Ruang Baca Karya SH Mintardja

Pengantar

Blog ini dibuka sebagai bagian untuk menyebarkan “virus” cerita silat dari bumi sendiri yang dituturkan oleh Almarhum Singgih Hadi Mihardja (SH. Mintadja). Biodata beliau bisa dilihat di sini. Kita tidak membahas biodata beliau tetapi, ingin menyebarkan karya beliau yang banyak dicari oleh para penggemar pada masanya, baik pembaca di Harian Kedaulatan Rakyat (KR) dan Bernas, maupun melalui buku-buku yang diterbitkan oleh berbagai media, Kedaulatan Rakyat, Panuluh atau Muria. Sedangkan buku-buku tersebut sudah mulai langka karena sudah mulai rusak dan tidak dicetak ulang kembali.

SH Mintardja dikabarkan telah menulis lebih dari 400 buku. Cerita berseri terpanjangnya adalah  Api di Bukit Menoreh yang terdiri dari 396 buku. Berikut ini daftar beberapa karya sang pengarang itu:

  1. Pelangi di Langit Singasari (79 jilid)
  2. Sepasang Ular Naga di satu Sarang (37 jilid)
  3. Panasnya Bunga Mekar (31 jilid)
  4. Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan (118 jilid)
  5. Api di Bukit Menoreh (396 jilid)
  6. Tanah Warisan (8 jilid)
  7. Matahari Esok Pagi (15 jilid)
  8. Meraba Matahari (9 jilid)
  9. Suramnya Bayang-bayang (34 jilid)
  10. Sayap-sayap Terkembang (67 jilid)
  11. Istana yang Suram (14 jilid)
  12. Nagasasra Sabukinten (29 jilid)
  13. Bunga di Batu Karang (14 jilid)
  14. Yang Terasing (13 jilid)
  15. Mata Air di Bayangan Bukit (23 jilid)
  16. Kembang Kecubung (6 jilid)
  17. Jejak di Balik Kabut (40 jilid)
  18. Tembang Tantangan (24 jilid)
  19. Arya Manggada (15 jilid)
  20. dll (belum punya datanya)

Belum ada data mana yang paling dulu, dan mana yang terakhir. Tetapi, melihat beberapa judul yang tidak sampai berakhir dengan semestinya ada beberapa yang overlap dan sama-sama tidak berakhir sampai akhir hayat beliau. Seperti pendekar yang diceritakannya, yang bangga kalau mati dalam perang, beliau juga meinggal pada saat bukunya belum selesai (menurut pikiran kita) karena berakhir menggantung.

Sudah banyak blog yang mengupload dalam bentuk ebook maupun ditempel di halaman, semakin baik karena “virus” yang dikembangkan dapat beranak-pinak.

Ada beberapa website yang mengunggah “pertama” kalinya karya-karya adiluhung Almarhum SH Mintardja, dalam format dejavu (djvu) diantaranya adalah: http://adbmcadangan.wordpress.com (Api di Bukit Menoreh) yang dipandegani oleh Ki GD dan Nyi Senopati,  http://pelangisingosari. wordpress.com (Pelangi di Langit Singasari),yang dipandegani oleh Ki Arema dan P. Satpamnya;  http://cersilindonesia.wordpress.com (Mata Air di Bayangan Bukit, Bunga di Batu Karang, Matahari Esok Pagi, dan tembang Tantangan) yang dipandegani oleh Ki Ismoyo dan di facebook group yang dipandegani oleh Ki Laz, Ki Zaki dan Ki Sukra (Suramnya bayang-bayang, Sayap-sayap Terkembang, Jejak di Balik Kabut, Kembang Kecubung, Meraba Matahari, dan Yang Terasing).

Wedaran dalam format dejavu (djvu) telah dikonversi ke berbagai format dan sekarang diupload dimana-mana. Satu lagi disediakan untuk menjadi taman bacaan sanak-kadang yang sedang iseng dan ingin menikmati karya almarhum SH Mintardja di sini. Selama kuota masih belum penuh (3GB) akan diupload satu persatu dimulai dari Seri Pelangi di Langit Singosari, Nagasasra & Sabukinten, Api di Bukit Menoreh, dst.

Khusus Seri Pelangi di Langit Singosari, naskah ini dipindahkan dari tempat aslinya http://pelangisingosari.wordpress.com yang mulai kelebihan memori sehingga menyulitkan upload naskah baru. Api di Bukit Menoreh dipindahkan dengan sedikit editing dari http://adbmcadangan.wordpress.com. Yang lain dicomot sana-sini, khususnya dari website Nyi DewiKZ di http://kangzusi.com.

Terimakasih kepada:

  1. Ki GD (dan Nyi Senopati) yang telah menyediakan blog  ADBM di adbmcadangan.wordpress.com, Ki Ismoyo yang telah menyediakan blog gagakseta di cersilindonesia.wordpress.com, Nyi DewiKZ yang menyediakan kangzusi.com (dkk).
  2. sanak-kadang yang telah bersusah payah konversi dari djvu ke doc/docx sehingga naskahnya bisa diupload disini:
    1. ADBM (kerja keroyokan Ki Prastawa, Ki Abu Gaza, Ki Sugita, Ki Sarip Tambak Oso, Mahesa, Ki Kuncung, Ki Raharga, Ki Arema, Ki Ajargurawa, K4ng tOmmy, dll saya tidak hafal, maaf…)
    2. Pelangi di Langit Singasari; Pasukan Retype: Ki Raharga, Ki Sunda,Ki Sukasasrana dan Dewi KZ; pasukan proofing/editing: Ki Raharga, Ki Sunda, Ki Hartono, Ki Wijil/Wiek, dan Ki Mahesa
    3. Sepasang Ular Naga di satu Sarang, pasukan retype: Ki Mahesa, Ki Ayasdewe, dan Ki Sunda; pasukan proofing/editing: Ki Mahesa, Ki Ayasdewe, dan Ki Sunda
    4. Panasnya Bunga Mekar, convert/proofing/editing; Nyi Dewi KZ dan Ki Banuaji
    5. Hijaunya Lembah dan Hijaunya Lereng Pegunungan,  convert/proofing/editing: Ki Raharga, Ki Dino, Nyi Dewi KZ.
    6. lain-lain: sanak-kadang yang melakukan convert/proofing/editing di website Tirai Kasih yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Selamat menikmati.

Malang, Maret 2011

Arema

————————————————————————————————————

Alamat kontak: pelangisingosari@gmail.com

YANG TERASING

Bunga di Batu Karang akanwedaran terakhir besok pagi, Senin 14 Juli 2014.

Karya SH Mintardja yang masih tersisa adalah:

1. Yang Terasing

2. Istana Yang Suram

3. Serial Arya Manggada (5 seri)

Konversi ke doc yang tersedia adalah YANG TERASING. Oleh karena itu, setelah selesai wedaran Bunga di Batu Karang akan diwedar buku tersebut.

Sayang, kami tidak memiliki buku aslinya, yang kami punyai buku edisi kedua dengan cetak tebal (160 halaman), agak berat kalau diupload satu halaman.

Kami masih coba edit per jilid tebal, kemudian diupload format buku aslinya. Sayangnya, coba dicari covernya tidak lengkap, dan pemotongan halamannya mungkin tidak sama dengan buku asli.

Editing buku ini agak lumayan, dan bulan puasa menyebabkan kesempatan editing menjadi berkurang, oleh karena itu, sanak kadang mohon bersabar. Pada saatnya akan kami upload, meskipun kecepatannya lebih lambat dari buku-buku sebelumnya, munkin pada awalnya maksimum 3 haru sekali. Jika sudah terkumpul cukup banyak, akan dipercepat seperti biasanya menjadi 2 hari sekali.

Mohon doanya, agar kesehatan kami tetap terjaga sehingga bisa mnyelesaikan editing dan upload sampai jilid terakhir.

Nuwun

YT-01

Wedaran pertama sudah bisa dibaca di http://serialshmintardja.wordpress.com/lain-2/yang-terasing/yang%20terasing-01/

Untuk sementara (sebelum terkumpul sejumlah jilid yang selesai edit) wedaran diatur tiga (3) hari sekali mulai 17 Juli 2014, jika sudah terkumpul cukup banyak dan aman untuk wedaran yang ajeg akan dipercepat menjadi dua (2) hari sekali

 

catatan:

Belum bisa memberikan sinopsisnya. karena belum selesai membacanya, memori yang terdahulu sudah banyak hilang, he he he …..

Yang sempat tertangkap di jilid awal, kisah ini berlatar belakang Kerajaan Demak.

 

 

BdBK-22

BUNGA DI BATU KARANG

JILID 22

BdBK-22KEDUA prajurit itu tidak akan dapat ingkar lagi. Mereka harus berada di dalam satu kelompok prajurit yang akan pergi ke Jati Aking untuk melihat keadaan kawan-kawan-mereka, beberapa orang prajurit yang seharusnya sudah kembali ke Surakarta

Ketika kemudian mereka bersiap-siap membenahi diri, kuda-kuda mereka dan senjata masing-masing, maka salah seorang dari kedua orang itu berdesis, “ Surakarta telah terbakar oleh api peperangan. Setiap jengkal tanah di luar kota telah berubah menjadi bara. Dan kita akan masuk ke dalamnya”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita adalah prajurit. Apapun yang akan terjadi, kita memang harus melakukannya jika itu memang tugas dan kewajiban. Namun menjelajahi daerah yang juga menjadi daerah jelajah Pangeran Mangkubumi atau Raden Mas Said, rasa-rasanya memang mengerikan. Bulak-bulak panjang rasa-rasanya telah berubah menjadi jalur jalan menuju ke kuburan”

Yang lain mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bagi para prajurit Surakarta, pecahnya perang melawan Pangeran Mangkubumi yang tidak dapat menahan kesabarannya lagi itu merupakan hantu yang selalu membayangi mereka siang dan malam. Jika semula masih ada keseganan Raden Mas Said terhadap pamandanya, sehingga untuk beberapa saat kegiatannya agak mereda, maka pada saat terakhir sikap Pangeran Mangkubumi justru seperti menyiramkan minyak ke dalam api yang sudah redup itu, sehingga api itu akan menyala semakin besar membakar langit Surakarta

Namun Senapati muda yang akan memimpin sepasukan prajurit pergi ke Jati Aking itu seolah-olah tidak mengerti, apa yang telah terjadi. Karena itu maka ia sama sekali tidak menjadi gentar. Dengan membawa duapuluh lima orang prajurit berkuda terpilih, maka Senapati muda itu pun meninggalkan baraknya atas ijin pimpinan pasukan berkuda.

“Pasukan berkuda adalah pasukan terbaik di Surakarta” berkata Senapati muda itu, “meskipun jumlah pasukan berkuda terhitung sedikit di Surakarta, tetapi yang sedikit ini harus menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang terpilih. Sikap Raden Juwiring telah menaburkan noda atas pasukan berkuda, sehingga kepercayaan para Panglima atas pasukan ini menjadi susut. Adalah kewajiban kita untuk mengangkat kembali nama baik dari pasukan ini”

Para prajurit dari pasukan berkuda itu merasa bangga akan kelebihan mereka. Namun meskipun demikian, setiap mereka menyadari keadaan, maka hati mereka pun menjadi berdebar-debar, betapapun mereka adalah prajurit terbaik. Meskipun demikian mereka harus dapat melakukan tugas mereka melampui prajurit dari kesatuan yang lain.

Dengan dada tengadah prajurit-prajurit dari pasukan berkuda itu berderap melalui jalan-jalan kota. Kemudian mereka pun menuju ke pintu gerbang yang dijaga ketat pada saat-saat yang panas itu. Beberapa orang yang melihat pasukan itu lewat, merasa bangga sehingga mereka pun yakin, bahwa kota Surakarta tidak akan disentuh oleh peperangan.

“Tidak seorang pemberontak pun yang akan dapat memasuki kota” berkata orang-orang itu di dalam hatinya.

Sementara itu, prajurit dari pasukan berkuda itu pun telah melewati gerbang kota. Dengan pandangan acuh tidak acuh mereka sekilas melihat para prajurit yang bertugas di pintu gerbang. Bahkan salah seorang pemimpin kelompok di bagian paling belakang dari iring-iringan itu berdesis, “Apa kerja kalian sebenarnya di situ? Tidur?”

Prajurit yang bertugas di pintu gerbang itu tidak segera menangkap maksudnya. Karena itu tidak seorang pun yang menjawab. Baru kemudian, ketika mereka menyadari arti dari kata-kata itu pun, maka beberapa orang telah mengumpat.

Seorang prajurit yang berkumis lebat menggeram, “Anak setan yang sombong. Dikiranya banyak prajurit dari pasukan berkuda saja yang mempunyai arti bagi Surakarta ?”

Kawannya yang bertubuh kecil yang berdiri di sampingnya meraba hulu pedangnya sambil berkata, “Aku sanggup melawan dalam perang tanding setiap orang dari prajurit berkuda itu”

“Suatu ketika mereka akan mengakui, bahwa mereka bukan prajurit yang paling baik di Surakarta. Bahkan sebagian dari pasukan itu justru sudah berkhianat” gumam yang lain.

“Ya. di bawah pimpinan Senapati muda yang bernama Juwiring itu” sahut yang bertubuh pendek.

Kawan-kawannya tidak menyahut lagi. Namun nampak di wajah mereka, perasaan tidak senang melihat kesombongan prajurit dari pasukan berkuda itu, seolah-olah mereka adalah prajurit-prajurit yang memiliki kelebihan dari prajurit-prajurit yang lain

Dalam pada itu, iringan prajurit dari pasukan berkuda yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil itu pun berpacu ke padepokan Jati Aking. Mereka semakin mencemaskan keadaan kawan-kawannya yang ternyata masih belum kembali.

Ketika iring-iringan prajurit dari pasukan berkuda itu mendekati padepokan Jati Aking, maka mereka memperlambat lari kuda mereka. Bahkan kemudian Senapati muda yang memimpin pasukan berkuda itu pun memerintahkan dua orang untuk mendahului iring-iringan itu.

“Awasi keadaan di seputar padepokan itu” perintah Senapati muda itu, “aku akan membawa seluruh pasukan ini memasuki padepokan. Beri isyarat jika kau melihat sesuatu yang mencurigakan”

Kedua prajurit itu pun mendahului pasukannya dan mencoba memperhatikan keadaan di hadapan mereka. Nampaknya mereka tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, sehingga mereka pun sama sekali tidak memberikan isyarat.

Demikian Senapati muda dengan pasukannya memasuki pintu gerbang halaman padepokan, maka kedua orang prajurit itu pun tinggal di sebelah menyebelah regol untuk mengamati keadaan yang mungkin tidak menguntungkan.

Dalam pada itu, ketika iring-iringan itu memasuki halaman, Para prajurit itu pun segera melihat beberapa orang yang duduk di tangga pendapa. Iring-iringan itu ternyata telah menumbuh-kan kegembiraan setelah sekian lama mereka menunggu. Rasa-rasanya mereka sudah berada di padepokan itu bertahun-tahun tanpa ada seorang pun yang menengoknya.

Sejenak kemudian, Senapati muda itu pun telah mendengar laporan tentang peristiwa yang terjadi di padepokan itu.

“Orang dungu” geram Senapati itu, “kalian adalah prajurit dari pasukan berkuda. Apakah kalian yang berjumlah lebih. banyak itu tidak mampu mengalahkan mereka?”

“Apapun yang dapat kami katakan, namun kenyataannya memang demikian” jawab orang tertua dari para prajurit yang sudah kehilangan kuda itu.

“Aku hampir tidak percaya” sahut Senapati muda yang marah itu.

“Kami memang terlalu lemah” berkata prajurit yang berbeda sikap dari kawan-kawannya, “Aku mencoba menunjukkan harga diri dari para prajurit dari pasukan berkuda. Tetapi kawan-kawanku tidak berbuat demikian”

“Mereka pantas dihukum” suara Senapati muda itu menjadi gemetar menahan gejolak hati.

“Terserahlah” jawab prajurit tertua, “justru pemimpin kami telah terluka parah”

“Prajurit dari pasukan berkuda tidak mengenal menyerah” bentak Senapati muda itu.

“Kami tidak dapat berbuat lain” jawab orang tertua, “dan pendapat itu menjadi semakin mantap melihat sikap dan tingkah laku isi padepokan ini Sebagaimana kau lihat, kami tidak terkapar sebagai mayat di sini”

“Mereka telah terbius oleh sikap manis” sahut prajurit yang berpendirian lain itu seolah-olah para pengikut Pangeran Mangkubumi adalah malaikat-malaikat berhati seputih kapas”

“Jangan menjadi gila” desis orang tertua itu.

“Bukan karena ada pasukan berkuda yang datang menolong kita, tetapi aku sudah mengatakan sejak tadi” sahut prajurit itu.

“Seharusnya kalian bersikap jantan” Senapati muda itu masih marah”, “tetapi untunglah, Setidak-tidaknya masih ada seseorang yang berhati baja. Tetapi karena tidak ada orang lain yang mendukung sikap itu, maka ia tidak akan dapat bertahan”

“Pasukan berkuda sudah dihinakan” geram prajurit itu, “dan sebagian di antara kita ikut pula mencemarkannya”

Dalam pada itu, Senapati yang marah itupun bertanya, “Kemana isi padepokan ini pergi?”

“Kami tidak mengetahuinya” sahut orang tertua.

“Kami seharusnya mengetahui” sahut prajurit yang berpendirian lain, “tetapi kami sama sekali tidak berusaha untuk mengetahui. Meskipun demikian, kuda mereka tentu akan meninggalkan jejak”

“Jangan bodoh” potong Senapati muda itu, “Kita tidak akan mengambil keputusan yang akan dapat menjerat leher kita sendiri. Tetapi seandainya kita mengikuti jejaknya, apakah kita masih akan mungkin dapat menyusulnya?”

Orang tertua itu menggeleng, “Tidak mungkin. Yang mungkin adalah, bahwa iring-iringan kita yang menelusuri jejak itu akan masuk ke dalam perangkap Pangeran Mangkubumi”

“Kau takut?” bertanya Senapati itu.

“Senapati seharusnya sudah mengenal aku di peperangan. Namun baiklah aku menjawab bahwa aku memang takut” jawab orang tertua itu.

Wajah Senapati itu menjadi merah. Namun kemudian ia harus menahan diri. Ia memang mengenal prajurit tertua itu dengan baik. Ia adalah prajurit yang tidak pernah merasa gentar di medan yang bagaimanapun juga. Jika ia mengaku takut, tentu ada alasan yang kuat yang mendorongnya untuk berkata demikian.

“Senapati” berkata prajurit tertua itu, “Kita harus menilai medan sebaik-baiknya”

“Ia merasa berhutang budi” sahut prajurit yang bersikap lain, “Kami tidak dibunuh oleh penghuni padepokan ini. Perbuatan itu adalah perbuatan yang paling sombong. Tetapi ternyata juga mengandung racun yang sangat tajam bagi prajurit Surakarta, karena kami yang berjiwa lemah akan merasa berhutang budi, sehingga kami yang berjiwa lemah itu akan berceritera kepada siapapun juga, termasuk kepada para prajurit dari pasukan berkuda, bahwa para pengikut Pangeran Mangkubumi adalah orang-orang yang baik hati dan berperikemanusiaan tinggi”

Orang tertua yang berhasil dikalahkan oleh penghuni padepokan itu pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Aku adalah seseorang yang masih berjantung. Aku tidak ingkar, bahwa aku memang mempunyai kesan yang demikian. Tetapi aku tidak pernah merasa bersalah karena kesan itu. Bahkan kadang-kadang aku bertanya kepada diri sendiri, apakah yang akan aku lakukan, jika aku mendapat kesempatan menawan beberapa orang pengikut Pangeran Mangkubumi Apakah aku dapat juga berjiwa besar seperti pengikut Pangeran Mangkubumi menghadapi lawan-lawannya”

“Kita berada pada kedudukan yang berbeda” jawab Senapati itu, “Pangeran Mangkubumi adalah seorang pemberontak. Semua pengikutnya juga pengkhianat. Sedangkan kita adalah prajurit Kerajaan. Perlakuan terhadap pengkhianat dan terhadap prajurit Kerajaan memang harus berbeda. Pengkhianat memang harus dibunuh, sementara kita dilindungi oleh angger-angger, bahwa seorang prajurit yang telah menyerah tidak akan dibunuh”

Prajurit Surakarta yang tertua yang tidak berhasil menangkap Juwiring itu tertawa. Katanya, “Itulah sikap seorang prajurit. Masalahnya bukan angger-angger. Tetapi bagaimana warna jantung kita. Apakah kita masih mengenal warna? Apakah kita masih mengenal diri kita sendiri sebagai bangsa? Sama sekali bukan karena seorang prajurit yang menyerah tidak dapat dibunuh. Seandainya para pengikut Pangeran Mangkubumi membunuh kami yang menyerah, tentu tidak akan ada akibat apapun yang akan menjadikan mereka lebih buruk lagi keadaannya. Membunuh atau tidak membunuh, mereka adalah orang-orang yang berkhianat. Membunuh atau tidak, mereka dapat dibunuh tanpa harus dibuktikan kesalahan mereka. Karena itu, yang terjadi bukannya karena angger-angger, tetapi semata-mata karena kebesaran jiwa. Pangeran Mangkubumi mengajari pengikutnya untuk mengerti, bahwa lawan yang sebenarnya bagi mereka bukannya orang-orang yang kulitnya sewarna. Tetapi musuh utamanya adalah kumpeni”

Wajah Senapati itu pun menjadi tegang. Tetapi ia pun kemudian menghentakkan kakinya, “Omong kosong. Jangan gurui aku. Sebenarnyalah kau telah diracuni oleh sikap manis dan karena itu, maka kau telah merasa berhutang budi kepada mereka”

“Senapati” berkata orang tertua itu, “aku tidak akan menolak. Tetapi karena di sini masih ada pemimpin kami, meskipun terluka parah, namun ia masih akan dapat memberikan keterangan”

“Persetan” geram Senapati itu, “ia pun tentu merasa berhutang budi seperti kau. Ditaburkannya pasir lembut di lukanya, dan ia sudah merasa diobati, dimaafkan dan bahkan ditolong jiwanya. Orang-orang berjiwa kerdil. Bersiaplah Kita akan kembali ke Surakarta ”

“Kami tidak mempunyai kuda lagi” sahut prajurit yang berbeda sikap itu.

“Kemana kuda kalian?” bertanya Senapati itu, “dirampas oleh orang-orang yang baik hati itu? Ternyata harga jiwa kalian tidak lebih dari harga kuda kalian. Mereka menghidupi kalian dan menganggap kalian tidak berarti, bagi mereka”

“Tidak Senapati” jawab orang tertua itu, “kuda-kuda itu telah dihalau untuk menghindarkan kemungkinan yang kurang menguntungkan bagi mereka, Mungkin satu dua orang di antara kita akan mengikuti mereka atau Setidak-tidaknya melihat arah kepergian mereka. Atau perbuatan-perbuatan lain yang tidak mereka kehendaki”

“Gila” geram Senapati itu, “orang-orang Pangeran Mangku-bumi memang orang-orang gila. Mereka dapat merampas kuda itu dan mempergunakannya. Tetapi nalar mereka tidak akan sampai sekian panjangnya”

“Karena itu, kami tidak akan dapat kembali berkuda ke Surakarta desis prajurit itu.

“Kalian dapat berjalan kaki” bentak Senapati itu tiba-tiba, “Kalian memang tidak mengenakan pakaian keprajuritan. Tetapi jika demikian akan memerlukan waktu yang terlalu panjang” Senapati itu berhenti sebentar lalu, “ambil kuda yang ada di padukuhan Jati Sari. Berapapun yang ada”

Wajah orang tertua itu menjadi tegang. Katanya, “Kita akan merampas milik rakyat kita sendiri?”

“Kita memerlukannya” jawab Senapati itu.

“Mereka juga memerlukannya” jawab orang tertua itu.

“Aku tidak peduli. Tetapi kepentingan kita jauh lebih besar dari kepentingan mereka. Kita menghormati kepentingan sese-orang. Tetapi jika kepentingan yang lebih besar menghendaki, maka kepentingan yang lebih kecil itu dapat dikorbankan. Dan malanglah nasib mereka yang kebetulan menjadi korban itu” jawab Senapati itu.

“Jika demikian, biarlah kami berjalan kaki” jawab prajurit tertua itu, “Kami akan membawa kawan-kawan kami yang terluka. Dan kami akan memasuki kota pada saat yang manapun juga, bahkan seandainya menjelang dini hari”

“Tidak” bentak Senapati itu, “ini perintahku. Ambil kuda yang ada di padukuhan. Surakarta memerlukan untuk kepentingan yang jauh lebih berarti dari kepentingan mereka sendiri. Kepentingan perseorangan. Tidak perlu kuda yang setegar kuda pasukan berkuda. Kuda yang kerdil sekalipun akan dapat dipergunakan, karena larinya tentu akan lebih cepat dari jika kalian berlari-lari kembali ke Surakarta ”

Bagaimanapun juga, mereka adalah prajurit, Perintah itu tidak dapat dibantah lagi. Karena itu, maka prajurit tertua itu berkata, “Baiklah, jika demikian biarlah mereka yang berpakaian prajurit sajalah yang melakukan. Jika kami yang melakukan, maka orang-orang padukuhan itu tentu akan melawan, karena mereka tidak tahu pasti, siapakah kami”

“Baik” geram Senapati itu. Lalu perintahnya kepada para prajurit dari pasukan berkuda, “pergilah ke padukuhan, dan ambil kuda yang ada. Sedikit-sedikitnya sepuluh ekor”

Tidak seorang pun yang mempersoalkan perintah itu. Beberapa orang prajurit segera meninggalkan halaman itu dan pergi ke padukuhan Jati Sari.

Semua orang merasa keberatan untuk melepaskan milik mereka, meskipun dengan dalih untuk kepentingan yang lebih besar. Pada umumnya, kuda adalah milik yang berharga, dan yang pada umumnya mempunyai arti yang penting bagi pemiliknya. Namun tiba-tiba mereka harus melepaskan kuda itu kepada orang lain begitu saja.

Tetapi mereka tidak dapat menentang kekuasaan Surakarta itu. Dengan hati yang pahit, mereka terpaksa melepaskan kuda mereka. Sehingga akhirnya para prajurit itu mendapat genap sepuluh ekor kuda dari segala sudut padukuhan itu. Memang ada di antaranya kuda yang tegar. Tetapi memang ada kuda yang hampir dapat disebut kerdil.

Para prajurit itu membawa kuda-kuda rampasan itu ke padepokan Jati Aking dan menyerahkannya kepada para prajurit yang telah datang lebih dahulu ke padepokan itu.

“Kami hanya tinggal delapan orang. di antara kami yang tinggal itu telah terluka, sehingga tidak akan mungkin berkuda sendiri” desis orang tertua.

“Terserah kepada kalian. Aturlah orang-orangmu. Jika ada kuda tersisa, kuda itu dapat dipergunakan untuk membawa Barang-barang penting di padepokan ini?”

“Maksud Senapati, kita akan merampok isi padepokan ini” bertanya prajurit tertua itu.

“Tutup mulutmu” bentak Senapati itu, “aku akan membawa semua senjata yang ada di padepokan ini dengan kuda yang tersisa itu”

Orang tertua itu menarik nafas dalam-dalam. Jika benar Senapati itu akan membawa senjata saja, tanpa barang-barang lain, ia tidak akan dapat mencegahnya.

Sebenarnya, bahwa akhirnya prajurit-prajurit itu menemukan sanggar. Kiai Danatirta. Beberapa macam senjata memang tersimpan di dalam sanggar itu, sehingga Senapati itu pun telah memerintahkan mengambil semua senjata dan membawanya ke Surakarta dengan kuda-kuda yang tidak mendapat penunggang-nya.

Demikianlah, segalanya telah dikemasi Karena itu, maka iringan prajurit dari pasukan berkuda itu pun segera kembali ke Surakarta dengan membawa kawan-kawan mereka yang semula tertahan di padepokan Jati Aking karena mereka tidak mempunyai kuda lagi.

Meskipun pada umumnya para prajurit yang tidak memakai gelar keprajuritannya itu merasa senang untuk segera kembali di Surakarta, namun mereka telah mendapat kesan tersendiri atas para pengikut Pangeran Mangkubumi. Rasa dendam dan permusuhan yang sebelumnya menyala di dalam dada mereka, rasa-rasanya menjadi pudar, seperti api lampu yang kehabisan minyak. Meskipun ada juga di antara mereka yang justru merasa terhina oleh sikap para pengikut Pangeran Mangkubumi itu.

Dalam pada itu, maka dengan membawa mereka yang terluka, iring-iringan itu pun menuju ke kota. Beberapa orang yang menyaksikan iring-iringan itu telah menduga-duga. Bahkan ada yang mengira bahwa orang-orang yang tidak dalam pakaian prajurit itu adalah para pengikut Pangeran Mangkubumi yang berhasil ditangkap oleh para prajurit dan pasukan berkuda.

Ketika mereka melewati bulak-bulak panjang, maka mereka pun tidak menjadi lengah sama sekali. Pada saat-saat yang tidak mereka perhitungkan, dapat terjadi, pasukan Pangeran Mangkubumi atau pasukan Raden Mas Said yang bercampur baur di medan yang sama itu akan dapat menyergap mereka.

Namun ternyata bahwa mereka sama sekali tidak mengalami gangguan sampai saatnya mereka kembali memasuki pintu gerbang. Namun agaknya para prajurit yang bertugas di pintu gerbang telah berganti, sehingga para prajurit yang merasa sakit hati atas sikap sombong prajurit dari pasukan berkuda itu telah tidak ada di tempat.

Meskipun demikian, para prajurit yang bertugas itu pun merasa kurang senang melihat sikap kawan-kawannya dari pasukan berkuda yang merasa dirinya lebih penting dari pasukan yang lain.

Sementara itu, maka Surakarta telah mengambil kebijaksanaan-kebijaksanaan baru. Laporan mengenai Rara Warih yang telah sampai kepada Panglima yang mengatur perlawanan terhadap pemberontakan Pangeran Mangkubumi itu, menganggap bahwa Rara Warih adalah seorang tawanan yang penting.

Seperti yang diduga oleh orang-orang yang bersangkutan dengan Rara Warih, maka para pemimpin di Surakarta memang mempertimbangkan untuk mempergunakan Rara Warih untuk memancing Raden Juwiring. Meskipun Raden Juwiring bukan orang yang dianggap terlalu penting di dalam pasukan Pangeran Mangkubumi, namun ia akan dapat di pakai sebagai pancadan untuk mencari orang-orang lain yang telah berkhianat di antara pasukan berkuda dan pasukan yang dipimpin oleh ayahnya, Pangeran Ranakusuma.

“Mungkin masih ada orang-orang lain yang sengaja ditinggalkan di dalam tubuh pasukan berkuda atau di antara pasukan yang lain” berkata para pemimpin prajurit Surakarta atas pertimbangan kumpeni, “karena itu anak muda itu penting bagi kita”

Dengan demikian maka para pemimpin Surakarta itu sudah mulai mencari cara untuk memancing Raden Juwiring agar menyerah dengan taruhan adik perempuannya.

“Tetapi hubungan antara kakak beradik itu kurang baik” berkata salah seorang yang mengenal Raden Juwiring. Namun yang kurang mengetahui perkembangan hubungan itu di hari-hari terakhir, sehingga ia tidak mengerti bahwa kedua kakak beradik itu telah menemukan diri mereka masing -masing di dalam hubungan keluarga.

“Bagaimana menurut pertimbanganmu?” bertanya seorang perwira dari pasukan berkuda.

“Menurut pengenalanku, keduanya seolah-olah saling bermusuhan” jawab orang yang telah mengenal Raden Juwiring itu, “Rara Warih yang kehilangan kakandanya Raden Rudira tidak dapat menerima kehadiran Raden Juwiring, karena menurut pendapatnya, Raden Juwiring yang berlainan ibu itu akan merampas ayahandanya dari padanya”

“Tetapi menurut laporan dari para prajurit dari pasukan berkuda yang mengambil Rara Warih di Jati Aking, Juwiring marah sekali ketika ia mengetahui bahwa adiknya yang berada di padepokan itu pula telah dibawa oleh para prajurit yang lain” jawab perwira itu.

“Mungkin ia marah karena ia merasa terhina. Tetapi aku tidak tahu, bagaimana sikap Rara Warih terhadap kakandanya dan sikap Raden Juwiring apabila sudah diperhitungkan bahwa keadaan adiknya itu tidak menguntungkannya” berkata orang yang mengenal Raden Juwiring itu.

“Maksudmu, Juwiring tidak peduli apa yang akan terjadi dengan adik perempuannya itu?” bertanya perwira itu

“Ya”

“Tetapi kita akan dapat mencoba. Aku akan mengusulkan, agar Rara Warih dipakai sebagai tanggungan untuk menangkap Juwiring. Jika perlu dengan ancaman-ancaman dan janji-janji” berkata perwira itu.

“Memang dapat dicoba. Tetapi aku meragukan hasilnya” berkata orang itu.

Tetapi para perwira itu masih mempertimbangkan untuk melakukan rencana itu. Bahkan mereka pun telah memper-timbangkan kemungkinan sikap keluarga Rara Warih dari pihak ibunya akan mencampurinya”

“Pangeran Sindurata mungkin akan berusaha membebaskan gadis itu pula” berkata seorang perwira ketika mereka mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas gadis yang tertangkap itu.

“Kita mengenal Pangeran Sindurata” berkata seorang perwira yang rambutnya sudah memutih, “Biarlah Pangeran Yudakusuma yang menjelaskan persoalannya kepadanya. Mungkin ia akan mengerti”

“Kita akan mengatakan kepadanya, bahwa keselamatan puteri itu akan kita jamin, sehingga tidak akan terjadi sesuatu atasnya selama puteri itu berada di dalam tahanan” berkata perwira yang lain.

“Aku setuju. Puteri itu memang perlu ditahan untuk memberi-kan tekanan agar Juwiring memperhatikannya” berkata perwira yang lain pula.

Ternyata para pemimpin tertinggi di Surakarta pun sependapat dengan rencana itu. Karena itu, maka segala sesuatunya sudah diatur dengan cepat. Berita penangkapan dan penahanan itu akan segera disebar luaskan, kemudian panggilan bagi Raden Juwiring pun akan segera diumumkan. Namun Pangeran Sindurata harus dihubungi lebih dahulu.

Dalam pada itu, Kiai Danatirta, Ki Dipanala dan anak-anak angkat dari padepokan Jati Aking ternyata menjadi lebih leluasa tanpa Rara Warih. Mereka segera kembali ke dalam pasukan Pangeran Mangkubumi yang bertahan di Gebang.

Namun dalam pada itu, Juwiring tidak dapat melupakan adik perempuannya. Ia membayangkan sesuatu yang sangat mengerikan akan dapat terjadi atas adiknya. Apalagi jika ia jatuh ke tangan kumpeni. Ia masih berharap perlakuan yang baik jika Rara Warih berada di tangan para perwira di Surakarta. Mungkin satu dua orang di antara mereka masih merasa perlu untuk melindungi gadis putera puteri Pangeran Ranakusuma itu, meskipun Pangeran Ranakusuma sendiri oleh beberapa orang di Surakarta dianggap sebagai pengkhianat.

“Yang paling parah, ayah” berkata Raden Juwiring kepada Kiai Danatirta, “jika Warih tetap berada di tangan para prajurit berkuda dan tidak diserahkan kepada para perwira, atau justru diserahkan kepada kumpeni”

“Kita memang harus mencari jalan untuk membebaskannya” berkata Ki Dipanala.

“Tetapi jangan kehilangan pertimbangan” sahut Kiai Danatirta, “Kita harus membuat perhitungan sebaik-baiknya. Jika kita salah langkah, maka kita akan dapat terjebak”

“Tetapi sudah tentu kita tidak akan tinggal diam” sahut Juwiring.

“Ya. Aku mengerti” jawab Kiai Danatirta, “tetapi jika kita terjebak, maka kita akan mengalami kesulitan ganda. Kita sendiri akan tertangkap, sementara kita tidak akan dapat berbuat apa-apa atas puteri”

“Jadi, bagaimana menurut pertimbangan ayah?” bertanya Juwiring

“Kita harus tahu pasti, bagaimana keadaan Surakarta sekarang, kemudian kita pun harus mendapat keterangan pasti, dimana Rara Warih ditahan. Baru kemudian kita menentukan langkah” jawab Kiai Danatirta.

“Jika demikian, biarlah aku masuk ke kota” desis Juwiring.

“Aku tidak keberatan. Tetapi sebaiknya biarlah orang lain lebih dahulu berusaha mencari keterangan” berkata Kiai Danatirta.

“Aku akan dapat melakukannya” potong Buntal, “Aku sudah mengenal kota itu serba sedikit. Aku akan dapat berbuat sesuatu”

“Biarlah aku saja” berkata Ki Dipanala, “Aku masih mempunyai beberapa orang kawan yang dapat dipercaya. Aku akan dapat datang kepadanya dan minta perlindungan barang satu dua hari, sementara aku dapat mendengar dan melihat serba sedikit tentang kota Surakarta ”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk kecil, sementara Juwiring berkata lebih lanjut, “Kita harus melakukannya segera ayah. Aku masih mempunyai tugas yang lain dari ayahanda yang masih belum aku lakukan”

“Apa?” bertanya Kiai Danatirta,

“Menyingkirkan pusaka Tumenggung Sindura yang telah merenggut jiwa ayahanda” jawab Juwiring.

Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula. Katanya, “Baiklah. Kita harus bekerja cepat. Tetapi tidak dengan tergesa-gesa dan kehilangan segala perhitungan. Karena itu, kita harus berhubungan dengan Ki Wandawa, karena masalahnya akan menyangkut babagan sandi”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat ingkar, bahwa persoalannya memang harus dibicarakan lebih dahulu, agar tidak terjadi salah langkah.

Juwiring pun menyadari, bahwa ia tidak dapat mengambil langkah sendiri. Jika ia tertangkap, maka persoalannya tidak akan dapat dibatasi pada dirinya sendiri. Ia adalah salah seorang pengikut Pangeran Mangkubumi yang akan dapat menjadi sumber keterangan tentang pasukan Pangeran Mangkubumi itu”

Karena itu, sambil mengangguk-angguk Juwiring berdesir, “Ya. Aku akan menghadap Ki Wandawa untuk minta petunjuk, apa yang sebaiknya harus aku lakukan”

Juwiring memang tidak ingin menunda-nunda lagi. Ia pun segera menghadap Ki Wandawa untuk mohon petunjuknya, apakah yang sebaiknya dilakukan atas adiknya yang tertangkap itu.

“Aku sedang menunggu laporan terakhir tentang keadaan kota Surakarta ” berkata Ki Wandawa, “Meskipun aku mengerti, betapa gelisahnya kau, tetapi aku mohon kau tetap bersabar barang satu hari”

Juwiring menarik nafas panjang. Betapapun jantungnya bergejolak, namun ia terpaksa mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Aku akan menunggu. Selebihnya, jika diperkenankan, aku akan melihat keadaan itu sendiri”

“Aku belum dapat menjawab. Dan aku pun masih harus mempertimbangkan apakah menguntungkan jika kau sendiri memasuki kota Surakarta ” jawab Ki Wandawa.

Ia menjadi sangat kecewa. Tetapi ia tidak akan dapat melanggarnya.

“Tunggulah” berkata Kiai Danatirta ketika Juwiring memberitahukan kepadanya sikap Ki Wandawa.

Yang sehari itu rasa-rasanya bagaikan sebulan penuh. Ketika malam turun, Juwiring tidak dapat memejamkan matanya. Ia selalu berangan-angan tentang adik perempuannya.

Karena itu, jantungnya menjadi berdebar-debar ketika di keesokan harinya ia dipanggil oleh Ki Wandawa.

“Jangan menentukan sikap sendiri” pesan Kiai Danatirta, “Kau adalah seorang prajurit di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi. Karena itu, kau harus mentaati perintah apapun yang kau terima”

Dengan hati yang berdebar-debar, Juwiring segera menghadap Ki Wandawa untuk mendapat keterangan tentang adik perempuannya yang berada di tangan prajurit Surakarta.

“Raden Juwiring” berkata Ki Wandawa, “Yang pertama, kau dapat sedikit menjadi tenang, karena adikmu. Rara Warih telah berada di tangan pimpinan prajurit dari pasukan berkuda di Surakarta. Dengan demikian, ia akan mendapat perlakuan yang dapat diawasi oleh para perwira yang barangkali ada yang sudah dikenalnya dengan baik”

Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun masih bertanya, “Tetapi apakah mungkin diajeng Warih akan diserahkan kepada kumpeni?”

“Aku tidak dapat meramalkan. Tetapi menurut perhitunganku, adikmu tidak akan diserahkan kepada kumpeni”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih tetap dibayangi oleh kecemasan bahwa orang-orang Surakarta benar-benar telah menjadi kehilangan harga dirinya dan tidak lagi sempat memikirkan kepentingan orang lain.

Namun Juwiring masih dapat menahan dirinya sesuai dengan petunjuk Ki Wandawa. Ia masih harus menunggu. Ia mencoba untuk percaya, bahwa justru adiknya telah berada di tangan pimpinan prajurit dari pasukan berkuda, maka nasibnya tidak akan terlalu buruk.

“Tetapi apakah yang paling menakutkan itu benar-benar belum terjadi?” pertanyaan itu masih saja selalu mengganggu.

Kepada Kiai Danatirta Juwiring pun memberitahukan apa yang diketahuinya. Ternyata bahwa Kiai Danatirta pun menasehatkan. agar ia tetap bersabar sampai ada isyarat dari Ki Wandawa.

Namun dalam pada itu, setelah satu dua hari menunggu, Juwiring tidak mendapat kejelasan persoalan adik perempuannya. Karena itu hatinya menjadi semakin gelisah dan berdebar-debar. Bahkan rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu.

“Kenapa aku harus menunggu ijin dari Ki Wandawa?” geramnya.

“Kau terikat oleh kedudukanmu dalam pasukan ini, seperti juga dalam jenjang keprajuritan” jawab Kiai Danatirta.

Memang tidak ada jalan untuk menembus langsung ke dalam jantung kota, jika Ki Wandawa tidak mengijinkan. Kecuali jika ia bersedia untuk disingkirkan dari lingkungan para pengikut Pangeran Mangkubumi. Namun tentu tidak menyenangkan sekali untuk diperlakukan demikian. Ia sudah dianggap tidak patuh terhadap Pangeran Mangkubumi, maka nasibnya tentu akan sangat pahit di dalam pergolakan suasana yang kemelut Itu.

Juwiring dan para pengikut Pangeran Mangkubumi itu pun kemudian mendapat keterangan, bahwa kumpeni dan para prajurit Surakarta sudah menyiapkan diri untuk bertindak lebih jauh. Mereka sudah mengetahui bahwa Pangeran Mangkubumi berada di Gebang, sementara Raden Mas Said berkedudukan di Penambangan.

Namun agaknya kumpeni tidak ingin bertindak tergesa-gesa. Mereka berusaha untuk melihat keadaan secermat-cermatnya. Kegagalan yang pahit hendaknya tidak terulang lagi.

Tetapi dalam pada itu, selain berita tentang persiapan kumpeni dan prajurit Surakarta yang akan menyerang Gebang, maka seorang petugas sandi telah membawa berita khusus bagi Raden Juwiring.

Karena itu, maka Raden Juwiring bersama saudara-saudara angkatnya telah dipanggil menghadap Ki Wandawa.

“Raden Juwiring” berkata Ki Wandawa, “berita yang akan aku sampaikan mungkin mengejutkan, tetapi mungkin pula tidak bagimu”

Raden Juwiring menjadi berdebar-debar. Dengan gelisah ia menunggu Ki Wandawa berkata selanjutnya, “Seperti yang aku katakan, Rara Warih benar berada di tangan para pemimpin pasukan berkuda Surakarta, sehingga ia mendapat perlakuan yang baik. Para petugas sandi, selain mengamati keadaan dan sikap kumpeni serta sikap Surakarta, mereka pun sempat mencari keterangan tentang Rara Warih yang berada di tangan para pemimpin pasukan berkuda” Ki Wandawa itu terdiam sejenak. Kemudian katanya lebih lanjut, “bahkan Raden, ternyata bahwa Rara Warih telah ditahan di Istana Ranakusuman.

“Di rumah kami sendiri?”. bertanya Raden Juwiring dengan serta merta.

“Ya” jawab Ki Wandawa, “istana Ranakusuman sekarang menjadi pusat kepemimpinan prajurit dan pasukan berkuda yang sekarang ini dijabat oleh Tumenggung Watang.

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Wandawa berkata selanjutnya, “Bahkan Tumenggung Watang telah tinggal di istana itu pula”

“Tumenggung Watang berada di istana Ranakusuman?” Juwiring menjadi semakin tegang.

“Ya. Tetapi ia tidak mempergunakan Dalem Ageng. Ia tinggal di gandok saja bersama keluarganya, Bukankah keluarga Tumenggung Watang termasuk keluarga kecil?” jawab Ki Wandawa.

Juwiring mengangguk-angguk. Hal itu adalah wajar sekali. Istana Pangeran Ranakusuma yang dianggap memberontak itu telah dikuasai oleh pasukan berkuda. Sementara adik perempuannya telah ditahan pula di istana itu pula.

Dalam pada itu, Ki Wandawa pun berkata pula, “Selebihnya Raden, yang kita cemaskan memang telah terjadi. Ternyata kumpeni bersama pimpinan prajurit di Surakarta, khususnya dari pasukan berkuda telah menyebar wara-wara khusus ditujukan kepada Raden Juwiring.

“Wara-wara apa itu Ki Wandawa?” bertanya Juwiring dengan jantung yang berdebar-debar.

“Memang menggelisahkan. Tetapi seperti yang sudah berulang kali aku katakan, jangan kehilangan akal” jawab Ki Wandawa, “namun masalahnya sudah kita duga sebelumnya sehingga kita tidak akan terlalu terkejut, karenanya”

Juwiring menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi keterangan Ki Wandawa itu memang sudah mengarah, sehingga karena itu, maka ia pun sudah menduga, apa yang akan dikatakan selanjutnya.

“Raden” berkata Ki Wandawa kemudian, “ternyata kumpeni dan pimpinan prajurit dari pasukan berkuda telah membuat wara-wara yang khusus ditujukan kepada Raden, agar Raden bersedia menyerah. Adik perempuan Raden itulah yang akan menjadi taruhan”

Raden Juwiring menggeretakkan giginya. Katanya, “Mereka memang licik. Kita memang sudah mengira, bahwa akan demikian jadinya. Tetapi sebenarnya aku masih berharap bahwa orang-orang asing itu masih mempunyai harga diri sedikit, sehingga ia tidak akan mengambil jalan yang licik itu.

“Ternyata cara itulah yang mereka pergunakan Raden” jawab Ki Wandawa, “wara-wara itu sudah disebarkan ke seluruh kota. Dalam waktu lima hari lima malam, Raden harus menyerahkan diri Jika tidak, maka Rara Warih akan diasingkan keluar Surakarta ”

Wajah Raden Juwiring menjadi tegang. Dengan nada berat ia berkata, “Jika lewat waktunya, apakah diajeng Warih akan benar-benar diasingkan?”

“Aku kurang pasti Raden” jawab Ki Wandawa, “mudah-mudahan hal itu hanya sekedar cara untuk memaksa angger menyerah”

“Tetapi bagaimana jika diajeng Warih benar-benar akan diasingkan keluar Surakarta, ke tempat yang tidak diketahui?” bertanya Juwiring.

Ki Wandawa menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Raden Juwiring berkata, “Ki Wandawa, nampaknya tidak ada usaha lain yang pantas selain berusaha membebaskannya”

“Tetapi Raden harus mengetahui, bahwa Rara Warih berada di istana Ranakusuma. Istana Ranakusuman yang kini diper-gunakan sebagai tempat pimpinan pasukan berkuda di Surakarta yang sedang dalam keadaan gawat, sementara Panglima Pasukan berkuda itu sendiri tinggal di istana itu, meskipun hanya di gandok sahut Ki Wandawa, “Segalanya itu harus diperhitungkan. Jika kita salah langkah, maka yang terjadi bukannya puteri itu dibebaskan, tetapi yang ditahan akan bertambah lagi. Apalagi jika kumpeni atau pimpinan pasukan berkuda berhasil menangkap Raden Juwiring, maka tentu puteri tidak akan dilepaskan, karena Raden tidak datang untuk menyerahkan diri, tetapi Raden justru telah tertangkap”

Raden Juwiring mengangguk-angguk. Persoalannya memang rumit. Dan ia tidak boleh bertindak dengan tergesa-gesa.

“Raden Juwiring” berkata Ki Wandawa, “sudah barang tentu, kami akan membantu Raden. Kita akan bersama memikirkan, cara yang paling baik untuk membebaskan Rara Warih. Jika kami menemukan cara itu, kami akan memberitahukannya kepada Raden, tetapi jika Raden melihat satu kemungkinan, maka cepatlah memberitahukan kepada kami. Apa yang kau perlukan, kami akan membantunya, sepanjang menurut perhitungan kami hal itu mungkin dilakukan”

“Terima kasih Ki Wandawa” berkata Raden Juwiring, “Kami akan berusaha untuk melakukan apa saja yang mungkin untuk membebaskan diajeng Warih. Aku mempunyai tanggung jawab terhadapnya. Sepeninggal ayah anda, maka aku, Saudara tuanya, adalah orang yang seharusnya melindunginya”

“Aku mengerti Raden. Sekali lagi aku katakan, bahwa kami di sini akan bersedia membantu, sementara ini para petugas sandi akan tetap mencari berita tentang puteri” jawab Ki Wandawa

Raden Juwiring dan saudara-saudara angkatnya pun kemudian mohon diri. Mereka kembali ke pondok mereka yang dihuni bersama Kiai Danatirta dan Ki Dipanala, yang hanya berbatasan pagar dan sekat halaman sempit dengan pondok yang dipergunakan oleh Ki Sarpasrana dengan beberapa muridnya, yang juga langsung berada di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi.

Dengan cemas, Raden Juwiring menyampaikan berita tentang wara-wara itu kepada gurunya. Batas waktu yang terlalu sempit. Lima hari lima malam.

Kiai Danatirta dan Ki Dipanala pun menjadi cemas pula karenanya. Dengan suara datar Ki Dipanala berkata, “Aku telah gagal melakukan perintah terakhir dari Pangeran Ranakusuma untuk menyelamatkan puteri”

“Aku pun bertanggung jawab” sahut Juwiring.

“Bukan waktunya untuk mencari siapakah yang bersalah” berkata Kiai Danatirta, “tetapi yang penting, bagaimana kita dapat menolongnya”

Dalam pada itu, tiba-tiba saja Ki Dipanala berkata dengan ragu-ragu, “Raden, bagaimana dengan ibunda puteri, Raden Ayu Galih Warit. Apakah masih ada kemungkinan untuk mohon pertolongannya bagi keselamatan puterinya, atau kepada Pangeran Sindurata. Menurut pengamatan beberapa pihak, Pangeran Sindurata masih mempunyai hubungan dekat dengan kumpeni. Mungkin untuk sementara kita akan dapat menitipkan puteri kepada mereka, atau mungkin justru mereka akan dapat mohon puteri untuk tinggal bersama mereka. Nah, nampaknya, di istana Pangeran Sindurata itu segala usaha akan dapat dilakukan lebih mudah”

Sekilas terpancar harapan di wajah Raden Juwiring. Namun kemudian ia menjadi ragu-ragu. Katanya, “Apakah ibunda Galih Warit masih dapat diajak berbicara? Bukankah ibunda sedang menderita sakit?”

