus air, yang lain berada di kandang ternak dan di kandang kuda.

Ketika para cantrik itu melihat Ki Ajar Wihangga bersama dengan Madyasta dan Wignyana memasuki padepokan, mereka pun mengangguk hormat.

“Teruskan kerja kalian anak-anak” berkata Ki Ajar. “Kalian adalah anak-anak yang rajin dan terampil. Dengan demikian, maka padepokan kita akan selalu terpelihara kebersihannya. Jika Ki Bekel Panambangan datang kemari, maka ia akan tetap mengagumi kebersihan padepokan kita”

Ki Ajar Wihangga itu pun langsung pergi ke pringgitan bangunan induk padepokan itu bersama Madyasta dan Wignyana.

“Duduklah ngger, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada kalian”

Madyasta dan Wignyana termangu-mangu sejenak, tidak biasanya Ki Ajar bersikap demikian bersungguh-sungguh seperti itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Madyasta dan Wignyana telah duduk di pringgitan menghadap Ki Ajar.

Kedua anak muda itu masih belum mengeringkan keringatnya, bahkan di beberapa bagian tubuh mereka masih terasa nyeri dan pedih. Ada beberapa luka yang menggores pada saat-saat tubuh mereka membentur batu-batu padas, bahkan kening Wignyana masih nampak memar.

“Anak-anakku” berkata Ki Ajar, “Jika kalian ingat, maka hari ini adalah hari ulang tahun kelahiran angger Madyasta. Anger Madyasta pada hari ini genap berusia dua puluh lima tahun, sedangkan angger Wignyana dalam beberapa bulan lagi akan berusia genap dua puluh empat tahun, karena selisih usia kalian berdua tidak ada dua tahun”

“Ya guru” Madyasta mengangguk hormat, “Aku ingat, bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku, tetapi menurut pendapatku, aku tidak merasa perlu mengadakan peringatan khusus pada hari ulang tahun ini, guru. Agaknya cukuplah jika aku sempat mengingatnya saja”

Ki Ajar Wihangga tertawa, katanya, “Aku mengerti ngger. Kau tentu tidak memerlukannya, yang ingin aku sampaikan adalah, bahwa kau sudah dewasa penuh, demikianlah pula dengan anger Wignyana”

“Ya, guru”

“Dengarlah, ketika Kangjeng Adipati menitipkan kalian berdua di padepokan ini, aku mengatakan, bahwa pada saat kalian sudah dewasa penuh, maka aku akan membawa kalian kembali ke Kadipaten”

Madyasta dan Wignyana menundukkan kepalanya.

“Nah, sekarang kalian sudah dewasa sepenuhnya, meskipun umur angger Wignyana terpaut sekitar satu setengah tahun, tetapi menurut pendapatku, angger Wignyana juga sudah dapat dianggap dewasa sepenuhnya. Sementara itu ilmu yang aku ajarkan kepada kalian berdua pun sudah tuntas. Kalian berdua adalah murid-muridku yang terbaik”

Keduanya terdiam, mereka sadar, bahwa dengan demikian mereka harus meninggalkan padepokan yang telah mereka huni sekitar empat tahun.

Selama empat tahun mereka menghirup udara di padepokan itu. Selama empat tahun mereka teguk airnya. Mereka makan hasil buminya dan selain semuanya itu, mereka telah menyadap ilmu pula dari gurunya, Ki Ajar Wihangga”

“Anak-anakku” berkata Ki Ajar Wihangga ketika dilihatnya kedua anak muda itu menunduk dalam-dalam, “Sebenarnyalah bahwa padepokan ini bukan tempat terbaik bagi kalian. Kalian adalah putera-putera Adipati. Disini kalian bekerja keras untuk menyadap ilmu, sekarang, ilmu itu telah ada di dalam diri kalian, tentu saja hanya sebatas kemampuanku untuk menurunkan ilmu itu kepada kalian” Ki Ajar Wihangga berhenti sejenak, lalu katanya pula, “Nah, karena itu, sudah saatnya kalian pulang ke rumah kalian di Kadipaten Paranganom”

Madyasta dan Wignyana memang menyadari, bahwa pada suatu saat mereka memang harus meninggalkan padepokan ini, mereka harus kembali ke Kadipaten, apalagi ayah mereka, Adipati Paranganom akan menjadi semakin tua, sehingga kehadiran mereka di Kadipaten akan sangat diperlukan.

Pada tahun-tahun terakhir mereka berada di padepokan itu. Telah terjadi pergeseran kekuasaan di Kadipaten Kateguhan, Kangjeng Adipati Prawirayuda, saudara tua Kangjeng adipati Prangkusuma, telah mangkat. Madyasta dan Wignyana, meskipun mereka masih berada di padepokan, namun mereka sempat pergi ke Kateguhan bersama ayah dan ibu mereka untuk menghadiri pemakaman Kangjeng Adipati Prawirayuda. Mereka pun sempat menghadiri wisuda yang menetapkan putera Kangjeng Adipati Prawirayuda untuk menggantikan kedudukan ayahnya, bergelar Kangjeng Adipati Yudapati di Kateguhan.

“Anak-anakku” berkata Ki Ajar Wihangga, “Besok aku akan mengantar kalian pulang, aku akan menyerahkan kembali kalian kepada ayah kalian, Kangjeng Adipati Prangkusuma. Sehingga apa yang aku ajarkan kepada kalian, sesuai dengan kehendaknya.

Madyasta menarik nafas dalam-dalam, dengan nada rendah ia pun kemudian berkata, “Kami mengucapkan beribu-ribu terimakasih, guru. Disini kami sudah mendapatkan apa saja yang kami perlukan sebagai bekal hidup kami di kemudian hari”

“Sebenarnyalah bahwa kami sudah terlanjur merasa terikat dengan kehidupan di padepokan ini, guru” berkata Wignyana pula.

Ki Ajar Wihangga tersenyum, katanya, “Jika aku menyerahkan kalian kepada ayah kalian, bukan berarti bahwa hubungan kita telah terputus. Kalian dapat datang kapan saja ke padepokan ini, kalian dapat bermalam disini atau bahkan tinggal disini beberapa hari asalkan ayah kalian mengijinkannya”

 “Ya, guru” sahut Wignyana sambil mengangguk hormat

“Sejak dini hari tadi, aku sudah melihat kemampuan kalian berdua, apa yang dapat aku tuangkan kepada kalian, telah aku lakukan. Menurut pendapatku, pada suatu saat kalian menjadi dewasa seperti sekarang ini. Ilmu kalian pun telah menjadi matang pula. Karena itu, aku berkesimpulan, bahwa kalian memang sudah waktunya untuk kembali ke Kadipaten. Mungkin ayah kalian memerlukan bantuan kalian dalam menjalankan pemerintahannya karena ayah kalian sudah menjadi semakin tua”

“Nah, sekarang mandilah, aku sudah menyiapkan serbuk yang dapat meredakan rasa sakit pada tubuh dan dapat menyembuhkan luka-luka kalian, terbarkanlah serbuk itu ke dalam jambangan”

“Ya, guru”

“Marilah, kita ambil serbuk itu di senthongku”

Ki Ajar Wihangga pun kemudian telah memberikan masing-masing sebuah bumbung kecil yang berisi serbuk ramuan dari berbagi macam daun dan bunga yang terdapat di kebun belakang padepokannya, berdasarkan atas pengamatan dan penelitian dan pengalaman yang lama, maka Ki Ajar Wihangga telah dapat membuat ramuan yang akan sangat berarti bagi kedua orang anak muda itu.

Sebenarnyalah, setelah mandi dengan menaburkan serbuk didalam bumbung itu di jambangan yang telah penuh diisi air, maka terasa alangkah segarnya tubuh mereka. Perasaan sakit, nyeri dan pedih pun telah hilang, meskipun sejak dini hari mereka berlatih dengan mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka diatas perbukitan yang berbatu padas.

Setelah mandi dan berbenah diri, maka mereka pun duduk di ruang dalam bersama Ki Ajar, ada beberapa pesan yang disampaikan oleh Ki Ajar kepada kedua orang anak muda itu, karena hari itu adalah hari terakhir mereka di padepokan.

“Nah, berbicaralah dengan para cantrik” berkata Ki Ajar Wihangga kemudian, bahwa besok kalian akan pergi meninggalkan padepokan ini”

“Baik, guru” jawab Madyasta dan Wignyana hampir berbarengan.

Sejenak kemudian, Madyasta dan Wignyana telah berada diantara para cantrik.

Ada diantara mereka yang sudah bersiap memasuki sanggar, tetapi ada pula yang masih bertugas.

Para cantrik itu terkejut ketika mereka mendengar pernyataan Madyasta dan Wignyana, bahwa besok mereka akan meninggalkan padepokan.

“Raden berdua tidak akan kembali lagi kemari?” bertanya salah seorang cantrik.

“Tidak, maksudku, masa berguru kami sudah selesai, tetapi bukan berarti bahwa kami tidak akan pernah datang ke padepokan ini lagi, sekali-sekali kami tentu akan datang kemari” jawab Madyasta.

“Ada ikatan yang tidak dapat dengan serta-merta kami putuskan” sambung Wignyana.

Namun bagaimanapun juga, kepergian Madyasta dan Wignyana membuat para cantrik itu merasa kehilangan, setidak-tidaknya untuk sementara.

Esok harinya, pada dini hari, Madyasta dan Wignyana telah bangun. Mereka segera mempersiapkan diri, hari itu, mereka akan diantar oleh Ki Ajar Wihangga kembali ke Kadipaten.

Kedua putera Kangjeng Adipati itu menyadari, bahwa kehidupan di Kadipaten menurut gelar lahiriah tentu jauh lebih baik dari mereka dapatkan dalam kehidupan di padepokan itu yang tidak mereka dapat di Kadipaten. Di padepokan mereka hidup dalam suasana tenang dan damai. Tidak ada masalah yang dapat menimbulkan pertengkaran. Bukan berarti bahwa di padepokan itu tidak akan ada perbedaan pendapat. Tetapi mereka menanggapi perbedaan pendapat itu dengan sikap yang mapan. Kadang-kadang ada perbedaan pendapat yang sulit dipertemukan meskipun dengan bantuan beberapa orang cantrik yang lain. Namun dalam keadaan demikian, mereka yang berbeda pendapat itu akhirnya sepakat untuk berbeda pendapat. Yang satu tidak memaksakan pendapatnya kepada yang lain. Apalagi dengan menyatakan kebenaran pendapatnya bagi semua orang.

Sebelum matahari terbit, maka kedua orang anak muda itu pun sudah siap.

Demikian pula Ki Ajar Wihangga. Kuda-kuda yang akan mereka pergunakan telah disediakan pula di samping pendapa bangunan induk padepokan.

“Kita akan singgah sebentar di rumah Ki Bekel, ngger, sebaiknya kalian minta diri kepada Ki Bekel”

“Baik, guru”

Ketika matahari terbit, maka mereka pun meninggalkan padepokan setelah Ki Ajar memberikan beberapa pesan kepada cantriknya. Seorang cantrik yang tertua, bukan saja umurnya, tetapi juga masa bergurunya telah diserahi untuk memimpin adik-adik seperguruannya.

“Mungkin aku akan bermalam di Kadipaten” berkata Ki Ajar kepada para cantriknya.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, Ki Ajar, Madyasta dan Wignyana pun telah melarikan kuda mereka di bulak panjang yang memisahkan padepokan mereka dengan padukuhan Panambangan.

Kedatangan Ki Ajar bersama muridnya pagi-pagi sekali pada saat matahari baru terbit, telah mengejutkannya.

“Maaf, Ki Bekel” berkata Ki Ajar, “Mungkin kami mengganggu atau bahkan mengejutkan Ki Bekel, sebenarnyalah kami hanya ingin minta diri. Hari ini Raden Madyasta dan Wignyana akan kembali ke Kadipaten”

“Maksud Ki Ajar, kembali pulang ke Kadipaten dan tidak datang lagi ke padepokan?”

“Waktu mereka tinggal di padepokan sudah habis. Seperti yang aku janjikan, aku akan mengembalikan mereka setelah mereka dewasa. Karena sekarang mereka sudah dewasa, dan tidak ada lagi yang dapat aku ajarkan kepada mereka, maka aku akan membawa mereka kembali ke kadipaten dan menyerahkan-nya kepada ayah mereka”

“Kami berdua mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan hati Ki Bekel” berkata Madyasta kemudian.

“Apa yang telah aku lakukan?, aku tidak berbuat apa-apa bagi kalian berdua. Nah, aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan bagi kalian berdua, ngger. Semoga apa yang kalian dapatkan dari padepokan Panambangan yang dipimpin oleh Ki Ajar Wihangga akan dapat berarti bagi angger berdua di masa datang. Baktiku kepada Kangjeng Adipati Prangkusuma”

“Terima kasih, Ki Bekel, mudah-mudahan kita masing-masing selalu disertai Yang Maha Agung di sepanjang hidup kita”

Ki Bekel tersenyum, setiap kali ia melihat kedua orang anak muda putera Kangjeng Adipati itu hatinya selalu bergetar. Ki Bekel sendiri mempunyai lima orang anak, tetapi semuanya perempuan. Semuanya telah bersuami pula. Tetapi Ki Bekel yang baru mempunyai tiga orang cucu itu, ternyata semuanya juga perempuan.

“Aku ingin mempunyai keturunan laki-laki, semoga Yang Maha Agung memberikan momongan cucu laki-laki”

Tetapi Ki Bekel masih berpengharapan, salah seorang anaknya sedang mengandung, ia berharap anak yang akan lahir itu laki-laki. Jika anak itu perempuan, maka ia masih akan tetap memohon seorang cucu laki-laki.

Demikian, maka sejenak kemudian, Ki Ajar Wihangga bersama dengan Madyasta dan Wignyana pun telah melarikan kuda mereka menuju ke Kadipaten.

Ketika mereka meninggalkan padukuhan Panambahan, masih terdengar kicau burung-burung liar yang hinggap di pepohonan. Sementara itu, matahari pun memanjat semakin tinggi, daun padi yang hijau subur, yang bergetar disentuh angin pagi, nampak berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari. Sementara embun masih nampak bergayutan di ujungnya yang menunduk.

Ki Ajar Wihangga, Madyasta dan Wignyana pun memang tidak melarikan kuda mereka terlalu kencang. Meskipun jarak yang akan mereka tempuh cukup panjang, namun mereka merasa bahwa perjalanan mereka tidak akan mengalami hambatan.

Mungkin mereka akan berhenti sebentar untuk beristirahat. Mungkin ada kedai yang memadai serta yang sekaligus dapat merawat dan memberikan makan kepada kuda-kuda mereka.

“Sebelum senja kita akan sampai” berkata Ki Ajar Wihangga.

“Jika kita berhenti beristirahat?”

“Ya, kita akan berhenti beristirahat sekali atau dua kali. Mungkin kita tidak sangat memerlukan kesempatan untuk beristirahat. Tetapi agaknya kuda-kuda kita memerlukannya.”

