Ruang Baca Karya SH Mintardja

Pengantar

Blog ini dibuka sebagai bagian untuk menyebarkan “virus” cerita silat dari bumi sendiri yang dituturkan oleh Almarhum Singgih Hadi Mihardja (SH. Mintadja). Biodata beliau bisa dilihat di sini. Kita tidak membahas biodata beliau tetapi, ingin menyebarkan karya beliau yang banyak dicari oleh para penggemar pada masanya, baik pembaca di Harian Kedaulatan Rakyat (KR) dan Bernas, maupun melalui buku-buku yang diterbitkan oleh berbagai media, Kedaulatan Rakyat, Panuluh atau Muria. Sedangkan buku-buku tersebut sudah mulai langka karena sudah mulai rusak dan tidak dicetak ulang kembali.

SH Mintardja dikabarkan telah menulis lebih dari 400 buku. Cerita berseri terpanjangnya adalah  Api di Bukit Menoreh yang terdiri dari 396 buku. Berikut ini daftar beberapa karya sang pengarang itu:

  1. Pelangi di Langit Singasari (79 jilid)
  2. Sepasang Ular Naga di satu Sarang (37 jilid)
  3. Panasnya Bunga Mekar (31 jilid)
  4. Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan (118 jilid)
  5. Api di Bukit Menoreh (396 jilid)
  6. Tanah Warisan (8 jilid)
  7. Matahari Esok Pagi (15 jilid)
  8. Meraba Matahari (9 jilid)
  9. Suramnya Bayang-bayang (34 jilid)
  10. Sayap-sayap Terkembang (67 jilid)
  11. Istana yang Suram (14 jilid)
  12. Nagasasra Sabukinten (29 jilid)
  13. Bunga di Batu Karang (14 jilid)
  14. Yang Terasing (13 jilid)
  15. Mata Air di Bayangan Bukit (23 jilid)
  16. Kembang Kecubung (6 jilid)
  17. Jejak di Balik Kabut (40 jilid)
  18. Tembang Tantangan (24 jilid)
  19. Arya Manggada (15 jilid)
  20. dll (belum punya datanya)

Belum ada data mana yang paling dulu, dan mana yang terakhir. Tetapi, melihat beberapa judul yang tidak sampai berakhir dengan semestinya ada beberapa yang overlap dan sama-sama tidak berakhir sampai akhir hayat beliau. Seperti pendekar yang diceritakannya, yang bangga kalau mati dalam perang, beliau juga meinggal pada saat bukunya belum selesai (menurut pikiran kita) karena berakhir menggantung.

Sudah banyak blog yang mengupload dalam bentuk ebook maupun ditempel di halaman, semakin baik karena “virus” yang dikembangkan dapat beranak-pinak.

Ada beberapa website yang mengunggah “pertama” kalinya karya-karya adiluhung Almarhum SH Mintardja, dalam format dejavu (djvu) diantaranya adalah: http://adbmcadangan.wordpress.com (Api di Bukit Menoreh) yang dipandegani oleh Ki GD dan Nyi Senopati,  http://pelangisingosari. wordpress.com (Pelangi di Langit Singasari),yang dipandegani oleh Ki Arema dan P. Satpamnya;  http://cersilindonesia.wordpress.com (Mata Air di Bayangan Bukit, Bunga di Batu Karang, Matahari Esok Pagi, dan tembang Tantangan) yang dipandegani oleh Ki Ismoyo dan di facebook group yang dipandegani oleh Ki Laz, Ki Zaki dan Ki Sukra (Suramnya bayang-bayang, Sayap-sayap Terkembang, Jejak di Balik Kabut, Kembang Kecubung, Meraba Matahari, dan Yang Terasing).

Wedaran dalam format dejavu (djvu) telah dikonversi ke berbagai format dan sekarang diupload dimana-mana. Satu lagi disediakan untuk menjadi taman bacaan sanak-kadang yang sedang iseng dan ingin menikmati karya almarhum SH Mintardja di sini. Selama kuota masih belum penuh (3GB) akan diupload satu persatu dimulai dari Seri Pelangi di Langit Singosari, Nagasasra & Sabukinten, Api di Bukit Menoreh, dst.

Khusus Seri Pelangi di Langit Singosari, naskah ini dipindahkan dari tempat aslinya http://pelangisingosari.wordpress.com yang mulai kelebihan memori sehingga menyulitkan upload naskah baru. Api di Bukit Menoreh dipindahkan dengan sedikit editing dari http://adbmcadangan.wordpress.com. Yang lain dicomot sana-sini, khususnya dari website Nyi DewiKZ di http://kangzusi.com.

Terimakasih kepada:

  1. Ki GD (dan Nyi Senopati) yang telah menyediakan blog  ADBM di adbmcadangan.wordpress.com, Ki Ismoyo yang telah menyediakan blog gagakseta di cersilindonesia.wordpress.com, Nyi DewiKZ yang menyediakan kangzusi.com (dkk).
  2. sanak-kadang yang telah bersusah payah konversi dari djvu ke doc/docx sehingga naskahnya bisa diupload disini:
    1. ADBM (kerja keroyokan Ki Prastawa, Ki Abu Gaza, Ki Sugita, Ki Sarip Tambak Oso, Mahesa, Ki Kuncung, Ki Raharga, Ki Arema, Ki Ajargurawa, K4ng tOmmy, dll saya tidak hafal, maaf…)
    2. Pelangi di Langit Singasari; Pasukan Retype: Ki Raharga, Ki Sunda,Ki Sukasasrana dan Dewi KZ; pasukan proofing/editing: Ki Raharga, Ki Sunda, Ki Hartono, Ki Wijil/Wiek, dan Ki Mahesa
    3. Sepasang Ular Naga di satu Sarang, pasukan retype: Ki Mahesa, Ki Ayasdewe, dan Ki Sunda; pasukan proofing/editing: Ki Mahesa, Ki Ayasdewe, dan Ki Sunda
    4. Panasnya Bunga Mekar, convert/proofing/editing; Nyi Dewi KZ dan Ki Banuaji
    5. Hijaunya Lembah dan Hijaunya Lereng Pegunungan,  convert/proofing/editing: Ki Raharga, Ki Dino, Nyi Dewi KZ.
    6. lain-lain: sanak-kadang yang melakukan convert/proofing/editing di website Tirai Kasih yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Selamat menikmati.

Malang, Maret 2011

Arema

————————————————————————————————————

Alamat kontak: pelangisingosari@gmail.com

MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

Mata Air di Bayangan Bukit

Meraba Matahari telah selesai diwedar tanggal 26 Maret 2014.

Selanjutnya akan diwedar karya SH Mintardja yang lain dengan judul Mata Air di Bayangan Bukit (MAdBB).

Tetapi, tidak sebagaimana naskah-baskah yang lalu, yang bisa diwedar secara teratur karena naskah sudah tersedia cukup, untuk naskah MAdBB ini kami tidak bisa menjanjikan keteraturan wedaran, karena benar-benar kejar tayang mulai konversi ke teks dan editing naskah yang tentu membutuhkan waktu yang banyak. Naskah akan diwedar (unggah) jika selesai edit satu jilid, mungkin seminggu sekali, mudah-mudahan bisa dipercepat.

Kisah ini diselesaikan pada jilid 23. Jilid pertama dicetak tahun 1980, jilid 23 dicetak tahun 1982.

cover madbb-01

Sepasang bukit mati
Bukit gundul
Dan bukit berselubung
Lebatnya hutan pegunungan

Di jantungnya air beriak
Menyimpan harapan masa depan

Di sela-sela batu karang
Ketamakan mengeras
Di hati bagai padas

Penulis (SH Mintardja)

Mohon doanya, agar kami memiliki waktu dan kesempatan untuk menyelesaikan wedaran naskah ini.

Wedaran sudah dimulai, silahkan kunjungi http://serialshmintardja.wordpress.com/lain-2/mata%20air%20di%20bayangan%20bukit/

Nuwun

Lereng Gunung Kawi 27 Maret 2014

 

MERABA MATAHARI

Tembang Tantangan akan berakhir di jilid 24. Sebagai kelanjutannya, kami upload Meraba Matahari yang rencana akan diupload tanggal 10 Maret 2014. Semoga, wedaran kami dapat melengkapi koleksi sanak-kadang yang biasa “nongkrong” di blog ini.

Jilid ini merupakan jilid pembuka rontal Meraba Matahari, jilid selanjutnya, tidak di “post” tetapi dalam “page” sebagaimana rontal yang lainnya.

Mohon maaf Nyi Dewi, naskahnya kami “curi” dari http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm. Naskah kami edit, disesuaikan dengan naskah aslinya.

Nuwun

Satpampelangi

SINOPSIS

Berikutnya, akan digelar ceritera baru. Ceritera rekaan murni yang pernah ditayangkan sebagai ceritera “Kethoprak Sayembara” lewat stasiun TVRI Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan Bandung yang penyelenggaraannya didukung oleh B.P. Kedaulatan Rakyat, dengan judul “KEBRANJANG ING GEGAYUHAN”

Ternyata “Kethoprak Sayembara” ini sangat menarik perhatian para pemirsa Televisi.

Dalam buku ini, ceritera tersebut saya susun sebagai satu ceritera yang tentu saja berbeda dengan “skenario” untuk layar Televisi.

Dengan beberapa sisipan dan pemanis disana-sini mudah-mudahan ceritera ini pantas untuk dibaca.

Ceritera “KEBRANJANG ING GEGAYUHAN” dalam penampilannya yang baru serta berbahasa Indonesia berjudul “MERABA MATAHARI” berkisah tentang kehidupan yang mempunyai berbagai macam relung-relung yang kadang-kadang sulit untuk diselami. Sudut-sudut yang terang dan sudut-sudut yang gelap seakan-akan tidak terbatas. Kesadaran akan kegelapan biasanya baru datang kemudian setelah telapak tangannya mulai meraba-raba tajamnya ujung batu karang serta merasa pedih.

Tetapi telapak tangan itu pun akan segera terbakar apabila kita dengan congkak mencoba meraba matahari.

Namun mereka yang tetap berpegang pada kekuasaanNya, maka betapapun derasnya arus akan dapat terseberangi, betapapun tingginya gunung akan dapat terlompati.

Meskipun ceritera ini ceritera rekaan murni, namun ceritera ini tetap akan berbicara tentang manusia yang kita kenali dari berbagai sisi pandang serta berpijak pada warna kehidupan di bumi sendiri.

——————————————————————————————————————-

MERABA MATAHARI

JILID 1

cover  MM-01KETIKA kabut mulai terkuak, maka cahaya fajar pun  mulai mewarnai langit, namun titik-titik embun masih bergayutan di ujung dedaunan.

Dinginnya malam masih terasa, meskipun perlahan-lahan pucuk-pucuk pepohonan bagaikan bermunculan dari kegelapan di lembah-lembah perbukitan.

Di lereng bukit berbatu padas, dua orang anak muda yang berloncatan, saling menyerang dan bertahan, kedua-duanya memiliki bekal ilmu yang tinggi. Kaki-kaki mereka dengan tangkasnya melenting dari bongkah-bongkah batu padas ke bongkah-bongkah yang lain, seakan-akan terbang berputaran diantara bebatuan.

Sekali-kali serangan mereka pun  mengena, sekali-kali berbenturan dengan keras sekali sehingga keduanya tergetar dan terdorong surut beberapa langkah.

Namun ketika cahaya langit menjadi semakin terang, maka keduanya pun  menjadi semakin garang, tangan-tangan mereka yang luput dari sasaran dan menyentuh batu-batu padas di tebing, maka tebing itu pun  telah berguguran. Pepohonan bagaikan diguncang, cabang dan ranting yang tersentuh tangan kedua anak muda itu pun  berpatahan.

Bukit dibawah kaki mereka seakan-akan telah bergetar.

Seluruh tubuh anak muda itu sudah basah, bukan oleh embun saja, tetapi oleh keringat yang bagaikan diperas dari tubuh mereka. Untuk mengatasi rasa sakit dan nyeri, maka keringat mereka pun  menjadi semakin banyak mengalir.

Ketika seorang diantara mereka meloncat dengan cepatnya menyerang dengan kakinya dan tepat mengenai dada lawannya, maka lawannya telah terdorong surut beberapa langkah. Tubuhnya membentur sebongkah batu padas, sehingga kemudian terbanting jatuh.

Dengan tangkasnya yang seorang lagi telah memburunya. Pada saat lawannya akan bangkit, maka kakinya pun  telah terayun bersamaan dengan tubuhnya yang berputar.

Tetapi ternyata serangannya itu tidak mengenai sasaran, karena lawannya dengan cepat bergesar dan bahkan menjatuhkan dirinya.

Kaki yang sudah terlanjur terayun dengan derasnya itu telah menghantam batu padas pada tebing bukit padas itu.

Batu pada itu pun  telah pecah berserakan, untunglah bahwa lawannya dengan cepat berguling, melenting dan sekali berputar di udara, kemudian bangkit berdiri beberapa langkah dari tebing yang runtuh itu.

Bahkan dengan cepat pula, anak muda itu telah meloncat dengan tangan terjulur lurus. Jari-jarinya yang lurus merapat telah berhasil menyusup pertahanan lawannya mengenai lambung.

Lawannya terdorong surut sambil menyeringai menahan sakit, namun pada saat anak muda itu siap memburu, terdengar suara tepuk tangan dari sela-sela bebatuan di bukit itu.

Kedua anak muda yang bertempur itu pun  berhenti dan berloncatan surut mengambil jarak.

Keduanya pun  kemudian berdiri tegak menghadap kepada orang yang bertepuk tangan itu. Serentak keduanya pun  mengangguk hormat.

Seseorang yang sudah melewati usia setengah abad berdiri tegak sambil tersenyum memandang kedua orang anak muda itu. Orang itu masih terlihat kokoh meskipun rambutnya yang selembar-selembar berderai di bawah ikat kepalanya sudah memutih.

“Sudah cukup ngger, kalian sudah berlatih hampir setengah malam, angger berdua tentu sudah letih, mungkin di beberapa bagian tubuh kalian terasa sakit, nyeri dan barangkali pedih, marilah, kita pulang untuk beristirahat.”

“Ya guru” jawab keduanya hampir berbarengan.

Keduanya pun  kemudian berjalan bersama di belakang orang tua itu.

Bertiga mereka berjalan di jalan setapak, di lereng perbukitan yang membujur sejajar dengan pantai lautan yang berombak ganas.

“Lihatlah ngger” berkata orang tua itu, “Gelombang itu bagaikan gejolak kehidupan, ia tidak pernah berhenti, susul menyusul dan silih berganti.”

Sambil berjalan diatas jalan sempit di perbukitan, mereka menyaksikan debur ombak yang tidak pernah ada hentinya, jika angin berhembus semilir, maka gejolak ombak itu memang agak mereda, tetapi jika langit menjadi buram, angin mulai menderu, maka prahara pun  datang mendorong ombak yang semakin besar, sehingga seolah-olah beribu bukit berterbangan bertimbun di tepian. Namun kemudian kembali meluncur hanyut ke kedalaman lautan yang luas.

“Lihatlah gunung itu” berkata orang tua itu pula.

Anak-anak muda itu pun  kemudian memandang kekejauhan. Sebuah gunung yang tinggi menjulang menggapai langit, mega-mega putih yang mengalir dari selatan, bagaikan telah tersangkut di ujungnya yang menjadi kemerah-merahan oleh cahaya matahari pagi yang mulai terbit.

“Didalam gejolak kehidupan yang kadang-kadang bagaikan diguncang oleh prahara, hati kita harus tetap sekukuh dan seteguh gunung itu.” Berkata orang tua itu pula.

Sambil berjalan kedua orang anak muda itu masih juga memandangi gunung yang berdiri tegak dan tidak tergoyahkan oleh prahara dan badai, tidak tergeser oleh angin pusaran dan tidak menggeliat oleh panasnya api.

Beberapa saat kemudian, ketiga orang itu sudah mulai menuruni tebing perbukitan yang curam. Tanah berbatu padas dibawah kaki mereka kadang-kadang terasa licin oleh embun, tajamnya bebatuan terasa menusuk telapak kaki mereka.

Tetapi mereka sudah terbiasa, jari-jari mereka bagaikan mampu mencengkeram jika tanah terasa licin oleh embun. Tajamnya bebatuan terasa menusuk telapak kaki mereka.

Sekali-sekali mereka harus meloncati celah-celah perbukitan, menelusuri relung-relung yang tajam.

Beberapa saat kemudian, mereka telah berada di ngarai yang datar. Di jalan bulak persawahan yang rata. Di sekitarnya terdapat batang-batang padi yang hijau menebar sampai ke ujung pandang.

Ketiga orang itu berjalan dengan cepatnya melintasi bulak menuju ke sebuah padepokan yang terpencil, sebuah padepokan kecil yang letaknya terpisah dari sebuah padukuhan yang terhitung besar.

Atas ijin Ki Bekel Panambangan, Ki Ajar Wihangga mendirikan sebuah padepokan kecil saja yang letaknya terpisah dari padukuhan Panambangan. Hubungan KI Ajar Wihangga dengan Ki Bekel Panambangan cukup akrab, bahkan keduanya sudah menjadi seperti saudara sendiri.

Apalagi umur mereka pun sebaya. Jika mereka bertemu, pembicaraan diantara mereka  pun  selalu sejalan.

Disamping beberapa orang murid yang jumlahnya banyak, Ki Ajar Wihangga mempunyai dua orang murid utama. Dua orang murid yang dibanggakan oleh Ki Ajar Wihangga karena keduanya memiliki banyak kelebihan dari anak-anak muda sebayanya.

Keduanya adalah Raden Madyasta dan Raden Wignyana, kakak beradik, putera Kangjeng Adipati di Paranganom.

Keduanya orang kakak beradik itu umurnya tidak bertaut banyak, ketika Madyasta belum dapat berjalan, ibunya sudah mengandung lagi, maka beberapa bulan kemudian lahirlah adiknya. Juga seorang laki-laki yang diberi nama Wignyana. Dengan demikian maka umur mereka hanya bertaut kurang dari dua tahun.

Keduanya tumbuh dengan baik sebagaimana putera seorang Adipati. Sejak mereka mulai mengenali lingkungannya, maka Kangjeng Adipati sudah menugaskan orang-orang pandai untuk mendidik mereka dalam berbagai macam ilmu. Namun kemudian, menginjak remaja, maka mereka pun telah diserahkan kepada Ki Ajar Wihangga. Seorang yang memilih satu lingkungan kehidupan di sebuah padepokan yang sepi.

“Aku titipkan anak-anakku kepadamu, kakang” berkata Kangjeng Adipati Paranganom yang bergelar Adipati Prangkusuma.

Ki Ajar Wihangga yang sedikit lebih tua dari Kangjeng Adipati itu menarik nafas panjang, Ki Ajar adalah saudara tua seperguruan dari Kangjeng Adipati Prangkusuma.

“Terima kasih atas kepercayaan Kangjeng Adipati kepadaku, tetapi aku sendiri ragu, apakah aku akan dapat memikul kepercayaan itu. Sehingga hasilnya sesuai dengan keinginan Kangjeng Adipati”

Kangjeng Adipati tersenyum, katanya, “Aku mengenal kakang dengan baik, kakang pun mengenal aku dengan baik pula”

Ki Ajar Wihangga tertawa, katanya, “Baiklah, aku akan membawa kedua putera Kangjeng itu ke padepokanku. Pada saat mereka menjadi dewasa penuh, aku akan membawa mereka kembali”

“Apakah selama itu mereka tidak boleh sekali-sekali pulang untuk menengok keluarganya?, ibunya tentu akan sangat merindukannya”

“Tentu, Kangjeng, mereka berada di padepokanku tidak sebagai tawanan atau orang buangan, sehingga tidak boleh meninggalkan tempat. Tetapi mereka akan menjadi murid-murid utama padepokanku”

Sejak saat itu, empat tahun lalu, dua orang remaja putera Kangjeng Adipati Prangkusuma itu berada di padepokan yang dipimpin oleh Ki Ajar Wihangga. Namun seperti yang dimaksudkan oleh Kangjeng Adipati, bahwa sekali-sekali mereka pun pulang karena keluarganya merindukannya.

Namun bukan saja kerinduan seorang ayah dan ibu, tetapi setiap Raden Madyasa dan Wignyana pulang, Kangjeng Adipati selalu menilik kemajuan kedua orang puteranya yang diasuh oleh Ki Ajar Wihangga itu.

Setiap kali Kangjeng Adipati tersenyum, ia bangga dengan kemajuan yang pesat dari kedua orang puteranya itu, kepercayaannya kepada saudara perguruannya tidak sia-sia.

Ki Ajar Wihangga sendiri pun merasa bangga terhadap kedua orang muridnya itu, pada saat-saat terakhir, Ki Ajar Wihangga telah sampai pada puncak ilmu yang dapat diajarkannya kepada kedua orang muridnya yang telah menjadi dewasa penuh itu.

Sebagaimana dijanjikan kepada Kangjeng Adipati, jika keduanya telah menjadi dewasa penuh, maka mereka akan dibawa kembali ke Kadipaten.

Dalam pada itu, beberapa saat kemudian, mereka bertiga telah memasuki sebuah padepokan yang tidak begitu besar. Di pagi hari, sebagian cantrik sibuk menimba air mengisi jambangan pakiwan, ada yang sibuk di dapur merebus air, yang lain berada di kandang ternak dan di kandang kuda.

Ketika para cantrik itu melihat Ki Ajar Wihangga bersama dengan Madyasta dan Wignyana memasuki padepokan, mereka pun mengangguk hormat.

“Teruskan kerja kalian anak-anak” berkata Ki Ajar. “Kalian adalah anak-anak yang rajin dan terampil. Dengan demikian, maka padepokan kita akan selalu terpelihara kebersihannya. Jika Ki Bekel Panambangan datang kemari, maka ia akan tetap mengagumi kebersihan padepokan kita”

Ki Ajar Wihangga itu pun langsung pergi ke pringgitan bangunan induk padepokan itu bersama Madyasta dan Wignyana.

“Duduklah ngger, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada kalian”

Madyasta dan Wignyana termangu-mangu sejenak, tidak biasanya Ki Ajar bersikap demikian bersungguh-sungguh seperti itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Madyasta dan Wignyana telah duduk di pringgitan menghadap Ki Ajar.

Kedua anak muda itu masih belum mengeringkan keringatnya, bahkan di beberapa bagian tubuh mereka masih terasa nyeri dan pedih. Ada beberapa luka yang menggores pada saat-saat tubuh mereka membentur batu-batu padas, bahkan kening Wignyana masih nampak memar.

“Anak-anakku” berkata Ki Ajar, “Jika kalian ingat, maka hari ini adalah hari ulang tahun kelahiran angger Madyasta. Anger Madyasta pada hari ini genap berusia dua puluh lima tahun, sedangkan angger Wignyana dalam beberapa bulan lagi akan berusia genap dua puluh empat tahun, karena selisih usia kalian berdua tidak ada dua tahun”

“Ya guru” Madyasta mengangguk hormat, “Aku ingat, bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku, tetapi menurut pendapatku, aku tidak merasa perlu mengadakan peringatan khusus pada hari ulang tahun ini, guru. Agaknya cukuplah jika aku sempat mengingatnya saja”

Ki Ajar Wihangga tertawa, katanya, “Aku mengerti ngger. Kau tentu tidak memerlukannya, yang ingin aku sampaikan adalah, bahwa kau sudah dewasa penuh, demikianlah pula dengan anger Wignyana”

“Ya, guru”

“Dengarlah, ketika Kangjeng Adipati menitipkan kalian berdua di padepokan ini, aku mengatakan, bahwa pada saat kalian sudah dewasa penuh, maka aku akan membawa kalian kembali ke Kadipaten”

Madyasta dan Wignyana menundukkan kepalanya.

“Nah, sekarang kalian sudah dewasa sepenuhnya, meskipun umur angger Wignyana terpaut sekitar satu setengah tahun, tetapi menurut pendapatku, angger Wignyana juga sudah dapat dianggap dewasa sepenuhnya. Sementara itu ilmu yang aku ajarkan kepada kalian berdua pun sudah tuntas. Kalian berdua adalah murid-muridku yang terbaik”

Keduanya terdiam, mereka sadar, bahwa dengan demikian mereka harus meninggalkan padepokan yang telah mereka huni sekitar empat tahun.

Selama empat tahun mereka menghirup udara di padepokan itu. Selama empat tahun mereka teguk airnya. Mereka makan hasil buminya dan selain semuanya itu, mereka telah menyadap ilmu pula dari gurunya, Ki Ajar Wihangga”

“Anak-anakku” berkata Ki Ajar Wihangga ketika dilihatnya kedua anak muda itu menunduk dalam-dalam, “Sebenarnyalah bahwa padepokan ini bukan tempat terbaik bagi kalian. Kalian adalah putera-putera Adipati. Disini kalian bekerja keras untuk menyadap ilmu, sekarang, ilmu itu telah ada di dalam diri kalian, tentu saja hanya sebatas kemampuanku untuk menurunkan ilmu itu kepada kalian” Ki Ajar Wihangga berhenti sejenak, lalu katanya pula, “Nah, karena itu, sudah saatnya kalian pulang ke rumah kalian di Kadipaten Paranganom”

Madyasta dan Wignyana memang menyadari, bahwa pada suatu saat mereka memang harus meninggalkan padepokan ini, mereka harus kembali ke Kadipaten, apalagi ayah mereka, Adipati Paranganom akan menjadi semakin tua, sehingga kehadiran mereka di Kadipaten akan sangat diperlukan.

Pada tahun-tahun terakhir mereka berada di padepokan itu. Telah terjadi pergeseran kekuasaan di Kadipaten Kateguhan, Kangjeng Adipati Prawirayuda, saudara tua Kangjeng adipati Prangkusuma, telah mangkat. Madyasta dan Wignyana, meskipun mereka masih berada di padepokan, namun mereka sempat pergi ke Kateguhan bersama ayah dan ibu mereka untuk menghadiri pemakaman Kangjeng Adipati Prawirayuda. Mereka pun sempat menghadiri wisuda yang menetapkan putera Kangjeng Adipati Prawirayuda untuk menggantikan kedudukan ayahnya, bergelar Kangjeng Adipati Yudapati di Kateguhan.

“Anak-anakku” berkata Ki Ajar Wihangga, “Besok aku akan mengantar kalian pulang, aku akan menyerahkan kembali kalian kepada ayah kalian, Kangjeng Adipati Prangkusuma. Sehingga apa yang aku ajarkan kepada kalian, sesuai dengan kehendaknya.

Madyasta menarik nafas dalam-dalam, dengan nada rendah ia pun kemudian berkata, “Kami mengucapkan beribu-ribu terimakasih, guru. Disini kami sudah mendapatkan apa saja yang kami perlukan sebagai bekal hidup kami di kemudian hari”

“Sebenarnyalah bahwa kami sudah terlanjur merasa terikat dengan kehidupan di padepokan ini, guru” berkata Wignyana pula.

Ki Ajar Wihangga tersenyum, katanya, “Jika aku menyerahkan kalian kepada ayah kalian, bukan berarti bahwa hubungan kita telah terputus. Kalian dapat datang kapan saja ke padepokan ini, kalian dapat bermalam disini atau bahkan tinggal disini beberapa hari asalkan ayah kalian mengijinkannya”

 “Ya, guru” sahut Wignyana sambil mengangguk hormat

“Sejak dini hari tadi, aku sudah melihat kemampuan kalian berdua, apa yang dapat aku tuangkan kepada kalian, telah aku lakukan. Menurut pendapatku, pada suatu saat kalian menjadi dewasa seperti sekarang ini. Ilmu kalian pun telah menjadi matang pula. Karena itu, aku berkesimpulan, bahwa kalian memang sudah waktunya untuk kembali ke Kadipaten. Mungkin ayah kalian memerlukan bantuan kalian dalam menjalankan pemerintahannya karena ayah kalian sudah menjadi semakin tua”

“Nah, sekarang mandilah, aku sudah menyiapkan serbuk yang dapat meredakan rasa sakit pada tubuh dan dapat menyembuhkan luka-luka kalian, terbarkanlah serbuk itu ke dalam jambangan”

“Ya, guru”

“Marilah, kita ambil serbuk itu di senthongku”

Ki Ajar Wihangga pun kemudian telah memberikan masing-masing sebuah bumbung kecil yang berisi serbuk ramuan dari berbagi macam daun dan bunga yang terdapat di kebun belakang padepokannya, berdasarkan atas pengamatan dan penelitian dan pengalaman yang lama, maka Ki Ajar Wihangga telah dapat membuat ramuan yang akan sangat berarti bagi kedua orang anak muda itu.

Sebenarnyalah, setelah mandi dengan menaburkan serbuk didalam bumbung itu di jambangan yang telah penuh diisi air, maka terasa alangkah segarnya tubuh mereka. Perasaan sakit, nyeri dan pedih pun telah hilang, meskipun sejak dini hari mereka berlatih dengan mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka diatas perbukitan yang berbatu padas.

Setelah mandi dan berbenah diri, maka mereka pun duduk di ruang dalam bersama Ki Ajar, ada beberapa pesan yang disampaikan oleh Ki Ajar kepada kedua orang anak muda itu, karena hari itu adalah hari terakhir mereka di padepokan.

“Nah, berbicaralah dengan para cantrik” berkata Ki Ajar Wihangga kemudian, bahwa besok kalian akan pergi meninggalkan padepokan ini”

“Baik, guru” jawab Madyasta dan Wignyana hampir berbarengan.

Sejenak kemudian, Madyasta dan Wignyana telah berada diantara para cantrik.

Ada diantara mereka yang sudah bersiap memasuki sanggar, tetapi ada pula yang masih bertugas.

Para cantrik itu terkejut ketika mereka mendengar pernyataan Madyasta dan Wignyana, bahwa besok mereka akan meninggalkan padepokan.

“Raden berdua tidak akan kembali lagi kemari?” bertanya salah seorang cantrik.

“Tidak, maksudku, masa berguru kami sudah selesai, tetapi bukan berarti bahwa kami tidak akan pernah datang ke padepokan ini lagi, sekali-sekali kami tentu akan datang kemari” jawab Madyasta.

“Ada ikatan yang tidak dapat dengan serta-merta kami putuskan” sambung Wignyana.

Namun bagaimanapun juga, kepergian Madyasta dan Wignyana membuat para cantrik itu merasa kehilangan, setidak-tidaknya untuk sementara.

Esok harinya, pada dini hari, Madyasta dan Wignyana telah bangun. Mereka segera mempersiapkan diri, hari itu, mereka akan diantar oleh Ki Ajar Wihangga kembali ke Kadipaten.

Kedua putera Kangjeng Adipati itu menyadari, bahwa kehidupan di Kadipaten menurut gelar lahiriah tentu jauh lebih baik dari mereka dapatkan dalam kehidupan di padepokan itu yang tidak mereka dapat di Kadipaten. Di padepokan mereka hidup dalam suasana tenang dan damai. Tidak ada masalah yang dapat menimbulkan pertengkaran. Bukan berarti bahwa di padepokan itu tidak akan ada perbedaan pendapat. Tetapi mereka menanggapi perbedaan pendapat itu dengan sikap yang mapan. Kadang-kadang ada perbedaan pendapat yang sulit dipertemukan meskipun dengan bantuan beberapa orang cantrik yang lain. Namun dalam keadaan demikian, mereka yang berbeda pendapat itu akhirnya sepakat untuk berbeda pendapat. Yang satu tidak memaksakan pendapatnya kepada yang lain. Apalagi dengan menyatakan kebenaran pendapatnya bagi semua orang.

Sebelum matahari terbit, maka kedua orang anak muda itu pun sudah siap.

Demikian pula Ki Ajar Wihangga. Kuda-kuda yang akan mereka pergunakan telah disediakan pula di samping pendapa bangunan induk padepokan.

“Kita akan singgah sebentar di rumah Ki Bekel, ngger, sebaiknya kalian minta diri kepada Ki Bekel”

“Baik, guru”

Ketika matahari terbit, maka mereka pun meninggalkan padepokan setelah Ki Ajar memberikan beberapa pesan kepada cantriknya. Seorang cantrik yang tertua, bukan saja umurnya, tetapi juga masa bergurunya telah diserahi untuk memimpin adik-adik seperguruannya.

“Mungkin aku akan bermalam di Kadipaten” berkata Ki Ajar kepada para cantriknya.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, Ki Ajar, Madyasta dan Wignyana pun telah melarikan kuda mereka di bulak panjang yang memisahkan padepokan mereka dengan padukuhan Panambangan.

Kedatangan Ki Ajar bersama muridnya pagi-pagi sekali pada saat matahari baru terbit, telah mengejutkannya.

“Maaf, Ki Bekel” berkata Ki Ajar, “Mungkin kami mengganggu atau bahkan mengejutkan Ki Bekel, sebenarnyalah kami hanya ingin minta diri. Hari ini Raden Madyasta dan Wignyana akan kembali ke Kadipaten”

“Maksud Ki Ajar, kembali pulang ke Kadipaten dan tidak datang lagi ke padepokan?”

“Waktu mereka tinggal di padepokan sudah habis. Seperti yang aku janjikan, aku akan mengembalikan mereka setelah mereka dewasa. Karena sekarang mereka sudah dewasa, dan tidak ada lagi yang dapat aku ajarkan kepada mereka, maka aku akan membawa mereka kembali ke kadipaten dan menyerahkan-nya kepada ayah mereka”

“Kami berdua mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan hati Ki Bekel” berkata Madyasta kemudian.

“Apa yang telah aku lakukan?, aku tidak berbuat apa-apa bagi kalian berdua. Nah, aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan bagi kalian berdua, ngger. Semoga apa yang kalian dapatkan dari padepokan Panambangan yang dipimpin oleh Ki Ajar Wihangga akan dapat berarti bagi angger berdua di masa datang. Baktiku kepada Kangjeng Adipati Prangkusuma”

“Terima kasih, Ki Bekel, mudah-mudahan kita masing-masing selalu disertai Yang Maha Agung di sepanjang hidup kita”

Ki Bekel tersenyum, setiap kali ia melihat kedua orang anak muda putera Kangjeng Adipati itu hatinya selalu bergetar. Ki Bekel sendiri mempunyai lima orang anak, tetapi semuanya perempuan. Semuanya telah bersuami pula. Tetapi Ki Bekel yang baru mempunyai tiga orang cucu itu, ternyata semuanya juga perempuan.

“Aku ingin mempunyai keturunan laki-laki, semoga Yang Maha Agung memberikan momongan cucu laki-laki”

Tetapi Ki Bekel masih berpengharapan, salah seorang anaknya sedang mengandung, ia berharap anak yang akan lahir itu laki-laki. Jika anak itu perempuan, maka ia masih akan tetap memohon seorang cucu laki-laki.

Demikian, maka sejenak kemudian, Ki Ajar Wihangga bersama dengan Madyasta dan Wignyana pun telah melarikan kuda mereka menuju ke Kadipaten.

Ketika mereka meninggalkan padukuhan Panambahan, masih terdengar kicau burung-burung liar yang hinggap di pepohonan. Sementara itu, matahari pun memanjat semakin tinggi, daun padi yang hijau subur, yang bergetar disentuh angin pagi, nampak berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari. Sementara embun masih nampak bergayutan di ujungnya yang menunduk.

Ki Ajar Wihangga, Madyasta dan Wignyana pun memang tidak melarikan kuda mereka terlalu kencang. Meskipun jarak yang akan mereka tempuh cukup panjang, namun mereka merasa bahwa perjalanan mereka tidak akan mengalami hambatan.

Mungkin mereka akan berhenti sebentar untuk beristirahat. Mungkin ada kedai yang memadai serta yang sekaligus dapat merawat dan memberikan makan kepada kuda-kuda mereka.

“Sebelum senja kita akan sampai” berkata Ki Ajar Wihangga.

“Jika kita berhenti beristirahat?”

“Ya, kita akan berhenti beristirahat sekali atau dua kali. Mungkin kita tidak sangat memerlukan kesempatan untuk beristirahat. Tetapi agaknya kuda-kuda kita memerlukannya.”

Sedikit lewat tengah hari, Ki Ajar Wihangga yang mengajak kedua orang anak muda itu untuk beristirahat di sebuah kedai. Ki Ajar Wihangga, bahwa kedua anak muda itu tentu tidak akan ada yang mengajaknya berhenti, sementara itu kuda mereka sudah nampak agak letih dan haus.

Ternyata sebuah kedai yang terletak tidak jauh dari sebuah pasar, menyediakan tenaga yang dapat merawat, memberi makan dan minum kuda yang kelelahan, karena itu, maka mereka bertiga pun telah berhenti di kedai itu sambil menyerahkan kuda-kuda mereka kepada seorang yang memang ditugaskan untuk itu.

Kehadiran Madyasta dan Wignyana di kedai itu sama sekali tidak menarik perhatian, karena keduanya mengenakan pakaian orang kebanyakan. Keduanya sama sekali tidak menunjukkan ciri-ciri bahwa keduanya adalah putera seorang Adipati.

Namun didalam kedai itu Madyasta, Wignyana dan Ki Ajar Wihangga tertarik kepada pembicaraan beberapa orang yang lebih dahulu berada di kedai itu, mereka menceritakan bahwa keadaan kadipaten Paranganom mulai tidak aman. Sekali-sekali terdengar berita tentang perampokan di jalan-jalan yang sepi. Bahkan ada penyamun yang berani melakukannya di siang hari.

“Guru” desis Madyasta, “Apa selama ini guru tidak pernah mendengar berita seperti itu?”

Ki Ajar Wihangga menggeleng, katanya perlahan-lahan, “Yang aku ketahui selama ini Kadipaten Paranganom adalah sebuah kadipaten yang tenteram. Tidak terdapat gejolak kejahatan yang pernah mengusik ketenangan kehidupannya.”

“Tetapi menurut orang itu..?”

Ki Ajar Wihangga mengangguk-angguk.

Sebenarnyalah mereka mendengar dengan jelas, bahwa Kadipaten Paranganom mulai disentuh oleh perbuatan-perbuatan jahat.

“Tetapi semuanya itu baru kita dengar dari pembicaraan orang di sebuah kedai, guru” berkata Madyasta.

“Ya, ngger. Mudah-mudahan yang terjadi sebenarnya tidak seperti yang kita dengar itu”

“Mungkin yang terjadi itu tidak terjadi di Kadipaten ini, guru” berkata Wignyana, “Atau jika terjadi di Kadipaten ini sekedar sentuhan peristiwa yang terjadi diluarnya”

“Ya, ngger, meskipun demikian, jika di dekat perbatasan telah terjadi kerusuhan, maka yang tinggal selangkah itu tentu akan segera terjadi pula”

Wignyana mengangguk sambil menjawab, “Ya, guru”

“Bagaimanapun juga apa yang kita dengar ini akan kita laporkan kepada Kangjeng Adipati. Apa salahnya kita berjaga-jaga orang-orang itu tentu bukan sekedar membual, meskipun mungkin yang terjadi tidak tepat seperti apa yang mereka perbincangkan itu”

“Guru” berkata Wignyana, “Kita juga akan melewati jalan di dekat perbatasan dengan Kadipaten Kateguhan”

“Ya, tetapi mudah-mudahan kita tidak menemui hambatan”

Demikianlah, beberapa saat kemudian, setelah mereka minum dan makan serta kuda-kuda mereka pun sudah puas beristirahat serta sudah kenyang pula, maka mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan mereka menuju pusat pemerintahan Kadipaten Paranganom.

Sejenak kemudian, kuda-kuda mereka telah berlari lagi menyusuri jalan-jalan berbatu. Mereka bertiga memutuskan untuk mengambil jalan terdekat, meskipun bukan jalan yang terbaik. Jalan yang mereka lalui justru akan melewati padang perdu, bahkan lewat tidak jauh dari sebuah hutan yang membujur panjang di perbatasan.

Rasa-rasanya mereka justru ingin membuktikan, apakah yang dibicarakan oleh orang-orang yang berada di kedai itu memang benar.

“Mungkin kita mendapatkan kesan-kesan tertentu yang dapat membenarkan atau justru bertentangan dengan yang dibicarakan oleh orang di dalam kedai itu” berkata Madyasta.

Ki Ajar Wihangga tidak mencegahnya, sebagai putera seorang Adipati, keduanya tentu ingin mengetahui keadaan sebenarnya dari wilayah kekuasaan ayahnya.

Kuda mereka masih berlari, sekali-sekali jalan menanjak naik, namun kemudian jalan pun menurun dengan tajamnya. Sekali-sekali mereka menyeberangi sungai yang tidak begitu besar sehingga airnya pun tidak begitu dalam.

Ketika matahari mulai beranjak turun, maka Wignyana pun berkata, “Kita akan segera sampai di jalan yang terdekat dengan perbatasan, kakangmas”

“Ya, dimas. Dekat perbatasan dengan Kadipaten Kateguhan yang sekarang pemerintahannya dipegang oleh kakangmas Adipati Yudapati.”

“Apakah keadaan di Kadipaten Kateguhan manjadi semakin memburuk sepeninggalnya paman Adipati Prawirayuda, sehingga terjadi kerusuhan di beberapa tempat, bahkan mengalir ke Kadipaten Paranganom?”

“Kita belum tahu pasti dimas”

“Bagaimana menurut pendapat guru?, apakah kangmas Adipati Yudapati tidak mampu mengendalikan Kadipaten Kateguhan setangkas paman Adipati Prawirayuda?”

“Aku kurang mengenal angger Adipati Yudapati, ngger. Tetapi Aku mengetahui bahwa Adipati Yudapati berguru kepada seorang yang aku kenal dengan baik”

“Atau ada orang yang tidak menyenanginya sehingga dengan sengaja menimbulkan keresahan?”

“Masih banyak yang perlu diketahui, ngger”

Ketiganya pun terdiam sejenak, kuda-kuda mereka masih berlari di jalan yang semakin dekat dengan hutan yang panjang.

Namun tiba-tiba saja Wignyana itu pun berkata, “Kakangmas, jangan-jangan justru kerusuhan itu terjadi di Kadipaten Paranganom, baru merembes ke Kateguhan”

“Jika demikian, kita harus dengan cepat bukan saja menumpasnya, tetapi juga mencari sebabnya”

“Ya” Wignyana mengangguk-angguk.

Ketika kemudian mereka mendekati sebuah tikungan, pada jarak terdekat dengan hutan yang memanjang, Ki Ajar berkata, “Berhati-hatilah, ngger”

Madyasta dan Wignyana yang patuh kepada gurunya itu memperlambat kudanya. Ketika mereka sampai di kelok jalan, maka keduanya benar-benar berhati-hati”

Untunglah, bahwa Ki Ajar telah memberi peringatan kepada mereka. Sehingga mereka menarik kendali kuda mereka. Beberapa langkah dari tikungan terdapat tali ijuk yang menyilang jalan. Tali ijuk yang sengaja diikat pada dua batang pohon yang berseberangan setinggi dada orang yang berkuda.

Madyasta dan Wignyana yang berada di depan segera berhenti dan meloncat turun. Mereka sadar, bahwa mereka berhadapan dengan bahaya yang dapat mengancam jiwa mereka.

Ki Ajar kemudian turun pula dari kudanya, jika saja mereka tidak berhati-hati, maka tali ijuk akan dapat menjebak mereka, sehingga mereka akan terpelanting dari kuda-kuda mereka.

Dengan geram Madyasta berkata, “Jika apa yang dikatakan orang di kedai itu bukan sekedar dongeng. Sekarang kita hadapi kenyataan itu disini. Bukankah kita masih tetap berada di Paranganom?”

“Ya, kakangmas. Kita masih berada di Paranganom. Jika memang benar, bahwa telah terjadi kerusuhan di Paranganom, kejadian yang sebelumnya belum pernah mengotori udara Kadipaten ini”

Ki Ajar berdiri termangu-mangu, dipandanginya hutan yang tinggal beberapa langkah saja itu.

Mereka memang berada di ruas jalan yang terdekat dengan hutan di perbatasan itu.

Sejenak mereka bertiga berdiri termangu-mangu. Mereka sama sekali tidak berniat dengan cepat menghindar dari kemungkinan buruk menghadapi orang-orang yang telah dengan sengaja menyilangkan tali ijuk itu. Bahkan mereka bertiga seakan-akan menunggu, apa yang akan terjadi kemudian meskipun mereka dapat saja merunduk, menyusup dibawah tali ijuk itu dan melarikan kuda mereka.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja mereka mendengar suara tertawa, empat orang bertubuh tinggi, berbadan kekar dan berwajah garang muncul dari dalam hutan.

Seorang diantara mereka berkata, “Luar biasa, jarang sekali orang yang sempat menghindari jebakan kami. Apalagi orang yang berkuda dari arah tikungan. Tetapi kalian sempat menarik kendali, sehingga kuda kalian berhenti sebelum tali itu melemparkan kalian dari kuda-kuda kalian.”

Wignyana yang menyahut, “Kalian hanya menjebak orang-orang yang lewat dari satu arah, kenapa justru orang-orang yang akan pergi kearah pusat kota pemerintahan Paranganom?”

Orang yang berwajah garang itu mengerutkan dahinya, katanya, “Pertanyaanmu bagus anak muda, tetapi aku tidak dapat menjawab. Kami sama sekali tidak pernah memikirkannya, bahwa jebakan kami hanya berlaku bagi mereka yang berkuda dari satu arah. Mungkin kami mempunyai firasat bahwa kalian akan lewat jalan ini menuju pusat pemerintahan Kadipaten Paranganom”

“Lalu, apa maksud kalian dengan merentang tali ijuk ini menyilang jalan itu?”

“Kau sudah tentu tahu apa yang kami inginkan. Karena kalian tidak terlempar dari kuda kalian, maka baiklah aku katakan saja bahwa aku ingin merampas semua harta kalian, kami adalah sekawanan penyamun. Kami tidak perlu menyembunyikan kenyataan diri atau berpura-pura. Berikan kudamu, uangmu, kerismu, timangmu. Pokoknya tinggalkan semuanya dan kalian boleh pergi”

“Baik. Kami pun akan berterus terang” sahut Madyasta, “Kami akan menangkap kalian dan membawanya menghadap Kangjeng Adipati. Selama ini Paranganom selalu tenang, tenteram dan tidak pernah terdapat gejolak apapun. Tiba-tiba muncul kalian, kawanan penyamun yang bukan saja ingin merampas milik kami, tetapi kalian sudah membuat Paranganom menjadi resah”

Para penyamun itu tertawa, seorang diantara mereka berkata, “Itu memang kami sengaja. Karena selama ini Paranganom tenang-tenang saja, maka, banyak orang yang menjadi lengah dan tidak berhati-hati. Nah, karena itu, maka Paranganom menjadi ladang yang sangat subur bagi kami. Di daerah yang tidak sedamai Paranganom, tidak akan ada orang yang memilih jalan ini untuk memilih jalan yang ramai meskipun agak jauh. Tetapi disini, di daerah yang aman dan tenteram, kalian berani lewat jalan yang sepi ini. Karena itu, maka kalian telah menemui nasib buruk sekarang ini”

“Kami atau kalian yang menemui nasib buruk?. Kami adalah prajurit Paranganom dalam tugas sandi, justru karena pada saat-saat terakhir sering terjadi perampokan. Semula kami tidak mempercayainya, karena selama ini Paranganom selalu aman dan tenteram. Namun disini kami menemukan kenyataan itu. Di Paranganom memang ada sekawanan perampok dan bahkan mungkin sekelompok perampok yang justru memanfaatkan ketenangan masyarakat Paranganom yang kalian anggap lengah. Memang mungkin rakyat menjadi lengah, tetapi tidak untuk prajurit”

“Persetan dengan celoteh kalian. Jika kalian prajurit dalam tugas sandi, kenapa kalian membawa orang tua itu bersama kalian”

Madyasta dan Wignyana serentak berpaling kepada Ki Ajar Wihangga yang berdiri saja seolah membeku.

“Orang tua itu hanya kebetulan seperjalanan, agaknya orang tua itu sudah mempunyai firasat buruk, bahwa Paranganom sekarang memang sudah tidak lagi aman dan tenteram”

“Sudahlah, jangan mengaku-aku prajurit, bahkan seandainya kalian prajurit. Kalian harus tunduk kepada kami sekarang ini. Serahkan semua yang kalian punya, juga orang tua itu. Kemudian karena kalian prajurit, maka perlakuan kami akan berbeda”

“Kenapa jika kami prajurit?” bertanya Wignyana.

“Karena kalian prajurit, maka kalian akan kami bunuh disini. Biarlah Paranganom menyadari, betapa rapuhnya kekuatan Kadipaten Paranganom yang katanya aman dan tenteram. Orang tua itu akan kami lepaskan untuk berceritera, bahwa dua orang prajurit Paranganom telah mati dibunuh sekawanan perampok. Orang tua itu akan berceritera, bahwa ternyata para prajurit Paranganom tidak mampu melindunginya, sehingga ia harus menyerahkan semua miliknya kepada orang-orang yang merampoknya di jalan ini”

Tetapi Wignyana itu pun menjawab, “Bersiaplah, kami akan menangkap kalian. Jika kalian melawan, maka kami akan terpaksa membunuh kalian. Orang-orang Paranganom akan merasakan betapa ketatnya perlindungan bagi ketenangan hidup mereka”

Keempat orang perampok itu bergeser merenggang. Tetapi sambil tertawa seorang yang agaknya pemimpin mereka itu masih juga tertawa sambil berkata, “Prajurit-prajurit muda kebanyakan memang besar kepala, mereka merasa dirinya mumpuni. Tetapi apa kalian pernah belajar olah kanuragan yang sebenarnya di lingkungan keprajuritan? Lurah-lurah kalian pun tidak tahu ilmu kanuragan yang sebenarnya, apalagi kalian”

Madyasta dan Wignyana tidak bertanya lagi, keduanya pun telah mengikat kuda-kuda mereka pada pohon perdu di pinggir jalan. Kemudian keduanya pun telah mengambil jarak. Mereka menyadari, bahwa mereka masing-masing akan menghadapi dua orang lawan. Para perampok itu tentu tidak akan memperhitungkan kehadiran Ki Ajar Wihangga, kecuali jika Ki Ajar itu sendiri yang akan turun ke medan.

Namun agaknya Ki Ajar tidak akan melibatkan diri, ia masih saja berdiri sambil memegangi kendali kudanya, seakan-akan membeku.

Sebenarnyalah bahwa Ki Ajar memang tidak ingin langsung terjun ke arena, ia justru ingin melihat, apa yang dapat dilakukan oleh kedua orang muridnya.

Hanya dalam keadaan yang memaksa, maka Ki Ajar akan melibatkan diri.

Dalam pada itu, salah seorang dari keempat perampok itu masih berkata, “Angkatlah wajahmu, pandanglah langit diatas Kadipaten Paranganom untuk terakhir kalinya. Pandanglah mega yang mengalir dan seakan-akan bersarang di puncak gunung itu. Kemudian tundukkan kepalamu. Pandanglah bumi yang kau injak. Di bumi itu pula kalian akan dikuburkan”

Madyasta dan Wignyana tidak menyahut, namun keduanya benar-benar telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian, para perampok itu pun telah bertebar, seakan-akan memilih lawan masing-masing, seperti yang diduga oleh Madyasta dan Wignyana, mereka masing-masing akan berhadapan dengan dua orang yang bertubuh tinggi, berbadan kekar, dan berwajah garang. Meskipun mereka sering tertawa, tetapi suara tertawa mereka sama sekali jauh dari nafas keramah-tamahan.

“Suara iblis yang bersarang di tubuh mereka” berkata Madyasta di dalam hatinya.

Sebagai putera seorang Kangjeng Adipati yang memimpin pemerintahan, maka Madyasta dan Wignyana benar-benar merasa tersinggung oleh perbuatan para perampok itu. Ketenangan yang mereka anggap ketenangan itu, seolah-olah telah menggelar lahan yang sangat subur bagi mereka.

“Kesan itu harus dihapuskan, setiap penjahat yang ada di Kadipaten ini harus dihukum”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, para perampok itu sudah mulai menyerang dari arah yang berbeda. Dua orang menghadapi Madyasta, yang dua orang lagi menghadapi Wignyana.

Dengan tangkasnya Madyasta dan Wignyana menghadapi para perampok yang garang itu.

Ketika beberapa serangan para penyamun itu tidak sempat menyentuh tubuh kedua orang anak muda itu, maka para perampok itu pun mulai menyadari, bahwa anak-anak muda itu bukannya sekedar menggertak. Agaknya mereka memang mempunyai bekal yang cukup dalam olah kanuragan.

Ki Ajar masih berdiri di tempatnya, kedua murid utamanya itu justru mendapat tempat untuk menguji ilmu yang pernah mereka pelajari.

Namun pertempuran itu tidak berlangsung lama, Madyasta dan Wignyana ternyata terlalu kuat bagi keempat perampok itu.

Dalam beberapa saat, keempat penyamun itu mulai terdesak. Serangan-serangan mereka yang garang sama sekali tidak berarti bagi Madyasta dan Wignyana, bahkan serangan-serangan Madyasta dan Wignyana yang kemudian justru sering mengenai tubuh mereka, serangan-serangan kedua orang anak muda itu mampu menembus pertahanan lawan-lawan mereka.

Ketika serangan Madyasta yang deras mengenai dada seorang diantara lawan-lawannya, orang itu pun terlempar beberapa langkah surut, kakinya terperosok kedalam parit, sehingga orang itu tidak lagi mampu mempertahankan keseimbangannya. Dengan demikian maka ia pun telah terbaring jatuh menimpa tanggul parit, namun kemudian terguling masuk kedalam aliran air yang meskipun tidak terlalu deras, tetapi telah membasahi pakaiannya.

Dengan cepat orang itu berusaha untuk bangkit. Ada beberapa teguk air yang masuk ke mulutnya dan menghisap ke dalam tenggorokannya.

Tetapi begitu ia bangkit berdiri dan berusaha naik ke tanggul parit. Maka kawannya yang seorang lagi telah terlempar pula menimpanya, sehingga kedua-duanya justru terjebur lagi ke dalam parit.

Madyasta dengan cepat memburunya. Demikian keduanya berusaha untuk bangkit, maka kakinya telah menyambar kening seorang diantara mereka, sehingga terpelanting ke dalam kotak sawah yang sedang digenangi air. Sementara itu, kawannya pun berusaha pula untuk berdiri. Tetapi sekali lagi kaki Madyasta terayun menghantam lambung.

Dengan demikian, maka kedua lawan Madyasta itu pun telah terperosok masuk kedalam lumpur sawah di seberang parit.

Dalam pada itu, Wignyana telah meloncat sambil memutar tubuhnya, kakinya melayang menerpa kening seorang dari kedua lawannya, sehingga orang itu terlempar beberapa langkah. Kepalanya menjadi pening, serta matanya berkunang-kunang.

Kawannya yang melihat serangan itu berusaha memperguna-kan kesempatan. Dengan cepat orang itu meluncur menyerang Wignyana dengan kakinya mengarah ke punggung. Tetapi dengan tangkasnya Wignyana merendah, dengan deras kakinya justru menyapu kaki lawannya.

Orang itu pun terpelanting dengan kerasnya, tubuhnya yang jatuh, menimpa batu-batu di jalanan. Terdengar orang itu mengeluh kesakitan. Punggungnya serasa menjadi retak.

Tetapi ada harapan lagi, bagi keempat perampok itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja seorang diantara mereka telah memberikan isyarat dengan siulan nyaring.

Dengan cepat keempat orang itu berusaha untuk segera bangkit berdiri dan melarikan diri.

Tidak ada kesulitan bagi Madyasta dan Wignyana untuk menangkap mereka. Ketika keempat orang itu berlari ke hutan, maka Madyasta maupun Wignyana berusaha untuk mengejar mereka.

Tetapi terdengar Ki Ajar Wihangga bertepuk tangan memanggil mereka.

“Guru” berkata Madyasta, “Kami harus dapat menangkap salah satu dari mereka. Dengan demikian kita akan tahu, siapakah mereka itu dan siapa pula pemimpin mereka”

“Tidak akan banyak artinya, ngger” jawab Ki Ajar.

“Kenapa guru?”

“Yang mereka ketahui, mereka adalah sebagian dari sekelompok penjahat. Hanya itu. Mereka pun tidak akan dapat menunjukkan sarang kawan-kawannya karena mereka tentu berpindah-pindah tempat. Menurut penglihatanku, mereka adalah sebagian kecil dari sekawanan perampok yang besar dalam susunan keanggotaan yang berlapis, sehingga orang-orang pada lapisan terbawah tidak akan tahu, siapakah yang berada di lapisan tengah. Apalagi di lapisan atas”

“Tetapi setidak-tidaknya kami membawa bukti bahwa telah terjadi kerusuhan di Kadipaten ini”

“Jika kau kehilangan bukti, aku akan bersedia menjadi saksi”

Madyasta terdiam.

“Angger berdua, kalian tidak tahu, apa yang ada dibelakang pepohonan hutan itu. Sarang mereka tentu tidak ada di tempat itu. Tetapi kau harus mengingat jebakan-jebakan yang mungkin mereka pasang. Bukan hanya sekedar tali yang terikat menyilang di jalan. Mungkin di dalam hutan itu terdapat berbagai macam jebakan, sementara beberapa orang telah menunggu”

Madyasta dan Wignyana saling berpandangan sejenak, namun mereka pun mengerti peringatan yang diberikan oleh gurunya. Mungkin para perampok itu telah membuat jebakan yang memang mereka tujukan kepada para prajurit jika mereka mencoba memburu untuk menangkap mereka.

“Ya, guru” desis Madyasta kemudian.

“Nah, sekarang marilah kita meneruskan perjalanan, singkirkan tali itu”

Madyasta dan Wignyana pun kemudian telah menyingkirkan tali yang merentang menyilang jalan itu.

Sejenak kemudian, maka mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan mereka, tetapi yang berada di paling depan kemudian adalah Ki Ajar Wihangga.

Ketika mereka kemudian telah sampai ke jalan yang lebih lebar, yang semakin jauh dari hutan, ki Ajar pun berkata kepada Madyasta dan Wignyana, “Majulah sedikit ngger, ada yang akan aku katakan.”

Madyasta dan Wignyana kemudian berkuda disebelah menyebelah Ki Ajar. Sementara itu, kuda mereka pun berlari tidak terlalu kencang.

`”Aku melihat kalian tadi marah sekali kepada para perampok itu”

Madyasta dan Wignyana termangu-mangu sejenak, namun kemudian Madyasta pun menjawab, “Ya, guru. Aku memang marah sekali kepada mereka”

“Itu wajar, ngger. Tetapi betapapun kalian marah. Kalian tidak boleh terbakar oleh rasa kemarahan kalian itu. Kalian harus tetap mengendalikan perasaan kalian dengan baik. Jika kalian tenggelam ke dalam kemarahan kalian, maka penalaran kalian pun akan menjadi kabur”

Madyasta dan Wignyana terdiam.

“Angger berdua, aku melihat ungkapan kemarahan kalian adalah tatanan gerak kanuragan kalian. Betapa kalian marah sekali sehingga serangan-serangan kalian tidak lagi terkendali. Tidak ada pikiran lain di kepala kalian sekali menghancurkan lawan kalian. Dan bahkan malah membunuh mereka. Seandainya kalian mengejar mereka agar menangkap salah seorang dari mereka untuk dijadikan sumber

keterangan, maka yang akan kalian dapatkan tidak akan lebih dari sosok-sosok mayat para perampok itu. Aku melihat bahwa kalian terlalu sulit untuk mengendalikan kemarahan kalian”

Madyasta dan Wignyana tidak menjawab.

“Tetap itu wajar sekali terjadi pada anak-anak muda yang baru keluar dari sebuah perguruan. Anak-anak muda yang merasa dirinya telah berbekal ilmu”

Jantung Madyasta dan Wignyana pun telah tersentuh pula, karena itu, maka keduanya sama sekali tidak menjawab.

“Tetapi setelah kalian mengalami, ngger. Untuk seterusnya berhati-hatilah. Kalian harus menjaga agar kalian tidak terbenam kedalam arus kemarahan setiap kali kalian menghadapi persoalan, betapapun kalian menjadi marah. Kalian harus tetap menyadari, apa yang akan kalian lakukan”

“Ya, guru” jawab Madyasta dan Wignyana berbarengan.

“Tetapi apa yang terjadi bukan merupakan gejala buruk bagi kalian. Itu wajar. Wajar sekali. Namun meskipun hal itu terjadi, namun sebaiknya kalian mampu tetap berpegang teguh pada penalaran yang penting.

“Ya, guru” jawab kedua orang anak muda itu.

“Nah, marilah kita berpacu agak lebih cepat. Waktu kita sudah tersita beberapa lama di pinggir hutan itu”

Madyasta dan Wignyana tidak menjawab, sementara itu, kuda Ki Ajar berlari semakin cepat, sehingga kedua orang anak muda itu pun mempercepat lari kuda mereka pula.

Namun dengan demikian, maka mereka tidak dapat mencapai Dalem Kadipaten sebelum senja, ketika senja turun, mereka masih berada di jalan yang langsung menuju ke pintu gerbang kota Paranganom.

Demikian mereka sampai ke pintu kota, maka lampu-lampu minyak di setiap rumah sudah dinyalakan. Dua buah oncor telah terpasang pula di pintu gerbang, sedangkan di pinggir jalan induk yang langsung menuju ke alun-alun, di beberapa regol pun telah terpasang oncor pula. Sebagian oncor jarak, sedangkan yang lain oncor minyak kelapa.

Dalam keremangan senja, tidak banyak lagi orang yang berada di jalan, bahkan tidak ada orang yang memperhatikan tiga orang berkuda menyusuri jalan induk yang langsung menuju alun-alun.

Namun penjaga pintu gerbang istana Kangjeng Adipati lah yang terkejut ketika mereka melihat tiga orang berkuda berhenti di depan pintu gerbang halaman istana.

“Raden Madyasta dan Raden Wignyana” desis prajurit yang bertugas.

“Ya, kami datang bersama guru”

“Silahkan, silahkan, Raden, silahkan Kiai”

Ketiganya pun segera memasuki pintu gerbang halaman istana, mereka langsung menyusuri halaman samping dan berhenti di pinta seketeng.

Prajurit yang bertugas pun segera menerima ketiga ekor kuda itu dan mempersilahkan mereka memasuki longkangan samping.

Kedatangan Madyasta dan Wignyana bersama Ki Ajar Wihangga pada saat malam mulai turun itu, memang agak mengejutkan Kangjeng Adipati.

Kangjeng Adipati pun kemudian menerima kehadiran Ki Ajar serta kedua orang puteranya di serambi samping.

“Selamat datang kakang, nampaknya kakang bersama Madyasta dan Wignyana agak kesiangan berangkat dari padepokan, sehingga lewat senja kalian baru sampai. Bukankah biasanya kakang dan anak-anak sudah sampai sebelum senja turun?”

Ki Ajar tersenyum, katanya, “Ada sedikit hambatan di perjalanan, Kangjeng”

Kangjeng Adipati mengerutkan keningnya, dengan nada tinggi ia pun bertanya

“Hambatan apa kakang?”

Ki Ajar memandang Madyasta dan Wignyana berganti-ganti. Sambil tersenyum ia pun berkata, “Kedua putera Kangjeng Adipati telah diuji di perjalanan”

“Ada apa?” nampak kecemasan di wajah Kangjeng Adipati.

Namun sebelum pembicaraan itu berlanjut, Raden Ayu Prangkusuma telah memasuki serambi itu pula. Dengan nada penuh kerinduan dari seorang ibu, Raden Ayu itu pun berkata, “Aku mendengar suara kalian Madyasta dan Wignyana. Marilah. Masuklah ke ruang dalam, kalian tentu letih setelah menempuh perjalanan seharian”

“Kau belum mengucapkan selamat datang kepada kakang Ajar Wihangga, diajeng” potong Kangjeng Adipati.

Raden Ayu tertawa, katanya, “Maaf kakang, sudah sejak di dalam ucapan itu sudah ada di bibir. Tetapi ketika aku melihat Madyasta dan Wignyana, aku lupa mengucapkannya. Apalagi ketika aku melihat pakaian mereka yang kusut. Keringat dan debu yang melekat di wajah mereka. Maaf, kakang. Biarlah mereka membenahi diri”

“Kakang Ajar Wihangga tentu juga akan segera berbenah diri”

“Senthong bagi kakang Ajar akan segera disiapkan. Bukankah kakang akan bermalam?”

“Tentu” Kangjeng Adipati lah yang menjawab, “Bukankah malam sudah turun?”

“Nah, masih banyak waktu untuk berbincang. Malam nanti, esok pagi dan barangkali kakang Ajar tidak hanya akan bermalam semalam saja”

Ki Ajar hanya tertawa saja. Sementara itu, setelah Madyasta dan Wignyana mencium tangan ibunya, mereka pun dibimbing seperti kanak-kanak masuk ke ruang dalam.

“Maaf, kakang” berkata Kangjeng Adipati kemudian, “Ibunya memang sangat rindu kepada mereka”

“Aku mengerti, Kangjeng”

“Aku juga minta maaf, kakang. Sebelum kakang sempat beristirahat, aku sudah mendesak ingin mengetahui hambatan apa yang telah terjadi di perjalanan?”

Ki Ajar tersenyum, katanya, “Tidak apa Kangjeng, bukankah itu sudah sewajarnya?”

“Ya, kakang” sahut Kangjeng Adipati

Ki Ajar pun kemudian menceritakan apa yang telah terjadi di perjalanan. Empat orang kawanan perampok itu pun telah mengganggu perjalanan mereka.

“Perampok?”

“Ya, Kangjeng”

Kangjeng Adipati termangu-mangu sejenak, namun sementara itu, seorang pelayan telah menghidangkan minuman hangat dan beberapa potong makanan.

“Silahkan kakang. Nanti pembicaraan kita tentang para perampok itu kita lanjutkan”

“Terima kasih, Kangjeng”

“Kami akan mempersilahkan kakang untuk mandi dan beristirahat. Malam nanti kita akan dapat berbicara panjang bersama Madyasta dan Wignyana”

Malam itu setelah makan malam Kangjeng Adipati duduk di serambi pula bersama Ki Ajar Wihangga, Madyasta dan Wignyana. Raden ayu Prangkusuma itu duduk bersama mereka sebentar. Namun kemudian minta diri untuk bersama-sama dengan pelayan membersihkan ruangan dalam.

“Nah” berkata Kangjeng Adipati kemudian, “Sekarang aku ingin mendengar ceritera tentang perjalanan kakang bersama Madyasta dan Wignyana sepenuhnya”

Ki Ajar pun tersenyum, katanya, “Baiklah, Kangjeng, tetapi sebaiknya biarlah anger Madyasta dan Wignyana sajalah yang berceritera”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, katanya, “Baiklah, ceritakan apa yang telah terjadi”

Berganti-ganti Madyasta dan Wignyana menceritakan apa yang telah terjadi di perjalanan mereka. Mereka saling melengkapi dan bahkan ceritera mereka memang kadang-kadang menjadi tumpang tindih. Rasa-rasanya terlalu banyak yang ingin mereka katakan, sehingga kalimat pun rasa-rasanya saling berdesakan lewat mulut keduanya.

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, akhirnya ceritera kedua orang putranya itu jelas pula baginya.

“Kakang” berkata Kangjeng Adipati, “Sebenarnyalah bahwa Kadipaten Paranganom tidak lagi aman dan tenteram seperti sebelumnya. Aku juga sudah menerima laporan tentang kejahatan yang terjadi di beberapa padukuhan. Juga telah terjadi perampokan di jalan-jalan”

“Jadi ayahanda sudah mengetahuinya?” bertanya Madyasta.

“Baru dalam pekan ini. Agaknya peristiwa kejahatan itu juga belum lama mulai tumbuh di kadipaten ini”

“Kita tidak boleh terlambat ayahanda” berkata Wignyana kemudian.

“Ya” Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, “Tetapi kita juga tidak boleh tergesa-gesa. Kita harus tahu, apa yang sebenarnya terjadi, sehingga kita tidak salah mengambil langkah.

Madyasta dan Wignyana mengangguk-angguk kecil.

“Nah, sikap Kangjeng Adipati itu harus kalian teladani, ngger. Kita jangan tergesa-gesa mengambil sikap agar kita tidak salah langkah”

“Ya, guru” sahut Madyasta dan Wignyana bersama.

Sementara itu, Kangjeng Adipati pun berkata selanjutnya, “Selain laporan tentang tindakan kejahatan itu, kakang sejak hari ini kakang mbok Raden Ayu Prawirayuda juga berada disini”

“Maksud Kangjeng Adipati, Raden Ayu Prawirayuda berada di Kadipaten ini?”

“Ya”

“Apakah sekedar menengok keadaan keluarga disini?”

“Tidak, kakang. Tetapi Kakang Mbok itu mengungsi ke Kadipaten Paranganom”

“Bibi mengungsi ke Paranganom?” bertanya Madyasta

“Ya”

“Kenapa Ayahanda?” bertanya Wignyana

“Ada masalah dengan kakangmasmu angger Adipati Yudapati”

“Persoalan apa?”

“Bibimu dipersilahkan meninggalkan Kadipaten Kateguhan.”

“Alasannya?”

“Aku masih belum sempat berbicara panjang. Baru besok hari aku akan berbicara dengan bibimu. Tadi bibimu nampak sangat letih.”

“Dengan siapa bibi datang kemari?”

“Dengan puterinya Rantamsari”

“Jadi bibi datang bersama dengan Kakangmbok Rantamsari?”

“Ya”

“Lalu bibi akan tinggal di Paranganom?”

“Nampaknya memang begitu. Tetapi aku masih belum tahu pasti, meskipun demikian, aku telah memerintahkan menyiapkan sebuah tempat tinggal bagi bibimu. Jika benar bibimu akan tinggal di Paranganom, maka biarlah bibimu tinggal di tempat itu dengan tenang dan tidak bersama Rantamsari. Biarlah ibundamu menugaskan dua atau tiga orang pelayannya di rumah bibimu serta seorang juru taman”

“Kenapa kakangmas Adipati Yudapati sampai hati mengusir bibi dari Kateguhan?”