“Pada saat-saat tertentu, kesadarannya seakan-akan tidak terganggu Raden. Namun sakitnya itu datang kapan saja dengan tiba-tiba, sehingga memang sulit untuk diperhitungkan. Meskipun demikian, dalam keadaan yang wajar, aku kira Raden Ayu masih dapat berbincang dengan Pangeran Sindurata” jawab ia Dipanala.

Kiai Danatirta mengangguk kecil. Katanya, “Mungkin masih dapat dicoba ngger. Tetapi anggaplah bahwa yang penting kau hubungi adalah Pangeran Sindurata. Jika mungkin, memang perlu berbicara dengan Raden Ayu. Tetapi setidak-tidaknya pengaruh Pangeran Sindurata akan dapat membantu. Pangeran Sindurata akan dapat menjelaskan bahwa cucunya tidak tersangkut kesalahan ayahandanya, sehingga tidak adil jika Rara Warih harus diasingkan ke tempat yang tidak diketahui. Yang pantas dihukum adalah Pangeran Ranakusuma dan Raden Juwiring menurut penilaian orang-orang Surakarta, bukan Rara Warih”

Juwiring mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan menghadap Pangeran Sindurata Aku akan menyampaikan persoalannya. Meskipun mungkin Pangeran Sindurata telah mendengar bahwa Rara Warih ditahan oleh pimpinan pasukan berkuda, namun mungkin ia belum menguasai persoalannya sehingga Pangeran tua itu tidak berbuat apa-apa”

“Tetapi berhati-hatilah” desis Kiai Danatirta, “dan bukankah segalanya harus dibicarakan dengan Ki Wandawa? Temuilah Ki Wandawa dan sampaikan rencanamu untuk menghadap Pangeran Sindurata”

Raden Juwiring tidak menyia-nyiakan waktu. Ia pun segera menghadap Ki Wandawa untuk membicarakan rencananya.

“Sekedar melindungi diajeng Warih” berkata Juwiring

“Apalagi jika Pangeran tua itu bersedia mengambil diajeng Warih dan menempatkannya di istana Sinduratan. Segala usaha nampaknya akan menjadi lebih mudah”

“Apakah kau akan mencobanya?” bertanya Kiai Danatirta

Juwiring termangu-mangu sejenak, Dengan nada rendah ia berkata, “tetapi keluarga ibunda Galihwarit sangat membenciku. Aku telah disingkirkan, dan segalanya tentu akan menimbulkan kemarahan”

“Tetapi keadaan telah berubah” berkata Ki Dipanala, “seperti puteri juga telah berubah sikap terhadap Raden”

“Diajeng Warih melihat dan mendengar apa yang telah? terjadi. Kenyataan ibunda Galihwarit telah membuatnya lebih cepat menyadari keadaan dirinya sendiri” jawab Raden Juwiring, “karena itu, agak berbeda dengan ibunda Galihwarit sendiri atau eyang Pangeran Sindurata. Apalagi jika Eyang Pangeran mendengar apa yang telah aku lakukan”

“Aku dapat melakukannya” tiba-tiba saja Buntal menyahut, “Aku orang yang tidak dikenal di istana itu. Aku dapat menghadap Pangeran Sindurata untuk berbicara tentang puteri Warih”

“Tidak” tiba-tiba Juwiring memotong, “Apapun yang akan terjadi atas diriku, aku tidak peduli. Yang penting ibunda Galihwarit dan eyang Sindurata mengerti apa yang telah terjadi atas diajeng Warih dan bersedia membebaskannya. Jika dengan demikian aku harus ditangkap, maka aku tidak akan berkeberatan”

“Tetapi mungkin Ki Wandawa akan berkeberatan” desis Kiai Danatirta.

“Aku tidak akan memberikan gambaran apapun juga kepada Ki Wandawa yang akan mengarahkan perhitungannya kepada kemungkinan itu” jawab Juwiring, “sementara itu, aku pun sudah bertekad untuk bersikap sebagai seorang prajurit Pangeran Mangkubumi. Jika aku tertangkap, aku tidak akan dapat dipaksa untuk berbicara tentang keadaan pasukan ini”

“Kau akan mengalami penderitaan yang paling pahit yang pernah terjadi atas seseorang jika kau jatuh ke tangan kumpeni. Kumpeni akan mempergunakan segala cara untuk memerasmu, agar kau berbicara tentang pasukan Pangeran Mangkubumi” desis Buntal.

“Aku tahu apa yang harus aku lakukan” jawab Juwiring, “meskipun demikian, aku memerlukan bantuanmu”

“Jika aku mampu melakukannya, aku akan melakukannya” jawab Buntal.

“Kita pergi bersama-sama ke istana Pangeran Sindurata” berkata Juwiring.

“Bagus” jawab Buntal dengan serta merta, “Aku akan pergi bersamamu”

“Aku juga” tiba-tiba saja Arum memotong.

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebaiknya kau tinggal bersama ayah di sini Arum. Yang akan kami lakukan di Surakarta adalah satu loncatan ke dalam gelap. Kami sama sekali belum mengetahui apakah yang akan kami jumpai di dalam kegelapan itu”

“Apa salahnya kita bersama-sama melakukannya” jawab Arum, “Aku seorang perempuan. Mungkin aku akan dapat melakukan lebih banyak dari kalian dalam penyamaran”

Namun Kiai Danatirta pun menengahinya, “Kau akan dapat berbuat sesuatu pada saat yang lebih pasti Arum. Tidak dalam keadaan seperti ini. Semuanya masih tidak pasti. Pada keadaan yang demikian, maka sebaiknya kau tidak pergi bersama kedua kakakmu”

“Apa bedanya aku dengan kakang Buntal dan kakang Juwiring?” bertanya Arum.

“Ada bedanya” jawab ayahnya, “jika kalian tertangkap, maka penderitaan yang akan kau alami, tidak akan sama dengan apa yang akan dialami oleh kedua kakakmu, Rara Warih mungkin masih mendapat perlindungan dari beberapa orang yang mengenalnya atau yang dalam hubungan keluarga masih mempunyai sangkut paut. Tetapi kau tidak sama sekali. Kau adalah pengikut Pangeran Mangkubumi”

“Aku tidak takut” jawab Arum, “Aku dapat membunuh diri jika aku harus menghadapi keadaan yang paling pahit itu”

“Kita masih belum terjebak ke dalam keadaan untuk terputus asa. Hal itu dapat dihindari dengan tidak usah membunuh diri” berkata ayahnya. Lalu, “Cara itu adalah, kau tidak usah ikut bersama mereka”

Arum menarik nafas dalami. Ia mulai menyadari, bahwa ia masih belum waktunya untuk ikut serta bersama kedua kakaknya.

Karena itu, maka katanya, “Baiklah. Jika demikian, aku akan mengurungkan niatku. Tetapi pada suatu saat jika kalian memerlukan aku, maka aku akan bersedia melakukan apa saja”

“Tentu Arum” desis Juwiring, “perjuangan ini masih sangat panjang. Bahkan untuk membebaskan diajeng Warih pun masih diperlukan pengorbanan tersendiri”

“Jika sudah bulat niatmu” berkata Kiai Danatirta kemudian pergilah menghadap Ki Wandawa. Katakan apa yang kau rencanakan. Mungkin ia mempunyai pesan dan nasehat yang akan berarti bagimu”

Demikianlah Juwiring dan Buntal pun pergi menghadap Ki Wandawa lagi untuk menyampaikan rencananya.

Ternyata Ki Wandawa yang mengetahui betapa gelisahnya hati Juwiring dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dicapai lewat Pangeran Sindurata, maka nampaknya ia pun tidak berkeberatan. Namun demikian, ia masih juga berpesan, “Raden Juwiring. Pangeran Sindurata adalah seorang Pangeran yang dekat hubungannya dengan Kumpeni. Aku kira ia mempunyai sikap yang sama dengan beberapa orang bangsawan Surakarta yang lain, yang memusuhi Pangeran Mangkubumi. Karena itu, maka kau harus membatasi persoalan. Persoalan yang dapat kau kemukakan kepada Pangeran Sindurata adalah sekedar memberi tahukan keadaan Rara Warih. Serahkan saja pembebasannya kepada Pangeran Sindurata. Meskipun Pangeran itu mempunyai sikap yang sulit dimengerti, tetapi aku kira ia sangat memperhatikan cucunya itu. Apalagi Pangeran Sindurata tentu sudah mengetahui bahwa Pangeran Ranakusuma sudah tidak ada lagi, sehingga ia akan merasa bertanggung jawab akan nasib cucunya” Ki Wandawa berhenti sesaat, lalu, “kecuali itu, kau pun harus memperhitungkan bahwa Pangeran itu sudah tahu pula bahwa cucunya ditangkap. Jika kau memberitahukan kepadanya, adalah sebagai suatu usaha untuk memperingatkannya, bahwa Rara Warih adalah cucunya yang sedang mengalami suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Tetapi kau pun harus memperhitungkan, bahwa Pangeran Sindurata itu pun dapat dianggap mengetahui bahwa Rara Warih itu ditahan karena kumpeni ingin menangkapmu”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Yang akan dilakukan memang cukup berbabahaya. Namun Ki Wandawa pun berkata, “Tetapi aku masih berharap bahwa Pangeran Sindurata bukan seorang yang licik, yang menganggap kedatanganmu sebagai satu anugerah. Dengan demikian ia tidak akan menangkapmu dan menyerahkanmu kepada kumpeni sebagai satu jaminan bagi pembebasan Rara Warih”

Juwiring mengangguk-angguk. Meskipun Ki Wandawa berharap Pangeran itu tidak akan berbuat licik, namun ia pun memperingatkannya, bahwa kemungkinan yang demikian memang ada.

Karena itu, maka ia pun harus sangat berhati-hati. Segala kemungkinan dapat terjadi. Sementara pesan Ki Wandawa yang terakhir adalah, “Namun aku percaya bahwa kalian berdua adalah pengikut Pangeran Mangkubumi yang baik. Karena itu, jika nasib kalian kurang baik, sehingga kalian tertangkap, maka aku berharap bahwa kalian tidak akan banyak berceritera tentang Gebang, Sukawati, Penambangan dan tempat-tempat lain yang pernah kau dengar namanya dan barangkali pernah kau kunjungi”

“Aku mengerti Ki Wandawa. Aku mohon restu. Mudah-mudahan aku dapat menemukan jalan untuk membebaskan diajeng Rara Warih” berkata Juwiring yang kemudian mohon diri untuk melakukan rencananya bersama Buntal.

Atas restu Ki Wandawa, Kiai Danatirta dan Ki Dipanala maka kedua anak muda itu pun mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melakukan satu tugas yang penting dan gawat. Apalagi keduanya memang bukan petugas sandi yang terbiasa melakukan tugas-tugas yang bersifat rahasia. Namun demikian, ternyata dua orang petugas sandi telah mendapat perintah Ki Wandawa untuk mengamati keadaan mereka.

“Dimana kami dapat bertemu dengan kalian” bertanya Juwiring ketika kedua orang petugas itu memperkenalkan diri.

Salah seorang dari kedua petugas sandi itu menggeleng. Katanya, “Bukan Raden yang mencari kami, tetapi kami yang akan selalu membayangi Raden”

“Tetapi jika kami memerlukan kalian setiap saat?” desis Raden Juwiring.

“Kami minta maaf, bahwa tidak setiap orang dapat mengetahui tempat persinggahan kami. Bukan kami tidak percaya kepada Raden, tetapi siapa tahu nasib seseorang. Karena itu, lebih baik Raden tidak mengetahui dimana tempat persinggahan kami. Tetapi percayalah, bahwa kami tidak akan terlalu. jauh dari Raden. Memang mungkin kami tidak akan dapat mengawasi Raden jika Raden berhasil memasuki istana Sinduratan. Tetapi Setidak-tidaknya kami mengetahui seandainya Raden tidak dapat keluar lagi dari istana itu, atau satu kesempatan lain yang dapat kami lakukan, meskipun sangat terbatas”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa sifat rahasia dari petugas sandi memang dijaga sebaik-baiknya meskipun di antara lingkungan sendiri. Sehingga dengan demikian maka Raden Juwiring tidak dapat mendesak lagi.

Demikianlah, segala yang direncanakan oleh Juwiring telah diperhitungkan masak-masak atas persetujuan kedua orang petugas sandi yang mendapat tugas untuk mengamatinya. Juwiring dan Buntal pun menyadari bahwa yang dapat dilakukan oleh petugas sandi itu memang sangat terbatas. Sehingga dengan demikian, maka keduanya akan lebih banyak tergantung kepada kemampuan mereka sendiri

Ketika keduanya berangkat menuju ke kota, terasa debar jantung seisi pondok kecil itu. Bahkan Kiai Sarpasrana pun telah hadir pula untuk ikut serta melepas mereka.

Tidak banyak orang yang mengetahui, apa yang akan dilakukan oleh kedua orang anak muda itu. Seperti tugas sandi lainnya, maka hanya orang-orang terbatas sajalah yang mengetahui apa yang akan dilakukan oleh kedua orang itu.

Arum, seorang gadis yang memiliki kemampuan olah kanuragan itu, melepas kedua kakak angkatnya dengan jantung yang berdegupan. Ketika ia memandang keduanya berjalan semakin jauh, maka terasa sesuatu mendesak di pelupuk matanya. Yang pergi itu bukan saja kakak angkatnya. Bukan pula sekedar kawan seperjuangan di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi, tetapi keduanya mempunyai arti yang dalam di perjalanan hidupnya. Juwiring benar-benar bagaikan kakak kandungnya yang banyak memberikan tuntunan kepadanya, sementara Buntal telah menyusup ke dalam dasar perasaannya sebagai seorang gadis terhadap seorang anak muda.

Karena itulah, maka kecemasannya pun rasanya menjadi berlipat. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan keduanya. Namun ia pun mengerti, bahwa ia tidak akan dapat mencegah keduanya.

Arum menyadari keadaannya ketika ayahnya menggamitnya sambil berkata, “Berdoalah untuk keduanya. Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan mendengarkan permohonan hambanya”

Arum mengangguk kecil. Namun terasa kerongkongannya bagaikan tersumbat. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke dalam biliknya. Seperti kata ayahnya, maka iapun telah berdoa di dalam hatinya.

Dalam pada itu, Juwiring dan Buntal yang telah bertekad untuk mencari jalan agar Warih dilepaskan, sambil berjalan di sepanjang bulak sibuk membicarakan cara yang sebaik-baiknya untuk menghadap Pangeran Sindurata. Keduanya yang bertugas sandi itu telah mengenakan pakaian yang sama sekali tidak memberikan kesan tentang keduanya. Apalagi bahwa seorang di antara mereka adalah putera seorang Pangeran. Keduanya memakai pakaian petani yang lusuh. Tudung kepala yang runcing dan kain yang tinggi di bawah lutut.

Namun dalam pada itu, seperti yang telah ditentukan, pimpinan pasukan berkuda memang sudah menghubungi Pangeran Sindurata untuk memberi tahukan bahwa Rara Warih ada di dalam tahanan pasukan berkuda.

“Apakah kalian sudah gila” bentak Pangeran Sindurata di hadapan tiga orang perwira dari pasukan berkuda, “Warih adalah cucuku. Kau sangka ia terpercik dosa ayah dan kakaknya anak bengal itu?”

“Bukan begitu Pangeran” jawab salah seorang dari para perwira pasukan berkuda itu, “Kami tahu, bahwa puteri tidak bersalah. Tetapi maksud kami sekedar mempergunakannya untuk memancing agar kakandanya, Raden Juwiring menyerah”

“Itulah kebodohan kalian” Pangeran Sindurata masih membentak, “Kau kira kau akan berhasil? Kau sudah mengorbankan kebebasan seseorang, sementara tujuan kalian sama sekali tidak akan dapat kalian capai. Kau kira Juwiring mengerti arti hubungannya dengan Warih. Anak itu sama sekali tidak tahu diri. Ia merasa dirinya jauh melampaui kedudukannya yang sebenarnya. Karena ia dipanggil oleh ayahandanya masuk ke dalam istana Ranakusuman, maka ia menjadi besar kepala, dan menganggap orang lain tidak berarti apa-apa-Aku kasihan kepada cucuku, di rumah ia dianggap orang lain, tiba-tiba saja di luar kesalahannya ia sudah ditahan. Bukankah itu tindak yang sewenang-wenang”

“Keadaan puteri sangat baik. Ia berada di istananya sendiri. Tiga orang emban khusus telah melayaninya setiap hari. Apapun yang dikehendaki tentu terpenuhi, kecuali meningggalkan istana itu” jawab salah seorang dari para perwira itu.

“Jangan kau tipu aku. Aku mengerti, apa yang kau maksud dengan emban khusus itu” Pangeran Sindurata hampir berteriak.

“Ya, ya Pangeran. Kami mohon Pangeran dapat mengerti. Bukankah dengan demikian berarti bahwa Rara Warih telah berkorban untuk kepentingan Surakarta. Pada saatnya, jika pemberontakan ini sudah dipadamkan, setiap orang akan mengetahui berapa besarnya pengorbanan Rara Warih” jawab perwira itu.

“Omong kosong” geram Pangeran Sindurata, “Kenapa kalian tidak berusaha menangkap pengkhianat itu dengan cara lain. Tidak dengan cara yang sewenang-wenang itu terhadap cucu gadisku. Jika ibunya yang jiwanya tertekan itu mendengar, api jadinya? Sampai saat ini ia tidak tahu apa yang terjadi atas suaminya yang pengkhianat itu. Ia juga tidak mendengar bahwa Warih kalian korbankan untuk menangkap pengkhianat kecil itu” Pangeran Sindurata berhenti sejenak, lalu, “He. apakah kau kira nilai cucuku seimbang dengan nilai anak gila itu he? Kau mempergunakan umpan yang terlalu tinggi nilainya dibanding dengan ikan yang ingin kau tangkap. Itu tidak adil”

“Pangeran” berkata salah seorang perwira itu, “Kami sudah memberikan batas waktu. Lima hari lima malam. Setelah itu, apapun yang akan terjadi, kami tidak akan mempergunakan lagi puteri cucu Pangeran itu. Kami akan mempergunakan cara lain. Kami menyadari bahwa Raden Ayu Galihwarit kadang-kadang masih saja diguncang oleh kegelisahannya sepeninggal Raden Rudira. Jika Raden Ayu mendengar akan hal ini, maka guncangan perasaan itu akan bertambah-tambah parah. Atas segala macam pertimbangan inilah, maka kami telah datang menghadap Pangeran untuk sekedar memberitahukan keadaan yang sebenarnya dari puteri cucunda itu”

Pangeran Sindurata menggeram. Namun ia tidak dapat menolak perlakuan para perwira dari pasukan berkuda yang telah mempergunakan cucunya untuk menangkap Juwiring. meskipun Pangeran itu tidak yakin bahwa usaha itu akan berhasil.

“Kami menjamin Pangeran” berkata para perwira itu, “Kami tidak ingin benar-benar berbuat lebih jauh terhadap puteri. Jika kami membuat wara-wara yang seolah-olah kami benar-benar ingin mengorbankan puteri, itu semata-mata hanyalah satu tekanan untuk memaksa Raden Juwiring menyerah”

Pangeran Sindurata termangu-mangu sejenak. Sebenarnya ia tidak rela menyerahkan cucunya untuk satu kepentingan yang tidak akan berarti apa-apa, selain membuat perasaan cucunya semakin pahit.

“Terserahlah kepada kalian” akhirnya ia berkata, “tetapi jika terjadi sesuatu, maka kalian harus bertanggung jawab. Anak itu tidak boleh bersedih. Lebih baik kalian berterus terang, bahwa tahanan yang dikenakan kepadanya itu sekedar permainan pura-pura. Dengan demikian ia menyadari apa yang dilakukannya, sehingga ia tidak merasa tersiksa karenanya. Kecuali itu, kalian tidak berhak menolak jika aku ingin menjumpainya kapan saja aku mau”

Para perwira dari pasukan berkuda itu saling berpandangan sejenak. Mereka mengerti, agaknya Pangeran Sindurata tidak mengenal cucunya sebaik-baiknya. Nampaknya yang dikatakan oleh Pangeran Sindurata itu tidak sesuai dengan sikap Rara Warih sendiri.

Tetapi para perwira itu tidak membantah. Bahkan seorang di antara mereka, “Baiklah Pangeran. Kami akan melakukannya seperti yang Pangeran kehendaki.

Pangeran Sindurata itu tidak menjawab lagi. Ketika para perwira prajurit dari pasukan berkuda itu minta diri maka dengan pendek ia menjawab, “Ya. Tetapi cucuku adalah tanggung jawabmu”

Para perwira itu pun kemudian meninggalkan istana Pangeran Sindurata. Demikian mereka meloncat ke punggung kuda di luar gerbang halaman istana Pangeran Sindurata, mereka tersenyum-senyum kecil. Seorang di antara mereka berdesis, “Pangeran itu mempunyai penyakit marah. Kadang-kadang saja ia menjadi pening dan marah tanpa sebab. Wajahnya menjadi merah seperti bara. Nampaknya memang ada gejala sakit syaraf turun temurun, sehingga kejutan sedikit atas Raden Ayu Galihwarit saat puteranya meninggal, telah membuatnya kadang-kadang kehilangan kesadaran meskipun tidak setiap saat”

“Puteri yang cantik” sahut yang lain, “Raden Ayu Sontrang yang nampaknya masih terlalu muda dibandingkan dengan usianya itu mengalami sesuatu yang patut disesalkan. Tetapi ternyata kecantikan puterinya itu adalah kecantikan keturunan pula. Karena itu, kehadirannya di lingkungan pasukan berkuda hanya membuat kepalanya pening saja setiap hari.

Para perwira itu tertawa. Yang seorang masih berkata, “Kasihan Pangeran tua itu. Tetapi apaboleh buat”

Para perwira itu pun kemudian menyusuri jalan-jalan kota. Kaki-kaki kudanya berderap tidak terlalu cepat. Sambil menengadahkan kepalanya mereka memandang gadis-gadis yang lewat dan berpapasan.

Namun dalam pada itu, sepeninggal para perwira dari pasukan berkuda itu, kepala Pangeran Sindurata menjadi pening. Sambil menghentak-hentakkan kakinya, ia berjalan hilir mudik. Ketika perasaan pening di kepala dan rasa sakit ditengkuknya itu semakin terasa menggigit, maka seperti biasanya ia pun melepas ikat kepalanya dan mengikat keningnya keras-keras dengan ikat kepalanya itu untuk mengurangi rasa sakit.

“Yang gila adalah Juwiring” geram Pangeran Sindurata, “jika ia tidak berkhianat, maka Warih tidak akan dijadikan taruhan seperti itu. Jika pada suatu saat ibunya mengetahuinya, maka hatinya akan menjadi semakin pedih, dan syarafnya akan menjadi semakin terganggu. Ia akan menjadi kehilangan kesadaran bukan saja di waktu-waktu tertentu. Tetapi setiap saat”

Pangeran Sindurata merasa beruntung, bahwa kehadiran para perwira prajurit Surakarta dari pasukan berkuda itu dapat diterimanya langsung, sehingga tidak ada orang lain yang mengetahuinya.

“Tetapi berita tentang hal itu tentu akan tersebar luas” gumam Pangeran Sindurata, “para perwira itu dengan sengaja akan menyebarkan wara-wara agar Juwiring dapat mendengarnya”

Tiba-tiba saja Pangeran tua itu menggeram, “Jika saja aku dapat menangkapnya. Aku akan menyerahkannya kepada pasukan berkuda agar cucuku itu dapat dilepaskan segera”

Dalam keadaan yang demikian itulah, Juwiring dan Buntal melangkah mendekati istana Pangeran Sindurata. Justru pada saat Pangeran Sindurata sedang dicengkam oleh kegelisahan karena cucunya yang ditahan oleh pimpinan pasukan berkuda.

Di perjalanan Juwiring dan Buntal sedang mereka-reka satu usaha agar mereka dapat memasuki istana Pangeran Sindurata. Dari para petugas sandi keduanya telah mendapat gambaran kota Surakarta dalam keseluruhan, sehingga mereka akan dapat menyesuaikan diri. Jalan yang manakah yang harus dihindari karena kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas mereka, dan jalan-jalan manakah yang dapat mereka lalui dengan aman.

“Eyang Sindurata adalah seorang penggemar burung” desis Juwiring.

“Apakah maksud kakang, kita akan membawa burung?” bertanya Buntal,

“Kita dapat berpura-pura menjadi penjual burung. Kita memasuki istana untuk menawarkan seekor atau dua ekor burung berkicau yang baik” jawab Juwiring.

“Aku mengerti. Tetapi dari mana kita mendapatkan seekor burung dengan sangkarnya. Kita bawa burung itu ke istana Pangeran Sindurata. Setidak-tidaknya kita akan dapat mendekati istana itu tanpa dicurigai” jawab Juwiring.

“Apakah Pangeran Sindurata mengenalmu dengan baik?” desis Buntal.

Juwiring termangu-mangu sejenak. Kemudian ia pun menggelengkan kepalanya, “Aku kira tidak. Eyang Sindurata jarang sekali melihat aku. Bagi Pangeran Sindurata, termasuk seluruh keluarganya, aku adalah orang yang tidak berarti apa-apa. Aku bukan orang yang sederajat, meskipun sebenarnya demikian. Ayahku adalah ayah anak-anak ibunda Raden Ayu Galihwarit. Yang menentukan derajad adalah ayahanda Meskipun derajad ibunda lebih rendah, tetapi itu bukan berarti bahwa derajadku lebih rendah dari anak-anak ibunda Raden Ayu Galihwarit”

“Tetapi mereka menganggap seperti itu” desis Buntal.

“Ya. Tetapi sekarang hal itu merupakan satu keuntungan. Mudah-mudahan bahwa Pangeran Sindurata tidak mengenalku dengan baik akan membuka jalan bagiku untuk berbicara dengan Pangeran Sindurata dan terutama ibunda Raden Ayu Galihwarit meskipun mereka akan memaki aku melampaui seorang pengemis yang paling buruk, sahut Juwiring.

Dalam pada itu, keduanya pun sepakat untuk membeli dua ekor burung jenis burung berkicau yang baik dan kemudian membawanya ke istana Pangeran Sindurata, karena Pangeran itu memang penggemar burung.

Dengan seekor burung kutilang dan seekor burung kepodang, keduanya dengan jantung yang berdebar-debar mendekati regol istana Sinduratan.

Halaman istana itu nampak sepi. Pangeran Sindurata memang bukan seorang Pangeran yang mempunyai kegiatan yang khusus. Ia lebih banyak mengurusi dirinya sendiri dan keluarganya. Meskipun Pangeran itu hadir pada upacara-cara tertentu, namun kehadirannya hanyalah karena kewajiban. Meskipun demikian, kedatangan kumpeni di Surakarta telah membuatnya mendapat satu kesibukan baru. Nampaknya Pangeran Sindurata senang bergaul dengan orang-orang asing itu seperti juga puterinya, Raden Ayu Galihwarit.

“Tidak ada pengawal sama sekali?” desis Buntal.

“Ada. Aku sudah mendapat keterangan. Tetapi pengawal itu berada di dalam, sebagaimana abdi yang lain. Namun bukan berarti bahwa pengawalan di istana ini dapat diabaikan” jawab Juwiring.

Karena halaman istana itu sepi, maka kedua anak-anak muda itu justru menjadi ragu-ragu. Namun sebenarnyalah kehadirannya di regol istana itu sama sekali tidak menarik perhatian. Hampir setiap orang di sekitar istana itu memang mengetahui, bahwa Pangeran Sindurata adalah seorang penggemar burung. Karena itu, maka menurut tanggapan orang-orang yang melihat kehadiran kedua anak muda itu adalah sekedar ingin menawarkan burung.

Baru sejenak kemudian, Juwiring melihat seorang abdi yang lewat melintasi halaman. Dengan ragu-ragu ia pun memasuki halaman itu pula diikuti oleh Buntal. Sambil berjalan-jalan terbungkuk-bungkuk keduanya mendekati abdi yang terhenti ketika ia melihat kedua anak muda yang membawa burung di dalam sangkarnya itu.

“Kalian mau apa?” bertanya abdi itu meskipun ia sudah menduga, apakah maksud mereka.

Juwiring lah yang menjawab, “Sebenarnyalah aku ingin menawarkan burung-burung ini kepada Pangeran. Ayahku memberitahukan kepadaku, bahwa Pangeran memerlukan seekor burung kepodang putih. Aku membawanya. Sementara itu, aku pun mempunyai seekor kutilang yang sudah jadi”

“Hem” gumam abdi itu, “Pangeran sedang sibuk dengan masalah-masalah yang penting”

“Masalah apa?” bertanya Juwiring.

“Aku tidak tahu pasti. Mungkin ada sangkut pautnya dengan keadaan Surakarta sekarang ini. Tetapi mungkin juga karena keadaan cucunda puteri”

“Cucunda Pangeran kenapa?” bertanya Buntal.

“Puteri itu ditangkap oleh pimpinan pasukan berkuda Telah disebarkan wara-wara tentang puteri itu” berkata abdi itu selanjutnya.

“Tetapi mungkin burung-burung ini akan dapat menjadi penghibur. Cobalah Ki Sanak, bawa aku menghadap Pangeran Sindurata. Burungku adalah burung yang sangat baik. Kepodang kuning sudah banyak jumlahnya di istana ini, karena ayahku sering membawakannya. Tetapi kepodang putih nampaknya belum” desak Juwiring.

“Aku akan mencoba menyampaikannya” jawab abdi itu.

“Jika Pangeran sudi membeli burung-burung ini, aku akan tahu apa yang harus aku lakukan terhadap Ki Sanak” desis Juwiring.

“Ah” sahut orang itu, “berapa harga kedua ekor burung itu. Jika kau menyebut-nyebut aku, maka kalian justru tidak akan menerima uang sama sekali”

“Jangan begitu Ki Sanak” jawab Buntal, “semuanya tergantung kepada Pangeran Sindurata. Jika Pangeran sudi membeli mahal, maka besok pagi-pagi kau akan dapat membeli selembar ikat kepala”

Orang itu tertawa. Katanya, “Manakah yang lebih mahal. Burung-burung itu atau ikat kepala?”

Juwiring dan Buntal pun tertawa pula. Namun keduanya pun kemudian disuruh menunggu di bawah sebatang pohon kemuning di halaman depan. Abdi itu akan menghadap Pangeran Sindurata yang nampaknya sedang disibukkan oleh kegelisahan.

Agak berbeda dengan dugaan abdi itu. Ternyata ketika ia menyampaikan kehadiran kedua orang anak muda untuk menjual burung, justru ia segera tertarik. Katanya, “Bawalah mereka kemari. Aku memang ingin membeli seekor burung yang sangat baik. Aku jemu memikirkan keadaan yang semakin panas. Kemelut yang tidak ada akhir-akhirnya. Perselisihan antara keluarga sendiri memang sangat tidak menyenangkan” ia berhenti sejenak, lalu, “bawa anak-anak itu kemari”

Abdi itu pun kemudian memanggil Juwiring dan Buntal menghadap Pangeran Sindurata di serambi, di dalam seketheng.

Abdi itu ternyata tidak berbohong. Kedua anak muda itu memang membawa dua ekor burung yang bagus. Seekor kepodang dan yang seekor kutilang.

“Aku memerlukan kepodang putih ini” desis Pangeran Sindurata, “tetapi tidak kutilangnya. Aku sudah mempunyai beberapa ekor burung kutilang.

Juwiring dan Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Pangeran Sindurata benar-benar ingin membeli seekor burung. Dengan demikian, maka ia akan dapat menghadap dan berbicara dengan Pangeran Sindurata.

Sejenak kemudian Pangeran Sindurata telah duduk di serambi dihadap oleh kedua anak muda yang menawarkan burung itu. Sejenak Pangeran itu asyik memperhatikan burung yang berada di dalam sangkar bambu yang kurang baik.

“Aku akan menggantinya dengan sangkar yang pantas untuk burung kepodang putih ini” gumam Pangeran Sindurata.

“Ampun Pangeran, tentu akan sesuai dengan keindahan bentuk dan bunyinya yang merdu” desis Juwiring.

“Kau jangan memuji” potong Pangeran Sindurata, “Tidak ada orang yang tidak memuji barang yang dijualnya. Aku menjadi kecewa mendengar pujianmu”

“Ampun Pangeran” sahut Juwiring. Sementara Buntal menarik nafas panjang. Ia mulai menilai sifat Pangeran tua itu.

Namun dalam pada itu, telah terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka. Sementara Pangeran Sindurata memperhatikan burung kepodang putih itu, tiba-tiba saja seorang abdi yang juga bertugas sebagai pengawal di istana Sinduratan itu datang menghadap diiringi oleh seorang yang lain beberapa langkah di belakangnya. Dengan ragu-ragu orang itu beringsut mendekat sambil memperhatikan Juwiring dan Buntal yang tidak menghiraukan orang itu.

“Ada apa?” tiba-tiba saja Pangeran Sindurata bertanya kepada pengawal itu.

Pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian dipaksanya dirinya untuk berkata, “Ampun Pangeran. Sebenarnyalah kami mencurigai kedua anak-anak muda ini”

“He” Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya, sementara jantung kedua anak-anak muda itu berdegup semakin keras.

“Kenapa kalian mencurigainya?” bertanya Pangeran Sindurata.

“Kami pernah mengenal seorang di antara keduanya” berkata pengawal itu.

“He, siapa? Yang mana?” bertanya Pangeran tua itu pula.

“Menurut penilikan kami, anak muda yang duduk di sebelah kanan itu adalah Raden Juwiring” berkata pengawal itu pula.

“Juwiring” Pangeran tua itu terkejut sehingga ia terloncat berdiri dan bergeser surut, “He, yang mana?”

Pangeran itu beringsut maju, sementara kawannya pun beringsut pula mendekat, “Maaf Raden” berkata pengawal itu, “aku mengenal Raden dengan baik, karena aku adalah seorang hamba yang sering mendapat perintah ke istana Ranakusuman pada waktu itu, sehingga agaknya aku tidak akan salah lagi”

Wajah Juwiring menjadi tegang. Tetapi jika ia sudah dikenalnya, ia pun tidak berkeberatan. Yang penting bahwa ia sudah berhasil menghadap Pangeran Sindurata untuk menyampaikan persoalan Rara Warih yang sedang ditahan oleh pasukan berkuda dan kumpeni.

Karena itu, maka dengan nada datar ia pun berkata, “Baiklah. Aku tidak akan ingkar. Aku adalah Juwiring”

“Juwiring. Jadi kau pengkhianat itu?” teriak Pangeran Sindurata.

“Ya eyang. Hamba adalah Juwiring” sahut Juwiring ragu.

“Setan alas. Jadi kau ingin membunuh aku he? Kau telah menyusup ke istana ini” geram Pangeran tua itu.

“Ampun eyang. Bukan maksud hamba untuk mengejutkan eyang” desis Juwiring.

Namun dengan serta merta Pangeran Sindurata memotong, “Jangan panggil aku eyang. Aku tidak mempunyai cucu seorang pemberontak. Seorang peng-khianat”

“Baiklah Pangeran” sahut Juwiring, “kedatangan hamba sama sekali tidak bermaksud buruk. Hamba tahu, bahwa hamba tidak akan mungkin dapat berbuat sesuatu di sini, selain mohon perlindungan Pangeran atas saudara perempuan hamba, Rara Warih”

Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya. Juwiring masih tetap duduk bersila sambil menundukkan kepalanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan berbuat jahat. Meskipun demikian, Pangeran Sindurata masih tetap berhati-hati. Demikian pula kedua pengawal itu pun telah bersiaga sepenuhnya, jika terjadi sesuatu dengan kedua anak muda itu.

“Pangeran” berkata Juwiring kemudian, “jika hamba menghadap Pangeran, adalah semata-mata karena hamba ingin mohon perlindungan seperti yang telah hamba katakan. Adik perempuan hamba, Rara Warih”

“Cukup” potong Pangeran Sindurata, “Kau kira bahwa sikapmu itu dapat menyenangkan hatiku. He, anak Pidak pedarakan. Jangan kau sebut cucuku itu sebagai adikmu, dan kau jangan sekali-sekali merasa berjasa bahwa kau telah memberitahukan hal itu kepadaku, karena aku sudah mengetahui segala-galanya. Aku tahu bahwa cucuku telah ditangkap. Tetapi kau terlalu bodoh untuk datang kemari. Kau kira bahwa Warih benar-benar telah ditahan?”

Juwiring beringsut setapak. Terasa jantungnya berdebar semakin cepat. Menurut dugaannya, Rara Warih benar-benar ditahan oleh pasukan berkuda, setelah gadis itu ditangkap di padepokan.

“Pangeran” berkata Juwiring kemudian, “Hamba tidak akan menolak apapun yang akan Pangeran tuduhkan terhadap hamba kemudian, tetapi hamba mohon diperkenankan untuk berbicara serba sedikit tentang Rara Warih?”

“Aku sudah tahu semuanya. Ia sudah ditangkap. Dan seharusnya akulah yang bertanya kepadamu, apakah kau tahu, kenapa ia pura-pura ditahan oleh pasukan berkuda?” bertanya Pangeran Sindurata.

“Apakah menurut Pangeran, yang terjadi itu sekedar pura-pura?” Juwiring ganti bertanya.

“Ya. Aku sudah meyakinkan. Rara Warih tidak boleh meninggalkan rumahnya. Bukan karena ia dianggap bersalah, tetapi justru yang dilakukan itu adalah suatu perjuangan, satu pengorbanan yang dapat diberikan bagi Surakarta ”

Wajah Juwiring menjadi tegang. Sementara Pangeran Sindurata itu berkata seterusnya, “Para pemimpin dari pasukan berkuda tahu, bahwa kau tentu akan berusaha mengambil hasilnya. Kau tentu ingin menjual jasa agar kau dapat diakui sebagai kakaknya. Kau tentu tahu, sepeninggal ayahandanya, istana dan seisinya adalah milik cucuku. Maksudku milik anakku, ibunda Rara Warih. Dan kau merayap untuk merendahkan diri, menjual tenaga untuk sekedar mendapat belas kasihannya atas warisan yang ditinggalkan”

Jantung Juwiring bagaikan meledak mendengar penghinaan itu. Tetapi ia masih tetap berusaha menahan hati. Bahkan Buntal pun menjadi gemetar, meskipun ia tidak berbuat sesuatu selain menahan agar jantungnya tidak meledak.

“Pangeran” berkata Juwiring, “perkenankanlah hamba berbicara sedikit saja mengenai cucunda Pangeran untuk menjadi bahan pertimbangan. Setelah hamba berbicara, terserah kepada Pangeran, apakah yang ingin Pangeran lakukan atas hamba”

Wajah Pangeran Sindurata menjadi semakin tegang. Namun ternyata ia masih memberi kesempatan kepada Juwiring untuk berbicara, “Katakan Cepat, sebelum aku mengambil tindakan” Lalu katanya kepada para pengawal, “Tetaplah di situ”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun berkata, “Pangeran. Apa yang hamba ketahui tentang Rara Warih adalah, bahwa Rara Warih telah dianggap bersalah seperti kesalahan yang pernah dilakukan oleh ayahanda Pangeran Ranakusuma”

“Omong kosong” bentak Pangeran Sindurata.

Juwiring tidak menghiraukannya. Ia pun kemudian berceritera tentang Rara Warih seperti yang telah terjadi sebenarnya Rara Warih tidak ditahan, seolah-olah sekedar tidak boleh keluar dari rumahnya, yang justru dianggap sebagai satu pengorbanan. Tetapi Rara Warih benar-benar telah ditangkap dan dibawa dengan paksa oleh prajurit dari pasukan berkuda dari Padepokan Jati Aking.

“Gila” bentak Pangeran Sindurata, “Kau mengigau he? Kau ingin memfitnah dan membuat segalanya rusak setelah kau rusak hidup dan hati ibunda Rara Warih, karena kedengkianmu terhadap kebahagiaannya di samping orang yang kau sebut ayahandamu”

“Hamba mohon Pangeran sudi mendengarkan keterangan hamba. Kedatangan hamba kemari sekedar untuk memberitahu-kan, bahwa Rara Warih benar-benar memerlukan pertolongan” berkata Juwiring.

Namun dalam pada itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Sikap dan tanggapan Pangeran Sindurata benar-benar tidak menguntungkan. Dengan demikian mungkin sekali Pangeran itu benar-benar seperti yang dicemaskan oleh Ki Wandawa yang menganggap kehadirannya sebagai satu anugerah.

“Apakah Pangeran ini akan bertindak licik dan menangkap aku dan Buntal?” pertanyaan itu telah menyentuh hatinya.

Dalam pada itu sepercik ingatan telah menyentuh hati Juwiring. Jika Pangeran itu tidak mau mendengarkannya, bagaimana dengan Raden Ayu Galihwarit. Betapa bencinya Raden Ayu itu kepadanya. Tetapi ia datang untuk kepentingan puterinya. Hubungan baik keluarga ini dengan kumpeni akan memungkinkan untuk melepaskan Rara Warih tanpa mengorbankan dirinya.

Namun ternyata bahwa Juwiring tidak mempunyai kesempatan. Sementara itu, Pangeran Sindurata telah berkata, “Juwiring. Kedatanganmu kemari adalah satu sikap sombong yang tidak dapat dimaafkan. Seharusnya kau tahu, bahwa cucuku harus berkorban untuk ditahan karena ia sadar, bahwa kau harus ditangkap. Karena itu, menyerahlah. Kau akan aku tangkap. Dengan demikian, maka pengorbanan cucuku tidak berkepanjangan”

Juwiring termangu-mangu sejenak. Jika benar Pangeran itu akan menangkapnya, ia harus mengambil satu sikap. Lebih baik ia menyerahkan diri langsung kepada prajurit pasukan berkuda daripada ia harus menyerah kepada Pangeran Sindurata. Jika ia menyerah kepada prajurit dari pasukan berkuda maka tidak akan ada alasan untuk menunda pembebasan Rara Warih. Tetapi jika ia tertangkap, maka pasukan berkuda akan mempunyai alasan untuk menumbuhkan persoalan baru sebagai alasan untuk tidak membebaskan Rara Warih, karena sebenarnyalah sikap Rara Warih sama sekali berbeda dengan sikap seperti yang diduga oleh Pangeran Sindurata.

Namun dalam pada itu, Juwiring pun selalu ingat pula pesan Kiai Danatirta, bahwa lebih baik ia tidak di tangan lawan karena dengan demikian ia kehilangan segala kesempatan. Kesempatan untuk melanjutkan perjuangan dan kesempatan untuk membebaskan Rara Warih.

Sebenarnyalah bahwa Pangeran Sindurata tidak mau berpikir lebih jauh. Ia lebih senang menangkap Juwiring dan membebaskan cucunya dari tangan prajurit dari pasukan berkuda.

Karena itu, maka katanya, “Juwiring, kau jangan mencoba untuk berbuat sesuatu yang akan dapat mencelakaimu. Menyerahlah. Biarlah pengawalku mengikat tangan dan kakimu, kemudian aku akan membawamu untuk membebaskan cucuku itu”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih berusaha untuk berbicara, “Pangeran, apakah aku dapat memberikan penjelasan kepada Raden Ayu Galihwarit serba sedikit tentang keadaan puterinya? Aku kira persoalannya tidak terlalu sederhana. Menangkap kau aku kemudian melepaskan Rara Warih yang Pangeran anggap telah memberikan pengorbanan bagi Surakarta sekedar untuk menangkap aku, Seharusnya Pangeran mengetahui, bagaimana sikap Rara Warih sendiri”

“Aku tidak peduli” geram Pangeran Sindurata, “Cepat, menyerahlah. Aku tidak akan memberimu kesempatan bertemu dengan puteriku yang sudah kau fitnah itu”

“Jangan berkata begitu Pangeran” jawab Juwiring, “Aku kira Pangeran pun mengetahui persoalan yang seharusnya dari Raden Ayu Galihwarit. Apa yang menyebabkan Raden Ayu sering terganggu. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan hamba karena hamba tidak berada di istana ayahanda pada waktu itu”

“Cukup” bentak Pangeran Sindurata. Namun Juwiring berkata lebih lanjut, “Hamba mohon Pangeran sudi mengenali cucu Pangeran pada saat ini. Dari sikapnya mungkin Pangeran akan dapat mengambil kesimpulan lain.”

“Jangan menggurui aku” potong Pangeran Sindurata, lalu, “sekarang menyerahlah kepada kedua pengawalku itu”

Juwiring tidak melihat kesempatan lain. Namun dalam pada itu keinginannya untuk bertemu dengan Raden Ayu Galihwarit menjadi semakin mendesak, Karena itu, maka ia pun berbisik kepada Buntal, “Tahanlah mereka. Aku akan mencari Raden Ayu Galihwarit”

Buntal mengerti maksud Juwiring, karena itu maka ia pun segera bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu, maka Pangeran Sindurata itu pun menjatuhkan perintah kepada pengawal-pengawalnya. Tangkap anak itu. Aku sendiri akan menyerahkannya kepada pemimpin dari pasukan berkuda yang telah menahan cucuku”

Ketika kedua orang pengawal itu beringsut, maka Juwiring dan Buntal itu pun segera bangkit. Dengan nada tinggi Juwiring berkata, “Hamba mohon maaf Pangeran, bahwa hamba tidak akan menyerahkan diri begitu saja”

“Persetan” geram Pangeran Sindurata, “Kau kira kau akan mampu melarikan diri?”

“Hamba akan berusaha Pangeran, karena sebenarnyalah hamba tidak ingin ditangkap. Kedatangan hamba kemari adalah karena hamba ingin berbicara dengan Pangeran tentang Rara Warih dan sikapnya. Ia bukannya sekedar tidak bersalah dan memberikan pengorbanan bagi Surakarta ”

“Omong kosong. Cepat, tangkap kedua anak itu. Aku akan membawanya untuk pembebasan Warih, dan sekaligus aku akan mendapat seekor burung kepodang putih” geramnya.

Buntal mengumpat di dalam hati. Orang tua itu. masih juga ingat burung kepodang putih.

Namun dalam pada itu, kedua orang pengawal itu benar-benar telah siap menyerangnya. Karena itu, maka dengan rencana Juwiring untuk mencari Raden Ayu Galihwarit, maka ia pun bersiap-siap untuk meninggalkan perkelahian yang akan segera terjadi, dan menyerahkan kedua orang pengawal itu kepada Buntal. Ia berharap bahwa Buntal akan dapat mengatasi keadaan untuk sementara”

“Mudah-mudahan aku akan segera mendapat jalan untuk menolong Buntal, jika Pangeran Sindurata sendiri akan turun ke arena” berkata Juwiring di dalam hatinya.

Karena itu, maka ketika kedua orang pengawal itu sudah mulai bergerak, Buntal lah yang justru mendahului menyerang Meskipun ia belum menjajagi kemampuan kedua pengawal itu, namun ia berharap bahwa kemampuan keduanya tidak melampaui kebanyakan prajurit

Para pengawal itu terkejut melihat kecepatan gerak Buntal Dengan tangkas ia menyerang kedua pengawal itu berurutan. Meskipun kedua serangannya yang beruntun itu tidak mengenai sasaran namun hal itu sudah berhasil menarik perhatian kedua orang pengawal itu.

Pada saat itulah Juwiring telah mengambil kesempatan untuk meloncat berlari meninggalkan kedua pengawal itu. Meskipun ia tidak tahu pasti, dimanakah letak bilik Raden Ayu Sontrang, namun ia pernah mendengar secara tidak langsung dari Rara Warih, bahwa ibundanya berada di bilik belakang.

Kedua pengawal itu tidak sempat mengejar. Bahkan Pangeran Sindurata pun tidak mengejarnya pula, karena demikian ia melangkah, Buntal telah menyerangnya pula

“Anak Setan” geram Pangeran Sindurata. Serangan Buntal sama sekali tidak menyentuhnya. Bahkan masih terlalu jauh. Namun hal itu telah mengurungkan niat Pangeran Sindurata untuk mengejar Juwiring.

“Kita tangkap anak setan ini” perintah Pangeran itu.

Kedua pengawal itu bertempur semakin seru, sementara Pangeran Sindurata pun telah berada di halaman. Sambil menyaksikan kedua pengawalnya berusaha mengalahkan Buntal, Pangeran itu berkata lantang, “Lumpuhkan anak iblis itu. Nampaknya ia mengira bahwa aku yang tua ini tidak mampu melibatkan diri ke dalam arena. Biarlah ia berdua dengan pengkhianat itu sekalipun, aku tidak gentar”

Buntal bertempur dengan sepenuh kemampuannya untuk langsung mengikat para pengawal itu agar mereka tidak mengejar Juwiring. Namun agaknya pengawal di istana itu bukan hanya kedua orang itu saja. Sejenak kemudian, dua orang lainnya telah datang berlari-lari.

“Tangkap pemberontak itu. Ia lari ke belakang” perintah Pangeran Sindurata.

Kedua pengawal itu pun segera memburu ke belakang. Mereka yakin akan dapat menemukannya. Kedua anak itu, atau salah seorang daripadanya tidak akan dapat lari meninggalkan halaman, karena pintu-pintu butulan tertutup. Dinding halaman cukup tinggi dan seorang pengawal telah menjaga regol di depan.

“Anak-anak dungu itu memang ingin mati” geram Pangeran Sindurata, “menyerahlah. Jika tidak, maka aku akan membunyikan isyarat. Prajurit Surakarta yang mendengarnya tentu akan segera datang untuk membantu kami”
Tetapi Buntal tidak menghiraukannya. Ia bertempur dengan tangkasnya. Sekali-sekali menyerang pengawal yang satu, kemudian segera menyerang pengawal yang lain. Sehingga dengan demikian, keduanya tetap terikat dalam perkelahian melawan Buntal.

Dalam pada itu, Juwiring pun segera lari ke belakang. Ia dapat memperkirakan letak bilik Raden Ayu Galihwarit itu. Dengan sedikit salah langkah, akhirnya ia pun mengetahui, bahwa bilik yang sedang terbuka pintunya, menghadap ke kebun di sebelah adalah bilik Raden Ayu Galihwarit, yang kebetulan sekali, sedang berada di serambi untuk melihat-melihat pertamanan.

Sebenarnyalah bahwa Raden Ayu Galihwarit juga mendengar suara ayahandanya berteriak-teriak. Tetap ia tidak jelas, apa yang dikatakannya. Bahkan Raden Ayu mengira, bahwa ayahandanya marah-marah seperti biasanya kepada hamba-hamba di istana itu. Hampir setiap hari Pangeran Sindurata marah-marah dan berteriak-teriak, sehingga karena itu, maka sama sekali tidak menimbulkan dugaan apapun juga pada puteri yang sedang mengalami kepahitan hidup itu.

Namun puteri itu terkejut ketika tiba-tiba saja seorang anak muda berlari ke arahnya. Apalagi ketika puteri itu melihat sebilah pisau belati kecil yang tiba-tiba saja sudah berada di depan dadanya.

“Marilah Raden Ayu” berkata Juwiring, “Jangan menolak. Masuklah ke dalam bilik”

Raden Ayu Galihwarit tiba-tiba menjadi sangat ketakutan. Karena itu, maka ia pun tidak dapat menolak. Perlahan dengan ujung belatinya Juwiring mendorong Raden Ayu itu masuk.

Demikian ia berada di pintu kedua pengawal yang mengejarnya pun sampai di muka bilik itu pula, Namun mereka pun tertegun ketika mereka melihat Juwiring telah mengacukan pisaunya ke dada Raden Ayu Galihwarit.

“Jangan berbuat sesuatu. Puteri ini menjadi taruhannya. Kembalilah kepada Pangeran Sindurata Dan hentikan perkelahian melawan adikku itu, agar puteri ini selamat”

Kedua orang pengawal itu termangu-mangu. Namun Juwiring membentaknya, “Cepat. Sebelum aku bertindak lebih jauh”
Salah seorang pengawal itu beringsut surut. Betapapun ia ragu-ragu, namun ia pun kemudian berlari kembali ke tempat Pangeran Sindurata yang tua menunggui perkelahian di halaman samping, di dalam seketeng.

