Ruang Baca Karya SH Mintardja

Pengantar

Blog ini dibuka sebagai bagian untuk menyebarkan “virus” cerita silat dari bumi sendiri yang dituturkan oleh Almarhum Singgih Hadi Mihardja (SH. Mintadja). Biodata beliau bisa dilihat di sini. Kita tidak membahas biodata beliau tetapi, ingin menyebarkan karya beliau yang banyak dicari oleh para penggemar pada masanya, baik pembaca di Harian Kedaulatan Rakyat (KR) dan Bernas, maupun melalui buku-buku yang diterbitkan oleh berbagai media, Kedaulatan Rakyat, Panuluh atau Muria. Sedangkan buku-buku tersebut sudah mulai langka karena sudah mulai rusak dan tidak dicetak ulang kembali.

SH Mintardja dikabarkan telah menulis lebih dari 400 buku. Cerita berseri terpanjangnya adalah  Api di Bukit Menoreh yang terdiri dari 396 buku. Berikut ini daftar beberapa karya sang pengarang itu:

  1. Pelangi di Langit Singasari (79 jilid)
  2. Sepasang Ular Naga di satu Sarang (37 jilid)
  3. Panasnya Bunga Mekar (31 jilid)
  4. Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan (118 jilid)
  5. Api di Bukit Menoreh (396 jilid)
  6. Tanah Warisan (8 jilid)
  7. Matahari Esok Pagi (15 jilid)
  8. Meraba Matahari (9 jilid)
  9. Suramnya Bayang-bayang (34 jilid)
  10. Sayap-sayap Terkembang (67 jilid)
  11. Istana yang Suram (14 jilid)
  12. Nagasasra Sabukinten (29 jilid)
  13. Bunga di Batu Karang (14 jilid)
  14. Yang Terasing (13 jilid)
  15. Mata Air di Bayangan Bukit (23 jilid)
  16. Kembang Kecubung (6 jilid)
  17. Jejak di Balik Kabut (40 jilid)
  18. Tembang Tantangan (24 jilid)
  19. Arya Manggada (30 jilid)
  20. dll (belum punya datanya)

Belum ada data mana yang paling dulu, dan mana yang terakhir. Tetapi, melihat beberapa judul yang tidak sampai berakhir dengan semestinya ada beberapa yang overlap dan sama-sama tidak berakhir sampai akhir hayat beliau. Seperti pendekar yang diceritakannya, yang bangga kalau mati dalam perang, beliau juga meinggal pada saat bukunya belum selesai (menurut pikiran kita) karena berakhir menggantung.

Sudah banyak blog yang mengupload dalam bentuk ebook maupun ditempel di halaman, semakin baik karena “virus” yang dikembangkan dapat beranak-pinak.

Ada beberapa website yang mengunggah “pertama” kalinya karya-karya adiluhung Almarhum SH Mintardja, dalam format dejavu (djvu) diantaranya adalah: http://adbmcadangan.wordpress.com (Api di Bukit Menoreh) yang dipandegani oleh Ki GD dan Nyi Senopati,  http://pelangisingosari. wordpress.com (Pelangi di Langit Singasari),yang dipandegani oleh Ki Arema dan P. Satpamnya;  http://cersilindonesia.wordpress.com (Mata Air di Bayangan Bukit, Bunga di Batu Karang, Matahari Esok Pagi, dan tembang Tantangan) yang dipandegani oleh Ki Ismoyo dan di facebook group yang dipandegani oleh Ki Laz, Ki Zaki dan Ki Sukra (Suramnya bayang-bayang, Sayap-sayap Terkembang, Jejak di Balik Kabut, Kembang Kecubung, Meraba Matahari, dan Yang Terasing).

Wedaran dalam format dejavu (djvu) telah dikonversi ke berbagai format dan sekarang diupload dimana-mana. Satu lagi disediakan untuk menjadi taman bacaan sanak-kadang yang sedang iseng dan ingin menikmati karya almarhum SH Mintardja di sini. Selama kuota masih belum penuh (3GB) akan diupload satu persatu dimulai dari Seri Pelangi di Langit Singosari, Nagasasra & Sabukinten, Api di Bukit Menoreh, dst.

Khusus Seri Pelangi di Langit Singosari, naskah ini dipindahkan dari tempat aslinya http://pelangisingosari.wordpress.com yang mulai kelebihan memori sehingga menyulitkan upload naskah baru. Api di Bukit Menoreh dipindahkan dengan sedikit editing dari http://adbmcadangan.wordpress.com. Yang lain dicomot sana-sini, khususnya dari website Nyi DewiKZ di http://kangzusi.com.

Terimakasih kepada:

  1. Ki GD (dan Nyi Senopati) yang telah menyediakan blog  ADBM di adbmcadangan.wordpress.com, Ki Ismoyo yang telah menyediakan blog gagakseta di cersilindonesia.wordpress.com, Nyi DewiKZ yang menyediakan kangzusi.com (dkk).
  2. sanak-kadang yang telah bersusah payah konversi dari djvu ke doc/docx sehingga naskahnya bisa diupload disini:
    1. ADBM (kerja keroyokan Ki Prastawa, Ki Abu Gaza, Ki Sugita, Ki Sarip Tambak Oso, Mahesa, Ki Kuncung, Ki Raharga, Ki Arema, Ki Ajargurawa, K4ng tOmmy, dll saya tidak hafal, maaf…)
    2. Pelangi di Langit Singasari; Pasukan Retype: Ki Raharga, Ki Sunda,Ki Sukasasrana dan Dewi KZ; pasukan proofing/editing: Ki Raharga, Ki Sunda, Ki Hartono, Ki Wijil/Wiek, dan Ki Mahesa
    3. Sepasang Ular Naga di satu Sarang, pasukan retype: Ki Mahesa, Ki Ayasdewe, dan Ki Sunda; pasukan proofing/editing: Ki Mahesa, Ki Ayasdewe, dan Ki Sunda
    4. Panasnya Bunga Mekar, convert/proofing/editing; Nyi Dewi KZ dan Ki Banuaji
    5. Hijaunya Lembah dan Hijaunya Lereng Pegunungan,  convert/proofing/editing: Ki Raharga, Ki Dino, Nyi Dewi KZ.
    6. lain-lain: sanak-kadang yang melakukan convert/proofing/editing di website Tirai Kasih yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Selamat menikmati.

Malang, Maret 2011

Arema

————————————————————————————————————

Alamat kontak: pelangisingosari@gmail.com

ISTANA YANG SURAM 05

ISTANA YANG SURAM

Jilid 5

Karya: SH Mintardja

kembali | lanjut

Istana Yang Suram-05KIAI RANCANGBANDANG menjadi semakin heran.

“Jadi gurumu tidak tinggal di sebuah padepokan atau padukuhan kecil?”

“Tidak Kiai, guruku tinggal di sebuah gubug kecil, di lereng gunung, tidak jauh dari padukuhan, ia hidup menyendiri, tetapi tidak terpisah dari pergaulan hidup yang sewajarnya, ia mengenal setiap orang di padukuhanku dengan baik, bahkan seperti kadang sendiri”

Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, katanya, “Memang aneh, gurumu mempunyai kebiasaan yang lain” ia berhenti sejenak, lalu, “Jadi dengan demikian angger Panon Suka melakukan latihan secara terbuka? Maksudku, kadang-kadang juga dilihat oleh orang banyak padukuan itu?”

“Tidak Kiai, aku berlatih seorang diri di halaman belakang gubug guru, jarang orang yang datang ke gubug guruku di lereng kaki Gunung Merbabu itu, hidup guruku benar-benar tidak menarik perhatian, ia tiba-tiba saja tinggal di tempat itu, hanya ayahku sajalah yang banyak mengetahui tentang dirinya. Tetapi ayah tidak banyak bercerita kepadaku tentang guruku itu”

Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, ia melihat rahasia yang tersembunyi di dalam perguruan anak muda ini, meskipun ia yakin bukan rahasia yang buruk.

Demikianlah mereka berpacu terus meskipun tidak begitu cepat menuju Lembah Payung di ujung Gunung Sewu.

Namun dalam pada itu di sepanjang jalan, Kiai Rancangbandang masih tetap dipengaruhi oleh gambaran-gambaran yang buram mengenai guru Panon Suka, seseorang yang digambarkannya, hidup menyendiri tetapi tidak terpisah dari pergaulan yang sewajarnya, menenal setiap orang di padukuhannya dengan baik, bahkan seperti kadang sendiri, tetapi orang-orang itu tidak banyak yang mengetahui tentang dirinya, dan jarang sekali yang berkunjung kepadanya karena hidupnya tidak menarik perhatian sama sekali”

Kiai Rancangbandang menarik nafas dalam-dalam, terbayang seseorang yang hidup sederhana seperti kebanyakan orang-orang miskin, tetapi yang memiliki ilmu tiada taranya”

Apalagi kemudian ia mengetahui bahwa guru Panon Suka itu adalah seorang yang cacat kaki dan geraknya sangat dibatasi oleh cacatnya itu.

“Dalam keadaanya, bagaimana mungkin ia dapat membentuk seorang anak muda menjadi seorang yang perkasa seperti angger Panon Suka ini?” pertanyaan itu selalu membelit di hatinya, “Tentu orang itu benar-benar bukan orang kebanyakan, meskipun ujudnya tidak lebih sebagai seorang miskin yang hidup dalam gubug yang didirikannya di lereng Gunung Merbabu”

Sementara itu, ketika mereka menjadi semakin dekat dengan lembah Payung, Panon pun menjadi semakin berdebar-debar, ia harus meninggalkan kudanya kepada seseorang dan gurunya nanti akan mencari kuda itu dan mempergunakannya.

“Apakah aku akan berterus terang kepada Kiai Rancangbandang tanpa curiga?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Namun akhirnya Panon tidak dapat berbuat lain, ketika mereka mendekati padukuhan kecil di lembah Payung, maka Panon pun berkata seperti yang dipesankan gurunya kepadanya.

“Ooo” berkata Kiai Rancangbandang, “Senang sekali jika aku dapat bertemu dengan gurumu nanti”

Panon Suka menarik nafas dalam-dalam.

“Jika demikian, maka biarlah kita menitipkan kuda kita” berkata Kiai Rancangbandang selanjutnya.

“Kiai” berkata Panon Suka yang masih sangat muda dan belum banyak mengenyam hidup, “Jika guruku mengetahui ada dua ekor kuda, maka mungkin guruku akan memutuskan untuk berbuat lain dari rencana semula, guruku sudah berpesan agar tidak ada orang lain yang mengetahui tugasku dan barangkali juga tentang istana kecil itu”

“Angger” berkata Kiai Rancangbandang, “Gurumu adalah orang yang luar biasa, tetapi ia sudah terlalu lama terpisah dari pergaulan hidup orang-orang yang menganggap dirinya mempunyai kelebihan dari orang lain, ternyata bahwa rahasia istana kecil itu seolah-olah telah terbuka, sehingga justru karena itu telah mengundang banyak pihak yang mendatanginya, semula aku pun tertarik pula untuk naik ke Gunung Sewu, tetapi kakang Ajar Respati memberi nasehat yang panjang kepadaku agar aku tidak terseret oleh ketamakan yang bodoh itu, karena itulah aku mengurungkan niatku untuk mendaki sekedar didorong oleh ketamakan dan nafsu, jika sekarang aku pergi, agaknya telah didorong oleh kepentingan yang lain, keteranganmu bahwa kau ingin mencegah guncangan yang dapat timbul, sangat menarik perhatianku, dan aku akan senang sekali jika aku dapat membantumu”

“Aku berterima kasih Kiai, tetapi guru belum mengetahui semua itu”

“Anakmas” berkata Kiai Rancangbandang, “Bahwa Gurumu akan menyusulmu tentu ia pun mempunyai perhitungan tertentu, tetapi sekali lagi, aku kagum karenanya, semuanya itu tentu sekedar didorong oleh firasatnya bahwa sesuatu telah terjadi, bukan karena pendengarannya dari mulut orang lain, hanya orang yang memiliki ketajaman batin yang mempunyai firasat yang sejauh itu”

“Kiai terlampau memuji”

“Aku tidak memuji, tetapi aku benar-benar kagum” ia berhenti senejak, lalu, “Dengan demikian sudah sepantasnya angger menunaikan tugas itu, sentuhan dengan perguruan-perguruan yang lebih dahulu naik ke puncak Gunung Sewu tidak akan banyak menghambat perjalananmu, seandainya kau pergi sendiri”

Panon menarik nafas dalam-dalam, karena itulah maka ia pun tidak berniat untuk menunda keterangannya, sebagaimana pesan gurunya tentang perjalanan yang harus ditempuhnya.

Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, katanya, “Benar-benar seorang yang rendah hati, aku akan ikut dengan caramu, agaknya memang menyenangkan sekali untuk memperlakukan diri kita sebagai orang yang tidak perlu mendapat perhatian orang-orang disekitarnya” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi sekali lagi aku peringatkan, mungkin gurumu belum membayangkan apa yang sebenarnya ada di sekitar istana kecil itu, meskipun aku belum melihat sendiri, tetapi aku membayangkan bahwa setiap orang yang mendekatinya tentu akan dicurigai oleh setiap orang yang sudah ada di daerah itu terlebih dahulu, mungkin mereka yang berterus terang tentang diri mereka dan perguruan mereka, tetapi juga mereka yang menyamar seperti yang akan angger lakukan”

“Tetapi aku harus berhasil masuk istana itu dan bertemu dengan penghuninya jika masih ada” berkata Panon Suka.

“Kenapa?” bertanya Kiai Rancangbandang.

Panon termangu-mangu, tetapi kepercayaannya kepada Kiai Rancangbandang menjadi bertambah tebal, karena itu katanya, “Aku membawa pertanda bahwa aku datang dengan maksud baik, tetapi guruku berpesan bahwa hanya penghuni yang sebenarnya dari istana itu sajalah yang dapat melihat pertanda itu”

Kiai Rancangbandang bergetar mendengar jawaban itu, tetapi ia tidak menampakkan perubahan wajahnya, bahkan dengan senyum ia berkata, “Menarik sekali, tetapi apakah angger dapat mengatakan kepadaku, apakah penghuni itu akan dapat mengenal tanda yang angger bawa?”

“Menurut guru, mereka tentu akan mengenalnya Kiai”

Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, betapa hatinya bergejolak, tetapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan tanda apapun juga, sehingga Panon sama sekali tidak menduga, bahwa Kiai Rancangbandang sedang mencoba menghubungkan peristiwa-peristiwa yang pernah didengarnya.

Tetapi akhirnya Kiai Rancangbandang berkata di dalam hatinya, “Bagaimanapun juga, aku wajib membantu anak ini untuk mencegah kekisruhan yang semakin merata di daerah Demak yang baru tumbuh, dengan demikian meskipun hanya seleret hitamnya kuku, aku sudah ikut menegakkan kewibawaan pemerintahan yang sedang berusaha untuk mewujudkan ketenangan dan kedamaian di hati rakyatnya ini”

Demikianlah, dengan hati yang tulus, Kiai Rancangbandang meneruskan perjalanannya di sisi Panon, meskipun kadang-kadang tumbuh juga keragu-raguan atas kebersihan tugas anak muda itu, namun ia melihat kejujuran yang bening memancar dari tatapan mata Panon.

“Jika ada kecurangan yang terjadi atas anak muda ini, tentu bukan karena hatinya yang licik, tetapi mudah-mudahan gurunya benar-benar tidak sekedar memanfaatkan kejujuran anak muda ini” berkata Kiai Rancangbandang pada dirinya sendiri, namun ia tidak henti-hentinya mencari hubungan antara peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi pada istana kecil itu menurut pendengarannya.

Ketika mereka kemudian memasuki padukuhan kecil itu, Kiai Rancangbandang berkata, “Jika demikian anakmas, baiklah kudamu sajalah yang kau titipkan di padukuhan ini agar gurumu tidak menjadi curiga, aku akan membawa kudaku mendaki terus dan menitipkannya di padukuhan yang kita jumpai di perjalanan nanti”

“Tetapi untuk sementara kita berpisah Kiai, agar orang-orang yang menerima titipan kudaku tidak menyebutkan kepada guru, bahwa aku datang berdua”

Kiai Rancangbandang tersenyum, katanya, “Kau teliti sekali angger, mudah-mudahan bukan sekedar melepeskan diri dari padaku, karena angger segan menolak aku ikut dalam perjalananmu”

“Ah, tentu tidak Kiai, tentu tidak”

“Baiklah, aku akan menunggumu diluar padukuhan ini”

Demikianlah maka mereka pun segera berpisah, Kiai Rancangbandang berkuda terus sampai keluar dari padukuhan kecil di lembah Payung, sedangkan Panon Suka, sesuai dengan pesan gurunya, ia pun menitipkan kudanya kepada seseorang dengan upah sekedarnya.

“Jangan lupa, berilah kuda itu makan, beberapa hari mendatang, seseorang yang cacat kaki akan mengambilnya” berkata Panon Suka kepada orang itu.

“Bagaimana ia tahu bahwa kau menitipkan kuda kepadaku?”

“Kami sudah berjanji sebelumnya”

“Ya, tetapi kau dan orang yang cacat kaki itu belum berjanji untuk menitipkan kepadaku, karena baik kau maupun orang yang cacat kaki itu belum aku kenal”

“Ia akan mencari dan bertanya kepada siapapun di padukuhan ini”

Orang itu mengangguk-angguk, padukuhan ini adalah padukuhan kecil, sehingga tidak akan banyak kesulitan untuk mencari seekor kuda diantara rumah-rumah yang tidak begitu banyak.

Dengan senang hati orang itu menerima uang dari Panon Suka sebagai upah pemeliharaan kudanya sebelum diambil gurunya.

Panon tidak berhenti di rumah itu meskipun penghuninya mempersilahkan.

“Aku tergesa-gesa” berkata Panon.

“Setiap orang tergesa-gesa naik ke atas Gunung Sewu” desis orang itu.

Panon mengerutkan keningnya, dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah banyak orang yang naik ke Gunung Sewu?”

“Tidak, aku hanya melihat dua orang, tetapi nampaknya, mereka pun tergesa-gesa”

“Ia singgah ke rumah ini juga?”

Orang itu menggeleng, “Tidak, mereka hanya lewat”

Panon mengangguk-angguk, tetapi dengan demikian ia menjadi semakin yakin, bahwa yang dikatakan oleh Kiai Rancangbandang adalah benar, sehingga terbayang olehnya, bahwa di sekita istana kecil itu, telah berkumpul orang dari perguruan yang berbeda-beda.

“Terima kasih, aku minta diri” kata Panon kemudian Seperti yang sudah dijanjikan, maka Kiai Rancangbandang telah menunggunya di luar padukuhan, mereka pun kemudian bersama-sama melanjutkan perjalanan yang mulai mendaki naik pegunungan Sewu.

Seperti yang mereka rencanakan, agar kedatangan mereka di Karangmaja tidak menarik perhatian, maka Kiai Rancang-bandang pun menitipkan kudanya pula, mereka meneruskan perjalanan seperti dua orang pengembara yang miskin.

“Aku tidak berfikir untuk melakukan perjalanan seperti ini” gumam Kiai Rancangbandang sambil tersenyum.

“Aku pun tidak Kiai” Sahut Panon, “Tetapi guru menhendaki.”

“Aku dapat mengerti maksudnya, agaknya cara ini adalah cara yang paling baik, meskipun tidak akan banyak gunanya, agaknya telah banyak orang yang mendahului kita dengan cara yang aneh-aneh”

Panon Suka mengangguk-angguk, agaknya benar kata Kiai Rancangbandang bahwa gurunya kurang mengenal keadaan Karangmaja pada saat terakhir, saat-saat orang yang menyebut dirinya orang-orang sakti mulai mengenal rahasia yang tersembunyi di istana itu.

“Siapakah yang telah membuka rahasia itu?” bertanya Panon Suka kepada dirinya sendiri, “Dan apakah guru telah mendengarnya pula?”

Tetapi Panon menggelengkan kepalanya untuk mengusir pertanyaan-pertanyaan itu, ia sadar bahwa teka-teki itu tidak akan dapat segera terjawab.

“Yang penting aku menjalankan saja perintah guru” katanya di dalam hatinya, “Itu adalah kewajibanku”

Di sepanjang perjalanan naik ke atas Bukit Seribu tidak banyak lagi yang mereka perbincangkan, sekali-sekali Kiai Rancangbandang memberikan beberapa petunjuk tentang daerah yang pernah mereka lalui, memeberitahukan beberapa nama padukuhan kecil yang terselip diantara hutan-hutan perdu.

“Apakah penghuni padukuhan itu tidak pernah berpikir untuk untuk mencari daerah baru yang lebih baik Kiai” bertanya Panon.

“Mereka justru sedang mulai membuka daerah baru” jawab Kiai Rancangbandang.

“Kenapa di daerah pegunungan seperti ini?, kenapa mereka tidak saja turun ke daerah ngarai?”

“Keluarga mereka, orang tua mereka dan kakek serta nenek mereka adalah cikal bakal daerah sekitar jalur jalan ini, dengan demikian, maka mereka pun telah membuka daerah baru yang tidak begitu jauh dari sanak kadang mereka”

Panon Suka mengangguk-angguk, ia mulai membayangkan daerah dan padukuhannya sendiri, juga di lereng seperti yang sedang ditempuhnya itu, tetapi di lereng Gunung Merbabu.

“Daerah lereng Gunung Merbabu nampaknya lebih subur” desisnya di luar sadarnya.

Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, katanya, “Tanah di lereng Gunung berapi, meskipun sudah jauh susut dan bahkan padam, memang manjadi jauh lebih subur dari pegunungan batu dan tanah liat seperti daerah ini, tetapi di musim hujan itu pun menjadi hijau karena air hujan.

Panon mengangguk-angguk.

“Tetapi ada daerah yang hampir tidak ditumbuhi pepohnan sama sekali, di sekitar bukit Paran dan Bukit Seruni nampaknya seperti sebuah padang kering, tetapi ada beberapa puncak bukit gundul yang sudah menjadi hijau, disekitar daerah Karangmaja bukit gundul itu menjadi hutan yang nampak indah sekali”

“Kenapa harus dibuat hutan buatan, bukankah daerah itu merupakan daerah yang dipenuhi oleh hutan yang sebenarnya?”

“Di lembah dan dataran berair, tetapi tidak di puncak-puncak bukit, beberapa tahun yang lampau, seroang pangeran yang terdesak dari Majapahit telah tinggal di daerah Karangmaja, ia membuat istana kecil yang sekarang menjadi pusat perhatian banyak orang itu, ialah yang mencoba menghijaukan puncak-puncak bukit gundul itu, dan agaknya ia berhasil, selain daerah itu menjadi hijau, ia sudah mengurangi arus air hujan yang membanjir ke lembah-lembah di bawahnya, yang kadang-kadang merusakkan hutan yang ada di lembah itu”,

Panon mengangguk-angguk, tetapi ia tidak begitu memahami keterangan Kiai Rancangbandang, di padukuhannya pepohonan tumbuh di lereng gunung dengan subur dan lebatnya, tidak usah dengan menghijaukannya seperti bukit-bukit gundul di daerah Gunung Sewu ini, sehingga padukuhannya terletak di lingkungan hutan yang lebat di lereng Gunung Merbabu.

Tetapi Panon Suka tidak mengatakannya, ia berdiam diri sambil mengamati keadaan di sekelilingnya yang nampak semakin pudar sejalan dengan surutnya matahari di ujung barat.

“Kita tidak akan sampai ke padukuhan itu hari ini juga” berkata Kiai Rancangbandang, “Kita harus bermalam di perjalanan”.

Panon Suka mengangguk-angguk, diamatinya daerah yang luas dan berbukit-bukit, lereng yang curam dan lembah yang dalam, dikejauhan nampak puncak-puncak yang gundul penuh dengan batu-batu yang berwarna keputih-putihan.

Tetapi semuanya sudah menjadi buram.

“Dimana kita harus bermalam Kiai, di dalam goa-goa yang dangkal atau di pepohonan?”

Kiai Rancangbandang mengerutkan dahinya, lalu, “Kita akan bermalam di pinggir saluran air di lembah itu”

Panon mengerutkan keninngya, lembah itu cukup dalam, dasarnya nampak seolah-olah kehitaman.

“Kita memerlukan air, sekarang dan juga besok pagi”

Keduanya kemudian menuruni tebing yang curam, meskipun cukup sulit, keduanya mempunyai ketrampilan yang memungkin-kan mereka dapat turun dengan selamat.

Di lembah iu mengalir sebatang sungai yang meskipun kecil, tetapi memberikan arti yang banyak bagi keduanya yang baru saja menempuh perjalanan, betapa segarnya tubuh mereka, ketika mereka kemudian mandi di air yang bening, bahkan mereka dapat meneguk untuk menghilangkan rasa haus yang serasa membakar tenggorokan.

“Kita dapat tidur nyenyak disini” berkata Kiai Rancangbandang, “Tidak ada orang yang akan mengusik kita kecuali harimua yang kebetulan saja hendak minum di tempat ini, tetapi sungai ini cukup panjang, sehingga kemungkinan harimau itu datang kemaripun kecil sekali, karena mereke dapat minum di daerah udik atau sebaliknya?”

“Ya Kiai” jawab Panon Suka, tetapi ia pun kemudian mengerutkan keningnya, ketika Kiai Rancangbandang meneruskan, “Meskipun demikian kita harus tetap berhati-hati, kita akan tidur bergantian agar kita benar-benar dapat tidur dengan tenang”

Panon mengangguk-angguk, ia sadar bahwa orang-orang tua biasanya lebih berhati-hati, apalagi di tempat yang kurang dikenal seperti lembah yang curam itu.

Setelah mereka mendapatkan tempat yang baik diatas batu-batu yang besar, maka mulailah mereka beristirahat, Panon Suka harus berjaga-jaga pada separuh malam yang terdahulu, baru setelah tengah malam, ia akan tidur dan membangunkan Kiai Rancangbandang.

Sejenak kemudian, ketika lembah itu menjadi hitam kelam oleh malam yang turun di lereng itu, Kiai Rancangbandang sudah mendengkur, seolah-olah tidak ada persoalan apapun yang dipikirkannya, demikian ia berbaring, demikian ia tertidur.

Panon Suka hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, ia sendiri digelisahkan oleh tugasnya dan kenyataan bahwa di atas pegunungan Sewu telah berkumpul beberapa orang yang mempunyai maksud yang sama, datang ke istana kecil itu.

Namun agaknya udara yang dingin dan angin yang basah membuat perasaannya menjadi ngelangut.

Tetapi Panon Suka bertahan sempai tengah malam, ketika bintang gubuk Penceng tegak diatas di ujung selatan bumi, barulah ia mendekati Kiai Rancangbandang.

Ternyata Panon tidak usah membangunkannya, kerena Kiai Rancangbandang sudah bangkit sambil menguap.

“Aku tidur nenyak sekali, mudah-mudahan kau pun dapat tidur nyenyak ngger”

Panon mengangguk, dan ia pun kemudian merebahkan tubuhnya diatas sebuah batu, betapapun perasaannya diganggu oleh kegelisahan dan kadang-kadang kecurigaan, namun ia pun akhirnya jatuh tertidur pula.

Panon tidak tahu, betapa nyenyaknya ia tertidur, ketika ia bangun, maka ia melihat sebuah perapian kecil di pinggir sungai, Kiai Rancangbandang duduk sambil memeluk lututnya, kain panjangnya diselubungkannya pada pundaknya.

Panon mengerutkan keningnya ketika ia melihat sesuatu di tangan Kiai Rancangbandang, sesuatu yang dipanggangnya diatas perapian kecil itu.

Perlahan-lahan Panon bangkit dan mencoba mengamat-amatinya, namun agaknya Kiai Rancangbandang sudah melihatnya terbangun berkata, “Aku mendapat seekor pelus yang naik ke pasir, cukup untuk makan pagi kita berdua”

Panon menarik nafas dalam-dalam, ternyata Kiai Rancangbandang sedang memanggang sepotong daging pelus yang besar, yang tentu agak sulit untuk menangkapnya, karena kulit pelus yang sangat licin.

Perlahan-lahan Panon mendekatinya, sambil tersenyum ia berkata, “Kiai pandai menangkap pelus”

“Sejak kanak-kanak aku hidup di pinggir sungai, padepokankupun terletak tidak jauh dari kali opak, aku memang seorang yang ahli mencari ikan sungai”

Panon mengangguk-angguk.

“Cucilah mukamu, dan marilah kita makan pagi sebelum kita meneruskan perjalanan mendaki bukit”

Panon pun pergi ke sungai untuk mencuci mukanya, nampaknya di sungai itu memang banyak terdapat ikan, karena nampaknya jarang orang yang menangkap sampai ke tempat yang membelah lembah yang curam itu.

Sejenak kemudian, setelah makan pagi, maka mereka pun segera brsiap-siap, langir masih nampak gelap, tetapi semburat merah sudah mulai membayang.

“Sebentar lagi fafar akan menyingsing, dan kita akan meneruskan perjalanan ssebagai dua orang pengembara” kata Panon perlahan.

“Apakah pakaian kita terlampau baik bagi seorang pengembara?” bertanya Kiai Rancangbandang.

Panon mengamati-amati bajunya, namun kemudian ia menggeleng, “Mungkin tidak, tetapi bagaimana dengan keris yang Kiai bawa itu?”

Kiai Rancangbandang mengerutkan keningnya, namun kemudian ia pun berkata, “Aku akan menyimpannya di bawah bajuku, diatas Gunung Sewu dalam keadaan ini, kita masing-masing memang harus bersenjata”

Panon mengangguk-angguk.

“Agaknya senjatamu agak lain dengan senjata pada umumnya” berkata Kiai Rancangbandang.

Panon meraba ikat pinggangnya, terasa tangannya menyentuh tangkai pisau belatinya yang berderet di ikat pinggangya, meskipun pisau itu hanyalah pisau kecil yang dibuat oleh pandai besi di padesannya.

Sejenak kemudian, ketika langit menjadi semakin cerah, mereka segera memanjat tebing, menerobos pepohonan perdu yang tumbuh di lereng yang curam itu.

Ketika Panon Suka sampai keatas, maka ia pun menggeliat sambil menghirup udara pagi yang segar, seolah-olah ia baru saja keluar dari sebuah ruangan yang gelap dan pengap.

Maka sejenak kemudian keduanya pun melanjutkan perjalanan mereka menuju padukuhan Karangmaja, namun perjalanan mereka kemudian adalah perjalanan yang sudah mulai menyentuh daerah yang berbahaya bagi mereka.

“Sudah dekat” berkata Kiai Rancangbandang, “Nah, apakah kau akan memanggilku dengan namaku?, mungkin satu atau dua orang yang ada di daerah ini, pernah mendengar namaku, jika diantara mereka ada yang pernah turun ke daerah tepian Kali Opak di ujung Gunung Baka”

Panon Suka mengerutkan keningnya, gumamnya “Bagaimanakah sebaiknya Kiai?”

Kiai Rancangbandang termenung sejenak, kemudian katanya, “Panggil aku Mina, Ki Mina”

Panon mengangguk-angguk, katanya, “Kiai menginggatkan aku akan keahlian Kiai menangkap ikan”

“Menangkap Mina” kata Kiai Rancangbandang, “Nah, mulailah panggil aku Ki Mina”

Dengan demikian maka di sepanjang jalan, Panon memanggil kawan seiringnya dengan nama samarannya, Ki Mina. Dan dalam hubungan mereka, Panon menyebutnya sebagai pamannya.

Matahari yang telah sampai ke puncak langit pun segera miring ke barat, sementara dua orang pengembara itu masih tetap berjalan di atas pegunungan berbatuan padas.

Semakin dekat mereka dengan padukuhan Karangmaja, mereka pun menjadi semakin berhati-hati, meskipun mereka masih belum melihat sesuatu yang dapat menghambat perjalanan mereka.

Dalam pada itu, padukuhan Karangmaja nampaknya masih di selubungi oleh kehidupan sewajarnya, dua orang yang berada di banjar, masih tetap mendapat rangsum makan dan minum. Kidang Alit masih juga selalu pergi ke sungai dan mengganggu gadis-gadis mandi, tetapi bahwa gadis-gadis itu kadang-kadang justru menunggunya.

Beberapa orang yang berada di daerah Karangmaja, nampaknya masih belum menumbuhkan gangguan yang dapat menyulitkan kehidupan penghuninya, selain kegelisahan perasaan.

Namun ternyata bahwa Karangmaja sebenarnya sedang dibayangi oleh sekelompok orang-orang dari perguruan Guntur Geni yang dipimpin langsung oleh orang yang terpercaya, Kiai Paran Sanggit.

Tetapi agaknya Kiai Paran Sanggit tidak langsung mendekati istana kecil itu, ia masih mempunyai banyak pertimbangan bahwa ternyata Karangmaja terdapat banyak orang yang mempunyai kepentingan yang sama dan memiliki ilmu yang harus dipertimbangkan.

Meskipun demikian, sekali-kali Kiai Paran Sanggit berusaha untuk dapat mendengar berita tentang Karangmaja, karena itulah maka, kadang-kadang ia mengirimkan orangnya untuk pergi ke tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang.

“Orang-orang Karangmaja sering menukarkan barangnya ke padukuhan lain” berkata Kiai Parang Sanggit, “Dan kadang-kadang mereka menjual ternaknya di pasar yang meskipun agak jauh tetapi memberikan banyak kesempatan untuk mendapatkan barang-barang yang mereka butuhkan. Tidak banyak orang Karangmaja yang menenun pakaian, tetapi orang-orang Karangmaja banyak membuat barang-barang dari besi untuk alat-alat pertanian, bahkan agak lebih baik dari padukuhan yang lain. Karena orang-orang Karangmaja mendapat beberapa petunjuk dari Pangeran Kuda Narpada, karena itu, usahakan untuk dapat mendengar tentang Karangmaja, tetapi di Karangmaja agar tidak dicurigai dan langsung berbenturan dengan orang-orang dari Cengkir Pitu dan Kumbang Kuning”

Dua orang dari Guntur Geni itu dengan mempergunakan pakaian petani biasa, agar tidak menimbulkan kecurigaan, pergi ke pasar di padukuan yang sering dikunjungi bukan saja oleh orang-orang Karangmaja, tetapi oleh padukuhan lain di sekitarnya, sehingga dengan demikian maka kehadiran orang baru tidak banyak menarik perhatian.

Namun pesan Kiai Paran Sanggit kepada anak buahnya adalah, bahwa mereka tidak boleh sama sekali mengganggu orang-orang Karangmaja agar tidak menmbulkan persooalan-persoalan yang dapat mengganggu usaha mereka yang lebih besar dan yang terpenting di istana yang terpencil itu.

Di tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang, bahkan dari beberapa padukuhan, Karangmaja memang menarik perhatian dan banyak dibicarakan justru karena perkembangan keadaannya yang terakhir, beberapa orang menjadi saling bertanya-tanya, apalagi jika mereka bertemu langsung dengan orang-orang Karangmaja di pasar atau di tempat lain, mereka selalu bertanya, apa yang telah terjadi di padukuhan itu.

“Nampaknya kami dapat hidup seolah-olah seperti biasa” berkata salah seorang dari Karangmaja yang berada di pasar yang ramai, pusat pertemuan orang-orang dari beberapa padukuhan, “Tetapi sebenarnyalah bahwa kami selalu dibayangi oleh perasaan cemas tentang hari depan padukuhan kami”

“Apakah orang-orang yang datang ke padukuhanmu tidak saling mengganggu, atau menganggu penghuni padukuhan?”

“Sampai sekarang mereka tidak berbuat begitu, selain dua orang yang mereka lukai karena sebab yang tidak begitu jelas, tetapi keduanya telah disembuhkan oleh seorang pendatang yang masih muda yang bernama Kidang Alit”

“Untunglah ada seorang anak muda yang bernama Kidang Alit itu”

“Uh, tetapi ia pun mencemaskan kami orang-orang tua, terutama yang mempunyai anak gadis”

“Kenapa?”

“Ia adalah seorang anak muda yang sering memburu gadis-gadis cantik di padukuhan kami, celakanya, gadis-gadis kami juga senang sekali bergaul dengan anak muda yang tampan dan ramah itu”

“Kalian masih terlampau kaku menghadapi pergaulan anak muda”

“Mula-mula tidak, tetapi ketika sudah ada dua orang gadis yang mengandung, karenanya kami menjadi gelisah”

“O…..” orang-orang yang mendengar percakapan itu mengangguk-angguk.

“Padukuhan kami memang sedang suram”

Kawan-kawannya dari padukuhan lain hanya dapat berkata, “Kasihan, istana itu pada suatu saat mendatangkan kegembiraan, bagi Karangmaja, tetapi disaat yang lain mendatangkan kegelisahan dan bahkan mungkin bencana”.

Demikianlah pembicaraan mereka berkepanjangan, sampai suatu saat orang-orang Karangmaja bercerita tentang tiga orang yang kasar, yang berada di Banjar, dua diantara mereka terbunuh di istana kecil itu, tetapi kemudian datang lagi kawan-kawan mereka dan tinggal di banjar pula. Meskipun hanya dua orang tetapi akibatnya hampir sama. Makan, minum dan bahkan permintaan-permintaan yang memberatkan kami.

Orang-orang Karangmaja itu sama sekali tidak menyadari, bahwa pembicaraan mereka didengar oleh dua orang yang berdiri saja di dekat mereka, nampaknya kedua orang itu sama sekali tidak memperhatkan pembicaraan itu, tetapi hampir setiap kata selalu diingatnya, terutama, ceritera tentang dua orang baru yang ada di banjar.

“Gila” desis salah satu seorang dari kedua orang Guntur Geni yang dengan seksama mendengarkan ceritera itu, “Siapakah yang telah berani mengaku orang-orang dari Guntur Geni?”

“Mereka sama sekali tidak menyebutkan perguruan Guntur Geni, tetapi dua orang yang kasar, yang mirip sifat dan sikapnya dengan tiga orang yang terdahulu”

“Apakah orang-orang Guntur Geni kasar dan rakus?”

Kawannya mengerutkan keningnya, ternyata ia mencoba untuk menilai kawan-kawannya, kemudian berkata, “Agaknya memang demikian, sebutkan seorang diantara kita yang tidak bersikap kasar, Kiai Paran Sanggit barangkali?”

“Ia adakah orang yang paling kasar diantara kita”

“Nah, jika demikian, benarlah bahwa orang-orang Guntur Geni adalah orang-orang yang kasar”

“Tetapi tidak semua orang kasar dan liar adalah orang-orang Guntur Geni”

“Kau benar, tetapi hal ini merupakan persoalan bagi kami, kebencian dan dendam orang-orang Karangmaja kepada kedua orang itu akan ditumpahkan kepada orang-orang Guntur Geni, Kiai Paran Sanggit sudah berpesan agar kita tidak berbuat apa-apa, dan melukai hati orang-orang Karangmaja, bahwa diantara kami telah mengorbankan seorang anak muda Karangmaja untuk menunjukkan kemampuan dan kekasarannya, itu sudah cukup, tetapi salah seorang dari kedua orang yang sekarang berada di banjar itu telah melakukan perbuatan serupa?

“Kita harus melaporkannya”

Kedua orang itu masih berusaha mendengarkan beberapa keterangan tentang Karangmaja, tetapi tidak banyak yang mereka dengar lagi, karena hari menjadi siang, dan pasar itu pun menjadi semakin sepi.

“Kita akan kembali” desis salah seorang dari keduanya.

Kawannya mengangguk-angguk, tetapi matanya tersangkut pada seorang perempuan yang sedang menjual daun pisang di dalam bakulnya.

“Ingat, jangan membuat persoalan disini” desis kawannya.

Yang lain tersenyum, katanya, “Baiklah, aku pun tidak berbuat apa-apa, aku hanya sekedar memandang kecantikannya yang lugu itu saja”

“Setan alas, kau benar-benar hantu bagi perempuan”

“Kau sendiri bagaimana?”

“Tentu tidak”

“Tetapi isterimu berjumlah tiga orang, sementara kau masih saja bertualang seperti sekarang”

“Mereka hanya memerlukan aku, bukan nafkah, kerena mereka sudah dapat mencari makan sendiri”

Keduanya tidak berbicara lagi, yang seorang menarik tangan yang lain sambil bergumam, “Kita menghadap Kiai Paran Sanggit”

Demikianlah keduanya pun kemudian meninggalkan pasar yang sudah mulai sepi itu, dengan gelisah mereka mencoba menebak siapakah yang berada di banjar padukuhan Karangmaja itu, yang dianggap oleh sebagian dari orang-orang Karangmaja sebagai kawan tiga orang yang terdahulu.

Dalam pada saat itu, bukan orang-orang Guntur Geni itu sajalah yang mendengarkan ceritera tentang Karangmaja, di dalam pasar itu, selain orang-orang Guntur Geni itu, dua orang lainnya telah mendengarkan ceritera-ceritera semacam itu dengan seksama.

“Nah, kau dengar” desis yang tua kepada yang muda.

Yang muda mengangguk-angguk, katanya, “Ya, Ki Mina, aku mendengar”

“Masih banyak yang dapat kita dengar di dalam hubungan semacam ini, ada baiknya kita langsung berhubungan dengan orang-orang Karangmaja” jawab Ki Mina.

Panon Suka ragu-ragu sejenak, lalu, “Apakah hal itu tidak akan dapat menimbulkan kecurigaan mereka?”

“Mungkin, tetapi kita harus berusaha dengan sangat berhati-hati”

“Tetapi pasar itu telah menjadi sepi”

“Mungkin di warung-warung kita masih dapat bertemu dengan mereka”

Tetapi memang sulit untuk membedakan, yang manakah orang Karangmaja dan dan manakah yang datang dari padukuhan lain, namun dengan menunggu dan mendengarkan pembicaraan mereka beberapa saat, maka Kiai Rancangbandang yang disebut Ki Mina itu pun segera mengetahuim bahwa salah seorang dari mereka yang sedang berada di sebuah warung itu adalah orang Karangmaja.

“Kau dengan percakapan itu” bisik Kiai Rancangbandang yang masih berdiri di muka sebuah warung.

Panon mengangguk-angguk.

“Marilah kita masuk, mumpung tidak ada terlalu banyak orang yang ada di dalamnya”

Keduanya pun segera memasuki warung itu dan duduk di dekat orang Karangmaja yang sedang makan dengan lahapnya setelah ia menghabiskan dagangannya.

“Maaf Ki Sanak” kata Ki Mina.

“Silahkan” sahut orang Karangmaja itu.

Sejenak Ki Mina dan Panon Suka pun minta disediakan dua mangkuk minuman panas.

Untuk beberapa saat mereka masih dapat mendengar, seseorang yang berbicara dengan orang Karangmaja itu. Sekali-sekali diselingi gelak tertawa jika orang Karangmaja itu disela-sela kesibukannya mengunyah makanannya berceritera tentang padukuhannya dengan cara yang lucu.

Ternyata Kiai Rancangbandang dan Panon Suka tidak perlu bertanya lagi kepadanya, karena orang itu telah berceritera pula tentang istana kecil itu.

“Jadi ada seorang Pangeran yang lain yang tinggal disana?”

“Aku tidak tahu apakah ia Pangeran atau bukan, tetapi ia adalah keluarga dari Pangeran Kuda Narpada”

Orang yang bertanya itu mengangguk-angguk, tetapi keinginan yang mendesak agaknya tidak tertahan lagi, sehingga Kiai Rancangbandang menyela, “Siapakah nama bangsawan itu Ki Sanak?”

Orang Karangmaja itu berpaling, ditatapnya Kiai Rancangbandang yang kemudian menunduk sambil menghirup minuman panasnya.

“Kuda Rupaka” jawab orang Karangmaja itu kemudian, “Ialah yang sudah membunuh dua orang penjahat yang barangkali akan merampok rumah Pangeran Kuda Narpada yang sebenarnya sudah kosong itu”

“Kosong?” Panon Suka bertanya.

“Ya, yang tinggal hanyalah perabot-perabot rumah tangga yang besar-besar, namun tidak cukup berharga. Selama ini isi istana itu harus makan, karena itu kadang-kadang mereka terpaksa menjual sesuatu meskipun orang-orang Karangmaja sering juga datang membantu dengan bahan-bahan mentah. Tetapi Raden Ayu Kuda Narpada tidak mau terlalu banyak merepotkan orang-orang Karangmaja yang kekurangan”

“Jadi siapakah yang sudah dibunuh oleh bangasawan itu?”

“Tidak banyak yang kami ketahui” jawab orang itu, “menurut Ki Buyut, orang-orang itu disebutnya berasal dari perguruan Guntur Geni”

Kiai Rancangbandang menarik nafas dalam-dalam, benar-benar perguruan Guntur Geni telah berada di bukit itu. Dan bahkan seperti yang didengarnya, ada beberapa pihak telah saling berbenturan, apa lagi di dalam istana kecil itu telah tinggal seorang bangsawan yang bernama Kuda Rupaka.

“Apakah bangsawan itu bermaksud baik atau sebaliknya?” bertanya Kiai Rancangbandang di dalam hatinya.

Tetapi ia tidak bertanya apapun lagi, dihirupnya minumannya dan dikunyahnya beberapa potong makanan, agaknya Panon pun telah merasa cukup, bukan saja perutnya terlah terisi, tetapi keterangan yang didengarnya telah cukup banyak.

Demikianlah ketika orang Karangmaja itu meninggalkan warung itu, maka Kiai Rancangbandang dan panon Suka pun membayar harga mekanan mereka dan keluar pula dari warung. Diluar Ki Rancangbandang masih sempat bertanya, dagangan apakah yang dibawa oleh orang Karangmaja itu.

“Kau tahu bahwa aku berjualan disini dan kalian tidak berbelanja” bertanya orang Karangmaja itu.

“Kau tidak membawa apa-apa Ki Sanak”

Orang itu tertawa, agaknya ia memang senang berkelakar, jawabnya kemudian, “Aku menjual barang-barang dan alat-alat dari besi, aku adalah pandai besi, bukan saja pandai besi, tetapi aku juga dapat membuat senjata yang baik, ayahku seorang mpu keris yang ternama di Karangmaja, dan aku pun sedang mempelajari dengan tekun”

“Bagus sekali” jawab Kiai Rancangbandang

“Barangkali keris yang kau pakai itu juga buatan ayahmu?”

“Ya, lihat” katanya sambil menghunus kerisnya.

“O” desis Kiai Rancangbandang, “Bagus sekali”

Dengan bangga orang itu pun kemudian pergi meninggalkan Kiai Rancangbandang yang tersenyum, “Tidak lebih baik dari sebuah pisau dapur”

Panon mengerutkan keningnya, diluar sadarnya ia pun bergumam, “Tidak banyak bedanya dengan pisau-pisau belatiku, Paman”

Kiai Rancangbandang tersenyum, katanya, “Memang tidak banyak bedanya, pisau-pisau yang dibuat oleh pandai besi yang tidak banyak mengetahui tentang wesi aji, tetapi baik pisau-pisau belatimu yang berjumlah cukup banyak itu maupun keris yang tidak lebih baik dari pisau dapur itum ditanganmu akan menjadi senjata yang barangkali lebih baik dari pusaka yang manapun juga”

“Ah, Paman selalu memuji seperti Ki Ajar Respati”

Kiai Rancangbandang tertawa, dipandanginya orang Karangmaja yang sudah menjadi semakin jauh.

“Nah, kita sekarang sudah mendapat gambaran yang agak jelas tentang Karangmaja, sebuah padukuhan yang nampaknya masih tetap tenang, tetapi yang sebenarnya diliputi oleh kemelutnya api yang membara didalam sekam, setiap saat akan dapat menjilat keudara dan membakar padukuhan itu menjadi hangus”

“Untunglah aku datang ke padukuhan ini dengan Kiai” berkata Panon, “Jika aku pergi sendiri, mungkin aku akan menjumpai banyak kesulitan”

“Kau akan mengatasinya meskipun mungkin memerlukan waktu yang agak lama”

“Guru tidak banyak memberikan petunjuk tentang kemungkinan-kemungkinan yang ternyata telah terjadi di atas Gunung Sewu”

“Bukan salah gurumu, karena gurumu tidak dapat bergerak dengan bebas karena keadaan jasmaniahnya, maka ia tidak banyak mengetahui dan mendengar tentang padukuhan di atas Gunung Sewu ini”

Panon Suka mengangguk-angguk, kemudian katanya, “Jadi bagaimana sebaiknya paman, apakah kita langsung masuk ke istana itu atau kita menunggu kesempatan yang paling baik?”