“Bagaimanapun juga hubungan antara anak dan ibu tiri sering menimbulkan persoalan” desis Ki Ajar, “Meskipun tidak semuanya, ada seorang ibu tiri yang bersikap kurang baik terhadap anak tirinya, tetapi sebaliknya ada anak tiri yang bersikap tidak baik terhadap ibu tirinya”

“Besok tidak ada salahnya jika kakang juga ikut mendengarkan ceritera Kakangmbok Prawirayuda”

“Baik Kangjeng, tetapi tentu saja aku hanya akan menjadi pendengar yang baik tanpa dapat melibatkan diri”

“Mungkin kakang dapat memberikan petunjuk jalan manakah yang terbaik. Pada dasarnya perselisihan antara ibu dan anak, meskipun anak tiri, dapat dijernihkan”

Dalam pada itu, ketika malam menjadi semakin larut, Kangjeng Adipati pun berkata kepada kedua puteranya, “Kalian tentu letih, beristirahatlah. Biarlah aku duduk disini sebentar lagi dengan gurumu”

“Baik, ayah” Sahut Madyasta, namun kemudian Wignyana pun yang juga merasa letih, telah bangkit pula berdiri sambil berkata, “Aku juga mohon diri untuk beristirahat”

Keduanya pun kemudian telah meninggalkan Ki Ajar Wihangga dan Kangjeng Adipati di serambi.

“Kakang, meskipun tidak kakang katakana, tetapi ketika anak-anak menceritakan hambatan yang mereka alami, terasa ada sesuatu yang ingin kakang sampaikan”

Ki Ajar tersenyum, katanya, “Bukankah Kangjeng Adipati merasakan, betapa mereka berdua demikian ingin menceritakan apa yang telah terjadi?”

“Ya, kakang”

“Keduanya memang menjadi sangat marah kepada para penyamun itu, sehingga mereka berdua telah hanyut kedalam arus perasaan mereka”

Kangjeng Adipati masih mengangguk-angguk.

“Nah, aku merasa perlu untuk sedikit mengekang gejolak darah muda mereka. Ketika mereka mengejar para penyamun yang melarikan diri, aku memang mencegahnya, maksud keduanya memang benar, mereka ingin menangkap setidak-tidaknya seorang dari mereka untuk menjadi sumber keterangan. Tetapi jika mereka dapat menangkap salah seorang dari penyamun itu, maka penyamun itu tentu sudah mati sebelum sempat berbicara juga”

“Aku mengerti kakang” desis Kangjeng Adipati, “Darah muda mereka masih mudah mendidih, sifat kemudaan mereka masih mereka kedepankan”

“Seorang yang baru saja keluar dari sebuah perguruan, memang terdorong untuk menguji kemampuannya. Dibarengi dengan kemarahan yang menyala, maka keduanya agak kurang dapat mengendalikan diri”

“Terima kasih atas pengamatan kakang yang lengkap terhadap anak-anak itu”

“Semoga untuk selanjutnya juga menjadi perhatian Kangjeng Adipati”

Kangjeng Adipati pun mengangguk-angguk pula.

Namun beberapa saat kemudian, Kangjeng Adipati pun telah mempersilahkan Ki Ajar Wihangga untuk beristirahat. Sebuah bilik yang sudah dibersihkan dan diatur dengan rapi di gandok telah disiapkan bagi Ki Ajar Wihangga.

Di pagi hari berikutnya, ketika langit masih remang-remang. Madyasta dan Wignyana sudah sibuk di pakiwan, bergantian mereka menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan.

“Biarlah aku yang mengisinya, Raden” berkata salah seorang abdi Kadipaten.

Tetapi mengisi jambangan di pagi hari adalah kewajiban yang harus mereka lakukan di padepokan. Sehingga rasa-rasanya ada yang terhutang jika mereka tidak mengisi jambangan. Karena itu, maka kepada pelayannya Madyasta berkata, “Biarlah aku mengisinya, pekerjaan ini selalu aku lakukan”

“Tetapi tentu tidak di Kadipaten ini, Raden”

“Disini pun aku tidak boleh melupakan kewajiban itu”

Pelayannya tidak dapat memaksanya meskipun ia masih saja berdebar-debar, jika Kangjeng Adipati atau Raden Ayu melihatnya, maka mereka akan menjadi marah.

Tetapi ternyata tidak, ketika Kangjeng Adipati yang berdiri di pintu butulan melihat Madyasta menimba air selagi Wignyana mandi, Kangjeng Adipati itu sama sekali tidak marah, dan bahkan tidak mencegahnya. Dibiarkannya Madyasta terus mengisi jambangan pakiwan.

Ketika matahari naik, Madyasta dan Wignyana sudah siap untuk hadir di pendapa Kadipaten bersama para pemimpin Kadipaten Paranganom. Ki Ajar Wihangga dari Panambangan juga akan ikut hadir.

Sebelum saatnya baik ke pendapa, maka Ki Ajar pun melihat Madyasta dan Wignyana mengenakan pakaian baru.

“Sudah sejak angger berdua berada di padepokan angger berdua belum pernah ikut dalam pertemuan resmi seperti hari ini, ngger?”

“Belum. Guru, adalah kebetulan hari ini ayahanda memanggil para pemimpin Kadipaten untuk menyelenggarakan sebuah pertemuan resmi di pendapa”

“Angger berdua nampak benar-benar seperti putera seorang Adipati”

“Ah, guru, ibu tadi mengatakan, bahwa kemarin adalah hari ulang tahunku. Karena itu, maka ibunda lah yang memberikan pakaian baru kepadaku, apalagi hari ini ayahanda menyelenggarakan sebuah pertemuan besar”

“Kakangmu Madyasta yang kemarin berulang-tahun, aku ikut pula menerima hadiah dari ibunda”

“Besok, jika kau berulang-tahun, aku juga akan menuntut hadiah” sahut Madyasta.

Wignyana tertawa, gurunya tertawa pula.

Ketika matahari sepenggalah, maka para pemimpin di Kadipaten Paranganom mulai berdatangan. Beberapa orang Tumenggung dan beberapa orang Bupati.

Ketika para pemimpin Paranganom sudah hadir, maka Ki Ajar diikuti oleh Madyasta dan Wignyana telah naik ke pendapa pula.

Orang-orang yang hadir segera mengenali kedua orang anak muda itu. Mereka adalah putera Kangjeng Adipati yang sudah agak lama berada di sebuah padepokan.

“Agaknya sekarang mereka sudah pulang” berkata salah seorang tumenggung kepada tumenggung yang lain, yang duduk di sebelahnya.

Sementara itu, dua orang Tumenggung Wreda telah hadir pula di pendapa, Ki Tumenggung Wiradapa dan Tumenggung Sanggayuda”

Beberapa saat kemudian maka Kangjeng Adipati pun telah keluar dari ruang dalam Dalem Kadipaten untuk hadir dalam pertemuan itu.

Demikian Kangjeng Adipati duduk, maka suasana di pendapa itu menjadi lengang. Semuanya duduk diam sambil menundukkan kepala mereka.

Madyasta dan Wignyana sempat mencuri pandang melihat suasana di pendapa itu, suasana yang jarang sekali mereka temui, suasana yang demikian terasa tegang dan kaku.

“Seberapa lama kami harus duduk mematung seperti ini” berkata Madyasta di dalam hatinya.

Tetapi ia merasa wajib untuk menyesuaikan diri. Apalagi ia adalah putera Kangjeng Adipati itu sendiri yang harus dijunjung tinggi kewibawaannya. Beberapa saat kemudian, maka Kangjeng Adipati telah membuka pertemuan itu.

Ki Ajar Wihangga justru agak terkejut ketika di akhir acara, Kangjeng Adipati memberikan waktu kepadanya, karena kehadirannya di Kadipaten adalah dalam rangka penyerahan kembali kedua orang putera yang pernah dititipkan kepadanya.

Ki Ajar memang tidak menduga. bahwa Kangjeng Adipati merencanakan penyerahan itu dilakukan dalam satu upacara, karena pada saat Kangjeng Adipati menyerahkan kedua puteranya itu sama sekali tidak disertai dengan upacara apapun. Waktu itu, Kangjeng Adipati secara langsung menyerahkan Raden Madyasta dan Raden Wignyana dan langsung pula keduanya ikut bersamanya berkuda ke padepokan.

Pada waktu Kangjeng Adipati itu berkata kepadanya, “Aku titipkan anak-anakku kepadamu kakang”

Tetapi tiba-tiba kini Ki Ajar itu harus menyerahkan keduanya dalam satu upacara di pendapa kadipaten dihadapan para pemimpin Kadipaten Paranganom.

Ki Ajar memang tidak terbiasa dengan upacara-upacara resmi seperti itu. Namun Ki Ajar tidak dapat mengelak. Dihadapan para Tumenggung Wreda, Tumenggung Sanggayuda, para bupati dan para pemimpin yang lain. Ki Ajar itu pun berkata, “Ampun Kangjeng Adipati, junjungan rakyat Paranganom, pada saat ini, aku yang rendah, Ajar Wihangga dari padepokan Panambangan, menyerahkan kembali kedua putera Kangjeng Adipati yang selama empat tahun berada di padepokan. Aku yang kurang pengetahuan dan tidak memahami ilmu, mohon ampun apabila yang kami lakukan, jauh dari memenuhi harapan Kangjeng Adipati, namun yang penting yang aku harapkan dapat selalu diingat oleh kedua anak muda, putera Kangjeng Adipati adalah pesanku kepada mereka, hendaknya hidup mereka itu dipersembahkan kepada Yang Maha Agung, yang menciptakan langit dan bumi serta seisinya, yang telah berkenan menghadirkan Angger Madyasta dan Wignyana di atas bumi ciptaan-Nya pula, serta  diabdikan kepada sesamanya. Sebagai putera seorang Adipati, mereka mempunyai kesempatan yang luas untuk memperhatikan sesamanya yang kekurangan, kelaparan dan hidup dalam kegelapan. Bertindak dengan bijaksana serta hatinya dipenuhi oleh kesabaran serta belas kasihan”

Madyasta dan Wignyana justru terkejut. Mereka memang sering mendengar nasehat itu diucapkan hampir di setiap kesempatan, tetapi ketika nasehat gurunya itu diucapkannya dihadapan para pemimpin Kadipaten Paranganom, maka mereka seakan-akan dihadapan kepada para saksi yang akan menilai, apakah dalam perjalanan hidupnya kemudian, mereka akan dapat memenuhi petunjuk gurunya itu. Sehingga masa berguru yang dijalaninya itu benar-benar mempunyai arti.

Terasa jantung kedua anak muda itu tergetar. Namun justru itu, maka keduanya pun telah berjanji untuk melakukan semua petunjuk gurunya itu.

Sementara itu, Kangjeng Adipati telah menanggapi pula dengan pernyataan terima kasih kepada Ki Ajar yang telah memberikan bimbingan kepada kedua puteranya, tidak saja dalam olah kanuragan, tetapi juga arah serta pegangan hidup mereka di masa mendatang.

Baru kemudian, Kangjeng Adipati berbicara dengan para pemimpin di Kadipaten Paranganom.

Yang terpenting mereka bicarakan adalah tentang laporan adanya tindak kejahatan yang tumbuh di Kadipaten.

“Bukan berarti bahwa selama ini tidak ada tindak kejahatan di Kadipaten Paranganom. Tetapi tindak kejahatan itu segera dapat diredam. Namun akhir-akhir ini tindak kejahatan itu rasa-rasanya tumbuh dengan cepat. Menurut laporan yang diterima oleh para pemimpin di Paranganom, maka kejahatan itu mulai merambat dari satu tempat ke tempat yang lain.

Ternyata para pemimpin di Paranganom juga sudah mendengar laporan-laporan tentang terganggunya keamanan dan ketenteraman hidup bagi rakyat Paranganom.

“Kita harus segera mengambil tindakan untuk mencegah meluasnya tindak kejahatan itu” berkata Kangjeng Adipati.

Para pemimpin yang hadir itu pun sependapat bahwa mereka harus mengambil tindakan yang cepat, jika mereka bertindak dengan lambat, maka kejahatan itu akan menjalar kemana-mana.

Ki Tumenggung Wiradapa berpendapat bahwa para Demang harus memantau keadaan dengan seksama.

“Setiap saat mereka harus memberikan laporan tentang perkembangan di kademangan mereka masing-masing, Kangjeng”

“Aku tugaskan kepada para Bupati untuk mengamati lingkungan mereka masing-masing, jika perlu, jika rakyat mengalami kesulitan untuk menghadapi mereka, maka Paranganom akan memerintahkan para prajurit untuk mengatasinya. Karena itu, kami memerlukan laporan itu setiap saat dan dalam waktu yang cepat dari setiap peristiwa kejahatan”

Pertemuan itu telah menghasilkan kesepakatan bahwa para pemimpin di Paranganom harus memantau keadaan, terutama dalam hubungannya dengan semakin berkembangnya kejahatan.

Ketika pembicaraan dianggap sudah cukup, maka Kangjeng Adipati telah menutup pertemuan itu. Para pemimpin Kadipaten Paranganom diperkenankan meninggalkan pendapa dalem kadipaten.

“Aku minta kakang Tumenggung Wiradapa dan kakang Tumenggung Sanggayuda untuk tinggal disamping kakang Ajar Wihangga serta kedua puteraku”

Demikian, sejenak kemudian pendapa kadipaten itu pun menjadi lengang. Yang tinggal hanyalah kedua orang Tumenggung Wreda dan Tumenggung Sanggayuda, kedua orang putera Kangjeng Adipati serta Ki Ajar Wihangga.

Namun kemudian Kangjeng Adipati itu pun berkata kepada Wignyana, “Wignyana, persilahkan ibundamu seta bibimu Prawirayuda menghadap, aku ingin berbicara tentang sikap angger Adipati Yudapati”

“Hamba, ayahanda” sahut Wignyana sambil beringsut.

Beberapa saat kemudian, Raden Ayu Prawirayuda, Rantamsari ditemani oleh Raden Ayu Prangkusuma telah menghadap Kangjeng Adipati Paranganom.

“Kakangmbok” berkata Kangjeng Adipati, “Maaf, bahwa baru sekarang kita akan berbicara tentang keadaan Kakangmbok, kemarin Kakangmbok nampak begitu letih, sehingga aku biarkan Kakangmbok untuk beristirahat”

“Terima kasih, Dimas, bahwa aku diperkenankan untuk berada di Paranganom itu pun sudah merupakan satu kemurahan hati Dimas yang tidak terhingga artinya bagi aku dan anakku Rantamsari”

“Kakangmbok” berkata Kangjeng Adipati kemudian, “Apa yang sebenarnya terjadi di Kadipaten Kateguhan sehingga Kakangmbok harus meninggalkan Kadipaten?”

“Dimas, sebenarnyalah bahwa aku tidak tahu, apakah kesalahanku sebenarnya, tanpa tuduhan apa-apa, tiba-tiba saja angger Adipati Yudapati telah mengusir aku, agar aku dan Rantamsari meninggalkan Kadipaten Kateguhan”

“Tetapi bukankah Kakangmbok dapat menduga, apakah sebabnya anakmas Adipati Yudapati menjadi marah dan bahkan kemarahannya agak melampui batas kewajaran, karena angger Adipati Yudapati sudah mengusir Kakangmbok dari Kadipaten Kateguhan, bagaimana juga, Kakangmbok adalah isteri kakangmas Adipati Prawirayuda almarhum. Sehingga Kakangmbok berhak untuk tinggal di Kadipaten bersama dengan Rantamsari”

“Tetapi sudahlah, Dimas. Kemurahan hati Dimas sudah dapat menyejukkan hatiku serta anakku”

“Mungkin Kakangmbok yang merasa sudah mempunyai tempat tinggal selanjutnya, sudah merasa cukup. Mungkin Kakangmbok tidak merasa mendendam kepada angger Adipati Yudapati, tetapi karena masih ada sangkut paut hubungan keluarga, maka tidak ada salahnya mengetahui, apa yang sebenarnya yang telah terjadi di Kateguhan. Dalam pertemuan ini aku masih menahan kedua orang Tumenggung agar dapat ikut mendengarkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Kateguhan bukan saja sebuah Kadipaten yang semula diperintah oleh kakangmas Prawirayuda, saudara tuaku sendiri dan yang sekarang diperintah oleh kemanakanku, angger Adipati Yudapati. Tetapi Kateguhan juga sebuah Kadipaten yang merupakan tetangga terdekat. Garis batas sebelah utara Paranganom adalah garis batas sebelah selatan Kateguhan. Sehingga apa yang terjadi di Kateguhan akan dapat memercik ke Paranganom. Apalagi sekarang Kakangmbok Prawirayuda berada disini”

Raden Ayu Prawirayuda menundukkan kepalanya, diusapnya matanya yang basah dengan jari-jarinya. Sementara itu Rantamsari yang duduk di sebelah ibunya hanya dapat menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Adimas” suara Raden Ayu Prawirayuda itu tersendat-sendat, “Sebenarnyalah bahwa angger Adipati Yudapati tidak pernah menjatuhkan tuduhan apa-apa. Justru karena itu, aku tidak dapat membela diri, tetapi menurut seorang abdi, justru diluar dalem kadipaten telah tersebar kabar yang sangat memalukan Dimas”

“Kabar apakah itu Kakangmbok? Nah, kabar yang tersebar itulah yang ingin aku dengar. Tentu saja bukan merupakan pegangan atas kebenarannya”

“Dimas, sebenarnya aku sangat malu untuk mengutarakannya, tetapi apa boleh buat. Aku dapat mengerti, bahwa Dimas memerlukan bahan untuk menempatkan masalah ini pada tempat yang sewajarnya”

“Ya, Kakangmbok”

“Adimas. Orang-orang di jalanan mengatakan bahwa angger Adipati Yudapati menjadi sangat marah kepadaku dan kepada Rantamsari karena aku dan Rantamsari sering menjual harta benda milik Kadipaten yang harganya sangat mahal. Nampan dari emas, beberapa buah mangkuk yang diselut perak, berbagai macam perhiasan di kaputren dan masih banyak lagi. Karena itu, maka aku telah diusir dari dalem Kadipaten. Aku diberi waktu sepekan untuk berkemas dan menyiapkan benda-benda berharga di kaputren yang ingin aku bawa. Angger Adipati akan memberikan apa saja yang aku kehendaki untuk aku bawa meninggalkan kadipaten Kateguhan”

“Tetapi bukankah Kakangmbok dapat membuktikan bahwa Kakangmbok tidak melakukannya? Bukankah benda-benda berharga di Kadipaten Kateguhan diketahui dengan pasti jenis dan jumlahnya, sehingga jika ada yang hilang akan segera diketahui?”

“Aku tidak dapat mengatakannya kepada Angger Adipati, angger Adipati sendiri tidak pernah melontarkan tuduhan apa pun kepadaku. Dimas, yang aku tahu, tiba-tiba saja angger Adipati meminta kepadaku untuk mengemaskan barang-barangku dan meninggalkan Kadipaten dalam waktu sepekan”

“Tetapi Kakangmbok justru dipersilahkan membawa apa saja yang ingin Kakangmbok bawa dari kaputren Kateguhan?”

“Ya, Dimas, tetapi aku tidak membawa sepotong pun benda berharga. Aku ingin mengatakan kepada angger Adipati, bahwa aku tidak menginginkan semua itu. Ketika aku akan berangkat, aku katakan kepadanya, angger Adipati menghitung semua benda bukan saja yang berharga, tetapi apa saja yang ada di kaputren. Bahkan sepotong bancik lampu dari perak yang sangat aku suka pun, tidak aku bawa”

“Apa kata angger Adipati ketika ia tahu bahwa Kakangmbok tidak membawa apa-apa?”

“Angger Adipati tidak mengatakan apa-apa kepadaku”

Kangjeng Adipati Paranganom mengangguk-angguk, katanya, “Sudahlah Kakangmbok. Biarlah Kakangmbok tinggal disini. Aku sudah menyediakan sebuah rumah bagi Kakangmbok, mungkin terlalu sederhana dibandingkan dengan kaputren Kateguhan”

“Aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga, Dimas. Jika Dimas dan Diajeng Adipati Paranganom tidak menaruh belas kasihan, lalu apakah jadinya kami berdua, apakah kami harus berkeliaran di sepanjang jalan”

Suara Raden Ayu Prawirayuda itu terputus, jari-jarinya sibuk mengusap matanya yang basah.

“Sudahlah Kakangmbok” berkata Raden Ayu Prangkusuma, “Tinggallah di Paranganom. Dua orang abdiku akan melayani Kakangmbok. Selain mereka, juru taman kami akan memelihara taman di rumah yang kami sediakan bagi Kakangmbok. Jika Kakangmbok masih memerlukannya, aku dapat menambahnya dengan satu atau dua orang lagi”

“Tentu sudah cukup, Diajeng”

“Rantamsari” berkata Raden Ayu Prangkusuma.

“Ya, bibi”

“Agaknya kau memang harus prihatin dimasa mudamu, tetapi dengan demikian, kau telah mempersiapkan hari depanmu dengan baik. Terimalah apa yang telah terjadi atas dirimu dengan hati yang tegar. Yakinlah akan kemurahan Yang Maha Agung, sehingga pada suatu ketika akan terjadi perubahan pada jalan hidupmu”

“Ya, bibi” suara Rantamsari hampir tidak terdengar, wajahnya kemudian menunduk dalam-dalam.

Madyasta dan Wignyana tidak dapat ikut campur dalam pembicaraan itu, apalagi gurunya. Sedangkan Ki Tumenggung Wreda Wiradapa dan Ki Tumenggung Wreda Sanggayuda pun hanya dapat mendengarkan pembicaraan itu sambil mengangguk kecil.

Dengan susah payah Rantamsari berusaha untuk menahan agar ia tidak menangis, tetapi ternyata Rantamsari itu pun kemudian terisak.

Raden Ayu Prangkusuma memeluknya sambil berbisik, “Sudahlah Rantamsari, jangan menangis, ngger. Peristiwa yang tidak kita inginkan memang dapat saja datang setiap saat. Tetapi bukankah kau harus pasrah atas apa yang terjadi. Kita harus mensyukuri bahwa kita masih menemukan jalan keluar. Tentu saja atas petunjuknya.

Rantamsari mengangguk.

“Madyasta dan Wignyana” berkata Kangjeng Adipati kemudian, “Antarkan bibimu dan puterinya ke rumah yang telah dipersiapkan. Biarlah para abdi dan juru taman itu menyertai kalian”

“Baik Ayahanda” jawab Madyasta, “Marilah bibi, marilah Kakangmbok Rantamsari”

Sejenak kemudian, maka Raden Ayu Prangkusuma, Raden Ayu Prawirayuda dan Rantamsari telah meninggalkan pendapa Kadipaten diiringi oleh Madyasta dan Wignyana yang akan mengantar Raden Ayu Prangkusuma dan Rantamsari ke rumah yang telah disediakan.

Namun Kangjeng Adipati masih tetap memerintahkan Tumenggung Wiradapa dan Tumenggung Sanggayuda untuk tinggal bersama Ki Ajar Wihangga.

“Kakang Ajar serta kakang Tumenggung Wreda berdua, bagaimana menurut pendapat kakang atas apa yang terjadi. Apakah peristiwa itu murni sebagaimana yang kita dengar. Bahwa angger Adipati Yudapati telah mengusir Kakangmbok Prawirayuda dari Kadipaten Kateguhan atau kakang melihat persoalan lain di balik apa yang kita dengar. Apakah ada niat yang belum kita ketahui agar angger Adipati Yudapati terhadap Kadipaten Paranganom atau sikap apapun, karena angger Yudapati tentu memperhitungkan bahwa Kakangmbok Prawirayuda tentu akan pergi ke Paranganom.

Ki Ajar menarik nafas panjang, katanya, “Kangjeng Adipati memerlukan waktu untuk mengetahuinya, memang tidak mustahil, bahwa dibalik peristiwa itu tersembunyi masalah yang lebih tajam dalam dan rumit. Namun seperti apa yang pernah Kangjeng katakan, kita tidak boleh tergesa-gesa”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya, kakang. Kita memang harus melihat dengan sangat hati-hati dan dari segala sudut pandang yang berbeda”

“Ampun Kangjeng Adipati” berkata Tumenggung Wiradapa, “Apakah hamba diperkenankan untuk menyampaikan pendapat hamba?”

“Katakan Kakang”

“Ada beberapa peristiwa yang terjadi bersama, memang mungkin satu kebetulan, tetapi mungkin memang ada kaitannya”

“Apa yang kakang maksudkan?”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak, namun kemudian katanya, “Tiba-tiba saja Raden Ayu Prawirayuda sudah berada di Paranganom, Raden Ayu diusir dari Kadipaten Kateguhan dengan alasan yang tidak jelas. Sementara itu di kerusuhan di Paranganom meningkat dengan cepat, nampaknya juga tanpa sebab. Selama ini kesejahteraan rakyat Paranganom justru semakin meningkat. Tidak ada bencana alam dan tidak ada permusuhan yang terjadi di lingkungan Kadipaten. Namun tiba-tiba saja terjadi banyak kerusuhan itu terjadi di daerah yang lebih dekat perbatasan dengan Kadipaten Kateguhan dari pada perbatasan yang lain”

Kangjeng Adipati menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Tumenggung Sanggayuda berkata, “Kangjeng, apa yang dikatakan oleh kakang Tumenggung Wiradapa itu memang harus mendapat perhatian khusus. Meskipun secara umum, para Bupati dan para pemimpin yang lain sudah mendapat perintah untuk memantau keadaan, tetapi daerah perbatasan itu harus mendapat perhatian lebih”

“Bagaimana menurut pendapat kakang”

“Kangjeng, seperti yang kita ketahui, bahwa terdapat perbedaan tingkat kesejahteraan bagi rakyat Kadipaten Paranganom dengan rakyat Kadipaten Kateguhan. Keadaan alam, lingkungan serta kebijaksanaan yang berbeda antara Kangjeng Adipati Prawirayuda dengan Kangjeng Adipati Prangkusuma. Meskipun para Tumenggung sudah banyak membantu serta memberikan beberapa pendapat yang memungkinkan adanya perubahan di Kadipaten Kateguhan, namun Kateguhan masih belum dapat menyamai Paranganom”

“Perbedaan lantaran kesejahteraan itukah yang menurut kakang dapat menimbulkan masalah?”

“Baru satu dugaan, Kangjeng”

“Tetapi kenapa baru sekarang?”

“Kangjeng Adipati Yudapati adalah seorang yang masih muda. Sikapnya tentu berbeda dengan Kangjeng Adipati Prawirayuda yang sudah banyak makan pahit asamnya kehidupan. Mungkin kendali Kangjeng Adipati Yudapati tidak sekuat kendali di tangan ayahandanya, Kangjeng Adipati Prawirayuda.”

Kangjeng Adipati Prangkusuma mengangguk-angguk, sementara Ki Tumenggung Wiradapa berkata dengan nada merendah, “Kangjeng, sebaiknya kita memang tidak berprasangka buruk, bahwa ada semacam kesengajaan dari beberapa orang pemimpin di Kateguhan. Tetapi tidak mustahil bahwa ada pemimpin yang merasa iri terhadap kemajuan yang kita capai selama ini”

Kangjeng Adipati termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia pun berkata, “Ya, kita jangan berprasangka buruk. Tetapi semua kemungkinan harus menjadi perhatian kita”

“Kami berdua akan berusaha Kangjeng”

“Aku percaya kepada kakang Tumenggung berdua. Mudah-mudahan langit akan segera menjadi terang diatas Paranganom”

Sejenak kemudian, maka kedua orang Tumenggung itu pun telah diperkenankan untuk meninggalkan pendapa, sehingga yang tinggal kemudian adalah Ki Ajar Wihangga sendiri. Dua orang prajurit yang bertugas di depan pendapa itu pun termangu-mangu. Tidak biasanya Kangjeng Adipati duduk berlama-lama di pendapa. Apalagi setelah pertemuan selesai.

Tetapi nampaknya Kangjeng Adipati masih berbincang-bincang dengan Ki Ajar Wihangga tentang kemungkinan baru dalam hubungannya dengan Kadipaten Kateguhan.

“Semoga tidak terjadi, Kangjeng” berkata Ki Ajar, “Tetapi kecemasan kedua orang Tumenggung itu sangat beralasan, mungkin diluar pengetahuan Kangjeng Adipati Yudapati. Tetapi mungkin yang terjadi di Paranganom itu justru sepengetahuan Kangjeng Adipati yang masih muda itu”

Tetapi menurut pengetahuanku, angger Adipati Yudapati adalah anak muda yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesatriaan”

“Seseorang dapat berganti sikap karena pengaruh orang lain. Jika seseorang dengan cerdik dan licik, setiap hari meniupkan pengaruhnya ke telinga Kangjeng Adipati Yudapati, maka mungkin saja sikap Kangjeng Adipati berubah atau merasa tidak berubah, tetapi dengan penafsiran yang sengaja dikaburkan sehingga seakan-akan Kangjeng Adipati masih tetap berpijak pada nilai-nilai yang dijunjungnya.”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, katanya, “Ya, kakang. Aku mengerti seseorang memang dapat berbicara tentang sikapnya berdasarkan atas kepentingannya, sedangkan kebenaran pun dapat diurai menurut sudut pandang seseorang”

“Ya, Kangjeng. Sehingga seseorang yang merasa dirinya menegakkan kebenaran akan dapat berbenturan dengan orang lain yang juga bersumpah untuk menegakkan kebenaran pula”

Kangjeng Adipati menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian katanya, “Kakang, aku persilahkan kakang untuk beristirahat, anak-anak tadi baru mengantar bibinya ke tempat tinggalnya yang baru”

“Terima kasih, Kangjeng”

Ki Ajar berdiri pula ketika Kangjeng Adipati kemudian bangkit dan melangkah masuk ke ruang dalam. Sementara itu, para prajurit yang berjaga-jaga di depan pendapa pun telah meninggalkan tempatnya dan bergabung dengan kawan-kawannya yang berada di gardu. Namun dua orang yang berjaga di pintu gerbang kadipaten masih juga berada dalam tugasnya.

Ki Ajar kemudian turun dari pendapa. Sejenak ia berdiri termangu-mangu, namun kemudian ia pun melangkah ke biliknya di gandok dalem kadipaten.

Di ruang dalam, Kangjeng Adipati pun kemudian duduk bersama dengan Raden Ayu Prangkusuma yang masih nampak muram.

“Kasihan Kakangmbok Prawirayuda” desis Raden Ayu Prangkusuma.

“Ya, tetapi apakah kepadamu Kakangmbok mengatakan persoalan-persoalan lain yang dapat melengkapi keterangannya?”

“Tidak, kakangmas, Kakangmbok tidak mengatakan apa-apa kecuali sebagaimana dikatakannya kepada kakangmas”

“Bukankah aneh, jika angger Adipati Yudapati menuduhkan demikian, sementara barang-barang berharga di kaputren masih lengkap”

Tetapi yang dimaksud Kakangmbok adalah berita yang tersiar di jalanan, sebagaimana yang didengar oleh abdinya. Mungkin angger Adipati Yudapati mempunyai alasan yang lain?”

“Tetapi kenapa alasan itu tidak dikatakan kepada Kakangmbok Prawirayuda?”

“Sikap itulah yang sulit dimengerti”

Kangjeng Adipati menarik nafas dalam-dalam, sambil mengangguk-anggukan kepalanya ia pun berkata, “Ya, jika saja Rantamsari mau mengatakan sesuatu kepada Madyasta atau Wignyana”

“Nampaknya Rantamsari juga tidak tahu apa-apa. Rantamsari memang cantik, tetapi tatapan matanya tidak menunjukkan ketajaman penggraitanya serta kecerdasannya. Mungkin ia bukan gadis yang bodoh, tetapi agaknya ia seorang gadis yang manja”

“Ya” Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, “Aku sependapat. Nampaknya gadis cantik itu tidak mempunyai banyak kelebihan dari gadis-gadis yang lain. Rantamsari tidak seperti angger Adipati Yudapati, dilihat dari pandangan matanya. Yudapati sudah menunjukkan bahwa ia adalah seorang anak muda yang tangkas berpikir dan bertindak”

“Agaknya Rantamsari tidak pernah mendapat kesempatan mengasah ketajaman penggraitanya dalam kemanjaannya, sehingga yang ada adalah seorang gadis cantik sebagaimana Rantamsari itu”

“Besok atau lusa, kita menengok di rumah Kakangmbok yang kita sediakan, apakah Kakangmbok merasa kerasan atau tidak. Mungkin rumah itu kurang memadai dibanding dengan kaputren di Kateguhan”

“Tetapi Kakangmbok menyadari, bahwa ia sekarang tidak berada di kaputren Kadipaten Kateguhan”

“Raden Ayu Prangkusuma menarik nafas panjang”

Dalam pada itu, Madyasta dan Wignyana telah berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda yang baru. Dua orang abdi perempuan telah diperintahkan oleh Raden Ayu Prangkusuma untuk sementara berada di rumah itu. Sepasang suami isteri yang akan memelihara taman serta membersihkan isi rumah dan prabot-prabotnya juga akan berada di rumah itu.

“Kau senang dengan rumah ini, Kakangmbok?” bertanya Wignyana kepada Rantamsari.

“Tentu, Dimas” jawab Rantamsari, “Jika paman Adipati Prangkusuma dan bibi tidak memberikan rumah ini kepada kami, maka kami akan hidup di sepanjang jalan”

“Tentu tidak, Kakangmbok, tentu ada tempat yang dapat menerima Kakangmbok dan bibi”

“Ya” Raden Ayu Prawirayuda yang menyahut, “Ternyata memang ada tempat yang dapat menerima kami. Tempat yang sangat menyenangkan, tetapi yang dihadiahkan oleh Dimas Adipati Prangkusuma”

Wignyana mengangguk hormat sambil berkata, “Hanya seandainya saja bibi. Seharusnya ayahanda menyediakan tempat yang lebih baik bagi bibi. Maksudku bukan baik ujud dan bentuknya. Tetapi rumah yang dapat lebih memberikan kenyamanan bagi bibi dan Kakangmbok Rantamsari”

“Rumah ini jauh lebih nyaman bagi kami berdua, daripada, “Kaputren di Kadipaten Kateguhan, angger. Apalagi dilihat dari sisi kebutuhan jiwani, jiwaku yang bagaikan disayat dengan sembilu oleh anakku sendiri. Meskipun angger Adipati Yudapati itu anak tiriku. Tetapi aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Tidak ada bedanya, bahkan bagiku bersikap baik, momong, merawat dan mencintai angger Yudapati lebih banyak merupakan satu pengabdian. Aku merasa bahwa siapa pun aku ini. Tetapi angger Yudapati lah yang akan dan yang sekarang sudah ternyata, mewarisi kedudukan ayahandanya, Adipati Kateguhan”

Wignyana mengangguk-angguk.

Namun tiba-tiba Raden Ayu itu bertanya, “Dimana angger Madyasta?”

“Melihat-lihat keadaan rumah ini, bibi. Mungkin masih ada yang kurang pantas atau bahkan mungkin ada cacat yang harus segera ditangani”

“Semuanya sudah terlalu cukup bagiku ngger, sebenarnyalah aku ingin mempersilahkan angger Madyasta dan angger Wignyana duduk di pringgitan”

“Terima kasih, bibi. Aku akan mencari kakangmas Madyasta. Aku juga akan melihat-lihat rumah ini dalam keseluruhan”

Demikianlah, maka Wignyana pun meninggalkan Rantamsari dan ibundanya mencari Madyasta. Wignyana menemukan Madyasta sedang menunggui juru taman mengumpulkan sampah, kemudian membuat lubang di sudut halaman, memasukkan sampah itu dan kemudian menimbunnya.

“Kau pencarkan pohon soka bajang itu”

“Ya, Raden”

“Jaga pagar hidup yang menyekat taman halaman samping itu agar tetap rapi”

“Ya, Raden”

“Aku lihat sumur di samping itu airnya cukup baik. Sehingga di musim kemarau pun kau tidak akan kekurangan air”

“Ya, Raden”

Madyasta berpaling ketika Wignyana mendekatinya sambil berkata, “Kakang dipanggil oleh bibi, kakangmas”

“Ada apa?, apakah ada yang tidak berkenan?, kemarin sejak bibi datang dan memberitahukan serba sedikit persoalan yang dialaminya, ayahanda dan ibunda segera memerintahkan beberapa orang membersihkan dan mengatur tempat ini”

“Tidak, bukan soal itu, agaknya bibi hanya ingin mempersilahkan kita duduk-duduk di pringgitan. Segala sesuatunya nampaknya sudah cukup memadai bagi bibi dan Kakangmbok Rantamsari”

“Baik, Wignyana, aku selesaikan dahulu gambaran tugas juru taman ini agar taman di rumah ini pun nampak asri seperti taman kaputren Kateguhan, tetapi tentu saja tidak dapat dicipta dalam sehari. Diperlukan waktu sekitar sebulan”

“Aku kira tidak akan menjadi masalah, kakangmas”

Namun Wignyana masih harus menunggu beberapa saat, baru kemudian Madyasta meninggalkan juru taman itu dan bersama-sama dengan Wignyana pergi ke pringgitan.

Raden Ayu Prawirayuda dan Rantamsari ternyata sudah menunggu mereka di pringgitan, dengan ramah Raden Ayu Prawirayuda itu pun berkata, “Maaf, angger berdua. Sekarang, biarlah aku yang mempersilahkan angger berdua duduk, karena atas perkenan Adimas Adipati Prangkusuma, aku akan tinggal di rumah ini.”

“Ya, bibi. Bibi memang akan tinggal di rumah ini. Rumah ini akan menjadi rumah bibi, meskipun barangkali kurang memadai”

“Tidak, angger. Sama sekali tidak. Rumah ini sudah terlalu baik bagiku dan Rantamsari. Bahkan terasa terlalu besar”

“Mudah-mudahan bibi dan Kakangmbok Rantamsari kerasan tinggal di rumah ini. Tetapi jika ada masalah, aku mohon bibi langsung saja menyampaikan kepada ayahanda atau kepada ibunda atau kepada kami berdua”

“Terima kasih angger”

“Nah, bibi. Kami kira kami sudah melaksanakan perintah ayahanda. Kami sudah mengantar bibi sampai ke tempat ini, dan satu dua hari, mungkin rumah ini masih perlu dibenahi.”

“Terima kasih, angger. Tetapi aku minta angger berdua tidak tergesa-gesa meninggalkan rumah ini. Aku ingin menjamu angger berdua”

“Terima kasih, bibi. Bibi masih terlalu repot mengatur segala sesuatunya disesuaikan dengan selera bibi sendiri. Kami berdua akan mohon diri”

“Jika kami tidak dapat menahan lebih lama lagi, baiklah. Silahkan angger. Tetapi aku mohon, besok angger berdua berkunjung ke rumah ini, biarlah aku dan Rantamsari tidak merasa kesepian. Jika angger berdua sering berkunjung kemari, maka kami akan segera merasa menyatu dengan keluarga Adimas Adipati Prangkusuma. Dengan demikian, maka kami akan segera menjadi tenang dari guncangan perasaan karena sikap angger Adipati Yudapati itu”

“Baik, bibi. Kami akan sering-sering berkunjung kemari”

Demikianlah sejenak kemudian Madyasta dan Wignyana segera meninggalkan rumah yang diperuntukkan bagi Raden Ayu Prawirayuda itu, mereka tidak terlalu banyak bicara di sepanjang jalan.

Mereka rasa-rasanya terbenam ke dalam angan-angan mereka masing-masing, Madyasta masih saja bingung memikirkan sikap Kangjeng Adipati Yudapati, sementara itu Wignyana membayangkan kehidupan yang sepi dari Raden Ayu Prawirayuda dan anak perempuannya, Rantamsari. Sehari-hari mereka hanya berdua saja, terpisah dari keluarga mereka.

Ketika keduanya sampai di istana, maka keduanya pun segera mencari guru mereka. Berbincang-bincang sebentar, kemudian keduanya pun pergi menghadap ayahanda mereka.

Dalam pada itu, para Bupati telah memerintahkan para demang untuk bersiaga sepenuhnya, mereka harus mengamati peristiwa-peristiwa yang ada hubungannya dengan kejahatan yang nampaknya mulai menyebar di kadipaten Paranganom.

Sebenarnyalah para Demang pun telah memerintahkan seluruh penghuni kademangan masing-masing untuk bersiaga sebaik-baiknya. Setiap orang laki-laki yang masih nampak kuat harus mendapat giliran meronda. Terlebih-lebih anak-anak mudanya.

Namun, meskipun demikian, kesiagaan itu tidak dapat menghentikan kerusuhan di Kadipaten Paranganom, kerusuhan itu dapat terjadi di jalan-jalan sepi. Namun juga di padukuhan-padukuhan. Yang terjadi bukan saja pencurian ayam atau itik, bukan pula pencurian jemuran di halaman, tetapi yang telah terjadi adalah justru perampokan-perampokan, kawanan penyamun bagaikan telah meleburkan di Kadipaten Paranganom terutama di perbatasan.

Di Kademangan Karang Tengah, di setiap malam bukan saja mereka yang bertugas meronda yang berada di gardu-gardu. Tetapi mereka yang tidak mendapat giliran ronda pun selalu berdatangan ke gardu-gardu.

Seorang anak muda yang bertubuh tinggi besar, yang selalu membawa golok di pinggangnya berkata kepada kawan-kawannya, “Jika saja para perampok itu berani datang kemari”

Anak muda itu memang seorang anak muda yang mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya. Tidak seorang pun yang berani melawannya, ia memiliki kekuatan besar melampaui kekuatan anak-anak muda kebanyakan.

Sayang sekali, anak muda itu terlalu sombong, ia terlalu yakin akan kemampuannya.

Namun, di malam hari anak muda itu rajin berada di gardu. Meskipun bukan hari-hari gilirannya meronda. Di gardu ia sempat menyombongkan diri, menantang para perampok yang ditakuti di mana-mana.

Namun malam itu, rasa-rasanya agak lain dari malam-malam sebelumnya. Meskipun di gardu terdapat banyak orang seperti biasanya, tetapi malam itu terasa sangat sepi. Orang-orang yang berada di gardu itu tidak nampak tegar seperti biasanya. Sebagian dari mereka mulai mengantuk sebelum wayah sepi uwong. Anak-anak mudanya tidak berkelakar seperti biasanya, sehingga suara tertawa dan kelakar mereka terdengar meledak-ledak.

Seorang yang umurnya sudah mendekati pertengahan abad, namun masih tetap setia datang ke gardu, berkata kepada seorang anak muda yang berada di sebelahnya, “Ada suasana lain malam ini”

“Mungkin angin yang basah itu terasa terlalu dingin, Kang”

“Ya, nampaknya langit bersih tanpa selembar awan itu telah membuat malam terasa sangat dingin”

“Ya, apalagi sehari tadi, kita semuanya sibuk di sawah, musim menggarap sawah ini membuat kita semuanya lelah. Pada wayah sepi uwong, kita semuanya sudah mengantuk”

“Ya, Kau benar”

“Karena aku sendiri seharian berada di sawah. Membawa bajak dengan sepasang lembu”

Orang yang sudah mendekati setengah abad itu mengangguk-angguk. Tetapi ia merasakan sesuatu yang lain. Bukan sekedar letih karena kerja seharian. Ada yang asing. Tetapi ia tidak dapat mengatakannya.

Malam pun merayap semakin dalam, anak muda yang bertubuh tinggi besar dan selalu membawa golok di pinggangnya itu pun turun dari gardu dan berjalan-jalan hilir mudik.

“He, bukankah sudah hampir tengah malam. Marilah, siapa yang bertugas meronda berkeliling sekarang?” anak muda itu hampir berteriak.

Tiga orang anak muda yang lain dengan malasnya bangkit berdiri, seorang diantaranya menguap sambil berkata, “Ngantuk sekali ya, rasa-rasanya mataku tidak dapat terbuka sama sekali”

“Kau yang bertugas meronda berkeliling-kan?”

“Ya”

“Marilah kita pergi, aku kawani kalian, jika ada sesuatu, biarlah aku menyelesaikannya”

Seorang yang lain, yang duduk sambil berkerudung kainnya berkata, “Pergilah, harus ada diantara kita yang meronda berkeliling. Dirga sudah bersedia mengantar kalian, karena itu, jangan cemas lagi, Dirga akan mengatasi segala-galanya jika terjadi sesuatu”

“Bahkan seandainya ada sekelompok perampok sekalipun” sahut anak muda yang bertubuh besar itu dan bernama Dirga.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, lima orang termasuk Dirga yang berada paling depan, berjalan mengelilingi kampung.

Empat kawan Dirga membawa kentongan kecil yang dibunyikan sepanjang jalan dengan irama kotekan.

Tetapi Dirga pun kemudian berkata, “Tidak ada gunanya kau membunyikan kotekan itu.

“Kenapa? orang-orang yang tidur terlalu nyenyak akan terbangun” jawab seorang kawannya.

“Apa yang dapat mereka lakukan, meskipun mereka terbangun”

“Mereka akan mengetahui jika ada orang jahat masuk ke dalam rumah mereka”

“Jika mereka tahu?”

“Mereka akan menangkapnya, atau membunyikan kentongan untuk memberi isyarat kepada kita yang berada di gardu”

“Mereka tidak akan dapat melakukannya”

“Kenapa?”

“Jika yang datang itu seorang pencuri yang kurus karena kelaparan, mencongkel dinding rumah dan merangkak masuk, maka orang-orang yang terbangun karena bunyi kocekmu itu akan dapat menangkap mereka, tetapi jika orang yang datang itu sekelompok perampok?”

“He..!” anak-anak muda yang meronda berkeliling itu mulai saling merapat.

“Perampok, berandal atau kecu itu jika mendatangi rumah seseorang tidak dengan sembunyi-sembunyi. Mereka mengetuk pintu, jika tidak dibuka, maka mereka akan mendobraknya”

Keempat orang anak muda itu mulai berdesakkan, tetapi tangan mereka masih saja memukul kentongan kecil.

“Tetapi kentongan ini harus dibunyikan, itu kewajiban kita. Jika kita tidak membunyikan kentongan ini, maka orang-orang padukuhan mengira kira tidak melakukan ronda malam ini”

Dirga tertawa, katanya, “Tentu bukan karena itu. Kau akan merasa lebih tenang jika lebih banyak orang terbangun di padukuhan ini”

“Ya”

“Jika demikian, terserah saja kepada kalian”

Dalam pada itu, kawan-kawan Dirga itu justru memukul kentongan makin keras. Semakin lama malam terasa menjadi semakin menakutkan. Rasa-rasanya jalan padukuhan itu semakin menjadi gelap, beberapa buah oncor di regol rasa-rasanya tidak membantu. Cahayanya menjadi redup. Bahkan bayangan yang timbul oleh cahaya bergerak-gerak seperti hendak menerkam.

Anak-anak muda itu semakin cemas ketika mereka mendengar bunyi burung kulik di kejauhan. Ketika burung itu terbang melintas sambil berbunyi, rasa-rasanya burung itu telah menebarkan malapetaka di padukuhan itu.

Dirga tertawa, katanya, “Kalian takut mendengar bunyi burung kulik itu ya? Kalian terlalu percaya pada dongeng dan takhayul yang membuat kalian menjadi penakut”

“Tetapi semua orang-orang tua kita menceritakan hal seperti itu”

“Menceritakan apa?”

“Tentang burung itu”

“Burung apa namanya?”

Anak itu terdiam, sehingga Dirga tertawa semakin panjang, katanya, “Menyebut namanya saja kau tidak berani. Dengar, namanya burung kulik. Kau tentu tahu, bahwa burung itu adalah betina, yang jantan namanya burung tuhu. Biasanya jika terdengar suara burung kulik, akan segera terdengar burung tuhu”

“Sudahlah, kita berbicara tentang hal lain saja” potong seorang kawannya.

Dirga masih tertawa, namun sebelum ia menjawab, di kejauhan memang terdengar suara burung tuhu, yaitu burung kulik yang jantan.

Anak-anak muda itu menjadi semakin berhimpitan, kulit mereka meremang, namun demikian mereka justru memukul kentongan semakin keras.

Para peronda itu tiba-tiba saja terkejut ketika mereka melihat seseorang berlari muncul dari tikungan, langsung menjumpai mereka.

Dirga yang berdiri paling depan, segera meloncat menghadang. Tiba-tiba goloknya telah berada di tangannya.

Ternyata Dirga memang tangkas.

Orang itu berhenti dan berkata dengan nafas yang memburu, “Aku….., ini aku…..Kriya….”

“Kakang Kriya?”

“Ya…, aku…Kriya…”

“Ada apa kakang lari-lari kemari…?”

“Ada, ada rampok….., ada rampok di rumah paman….”

“Rampok?, paman siapa yang dirampok?”

“Paman kerti….. Pedagang sapi itu…”

“Darimana kakang tahu, kalau rumah paman Kerti dirampok?”

“……Kebetulan aku sedang tidur di rumah paman Kerti, paman sedang mengadakan pertemuan keluarga, karena ia akan menikahkan anaknya yang perempuan. Keluarga yang lain pada pulang, sedangkan aku tetap tinggal. Aku tidur di bilik belakang dekat dapur. Sewaktu para perampok beraksi, aku berhasil lolos dan menyelinap keluar dan bersembunyi di kebun. Sewaktu kalian datang dan membunyikan kentongan, maka aku langsung lari menuju kemari”

“Jangan cemas’ berkata Dirga, “Aku akan datang ke rumah paman Kerti”

“Tetapi perampoknya tidak hanya sendiri, tetapi banyak, Dirga”

Dirga termangu-mangu sejenak, kemudian ia pun berkata kepada kawankawannya, “Bunyikan kentongan kalian dalam irama titir sambil mendekati rumah paman Kerti”

“Tetapi…Dirga….aku…. takut”

“Jangan kuatir, dalam waktu dekat, orang-orang akan berdatangan mengepung rumah itu”

“Tetapi perampok itu kan kejam-kejam Dirga”

“Persetan, sekarang bunyikan kentonganmu dengan irama titir, cepat, sebelum perampok itu sempat lari”

Anak muda itu tidak sempat berpikir, tiba-tiba saja suara kotekan itu berubah iramanya menjadi irama titir.

Padukuhan itu memang menjadi gempar. Suara kentongan irama titir itu telah membangunkan orang-orang yang sedang tidur nyenyak. Beberapa orang segera menyambar senjata yang selalu mereka siapkan di dekat pembaringan mereka, sejak Ki Demang Karangtengah memperingatkan rakyatnya untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan buruk karena ulah para perampok.

Demikian pula orang-orang yang berada di gardu. Ada diantara mereka yang menjadi ketakutan sehingga gemetar mendengar suara kentongan dalam irama titir.

Tetapi ada juga yang dengan sigapnya meloncat turun dan berlari-lari kearah suara kentongan itu.

Dirga telah mendahului pergi ke rumah paman Kerti bersama Kriya, karena Kriya tidak bersenjata, maka ia pun telah meminjam sepotong besi yang dibawa oleh salah seorang peronda itu.

Keempat orang peronda itu memang mengikuti Dirga dan Kriya. Tetapi mereka tetap mengambil jarak sambil menunggu orang-orang yang terbangun oleh suara kentongan.

Beberapa orang tetangga terdekat memang segera sampai di regol rumah Kerti, namun pada saat itu, beberapa orang perampok dengan membawa hasil rampokannya telah keluar dari regol dan turun ke jalan. Mereka nampaknya tidak banyak terpengaruh oleh suara kentongan itu, tidak pula menjadi tergesa-gesa, meskipun mereka mendengar beberapa orang mulai berteriak-teriak.

Beberapa orang perampok itu berjalan beriringan kearah pintu gerbang padukuhan dengan tenangnya.

Ketika beberapa orang menghentikan mereka, para perampok itu memang berhenti, bahkan menunggu, apa kira-kira yang akan dilakukan oleh warga padukuhan kepada mereka.

“Menyerahlah” teriak Dirga, “Kalian kami tangkap”

Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa. Seorang perampok yang bertubuh tinggi besar. Melangkah maju sambil berkata, “Jangan main-main anak muda, minggirlah”

“Kami bersungguh-sungguh” berkata Dirga, “Kami mendapat wewenang untuk menangkap kalian”

“Aku peringatkan sekali lagi, bahwa perampok seperti kami tidak dapat diajak bermain-main. Apalagi pada saat-saat kami menjalankan pekerjaan kami seperti sekarang ini. Karena itulah, minggirlah, jika kalian tidak minggir, maka tentu akan jatuh korban di pihak kalian. Meskipun kalian berjumlah banyak, namun kalian tidak bisa berkelahi. Berbeda dengan kami, berkelahi adalah pekerjaan kami sehari-hari, menyakiti dan melukai orang. Bahkan kami adalah pembunuh-pembunuh yang sebenarnya”

“Jangan membual” potong Dirga, “Aku adalah pemimpin anak-anak muda padukuhan ini”

“Nampaknya kau memang keras kepala, ya”

“Persetan” geram Dirga sambil memutar goloknya.

Namun tiba-tiba saja perampok itu yang bertubuh tinggi besar itu pun memutar sebuah bindi di tangannya sambil berkata lantang, “Minggir jika tidak ingin celaka”

Jantung Dirga menjadi berdebar-debar, apalagi orang yang berdiri di hadapannya itu bertubuh lebih tinggi dan lebih besar darinya. Padahal Dirga sudah menganggap bahwa tubuhnya adalah yang tertinggi dan terbesar di seluruh padukuhan.

Tetapi Dirga sudah terlanjur sesumbar di hadapan kawan-kawannya, bahwa ia akan menantang dan menangkap para perampok itu. Bahkan tidak hanya seorang yang ditangtangnya, tetapi sekelompok perampok.

Ketika ia benar-benar berhadapan dengan sekelompok perampok, maka suasana hatinya memang lain.

“Minggir” bentak perampok itu.

Dirga tidak mau minggir, meskipun dengan sedikit gemetar Dirga memutar goloknya sambil berkata, “Kami semua akan menangkap kalian, kau lihat seluruh penghuni pedukuhan ini sudah berada disini”

“Sayang sekali, semakin banyak yang datang akan semakin banyak pula yang akan mati. Nah, sekarang aku akan pergi meninggalkan padukuhan ini.“

Ketika perampok itu melangkah maju, maka Dirga pun meloncat menyerang. Goloknya diayunkan dengan kerasnya mengarah ke bahu perampok itu.

Namun yang terdengar adalah dentangan senjata yang beradu, golok Dirga telah membentur bindi perampok itu, sehingga bunga api pun berloncatan dari benturan itu.

Namun Dirga telah bergeser surut, telapak tangannya terasa pedih sekali. Hampir saja goloknya terlepas.

Namun Dirga tidak mempunyai banyak kesempatan, perampok itu meloncat memburunya. Dengan sekali pukul, golok Dirga telah terlepas dari tangannya, terlempar beberapa depa dari kakinya.

Yang terjadi kemudian telah menggetarkan jantung orang-orang yang mengepung para perampok itu. Satu ayunan bindi itu telah mengenai paha Dirga.

Terdengar Dirga berteriak kesakitan, dengan serta merta ia pun terjatuh dan tidak dapat bangkit berdiri lagi.

Dengan serta merta perampok itu pun berteriak, “Siapa lagi yang akan mencoba menahan kami?”

Tidak terdengar satu pun jawaban.

Perampok yang bertubuh tinggi besar itu pun memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk berjalan terus meninggalkan orang-orang padukuhan yang berkerumun, sambil berkata, “Jangan mencoba menghalangi kami, jika ada yang mencobanya juga, maka aku akan membunuhnya, tidak sekedar melukainya lagi”

Orang-orang yang mengepung itu pun menyibak, mereka tidak berani berbuat apa-apa terhadap para perampok yang nampaknya garang dan bengis itu. Apalagi senjata-senjata mereka yang mengerikan itu telah membuat jantung mereka bergetar.

Selain bindi, ada diantara mereka yang membawa tombak dengan mata tombak yang bercabang. Ada yang membawa semacam kapak bertangkai panjang. Ada yang membawa golok besar dan panjang dan berbagai jenis senjata yang menyeramkan lainnya.

Orang-orang padukuhan itu pun seakan-akan hanya sekedar menjadi penonton sebuah barisan orang-orang yang berwajah garang yang berhasil membawa barang-barang berharga milik Ki Kerti.

Baru ketika mereka telah pergi, beberapa orang berusaha menolong Dirga yang merintih kesakitan, agaknya tulang pahanya telah menjadi retak.

Dengan hati-hati Dirga diangkat dan dibawa pulang ke rumahnya yang tidak begitu jauh dari tempat kejadian, namun sepanjang jalan Dirga selalu mengeluh kesakitan.

Beberapa orang yang lain telah berada di rumah Kang Kerti, mereka melihat Yu Kerti menangis di ruang tengah, dengan memelas ia pun merintih, “Aku mengumpulkan uang sekeping demi sekeping, tiba-tiba saja mereka datang dan merampas semuanya”

Ki Kerti duduk tepekur tidak jauh dari isterinya, pundaknya nampak berdarah, agaknya para perampok itu telah melukainya meskipun tidak begitu parah.

Beberapa orang mencoba menghiburnya, namun Yu Kerti masih saja menangis. Ia merasa telah kehilangan segala-segala yang dimilikinya.

“Sudahlah Yu Kerti, yang penting Yu Kerti dan Kang Kerti selamat, harta benda dapat dicari lagi Yu, tetapi nyawa?, kemana kita akan mencarinya?. Bersukurlah bahwa Kang Kerti hanya luka dan tidak dibunuh oleh perampok-perampok yang keji itu”

Demikianlah, sejenak kemudian, Ki Bekel dan bebahu padukuhan telah datang hampir berbareng dengan Ki Demang Karangtengah.

“Jadi…. tidak ada orang yang berani berusaha menangkap mereka meskipun kalian berjumlah sekian banyaknya?” bertanya Ki Demang.

“Dirga sudah mencoba, Ki Demang. Dirga yang menurut pendapat kami adalah orang yang terkuat diantara kami, dalam sekejap telah dilukai. Lalu apa pula artinya kami. Dan para perampok itu mengancam bahwa orang berikutnya tidak hanya akan disakiti seperti Dirga, tetapi mereka benar-benar akan membunuh”

“Berapa orang mereka semuanya?”

“Lebih dari lima belas orang”

“Lima belas orang?”

“Ya, Ki Demang”

Jumlah itu pun mengejutkan Ki Demang, Ki Bekel dan bebahu padukuhan, adalah wajar sekali jika orang-orang padukuhan itu merasa ragu untuk bertempur menghadapi lima belas orang perampok yang garang dengan membawa berbagai macam senjata yang mengerikan.

Ki Demang Karangtengah itu pun menarik nafas panjang, seandainya orang-orang di sekitar Ki Kerti itu memberanikan diri untuk mencoba menangkap mereka, maka korban pun akan berjatuhan, jika setiap perampok membunuh satu orang warga, maka akan ada lima belas mayat yang harus dikuburkan.

Karena itu, maka Ki Demang tidak lagi menyalahkan warganya, mereka bukan penakut, tetapi mereka tahu, bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa untuk menghadapi lima belas perampok. Bahkan lebih.

“Besok, peristiwa ini akan aku laporkan. Kami rakyat kademangan tidak mampu lagi mengatasi” berkata Ki Demang.

“Peristiwa di padukuhan Salam beberapa hari yang lalu, tidak segarang apa yang terjadi disini. Perampok di Salam itu tidak diketahui oleh orang lain kecuali pemilik rumahnya” berkata Ki Jagabaya.

Sebenarnyalah, bahwa beberapa hari yang lalu, di Padukuhan Salam yag tidak terlalu jauh dari Karangtengah telah terjadi perampokan pula. Tetapi perampokan itu sama sekali tidak mengganggu ketenangan penduduk Salam. Yang terjadi adalah sekawanan perampok mengetuk pintu sambil mengancam. Demikian pemilik rumah membuka pintu, maka para perampok itu pun segera masuk. Dua orang dari mereka tetap berada di luar untyuk mengamati keadaan. Beberapa saat kemudian, maka kerja para perampok itu pun selesai. Mereka meninggalkan rumah sambil membawa pemiliknya. Jika setelah para perampok itu pergi kemudian terdengar isyarat, maka pemilik rumah itu untuk selamanya tidak adan kembali pulang ke rumahnya.

Baru ketika matahari terbit, orang-orang Padukuhan Salah mengetahui apa yang terjadi setelah pemilik rmah itu pulang.

Semua peristiwa perampokan itu akhirnya sampai kepada Kangjeng Adipati Paranganom. Bahkan yang terakhir telah terjadi perampokan dengan membawa korban. Sebelumnya, sebuah rumah sudah dibakar habis oleh para perampok yang marah, karena mereka tidak menemukan yang mereka cari di rumah itu. Setelah menyakiti suami isteri pemilik rumah itu, maka mereka membakar rumahnya dan membiarkan suami isteri itu berada di dalamnya.

Untunglah, bahwa suami isteri itu masih sempat merangkak sambil membantu isterinya keluar dari kobaran api sambil berteriak-teriak minta tolong. Pertolongan dari para tetangga pun datang tepat pada waktunya, sehingga keduanya serta seorang anak laki-laki yang masih kecil dapat diselamatkan. Seorang pembantu di rumah itu juga selamat, meskipun ia mengalami luka bakar.

Kangjeng Adipati menjadi sangat prihatin atas peristiwa beruntun di Kadipaten Paranganom itu, sehingga secara khusus, Kangjeng Adipati telah memanggil kedua orang Tumenggung Wreda yaitu Tumenggung Wiradapa dan Tumenggung Sanggayuda. Sementara itu Kangjeng Adipati juga minta Ki Ajar Wihangga tidak tergesa-gesa meninggalkan Kadipaten.

Ketika kedua orang Tumenggung Wreda itu menghadap, maka Kangjeng Adipati juga memanggil kedua puteranya untuk menghadap pula.

“Keadaan sudah semakin gawat, kakang” berkata Kangjeng Adipati.

“Sudah waktunya untuk bertindak, Kangjeng. Para Demang sudah memberikan laporan, bahwa mereka tidak lagi mampu berbuat apa-apa. Para perampok itu mendatangi rumah para korbannya dalam jumlah yang besar, dan merampok tiga rumah sekaligus dalam satu malam. Berkata Ki Tumenggung Wiradapa.

“Memang perlu dicari pijakan dari kerusuhan yang terjadi itu, Kangjeng. Agaknya memang bukan kerusuhan biasa, bukan dilakukan oleh orang-orang yang kelaparan atau sekedar mencari harta benda untuk menimbun kekayaan agar hidupnya berkecukupan sampai ke anak cucu. Bahkan sampai keturunan ke tujuh” sahut Ki Ajar Wihangga.

“Ya, kakang”

“Kangjeng Adipati, kita harus berusaha untuk dapat menangkap para perampok dari tataran tertinggi, sehingga akan mendapat keterangan yang jelas, apakah sebenarnya yang terjadi”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu tiba-tiba saja Madyasta berkata, meskipun dengan ragu-ragu, “Ayahanda, jika ayahanda berkenan, hamba akan menyampaikan pendapat hamba. Apa pun alasannya, siapa pun yang dalangnya, kerusuhan-kerusuhan ini harus dihentikan. Jika ayahanda berkenan, hamba mohon mendapat perintah dari ayahanda untuk mengatasi kerusuhan ini”

“Maksudmu?”

“Hamba akan mencoba untuk berhadapan dengan perampok itu, ayahanda”

Kangjeng Adipati mengerutkan keningnya, sementara itu Wignyana pun berkata pula, “Hamba sependapat dengan kakangmas Madyasta, ayahanda. Jika ayahanda memerintahkan kami untuk mengatasi kerusuhan itu, maka perintah itu akan hamba junjung tinggi”

Kangjeng Adipati termangu-mangu sejenak, namun Ki Ajar berkata, “Kangjeng Adipati, sebenarnya bahwa angger Madyasta dan angger Wignyana telah menimba ilmu di padepokan Panambangan sampai tuntas. Agaknya memang sudah sampai saatnya, bahwa mereka mendapatkan beban tugas yang sesuai bagi mereka, juga sebagai putera seorang Adipati. Karena itu, jika Kangjeng Adipati berkenan, maka Kangjeng Adipati dapat memerintahkan putera Kangjeng Adipati untuk mengatasi kerusuhan ini. Tetapi menurut pendapatku, tidak seyogyanya kedua-duanya harus berangkat. Aku mengusulkan agar tugas pertama ini dibebankan kepada angger Madyasta. Sementara itu, angger Wignyana tetap berada di Dalem Kadipaten. Mungkin ia diperlukan untuk mengatasi persoalan yang gawat yang dapat saja timbul di Kadipaten sendiri”

“Guru” Wignyana itu pun memohon, “Jika saja guru dan ayahanda berkenan, aku ingin ikut bersama kakang Madyasta”

“Wignyana” berkata Kangjeng Adipati kemudian, “Aku setuju dengan gurumu, salah seorang dari kalian tetap tinggal disini, mungkin aku akan sangat memerlukannya”

Wignyana tidak dapat memaksa, betapa pun ia ingin pergi bersama Madyasta untuk mengatasi kerusuhan yang terjadi di Paranganom, namun ayahandanya menahannya agar ia tetap berada di istana.

“Wignyana” berkata Kangjeng Adipati, “Bukannya aku tidak percaya akan kemampuanmu, menurut gurumu, kau dan Madyasta telah bersama-sama menuntaskan ilmu yang kalian pelajari di padepokan, karena itu, menurut gurumu, kau dan Madyasta memiliki ilmu yang sama tinggi. Namun justru karena itu, maka aku ingin kau tetap tinggal bersamaku di Kadipaten”

Wignyana sebagai seorang putera Adipati, harus mampu menempatkan diri, maka ia pun berkata, “Hamba menjunjung tinggi titah ayahanda Adipati”

“Bagus Wignyana, kau tetap bersamaku dalam keadaan yang gawat ini”

“Hamba, ayahanda”

“Nah, dengan demikian, maka aku akan memerintahkan Madyasta untuk pergi mengatasi kerusuhan ini”

“Kangjeng” berkata Ki Tumenggung Sanggayuda, “Apakah tidak sebaiknya Kangjeng memerintahkan saja beberapa orang senapati untuk pergi melakukan tugas itu”

“Kakang Tumenggung. Aku memang mempunyai keinginan untuk menguji anakku. Selama ini anak-anakku tidak pernah turun kedalam tugas-tugas penting, karena mereka tidak berada di Kadipaten. Sekarang, biarlah angger Adipati Yudapati mengetahui, bahwa anak-anak Paranganom itu tidak saja pandai menabuh siter dan gender saja. Tetapi dalam keadaan gawat, mereka pun turun ke gelanggang untuk mengatasinya”

Ki Tumenggung Sanggayuda tidak mengatakan apa-apa lagi, sementara Kangjeng Adipati segera menjatuhkan perintah, “Madyasta, berdasarkan perintahku, pergilah untuk memberantas kerusuhan itu, kau aku beri hak dan wewenang untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Tetapi kau tidak boleh lepas dari kebijaksanaan untuk mengatasi setiap keadaan”

“Hamba ayahanda”

“Pamanmu Tumenggung Wiradapa akan menunjuk, siapakah yang akan pergi bersamamu. Dengar nasehatnya serta nasehat pamanmu Tumenggung Sanggayuda”

“Hamba junjung tinggi perintah ayahanda. Hamba akan mengikuti segala petunjuk paman Tumenggung berdua”

“Nah, kakang Tumenggung Wiradapa dan kakang Tumenggung Sanggayuda. Aku serahkan anakku kepada kalian berdua. Biarlah ia melakukan kewajibannya sebagai seorang prajurit juga sebagai putera seorang Adipati Paranganom. Semoga anakku dapat memberantas kerusuhan yang timbul di wilayah Paranganom”

“Hamba Kangjeng Adipati” sahut Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda hampir bersamaan.

Wignyana memang merasa sangat kecewa. Tetapi ia dapat mengerti, kenapa jika salah seorang diantara mereka, dua orang putera Kangjeng Adipati, justru Madyasta yang harus dikenal oleh tentu bukan saja oleh Adipati Yudapati di Kateguhan, tetapi juga oleh rakyat Paranganom sendiri, karena Madyasta adalah putera Kangjeng Adipati. Madyasta yang kelak berhak untuk menggantikan kedudukan Kangjeng Adipati Prangkusuma di Paranganom, karena itu adalah wajar, bahwa Madyasta lah yang harus lebih banyak dikenal oleh rakyat Paranganom.

 Hari itu juga Madyasta telah meninggalkan Kadipaten bersama Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda. Kedua orang Tumenggung itu akan membawa Madyasta kepada beberapa orang senapati terpilih yang akan mendampinginya, mengatasi kerusuhan di Paranganom.

 Bersambung ke Jilid 2

 Sumber djvu: Dimhad website

Ebook by Dewi KZ

http://kangzusi.com/

http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog http://serialshmintardja.wordpress.com

oleh Ki Arema

TEMBANG TANTANGAN

Jilid pembuka rontal Tembang Tantangan, jilid selanjutnya, tidak di “post” tetapi dalam “page” sebagaimana rontal yang lainnya.

Mohon maaf Nyi Dewi, naskahnya kami “curi” dari http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm. Naskah kami edit, disesuaikan dengan naskah aslinya.

Nuwun

Satpampelangi

——————————————————————————————————————-

TEMBANG TANTANGAN

JILID 1

cover TT-01KEMATIAN suaminya membuatnya sangat bersedih. Tanjung sudah tidak mempunyai sanak kadang lagi. Hidupnya seakan-akan tergantung kepada suaminya itu. Namun Sang Pencipta telah memanggilnya.

Tanjung merasa bahwa kematian suaminya telah membawa serta masa depannya ke liang kubur. Semuanya menjadi gelap dan tidak berpengharapan.

Pada saat kematian suaminya, tetangga-tetangganya  pun berdatangan. Mereka mencoba menghiburnya dan yang tua-tua memberinya nasehat untuk menguatkan jiwanya yang terguncang. Bahkan dua tiga hari kemudian, tetangga-tetangga masih berdatangan.

Tetapi lambat laun, semuanya seakan-akan sudah dilupakan. Semuanya telah kembali lagi seperti sebelumnya. Kehidupan di sekitarnya tidak terhenti karena kematian suaminya. Mengalir seperti sediakala.

Di jalan-jalan tetangga-tetangganya-berjalan hilir mudik. Satu dua ada yang berpaling memandang halaman rumahnya yang terhitung luas. Rumahnya yang termasuk rumah yang baik. Tetapi mereka tidak berhenti. Mereka tidak lagi datang menghiburnya

Orang-orang tua tidak lagi menyempatkan diri untuk datang memberinya nasehat dan petunjuk-petunjuk yang baik, tetapi tidak dapat dilakukannya.

Tanjung menjadi kesepian di rumahnya. Ada seorang perempuan tua yang sudah lama sekali bekerja padanya. Bahkan seakan-akan sudah seperti ibunya sendiri.

Tetapi perempuan itu berpandangan selalu sempit. Ia tidak pernah pergi kemana-mana. Seakan akan sepanjang hidupnya dihabiskannya berada di rumah Tanjung. Sekali-sekali ia turun ke jalan, pergi ke pasar untuk berbelanja.