Dengan tergesa-gesa dan nada tinggi, pengawal itu memberi tahukan apa yang dilihatnya. Ternyata Raden Ayu Galihwarit telah dipergunakan sebagai taruhan.

“Gila” geram Pangeran tua itu, “itu perbuatan gila”

“Terserah kepada Pangeran” gumam Buntal yang masih bertempur melawan dua orang pengawal.

Akhirnya Pangeran Sindurata memerintahkan kedua pengawalnya berhenti. Dengan tergesa-gesa ia pun kemudian pergi ke belakang, ke bilik Raden Ayu Galihwarit.

Di muka bilik itu, seorang pengawal masih berjaga-jaga. Namun ternyata bilik Raden Ayu Galihwarit itu sudah tertutup rapat-rapat.

“Gila, apa yang diperbuatnya?” geram Pangeran Sindurata.

“Raden Juwiring mengancam bahwa ia akan membunuh Raden Ayu, jika seseorang berani membuka pintu itu” jawab pengawal itu.

Pangeran Sindurata menjadi bingung. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sambil menghentak-hentakkan kakinya ia berjalan hilir mudik di depan bilik Raden Ayu. Namun tiba-tiba saja ia berteriak, “Juwiring. Apa sebenarnya yang kau kehendaki”

“Sebentar Pangeran” jawab Juwiring, “Hamba akan berbincang dengan Raden Ayu”

Pangeran Sindurata mengumpat Katanya, “Keluarlah. Kita berbicara di luar”

“Tidak Pangeran. Aku di sini. Dan aku mohon Pangeran tidak berbuat sesuatu yang dapat mencelakai Raden Ayu Galihwarit. Apalagi Pangeran memberitahukan kehadiranku di sini kepada prajurit Surakarta dengan cara apapun juga”

Pangeran Sindurata mengumpat-umpat pula. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Ketika terpandang olehnya Buntal yang berdiri termangu-mangu. maka ia pun menggeram. Seolah-olah ia ingin menerkam anak itu dan meremasnya menjadi debu. Tetapi ia tidak berani berbuat demikian, karena keselamatan anaknya yang berada di dalam bilik yang tertutup.

Sementara itu, di dalam bilik yang tertutup Raden Ayu Galihwarit gemetar ketakutan. Namun ia masih tetap menguasai kesadarannya. Keadaannya memang tidak memaksanya untuk mengenang peristiwa masa lampaunya karena justru ia sedang berhadapan dengan ancaman bagi dirinya sendiri. Dengan demikian Raden Ayu itu tidak segera dibayangi oleh gangguan syarafnya.

Dalam pada itu, ketika Juwiring melihat Raden Ayu Galihwarit yang ketakutan itu, telah timbul ibanya. Karena itu. maka kemudian katanya, “Silahkan duduk Raden Ayu”

Raden Ayu Galihwarit itu pun kemudian duduk di bibir pembaringannya. Namun tubuhnya masih saja gemetar ketakutan. Sementara itu Pangeran Sindurata juga mendengar suara di dalam bilik itu. Namun karena Juwiring tidak berbicara terlalu keras, maka yang berada di luar tidak begitu mengetahui, apa yang sedang mereka bicarakan itu.

Demikian Raden Ayu Galihwarit duduk di pembaringan, maka perlahan-lahan Juwiring pun beringsut mendekat. Kemudian ia pun duduk bersila di lantai di hadapan Raden Ayu Galihwarit yang menjadi heran melihat sikap itu.

“Ampun Raden Ayu” desis Juwiring, “mungkin sikapku mengejutkan Raden Ayu, atau bahkan membuat Raden Ayu ketakutan”

“Siapa kau?” bertanya Raden Ayu Galihwarit

Pangeran Sindurata melekatkan telinganya di pintu bilik itu. Dan ia pun ternyata menjadi agak tenang, karena ia mendengar kata-kata Juwiring, sehingga ia pun dapat membayangkan sikap anak muda itu. Meskipun demikian, Pangeran Sindurata masih harus berhati-hati dan tidak mengambil sikap yang dapat membuat Juwiring menjadi liar kembali.

Juwiring ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ampun Raden Ayu. Mungkin kedatanganku menemui Raden Ayu didorong oleh rasa tanggung jawabku sebagai saudara tua. Mungkin Raden Ayu sama sekali tidak senang melihat kehadiranku di sini. Bahkan memuakkan. Tetapi aku mohon Raden Ayu sempat mendengarkan ceriteraku sampai akhir sehingga Raden Ayu dapat mengambil sikap yang pasti”

Raden Ayu menjadi berdebar-debar. Lalu katanya, “Aku akan mencoba. Tetapi siapa kau dan kepentingan yang kau katakan itu sangat mendebarkan jantung”

“Raden Ayu” berkata Juwiring kemudian, “sebelumnya aku mohon maaf, bahwa aku telah mengambil satu sikap yang kasar. Mungkin namaku akan sangat mengejutkan Raden Ayu. Tetapi jika Raden Ayu sempat memperhatikan aku, maka Raden Ayu akan mengenal aku”

Raden Ayu itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan saksama ia memperhatikan anak muda yang duduk bersila dengan sikap yang mapan di hadapannya.

Namun tiba-tiba saja Raden Ayu itu terpekik kecil, “Juwiring. Kau Juwiring he?”

“Ya Raden Ayu. Tetapi perkenankanlah aku mengatakan alasanku, kenapa aku menghadap Raden Ayu dengan cara yang kasar ini” berkata Juwiring.

Raden Ayu itu beringsut menjauh. Kebencian mulai memancar di wajahnya. Namun ia masih selalu dibayangi oleh ketakutan. Anak itu tiba-tiba saja akan dapat menjadi kasar dan liar.

“Apa maksudmu memasuki bilikku sambil mengancam?” bertanya Raden Ayu.

“Perkenankanlah aku memberitahukan apa yang telah terjadi di luar dinding bilik Raden Ayu” berkata Juwiring.

“Cukup, cukup” terdengar suara Pangeran Sindurata di luar.

Tetapi Juwiring tidak menghiraukannya. Ia ingin mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya, sebelum Raden Ayu itu dijalari oleh gangguan syarafnya. Karena itu, maka katanya, “Ampun Raden Ayu. Kedatanganku, sekedar memberitahukan kepada Raden Ayu, bahwa Rara Warih telah ditangkap oleh prajurit Surakarta dari pasukan berkuda”

“Warih ditangkap?” suaranya menjadi gemetar seperti juga tubuhnya yang gemetar.

“Ya Raden Ayu. Sekarang Rara Warih ditahan oleh pasukan berkuda dan kumpeni. Sebaiknya Raden Ayu mendengarkan semua keteranganku. Dengan demikian Raden Ayu akan dapat mengambil kesimpulan. Aku mohon Raden Ayu untuk sesaat dapat mengesampingkan diri Raden Ayu sendiri. Jangan memikirkan sesuatu. Tetapi aku mohon Raden Ayu mendengarkan kata-kataku” berkata Juwiring kemudian.

Raden Ayu Galihwarit meraba keningnya. Kepalanya mulai menjadi pusing. Tetapi di luar sadarnya ia telah melakukan apa yang dikatakan oleh Juwiring. Dan ia berhasil menyingkirkan kenangan masa lampaunya, sehingga ia tidak segera diterkam oleh penyakitnya yang dapat kambuh setiap saat.

Juwiring pun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi di Surakarta. Pangeran Mangkubumi yang mengangkat senjata karena kebenciannya kepada kumpeni. Kemudian apa yang telah dilakukan oleh Pangeran Ranakusuma di saat terakhir. Pangeran Ranakusuma menjadi muak terhadap kekuasaan kumpeni di Surakarta. Dengan hati-hati Juwiring mencoba mengungkapkan sikap Pangeran Ranakusuma tanpa menyinggung perasaan Raden Ayu Galihwarit. Sementara itu, ia pun mulai membayang-kan sikap Rara Warih yang menyadari apa yang telah terjadi di Surakarta, sehingga akhirnya, Juwiring berkata, “Ampun Raden Ayu. Pada saat terakhir aku ingin mohon perlindungan Raden Ayu. Bukan atas diriku, tetapi atas Rara Warih, karena tidak ada lagi orang yang dapat melindunginya. Rara Warih sekarang sudah tidak berayah lagi. Dalam pertempuran melawan kumpeni dan prajurit Surakarta, Pangeran Ranakusuma telah gugur di peperangan, sampyuh dengan Tumenggung Sindura dan melukai Pangeran Yudakusuma. Aku dapat berbangga bahwa ternyata ayahanda Pangeran Ranakusuma pada saat terakhir telah menempatkan diri sebagai seorang kesatria Surakarta yang sebenarnya”

“Juwiring” suara Raden Ayu kian gemetar sehingga Juwiring terkejut karenanya, “ayahandamu telah gugur?”

Juwiring mengangkat wajahnya. Dipandanginya wajah Raden Ayu Galihwarit yang pucat. Kemudian Juwiring melihat bibir itu bergerak lemah, “Jadi ayahandamu telah gugur?”

Juwiring tanpa sesadarnya beringsut mendekat. Katanya, “Ya Raden Ayu. Tetapi ayahanda gugur sebagai seorang pahlawan Surakarta yang sudah bertekad untuk menyingkirkan kumpeni”

Raden Ayu Galihwarit masih mendengar kata-kata Juwiring itu. Nampak bibirnya mencoba tersenyum. Namun tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit itu rebah. Untunglah Juwiring cepat menangkapnya dan dengan bingung diletakkan tubuh itu di pembaringannya.

Ternyata bahwa Raden Ayu Galihwarit telah pingsan.

Juwiring benar-benar menjadi bingung. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, sehingga karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah bergegas membuka pintu sambil berkata dengan kata-kata yang bergetar, “Raden Ayu Galihwarit telah pingsan”

“He” Pangeran Sindurata pun terkejut. Kemudian ia pun mengumpat, “Kau, kaulah yang menyebabkannya pingsan. Panggil emban”

Juwiring tertegun. Ia tidak tahu emban yang manakah yang harus dipanggilnya. Namun ternyata bahwa salah seorang pengawal itu pun telah berlari memanggil emban yang terbiasa melayani Raden Ayu.

“Cepat. Kenapa kau bersembunyi saja he?” bentak Pangeran Sindurata.

“Hamba takut mendekat Pangeran” jawab emban itu.

“Cepat. Raden Ayu sedang pingsan”

Beberapa orang yang berada di tempat itu pun menjadi sibuk. Pangeran Sindurata telah berdiri di samping pembaringan Raden Ayu Galihwarit, sementara embannya berusaha memijit-mijit keningnya.

“Ambil air” desis Pangeran Sindurata.

Emban itu pun kemudian berlari ke belakang. Seorang emban tua telah memberitahukan kepadanya agar ia membawa jeruk pecel dan enjet putih.

“Berambang dan minyak kelapa” desis yang lain.

Dengan demikian, maka yang kemudian memasuki bilik itu bukannya hanya emban yang membawa minuman saja, tetapi juga seorang kawannya yang membawa berambang, minyak kelapa, jeruk pecel dan enjet.

Dengan berambang dan minyak kelapa emban itu menggosok kaki Raden Ayu yang menjadi sangat dingin, sementara yang Lain berusaha menggosok bagian tangannya dengan jeruk enjet sambil memijit-mijitnya.

Pangeran Sindurata telah menitikkan minum di bibir Raden Ayu yang pingsan itu. Setitik demi setitik. Sementara Juwiring yang kebingungan bagaikan membeku di bawah pembaringan.

Sementara orang-orang yang berada di dalam bilik itu menjadi sibuk, maka pengawal yang berada di depan pintu berdesis kepada Buntal, “Jangan berbuat sesuatu yang akan dapat mencelakaimu”

Buntal memandang pengawal itu sejenak. Namun ia tidak menghiraukannya lagi. Perhatiannya tertuju kepada kesibukan di dalam bilik Raden Ayu Galihwarit itu.

Sementara itu, usaha untuk menolong Raden Ayu itu masih dilakukan. Emban yang berada di dalam bilik itu masih memijit-mijitnya dan mengusap minyak tanah dengan berambang pada kakinya.

Ternyata titik-titik air di bibir Raden Ayu itu membuatnya menjadi segar, sementara berambang dan minyak kelapa serta jeruk pecel dan enjet itu pun membuat tubuhnya menjadi hangat, sehingga perlahan-lahan Raden Ayu itu pun menjadi sadar. Yang bergerak pertama-tama adalah kelopak matanya. Ketika mata itu terbuka, maka terdengar ia merintih.

Namun dalam pada itu, Pangeran Sindurata telah dihinggapi oleh kecemasan baru. Jika Raden Ayu itu kemudian sadar, maka kemungkinan lain akan terjadi. Mungkin ia justru telah kehilangan kesadarannya sama sekali dalam bentuk yang lain. Gangguan syarafnya akan bertambah parah dan bahkan mungkin ia tidak akan pernah menemukan kesadarannya kembali barang sesaat pun.

Kecemasan itu telah membuat perasaan Pangeran Sindurata bagaikan tersayat. Puterinya yang mengalami nasib sangat buruk itu akan semakin menjadi parah. Selebihnya ia akan menjadi beban yang bertambah berat.

Karena itu, ketika kemudian Raden Ayu itu mulai bergerak, Pangeran Sindurata telah bergeser surut. Dipandanginya puterinya yang telah membuka matanya dan mulai memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

“Apa yang telah terjadi?” tiba-tiba saja puteri itu berdesis.

Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya. Kepalanya terasa semakin bertambah pening. Bahkan tengkuknya rasa-rasanya bagaikan ditekan dengan batu.

“Apa yang telah terjadi?” sekali lagi Raden Ayu itu bertanya.

Emban yang terbiasa melayaninya pun beringsut maju sambil berbisik, “Tidak ada apa-apa Raden Ayu. Tidak ada apa-apa. Jika Raden Ayu ingin tidur, sebaiknya Raden Ayu beristirahat dan tidur barang sejenak”

Raden Ayu itu mengerutkan keningnya. Emban itu pun terbiasa, jika gangguan syaraf itu datang, dan pada suatu saat kemudian Raden Ayu itu tidur oleh kelelahan, biasanya jika ia terbangun, gangguan itu sudah jauh berkurang.

Namun Raden Ayu itu pun kemudian justru berusaha untuk bangkit. Emban yang duduk bersimpuh di sisi pembaringan itu pun berdesis, “Sebaiknya Raden Ayu tidur sajalah barang sejenak”

Tetapi Raden Ayu itu telah duduk di bibir pembaringan. Sejenak ia memperhatikan seisi biliknya. Ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Perlahan-lahan ia pun mulai dapat mengumpulkan ingatannya. Ketika ia melihat Juwiring berdiri termangu-mangu, maka lengkaplah ingatannya tentang dirinya dan tentang apa yang telah terjadi sebelumnya.

Sekali lagi hatinya merasa berdesir ketika ia teringat dengan gamblang apa yang dikatakan oleh Juwiring. Pangeran Ranakusuma, suaminya, telah gugur di peperangan melawan kumpeni dan prajurit Surakarta. Bahkan telah sampyuh dengan Tumenggung Widura dan melukai Pangeran Yudakusuma.

Tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit itu menangis. Terdengar isaknya disela-sela kata-katanya, “Kakanda Ranakusuma gugur pada saat ia menyimpan dendam. Aku adalah sumber dari segalanya”

Pangeran Sindurata menjadi berdebar-debar. Kepalanya terasa bertambah pening. Katanya kepada emban yang terbiasa melayani Raden Ayu Galihwarit, “Ia sudah mulai menangis. Ia akan mengingat segalanya dan gangguan itu akan segera datang” Pangeran Sindurata berhenti sejenak, lalu katanya kepada Juwiring, “Keluar dari bilik ini. Kaulah yang menyebabkannya. Karena itu, kau harus ditangkap dengan kesalahan ganda”

Juwiring seolah-olah menjadi sadar. Tetapi ia terlambat. Ia berdiri tidak terlalu dekat dengan Raden Ayu Galihwarit, sehingga ia tidak akan dapat segera meloncat dan mengancamnya. Pangeran Sindurata yang meskipun sudah tua, tetapi ia akan mencegahnya dan barangkali ia masih dapat berbuat sesuatu sambil berteriak memanggil para pengawal.

“Cepat” teriak Pangeran Sindurata Ia menjadi tergesa-gesa. Juwiring harus keluar sebelum Raden Ayu Galihwarit itu mengigau seperti biasanya, sambil menyebut nama-nama orang-orang asing yang pernah berhubungan dengannya.

Namun dalam pada itu. Pangeran Sindurata itu terkejut. Ternyata Raden Ayu Galihwarit yang menangis itu tidak mengigau seperti biasanya. Bahkan dengan suara utuh ia berkata, “Ayahanda, biarlah Juwiring berada di sini”

Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya. Dipandanginya Raden Ayu Galihwarit yang sudah tidak menangis lagi. Sambil mengusap matanya yang basah ia berkata, “Akan berbicara panjang dengan anakku”

“Anakmu yang mana?” bertanya Pangeran Sindurata.

“Juwiring. Ia adalah anakku seperti juga Warih” suara Raden Ayu itu menjadi lembut.

Pangeran Sindurata terkejut. Ketika ia menatap mata Raden Ayu Galihwarit, terasa sesuatu yang lain dari yang biasa dilihatnya. Mata itu menjadi suram, tetapi tidak menjadi liar seperti pada saat-saat sebelumnya dalam keadaan yang serupa.

“Galihwarit” desis Pangeran Sindurata, “Apakah kau menyadari apa yang kau katakan?”

“Aku sadar sepenuhnya ayahanda” jawab Galihwarit, “mungkin ayahanda heran, bahwa pada saat-saat seperti ini aku tidak jatuh ke dalam wajah gelapku. Aku sendiri juga heran, bahwa aku tidak lagi terperosok ke dalam satu pusaran waktu yang membuatku menjadi gila”

Pangeran Sindurata setapak melangkah maju dengan ragu-ragu. Sementara itu Raden Ayu Galihwarit berkata, “Kemarilah ngger. Kemarilah. Anggaplah aku sebagai ibumu. Aku tahu, sebelumnya memang ada jarak di antara kita. Tetapi pada saat terakhir, aku menyadari, bahwa akulah yang telah membuat jarak itu di antara kita, di antara kau dan adikmu Warih dan di antara kita sekeluarga”

“Apa maksudmu Galihwarit?” bertanya Pangeran Sindurata.

“Aku sudah mendengar segala keterangan Juwiring, Aku sudah mendengar permohonannya, agar kita, maksudnya aku dan ayahanda, berusaha menolong Warih, tanpa menyerahkan Juwiring, karena menyerahkan Juwiring dengan cara apapun juga, tidak akan menjamin bahwa Warih akan benar-benar dilepaskan” berkata Raden Ayu Sontrang dengan nada mantap dan kalimat yang utuh.

Pangeran Sindurata termangu-mangu sejenak. Ternyata anaknya berada dalam keadaan yang berbeda.

“Ayahanda” berkata Raden Ayu Galihwarit, “Aku telah diguncang oleh keterkejutanku seperti saat aku melihat Rudira terbujur di pembaringan. Agaknya justru karena itu, aku mendapatkan kembali kesadaranku sepenuhnya. Rasa-rasanya aku sekarang mampu berpikir bening. Aku mengerti, selama ini aku diganggu oleh kelainan syaraf yang tidak dapat aku atasi, sehingga pada saat-saat tertentu aku lupa segala-galanya. Namun sekarang aku sadar sepenuhnya apa yang aku hadapi Mudah-mudahan Tuhan memaafkan aku dan memberikan kesembuhan kepadaku”

“Galihwarit” desis Pangeran Sindurata sambil melangkah maju, “nampaknya kau memang lain. Goncangan perasaanmu agaknya telah membuat kau terlempar kepada keadaanmu yang sebenarnya, kepada duniamu sendiri”

“Tuhan Maha Besar ayahanda” desis Raden Ayu Galihwarit sambil mengusap titik air di pelupuknya, “karena itu, biarlah anakku dekat kepadaku”

Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Raden Ayu Galihwarit berkata, “Kemarilah Juwiring”

“Ampun Raden Ayu” sahut Juwiring sambil berjongkok di dekat pembaringan Raden Ayu Galihwarit yang duduk termangu-mangu.

“Jangan panggil aku Raden Ayu. Aku adalah ibumu ngger. Panggil aku seperti Warih memanggil aku” desis Raden Ayu Galihwarit.

Wajah Juwiring pun menunduk dalam-dalam. Sementara itu Raden Ayu berkata, “Aku mohon ayahanda mengerti perasaanku. Ijinkan aku berbicara dengan Juwiring tentang Warih”

“Lalu, apakah yang harus aku kerjakan?” bertanya Pangeran Sindurata.

“Tidak apa-apa ayahanda. Tetapi jika ayahanda ingin ikut berbicara bersama kami, aku persilahkan ayah tetap berada di bilik ini”

Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam sementara Juwiring berkata, “Hamba tidak seorang diri Raden Ayu”

“Panggil aku sebagaimana kau memanggil ibumu” desis Raden Ayu Galihwarit.

Juwiring beringsut setapak. Ketika ia memandang Pangeran Sindurata, nampak keheranan masih membayang di wajah Pangeran tua itu. Sementara Raden Ayu Galihwarit berkata selanjutnya, “Apakah kau membawa kawan?”

“Ya ibunda” meskipun agak canggung, tetapi Juwiring menyebutnya juga seperti dikehendaki oleh Raden Ayu Galihwarit.

“Bawa kawanmu itu masuk. Eyangmu tentu akan mengijinkannya” berkata Raden Ayu itu lebih lanjut.

Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak membantah. Meskipun ada juga sentuhan yang pahit di hatinya karena anak yang dianggapnya sudah terbuang itu harus menyebutnya seperti cucunya sendiri.

Ketika Juwiring masih nampak ragu-ragu, maka Raden Ayu Galihwarit itu mendesaknya, “Ajaklah kemari. Jika di luar ada satu dua orang pengawal, biarlah eyangmu memberitahukan kepada mereka”

Juwiring pun kemudian beringsut surut dan melangkah keluar. Dilihatnya para pengawal masih tetap bersiaga mengawasi Buntal yang berdiri tegak. Namun sejenak kemudian Pangeran Sindurata pun telah berdiri di pintu sambil berkata, “Biarkan mereka”

Para pengawal itu termangu-mangu sejenak. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa ketika Juwiring kemudian membawa Buntal masuk ke dalam bilik itu.

Ketika semuanya sudah duduk, Raden Ayu Galihwarit pun berkata kepada Juwiring, “Aku sudah mendengar keteranganmu tentang Warih, ngger. Tetapi jelaskan, bagaimana rencanamu seutuhnya”

Juwiring pun sekali lagi menjelaskan, apa yang telah terjadi atas Rara Warih. Lalu katanya, “Jika aku menghadap ibunda, sebenarnyalah maksud kami, orang-orang padepokan Jati Aking, mohon agar ibunda dapat menempuh cara lain untuk membebas-kannya. Memang cara yang paling pendek adalah menangkap aku dan menyerahkan aku kepada para prajurit dari pasukan berkuda. Tetapi apakah hal itu sudah dapat dijadikan jaminan bahwa Warih akan dapat dilepaskan. Memang tidak ada satu kepastian pendapat tentang sikap para prajurit dari pasukan berkuda. Namun jika ibunda mengetahui sikap Rara Warih sendiri, maka ibunda akan dapat membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi atas diajeng Rara Warih itu”

“Aku memang ingin mengetahui sikap Warih itu sendiri” desis Raden Ayu.

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Pangeran Sindurata.

“Menemui Warih” jawab Raden Ayu,

“Tetapi, tetapi ….” kata-kata itu terputus.

Sementara Raden Ayu menarik nafas sambil berdesis, “Aku merasa lain ayahanda. Mungkin ayahanda menjadi cemas, bahwa aku akan kehilangan kesadaran di hadapan banyak orang. Tetapi rasa-rasanya pikiranku menjadi bening. Dan rasa-rasanya aku sudah dapat melepaskan segala penyesalan dan kekecewaan, justru pada saat aku yakin, bahwa segala kesalahan harus ditimpakan kepadaku, sehingga kakanda Ranakusuma mengambil satu sikap yang sama sekali tidak aku duga”

Pangeran Sindurata tidak menyahut. Tetapi kepalanya benar-benar bagaikan dihimpit Gunung Lawu.

“Ayahanda” berkata Raden Ayu kemudian, “nampaknya segalanya memang harus terjadi. Dan segalanya harus aku terima dengan ikhlas. Keikhlasan itulah agaknya sumber pengampunan atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan. Tuhan memang Maha Besar”

“Biarlah aku saja yang menemui Warih” tiba-tiba saja Pangeran Sindurata itu menggeram.

“Aku akan menemuinya sendiri ayahanda. Adalah kewajiban-ku untuk berusaha membebaskan anakku tanpa mengorbankan anakku yang lain. Aku akan mencari jalan pembebasan Warih tanpa menjerumuskan Juwiring ke dalam tangan prajurit Surakarta dan apalagi kepada kumpeni” jawab Raden Ayu Galihwarit, “karena itu, biarlah Juwiring kembali ke induk pasukannya dalam lingkungan Pangeran Mangkubumi. Akulah yang akan berbuat apa saja untuk pembebasan Warih”

Pangeran Sindurata tidak mau berpikir lagi. Kepalanya benar-benar sudah tidak dapat dipergunakan lagi, sehingga ia pun berkata, “Terserah kepada kalian. Aku akan tidur”

“Silahkan ayahanda beristirahat” berkata Raden Ayu Galihwarit.

Pangeran Sindurata itu pun kemudian melangkah keluar dari bilik Raden Ayu Galihwarit. Namun di depan pintu ia berhenti sejenak. Katanya, “Aku akan membeli kepodang putih itu. Tetapi aku tidak memerlukan seekor kutilang, karena aku sudah mempunyai beberapa ekor”

“Ya, ya Pangeran” sahut Juwiring dengan serta merta.

Sepeninggal Pangeran Sindurata, Raden Ayu Galihwarit sempat bertanya kepada Buntal, “Apakah kau juga dari pasukan Pangeran Mangkubumi?”

“Ya Raden Ayu. Kami berdua berasal dari satu kelompok di dalam pasukan Pangeran Mangkubumi” jawab Buntal.

“Ia adalah adik seperguruanku ibunda dan oleh guru, kami berdua telah diangkat menjadi anak angkatnya dan dengan demikian kami berdua selain saudara seperguruan juga saudara angkat” Juwiring menjelaskan.

“Bagus. Karena Juwiring adalah anakku, maka kau pun anakku pula” desis Raden Ayu.

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya memang ada sesuatu kejutan yang telah merubah segala-galanya di dalam hati Raden Ayu Galihwarit. Kejutan itu bukan saja telah menumbuhkan perubahan jiwani, sehingga ia justru telah tidak lagi dihinggapi oleh gangguan kesadaran, namun sifat dan wataknya pun telah bergeser pula.

Dalam pada itu, maka emban di Sinduratan itu pun telah diperintahkan oleh Raden Ayu Galihwarit untuk menjamu kedua anak muda itu. Raden Ayu itu nampaknya benar-benar telah sembuh dan menganggap kedua anak muda itu benar-benar dengan perubahan pandangan dari sifat dan watak yang berubah pula.

Baru kemudian, Raden Ayu itu berkata, “Juwiring, jika kau ingin kembali, kembalilah. Berhati-hatilah, karena banyak kemungkinan dapat terjadi. Serahkan adikmu kepadaku. Pada saat tertentu kau dapat datang untuk menengok, apakah aku sudah berhasil atau belum”

“Dua hari lagi, kami akan datang lagi ibunda” jawab Juwiring.

“Baiklah. Tetapi jangan terlalu sering. Kau adalah buruan yang penting bagi kumpeni. Karena itu, kau harus dapat menjaga diri” pesan Raden Ayu itu pula, “Aku akan berusaha meyakinkan ayahanda, bahwa para hamba di istana Sinduratan ini tidak akan berkhianat kepadamu. Meskipun aku belum melihat keadaan sejak aku dikurung di rumah ini, tetapi aku sudah dapat membayangkan lewat keteranganmu dan pengenalanku sebelumnya atas kumpeni dan sikap beberapa orang Surakarta sendiri”

“Terima kasih atas segala keputusan yang sudah ibunda ambil. Ternyata aku mendapat jauh lebih banyak dari yang aku harapkan” berkata Juwiring kemudian, “karena itu, perkenankan aku mohon diri”

“Hati-hatilah” pesan ibundanya, “tetapi percayalah bahwa penghuni istana ini masih dapat aku yakini kesetiaannya”

Demikianlah Juwiring dan Buntal kemudian mohon diri. Tetapi mereka tidak sempat mohon diri kepada Pangeran Sindurata yang sudah berbaring di dalam biliknya karena kepalanya yang pening. Tetapi Juwiring masih sempat menyerahkan burung kepodang putih kepada seorang hamba.

Namun dalam pada itu, para pengawal yang sudah siap menangkap kedua anak muda itu memandangi saja dari kejauhan. Mereka sama sekali tidak menyapa mereka, karena para pengawal itu masih belum tahu pasti apa yang telah terjadi. Tetapi bahwa Pangeran Sindurata telah memerintahkan agar kedua anak itu dibiarkan saja, telah menimbulkan teka-teki pula di hati mereka.

Tetapi seperti yang dikatakan oleh Raden Ayu Galihwarit, maka ia pun segera mohon kepada ayahandanya untuk memberikan penjelasan tentang Juwiring meskipun tidak seluruhnya.

“Kepalaku sedang pening” desis Pangeran Sindurata.

“Sebentar saja ayahanda” minta Raden Ayu Galihwarit, “dalam waktu dekat, segalanya dapat terjadi. Jika para abdi di istana ini tidak segera diberitahu apa yang sebenarnya telah terjadi, mereka akan mengambil sikap sendiri”

“Apa peduliku” geram Pangeran Sindurata. Raden Ayu Galihwarit pun kemudian duduk dipembaringan ayahandanya sambil berkata, “Aku mohon ayahanda. Jika terjadi sesuatu atas anak itu, yang tanpa aku sadari telah berhasil mengisi kekosongan hatiku setelah aku kehilangan Rudira, maka aku akan merasa sekali lagi kehilangan. Aku tidak tahu, apakah aku masih akan mampu bertahan oleh kepahitan yang demikian”

Pangeran Sindurata mengumpat di dalam hatinya. Namun ia memaksa diri untuk bangkit dan melangkah keluar. Dipanggilnya semua hambanya tanpa ada seorang pun yang ketinggalan.

“Beritahukan kepada mereka” berkata. Pangeran Sindurata kepada Raden Ayu Galihwarit.

Raden Ayu itu pun kemudian menjelaskan persoalannya, meskipun tidak seperti keadaan seutuhnya.

“Aku minta kalian ikut menjaga, agar tidak seorang pun mengetahui bahwa Juwiring pernah datang ke istana ini” berkata Raden Ayu Galihwarit. “Ia telah berhasil mendapatkan obat yang sangat mujarab bagiku, apapun yang telah dilakukan dan dengan cara yang bagaimanapun. Aku memang memerlukannya. Jika kalian berbelas kasihan kepadaku, maka kalian akan membantu aku”

“Tetapi anak itu menjadi buruan kumpeni” salah seorang pengawal berdesis.

“Kau benar. Tetapi manakah yang lebih berarti bagiku, bagi kalian yang sudah lama hidup bersama di dalam rumah ini. Kumpeni atau kesembuhanku seperti yang kau lihat sekarang. Aku sekarang sadar, sesadar-sadarnya siapakah aku ini” berkata Raden Ayu, “persoalannya dengan kumpeni bukan persoalan kita. Dan aku masih percaya kepada kalian, bahwa kalian tidak ingin melihat aku menjadi semakin parah. Aku mengerti, pada saat-saat tertentu aku lupa segala-galanya Meskipun aku tidak tabu apa yang aku lakukan pada saat-saat yang demikian, tetapi tentu tingkah laku yang sangat memalukan”

Para hamba dan pelayan yang mendengarkan keterangan itu mengangguk-angguk. Terlebih-lebih emban yang tahu benar, apa yang terjadi di saat-saat Raden Ayu itu mengalami gangguan syaraf.

Namun dalam pada itu, Pangeran Sindurata pun telah memperkuat permintaan Raden Ayu itu dengan caranya, “Jangan mencoba melanggar. Aku pun sebenarnya tidak senang melihat anak itu. Tetapi aku pun tidak senang melihat Galihwarit selalu diganggu oleh keadaan yang tidak wajar itu. Karena itu dengarlah permintaannya. Karena jika ada yang melanggar permintaan itu, lambat atau cepat, tentu akan aku ketahui pula. Terhadap orang yang demikian, aku akan dapat mengambil sikap yang kasar”

Para hamba, pengawal dan pelayan di istana itu mengangguk-angguk kecil. Mereka sudah mengenal Pangeran Sindurata dengan baik. Namun mereka pun tidak mengabaikan ancaman itu, bahwa mungkin sekali Pangeran itu memang akan berbuat demikian.

Dalam pada itu. Raden Ayu itu pun masih menambah keterangannya, “Aku minta, tidak seorang pun di luar lingkungan kita boleh mengetahui, meskipun itu adikku sendiri”

Sekali lagi mereka yang mendapat pesan itu mengangguk-angguk.

“Nah, kalian boleh kembali ke pekerjaan kalian masing-masing” berkata Raden Ayu itu pula, “doakan agar aku benar-benar dapat sembuh. Tuhan nampaknya sudah memaafkan semua kesalahanku, dan hukuman yang aku jalani sudah cukup. Mudah-mudahan tidak seorang pun di antara kalian yang ingin membuat hukuman-hukuman baru bagiku”

Para hamba, pengawal dan pelayan itu pun kemudian kembali ke tugas mereka masing-masing. Betapapun juga para pengawal merasa heran, namun mereka merasa perlu untuk memenuhi permintaan itu. Kecuali mereka memang merasa abdi dari Sinduratan, mereka pun merasa iba jika Raden Ayu yang sudah nampak berangsur sembuh itu akan mengalami gangguan jiwa kembali.

Sementara itu, Juwiring dan Buntal dengan hati-hati menelusuri jalan kota. Seperti saat ia memasuki kota Surakarta, maka ketika keduanya menuju ke gerbang untuk keluar, mereka pun memilih jalan sebagaimana di tunjukkan oleh para petugas sandi.

Sambil menjinjing seekor burung di dalam sangkar, Buntal berjalan di sebelah Raden Juwiring yang selalu menunduk. Meskipun ia mengenakan pakaian yang lusuh dan memakai tudung kepala, namun ternyata ada juga orang yang dapat mengenalnya.

Karena itu, maka Raden Juwiring itu selalu berusaha untuk menyembunyikan wajahnya.

Namun demikian, keduanya terkejut ketika seorang yang duduk tepekur di bawah sebatang pohon yang rindang di tikungan menyapanya meskipun perlahan-lahan, “Apakah kalian sedang menjajakan burung itu?”

Kedua anak muda itu terkejut. Namun mereka menjadi tegang ketika orang itu berdesis, “Kemarilah Raden Juwiring”

Raden Juwiring menarik nafas dalami. Buntal pun kemudian tersenyum ketika keduanya melihat bahwa orang itu adalah seorang dari petugas sandi yang selalu mengamatinya.

Juwiring dan Buntal pun kemudian mendekat. Mereka duduk di bawah sebatang pohon, sementara burung kutilang di dalam sangkar itu diletakkan di antara mereka bertiga, seolah-olah mereka sedang membicarakan burung di dalam sangkar itu.

“Aku menjadi cemas” berkata orang itu, “apakah kau mengalami kesulitan?”

“Hampir” jawab Juwiring, “tetapi segalanya sudah dapat di atasi, justru di luar dugaan”

Dengan singkat Juwiring menceriterakan apa yang telah dialami di istana Sinduratan. Ia pun mengatakan, bahwa Raden Ayu Galihwarit telah bersedia berusaha membebaskan Warih tanpa menjebak Juwiring.

“Tetapi-usaha itu adalah satu usaha yang sulit Meskipun demikian, mudah-mudahan Raden Ayu berhasil” jawab orang itu.

“Ibunda Galihwarit nampaknya telah terlempar ke dalam dunia yang lain. Nampaknya peristiwa yang telah terjadi di peperangan itu telah mengejutkannya, sehingga terjadi sesuatu di dalam dirinya” jawab Juwiring, “justru karena itu, aku percaya kepada usaha ibunda Galihwarit”

“Syukurlah” berkata orang itu, “kemudian silahkan melanjut-kan perjalanan. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu di sepanjang jalan. Kami akan selalu mengamati perjalanan kalian.

“Dimana kawanmu yang seorang” bertanya Raden Juwiring.

Orang itu tersenyum sambil memandang ke satu arah. Ternyata beberapa puluh langkah, di tikungan, seorang laki-laki duduk di hadapan seorang penjual jamu di pinggir jalan.

Juwiring dan Buntal tersenyum. Sambil bangkit berdiri Buntal berkata, “Mudah-mudahan ia selalu sehat”

Orang itu pun tersenyum pula. Jawabnya, “Kau pandai juga berkicau seperti burung kutilang itu”

Kedua anak muda itu tidak menjawab meskipun keduanya tertawa. Merekapun kemudian melanjutkan perjalanan keluar kota Surakarta kembali ke pondok mereka di Gebang. Namun mereka memang harus berhati-hati karena tidak mustahil bahwa petugas sandi dari Surakarta dan kumpeni pun berkeliaran juga di sepanjang jalan.

Dalam pada itu, di istana Sinduratan, Raden Ayu Galihwarit telah menyusun rencana untuk berusaha membebaskan anak gadisnya. Meskipun ia masih belum yakin bahwa hal itu akan dapat dilakukan. Namun ia berharap, bahwa ia masih akan mendapat kesempatan.

Di hari berikutnya, ketika Juwiring dan Buntal yang sudah berada di pondoknya masih saja dibayangi oleh kegelisahan, maka Raden Ayu Galihwarit sejak pagi-pagi telah bersiap. Raden Ayu yang nampak agak kurus dan pucat itu telah berhias sebaik-baiknya seperti yang selalu dilakukannya pada saat ia masih berada di istana Ranakusuman.

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Pangeran Sindurata.

“Aku akan pergi menengok Warih, ayahanda” jawab Raden Ayu Galihwarit.

“Jangan kau. Biarlah aku saja yang pergi” berkata Pangeran Sindurata.

“Tidak ayahanda, akulah yang akan menjumpai Warih” desis Raden Ayu Galihwarit, “mungkin aku akan mendapat kesempatan lebih banyak dari ayahanda. Justru karena aku seorang perempuan yang kebetulan adalah ibunya”

“Tetapi kau masih nampak kurus dan pucat” sahut ayahandanya.

Jawab Raden Ayu Galihwarit sangat mengejutkan ayahandanya, “Tetapi aku justru kelihatan lebih muda dan cantik ayah”

“Galihwarit?” desis ayahandanya.

Raden Ayu Galihwarit tersenyum. Katanya, “Jangan hiraukan aku ayahanda. Aku ingin membebaskan Warih tanpa mengorbankan anakku laki-laki. Itu saja. Mungkin aku harus mempergunakan cara yang paling aku kuasai”

“Tetapi..” wajah Pangeran Sindurata menjadi tegang.

“Jangan cemas ayahanda. Aku sudah mengalami satu masa yang sangat pahit dalam hidupku. Mudah-mudahan aku sudah benar-benar sembuh. Aku sudah mencoba untuk mengenang segalanya. Sejak aku menjadi isteri Kamas Pangeran Rana-kusuma sampai saat anakku Rudira terbunuh. Ternyata aku tidak lagi terlempar pada satu keadaan yang tidak aku kuasai secara jiwani. Agaknya aku sudah mampu meletakkan persoalan hidupku pada tempat yang seharusnya di dalam hatiku” jawab Raden Ayu Galihwarit, “karena itu, meskipun tubuhku masih belum pulih, namun jiwaku sudah tenang dan aku akan dapat merencanakan segalanya dengan pikiran yang bening. Jika aku berada di jalan yang suram, itu memang sudah aku sengaja, bukan karena kegilaanku”

“O” desis Pangeran Sindurata, “Kau akan membuat dosa-dosa baru?”

“Tidak ayahanda. Justru aku akan menebus dosa-dosaku” jawab Raden Ayu Galihwarit, “Aku mohon ayahanda dapat mengerti”

Pangeran Sindurata itu memegangi keningnya. Kepalanya mulai menjadi pening.

“Sudahlah ayahanda” berkata Raden Ayu Galihwarit

“Sebaiknya ayahanda tidak usah memikirkan aku lagi. Aku sudah tua. Agaknya aku sudah seharusnya dapat memilih, manakah yang baik aku lakukan, dan yang manakah yang tidak”

“Kau tidak tahu manakah yang baik dan manakah yang buruk” geram ayahandanya.

Wajah Raden Ayu Galihwarit berkerut. Terasa jantungnya bergejolak. Namun ia tidak dapat membantah, bahwa beberapa saat yang lampau ia sudah kehilangan kiblat sehingga ia tidak tahu lagi mana yang baik dan mana yang tidak.

Tanpa menyangkal, Raden Ayu itu kemudian berkata, “Ayahanda. Sekarang aku akan mencoba melakukan sesuatu yang baik. Maksudku baik buat anakku, meskipun belum tentu baik menurut ukuran orang lain terhadap aku”

“O” Pangeran Sindurata memegangi kepalanya yang terasa semakin sakit. Tetapi Raden Ayu itu masih saja tersenyum, “Ayahanda, apapun yang akan aku lakukan, aku harap bahwa aku akan dapat membebaskan Rara Warih”

Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah ia ingin menelan segala kepahitan yang dituangkan ke dalam mulutnya.

Namun demikian, Pangeran Sindurata tidak dapat mencegahnya. Raden Ayu Galihwarit bukan seorang gadis remaja lagi. Ia adalah seorang perempuan yang telah masak, yang meskipun baru saja sembuh dari penyakitnya yang aneh, namun agaknya ia telah benar-benar melakukan segalanya dengan penuh kesadaran.

Raden Ayu Galihwarit itu pun kemudian berkemas. Dari embannya ia mengetahui apakah yang telah dilakukan jika ia sedang dicengkam oleh gangguan jiwani. Emban itu semula tidak berani mengatakannya, tetapi karena Raden Ayu itu memaksanya dan berjanji untuk tidak marah, maka akhirnya emban itu pun mengatakannya.

“Terima kasih emban” berkata Raden Ayu itu, “aku sudah dapat mengetahui apakah yang aku lakukan. Memang memalukan. Tetapi aku tidak dapat malu terhadapmu, karena sebenarnyalah kau memang mengetahui dengan pasti, apakah yang telah aku lakukan dalam keadaan yang demikian. Bahkan pada saat-saat aku tidak ingat lagi tentang apapun juga”

Dengan bekal pengertiannya terhadap dirinya sendiri, maka Raden Ayu Galihwarit telah bersiap untuk pergi ke istana Ranakusuman. Dengan kereta Pangeran Sindurata. maka sejenak kemudian Raden Ayu yang nampak agak kekurus-kurusan dan pucat itu meninggalkan pintu gerbang, di dalam sebuah kereta yang ditarik dengan dua ekor kuda.

Kereta itu memang tidak sebagus kereta Pangeran Ranakusuma, tetapi kereta itu cukup memadai. Sebagaimana kereta seorang Pangeran.

Setelah untuk waktu yang cukup lama Raden Ayu tidak keluar dari halaman istananya, maka rasa-rasanya ia melihat sesuatu yang asing. Namun lambat laun ia pun segera mengenalinya kembali, jalan-jalan dan rumah-rumah yang berada di pinggir jalan. Tetapi rasa-rasanya kota Surakarta menjadi bertambah sepi.

Tetapi Raden Ayu Galihwarit pun mengerti, bahwa keadaan menjadi semakin gawat. Meskipun pertempuran yang telah terjadi berada di luar kota Surakarta, namun orang-orang di dalam kota itu pun tentu sudah mendengarnya pula. sehingga mereka menjadi cemas.

Namun dalam pada itu, ternyata kereta yang berisi hanya seorang puteri itu pun telah menarik perhatian. Ketika dua orang perwira, dari pasukan berkuda diikuti oleh beberapa prajurit yang sedang nganglang melihatnya, maka keduanya pun terkejut. Mula-mula mereka tercengang melihat seorang puteri yang sangat cantik duduk sendiri di dalam sebuah kereta. Namun kemudian seolah-olah mereka telah pernah mengenal wajah yang sangat cantik itu.

“He, bukankah yang berada di dalam kereta itu Raden Ayu Ranakusuma?” bertanya yang seorang.

“Ya. Seolah-olah aku memang melihat Raden Ayu Sontrang. Tetapi apakah bukan Rara Warih?” desis yang lain.

“Tidak. Bukankah Rara Warih ada di dalam tahanan?” sahut kawannya.

“Tetapi Raden Ayu Ranakusuma sedang sakit” jawab yang lain.

“Apakah seseorang yang sedang sakit itu tidak akan pernah sembuh? Meskipun sakit Raden Ayu menurut pendengaran kami adalah sakit yang aneh, namun pada suatu saat, mungkin ia menjadi sembuh pula”

Tiba-tiba saja para prajurit yang sedang nganglang itu ingin melihat, siapakah yang berada di dalam kereta itu, sehingga perwira yang masih muda itu memutuskan untuk memutar arah dan mengikuti kereta itu dari kejauhan.

Sebenarnyalah kereta itu memang menuju ke istana Ranakusuman yang sudah dipergunakan oleh pasukan berkuda. Bahkan Tumenggung Watang yang untuk sementara memegang pimpinan pasukan berkuda telah berada dan tinggal di istana itu pula, meskipun hanya di gandok saja.

“Tentu Raden Ayu Sontrang” desis perwira muda itu, “ia nampak lebih muda, lebih kuning dan lebih cantik”

“Ya” jawab kawannya, “mungkin justru karena ia sedang sakit, ia menjadi kurus dan kuning karena tidak pernah keluar dari biliknya”

“Tetapi menjadi bertambah cantik” sahut perwira muda itu.

Bersambung ke jilid 22

 

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/

Ebook oleh : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog http://serialshmintardja.wordpress.com

oleh Ki Arema

BUNGA DI BATU KARANG

Lusa, 21 Mei 2014 wedaran terakhir Mata Air di Bayangan Bukit.

Sudah kami siapkan karya Ki SH Mintardja yang lain, yaitu BUNGA DI BATU KARANG.

BdBK-05

Cerita ini berlatang belakang sejarah Kasunanan Kartasura (atau Kasunanan Surakarta ya?) pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pabubuwana II yang memerintah tahun 1726-1749.

Pada masa itu Kompeni (Belanda) sangat menguasai Kasunanan Kartasura, sehingga membuat beberapa bangsawan yang tidak menyukai ulah kompeni yang merendahkan martabat para pribumi.

Bangsawan yang mempelopori pemberontakan adalah Raden Mas Said dan pangeran Mangkubumi.

Pada masa itu ada sebuah padepokan Jati Aking yang dipimpin oleh Kiai Danatirta yang mempunyai murid Raden Juwiring (anak pangeran Ranukusuma dari selir yang “dibuang” karena ulah isterinya Raden Ayu Sontrang), Buntal (anak pembantu salah seorang pangeran di Surakarta yang telah meninggal dan diusir dari rumah majikannya) dan Arum (cucu kiai Danatirta sendiri).

Ketiga orang anak murid Kiai Danatirta tersebut bergabung dengan pasukan Pangeran Mangkubumi untuk melawan Kompeni.

Sebagaimana cerita yang lain, serial sepanjang 28 jilid ini penuh dengan intrik-intrik dalam keluarga dan dalam pemerintahan.

bagaimana ceritanya?

Sangat menarik dan pantas untuk dibaca.

silahkan ikuti wedaran yang dimulai hari Rabu (21 Mei 2014) dengan kecepatan wedaran dua hari sekali.

saya cuplikkan halaman pembuka setiap jilid buku di seri ini yang dituliskan oleh Ki SH Mintardja

“Katakanlah,

Dengan duka dan keluh kesah,

Barangkali langit mendung dan halilintar menggelegar,

Di bibir kota yang pengap oleh gelisah,

Yang asing, yang datang dengan sepatu tak dilepas,

Bertongkat tebu berwarna kelam,

Ini dadaku, biar koyak oleh peluru,

Ini darahku, yang membasahi tanah ibuku

Ini nyawaku, yang rangkap beratus ribu.”

Lereng Gunung Kawi, 19 Mei 2014

 

Pintu masuk ke gandok BdBK-01  BdBK-02  BdBK-03  BdBK-04  BdBK-05 (sebagian masih terkunci dan/atau belum dibuatkan regolnya, mohon bersabar).

 

 

MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

Mata Air di Bayangan Bukit

Meraba Matahari telah selesai diwedar tanggal 26 Maret 2014.

Selanjutnya akan diwedar karya SH Mintardja yang lain dengan judul Mata Air di Bayangan Bukit (MAdBB).

Tetapi, tidak sebagaimana naskah-baskah yang lalu, yang bisa diwedar secara teratur karena naskah sudah tersedia cukup, untuk naskah MAdBB ini kami tidak bisa menjanjikan keteraturan wedaran, karena benar-benar kejar tayang mulai konversi ke teks dan editing naskah yang tentu membutuhkan waktu yang banyak. Naskah akan diwedar (unggah) jika selesai edit satu jilid, mungkin seminggu sekali, mudah-mudahan bisa dipercepat.

Kisah ini diselesaikan pada jilid 23. Jilid pertama dicetak tahun 1980, jilid 23 dicetak tahun 1982.

cover madbb-01

Sepasang bukit mati
Bukit gundul
Dan bukit berselubung
Lebatnya hutan pegunungan

Di jantungnya air beriak
Menyimpan harapan masa depan

Di sela-sela batu karang
Ketamakan mengeras
Di hati bagai padas

Penulis (SH Mintardja)

Mohon doanya, agar kami memiliki waktu dan kesempatan untuk menyelesaikan wedaran naskah ini.

Wedaran sudah dimulai, silahkan kunjungi http://serialshmintardja.wordpress.com/lain-2/mata%20air%20di%20bayangan%20bukit/

Nuwun

Lereng Gunung Kawi 27 Maret 2014

 

MERABA MATAHARI

Tembang Tantangan akan berakhir di jilid 24. Sebagai kelanjutannya, kami upload Meraba Matahari yang rencana akan diupload tanggal 10 Maret 2014. Semoga, wedaran kami dapat melengkapi koleksi sanak-kadang yang biasa “nongkrong” di blog ini.

Jilid ini merupakan jilid pembuka rontal Meraba Matahari, jilid selanjutnya, tidak di “post” tetapi dalam “page” sebagaimana rontal yang lainnya.

Mohon maaf Nyi Dewi, naskahnya kami “curi” dari http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm. Naskah kami edit, disesuaikan dengan naskah aslinya.

Nuwun

Satpampelangi

SINOPSIS

Berikutnya, akan digelar ceritera baru. Ceritera rekaan murni yang pernah ditayangkan sebagai ceritera “Kethoprak Sayembara” lewat stasiun TVRI Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan Bandung yang penyelenggaraannya didukung oleh B.P. Kedaulatan Rakyat, dengan judul “KEBRANJANG ING GEGAYUHAN”

Ternyata “Kethoprak Sayembara” ini sangat menarik perhatian para pemirsa Televisi.

Dalam buku ini, ceritera tersebut saya susun sebagai satu ceritera yang tentu saja berbeda dengan “skenario” untuk layar Televisi.

Dengan beberapa sisipan dan pemanis disana-sini mudah-mudahan ceritera ini pantas untuk dibaca.