“Angger” berkata Kiai Rancangbandang, “Kita tidak tahu, apakah benar para bangsawan yang ada di istana itu dapat dipercaya, dalam keadaan seperti sekarang ini, kita memang wajib bercuriga terhadap siapapun juga, juga kepada keluarga sendiri, karena ia hadir justru setelah Pangeran Kuda Narpapda tidak ada di istana itu”

“Tetapi bagaimana mungkin kita dapat masuk ke dalam istana itu tanpa diketahui oleh kedua bangsawan yang ada di dalamnya?”

“Kita akan mencari jalan, tentu kedua bangsawan itu tidak akan berada di istana itu siang dan malam, pada suatu saat mereka sekali-sekali akan keluar, entah untuk keperluan apa”

“Tetapi jika demikian, seandainya mereka benar-benar mempunyai pamrih, apakah selama itu tidak akan terjadi sesuatu?”

Kiai Rancangbandang menarik nafas dalam-dalam, ia mengetahui dari pembicaraan-pembicaraan yang didengar di pasar tentang kemampuan bangsawan itu, yang dapat mengetahui keadaan seseorang yang sedang terluka dengan rabaan jarinya, dan bahwa ia telah membunuh orang yang memasuki istana itu dengan maksud jahat.

Maka itu maka dengan ragu-ragu Kiai Rancangbandang pun berkata, “Kita harus berhati-hati sekali, meskipun kita datang dengan wajah pengemis sekalipun, kita akan tetap dicurigai”

“Jadi?”

“Kita harus benar-benar menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan, agaknya kita tidak akan terlepas sama sekali dari suatu tindakan kekerasan menghadapi keadaan di sekitar istana kecil itu”

“Panon mengangguk-angguk, katanya, “Agaknya guru pun mempertimbangkan pula, jika tidak, maka guru tentu tidak perlu memberikan bekal ilmu kanuragan kepadaku”

Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, lalu “Karena itu, jangan terlampau mengalah menghadapi setiap persoalan sebelum kita terlambat mengambil sikap, kau agaknya terlampau sabar menghadapi keadaan, agaknya sikap itu baik sekali kau trapkan pada saat-saat lain, kecuali menghadapi keadaan seperti di atas Gunung Sewu itu”

Panon mengangguk-angguk pula, ia menyadari keadaan yang sedang dihadapinya, agaknya memang bukan sekedar memelihara perasaan dan sikap yang lemah lembut.

“Angger, jika kau sudah bersiap, marilah kita mendekat, apapun yang akan kita hadapi, kita sudah mempertimbangkan kemungkinannya”

“Paman” berkata Panon Suka, “Agaknya keadaan diatas Gunung Sewu itu benar-benar gawat, aku tidak berpikir tentang Paman, aku berterima kasih sekali atas semua kebaikan hati paman, tetapi jika kebaikan hati itu harus dilengkapi dengan kemungkinan yang pahit bagi keselamatan paman, maka agaknya itu sudah terlampau banyak, apakah aku dapat menerima kebaikan hati yang berlebih-lebihan itu?”

Kiai Rancangbandang tertawa katanya, “Kau benar-benar seorang anak muda yang dewasa, kau memiliki daya pikir yang kuat dan mendasar” ia berhenti sejenak, lalu, “Anakmas, aku mengerti perasaanmu, tetapi baiklah kau singkirkan saja sejauh-jauhnya, aku sudah dengan sengaja mengikutimu sampai ke daerah Karangmaja, aku pergi dengan penuh kesadaran atas segala akibatnya”

Panon menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Terima kasih Paman, agaknya tidak ada jalan yang dapat aku tempuh untuk membalas kebaikan hati Paman ini”

“Jangan kau pikirkan, dengan demikian kau akan menambah beban perasaanmu saja, marilah kita mulai dengan kerja yang bagimu sangat penting, juga buat masa depan Demak yang baru tumbuh”

Panon tidak menjawab, terasa sesuatu menyesak dadanya, namun kemudian ia pun menggerakkan giginya, seolah-olah memantapkan tekadnya untuk melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya, bahkan sampai kemungkinan yang paling buruk sekalipun bagi hidupnya.

Karena itulah, maka mereka berdua pun dengan hati-hati berusaha mendekati padukuhan Karangmaja yang meskipun nampaknya masih tetap tenang, tetapi agaknya bagaikan bisul yang sudah masak untuk pecah.

Berbagai pihak yang ada di sekitar Karangmaja telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, semua mata seolah-olah setiap saat tertuju kepada istana kecil yang terpencil itu. Istana yang sudah suram setelah ditinggalkan oleh Raden Kuda Narpada.

***

Sementara itu, Raden Kuda Rupaka yang berada di istana kecil itu pun menjadi gelisah pula, ia mengetahui dengan pasti, bahwa di sekitar istana itu tentu telah bersiap beberapa pihak yang dapat membahayakan istana kecil itu bersama penghuninya.

Karena itulah, maka ia pun selalu memperingatkan Inten Prawesti agar ia tidak keluar dari istana tanpa pengawasannya, karena ternyata anak muda yang bernama Kidang Alit itu memiliki berbagai macam cara untuk menjeratnya, mungkin karena sentuhan perasaannya sebagai seorang laki-laki terhadap seorang gadis, tetapi mungkin pula karena maksud-maksud tertentu yang tersembunyi.

“Angger Kuda Rupaka” bertanya Raden Ayu Kuda Narpada ketika kegelisahan yang sangat telah menyentuh hatinya, “Rasa-rasanya rumah ini telah dikitari oleh bayangan yang buram, bahkan telah terjadi malapetaka yang untung masih dapat diatasi olehmu, apakah panasnya api yang mengelilingi dinding halaman ini?”

Kuda Rupaka termangu-mangu sejenak, sekilas ditatapnya wajah Panji Sura Wilaga, namun kemudian ia pun menggeleng-kan kepalanya sambil menjawab, “Aku tidak tahu bibi, justru sebenarnya akulah yang harus bertanya kepada bibi, apakah ada sesuatu yang merupakan daya tarik dari orang-orang yang tidak dikenal itu untuk datang ke istana ini”

“O…” Raden Ayu Kuda Narpada menjadi heran, “Aku tidak mengerti, menurut hematku, isi istana ini justru sudah hampir habis, maksudku, barang-barang yang berharga, yang ada hanyalah perabot-perabot yang aku kira tidak ada harganya”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya kemudian, “Tentu mereka menduga bahwa ada sesuatu yang berharga di istana ini, sehingga beberapa orang dari lingkungan yang berbeda telah datang, “

Raden Ayu Kuda Narpada menjadi semakin prihatin, ia tidak tahu pasti apa yang terjadi di luar istananya, tetapi firasatnya yang telah menggelisahkannya. Apalagi setelah dua terbunuh di halaman rumahnya, suara seruling yang seakan-akan telah membius anak gadisnya, dan perasaan yang kadang-kadang tidak menentu dan menggelisahkan.

Ketika Raden Ayu Kuda Narpada meninggalkan Raden Kuda Rupaka, maka anak muda itu berbisik di telinga Panji Sura Wilaga, “Bibi tidak mengetahui apapun tentang kemungkinan adanya barang-barang berharga di istana ini”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, namun kemudian katanya, “Raden, apakah tidak sebaiknya Raden berterus terang kepada Raden Ayu Kuda Narpada bahwa sebenarnyalah orang-orang yang kini berdatangan ke Karangmaja adalah justru karena istana kecil ini, dengan demikian Raden Ayu mendapat gambaran, betapa rumitnya kedudukannya sekarang, justru setelah Pangeran Kuda Narpada tidak ada lagi”

Kuda Rupaka mengerutkan alisnya, lalu, “Apakah yang harus aku katakan kepada bibi?”

“Istana ini dengan dengan segala isinya harus diselamatkan”

“Ya” wajah Kuda Rupaka tiba-tiba saja telah menyala, “Harus diselamatkan” namun suaranyapun kemudian menurun, “Tetapi sulit untuk keluar dari istana ini sekarang”

“Kita harus bertempur jika ada yang mencoba menghalangi, mudah-mudahan saudara seperguruan Raden dapat melihat kehadiran orang-orang asing di istana ini dan ikut bertanggung jawab atas keselamatan isi istana ini”

“Aku kira bahwa Kamas Bramarasa telah mengetahui kehadiran orang-orang dari Guntur Geni, Kumbang Kuning dan barangkali dari perguruan-perguruan yang lain”

“Tetapi apakah Raden Bramarasa juga akan hadir ditempat ini?”

“Aku yakin, guru tidak akan membiarkan kita berdua terjebak tanpa dapat keluar lagi dari daerah ini, meskipun barangkali kita berdua dapat mengatasi rintangan yang menghalangi jalan keluar dengan kekerasan, tetapi agaknya terlampau berbahaya untuk melakukannya tanpa orang lain. Kita tidak tahu jumlah yang sebenarnya dari orang-orang Guntur Geni, Kumbang Kuning dan perguruan lainnya”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, namun kemudian, “Tetapi semakin lama daerah ini nampaknya menjadi semakin ramai”

“Yang penting, kita selamatkan istana ini, baru kemudian kita akan menentukan sikap untuk mengamankannya lebih lanjut, jika Kamas Bramarasa tidak berbuat sesuatu, maka segalanya memang terserah kepada kita”

“Semula semuanya sudah diserahkan kepada tanggung jawab kita berdua Raden”

“Tetapi kehadiran orang-orang Guntur Geni dan Kumbang Kuning kurang mendapat perhatian guru dan kamas Bramarasa”

“Sekarang mereka telah hadir disini”

“Nah, barangkali hal itu akan mendesak kamas Bramarasa untuk hadir pula di daerah ini, namun kita tidak menggantungkannya kepada pertolongan itu, kita harus membuat perhitungan tersendiri untuk keselamatan isi istana ini”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, lalu, “Tetapi kita belum mengetahui keadaan sebenarnya dari halaman yang tidak begitu luas ini Raden”

“Kita akan melihatnya malam nanti, aku tidak ingin menggelisahkan bibi dan diajeng Inten Prawesti”

Panji Sura Wilaga masih mengangguk-angguk, ia sependapat dengan Kuda Rupaka, setiap langkah yang nampaknya aneh, tentu akan dapat menggelisahkan Raden Ayu Kuda Narpada, sehingga karena itu maka semuanya dilakukannya dengan hati-hati.

Seperti yang mereka rencanakan, maka ketika malam manjadi gelap, Kuda Rupaka berbisik kepada Panji Sura Wilaga, “Paman, apakah semuanya sudah tidur?”

“Nampaknya sudah sepi Raden, barangkali kita dapat mulai melihat-lihat halaman ini lebih seksama, jika kita pernah melakukannya, hanyalah sepintas lalu saja tanpa dapat mengamati setiap keadaan yang pantas mendapat perhatian”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya, “Marilah, jangan membangunkan siapapun juga”

Keduanya pun kemudian dengan hati-hati keluar dari biliknya, dengan hati-hati pula mereka membuka pintu pringgitan.

“Tutup pintu itu kembali paman” bisik Kuda Rupaka.

Keduanya pun kemudian melintasi pendapa dan turun ke halaman, namun sejenak kemudian, mereka telah menyelusuri halaman samping sampai ke halaman belakang.

Dengan ketajaman pandangan mata mereka, keduanya mencoba mencari sesuatu yang menimbulkan dugaan bahwa di dalamnya tersimpan sesuatu yang telah merangsang perguruan-perguruan bahkan dari tempat yang jauh untuk datang ke Karangmaja.

“Tentu ada sesuatu di istana kecil ini” desis Raden Kuda Rupaka, “Diketahui atau tidak diketahui oleh bibi”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, katanya, “Tetapi kita tidak melihat tanda-tanda apapun yang dapat mengatakan, bahwa memang ada sesuatu itu”

Raden Kuda Rupaka pun mengangguk-angguk, katanya, “Jika memang ada dan kita tidak melihat tanda-tanda apapun, maka agaknya paman Kuda Narpada telah menyembunyikan sebaik-baiknya, di dalam atau di luar rumah, bahkan bibi sama sekali tidak mengetahuinya”

Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam, dengan nada datar ia menyahut, “Dengan cara ini memang sulit untuk mengetahui Raden, apakah tidak sebaiknya, Raden mencoba bertanya langsung kepada bibi Raden”

Raden Kuda Rupaka termenung sejenak, lalu katanya, “Jika tidak ada jalan lain, aku akan bertanya kepada bibi”

“Atau kepada Puteri Inten Prawesti?”

“Ia tidak tahu apa-apa, sedangkan bibi, masih ada kemungkinan mengetahuinya”

Panji Sura Wilaga masih akan menjawab, namun tiba-tiba ia bergeser menepi sambil menggamit Raden Kuda Rupaka yang agaknya telah mengetahui pula, kehadiran orang lain yang tidak mereka kehendaki.

“Kita bersembunyi saja paman” desis Kuda Rupaka.

Keduanya pun kemudian meloncat ke balik sebatang pohon perdu yang rimbun, sehingga keduanya terlindung dalam kegelapan.

Namun Raden Kuda Rupaka pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Dalam kegelapan ia berbisik, “Aku sangka orang Kumbang Kuning atau orang Guntur Geni yang akan melihat-lihat kebun istana ini pula”

Panji Sura Wilaga mengumpat perlahan, “Anak-anak gila”

Dalam pada itu di dalam kegelapan, dua orang anak-anak muda sedang berjalan dengan ragu-ragu, bahkan keduanya saling mendorong.

“Kau kan laki-laki kakang”

“Kau jangan ribut saja Pinten” terdengar jawaban Sangkan, “Aku sudah mengantarkan sampai disini, tidak pantas aku ikut masuk ke pakiwan, cepatlah, aku juga ketakutan”

“Aku takut” desis Pinten.

“Masuklah, aku tunggu kau disini, tetapi jangan terlampau lama”

Sejenak keduanya berdiri termangu-mangu, namun Sangkan kemudian mendorong adiknya sambil berkata, “Jika kau terlalu lama, aku tinggal kau lari”

“Aku akan berteriak”

“Yang datang menolongmu kawan-kawan dari orang yang terbunuh di halaman, kemudian kau dibawanya ke banjar”

“Tidak mau, tidak mau” Pinten justru berpegangan kakaknya semakin erat.

Kuda Rupaka menjadi geli melihat tingkah laku kedua anak-anaknya Nyi Upih itu. Karena itu maka ia menggamit Panji Sura Wilaga sambil berbisik, “Anak-anak gila itu tidak akan segera pergi justru karena keduanya ketakutan”

“Aku ingin mencekiknya saja” geram Panji Sura Wilaga.

“Mereka akan tetap saling mendorong sampai pagi” desis Kuda Rupaka, “Biarlah aku mengawaninya, dengan demikian mereka akan cepat pergi.”

“Mereka akan menjadi manja sekali”

Tetapi Kuda Rupaka tersenyum katanya, “Pada suatu saat mereka akan mati ketakutan melihat peristiwa-peristiwa yang dapat terjadi di istana kecil ini”

“Sebaiknya mereka pergi agar mereka tidak menjadi beban saja disini”

“Mereka tidak lebih dari badut-badut yang pantas untuk lelucon, sekali-kali kita perlu mengendorkan urat syaraf kita yang selalu tegang”

Panji Sura Wilaga tidak menjawab, dibiarkannya Kuda Rupaka berdiri dan perlahan-lahan mendekati kedua anak-anak muda yang masih saja saling berpegangan.

Bab 17

“Cepat antarkan aku ke sumur” desak Pinten.

“Aku tunggu kau disini, cepatlah sebelum aku lari”

Tetapi Pinten menarik tangan kakaknya, “Aku akan menangis keras-keras, biar Puteri terbangun dan marah-marah kepadamu”

“Pasti kita akan diusir”

“Itukan salahmu”

“Kau memang manja sekali Pinten, kita bukan orang-orang besar yang pantas bermanja-manja, kau harus menjadi lebih berani sedikit”

“Majulah sedikit, berdirilah di depan pintu pakiwan”

Hampir saja Pinten menjerit, ketika tiba-tiba saja mereka melihat sesosok tubuh disamping mereka, untunglah sebelah tangan yang kuat telah menyumbat mulutnya, sehingga suaranya yang hampir terlontar itu telah tertelan kembali.

Perlahan-lahan tangan itu pun kemudian melepaskannya, yang terdengar kemudian adalah tertawa perlahan-lahan, “Kalian anak-anak dungu, penakut dan apalagi, kenapa kalian saling mendorong disini?”

Sangkan yang terkejut bukan buatan, seolah-olah tidak dapat mengucapkan sepatah katapun, nafasnya terengah-engah, dan tubuhnya menjadi gemetar.

“He,,!, ngapain kalian disini..!!”

“O…” nafas Sangkan masih tersengal, “Raden mengejutkan kami, hampir saja kami pingsan karenanya”

“Raden hampir saja membunuhku” suara Pinten terputus-putus,

“Jika aku tidak menyumbat mulutmu, kau tentu sudah berteriak, dan seisi rumah ini akan terbangun dan menjadi ribut” berkata Raden Kuda Rupaka yang sengaja mengejutkan mereka.

“Tetapi, jantungku hampir terlepas Raden” berkata Sangkan.

Kuda Rupaka masih tertawa, katanya, “He, kenapa kalian berada disini?”

“Pinten ingin pergi ke pakiwan Raden” jawab Sangkan, “Ia penakut sekali, ia tidak berani pergi sendiri”

“Apakau kau bukan penakut?, kau tidak berani mengantarkan adikmu mendekati pakiwan itu”

“Bukan tidak berani Raden, tetapi tidak pantas sekali, kecuali jika Pinten seorang anak kecil yang baru pandai berjalan, aku dapat mengantarkannya masuk ke pakiwan”

Kuda Rupaka tertawa berkepanjangan meskipun ia masih mencoba menahan tertawanya agar tidak didengar oleh orang-orang lain di dalam istana itu.

“Marilah aku antarkan sampai ke dalam pakiwan” berkata Kuda Rupaka.

“Ah” desis Pinten, “Tidak mau ah, malu”

“Nah, jika kemudian, pergilah. Biarlah kakakmu menunggu disini, aku pun berada disini, kenapa?, kau takut?”

Pinten menjadi ragu-ragu, tetapi ia pun kemudian terpaksa melangkah ke pakiwan sendiri yang tinggal beberapa langkah saja dihadapannya, namun setiap kali ia masih saja berhenti dan menoleh.

Tetapi tiba-tiba saja Kuda Rupaka melangkah maju, disambarnya tangan Pinten dan ditariknya mundur.

“Raden” Pinten berteriak pelan, tetapi Kuda Rupaka tidak menjawab, tetapi ia sendirilah yang kemudian meloncat maju.

“Raden, kenapa?” Tanya pinten.

Kuda Rupaka tidak menjawab, tetapi ia telah berdiri tegak menghadap kegelapan, tangannya tiba-tiba saja telah meraba hulu kerisnya yang tidak terpisah dari tubuhnya, dan digesernya ke lambung kanan.

Pinten dan Sangkan termangu-mangu, mereka memandangi saja Kuda Rupaka yang membelakangi mereka dengan sikap aneh.

“Jadi kau mencoba memasuki istana ini di malam hari?” tiba-tiba saja Kuda Rupaka bersuara.

Ternyata dari dalam kegelapan terdengar jawaban, “Suara gadis itulah yang menarik perhatianku, sebenarnya aku tidak mau memanjat dinding, tetapi karena suara gadis itulah aku ingin melihat, siapakah yang bergurau di malam buta seperti ini”

“Kami tidak bergurau” jawab Kuda Rupaka, lalu, “Tetapi seandainya kami bergurau sekalipun, apakah hakmu?, gadis itu sama sekali tidak berkepentingan dengan kau”

“Semula aku mengira bahwa suara perempuan itu adalah suara puteri Inten Prawesti, ternyata adalah suara gadis anak pelayan istana ini”

“Kau tidak berkepentingan dengan kedua-duanya” sahut Kuda Rupaka, lalu ia pun bertanya, “Nah, apakah yang kau kehendaki anak Kumbang Kuning?”

“Kau salah paham” jawab orang di dalam kegelapan itu, “Mungkin aku memang murid perguruan Kumbang Kuning, tetapi jika pengenalanmu adalah karena kau melihat seseoarang yang hadir dalam pertempuran di halaman istana ini antara kau dan anak-anak Guntur Geni, maka kau salah, orang itu bukan aku, dan dengan demikian kau keliru memperhitungkan keadaan”

Kuda Rupaka tertawa, katanya, “Aku tahu kau menyebut dirimu bernama Kidang Alit, mungkin nama itu bukan namamu yang sebenarnya, tetapi ciri Kumbang Kuning itu justru kau katakan sendiri malam itu”

“Kita sama-sama dihadapkan pada suatu teka-teki, siapakah orang yang hadir pada malam itu dan mengaku anak dari perguruan Kumbang Kuning, kau salah tebak, dan aku pun sama sekali tidak tahu siapakah orang itu”

“Apakah gunanya kau ingkar?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Sudahlah, kita tidak usah berbantah, aku hanya mohon, agar kalian tidak bergurau di malam yang gelap dan sepi ini. Suara seorang gadis yang renyah, membuat hatiku berdebar-debar”

Tiba-tiba saja diluar dugaan, Pinten bertanya dengan lugunya, “Apakah kau menginginkan diriku?”

“Hush..!!” Sangkan menutup mulut adiknya, sementara Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam.

Terdengar Kidang Alit tertawa, lalu, “Jangan bertanya apakah aku menginginkan dirimu, tetapi jika kau sempat, keluarlah dari halaman istana ini sekarang”

Tetapi yang menjawab adalah Kuda Rupaka, “Kidang Alit, setiap orang mengetahui sikapmu terhadap gadis-gadis, agaknya kau telah menaruh perhatian atas dua orang gadis yang ada di istana, meskipun mereka dalam kedudukan yang jauh berbeda, seorang Puteri dan seorang anak pelayan, tetapi bagimu kedua-duanya adalah gadis-gadis cantik yang telah membakar nafsumu”

Kidang Alit tertawa, katanya, “Itu adalah kelebihanku dari anak-anak muda yang lain Raden, tetapi baiklah, aku tidak berkepanjangan, tetapi jika gadis anak pelayan itu ingin keluar dari halaman istana ini, jangan kau halangi, aku akan menjaga keselamatannya”

“Apa yang harus aku lakukan jika aku keluar halaman?” tiba-tiba Pinten bertanya.

“O, anak gila” geram Sangkan sambil sekali lagi membungkan mulut adiknya.

Kidang Alit tertawa semakin panjang, meskipun tidak terlalu keras, katanya, “Sikapmu membuatku semakin gila, kau menjadi semakin dewasa, cobalah kau sadari, bahwa ada perubahan pada dirimu, pada tubuhmu dan pada perasaanmu. Kau tentu mempunyai persoalan yang tidak terpecahkan didalam dirimu saat-saat kau tumbuh dan mekar seperti sekarang ini, persoalan mengenai dirimu dan seleramu terhadap pergaulan, kau tidak menyadari bahwa kau menjadi semakin cantik seperti bunga Arum Dalu disaat-saat menjelang malam, baunya sangat semerbak menggelepar di dalam kegelapan mengusik malam yang sepi, He…, apakah kau mengerti anak manis?”

Pinten tidak menjawab, karena tangan kakaknya masih melekat dimulutnya.

“Jangan terlalu banyak bicara disini anak Kumbang Kuning” Geram Kuda Rupaka.

“Maaf Raden, gadis itu memang sangat cantik, aku mengaguminya seperti aku mengagumi Puteri Inten, tetapi kedua-duanya mempunyai kelebihan sendirisendiri, Puteri adalah seorang gadis yang cantik, agung dan berwibawa, serasa diri ini akan berlutut mencium ujung kakinya dan pasrah apa saja yang harus diperbuatnya, tetapi gadis ini mempunyai ciri yang lain, cantik, jujur dan bening, seperti air gemercik mengalir didasar sungai berpasir, rasa-rasanya setiap orang ingin turun mandi untuk mendapatkan kesegaran baru, apalagi dalam kegersangan seperti sekarang ini”

“Gila” potong Kuda Ruapaka, “Benar-benar kata-kata orang gila, tetapi kata-katamu memang dapat membuat orang lain menjadi gila pula, seperti suara seruling, tetapi ingat, suara serulingmu itu tidak akan berpengaruh apapun bagi istana ini, selama aku masih ada disini”

“Aku tidak membawa seruling sekarang, aku hanya ingin memuji gadis anak pelayan itu, ia mekar pada saatsaat dedaunan di taman sedang layu dan menguning, justru karena itu nampak betapa segar dan cantiknya, seperti tetesan embun diterik matahari, memetik membasahi lidah pengembara yang kehausan”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, terasa sesuatu getaran di hatinya, ketika ia berpaling, dilihatnya Pinten masih berdiam diri karena kakaknya masih tetap membungkam mulutnya.

Namun dalam pada itu, Raden Kuda Rupaka sadar, bahwa Kidang Alit tidak lagi melontarkan kata-katanya dengan wajar, rasa-rasanya ia telah mempergunakan ilmunya, sehingga kata-kata itu tentu telah menusuk langsung membelah hati gadis yang sedang tumbuh dan masih terlalu hijau itu.

Karena itu, maka Kuda Rupaka segera mencoba melepaskan pengaruh ilmu Kidang Alit, yang tidak sedang mempergunakan kekuatan nada serulingnya, tetapi dengan kekuatan bunyi dan kata-katanya, ia melontarkan ilmunya yang dahsyat dan berbahaya bagi gadis-gadis.

“Tetapi Kidang Alit” berkata Kuda Rupaka, “Betapapun indahnya bunga di taman, namun kelembutan tangan juru taman adalah kebahagiaan yang paling didambakannya, jauh lebih jernih dari sentuhan tangan yang kasar dari jejaka yang lidahnya bercabang”

“Auman serigala dimalam kelam, tidak akan berarti apa-apa bagi kelembutan suara burung pungguk yang melanggut melepaskan perasaan rindu”

“Tetapi angin prahara yang berdegup disetiap hari akan membangunkan seseorang dari mimpinya yang paling mengerikan, dan ini adalah akhir dari lamunan yang dapat menyeretnya kedalam jurang kenistaan, karena itu berhentilah, dan pergilah, karena kekuatan bunyi pada kata-katamu sudah tidak berarti sama sekali”

Kidang Alit tiba-tiba saja menggeram, terasa dadanya bagaikan sesak. Ternyata sekali lagi Kuda Rupaka telah membentur kekuatan ilmu gendamnya dan telah memecahkan penguasaannya atas Pinten yang sudah berhasil dicengkamnya, menurut perhitungannya.

“Kau memang mempunyai kekuatan untuk melawan ilmu gendamku Raden” berkata Kidang Alit kemudian, “Tetapi bahwa jika kita pada suatu saat berbenturan sebagai laki-laki di arena perebutan kekuasaan atas sumber wahyu itu, maka kau tidak akan dapat mengalahkan ilmu kanuraganku. Cengkir Pitu bukan nama perguruan yang tidak terkalahkan, karena itu, sebaiknya kau menyadari kedudukanmu Raden, kau bukan orang yang paling berkuasa disini, juga di seluruh daerah Demak.”

“Aku mengerti Kidang Alit, dan aku siap setiap saat, aku juga mengerti bahwa disini ada orang-orang dari Guntur Geni yang tidak mengakui kegagalannya, jika kau jantan, kau tidak usah menunggu orang-orang Guntur Geni, karena aku tahu, dengan licik kau ingin melihat benturan yang terjadi. Dan diatas mayat kedua belah pihak itulah kau akan menarikan tari kemenangan, tetapi kau tidak akan dapat berhasil”

Kidang Alit tidak menjawab, yang terdengar adalah giginya yang gemeretak menahan marah, namun sejenak kemudian maka Kuda Rupaka itu pun menarik nanfas dalam-dalam sambil berkata, “Ia akan kembali pada suatu saat”

Sangkan yang gemetar berjalan mendekati Kuda Rupaka sambil mengandeng Pinten, “Kidang Alit, jadi Kidang Alit telah dengan diam-diam memasuki halaman ini?, dan apakah ia ini sudah pergi?”

“Anak itu memang berbahaya, lebih berbahaya dari orang-orang Guntur Geni” Jawab Kuda Rupaka.

“Ia sudah pergi?” ulang Sangkan.

“Ya, ia sudah pergi”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia berpaling kepada adiknya yang masih saja dibimbingnya, “O, anak dungu. Apakah kau ingin masuk ke dalam mulut buaya itu?, Eh maksudku, kau jangan mendekat” Ia berhenti sejenak, selangkah ia mendekati Kuda Rupaka, “Tetapi bukankah ia sudah benar-benar pergi dan tidak mendengar kata-kataku”

Kuda Rupaka tersenyum, jawabnya, “Ia sudah benar pergi, ia tidak mendengar kata-katamu, kecuali ia mempergunakan Aji Sapta Pangrungu”

“Tetapi apakah anak muda itu memiliki ilmu itu?”

“Aku tidak tahu, ia memiliki bermacam-macam ilmu”

Wajah Sangkan menjadi semakin pucat, lalu, “Tetapi apakah ia marah jika ia mendengar kata-kataku?”

“Tentu ia akan marah”

“Tetapi, tetapi aku tidak bermaksud jahat, aku hanya memperingatkan adikku agar tidak merasa dirinya penting dan diperlukan orang lain”

Kuda Rupaka tertawa, katanya, “Jangan takut, selama aku masih ada disini, ia tidak akan berani berbuat apapun juga atas keluarga istana ini”

“Terima kasih Raden” kata Sangkan.

Tetapi baru saja mulutnya terkatub, ia sudah melonjak ketakutan ketika ia melihat sesuatu yang bergerak-gerak, apalagi Pinten yang tiba-tiba saja sudah bersembunyi dibelakang kakaknya.

“Jangan takut, itu adalah paman Panji Sura Wilaga”

“O…..” Sangkan mengusap dadanya, “Tuan membuat kami ketakutan”

Panji Sura Wilaga mengumpat, katanya, “Pengecut macam kalian ini sama sekali tidak ada harganya, sebelum kalian mati membeku disini, sebaiknya kalian kembali ke padukuhanmu”

“O…” Aku tidak mempunyai tempat tinggal lagi tuan, biyungku ada disini, dan aku senang tinggal disini”

“Tetapi disini kalian akan selalu ketakutan, jika kalian memiliki sedikit saja keberanian, setidak-tidaknya untuk tidak berteriak, maka kalian masih ada juga gunanya disini, membantu membersihkan halaman, mengambil air dan semacam itu, tetapi sifat pengecut kalian yang berlebih-lebihan, pada suatu saat akan tidak menguntungkan, baik bagi isi istana ini seluruhnya, maupun bagi dirimu sendiri”

Sangkan tidak menyahut, tetapi kepalanya sajalah yang munduk dalam-dalam, seolah-olah ia sedang merenungi dirinya sendiri dan adik perempuannya yang akan selalu menjadi beban orang-orang lain.

“Sudahlah paman” berkata Kuda Rupaka, “Biarlah mereka kembali ke biliknya, memang harus ada pemecahan bagi mereka disini”

Sangkan dan Pinten tidak menyahut.

“Masuklah” berkata Kuda Rupaka.

“Baik Raden” jawab Sangkan.

Tetapi ketika ia mulai melangkah sambil membimbing adiknya, maka Pinten pun berkata, “Aku akan ke pakiwan dahulu, bukankah aku belum sempat?”

“O…., anak gila” desis Panji Sura Wilaga sambil melangkah pergi.

Kuda Rupaka tertawa, tetapi ketika ia pun akan melangkah pergi, Sangkan berkata, “Maaf Raden, apakah Raden mau menunggu sebentar?”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, sementara Panji Sura Wilaga menggeram sambil melangkah menjauh, “Lebih baik kalian dimakan hantu sekarang juga, atau diterkam Kidang Alit itu sama sekali”

Tetapi Kuda Rupaka tertawa sambil berkata, “Cepat”

Pinten pun kemudian berlari-lari kecil ke pakiwan, sedangkan Sangkan melangkah beberapa langkah maju agar adiknya tidak selalu berteriak ketakutan.

Baru kemudian setelah mengucapkan terima kasih, keduanya pun kembali kedalam biliknya, mereka berdesakkan dahulu mendahului masuk meloncat pintu, sehingga pintu itu berderak.

“Siapa?” bertanya Nyi Upih.

Kedua anak itu tidak menjawab, bahkan kemudian mereka pun berjingkat masuk, dengan hati-hati Sangkan menutup pintu itu agar tidak mengejutkan Nyi Upih yang agaknya juga terbangun.

Karena tidak ada jawaban, maka Nyi Upih hanya sekedar membetulkan selimutnya, meskipun ia melihat kedua anaknya merangkak ke pembaringan masing-masing.

Sementara itu Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga pun tidak melanjutkan usahanya mencari ciri-ciri yang dapat menjadi pertanda bahwa di halaman atau di kebun belakang istana itu tersimpan sesuatu yang berharga yang telah mengundang beberapa pihak untuk datang ke istana kecil itu, bahkan mereka menganggapnya sebagai isyarat untuk mendapatkan wahyu, sehingga akan dapat mengangkakt derajat mereka, dan bahkan memberikan kesempatan untuk merayap keatas tahta.

“Anak-anak itu memang gila” berkata Panji Sura Wilaga setelah mereka berada di dalam biliknya.

“Tetapi memberikan kesegaran tersendiri paman”

Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian, “Tetapi agaknya perebutan wahyu itu menjadi semakin jelas”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk sambil berjalan mondar-mandir didalam biliknya, ia berkata, “Aku tidak mengerti, berita itu nampaknya tersebar cepat sekali, sekarang yang ada di padukuhan ini baru anak-anak Guntur Geni dan Kumbang Kuning, tetapi beberapa pekan lagi, ada kemungkinan orang-orang baru dari perguruan-perguruan lain saling berdatangan”

“Ternyata siapa yang kuat, ialah yang akan membawanya” desis Panji Sura Wilaga.

“Itu jika yang mereka cari ternyata ada disini”

Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian ia pun mengangguk sambil menjawab, “Sudah tentu Raden, jika yang mereka cari ada disini, dan kita yang bebrada di dalam istana ini harus mempertahankannya”

Raden Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, namun kemudian ia pun tersenyum, “Tentu yang dicari oleh beberapa pihak itu tidak akan berguna lagi disini, Pamanda Kuda Narpada sudah tidak ada lagi, siapakah yang akan membutuhkannya?, karena itu, kitalah yang wajib mempertahankannya”

Panji Sura Wilaga akan mengatakan sesuatu, tetapi suaranya seolah-olah tertelan kembali bersama ludahnya.

Sambil menggeleng ia kemudian berkata, “Ya, ya, begitulah”

Kuda Rupaka justru tertawa, katanya, “Yang ada disini hanyalah diajeng Inten Prawesti, jika wahyu itu ada padanya, maka sudah barang tentu harus ada orang yang menjadi pelaksananya”

“Ya, ya, begitulah”

Kuda Rupaka masih saja tertawa, bahkan kemudian ia menepuk bahu Panji Sura Wilaga sambil berkata, “Apakah kau keberatan?”

“Tidak, tidak, Raden”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, sambil duduk disisi Panji Sura Wilaga ia berkata, “Ah, sudahlah, aku ingin tidur nyenyak malam ini, Kidang Alit tentu tidak akan mengangguku lagi”

Perlahan-lahan Kuda Rupaka pun segera meletakkan tubuhnya di pembaringan, namun ternyata bahwa matanya sama sekali tidak terpejam,

“Raden tidak akan dapat tidur malam ini” desis Panji Sura Wilaga.

“Ya, demikianlah agaknya”

Panji Sura Wilaga tidak menyahut, ia pun kemudian berbaring pula di pembaringannya, tetapi ternyata ia pun sama sekali tidak dapat memejamkan matanya, meskipun ia sebenarnya ingin dapat tertidur meskipun hanya sejenak.

Mereka berdua saling berpandangan dari pembaraingan masing-masing, ketika sorot matahari pagi sudah membayang di dinding, bahkan sambil tersenyum Kuda Rupaka bangkit dari pembaringannya dan berkata, “Paman juga tidak dapat tidur semalam suntuk”

“Ya, aku menjadi gelisah sekali” jawab Panji Sura Wilaga, “Aku menjadi cemas jika iblis itu kembali lagi”

“Kidang Alit maksud paman?”

“Ya”

“Ia pun tidak akan menemukan apa-apa di halaman dan kebun istana ini”

“Masih belum pasti Raden, jika dengan tidak sengaja ia berbuat sesuatu sehingga ia mendapatkan suatu petunjuk”

Raden Kuda Rupaka tersenyum, katanya, “Aku yakin, dengan cara itu, ia tidak akan mendapat apa-apa, dan mungkin ia sama sekali tidak akan melakukannya, karena ia menyangka bahwa bibi tentu mengetahuinya, ia akan datang dan memaksa bibi untuk menunjukkannya”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, lalu, “Jika demikian, sebaiknya Raden jangan terlambat, jika orang lain mendahuluinya, akibatnya akan buruk sekali”

“Aku akan mencoba bertanya kepada diajeng Inten Prawesti meskipun dengan cara yang tidak langsung, aku akan dapat mengetahui, apakah ia menjawab sebenarnya apa tidak”

“Apakah tidak lebih baik langsung kepada bibi, Raden?”

“Aku tidak ingin tergesa-gesa dan membuat bibi salah paham, karena itu, aku harus berhati-hati”

Panji Sura Wilaga tidak menyahut lagi, perlahan-lahan ia pun kemudian keluar dari biliknya dan pergi ke pakiwan”

Seperti biasanya, air di pakiwan sudah penuhm sejak Sangkan dan adiknya Pinten ada di istana itu, maka air di jambangan tidak pernah kering dan halaman dimuka istana dan kebun di belakangpun selalu nampak bersih.

Sejenak kemudian maka Raden Kuda Rupaka pun segera menyusul pula, di sudut istana ia berhenti dengan Sangkan yang sedang menyaingi sepotong pohon soka putih.

Tetapi Kuda Rupaka tidak bertanya sesuatu, ia hanya menyentuh Sangkan yang sedang berjongkok.

Ketika Sangkan berpaling, Kuda Rupaka hanya tersenyum saja tanpa berhenti.

Sangkan menarik nafas, ada sesuatu yang agaknya terlintas di kepalanya, tetapi ia tidak mengatakan apapun juga, ia kembali sibuk dengan sebatang pohon soka putih yang dicangkoknya dari sebatang yang tumbuh di sudut kebun belakang istana itu.

Setelah makan pagi, maka Kuda Rupaka benar-benar ingin bertanya sesuatu kepada Inten Prawesti. Karena itu, maka ia pun kemudian mengajaknya pergi ke halaman seperti yang sering dilakukannya untuk melihatlihat pohon-pohon bunga yang nampak semakin segar setelah terpelihara oleh Sangkan dan Pinten.

“Sangkan menanam sebatang soka putih di sudut istana” berkata Raden Kuda Rupaka.

“O….” desis Inten Prawesti, “Akulah yang minta kepadanya, apakah ia sudah melakukannya?”

“Marilah, aku akan menunjukkannya”

Dengan senang hati Inten Prawesti mengikuti Kuda Rupaka ke sudut istana untuk melihat sebatang pohon soka putih yang baru saja disaingi oleh Sangkan.

“O…, aku tidak melihat, kapan ia menanam pohon itu disini?” bertanya Inten Prawesti.

“Baru beberapa hari, tetapi ternyata rerumputan liar tumbuh lebih dahulu dari pohon soka itu” sahut Kuda Rupaka.

Inten tersenyum, katanya, “Pohon soka putih ini akan segera berbunga. Menyenangkan sekali, aku akan menyuruhnya menanam soka merah di halaman depan”

“Bukankah sudah ada dua batang soka merah di depan?”

“Dua batang lagi” jawab Inten.

Kuda Rupaka tidak menyahut, dibiarkannya Inten mengamati pohon soka putih yang sudah mulai bersemi itu.

Baru setelah ia puas, maka keduanya pun berjalan menyusuri kebun belakang sambil melihat-lihat tanaman yang semakin rapi dipelihara oleh Sangkan dan Pinten.

Ketika mereka berdiri dibawah bayangan daun kemuning, maka seolah-olah diluar sadarnya, Raden Kuda Rupaka bertanya, “Diajeng, ketika kalian meninggalkan Majapahit, apakah diajeng pergi bersama ayahanda?”

“Ya, kamas, Ayah yang terdesak di peperangan, telah mengirimkan beberapa orang pengawal untuk menyingkirkan aku dan ibuku, waktu itu, kami tidak tahu, kemanakah kami akan pergi, tetapi pergi dari Kota Raja adalah lebih baik dari pada menjadi puteri boyongan”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk.

“Ternyata kami dapat bertemu dengan ayah dan pasukannya yang parah, maka mulailah perjalanan kami yang panjang”

“Apakah pasukan pamanda Kuda Narpada pasukan yang terakhir meninggalkan Kota Raja?”

“Ayahanda masih bertahan pada saat Perbu Brawijaya meninggalkan istananya dan menyusuri daerah selatan menuju ke barat. Ayah masih berusaha menahan arus pasukan lawan dan memberikan kesempatan kepada Perabu Brawijaya untuk berjalan semakin jauh, namun ternyata pasukan ayahanda tidak dapat berjalan lagi, ayahanda tidak mau mengorbankan setiap orang di dalam pasukannya. Karena itu, setelah ayahanda yakin bahwa Prabu Brawijaya selamat meninggalkan Kota Raja, maka ayahanda pun menarik pasukannya yang tidak lagi dapat menunggu keajaiban untuk memenangkan perang, kenyataan itulah yang memaksa ayahanda sampai ke tempat ini dan tinggal terpencil bersama penghuni padukuhan Karangmaja”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya kemudian, “Benar-benar seorang pahlawan yang tiada taranya, pamanda Pangeran Kuda Narpada adalah senapati yang terakhir sekali meninggalkan Kota Raja yang hancur akibat perang itu, tentu setiap orang mengaguminya”

“Ah, sudahlah kamas Kuda Rupaka, sebaiknya kita tidak usah mengenangnya lagi, ayahanda kini sudah tidak ada, justru setelah perang selesai”

“Tetapi itu tidak mengurangi kebesaran nama pamanda Kuda Narpada” Kuda Rupaka menjadi ragu-ragu, namun sejenak kemudian ia berkata, “Tentu saja sifat kandel pada pamanda Kuda Narpada sehingga ia mampu menahan arus yang menurut pendengaranku bagaikan banjir bandang melanda Kota Raja, sedangkan para senapati dan panglima Majapahit sudah tidak lagi memiliki kebesaran jiwa dan dan kesetiaan kecuali beberapa orang saja, termasuk pamanda Kuda Narpada”

Inten Prawesti menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu kamas”

“Tentu, tentu kau tidak mengetahui, tetapi pamanda tentu memiliki sebuah atau sebilah pusaka bagi dirinya sendiri dan pasukannya”

Dengan tegang Kuda Rupaka menunggu jawaban Inten Prawesti, namun ternyata gadis itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak mengetahui kamas”

Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, namun ia masih bertanya, “Apakah senjata terakhir yang dibawa oleh pamanda dari Majapahit?”

“Ayahanda tidak membawa senjata apapun”

“Tombak?”

Inten Menggeleng.

“Keris?”

Inten mengingat-ingat, namun kemudian ia mengangguk, “Ya, ayahanda membawa sebilah keris, hanya keris itulah senjata ayahanda yang dibawanya sampai ke tempat ini”

Kuda Rupaka menjadi semakin berdebar-debar, dengan mata yang dalam ia bertanya, “Apakah diajeng mengetahui serba sedikit tentang keris itu?”

Inten Prawesti menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu sama sekali”

“Tetapi setelah pamanda pergi, dimanakah keris itu disimpan?”

“Tentu dibawa oleh ayahanda” Jawab Inten, “Keris itu tidak pernah berpisah sama xekali dengan ayahanda”

“Ah, apakah benar bahwa keris itu telah dibawa oleh pamanda pada saat pamanda meninggalkan istana ini, bersama pamanda Cemara Kuning dan pamanda Sendang Prapat?”

Inten mengingat-ingat tetapi jawabnya kemudian, “Aku tidak ingat lagi, apakah keris itu telah dibawa oleh ayahanda, tetapi saat itu ayahanda memang tergesa-gesa sekali”

Raden Kuda Rupaka menjadi tegang, namun kemudian ditenangkannya dirinya sambil berkata, “Mungkin bibi Kuda Narpada dapat mengingatkan, apakah keris itu dibawa oleh pamanda Kuda Narpada, apakah ditinggalkannya pada bibi dan disimpannya dengan baik”

Inten Prawesti merenung sejenak, tetapi ia sama sekali tidak ingat lagi saat ayahandanya meninggalkan istana itu, apalagi pada saat itu mereka sama sekali tidak memikirkan lagi tentang keris atau jenis-jenis pusaka yang lain, terdorong oleh kegelishan karena kepergian Pangeran Kuda Narpada, meskipun pangeran itu pergi bersama dua orang saudara dekatnya, namun rasa-rasanya seluruh keluarga saat itu telah mengetahui, bahwa pangeran Kuda Narpada akan pergi untuk waktu yang tidak ditentukan.

Karena itulah, maka Inten Prawesti pun berkata “Baiklah kamas, aku akan mencoba bertanya kepada ibunda. Apakah ibunda masih ingat, dimanakah pusaka ayahanda yang berupa keris itu”

Namun Kuda Rupaka kemudian tersenyum sambil berkata dengan nada datar, “Tetapi jangan menimbulkan kegelisahan pada ibunda diajeng. Anggaplah pertanyaan itu tidak ada artinya sama sekali, selain kecemasan bahwa pusaka yang barangkali sangat berharga bagi Demak itu hilang tanpa bekas, atau jatuh ketangan orang-orang yang tidak berhak”

Inten mengangguk katanya, “Aku akan mencobanya”

Demikianlah mereka masih melangkah beberapa langkah lagi di kebun belakang untuk melihat-lihat pohon-pohon bunga yang beraneka warna, Sangkan dengan telaten telah menanam berbagai macam bunga dalam kelompok-kelompok yang dapat memberikan campuran warna yang menyenangkan. Daun udan mas yang diseling oleh sebatang lopengan-lopengan, memberikan latar belakang yang manis pada sebatang pohon bunga ceplok piring yang berwarna putih kapas. Sedangkan diantara pohon-pohon yang bunga itu, Sangkan dapat menyelipkan pohon-pohon empon yang berguna bagi pengobatan. Pohon temulawak yang tumbuh disela-sela batang-batang kunir dan jahe, tumbuh di sepanjang dinding belakang, sedangkan batang-batang nyidra juga memberikan bunga-bunganya yang berwarna kemerah-merahan, disela-sela pohon sirih yang merambat pada anjang-anjang bambu di pinggir umur.

Namun langkah mereka terhenti, ketika keduanya melihat dibawah sebatang soka putih yang sudah tumbuh dengan rimbunnya. Pinten tengah duduk di sebuah batu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Bab 18

“Pinten” Inten Prawesti kemudian berlari-lari mendekatinya, “Ada apa?”

Pinten mengusap matanya yang basah dan kemerah-merahan,

“Kau menangis?”

Pinten mengangguk

“Apa yang terjadi?”

“Kakang Sangkan nakal sekali”

“O…” Inten menarik nafas dalam-dalam, “Apakah yang sudah dilakukannya atasmu?”