Tetapi hanya itu saja. Dengan pengalaman hidupnya yang sempit, ia tidak banyak dapat memberikan banyak bantuan untuk membuat sandaran bagi hari-hari Tanjung mendatang.

Saudara-saudara suaminya yang pada saat suaminya itu meninggal berdatangan untuk menunjukkan kasih sayang mereka serta untuk menghiburnya, tidak lagi menampakkan diri. Mereka telah tenggelam lagi dalam kesibukan kehidupan mereka sehari-hari.

Tanjung berusaha menjalani hidupnya yang sepi itu dengan pasrah. Suaminya meninggalkannya sebelum sempat memberinya seorang anak.

Tanjung memang masih muda. Tetapi rasa-rasanya Tanjung menjadi lebih tua dari perempuan tua yang bekerja padanya itu.

Yang kemudian masih selalu menghiburnya di hidupnya yang sepi itu adalah sikap tetangga-tetangganya yang masih tetap baik dan ramah. Tetapi perempuan-perempuan yang dekat dan Tanjung itu matanya tidak lagi basah karena kesedihannya yang tidak juga mau beranjak dari dinding jantungnya.

Namun tiba-tiba kesepian di rumah Tanjung itu pada suatu padi telah dipecahkan oleh tangis bayi. Tanjung yang masih berada di biliknya terkejut. Tangis itu terdengar melengking-lengking semakin keras.

Tanjung bangkit dan duduk dibibir pembaringannya. Ia mencoba untuk menyadari apa yang telah terjadi, “Apakah aku bermimpi?”

Tetapi tangis bayi itu masih saja terdengar semakin keras.

Orang tua yang tinggal bersamanya itu pun mengetuk pintu biliknya sambil memanggilnya, “Tanjung, Tanjung”

Tanjung itu pun bangkit dan melangkah kepintu. Ketika ia membuka pintu biliknya, dilihatnya perempuan tua itu berdiri termangu-mangu. Di wajahnya nampak kegelisahannya yang mencengkam.

“Kau dengar tangis itu, Tanjung?”

“Ya, bibi”

“Itu tentu anak wewe penunggu pohon gayam di pinggir jalan itu”

“Anak wewe?”

“Ya Tentu. Aku tahu bahwa di pohon gayam itu tinggal sesosok hantu perempuan”

“Darimana bibi tahu?”

“Di hari-hari tertentu tercium bau yang sangat wangi di pohon gayam itu. Tentu sosok hantu perempuan itu sedang bersolek. Hantu perempuan itu memakai wewangian yang tidak terdapat di dunia kewadagan ini”

Tanjung tidak menjawab. Tetapi tangis bayi itu terdengar semakin keras.

“Kita lihat saja bibi”

“Kau tidak akan melihat apa-apa. Kau dan aku hanya dapat mendengar suaranya”

Tetapi Tanjung tidak tahan lagi. Ia  pun segera pergi ke pintu pringgitan. Perempuan tua itu mengikutinya di belakang dengan jantung yang berdebaran.

Ketika Tanjung membuka pintu pringgitan, ia terkejut. Dilihatnya, sosok bayi yang masih merah, terbaring di atas tikar pandan yang masih dilipat di pringgitan.

“Kau lihat bibi?”

Tetapi ketika Tanjung mendekatinya, perempuan tua itu mencegahnya, “Jangan Tanjung”

“Anak itu menangis bibi. Kasihan sekali”

Namun ternyata bukan hanya Tanjung yang terbangun karena tangis bayi itu. tetangga di sebelah menyebelahnya juga mendengar tangis bayi di rumah Tanjung.

“Aneh” bisik tetangga di sebelah Barat rumah Tanjung, “apakah Tanjung melahirkan? Ia tidak nampak sedang hamil sepeninggal suaminya”

“Marilah kita lihat”

Ada beberapa orang tetangga yang dengan ragu-ragu memasuki regol halaman rumah Tanjung.

Demikian mereka berada di halaman, mereka melihat Tanjung itu berdiri termangu-mangu di pintu pringgitan rumahnya.

“Ada apa Tanjung?” tanya seorang yang rambutnya sudah ubanan yang tinggal di sebelah Timur rumah Tanjung.

“Seorang bayi, bibi”

Tetangga-tetangga Tanjung itu  pun kemudian merubungi sosok bayi yang berada di pringgitan rumahnya. Bayi laki-laki yang nampak sehat. Tangisnya melengking-lengking memba-ngunkan orang sepadukuhan.

“Anak siapa itu Tanjung?”

“Aku tidak tahu, bibi. Aku terkejut mendengar tangisnya”

“Seseorang telah meletakkan bayi itu disini” desis seorang laki-laki yang tinggal di seberang jalan.

“Bukan” jawab perempuan tua yang tinggal di rumah Tanjung, “tentu sesosok anak anak wewe di pohon gayam itu”

“Ah, ada-ada saja kau yu” sahut perempuan yang rambutnya sudah ubanan.

“Lalu perempuan manakah yang sampai hati meninggalkan anaknya disini?”

“Perem pun yang akalnya terlalu pendek”

“Lalu, apa yang akan kita perbuat dengan bayi itu?” perempuan lain bertanya.

Tanjung lah yang kemudian menjawab, “Aku akan memeliharanya, bibi. Aku akan mengambilnya menjadi anakku. Rumah ini tidak akan menjadi terlalu sepi lagi”

“Tetapi kau akan mendapat banyak kesulitan. Tanjung. Kau belum pernah mempunyai seorang anak. Kau belum berpengalaman. Biarlah aku saja yang memeliharanya” berkata perempuan yang rambutnya sudah ubanan, “Aku pernah memelihara, membesarkan dan bahkan sekarang mereka sudah berkeluarga semuanya, ampat orang anak”

“Bibi sudah mempunyai cucu yang manis-manis yang dapat menemani bibi. Biarlah anak ini menjadi anakku. Anugerah ini akan aku terima dengan suka cita. Bahwa hari ini, aku mempunyai seorang anak laki-laki yang manis dan sehat”

“Baiklah Tanjung” berkata perempuan yang sudah ubanan itu, “jika kemudian kau menemui kesulitan dengan anakmu itu, datanglah kepadaku. Aku akan membantumu”

“Baik bibi” jawab Tanjung sambil menggendong bayi laki-laki yang sehat dan gemuk itu.

Ternyata bayi itu pun menjadi diam. Ia tidak lagi menangis melengking-lengking.

Perempuan yang tinggal diseberang jalan itu mencium bayi digendongan Tanjung itu sambil berdesis, “Kau sudah mendapatkan seorang ibu ngger. Ibumu sendiri sampai hati meninggalkan kau disini. Tetapi kasih ibumu yang sekarang tentu lebih besar dari kasih ibu kandungmu itu”

“Anak itu merasa aman di tangan Tanjung” berkata tetangga di sebelah Timur, “mudah-mudahan segalanya akan baik-baik saja. Agaknya anak itu bukan anak yang suka merajuk”

“Begitu cepatnya ia tertidur” berkata seorang’ laki-laki.

“Ia merasa hangat di tangan Tanjung”

“Kalau anak ini nanti merasa haus, bibi?” bertanya Tanjung.

“Beri minum tajin, ngger. Tajin dengan sedikit gula kelapa. Jangan terlalu manis”

“Baik, baik, bibi” jawab Tanjung. Lalu kalanya kepada perempuan tua yang tinggal bersamanya, “Buatkan anak ini tajin, bibi. Kau tanak nasi. Beri air agak berlebih”

“Baik, baik Tanjung. Tetapi kalau anak itu kemudian tumbuh taringnya, ia tidak akan mau minum tajin”

“Ah. Jangan mengada-ada bibi”

Perempuan tua itu pun kemudian pergi ke dapur meski pun hari masih gelap. Dinyalakan dlupak minyak kelapa yang ada di ajuk-ajuk. Kemudian di nyalakannya api di tungku.

Dalam pada itu beberapa orang masih berada di pendapa. Namun ketika langit menjadi merah, maka mereka  pun telah minta diri. Perempuan yang rambutnya ubanan itu berkata sekali lagi kepada tanjung, “Jika kau perlukan bantuanku, Tanjung. Datanglah kepadaku, atau panggil aku kemari”

“Ya, bibi”

Demikianlah, sejak hari itu, Tanjung mempunyai seorang anak laki-laki. Anak itu benar-benar sehat. Geraknya cukup banyak. Tangisnya lepas seakan-akan menggetarkan seluruh padukuhan. Kaki dan tangannya yang menggapai-gapai nampak kokoh dan terampil.

Tanjung mengasuhnya dengan penuh kasih sayang. Bahkan keberadaan anak itu di rumahnya, membuatnya agak terhibur. Ia tidak lagi merasa kesepian. Bahkan di malam hari. Tanjung kadang-kadang masih sibuk mengganti pakaian anak itu jika basah. Berusaha menenangkannya jika anak itu gelisah dan menangis. Mengipasinya jika udara terasa panas. Tetapi mendekapnya jika udara dingin.

Dari hari ke hari anak itu tumbuh seperti kebanyakan anak-anak yang sehat. Beratnya  pun bertambah-tambah. Panjangnya dan juga geraknya. Tanjung sudah mulai dapat tersenyum. Dan bahkan tertawa jika ia menimang bayinya.

Perempuan tua yang tinggal bersamanya itu masih saja merasa ragu. Jika anak itu anak wewe atau gendruwo, maka hari depannya akan sangat menyulitkan. Bahkan mungkin Tanjung akan dapat menjadi korban keganasannya.

Tetapi kecerahan hati yang mulai bersinar di hati Tanjung itu tiba-tiba telah terganggu lagi.

Malam itu, ketika hujan rintik-rintik membasahi dedaunan, genting dan halaman rumahnya, telah datang sepasang suami isteri di rumahnya

“Selamat malam, kakang” sapa Tanjung yang kemudian mempersilahkannya, “marilah kakang. Silahkan masuk ke mang dalam saja. Udara dingin dituar. Marilah mbokayu. Silahkan masuk”

“Terima kasih Tanjung” jawab perempuan itu. Laki-laki yang bertubuh tinggi, tegap dan berdada lebar itu adalah kakak kandung suami Tanjung yang sudah meninggal.

“Malam-malam kakang dan mbokayu sampai disini. Hujan lagi. Darimana saja kakang dan mbokayu tadi?”

“Dari rumah, Tanjung. Aku memang ingin dalang kemari menemuimu”

“Ada perlu kakang, atau kakang sekedar ingin menengok aku yang kesepian?”

”Bukankah kau tidak kesepian lagi sekarang Tanjung?”

Tanjung tersenyum. Ia berbangga dengan anak laki-lakinya. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Ya, kakang. Ada sedikit hiburan di rumah ini”

“Tanjung, Karena anak itu pula aku datang kemari”

“Karena anak itu?”

“Antara lain. Tetapi juga ada alasan lain yang mendorongku datang kemari”

Dahi Tanjung berkerut. Dengan ragu-ragu Tanjung itu pun bertanya”Kenapa dengan anak itu?”

Kakak iparnya itu menarik nafas panjang. Sambil beringsut itu pun berkata, “Tanjung. Ada masalah yang penting yang harus kita bicarakan. Kau tahu, bahwa tanah dan rumah yang kau tempati ini adalah tanah dan rumah peninggalan orang tuaku. Orang tua suamimu”

Jantung Tanjung berdesir. Ia memang sudah mengira, bahwa cepat atau lambat, kakak iparnya akan berbicara tentang tanah dan rumah itu. Tetapi ia tidak menyangka, bahwa kakak iparnya datang secepat itu.

Dengan nada yang rendah Tanjung menjawab, “Ya, kakang. Aku tahu”

“Tanah ini seharusnya menjadi milikku, milik suamimu dan milik Mijah, adikku perempuan”

“Ya, kakang”

“Sampai beberapa hari yang lalu, aku masih berdiam diri. Aku biarkan kau tinggal dirumah ini. Tetapi keadaannya segera berubah, Tanjung”

“Apa yang berubah?”

“Kau sekarang mempunyai seorang anak laki-laki”

“Apa hubungannya dengan anak itu?”

“Anak itu bukan anakmu. Bukan anak suamimu. Karena itu, ia tidak berhak atas peninggalan orang tua suamimu”

Tanjung menarik nafas panjang. Katanya, “Aku mengerti kakang. Anak ini memang tidak mempunyai hak apa-apa atas tanah ini”

“Sekarang kau dapat berkata begitu, Tanjung. Tetapi jika dibiarkan anak ini menjadi besar dan dewasa, maka anak ini tentu merasa bahwa ia berhak atas tanah ini. Ia tidak tahu, bahwa ia bukan anakmu. Bukan anak suamimu”

Tanjung menundukkan kepalanya.

“Karena itu Tanjung, mumpung belum terlanjur ada persoalan. Aku ingin mencegahnya”

“Maksud kakang?”

“Kau harus meninggalkan rumah ini. Tanjung. Ada beberapa alasan yang ingin aku katakan kepadamu. Pertama, kau tidak berhak lagi atas tanah ini sepeninggal suamimu. Berbeda halnya jika kau dan suamimu itu mempunyai keturunan. Kedua, jika kau akan menikah lagi, Tanjung, maka bakal suamimu itu tidak akan salah paham. Jika laki-laki itu mengira, bahwa kau mempunyai tanah seluas halaman rumah ini, serta rumah sebesar ini, maka ia akan menjadi kecewa jika ia harus melihat kenyataan, bahwa kau tidak mempunyai apa-apa”

Tanjung menjadi semakin menunduk.

“Alasan selanjutnya, Tanjung. Selama ini aku tinggal di rumah mbok ayumu. Aku adalah laki-laki yang mengikut isteri. Nah, sekarang, rumah itu akan dipakai oleh adik isteriku yang akan segera menikah. Karena itu, aku harus pulang ke rumah ini”

Tanjung masih menunduk. Ia sama sekali tidak dapat menjawab. Karena itu, maka ia hanya berdiam diri saja. Ia sadari bahwa apa yang dikatakan oleh kakak iparnya itu sebagian benar. Karena itu, maka tidak ada niatnya sama sekali untuk mengelak.

Tetapi satu pertanyaan yang sangat besar yang tidak dapat dijawabnya, “Aku harus pergi kemana?”

Perasaan Tanjung menjadi sangat gelisah. Ia tidak tahu, apa yang akan terjadi dengan dirinya.

Karena Tanjung tidak menjawab, maka kakak iparnya itu  pun bertanya kepadanya, “Apa jawabmu, Tanjung”

Jantung Tanjung berdesir. Dengan sendat ia pun menjawab, “Aku mengerti kakang”

“Sukurlah jika kau mengerti. Dalam satu dua hari ini, aku akan pindah ke rumah ini”

Meski pun Tanjung sama sekali tidak ingin mengelak, namun bahwa kakak iparnya akan pindah ke rumah itu dalam satu atau dua hari lagi, sangat mengejutkannya.

“Kakang” suara Tanjung masih saja tersendat, “Aku minta waktu kakang”

“Maksudmu?”

“Jika aku harus pergi dalam waktu satu dua hari ini, aku harus pergi kemana. Aku sama sekali belum siap untuk melakukannya”

“Seharusnya kau sudah siap sejak suamimu meninggal. Kau harus mengerti dengan sendirinya. Kami sudah mencoba untuk bersabar, menunggu kau minta diri kepada kami. Tetapi hal itu tidak kau lakukan. Pada saat ang sangat mendesak, maka aku terpaksa datang kepadamu, mengabarkan hal ini”

“Aku mengerti kakang. Aku minta maaf. Tetapi jika ada belas kasihanmu. Kakang. Aku minta waktu. Jika kakang harus pindah ke rumah ini, biarlah aku tinggal di gandok untuk beberapa hari. Bukankah aku hanya berdua dengan anakku yang masih bayi?”

“Kau dapat membayangkan, Tanjung. Tinggal serumah lebih dari satu keluarga akan dapat membawa akibat bermacam-macam”

“Apalagi kau seorang janda, Tanjung” sahut isteri kakak iparnya itu.

Tanjung menarik nafas panjang.

“Kau seorang janda kembang yang muda dan cantik”

Kakak iparnya itu menarik nafas panjang. Sambil beringsut ia  pun berkata, “Tanjung. Ada masalah yang penting yang harus kita bicarakan. Kau tahu, bahwa tanah dan rumah yang kau tempati ini adalah tanah dan rumah peninggalan orang tuaku. Orang tua suamimu”

“Aku bukan janda kembang, mbokayu. Aku sudah mempunyai seorang anak”

“Tetapi semua orang tahu, anak itu bukan anakmu sendiri. Kau temukan anakmu itu di pringgitan rumah ini”

“Tetapi aku sudah mengakunya, bahwa anak ini adalah anakku sendiri”

“Kau dapat saja mengaku anak itu anakmu sendiri. Tetapi orang banyak itu tidak akan dapat kau bohongi. Bahkan mungkin pada suatu saat kau sendiri akan lebih senang disebut janda kembang. Jika seorang laki-laki ingin memperistrimu tetapi tidak menghendaki anak itu, maka anak itu akan kau lemparkan ke dalam arus sungai yang sedang banjir”

“Tidak. Ia adalah anakku”

“Tanjung” berkata kakak iparnya kemudian, “Aku tidak mempunyai pilihan lain. Dalam dua atau tiga hari ini, kau harus sudah meninggalkan rumah ini. Kemudian kami akan pindah dan menempati rumah ini setelah kau tinggalkan. Kami harus membersihkan rumah ini. Bukan hanya sekedar membersihkan ujud lahiriahnya saja. Tetapi juga setiap matra rumah ini. Mungkin ada penghuninya pada lapis kehidupan yang lain. Mungkin tersimpan bibit penyakit atau sebangsanya”

“Aku tidak akan membantah, kakang. Aku tidak akan ingkar dari kenyataan itu, bahwa rumah ini adalah rumah almarhum suamiku. Aku hanya minta waktu selama aku masih belum mendapatkan tempat tinggal yang baru”

“Dengan demikian, kau tidak akan pernah mendapatkan tempat tinggal yang baru. Tanjung” sahut isteri kakak iparnya itu, “Kau justru tidak akan pernah berusaha jika kau diijinkan tinggal dalam batasan waktu sebelum mendapatkan tempat tinggal yang baru itu”

“Aku berjanji akan segera berusaha, mbokayu”

“Tidak. Aku tidak akan memberimu kesempatan yang akan dapat menyulitkan kedudukanku sendiri. Karena itu, aku minta dalam dua atau tiga hari ini kau sudah tidak ada di rumah ini”

Mata Tanjung menjadi basah. Ia tidak ingin menangis. Tetapi nyeri di jantungnya seakan tidak tertahankan lagi.

“Sudahlah. Kita tidak akan berbicara panjang. Persoalannya sudah aku anggap selesai”

Tanjung tidak menjawab. Seandainya ia merengek sekalipun, atau menangis sambil berguling-guling, kakak iparnya dan isterinya tentu tidak akan merubah sikapnya

Karena itu, Tanjung justru harus tetap tabah dan tegar. Betapa pun pedih hatinya, namun kenyataan itu harus diterimanya. Yang harus dilakukan adalah mencari jalan keluar dari persoalan yang menindihnya itu.

Pembicaraan mereka memang tidak terlalu banyak. Akhirnya kakak iparnya  pun berkata, “Tanjung. Malam ini aku akan bermalam disini. Biarlah malam ini kami tidur di gandok. Besok pagi-pagi kami akan pulang mempersiapkan barang-barang kami yang akan kami bawa kemari. Tidak terlalu banyak, karena disini sudah banyak perabot rumah yang ditinggalkan oleh ayah dan suamimu. Semuanya akan dapat aku pergunakan. Sedangkan perabot di rumahku akan dapat dipakai oleh adik isteriku itu. Satu keluarga baru yang tentu belum mempunyai apa-apa”

“Baik, kakang” jawab Tanjung dengan suara yang bergetar, “Aku akan berusaha”

“Bukan sekedar berusaha. Tetapi dalam dua tiga hari ini kami benar-benar akan pindah kemari”

“Baik, kakang” Tanjung sadar, bahwa ia tidak akan dapat memberikan jawab yang lain.

Beberapa saat kemudian, setelah kedua orang tamu suami isteri itu minum minuman hangat yang dihidangkan oleh pembantu tua Tanjung, keduanya  pun pergi ke gandok untuk beristirahat

Demikian keduanya meninggalkan ruangan dalam, maka Tanjung tidak dapat menahan tangisnya. Air matanya bagaikan di tuang dari gerojogan.

“Anak itu menangis” desis isteri kakak iparnya.

“Aku sudah mengira. Biarkan saja”

“Kau tidak berusaha menolongnya? Air mata perempuan cantik itu akan menyegarkan badanmu”

“Kau selalu begitu. Apakah tidak ada kata-kata lain yang dapat kau ucapkan”

Perempuan itu terdiam.

Di ruang dalam Tanjung masih menangis. Perempuan tua yang sudah seperti ibunya sendiri itu  pun berusaha untuk menghiburnya.

“Sudahlah ngger. Kau tidak perlu menangis. Kau harus tegar menghadapi kenyataan yang pahit ini. Tegakkan wajahmu. Persoalan ini harus diatasi. Tidak ditangisi”

Tanjung justru terkejut mendengar nasehat perempuan tua itu. Selama ini ia menganggapnya sebagai perempuan yang berwawasan sempit. Perempuan yang tidak tahu apa-apa selain harga cabe yang semakin mahal dan harga berbagai macam beras.

“Bibi” desis Tanjung.

“Aku tahu apa yang kalian bicarakan. Aku mendengarnya dari balik dinding serambi samping itu. Bukankah kau harus meninggalkan rumah ini?”

“Ya, bibi”

“Kau menjadi gelisah dan cemas karena kau tidak tahu akan pergi ke mana? Sementara itu kakak iparmu itu tidak mau memberimu waktu?”

“Ya. bibi”

“Jangan cemas ngger. Pergilah ke rumahku. Tetapi rumahku kecil dan jelek, yang sekarang ditunggui oleh anak perempuanku yang juga sudah janda Ia juga tidak mempunyai anak. Bahkan tidak memungut anak siapa-siapa. Ia hidup benar-benar sendiri. Penghasilannya untuk makan sehari-hari didapatnya dari mengolah secuil sawah dan pekarangan”

“Terima kasih bibi. Aku mengucapkan beribu terima kasih. Aku tidak tahu, bagaimana aku membalas kebaikan hati bibi”

“Kau juga sudah berbuat sangat baik kepadaku, ngger. Aku sudah lama berada di rumahmu, bahkan kau anggap aku seperti keluargamu sendiri. Seperti ibumu, meski pun aku tidak lebih dari seorang abdi disini”

“Tidak, bibi. Aku tidak pernah menganggap bibi sebagai seorang abdi”

“Aku mengerti, ngger. Aku mengerti. Karena itulah, ketika angger menghadapi kesulitan, aku akan berbuat sebagaimana seorang ibu. Bahkan anakku  pun akan senang menerima kau di rumah kami. Anakku rambutnya juga sudah ubanan. Kau tentu ingat, bahwa ia sudah pernah datang kemari dua tiga kali”

“Tentu bibi. Aku masih ingat”

“Aku berbangga bahwa kau tidak mengiba-iba. Tidak minta belas kasihan berlebihan kepada kakak iparmu. Aku senang itu ngger”

Tanjung termangu-mangu sejenak. Ia tidak mengira, bahwa perempuan tua itu ternyata dapat bersikap bijaksana. Pada saat-saat yang diperlukannya, perempuan tua itu dapat tampil sebagai seorang perempuan tua yang mampu menampung permasalahan yang dihadapinya, meski pun hanya untuk sementara.

Pembicaraan mereka terputus. Bayi yang diaku sebagai anak oleh Tanjung itu menangis.

Dengan tergesa-gesa Tanjung berlari ke biliknya. Ternyata popok anak itu basah.

Sambil mengganti popok dan oto anak itu yang juga menjadi basah, Tanjung mengamati sebuah noda hitam di dada anak itu. Toh itu tidak akan dapat dihapuskan. Sebenarnya Tanjung mencemaskan toh yang ada di dada anak yang manis itu. Ibu kandungnya pada suatu saat akan dapat mengenalinya. Meski pun anak itu sudah dibuangnya di saat anak itu baru saja lahir, namun ibunya, yang tentu seorang yang sikap jiwaninya mudah goyah, akan dapat berbuat macam-macam.

Mudah-mudahan noda hitam itu semakin lama akan menjadi semakin tidak jelas atau bahkan hilang. Jika tidak, maka Tanjung akan dapat membuat baju yang khusus baginya, sehingga noda hitam itu tidak mudah kelihatan.

Malam  pun menjadi semakin larut Perempuan tua itu sudah pergi ke biliknya. Sementara itu, setelah anaknya tidur, Tanjung tidak segera membaringkan dirinya. Ia  pun kemudian sibuk mengemasi pakaiannya serta perhiasan yang peninggalan suaminya. Ia tidak berniat sama sekali untuk menuntut sebagian harta kekayaan lain yang ditinggalkan oleh suaminya. Ia tidak akan berbicara sama sekali tentang perabot rumah tangga. Tentang peralatan di dapur. Tentang gebyok ukiran lembut yang dipasang oleh suaminya, menggantikan gebyok sentong tengah dan sentong disebelah menyebelahnya. Tanjung sama sekali tidak berniat mengusiknya lagi.

Baru setelah dini hari. Tanjung dapat tidur sejenak. Tetapi menjelang fajar, anaknya sudah menangis lagi. Popoknya sudah menjadi basah lagi.

Tetapi Tanjung tidak pernah mengeluh tentang anaknya. Dengan kasih sayang dirawatnya anaknya itu dengan sebaik-baiknya.

Di pagi hari berikutnya, demikian matahari naik, maka kakak ipar dan isterinya itu  pun minta diri.

“Kami sedang menyiapkan makan pagi kakang dan mbokayu”

“Terima kasih, Tanjung. Biarlah kami makan di perjalanan pulang. Kami akan melewati banyak kedai sehingga kami akan dapat memilihnya. Apalagi perjalanan kami bukan perjalanan yang sangat jauh. Sedikit lewat tengah hari, kami sudah akan sampai di rumah” jawab isteri kakak iparnya itu.

Demikianlah, maka keduanya  pun meninggalkannya. Di pintu regol halaman kakak ipar Tanjung itu masih mengingatkannya, “Jangan lupa. Dalam dua atau tiga hari, aku akan datang dengan beberapa buah pedati untuk membawa barang-barangku. Jika kau pergi sebelum aku datang, titipkan rumah ini kepada Ki Bekel. Aku kemarin sudah bertemu dan berbicara dengan ki Bekel, sebelum aku kemari dan bermalam di sini”

“Baik, kakang” jawab Tanjung. Sikapnya sudah menjadi lebih tenang. Tidak nampak kegelisahan di wajahnya. Matanya  pun tidak basah.

Sepeninggal kakak iparnya, maka perempuan tua yang tinggal bersamanya itu  pun bertanya kepadanya, “Apa saja yang akan kau bawa keluar dari rumah ini Tanjung?”

“Tidak, bibi. Aku tidak akan membawa apa-apa kecuali perhiasan yang dibeli oleh suamiku. Aku tidak memerlukan apa-apa”

“Bagus, Tanjung. Kau adalah seorang perempuan yang tegar menghadapi tantangan kehidupan yang keras. Dengan sikapmu itu, maka kau tidak akan tercampakkan ke dalam lumpur.

“Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang selalu memberikan petunjukNya”

“Kalau kau selalu berdoa, maka Tuhan tentu tidak akan meninggalkanmu”

Tanjung menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang tua itu wawasannya tidak sesempit yang dikiranya.

Sudah bertahun-tahun perempuan itu tinggal bersamanya. Namun baru pada saat ia benar-benar mengalami kesulitan, ia tahu betapa terang hatinya memandang kehidupan.

“Ngger” berkata perempuan tua itu, “marilah kita berkemas. Besok pagi-pagi kita berangkat. Yang penting bagimu, jangan lupa membawa payung. Jika panas anakmu jangan kepanasan, jika hujan anakmu jangan kehujanan. Kita akan berjalan setengah hari. Mungkin lebih”

“Ya, bibi”

“Hari ini kau sempat minta diri kepada tetangga-tetangga agar kepergianmu tidak memberikan kesan yang bukan-bukan. Kau katakan terus terang, apa yang telah memaksamu pergi”

“Ya, bibi. Nanti aku pergi ke rumah tetangga-tetangga sebelah menyebelah”

Sebenarnyalah ketika metahari memanjat langit semakin tinggi, setelah berbenah diri serta menyuapi anaknya, maka Tanjung  pun mulai mengunjungi tetangga-tetangganya.

“Tolong, tunggui tole sebentar, bibi”

“Ya. Ya. Biasanya setelah makan pagi, anak itu akan segera tidur”

“Anak itu memang sudah mengantuk, bibi. Matanya sudah separo terpejam”

Perempuan tua itu tersenyum. Katanya, “Anak yang manis. Ia tidak mau merepotkan ibunya “

Ketika Tanjung minta diri kepada tetangganya, seorang perempuan yang sudah ubanan, perempuan itu terkejut.

“Kau berkata sebenarnya, Tanjung?”

“Ya, bibi. Aku berkata sebenarnya. Besok aku akan pergi bersama bibi”

Suami perempuan yang sudah ubanan itu, yang mendengar ceritera Tanjung, segera mendekatinya dan duduk bersamanya.

“Tanjung. Kau akan pergi begitu saja?”

“Ya, paman”

“Kau tidak membuat perhitungan dengan kakak iparmu itu?”

“Tidak, paman”

“Kau harus membuat perhitungan. Setidak-tidaknya gana-gini. Kau mendapatkan sepertiga dari semua harta kekayaan yang kau dapat bersama suamimu selama kau menjadi isterinya”

“Yang bekerja mencari nafkah adalah suamiku, paman. Jika kami dapat membeli perabot sedikit-sedikit itu adalah karena suamiku bekerja keras. Karena itu, aku tidak ikut memilikinya”

“Tidak. Kau yang berhak memilikinya. Tanah dan rumah itu memang peninggalan. Aku tahu itu. Tetapi bukankah kau jual peninggalan orang tuamu sendiri dan kau belikan tanah dibelakang rumahmu sekarang, sehingga kebunmu menjadi semakin luas. Bahkan tanah di belakang rumahmu itu memanjang sampai ke lorong, dibelakang”

“Tanah itu dibeli atas nama suamiku, paman”

“Tetapi kau dapat memanggil beberapa orang saksi. Bahkan pemilik tanah yang kau beli itu masih hidup sekarang”

“Tetapi para saksi itu tidak dapat membuktikan bahwa suamiku membeli tanah itu dengan uangku. Uang yang aku dapat dengan menjual tanah dan rumah peninggalan orang tuaku”

“Tetapi itu dapat diurus, ngger. Setidak-tidaknya kau akan dapat menerima sepertiga dari harta benda yang kalian dapatkan selama kalian berumah tangga. Aku bersedia menjadi saksi, apa saja yang sudah dibeli oleh suamimu semasa hidupnya”

“Sudahlah, paman. Aku tidak memerlukan semua itu. Jika itu aku singgung, maka yang akan terjadi hanya pertengkaran”

“Tetapi itu hakmu. Hak. Tidak akan ada orang yang menyalahkan seseorang mengurus haknya”

“Terima kasih atas perhatian paman. Tetapi aku tidak berani melakukannya”

”Bukan tidak berani ngger” sahut perempuan yang sudah ubanan itu, “Aku mengenalmu dengan baik. Kau memang tidak ingin terjadi sengketa. Kau sengaja mengalah ngger. Aku yakin, bahwa bukan karena kau tidak berani”

Tanjung menarik nafas panjang.

“Aku mengenal Saija, iparmu itu dengan baik, ngger. Semasa kanak-kanak sampai dewasanya ia tinggal di rumah itu. Ia memang anak yang nakal dan sulit dikendalikan. Ia banyak menghamburkan uang mertuamu. Ketika ia menikah dan pergi meninggalkan rumah ini serta tinggal di rumah isterinya, ia sudah membawa banyak harta benda mertuamu. Keris dengan pendok emas, timang sepasang yang juga terbuat dari emas dan bahkan tretes berlian. Bandul mas dengan rantainya sebesar tampar keluh lembu. Yang dibawanya itu nilainya tentu lebih banyak dari harta separo tanah dan rumah peninggalan itu. Seharusnya Saija tidak lagi menuntut apa-apa atas tanah dan rumah itu”

“Tetapi dengan bukti-bukti yang ada padanya, ia dapat meyakinkan Ki Bekel bahwa ia memang berhak atas tanah dan rumah itu. Setidak-tidaknya bersama ipar perempuanku, Mijah”

Kedua orang suami isteri itu terdiam. Mereka mengenal Tanjung dengan baik. Ia seorang perempuan yang lembut, yang tidak senang jika terjadi keributan. Banyak mengalah, bahkan kepada tetangga-tetangganya.

Tetapi ternyata Tanjung juga seorang perempuan yang lemah. Yang membiarkan haknya diambil tanpa perjuangan sama sekali. Dibiarkannya haknya diambil orang dengan kasar. Dan dibiarkannya saja hal itu terjadi.

Namun laki-laki itu pun melihat, bahwa Tanjung nampaknya tidak menjadi putus harapan.

Setelah hening sejenak, perempuan yang rambutnya sudah ubanan itu pun bertanya, “Maaf Tanjung kalau aku boleh bertanya, kemana kau akan pergi?”

Tanjung menarik nafas panjang. Dengan nada datar ia pun menjawab, “Aku akan pergi ke rumah bibi Sumi. Perempuan tua yang tinggal bersamaku itu. Perempuan tua itu telah menawarkan kepadaku untuk tinggal bersamanya”

Suami isteri itu mengangguk-angguk kecil. Dengan nada dalam perempuan yang rambutnya sudah ubanan itu pun berkata, “Jika kau mau Tanjung. Kau juga dapat tinggal disini. Kau lihat gandok rumahku itu kosong”

“Terima kasih, bibi. Bukannya aku menolak tinggal bersama bibi. Tetapi jika kakang Saija tinggal di rumah sebelah, maka rasa-rasanya hubungan kami akan terasa sangat canggung”

Perempuan tua itu mengangguk-angguk.

“Aku mengerti, Tanjung. Jika demikian, aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan. Semoga kau baik-baik saja. Hati-hatilah dengan anakmu”

“Ya,bibi”

Tanjung  pun kemudian meninggalkan suami isteri itu. Dari rumah itu, Tanjung pergi ke tetangga-tetangganya yang lain untuk minta diri. Hampir semuanya mengatakan sebagaimana dikatakan oleh suami isteri yang rambutnya sudah ubanan itu. Bahkan seorang tetangganya yang lain, seorang perempuan yang sudah separo baya berkata, “Aku berani menjadi saksi yang disumpah dengan cara apa pun juga. Aku tahu pasti, bahwa seharusnya kau mempunyai hak sebagian dari tanah, rumah dan segala macam perabot yang ada di rumah itu”

“Sudahlah, bibi. Terima kasih atas kepedulian bibi”

Tetangga-tetangganya melepas Tanjung dengan hati yang trenyuh. Mereka mengumpati kakak ipar perempuan yang malang itu.

Namun ketika Tanjung pergi ke rumah Ki Bekel untuk minta diri dan menitipkan rumah serta perabotnya, Ki Bekel itu  pun berkata, “Seharusnya kau tahu diri Tanjung. Demikian suamimu meninggal, kau harus berkemas dan segera pergi. Dengan demikian, maka kakak iparmu itu tidak perlu mengusirmu”

Jantung Tanjung berdesir. Hampir dituar sadarnya Tanjung itu  pun berkata, “Tetapi bukankah aku juga mempunyai hak sebagian dari tanah yang ditinggalkan oleh almarhum suamiku”

Ki Bekel itu mengerutkan dahinya. Katanya dengan suara yang bernada tinggi, “Siapa yang mengatakannya? Semua tanah itu adalah tanah suamimu. Atas nama suamimu. Kau tidak mempunyai apa-apa. Karena itu kau harus pergi”

“Bukankah ada ketentuan adat untuk membagi harta kekayaan suami isteri dengan gana-gini”

“Kalau kau bercerai dengan suamimu, kau akan mendapat sepertiga bagian dari harta-benda milik bersama selama sepasang suami isteri berumah tangga. Tetapi suamimu mati”

“Tentu sama saja Ki Bekel. Aku mendapat sepertiga, yang lain akan diwarisi oleh keluarga suamiku karena kami tidak mempunyai anak”

“Aku berkata kepadamu. Aku memberitahukan tatanan ini kepadamu. Bukan kau yang memberitahu aku Tanjung”

Mata Ki Bekel terbelalak.

Tanjung  pun terdiam. Bahkan ia menyesal, kenapa ia mempersoalkan peninggalan suaminya itu. Selama ini, bahkan dihadapan kakak iparnya ia tidak menyinggungnya sama sekali.

Tetapi sikap Ki Bekel sejak awal itulah agaknya telah menggelitiknya.

“Nah, jika kau akan pergi esok pagi, itu adalah sikap terbaik yang dapat kau lakukan. Aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan. Rumah itu kemudian akan dihuni oleh orang yang berhak”

Tanjung tidak merasa perlu untuk menjawab. Ia  pun justru minta diri.

“Aku akan mengemasi pakaianku, Ki Bekel”

“Baik. Silahkan. Ternyata kau telah berbuat yang terbaik yang dapat kau lakukan”

Hati Tanjung menjadi bertambah pedih karena sikap Ki Bekel. Ia tahu, bahwa kakak iparnya adalah kawan bermain Ki Bekel di masa mereka masih kanak-kanak, remaja sampai saatnya mereka dewasa dan hidup berkeluarga.

Hari itu, Tanjung telah membungkus barang-barang kecil yang akan dibawanya dengan selembar kain. Hanya itu.

Orang tua yang tinggal bersama Tanjung itu  pun sudah mengemasi pakaian dan barang-barangnya pula. Juga hanya sebungkus kecil.

Di malam hari Tanjung seakan-akar tidak tidur sama sekali. Dimasukinya setiap ruangan di rumahnya itu. Sentong tengah, sentong kanan dan kiri. Gandok sebelah kiri dan gandok sebelah kanan. Setiap longkangan dan dapur.

Perpisahan itu datang terlalu cepat. Tetapi Tanjung tidak dapat mengelak.

Di dini hari Tanjung sempat tidur sejenak. Namun kemudian ia  pun segera bangun karena tangis anaknya.

Setelah menenangkan anaknya, mengganti pakaiannya yang basah, serta menidurkannya lagi, maka Tanjung  pun segera berkemas. Hari itu, ia akan meninggalkan rumahnya yang sudah dihuninya beberapa tahun.

Tanjung merasa terharu ketika ia melihat beberapa orang datang ke rumahnya untuk mengucapkan selamat jalan langsung pada saat Tanjung beranjak meninggalkan rumahnya itu.

Sambil mengusap matanya yang basah, Tanjung  pun berkata, “Terima kasih, bibi, paman, mbokayu dan sanak kadangku semuanya. Kami akan pergi. Kami mohon maaf jika selama ini kami telah bersalah kepada sanak kadang semuanya”

“Kami yang harus minta maaf kepadamu Tanjung. Selama kau tinggal disini, kau kami anggap seorang yang baik. Yang mengerti dan menempatkan diri diantara kami semuanya”

“Terima kasih pula atas sanjungan itu. Aku berharap bahwa pada suatu saat, aku dapat datang mengunjungi sanak kadang disini. Aku sudah merasa bagian dari sanak kadang semuanya”

Perempuan yang sudah ubanan itu menyahut pula, “Kami menunggu. Tanjung. Kami sungguh-sungguh berharap. Jika ada kesempatan nanti, kami juga ingin mengunjungimu di tempat tinggalmu yang baru.

Dengan mengusap titik-titik air di matanya. Tanjung meninggalkan rumahnya. Tetangga-tetangganya melepasnya di regol halaman. Mereka menyaksikan Tanjung berjalan bersama perempuan tua yang sudah lama tinggal bersamanya itu. Semakin lama semakin jauh.

Sekali Tanjung dan perempuan tua itu berpaling. Namun mereka segera mengalihkan pandangan matanya dari orang-orang yang masih berada di depan regol halaman rumah yang ditinggalkannya itu.

Ketika matahari naik sepenggalah, Tanjung dan perempuan tua itu sudah berada di bulak panjang. Mereka berjalan agak cepat. Langkah-langkah kecil Tanjung membawanya melintasi jalan yang berjalur bekas roda pedati. Disisinya perempuan tua itu pun masih mampu berjalan cukup cepat pula.

Meski pun di sebelah menyebelah jalan terdapat pohon turi yang dapat dipetik bunganya untuk direbus dan dimakan dengan sambal kacang sekaligus sebagai pohon perindang, namun Tanjung masih juga membawa payung bebeknya yang dibuat dari anyaman belarak kering. Dengan payung bebeknya yang lebar. Tanjung melindungi anaknya dari tusukan sinar matahari yang menyusup diantara daun pohon turi yang tumbuh di pinggir jalan.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi, Tanjung dan perempuan tua itu harus berhenti. Anak Tanjung itu nampaknya sudah merasa haus. Bukan hanya anak itu yang kehausan. Tetapi Tanjung dan bibi Sumi itu  pun sudah merasa haus pula.

Karena itu, maka mereka  pun kemudian singgah di sebuah kedai. Mereka memesan minum dan makan bagi mereka berdua. Sedangkan makan bagi anak Tanjung telah disiapkan bekal dari rumah. Bubur beras dengan gula kelapa.

Seorang perempuan yang juga berada di kedai itu memandang anak Tanjung itu sambil tersenyum-senyum. Bahkan kemudian disentuhnya pipi anak itu sambil berdesis, “Manisnya anak ini. Gemuk, sehat dan tampan. Siapa namanya, ngger?”

Tanjung terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia belum pernah memberikan nama pada anaknya. Tiba-tiba saja seseorang bertanya, siapakah namanya.

Beberapa saat Tanjung termangu-mangu. Namun kemudian mulutnya telah menyebut sebuah nama, “Namanya Tatag, bibi”

“Tatag?”

“Ya, bibi”

“Ayahnya pandai memilih nama. Kesannya sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Kau tahu artinya tatag, ngger?

“Ya. bibi”

“Nah, anakmu akan menjadi seorang yang tatag menghadapi gejolak hidupnya.dimasa mendatang”

“Semoga, bibi. Memang itulah yang diharapkannya”

Perempuan itu mengangguk-angguk. Sekali lagi ia menyentuh anak itu. “Ah, sudahlah, aku sudah terlalu lama berhenti disini. Silahkan ngger. Aku sudah akan pamit”

Perempuan yang nampaknya seorang yang berkecukupan itu pun kemudian memberi isyarat kepada seorang anak laki-laki remaja, yang kemudian bangkit berdiri dan berjalan mengham-pirinya, “Jalan itu masih panas, ibu. Aku masih malas”

“Nanti aku tinggal kau disini” sahut ibunya, “aku titipkan kau kepada paman Ima”

Nampaknya perempuan itu sudah sering singgah di kedai itu, sehingga agaknya ia sudah terbiasa. Perempuan itu sudah dikenal dan mengenal dengan akrab pemilik kedai itu.

“Tinggal saja disini, ngger” sahut pemilik kedai itu

“Aku ajari kau membuat timus ketela rambat atau membuat lemper ketan serundeng”

Remaja itu bergayut berpegangan baju ibunya. Tetapi ia tidak menjawab.

“Tinggal selangkah lagi” berkata perempuan itu kepada anaknya.

Setelah membayar harga makanan dan minumannya, perempuan itu pun segera minta diri. Ia masih berpaling kepada Tanjung dan berkata, “Ajak Tatag singgah di rumahku. Dekat saja. Hanya beberapa puluh patok dari sini. Disebelah banjar padukuhan”

“Terima kasih bibi. Pada kesempatan lain, aku akan singgah bersama Tatag”

Perempuan dan anaknya yang remaja itu pun kemudian meninggalkan kedai itu.

Demikian perempuan itu keluar, pemilik kedai itu  pun berkata, “Ia seorang perempuan yang baik. Keluarganya adalah keluarga yang kaya. Tetapi ia tidak membanggakan kekayaannya. Perempuan itu tidak memilih dengan siapa ia harus bergaul. Tidak hanya dengan orang-orang kaya. Tetapi juga dengan orang-orang kecil seperti aku ini”

“Nampak pada wajahnya, bahwa ia seorang yang ramah” sahut Tanjung.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Tanjung dan perempuan yang sudah menjadi seperti ibunya sendiri itu  pun meninggalkan kedai itu. Mereka berjalan di jalan yang menjadi semakin terik oleh sinar matahari yang sudah berada di puncak langit.

Untunglah bahwa Tanjung membawa payung bebeknya yang lebar, sehingga dengan mengenakan payung bebek itu di kepalanya, maka anaknya tidak kepanasan lagi.

Tiba-tiba bibi Semi itu  pun bertanya, “Darimana kau dapatkan nama itu?”

“Entahlah bibi. Tiba-tiba saja”

“Nama itu tidak jelek. Arti katanya  pun baik. Kau dapat mempergunakannya seterusnya, kecuali tiba-tiba kau menemukan nama yang lebih baik”

“Biarlah untuk sementara anakku itu memakai nama Tatag”

Nyi Sumi itu pun mengangguk-angguk.

Mereka berhenti di bawah sebatang pohon turi yang berdaun rimbun ketika anak itu menangis. Tanjung  pun berusaha untuk menenangkannya. Setelah makan biasanya anak itu menjadi mengantuk dan langsung tidur. Tetapi rupa-rupanya panas yang terik itu membuatnya merasa kurang nyaman.

Angin yang semilir telah menyentuh wajah anak itu sehingga terasa tubuhnya menjadi sedikit segar. Karena itu, maka anak itu  pun terdiam. Matanya mulai terpejam.

Tanjung mengayun anak itu didalam gendongannya, sehingga beberapa saat kemudian, anak itu  pun telah tertidur.

Namun sebelum Tanjung meninggalkan tempat itu untuk meneruskan perjalanan, seorang laki-laki tua, berambut ubanan meloncati tanggul parit. Agaknya orang itu baru saja berjalan di pematang.

Dengan nada yang lunak orang tua itu bertanya, “Baru saja aku mendengar tangis bayi. Apakah anak ini yang menangis?”

“Ya, paman. Anakku baru saja menangis” Laki-laki itu mengangguk-angguk. Namun kemudian dipandanginya Nyi Sumi dengan kerut di dahinya. Kemudian dengan nada yang dalam ia pun berkata, “Kau benar-benar lupa kepadaku, yu?”

“Kau siapa?”bertanya Nyi Sumi dengan heran.

“Kita memang sudah lama sekali berpisah. Tetapi sekilas aku melihatmu, aku pun segera mengenalimu. Bukankah kau Yu Sumi?”

“Ya. Aku Sumi. Kau siapa?”

“Kau benar-benar sudah lupa kepadaku? Aku Mina. Mina itu yu, yang sering mencuri jambu air di kebun belakang rumah Yu Sumi dahulu”

“O. Jadi, kaukah itu? Kau sudah tampak tua sekarang Mina, Seharusnya kau masih semuda adikku”

“Eh. Bukankah Yu Sumi juga sudah kelihatan tua?”

“Ya. Aku juga sudah tua”

“Darimana siang-siang Yu. Dan siapakah perempuan ini? Anakmu?”

“Ya. Anakku”

“Si Mulat?”

“Bukan. Namanya Tanjung. Anakku yang bungsu”

“Berapa anakmu Yu?”

“Dua. Kenapa?”

Seingatku anakmu hanya seorang”

“Bukankah waktu itu kau pergi meninggalkan padukuhan?”

“Tetapi waktu itu kang Nala sudah tidak ada? Aku kira Mulat sudah tidak punya adik lagi”

“Aku menikah lagi, Nah. Tanjung adalah saudara Mulat tetapi berbeda ayah”

Mina tersenyum. Laki-laki tua itu mengangguk-angguk. Tetapi Sumi dan Tanjung tidak mengerti, apa yang sedang dipikirkannya.

Tiba-tiba saja Sumi itu bertanya, “Kenapa kau tiba-tiba saja sekarang ada disini?”

“Aku pulang, Yu, Pulang dari sebuah petualangan yang buruk. Aku sudah berada di rumah. Maksudku rumahku sekarang. Bukan rumahku yang dahulu”

“Kau tinggal dimana sekarang?”

“Ayah punya sepetak pategalan di tikungan sungai itu, Yu”

“Tegal Anyar?”

“Ya, yu”

“Kau tinggal dengan siapa di pategalan itu?”

“Dengan isteriku”

“Isterimu, siapa? Waktu kau pergi, kau belum mempunyai isteri”

“Kau tentu belum mengenalnya. Aku mendapatkan seorang isteri di masa pengembaraanku. Ia seorang perempuan yang baik. Setidak-tidaknya menurut pendapatku”

“Anakmu berapa, Na?”

Laki-laki itu menarik nafas panjang. Dengan nada dalam ia  pun berkata, “Kau lebih beruntung dari aku, yu. Kau mempunyai dua orang anak dan kau sudah mulai menimang cucu. Tetapi aku tidak mempunyai seorang anak pun. Tetapi ini bukan salah isteriku. Tetapi salah kami berdua”

“Kau memang harus menerima kenyataan itu, Na. Sang Penciptalah yang menentukannya”

“Aku mengerti, yu. Nah, jika kau mau singgah di rumahku, maka kau akan bertemu dengan isteriku”

Tetapi Nyi Sumi itu tersenyum sambil menjawab, “Terima kasih, Na. Lain kali aku akan singgah di rumahmu. Cucuku sudah mulai menangis”

“Perjalananmu masih agak jauh, yu”

“Ah. Tinggal tiga bulak lagi”

”Tetapi bulaknya panjang-panjang” Nyi Sumi itu tertawa.

Namun dalam pada itu, Mina itu pun bertanya lagi, “Anak itu cucumu bukan, yu?”

“Ya. Kenapa?”

“Aku mendengar tangis-nya. Aku seakan-akan mendengar genderang dan sangkakala yang mengiringi sepasukan prajurit segelar sepapan menuju ke medan perang”

“Apa? Kau dengar tangis cucuku sebagai isyarat perang? Sebagai isyarat pertumpahan darah dan kematian?”

“Tidak, yu. Jangan salah paham. Aku hanya mengatakan bahwa tangis cucumu itu bagaikan genderang dan sangkakala yang mengiringi prajurit segelar sepapan menuju ke medan perang”

“Jadi kau hubungkan cucuku dengan perang kan? Perang itu berarti pertumpahan darah dan kematian”

“Tetapi kenapa seseorang terdorong untuk pergi berperang? Tentu ada bermacam-macam alasan”

“Apa pun alasannya, tetapi perang sejalan dengan penderitaan”

“Tetapi sepastikan prajurit ada yang pergi berperang untuk mengurangi penderitaan. Perang yang sejalan dengan penderitaan itu akan berlangsung dalam waktu yang terhitung singkat dibandingkan dengan pederitaan lain yang berkepanjangan dan bahkan tanpa, ada tanda-tanda akan berakhir. Perbudakan penindasan, penyalah gunaan kekuasaan dan sebangsanya. Baik dalam lingkungan yang sempit mau pun dalam lingkungan yang lebih luas.”

“Tentu ada cara lain yang dapat ditempuh selain dengan pertumpahan darah dan kematian”

“Ya, ya. Aku mengerti, Yu”

“Nah, apakah kau masih menghubungkan tangis cucuku dengan suara genderang perang?”

Mina tertawa. Katanya, “Aku minta Maaf Yu. Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan bahwa pada suara tangis cucumu terasa ada getaran gelombang kekuatan melampaui getar kekuatan kebanyakan anak-anak. Tegasnya, cucumu itu membawa pertanda bahwa ia memiliki kelebihan”

“Kau mencoba menjadi seorang peramal”

“Tidak. Aku tidak meramal. Aku hanya mencoba mengurai isyarat yang dapat aku tangkap. Tetapi entahlah. Apakah aku benar atau salah”

Nyi Sumi tersenyum. Katanya, “Sudahlah. Tetapi aku memperhatikan kata-katamu ini. Mudah-mudahan kau benar”

“Soalnya kemudian, kemana kelebihan, itu diarahkan”

“Aku mengerti maksudmu. Terima kasih”

“Nah, sekarang aku minta kalian singgah sebentar di rumahku. Kalian akan bertemu dengan isteriku”

“Terima kasih, Mina. Kali ini aku membawa cucuku. Anak itu sudah terlalu lama di perjalanan pagi ini”

“Baiklah, Yu. Jika ada kesempatan, biarlah aku bawa isteriku mengunjungimu. Bukankah kau masih tinggal di rumahmu yang dulu”

“Ya. Aku tidak kemana-mana. Pergilah ke rumahku. Ajak isterimu. Biarlah ia mengenalku dan mengenal kedua orang anak-anakku. Tetapi kau tentu tidak dapat mengenali Mulat lagi. Ia sekarang juga sudah nampak tua. Hampir setua aku”

“Baik, baik. Yu.Kapan-kapan aku akan pergi kerumahmu. Aku ingin berkenalan dengan ayah cucumu itu”

Nyi Sumi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sayang, Na. Ayah cucu ini telah meninggal. Tanjung sudah menjadi janda. Mulat juga sudah menjadi janda”

“O” Mina mengangguk-angguk, “jadi ada tiga orang janda di rumahmu?”

Mina mengangguk-angguk pula.

“Sudahlah Mina. Nanti cucuku rewel di jalan”

“Baik, baik Yu. Hati-hati dengan anakmu Tanjung. Anak itu merupakan mutiara bagimu”

“Mutiara atau suara genderang perang?”

Mina tersenyum. Katanya, “Maaf Yu. Aku tidak akan mempergunakan istilah itu lagi. Kecuali jika aku lupa”

Demikianlah Nyi Sumi dan Tanjung  pun melanjutkan perjalanannya. Sementara itu Mina masih berdiri termangu-mangu memandangi mereka. Dituar sadarnya Mina  pun berdesis, “Siapakah ayah anak itu? Sayang ia sudah meninggal. Jika saja aku sempat mengenalnya”

Dalam pada itu, maka panas  pun terasa semakin terik. Tanjung menyembunyikan anaknya dibawah payung bebeknya. Meski pun kakinya terasa letih, tetapi Tanjung berjalan terus. Bahkan ia ingin lebih cepat sampai di rumah bibi Sumi.

Bibi Sumi yang tua itu, ternyata masih juga tangkas berjalan. Ia sama sekali tidak kelihat letih. Ia masih saja berjalan di sebelah Tanjung.

Di perjalanan Tanjung sempat menyesali dirinya sendiri. Ternyata ia tidak mengenal perempuan tua itu dengan baik. Ia mengira betapa sempitnya wawasan perempuan yang hampir setiap saat berada di dapur itu. Namun ternyata, apa yang dikatakannya pada saat-saat ia terhimpit oleh keadaan, disepanjang jalan, juga’pembicaraannya dengan Mina, seakan-akan telah membuka pintu di dadanya, sehingga Tanjung itu dapat melihat kedalamannya lebih banyak lagi.

“Sudah tidak begitu jauh lagi, Tanjung” desis Nyi Sumi.

“Ya, bibi”

“Kau letih?”

“Tidak, bibi”

“Tanjung” berkata Nyi Sumi kemudian dengan nada yang rendah, “Mina adalah seorang yang telah lama sekali aku kenal. Ia orang baik menurut pengenalanku dahulu. Tetapi ia dapat mewakili sikap tetangga-tetanggaku. Mereka akan banyak mencampuri persoalan-persoalan yang sebenarnya terhitung persoalan pribadi. Tetapi mereka tidak bermaksud buruk. Yang mereka lakukan justru sikap seorang yang merasa terikat dalam kehidupan bersama”

“Aku mengerti, bibi. Bukankah tetangga-tetangga kita juga berbuat demikian?”

“Ya. Tetapi tetangga-tetanggaku adalah orang-orang yang lebih sederhana dari tetangga-tetangga kita selama ini”

“Ya, bibi”

Nyi Sumi terdiam sejenak. Dipandanginya jalan bulak yang panjang, yang terbentang di hadapannya. Jalan bulak yang menusuk diantara kotak-kotak sawah,yang ditumbuhi oleh batang-batang padi yang subur.

Panasnya terasa semakin terik. Tanjung semakin melekatkan payung bebeknya. Anaknya tidak boleh tersentuh panasnya sinar matahari sama sekali.

Namun akhirnya, keduanya  pun memasuki sebuah padukuhan yang terhitung besar. Tetapi seperti yang dikatakan Nyi Sumi, nampaknya penghuni padukuhan itu masih dalam tataran yang lebih sederhana dengan tataran kehidupan di padukuhan yang ditinggalkan oleh Tanjung, meski pun tanahnya agaknya tidak kalah suburnya.

Mulat terkejut ketika tiba-tiba saja ia melihat ibunya berdiri di depan pintu rumahnya Sebenarnya rumah bibi Sumi tidak terlalu kecil meski pun sederhana.

“Ibu” desis Mulat. Seorang perempuan yang seperti kata Nyi Sumi, ujudnya sudah hampir sebaya dengan ibunya itu.
“Kau mengenal Tanjung, bukan?”

“Ya. Marilah, silahkan Nyi”

“Terima kasih” desis Tanjung sambil membungkuk hormat. Untuk beberapa saat di pandanginya Mulat dengan kerut di dahi. Ia sudah pernah mengenalnya. Tetapi agaknya pada hari-hari terakhir, ubannya tumbuh dengan cepat, sehingga Mulat itu  pun kelihatan begitu cepat tua.

Tanjung dan anaknya  pun kemudian mengikut Nyi Sumi masuk ke dalam rumahnya. Tidak ada sebuah pendapa yang khusus. Tetapi Mulat membuat ruang dalam rumahnya tidak tersekat, sehingga ruang itu tetap terbuka. Di sisi dalam dari ruangan itu terdapat tiga buah sentong. Sentong tengah, sentong kiri dan kanan. Disisi sebelah kiri terdapat pintu butulan untuk pergi ke dapur lewat serambi.

Di rumah itu tidak terdapat gandok kiri atau kanan. Tetapi di sebelah sumur di arah kiri bagian belakang rumah terdapat sebuah kandang-kandang kambing.

“Marilah, Nyi. Silahkan duduk”

Tanjung  pun kemudian duduk di sebuah amben yang agak besar di ruang yang terbuka itu.

“Tiba-tiba saja ibu pulang. Bahkan bersama dengan Nyi Tanjung”

“Nanti aku akan bercerita. Sekarang, kami merasa haus. Kau punya minum?”

“Aku akan merebus sebentar, ibu”

“Maksudku, justru yang dingin”

Mulat termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku membuat wedang sere pagi tadi, ibu. Apakah itu pantas untuk dihidangkan?”

“Tentu saja. Sudah aku katakan, kami memerlukan minuman yang dingin. Tidak perlu air wayu sewindu. Tetapi wedang sere yang kau buat tadi pagi itu justru yang paling baik untuk dihidangkan sekarang ini”

Mulat  pun kemudian pergi ke dapur untuk mengambil wedang sere yang sudah menjadi dingin.

Sejak hari itu, Tanjung tinggal di rumah Nyi Sumi. Di sore hari, setelah mereka mandi dan berbenah diri, serta Tatag sudah tidur dan dibaringkan di pembaringan, maka Nyi Sumi, Tanjung dan Mulat, duduk di amben di ruang dalam. Nyi Sumi- pun telah menceriterakan kepada Mulat, lelakon yang dialami oleh Tanjung.

Mulat mendengarkannya dengan penuh perhatian. Sambil mengangguk-angguk Mulat  pun kemudian berdesis, “Itulah Tanjung. Bahwa kepemilikan benda-benda keduniawian kadang-kadang dapat membuat seseorang kehilangan kiblat hidupnya. Seseorang kebanyakan lebih senang berusaha memenuhi kebutuhan hidup kewadagan di dunia yang fana ini. Mereka melupakah apa yang akan terjadi di alam langgeng. Bahkan kadang-kadang seseorang dengan ringan berbicara tentang hari-hari yang kekal seakan-akan tidak lebih dari sebuah bayangan yang semu. Malahan ada yang menganggapnya sekedar sebagai sebuah lelucon yang dapat mengungkit tawa berkepanjangan”

Tanjung mengangguk kecil.

“Aku sependapat dengan kau, Tanjung” berkata Mulat selanjutnya, “seperti yang dikatakan oleh ibu, bahwa kau tidak menuntut apa pun dalam ujud harta benda keduniawian. Kau akan mendapatkan jauh lebih banyak dari itu”

“Ya, mbokayu” jawab Tanjung, yang justru merasa menjadi begitu sempit wawasannya tentang kehidupan.

Di hari-hari berikutnya, Tanjung merasa bahwa ia sudah menjadi luluh didalam keluarga Nyi Sumi. Ia tidak lagi merasa orang lain. Ia menganggap Nyi Sumi seperti ibunya sendiri. Mulat  pun telah menjadi kakak perempuannya yang baik, yang berusaha menjaga perasaannya yang sedang terasa sangat lunak dan mudah tersentuh.

Di rumah itu, Tatag juga mendapat perhatian yang cukup. Nyi Sumi dan Mulat ikut merawatnya dengan baik. Tanjung tidak lagi menyebut Nyi Sumi dengan bibi. Tetapi ia menirukan Mulat yang memanggil Nyi Sumi dengan sebutan ibu.

“Bukankah ibu tidak merasa cemas lagi, bahwa di-antara gigi Tatag akan tumbuh taring?”

Nyi Sumi tertawa. Sementara Mulat pun bertanya, “Kenapa tumbuh taringnya?”

“Ibu merasa cemas, bahwa bayi ini adalah anak wewe atau anak genderuwo”

Mulat tidak hanya tersenyum. Tetapi ia tertawa berkepanjangan. Katanya, “Ibu memang sering aneh-aneh. Yang dibayangkan itu justru yang bukan-bukan, yang bahkan lebih condong ke dunia yang lain”

“Kau belum pernah mendengar dongeng tentang anak wewe atau genderuwo”

“Sudah ibu. Dongeng tentang anak wewe dan anak genderuwo. Tetapi hanya dongeng saja”

Nyi Sumi mengerutkan dahinya, sementara Mulat masih saja tertawa.

Dari hari ke hari, Tatag tumbuh seperti kebanyakan kanak-kanak. Tetangga Mulat juga ada yang baru saja melahirkan. Hanya selisih berbilang hari dengan Tatag. Namun ternyata bahwa Tatag tumbuh lebih cepat dari bayi tetangga”

“Kau makan apa Tanjung?” bertanya ibu bayi itu.

“Aku tidak mengerti maksudmu” sahut Tanjung.

“Anakmu tumbuh lebih cepat dari anakku. Padahal aku makan cukup banyak. Apa saja aku makan. Minum anak ini juga deras sekali”

Tanjung tersenyum. Katanya, “Aku banyak makan dedaunan dan buah-buahan. Ada buah jambu di belakang.

Mbokayu Mulat menanam beberapa batang pohon kates Jingga yang hampir setiap hari ada saja buahnya yang masak.

“Aku juga banyak makan dedaunan. Aku menanam kacang panjang tidak hanya di pematang sawah. Tetapi juga di kebun. Di kebunku juga banyak terdapat pohon melinjo yang dapat dipetik daunnya yang muda setiap hari. Ada pula beberapa batang kates seperti di rumahmu. Ketela pohon yang daunnya memberikan rasa yang khusus. Bahkan kadang-kadang aku juga membeli kangkung di pasar. Bayam dan beberapa jenis sayuran yang lain. Terutama selama aku menyusui”

“Nanti yu. Mungkin sebentar lagi anakmu akan tumbuh seperti anakku”

“Kau dengar kalau anakmu menangis? Dan kau dengar pula jika anakku menangis? Aku merasakan ada sesuatu yang beda”

“Yang beda apanya, yu?”

“Aku tidak tahu. Tetapi ada yang beda”

Ketika kemudian perempuan itu pergi, Mulat yang ikut mendengarkan pembicaraan itu pun berdesis, “Ia benar, Tanjung. Jika Tatag menangis, terasa ada yang beda”

“Apanya yang beda, mbokayu?”

Mulat menggeleng. Katanya,, “Aku tidak dapat mengatakannya. Tetapi aku dapat merasakannya”

Tanjung menarik nafas dalam-dalam. Beberapa orang telah tertarik kepada suara tangis anaknya. Tanjung sendiri tidak merasakan perbedaan itu. Menurut pendengarannya, Tatag menangis seperti bayi-bayi yang lain. Kadang-kadang hanya sebentar. Tetapi kadang-kadang berkepanjangan.

Tanjung memang pernah mendengar, bahwa jika seorang bayi menangis keras dan panjang, itu tandanya bahwa pernafasannya cukup baik. Namun jika bayi itu sering menangis dan merengek, maka ia akan menjadi anak yang cengeng.

Namun ternyata bahwa tangis Tatag tidak hanya menarik perhatian beberapa orang tetangga serta Mina yang pernah bertemu di perjalanan. Tetapi ada orang lain yang sangat tertarik mendengar tangis Tatag.

Tiga orang gegedug yang sedang berkeliaran di malam hari, terhenti ketika mereka mendengar tangis seorang bayi di sebuah rumah yang sederhana.

“Kau dengar tangis bayi itu” berkata seorang diantara mereka, orang yang tertua yang menjadi pemimpin segerombongan perampok yang menguasai satu lingkungan yang luas. Termasuk padukuhan Werit.

“Ya, Ki Lurah” jawab seorang kawannya.

“Apa katamu tentang tangis bayi itu?”

“Menarik sekali. Ada sesuatu yang bergetar bersamaan dengan suara yang melengking itu”

“Ya, Lurahe. Suara itu sangat menarik. Tangis itu berbeda dengan tangis bayi kebanyakan. Ada satu pertanda, bahwa bayi itu mempunyai kelebihan”

“Bagus. Kita sependapat. Marilah, kita dekati rumah itu”

“Untuk apa?”

“Aku inginkan bayi itu”

“He?” seorang kawannya mengerutkan dahinya buat apa Ki Lurah menginginkan bayi itu?”

“Bodoh kau. Gerombolan kita adalah gerombolan yang tidak akan lenyap bersamaan dengan meningkatnya umur kita. Kita harus membangun lapisan berikutnya untuk meneruskan kebesaran nama gerombolan Macan Kabranang. Kati tahu, bahwa namaku itu ditakuti oleh banyak orang-orang yang bahkan pemimpin-pemimpin gerombolan yang lain. Nama itu harus berkesinambungan”

“Jadi?”

“Kau tahu bahwa aku tidak mempunyai anak”

“Itu salah Ki Lurah sendiri”

“Kau berani menyalahkan aku?”

Aku hanya ingin mengulangi apa yang pernah Ki Lurah sendiri katakan”

“Apa yang pemah aku katakan?”

“Jika Ki Lurah mengambil seorang perempuan, maka begitu Ki Lurah jemu, perempuan itu pun ki Lurah usir atau bahkan ada yang Ki Lurah bunuh. Mereka tidak sempat memberi anak kepada Ki Lurah”

“Bohong. Ada perempuan yang hidup bersamaku sampai beberapa bulan. Ada yang hampir setahun. Jika mereka dapat memberi aku anak, maka mereka tentu sudah mengandung sehingga aku tidak perlu mengusirnya. Sedangkan perempuan yang aku bunuh itu adalah perempuan yang berusaha meracuniku. Bukan salahku jika perempuan itu dihukum mati”

“Hanya satu yang Ki Lurah bunuh?”

“Tiga. Yang dua orang mempunyai kesalahan yang sama”

“Ya”

“Kau sudah tahu he?”

“Ki Lurah sendiri yang mengatakannya. Kedua perempuan itu berbuat selingkuh, kan? Ki Lurah tidak hanya membunuh perempuan-perempuan itu. Tetapi juga kedua laki-laki yang telah membujuk mereka untuk selingkuh”

“Jadi aku sudah mengatakannya?”

“Sudah. Ki Lurah sudah pernah menceriterakan dua tiga kali sebelum sekarang ini”

“Tetapi kalian harus mendengarkan. Jika aku berceritera kalian harus mendengarkan. Kalian tidak boleh mendahului ceritera seperti sekarang ini atau aku membunuh kalian. Tetapi kali ini kalian aku ampuni. Tetapi lain kali, sekali lagi kalian mendahului ceriteraku, maka kalian akan aku cincang”

“Aku tidak” sahut yang seorang lagi, “Begog yang telah mendahului ceritera Ki Lurah”

“Kau dengar Begog?”

“Ya, Ki Lurah. Aku dengar”

“Baik. Sekarang, marilah kita ambil anak itu. Siapa yang tinggal di rumah ini?”

“Tiga orang perempuan. Semuanya janda”

“Jika demikian, kita tidak akan mengalami kesulitan”

”Ya. Tetapi bagaimana kita memelihara anak itu? Kita akan mengambilnya setelah anak itu menjadi agak besar. Tiga atau ampat tahun lagi”

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi tiga atau ampat tahun mendatang. Mungkin orang lain akan mengambilnya lebih dahulu”

“Tetapi anak itu memerlukan perawatan. Memerlukan susu ibunya. Siapa yang akan mengganti popoknya di malam hari. Siapa yang akan menyuapinya?”

Gegedug yang disebut Macan Kebranang itu merenung sejenak. Namun tiba-tiba saja ia pun berkata, “Kita ambil bersama ibunya. Jika ibunya cantik, aku memerlukannya. Jika ibunya berwajah buruk, ia akan dapat menjadi pelayan di sarang kita sekaligus merawat anak itu”

Begog mengangguk-angguk. Katanya, “Gagasan bagus Ki Lurah. Mungkin ibunya seorang perempuan cantik. Ia akan dapat menjadi bunga di sarang kita yang gersang”

“Gila kau Begog. Kau akan mengajaknya selingkuh?”

“Tidak.” Tidak, Ki Lurah”

Pemimpin gerombolan perampok yang menyebut dirinya Macan Kabranang itu terdiam. Tangis Tatag masih saja terdengar. Bahkan semakin keras. Rumah yang sederhana itu bagaikan di guncang-guncang oleh getar suara tangisnya.

“Kita masuk ke rumah itu sekarang” gumam Macan
Kabranang.

“Apakah kita akan mengetuk pintu?”

“Ya. Kita akan mengetuk pintu”

Macan Kabranang itu  pun kemudian melangkah mendekati pintu rumah yang terhitung sederhana itu. Namun sebelum ia mengetuk pintunya, terdengar suara seorang, “Tunggu Ki Sanak”

Macan Kabranang  pun terhenti. Ketika ia berpaling, dari kegelapan muncul dua sosok bayangan.