Ceritera “KEBRANJANG ING GEGAYUHAN” dalam penampilannya yang baru serta berbahasa Indonesia berjudul “MERABA MATAHARI” berkisah tentang kehidupan yang mempunyai berbagai macam relung-relung yang kadang-kadang sulit untuk diselami. Sudut-sudut yang terang dan sudut-sudut yang gelap seakan-akan tidak terbatas. Kesadaran akan kegelapan biasanya baru datang kemudian setelah telapak tangannya mulai meraba-raba tajamnya ujung batu karang serta merasa pedih.

Tetapi telapak tangan itu pun akan segera terbakar apabila kita dengan congkak mencoba meraba matahari.

Namun mereka yang tetap berpegang pada kekuasaanNya, maka betapapun derasnya arus akan dapat terseberangi, betapapun tingginya gunung akan dapat terlompati.

Meskipun ceritera ini ceritera rekaan murni, namun ceritera ini tetap akan berbicara tentang manusia yang kita kenali dari berbagai sisi pandang serta berpijak pada warna kehidupan di bumi sendiri.

——————————————————————————————————————-

MERABA MATAHARI

JILID 1

cover  MM-01KETIKA kabut mulai terkuak, maka cahaya fajar pun  mulai mewarnai langit, namun titik-titik embun masih bergayutan di ujung dedaunan.

Dinginnya malam masih terasa, meskipun perlahan-lahan pucuk-pucuk pepohonan bagaikan bermunculan dari kegelapan di lembah-lembah perbukitan.

Di lereng bukit berbatu padas, dua orang anak muda yang berloncatan, saling menyerang dan bertahan, kedua-duanya memiliki bekal ilmu yang tinggi. Kaki-kaki mereka dengan tangkasnya melenting dari bongkah-bongkah batu padas ke bongkah-bongkah yang lain, seakan-akan terbang berputaran diantara bebatuan.

Sekali-kali serangan mereka pun  mengena, sekali-kali berbenturan dengan keras sekali sehingga keduanya tergetar dan terdorong surut beberapa langkah.

Namun ketika cahaya langit menjadi semakin terang, maka keduanya pun  menjadi semakin garang, tangan-tangan mereka yang luput dari sasaran dan menyentuh batu-batu padas di tebing, maka tebing itu pun  telah berguguran. Pepohonan bagaikan diguncang, cabang dan ranting yang tersentuh tangan kedua anak muda itu pun  berpatahan.

Bukit dibawah kaki mereka seakan-akan telah bergetar.

Seluruh tubuh anak muda itu sudah basah, bukan oleh embun saja, tetapi oleh keringat yang bagaikan diperas dari tubuh mereka. Untuk mengatasi rasa sakit dan nyeri, maka keringat mereka pun  menjadi semakin banyak mengalir.

Ketika seorang diantara mereka meloncat dengan cepatnya menyerang dengan kakinya dan tepat mengenai dada lawannya, maka lawannya telah terdorong surut beberapa langkah. Tubuhnya membentur sebongkah batu padas, sehingga kemudian terbanting jatuh.

Dengan tangkasnya yang seorang lagi telah memburunya. Pada saat lawannya akan bangkit, maka kakinya pun  telah terayun bersamaan dengan tubuhnya yang berputar.

Tetapi ternyata serangannya itu tidak mengenai sasaran, karena lawannya dengan cepat bergesar dan bahkan menjatuhkan dirinya.

Kaki yang sudah terlanjur terayun dengan derasnya itu telah menghantam batu padas pada tebing bukit padas itu.

Batu pada itu pun  telah pecah berserakan, untunglah bahwa lawannya dengan cepat berguling, melenting dan sekali berputar di udara, kemudian bangkit berdiri beberapa langkah dari tebing yang runtuh itu.

Bahkan dengan cepat pula, anak muda itu telah meloncat dengan tangan terjulur lurus. Jari-jarinya yang lurus merapat telah berhasil menyusup pertahanan lawannya mengenai lambung.

Lawannya terdorong surut sambil menyeringai menahan sakit, namun pada saat anak muda itu siap memburu, terdengar suara tepuk tangan dari sela-sela bebatuan di bukit itu.

Kedua anak muda yang bertempur itu pun  berhenti dan berloncatan surut mengambil jarak.

Keduanya pun  kemudian berdiri tegak menghadap kepada orang yang bertepuk tangan itu. Serentak keduanya pun  mengangguk hormat.

Seseorang yang sudah melewati usia setengah abad berdiri tegak sambil tersenyum memandang kedua orang anak muda itu. Orang itu masih terlihat kokoh meskipun rambutnya yang selembar-selembar berderai di bawah ikat kepalanya sudah memutih.

“Sudah cukup ngger, kalian sudah berlatih hampir setengah malam, angger berdua tentu sudah letih, mungkin di beberapa bagian tubuh kalian terasa sakit, nyeri dan barangkali pedih, marilah, kita pulang untuk beristirahat.”

“Ya guru” jawab keduanya hampir berbarengan.

Keduanya pun  kemudian berjalan bersama di belakang orang tua itu.

Bertiga mereka berjalan di jalan setapak, di lereng perbukitan yang membujur sejajar dengan pantai lautan yang berombak ganas.

“Lihatlah ngger” berkata orang tua itu, “Gelombang itu bagaikan gejolak kehidupan, ia tidak pernah berhenti, susul menyusul dan silih berganti.”

Sambil berjalan diatas jalan sempit di perbukitan, mereka menyaksikan debur ombak yang tidak pernah ada hentinya, jika angin berhembus semilir, maka gejolak ombak itu memang agak mereda, tetapi jika langit menjadi buram, angin mulai menderu, maka prahara pun  datang mendorong ombak yang semakin besar, sehingga seolah-olah beribu bukit berterbangan bertimbun di tepian. Namun kemudian kembali meluncur hanyut ke kedalaman lautan yang luas.

“Lihatlah gunung itu” berkata orang tua itu pula.

Anak-anak muda itu pun  kemudian memandang kekejauhan. Sebuah gunung yang tinggi menjulang menggapai langit, mega-mega putih yang mengalir dari selatan, bagaikan telah tersangkut di ujungnya yang menjadi kemerah-merahan oleh cahaya matahari pagi yang mulai terbit.

“Didalam gejolak kehidupan yang kadang-kadang bagaikan diguncang oleh prahara, hati kita harus tetap sekukuh dan seteguh gunung itu.” Berkata orang tua itu pula.

Sambil berjalan kedua orang anak muda itu masih juga memandangi gunung yang berdiri tegak dan tidak tergoyahkan oleh prahara dan badai, tidak tergeser oleh angin pusaran dan tidak menggeliat oleh panasnya api.

Beberapa saat kemudian, ketiga orang itu sudah mulai menuruni tebing perbukitan yang curam. Tanah berbatu padas dibawah kaki mereka kadang-kadang terasa licin oleh embun, tajamnya bebatuan terasa menusuk telapak kaki mereka.

Tetapi mereka sudah terbiasa, jari-jari mereka bagaikan mampu mencengkeram jika tanah terasa licin oleh embun. Tajamnya bebatuan terasa menusuk telapak kaki mereka.

Sekali-sekali mereka harus meloncati celah-celah perbukitan, menelusuri relung-relung yang tajam.

Beberapa saat kemudian, mereka telah berada di ngarai yang datar. Di jalan bulak persawahan yang rata. Di sekitarnya terdapat batang-batang padi yang hijau menebar sampai ke ujung pandang.

Ketiga orang itu berjalan dengan cepatnya melintasi bulak menuju ke sebuah padepokan yang terpencil, sebuah padepokan kecil yang letaknya terpisah dari sebuah padukuhan yang terhitung besar.

Atas ijin Ki Bekel Panambangan, Ki Ajar Wihangga mendirikan sebuah padepokan kecil saja yang letaknya terpisah dari padukuhan Panambangan. Hubungan KI Ajar Wihangga dengan Ki Bekel Panambangan cukup akrab, bahkan keduanya sudah menjadi seperti saudara sendiri.

Apalagi umur mereka pun sebaya. Jika mereka bertemu, pembicaraan diantara mereka  pun  selalu sejalan.

Disamping beberapa orang murid yang jumlahnya banyak, Ki Ajar Wihangga mempunyai dua orang murid utama. Dua orang murid yang dibanggakan oleh Ki Ajar Wihangga karena keduanya memiliki banyak kelebihan dari anak-anak muda sebayanya.

Keduanya adalah Raden Madyasta dan Raden Wignyana, kakak beradik, putera Kangjeng Adipati di Paranganom.

Keduanya orang kakak beradik itu umurnya tidak bertaut banyak, ketika Madyasta belum dapat berjalan, ibunya sudah mengandung lagi, maka beberapa bulan kemudian lahirlah adiknya. Juga seorang laki-laki yang diberi nama Wignyana. Dengan demikian maka umur mereka hanya bertaut kurang dari dua tahun.

Keduanya tumbuh dengan baik sebagaimana putera seorang Adipati. Sejak mereka mulai mengenali lingkungannya, maka Kangjeng Adipati sudah menugaskan orang-orang pandai untuk mendidik mereka dalam berbagai macam ilmu. Namun kemudian, menginjak remaja, maka mereka pun telah diserahkan kepada Ki Ajar Wihangga. Seorang yang memilih satu lingkungan kehidupan di sebuah padepokan yang sepi.

“Aku titipkan anak-anakku kepadamu, kakang” berkata Kangjeng Adipati Paranganom yang bergelar Adipati Prangkusuma.

Ki Ajar Wihangga yang sedikit lebih tua dari Kangjeng Adipati itu menarik nafas panjang, Ki Ajar adalah saudara tua seperguruan dari Kangjeng Adipati Prangkusuma.

“Terima kasih atas kepercayaan Kangjeng Adipati kepadaku, tetapi aku sendiri ragu, apakah aku akan dapat memikul kepercayaan itu. Sehingga hasilnya sesuai dengan keinginan Kangjeng Adipati”

Kangjeng Adipati tersenyum, katanya, “Aku mengenal kakang dengan baik, kakang pun mengenal aku dengan baik pula”

Ki Ajar Wihangga tertawa, katanya, “Baiklah, aku akan membawa kedua putera Kangjeng itu ke padepokanku. Pada saat mereka menjadi dewasa penuh, aku akan membawa mereka kembali”

“Apakah selama itu mereka tidak boleh sekali-sekali pulang untuk menengok keluarganya?, ibunya tentu akan sangat merindukannya”

“Tentu, Kangjeng, mereka berada di padepokanku tidak sebagai tawanan atau orang buangan, sehingga tidak boleh meninggalkan tempat. Tetapi mereka akan menjadi murid-murid utama padepokanku”

Sejak saat itu, empat tahun lalu, dua orang remaja putera Kangjeng Adipati Prangkusuma itu berada di padepokan yang dipimpin oleh Ki Ajar Wihangga. Namun seperti yang dimaksudkan oleh Kangjeng Adipati, bahwa sekali-sekali mereka pun pulang karena keluarganya merindukannya.

Namun bukan saja kerinduan seorang ayah dan ibu, tetapi setiap Raden Madyasa dan Wignyana pulang, Kangjeng Adipati selalu menilik kemajuan kedua orang puteranya yang diasuh oleh Ki Ajar Wihangga itu.

Setiap kali Kangjeng Adipati tersenyum, ia bangga dengan kemajuan yang pesat dari kedua orang puteranya itu, kepercayaannya kepada saudara perguruannya tidak sia-sia.

Ki Ajar Wihangga sendiri pun merasa bangga terhadap kedua orang muridnya itu, pada saat-saat terakhir, Ki Ajar Wihangga telah sampai pada puncak ilmu yang dapat diajarkannya kepada kedua orang muridnya yang telah menjadi dewasa penuh itu.

Sebagaimana dijanjikan kepada Kangjeng Adipati, jika keduanya telah menjadi dewasa penuh, maka mereka akan dibawa kembali ke Kadipaten.

Dalam pada itu, beberapa saat kemudian, mereka bertiga telah memasuki sebuah padepokan yang tidak begitu besar. Di pagi hari, sebagian cantrik sibuk menimba air mengisi jambangan pakiwan, ada yang sibuk di dapur merebus air, yang lain berada di kandang ternak dan di kandang kuda.

Ketika para cantrik itu melihat Ki Ajar Wihangga bersama dengan Madyasta dan Wignyana memasuki padepokan, mereka pun mengangguk hormat.

“Teruskan kerja kalian anak-anak” berkata Ki Ajar. “Kalian adalah anak-anak yang rajin dan terampil. Dengan demikian, maka padepokan kita akan selalu terpelihara kebersihannya. Jika Ki Bekel Panambangan datang kemari, maka ia akan tetap mengagumi kebersihan padepokan kita”

Ki Ajar Wihangga itu pun langsung pergi ke pringgitan bangunan induk padepokan itu bersama Madyasta dan Wignyana.

“Duduklah ngger, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada kalian”

Madyasta dan Wignyana termangu-mangu sejenak, tidak biasanya Ki Ajar bersikap demikian bersungguh-sungguh seperti itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Madyasta dan Wignyana telah duduk di pringgitan menghadap Ki Ajar.

Kedua anak muda itu masih belum mengeringkan keringatnya, bahkan di beberapa bagian tubuh mereka masih terasa nyeri dan pedih. Ada beberapa luka yang menggores pada saat-saat tubuh mereka membentur batu-batu padas, bahkan kening Wignyana masih nampak memar.

“Anak-anakku” berkata Ki Ajar, “Jika kalian ingat, maka hari ini adalah hari ulang tahun kelahiran angger Madyasta. Anger Madyasta pada hari ini genap berusia dua puluh lima tahun, sedangkan angger Wignyana dalam beberapa bulan lagi akan berusia genap dua puluh empat tahun, karena selisih usia kalian berdua tidak ada dua tahun”

“Ya guru” Madyasta mengangguk hormat, “Aku ingat, bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku, tetapi menurut pendapatku, aku tidak merasa perlu mengadakan peringatan khusus pada hari ulang tahun ini, guru. Agaknya cukuplah jika aku sempat mengingatnya saja”

Ki Ajar Wihangga tertawa, katanya, “Aku mengerti ngger. Kau tentu tidak memerlukannya, yang ingin aku sampaikan adalah, bahwa kau sudah dewasa penuh, demikianlah pula dengan anger Wignyana”

“Ya, guru”

“Dengarlah, ketika Kangjeng Adipati menitipkan kalian berdua di padepokan ini, aku mengatakan, bahwa pada saat kalian sudah dewasa penuh, maka aku akan membawa kalian kembali ke Kadipaten”

Madyasta dan Wignyana menundukkan kepalanya.

“Nah, sekarang kalian sudah dewasa sepenuhnya, meskipun umur angger Wignyana terpaut sekitar satu setengah tahun, tetapi menurut pendapatku, angger Wignyana juga sudah dapat dianggap dewasa sepenuhnya. Sementara itu ilmu yang aku ajarkan kepada kalian berdua pun sudah tuntas. Kalian berdua adalah murid-muridku yang terbaik”

Keduanya terdiam, mereka sadar, bahwa dengan demikian mereka harus meninggalkan padepokan yang telah mereka huni sekitar empat tahun.

Selama empat tahun mereka menghirup udara di padepokan itu. Selama empat tahun mereka teguk airnya. Mereka makan hasil buminya dan selain semuanya itu, mereka telah menyadap ilmu pula dari gurunya, Ki Ajar Wihangga”

“Anak-anakku” berkata Ki Ajar Wihangga ketika dilihatnya kedua anak muda itu menunduk dalam-dalam, “Sebenarnyalah bahwa padepokan ini bukan tempat terbaik bagi kalian. Kalian adalah putera-putera Adipati. Disini kalian bekerja keras untuk menyadap ilmu, sekarang, ilmu itu telah ada di dalam diri kalian, tentu saja hanya sebatas kemampuanku untuk menurunkan ilmu itu kepada kalian” Ki Ajar Wihangga berhenti sejenak, lalu katanya pula, “Nah, karena itu, sudah saatnya kalian pulang ke rumah kalian di Kadipaten Paranganom”

Madyasta dan Wignyana memang menyadari, bahwa pada suatu saat mereka memang harus meninggalkan padepokan ini, mereka harus kembali ke Kadipaten, apalagi ayah mereka, Adipati Paranganom akan menjadi semakin tua, sehingga kehadiran mereka di Kadipaten akan sangat diperlukan.

Pada tahun-tahun terakhir mereka berada di padepokan itu. Telah terjadi pergeseran kekuasaan di Kadipaten Kateguhan, Kangjeng Adipati Prawirayuda, saudara tua Kangjeng adipati Prangkusuma, telah mangkat. Madyasta dan Wignyana, meskipun mereka masih berada di padepokan, namun mereka sempat pergi ke Kateguhan bersama ayah dan ibu mereka untuk menghadiri pemakaman Kangjeng Adipati Prawirayuda. Mereka pun sempat menghadiri wisuda yang menetapkan putera Kangjeng Adipati Prawirayuda untuk menggantikan kedudukan ayahnya, bergelar Kangjeng Adipati Yudapati di Kateguhan.

“Anak-anakku” berkata Ki Ajar Wihangga, “Besok aku akan mengantar kalian pulang, aku akan menyerahkan kembali kalian kepada ayah kalian, Kangjeng Adipati Prangkusuma. Sehingga apa yang aku ajarkan kepada kalian, sesuai dengan kehendaknya.

Madyasta menarik nafas dalam-dalam, dengan nada rendah ia pun kemudian berkata, “Kami mengucapkan beribu-ribu terimakasih, guru. Disini kami sudah mendapatkan apa saja yang kami perlukan sebagai bekal hidup kami di kemudian hari”

“Sebenarnyalah bahwa kami sudah terlanjur merasa terikat dengan kehidupan di padepokan ini, guru” berkata Wignyana pula.

Ki Ajar Wihangga tersenyum, katanya, “Jika aku menyerahkan kalian kepada ayah kalian, bukan berarti bahwa hubungan kita telah terputus. Kalian dapat datang kapan saja ke padepokan ini, kalian dapat bermalam disini atau bahkan tinggal disini beberapa hari asalkan ayah kalian mengijinkannya”

 “Ya, guru” sahut Wignyana sambil mengangguk hormat

“Sejak dini hari tadi, aku sudah melihat kemampuan kalian berdua, apa yang dapat aku tuangkan kepada kalian, telah aku lakukan. Menurut pendapatku, pada suatu saat kalian menjadi dewasa seperti sekarang ini. Ilmu kalian pun telah menjadi matang pula. Karena itu, aku berkesimpulan, bahwa kalian memang sudah waktunya untuk kembali ke Kadipaten. Mungkin ayah kalian memerlukan bantuan kalian dalam menjalankan pemerintahannya karena ayah kalian sudah menjadi semakin tua”

“Nah, sekarang mandilah, aku sudah menyiapkan serbuk yang dapat meredakan rasa sakit pada tubuh dan dapat menyembuhkan luka-luka kalian, terbarkanlah serbuk itu ke dalam jambangan”

“Ya, guru”

“Marilah, kita ambil serbuk itu di senthongku”

Ki Ajar Wihangga pun kemudian telah memberikan masing-masing sebuah bumbung kecil yang berisi serbuk ramuan dari berbagi macam daun dan bunga yang terdapat di kebun belakang padepokannya, berdasarkan atas pengamatan dan penelitian dan pengalaman yang lama, maka Ki Ajar Wihangga telah dapat membuat ramuan yang akan sangat berarti bagi kedua orang anak muda itu.

Sebenarnyalah, setelah mandi dengan menaburkan serbuk didalam bumbung itu di jambangan yang telah penuh diisi air, maka terasa alangkah segarnya tubuh mereka. Perasaan sakit, nyeri dan pedih pun telah hilang, meskipun sejak dini hari mereka berlatih dengan mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka diatas perbukitan yang berbatu padas.

Setelah mandi dan berbenah diri, maka mereka pun duduk di ruang dalam bersama Ki Ajar, ada beberapa pesan yang disampaikan oleh Ki Ajar kepada kedua orang anak muda itu, karena hari itu adalah hari terakhir mereka di padepokan.

“Nah, berbicaralah dengan para cantrik” berkata Ki Ajar Wihangga kemudian, bahwa besok kalian akan pergi meninggalkan padepokan ini”

“Baik, guru” jawab Madyasta dan Wignyana hampir berbarengan.

Sejenak kemudian, Madyasta dan Wignyana telah berada diantara para cantrik.

Ada diantara mereka yang sudah bersiap memasuki sanggar, tetapi ada pula yang masih bertugas.

Para cantrik itu terkejut ketika mereka mendengar pernyataan Madyasta dan Wignyana, bahwa besok mereka akan meninggalkan padepokan.

“Raden berdua tidak akan kembali lagi kemari?” bertanya salah seorang cantrik.

“Tidak, maksudku, masa berguru kami sudah selesai, tetapi bukan berarti bahwa kami tidak akan pernah datang ke padepokan ini lagi, sekali-sekali kami tentu akan datang kemari” jawab Madyasta.

“Ada ikatan yang tidak dapat dengan serta-merta kami putuskan” sambung Wignyana.

Namun bagaimanapun juga, kepergian Madyasta dan Wignyana membuat para cantrik itu merasa kehilangan, setidak-tidaknya untuk sementara.

Esok harinya, pada dini hari, Madyasta dan Wignyana telah bangun. Mereka segera mempersiapkan diri, hari itu, mereka akan diantar oleh Ki Ajar Wihangga kembali ke Kadipaten.

Kedua putera Kangjeng Adipati itu menyadari, bahwa kehidupan di Kadipaten menurut gelar lahiriah tentu jauh lebih baik dari mereka dapatkan dalam kehidupan di padepokan itu yang tidak mereka dapat di Kadipaten. Di padepokan mereka hidup dalam suasana tenang dan damai. Tidak ada masalah yang dapat menimbulkan pertengkaran. Bukan berarti bahwa di padepokan itu tidak akan ada perbedaan pendapat. Tetapi mereka menanggapi perbedaan pendapat itu dengan sikap yang mapan. Kadang-kadang ada perbedaan pendapat yang sulit dipertemukan meskipun dengan bantuan beberapa orang cantrik yang lain. Namun dalam keadaan demikian, mereka yang berbeda pendapat itu akhirnya sepakat untuk berbeda pendapat. Yang satu tidak memaksakan pendapatnya kepada yang lain. Apalagi dengan menyatakan kebenaran pendapatnya bagi semua orang.

Sebelum matahari terbit, maka kedua orang anak muda itu pun sudah siap.

Demikian pula Ki Ajar Wihangga. Kuda-kuda yang akan mereka pergunakan telah disediakan pula di samping pendapa bangunan induk padepokan.

“Kita akan singgah sebentar di rumah Ki Bekel, ngger, sebaiknya kalian minta diri kepada Ki Bekel”

“Baik, guru”

Ketika matahari terbit, maka mereka pun meninggalkan padepokan setelah Ki Ajar memberikan beberapa pesan kepada cantriknya. Seorang cantrik yang tertua, bukan saja umurnya, tetapi juga masa bergurunya telah diserahi untuk memimpin adik-adik seperguruannya.

“Mungkin aku akan bermalam di Kadipaten” berkata Ki Ajar kepada para cantriknya.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, Ki Ajar, Madyasta dan Wignyana pun telah melarikan kuda mereka di bulak panjang yang memisahkan padepokan mereka dengan padukuhan Panambangan.

Kedatangan Ki Ajar bersama muridnya pagi-pagi sekali pada saat matahari baru terbit, telah mengejutkannya.

“Maaf, Ki Bekel” berkata Ki Ajar, “Mungkin kami mengganggu atau bahkan mengejutkan Ki Bekel, sebenarnyalah kami hanya ingin minta diri. Hari ini Raden Madyasta dan Wignyana akan kembali ke Kadipaten”

“Maksud Ki Ajar, kembali pulang ke Kadipaten dan tidak datang lagi ke padepokan?”

“Waktu mereka tinggal di padepokan sudah habis. Seperti yang aku janjikan, aku akan mengembalikan mereka setelah mereka dewasa. Karena sekarang mereka sudah dewasa, dan tidak ada lagi yang dapat aku ajarkan kepada mereka, maka aku akan membawa mereka kembali ke kadipaten dan menyerahkan-nya kepada ayah mereka”

“Kami berdua mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan hati Ki Bekel” berkata Madyasta kemudian.

“Apa yang telah aku lakukan?, aku tidak berbuat apa-apa bagi kalian berdua. Nah, aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan bagi kalian berdua, ngger. Semoga apa yang kalian dapatkan dari padepokan Panambangan yang dipimpin oleh Ki Ajar Wihangga akan dapat berarti bagi angger berdua di masa datang. Baktiku kepada Kangjeng Adipati Prangkusuma”

“Terima kasih, Ki Bekel, mudah-mudahan kita masing-masing selalu disertai Yang Maha Agung di sepanjang hidup kita”

Ki Bekel tersenyum, setiap kali ia melihat kedua orang anak muda putera Kangjeng Adipati itu hatinya selalu bergetar. Ki Bekel sendiri mempunyai lima orang anak, tetapi semuanya perempuan. Semuanya telah bersuami pula. Tetapi Ki Bekel yang baru mempunyai tiga orang cucu itu, ternyata semuanya juga perempuan.

“Aku ingin mempunyai keturunan laki-laki, semoga Yang Maha Agung memberikan momongan cucu laki-laki”

Tetapi Ki Bekel masih berpengharapan, salah seorang anaknya sedang mengandung, ia berharap anak yang akan lahir itu laki-laki. Jika anak itu perempuan, maka ia masih akan tetap memohon seorang cucu laki-laki.

Demikian, maka sejenak kemudian, Ki Ajar Wihangga bersama dengan Madyasta dan Wignyana pun telah melarikan kuda mereka menuju ke Kadipaten.

Ketika mereka meninggalkan padukuhan Panambahan, masih terdengar kicau burung-burung liar yang hinggap di pepohonan. Sementara itu, matahari pun memanjat semakin tinggi, daun padi yang hijau subur, yang bergetar disentuh angin pagi, nampak berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari. Sementara embun masih nampak bergayutan di ujungnya yang menunduk.

Ki Ajar Wihangga, Madyasta dan Wignyana pun memang tidak melarikan kuda mereka terlalu kencang. Meskipun jarak yang akan mereka tempuh cukup panjang, namun mereka merasa bahwa perjalanan mereka tidak akan mengalami hambatan.

Mungkin mereka akan berhenti sebentar untuk beristirahat. Mungkin ada kedai yang memadai serta yang sekaligus dapat merawat dan memberikan makan kepada kuda-kuda mereka.

“Sebelum senja kita akan sampai” berkata Ki Ajar Wihangga.

“Jika kita berhenti beristirahat?”

“Ya, kita akan berhenti beristirahat sekali atau dua kali. Mungkin kita tidak sangat memerlukan kesempatan untuk beristirahat. Tetapi agaknya kuda-kuda kita memerlukannya.”

Sedikit lewat tengah hari, Ki Ajar Wihangga yang mengajak kedua orang anak muda itu untuk beristirahat di sebuah kedai. Ki Ajar Wihangga, bahwa kedua anak muda itu tentu tidak akan ada yang mengajaknya berhenti, sementara itu kuda mereka sudah nampak agak letih dan haus.

Ternyata sebuah kedai yang terletak tidak jauh dari sebuah pasar, menyediakan tenaga yang dapat merawat, memberi makan dan minum kuda yang kelelahan, karena itu, maka mereka bertiga pun telah berhenti di kedai itu sambil menyerahkan kuda-kuda mereka kepada seorang yang memang ditugaskan untuk itu.

Kehadiran Madyasta dan Wignyana di kedai itu sama sekali tidak menarik perhatian, karena keduanya mengenakan pakaian orang kebanyakan. Keduanya sama sekali tidak menunjukkan ciri-ciri bahwa keduanya adalah putera seorang Adipati.

Namun didalam kedai itu Madyasta, Wignyana dan Ki Ajar Wihangga tertarik kepada pembicaraan beberapa orang yang lebih dahulu berada di kedai itu, mereka menceritakan bahwa keadaan kadipaten Paranganom mulai tidak aman. Sekali-sekali terdengar berita tentang perampokan di jalan-jalan yang sepi. Bahkan ada penyamun yang berani melakukannya di siang hari.

“Guru” desis Madyasta, “Apa selama ini guru tidak pernah mendengar berita seperti itu?”

Ki Ajar Wihangga menggeleng, katanya perlahan-lahan, “Yang aku ketahui selama ini Kadipaten Paranganom adalah sebuah kadipaten yang tenteram. Tidak terdapat gejolak kejahatan yang pernah mengusik ketenangan kehidupannya.”

“Tetapi menurut orang itu..?”

Ki Ajar Wihangga mengangguk-angguk.

Sebenarnyalah mereka mendengar dengan jelas, bahwa Kadipaten Paranganom mulai disentuh oleh perbuatan-perbuatan jahat.

“Tetapi semuanya itu baru kita dengar dari pembicaraan orang di sebuah kedai, guru” berkata Madyasta.

“Ya, ngger. Mudah-mudahan yang terjadi sebenarnya tidak seperti yang kita dengar itu”

“Mungkin yang terjadi itu tidak terjadi di Kadipaten ini, guru” berkata Wignyana, “Atau jika terjadi di Kadipaten ini sekedar sentuhan peristiwa yang terjadi diluarnya”

“Ya, ngger, meskipun demikian, jika di dekat perbatasan telah terjadi kerusuhan, maka yang tinggal selangkah itu tentu akan segera terjadi pula”

Wignyana mengangguk sambil menjawab, “Ya, guru”

“Bagaimanapun juga apa yang kita dengar ini akan kita laporkan kepada Kangjeng Adipati. Apa salahnya kita berjaga-jaga orang-orang itu tentu bukan sekedar membual, meskipun mungkin yang terjadi tidak tepat seperti apa yang mereka perbincangkan itu”

“Guru” berkata Wignyana, “Kita juga akan melewati jalan di dekat perbatasan dengan Kadipaten Kateguhan”

“Ya, tetapi mudah-mudahan kita tidak menemui hambatan”

Demikianlah, beberapa saat kemudian, setelah mereka minum dan makan serta kuda-kuda mereka pun sudah puas beristirahat serta sudah kenyang pula, maka mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan mereka menuju pusat pemerintahan Kadipaten Paranganom.

Sejenak kemudian, kuda-kuda mereka telah berlari lagi menyusuri jalan-jalan berbatu. Mereka bertiga memutuskan untuk mengambil jalan terdekat, meskipun bukan jalan yang terbaik. Jalan yang mereka lalui justru akan melewati padang perdu, bahkan lewat tidak jauh dari sebuah hutan yang membujur panjang di perbatasan.

Rasa-rasanya mereka justru ingin membuktikan, apakah yang dibicarakan oleh orang-orang yang berada di kedai itu memang benar.

“Mungkin kita mendapatkan kesan-kesan tertentu yang dapat membenarkan atau justru bertentangan dengan yang dibicarakan oleh orang di dalam kedai itu” berkata Madyasta.

Ki Ajar Wihangga tidak mencegahnya, sebagai putera seorang Adipati, keduanya tentu ingin mengetahui keadaan sebenarnya dari wilayah kekuasaan ayahnya.

Kuda mereka masih berlari, sekali-sekali jalan menanjak naik, namun kemudian jalan pun menurun dengan tajamnya. Sekali-sekali mereka menyeberangi sungai yang tidak begitu besar sehingga airnya pun tidak begitu dalam.

Ketika matahari mulai beranjak turun, maka Wignyana pun berkata, “Kita akan segera sampai di jalan yang terdekat dengan perbatasan, kakangmas”

“Ya, dimas. Dekat perbatasan dengan Kadipaten Kateguhan yang sekarang pemerintahannya dipegang oleh kakangmas Adipati Yudapati.”

“Apakah keadaan di Kadipaten Kateguhan manjadi semakin memburuk sepeninggalnya paman Adipati Prawirayuda, sehingga terjadi kerusuhan di beberapa tempat, bahkan mengalir ke Kadipaten Paranganom?”

“Kita belum tahu pasti dimas”

“Bagaimana menurut pendapat guru?, apakah kangmas Adipati Yudapati tidak mampu mengendalikan Kadipaten Kateguhan setangkas paman Adipati Prawirayuda?”

“Aku kurang mengenal angger Adipati Yudapati, ngger. Tetapi Aku mengetahui bahwa Adipati Yudapati berguru kepada seorang yang aku kenal dengan baik”

“Atau ada orang yang tidak menyenanginya sehingga dengan sengaja menimbulkan keresahan?”

“Masih banyak yang perlu diketahui, ngger”

Ketiganya pun terdiam sejenak, kuda-kuda mereka masih berlari di jalan yang semakin dekat dengan hutan yang panjang.

Namun tiba-tiba saja Wignyana itu pun berkata, “Kakangmas, jangan-jangan justru kerusuhan itu terjadi di Kadipaten Paranganom, baru merembes ke Kateguhan”

“Jika demikian, kita harus dengan cepat bukan saja menumpasnya, tetapi juga mencari sebabnya”

“Ya” Wignyana mengangguk-angguk.

Ketika kemudian mereka mendekati sebuah tikungan, pada jarak terdekat dengan hutan yang memanjang, Ki Ajar berkata, “Berhati-hatilah, ngger”

Madyasta dan Wignyana yang patuh kepada gurunya itu memperlambat kudanya. Ketika mereka sampai di kelok jalan, maka keduanya benar-benar berhati-hati”

Untunglah, bahwa Ki Ajar telah memberi peringatan kepada mereka. Sehingga mereka menarik kendali kuda mereka. Beberapa langkah dari tikungan terdapat tali ijuk yang menyilang jalan. Tali ijuk yang sengaja diikat pada dua batang pohon yang berseberangan setinggi dada orang yang berkuda.

Madyasta dan Wignyana yang berada di depan segera berhenti dan meloncat turun. Mereka sadar, bahwa mereka berhadapan dengan bahaya yang dapat mengancam jiwa mereka.

Ki Ajar kemudian turun pula dari kudanya, jika saja mereka tidak berhati-hati, maka tali ijuk akan dapat menjebak mereka, sehingga mereka akan terpelanting dari kuda-kuda mereka.

Dengan geram Madyasta berkata, “Jika apa yang dikatakan orang di kedai itu bukan sekedar dongeng. Sekarang kita hadapi kenyataan itu disini. Bukankah kita masih tetap berada di Paranganom?”

“Ya, kakangmas. Kita masih berada di Paranganom. Jika memang benar, bahwa telah terjadi kerusuhan di Paranganom, kejadian yang sebelumnya belum pernah mengotori udara Kadipaten ini”

Ki Ajar berdiri termangu-mangu, dipandanginya hutan yang tinggal beberapa langkah saja itu.

Mereka memang berada di ruas jalan yang terdekat dengan hutan di perbatasan itu.

Sejenak mereka bertiga berdiri termangu-mangu. Mereka sama sekali tidak berniat dengan cepat menghindar dari kemungkinan buruk menghadapi orang-orang yang telah dengan sengaja menyilangkan tali ijuk itu. Bahkan mereka bertiga seakan-akan menunggu, apa yang akan terjadi kemudian meskipun mereka dapat saja merunduk, menyusup dibawah tali ijuk itu dan melarikan kuda mereka.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja mereka mendengar suara tertawa, empat orang bertubuh tinggi, berbadan kekar dan berwajah garang muncul dari dalam hutan.

Seorang diantara mereka berkata, “Luar biasa, jarang sekali orang yang sempat menghindari jebakan kami. Apalagi orang yang berkuda dari arah tikungan. Tetapi kalian sempat menarik kendali, sehingga kuda kalian berhenti sebelum tali itu melemparkan kalian dari kuda-kuda kalian.”

Wignyana yang menyahut, “Kalian hanya menjebak orang-orang yang lewat dari satu arah, kenapa justru orang-orang yang akan pergi kearah pusat kota pemerintahan Paranganom?”

Orang yang berwajah garang itu mengerutkan dahinya, katanya, “Pertanyaanmu bagus anak muda, tetapi aku tidak dapat menjawab. Kami sama sekali tidak pernah memikirkannya, bahwa jebakan kami hanya berlaku bagi mereka yang berkuda dari satu arah. Mungkin kami mempunyai firasat bahwa kalian akan lewat jalan ini menuju pusat pemerintahan Kadipaten Paranganom”

“Lalu, apa maksud kalian dengan merentang tali ijuk ini menyilang jalan itu?”

“Kau sudah tentu tahu apa yang kami inginkan. Karena kalian tidak terlempar dari kuda kalian, maka baiklah aku katakan saja bahwa aku ingin merampas semua harta kalian, kami adalah sekawanan penyamun. Kami tidak perlu menyembunyikan kenyataan diri atau berpura-pura. Berikan kudamu, uangmu, kerismu, timangmu. Pokoknya tinggalkan semuanya dan kalian boleh pergi”

“Baik. Kami pun akan berterus terang” sahut Madyasta, “Kami akan menangkap kalian dan membawanya menghadap Kangjeng Adipati. Selama ini Paranganom selalu tenang, tenteram dan tidak pernah terdapat gejolak apapun. Tiba-tiba muncul kalian, kawanan penyamun yang bukan saja ingin merampas milik kami, tetapi kalian sudah membuat Paranganom menjadi resah”

Para penyamun itu tertawa, seorang diantara mereka berkata, “Itu memang kami sengaja. Karena selama ini Paranganom tenang-tenang saja, maka, banyak orang yang menjadi lengah dan tidak berhati-hati. Nah, karena itu, maka Paranganom menjadi ladang yang sangat subur bagi kami. Di daerah yang tidak sedamai Paranganom, tidak akan ada orang yang memilih jalan ini untuk memilih jalan yang ramai meskipun agak jauh. Tetapi disini, di daerah yang aman dan tenteram, kalian berani lewat jalan yang sepi ini. Karena itu, maka kalian telah menemui nasib buruk sekarang ini”

“Kami atau kalian yang menemui nasib buruk?. Kami adalah prajurit Paranganom dalam tugas sandi, justru karena pada saat-saat terakhir sering terjadi perampokan. Semula kami tidak mempercayainya, karena selama ini Paranganom selalu aman dan tenteram. Namun disini kami menemukan kenyataan itu. Di Paranganom memang ada sekawanan perampok dan bahkan mungkin sekelompok perampok yang justru memanfaatkan ketenangan masyarakat Paranganom yang kalian anggap lengah. Memang mungkin rakyat menjadi lengah, tetapi tidak untuk prajurit”

“Persetan dengan celoteh kalian. Jika kalian prajurit dalam tugas sandi, kenapa kalian membawa orang tua itu bersama kalian”

Madyasta dan Wignyana serentak berpaling kepada Ki Ajar Wihangga yang berdiri saja seolah membeku.

“Orang tua itu hanya kebetulan seperjalanan, agaknya orang tua itu sudah mempunyai firasat buruk, bahwa Paranganom sekarang memang sudah tidak lagi aman dan tenteram”

“Sudahlah, jangan mengaku-aku prajurit, bahkan seandainya kalian prajurit. Kalian harus tunduk kepada kami sekarang ini. Serahkan semua yang kalian punya, juga orang tua itu. Kemudian karena kalian prajurit, maka perlakuan kami akan berbeda”

“Kenapa jika kami prajurit?” bertanya Wignyana.

“Karena kalian prajurit, maka kalian akan kami bunuh disini. Biarlah Paranganom menyadari, betapa rapuhnya kekuatan Kadipaten Paranganom yang katanya aman dan tenteram. Orang tua itu akan kami lepaskan untuk berceritera, bahwa dua orang prajurit Paranganom telah mati dibunuh sekawanan perampok. Orang tua itu akan berceritera, bahwa ternyata para prajurit Paranganom tidak mampu melindunginya, sehingga ia harus menyerahkan semua miliknya kepada orang-orang yang merampoknya di jalan ini”

Tetapi Wignyana itu pun menjawab, “Bersiaplah, kami akan menangkap kalian. Jika kalian melawan, maka kami akan terpaksa membunuh kalian. Orang-orang Paranganom akan merasakan betapa ketatnya perlindungan bagi ketenangan hidup mereka”

Keempat orang perampok itu bergeser merenggang. Tetapi sambil tertawa seorang yang agaknya pemimpin mereka itu masih juga tertawa sambil berkata, “Prajurit-prajurit muda kebanyakan memang besar kepala, mereka merasa dirinya mumpuni. Tetapi apa kalian pernah belajar olah kanuragan yang sebenarnya di lingkungan keprajuritan? Lurah-lurah kalian pun tidak tahu ilmu kanuragan yang sebenarnya, apalagi kalian”

Madyasta dan Wignyana tidak bertanya lagi, keduanya pun telah mengikat kuda-kuda mereka pada pohon perdu di pinggir jalan. Kemudian keduanya pun telah mengambil jarak. Mereka menyadari, bahwa mereka masing-masing akan menghadapi dua orang lawan. Para perampok itu tentu tidak akan memperhitungkan kehadiran Ki Ajar Wihangga, kecuali jika Ki Ajar itu sendiri yang akan turun ke medan.

Namun agaknya Ki Ajar tidak akan melibatkan diri, ia masih saja berdiri sambil memegangi kendali kudanya, seakan-akan membeku.

Sebenarnyalah bahwa Ki Ajar memang tidak ingin langsung terjun ke arena, ia justru ingin melihat, apa yang dapat dilakukan oleh kedua orang muridnya.

Hanya dalam keadaan yang memaksa, maka Ki Ajar akan melibatkan diri.

Dalam pada itu, salah seorang dari keempat perampok itu masih berkata, “Angkatlah wajahmu, pandanglah langit diatas Kadipaten Paranganom untuk terakhir kalinya. Pandanglah mega yang mengalir dan seakan-akan bersarang di puncak gunung itu. Kemudian tundukkan kepalamu. Pandanglah bumi yang kau injak. Di bumi itu pula kalian akan dikuburkan”

Madyasta dan Wignyana tidak menyahut, namun keduanya benar-benar telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian, para perampok itu pun telah bertebar, seakan-akan memilih lawan masing-masing, seperti yang diduga oleh Madyasta dan Wignyana, mereka masing-masing akan berhadapan dengan dua orang yang bertubuh tinggi, berbadan kekar, dan berwajah garang. Meskipun mereka sering tertawa, tetapi suara tertawa mereka sama sekali jauh dari nafas keramah-tamahan.

“Suara iblis yang bersarang di tubuh mereka” berkata Madyasta di dalam hatinya.

Sebagai putera seorang Kangjeng Adipati yang memimpin pemerintahan, maka Madyasta dan Wignyana benar-benar merasa tersinggung oleh perbuatan para perampok itu. Ketenangan yang mereka anggap ketenangan itu, seolah-olah telah menggelar lahan yang sangat subur bagi mereka.

“Kesan itu harus dihapuskan, setiap penjahat yang ada di Kadipaten ini harus dihukum”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, para perampok itu sudah mulai menyerang dari arah yang berbeda. Dua orang menghadapi Madyasta, yang dua orang lagi menghadapi Wignyana.

Dengan tangkasnya Madyasta dan Wignyana menghadapi para perampok yang garang itu.

Ketika beberapa serangan para penyamun itu tidak sempat menyentuh tubuh kedua orang anak muda itu, maka para perampok itu pun mulai menyadari, bahwa anak-anak muda itu bukannya sekedar menggertak. Agaknya mereka memang mempunyai bekal yang cukup dalam olah kanuragan.

Ki Ajar masih berdiri di tempatnya, kedua murid utamanya itu justru mendapat tempat untuk menguji ilmu yang pernah mereka pelajari.

Namun pertempuran itu tidak berlangsung lama, Madyasta dan Wignyana ternyata terlalu kuat bagi keempat perampok itu.

Dalam beberapa saat, keempat penyamun itu mulai terdesak. Serangan-serangan mereka yang garang sama sekali tidak berarti bagi Madyasta dan Wignyana, bahkan serangan-serangan Madyasta dan Wignyana yang kemudian justru sering mengenai tubuh mereka, serangan-serangan kedua orang anak muda itu mampu menembus pertahanan lawan-lawan mereka.

Ketika serangan Madyasta yang deras mengenai dada seorang diantara lawan-lawannya, orang itu pun terlempar beberapa langkah surut, kakinya terperosok kedalam parit, sehingga orang itu tidak lagi mampu mempertahankan keseimbangannya. Dengan demikian maka ia pun telah terbaring jatuh menimpa tanggul parit, namun kemudian terguling masuk kedalam aliran air yang meskipun tidak terlalu deras, tetapi telah membasahi pakaiannya.

Dengan cepat orang itu berusaha untuk bangkit. Ada beberapa teguk air yang masuk ke mulutnya dan menghisap ke dalam tenggorokannya.

Tetapi begitu ia bangkit berdiri dan berusaha naik ke tanggul parit. Maka kawannya yang seorang lagi telah terlempar pula menimpanya, sehingga kedua-duanya justru terjebur lagi ke dalam parit.

Madyasta dengan cepat memburunya. Demikian keduanya berusaha untuk bangkit, maka kakinya telah menyambar kening seorang diantara mereka, sehingga terpelanting ke dalam kotak sawah yang sedang digenangi air. Sementara itu, kawannya pun berusaha pula untuk berdiri. Tetapi sekali lagi kaki Madyasta terayun menghantam lambung.

Dengan demikian, maka kedua lawan Madyasta itu pun telah terperosok masuk kedalam lumpur sawah di seberang parit.

Dalam pada itu, Wignyana telah meloncat sambil memutar tubuhnya, kakinya melayang menerpa kening seorang dari kedua lawannya, sehingga orang itu terlempar beberapa langkah. Kepalanya menjadi pening, serta matanya berkunang-kunang.

Kawannya yang melihat serangan itu berusaha memperguna-kan kesempatan. Dengan cepat orang itu meluncur menyerang Wignyana dengan kakinya mengarah ke punggung. Tetapi dengan tangkasnya Wignyana merendah, dengan deras kakinya justru menyapu kaki lawannya.

Orang itu pun terpelanting dengan kerasnya, tubuhnya yang jatuh, menimpa batu-batu di jalanan. Terdengar orang itu mengeluh kesakitan. Punggungnya serasa menjadi retak.

Tetapi ada harapan lagi, bagi keempat perampok itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja seorang diantara mereka telah memberikan isyarat dengan siulan nyaring.

Dengan cepat keempat orang itu berusaha untuk segera bangkit berdiri dan melarikan diri.

Tidak ada kesulitan bagi Madyasta dan Wignyana untuk menangkap mereka. Ketika keempat orang itu berlari ke hutan, maka Madyasta maupun Wignyana berusaha untuk mengejar mereka.

Tetapi terdengar Ki Ajar Wihangga bertepuk tangan memanggil mereka.

“Guru” berkata Madyasta, “Kami harus dapat menangkap salah satu dari mereka. Dengan demikian kita akan tahu, siapakah mereka itu dan siapa pula pemimpin mereka”

“Tidak akan banyak artinya, ngger” jawab Ki Ajar.

“Kenapa guru?”

“Yang mereka ketahui, mereka adalah sebagian dari sekelompok penjahat. Hanya itu. Mereka pun tidak akan dapat menunjukkan sarang kawan-kawannya karena mereka tentu berpindah-pindah tempat. Menurut penglihatanku, mereka adalah sebagian kecil dari sekawanan perampok yang besar dalam susunan keanggotaan yang berlapis, sehingga orang-orang pada lapisan terbawah tidak akan tahu, siapakah yang berada di lapisan tengah. Apalagi di lapisan atas”

“Tetapi setidak-tidaknya kami membawa bukti bahwa telah terjadi kerusuhan di Kadipaten ini”

“Jika kau kehilangan bukti, aku akan bersedia menjadi saksi”

Madyasta terdiam.

“Angger berdua, kalian tidak tahu, apa yang ada dibelakang pepohonan hutan itu. Sarang mereka tentu tidak ada di tempat itu. Tetapi kau harus mengingat jebakan-jebakan yang mungkin mereka pasang. Bukan hanya sekedar tali yang terikat menyilang di jalan. Mungkin di dalam hutan itu terdapat berbagai macam jebakan, sementara beberapa orang telah menunggu”

Madyasta dan Wignyana saling berpandangan sejenak, namun mereka pun mengerti peringatan yang diberikan oleh gurunya. Mungkin para perampok itu telah membuat jebakan yang memang mereka tujukan kepada para prajurit jika mereka mencoba memburu untuk menangkap mereka.

“Ya, guru” desis Madyasta kemudian.

“Nah, sekarang marilah kita meneruskan perjalanan, singkirkan tali itu”

Madyasta dan Wignyana pun kemudian telah menyingkirkan tali yang merentang menyilang jalan itu.

Sejenak kemudian, maka mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan mereka, tetapi yang berada di paling depan kemudian adalah Ki Ajar Wihangga.

Ketika mereka kemudian telah sampai ke jalan yang lebih lebar, yang semakin jauh dari hutan, ki Ajar pun berkata kepada Madyasta dan Wignyana, “Majulah sedikit ngger, ada yang akan aku katakan.”

Madyasta dan Wignyana kemudian berkuda disebelah menyebelah Ki Ajar. Sementara itu, kuda mereka pun berlari tidak terlalu kencang.

`”Aku melihat kalian tadi marah sekali kepada para perampok itu”

Madyasta dan Wignyana termangu-mangu sejenak, namun kemudian Madyasta pun menjawab, “Ya, guru. Aku memang marah sekali kepada mereka”

“Itu wajar, ngger. Tetapi betapapun kalian marah. Kalian tidak boleh terbakar oleh rasa kemarahan kalian itu. Kalian harus tetap mengendalikan perasaan kalian dengan baik. Jika kalian tenggelam ke dalam kemarahan kalian, maka penalaran kalian pun akan menjadi kabur”

Madyasta dan Wignyana terdiam.

“Angger berdua, aku melihat ungkapan kemarahan kalian adalah tatanan gerak kanuragan kalian. Betapa kalian marah sekali sehingga serangan-serangan kalian tidak lagi terkendali. Tidak ada pikiran lain di kepala kalian sekali menghancurkan lawan kalian. Dan bahkan malah membunuh mereka. Seandainya kalian mengejar mereka agar menangkap salah seorang dari mereka untuk dijadikan sumber

keterangan, maka yang akan kalian dapatkan tidak akan lebih dari sosok-sosok mayat para perampok itu. Aku melihat bahwa kalian terlalu sulit untuk mengendalikan kemarahan kalian”

Madyasta dan Wignyana tidak menjawab.

“Tetap itu wajar sekali terjadi pada anak-anak muda yang baru keluar dari sebuah perguruan. Anak-anak muda yang merasa dirinya telah berbekal ilmu”

Jantung Madyasta dan Wignyana pun telah tersentuh pula, karena itu, maka keduanya sama sekali tidak menjawab.

“Tetapi setelah kalian mengalami, ngger. Untuk seterusnya berhati-hatilah. Kalian harus menjaga agar kalian tidak terbenam kedalam arus kemarahan setiap kali kalian menghadapi persoalan, betapapun kalian menjadi marah. Kalian harus tetap menyadari, apa yang akan kalian lakukan”

“Ya, guru” jawab Madyasta dan Wignyana berbarengan.

“Tetapi apa yang terjadi bukan merupakan gejala buruk bagi kalian. Itu wajar. Wajar sekali. Namun meskipun hal itu terjadi, namun sebaiknya kalian mampu tetap berpegang teguh pada penalaran yang penting.

“Ya, guru” jawab kedua orang anak muda itu.

“Nah, marilah kita berpacu agak lebih cepat. Waktu kita sudah tersita beberapa lama di pinggir hutan itu”

Madyasta dan Wignyana tidak menjawab, sementara itu, kuda Ki Ajar berlari semakin cepat, sehingga kedua orang anak muda itu pun mempercepat lari kuda mereka pula.

Namun dengan demikian, maka mereka tidak dapat mencapai Dalem Kadipaten sebelum senja, ketika senja turun, mereka masih berada di jalan yang langsung menuju ke pintu gerbang kota Paranganom.