“Kakang Sangkan yang merasa takut tinggal disini, ingin pergi meninggalkan biyung dan aku, sebenarnya aku ingin ikut, atau Kakang Sangkan yang tetap tinggal bersama biyung disini”

Inten Prawesti terkejut mendengarnya, dengan dahi yang berkerut ia bertanya, “Kenapa Sangkan akan pergi, Pinten”

Pinten mengusap air matanya, katanya, “Seperti yang dikatakan oleh Raden Panji Sura Wilaga, bahwa ia semakin ketakutan disini apabila persoalan-persoalan yang timbul menjadi semakin gawat, sebelum ia mati membeku disini, baginya lebih baik untuk pergi saja kemanapun juga, asalkan menjauh jauh dari tempat ini”

“O…” Inten pun kemudian berjongkok, “Pinten, seharusnya kakakmu tidak usah takut tinggal disini, apakah yang sebenarnya telah terjadi dan membuat takut kakakmu?”

Raden Kuda Rupaka yang mendengar percakapan itu menjadi berdebar-debar, namun ia pun kemudian tertawa sambil berkata, “Tidak diajeng, Paman Panji Sura Wilaga memang senang bergurau, ketika semalam Kidang Alit mencoba memasuki halaman ini, Pinten dan Sangkan secara kebetulan melihatnya, tetapi saat itu aku pun ada di kebun belakang ini, sehingga Kidang Alit tidak dapat berbuat apa-apa” ia berhenti sejenak, beberapa langkah ia maju mendekati Pinten sambil berkata, “Katakan kepada kakakmu bahwa paman Panji hanya bergurau, ia jengkel melihat Sangkan yang penakut sekali, sehingga karena itu, maka ia justru menakut-nakutinya sama sekali”

“Jadi Kidang Alit berani memasuki halaman ini?”

“Jangan hiraukan diajeng, aku masih disini”

Inten Prawesti merenung sejenak, namun kemudian ia pun memandang wajah Pinten sambil berkata, “Katakan kepada kakakmu, ia tidak perlu pergi meninggalkan rumah ini, paman Panji hanya hanya sekedar bergurau, meskipun ia jengkel melihat tingkah laku kakakmu yang penakut itu, tetapi itu bukan berarti bahwa kakakmu harus pergi”

“Kakang sudah berkemas, sekarang ia ada di dalam biliknya, aku disuruhnya pergi keluar, agar aku tidak membuatnya ragu-ragu meninggalkan istana ini”

Inten menjadi semakin berdebar-debar, dan tiba-tiba saja ia berdiri, sambil menarik tangan Pinten dan berkata, “Aku akan menasehatinya” lalu ia berpaling kepada Kuda Rupaka, ia berkata.

“Kamas marilah, kamas dapat memberitahukan kepadanya, agar ia tetap tinggal disini”

Kuda Rupaka tertawa pula, katanya, “Baiklah, aku akan mencoba menahannya”

Dengan tergesa-gesa Inten pun kemudian pergi ke bilik Sangkan, dilihatnya anak muda itu sedang membungkus selembar pakaiannya yang kusut, itu adalah satu-satunya kekayaan selain yang sedang dipakainya.

“Sangkan” berkata Inten Prawesti ketika melangkah berdiri diambang pintu, “Apakah benar kata adikmu, bahwa kau akan meninggalkan rumah ini?”

Sangkan menjadi ragu-ragu sejenak, ditatapnya wajah Inten dengan tajamnya, sehingga gadis itu pun memalingkan wajahnya.

Beberapa saat lamanya Sangkan seolah-olah sedang berpikir, namun kemudian jawabnya, “Ampun puteri, sebenarnyalah aku tidak akan berarti apa-apa disini, selebihnya aku memang takut sekali apabila pada suatu saat, akan terjadi apapun di istana ini.

“Apakah yang akan terjadi disini?” bertanya Inten.

“Tidak ada apa-apa” jawab Kuda Rupaka mendahului Sangkan, “Disini tidak akan terjadi apapun juga, apalagi selama aku disini bersama paman Panji Sura Wilaga”

“Tetapi bukankah Raden Panji kemarin mengatakan bahwa aku akan mati ketakutan”

Raden Kuda Rupaka tidak dapat menahan tertawanya, katanya, “Kau memang penakut sekali Sangkan, dan agaknya paman Panji agak berlebihan pula menakut-nakutimu, tetapi yakinlah bahwa ia hanya sekedar berguaru”

Sangkan menjadi bingung.

“Sangkan” suara Inten menurun, “Kau tidak usah pergi, adikmu akan menjadi sedih, ia tidak dapat ikut bersamamu karena kepergianmu tidak tentu arah dan tujuan, tetapi ia tidak akan dapat tenang tinggal disini setelah kau pergi”

Sangkan menundukkan kepalanya.

“Jawablah Sangkan” desak Inten yang tanpa disadarinya telah berdiri disamping Sangkan yang sedang mengemasi pakaiannya di pembaringannya itu.

“Tetapi, apakah aku tidak akan mati membeku disini?”

Kuda Rupaka masih tertawa, katanya, “Kau adalah laki-laki Sangkan, berbuatlah seperti laki-laki, aku juga tidak takut mati disini, meskipun aku tahu kemungkinan itu ada, bukankah kau tahu bahwa pernah ada orang yang memasuki istana ini dan memaksa bibi untuk menyerahkan barang-barang berharga?”

Sangkan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Kau tidak boleh pergi Sangkan” kata Inten, “Dimana ibumu sekarang?”

“Biyung belum mengetahuinya puteri”

“Sudahlah, jika ibumu mengetahui, ia pun akan menjadi bersedih seperti adikmu”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, ketika ia berpaling kearah adiknya. Dilihatnya adiknya mengusap air mata yang membasahi pipinya.

“Jangan menangis Pinten” berkata Sangkan.

“Kaulah yang harus menentukan sikapmu“ Potong Inten Prawesti

“Ampun puteri, suara Sangkan terputus-putus, ia mengangkat kepalanya, ia pun beringsut setapak, karena Inten berdiri terlalu dekakt disisinya.

“Berjanjilah, agar adikmu tidak menjadi sedih” kata Inten.

Sangkan berpaling kepada adiknya, kemudian katanya, “Baiklah puteri, atas nasehat Raden Kuda Rupaka dan puteri Inten Prawesti, aku akan mencoba tinggal di istana ini lebih lama lagi, tetapi jika kemudian aku hanya akan menjadi permainan perasaan takut dan bahkan mungkin aku benar-benar akan mati membeku, maka aku akan mohon diri untuk meninggalkan istana ini”

Raden Kuda Rupaka pun kemudian mendekatinya, sambil menepuk bahu Sangkan ia berkata, “Belajarlah menjadi seorang laki-laki”

Sangkan memandang Kuda Rupaka dengan heran, namun yang dilihatnya hanyalah senyum yang bermain dibibir anak muda yang perkasa itu.

“Marilah kita tinggalkan saja anak itu diajeng” berkata Kuda Rupaka kemudian, “Biarlah ia mendapat kesempatan untuk merenungi dirinya sendiri”

Namun tanpa diduga sama sekali oleh Sangkan, Inten Prawesti pun menepuk bahunya pula sambil berkata, “Jangan takut, disini ada kakangmas Kuda Rupaka”

Sangkan mengangguk-angguk.

“Dan jagalah adikmu baik-baik“ pesan Inten kemudian sambil melangkah meninggalkan bilik itu diikuti oleh Kuda Rupaka.

Sepeninggal Kuda Rupaka dan Inten Prawesti, Pinten mendekati kakanya sambil berbisik, “Bukankah itu maumu?”

“Apa?”

“Puteri melarangmu pergi sambil menepuk bahumu?”

“Ah, kau aneh Pinten, apakah aku memang harus pergi?”

Pinten tiba-tiba saja tersenyum, tetapi ia pun kemudian berkata, “Sudahlah, simpanlah barang-barang yang tidak perlu kau kemasi lagi itu, simpanlah baik-baik”

Sangkan mengerutkan keningnya, sejanak ia memandang ke pintu yang masih terbuka, katanya, “Raden Kuda Rupaka dan puteri sudah mengetahui, bahwa bungkusan kecil itu adalah kekayaanku”

“Ya”

“Mudah-mudahan puteri tidak ingin tahu lebih banyak kagi tentang bungkusan kecil ini”

“Letakkan saja di sudut pembaringanmu, tidak akan ada orang yang tertarik pada kekayaanmu itu”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, wajahnya berkerut ketika ia melihat Nyi Upih berdiri dimuka pintu.

“Ah” desis Sangkan, “Aku akan menyimpan bungkusan ini biyung”

“Barang-barangmu?”

“Ya”

“Letakkan saja di pembaringanmu” jawab Nyi Upih acuh tak acuh, “Apakah Raden Kuda Rupaka dan puteri baru saja dari bilik ini?”

Sangkan dan Pinten mengangguk berbarengan.

“Apakah yang dikatakannya?”

“Tidak apa-apa” jawab Sangkan.

“Puteri dan Raden Kuda Rupaka mencegah kakang”

Nyi Upih mengerutkan keningnya.

“Kakang Sangkan akan minggat, tetapi puteri melarangnya, sambil menepuk bahunya puteri berkata kepada kakang supaya kakang jangan takut, karena di istana masih ada Raden Kuda Rupaka.

“He,,!, kau mengigau” desis Sangkan.

Tetapi Pinten tertawa, katanya, “Itulah yang dikehendakinya, tetapi kakang tentu tidak akan mengaku”

“Jadi kau akan pergi?”

“Tentu tidak jadi” sahut Pinten puteri sendirilah yang mencegahnya, dan kakang tentu menurut perintahnya”

“Kau, kau ini kenapa sebenarnya Pinten?” bertanya Sangkan, “Kau seperti orang yang benar-benar sedang mengigau?”

Nyi Upih memandang Sangkan sejenak, namun kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Jangan pura-pura minggat”

“Aku benar-benar akan minggat biyung, aku ketakutan disini, tetapi Pinten lah yang sengaja menyampaikannya kepada puteri, tentu puteri akan mencegahnya, apakah benar-benar seperti yang dikehendaki atau sekedar berpura-pura, tetapi aku kira puteri benar-benar mencegah aku pergi, karena tenagaku disini dapat dipergunakan. Siapakah yang yang akan menimba air, siapa yang akan memperbaiki atap rumah yang rusak, siapa yang menegakkan tiang regol halaman”

Pinten tertawa, katanya, “Ceritamu lucu sekali”

“Sudahlah” potong Nyi Upih, lalu, “Sekarang, kerjakan kerjamu di halaman belakang, Sangkan mengambil air, dan Pinten membereskan pakiwan”

Keduanya terdiam, dengan segan Sangkan melangkah keluar biliknya, diikuti oleh Pinten menuju ke halaman belakang, Sangkan membawa upih yang akan dipasangnya pada senggot timba perigi, sedang Pinten membawa sapu lidi dan kelenting untuk mengambil air ke dapur.

“Mereka berdua berada di sudut istana itu cukup lama mengamat-amati pohon Soka putihmu” berkata Pinten kemudian, “Tentu puteri senang sekali, tetapi senang kepada pohon yang kau tanam itu”

“Apakah yang mereka bicarakan?, Kembang Soka putih. atau yang menanamnya?”

“Ah, kau memang mulai mabuk, tentu pohon soka putih itu”

“Apa?”

“Aku tidak berhasil mendekati, tetapi mereka berbicara tentang pusaka, agaknya tentang keris”

Sangkan mengangguk-angguk, tetapi ia pun kemudian berkata, “Apa peduliku tentang keris, agaknya keris itulah yang telah menarik perhatian banyak orang, termasuk dua orang yang telah terbunuh di halaman istana ini. Tetapi yang penting bagiku adalah senggot timba itu tidak patah, dan bagimu sapu lidi itu tidak rusak dan kelentingmu tidak pecah”

Pinten tersenyum, katanya, “Kenapa tiba-tiba saja kau bersungut-sungut seperti itu kakang?”

Sangkan tidak menjawab, ia pun kemudian mempercepat langkahnya, namun ia masih juga bergumam kepada diri sendiri, “Aku harus mencari Upih baru, upih ini sudah mulai sobek”

Tetapi tiba-tiba saja langkah Pinten terhenti, dipanggilnya kakaknya yang berjalan di depan, “Kakang, kakang”

Sangkan berhenti sejenak, ketika ia berpaling, ia melihat adiknya berhenti sambil berkata dengan nada yang dibuat-buat, “Kakang, aku takut”

Sangkan tidak menghiraukannya lagi, ia pun berjalan semakin cepat ke perigi, semenara Pinten pun kemudian berlari-lari kecil menyusulnya.

Sementara itu, Inten Prawesti telah masuk ke ruang dalam, ia memang ingin menyampaikan pertanyaan-pertanyaan Raden Kuda Rupaka kepada ibunya. Tetapi ia memang ingin berhati-hati seperti yang dipesankan oleh Kuda Rupaka, agar ibunya tidak menjadi gelisah. Apalagi jika ibundanya meyakini bahwa kehadiran orang-orang di sekitar istana itu tentu bukannya tanpa maksud.

Inten pun kemudian mendekati ibundanya perlahan-lahan, ia berhenti beberapa langkah sambil memandangi ibundanya yang sedang melipat pakaiannya yang baru saja diambilnya dari jemuran.

Sambil mengangkat wajahnya, ibundanya kemudian memanggilnya untuk mendekat.

“Dari mana kau Inten?”

“Kami, maksudku aku dan kakangmas Kuda Rupaka, berjalan-jalan di halaman samping dan kebun belakang, ibunda”

Ibundanya mengangguk-angguk, tetapi ia tidak bertanya lagi.

Inten duduk disisi ibundanya yang masih sibuk melipat pakaian yang baru diambil dari jemuran tadi

Mula-mula ia pun menjadi ragu-ragu, tetapi akhirnya Inten pun bertanya kepada ibundanya, “Ibunda, apakah ibunda masih ingat, bahwa ayahanda pernah membawa sebilah keris dari Majapahit?”

Ibundanya mengerutkan keningnya.

“Atau barangkali justru dua?, seingatku, yang satu diselipkan di lambung, yang lain dianggar di bawah ikat pinggang tergantung disisi”

Ibundanya terkejut mendengar pertanyaan itu, namun diusahakannya untuk melenyapkan semua kesan yang terpancar di wajahnya, katanya kemudian, “Memang ayahanda membawa keris dari Majapahit, itu adalah satu-satunya senjatanya, bukan dua”

Inten mencoba mengingat-ingat.

Tetapi akhirnya ia mengangguk-angguk, katanya, “Ya, hanya satu, aku memang pernah melihat ayahanda membawa dua bilah keris. Tetapi ketika ayahanda sampai ke padukuhan ini, ayahanda hanya membawa sebilah saja”

“Inten” desis ibunya kemudian, “Kenapa tiba-tiba saja kau bertanya tentang keris?”

“Tidak apa-apa ibunda, sebenarnya kakangmas Kuda Rupaka lah yang menanyakannya, Kakangmas melihat peristiwa yang telah terjadi di istana ini pada saat beberapa orang mencoba untuk bertemu dengan ibunda, tetapi yang kemudian terbunuh oleh kamas Kuda Rupaka”

“Apakah hal itu ada hubungannya dengan keris yang dibawa oleh ayahandamu?”

“Tidak begitu jelas, tetapi kakangmas Kuda Rupaka mengatakan, mungkin pusaka itu adalah pusaka yang penting artinya bagi Demak, mungkin orang-orang yang berdatangan itu menginginkan pusaka itu, sehingga mungkin akan dapat mempengaruhi pemerintahan Demak yang sekarang”

Ibundanya mengerutkan keningnya.

“Tetapi ibunda” berkat Inten sambil beringsut mendekat, “Ibu tidak usah gelisah, jika ibunda ingat keris yang dibawa oleh ayahanda itu, dan ibunda mengetahui dimanakah keris itu sekarang, sebaiknya keris itu diserahkan saja kepada pimpinan pemerintahan di Demak, agar tidak menimbulkan persoalan-persoalan baru di istana ini”

Sejenak ibundanya termangu-mangu, dipandanginya wajah puterinya beberapa lama, namun kemudian, ia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Inten, aku tidak mengerti, dimanakah keris itu, sekarang mungkin keris itu dibawa oleh ayahandamu. Mungkin disimpan di tempat yang tidak aku ketahui atau mungkin telah diserahkan kepada pamanmu Pangeran Cemara Kuning. Ayahandamu tidak pernah mengatakan apapun juga, tentang keris itu. Dan aku kira, keris ayahandamu adalah keris yang tidak berharga sama sekali bagi Demak. Mungkin keris itu merupakan yang paling dihormati oleh ayahandamu, karena ternyata keris itulah yang dibawanya sejak dari Majapahit, tetapi aku kira, bagi Demak yang sudah penuh dengan segala keris pusaka, juga yang dapat diboyongnya dari Majapahit, setelah Demak berhasil membebaskan Kota Raja yang hancur itu dari tangan musuh, agaknya sudah cukup banyak keris berharga. Dengan demikian, apakah artinya pusaka kecil yang sebuah itu?”

Inten mengangguk-angguk, katanya, “Agaknya memang demikian ibunda, tetapi kangmas Kuda Rupaka ingin mengetahuinya. Tentu ia sudah menghubung-hubungkan dengan kehadiran beberapa orang di sekitar istana ini, bahkan beberapa orang telah berani memasuki halaman dan memaksa untuk berbicara dengan ibunda”

Ibunda Inten itu termenung sejenak, kemudian jawabnya, “Mungkin juga Inten, tetapi mungkin juga mereka menyangka bahwa kita masih mempunyai harta benda yang berharga, yang kita bawa dari Majapahit”

“Mungkin juga ibunda, tetapi sikap hati-hati kamas Kuda Rupaka mungkin beralasan”

Ibundanya termangu-mangu sejenak, namun kemudian katanya, “Tetapi bagaimanakah caranya untuk memberitahukan kepada orang-orang yang menaruh perhatian terhadap kemungkinan adanya keris itu disini, bahwa sebenarnya tidak ada apa-apa di dalam istana kecil ini”

“Aku akan mengatakan kepada kamas Kuda Rupaka, mudah-mudahan ia mempunyai cara yang mungkin dapat membersihkan nama rumah ini”

Ibundanya mengangguk-angguk, katanya, “Cobalah berbicara dengan kamasmu, kita kini menggantungkan diri kepadanya, tanpa dia, kita tentu sudah mengalami banyak bencana. Dua orang yang terbunuh di halaman ini, dan juga suara seruling yang membuatmu kehilangan kesadaran”

Bulu tengkuk Inten Prawesti meremang, ia tidak dapat membayangkan akibat yang dapat terjadi, jika saat itu Kuda Rupaka tidak ada di istana ini, dan tanpa dapat dicegah ia jatuh ke tangan Kidang Alit.

Sejenak kemudian, maka Inten pun meninggalkan ibunya untuk bertemu lagi dengan Kuda Rupaka, ia akan menyampaikan semua keterangan ibunya tentang keris yang pernah dibawa oleh ayahandanya. Keris itu adalah keris yang tidak cukup bernilai bagi Demak, dan ibundanya tidak tahu dimanakah keris itu sekarang.

Kuda Rupaka mengangguk-angguk kecil, tetapi di wajahnya terbayang pertanyaan yang belum terjawab. Meskipun demikian ia berkata, “Sudahlah diajeng, mungkin dalam kesempatan lain aku dapat menghadapi bibi. Selama ini aku harap bibi sempat mengingat-ingat tentang keris itu. Sementara itu aku akan berusaha menyebarkan keterangan, bahwa sebenarnya di dalam istana ini tidak ada apapun yang pantas mendapat perhatian, pusaka tidak, apalagi harta benda”

“Terima kasih kamas, mudah-mudahan kamas berhasil, sehingga mereka tidak menimbulkan kegelisahan kami, penghuni rumah terpencil ini”

“Aku akan berusaha diajeng, tetapi aku pun berharap, bahwa apabila bibi dapat mengingat kembali keris pusaka pamanda Kuda Narpada, aku adalah orang yang pertama-tama ingin mengetahuinya, justru untuk kepentingan bibi dan kau. Bahkan mungkin kelak ternyata aku masih akan dapat menemukan pamanda Kuda Narpada di suatu tempat dalam keadaan apapun”

“Ah”

“Mungkin hanya satu kemungkinan”

Inten menundukkan kepalanya, namun satu kerinduan telah melonjak di hatinya, meskipun seakan-akan bayangan ayahandanya hanya sekedar dapat dilihatnya dalam mimpi, namun selama masih belum ada kepastian bahwa ayahandanya telah meninggal, maka ia masih dapat mengharapkannya.

“Apakah kakangmas dapat pergi ke Demak, bertemu dengan pamanda Cemara Kuning atau pamanda Sendang Prapat untuk menanyakan dimanakah ayahanda sekarang, atau yang paling akhir berpisah?” tiba-tiba gadis itu bertanya dengan suara yang tersendat-sendat.

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya, “Pada suatu saat aku akan mencari pamanda Cemara Kuning atau pamanda Sendang Prapat, keduanya tentu mengetahui serba sedikit tentang pamanda Kuda Narpada, karena pamanda Kuda Narpada telah pergi bersama mereka berdua disaat terakhir”

Inten makin menundukkan kepalanya, perlahan-lahan ia berkata, “Sudahlah kangmas, ceritera tentang ayahanda membuat hatiku menjadi pedih”

“Aku hanya ingin menyatakan perasaanku diajeng, tetapi baiklah. Kita akan berbicara tentang masalah-masalah lain, meskipun demikian, sekali-sekali usahakan untuk bertanya sekali lagi, barangkali bibi teringat sesuatu yang ada hubungannya dengan keris itu”

Sejak saat itu, tiba-tiba saja Inten selalu dibayangi oleh kerinduannya kepada ayahandanya, berbagai usaha telah dilakukannya, agar ia dapat melupakannya saja. Karena baginya, melupakannya adalah cara yang sebaik-baiknya untuk memelihara ketenangan perasaannya.

Tetapi ternyata bahwa, setiap kali bayangan itu telah muncul kembali, bahkan kadang-kadang menjadi jelas.

“Puteri” bertanya Pinten ketika ia melihat Inten duduk sendiri di tangga pendapa, “Kenapa nampaknya puteri termenung saja akhir-akhir ini?”

Inten menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Tidak apa-apa Pinten”

“Barangkali puteri dapat membagi kegelisahan hati, meskipun barangkali aku tidak dapat berbuat apa-apa, namun jika puteri dapat menyatakannya kepada orang lain, maka hal itu tentu akan mengurangi beban di hati puteri”

“Ah, kenapa kau tiba-tiba telah berubah menjadi orang yang bijaksana Pinten, siapakah yang mengajarimu?”

“O…” Pinten mengingat-ingat, tiba-tiba ia tersenyum sambil menunduk, “Puteri pernah mengatakannya kepadaku”

Inten pun tertawa kecil, Pinten memang dapat memberikan selingan di dalam saat-saat yang kadang-kadang terasa mencengkeram perasaannya.

“Meskipun demikian puteri, mungkin puteri justru telah terlupa, bukankah dengan demikian puteri teringat kembali kepada kebijaksanaan, eh maksudku kebijaksanaan puteri itu”

Inten masih saja tersenyum, sambil menepuk bahu Pinten ia berkata, “Terima kasih Pinten, ternyata ingatanmu cukup baik. Aku akan membagi perasaan dengan kau, tetapi pada saatnya nanti”

“O…., dan sekarang saat itu belum tiba”

Inten menarik nafas dalam-dalam, lalu katanya, ”Baiklah Pinten, rasa-rasanya memang senang bergurau denganmu dalam keadaan apapun juga”

Pinten tidak menyahut, ia berharap Inten Prawesti mengatakan beban yang memberati hatinya.

“Pinten” berkata Inten Prawesti kemudian, “Sebenarnyalah, bahwa tiba-tiba saja aku telah dicengkam oleh kerinduan kepada ayahanda”

“O….” Pinten mengerutkan dahinya, “Tetapi itu sewajarnya puteri, sekali-sekali kita seolah-olah terlempar pada kerinduan yang tidak tertahankan kepada masa lampau. Tetapi puteri, bukankah kita menyadari, bahwa masa lampau itu tidak akan kembali?. Aku masih sering membayangkan, suatu saat aku bermain-main di bawah sebatang pohon beringin yang subur, dayang-dayang yang duduk di pinggir halaman dengan girang bermain diantara mereka. Dakon, gateng dan sumbar suru. Ooo, menyenangkan sekali, kupu-kupu yang berterbangan seolah-olah merupakan perhiasan hidup yang mewarnai udara yang silir oleh hembusan angin lembut. Rasa-rasanya apa yang diinginkan terjadi di masa-masa yang hanya dapapt dikenang itu”

Inten mendengarkan dengan seksama, dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Dimanakah kau tinggal dimasa kanak-kanakmu, Pinten?, kau menyebut sebatang pohon beringin dan dayang-dayang yang bermain?”

“O…” Pinten tergagap, namun kemudian, “Bukankah aku tinggal bersama biyung di istana Pangeran Kuda Narpada?”

“Aku teringat sebatang pohon beringin di halaman, dayang-dayang yang bermain diantara mereka, tetapi aku tidak ingat lagi, bahwa di masa-masa kanak-kanak aku pernah mengenalmu”

Pinten termangu-mangu, lalu, “Ketika puteri menjadi semakin besar, aku sudah tidak tinggal lagi bersama biyung, aku telah dibawa oleh ayah kembali ke padukuhan”

Inten menjadi semakin heran, lalu, “Siapakah kira-kira yang lebih tua diantara kita? Kau atau aku?”

Pinten tidak segera menjawab, nampaknya ia menjadi bingung, tetapi kemudian katanya, “Kita tidak tahu hari-hari lahir kita masing-masing, apalagi aku. Mungkin saja puteri lebih tua, tetapi mungkin akulah yang lebih tua. Yang kedua itulah barangkali yang benar, tetapi agaknya aku memang awet muda, sehingga aku masih tetap kelihatan lebih muda dari puteri”

“Ah” Inten Prawesti tertawa kecil, katanya, “Mungkin, tetapi apakah ingatan kita sama?, katakan, ada berapa batang pohon beringin yang tumbuh di halaman?”

Pinten mengingat-ingat sejenak, lalu, “Sebatang di tengah halaman, dan enam di seputarnya”

“O, banyak sekali”

“Ada tiga ekor bekisar di dalam sangkar masing-masing, seekor burung nuri putih, seekor harimau yang dikurung dalam sangkar besi, seekor orang utan sebesar aku sekarang ini”

“He…!!” Inten menjadi heran, “Kau bermimpi, aku tidak pernah mengingat semuanya itu lagi, menurut ingatanku, istana ayahanda tidak mempunyai tujuh batang pohon beringin, tetapi ada dua batang disebelah menyebelah halaman. Tidak ada sangkar bekisar. Yang ada hanyalah beberapa sangkar burung jenis nuri dan burung berkicau. Ayahanda memang mempunyai sepasang ayam alas, tetapi bukan bekisar. Dan di halaman, menurut ingatanku, sama sekali tidak ada seekor harimau dan orang utan”

“O….” Pinten mengerutkan keningnya sekali lagi.

“Pinten, apakah kau berkhayal?”

“Mungkin puteri, mungkin aku berhayal” Pinten mengingat-ingat, “Tetapi tidak, aku tidak berhayal”

“Pinten, di halaman rumahku tidak ada binatang seperti yang kau katakan, tetapi aku memang masih teringat, disalah satu istana di Majapahit terdapat halaman yang dihiasi dengan sangkar binatang hutan, harimau dan barangkali juga seekor orang utan” tiba-tiba Inten mengingat sesuatu, “Ya, aku ingat, sebatang pohon beringin di tengah-tengah dan enam diseputarnya. He..! kau salah ingat Pinten, istana itu bukan istana ayahanda Kuda Narpada. Tetapi istana itu adalah istana pamanda Sargola Manik yang bergelar Adipati Alap-alap. Pahlawan yang tidak ada duanya, yang gugur menjelang pertempuran besar yang menghancurkan Kota Raja”

“Ooo…” tiba-tiba Pinten menundukkan kepalanya.

“Kau mengenal pamanda Sargola Manik yang bergelar Adipati Alap-alap?”

“Tidak, tidak puteri”

“Tetapi kau menyebutkan istananya, halamannya dan binatang peliharaannya dengan tepat”

Akhirnya Pinten tertawa, katanya, “Biyung sering bercerita tentang istana-istana yang terdapat di Majapahit, tetapi kadang-kadang tidak jelas, sehingga aku kurang mengerti. Aku hanya membayangkan betapa senangnya tinggal di istana-istana serupa itu”

Inten menjadi heran mendengar kata-kata Pinten yang membingungkan. Namun Pinten telah berkata seterusnya, “Apakah kata-kataku membingungkan puteri? Aku sendiri menjadi bingung puteri, dikarenakan aku tidak tinggal lama bersama biyung di istana Pangeran Kuda Narpada. Aku adalah anak padesan yang hanya dapat mendengar ceritera dan kemudian berangan-angan” ia berhenti sejenak, lalu, “Sudahlah kita tidak usah berangan-angan lebih panjang lagi tentang masa lampau yang telah kita tinggalkan itu. Marilah kita sekarang menatap masa kini, masa yang jauh berbeda dengan masa-masa yang penuh kenangan itu”

Inten menepuk bahu Pinten sambil berkata, “Pinten, ternyata kau tidak hanya menirukan aku tentang membagi perasaan. Kau ternyata benar-benar bijaksana, kau dapat menasehatiku untuk melepaskan diri dari masa cengkaman kerinduan kepada masa lampau yang tidak akan kembali lagi”

Pinten terdian sejenak, namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Puteri, sebenarnyalah aku baru saja terlempar kedalam keadaan yang serupa. Tetapi biyung datang kepadaku dan memberikan beberapa petunjuk, apa yang aku ingat dari petunjuk-petunjuk biyung itu, sudah aku katakan kepada puteri”

“Ah, kau” Inten pun tertawa, “Jika demikian, maka nasehat itu, sebagian tentu kau tujukan kepada dirimu sendiri untuk meyakinkan apakah kau dapat mengerti nasehat ibumu itu”

Pinten pun tertawa juga.

“Sudahlah puteri, marilah aku persilahkan puteri masuk ke dalam, ingat puteri, angin di musim ini sangat berbahaya”

“Musim apa Pinten?”

“Dimusim kita masing-masing dicengkam oleh angan-angan, bukankah kita gadis yang meningkat dewasa?”

“Ah” Inten mendorong Pinten sehingga gadis itu terhenyak duduk. Tetapi sambil tersenyum-senyum Inten berkata, “Kau ini selalu aneh”

Pinten masih tertawa, katanya, “Bukankah begitu puteri?, jika seruling itu terdengar lagi, maka akibatnya akan parah bagi puteri”

Tiba-tiba saja terasa tengkuk Inten meremang, katanya, “Baiklah, tetapi bukankah kamas Kuda Rupaka ada?”

“Ah, apakah puteri tidak mengetahui, bahwa tadi Raden Kuda Rupaka mohon diri kepada ibunda untuk pergi ke padukuhan sebentar ketika puteri sedang mandi?, bukankah kandang kuda itu sudah kosong?”

“Bersama Paman Panji Sura Wilaga?”

“Ya, tetapi hanya sebentar, seperti biasanya, mereka memerlukan kebutuhan hidup sehari-hari. Nanti sebentar mereka akan pulang, dan orang-orang Karangmaja itu akan mengirimkan apa yang diperlukan oleh Raden Kuda Rupaka”

“Kakangmas Kuda Rupaka bekal yang cukup, agaknya ia tidak menghitung-hitung lagi, berapa ia membayar kepada Ki Buyut untuk membeli kebutuhan kita semuanya”

Pinten mengangguk-angguk, katanya, “Tentu Raden Kuda Rupaka mempunyai bekal yang banyak sekali”

Inten pun kemudian membenahi pakaiannya, agaknya benar kata Pinten, bahwa sebaiknya mereka berada di dalam saja.

Tetapi ketika mereka baru saja berdiri, terdengar suara yang melangut di depan regol halaman, suara tembang yang tiba-tiba saja mereka dengar.

Pinten mengerutkan keningnya, ketika ia berpaling, dilihatnya dua orang yang berjongkok di depan regol halaman itu, salah seorang dari keduanya telah mengidungkan tembang yang mengiba-iba.

Inten Prawesti tertegun pula, dengan penuh kebimbangan ia memperhatikan kedua orang yang berjongkok de depan regol istana itu.

“Tentu bukan Kidang Alit” bisiknya.

Pinten tiba-tiba saja telah berdiri tegak di tangga pendapa, dengan tajam dipandangnya kedua orang itu, namun kemudian ia berkata, “Puteri, tembangnya mohon belas kasihan, tetapi aku tidak tahu, apakah tembangnya mengandung bisa seperti tembang Kidang Alit, jika kedua orang itu kawannya, maka mereka tentu dapat melakukannya juga, padahal saat ini Raden Kuda Rupaka tidak berada disini”

“Aku kira, mereka adalah pengembara yang memerlukan belas kasihan” bisik Inten.

“Mungkin puteri, tetapi biarlah kakang Sangkan sajalah yang menjumpai mereka, memberikan dua bungkus nasi atau keperluan yang lain”

Inten mengangguk-angguk, suara tembang itu masih menggetarkan halaman, meskipun semakin lama menjadi semakin lambat, dan hilang di ujung bait.

Namun sejenak kemudian tiba-tiba suara orang itu melonjak naik. Dari kidung yang ngelangut tembangnya berubah menjadi garang, seolah-olah suara genderang perang di medan perang, memanggil setiap prajurit untuk bangkit dengan senjata di tangan.

“Puteri” bisik Pinten, “Biarlah kakang Sangkan segera menemuinya dan memberikan apa yang diperlukannya”

“Alangkah garangnya” bisik Inten.

“Marilah, aku akan memanggil kakang Sangkan”

Tetapi keduanya tidak perlu beranjak dari tempatnya. Dilihatnya Sangkan telah berada di halaman, disisi pendapa itu dengan sapu lidi ditangan.

“Bukan main” bisiknya, “Tembang itu sangat merdu, aku senang sekali mendengar tembang yang garang seperti itu, bukan yang melangut dan beriba-iba”

“Ah kau” sahut Pinten, “Ambillah dua bungkus nasi, berikan kepada mereka, agar mereka cepat pergi”

“Kenapa?, aku senang mendengarnya, aku akan mengambil dua bungkus nasi, tetapi mereka harus berdendang tiga atau empat lagu lagi, jika mereka tidak mau, aku pun tidak akan memberikan nasi itu”

“Cepatlah, mintalah nasi kepada biyung”

Tetapi Sangkan berdiri sambil tersenyum-senyum, bahkan kemudian ia mulai menirukan suara tembang itu”

“Kakang..!!” Pinten agak berteriak.

Namun pada saat itu, mereka mendengar pintu pringgitan berderit, ketika mereka berpaling, mereka melihat Raden Ayu Kuda Narpada berdiri di muka pintu pringgitan itu.

“Ibunda” panggil Pinten sambil berlari mendekatinya.

“Aku mendengar suara tembang itu” kata ibundanya.

“Dua orang yang agaknya memerlukan sesuatu ibunda, itulah mereka berjongkok di depan regol”

Raden Ayu termangu-mangu sejenak, dipandanginya kedua orang yang berjongkok di depan pintu regol, tetapi jaraknya tidak terlampau dekat, sehingga karena itu, Raden Ayu tidak begitu dapat melihat wajah mereka.

“Suruhlah mereka masuk” berkata Raden Ayu Kuda Narpada.

Inten termangu-mangu, sementara Pinten yang berdiri di tangga pendapa pun kemudian naik pula sambil berjongkok, “Ampun gusti, biarlah kakang Sangkan memberikan dua bungkus nasi kepada mereka”

“Aku akan bertanya kepada mereka, Pinten suruhlah kakakmu membuka regol dan membawa mereka masuk”

“Tetapi ibunda” kata Inten, “Saat-saat seperti ini agaknya sangat meragukan, apalagi kakangmas Kuda Rupaka sedang tidak ada”

“Kakangmasmu baru pergi sebentar Inten, hanya sebentar ia akan pulang”

“Tetapi sementara itu?” sahut Inten.

“Suara tembangnya sangat menarik perhatianku, bawalah mereka masuk, mereka tidak akan berbuat apa-apa”

Tetapi Inten masih ragu-ragu, mungkin orang-orang yang berniat kurang baik atas isi istana ini mempergunakan cara lain. Bukan ilmu gendam yang dapat mengaburkan pikiran gadis-gadis, tetapi mereka mempergunakan ilmu yang lain yang dapat merubah sikap seseorang tanpa disadarinya.

Namun dalam pada itu, Sangkan menyahut dari halaman, “Ampun Gusti, aku akan membuka regol itu. Suara tembang itu memang sangat menyenangkan”

“Kakang” berkata Pinten, “Apakah kakang tidak minta saja dua bungkus nasi kepada biyung?”

Tetapi yang menjawab adalah Raden Ayu, “Tidak Pinten, orang itu tentu tidak hanya sekedar minta sebungkus nasi”

Belum lagi Pinten menjawab, terdengar suara Nyi Upih dari pintu pringgitan, “Ya, gusti puteri, mereka tentu tidak sekedar minta sebungkus nasi”

“Biyung” desis Pinten.

“Suara tembang itu sangat menarik hati, menurut pendapatku, seperti pendapat gusti, biarlah mereka masuk”

Pinten tidak menyahut lagi, dengan wajah yang tegang seperti Inten Prawesti mereka memandang Sangkan yang berlari-lari ke regol halaman dan membuka selaraknya.

“He, masuklah” berkata Sangkan kepada dua orang yang berjongkok di depan pintu.

“Apakah kami berdua sudah diperkenankan?” bertanya yang muda.

“Masuklah, Gusti memanggil kalian”

Kedua orang itu masih termangu-mangu, dipandanginya Sangkan dengan keraguan.

“Kami mohon belas kasihan” kata yang tua.

Tetapi Sangkan tertawa, katanya, “Baiklah, kami mempunyai cukup belas kasihan, masuklah, kalian harus menghadap gusti puteri”

“Siapakah gusti itu?”

“Raden Ayu Kuda Narpada” Sangkan masih saja tersenyum, lalu, “Cepat, masuklah, regol ini akan segera aku tutup, sebentar lagi Raden Ayu Kuda Narpada akan datang, apakah kalain melihat Raden Kuda Rupaka? Mungkin kalian bertemu dengan Raden Panji Sura Wilaga di Karangmaja apabila kalian baru datang dari padukuhan itu”

Kedua orang itu termangu-mangu, namun kemudian segera bangkit berdiri dan berjalan perlahan-lahan memasuki halaman istana itu, sementara Sangkan segera menutup regol itu kembali.

“Apakah ibunda akan menyuruh keduanya menghadap?”

“Aku perlu berbicara dengan mereka berdua”

“Mereka memerlukan belas kasihan ibunda, tetapi dalam keadaan sekarang ini, kita perlu berhati-hati”

“Aku akan berhati-hati” ibundanya termenung sejenak, lalu, “Sudahlah Inten, bawalah Pinten ke belakang, biarlah Nyi Upih mengawani aku disini”

Inten dan Pinten masih termangu-mangu, sementara Sangkan telah mendahului menghilang di sudut pendapa.

Namun sejenak kemudian, Inten dan Pinten pun bergeser dari tempatnya, Inten langsung masuk ke ruang dalam, sedangkan Pinten beringsut turun ke halaman.

Dengan tergesa-gesa Pinten kemudian menyusul kakaknya, tetapi langkahnya tertegun ketika ia melihat Sangkan masih berdiri disebelah sudut pendapa, dibelakang sebatang pohon ceplok piring yang rimbun.

“Kenapa kau berbuat itu kakang?” bertanya Pinten

“Mungkin mereka adalah kawan-kawan Kidang Alit, mereka mungkin sekali mempunyai ilmu yang dapat mempengaruhi pikiran orang lain”

“Apakah pikiranmu sudah dipengaruhi?, lihatlah seorang dari mereka adalah anak yang masih muda”

“Tetapi ia adalah seorang peminta-minta”

Sangkan tertawa, ia pun kemudian berkata, “Kau aneh Pinten, jika kau yakin ia peminta-minta, kau tidak usah cemas meskipun ia naik ke pendapa. Kecurigaanmu mengatakan kepadaku, bahwa kau menganggap anak muda yang tampan dalam ujud seorang peminta-minta itu, sama sekali bukannya seorang peminta-minta”

“Kau selalu begitu kakang” kata Pinten sambil mengulurkan tangannya. Tetapi sebelum ia mencubit tangan kakaknya, Sangkan berbisik, “Ssst, jangan bikin ribut disini”

Pinten dengan serta merta menarik tangannya sejenak, ia termangu-mangu, namun kemudian ia berkata, “Terserahlah kepadamu, aku akan menemui puteri ke belakang”

Sangkan tidak menjawab, dipandanginya saja langkah Pinten yang kemudian menghilang di longkangan.

Di pendapa kedua orang pengembara itu menghadap Raden Ayu Kuda Narpada yang dikawani oleh Nyi Upih. Dengan penuh minat Raden Ayu mendengarkan ceritera tentang asal usul kedua orang yang telah mendengarkan tembang yang sangat menarik itu.

“Siapakah yang mengajari kalian melagukan kidung itu?”

“Ampun Puteri, setiap orang di padukuhan kami dapat melagukan tembang itu”

“Tetapi kata-kata yang tersirat pada kidung itu tentu tidak semua orang dapat mengucapkannya”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak.

Sementara itu Sangkan masih saja berada di tempatnya, tetapi ternyata ia tidak banyak mendengar percakapan itu, meskipun beberapa patah kata dapat dimengertinya, namun demikian kadang-kadang wajahnya menjadi tegang, tetapi sejenak kemudian nampak sebuah senyuman dibibirnya.

Percakapan itu tidak berlangsung lama, sejenak kemudian maka, Sangkan mendengar suara Nyi Upih mengajak kedua orang itu ke belakang.

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, katanya kepada diri sendiri, “Agaknya aku mendapat kawan dua orang pengembara di dalam istana ini, apakah dengan demikian pekerjaanku akan menjadi bertambah ringan atau sebaliknya, aku harus mengawasi keduanya terus menerus, agar mereka tidak sempat mencuri sisa-sisa barang yang masih ada”

Belum lagi Sangkan berbuat sesuatu, ia sudah mendengar suara ibunya memanggil, “Sangkan, kemarilah”

Dengan tergesa-gesa Sangkan pergi menemui ibunya di belakang, dilihatnya dua orang pengembara itu masih berdiri termangu-mangu di belakang Nyi Upih.

“Sangkan” berkata ibunya, “Kau mendapat dua orang kawan lagi, kasihan, mereka adalah pengembara yang kelaparan dan kehausan”

Sangkan tersenyum, namun sebuah kilatan tatapan matanya telah menyambar kedua orang itu, sehingga kedua tertunduk dalam-dalam.

“Jadi” sahut Sangkan kemudian, “Aku akan menjadi lurah orang-orang kesrakat disini, sudah tentu aku akan mengatur pekerjaan yang harus kalian lakukan. Bukankah begitu? Kalian tidak akan dapat bermalasmalasan disini, dan setiap hari mendapat makan tiga kali” namun tiba-tiba Sangkan menjadi ragu, “Tetapi bagaimana dengan Raden Kuda Rupaka? Apakah ia sependapat dengan kehadiran kedua orang ini? Sampai sekarang rasa-rasanya hidup kita tergantung kepadanya”

Nyi Upih memandang anaknya dan kedua orang itu berganti-ganti, dengan ragu-ragu ia pun kemudian berkata, “Tentu Raden Kuda Rupaka tidak akan membiarkan keduanya mengalami penderitaan lebih lama lagi”

“Tetapi apakah bekal yang dibawanya cukup banyak untuk menghidupi kita semuanya, ditambah dengan dua orang pengembara ini.

“Sudahlah Sangkan, biarlah gusti puteri mengatakannya nanti kepada Raden Kuda Rupaka, adalah tidak sepantasnya kau mengatakan hal itu dihadapan orang yang berkepentingan”

Sangkan tertawa, katanya, “Hanya orang-orang yang berperasaan sajalah yang akan menjadi tersinggung karenanya, dan aku tidak yakin bahwa kedua orang ini mempunyai perasaan yang halus sehingga keduanya mempertimbangkan kemungkinan serupa itu”

Sekilas Sangkan melihat bahwa yang muda diantara kedua orang itu mengangkat wajahnya, namun kemudian wajah itu pun kemudian tertunduk lagi, sementara Nyi Upih membentaknya, “Kau terlalu sekali Sangkan, kaulah yang tidak berperasaan”

Sangkan masih tertawa, katanya kemudian, “Tetapi suara kalian memang sangat menarik hati, tembang yang kau lontarkan benar-benar telah memukau Gusti Raden Ayu. Aku pun tertarik pula pada tembang yang memiliki ciri yang aneh itu. Karena tembang kalianlah maka aku tidak sependapat dengan adikku agar kalian sekedar mendapat dua bungkus nasi saja”

Kedua orang itu sama sekali tidak menjawab.

“Sudahlah Sangkan” berkata Nyi Upih, “Jangan sesorah, bawa kedua orang ini kedalam bilikmu”

“Ke dalam bilikku?, dimanakah Pinten akan tidur?, apakah Pinten dan biyung juga akan tidur bersama dengan kedua orang ini?”

Nyi Upih menggelengkan kepalanya, katanya, “Aku sudah mohon agar kami berdua diperkenankan tidur di jerambah dalam disamping pintu”

Sangkan mengerutkan keningnya, lalu katanya, “Biyung akan membentangkan tikar setiap malam, dan menggulungnya lagi di pagi hari?”

“Ya, kenapa?”

Sangkan mengangguk-angguk, lalu katanya kepada kedua orang itu, “Nah, kau dengar, Biyungku terlalu baik hati terhadap kalian, ia mengorbankan dirinya untuk memberikan tempat kepada kalian di istana ini”

Orang yang lebih tua mengangkat wajahnya, dengan suara yang dalam ia menyahut, “Kami mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada Raden”

“Hem, aku yang kau maksud?”

Orang itu ragu-ragu, sedang Sangkan kemudian tertawa terbahak-bahak, “Jangan sebut aku Raden, aku akan menjadi pingsan nanti, panggil aku Panji, eh bukan, Rangga juga bukan, panggil saja aku Sangkan”

Pengembara yang tua menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia mencoba bersikap seperti semula.

“Kau terlalu banyak bicara Sangkan” berkata Nyi Upih

“Ayo, bawa mereka ke bilikmu”

Kedua orang itu berpandangan sejenak.

“Ya, kau belum memperkenalkan namamu kepada anakku” berkata Nyi Upih.

Yang muda memandang Sangkan sejenak, lalu katanya, “Namaku Panon”

“Panon, Panon begitu saja?”

“Itu sudah cukup” Nyi Upih lah yang menyahut, “Apa jawabmu jika ada orang yang bertanya kepadamu, apakah namamu hanya Sangkan saja?, Apa itu sudah cukup?”

Sangkan tertawa pula, lalu ia pun melangkah mendekati kedua orang itu sambil bertanya pula, “Dan kau Ki Sanak?”

“Aku bernama Ki Mina, anak muda”

“O, kau tentu mempunyai hubungan dengan beberapa jenis ikan”

“Aku memang pencari ikan disungai”

“Sudahlah” sekali lagi Nyi Upih memotong, “Kau harus segera melakukan tugasmu, kau belum selesai membersihkan halaman, kau juga belum mengisi jambangan di pakiwan”

“He, bukankah aku tinggal mengaturnya saja”

“Ah, kau memang terlalu banyak bicara, cepat, bawa mereka kebilikmu”

Tetapi sebelum Sangkan beranjak dari tempatnya, tiba-tiba terdengar suara Pinten dari pintu dalam, “Mau dibawa kemanakah mereka itu?”

“Ke bilikku, mereka akan tidur di dalam bilikku” jawab Sangkan.

“Aku?”