“Siapakah kalian dan untuk apa kalian kemari?” bertanya seorang diantara kedua orang itu.

“Apa pedulimu?”

“Baiklah. Aku tidak akan mempedulikanmu. Pergilah”

“Apa hak kalian mengusirku?”

“Kau tentu akan mengambil bayi yang menangis itu” berkata yang seorang lagi, yang ternyata seorang perempuan.

“Itu adalah urusanku”

“Ketahuilah Macan Kabranang “

Namun kata-kata perempuan itu terpotong, “Kau tahu namaku?”

“Kau memang seorang pelupa. Kau sendiri yang sesumbar bahwa namamu adalah Macan Kabranang. Namun yang ditakuti oleh banyak orang di lingkunganmu ini. Bahkan para pemimpin gerombolan yang ada. Tentu saja yang kau maksud adalah gerombolan penjahat”

“Diam kau” bentak Macan Kabranang.

Tetapi kedua orang, laki-laki dan perempuan, itu justru tertawa berkepanjangan.

Dalam pada itu, Tanjung yang berada di dalam rumah, mendengar suara-suara di luar rumahnya. Meski pun tidak jelas benar, tetapi Tanjung mendengar bentakan-bentakan keras, kemudian suara tertawa yang berkepanjangan dan suara-suara lain yang membuatnya ketakutan. Bahkan Nyi Sumi dan Nyi Mulat yang juga terbangun menjadi ketakutan pula.

“Siapakah mereka, ibu?” bertanya Tanjung.

“Entahlah. Suara-suara itu membuat aku takut” desis Nyi Sumi.

“Nampaknya telah terjadi pertengkaran di luar” berkata Mulat. Meski pun Mulat juga merasa takut, tetapi ialah yang nampak paling tenang diantara ketiga orang perempuan itu.

“Ki Sanak” berkata laki-laki yang datang kemudian itu, “kau tidak dapat mengambil anak itu. Akulah yang akan mengambilnya. Isteriku juga tidak mempunyai anak. Ia dapat merawat anak itu dengan baik. Kami tidak merasa perlu mengusik ibu bayi itu”

“Siapa kau?”

“Apa pedulimu siapa kami. Sekarang pergilah. Aku akan menemui ibu bayi yang menangis itu dan minta anaknya dengan baik-baik. Isteriku akan berjanji untuk merawatnya melampaui perawatan ibu sendiri”

“Persetan dengan kau. Kaulah yang harus pergi atau kami akan mengusir kalian dengan kekerasan”

“Jauh-jauh kami datang kemari. Tentu kau tidak akan dapat mengusir kami begitu saja”

“Bahkan kalau kau berkeras kepala, kami akan membunuh kalian berdua dan membuang mayat kalian di regol halaman rumah ini”

“Jangan sombong Ki Sanak. Kita akan melihat, siapakah yang lebih baik diantara kita”

“Kalian hanya berdua. Apalagi seorang diantara kalian adalah seorang perempuan. Kalian tentu tidak akan banyak memberikan perlawanan sebelum kami membunuh kalian”

“Aku mendengar tangisnya. Aku seakan-akan mendengar genderang dan sangkala yang mengiringi sepasukan prajurit segelar sepapan menuju ke medan perang”

“Jangan merendahkan kemampuan kami berdua”

“Kami adalah tiga orang gegedug diantara segerombolan harimau yang buas”

“Kami adalah sepasang suami isteri yang akan mampu menguasai harimau-harimau jinak seperti kalian”

“Setan alas” geram Macan Kabranang, “bersiaplah untuk mati”

Macan Kabranang segera memberi isyarat kepada kedua orang kawannya sambil berkata, “Cepat selesaikan mereka. Jangan beri kesempatan bayi itu dibawa pergi”

Tanjung menjadi semakin ketakutan. Dengan demikian pemusatan perhatiannya kepada anaknya pun terpecah, sehingga Tatag justru tidak segera terdiam. Ia masih saja menangis keras-keras meski pun ibunya, bibi dan neneknya sudah berusaha. Tetapisseperti juga Tanjung, dalam ketakutan mereka memang tidak dapat berbuat sebaik-baiknya untuk menenangkan Tatag.

Sementara itu, Macan Kabranang dan dua orang pengikutnya telah mulai menyerang. Sedangkan kedua orang laki-laki dan perempuan itu telah bergeser, justru mengambil jarak. Mereka akan menghadapi lawan-lawan mereka terpisah.

Macan Kebranang  pun kemudian telah memberi isjarat kepada kedua orang kawannya untuk bersama-sama menghadapi perempuan itu. Bahkan Macan Kebranang itu pun bergumam, “Cepat selesaikan perempuan itu. Aku akan menyelesaikan laki-laki inisecepatnya. Kita akan segera membawa anak itu bersama ibunya pergi”

Kedua orang laki-laki dan perempuan itu tidak menyahut. Namun mereka  pun sudah siap menghadapi ketiga orang gegedug dari gerombolan Macan Kebranang itu.

Begog dan kawannyalah yang telah bergerak lebih dahulu. Keduanya menyerang perempuan itu dengan garangnya.

Namun ternyata perempuan itu adalah perempuan yang tangkas. Dengan cepat perempuan itu berloncatan menghindari serangan kedua orang lawannya. Namun tiba-tiba perempuan itulah yang menyerang dengan loncatan-loncatan panjang.

Macan Kebranang masih sempat memperhatikan kedua orang pengikutnya bertempur melawan perempuan itu. Dengan lantang Macan Kebranang itu  pun memberikan perintah, “Jangan dihambat oleh perasaan belas kasihan. Jika perempuan itu berkeras melawan kalian, bunuh saja. Lemparkan mayatnya ke jalan di depan regol itu.”

Tetapi terdengar suara tertawa perempuan itu sambil berkata, “Ternyata kawan-kawanmu bukan bagian dari sekelompok harimau yang sedang marah seperti namamu. Mereka adalah anak-anak macan yang lucu, yang sedang bergairah untuk bermain-main”

“Perempuan iblis” geram Macan Kebranang, “sekilas ia menangkap kemampuan yang tinggi dari perempuan itu.

“Jika kau sudah puas memperhatikan orang-orangmu yang kebingungan itu, kita akan menentukan nasib kita sendiri Macan Kebranang”

“Bagus” geram Macan Kebranang, “bersiaplah. Ternyata aku harus membunuh kau lebih dahulu. Baru kemudian kami akan membunuh isterimu”

“Bukankah dalam loncatan-loncatan pertama kau sudah mampu menilai, siapakah yang akan memenangkan pertempuran itu?”

“Persetan. Tutup mulut. Kita akan bertempur” Laki-laki itu memang terdiam. Ia  pun justru bergeser surut ketika Macan Kebranang mendekatinya.

Namun macan Kebranang itu  pun tiba-tiba saja meloncat menerkamnya seperti seekor harimau yang lapar.

Laki-laki itu mengelak. Bahkan sambil berkata, “Kau menjadi garang seperti seekor harimau yang lapar. Bahkan kelaparan karena sudah berhari-hari kau tidak mendapatkan makan, sehingga kau sudah menjadi tidak berdaya lagi”

“Diam” bentak Macan Kebranang.

Laki-laki itu tidak menjawab. Ia harus mengelak lagi karena Macan Kebranang telah menyerangnya pula.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah bertempur dengan sengitnya. Ternyata Macan Kebranang benar-benar seorang yang garang. Bukan saja serangan-serangannya, tetapi Macan Kebranang itu telah mengaum benar-benar seperti seekor harimau yang garang.

Tetapi lawannya adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu maka serangan-serangan harimau yang marah itu sama sekali tidak menggetarkannya.

Ternyata bahwa Macan Kebranang tidak segera dapat menguasai lawannya. Serangan-serangannya banyak yang tidak menyentuh sasarannya. Berkali-kali Macan Kebranang itu berloncatan menerkam. Namun laki-laki itu dengan tangkasnya mengelak dan bahkan berganti menyerang.

Ketika kedua tangan Macan Kebranang itu terjulur menggapai leher laki-laki itu, maka laki-laki itu  pun dengan sigapnya mengelak. Sambil merendahkan diri, kali laki-laki itu tiba-tiba saja terjulur lurus menyamping.

Macan Kebranang terkejut. Tetapi ia tidak mampu lagi mengelak ketika kaki itu mengenai lambungnya.

Kemarahan Macan Kebranang bagaikan membakar ubun-ubunnya ketika ia terpelanting jatuh. Sambil menggeram Macan Kebranang itu bangkit berdiri.

“Kau telah membuat kesalahan yang sangat besar” geram Macan Kebranang.

“Kenapa”

“Kau adalah orang yang tidak tahu diri. Pada saat aku berniat sekedar memberi peringatan kepadamu, kau telah menyerang membabi buta dan sempat mengacaukan keseimbanganku. Karena itu, maka semua harapanmu untuk tetap hidup sudah lenyap. Jika semula aku hanya sekedar ingin memberimu peringatan, sekarang sikapku sudah berubah. Aku benar-benar ingin membunuhmu”

Laki-laki itu tertawa. Katanya, “Kau atau aku. Menurut penjajaganku, ternyata kemampuanmu tidak lebih dari kemampuan seorang pencuri jemuran. Aku menjadi heran, bahwa kau mengaku seorang pemimpin gerombolan yang bernama Macan Kebranang. Sebaiknya kau ganti namamu. Bukan Macan, tetapi kucing sakit-sakitan”

Orang itu menggeram marah sekali.-Tiba-tiba saja ia menempatkan sesuatu di ujung jari-jari tangannya kiri dan kanan.

“Kau sambung kuku-kukumu agar menyerupai kuku macan?” bertanya laki-laki itu.

Macan Kebranang mengumpat kasar. Katanya kemudian, “Kau akan menyesali kesombonganmu. Perempuan itu akan dicincang oleh kedua orang kawanku. Kernudian kau sendiri akan mengalaminya”

Tetapi laki-laki itu tertawa. Katanya, “Sempatkan melihat apa yang terjadi dengan kedua orang kawanmu yang bertempur melawan isteriku itu”

Macan justru membentak, “Kau ingin menipuku dengan licik. Pada saat aku memperhatikan kedua kawanku, kau akan menyerangku dengan tiba-tiba”

“Mungkin kau sering melakukan cara yang licik seperti itu. Tetapi aku tidak. Tetapi jika kau mencemaskan kemungkinan itu, biarlah aku mengambil jarak”

Laki-laki itu  pun segera meloncat mundur sengaja memberikan kesempatan kepada Macan Kebranang untuk memperhatikan pertempuran antara kedua orang pengikutnya melawan isteri laki-laki itu.

Macan Kebranang memang menjadi berdebar-debar. Sulit untuk mempercayainya. Kedua orang pengikutnya yang sudah memiliki pengalaman yang luas di dunia olah kanuragan itu, ternyata tidak mampu membendung serangan-serangan yang dilancarkan oleh perempuan itu. Beberapa kali kedua orang pengikut Macan Kebranang itu harus berloncatan surut. Bahkan seolah mereka bergantian terlempar dan jatuh terpelanting di tanah.

Terdengar suara-laki-laki itu, “Nah, apa yang kau lihat?”

Macan Kebranang itu mengaum dengan kerasnya. Jari-jari kedua tangannya  pun kemudian mengembang. Yang nampak adalah kuku-kuku baja yang tajam di ujung setiap jari tangannya itu.

Dengan garangnya Macan Kebranang itu  pun menyerang. Kedua tangannya terjulur dengan jari-jari terbuka menerkam tubuh laki-laki itu.

Tetapi laki-laki itu tidak membiarkan tubuhnya di koyak oleh kuku-kuku baja itu. Karena itu, maka laki-laki itu  pun bergerak pula dengan cepat, mengelakkan serangan itu. Bahkan tiba-tiba saja laki-laki itu meloncat sambil berputar. Kakinya terayun dengan derasnya menghantam kening Macan Kebranang, sehingga sekali lagi Macan Kebranang itu terlempar dan jatuh berguling di tanah.

Dengan cepat Macan Kebranang bangkit. Ia  pun segera bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Namun ketika laki-laki itu meluncur seperti anak panah, maka Macan Kebranang terkejut. Ia tidak mampu berbuat banyak ketika kaki laki-laki itu menghantam dadanya.

Macan Kebranang itu terdorong surut dengan derasnya. Tubuhnya menimpa sebatang pohon yang tumbuh di halaman. Terdengar tulang-tulangnya bagaikan berderak-dan retak.

Dengan susah payah Macan Kebranang itu bangkit berdiri. Namun rasa-rasanya sulit baginya untuk dapat bertempur lagi mengimbangi lawannya yang bergerak dengan cepat

Nampak kecemasan membayang di wajah Macan Kebranang. Sebagai seorang gegedug ia sudah bertualang sampai kemana-mana, sebelum pada suatu saat ia membangun sebuah sarang gerombolan yang diberinya nama seperti nama yang dipakainya sendiri. Macan Kebranang. Namun selama petualangnya yang lama, Macan Kebranang belum pernah menemui lawan seperti lak-laki yang malam itu dilawannya. Begitu tenang tetapi mapan.

Ketika ia menyempatkan diri untuk berpaling, melihat keadaan kedua orang kawannya, maka ternyata keduanya juga sudah kehilangan kesempatan untuk memenangkan pertarungan itu. Keduanya bergantian jatuh terpelanting, terlempar atau terjerembab, sehingga keduanya seolah-olah sudah tidak bertenaga lagi.

Namun dalam pada itu, ternyata perkelahian di malam hari itu telah membangunkan beberapa orang tetangga Nyi Sumi. Ketika dua tiga orang laki-laki yang terhitung berani mencoba untuk menjenguk lewat pintu gerbang yang terbuka maka jantung mereka  pun menjadi berdebaran. Ternyata di halaman rumah Nyi sumi itu telah terjadi pertempuran yang sengit. Pertempuran antara orang-orang yang berilmu yang menurut penglihatan tetangga-tetangga Nyi Sumi adalah pertempuran yang sengit.

“Kami tidak berani mencampurinya, ” berkata seorang diantara mereka.

“Lalu apa yang harus kita lakukan. Jika terjadi sesuatu dengan Nyi Sumi dan anaknya serta perempuan. yang mengemban anaknya itu, maka kita akan menyesalinya ketidakmampuan kita menyelamatkannya”

“Pukul kentongan dengan nada titir”

“Ya. Pukul kentongan”

Demikianlah maka sejenak kemudian terdengar suara kentongan-dengan irama titir. Yang mula-mula terdengar adalah suara kentongan yang bergantung di serambi banjar. Kentongan yang besar yang suaranya memenuhi padukuhan.

Sejenak kemudian, maka suara kentongan itu  pun bersambut. Kentongan yang lain  pun telah dibunyikan pula dengan irama titir.

Laki-laki dan perempuan yang hampir saja menyelesaikan lawan-lawan mereka itu  pun berloncatan surut untuk mengambil jarak. Dengan lantang laki-laki itu berkata, “Ki Sanak. Sebentar lagi, semua laki-laki di padukuhan ini akan keluar. Aku berdua akan pergi. Jika kalian mencoba untuk melawan mereka, maka kalian tentu akan dicincang disini. Kalian sudah tidak berdaya lagi. Tenaga kalian sudah terkuras habis. Karena itu, terserah, apa yang akan kalian lakukan”

Sekejap kemudian, maka kedua orang suami isteri itu  pun telah berloncatan masuk ke dalam kegelapan.

Macan Kabranang termangu-mangu sejenak. Jika saja tenaga dan kemampuan mereka masih utuh, maka mereka tidak akan gentar menghadapi orang-orang padukuhan. Meskipun mereka akhirnya tidak dapat memenangkan pertempuran melawan orang se padukuhan, namun mereka yakin, bahwa korban akan banyak yang jatuh, sementara mereka yakin, bahwa mereka akan dapat meloloskan diri.

Tetapi menghadapi orang-orang padukuhan dalam keadaan yang sulit itu, maka akibatnya akan dapat buruk sekali bagi mereka.

Karena itu, maka mereka bertiga  pun kemudian sepakat untuk meninggalkan halaman rumah itu. Tetapi mereka tidak keluar dari halaman lewat pintu regol halaman, tetapi dengan susah payah sambil menyeringai menahan sakit, mereka pergi ke kebun belakang dan keluar lewat pintu butulan.

Sebenarnyalah beberapa saat kemudian, maka jalan-jalan  pun telah dipenuhi oleh banyak orang yang terbangun karena suara kentongan. Mereka berlari-larian pergi ke banjar, karena mereka tahu, bahwa kentongan yang pertama di bunyikan adalah kentongan di banjar. Di banjar mereka mendapat keterangan bahwa telah terjadi perampokan di rumah Nyi Sumi.

“Apa yang dirampok di rumah janda itu?”

“Perempuan yang membawa anak itu adalah perempuan yang sebelumnya diikuti oleh Nyi Sumi”

“Apa ia seorang perempuan yang kaya, yang membawa perhiasan mas berlian, sehingga segerombolan perampok datang ke rumahnya malam ini?”

“Entahlah”

“Atau mungkin ada persoalan lain?”

“Entahlah”

“Membalas dendam barangkali?”

“Entahlah”

“Jadi apa?”

“Entahlah”

Yang bertanya  pun kemudian terdiam.

Baru kemudian, setelah mereka sampai di rumah Nyi Sumi, maka mereka  pun baru tahu apa yang telah terjadi. Tanjung mendengar semua pembicaraan orang-orang yang berada di luar rumah itu. Sedangkan Nyi Sumi dan Mulat mendengar sebagian besar dari pembicaraan orang-orang yang datang ke rumahnya itu.

“Mereka menginginkan bayi itu, Ki Bekel” jawab Nyi Sumi ketika Ki Bekel dan Ki Jagabaya datang ke rumahnya dan bertanya tentang peristiwa yang terjadi di rumah itu.

“Ada apa sebenarnya dengan bayi itu?” bertanya Ki Bekel.

“Aku tidak tahu, Ki Bekel. Tetapi menurut mereka, suara tangis bayi itu sangat menarik perhatian”

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Kasihan anak itu. Ia dapat menjadi rebutan. Bukan saja dua pihak sebagaimana yang baru datang. Tetapi mungkin akan datang pihak-pihak yang lain lagi”

“Ya” Ki Bekel menyahut. Tetapi nadanya terasa berbeda. Dengan kerut di dahi Ki Bekel itu  pun berkata, “Sebelum ada bayi itu, jarang sekali terjadi kerusuhan disini. Tiba-tiba saja sekarang daerah ini menjadi sangat rawan. Daerah ini akan dapat menjadi ajang pergulatan antara beberapa gerombolan orang-orang yang berilmu tinggi”

“Kita harus ikut campur, Ki Bekel”

“Ikut campur apa maksud Ki Jagabaya?”

“Kita harus melindungi anak itu. Bukankah itu menjadi kewajiban kita melindungi rakyatnya?”

“Tetapi anak itu beserta ibunya bukan penghuni padukuhan ini”

“Mereka sekarang tinggal di sini, Ki Bekel”

“Tetapi bukankah kalian belum memberikan laporan kepadaku, sehingga kami masih belum ikut bertanggung jawab atas keselamatan kalian”

“Datanglah besok menemui Ki Bekel untuk melaporkan keberadaan bayi itu bersama ibunya disini. Maka setelah itu, kalian akan berada di bawah perlindungan kami”

“Aku tidak berkeberatan memberikan perlindungan Ki Jagabaya. Tetapi kita harus melihat kenyataan. Jika orang-orang berilmu tinggi itu datang, apa yang akan kita perbuat?”

“Kalau kita seluruh padukuhan ini bergerak?”

“Jika kau masih hidup, kau akan dapat menghitung, berapa banyak mayat akan berserakan di jalan-jalan utama padukuhan kita ini”

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Namun sambil menarik nafas panjang ia  pun berkata, “Apa  pun caranya, tetapi menjadi kewajiban kita untuk melindungi rakyat kita. Mungkin aku dapat minta bantuan beberapa orang berilmu dari perguruan-perguruan yang aku kenal. Setidak-tidaknya perguruanku sendiri”

Ki Bekel menarik nafas panjang.

Beberapa saat kemudian, maka Ki Bekel  pun minta diri. Kepada Ki Jagabaya, Ki Bekel itu bertanya, “Ki Jagabaya mau pulang sekarang atau nanti?”

“Nanti Ki Bekel. Mungkin aku menunggu fajar”

Ki Bekel menarik nafas panjang. Namun ia  pun kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan rumah itu setelah minta diri kepada Nyi Sumi, Mulat dan Tanjung.

Tetapi Ki Jagabayaa tetap tinggal di rumah Nyi Sumi bersama beberapa orang tetangga.

Kepada Nyi Sumi, Ki Jagabaya  pun berkata, “Jangan takut, Yu Sumi. Kami akan melindungimu. Aku akan minta bantuan satu dua orang saudara seperguruanku”

“Terima kasih, Ki Jagabaya”

Ki Jagabaya dan beberapa orang laki-laki berada di rumah Nyi Sumi sampai fajar. Baru ketika langit menjadi merah, mereka  pun minta diri.

Nyi Sumi sendiri, Mulat dan Tanjung tidak dapat tidur lagi. Sepeninggal Ki Bekel, Mulat justru pergi ke dapur untuk merebus air. Dibuatnya wedang jahe dan dihidangkannya kepada Ki Jagabaya dan tetangga-tengganya yang masih ada di rumahnya sampai fajar.

Namun peristiwa malam itu telah membuat seisi rumah itu menjadi gelisah. Apalagi jika mereka mengingat pernyataan Ki Bekel, bahwa sebelum ada bayi di padukuhan itu, keadaan padukuhan itu terasa tenang.

“Apakah anakku telah membuat padukuhan ini bergejolak?” bertanya Tanjung kepada diri sendiri.

Didekapnya Tatag di dadanya. Air yang bening menitik dari matanya, membasahi wajah anak itu.

Tatag membenamkan wajahnya di dada ibunya, seakan-akan ingin menghapus titik air mata yang jatuh di wajahnya itu. Bahkan anak itu seakan-akan berkata, “Jangan menangis ibu”

Tanjung mencium anaknya. Air matanya semakin membasahi wajah, anak itu. Sedangkan Tatag memandanginya dengan kerut-kerut di dahinya.

Ketika Nyi Sumi mendekatinya, maka Tanjung itu  pun berkata dengan sendat, “Ibu. Apakah anakku telah mengganggu ketenangan hidup di padukuhan ini?”

“Tidak, ngger. Tidak”

“Bukankah ibu juga mendengar apa yang dikatakan oleh Ki Bekel?”

“Tetapi bukankah kau juga mendengar apa yang dikatakan oleh Ki Jagabaya?”

“Tanjung” Mulat yang mendekat  pun menyela, “Kau belum mengenal sifat dan watak Ki Bekel. Ia seorang pemimpin yang malas. Ia selalu berusaha menghindar dari tugas-tugas yang terasa berat. Yang diinginkannya, segala sesuatunya akan dapat menjadi baik dengan sendirinya, tanpa harus berbuat sesuatu. Selama ini yang bekerja keras memang Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu. Sedangkan Ki Bekel lebih senang menikmati kedudukannya tanpa melakukan apa-apa. Yang diharapkannya adalah pisungsung dari rakyatnya. Bahkan kadang-kadang dengan memberikan kesan-kesan tertentu yang bernada mengancam”

Tanjung menarik nafas panjang.

“Karena itu, jangan berpikir yang macam-macam Tanjung. Semua orang tahu, sifat dan watak Ki Bekel. Tetapi banyak orang yang tentu bersedia melindungimu, termasuk Ki Jagabaya”

“Ya, yu”

Sebenarnyalah bahwa Ki Jagabaya tidak membiarkan keluarga Nyi Sumi itu menjadi ketakutan. Ia telah memerintahkan anak-anak muda untuk semakin giat meronda dan bahkan berkeliling padukuhan. Mereka harus membagi daerah perondan mereka dengan jelas, sehingga tidak ada rumah yang tidak dilewati para peronda keliling di malam hari.

“Jangan hanya sekali berkeliling. Tetapi sedikitnya tiga kali. Di wayah sepi uwong sekali. Di tengah malam sekali dan di dini hari sekali”

“Baik, Ki Jagabaya” jawab anak-anak muda. Sebenarnyalah bahwa anak-anak muda itu tidak hanya mengiakan saja perintah Ki Jagabaya. Tetapi mereka benar-benar-menjalaninya. Anak-anak muda yang mendapat giliran meronda itu setiap malam nganglang tiga kali sebagaimana di kehendaki oleh Ki Jagabaya.

Sementara itu, Ki Jagabaya sendiri juga sering memerlukan datang ke rumah Nyi Sumi. Setiap kali Ki Jagabaya selalu menanyakan keselamatan bayi yang tangisnya sangat menarik perhatian itu.

“Bagaimana keadaan anakmu Tanjung?” bertanya Ki Jagabaya ketika sedikit lewat senja ia datang ke rumah Nyi Sumi.

“Baik-baik saja Ki Jagabaya”

“Sukurlah. Tetapi tangis anakmu memang menarik sekali. Ada yang lain dari tangis kebanyakan bayi yang pernah aku dengar. Bahkan anak-anakku sendiri”

“Sebenarnya apanya yang terasa lain Ki Jagabaya?” bertanya Tanjung yang setiap kali mendengar kata orang bahwa tangis anaknya itu terdengar lain dengan tangis bayi-bayi kebanyakan.

“Sulit untuk mengatakan. Tetapi seorang yang mendengarkan anakmu menangis, terasa jantungnya bergetar. Tangis itu seakan-akan melontarkan kekuatan tertentu, sehingga pengaruhnya terasa oleh mereka yang mendengar tangis anakmu itu”

“Aku tidak pernah merasakan kelainan itu”

“Karena kau ibunya. Kau tentu berada terlalu dekat dengan anak itu. Seakan-akan antara kau dan anakmu itu tidak ada jarak. Justru karena itu, maka apa yang ada pada anakmu itu rasa-rasanya biasa-biasa saja.”

Tanjung hanya dapat menarik nafas.

“Sudahlah. Sebaiknya kau tidur tidak terlalu malam. Selagi anakmu tidur, sebaiknya kau juga tidur. Nanti malam anakmu tentu terbangun pada waktu yang tidak dapat ditentukan. Setelah itu belum tentu anakmu akan segera dapat tidur lagi, sehingga kau  pun harus berjaga-jaga menungguinya”

“Ya, Ki Jagabaya”

Ki Jagabaya  pun kemudian telah minta diri.

Sikap Ki Jagabaya rasa-rasanya dapat memberikan ketenangan kepada keluarga Nyi Sumi yang terdiri dari tiga orang janda itu. Rasa-rasanya keberadaan Ki Jagabayadi rumah itu, bagaikan payung yang lebar yang memberikan perlindungan disaat matahari yang terik membakar langit Juga memberikan perlindungan di saat air hujan tertumpah dari awan kelabu.

Karena itu, jika Ki Jagabaya tidak datang sehari saja, keluarga kecil itu menjadi gelisah.

Tetapi yang tidak diduga itu  pun telah terjadi.

Di pagi hari, sebelum Tanjung sempat memandikan anaknya, telah datang kerumah yang sederhana itu, Nyi Jagabaya. Tanpa bertanya apa-apa, Nyi Jagabaya langsung membentak-bentak marah.

“Mana Tanjung” teriak Nyi Jagabaya.

“Ada apa Nyi? Ada apa?” bertanya Nyi Sumi dengan sareh.

“Mana perempuan jalang itu?”

“Kenapa dengan Tanjung, Nyi?” bertanya Mulat.

“Kalian tidak usah mencampuri urusanku dengan Tanjung. Aku akan membunuh jalang itu”

“Kenapa? Apa yang sudah dilakukan?”

“Kau masih bertanya Mulat. Begitu bodohnya kau yang sudah ubanan itu. Bukankah kau perempuan juga seperti aku? Seperti Tanjung? Bukankah pada suatu saat kau merasa membutuhkan seorang laki-laki? Aku tahu, kau pernah menikah Mulat. Kalau suamimu mati, itu adalah nasibmu. Tetapi bukankah kau membiarkan suamimu mati tanpa bersedih?”

“Aku tidak tahu maksud Nyi Jagabaya”

“Sekarang panggil Tanjung”

“Tanjung baru mempersiapkan air hangat untuk memandikan anaknya. Nyi”

“Aku tidak peduli. Panggil Tanjung”

Tanjung yang beradadi biliknya untuk menyiapkan air hangat bagi Tatag, mendengar suara Nyi Jagabaya yang melengking-lengking itu. Karena itu, maka ditinggalkannya anaknya untuk datang menemui Nyi Jagabaya.

“Nah, itu. Jalang itu. He, kau dapat saja melacur dimana kau mau. Tetapi jangan di padukuhan ini. Jangan pula mencoba memikat suamiku. Aku masih memerlukannya. Ia masih aku anggap penting bagiku dan bagi anak-anakku”

Tanjung terkejut sekali mendengar umpatan itu. Sebelum ia sempat menyahut, Nyi Jagabaya telah berteriak lagi, “Tanjung. Kau apakan suamiku, he? Guna-guna apa yang kau pergunakan untuk membuat suamiku lupa kepada anak isterinya.

“Nyi” suara Tanjung terdengar bergetar, “Aku tidak mengerti maksud Nyi Jagabaya”

“Tentu saja kau berpura-pura bodoh. Berpura-pura lugu dan seakan-akan tidak tahu apa-apa. Biasanya para pelacur juga berbuat seperti yang kau lakukan itu”

“Nyi Jagabaya” potong Nyi Sumi, “anakku itu orang baik-baik. Ia baru saja ditinggal suaminya meninggal. Anaknya  pun masih bayi. Bagaimana mungkin Nyi Jagabaya mengatakan bahwa ia seorang pelacur?”

“Ia bukan anakmu Nyi. Semua orang tahu, bahwa anakmu hanya satu, Mulat. Perempuan itu tentu pelacur yang kapiran dan kau bawa pulang. Suaminya mati karena sedih memikirkan tingkah lakunya”

“Nyi. Itu sudah keterlaluan” potong Mulat, “sebaiknya Nyi Jagabaya pulang. Berbicara dengan Ki Jagabaya. Menurut penglihatanku, jika Ki Jagabaya datang kemari, yang dilakukannya tidak lebih dari sekedar menjalankan tugasnya melindungi rakyatnya”

“Ya. Mula-mula itulah yang dilakukan. Tetapi pelacur itu selalu menggodanya. Berusaha menarik perhatiannya dan kemudian menjeratnya”

“Tidak. Tidak. Itu tidak pernah aku lakukan” Tanjung mulai menangis betapa pun ia mencoba bertahan.

“Bohong. Kau berkata begitu karena kau tahu aku isterinya. Jika aku bukan isteri Ki Jagabaya, kau akan berceritera dengan bangga, bahwa kau dapat merebut hati Ki Jagabaya dan kemudian mengendalikannya seperti mengendalikan kerbau yang sudah dicocok hidungnya”

“Tidak, ibu. Tidak. Aku tidak melakukannya” tiba-tiba saja Tanjung itu memeluk Nyi Sumi, Ia masih bertahan untuk tidak menangis meski pun air matanya membasahi bahu Nyi Sumi.

“Aku tahu. Kau tidak melakukannya, ngger. Tenanglah. Aku tahu. Semua orang tahu bahwa kau tidak melakukannya.

“Nyi” berkata Mulat kemudian, “Aku minta Nyi Jagabaya meninggalkan rumah ini. Aku akan menyelesaikan persoalan ini dengan Ki Jagabaya”

“Tidak. Aku tidak akan pulang sebelum aku yakin bahwa pelacur itu tidak akan mengganggu suamiku lagi”

“Baik. Jika Nyi Jagabaya tidak mau pulang dan tetap menuduh adikku sebagai seorang pelacur, maka aku juga akan mempergunakan cara yang kasar untuk meredam ceritera khayalan Nyi Jagabaya”

“Kau mau apa?”

“Nyi Jagabaya sangka, bahwa aku tidak tahu apa yang pernah Nyi Jagabaya lakukan selama kau menjadi isteri Ki Jagabaya? Orang-orang padukuhan ini memang berusaha melupakan ceritera buruk itu. Tetapi jika perlu, aku akan mengungkit kembali ceritera itu”’

“Ceritera apa?”

“Apakah Nyi Jagabaya tidak ingat lagi kepada laki-laki nista yang sering menggembalakan itik di pinggir sungai itu? Hantu manakah yang waktu itu merasuk di hati Nyi Jagabaya, sehingga Nyi Jagabaya telah selingkuh dengan gembala yang tidak berharga di mata orang banyak itu? Laki-laki itu sering mencuri, sering menipu dan berpura-pura. Bukankah laki-laki itu bagaikan pecahan gerabah saja jika ia dibandingkan dengan Ki Jabagaya? Ia memang seorang laki-laki yang gagah. Seorang laki-laki yang tampan. Tubuhnya kokoh kuat. Agaknya itulah yang telah menarik hati Nyi Jagabaya”

“Cukup” Nyi Jagabaya itu  pun berteriak.

“Waktu itu Ki Jagabaya sudah memaafkanmu meski pun Ki Jagabaya mengetahui apa yang telah terjadi”

“Bohong. Itu kabar bohong”

“Nyi. Aku masih akan membuka rahasiamu lebih dalam lagi jika kau tidak mau berhenti menuduh adikku yang bukan-bukan. Adikku ini lebih bersih dari kau, Nyi. Jika kau menganggap adikku ini sampah, maka kau adalah sampah yang telah membusuk”

Tanjung  pun melepaskan ibunya. Ia justru memeluk Mulat yang hampir tidak dapat mengendalikan kemarahannya.

“Sudahlah, yu. Sudah”

“Bukan aku yang memulainya, Tanjung. Tetapi perempuan itu”

Wajah Nyi Jagabaya menjadi merah padam. Namun kemudian ia  pun melangkah cepat-cepat meninggalkan rumah Nyi Sumi.

“Agaknya beberapa orang tetangganya mendengar pertengkar-an itu. Semula hanya seorang saja yang mendengarnya ketika perempuan itu kebetulan lewat. Namun kemudian yang seorang itu telah memberitahukan kepada seorang yang lain dan yang lain lagi.

Lima orang perempuan yang kemudian datang ke rumah Nyi Sumi untuk menanyakan persoalan apa saja yang dipertengkar-kan dengan Nyi Jagabaya.

Nyi Sumi, Mulat dan Tanjung tidak dapat berbohong. Perempuan yang pertama telah mendengar kata-kata keras Nyi Jagabaya, sehingga perempuan itupun.tahu pasti, untuk apa Nyi Jagabaya datang ke rumah Nyi Sumi untuk menemui Tanjung.

“Aku menjadi sedih sekali” desis Tanjung sambil mengusap matanya yang basah.

“Jangan hiraukan Tanjung. Perempuan itu memang seorang perempuan yang kasar. Apalagi setelah menjadi isteri Ki Jagabaya. Ia merasa bahwa ia adalah perempuan yang mempunyai kedudukan tertinggi di samping Nyi Bekel”

“Tetapi hatiku telah terluka”

“Anggap saja seperti kicau burung di pagi hari” Sedangkan perempuan yang lain  pun berkata, “Nyi Jagabaya memang tidak tahu diri. Seharusnya ia dapat menilai dirinya sendiri. Perempuan macam apakah dirinya itu? Kecuali jika hatinya putih seperti kapas, ia dapat menyalahkan orang lain”

Perempuan-perempuan itu memang dapat membesarkan hati Tanjung. Tetapi jika persoalannya akan berulang dan berulang, maka hidupnya tentu tidak akan pernah merasakan tenang.

Hari itu Tanjung selalu dibayangi oleh kegelisahannya. Agaknya kegelisahan Tanjung itu telah mempengaruhi ketenangan anaknya pula, sehingga Tatag  pun menjadi agak rewel. Tidak biasanya Tatag merengek-rengek. Tatag adalah seorang anak yang jarang sekali menangis. Tetapi jika ia menangis, maka rasa-rasanya rumah sederhana itu bagaikan terguncang.

“Sudahlah, Tanjung. Lupakanlah. Ki Jagabaya tentu akan menjelaskan kepada isterinya, bahwa setiap kali ia datang kemari, semata-mata karena ia menjalankan tugasnya melindungi rakyatnya yang terancam bahaya.

Menjelang senja, Tanjung memang menjadi agak tenang. Ketika anaknya tidur, Tanjung pergi ke pakiwan untuk mandi, kemudian berbenah diri. Baru kemudian ia pergi ke dapur membantu Mulat yang menyiapkan makan malam bagi mereka.

“Sudahlah Tanjung. Tunggui saja anakmu”

“Anak itu tidur, yu”

Ketika kemudian malam turun, maka mereka bertiga  pun duduk di ruang dalam untuk makan malam bersama-sama.

Namun sebelum mereka mulai makan, mereka terkejut ketika pintu rumah yang sudah ditutup itu diketuk orang.

“Siapa?” bertanya Mulat.

“Aku “

Suara itu telah mendebarkan jantung ketiga orang perempuan itu. Suara itu adalah suara Ki Jagabaya.

Mulatlah yang kemudian bangkit untuk membuka pintu. Sebenarnyalah yang datang itu adalah Ki Jagabaya”

“Marilah Ki Jagabaya. Atau barangkali Ki Jagabaya sudi makan bersama kami?”

“Terima kasih, aku sudah makan. Aku hanya sebentar”

Nyi Sumi dan Mulat  pun kemudian menemui Ki Jagabaya, sedangkan Tanjung justru pergi ke biliknya.

“Ada yang ingin aku tanyakan” berkata Ki Jagabaya kemudian, “apakah isteriku pagi tadi datang kemari?”

“Ya, Ki Jagabaya. Begitu Nyi Jagabaya datang, Nyi Jagabaya  pun langsung marah-marah. Nyi Jagabaya telah menuduh Tanjung berbuat yang bukan-bukan”

“Biarlah aku yang minta maaf atas kelakuan isteriku. Aku sudah menjelaskannya. Ia tidak akan datang untuk kedua kalinya”

“Terima kasih, Ki Jagabaya”

“Dimana Tanjung sekarang?”

“Menunggui anaknya, Ki Jagabaya”

“Tolong. Aku ingin bertemu. Sebentar saja”

Nyi Sumi sempat menjadi ragu, Namun ia  pun kemudian bangkit dan pergi ke bilik Tanjung.

“Ki Jagabaya ingin bertemu, Tanjung”

“Tolong ibu, katakan bahwa anakku baru akan tidur”

“Ki Jagabaya tentu akan menunggu. Karena itu, temui sebentar. Ia akan segera pulang”

Tanjung tidak membantah. Ia  pun kemudian keluar dari biliknya untuk menemui Ki Jagabaya”

Ki Jagabaya memang hanya sebentar. Ia hanya minta maaf bagi isterinya.

Seperti. yang dikatakannya kepada Nyi Sumi, Ki Jagabaya itu  pun berkata, “Peristiwa seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi, Tanjung”

“Terima kasih atas perhatian Ki Jagabaya. Tetapi sebaiknya Ki Jagabaya juga tidak usah sering datang kemari. Aku sudah merasa aman jika kami mendengar suara kotekan anak-anak muda yang meronda.

“Aku merasa harus menjalankan kewajibanku, Tanjung. Tetapi aku akan mendengarkan pendapatmu itu”

Ki Jagabaya  pun kemudian telah minta diri. Katanya pula, “Masih ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan”

“Silahkan Ki Jagabaya”

Sepeninggal Ki Jagabaya, maka Nyi Sumi  pun berdesis, “Mudah-mudahan yang dikatakan Ki Jagabaya itu benar, bahwa Nyi Jagabaya tidak akan datang lagi dan mempersoalkan suaminya itu”

Meski pun demikian, ternyata Tanjung yang sudah hampir berhasil meredam gejolak hatinya, rasa-rasanya bagaikan diungkit lagi.

“Ibu dan mbokayu” berkata Tanjung kemudian, “Aku kira sebaiknya aku tidak tinggal disini”

“Tidak tinggal disini? Jika kau tidak tinggal di sini, kau akan tinggal dimana?”

Tanjung menundukkan wajahnya. Pertanyaan itu memang tidak dapat dijawabnya. Ia sendiri-rasa-rasanya sudah tidak mempunyai sanak kadang yang akan dapat menerimanya.

Namun dengan suara yang lemah Tanjung itu berdesis, “Tetapi keberadaanku disini ternyata menimbulkan persoalan. Aku telah membuat padukuhan ini tidak tenang. Aku juga sudah membuat keluarga Ki Jagabaya terguncang. Sementara itu nampaknya Ki Jagabaya memerlukan dukungan bagi tugas-tugasnya oleh Nyi Jagabaya. Setidak-tidaknya dukungan jiwani”

“Jangan berpikir macam-macam Tanjung. Asal kita tidak berniat menyalahi orang lain, maka yang terjadi itu adalah dituar tanggung jawab kita”

Tanjung  pun terdiam.

“Sudahlah Tanjung. Bukankah kita akan makan malam?”

Mereka  pun kemudian duduk kembali dan bersiap-siap untuk makan. Tetapi selera Tanjung sudah hilang.

Meskipun demikian, Tanjung masih juga berusaha untuk menyuapi mulutnya.

“Kau harus makan banyak Tanjung. Kau mempunyai anak kecil yang masih harus kau susui” Mulat mencoba untuk bergurau.

Tanjung memang tersenyum. Namun ia tidak menjawab.

Setelah makan malam, Tanjung membantu Mulat mencuci mangkuk dan alat-alat dapur yang masih kotor. Sementara itu Nyi Sumi duduk menunggui Tatag yang sedang tidur nyenyak.

Dipandanginya wajah Tatag yang bersih. Bahkan didalam tidurnya Tatag itu tersenyum-senyum. Agaknya anak itu bermimpi indah.

Namun dalam suasana yang sepi, Nyi Sumi sempat bertanya-tanya didalam hatinya”Siapakah yang telah sampai hati membuang bayinya yang manis, tampan, putih dan sehat ini? Apakah anak ini tidak jelas siapa ayahnya, atau karena sebab-sebab lain. Atau memang anak genderuwo atau wewe?”

Nyi Sumi menarik nafas panjang. Ia  pun kemudian bertanya pula kepada diri sendiri, “Kenapa tangisnya dapat menarik perhatian banyak orang? Kenapa perempuan sebelah yang mempunyai anak sebaya Tatag juga merasakan bahwa tangis Tatag berbeda dengan tangis anaknya?”

Namun Nyi Sumi tidak tahu jawab pertanyaan-pertanyaan yang bergejolak didalam hatinya itu.

Dalam pada itu, setelah selesai pekerjaannya di dapur, maka Tanjung  pun kemudian masuk ke dalam biliknya. Dilihatnya ibu angkatnya itu masih saja duduk sambil mengusir nyamuk yang terbang diatas tubuh Tatag.

“Anakmu tidur nyenyak sekali Tanjung”

“Mungkin anak itu letih, ibu”

“Aku menjadi cemas, bahwa kegelisahannya siang tadi akan dibawanya ke dalam mimpinya. Tetapi ternyata anak itu justru tersenyum-senyum dalam tidurnya”

“Sukurlah. Mudah-mudahan anak itu tidak sering menangis malam ini”

“Kau  pun harus segera tidur Tanjung. Mungkin anak itu akan terjaga. Kau  pun harus ikut bangun pula”

“Ya, ibu” jawab Tanjung.

Nyi Sumi pun meninggalkan Tanjung yang kemudian berbaring disisi Tatag yang masih tidur nyenyak.

Beberapa saat kemudian, seisi rumah itu sudah tertidur pula. Mulat tidur di dalam biliknya. Demikian pula Nyi Sumi. Sedangkan Tanjung tidur disebelah anaknya.

Ketika malam menjadi semakin malam, maka gardu-gardu parondan pun mulai terisi. Pada wayah sepi bocah, kentong di gerdu-gerdu perondan itu pun telah dibunyikan, memanggil para peronda yang masih belum ke gardu. Namun biasanya tidak hanya mereka yang meronda yang berada di gardu, tetapi kawan-kawan mereka yang masih belum tidur juga pergi ke gardu untuk sekedar berkelakar, bergurau dan mengisi waktu bersama kawan-kawan mereka.

Seperti pesan Ki Jagabaya, pada saat wayah sepi uwong, sebagian dari anak-anak muda itu pun telah pergi nganglang melalui jalan-jalan kecil di padukuhan mereka menurut daerah masing-masing. Mereka membawa kentongan-kentongan kecil yang mereka bunyikan disepanjang jalan dengan irama kotekan.

Namun dalam pada itu, beberapa orang yang bersembunyi di belakang gerumbul-gerumbul perdu memperhatikan anak-anak yang sedang meronda itu sambil tersenyum-senyum. Seorang diantara mereka pun berkata, “Rajin juga anak-anak itu meronda”

“Bukankah ketokan itu merupakan isyarat bagi kita?

“Isyarat?”

“Ya. Demikian mereka lewat, maka kita harus segera mengambil perempuan dan anaknya itu”

“Ya”

“Para peronda baru akan nganglang lagi nanti tengah malam. Masih ada waktu cukup”

“Baik. Kita akan pergi ke rumah itu. Kita akan singgah di kebun kosong sebentar. Bukankah kita harus menemuinya di sebelah sumur mati itu”

“Ya. Mari, jangan kehilangan waktu. Anak-anak yang meronda itu sudah lewat”

Beberapa orang itu pun mulai bergerak. Mereka akan singgah di kebun kosong sebelah jalan untuk menemui seseorang di dekat sumur mati.

Orang yang akan mereka temui itu memang sudah menunggu di dekat sumur mati itu. Demikian beberapa orang itu datang kepadanya, maka orang didekat sumur mati itu pun segera menemui sambil berkala, “Bagus. Nampaknya kalian sudah siap”

“Tentu” jawab seorang diantara beberapa orang itu, yang agaknya pemimpin mereka.

“Lakukan sekarang. Peronda itu baru saja nganglang. Mereka akan bergerak lagi lengah malam. Sebelum lengah malam kalian harus sudah berhasil membawa perempuan itu besena anaknya”

“Tugas apakah ini sebenarnya? Begitu mudahnya. Namun nanfpaknya kau sangat gelisah”

“Aku memang gelisah. Ada beberapa pihak yang menginginkan perempuan dan anaknya itu”

“Percayakan kepada kami”

“Sebelumnya Macan Kabranang sudah datang. Tetapi ia pun gagal karena ada sepasang suami isteri yang juga datang untuk mengambil perempuan dan anak itu”

“Berapa orang yang menemani Macan Kabranang?”

“Tidak jelas”

“Aku membawa sekelompok orang. Ada delapan orang yang datang termasuk aku. Seandainya Macan Kabranang kembali malam ini, aku akan menyelesaikannya. Orang itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi Macan Kabranang belum pernah menjajagi ilmu perguruan kita”

“Hati-hatilah”

“Kami akan berhati-hati”

“Jangan lupa. Bawa perempuan dan anaknya itu ke seberang. Aku akan segera menyusul”

“Baik. Kami akan menyelesaikan’sesuai dengan rencana yang telah kau susun”

Demikianlah, maka sekelompok orang itu pun segera meninggalkan orang yang menunggu di dekat sumur mati itu. Mereka menyelinap diantara semak-semak. Kemudian meloncati dinding halaman. Dengan hati-hati mereka pun langsung menuju ke rumah Nyi Sumi.

Rumah itu nampak sepi. Beberapa orang itu pun memasuki halaman dan menyelinap dibelakang gerumbul-gerumbul perdu.

Beberapa saat mereka menunggu. Setelah mereka yakin bahwa tidak akan ada hambatan apa pun juga, maka pemimpin gerombolan itu pun berkata, “marilah. Sekarang”

Mereka pun serentak bangkit. Dua orang langsung menuju ke pintu. Perlahan-lahan orang itu pun mengetuk pintu rumah Nyi Sumi.

Tetapi rumah itu sudah menjadi sepi. Semua penghuninya sedang tidur nyenyak didalamnya.

Orang yang mengetuk pintu itu mengulanginya. Lebih keras, sehingga Tanjung pun terbangun.

Perlahan-lahan Tanjung pun beringsut ke bilik Mulat. Di bangunkannya Mulat perlahan-lahan.

Demikian Mulat membuka matanya, Tanjung pun segera berdesis. “Ada apa?”

“Ada orang mengetuk pintu” bisik Tanjung.

Pintu itu pun telah diketuk lagi, sehingga Mulat pun mendengarnya.

Perlahan-lahan Mulat pun bangkit. Ketika ketukan di pintu itu menjadi semakin keras, Mulat pun bertanya, “Siapa yang mengetuk pintu?”

“Buka pintu. Jangan ribut”

“Siapa kau?”

“Cepat, buka pintu atau aku bakar rumahmu” Mulat termangu-mangu sejenak. Ia sadar, bahwa orang yang mengetuk pintu rumahnya itu bukan orang yang bermaksud baik.

Karena itu, maka Mulat. tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun segera pergi ke serambi samping. Dipukulnya kentongannya. Meski pun kentongan yang terbuat dari bambu itu kecil saja, tetapi suaranya justru melengking sampai ke gardu.

“Perempuan-perempuan iblis” geram pemimpin sekelompok orang yang mendatangi rumah Nyi Sumi. Mereka tidak lagi mengetuk pintu. Tetapi dua orang bersama-sama menghentakkan pintu rumah itu dengan kakinya, sehingga pintu itu pun terbuka/

“Tahan mereka yang akan masuk ke halaman” terdengar pemimpin sekelompok orang itu memberikan aba-aba, “tinggalkan mereka setelah aku bawa perempuan dan anaknya itu pergi”

“Baik Ki Lurah” jawab seorang diantara mereka.

Empat orang telah pergi ke depan regol. Ketika suara kentongan itu bersiambat, maka tiga orang telah berada di dalam rumah itu. Mereka pun dengan serta-merta telah menangkap Tanjung. Dengan ancaman sebilah pisau belati, maka seorang diantara mereka mendorong Tanjung sambil bertanya, “Mana anakmu?”

”Anakku telah dibawa orang” jawab Tanjung.

“Jangan bohong”

“Tidak. Aku tidak bohong. Anakku telah diculik seorang yang tidak aku kenal sebelumnya”

Tetapi seorang yang lain tiba-tiba saja menemukan Tatag di sentongnya.

“Anak itu ada disini”

“Nah, kau benar-benar sudah berbohong”

“Ya. Aku tidak mau kau bawa anakku”

“Tidak hanya anakmu. Tetapi kau juga akan kami bawa”

Tidak ada kesempatan bagi Tanjung untuk berbuat sesuatu. Seorang diantara mereka yang memasuki rumah itu, mengancam Tanjung dengan pisau belati.

“Cepat lakukan semua perintahku, atau anak ini akan-mati”

Nyi Sumi pun berdiri membeku. Mulat pun tidak lagi memukul kentongan.

Tanjung tidak dapat berbuat lain kecuali menggendong anaknya dan melakukan semua perintah dari pemimpin orang-orang yang memasuki rumah Nyi Sumi itu.

Semuanya berlangsung begitu cepat. Sementara orang-orang padukuhan itu memang menjadi ragu-ragu melawan orang-orang yang berdiri di regol dengan pedang terhunus.

Beberapa saat kemudian, Tanjung dan anaknya telah hilang dari rumah itu. Mereka dibawa oleh sekelompok orang melalui jalan butulan di kebun belakang. Sementara itu orang-,orang yang tertahan sesaat di luar regol oleh beberapa orang bersenjata telanjang telah memasuki halaman. Orang-orang yang bersenjata telanjang itu telah menghilang dari halaman rumah Nyi Sumi.

Beberapa saat kemudian, Ki Bekel dan Ki Jagabaya pun telah datang pula. Seperti kedatangannya sebelumnya, Ki Bekel justru berkata, ”Perempuan dan anaknya itu telah mendatangkan gejolak di padukuhan ini. Sebelum mereka datang, tidak pernah terjadi kerusuhan yang jangat buruk seperti ini”

“Mereka tidak bersalah, Ki Bekel. Apalagi bayi itu”

“Lambat atau cepat, mereka akhirnya akan dibawa orang keluar dari padukuhan ini”

Tetapi Ki Jagabaya menyahut, “Satu pertanda kegagalan dari tugas kita sebagai bebahu di padukuhan ini, Ki Bekel”

“Tidak. Persoalan ini terlalu kecil untuk menyebut sebagai satu kegagalan dari kepemimpinanku. Ada seribu masalah yang sudah dapat kita pecahkan selama ini. Sementara itu, satu persoalan kecil yang sebenarnya dituar tanggung jawab kita, tidak akan dapat menghapus segala keberhasilan kita itu”

“Ki Bekel meremehkan jiwa sesama kita”

“Sama sekali tidak. Justru karena aku mencemaskan nasib rakyatku sendiri”

Ki Jagabaya tidak menyahut. Ia tahu, bahwa tidak ada gunanya untuk berbicara lebih panjang lagi.

Nyi Sumi dan Mulat hanya dapat menangis. Keduanya merasa bersalah atas hilangnya Tanjung dan anaknya. Nyi Sumilah yang mengajak Tanjung tinggal bersamanya. Demikian pula Mulat yang merasa mendapatkan seorang adik dengan anak laki-lakinya. Mulat sendiri tidak mempunyai anak, sehingga ia akan dapat ikut mengaku Tatag sebagai anaknya.

Tetapi tiba-tiba saja anak itu dan bahkan bersama Tanjung telah hilang.

Sementara itu, Tanjung yang menggendong Tatag telah digiring melalui lorong-lorong sempit menghindari orang-orang padukuhan yang berdatangan ke rumah Nyi sumi. Nampaknya diantara orang-orang itu terdapat orang yang sudah terbiasa dan mengenali lingkungan itu dengan baik. Mengenali liku-liku padukuhan itu seperti mengenali rumahnya sendiri. Orang itulah yang berjalan di paling depan dengan pedang telanjang. Kemudian pemimpin kelompok itu sambil mengancam dengan pisau belati, memaksa Tanjung berjalan lebih cepai.

“Jika kau sengaja mengacaukan perjalanan ini, maka anakmu akan mati”

Tanjung tidak menjawab. Ia menjadi sangat ketakutan. Didekapnya anaknya erat-erat agar anak itu tidak terbangun dan tidak mangis. Ia tahu akibatnya jika Tatag terbangun dan berteriak-teriak dengan kerasnya.

Beberapa saat kemudian, Tanjung dibawah ancaman pisau belati telah berada di luar padukuhan. Mereka pun kemudian berjalan dengan cepat melintasi bulak persawahan.

Pemimpin gerombolan yang mengambil Tanjung dari rumah Nyi Sumi itu pun berkata, “Kita sudah dapat bernafas sekarang. Tetapi ini belum berarti bahwa kita bebas sepenuhnya dari kejaran orang-orang padukuhan itu.

Tanjung tidak menjawab. Ketakutan yang sangat telah membuat otaknya bagaikan membeku. Ia tidak tahu apa yang sebaiknya harus dilakukannya.

Gerombolan orang-orang yang garang itu pun kemudian membawa Tanjung mengambil jalan simpang. Mereka berbelok di simpang empat di tengah-tengah bulak itu.

Malam pun menjadi semakin malam. Beribu kunang-kunang nampak bertebaran di ujung daun padi yang tumbuh dengan suburnya di tanah persawahan sebelah menyebelah jalan. Sedangkan langit pun nampak bersih. Bintang-bintang di langit yang jumlahnya melampaui jumlah kunang-kunang yang melekat di daun padiku, hampak berkeredipan dari ujung sampai ke ujung cakrawala.

“Jangan berbuat macam-macam Tanjung” ancam pemimpin sekelompok orang yang membawanya, “Kita akan melewati jalan di dekat padukuhan itu. Mudah-mudahan tidak ada orang yang melihat kita, apalagi mencoba menghalangi perjalanan kita, agar kami tidak usah membunuh”

Tanjung tidak menjawab. Lidahnya bagaikan membeku. Sementara itu dingin malam terasa semakin tajam menusuk kulit, bahkan seakan-akan sampai menembus tulang.

-oo0dw0oo-

Karya                          : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by                : DewiKZ

Editor                        : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/   http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/  http://kang-zusi.info

 edit ulang untuk blog ini oleh Arema

Annual Report 2013

Terima kasih atas kunjungan ki sanak di blog ini, berikut Annual Report 2013 yang dirilis oleh WP

http://serialshmintardja.wordpress.com/2013/annual-report/

Annual Report 2012

Wiew…..

terima kasih kepada sanak kadang yang telah menjenguk padepokan ini, meskipun hanya sehikit komen, tetapi dalam setahun padepokan ini telah dikunjungi sekitar 260.000 kali, atau sekitar 725 kali dalam sehari.

Meskipun sebagian besar masih dari Indonesia (65 %), tetapi padepokan ini juga dikunjungi oleh sanak-kadang (dari Indonesia) yang berada di 44 negara di dunia.

sayang, sejak 2012 kami tidak bisa posting lagi, dengan membuat halaman seperti sebelumnya. Entah kenapa, WP sendiri bingung menjawabnya.

Jika adbm dan sayap-sayap terkembang seudah selesai edit, kami akan mencoba membenahi lagi padepokan ini, posting melalui posting bukan melalui page lagi.

nuwun

 

berikut laporan dari WordPress.

Crunchy numbers

About 55,000 tourists visit Liechtenstein every year. This blog was viewed about 260.000 times in 2012. If it were Liechtenstein, it would take about 5 years for that many people to see it. Your blog had more visits than a small country in Europe!

In 2012, there were 5 new posts, growing the total archive of this blog to 6 posts.

Hari tersibuk tahun ini adalah November 14th dengan 1.432 kunjungan. Tulisan terpopuler pada hari itu adalah Surya Majapahit.

selanjutnya, kunungi http://serialshmintardja.wordpress.com/2012/annual-report/

PBM-11

<<kembali | lanjut >>

DEMIKIAN Ki Wastu mengambil alih lawan Mahendra, maka Mahendra yang tidak lagi dikepung oleh lawannya yang harus menghadapi Ki Wastu, sempat menghindarkan diri dan melihat perkelahian anaknya dengan hati yang berdebar-debar.

Ternyata bahwa Pangeran Kuda Rukmasanti benar-benar seorang yang pilih tanding. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya Mahisa Bungalan berusaha untuk mengimbangi ilmu lawannya. Dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu, maka diperlukan ketangkasan dan kecepatan bergerak yang tinggi, karena masing-masing akan dengan mudah dapat menjangkau lawannya dengan ujung senjata. Setiap kelengahan akan berakibat tersayatnya kulit daging mereka.

Dalam pada itu, Pangeran Kuda Padmadata yang marah itupun bertempur dengan segenap kemampuannya. Bukan saja karena ia ingin melindungi dirinya. Tetapi tekanan batin yang dialaminya untuk beberapa waktu lamanya itu, bagaikan meledak tidak terkendali. Dua orang itu untuk beberapa lama merupakan hantu yang setiap hari menakut-nakutinya, menyiksa perasaannya dan kadang-kadang bahkan menyakiti tubuhnya.

Keringat telah membasahi segenap tubuh kedua orang lawan Pangeran Kuda Padmadata. Jika setiap hari keduanya dapat melaksanakan kehendaknya tanpa banyak kesulitan, maka kini mereka benar-benar telah berhadapan dengan Pangeran Kuda Padmadata seutuhnya.

Dalam kemarahan yang memuncak, maka ujung tombak Pangeran Kuda Padmadata seolah-olah telah mengejar keduanya, kemana keduanya menghindar. Ketika Pangeran yang marah itu mendesak salah seorang dari mereka, maka yang lain berusaha untuk menyerangnya dari samping.

Tetapi tanpa diduganya, tombak itu telah berkisar. Meskipun ujungnya tidak berputar arah, namun tiba-tiba saja terasa sebuah hentakan pada pundaknya.

Ternyata Pangeran Kuda Padmadata tidak menyerangnya dengan mata tombaknya. Tetapi dengan pangkal landean, ia menghantam pundak salah seorang lawannya.

Orang itu terdorong dengan kuatnya, sehingga tubuhnya berputar. Bahkan kemudian ia telah kehilangan keseimbangannya sama sekali.

Tetapi Pangeran Kuda Padmadata tidak sempat memburunya. Ketika ia berkisar, maka lawannya yang seorang lagi telah siap menyerangnya.

Namun Pangeran Kuda Padmadata pun telah bersiap pula. Tombaknya telah siap merunduk menyongsong serangan lawannya, sehingga lawannya itu mengurungkannya.

Tetapi yang sekejap itu telah memberikan kesempatan kepada orang yang terjatuh itu untuk meloncat bangkit. Tetapi ia masih harus menyeringai menahan sakit. Meskipun yang mengenai pundaknya itu adalah pangkal landean tombak Pangeran Kuda Padmadata, tetapi rasa-rasanya tulang-tulangnya telah berpatahan.

“Gila” orang itu menggeram,, “apakah Pangeran benar-benar tidak dapat menahan diri?”

“Persetan” geram Pangeran Kuda Padmadata.

“Jika demikian, maka saatnya telah tiba. Kami tidak akan berbelas kasihan lagi. Kami dapat membunuh Pangeran”

Tetapi, orang itu tidak sempat menyelesaikan kata-katanya. Ia harus meloncat menjauh beberapa langkah, bahkan mirip seperti seseorang yang berlari sipat kuping untuk menghindari serangan tombak Pangeran Kuda Padmadata yang meloncat pula beberapa langkah.

Pangeran itu berhenti ketika lawannya yang lain telah memburunya pula dengan senjata teracu. Tetapi demikian Pangeran itu berhenti dan memutar tubuhnya, maka orang itu pun berhenti pula.

Sejenak kemudian, lawannya yang telah terluka di pundaknya itu pun mendekatinya pula selangkah demi selangkah dengan sangat berhati-hati. Ketika Pangeran Kuda Padmadata menggerakkan tombaknya ke arah lawannya orang lain, maka orang yang telah terluka itu pun meloncat maju sambil menjulurkan senjatanya.

Tetapi Pangeran itu cukup tangkas. Ia berkisar dan memutar tombaknya mendatar.

Perkelahian itu pun menjadi semakin dahsyat. Pangeran Kuda Padmadata benar-benar tidak mengekang diri lagi. Ujung tombaknya kemudian bagaikan berterbangan memutari tubuh lawannya.

Ketika kemudian terdengar desah tertahan, maka seorang lawannya telah terlempar lagi jatuh terguling di tanah. Dengan susah payah kawannya berusaha mencegah agar Pangeran itu tidak sempat memburunya dan menghunjamkan ujung tombaknya, dengan sebuah serangan yang cepat. Namun, orang itu bernasib malang, karena Pangeran Kuda Padmadata yang sudah memperhitungkannya, tiba-tiba telah berputar sambil berjongkok. Orang itulah yang kemudian menghunjamkan dadanya sendiri ke ujung tombak Pangeran Kuda Padmadata, orang yang untuk beberapa saat lamanya berada dibayangan kekuasaan adik kandungnya.

Dengan tangkasnya, Pangeran itu pun menghentakkan tombaknya. Ketika tombaknya itu terlepas dari dada lawannya, maka orang yang dikenainya itu pun kemudian terhuyung-huyung sejenak, namun sesaat lagi ia pun jatuh pada lututnya, dan ketika ia terbanting ke tanah maka jiwanya tidak dapat tertolong lagi.

Kawannya yang terjatuh oleh dorongan tangkai tombak Pangeran Kuda Padmadata itu melihat, bagaimana kawannya yang berusaha menyelamatkannya itu justru telah terbunuh lebih dahulu dari padanya.

Tetapi dalam pada itu, maka ia pun telah dibayangi oleh kecemasan yang amat sangat. Berdua ia tidak dapat mengalahkan Pangeran yang untuk beberapa saat lamanya telah tunduk pada perintahnya itu, yang kemudian dengan tiba-tiba saja telah menghentak dengan ledakkan kekuatannya yang tidak terlawan.

Karena kesadarannya bahwa Pangeran Kuda Padmadata adalah seorang prajurit linuwih, maka tiba-tiba saja jantung orang itu telah dicekam oleh ketakutan yang amat sangat. Ia merasa bahwa ia telah dihadapkan pada suatu kenyataan tentang Pangeran yang untuk beberapa saat menjadi jinak itu.

Itulah sebabnya, maka ketika Pangeran Kuda Padmadata kemudian berputar menghadapnya setelah kawannya terbanting jatuh, maka tidak ada jalan lain yang nampak dihadapannya, selain melarikan diri.

Karena itulah, maka tiba-tiba saja ia meloncat berdiri dan mencoba berlari meninggalkan arena tanpa menghiraukan kawan-kawannya yang justru baru mulai bertempur.

Pangeran Kuda Padmadata yang menjadi muak melihat kedua orang yang untuk beberapa saat lamanya seolah-olah berkuasa atasnya itu ternyata telah tidak dapat menahan diri lagi. Dengan dada yang membara, maka ia melihat lawannya berusaha menyelamatkan diri dengan licik.

Dengan demikian, maka kemarahannya pun menjadi semakin melonjak didesak oleh kebencian dan rasa muak. Hampir diluar sadarnya, maka tiba-tiba saja tangannya telah bergerak terayun dengan cepatnya.

Tidak seorang pun yang mampu mencegahnya. Tombak di tangannya tiba-tiba saja telah meluncur mengejar orang yang melarikan diri itu.

Sejenak kemudian terdengar jerit melengking. Tubuh yang sedang berlari itupun tiba-tiba saja telah terhenti. Sesaat tubuh itu terhuyung-huyung, namun kemudian jatuh berguling di tanah. Di punggungnya tertanam tombak yang membenam sampai ke pangkal tajamnya.

Semua orang yang mendengar jerit itu, dan kemudian melihat tubuh itu jatuh di tanah, merasa tubuhnya meremang. Namun Pangeran Kuda Padmadata yang sedang marah itu, seolah-olah tidak menghiraukannya lagi. Demikian ia kehilangan lawannya, maka ia pun segera berlari menuju ke pintu untuk melihat, apa yang telah terjadi dengan adiknya yang telah mengkhianatinya itu.

Ternyata Mahendra masih berdiri di pintu. Orang-orang yang mengepung mereka yang berusaha membebaskan Pangeran Kuda Padmadata itu telah bertempur melawan Mahisa Agni, Witantra dan Ki Wastu. Mereka ternyata tidak banyak mendapat kesempatan Meskipun jumlah mereka lebih banyak.

Beberapa orang di antara mereka adalah orang-orang yang dianggap cukup memiliki kemampuan sehingga mereka telah mendapat perintah untuk melindungi istana itu dari kemungkinan seperti yang telah terjadi.

Tetapi berhadapan dengan Witantra, Mahisa Agni dan Ki Wastu mereka tidak banyak dapat berbuat sesuatu. Bahkan pemimpin pengawal itu pun tidak dapat menguasai lawannya meskipun ia dibantu oleh beberapa orang pengikutnya.

Mahendra yang melihat Pangeran Kuda Padmadata mendekatinya, maka ia pun beringsut. Tetapi ketika Pangeran itu mendekat lagi, ia berkata,, “Biarlah keduanya bertempur dengan jantan”

“Kuda Rukmasanti adalah seorang yang luar biasa” desis Pangeran Kuda Padmadata,, “biarlah aku yang akan menyelesaikannya”

Tetapi Mahendra menjawab,, “Lihatlah Pangeran, apakah kira-kira yang akan terjadi?”

Pangeran Kuda Padmadata mengerutkan keningnya. Ia melihat perkelaian yang dasyat di ruang yang tidak begitu luas. Tetapi kedua orang yang bertempur itu ternyata memiliki kemampuan yang tinggi, yang tidak segera dapat saling menguasai.

“Siapakah anak muda itu?” bertanya Pangeran Kuda Padmadata.

“Mahisa Bungalan. Ia adalah anak hamba” jawab Mahendra.

“Jadi ia benar-benar anakmu?” bertanya Pangeran itu.

“Ya Pangeran”

Pangeran Kuda Padmadata termangu-mangu. Agaknya anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu memang memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuan Pangeran Kuda Rukmasanti”

“Anakmu luar biasa” guman Pangeran Kuda Padmadata, “selama ini aku belum pernah melihat seorang pun yang dapat mengimbangi Kuda Rukmasanti, apalagi yang umurnya masih sebaya. Aku sendiri tidak yakin, apakah aku akan dapat mengalahkannya. Tetapi nampaknya anak muda itu benar-benar memiliki kemampuan yang mengagumkan”

“Ia masih memerlukan banyak pengalaman” jawab Mahendra, “karena itu, biarlah ia mendapatkan pengalaman baru di sini”

Pangeran Kuda Padmadata menjadi termangu-mangu Namun ia masih berdiri tegak di sebelah Mahendra.

Sementara itu kedua orang itu masih bertempur dengan sengitnya. Kemarahan Pangeran Kuda Rukmasanti benar-benar telah membakar dadanya. Namun ia pun harus melihat kenyataan, bahwa lawannya benar-benar anak muda yang tangguh dan tanggon.

Sementara itu, di dalam bilik yang lain perempuan yang disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata sedang menggigil ketakutan Ia tidak tahu pasti apa yang terjadi. Sementara emban yang menungguinya pun tidak dapat mengatakan, apa yang sebenarnya telah terjadi di luar.

Meskipun mereka mengetahui bahwa telah terjadi pertempuran, tetapi mereka tidak dapat mengatakan, siapa saja yang telah terlibat dan apalagi tentang keseimbangan pertempuran itu.

“Apakah kakang mas Kuda Padmadata telah berusaha untuk melawan kehendak adimas Kuda Rukmasanti?” bertanya puteri itu.

“Hamba tidak tahu puteri. Tetapi suara itu ramai sekali” jawab embannya.

“Ternyata bahwa kakangmas Kuda Padmadata adalah seorang yang paling bodoh jika ia berani melakukan perlawanan justru pada saat para pengawal sedang berjaga-jaga karena kehilangan yang nampaknya sudah mulai terdapat tanda-tanda siapakah yang telah mengambilnya” berkata puteri yang ketakutan itu.

Tetapi emban itu pun tidak dapat menjawab. Bahkan ia pun telah menggigil pula ketakutan seperti puteri itu juga.

Dalam pada itu, pertempuran itu pun masih berlangsung dengan dahsyatnya. Di halaman Mahisa Agni, Witantra dan Ki Wastu telah berhasil menguasai lawan-lawan mereka. Beberapa orang telah terluka dan bahkan mereka telah terdesak mundur, beberapa orang pengawal telah mengerang kesakitan karena luka-luka mereka. Sementara beberapa orang telah pingsan.