Demikian mereka sampai ke pintu kota, maka lampu-lampu minyak di setiap rumah sudah dinyalakan. Dua buah oncor telah terpasang pula di pintu gerbang, sedangkan di pinggir jalan induk yang langsung menuju ke alun-alun, di beberapa regol pun telah terpasang oncor pula. Sebagian oncor jarak, sedangkan yang lain oncor minyak kelapa.

Dalam keremangan senja, tidak banyak lagi orang yang berada di jalan, bahkan tidak ada orang yang memperhatikan tiga orang berkuda menyusuri jalan induk yang langsung menuju alun-alun.

Namun penjaga pintu gerbang istana Kangjeng Adipati lah yang terkejut ketika mereka melihat tiga orang berkuda berhenti di depan pintu gerbang halaman istana.

“Raden Madyasta dan Raden Wignyana” desis prajurit yang bertugas.

“Ya, kami datang bersama guru”

“Silahkan, silahkan, Raden, silahkan Kiai”

Ketiganya pun segera memasuki pintu gerbang halaman istana, mereka langsung menyusuri halaman samping dan berhenti di pinta seketeng.

Prajurit yang bertugas pun segera menerima ketiga ekor kuda itu dan mempersilahkan mereka memasuki longkangan samping.

Kedatangan Madyasta dan Wignyana bersama Ki Ajar Wihangga pada saat malam mulai turun itu, memang agak mengejutkan Kangjeng Adipati.

Kangjeng Adipati pun kemudian menerima kehadiran Ki Ajar serta kedua orang puteranya di serambi samping.

“Selamat datang kakang, nampaknya kakang bersama Madyasta dan Wignyana agak kesiangan berangkat dari padepokan, sehingga lewat senja kalian baru sampai. Bukankah biasanya kakang dan anak-anak sudah sampai sebelum senja turun?”

Ki Ajar tersenyum, katanya, “Ada sedikit hambatan di perjalanan, Kangjeng”

Kangjeng Adipati mengerutkan keningnya, dengan nada tinggi ia pun bertanya

“Hambatan apa kakang?”

Ki Ajar memandang Madyasta dan Wignyana berganti-ganti. Sambil tersenyum ia pun berkata, “Kedua putera Kangjeng Adipati telah diuji di perjalanan”

“Ada apa?” nampak kecemasan di wajah Kangjeng Adipati.

Namun sebelum pembicaraan itu berlanjut, Raden Ayu Prangkusuma telah memasuki serambi itu pula. Dengan nada penuh kerinduan dari seorang ibu, Raden Ayu itu pun berkata, “Aku mendengar suara kalian Madyasta dan Wignyana. Marilah. Masuklah ke ruang dalam, kalian tentu letih setelah menempuh perjalanan seharian”

“Kau belum mengucapkan selamat datang kepada kakang Ajar Wihangga, diajeng” potong Kangjeng Adipati.

Raden Ayu tertawa, katanya, “Maaf kakang, sudah sejak di dalam ucapan itu sudah ada di bibir. Tetapi ketika aku melihat Madyasta dan Wignyana, aku lupa mengucapkannya. Apalagi ketika aku melihat pakaian mereka yang kusut. Keringat dan debu yang melekat di wajah mereka. Maaf, kakang. Biarlah mereka membenahi diri”

“Kakang Ajar Wihangga tentu juga akan segera berbenah diri”

“Senthong bagi kakang Ajar akan segera disiapkan. Bukankah kakang akan bermalam?”

“Tentu” Kangjeng Adipati lah yang menjawab, “Bukankah malam sudah turun?”

“Nah, masih banyak waktu untuk berbincang. Malam nanti, esok pagi dan barangkali kakang Ajar tidak hanya akan bermalam semalam saja”

Ki Ajar hanya tertawa saja. Sementara itu, setelah Madyasta dan Wignyana mencium tangan ibunya, mereka pun dibimbing seperti kanak-kanak masuk ke ruang dalam.

“Maaf, kakang” berkata Kangjeng Adipati kemudian, “Ibunya memang sangat rindu kepada mereka”

“Aku mengerti, Kangjeng”

“Aku juga minta maaf, kakang. Sebelum kakang sempat beristirahat, aku sudah mendesak ingin mengetahui hambatan apa yang telah terjadi di perjalanan?”

Ki Ajar tersenyum, katanya, “Tidak apa Kangjeng, bukankah itu sudah sewajarnya?”

“Ya, kakang” sahut Kangjeng Adipati

Ki Ajar pun kemudian menceritakan apa yang telah terjadi di perjalanan. Empat orang kawanan perampok itu pun telah mengganggu perjalanan mereka.

“Perampok?”

“Ya, Kangjeng”

Kangjeng Adipati termangu-mangu sejenak, namun sementara itu, seorang pelayan telah menghidangkan minuman hangat dan beberapa potong makanan.

“Silahkan kakang. Nanti pembicaraan kita tentang para perampok itu kita lanjutkan”

“Terima kasih, Kangjeng”

“Kami akan mempersilahkan kakang untuk mandi dan beristirahat. Malam nanti kita akan dapat berbicara panjang bersama Madyasta dan Wignyana”

Malam itu setelah makan malam Kangjeng Adipati duduk di serambi pula bersama Ki Ajar Wihangga, Madyasta dan Wignyana. Raden ayu Prangkusuma itu duduk bersama mereka sebentar. Namun kemudian minta diri untuk bersama-sama dengan pelayan membersihkan ruangan dalam.

“Nah” berkata Kangjeng Adipati kemudian, “Sekarang aku ingin mendengar ceritera tentang perjalanan kakang bersama Madyasta dan Wignyana sepenuhnya”

Ki Ajar pun tersenyum, katanya, “Baiklah, Kangjeng, tetapi sebaiknya biarlah anger Madyasta dan Wignyana sajalah yang berceritera”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, katanya, “Baiklah, ceritakan apa yang telah terjadi”

Berganti-ganti Madyasta dan Wignyana menceritakan apa yang telah terjadi di perjalanan mereka. Mereka saling melengkapi dan bahkan ceritera mereka memang kadang-kadang menjadi tumpang tindih. Rasa-rasanya terlalu banyak yang ingin mereka katakan, sehingga kalimat pun rasa-rasanya saling berdesakan lewat mulut keduanya.

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, akhirnya ceritera kedua orang putranya itu jelas pula baginya.

“Kakang” berkata Kangjeng Adipati, “Sebenarnyalah bahwa Kadipaten Paranganom tidak lagi aman dan tenteram seperti sebelumnya. Aku juga sudah menerima laporan tentang kejahatan yang terjadi di beberapa padukuhan. Juga telah terjadi perampokan di jalan-jalan”

“Jadi ayahanda sudah mengetahuinya?” bertanya Madyasta.

“Baru dalam pekan ini. Agaknya peristiwa kejahatan itu juga belum lama mulai tumbuh di kadipaten ini”

“Kita tidak boleh terlambat ayahanda” berkata Wignyana kemudian.

“Ya” Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, “Tetapi kita juga tidak boleh tergesa-gesa. Kita harus tahu, apa yang sebenarnya terjadi, sehingga kita tidak salah mengambil langkah.

Madyasta dan Wignyana mengangguk-angguk kecil.

“Nah, sikap Kangjeng Adipati itu harus kalian teladani, ngger. Kita jangan tergesa-gesa mengambil sikap agar kita tidak salah langkah”

“Ya, guru” sahut Madyasta dan Wignyana bersama.

Sementara itu, Kangjeng Adipati pun berkata selanjutnya, “Selain laporan tentang tindakan kejahatan itu, kakang sejak hari ini kakang mbok Raden Ayu Prawirayuda juga berada disini”

“Maksud Kangjeng Adipati, Raden Ayu Prawirayuda berada di Kadipaten ini?”

“Ya”

“Apakah sekedar menengok keadaan keluarga disini?”

“Tidak, kakang. Tetapi Kakang Mbok itu mengungsi ke Kadipaten Paranganom”

“Bibi mengungsi ke Paranganom?” bertanya Madyasta

“Ya”

“Kenapa Ayahanda?” bertanya Wignyana

“Ada masalah dengan kakangmasmu angger Adipati Yudapati”

“Persoalan apa?”

“Bibimu dipersilahkan meninggalkan Kadipaten Kateguhan.”

“Alasannya?”

“Aku masih belum sempat berbicara panjang. Baru besok hari aku akan berbicara dengan bibimu. Tadi bibimu nampak sangat letih.”

“Dengan siapa bibi datang kemari?”

“Dengan puterinya Rantamsari”

“Jadi bibi datang bersama dengan Kakangmbok Rantamsari?”

“Ya”

“Lalu bibi akan tinggal di Paranganom?”

“Nampaknya memang begitu. Tetapi aku masih belum tahu pasti, meskipun demikian, aku telah memerintahkan menyiapkan sebuah tempat tinggal bagi bibimu. Jika benar bibimu akan tinggal di Paranganom, maka biarlah bibimu tinggal di tempat itu dengan tenang dan tidak bersama Rantamsari. Biarlah ibundamu menugaskan dua atau tiga orang pelayannya di rumah bibimu serta seorang juru taman”

“Kenapa kakangmas Adipati Yudapati sampai hati mengusir bibi dari Kateguhan?”

“Bagaimanapun juga hubungan antara anak dan ibu tiri sering menimbulkan persoalan” desis Ki Ajar, “Meskipun tidak semuanya, ada seorang ibu tiri yang bersikap kurang baik terhadap anak tirinya, tetapi sebaliknya ada anak tiri yang bersikap tidak baik terhadap ibu tirinya”

“Besok tidak ada salahnya jika kakang juga ikut mendengarkan ceritera Kakangmbok Prawirayuda”

“Baik Kangjeng, tetapi tentu saja aku hanya akan menjadi pendengar yang baik tanpa dapat melibatkan diri”

“Mungkin kakang dapat memberikan petunjuk jalan manakah yang terbaik. Pada dasarnya perselisihan antara ibu dan anak, meskipun anak tiri, dapat dijernihkan”

Dalam pada itu, ketika malam menjadi semakin larut, Kangjeng Adipati pun berkata kepada kedua puteranya, “Kalian tentu letih, beristirahatlah. Biarlah aku duduk disini sebentar lagi dengan gurumu”

“Baik, ayah” Sahut Madyasta, namun kemudian Wignyana pun yang juga merasa letih, telah bangkit pula berdiri sambil berkata, “Aku juga mohon diri untuk beristirahat”

Keduanya pun kemudian telah meninggalkan Ki Ajar Wihangga dan Kangjeng Adipati di serambi.

“Kakang, meskipun tidak kakang katakana, tetapi ketika anak-anak menceritakan hambatan yang mereka alami, terasa ada sesuatu yang ingin kakang sampaikan”

Ki Ajar tersenyum, katanya, “Bukankah Kangjeng Adipati merasakan, betapa mereka berdua demikian ingin menceritakan apa yang telah terjadi?”

“Ya, kakang”

“Keduanya memang menjadi sangat marah kepada para penyamun itu, sehingga mereka berdua telah hanyut kedalam arus perasaan mereka”

Kangjeng Adipati masih mengangguk-angguk.

“Nah, aku merasa perlu untuk sedikit mengekang gejolak darah muda mereka. Ketika mereka mengejar para penyamun yang melarikan diri, aku memang mencegahnya, maksud keduanya memang benar, mereka ingin menangkap setidak-tidaknya seorang dari mereka untuk menjadi sumber keterangan. Tetapi jika mereka dapat menangkap salah seorang dari penyamun itu, maka penyamun itu tentu sudah mati sebelum sempat berbicara juga”

“Aku mengerti kakang” desis Kangjeng Adipati, “Darah muda mereka masih mudah mendidih, sifat kemudaan mereka masih mereka kedepankan”

“Seorang yang baru saja keluar dari sebuah perguruan, memang terdorong untuk menguji kemampuannya. Dibarengi dengan kemarahan yang menyala, maka keduanya agak kurang dapat mengendalikan diri”

“Terima kasih atas pengamatan kakang yang lengkap terhadap anak-anak itu”

“Semoga untuk selanjutnya juga menjadi perhatian Kangjeng Adipati”

Kangjeng Adipati pun mengangguk-angguk pula.

Namun beberapa saat kemudian, Kangjeng Adipati pun telah mempersilahkan Ki Ajar Wihangga untuk beristirahat. Sebuah bilik yang sudah dibersihkan dan diatur dengan rapi di gandok telah disiapkan bagi Ki Ajar Wihangga.

Di pagi hari berikutnya, ketika langit masih remang-remang. Madyasta dan Wignyana sudah sibuk di pakiwan, bergantian mereka menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan.

“Biarlah aku yang mengisinya, Raden” berkata salah seorang abdi Kadipaten.

Tetapi mengisi jambangan di pagi hari adalah kewajiban yang harus mereka lakukan di padepokan. Sehingga rasa-rasanya ada yang terhutang jika mereka tidak mengisi jambangan. Karena itu, maka kepada pelayannya Madyasta berkata, “Biarlah aku mengisinya, pekerjaan ini selalu aku lakukan”

“Tetapi tentu tidak di Kadipaten ini, Raden”

“Disini pun aku tidak boleh melupakan kewajiban itu”

Pelayannya tidak dapat memaksanya meskipun ia masih saja berdebar-debar, jika Kangjeng Adipati atau Raden Ayu melihatnya, maka mereka akan menjadi marah.

Tetapi ternyata tidak, ketika Kangjeng Adipati yang berdiri di pintu butulan melihat Madyasta menimba air selagi Wignyana mandi, Kangjeng Adipati itu sama sekali tidak marah, dan bahkan tidak mencegahnya. Dibiarkannya Madyasta terus mengisi jambangan pakiwan.

Ketika matahari naik, Madyasta dan Wignyana sudah siap untuk hadir di pendapa Kadipaten bersama para pemimpin Kadipaten Paranganom. Ki Ajar Wihangga dari Panambangan juga akan ikut hadir.

Sebelum saatnya baik ke pendapa, maka Ki Ajar pun melihat Madyasta dan Wignyana mengenakan pakaian baru.

“Sudah sejak angger berdua berada di padepokan angger berdua belum pernah ikut dalam pertemuan resmi seperti hari ini, ngger?”

“Belum. Guru, adalah kebetulan hari ini ayahanda memanggil para pemimpin Kadipaten untuk menyelenggarakan sebuah pertemuan resmi di pendapa”

“Angger berdua nampak benar-benar seperti putera seorang Adipati”

“Ah, guru, ibu tadi mengatakan, bahwa kemarin adalah hari ulang tahunku. Karena itu, maka ibunda lah yang memberikan pakaian baru kepadaku, apalagi hari ini ayahanda menyelenggarakan sebuah pertemuan besar”

“Kakangmu Madyasta yang kemarin berulang-tahun, aku ikut pula menerima hadiah dari ibunda”

“Besok, jika kau berulang-tahun, aku juga akan menuntut hadiah” sahut Madyasta.

Wignyana tertawa, gurunya tertawa pula.

Ketika matahari sepenggalah, maka para pemimpin di Kadipaten Paranganom mulai berdatangan. Beberapa orang Tumenggung dan beberapa orang Bupati.

Ketika para pemimpin Paranganom sudah hadir, maka Ki Ajar diikuti oleh Madyasta dan Wignyana telah naik ke pendapa pula.

Orang-orang yang hadir segera mengenali kedua orang anak muda itu. Mereka adalah putera Kangjeng Adipati yang sudah agak lama berada di sebuah padepokan.

“Agaknya sekarang mereka sudah pulang” berkata salah seorang tumenggung kepada tumenggung yang lain, yang duduk di sebelahnya.

Sementara itu, dua orang Tumenggung Wreda telah hadir pula di pendapa, Ki Tumenggung Wiradapa dan Tumenggung Sanggayuda”

Beberapa saat kemudian maka Kangjeng Adipati pun telah keluar dari ruang dalam Dalem Kadipaten untuk hadir dalam pertemuan itu.

Demikian Kangjeng Adipati duduk, maka suasana di pendapa itu menjadi lengang. Semuanya duduk diam sambil menundukkan kepala mereka.

Madyasta dan Wignyana sempat mencuri pandang melihat suasana di pendapa itu, suasana yang jarang sekali mereka temui, suasana yang demikian terasa tegang dan kaku.

“Seberapa lama kami harus duduk mematung seperti ini” berkata Madyasta di dalam hatinya.

Tetapi ia merasa wajib untuk menyesuaikan diri. Apalagi ia adalah putera Kangjeng Adipati itu sendiri yang harus dijunjung tinggi kewibawaannya. Beberapa saat kemudian, maka Kangjeng Adipati telah membuka pertemuan itu.

Ki Ajar Wihangga justru agak terkejut ketika di akhir acara, Kangjeng Adipati memberikan waktu kepadanya, karena kehadirannya di Kadipaten adalah dalam rangka penyerahan kembali kedua orang putera yang pernah dititipkan kepadanya.

Ki Ajar memang tidak menduga. bahwa Kangjeng Adipati merencanakan penyerahan itu dilakukan dalam satu upacara, karena pada saat Kangjeng Adipati menyerahkan kedua puteranya itu sama sekali tidak disertai dengan upacara apapun. Waktu itu, Kangjeng Adipati secara langsung menyerahkan Raden Madyasta dan Raden Wignyana dan langsung pula keduanya ikut bersamanya berkuda ke padepokan.

Pada waktu Kangjeng Adipati itu berkata kepadanya, “Aku titipkan anak-anakku kepadamu kakang”

Tetapi tiba-tiba kini Ki Ajar itu harus menyerahkan keduanya dalam satu upacara di pendapa kadipaten dihadapan para pemimpin Kadipaten Paranganom.

Ki Ajar memang tidak terbiasa dengan upacara-upacara resmi seperti itu. Namun Ki Ajar tidak dapat mengelak. Dihadapan para Tumenggung Wreda, Tumenggung Sanggayuda, para bupati dan para pemimpin yang lain. Ki Ajar itu pun berkata, “Ampun Kangjeng Adipati, junjungan rakyat Paranganom, pada saat ini, aku yang rendah, Ajar Wihangga dari padepokan Panambangan, menyerahkan kembali kedua putera Kangjeng Adipati yang selama empat tahun berada di padepokan. Aku yang kurang pengetahuan dan tidak memahami ilmu, mohon ampun apabila yang kami lakukan, jauh dari memenuhi harapan Kangjeng Adipati, namun yang penting yang aku harapkan dapat selalu diingat oleh kedua anak muda, putera Kangjeng Adipati adalah pesanku kepada mereka, hendaknya hidup mereka itu dipersembahkan kepada Yang Maha Agung, yang menciptakan langit dan bumi serta seisinya, yang telah berkenan menghadirkan Angger Madyasta dan Wignyana di atas bumi ciptaan-Nya pula, serta  diabdikan kepada sesamanya. Sebagai putera seorang Adipati, mereka mempunyai kesempatan yang luas untuk memperhatikan sesamanya yang kekurangan, kelaparan dan hidup dalam kegelapan. Bertindak dengan bijaksana serta hatinya dipenuhi oleh kesabaran serta belas kasihan”

Madyasta dan Wignyana justru terkejut. Mereka memang sering mendengar nasehat itu diucapkan hampir di setiap kesempatan, tetapi ketika nasehat gurunya itu diucapkannya dihadapan para pemimpin Kadipaten Paranganom, maka mereka seakan-akan dihadapan kepada para saksi yang akan menilai, apakah dalam perjalanan hidupnya kemudian, mereka akan dapat memenuhi petunjuk gurunya itu. Sehingga masa berguru yang dijalaninya itu benar-benar mempunyai arti.

Terasa jantung kedua anak muda itu tergetar. Namun justru itu, maka keduanya pun telah berjanji untuk melakukan semua petunjuk gurunya itu.

Sementara itu, Kangjeng Adipati telah menanggapi pula dengan pernyataan terima kasih kepada Ki Ajar yang telah memberikan bimbingan kepada kedua puteranya, tidak saja dalam olah kanuragan, tetapi juga arah serta pegangan hidup mereka di masa mendatang.

Baru kemudian, Kangjeng Adipati berbicara dengan para pemimpin di Kadipaten Paranganom.

Yang terpenting mereka bicarakan adalah tentang laporan adanya tindak kejahatan yang tumbuh di Kadipaten.

“Bukan berarti bahwa selama ini tidak ada tindak kejahatan di Kadipaten Paranganom. Tetapi tindak kejahatan itu segera dapat diredam. Namun akhir-akhir ini tindak kejahatan itu rasa-rasanya tumbuh dengan cepat. Menurut laporan yang diterima oleh para pemimpin di Paranganom, maka kejahatan itu mulai merambat dari satu tempat ke tempat yang lain.

Ternyata para pemimpin di Paranganom juga sudah mendengar laporan-laporan tentang terganggunya keamanan dan ketenteraman hidup bagi rakyat Paranganom.

“Kita harus segera mengambil tindakan untuk mencegah meluasnya tindak kejahatan itu” berkata Kangjeng Adipati.

Para pemimpin yang hadir itu pun sependapat bahwa mereka harus mengambil tindakan yang cepat, jika mereka bertindak dengan lambat, maka kejahatan itu akan menjalar kemana-mana.

Ki Tumenggung Wiradapa berpendapat bahwa para Demang harus memantau keadaan dengan seksama.

“Setiap saat mereka harus memberikan laporan tentang perkembangan di kademangan mereka masing-masing, Kangjeng”

“Aku tugaskan kepada para Bupati untuk mengamati lingkungan mereka masing-masing, jika perlu, jika rakyat mengalami kesulitan untuk menghadapi mereka, maka Paranganom akan memerintahkan para prajurit untuk mengatasinya. Karena itu, kami memerlukan laporan itu setiap saat dan dalam waktu yang cepat dari setiap peristiwa kejahatan”

Pertemuan itu telah menghasilkan kesepakatan bahwa para pemimpin di Paranganom harus memantau keadaan, terutama dalam hubungannya dengan semakin berkembangnya kejahatan.

Ketika pembicaraan dianggap sudah cukup, maka Kangjeng Adipati telah menutup pertemuan itu. Para pemimpin Kadipaten Paranganom diperkenankan meninggalkan pendapa dalem kadipaten.

“Aku minta kakang Tumenggung Wiradapa dan kakang Tumenggung Sanggayuda untuk tinggal disamping kakang Ajar Wihangga serta kedua puteraku”

Demikian, sejenak kemudian pendapa kadipaten itu pun menjadi lengang. Yang tinggal hanyalah kedua orang Tumenggung Wreda dan Tumenggung Sanggayuda, kedua orang putera Kangjeng Adipati serta Ki Ajar Wihangga.

Namun kemudian Kangjeng Adipati itu pun berkata kepada Wignyana, “Wignyana, persilahkan ibundamu seta bibimu Prawirayuda menghadap, aku ingin berbicara tentang sikap angger Adipati Yudapati”

“Hamba, ayahanda” sahut Wignyana sambil beringsut.

Beberapa saat kemudian, Raden Ayu Prawirayuda, Rantamsari ditemani oleh Raden Ayu Prangkusuma telah menghadap Kangjeng Adipati Paranganom.

“Kakangmbok” berkata Kangjeng Adipati, “Maaf, bahwa baru sekarang kita akan berbicara tentang keadaan Kakangmbok, kemarin Kakangmbok nampak begitu letih, sehingga aku biarkan Kakangmbok untuk beristirahat”

“Terima kasih, Dimas, bahwa aku diperkenankan untuk berada di Paranganom itu pun sudah merupakan satu kemurahan hati Dimas yang tidak terhingga artinya bagi aku dan anakku Rantamsari”

“Kakangmbok” berkata Kangjeng Adipati kemudian, “Apa yang sebenarnya terjadi di Kadipaten Kateguhan sehingga Kakangmbok harus meninggalkan Kadipaten?”

“Dimas, sebenarnyalah bahwa aku tidak tahu, apakah kesalahanku sebenarnya, tanpa tuduhan apa-apa, tiba-tiba saja angger Adipati Yudapati telah mengusir aku, agar aku dan Rantamsari meninggalkan Kadipaten Kateguhan”

“Tetapi bukankah Kakangmbok dapat menduga, apakah sebabnya anakmas Adipati Yudapati menjadi marah dan bahkan kemarahannya agak melampui batas kewajaran, karena angger Adipati Yudapati sudah mengusir Kakangmbok dari Kadipaten Kateguhan, bagaimana juga, Kakangmbok adalah isteri kakangmas Adipati Prawirayuda almarhum. Sehingga Kakangmbok berhak untuk tinggal di Kadipaten bersama dengan Rantamsari”

“Tetapi sudahlah, Dimas. Kemurahan hati Dimas sudah dapat menyejukkan hatiku serta anakku”

“Mungkin Kakangmbok yang merasa sudah mempunyai tempat tinggal selanjutnya, sudah merasa cukup. Mungkin Kakangmbok tidak merasa mendendam kepada angger Adipati Yudapati, tetapi karena masih ada sangkut paut hubungan keluarga, maka tidak ada salahnya mengetahui, apa yang sebenarnya yang telah terjadi di Kateguhan. Dalam pertemuan ini aku masih menahan kedua orang Tumenggung agar dapat ikut mendengarkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Kateguhan bukan saja sebuah Kadipaten yang semula diperintah oleh kakangmas Prawirayuda, saudara tuaku sendiri dan yang sekarang diperintah oleh kemanakanku, angger Adipati Yudapati. Tetapi Kateguhan juga sebuah Kadipaten yang merupakan tetangga terdekat. Garis batas sebelah utara Paranganom adalah garis batas sebelah selatan Kateguhan. Sehingga apa yang terjadi di Kateguhan akan dapat memercik ke Paranganom. Apalagi sekarang Kakangmbok Prawirayuda berada disini”

Raden Ayu Prawirayuda menundukkan kepalanya, diusapnya matanya yang basah dengan jari-jarinya. Sementara itu Rantamsari yang duduk di sebelah ibunya hanya dapat menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Adimas” suara Raden Ayu Prawirayuda itu tersendat-sendat, “Sebenarnyalah bahwa angger Adipati Yudapati tidak pernah menjatuhkan tuduhan apa-apa. Justru karena itu, aku tidak dapat membela diri, tetapi menurut seorang abdi, justru diluar dalem kadipaten telah tersebar kabar yang sangat memalukan Dimas”

“Kabar apakah itu Kakangmbok? Nah, kabar yang tersebar itulah yang ingin aku dengar. Tentu saja bukan merupakan pegangan atas kebenarannya”

“Dimas, sebenarnya aku sangat malu untuk mengutarakannya, tetapi apa boleh buat. Aku dapat mengerti, bahwa Dimas memerlukan bahan untuk menempatkan masalah ini pada tempat yang sewajarnya”

“Ya, Kakangmbok”

“Adimas. Orang-orang di jalanan mengatakan bahwa angger Adipati Yudapati menjadi sangat marah kepadaku dan kepada Rantamsari karena aku dan Rantamsari sering menjual harta benda milik Kadipaten yang harganya sangat mahal. Nampan dari emas, beberapa buah mangkuk yang diselut perak, berbagai macam perhiasan di kaputren dan masih banyak lagi. Karena itu, maka aku telah diusir dari dalem Kadipaten. Aku diberi waktu sepekan untuk berkemas dan menyiapkan benda-benda berharga di kaputren yang ingin aku bawa. Angger Adipati akan memberikan apa saja yang aku kehendaki untuk aku bawa meninggalkan kadipaten Kateguhan”

“Tetapi bukankah Kakangmbok dapat membuktikan bahwa Kakangmbok tidak melakukannya? Bukankah benda-benda berharga di Kadipaten Kateguhan diketahui dengan pasti jenis dan jumlahnya, sehingga jika ada yang hilang akan segera diketahui?”

“Aku tidak dapat mengatakannya kepada Angger Adipati, angger Adipati sendiri tidak pernah melontarkan tuduhan apa pun kepadaku. Dimas, yang aku tahu, tiba-tiba saja angger Adipati meminta kepadaku untuk mengemaskan barang-barangku dan meninggalkan Kadipaten dalam waktu sepekan”

“Tetapi Kakangmbok justru dipersilahkan membawa apa saja yang ingin Kakangmbok bawa dari kaputren Kateguhan?”

“Ya, Dimas, tetapi aku tidak membawa sepotong pun benda berharga. Aku ingin mengatakan kepada angger Adipati, bahwa aku tidak menginginkan semua itu. Ketika aku akan berangkat, aku katakan kepadanya, angger Adipati menghitung semua benda bukan saja yang berharga, tetapi apa saja yang ada di kaputren. Bahkan sepotong bancik lampu dari perak yang sangat aku suka pun, tidak aku bawa”

“Apa kata angger Adipati ketika ia tahu bahwa Kakangmbok tidak membawa apa-apa?”

“Angger Adipati tidak mengatakan apa-apa kepadaku”

Kangjeng Adipati Paranganom mengangguk-angguk, katanya, “Sudahlah Kakangmbok. Biarlah Kakangmbok tinggal disini. Aku sudah menyediakan sebuah rumah bagi Kakangmbok, mungkin terlalu sederhana dibandingkan dengan kaputren Kateguhan”

“Aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga, Dimas. Jika Dimas dan Diajeng Adipati Paranganom tidak menaruh belas kasihan, lalu apakah jadinya kami berdua, apakah kami harus berkeliaran di sepanjang jalan”

Suara Raden Ayu Prawirayuda itu terputus, jari-jarinya sibuk mengusap matanya yang basah.

“Sudahlah Kakangmbok” berkata Raden Ayu Prangkusuma, “Tinggallah di Paranganom. Dua orang abdiku akan melayani Kakangmbok. Selain mereka, juru taman kami akan memelihara taman di rumah yang kami sediakan bagi Kakangmbok. Jika Kakangmbok masih memerlukannya, aku dapat menambahnya dengan satu atau dua orang lagi”

“Tentu sudah cukup, Diajeng”

“Rantamsari” berkata Raden Ayu Prangkusuma.

“Ya, bibi”

“Agaknya kau memang harus prihatin dimasa mudamu, tetapi dengan demikian, kau telah mempersiapkan hari depanmu dengan baik. Terimalah apa yang telah terjadi atas dirimu dengan hati yang tegar. Yakinlah akan kemurahan Yang Maha Agung, sehingga pada suatu ketika akan terjadi perubahan pada jalan hidupmu”

“Ya, bibi” suara Rantamsari hampir tidak terdengar, wajahnya kemudian menunduk dalam-dalam.

Madyasta dan Wignyana tidak dapat ikut campur dalam pembicaraan itu, apalagi gurunya. Sedangkan Ki Tumenggung Wreda Wiradapa dan Ki Tumenggung Wreda Sanggayuda pun hanya dapat mendengarkan pembicaraan itu sambil mengangguk kecil.

Dengan susah payah Rantamsari berusaha untuk menahan agar ia tidak menangis, tetapi ternyata Rantamsari itu pun kemudian terisak.

Raden Ayu Prangkusuma memeluknya sambil berbisik, “Sudahlah Rantamsari, jangan menangis, ngger. Peristiwa yang tidak kita inginkan memang dapat saja datang setiap saat. Tetapi bukankah kau harus pasrah atas apa yang terjadi. Kita harus mensyukuri bahwa kita masih menemukan jalan keluar. Tentu saja atas petunjuknya.

Rantamsari mengangguk.

“Madyasta dan Wignyana” berkata Kangjeng Adipati kemudian, “Antarkan bibimu dan puterinya ke rumah yang telah dipersiapkan. Biarlah para abdi dan juru taman itu menyertai kalian”

“Baik Ayahanda” jawab Madyasta, “Marilah bibi, marilah Kakangmbok Rantamsari”

Sejenak kemudian, maka Raden Ayu Prangkusuma, Raden Ayu Prawirayuda dan Rantamsari telah meninggalkan pendapa Kadipaten diiringi oleh Madyasta dan Wignyana yang akan mengantar Raden Ayu Prangkusuma dan Rantamsari ke rumah yang telah disediakan.

Namun Kangjeng Adipati masih tetap memerintahkan Tumenggung Wiradapa dan Tumenggung Sanggayuda untuk tinggal bersama Ki Ajar Wihangga.

“Kakang Ajar serta kakang Tumenggung Wreda berdua, bagaimana menurut pendapat kakang atas apa yang terjadi. Apakah peristiwa itu murni sebagaimana yang kita dengar. Bahwa angger Adipati Yudapati telah mengusir Kakangmbok Prawirayuda dari Kadipaten Kateguhan atau kakang melihat persoalan lain di balik apa yang kita dengar. Apakah ada niat yang belum kita ketahui agar angger Adipati Yudapati terhadap Kadipaten Paranganom atau sikap apapun, karena angger Yudapati tentu memperhitungkan bahwa Kakangmbok Prawirayuda tentu akan pergi ke Paranganom.

Ki Ajar menarik nafas panjang, katanya, “Kangjeng Adipati memerlukan waktu untuk mengetahuinya, memang tidak mustahil, bahwa dibalik peristiwa itu tersembunyi masalah yang lebih tajam dalam dan rumit. Namun seperti apa yang pernah Kangjeng katakan, kita tidak boleh tergesa-gesa”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya, kakang. Kita memang harus melihat dengan sangat hati-hati dan dari segala sudut pandang yang berbeda”

“Ampun Kangjeng Adipati” berkata Tumenggung Wiradapa, “Apakah hamba diperkenankan untuk menyampaikan pendapat hamba?”

“Katakan Kakang”

“Ada beberapa peristiwa yang terjadi bersama, memang mungkin satu kebetulan, tetapi mungkin memang ada kaitannya”

“Apa yang kakang maksudkan?”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak, namun kemudian katanya, “Tiba-tiba saja Raden Ayu Prawirayuda sudah berada di Paranganom, Raden Ayu diusir dari Kadipaten Kateguhan dengan alasan yang tidak jelas. Sementara itu di kerusuhan di Paranganom meningkat dengan cepat, nampaknya juga tanpa sebab. Selama ini kesejahteraan rakyat Paranganom justru semakin meningkat. Tidak ada bencana alam dan tidak ada permusuhan yang terjadi di lingkungan Kadipaten. Namun tiba-tiba saja terjadi banyak kerusuhan itu terjadi di daerah yang lebih dekat perbatasan dengan Kadipaten Kateguhan dari pada perbatasan yang lain”

Kangjeng Adipati menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Tumenggung Sanggayuda berkata, “Kangjeng, apa yang dikatakan oleh kakang Tumenggung Wiradapa itu memang harus mendapat perhatian khusus. Meskipun secara umum, para Bupati dan para pemimpin yang lain sudah mendapat perintah untuk memantau keadaan, tetapi daerah perbatasan itu harus mendapat perhatian lebih”

“Bagaimana menurut pendapat kakang”

“Kangjeng, seperti yang kita ketahui, bahwa terdapat perbedaan tingkat kesejahteraan bagi rakyat Kadipaten Paranganom dengan rakyat Kadipaten Kateguhan. Keadaan alam, lingkungan serta kebijaksanaan yang berbeda antara Kangjeng Adipati Prawirayuda dengan Kangjeng Adipati Prangkusuma. Meskipun para Tumenggung sudah banyak membantu serta memberikan beberapa pendapat yang memungkinkan adanya perubahan di Kadipaten Kateguhan, namun Kateguhan masih belum dapat menyamai Paranganom”

“Perbedaan lantaran kesejahteraan itukah yang menurut kakang dapat menimbulkan masalah?”

“Baru satu dugaan, Kangjeng”

“Tetapi kenapa baru sekarang?”

“Kangjeng Adipati Yudapati adalah seorang yang masih muda. Sikapnya tentu berbeda dengan Kangjeng Adipati Prawirayuda yang sudah banyak makan pahit asamnya kehidupan. Mungkin kendali Kangjeng Adipati Yudapati tidak sekuat kendali di tangan ayahandanya, Kangjeng Adipati Prawirayuda.”

Kangjeng Adipati Prangkusuma mengangguk-angguk, sementara Ki Tumenggung Wiradapa berkata dengan nada merendah, “Kangjeng, sebaiknya kita memang tidak berprasangka buruk, bahwa ada semacam kesengajaan dari beberapa orang pemimpin di Kateguhan. Tetapi tidak mustahil bahwa ada pemimpin yang merasa iri terhadap kemajuan yang kita capai selama ini”

Kangjeng Adipati termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia pun berkata, “Ya, kita jangan berprasangka buruk. Tetapi semua kemungkinan harus menjadi perhatian kita”

“Kami berdua akan berusaha Kangjeng”

“Aku percaya kepada kakang Tumenggung berdua. Mudah-mudahan langit akan segera menjadi terang diatas Paranganom”

Sejenak kemudian, maka kedua orang Tumenggung itu pun telah diperkenankan untuk meninggalkan pendapa, sehingga yang tinggal kemudian adalah Ki Ajar Wihangga sendiri. Dua orang prajurit yang bertugas di depan pendapa itu pun termangu-mangu. Tidak biasanya Kangjeng Adipati duduk berlama-lama di pendapa. Apalagi setelah pertemuan selesai.

Tetapi nampaknya Kangjeng Adipati masih berbincang-bincang dengan Ki Ajar Wihangga tentang kemungkinan baru dalam hubungannya dengan Kadipaten Kateguhan.

“Semoga tidak terjadi, Kangjeng” berkata Ki Ajar, “Tetapi kecemasan kedua orang Tumenggung itu sangat beralasan, mungkin diluar pengetahuan Kangjeng Adipati Yudapati. Tetapi mungkin yang terjadi di Paranganom itu justru sepengetahuan Kangjeng Adipati yang masih muda itu”

Tetapi menurut pengetahuanku, angger Adipati Yudapati adalah anak muda yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesatriaan”

“Seseorang dapat berganti sikap karena pengaruh orang lain. Jika seseorang dengan cerdik dan licik, setiap hari meniupkan pengaruhnya ke telinga Kangjeng Adipati Yudapati, maka mungkin saja sikap Kangjeng Adipati berubah atau merasa tidak berubah, tetapi dengan penafsiran yang sengaja dikaburkan sehingga seakan-akan Kangjeng Adipati masih tetap berpijak pada nilai-nilai yang dijunjungnya.”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, katanya, “Ya, kakang. Aku mengerti seseorang memang dapat berbicara tentang sikapnya berdasarkan atas kepentingannya, sedangkan kebenaran pun dapat diurai menurut sudut pandang seseorang”

“Ya, Kangjeng. Sehingga seseorang yang merasa dirinya menegakkan kebenaran akan dapat berbenturan dengan orang lain yang juga bersumpah untuk menegakkan kebenaran pula”

Kangjeng Adipati menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian katanya, “Kakang, aku persilahkan kakang untuk beristirahat, anak-anak tadi baru mengantar bibinya ke tempat tinggalnya yang baru”

“Terima kasih, Kangjeng”

Ki Ajar berdiri pula ketika Kangjeng Adipati kemudian bangkit dan melangkah masuk ke ruang dalam. Sementara itu, para prajurit yang berjaga-jaga di depan pendapa pun telah meninggalkan tempatnya dan bergabung dengan kawan-kawannya yang berada di gardu. Namun dua orang yang berjaga di pintu gerbang kadipaten masih juga berada dalam tugasnya.

Ki Ajar kemudian turun dari pendapa. Sejenak ia berdiri termangu-mangu, namun kemudian ia pun melangkah ke biliknya di gandok dalem kadipaten.

Di ruang dalam, Kangjeng Adipati pun kemudian duduk bersama dengan Raden Ayu Prangkusuma yang masih nampak muram.

“Kasihan Kakangmbok Prawirayuda” desis Raden Ayu Prangkusuma.

“Ya, tetapi apakah kepadamu Kakangmbok mengatakan persoalan-persoalan lain yang dapat melengkapi keterangannya?”

“Tidak, kakangmas, Kakangmbok tidak mengatakan apa-apa kecuali sebagaimana dikatakannya kepada kakangmas”

“Bukankah aneh, jika angger Adipati Yudapati menuduhkan demikian, sementara barang-barang berharga di kaputren masih lengkap”

Tetapi yang dimaksud Kakangmbok adalah berita yang tersiar di jalanan, sebagaimana yang didengar oleh abdinya. Mungkin angger Adipati Yudapati mempunyai alasan yang lain?”

“Tetapi kenapa alasan itu tidak dikatakan kepada Kakangmbok Prawirayuda?”

“Sikap itulah yang sulit dimengerti”

Kangjeng Adipati menarik nafas dalam-dalam, sambil mengangguk-anggukan kepalanya ia pun berkata, “Ya, jika saja Rantamsari mau mengatakan sesuatu kepada Madyasta atau Wignyana”

“Nampaknya Rantamsari juga tidak tahu apa-apa. Rantamsari memang cantik, tetapi tatapan matanya tidak menunjukkan ketajaman penggraitanya serta kecerdasannya. Mungkin ia bukan gadis yang bodoh, tetapi agaknya ia seorang gadis yang manja”

“Ya” Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, “Aku sependapat. Nampaknya gadis cantik itu tidak mempunyai banyak kelebihan dari gadis-gadis yang lain. Rantamsari tidak seperti angger Adipati Yudapati, dilihat dari pandangan matanya. Yudapati sudah menunjukkan bahwa ia adalah seorang anak muda yang tangkas berpikir dan bertindak”

“Agaknya Rantamsari tidak pernah mendapat kesempatan mengasah ketajaman penggraitanya dalam kemanjaannya, sehingga yang ada adalah seorang gadis cantik sebagaimana Rantamsari itu”

“Besok atau lusa, kita menengok di rumah Kakangmbok yang kita sediakan, apakah Kakangmbok merasa kerasan atau tidak. Mungkin rumah itu kurang memadai dibanding dengan kaputren di Kateguhan”

“Tetapi Kakangmbok menyadari, bahwa ia sekarang tidak berada di kaputren Kadipaten Kateguhan”

“Raden Ayu Prangkusuma menarik nafas panjang”

Dalam pada itu, Madyasta dan Wignyana telah berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda yang baru. Dua orang abdi perempuan telah diperintahkan oleh Raden Ayu Prangkusuma untuk sementara berada di rumah itu. Sepasang suami isteri yang akan memelihara taman serta membersihkan isi rumah dan prabot-prabotnya juga akan berada di rumah itu.

“Kau senang dengan rumah ini, Kakangmbok?” bertanya Wignyana kepada Rantamsari.

“Tentu, Dimas” jawab Rantamsari, “Jika paman Adipati Prangkusuma dan bibi tidak memberikan rumah ini kepada kami, maka kami akan hidup di sepanjang jalan”

“Tentu tidak, Kakangmbok, tentu ada tempat yang dapat menerima Kakangmbok dan bibi”

“Ya” Raden Ayu Prawirayuda yang menyahut, “Ternyata memang ada tempat yang dapat menerima kami. Tempat yang sangat menyenangkan, tetapi yang dihadiahkan oleh Dimas Adipati Prangkusuma”

Wignyana mengangguk hormat sambil berkata, “Hanya seandainya saja bibi. Seharusnya ayahanda menyediakan tempat yang lebih baik bagi bibi. Maksudku bukan baik ujud dan bentuknya. Tetapi rumah yang dapat lebih memberikan kenyamanan bagi bibi dan Kakangmbok Rantamsari”

“Rumah ini jauh lebih nyaman bagi kami berdua, daripada, “Kaputren di Kadipaten Kateguhan, angger. Apalagi dilihat dari sisi kebutuhan jiwani, jiwaku yang bagaikan disayat dengan sembilu oleh anakku sendiri. Meskipun angger Adipati Yudapati itu anak tiriku. Tetapi aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Tidak ada bedanya, bahkan bagiku bersikap baik, momong, merawat dan mencintai angger Yudapati lebih banyak merupakan satu pengabdian. Aku merasa bahwa siapa pun aku ini. Tetapi angger Yudapati lah yang akan dan yang sekarang sudah ternyata, mewarisi kedudukan ayahandanya, Adipati Kateguhan”

Wignyana mengangguk-angguk.

Namun tiba-tiba Raden Ayu itu bertanya, “Dimana angger Madyasta?”

“Melihat-lihat keadaan rumah ini, bibi. Mungkin masih ada yang kurang pantas atau bahkan mungkin ada cacat yang harus segera ditangani”

“Semuanya sudah terlalu cukup bagiku ngger, sebenarnyalah aku ingin mempersilahkan angger Madyasta dan angger Wignyana duduk di pringgitan”

“Terima kasih, bibi. Aku akan mencari kakangmas Madyasta. Aku juga akan melihat-lihat rumah ini dalam keseluruhan”

Demikianlah, maka Wignyana pun meninggalkan Rantamsari dan ibundanya mencari Madyasta. Wignyana menemukan Madyasta sedang menunggui juru taman mengumpulkan sampah, kemudian membuat lubang di sudut halaman, memasukkan sampah itu dan kemudian menimbunnya.

“Kau pencarkan pohon soka bajang itu”

“Ya, Raden”

“Jaga pagar hidup yang menyekat taman halaman samping itu agar tetap rapi”

“Ya, Raden”

“Aku lihat sumur di samping itu airnya cukup baik. Sehingga di musim kemarau pun kau tidak akan kekurangan air”

“Ya, Raden”

Madyasta berpaling ketika Wignyana mendekatinya sambil berkata, “Kakang dipanggil oleh bibi, kakangmas”

“Ada apa?, apakah ada yang tidak berkenan?, kemarin sejak bibi datang dan memberitahukan serba sedikit persoalan yang dialaminya, ayahanda dan ibunda segera memerintahkan beberapa orang membersihkan dan mengatur tempat ini”

“Tidak, bukan soal itu, agaknya bibi hanya ingin mempersilahkan kita duduk-duduk di pringgitan. Segala sesuatunya nampaknya sudah cukup memadai bagi bibi dan Kakangmbok Rantamsari”

“Baik, Wignyana, aku selesaikan dahulu gambaran tugas juru taman ini agar taman di rumah ini pun nampak asri seperti taman kaputren Kateguhan, tetapi tentu saja tidak dapat dicipta dalam sehari. Diperlukan waktu sekitar sebulan”

“Aku kira tidak akan menjadi masalah, kakangmas”

Namun Wignyana masih harus menunggu beberapa saat, baru kemudian Madyasta meninggalkan juru taman itu dan bersama-sama dengan Wignyana pergi ke pringgitan.

Raden Ayu Prawirayuda dan Rantamsari ternyata sudah menunggu mereka di pringgitan, dengan ramah Raden Ayu Prawirayuda itu pun berkata, “Maaf, angger berdua. Sekarang, biarlah aku yang mempersilahkan angger berdua duduk, karena atas perkenan Adimas Adipati Prangkusuma, aku akan tinggal di rumah ini.”

“Ya, bibi. Bibi memang akan tinggal di rumah ini. Rumah ini akan menjadi rumah bibi, meskipun barangkali kurang memadai”

“Tidak, angger. Sama sekali tidak. Rumah ini sudah terlalu baik bagiku dan Rantamsari. Bahkan terasa terlalu besar”

“Mudah-mudahan bibi dan Kakangmbok Rantamsari kerasan tinggal di rumah ini. Tetapi jika ada masalah, aku mohon bibi langsung saja menyampaikan kepada ayahanda atau kepada ibunda atau kepada kami berdua”

“Terima kasih angger”

“Nah, bibi. Kami kira kami sudah melaksanakan perintah ayahanda. Kami sudah mengantar bibi sampai ke tempat ini, dan satu dua hari, mungkin rumah ini masih perlu dibenahi.”

“Terima kasih, angger. Tetapi aku minta angger berdua tidak tergesa-gesa meninggalkan rumah ini. Aku ingin menjamu angger berdua”

“Terima kasih, bibi. Bibi masih terlalu repot mengatur segala sesuatunya disesuaikan dengan selera bibi sendiri. Kami berdua akan mohon diri”

“Jika kami tidak dapat menahan lebih lama lagi, baiklah. Silahkan angger. Tetapi aku mohon, besok angger berdua berkunjung ke rumah ini, biarlah aku dan Rantamsari tidak merasa kesepian. Jika angger berdua sering berkunjung kemari, maka kami akan segera merasa menyatu dengan keluarga Adimas Adipati Prangkusuma. Dengan demikian, maka kami akan segera menjadi tenang dari guncangan perasaan karena sikap angger Adipati Yudapati itu”

“Baik, bibi. Kami akan sering-sering berkunjung kemari”

Demikianlah sejenak kemudian Madyasta dan Wignyana segera meninggalkan rumah yang diperuntukkan bagi Raden Ayu Prawirayuda itu, mereka tidak terlalu banyak bicara di sepanjang jalan.

Mereka rasa-rasanya terbenam ke dalam angan-angan mereka masing-masing, Madyasta masih saja bingung memikirkan sikap Kangjeng Adipati Yudapati, sementara itu Wignyana membayangkan kehidupan yang sepi dari Raden Ayu Prawirayuda dan anak perempuannya, Rantamsari. Sehari-hari mereka hanya berdua saja, terpisah dari keluarga mereka.

Ketika keduanya sampai di istana, maka keduanya pun segera mencari guru mereka. Berbincang-bincang sebentar, kemudian keduanya pun pergi menghadap ayahanda mereka.

Dalam pada itu, para Bupati telah memerintahkan para demang untuk bersiaga sepenuhnya, mereka harus mengamati peristiwa-peristiwa yang ada hubungannya dengan kejahatan yang nampaknya mulai menyebar di kadipaten Paranganom.

Sebenarnyalah para Demang pun telah memerintahkan seluruh penghuni kademangan masing-masing untuk bersiaga sebaik-baiknya. Setiap orang laki-laki yang masih nampak kuat harus mendapat giliran meronda. Terlebih-lebih anak-anak mudanya.

Namun, meskipun demikian, kesiagaan itu tidak dapat menghentikan kerusuhan di Kadipaten Paranganom, kerusuhan itu dapat terjadi di jalan-jalan sepi. Namun juga di padukuhan-padukuhan. Yang terjadi bukan saja pencurian ayam atau itik, bukan pula pencurian jemuran di halaman, tetapi yang telah terjadi adalah justru perampokan-perampokan, kawanan penyamun bagaikan telah meleburkan di Kadipaten Paranganom terutama di perbatasan.

Di Kademangan Karang Tengah, di setiap malam bukan saja mereka yang bertugas meronda yang berada di gardu-gardu. Tetapi mereka yang tidak mendapat giliran ronda pun selalu berdatangan ke gardu-gardu.

Seorang anak muda yang bertubuh tinggi besar, yang selalu membawa golok di pinggangnya berkata kepada kawan-kawannya, “Jika saja para perampok itu berani datang kemari”

Anak muda itu memang seorang anak muda yang mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya. Tidak seorang pun yang berani melawannya, ia memiliki kekuatan besar melampaui kekuatan anak-anak muda kebanyakan.

Sayang sekali, anak muda itu terlalu sombong, ia terlalu yakin akan kemampuannya.

Namun, di malam hari anak muda itu rajin berada di gardu. Meskipun bukan hari-hari gilirannya meronda. Di gardu ia sempat menyombongkan diri, menantang para perampok yang ditakuti di mana-mana.

Namun malam itu, rasa-rasanya agak lain dari malam-malam sebelumnya. Meskipun di gardu terdapat banyak orang seperti biasanya, tetapi malam itu terasa sangat sepi. Orang-orang yang berada di gardu itu tidak nampak tegar seperti biasanya. Sebagian dari mereka mulai mengantuk sebelum wayah sepi uwong. Anak-anak mudanya tidak berkelakar seperti biasanya, sehingga suara tertawa dan kelakar mereka terdengar meledak-ledak.

Seorang yang umurnya sudah mendekati pertengahan abad, namun masih tetap setia datang ke gardu, berkata kepada seorang anak muda yang berada di sebelahnya, “Ada suasana lain malam ini”

“Mungkin angin yang basah itu terasa terlalu dingin, Kang”

“Ya, nampaknya langit bersih tanpa selembar awan itu telah membuat malam terasa sangat dingin”

“Ya, apalagi sehari tadi, kita semuanya sibuk di sawah, musim menggarap sawah ini membuat kita semuanya lelah. Pada wayah sepi uwong, kita semuanya sudah mengantuk”

“Ya, Kau benar”

“Karena aku sendiri seharian berada di sawah. Membawa bajak dengan sepasang lembu”

Orang yang sudah mendekati setengah abad itu mengangguk-angguk. Tetapi ia merasakan sesuatu yang lain. Bukan sekedar letih karena kerja seharian. Ada yang asing. Tetapi ia tidak dapat mengatakannya.