“Kau juga”

“Tidak mau, aku tidak mau”

“Nyi Upih pun segera mendekati Pinten sambil berkata, “Aku sudah mengaturnya Pinten, Kau tidur bersamaku”

“O, senang sekali. Seperti masa kanak-kanak aku tidur bersama bibi, Kau tentu akan berdendang lagu yang ngelangut sebelum aku tertidur”

“Bibi siapa?”

“O, biyung, maksudku biyung”

Nyi Upih tertawa kecil, tetapi ia tidak menjawab.

Sementara itu Sangkan pun telah mengajak kedua orang pengembara itu kedalam biliknya, sambil berdiri dimuka pintu ia berkata, “Nah, kau berdua dapat mempergunakan pembaringan biyung, aku akan tidur di pembaringan Pinten.”

Namun tiba-tiba saja Ki Mina bertanya, “Dan pembaringamu anak muda?”

“Biasanya aku tidur di kolong pembaringan Pinten”

Kedua pengembara itu saling berpandangan sejenak, namun kemudian mereka menarik nafas panjang.

Sangkan memperhatikan tingkah laku mereka dengan heran, bahkan kemudian ia bertanya, “Ada yang kurang sesuai dengan kehendak kalian?”

“O, tidak, tidak anak muda, semuanya sudah terlampau cukup, aku sangat berterima kasih atas semuanya ini, atas kemurahan yang dilimpahkan oleh Raden Ayu” Sahut Ki Mina.

“Nah, kemasilah barang-barangmu, aku akan pergi ke pakiwan”

“O, biarlah aku saja” berkata Panon, “Biarlah aku saja yang menimba air”

Sangkan tertawa, katanya, “Nanti sajalah, sekarang kalian boleh beristirahat, kalian memang harus bekerja disini, itu memang lebih baik. Kalian tidak pantas menjadi pengemis yang malas dan sekedar menanti belas kasihan orang, badanmu cukup baik. Masih belum terlalu tua dan pikun, bahkan Panon masih terlalu muda. Semuda aku barangkali, benar-benar tidak pantas memilih pekerjaan sebagai pengemis.”

Panon menjadi gelisah, rasa-rsanya ia ingin menjawab pemalas yang hanya dapat menanti belas kasihan orang tidak dan sanggup bekerja apa saja.

Tetapi keadaannya tidak memungkinkan untuk menjawab kata Sangkan itu, karena itulah, maka rasa-rasanya dadanya membengkak oleh sebuah tekanan perasaan yang sangat berat baginya.

Sangkan pun kemudian melangkah pergi, dimuka pintu ia berpaling sambil berkata, “Suara tembangmulah yang menyeret aku kemari, aku pun jadi tertarik”

Panon menjadi termangu-mangu

“Nanti malam, aku ingin belajar melagukan tembang itu, kau tentu mau mengajariku bukan?”

Panon masih termangu-mangu, namun Ki Mana lah yang menjawab, “Tentu anak muda, Panon akan mengajarimu melagukan kidung yang menarik itu, bukan saja tembang-tembang yang sudah dilagukannya, tetapi tembang yang lain pun Panon dapat menendangkannya dengan baik”

“Tidak” sahut Sangkan, “Tembang itu saja”

Ki Mina tidak sempat menjawab, karena Sangkan pun kemudian meninggalkan mereka di dalam biliknya.

Sepeninggal Sangkan, Ki Mina terduduk di atas pembaringan, sementara Panon terdengar mengeluh pendek.

“Sunggguh berat tugas ini Paman” berkata Panon Suka, “Agaknya bukan hanya cobaan-cobaan dan hambatan-hambatan jasmaniah saja, tetapi perasaan pun harus tahan mengalami caci maki yang tidak ada ujung pangkalnya itu”

Ki Mina tersenyum, jawabnya, “Semua ini adalah ujian bagimu, dan kau harus dapat mengatasinya dengan sebaik-baiknya, jangan kau perturutkan perasaanmu, apalagi dalam usia muda, jika kau cepat tersinggung, maka tugasmu akan terganggu dan bahkan akan gagal”

Ki Mina terdiam sejenak, lalu, “Apapun yang dikatakan oleh Sangkan, adalah sebagian kecil saja dari ujian perasaan yang akan kau alami, jika nanti Raden Kuda Rupaka itu datang , maka kau akan mengalami ujian yang barangkali lebih berat. Tetapi jangan lupa, kau adalah seorang pengembara, jangan sakit hati jika kau disebut pengemis, pemalas dan lan-lain”

Panon mengangguk-angguk, ia menyadari ujian yang bakal dialami di istana kecil itu, karena itulah maka ia pun kemudian mempersiapkan dirinya untuk menghadapi setiap kemingkinan. Yang lahir tetapi juga yang batin.

Tiba-tiba terdengar derap dua ekor kuda memasuki longkangan samping langsung menuju ke kandang.

“Bangsawan muda yang bernama Kuda Rupaka itu telah datang bersama Panji Sura Wilaga” kata Ki Mina.

Panon mengangguk-angguk.

“Kita harus bermain lebih baik, aku harus menjadi menjadi orang yang lebih tua, dan jangan sekali-kali menunjukkan sikap yang dapat menimbulkan kecurigaan”

Panon mengangguk lagi.

Beberapa saat kemudian mereka menunggu, agaknya Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga, setelah memasukkan kudanya ke kandang, kangsung menuju masuk ke ruang dalam.

“Tentu Raden Ayu baru memberitahukan kehadiran kita sekarang” desis Ki Mina.

Panon termangu-mangu sejenak, kemudian ia berkata, “Paman, jika persoalan menjadi runcing, dan tiba-tiba saja timbul sikap yang kasar, apakah kita akan membiarkan diri kita dilemparkan dari istana ini?”

“Kita percaya kepada Raden Ayu Kuda Narpada, ia akan dapat mengatasi kemanakannya itu betapapun kasarnya”.

“Tentu, tetapi dalam keadaan yang wajar, tetapi jika kedua bangsawan itu mempunyai maksud tertentu yang nilainya lebih berharga dari sanak kadang, aku kira ia sudah tidak akan dapat mempercayai setiap orang yang dalam ujudnya sudah hampir mati sekalipun, karena saat ini, Karangmaja baru menjadi arena pertemuan yang panas, bukankah kita juga merupakan salah satu pihak yang memang pantas dicurigai, dan selalu mencurigai siapapun juga disini? Bahkan sekalipun, meskipun ia adalah orang dalam istana ini”

Percakapan terhenti karena tiba-tiba di depan pintu bilik sudah berdiri Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga.

“Siapa sebenarnya kalian He…! Dan apa maksud kedatangan kalian di istana ini?, “

“Kami pengembara Raden, dan kami tidak ada maksud apa-apa di istana ini”

“Jangan bohong, kalian pasti mengincar sesuatu disini”

“Kami tidak mengerti maksud Raden, dan apa yang harus kami incar dari istana ini?”

“Kita sama-sama tahu, apa maksud kalian sesungguhnya”

Ki Mina tidak menjawab lagi, tetapi terasa betapa kesulitan akan mejadi semakin banyak dihadapi oleh Panon dalam tugasnya.

“Baiklah pengembara yang malang, nikmatilah kemenanganmu yang pertama itu, karena dalam babak berikutnya, kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa, kecuali jika kalian mengurungkan niat kalian mencelakai bibi Kuda Narpada”

Kuda Rupaka tidak menunggu jawaban, ia pun kemudian meninggalkan bilik itu diikuti oleh Panji Sura Wilaga.

“Bibi terlampau baik” desisnya ketika mereka sudah berada di serambi.

“Tetapi benar-benar berbahaya” Sahut Panji Sura Wilaga, “Raden harus berusaha meyakinkan bahwa kehadiran pengembara itu dapat berakibat buruk, siapa tahu, ia adalah kawan dari dua orang yang terbunuh di halaman ini. Yang seorang yang berhasil lari itulah yang memanggilnya dengan cara yang berbeda untuk memasuki halaman ini”

“Ya, aku akan berusaha terus, sehingga orang-orang itu diusir dari istana ini, biarlah mereka menghubungi Ki Buyut di Karangmaja, jika mereka berdua benar-benar orang yang perlu belas kasihan, itu adalah kewajiban Ki Buyut”

Panji Sura Wilaga menggeleng, katanya, “Tentu bukan Raden, Apakah Raden memperhatikan badannya yang nampaknya terpelihara baik meskipun agak kotor”

“Aku melihatnya, dan aku memang sudah mencurigainya” Kuda Rupaka berhenti sejenak, lalu, “Mungkin kita harus membunuh lagi paman”

“Bagaimana dengan Sangkan?” bertanya Panji Sura Wilaga.

“Maksudmu? Apakah kau mencurigainya?”

Panji Sura Wilaga menggeleng, katanya, “Tidak ada yang pantas dicurigai pada pengecut itu, tetapi justru karena ia tinggal dalam satu bilik dengan pengembara itu, mungkin ia akan dapat menjadi korban yang pertama”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, katanya, “Kasihan jika benar-benar terjadi demikian, tetapi tanggung jawab atas peristiwa itu ada pada bibi Kuda Narpada”

  -oo0 dw-arema 0oo-

Bersambung ke jilid 6

Sumber djvu : Koleksi Ismoyo

http://cersilindonesia.wordpress.com

Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://ebook-dewikz.com/

http://kang-zusi.info http://dewikz.byethost22.com/

diedit ulang oleh Ki Arema

kembali | lanjut

ISTANA YANG SURAM 04

ISTANA YANG SURAM

Jilid 4

Karya: SH Mintardja

kembali | lanjut

Istana Yang Suram-04NAMUN karena cacat badannya, ia tidak lagi mampu berbuat banyak dalam hal kanuragan, itulah sebabnya di tempat terpencil, di ujung jurang di lereng gunung lereng gunung Merbabu.

Dihadapannya, seorang anak muda duduk bersila sambil menundukkan kepalanya, menunggu perintah apa yang harus dilakukan.

Namun agaknya sikap gurunya kali agak berbeda dari hari-hari sebelumnya, namun kesempatan bagi muridnya untuk mengenal lebih dekat, bahkan sekali-kali pertapa yang cacat itu masih juga sempat bergurau, tidak saja dengan muridnya, tetapi juga dengan orang tua muridnya itu.

Tetapi kali ini gurunya nampak bersungguh-sungguh, sehingga karena itu, timbullah perasaan aneh di hatinya, sehingga dadanya menjadi berdebar-debar.

“Panon Suka” panggil pertapa itu.

Anak muda yang duduk di hadapannya mengangkat wajahnya perlahan-lahan terdengar suaranya ragu, “Ya guru”

“Dimanakah ayahmu?, beberapa hari ini ia tidak berkunjung kemari?”

“Agaknya ayah berada di sawah guru, hujan di lereng gunung membuat arus air menjadi deras, ayah harus menjaga agar air itu tidak merusak batang padi yang baru ditanam”

Gurunya mengangguk-angguk, lalu katanya, “Panon, jika ayahmu tidak berkeberatan, aku akan menyerahkan satu tugas yang berat bagimu, karena itu aku ingin berbicara dengan ayahmu”

Panon menjadi semakin heran, dengan bimbang ia bertanya, “Guru, bukankah selama ini ayah menyerahkan segala-galanya kepada guru?, aku pun merasa berbahagia jika guru telah mempercayakan satu tugas bagiku, aku rasa ayah pun demikian juga”

Tetapi gurunya menggeleng, katanya, “Tetapi tugasmu kali ini akan sangat berat, karena itu aku harus berbicara dahulu dengan ayahmu, kau adalah anak laki satu-satunya, tentu kau merupakan harapan bagi masa depannya”

Panon bertambah heran, tetapi karena gurunya yang bersungguh-sungguh, ia tidak berani bertanya lagi.

“Baiklah guru, aku akan pergi sejenak memanggil ayah”

“Tidak terlampau tergesa-gesa, jika pekerjaan di sawah belum selesai, biarlah ia menyelesaikannya, nanti jika ayahmu sudah selesai dan beristirahat barang sejenak, biarlah ia datang kemari”

Panon mengangguk dalam-dalam, lalu ia pun bergeser sambil berkata, “Baiklah guru, aku akan menyampaikannya”

Perlahan-lahan Panon meninggalkan gubug terpencil di luar padukuhan, gubug yang dibuat oleh ayah Panon di pinggir lereng yang curam, tetapi tempat itulah yang telah dibangun oleh pertapa itu untuk tinggal, ia dapat hidup menyepi, tetapi tidak terputus hubungannya sama sekali dengan kehidupan yang wajar, meskipun ia tidak dapat hadir dalam kehidupan yang demikian karena cacatnya”

Sepeninggal Panon, pertapa itu merenung sejenak, dipandangnya pepohonan perdu di luar gubugnya, warna hijau yang segar mengkilap disentuh oleh sinar matahari, dikejauhan terdengar suara burung berkicau bersahut-sahutan, sambil berloncatan di dahan pepohonan.

Pertapa itu menarik nafas dalam-dalam, sekilas terkenang masa lampaunya yang panjang dan penuh dengan gejolak kehidupan, sehingga pada suatu saat ia telah terlempar ke tempatnya yang sekarang, benar-benar terlempar seperti arti katanya, ia terlempar dari atas tebing dan berguling jatuh ke dalam jurang.

Pertapa itu mengerutkan keningnya ketika kenangannya membentur pada masa-masa ia tidak sadarkan diri, bahkan serasa bahwa ia memang sudah mati.

Tetapi tiba-tiba pertapa itu terkejut ketika ia mendengar langkah kecil mendekati gubugnya, sejenak kemudian muncullah seorang gadis kecil di depan pintu, gadis kecil yang sudah dikenalnya dengan baik.

Pertapa itu berdesah, katanya, “Kau memang nakal, kau tentu kemari seorang diri”

Gadis kecil itu tersenyum, selangkah ia maju mendekati pertapa itu sambil bertanya, “Apakah Kakang Panon ada disini?”

“Kemarilah” desis pertapa itu.

Gadis itu memang sudah biasa datang ke gubug itu, karena itu maka ia pun tidak segan lagi terhadap pertapa tua dan cacat itu, dengan lincahnya ia berlari dan duduk diatas pangkuan pertapa tua itu yang menyeringai sejenak, menahan sakit kakinya, tetapi ia pun kemudian tersenyum, “Kau nakal sekali, kenapa kau datang lagi kemari seorang diri?”

“Aku mencari kakang Panon, bukankah ia selalu berada disini?”

“Kakangmu baru saja pulang, kau akan dicari oleh ibumu”

“Ibu ke pasar”

“Ayahmu?”

“Ayah ke sawah”

“Mbakayumu?

“Ia ikut ibu ke pasar, aku sendiri di rumah, karena itu aku mencari kakang Panon disini”

“Kau nakal sekali, kalau begitu, kau tentu sedang menjaga rumah, kenapa rumahmu kau tinggalkan?”

“Aku tidak mau di rumah sendiri kek”

“Nuri” desis pertapa itu.

“Kek, namaku bukan Nuri, namaku Wuyung”

Pertapa itu tertawa, katanya, “Namamu memang Wuyung, tetapi mulutmu ini selalu berkicau seperti burung Nuri, aku lebih senang memanggilmu Nuri”

Gadis kecil itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab.

“Nuri” pertapa itu mengulang, “Atau lengkapnya Nuri Wuyung atau Wuyung Nuri, kenapa rumahmu kau tinggalkan?, nanti rumahmu itu dibawa oleh seekor siput, kau pernah melihat siput?”

“Ah, bohong, siput hanya sekecil ibu jari”

“Di puncak Gunung Merbabu itu ada seekor siput raksasa, siput yang sering mengambil rumah yang ditinggalkan penghuninya”

Gadis kecil itu mengerutkan keningnya, sejenak ia berpikir, namun tiba-tiba ia berkata ragu-ragu, “Tetapi, tetapi seekor siput sudah membawa rumahnya sendiri kemana-mana, ia tidak memerlukan rumah lagi”

Pertapa itu tertawa, sambil mengusap rambut gadis kecil itu ia berkata, “Kau memang pandai, siput memang sudah membawa rumahnya sendiri”

“Karena itu rumahku tidak akan hilang”

“Tetapi jalan menuju kemari dari rumahmu adalah berbahaya sekali, bukankah kau berjalan di sepanjang pematang, kemudian menuruni tunggul dan tebing yang curam?”

“Aku dapat meluncur sambil duduk”

“Nah, bagaimana jika kainmu tersangkut duri, Ooo, bukan kainmu saja, tetapi kulit kakimu?”

“Ternyata tidak apa-apa”

“Kalau tiba-tiba muncul seekor ular bandotan yang berwarna hitam kelam dari dalam semak-semak bagaimana?”

“Kakang Panon juga sering menakut-nakuti aku dengan ular bandotan, tetapi aku tidak pernah diganggu, sekali aku pernah melihatnya menyelusur kedalam semak, dan aku juga pernah melihat weling”

Pertapa itu menarik nafas, katanya, “Kau memang nakal, kau harus tinggal disini sampai kakakmu atau ayahmu datang kemari”

“Aku berani pulang sendiri kok”

“Kau tinggal disini saja anak nakal, He Nuri, apakah kau dapat berdendang?”

“Ah, Aku pulang saja ah”

“Tunggulah dulu, kawani aku disini sebentar”

“Aku mau tinggal disini, tetapi tangkaplah burung podang buatku, aku mencari kakang Panon, karena kakang Panon sanggup untuk menangkap podang yang sedang bersiul di ujung batang jambe di pinggir padukuhan”

“Ah, kau ini aneh-aneh saja”

“Jika kakek tidak mau, aku akan pulang”

“Bagaimana jika tidak ada burung podang disini?”

“Burung jalak atau kutilang atau menco juga jadi”

“Baiklah Nuri, tetapi janji, jangan dibunuh dan jangan diikat, setelah kau puas bermain-main, maka burung itu harus kau lepaskan lagi”

“Aku akan memeliharanya kek”

“Tidak perlu, biarlah burung itu terbang bebas di udara, kau dapat mendengarkan mereka bersiul di setiap pagi dengan riang”

“Di dalam sangkar burung juga dapat bersiul”

“Dengarlah Nuri, tetapi lagunya berbeda, jika ia bebas di udara, maka lagunya tentu lagu riang, tetapi jika ia bersiul di dalam sangkar, maka lagunya adalah lagu duka”

Gadis kecil itu merenung sejenak, namun ia pun kemudian meloncat berdiri sambil, berkata, “Baiklah kakek, aku akan bermain-main dengan burung itu disini saja, nanti, burung itu akan aku lepaskan kembali”

Pertapa itu mengangguk-angguk katanya, “Bagus, tetapi kau janji bukan?”

“Aku janji, sekarang kakek menangkap seekor burung buatku”

Pertapa itu pun kemudian berdiri tertatih-tatih, ia berjalan dengan tongkatnya dari gubugnya yang terpencil.

Gadis itu memandangnya dengan sorot mata yang keheran-heranan, agaknya pertapa itu memakluminya karena itu sambil tersenyum ia berkata, “Mudah-mudahan kakek dapat menangkap seekor burung yang dapat terbang seperti angin”

“Bagaimana kakek dapat menangkapnya?” bertanya gadis itu kemudian.

Pertapa itu tidak menyahutnya, tetapi selangkah demi selangkah ia pun akhirnya sampai keluar gubugnya.

“Jika ada burung yang hinggap di halaman gubugku Nuri, aku akan menangkap untukmu”

Gadis kecil itu masih terheran-heran, tetapi ia tidak bertanya lagi.

Beberapa saat lamanya menunggu, namun akhirnya seekor burung jalak uret terbang rendah dan hinggap diatas sebatang pohon dadap yang tumbuh dengan rimbunnya.

“Kau lihat burung itu?”

Gadis itu mencari sejenak, kemudian ia pun berkata, “Ya, kakek burung itu”

“Jangan lupa janjimu, Kau akan melepaskannya kembali, bukankah begitu?”

“Ya…”

Pertapa itu pun kemudian memungut sebutir kerikil yang kecil sekali, tidak lebih dari sebutir buah wuni, kemudian kerikil itu dimasukkan kedalam mulutnya.

Namun ia masih berkata, “Nuri sudah berjanji”

Tiba-tiba saja pertapa itu menyemburkan kerikil di mulutnya itu, hampir tidak masuk akal, bahwa tiba-tiba burung yang bertengger di dahan pohon dadap itu pun terjatuh ke tanah.

“Nah, burung itu sudah jatuh Nuri”

“Apakah burung itu mati kek?”

“Tidak, burung itu tidak mati, tetapi sekedar pingsan, sebentar lagi burung itu akan segera sadar lagi, nah ambillah, dan bermain lah dengan burung itu sambil menunggu kakakmu datang”

Gadis kecil yang bernama Wuyung itu pun kemudian berlari-lari mengambil burung yang pingsan itu, kemudian ia pun berlari ke pakiwan dan menitikkan beberapa tetes air ke paruh burung itu, sehingga sejenak kemudian burung itu pun menjadi sadar.

Tetapi dalam pada itu, gadis itu sudah melupakan, bagaimanakah caranya pertapa itu mendapatkannya bahwa dengan sebuah tiupan, burung itu pun jatuh dari dahan pohon dadap.

Pertapa itu tersenyum melihat Wuyung dengan asyiknya bermain-main dengan seekor burung jalak uret, namun setiap kali Wuyung mengerutkan dahinya, karena burung itu selalu meronta-ronta.

“Kek, burung ini nakal sekali” katanya

Pertapa itu tersenyum, katanya, “itu adalah nalurinya, Nuri, Ia ingin bebas terbang di udara, bermain bersama angin yang lembut, kau lihat burung yang terbang itu, betapa senangnya dia”

Wuyung menengadahkan kepalanya. Lalu, “Alap-alap, burung itu Alap-alap kek”

“Ya…”

“Ooo, kalau begitu jalak ini harus bersembunyi, jika tidak maka burung ini akan disambarnya”

Pertapa itu mengangguk-angguk, “Seperti di hutan, Nuri, maka di udara pun berlaku hukum kekuatan itu, siapa yang lemah akan menjadi mangsa yang lebih kuat”

“Apakah dimana-mana juga begitu kek?”

“Tidak Nuri, kita manusia tidak berbuat demikian, kita mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain dari kekuatan jasmaniah, kita mempunyai perasaan yang mengandung berbagai macam sentuhan, kita dapat menjadi kasihan terhadap sesama jika kita melihat penderitaan lahir maupun batin, kita dapat menimbang manakah yang baik dan yang manakah yang buruk, dan kita memiliki rasa keadilan dan keseimbangan”

Wuyung memandang pertapa itu dengan tatapan yang aneh, sehingga akhirnya pertapa itu tertawa.

“Kenapa kakek tertawa?”

“Aku sedang mengigau, kau tentu tidak tahu apa yang aku katakan, tetapi tidak apa, kelak kau akan menjadi besar, dan kau kan mulai mengetahui dengan sendirinya” kakek itu pun kemudian tertatih-tatih berjalan mendekati gadis itu, “Marilah, masuklah, barangkali aku masih mempunyai kelapa muda dan segumpal gula kelapa, kau senang kelapa muda bukan?, jika kebetulan aku tidak mempunyai, kau selalu bertanya”

“He, apakah kakek dapat memanjat pohon kelapa?”

“Kenapa?”

“Berjalan pun agaknya kakek harus memakai tongkat”

Pertapa itu tertawa, jawabnya, “Kakakmu, Panon yang memanjat pohon kelapa itu”

Wuyung pun kemudian mengikut pertapa itu ke gubugnya, bahkan ia berusaha untuk menggandeng kakek yang berjalan tertatih-tatih itu sambil berkata, “Hati-hati kek, nanti kakek jatuh tersandung tlundak pintu, seharusnya kakang Panon memperbaiki pintu rumah kakek” ia berhenti sejenak, lalu, “Kenapa kakek tinggal sendiri disini? Kadang-kadang ibu bertanya kepada ayah, kenapa kakek tidak tinggal bersama kami saja?, kakek tidak perlu menanak nasi dan mencuci pakaian sendiri”

Petapa itu tersenyum, katanya, “Aku tidak pernah menanak nasi, Nuri”

Wuyung mengerutkan keningnya, ia menjadi heran mendengar jawaban kakek pertapa itu, sehingga kemudian ia pun bertanya, “Jika kakek tidak menanak nasi, apa yang kakek makan? Atau barangkali kakang Panon yang menanak nasi untuk kakek?”

Orang tua itu tertawa, katanya, “Kakek tidak makan nasi, kakek makan jenis makanan yang lain”

“Ketela pohon? Jagung?”

Kakek itu tidak menjawab, tetapi ia masih saja tersenyum.

“Jika kakek merebus jagung atau ketela pohon, bukankah hampir saja sibuknya dengan menanak nasi?”

Pertapa itu menggeleng, tetapi katanya kemudian, “Sudahlah Nuri, jangan risaukan kakek, sekarang bermain lah di dalam gubug ini saja, jangan pergi sebelum kakakmu datang”

“Kakek akan kemana?”

“Aku tidak kemana-mana, aku akan duduk di pintu menunggu kakakmu dan ayahmu”

Wuyung yang dipanggil Nuri oleh pertapa tua itu tidak menjawab, ia pun kemudian duduk diatas amben bambu sambil bermain-main dengan burung di tangannya, namun kemudian ia pun menjadi jemu dan bangkit, “Kakek, aku akan melepaskan burung ini”

Kakek pertapa yang duduk di muka pintu itu pun berpaling sambil berkata, “Bagus, jika terlalu lama kau pegang, maka, burung itu akan menjadi sangat bersedih”

Wuyung pun kemudian berlari ke pintu, disisi pertapa itu ia pun kemudian duduk sambil berkata, “Aku akan melepaskannya ke udara, kek apakah burung itu akan menjadi gembira?”

“Tentu Nuri, setiap kebebasan akan disambut dengan gembira”

“Tetapi kek, sebenarnya burung yang dipelihara di dalam sangkar itu, tentu merasa lebih senang, ia tidak usah mencari makan dan terlindung dari bahaya, dari alap-alap misalnya, atau dari anak-anak nakal yang bermain dengan tulup”

“Nampaknya memang begitu Nuri, tetapi kebebasan harganya lebih mahal dari makanan sehari-hari, atau bahkan kebebasan kadang-kadang harus dituntut dengan mempertaruhkan nyawa, meskipun kebebasan itu sendiri bukannya berarti berbuat sekehendak hati, karena justru setelah kebebasan itu dapat dicapai, maka yang dihadapi kemudian adalah sebuah pertanggungan jawab, misalnya burung itu harus mencari makan dan melindungi dirinya dari bahaya”

Wuyung mengerutkan keningnya, nampaknya ia tidak dapat mengerti kata-kata kakek pertapa itu, meskipun kemudian mengangguk-angguk, tetapi sambil tersenyum kakek itu berkata, “Nah, cobalah, lepaskan burung itu, ia akan segera terbang ke langit biru dan terbang di sinarnya matahari yang nyaman, ia akan segera berdendang melagukan pujian karena kebebasannya”

Wuyung memandang pertapa itu sejenak, namun kemudian ia pun berdiri di halaman, sesaat ia termangu-mangu, dipandangi-nya burung di tangannya dan langit yang biru yang terbentang diatas tanah pegunungan.

“Aku lepaskan sekarang ya kek?” Wuyung bertanya

Kakek itu mengangguk.

Wuyung pun kemudian melepaskan burung itu ke udara, sesaat kemudian burung itu pun mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi dengan tanpa berpaling.

Wuyung termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia pun tertawa sambil berlari mendapatkan kakek pertapa yang duduk di muka pintu.

“Kek, burung itu terbang tinggi ke langit biru”

Pertapa itu tersenyum, katanya, “Nah, bukankah burung itu dengan riang kini berputaran di udara”

Wuyung mengangguk-angguk, nampaknya ia masih akan bicara lagi, tetapi mulutnya yang sudah menganga itu pun terkatup kembali ketika ia mendengar suara ayahnya, “Aku sudah menduga kau disini Wuyung?”

Wuyung berpaling, dilihatnya ayahnya berjalan diantara tanaman di kebun di samping gubug itu.

Wuyung meloncat dan berlari mendapatkan ayahnya sambil berkata lantang, “Baru saja kakek menangkap burung buatku”

Ayahnya tersenyum, lalu dibimbingnya anak gadisnya kembali ke gubug itu sambil berkata, “Tetapi lain kali, jangan pergi sendiri Wuyung”

“Aku di rumah sendiri”

“Justru kau sendiri, kau harus menjaga rumah”

“Wuyung memberengut, tetapi ia tidak menyahut lagi.

Ternyata ayah Wuyung tidak datang seorang diri, di belakangnya Panon Suka mengikutinya dengan ragu, agaknya ia masih dicengkam oleh berbagai pertanyaan tentang sikap gurunya dan apalagi gurunya telah minta kepadanya untuk memanggil ayahnya.

“Tanpa dipanggil pun ayahnya selalu datang” katanya di dalam hati”

Tetapi Panon tidak sampai ikut masuk ke dalam gubug itu, karena gurunya pun kemudian berkata, “Panon, antarkan adikmu pulang, nanti ibu dan kakaknya gelisah karena anak itu pergi”

Panon mengangguk sambil menjawab, “Baik guru”

Tetapi nampaknya Wuyung masih segan untuk pulang, meskipun ia tidak mengelak kakaknya membimbing tangannya dan membawanya meninggalkan gubug itu.

Namun agaknya masih ada beberapa persoalan yang mengganggu pikiran kecilnya, sehingga ia tidak dapat menahannya lagi, dan menanyakannya kepada Panon, “Kakang, apakah yang dimakan oleh kakek pertapa itu?, katanya ia tidak pernah menanak nasi”

Panon memandang adiknya sejenak, lalu berkata, “Kenapa kau tanyakan hal itu?”

“Kakek mengatakan, bahwa ia tidak pernah menanak nasi dan memang ia tidak pernah makan nasi?”

“Panon mengangguk, jawabnya, “Kakek pertapa itu memang tidak pernah makan nasi Wuyung, yang dimakannya adalah empon-empon disamping sebangsa garut dan lembong”

“Hanya itu?”

“Dan cabe, cabe rawit”

“Ya, aneh sekali”

“Sudahlah, kau tidak usah memikirkannya, kakek pertapa itu tentu sudah mempunyai maksud tertentu dengan caranya itu”

“Aneh sekali” Gadis itu termangu-mangu sejenak, namun tiba-tiba ia teringat cara pertapa itu menangkap burung, karena itu, maka katanya, “Kakang, kakek itu menangkap burung dengan cara yang aneh, Ia memasukkan kerikil kecil sekali ke dalam mulutnya, kemudian, dengan sebuah hembusan, kerikil itu dapat membuat seekor burung menjadi pingsan, aku pernah melihat cara yang hampir serupa, tetapi orang lain mempergunakan tulup dan lempung”

Panon Suka tertawa, sambil menarik tangan adiknya agar gadis kecil itu berjalan lebih cepat ia berkata “Marilah, ibu tentu sudah pulang dari pasar, apakah kau tidak pesan oleh-oleh?”

“Tentu ibu akan membeli tiga bungkus hawug-hawug”

Panon tidak bertanya lagi, Ia mengajak adiknya mendaki tebing yang curam, kemudian meloncati parit dan berjalan di sepanjang tanggul.

“Aneh” katanya dalam hati. Adiknya yang masih kecil itu nampaknya tidak merasa lelah, ada sesuatu yang lain padanya.

Tetapi Panon tidak mengatakannya, ia berjalan saja semakin lama semakin cepat. Dan Wuyung pun berlari-lari kecil di sampingnya.

Dalam pada itu, sepeninggal Panon Suka dan Wuyung, pertapa tua itu pun mempersilahkan ayah Panon masuk ke dalam gubugnya, setelah mereka duduk berdua, maka pertapa tua itu pun segera mulai dengan kepentingannya, kenapa ia memanggil ayah Panon datang kepadanya.

“Adi” berkata pertapa itu, “Sebenarnya Panon Suka masih terlampau muda untuk melakukan tugas ini, tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain, dari segi olah kanuragan dan kajiwan, aku menanggap bahwa ia sudah cukup mampu untuk melindungi dirinya meskipun baru dalam waktu yang singkat aku membimbingnya, ia memiliki banyak kelebihan secara alamiah yang dibawanya sejak ia lahir, sehingga ilmu yang aku berikan dengan keadaan jasmaniku yang cacat ini, segera dapat dipahami dan dihayatinya, meskipun dengan hanya petunjuk-petunjuk lisan dan sedikit contoh-contoh yang tidak berarti, kini Panon Suka telah menjadi seorang yang memiliki ilmuku hampir seluruhnya”

“Tuan, eh, kakang Wirit semuanya aku serahkan kepadamu, aku percayakan anak itu seluruhnya lahir dan batinnya”

Petapa itu tertawa, katanya, “Sudah sekian lamanya kita bergaul, Adi masih saja sering keliru, menyebut namaku”

Ayah Panon tersenyum dan menunduk.

“Adi, Panon adalah anak laki-lakimu satu-satunya, karena itu aku akan minta ijin, apakah Panon Suka diperkenankan untuk menggantikan aku yang sudah cacat ini?”

Ayah Panon menjadi heran, ia tidak segera mengerti maksud pertapa yang disebutnya kakang Wirit itu, karena itu, maka dengan ragu-ragu ia bertanya, “Aku tidak mengerti maksudmu kakang, apakah Panon harus menggantikan kedudukanmu sebagai pertapa di lereng gunung ini?, atau kedudukan yang lain?”

“Adi, ada sesuatu yang penting yang harus aku lakukan, dan yang seharusnya aku lakukan itu, terhalang oleh keadaan jasmaniahku yang cacat sekarang ini”

Ayah Panon menarik nafas dalam-dalam, kemudian dengan nada datar ia berkata, “Maksud kakang, apakah Panon harus menuntut balas atas peristiwa yang pernah terjadi atas kakang Wirit beberapa tahun yang lalu itu?”

“Tidak sama sekali, tidak” Sahut Wirit dengan tergesa-gesa, “Aku sama sekali tidak bermimpi untuk membalas dendam”

“Jadi tugas apakah yang harus dilakukan oleh Panon?”

“Adi, aku minta ijin untuk memberikan suatu tugas yang berat, ia harus meninggalkan lereng gunung yang hijau ini dan pergi ke tempat yang jauh?”

“Kemana?”

“Ke Pegunungan Sewu”

“Pegunungan Sewu? Jadi ke dinding selatan dari pulau ini?”

Wirit mengangguk-angguk.

Ayah Panon menarik nafas dalam-dalam, bagaimanapun juga terasa sesuatu bergetar didadanya, karena Panon adalah anak laki satu-satunya, kedua saudaranya yang lain adalah perempuan semuanya.

“Meskipun demikian Adi, aku menunggu keputusanmu” berkata pertapa itu selanjutnya, “Aku adalah guru Panon Suka, tetapi kau adalah ayahnya, adalah salah bahwa seorang guru merasa lebih berhak atas muridnya dari pada ayah anak itu sendiri, keduanya seharusnya memiliki tanggung jawab bersama didalam bidangnya masing-masing serta mendasarinya dengan budi pekerti yang baik, sesuai dengan darma seseorang terhadap sesama dan baktinya terhadap Yang Maha Pencipta” Ia berhenti sejenak, lalu, “karena itulah, dalam penyerahan tugas dan tanggung jawab kali ini, aku pun minta pertimbanganmu, katakanlah dengan jujur menurut kata hatimu, apakah kau dapat melepaskan anak lakimu satu-satunya itu”

Ayah Panon termenung sejenak, angan-angannya mulai merayap kedalam bayangan yang harus dilakukan oleh anaknya di Pegunungan Sewu.

“Kakang Wirit” ia pun berkata kemudian, “Kau belum mengatakan tugas yang kau bebankan kepada anakku itu”

“Ya, aku belum mengatakannya” Wirit termenung sejenak, lalu, “Adi, di daerah Pegunungan Sewu, tepatnya di daerah yang bernama Karangmaja, terdapat sebuah istana kecil yang dibuat oleh Pangeran Kuda Narpada”

“Jadi…..” desis ayah Panon.

“Aku belum selesai” berkata Wirit, “Aku ingin minta Panon Suka untuk pergi ke istana kecil itu, ada sesuatu yang penting harus dilakukan Panon di dalam istana kecil itu”

Ayah Panon mengangguk-angguk, sementara Wirit berkata lebih lanjut, “Adi, tugas itu memang berat, aku tidak tahu apakah yang akan dihadapinya, dan aku tidak tahu keadaan istana itu sekarang, mungkin istana itu sudah musnah, mungkin masih ada, dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas istana yang dibuat oleh Pangeran Kuda Narpada itu”

“Ya…” berkata Ayah Panon, “Istana itu tentu sudah beberapa tahun ditinggalkannya”

Wirit menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian, “Perjalanan Panon ke Pegunungan Sewu itu mungkin hanya merupakan sebuah tamasya saja tanpa berbuat sesuatu, ia akan kembali dan berkata kepadaku bahwa Istana itu sudah musnah dengan segala isinya” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi ada kemungkinan yang lain, ia akan bertemu dengan beberapa orang yang tidak dikenalnya dan ia harus mempertahankan nyawanya, itulah yang menyebabkan aku harus minta pendapatmu”

Ayah Panon memandang wajah pertapa itu sejenak, ia melihat tatapan mata yang buram, namun ia melihat sesuatu keyakinan yang memancar pada mata yang buram itu, karena itu, maka, ayah Panon itu pun kemudian berkata, “Kakang Wirit, kaulah yang mengetahui, apakah bekal Panon Suka sudah cukup untuk melakukan tugas itu, jika sekiranya bekal itu memang sudah cukup, baiklah, aku tidak berkeberatan, karena aku percaya, bahwa ia akan dapat melindungi dirinya sendiri, meskipun kemungkinan yang pahit masih dapat terjadi”

Wirit mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Waktu yang dipergunakan oleh Panon untuk menuntut ilmu memang terlampau singkat, hanya beberapa tahun saja, sebenarnya masih belum cukup, tetapi ketekunan dan bakat alamiah yang ada padanya, membuat aku menjadi heran, bahwa dalam waktu yang singkat itu, ia sudah memiliki hampir semua kemampuanku, sebelum aku menjadi cacat, bahkan ia memiliki beberapa kelebihan justru karena cara hidup dan daerah yang cukup berat baginya hampir setiap saat, jika Panon Suka pergi ke sawah, sehari dua tiga kali, mengambil air dengan lodong bamboo dan memanggulnya nail lereng, dan kerja yang lain, telah menempa tubuhnya dan menjadikannya seorang yang kuat kewadagannya, kemudian diramu dengan ilmu dan latihan-latihan yang teratur dan khusus, ternyata telah membuatnya menjadi seorang anak muda yang luar biasa”

Ayah Panon menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih kepadamu kakang, karena itulah, maka aku serahkan Panon sepenuhnya untuk melakukan tugasnya yang penting itu”

“Terima kasih adi, Nanti malam aku akan memberikan pesan dan petunjuk atas tugas yang harus dijalankannya itu”

“Aku hanya dapat berdoa, aku tidak dapat memberikan bekal apapun”

“Mudah-mudahan semua tugas dapat dilakukannya dengan baik tanpa kesulitan apapun adi, jika ia datang ke istana itu, dan tidak ada pihak-pihak lain yang terkait, maka tugasnya akan cepat selesai, bahkan seandainya istana itu sudah musnah sekalipun, asal ia masih dapat menemukan bekasnya, maka ia dapat menyelesaikannya pula” Ia terhenti sejenak lalu, “Tetapi jika hadir pihak-pihak lain, maka, persoalannya akan menjadi bertambah panjang, tetapi Panon tidak harus dapat melakukan tugasnya tanpa pertimbangan-pertimbangan yang wajar, aku akan berpesan kepadanya, bahwa apabila menurut perhitungannya tugas itu tidak dapat dilakukannya, maka ia dapat mengurungkannya, ia tidak perlu dengan membabi buta mengorbankan nyawanya, jika hal itu sudah diketahuinya, karena bagiku nyawa seseorang adalah sesuatu yang sangat berharga, lebih berharga dari apapun juga, tetapi jika taruhan nyawa itu tidak dapat dihindarinya, dengan kemungkinan-kemungkinan yang nyata, maka barulah ia akan berjuang dengan segenap kemampuan yang ada padanya”

Ayah Panon mengangguk-angguk, debar jantungnya masih belum dapat ditenangkannya karena terbayang di angan-angannya anak laki satu-satunya itu menempuh bahaya yang melandanya bagaikan gelora ombak di lautan yang sedang diaduk oleh angin lautan.

Tetapi akhirnya ayah Panon itu pun harus pasrah, di dalam hatinya ia mencoba untuk menghibur dirinya sendiri, “Gurunya tentu mengetahui, bahwa tugas yang diberikan kepada Panon akan dapat dilakukannya dengan baik, tanpa menjerumuskannya ke dalam pengorbanan yang sia-sia.

Karena itulah, maka ayah Panon mencoba untuk mengedapankan perasaannya, sambil mengangguk-angguk, ia berkata, “Yang Maha Agung akan melindunginya jika ia berjalan di jalan yang lurus”

“Ya adi, sandaran yang paling utama, dan aku mencoba untuk mendorongnya melalui jalan yang lurus itu”

Keduanya tidak meneruskan pembicaraannya, ketika Panon pun kemudian datang kembali setelah mengantarkan adiknya pulang, gurunya ingin memberikan pesan dan nasehat-nasehat tersendiri.

Sejenak kemudian ayah Panon minta diri, ia sama sekali tidak ingin memberitahukan hal itu kepada isterinya, agar isterinya tidak menjadi cemas dan selalu memikirkannya.

Ketika kemudian malam turun menyelubungi lereng pegunungan, maka Panon pun duduk menghadap gurunya, dengan dada yang berdebar-debar. Ia tahu, bahwa gurunya akan memberikan tugas yang penting kepadanya, tugas yang harus dilakukannya dengan segenap kemampuan yang telah diterimanya dari gurunya.

“Panon” berkata gurunya, “Kau akan menempuh sebuah perjalanan yang cukup jauh, meskipun perjalanan itu masih belum sejauh perjalanan para petualang yang sebenarnya”

Panon hanya menundukkan kepalanya, dengan seksama ia pun mendengarnya, perjalanan yang harus ditempuhnya ke pegunungan seribu yang membujur bagaikan dinding yang panjang disisi selatan tanah ini.

Dengan lengkap pertapa itu memberikan beberapa penjelasan, pesan dan petunjuk-petunjuk apakah yanag harus dikerjakannya di halaman sebuah istana kecil di padukuhan Karangmaja.

“Panon” berkata gurunya, “Aku tidak mengetahui perkembangan terakhir dari istana kecil itu, mungkin perjalanan akan menjadi singkat, tetapi mungkin juga panjang dengan segala macam akibat yang akan dapat terjadi”

Panon masih menundukkan kepalanya.

“Setiap kali, kau akan dapat menghubungi aku Panon, jika kau menemukan persoalan-persoalan diluar pengetahuanmu”

“Jadi setiap kali aku harus kembali kemari guru?” bertanya Panon kemudian.

Gurunya menggeleng, katanya, “Bukan begitu maksudku, bukan kau harus mondar mandir pada jarak yang jauh itu, tetapi akulah yang harus mendekat”

“Guru” desis Pnon

“Gurunya tersenyum, katanya, “Sebagaimana kau lihat, tubuhku memang cacat, aku akan mengalami kesulitan jika aku menempuh jarak yang begitu jauh, tetapi jika jarak itu aku lalui dengan tidak tergesa-gesa, maka aku akan sampai ke tujuan, itulah sebabnya maka aku akan mempercayakan kau untuk melakukan tugas ini. Tetapi mungkin perkembangan terakhir yang tidak aku ketahui sudah menjadikan keadaan jauh berubah, karena itu Panon, aku akan mendekati pegunungan Sewu, mungkin lima atau enam hari aku baru sampai, sementara itu, kau sudah memanjat naik dan melihat perkembangan terakhir pada pahukuhan itu”

Panon menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian, “Guru, sebenarnya aku dapat mondar mandir pada jarak yang meskipun agak panjang, tetapi dapat dicapai dalam waktu sehari, jika aku mengenderai seekor kuda”

Gurunya menggeeleng, katanya, “Tidak Panon, jika jalannya rata seperti jalan-jalan padukuhan, memang jarak itu dapat ditempuh dalam sehari semalam, bahkan mungkin kurang, meskipun sudah memperhitungkan saat-saat untuk beristirahat, tetapi jalan pegunungan Sewu tidak serata jalan-jalan padukuhan”

Panon mengangguk-angguk.

“Karena itu Panon, biarlah aku mendekat, aku akan berada di ujung pegunungan yang berbatasan dengan ngarai di lembah Payung, kau sebaiknya menempuh jalan sebelah timur Hutan Mentaok yang lebat dan sampai ke ujung pegunungan di lembah Payung, Kau tidak dapat menembus Alas Mentaok, karena perjalanan yang demikian justru akan menjadi lambat, meskipun memotong arah”

Panon mengangguk-angguk, sahutnya perlahan-lahan, “Ya, guru”

Gurunya kemudian memberikan beberapa pertanda tentang lembah Payung di kaki Gunung Sewu di ujung hutan, ia memberikan beberapa pertanda tentang sebuah padukuhan kecil di lembah itu.

“Guru akan berada di padukuhan kecil itu?” bertanya Panon.

“Tidak Panon, Kau sajalah yang pergi ke padukuhan kecil itu, kau dapat menitipkan kudamu disana, kau dapat memberikan upah kepada seseorang yang akan merawat kudamu selama kau berada di pegunungan Sewu, karena kau akan datang ke Karangmaja dengan berjalan kaki saja”

“Lalu bagaimana dengan guru?”

“Aku akan menyusul, aku akan meminjam kudamu untuk memanjat pegunungan Sewu itu, karena itu, kau harus berpesan kepada orang yang kau serahi, bahwa seseorang yang cacat akan datang mengambil kuda itu”

Panon mengangguk-angguk, ia mengikuti semua pesan dan petunjuk gurunya, ia harus datang ke Karangmaja sebagai seorang perantau yang kekurangan dan miskin. Selain itu, gurunya memang memerlukan seekor kuda untuk naik ke lereng yang agak terlalu condong seperti yang dikatakan oleh gurunya itu.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Panon bertanya, “Tetapi kenapa guru tidak berkuda saja sejak dari sini?”

Gurunya tersenyum, katanya, “Tidak Panon, aku ingin berjalan, aku masih ingin menguji kakiku, apakah masih mampu aku pergunakan untuk menempuh jarak yang sebenarnya tidak terlampau jauh itu” gurunya berhenti sejenak, lalu, “Kecuali itu, aku ingin melihat-lihat daerah yang pernah aku jelajahi dimasa mudaku dahulu”

Panon hanya dapat menggigit bibirnya, menilik ujud jasmaniahnya, gurunya tentu akan mengalami kesulitan untuk menempuh jarak yang demikian panjang, tetapi sudah barang tentu Panon tidak akan dapat mengukur kemampuan gurunya dengan pasti, sehingga karena itu, maka ia pun hanya dapat menyerahkan semua persoalan kepada gurunya.

Demikianlah maka semua pesan dan petunjuk tentang tempat tugas dan nama-nama yang mungkin harus dihubungi telah diberikan semuanya oleh pertapa itu kepada Panon. Padukuhan-padukuhan yang harus menjadi perhatian dan tempat pertapa itu menunggu setiap saat ia diperlukan oleh Panon.

“Goa itu bukanlah goa yang dalam” berkata gurunya itu tentang tempat persembuniyannya, “Tetapi cukup untuk berteduh”

“Bagaimana guru mendapatkan air?”

Gurunya tersenyum, katanya, “Aku akan mendapatkannya, jika di daerah itu masih tumbuh sebangsa rerumputan yang merambat, aku akan mendapatkan air, pada pangkal rumput itu jika aku potong”

Panon mengangguk-angguk, ia sudah tau semua yang harus dilakukan, jika ia menemui kesulitan, maka ia harus mencari gurunya di tempat yang sudah ditentukan, tidak jauh dari padukuhan Karangmaja.