Sedikit lewat tengah hari, Ki Ajar Wihangga yang mengajak kedua orang anak muda itu untuk beristirahat di sebuah kedai. Ki Ajar Wihangga, bahwa kedua anak muda itu tentu tidak akan ada yang mengajaknya berhenti, sementara itu kuda mereka sudah nampak agak letih dan haus.

Ternyata sebuah kedai yang terletak tidak jauh dari sebuah pasar, menyediakan tenaga yang dapat merawat, memberi makan dan minum kuda yang kelelahan, karena itu, maka mereka bertiga pun telah berhenti di kedai itu sambil menyerahkan kuda-kuda mereka kepada seorang yang memang ditugaskan untuk itu.

Kehadiran Madyasta dan Wignyana di kedai itu sama sekali tidak menarik perhatian, karena keduanya mengenakan pakaian orang kebanyakan. Keduanya sama sekali tidak menunjukkan ciri-ciri bahwa keduanya adalah putera seorang Adipati.

Namun didalam kedai itu Madyasta, Wignyana dan Ki Ajar Wihangga tertarik kepada pembicaraan beberapa orang yang lebih dahulu berada di kedai itu, mereka menceritakan bahwa keadaan kadipaten Paranganom mulai tidak aman. Sekali-sekali terdengar berita tentang perampokan di jalan-jalan yang sepi. Bahkan ada penyamun yang berani melakukannya di siang hari.

“Guru” desis Madyasta, “Apa selama ini guru tidak pernah mendengar berita seperti itu?”

Ki Ajar Wihangga menggeleng, katanya perlahan-lahan, “Yang aku ketahui selama ini Kadipaten Paranganom adalah sebuah kadipaten yang tenteram. Tidak terdapat gejolak kejahatan yang pernah mengusik ketenangan kehidupannya.”

“Tetapi menurut orang itu..?”

Ki Ajar Wihangga mengangguk-angguk.

Sebenarnyalah mereka mendengar dengan jelas, bahwa Kadipaten Paranganom mulai disentuh oleh perbuatan-perbuatan jahat.

“Tetapi semuanya itu baru kita dengar dari pembicaraan orang di sebuah kedai, guru” berkata Madyasta.

“Ya, ngger. Mudah-mudahan yang terjadi sebenarnya tidak seperti yang kita dengar itu”

“Mungkin yang terjadi itu tidak terjadi di Kadipaten ini, guru” berkata Wignyana, “Atau jika terjadi di Kadipaten ini sekedar sentuhan peristiwa yang terjadi diluarnya”

“Ya, ngger, meskipun demikian, jika di dekat perbatasan telah terjadi kerusuhan, maka yang tinggal selangkah itu tentu akan segera terjadi pula”

Wignyana mengangguk sambil menjawab, “Ya, guru”

“Bagaimanapun juga apa yang kita dengar ini akan kita laporkan kepada Kangjeng Adipati. Apa salahnya kita berjaga-jaga orang-orang itu tentu bukan sekedar membual, meskipun mungkin yang terjadi tidak tepat seperti apa yang mereka perbincangkan itu”

“Guru” berkata Wignyana, “Kita juga akan melewati jalan di dekat perbatasan dengan Kadipaten Kateguhan”

“Ya, tetapi mudah-mudahan kita tidak menemui hambatan”

Demikianlah, beberapa saat kemudian, setelah mereka minum dan makan serta kuda-kuda mereka pun sudah puas beristirahat serta sudah kenyang pula, maka mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan mereka menuju pusat pemerintahan Kadipaten Paranganom.

Sejenak kemudian, kuda-kuda mereka telah berlari lagi menyusuri jalan-jalan berbatu. Mereka bertiga memutuskan untuk mengambil jalan terdekat, meskipun bukan jalan yang terbaik. Jalan yang mereka lalui justru akan melewati padang perdu, bahkan lewat tidak jauh dari sebuah hutan yang membujur panjang di perbatasan.

Rasa-rasanya mereka justru ingin membuktikan, apakah yang dibicarakan oleh orang-orang yang berada di kedai itu memang benar.

“Mungkin kita mendapatkan kesan-kesan tertentu yang dapat membenarkan atau justru bertentangan dengan yang dibicarakan oleh orang di dalam kedai itu” berkata Madyasta.

Ki Ajar Wihangga tidak mencegahnya, sebagai putera seorang Adipati, keduanya tentu ingin mengetahui keadaan sebenarnya dari wilayah kekuasaan ayahnya.

Kuda mereka masih berlari, sekali-sekali jalan menanjak naik, namun kemudian jalan pun menurun dengan tajamnya. Sekali-sekali mereka menyeberangi sungai yang tidak begitu besar sehingga airnya pun tidak begitu dalam.

Ketika matahari mulai beranjak turun, maka Wignyana pun berkata, “Kita akan segera sampai di jalan yang terdekat dengan perbatasan, kakangmas”

“Ya, dimas. Dekat perbatasan dengan Kadipaten Kateguhan yang sekarang pemerintahannya dipegang oleh kakangmas Adipati Yudapati.”

“Apakah keadaan di Kadipaten Kateguhan manjadi semakin memburuk sepeninggalnya paman Adipati Prawirayuda, sehingga terjadi kerusuhan di beberapa tempat, bahkan mengalir ke Kadipaten Paranganom?”

“Kita belum tahu pasti dimas”

“Bagaimana menurut pendapat guru?, apakah kangmas Adipati Yudapati tidak mampu mengendalikan Kadipaten Kateguhan setangkas paman Adipati Prawirayuda?”

“Aku kurang mengenal angger Adipati Yudapati, ngger. Tetapi Aku mengetahui bahwa Adipati Yudapati berguru kepada seorang yang aku kenal dengan baik”

“Atau ada orang yang tidak menyenanginya sehingga dengan sengaja menimbulkan keresahan?”

“Masih banyak yang perlu diketahui, ngger”

Ketiganya pun terdiam sejenak, kuda-kuda mereka masih berlari di jalan yang semakin dekat dengan hutan yang panjang.

Namun tiba-tiba saja Wignyana itu pun berkata, “Kakangmas, jangan-jangan justru kerusuhan itu terjadi di Kadipaten Paranganom, baru merembes ke Kateguhan”

“Jika demikian, kita harus dengan cepat bukan saja menumpasnya, tetapi juga mencari sebabnya”

“Ya” Wignyana mengangguk-angguk.

Ketika kemudian mereka mendekati sebuah tikungan, pada jarak terdekat dengan hutan yang memanjang, Ki Ajar berkata, “Berhati-hatilah, ngger”

Madyasta dan Wignyana yang patuh kepada gurunya itu memperlambat kudanya. Ketika mereka sampai di kelok jalan, maka keduanya benar-benar berhati-hati”

Untunglah, bahwa Ki Ajar telah memberi peringatan kepada mereka. Sehingga mereka menarik kendali kuda mereka. Beberapa langkah dari tikungan terdapat tali ijuk yang menyilang jalan. Tali ijuk yang sengaja diikat pada dua batang pohon yang berseberangan setinggi dada orang yang berkuda.

Madyasta dan Wignyana yang berada di depan segera berhenti dan meloncat turun. Mereka sadar, bahwa mereka berhadapan dengan bahaya yang dapat mengancam jiwa mereka.

Ki Ajar kemudian turun pula dari kudanya, jika saja mereka tidak berhati-hati, maka tali ijuk akan dapat menjebak mereka, sehingga mereka akan terpelanting dari kuda-kuda mereka.

Dengan geram Madyasta berkata, “Jika apa yang dikatakan orang di kedai itu bukan sekedar dongeng. Sekarang kita hadapi kenyataan itu disini. Bukankah kita masih tetap berada di Paranganom?”

“Ya, kakangmas. Kita masih berada di Paranganom. Jika memang benar, bahwa telah terjadi kerusuhan di Paranganom, kejadian yang sebelumnya belum pernah mengotori udara Kadipaten ini”

Ki Ajar berdiri termangu-mangu, dipandanginya hutan yang tinggal beberapa langkah saja itu.

Mereka memang berada di ruas jalan yang terdekat dengan hutan di perbatasan itu.

Sejenak mereka bertiga berdiri termangu-mangu. Mereka sama sekali tidak berniat dengan cepat menghindar dari kemungkinan buruk menghadapi orang-orang yang telah dengan sengaja menyilangkan tali ijuk itu. Bahkan mereka bertiga seakan-akan menunggu, apa yang akan terjadi kemudian meskipun mereka dapat saja merunduk, menyusup dibawah tali ijuk itu dan melarikan kuda mereka.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja mereka mendengar suara tertawa, empat orang bertubuh tinggi, berbadan kekar dan berwajah garang muncul dari dalam hutan.

Seorang diantara mereka berkata, “Luar biasa, jarang sekali orang yang sempat menghindari jebakan kami. Apalagi orang yang berkuda dari arah tikungan. Tetapi kalian sempat menarik kendali, sehingga kuda kalian berhenti sebelum tali itu melemparkan kalian dari kuda-kuda kalian.”

Wignyana yang menyahut, “Kalian hanya menjebak orang-orang yang lewat dari satu arah, kenapa justru orang-orang yang akan pergi kearah pusat kota pemerintahan Paranganom?”

Orang yang berwajah garang itu mengerutkan dahinya, katanya, “Pertanyaanmu bagus anak muda, tetapi aku tidak dapat menjawab. Kami sama sekali tidak pernah memikirkannya, bahwa jebakan kami hanya berlaku bagi mereka yang berkuda dari satu arah. Mungkin kami mempunyai firasat bahwa kalian akan lewat jalan ini menuju pusat pemerintahan Kadipaten Paranganom”

“Lalu, apa maksud kalian dengan merentang tali ijuk ini menyilang jalan itu?”

“Kau sudah tentu tahu apa yang kami inginkan. Karena kalian tidak terlempar dari kuda kalian, maka baiklah aku katakan saja bahwa aku ingin merampas semua harta kalian, kami adalah sekawanan penyamun. Kami tidak perlu menyembunyikan kenyataan diri atau berpura-pura. Berikan kudamu, uangmu, kerismu, timangmu. Pokoknya tinggalkan semuanya dan kalian boleh pergi”

“Baik. Kami pun akan berterus terang” sahut Madyasta, “Kami akan menangkap kalian dan membawanya menghadap Kangjeng Adipati. Selama ini Paranganom selalu tenang, tenteram dan tidak pernah terdapat gejolak apapun. Tiba-tiba muncul kalian, kawanan penyamun yang bukan saja ingin merampas milik kami, tetapi kalian sudah membuat Paranganom menjadi resah”

Para penyamun itu tertawa, seorang diantara mereka berkata, “Itu memang kami sengaja. Karena selama ini Paranganom tenang-tenang saja, maka, banyak orang yang menjadi lengah dan tidak berhati-hati. Nah, karena itu, maka Paranganom menjadi ladang yang sangat subur bagi kami. Di daerah yang tidak sedamai Paranganom, tidak akan ada orang yang memilih jalan ini untuk memilih jalan yang ramai meskipun agak jauh. Tetapi disini, di daerah yang aman dan tenteram, kalian berani lewat jalan yang sepi ini. Karena itu, maka kalian telah menemui nasib buruk sekarang ini”

“Kami atau kalian yang menemui nasib buruk?. Kami adalah prajurit Paranganom dalam tugas sandi, justru karena pada saat-saat terakhir sering terjadi perampokan. Semula kami tidak mempercayainya, karena selama ini Paranganom selalu aman dan tenteram. Namun disini kami menemukan kenyataan itu. Di Paranganom memang ada sekawanan perampok dan bahkan mungkin sekelompok perampok yang justru memanfaatkan ketenangan masyarakat Paranganom yang kalian anggap lengah. Memang mungkin rakyat menjadi lengah, tetapi tidak untuk prajurit”

“Persetan dengan celoteh kalian. Jika kalian prajurit dalam tugas sandi, kenapa kalian membawa orang tua itu bersama kalian”

Madyasta dan Wignyana serentak berpaling kepada Ki Ajar Wihangga yang berdiri saja seolah membeku.

“Orang tua itu hanya kebetulan seperjalanan, agaknya orang tua itu sudah mempunyai firasat buruk, bahwa Paranganom sekarang memang sudah tidak lagi aman dan tenteram”

“Sudahlah, jangan mengaku-aku prajurit, bahkan seandainya kalian prajurit. Kalian harus tunduk kepada kami sekarang ini. Serahkan semua yang kalian punya, juga orang tua itu. Kemudian karena kalian prajurit, maka perlakuan kami akan berbeda”

“Kenapa jika kami prajurit?” bertanya Wignyana.

“Karena kalian prajurit, maka kalian akan kami bunuh disini. Biarlah Paranganom menyadari, betapa rapuhnya kekuatan Kadipaten Paranganom yang katanya aman dan tenteram. Orang tua itu akan kami lepaskan untuk berceritera, bahwa dua orang prajurit Paranganom telah mati dibunuh sekawanan perampok. Orang tua itu akan berceritera, bahwa ternyata para prajurit Paranganom tidak mampu melindunginya, sehingga ia harus menyerahkan semua miliknya kepada orang-orang yang merampoknya di jalan ini”

Tetapi Wignyana itu pun menjawab, “Bersiaplah, kami akan menangkap kalian. Jika kalian melawan, maka kami akan terpaksa membunuh kalian. Orang-orang Paranganom akan merasakan betapa ketatnya perlindungan bagi ketenangan hidup mereka”

Keempat orang perampok itu bergeser merenggang. Tetapi sambil tertawa seorang yang agaknya pemimpin mereka itu masih juga tertawa sambil berkata, “Prajurit-prajurit muda kebanyakan memang besar kepala, mereka merasa dirinya mumpuni. Tetapi apa kalian pernah belajar olah kanuragan yang sebenarnya di lingkungan keprajuritan? Lurah-lurah kalian pun tidak tahu ilmu kanuragan yang sebenarnya, apalagi kalian”

Madyasta dan Wignyana tidak bertanya lagi, keduanya pun telah mengikat kuda-kuda mereka pada pohon perdu di pinggir jalan. Kemudian keduanya pun telah mengambil jarak. Mereka menyadari, bahwa mereka masing-masing akan menghadapi dua orang lawan. Para perampok itu tentu tidak akan memperhitungkan kehadiran Ki Ajar Wihangga, kecuali jika Ki Ajar itu sendiri yang akan turun ke medan.

Namun agaknya Ki Ajar tidak akan melibatkan diri, ia masih saja berdiri sambil memegangi kendali kudanya, seakan-akan membeku.

Sebenarnyalah bahwa Ki Ajar memang tidak ingin langsung terjun ke arena, ia justru ingin melihat, apa yang dapat dilakukan oleh kedua orang muridnya.

Hanya dalam keadaan yang memaksa, maka Ki Ajar akan melibatkan diri.