Tetapi Mahisa Bungalan masih bertempur dengan gigihnya melawan Pangeran Kuda Rukmasanti.

“Inikah salah seorang contoh dari anak-anak muda Singasari?” desis Pangeran Kuda Padmadata.

Mahisa tidak menjawab. Tetapi perkelahian itu benar-benar merupakan perkelaian yang sengit. Keduanya saling mendesak dan dalam kedudukan yang seimbang. Pangeran Kuda Rukmasanti memiliki kecepatan bergerak. Senjatanya berputaran dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu, sehingga seolah-olah setiap jengkal telah tersentuh oleh tajamnya senjatanya.

Namun Mahisa Bungalan telah memagari dirinya dengan putaran tombaknya yang bagikan perisai yang tidak tertembuskan oleh senjata lawannya. Bahkan kadang-kadang senjata yang melindungi tubuhnya itu bergeser dan mematuk dengan cepatnya mengarah kebagian yang paling berbahaya di tubuh Pangeran Kuda Rukmasanti.

“Mengagumkan” desis Pangeran Kuda Padmadata.

Mahendra tidak menyambut. Ia benar-benar dicengkam oleh ketegangan. Dalam pada itu, Mahisa Agni, Witantra dan Ki Wastu pun telah menyelesaikan pertempuran di halamanan. Beberapa orang memang berhasil melarikan diri. Tetapi, beberapa orang telah menyerahkan dan tidak bermaksud melawan lagi. Kedua orang yang terbunuh oleh Pangeran Kuda Padmadata itu ternyata telah berpengaruh sekali pada setiap orang yang mengadakan perlawanan. Bahkan, pekatik muda yang garang itu pun telah berjongkok sambil minta maaf kepada Mahisa Agni.

“Aku tidak menyangka, bahwa kau, bahwa kau, bukannya pekatik tua” desahnya.

Mahisa Agni memandanginya dengan tajamnya. Dalam keremangan cahaya lampu di kejahuan ia melihat wajah pekatik muda itu disaput oleh kecemasan dan ketakutan.

“Aku adalah seorang pekatik tua” berkata Mahisa Agni tetapi aku bukan penjilat seperti kau”

Pekatik muda itu membungkuk dalam-dalam sampai dahinya menyentuh tanah,, “Aku mohon ampun”

Mahisa Agni, Witantra dan Ki Wastu pun kemudian mengumpulkan orang-orang yang sudah menyerah. Mereka harus merawat kawan-kawan mereka yang terluka dan membawanya ke serambi, sementara yg lain harus duduk bejajar ditunggui oleh Ki Wastu dan Witantra. Beberapa orang yang tidak tahu menahu tentang persoalan yang menyangkut hubungan antara kedua Pangeran kakak beradik itu pun menjadi sangat bingung. Namun sebagian dari mereka telah terlibat kedalam perkelahian yang tidak mereka ketahui artinya, sehingga di antara mereka ada pula yang harus duduk berjajar bersama beberapa orang abdi yang lain, yang memang ditetapkan di istana itu oleh Pangeran Kuda Rukmasanti.

Sementara itu. Mahisa Bungalan dan Pengaran Kuda Rukmasanti telah sampai ke puncak ilmu masing-masing.

Keduanya telah menjadi wuru dan kehilangan segala macam pertimbangan yang dapat mengekang gerak mereka.

Dalam kekalutan itu, ruangan tempat kedua anak muda itu bertempur telah berubah menjadi sebuah bilik yang ditaburi dengan segala macam perabot yang pecah berserakan. Senjata kedua anak muda itu lelah memecahkan segala yang berada di dalam ruangan itu. Amben kayu berukhir, geledeg kayu, songsong kehormatan yang lumat, beberapa macam perabot yang lain hancur sama sekali. Sementara kedua orang itu masih bertempur dengan dahsyatnya. Sekali-sekali Mahisa Bungalan berhasil mendesak lawannya sampai ke sudut ruangan. Tetapi, kemudian Pangeran Rukmasanti lah yang seolah-olah telah menguasai Mahisa Bungalan. sehingga Mahisa Bungalan harus berloncatan menjauh.

Namun dalam puncak pertempuran itu, senjata-senjata mereka mulai ikut berbicara. Mahisa Bungalan berdesis ketika terasa ujung senjata lawannya tergores di pundaknya. Titik darah yang membasahi kulitnya, bagaikan titik-titik minyak yang jatuh kedalam api, menyalakan kemarahan di hatinya. Dengan dahsyatnya ia pun kemudian telah melihat lawannya kedalam putaran selanjutnya yang mengerikan.

Pangeran Kuda Rukmasanti itu mengaduh ketika ia terdorong oleh sentuhan senjata Mahisa Bungalan. Lengannyalah yang kemudian mengalirkan darah karena tersobek oleh pedang anak muda dari Singasari itu.

Tetapi Pangeran Kuda Rukmasanti tidak menyerah. Ia pun kemudian meloncat ke samping. Namun senjatanya langsung terjulur lurus ketika ia meloncat pula menyerang Ketika Mahisa Bungalan berusaha menghindar, maka serangan berikutnya telah memburunya.

Mahisa Bungalan berkisar surut. Tetapi ketika ia melangkah setapak lagi mundur, maka terasa punggungnya telah melekat pada dinding kayu.

Pangeran Kuda Rukmasanti yang marah memandanginya dengan tajamnya. Kemudian terdengar mulutnya menggeram,, “Mati kau sekarang jahanam”

Mahisa Bungalan berdiri melekat dinding. Tetapi ia merendahkan diri pada lututnya. Sambil bergeser miring ia menggerakkan pedangnya menyongsong serangan Pangeran Kuda Rukmasanti.

Mahendra menjadi berdebar-debar. Kesempatan menghindar sudah terlalu sempit baginya. Namun bukan berarti bahwa ia telah kehilangan segala macam cara untuk menghadapi lawannya.

Sejenak Pangeran Kuda Rukmasanti berdiri dengan garangnya. Kemudian dengan langkah pendek ia bergerak mendekat sambil berkata pula,, “Jangan menyesal, bahwa kau sudah ikut campur dalam persoalanku. Sekarang, kau akan mati sia-sia”

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi tatapan matanya terikat pada tangan Pangeran yang bagaikan kesurupan itu.

Ketika tangan itu bergerak, maka Mahisa Bungalan pun bergeser. Ia melihat Pangeran Kuda Rukmasanti dengan serta merta, telah menjulurkan senjatanya menusuk ke arah dadanya.

Dengan tangkas, Mahisa Bungalan menyilangkan pedangnya menangkis serangan itu. Tetapi ternyata bahwa lawannya telah menarik serangannya. Dengan cepat, Pangeran Kuda Rukmasanti mengayunkan pedangnya mendatar, menyambar perut Mahisa Bungalan.

Mahisa Bungalan tidak mungkin lagi bergeser surut. Karena itu maka ia pun dengan cepat menggerakkan pedangnya menyilang serangan lawannya.

Yang terjadi adalah sebuah benturan yang keras. Kedua anak muda itu ternyata memiliki kemampuan yang mengagumkan. Serangan Pangeran Kuda Rukmasanti yang cepat dan kuat itu telah membentur senjata Mahisa Bungalan, sehingga bungaapi pun telah meloncat di udara.

Pangeran Kuda Rukmasanti menggeram. Ia bergeser setapak surut. Serangannya ternyata tidak berhasil menyobek perut lawannya. Namun dengan demikian, kemarahannya benar-benar telah sampai keubun-ubun.

Sejenak Pangeran Kuda Rukmasanti berdiri dengan tegangnya. Ketika ia kemudian mengangkat pedangnya, maka tangan kirinya pun telah bergetar pula. Ketika tangan itu menyilang di dadanya, maka Pangeran Kuda Padmadata pun tiba-tiba melangkah selangkah maju. Tetapi Mahendra cepat menahannya sambil berkata,, “Kita akan menyaksikan keduanya bertempur dengan jujur Pangeran”

“Tetapi sikap itu berbahaya sekali” desis Pangeran Kuda Padmadata,, “anak itu telah sampai ke puncak ilmunya”

Mahendra menjadi berdebar-debar. Tetapi ketika ia melihat Mahisa Bungalan pun mengangkat pedangnya pula menyilang, serta dengan ketajaman tatapan matanya Mahendra melihat ujung pedang itu bergetar dengan getaran yang bagaikan memancarkan tenaga yang tidak kasat mata, maka Mahendra pun tahu, bahwa Mahisa Bungalan tanggap menghadapi lawannya yang telah mengerahkan puncak ilmunya, sehingga Mahisa Bungalan pun telah mengimbanginya pula.

“Tetapi, apakah kekuatan puncak ilmu mereka juga seimbang pertanyaan itu telah mengganggu perasaan Mahendra.

Sementara Pangeran Kuda Padmadata menjadi gelisah. Dengan nada rendah ia berkata, “Ilmu itu tidak ada bandingnya. Biarlah aku yang melawannya”

Tetapi Pangeran Kuda Padmadata tidak sempat berbuat sesuatu Dengan jantung yang berdegup keras ia melihat Pangeran Kuda Rukmasanti meloncat mengayunkan senjatanya langsung mengarah ke dahi lawannya tanpa menghiraukan kemungkinan lawannya menangkis serangannya.

Jantung Pangeran Kuda Padmadata bagaikan berhenti berdetak. Ia tahu, bahwa kemampuan tenaga cadangan adiknya telah tersalur sepenuhnya lambaran ilmunya yang dahsyat, yang sukar dicari bandingnya.

Tetapi Mahisa Bungalan memiliki puncak ilmu rangkap dari dua perguruan yang meskipun berbeda, telah berhasil luluh di dalam dirinya. Ia telah menimba ilmu dari Mahisa Agni dan sekaligus mewarisi ilmu ayahnya sendiri dan saudara seperguruan ayahnya, Witantra.

Namun demikian, Mahisa Bungalan masih mempergunakan nalarnya sepenuhnya. Ketika ayunan senjata lawan nya itu menghantam kearah dahinya, maka ia tidak langsung membenturkan ilmunya, tetapi ia masih berusaha untuk mengelak.

Mahisa Bungalan yang tidak dapat lagi bergeser mundur itu masih sempat menghindar ke samping. Namun dalam pada itu, hatinya bergetar ketika ia melihat, betapa dahsyatnya senjata lawannya itu menghantam dinding kayu yang tebal.

Terdengar suara gemeretak serta derak yang memekakkan telinga. Sebagian dinding kayu itu ternyata terbelah oleh kekuatan ilmu dan senjata Pangeran Kuda Rukmasanti.

Pangeran Kuda Padmadata menahan nafasnya. Demikian cepat segalanya telah terjadi. Pada saat itu pula, Mahisa Bungalan yang telah mengerahkan ilmunya pada senjatanya, tiba-tiba telah mengayunkan pedangnya, menghantam senjata Kuda Rukmasanti.

Benturan telah terjadi. Jauh lebih dahsyat dari benturan-benturan sebelumnya. Dua ilmu telah beradu. Namun Mahisa Bungalan yang memukul punggung senjata lawannya agaknya lebih mapan. Namun senjatanya lah yang agaknya kurang baik, Senjata yang dapat direngut dari seorang pengawal itu tidak mampu menahan benturan ilmu. yang luar biasa, sehingga ketika bunga api memercik, ternyata bahwa pedangnya telah patah.

Tetapi dalam pada itu, senjata Pangeran Kuda Rukmasanti yang dihantam pada punggungnya itupun telah terlepas dari genggamam Pangeran Kuda Rukmasanti.

Pangeran Kuda Rukmasanti terkejut mengalami benturan yang dahsyat itu. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa lawannya itu tidak saja mampu mengimbangi kekuatan dan kemampuan wajarnya, tetapi iapun mampu membentur kekuatan puncak ilmunya dengan pengerahan tenaga cadangan. Bahkan dengan demikian, lawannya itu telah mampu menghantam dan melepaskan genggaman senjatanya, meskipun senjata lawannya itupun telah patah pula.

Pangeran Kuda Padmadata pun menjadi berdebar-debar. Ternyata anak orang yang berdiri di pintu, di sisinya itu, memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuan adik kandungnya, kemampuan yang sukar dicari bandingannya.

“Luar biasa” desis Pangeran Kuda Padmadata, “itulah sebabnya mereka berani bertindak pada keadaan yang sangat gawat. Jika anak muda itu mampu berbuat demikian, bagaimana dengan ayahnya dan orang-orang yang lain yang termasuk di dalam kelompok mereka”

Di luar sadarnya, maka Pangeran Kuda Padmadata itu pun memandang ke sekelilingnya. Dengan berdebar-debar ia melihat beberapa orang yang sudah mutlak dikuasai oleh beberapa orang yang mengaku petugas dari Singasari itu. Para pengawal, bahkan pemimpin-pemimpinnya sama sekali tidak berdaya menghadapi orang-orang tua dari Singasari itu, sehingga mereka dapat ditundukkan tanpa mengorbankan jiwa.

Sekilas Pangeran Kuda Padmadata melihat dua orang pengawalnya yang telah dibunuhnya. Tetapi ia tidak menyesal. Kedua orang itu benar-benar merupakan hantu yang paling licik yang selalu membayanginya.

Dalam pada itu, kedua orang anak muda yang telah kehilangan senjata masing-masing itu ternyata masih bertempur terus. Mereka sudah berada pada puncak kemampuan mereka. Meskipun bertempur dengan tangan mereka namun kedahsyatan sentuhan tangan mereka tidak kalah dahsyatnya dari benturan-benturan senjata.

Ruang yang menjadi arena pertempuran itu sudah berserakkan. Bukan saja perabotnya. Tetapi dinding-dindingnya pun sudah menjadi pecah oleh hentakan kekuatan yang tidak ada taranya.

Benturan demi benturan telah terjadi. Masing-masing dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada, dan mengerahkan segenap daya tahan tubuhnya.

Namun demikian, setelah memeras tenaga dan kemampuan, maka ternyata bahwa betapapun tinggi ilmu yang mereka miliki, tetapi mereka masih tetap didalam lingkup keterbatasan. Kedua anak muda yang sedang bertempur itu masih tetap dua orang yang terdiri dari wadag mereka. Daging dan tulang mereka masih juga daging dan tulang se wajarnya.

Dengan demikian, maka setelah ilmu mereka berbenturan dengan dahsyatnya pada puncak kemampuan, maka mulai nampak tenaga mereka pun mulai susut. Pengerahan tenaga cadangan mereka pada puncak ilmu mereka tidak lagi sedahsyat pada benturan-benturan yang pertama.

Namun pada saat-saat yang demikian, maka perbedaan tingkat kemampuan kedua anak muda yang seimbang itu, mulai nampak. Ternyata bahwa ketahanan merekalah yang berbeda.

Pangeran Kuda Rukmasanti adalah seorang anak muda yang luar biasa. Yang memiliki ilmu yang tidak ada taranya, yang seimbang dengan ilmu yang dimiliki oleh Mahisa Bungalan. Namun kemampuan yang seimbang itu ternyata didukung oleh daya tahan yang berbeda. Mahisa Bungalan adalah seorang yang membiasakan diri hidup dalam keprihatinan. Bahkan ia adalah seorang perantau yang dengan caranya telah menempa diri. Sementara Pangeran Kuda Rukmasanti adalah seorang Pangeran yang terbiasa hidup dalam genangan pesona hidup duniawi. Meskipun Pangeran Kuda Rukmasanti telah bekerja keras untuk menguasai ilmu yang dahsyat seperti juga kakaknya Pangeran Kuda Padmadata, bahkan mungkin dalam tataran yang lebih baik, namun ia tidak menempa dirinya sedahsyat Mahisa Bungalan.

Karena itulah, Maka pada saat-saat terakhir, Mahisa Bungalan yang mempunyai daya tahan yang lebih besar, ternyata sedikit demi sedikit, berhasil mendesak lawannya.

Namun demikian, itu belum berarti akhir dari pertempuran itu. Jika Mahisa Bungalan melakukan kesalahan sedikit saja, maka ia akan terperosok ke dalam kesulitan yang berbahaya.

Tetapi Mahisa Bungalan pun ternyata berusaha untuk bertempur dengan cermat di saat-saat terakhir. Ia tidak mau membuat kesalahan sama sekali. Bahkan ia telah mengambil keputusan untuk melumpuhkan lawannya yang dianggapnya seorang pengkhianat terhadap saudara kandungnya sendiri.

Perlahan-lahan Mahisa Bungalan berhasil mendesak lawannya. Ketika Pangeran Kuda Rukmasanti menghentakkan kekuatannya menghantam Mahisa Bungalan dengan tangan terjulur lurus mengarah ke dada, maka Mahisa Bungalan sempat mengelak. Yang terdengar kemudian adalah gemeretak dinding yang pecah. Namun pada saat yang tepat, Mahisa Bungalan sempat merendahkan dirinya. Kakinya dengan cepat terayun menghantam lambung.

Kemampuan yang dilambari dengan ilmunya yang dahsyat itu telah melemparkan Pangeran Kuda Rukmasanti. Meskipun tubuh Pangeran muda itu juga dilambari dengan kemampuan puncaknya, namun kekuatan kaki Mahisa Bungalan masih terasa menyesakkan nafasnya.

Dengan sigapnya Pangeran Kuda Rukmasanti berusaha untuk meloncat bangkit. Namun demikian ia berdiri tegak, Mahisa Bungalan telah meluncur bagaikan anak panah yang dilontarkan dari busurnya. Dengan kaki terjulur lurus menyamping, Mahisa Bungalan menyerang Pangeran Kuda Rukmasanti yang baru bangkit berdiri. Tidak ada kesempatan apapun juga yang dapat dilakukan. Demikian Pangeran itu berdiri tegak, maka serangan Mahisa Bungalan menghantam tengkuknya sehingga sekali lagi Pangeran Kuda Rukmasanti terdorong jatuh terbanting di lantai.

Pangeran Kuda Rukmasanti mengeluh tertahan. Tetapi kemarahan di dadanya telah menghentakkannya untuk bangkit. Betapapun perasaan sakit mencengkamnya, tetapi dengan tangkasnya ia meloncat berdiri. Ia tidak mau sekali lagi dikenai serangan Mahisa Bungalan. Karena itu, maka dengan cermat ia mengamati setiap gerak lawannya.

Mahisa Bungalan yang tidak mau kehilangan kesempatan telah meloncat sekali lagi. Tangannyalah yang kemudian terjulur menghantam kening.

Tetapi Pangeran Kuda Rukmasanti masih sempat mengelak. Ia memalingkan wajahnya sambil menarik tubuhnya secengkang, sehingga tangan Mahisa Bungalan tidak menyentuhnya. Bahkan dengan serta merta, maka Pangeran Kuda Rukmasanti itu berkisar setapak ke samping. Dan dengan kuatnya ia menghantam bagian samping dada Mahisa Bungalan dengan kerasnya.

Terasa nafas Bungalan menyesak. Bahkan sebelum ia sempat memperbaiki keadaannya, Pangeran Kuda Rukmasanti telah berputar. Dengan kerasnya Pangeran itu menghantam pangkal leher Mahisa Bungalan dengan sisi telapak tangannya.

Mahisa Bungalan lah yang kemudian menyeringai menahan sakit yang menyengat. Namun ia tidak mau membiarkan dirinya dikenai beruntun olah lawannya.

Pada jarak gapai tangannya, justru pada saat Pangeran Kuda Rukmasanti menyerangnya, Mahisa memiringkan tubuhnya, sehingga ia sempat menangkis serangan kaki lawannya dengan sikunya. Benturan itu memang merupakan benturan ilmu yang sangat dahsyat, sehingga ternyata bahwa Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Rukmasanti telah terdesak surut beberapa langkah.

Demikian keduanya memperbaiki kedudukan mereka, maka keduanya telah berhadapan dengan garangnya.

Pada keadaan yang demikian, baik Pangeran Kuda Padmadata, maupun Mahendra dapat melihat dengan jelas, bahwa keadaan Mahisa Bungalan masih lebih baik dari lawannya. Pernafasan Kuda Rukmasanti menjadi semakin memburuk oleh sesak didadanya, juga oleh tenaganya yang terperas.

Meskipun Mahisa Bungalan telah mandi keringat, serta pernafasannya pun mulai semakin cepat mengalir, namun ia masih nampak lebih kuat dari lawannya.

“Kuda Rukmasanti” panggil Pangeran Kuda Padmadata dengan cemas. Lalu, “Sudahlah. Marilah kita berbicara dengan baik. Semuanya telah dapat diketahui dengan pasti”

Pangeran Kuda Rukmasanti memandang kakak kandungnya dengan tatapan mata penuh kebencian. Dengan kasar ia menjawab, “Kau harus tunduk kepadaku. Aku akan membunuh siapa saja yang menentang maksudku”

“Adimas” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “marilah kita berbicara. Bagaimana juga, aku adalah kakak kandungmu. Kau adalah adikku”

“Cukup” Pangeran Kuda Rukmasanti berteriak, “jangan merajuk. Sudah saatnya kau mengetahui segala rencanaku. Kau akan kehilangan anak isterimu yang kau ambil dari padukuhan itu. Jika pada saatnya kau mati, mungkin karena kecelakaan atau karena sebab-sebab lain sehingga kau mati muda, maka segala warisan akan jatuh ke tanganku dan puteri yang disebut isterimu itu”

“Ya, ya. Aku tahu” berkata PangeranKuda Padma data, “untuk itu kau tidak perlu menunggu aku mati. Kau tidak perlu membunuh anak isteriku. Biarlah aku serahkan semuanya kepadamu. Aku akan menyingkir dan hidup di kalangan orang-orang padesan bersama isteri dan anakku, aku tidak akan mengingat lagi, bahwa aku dalah Pangeran Kuda Padmadata”

“Omong kosong. Kau hanya ingin menyelamatkan dirimu” geram Pangeran Kuda Rukmasanti, “pada saatnya kau akan berusaha membunuh aku”

“Orang yang hina” Mahisa Bungalan lah yang tidak tahan lagi mendengar percakapan itu, “kau tidak mempunyai kesempatan lagi tanpa belas kasihan Pangeran Kuda Padmadata”

“Mahisa Bungalan” potong Mahendra, “biarlah masalahnya diselesaikan antara kakak beradik itu”

Mahisa Bungalan menggeram. Rasa-rasanya ia tidak sabar menunggu lagi. Tangannya sudah gemetar, sementara ilmunya masih mapan pada puncak kemampuannya.

Setiap saat ia menerkam lawannya, maka pada jari-jarinya masih terungkap kekuatannya yang tiada taranya, yang tiap saat pula dapat merengut nyawa lawannya itu.

Namun dalam pada itu, ruangan itu telah digetarkan suara Pangeran Kuda Rukmasanti, “jangan bicara lagi. Marilah, siapa yang ingin aku bunuh, majulah. Aku akan membunuh kalian semuanya. Kalian orang dungu, dan kakangmas Kuda Padmadata. Kemudian siapapun juga yang mencoba melibatkan diri dalam masalah kami”

Pangeran Kuda Padmadata melangkah maju. Dengan hati-hati ia berkata, “Kau sudah tidak banyak kesempatan adimas. Orang-orangmu telah terbunuh. Kedua orang yang kau tempatkan di sisiku itupun telah terbunuh. Darahku masih mendidih pada saat mereka melawanku, sehingga aku tidak sempat membuat pertimbangan-pertimbangan lain kecuali membunuh mereka”

“Aku tidak tergantung kepada siapapun juga” teriak Pangeran Kuda Rukmasanti, “aku adalah aku. Dan aku akan membunuh semua orang di sini”

Jantung Mahisa Bungalan bagaikan akan meledak. Ia sudah tidak dapat menahan diri lagi melihat sikap Pangeran Kuda Rukmasanti. Darah yang meleleh dari luka masing-masing, nampaknya telah membuat jantung mereka hangus terbakar oleh gejolak kemarahan yang tidak terkekang.

Hanya karena ayahnya lah maka Mahisa Bungalan masih berusaha untuk menahan diri.

Namun agaknya Pangeran Kuda Padmadata yang marah itu, telah berusaha menguasai perasaannya. Kemarahannya telah tersalur dan terhunjam lewat tombaknya ke tubuh kedua orang yang setiap hari membayanginya dan yang baginya sangat memuakkan itu. Bahkan kadang-kadang kedua orang itu berani membentaknya, mendorongnya dan justru kadang-kadang menyakitinya, dengan ancaman, bahwa setiap perlawanan akan berakibat kematian anak dan isterinya.

Selangkah lagi ia maju mendekati adiknya. Dan dengan suara lunak ia berkata, “Sudahlah adimas. Marilah kita berbicara sebagai dua orang saudara. Selain kita, masih ada paman dan bibi kita yang dapat memberikan beberapa petunjuk tentang hidup kita dimasa datang. Atau barangkali orang-orang tua lainnya yang kita anggap cukup bijaksana”

“Persetan dengan orang lain” geram Kuda Rukma santi, “kau akan menyeret aku kepada pengadilan keluarga? Kau akan menyudutkan aku ke dalam kesulitan, karena orang-orang tua itu akan menunjuk hidungku sambil menyeringai dengan bengis. Mereka akan meneriakkan hukuman yang paling berat yang harus aku tanggungkan”

“Tidak. Tidak” sahut Pangeran Kuda Pamdadata dengan serta merta, “jika memang tidak kau kehendaki, aku tidak akan minta nasehat kepada siapapun juga. Kita akan menyelesaikan persoalan kita. Aku akan menurut apa yang akan kau putuskan tentang istana ini, tentang isinya dan tentang apapun juga yang kau kehendaki”

“Kau memancing aku. Kau sudah menjadi licik kakangmas. Jika kau masih jantan marilah. Kita masih mempunyai kesempatan untuk menyelesaikan persoalan kita dengan sikap laki-laki”

“Apakah yang akan kita pertengkarkan dengan perang tanding semacam itu adimas”

“Istana peninggalan ayahanda, isinya dan perempuan itu”

“Ambillah semuanya tanpa perang tanding. Aku sudah mengaku kalah. Ambillah isinya, dan ambillah puteri yang memang belum pernah menjadi isteriku itu” Pangeran Kuda Padmadata berhenti sejenak, “lalu apa lagi?”

“Licik. Licik. Licik kau. Marilah, aku bunuh kau” teriak Pangeran Kuda Rukmasanti.

Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Namun ia benar-benar tidak ingin melawan adiknya. Adik kandungnya, yang pada masa kecilnya setiap hari bermain bersama, berlari-larian dan memang kadang kadang mereka bertengkar. Tetapi tidak lebih lama dari sepenginang.

Ternyata bahwa Kuda Padmadata benar-benar tidak ingin berkelai melawan adiknya. Dengan susah payah ia mencoba membujuknya. Namun dengan keras adiknya membentak dan bahkan mengumpat.

“Lalu apakah yang kau kehendaki sebenarnya adimas?” bertanya Pangeran Kuda Padmadata, “Aku sudah menyerahkan segala-galanya tanpa kecuali. Aku bersikap jujur. Bukan sekedar ingin menjebakmu, karena kedudukanku sekarang jauh lebih baik dari kedudukanmu”

“Bohong” teriak Pangeran Kuda Rukmasanti.

“Lihatlah. Orang-orang sudah terbunuh. Yang lain menyerah dan meletakkan senjatanya” jawab Pangeran Kuda Padmadata.

“Tetapi isterimu itu akan aku bunuh dengan anak laki-lakimu sekaligus” teriak adiknya.

“Ia sudah berada di tangan yang aman. Kau tidak akan dapat melakukannya” sahut Pangeran Kuda Padmadata, “karena itu, tidak ada gunanya aku menjebakmu dengan licik. Jika aku mau, segala dapat terjadi tanpa jebak-jebakan. Tanpa melakukan kelicikan dan tanpa pengkhianatan. Kau memang sudah tidak berdaya. Karena itu, jika aku bertanya untuk menyerahkan apa saja selain nyawa isteri dan anak laki-lakiku itu, aku tidak akan berkeberatan”

“Aku minta nyawamu” teriak Pangeran Kuda Rukmasanti.

“Adimas” Pangeran Kuda Padmadata terkejut. Ia tidak menduga sama sekali bahwa kesesatan hati itu sudah mencekamnya demikian dalamnya.

Sejenak Pangeran Kuda Padmadata termangu-mangu. Namun dalam pada itu, Pangeran Kuda Rukmasanti berteriak, “Cepat. Ambil keputusan. Menyerahkan lehermu di sini, atau bertempur sampai mati”

Pangeran Kuda Padmadata termangu-mangu. Namun kemudian dengan kepala tunduk ia berkata, “Aku tidak dapat bertempur melawannya. Aku tidak tahu apakah aku akan kalah atau menang seandainya aku harus berperang tanding. Tetapi aku adalah saudara tuanya. Demikian pula di dalam perguruan. Aku kira aku tidak kalah daripadanya. Tetapi aku tidak dapat melakukannya”

“Jadi, apa yang akan terjadi selanjutnya Pangeran?” bertanya Mahendra.

Pangeran Kuda Padmadata merenung sejenak. Namun iapun kemudian justru memutar diri dan melangkah keluar dari ruangan itu.

Tetapi iblis benar-benar telah menyala di hati adik kandungnya. Demikian Pengeran Kuda Padmadata melangkah menjauh sambil membelakangi adiknya, tiba-tiba saja Pangeran Kuda Rukmasanti telah menyerangnya dengan garangnya. Kedua tangannya berkembang menerkam tengkuk kakaknya.

“Pangeran” Mahendra berteriak.

Pangeran Kuda Padmadata terkejut. Iapun telah meloncat berpaling. Namun yang dilihatnya adalah Mahisa Bungalan yang meloncat dengan serangan kakinya mendatar. Demikian cepatnya, sehingga kaki itu telah lebih dahulu menyentuh tubuh Pangeran Kuda Rukmasanti daripada tangan Pangeran Kuda Rukmasanti yang menerkam kakaknya.

Demikian kerasnya, dilambari dengan kemampuan puncaknya, maka hantaman kaki Mahisa Bungalan telah membenturkan Pangeran Kuda Rukmasanti pada dinding.

Tetapi daya tahan tubuh Pangeran Kuda Rukmasanti pun ternyata luar biasa pula. Karena itu, maka tubuh yang terlempar itu telah memecahkan dinding kayu yang membatasi bilik itu dengan ruang lainnya.

Demikian tinggi kemampuan Pangeran Kuda Rukmasanti, didorong oleh kemarahan yang membakar jantungnya, maka ia pun dengan serta merta telah meloncat berdiri. Dengan tangkasnya ia pun telah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Sikap itu telah membuat darah Mahisa Bungalan mendidih. Ia masih terlalu muda untuk dapat menahan diri dalam keadaan seperti itu. Karena itu, maka tanpa menghiraukan lagi Pangeran Kuda Padmadata dan ayahnya. Mahisa Bungalan meloncat menyerang.

Pertempuran pun segera menyala kembali dengan sengitnya. Keduanya tidak lagi menghiraukan siapapun juga. Mahisa Bungalan tidak lagi melihat ketika Witantra pun kemudian berdiri di pintu bersama Mahisa Agni.

Dengan dahsyatnya Mahisa Bungalan menyalurkan tangannya mengarah kepada Pangeran Kuda Rukmasanti. Tetapi Pangeran itu menarik sebelah kakinya dan bergeser ke samping. Dengan sekuat tenaga, maka ialah yang kemudian menyerang dengan hentakkan tangan mendatar ke lambung Mahisa Bungalan.

Mahisa Bungalan yang marah itu sengaja tidak menghindar. Ia telah menangkis serangan itu dengan kedua sikunya yang merapat dihadapan dadanya sambil merendahkan lututnya.

Telah terjadi benturan kekuatan yang dahsyat. Pangeran Kuda Rukmasanti menyeringai menahan sakit tangannya, sementara Mahisa Bungalan terguncang selangkah surut.

Namun dalam pada itu, meskipun perasaan nyeri menyengat tangannya,, tetapi Pangeran Rukmasanti tidak menghiraukan. Sekali lagi ia berputar pada sebelah tumitnya sementara kakinya yang lain dengan dahsyatnya menghantam lawannya.

Mahisa Bungalan tidak membentur kekuatan kaki lawannya. Ia meloncat menghindarkan. Tetapi kemudian ia pun melenting seperti seekor bilalang, dengan tangannya terjulur lurus menghantam ke arah kening.

Pangeran Kuda Rukmasanti menyilangkan tangannya, ketika terjadi benturan sekali lagi maka tangan Mahisa Bungalan telah bergeser. Setapak ia beringut surut. Sementara Pangeran Kuda Rukmasanti pun terdorong selangkah.

Tetapi kecepatan bergerak Mahisa Bungalan lah yang kemudian mengejutkan lawannya. Sekejab kemudian, tubuh Mahisa Bungalan bagaikan lurus mendatar dan bertumpu pada satu kakinya, sedangkan kakinya yang lain telah menyambar dada lawannya.

Pangeran Kuda Rukmasanti berusaha memukul kaki itu ke samping. Tetapi ia tidak berhasil sepenuhnya. Ternyata kaki Mahisa Bungalan masih mengenai pundaknya, sehingga ia terdorong setapak.

Mahisa Bungalan tidak melepaskan setiap kesempatan Dengan tangkasnya ia meloncat sekali lagi menyerang lawannya. Tetapi Pangeran Kuda Rukmasanti masih sempat memperhitungkan serangan itu, Justru kerena ia masih belum mapan, maka ia justru menjatuhkan dirinya.
Dengan demikian, maka serangan Mahisa Bungalan tidak mengenai sasarannya. Ketergesa-gesaannya telah membenturkannya pada dinding kayu di bagian lain dari ruang itu.

Sekali lagi terdengar dinding kayu itu berderak pecah berserakan.

Dengan demikian, maka bilik itu sudah tidak berujud lagi. Semuanya berserakkan. Dinding pun telah pecah dan patah-patah. Namun pertempuran itu masih berlangsung terus. Mahisa Bungalan segera memperbaiki keadaannya, sementara Pangeran Kuda Rukmasanti telah tegak pula.

Tetapi pernafasan Pangeran Kuda Rukmasanti menjadi semakin cepat berdesakkan di lubang hidungnya. Keringatnya telah terperas, bercampur dengan titik-titik darahnya. Wajahnya yang tegang kadang-kadang nampak merah membara. Namun kadang-kadang nampak keputih-putihan dan bagaikan tidak dialiri oleh darahnya lagi.

Sementara Mahisa Bungalan justru menjadi semakin garang. Selangkah demi selangkah ia maju mendekati lawannya. Pecahan dinding kayu yang berserakan tidak dihiraukannya lagi. Iapun sama sekali tidak tertarik untuk memungut senjata yang terlepas dari tangan Pangeran kuda Rukmasanti. rasa-rasanya ia lebih percaya pada tangannya yang dialiri oleh kemampuan puncaknya.

Pangeran Kuda Rukmasanti ternyata sama sekali tidak menyadari, betapa kemampuannya telah mulai susut. Nafasnya mulai mengganggunya. Namun gejolak perasaannya justru menjadi semakin menyala membakar kesadarannya bagaikan hangus.

“Adimas” suara Pangeran Kuda Padmadata menjadi parau. Bagaimapun juga, ia merasa gentar di sudut jantungnya, melihat keadaan adik kandungnya.

Tetapi Pangeran Kuda Rukmasanti tidak mendengarnya. Wajahnya yang kadang-kadang pucat, kadang-kadang menyala itu menjadi semakin liar. Bahkan semakin lama. kesan keagungannya sebagai seorang bangsawan tinggi dari Kediri telah lenyap. Yang nampak adalah wajah iblis yang paling buas menghadapi bayangan kebenaran yang menjadi semakin nyata.

“Adimas, kau dengar suaraku?” suara Pangeran Kuda Padmadata bergetar.

Tetapi Pangeran Kuda Rukmasanti justru telah meloncat menyerang Mahisa Bungalan yang telah menjadi semakin dekat. Demikian tiba-tiba dengan mengerahkan segenap kemampuannya.

Mahisa Bungalan yang masih selalu bersiap, tidak sempat mengelak. Sekali lagi mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan puncak ilmunya untuk membentur serangan Pangeran Kuda Rukmasanti.

Akibat benturan yang terjadi berlandaskan segenap kemampuan dari dua orang yang memiliki kekuatan dan. kematangan ilmu yang luar biasa itu, maka akibatnya pun luar biasa pula.

Mahisa Bungalan telah terdorong beberapa langkah surut. Bahkan, oleh pecahan perabot dan dinding yang pecah berserakan, kaki Mahisa Bungalan telah terantuk dan membuatnya terhuyung-huyung. Tenaganya yang telah diperas itu, tidak lagi mampu mempertahankan keseimbangannya, sehingga akhirnya ia terjatuh meskipun ia masih dalam keadaan sepenuhnya menghadapi kemungkinan yang dapat memburunya.

Tetapi dalam pada itu, akibat yang terjadi pada pangeran Kuda Rukmasanti pun ternyata menggetarkan jantung. Pangeran Kuda Rukmasanti telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di atas pecahan kayu perabot dan dinding yang berserakkan. Namun yg berakibat sangat buruk baginya adalah, bahwa kepala Pangeran Kuda Rukmasanti itu telah membentur batu pada tiang yang terdapat di antara bilik itu tanpa dapat mengelak lagi.

Namun yang terdengar dari bibir Pangeran Kuda Rukmasanti mengejutkan sekali. Dengan suara gemetar dan terputus-putus Pangeran yang masih muda itu menggeram, “Aku bunuh kau, isteri dan anakmu yang tidak pantas mewarisi segala yang kau miliki karena derajatnya.”

Terdengar Pangeran itu mengaduh. Betapa gejolak yang menggelora di dalam dadanya masih sempat menghentakkannya bangun. Namun sekali lagi terhuyung-huyung dan jatuh terbaring di lantai. Tangannya mengusap bagian belakang kepalanya yang telah membentur sudut batu yang telah melukai bagian belakang kepalanya itu.

“Adimas” Pangeran Kuda Padmadata yang mengetahui apa yang telah terjadi itu, telah berlari-lari mendekatinya.

Ternyata bahwa Pangeran Kuda Padmadata, saudara yang lebih tua dari Pangeran Kuda Rukmasanti benar-benar berusaha untuk melenyapkan segala pertengkaran yang pernah terjadi. Dengan perasaan haru seorang kakak kandung, maka pangeran Kuda. Padmadata itu telah mengangkat kepala adiknya dan diletakkan pada pangkuannya.

“Adimas” desisnya.

Ternyata bahwa keadaan Pengeran itu benar-benar telah parah. Dari bagian belakang kepalanya telah mengalir darah, Agaknya terbentur ompak itu telah melukai tulang belakang kepala itu.

Pangeran Kuda Rukmasanti menyeringai menahan, sakit.

“Adimas, kau mendengar suaraku?” sekali lagi Pangeran Kuda Padmadata berdesis ditelinga adiknya.

Namun yang terdengar dari bibir Pangeran Kuda Rukmasanti mengejutkan sekail Dengan suara gemetar dan terputus-putus Pengeran yang masih muda itu menggeram, “Aku bunuh kau, istri dan anakmu yang tidak pantas mewarisi segala yang kau miliki karena derajatnya”

Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Segalanya akan terjadi. Tetapi sadarilah keadaanmu Tenangkan hatimu. Kau memerlukan seorang tabib yang baik untuk mengobati luka-lukamu”

“Aku tidak terluka” tiba-tiba saja Pangeran itu menghentakkan dirinya. Namun ternyata tenaganya sama sekali tidak mampu lagi mendukungnya. Karena itu, maka iapun terkulai lagi dengan lemahnya. Bahkan dari sudut bibirnya mulai mengalir darah yang kehitam-hitaman.

“Animas, animas” pangal Pangeran Kuda Padmadata.

Tidak ada jawaban. Nafas Pangeran yang masih muda itu pun menjadi semakin sendat.

Akhirnya, yang sangat dicemaskan itu telah terjadi. Pangeran yang masih sangat muda untuk berpeluk dengan maut itu telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Yang lebih menggelisahkan hati Pangeran Kuda Padmadata ialah bahwa adiknya di saat-saat terakhir, masih belum dapat mengerti, apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia masih belum melihat kesalahan yang telah menggerakkannya untuk melakukan suatu pengkhianatan terhadap kakak kandungnya sendiri.

Sambil menarik nafas dalam-dalam Pangeran Kuda Padmadata berdesis, “Ia telah kehilangan segala kesempatan. Kesempatan terakhir pun tidak dipergunakannya untuk menghubungkan dirinya dengan Yang Maha Agung”

Mahendra telah berlutut pula di sisinya. Di sebelah lain Mahisa Agni dan Witantra pun telah duduk pula diatas pecahan kayu yang berserakkan, sementara Mahisa Bungalan masih berdiri dengan nafas terengah-engah.

“Kemarilah Mahisa Bungalan” panggil ayahnya.

Mahisa Bungalan memandang orang-orang yang berada di dalam bilik itu sejenak. Namun iapun kemudian beringsut maju dan duduk di belakang Mahisa Agni.

“Maafkan anak itu Pangeran” berkata Mahendra, “iapun masih terlalu muda untuk mengekang diri”

“Tidak. Ia tidak bersalah. Ia sudah melakukan sesuatu yang menurut keyakinannya, akan dapat bermanfaat bagi sesamanya. Ia telah berjuang untuk tegaknya keadilan di dalam lingkungan keluarga kecilku. Bahkan ia telah berjuang untuk memulihkan keluargaku yang terpecah dan terancam akan punah” berkata Pangeran Kuda Padmadata.

Mahendra mengangguk-angguk, sementara Mahisa Bungalan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Terbayang segalanya yang telah dilakukannya sejak ia bertemu dengan seorang laki-laki yang dengan segenap kemampuan yang ada padanya, berusaha menyelamatkan seorang cucu laki-lakinya, yang ternyata adalah putera Pangeran Kuda Padmadata.

“Ki Sanak” berkata Pangeran Kuda Padmadata kemudian, “cobalah, panggillah puteri yang berada di bilik depan. Biarlah ia melihat akibat dari akhir permainan yang telah dilakukan oleh Rukmasanti bersamanya”

Witantra menjadi ragu. Namun ia pun berdiri pula ketika Mahisa Agni menggamitnya dan mengisyaratkannya agar mereka berdua melakukan permintaan itu.

Mahisa Agni dan Witantra pun kemudian pergi ke bilik depan. Bilik yang tertutup rapat dan diselarak dari dalam.

Perlahan-lahan Mahisa Agni mengetuk pintu itu sambil berkata, “Puteri. Hamba mendapat perintah untuk me manggil puteri”

“Siapa kau?” terdengar suara dari dalam.

“Hamba adalah pekatik yang telah bersalah mengambil barang-barang milik puteri di ruang penyimpanan” berkata Mahisa Agni.

“Apa yang terjadi?” bertanya puteri itu.

“Sebaiknya puteri datang sendiri. Pangeran memanggil tuan puteri”

“Pangeran siapa?” bertanya puteri itu.

“Sejenak Mahisa Agni ragu-ragu. Namun kemudian katanya, “Pangeran Kuda Rukmasanti”

Sejenak bilik itu menjadi sepi. Namun telinga Mahisa Agni dan Witantra yang tajam mendengar embannya berbisik, “Berhati-hatilah puteri. Mungkin orang-orang itu ingin menjebak tuan puteri dengan maksud buruk”

Mahisa Agni termangu-mangu. Agaknya puteri itu pun mendengar hiruk pikuk yang terjadi. Bahkan puteri itu pun tentu mengetahui, bahwa telah terjadi pertempuran yang sengit.

Sejenak Mahisa Agni menunggu. Namun kemudian ia mendengar puteri itu berkata, “Lihatlah, siapakah orang-orang itu”

Emban itu tidak membuka pintu. Tetapi ia telah mencoba melihat orang-orang yang mengetuk pintunya dari lubang daun pintu yang sempit. Namun dari lubang yang sempit itu ia melihat Mahisa Agni dan seorang yang tidak dikenalnya. Tetapi agaknya kedua orang itu tidak berbahaya bagi mereka. Apalagi keduanya agaknya tidak bersenjata”

“Yang seorang memang hamba istana ini” bisiknya kepada puteri yang gelisah.

“Bukalah pintu” perintah puteri itu.

Emban itu telah menarik selarak dan membuka pintu. Selarak yang sebenarnya tidak berarti bagi Mahisa Agni apabila ia ingin memaksa membuka pintu itu.

“Puteri” Mahisa Agni dan Witantra mengangguk dalam-dalam. Demikian hormatnya, sehingga puteri itu pun kemudian tidak mencurigainya lagi.

“Hamba mendapat perintah untuk memanggil tuan puteri” berkata Witantra kemudian.

“Siapakah yang memerintahkanmu? Benar Pangeran Kuda Rukmasanti?” bertanya puteri itu.

“Hamba tuan puteri” jawab Mahisa Agni.

“Apakah yang sudah terjadi?” bertanya puteri itu pula.

“Sedikit perselisihan. Tetapi semuanya sudah selesai”

“Kenapa bukan para pengawal yang datang menjemputku?” bertanya puteri itu.

Sejenak Mahisa Agni termangu-mangu. Namun ia pun kemudian menjawab, “Para pengawal sedang mengawasi beberapa orang yang terlibat dalam perselisihan itu tuan puteri”

“Perselisihan apa sebenarnya?” bertanya puteri itu.

“Hamba tidak jelas tuan puteri. Tetapi persoalannya memang menyangkut persoalan perhiasan itu”

Puteri itu masih ragu-ragu. Namun kemudian katanya kepada embannya, “Ikut aku”

Puteri itu pun kemudian diantar oleh embannya menuju ke ruang yang khusus di bagian belakang istana itu, Ketika ia sampai di serambi, maka iapun terkejut. Ia melihat beberapa orang di antara para pengawal, justru duduk diam, sementara seorang tua berdiri mengawasi mereka.

“O” Puteri itu hampir menjerit ketika ia melihat dua sosok mayat di halaman.

“Silahkan puteri” berkata Mahisa Agni, “jangan hiraukan yang terjadi, Pangeran Kuda Rukmasanti telah menunggu”

Puteri itu menjadi semakin ragu-ragu. Apalagi ketika ia melihat sebuah bilik yang pecah dindingnya dan perabotnya berserakan.

“Masuklah” Mahisa Agni mempersilahkan.

Dengan hati yang berdebar-debar puteri itu berdiri di muka pintu Jantungnya bagaikan berhenti berdetak ketika ia melihat seseorang yang memangku kepala orang lain yang terbujur diam.

“Siapa?” suaranya tertahan dikerongkongan.

Puteri itu menjadi pucat ketika ia melihat Pangeran Kuda Padmadata berpaling. Dengan suara tertahan Pangeran itu berkata, “Lihatlah. Inilah Pangeran Kuda Rukmasanti”

Puteri itu maju selangkah. Namun puteri itu tiba-tiba telah memekik tinggi sambil berlari-lari mendekati sesosok mayat yang terbujur di pangkuan Pangeran Kuda Padmadata.

“Pangeran, Pangeran” teriak puteri itu.

“Tetapi Pangeran Kuda Rukmasanti sama sekali tidak menyahut.

“Kenapa Pengeran?” bertanya puteri itu sambil memandang wajah Pangeran Kuda Padmadata.

“Ia telah membentur ompak batu itu” jawab Pangeran Kuda Padmadata.

“Kenapa hal itu dapat terjadi?”

Pangeran Kuda Padmadata termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Aku menyesal bahwa adikku telah terbunuh Tetapi aku tidak dapat menyalahkan orang lain. Ia telah memetik buah dari tanamannya sendiri” Pangeran Kuda Padmadata berhenti sejenak, lalu, “semuanya sudah berakhir”

“Maksud Pangeran?” bertanya puteri itu.

“Selama ini aku selalu dibayangi oleh niat dan maksud yang kurang baik dari adikku, aku sama sekali tidak ingin mengakhiri dengan cara ini. Tetapi demikianlah yang terjadi”

Puteri itu terdiam sejenak. Namun tiba-tiba saja ia menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Semuanya berakhir. Akupun kini akan bebas dari ketakutan dan kepura-puraan”

Semua orang terkejut mendengar kata-kata puteri itu. Semua mata pun tertuju ke arahnya. Dengan ragu-ragu Pangeran Kuda Padmadata bertanya, “Apakah maksudmu?”

Puteri itu termenung sesaat. Namun kemudian ia menundukkan kepalanya Perlahan-lahan terdengar suaranya sendat, “Ampun Pangeran. Selama ini aku merasa diriku dipanggang oleh api yang paling panas” ia berhenti sejenak. Bahkan kemudian terdengar ia terisak, “aku telah dikuasai oleh Pangeran Kuda Rukmasanti yang tamak aku sama sekali tidak dapat melawan kehendaknya, karena aku tidak sampai hati menyakiti hati Pangeran Kuda Padmadata. Aku tahu, bahwa isteri Pangeran yang pertama, dan putera Pangeran laki-laki berada di bawah kekuasaan Pangeran Kuda Rukmasanti, sehingga apabila aku melawan kehendaknya, maka isteri Pangeran yang pertama dan putera Pangeran itu akan mengalami kesulitan. Karena itu, aku terpaksa berbuat sesuai yang dihendaki oleh Pangeran Kuda Rukmasanti, demi kesetiaanku kepada Pangeran Kuda Padmadata, meskipun aku adalah seorang isteri yang kedua. Namun adalah menjadi kewajibanku untuk menunjukkan bakti dan kesetiaan, yang barangkali terpaksa aku lakukan dengan cara yang tidak terpuji”

Ruangan itu menjadi hening sesaat. Perlahan-lahan Pangeran Kuda Padmadata meletakkan tubuh adiknya yang membeku. Kemudian ditatapnya wajah puteri itu dengan sorot mata yang aneh.

“Apakah benar yang kau katakan?” tiba-tiba Pangeran Kuda Padmadata bertanya.

“Ampun Pangeran, hamba berkata sebenarnya” jawab puteri itu, “jika Pangeran tidak percaya, belahlah dada ini”

Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku benar akan membelah dadamu Dan aku akan melihat, bahwa pada jantungmu tumbuh bulu-bulu sebagai pertanda kelamnya sifat dan watakmu”

“Pangeran?”

“Puteri yang manis” desis Pangeran Kuda Padmadata, “siapakah sebenarnya yang telah mendorong adikku berbuat seperti ini? Siapakah sebenarnya yang telah membakar istana ini dengan ketamakan dan kedengkian?”

“O” puteri itu terkejut, “apakah maksud Pangeran dengan tuduhan-tuduhan semacam itu?”

Puteri itu mulai menjadi ketakutan. Namun ia masih mencoba mengelak, “Pangeran, Hamba adalah isteri Pangeran, meskipun hanya isteri kedua. Tetapi hambapun mempunyai kewajiban sebagaimana seorang isteri yang setia. Hamba sudah mengatakan bahwa mungkin cara yang hamba tempuh tidak sesuai dengan keinginan Pangeran. Tetapi dengan demikian, hamba sudah berusaha memperpanjang umur isteri Pangeran yang pertama dan putera laki-laki Pangeran itu”

“O, puteri yang maha bijaksana” berkata Pangeran Kuda Padmadata dengan suara gemetar oleh gejolak perasaannya., “Jika puteri tidak mengatakan demikian, tidak memutar balik kenyataan dan membebankan semua dosa kepada adikku, mungkin aku masih mempunyai perasaan belas kasihan kepadamu. Tetapi ternyata kau adalah iblis yang paling licik. Kau adalah iblis yang berkedok seorang wanita yang paling cantik di Kediri. Kau telah membius adikku dengan kecantikanmu. Kau telah bersepakat dengan Kuda Rukmasanti untuk membelengguku dalam sarang raksasa ini. Tetapi yang Maha Agung telah membebaskan aku dengan lantaran beberapa orang yang ternyata adalah para petugas sandi dari Singasari”

“Paman Mahisa Agni pernah mewakili kuasa Singasari di Kediri” tiba-tiba saja Mahisa Bungalan memotong, “Demikian pula paman Witantra. Keduanya adalah Senopati Agung, seperti yang sudah aku katakan”

Wajah puteri itu menjadi pucat. Sementara Pangeran Kuda Padmadata berkata, “Aku mengucapkan terima kasih kepada tuan-tuan sekalian, mungkin sikapku terlampau kasar. Tetapi keadaanku saat ini agak berbeda dengan keadaan seorang Pangeran sewajarnya”

“Kami mengerti Pangeran” jawab Mahisa Agni.

“Aku ingin menyerahkan puteri ini kepada kekuasaan tertinggi di Kediri. Mungkin perlu juga diketahui oleh Singasari apa yang telah terjadi disini. Tetapi peristiwa ini adalah peristiwa yang kecil sekali dalam hubungan Singasari dan Kediri, tetapi peristiwa yang maha besar bagi keluargaku” Pangeran Kuda Padmadata berhenti sejenak memandang puteri yang kemudian menangis sambil meratap, “Ampun Pangeran. Hamba mohon ampun”

“Kesalahanmu berlipat ganda. Kau telah menjerumuskan adikku ke dalam kesulitan ini. Dan pada saat terakhir kau telah mengkhianatinya pula” geram Pangeran Kuda Padmadata.

“Bukan maksud hamba sendiri” jawab puteri itu, “tetapi juga dalam persetujuan dengan Pangeran Kuda Rukmasanti”

“Sebenarnya sulit dipercaya, bahwa adikku pada suatu saat akan memusuhi aku tanpa pengaruh orang lain. Ia adalah seorang anak yang baik. Ia sangat penurut, dan bahkan ia kadang-kadang menunjukkan kesediaannya berkorban untuk kepentinganku. Namun pada suatu saat, ia menjadi liar dan buas, justru setelah ia berhubungan dengan kau”

“Hamba mohon ampun. Tetapi jangan serahkan hamba kepada kekuasaan di Kediri, meskipun tuanku akan menghukum hamba dengan cara apa saja” berkata puteri itu, “hamba iklas menerima hukuman Pangeran, karena hamba telah berdosa kepada Pangeran”

“Aku tidak berhak. Biarlah kau berada di tangan mereka yang wajib mengadilimu. Yang wajib menghukum atau mengampunimu” jawab Pangeran Kuda Padmadata.

Puteri itu menangis tertahan-tahan. Seolah-olah ia melihat apa yang pernah dilakukannya. Ia telah menjerumuskan Pangeran Kuda Rukmasanti ke dalam keadaan yang paling pahit. Pangeran yang masih muda itu telah mengakhiri hidupnya dalam keadaan yang mengerikan. Yang terakhir melukainya, bukanlah ujung tombak atau keris. Tetapi ompak batu yang menjadi alas tiang didalam ruang sudah berserakan itu.

Tiba-tiba saja penyesalan yang dalam telah mengorek jantungnya. Dengan suara tertahan-tahan ia berkata, “Pangeran Kuda Padmadata. Hamba memang sudah sepantasnya dihukum. Tetapi aku mohon, hendaklah tuan yang menjatuhkan hukuman atas hamba. Hamba adalah perempuan yang paling hina di seluruh Kediri”

“Sudah aku katakan” jawab Pangeran Kuda Padmadata, “bukan aku yang berhak”

“Meskipun tuan tidak berhak. Tetapi seandainya Pangeran menghendaki, maka tuan dapat menghukum hamba sekarang. Tuan dapat membunuh hamba dihadapan para saksi, bahwa sebenarnyalah hamba telah bersalah” tangis puteri itu.

“Tidak. Tidak” desis Pangeran Kuda Padmadata.

“Jika hamba Pangeran serahkan kepada kekuasaan Kediri, maka hamba hanya akan menjajakan aib yang. tergores di kening. Setiap orang akan memandang hamba seperti memandang seekor binatang melata yang paling rendah derajadnya. Jika hamba kemudian dibawa ke tiang gantungan di ara-ara atau hukuman lain yang harus hamba lakukan, maka kematian hamba akan diiringi oleh perasaan malu yang tentu tidak akan tertanggungkan” puteri itu menangis semakin menjadi jadi, “tetapi jika tuan membunuh aku sekarang, maka perasaan itu akan jauh berkurang menghimpit jantung hamba. Kematian tidak lagi menakutkan bagi hamba, tetapi yang paling mengerikan bagi hamba sekarang, adalah justru perasaan malu dan tidak berharga”

Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam Katanya kemudian, “Aku tidak dapat bebuat apa-apa terhadapmu. Tetapi aku bersedia menolongmu, menjauhkan kau dari perasaan malu, Seandainya kau harus aku hukum, maka hukumanmu tidak akan dilakukan di hadapan rakyat Kediri”

Puteri itu mengingat wajahnya. Namun wajah itupun kembali tertunduk. Tetapi terdengar suaranya parau, “Hamba mengucapkan terima kasih tuan. Sebenarnyalah, bahwa kebaikan hati Pangeran itu akan hamba imbangi dengan perasaan sesal yang tidak ada taranya. Tentu tuanku tidak akan percaya lagi kepada hamba, apapun yang hamba katakan. Tetapi biarlah hamba mengatakannya juga, bahwa jika hamba melakukannya, bukanlah semata-mata karena keinginan hamba sendiri, meskipun ada juga keterlibatan hamba secara batin dalam muslihat ini”

Pangeran Kuda Padmadata mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Aku sudah menduga. Tetapi siapakah orangnya”

Puteri itu termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian Pangeran, bukan maksud hamba ingin mengurangi kesalahan hamba. Tetapi sebenarnyalah bahwa Pangeran Kuda Rukmasanti pun mengetahui segala-galanya.

“Ya, katakan siapakah orang yang berada bersama kalian itu” desak Pangeran Kuda Padmadata.

Sejenak puteri itu ragu-ragu. Namun tiba-tiba, sebelum puteri itu menjawab, Mahisa Agni meloncat dengan cepatnya, mendorong puteri itu sehingga jatuh tertelungkup.

Namun bersamaan dengan itu, seleret anak panah telah menyambar ke dalam bilik itu. Hampir saja mengenai Mahisa Bungalan. Tetapi dengan gerak naluriah. Mahisa Bungalan agaknya telah beringsut pula.

Sementara puteri itu terjatuh, maka tiba-tiba pula Witantra telah meloncat bagaikan terbang, keluar dari bilik itu. Hampir tidak dapat di ikuti dengan tatapan mata sewajarnya. Yang dapat dilihat oleh orang-orang yang berada diserambi seolah-olah hanyalah sebuah bayangan yang terbang menghilang ke dalam gelap.

Ki Wastu pun tertegun melihat peristiwa itu. Barulah ia sadar sepenuhnya, bahwa Mahisa Bungalan benar-benar seorang anak muda dari lingkungan yang pilih tanding. Orang yang disebut ayahnya, paman-pamannya dan juga yang dianggapnya sebagai gurunya.

Mahendra dan Mahisa Agni pun kemudian menolong puteri itu duduk kembali. Namun kemudian ia pun dibawa beringut ketempat yang lebih terlindung. Sementara Mahendra pun kemudian bangkit dan melangkah ke luar untuk mengamati keadaan.

Tetapi keadaan di luar terasa sangat sepi. Meskipun di serambi beberapa orang duduk di bawah pengawasan Ki Wastu, namun seolah-olah mereka adalah patung yang mati.

Perlahan-lahan Mahendra mendekati Ki Wastu yang termangu-mangu sambil berkata, “Ada seseorang yang terlibat di dalam persoalan yang gawat ini”

“Aku adalah orang tua yang tidak berarti sama sekali. Aku berada di sini, tetapi aku tidak melihat sesuatu yang ternyata hampir saja merusak keadaan seluruhnya” berkata Ki Wastu.

Ada orang yang berusaha menghilangkan jejak dengan membunuh puteri itu” berkata Mahendra.

Ki Wastu mengangguk-angguk. Dipandanginya arah Witantra menghilang dalam gelap. Namun ia tidak melihat sesuatu.

“Kita akan menunggu” berkata Mahendra.

“Sekedar menunggu?” bertanya Ki Wastu. Mahendra pun termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “aku akan melihat, apa yang terjadi dengan kakang Witantra. Berhati-hatilah kiai. Di dalam ada Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan. Jika perlu, kau harus memanggilnya”

“Baiklah” jawab Ki Wastu.

Mahendra pun termangu-mangu sejenak, ia tidak tahu, kemana Witantra menyusul orang yang telah berusaha membunuh puteri yang sedang mengucapkan beberapa pengakuan itu.

Namun ia pun kemudian melangkah memasuki kegelapan, ke arah Witantra menghilang.

Tetapi Mahendra tidak menjumpai sesuatu. Dengan ketajaman inderanya ia berusaha mencari, apakah di halaman yang gelap di bagian belakang istana itu telah terjadi perkelahian. Namun agaknya, yang didapatnya adalah getar dedaunan disentuh angin malam yang lembut.

Karena itu, maka Mahendra pun tidak melanjutkan langkahnya. Ia sudah kehilangan jejak. Sehingga ia pun justru melangkah kembali ke serambi. Namun ia terkejut ketika ia mendengar desir lembut. Dengan tangkasnya ia berkisar, menghadap kearah suara itu.

Yang dilihatnya adalah sesosok bayangan yang terkejut pula melihat kehadirannya. Tetapi segera mereka saling mengenal, bahwa yang datang itu adalah Witantra.

“Bagaimana?” bertanya Mahendra.

“Aku kehilangan jejak” jawab Witantra.

“Ternyata bahwa segalanya belum berakhir. Jika orang itu dapat melepaskan diri dari tangan kakang Witantra, maka orang itu tentu bukan orang kebanyakan”

“Ya” jawab Witantra, “karena itulah, maka segalanya masih harus dipersoalkan. Pangeran Kuda Padmadata mungkin akan berhadapan dengan orang-orang yang justru lebih berbahaya dari orang-orang yang nampak dan membayanginya selama ini. Mungkin orang-orang yang tersembunyi itu merasa bahwa tidak ada lagi kesempatan yang dapat dilakukannya, selain dengan kekerasan terbuka, sementara mereka adalah orang-orang yang pilih tanding”

Mahendra mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Untunglah bahwa perempuan dan anak laki-lakinya itu telah dititipkan ke dalam istana Singasari, sehingga mereka berada dalam perlindungan para prajurit. Mungkin orang-orang yang tersembunyi itupun tidak akan tinggal diam. Mungkin mereka pun akan mempergunakan perempuan dan anak laki-lakinya itu sebagai bahan untuk mematahkan perlawanan Pangeran Kuda Padmadata atas segala maksudnya”

“Tetapi jika yang mereka maksudkan adalah warisan, maka mereka tidak akan mendapatkan saluran lagi” berkata Witantra kemudian, “tidak ada perempuan yang dapat disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata, dan tidak ada orang yang dapat disebut saudara kandungnya lagi”

“Kecuali dengan kekerasan” desis Mahendra.

“Maksudmu, perampokan?” berkata Witantra.

Mahendra mengangguk, sementara Witantra berkata, “Jika demikian, para pengawal di istana ini yang tentu akan dibangun lagi oleh Pangeran Kuda Padmadata, akan lebih mudah menghadapinya. Betapa besar kekuatan mereka, maka isyarat yang disembunyikan, akan terdengar dari gardu-gardu perondan para pengawal kota. Mereka akan segera datang membantu sehingga perampokan itu akan dapat digagalkan”

Witantra mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Mungkin akan dicari cara lain. Namun sebaiknya Pangeran Kuda Padmadata tidak meninggalkan kewaspadaan menghadapi segala kemungkinan yang mungkin kasar, tetapi mungkin juga dengan halus”

“Tetapi puteri itu dapat diselamatkan oleh Mahisa Agni” desis Mahendra, “ia akan dapat menjadi sumber keterangan yang mudah-mudahan dapat mengungkapkan persoalan ini sampai tuntas”

Keduanya pun kemudian kembali ke serambi. Mereka masih melihat Ki Wastu berada di tempatnya, mengawasi orang-orang yang duduk dengan lesu.

“Bagaimana?” bertanya orang tua itu. Witantra menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak menemukannya”

Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun menyadari, bahwa persoalan yang mereka hadapi memang belum selesai. Tetapi, ia tidak mengatakan sesuatu. Ia menunggu perkembangan terakhir dari pembicaraan orang-orang yang berada didalam. Meskipun ia adalah mertua Pangeran, tetapi Ki Wastu merasa dirinya tidak lebih dari orang padesan yang tidak berhak untuk berbuat sesuatu selain me nunggu dan menjalankan perintah yang akan diterimanya.
Dalam pada itu, maka Witantra dan Mahendra pun telah masuk kembali ke dalam bilik yang sudah menjadi porak poranda itu. Mereka melihat puteri yang ketakutan itu duduk di sudut, dijaga oleh Mahisa Agni dengan tubuh gemetar. Sementara Pangeran Kuda Padmadata berdiri di samping tubuh adiknya yang membeku.

“Tidak ada seorang pun yang dapat aku ketemukan” berkata Witantra.

“Tentu bukan orang kebanyakan” desis Mahisa Agni, “bahwa ia berhasil mendekati pintu itu tanpa diketahui oleh seorang pun, merupakan pertanda bahwa ia termasuk orang yang pilih tanding”

Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipandanginya perempuan yang pernah disebut sebagai isterinya itu dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Katakan, siapakah orang yang berada di belakang kalian, yang hampir saja membunuhmu itu?”

Puteri itu masih menggigil. Namun Mahisa Agni pun kemudian berkata, “Jangan takut puteri. Puteri akan aman di sini, karena di sini ada beberapa orang pengawal dan usaha itu telah digagalkan, sehingga tidak akan ada orang yang berani mencoba lagi”

Puteri itu masih ragu-ragu. Wajahnya masih pucat, dan bibirnya nampak bergetar oleh ketakutan yang sangat.

Tetapi Puteri itu tidak segera mengatakan, nama yang dikehendaki oleh Pangeran Kuda Padmadata. Bahkan puteri itu telah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil terisak.

“Puteri” berkata Mahisa Agni, “jika puteri mengatakannya, maka beban di dalam dada puteri akan menyusut. Seolah-olah beban itu sudah puteri letakkan. Bukankah puteri sudah mengatakan, bahwa hukuman apapun tidak lagi menggetarkan jantung puteri, jika hukuman itu harus puteri lakukan, kecuali apabila puteri harus menanggung malu di hadapan rakyat Kediri?”

Puteri itupun mengangguk kecil.

“Nah, katakan” desis Mahisa Agni, “dengan demikian maka kesalahan dari peristiwa ini tidak akan memberati pundak puteri, sehingga puteri akan di arak berkeliling kota sebelum dibawa ke tiang gantungan”
“O” desahnya.
“Katakan” desak pangeran Kuda Padmadata. Karena puteri itu masih berdiam diri, maka Pangeran Padmadata lah yang kemudian menyebut sebuah nama, “Apakah paman Herbuntala, ayahmu itulah yang telah menggerakkan hatimu untuk melakukan pengkhianatan ini?”

Puteri itu menggelengkan kepalanya.

“Jika bukan ayahmu, siapa? Dan apakah ayahmu tidak tahu menahu akan segala muslihatmu itu?”

“Tidak Pangeran” jawab puteri itu sambil menangis, “ayahanda sudah terlalu tua untuk melakukannya”

“Jadi siapa?” Pangeran Kuda Padmadata sudah hampir kehilangan kesabaran. Lalu katanya, “Baiklah. Jika tidak ada orang lain, maka kau adalah pangkal dari segala yang telah terjadi. Kau akan menanggung segala kesalahan dan dosa itu seluruhnya, karena adikku sudah mati”

“Pangeran dapat menghukum mati hamba sekarang juga” tangis puteri itu.

“Bukan aku” suara Pangeran Kuda Padmadata semakin keras, “tetapi penguasa di Kediri. Mungkin kau tidak saja diarak keliling kota sebelum digantung, tetapi kau akan diikat di simpang empat pusat kota, agar setiap orang dapat melihat betapa seorang puteri yang cantik, tetapi hatinya sekelam hati iblis”

“Jangan Pangeran jangan. Ayahanda akan tersiksa melampaui yang hamba derita sendiri” minta puteri itu.

“Apaboleh buat. Jika kau tidak mau menyebut nama orang yang bertanggung jawab atas segala kejadian ini”

Sejenak puteri itu termangu-mangu. Namun akhirnya ia berkata ampun pengeran. Hamba tidak kuasa untuk mengatakannya, karena hamba takut akan mengalami kutuknya. Tetapi carilah orang yang paling dekat dengan Pangeran dan kakanda Kuda Rukmasanti dalam hubungan ilmu kanuragan”

Wajah Pangeran Kuda Padmadata menegang. Dengan suara bergetar ia berkata, “Aku tidak mempunyai saudara seperguruan yang lain, kecuali adimas Kuda Rukmasanti. Mungkin guru mempunyai murid yang lain diluar pengetahuanku. Tetapi aku tidak mengenalnya”

“Tidak Pangeran” desis puteri yang ketakutan itu, “memang tidak ada muridnya yang lain kecuali Pangeran berdua kakak beradik seperti yang dikatakan oleh kakanda Pangeran Kuda Rukmasanti”

“Jadi, jadi siapakah yang kau maksud? Siapa?” Pangeran Kuda Padmadata yang tidak sabar lagi itu telah mengguncang tubuh puteri itu.

Hampir saja Pangeran itu meremas lengan puteri itu, jika Mahendra tidak menggamitnya, ketika puteri itu menyeringai menahan sakit yang menyengat lengannya yang digenggam kuat-kuat oleh Pangeran Kuda Padmadata.

“Siapa?” Pangeran itu berteriak.

Puteri itu masih terisak. Tetapi ia berdesis, “Siapakah orang yang hamba maksud itu. Tuan tentu dapat menyebutnya”

“Guru sendiri. Guru sendiri” Pangeran Kuda Padmadata benar-benar telah berteriak, “benar begitu? Atau kau memang harus dipancung kepalamu jika kau berbohong?”

“Ampun Pangeran” puteri itu menangis, “jangan dipaksa hamba menyebutkannya. Hamba tidak berani, karena hamba akan dikutuknya sehingga hamba akan dapat menjadi seekor kelinci, atau seekor katak, atau seekor binatang melata yang paling hina dalam jenis hamba, atau hamba akan dapat menjadi gila dan kehilangan akal dan ingatan, sehingga hamba akan berkeliaran di sepanjang jalan tanpa mengenal malu sama sekali”

“Tidak” teriak Pangeran Kuda Padmadata, “tidak ada orang yang dapat mengutuk orang lain menjadi seekor binatang jika ia sendiri berhati binatang. He, apakah benar? Kau tidak usah menyebutnya. Jika benar, anggukkan kepalamu”

Puteri itu ragu-ragu. Namun akhirnya ia mengangguk kecil.

Namun dalam pada itu, meledaklah tangisnya betapapun ia mencoba menahan. Wajahnya menjadi pucat seperti kapas. Tubuhnya gemetar seperti orang kedinginan.