Maka malam itu Panon pun segera menyiapkan dirinya, lahir dan batin, kecuali menyiapkan seeokar kuda, bekal pakaian di dalam bungkusan kecil, sekedar uang yang ditabungnya, maka ia pun menyiapkan senjatanya.

Panon seorang anak muda dari padesan, tidak mempunyai senjata yang berarti, gurunya pun tidak memberikan senjata apapun juga, karena Kiai Wirit itu pun tidak mempunyainya. Yang dimiliki oleh Panon adalah senjata-senjata buatan pandai besi di padukuhannya, bukan buatan empu yang memiliki kelebihan dalam pembuatan jenis-jenis pusaka.

Tetapi menurut gurunya senjata-senjata itu pun sudah memadai. Senjata-senjata itu tidak lebih dari pisau-pisau kecil yang diselipkan diantara ikat pinggang kulitnya, tidak hanya satu atau dua pisau, tetapi pisau-pisau kecil itu berjajar sepanjang ikat pinggangnya yang melingkarin perutnya.

“Panon” selalu terngiang pesan gurunya, “Senjata adalah alat yang paling buruk untuk menjaga diri, karena itu, jika tidak terpaksa sekali, maka senjata pantang diperrgunakan”

“Panon menarik nafas dalam-dalam, ia selalu mencoba mengingat pesan itu.

Namun demikian, Panon adalah anak muda yang memiliki tangan yang dapat bergerak secepat kejapan mata, tidak seorang pun yang dapat menghitung, berapa buah pisau yang sudah terlontar dari tangannya dalam satu tarikan nafas.

Tetapi kepercayaan yang sebenarnya dari Panon tidak saja pada kecepatannya bergerak, tetapi juga kekuatan tangannya yang luar biasa, ia memanfaatkan kerjanya sehari-hari untuk menyusun tata gerak ilmunya yang dahsyat, hampir segenap bagian tubuhnya adalah senjata yang tiada taranya”

Selain kemampuan ilmunya, Panon juga dibekali dengan bermacam-macam obat yang dapat menghindarkan dirinya dari bencana yang disebabkan oleh luka-luka yang memancarkan darah terlampau banyak, juga obat-obatan yang dapat yang menawarkannya dari berbagai macam bisa dan racun.

“Di Pegunungan Sewu terdapat banyak sekali jenis ular berbisa” berkata gurunya, “Ular Bandotan, ular yang ditakuti oleh setiap orang, ular weling, ular welang, ular pudak grama, dan yang tidak kalah berbahayanya adalah ular ular gadung, meskipun bisanya tidak sekuat ular bandotan dan ular weling, tetapi ular gadung biasanya menyerang dari dahan-dahan kayu pepohonan, sedang warnanya hijau seperti dahan dan ranting-ranting pohon basah”

Semuanya itu tidak ada yang terlupakan oleh Panon, baginya, tugas itu merupakan batu ujian, apakah ia merupakan murid yang baik atau murid yang buruk. Murid yang baik tentu akan dapat melakukan tugas yang diberikan oleh gurunya dengan baik pula.

Menjelang fajar, Panon telah siap seluruhnya untuk berangkat, Ia berpamitan dan mohon doa kepada ayah dan ibunya, meskipun ia tidak menunjukkan kemungkinan sebenarnya yang dapat terjadi atasnya, terutama kepada ibunya. Sedang kepada adik-adiknya, Panon tidak memberitahukannya, mereka, masih tetap tidur nyenyak ketika Panon meninggalkan rumahnya, ia dibekali dengan beberapa petunjuk dan ancar-ancar yang mungkin sudah berubah karena waktu.

Tetapi Panon Suka bertekad untuk sampai ke tujuannya, ia harus menemukan sebuah padukuhan di punggung Gunung Sewu yang bernama Karangmaja.

Ternyata perjalanan yang ditempuhnya tidak semudah yang diduganya, apalagi ketika ia sampai ke daerah hutan yang masih lebat, Hutan Kedu Pengarang yang wingit.

Tetapi agaknya petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh gurunya membuat perjalanannya agak lancar, belum banyak perubahan yang terjadi. Yang dikatakan gurunya sebagian besar masih dapat dikenalinya, perubahan kecil yang terjadi, tidak mempengaruhi arah yang dipilihnya.

Seperti pesan gurunya maka Panon pun kemudian melingkari Gunung Merapi sebelah timur Alas Mentaok yang sulit untuk ditembus, sehingga karena itu seperti yang dikatakan gurunya, perjalanan ke Gunung Sewu tidak akan dapat ditempuh dalam sehari semalam.

Di beberapa tempat di sepanjang perjalanan, Panon Suka terpaksa berhenti beberapa kali, kudanya yang letih diberinya kesempatan untuk meneguk air di parit atau di sungai, kemudian dibiarkannya kuda itu makan rerumputan hijau sejenak, sebelum ia meneruskan perjalanannya.

Panon Suka yang belum pernah menempuh perjalanan yang agak jauh seperti yang dilakukannya ini, merasa betapa panjang perjalanannya, tetapi ketahanan tubuhnya dan latihan-latihan yang dilakukannya dengan baik, dapat mempertahankan gairah perjalanannya, dengan mengesampingkan perasaan lelah dan jemu.

Perjalanan Panon Suka yang mula-mula tidak menemui gangguan apapun selain kekerasan alam dan lebatnya hutan-hutan, tiba-tiba ia telah membentur sesuatu yang sebelumnya belum pernah dihadapinya. Selama ia mempelajari ilmu kanuragan dari gurunya, sebenarnyalah ia sama sekali belum pernah mempergunakannya untuk benar-benar bertempur dengan alasan apapun juga, setiap kali ia hanya harus melawan musuh buatan yang dibuat oleh gurunya, lemparan-lemparan batu, tongkat dan hembusanhembusan kerikil dari mulutnya. Yang terakhir ia harus melawan percikan-percikan air yang dilontarkan oleh gurunya agar ia menjadi basah karenanya dan menyerang dengan pisau-pisaunya, batu-batu yang dilemparkan ke udara, selebihnya ia harus menempa tubuhnya agar menjadi kuat dan bukan saja kekuatan wajarnya, tetapi juga pemusatan pikiran dan kehendak dan pemanfaatan tenaga cadangan yang memang sudah ada di dalam dirinya, sehingga seolah-olah Panon memiliki kekuatan jasmaniah yang berlipat-lipat.

Dan kini tanpa diduganya, Panon Suka telah berhadapan dengan tiga orang yang mencurigakan.

“Berhentilah anak muda” berkata salah seorang dari mereka.

Panon Suka berhenti dengan ragu, ketika ia memberikan pandangan matanya yang nampak adalah pepohonan hutan yang lebat, diluar sadarnya maka Panon pun menengadahkan wajahnya ke langit, ternyata di langit bertaburan bintang-bintang yang gemerlapan.

“Siapakah kau anak muda?, kau menempuh perjalanan bukan pada waktunya, kau lihat bintang Gubug Penceng itu?, nah, kau akan mengetahui waktu dengan memperhatikan kelompok bintang itu”

Panon Suka memandang kelompok bintang yang sedang menyilang, dari gurunya ia mengetahui, bahwa dengan menarik garis lewat bintang di puncak dan di ujung bawah, maka akan diketemukannya arah selatan, tetapi bintang itu kini telah condong jauh ke barat.

“Ternyata hari hampir fajar” berkata Panon Suka

“Ya, menjelang pagi, kenapa kau tempuh perjalanan pada waktu ini?”

“Aku berangkat pagi hari kemarin” kata Panon.

“Dan kau paksa kudamu dengan menempuh perjalanan yang agaknya cukup jauh itu?”

“Sudah tentu aku berhenti di beberapa tempat, beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan perjalanan”.

“Sekali lagi aku bertanya, siapakah kau, sudah tentu aku ingin juga mengetahui, kau datang dari mana dan hendak pergi kemana?”

“Namaku Panon” jawab anak muda itu, “Aku datang dari lereng Gunung Merbabu, dan…. Aku menempuh perjalanan tanpa tujuan, sekedar mencari pengalaman”

Oang itu mengerutkan keningnya, sampai tiba-tiba ia bertanya, “He, anak muda, apakah kau pernah melihat pertunjukkan wayang beber?”

“Kenapa?”

“Seorang ksatria akan menjawab seperti jawabanmu itu, jika ia bertemu lawannya di perjalanan, perjalanan tanpa tujuan menurut kehendak ujung kaki dan keredipan mata”

Panon menarik nafas dalam-dalam, ia tidak dapat menjawabnya, karena itu dibiarkannya saja orang itu berbicara, “Baiklah anak muda, jika kau tidak mau menyebut tujuan perjalananmu, maka, katakanlah, apakah kau membawa bekal cukup banyak?”

Panon terkejut mendengar pertanyaan itu, segera ia dapat meraba, siapakah yang kini dihadapinya.

Meskipun Panon sudah berbekal ilmu yang cukup, tetapi hatinya masih juga berdebaran, ia sama sekali belum pernah mengalami hal serupa itu.

“He, kenapa kau diam saja..?!!”

“Ki sanak” berkata Panon Suka setelah ia mencoba mengurangi getar jantungnya, “Aku bukan orang kaya yang dapat membawa bekal pada sebuah perjalanan tanpa tujuan seperti ini”

Tetapi orang itu tertawa, “Kudamu adalah kuda yang bagus sekali, nah apa katamu?”

Panon termangu-mangu sejenak, pertanyaan orang yang tidak dikenalnya itu semakin membingungkannya.

“Ki Sanak” berkata Panon kemudian, “Apakah sebenarnya yang kalian kehendaki?”

Orang itu tertawa, katanya, “Bagus, kau ingin langsung pada persoalannya, baiklah, aku ingin merampok semua milikmu termasuk kudamu”

Panon menjadi tegang meskipun ia memang sudah menduganya, sejenak ia berdiam diri, naum tiba-tiba saja ia bertanya, “Siapakah sebenarnya kalian ini?”

Orang itu tertawa semakin keras, katanya, “Kenapa kau bertanya tentang kami, yang kau jumpai di lorong sempit di pinggir hutan dan akan merampok barang-barang dan semua yang kau miliki?”

“Aku hanya ingin tahu” jawab Panon serta merta.

“Baiklah, jika kau ingin mengenal kami, Akulah yang bernama Bandung Limpat, Nah, apakah kau pernah mendengar nama itu. Setiap orang akan mengerutkan lehernya jika mendengar nama itu disebutkan, yang seorang dari kedua kawanku adalah Sisik Sana, sedang yang satunya adalah Watu Sampar” Ia berhenti sejenak, lalu, “Nah, sekarang sudah lengkap, lalu, apakah kau masih akan ingkar bahwa kau membawa bekal cukup”

“Ki Sanak” jawab Panon, “Aku sama sekali tidak ingkar, aku memang tidak membawa apapun juga selain seekor kuda dan beberapa lembar pakaian”

“Persetan” geram Bandung Limpat yang sudah mulai kehilangan kesabaran, “Cepat turun dari kudamu

“Serahkan semuanya yang kau miliki, kemudian tinggalkan kudamu di sini”

“Kenapa kau tidak percaya?, aku benar-benar bukan seorang kaya, sedangkan kudaku itu pun tidak dapat aku tinggalkan karena pada suatu saat, kuda itu akan dipergunakan oleh guruku”

“Guru?, jadi kau pernah berguru?” suara Bandung Limpat semakin keras, “Itulah yang membuatmu besar kepala, sehingga kau berani menolak permintaan kami yang kami ucapkan secara baik-baik”

“Sebenarnyalah Ki Sanak, tidak ada yang dapat aku berikan kepadamu, aku harus membawa kudaku sampai ke tujuan”

“Persetan” Bentak Sisik Sana, “Aku dapat membunuhmu, Kau harus sadari itu”

“Jangan berbuat kasar, sebaiknya kita tidak usah saling memaksa, kuda itu adalah kudaku, dan sudah barang tentu akulah yang paling berhak atasnya”

“Kubunuh kau jika kau mengucapkan satu kalimat lagi”

Panon semakin berdebar-debar, ia sadar, bahwa jika ketiganya memaksakan kehendaknya, maka ia harus menghadapinya dengan kekerasan pula.

Namun karena Panon masih belum memiliki pengalaman sama sekali, maka ia pun masih tetap ragu-ragu.

“Jika aku gagal sampai di sini, maka aku adalah murid yang tidak berguna” katanya di dalam hati.

Tetapi ia belum mempunyai gambaran sama sekali, apakah yang mungkin akan terjadi, namun ia sudah bertekad bahwa ia harus dapat mengatasi semua rintangan agar ia dapat melakukan tugas sebaik-baiknya.

Karena itulah, maka ia pun segera mempersiapkan diri, dipandanginya di dalam keremangan malam, tiga orang yang berdiri menghadangnya.

“Anak muda” Berkata Bandung Limpat, “Jangan memancing kemarahan kami, cepat, sebelum kemi berubah pikiran, pada suatu saat mungkin akan timbul keinginan kami untuk membunuhmu”

Panon tidak dapat berbuat lain. Karena itu, maka ia pun segera melompat turun, tetapi sama sekali bukan untuk menyerahkan kudanya, karena ia sama sekali tidak berhasrat untuk berbuat demikian.

Dengan mengendapkan gejolak perasaanya, Panon mencoba bersikap tenang, ditambatkannya kudanya pada sebatang pohon yang berdiri tegak tidak jauh dari tempatnya.

“Anak setan!!” geram Watu Sampar, “Jadi kau akan melawan”

“Tidak Ki Sanak, aku sama sekali tidak akan melakukan kekerasan, seandainya kalian tidak memaksaku untuk mempertahankan kudaku”

“Tutup mulutmu” Bentak Sisik Sana, “Sekali lagi kau membuka mulut, aku bunuh kau”

“Kalimat serupa itu sudah kau ucapkan dua kali” jawab Panon yang semakin lama semakin menguasai dirinya, “Dan aku tidak akan merubah pendirianku”

Sisik Sana tidak sabar lagi, ia pun segera melangkah maju mendekati Panon Suka, dengan wajah yang tegang ia berkata, “Aku benar-benar akan membunuhmu”

Panon melihat Sisik Sana sudah bersiap untuk menyerangnya, latihan-latihan yang berat yang dilakukannya selama ia berguru membuatnya bersiaga hampir diluar sadarnya.

Seperti yang diperhitungkannya, maka tiba-tiba sebuah loncatan yang cepat telah menerkamnya, kedua tangan Sisik Sana itu terjulur lurus dengan jari-jari yang terentang merapat, seolah-olah siap untuk menusuk dada Panon.

Tetapi Panon adalah seorang anak muda yang telah mendapat latihan kecepatan yang matang, karena itu, maka dengan gerakan yang sederhana ia berhasil menghindari serangan itu. Bahkan karkena ia masih ragu-ragu menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi, maka ia pun langsung menyerang Sisik Sana yang masih belum menemukan keseimbanganya kembali.

Serangan Panon benar-benar tidak terduga, dengan sisi telapak tangannya ia menghantam punggung Sisik Sana dengan kerasnya, sehingga orang itu pun terdorong beberapa langkah maju dan kemudian jatuh terlungkup.

Peristiwa yang telah terjadi dalam waktu.yang cepat itu, membuat kedua kawan Sisik Sana termangu-mangu. Mereka hanya memandang saja apa yang telah dilakukan dan kemudian dialami oleh kawannya. Mereka melihat Sisik Sana terdorong oleh pukulan sisi telapak tangan anak muda yang menyebut dirinya bernama Panon itu.

Namun tiba-tiba mata mereka pun terbelalak, Panon sendiri menjadi berdebar-debar dan sejenak justru menjadi bingung, orang yang jatuh terlungkup itu sama sekali tidak dapat bergerak lagi, bahkan bernafas pun tidak.

Dengan ragu-ragu Watu Sampar mendekatinya, perlahan-lahan tubuh yang terlungkup itu segera ditelentangkannya, alangkah terkejutnya Watu Sampar melihat Sisik Sana sudah tidak bernafas lagi, dari mulutnya mengalir darah yang membasahi rerumputan.

Ternyata pukulan Panon Suka telah meremukkan tulang belakang Sisik Sana, pukulan yang dilambari oleh ilmu yang luar biasa, tetapi karena belum dilengkapi dengan pengalaman, maka, Panon masih belum dapat mengira-ngira, betapa kuatnya ilmu yang dimilikinya.

“Kau bunuh kawanku” geram Watu Sampar dengan wajah tegang penuh kemarahan.

“Apakah ia benar-benar mati?” bertanya Bandung Limpat.

“Ya, Ia sudah mati, tentu tulang-tulang di punggungnya telah diremukkan oleh pukulan anak gila ini, ia lengah karena ia menganggap lawannya adalah anak-anak yang belum dapat berbuat apa-apa atasnya”

Watu Sampar berhenti sejenak, lalu sambil berdiri ia menggeram, “Anak muda, kau benar-benar anak gila, agaknya kau memang baru saja keluar dari padepokan, He…!!, kau berguru kepada siapa?”

Paon termangu-mangu sejenak, tiba-tiba saja dari bibirnya terloncat perkataan dengan suara gemetar, “Aku tidak sengaja membunuhnya, aku hanya memukul punggungnya, tidak pada tengkuknya, mungkin ia mempunyai penyakit yang dapat membuatnya mati dengan tiba-tiba”

“Gila…!!” teriak Bandung Limpat, “Jadi kau masih sempat menghinanya..!! jangan berbangga hati bahwa kau dapat membunuh kawanku dengan sekali pukulan, tentu kau sudah mematahkan tulang belakangnya dan merontokkan jantungnya, tetapi itu bukan karena kelebihanmu, itu semata-mata karena ia lengah dan tidak bersiaga”

“Aku benar-benar tidak sengaja” Panon masih kebingungan, ia baru pertama kalinya mengalami perkelahian dan ternyata ia sudah membunuh.

Tetapi kedua kawan orang yang terbunuh itu tidak menghiraukannya lagi, mereka pun segera mempersiapkan diri sambil berkata. “Kau harus mendapat hukuman yang setimpal, kau tidak hanya sekedar mati, tetapi kau akan kami cincang menjadi sayatan kulit dan daging dan akan kami lemparkan kemulut anjing”

Tiba-tiba saja kulit Panon terasa meremang, mengerikan sekali dan sudah barang tentu ia tidak ingin menglaminya.

“Anak Muda” berkata Bandung Limpat, “Kau harus berlutut dan minta ampun sebelum aku membunuhmu, caramu minta ampun itu pun akan mempengaruhi jalan kematian yang manakah yang kami pilih bagimu”

“Ki Sanak” berkata Panon, “Aku benar-benar tidak sengaja membunuh kawanmu, sepanjang umurku sampai saat ini, baru pertama kali inilah aku membunuh orang”

“Cukup, cepat berlutut dan minta ampun”

“Ki Sanak, aku bersedia minta ampun kepadamu, tetapi sudah barang tentu bahwa aku tidak dapat menyerahkan diri untuk dibunuh dengan cara apapun juga, sebaiknya kita akhiri saja salah paham ini, biarkan aku pergi dengan penyesalan, bahwa aku telah membunuh kawanmu tanpa aku sengaja”

“Gila…!, itu adalah suatu sikap akal licik yang paling gila, setelah kau membunuh seorang kawanku, maka kau berusaha untuk menghindakan diri dari tanggung jawab, dengar kelinci dungu, jika kau memang seorang laki-laki, maka kau harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu, kau dengar…!!”

Panon menjadi termangu-mangu, ia bimbang akan dirinya sendiri, apakah benar kata orang-orang yang akan merampoknya, bawha jika ia seorang laki-laki, maka ia harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya.

“Apakah artinya tanggung-jawab?” pertanyaan itu tumbuh di hati Panon, “Apakah aku harus menerima hukuman karena pembunuhan itu, atau aku harus bertempur secara jantan?”

Panon terkejut ketika tiba-tiba saja Watu Sampar membentak, “Cepat lakukan perintah kami”

Namun tiba-tiba terlompat jawaban dari Panon, “Maaf Ki Sanak, aku tidak dapat menyerahkan diriku untuk dibantai”

“Cukup, jika demikian kau harus mengalami kematian yang paling mengerikan”

Dalam pada itu, tiba-tiba saja timbul pemikiran di hati Panon, bahwa ia sedang mengemban tugas dari gurunya, ia harus sampai ke padukuhan Karangmaja, ia harus sampai ke istana kecil itu. Masih ada atau tidak, sehingga karena itu, maka dikesamping-kannya segenap keraguraguannya, ia berkata di dalam hati, “Aku memang harus bertanggung jawab kepada guru bahwa tugasku harus dapat aku lakukan sebaik-baiknya”

Karena itu, katanya kemudian, “Ki Sanak, jika kalian memaksakan kehendak kalian untuk membunuhku, maka betapapun penyesalan melonjak hatiku, namun aku tetap akan mempertahankan hidupku, karena itu adalah hakku.

“Persetan…!!” Bandung Limpatpun menggeram, ia benar-benar telah kehilangan kesabaran, selangkah ia maju mendesak, tetapi agaknya, tetapi agaknya ia tidak lagi menjadi korban yang tidak berarti seperti Sisik Sana, karena itu, ia pun telah mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya, bahkan ia pun kemudian telah menggenggam senjata di tangannya.

Demikian pula Watu Sampar yang berdiri disisi lain, di dekat mayat Sisik Sana, dengan gigi yang bergemeretak oleh kemarahan yang meluap ia menggeser mendekat, seperti Bandung Limpat, maka ia pun menggenggam senjata pula di tangannya.

Panon jadi sedikit bimbang, ia harus menghadapi dua orang yang barangkali tidak sebodoh Sisik Sana, apalagi keduanya telah menggenggam senjata ditangan masing-masing, sehingga dengan demikian, maka ia harus melakukan perlawanan yang lebih berat.

Sejenak kemudian Bandung Limpat yang telah dibakar oleh kemarahan itu pun segera melangkah mendekat, senjatanya yang menunduk kemudian teracu lurus kepada Panon, sedang senjata Watu Ampar mengarah ke lambung kanannya.

Panon bergeser setapak surut, ia memperhatikan settap gerak dari dua lawannya yang berdiri pada tempat yang berbeda, tetapi kemudian Panon yang kemudian benar-benar yang telah menyadari tugasnya, dengan penuh tanggung jawab menghadapi keduanya dengan hati yang tenang.

Sejenak kemudian terdengar Bandung Limpat menggeram, dan agaknya sekaligus merupakan aba-aba bagi kawannya untuk menyerang bersama-sama.

Demikianlah, serentak dalam kejap mata yang sama, kedua senjata itu pun meluncur dari arah berbeda dengan perhitungan yang masak, keduanya telah memperhitungkan arah yang mungkin ditempuh oleh Panon untuk menghindarkan dirinya dari serangan itu.

Ternyata seperti yang mereka duga, bahwa Panon telah meloncat, karena itulah maka serangan berikutnya segera menyusul, senjata Watu Sampar menyerang mendatar sedang Bandung Limpat menusuk sekali lagi mengarah dada.

Gerakan mereka demikian cepatnya, sehingga keduanya yakin bahwa Panon akan dapat dibunuhnya dengan segera, kemudian dicincangnya dan dilemparkannya kepada anjing lapar.

Tetapi mereka terkejut melihat cara Panon menghindari serangan itu, Panon yang pernah berlatih dengan tekun tanpa mengenal lelah, yang pernah berlatih mengindari lontaran batu-batu kerikil dan bahkan percikan air, tidak menjadi bingung, dengan cekatan ia melanting seperti seekor belalang, dengan demikian ia terhindar dari serangan yang mendatar setinggi lambung, namun ia harus menggeliat dan sekaligus meloncat surut menghindar dari serangan yang lain.

Kegagalan mereka untuk kedua kalinya, membuat Watu Sampar dan Bandung Limpat justru menjadi bingung, seolah-olah ia tidak sedang berhadapan dengan seorang anak muda sewajarnya, bahkan tba-tiba terbesit di hati mereka, “Apakah yang nampak itu sekedar bayangan dari penunggu hutan ini? Dari seorang jin atau genderuwo yang menjelma, sehingga dengan demikian, maka tubuhnya itu sama sekali tidak dapat disentuh oleh senjata atau segala bentuk kewadagan”

Namun dalam pada itu, Panon telah berdiri tegak beberapa langkah dari keduanya, setelah ia menghindari serangan lawannya yang kemudian justru menjadi termangu-mangu, maka Panon pun mendapat sedikit penilaian atas ilmunya dan ilmu kedua lawannya. Dengan demikiian, Panon menjadi semakin percaya, bahwa jika gurunya memerintahkannya melakukan sesuatu, tentu bukannya tidak beralasan.

“Tetapi guru selalu berpesan, bahkana aku tidak boleh merasa diriku mumpuni, adalah kebetulan sekali bahwa dua orang itu sama sekali tidak mempunyai bekal cukup. Tetapi menurut guru di tlatah Demak, tersebar orang-orang sakti yang pilih tanding, perguruan yang tersebar dari ujung barat sampai ke ujung timur ini telah menghasilkan berpuluh-puluh kesatria, tetapi juga menghasilkan berpuluh-puluh orang yang dibayangi oleh ilmu hitam” Panon bergumam kepada diri sendiri.

Sementara itu kedua lawannya masih tetap ragu-ragu, tetapi mereka pun segera mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan, anak muda itu tentu tidak akan tinggal diam, pada saatnya ia tentu akan menyerang.

Seperti mereka duga, Panon telah siap untuk menyerang tetapi ternyata di hati Panon tumbuh sesuatu yang tidak disangka-sangka oleh kedua lawannya, tiba-tiba saja Panon benar-benar ingin menjajagi kemampuannya sendiri, sebelum pada suatu saat ia berhadapan dengan lawan yang sebenarnya seperti yang pernah dibayangkan oleh gurunya.

Dengan demikian maka Panon lah yang kemudian mengambil sikap terlebih dahulu, dengan hati-hati ia bergeser mendekat.

Tetapi kedua lawannya sama sekali tidak mengetahui, apakah yang sedang dilakukan oleh anak anak muda itu, yang mereka ketahui adalah bahwa anak muda itu tentu akan segera melakukan serangan balasan.

Sebenarnyalah bahwa Panon pun kemudian telah menyerang kedua orang itu dengan gerak yang membingungkan, dalam saat yang bersamaan ia menyerang dua orang sekaligus, padahal kedua lawannya berdiri terpisah, hampir tidak ada selisih waktu sama sekali.

Keduanya terkejut, ternyata anak muda itu memang memiliki kecepatan bergerak yang tidaik dapat mereka bayangkan, karena itulah, maka dengan serta merta mereka mengayunkan senjata mereka untuk mencegah serangan anak muda itu.

Panon melihat gerakan itu, kerena itu, maka ia pun dengan cepat pula mengalihkan serangannya, ia sempat menyentuh tanah dengan kakinya, sehingga ia bergeser selangkah, tetapi ketika senjata-senjata itu sudah terayun, akan hampir tidak berjarak waktu, ia sudah meloncat pula, menyerang keduanya yang nampaknya hanya satu gerakan saja.

Kedua lawannya yang menyebut dirinya Bandung Limpat dan Watu Sampar, orang-orang yang menganggap bahwa nama mereka cukup menggetarkan daerah jajahannya, merasa bahwa tubuh mereka yang telah disentuh oleh tangan Panon, hanya disentuh tetapi sentuhan pada punggung dan tengkuk itu rasa-rasanya telah menggetarkan jantung mereka, apalagi ketika mereka mendengar Panon berkata, “Nah, aku sudah menyentuh kalian, meskipun aku tidak bersenjata”

“Gila” geram Bandung Limpat. “Apakah kau anak setan?”

Panon berkata sambil meloncat surut, “Ki Sanak, apakah kita akan bertempur terus? Aku sudah menyentuh tubuh kalian, tetapi kalian tidak berhasil melukaiku meskipun aku tidak bersenjata, jika kalian tidak menghentikan perkelahian ini, maka aku akan melukai kalian, aku yakin aku dapat menusuk lambung kalian dengan jariku, atau melobangi leher kalian dengan ibu jariku, sekarang apakah keputusan kalian?”

Keduanya lawannya termangu-mangu sejenak, hampir diluar sadarnya mereka berpaling memandang kawannya yang terbujur mati, nampaknya anak muda ini benar-benar tidak sengaja membunuhnya.

“Anak muda ini tentu saja baru keluar dari sebuah perguruan, sehingga ia masih menjajagi ilmunya untuk mendapatkan perbandingan dengan kemampuan orang lain” berkata Bandung Limpat di dalam hatinya, “Agaknya ia masih belum yakin, bahwa kemampuannya ternyata melampaui kemampuan kebanyakan orang yang merasa dirinya berilmu sekalipun.

Karena nampakya Bandung Limpat ragu-ragu, maka Watu Sampar menjadi ragu-ragu pula.

“Bagaimana Ki Sanak?” bertanya Panon, “Apakah kalian masih akan mencoba kemampuanku lagi?”

Bandung Limpat dan Watu Sampar berpendangan sejenak, tetapi mereka tidak segera menjawab.

“Sudahlah Ki Sanak” Berkata Panon kemudian, “Aku tidak melihat gunanya lagi untuk berkelahi, mungkin aku dapat membunuh kalian untuk mengurangi kejahatan di daerah ini, karena dengan kematian kalian, maka tidak ada lagi kejadian perampokan, tetapi aku melihat kemungkinan lain, bahwa kalian berdua akan berhenti sampai disini”

Kedua orang itu masih belum menjawab.

“Ki Sanak” desak Panon, “Aku ingin mendengar jawaban kalian, aku adalah manusia biasa, kadang-kadang aku dapat mengendalikan diri dari perasaan ini berhasil diendapkan, tetapi mungkin ada gejolak yang lain di dalam diriku, sehingga aku akan bertindak lebih jauh dari yang aku lakukan sekarang”

Bandung Limpat menelan ludahnya, baru kemudian ia berkata dengan parau, “Apa maksudmu sebenarnya anak muda?”

“Aku akan membiarkan kalian berdua tetap hidup, tetapi aku menuntut bahwa hidupmu yang tersisa itu tidak lagi kau pergunakan untuk melakukan lagi kejahatan, jika kau setuju, maka aku pun akan segera pergi, karena aku masih akan menempuh perjalanan yang panjang, tetapi jika kalian tidak bersedia menghentikan kegiatan kalian, maka yang paling baik bagiku dan bagi masyarakat adalah membunuhmu”

“Apakau kau dapat mempercayaiku?, tidak ada seorang pun lagi yang dapat percaya kepadaku, bagaimana seandainya aku sekarang menyatakan kesediaanku untuk merubah cara hidupku, tetapi setelah kau pergi, aku telah melupakan janji itu dan tidak menghiraukannya lagi”

“Ternyata kau mempunyai kejujuran juga” sahut Panon, “Baiklah jika demikian, maka kau akan kehilangan segala-galanya, harga diri dan kepercayaan mutlak, tetapi lebih dari pada itu, maka kau benar-benar orang yang tidak berarti lagi, karena kalian tidak mampu melihat baik dan buruk secara wajar, kerena sebenarnya kalian tahu yang mana yang baik dan buruk, tetapi kalian tidak mampu memilih”

Kedua orang itu termangu-mangu di tempatnya, yang berdiri di haadapannya adalah anak muda, tetapi nampaknya ia memiliki kajiwan serba sedikit, yang dikatakan itu benar telah menyentuh hati kedua orang yang selama ini seolah-olah tidak lagi mempunyai pegangan hidup.

Sejenak mereka dicengkam oleh kebisuan, kedua orang itu seakan-akan sedang memahami kata-kata yang diucapkan oleh anak muda yang mereka jumpai menjelang dini hari di pinggir hutan yang lebat itu.

Baru sejenak kemudian dengan suara lirih Bandung Limpat berkata, “Kau memberi pertimbangan lain didalam hatiku anak muda”

“Terima kasih” Jawab Panon, “Aku benar-benar mempercayaimu, justru pertimbangan lain itu adalah permulaan dari jalan lurus yang akan kau pilih”

“Mudah-mudahan aku dapat sampai kesana” desis Bandung Limpat.

“Kau harus yakin kepada dirimu” sahut Panon kemudian, “Aku justru yakin kalian akan berhasil”

Watu Sampar yang selama ini berdiam diri sambil menundukkan kepalanya berkata, “Memang sudah cukup kematian seorang dari kami bertiga, seharusnya sudah cukup memberikan peringatan kepada kami”

Kata-kata Watu Sampar itu memang sangat menarik perhatian Panon Suka, sehingga ia pun kemudian berkata, “Aku bangga bahwa kau mempunyai jiwa yang besar, yang melihat kenyataan di depan matamu”

Bandung Limpat pun menyahut, “Sudahlah anak muda, peristiwa ini akan selalu kami ingat, kami akan berusaha untuk mengerti, apakah sebenarnya yang telah terjadi pada diri kami, kami berterima kasih, bahwa kami telah bertemu dengan seorang anak muda yang bagi kami adalah suatu peristiwa yang ajaib, aku tidak tahu apakah kau memang memiliki sifat yang aneh, atau kamilah pokok dari peristiwa ini, sehingga kau hanya sekedar merupakan alat untuk memperingatkan kesesatan kami, namun bagaimanapun juga, ternyata aku menemukan sesuatu dari peristiwa yang baru saja terjadi, meskipun seorang dari kawanku harus menjadi tumbal”

“Aku minta maaf” sahut Panon, “Aku tidak sengaja”

“Yang mati itu sebenarnya adalah seorang yang seharusnya berjalan di jalan yang lurus, ia adalah putera Ajar Respati, seorang ajar yang tekun, yang mempelajari masalah-masalah jasmaniah dan rohaniah, tetapi anak itu telah sesat jalan”

“Ooo” Panon menarik nafas dalam-dalam, lalu, “Jika demikian aku sepantasnya mohon maaf kepada Ki Ajar jika ia masih hidup” Panon berhenti sejenak, lalu, “Tetapi aku tidak sempat melakukan sekarang ini, aku harus melakukan suatu perjalanan yang cukup panjang”

“Jika demikian, silahkan kau anak muda melanjutkan perjalanan, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih, dan sudah barang tentu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya karena kami telah mengganggu perjalananmu”

“Kita sudah melakukan kesalahan, kita akan saling memaafkan pula” berkata Panon, “Sebenarnyalah aku bahwa aku harus melanjutkan perjalanan”

“Kemanakah sebenarnya kau akan pergi?”

“Aku akan menyelusuri pegunungan Sewu”

“Pegunungan Sewu?”

“Ya, aku akan pergi ke sebuah padukuhan di sela-sela bukit diatas dataran Gunung Sewu itu, apakah kau pernah menjelejahi Gunung Sewu?”

Kedua orang itu mengerutkan keningnya, ada sesuatu yang nampaknya ingin mereka katakan, tetapi mereka ragu-ragu untuk mengatakan.

“Apakah ada sesuatu yang menarik?”

“Tidak anak muda, tetapi jika kau mau melingkar sedikit, maka kau akan sampai ke sebuah padepokan kecil di kaki Gunung Baka di tepi Kali Opak, di padepokan itu tinggal Ki Rancangbandang, ia adalah adik kandung Ki Ajar Respati.”

Panon menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Sayang, aku tidak sempat melakukannya, kelak jika aku berhasil melakukan tugasku, maka aku akan singgah ke padepokan kecil tempat tinggal Ki Rancangbandang”

“Anak Muda” berkata Bandung Limpat, “Soalnya bukan agar kau memperbincangkan persoalan Sisik Sana, tetapi Ki Rancangbandang agaknya mengetahui, siapa sajakah yang pada saat-saat terakhir telah memanjat naik keatas Gunung Sewu, dan barangkali ia pun mengetahui, apakah maksud mereka sebenarnya, atau, barangkali kau juga sudah tahu anak muda, karena perjalananmu juga mempunyai tugas tertentu seperti yang dilakukan oleh orang-orang itu”

Panon termangu-mangu mendengar keterangan itu, tiba-tiba saja ia tertarik pada keterangan Bandung Limpat, jika orang yang bernama Ki Rancangbandang itu dapat memberikan beberapa keterangan, maka ia akan dapat menyesuaikan dirinya, karena menurut keterangan Bandung Limpat, ada beberapa orang yang pada saat terakhir juga menuju ke atas Gunung Sewu.

“Apakah mereka juga sedang berusaha untuk menemukan istana kecil seperti yang dikatakan guru itu?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Dalam keragu-raguan itu Watu Sampar menyambung, “Tetapi terserahlah kepadamu anak muda, meskipun barangkali jika, kau dapat singgah akan ada baiknya juga”

“Aku telah melakukan kesalahan, aku telah membunuh Sisik Sana, apakah hal itu tidak akan menjadi perkara, jika pamannya mengetahuinya”

“Agaknya memang mungkin, tetapi jika ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, aku kira ia tidak akan marah, demikian juga ayahnya, Ki Ajar Respati” berkata Watu Sampar lebih lanjut. Tetapi jika terjadi kesalah-pahaman, maka kau akan mengalami kesulitan, apalagi jika Ki Ajar ada di tempat itu”

“Kenapa?”

“Ki Ajar Respati adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi, tidak banyak orang yang mengetahuinya, karena ia memang lebih senang hidup menyendiri, bercocok tanam dan hidup tenang tanpa banyak sentuhan dengan persoalan-persoalan di luar dunianya yang damai, tetapi jika ia menjadi marah, maka batu sebesar bukit pun akan dapat dihancurkannya dengan tangannya”

“Apakah ia seorang yang sakti?”

“Ya, tanpa diketahui orang lain, ia mempelajari ilmu tanpa guru, dan ia berhasil. Tetapi ternyata ia gagal menjadi seorang ayah yang baik, salah seorang anak laki-lakinya adalah Sisik Sana, ia meninggalkan padepokan ayahnya dan ikut bersama kami”

“Kau murid Ki Ajar Respati?” tiba-tiba Panon bertanya.

Keduanya ragu-ragu, namun kemudian hampir bersamaan keduanya mengangguk, “Ya, kami berdua adalah murid Ki Ajar Respati, ternyata kami lebih senang mengikuti jejak sesat dari anaknya dari pada mendengarkan nasehat-nasehatnya”

Panon mengangguk-angguk sejenak, keterangan itu sangat menarik baginya, namun jika ia teringat yang sudah diperhitungkan oleh gurunya, ia menjadi ragu-ragu.

Tetapi masih juga terbersit di hatinya, “Jika Kiai Rancangbandang dapat memberikan sedikit keterangan, maka tentu ada juga baiknya” namun kemudian, “Asal tidak terjadi salah paham saja atas kematian Sisik Sana”

Dalam kebimbangan itu, Bandung Limpat dan Watu Sampar masih membeku di tempatnya, mereka melihat keragu-raguan di hati Panon Suka, tetapi mereka pun tidak dapat memberikan pertimbangan lebih banyak lagi kepadanya.

Tetapi tiba-tiba saja Panon mengambil keputusan untuk singgah sejenak, ia akan mempercepat perjalanannya, menurut arah yang diberitahukan oleh kedua orang itu, kareena menurut mereka Bukit Baka sudah tidak jauh lagi, dari sana ia dapat menyusur ke selatan sampai ke lembah Payung seperti yang telah dibicarakannya dengan gurunya.

“Jika kedatanganku tertunda, maka tidak akan lebih dari setengah hari” katanya di dalam hati.

Demikianlah, maka Panon mengambil keputusan untuk pergi ke Padepokan kecill yang dihuni oleh Kiai Rancangbandang, adik dari Kiai Ajar Respati.

“Tetapi kau harus memberikan penjelesan sebaik-baiknya tentang Sisik Sana” berkata Bandung Limpat.”Mudah-mudah tidak terjadi salah paham”

“Baiklah, aku memang harus minta maaf kepada orang tuanya atau yang dapat mewakilinya”

Seperti yang ditunjukkan oleh kedua orang itu, maka Panon pun kemudian pergi ke bukit di sebelah timur Kali Opak, ia berpesan kepada Bandung Limpat dan Watu Sampar, agar Sisik Sana dimakamkan sebaik-baiknya, mungkin pada suatu saat keluarganya akan mencarinya.

“Berilah tanda yang jelas” berkata Panon.

“Apakah aku juga akan dapat memberi petunjuk kelak jika diperlukan?” bertanya Bandung Limpat.

“Maksudmu?”

“Meskipun aku memberikan tanda yang jelas, tetapi tanpa aku maka tidak seorang pun yang dapat menemukannya”

“Kaupun harus kembali kepada gurumu, pikirkanlah kemungkinan itu, itu adalah jalan satu-satunya yang dapat kau tempuh untuk menebus jalan sesat yang pernah kau tempuh, justu bersama anak Kiai Ajar Respati itu sendiri”

Keduanya termenung sejenak, lalu Bandung Limpat berkata, “Aku akan memikirkannya”

Demikianlah, maka Panon pun telah meninggalkan kedua orang itu dalam keragu-raguan mereka, akhirnya Bandung Limpat berkata, “Memang tidak ada pilihan lain, jika dengan demikian kepalaku akan dipenggal oleh guru, aku tidak akan menolak lagi”

Dalam pada itu, Panon telah berada dalam perjalanannya menuju ke padepokan kecil di kaki Gunung Baka, padepokan yang hanya menyimpan beribu-ribu kemungkinan, mungkin Kiai Rancangbandang akan mengucapkan terima kasih kepadanya, bahwa ia telah datang memberikan keterangan tentang kemanakannya yang sesat, tetapi mungkin Kiai Rancangbandang akan membunuhnya, apalagi jika Kiai Ajar Respati benar-benar ada di tempat itu, tetapi kemungkinan yang lain adalah, ia akan mendapatkan banyak keterangan tentang Gunung Sewu dan keadaannya.

Ketika matahari kemudian bertengger diatas cakrawala, maka Panon sudah menjadi dekat dengan bukit kecil itu, sekali ia berhenti memberikan kesempatan kepada kudanya untuk beristirahat, minum dan makan rerumputan, namun sesaat kemudian ia sudah berpacu kembali meneruskan perjalanannya.

Sementara perjalanan semakin mendekati bukit kecil itu, ia pun menjadi semakin ragu-ragu, ia mencoba membayangkan, apakah yang akan dijimpainya di padepokan kecil itu.

Tetapi kemudian ia berketepatan hati untuk meneruskan langkahnya, menjumpai orang yang bernama Kiai Rancang-bandang.

Panon Suka tidak mengalami kesulitan apapun untuk mencari padepokan kecil itu, ditandai dengan sebuah pintu gerbang kecil yang disisinya tumbuh sebatang pohon kemuning.

Panon Suka memperlambat derap kudanya ketika ia menyusur jalan yang sempit yang langsung menuju ke pintu gerbang itu, memang debar jantungnya terasa semakin menjadi cepat.

Di muka pintu gerbang ia berhenti, perlahan-lahan ia turun melangkah menuntun kudanya mendekati pintu regol yang terbuka.

“Sepi sekali” katanya dalam hati.

Sebenarnyalah bahwa tidak ada orang yang kebetulan berada di halaman yang cukup luas itu, halaman yang bersih oleh goresan-gorean sapu lidi dari ujung sampai ke ujung, seakan-akan di halaman yang luas itu, tidak selembar daun keringpun yang tertinggal.

Panon menarik nafas, ia ragu-ragu pula untuk masuk, karena di halaman itu sama sekali tidak ada bekas kaki seorang pun, bekas kaki orang yang menyapu halaman itu pun tidan nampak, karena agaknya ia melangkah surut ketika ia menggoreskan sapu lidinya.

Tetapi kemudian ia membulatkan tekadnya untuk masuk, ia sama sekali tidak mempunyai niat yang buruk, kedatangannya adalah karena dorongan oleh pengakuannya bahwa ia telah membunuh tanpa sengaja, dan keterangan tentang Gunung Sewu yang barangkali dapat diperolehnya dari Kiai Rancangbandang itu.

Tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika ia melihat dua orang yang tiba-tiba saja muncul dari pintu samping yang menyekat halaman itu dengan halaman samping, yang seorang lebih muda sehingga yang lain adalah seorang yang sudah melampaui pertengahan abad.

Sejenak keduanya termangu-mangu, namun kemudian dengan tergesa-gesa mereka melangkah mendekatinya.

“Marilah anak muda” berkata orang yang sudah tua itu, “Silahkan, siapakah yang kau cari?”

Panon mengangguk dalam-dalam, nampaknya orang itu memiliki sesuatu yang membuatnya terasa berwibawa.

“Apakah aku berhadapan dengan Kiai Rancangbandang?”

Orang itu pun mengerutkan keningnya, lalu menjawab, “Oo bukan anak muda, aku hanyalah seorang tamu saja disini, tetapi Kiai Rancangbandang ada di rumah, marilah, silahkan naik ke pendapa” lalu katanya kepada anak muda di sampingnya, “Bawalah ia naik, aku akan memanggil pamanmu”

Anak muda itu mengangguk, ketika orang tua itu kembali masuk ke halaman dalam, maka anak muda itu berkata, “Silahkan Ki Sanak, biarlah aku tambatkan kudamu di tiang batang soka itu”

“Terima kasih” jawab Panon, “Biarlah aku menambatkannya sendiri”

Setelah menambatkan kudanya, Panon diiringi oleh anak muda ia pun naik ke pendapa, dan duduk diatas sebuah tikar pandan putih.

Sejenak kemudian, pintu pringgitan di sisi pendapa itpun terbuka, orang tua yang dijumpainya di regol penyekat halaman itu nampak muncul dari dalam, diiringi oleh seorang yang nampaknya masih lebih muda sedikit dari padanya.

Ketika mereka telah duduk, maka orang yang lebih muda segera bertanya, “Apakah benar Ki Sanak mencari aku?, akulah Kiai Rancangbandang penghuni padepokan ini”

Panon menundukkan kepalanya dalam-dalam, menjawab, “Benar Kiai, aku memang mencari Kiai”

“Sekarang kita sudah bertemu” kata Kiai Rancangbandang, lalu, “Tetapi sebelumnya, siapakah kau anak muda?”

“Aku adalah Panon Suka, aku datang dari jauh, meyelusuri lereng Gunung Merbabu dan Merapi”

“Kau datang dari Gunung Merbabu?”

“Ya Kiai, dan aku sedang dalam perjalanan menuju ke Gunung Sewu”

“Gunung Sewu?” hampir bersamaan kedua orang tua itu mengulang.

Bab 13

Rasa-rasanya ada sesuatu yang mengganjal hati Panon, tetapi ia tidak jadi mengatakannya.

“Angger Panon Suka” berkata Kiai Rancangbandang, “Tentu kau mempunyai kepentingan yang besar, bahwa kau akan datang keatas Gunung Sewu, tetapi baiklah, sebelumnya aku ingin memperkenalkan kau dengan tamuku, ia adalah kakakku, namanya Kiai Ajar Respati”

Dada Panon bergetar mendengar nama itu, meskipun sebelumnya ada juga dugaannya, bahwa orang tua itu adalah Ki Ajar Respati.

Untuk sesaat Panon Suka termangu-mangu, dicobanya untuk melihat gambaran sifat dan watak Ki Ajar Respati pada wajahnya, namun yang nampak adalah tatapan mata yang lembut dan bening.

Karena itulah timbul keberaniannya untuk mengatakan hal yang sebenarnya yang telah terjadi dengan anaknya yang bernama Sisik Sana.

“Sebelum aku mengatakan kepada ayahnya, maka hal itu tentu akan selalu menjadi beban perasaanku, sebaliknya aku berterus terang, agar perjalananku kemudian tidak terganggu oleh persoalan yang lain” berkata Panon di dalam hatinya.