Dalam pada itu, salah seorang dari keempat perampok itu masih berkata, “Angkatlah wajahmu, pandanglah langit diatas Kadipaten Paranganom untuk terakhir kalinya. Pandanglah mega yang mengalir dan seakan-akan bersarang di puncak gunung itu. Kemudian tundukkan kepalamu. Pandanglah bumi yang kau injak. Di bumi itu pula kalian akan dikuburkan”

Madyasta dan Wignyana tidak menyahut, namun keduanya benar-benar telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian, para perampok itu pun telah bertebar, seakan-akan memilih lawan masing-masing, seperti yang diduga oleh Madyasta dan Wignyana, mereka masing-masing akan berhadapan dengan dua orang yang bertubuh tinggi, berbadan kekar, dan berwajah garang. Meskipun mereka sering tertawa, tetapi suara tertawa mereka sama sekali jauh dari nafas keramah-tamahan.

“Suara iblis yang bersarang di tubuh mereka” berkata Madyasta di dalam hatinya.

Sebagai putera seorang Kangjeng Adipati yang memimpin pemerintahan, maka Madyasta dan Wignyana benar-benar merasa tersinggung oleh perbuatan para perampok itu. Ketenangan yang mereka anggap ketenangan itu, seolah-olah telah menggelar lahan yang sangat subur bagi mereka.

“Kesan itu harus dihapuskan, setiap penjahat yang ada di Kadipaten ini harus dihukum”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, para perampok itu sudah mulai menyerang dari arah yang berbeda. Dua orang menghadapi Madyasta, yang dua orang lagi menghadapi Wignyana.

Dengan tangkasnya Madyasta dan Wignyana menghadapi para perampok yang garang itu.

Ketika beberapa serangan para penyamun itu tidak sempat menyentuh tubuh kedua orang anak muda itu, maka para perampok itu pun mulai menyadari, bahwa anak-anak muda itu bukannya sekedar menggertak. Agaknya mereka memang mempunyai bekal yang cukup dalam olah kanuragan.

Ki Ajar masih berdiri di tempatnya, kedua murid utamanya itu justru mendapat tempat untuk menguji ilmu yang pernah mereka pelajari.

Namun pertempuran itu tidak berlangsung lama, Madyasta dan Wignyana ternyata terlalu kuat bagi keempat perampok itu.

Dalam beberapa saat, keempat penyamun itu mulai terdesak. Serangan-serangan mereka yang garang sama sekali tidak berarti bagi Madyasta dan Wignyana, bahkan serangan-serangan Madyasta dan Wignyana yang kemudian justru sering mengenai tubuh mereka, serangan-serangan kedua orang anak muda itu mampu menembus pertahanan lawan-lawan mereka.

Ketika serangan Madyasta yang deras mengenai dada seorang diantara lawan-lawannya, orang itu pun terlempar beberapa langkah surut, kakinya terperosok kedalam parit, sehingga orang itu tidak lagi mampu mempertahankan keseimbangannya. Dengan demikian maka ia pun telah terbaring jatuh menimpa tanggul parit, namun kemudian terguling masuk kedalam aliran air yang meskipun tidak terlalu deras, tetapi telah membasahi pakaiannya.

Dengan cepat orang itu berusaha untuk bangkit. Ada beberapa teguk air yang masuk ke mulutnya dan menghisap ke dalam tenggorokannya.

Tetapi begitu ia bangkit berdiri dan berusaha naik ke tanggul parit. Maka kawannya yang seorang lagi telah terlempar pula menimpanya, sehingga kedua-duanya justru terjebur lagi ke dalam parit.

Madyasta dengan cepat memburunya. Demikian keduanya berusaha untuk bangkit, maka kakinya telah menyambar kening seorang diantara mereka, sehingga terpelanting ke dalam kotak sawah yang sedang digenangi air. Sementara itu, kawannya pun berusaha pula untuk berdiri. Tetapi sekali lagi kaki Madyasta terayun menghantam lambung.

Dengan demikian, maka kedua lawan Madyasta itu pun telah terperosok masuk kedalam lumpur sawah di seberang parit.

Dalam pada itu, Wignyana telah meloncat sambil memutar tubuhnya, kakinya melayang menerpa kening seorang dari kedua lawannya, sehingga orang itu terlempar beberapa langkah. Kepalanya menjadi pening, serta matanya berkunang-kunang.

Kawannya yang melihat serangan itu berusaha memperguna-kan kesempatan. Dengan cepat orang itu meluncur menyerang Wignyana dengan kakinya mengarah ke punggung. Tetapi dengan tangkasnya Wignyana merendah, dengan deras kakinya justru menyapu kaki lawannya.

Orang itu pun terpelanting dengan kerasnya, tubuhnya yang jatuh, menimpa batu-batu di jalanan. Terdengar orang itu mengeluh kesakitan. Punggungnya serasa menjadi retak.

Tetapi ada harapan lagi, bagi keempat perampok itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja seorang diantara mereka telah memberikan isyarat dengan siulan nyaring.

Dengan cepat keempat orang itu berusaha untuk segera bangkit berdiri dan melarikan diri.

Tidak ada kesulitan bagi Madyasta dan Wignyana untuk menangkap mereka. Ketika keempat orang itu berlari ke hutan, maka Madyasta maupun Wignyana berusaha untuk mengejar mereka.

Tetapi terdengar Ki Ajar Wihangga bertepuk tangan memanggil mereka.

“Guru” berkata Madyasta, “Kami harus dapat menangkap salah satu dari mereka. Dengan demikian kita akan tahu, siapakah mereka itu dan siapa pula pemimpin mereka”

“Tidak akan banyak artinya, ngger” jawab Ki Ajar.

“Kenapa guru?”

“Yang mereka ketahui, mereka adalah sebagian dari sekelompok penjahat. Hanya itu. Mereka pun tidak akan dapat menunjukkan sarang kawan-kawannya karena mereka tentu berpindah-pindah tempat. Menurut penglihatanku, mereka adalah sebagian kecil dari sekawanan perampok yang besar dalam susunan keanggotaan yang berlapis, sehingga orang-orang pada lapisan terbawah tidak akan tahu, siapakah yang berada di lapisan tengah. Apalagi di lapisan atas”

“Tetapi setidak-tidaknya kami membawa bukti bahwa telah terjadi kerusuhan di Kadipaten ini”

“Jika kau kehilangan bukti, aku akan bersedia menjadi saksi”

Madyasta terdiam.

“Angger berdua, kalian tidak tahu, apa yang ada dibelakang pepohonan hutan itu. Sarang mereka tentu tidak ada di tempat itu. Tetapi kau harus mengingat jebakan-jebakan yang mungkin mereka pasang. Bukan hanya sekedar tali yang terikat menyilang di jalan. Mungkin di dalam hutan itu terdapat berbagai macam jebakan, sementara beberapa orang telah menunggu”

Madyasta dan Wignyana saling berpandangan sejenak, namun mereka pun mengerti peringatan yang diberikan oleh gurunya. Mungkin para perampok itu telah membuat jebakan yang memang mereka tujukan kepada para prajurit jika mereka mencoba memburu untuk menangkap mereka.

“Ya, guru” desis Madyasta kemudian.

“Nah, sekarang marilah kita meneruskan perjalanan, singkirkan tali itu”

Madyasta dan Wignyana pun kemudian telah menyingkirkan tali yang merentang menyilang jalan itu.

Sejenak kemudian, maka mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan mereka, tetapi yang berada di paling depan kemudian adalah Ki Ajar Wihangga.

Ketika mereka kemudian telah sampai ke jalan yang lebih lebar, yang semakin jauh dari hutan, ki Ajar pun berkata kepada Madyasta dan Wignyana, “Majulah sedikit ngger, ada yang akan aku katakan.”

Madyasta dan Wignyana kemudian berkuda disebelah menyebelah Ki Ajar. Sementara itu, kuda mereka pun berlari tidak terlalu kencang.

`”Aku melihat kalian tadi marah sekali kepada para perampok itu”

Madyasta dan Wignyana termangu-mangu sejenak, namun kemudian Madyasta pun menjawab, “Ya, guru. Aku memang marah sekali kepada mereka”

“Itu wajar, ngger. Tetapi betapapun kalian marah. Kalian tidak boleh terbakar oleh rasa kemarahan kalian itu. Kalian harus tetap mengendalikan perasaan kalian dengan baik. Jika kalian tenggelam ke dalam kemarahan kalian, maka penalaran kalian pun akan menjadi kabur”

Madyasta dan Wignyana terdiam.

“Angger berdua, aku melihat ungkapan kemarahan kalian adalah tatanan gerak kanuragan kalian. Betapa kalian marah sekali sehingga serangan-serangan kalian tidak lagi terkendali. Tidak ada pikiran lain di kepala kalian sekali menghancurkan lawan kalian. Dan bahkan malah membunuh mereka. Seandainya kalian mengejar mereka agar menangkap salah seorang dari mereka untuk dijadikan sumber

keterangan, maka yang akan kalian dapatkan tidak akan lebih dari sosok-sosok mayat para perampok itu. Aku melihat bahwa kalian terlalu sulit untuk mengendalikan kemarahan kalian”

Madyasta dan Wignyana tidak menjawab.

“Tetap itu wajar sekali terjadi pada anak-anak muda yang baru keluar dari sebuah perguruan. Anak-anak muda yang merasa dirinya telah berbekal ilmu”

Jantung Madyasta dan Wignyana pun telah tersentuh pula, karena itu, maka keduanya sama sekali tidak menjawab.

“Tetapi setelah kalian mengalami, ngger. Untuk seterusnya berhati-hatilah. Kalian harus menjaga agar kalian tidak terbenam kedalam arus kemarahan setiap kali kalian menghadapi persoalan, betapapun kalian menjadi marah. Kalian harus tetap menyadari, apa yang akan kalian lakukan”

“Ya, guru” jawab Madyasta dan Wignyana berbarengan.

“Tetapi apa yang terjadi bukan merupakan gejala buruk bagi kalian. Itu wajar. Wajar sekali. Namun meskipun hal itu terjadi, namun sebaiknya kalian mampu tetap berpegang teguh pada penalaran yang penting.

“Ya, guru” jawab kedua orang anak muda itu.

“Nah, marilah kita berpacu agak lebih cepat. Waktu kita sudah tersita beberapa lama di pinggir hutan itu”

Madyasta dan Wignyana tidak menjawab, sementara itu, kuda Ki Ajar berlari semakin cepat, sehingga kedua orang anak muda itu pun mempercepat lari kuda mereka pula.

Namun dengan demikian, maka mereka tidak dapat mencapai Dalem Kadipaten sebelum senja, ketika senja turun, mereka masih berada di jalan yang langsung menuju ke pintu gerbang kota Paranganom.

Demikian mereka sampai ke pintu kota, maka lampu-lampu minyak di setiap rumah sudah dinyalakan. Dua buah oncor telah terpasang pula di pintu gerbang, sedangkan di pinggir jalan induk yang langsung menuju ke alun-alun, di beberapa regol pun telah terpasang oncor pula. Sebagian oncor jarak, sedangkan yang lain oncor minyak kelapa.

Dalam keremangan senja, tidak banyak lagi orang yang berada di jalan, bahkan tidak ada orang yang memperhatikan tiga orang berkuda menyusuri jalan induk yang langsung menuju alun-alun.

Namun penjaga pintu gerbang istana Kangjeng Adipati lah yang terkejut ketika mereka melihat tiga orang berkuda berhenti di depan pintu gerbang halaman istana.

“Raden Madyasta dan Raden Wignyana” desis prajurit yang bertugas.

“Ya, kami datang bersama guru”

“Silahkan, silahkan, Raden, silahkan Kiai”

Ketiganya pun segera memasuki pintu gerbang halaman istana, mereka langsung menyusuri halaman samping dan berhenti di pinta seketeng.

Prajurit yang bertugas pun segera menerima ketiga ekor kuda itu dan mempersilahkan mereka memasuki longkangan samping.

Kedatangan Madyasta dan Wignyana bersama Ki Ajar Wihangga pada saat malam mulai turun itu, memang agak mengejutkan Kangjeng Adipati.

Kangjeng Adipati pun kemudian menerima kehadiran Ki Ajar serta kedua orang puteranya di serambi samping.

“Selamat datang kakang, nampaknya kakang bersama Madyasta dan Wignyana agak kesiangan berangkat dari padepokan, sehingga lewat senja kalian baru sampai. Bukankah biasanya kakang dan anak-anak sudah sampai sebelum senja turun?”

Ki Ajar tersenyum, katanya, “Ada sedikit hambatan di perjalanan, Kangjeng”

Kangjeng Adipati mengerutkan keningnya, dengan nada tinggi ia pun bertanya

“Hambatan apa kakang?”

Ki Ajar memandang Madyasta dan Wignyana berganti-ganti. Sambil tersenyum ia pun berkata, “Kedua putera Kangjeng Adipati telah diuji di perjalanan”

“Ada apa?” nampak kecemasan di wajah Kangjeng Adipati.

Namun sebelum pembicaraan itu berlanjut, Raden Ayu Prangkusuma telah memasuki serambi itu pula. Dengan nada penuh kerinduan dari seorang ibu, Raden Ayu itu pun berkata, “Aku mendengar suara kalian Madyasta dan Wignyana. Marilah. Masuklah ke ruang dalam, kalian tentu letih setelah menempuh perjalanan seharian”

“Kau belum mengucapkan selamat datang kepada kakang Ajar Wihangga, diajeng” potong Kangjeng Adipati.

Raden Ayu tertawa, katanya, “Maaf kakang, sudah sejak di dalam ucapan itu sudah ada di bibir. Tetapi ketika aku melihat Madyasta dan Wignyana, aku lupa mengucapkannya. Apalagi ketika aku melihat pakaian mereka yang kusut. Keringat dan debu yang melekat di wajah mereka. Maaf, kakang. Biarlah mereka membenahi diri”

“Kakang Ajar Wihangga tentu juga akan segera berbenah diri”

“Senthong bagi kakang Ajar akan segera disiapkan. Bukankah kakang akan bermalam?”

“Tentu” Kangjeng Adipati lah yang menjawab, “Bukankah malam sudah turun?”

“Nah, masih banyak waktu untuk berbincang. Malam nanti, esok pagi dan barangkali kakang Ajar tidak hanya akan bermalam semalam saja”

Ki Ajar hanya tertawa saja. Sementara itu, setelah Madyasta dan Wignyana mencium tangan ibunya, mereka pun dibimbing seperti kanak-kanak masuk ke ruang dalam.

“Maaf, kakang” berkata Kangjeng Adipati kemudian, “Ibunya memang sangat rindu kepada mereka”

“Aku mengerti, Kangjeng”

“Aku juga minta maaf, kakang. Sebelum kakang sempat beristirahat, aku sudah mendesak ingin mengetahui hambatan apa yang telah terjadi di perjalanan?”

Ki Ajar tersenyum, katanya, “Tidak apa Kangjeng, bukankah itu sudah sewajarnya?”