Betapa ketakutan yang sangat telah mencekamnya.

Tetapi Mahisa Agni kemudian berkata, “Puteri, apakah puteri pernah melihat, bagaimana ia mengutuk seseorang menjadi seekor binatang?”

Puteri itu ragu-ragu sejenak. Namun ia pun kemudian menggeleng.

“Nah, itu adalah pertanda, bahwa ia tidak dapat melakukannya. Mungkin ia dapat membuat orang lain menjadi gila dengan cara yang khusus. Tetapi bukan dengan kutukan. Aku dapat membuat orang lain kehilangan ingatan dengan reramuan obat-obatan, tetapi juga dengan mengganggu syaraf pada simpul-simpul yang paling peka. Jika tuan puteri tidak percaya, aku dapat mencobanya”

Puteri itu memandang Mahisa Agni dengan tatapan mata yang buram. Tetapi ia mengangguk lemah. Di sela-sela bibirnya yang gemetar terdengar ia berdesis, “apakah benar demikian?”

“Ya. Seandainya ia mencoba melakukannya, maka kita akan dapat mencoba menghindar” jawab Mahisa Agni.

Puteri itu mencoba menenangkan hatinya. Tetapi ia masih pucat dan gemetar.

“Ya Pangeran. Guru Pangeran Kuda Rukmasanti. Ia telah mengatur segalanya” desis puteri itu dengan ragu-ragu.

“Jadi, benarkah guru telah melakukannya?” sekali lagi Pangeran Kuda Padmadata bertanya.

“Ya Pangeran. Guru Pangeran Kuda Rukmasanti. Ia telah mengatur segalanya” desis puteri itu dengan ragu-ragu.

Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Di antara getar jantungnya, ia berkata terbata-bata, “Aku tidak menduga bahwa guru dapat bertindak sedemikian jauhnya. Aku sudah merasa, bahwa guru lebih dekat dengan Kuda Rukmasanti. Meskipun pada mulanya tidak ada bedanya antara kami berdua. Tetapi di saat-saat terakhir terasa, bahwa guru lebih banyak berada bersama Kuda Rukmasanti. Bahkan kadang-kadang aku merasa ditinggalkan. Karena itulah, maka aku ragu-ragu, meskipun aku saudara yang lebih tua bukan saja dalam umur, tetapi juga dalam olah kanuragan, namun aku tidak yakin bahwa ilmuku lebih baik dari ilmu Kuda Rukmasanti.

Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan Mahisa Bungalan termangu-mangu mendengarkan keterangan Pangeran Kuda Padmadata itu. Selanjutnya Pangeran itu berkata, “Agaknya puncak dari sikap guru itu tercermin pada peristiwa yang pahit yang aku alami untuk beberapa lama. Hampir saja aku menjadi putus asa, bahwa aku tidak akan dapat keluar lagi dari istana ini sebagai seorang yang bebas. Bahkan aku mengira, bahwa isteri dan anakku itu tidak akan mampu lagi aku selamatkan”

“Semuanya sudah lewat Pangeran” desis Mahisa Agni.

“Belum. Masih ada yang dapat terjadi. Ternyata guru masih belum menganggap bahwa peristiwa ini telah selesai. Gurulah yang agaknya telah mencoba membunuh puteri. Untunglah bahwa usaha itu dapat digagalkan”

“Mudah-mudahan segalanya akan dapat menjadi semakin terang” desis Witantra.

“Tetapi aku tidak tahu, kenapa sikap guru demikian tidak adil. Aku merasa bahwa aku tidak pernah berbuat kesalahan. Mungkin aku tidak mempunyai kesempatan sebanyak yang dilakukan oleh adimas Rukmasanti”

Namun dalam pada itu, semua orang telah berpaling ke pintu ketika mereka mendengar suara, “Hambalah yang menyebabkannya Pangeran”

Pangeran Kuda Padmadata terkejut. Dengan serta merta ia bangkit dan melangkah mendekat, “Ki Wastu”

“Ya, hambalah ini Angger Pangeran” jawab orang tua itu.

“Marilah Ki Wastu” Pangeran Kuda Padmadata mempersilahkan.

“Biarlah hamba disini Pangeran. Hamba mengawasi orang-orang yang berada di serambi itu” jawab Ki Wastu.

“Tetapi apa hubungannya guru dengan Ki Wastu, sehingga Ki merasa, bahwa Ki Wastu adalah penyebab dari kebencian guru kepadaku”

“Sebenarnya itu tidak perlu terjadi” berkata Ki Wastu, “semuanya sudah dilupakan oleh orang yang aku anggap guruku. Agaknya orang yang Pangeran sebut sebagai guru Pangeran itu adalah musuh bebuyutan dengan orang yang aku anggap sebagai saudara tua seperguruanku, yang kemudian aku anggap sebagai pengganti guruku”

“O” Pangeran Kuda Padmadata terkejut, “adalah kebetulan sekali Pangeran. Ketika Pangeran mengambil anakku menjadi isteri Pangeran dan Pangeran tinggalkan di padesan untuk waktu yang lama, hamba sudah merasa, bahwa ada hubungannya dengan orang yang Pangeran sebut guru itu. Pada saat itu Pengeran masih selalu datang ke padukuhan hamba. Tetapi pada suatu saat Pangeran bagaikan melupakan kami. Selain seorang yang Pangeran tinggalkan bersama kami, maka seolah-olah hubungan kita sudah terputus sama sekali. Sehingga akhirnya datang malapetaka itu. Orang yang tuanku tinggalkan itu ternyata adalah seorang yang sangat setia. Tetapi akhirnya ia terbunuh oleh orang-orang yang telah mengambil anak perempuan hamba itu dan kemudian menyembunyikannya. Sementara itu mereka masih saja mengancam keselamatan hidup cucu hamba yang lahir dari anak perempuan hamba itu, yang sebenarnya adalah putera Pangeran sendiri”

Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Tetapi guru tidak pernah mengatakan sesuatu tentang permusuhannya dengan saudara seperguruan Ki Wastu itu”

“Mungkin ia menganggap hal itu tidak perlu dikatakannya. Sementara ia mempunyai cara dan pamrih ganda. Ia dapat melepaskan dendamnya karena Pangeran telah berhubungan dengan musuh bebuyutannya, tetapi juga dapat mengharapkan harta peninggalan yang akan Pangeran wariskan kepada Pangeran Kuda Rukmasanti dan puteri yang disebut isteri tuanku ini”

“Aku mengerti” desis Pangeran Kuda Padmadata, “jika segalanya berjalan lancar, maka umurku pun tidak akan panjang. Aku akan mereka lenyapkan, meskipun mereka tentu berusaha untuk melenyapkan jejak. Mungkin kematian yang mereka rencanakan, akan memberikan kesan, bahwa aku mengalami kecelakaan. Mungkin aku akan mengalami sakit beberapa hari lamanya, atau alasan-alasan lain yang dapat mereka lakukan. Namun puteri itupun tidak akan menikmati kemenangannya. Ia akan tersisih, sehingga segalanya akan jatuh ke tangan guru. Mungkin Kuda Rukmasanti akan ikut menikmatinya pula sebagai murid terdekat. Atau puteri itu pun akan dapat ikut serta memiliki jika ia diperlukan oleh Kuda Rukmasanti”

Terdengar puteri itu terisak tertahan-tahan. Namun iapun kemudian berkata, “Aku memang seorang perempuan yang tidak berharga Aku tidak akan dapat mencuci tanganku, seolah-olah aku sama sekali tidak bersalah”

“Aku akan menyerahkan kau kepada paman Herbuntala. Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan guru sampai tuntas. Aku akan mencarinya kemana guru pergi” geram Pangeran Kuda Padmadata.

“Jangan serahkan aku kepada ayahanda” tangis puteri itu.

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Kau tidak mau diserahkan kepada penguasa di Kediri. Dan kau juga tidak mau diserahkan kepada ayahandamu. Jadi kau mau apa?” tiba-tiba saja Pangeran Kuda Padmadata membentaknya.

Puteri itu menjadi semakin ketakutan. Sementara Pangeran itu berkata, “aku tidak akan mengatakan sesuatu kepada paman Herbuntala”

“Tetapi ayahanda menyangka bahwa aku akan tinggal di rumah ini sebagai isteri Pangeran suara puteri itu gemetar.

“Itu tidak mungkin. Bukankah Rukmasanti yang selalu datang menjemputmu jika kau pulang. Dan Rukmasanti pula yang mengantarmu?” geram Pangeran Kuda Padmadata.

“Ya Pangeran. Tetapi atas nama Pangeran Kuda Padmadata”

“Jika kau tidak mau kembali ke rumahmu lalu kau mau kemana lagi?”

“Biarlah hamba di sini, meskipun hamba harus menjadi juru pengangsu atau juru madaran” tangis perempuan itu.

“Persetan” wajah Pangeran Kuda Padmadata menjadi merah, “kau harus kembali. Jika kau ingin menjaga namamu, maka katakan kepada ayahmu, bahwa kaulah yang telah minta aku mengantarmu pulang. Katakan kepada ayahmu, bahwa aku sudah membohongimu. Ternyata aku sudah mempunyai isteri dan anak. Biarlah paman Herbuntala marah kepadaku dan mengutukku”

“Tidak. Pangeran tidak bersalah. Aku tidak akan dapat mengatakannya kepada ayahanda demikian”

“Terserah kepadamu, apa yang akan kau katakan. Tetapi kau hanya mempunyai dua pilihan. Aku serahkan kepada penguasa di Kediri yang akan menghukummu, atau aku kembalikan kau kepada orang tuamu”

Puteri itu tidak dapat membantah lagi. Ia tidak mempunyai pilihan lain, sehingga karena itu, maka iapun harus pasrah kepada nasibnya. Betapa penyesalan telah mencekamnya. Betapa rendah budinya dan betapa ringkih hatinya.

Dalam pada itu, maka Pangeran Kuda Padmadata pun kemudian memerintahkan membenahi keadaan yang telah terserak-serak tidak menentu. Demikian juga mereka harus menyelenggarakan mayat Pangeran Kuda Rukmasanti.

Kepada orang-orang yang tidak lagi dapat berbuat apa-apa itu, Pangeran Kuda Padmadata berpesan, agar mereka tidak usah menceriterakan apa yang telah terjadi Mereka akan diampuni, sepanjang mereka mengerti, bahwa yang telah mereka lakukan itu adalah kesesatan.

“Aku tidak akan sampai hati membiarkan nama adikku tercemar” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “Karena itu, kalian yang pernah menjadi pengikutnya dan berpengharapan untuk mendapatkan keuntungan apapun juga, harus membantuku. Aku akan mengatakan bahwa rumah ini telah didatangi oleh sekelompok perampok. Kita semuanya telah bertempur. Dan adikku telah terbunuh. Dengan demikian, namanya tidak akan direndahkan oleh orang-orang Kediri. Ingat, jika penguasa di Kediri mengetahui, bahwa adikku pernah melakukan kesalahan yang harus dihukum, maka tentu akan dilakukan pengusutan. Kalian, yang pernah menjadi pengikutnya akan diseret pula ke tiang gantungan. Tetapi aku berpendirian lain. Siapa yang menyesali kesalahannya dan tidak akan melakukannya lagi, maka aku akan mengampuninya”

Beberapa orang yang berada di serambi itu menundukkan kepalanya. Ketika pekatik muda itu mencoba mengangkat wajahnya, tiba-tiba saja terpandang olehnya Mahisa Agni. Pekatik muda itu cepat-cepat menundukkan kepalanya ketika ia melihat Mahisa Agni justru tersenyum kepadanya.

Demikianlah, maka malam itu juga istana Pangeran Kuda Padmadata telah disibukkan dengan penyelenggaraan mayat Pangeran Kuda Rukmasanti dan pengawal yang telah terbunuh. Tetapi seperti yang dipesankan oleh Pangeran Kuda Padmadata, tidak seorang pun yang berani mengatakan, apakah yang sebenarnya telah terjadi, agar mereka tidak terseret ke tiang gantungan karena mereka telah terlibat ke dalam kesalahan itu. Bahkan kepada mereka yang tidak tahu menahu tentang peristiwa itu, tetapi melihat pertengkaran yang telah terjadi antara kakak beradik itu pun telah mendapat pesan pula dari Pangeran Kuda Padmadata agar mereka tidak menceriterakan lain dari yang dipesankannya.

“Jika tidak, kalian pun tentu akan diusut. Satu persatu kalian akan dipanggil untuk didengar keterangannya oleh para prajurit” berkata Pangeran Kuda Padmadata Sehingga dengan demikian, maka penghuni istana itupun merasa takut untuk menceriterakan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Sementara itu, maka Pangeran Kuda Padmadata telah mempersilahkan Mahisa Agni. Witantra, Mahendra, Ki Wastu dan Mahisa Bangalan untuk masuk keruang dalam. Puteri yang ketakutan itu pun telah dipersilahkan masuk ke dalam bilik di ruang dalam yang terlindung rapat, sehingga tidak seekor lalatpun yang akan dapat mengganggunya, ditunggui oleh embannya yang juga gemetar karena ketakutan.

Sementara orang-orang yang tidak terlibat, abdi istana Pangeran itu yang sudah berada menghambakan diri, diperintahkannya mengawasi kawan-kawanya yang ternyata adalah para pengikut Pangeran Kuda Rukmasanti.

Meskipun demikian, orang-orang di serambi itu benar-benar tidak berani lagi berbuat sesuatu, Mereka yang mendapat tugas menyelenggarakan mayat-mayat itu pun tidak berani berusaha untuk berbuat lain, Jika orang-orang yang mengawasi itu berteriak, maka yang akan keluar adalah orang-orang yang luar biasa yang sedang berada di ruang dalam. Yang paling muda di antara mereka ternyata telah mampu membunuh Pangeran Kuda Rukmasanti, yang mereka anggap orang yang tidak terkalahkan.

Dipagi harinya, maka seluruh Kediripun telah mendengar apa yang terjadi. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Pangeran Kuda Padmadata, bahwa yang terjadi itu adalah satu kecelakaan, Sekelompok perampok telah memasuki istana itu. Dalam pertempuran yang terjadi, maka Pangeran Kuda Rukmasanti telah terbunuh.

“Dua orang perampok itupun telah terbunuh pula” berkata Pangeran Kuda Padmadata sambil menunjuk mayat dua orang yang sehari-hari nampaknya seperti dua orang pengawalnya yang paling setia, namun orang yang baginya justru paling memuakan. Lebih memuakkan dari adiknya yang telah berkhianat itu.

Sementara itu, maka seperti yang sudah dikatakannya, orang yang disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata itu pun telah diserahkannya kembali kepada orang tuanya, demikian upacara penyelenggaraan mayat itu sudah selesai.

Tetapi ternyata bahwa puteri itu tidak ingin merendahkan nama Pangeran Kuda Padmadata. Yang dikatakannya kepada ayahnya, bahwa ia sebenarnya telah ditekan oleh perasaan takut yang sangat untuk berada di istana itu.

Meskipun ia sadar, bahwa pada suatu saat ayahnya akan bertanya, kapan ia akan kembali kepada suaminya, Namun ia akan mendapat kesempatan untuk memikirkannya. Mungkin ia dapat berterus terang setelah berjarak waktu. Mungkin ayahnya akan marah dan menghukumnya, Tetapi keadaannya tentu sudah berubah.

Namun dalam pada itu, yang kemudian menjadi pembicaraan Pangeran Kuda Padmadata adalah persoalan yang tentu masih akan berkepanjangan. Gurunya tentu tidak akan tinggal diam, karena rencana jahatnya telah diketahui oleh Pangeran Kuda Padmadata.

“Ki Wastu” berkata Pangeran itu ketika mereka duduk di serambi samping istana setelah keadaan mereda, dan suasaa di istana itu telah berjalan wajar, meskipun agaknya lain bagi Pangeran Kuda Padmadata sendiri, “Apakah tidak mustahil bahwa dendam guru akan dijatuhkan kepada anak perempuan Ki Wastu serta anak laki-lakinya?”

“Mereka sudah berada di bawah perlindungan para prajurit di Singasari Pangeran” jawab Ki Wastu.

Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Namun masih nampak kecemasan di wajahnya. Bahkan kemudian katanya, “Apakah para prajurit di Singasari itu menyadari, bahwa perempuan itu terancam bahaya yg dapat menyergapnya dengan segala cara. Mungkin seseorang mengaku akan mengunjunginya karena ia saudaranya, atau mungkin dengan cara apapun juga, sehingga memberi kesempatan kepadanya untuk melakukan niatnya yang jahat.

“Mudah-mudahan para prajurit tetap waspada” sahut Mahendra. Namun akhirnya ia berkara, “Pangeran Aku kira memang lebih baik jika aku kembali. Aku akan dapat memberikan beberapa peringatan kepada prajurit-prajurit di Singasari. Karena menurut perhitungan, lebih baik jika isteri Pangeran itu untuk sementara tidak berada di istana ini. Orang yang Pangeran katakan sebagai guru itu, tentu masih akan tetap berusaha melakukan sesuatu. Meskipun mungkin ia sudah melepaskan niatnya untuk memiliki harta dan benda yang ada di istana ini, tetapi dendamnya akan menuntut pembalasan”

Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Tetapi ia adalah isteriku. Akulah yang paling berkewajiban untuk melindunginya. Anak itu pun adalah anakku. Biarlah aku mempertanggung jawabkannya”

“Sebaiknya kita melihat keadaan yang tentu masih akan berkembang Pangeran” berkata Witantra, “aku setuju jika Mahendra dan Ki Wastu kembali ke Singasari. Aku dan Mahisa Agni akan berada disini. Mungkin Pangeran masih memerlukan aku”

Pangeran Kuda Padmadata berpikir sejenak. Sementara Mahisa Bungalan bertanya, “Bagaimana dengan aku paman?”

Witantra memandang anak muda itu sambil berkata, “Kau akan menentukan sikapmu. Meskipun aku mengatakannya, namun agaknya lebih suka memilih sendiri. Jika kau menganggap perantauanmu sudah selesai, maka kau dapat kembali ke Singasari. Tetapi jika kau masih ingin melihat kelanjutan dari peristiwa ini kau dapat tinggal di sini”

Mahisa Bungalan termangu-mangu. Namun akhirnya ia berkata, “Aku akan tinggal di sini. Tetapi tidak di istana ini”

“Lalu dimana?” bertanya Pangeran Kuda Padmadata.

“Di rumah Ki Daredu. Aku sudah kerasan tinggal di rumah itu. Mungkin untuk beberapa lamanya aku akan menunggu perkembangan keadaan di rumah Ki Daredu”

Tetapi Witantra menggeleng. Katanya, “Yang kita hadapi bukan kanak-kanak. Sebaiknya kau berada di sini untuk beberapa saat sampai segalanya nampak lebih jelas. Guru Pangeran Kuda Padmadata tentu bukan orang kebanyakan. Ia tentu memiliki sesuatu yang jauh melampaui Pangeran Kuda Rukmasanti itu”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam.,Tetapi iapun kemudian mengangguk sambil menjawab, “Terserah kepada paman”

“Nah, baiklah kita akan melihat perkembangan keadaan. Biarlah Mehendra dan Ki Wastu segera kembali ke Singasari” gumam Witantra,

Demikianlah, Maka pembicaraan itu pun telah mengambil kesimpulan, agar Mahendra dan Ki Wastu kembali ke Singasari. Mereka harus memberitahukan segala persoalannya kepada para prajurit di Istana Singasari. Dengan demikian, maka perhatian mereka kepada perempuan itu akan memberikan pertimbangan, agar perlindungan kepadanya menjadi lebih baik. Bahkan jika diijinkan oleh pimpinan prajurit pengawal, maka biarlah Ki Wastu berada didekat anak perempuan dan cucunya, agar ia akan dapat bertindak langsung jika terjadi sesuatu, sementara ia dapat mengharapkan bantuan para prajurit.

“Tidak mustahil guru Pangeran Kuda Rukmasanti itu akan mengambil jalan yang licik. Ia dapat memberikan uang atau bentuk suap yang lain kepada para pengawal untuk mendapat kesempatan bertemu dengan orang yang seharusnya dilindungi itu. Ia akan dapat saja memberikan seribu satu alasan, sehingga para pengawal yang menerima suap itu tidak mengetahui, bahwa orang yang mungkin mengaku saudaranya,mungkin mengaku utusan dari siapa pun, namun yang sebenarnya akan dapat membunuh pada kesempatan yang sangat kecil sekalipun” berkata Mahendra.

Ki Wastu mengangguk-angguk. Agaknya sebaiknya memang demikian apabila ia mendapat ijin dari yang berwenang dalam pasukan pengawal istana itu.

“Sementara itu” berkata Mahendra lebih lanjut, “aku dapat kembali kepada kedua anak-anakku yang bengal itu. Mereka tentu sudah menunggu dan mengumpat setiap saat karena aku terlalu lama pergi”

Ki Wastu pun mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia berkata, “Ki Mahendra ternyata mendapat kurnia yang tiada taranya dari Yang Maha Agung. Putera-putera Ki Mahendra ke-tiga-tiganya dapat dibanggakan”

“Aku selalu mengucapkan terima kasih kepada kemurahan Tuhan Yang Maha Penyayang. Namun sebenarnyalah bahwa anak-anakku itu adalah anak-anak yang bengal”

“Mereka memiliki ilmu yang luar biasa pada umurnya yang masih sangat muda. Ketika aku melihat, bagaimana Mahisa Bungalan mempertahankan diri dari orang-orang yang berusaha membunuhnya, pada saat pertama kali aku melihatnya, aku hampir tidak percaya akan penglihatanku atas kemudian anak itu”

“Ki Wastu selalu memuji. Tetapi Ki Wastu juga telah memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi Mahisa Bungalan” jawab Mahendra.

“Tidak ada artinya baginya. Hanya sekedar melengkapi ilmu geraknya” sahut Ki Wastu.

Demikianlah, maka ketika Mahendra dan Ki Wastu kembali ke Singasari, mereka sempat singgah di rumah Ki Daredu. Kepada orang tua itu Mahendra mengatakan, bahwa segalanya telah selesai. Ia tidak perlu merasa cemas lagi”

“Aku tidak mengerti, apakah yang sebenarnya telah terjadi di Istana Pangeran Kuda Padmadata” berkata Ki Daredu.

“Tidak ada apa-apa. Seperti berita yang barangkali pernah kau dengar, bahwa rumah itu telah dirampok oleh sekelompok penjahat yang merasa sangat kuat kedudukannya. Tetapi untunglah pada saat itu Mahisa Agni dan Kakang Witantra berada di istana itu” jawab Mahendra.

Tetapi Ki Daredu tertawa sambil berkata, “Jadi aku harus mempercayainya?”

Mahendrapun tersenyum. Jawabnya, “Terserah Kepadamu Ki Daredu”

Ki Daredu masih tertawa sambil mengangguk-angguk., “Baiklah. Aku akan mempercayainya. Tetapi aku tahu bahwa Tuanku Mahisa Agni dan Tuanku Witantra pernah memegang kekuasaan tertinggi Singasari di Kediri. Akupun mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak wajar terjadi di istana itu seperti yang pernah dikatakan oleh Tuanku Mahisa Agni sebelumnya. Tetapi sebaiknya aku memang tidak mengatakannya kepada siapapun”

Mahendra dan Ki Wastupun tertawa. Pekatik tua itu agaknya bukannya orang yang terlalu bodoh, sehingga ia pun dapat mengerti beberapa persoalan yang dilakukan oleh Mahisa Agni. Namun, bahwa segala sesuatu telah selesai dilakukan oleh Mahisa Agni dan Witantra, membuat hati Ki Daredu menjadi tenang. Beberapa hari lamanya, iapun mengalami ketegangan. Yang dilakukan oleh Mahisa Agni tentu bukannya sesuatu yang tidak akan dapat menyangkut banyak pihak.
Demikianlah, maka Mahendra dan Ki Wastu pun meninggalkan Kediri, kembali ke Singasari. Bagaimanapun juga, mereka merasa cemas, bahwa guru Pangeran Kuda Rukmasanti itu akan mencari sasaran dendamnya kepada anak perempuan Ki Wastu, mungkin mengambilnya untuk dipergunakan sebagai alat memaksakan kehendaknya kepada Pangeran Kuda Padmadata seperti yang pernah terjadi.

Sepeninggal Mahendra dan Ki Wastu, maka Mahisa Agni dan Witantra telah ditempatkan di tempat yang khusus di dalam istana Pengeran Kuda Padmadata.

Tetapi karena Mahisa Agni dan Witantra masih tetap ingin dianggap sebagai orang-orang yang tidak banyak berarti, maka iapun telah memilih tempat diluar lingkungan bangunan induk istana Pangeran Kuda Padmadata. Meskipun Mahisa Bungalan pernah mengatakan pada saat hatinya terbakar oleh kemarahannya dihadapan Pangeran Kuda Rukmasanti, tetapi hanya orang-orang tertentu sajalah yang telah mendengar bahwa ia adalah Mahisa Agni dan Witantra yang pernah mewakili kekuasaan Singasari di Kediri. Sementara orang-orang itu telah dipesan untuk tidak mengatakan sesuatu tentang kedua orang itu.

Dalam kehidupan sehari-hari di istana, Mahisa Agni dan Witantra, mencoba untuk meluluhkan diri ke dalam keluarga besar yang mulai tenang itu.

Dalam pada itu, selagi Pengeran Kuda Padmadata sibuk dengan usaha penyelamatan keluarganya, sebelum mereka merasa aman untuk membawanya ke istana, maka seorang yang memiliki ilmu yang mumpuni sedang dicekam oleh kekecewaan. Bahkan kecemasan bahwa rahasianya telah terbuka.

“Ia tentu akan mengatakannya” geramnya. Namun ia tidak mempunyai cara untuk mencegahnya. Dalam pada itu, seorang pengikutnya yang terdekat duduk dengan kepala tunduk diatas amben yang besar, sementara orang yang berilmu mumpuni itu berjalan hilir mudik didalam bilik itu.

“Ada beberapa orang gila di rumah Kuda Padmadata” orang itu bergeremang, “tidak banyak yang mengetahui siapa mereka. Tetapi agaknya mereka pulalah yang telah berhasil membebaskan isteri Pangeran gila itu”

Orang yang menundukkan kepalanya itu mengangguk angguk kecil. Katanya kemudian, “Tetapi belum terlambat Masih ada kesempatan untuk membunuhnya atau mencari kembali sampai kita dapatkan perempuan dan anak laki-lakinya itu”

“Jika Pangeran itu mati, maka tidak banyak lagi artinya atas harta benda yang dimilikinya. Tetapi aku kini telah dibakar oleh dendam. Aku tidak mau berpikir lagi. Yang penting bagiku adalah kematiannya. Ada atau tidak ada gunanya lagi bagiku”

“Kita masih dapat mengumpulkan kekuatan” berkata pengikutnya.

“Tetapi aku kehilangan muridku yang paling baik. Pangeran Kuda Rukmasanti. Ada juga setan yang mampu mengalahkannya” geramnya, “bukannya saja seorang. Tetapi aku yakin, bahwa beberapa orang yang ada di istana itu, tentu memiliki ilmu yang tinggi. Setidak-tidaknya mereka dapat mengimbangi ilmu murid-muridku. Tetapi dalam jumlah empat atau lima orang, maka sulit bagiku untuk mengatasinya. Aku tidak sempat memanggil orang lain diantara kalian”

“Sekarang masih ada waktu” berkata pengikutnya.

“Aku sudah kehilangan dua orang muridku yang paling baik. Kuda Rukmasanti sudah jelas, ia terbunuh. Sedang Padmadata benar-benar telah berkhianat. Ia telah membuat jalur hubungan dengan iblis yang paling terkutuk itu. Langsung atau tidak langsung. Sengaja atau tidak sengaja”

“Kita dapat berbuat cepat” berkata pengikutnya.

Orang yang dibakar oleh dendam itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau tinggal satu-satunya muridku. Itupun agak terasing dari kedua muridku yang berdarah bangsawan itu, sehingga kau tidak nampak sebagai saudara seperguruannya. Tetapi aku yakin, justru karena itu, maka kau telah menempa dirimu sebaik-baiknya meskipun jarang dibawah pengawasanku langsung”

“Aku sedang mencoba untuk dapat menjadi murid di padepokan kecil itu” berkata pengikutnya.

Jangan sebut lagi padepokan itu. Aku tidak akan kembali ke sana. Kuda Padmadata telah pernah datang ke padepokan itu. Ia akan dapat datang kesana mencari aku dengan membawa beberapa orang pilihan” guman orang yang sedang mendendam itu.

“Ki Dukut Pakering” berkata pengikutnya, “jika demikian, maka apakah yang akan kita lakukan sekarang?”

“Untuk sementara aku akan tinggal di pondok ini. Aku akan membuat hubungan dengan beberapa orang kawan-kawanku, Aku sudah hampir kehilangan kesempatan karena kegagalan-kegagalan yang terjadi. Semula aku masih dapat menjanjikan sebagian dari kekayaan Pangeran gila itu, jika kelak jatuh ketanganku lewat adik dan perempuan yang disebut isterinya itu. Tetapi kini aku tidak akan dapat mengatakan demikian, sementara beberapa pihak telah kehilangan kepercayaan kepadaku” desah orang yang disebut Dukut Pakering itu.

“Tetapi masih dapat diusahakan dengan banyak cara” berkata pengikutnya.

“Sudah banyak orang yang terbunuh, meskipun itu karena kebodohan mereka sendiri. Menurut keterangan yang aku dengar, satu orang diantara orang-orang yang me nolong isteri Pangeran yang gila itu, telah membunuh beberapa orang sekaligus”

“Kesahalan-kesalahan itu akan dapat dipakai sebagai pengalaman” berkata Pengikutnya. Lalu, “Sebaiknya Ki Dukut masih berusaha menghubungi beberapa orang yang dapat dipercaya”

“Itu memerlukan waktu. Tetapi dendamku tidak susut lewat waktu-waktu yang betapapun panjangnya. Padmadata harus mati dengan cara apapun juga. Mungkin aku harus menunggu saat yang paling baik. Tapi rasa-rasa nya aku sudah tidak sabar lagi”

“Segalanya dapat dibicarakan” berkata Pengikutnya, “tetapi siapakah yang masih mungkin dihubungi dalam hal ini”

“Ada dua tiga orang. Mereka masih mempunyai hubungan ilmu dengan aku. merekapun orang-orang yang tidak ada tandingnya. Tetapi mereka tentu mempunyai syarat-syarat yang harus aku penuhi. Itulah yang masih belum dapat aku ramalkan” berkata Dukut Pekering.

“Apakah tidak ada semacam kesetia kawanan meng hadapi persoalan ini? Seperti juga jika pada saat lain, salah seorang dari mereka mengalami kesulitan?”

“Mungkin juga” berkata Dukut Pekering, “tetapi aku harus dapat menyakinkan mereka, bahwa aku telah dihinakan. Bahwa aku telah diperlakukan dengan licik dan tidak adil”

“Apakah mereka orang-orang yang berpegang pada keadilan dan mungkin kebenaran?” bertanya Pengikutnya.

Ki Dukut Pakering menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak mengerti. Tetapi kebenaran itu sendiri bukannya sesuatu yang mutlak seperti juga keadilan. Setiap orang dapat memberikan batasan sesuai dengan kepentingannya”

Pengikutnya mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya yang terjadi itu adalah sesuatu yang sangat pahit yang harus ditelan oleh Ki Dukut Pakering, yang sebelumnya sangat dihormati orang.

Sebagai seorang guru dari kakak beradik Pangeran Kuda Padmadata dan Kuda Rukmasanti, maka ia adalah orang yang disegani. Ia memang mempunyai ilmu pada tingkat yang sulit dicapai oleh orang kebanyakan. Namun pada suatu saat, ia tidak dapat tegak lagi dalam kedudukannya. Hatinya telah digoyahkan oleh dendam dan kebencian. Namun kemudian juga nafsu dan ketamakan.

Semula ia kecewa kerena Pangeran Kuda Padmadata di luar sadarnya telah berhubungan dengan orang yang paling dibencinya, bahkan kemudian Pangeran Kuda Padmadata telah kawin dengan seorang perempuan padukuhan yang masih mempunyai jalur hubungan meskipun tidak langsung dengan orang yang paling dibencinya itu. Namun akhirnya, warna-warna hatinya yang sebenarnya telah mencair pula mengaliri sikapnya. Ia tidak saja berusaha untuk menjauhkan Pangeran Kuda Padmadata dari orang yang paling dibencinya itu. Tetapi ia mulai melihat kekayaan yang tersimpan di dalam istana Pangeran Kuda Padmadata. Seorang Pangeran yang memiliki hutan khusus dengan tanaman peliharaan yang dapat mendatangkan kekayaan, karena ia menamani jenis-jenis kayu yang bergetah arum.
Dengan cara yang tidak kasat mata, maka ia memperalat adik kandung Pangeran Kuda Padmadata untuk menguasainya. Bukan saja orangnya, tetapi juga segala kekayaannya. Bahkan telah diaturnya untuk memasukkan seorang perempuan yang hampir sederajat untuk disebut sebagai isterinya tanpa dapat menolak, karena isteri Pangeran itu yang sebenarnya telah dikuasainya.

“Tetapi ternyata hadir orang-orang gila yang tidak dikenal itu” geramnya didalam hati.

Sebenarnya bahwa kehadiran Mahisa Bungalan yang tidak diduga-duga itu telah merusak segala rencananya. Apa yang sudah dimulainya, ternyata pecah berserakkan. Perempuan yang dapat dipergunakannya untuk memaksakan kehendaknya atas Pengeran Kuda Padmadata itu telah terlepas dari tangannya. Betapapun diusahakannya namun korban-korban jugalah yang jatuh. Sedang perempuan itu bagaikan telah hilang ditelan bumi.

Setelah kegagalan-kegagalan itulah maka kini harus mulai lagi dari permulaan sekali meskipun tujuannya sudah berbeda. Kini ia telah digerakkan oleh dendam yang tidak tertahankan, seperti dendamnya kepada saudara tua seperguruan Ki Wastu itu.

Seorang pengikutnya yang semula tidak diperhitungkannya, kini menjadi satu-satunya orang yang setia kepadanya.

Bersama seorang pengikutnya itulah maka Ki Dukut Pakering mulai dengan usahanya melepaskan dendamnya. Setelah beberapa saat lamanya ia berada di pondok kecil milik pengikutnya itu, maka mulailah ia mencari hubungan dengan orang-orang yang pernah dikenalnya.

Namun dalam pada itu, ada juga semacam kerinduannya untuk melihat bekas padepokannya yang tidak lagi dihuninya, karena ia mempunyai perhitungan tertentu setelah ia gagal menguasai muridnya yang tua.

“Apakah Ki Dukut akan kembali ke padepokan itu?” bertanya pengikutnya.

“Tidak. Aku hanya ingin melihatnya. Mungkin aku akan mendapatkan semacam kesan atau bahkan mungkin aku akan mendapat ilham daripada padepokan itu, apakah yang sebaiknya aku lakukan” jawab Ki Dukut Pakering.

Demikianlah, maka ia telah mengajak pengikutnya untuk berjalan mendekati padepokannya. Mereka menempuh jalan yang jarang dilalui orang, karena Ki Dukut merasa seolah-olah setiap orang telah mengetahui apa yang telah dilakukan.

Dengan hati yang ragu-ragu, mereka telah mendekati sebuah bukit kecil. Dari atas bukit itu mereka akan dapat melihat, jalur jalan menuju ke padepokannya yang juga terletak di atas sebuah bukit kecil yang lain.

Namun jantung Ki Dukut itu serasa berhenti berdetak. Dari tempatnya ia melihat beberapa ekor kuda berpacu menuju ke padepokan kecilnya.

“Siapakah mereka?” bertanya pengikutnya.

“Setan itu” geram Ki Dukut” Tentu yang dipaling depan itu adalah Kuda Padmadata”

“Apakah maksudnya?” bertanya pengikutnya pula.

“Tentu ia mencari aku. Ia membawa beberapa orang pengawal”

“Hanya lima orang” desis pengikutnya, “apakah Ki Dukut tidak berniat membalas dendam sama sekali. Merekalah yang datang kepedepokan ini”

Ki Dukut menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Meskipun hanya lima orang, tetapi aku tidak tahu, siapakah mereka. Mungkin salah seorang dari mereka adalah orang yang telah membebaskan isteri Pangeran gila itu dengan membunuh beberapa orang sekaligus. Bukan berarti aku takut kepadanya, tetapi aku harus belajar dari pengalaman, agar aku tidak gagal lagi, dan apalagi mati tanpa arti sama sekali”

Pengikutnya mengangguk-angguk. Dari kejauhan ia memandang derap beberapa ekor kuda menuju ke padepokan kecil yang telah menjadi kosong itu.

Di muka regol. Ki Dukut dan pengikutnya melihat kuda-kuda itu berhenti. Tanpa berpencar mereka telah meloncat turun dan memasuki regol. Selanjutnya, dari kejauhan mereka tidak melihat orang-orang yang memasuki regol padepokan itu lagi.

“Mereka tidak akan menemukan apa-apa” berkata Ki Dukut, “tetapi sikap deksura dari Padmadata membuat darahku semakin mendidih. Aku semakin bernafsu mencincangnya meskipun ia pernah menjadi muridku yang baik”

Pengikutnya mengangguk-angguk. Namun tatapan matanya masih saja mengarah ke padepokan kecil itu. Tetapi iapun tidak melihat lagi orang-orang berkuda yang telah memasuki regol padepokan itu sambil menuntun kuda mereka.

Dalam pada itu, Pengeran Kuda Padmadata bersama Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan diikuti oleh seorang pengiring, telah memasuki padepokan yang pernah dihuni oleh Ki Dukut Pakering.

Namun padepokan kecil itu ternyata telah kosong. Mereka tidak menjumpai seorangpun berada di padepokan itu.

“Semuanya telah pergi” berkata Pangeran Kuda Padmadata.

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Sementara Witantra dan Mahisa Bungalan telah melihat-lihat ke bagian samping dari padepokan itu. Mungkin sesuatu dapat dijumpainya, atau barangkali ada semacam petunjuk yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk menelusuri jejak Ki Dukut Pakering.

“Agaknya orang tua itu menyadari, bahwa pada suatu saat aku akan datang ke padepokan ini” berkata Pangeran Kuda Padmadata.

“Mungkin Pangeran” sahut Mahisa Agni, “tetapi mungkin pula orang tua itu ingin menghalau kegelisahan hatinya”

“Tetapi usahanya untuk membunuh puteri itu adalah pertanda, betapa ia telah dicengkam oleh kecemasan dan ketakutan. Dengan demikian, maka ia tidak akan berani lagi berada di padepokan ini”

Mahisa Agni pun mengangguk-angguk. Ketika ia pun kemudian memutari padepokan itu menyusul Witantra dan Mahisa Bungalan, maka ia pun melihat, betapa padepokan kecil itu pernah terpelihara dengan baik. Padepokan itu agaknya memang tidak banyak berpenghuni. Hanya ada beberapa pondok kecil meskipun cukup baik. Karena padepokan itu adalah dari seorang guru yang mempunyai dua orang murid Pangeran yang cukup kaya di Kediri.

“Sayang sekali jika padepokan ini diterlantarkan” berkata Mahisa Agni.

“Siapakah yang berani memakai padepokan ini?” desis Witantra, “meskipun guru Pangeran Kuda Padmadata itu sudah tidak tinggal disini, tetapi jika ada orang lain yang berani memilikinya, maka ia tentu akan dianggapnya musuh yang harus disingkirkan”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang demikian. Karena itu, untuk sementara padepokan ini akan kosong”

“Tidak ada lagi yang akan menyirami tanaman-tanaman itu” berkata Mahisa Bungalan. Lalu iapun mengeluh, “Burung-burung di dalam sangkar itu mati kelaparan. Agaknya sudah sejak beberapa hari padepokan ini ditinggalkan”

“Masih ada yang hidup” berkata Mahisa Agni, “mungkin pada suatu saat orang itu atau pengikutnya telah datang dan memberi sekedar minum makan kepada burung burung didalam sangkar itu. Tetapi keadaannya sudah tidak terlalu baik”

Mahisa Bungalan pun kemudian membuka pintu sangkar burung-burung yang masih hidup. Betapa lemahnya mereka, namun burung-burung itupun kemudian berterbangan. Satu dua di antara mereka hinggap di pinggir belumbang yang airnya nampak jernih meskipun dikotori oleh dedaunan yang gugur dari rantingnya. Sementara yang lain telah hinggap pada pelepah pisang. Beberapa tandan buah pisang memang nampak menguning di batangnya.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya lehernya ikut menjadi sejuk ketika ia melihat beberapa ekor burung yang minum air belumbang yang segar, kemudian terbang mencari buah-buahan yang bertebaran di kebun padepokan itu.

Dalam pada itu, maka ketika mereka sudah melingkari padepokan itu dari sudut kesudut, maka mereka pun kemudian naik kependapa. Masih ada sehelai tikar pandan yang putih terbentang. Meskipun Mahisa Bungalan harus mengibaskan beberapa kali karena debu, namun tikar itu adalah tikar yang masih baik.

Orang-orang itu pun kemudian beristirahat sambil duduk di pendapa. Pangeran Kuda Padmadata dapat bercerita serba sedikit, pada saat-saat ia belajar ilmu kanuragan pada Ki Dukut Pakering di padepokan itu. Ketika ia sudah menguasai dasar-dasar ilmunya, maka iapun kembali ke Kediri. Ki Dukut lah yang kemudian selalu datang untuk meningkatkan dan mematangkan ilmunya. Sehingga akhirnya pada suatu saat terasa oleh Pangeran Kuda Padmadata, bahwa gurunya agak berbeda sikap terhadapnya dan terhadap adiknya. Pangeran Kuda Rukmasanti.

“Tinggal sebuah kenangan yang manis” berkata Pangeran Kuda Padmadata.

Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan dapat merasa, betapa perasaan kecewa telah mencekam jantung Pangeran Kuda Padmadata. Padepokan itu agaknya memang pernah memberinya nafas kehidupan yang sejuk. Tetapi kemudian, ternyata bahwa gurunya telah membantingnya pada suatu keadaan yang hampir menyeretnya pada keputus-asaan dan bahkan akhir hidup yang sangat pahit.

Dalam pada itu, selagi Pangeran Kuda Padmadata dan beberapa orang yang menyertainya duduk dipendapa padepokan kecil itu, maka Ki Dukut Pakering memperhatikan padepokannya dengan hati yang bergejolak. Sekali-sekali terdengar ia mengumpat. Namun kemudian katanya, “Apa saja yang mereka kerjakan di padepokan itu? Apakah mereka akan merampok sisa-sisa perabot yang masih ada. Atau mereka akan membakarnya?”

Pangikutnya tidak menyahut. Namun ia pun tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukan oleh beberapa orang yang sedang berada di dalamnya.

Namun demikian, kedua orang itu sama sekali tidak ingin mendekat dan melihat ke dalamnya. Mereka tidak mau mengalami nasib yang buruk, karena menurut perhitungan Ki Dukut Pakering, orang yang datang itu tentu bukan orang kebanyakan. Jika ia terlibat dalam satu perselisihan, maka Ki Dukut tidak yakin, bahwa ia akan dapat membebaskan dirinya. Sementara ia harus mempertanggung jawabkan segala peristiwa yang pernah terjadi di istana Pangeran Kuda Padmadata.

Ternyata Pangeran Kuda Padmadata tidak terlalu lama berada di padepokan itu. Setelah ia yakin, bahwa padepokan itu telah ditinggalkan oleh seluruh penghuninya, maka Pangeran Kuda Padmadata pun segera bersiap-siap untuk kembali ke istananya.

“Kita harus berusaha mengerti, atau setidak-tidak nya mengetahui arah kepergian Ki Dukut” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “apakah ia benar-benar ingin meninggalkan daerah ini, atau ia hanya sekedar bersembunyi dengan menyimpan dendam dihatinya”

“Kemungkinan yang terakhir itulah” sahut Mahisa Bungalan.

Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang demikian”

“Tetapi untuk menemukannya adalah pekerjaan yang sangat sulit. Bahkan menemukan lacaknyapun agaknya memerlukan waktu dan kerja yang tekun” desis Mahisa Agni.

“Benar” sahut Pangeran Kuda Padmadata, “dan aku harus melakukannya. Jika aku tidak menemukan suatu keyakinan bahwa orang itu tidak akan dapat menggangguku lagi, maka aku masih akan tetap ragu-ragu untuk menjemput isteriku ke Singasari”

“Memang sebaiknya Pangeran tidak tergesa-gesa” berkata Witantra, “semuanya memang harus jelas. Jika tidak demikian, maka selesai isteri Pangeran itu sudah berada disini, keadaan yang gawat itu masih akan mencekam istana Pangeran, maka akan dapat timbul kesulitan”

Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Marilah kita kembali. Kita tidak menemukan sesuatu disini”

Orang-orang yang ada di padepokan kecil itupun segera meninggalkan regol halaman, kembali ke Kediri.

Sementara itu, Ki Dukut Pakering masih saja berada di atas bukit kecil yang tidak begitu jauh dari pedepokannya. Beberapa kali ia mengumpat. Namun kemudian katanya, “Marilah, Kita melihat, apa yang mereka lakukan di padepokan itu”

Ki Dukut dan pengikutnya itupun segera menuruni tebing yang rendah turun ke jalan yang menuju ke padepokan itu. Dengan ragu-ragu merekapun kemudian memasuki regol yang masih terbuka.
Terasa jantung Ki Dukut itu menjadi berdebar-debar. Ada juga keseganan meninggalkan padepokan yang sudah mapan, dengan kebun bunga dan kebun buah-buahan. Beberapa tandan pisang telah mulai menguning. Buah-buahan yang tumbuh subur.

“Pangeran itu memang anak setan. Nyawanya ternyata cukup liat, sehingga rencana yang nampaknya sudah hampir selesai dengan sempurna itu telah gagal” geram Ki Dukut, “tetapi yang harus dibunuh bukannya Pangeran itu saja, tetapi semuanya. Orang-orang gila yang telah melibatkan diri itu pun harus mati dicincang”

“Apakah Ki Dukut dapat mengetahui salah seorang dari mereka?” bertanya pengikutnya.

“Sampai saat ini belum. Tetapi aku segera akan mengetahuinya. Jangan kau kira bahwa orang-orang kita yang telah dikalahkan seluruhnya akan berkhianat. Kita akan dapat mencari hubungan dengan mereka.

“Apakah mereka masih dapat dipercaya?” desis pengikutnya, “mereka tentu mengetahui, bahwa harapan untuk mendapatkan kekayaan Pangeran Kuda Padmadata telah pudar sama sekali. Dengan demikian, mereka pun tidak dapat mengharapkan apapun juga dengan tugas-tugas yang akan kita berikan kepada mereka”

“Mungkin,” sahut Ki Dukut, “tetapi mereka pun tentu ingin hidup mereka lebih panjang. Mereka yang tidak mau menjalankan perintah, berarti nyawanya akan kita lenyapkan”

Pengikutnya menarik nafas dalam-dalam. Dengan cara yang demikian, memang mungkin sekali untuk memaksa satu dua orang di antara mereka untuk tetap mematuhi perintah Ki Dukut. Tetapi hubungan dengan orang-orang dalam, bukan berarti tidak mengandung bahaya. Pengkhianatan masih akan dapat terjadi sehingga akan dapat menyulitkan keadaan Ki Dukut yang sudah terjepit itu.

Namun dalam pada itu, Ki Dukut pun berkata, “Tetapi kecuali mempergunakan orang-orang yang masih berada di istana itu, aku akan tetap mencari hubungan beberapa orang kawanku. Mungkin aku memerlukan waktu barang dua tiga pekan. Tetapi itu akan lebih baik jika aku tempuh dengan cara yang lain”

Pengikutnya mengangguk-angguk. Iapun berpendapat bahwa jalan yang paling baik adalah mencari bantuan kepada orang-orang yang dianggap mempunyai kemungkinan untuk melakukan niatnya.
Satu-satunya jalan untuk menguasai harta benda Pangeran Kuda Padmadata adalah dengan merampoknya Orang-orang yang masih berada di istana itu akan dapat di bujuk, mungkin dengan di takut-takuti, tetapi mungkin juga dengan janji bahwa mereka akan mendapat sebagian dari hasil rampokan itu, jika mereka dapat membantu terlaksananya” berkata Ki Dukut.

Pengikutnya mengangguk-angguk, sementara Ki Dukut Pakering pun dengan wajah buram berdesis, “ Aku tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa akhirnya, aku hanya akan menjadi seorang perampok. Tetapi akupun akan tetap menjaga harga diriku. Aku tidak merampok petani-petani miskin atau saudagar ternak di padukuhan. Tetapi aku merampok seorang Pangeran gila yang bernama Kuda Padmadata, yang karena dendam tiada taranya. Bahkan kemudian membunuhnya sekali”

Nampak diwajah Ki Dukut, betapa kemarahan dan dendam menyala dihatinya. Sambil menggeretakkan giginya ia berkata, “Kita kembali. Pondok kecil itu ternyata jauh lebih baik dari padepokan ini. Kita harus mulai dengan modal yang ada dan dapat kita pergunakan”

“Maksudmu iblis itu sendiri” bertanya Ki Dukut.

“Ya Ki Dukut. Kita dapat mulai dari iblis itu sendiri. Kemudian adik seperguruannya. Ayah perempuan itu. Baru kemudian sampai pada sasarannya”

Pengikutnya sama sekali tidak menjawab. Namun iapun kemudian mengikutinya ketika Ki Dukut dengan tergesa-gesa meninggalkan padepokan yang pernah dihuninya beserta beberapa orang pengikutnya.

Dengan darah yang bergejolak di jantungnya, Ki Dukut berjalan menyelusuri jalan yang pernah setiap hari dilaluinya, keluar masuk padepokannya.

Dalam pada itu. Di perjalanan kembali kepondok kecilnya, Ki Dukut telah menganyam gagasan. Apakah yang sebaiknya dilakukan lebih dahulu. Apakah ia akan menghubungi orang-orang yang akan dimintanya untuk membantu membunuh Pangeran yang pernah jadi muridnya itu, ataukah ia harus mengambil langkah-langkah lain.

“Ki Dukut,” bertanya pengikutnya itu, “bukankah ada sumber kebencian Di Dukut kepada Pangeran Kuda Padmadata? Tentu bukan tiba-tiba saja Ki Dukut membencinya, kemudian bersama Pangeran Kuda Rukmasanti merencanakan segalanya yang telah terjadi itu”

“Ya” berkata Ki Dukut, “iblis itulah yang menumbuhkan kebencianku kepada Kuda Padmadata yang kemudian mengambil seorang isteri dari padukuhan. Seandainya perempuan yang diambil itu bukannya anak perempuan tikus kecil itu, aku kira aku tidak akan membencinya. Karena Kuda Padmadata termasuk seorang murid yang patuh. Tetapi ternyata bahwa ia sama sekali tidak menghiraukan peringatanku ketika ia mengambil gadis padesan itu. Apalagi ketika aku mengetahui bahwa perempuan itu adalah anak dan adik seperguruan iblis buruk itu”

Pengikutnya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Tetapi apakah dengan demikian, Ki Dukut tidak mulai saja dari sumber kebencian itu”

“Maksudmu iblis itu sendiri?” bertanya Ki Dukut.
“Ya Ki Dukut. Kita dapat mulai dari iblis itu sendiri. Kemudian adik seperguruannya. Ayah perempuan itu. Baru kemudian sampai kepada sasarannya. Perempuan dan anak laki-lakinya, terakhir barulah Pangeran Kuda Padmadata”

“Tidak yang terakhir,” potong Ki Dukut, “aku ingin memperlihatkan kematian Pangeran gila itu kepada isteri dan anak laki-lakinya”

“Jika demikian, apakah Ki Dukut tidak mulai saja dari orang yang telah menjadi sumber kebencian Ki Dukut. Mungkin tidak terlalu sulit untuk melakukannya. Jika Ki Dukut mendapat satu dua orang kawan, maka orang itu, betapapun saktinya, tentu akan dapat dikalahkan. Memang agak berbeda dengan Pangeran itu sekarang. Mungkin ia sedang dikerumuni oleh orang-orang yang memiliki kelebihan” desis pengikutnya.

“Ya. Kuda Padmadata sedang cukerumuni oleh orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, tetapi bodoh dan dungu. Apa yang mereka dapatkan dengan mempertaruhkan nyawa, mereka melindungi Pangeran dan istrinya itu” geram Ki Dukut.

“Tetapi apakah mungkin mereka keluarga atau hubungan perguruan dengan orang tua dari perempuan yang diambilnya itu?” bertanya pengikutnya.

“Aku tidak tahu” jawab Ki Dukut, “tetapi agaknya mereka orang lain, mungkin mereka adalah petugas-petugas dari Singasari, atau orang-orang lain sama sekali.

Namun dalam pada itu, pendapat pengikutnya itu memang menarik perhatian. Jika ia tidak segera dapat menghukum Pangeran Kuda Padmadata, maka ia akan mulai dari ujung yang lain. Ia akan dapat menelusuri kebenciannya kepada musuh bebuyutannya. Kemudian ke-kepada orang tua perempuan padukuhan itu. Baru kemudian ia akan sampai kepada perempuan dan anak laki-lakinya atau Pangeran Kuda Padmadata sendiri, yang ke-matiannya ingin ditunjukkannya kepada isterinya yang diambilnya dari padukuhan itu.

Bahkan tiba-tiba saja Ki Dukut berkata, “Aku akan memikirkannya”

“ Apa Ki Dukut?” bertanya pengikutnya.

“ Aku tidak harus mulai dengan Pangeran Kuda Padmadata” berkata Ki Dukut, “ aku akan membunuh iblis itu lebih dahulu. Mungkin aku akan sulit melakukannya karena mungkin aku dan iblis itu mempunyai kemampuan seimbang. Namun aku akan datang kepadanya dengan beberapa orang tertentu, aku harus yakin bahwa ia akan mati. Kemudian aku akan merambat kepada orang-orang yang lebih dekat lagi dengan Pengeran Kuda Padmadata itu”

“Tetapi apakah Ki Dukut tahu, dimanakah orang-orang itu tinggal atau mungkin padepokannya?” bertanya pengikutnya.

“Aku sudah mengetahuinya. Tetapi perempuan dan orang tuanya itulah yang tidak aku ketahui dimana mereka sekarang berada” geram Ki Dukut, “namun demikian, aku akan mulai dari orang yang dapat aku ketemukan dengan mudah”

Pengikutnya tidak menyahut lagi. Tetapi iapun mengikutinya saja dengan langkah yang semakin cepat.

Ternyata Ki Dukut Pakering benar-benar telah memikirkan, bahwa ia akan mengambil langkah yang lain Ia sudah merasa tidak lagi akan dapat menguasai harta benda Pangeran Kuda Padmadata seperti yang diperhitung kan. Karena itu, yang kemudian menyala di dadanya bukan lagi ketamakannya kepada harta benda, tetapi dendamnyalah yang seakan-akan telah membakar jantung.

Ketika keduanya sampai kepondok kecil tempat tinggal mereka untuk sementara, maka Ki Dukut masih mengulangi pembicaraan itu. Bahkan kemudian seakan-akan ia telah mengambil keputusan, untuk mengamati padepokan kecil tempat tinggal musuh bebuyutannya itu.

“Alangkah buruk nasibnya” berkata Ki Dukut, “tiba-tiba saja aku datang untuk melepaskan dendam dan kebencianku kepadanya. Mungkin ia tidak menduga sama sekali. Bermimpi pun tidak. Atau bahkan ia sudah dibayangi oleh mimpi buruk”

Pengikutnya mengerutkan keningnya ketika ia melihat Ki Dukut itu tertawa tertahan-tahan. Sambil mengangguk-angguk ia berkata pula, “Kenapa baru sekarang aku menyadarinya, bahwa dengan demikian aku akan mendapat kepuasan ganda. Meskipun bukan karena aku dapat membunuh Pangeran Kuda Padmadata dan mendapat harta bendanya, tetapi aku telah membunuh orang yang paling aku benci sebelum aku membunuh muridku yang gila itu”

Dengan demikian, maka Ki Dukut itu pun telah memalingkan untuk sementara perhatiannya kepada musuh bebuyutannya. Ia tidak lagi dengan tergesa-gesa ingin membunuh Pangeran Kuda Padmadata, karena menurut perhitungannya, orang-orang yang telah melibatkan diri itu tentu masih tetap berada di istana itu untuk sementara.

“Biarlah mereka terlena dengan Pangeran yang gila itu” berkata Ki Dukut, “aku akan mengambil jalan lain”

Namun demikian, pada saat Ki Dukut memutuskan untuk menghubungi beberapa orang yang dikenalnya dengan baik untuk melaksanakan maksudnya, maka pada saat itu, Mahendra dan Ki Wastu telah berada di Singasari

Bersama Mahendra, maka Ki Wastu pun telah masuk ke dalam lingkungan istana untuk menengok anak perempuan Ki Wastu dan cucunya ternyata mereka mendapat tempat yang cukup baik dan perlindungan seperlunya, apalagi pesan itu diberikan oleh Mahisa Agni.

“Untuk sementara kau akan tetap tinggal disini” berkata Ki Wastu kepada anak perempuannya.

“Kenapa ayah?” bertanya anak perempuannya itu, “aku berterima kasih kepada para prajurit di Singasari yang telah melindungi aku dan memperlakukan aku dengan sebaik-baiknya. Tetapi aku di sini tidak lebih dari seekor burung yang hidup didalam sangkar. Aku mendapat makan secukupnya. Aku mendapat pakaian dan bahkan aku mendapat apa saja yang aku perlakukan. Tetapi bukan kali demikian yang seharusnya dilakukan oleh seorang perempuan. Aku sudah merindukan panasnya api di dapur. Aku sudah mulai dibayangi oleh keinginan untuk mengambil air sumur mengisi pakiwan dengan kelenting. Aku adalah seorang perempuan yang seharusnya bekerja seperti kebanyakan srempuan. Tetapi disini aku tidak sempat melakukannya, justru karena kebaikan hati dan mungkin juga belas kasihan”

Mahendra menarik nafas, dalam-dalam. Katanya, “jangan memikirkan sesuatu yang dapat memberati perasaan. Kami sudah bertemu dengan Pangeran Kuda Padmadata. Segalanya akan segera selesai. Namun sementara ini, Pangeran itu masih dibayangi oleh dendam dan kebencian, justru dari gurunya sendiri. Karena itu. maka untuk sementara kau masih perlu mendapat perlindungan khusus. Perlindungan yang sebaik-baiknya tidak akan dapat kau peroleh di rumahku misalnya, karena orang-orang yang mendendam Pangeran Kuda Padmadata itu akan dapat bertindak dengan cara yang paling kasar sekalipun”

Perempuan itu dapat mengerti. Tetapi kadang-kadang ia merasa sulit untuk mengendalikan perasaannya. Bahkan tanpa disadarinya, matanya menjadi basah Terdengar ia berdesah, “ Ayah, sampai kapan aku harus mengalami himpitan perasaan seperti ini?”
“Anakku” jawab Ki Wastu, “sebenarnyalah langit sudah menjadi merah oleh fajar. Sebentar lagi, pagi akan datang. Tetapi kau tidak akan dapat mempercepat putaran waktu. Karena itu, kau harus tetap bersabar”

Perempuan itu menunduk dalam-dalam. Titik air matanya telah membasahi pangkuannya. Namun ia mencoba untuk tetap menahan hati dan mengerti, pesan ayahnya. Karena iapun menyadari, betapa ayahnya, dan orang-orang yang semula tidak dikenalnya sama sekali, telah mempertaruhkan nyawanya, untuk melindunginya.

Dalam pada itu, untuk sementara, Ki Wastu tetap berada di rumah Mahendra. Ia menunggu mungkin sesuatu akan terjadi di Kediri atau di Singasari.

Namun sementara itu, Ki Wastu pun telah memikirkan saudara seperguruannya. Sumber kebencian guru Pangeran Kuda Padmadata kepada muridnya itu adalah karena saudara tua seperguruannya itu, sehingga kebencian itu lelah mengalir pula kepada Pangeran yang malang itu.

Yang hampir saja menjadi korban. Namun ternyata bahwa yang berbicara, bukan saja dendam dan kebencian, tetapi juga nafsu dan ketamakan atas harta benda Pangeran yang kaya raya itu.

“Ki Mahendra” berkata Ki Wastu pada suatu saat, “aku merasa kurang lengkap, jika persoalan ini tidak aku sampaikan kepada kakak seperguruanku, yang kemudian aku anggap sebagai pengganti guruku. Ia adalah sumber dari kebencian Ki Dukut Pakering, guru Pangeran Kuda Padmadata itu. Jika ia mengetahui persoalan ini, mungkin ia akan dapat ikut memecahkannya. Dengan demikian kecemasan kecurigaan dan keragu-raguan ini akan dapat segera diatasi”

Mahendra mengangguk-angguk. Iapun sependapat dengan Ki Wastu. Namun demikian, ia masih bertanya, “Tetapi Ki Wastu, apakah dalam waktu dekat, saudara seperguruan Ki Wastu itu perlu diberi tahu? Atau justru apabila segala sudah selesai, sehingga tidak perlu melibatkannya ke dalam kegelisahan pula”

“Mungkin juga demikian. Tetapi jika ia sudah mengetahuinya, maka ia akan dapat ikut mengambil sikap,” bertanya Ki Wastu, “bahkan mungkin ia akan dapat memberikan jalan penyelesaian”

Mahendra masih mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian, apakah yang sebaiknya kita lakukan?”

“Ki Mahendra” berkata Ki Wastu kemudian, “aku kira tidak ada jalan lain kecuali, aku harus menemuinya di padepokannya. Menyampaikan segala persoalan yang berkembang atas anak perempuanku, sehingga berakhir dengan kematian Pangeran Kuda Rukmasanti”

“Perjalanan itu tetap cukup jauh Ki Wastu. Apakah Ki Wastu akan menempuh perjalanan itu sendiri”

“Aku kira aku tidak berkeberatan untuk menempuh perjalanan itu sendiri. Meskipun mungkin aku kembali bersama dengan saudara seperguruanku itu” sahut Ki Wastu kemudian.

“Mungkin ada kawan lain yang dapat pergi bersama! Ki Wastu” berkata Mahendra, “jika Ki Wastu mau singgah di Kediri, meskipun barangkali akan bertambah sedikit jauh, namun Mahisa Bungalan akan dapat menemanimu”

Ki Wastu mengerutkan keningnya. Ia telah mengenal anak muda yang bernama Mahisa Bungalan. Ia telah mengetahui tingkat kemampuan anak muda itu. Bahkan ternyata Mahisa Bungalan telah berhasil mengalahkan Pangeran Kuda Rukmasanti.

“Tetapi apakah ia masih bersedia mengorbankan waktunya untuk kepentingan orang yang tidak mempunyai sangkut paut sama sekali dengan anak muda itu?” bertanya Ki Wastu, lalu, “kami bukan sanak bukan kadang. Kamipun tidak mempunyai hubungan perguruan. Adalah karena sikap yang luhur sajalah, maka angger Mahisa Bungalan, dan bahkan kemudian seluruh keluarganya, termasuk ayah dan paman-pamannya, telah terlibat pula ke dalam persoalan ini”

Mahendra tersenyum. Katanya, “Ki Wastu. Memang seharusnya Mahisa Bungalan sudah dipanggil oleh Sang Maha Prabu di Singasari untuk memasuki lingkungan keprajuritan. Tetapi agaknya Mahisa Bungalan ingin melengkapi pengalamannya lebih dahulu. Jika ia sudah berada di dalam lingkungan keprajuritan, maka ia adalah seorang prajurit yang tidak dapat pergi kemana saja sesuai dengan keinginannya. Karena itu, untuk sementara ia masih mohon waktu, agar ia diperkenankan melengkapi bekalnya sebelum ia memasuki tugas-tugas yang berat dari seorang prajurit di Singasari yang besar ini”

Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Tetapi untuk mencari pengalaman, seharusnya angger Mahisa Bungalan tidak terlalu dekat berjalan menyentuh bahaya. Mungkin ia ingin melihat kota-kota lain dan tata kehidupan yang lebih lengkap. Tetapi tidak bermain-main dengan nyawanya”

“Sentuhan-sentuhan pada bahaya yang gawat itulah yang diinginkannya, meskipun aku harus berdoa siang dan malam, agar’ia selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Kuasa”

Ki Wastu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku menyadari bahwa aku sedang berbicara dengan ayah seorang anak muda yang bernama Mahisa Bungalan. Akupun sadar, bahwa pembicaraan ini sekaligus merangkum pengertian, bahwa Ki Mahendra tidak berkeberatan sama sekali jika aku menawarkan kepada angger Mahisa Bungalan, apakah ia bersedia untuk ikut bersamaku, pergi ke padepokan saudara seperguruanku itu”

“Ki Wastu benar. Justru aku masih ingin memberikan kesempatan kepada anakku. Mudah-mudahan dengan tugas tugas ini menjadi puas dan segera bersedia memasuki lingkungan keprajuritan yang sudah lama tersedia baginya” berkata Mahendra.

Dengan demikian, maka keduanya pun telah sepakat, bahwa Ki Wastu akan memberitahukan segala yang telah terjadi kepada saudara seperguruannya, yang menjadi pusat dendam Ki Dukut Pakering, sehingga akibatnya telah menyentuh Pangeran Kuda Padmadata, muridnya sendiri. Sehingga hampir saja hidupnya telah dikorbankan. Sementara itu Ki Wastu pun akan singgah pula di Kediri untuk menyampaikan maksudnya kepada Mahisa Bungalan, apabila ia tidak berkeberatan untuk ikut serta dalam perjalanan yang agak panjang.

-oo0dw0oo-

Bersambung jilid 12

Sumber DJVU : Dino
Convert & Edit : Dino
Ebook oleh : Dewi KZ
Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/   http://dewikz.byethost22.com/

http://cerita-silat.co.cc/    http://ebook-dewikz.com

<<kembali | lanjut >>

PBM-15

<<kembali | lanjut >>

KARENA itu, maka para pemimpin kelompok itu pun segera memerintahkan pasukannya untuk meneliti pagar halaman barak yang rapat dan cukup tinggi itu. Mungkin ada kesengajaan para pengikut Rajawali Penakluk itu membuat pintu-pintu rahasia pada dinding barak yang dapat mereka masuki di malam hari untuk menjebak pasukan yang ada di dalamnya.

Tetapi dinding barak yang rapat dan tinggi itu ternyata cukup kuat. Tidak ada lubang yang dapat dipergunakan untuk merayap masuk.

Meskipun demikian, para prajurit dan pengawal itupun selalu berhati-hati dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Karena mereka tidak bersiap dengan obor yang cukup banyak, maka para prajurit itu pun telah membuat perapian di beberapa bagian halaman barak itu, sekaligus untuk menerangi halaman di sekitar barak, di dalam lingkungan pagar.

Mereka pun kemudian mengatur giliran untuk berjaga-jaga, agar mereka tidak mengalami nasib seburuk pasukan Rajawali Penakluk yang mengepung padepokan, justru mereka menjadi lengah karena mereka menganggap lawannya sama sekali tidak berdaya.

Demikianlah, pasukan itu pun bermalam semalam di dalam lingkungan halaman barak itu. felapi mereka tidak mengalami sesuatu. Namun dengan demikian, jantung mereka telah dicengkam oleh perasaan kecewa yang sangat.

“Kita harus menemukan mereka” geram Mahisa Bungalan.

Karena itulah, ketika matahari terbit di keesokan harinya, maka Mahisa Bungalan pun telah menemui Witantra untuk membicarakan kemungkinan yang akan ditempuhnya.

“Jika kau ingin mencarinya kemana kita akan pergi?“ bertanya Witantra,, “apakah kau akan membawa pasukanmu menjelajahi daerah yang tidak terbatas ini? Atau kita mencari bahan lebih dahulu sebelum pasukan kita bergerak”

“Jadi kita harus menunggu lagi?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Bukan menunggu. Tetapi kita akan segera mulai. Bukankah usaha menemukan satu tempat yang akan menjadi sasaran pasukan kita itu pun sudah satu permulaan? Apakah kau kira kau akan berhasil dengan iring-iringan pasukan ini mendaki tebing dan menuruni lereng-lereng jurang tanpa tujuan?”

“Jadi menurut pertimbangan paman, kita akan kembali lagi ke padepokan itu?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Ya, agar kita tahu apa yang harus kita lakukan” Mahisa Bungalan tidak menjawab. Namun ia pun kemudian memanggil dua orang tawanannya. Dengan nada keras ia bertanya, apakah ia mengetahui, kemana perginya seisi barak yang telah kosong itu.

Tetapi jawabnya benar-benar masuk akal, “Bukankah selama ini aku berada di padepokan itu? Tentu aku tidak mengetahui kemana mereka pergi”

“Kemungkinan terbesar. Ha, apakah kau tahu sarang-sarang yang lain, yang dapat dipergunakan oleh Rajawali Penakluk yang licik itu?“ bentaK Mahisa Bungalan.

“Aku berasal dari barak ini” jawab keduanya hampir berbareng.

Mahisa Bungalan hanya dapat menggeram. Ternyata kedua orang itu tidak dapat menunjukkan, kemungkinan yang dapat menuntun arah pasukan itu tanpa kembali dahulu ke padepokan.

Namun akhirnya Mahisa Bungalan tidak dapat berbuat lain. Bahkan, betapapun kecewa, namun Pangeran Kuda Padmadata pun berkata, “Tawanan-tawanan itu tentu ada yang dapat berbicara, kemana kita harus menyusul”

Dengan kesal, Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata telah membawa pasukannya kembali tanpa hasil apapun juga. Barak yang mereka datangi ternyata sudah kosong sama sekali, tanpa mendapat petunjuk, kemana mereka harus mencari Rajawali Penakluk.

Ketika mereka sampai ke Padepokan setelah menempuh perjalanan panjang yang menjemukan, maka Mahisa Bungalan pun segera minta, agar Witantra berusaha untuk mendapatkan petunjuk kemana pasukan yang sudah siap di padepokan itu harus bergerak.

Witantra menarik nafas dalam-dalam ketika Mahisa Bungalan berkata, “Paman, bukankah kita sudah cukup lama berjalan menjelajahi daerah yang luas ini? Bukankah dengan demikian, sudah tiba waktunya bagi kita untuk bertindak lebih cepat?“

“Ya, aku mengerti Mahisa Bungalan. Biarlah aku melakukannya secepatnya” jawab Witantra.