Dalam pada itu karena Panon tidak segera menjawab, Kiai Rancangbandang bertanya lebih lanjut, “Anakmas, sebenarnya perjalanan keatas Gunung Sewu itu memang sangat menarik, tetapi juga berbahaya” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi baiklah, aku belum mendengar keperluanmu menemui aku”

“Kiai” berkata Panon, “Kedatanganku ke Padepokan ini sebenarnyalah bahwa aku ingin mendapatkan beberapa petunjuk agar aku dapat sampai ke tujuan dengan selamat, aku belum pernah naik ke atas Gunung Sewu yang ditebari dengan beberapa ratus puncak bukit, dataran tinggi dan lembah-lembah yang curam, seseorang telah memberitahukan kepadaku agar aku datang kepada Kiai Rancangbandang untuk mendapatkan beberapa petunjuk yang mungkin berguna bagiku, apalagi pada saat-saat terakhir yang menurut pendengaranku, ada beberapa persoalan yang perlu aku ketahui”

Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, lalu katanya, “Pemberitahuan yang keliru angger, aku tidak banyak mengetahui tentang Gunung Sewu, apalagi aku tidak tahu, apakah maksud perjalanan angger yang sebenarnya”

Panon menjadi termangu-mangu, sudah tentu ia tidak dapat mengatakan maksudnya yang sebenarnya, karena beban yang diletakkan dipundaknya adalah persoalan yang khusus, yang tidak boleh diketahui orang lain.

Tetapi sebelum ia mengatakan sesuatu, Kiai Rancangbandang telah bertanya, “Anak Muda, siapakah yang menunjukkan kepadamu, agar kau datang kemari untuk mendapatkan beberapa petunjuk tentang Gunung Sewu?”

“Diperjalananku, aku bertemu dengan tiga orang tidak aku kenal, dua diantaranya bernama Wati Sampar dan Bandung Limpat”

“Ha” tiba-tiba Kiai Ajar Respati bergeser setapak, katanya, “Anakmas, apakah aku tidak salah dengar?, Watu Sampar dan Bandung Limpat?”

Dada Panon mulai bergejolak, tetapi ia sudah bertekad untuk mengatakan apa yang sebenarnya sudah teradi, maka ia pun meneruskannya, “Ya, Ki Ajar, Bandung Limpat dan Watu Sampar”

Nampak perubahan pada tatapan mata Ki Ajar Respati, dengan suara yang gelisah ia pun bertanya, “Angger Panon. Angger tadi mengatakan bahwa angger bertemu dengan tiga orang, yang dua anger sudah menyebutkan namanya, tetapi angger belum mengatakan siapakah yang seorang dari ketiga orang itu?”

Panon menjadi ragu-ragu, tetapi ia tidak berdian diri saja, apalagi ia sudah bertekad untuk mengatakan apa yang pernah terjadi di perjalanannya.

Sejenak ia mengatur pernafasannya yang tiba-tiba saja menjadi semakin cepat mengalir.

“Kiai Ajar” katanya kemudian dengan tersendat-sendat, “Sebelumnya aku mohon maaf, juga kepada Kiai Rancangbandang, diluar kemauanku, maka telah terjadi sesuatu yang membuat aku menjadi semakin gelisah”

Ki Ajar Respati, Kiai Rancangbandang dan anak muda yang duduk disamping Ki Ajar itu pun menjadi semakin gelisah pula.

Dengan hati-hati Panon menceritakan apa yang sudah dialaminya, pertemuannya dengan tiga orang yang akan merampoknya, kematian salah seorang diantara mereka, yang kebetulan adalah Sisik Sana.

Wajah Ki Ajar dan Kiai Rancangbandang menjadi merah menyala, sejenak mereka membeku ditempat duduknya, namun agaknya Ki Ajar Respati masih mengedepankan perasaannya, ketika anak muda yang duduk di sebelahnya tiba-tiba saja berjongkok sambil menggeram, maka ia pun menangkap lenannya sambil berkata, “Duduklah Sambi Raga”

“Ia telah membunuh kakakku ayah” berkata anak muda itu, “Aku harus membunuhnya, tidak ada hutang yang tidak terbayar”

“Siapakah yang berhutang anakku?”

“Anak muda yang sombong ini, Ia telah membunuh kakakku, dan kini dengan dada tengadah ia sengaja datang menemui ayah dan paman, apakah itu bukan suatu penghinaan?”

“Duduklah, biarlah ia mengatakan, apakah alasannya maka ia datang kemari”

“Tentu ia ingin mengatakan, bahwa ia adalah anak muda yang paling perkasa, ia ingin bertanya kepada kita, apakah kita berani berbuat sesuatu kepadanya”

Ki Ajar Respati memandang Panon dengan tatapan mata yang sayu, perlahan-lahan ia bertanya, “Apakah benar begitu anak muda?”

“Tidak Ki Ajar, sungguh tidak”

“Bohong” teriak anak muda itu pula.

“Tenanglah Sambi” berkata Kiai Rancangbandang meskipun suaranya sendiri terasa gemetar.

Sambi Raga memandang Panon dengan tatapan mata yang membara dibakar oleh kemarahan di hatinya, tetapi ia tidak berani melanggar perintah ayah dan pamannya, karena itu maka ia pun duduk kembali, betapapun hatinya serasa menjadi hangus.

“Sambi Raga” berkata Ki Ajar Respati, “Bukan hanya kau sajalah yang disengat oleh kejutan yang tiada taranya bahwa pada suatu saat, ketika kita sudah berhati-hati, bahkan berpekan-pekan mencari kakakmu yang meninggalkan padepokan, tiba-tiba saja kita mendengar bahwa seseorang telah membunuh kakakkmu itu”

“Lalu, apalagi yang harus kita tunggu?”

“Sambi Raga” berkata Ki Ajar Respati selanjutnya, “Sebaiknya kau mendengar dengan baik, tentu anak ini tidak begitu saja membunuh kakakmu”

“Ia dapat mengarang seribu satu cerita, tentang kematian kaka Sisik Sana”

“Jika ia datang dengan kesombongan yang mewarnai dadanya, ia tidak perlu mengarang seribu macam alasan, ia akan datang dan mengatakan bahwa Sisik Sana telah dibunuhnya” Ki Ajar Respati terdiam sejenak, lalu, “Tetapi kita tidak dapat berpura-pura menghadapi persoalan ini, kita mengenal tabiat Sisik Sana itu sebaik-baiknya, bukankah kau juga watak dan sifat kakakmu?”

Sambi Raga menundukkan kepalanya, ia tidak dapat menjawab lagi, sebenarnyalah bahwa ia mengetahui dengan pasti, apakah yang sudah terjadi, anak muda yang bernama Panon itu tentu tidak berbohong.

Meskipun demikian, kematian kakaknya benar-benar telah mengguncang dadanya, betapapun buruk watak dan sifatnya, tetapi Sisik Sana adalah kakaknya.

Tetapi agaknya ayahnya bersikap lain.

“Angger Panon” berkata Ki Ajar Respati, “Aku tidak dapat menyebut dengan kata-kata yang manapun juga, betapa sedihnya aku mendengar kabar tentang kematian anakku itu, tetapi pengakuan anakmas yang jujur, membuat hatiku luluh, aku tidak dapat marah dan meyalahkanmu, agaknya semuanya itu adalah lantaran belaka, hukuman bagi anakku sudah masanya datang, dan Yang Maha Adil mempergunakan tangan anakmas untuk menjatuhkan hukuman mati baginya”

Panon pun kemudian menundukkan kepalanya, sesuatu terasa menyumbat kerongkongannya, sehingga ia tidak dapat menyahut.

“Sudahlah” berkata Ki Ajar Respati, “Kita tidak mau terlibat dalam salah paham lagi, besok aku ingin segera menemukan mayat anakku dan menguburkannya di padukuhan ini”

“Watu Sampar dan Bandung Limpat memberikan tanda pada kuburannya”

“Bukankah kau tidak berkeberatan untuk menemukan kuburan itu anakmas?”

Panon menjadi ragu-ragu, jika demikian, maka ia akan terlambat lebih dari setengah hari, mungkin sehari atau bahkan lebih.

Ki Ajar Respati melihat keraguan itu, karena maka ia pun bertanya, “Apakah ada sesuatu yang meragukan?”

“Tidak Ki Ajar, sebenarnya menjadi kewajibanku untuk mengantar Ki Ajar menemukan kuburan itu, tetapi bukan akulah yang menguburkannya, dan bukan akulah yang memberi tanda pada kuburan itu, sehingga aku pun tidak mengetahui dengan pasti dimanakah letaknya”

“Jadi siapa?”

“Watu Sampar dan Bandung Limpat yang agaknya mulai ditumbuhi oleh penyesalan, pada suatu saat mereka tentu akan kembali kepada Ki Ajar”

Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, lalu, “Tetapi apakah kau dapat menunjukkan kepadaku, dimanakah kau bertempur melawan ketiga orang itu Anak muda?”

Panon termangu-mangu sejenak, lalu, “Ya, ya Kiai, tentu aku dapat menunjukkan tempat itu kepada Kiai, tetapi…………”

“Tetapi apa?”

“Kiai, aku sebenarnya ingin mendapat beberapa petunjuk mengenai jalan ke Gunung Sewu, apakah yang harus aku hindari dan apakah yang harus aku tempuh”

Kiai Rancangbandang yang menjawab, “Tidak banyak yang kami ketahui tentang pegunungan itu anakmas, yang aku ketahui hanyalah bukit-bukit yang membujur dari barat ke timur, seperti cerita orang tua bahwa dewa-dewa yang melihat pulau ini tidak seimbang dan miring ke barat, telah membawa berjuta-juta pikul tanah menuju timur, tetapi tanah itu berguguran di sepanjang pinggir selatan dari pulau ini, sehingga terjadilah pegunungan ini”

Panon menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Bukan itulah yang aku maksud Kiai, tetapi keadaan pegunungan itu sekarang, tentang orang-orang yang menurut pendengaranku telah berdatangan”

“Seperti juga anakmas akan naik ke pegunungan ini?”

Panon terdiam, kepalanya tertunduk, memang sulit baginya untuk mendapat penjelasan dari Kiai Rancangbandang, karena ia sendiri tidak dapat mengatakan kepentingannya naik ke pegunungan itu.

Namun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam, katanya di dalam hati, “Baiklah jika aku tidak mendapat keterangan apapun tentang gunung itu, tetapi aku sudah mengurangi beban di hatiku akibat terbunuhnya Sisik Sana, untunglah bahwa ayahnya dapat mengerti”

Dalam pada itu, Kiai Rancangbandang kemudian berkata, “Anakmas, Gunung Sewu adalah pegunungan yang diselimuti oleh kabut rahasia, tidak banyak orang yang mengetahui dengan pasti, karena itu, jika tidak penting benar, sebaiknya kau tidak usah pergi naik keatas Gunung Sewu itu, meskipun seandainya kau memiliki ilmu rangkap tujuh, dan berperisai baja di dadamu, namun tidak akan banyak manfaatnya, karena itu adalah daerah yang berbatu-batu saja tanpa memberikan apapun kepada anakmas, jika anakmas sudah sampai keseribu puncak diatas pegunungan itu.

Panon menarik keningnya, tetapi Ia tidak menjawab.

Namun dalam pada itu, Ki Ajar Respati berkata, “Adi Rancangbandang, jika anakmas Panon memang sudah bertekad untuk memanjat tebing Gunung Sewu, maka kita tidak dapat mencegahnya kita hanya dapat memberikan beberapa petunjuk tentang kekerasan alam yang kita ketahui saja kepadanya, biarlah ia bermalam semalam sebelum besok ia akan mengantarkan kita ke bekas perkelahian yang telah menyebabkan Sisik Sana terbunuh, kemudian kita lepaskan anakmas pergi mendaki Gunung Sewu.

Karena Panon tidak segera menjawab, maka Ki Ajar pun kemudian bertanya, “Bagaimana anakmas?, apakah kau tidak keberatan?”

Panon bergeser setapak, lalu, “Maaf Ki Ajar, bukan maksudku hendak ingkar, tetapi jika Ki Ajar menghendaki, baiklah, sekarang aku mengantarkan Ki Ajar ke tempat perkelahian itu”

“Kenapa sekarang?”

“Aku harus meneruskan perjalananku”

“Demikian pentingnya, sehingga kau harus tergesa-gesa?”

Panon tidak segera menjawab, sekali lagi ia menjadi bingung. Tetapi agaknya Ki Ajar mengetahui keadaannya, karena itu maka katanya, “Baiklah anakmas, bila kita akan pergi sekarang, agaknya setelah menunjukkan tempat itu, anakmas akan langsung pergi mendaki Gunung Sewu, meskipun dengan demikian anakmas telah membuang waktu hampir setengah hari. Anakmas, sudah melingkar jalan dan singgah kemari, mungkin anakmas bermaksud mengambil jalan di sebelah bukit ini, menyusur Kali Opak ke selatan menuju lembah Payung”

“Ya, Ki Ajar”

“Tetapi anakmas harus kembali ke tempat anakku terbunuh”

“Jika itu dapat mengurangi kesalahanku, aku akan bersedia melakukannya”

Ki Ajar menarik nafas dalam, katanya kemudian, “Marilah adi Rancangbandang, kita bersiap-siap pergi mengikuti anakmas Panon”

Kiai Rancangbandang agak ragu-ragu sejenak, namun ia pun kemudian mengangguk, “Baiklah kakang”

“Aku juga akan pergi” berkata anak muda yang selama ini berdiam diri di sisi Ki Ajar Respati.

“Sambi Raga” berkata Ki Ajar Respati, “Jika aku dan pamanmu pergi bersama, maka sebaiknya kau tinggal di rumah, jika kau ikut pergi, maka rumah pamanmu akan kosong, selain para pembantu saja”

Sambi Raga termangu-mangu, tetapi ia tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada ayahnya.

Demikianlah, Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandang segera masuk ke ruang dalam, Sambi Raga yang tidak lagi dapat bersikap baik kepada Panon, mengikuti pula, baginya meninggalkan anak muda itu tentu akan lebih baik dari pada duduk bersama, agar tidak timbul salah paham.

Sejenak kemudian Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandang pun telah siap pula, mereka langsung pergi ke halaman sambil menuntun kuda masing-masing.

“Marilah anakmas” ajak Kiai Rancangbandang.

Panon pun segera turun dari pendapa dan mengambil kudanya.

“Sebenarnya kami tidak ingin menghambat perjalanan anakmas” berkata Ki Ajar Respati, “Anakku telah memperlambat perjalanan anakmas dengan tindakannya yang bodoh, sekarang kami yang tua-tua ini pun telah menghambat pula”

“Tidak apa Ki Ajar” jawab Panon, “Akulah yang telah melakukan kesalahan”

Demikianlah mereka pun kemudian meninggalkan padepokan kecil itu, Panon menempuh arah kembali ke tempat ia bertempur melawan Sisik Sana dan kedua kawannya.

Mudah-mudahan mereka masih berada di sekitar tempat itu dan bersedia menjadi saksi bahwa aku tidak bersalah, agaknya hal itu akan menjadi semakin baik, apalagi jika kemudian mereka pun menyatakan penyesalan atas tingkah lakunya sehingga menjerumuskan Sisik Sana yang tidak berarti sama sekali.

Diperjalanan, mereka bertiga hampir tidak berbicara sama sekali, terdorong oleh keinginannya untuk segera meneruskan perjalanan kepegunungan seribu, maka Panon yang berjalan di paling depanpun rasa-rasanya semakin lama semakin cepat.

Akhirnya mereka pun sampai ke tempat yang mereka tuju, dengan ragu-ragu Panon menarik kendali kudanya dan kemudian menghentikannya sama sekali.

“Ki Ajar” berkata Panpn dengan suara yang sendat, “Disinilah peristiwa itu terjadi”

Ki Ajar dan Kiai Rancangbandang segera meloncat turun, sebagai seorang yang berpengalaman luas, mereka pun melihat bekas pertempuran yang tidak begitu seru, perkelahian yang agaknya terlampau cepat selesai.

“Aku kira Watu Sampar dan Bandung Limpat menguburkan Sisik Sana tidak jauh dari tempat ini” berkata Panon yang telah meloncat turun pula dari kudanya.

Sejenak Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandang termangu-mangu memandang sekeliling, seolah-olah memang ada yang dicarinya.

“Angger Panon” berkata Ki Ajar Respati kemudian, “Apakah kau yakin bahwa pada suatu saat Watu Ampar dan Bandung Limpat akan kembali kepadaku?”

“Aku harap demikian Ki Ajar”

“Dan kau yakin bahwa mereka berdua telah menguburkan anakku sebaik-baiknya?”

“Ya, Ki Ajar”

Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, sementara Panon termangu-mangu memandangnya, ketika Ki Ajar itu menambatkan kudanya pada sebatang pohon, demikian pula dilakukan oleh Kiai Rancangbandang.

Tiba-tiba saja Panon menjadi berdebar-debar ketika ia melihat wajah Ki Ajar Respati yang berubah, meskipun Ki Ajar Respati itu masih tetap tersenyum, namun senyumnya rasa-rasanya telah jauh berbeda, apalagi ketika orang tua itu berkata, “Disinilah anakku kau bunuh anakmas, aku tidak sampai hati membiarkannya ia berkubur seorang diri di tengah-tengah hutan ini, daripada aku memindahkan kuburnya, agaknya lebih baik bagiku untuk memberikan seorang atau dua atau tiga orang kawan untuk menemaninya.

Panon termangu-mangu, tetapi ia menjadi tegang.

“Tambatkan kudamu” berkata Ki Ajar Respati.

“Aku tidak mengerti maksud Ki Ajar”

“Tambatkan kudamu, karena aku memerlukan kau, kau telah membunuh anakku di sini, sekarang kau pun harus mati dan dikuburkan disini pula”

Dada Panon bergetar mendengar kata-kata itu, ia benar-benar tidak menyangka bahwa yang akan terjadi adalah demikian, ia menyangka bahwa orang yang bernama Ki Ajar Respati dan adiknya adalah orang yang berjiwa besar, berjiwa ksatria dan mulia, orang yang dapat mengerti bahwa anaknyalah yang bersalah.

“Panon Suka” berkata Ki Ajar Respati kemudian, “Memang tidak menyenangkan untuk mati sebelum tugas yang dibebankan oleh gurunya dapat diselesaikan, tetapi kau adalah orang yang tidak tahu akan diri, kau belum melakukan apapun juga yang menyangkut tugas yang berat bagimu, tetapi di sepanjang jalan kau telah mencari musuh, akibatnya kau akan meneyesal karena kau adalah murid yang paling buruk yang pernah aku ketahui dari seorang guru yang mungkin cukup baik”

“Ki Ajar” berkata Panon, “Apakah artinya semuanya ini?”

“Artinya, aku akan menuntut balas kematian anakku, benar kata Sambi Raga, setiap hutang harus dibayar, dan kau pun harus membayar hutangmu, Hutang jiwa, Sisik Sana adalah anakku yang aku banggakan, ternyata ia telah kau bunuh disini”

Panon menjadi semakin tegang.

“Nah, cepat, bersiaplah untuk mati, atau barangkali kau ingin meninggalkan pesan?”

Dada Panon Suka benar-benar telah tergetar, sejenak ia berdiri termangu-mangu memandang Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandang berganti-ganti.

“Cepat” bentak Ki Ajar Respati, “Katakan yang ingin kau katakan”

Panon Suka menjadi gemetar, berbagai perasaan bercampur baur di dalam hatinya, sejenak ia ragu-ragu, perasaan bersalah memang menyelinap di dalam hatinya, tetapi sejenak kemudian ia merasa bertanggung-jawab untuk menjalankan tugas gurunya, tugas yang amat penting.

Dalam kebimbangan itu ia mendengar Ki Ajar Respati membentaknya sekali lagi, “He, anak muda yang cengeng, jangan menyesali nasibmu yang malang, cepat, apakah yang akan kau pesankan?, barangkali kepada gurumu atau kepada orang tuamu?, atau barangkali kau ingin aku membunuh gurumu pula?”

Kata-kata itu benar-benar telah membakar hati anak muda itu, betapapun ia mencoba menguasai diri, tetapi penghinaan terhadap gurunya benar-benar telah membangunkannya dari berbagai macam kebimbangan.

Akhirnya anak muda itu berkata, “Ki Ajar Respati, semula aku kagum atas kebesaran jiwa Ki Ajar, Ki Ajar aku anggap benar-benar orang yang dapat menempatkan diri dalam pilihan yang mampu menimbang baik dan buruk, salah dan benar, aku berbangga bahwa di dunia ini ada seoerang yang melihat kebenaran dan menerimanya dengan dada terbuka, meskipun maut telah merenggut jiwa anaknya, tetapi ternyata, aku salah, yang aku hadapi adalah manusia kebanyakan, manusia biasa seperti yang aku jumpai di jalan-jalan, di pematang-pematang, di pasar-pasar dan di lingkungan masyarakat biasa, semua akan menjadi marah, dendam dan kehilangan akal, jika anaknya terbunuh, apapun sebabnya, dan Ki Ajarpun berbuat seperti itu, bukan seorang yang waskita dan bijaksana”

Wajah Ki Ajar Respati menjadi merah, sebuah tarikan nafas yang dalam nampak lewat di lubang hidungnya, sementara Kiai Rancangbandang justru menundukkan kepalanya.

Namun dalam pada itu, Ki Ajar Respati pun menggeretakkan giginya sambil berkata, “Setiap orang akan berusaha membela dan mempertahankan hidupnya, seperti setiap orang, yang marah dan mendendam karena anaknya dibunuh orang, agaknya kau pun berbuat seperti itu. Seperti yang kau katakan, tidak ubahnya dengan orang-orang kebanyakan, kau pun telah berbuat licik dan mencari jalan keselamatan dengan cara yang sangat memalukan, bukankah kau pernah berguru?, jika kau sayang akan nyawamu, kenapa kau tidak menarik senjatamu dan mempertahankan hidupmu dengan jantan, bukan merengek dengan menyentuh perasaan belas kasihan orang lain”

Darah Panon yang masih muda tiba-tiba menggelegak, ia sudah dilanda kemarahan, namun menghadapi sikap Ki Ajar Respati, maka kesabarannya itu rasa-rasanya menjadi luntur.

Karena itu, maka Panon pun kemudian menengadahkan dadanya sambil berkata, “Ki Ajar, aku hormati kau sebagai seorang yang lebih tua, bahkan sebagai ayah dan guruku, tetapi jika kau masih tetap tidak melihat kebenaran, maka apa boleh buat, aku bukan orang memiliki kelebihan dari orang lain, juga aku adalah orang biasa yang berusaha mempertahankan hidupku, itulah alasanku yang terutama kenapa aku membunuh anakmu, karena itu jika sekarang hidupku terancam, maka aku pun akan mempertahankannya sampai kemampuanku yang terakhir, jika aku mati dalam perjuanganku mempertahankan hidupku, maka guru tidak akan menyalahkan aku, karena aku gagal menjalankan tugasku”

“Bagus, itu adalah kata-kata ksatria” sahut Ki Ajar Respati. “Karena itu bersiaplah, kau akan mati sebagai lagi-laki, seperti juga anakku mati sebagai laki-laki, tetapi perlawananmu akan mempersulit jalan kematianmu”

“Aku tidak perduli” sahut Panon yang kehilangan kesabarannya.

Sejenak kemudian, maka Ki Ajar masih berdiri sambil bertolak pinggang memandangi anak muda itu, namun kemudian ia pun melangkah maju sambil berkata, “Sebutlah nama orang tua dan gurumu itu di saat-saat kematianmu”

Panon tidak sempat menjawab, tiba-tiba saja ia melihat Ki Ajar telah meloncat menyerangnya, tangannya terjulur lurus mengarah ke dadanya dengan jari-jari yang terentang merapat siap untuk menyobek dadanya.

Panon berdesis melihat serangan itu, ia teringat pada serangan Sisik Sana dengan cara yang sama seperti yang dilakukan ayahnya, tetapi serangan Ki Ajar dibarengi dengan deru angin yang deras, sederas tata gerak yang menggetarkan jantung lawannya”

Tetapi Panon benar-benar telah bersiap, ia sadar bahwa tentu Ki Ajar Respati tidak akan melakukan kesalahan seperti Sisik Sana, apalagi serangan didasari dengan dendam dan kebencian yang menyala di hati orang tua itu.

Dengan sigapnya Panon menghindar, ia tidak berani mencoba-coba lagi, itulah sebabnya, maka demikian serangan itu meluncur sejengkal di depan dadanya, maka ia pun segera melakukan serangan balasan, ia berputar pada tumitnya, melintangkan kakinya, kemudian dengan gerak yang cepat ia memburu kearah yang sama sambil melontarkan serangan dengan kakinya.

Benar-benar serangan yang tidak terduga, itulah sebabnya Ki Ajar Respati mengerutkan keningnya, ia hanya bertindak cepat, karena itu ia pun segera memutar tubuhnya, merendah pada lututnya dan melindungi lambungnya dengan sikunya.

Yang terjadi adalah benturan yang dahsyat, serangan Panon yang tiba-tiba itu telah membentur pertahanan Ki Ajar Respati sehingga keduanya telah terguncang.

Kiai Rancangbandang melihat benturan itu dengan hati yang tergetar, Panon adalah anak muda yang sebenarnya masih sangat belia untuk melawan Ki Ajar Respati, jika keduanya benar-benar telah membenturkan segenap kekuatannya, maka diluar sadarnya ia mencemaskan anak muda itu.

Tetapi yang dilihatnya adalah berbeda dengan yang dicemaskannya, ia melihat Panon tergetar surut satu langkah, namun ia juga melihat Ki Ajar Respati terpaksa terdesak mundur pula.

“Luar biasa” Kiai Rancangbandang berdesis.

Sementara itu ternyata Panon telah mempersiapkan dirinya untuk menyerang, tetapi dalam saat yang bersamaan serangan Ki Ajar Respati telah mendahuluinya, cepat dan benar-benar terarah pada bagian yang berbahaya, jari-jari yang mengembang rapat itu terjulur ke lehernya.

Panon dengan cekatan bergeser kesamping sambil mencondongkan tubuhnya, kemudian dengan tangannya ia langsung menghantam lawannya, tetapi lawannya sempat menggeliat dan berputar seperti pusaran, bahkan kemudian melintang dengan kaki terjulur lurus ke dada Panon.

Serangan ituun begitu tiba-tiba, sehingga Panon hanya menyilangkan kedua tangan di dadanya, dengan demikian maka sekali lagi terjadi benturan antara kedua kekuatan itu, dan sekali lagi mereka tergetar surut.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru, sekali-sekali salah satu pihak terlambat menghindar serangan lawannya, sehingga terlempar beberapa langkah, namun kedua-duanya seakan-akan memiliki kemampuan melenting seperti belalang, demikian mereka jatuh berguling, demikian mereka bangkit kembali.

Agaknya Ki Ajar Respati tidak mau memberi kesempatan sama sekali kepada anak muda itu, tetapi dengan demikian ia justru menjadi seolah-olah tergesa-gesa. Ketika serangannya gagal, maka Ki Ajar masih memburu dengan serangan keduanya, kakinya terjulur lurus, sehingga orang tua itu bagaikan meluncur dalam garis datar, namun Panon tidak membiarkan kepalanya terlepas karena serangan yang dahsyat itu, ia merendah sedikit, namun ia masih sempat menyambar kaki lawannya dan dengan mempergunakan kekuatan Ki Ajar sendiri, Panon melemparkan-nya dengan derasnya.

Ki Ajar agaknya telah kehilangan keseimbangan, ketika ia terjatuh di tanah, ia tidak dapat langsung berdiri, sekali ia terguling, tetapi sebelum ia sempat memperbaiki keadaanya, rasa-rasanya Panon lah yang kemudian terbang menerkamnya.

Ki Ajar Respati justru tetap pada keadaannya, sambil menelentang dengan kakinya, ia menyerang Panon yang sedang meluncur dengan kedua tangannya yang terjulur tepat ke lehernya.

Sentuhan kaki Ki Ajar yang dilambari dengan kekuatan yang luar biasa itu telah melemparkan Panon keudara, tetapi Panon tidak menjadi bingung dan kehilangan akal, sekali ia berputar dan ketika ia jatuh ke tanah, maka ia telah berdiri pada kedua kakinya yang kokoh.

Namun pada itu, Ki Ajar Respati pun telah berdiri pula, siap untuk menyerangnya.

Sekejap Panon berdiri termangu, Ia sudah mulai bertempur tanpa pertimbangan lagi, selain mempertahankan hidupnya, apapun yang akan terjadi, sama sekali sudah tidak dipertimbangkannya lagi, ia tidak mau mati sebelum ia menunaikan tugasnya, atau setelah ia berjuang dengan segenap kemampuan dari ilmu yang pernah diterimanya.

Ilmu yang sebenarnya belum pernah dipergunakan dalam pertempuran yang sebenarnya, antara hidup dan mati, bahkan yang dilakukannya dipadepokannya, di tempat terpencil di lereng Gunung Merbabu adalah sekedar latihan-latihan yang seakan-akan hanya seorang diri.

Kini menghadapi seorang yang memiliki ilmu yang mumpuni yang sedang menuntut kematian anaknya yang dibunuhnya tanpa sengaja.

Tetapi Ki Ajar Respati tidak segera menyerangnya, meskipun matanya masih tetap membara, ia masih tetap berdiri di tempatnya.

Namun sejenak kemudian terdengar diantara desah nafas orang tua itu, berkata, “Panon, kau memang memiliki kemampuan dan ilmu gerak yang mengagumkan, kau mempunyai kecepatan bergerak jauh melampaui dugaanku, tetapi dalam benturan ilmu, bukan semata-mata ilmu geraklah yang menentukan, aku mempunyai ilmu yang dapat membuat kau luluh menjadi debu”

Panon masih tetap bersiaga sepenuhnya, sambil bergeser setapak ia menjawab, “Apapun yang akan Ki Ajar lakukan, aku tidak akan lari”

“Bagus, tetapi sebelum aku membenturkan ilmu keatas kepalamu, aku ingin menunjukkan kepadamu, bahwa ilmu yang bagaikan sekedar ceritera khayal itu memang ada”

Panon tidak menjawab, tetapi ia termangu-mangu ketika ia melihat Ki Ajar Respati memandang sekeliling kearah batu-batu padas yang berserakan.

“Lihat, hai anak muda yang sombong” ia berteriak lantang, “Kau akan pingsan melihat kemampuanku mempergunakan kekuatan cadangan”

Panon mengerti, bahwa Ki Ajar Respati akan mempergunakan kekuatannya, namun Panon sama sekali tidak menjadi gentar, bahkan tiba-tiba ia pun mempersiapkan dirinya, membangunkan segenap kekuatan yang ada di dalam dirinya, kekuatan cadangan yang jarang nampak pada permukaan tingkah laku dan tindak tanduknya sehari-hari.

Sejenak Panon menunggu, yang dilihatnya kemudian benar-benar menakjubkan, Ki Ajar Respati berteriak sambil meloncat menghantam sebuah batu padas yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Akibatnya benar-benar menakjubkan, batu padas itu pun pecah berantakan.

Tetapi belum lagi pecahan batu-batu padas yang berhamburan itu terserak seluruhnya, sekali lagi terdengar gemeretak gigi dan benturan yang yang tidak kalah dahsyatnya, sebongkah lagi batu padas pecah berserakan pula menjadi debu, segumpal asap yang putih mengepul diantara debu yang berhamburan.

“Luar biasa” terdengar Kiai Rancangbandang berdesis kepada diri sendiri, bahkan Ki Ajar Respati pun justru berdiri termangu-mangu untuk beberapa saat. Ia menyaksikan kepulan asap dan debu yang hanyut didorong oleh angin yang lembut dengan hati yang berdebar-debar.

Ternyata, sesaat setelah Ki Ajar Respati menunjukkan kekuatan yang ada di dalam dirinya, maka Panon pun telah melakukan hal yang sama, ternyata ia pun berhasil memecahkan batu padas seperti yang dilakukan Ki Ajar Respati.

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam, tiba-tiba saja wajahnya yang tegang itu pun rasa-rasanya menjadi luluh dan lembut, dengan suara datar ia berkata, “Sangat mengagumkan anakmas, ternyata kau memiliki kemampuan yang tiada taranya, jauh diluar dugaanku”

Panon masih tetap bersikap hati-hati meskipun Ki Ajar Respati nampaknya tidak bersiap untuk menyerangnya.

“Ki Ajar” berkata Panon, “Aku sudah siap untuk melakukan apa saja untuk membela hidupku dan demi tugas yang dibebankan kepadaku”

“Tidak ngger, kau tidak perlu berbuat apa-apa lagi”

“Aku tidak mengerti maksudmu, apakah Ki Ajar menunggu aku menjadi lengah dan menghantam punggungku dengan tiba-tiba selagi aku tidak menyangka?”

“Tentu bukan begitu ngger”

“Ki Ajar, aku sudah kehilangan kepercayaan kepadamu, jika kau tidak melihat bahwa kemampuanku tidak kalah dari apa yang dapat kau lakukan, maka kau tentu akan bersikap lain”

Wajah Ki Ajar menegang pula sejenak, lalu, “Anakmas, kenapa pandangan anakmas menjadi sedemikian pendeknya?”

“Ki Ajar, kau tidak akan dapat berpura-pura lagi, kau tidak perlu menunggu, kapan kau akan mencari kesempatan lagi untuk membunuhku”

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam, ketika ia memandang Ki Rancangbandang, maka dilihatnya Ki Rancangbandang mengerutkan keningnya sambil berkata, “Jangan salah mengerti anakmas, sebenarnyalah kami tidak bermaksud buruk kepadamu”

“Sekarang kau dapat berkata begitu, tetapi apakah yang akan kau katakan jika mayatku telah tergolek disini?”

“Tentu tidak akan sampai sedemikian jauh anakmas”

“Aku tidak percaya, jangan berbuat licik”

Sejenak Ki Ajar Respati termangu-mangu dan dengan wajah yang muram ia berkata kepada adiknya, “Apakah yang aku lakukan sudah terlampau jauh”

Kiai Rancangbandang memandang Panon sejenak, ada sesuatu yang terpancar pada sorot matanya, dengan nada yang dalam ia berkata, “Aku sudah memperhitungkan akibat ini”

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, namun kemudian ia melangkah mendekati Panon sambil berkata, “Anakmas, adalah wajar sekali, bahwa anakmas yang masih muda itu telah kehilangan kepercayaan kepada kami yang tua-tua, apalagi alasanku untuk perkelahian itu pun sangat mendasar, karena aku telah kehilangan anakku” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi jika masih ada sisa kepercayaanmu kepadaku, dengarlah, aku bermaksud baik, aku benar-benar telah mengikhlaskan anakku yang telah sesat jalan, jika aku memaksakan perkelahian ini, semata-mata karena kebimbanganku terhadap kemampuanmu”

“Kenapa Ki Ajar membimbangkan kemampuanku?, dan untuk apa?”

“Angger Panon, bukankah angger akan pergi ke Gunung Sewu?”

“Ya”

“Aku yakin bahwa angger tidak menyadari apakah yang ada disalah satu puncak Gunung itu, menurut perhitunganku angger tentu akan pergi ke Karangmaja, mengunjungi Istana yang suram itu”

“Kenapa Ki Ajar memperhitungkan demikian?”

“Tidak ada yang menarik diatas Gunung itu, selain sebuah istana kecil milik Pangeran Kuda Narpada yang telah ditinggalkannya beberapa lamanya”

Panon tidak menjawab, rasa-rasanya orang tua itu dapat menebak dengan tepat.

“Tetapi ketahuilah anakmas, bahwa istana kecil yang suram itu, ternyata telah menarik banyak perhatian, perhatian orang-orang sakti yang pilih tanding” ia berhenti sejenak, lalu, “Itulah sebabnya aku menjadi sangsi, apakah kepergianmu kesalah satu puncak bukit itu, bukan sekedar untuk membunuh diri dengan sia-sia, jika kau jatuh ke tangan siapapun yang kini berada di puncak yang sangat menarik perhatian itu, maka akibatnya akan menjadi sangat parah. Ternyata kau adalah seorang anak muda yang memiliki ilmu yang mumpuni, karena itu, maka aku tidak menjadi sangsi lagi, bahwa kau pun pantas mendaki pegunungan itu”

Panon mengangguk-angguk jenenak, ia melihat kejujuran di mata Ki Ajar Respati, namun demikian, ia masih belum dapat menghapuskan perasaan curiganya, karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Apakah kau tidak sekedar menjebak aku?”

“Kenapa aku harus menjebakmu?” bertanya Ki Ajar, “Jika aku benar-benar ingin membunuhmu, aku masih mempunyai satu kesempatan meskipun licik, bukankah adikku dapat membantu jika aku memang ingin membunuhmu”

Panon Suka memandang Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandang berganti-ganti, tetapi kecurigaan terhadap keduanya masih tetap memancar pada sorot matanya, kemudian ia berkata, “Apakah aku masih dapat membangunkan kepercayaanku lagi? Ki Ajar, apa yang terjadi adalah suatu kejutan yang tidak akan dapat dengan mudah aku lupakan”

“Aku mengerti anakmas, tetapi ketahuilah, jika aku masih juga mendendam dan benar-benar ingin membunuhmu, maka aku tentu akan membawa siapa saja yang akan dapat membantuku, jika karena kesombonganku, aku yakin akan dapat melakukannya, seperti dalam keadaan ini, maka aku akan memberikan isyarat kepada adikku, Kiai Rancangbandang, sebenarnya bahwa adikku, Rancangbandang memiliki ilmu yang lebih sempurna dari padaku, bahkan ilmuku itu pun bukan ilmu yang baik, karena aku menyusunnya sendiri. Sesuai dengan pengenalanku atas alam sekitarku, aku berbeda dengan adikku Rancangbandang, setelah ia bersamaku mempelejari ilmu yang kalang kabut, ia masih menemui bukan hanya seorang yang dapat menyempurnakan ilmunya, tetapi dua orang kakak beradik pula, itulah sebabnya, maka ilmunya menjadi lebih sempurna dan teratur. Dengan demikian kau akan dapat mempertimbangkan, bahwa meskipun kau mempunyai kelebihan karena kau tenaga muda, maka kau tentu masih harus membuat perhitungan tersendiri jika kau harus menghadapi kami berdua”

Panon termangu-mangu sejenak, tetapi kemudian ia yang justru menjawab, “Apapun yang akan terjadi, aku tidak pernah menyesal selama aku tetap merasa berjalan diatas jalan yang benar menurut keyakinanku atas petunjuk dan didasari nasehat guruku”

Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, namun dalam pada itu Kiai Rancangbandang yang menyahut, “Angger Panon Suka, tentu saja yang pertama-tama kami harus minta maaf, penilaian angger terhadap kami memang dapat kami mengerti, tetapi, cobalah menangkap kejujuran atas keterangam kami. Aku dan kakang Ajar Respati bersepakat untuk mengetahui, sampai dimana bekal yang kau bawa untuk mendaki Gunung Sewu dalam keadaan seperti sekarang ini, hanya itu, tidak lebih dan tidak kurang, dan kini kami telah mengetahui bahwa angger Panon Suka tidak perlu dicemaskan lagi, karena itulah maka kami akan dapat melepaskan anakmas untuk pergi ke Gunung Sewu” Kiai Rancangbandang berhenti sejenak, lalu, “Agar anakmas mempercayai kami, maka aku dapat membertitahukan bahwa aku telah melihat beberapa orang yang nampaknya meyakinkan telah naik ke Gunung Sewu, itu pun yang melalui jalur ini, mungkin dari jalur lain, beberapa orang telah naik pula dengan kepentingan yang sama yang tidak begitu aku ketahui”

Panon menjadi bimbang.

“Dengarlah anakmas” Kiai Rancangbandang melanjutkan, “Yang pasti aku ketahui, memilik ciri-ciri lahiriah yang pernah aku kenal adalah mereka yang berasal dari perguruan Guntur Geni”

Panon mengerutkan keningnya, gurunya memang pernah menceritakan beberapa perguruan yang terakhir dikenalnya, dan gurunya memang pernah menyebut nama perguruan itu, Guntur Geni, tetapi Panon tidak mempunyai gambaran yang jelas tentang perguruan itu, karena gurunya tidak banyak menceritakannya.

“Apakah kau pernah mendengar nama perguruan itu?” bertanya Ki Ajar Respati.

Panon mengangguk kecil, jawabnya, “Aku pernah mendengar namanya, hanya mendengar saja tanpa pengertian apapun tentang perguruan itu”

“Apakah gurumu tidak pernah mengatakan apapun juga tentang perguruan itu?”

Panon menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Guru hanya pernah menyebutkan nama beberapa perguruan hanya itu”

Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, agaknya Panon benar-benar seorang yag masih belum berpengalaman, bahkan gurunya pun tidak banyak mengetahui lingkungan yang keras pada saat-saat terakhir dari perguruan-perguruan yang tersebar.

“Mungkin guru anak muda ini menempa diri tanpa tuntunan siapapun juga seperti aku” berkata Ki Ajar Respati di dalam hatinya.

Tetapi ia tidak mengatakannya kepada Panon.

Dalam pada itu, Panon telah mulai mencoba untuk mempercayai kata-kata Kiai Rancangbandang, meskipun betapapun kecilnya, masih juga terpercik kecurigaannya kepada orang tua itu.

“Karena itu anakmas” berkata Kiai Rancanbandang, “Perjalanan ke Gunung Sewu memang bukan perjalanan tamasya”

Panon mengangguk-angguk.

“Jika anakmas sudah siap menghadapi setiap kemungkinan, maka demikian adanya bahaya yang barangkali akan dihadapi oleh anakmas, karena aku kira apa yang akan anakmas lakukan tentu akan banyak sisip dari dugaanku”

“Apakah yang Kiai duga dari perjalananku ini?”

Kiai Rancangbandang memandang Ki Ajar sejenak, lalu katanya, “Angger Panon Suka, sebenarnyalah telah tersebar berita diantara orang-orang yang disebut sakti, seperti orang-orang dari perguruan Guntur Geni dan mungkin dari perguruan lain, bahwa istana Pangeran Kuda Narpada telah ditinggalkan oleh penghuninya, maksudnya adalah Pangeran Kuda Narpada sendiri, yang tinggal adalah isterinya saja dan anak gadisnya, ternyata bahwa istana itu telah banyak menarik perhatian, bukan janda pangeran itu atau puterinya, tetapi apa yang mungkin ditinggalkan oleh Pangeran Kuda Narpada, sekali lagi, yang mungkin ditinggalkan, tetapi mungkin pula di istana itu tidak akan pernah diketemukan apapun juga”

Panon Suka menjadi berdebar-debar, ternyata bahwa sesuatu memang benar terjadi di istana itu, dan itulah agaknya maka ia memang seharusnya datang lebih cepat.

“Tetapi nampaknya guru tidak tahu bahwa hal serupa itu telah terjadi” berkata Panon di dalam hatinya

“Ternyata guru tidak pernah mengatakan sesuatu yang bersangkutan dengan kedatangan orang-orang itu, apalagi guru memang tidak pernah pergi dari padepokannya yang terpencil itu”

Dalam pada itu, Kiai Rancangbandang pun berkata selanjutnya, “Itulah anakmas, apa yang aku ketahui tentang Gunung Sewu, benar-benar suatu daerah yang kurang menyenangkan untuk dikunjungi oleh siapapun juga” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi maafkan bahwa aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau juga termasuk orang-orang yang dipengaruhi oleh keinginan tentang sesuatu yang mungkin ditinggalkan oleh Pangeran Kuda Narpada”

Panon menundukkan kepalanya, ia amenjadi bingung, ia memang merasa bertanggung jawan untuk melaksanakan tugas yang dibebankan oleh gurunya, tetapi apakah niat gurunya itu tidak termasuk dalam sifat tamak seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain?.

“Menilik sifar dan watak guru, tentu tidak, tetapi kenapa guru juga ingin mendapatkannya seperti orang-orang lain?” pertanyaan itu telah membelit hatinya, namun tiba-tiba wajah Panon menjadi terang, hampir diluar sadarya ia bergumam, “Aku ingat, Guru pernah menyebutkan bahwa jika orang lain mendahuluinya dan berhasil, maka akibatnya akan berkepanjangan, mungkin Demak harus menaruh perhatian dengan sungguh-sungguh dan bahkan mungkin akan mengguncangkan ketenangan negeri yang baru berkembang ini”

“Apa katamu ngger?” bertanya Ki Ajar sambil bergeser mendekat.

Panon termangu-mangu, Kiai Rancangbandang mendekatinya pula sambil bertanya, “Apakah gurumu mencemaskan akibatnya jika ada orang lain mendahuluimu?”

“Ya, Kiai”

“Siapakah gurumu?”

“Wirit, Kiai Wirit”

Kiai Rancangbandang dan Ki Ajar mengerutkan keningnya, nama itu agaknya memang belum pernah didengarnya, karena itu sambil menggelengkan kepalanya Ki Ajar berkata, “Aku belum pernah mendengarnya, tetapi jika benar niat gurumu seperti yang kau katakan, maka kedatanganmu ke istana itu mempunyai maksud yang berbeda dengan orang-orang lain”

“Apakah maksud orang lain datang ke tempat itu?”

“Mereka telah didorong oleh ketamakan dan nafsu untuk berkuasa, karena yang mereka cari adalah lambing kekuasaan, adalah tepat sekali kata gurumu, bahwa jika orang lain berhasil lebih dahulu dari padamu, maka mungkin sekali akan timbul malapetaka bagi Demak”

Panon Suka mengerutkan keningnya, sementara Kiai Rancangbandang meneruskan, “Karena itu angger, jika demikian pesan gurumu, cobalah melakukan tugasmu sebaik-baiknya, meskipun tugas itu agaknya akan terasa sangat berat karena kehadiran orang-orang yang telah mendahuluimu mendaki Gunung Sewu”

Panon mengangguk-angguk, kepercayaannya kepada kedua orang tua itu perlahan-lahan telah tumbuh kembali, bahkan ia pun kemudian merasakan bahwa kedua orang tua itu sangat mencemaskan dirinya, jika ia tergesa-gesa tanpa mempersiapkan diri sebaik-baiknya mendaki Gunung Sewu yang telah berubah menjadi wingit, bukan karena hantu, jin dan lelembut, tetapi agaknya beberapa orang memang telah mendahuluinya pergi ke istana yang disebutkan oleh gurunya.

Selagi ia termangu-mangu, maka terdengarlah Ki Ajar Respati berkata, “Angger Panon Suka, ternyata kemampuan oleh kanuraganmu sudah memadai, jika terpaksa kau harus bertempur, maka kau memiliki bekal yang cukup, tetapi masih dengan keterangan, apabila kau berperang tanding, tetapi mungkin lawanmu tidak hanya seorang atau dua, apalagi orang-orang Guntur Geni memiki senjata yang sulit untuk dilawan”

“Apakah senjata mereka Kiai?”

“Racun, mereka adalah orang-orang yang bergelimang racun tajam yang disadapnya dari bisa ular dan racun tumbuh-tumbuhan”

Panon termenung sejenak, kini ia menyadari sepenuhnya bahwa perjalanannya memang berbahaya.

“Ki Ajar” katanya kemudian, “Guruku sudah memberi aku bekal untuk mencegah keracunan, Guru memberi aku obat-obatan yang dapat aku usapkan pada luka atau tempat yang terkena racun, tetapi guru juga memberikan obat yang dapat aku telan, obat yang sudah diramu menjadi seperti butiran buah jarak yang sudah masak”

Ki Ajar mengangguk-angguk, katanya, “Jika demikian, bekalmu memang sudah lengkap”

Namun demikian agaknya Kiai Rancangbandang masih meragukannya, karena itu maka tiba-tiba saja ia berkata kepada Ki Ajar, “Kakang, aku tidak sampai hati melepaskan angger Panon Suka pergi seorang diri menunaikan tugas yang gawat, agaknya gurunya yang sudah lama tidak mengetahui keadaan Gunung Sewu itu tidak menyadari, betapa bahaya sudah menunggu muridnya”

“Jadi?”

“Aku akan mengantarkannya kakang, mungkin aku pun tidak banyak berarti baginya, aku hanya akan mengantarkan sampai ditempat yang dituju, kemudian, jika mungkin, aku akan kembali mendahuluinya, apakah kakang sependapat?”