Malam pun merayap semakin dalam, anak muda yang bertubuh tinggi besar dan selalu membawa golok di pinggangnya itu pun turun dari gardu dan berjalan-jalan hilir mudik.

“He, bukankah sudah hampir tengah malam. Marilah, siapa yang bertugas meronda berkeliling sekarang?” anak muda itu hampir berteriak.

Tiga orang anak muda yang lain dengan malasnya bangkit berdiri, seorang diantaranya menguap sambil berkata, “Ngantuk sekali ya, rasa-rasanya mataku tidak dapat terbuka sama sekali”

“Kau yang bertugas meronda berkeliling-kan?”

“Ya”

“Marilah kita pergi, aku kawani kalian, jika ada sesuatu, biarlah aku menyelesaikannya”

Seorang yang lain, yang duduk sambil berkerudung kainnya berkata, “Pergilah, harus ada diantara kita yang meronda berkeliling. Dirga sudah bersedia mengantar kalian, karena itu, jangan cemas lagi, Dirga akan mengatasi segala-galanya jika terjadi sesuatu”

“Bahkan seandainya ada sekelompok perampok sekalipun” sahut anak muda yang bertubuh besar itu dan bernama Dirga.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, lima orang termasuk Dirga yang berada paling depan, berjalan mengelilingi kampung.

Empat kawan Dirga membawa kentongan kecil yang dibunyikan sepanjang jalan dengan irama kotekan.

Tetapi Dirga pun kemudian berkata, “Tidak ada gunanya kau membunyikan kotekan itu.

“Kenapa? orang-orang yang tidur terlalu nyenyak akan terbangun” jawab seorang kawannya.

“Apa yang dapat mereka lakukan, meskipun mereka terbangun”

“Mereka akan mengetahui jika ada orang jahat masuk ke dalam rumah mereka”

“Jika mereka tahu?”

“Mereka akan menangkapnya, atau membunyikan kentongan untuk memberi isyarat kepada kita yang berada di gardu”

“Mereka tidak akan dapat melakukannya”

“Kenapa?”

“Jika yang datang itu seorang pencuri yang kurus karena kelaparan, mencongkel dinding rumah dan merangkak masuk, maka orang-orang yang terbangun karena bunyi kocekmu itu akan dapat menangkap mereka, tetapi jika orang yang datang itu sekelompok perampok?”

“He..!” anak-anak muda yang meronda berkeliling itu mulai saling merapat.

“Perampok, berandal atau kecu itu jika mendatangi rumah seseorang tidak dengan sembunyi-sembunyi. Mereka mengetuk pintu, jika tidak dibuka, maka mereka akan mendobraknya”

Keempat orang anak muda itu mulai berdesakkan, tetapi tangan mereka masih saja memukul kentongan kecil.

“Tetapi kentongan ini harus dibunyikan, itu kewajiban kita. Jika kita tidak membunyikan kentongan ini, maka orang-orang padukuhan mengira kira tidak melakukan ronda malam ini”

Dirga tertawa, katanya, “Tentu bukan karena itu. Kau akan merasa lebih tenang jika lebih banyak orang terbangun di padukuhan ini”

“Ya”

“Jika demikian, terserah saja kepada kalian”

Dalam pada itu, kawan-kawan Dirga itu justru memukul kentongan makin keras. Semakin lama malam terasa menjadi semakin menakutkan. Rasa-rasanya jalan padukuhan itu semakin menjadi gelap, beberapa buah oncor di regol rasa-rasanya tidak membantu. Cahayanya menjadi redup. Bahkan bayangan yang timbul oleh cahaya bergerak-gerak seperti hendak menerkam.

Anak-anak muda itu semakin cemas ketika mereka mendengar bunyi burung kulik di kejauhan. Ketika burung itu terbang melintas sambil berbunyi, rasa-rasanya burung itu telah menebarkan malapetaka di padukuhan itu.

Dirga tertawa, katanya, “Kalian takut mendengar bunyi burung kulik itu ya? Kalian terlalu percaya pada dongeng dan takhayul yang membuat kalian menjadi penakut”

“Tetapi semua orang-orang tua kita menceritakan hal seperti itu”

“Menceritakan apa?”

“Tentang burung itu”

“Burung apa namanya?”

Anak itu terdiam, sehingga Dirga tertawa semakin panjang, katanya, “Menyebut namanya saja kau tidak berani. Dengar, namanya burung kulik. Kau tentu tahu, bahwa burung itu adalah betina, yang jantan namanya burung tuhu. Biasanya jika terdengar suara burung kulik, akan segera terdengar burung tuhu”

“Sudahlah, kita berbicara tentang hal lain saja” potong seorang kawannya.

Dirga masih tertawa, namun sebelum ia menjawab, di kejauhan memang terdengar suara burung tuhu, yaitu burung kulik yang jantan.

Anak-anak muda itu menjadi semakin berhimpitan, kulit mereka meremang, namun demikian mereka justru memukul kentongan semakin keras.

Para peronda itu tiba-tiba saja terkejut ketika mereka melihat seseorang berlari muncul dari tikungan, langsung menjumpai mereka.

Dirga yang berdiri paling depan, segera meloncat menghadang. Tiba-tiba goloknya telah berada di tangannya.

Ternyata Dirga memang tangkas.

Orang itu berhenti dan berkata dengan nafas yang memburu, “Aku….., ini aku…..Kriya….”

“Kakang Kriya?”

“Ya…, aku…Kriya…”

“Ada apa kakang lari-lari kemari…?”

“Ada, ada rampok….., ada rampok di rumah paman….”

“Rampok?, paman siapa yang dirampok?”

“Paman kerti….. Pedagang sapi itu…”

“Darimana kakang tahu, kalau rumah paman Kerti dirampok?”

“……Kebetulan aku sedang tidur di rumah paman Kerti, paman sedang mengadakan pertemuan keluarga, karena ia akan menikahkan anaknya yang perempuan. Keluarga yang lain pada pulang, sedangkan aku tetap tinggal. Aku tidur di bilik belakang dekat dapur. Sewaktu para perampok beraksi, aku berhasil lolos dan menyelinap keluar dan bersembunyi di kebun. Sewaktu kalian datang dan membunyikan kentongan, maka aku langsung lari menuju kemari”

“Jangan cemas’ berkata Dirga, “Aku akan datang ke rumah paman Kerti”

“Tetapi perampoknya tidak hanya sendiri, tetapi banyak, Dirga”

Dirga termangu-mangu sejenak, kemudian ia pun berkata kepada kawankawannya, “Bunyikan kentongan kalian dalam irama titir sambil mendekati rumah paman Kerti”

“Tetapi…Dirga….aku…. takut”

“Jangan kuatir, dalam waktu dekat, orang-orang akan berdatangan mengepung rumah itu”

“Tetapi perampok itu kan kejam-kejam Dirga”

“Persetan, sekarang bunyikan kentonganmu dengan irama titir, cepat, sebelum perampok itu sempat lari”

Anak muda itu tidak sempat berpikir, tiba-tiba saja suara kotekan itu berubah iramanya menjadi irama titir.

Padukuhan itu memang menjadi gempar. Suara kentongan irama titir itu telah membangunkan orang-orang yang sedang tidur nyenyak. Beberapa orang segera menyambar senjata yang selalu mereka siapkan di dekat pembaringan mereka, sejak Ki Demang Karangtengah memperingatkan rakyatnya untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan buruk karena ulah para perampok.

Demikian pula orang-orang yang berada di gardu. Ada diantara mereka yang menjadi ketakutan sehingga gemetar mendengar suara kentongan dalam irama titir.

Tetapi ada juga yang dengan sigapnya meloncat turun dan berlari-lari kearah suara kentongan itu.

Dirga telah mendahului pergi ke rumah paman Kerti bersama Kriya, karena Kriya tidak bersenjata, maka ia pun telah meminjam sepotong besi yang dibawa oleh salah seorang peronda itu.

Keempat orang peronda itu memang mengikuti Dirga dan Kriya. Tetapi mereka tetap mengambil jarak sambil menunggu orang-orang yang terbangun oleh suara kentongan.

Beberapa orang tetangga terdekat memang segera sampai di regol rumah Kerti, namun pada saat itu, beberapa orang perampok dengan membawa hasil rampokannya telah keluar dari regol dan turun ke jalan. Mereka nampaknya tidak banyak terpengaruh oleh suara kentongan itu, tidak pula menjadi tergesa-gesa, meskipun mereka mendengar beberapa orang mulai berteriak-teriak.

Beberapa orang perampok itu berjalan beriringan kearah pintu gerbang padukuhan dengan tenangnya.

Ketika beberapa orang menghentikan mereka, para perampok itu memang berhenti, bahkan menunggu, apa kira-kira yang akan dilakukan oleh warga padukuhan kepada mereka.

“Menyerahlah” teriak Dirga, “Kalian kami tangkap”

Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa. Seorang perampok yang bertubuh tinggi besar. Melangkah maju sambil berkata, “Jangan main-main anak muda, minggirlah”

“Kami bersungguh-sungguh” berkata Dirga, “Kami mendapat wewenang untuk menangkap kalian”

“Aku peringatkan sekali lagi, bahwa perampok seperti kami tidak dapat diajak bermain-main. Apalagi pada saat-saat kami menjalankan pekerjaan kami seperti sekarang ini. Karena itulah, minggirlah, jika kalian tidak minggir, maka tentu akan jatuh korban di pihak kalian. Meskipun kalian berjumlah banyak, namun kalian tidak bisa berkelahi. Berbeda dengan kami, berkelahi adalah pekerjaan kami sehari-hari, menyakiti dan melukai orang. Bahkan kami adalah pembunuh-pembunuh yang sebenarnya”

“Jangan membual” potong Dirga, “Aku adalah pemimpin anak-anak muda padukuhan ini”

“Nampaknya kau memang keras kepala, ya”

“Persetan” geram Dirga sambil memutar goloknya.

Namun tiba-tiba saja perampok itu yang bertubuh tinggi besar itu pun memutar sebuah bindi di tangannya sambil berkata lantang, “Minggir jika tidak ingin celaka”

Jantung Dirga menjadi berdebar-debar, apalagi orang yang berdiri di hadapannya itu bertubuh lebih tinggi dan lebih besar darinya. Padahal Dirga sudah menganggap bahwa tubuhnya adalah yang tertinggi dan terbesar di seluruh padukuhan.

Tetapi Dirga sudah terlanjur sesumbar di hadapan kawan-kawannya, bahwa ia akan menantang dan menangkap para perampok itu. Bahkan tidak hanya seorang yang ditangtangnya, tetapi sekelompok perampok.

Ketika ia benar-benar berhadapan dengan sekelompok perampok, maka suasana hatinya memang lain.

“Minggir” bentak perampok itu.

Dirga tidak mau minggir, meskipun dengan sedikit gemetar Dirga memutar goloknya sambil berkata, “Kami semua akan menangkap kalian, kau lihat seluruh penghuni pedukuhan ini sudah berada disini”

“Sayang sekali, semakin banyak yang datang akan semakin banyak pula yang akan mati. Nah, sekarang aku akan pergi meninggalkan padukuhan ini.“

Ketika perampok itu melangkah maju, maka Dirga pun meloncat menyerang. Goloknya diayunkan dengan kerasnya mengarah ke bahu perampok itu.

Namun yang terdengar adalah dentangan senjata yang beradu, golok Dirga telah membentur bindi perampok itu, sehingga bunga api pun berloncatan dari benturan itu.

Namun Dirga telah bergeser surut, telapak tangannya terasa pedih sekali. Hampir saja goloknya terlepas.

Namun Dirga tidak mempunyai banyak kesempatan, perampok itu meloncat memburunya. Dengan sekali pukul, golok Dirga telah terlepas dari tangannya, terlempar beberapa depa dari kakinya.

Yang terjadi kemudian telah menggetarkan jantung orang-orang yang mengepung para perampok itu. Satu ayunan bindi itu telah mengenai paha Dirga.

Terdengar Dirga berteriak kesakitan, dengan serta merta ia pun terjatuh dan tidak dapat bangkit berdiri lagi.

Dengan serta merta perampok itu pun berteriak, “Siapa lagi yang akan mencoba menahan kami?”

Tidak terdengar satu pun jawaban.

Perampok yang bertubuh tinggi besar itu pun memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk berjalan terus meninggalkan orang-orang padukuhan yang berkerumun, sambil berkata, “Jangan mencoba menghalangi kami, jika ada yang mencobanya juga, maka aku akan membunuhnya, tidak sekedar melukainya lagi”

Orang-orang yang mengepung itu pun menyibak, mereka tidak berani berbuat apa-apa terhadap para perampok yang nampaknya garang dan bengis itu. Apalagi senjata-senjata mereka yang mengerikan itu telah membuat jantung mereka bergetar.

Selain bindi, ada diantara mereka yang membawa tombak dengan mata tombak yang bercabang. Ada yang membawa semacam kapak bertangkai panjang. Ada yang membawa golok besar dan panjang dan berbagai jenis senjata yang menyeramkan lainnya.

Orang-orang padukuhan itu pun seakan-akan hanya sekedar menjadi penonton sebuah barisan orang-orang yang berwajah garang yang berhasil membawa barang-barang berharga milik Ki Kerti.

Baru ketika mereka telah pergi, beberapa orang berusaha menolong Dirga yang merintih kesakitan, agaknya tulang pahanya telah menjadi retak.

Dengan hati-hati Dirga diangkat dan dibawa pulang ke rumahnya yang tidak begitu jauh dari tempat kejadian, namun sepanjang jalan Dirga selalu mengeluh kesakitan.

Beberapa orang yang lain telah berada di rumah Kang Kerti, mereka melihat Yu Kerti menangis di ruang tengah, dengan memelas ia pun merintih, “Aku mengumpulkan uang sekeping demi sekeping, tiba-tiba saja mereka datang dan merampas semuanya”

Ki Kerti duduk tepekur tidak jauh dari isterinya, pundaknya nampak berdarah, agaknya para perampok itu telah melukainya meskipun tidak begitu parah.

Beberapa orang mencoba menghiburnya, namun Yu Kerti masih saja menangis. Ia merasa telah kehilangan segala-segala yang dimilikinya.

“Sudahlah Yu Kerti, yang penting Yu Kerti dan Kang Kerti selamat, harta benda dapat dicari lagi Yu, tetapi nyawa?, kemana kita akan mencarinya?. Bersukurlah bahwa Kang Kerti hanya luka dan tidak dibunuh oleh perampok-perampok yang keji itu”

Demikianlah, sejenak kemudian, Ki Bekel dan bebahu padukuhan telah datang hampir berbareng dengan Ki Demang Karangtengah.

“Jadi…. tidak ada orang yang berani berusaha menangkap mereka meskipun kalian berjumlah sekian banyaknya?” bertanya Ki Demang.

“Dirga sudah mencoba, Ki Demang. Dirga yang menurut pendapat kami adalah orang yang terkuat diantara kami, dalam sekejap telah dilukai. Lalu apa pula artinya kami. Dan para perampok itu mengancam bahwa orang berikutnya tidak hanya akan disakiti seperti Dirga, tetapi mereka benar-benar akan membunuh”

“Berapa orang mereka semuanya?”

“Lebih dari lima belas orang”

“Lima belas orang?”

“Ya, Ki Demang”

Jumlah itu pun mengejutkan Ki Demang, Ki Bekel dan bebahu padukuhan, adalah wajar sekali jika orang-orang padukuhan itu merasa ragu untuk bertempur menghadapi lima belas orang perampok yang garang dengan membawa berbagai macam senjata yang mengerikan.

Ki Demang Karangtengah itu pun menarik nafas panjang, seandainya orang-orang di sekitar Ki Kerti itu memberanikan diri untuk mencoba menangkap mereka, maka korban pun akan berjatuhan, jika setiap perampok membunuh satu orang warga, maka akan ada lima belas mayat yang harus dikuburkan.

Karena itu, maka Ki Demang tidak lagi menyalahkan warganya, mereka bukan penakut, tetapi mereka tahu, bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa untuk menghadapi lima belas perampok. Bahkan lebih.

“Besok, peristiwa ini akan aku laporkan. Kami rakyat kademangan tidak mampu lagi mengatasi” berkata Ki Demang.

“Peristiwa di padukuhan Salam beberapa hari yang lalu, tidak segarang apa yang terjadi disini. Perampok di Salam itu tidak diketahui oleh orang lain kecuali pemilik rumahnya” berkata Ki Jagabaya.

Sebenarnyalah, bahwa beberapa hari yang lalu, di Padukuhan Salam yag tidak terlalu jauh dari Karangtengah telah terjadi perampokan pula. Tetapi perampokan itu sama sekali tidak mengganggu ketenangan penduduk Salam. Yang terjadi adalah sekawanan perampok mengetuk pintu sambil mengancam. Demikian pemilik rumah membuka pintu, maka para perampok itu pun segera masuk. Dua orang dari mereka tetap berada di luar untyuk mengamati keadaan. Beberapa saat kemudian, maka kerja para perampok itu pun selesai. Mereka meninggalkan rumah sambil membawa pemiliknya. Jika setelah para perampok itu pergi kemudian terdengar isyarat, maka pemilik rumah itu untuk selamanya tidak adan kembali pulang ke rumahnya.

Baru ketika matahari terbit, orang-orang Padukuhan Salah mengetahui apa yang terjadi setelah pemilik rmah itu pulang.

Semua peristiwa perampokan itu akhirnya sampai kepada Kangjeng Adipati Paranganom. Bahkan yang terakhir telah terjadi perampokan dengan membawa korban. Sebelumnya, sebuah rumah sudah dibakar habis oleh para perampok yang marah, karena mereka tidak menemukan yang mereka cari di rumah itu. Setelah menyakiti suami isteri pemilik rumah itu, maka mereka membakar rumahnya dan membiarkan suami isteri itu berada di dalamnya.

Untunglah, bahwa suami isteri itu masih sempat merangkak sambil membantu isterinya keluar dari kobaran api sambil berteriak-teriak minta tolong. Pertolongan dari para tetangga pun datang tepat pada waktunya, sehingga keduanya serta seorang anak laki-laki yang masih kecil dapat diselamatkan. Seorang pembantu di rumah itu juga selamat, meskipun ia mengalami luka bakar.

Kangjeng Adipati menjadi sangat prihatin atas peristiwa beruntun di Kadipaten Paranganom itu, sehingga secara khusus, Kangjeng Adipati telah memanggil kedua orang Tumenggung Wreda yaitu Tumenggung Wiradapa dan Tumenggung Sanggayuda. Sementara itu Kangjeng Adipati juga minta Ki Ajar Wihangga tidak tergesa-gesa meninggalkan Kadipaten.

Ketika kedua orang Tumenggung Wreda itu menghadap, maka Kangjeng Adipati juga memanggil kedua puteranya untuk menghadap pula.

“Keadaan sudah semakin gawat, kakang” berkata Kangjeng Adipati.

“Sudah waktunya untuk bertindak, Kangjeng. Para Demang sudah memberikan laporan, bahwa mereka tidak lagi mampu berbuat apa-apa. Para perampok itu mendatangi rumah para korbannya dalam jumlah yang besar, dan merampok tiga rumah sekaligus dalam satu malam. Berkata Ki Tumenggung Wiradapa.

“Memang perlu dicari pijakan dari kerusuhan yang terjadi itu, Kangjeng. Agaknya memang bukan kerusuhan biasa, bukan dilakukan oleh orang-orang yang kelaparan atau sekedar mencari harta benda untuk menimbun kekayaan agar hidupnya berkecukupan sampai ke anak cucu. Bahkan sampai keturunan ke tujuh” sahut Ki Ajar Wihangga.

“Ya, kakang”

“Kangjeng Adipati, kita harus berusaha untuk dapat menangkap para perampok dari tataran tertinggi, sehingga akan mendapat keterangan yang jelas, apakah sebenarnya yang terjadi”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu tiba-tiba saja Madyasta berkata, meskipun dengan ragu-ragu, “Ayahanda, jika ayahanda berkenan, hamba akan menyampaikan pendapat hamba. Apa pun alasannya, siapa pun yang dalangnya, kerusuhan-kerusuhan ini harus dihentikan. Jika ayahanda berkenan, hamba mohon mendapat perintah dari ayahanda untuk mengatasi kerusuhan ini”

“Maksudmu?”

“Hamba akan mencoba untuk berhadapan dengan perampok itu, ayahanda”

Kangjeng Adipati mengerutkan keningnya, sementara itu Wignyana pun berkata pula, “Hamba sependapat dengan kakangmas Madyasta, ayahanda. Jika ayahanda memerintahkan kami untuk mengatasi kerusuhan itu, maka perintah itu akan hamba junjung tinggi”

Kangjeng Adipati termangu-mangu sejenak, namun Ki Ajar berkata, “Kangjeng Adipati, sebenarnya bahwa angger Madyasta dan angger Wignyana telah menimba ilmu di padepokan Panambangan sampai tuntas. Agaknya memang sudah sampai saatnya, bahwa mereka mendapatkan beban tugas yang sesuai bagi mereka, juga sebagai putera seorang Adipati. Karena itu, jika Kangjeng Adipati berkenan, maka Kangjeng Adipati dapat memerintahkan putera Kangjeng Adipati untuk mengatasi kerusuhan ini. Tetapi menurut pendapatku, tidak seyogyanya kedua-duanya harus berangkat. Aku mengusulkan agar tugas pertama ini dibebankan kepada angger Madyasta. Sementara itu, angger Wignyana tetap berada di Dalem Kadipaten. Mungkin ia diperlukan untuk mengatasi persoalan yang gawat yang dapat saja timbul di Kadipaten sendiri”

“Guru” Wignyana itu pun memohon, “Jika saja guru dan ayahanda berkenan, aku ingin ikut bersama kakang Madyasta”

“Wignyana” berkata Kangjeng Adipati kemudian, “Aku setuju dengan gurumu, salah seorang dari kalian tetap tinggal disini, mungkin aku akan sangat memerlukannya”

Wignyana tidak dapat memaksa, betapa pun ia ingin pergi bersama Madyasta untuk mengatasi kerusuhan yang terjadi di Paranganom, namun ayahandanya menahannya agar ia tetap berada di istana.

“Wignyana” berkata Kangjeng Adipati, “Bukannya aku tidak percaya akan kemampuanmu, menurut gurumu, kau dan Madyasta telah bersama-sama menuntaskan ilmu yang kalian pelajari di padepokan, karena itu, menurut gurumu, kau dan Madyasta memiliki ilmu yang sama tinggi. Namun justru karena itu, maka aku ingin kau tetap tinggal bersamaku di Kadipaten”

Wignyana sebagai seorang putera Adipati, harus mampu menempatkan diri, maka ia pun berkata, “Hamba menjunjung tinggi titah ayahanda Adipati”

“Bagus Wignyana, kau tetap bersamaku dalam keadaan yang gawat ini”

“Hamba, ayahanda”

“Nah, dengan demikian, maka aku akan memerintahkan Madyasta untuk pergi mengatasi kerusuhan ini”

“Kangjeng” berkata Ki Tumenggung Sanggayuda, “Apakah tidak sebaiknya Kangjeng memerintahkan saja beberapa orang senapati untuk pergi melakukan tugas itu”

“Kakang Tumenggung. Aku memang mempunyai keinginan untuk menguji anakku. Selama ini anak-anakku tidak pernah turun kedalam tugas-tugas penting, karena mereka tidak berada di Kadipaten. Sekarang, biarlah angger Adipati Yudapati mengetahui, bahwa anak-anak Paranganom itu tidak saja pandai menabuh siter dan gender saja. Tetapi dalam keadaan gawat, mereka pun turun ke gelanggang untuk mengatasinya”

Ki Tumenggung Sanggayuda tidak mengatakan apa-apa lagi, sementara Kangjeng Adipati segera menjatuhkan perintah, “Madyasta, berdasarkan perintahku, pergilah untuk memberantas kerusuhan itu, kau aku beri hak dan wewenang untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Tetapi kau tidak boleh lepas dari kebijaksanaan untuk mengatasi setiap keadaan”

“Hamba ayahanda”

“Pamanmu Tumenggung Wiradapa akan menunjuk, siapakah yang akan pergi bersamamu. Dengar nasehatnya serta nasehat pamanmu Tumenggung Sanggayuda”

“Hamba junjung tinggi perintah ayahanda. Hamba akan mengikuti segala petunjuk paman Tumenggung berdua”

“Nah, kakang Tumenggung Wiradapa dan kakang Tumenggung Sanggayuda. Aku serahkan anakku kepada kalian berdua. Biarlah ia melakukan kewajibannya sebagai seorang prajurit juga sebagai putera seorang Adipati Paranganom. Semoga anakku dapat memberantas kerusuhan yang timbul di wilayah Paranganom”

“Hamba Kangjeng Adipati” sahut Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda hampir bersamaan.

Wignyana memang merasa sangat kecewa. Tetapi ia dapat mengerti, kenapa jika salah seorang diantara mereka, dua orang putera Kangjeng Adipati, justru Madyasta yang harus dikenal oleh tentu bukan saja oleh Adipati Yudapati di Kateguhan, tetapi juga oleh rakyat Paranganom sendiri, karena Madyasta adalah putera Kangjeng Adipati. Madyasta yang kelak berhak untuk menggantikan kedudukan Kangjeng Adipati Prangkusuma di Paranganom, karena itu adalah wajar, bahwa Madyasta lah yang harus lebih banyak dikenal oleh rakyat Paranganom.

 Hari itu juga Madyasta telah meninggalkan Kadipaten bersama Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda. Kedua orang Tumenggung itu akan membawa Madyasta kepada beberapa orang senapati terpilih yang akan mendampinginya, mengatasi kerusuhan di Paranganom.

 Bersambung ke Jilid 2

 Sumber djvu: Dimhad website

Ebook by Dewi KZ

http://kangzusi.com/

http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog http://serialshmintardja.wordpress.com

oleh Ki Arema

TEMBANG TANTANGAN

Jilid pembuka rontal Tembang Tantangan, jilid selanjutnya, tidak di “post” tetapi dalam “page” sebagaimana rontal yang lainnya.

Mohon maaf Nyi Dewi, naskahnya kami “curi” dari http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm. Naskah kami edit, disesuaikan dengan naskah aslinya.

Nuwun

Satpampelangi

——————————————————————————————————————-

TEMBANG TANTANGAN

JILID 1

cover TT-01KEMATIAN suaminya membuatnya sangat bersedih. Tanjung sudah tidak mempunyai sanak kadang lagi. Hidupnya seakan-akan tergantung kepada suaminya itu. Namun Sang Pencipta telah memanggilnya.

Tanjung merasa bahwa kematian suaminya telah membawa serta masa depannya ke liang kubur. Semuanya menjadi gelap dan tidak berpengharapan.

Pada saat kematian suaminya, tetangga-tetangganya  pun berdatangan. Mereka mencoba menghiburnya dan yang tua-tua memberinya nasehat untuk menguatkan jiwanya yang terguncang. Bahkan dua tiga hari kemudian, tetangga-tetangga masih berdatangan.

Tetapi lambat laun, semuanya seakan-akan sudah dilupakan. Semuanya telah kembali lagi seperti sebelumnya. Kehidupan di sekitarnya tidak terhenti karena kematian suaminya. Mengalir seperti sediakala.

Di jalan-jalan tetangga-tetangganya-berjalan hilir mudik. Satu dua ada yang berpaling memandang halaman rumahnya yang terhitung luas. Rumahnya yang termasuk rumah yang baik. Tetapi mereka tidak berhenti. Mereka tidak lagi datang menghiburnya

Orang-orang tua tidak lagi menyempatkan diri untuk datang memberinya nasehat dan petunjuk-petunjuk yang baik, tetapi tidak dapat dilakukannya.

Tanjung menjadi kesepian di rumahnya. Ada seorang perempuan tua yang sudah lama sekali bekerja padanya. Bahkan seakan-akan sudah seperti ibunya sendiri.

Tetapi perempuan itu berpandangan selalu sempit. Ia tidak pernah pergi kemana-mana. Seakan akan sepanjang hidupnya dihabiskannya berada di rumah Tanjung. Sekali-sekali ia turun ke jalan, pergi ke pasar untuk berbelanja.

Tetapi hanya itu saja. Dengan pengalaman hidupnya yang sempit, ia tidak banyak dapat memberikan banyak bantuan untuk membuat sandaran bagi hari-hari Tanjung mendatang.

Saudara-saudara suaminya yang pada saat suaminya itu meninggal berdatangan untuk menunjukkan kasih sayang mereka serta untuk menghiburnya, tidak lagi menampakkan diri. Mereka telah tenggelam lagi dalam kesibukan kehidupan mereka sehari-hari.

Tanjung berusaha menjalani hidupnya yang sepi itu dengan pasrah. Suaminya meninggalkannya sebelum sempat memberinya seorang anak.

Tanjung memang masih muda. Tetapi rasa-rasanya Tanjung menjadi lebih tua dari perempuan tua yang bekerja padanya itu.

Yang kemudian masih selalu menghiburnya di hidupnya yang sepi itu adalah sikap tetangga-tetangganya yang masih tetap baik dan ramah. Tetapi perempuan-perempuan yang dekat dan Tanjung itu matanya tidak lagi basah karena kesedihannya yang tidak juga mau beranjak dari dinding jantungnya.

Namun tiba-tiba kesepian di rumah Tanjung itu pada suatu padi telah dipecahkan oleh tangis bayi. Tanjung yang masih berada di biliknya terkejut. Tangis itu terdengar melengking-lengking semakin keras.

Tanjung bangkit dan duduk dibibir pembaringannya. Ia mencoba untuk menyadari apa yang telah terjadi, “Apakah aku bermimpi?”

Tetapi tangis bayi itu masih saja terdengar semakin keras.

Orang tua yang tinggal bersamanya itu pun mengetuk pintu biliknya sambil memanggilnya, “Tanjung, Tanjung”

Tanjung itu pun bangkit dan melangkah kepintu. Ketika ia membuka pintu biliknya, dilihatnya perempuan tua itu berdiri termangu-mangu. Di wajahnya nampak kegelisahannya yang mencengkam.

“Kau dengar tangis itu, Tanjung?”

“Ya, bibi”

“Itu tentu anak wewe penunggu pohon gayam di pinggir jalan itu”

“Anak wewe?”

“Ya Tentu. Aku tahu bahwa di pohon gayam itu tinggal sesosok hantu perempuan”

“Darimana bibi tahu?”

“Di hari-hari tertentu tercium bau yang sangat wangi di pohon gayam itu. Tentu sosok hantu perempuan itu sedang bersolek. Hantu perempuan itu memakai wewangian yang tidak terdapat di dunia kewadagan ini”

Tanjung tidak menjawab. Tetapi tangis bayi itu terdengar semakin keras.

“Kita lihat saja bibi”

“Kau tidak akan melihat apa-apa. Kau dan aku hanya dapat mendengar suaranya”

Tetapi Tanjung tidak tahan lagi. Ia  pun segera pergi ke pintu pringgitan. Perempuan tua itu mengikutinya di belakang dengan jantung yang berdebaran.

Ketika Tanjung membuka pintu pringgitan, ia terkejut. Dilihatnya, sosok bayi yang masih merah, terbaring di atas tikar pandan yang masih dilipat di pringgitan.

“Kau lihat bibi?”

Tetapi ketika Tanjung mendekatinya, perempuan tua itu mencegahnya, “Jangan Tanjung”

“Anak itu menangis bibi. Kasihan sekali”

Namun ternyata bukan hanya Tanjung yang terbangun karena tangis bayi itu. tetangga di sebelah menyebelahnya juga mendengar tangis bayi di rumah Tanjung.

“Aneh” bisik tetangga di sebelah Barat rumah Tanjung, “apakah Tanjung melahirkan? Ia tidak nampak sedang hamil sepeninggal suaminya”

“Marilah kita lihat”

Ada beberapa orang tetangga yang dengan ragu-ragu memasuki regol halaman rumah Tanjung.

Demikian mereka berada di halaman, mereka melihat Tanjung itu berdiri termangu-mangu di pintu pringgitan rumahnya.

“Ada apa Tanjung?” tanya seorang yang rambutnya sudah ubanan yang tinggal di sebelah Timur rumah Tanjung.

“Seorang bayi, bibi”

Tetangga-tetangga Tanjung itu  pun kemudian merubungi sosok bayi yang berada di pringgitan rumahnya. Bayi laki-laki yang nampak sehat. Tangisnya melengking-lengking memba-ngunkan orang sepadukuhan.

“Anak siapa itu Tanjung?”

“Aku tidak tahu, bibi. Aku terkejut mendengar tangisnya”

“Seseorang telah meletakkan bayi itu disini” desis seorang laki-laki yang tinggal di seberang jalan.

“Bukan” jawab perempuan tua yang tinggal di rumah Tanjung, “tentu sesosok anak anak wewe di pohon gayam itu”

“Ah, ada-ada saja kau yu” sahut perempuan yang rambutnya sudah ubanan.

“Lalu perempuan manakah yang sampai hati meninggalkan anaknya disini?”

“Perem pun yang akalnya terlalu pendek”

“Lalu, apa yang akan kita perbuat dengan bayi itu?” perempuan lain bertanya.

Tanjung lah yang kemudian menjawab, “Aku akan memeliharanya, bibi. Aku akan mengambilnya menjadi anakku. Rumah ini tidak akan menjadi terlalu sepi lagi”

“Tetapi kau akan mendapat banyak kesulitan. Tanjung. Kau belum pernah mempunyai seorang anak. Kau belum berpengalaman. Biarlah aku saja yang memeliharanya” berkata perempuan yang rambutnya sudah ubanan, “Aku pernah memelihara, membesarkan dan bahkan sekarang mereka sudah berkeluarga semuanya, ampat orang anak”

“Bibi sudah mempunyai cucu yang manis-manis yang dapat menemani bibi. Biarlah anak ini menjadi anakku. Anugerah ini akan aku terima dengan suka cita. Bahwa hari ini, aku mempunyai seorang anak laki-laki yang manis dan sehat”

“Baiklah Tanjung” berkata perempuan yang sudah ubanan itu, “jika kemudian kau menemui kesulitan dengan anakmu itu, datanglah kepadaku. Aku akan membantumu”

“Baik bibi” jawab Tanjung sambil menggendong bayi laki-laki yang sehat dan gemuk itu.

Ternyata bayi itu pun menjadi diam. Ia tidak lagi menangis melengking-lengking.

Perempuan yang tinggal diseberang jalan itu mencium bayi digendongan Tanjung itu sambil berdesis, “Kau sudah mendapatkan seorang ibu ngger. Ibumu sendiri sampai hati meninggalkan kau disini. Tetapi kasih ibumu yang sekarang tentu lebih besar dari kasih ibu kandungmu itu”

“Anak itu merasa aman di tangan Tanjung” berkata tetangga di sebelah Timur, “mudah-mudahan segalanya akan baik-baik saja. Agaknya anak itu bukan anak yang suka merajuk”

“Begitu cepatnya ia tertidur” berkata seorang’ laki-laki.

“Ia merasa hangat di tangan Tanjung”

“Kalau anak ini nanti merasa haus, bibi?” bertanya Tanjung.

“Beri minum tajin, ngger. Tajin dengan sedikit gula kelapa. Jangan terlalu manis”

“Baik, baik, bibi” jawab Tanjung. Lalu kalanya kepada perempuan tua yang tinggal bersamanya, “Buatkan anak ini tajin, bibi. Kau tanak nasi. Beri air agak berlebih”

“Baik, baik Tanjung. Tetapi kalau anak itu kemudian tumbuh taringnya, ia tidak akan mau minum tajin”

“Ah. Jangan mengada-ada bibi”

Perempuan tua itu pun kemudian pergi ke dapur meski pun hari masih gelap. Dinyalakan dlupak minyak kelapa yang ada di ajuk-ajuk. Kemudian di nyalakannya api di tungku.

Dalam pada itu beberapa orang masih berada di pendapa. Namun ketika langit menjadi merah, maka mereka  pun telah minta diri. Perempuan yang rambutnya ubanan itu berkata sekali lagi kepada tanjung, “Jika kau perlukan bantuanku, Tanjung. Datanglah kepadaku, atau panggil aku kemari”

“Ya, bibi”

Demikianlah, sejak hari itu, Tanjung mempunyai seorang anak laki-laki. Anak itu benar-benar sehat. Geraknya cukup banyak. Tangisnya lepas seakan-akan menggetarkan seluruh padukuhan. Kaki dan tangannya yang menggapai-gapai nampak kokoh dan terampil.

Tanjung mengasuhnya dengan penuh kasih sayang. Bahkan keberadaan anak itu di rumahnya, membuatnya agak terhibur. Ia tidak lagi merasa kesepian. Bahkan di malam hari. Tanjung kadang-kadang masih sibuk mengganti pakaian anak itu jika basah. Berusaha menenangkannya jika anak itu gelisah dan menangis. Mengipasinya jika udara terasa panas. Tetapi mendekapnya jika udara dingin.

Dari hari ke hari anak itu tumbuh seperti kebanyakan anak-anak yang sehat. Beratnya  pun bertambah-tambah. Panjangnya dan juga geraknya. Tanjung sudah mulai dapat tersenyum. Dan bahkan tertawa jika ia menimang bayinya.

Perempuan tua yang tinggal bersamanya itu masih saja merasa ragu. Jika anak itu anak wewe atau gendruwo, maka hari depannya akan sangat menyulitkan. Bahkan mungkin Tanjung akan dapat menjadi korban keganasannya.

Tetapi kecerahan hati yang mulai bersinar di hati Tanjung itu tiba-tiba telah terganggu lagi.

Malam itu, ketika hujan rintik-rintik membasahi dedaunan, genting dan halaman rumahnya, telah datang sepasang suami isteri di rumahnya

“Selamat malam, kakang” sapa Tanjung yang kemudian mempersilahkannya, “marilah kakang. Silahkan masuk ke mang dalam saja. Udara dingin dituar. Marilah mbokayu. Silahkan masuk”

“Terima kasih Tanjung” jawab perempuan itu. Laki-laki yang bertubuh tinggi, tegap dan berdada lebar itu adalah kakak kandung suami Tanjung yang sudah meninggal.

“Malam-malam kakang dan mbokayu sampai disini. Hujan lagi. Darimana saja kakang dan mbokayu tadi?”

“Dari rumah, Tanjung. Aku memang ingin dalang kemari menemuimu”

“Ada perlu kakang, atau kakang sekedar ingin menengok aku yang kesepian?”

”Bukankah kau tidak kesepian lagi sekarang Tanjung?”

Tanjung tersenyum. Ia berbangga dengan anak laki-lakinya. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Ya, kakang. Ada sedikit hiburan di rumah ini”

“Tanjung, Karena anak itu pula aku datang kemari”

“Karena anak itu?”

“Antara lain. Tetapi juga ada alasan lain yang mendorongku datang kemari”

Dahi Tanjung berkerut. Dengan ragu-ragu Tanjung itu pun bertanya”Kenapa dengan anak itu?”

Kakak iparnya itu menarik nafas panjang. Sambil beringsut itu pun berkata, “Tanjung. Ada masalah yang penting yang harus kita bicarakan. Kau tahu, bahwa tanah dan rumah yang kau tempati ini adalah tanah dan rumah peninggalan orang tuaku. Orang tua suamimu”

Jantung Tanjung berdesir. Ia memang sudah mengira, bahwa cepat atau lambat, kakak iparnya akan berbicara tentang tanah dan rumah itu. Tetapi ia tidak menyangka, bahwa kakak iparnya datang secepat itu.

Dengan nada yang rendah Tanjung menjawab, “Ya, kakang. Aku tahu”

“Tanah ini seharusnya menjadi milikku, milik suamimu dan milik Mijah, adikku perempuan”

“Ya, kakang”

“Sampai beberapa hari yang lalu, aku masih berdiam diri. Aku biarkan kau tinggal dirumah ini. Tetapi keadaannya segera berubah, Tanjung”

“Apa yang berubah?”

“Kau sekarang mempunyai seorang anak laki-laki”

“Apa hubungannya dengan anak itu?”

“Anak itu bukan anakmu. Bukan anak suamimu. Karena itu, ia tidak berhak atas peninggalan orang tua suamimu”

Tanjung menarik nafas panjang. Katanya, “Aku mengerti kakang. Anak ini memang tidak mempunyai hak apa-apa atas tanah ini”

“Sekarang kau dapat berkata begitu, Tanjung. Tetapi jika dibiarkan anak ini menjadi besar dan dewasa, maka anak ini tentu merasa bahwa ia berhak atas tanah ini. Ia tidak tahu, bahwa ia bukan anakmu. Bukan anak suamimu”

Tanjung menundukkan kepalanya.

“Karena itu Tanjung, mumpung belum terlanjur ada persoalan. Aku ingin mencegahnya”

“Maksud kakang?”

“Kau harus meninggalkan rumah ini. Tanjung. Ada beberapa alasan yang ingin aku katakan kepadamu. Pertama, kau tidak berhak lagi atas tanah ini sepeninggal suamimu. Berbeda halnya jika kau dan suamimu itu mempunyai keturunan. Kedua, jika kau akan menikah lagi, Tanjung, maka bakal suamimu itu tidak akan salah paham. Jika laki-laki itu mengira, bahwa kau mempunyai tanah seluas halaman rumah ini, serta rumah sebesar ini, maka ia akan menjadi kecewa jika ia harus melihat kenyataan, bahwa kau tidak mempunyai apa-apa”

Tanjung menjadi semakin menunduk.

“Alasan selanjutnya, Tanjung. Selama ini aku tinggal di rumah mbok ayumu. Aku adalah laki-laki yang mengikut isteri. Nah, sekarang, rumah itu akan dipakai oleh adik isteriku yang akan segera menikah. Karena itu, aku harus pulang ke rumah ini”

Tanjung masih menunduk. Ia sama sekali tidak dapat menjawab. Karena itu, maka ia hanya berdiam diri saja. Ia sadari bahwa apa yang dikatakan oleh kakak iparnya itu sebagian benar. Karena itu, maka tidak ada niatnya sama sekali untuk mengelak.

Tetapi satu pertanyaan yang sangat besar yang tidak dapat dijawabnya, “Aku harus pergi kemana?”

Perasaan Tanjung menjadi sangat gelisah. Ia tidak tahu, apa yang akan terjadi dengan dirinya.

Karena Tanjung tidak menjawab, maka kakak iparnya itu  pun bertanya kepadanya, “Apa jawabmu, Tanjung”

Jantung Tanjung berdesir. Dengan sendat ia pun menjawab, “Aku mengerti kakang”

“Sukurlah jika kau mengerti. Dalam satu dua hari ini, aku akan pindah ke rumah ini”

Meski pun Tanjung sama sekali tidak ingin mengelak, namun bahwa kakak iparnya akan pindah ke rumah itu dalam satu atau dua hari lagi, sangat mengejutkannya.

“Kakang” suara Tanjung masih saja tersendat, “Aku minta waktu kakang”

“Maksudmu?”

“Jika aku harus pergi dalam waktu satu dua hari ini, aku harus pergi kemana. Aku sama sekali belum siap untuk melakukannya”

“Seharusnya kau sudah siap sejak suamimu meninggal. Kau harus mengerti dengan sendirinya. Kami sudah mencoba untuk bersabar, menunggu kau minta diri kepada kami. Tetapi hal itu tidak kau lakukan. Pada saat ang sangat mendesak, maka aku terpaksa datang kepadamu, mengabarkan hal ini”

“Aku mengerti kakang. Aku minta maaf. Tetapi jika ada belas kasihanmu. Kakang. Aku minta waktu. Jika kakang harus pindah ke rumah ini, biarlah aku tinggal di gandok untuk beberapa hari. Bukankah aku hanya berdua dengan anakku yang masih bayi?”

“Kau dapat membayangkan, Tanjung. Tinggal serumah lebih dari satu keluarga akan dapat membawa akibat bermacam-macam”

“Apalagi kau seorang janda, Tanjung” sahut isteri kakak iparnya itu.

Tanjung menarik nafas panjang.

“Kau seorang janda kembang yang muda dan cantik”

Kakak iparnya itu menarik nafas panjang. Sambil beringsut ia  pun berkata, “Tanjung. Ada masalah yang penting yang harus kita bicarakan. Kau tahu, bahwa tanah dan rumah yang kau tempati ini adalah tanah dan rumah peninggalan orang tuaku. Orang tua suamimu”

“Aku bukan janda kembang, mbokayu. Aku sudah mempunyai seorang anak”

“Tetapi semua orang tahu, anak itu bukan anakmu sendiri. Kau temukan anakmu itu di pringgitan rumah ini”

“Tetapi aku sudah mengakunya, bahwa anak ini adalah anakku sendiri”

“Kau dapat saja mengaku anak itu anakmu sendiri. Tetapi orang banyak itu tidak akan dapat kau bohongi. Bahkan mungkin pada suatu saat kau sendiri akan lebih senang disebut janda kembang. Jika seorang laki-laki ingin memperistrimu tetapi tidak menghendaki anak itu, maka anak itu akan kau lemparkan ke dalam arus sungai yang sedang banjir”

“Tidak. Ia adalah anakku”

“Tanjung” berkata kakak iparnya kemudian, “Aku tidak mempunyai pilihan lain. Dalam dua atau tiga hari ini, kau harus sudah meninggalkan rumah ini. Kemudian kami akan pindah dan menempati rumah ini setelah kau tinggalkan. Kami harus membersihkan rumah ini. Bukan hanya sekedar membersihkan ujud lahiriahnya saja. Tetapi juga setiap matra rumah ini. Mungkin ada penghuninya pada lapis kehidupan yang lain. Mungkin tersimpan bibit penyakit atau sebangsanya”

“Aku tidak akan membantah, kakang. Aku tidak akan ingkar dari kenyataan itu, bahwa rumah ini adalah rumah almarhum suamiku. Aku hanya minta waktu selama aku masih belum mendapatkan tempat tinggal yang baru”

“Dengan demikian, kau tidak akan pernah mendapatkan tempat tinggal yang baru. Tanjung” sahut isteri kakak iparnya itu, “Kau justru tidak akan pernah berusaha jika kau diijinkan tinggal dalam batasan waktu sebelum mendapatkan tempat tinggal yang baru itu”

“Aku berjanji akan segera berusaha, mbokayu”

“Tidak. Aku tidak akan memberimu kesempatan yang akan dapat menyulitkan kedudukanku sendiri. Karena itu, aku minta dalam dua atau tiga hari ini kau sudah tidak ada di rumah ini”

Mata Tanjung menjadi basah. Ia tidak ingin menangis. Tetapi nyeri di jantungnya seakan tidak tertahankan lagi.

“Sudahlah. Kita tidak akan berbicara panjang. Persoalannya sudah aku anggap selesai”

Tanjung tidak menjawab. Seandainya ia merengek sekalipun, atau menangis sambil berguling-guling, kakak iparnya dan isterinya tentu tidak akan merubah sikapnya

Karena itu, Tanjung justru harus tetap tabah dan tegar. Betapa pun pedih hatinya, namun kenyataan itu harus diterimanya. Yang harus dilakukan adalah mencari jalan keluar dari persoalan yang menindihnya itu.

Pembicaraan mereka memang tidak terlalu banyak. Akhirnya kakak iparnya  pun berkata, “Tanjung. Malam ini aku akan bermalam disini. Biarlah malam ini kami tidur di gandok. Besok pagi-pagi kami akan pulang mempersiapkan barang-barang kami yang akan kami bawa kemari. Tidak terlalu banyak, karena disini sudah banyak perabot rumah yang ditinggalkan oleh ayah dan suamimu. Semuanya akan dapat aku pergunakan. Sedangkan perabot di rumahku akan dapat dipakai oleh adik isteriku itu. Satu keluarga baru yang tentu belum mempunyai apa-apa”

“Baik, kakang” jawab Tanjung dengan suara yang bergetar, “Aku akan berusaha”

“Bukan sekedar berusaha. Tetapi dalam dua tiga hari ini kami benar-benar akan pindah kemari”

“Baik, kakang” Tanjung sadar, bahwa ia tidak akan dapat memberikan jawab yang lain.

Beberapa saat kemudian, setelah kedua orang tamu suami isteri itu minum minuman hangat yang dihidangkan oleh pembantu tua Tanjung, keduanya  pun pergi ke gandok untuk beristirahat

Demikian keduanya meninggalkan ruangan dalam, maka Tanjung tidak dapat menahan tangisnya. Air matanya bagaikan di tuang dari gerojogan.

“Anak itu menangis” desis isteri kakak iparnya.

“Aku sudah mengira. Biarkan saja”

“Kau tidak berusaha menolongnya? Air mata perempuan cantik itu akan menyegarkan badanmu”

“Kau selalu begitu. Apakah tidak ada kata-kata lain yang dapat kau ucapkan”

Perempuan itu terdiam.

Di ruang dalam Tanjung masih menangis. Perempuan tua yang sudah seperti ibunya sendiri itu  pun berusaha untuk menghiburnya.

“Sudahlah ngger. Kau tidak perlu menangis. Kau harus tegar menghadapi kenyataan yang pahit ini. Tegakkan wajahmu. Persoalan ini harus diatasi. Tidak ditangisi”

Tanjung justru terkejut mendengar nasehat perempuan tua itu. Selama ini ia menganggapnya sebagai perempuan yang berwawasan sempit. Perempuan yang tidak tahu apa-apa selain harga cabe yang semakin mahal dan harga berbagai macam beras.

“Bibi” desis Tanjung.

“Aku tahu apa yang kalian bicarakan. Aku mendengarnya dari balik dinding serambi samping itu. Bukankah kau harus meninggalkan rumah ini?”

“Ya, bibi”

“Kau menjadi gelisah dan cemas karena kau tidak tahu akan pergi ke mana? Sementara itu kakak iparmu itu tidak mau memberimu waktu?”

“Ya. bibi”

“Jangan cemas ngger. Pergilah ke rumahku. Tetapi rumahku kecil dan jelek, yang sekarang ditunggui oleh anak perempuanku yang juga sudah janda Ia juga tidak mempunyai anak. Bahkan tidak memungut anak siapa-siapa. Ia hidup benar-benar sendiri. Penghasilannya untuk makan sehari-hari didapatnya dari mengolah secuil sawah dan pekarangan”

“Terima kasih bibi. Aku mengucapkan beribu terima kasih. Aku tidak tahu, bagaimana aku membalas kebaikan hati bibi”

“Kau juga sudah berbuat sangat baik kepadaku, ngger. Aku sudah lama berada di rumahmu, bahkan kau anggap aku seperti keluargamu sendiri. Seperti ibumu, meski pun aku tidak lebih dari seorang abdi disini”

“Tidak, bibi. Aku tidak pernah menganggap bibi sebagai seorang abdi”

“Aku mengerti, ngger. Aku mengerti. Karena itulah, ketika angger menghadapi kesulitan, aku akan berbuat sebagaimana seorang ibu. Bahkan anakku  pun akan senang menerima kau di rumah kami. Anakku rambutnya juga sudah ubanan. Kau tentu ingat, bahwa ia sudah pernah datang kemari dua tiga kali”

“Tentu bibi. Aku masih ingat”

“Aku berbangga bahwa kau tidak mengiba-iba. Tidak minta belas kasihan berlebihan kepada kakak iparmu. Aku senang itu ngger”

Tanjung termangu-mangu sejenak. Ia tidak mengira, bahwa perempuan tua itu ternyata dapat bersikap bijaksana. Pada saat-saat yang diperlukannya, perempuan tua itu dapat tampil sebagai seorang perempuan tua yang mampu menampung permasalahan yang dihadapinya, meski pun hanya untuk sementara.