“Ya, kakang” sahut Kangjeng Adipati

Ki Ajar pun kemudian menceritakan apa yang telah terjadi di perjalanan. Empat orang kawanan perampok itu pun telah mengganggu perjalanan mereka.

“Perampok?”

“Ya, Kangjeng”

Kangjeng Adipati termangu-mangu sejenak, namun sementara itu, seorang pelayan telah menghidangkan minuman hangat dan beberapa potong makanan.

“Silahkan kakang. Nanti pembicaraan kita tentang para perampok itu kita lanjutkan”

“Terima kasih, Kangjeng”

“Kami akan mempersilahkan kakang untuk mandi dan beristirahat. Malam nanti kita akan dapat berbicara panjang bersama Madyasta dan Wignyana”

Malam itu setelah makan malam Kangjeng Adipati duduk di serambi pula bersama Ki Ajar Wihangga, Madyasta dan Wignyana. Raden ayu Prangkusuma itu duduk bersama mereka sebentar. Namun kemudian minta diri untuk bersama-sama dengan pelayan membersihkan ruangan dalam.

“Nah” berkata Kangjeng Adipati kemudian, “Sekarang aku ingin mendengar ceritera tentang perjalanan kakang bersama Madyasta dan Wignyana sepenuhnya”

Ki Ajar pun tersenyum, katanya, “Baiklah, Kangjeng, tetapi sebaiknya biarlah anger Madyasta dan Wignyana sajalah yang berceritera”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, katanya, “Baiklah, ceritakan apa yang telah terjadi”

Berganti-ganti Madyasta dan Wignyana menceritakan apa yang telah terjadi di perjalanan mereka. Mereka saling melengkapi dan bahkan ceritera mereka memang kadang-kadang menjadi tumpang tindih. Rasa-rasanya terlalu banyak yang ingin mereka katakan, sehingga kalimat pun rasa-rasanya saling berdesakan lewat mulut keduanya.

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, akhirnya ceritera kedua orang putranya itu jelas pula baginya.

“Kakang” berkata Kangjeng Adipati, “Sebenarnyalah bahwa Kadipaten Paranganom tidak lagi aman dan tenteram seperti sebelumnya. Aku juga sudah menerima laporan tentang kejahatan yang terjadi di beberapa padukuhan. Juga telah terjadi perampokan di jalan-jalan”

“Jadi ayahanda sudah mengetahuinya?” bertanya Madyasta.

“Baru dalam pekan ini. Agaknya peristiwa kejahatan itu juga belum lama mulai tumbuh di kadipaten ini”

“Kita tidak boleh terlambat ayahanda” berkata Wignyana kemudian.

“Ya” Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, “Tetapi kita juga tidak boleh tergesa-gesa. Kita harus tahu, apa yang sebenarnya terjadi, sehingga kita tidak salah mengambil langkah.

Madyasta dan Wignyana mengangguk-angguk kecil.

“Nah, sikap Kangjeng Adipati itu harus kalian teladani, ngger. Kita jangan tergesa-gesa mengambil sikap agar kita tidak salah langkah”

“Ya, guru” sahut Madyasta dan Wignyana bersama.

Sementara itu, Kangjeng Adipati pun berkata selanjutnya, “Selain laporan tentang tindakan kejahatan itu, kakang sejak hari ini kakang mbok Raden Ayu Prawirayuda juga berada disini”

“Maksud Kangjeng Adipati, Raden Ayu Prawirayuda berada di Kadipaten ini?”

“Ya”

“Apakah sekedar menengok keadaan keluarga disini?”

“Tidak, kakang. Tetapi Kakang Mbok itu mengungsi ke Kadipaten Paranganom”

“Bibi mengungsi ke Paranganom?” bertanya Madyasta

“Ya”

“Kenapa Ayahanda?” bertanya Wignyana

“Ada masalah dengan kakangmasmu angger Adipati Yudapati”

“Persoalan apa?”

“Bibimu dipersilahkan meninggalkan Kadipaten Kateguhan.”

“Alasannya?”

“Aku masih belum sempat berbicara panjang. Baru besok hari aku akan berbicara dengan bibimu. Tadi bibimu nampak sangat letih.”

“Dengan siapa bibi datang kemari?”

“Dengan puterinya Rantamsari”

“Jadi bibi datang bersama dengan Kakangmbok Rantamsari?”

“Ya”

“Lalu bibi akan tinggal di Paranganom?”

“Nampaknya memang begitu. Tetapi aku masih belum tahu pasti, meskipun demikian, aku telah memerintahkan menyiapkan sebuah tempat tinggal bagi bibimu. Jika benar bibimu akan tinggal di Paranganom, maka biarlah bibimu tinggal di tempat itu dengan tenang dan tidak bersama Rantamsari. Biarlah ibundamu menugaskan dua atau tiga orang pelayannya di rumah bibimu serta seorang juru taman”

“Kenapa kakangmas Adipati Yudapati sampai hati mengusir bibi dari Kateguhan?”

“Bagaimanapun juga hubungan antara anak dan ibu tiri sering menimbulkan persoalan” desis Ki Ajar, “Meskipun tidak semuanya, ada seorang ibu tiri yang bersikap kurang baik terhadap anak tirinya, tetapi sebaliknya ada anak tiri yang bersikap tidak baik terhadap ibu tirinya”

“Besok tidak ada salahnya jika kakang juga ikut mendengarkan ceritera Kakangmbok Prawirayuda”

“Baik Kangjeng, tetapi tentu saja aku hanya akan menjadi pendengar yang baik tanpa dapat melibatkan diri”

“Mungkin kakang dapat memberikan petunjuk jalan manakah yang terbaik. Pada dasarnya perselisihan antara ibu dan anak, meskipun anak tiri, dapat dijernihkan”

Dalam pada itu, ketika malam menjadi semakin larut, Kangjeng Adipati pun berkata kepada kedua puteranya, “Kalian tentu letih, beristirahatlah. Biarlah aku duduk disini sebentar lagi dengan gurumu”

“Baik, ayah” Sahut Madyasta, namun kemudian Wignyana pun yang juga merasa letih, telah bangkit pula berdiri sambil berkata, “Aku juga mohon diri untuk beristirahat”

Keduanya pun kemudian telah meninggalkan Ki Ajar Wihangga dan Kangjeng Adipati di serambi.

“Kakang, meskipun tidak kakang katakana, tetapi ketika anak-anak menceritakan hambatan yang mereka alami, terasa ada sesuatu yang ingin kakang sampaikan”

Ki Ajar tersenyum, katanya, “Bukankah Kangjeng Adipati merasakan, betapa mereka berdua demikian ingin menceritakan apa yang telah terjadi?”

“Ya, kakang”

“Keduanya memang menjadi sangat marah kepada para penyamun itu, sehingga mereka berdua telah hanyut kedalam arus perasaan mereka”

Kangjeng Adipati masih mengangguk-angguk.

“Nah, aku merasa perlu untuk sedikit mengekang gejolak darah muda mereka. Ketika mereka mengejar para penyamun yang melarikan diri, aku memang mencegahnya, maksud keduanya memang benar, mereka ingin menangkap setidak-tidaknya seorang dari mereka untuk menjadi sumber keterangan. Tetapi jika mereka dapat menangkap salah seorang dari penyamun itu, maka penyamun itu tentu sudah mati sebelum sempat berbicara juga”

“Aku mengerti kakang” desis Kangjeng Adipati, “Darah muda mereka masih mudah mendidih, sifat kemudaan mereka masih mereka kedepankan”

“Seorang yang baru saja keluar dari sebuah perguruan, memang terdorong untuk menguji kemampuannya. Dibarengi dengan kemarahan yang menyala, maka keduanya agak kurang dapat mengendalikan diri”

“Terima kasih atas pengamatan kakang yang lengkap terhadap anak-anak itu”

“Semoga untuk selanjutnya juga menjadi perhatian Kangjeng Adipati”

Kangjeng Adipati pun mengangguk-angguk pula.

Namun beberapa saat kemudian, Kangjeng Adipati pun telah mempersilahkan Ki Ajar Wihangga untuk beristirahat. Sebuah bilik yang sudah dibersihkan dan diatur dengan rapi di gandok telah disiapkan bagi Ki Ajar Wihangga.

Di pagi hari berikutnya, ketika langit masih remang-remang. Madyasta dan Wignyana sudah sibuk di pakiwan, bergantian mereka menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan.

“Biarlah aku yang mengisinya, Raden” berkata salah seorang abdi Kadipaten.

Tetapi mengisi jambangan di pagi hari adalah kewajiban yang harus mereka lakukan di padepokan. Sehingga rasa-rasanya ada yang terhutang jika mereka tidak mengisi jambangan. Karena itu, maka kepada pelayannya Madyasta berkata, “Biarlah aku mengisinya, pekerjaan ini selalu aku lakukan”

“Tetapi tentu tidak di Kadipaten ini, Raden”

“Disini pun aku tidak boleh melupakan kewajiban itu”

Pelayannya tidak dapat memaksanya meskipun ia masih saja berdebar-debar, jika Kangjeng Adipati atau Raden Ayu melihatnya, maka mereka akan menjadi marah.

Tetapi ternyata tidak, ketika Kangjeng Adipati yang berdiri di pintu butulan melihat Madyasta menimba air selagi Wignyana mandi, Kangjeng Adipati itu sama sekali tidak marah, dan bahkan tidak mencegahnya. Dibiarkannya Madyasta terus mengisi jambangan pakiwan.

Ketika matahari naik, Madyasta dan Wignyana sudah siap untuk hadir di pendapa Kadipaten bersama para pemimpin Kadipaten Paranganom. Ki Ajar Wihangga dari Panambangan juga akan ikut hadir.

Sebelum saatnya baik ke pendapa, maka Ki Ajar pun melihat Madyasta dan Wignyana mengenakan pakaian baru.

“Sudah sejak angger berdua berada di padepokan angger berdua belum pernah ikut dalam pertemuan resmi seperti hari ini, ngger?”

“Belum. Guru, adalah kebetulan hari ini ayahanda memanggil para pemimpin Kadipaten untuk menyelenggarakan sebuah pertemuan resmi di pendapa”

“Angger berdua nampak benar-benar seperti putera seorang Adipati”

“Ah, guru, ibu tadi mengatakan, bahwa kemarin adalah hari ulang tahunku. Karena itu, maka ibunda lah yang memberikan pakaian baru kepadaku, apalagi hari ini ayahanda menyelenggarakan sebuah pertemuan besar”

“Kakangmu Madyasta yang kemarin berulang-tahun, aku ikut pula menerima hadiah dari ibunda”

“Besok, jika kau berulang-tahun, aku juga akan menuntut hadiah” sahut Madyasta.

Wignyana tertawa, gurunya tertawa pula.

Ketika matahari sepenggalah, maka para pemimpin di Kadipaten Paranganom mulai berdatangan. Beberapa orang Tumenggung dan beberapa orang Bupati.

Ketika para pemimpin Paranganom sudah hadir, maka Ki Ajar diikuti oleh Madyasta dan Wignyana telah naik ke pendapa pula.

Orang-orang yang hadir segera mengenali kedua orang anak muda itu. Mereka adalah putera Kangjeng Adipati yang sudah agak lama berada di sebuah padepokan.

“Agaknya sekarang mereka sudah pulang” berkata salah seorang tumenggung kepada tumenggung yang lain, yang duduk di sebelahnya.

Sementara itu, dua orang Tumenggung Wreda telah hadir pula di pendapa, Ki Tumenggung Wiradapa dan Tumenggung Sanggayuda”

Beberapa saat kemudian maka Kangjeng Adipati pun telah keluar dari ruang dalam Dalem Kadipaten untuk hadir dalam pertemuan itu.

Demikian Kangjeng Adipati duduk, maka suasana di pendapa itu menjadi lengang. Semuanya duduk diam sambil menundukkan kepala mereka.

Madyasta dan Wignyana sempat mencuri pandang melihat suasana di pendapa itu, suasana yang jarang sekali mereka temui, suasana yang demikian terasa tegang dan kaku.

“Seberapa lama kami harus duduk mematung seperti ini” berkata Madyasta di dalam hatinya.

Tetapi ia merasa wajib untuk menyesuaikan diri. Apalagi ia adalah putera Kangjeng Adipati itu sendiri yang harus dijunjung tinggi kewibawaannya. Beberapa saat kemudian, maka Kangjeng Adipati telah membuka pertemuan itu.

Ki Ajar Wihangga justru agak terkejut ketika di akhir acara, Kangjeng Adipati memberikan waktu kepadanya, karena kehadirannya di Kadipaten adalah dalam rangka penyerahan kembali kedua orang putera yang pernah dititipkan kepadanya.

Ki Ajar memang tidak menduga. bahwa Kangjeng Adipati merencanakan penyerahan itu dilakukan dalam satu upacara, karena pada saat Kangjeng Adipati menyerahkan kedua puteranya itu sama sekali tidak disertai dengan upacara apapun. Waktu itu, Kangjeng Adipati secara langsung menyerahkan Raden Madyasta dan Raden Wignyana dan langsung pula keduanya ikut bersamanya berkuda ke padepokan.

Pada waktu Kangjeng Adipati itu berkata kepadanya, “Aku titipkan anak-anakku kepadamu kakang”

Tetapi tiba-tiba kini Ki Ajar itu harus menyerahkan keduanya dalam satu upacara di pendapa kadipaten dihadapan para pemimpin Kadipaten Paranganom.

Ki Ajar memang tidak terbiasa dengan upacara-upacara resmi seperti itu. Namun Ki Ajar tidak dapat mengelak. Dihadapan para Tumenggung Wreda, Tumenggung Sanggayuda, para bupati dan para pemimpin yang lain. Ki Ajar itu pun berkata, “Ampun Kangjeng Adipati, junjungan rakyat Paranganom, pada saat ini, aku yang rendah, Ajar Wihangga dari padepokan Panambangan, menyerahkan kembali kedua putera Kangjeng Adipati yang selama empat tahun berada di padepokan. Aku yang kurang pengetahuan dan tidak memahami ilmu, mohon ampun apabila yang kami lakukan, jauh dari memenuhi harapan Kangjeng Adipati, namun yang penting yang aku harapkan dapat selalu diingat oleh kedua anak muda, putera Kangjeng Adipati adalah pesanku kepada mereka, hendaknya hidup mereka itu dipersembahkan kepada Yang Maha Agung, yang menciptakan langit dan bumi serta seisinya, yang telah berkenan menghadirkan Angger Madyasta dan Wignyana di atas bumi ciptaan-Nya pula, serta  diabdikan kepada sesamanya. Sebagai putera seorang Adipati, mereka mempunyai kesempatan yang luas untuk memperhatikan sesamanya yang kekurangan, kelaparan dan hidup dalam kegelapan. Bertindak dengan bijaksana serta hatinya dipenuhi oleh kesabaran serta belas kasihan”

Madyasta dan Wignyana justru terkejut. Mereka memang sering mendengar nasehat itu diucapkan hampir di setiap kesempatan, tetapi ketika nasehat gurunya itu diucapkannya dihadapan para pemimpin Kadipaten Paranganom, maka mereka seakan-akan dihadapan kepada para saksi yang akan menilai, apakah dalam perjalanan hidupnya kemudian, mereka akan dapat memenuhi petunjuk gurunya itu. Sehingga masa berguru yang dijalaninya itu benar-benar mempunyai arti.