Ki Ajar Respati termangu-mangu sejenak, kemudian katanya, “Baiklah adi, tetapi dengan demikian kau pun telah melintas di daerah yang dapat membahayakan dirimu sendiri, disaat kau berangkat, kau mempunyai seorang kawan yang memiliki ilmu yang mumpuni, tetapi kelak jika kau benar-benar kembali mendahuluinya, maka kau akan berjalan seorang diri”

“Tetapi tidak akan banyak orang yang menghiraukan perjalananku kakang, meninggalkan Gunung Sewu tidak akan mendapat perhatian seperti saat kita mendaki.”

“Tetapi baiklah, kau pun harus mempersiapkan dirimu melawan setiap kemungkinan, juga melawa racun”

“Aku membawa keris Kiai Tratagnaga, mudah-mudahan akan dapat membantuku melawan racun jika pada suatu saat aku terpaksa bersentuhan dengan orang-orang Guntur Geni atau dari perguruan yang lain”

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, katanya, “Agaknya Kiai Tratagnaga sudah cukup bagimu untuk melawan segala macam racun dan bisa” ia berhenti sejenak, lalu katanya kepada Panon Suka, “Angger Panon Suka, agaknya kau pun perlu mempersiapkan dirimu lebih baik daripada sekedar membawa obat-obatan untuk melawan racun dan bisa”

“Apakah yang harus aku lakukan Ki Ajar?”

Ki Ajar termangu-mangun sejenak, agaknya ia sedang dicengkam oleh keragu-raguan, baru sejenak kemudian ia berkata, “Anakmas Panon, aku mempunyai sesuatu yang berguna untuk mengebalkan diri terhadap racun, tetapi itu adalah milikku satu-satunya, jika aku sekarang bermaksud meminjamkannya kepadamu, maka sudah barang tentu aku berharap bahwa benda itu akan dapat kembali kepadaku kelak”

Panon masih termangu-mangu.

“Anakmas, apakah kau bersedia meminjamnya?”

“Ki Ajar” Jawab Panon, aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih, sudah barang tentu aku akan senang sekali meminjamnya, aku berjanji untuk mengembalikannya kelak kepada Ki Ajar, tetapi aku masih ragu-ragu, apakah aku akan dapat turun lagi dari Gunung Sewu, menilik keadaannya yang semakin gawat”

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Jika kau harus tetap tinggal disalah satu puncak pegunungan itu, maka aku pun akan mengikhlaskan, tetapi sudah barang tentu kita berharap bahwa perjalananmu akan mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung”

Panon menarik nafas dalam-dalam.

“Inilah anakmas” berkata Ki Ajar, “Pakailah kalung rantai berbandul tali ular bersisik seribu”

“Ular bersisik seribu?” bertanya Panon.

“Bukan sebenarnya ular bersisik seribu anakmas, tetapi batu itu disebut taji ular bersisik seribu, batu yang memiliki kekuatan ajaib untuk melawan racun dan bisa, ada beberapa jenis batu serupa ini, misalnya Jumerut Sisik Waja dan Akik Naga Keling dari perguruan Cengkir Pitu dan yang sebagai ciri salah satu perguruan di daerah timur adalah Cula dari Gunung Semeru yang disebut Cula Kumbang Kuning bermata berlian”

Panon mengangguk-angguk, ia memperhatikan keterangan itu dengan seksama, ia memang belum pernah mendengarnya dari gurunya, keterangan mengenai bebatuan yanga dapat melawan bisa.

“Selebihnya” Ki Ajar Respati meneruskan, “Ada semacam Batu Mirah Sarpa Suri dan Watu Kuning Ula Cendani dari ujung barat, dan masih banyak lagi ceritanya tentang batu-batu aneh yang memiliki kemampuan untuk menawarkan bisa, diantara semuanya itu adalah batu yang disebut taji ular bersisik seribu, atau yang lazim disebut Akik Jalu Naga Sisik Sasra”

Panon masih mengangguk-angguk, dengan demikian ia menjadi semakin yakin bahwa sebenarnyalah kedua orang tua-tua itu tidak bermaksud buruk terhadapnya.

“Nah angger Panon Suka,” berkata Kiai Rancangbandang, “Kau dapat meminjam Jalu Naga Sisik Sasra, aku sudah membawa keris Kiai Tratagnaga, mudah-mudahan jika kita bertemu dengan berbagai macam racun dan bisa, kita dapat mengelakkan diri, sedang obat-obatan yang kau bawa dapat juga dipergunakan dimana perlu, dan mungkin ada orang lain yang memerlukannya”

“Terima kasih Kiai, tetapi apakah dengan demikian aku tidak mengganggu Kiai?”

“Sudahlah, aku memang ingin melihat Gunung Sewu, biarlah Kakang Ajar Respati menunggu rumah”

“Ya, dan aku masih akan mencari kuburan anakku di daerah ini, mudah-mudahan aku dapat menemukannya”

Panon masih termangu-mangu, dan agaknya Ki Ajar Respati mengerti apa yang dipikirkannya, sehingga ia pun berkata, “Lupakanlah anakmas, Sisik Sana telah memetik buah dari tanamannya sendiri, kau adalah sekedar lantaran”

“Aku mohon maaf atas semua kelancanganku Ki Ajar”

Ki Ajar tersenyum, dilepaskannya rantai yang terbuat dari baja putih, dengan bandul sebuah batu yang disebutnya Akik Jalu Naga sisik Sasra, batu yang berwarna putih kebiru-biruan yang dipusatnya seolah-olah terlukis sisik yang berlapis-lapis.

“Terimalah, kau dapat mempergunakan sampai tugasmu selesai, sudah tentu aku berharap kau dapat kembali dan mengembalikan batu itu kepadaku” Ia berhenti sejenak, lalu katanya kepada Kiai Rancangbandang, “Jika kau akan mengikutinya, pergilah. Kau dapat mendahuluinya, tetapi jika perlu kau akan menjadi kawan yang dapat mengisi kejemuan di malam-malam yang sepi di atas Gunung Sewu yang wingit itu”

“Aku mohon diri kakang, aku akan pergi bersama angger Panon Suka yang agaknya ingin segera sampai ke atas Gunung Sewu”

Panon tidak dapat menolak, ada sesuatu kegembiraan bahwa ia mendapatkan seorang kawan, tetapi ada juga kecemasan bahwa tugasnya akan diketahui oleh orang lain.

Selain tugas itu sendiri, maka ia harus melakukan beberapa pesan gurunya, ia harus berhenti di Lembah Payung, menitipkan kudanya dan kemudian hadir di padukuhan Karangmaja sebagai seseorang yang miksin yang sedang merantau, bahkan seorang peminta-minta.

Namun Panon Suka tidak segera mengemukakan keberatan-keberatan itu, mungkin di perjalanan ia menemukan cara yang yang sebaik-baiknya untuk menyampaikan niat itu kepada Kiai Rancangbandang.

Demikianlah maka Panon Suka dan Kiai Rancangbandang pun segera meninggalkan hutan itu pergi ke pegunungan berpuncak seribu, pegunungan yang membujur ke barat di pinggir selatan pergunungan yang belum banyak disentuh kaki manusia, selain daerah-daerah tertentu yang lebih subur dari dataran-dataran tinggi yang lain.

Memang ada terbersit sedikit kecurigaan Panon Suka, bahwa kepergian Kiai Rancangbandang adalah karena ketamakannya pula untuk ikut serta memasuki istana terpencil itu, namun ada semacam tangkapan di hati nuradi Panon, bahwa Kiai Rancangbandang bukanlah seorang yang dikuasai oleh nafsu semata-mata, bahkan tingkah lakunya menunjukkan sifatnya yang jujur dan rendah hati.

Sepeninggal Panon Suka dan Kiai Rancangbandang, Ki Ajar Respati duduk termenung, barulah kemudian terasa betapa pahitnya melepaskan seorang anak laki-laki, meskipun nalarnya dapat mengikhlaskannya, tetapi amat sulitlah baginya untuk mengatur perasaannya.

“Tetapi Panon Suka tidak bersalah” ia berkata kepada diri sendiri, “Mudah-mudahan ia selamat di perjalanan, agaknya benar kata gurunya, jika orang lain yang mendahuluinya, maka akibatnya akan sangat buruk bagi Demak”

Tetapi dalam kesepian dan kepahitan itu, Ki Ajar masih tetap berusaha menguasai dirinya, meskipun demikian diluar sadarnya terasa pelupuk matanya menjadi basah.

“Ah….!” Ia meloncat berdiri, “Aku adalah seorang laki-laki Namun penyesalan yang tiada taranya telah membentur dinding hatinya, ia adalah seorang ajar yang oleh orang-orang di sekitarnya dianggap mempunyai kelebihan, baik kemampuan wadagnya maupun dalam olah kajiwan, tetapi ia tidak berhasil menguasai anaknya sendiri yang justru sudah bertindak melampaui batas, kematian anaknya sudah tentu sebagian adalah karena kesalahannya ketidak mampuannya membentuk anaknya menjadi seorang yang berbuat baik.

“Mudah-mudahan Allah Yang Maha Pengampun memaafkan kedunguanku, anak yang dipercayakan kepadaku, ternyata telah tersia-sia dan bahkan telah diambil-Nya kembali”

Ki Ajar Respati terduduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, “Apakah yang dapat aku katakan kepada orang lain” Gumamnya.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Ki Ajar tersentak, ia mendengar langkah orang mendekatinya dengan hati-hati, karena itu maka ia pun segera mempersiapkan diri menghadap segala kemungkinan.

Meskipun demikian ia masih tetap duduk pada tempatnya.

Ki Ajar Respati pun kemudian terkejut ketika ia melihat dua orang datang mendekatinya perlahan-lahan, dengan wajah yang pucat dan ketakutan.

Belum lagi Ki Ajar Respati bertanya sesuatu, kedua orang itu telah berjongkok dihadapannya da menunduk dalam-dalam, sehingga dahinya menyentuh tanah.

Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, kedua orang itu adalah muridnya yang telah pergi meninggalkannya bersama anaknya, Watu Sampar dan Bandung Limpat.

“Guru” terdengan suara Bandung Limpat terputus-putus, “Kami telah menghadap guru lagi setelah kami meninggalkan perguruan beberapa lamanya, kami telah melakukan kesalahan yang tidak terhingga, seandainya demgam demikian kami harus dihukum, maka kami tidak akan ingkar, bahkan hukuman mati sekalipun”

Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, sejenak ia justru terbungkam, rasa-rasanya sesuatu telah menyumbat tenggorokannya.

Namun ia berkata dengan nada yang datar, “Anak-anakku, aku sudah mengetahui segala-galanya, anak muda yang bernama Panon Suka, yang telah membunuh anakku, telah datang kepadaku dan mengatakannya segala-galanya”

“Ya guru, kesalahan kamilah, bahwa kami tidak tidak dapat mencegah peristiwa itu terjadi”

“Apa yang dapat kau lakukan terhadap anak muda yang bernama Panon Suka itu? Dalam olah kanuragan, kalian sama sekali bukan tandingannya, aku pun masih harus belajar kepadanya dalam beberapa hal”

“Setidak-tidaknya kami dapat memperingatkan Sisik Sana untuk tidak melakukannya, tetapi justru kami terlibat pula kedalamnya”

“Kalian memang telah tersesat, ilmu yang tidak kalian pelajari dengan baik itu, kalian anggap sudah dapat kalian pergunakan, apalagi dipergunakan di jalan yang sesat” berkata Ki Ajar Respati kemudian, “Namun agaknya, kalian telah mendapat pelajaran yang sangat berharga dengan korban yang sangat mahal”

“Kami tidak akan menghindar dari hukuman apapun guru” berkata Watu Sampar pula.

“Hukuman yang paling tepat adalah hukuman yang tumbuh dari hatimu sendiri, penyesalan dan kemudian bertaubat, bukan sekedar penyesalan untuk sesaat, dan kemudian perbuatan itu akan terulang lagi”

“Kami menyesal semua tingkah laku kami, dan kami mengatakan dihadapan guru, bahwa kami telah bertaubat sampai akhir hayat kami, jika guru meragukan, maka kematian yang dekat akan menjadi pertanda pertaubatan kami yang abadi”

“Jika aku membunuh kalian agar kalian tidak dapat berbuat salah lagi, maka itu bukanlah penyelesaian yang paling baik buat kalian, dengan demikian maka akhir dari segala kesalahan tidak berlandaskan pada tingkah delam ketetapan hati, tetapi justru dalam keragu-raguan dan tanpa kepastian”

Kedua muridnya itu pun tidak menjawab, rasa-rasanya dadanya memang telah tersumbat oleh penyesalan yang tiada taranya, kesesatan mereka telah merampas taruhan yang paling mahal, justru anak laki-laki gurunya sendiri.

“Sudahlah” berkata Ki Ajar Respati kemudian, “Apakah kau telah menguburkan mayat Sisik Sana?”

“Ya guru”

“Nah tunjukanlah kepadaku, aku akan mengambilnya dan membawanya kepadukuhan adikku Kiai Rancangbandang, aku akan menyembahyangkan dan menguburkannya di padukuhan itu, agar makamnya terpelihara, setidak-tidaknya merupakan kenangan bahwa aku pernah mempunyai anak yang bernama Sisik Sana, yang pada hidupnya telah memilih jalan yang sesat, dengan demikian akan menjadi petunjuk bagi setiap orang yang mengenalnya dan mengenalku, bahwa aku adalah orang tua yang gagal manjadi seorang ayah yang baik, mungkin aku berhasil dibidang yang lain, dalam olah kanuragan dan kajiwan, pendekatan kepada Yang Maha Kuasa, pergaulan antara sesama, tetapi justru yang satu itu, mengasuh anak-anakku, aku telah gagal”

Kedua muridnya yang telah bertaubat itu sama sekali tidak menyahut, sehingga Ki Ajar Respati meneruskan, “Marilah, jangan terlampau lama terombang-ambing oleh perasaan yang tidak menentu, marilah kita berbuat sesuatu”

Ketika Ki Ajar Respati berdiri, maka kedua muridnya itu pun berdiri pula, Bandung Limpat pun kemudian menunjukkan tempat yang telah dintandainya sebagai kubur kawan seperguruannya dan anak laki-laji dari gurunya itu.

Sementara itu Panon Suka dan Kiai Rancangbandang memacu kudanya menyelusuri jalan sempit di pinggir hutan yang tidak begitu lebat, namun kudanya tidak dapat berlari terlampau cepat karena jalan yang agak sulit dan sempit.

Ketika mereka kemudian sampati ke jalan yang agak lebar, maka mereka pun tidak beriringan lagi, tetapi mereka berkuda bersama-sama.

Dalam pada itu maka Kiai Rancangbandang bertanya, “Angger Panon Suka, keteranganmu yang hanya selintas mengenai rencanamu pergi ke Gunung Sewu telah menarik perhatianku, jika angger telah mendapat perintah dari guru angger, maka perintah itu benar-benar sangat menarik perhatian”

“Ya Kiai” jawab Panon.

“Tetapi sayang, bahwa aku belum mengenal gurumu yang bernama Ki Wirit itu, sehingga aku tidak dapat mengambil kesimpulan yang pasti”

“Jadi Kiai curiga juga bahwa yang dikatakan guru itu hanya sekedar lamis belaka”

“Bukan maksudku berkata demikian anakmas, tetapi aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri”

Panon Suka menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Kiai, jika Kiai percaya kepadaku, Kiai tidak perlu ragu-ragu lagi tentang guruku, mungin aku adalah orang yang terlibat langsung di dalamnya, sehingga aku tidak akan dapat melihat kebenaran dari kata-kataku sendiri, namun demikian aku telah berketetapan hati untuk melakukan perintah guruku sebaik-baiknya”

“Tetapi angger, Angger harus melakukan perintah itu sebaik-baiknya, sebenarnya aku pun mempercayaimu, bahkan aku berpendapat, jika sekiranya gurumu sekedar didorong oleh ketamakan dan nafsu, maka, ia tentu dengan tergesa-gesa pergi ke Gunung Sewu dan mengambilnya sendiri di istana kecil yang terpencil itu, mendahului orang lain” Kiai Rancangbandang berhenti sejenak, lalu, “Aku tidak dapat membayangkan, betapa tinggi ilmu gurumu, jika muridnya yang masih sangat muda itu telah mampu berbuat seperti yang anakmas lakukan”

“Ah, Kiai terlalu memuji”

Kiai Rancangbandang menyahut, “Bukan sekedar memuji anakmas, aku sudah melihat kenyataan yang hampir diluar kesanggupan nalarku, aku pernah melihat anak-anak muda yang memiliki ilmu yang mumpuni, tetapi anakmas mempunyai kelebihan”

“Kiai mamandang kemampuanku berlebih-lebihan, jangan-jangan Kiai akan kecewa jika mengetahui tentang diriku yang sebenarnya, yang tidak lebih dari anak padesan yang belajar sekedar ilmu untuk membela diri pada seorang tua yang tinggal di gubug kecil di sebelah padukuhanku”

  -oo0 dw-arema 0oo-

Bersambung ke jilid 5

Sumber djvu : Koleksi Ismoyo

http://cersilindonesia.wordpress.com

Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://ebook-dewikz.com/

http://kang-zusi.info http://dewikz.byethost22.com/

diedit ulang oleh Ki Arema

kembali | lanjut

ISTANA YANG SURAM 03

ISTANA YANG SURAM

Jilid 3

Karya: SH Mintardja

kembali | lanjut

 Istana Yang Suram-03KARENA itulah, maka pertempuran di halaman istana itu semakin lama menjadi semakin seru. Jika Panji Sura Wilaga harus bertempur mati-matian untuk mempertahankan diri dari serangan kedua orang lawannya. Maka Raden Kuda Rupaka mengerahkan segenap kemampuannya untuk segera mengalah-kan Kumbara agar ia segera dapat membantu Panji Sura Wilaga, karena Raden Kuda Rupaka pun menyadari bahwa kawannya itu akan segera mengalami kesulitan.

Sebenarnyalah memang demikian yang terjadi, melawan kedua orang lawannya itu, Panji Sura Wilaga harus mengerahkan segenap kemampuan yang dapat dilakukan. Dengan demikian maka ia harus mengerahkan segenap tenaganya seakan-akan tanpa mendapat kesempatan untuk menarik nafas panjang sama sekali.

“Gila” geram Sura Wilaga di dalam hatinya, “Ternyata orang ini benar-benar ingin memaksaku menyerahkan leherku kepada mereka”

Sementara itu, didalam istana kecil itu, Raden Ayu Kuda Narpada duduk dengan gemetar, betapa ia berusaha menenang-kan hatinya, namun terasa degup jantungnya menjadi semakin kencang. Sedang di belakangnya, Inten Prawesti duduk di dalam pelukan pemomongnya yang seolah-olah bagaikan membeku.

Sekali-kali mereka tergetar oleh dentang senjata di halaman. Kemudian teriakan-teriakan nyaring dari orang-orang yang sedang berkelahi itu.

“Apakah Kamas Kuda Rupaka akan menang Nyai?” bertanya Inten Prawesti dengan suara gemetar. Ia tidak dapat menahan ketegangan yang semakin memuncak di dadanya. Nyai Upih bergeser sedikit, dengan suara lirih ia menjawab, “Kita berdoa puteri. Yang Maha Kuasa akan memberi kekuatan kepada setiap orang yang memuji namanya”

Inten Prawesti mengerutkan keningnya, katanya, “Ya, semoga Allah Yang Maha Besar akan memberikan pertolongannya”

Inten Prawesti termangu-mangu, meskipun hatinya sedang dicengkam oleh kebingungan, namun ia masih sempat menimbang-nimbang kata pemomongnya. Tetapi ia tidak bertanya lagi kepadanya, diluar agaknya perkelahian manjadi semakin seru.

Sebenarnyalah bahwa pertempuran di halaman menjadi semakin seru, namun ternyata bahwa Panji Sura Wilaga semakin mengalami kesulitan untuk mempertahankan dirinya melawan dua orang yang memiliki kekuatan hampir seimbang, yang dapat dilakukannya kemudian adalah sekedar membela diri dengan harapan bahwa Raden Kuda Rupaka akan segera dapat mengakhiri perkelahian.

Tetapi lawan Raden Kuda Rupaka pun adalah orang yang sangat tangguh. Ia adalah orang yang paling kuat diantara tiga orang murid perguruan Guntur Geni yang ditugaskan ke padukuhan Karangmaja itu. Sehingga dengan demikian maka Raden Kuda Rupaka pun tidak segera dapat menguasainya. Apalagi Panji Sura Wilaga yang harus bertempur melawan dua orang berpasangan, dua orang yang garang dan ganas dengan senjata mereka masing-masing. Senjata yang mengerikan.

Pada setiap ayunan senjata Naga Pasa yang sepasang itu, bagaikan lambaian maut, sedang Gagak Wereng yang membawa sebuah limpung berujung rangkap, merupakan ancaman yang mendebarkan jantung, kearah manapun senjata itu bergerak, rasa-rasanya dada Panji Sura Wilaga akan tergores karenanya.

Namun ternyata bahwa semakin lama Panji Sura Wilaga menjadi semakin lemah, kekuatannya berangsur menjadi surut, sedang serangan kedua lawannya masih tetap saja membadai.

“Kau tidak akan dapat luput dari pelukan maut kali ini Panji” desis Naga Pasa.

Panji Sura Wilaga mengeram, bagaimanapun juga ia masih manjawab, “Jangan berbangga, pertempuran ini belum selesai”.

“Tetapi akhir dari pertempuran ini sudah membayang, nah apa yang akan kau katakan sebelum ajalmu sampai?”

Panji Sura Wilaga menggeram, tetapi ia tidak menjawab lagi, Ia mencoba mengerahkan kekuatan yang ada padanya untuk memperlonggar serangan-serangan kedua lawannya.

Tetapi usaha itu tidak memberikan kesempatan kepadanya, sehingga ia mengumpat di dalam hati, “Setan alas, aku tidak mengira bahwa pertumbuhan perguruan Guntur Geni menjadi demikian pesatnya, sehingga aku mendapat kesulitan melawan kedua orang ini, bahkan Raden Kuda Rupaka tidak segera dapat menyelesaikan yang seorang itu”

Ternyata Raden Kuda Rupaka dapat melihat kesulitan yang dialami oleh Panji Sura Wilaga. Karena itu, ia mencoba mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyelesaikan lawannya. Tetapi lawannya berbuat serupa pula, mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya, sehingga dengan demikian, perkelahian itu justru menjadi semakin seru. Keduanya ternyata adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melampaui kemampuan sesamanya, senjata keduanya berputaran saling melibat dan berbenturan. Percikan bunga api berloncatan di udara.

Melihat kemampuan antara Kuda Rupaka dan Kumbara, Panji Sura Wilaga tidak dapat lagi mengharap bantuannya. Ia harus dapat berusaha menolong dirinya sendiri, apapun caranya. Jika tidak, maka ia akan segera tergolek di tanah tanpa nyawanya lagi.

“Tetapi tidak ada jalan yang dapat aku tempuh” desis Panji Sura Wilaga didalam hatinya, namun demikian, ia masih bertempur terus, apapun yang akan terjadi.

Dalam pada itu. Panji Sura Wilaga selalu terdesak itu pun semakin lama menjadi semakin terpisah dari Kuda Rupaka, tanpa sadarnya, Panji Sura Wilaga terdesak ke dinding halaman, sehingga pada suatu saat, terasa punggungnya menyentuh dinding batu itu.

“Ha ha ha….!!” Tiba-tiba Naga Pasa tertawa, “Sekarang, kau tidak akan dapat menghindar lagi, sebentar lagi, nyawamu akan terpisah dari tubuhmu, sekali lagi, aku bertanya kepadamu, pesan apakah yang akan kau sampaikan sebelum kau mati?”

Panji Sura Wilaga mengeram, tetapi ia tidak menjawab sama sekali, ia harus berpikir bagaimana dapat melepaskan diri dari bencana yang sudah membayang di pelupuk matanya itu. Jika serangan dari kedua orang itu dating bersama-sama, maka ia tidak akan dapat berbuat banyak, karena punggungnya sudah terasa menyentuh dinding batu.

“Kenapa kau diam saja” bertanya Naga Pasa, “Ini adalah kesempatanmu yang terakhir”

Panji Sura Wilaga masih tetap membisu, tetapi ia benar-benar tidak melihat lagi jalan untuk keluar dari kesulitan itu. Namun emikian, Panji Sura Wilaga bukan seorang pengecut, ia tidak akan merengek minta belas kasihan kepada lawan-lawannya. Apapun yang akan terjadi atas dirinya, ia akan menggenggam senjatanya, mati dengan senjata ditangan baginya adalah kematian yang paling terhormat bagi seorang laki-laki.

Naga Pasa dan Gagak Wereng telah mempersiapkan dirinya untuk menyerang bersama. Serangan yang terakhir kalinya dan yang akan menentukan kematian lawannya. Sepasang senjata dan sebuah senjata berujung rangkap, telah siap terayun dan mematuk pada tubuh yang sudah melekat pada dinding batu itu.

Tetapi pada saat yang paling tegang bagi Panji Sura Wilaga itu, tiba-tiba halaman istana kecil itu telah digetarkan oleh suara tertawa yang berkepanjangan. Suara tertawa yang terlontar dari atas dinding batu tepat diatas Panji Sura Wilaga berdiri.

Semua orang berpaling kearah suara itu. Dalam kegelapan, yang nampak hanyalah sebuah bayangan hitam. Bayangan seseorang yang berdiri tegak diatas dinding batu dengan kepala tengadah dan tangan bertolak pinggang.

Dengan demikian maka perkelahian yang terjadi di halaman itu seakan-akan telah terhenti. Masing-masing dengan heran bertanya-tanya di dalam hati, siapakah orang yang berdiri diatas dinding batu itu.

Kumbara yang sedang bertempur dengan Kuda Rupaka dengan marah menggeram, “He, siapakah kau?, dan apakah maksudmu mengganggu permainan kami?”

Orang itu tidak segera menjawab, tetapi suara tertawanya masih saja menggema. Panji Sura Wilaga pun telah dicengkam oleh keragu-raguan. Ia tidak tahu pasti, siapakah orang yang berdiri diatas dinding batu itu, dan apakah maksudnya. Jika orang itu kawan kedua lawannya, maka ia akan dengan mudah sekali meloncat dan menikam tengkuknya, sementara ia berusaha menangkis dan menghindari serangan kedua lawannya.

Karena itu, maka dengan ragu-ragu ia pun bertanya, “Siapakah Kau?”

“Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga, aku bukan sanak dan kadangmu, tetapi aku tidak ingin melihat kalian mati di halaman rumah ini” Jawab orang itu.

“He…!!, siapakah kau” teriak Naga Pasa.

“Mungkin niatku untuk menyelamatkan Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga bukannya niat yang jujur pula, tetapi bagiku, lebih baik aku membantu kalian saat ini dan membinasakan ketiga iblis itu, baru kemudian, mungkin akan timbul persoalan antara kita masing-masing”

“Gila..!!” geram Kumbara, “Siapa kau he..!!”

“Mungkin aku mempunyai maksud yang sama dengan iblis-iblis ini, mungkin pula dengan Raden, tetapi itu tidak penting, yang penting ketiga iblis ini harus dibinasakan”

“Persetan..!!” geram Naga Pasa, “Turunlah, jika kau ingin dicincang pula disini”

“Tentu tidak, aku melihat perkelahian ini dari sela-sela pintu regol, aku melihat Raden Kuda Rupaka memiliki kemungkinan lebih baik dari iblis itu, sedang Panji Sura Wilaga tentu akan dapat menyelamatkan dirinya, jika ia berkelahi seorang lawan seorang, dengan demikian, maka aku akan mengambil salah seorang dari kedua lawan Panji Sura Wilaga agar Panji Sura Wilaga tidak terbunuh di halaman rumah ini”

“Gila..!!” Panji Sura Wilaga pun menggeram, “Siapa kau He..!!”

Orang itu tertawa lagi, katanya disela-sela suara tertawanya, “Maaf Raden Kuda Rupaka, mungkin aku telah menyinggung sifat kesatriamu, tetapi aku tidak dapat mengingkari kenyataan ini. Panji Sura Wilaga tidak akan mampu melawan dua orang sekaligus, bukan karena Panji Sura Wilaga ilmu kanuragannya lemah, tetapi ia sedang melawan dua orang yang dengan licik mengeroyoknya, itu tidak adil. Aku akan mencoba membuat perkelahian menjadi adil, jika Raden Kuda Rupaka atau Panji Sura Wilaga sudah berhasil membunuh lawannya, maka aku akan meninggalkan gelanggang dan menyerahkan lawanku kepada salah seorang dari kalian yang bebas dari lawan”

“Bagaimana jika kau terbunuh?” geram Raden Kuda Rupaka.

“Itu adalah nasibku, aku akan mati disini, tetapi namaku akan tetap kau kenang sepanjang umurmu”

“Siapa namamu?” tiba-tiba Kuda Rupaka bertanya.

Orang itu tertegun sejenak, namun ia pun tertawa,

katanya, “Aku tidak punya nama”

“Persetan” desis Naga Pasa, “Marilah, kau akan paling cepat mati, setidak-tidaknya, kau akan menjadi cacat”

Orang itu tertawa, jawabnya, “Maksudmu seperti Kasdu anak Karangmaja itu? Aku bukan anak Karangmaja, aku memiliki penawar racun yang bagaimanapun juga tajamnya, kau tidak percaya?”

“Jadi kau yang mengobati anak Karangmaja itu?” dengan serta merta Raden Kuda Rupaka berteriak.

“Bukan, bukan aku” jawab orang itu sambil tertawa.

“Gila..!!” geram Kumbara, “Jadi anak Karangmaja itu sudah diobati…”

“Ya…., tetapi bukan aku, meskipun aku mempunyai cula kumbang kuning bermata berlian”

“Gila… !!” hampir bersamaan orang-orang yang ada di halaman itu menggeram, “Kau datang dari kaki gunung Semeru?”.

Orang yang berdiri diatas dinding itu tertawa lagi, katanya, “Apakah hanya di kaki gunung Semeru saja yang terdapat kumbang kuning bermata berlian”

“Ya…” sahut Kumbara, “Kami tahu, bahwa yang kau maksud bukan sebenarnya kumbang. Tetapi kuning bermata berlian adalah lambang perguruan Kumbang Kuning pimpinan Ajar Sokanti”

“Ooo… kau mengenal nama Ajar Sokanti yang hidup seratus lima puluh tahun yang lalu seperti nama pemimpin perguruan Guntur Geni yang diabadikan sampai sekarang?, bukankah yang disebut Kiai Sekar Pucang sekarang ini sama sekali bukan Kiai Sekar Pucang pendiri perguruan Guntur Geni? Ternyata dari arah perkembangan perguruan Guntur Geni itu sendiri. Nah, aku ingin bertanya, apakah kira-kira Kiai Sekar Pucang akan dapat tertawa melihat kalian pada malam hari seperti ini dengan bengis menakut-nakuti seorang perempuan di istana kecil ini?. Tentu tidak, Kiai Sekar Pucang yang sebenarnya tentu akan sangat berprihatin, bahkan mungkin akan membunuh diri”

“Tutup mulutmu” teriak Kumbara, “Kau sama sekali tidak mengenal kami, kau tidak mengenal tugas kemanusiaan yang sedang kami lakukan sekarang ini”

Orang diatas dinding itu tertawa semakin keras, katanya, “Tugas kemanusiaan yang mana yang akan kau lakukan disini, sudahlah anak-anak Guntur geni, marilah kita bermain-main, jika kalian menyangka aku datang dari perguruan Kumbang Kuning di kaki gunung Semeru, nah, kita disini telah berkumpul bersama-sama Perguruan Guntur Geni, Perguruan Cengkir Pitu yang mengalir dari sumber yang sama. Kemudian perguruan yang kau sebut Kumbang Kuning, tetapi ketahuilah, bahwa sebenarnya aku tidak datang dari perguruan Kumbang Kuning yang dipimpin oleh Ajar Sokanti, meskipun aku berhubungan erat dengan perguruan itu”

“Persetan, aku tidak peduli dari mana kau datang, yang penting, kau pun harus dibinasakan sekarang ini” teriak Naga Pasa.

“Baiklah” berkata orang yang berada diatas dinding batu itu, “Aku pun sudah jemu berbicara” Ia berhenti sejenak lalu, “Panji Sura Wilaga, jangan tersinggung jika aku akan berada di sebelahmu”

Panji Sura Wilaga tidak menyahut, ia pun kemudian bergeser setapak. Tetapi geraknya itu seolah-olah telah merupakan aba-aba bagi kedua lawannya yang tiba-tiba saja telah mempersiapkan ujung senjata untuk menerkam.

Agaknya Naga Pasa dan Gagak Wereng tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan, dengan sebuah teriakan nyaring, Naga Pasa meloncat menyerang Panji Sura Wilaga yang berdiri termangu-mangu, sementara bayangan orang yang tidak dikenal itu masih berada diatas dinding.

Panji Sura Wilaga berdesir melihat serangan itu, namun ia tidak dapat tinggal diam, dengan sigapnya ia bergeser sambil menangkis serangan Naga Pasa yang dahsyat itu. Tetapi dengan demikian ia kehilangan pengamatannya atas Gagak Wereng, jika pada saat yang bersamaan Gagak Wereng meloncat menyerang pula, ia akan kehilangan semua kesempatan untuk bertempur lebih lama lagi.

Dalam pada itu, sekilas ia melihat Gagak Wereng sudah mulai bergerak, tetapi ia tidak melihatnya apa yang dilakukan kemudian. Karena ia harus memusatkan perhatiannya kepada serangan Naga Pasa.

Barulah kemudian Panji Sura Wilaga menyadari, bahwa serangan Gagak Wereng, yang seharusnya telah mengakhiri perlawanannya itu pun telah dipotong oleh orang yang berdiri diatas dinding batu itu. Sambil meloncat ia menangkis serangan senjata yang berujung rangkap di tangan Gagak Wereng, sehingga Gagak Wereng tidak berhasil menyentuh tubuh Panji Sura Wilaga, dan bahkan kemudian meloncat surut.

“Gila…” geram Gagak Wereng, “Jadi kau benar-benar ikut mencampuri persoalan ini”

Orang itu tidak menjawab, tetapi dialah yang kemudian yang menyerang dengan sengitnya. Gagak Wereng terpaksa meloncat surut, baru kemudian ia dapat menempatkan dirinya dalam perlawanan yang mapan. Sementara itu, Naga Pasa masih bertempur dengan serunya melawan Panji Sura Wilaga, namun karena kemudian ia harus bertempur sendiri, maka keseimbangannya pun segera berubah. Panji Sura Wilaga mendapat kesempatan untuk menarik nafas. Ia tidak lagi merasa terus menerus didesak ke sudut halaman, sehingga disaat terakhir ia harus melekat dinding batu dan hampir saja kehilangan kesempatan untuk tetap hidup.

Dalam pada itu, Kumbara pun menjadi semakin marah, dengan demikian berarti tugasnya akan menjadi semakin panjang, Naga Pasa dan Gagak Wereng tidak lagi dapat bertempur bersama-sama untuk dalam waktu yang lebih singkat, membunuh Panji Sura Wilaga. Karena itu, maka ia pun kemudian memusatkan perkelahian itu pada diri sendiri, ia harus dapat membunuh lawannya dengan cepat. Sehingga ia akan dapat embantu salah seorang kawannya membunuh lawannya.

Sambil berteriak nyaring, Kumbara pun segera mengulangi perkelahiannya melawan Kuda Rupaka, namun Kuda Rupaka telah menjadi semakin tenang. Meskipun kehadiran orang yang tidak dikenal itu dapat menimbulkan persoalan-persoalan baru, tetapi persoalan itu akan dapat diselesaikannya kemudian.

“Jika perlu, setelah ketiga iblis itu mati, maka orang itu pun harus disingkirkan pula” desis Kuda Rupaka, “Jika tidak, maka ia akan menjadi pengganggu istana ini, untuk selanjutnya. Mungkin ia akan memeras atau seolah-olah ia adalah pahlawan yang menuntut imbalan”

Tiba-tiba saja Kuda Rupaka telah mengenang meskipun hanya sekilas, Inten Prawesti.

“Apakah orang itu mempunyai maksud-maksud tertentu terhadap diajeng Intan Prawesti?” tetapi ia tidak sempat bertanya-tanya lebih jauh, ia harus memusatkan diri pada perkelahian yang menjadi semakin seru itu.

Dalam pada itu, setelah bertempur beberapa saat, Gagak Wereng pun merasa, bahwa lawannya ternyata memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari padanya, dalam waktu yang pendek ia pun segera terdesak. Senjatanya yang garang itu tidak banyak dapat menyerang apalagi menembus pertahanan senjata lawannya. Senjata yang tidak lebih dari sepotong rantai yang tidak begitu panjang.

“Gila..” desis Gagak Wereng didalam hati, “Rantai yang berputar itu seolah-olah menjadi perisai baja yang tidak dapat disusupi oleh ujung duri yang paling runcing sekalipun”

Baik Kumbara maupun Naga Pasa melihat, bahwa Gagak Wereng segera terdesak surut. Bahkan sekali-kali ternyata senjata lawannya telah hampir berhasil menyentuh tubuhnya.

“Aku tidak biasa membunuh orang” berkata orang yang telah ikut dalam pertempuran itu, “Tetapi dalam keadaan seperti ini, aku kira membunuh bukannya suatu kesalahan”

“Persetan…!!” geram Gagak Wereng yang mencoba mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada dirinya.

“Ki Sanak” berkata orang itu, “Apa boleh buat, jika aku tidak membunuhmu, maka akibatnya tentu akan berkepanjangan. Jika kemudian ada kawanmu yang dapat lolos dalam keadaan hidup, biarlah ia mengatakan bahwa salah seorang kawannya telah mati terbunuh di Karangmaja oleh orang yang memiliki ciri perguruan Kumbang Kuning. Tetapi aku bukan murid perguruan Sokanti itu”

Gagak Wereng tidak menjawab, serangannya bertambah dahsyat. Tetapi perlawanan orang yang tidak dikenal itu pun menjadi semakin sengit. Bahkan rasa-rasanya, bagaikan banjir yang sudah mulai menggoyahkan tanggul. Dan kemudian ternyata, kemampuan orang itu tidak terlawan lagi oleh Gagak Wereng, ujung rantainya rasa-rasanya semakin lama semakin dekat dengan tubuhnya, bahkan pada suatu saat, terasa ujung rantai itu bagaikan lalat yang mulai hinggap di tubuhnya.

“Gila” geram Gagak Wereng, “Orang ini benar-benar memiliki kemampuan perguruan Kumbang Kuning”

Namun Gagak Wereng tidak sempat memujinya lebih banyak lagi, karena terasa ujung rantai itu menyengatnya lagi, maka bukanlah sekedar suatu sentuhan saja, kulitnya mulai terasa pedih karena tergores luka yang mulai menganga.

Terdengar orang itu tertawa, “Kau tidak akan mampu berbuat banyak. Sebaiknya kau menghentikan perlawananmu. Aku tidak akan membunuhmu”

“Persetan..!!” geram Gagak Wereng, kemarahannya bagai akan membakar jantungnya, namun sejalan dengan itu, ia pun merasa bahwa umurnya sudah berada di ujung rambutnya.

Sementara itu, pertempuran antara kedua kawannya menjadi semakin sengit. Agaknya semakin lama menjadi nyata, bahwa murid perguruan Cengkir Pitu masih memiliki kelebihan dari anak Guntur Geni, ternyata bahwa Panji Sura Wilaga dan Raden Kuda Rupaka sudah berhasil menguasai lawannya sebaik-baiknya. Naga Pasa yang garang itu pun sudah hampir kehilangan akal melawan Panji Sura Wilaga yang cepat dan cekatan. Apalagi setelah ia kehilangan seorang lawannya yang kemudian bertempur dengan orang yang tidak dikenalnya.

Yang paling mengalami kesulitan sebenarnya adalah Gagak Wereng, ia sadar lawannya mempunyai banyak kelebihan dari padanya. Tetapi ia sendiri merasa heran, bahwa ia tidak segera kehilangan nyawanya. Namun tubuhnya semakin lama semakin lemah. Bahkan kemudian ia sama sekali tidak mampu lagi untuk melakukan perlawanan apapun juga. Darahnya semakin banyak mengalir dari luka-lukanya dan nafasnya serasa telah menyumbat kerongkongan.

Meskipun demikian, ia merasa bahwa ia masih tetap hidup. Orang yang tidak dikenalnya itu justru tidak lagi memusatkan serangannya pada bagian tubuhnya yang berbahaya. Bahkan ketika ia sudah tidak mampu berbuat sesuatu, maka lawannya berhenti pula sambil menggeram, “Apakah kau menyerah”

“Gila..!!, aku tidak akan menyerah kepada siapapun juga” sahut Gagak Wereng. Yang terdengar adalah suara tertawa orang yang tidak dikenal itu mendekati lawannya sambil berkata, “Mengangkat senjatamu yang mengerikan itu pun kau sudah tidak mampu lagi, bagaimana kau akan melawanku”

Gagak Wereng menggeretakkan giginya, ia masih menghentakkan kekuatannya untuk mengangkat senjatanya. Namun ketika ia mengayunkannya dan tidak mengenai sasarannya, justru ia terdorong selangkah maju dan jatuh telungkup.

“Beristirahatlah, aku merasa bahwa tugasku sudah selesai. Kau akan tetap hidup dan akan ditangkap oleh kedua bangsawan itu. Mungkin kau akan dibawa ke Demak atau ke tempat lain atau keputusan apapun yang akan mereka ambil”

Gagak Wereng masih akan menjawab, namun tiba-tiba saja lawannya telah meloncat mundur. Beberapa saat ia mengamati pertempuran itu, kemudian dengan lincahnya ia meloncat naik keatas dinding batu itu sambil berkata, “Aku minta diri. He..!! Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga. Silahkan menyelesaikan tugas kalian, aku sudah mencoba membantu kalian”

“Kau akan kemana?”. bertanya Raden Kuda Rupaka.

“Aku akan kembali ke sarangku, aku adalah hantu malam yang berkeliaran didalam gelap. Jika ayam mulai berkokok, aku harus sudah berada kembali ke sarangku yang tersembunyi, diatas pepohonan yang rimbun”

“Gila…” geram Kumbara yang tidak memburu Kuda Rupaka, “Kau licik, jika kau jantan, tunggulah setelah aku membunuh bangsawan kerdil ini”

Tetapi orang yang berdiri diatas dinding itu tertawa, “Jangan berharap kau dapat memenangkan pertempuran itu. Semuanya sudah nampak padaku, bahwa kau hanya akan dapat menyebut nama orang tuamu sebelum ajalmu sampai. Kecuali jika Raden berhati putih, dan memberi kesempatan hidup kepadamu, meskipun kau harus diserahkan kepada para prajurit”

“Tidak ada bedanya” geram Kuda Rupaka, “Ditangan prajurit ia akan dibunuh”

“Itu bukan persoalanku. Sekarang aku akan pergi. Hantu-hantu sudah memiliki jalan pintu gerbang. Aku lebih senang meloncati pagar. Dan selamat menyabung nyawa”

Bayangan itu tidak menunggu lagi, ia pun segera meloncat dan hilang dibalik dinding batu. Kumbara menggeretakkan giginya, namun ketika ia sadar akan keadaannya, maka tiba-tiba ia pun segera meloncat menyerang dengan garangnya. Tetapi Raden Kuda Rupaka telah siap menghadapinya, ia pun segera bergeser dan bahkan serangannya pun kemudian menyapu lawannya seperti angin prahara menyapu pepohonan perdu dipadang yang luas.

Naga Pasa pun mengalami tekanan yang dahsyat sekali. Panji Sura Wilaga ternyata memiliki tenaga raksasa yang tidak terlawan olehnya, sehingga dengan demikian, Naga Pasa mencoba melawan dengan kecepatannya bergerak. Tetapi rasa-rasanya darimanapun ia menyerang, Panji Sura Wilaga yang tidak banyak bergerak itu sudah siap menghadapinya.

Dalam pada itu, Gagak Wereng yang terluka masih sempat memperhatikan pertempuran disekitarnya, meskipun dalam keremangan malam, namun ia dapat melihat, bahwa kedua kawannya agaknya telah terdesak oleh anak-anak perguruan Cengkir Pitu, sedangkan ia sendiri sudah tidak mampu sama sekali untuk ikut dalam pertempuran itu.

Meskipun demikian Gagak Wereng tidak menyerah, dalam ketegangan yang memuncak, ia masih dapat mengerahkan segenap tenaganya yang tersisa untuk merangkak menepi. Bahkan kemudian ia berhasil bergeser sampai ke pintu gerbang.

“Aku akan melarikan diri, jika aku dapat hidup, maka aku akan dapat melaporkan apa yang telah terjadi disini kepada perguruanku” katanya kepada diri sendiri.

Agaknya Panji Sura Wilaga dan Raden Kuda Rupaka tidak sempat berbuat sesuatu atas Gagak Wereng, keduanya terikat dalam satu perkelahian yang akan menentukan hidup dan mati. Karena itulah, akhirnya dengan susah payah, Gagak Wereng ternyata masih sempat mencapai kudanya yang masih tetap terikat ditempatnya.

Sejenak kemudian terdengar derap kaki kuda itu. Seorang yang terluka duduk diatas punggungnya, namun kemudian oleh perasaan sakit dan letih, Gagak Wereng telah menelungkup sambil memeluk leher kudanya. Hanya sekali-kali ia mencoba melihat arah dan kemudian ia meletakkan tubuhnya kembali dengan lemahnya.

Derap kaki kuda itu ternyata telah mengejutkan mereka yang sedang bertempur di halaman. Terlebih-lebih adalah Raden Kuda Rupaka, tetapi ia tidak dapat berbuat apapun, ketika tatapan matanya tidak lagi dapat menemukan Gagak Wereng, maka ia pun segera melompat sambil bertempur, “Licik…!!!, inilah ciri dari perguruan Guntur Geni yang terkenal itu..??”

Kumbara tidak segera menjawab, mula-mula ia merasa tersinggung atas sikap Gagak Wereng yang sama sekali tidak menunjukkan kesetia-kawanan, tetapi akhirnya ia memahami keadaan, Gagak Wereng tentu sudah terluka parah dan tidak dapat berbuat apapun juga. Karena itu, usahanya untuk menyelamatkan diri adalah usaha yang akan dapat berguna. Meskipun tidak berguna bagi Kumbara sendiri dan Naga Pasa, tetapi tentu akan berguna sekali bagi perguruannya. Saudara-saudara perguruannya akan mengetahui, bahwa Kumbara dan Naga Pasa telah terlibat dalam satu pertempuran yang tidak teratasi di istana kecil yang terpencil diluar padukuhan Karangmaja.

Dengan demikian akhirnya perasaan Kumbara menjadi semakin mapan. Ia melihat akibat yang dapat terjadi atasnya dengan dada tengadah. Sejak ia berangkat, ia pun sudah mempersiapkan dirinya menghadapi segala kesulitan. Dan salah satu kemungkinan adalah kesulitan yang tidak teratasi, meskipun semula ia menganggap bahwa tugas pokoknya kali ini adalah tugas yang tidak berbahaya karena itu tidak berpenghuni selain tiga orang perempuan, namun akibat-akibat yang dapat timbul telah dipertimbangkan pula. Diantaranya adalah akibat seperti yang sedang dihadapinya itu.

Demikianlah maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin nyata. Serangan demi serangan yang dilancarkan oleh kedua murid dari perguruan Cengkir Pitu itu pun telah menggiring pertempuran itu untuk segera mencapai akhirnya. Kumbara dan Naga Pasa tidak dapat ingkar lagi, kali ini tugas perguruannya harus ditunaikan dengan mempertaruhkan nyawanya.

Namun agaknya keduanya benar-benar telah ditempa dalam perguruannya. Mereka sama sekali tidak mengeluh, jika memang harus mati dalam pelukan kewajiban, maka mati itu pun bukan apa-apa bagi Kumbara dan Naga Pasa.