Pembicaraan mereka terputus. Bayi yang diaku sebagai anak oleh Tanjung itu menangis.

Dengan tergesa-gesa Tanjung berlari ke biliknya. Ternyata popok anak itu basah.

Sambil mengganti popok dan oto anak itu yang juga menjadi basah, Tanjung mengamati sebuah noda hitam di dada anak itu. Toh itu tidak akan dapat dihapuskan. Sebenarnya Tanjung mencemaskan toh yang ada di dada anak yang manis itu. Ibu kandungnya pada suatu saat akan dapat mengenalinya. Meski pun anak itu sudah dibuangnya di saat anak itu baru saja lahir, namun ibunya, yang tentu seorang yang sikap jiwaninya mudah goyah, akan dapat berbuat macam-macam.

Mudah-mudahan noda hitam itu semakin lama akan menjadi semakin tidak jelas atau bahkan hilang. Jika tidak, maka Tanjung akan dapat membuat baju yang khusus baginya, sehingga noda hitam itu tidak mudah kelihatan.

Malam  pun menjadi semakin larut Perempuan tua itu sudah pergi ke biliknya. Sementara itu, setelah anaknya tidur, Tanjung tidak segera membaringkan dirinya. Ia  pun kemudian sibuk mengemasi pakaiannya serta perhiasan yang peninggalan suaminya. Ia tidak berniat sama sekali untuk menuntut sebagian harta kekayaan lain yang ditinggalkan oleh suaminya. Ia tidak akan berbicara sama sekali tentang perabot rumah tangga. Tentang peralatan di dapur. Tentang gebyok ukiran lembut yang dipasang oleh suaminya, menggantikan gebyok sentong tengah dan sentong disebelah menyebelahnya. Tanjung sama sekali tidak berniat mengusiknya lagi.

Baru setelah dini hari. Tanjung dapat tidur sejenak. Tetapi menjelang fajar, anaknya sudah menangis lagi. Popoknya sudah menjadi basah lagi.

Tetapi Tanjung tidak pernah mengeluh tentang anaknya. Dengan kasih sayang dirawatnya anaknya itu dengan sebaik-baiknya.

Di pagi hari berikutnya, demikian matahari naik, maka kakak ipar dan isterinya itu  pun minta diri.

“Kami sedang menyiapkan makan pagi kakang dan mbokayu”

“Terima kasih, Tanjung. Biarlah kami makan di perjalanan pulang. Kami akan melewati banyak kedai sehingga kami akan dapat memilihnya. Apalagi perjalanan kami bukan perjalanan yang sangat jauh. Sedikit lewat tengah hari, kami sudah akan sampai di rumah” jawab isteri kakak iparnya itu.

Demikianlah, maka keduanya  pun meninggalkannya. Di pintu regol halaman kakak ipar Tanjung itu masih mengingatkannya, “Jangan lupa. Dalam dua atau tiga hari, aku akan datang dengan beberapa buah pedati untuk membawa barang-barangku. Jika kau pergi sebelum aku datang, titipkan rumah ini kepada Ki Bekel. Aku kemarin sudah bertemu dan berbicara dengan ki Bekel, sebelum aku kemari dan bermalam di sini”

“Baik, kakang” jawab Tanjung. Sikapnya sudah menjadi lebih tenang. Tidak nampak kegelisahan di wajahnya. Matanya  pun tidak basah.

Sepeninggal kakak iparnya, maka perempuan tua yang tinggal bersamanya itu  pun bertanya kepadanya, “Apa saja yang akan kau bawa keluar dari rumah ini Tanjung?”

“Tidak, bibi. Aku tidak akan membawa apa-apa kecuali perhiasan yang dibeli oleh suamiku. Aku tidak memerlukan apa-apa”

“Bagus, Tanjung. Kau adalah seorang perempuan yang tegar menghadapi tantangan kehidupan yang keras. Dengan sikapmu itu, maka kau tidak akan tercampakkan ke dalam lumpur.

“Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang selalu memberikan petunjukNya”

“Kalau kau selalu berdoa, maka Tuhan tentu tidak akan meninggalkanmu”

Tanjung menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang tua itu wawasannya tidak sesempit yang dikiranya.

Sudah bertahun-tahun perempuan itu tinggal bersamanya. Namun baru pada saat ia benar-benar mengalami kesulitan, ia tahu betapa terang hatinya memandang kehidupan.

“Ngger” berkata perempuan tua itu, “marilah kita berkemas. Besok pagi-pagi kita berangkat. Yang penting bagimu, jangan lupa membawa payung. Jika panas anakmu jangan kepanasan, jika hujan anakmu jangan kehujanan. Kita akan berjalan setengah hari. Mungkin lebih”

“Ya, bibi”

“Hari ini kau sempat minta diri kepada tetangga-tetangga agar kepergianmu tidak memberikan kesan yang bukan-bukan. Kau katakan terus terang, apa yang telah memaksamu pergi”

“Ya, bibi. Nanti aku pergi ke rumah tetangga-tetangga sebelah menyebelah”

Sebenarnyalah ketika metahari memanjat langit semakin tinggi, setelah berbenah diri serta menyuapi anaknya, maka Tanjung  pun mulai mengunjungi tetangga-tetangganya.

“Tolong, tunggui tole sebentar, bibi”

“Ya. Ya. Biasanya setelah makan pagi, anak itu akan segera tidur”

“Anak itu memang sudah mengantuk, bibi. Matanya sudah separo terpejam”

Perempuan tua itu tersenyum. Katanya, “Anak yang manis. Ia tidak mau merepotkan ibunya “

Ketika Tanjung minta diri kepada tetangganya, seorang perempuan yang sudah ubanan, perempuan itu terkejut.

“Kau berkata sebenarnya, Tanjung?”

“Ya, bibi. Aku berkata sebenarnya. Besok aku akan pergi bersama bibi”

Suami perempuan yang sudah ubanan itu, yang mendengar ceritera Tanjung, segera mendekatinya dan duduk bersamanya.

“Tanjung. Kau akan pergi begitu saja?”

“Ya, paman”

“Kau tidak membuat perhitungan dengan kakak iparmu itu?”

“Tidak, paman”

“Kau harus membuat perhitungan. Setidak-tidaknya gana-gini. Kau mendapatkan sepertiga dari semua harta kekayaan yang kau dapat bersama suamimu selama kau menjadi isterinya”

“Yang bekerja mencari nafkah adalah suamiku, paman. Jika kami dapat membeli perabot sedikit-sedikit itu adalah karena suamiku bekerja keras. Karena itu, aku tidak ikut memilikinya”

“Tidak. Kau yang berhak memilikinya. Tanah dan rumah itu memang peninggalan. Aku tahu itu. Tetapi bukankah kau jual peninggalan orang tuamu sendiri dan kau belikan tanah dibelakang rumahmu sekarang, sehingga kebunmu menjadi semakin luas. Bahkan tanah di belakang rumahmu itu memanjang sampai ke lorong, dibelakang”

“Tanah itu dibeli atas nama suamiku, paman”

“Tetapi kau dapat memanggil beberapa orang saksi. Bahkan pemilik tanah yang kau beli itu masih hidup sekarang”

“Tetapi para saksi itu tidak dapat membuktikan bahwa suamiku membeli tanah itu dengan uangku. Uang yang aku dapat dengan menjual tanah dan rumah peninggalan orang tuaku”

“Tetapi itu dapat diurus, ngger. Setidak-tidaknya kau akan dapat menerima sepertiga dari harta benda yang kalian dapatkan selama kalian berumah tangga. Aku bersedia menjadi saksi, apa saja yang sudah dibeli oleh suamimu semasa hidupnya”

“Sudahlah, paman. Aku tidak memerlukan semua itu. Jika itu aku singgung, maka yang akan terjadi hanya pertengkaran”

“Tetapi itu hakmu. Hak. Tidak akan ada orang yang menyalahkan seseorang mengurus haknya”

“Terima kasih atas perhatian paman. Tetapi aku tidak berani melakukannya”

”Bukan tidak berani ngger” sahut perempuan yang sudah ubanan itu, “Aku mengenalmu dengan baik. Kau memang tidak ingin terjadi sengketa. Kau sengaja mengalah ngger. Aku yakin, bahwa bukan karena kau tidak berani”

Tanjung menarik nafas panjang.

“Aku mengenal Saija, iparmu itu dengan baik, ngger. Semasa kanak-kanak sampai dewasanya ia tinggal di rumah itu. Ia memang anak yang nakal dan sulit dikendalikan. Ia banyak menghamburkan uang mertuamu. Ketika ia menikah dan pergi meninggalkan rumah ini serta tinggal di rumah isterinya, ia sudah membawa banyak harta benda mertuamu. Keris dengan pendok emas, timang sepasang yang juga terbuat dari emas dan bahkan tretes berlian. Bandul mas dengan rantainya sebesar tampar keluh lembu. Yang dibawanya itu nilainya tentu lebih banyak dari harta separo tanah dan rumah peninggalan itu. Seharusnya Saija tidak lagi menuntut apa-apa atas tanah dan rumah itu”

“Tetapi dengan bukti-bukti yang ada padanya, ia dapat meyakinkan Ki Bekel bahwa ia memang berhak atas tanah dan rumah itu. Setidak-tidaknya bersama ipar perempuanku, Mijah”

Kedua orang suami isteri itu terdiam. Mereka mengenal Tanjung dengan baik. Ia seorang perempuan yang lembut, yang tidak senang jika terjadi keributan. Banyak mengalah, bahkan kepada tetangga-tetangganya.

Tetapi ternyata Tanjung juga seorang perempuan yang lemah. Yang membiarkan haknya diambil tanpa perjuangan sama sekali. Dibiarkannya haknya diambil orang dengan kasar. Dan dibiarkannya saja hal itu terjadi.

Namun laki-laki itu pun melihat, bahwa Tanjung nampaknya tidak menjadi putus harapan.

Setelah hening sejenak, perempuan yang rambutnya sudah ubanan itu pun bertanya, “Maaf Tanjung kalau aku boleh bertanya, kemana kau akan pergi?”

Tanjung menarik nafas panjang. Dengan nada datar ia pun menjawab, “Aku akan pergi ke rumah bibi Sumi. Perempuan tua yang tinggal bersamaku itu. Perempuan tua itu telah menawarkan kepadaku untuk tinggal bersamanya”

Suami isteri itu mengangguk-angguk kecil. Dengan nada dalam perempuan yang rambutnya sudah ubanan itu pun berkata, “Jika kau mau Tanjung. Kau juga dapat tinggal disini. Kau lihat gandok rumahku itu kosong”

“Terima kasih, bibi. Bukannya aku menolak tinggal bersama bibi. Tetapi jika kakang Saija tinggal di rumah sebelah, maka rasa-rasanya hubungan kami akan terasa sangat canggung”

Perempuan tua itu mengangguk-angguk.

“Aku mengerti, Tanjung. Jika demikian, aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan. Semoga kau baik-baik saja. Hati-hatilah dengan anakmu”

“Ya,bibi”

Tanjung  pun kemudian meninggalkan suami isteri itu. Dari rumah itu, Tanjung pergi ke tetangga-tetangganya yang lain untuk minta diri. Hampir semuanya mengatakan sebagaimana dikatakan oleh suami isteri yang rambutnya sudah ubanan itu. Bahkan seorang tetangganya yang lain, seorang perempuan yang sudah separo baya berkata, “Aku berani menjadi saksi yang disumpah dengan cara apa pun juga. Aku tahu pasti, bahwa seharusnya kau mempunyai hak sebagian dari tanah, rumah dan segala macam perabot yang ada di rumah itu”

“Sudahlah, bibi. Terima kasih atas kepedulian bibi”

Tetangga-tetangganya melepas Tanjung dengan hati yang trenyuh. Mereka mengumpati kakak ipar perempuan yang malang itu.

Namun ketika Tanjung pergi ke rumah Ki Bekel untuk minta diri dan menitipkan rumah serta perabotnya, Ki Bekel itu  pun berkata, “Seharusnya kau tahu diri Tanjung. Demikian suamimu meninggal, kau harus berkemas dan segera pergi. Dengan demikian, maka kakak iparmu itu tidak perlu mengusirmu”

Jantung Tanjung berdesir. Hampir dituar sadarnya Tanjung itu  pun berkata, “Tetapi bukankah aku juga mempunyai hak sebagian dari tanah yang ditinggalkan oleh almarhum suamiku”

Ki Bekel itu mengerutkan dahinya. Katanya dengan suara yang bernada tinggi, “Siapa yang mengatakannya? Semua tanah itu adalah tanah suamimu. Atas nama suamimu. Kau tidak mempunyai apa-apa. Karena itu kau harus pergi”

“Bukankah ada ketentuan adat untuk membagi harta kekayaan suami isteri dengan gana-gini”

“Kalau kau bercerai dengan suamimu, kau akan mendapat sepertiga bagian dari harta-benda milik bersama selama sepasang suami isteri berumah tangga. Tetapi suamimu mati”

“Tentu sama saja Ki Bekel. Aku mendapat sepertiga, yang lain akan diwarisi oleh keluarga suamiku karena kami tidak mempunyai anak”

“Aku berkata kepadamu. Aku memberitahukan tatanan ini kepadamu. Bukan kau yang memberitahu aku Tanjung”

Mata Ki Bekel terbelalak.

Tanjung  pun terdiam. Bahkan ia menyesal, kenapa ia mempersoalkan peninggalan suaminya itu. Selama ini, bahkan dihadapan kakak iparnya ia tidak menyinggungnya sama sekali.

Tetapi sikap Ki Bekel sejak awal itulah agaknya telah menggelitiknya.

“Nah, jika kau akan pergi esok pagi, itu adalah sikap terbaik yang dapat kau lakukan. Aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan. Rumah itu kemudian akan dihuni oleh orang yang berhak”

Tanjung tidak merasa perlu untuk menjawab. Ia  pun justru minta diri.

“Aku akan mengemasi pakaianku, Ki Bekel”

“Baik. Silahkan. Ternyata kau telah berbuat yang terbaik yang dapat kau lakukan”

Hati Tanjung menjadi bertambah pedih karena sikap Ki Bekel. Ia tahu, bahwa kakak iparnya adalah kawan bermain Ki Bekel di masa mereka masih kanak-kanak, remaja sampai saatnya mereka dewasa dan hidup berkeluarga.

Hari itu, Tanjung telah membungkus barang-barang kecil yang akan dibawanya dengan selembar kain. Hanya itu.

Orang tua yang tinggal bersama Tanjung itu  pun sudah mengemasi pakaian dan barang-barangnya pula. Juga hanya sebungkus kecil.

Di malam hari Tanjung seakan-akar tidak tidur sama sekali. Dimasukinya setiap ruangan di rumahnya itu. Sentong tengah, sentong kanan dan kiri. Gandok sebelah kiri dan gandok sebelah kanan. Setiap longkangan dan dapur.

Perpisahan itu datang terlalu cepat. Tetapi Tanjung tidak dapat mengelak.

Di dini hari Tanjung sempat tidur sejenak. Namun kemudian ia  pun segera bangun karena tangis anaknya.

Setelah menenangkan anaknya, mengganti pakaiannya yang basah, serta menidurkannya lagi, maka Tanjung  pun segera berkemas. Hari itu, ia akan meninggalkan rumahnya yang sudah dihuninya beberapa tahun.

Tanjung merasa terharu ketika ia melihat beberapa orang datang ke rumahnya untuk mengucapkan selamat jalan langsung pada saat Tanjung beranjak meninggalkan rumahnya itu.

Sambil mengusap matanya yang basah, Tanjung  pun berkata, “Terima kasih, bibi, paman, mbokayu dan sanak kadangku semuanya. Kami akan pergi. Kami mohon maaf jika selama ini kami telah bersalah kepada sanak kadang semuanya”

“Kami yang harus minta maaf kepadamu Tanjung. Selama kau tinggal disini, kau kami anggap seorang yang baik. Yang mengerti dan menempatkan diri diantara kami semuanya”

“Terima kasih pula atas sanjungan itu. Aku berharap bahwa pada suatu saat, aku dapat datang mengunjungi sanak kadang disini. Aku sudah merasa bagian dari sanak kadang semuanya”

Perempuan yang sudah ubanan itu menyahut pula, “Kami menunggu. Tanjung. Kami sungguh-sungguh berharap. Jika ada kesempatan nanti, kami juga ingin mengunjungimu di tempat tinggalmu yang baru.

Dengan mengusap titik-titik air di matanya. Tanjung meninggalkan rumahnya. Tetangga-tetangganya melepasnya di regol halaman. Mereka menyaksikan Tanjung berjalan bersama perempuan tua yang sudah lama tinggal bersamanya itu. Semakin lama semakin jauh.

Sekali Tanjung dan perempuan tua itu berpaling. Namun mereka segera mengalihkan pandangan matanya dari orang-orang yang masih berada di depan regol halaman rumah yang ditinggalkannya itu.

Ketika matahari naik sepenggalah, Tanjung dan perempuan tua itu sudah berada di bulak panjang. Mereka berjalan agak cepat. Langkah-langkah kecil Tanjung membawanya melintasi jalan yang berjalur bekas roda pedati. Disisinya perempuan tua itu pun masih mampu berjalan cukup cepat pula.

Meski pun di sebelah menyebelah jalan terdapat pohon turi yang dapat dipetik bunganya untuk direbus dan dimakan dengan sambal kacang sekaligus sebagai pohon perindang, namun Tanjung masih juga membawa payung bebeknya yang dibuat dari anyaman belarak kering. Dengan payung bebeknya yang lebar. Tanjung melindungi anaknya dari tusukan sinar matahari yang menyusup diantara daun pohon turi yang tumbuh di pinggir jalan.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi, Tanjung dan perempuan tua itu harus berhenti. Anak Tanjung itu nampaknya sudah merasa haus. Bukan hanya anak itu yang kehausan. Tetapi Tanjung dan bibi Sumi itu  pun sudah merasa haus pula.

Karena itu, maka mereka  pun kemudian singgah di sebuah kedai. Mereka memesan minum dan makan bagi mereka berdua. Sedangkan makan bagi anak Tanjung telah disiapkan bekal dari rumah. Bubur beras dengan gula kelapa.

Seorang perempuan yang juga berada di kedai itu memandang anak Tanjung itu sambil tersenyum-senyum. Bahkan kemudian disentuhnya pipi anak itu sambil berdesis, “Manisnya anak ini. Gemuk, sehat dan tampan. Siapa namanya, ngger?”

Tanjung terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia belum pernah memberikan nama pada anaknya. Tiba-tiba saja seseorang bertanya, siapakah namanya.

Beberapa saat Tanjung termangu-mangu. Namun kemudian mulutnya telah menyebut sebuah nama, “Namanya Tatag, bibi”

“Tatag?”

“Ya, bibi”

“Ayahnya pandai memilih nama. Kesannya sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Kau tahu artinya tatag, ngger?

“Ya. bibi”

“Nah, anakmu akan menjadi seorang yang tatag menghadapi gejolak hidupnya.dimasa mendatang”

“Semoga, bibi. Memang itulah yang diharapkannya”

Perempuan itu mengangguk-angguk. Sekali lagi ia menyentuh anak itu. “Ah, sudahlah, aku sudah terlalu lama berhenti disini. Silahkan ngger. Aku sudah akan pamit”

Perempuan yang nampaknya seorang yang berkecukupan itu pun kemudian memberi isyarat kepada seorang anak laki-laki remaja, yang kemudian bangkit berdiri dan berjalan mengham-pirinya, “Jalan itu masih panas, ibu. Aku masih malas”

“Nanti aku tinggal kau disini” sahut ibunya, “aku titipkan kau kepada paman Ima”

Nampaknya perempuan itu sudah sering singgah di kedai itu, sehingga agaknya ia sudah terbiasa. Perempuan itu sudah dikenal dan mengenal dengan akrab pemilik kedai itu.

“Tinggal saja disini, ngger” sahut pemilik kedai itu

“Aku ajari kau membuat timus ketela rambat atau membuat lemper ketan serundeng”

Remaja itu bergayut berpegangan baju ibunya. Tetapi ia tidak menjawab.

“Tinggal selangkah lagi” berkata perempuan itu kepada anaknya.

Setelah membayar harga makanan dan minumannya, perempuan itu pun segera minta diri. Ia masih berpaling kepada Tanjung dan berkata, “Ajak Tatag singgah di rumahku. Dekat saja. Hanya beberapa puluh patok dari sini. Disebelah banjar padukuhan”

“Terima kasih bibi. Pada kesempatan lain, aku akan singgah bersama Tatag”

Perempuan dan anaknya yang remaja itu pun kemudian meninggalkan kedai itu.

Demikian perempuan itu keluar, pemilik kedai itu  pun berkata, “Ia seorang perempuan yang baik. Keluarganya adalah keluarga yang kaya. Tetapi ia tidak membanggakan kekayaannya. Perempuan itu tidak memilih dengan siapa ia harus bergaul. Tidak hanya dengan orang-orang kaya. Tetapi juga dengan orang-orang kecil seperti aku ini”

“Nampak pada wajahnya, bahwa ia seorang yang ramah” sahut Tanjung.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Tanjung dan perempuan yang sudah menjadi seperti ibunya sendiri itu  pun meninggalkan kedai itu. Mereka berjalan di jalan yang menjadi semakin terik oleh sinar matahari yang sudah berada di puncak langit.

Untunglah bahwa Tanjung membawa payung bebeknya yang lebar, sehingga dengan mengenakan payung bebek itu di kepalanya, maka anaknya tidak kepanasan lagi.

Tiba-tiba bibi Semi itu  pun bertanya, “Darimana kau dapatkan nama itu?”

“Entahlah bibi. Tiba-tiba saja”

“Nama itu tidak jelek. Arti katanya  pun baik. Kau dapat mempergunakannya seterusnya, kecuali tiba-tiba kau menemukan nama yang lebih baik”

“Biarlah untuk sementara anakku itu memakai nama Tatag”

Nyi Sumi itu pun mengangguk-angguk.

Mereka berhenti di bawah sebatang pohon turi yang berdaun rimbun ketika anak itu menangis. Tanjung  pun berusaha untuk menenangkannya. Setelah makan biasanya anak itu menjadi mengantuk dan langsung tidur. Tetapi rupa-rupanya panas yang terik itu membuatnya merasa kurang nyaman.

Angin yang semilir telah menyentuh wajah anak itu sehingga terasa tubuhnya menjadi sedikit segar. Karena itu, maka anak itu  pun terdiam. Matanya mulai terpejam.

Tanjung mengayun anak itu didalam gendongannya, sehingga beberapa saat kemudian, anak itu  pun telah tertidur.

Namun sebelum Tanjung meninggalkan tempat itu untuk meneruskan perjalanan, seorang laki-laki tua, berambut ubanan meloncati tanggul parit. Agaknya orang itu baru saja berjalan di pematang.

Dengan nada yang lunak orang tua itu bertanya, “Baru saja aku mendengar tangis bayi. Apakah anak ini yang menangis?”

“Ya, paman. Anakku baru saja menangis” Laki-laki itu mengangguk-angguk. Namun kemudian dipandanginya Nyi Sumi dengan kerut di dahinya. Kemudian dengan nada yang dalam ia pun berkata, “Kau benar-benar lupa kepadaku, yu?”

“Kau siapa?”bertanya Nyi Sumi dengan heran.

“Kita memang sudah lama sekali berpisah. Tetapi sekilas aku melihatmu, aku pun segera mengenalimu. Bukankah kau Yu Sumi?”

“Ya. Aku Sumi. Kau siapa?”

“Kau benar-benar sudah lupa kepadaku? Aku Mina. Mina itu yu, yang sering mencuri jambu air di kebun belakang rumah Yu Sumi dahulu”

“O. Jadi, kaukah itu? Kau sudah tampak tua sekarang Mina, Seharusnya kau masih semuda adikku”

“Eh. Bukankah Yu Sumi juga sudah kelihatan tua?”

“Ya. Aku juga sudah tua”

“Darimana siang-siang Yu. Dan siapakah perempuan ini? Anakmu?”

“Ya. Anakku”

“Si Mulat?”

“Bukan. Namanya Tanjung. Anakku yang bungsu”

“Berapa anakmu Yu?”

“Dua. Kenapa?”

Seingatku anakmu hanya seorang”

“Bukankah waktu itu kau pergi meninggalkan padukuhan?”

“Tetapi waktu itu kang Nala sudah tidak ada? Aku kira Mulat sudah tidak punya adik lagi”

“Aku menikah lagi, Nah. Tanjung adalah saudara Mulat tetapi berbeda ayah”

Mina tersenyum. Laki-laki tua itu mengangguk-angguk. Tetapi Sumi dan Tanjung tidak mengerti, apa yang sedang dipikirkannya.

Tiba-tiba saja Sumi itu bertanya, “Kenapa kau tiba-tiba saja sekarang ada disini?”

“Aku pulang, Yu, Pulang dari sebuah petualangan yang buruk. Aku sudah berada di rumah. Maksudku rumahku sekarang. Bukan rumahku yang dahulu”

“Kau tinggal dimana sekarang?”

“Ayah punya sepetak pategalan di tikungan sungai itu, Yu”

“Tegal Anyar?”

“Ya, yu”

“Kau tinggal dengan siapa di pategalan itu?”

“Dengan isteriku”

“Isterimu, siapa? Waktu kau pergi, kau belum mempunyai isteri”

“Kau tentu belum mengenalnya. Aku mendapatkan seorang isteri di masa pengembaraanku. Ia seorang perempuan yang baik. Setidak-tidaknya menurut pendapatku”

“Anakmu berapa, Na?”

Laki-laki itu menarik nafas panjang. Dengan nada dalam ia  pun berkata, “Kau lebih beruntung dari aku, yu. Kau mempunyai dua orang anak dan kau sudah mulai menimang cucu. Tetapi aku tidak mempunyai seorang anak pun. Tetapi ini bukan salah isteriku. Tetapi salah kami berdua”

“Kau memang harus menerima kenyataan itu, Na. Sang Penciptalah yang menentukannya”

“Aku mengerti, yu. Nah, jika kau mau singgah di rumahku, maka kau akan bertemu dengan isteriku”

Tetapi Nyi Sumi itu tersenyum sambil menjawab, “Terima kasih, Na. Lain kali aku akan singgah di rumahmu. Cucuku sudah mulai menangis”

“Perjalananmu masih agak jauh, yu”

“Ah. Tinggal tiga bulak lagi”

”Tetapi bulaknya panjang-panjang” Nyi Sumi itu tertawa.

Namun dalam pada itu, Mina itu pun bertanya lagi, “Anak itu cucumu bukan, yu?”

“Ya. Kenapa?”

“Aku mendengar tangis-nya. Aku seakan-akan mendengar genderang dan sangkakala yang mengiringi sepasukan prajurit segelar sepapan menuju ke medan perang”

“Apa? Kau dengar tangis cucuku sebagai isyarat perang? Sebagai isyarat pertumpahan darah dan kematian?”

“Tidak, yu. Jangan salah paham. Aku hanya mengatakan bahwa tangis cucumu itu bagaikan genderang dan sangkakala yang mengiringi prajurit segelar sepapan menuju ke medan perang”

“Jadi kau hubungkan cucuku dengan perang kan? Perang itu berarti pertumpahan darah dan kematian”

“Tetapi kenapa seseorang terdorong untuk pergi berperang? Tentu ada bermacam-macam alasan”

“Apa pun alasannya, tetapi perang sejalan dengan penderitaan”

“Tetapi sepastikan prajurit ada yang pergi berperang untuk mengurangi penderitaan. Perang yang sejalan dengan penderitaan itu akan berlangsung dalam waktu yang terhitung singkat dibandingkan dengan pederitaan lain yang berkepanjangan dan bahkan tanpa, ada tanda-tanda akan berakhir. Perbudakan penindasan, penyalah gunaan kekuasaan dan sebangsanya. Baik dalam lingkungan yang sempit mau pun dalam lingkungan yang lebih luas.”

“Tentu ada cara lain yang dapat ditempuh selain dengan pertumpahan darah dan kematian”

“Ya, ya. Aku mengerti, Yu”

“Nah, apakah kau masih menghubungkan tangis cucuku dengan suara genderang perang?”

Mina tertawa. Katanya, “Aku minta Maaf Yu. Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan bahwa pada suara tangis cucumu terasa ada getaran gelombang kekuatan melampaui getar kekuatan kebanyakan anak-anak. Tegasnya, cucumu itu membawa pertanda bahwa ia memiliki kelebihan”

“Kau mencoba menjadi seorang peramal”

“Tidak. Aku tidak meramal. Aku hanya mencoba mengurai isyarat yang dapat aku tangkap. Tetapi entahlah. Apakah aku benar atau salah”

Nyi Sumi tersenyum. Katanya, “Sudahlah. Tetapi aku memperhatikan kata-katamu ini. Mudah-mudahan kau benar”

“Soalnya kemudian, kemana kelebihan, itu diarahkan”

“Aku mengerti maksudmu. Terima kasih”

“Nah, sekarang aku minta kalian singgah sebentar di rumahku. Kalian akan bertemu dengan isteriku”

“Terima kasih, Mina. Kali ini aku membawa cucuku. Anak itu sudah terlalu lama di perjalanan pagi ini”

“Baiklah, Yu. Jika ada kesempatan, biarlah aku bawa isteriku mengunjungimu. Bukankah kau masih tinggal di rumahmu yang dulu”

“Ya. Aku tidak kemana-mana. Pergilah ke rumahku. Ajak isterimu. Biarlah ia mengenalku dan mengenal kedua orang anak-anakku. Tetapi kau tentu tidak dapat mengenali Mulat lagi. Ia sekarang juga sudah nampak tua. Hampir setua aku”

“Baik, baik. Yu.Kapan-kapan aku akan pergi kerumahmu. Aku ingin berkenalan dengan ayah cucumu itu”

Nyi Sumi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sayang, Na. Ayah cucu ini telah meninggal. Tanjung sudah menjadi janda. Mulat juga sudah menjadi janda”

“O” Mina mengangguk-angguk, “jadi ada tiga orang janda di rumahmu?”

Mina mengangguk-angguk pula.

“Sudahlah Mina. Nanti cucuku rewel di jalan”

“Baik, baik Yu. Hati-hati dengan anakmu Tanjung. Anak itu merupakan mutiara bagimu”

“Mutiara atau suara genderang perang?”

Mina tersenyum. Katanya, “Maaf Yu. Aku tidak akan mempergunakan istilah itu lagi. Kecuali jika aku lupa”

Demikianlah Nyi Sumi dan Tanjung  pun melanjutkan perjalanannya. Sementara itu Mina masih berdiri termangu-mangu memandangi mereka. Dituar sadarnya Mina  pun berdesis, “Siapakah ayah anak itu? Sayang ia sudah meninggal. Jika saja aku sempat mengenalnya”

Dalam pada itu, maka panas  pun terasa semakin terik. Tanjung menyembunyikan anaknya dibawah payung bebeknya. Meski pun kakinya terasa letih, tetapi Tanjung berjalan terus. Bahkan ia ingin lebih cepat sampai di rumah bibi Sumi.

Bibi Sumi yang tua itu, ternyata masih juga tangkas berjalan. Ia sama sekali tidak kelihat letih. Ia masih saja berjalan di sebelah Tanjung.

Di perjalanan Tanjung sempat menyesali dirinya sendiri. Ternyata ia tidak mengenal perempuan tua itu dengan baik. Ia mengira betapa sempitnya wawasan perempuan yang hampir setiap saat berada di dapur itu. Namun ternyata, apa yang dikatakannya pada saat-saat ia terhimpit oleh keadaan, disepanjang jalan, juga’pembicaraannya dengan Mina, seakan-akan telah membuka pintu di dadanya, sehingga Tanjung itu dapat melihat kedalamannya lebih banyak lagi.

“Sudah tidak begitu jauh lagi, Tanjung” desis Nyi Sumi.

“Ya, bibi”

“Kau letih?”

“Tidak, bibi”

“Tanjung” berkata Nyi Sumi kemudian dengan nada yang rendah, “Mina adalah seorang yang telah lama sekali aku kenal. Ia orang baik menurut pengenalanku dahulu. Tetapi ia dapat mewakili sikap tetangga-tetanggaku. Mereka akan banyak mencampuri persoalan-persoalan yang sebenarnya terhitung persoalan pribadi. Tetapi mereka tidak bermaksud buruk. Yang mereka lakukan justru sikap seorang yang merasa terikat dalam kehidupan bersama”

“Aku mengerti, bibi. Bukankah tetangga-tetangga kita juga berbuat demikian?”

“Ya. Tetapi tetangga-tetanggaku adalah orang-orang yang lebih sederhana dari tetangga-tetangga kita selama ini”

“Ya, bibi”

Nyi Sumi terdiam sejenak. Dipandanginya jalan bulak yang panjang, yang terbentang di hadapannya. Jalan bulak yang menusuk diantara kotak-kotak sawah,yang ditumbuhi oleh batang-batang padi yang subur.

Panasnya terasa semakin terik. Tanjung semakin melekatkan payung bebeknya. Anaknya tidak boleh tersentuh panasnya sinar matahari sama sekali.

Namun akhirnya, keduanya  pun memasuki sebuah padukuhan yang terhitung besar. Tetapi seperti yang dikatakan Nyi Sumi, nampaknya penghuni padukuhan itu masih dalam tataran yang lebih sederhana dengan tataran kehidupan di padukuhan yang ditinggalkan oleh Tanjung, meski pun tanahnya agaknya tidak kalah suburnya.

Mulat terkejut ketika tiba-tiba saja ia melihat ibunya berdiri di depan pintu rumahnya Sebenarnya rumah bibi Sumi tidak terlalu kecil meski pun sederhana.

“Ibu” desis Mulat. Seorang perempuan yang seperti kata Nyi Sumi, ujudnya sudah hampir sebaya dengan ibunya itu.
“Kau mengenal Tanjung, bukan?”

“Ya. Marilah, silahkan Nyi”

“Terima kasih” desis Tanjung sambil membungkuk hormat. Untuk beberapa saat di pandanginya Mulat dengan kerut di dahi. Ia sudah pernah mengenalnya. Tetapi agaknya pada hari-hari terakhir, ubannya tumbuh dengan cepat, sehingga Mulat itu  pun kelihatan begitu cepat tua.

Tanjung dan anaknya  pun kemudian mengikut Nyi Sumi masuk ke dalam rumahnya. Tidak ada sebuah pendapa yang khusus. Tetapi Mulat membuat ruang dalam rumahnya tidak tersekat, sehingga ruang itu tetap terbuka. Di sisi dalam dari ruangan itu terdapat tiga buah sentong. Sentong tengah, sentong kiri dan kanan. Disisi sebelah kiri terdapat pintu butulan untuk pergi ke dapur lewat serambi.

Di rumah itu tidak terdapat gandok kiri atau kanan. Tetapi di sebelah sumur di arah kiri bagian belakang rumah terdapat sebuah kandang-kandang kambing.

“Marilah, Nyi. Silahkan duduk”

Tanjung  pun kemudian duduk di sebuah amben yang agak besar di ruang yang terbuka itu.

“Tiba-tiba saja ibu pulang. Bahkan bersama dengan Nyi Tanjung”

“Nanti aku akan bercerita. Sekarang, kami merasa haus. Kau punya minum?”

“Aku akan merebus sebentar, ibu”

“Maksudku, justru yang dingin”

Mulat termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku membuat wedang sere pagi tadi, ibu. Apakah itu pantas untuk dihidangkan?”

“Tentu saja. Sudah aku katakan, kami memerlukan minuman yang dingin. Tidak perlu air wayu sewindu. Tetapi wedang sere yang kau buat tadi pagi itu justru yang paling baik untuk dihidangkan sekarang ini”

Mulat  pun kemudian pergi ke dapur untuk mengambil wedang sere yang sudah menjadi dingin.

Sejak hari itu, Tanjung tinggal di rumah Nyi Sumi. Di sore hari, setelah mereka mandi dan berbenah diri, serta Tatag sudah tidur dan dibaringkan di pembaringan, maka Nyi Sumi, Tanjung dan Mulat, duduk di amben di ruang dalam. Nyi Sumi- pun telah menceriterakan kepada Mulat, lelakon yang dialami oleh Tanjung.

Mulat mendengarkannya dengan penuh perhatian. Sambil mengangguk-angguk Mulat  pun kemudian berdesis, “Itulah Tanjung. Bahwa kepemilikan benda-benda keduniawian kadang-kadang dapat membuat seseorang kehilangan kiblat hidupnya. Seseorang kebanyakan lebih senang berusaha memenuhi kebutuhan hidup kewadagan di dunia yang fana ini. Mereka melupakah apa yang akan terjadi di alam langgeng. Bahkan kadang-kadang seseorang dengan ringan berbicara tentang hari-hari yang kekal seakan-akan tidak lebih dari sebuah bayangan yang semu. Malahan ada yang menganggapnya sekedar sebagai sebuah lelucon yang dapat mengungkit tawa berkepanjangan”

Tanjung mengangguk kecil.

“Aku sependapat dengan kau, Tanjung” berkata Mulat selanjutnya, “seperti yang dikatakan oleh ibu, bahwa kau tidak menuntut apa pun dalam ujud harta benda keduniawian. Kau akan mendapatkan jauh lebih banyak dari itu”

“Ya, mbokayu” jawab Tanjung, yang justru merasa menjadi begitu sempit wawasannya tentang kehidupan.

Di hari-hari berikutnya, Tanjung merasa bahwa ia sudah menjadi luluh didalam keluarga Nyi Sumi. Ia tidak lagi merasa orang lain. Ia menganggap Nyi Sumi seperti ibunya sendiri. Mulat  pun telah menjadi kakak perempuannya yang baik, yang berusaha menjaga perasaannya yang sedang terasa sangat lunak dan mudah tersentuh.

Di rumah itu, Tatag juga mendapat perhatian yang cukup. Nyi Sumi dan Mulat ikut merawatnya dengan baik. Tanjung tidak lagi menyebut Nyi Sumi dengan bibi. Tetapi ia menirukan Mulat yang memanggil Nyi Sumi dengan sebutan ibu.

“Bukankah ibu tidak merasa cemas lagi, bahwa di-antara gigi Tatag akan tumbuh taring?”

Nyi Sumi tertawa. Sementara Mulat pun bertanya, “Kenapa tumbuh taringnya?”

“Ibu merasa cemas, bahwa bayi ini adalah anak wewe atau anak genderuwo”

Mulat tidak hanya tersenyum. Tetapi ia tertawa berkepanjangan. Katanya, “Ibu memang sering aneh-aneh. Yang dibayangkan itu justru yang bukan-bukan, yang bahkan lebih condong ke dunia yang lain”

“Kau belum pernah mendengar dongeng tentang anak wewe atau genderuwo”

“Sudah ibu. Dongeng tentang anak wewe dan anak genderuwo. Tetapi hanya dongeng saja”

Nyi Sumi mengerutkan dahinya, sementara Mulat masih saja tertawa.

Dari hari ke hari, Tatag tumbuh seperti kebanyakan kanak-kanak. Tetangga Mulat juga ada yang baru saja melahirkan. Hanya selisih berbilang hari dengan Tatag. Namun ternyata bahwa Tatag tumbuh lebih cepat dari bayi tetangga”

“Kau makan apa Tanjung?” bertanya ibu bayi itu.

“Aku tidak mengerti maksudmu” sahut Tanjung.

“Anakmu tumbuh lebih cepat dari anakku. Padahal aku makan cukup banyak. Apa saja aku makan. Minum anak ini juga deras sekali”

Tanjung tersenyum. Katanya, “Aku banyak makan dedaunan dan buah-buahan. Ada buah jambu di belakang.

Mbokayu Mulat menanam beberapa batang pohon kates Jingga yang hampir setiap hari ada saja buahnya yang masak.

“Aku juga banyak makan dedaunan. Aku menanam kacang panjang tidak hanya di pematang sawah. Tetapi juga di kebun. Di kebunku juga banyak terdapat pohon melinjo yang dapat dipetik daunnya yang muda setiap hari. Ada pula beberapa batang kates seperti di rumahmu. Ketela pohon yang daunnya memberikan rasa yang khusus. Bahkan kadang-kadang aku juga membeli kangkung di pasar. Bayam dan beberapa jenis sayuran yang lain. Terutama selama aku menyusui”

“Nanti yu. Mungkin sebentar lagi anakmu akan tumbuh seperti anakku”

“Kau dengar kalau anakmu menangis? Dan kau dengar pula jika anakku menangis? Aku merasakan ada sesuatu yang beda”

“Yang beda apanya, yu?”

“Aku tidak tahu. Tetapi ada yang beda”

Ketika kemudian perempuan itu pergi, Mulat yang ikut mendengarkan pembicaraan itu pun berdesis, “Ia benar, Tanjung. Jika Tatag menangis, terasa ada yang beda”

“Apanya yang beda, mbokayu?”

Mulat menggeleng. Katanya,, “Aku tidak dapat mengatakannya. Tetapi aku dapat merasakannya”

Tanjung menarik nafas dalam-dalam. Beberapa orang telah tertarik kepada suara tangis anaknya. Tanjung sendiri tidak merasakan perbedaan itu. Menurut pendengarannya, Tatag menangis seperti bayi-bayi yang lain. Kadang-kadang hanya sebentar. Tetapi kadang-kadang berkepanjangan.

Tanjung memang pernah mendengar, bahwa jika seorang bayi menangis keras dan panjang, itu tandanya bahwa pernafasannya cukup baik. Namun jika bayi itu sering menangis dan merengek, maka ia akan menjadi anak yang cengeng.

Namun ternyata bahwa tangis Tatag tidak hanya menarik perhatian beberapa orang tetangga serta Mina yang pernah bertemu di perjalanan. Tetapi ada orang lain yang sangat tertarik mendengar tangis Tatag.

Tiga orang gegedug yang sedang berkeliaran di malam hari, terhenti ketika mereka mendengar tangis seorang bayi di sebuah rumah yang sederhana.

“Kau dengar tangis bayi itu” berkata seorang diantara mereka, orang yang tertua yang menjadi pemimpin segerombongan perampok yang menguasai satu lingkungan yang luas. Termasuk padukuhan Werit.

“Ya, Ki Lurah” jawab seorang kawannya.

“Apa katamu tentang tangis bayi itu?”

“Menarik sekali. Ada sesuatu yang bergetar bersamaan dengan suara yang melengking itu”

“Ya, Lurahe. Suara itu sangat menarik. Tangis itu berbeda dengan tangis bayi kebanyakan. Ada satu pertanda, bahwa bayi itu mempunyai kelebihan”

“Bagus. Kita sependapat. Marilah, kita dekati rumah itu”

“Untuk apa?”

“Aku inginkan bayi itu”

“He?” seorang kawannya mengerutkan dahinya buat apa Ki Lurah menginginkan bayi itu?”

“Bodoh kau. Gerombolan kita adalah gerombolan yang tidak akan lenyap bersamaan dengan meningkatnya umur kita. Kita harus membangun lapisan berikutnya untuk meneruskan kebesaran nama gerombolan Macan Kabranang. Kati tahu, bahwa namaku itu ditakuti oleh banyak orang-orang yang bahkan pemimpin-pemimpin gerombolan yang lain. Nama itu harus berkesinambungan”

“Jadi?”

“Kau tahu bahwa aku tidak mempunyai anak”

“Itu salah Ki Lurah sendiri”

“Kau berani menyalahkan aku?”

Aku hanya ingin mengulangi apa yang pernah Ki Lurah sendiri katakan”

“Apa yang pemah aku katakan?”

“Jika Ki Lurah mengambil seorang perempuan, maka begitu Ki Lurah jemu, perempuan itu pun ki Lurah usir atau bahkan ada yang Ki Lurah bunuh. Mereka tidak sempat memberi anak kepada Ki Lurah”

“Bohong. Ada perempuan yang hidup bersamaku sampai beberapa bulan. Ada yang hampir setahun. Jika mereka dapat memberi aku anak, maka mereka tentu sudah mengandung sehingga aku tidak perlu mengusirnya. Sedangkan perempuan yang aku bunuh itu adalah perempuan yang berusaha meracuniku. Bukan salahku jika perempuan itu dihukum mati”

“Hanya satu yang Ki Lurah bunuh?”

“Tiga. Yang dua orang mempunyai kesalahan yang sama”

“Ya”

“Kau sudah tahu he?”

“Ki Lurah sendiri yang mengatakannya. Kedua perempuan itu berbuat selingkuh, kan? Ki Lurah tidak hanya membunuh perempuan-perempuan itu. Tetapi juga kedua laki-laki yang telah membujuk mereka untuk selingkuh”

“Jadi aku sudah mengatakannya?”

“Sudah. Ki Lurah sudah pernah menceriterakan dua tiga kali sebelum sekarang ini”

“Tetapi kalian harus mendengarkan. Jika aku berceritera kalian harus mendengarkan. Kalian tidak boleh mendahului ceritera seperti sekarang ini atau aku membunuh kalian. Tetapi kali ini kalian aku ampuni. Tetapi lain kali, sekali lagi kalian mendahului ceriteraku, maka kalian akan aku cincang”

“Aku tidak” sahut yang seorang lagi, “Begog yang telah mendahului ceritera Ki Lurah”

“Kau dengar Begog?”

“Ya, Ki Lurah. Aku dengar”

“Baik. Sekarang, marilah kita ambil anak itu. Siapa yang tinggal di rumah ini?”

“Tiga orang perempuan. Semuanya janda”

“Jika demikian, kita tidak akan mengalami kesulitan”

”Ya. Tetapi bagaimana kita memelihara anak itu? Kita akan mengambilnya setelah anak itu menjadi agak besar. Tiga atau ampat tahun lagi”

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi tiga atau ampat tahun mendatang. Mungkin orang lain akan mengambilnya lebih dahulu”

“Tetapi anak itu memerlukan perawatan. Memerlukan susu ibunya. Siapa yang akan mengganti popoknya di malam hari. Siapa yang akan menyuapinya?”

Gegedug yang disebut Macan Kebranang itu merenung sejenak. Namun tiba-tiba saja ia pun berkata, “Kita ambil bersama ibunya. Jika ibunya cantik, aku memerlukannya. Jika ibunya berwajah buruk, ia akan dapat menjadi pelayan di sarang kita sekaligus merawat anak itu”

Begog mengangguk-angguk. Katanya, “Gagasan bagus Ki Lurah. Mungkin ibunya seorang perempuan cantik. Ia akan dapat menjadi bunga di sarang kita yang gersang”

“Gila kau Begog. Kau akan mengajaknya selingkuh?”

“Tidak.” Tidak, Ki Lurah”

Pemimpin gerombolan perampok yang menyebut dirinya Macan Kabranang itu terdiam. Tangis Tatag masih saja terdengar. Bahkan semakin keras. Rumah yang sederhana itu bagaikan di guncang-guncang oleh getar suara tangisnya.

“Kita masuk ke rumah itu sekarang” gumam Macan
Kabranang.

“Apakah kita akan mengetuk pintu?”

“Ya. Kita akan mengetuk pintu”

Macan Kabranang itu  pun kemudian melangkah mendekati pintu rumah yang terhitung sederhana itu. Namun sebelum ia mengetuk pintunya, terdengar suara seorang, “Tunggu Ki Sanak”

Macan Kabranang  pun terhenti. Ketika ia berpaling, dari kegelapan muncul dua sosok bayangan.

“Siapakah kalian dan untuk apa kalian kemari?” bertanya seorang diantara kedua orang itu.

“Apa pedulimu?”

“Baiklah. Aku tidak akan mempedulikanmu. Pergilah”

“Apa hak kalian mengusirku?”

“Kau tentu akan mengambil bayi yang menangis itu” berkata yang seorang lagi, yang ternyata seorang perempuan.

“Itu adalah urusanku”

“Ketahuilah Macan Kabranang “

Namun kata-kata perempuan itu terpotong, “Kau tahu namaku?”

“Kau memang seorang pelupa. Kau sendiri yang sesumbar bahwa namamu adalah Macan Kabranang. Namun yang ditakuti oleh banyak orang di lingkunganmu ini. Bahkan para pemimpin gerombolan yang ada. Tentu saja yang kau maksud adalah gerombolan penjahat”

“Diam kau” bentak Macan Kabranang.

Tetapi kedua orang, laki-laki dan perempuan, itu justru tertawa berkepanjangan.

Dalam pada itu, Tanjung yang berada di dalam rumah, mendengar suara-suara di luar rumahnya. Meski pun tidak jelas benar, tetapi Tanjung mendengar bentakan-bentakan keras, kemudian suara tertawa yang berkepanjangan dan suara-suara lain yang membuatnya ketakutan. Bahkan Nyi Sumi dan Nyi Mulat yang juga terbangun menjadi ketakutan pula.

“Siapakah mereka, ibu?” bertanya Tanjung.

“Entahlah. Suara-suara itu membuat aku takut” desis Nyi Sumi.

“Nampaknya telah terjadi pertengkaran di luar” berkata Mulat. Meski pun Mulat juga merasa takut, tetapi ialah yang nampak paling tenang diantara ketiga orang perempuan itu.

“Ki Sanak” berkata laki-laki yang datang kemudian itu, “kau tidak dapat mengambil anak itu. Akulah yang akan mengambilnya. Isteriku juga tidak mempunyai anak. Ia dapat merawat anak itu dengan baik. Kami tidak merasa perlu mengusik ibu bayi itu”

“Siapa kau?”

“Apa pedulimu siapa kami. Sekarang pergilah. Aku akan menemui ibu bayi yang menangis itu dan minta anaknya dengan baik-baik. Isteriku akan berjanji untuk merawatnya melampaui perawatan ibu sendiri”

“Persetan dengan kau. Kaulah yang harus pergi atau kami akan mengusir kalian dengan kekerasan”

“Jauh-jauh kami datang kemari. Tentu kau tidak akan dapat mengusir kami begitu saja”

“Bahkan kalau kau berkeras kepala, kami akan membunuh kalian berdua dan membuang mayat kalian di regol halaman rumah ini”

“Jangan sombong Ki Sanak. Kita akan melihat, siapakah yang lebih baik diantara kita”

“Kalian hanya berdua. Apalagi seorang diantara kalian adalah seorang perempuan. Kalian tentu tidak akan banyak memberikan perlawanan sebelum kami membunuh kalian”

“Aku mendengar tangisnya. Aku seakan-akan mendengar genderang dan sangkala yang mengiringi sepasukan prajurit segelar sepapan menuju ke medan perang”

“Jangan merendahkan kemampuan kami berdua”

“Kami adalah tiga orang gegedug diantara segerombolan harimau yang buas”

“Kami adalah sepasang suami isteri yang akan mampu menguasai harimau-harimau jinak seperti kalian”

“Setan alas” geram Macan Kabranang, “bersiaplah untuk mati”

Macan Kabranang segera memberi isyarat kepada kedua orang kawannya sambil berkata, “Cepat selesaikan mereka. Jangan beri kesempatan bayi itu dibawa pergi”

Tanjung menjadi semakin ketakutan. Dengan demikian pemusatan perhatiannya kepada anaknya pun terpecah, sehingga Tatag justru tidak segera terdiam. Ia masih saja menangis keras-keras meski pun ibunya, bibi dan neneknya sudah berusaha. Tetapisseperti juga Tanjung, dalam ketakutan mereka memang tidak dapat berbuat sebaik-baiknya untuk menenangkan Tatag.

Sementara itu, Macan Kabranang dan dua orang pengikutnya telah mulai menyerang. Sedangkan kedua orang laki-laki dan perempuan itu telah bergeser, justru mengambil jarak. Mereka akan menghadapi lawan-lawan mereka terpisah.