Mahisa Agni, Mahendra dan Ki Wastu yang mendengar persoalan yang dikemukakan oleh Mahisa Bungalan itu hanya tersenyum saja. Mereka dapat mengerti gejolak darah muda yang mengalir di dalam tubuh Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murtini dan Mahisa Pukat mempunyai pendapat lain, “Marilah kita mencarinya ayah. Kita akan melanjutkan perjalanan mengelilingi daerah yang luas bersama pasukan yang kuat. Kita akan dapat melihat-lihat dan mendapatkan pengalaman dari penjelajahan itu”

“Ah, kau” desis Mahendra, “kau kira kita sedang bertamasya? Mungkin kau akan senang menjelajahi daerah yang luas, menuruni tebing dan memanjang lereng-lereng gunung yang terjal bersama kawan yang berjumlah banyak. Tetapi bukan itu tujuan pasukan Singasari dan Kediri ini bergerak. Mereka mempunyai tugas yang harus mereka lakukan sebaik-baiknya. Dengan tenaga yang sedikit mungkin, akan dapat dicapai hasil yang sebanyak-banyaknya”

“Itu namanya tidak adil. Orang yang ingin mencapai hasil yang besar, ia harus mau bekerja sekeras-kerasnya” jawab Mahisa Murti.

Mahendra tertawa. Katanya, “Tetapi dalam perbandingan keseluruhan, patokan itu harus diperhitungkan”

“Seperti ayah saja” desis Mahisa Pukat, “ maunya ayah membeli barang semurah-murahnya dan dijual dengan harga yang setinggi-tingginya”

Bukan saja Mahendra, tetapi orang-orang lain yang mendengarpun tertawa pula. Bahkan Witantra berkata, “Tetapi patokan ayahmu itu memang dapat ditrapkan dimana-mana Pukat”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Namun dalam pada itu, orang-orang tua itupun berusaha untuk mengimbangi kecepatan gerak anak-anak muda. Mereka pun segera berusaha mencari keterangan di antara tawanan yang ada di padepokan itu, kemanakah Rajawali Penakluk itu berpindah tempat.

Tetapi tidak seorang pun dari mereka yang dapat memberikan petunjuk. Tidak seorang pun yang dapat menduga, apa yang dilakukan oleh Rajawali Penakluk itu.

Akhirnya Mahisa Bungalan tidak telaten lagi. Kepada para tawanan itupun ia bertanya, dimanakah tempat-tempat bersembunyian dan sarang-sarang dari kelompok-kelompok yang termasuk berada di bawah pengaruh Rajawali Panakluk itu.

Orang-orang tua yang melihat cara Mahisa Bungalan menelusuri jejak Ki Dukut itupun mengangguk-angguk. Nampaknya Mahisa Bungalan ingin mencari Ki Dukut dari satu tempat ke tempat yang lain

“Hal ini lebih baik aku lakukan, daripada tidak sama sekali” berkata Mahisa Bungalan.

“Baiklah kita coba” berkata Mahisa Agni, “mungkin usaha ini akan ada hasilnya”

“Karena itu, aku harus mengetahui, kemungkinan-kemungkinan yang dapat aku lakukan” sahut Mahisa Bungalan.

Mahisa Agni tidak menghalang-halangi. Ternyata bahwa dari para tawanan itu, Mahisa Bungalan dapat mengetahui beberapa tempat yang mungkin dipergunakan oleh Ki Dukut untuk bersembunyi, atau beristirahat beberapa saat sebelum ia mulai lagi dengan kerjanya yang gila.

“Kita akan menjelajahi tempat demi tempat” berkata Mahisa Bungalan kepada Pangeran Kuda Padmadata.

“Kita dapat membagi pasukan” sahut Pangeran Kuda Padmadata, “kau membawa separo, aku membawa separo. Kita akan pergi ke arah yang berbeda setelah kita sepakati arah kita masing-masing”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk, katanya, “Bagus. Dengan demikian kerja kita akan lebih cepat”

Dengan rencana itu, maka Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata pun segera membicarakannya dengan Mahisa Agni dan orang-orang tua yang lain.

Orang-orang tua itu hanya dapat mengangguk-angguk. Namun mereka tidak akan dapat melepaskan anak-anak muda itu. Karena itu, maka Mahisa Agnipun berkata, “Baiklah. Aku akan pergi bersama Pangeran Kuda Padmadata, sementara Witantra akan berada di dalam pasukanmu, Mahisa Bungalan” Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu, “sudah barang tentu, padepokan ini tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Satu pengalaman pernah terjadi, Ki Dukut itu justru menyerang lagi padepokan ini. Karena itu, maka biarlah Mahendra dan kedua anak-anaknya bersama Ki Wastu tinggal di padepokan ini bersama beberapa prajurit dan pengawal untuk mengawasi para tawanan”

Betapa jengkelnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa mereka harus berada di padepokan itu. Bagaimanapun juga keduanya menyatakan keinginan mereka, tetapi Mahendra tetap berkeberatan jika keduanya mengikuti kakaknya dalam perjalanan yang berat dan tidak menentu.

“Pada saatnya kau akan pergi juga” berkata Mahendra, “tetapi dalam perjalanan yang lain”

Akhirnya keduanya mengerti juga, betapa beratnya tugas yang sedang dipikul oleh Mahisa Bungalan, sehingga akhirnya mereka bersedia berada di padepokan bersama ayahnya dan Ki Wastu. Dalam pada itu, maka Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata pun telah mempersiapkan diri. Mereka telah membagi pasukan yang ada menjadi dua bagian. Yang seorang akan dipimpin oleh Mahisa Bungalan, yang lain akan langsung dipimpin oleh Pangeran Kuda Padmadata. Sementara itu masih ada sekelompok kecil yang akan tinggal di padepokan untuk membantu para cantrik apabila terjadi sesuatu. Selebihnya, mereka yang tinggal juga berkewajiban untuk memberikan latihan-latihan olah kanuragan, agar para cantrik mampu meningkatkan ilmu mereka.

Demikianlah, pada hari yang tertentu, dua kelompok pasukan itupun berangkat dari padepokan kecil itu. Seperti yang direncanakan, maka Mahisa Agni akan menyertai Pangeran Kuda Padmadata, sedangkan Witantra akan berada di dalam pasukan yang dipimpin oleh Mahisa Bungalan.

Bersama mereka, dua orang tawanan berada disetiap kelompok untuk menunjukkan, tempat-tempat yang mungkin menjadi tempat persembunyian sementara Ki Dukut Pakering yang bergelar Rajawali Penakluk itu.

Dari para tawanan itu Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata mendapat beberapa petunjuk, bahwa Ki Dukut yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu mempunyai beberapa gerombolan pengikut yung semula saling terpisah. Karena itu. maka mungkin sekuli Ki Dukut berada di antara pengikut-pengikutnya itu.

“Kita harus mendatangi sarang mereka satu demi satu” berkata Mahisa Bungalan kepada tawanan yang menyertainya.

Namun dalam pada itu, Pangeran kuda Padmadata pun berniat demikian. Dengan Mahisa Bungalan Pangeran itu sudah bersetuju untuk membagi, yang manakah yang harus didatangi oleh Pangeran Kuda Padmadata, dan yang manakah yang harus diselesaikan oleh Mahisa Bungalan.

Dengan demikian maka perjalanan kelompok-kelompok itu adalah perjalanan yang cukup berat. Mereka harus menyusup hutan, menuruni jurang dan mendaki lereng bukit-bukit. Sarang gerombolan itu terpencar, dan pada umumnya berada di tempat yang sulit untuk didatangi.

Namun, sudah menjadi tekad Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata, bahwa perburuan itu harus lebih mengarah. Bukan sekedar menjelajahi pedepokan demi padepokan tanpa berbuat apa-apa. Seakan-akan hanya sekedar menunggu kesempatan, serta menunggu satu kemungkinan dari berpuluh-puluh kemungkinan yang lain, bahwa mereka akan bertemu dengan Ki Dukut disatu tempat.

Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan Ki Wastu harus mengikuti cara berpikir anak-anak muda itu. Sehingga merekapun kemudian seakan-akan hanyalah mengikuti saja sambil memberikan pendapat dan mungkin kemampuannya apabila diperlukan

Demikianlah, maka pada hari-hari pertama, kedua kelompok itu telah menuju ke arah yang berbeda, sehingga jarak antara keduanya menjadi semakin jauh. Mahisa Bungalan dan pasukannya, yang di sertai oleh Witantra menuju ke daerah yang berbukit-bukit, sementara Pangeran Kuda Padamadata yang diikuti oleh Mehisa Agni serta pasukannya, menusuk masuk ke dalam kepekatan hutan.

Dari para tawanan mereka mendapat petunjuk, bahwa sebagian dari sarang gerombolan yang berada di bawah pengaruh Ki Dukut itu ada di antara bukit-bukit dan terpencar di seberangnya, sementara yang lain bersembunyi di hutan-hutan dan lembah-lembah dibalik hutan itu.

Tetapi tidak seorang pun dari para tawanan yang mengetahui keadaan Ki Dukut yang sebenarnya. Merekapun tidak tahu apa yang dilakukan oleh pengikut-pengikutnya yang terlepas dari tangan para prajurit dan pengawal.

Mereka tidak mengetahui, bahwa Ki Dukut yang bergelar Rajawali Penakluk itu tiba-tiba saja sudah hilang dari antara pengikutnya. Sementara sarang yang telah kosong itu telah ditinggalkan oleh penghuninya, atas pesan Ki Dukut ke tempat yang lebih tersembunyi lagi.

Karena itu, baik Mahisa Bungalan maupun Pangeran Kuda Padmadata telah dibawa oleh tawanan-tawanan yang berada di antara mereka menuju ke tampat yang sudah mereka kenal.

Sebenarnyalah, sepeninggal Ki Dukut, setiap kelompok penjahat itu seakan-akan telah saling memisahkan diri. Mereka seakan-akan tidak lagi merasa terikat yang satu dengan lain seperti sebelum Ki Dukut yang mereka kenal dengan gelar Rajawali Penakluk itu berada di antara mereka.

Hanya bekas-bekas pengaruh Ki Dukut yang mengikat mereka sajalah yang kadang-kadang masih terlintas di dalam angan-angan mereka.

“Bila orang itu datang, biarlah kami menjalankan perintahnya. Jika tidak, kami tidak mempunyai keterikatan dengan kelompok-kelompok lain” berkata hampir setiap pemimpin kelompok yang telah mengangkat diri mereka kembali.

Dengan demikian, maka mereka telah terjun kembali ke dalam kehidupan mereka seperti sediakala. Mereka berada di jalan-jalan sunyi. Menelusuri bulak-bulak panjang di malam hari, dan bahkan kadang-kadang memasuki padukuhan-padukuhan dan selanjutnya memilih rumah-rumah yang paling besar dan mempunyai kemungkinan menyimpan benda-benda berharga.

Demikianlah mereka telah kembali ke dalam kehidupan meraba sebagai perampok dan penyamun sepenuhnya tanpa pegangan dan arah sama sekali.

Dalam pada itu, maka tawanan yang berada di dalam pasukan Mahisa Bungalan telah membawa pasukan itu untuk pertama kali ke sarang sekelompok penjahat yang dianggapnya paling baik. Kelompok yang pertama berhubungan dengan Ki Dukut yang bergelar Rajawali Penakluk itu.

“Mungkin Rajawali Penakluk itu berada di sana” katanya di dalam hati, “jika tidak, maka meskipun pasukan ini akan berhasil menghancurkan sarang itu, tetapi pasukan ini tentu akan mengalami luka yang cukup parah pula. Jika kemudian aku membawa ketempat yarig terhitung kuat, maka keadaannya tentu semakin buruk, sehingga akhirnya akan menjerumuskan pasukan ini ke dalam lingkungan yang tidak akan memberinya kesempatan untuk meninggalkan tempat itu. Sarang kelompokku sendiri yang aku kenal baik-baik”

Demikianlah, maka setelah menempuh perjalanan yang panjang dan beristirahat semalam di lereng sebuah bukit berbatu padas, maka pasukan itu pun mendekati sarang kelompok yang akan mereka datangi pertama kali.

“Kau jangan menipu kami” berkata Mahisa Bunga lan kepada kedua orang itu, “kami akan menghancurkan kepala kalian”

“Aku hanya menunjukkan. Aku tidak tahu lagi, apakah isi padepokan itu. Apakah Rajawali Penakluk ada di situ atau tidak. Atau kemungkinan-kemungkinan lain pada perkembangan terakhir”

Mahisa Bungalan menggeram. Namun kemudian katanya, “Sebut, darimana arah yang sebaiknya kami mendekati barak itu?“

“Barak itu menghadap ke tangga yang mendaki lereng bukit ini. Tetapi di samping beberapa gubug, terdapat pula sebuah goa yang dalam dan luas. Aku juga tidak tahu, siapakah yang memimpin kelompok ini sekarang” desis tawanan itu.

Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun minta pertimbangan Witantra, apakah yang sebaiknya dilakukannya.

“Jika kau sudah siap, maka sebaiknya kita mendekati barak itu” berkata Witantra, “awasi setiap lubang yang mungkin dapat dijadikan jalan untuk melepaskan diri. Besok pagi-pagi kita akan menyergap”

“Kau harus memberikan kesempatan kepada orang-orangmu untuk beristirahat. Jangan kau paksa mereka untuk memeras keringatnya di perjalanan, kemudian memeras darahnya di pertempuran ini”

Mahisa Bungalan tidak membantah lagi. Iapun kemudian memerintahkan pasukannya dengan diam-diam mengepung barak dan goa di hadapan mereka. Tetapi mereka harus sangat berhati-hati, agar penghuni barak itu tidak mengetahuinya.

“Biarkan orang yang memasuki daerah kepungan ini“ perintah Mahisa Bungalan, “tetapi setiap orang yang keluar harus kalian ikuti dan kalian tangkap setelah jaraknya cukup jauh dari barak itu”

Demikianlah, maka ketika senja menjadi semakin gelap, pasukan yang datang itu pun mulai mengatur diri mengepung sarang gerombolan perampok dari penyamun yang berada dibawah pengaruh Rajawali Penakluk itu.

Seperti yang diperintahkan oleh Mahisa Bungalan, maka para prajurit dan pengawal itu pun akan menangkap setiap orang yang keluar dari barak itu, sehingga memungkinkan mereka menghubungi gerombolan yang lain sehubungan dengan kehadiran para prajurit dan pengawal

Tetapi ternyata bahwa kehadiran mereka diketahui oleh penghuni barak itu. Seperti yang selalu mereka lakukan, mengingat pesan Ki Dukut agar mereka selalu berhati-hati, maka gerombolan itu telah memasang beberapa orang untuk mengawasi keadaan siang dan malam. Demikian mereka melihat sepasukan mendekati barak itu, maka merekapun segera bertindak cepat.

Sesudah memberikan laporan kepada pemimpin gerombolan itu. maka dua orang telah diperintahkan untuk menghubungi gerombolan terdekat. Mereka memang sudah memperhitungkan bahwa pasukan itu baru akan menyerang di keesokan harinya. Menurut perhitungan gerombolan itu, pasukan yang datang itu tidak akan bergerak di malam hari, karena mereka belum mengenal medan sebenarnyalah yang cukup gawat.

“Tetapi bagaimana jika mereka menyerang malam ini” bertanya salah seorang dari gerombolan itu.

“Kita akan melumatkannya. Kita sudah terbiasa bergerak di malam hari. Dan kita sudah mengenal daerah ini seperti kita mengenal tubuh kita sendiri” jawab pemimpin gerombolan itu.

“Kenapa kita tidak menyerang mereka malam ini?“ bertanya yang lain.

“Kita harus keluar dari sarang kita. Mereka pun berpencar mengelilingi barak ini. Apalagi mereka telah memilih tempat yang paling baik bagi mereka, karena kitalah yang datang kepada mereka. Agak berbeda jika merekalah yang datang kepada kita. Mereka tidak dapat memilih tempat dimana kita akan menjebak” sahut pemimpin gerombolan, “selebihnya, jika orang kita itu sempat menghubungi kelompok lain yang terdekat, maka kita akan mendapat kesempatan lebih banyak. Aku sudah berpesan, agar mereka tetap berada diluar kepungan, dan mereka akan bertindak pada saat pasukan itu menyerang kita besok pagi”

Para perampok dan penyamun yang berada di barak itu pun hanya dapat menunggu. Namun mereka selalu siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal datang.

Ternyata bahwa dua orang yang mereka tugaskan untuk menghubungi kelompok lainnya, berhasil menyusup keluar sebelum kepungan itu merapat. Mereka dengan tergesa-gesa, bahkan berlari-lari kecil menuju kes ebuah barak yang lain. Mereka berharap bahwa sebelum pagi. kelompok yang lain itu sudah berada di sekitar sarangnya.

Kedatangan kedua orang itu memang mengejutkan. Sarang yang didatangi itupun selalu dalam kesiagaan seperti juga yang lain-lain. Sehingga karena itu, kedatangan kedua orang itu segera diketahui oleh hampir semua orang di dalam gerombolan itu.

“Apa yang terjadi?“ bertanya pemimpin gerombolan itu.

“Barak kami telah didatangi oleh sepasukan yang kuat berkata kedua orang petugas itu, “mereka mengepung barak kami. Menurut perhitungan kami, mereka akan menyerang besok pagi”

Pemimpin gerombolan itu mengangguk-angguk. Iapun segera mengerti bahwa kedatangan kedua orang itu tentu akan memerlukan bantuan.

Untuk menjaga kepentingan bersama, juga apabila gerombolan itu sendiri mengalami, maka pemimpin gerombolan itupun berkata, “Kau tentu memerlukan bantuan. Baiklah, kita akan menghadapi mereka bersama-sama”

“Terima kasih. Kamipun akan melakukan hal yang serupa apabila barak inilah yang mengalami serangan pada kesempatan lain” jawab petugas itu.

“Tetapi apakah menurut perhitungan kalian, kami akan dapat melawan mereka?“ bertanya pemimpin gerombolan itu.

“Jumlah mereka tidak terlalu banyak. Tetapi kita sudah dapat mengukur kemampuan mereka. Ketika orang-orang terbaik kita menyerang mereka, maka di antara kita jatuh banyak korban” berkata petugas itu, “tetapi sekarang, meskipun bukan orang-orang terbaik, kita dapat mengarahkan semua orang yang ada. Tidak hanya beberapa orang terpilih saja. Bagaimanapun juga, jumlah akan ikut menentukan akhir dari pertempuran yang bakal datang itu”

“Aku sependapat” jawab pemimpin gerombolan itu, “tentu orang-orang yang tertawan itulah yang telah menunjukkan barakmu itu”

“Tentu. Kami sudah memperhitungkan, seperti juga perhitungan Rajawali Penakluk itu, sehingga ia memerintahkan sarang induk kita itu dipindahkan”

Demikianlah, maka gerombolan itupun segera mempersiapkan diri. Mereka harus dengan cepat bertindak.

“Kesempatan untuk melepaskan dendam“ berkata pemimpin gerombolan itu, “merekalah yang kini datang. Dengan jumlah yang banyak kita akan menghancurkan mereka. Meskipun kita tidak lagi memilih orang-orang terbaik, tetapi justru kita semuanya akan bergerak”

Sejenak kemudian, maka gerombolan itu pun telah meninggalkan sarang mereka. Hanya beberapa orang sajalah yang kemudian tinggal menunggui harta benda yang tersimpan di dalam barak itu.

Dengan petunjuk dari kedua orang yang datang memberitahukan keadaan baraknya itu, maka gerombolan yang datang itupun telah mengatur diri. Pemimpin gerombolan itu telah memberikan beberapa petunjuk, agar kehadiran mereka tidak diketahui oleh orang-orang Singasari dan Kediri itu.

“Kita baru akan bergerak jika orang-orang Singasari dan Kediri itu sudah mulai menyerang” berkata pemimpin gerombolan itu, lalu, “sehingga dengan demikian, maka pasukan itu akan terjepit. Di depan mereka adalah orang-orang yang berada di dalam barak, sementara di belakang mereka adalah kita yang datang untuk membalas dendam”

Demikianlah, maka dengan cepat gerombolan itu bergerak. Mereka mendekati sarang yang terkepung itu menjelang ayam jantan berkokok untuk yang ketiga kalinya.

“Ada waktu sedikit untuk beristirahat” berkata pemimpin gerombolan itu, “memencarlah. Bukankah kalian telah mengenal daerah ini, setidak-tidaknya beberapa orang di antara mereka? Kalian akan menyerang setelah aku memberikan isyarat dengan suara kentongan kecil ini. Kalian tidak perlu mengepung daerah ini. Tetapi kalian cukup berkumpul kelompok demi kelompok di tempat yang terpencar, sehingga pada saatnya kalian akan dapat menyergap dari segala arah. Sementara kalian menunggu fajar, kalian sempat tidur barang sejenak”

Demikianlah, maka dengan sangat hati-hati, maka gerombolan itupun telah terpencar. Mereka berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil yang sudah ditentukan di seputar barak itu. Pada saatnya mereka sudah ditentukan di seputar barak itu. Pada saatnya mereka akan menyerang dari segenap penjuru”

Waktu yang sesaat itu telah mereka pergunakan sebaik-baiknya untuk beristirahat. Beberapa orang di antara mereka sempat mengunyah makanan yang mereka bawa dari barak mereka. Yang lain langsung tertidur. Tetapi kawannya segera membangunkannya sambil berdesis, “Jangan mendengkur. Suaramu seperti babi hutan. Jika orang-orang Singasari dan Kediri itu mendengar, maka mereka akan datang menangkapmu”

“Apa aku mendengkur?“ ia bertanya.

”Keras sekali” jawab kawannya.

”Aku tidak merasa” jawabnya.

”Dan kau tentu tidak mendengarnya pula” sahut kawannya yang lain.

Orang itu terdiam. Tetapi iapun kemudian tidur sambil memiringkan kepalanya, agar tidak mendengkur lagi. Tetapi ternyata kawannya telah membangunkannya lagi., “Pergilah jauh-jauh. Tidurlah sendiri” geram kawannya.

“Nanti aku dimakan harimau” katanya, “baiklah. Aku tidak akan tidur. Aku hanya sekedar bertiduran untuk menghilangkan telah”

Tetapi sebentar kemudian ia sudah mendengkur lagi. Namun kawan-kawannya tidak menghiraukannya lagi. Merekapun sedang mencoba untuk dapat tidur barang sekejap.

Tetapi kesempatan itu memang tidak terlalu lama. Sejenak kemudian langit pun mulai dibayangi oleh warna fajar.

Dalam pada itu, maka para prajurit dan pengawal yang mengepung barak itupun telah bersiap-siap untuk melakukan tugas mereka. Barak itu akan segera mereka serang dari segala arah. Mereka masih mempunyai harapan, bahwa mereka akan dapat menemukan Rajawali Penakluk atau setidak-tidaknya mendapat keterangan tentang dirinya.

“Ingat” berkata Mahisa Bungalan kepada pemimpin-pemimpin kelompok yang dikumpulkannya menjelang pagi kami bukan datang untuk membunuh. Tetapi tugas kami adalah memburu orang yang bernama Ki Dukut dan bergelar Rajawali Penakluk itu. Meskipun perampok dan penyamun tidak dibenarkan adanya, terutama di telatah Kediri dan Singasari, namun cara kita menghadapi mereka berbeda dengan apa yang harus kita lakukan terhadap Ki Dukut Pakering”

Para pemimpin kelompok itu mengerti apa yang dimaksudkan oleh Mahisa Bungalan. Karena itu. maka merekapun mengangguk dan siap menyampaikan perintah itu kepada anak buah mereka.

“Kalian akan mendengar suara panah sendaren. Kami di sini akan melepaskan panah itu ke segenap arah. Suara sendaren yang kalian dengar adalah perintah, bahwa kalian harus segera menyerang” berkata Mahisa Bungalan kemudian.

Demikianlah maka para pemimpin kelompok itu pun segera kembali ke tempat masing-masing dan segera menyampaikan pesan itu pula kepada anak buahnya.

Sementara itu, di dalam barak itu pun telah terjadi kesibukan. Orang-orang di dalam barak itu menjadi-berdebar-debar pula. Kedua orang yang ditugaskannya mencari hubungan dengan gerombolan terdekat tidak kembali lagi kepada mereka.

“Keduanya tentu mempunyai perhitungan tersendiri” berkata pemimpin gerombolan itu, “mereka tidak akan berani menembus kepungan. Jika mereka tertangkap, maka rahasia hubungan mereka dengan kawan kita di luar barak ini akan terungkap”

Bagaimana jika mereka tertangkap ketika mereka berangkat?“ bertanya seseorang.

“Memang mungkin. Karena itu, kita harus bersiaga sebaik-baiknya. Mungkin kita memang harus bertempur tanpa bantuan pihak yang lain” jawab pemimpin gerombolan itu, “sementara kita belum tahu pasti, seberapa besar kekuatan lawan. Tetapi kita yakin, bahwa kita akan dapat mempertahankan diri. Dan kitapun yakin, bahwa orang itu akan dapat menghubungi kawan kita. Mereka akan datang membantu kita dengan cara yang kita pesankan”

Namun demikian, pemimpin gerombolan itupun telah memerintahkan orang-orangnya Untuk mempergunakan segala cara yang dapat mereka lakukan tanpa mengharap bantuan pihak lain.

“Jumlah kita cukup banyak” geramnya.

Beberapa orang diantaranya mereka telah siap dengan budur dan batu besar yang dapat mereka lontarkan pada lereng-lereng yang mungkin akan dipanjat oleh para prajurit dan pengawal. Juga di hadapan tangga yang menjadi jalan induk memasuki sarang mereka. Sementara yang lain telah menyiapkan lembing-lembing bambu yang ujungnya diberi sekeping besi. Lembing-lembing itu akan dapat mereka lontarkan kepada lawan yang akan mendaki bukit.

Dengan senjata-senjata itu, mereka telah menghadap ke segala arah yang mungkin akan ditempuh oleh para prajurit dan pengawal. Meskipun satu sisi dari barak itu agaknya terlalu sulit untuk ditempuh, namun mereka telah menempatkan-beberapa orang untuk mengawasinya juga. Mungkin sekali para prajurit dan pengawal itu justru meng ambil arah yang dianggapnya terlalu sulit itu, sehingga mereka dapat menyergap tanpa mendapat perlawanan yang berarti.

Tetapi prajurit dan pengawal yang dipimpin oleh Mahisa Bungalan itu tidak mempergunakan jalan yang terlalu sulit itu. Kepungannya pada bagian yang sulit itu pun tidak terlalu rapat, karena mereka menganggap, jalan itu tidak akan mungkin dilalui.

Dengan hati yang berdebar-debar, setiap orang telah menunggu langit menjadi terang. Para prajurit dan pengawal, orang-orang yang berada di dalam kepungan dan gerombolan yang datang untuk membantu.

Dengan demikian, maka rasa-rasanya tempat itu justru menjadi semakin sepi. Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu telah menahan nafas masing-masing dengan tangan dihulu senjata. Sementara yang lain telah siap untuk melontarkan senjata-senjata mereka, sementara orang lain menggenggam tangkai kentongan dengan eratnya sedangkan tangannya yang lain menggenggam pemukulnya.

Tiba-tiba kesenyapan pagi itu telah dikoyak oleh lengking panah sendaren. Beberapa panah sendaren telah berterbangan ke segala arah, seolah-olah gaung suara burung aneh yang memenuhi langit yang masih buram.

Pada saat itulah pasukan Mahisa Bungalan mulai bergerak. Mereka pun menyadari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada saat mereka mendekati barak. Karena itulah, maka pasukan yang paling kuat adalah justru pasukan yang datang dari arah sayap. Meskipun mereka menempuh jalan yang agak sulit, tetapi mereka mendaki tebing tidak tepat di hadapan barak yang menjadi sasaran serangan mereka, sehingga mereka tidak akan mendapat hambatan langsung dari orang-orang di dalam barak itu.

Tetapi satu hal yang tidak diperhitungkan oleh Mahisa Bungalan adalah, kedatangan orang-orang dari gerombolan lain yang akan menyerang mereka dari belakang.

Perlahan-lahan pasukan Mahisa Bungalan itu bergerak maju. Hal-hal yang akan terjadi telah diduga sebelumnya. Demikian pasukan induk itu mendekati tangga, maka orang-orang di dalam gerombolan itu telah siap melontarkan batu-batu yang besar untuk menghambat lawan mereka, sementara yang lain akan melemparkan lembing-lembing bambu yang ujungnya diberi kepingan-kepingan besi tajam.

Tetapi para prajurit dan pengawal itupun cukup mempunyai pengalaman. Karena itu, maka mereka yang dihadapkan langsung pada jalan induk itu adalah prajurit-prajurit dan pengawal pilihan yang mampu mengatasi kesulitan yang bakal mereka hadapi dengan perlengkapan khusus Mereka adalah prajurit-prajurit yang bersenjata pedang dan perisai.

Demikian prajurit-prajurit pengawal yang melalui jalan di hadapan sarang mereka itu mulai mendaki, di-antaranya lewat tangga yang memang sudah ada di situ, maka batu-batu besar itupun mulai dilontarkan, diiringi dengan lemparan lembing dan anak panah.

Bebatuan dan senjata-senjata itu momang dapat menahan pasukan Mahisa Bungalan. Mereka tidak segera dapat memanjat. Sebagian dari mereka berusaha untuk mendaki di sebelah menyebelah, tetapi batu-batu itu pun meluncur dengan derasnya diiringi dengan lontaran lembing dan anak panah.

Namun agaknya para prajurit dan pengawal itu tidak menjadi gelisah. Hal itu memang sudah diperhitungkan. Pasukan yang datang dari sayap harus mendahului menghimpit gerombolan itu, sehingga sebagian dari mereka akan ditarik ke daerah benturan yang terjadi itu.

Sebenarnyalah bahwa sebagian sayap pasukan Mahisa Bungalan telah berhasil mendaki tebing. Mereka pun segera merayap mendekati sarang gerombolan itu dari samping.

Dengan demikian, maka pertempuran yang berkobar lebih dahulu justru sayap pasukan Mahisa Bungalan. Pasukan itu seolah-olah telah datang menghimpit dari sebelah menyebelah.

Kekuatan pasukan Mahisa Bungalan ternyata sangat mengejutkan. Jumlah mereka memang tidak sebanyak orang-orang yang ada di sarang itu. Tetapi kemampuan mereka ternyata jauh melampaui kemampuan orang-orang yang berada digerombolan itu.

Namun dalam pada itu, sejenak kemudian telah terdengar suara kentongan dari arah yang agak jauh, justru di bagian yang dianggap sulit. Suara kentongan yang memberikan aba-aba kepada gerombolan yang akan datang membantu gerombolan yang telah di serang oleh pasukan Mahisa Bungalan itu.

Tetapi sebenarnyalah, yang berada di tempat itu hanyalah beberapa orang saja yang bertugas membunyikan isyarat itu.

Sementara itu, pasukan yang sebenarnya telah memencar dari segenap arah, seperti pasukan Mahisa Bungalan.

Isyarat itu mengejutkan Mahisa Bungalan dan pasukannya. Dengan demikian, maka mulailah Mahisa Bungalan menyadari kelengahannya.

Batu dan lembing yang dilontarkan dari atas tebing tidak mengejutkan pasukannya. Kesiagaan itu dapat saja berlangsung setiap saat, sejak terjadi permusuhan dengan padepokan kecil itu, karena mereka yang berada di sarang gerombolan itu sudah menduga, bahwa pada suatu saat akan datang serangan balasan seperti itu. Tetapi bahwa di luar kepungan pasukan dari Singasari dan Kediri itu masih terdapat selapis lawan yang menyergap mereka, adalah merupakan satu peristiwa yang seharusnya tidak perlu terjadi.

“Satu kelengahan” desis Witantra.

“Ya. Satu kelengahan” gumam Mahisa Bungalan, “kita tidak tahu, apakah kelengahan ini akibatnya akan parah bagi pasukan ini”

Witantra tidak menjawab. Tetapi ia mulai melihat, orang-orang yang bermunculan dari gerumbul-gerumbul liar di seputar mereka. Dengan senjata teracu dan teriakan-teriakan yang gempita, merekapun berlari-lari dengan garangnya.

Para prajurit Singasari dan pengawal dari Kediri yang sudah berada di atas tebing pun terkejut. Sayap pasukan yang mulai menghimpit lawannya itu harus mengambil sikap.

Tetapi para pemimpin kelompok para prajurit dan pengawal itu memiliki pengalaman yang luas di dalam pertempuran yang paling garang. Karena itu, maka merekapun dengan cepat menyesuaikan diri. Meskipun mereka tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa lawan meraka menjadi sangat banyak di kedua arah.

Kehadiran gerombolan itu telah membuat orang-orang di dalam sarang yang terkepung itu bersorak-sorak pula. Mereka merasa seakan telah terlepas dari ancaman yang mencemaskan dari pasukan yang kuat itu.

Sejenak kemudian, pertempuran yang dahsyatpun telah terjadi. Bukan saja disayap pasukan yang sudah mulai menyerang dari sebelah menyebelah. Tetapi pasukan yang sudah mulai memanjat dari bagian depan barak itupun harus menghentikan langkah mereka untuk menghadapi gerombolan yang menyerang mereka dari arah belakang.

“Keadaan kita gawat paman” berkata Mahisa Bungalan.

Witantra memang melihat keadaan yang gawat itu. Pasukan lawan jumlahnya menjadi semakin banyak.

“Aku akan membunyikan isyarat untuk menyelamatkan pasukan ini” berkata Mahisa Bungalan.

Tidak ada pilihan lain. Karena itu, maka Witantra pun mengangguk kecil.

Namun Mahisa Bungalan masih nampak ragu-ragu ketika tiga orang penghubung telah siap di hadapannya.

“Bagaimana paman?“ sekali lagi ia bertanya.

“Keadaan pasukanmu memang gawat” berkata Witantra.

Mahisa Bungalan mengangguk sambil berkata, “Baiklah. Marilah kita lepaskan isyarat itu. meskipun sebenarnya baru akan aku lepaskan di saat-saat yang memaksa. Bahkan kami berharap bahwa isyarat itu tidak perlu. Tetapi keadaan yang tidak terduga-duga ini telah mencemaskan pasukan kita. Meskipun pertempuran ini baru mulai. Agaknya kita tidak boleh membiarkan pasukan ini hancur di ujung pertempuran”

Ketiga orang itu pun kemudian siap dengan busur dan anak panah mereka. Panah sendaren.

Dengan segera ketiganya pun menyiapkan diri. Sejenak kemudian, maka meluncurlah berturut-turut tiga panah sendaren keudara.

Isyarat itu telah mengejutkan setiap pemimpin kelompok pasukan Singasari dan Kediri. Namun dengan demikian mereka menyadari, bahwa keadaan mereka mulai gawat demikian mereka mulai terlibat ke dalam pertempuran.

Isyarat itu adalah isyarat untuk bertempur dengan kekuatan tertinggi dan kemungkinan yang paling buruk. Pasukan itu harus mengurangi jumlah lawan mereka sebanyak-banyaknya.

Karena itulah, maka pertempuran itupun segera telah meningkat semakin dahsyat. Pasukan Singasari dan Kediri itu tidak sempat melihat keseluruhan medan. Karena itu, merekapun segera dapat membayangkan, ketika isyarat itu mereka dengar.

”Tidak ada cara lain” berkata seorang pemimpin kelompok kepada anak buahnya.

Sebenarnyalah para prajurit dan pengawal itupun telah bertempur tanpa pengekangan diri. Ketika satu dua orang kawan mereka mulai terluka, maka merekapun yakin, bahwa sebenarnyalah isyarat itu telah dilontarkan tepat pada saatnya, demikian pertempuran itu mulai.

Karena itulah, maka pasukan Mahisa Bungalan pun telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Justru mereka merapat dan menyempit garis benturan antara pasukan mereka dengan lawan. Dengan demikian, maka mereka berhasil membatasi jumlah lawan yang akan langsung mereka hadapi, meskipun dengan demikian, lapisan lawan menjadi semakin tebal.

Tetapi kelebihan kemampuan dan ketrampilan bertempur pada para prajurit dan pengawal itu telah membuat lawan mereka menjadi ngeri.

Pada saat-saat yang gawat itu, Mahisa Bungalan dan Witantra tidak dapat tinggal diam. Sementara mereka belum pasti bahwa di tempat itu terdapat seorang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk, maka Witantra pun harus membantu para prajurit dan pengawal yang gelisah melihat jumlah lawan mereka.

Witantra dan Mahisa Bungalan tidak segera memisahkan diri. Witantra masih menunggu perkembangan. Jika benar ada orang bernama Rajawali Penakluk itu, dan yang dipilihnya ternyata Mahisa Bungalan untuk menjadi lawannya, maka mau tidak mau Witantra harus berusaha menghindarkannya. Apalagi pertemuan antara dua orang yang memiliki ilmu yang tinggi itu bukannya di dalam perang tanding.

Karena itu, maka Witantra dan Mahisa Bungalan yang justru berada diinduk pasukan yang menghadap langsung kemulut sarang gerombolan itu, telah bertempur pula di antara para prajurit dan pengawal yang tidak sempat untuk memanjat naik. Kecuali lawan merekalah melontarkan batu dan senjata tajam, juga karena sergapan yang tiba-tiba saja datang dari belakang.

Sebenarnyalah bahwa jumlah induk pasukan itu justru tidak sebesar sayap pasukan yang mendapat tugas menghimpit lawan dari arah yang berlawanan. Menurut perhitungan, memang sayap itulah yang akan membenturkan kekuatannya lebih dahulu karena mereka tentu tidak akan mendapat hambatan yang sangat besar disaat-saat mereka memanjat tebing untuk mencapai ketinggian lawan mereka.

Kehadiran Witantra dan Mahisa Bungalan langsung di medan pertempuran itu telah mengejutkan lawan mereka, justru karena keduanya nampaknya tidak berdebar dengan orang-orang lain dalam pasukannya, dan senjata merekapun tidak lebih dari sebilah pedang seperti yang dipergunakan oleh orang-orang lain di dalam pasukan itu.

Namun ternyata bahwa ujung senjata mereka itu, bagaikan memiliki ketajaman penglihatan, sehingga setiap geraknya telah berhasil menyusup senjata lawan, dan menyentuh kulit dan mengoyak daging.

Meskipun Mahisa Bungalan telah melepaskan isyarat untuk bertempur dengan kemampuan tertinggi dan kemungkinan yang terburuk bagi lawan, namun keduanya memang bukan pembunuh-pembunuh yang tidak berperi-kemanusiaan. Karena itu, justru mereka yang tersentuh oleh senjata Witantra dan Mahisa Bungalan, sebagian besar masih mempunyai kemungkinan untuk tetap hidup meskipun mereka tidak berdaya lagi untuk melawan.

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Orang-orang yang mempertahankan sarang mereka dan mereka yang datang untuk membantu, mulai merasa, bahwa lawan mereka benar-benar sepasukan prajurit dan pengawal yang mumpuni.

”Tetapi jumlah kita jauh lebih banyak” berkata pemimpin gerombolan yang bertahan. Hampir bersamaan pula, maka pemimpin gerombolan yang datang membantupun berteriak pula.

Teriakan-teriakan itu memang dapat memberikan dorongan tekad yang dilambari dengan dendam seperti yang sengaja ditiup ketelinga mereka oleh para pemimpin mereka.

Dengan demikian, meskipun di induk pasukan itu, jumlah prajurit dan pengawal terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah lawan mereka, namun pertempuran itupun seolah-olah menjadi seimbang. Orang-orang yang berada di atas tebing itu tidak lagi dapat melontarkan batu dan lembing-lembing bambu yang ujungnya diberi kepingan besi tajam, karena di dalam pertempuran itu seakan-akan telah berbaur kedua belah pihak.

Disayap pasukan Mahisa Bungalan yang sudah berada di tempat yang lebih tinggi, dan sudah mulai menghimpit lawan telah mengalami kesulitan pula. Mereka bertempur menghadap ke segala arah. Justru merekalah yang kemudian seolah-olah telah terkepung.

Namun pengalaman mereka berada diberbagai medan yang paling berat, segera menempatkan mereka pada kedudukan yang paling mungkin untuk mengatasi kesulitan itu.

Dalam medan yang sempit itu, prajurit dan pengawal yang berada di dalam pasukan Mahisa Bungalan itu telah membentuk gelar bulat memanjang. Dengan demikian, maka sebagian lawan mereka yang berusaha mengepung pasukan itu, telah berada di pinggir tebing yang meskipun tidak sangat linggi, tetapi seseorang yang terlempar akan berguling dan jatuh di lembah yang memungkinkan mereka menjadi luka-luka pada kulit dan daging. Mungkin luka itu tidak terlalu parah. Namun luka-luka itu akan dapat mengganggu kemampuan tempur mereka.

Sebenarnyalah, bahwa medan yang sempit itu membuat orang-orang yang bertempur sambil berdesak-desak an itu menjadi kebingungan. Adalah satu perhitungan yang mapan, bahwa setiap kali pasukan Mahisa Bungalan yang berada disayap itu telah berusaha mendesak lawan mereka. Satu dua diantara mereka berguling ke bawah.

Dengan mendesak mereka maka mereka tidak akan dapat bertahan lagi. Mereka lebih baik berguling-guling di lereng itu, dari pada perut mereka dilubangi dengan ujung pedang prajurit dan pengawal dari Kediri yang ternyata memiliki ketrampilan yang luar biasa dalam ilmu pedang.

Namun serangan gerombolan itu bagaikan gelombang yang menghempas pantai. Bergulung-gulung susul menyusul. Jika lapisan pertama berhasil disapu oleh prajurit dan pengawal itu, mati terluka atau terguling di jurang, maka lapisan berikutnya telah menghantam mereka dengan ujung senjata teracu.

Dalam pada itu, orang-orang yang terguling di tebing itu tidak lagi berusaha untuk memanjat. Sambil menyeringai menahan pedih mereka pun segera bangkit dan menggabungkan diri dengan kawan-kawan mereka yang berada di bawah, bertempur melawan induk pasukan Mahisa Bungalan. Mereka menganggap bahwa lawan terlalu sedikit di induk pasukan itu, sehingga mereka akan dengan mudah dapat segera menumpas mereka sampai orang terakhir

Tetapi demikian mereka mendekat, maka mereka mulai melihat satu kenyataan yang sama sekali lain dengan yang mereka duga. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, namun kawan-kawan gerombolan yang sudah berada di hadapan pasukan yang sedikit itu sama sekali tidak berhasil mendesak maju. Bahkan satu dua orang di antara mereka terlempar dia ntara kawan-kawan mereka yang berdesakan. Yang lain merangkak sambil mengerang. Sementara yang lain lagi terkapar tidak bergerak.

“Luar biasa” desis salah seorang dari mereka, “tentu ada di antara mereka yang memiliki ilmu iblis”

Dalam pada itu, maka dua orang di antara mereka yang datang menyerang itu benar-benar mendebarkan jantung. Ternyata bukan saja Rajawali Penakluk yang mampu berbuat sesuatu di luar nalar mereka. Para prajurit dan pengawal sudah membuat mereka berdebar-debar. Apalagi kedua orang itu. Mereka mampu berbuat sesuatu seperti yang pernah diperlihatkan oleh Rajawali Penakluk itu.

Karena itulah, maka kedua orang itu benar-benar menjadi hantu di medan pertempuran yang semakin dahsyat itu. Keduanya benar-benar mampu menyapu lawan yang mengepung mereka. Meskipun luka-luka senjata yang tergores di tubuh lawannya, bukan goresan dan tikaman yang membunuh, namun mereka benar-benar telah berhasil melumpuhkan lawan yang tidak terhitung jumlahnya. Jika diantara mereka ternyata ada satu dua orang yang terbunuh, agaknya bukan itulah tujuan mereka.

Tetapi sebenarnyalah bahwa Witantra dan Mahisa Bungalan tidak akan dapat menghindarkan diri dari pembunuhan. Lawan demikian banyak yartg datang dari segala arah. Karena itu, maka kadang-kadang yang terjadi tidak lagi dapat dihindarinya. .

Dalam pada itu, pertempuran di sebelah menyebelah, masih berlangsung dengan sengitnya pula. Pasukan induk yang jumlahnya tidak begitu banyak itu harus bertempur dengan segenap kemampuan mereka. Tetapi pada umumnya mereka adalah orang-orang terpilih yang bersenjata pedang dan perisai sehingga orang-orang dari gerombolan yang datang membantu dan menyerang pasukan induk itu dari arah belakang, terkejut karenanya, karena seolah-olah mereka telah membentur kekuatan yang tidak akan tertembus.

Dengan demikian maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Matahari yang kemudian memanjat langit, bagaikan semakin memanasi arena yang terbakar oleh kemarahan, dendam dan kebencian.

Mereka yang bertempur itu telah basah oleh keringat. Tetapi ada pula diantara mereka yang menjadi basah oleh darah yang mengalir dari luka.

Yang terdengar di arena pertempuran itu adalah teriakan-teriakan kemarahan, hentakan senjata dan umpatan-umpatan kasar. Namun kadang-kadang juga lengking kesakitan dan kejutan dari mereka yang tergelincir ke dalam jurang.

Orang-orang yang berada di dalam sarang gerombolan itupun sudah seluruhnya ikut melibatkan diri. Mereka yang semula melemparkan batu dan lembing, telah berlari-lari menuruni tebing dan melibatkan diri malawan pasukan induk Mahisa Bungalan, sehingga seperti pasukan yang berada di sayap, mereka berhadapan dengan lawan yang datang dari arah yang berlawanan.

Namun kekuatan yang turun dari barak itu pun telah membentur kekuatan yang seakan-akan tidak tergoyahkan. Mereka membentur prajurit dan pengawal terpercaya yang bersenjata pedang dan perisai.

Bagi para prajurit, maka adalah kebetulan sekali bahwa lawan merekalah yang justru menuruni tebing. Karena itu maka mereka tidak perlu lagi memanjat, menghadapi hujan batu, lembing dan anak panah.

Sementara itu, di sayap pasukan Mahisa Bungalan, pertempuran pun berlangsung dengan garangnya. Masing-masing pihak telah mengerahkan segenap kemampuan. Para prajurit dan pengawal yang sudah mendengar isyarat untuk bertempur dengan kemampuan tertinggi, tidak ragu-ragu-lagi untuk mengayunkan senjata mereka, meskipun akan berakibat kematianbagi lawannya.

Untuk waktu yang cukup lama, pertempuran itu masih belum dapat dinilai dengan cermat.

Karena itulah, maka Mahisa Bungalan tidak ingin menjadi korban. Dengan demikian, maka sejak ia mulai menggerakkan pedangnya, ia sudah bertekad untuk menvurangi lawan sejauh-jauh dapat dilakukan. Namun ia tetap berdiri di atas landasan bahwa kedatangannya bukan untuk membunuh. Kematian yang timbul adalah akibat yang memang tidak dapat. dihindari dalam satu peperangan betapapun kecilnya.

Dua gerombolan yang terhitung kuat itu telah mengerahkan segenap orang yang ada di antara mereka. Terlebih-lebih lagi, gerombolan yang baraknya telah diserang oleh Mahisa Bungalan itu. Meskipun masih ada satu dua orang yang tersisa di dalam goa untuk melindungi barang-barang mereka, tetapi selebihnya telah dikerahkan semuanya di dalam arena pertempuran.

Bahkan pada saat-saat terakhir, telah terdengar suara kentongan yang memanggil semua orang dimanapun mereka sedang berada untuk menghadapi para prajurit dan pengawal yang datang menyerang itu.

Sampai saatnya matahari mendekati puncaknya pertempuran itu masih berlangsung terus. Para prajurit dan pengawal yang berada disayap benar-benar telah terkepung. Namun mereka masih tetap bertahan di tempat mereka. Arena yang sempit di pinggir jurang, sehingga setiap saat, mereka dapat melontarkan lawan mereka menggelinding di tebing yang meskipun tidak begitu tinggi, namun batu-batu padasnya sempal mengelupas kulit diheberapa bagian tubuh.

Ternyata kedua belah pihak merasa, bahwa kekuatan lawan mereka melampaui perhitungan. Para prajurit dan pengawalpun merasa telah terperosok ke dalam kekuatan yang memaksa mereka mengerahkan segenap kekuatan di saat-saat pertama benturan itu terjadi. Sementara orang-orang di dalam kedua gerombolan yang melihat jumlah lawan mereka tidak terlalu banyak, namun ternyata memiliki kekuatan yang mengejutkan.

Di saat matahari melampaui puncak langit, kekuatan di kedua belah pihak telah menurun. Gerombolan yang bertempur dengan keras dan kasar itu telah banyak kehilangan kekuatan mereka. Beberapa orang terbaring sambil mengerang. Sementara yang lain masih juga bertempur meskipun dari tubuhnya telah menitik darah. Bahkan ada beberapa orang di antara mereka yang sudah tidak dapat ditolong lagi jiwanya.

Pada para prajuritpun telah jatuh korban. Tetapi terlalu sedikit dibanding dengan lawan mereka. Para prajurit dan pengawal itu memiliki kemampuan pribadi dan kerja sama yang jauh lebih baik dari lawan mereka, meskipun jumlah mereka jauh lebih sedikit.

Pada saat-saat yang demikian, maka Mahisa Bungalan dan Witantrapun mengambil kesimpulan bahwa di sarang itu tentu tidak ada orang yang disebut Rajawali Penakluk.

Jika orang itu ada, ia tentu terjun ke arena. Seandainya tidak diinduk pasukan, tentu berada di sayap pasukan. Mahisa Bungalan telah memberikan pesan, jika orang itu muncul di manapun, maka agar para prajurit dan pengawal memberikan isyarat agar ia segera dapat mengambil tindakan sebelum orang itu menelan banyak korban.

Tetapi isyarat itu belum terdengar.

Karena itu, maka Witantra dan Mahisa Bungalan pun mengambil kesimpulan, bahwa orang itu tidak ada di barak itu.

Dengan demikian, maka keduanya berusaha untuk segera mengakhiri pertempuran. Tetapi tidak mudah untuk melakukannya. Kedua belah pihak telah terlibat terlalu jauh dalam perang brubuh.

Ketika Witantra kemudian mendekati Mahisa Bungalan, maka katanya, “Aku akan mencoba untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi”

“Apa yang akan paman lakukan?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Menemui pemimpin perampok ini” jawab Witantra.

“Menurut pengamatanku, ada dua gerombolan yang kita hadapi. Kalengahanku ternyata telah menyeret pasukan ini ke dalam pertempuran yang berat, dan menyebabkan korban semakin banyak jatuh dari kedua belah pihak” berkata Mahisa Bungalan.

“Aku akan naik. Tentu pemimpin gerombolan ini masih ada di atas” desis Witantra.

Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Terserahlah kepada paman”

Witantra pun kemudian mempersiapkan dirinya. Ketika ia siap meninggalkan arena diinduk pasukan, iapun telah berpesan, “Hati-hatilah. Aku akan memanjat”

Mahisa Bungalan mengangguk. Namun iapun segera tenggelam ke dalam pertempuran yang riuh.

Witantra pun kemudian bergeser meninggalkan arena pertempuran itu. Sesaat dipandanginya tangga yang memanjat naik. Namun ternyata Witantra lebih senang memanjat tebing tidak melalui tangga itu.

Tidak ada lagi orang yang sempat melontarkan batu atau lembing atau senjata apapun juga karena pertempuran di sayap pasukan Mahisa Bungalan telah semakin mendekati sarang. Sehingga dengan demikian, maka Witantra pun segera dapat naik sampai ke depan barak.

Sejenak ia mengamati pertempuran. Namun kemudian iapun berteriak nyaring sambil meloncat berdiri di atas sebuah batu padas, “He, pemimpin gerombolan yang sedang mempertahankan baraknya. Apakah kau dengar suaraku?“

Beberapa orang yang bertempur tidak terlalu jauh daripadanya telah tertegun Melihatnya. Namun seolah-olah mereka merasa wajib untuk tidak berbuat sesuatu atas orang itu.

“Dengarlah, he, pemimpin gerombolan ini” teriak Witantra pula.

Seorang yang bertubuh tinggi, tegap dan berwajah kasar telah berjalan mendekatinya sambil menjawab, “Untuk apa kau cari pemimpinku”

“Aku ingin berbicara. Apakah kau pemimpin gerombolan ini?“ bertanya Witantra.

“Bukan aku. Tetapi ia akan mendengar kata-kataku. Apakah maksudmu. Apakah kau dan orang-orangmu akan menyerah?“ orang itu ganti bertanya.

“Itu tidak akan terjadi” jawab Witantra, “sebentar lagi kami akan menyapu semua orang-orangmu dan gerombolan yang justru datang dari arah belakang kami”

“Omong kosong. Jadi kau mau apa?“ bertanya orang itu.

“Aku ingin berbicara dengan pemimpinmu” jawab Witantra.

“Bicaralah cepat, sebelum aku membunuhmu” geram orang itu.

Witantra termangu-mangu sejenak. Tetapi ia melihat sayap pasukan Mahisa Bungalan telah semakin mendesak, meskipun lapis demi lapis masih harus dihadapi, karena banyaknya jumlah lawan dibanding dengan para prajurit dan pengawal.

“Dengarlah” berkata Witantra, “apakah kalian tidak cemas melihat korban yang jatuh tanpa hitungan di pihak kalian?“

Orang itu menggeram. Sekilas ia melayangkan pandangannya karena yang semakin dahsyat di sekitarnya. Ia melihat apa yang sedang terjadi. Namun ia mencoba untuk berkata dengan garang, “Orang-orangmu akan segera tumpas”

”Orang-orangku atau orang-orangmu akibatnya adalah hilangnya berpuluh-puluh nyawa” sahut Witantra, “mana pemimpinmu. Aku kira ia akan dapat mempertimbangkan, sebaiknya kalian menyerah”

“Persetan“ orang itu berteriak, “aku akan membunuhmu”

”Jangan bodoh. Katakan kepada pemimpinmu” sahut Witantra.

Tetapi orang itu tidak mendengarkannya. Dengan garangnya ia meloncat menyerang. Senjatanya yang dahsyat, canggah dengan tajam eri pandan tiba-tiba saja telah mengarah keleher Witantra. Jika canggah itu berhasil menjepit lehernya, maka leher itu tentu akan terkerat dengan urat dan daging tersayat.

Tetapi Witantra sama sekali tidak terkejut melihat serangan itu. la mengelak dengan gerak yang sederhana, sementara canggah itu meluncur dekal telinga kanannya.

Namun dengan tangkasnya Witantra memukul canggah itu dengan pedang yang dibawanya. Demikian kerasnya sehingga canggah itu bagaikan direnggut oleh kekuatan raksasa, dan terlepas dari tangannya.

Orang bertubuh tinggi kekar itu terkejut. Orang yang dihadapinya itu tubuhnya tidak terlalu besar. Tidak sebesar dirinya. Tetapi ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa.

“Kau akan mengambil senjatamu?“ geram Witantra, “ambillah. Aku tidak akan menghalangimu”

Orang itu berdiri termangu-mangu.

”Cepat. Aku ingin membuktikan kepadamu, bahwa kau tidak berarti apa-apa bagiku. Juga orang-orang yang lain. Yang sebenarnya ingin aku cari adalah Rajawali Penakluk yang menurut keterangan yang aku dapat, ia berada di antara sarang-sarang gerombolan perampok, sehingga aku akan menyusuri tempat-tempat yang tersembunyi namun yang mungkin sekali menjadi tempat persembunyian Rajawali Penakluk”

Orang itu menjadi semakin tegang. Dengan nada rendah ia berkata, “Rajawali Penakluk tidak ada disini”

“Aku sudah mengira. Karena itu, katakan kepada pemimpinmu sebelum kalian semuanya menjadi punah. Para prajurit dan pengawal sudah mendapat perinlah untuk bertempur dalam tataran tertinggi, sehingga sulit untuk mengendalikannya” berkata Witantra.

Orang itu berdiri kebingungan. Sekali-sekali dipandanginya senjata yang tergolek disamping Witantra. Namun kemudian Witantra itu berkata sekali lagi, “Ambil senjatamu. Kita akan bertempur”

Orang itu justru semakin kebingungan. Berapa orang yang melihat peristiwa itupun merasa aneh. Apalagi ketika mereka mendengar bahwa orang itu sedang mencari Rajawali Penakluk.

“Cepat” geram Witantra, “atau kau panggil saja pemimpinmu. Aku akan berbicara dengan orang itu tentang kematian-kematian yang tidak berarti dari orang-orang gerombolan ini dan gerombolan yang telah berhasil kalian hubungi. Tetapi kehadirannya telah membuat prajurit dan -pengawal yang berada di dalam pasukan kami bertempur dalam tataran tertinggi”

Sejenak orang itu masih berdiri mematung. Namun tiba-tiba seseorang meloncat disampingnya sambil berkata, “Aku pemimpin gerombolan ini. Kau sudah datang mengganggu ketenangan kami disini. Karena itu, kalian semuanya harus dimusnakan”

“Terima kasih, bahwa kau bersedia menemui aku“ sahut Witantra, “tetapi jangan mencoba membutakan diri terhadap kenyataan. Aku melihat kesulitan pada gerombolanmu dan gerombolan yang datang membantumu”

“Omong kosong” geram orang itu.

“Dengarlah. Aku datang untuk memburu Rajawali Penakluk. Aku ingin menangkapnya hidup atau mati. Karena itu, tidak sewajarnyalah jika jatuh korban tidak terhitung, sementara orang yang aku cari tidak ada disini”

“Kalau kalian menjadi ketakutan, menyerahlah“ berkata pemimpin gerombolan itu.

“Jangan main-main” berkata Witantra, “aku minta kau menarik pasukanmu dengan isyarat apapun yang dapat kau berikan. Aku berjanji untuk tidak membunuh lebih banyak lagi. Kami akan meninggalkan gerombolan ini dan melanjutkan perjalanan kami, memburu orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk”

“Jangan sombong. Orang itu memiliki kemampuan seperti kuasa dewa-dewa dilangit” berkata orang yang menyebut dirinya pemimpin gerombolan itu.

“Aku akan menangkapnya” berkata Witantra.

Pemimpin gerombolan itu menggertakkan giginya. Katanya, “Kau terlalu sombong. Aku akan membunuhmu, mencincangmu dan melemparkan sayatan kulit dagingmu kepada orang-orangmu”

“Jangan mimpi. Menyerahlah” geram Witantra. Orang itu menjadi semakin marah. Tetapi Witantra berkata lebih lanjut, “Ambil senjatamu. He raksasa dungu. Bersama pemimpinmu, buktikan bahwa aku benar-benar mampu menangkap Rajawali Penakluk itu jika ia berada disini”

Tetapi pemimpin gerombolan itu tidak menunggu kawannya mengambil senjatanya. Dengan pedangnya ia meloncat menyerang. kitatan cahaya yang terpantul pada batang pedangnya bagaikan nyala yang meloncat dari matahari itu sendiri.

Witantra melihat serangan yang dahsyat itu. Namun sebenarnyalah tidak lebih dari lontaran kekuatan wadag yang kosong. Karena itu, maka Witantra dengan sengit telah menangkis serangan itu dengan membenturkan pedangnya pula.

Benturan yang keras telah terjadi. Namun ternyata bahwa benturan itu telah mengejutkan pemimpin gerombolan yang menyangka bahwa ia mempunyai kekuatan yang luar biasa.

Dalam pada itu, demikian kerasnya benturan itu terjadi, sementara Witantra dengan sengaja ingin menunjukkan, bahwa ia benar-benar ingin menangkap Rajawali Penakluk, maka pedang di tangan pemimpin gerombolan itu tidak dapat diselamatkan lagi. Bukan saja senjata itu terlepas dari tangannya, tetapi senjata itu telah terloncat beberapa langkah dari padanya.

Sejenak pemimpin gerombolan itu termangu-mangu. Namun kemudian iapun menyadari keadaannya. Dengan gigi gemeretak ia meloncat beberapa langkah surut. Sambil mengumpat ia menyambar pedang seorang gerombolan yang berdiri kehingungan melihat pedang pemimpinnya yang terlempar beberapa langkah itu.

Dengan pedang yang bergetar di tangannya orang itu melangkah mendekati Witantra lagi ia menggeram, “Anak Setan. Kau kira apa yang kau lakukan itu dapat menakut-nakuti aku he?“

“Cobalah” jawab Witantra, “sebaiknya kau mencoba meyakini apa yang aku katakan. Panggil Rajawali Penakluk, atau jika ia tidak ada disini, menyerah sajalah. Kami tidak akan berbuat apa-apa. Yang kami cari adalah Rajawali Penakluk itu”

Pemimpin gerombolan itu tidak menghiraukannya. Langkah demi langkah ia maju. Pedangnya pun kemudian terjulur lurus kedepan.

Tetapi Witantra pun seolah-olah tidak menghiraukannya. Bahkan iapun kemudian memungut canggah yang tergolek di tanah. Sambil melemparkan canggah itu ia berkata kepada orang bertubuh tinggi tegap, “Pakailah senjatamu. Bantu pemimpinmu. Aku memang ingin meyakinkan, bahwa perlawanan kalian akan sia-sia”

Sambil menangkap senjatanya orang- bertubuh tinggi tegap itu menggeram.

“Marilah. Kalian harus yakin bahwa kalian memang harus menyerah sebelum orang-orangmu tuntas habis” desis Witantra.

Kedua orang itupun segera mempersiapkan diri. Seperti berjanji, maka keduanyapun kemudian mengambil arah yang berbeda. Bahkan dua orang yang lainpun telah mendekat pula. Mereka telah bersiap pula membantu pemimpinnya.

Sementara itu. di sekitar tempat itu pertempuran menjadi semakin seru. Sayap pasukan Mahisa Bungalanpun menjadi semakin mendekati barak. Mereka berusaha mendesak lawan mereka dari barak itu, sementara mereka pun berusaha menghalau serangan gerombolan yang datang membantu, sambil bergeser.

Sebenarnyalah seperti ymg dikatakan oleh Witantra. Prajurit Singasari dan pengawal, dan Kediri telah bertempur tanpa pengekangan diri. justru karena lawan mereka terlalu banyak. Namun dengan demikian, maka korban di antara gerombolan itupun menjadi semakin banyak pula.

Dalam pada itu, orang-orang yang berada di sekitar Witantrapun telah siap menyerangnya. Namun Witantra pun telah siap sepenuhnya. Bahkan iapun kemudian berkata, “Marilah. Mulailah”

Hampir berbareng orang-orang itupun menyerangnya. Namun betapa mereka terperanjat. Dengan satu ayunan, dua diantara senjata lawannya telah terlempar. Bahkan dengan ayunan berikutnya, maka sekali lagi pedang di tangab pemimpin gerombolan itupun terlepas pula. Dengan putaran berikutnya, maka canggah yang mulai bergetar di tangan orang bertubuh tinggi tegap itupun telah terlempar pula.

Tetapi Witantra tidak berhenti, ia benar-banar ingin memaksa pemimpin gerombolan itu menyerah. Karena itu, maka tiba-tiba saja ujung pedangnya telah menyentuh pundak lawannya. Segores luka telah memerah pada kulitnya.

“Aku baru memberimu peringatan” berkata Witantra, “jika aku bersungguh-sungguh, maka pundakmu akan patah”

Pemimpin gerombolan yang kehilangan senjatanya itu meloncat mundur. Dirabanya pundaknya. Dan terasa di tangannya, darah telah menitik dari luka itu.

“Menyerahlah” geram Witantra. Pemimpin gerombolan itu termangu-mangu.

“Aku memperingatkan sekali lagi. Jika kau tidak mendengarkan peringatanku ini, maka kami akan benar-benar mengambil sikap untuk mengakhiri pertempuran ini dengan memusnahkan kalian semuanya, karena di sini kita tidak menemukan Rajawali Penakluk”

Pemimpin gerombolan itu berdiri tegak seperti patung. Sementara Witantra berkata, “Berilah isyarat agar pemimpin gerombolan yang menyerang kami dari luar kepungan inipun menyadari bahwa mereka tidak akan berarti apa-apa lagi, selain sekedar mengotori senjata kami”

Nampaknya memang tidak ada jalan untuk menghindar. Ketika sekali lagi pemimpin gerombolan itu memandang berkeliling, maka dilihatnya orang-orangnya menjadi semakin terdesak meskipun jumlahnya masih memadai. Tetapi lambat laun jumlah itu akan cepat menjadi susut, tiga empat kali lipat dari jumlah susut para prajurit dan pengawal.

“Nah. apakah kau akan mengorbankan semua orang-orangmu?“ bertanya Witantra.

Pemimpin gerombolan itu termangu-mangu.

“Kami tidak akan berbuat apa-apa terhadap kalian” berkata Witantra, “karena yang kami perlukan adalah Rajawali Penakluk itu”

Pemimpin gerombolan itu masih diam dicengkam oleh kebingungan.

Tetapi Witantra sengaja memberinya waktu. Ia tidak berbuat apa-apa ketika pemimpin gerombolan itu sekali lagi memperhatikan arena pertempuran yang semakin gawat mereka orang-orangnya.

“Kau yakin sekarang?“ bertanya Witantra.

Sebenarnyalah bahwa pemimpin gerombolan itu pun tidak dapat ingkar melihat medan yang gawat itu. Ia melihat orang-orangnya yang terluka mengerang kesakitan, merangkak-rangkak dan berusaha menghindar dari pertempuran.

“Pasukan kami dapat membunuh setiap orang di dalam gerombolanmu dan gerombolan yang datang membantumu” berkata Witantra, “tetapi apakah itu perlu kami lakukan?”

Pemimpin gerombolan itupun kemudian bertanya, “Apakah yang akan kau lakukan jika kami menyerah”

“Tidak apa-apa” berkata Witantra, “selain menuntut agar kalian merubah cara hidup kalian yang sesat ini”

“Omong kosong” geram orang itu.

”Apa gunanya aku menipumu, karena aku yakin bahwa kami akan dapat memusnahkan kalian dalam sehari ini” jawab Witantra.

Orang itu tercenung sejenak. Namun akhirnya iapun percaya bahwa pasukan yang datang itu akan dapat menusnakan orang-orangnya dalam sehari itu.

Karena itu, maka ia memang tidak mempunyai pilihan lain. Pemimpin gerombolan itupun memperhitungkan bahwa pemimpin gerombolan yang lain, yang datang menolongnya, tidak melihat keadaan sejelas seperti yang dilihatnya, karena orang itu berada di dalam kelompok yang menghadapi induk pasukan para prajurit dan pengawal.

Tetapi sebenarnyalah bahwa pemimpin gerombolan itu pun mengetahui keadaan yang dihadapinya. Ternyata bahwa induk pasukan lawan yang nampaknya hanya terdiri dari sejumlah kecil parajurit dan pengawal, namun ternyata mereka mempunyai kekuatan yang tidak diduganya.

Namun demikian, karena ia tidak dapat melihat pertempuran itu dalam lingkup yang lebih luas, maka ia tidak dapat mengambil sikap.

Sementara itu, pemimpin gerombolan yang tinggal di dalam barak yang didatangi oleh Mahisa Bungalan dan pasukannya itu tidak dapat ingkar lagi, bahwa pasukannya sendiri dan gerombolan yang datang untuk membantunya itu tidak dapat bertahan lebih lama. Karena itulah, maka ia pun kemudian berkata kepada pengawalnya yang paling dipercaya, “Bunyikan isyarat”

“Isyarat apa?“ pengawalnya bertanya.

“Bodoh kau. Kita hentikan perlawanan” berkata pemimpin gerombolan itu.

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah kita dapat mempercayainya?”

“Aku percaya kepadanya” jawab pemimpin gerombolan itu. Lalu, “Terkutuklah jika ia berbohong”

“Aku berkata sebenarnya” sahut Witantra, “jika kau berniat memenuhi permintaanku untuk menyerah, aku akan turun dan berada dipasukan induk untuk memberikan perintah, agar para prajurit dan pengawalpun menghentikan pertempuran”

“Kami akan menghentikan perlawanan” berkata pemimpin gerombolan itu.

Witantra kemudian meninggalkan tempat itu. Dengan tergesa-gesa iapun menuruni lereng yang tidak terlalu dalanwintuk menemui Mahisa Bungalan.

“Mereka akan menyerah” berkata Witantra.

“Apakah mereka tidak akan menipu kita?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Aku kira tidak” jawab Witantra, “jika mereka dengan licik menjebak kita, maka kita tidak akan mengampuni setiap orang yang ada di dalam barak itu”

Sejenak kemudian, ternyata mereka telah mendengar isyarat. Dengan kentongan pemimpin gerombolan itu memerintahkan orang-orangnya untuk menghentikan perlawanan. Sementara Mahisa Bungalan pun telah menyiapkan isyarat pula dengan panah sendaren, agar para prajurit dan pengawal juga menghentikan pertempuran.

Beberapa orang prajurit telah melepaskan anak panah keudara berturut-turut pada jarak yang agak jarang. Susul menyusul untuk waktu yang agak panjang.

Dengan demikian, maka kedua belah pihak telah mendapat aba-aba dari induk pasukan masing-masing untuk menarik diri dari benturan senjata. Bahkan gerombolan yang datang membantu itu pun mengerti pula isyarat itu, sehingga merekapun kemudian telah bergeser menjauh.

Sementara para prajurit dan pengawal juga tidak memburu mereka.

Sementara itu, maka masih terdengar pula isyarat, bahwa gerombolan itu ternyata telah menyerah.

Mahisa Bungalan dan Witantra pun kemudian naik tebing untuk menemui pemimpin gerombolan itu. Mereka masih minta agar pemimpin gerombolan itu memerintahkan anak buah mereka untuk meletakkan senjata.

Meskipun agak ragu, tetapi perintah itu pun telah diberikan lewat suara kentongan. Sehingga dengan demikian maka orang-orangnya telah mengumpulkan senjata mereka dan sama sekali mengakhiri perlawanan.

Tetapi sebenarnyalah bahwa mereka pun menyadari, bagaimanapun juga mereka tidak akan dapat melawan pasukan yang dipimpin oleh anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu.

Sesaat kemudian, medan yang semula hiruk pikuk oleh suara dentang senjata, sorak kemenangan dan jerit kesakitan, telah menjadi hening. Orang-orang yang berdiri tegak bagaikan patung yang membeku. Mereka menunggu perintah apa lagi yang harus mereka lakukan.

Mahisa Bungalan pun kemudian memerintahkan kepada para pemimpin kelompok untuk menarik pasukan mereka dalam himpunan gelar masing-masing. Sementara beberapa orang dari mereka pun telah berusaha menolong kawan-kawan mereka yang terluka.

Namun sekali-sekali masih juga terdengar gemeretak gigi, bahwa beberapa orang terpaksa menjadi korban. Bukan hanya terluka parah, tetapi ada di antara mereka yang harus melepaskan nyawanya.