Terasa jantung kedua anak muda itu tergetar. Namun justru itu, maka keduanya pun telah berjanji untuk melakukan semua petunjuk gurunya itu.

Sementara itu, Kangjeng Adipati telah menanggapi pula dengan pernyataan terima kasih kepada Ki Ajar yang telah memberikan bimbingan kepada kedua puteranya, tidak saja dalam olah kanuragan, tetapi juga arah serta pegangan hidup mereka di masa mendatang.

Baru kemudian, Kangjeng Adipati berbicara dengan para pemimpin di Kadipaten Paranganom.

Yang terpenting mereka bicarakan adalah tentang laporan adanya tindak kejahatan yang tumbuh di Kadipaten.

“Bukan berarti bahwa selama ini tidak ada tindak kejahatan di Kadipaten Paranganom. Tetapi tindak kejahatan itu segera dapat diredam. Namun akhir-akhir ini tindak kejahatan itu rasa-rasanya tumbuh dengan cepat. Menurut laporan yang diterima oleh para pemimpin di Paranganom, maka kejahatan itu mulai merambat dari satu tempat ke tempat yang lain.

Ternyata para pemimpin di Paranganom juga sudah mendengar laporan-laporan tentang terganggunya keamanan dan ketenteraman hidup bagi rakyat Paranganom.

“Kita harus segera mengambil tindakan untuk mencegah meluasnya tindak kejahatan itu” berkata Kangjeng Adipati.

Para pemimpin yang hadir itu pun sependapat bahwa mereka harus mengambil tindakan yang cepat, jika mereka bertindak dengan lambat, maka kejahatan itu akan menjalar kemana-mana.

Ki Tumenggung Wiradapa berpendapat bahwa para Demang harus memantau keadaan dengan seksama.

“Setiap saat mereka harus memberikan laporan tentang perkembangan di kademangan mereka masing-masing, Kangjeng”

“Aku tugaskan kepada para Bupati untuk mengamati lingkungan mereka masing-masing, jika perlu, jika rakyat mengalami kesulitan untuk menghadapi mereka, maka Paranganom akan memerintahkan para prajurit untuk mengatasinya. Karena itu, kami memerlukan laporan itu setiap saat dan dalam waktu yang cepat dari setiap peristiwa kejahatan”

Pertemuan itu telah menghasilkan kesepakatan bahwa para pemimpin di Paranganom harus memantau keadaan, terutama dalam hubungannya dengan semakin berkembangnya kejahatan.

Ketika pembicaraan dianggap sudah cukup, maka Kangjeng Adipati telah menutup pertemuan itu. Para pemimpin Kadipaten Paranganom diperkenankan meninggalkan pendapa dalem kadipaten.

“Aku minta kakang Tumenggung Wiradapa dan kakang Tumenggung Sanggayuda untuk tinggal disamping kakang Ajar Wihangga serta kedua puteraku”

Demikian, sejenak kemudian pendapa kadipaten itu pun menjadi lengang. Yang tinggal hanyalah kedua orang Tumenggung Wreda dan Tumenggung Sanggayuda, kedua orang putera Kangjeng Adipati serta Ki Ajar Wihangga.

Namun kemudian Kangjeng Adipati itu pun berkata kepada Wignyana, “Wignyana, persilahkan ibundamu seta bibimu Prawirayuda menghadap, aku ingin berbicara tentang sikap angger Adipati Yudapati”

“Hamba, ayahanda” sahut Wignyana sambil beringsut.

Beberapa saat kemudian, Raden Ayu Prawirayuda, Rantamsari ditemani oleh Raden Ayu Prangkusuma telah menghadap Kangjeng Adipati Paranganom.

“Kakangmbok” berkata Kangjeng Adipati, “Maaf, bahwa baru sekarang kita akan berbicara tentang keadaan Kakangmbok, kemarin Kakangmbok nampak begitu letih, sehingga aku biarkan Kakangmbok untuk beristirahat”

“Terima kasih, Dimas, bahwa aku diperkenankan untuk berada di Paranganom itu pun sudah merupakan satu kemurahan hati Dimas yang tidak terhingga artinya bagi aku dan anakku Rantamsari”

“Kakangmbok” berkata Kangjeng Adipati kemudian, “Apa yang sebenarnya terjadi di Kadipaten Kateguhan sehingga Kakangmbok harus meninggalkan Kadipaten?”

“Dimas, sebenarnyalah bahwa aku tidak tahu, apakah kesalahanku sebenarnya, tanpa tuduhan apa-apa, tiba-tiba saja angger Adipati Yudapati telah mengusir aku, agar aku dan Rantamsari meninggalkan Kadipaten Kateguhan”

“Tetapi bukankah Kakangmbok dapat menduga, apakah sebabnya anakmas Adipati Yudapati menjadi marah dan bahkan kemarahannya agak melampui batas kewajaran, karena angger Adipati Yudapati sudah mengusir Kakangmbok dari Kadipaten Kateguhan, bagaimana juga, Kakangmbok adalah isteri kakangmas Adipati Prawirayuda almarhum. Sehingga Kakangmbok berhak untuk tinggal di Kadipaten bersama dengan Rantamsari”

“Tetapi sudahlah, Dimas. Kemurahan hati Dimas sudah dapat menyejukkan hatiku serta anakku”

“Mungkin Kakangmbok yang merasa sudah mempunyai tempat tinggal selanjutnya, sudah merasa cukup. Mungkin Kakangmbok tidak merasa mendendam kepada angger Adipati Yudapati, tetapi karena masih ada sangkut paut hubungan keluarga, maka tidak ada salahnya mengetahui, apa yang sebenarnya yang telah terjadi di Kateguhan. Dalam pertemuan ini aku masih menahan kedua orang Tumenggung agar dapat ikut mendengarkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Kateguhan bukan saja sebuah Kadipaten yang semula diperintah oleh kakangmas Prawirayuda, saudara tuaku sendiri dan yang sekarang diperintah oleh kemanakanku, angger Adipati Yudapati. Tetapi Kateguhan juga sebuah Kadipaten yang merupakan tetangga terdekat. Garis batas sebelah utara Paranganom adalah garis batas sebelah selatan Kateguhan. Sehingga apa yang terjadi di Kateguhan akan dapat memercik ke Paranganom. Apalagi sekarang Kakangmbok Prawirayuda berada disini”

Raden Ayu Prawirayuda menundukkan kepalanya, diusapnya matanya yang basah dengan jari-jarinya. Sementara itu Rantamsari yang duduk di sebelah ibunya hanya dapat menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Adimas” suara Raden Ayu Prawirayuda itu tersendat-sendat, “Sebenarnyalah bahwa angger Adipati Yudapati tidak pernah menjatuhkan tuduhan apa-apa. Justru karena itu, aku tidak dapat membela diri, tetapi menurut seorang abdi, justru diluar dalem kadipaten telah tersebar kabar yang sangat memalukan Dimas”

“Kabar apakah itu Kakangmbok? Nah, kabar yang tersebar itulah yang ingin aku dengar. Tentu saja bukan merupakan pegangan atas kebenarannya”

“Dimas, sebenarnya aku sangat malu untuk mengutarakannya, tetapi apa boleh buat. Aku dapat mengerti, bahwa Dimas memerlukan bahan untuk menempatkan masalah ini pada tempat yang sewajarnya”

“Ya, Kakangmbok”

“Adimas. Orang-orang di jalanan mengatakan bahwa angger Adipati Yudapati menjadi sangat marah kepadaku dan kepada Rantamsari karena aku dan Rantamsari sering menjual harta benda milik Kadipaten yang harganya sangat mahal. Nampan dari emas, beberapa buah mangkuk yang diselut perak, berbagai macam perhiasan di kaputren dan masih banyak lagi. Karena itu, maka aku telah diusir dari dalem Kadipaten. Aku diberi waktu sepekan untuk berkemas dan menyiapkan benda-benda berharga di kaputren yang ingin aku bawa. Angger Adipati akan memberikan apa saja yang aku kehendaki untuk aku bawa meninggalkan kadipaten Kateguhan”

“Tetapi bukankah Kakangmbok dapat membuktikan bahwa Kakangmbok tidak melakukannya? Bukankah benda-benda berharga di Kadipaten Kateguhan diketahui dengan pasti jenis dan jumlahnya, sehingga jika ada yang hilang akan segera diketahui?”

“Aku tidak dapat mengatakannya kepada Angger Adipati, angger Adipati sendiri tidak pernah melontarkan tuduhan apa pun kepadaku. Dimas, yang aku tahu, tiba-tiba saja angger Adipati meminta kepadaku untuk mengemaskan barang-barangku dan meninggalkan Kadipaten dalam waktu sepekan”

“Tetapi Kakangmbok justru dipersilahkan membawa apa saja yang ingin Kakangmbok bawa dari kaputren Kateguhan?”

“Ya, Dimas, tetapi aku tidak membawa sepotong pun benda berharga. Aku ingin mengatakan kepada angger Adipati, bahwa aku tidak menginginkan semua itu. Ketika aku akan berangkat, aku katakan kepadanya, angger Adipati menghitung semua benda bukan saja yang berharga, tetapi apa saja yang ada di kaputren. Bahkan sepotong bancik lampu dari perak yang sangat aku suka pun, tidak aku bawa”

“Apa kata angger Adipati ketika ia tahu bahwa Kakangmbok tidak membawa apa-apa?”

“Angger Adipati tidak mengatakan apa-apa kepadaku”

Kangjeng Adipati Paranganom mengangguk-angguk, katanya, “Sudahlah Kakangmbok. Biarlah Kakangmbok tinggal disini. Aku sudah menyediakan sebuah rumah bagi Kakangmbok, mungkin terlalu sederhana dibandingkan dengan kaputren Kateguhan”

“Aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga, Dimas. Jika Dimas dan Diajeng Adipati Paranganom tidak menaruh belas kasihan, lalu apakah jadinya kami berdua, apakah kami harus berkeliaran di sepanjang jalan”

Suara Raden Ayu Prawirayuda itu terputus, jari-jarinya sibuk mengusap matanya yang basah.

“Sudahlah Kakangmbok” berkata Raden Ayu Prangkusuma, “Tinggallah di Paranganom. Dua orang abdiku akan melayani Kakangmbok. Selain mereka, juru taman kami akan memelihara taman di rumah yang kami sediakan bagi Kakangmbok. Jika Kakangmbok masih memerlukannya, aku dapat menambahnya dengan satu atau dua orang lagi”

“Tentu sudah cukup, Diajeng”

“Rantamsari” berkata Raden Ayu Prangkusuma.

“Ya, bibi”

“Agaknya kau memang harus prihatin dimasa mudamu, tetapi dengan demikian, kau telah mempersiapkan hari depanmu dengan baik. Terimalah apa yang telah terjadi atas dirimu dengan hati yang tegar. Yakinlah akan kemurahan Yang Maha Agung, sehingga pada suatu ketika akan terjadi perubahan pada jalan hidupmu”

“Ya, bibi” suara Rantamsari hampir tidak terdengar, wajahnya kemudian menunduk dalam-dalam.

Madyasta dan Wignyana tidak dapat ikut campur dalam pembicaraan itu, apalagi gurunya. Sedangkan Ki Tumenggung Wreda Wiradapa dan Ki Tumenggung Wreda Sanggayuda pun hanya dapat mendengarkan pembicaraan itu sambil mengangguk kecil.

Dengan susah payah Rantamsari berusaha untuk menahan agar ia tidak menangis, tetapi ternyata Rantamsari itu pun kemudian terisak.

Raden Ayu Prangkusuma memeluknya sambil berbisik, “Sudahlah Rantamsari, jangan menangis, ngger. Peristiwa yang tidak kita inginkan memang dapat saja datang setiap saat. Tetapi bukankah kau harus pasrah atas apa yang terjadi. Kita harus mensyukuri bahwa kita masih menemukan jalan keluar. Tentu saja atas petunjuknya.

Rantamsari mengangguk.

“Madyasta dan Wignyana” berkata Kangjeng Adipati kemudian, “Antarkan bibimu dan puterinya ke rumah yang telah dipersiapkan. Biarlah para abdi dan juru taman itu menyertai kalian”

“Baik Ayahanda” jawab Madyasta, “Marilah bibi, marilah Kakangmbok Rantamsari”

Sejenak kemudian, maka Raden Ayu Prangkusuma, Raden Ayu Prawirayuda dan Rantamsari telah meninggalkan pendapa Kadipaten diiringi oleh Madyasta dan Wignyana yang akan mengantar Raden Ayu Prangkusuma dan Rantamsari ke rumah yang telah disediakan.

Namun Kangjeng Adipati masih tetap memerintahkan Tumenggung Wiradapa dan Tumenggung Sanggayuda untuk tinggal bersama Ki Ajar Wihangga.

“Kakang Ajar serta kakang Tumenggung Wreda berdua, bagaimana menurut pendapat kakang atas apa yang terjadi. Apakah peristiwa itu murni sebagaimana yang kita dengar. Bahwa angger Adipati Yudapati telah mengusir Kakangmbok Prawirayuda dari Kadipaten Kateguhan atau kakang melihat persoalan lain di balik apa yang kita dengar. Apakah ada niat yang belum kita ketahui agar angger Adipati Yudapati terhadap Kadipaten Paranganom atau sikap apapun, karena angger Yudapati tentu memperhitungkan bahwa Kakangmbok Prawirayuda tentu akan pergi ke Paranganom.

Ki Ajar menarik nafas panjang, katanya, “Kangjeng Adipati memerlukan waktu untuk mengetahuinya, memang tidak mustahil, bahwa dibalik peristiwa itu tersembunyi masalah yang lebih tajam dalam dan rumit. Namun seperti apa yang pernah Kangjeng katakan, kita tidak boleh tergesa-gesa”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya, kakang. Kita memang harus melihat dengan sangat hati-hati dan dari segala sudut pandang yang berbeda”

“Ampun Kangjeng Adipati” berkata Tumenggung Wiradapa, “Apakah hamba diperkenankan untuk menyampaikan pendapat hamba?”