Macan Kebranang  pun kemudian telah memberi isjarat kepada kedua orang kawannya untuk bersama-sama menghadapi perempuan itu. Bahkan Macan Kebranang itu pun bergumam, “Cepat selesaikan perempuan itu. Aku akan menyelesaikan laki-laki inisecepatnya. Kita akan segera membawa anak itu bersama ibunya pergi”

Kedua orang laki-laki dan perempuan itu tidak menyahut. Namun mereka  pun sudah siap menghadapi ketiga orang gegedug dari gerombolan Macan Kebranang itu.

Begog dan kawannyalah yang telah bergerak lebih dahulu. Keduanya menyerang perempuan itu dengan garangnya.

Namun ternyata perempuan itu adalah perempuan yang tangkas. Dengan cepat perempuan itu berloncatan menghindari serangan kedua orang lawannya. Namun tiba-tiba perempuan itulah yang menyerang dengan loncatan-loncatan panjang.

Macan Kebranang masih sempat memperhatikan kedua orang pengikutnya bertempur melawan perempuan itu. Dengan lantang Macan Kebranang itu  pun memberikan perintah, “Jangan dihambat oleh perasaan belas kasihan. Jika perempuan itu berkeras melawan kalian, bunuh saja. Lemparkan mayatnya ke jalan di depan regol itu.”

Tetapi terdengar suara tertawa perempuan itu sambil berkata, “Ternyata kawan-kawanmu bukan bagian dari sekelompok harimau yang sedang marah seperti namamu. Mereka adalah anak-anak macan yang lucu, yang sedang bergairah untuk bermain-main”

“Perempuan iblis” geram Macan Kebranang, “sekilas ia menangkap kemampuan yang tinggi dari perempuan itu.

“Jika kau sudah puas memperhatikan orang-orangmu yang kebingungan itu, kita akan menentukan nasib kita sendiri Macan Kebranang”

“Bagus” geram Macan Kebranang, “bersiaplah. Ternyata aku harus membunuh kau lebih dahulu. Baru kemudian kami akan membunuh isterimu”

“Bukankah dalam loncatan-loncatan pertama kau sudah mampu menilai, siapakah yang akan memenangkan pertempuran itu?”

“Persetan. Tutup mulut. Kita akan bertempur” Laki-laki itu memang terdiam. Ia  pun justru bergeser surut ketika Macan Kebranang mendekatinya.

Namun macan Kebranang itu  pun tiba-tiba saja meloncat menerkamnya seperti seekor harimau yang lapar.

Laki-laki itu mengelak. Bahkan sambil berkata, “Kau menjadi garang seperti seekor harimau yang lapar. Bahkan kelaparan karena sudah berhari-hari kau tidak mendapatkan makan, sehingga kau sudah menjadi tidak berdaya lagi”

“Diam” bentak Macan Kebranang.

Laki-laki itu tidak menjawab. Ia harus mengelak lagi karena Macan Kebranang telah menyerangnya pula.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah bertempur dengan sengitnya. Ternyata Macan Kebranang benar-benar seorang yang garang. Bukan saja serangan-serangannya, tetapi Macan Kebranang itu telah mengaum benar-benar seperti seekor harimau yang garang.

Tetapi lawannya adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu maka serangan-serangan harimau yang marah itu sama sekali tidak menggetarkannya.

Ternyata bahwa Macan Kebranang tidak segera dapat menguasai lawannya. Serangan-serangannya banyak yang tidak menyentuh sasarannya. Berkali-kali Macan Kebranang itu berloncatan menerkam. Namun laki-laki itu dengan tangkasnya mengelak dan bahkan berganti menyerang.

Ketika kedua tangan Macan Kebranang itu terjulur menggapai leher laki-laki itu, maka laki-laki itu  pun dengan sigapnya mengelak. Sambil merendahkan diri, kali laki-laki itu tiba-tiba saja terjulur lurus menyamping.

Macan Kebranang terkejut. Tetapi ia tidak mampu lagi mengelak ketika kaki itu mengenai lambungnya.

Kemarahan Macan Kebranang bagaikan membakar ubun-ubunnya ketika ia terpelanting jatuh. Sambil menggeram Macan Kebranang itu bangkit berdiri.

“Kau telah membuat kesalahan yang sangat besar” geram Macan Kebranang.

“Kenapa”

“Kau adalah orang yang tidak tahu diri. Pada saat aku berniat sekedar memberi peringatan kepadamu, kau telah menyerang membabi buta dan sempat mengacaukan keseimbanganku. Karena itu, maka semua harapanmu untuk tetap hidup sudah lenyap. Jika semula aku hanya sekedar ingin memberimu peringatan, sekarang sikapku sudah berubah. Aku benar-benar ingin membunuhmu”

Laki-laki itu tertawa. Katanya, “Kau atau aku. Menurut penjajaganku, ternyata kemampuanmu tidak lebih dari kemampuan seorang pencuri jemuran. Aku menjadi heran, bahwa kau mengaku seorang pemimpin gerombolan yang bernama Macan Kebranang. Sebaiknya kau ganti namamu. Bukan Macan, tetapi kucing sakit-sakitan”

Orang itu menggeram marah sekali.-Tiba-tiba saja ia menempatkan sesuatu di ujung jari-jari tangannya kiri dan kanan.

“Kau sambung kuku-kukumu agar menyerupai kuku macan?” bertanya laki-laki itu.

Macan Kebranang mengumpat kasar. Katanya kemudian, “Kau akan menyesali kesombonganmu. Perempuan itu akan dicincang oleh kedua orang kawanku. Kernudian kau sendiri akan mengalaminya”

Tetapi laki-laki itu tertawa. Katanya, “Sempatkan melihat apa yang terjadi dengan kedua orang kawanmu yang bertempur melawan isteriku itu”

Macan justru membentak, “Kau ingin menipuku dengan licik. Pada saat aku memperhatikan kedua kawanku, kau akan menyerangku dengan tiba-tiba”

“Mungkin kau sering melakukan cara yang licik seperti itu. Tetapi aku tidak. Tetapi jika kau mencemaskan kemungkinan itu, biarlah aku mengambil jarak”

Laki-laki itu  pun segera meloncat mundur sengaja memberikan kesempatan kepada Macan Kebranang untuk memperhatikan pertempuran antara kedua orang pengikutnya melawan isteri laki-laki itu.

Macan Kebranang memang menjadi berdebar-debar. Sulit untuk mempercayainya. Kedua orang pengikutnya yang sudah memiliki pengalaman yang luas di dunia olah kanuragan itu, ternyata tidak mampu membendung serangan-serangan yang dilancarkan oleh perempuan itu. Beberapa kali kedua orang pengikut Macan Kebranang itu harus berloncatan surut. Bahkan seolah mereka bergantian terlempar dan jatuh terpelanting di tanah.

Terdengar suara-laki-laki itu, “Nah, apa yang kau lihat?”

Macan Kebranang itu mengaum dengan kerasnya. Jari-jari kedua tangannya  pun kemudian mengembang. Yang nampak adalah kuku-kuku baja yang tajam di ujung setiap jari tangannya itu.

Dengan garangnya Macan Kebranang itu  pun menyerang. Kedua tangannya terjulur dengan jari-jari terbuka menerkam tubuh laki-laki itu.

Tetapi laki-laki itu tidak membiarkan tubuhnya di koyak oleh kuku-kuku baja itu. Karena itu, maka laki-laki itu  pun bergerak pula dengan cepat, mengelakkan serangan itu. Bahkan tiba-tiba saja laki-laki itu meloncat sambil berputar. Kakinya terayun dengan derasnya menghantam kening Macan Kebranang, sehingga sekali lagi Macan Kebranang itu terlempar dan jatuh berguling di tanah.

Dengan cepat Macan Kebranang bangkit. Ia  pun segera bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Namun ketika laki-laki itu meluncur seperti anak panah, maka Macan Kebranang terkejut. Ia tidak mampu berbuat banyak ketika kaki laki-laki itu menghantam dadanya.

Macan Kebranang itu terdorong surut dengan derasnya. Tubuhnya menimpa sebatang pohon yang tumbuh di halaman. Terdengar tulang-tulangnya bagaikan berderak-dan retak.

Dengan susah payah Macan Kebranang itu bangkit berdiri. Namun rasa-rasanya sulit baginya untuk dapat bertempur lagi mengimbangi lawannya yang bergerak dengan cepat

Nampak kecemasan membayang di wajah Macan Kebranang. Sebagai seorang gegedug ia sudah bertualang sampai kemana-mana, sebelum pada suatu saat ia membangun sebuah sarang gerombolan yang diberinya nama seperti nama yang dipakainya sendiri. Macan Kebranang. Namun selama petualangnya yang lama, Macan Kebranang belum pernah menemui lawan seperti lak-laki yang malam itu dilawannya. Begitu tenang tetapi mapan.

Ketika ia menyempatkan diri untuk berpaling, melihat keadaan kedua orang kawannya, maka ternyata keduanya juga sudah kehilangan kesempatan untuk memenangkan pertarungan itu. Keduanya bergantian jatuh terpelanting, terlempar atau terjerembab, sehingga keduanya seolah-olah sudah tidak bertenaga lagi.

Namun dalam pada itu, ternyata perkelahian di malam hari itu telah membangunkan beberapa orang tetangga Nyi Sumi. Ketika dua tiga orang laki-laki yang terhitung berani mencoba untuk menjenguk lewat pintu gerbang yang terbuka maka jantung mereka  pun menjadi berdebaran. Ternyata di halaman rumah Nyi sumi itu telah terjadi pertempuran yang sengit. Pertempuran antara orang-orang yang berilmu yang menurut penglihatan tetangga-tetangga Nyi Sumi adalah pertempuran yang sengit.

“Kami tidak berani mencampurinya, ” berkata seorang diantara mereka.

“Lalu apa yang harus kita lakukan. Jika terjadi sesuatu dengan Nyi Sumi dan anaknya serta perempuan. yang mengemban anaknya itu, maka kita akan menyesalinya ketidakmampuan kita menyelamatkannya”

“Pukul kentongan dengan nada titir”

“Ya. Pukul kentongan”

Demikianlah maka sejenak kemudian terdengar suara kentongan-dengan irama titir. Yang mula-mula terdengar adalah suara kentongan yang bergantung di serambi banjar. Kentongan yang besar yang suaranya memenuhi padukuhan.

Sejenak kemudian, maka suara kentongan itu  pun bersambut. Kentongan yang lain  pun telah dibunyikan pula dengan irama titir.

Laki-laki dan perempuan yang hampir saja menyelesaikan lawan-lawan mereka itu  pun berloncatan surut untuk mengambil jarak. Dengan lantang laki-laki itu berkata, “Ki Sanak. Sebentar lagi, semua laki-laki di padukuhan ini akan keluar. Aku berdua akan pergi. Jika kalian mencoba untuk melawan mereka, maka kalian tentu akan dicincang disini. Kalian sudah tidak berdaya lagi. Tenaga kalian sudah terkuras habis. Karena itu, terserah, apa yang akan kalian lakukan”

Sekejap kemudian, maka kedua orang suami isteri itu  pun telah berloncatan masuk ke dalam kegelapan.

Macan Kabranang termangu-mangu sejenak. Jika saja tenaga dan kemampuan mereka masih utuh, maka mereka tidak akan gentar menghadapi orang-orang padukuhan. Meskipun mereka akhirnya tidak dapat memenangkan pertempuran melawan orang se padukuhan, namun mereka yakin, bahwa korban akan banyak yang jatuh, sementara mereka yakin, bahwa mereka akan dapat meloloskan diri.

Tetapi menghadapi orang-orang padukuhan dalam keadaan yang sulit itu, maka akibatnya akan dapat buruk sekali bagi mereka.

Karena itu, maka mereka bertiga  pun kemudian sepakat untuk meninggalkan halaman rumah itu. Tetapi mereka tidak keluar dari halaman lewat pintu regol halaman, tetapi dengan susah payah sambil menyeringai menahan sakit, mereka pergi ke kebun belakang dan keluar lewat pintu butulan.

Sebenarnyalah beberapa saat kemudian, maka jalan-jalan  pun telah dipenuhi oleh banyak orang yang terbangun karena suara kentongan. Mereka berlari-larian pergi ke banjar, karena mereka tahu, bahwa kentongan yang pertama di bunyikan adalah kentongan di banjar. Di banjar mereka mendapat keterangan bahwa telah terjadi perampokan di rumah Nyi Sumi.

“Apa yang dirampok di rumah janda itu?”

“Perempuan yang membawa anak itu adalah perempuan yang sebelumnya diikuti oleh Nyi Sumi”

“Apa ia seorang perempuan yang kaya, yang membawa perhiasan mas berlian, sehingga segerombolan perampok datang ke rumahnya malam ini?”

“Entahlah”

“Atau mungkin ada persoalan lain?”

“Entahlah”

“Membalas dendam barangkali?”

“Entahlah”

“Jadi apa?”

“Entahlah”

Yang bertanya  pun kemudian terdiam.

Baru kemudian, setelah mereka sampai di rumah Nyi Sumi, maka mereka  pun baru tahu apa yang telah terjadi. Tanjung mendengar semua pembicaraan orang-orang yang berada di luar rumah itu. Sedangkan Nyi Sumi dan Mulat mendengar sebagian besar dari pembicaraan orang-orang yang datang ke rumahnya itu.

“Mereka menginginkan bayi itu, Ki Bekel” jawab Nyi Sumi ketika Ki Bekel dan Ki Jagabaya datang ke rumahnya dan bertanya tentang peristiwa yang terjadi di rumah itu.

“Ada apa sebenarnya dengan bayi itu?” bertanya Ki Bekel.

“Aku tidak tahu, Ki Bekel. Tetapi menurut mereka, suara tangis bayi itu sangat menarik perhatian”

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Kasihan anak itu. Ia dapat menjadi rebutan. Bukan saja dua pihak sebagaimana yang baru datang. Tetapi mungkin akan datang pihak-pihak yang lain lagi”

“Ya” Ki Bekel menyahut. Tetapi nadanya terasa berbeda. Dengan kerut di dahi Ki Bekel itu  pun berkata, “Sebelum ada bayi itu, jarang sekali terjadi kerusuhan disini. Tiba-tiba saja sekarang daerah ini menjadi sangat rawan. Daerah ini akan dapat menjadi ajang pergulatan antara beberapa gerombolan orang-orang yang berilmu tinggi”

“Kita harus ikut campur, Ki Bekel”

“Ikut campur apa maksud Ki Jagabaya?”

“Kita harus melindungi anak itu. Bukankah itu menjadi kewajiban kita melindungi rakyatnya?”

“Tetapi anak itu beserta ibunya bukan penghuni padukuhan ini”

“Mereka sekarang tinggal di sini, Ki Bekel”

“Tetapi bukankah kalian belum memberikan laporan kepadaku, sehingga kami masih belum ikut bertanggung jawab atas keselamatan kalian”

“Datanglah besok menemui Ki Bekel untuk melaporkan keberadaan bayi itu bersama ibunya disini. Maka setelah itu, kalian akan berada di bawah perlindungan kami”

“Aku tidak berkeberatan memberikan perlindungan Ki Jagabaya. Tetapi kita harus melihat kenyataan. Jika orang-orang berilmu tinggi itu datang, apa yang akan kita perbuat?”

“Kalau kita seluruh padukuhan ini bergerak?”

“Jika kau masih hidup, kau akan dapat menghitung, berapa banyak mayat akan berserakan di jalan-jalan utama padukuhan kita ini”

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Namun sambil menarik nafas panjang ia  pun berkata, “Apa  pun caranya, tetapi menjadi kewajiban kita untuk melindungi rakyat kita. Mungkin aku dapat minta bantuan beberapa orang berilmu dari perguruan-perguruan yang aku kenal. Setidak-tidaknya perguruanku sendiri”

Ki Bekel menarik nafas panjang.

Beberapa saat kemudian, maka Ki Bekel  pun minta diri. Kepada Ki Jagabaya, Ki Bekel itu bertanya, “Ki Jagabaya mau pulang sekarang atau nanti?”

“Nanti Ki Bekel. Mungkin aku menunggu fajar”

Ki Bekel menarik nafas panjang. Namun ia  pun kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan rumah itu setelah minta diri kepada Nyi Sumi, Mulat dan Tanjung.

Tetapi Ki Jagabayaa tetap tinggal di rumah Nyi Sumi bersama beberapa orang tetangga.

Kepada Nyi Sumi, Ki Jagabaya  pun berkata, “Jangan takut, Yu Sumi. Kami akan melindungimu. Aku akan minta bantuan satu dua orang saudara seperguruanku”

“Terima kasih, Ki Jagabaya”

Ki Jagabaya dan beberapa orang laki-laki berada di rumah Nyi Sumi sampai fajar. Baru ketika langit menjadi merah, mereka  pun minta diri.

Nyi Sumi sendiri, Mulat dan Tanjung tidak dapat tidur lagi. Sepeninggal Ki Bekel, Mulat justru pergi ke dapur untuk merebus air. Dibuatnya wedang jahe dan dihidangkannya kepada Ki Jagabaya dan tetangga-tengganya yang masih ada di rumahnya sampai fajar.

Namun peristiwa malam itu telah membuat seisi rumah itu menjadi gelisah. Apalagi jika mereka mengingat pernyataan Ki Bekel, bahwa sebelum ada bayi di padukuhan itu, keadaan padukuhan itu terasa tenang.

“Apakah anakku telah membuat padukuhan ini bergejolak?” bertanya Tanjung kepada diri sendiri.

Didekapnya Tatag di dadanya. Air yang bening menitik dari matanya, membasahi wajah anak itu.

Tatag membenamkan wajahnya di dada ibunya, seakan-akan ingin menghapus titik air mata yang jatuh di wajahnya itu. Bahkan anak itu seakan-akan berkata, “Jangan menangis ibu”

Tanjung mencium anaknya. Air matanya semakin membasahi wajah, anak itu. Sedangkan Tatag memandanginya dengan kerut-kerut di dahinya.

Ketika Nyi Sumi mendekatinya, maka Tanjung itu  pun berkata dengan sendat, “Ibu. Apakah anakku telah mengganggu ketenangan hidup di padukuhan ini?”

“Tidak, ngger. Tidak”

“Bukankah ibu juga mendengar apa yang dikatakan oleh Ki Bekel?”

“Tetapi bukankah kau juga mendengar apa yang dikatakan oleh Ki Jagabaya?”

“Tanjung” Mulat yang mendekat  pun menyela, “Kau belum mengenal sifat dan watak Ki Bekel. Ia seorang pemimpin yang malas. Ia selalu berusaha menghindar dari tugas-tugas yang terasa berat. Yang diinginkannya, segala sesuatunya akan dapat menjadi baik dengan sendirinya, tanpa harus berbuat sesuatu. Selama ini yang bekerja keras memang Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu. Sedangkan Ki Bekel lebih senang menikmati kedudukannya tanpa melakukan apa-apa. Yang diharapkannya adalah pisungsung dari rakyatnya. Bahkan kadang-kadang dengan memberikan kesan-kesan tertentu yang bernada mengancam”

Tanjung menarik nafas panjang.

“Karena itu, jangan berpikir yang macam-macam Tanjung. Semua orang tahu, sifat dan watak Ki Bekel. Tetapi banyak orang yang tentu bersedia melindungimu, termasuk Ki Jagabaya”

“Ya, yu”

Sebenarnyalah bahwa Ki Jagabaya tidak membiarkan keluarga Nyi Sumi itu menjadi ketakutan. Ia telah memerintahkan anak-anak muda untuk semakin giat meronda dan bahkan berkeliling padukuhan. Mereka harus membagi daerah perondan mereka dengan jelas, sehingga tidak ada rumah yang tidak dilewati para peronda keliling di malam hari.

“Jangan hanya sekali berkeliling. Tetapi sedikitnya tiga kali. Di wayah sepi uwong sekali. Di tengah malam sekali dan di dini hari sekali”

“Baik, Ki Jagabaya” jawab anak-anak muda. Sebenarnyalah bahwa anak-anak muda itu tidak hanya mengiakan saja perintah Ki Jagabaya. Tetapi mereka benar-benar-menjalaninya. Anak-anak muda yang mendapat giliran meronda itu setiap malam nganglang tiga kali sebagaimana di kehendaki oleh Ki Jagabaya.

Sementara itu, Ki Jagabaya sendiri juga sering memerlukan datang ke rumah Nyi Sumi. Setiap kali Ki Jagabaya selalu menanyakan keselamatan bayi yang tangisnya sangat menarik perhatian itu.

“Bagaimana keadaan anakmu Tanjung?” bertanya Ki Jagabaya ketika sedikit lewat senja ia datang ke rumah Nyi Sumi.

“Baik-baik saja Ki Jagabaya”

“Sukurlah. Tetapi tangis anakmu memang menarik sekali. Ada yang lain dari tangis kebanyakan bayi yang pernah aku dengar. Bahkan anak-anakku sendiri”

“Sebenarnya apanya yang terasa lain Ki Jagabaya?” bertanya Tanjung yang setiap kali mendengar kata orang bahwa tangis anaknya itu terdengar lain dengan tangis bayi-bayi kebanyakan.

“Sulit untuk mengatakan. Tetapi seorang yang mendengarkan anakmu menangis, terasa jantungnya bergetar. Tangis itu seakan-akan melontarkan kekuatan tertentu, sehingga pengaruhnya terasa oleh mereka yang mendengar tangis anakmu itu”

“Aku tidak pernah merasakan kelainan itu”

“Karena kau ibunya. Kau tentu berada terlalu dekat dengan anak itu. Seakan-akan antara kau dan anakmu itu tidak ada jarak. Justru karena itu, maka apa yang ada pada anakmu itu rasa-rasanya biasa-biasa saja.”

Tanjung hanya dapat menarik nafas.

“Sudahlah. Sebaiknya kau tidur tidak terlalu malam. Selagi anakmu tidur, sebaiknya kau juga tidur. Nanti malam anakmu tentu terbangun pada waktu yang tidak dapat ditentukan. Setelah itu belum tentu anakmu akan segera dapat tidur lagi, sehingga kau  pun harus berjaga-jaga menungguinya”

“Ya, Ki Jagabaya”

Ki Jagabaya  pun kemudian telah minta diri.

Sikap Ki Jagabaya rasa-rasanya dapat memberikan ketenangan kepada keluarga Nyi Sumi yang terdiri dari tiga orang janda itu. Rasa-rasanya keberadaan Ki Jagabayadi rumah itu, bagaikan payung yang lebar yang memberikan perlindungan disaat matahari yang terik membakar langit Juga memberikan perlindungan di saat air hujan tertumpah dari awan kelabu.

Karena itu, jika Ki Jagabaya tidak datang sehari saja, keluarga kecil itu menjadi gelisah.

Tetapi yang tidak diduga itu  pun telah terjadi.

Di pagi hari, sebelum Tanjung sempat memandikan anaknya, telah datang kerumah yang sederhana itu, Nyi Jagabaya. Tanpa bertanya apa-apa, Nyi Jagabaya langsung membentak-bentak marah.

“Mana Tanjung” teriak Nyi Jagabaya.

“Ada apa Nyi? Ada apa?” bertanya Nyi Sumi dengan sareh.

“Mana perempuan jalang itu?”

“Kenapa dengan Tanjung, Nyi?” bertanya Mulat.

“Kalian tidak usah mencampuri urusanku dengan Tanjung. Aku akan membunuh jalang itu”

“Kenapa? Apa yang sudah dilakukan?”

“Kau masih bertanya Mulat. Begitu bodohnya kau yang sudah ubanan itu. Bukankah kau perempuan juga seperti aku? Seperti Tanjung? Bukankah pada suatu saat kau merasa membutuhkan seorang laki-laki? Aku tahu, kau pernah menikah Mulat. Kalau suamimu mati, itu adalah nasibmu. Tetapi bukankah kau membiarkan suamimu mati tanpa bersedih?”

“Aku tidak tahu maksud Nyi Jagabaya”

“Sekarang panggil Tanjung”

“Tanjung baru mempersiapkan air hangat untuk memandikan anaknya. Nyi”

“Aku tidak peduli. Panggil Tanjung”

Tanjung yang beradadi biliknya untuk menyiapkan air hangat bagi Tatag, mendengar suara Nyi Jagabaya yang melengking-lengking itu. Karena itu, maka ditinggalkannya anaknya untuk datang menemui Nyi Jagabaya.

“Nah, itu. Jalang itu. He, kau dapat saja melacur dimana kau mau. Tetapi jangan di padukuhan ini. Jangan pula mencoba memikat suamiku. Aku masih memerlukannya. Ia masih aku anggap penting bagiku dan bagi anak-anakku”

Tanjung terkejut sekali mendengar umpatan itu. Sebelum ia sempat menyahut, Nyi Jagabaya telah berteriak lagi, “Tanjung. Kau apakan suamiku, he? Guna-guna apa yang kau pergunakan untuk membuat suamiku lupa kepada anak isterinya.

“Nyi” suara Tanjung terdengar bergetar, “Aku tidak mengerti maksud Nyi Jagabaya”

“Tentu saja kau berpura-pura bodoh. Berpura-pura lugu dan seakan-akan tidak tahu apa-apa. Biasanya para pelacur juga berbuat seperti yang kau lakukan itu”

“Nyi Jagabaya” potong Nyi Sumi, “anakku itu orang baik-baik. Ia baru saja ditinggal suaminya meninggal. Anaknya  pun masih bayi. Bagaimana mungkin Nyi Jagabaya mengatakan bahwa ia seorang pelacur?”

“Ia bukan anakmu Nyi. Semua orang tahu, bahwa anakmu hanya satu, Mulat. Perempuan itu tentu pelacur yang kapiran dan kau bawa pulang. Suaminya mati karena sedih memikirkan tingkah lakunya”

“Nyi. Itu sudah keterlaluan” potong Mulat, “sebaiknya Nyi Jagabaya pulang. Berbicara dengan Ki Jagabaya. Menurut penglihatanku, jika Ki Jagabaya datang kemari, yang dilakukannya tidak lebih dari sekedar menjalankan tugasnya melindungi rakyatnya”

“Ya. Mula-mula itulah yang dilakukan. Tetapi pelacur itu selalu menggodanya. Berusaha menarik perhatiannya dan kemudian menjeratnya”

“Tidak. Tidak. Itu tidak pernah aku lakukan” Tanjung mulai menangis betapa pun ia mencoba bertahan.

“Bohong. Kau berkata begitu karena kau tahu aku isterinya. Jika aku bukan isteri Ki Jagabaya, kau akan berceritera dengan bangga, bahwa kau dapat merebut hati Ki Jagabaya dan kemudian mengendalikannya seperti mengendalikan kerbau yang sudah dicocok hidungnya”

“Tidak, ibu. Tidak. Aku tidak melakukannya” tiba-tiba saja Tanjung itu memeluk Nyi Sumi, Ia masih bertahan untuk tidak menangis meski pun air matanya membasahi bahu Nyi Sumi.

“Aku tahu. Kau tidak melakukannya, ngger. Tenanglah. Aku tahu. Semua orang tahu bahwa kau tidak melakukannya.

“Nyi” berkata Mulat kemudian, “Aku minta Nyi Jagabaya meninggalkan rumah ini. Aku akan menyelesaikan persoalan ini dengan Ki Jagabaya”

“Tidak. Aku tidak akan pulang sebelum aku yakin bahwa pelacur itu tidak akan mengganggu suamiku lagi”

“Baik. Jika Nyi Jagabaya tidak mau pulang dan tetap menuduh adikku sebagai seorang pelacur, maka aku juga akan mempergunakan cara yang kasar untuk meredam ceritera khayalan Nyi Jagabaya”

“Kau mau apa?”

“Nyi Jagabaya sangka, bahwa aku tidak tahu apa yang pernah Nyi Jagabaya lakukan selama kau menjadi isteri Ki Jagabaya? Orang-orang padukuhan ini memang berusaha melupakan ceritera buruk itu. Tetapi jika perlu, aku akan mengungkit kembali ceritera itu”’

“Ceritera apa?”

“Apakah Nyi Jagabaya tidak ingat lagi kepada laki-laki nista yang sering menggembalakan itik di pinggir sungai itu? Hantu manakah yang waktu itu merasuk di hati Nyi Jagabaya, sehingga Nyi Jagabaya telah selingkuh dengan gembala yang tidak berharga di mata orang banyak itu? Laki-laki itu sering mencuri, sering menipu dan berpura-pura. Bukankah laki-laki itu bagaikan pecahan gerabah saja jika ia dibandingkan dengan Ki Jabagaya? Ia memang seorang laki-laki yang gagah. Seorang laki-laki yang tampan. Tubuhnya kokoh kuat. Agaknya itulah yang telah menarik hati Nyi Jagabaya”

“Cukup” Nyi Jagabaya itu  pun berteriak.

“Waktu itu Ki Jagabaya sudah memaafkanmu meski pun Ki Jagabaya mengetahui apa yang telah terjadi”

“Bohong. Itu kabar bohong”

“Nyi. Aku masih akan membuka rahasiamu lebih dalam lagi jika kau tidak mau berhenti menuduh adikku yang bukan-bukan. Adikku ini lebih bersih dari kau, Nyi. Jika kau menganggap adikku ini sampah, maka kau adalah sampah yang telah membusuk”

Tanjung  pun melepaskan ibunya. Ia justru memeluk Mulat yang hampir tidak dapat mengendalikan kemarahannya.

“Sudahlah, yu. Sudah”

“Bukan aku yang memulainya, Tanjung. Tetapi perempuan itu”

Wajah Nyi Jagabaya menjadi merah padam. Namun kemudian ia  pun melangkah cepat-cepat meninggalkan rumah Nyi Sumi.

“Agaknya beberapa orang tetangganya mendengar pertengkar-an itu. Semula hanya seorang saja yang mendengarnya ketika perempuan itu kebetulan lewat. Namun kemudian yang seorang itu telah memberitahukan kepada seorang yang lain dan yang lain lagi.

Lima orang perempuan yang kemudian datang ke rumah Nyi Sumi untuk menanyakan persoalan apa saja yang dipertengkar-kan dengan Nyi Jagabaya.

Nyi Sumi, Mulat dan Tanjung tidak dapat berbohong. Perempuan yang pertama telah mendengar kata-kata keras Nyi Jagabaya, sehingga perempuan itupun.tahu pasti, untuk apa Nyi Jagabaya datang ke rumah Nyi Sumi untuk menemui Tanjung.

“Aku menjadi sedih sekali” desis Tanjung sambil mengusap matanya yang basah.

“Jangan hiraukan Tanjung. Perempuan itu memang seorang perempuan yang kasar. Apalagi setelah menjadi isteri Ki Jagabaya. Ia merasa bahwa ia adalah perempuan yang mempunyai kedudukan tertinggi di samping Nyi Bekel”

“Tetapi hatiku telah terluka”

“Anggap saja seperti kicau burung di pagi hari” Sedangkan perempuan yang lain  pun berkata, “Nyi Jagabaya memang tidak tahu diri. Seharusnya ia dapat menilai dirinya sendiri. Perempuan macam apakah dirinya itu? Kecuali jika hatinya putih seperti kapas, ia dapat menyalahkan orang lain”

Perempuan-perempuan itu memang dapat membesarkan hati Tanjung. Tetapi jika persoalannya akan berulang dan berulang, maka hidupnya tentu tidak akan pernah merasakan tenang.

Hari itu Tanjung selalu dibayangi oleh kegelisahannya. Agaknya kegelisahan Tanjung itu telah mempengaruhi ketenangan anaknya pula, sehingga Tatag  pun menjadi agak rewel. Tidak biasanya Tatag merengek-rengek. Tatag adalah seorang anak yang jarang sekali menangis. Tetapi jika ia menangis, maka rasa-rasanya rumah sederhana itu bagaikan terguncang.

“Sudahlah, Tanjung. Lupakanlah. Ki Jagabaya tentu akan menjelaskan kepada isterinya, bahwa setiap kali ia datang kemari, semata-mata karena ia menjalankan tugasnya melindungi rakyatnya yang terancam bahaya.

Menjelang senja, Tanjung memang menjadi agak tenang. Ketika anaknya tidur, Tanjung pergi ke pakiwan untuk mandi, kemudian berbenah diri. Baru kemudian ia pergi ke dapur membantu Mulat yang menyiapkan makan malam bagi mereka.

“Sudahlah Tanjung. Tunggui saja anakmu”

“Anak itu tidur, yu”

Ketika kemudian malam turun, maka mereka bertiga  pun duduk di ruang dalam untuk makan malam bersama-sama.

Namun sebelum mereka mulai makan, mereka terkejut ketika pintu rumah yang sudah ditutup itu diketuk orang.

“Siapa?” bertanya Mulat.

“Aku “

Suara itu telah mendebarkan jantung ketiga orang perempuan itu. Suara itu adalah suara Ki Jagabaya.

Mulatlah yang kemudian bangkit untuk membuka pintu. Sebenarnyalah yang datang itu adalah Ki Jagabaya”

“Marilah Ki Jagabaya. Atau barangkali Ki Jagabaya sudi makan bersama kami?”

“Terima kasih, aku sudah makan. Aku hanya sebentar”

Nyi Sumi dan Mulat  pun kemudian menemui Ki Jagabaya, sedangkan Tanjung justru pergi ke biliknya.

“Ada yang ingin aku tanyakan” berkata Ki Jagabaya kemudian, “apakah isteriku pagi tadi datang kemari?”

“Ya, Ki Jagabaya. Begitu Nyi Jagabaya datang, Nyi Jagabaya  pun langsung marah-marah. Nyi Jagabaya telah menuduh Tanjung berbuat yang bukan-bukan”

“Biarlah aku yang minta maaf atas kelakuan isteriku. Aku sudah menjelaskannya. Ia tidak akan datang untuk kedua kalinya”

“Terima kasih, Ki Jagabaya”

“Dimana Tanjung sekarang?”

“Menunggui anaknya, Ki Jagabaya”

“Tolong. Aku ingin bertemu. Sebentar saja”

Nyi Sumi sempat menjadi ragu, Namun ia  pun kemudian bangkit dan pergi ke bilik Tanjung.

“Ki Jagabaya ingin bertemu, Tanjung”

“Tolong ibu, katakan bahwa anakku baru akan tidur”

“Ki Jagabaya tentu akan menunggu. Karena itu, temui sebentar. Ia akan segera pulang”

Tanjung tidak membantah. Ia  pun kemudian keluar dari biliknya untuk menemui Ki Jagabaya”

Ki Jagabaya memang hanya sebentar. Ia hanya minta maaf bagi isterinya.

Seperti. yang dikatakannya kepada Nyi Sumi, Ki Jagabaya itu  pun berkata, “Peristiwa seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi, Tanjung”

“Terima kasih atas perhatian Ki Jagabaya. Tetapi sebaiknya Ki Jagabaya juga tidak usah sering datang kemari. Aku sudah merasa aman jika kami mendengar suara kotekan anak-anak muda yang meronda.

“Aku merasa harus menjalankan kewajibanku, Tanjung. Tetapi aku akan mendengarkan pendapatmu itu”

Ki Jagabaya  pun kemudian telah minta diri. Katanya pula, “Masih ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan”

“Silahkan Ki Jagabaya”

Sepeninggal Ki Jagabaya, maka Nyi Sumi  pun berdesis, “Mudah-mudahan yang dikatakan Ki Jagabaya itu benar, bahwa Nyi Jagabaya tidak akan datang lagi dan mempersoalkan suaminya itu”

Meski pun demikian, ternyata Tanjung yang sudah hampir berhasil meredam gejolak hatinya, rasa-rasanya bagaikan diungkit lagi.

“Ibu dan mbokayu” berkata Tanjung kemudian, “Aku kira sebaiknya aku tidak tinggal disini”

“Tidak tinggal disini? Jika kau tidak tinggal di sini, kau akan tinggal dimana?”

Tanjung menundukkan wajahnya. Pertanyaan itu memang tidak dapat dijawabnya. Ia sendiri-rasa-rasanya sudah tidak mempunyai sanak kadang yang akan dapat menerimanya.

Namun dengan suara yang lemah Tanjung itu berdesis, “Tetapi keberadaanku disini ternyata menimbulkan persoalan. Aku telah membuat padukuhan ini tidak tenang. Aku juga sudah membuat keluarga Ki Jagabaya terguncang. Sementara itu nampaknya Ki Jagabaya memerlukan dukungan bagi tugas-tugasnya oleh Nyi Jagabaya. Setidak-tidaknya dukungan jiwani”

“Jangan berpikir macam-macam Tanjung. Asal kita tidak berniat menyalahi orang lain, maka yang terjadi itu adalah dituar tanggung jawab kita”

Tanjung  pun terdiam.

“Sudahlah Tanjung. Bukankah kita akan makan malam?”

Mereka  pun kemudian duduk kembali dan bersiap-siap untuk makan. Tetapi selera Tanjung sudah hilang.

Meskipun demikian, Tanjung masih juga berusaha untuk menyuapi mulutnya.

“Kau harus makan banyak Tanjung. Kau mempunyai anak kecil yang masih harus kau susui” Mulat mencoba untuk bergurau.

Tanjung memang tersenyum. Namun ia tidak menjawab.

Setelah makan malam, Tanjung membantu Mulat mencuci mangkuk dan alat-alat dapur yang masih kotor. Sementara itu Nyi Sumi duduk menunggui Tatag yang sedang tidur nyenyak.

Dipandanginya wajah Tatag yang bersih. Bahkan didalam tidurnya Tatag itu tersenyum-senyum. Agaknya anak itu bermimpi indah.

Namun dalam suasana yang sepi, Nyi Sumi sempat bertanya-tanya didalam hatinya”Siapakah yang telah sampai hati membuang bayinya yang manis, tampan, putih dan sehat ini? Apakah anak ini tidak jelas siapa ayahnya, atau karena sebab-sebab lain. Atau memang anak genderuwo atau wewe?”

Nyi Sumi menarik nafas panjang. Ia  pun kemudian bertanya pula kepada diri sendiri, “Kenapa tangisnya dapat menarik perhatian banyak orang? Kenapa perempuan sebelah yang mempunyai anak sebaya Tatag juga merasakan bahwa tangis Tatag berbeda dengan tangis anaknya?”

Namun Nyi Sumi tidak tahu jawab pertanyaan-pertanyaan yang bergejolak didalam hatinya itu.

Dalam pada itu, setelah selesai pekerjaannya di dapur, maka Tanjung  pun kemudian masuk ke dalam biliknya. Dilihatnya ibu angkatnya itu masih saja duduk sambil mengusir nyamuk yang terbang diatas tubuh Tatag.

“Anakmu tidur nyenyak sekali Tanjung”

“Mungkin anak itu letih, ibu”

“Aku menjadi cemas, bahwa kegelisahannya siang tadi akan dibawanya ke dalam mimpinya. Tetapi ternyata anak itu justru tersenyum-senyum dalam tidurnya”

“Sukurlah. Mudah-mudahan anak itu tidak sering menangis malam ini”

“Kau  pun harus segera tidur Tanjung. Mungkin anak itu akan terjaga. Kau  pun harus ikut bangun pula”

“Ya, ibu” jawab Tanjung.

Nyi Sumi pun meninggalkan Tanjung yang kemudian berbaring disisi Tatag yang masih tidur nyenyak.

Beberapa saat kemudian, seisi rumah itu sudah tertidur pula. Mulat tidur di dalam biliknya. Demikian pula Nyi Sumi. Sedangkan Tanjung tidur disebelah anaknya.

Ketika malam menjadi semakin malam, maka gardu-gardu parondan pun mulai terisi. Pada wayah sepi bocah, kentong di gerdu-gerdu perondan itu pun telah dibunyikan, memanggil para peronda yang masih belum ke gardu. Namun biasanya tidak hanya mereka yang meronda yang berada di gardu, tetapi kawan-kawan mereka yang masih belum tidur juga pergi ke gardu untuk sekedar berkelakar, bergurau dan mengisi waktu bersama kawan-kawan mereka.

Seperti pesan Ki Jagabaya, pada saat wayah sepi uwong, sebagian dari anak-anak muda itu pun telah pergi nganglang melalui jalan-jalan kecil di padukuhan mereka menurut daerah masing-masing. Mereka membawa kentongan-kentongan kecil yang mereka bunyikan disepanjang jalan dengan irama kotekan.

Namun dalam pada itu, beberapa orang yang bersembunyi di belakang gerumbul-gerumbul perdu memperhatikan anak-anak yang sedang meronda itu sambil tersenyum-senyum. Seorang diantara mereka pun berkata, “Rajin juga anak-anak itu meronda”

“Bukankah ketokan itu merupakan isyarat bagi kita?

“Isyarat?”

“Ya. Demikian mereka lewat, maka kita harus segera mengambil perempuan dan anaknya itu”

“Ya”

“Para peronda baru akan nganglang lagi nanti tengah malam. Masih ada waktu cukup”

“Baik. Kita akan pergi ke rumah itu. Kita akan singgah di kebun kosong sebentar. Bukankah kita harus menemuinya di sebelah sumur mati itu”

“Ya. Mari, jangan kehilangan waktu. Anak-anak yang meronda itu sudah lewat”

Beberapa orang itu pun mulai bergerak. Mereka akan singgah di kebun kosong sebelah jalan untuk menemui seseorang di dekat sumur mati.

Orang yang akan mereka temui itu memang sudah menunggu di dekat sumur mati itu. Demikian beberapa orang itu datang kepadanya, maka orang didekat sumur mati itu pun segera menemui sambil berkala, “Bagus. Nampaknya kalian sudah siap”

“Tentu” jawab seorang diantara beberapa orang itu, yang agaknya pemimpin mereka.

“Lakukan sekarang. Peronda itu baru saja nganglang. Mereka akan bergerak lagi lengah malam. Sebelum lengah malam kalian harus sudah berhasil membawa perempuan itu besena anaknya”

“Tugas apakah ini sebenarnya? Begitu mudahnya. Namun nanfpaknya kau sangat gelisah”

“Aku memang gelisah. Ada beberapa pihak yang menginginkan perempuan dan anaknya itu”

“Percayakan kepada kami”

“Sebelumnya Macan Kabranang sudah datang. Tetapi ia pun gagal karena ada sepasang suami isteri yang juga datang untuk mengambil perempuan dan anak itu”

“Berapa orang yang menemani Macan Kabranang?”

“Tidak jelas”

“Aku membawa sekelompok orang. Ada delapan orang yang datang termasuk aku. Seandainya Macan Kabranang kembali malam ini, aku akan menyelesaikannya. Orang itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi Macan Kabranang belum pernah menjajagi ilmu perguruan kita”

“Hati-hatilah”

“Kami akan berhati-hati”

“Jangan lupa. Bawa perempuan dan anaknya itu ke seberang. Aku akan segera menyusul”

“Baik. Kami akan menyelesaikan’sesuai dengan rencana yang telah kau susun”

Demikianlah, maka sekelompok orang itu pun segera meninggalkan orang yang menunggu di dekat sumur mati itu. Mereka menyelinap diantara semak-semak. Kemudian meloncati dinding halaman. Dengan hati-hati mereka pun langsung menuju ke rumah Nyi Sumi.

Rumah itu nampak sepi. Beberapa orang itu pun memasuki halaman dan menyelinap dibelakang gerumbul-gerumbul perdu.

Beberapa saat mereka menunggu. Setelah mereka yakin bahwa tidak akan ada hambatan apa pun juga, maka pemimpin gerombolan itu pun berkata, “marilah. Sekarang”

Mereka pun serentak bangkit. Dua orang langsung menuju ke pintu. Perlahan-lahan orang itu pun mengetuk pintu rumah Nyi Sumi.

Tetapi rumah itu sudah menjadi sepi. Semua penghuninya sedang tidur nyenyak didalamnya.

Orang yang mengetuk pintu itu mengulanginya. Lebih keras, sehingga Tanjung pun terbangun.

Perlahan-lahan Tanjung pun beringsut ke bilik Mulat. Di bangunkannya Mulat perlahan-lahan.

Demikian Mulat membuka matanya, Tanjung pun segera berdesis. “Ada apa?”

“Ada orang mengetuk pintu” bisik Tanjung.

Pintu itu pun telah diketuk lagi, sehingga Mulat pun mendengarnya.

Perlahan-lahan Mulat pun bangkit. Ketika ketukan di pintu itu menjadi semakin keras, Mulat pun bertanya, “Siapa yang mengetuk pintu?”

“Buka pintu. Jangan ribut”

“Siapa kau?”

“Cepat, buka pintu atau aku bakar rumahmu” Mulat termangu-mangu sejenak. Ia sadar, bahwa orang yang mengetuk pintu rumahnya itu bukan orang yang bermaksud baik.

Karena itu, maka Mulat. tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun segera pergi ke serambi samping. Dipukulnya kentongannya. Meski pun kentongan yang terbuat dari bambu itu kecil saja, tetapi suaranya justru melengking sampai ke gardu.

“Perempuan-perempuan iblis” geram pemimpin sekelompok orang yang mendatangi rumah Nyi Sumi. Mereka tidak lagi mengetuk pintu. Tetapi dua orang bersama-sama menghentakkan pintu rumah itu dengan kakinya, sehingga pintu itu pun terbuka/

“Tahan mereka yang akan masuk ke halaman” terdengar pemimpin sekelompok orang itu memberikan aba-aba, “tinggalkan mereka setelah aku bawa perempuan dan anaknya itu pergi”

“Baik Ki Lurah” jawab seorang diantara mereka.

Empat orang telah pergi ke depan regol. Ketika suara kentongan itu bersiambat, maka tiga orang telah berada di dalam rumah itu. Mereka pun dengan serta-merta telah menangkap Tanjung. Dengan ancaman sebilah pisau belati, maka seorang diantara mereka mendorong Tanjung sambil bertanya, “Mana anakmu?”

”Anakku telah dibawa orang” jawab Tanjung.

“Jangan bohong”

“Tidak. Aku tidak bohong. Anakku telah diculik seorang yang tidak aku kenal sebelumnya”

Tetapi seorang yang lain tiba-tiba saja menemukan Tatag di sentongnya.

“Anak itu ada disini”

“Nah, kau benar-benar sudah berbohong”

“Ya. Aku tidak mau kau bawa anakku”

“Tidak hanya anakmu. Tetapi kau juga akan kami bawa”

Tidak ada kesempatan bagi Tanjung untuk berbuat sesuatu. Seorang diantara mereka yang memasuki rumah itu, mengancam Tanjung dengan pisau belati.

“Cepat lakukan semua perintahku, atau anak ini akan-mati”

Nyi Sumi pun berdiri membeku. Mulat pun tidak lagi memukul kentongan.

Tanjung tidak dapat berbuat lain kecuali menggendong anaknya dan melakukan semua perintah dari pemimpin orang-orang yang memasuki rumah Nyi Sumi itu.

Semuanya berlangsung begitu cepat. Sementara orang-orang padukuhan itu memang menjadi ragu-ragu melawan orang-orang yang berdiri di regol dengan pedang terhunus.

Beberapa saat kemudian, Tanjung dan anaknya telah hilang dari rumah itu. Mereka dibawa oleh sekelompok orang melalui jalan butulan di kebun belakang. Sementara itu orang-,orang yang tertahan sesaat di luar regol oleh beberapa orang bersenjata telanjang telah memasuki halaman. Orang-orang yang bersenjata telanjang itu telah menghilang dari halaman rumah Nyi Sumi.

Beberapa saat kemudian, Ki Bekel dan Ki Jagabaya pun telah datang pula. Seperti kedatangannya sebelumnya, Ki Bekel justru berkata, ”Perempuan dan anaknya itu telah mendatangkan gejolak di padukuhan ini. Sebelum mereka datang, tidak pernah terjadi kerusuhan yang jangat buruk seperti ini”

“Mereka tidak bersalah, Ki Bekel. Apalagi bayi itu”

“Lambat atau cepat, mereka akhirnya akan dibawa orang keluar dari padukuhan ini”

Tetapi Ki Jagabaya menyahut, “Satu pertanda kegagalan dari tugas kita sebagai bebahu di padukuhan ini, Ki Bekel”

“Tidak. Persoalan ini terlalu kecil untuk menyebut sebagai satu kegagalan dari kepemimpinanku. Ada seribu masalah yang sudah dapat kita pecahkan selama ini. Sementara itu, satu persoalan kecil yang sebenarnya dituar tanggung jawab kita, tidak akan dapat menghapus segala keberhasilan kita itu”

“Ki Bekel meremehkan jiwa sesama kita”

“Sama sekali tidak. Justru karena aku mencemaskan nasib rakyatku sendiri”

Ki Jagabaya tidak menyahut. Ia tahu, bahwa tidak ada gunanya untuk berbicara lebih panjang lagi.

Nyi Sumi dan Mulat hanya dapat menangis. Keduanya merasa bersalah atas hilangnya Tanjung dan anaknya. Nyi Sumilah yang mengajak Tanjung tinggal bersamanya. Demikian pula Mulat yang merasa mendapatkan seorang adik dengan anak laki-lakinya. Mulat sendiri tidak mempunyai anak, sehingga ia akan dapat ikut mengaku Tatag sebagai anaknya.

Tetapi tiba-tiba saja anak itu dan bahkan bersama Tanjung telah hilang.

Sementara itu, Tanjung yang menggendong Tatag telah digiring melalui lorong-lorong sempit menghindari orang-orang padukuhan yang berdatangan ke rumah Nyi sumi. Nampaknya diantara orang-orang itu terdapat orang yang sudah terbiasa dan mengenali lingkungan itu dengan baik. Mengenali liku-liku padukuhan itu seperti mengenali rumahnya sendiri. Orang itulah yang berjalan di paling depan dengan pedang telanjang. Kemudian pemimpin kelompok itu sambil mengancam dengan pisau belati, memaksa Tanjung berjalan lebih cepai.

“Jika kau sengaja mengacaukan perjalanan ini, maka anakmu akan mati”

Tanjung tidak menjawab. Ia menjadi sangat ketakutan. Didekapnya anaknya erat-erat agar anak itu tidak terbangun dan tidak mangis. Ia tahu akibatnya jika Tatag terbangun dan berteriak-teriak dengan kerasnya.

Beberapa saat kemudian, Tanjung dibawah ancaman pisau belati telah berada di luar padukuhan. Mereka pun kemudian berjalan dengan cepat melintasi bulak persawahan.

Pemimpin gerombolan yang mengambil Tanjung dari rumah Nyi Sumi itu pun berkata, “Kita sudah dapat bernafas sekarang. Tetapi ini belum berarti bahwa kita bebas sepenuhnya dari kejaran orang-orang padukuhan itu.

Tanjung tidak menjawab. Ketakutan yang sangat telah membuat otaknya bagaikan membeku. Ia tidak tahu apa yang sebaiknya harus dilakukannya.

Gerombolan orang-orang yang garang itu pun kemudian membawa Tanjung mengambil jalan simpang. Mereka berbelok di simpang empat di tengah-tengah bulak itu.

Malam pun menjadi semakin malam. Beribu kunang-kunang nampak bertebaran di ujung daun padi yang tumbuh dengan suburnya di tanah persawahan sebelah menyebelah jalan. Sedangkan langit pun nampak bersih. Bintang-bintang di langit yang jumlahnya melampaui jumlah kunang-kunang yang melekat di daun padiku, hampak berkeredipan dari ujung sampai ke ujung cakrawala.

“Jangan berbuat macam-macam Tanjung” ancam pemimpin sekelompok orang yang membawanya, “Kita akan melewati jalan di dekat padukuhan itu. Mudah-mudahan tidak ada orang yang melihat kita, apalagi mencoba menghalangi perjalanan kita, agar kami tidak usah membunuh”

Tanjung tidak menjawab. Lidahnya bagaikan membeku. Sementara itu dingin malam terasa semakin tajam menusuk kulit, bahkan seakan-akan sampai menembus tulang.

-oo0dw0oo-

Karya                          : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by                : DewiKZ

Editor                        : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/   http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/  http://kang-zusi.info

 edit ulang untuk blog ini oleh Arema

Annual Report 2013

Terima kasih atas kunjungan ki sanak di blog ini, berikut Annual Report 2013 yang dirilis oleh WP

http://serialshmintardja.wordpress.com/2013/annual-report/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 59 pengikut lainnya.