Tetapi korban di pihak gerombolan ternyata bagaikan tidak terhitung lagi. Yang luka dan yang terbunuh berserakkan silang melintang.

Mahisa Bungalan lah yang kemudian memanggil kedua orang pemimpin gerombolan yang menyerah itu. Katanya, “Kita akan berbicara. Kumpulkan orang-orangmu dan lakukanlah apa yang dapat kalian lakukan terhadap orang orang kalian yang terluka. Kumpulkan mereka untuk mendapat pengobatan”

Kedua orang itu pun kemudian mengikuti Mahisa, Bungalan dan Witantra sesudah mereka memerintahkan pengawal kepercayaannya untuk mengurus orang-orangnya. Mengumpulkan mereka yang tidak cidera, tetapi juga yang terluka dan terbunuh.

Di tempat yang terpisah, Mahisa Bungalan dan Witantra berbicara langsung dengan kedua orang pemimpin gerombolan yang sudah menyerah itu. Apa yang harus mereka lakukan, dan apa yang mereka kehendaki.

“Kami masih menyayangkan jiwa orang-orang yangt tidak tahu pasti, apa yang sedang mereka lakukan“ berkata Mahisa Bungalan.

“Apakah kami semuanya akan ditangkap?“ bertanya pemimpin gerombolan yang tinggal dibarak itu.

“Apakah ada yang lebih baik dari menangkap kalian” bertanya Mahisa Bungalan.

Kedua orang itu saling berpandangan. Namun keduanya tidak dapat mengatakan sesuatu. Agaknya mereka memang menganggap bahwa menyerah akan lebih baik dari membunuh diri bersama-sama dalam jumlah yang besar.

Karena kedua orang itu tidak menjawab, maka Mahisa Bungalan pun berkata, “Aku akan berada disini sampai besok, Kami akan mengambil keputusan, apa yang sebaiknya kami lakukan. Aku minta, kalian dan orang-orang kalian tidak melakukan sesuatu yang akan mencelakakan kalian semuanya”

“Kami akan mengatur mereka” jawab pemimpin gerombolan yang datang untuk membantu, namun yang ternyata mereka pun telah dijebak oleh kekalahan yang gawat.

Setelah memberikan beberapa janji, maka Mahisa Bungalan dan Witantra pun meninggalkan kedua orang itu untuk mengatur pasukannya. Mereka kemudian ditarik beberapa puluh langkah dari barak. Namun pasukan itu masih tetap mengawasi barak itu dari segala arah. Sementara beberapa orang petugas khusus telah berusaha untuk menolong orang-orang yang terluka dan mengumpulkan beberapa orang yang gugur di peperangan itu.

Demikian pula yang dilakukan oleh orang-orang di dalam barak gerombolan itu, Mereka pun mengumpulkan korban yang berserakan. Sementara beberapa orang di antara mereka pun berusaha menolong kawan-kawan mereka yang terluka.

Dalam pada itu, para prajurit dan pengawal telah mengumpulkan senjata orang-orang yang menyerah itu dan menimbunnya di bawah pengawasan. Dengan demikian, maka para prajurit dan pengawal akan yakin, bahwa orang-orang dari gerombolan itu tidak akan melakukan perbuatan yang dapat menjerat mereka ke dalam keadaan yang lebih gawat lagi.

Dalam suasana yang muram, para prajurit dan pengawal terpaksa menguburkan kawan-kawan mereka yang terluka senjata di tempat itu. Tetapi mereka berusaha untuk mendapatkan tempat yang baik dan ditandai dengan ciri yang akan mudah mereka kenal, sehingga apabila pada suatu saat akan dilakukan upacara bagi mereka, maka mereka akan segera dapat mengenal kembali kubur itu.

Malam itu, Mahisa Bungalan. Witantra dan beberapa orang perwira telah mengadakan pembicaraan. Mereka kemudian sepakat untuk tidak menangkap semua orang. Hanya pemimpin mereka sajalah yang akan dibawa ke Kediri, sementara orang-orangnya yang lain harus menghentikan kegiatan mereka yang merugikan orang lain itu.

“Tentu akan merupakan satu kesulitan untuk membawa mereka semuanya” berkata salah seorang perwira, “sementara beberapa orang masih ada di padepokan itu. Namun agaknya cara itulah yang paling baik. Kita akan dapat mengancam mereka, jika ternyata mereka masih melakukan kegiatan serupa, maka mereka akan kita tumpas habis di saat lain”

“Aku sependapat” berkata perwira yang lain, “kini mereka nampaknya harus melihat kenyataan. Korban terlalu banyak jatuh di antara mereka, sehingga kekuatan, mereka telah susut jauh dari kekuatan mereka sebelumnya.

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka tidak mempunyai keberatan, meskipun ada juga semacam dendam yang membara di hati mereka, karena beberapa kawan mereka, yang berangkat bersama-sama, ternyata tidak dapat kembali bersama dengan pasukan itu.

“Apaboleh buat” desis mereka. Dan mereka pun mengerti, bahwa akibat seperti itu akan dapat terjadi terhadap setiap prajurit dan pengawal yang mengemban tugas.

Demikianlah, maka pasukan yang dibawah pimpinan Mahisa Bungalan itu telah mengambil satu sikap terhadap gerombolan yang nyaris mereka hancurkan. Dengan demikian, maka pada pagi hari berikutnya, Mahisa Bungalan telah menemui kedua orang pemimpin gerombolan itu. Kepada mereka disampaikan, hasil pembicaraan yang menyangkut kedua orang pemimpin gerombolan itu.

“Kalian berdua dan orang-orang terpenting dari gerombolan kalian akan kami bawa ke Kediri” berkata Mahisa Bungalan.

“Kami tidak akan membantah” jawab salah seorang dari kedua orang itu, “tetapi kamipun mohon agar nasib kami mendapat perlindungan”

“Aku akan berusaha” jawab Mahisa Bungalan, “sebentar lagi kami akan meninggalkan tempat ini. Kumpulkan orang-orangmu. Aku ingin berbicara kepada mereka”

Demikianlah, maka di hadapan orang-orang yangj semula termasuk dalam gerombolan yang terhitung kuat itu, Mahisa Bungalan telah memberikan beberapa petunjuk agar mereka meninggalkan cara hidup mereka yang hitam itu.

“Kalian akan dapat mencari jalan lain untuk memberi makan dan pakaian keluarga kalian” berkata Mahisa Bungalan, “apa yang kalian lakukan selama ini adalah perbuatan yang tercela. Kalian telah membuat orang lain menjadi korban untuk kepentingan kalian”

Orang-orang itu pun mendengarkan keterangan itu dengan sungguh-sungguh. Mereka tidak dapat berbuat lain. Seandainya mereka masih menggenggam senjata, mungkin mereka akan bersikap lain. Mungkin mereka akan berteriak untuk membungkam mulut Mahisa Bungalan. Katau Mahisa Bungalan masih juga berbicara, mereka akan dapat membungkam dengan cara lain, dengan ujung senjata kalian.

Tetapi senjata mereka telah mereka serahkan Mereka sudah tidak berdaya lagi. Dengan demikian, maka mereka tidak mempunyai pilihan lain daripada mendengarkan keterangan Mahisa Bungalan itu.

Namun Mahisa Bungalan pun menyadari. Orang-orang yang untuk waktu yang lama hidup dalam lingkungan yang seolah-olah tidak terjamah oleh tata kehidupan dan pergaulan antara manusia yang berusaha meningkatkan peradaban mereka, tentu tidak akan dengan mudah menerima pengertian-pengertian yang dikatakannya. Karena itu, aka iapun kemudian juga mempergunakan bahasa orang-rang yang sedang dihadapinya. Katanya, “Kali ini kalian kami ampuni. Tetapi kami berharap, bahwa pesan-pesan kami dapat kalian lakukan. Jika tidak dan ternyata kami masih melihat dan menjumpai kalian dalam tingkah laku kalian sekarang ini, maka kami tidak akan dapat mengampuni kalian lagi. Kami akan menumpas setiap orang yang tertibat dalam kegiatan yang bertentangan dengan tata hidup yang tertib dan saling menghormati”

Terasa juga jantung mereka tersentuh oleh kata-kata itu. Ancaman itu harus mereka pertimbangkan. Dan agaknya ancaman itu terpahat lebih dalam di hati mereka dari pada beberapa pengertian tentang tata kehidupan dan pergaulan antar manusia, karena sebenarnyalah mereka masih terlalu sulit untuk mengerti, bahwa merugikan orang lain itu adalah salah satu perbuatan yang harus dikutuk.

Karena bagi mereka, kekuatan memiliki kemungkinan terbesar di dalam hubungan antar manusia. Yang menanglah yang menentukan atas yang lemah.

Beberapa kali Mahisa Bungalan menekankan pesan-pesannya. Sehingga Mahisa Bungalan yakin, bahwa orang-orang itu benar-benar mengerti yang dimaksudkan, dan benar-benar ngeri mengalami hukuman yang bakal dijatuhkan kepada mereka, apabila mereka melanggar pesan pesan itu.

Setelah selesai dengan pesan-pesannya, maka Mahisa Bungalan pun kemudian minta diri. Dua orang pemimpin mereka dari dua lingkungan akan dibawa oleh pasukan Mahisa Bungalan bersama dua orang terpenting dari lingkungan masing-masing. Sehingga dangan demikian, maka Mahisa Bungalan akan menjadi lebih yakin lagi, bahwa gerombolan itu tidak akan mampu lagi berbuat apa-apa.

Selain segala macam pesan itu, Mahisa Bungalan masih mengambil satu sikap yang sebenarnya sangat berat bagi mereka. Semua harta kekayaan yang ada dan bernilai tinggi akan dibawa oleh pasukan itu untuk diserahkan kepada pimpinan di Kediri. Adalah sangat baik apabila barang-barang itu dapat diserahkan kembali kepada yang memilikinya. Tetapi jika hal itu tidak mungkin lagi dilakukan, karena pemiliknya sudah tidak dapat mengenali orang-orang mereka yang sudah terlalu lama hilang, atau karena sebab-sebab lain, sehingga barang-barang itu tidak dapat lagi sampai kepada para pemiliknya, maka barang-barang itu akan dapat dipergunakan untuk kepentingan yang lebih berarti bagi Kediri.

Demikianlah, maka ketika matahari naik lebih tinggi lagi, pasukan itu meninggalkan barak gerombolan yang dianggap paling kuat di daerah yang luas, yang seolah-olah jarang sekali dapat dijangkau oleh tangan-tangan pasukan yang dapat memberikan perlindungan kepada rakyat yang lemah.

“Kita akan menyusun rencana baru” berkata Mahisa Bungalan kepada Witantra, “tetapi pada dasarnya, aku akan datang ke setiap sarang seperti yang sudah kita lakukan”

“Apakah tidak ada cara lain” bertanya Witantra kepada diri sendiri. Tetapi ia masih belum mengucapkan pertanyaan itu kepada siapapun juga. rencanakan, dan yang sudah disepakati bersama dengan Pangeran Kuda Padmadata”

Witantra mengangguk-angguk. Tetapi ia pun sadar, bahwa perburuan ini tentu akan memakan waktu, beaya dan korban yang tidak sedikit.

Ketika iring-iringan pasukan itu sampai di padepokan kecil, yang seakan-akan merupakan pangkalan samentara di daerah yang jauh itu, maka Pangeran Kuda Padmadata pun telah berada di padepokan itu pula. Pengalaman pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Kuda Padmadata itu pun hampir bersamaan dengan yang terjadi atas Mahisa Bungalan. Meskipun sebelumnya mereka tidak berjanji, tetapi keputusan yang mereka ambil pun jampir bersamaan pula. Seperti Mahisa Bungalan, maka Pangeran Kuda Padmadata tidak membawa semua orang yang tergabung dalam gerombolan yang didatanginya.

“Aku mencoba untuk memberikan peringatan-peringatan keras terhadap mereka” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “hanya tiga orang yang aku bawa bersama kami“

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Mudah-mudahan mereka menepati janji. Jika tidak, kami terpaksa melakukan seperti apa yang telah kami katakan kepada mereka”

“Ya” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “untuk menegakkan wibawa Singasari dan Kediri. Tetapi juga untuk kepentingan rakyat yang selaku diancam oleh ketakutan”

Untuk beberapa hari, maka pasukan yang di padepokan itu beristirahat. Mereka menunggu kawan-kawan mereka yang terluka menjadi sembuh kembali, atau setidak-tidaknya luka-luka itu menjadi bertambah ringan.

Namun demikian, Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata masih dalam pendirian mereka, bahwa perburuan harus dilanjutkan.

Witantra yang sempat berbicara dengan Mahisa Agni, Mahendra dan Ki Wastu menjadi prihatin. Jika usaha itu dilanjutkan dengan cara yang sama, maka korban tentu akan menjadi semakin banyak. Setiap kali Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata mendatangi sarang-sarang gerombolan, maka tentu ada satu dua orang prajurit dan pengawal yang gugur. Meskipun mereka juga akan berhasil membunuh jauh lebih banyak. Namun kematian yang demikian seharusnya dapat dihindari, karena yang mereka cari sebenarnya adalah Ki Dukut Pakering.

Tetapi ketika hal ini mereka sampaikan kepada Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata, maka sikap keduanya pun hampir sama.

“Paman” berkata Mahisa Bungalan kepada Witantra, “bukankah dengan demikian kita akan mendapi hasil ganda. Selain mencari Ki Dukut Pakering kita sudah berbuat sesuatu bagi keamanan di daerah ini. Bukankah dengan demikian kita sudah menghancurkan sarang-sarang gerombolan yang bengis bagi rakyat di sekitarnya. Bukankah dengan demikian kita dapat merampas kembal apa yang pernah mereka rampas dari rakyat? Usaha kita bukan sekedar mencari dan membunuh Ki Dukut Pakering. Tetapi sekaligus dengan tugas yang tidak kalah pentingnya dari mencari Ki Dukut itu sendiri”

Orang-orang tua yang menyertai mereka sampai ke padepokan itu tidak dapat membantahnya. Yang dikatakan anak-anak muda itu memang tidak terlalu salah. Tetapi apakah tidak ada cara yang lebih baik agar korban dapat dikurangi sejauh-jauhnya.

Namun orang-orang tua itu hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala, ketika anak-anak muda itu berbicara di hadapan para prajurit dan pengawal. Mereka telah berhasil menempa hati para prajurit dan pengawal, sehingga merekapun justru mengharap, kapan mereka akan berangkat lagi untuk menumpas tindakan-indakan terkutuk dari orang-orang yang sama sekali tidak bertumpu pada peradaban manusia itu.

Akhirnya, datang pula saatnya Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata berangkat lagi dalam tugas mereka. Dari orang-orang yang tertawan mereka mendapat petunjuk-petunjuk tempat-tempat lain yang mungkin menjadi tempat persembunyian Ki Dukut Pakering.
Karena itu, maka pada saatnya, Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata telah menyiapkan pasukan masing-masing. Seperti sebelumnya, maka merekapun menuju ke sasaran yang berbeda. Dan seperti yang pernah mereka lakukan, orang-orang tua pun tidak sampai hati melepaskan mereka pergi tanpa pangawasan.

Witantra tetap pada pasukan Mahisa Bungalan, dan Mahisa Agni tetap pada pasukan Pangeran Kuda Padmadata. Sementara Mahendra, anak-anaknya yang lain dan Ki Wastu tetap berada di padepokan.

Sebenarnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendesak ayahnya sekali lagi, agar mereka diperkenankan mengikuti perjalanan kedua yang dilakukan oleh Mahisa Bungalan. Namun seperti yang terdahulu, ayahnya tetap berkeberatan untuk melepaskan mereka pergi, karena menurut ceritera yang didengarnya, maka medan yang di hadapi oleh pasukan-pasukan itu adalah medan yang cukup berat.

“jadi kapan kita akan pergi?“ bertanya Mahisa Murti.

“Kita tidak pergi bertamasya” jawab ayahnya, “aku akan memberitahukan kepada kalian, jika menurut perhitunganku hal itu memungkinkan. Tetapi jika tidak, maka kita akan tetap menunggu di sini. Itu bukan berarti bahwa kita tidak berbuat apa-apa. Di sini kita mambantu menjaga para tawanan. Bahkan mungkin Ki Dukut Pakering yang kita cari kemana-mana itu justru datang kemari dengan maksud yang paling buruk yang pernah direncanakan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat memaksa. Karena itu, betapapun mereka sangat kecewa, mereka harus tetap tinggal di padepokan itu bersama ayahnya dan beberapa orang prajurit dan pengawal yang mengawasi beberapa orang tawanan bersama para cantrik padepokan itu.

Tetapi yang terjadi kemudian pun tidak berbeda dengan yang baru saja dilakukan oleh Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata. Mereka hanya menemukan sarang gerombolan tanpa orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk. Mereka pun hanya menemukan kematian tanpa arti, karena mereka tidak berhasil menangkap buruan mereka.

Namun demikian, Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata masih merasa bahwa mereka telah berbuat sesuatu. Mereka telah berhasil membuat orang-orang itu mengakui dan menyesali kesalahan mereka, sehingga mereka berjanji tidak akan melakukannya lagi.

Dalam pada itu, daerah yang bagaikan diaduk oleh prahara karena kehadiran pasukan Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata di daerah yang luas, telah menjadi perhatian beberapa orang yang meskipun tidak langsung, namun ikut berkepentingan. Orang-orang yang memiliki ilmu yang cukup, namun yang telah memilih daerah hitam sebagai arena hidup mereka.

Yang memperhatikan segala peristiwa itu dengan darah yang mendidih adalah Ki Dukut Pakering sendiri. Meskipun ia tidak berada di antara orang-orang yang dihancurkan oleh pasukan Singasari dan Kediri itu, namun ia mendengar apa yang telah terjadi. Pasukan yang telah dikumpulkannya untuk mendukung usahanya itu ternyata telah hancur berserakan.

Tetapi itu adalah suatu hal yang sangat wajar. Mereka tidak mempunyai kekuatan untuk bertahan terhadap pasukan Kediri, apalagi pasukan Singasari.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah ada orang-orang yang lebih baik yang dapat dihubungi oleh Ki Dukut Pakering. Namun dengan demikian, Ki Dukut harus berjuang mengatasi hambatan dari dalam dirinya sendiri.

“Aku harus terjun ke dalam warna yang kelam itu pula” berkata Ki Dukut di dalam hatinya.

Tetapi ia sudah tidak mempunyai pilihan lain. Apa yang dilakukan selama ini, sebenarnyalah bahwa tidak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang hidup di dunia yang hitam.

Karena itu, maka Ki Dukut pun segera memutuskan bahwa ia akan berada di tengah-tengah orang-orang yang disebut golongan hitam.

“Aku akan hadir di antara mereka” berkata Ki Dukut, “meskipun mungkin memerlukan pengorbanan perasaan”

Demikianlah, maka Ki Dukut pun telah membulatkan tekadnya. Berita kehancuran dari gerombolan-gerombolan yang pernah menjadi tempat penyangga niatnya itu pun merupakan dorongan baginya untuk memilih tempat, karena tidak ada tempat lain yang akan dapat menerimanya lagi.

“Kepada penjahat-penjahat kecil aku dapat memberikan janji-janji kecil” berkata Ki Dukut kepada dirinya sendiri, “mereka sudah berangan-angan dan berpengharapan jika aku berbicara tentang istana Pangeran Kuda Padmadata yang menyimpan beberapa puluh keping emas, berlian dan pusaka-pusaka. Tetapi kepada orang-orang yang jauh lebih besar, akupun harus memberikan harapan-harapan yang besar”

Karena itu, maka yang kemudian akan disebut-sebut oleh Ki Dukut dengan orang-orang yang dianggapnya cukup besar dilingkungan orang-orang berilmu hitam, adalah Kediri itu sendiri.

“Kita sudah terlalu lama berada di bawah kekuasaan Singasari” berkata Ki Dukut Pakering dengan seorang yang dikenal bernama Macan Wahan.

Macan Wahan itu tertawa. Katanya, “Apa yang dapat kita lakukan?“

“Kau berhati kerdil” berkata Ki Dukut yang datang ke padepokan Macan Wahan.

“Jangan berkata begitu Ki Dukut” jawab Macan Wahan, “kau yang telah terusir dari istana muridmu itu, nampaknya menjadi sakit hati dan berusaha untuk mendapatkan dukungan yang kuat agar kau dapat membalas dendam”

“Pandanganmu cukup tajam” jawab Ki Dukut, “tetapi ada yang kurang. Kau belum menyebut apakah kepentinganku dengan kedua orang muridku itu”

“Katakan“

“Niatku untuk merebut Kediri dari tangan Singasari itulah yang membekali aku untuk memasuki lingkungan para bangsawan di Kediri” berkata Ki Dukut, “tetapi aku gagal, karena seorang dari muridku itu ternyata seorang pengecut”

“Kuda Padmadata?“ bertanya Macan Wahan.

“Ya. Adiknya memiliki keberanian yang dapat aku banggakan. Aku berusaha untuk memupuknya. Tetapi keberanian itu telah terbentur pada sikap kakaknya. Bahkan kakaknya telah sampai hati menjerumuskan adiknya ke lubang kematian”

“Kau berkata sebenarnya?“ bertanya Macan Wahan.

Ki Dukut menjadi berdebar-debar. Menurut djgaannya, tidak banyak orang yang mengetahui persoalan yang sebenarnya antara dirinya dengan Pangeran Kuda Padmadata. Tidak banyak orang yang tahu persoalan yang timbul antara dirinya dengan seorang perempuan yang ternyata anak Ki Wastu yang kemudian diperisterikan oleh Pangeran Kuda Padmadata.

Karena itu, maka iapun mencoba menjajagi, “Menurut pendapatmu. apakah aku telah berdusta?“

“Aku tidak mengatakan demikian. Tetapi kau dapat saja membuat ceritera yang sangat menarik tentang dirimu sendiri dan murid-muridmu itu” jawab Macan Wahan.

Ki Dukut tidak segera menjawab. Ia masih tetap bimbang, apakah sebenarnya Macan Wahan sudah mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya.

Namun Ki Dukut Pakering itu menarik nafas dalam-dalam ketika Macan Wahan itu berkata, “Ki Dukut. Tentu aku tidak akan dapat mempercayai ceritera yang tersebar di Kediri, bahwa kematian Pangeran Kuda Rukmasanti itu karena satu kecelakaan. Karena ada perampok yang memasuki istana. Bahkan ada di antara mereka yang terbunuh. Tetapi sudah tentu bahwa aku pun tidak dapat langsung mempercayai segala macan ceriteramu tentang kedua murid-muridmu itu”

Ki Dukut pun kemudian tertawa. Katanya, “Memang aneh. Aku sudah barang tentu akan tertawa mendengar ceritera tentang perampok-perampok itu. Tetapi sebenarnyalah, bahwa Pangeran Kuda Padmadata memiliki kecakapan yang licik untuk membunuh adiknya. Ada beberapa alasan. Ia merasa iri, bahwa adiknya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari Pangeran Kuda Padmadata. Tetapi yang lebih parah adalah perasaan cemburu yang membakar jantungnya. Namun ada pula perselisihan pendapat di antara mereka tentang masa depan Kediri”

“Kau kira aku berkepentingan dengan masa depan Kediri dan Singasari” bertanya Macan Wahan.

“Ada atau tidak ada, tetapi apakah kira-kira sama sekali tidak ada rasa tanggung jawabmu barang setitik terhadap tanah kelahiranmu?“ bertanya Ki Dukut.

“He, kau kira aku lahir dimana?“ tiba-tiba Macan Wahan tertawa, “aku tidak lahir di tlatah Kediri atau Singasari”

“Dimana kau lahir?“ bertanya Ki Dukut.

“Aku lahir diatas tanah perdikan. Seperti sekarang aku merasa tidak berada di bawah pemerintahan Kediri maupun Singasari” jawab Macan Wahan.

Ki Dukut menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Tetapi bagaimanapun juga. sebenarnya kau dapat berbuat sesuatu. Aku masih akan selalu berusaha, agar Kediri dapat bangkit untuk melepaskan diri dari Singasari. Bahkan aku ingin mengembahkan kebesaran Kediri dengan Menghapuskan arti Singasari dan menjadikan kembali sebagai Tanah Pakuwon. dibawah pimpinan seorang Akuwu”

“Kau sedang bermimpi” desis Macan Wahan.

“Tidak. Orang-orang Kediri sekarang sedang tidur nyenyak. Soalnya, bagaimana membangunkan mereka. Aku sama sekali tidak mempunyai satu keinginan intuk mendapatkan derajad atau pangkat apapun juga, selain didorong oleh satu perasaan tanggung jawab terhadap bumi kelahiranku” berkata Ki Dukut., “orang yang akan bangkit untuk mengedalikan pemerintahan di Kediri. Semula aku telah mempersiapkan kakak beradik Kuda Padmadata dan Kuda Rukmasanti untuk mengimbangi dua orang saudara sepupu yang memerintah di Singasari. Aku yakin, kedua Pangeran dari Kediri itu akan mempunyai Pengaruh jauh lebih besar di Kediri itu sendiri, sehingga kekuatan di Kediri akan bangkit. Tetapi sayang, salah seorang dari kedua Pangeran itu ternyata tidak jujur” desis Ki Dukut.

“Apakah kau masih mungkin dapat berhubungan dengan para bangsawan di Kediri?“ bertanya Macan Wahan.

“Aku yang tidak percaya lagi kepada para bangsawan. Mereka masih tetap hidup senang dalam keadaan yang seperti sekarang ini. Itulah kelicikan orang-orang Singasari, sehingga para bangsawan di Kediri seolah-olah telah tertidur karenanya di atas alas keresahan rakyatnya.

Macan Wahan mengerutkan keningnya. Ia tidak segera mengetahui arah pembicaraan Ki Dukut Pakering, Meskipun ia tidak segera bertanya, tetapi terasa oleh Ki Dukut, bahwa pertanyaan itu telah menyangkut di hatinya,

“Kita harus lebih teliti melihat kenyataan yang terjadi di daerah Kediri” berkata Ki Dukut kemudian, “karena itu aku menganggap bahwa kekuatan yang terbaik tidak terletak pada para bangsawan yang telah dibius dengan hidup bermewah-mewah oleh orang-orang Singasari. Tetapi kita harus menggerakkan rakyat yang hampir kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya oleh penderitaan yang tidak tertanggungkan”

Macan Wahan mengerutkan keningnya. Namun katanya kemudian, “Aku menjadi semakin bingung. Apakah keresahan di antara rakyat Kediri itu terasa ditumbuhkan oleh sikap para bangsawan. He, apakah kau tidak mendengar, betapa para perampok-perampok kerdil telah menggelisahkan rakyat di padesan. Bukankah Kediri justru merasa wajib untuk menindas para perampok di tlatah Kediri seperti yang terjadi akhir-akhir ini?“

Jantung Ki Dukut berdesir. Ia mengerti, bahwa Singasari dan Kediri agaknya sudah mengambil sikap tegas terlalu, ”kenapa kau datang kemari” bertanya Macan Wahan.

“Kita dapat berbicara tentang masa depan Kediri” jawab Ki Dukut.

Macan Wahan tertawa pula. Katanya, “Kau memang orang aneh. Sudah aku katakan, bahwa aku tidak mempunyai kepentingan apa-apa dengan Kediri”

“Aku sudah tidak mempunyai pamrih apapun bagi diriku sendiri” sahut Ki Dukut.

“Terserah kepadamu” gumam Macan Wahan, “tetapi agaknya aku memang berbeda. Jika aku berbuat sesuatu, tentu aku mempunyai pamrih”

“Untuk perbuatan yang lain dari ungkapan rasa tanggung jawab terhadap bumi kelahiran, terserah. Tetapi apakah kau juga mempunyai pamrih pribadi jika kau berbuat sesuatu atas Kediri” bertanya Ki Dukut.

“Tentu. Apalagi aku memang merasa bukan orang yang lahir dalam lingkup kekuasaan Kediri” jawab Macan Wahan.

“Jika pamrih pribadi itu ada, apakah kau dapat menyebutkannya?” bertanya Ki Dukut.

“Tentu. Misalnya, bahwa aku akan dikukuhkan kedudukanku sebagai pemimpin atas tanah yang aku anggap tanah perdikan ini. Bahwa dengan daerah yang dua tiga kali lebih luas dari yang aku kuasai sekarang. Mungkin seluas Tanah Pakuwon atau mendekati kekuasaan seorang Akuwu di atas tanah yang tidak di bawah perintah” berkata Macan Wahan.

“Itu berlebih-lebihan. Kekuasaanmu akan melampaui kekuasaan-seorang Akuwu” desis Ki Dukut.

“Apa pedulimu? Tetapi sudahlah, jangan bermimpi. Aku juga tidak ingin mimpi. Marilah kita berbicara tentang persoalan-persoalan yang sewajarnya kita hadapi”

“Persoalan Kediri itupun persoalan wajar. Tetapi aku kira yang kau katakan itu pun tidak mustahil, asal kita sendiri dapat ikut menentukan jalannya pemerintahan kelak” berkata Ki Dukut.

“Maksudmu?“ bertanya Macan Wahan.

”Kita harus mempunyai pengaruh yang kuat terhadap para perampok yang telah digerakkannya dengan nama Rajawali Penakluk”

Namun ia berkata, “Perampok-perampok yang malang, tetapi kau tahu, apakah sebenarnya yang telah memaksa mereka menjadi perampok? Memang agak berbeda dengan apa yang kau lakukan. Kau tidak dapat disebut perampok seperti mereka, karena kau memang tidak merampok dan menyamun dalam pengertian sewajarnya”

“Jangan menyinggung perasaanku” potong Macan Wahan.

“Bukan maksudku. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa perampok-perampok kerdil yang tumbuh dimana-mana di tlatah Kediri itu adalah gambaran keresahan rakyat. Mereka tidak lagi mengerti apa yang sebaiknya mereka lakukan. Karena itulah, maka mereka pun dengan mudah dipengaruhi oleh beberapa orang penjahat kecil. Mereka telah dibakar dengan keterangan-keterangan yang memang dapat membangkitkan kedengkian dan iri hati. Perampok-perampok kecil itu dengan tajam telah memberikan gambaran yang tajam tentang perbedaan tataran kehidupan rakyat Kediri. Karena itu maka mereka yang Kehilangan nalar, akan dengan cepat mengambil keputusan, benar atau salah”

“Lalu, apakah kau akan berbuat serupa?“ beritanya Macan Wahan.

“Ya. Tetapi untuk kepentingan yang besar bagi kejayaan Kediri” jawab Ki Dukut, “kita harus menggerakkan mereka”

“Mereka siapa?“ bertanya Macan Wahan.

“Rakyat Kediri yang malang” jawab Ki Dukut.

Macan Wahan termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Dukutpun melanjutkannya, “Rakyat harus berbuat sesuatu tidak sebagai perampok-perampok kecil yang justru merugikan rakyat Kediri sendiri. Bukan harus saling memeras, saling menghisap dan saling merampas. Tetapi mereka harus bangkit untuk membangunkan para bangsawan yang telah tertidur. Barulah, jika para bangsawan itu telah terbangun dari mimpi mereka yang nikmat, maka Kediri akan bangkit kembali untuk menghancurkan Singasari yang semula tidak lebih dari sebuah Pakuwon, yang dipimpin oleh Tunggul Ametung, dan yang kemudian direbut oleh anak perampok bernama Ken Arok itu”

“Lalu apa keuntungannya?“ bertanya Macan Wahan.

“Kau ikut menjadi penentu. Karena itu, marilah kita berdiri di depan. Kita akan dapat menentukan ujud yang paling baik dari Kediri mendatang. Para bangsawan yang terbangun dari mimpi itu, akan terterima kasih kepada kita jika kelak mereka berhasil. Dengan demikian, meskipun kita tidak berdiri di paling depan, juga tidak mungkin untuk berada di atas tahta, namun kita telah ikut membuat pola dari satu pemerintahan yang besar di Kediri. Kita akan dapat ikut menantukan, siapakah yang sudah dianggap berjasa, dan mendapat imbalan yang sepadan. Mungkin tanah perdikan yang luas. Mungkin pangkat dan derajad, sebagai Akuwu misalnya. Atau imbalan-imbalan lain yang memadai”

“Apakah modal kita? Padepokan kecilku ini?“ bertanya Macan Wahan.

“Ya. Tetapi sudah barang tentu kita tidak akan berbuat bodoh. Kita akan mulai dengan perbuatan-perbuatan kecil yang akan dapat menarik perhatian. Mungkin kita akan dapat menghimpun orang-orang sesat yang menjadi perampok-perampok kerdil itu”

“Untuk apa?“ bertanya Macan Wahan.

“Ada dua keuntungan” jawab Ki Dukut, “Pertama kita akan mendapat kekuatan. Kedua, rakyat akan berterima kasih kepada kita, karena kita berhasil menghentikan kelakuan mereka”

Macan Wahan tertawa. Katanya, “Orang-orang Kediri telah melakukannya lebih dahulu. Mereka telah menyapu para penjahat kecil itu”

“Tidak apa. Biarlah mereka melakukannya sekarang. Tetapi kita akan dapat melakukannya dengan cara lain. Kekerasan akan menumbuhkan dendam. Dan orang-orang yang mendendam itu akan kita pergunakan. Selebihnya, bukankah kita mempunyai beberapa orang kawan yang tinggal di padepokan-padepokan yang terpencar?“ bertanya Ki Dukut.

“Padepokan yang mana?“ bertanya Macan Wahan.

“Hanya mereka yang mampu berpikir” jawab Ki Dukut, “aku sudah mencoba berhubungan dengan beberapa padepokan. Ternyata mereka lebih senang tidur mendekur seperti para bangsawan”

Macan Wahan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun tertawa sambil berkata, “Kau nampaknya tidak berhasil mempengaruhi beberapa orang pemimpin padepokan. He, bukankah pendengaranku tidak salah? Kau pernah berusaha melakukannya sebelum kau datang kemari?“

“Ya. Aku telah menghubungi beberapa orang pemimpin padepokan untuk memulai dengan rencana besarku sebelum orang-orang Kediri membersihkan para perampok yang menurut pendengaranku dipimpin oleh orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu” berkata Ki Dukut kemudian, “tetapi aku gagal, karena tidak ada keberanian sama sekali di antara pemimpin padepokan yang berjiwa kerdil itu”

“Kaulah yang bodoh” berkata Macan Wahan sambil tertawa, “siapa yang telah kau datangi? Dan kenapa kau tidak lebih dahulu datang kepadaku?“

“Aku masih memilih. Aku ingin bekerja bersama dengan pemimpin padepokan yang tidak berhaluan hitam seperti kau. Tetapi ternyata aku tidak mendapatkan apa-apa” berkata Ki Dukut Pakering.

Macan Wahan menegang sejenak. Namun ia pun kemudian tertawa. Katanya, “Sekarang kau datang juga kepadaku. He, apakah kau baru melihat, bahwa kekuasaan ilmuku memiliki banyak kelebihan dari orang yang mengatakan dirinya bersumber pada ilmu putih. Siapakah yang menyebut ilmu hitam dan ilmu putih itu? Mungkin cara kita meneguk ilmu berbeda. Tetapi jika yang putih itu yang baik dan yang hitam itu yang buruk, maka sekarang kau ternyata telah datang kepada yang buruk”

“Semula aku memang menganggap begitu” jawab Ki Dukut, “menurut pendengaranku, cara yang kalian pergunakan untuk menyadap ilmu sangat mengerikan. Bahkan kadang-kadang tidak menghiraukan lagi nilai dan martabat manusia”

“Itu hanya dugaan. Mungkin menurut pendapat orang yang tidak menyukai perkembangan cabang ilmu dari perguruanku dan kawan-kawanku yang disebutnya berilmu hitam” berkata Macan Wahan. Lalu, “Tetapi kami memang mempunyai batasan dan ketentuan yang berat dan ketat. Ada beberapa keharusan yang tidak dapat disingkirkan dari perguruan kami. Tetapi maksudnya adalah, bahwa setiap orang yang menyelesaikan penyadapan ilmu di perguruan ini, benar-benar memiliki ilmu yang berbobot. Dan barangkali cara dan keharusan- keharusan itulah yang menyebabkan orang lain menilai cara-cara yang kami tempuh melanggar nilai dan peradaban manusia”

Ki Dukut menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mungkin begitu. Tetapi aku tidak peduli cara yang kau tempuh. Aku hanya ingin kau bekerja bersama aku menegakkan kewibawaan Kediri kembali. Aku mempunyai cara dan jalan yang dapat ditempuh. Kau mempunyai kekuatan yang dapat disusun berdasarkan hubungan kita yang luas”

“Aku akan melihat, apa yang akan kau lakukan. Untuk sementara aku akan memberikan tempat kepadamu di padepokan ini. Mungkin aku dapat membantumu dalam beberapa hal. Aku dapat berhubungan dengan kawan-kawanku. Tetapi aku belum menentukan dengan pasti, apa yang akan aku lakukan” berkata Macan Wahan.

“Terserah kepadamu. Tetapi kita tidak boleh terlambat. Apakah kau tidak dapat mencium kelicikan orang-orang Singasari pada saat-saat terakhir? Mereka telah mengikut sertakan beberapa orang prajurit untuk membantu para pengawal dari Kediri melakukan tugasnya, terutama atas orang-orang yang tidak dikehendaki. Bukankah dengan demikian akan berarti kekuatan Singasari di Kediri akan semakin bertambah-tambah” berkata Ki Dukut, “tetapi yang lebih parah bukannya jumlah pasukan Singasari yang semakin banyak di Kediri. Tetapi bahwa rakyat Kediri akan merasa berterima kasih kepada orang-orang Singasari. Dengan demikian maka Kediri akan semakin lelap tertidur”

Macan Wahan tertawa. Katanya, “Aku akan memikirkannya bersama beberapa orang kawan. He, Ki Dukut. Jika semula kau curiga terhadap kami, sehingga kau lebih senang memilih orang-orang yang kau anggap berilmu putih, apakah tidak sewajarnya jika akupun mencurigaimu. Mungkin kau sekarang dapat bekerja bersama dengan kami yang kau sebut berilmu hitam. Tetapi jika Kediri telah tegak, dan kau berhasil menghimpun kekuatan dan membangunkan para bangsawan yang kau katakan tidur lelap itu, maka kaupun mulai bergerak. Tidak untuk memulihkan kebesaran Kediri dengan menggulung semua pengaruh Singasari, tetapi kau mulai dengan melenyapkan pengaruh kekuatan yang kau sebut ilmu hitam”

“Kau berprasangka” desis Ki Dukut.

“Tentu, seperti juga kau berprasangka” jawab Macan Wahan.

“Terserahlah atas penilaianmu. Aku bersedia menunggu di sini, meskipun akupun sadar, bahwa mungkin satu dua orang kawan-kawanmu akan berpendapat lain. Mungkin satu dua orang kawanmu justru ingin menangkap aku, memeras darahku untuk mencuci tangan mereka, agar kekuatan mereka bertambah-tambah karena mereka menganggap kemampuanku dan kesempurnaan ilmuku akan berpengaruh terhadap mereka” desis Ki Dukut.

Tetapi Macan Wahan tertawa. Katanya, “Itu adalah pengertian yang salah. Agaknya pengertian yang demikianlah, maka orang-orang diluar lingkungan kami menganggap bahwa ilmu kami adalah ilmu hitam”

“Apakah hal itu tidak pernah terjadi? Korban darah?“ bertanya Ki Dukut.

“He, kau ingin berbicara tentang Kediri atau tentang korban darah yang kau salah artikan itu?“ bertanya Macan Wahan yang masih juga tertawa.

Ki Dukut terdiam sejenak. Namun wajahnya nampak tegang. Sesaat ia memandang Macan Wahan yang tertawa. Sebenarnyalah, bahwa mungkin saja dapat terjadi seperti yang dikatakannya sendiri hampir diluar sadarnya itu.

“Tetapi aku bukan golek kayu yang dapat diperlakukan menurut kehendak mereka” berkata Ki Dukut yang merasa juga mempunyai kemampuan yang tidak kalah dari orang-orang yang berilmu hitam itu, “jika mereka memaksa aku berkelahi, maka aku akan mati bersama sedikitnya tiga atau empat orang di antara mereka”

Demikianlah, atas persetujuan Ki Dukut sendiri, maka ia telah berada di padepokan Macan Wahan. Sementara itu Macan Wahan telah memanggil beberapa orang kawannya yang terpilih untuk membicarakan persoalan yang dihadapi oleh Ki Dukut Pakering.

Ketika satu-satu mereka berdatangan, maka Ki Dukut itu pun menjadi cemas. Jika ada satu saja di antara mereka yang mengetahui dengan pasti persoalan yang tumbuh antara dirinya dengan muridnya yang kini tentu sedang memburunya itu, atau ada seorang di antara mereka yang mengetahui bahwa Ki Dukut adalah juga orang yang bernama Rajawali Penakluk, maka pembicaraannya dengan Macan Wahan yang nampaknya sudah mulai mengena itu, tentu akan pecah lagi. Bahkan mungkin nasibnya akan menjadi lebih buruk lagi daripada apabila ia jatuh ke tangan muridnya.

“Apapun yang akan terjadi” berkata Ki Dukut. Sebenarnyalah, ketika empat orang telah berkumpul maka Macan Wahan telah mempersilahkan Ki Dukut hadir di antara mereka. Melihat wajah-wajah yang buram dan kelam, ada juga sedikit keragu-raguan di hati Ki Dukut.
“Jika hati mereka benar-benar tercermin pade wajah-wajah itu, sebenarnya mereka orang-orang berhati hitam” berkata Ki Dukut di dalam hatinya, “ternyata Macan Wahan yang garang itu termasuk wajah yang paling jernih di antara mereka”

Tetapi Ki Dukut agak merasa lega, ketika ia melihat pengaruh Macan Wahan yang besar atas keempat orang kawan-kawannya. Ia telah memberikan penjelasan menurut pendengarannya dari Ki Dukut. Dan selebihnya, ia telah mempersilahkan Ki Dukut untuk berbicara langsung kepada mereka.

Namun tanggapan yang pertama sangat mengecewakan. Seorang berwajah cacat dibawah telinga kirinya berkata dengan nada kasar, “jangan umpankan kami. Kami mempunyai cara tersendiri untuk mempertahankan hidup kami”

Macan Wahan tertawa. Katanya, “Kami sudah memilih dunia kami sendiri. Tetapi kadang-kadang kami terpaksa berpikir juga tentang anak cucu. Apakah kita akan tetap menimangi mereka di dalam dunia kita ini, atau memberikan nafas yang lebih baik bagi kehidupan mereka kelak”

“Kau mulai menjadi cengeng Macan Wahan“ berkata seorang yang berkumis dan barjambang lebat hampir menutupi mulutnya yang besar. Matanya nampak liar dan kemerah-merahan. sementara keningnya digores oleh bekas luka yang menyilang sampai ke dahi.

“Mungkin aku sudah menjadi cengeng” sahut Macan Wahan, “tetapi cobalah renungkan”

“Aku tidak sempat merenungi masalah-masalah cengeng seperti itu” sahut orang yang cacat dibawah telinga kirinya.

“Baiklah” berkata Macan Wahan, “terserah kepada kalian. Tetapi aku mempunyai anak dan cucu. He, siapakah di antara kalian tidak mempunyai anak dan cucu?”

“Anakku laki-laki telah memiliki kemampuan tingkat keenam belas dari perguruan kami” geram orang yang berbekas luka di kening.

“Apakah ukuran tingkat di dalam perguruanmu” bertanya Ki Dukut tiba-tiba.

Macan Wahanlah yang menyahut, “Kau akan dapat menafsirkan lain. Seperti yang kau sebut dengan korban darah itu”

“Aku ingin tahu, bagaimanapun juga aku menafsirkan” jawab Ki Dukut.

“Sulit untuk mengatakannya tanpa memberikan peragaan” jawab orang yang wajahnya berbekas luka itu., “Tetapi sebagai gambaran kasar. Baiklah aku sebutkan saja, bahwa ia telah berhasil membunuh dengan cara tertentu sesuai dengan tingkatannya”

“Bagaimana?“ desak Ki Dukut.

Macan Wahan tertawa. Katanya, “Kau mencari perkara Ki Dukut”

“Aku akan mengatakannya” sahut orang itu, “anakku telah berhasil membunuh lawannya dengan jari-jarinya langsung menusuk sampai ke jantungnya dan mengambilnya dari dadanya”

Terasa bulu tengkuk Ki Dukut meremang. Tetapi ia masih bertanya, “Siapa yang dibunuh dalam pendadaran untuk menentukan tingkat seperti itu?“

Orang yang terluka di kening itu tertawa berkepanjang an. Katanya, “Dapat terjadi pada setiap orang yang kami tangkap sengaja atau tidak. Mungkin seorang yang nasibnya memang sangat buruk. Dalam kesempatan yang pendek karena didesak oleh waktu, kami bertemu dengan seseorang, siapapun mereka. Laki-laki atau perempuan”

”Mungkin dapat terjadi atasmu“ tiba-tiba seorang yang bertubuh gemuk menyambung sambil tertawa pula.

Ki Dukut mengerutkan keningnya. Dengan nada berat ia bertanya, “Kau memakai cara yang sama?“

Orang bertubuh gemuk itu menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Aku tidak mau mempergunakan cara yang setengah-tengah seperti itu. Aku memilih cara yang pasti, menyakinkan dan akan diterima dengan baik oleh sesembahan kami”

Jantung Ki Dukut serasa berdenyut semakin cepat. Yang dihadapinya saat itu adalah benar-benar orang yang tidak dapat dikatakan lain, kecuali disebut orang-orang gila yang berhasil memiliki ilmu yang tinggi. Dengan demikian, maka mereka justru adalah orang-orang yang sangat berbahaya.

Bagi Ki Dukut, di antara mereka. Macan Wahan adalah orang yang paling jernih nalarnya. Yang masih sempat berpikir bagi masa yang lebih panjang.

Dalam pada itu, Macan Wahan pun berkata, “Sebaiknya kita berbicara tentang Kediri. Tidak tentang cara kita menyadap ilmu kita masing-masing. Kita mempunyai cara yang berbeda-beda. Kita tidak usah mencampurinya. Apapun yang kita lakukan, sepenuhnya adalah hak kita”

“Berbicaralah tentang Kediri” berkata orang yang bertubuh gemuk, “aku sudah puas dengan kebanggaanku sendiri”

“Apakah tidak sebaiknya kita berbicara tentang satu masa yang lebih panjang dari umur kita sendiri” berkata Macan Wahan.

“Sudah aku katakan” desis orang yang wajahnya terluka dan berkumis dan berjambang lebat, “aku tidak mau berbicara tentang masalah-masalah cengeng seperti itu. jika aku tahu, bahwa di sini kita hanya disuguhi dengan masalah-masalah yang tidak berarti, kami tidak akan datang”

“Kalian orang-orang yang tidak mau berpikir” berkata Macan Wahan, “masalahnya bukan tidak berarti, tetapi justru sebaliknya. Mungkin bagi kalian terlalu berarti, sehingga kalian tidak mampu menjangkau jarak waktu yang diperlukan untuk memperhitungkan persoalan ini. Karena hidup kalian adalah masa kini. Tanpa masa depan.

“Sudah cukup” potong orang yang bertubuh gemuk, “sebenarnya apa yang terjadi atasmu Macan Wahan. Kau seperti orang yang sedang kesurupan. He, apakah orang ini yang telah berhasil merubah caramu berpikir?”

“Aku berpikir sejak semula. Terasa di hatiku sejak aku belum bertemu dengan Ki Dukut, bahwa hidup kita tidak terbatas pada batas umur kita sendiri” berkata Macan Wahan.

“Macan Wahan” berkata orang yang cacat dibawah telinga kirinya, “kau agaknya sudah terbius oleh bujukan orang ini. Apakah sebenarnya yang dikehendakinya? Buat apa kita berbincang dengan orang yang tidak tahu diri itu? Sebaiknya orang yang demikian itu hanyalah sekedar untuk menjajagi ilmu murid-muridku, sampai ditingkat mana ia berhasil menyadap ilmu diperguruanku. Ternyata disini. ia mendapat tempat yang agaknya sangat terhormat. He, apakah ia pamanmu, kakakmu atau siapa dan dalam hubungan yang bagaimana?”

“Ia bukan sanak bukan kadangku. Ia termasuk orang yang berilmu meskipun cara penyadapannya agak berbeda dengan kita. Dalam hubungan itulah kita berbicara“ jawab Macan Wahan.

Orang yang cacat dibawah telinga kirinya itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Aku tidak yakin bahwa ia memiliki ilmu yang memadai untuk berbicara dengan kita. Sebaiknya kita pergi saja daripada membuang waktu. Jika kami tidak menghormatimu Macan Wahan. maka orang ini tentu sudah aku tangkap dan aku hadapkan kepada murid-muridku untuk melihat tingkat kemampuan anak-anak itu”

“Kau salah menilai orang ini” jawab Macan Wahan, “tetapi jika kau perlu meyakinkannya, terserah kepada Ki Dukut. Apakah ia bersedia untuk memberikan keyakinan kepada kalian, bahwa ia mempunyai hak untuk berbicara dengan kita dalam tataran ilmu yang setingkat”

“Jangan mencelakai tamumu yang nampaknya sangat kau hormati itu Macan Wahan. Biarlah kami pulang meskipun sambil mengumpat di dalam hati” berkata orang yang cacat itu.

Tetapi orang yang berkumis dan berjambang lebat serta segores bekas luka dikeningnya itu berkata, “Aku sudah terlanjur bernafsu untuk menjajagi ilmunya. Mungkin ia memiliki sesuatu yang menarik. Aku kira aku memerlukannya. Tentu saja jika Macan Wahan mengijinkannya”

“Jawablah Ki Dukut” berkata Macan Wahan.

Ki Dukut lah yang mengumpat di dalam hatinya. Tetapi ia pun seorang yang yakin akan ilmunya. Meskipun ia merasa ngeri melihat wajah-wajah itu, serta ngeri mendengar apa saja yang pernah mereka lakukan, namun berhadapan dangan mereka. Ki Dukut sama sekali tidak menjadi gentar.

Karena itu, Ki Dukut pun kemudian berkata, “Baiklah Ki Sanak. Aku akan memenuhi keinginan kalian. Siapa yang ingin menjajagi kemampuanku agar kalian yakin bahwa aku dapat berbicara sesuai dengan tingkat kemampuanku di antara kalian. Siapa yang harus berdiri menjadi lawanku? Kalian dapat mengajukan diri, tetapi dengan keikhlasan untuk mati tanpa dendam”

“Gila” geram orang yang bertubuh gemuk, “ternyata orang ini sangat sombong”

“Sombong atau tidak sombong, tetapi kita harus berjanji. Janji jantan. Siapa yang memasuki arena, bersedia untuk mati. Kematian itu sudah disepakati bersama dibawah saksi kita semua yang masih sempat hidup, bahwa kematian itu tidak akan menyeret persoalan-persoalan lain. Sementara kita yang masih hidup akan berbicara tentang Kediri” jawab Ki Dukut.

“Aku akan memilin lehernya sampai putus” geram orang bertubuh gemuk itu.

“Serahkan kepadaku” berkata orang yang cacat dibawah telinga kirinya, “aku ingin memeras darahnya sampai kering. Mungkin darahnya akan bermanfaat bagiku”

“Tidak akan berharga sama sekali” geram yang berkumis dan berjambang lebat serta segores bekas luka dikening, “tetapi biarlah aku mencincang dengan tanganku”

Dalam pada itu, Ki Dukut dengan-hati yang berdebar-debar menunggu, siapakah di antara mereka yang di sepakati untuk berperang tanding.

Sementara itu, ketiga orang kawan Macan Wahan itu masih berebut untuk menjadi lawan Ki Dukut. Mereka menganggap bahwa dengan membunuh orang yang juga memiliki ilmu, akan dapat menambah ilmu mereka sendiri. Bahkan kadang-kadang dengan cara yang aneh, yang mengerikan, sehingga mereka disebut orang berilmu hitam. Akhirnya ketiga orang itu menemukah satu cara untuk menentukan, siapakah yang akan bertempur melawan Ki Dukut. Orang yang bertubuh gemuk itu kemudian mengajak kedua orang kawannya berdiri saling berhadapan.

“Kita akan mengangkat tangan kita dan mengucapkannya kedepan. Terlentang atau menelungkup” berkata orang yang gemuk itu, “siapa yang paling berbeda dari yang lain, maka ialah yang menang dan berhak untuk membunuh dan menghisap darah orang dungu itu”

“Baik” desis orang yang cacat dibawah telinga kirinya, “kita akan segera mulai. Waktuku sudah tersia-sia. He, bagaimana dengan kau Macan Wahan?”

Macan Wahan menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak ragu-ragu lagi atas orang yang memang sudah aku kenal ini. Ia memiliki ilmu yang pantas, sehingga ia akan dapat berbicara diantara kita. Jika ada diantara kalian yang masih ingin menjajaginya, silahkan. Tetapi aku setuju, bahwa siapa yang turun kegelanggang akan mengikhlaskan kematiannya. Apakah Itu Ki Dukut Pakering, atau salah seorang dari kalian bertiga yang beruntung mendapat kesempatan berperang tanding”
“Bagus. Agaknya kau benar-benar sudah menjadi cengeng. Tetapi baiklah jika kau tidak ingin ikut dalam kegembiraan ini” berkata orang yang berjambang dan berkumis lebat serta segords bekas luka dikening.

“Terserah. Tetapi aku sebagai tuan rumah memang tidak ingin merebut kegembiraan tamu-tamuku. Jika dengan membunuh orang itu kalian mendapat kegembiraan, maka silahkan. Lakukanlah. Aku akan ikut bergembira jika tamu-tamuku bergembira” jawab Macan Wahan.

“Gila, jangan hiraukan orang itu“ geram orang yang gemuk, “marilah kita mulai”

Ketiganya pun kemudian berdiri melingkar. Orang yang gemuk itupun mulai menghitung, “Satu, dua, tiga”

Orang bertubuh gemuk itu mengumpat. Ternyata telapak tangannya menelungkup seperti tangan orang yang cacat dibawah telinga kirinya.

“Kau bodoh. Kenapa kau samai aku, sehingga dengan demikian aku kehilangan kesempatan untuk melumatkan perut orang tua yang dungu itu” geram orang yang gemuk itu.

“Kau yang bodoh” sahut orang yang cacat dibawah telinganya itu.

“Jangan ribut” berkata orang yang berjambang dan berkumis lebat serta segores bekas luka menyilang di kening, “akulah yang mendapat kesempatan. Aku akan membunuhnya dengan caraku. Aku ingin mambuktikan, bahwa aku memiliki ilmu yang sempurna. Macan Wahan boleh percaya atau tidak. Tetapi segalanya akan tergantung kepada orang tua yang malang itu. Semakin tinggi kemampuannya mengimbangi ilmuku, maka ilmuku itupun akan nampak semakin sempurna. Tetapi jika ilmu orang itu hanya setataran alas dari ilmu pamungkasku, maka ilmuku tidak akan sempat nampak betapa agung dan angkernya”

Ki Dukut menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalian sudah menentukan. Marilah. Kita akan melihat, apakah aku akan mati, atau aku akan mendapat kesempatan berbicara tentang Kediri. Akupun sadar, tanpa membuktikah, bahwa aku memiliki kemampuan yang cukup untuk menempatkan diriku dijajaran orang-orang seperti kalian, aku memang harus membuktikan”

“Kita akan turun ke halaman” berkata orang berjambang dan berkumis lebat, “biarlah murid-muridmu menjadi saksi Macan Wahan. Tetapi mereka yang belum sampai pada tataran yang memungkinkan, jangan kau beri kesempatan untuk melihat. Mareka tentu akan pingsan karena aku akan menunjukkan satu ungkapan ilmuku yang paling dahsyat”

Macan Wahan tertawa. Katanya, “Mulailah. Aku mengenalmu seperti kau juga mangenal aku. Yang belum kau kenal adalah bakal lawanmu itu”

“Persetan” geram orang berkumis dan berjambang lebat itu.

“Apakah kita akan bersenjata atau tidak?“ bertanya Ki Dukut tiba-tiba.

Orang berjambang lebat itu tertawa. Katanya, “Itulah ukuranmu? Kau masih bertanya tentang senjata? Jika kau mau memakai senjata, pakailah segala jenis senjata. Tanganku lebih berbahaya dari senjata apapun juga”

Ki Dukut mengerutkan keningnya. Orang itu terlalu yakin akan dirinya. Namun dengan demikian Ki Dukut memang harus berhati-hati menghadapinya. Mungkin orang itu memang memiliki ilmu iblis yang menggetarkan.

“Bilkiah” berkata Ki Dukut kemudian, “kita berjanji, bahwa kita masing-masing tidak akan mempergunakan senjata apapun juga kecuali tangan kita. Marilah. Aku sudah siap untuk mulai dengan permainan ini. Sekali lagi aku katakan, kita akan bertempur sampai kematian merenggut salah seorang di antara kita dari arena perang tanding. Tanpa dendam, tanpa persoalan samping yang akan dapat tumbuh. Yang berada diluar arena akan menjadi saksi”

Orang berjambang dan berkumis lebat itu tertawa berkepanjangan. Diantara suara tertawanya terdengar Orang itu berkata, “Kau tidak ubahnya seperti orang yang menggapai-menggapai menjelang tenggelam di dalam arus putaran. Tetapi baiklah katakan apa yang ingin kau katakan. Mungkin kau tidak akan mempunyai kesempatan lagi”

Ki Dukut menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab lagi.

Sejenak kemudian, keduanya telah bersiap sepenuhnya. Meskipun lawan Ki Dukut itu masih saja tertawa, namun ia sudah mulai bersungguh-sungguh mengamati sikap Ki Dukut.

Ki Dukut pun segera bersikap. Ia berdiri tegak menghadap lawannya. Kemudian satu kakinya melangkah setengah langkah ke depan. Baru kemudian ia merendah sambil memiringkan tubuhnya. Kedua tangannya pun terangkat dan bersilang di dadanya.

Lawannyapun telah bersiap pula. Sambil berteriak nyaring ia meloncat menyerang Ki Dukut Pakering.

Ki Dukut bergeser sedikit. Ia mengerti bahwa lawannya masih belum bersungguh-sungguh. Namun demikian ia tidak boleh lengah. Kekalahan dalam perang tanding itu berarti mati.

Karenanya serangannya tidak mengenai sasarannya, maka lawan Ki Dukut itu pun segera meloncat berbalik. Tetapi ternyata Ki Dukut bersikap sangat berhati-hati. Ia tidak segera menyerang, tetapi bersiap-siap untuk menerima serangan berikutnya.

Sebenarnyalah orang itu pun telah sekali lagi menyerang. Kakinya terjulur lurus menyamping, Ketika Ki Dukut menghindar setengah langkah, tiba-tiba saja lawannya berputar. Sekali lagi kakinya yang lain terjulur lurus mengarah lambung.

Hampir saja tumit orang itu menyentuhnya. Namun Ki Dukut masih sempat menarik tubuhnya selangkah surut. Bahkan kemudian dengan serta merta ia menghantam kaki lawannya yang terjulur.

Tetapi lawannya cepat menarik kakinya. Setengah langkah ia meloncat. Terdengar ia berteriak nyaring sambil merendah pada lututnya. Kedua kakinya yang renggang seakan-akan menggeletar. Sementara jari-jari kedua tangannya tiba-tiba saja telah mengembang, seperti jari-jari seekor harimau yang siap menerkam dan merobek tubuh mangsanya.

Ki Dukut mengerutkan keningnya, ia melihat satu tingkat perkembangan ilmu lawannya. Ia pun mulai melihat kegarangan ilmu orang berkumis dan berjambang lebat itu.

“Jari-jari tangannya itu tentu berbahaya” berkata Ki Dukut.

Sebenarnyalah bahwa orang itu telah berteriak sekali lagi. Dengan garangnya ia meloncat menerkam dengan jari-jari tangannya yang mengembang.

Ketika Ki Dukut mengelak, maka lawannya itu pun segera memburunya. Menerkamnya pula dengan loncatan panjang.

Beberapa kali Ki Dukut memang harus berloncatan menghindar. Ia masih ingin melihat, apakah yang dapat dilakukan oleh lawannya yang garang itu. Loncatan-loncatan dan teriakan-teriakan panjang dengan jari-jari tangan yang mengembang.

Dalam pada itu, orang-orang yang menyaksikan perang tanding itu mulai menjadi berdebar-debar. Namun orang yang bertubuh gemuk dan orang yang cacat di bawah telinga kirinya itupun mengumpat. Yang gemuk berteriak, “Tikus kecil. Nasibnya sangat malang. Ia hanya mampu berloncatan menghindar. He, jangan segera bunuh orang tua sombong itu. Biarlah ia mengetahui, bagaimana perasaan seseorang yang menjadi sangat ketakutan menghadapi maut”

Sementara kawannya berkata lantang, “Nasibkulah yang buruk. Kenapa aku tidak mendapat kesempatan dengan permainan yang mengasikkan ini. Tentu senang sekali dapat melubangi dadanya dengan tangan dan mengambil jantungnya yang masih basah”

Macan Wahan lah yang berdiri diam sambil mengerutkan keningnya. Iapun menjadi kecewa. Ia ingin melihat Ki Dukut bertempur dengan garang. Meskipun seandainya ia akan kalah dan mati dibantai lawannya, namun perlawanannya yang kuat akan menyelamatkan tanggapan kawan-kawannya terhadap dirinya. Karena dengan demikian, ia tidak dapat dianggap mengotori diri berhubungan dengan orang yang tidak berarti sama sekali itu.

Tetapi perhatian orang-orang yang mengitari arena itu tersentak ketika mereka melihat, tiba-tiba saja Ki Dukut lah yang menyerang. Tidak terlampau garang, tetapi kecepatannya bergerak benar-benar mengejutkan.

Dengan jantung yang berdebaran, lawannya berusaha mengelakkan serangan itu. Bahkan sambil berteriak nyaring, lawannya telah membalas menyerang dengan jari-jarinya yang mengembang itu.

Ki Dukut yang gagal mengenai lawannya berputar. Ia tidak mengelakkan serangan lawannya. Tetapi dengan kakinya ia justru menghantam siku tangan lawannya yang sedang terjulur.

Sekali lagi lawannya terkejut. Dan sekali lagi terdengar teriakan nyaring. Lawannya tidak sempat mengelak lagi. Tetapi ia berusaha untuk menarik serangannya dan menghentakkan sikunya melawan serangan lawannya.

Ketika terjadi sebuah benturan, maka keduanya menyeringai menahan sakit. Namun ternyata Ki Dukut lebih cepat menguasai diri. Satu putaran kaki telah menyambar lawannya yang sedang berusaha menahan sakit pada sikunya.

Orang yang berkumis dan berjambang lebat itu mengumpat sambil meloncat surut. Namun Ki Dukut cepat memburu dan mengayunkan tangannya.

Serangan Ki Dukut tidak dapat mengenai sasarannya karena lawannya masih sempat bergeser. Bahkan orang berjambang dan berkumis lebat itulah yang kemudian menyerang Ki Dukut dengan garangnya. Seolah-olah jari-jarinya yang mengembang ingin mencengkam isi dada Ki Dukut Pakering dan meremasnya sampai lumat.

Ki Dukut menyadari, jari-jari itu tentu akan sangat berbahaya baginya. Karena itu, maka ia pun berusaha untuk selalu menghindari. Bahkan kemudian iapun telah memutuskan untuk mempergunakan jari-jarinya. Namun cara Ki Dukut agak berbeda. Keempat jari-jari Ki Dukut merapat dengan ibu jari yang agak ditekuk ke dalam.

Dengan ujung jari-jarinya itulah maka Ki Dukut lah yang kemudian meloncat menyerang dengan kecepatan yang mengejutkan. Ujung jari-jarinya langsung menusuk, menghantam pundak lawannya.

Ternyata kecepatan yang tidak terduga-duga itu tidak dapat diimbangi oleh lawannya. Karena lawannya tidak sempat mengelak, maka ia berusaha menangkis serangan itu. Tetapi ia tidak dapat membebaskan diri seluruhnya dari ujung jari Ki Dukut Pakering. Karena itulah, maka ujung keempat jari yang merapat itu meskipun tidak mengenai sasarannya, namun telah menyentuh lengan orang berjambang dan berkumis lebat itu.

Akibatnya sangat mengejutkan. Lengan orang berjambang itu bagaikan terkelupas. Perasaan pedih telah menyengat ketika darah mulai meleleh dari luka itu.

“Gila” geram orang berjambang dan berkumis lebat itu, “kau telah menitikkan darah dari tubuhku. Itu akan berakibat gawat bagimu”

Tetapi Ki Dukut justru tertawa. Katanya, “Sejak perkelahian ini dimulai, aku sudah bersiap menghadapi keadaan yang paling gawat sekalipun. Marilah, kau sudah mulai terluka. Titik darah yang mengalir dari lukamu, berarti susutnya ilmu iblis yang kau miliki dengan cara yang sebaliknya. Setitik darah yang kau hisap dari korbanmu, telah menambah kekuatan ilmu iblismu. Dan sebaliknya, setitik darah yang keluar dari tubuhmu, akan berakibat berkurangnya kemampuan dan kekuatanmu”

“Tutup mulutmu” teriak lawannya.

Tetapi Ki Dukut masih tertawa. Katanya, “Agaknya memang demikian anggapan orang-orang dungu seperti kau. Tetapi ketahuilah, bahwa titik darah itu tentu akan melepaskan kekuatan dan ketahanan seseorang. Dengan atau tidak dengan ilmu iblis”

Orang berjambang dan berkumis lebat itu berteriak keras-keras. Satu loncatan panjang yang tiba-tiba telah melontarkannya menyerang Ki Dukut. Tetapi Ki Dukut sempat mengelak. Namun lawannya yang bagaikan gila itu memburunya dengan jari-jari tangannya yang mengembang.

Ki Dukut menjadi semakin berdebar-debar. Lawannya benar-benar telah menjadi wuru. Agaknya ia sudah menggapai ilmu puncaknya yang diwarnai dengan kekuatan hitam kelam.

Sebenarnyalah bahwa orang berjambang dan berkumis lebat itu menjadi semakin liar. Matanya menjadi merah membara, sementara mulutnya nampak membusa, Namun yang mendebarkan jantung Ki Dukut adalah bahwa seolah-olah dari hidung orang itu telah membayang semacam asap yang kekuning-kuningan.

“Itu adalah kekuatan iblisnya” berkata Ki Dukut di dalam hatinya.

Namun Ki Dukut pun mempunyai andalan ilmu puncaknya. Keempat jari-jarinya yang merapat itulah yang ke mudian bergetar. Seolah-olah tangannya itu mampu menentukan arah geraknya sendiri, sementara keempat jari-jarinya yang merapat menjadi sedikit lengkung pada ruas-ruasnya.

Ketiga orang yang memiliki kemampuan tertinggi dalam ilmu hitam yang menyaksikan pertempuran itu benar-benar menjadi berdebar-debar. Beberapa orang cantrik padepokan Macan Wahan pun sempat menyaksikan pertempuran itu. Mereka menjadi bingung, bagaimana mereka harus menilai kemampuan masing-masing.

Orang yang bertubuh gemuk itu mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi berkeringat. Ternyata bahwa orang yang bernama Ki Dukut itu memiliki ilmu yang cukup untuk melawan ilmu kawannya yang dianggapnya sebagai seorang diantara mereka yang memiliki ilmu terbaik, setingkat dengan Macan Wahan.

Kawannya, yang cacat dibawah telinga kirinya pun setiap kali menggeram. Ki Dukut benar-benar jauh melampaui dugaannya.

Sementara itu, pertempuran pun berlangsung semakin sengit. Masing2 telah mencapai puncak ilmu yang jarang ada bandingnya. Orang yang berkumis dan berjambang lebat itu telah mengerahkan segenap kekuatan cadangannya dialasi dengan ilmu iblisnya. Kekasaran dan kebuasan nya menjadi semakin nampak pada puncak kemarahannya.

Sementara itu Ki Dukut pun. telah memutuskan untuk bertempur dengan segenap kemampuannya. Lawannya benar-benar seorang yang memiliki ilmu iblis yang berbahaya. Ketika tubuh Ki Dukut berhasil disentuh jari-jari lawannya yang mengembang, betapa perasaan panas telah menyengat kulitnya. Ujung jari-jari lawannya itu bagaikan bara api yang panasnya tidak terkira. Bekas sentuhan jari-jari itu pun kemudian menjadi hangus seperti benar-benar tersentuh api.

”Inilah ilmu iblisnya itu” geram Ki Dukut di dalam hatinya.

Karena itulah, maka Ki Dukut benar-benar bertempur dengan segenap kemampuan ilmu dan nalarnya. Ia mempergunakan perhitungan yang cermat. Kekasaran lawannya telah diperhitungkannya sebaik baiknya, karena bagaimanapun juga, kemampuan tenaga seseorang akan sampai ke batasnya.

Tetapi daya tahan orang berjambang dan berkumis lebat itu memang luar biasa, sehingga seolah-olah tenaganya sama sekali tidak menjadi susut.

Semuanya itu telah diperhitungkan sebaik-baiknya oleh Ki Dukut Pakering. Karena itu, maka ia pun bertempur dengan mantap dan tenang. Kekasaran dan kekerasan Lawannya sama sekali tidak mengejutkannya, dan apalagi membuatnya bingung.

Kecepatan bergerak. Ki Dukut lah yang membuat lawannya kadang-kadang menjadi bingung. Ki Dukut Pakering yang pernah disegani di Kediri, karena ia adalah guru sepasang kakak beradik trah bangsawan tertinggi di Kediri, benar-benar seorang yang pilih tanding.
Dengan kecepatan geraknya ia dapat menghindari hampir setiap serangan lawannya. Namun satu dua kali, ujung jari-jari tangan lawannya itu pun sempat juga membakar kulitnya, sehingga di beberapa tempat di tubuh Ki Dukut nampak luka-luka bakar yang kehitam-hitaman.

”Setan ini harus segera dimusnahkan” geram Ki Dukut didalam hatinya.

Dengan demikian, maka geraknya pun semakin bertambah cepat. Meskipun jari-jarinya tidak dapat membakar kulit seperti lawannya, namun setiap sentuhan jari tangan Ki Dukut yang merapat itu, seolah-olah sentuhan ujung senjata tajam yang dapat merobek kulit.

-oo0dw0oo-

Bersambung jilid 16

Sumber DJVU : Dino
Convert & Edit : Dino
Ebook oleh : Dewi KZ

Edit ulang oleh Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.