“Katakan Kakang”

“Ada beberapa peristiwa yang terjadi bersama, memang mungkin satu kebetulan, tetapi mungkin memang ada kaitannya”

“Apa yang kakang maksudkan?”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak, namun kemudian katanya, “Tiba-tiba saja Raden Ayu Prawirayuda sudah berada di Paranganom, Raden Ayu diusir dari Kadipaten Kateguhan dengan alasan yang tidak jelas. Sementara itu di kerusuhan di Paranganom meningkat dengan cepat, nampaknya juga tanpa sebab. Selama ini kesejahteraan rakyat Paranganom justru semakin meningkat. Tidak ada bencana alam dan tidak ada permusuhan yang terjadi di lingkungan Kadipaten. Namun tiba-tiba saja terjadi banyak kerusuhan itu terjadi di daerah yang lebih dekat perbatasan dengan Kadipaten Kateguhan dari pada perbatasan yang lain”

Kangjeng Adipati menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Tumenggung Sanggayuda berkata, “Kangjeng, apa yang dikatakan oleh kakang Tumenggung Wiradapa itu memang harus mendapat perhatian khusus. Meskipun secara umum, para Bupati dan para pemimpin yang lain sudah mendapat perintah untuk memantau keadaan, tetapi daerah perbatasan itu harus mendapat perhatian lebih”

“Bagaimana menurut pendapat kakang”

“Kangjeng, seperti yang kita ketahui, bahwa terdapat perbedaan tingkat kesejahteraan bagi rakyat Kadipaten Paranganom dengan rakyat Kadipaten Kateguhan. Keadaan alam, lingkungan serta kebijaksanaan yang berbeda antara Kangjeng Adipati Prawirayuda dengan Kangjeng Adipati Prangkusuma. Meskipun para Tumenggung sudah banyak membantu serta memberikan beberapa pendapat yang memungkinkan adanya perubahan di Kadipaten Kateguhan, namun Kateguhan masih belum dapat menyamai Paranganom”

“Perbedaan lantaran kesejahteraan itukah yang menurut kakang dapat menimbulkan masalah?”

“Baru satu dugaan, Kangjeng”

“Tetapi kenapa baru sekarang?”

“Kangjeng Adipati Yudapati adalah seorang yang masih muda. Sikapnya tentu berbeda dengan Kangjeng Adipati Prawirayuda yang sudah banyak makan pahit asamnya kehidupan. Mungkin kendali Kangjeng Adipati Yudapati tidak sekuat kendali di tangan ayahandanya, Kangjeng Adipati Prawirayuda.”

Kangjeng Adipati Prangkusuma mengangguk-angguk, sementara Ki Tumenggung Wiradapa berkata dengan nada merendah, “Kangjeng, sebaiknya kita memang tidak berprasangka buruk, bahwa ada semacam kesengajaan dari beberapa orang pemimpin di Kateguhan. Tetapi tidak mustahil bahwa ada pemimpin yang merasa iri terhadap kemajuan yang kita capai selama ini”

Kangjeng Adipati termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia pun berkata, “Ya, kita jangan berprasangka buruk. Tetapi semua kemungkinan harus menjadi perhatian kita”

“Kami berdua akan berusaha Kangjeng”

“Aku percaya kepada kakang Tumenggung berdua. Mudah-mudahan langit akan segera menjadi terang diatas Paranganom”

Sejenak kemudian, maka kedua orang Tumenggung itu pun telah diperkenankan untuk meninggalkan pendapa, sehingga yang tinggal kemudian adalah Ki Ajar Wihangga sendiri. Dua orang prajurit yang bertugas di depan pendapa itu pun termangu-mangu. Tidak biasanya Kangjeng Adipati duduk berlama-lama di pendapa. Apalagi setelah pertemuan selesai.

Tetapi nampaknya Kangjeng Adipati masih berbincang-bincang dengan Ki Ajar Wihangga tentang kemungkinan baru dalam hubungannya dengan Kadipaten Kateguhan.

“Semoga tidak terjadi, Kangjeng” berkata Ki Ajar, “Tetapi kecemasan kedua orang Tumenggung itu sangat beralasan, mungkin diluar pengetahuan Kangjeng Adipati Yudapati. Tetapi mungkin yang terjadi di Paranganom itu justru sepengetahuan Kangjeng Adipati yang masih muda itu”

Tetapi menurut pengetahuanku, angger Adipati Yudapati adalah anak muda yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesatriaan”

“Seseorang dapat berganti sikap karena pengaruh orang lain. Jika seseorang dengan cerdik dan licik, setiap hari meniupkan pengaruhnya ke telinga Kangjeng Adipati Yudapati, maka mungkin saja sikap Kangjeng Adipati berubah atau merasa tidak berubah, tetapi dengan penafsiran yang sengaja dikaburkan sehingga seakan-akan Kangjeng Adipati masih tetap berpijak pada nilai-nilai yang dijunjungnya.”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, katanya, “Ya, kakang. Aku mengerti seseorang memang dapat berbicara tentang sikapnya berdasarkan atas kepentingannya, sedangkan kebenaran pun dapat diurai menurut sudut pandang seseorang”

“Ya, Kangjeng. Sehingga seseorang yang merasa dirinya menegakkan kebenaran akan dapat berbenturan dengan orang lain yang juga bersumpah untuk menegakkan kebenaran pula”

Kangjeng Adipati menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian katanya, “Kakang, aku persilahkan kakang untuk beristirahat, anak-anak tadi baru mengantar bibinya ke tempat tinggalnya yang baru”

“Terima kasih, Kangjeng”

Ki Ajar berdiri pula ketika Kangjeng Adipati kemudian bangkit dan melangkah masuk ke ruang dalam. Sementara itu, para prajurit yang berjaga-jaga di depan pendapa pun telah meninggalkan tempatnya dan bergabung dengan kawan-kawannya yang berada di gardu. Namun dua orang yang berjaga di pintu gerbang kadipaten masih juga berada dalam tugasnya.

Ki Ajar kemudian turun dari pendapa. Sejenak ia berdiri termangu-mangu, namun kemudian ia pun melangkah ke biliknya di gandok dalem kadipaten.

Di ruang dalam, Kangjeng Adipati pun kemudian duduk bersama dengan Raden Ayu Prangkusuma yang masih nampak muram.

“Kasihan Kakangmbok Prawirayuda” desis Raden Ayu Prangkusuma.

“Ya, tetapi apakah kepadamu Kakangmbok mengatakan persoalan-persoalan lain yang dapat melengkapi keterangannya?”

“Tidak, kakangmas, Kakangmbok tidak mengatakan apa-apa kecuali sebagaimana dikatakannya kepada kakangmas”

“Bukankah aneh, jika angger Adipati Yudapati menuduhkan demikian, sementara barang-barang berharga di kaputren masih lengkap”

Tetapi yang dimaksud Kakangmbok adalah berita yang tersiar di jalanan, sebagaimana yang didengar oleh abdinya. Mungkin angger Adipati Yudapati mempunyai alasan yang lain?”

“Tetapi kenapa alasan itu tidak dikatakan kepada Kakangmbok Prawirayuda?”

“Sikap itulah yang sulit dimengerti”

Kangjeng Adipati menarik nafas dalam-dalam, sambil mengangguk-anggukan kepalanya ia pun berkata, “Ya, jika saja Rantamsari mau mengatakan sesuatu kepada Madyasta atau Wignyana”

“Nampaknya Rantamsari juga tidak tahu apa-apa. Rantamsari memang cantik, tetapi tatapan matanya tidak menunjukkan ketajaman penggraitanya serta kecerdasannya. Mungkin ia bukan gadis yang bodoh, tetapi agaknya ia seorang gadis yang manja”

“Ya” Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, “Aku sependapat. Nampaknya gadis cantik itu tidak mempunyai banyak kelebihan dari gadis-gadis yang lain. Rantamsari tidak seperti angger Adipati Yudapati, dilihat dari pandangan matanya. Yudapati sudah menunjukkan bahwa ia adalah seorang anak muda yang tangkas berpikir dan bertindak”

“Agaknya Rantamsari tidak pernah mendapat kesempatan mengasah ketajaman penggraitanya dalam kemanjaannya, sehingga yang ada adalah seorang gadis cantik sebagaimana Rantamsari itu”

“Besok atau lusa, kita menengok di rumah Kakangmbok yang kita sediakan, apakah Kakangmbok merasa kerasan atau tidak. Mungkin rumah itu kurang memadai dibanding dengan kaputren di Kateguhan”

“Tetapi Kakangmbok menyadari, bahwa ia sekarang tidak berada di kaputren Kadipaten Kateguhan”

“Raden Ayu Prangkusuma menarik nafas panjang”

Dalam pada itu, Madyasta dan Wignyana telah berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda yang baru. Dua orang abdi perempuan telah diperintahkan oleh Raden Ayu Prangkusuma untuk sementara berada di rumah itu. Sepasang suami isteri yang akan memelihara taman serta membersihkan isi rumah dan prabot-prabotnya juga akan berada di rumah itu.

“Kau senang dengan rumah ini, Kakangmbok?” bertanya Wignyana kepada Rantamsari.

“Tentu, Dimas” jawab Rantamsari, “Jika paman Adipati Prangkusuma dan bibi tidak memberikan rumah ini kepada kami, maka kami akan hidup di sepanjang jalan”

“Tentu tidak, Kakangmbok, tentu ada tempat yang dapat menerima Kakangmbok dan bibi”

“Ya” Raden Ayu Prawirayuda yang menyahut, “Ternyata memang ada tempat yang dapat menerima kami. Tempat yang sangat menyenangkan, tetapi yang dihadiahkan oleh Dimas Adipati Prangkusuma”

Wignyana mengangguk hormat sambil berkata, “Hanya seandainya saja bibi. Seharusnya ayahanda menyediakan tempat yang lebih baik bagi bibi. Maksudku bukan baik ujud dan bentuknya. Tetapi rumah yang dapat lebih memberikan kenyamanan bagi bibi dan Kakangmbok Rantamsari”

“Rumah ini jauh lebih nyaman bagi kami berdua, daripada, “Kaputren di Kadipaten Kateguhan, angger. Apalagi dilihat dari sisi kebutuhan jiwani, jiwaku yang bagaikan disayat dengan sembilu oleh anakku sendiri. Meskipun angger Adipati Yudapati itu anak tiriku. Tetapi aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Tidak ada bedanya, bahkan bagiku bersikap baik, momong, merawat dan mencintai angger Yudapati lebih banyak merupakan satu pengabdian. Aku merasa bahwa siapa pun aku ini. Tetapi angger Yudapati lah yang akan dan yang sekarang sudah ternyata, mewarisi kedudukan ayahandanya, Adipati Kateguhan”

Wignyana mengangguk-angguk.

Namun tiba-tiba Raden Ayu itu bertanya, “Dimana angger Madyasta?”

“Melihat-lihat keadaan rumah ini, bibi. Mungkin masih ada yang kurang pantas atau bahkan mungkin ada cacat yang harus segera ditangani”

“Semuanya sudah terlalu cukup bagiku ngger, sebenarnyalah aku ingin mempersilahkan angger Madyasta dan angger Wignyana duduk di pringgitan”

“Terima kasih, bibi. Aku akan mencari kakangmas Madyasta. Aku juga akan melihat-lihat rumah ini dalam keseluruhan”

Demikianlah, maka Wignyana pun meninggalkan Rantamsari dan ibundanya mencari Madyasta. Wignyana menemukan Madyasta sedang menunggui juru taman mengumpulkan sampah, kemudian membuat lubang di sudut halaman, memasukkan sampah itu dan kemudian menimbunnya.

“Kau pencarkan pohon soka bajang itu”

“Ya, Raden”

“Jaga pagar hidup yang menyekat taman halaman samping itu agar tetap rapi”

“Ya, Raden”

“Aku lihat sumur di samping itu airnya cukup baik. Sehingga di musim kemarau pun kau tidak akan kekurangan air”

“Ya, Raden”

Madyasta berpaling ketika Wignyana mendekatinya sambil berkata, “Kakang dipanggil oleh bibi, kakangmas”

“Ada apa?, apakah ada yang tidak berkenan?, kemarin sejak bibi datang dan memberitahukan serba sedikit persoalan yang dialaminya, ayahanda dan ibunda segera memerintahkan beberapa orang membersihkan dan mengatur tempat ini”

“Tidak, bukan soal itu, agaknya bibi hanya ingin mempersilahkan kita duduk-duduk di pringgitan. Segala sesuatunya nampaknya sudah cukup memadai bagi bibi dan Kakangmbok Rantamsari”

“Baik, Wignyana, aku selesaikan dahulu gambaran tugas juru taman ini agar taman di rumah ini pun nampak asri seperti taman kaputren Kateguhan, tetapi tentu saja tidak dapat dicipta dalam sehari. Diperlukan waktu sekitar sebulan”

“Aku kira tidak akan menjadi masalah, kakangmas”

Namun Wignyana masih harus menunggu beberapa saat, baru kemudian Madyasta meninggalkan juru taman itu dan bersama-sama dengan Wignyana pergi ke pringgitan.

Raden Ayu Prawirayuda dan Rantamsari ternyata sudah menunggu mereka di pringgitan, dengan ramah Raden Ayu Prawirayuda itu pun berkata, “Maaf, angger berdua. Sekarang, biarlah aku yang mempersilahkan angger berdua duduk, karena atas perkenan Adimas Adipati Prangkusuma, aku akan tinggal di rumah ini.”

“Ya, bibi. Bibi memang akan tinggal di rumah ini. Rumah ini akan menjadi rumah bibi, meskipun barangkali kurang memadai”

“Tidak, angger. Sama sekali tidak. Rumah ini sudah terlalu baik bagiku dan Rantamsari. Bahkan terasa terlalu besar”

“Mudah-mudahan bibi dan Kakangmbok Rantamsari kerasan tinggal di rumah ini. Tetapi jika ada masalah, aku mohon bibi langsung saja menyampaikan kepada ayahanda atau kepada ibunda atau kepada kami berdua”

“Terima kasih angger”

“Nah, bibi. Kami kira kami sudah melaksanakan perintah ayahanda. Kami sudah mengantar bibi sampai ke tempat ini, dan satu dua hari, mungkin rumah ini masih perlu dibenahi.”

“Terima kasih, angger. Tetapi aku minta angger berdua tidak tergesa-gesa meninggalkan rumah ini. Aku ingin menjamu angger berdua”

“Terima kasih, bibi. Bibi masih terlalu repot mengatur segala sesuatunya disesuaikan dengan selera bibi sendiri. Kami berdua akan mohon diri”

“Jika kami tidak dapat menahan lebih lama lagi, baiklah. Silahkan angger. Tetapi aku mohon, besok angger berdua berkunjung ke rumah ini, biarlah aku dan Rantamsari tidak merasa kesepian. Jika angger berdua sering berkunjung kemari, maka kami akan segera merasa menyatu dengan keluarga Adimas Adipati Prangkusuma. Dengan demikian, maka kami akan segera menjadi tenang dari guncangan perasaan karena sikap angger Adipati Yudapati itu”

“Baik, bibi. Kami akan sering-sering berkunjung kemari”

Demikianlah sejenak kemudian Madyasta dan Wignyana segera meninggalkan rumah yang diperuntukkan bagi Raden Ayu Prawirayuda itu, mereka tidak terlalu banyak bicara di sepanjang jalan.

Mereka rasa-rasanya terbenam ke dalam angan-angan mereka masing-masing, Madyasta masih saja bingung memikirkan sikap Kangjeng Adipati Yudapati, sementara itu Wignyana membayangkan kehidupan yang sepi dari Raden Ayu Prawirayuda dan anak perempuannya, Rantamsari. Sehari-hari mereka hanya berdua saja, terpisah dari keluarga mereka.

Ketika keduanya sampai di istana, maka keduanya pun segera mencari guru mereka. Berbincang-bincang sebentar, kemudian keduanya pun pergi menghadap ayahanda mereka.

Dalam pada itu, para Bupati telah memerintahkan para demang untuk bersiaga sepenuhnya, mereka harus mengamati peristiwa-peristiwa yang ada hubungannya dengan kejahatan yang nampaknya mulai menyebar di kadipaten Paranganom.

Sebenarnyalah para Demang pun telah memerintahkan seluruh penghuni kademangan masing-masing untuk bersiaga sebaik-baiknya. Setiap orang laki-laki yang masih nampak kuat harus mendapat giliran meronda. Terlebih-lebih anak-anak mudanya.

Namun, meskipun demikian, kesiagaan itu tidak dapat menghentikan kerusuhan di Kadipaten Paranganom, kerusuhan itu dapat terjadi di jalan-jalan sepi. Namun juga di padukuhan-padukuhan. Yang terjadi bukan saja pencurian ayam atau itik, bukan pula pencurian jemuran di halaman, tetapi yang telah terjadi adalah justru perampokan-perampokan, kawanan penyamun bagaikan telah meleburkan di Kadipaten Paranganom terutama di perbatasan.

Di Kademangan Karang Tengah, di setiap malam bukan saja mereka yang bertugas meronda yang berada di gardu-gardu. Tetapi mereka yang tidak mendapat giliran ronda pun selalu berdatangan ke gardu-gardu.

Seorang anak muda yang bertubuh tinggi besar, yang selalu membawa golok di pinggangnya berkata kepada kawan-kawannya, “Jika saja para perampok itu berani datang kemari”

Anak muda itu memang seorang anak muda yang mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya. Tidak seorang pun yang berani melawannya, ia memiliki kekuatan besar melampaui kekuatan anak-anak muda kebanyakan.

Sayang sekali, anak muda itu terlalu sombong, ia terlalu yakin akan kemampuannya.

Namun, di malam hari anak muda itu rajin berada di gardu. Meskipun bukan hari-hari gilirannya meronda. Di gardu ia sempat menyombongkan diri, menantang para perampok yang ditakuti di mana-mana.

Namun malam itu, rasa-rasanya agak lain dari malam-malam sebelumnya. Meskipun di gardu terdapat banyak orang seperti biasanya, tetapi malam itu terasa sangat sepi. Orang-orang yang berada di gardu itu tidak nampak tegar seperti biasanya. Sebagian dari mereka mulai mengantuk sebelum wayah sepi uwong. Anak-anak mudanya tidak berkelakar seperti biasanya, sehingga suara tertawa dan kelakar mereka terdengar meledak-ledak.

Seorang yang umurnya sudah mendekati pertengahan abad, namun masih tetap setia datang ke gardu, berkata kepada seorang anak muda yang berada di sebelahnya, “Ada suasana lain malam ini”

“Mungkin angin yang basah itu terasa terlalu dingin, Kang”

“Ya, nampaknya langit bersih tanpa selembar awan itu telah membuat malam terasa sangat dingin”

“Ya, apalagi sehari tadi, kita semuanya sibuk di sawah, musim menggarap sawah ini membuat kita semuanya lelah. Pada wayah sepi uwong, kita semuanya sudah mengantuk”

“Ya, Kau benar”

“Karena aku sendiri seharian berada di sawah. Membawa bajak dengan sepasang lembu”

Orang yang sudah mendekati setengah abad itu mengangguk-angguk. Tetapi ia merasakan sesuatu yang lain. Bukan sekedar letih karena kerja seharian. Ada yang asing. Tetapi ia tidak dapat mengatakannya.

Malam pun merayap semakin dalam, anak muda yang bertubuh tinggi besar dan selalu membawa golok di pinggangnya itu pun turun dari gardu dan berjalan-jalan hilir mudik.

“He, bukankah sudah hampir tengah malam. Marilah, siapa yang bertugas meronda berkeliling sekarang?” anak muda itu hampir berteriak.

Tiga orang anak muda yang lain dengan malasnya bangkit berdiri, seorang diantaranya menguap sambil berkata, “Ngantuk sekali ya, rasa-rasanya mataku tidak dapat terbuka sama sekali”

“Kau yang bertugas meronda berkeliling-kan?”

“Ya”

“Marilah kita pergi, aku kawani kalian, jika ada sesuatu, biarlah aku menyelesaikannya”

Seorang yang lain, yang duduk sambil berkerudung kainnya berkata, “Pergilah, harus ada diantara kita yang meronda berkeliling. Dirga sudah bersedia mengantar kalian, karena itu, jangan cemas lagi, Dirga akan mengatasi segala-galanya jika terjadi sesuatu”

“Bahkan seandainya ada sekelompok perampok sekalipun” sahut anak muda yang bertubuh besar itu dan bernama Dirga.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, lima orang termasuk Dirga yang berada paling depan, berjalan mengelilingi kampung.

Empat kawan Dirga membawa kentongan kecil yang dibunyikan sepanjang jalan dengan irama kotekan.

Tetapi Dirga pun kemudian berkata, “Tidak ada gunanya kau membunyikan kotekan itu.

“Kenapa? orang-orang yang tidur terlalu nyenyak akan terbangun” jawab seorang kawannya.

“Apa yang dapat mereka lakukan, meskipun mereka terbangun”

“Mereka akan mengetahui jika ada orang jahat masuk ke dalam rumah mereka”

“Jika mereka tahu?”

“Mereka akan menangkapnya, atau membunyikan kentongan untuk memberi isyarat kepada kita yang berada di gardu”

“Mereka tidak akan dapat melakukannya”

“Kenapa?”

“Jika yang datang itu seorang pencuri yang kurus karena kelaparan, mencongkel dinding rumah dan merangkak masuk, maka orang-orang yang terbangun karena bunyi kocekmu itu akan dapat menangkap mereka, tetapi jika orang yang datang itu sekelompok perampok?”

“He..!” anak-anak muda yang meronda berkeliling itu mulai saling merapat.

“Perampok, berandal atau kecu itu jika mendatangi rumah seseorang tidak dengan sembunyi-sembunyi. Mereka mengetuk pintu, jika tidak dibuka, maka mereka akan mendobraknya”

Keempat orang anak muda itu mulai berdesakkan, tetapi tangan mereka masih saja memukul kentongan kecil.

“Tetapi kentongan ini harus dibunyikan, itu kewajiban kita. Jika kita tidak membunyikan kentongan ini, maka orang-orang padukuhan mengira kira tidak melakukan ronda malam ini”

Dirga tertawa, katanya, “Tentu bukan karena itu. Kau akan merasa lebih tenang jika lebih banyak orang terbangun di padukuhan ini”

“Ya”

“Jika demikian, terserah saja kepada kalian”

Dalam pada itu, kawan-kawan Dirga itu justru memukul kentongan makin keras. Semakin lama malam terasa menjadi semakin menakutkan. Rasa-rasanya jalan padukuhan itu semakin menjadi gelap, beberapa buah oncor di regol rasa-rasanya tidak membantu. Cahayanya menjadi redup. Bahkan bayangan yang timbul oleh cahaya bergerak-gerak seperti hendak menerkam.

Anak-anak muda itu semakin cemas ketika mereka mendengar bunyi burung kulik di kejauhan. Ketika burung itu terbang melintas sambil berbunyi, rasa-rasanya burung itu telah menebarkan malapetaka di padukuhan itu.

Dirga tertawa, katanya, “Kalian takut mendengar bunyi burung kulik itu ya? Kalian terlalu percaya pada dongeng dan takhayul yang membuat kalian menjadi penakut”

“Tetapi semua orang-orang tua kita menceritakan hal seperti itu”

“Menceritakan apa?”

“Tentang burung itu”

“Burung apa namanya?”

Anak itu terdiam, sehingga Dirga tertawa semakin panjang, katanya, “Menyebut namanya saja kau tidak berani. Dengar, namanya burung kulik. Kau tentu tahu, bahwa burung itu adalah betina, yang jantan namanya burung tuhu. Biasanya jika terdengar suara burung kulik, akan segera terdengar burung tuhu”

“Sudahlah, kita berbicara tentang hal lain saja” potong seorang kawannya.

Dirga masih tertawa, namun sebelum ia menjawab, di kejauhan memang terdengar suara burung tuhu, yaitu burung kulik yang jantan.

Anak-anak muda itu menjadi semakin berhimpitan, kulit mereka meremang, namun demikian mereka justru memukul kentongan semakin keras.

Para peronda itu tiba-tiba saja terkejut ketika mereka melihat seseorang berlari muncul dari tikungan, langsung menjumpai mereka.

Dirga yang berdiri paling depan, segera meloncat menghadang. Tiba-tiba goloknya telah berada di tangannya.

Ternyata Dirga memang tangkas.

Orang itu berhenti dan berkata dengan nafas yang memburu, “Aku….., ini aku…..Kriya….”

“Kakang Kriya?”

“Ya…, aku…Kriya…”

“Ada apa kakang lari-lari kemari…?”

“Ada, ada rampok….., ada rampok di rumah paman….”

“Rampok?, paman siapa yang dirampok?”

“Paman kerti….. Pedagang sapi itu…”

“Darimana kakang tahu, kalau rumah paman Kerti dirampok?”

“……Kebetulan aku sedang tidur di rumah paman Kerti, paman sedang mengadakan pertemuan keluarga, karena ia akan menikahkan anaknya yang perempuan. Keluarga yang lain pada pulang, sedangkan aku tetap tinggal. Aku tidur di bilik belakang dekat dapur. Sewaktu para perampok beraksi, aku berhasil lolos dan menyelinap keluar dan bersembunyi di kebun. Sewaktu kalian datang dan membunyikan kentongan, maka aku langsung lari menuju kemari”

“Jangan cemas’ berkata Dirga, “Aku akan datang ke rumah paman Kerti”

“Tetapi perampoknya tidak hanya sendiri, tetapi banyak, Dirga”

Dirga termangu-mangu sejenak, kemudian ia pun berkata kepada kawankawannya, “Bunyikan kentongan kalian dalam irama titir sambil mendekati rumah paman Kerti”

“Tetapi…Dirga….aku…. takut”

“Jangan kuatir, dalam waktu dekat, orang-orang akan berdatangan mengepung rumah itu”

“Tetapi perampok itu kan kejam-kejam Dirga”

“Persetan, sekarang bunyikan kentonganmu dengan irama titir, cepat, sebelum perampok itu sempat lari”

Anak muda itu tidak sempat berpikir, tiba-tiba saja suara kotekan itu berubah iramanya menjadi irama titir.

Padukuhan itu memang menjadi gempar. Suara kentongan irama titir itu telah membangunkan orang-orang yang sedang tidur nyenyak. Beberapa orang segera menyambar senjata yang selalu mereka siapkan di dekat pembaringan mereka, sejak Ki Demang Karangtengah memperingatkan rakyatnya untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan buruk karena ulah para perampok.

Demikian pula orang-orang yang berada di gardu. Ada diantara mereka yang menjadi ketakutan sehingga gemetar mendengar suara kentongan dalam irama titir.

Tetapi ada juga yang dengan sigapnya meloncat turun dan berlari-lari kearah suara kentongan itu.

Dirga telah mendahului pergi ke rumah paman Kerti bersama Kriya, karena Kriya tidak bersenjata, maka ia pun telah meminjam sepotong besi yang dibawa oleh salah seorang peronda itu.

Keempat orang peronda itu memang mengikuti Dirga dan Kriya. Tetapi mereka tetap mengambil jarak sambil menunggu orang-orang yang terbangun oleh suara kentongan.

Beberapa orang tetangga terdekat memang segera sampai di regol rumah Kerti, namun pada saat itu, beberapa orang perampok dengan membawa hasil rampokannya telah keluar dari regol dan turun ke jalan. Mereka nampaknya tidak banyak terpengaruh oleh suara kentongan itu, tidak pula menjadi tergesa-gesa, meskipun mereka mendengar beberapa orang mulai berteriak-teriak.

Beberapa orang perampok itu berjalan beriringan kearah pintu gerbang padukuhan dengan tenangnya.

Ketika beberapa orang menghentikan mereka, para perampok itu memang berhenti, bahkan menunggu, apa kira-kira yang akan dilakukan oleh warga padukuhan kepada mereka.

“Menyerahlah” teriak Dirga, “Kalian kami tangkap”

Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa. Seorang perampok yang bertubuh tinggi besar. Melangkah maju sambil berkata, “Jangan main-main anak muda, minggirlah”

“Kami bersungguh-sungguh” berkata Dirga, “Kami mendapat wewenang untuk menangkap kalian”

“Aku peringatkan sekali lagi, bahwa perampok seperti kami tidak dapat diajak bermain-main. Apalagi pada saat-saat kami menjalankan pekerjaan kami seperti sekarang ini. Karena itulah, minggirlah, jika kalian tidak minggir, maka tentu akan jatuh korban di pihak kalian. Meskipun kalian berjumlah banyak, namun kalian tidak bisa berkelahi. Berbeda dengan kami, berkelahi adalah pekerjaan kami sehari-hari, menyakiti dan melukai orang. Bahkan kami adalah pembunuh-pembunuh yang sebenarnya”

“Jangan membual” potong Dirga, “Aku adalah pemimpin anak-anak muda padukuhan ini”

“Nampaknya kau memang keras kepala, ya”

“Persetan” geram Dirga sambil memutar goloknya.

Namun tiba-tiba saja perampok itu yang bertubuh tinggi besar itu pun memutar sebuah bindi di tangannya sambil berkata lantang, “Minggir jika tidak ingin celaka”

Jantung Dirga menjadi berdebar-debar, apalagi orang yang berdiri di hadapannya itu bertubuh lebih tinggi dan lebih besar darinya. Padahal Dirga sudah menganggap bahwa tubuhnya adalah yang tertinggi dan terbesar di seluruh padukuhan.

Tetapi Dirga sudah terlanjur sesumbar di hadapan kawan-kawannya, bahwa ia akan menantang dan menangkap para perampok itu. Bahkan tidak hanya seorang yang ditangtangnya, tetapi sekelompok perampok.

Ketika ia benar-benar berhadapan dengan sekelompok perampok, maka suasana hatinya memang lain.

“Minggir” bentak perampok itu.

Dirga tidak mau minggir, meskipun dengan sedikit gemetar Dirga memutar goloknya sambil berkata, “Kami semua akan menangkap kalian, kau lihat seluruh penghuni pedukuhan ini sudah berada disini”

“Sayang sekali, semakin banyak yang datang akan semakin banyak pula yang akan mati. Nah, sekarang aku akan pergi meninggalkan padukuhan ini.“

Ketika perampok itu melangkah maju, maka Dirga pun meloncat menyerang. Goloknya diayunkan dengan kerasnya mengarah ke bahu perampok itu.

Namun yang terdengar adalah dentangan senjata yang beradu, golok Dirga telah membentur bindi perampok itu, sehingga bunga api pun berloncatan dari benturan itu.

Namun Dirga telah bergeser surut, telapak tangannya terasa pedih sekali. Hampir saja goloknya terlepas.

Namun Dirga tidak mempunyai banyak kesempatan, perampok itu meloncat memburunya. Dengan sekali pukul, golok Dirga telah terlepas dari tangannya, terlempar beberapa depa dari kakinya.

Yang terjadi kemudian telah menggetarkan jantung orang-orang yang mengepung para perampok itu. Satu ayunan bindi itu telah mengenai paha Dirga.

Terdengar Dirga berteriak kesakitan, dengan serta merta ia pun terjatuh dan tidak dapat bangkit berdiri lagi.

Dengan serta merta perampok itu pun berteriak, “Siapa lagi yang akan mencoba menahan kami?”

Tidak terdengar satu pun jawaban.

Perampok yang bertubuh tinggi besar itu pun memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk berjalan terus meninggalkan orang-orang padukuhan yang berkerumun, sambil berkata, “Jangan mencoba menghalangi kami, jika ada yang mencobanya juga, maka aku akan membunuhnya, tidak sekedar melukainya lagi”

Orang-orang yang mengepung itu pun menyibak, mereka tidak berani berbuat apa-apa terhadap para perampok yang nampaknya garang dan bengis itu. Apalagi senjata-senjata mereka yang mengerikan itu telah membuat jantung mereka bergetar.

Selain bindi, ada diantara mereka yang membawa tombak dengan mata tombak yang bercabang. Ada yang membawa semacam kapak bertangkai panjang. Ada yang membawa golok besar dan panjang dan berbagai jenis senjata yang menyeramkan lainnya.

Orang-orang padukuhan itu pun seakan-akan hanya sekedar menjadi penonton sebuah barisan orang-orang yang berwajah garang yang berhasil membawa barang-barang berharga milik Ki Kerti.

Baru ketika mereka telah pergi, beberapa orang berusaha menolong Dirga yang merintih kesakitan, agaknya tulang pahanya telah menjadi retak.

Dengan hati-hati Dirga diangkat dan dibawa pulang ke rumahnya yang tidak begitu jauh dari tempat kejadian, namun sepanjang jalan Dirga selalu mengeluh kesakitan.

Beberapa orang yang lain telah berada di rumah Kang Kerti, mereka melihat Yu Kerti menangis di ruang tengah, dengan memelas ia pun merintih, “Aku mengumpulkan uang sekeping demi sekeping, tiba-tiba saja mereka datang dan merampas semuanya”

Ki Kerti duduk tepekur tidak jauh dari isterinya, pundaknya nampak berdarah, agaknya para perampok itu telah melukainya meskipun tidak begitu parah.

Beberapa orang mencoba menghiburnya, namun Yu Kerti masih saja menangis. Ia merasa telah kehilangan segala-segala yang dimilikinya.

“Sudahlah Yu Kerti, yang penting Yu Kerti dan Kang Kerti selamat, harta benda dapat dicari lagi Yu, tetapi nyawa?, kemana kita akan mencarinya?. Bersukurlah bahwa Kang Kerti hanya luka dan tidak dibunuh oleh perampok-perampok yang keji itu”

Demikianlah, sejenak kemudian, Ki Bekel dan bebahu padukuhan telah datang hampir berbareng dengan Ki Demang Karangtengah.

“Jadi…. tidak ada orang yang berani berusaha menangkap mereka meskipun kalian berjumlah sekian banyaknya?” bertanya Ki Demang.

“Dirga sudah mencoba, Ki Demang. Dirga yang menurut pendapat kami adalah orang yang terkuat diantara kami, dalam sekejap telah dilukai. Lalu apa pula artinya kami. Dan para perampok itu mengancam bahwa orang berikutnya tidak hanya akan disakiti seperti Dirga, tetapi mereka benar-benar akan membunuh”

“Berapa orang mereka semuanya?”

“Lebih dari lima belas orang”

“Lima belas orang?”

“Ya, Ki Demang”

Jumlah itu pun mengejutkan Ki Demang, Ki Bekel dan bebahu padukuhan, adalah wajar sekali jika orang-orang padukuhan itu merasa ragu untuk bertempur menghadapi lima belas orang perampok yang garang dengan membawa berbagai macam senjata yang mengerikan.

Ki Demang Karangtengah itu pun menarik nafas panjang, seandainya orang-orang di sekitar Ki Kerti itu memberanikan diri untuk mencoba menangkap mereka, maka korban pun akan berjatuhan, jika setiap perampok membunuh satu orang warga, maka akan ada lima belas mayat yang harus dikuburkan.

Karena itu, maka Ki Demang tidak lagi menyalahkan warganya, mereka bukan penakut, tetapi mereka tahu, bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa untuk menghadapi lima belas perampok. Bahkan lebih.

“Besok, peristiwa ini akan aku laporkan. Kami rakyat kademangan tidak mampu lagi mengatasi” berkata Ki Demang.

“Peristiwa di padukuhan Salam beberapa hari yang lalu, tidak segarang apa yang terjadi disini. Perampok di Salam itu tidak diketahui oleh orang lain kecuali pemilik rumahnya” berkata Ki Jagabaya.

Sebenarnyalah, bahwa beberapa hari yang lalu, di Padukuhan Salam yag tidak terlalu jauh dari Karangtengah telah terjadi perampokan pula. Tetapi perampokan itu sama sekali tidak mengganggu ketenangan penduduk Salam. Yang terjadi adalah sekawanan perampok mengetuk pintu sambil mengancam. Demikian pemilik rumah membuka pintu, maka para perampok itu pun segera masuk. Dua orang dari mereka tetap berada di luar untyuk mengamati keadaan. Beberapa saat kemudian, maka kerja para perampok itu pun selesai. Mereka meninggalkan rumah sambil membawa pemiliknya. Jika setelah para perampok itu pergi kemudian terdengar isyarat, maka pemilik rumah itu untuk selamanya tidak adan kembali pulang ke rumahnya.

Baru ketika matahari terbit, orang-orang Padukuhan Salah mengetahui apa yang terjadi setelah pemilik rmah itu pulang.

Semua peristiwa perampokan itu akhirnya sampai kepada Kangjeng Adipati Paranganom. Bahkan yang terakhir telah terjadi perampokan dengan membawa korban. Sebelumnya, sebuah rumah sudah dibakar habis oleh para perampok yang marah, karena mereka tidak menemukan yang mereka cari di rumah itu. Setelah menyakiti suami isteri pemilik rumah itu, maka mereka membakar rumahnya dan membiarkan suami isteri itu berada di dalamnya.

Untunglah, bahwa suami isteri itu masih sempat merangkak sambil membantu isterinya keluar dari kobaran api sambil berteriak-teriak minta tolong. Pertolongan dari para tetangga pun datang tepat pada waktunya, sehingga keduanya serta seorang anak laki-laki yang masih kecil dapat diselamatkan. Seorang pembantu di rumah itu juga selamat, meskipun ia mengalami luka bakar.

Kangjeng Adipati menjadi sangat prihatin atas peristiwa beruntun di Kadipaten Paranganom itu, sehingga secara khusus, Kangjeng Adipati telah memanggil kedua orang Tumenggung Wreda yaitu Tumenggung Wiradapa dan Tumenggung Sanggayuda. Sementara itu Kangjeng Adipati juga minta Ki Ajar Wihangga tidak tergesa-gesa meninggalkan Kadipaten.

Ketika kedua orang Tumenggung Wreda itu menghadap, maka Kangjeng Adipati juga memanggil kedua puteranya untuk menghadap pula.

“Keadaan sudah semakin gawat, kakang” berkata Kangjeng Adipati.

“Sudah waktunya untuk bertindak, Kangjeng. Para Demang sudah memberikan laporan, bahwa mereka tidak lagi mampu berbuat apa-apa. Para perampok itu mendatangi rumah para korbannya dalam jumlah yang besar, dan merampok tiga rumah sekaligus dalam satu malam. Berkata Ki Tumenggung Wiradapa.

“Memang perlu dicari pijakan dari kerusuhan yang terjadi itu, Kangjeng. Agaknya memang bukan kerusuhan biasa, bukan dilakukan oleh orang-orang yang kelaparan atau sekedar mencari harta benda untuk menimbun kekayaan agar hidupnya berkecukupan sampai ke anak cucu. Bahkan sampai keturunan ke tujuh” sahut Ki Ajar Wihangga.

“Ya, kakang”

“Kangjeng Adipati, kita harus berusaha untuk dapat menangkap para perampok dari tataran tertinggi, sehingga akan mendapat keterangan yang jelas, apakah sebenarnya yang terjadi”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu tiba-tiba saja Madyasta berkata, meskipun dengan ragu-ragu, “Ayahanda, jika ayahanda berkenan, hamba akan menyampaikan pendapat hamba. Apa pun alasannya, siapa pun yang dalangnya, kerusuhan-kerusuhan ini harus dihentikan. Jika ayahanda berkenan, hamba mohon mendapat perintah dari ayahanda untuk mengatasi kerusuhan ini”

“Maksudmu?”

“Hamba akan mencoba untuk berhadapan dengan perampok itu, ayahanda”

Kangjeng Adipati mengerutkan keningnya, sementara itu Wignyana pun berkata pula, “Hamba sependapat dengan kakangmas Madyasta, ayahanda. Jika ayahanda memerintahkan kami untuk mengatasi kerusuhan itu, maka perintah itu akan hamba junjung tinggi”

Kangjeng Adipati termangu-mangu sejenak, namun Ki Ajar berkata, “Kangjeng Adipati, sebenarnya bahwa angger Madyasta dan angger Wignyana telah menimba ilmu di padepokan Panambangan sampai tuntas. Agaknya memang sudah sampai saatnya, bahwa mereka mendapatkan beban tugas yang sesuai bagi mereka, juga sebagai putera seorang Adipati. Karena itu, jika Kangjeng Adipati berkenan, maka Kangjeng Adipati dapat memerintahkan putera Kangjeng Adipati untuk mengatasi kerusuhan ini. Tetapi menurut pendapatku, tidak seyogyanya kedua-duanya harus berangkat. Aku mengusulkan agar tugas pertama ini dibebankan kepada angger Madyasta. Sementara itu, angger Wignyana tetap berada di Dalem Kadipaten. Mungkin ia diperlukan untuk mengatasi persoalan yang gawat yang dapat saja timbul di Kadipaten sendiri”

“Guru” Wignyana itu pun memohon, “Jika saja guru dan ayahanda berkenan, aku ingin ikut bersama kakang Madyasta”

“Wignyana” berkata Kangjeng Adipati kemudian, “Aku setuju dengan gurumu, salah seorang dari kalian tetap tinggal disini, mungkin aku akan sangat memerlukannya”

Wignyana tidak dapat memaksa, betapa pun ia ingin pergi bersama Madyasta untuk mengatasi kerusuhan yang terjadi di Paranganom, namun ayahandanya menahannya agar ia tetap berada di istana.

“Wignyana” berkata Kangjeng Adipati, “Bukannya aku tidak percaya akan kemampuanmu, menurut gurumu, kau dan Madyasta telah bersama-sama menuntaskan ilmu yang kalian pelajari di padepokan, karena itu, menurut gurumu, kau dan Madyasta memiliki ilmu yang sama tinggi. Namun justru karena itu, maka aku ingin kau tetap tinggal bersamaku di Kadipaten”

Wignyana sebagai seorang putera Adipati, harus mampu menempatkan diri, maka ia pun berkata, “Hamba menjunjung tinggi titah ayahanda Adipati”

“Bagus Wignyana, kau tetap bersamaku dalam keadaan yang gawat ini”

“Hamba, ayahanda”

“Nah, dengan demikian, maka aku akan memerintahkan Madyasta untuk pergi mengatasi kerusuhan ini”

“Kangjeng” berkata Ki Tumenggung Sanggayuda, “Apakah tidak sebaiknya Kangjeng memerintahkan saja beberapa orang senapati untuk pergi melakukan tugas itu”

“Kakang Tumenggung. Aku memang mempunyai keinginan untuk menguji anakku. Selama ini anak-anakku tidak pernah turun kedalam tugas-tugas penting, karena mereka tidak berada di Kadipaten. Sekarang, biarlah angger Adipati Yudapati mengetahui, bahwa anak-anak Paranganom itu tidak saja pandai menabuh siter dan gender saja. Tetapi dalam keadaan gawat, mereka pun turun ke gelanggang untuk mengatasinya”

Ki Tumenggung Sanggayuda tidak mengatakan apa-apa lagi, sementara Kangjeng Adipati segera menjatuhkan perintah, “Madyasta, berdasarkan perintahku, pergilah untuk memberantas kerusuhan itu, kau aku beri hak dan wewenang untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Tetapi kau tidak boleh lepas dari kebijaksanaan untuk mengatasi setiap keadaan”

“Hamba ayahanda”

“Pamanmu Tumenggung Wiradapa akan menunjuk, siapakah yang akan pergi bersamamu. Dengar nasehatnya serta nasehat pamanmu Tumenggung Sanggayuda”

“Hamba junjung tinggi perintah ayahanda. Hamba akan mengikuti segala petunjuk paman Tumenggung berdua”

“Nah, kakang Tumenggung Wiradapa dan kakang Tumenggung Sanggayuda. Aku serahkan anakku kepada kalian berdua. Biarlah ia melakukan kewajibannya sebagai seorang prajurit juga sebagai putera seorang Adipati Paranganom. Semoga anakku dapat memberantas kerusuhan yang timbul di wilayah Paranganom”

“Hamba Kangjeng Adipati” sahut Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda hampir bersamaan.

Wignyana memang merasa sangat kecewa. Tetapi ia dapat mengerti, kenapa jika salah seorang diantara mereka, dua orang putera Kangjeng Adipati, justru Madyasta yang harus dikenal oleh tentu bukan saja oleh Adipati Yudapati di Kateguhan, tetapi juga oleh rakyat Paranganom sendiri, karena Madyasta adalah putera Kangjeng Adipati. Madyasta yang kelak berhak untuk menggantikan kedudukan Kangjeng Adipati Prangkusuma di Paranganom, karena itu adalah wajar, bahwa Madyasta lah yang harus lebih banyak dikenal oleh rakyat Paranganom.

 Hari itu juga Madyasta telah meninggalkan Kadipaten bersama Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda. Kedua orang Tumenggung itu akan membawa Madyasta kepada beberapa orang senapati terpilih yang akan mendampinginya, mengatasi kerusuhan di Paranganom.

 Bersambung ke Jilid 2

 Sumber djvu: Dimhad website

Ebook by Dewi KZ

http://kangzusi.com/

http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog http://serialshmintardja.wordpress.com

oleh Ki Arema

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.