Sebenarnyalah bahwa akhirnya Kumbara tidak dapat bertahan lagi. Lawannya adalah seorang anak muda yang umurnya jauh dibawah umurnya sendiri. Tetapi ternyata anak muda dari perguruan Cengkir Pitu itu memiliki kemampuan yang tidak terlawan, dan yang bahkan telah menyeretnya kedalam maut.

Segores demi segores luka, telah menyengat tubuh Kumbara. Demikian juga agaknya Naga Pasa, betapapun ia bertempur dengan gigihnya, tetapi akhirnya, sebuah tusukan langsung menghunjam ke jantungnya, telah melemparkannya dan membantingnya ke tanah. Untuk seterusnya Naga Pasa pun tidak akan pernah bangkit lagi.

Kumbara yang sudah terluka parah masih sempat melihat betapapun buramnya, kawannya terlempar dan terbanting untuk tidak bangkit lagi. Ia tidak sempat berbuat apa-apa karena matanya pun manjadi berkunang-kunang. Darahnya sudah terlampau banyak mengalir, sehingga akhirnya ia harus mengakhiri pertempuran itu dengan menyerahkan nyawanya.

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, sekali-kali ia mengusap tangannya yang ternyata juga terluka. Tetapi seperti yang dikatakannya, ia memang mempunyai obat penawar racun, selain batu akik yang dianggapnya dapat berpengaruh pula atas racun yang mengenai tubuhnya.

Sambil tersenyum Raden Kuda Rupaka berjalan mendekati Panji Sura Wilaga yang berdiri bersandar dinding batu, nafasnya terengah-engah dan tubuhnya serasa telah kehilangan tenaga.

“Kau kenapa paman..??” bertanya Raden Kuda Rupaka

“Aku hampir kehabisan nafas Raden, orang ini benar-benar memiliki kemampuan jauh diatas dugaan kita semula”

“Ya…, Aku juga tidak mengira, bahwa orang itu mampu melukai tanganku, untunglah aku benar-benar telah menyiapkan obat penawar racun itu. Aku yakin, senjata orang Guntur Geni tentu mengandung racun”

“Jika Raden hanya terluka di tangan, maka aku terluka di beberapa tempat meskipun tidak dalam, senjatanya yang sepasang itu benar-benar mampu bergerak cepat sekali”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, namun ternyata bahwa ia pun masih harus mengatur pernafasannya.

“Marilah kita singkirkan mayat-mayat ini, kita akan menghadap bibi dan melaporkan apa yang terjadi. Besok kita minta bantuan orang-orang Karangmaja untuk menguburkan mayat-mayat ini”

“Tetapi hal ini tentu akan sangat mengejutkannya” berkata Panji Sura Wilaga.

“Apaboleh buat, bukankah kita harus mengatakannya juga?”

“Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam. Lalu, katanya, “Tetapi sebaliknya kita memang harus segera saja menghadap. Agar hati Raden Ayu segera menjadi tenang”

Keduanya kemudian membenahi pakaiannya, mereka mengelap darah yang menetes dari luka mereka. Setelah mereka menyingkirkan kedua mayat itu, maka mereka pun segera naik ke pendapa dan dengan perlahan-lahan mendorong pintu.

“Oh…” Inten Prawesti hampir menjerit. Ia menjadi sangat cemas, bahwa yang akan masuk ke rumahnya adalah orang-orang yang mendatangi istananya itu.

Tetapi ternyata kemudian terdengar suara Raden Kuda Rupaka, “Aku bibi”

“Anakmas Kuda Rupaka?” bibinya hampir terpekik.

“Ya, bibi”

Raden Ayu Kuda Narpada tiba-tiba saja meloncat berdiri diikuti oleh Inten Prawesti. Demikian Raden Kuda Rupaka muncul dari balik pintu, maka bibinya pun segera berlari ke arahnya. Tetapi langkahnya terhenti ketika ia melihat darah yang menodai pakaian Raden Kuda Rupaka itu.

“Darah bibi” desis Raden Kuda Rupaka yang seolah-olah mengerti apa yang tersirat di hati bibinya.

“Kau terluka?”

“Sedikit, tetapi tidak berbahaya”

“Dimana pamanmu Panji Sura Wilaga?”

Raden Kuda Rupaka berpaling, kemudian masuklah Panji Sura Wilaga yang terengah-engah.

“Oh, Kau juga terluka?”

“Sedikit Raden Ayu, tidak parah”

“Tetapi bagaimanakah dengan jika luka ini akan menjadi semakin besar kelak?”

Raden Kuda Rupaka tersenyum, katanya, “Aku sudah membawa bekal obat yang dapat dipercaya, sudahlah bibi, aku akan membersihkan diriku dan mengobati lukaku dan luka paman Panji Sura Wilaga”

Raden Ayu Kuda Narpada, memandang keduanya dengan tatapan mata yang penuh perasaan terima kasih. Sementara Inten Prawesti yang berdiri di belakang ibundanya pun bertanya, “Bukankah kau tidak apa-apa kamas?”

“Tidak, tidak diajeng, jangan khawatirkan aku, aku tidak apa-apa”

“Tetapi apakah kamas memerlukan apa-apa untuk membersihkan luka itu?, air panas misalnya?”

Raden Kuda Rupaka termenung sejenak, sementara itu Nyi Upih telah berdiri dan berkata, “Biarlah aku merebus air. He… anak-anakku harus aku beritahu dulu bahwa pertempuran sudah selesai”

“Dimana anak-anakmu?” bertanya Raden Kuda Rupaka.

“Sangkan sembunyi di kolong pembaringan adiknya. Pinten menjadi kaku di pembaringan itu” Nyi Upih berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bagaimana dengan orang-orang itu?”

Raden Kuda Rupaka menjadi ragu-ragu, namun kemudian ia berkata, “Keduanya terpaksa kami bunuh”

“Oh..!!” Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten Prawesti hampir bersamaan berdesah.

“Beberapa orang kah yang telah datang ke istana ini Raden?” bertanya Nyi Upih pula.

“Tiga, hanya tiga orang, tetapi yang seorang berhasil meloloskan diri”

Nyi Upih menjadi tegang, katanya, “Kenapa tidak semuanya saja dibunuh Raden, yang seorang itu tentu akan sangat berbahaya bagi kita”

Raden Kuda Rupaka tersenyum, katanya, “Memang ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi Nyai. Mungkin ia akan datang lagi dengan beberapa orang kawan. Mungkin ia justru menjadi jera, tetapi mungkin juga perguruannya akan langsung berurusan dengan perguruan Cengkir Pitu”

“Oo…” Nyi Upih mengangguk-angguk, dan seperti bukan atas kehendaknya ia berkata, “Tentu perguruan orang-orang jahat itu tidak akan berani berurusan dengan perguruan Raden, mudah-mudahan dengan demikian mereka akan benar-benar menjadi jera”

“Sudahlah” berkata Raden Kuda Rupaka, “Setidak-tidaknya malam ini seluruh isi istana dapat tidur nyenyak, tidak akan ada lagi yang berani mengganggunya, mayat itu sudah aku singkirkan. Biarlah besok aku minta bantuan orang-orang Karangmaja untuk menguburnya”

Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk-angguk

“Silahkan bibi beristirahat”

Raden Ayu Kuda Narpada pun kemudian mengajak Inten Prawesti masuk kedalam biliknya, setelah mereka berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Raden Kuda Rupaka.

Ketika Raden Ayu Kuda Narpada telah hilang dibalik pintu biliknya maka Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga yang masih sangat letih itu pun pergi kebelakang diikuti oleh Nyi Upih, mereka akan membersihkan diri dari luka-luka mereka.

“Aku akan merebus air, Raden” berkata Nyi Upih

“Terima kasih Nyai” sahut Raden Kuda Rupaka, “Dimanakah anak-anakmu Nyai”

“”Mereka didalam biliknya Raden”

Raden Kuda Rupaka sempat menjengukkan kepalanya ke dalam bilik Pinten, dilihatnya Pinten tidur menelungkup sambil menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangannya, sementara di kolong pembaringan, nampak kaki Sangkan yang ketakutan dan bersembunyi.

Raden Kuda Rupaka tersenyum, perlahan-lahan ia mendekati kedua anak itu, sambil berjingkat. Kemudian tiba-tiba saja ia menepuk kaki Sangkan sambil membentak, “Ayo tertangkap kau..!!”

Sangkan terkejut bukan buatan, sehingga ia pun terlonjak, karena ia berada ia berada di kolong pembaringan adiknya, maka amben itu pun tersentak pula oleh hentakan tubuh Sangkan. Pinten yang ada dipembaringan itu tidak kalah terkejutnya. Ia pun kemudian meloncat dan berlari ke sudut ruangan, sedemikian kecil hatinya, sehingga meskipun mulutnya terbuka tetapi suaranya sama sekali tidak terdengar.

Sangkan yang gemetar akhirnya berhasil keluar dari kolong pembaringan, dengan wajah yang pucat dan mata yang terbelalak ia memandang kepada Raden Kuda Rupaka. Terdengar suara tertawa Raden Kuda Rupaka.

Panji Sura Wilaga yang menyaksikannya dari pintu bilik itu pun tertawa pula.

“Raden…., oh, jadi Raden Kuda Rupaka” Suara Sangkan terputus-putus.

“Kau memang pengecut” Raden Kuda Rupaka masih saja tertawa, “Belum lagi kau disentuh oleh tangan penjahat itu, kau sudah mati membeku di sini”

“Tetapi, tetapi……” Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

Sementara itu Nyi Upih telah berada di belakang Panji Sura Wilaga, katanya, “Jika Raden menakuti-nakuti anak-anakku, aku tidak mau merebus air”

Raden Kuda Rupaka tertawa berkepanjangan, meskipun ia mencoba menahannya agar tidak mengejutkan bibinya di dalam.

“Anakmu memang keterlaluan Nyai, aku mengerti bahwa Pinten menjadi ketakutan, tetapi Sangkan tidak boleh menjadi pengecut begitu”

“Jika aku dapat berkelahi seperti prajurit, aku tidak akan ketakutan” sahut Sangkan.

“Kalau begitu, kau harus belajar, Kau sanggup?”

“Siapakah yang akan mengajari?”

“Biarlah paman Panji, jika kelak aku dan paman Panji pergi, kau dapat menjaga diri, atau kau dapat menjaga bibi, atau setidak-tidaknya menjaga biyungmu”

“Aku tidak perlu dijaga lagi Raden, jika ada orang yang mau mengambil aku, biarlah, aku memang menunggu orang yang mau berbuat demikian”

“O…, kau ini” desis Raden Kuda Rupaka, “Agaknya kau dan anak-anakmu memang mempunyai sifat yang turun temurun, bodoh dan agak malas”

“Aku tidak mau merebus air”

“Baiklah, baiklah Nyai, aku tidak akan mengganggu anak-anakmu lagi” namun kemudian ia berpaling, “Sangkan, jika kau mau, paman kan benar-benar memberimu serba sedikit tuntunan oleh kanuragan, kau mau?”

“Tentu Raden, aku akan senang hati sekali”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk. Katanya, “Nah, dengan demikian kau akan benar-benar menjadi seorang laki-laki, sampai sekarang kau sama sekali tidak ada harganya, jika kau memiliki sedikit pengetahuan dan ilmu oleh kanuragan, maka kau akan mulai merasakan tanggung jawab bahwa kau adalah seorang laki-laki”

“Terima kasih Raden” jawab Sangkan, “Tetapi, tetapi berapa tahun aku harus belajar?”

“Aku hanya akan tinggal disini beberapa hari lagi, jika tidak ada ketiga penjahat itu, sebenarnya aku sudah akan mohon diri, tetapi karena itulah maka aku harus tinggal disini beberapa lama lagi”

Sangkan mengangguk-angguk, tetapi nampaknya wajahnya membayang keragu-raguan hatinya.

“Kenapa kau nampak ragu-ragu?” bertanya Raden Kuda Rupaka.

“Dahulu, aku pernah mendengar seorang prajurit Majapahit mengatakan bahwa, mempelajari ilmu kanuragan diperlukan waktu bertahun-tahun”

“Tidak hanya bertahun-tahun, tetapi tidak akan berkeputusan, maksudku tidak akan ada henti-hentinya sampai akhir hayat. Karena ilmu adalah semisal lautan yang tidak akan pernah kering, meskipun setiap hari disengat oleh panasnya matahari”

“Lalu, apakah artinya ilmu yang akan aku pelajari dalam beberapa hari saja?”

“He.. otakmu cerdas juga, tetapi kau harus ingat, lebih baik yang sedikit dari pada tidak sama sekali”

“Baik Raden, terima kasih”

“Tidur sajalah, aku akan membersihkan luka-lukaku”

Raden Kuda Rupaka pun kemudian meninggalkan bilik itu setelah untuk beberapa saat ia berdiri di muka Pinten yang bagaikan membeku, sambil menepuk bahu gadis yang ketakutan itu ia berkata, “Minumlah, agar kau menjadi tenang”

Pinten menarik nafas dalam-dalam, ketika Raden Kuda Rupaka sudah melintasi pintu, gadis itu tertatih-tatih berdiri.

“Aku hampir pingsan” desisnya

“Tidur sajalah, tidak akan ada apa-apa lagi malam ini”

“Uh, macam kau”

“Minumlah, agar hatimu menjadi tenang”

“”Lagakmu, tidur sajalah di kolong amben itu lagi”

Sangkan tersenyum. Dilihatnya adiknya pergi keluar bilik untuk mengambil minum di dapur, agaknya ia benar-benar ingin minum agar hatinya menjadi tenang.

Sementara itu, selagi Raden Kuda Rupaka sibuk membersihkan lukanya, seseorang berjalan dengan tergesa-gesa ke istana kecil yang terpencil itu, jauh diluar padukuhan ia melihat seekor kuda yang berlari didalam kegelapan dan hilang dikejauhan. Sesaat orang itu termangu-mangu, namun ia pun kemudian ia meloncat keatas dinding didalam kegelapan bayangan dedaunan.

Beberapa saat lamanya, orang itu memperhatikan keadaan di sekitarnya, halaman itu telah sepi, tidak seorang pun yang berada di halaman itu. Dengan telinganya yang tajam ia mencoba untuk memperhatikan, dengan setiap desir yang didengarnya, namun akhirnya ia yakin bahwa tidak ada suara nafas seseorang. Dengan hati-hati sosok tubuh itu pun meloncat turun, dengan seksama ia memperhatikan bekas-bekas pertempuran di halaman itu. Sambil menarik nafas ia berkata, “Pertempuran yang dahsyat”

Akhirnya ia menemukan dua sosok tubuh yang terbaring diam. Dua sosok tubuh yang telah menjadi mayat. Perlahan-lahan ia mendekatinya, ketika ia menyentuh mayat itu, terasa betapa dinginnya. Sejenak ia berada ditempatnya sambil memandangi istana yang nampak semakin suram itu, tetapi istana itu pun sepi, namun telinganya yang tajam, masih menangkap suara seseorang di bagian belakang. Suara percakapan Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga dengan Sangkan dan Nyi Upih.

Namun percakapan itu pun tidak berlangsung lama, sejenak kemudian istana itu telah benar-benar menjadi sepi. Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga pun segera masuk kedalam biliknya pula. Apalagi terasa badan mereka yang letih oleh perkelahian yang dahsyat di halaman, sehingga dengan demikian mereka pun segera tertidur nyenyak. Namun demikian mereka sama sekali tidak lengah, di pembaringan mereka, tergolek senjata-senjata mereka.

Betapapun nyenyaknya mereka tidur, tetapi ketika matahari siap untuk menjenguk di pagi harinya dari balik perbukitan, keduanya telah terbangun. Mereka pun kemudian membenahi diri masing-masing. Dengan tergesa-gesa mereka pun kemudian keluar dari bilik mereka dan menghadap Raden Ayu Kuda Narpada yang juga sudah bangun dan duduk dengan wajah tegang di ruang dalam.

“Maaf bibi” berkata Raden Kuda Rupaka, “Aku tidur terlampau nyenyak, sehingga aku agak terlambat bangun”

“Hari masih sangat pagi anakmas”

“Bibi, kami berdua akan menemui Ki Buyut dan melaporkan apa yang telah terjadi. Kami akan minta bantuan, tiga atau empat orang untuk mengubur dua sosok mayat yang masih ada di halaman, meskipun sudah aku singkirkan”

“Silahkan anakmas” Jawab Raden Ayu Kuda Narpada, namun kemudian, “Atau untuk itu, apakah tidak lebih baik Sangkan sajalah yang pergi ke padukuhan?”

“Biarlah kami berdua saja bibi, kami akan dapat menjelaskan apakah yang sebenarnya sudah terjadi”

Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk-angguk, lalu “Jika demikian terserahlah kepada anakmas berdua”

Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga pun kemudian mempersiapkan dirinya setelah mandi di pakiwan. Tetapi ketika mereka siap untuk berangkat, rasa-rasanya ada sesuatu yang membuat mereka ragu-ragu. Karena itu, maka Raden Kuda Rupaka berkata, “Aku akan menengok kedua sosok mayat itu dahulu paman”

Panji Sura Wilaga tidak mencegahnya, bahkan ia pun kemudian berjalan di belakang Raden Kuda Rupaka. Betapa terkejutnya kedua orang itu, ketika ternyata bahwa kedua mayat itu sudah tidak ada di tempatnya, keduanya bagaikan lenyap saja tanpa meninggalkan bekas.

“Gila” geram Raden Kuda Rupaka, “Siapakah yang bermain-main lagi dengan Kuda Rupaka” Ia berhenti sejenak, lalu, “Paman apakah kau melihat sesuatu?”

Panji Sura Wilaga kemudian melangkah ke tepi dinding batu. Ia melihat beberapa gores warna merah, ternyata warna-warna merah dalam goresan itu adalah susunan huruf-huruf.

“Raden” katanya, “Cobalah baca tulisan pada dinding batu ini”

Dengan dada yang berdebar-debar keduanya pun mendekat, dengan suara yang berat Raden Kuda Rupaka berkata, “Darah”

Tetapi Panji Sura Wilaga menggeleng, “Bukan Raden, tetapi soga”

Keduanya pun kemudian membaca tulisan yang tidak begitu jelas tergores di dinding itu.

= SUNGGUH MENGAGUMKAN, TETAPI TUGAS KALIAN

BELUM SELESAI =

“Gila” Raden Kuda Rupaka menjadi marah. Dihentakkannya kakinya sambil mengepalkan tangannya, “Siapakah yang akan mencoba kemampuan Raden Kuda Rupaka lagi?”

Sejenak mereka teringat orang yang semalam telah membantunya, tentu orang itu tidak hanya sekedar membantunya tanpa pamrih, tentu ada perhitungan tertentu yang memaksanya untuk berniat demikian.

“Apakah benar ia dari perguruan Kumbang Kuning” bertanya Raden Kuda Rupaka

“Aku tidak dapat memastikannya, tetapi ia adalah seseorang yang memiliki kemampuan yang tinggi, ternyata bahwa salah seorang dari ketiga murid Guntur Geni ini dengan cepat dapat dikuasainya”

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, dilontarkannya tatapan matanya ke sekelilingnya, seolah-olah ia sedang mencari sesuatu, bahkan kemudian ia pun melangkah perlahan-lahan menyusuri dinding batu itu.

Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti, ia tertegun ketika ia melihat sesuatu dibalik semak-semak.

“Gila” desis Raden Kuda Rupaka, “Paman…, mayat itu disembunyikan disini, kedua-duanya”

“Hem, agaknya ini sekedar sebuah tantangan Raden”

Raden Kuda Rupaka menggeretakkan giginya, dipandangnya keadaan di sekeliling halaman itu, tetapi halaman itu sepi, dibelakang terdengar suara sapu lidi, sedang di perigi terdengar derit senggot timba.

“Tentu anak muda yang telah mengobati anak Karangmaja yang terluka itu paman”

“Ya, yang duduk di pinggir jalan saat Raden berjalan-jalan dengan puteri Inten”

“Ya, namanya Kidang Alit”

“Apakah benar ia dari perguruan Kumbang Kuning?, jika benar, maka adalah tidak mustahil bahwa ia dapat menyembuhkan anak yang dilukai oleh orang-orang terbunuh itu”

“Jika benar ia datang dari perguruan Kumbang Kuning, kita memang harus berhati-hati, mungkin ia tidak seorang diri di padukuhan ini”

“Aku kira ia mempunyai kawan, mungkin kawannya masih tersembunyi”

“Dan mungkin lebih dari seorang, tetapi sekelompok”

Kedua-duanya mengangguk-angguk, seolah-olah keduanya bersepakat bahwa Kidang Alit dating ke padukuhan Karangmaja tidak hanya seorang diri, tetapi dalam sekelompok kecil.

“Sudahlah paman, kita akan memikirkannya kemudian, sekarang kita pergi ke rumah Ki Buyut di Karangmaja”

Keduanya pun kemudian meninggalkan kedua mayat yang masih tersembunyi dibalik gerumbul. Mereka kemudian menganggap bahwa justru tempat itu agaknya lebih baik agar tidak menakut-nakuti penghuni istana kecil itu. Dalam pada itu Nyi Upih dan anak-anaknya yang sudah mengetahui bahwa di halaman depan ada dua sosok mayat, sama sekali tidak berani membersihkannya. Mereka menunggu saja sampai ada orang yang mengambil untuk menguburkan mayat-mayat itu.

“Apakah kau juga takut Sangkan?” bertanya Inten Prawesti.

“Ampun puteri, lebih baik aku menyapu jalan-jalan di seluruh padukuhan dari pada harus membersihkan halaman depan pagi ini. Nanti jika orang-orang Karangmaja sudah datang, aku akan menyapunya sampai bersih, tanpa bekas telapak kaki satu pun yang tersisa”

“Telapak kakimu sendiri?”

“Tentu tidak puteri, aku menyapu melangkah mundur, sehingga telapak kakiku sendiri akan terhapus oleh goresan lidi”

“Inten mengerutkan keningnya, namun kemudian ia pun tersenyum, “Kau memang pintar”

Sementara itu, Pangeran Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga telah berada di regol rumah Ki Buyut Karangmaja, perlahan-lahan Pangeran kuda Rupaka mereka melangkah maju memasuki halaman yang luas itu. Namun wajah Pangeran Kuda Rupaka tiba-tiba menjadi tegang, dilihatnya Kidang Alit telah berada di halaman itu dan dengan acuh tak acuh melihat kehadiran kedua bangsawan itu sambil duduk saja di tangga.

“Setan itu ada disini” desis Pangeran Kuda Rupaka

“Biar saja Raden, jika ia acuh tidak acuh terhadap kedatangan kita, maka biarlah kita juga tidak menghiraukan kehadirannya disini”

Pangeran Kuda Rupaka mengangguk, dan seperti yang dikatakan oleh Panji Sura Wilaga, ia sama sekali tidak menghiraukan kehadiran Kidang Alit. Ternyata Ki Buyut telah melihat kedatangan keduanya, sehingga kemudian dengan tergesa-gesa ia pergi menyambut kedatangannya.

“Silahkan Raden, marilah”

Pangeran Kuda Rupaka mengangguk sambil menjawab, “Terima kasih Ki Buyut”

“Silahkan Raden berdua naik ke pendapa”

Pangeran Kuda Rupaka menyerahkan kudanya kepada seorang anak muda yang dengan tergesa-gesa mendekatinya, sedang seorang yang lain telah menghampiri Panji Sura Wilaga pula. Ketika Pangeran Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga naik ke pendapa, mereka masih sempat melihat Kidang Alit berdiri dan masih dalam sikapnya acuh tidak acuh, ia melangkah meninggalkan halaman itu.

Wajah Pangeran Kuda Rupaka menegang, namun kemudian Panji Sura Wilaga berbisik, “Sudahlah, jangan hiraukan lagi”

“Apakah ia akan ke istana kecil itu?”

“Tentu tidak, ia tahu, bahwa kita akan berada disini untuk waktu yang pendek”

Pangeran Kuda Rupaka menarik nafas, tetapi ia tidak menyahut lagi. Sejenak kemudian maka mereka pun telah duduk di pendapa, dihadapan Ki Buyut beserta beberapa orang bebahu padukuhan itu.

“Apakah ada sesuatu yang terjadi Raden?” bertanya Ki Buyut.

Kedua tamunya mengerutkan keningnya, dan Pangeran Kuda Rupaka pun kemudian bertanya, “Apakah Ki Buyut mendengar sesuatu tentang istana itu?”

“Tidak, tetapi Kidang Alit mengatakan, bahwa kemungkinan sekali Raden berdua akan datang pagi ini”

“Apakah ada hal lain yang dikatakan?”

“Tidak” Ki Buyut terhenti sejenak, lalu, “Tetapi ia mengatakan pula bahwa orang-orang yang berada di banjar itu tidak akan dapat mengganggu kita lagi, apakah ada hubungannya kedatangan Raden berdua dengan orang-orang yang tinggal di banjar itu?”

“Apakah Kidang Alit tidak mengatakannya?”

“Ki Buyut menggeleng sambil menyahut, “Tidak Raden, hanya itulah yang dikatakannya”

Pangeran Kuda Rupaka memandang wajah Panji Sura Wilaga yang menegang, namun ia pun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Kidang Alit benar, orang-orang yang barangkali dimaksud tinggal di banjar itu tidak akan mengganggu kalian lagi, bukankah orang-orang itu pula yang telah melukai seorang anak muda Karangmaja?, dan agaknya Kidang Alit pula yang telah menyembuhkannya?”

“Kasdu maksud Raden?”

Pangeran Kuda Rupaka mengerutkan keningnya.

“Ya Raden, Orang-orang itulah yang telah meracuni tubuh Kasdu dan yang kemudian diobati oleh Kidang Alit. Kasdu kini sudah mampu berdiri dan berjalan setapak-setapak, nampaknya ia akan segera pulih kembali, mungkin lebih singkat dari dugaan Kidang Alit sendiri”

“Sukurlah”

Pangeran Kuda Rupaka mengangguk-angguk. Lalu, “Ki Buyut, sebenarnyalah kedatanganku memang ada hubungannya dengan orang-orang kasar itu”

“Apakah orang-orang itu sudah mengganggu istana itu?”

“Bukan saja mengganggu, mereka telah mencoba untuk memasuki istana itu dengan menakut-nakuti bibi Kuda Narpada”

“Oo…”

“Untunglah bahwa kami berdua masih berada di istana itu Ki Buyut, sehingga aku masih sempat mencoba melindungi bibi menurut kemampuanku”

“Jadi…?”

“Dua diantara ketiga orang itu terbunuh” berkata Pangeran Kuda Rupaka, “Tetapi yang seorang berhasil melarikan diri”

“Oo…”

Pangeran Kuda Rupaka kemudian menceritakan serba singkat apa yang telah terjadi di halaman itu, bahkan ia menceritakannya juga kehadiran seorang yang tidak dikenal, menyamar wajahnya didalam malam yang kelam.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam kemudian ia pun berdesis, “Apakah mungkin orang ketiga itu Kidang Alit?”

“Aku tidak dapat memastikannya Ki Buyut, tetapi memang mungkin, apalagi ketika pagi ini aku menjumpai sebuah tantangan setelah kedua mayat itu disingkirkan dari tempatnya”

Ki Buyut mengerutkan keningnya, meskipun orang-orang yang ada di banjar itu sudah tidak ada lagi, tetapi ternyata bahwa Karangmaja belum akan menjadi tenang. Persoalannya masih akan berkembang terus, berkisar dari pihak yang satu ke pihak yang lain, agaknya persoalan akan timbul antara Pangeran Kuda Rupaka dengan Kidang Alit.

“Aku tidak mengerti siapakah sebenarnya Kidang Alit itu” berkata Ki Buyut di dalam hatinya, “Ia menolong Kasdu, tetapi ia telah menodai dua orang gadis, orang-orang kasar itu telah melukai Kasdu dengan kejamnya, tetapi setelah itu mereka tidak pernah berbuat apa-apa, kini agaknya Kidang Alit telah mulai dengan persoalan barunya dengan bangsawan-bangsawan itu, apakah salahnya jika hubungan antara mereka itu dilakukan dengan baik?.

Tetapi gambaran didalam angan-angan Ki Buyut segera merayap kepada gadis cantik yang ada di istana itu.

“Tentu Kidang Alit telah menjadi gila karena puteri Inten Prawesti itu” berkata Ki Buyut selanjutnya kepada diri sendiri.

Dalam pada itu, Ki Buyut bagaikan terbangun dari mimpinya ketika Pangeran Kuda Rupaka berkata, “Ki Buyut, kedatangan sebenarnya ada hubungan juga dengan kematian kedua orang itu, mayat itu sampai sekarang masih ada di halaman, aku ingin minta bantuan tiga atau empat orang untuk menguburkan mayat-mayat itu.”

“O..” Ki Buyut mengangguk-angguk, “Tentu Raden, kami tentu akan membantu”

“Terima kasih Ki Buyut, aku harap bahwa mereka akan dapat mengambil mayat itu sekarang”

“Tentu, tentu Raden, aku persilahkan Raden menunggu sebentar”

“Ki Buyut, sebaiknya kami mendahului saja, kami menunggu mereka di regol halaman”

“Baiklah Raden, silahkan, aku akan segera mengirim beberapa orang untuk menguburkan mayat itu”

Demikianlah Pangeran Kuda Rupaka dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah Ki Buyut, sikap Kidang Alit menimbulkan kecurigaannya, sehingga rasa-rasanya ia tidak sampai hati meninggalkan istana kecil itu terlampau lama. Dalam pada itu, selagi Pangeran Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga tidak berada di istana, penghuni istana itu sama sekali tidak ada yang berani turun ke halaman itu, mereka tahu bahwa di halaman itu ada dua sosok mayat, karena itu, maka mereka seolah-olah berkumpul di belakang, di dapur dan di bilik Nyi Upih.

“Silahkan Gusti duduk saja di serambi” minta Nyi Upih kepada Raden Ayu Kuda Narpada yang membantunya di dapur.

“Tidak Nyai, aku senang berada disini, sebenarnyalah aku agak takut tinggal diluar sendiri, meskipun di serambi belakang rasa-rasanya ada sesuatu yang lain”

“Tentu tidak akan ada apa-apa gusti”

“Nyai, aku adalah orang tua, rasa-rasanya ada firasat padaku bahwa persoalan ini masih akan ada kelanjutannya”

“Tetapi Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga akan selalu melindungi Gusti”

“Nyai, aku tidak akan dapat menahan mereka untuk waktu yang tidak tertentu, pada suatu saat mereka akan kembali ke Demak atau kemanapun, mungkin ke perguruannya atau berkelana lebih jauh”

Nyi Upih mengangguk-angguk, ia pun mengerti bahwa tidak untuk selamanya kedua orang itu akan tetap berada di istana terpencil itu. Tetapi ia tidak dapat mengatakan apapun juga selain menundukkan kepalanya.

“Tetapi baiklah kita tidak perlu memikirkannya sekarang Nyai,“ Berkata Raden Ayu Kuda Narpada, “Kita pasrahkan saja kepada Yang Maha Agung”

Sementara itu di dalam biliknya, Sangkan dan Pinten duduk di lantai sambil menghadap Inten Prawesti yang duduk di pembaringan Pinten, dengan wajah yang tegang Inten masih mempercakapkan perkembangan yang terjadi dimalam yang baru lampau.

“Untunglah kamas Raden Kuda Rupaka ada disini” berkata Inten Prawesti.

“Ya, Puteri, jika tidak, aku akan mengalami nasib yang sangat buruk” sahut Pinten.

“Kenapa kau?” bertanya Sangkan

“Mereka tentu akan membawa aku, tetapi aku tidak mau”

“Ooo… Sebutlah nama Biyung Pinten, jika sekali-sekali kau bermain di tepi kolam, lihatlah wajahmu kedalamnya, kau akan tahu bahwa tidak akan ada seorang laki-laki pun yang menaruh perhatian kepadamu”

“Ah..” wajah Pinten seolah-olah menjadi pudar.

“Jangan berkata begitu Sangkan“ potong Inten Prawesti, “Jangan berkata begitu kepada seorang gadis, Pinten adalah gadis yang manis, ia memiliki kelebihan dari seorang gadis kebanyakan”

Pinten menundukkan kepalanya, wajahnya nampak sedih, katanya, “Kakang Sangkan selalu berkata begitu puteri, apakah aku memang terlampau jelek?”

“Tidak, tidak Pinten, kau tidak jelek, kau cantik, muda dan lincah, apalagi yang kurang?”

“Tetapi kakang selalu mengatakan, bahwa tidak akan ada laki-laki yang tertarik kepadaku”

“Ia hanya bergurau, bukankah begitu Sangkan?”

“Maksudku tidak puteri, tetapi jika itu menyakiti hatinya, baiklah, aku memang hanya sekedar bergurau”

“Coba dengar puteri, maksudnya sama sekali tidak bergurau, Jika puteri tidak ada, ia tidak akan mencabut kata-katanya seperti itu”

“Sudahlah jangan bertengkar” Inten berhenti sejenak, lalu, “Sangkan, bagaimanapun juga, ia adalah adikmu, bukankah kau sudah membawanya jauh dari Majapahit sampai ke tempat ini tidak sekedar untuk kau perolok-olokkan?”

“Tidak puteri, tentu tidak, aku benar-benar hanya bergurau saja, seperti yang puteri katakan”

“Nah, bukankah kau sudah mendengarnya Pinten?”

Wajah Pinten masih nampak gelap, sambil bersungut-sungut ia berkata, “Ia berkata begitu karena puteri ada disini”

“Tentu tidak, sudahlah, jangan kau hiraukan kakakmu, percayalah kepadaku, bahwa kau memang cantik”

Pinten masih menunduk, sedang Sangkan memandanginya dengan bibir yang bergerak-gerak, untunglah Pinten tidak sedang memandangnya. Namun dalam pada itu, selagi mereka sedang berbicara dengan asyik, tiba-tiba saja mereka terkejut oleh suara seruling yang terdengar melengking, seperti sesambat prajurit yang terluka di peperangan.

Bab 8

Inten Prawesti terkejut mendengar suara seruling itu, sudah lama ia tidak mendengarnya, dan tiba-tiba saja suara seruling itu bagaikan menyentuh jantungnya. Sangkan dan Pinten menjadi terheran-heran melihat sikap Inten Prawesti. Suara seruling itu agaknya sangat menarik hatinya, sehingga hatinya rasa-rasanya semua perhatiannya terampas oleh suara seruling itu.

Inten Prawesti benar-benar telah dicengkam oleh pesona yang seolah-olah tidak terlawan. Suara seruling yang didengarnya itu adalah suara seruling yang memang pernah didengarnya. Tetapi rasa-rasanya kali ini suara itu benar-benar menjadi menghiba-hiba seperti tangis bayi yang merindukan ibunya.

“Suara itu” desis Inten Prawesti.

“Suara seruling” sahut Sangkan

“Ya…suara seruling itu….”

“Kenapa dengan suara seruling itu puteri?”

Inten Prawesti tidak menyahut, tetapi seperti tidak atas kehendaknya sendiri, maka ia pun berdiri sambil menengadahkan kepalanya, “Alangkah syahdunya, tetapi alangkah pilunya suara itu, anak muda itu, merintih oleh penderitaan yang tiada akhirnya”

“Siapa puteri?”

“Tidak ada seorang pun yang sudi menolongnya, dan gadis yang dicintainya telah pergi meninggalkannya tanpa mengatakan sesuatu kepadanya”

“Siapa?, Siapa puteri?” Sangkan menjadi heran.

Suara seruling itu rasa-rasanya mencengkam hati Inten Prawesti semakin dalam.

Di dapur Nyi Upih pun mendengar suara itu, dahinya nampak berkerut merut, ketika memandang Raden Ayu Kuda Narpada, ia termangu-mangu, agaknya Raden Ayu Kuda Narpada itu pun tertarik pula oleh suara seruling itu.

“Aku mendengar suara seruling Nyai” berkata Raden Ayu Kuda Narpada, “Tetapi tidak seperti suara yang kita dengar sekarang, alangkah dalamnya, suara itu tentu benar-benar meloncat dari dasar hati”

“Gembala-gembala dari Karangmaja memang pandai meniup seruling Gusti, mungkin itu suara hati seorang gembala yang memang hidup berprihatin sejak kanak-kanaknya”

Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk-angguk, tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Berbeda dengan ibunya, maka Inten Prawesti benar-benar telah dicengkam oleh suara itu, bahkan kemudian ia berkata kepada kedua anak Nyi Upih itu, “Aku ingin sekali melihat, kenapa suara serulingnya kini sangat ngelangut”

“Kemana puteri akan bertanya?”

“Aku tahu, ia tentu duduk dibawah pohon kemuning diluar regol halaman rumah ini”

Sangkan menjadi semakin bingung, namun kemudian ia berkata, “Puteri, suara seruling itu datang dari tempat yang agak jauh, mungkin seorang gembala di padang rumput di belakang istana ini, tetapi tentu tidak di bawah pohon kemuning di muka regol istana”

Inten Prawesti mencoba memperhatikan suara itu lebih seksama lagi, katanya kemudian, “Tidak Sangkan, suara itu tidak datang dari belakang istana, memang tidak dari bawah pohon kemuning tetapi juga tidak dari belakang”

Sangkan memandang adiknya dengan termangu-mangu, sedang Pinten pun nampak menjadi gelisah, “Puteri, biar sajalah suara seruling itu, tentu seorang gembala telah meniupnya”

“Bukan Pinten, bukan seorang gembala, tetapi anak muda yang nakal itu”

“Siapa?”

“Kidang Alit, apakah kau mengenalnya?”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, dengan ragu-ragu ia berbisik di telinga adiknya, “Pesona apakah yang membuat puteri menjadi bingung”

“Gendam” bisik adiknya

“Apakah kau percaya, bahwa ada ilmu yang disebut gendam dan dapat mempengaruhi hati seorang gadis untuk mencintai orang yang melepaskan ilmu itu?”

“Kenapa tidak?!, tetapi sebenarnya gadis itu bukan mencintainya, ia hanya sekedar terbius oleh ilmu itu”

“Siapakah yang terbius, Pinten?” tiba-tiba saja Inten Prawesti bertanya, agaknya ia mendengar percakapan kedua anak Nyi Upih itu.

“Puteri, maksud kami, apakah puteri sudah kena ilmu gendam itu?”

Inten Prawesti termangu-mangu, kemudian ia pun bertanya, “Apakah artinya?”

“Ilmu yang dapat membius seseorang sehingga ia melupakan segala-galanya karena hatinya dirampas oleh kekuatan ilmu itu, yang kemudian bersarang di hati hanyalah bayangan-bayangan orang yang melepaskan ilmu itu”

“Apakah kau menganggap suara seruling itu adalah ilmu semacam itu?”

“Mungkin puteri” sahut Pinten.

“Kenapa ia harus melepaskan ilmu itu?”

“Mungkin akulah yang dituju oleh anak muda itu, sekali ia melihat aku, maka ia pun segera tertarik, tetapi ia tidak berani mengatakannya kepadaku secara langsung”

“Uh !!“ potong Sangkan, “Kau memang tidak dapat menyadari keadaan dirimu sendiri Pinten, jika aku mengatakan bahwa tidak ada laki-laki yang tertarik kepadamu, kau menjadi sakit hati, tetapi kau selalu bermimpi seolah-olah kau seorang bidadari yang sangat cantik”

Inten Prawesti tersenyum katanya, “Setiap gadis akan merasa dirinya cantik, dan setiap gadis akan merasa tersinggung bahwa orang lain menganggap sebaliknya, tetapi seorang gadis juga tidak senang melihat gadis lain lebih cantik dari pada dirinya”

“Apakah begitu puteri?”

Inten Prawesti mengangguk, lalu katanya, “Jangan percaya kepada gendam, jika suara seruling itu sangat menarik hati, karena suara itu memang menyentuh hatiku, aku pernah mengenal anak muda yang menyuarakan seruling itu, kau jangan menuduhnya dengan tuduhan yang menyakitkan hati, seolah-olah ia mempergunakan ilmu gendam, anak muda dan suara serulingnya itu memang memikat”

Sangkan menjadi semakin bingung, apalagi ketika Inten Prawesti berkata, “Aku akan mencari suara itu”

“Puteri, itu tidak baik” cegah Sangkan.

“Kenapa?”

“Puteri, mungkin sebentar lagi orang-orang Karangmaja akan datang , mereka akan membantu Raden kuda Rupaka untuk mengubur mayat-mayat itu, Apakah kata Raden Kuda Rupaka nanti, jika puteri tidak ada, justru dalam keadaan yang gawat seperti sekarang ini?”

“Biarlah mereka menguburkan mayat itu, aku tidak berkepentingan sama sekali”

“Puteri…” Pinten mulai memegangi ujung kain Inten Prawesti, lalu, “Jangan puteri, Ibunda tentu akan marah”

“Ibunda akan mengijinkannya, aku akan mohon diri”

“Tetapi sikap puteri akan membuat ibunda menjadi sedih”

Inten Prawesti tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya ia berkata, “Tidak Pinten, tidak ada yang bersedih”

“Aku puteri” potong Sangkan tiba-tiba, namun kemudian dengan tergesa-gesa ia melanjutkan, “Maksudku, aku menjadi sedih karena puteri akan pergi justru selagi kakanda puteri Raden Kuda Rupaka tidak ada”

“Katakan kepada kamas Kuda Rupaka, bahwa aku hanya akan pergi sebentar, bukankah tidak akan terjadi sesuatu jika aku hanya melihat dimana anak itu meniup seruling?”

Sangkan dan Pinten menjadi semakin bingung, Pinten yang sudah memegangi ujung kain Inten Prawesti, memohonnya dengan sangat, “Ampun Puteri, aku mohon, janganlah puteri pergi sebelum Raden Kuda Rupaka datang puteri, puteri harus selalu ingat, apa yang pernah dilakukan oleh anak muda yang bernama Kidang Alit yang memang memiliki kepandaian meniup seruling, menurut keterangan yang aku dapat, dia telah mencemarkan dua orang gadis dari Karangmaja”

Inten mengerutkan keningnya, nampak sesuatu menyentuh hatinya, namun ketika suara seruling itu memanjat semakin tinggi, Inten Prawesti tersenyum, “Adalah salah gadis-gadis itu sendiri, mereka menyerahkan diri tanpa kepastian, aku tidak akan melakukannya Pinten, aku adalah puteri Pangeran Kuda Narpada, sehingga kedudukanku harus jelas dalam setiap hubungan dengan siapapun dan dalam hal apapun”

“Puteri” Sangkan tersentak mendengar jawaban itu, bahkan kemudian ia bergumam, “Pinten, agaknya kau benar, puteri telah disentuh ilmu gendam”

Inten Prawesti menggelengkan kepalanya, bahkan dengan wajah yang berkerut merut ia berkata, “Sangkan, aku peringatkan kau sekali lagi, jangan menuduh demikian buruknya kepada Kidang Alit !!”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, bahkan kemudian ia berkata kepada Pinten, “Jagalah puteri sejenak, aku akan menghadap Gusti”

“Tidak perlu Sangkan” berkata Inten Prawesti, “Seharusnya kau tidak mencampuri urusanku, jika kau dan adikmu selalu menghalang-halangi kesenanganku, aku akan mohon kepada ibunda, agar kau berdua dijauhkan saja dari istana ini”

“Puteri” Pinten memeluk kaki Inten, tetapi gadis dikibaskannya, bahkan betapapun juga, Pinten mencoba menahannya, namun Inten Prawesti tetap pada pendiriannya untuk pergi ke sumber suara seruling itu.

Namun dalam pada itu, dalam ketegangan yang hampir tidak teratasi, Sangkan berkata sambil meloncat kedepan pintu biliknya pada saat Inten Prawesti akan berlari keluar, “Puteri, aku sudah barang tentu tidak dapat menahan puteri, karena aku adalah seseorang yang hanya menumpang hidup disini, seperti selembar daun kering yang terbang dihanyutkan angin dan jatuh diatas pangkuan seorang gadis, ia dapat mengibaskan daun kering itu dan membuangnya di tempat sampah, tetapi ia dapat membiarkannya atau memberikan tempat yang agak lebih baik dari tempat sampah itu. Namun ia tetap daun kering yang tidak berharga sama sekali, yang sampai saatnya akan dibuang, tetapi puteri, aku juga pernah menjadi seorang gembala, dan karena itu, aku pun pernah bermain-main dengan seruling, bahkan saat ini pun aku memiliki sebuah seruling seperti yang dibunyikan oleh Kidang Alit itu, jika puteri hanya sekedar ingin mendengarkan suara seruling, puteri tidak usah pergi kemanapun juga, aku juga dapat membunyikan seruling”

“Ah !!, jangan ganggu aku Sangkan, aku dapat mengusirmu dari tempat ini”

“Ampun puteri, tetapi jangan pergi, hamba mohon, seandainya karena itu, aku harus diusir pergi, aku rela, tetapi jangan pergi dalam keadaan seperti ini”

Inten Prawesti menjadi sangat marah, tetapi sebelum ia berteriak mengusir Sangkan, ibundanya dan Nyi Upih yang mendengar suara ribut itu pun dengan tergesa-gesa dating ke ruangan itu.

Ketika Raden Ayu Kuda Narpada melihat Sangkan berdiri di tengah-tengah pintu menghalang-halangi Inten, terbersitlah perasaan aneh dalam dirinya, sehingga dengan serta merta ia berkata lantang, “Nyai, apakah anakmu sudah gila?”

Sangkan mendengar suara Raden Ayu Narpada, sehingga ia pun kemudian bergeser sambil berlutut di hadapan Raden Ayu Kuda Narpada itu. “Ampun Gusti, biarlah aku dikutuk oleh hantu-hantu jika aku berniat buruk, biarlah Pinten mengatakannya kepada Gusti apakah yang telah terjadi”

Dalam pada itu, Inten Prawesti pun segera berlari kepada ibunya sambil menangis, katanya bertahan-tahan, “Usir saja anak-anak itu ibunda, mereka berniat buruk terhadapku”

“Apakah yang sudah terjadi anakku” bertanya Raden Ayu Kuda Narpada. “Mereka mengurungmu di dalam bilik ini”

“O Gusti” desis Nyi Upih, “He..!! anak-anak tidak tahu malu, apakah kalian berbuat demikian?”

“Gusti” berkata Pinten kemudian, “Kami hanya mencoba menghalangi puteri, karena puteri akan pergi ke suara seruling itu”

“He..??” Raden Ayu Kuda Narpada terkejut, “Apakah begitu?”

Inten menjadi ragu-ragu, tetapi ketika suara seruling itu melengking lagi, bagaikan jerit suara gadis yang ditinggalkan kekasih, maka Inten pun berkata, “Ya ibunda, aku ingin pergi ke tempat anak muda itu meniup seruling, tetapi kedua anak itu menahan aku”

“Ooo…” Raden Ayu Kuda Narpada mengelus rambut anaknya yang berada di dalam pelukannya, “Kenapa kau akan pergi Inten?, dan siapakah yang meniup seruling itu?”

“Kidang Alit ibunda, tentu Kidang Alit”

“Ooo…” Raden Ayu Kuda Narpada menjadi semakin terkejut, “Kidang Alit, bukankah Kidang Alit itu anak muda yang sering dipercakapkan oleh orang-orang Karangmaja?”

“Aku tidak perduli, apa yang mereka katakan, aku hanya ingin mendengar suara seruling itu”

“Inten, Inten” ibundanya memeluknya semakin erat, lalu, “Bagaimana mungkin kau dapat berbuat demikian?”

“Ibunda” Inten mulai menangis, “Apakah ibunda akan melarangku?”

“Tentu tidak Inten, tetapi kau harus mencegah dirimu sendiri”

“Aku hanya ingin melihat ibunda”

“Ooo…” Nyi Upih mendesah, “Kenapa puteri seolah-olah dicengkam oleh ketidak-sadaran? bukankah puteri mengetahui apa yang sudah diperbuat oleh anak muda yang bermain seruling itu, jika benar ia Kidang Alit?”

Inten masih tetap menangis, bahkan ia berusaha untuk memaksa melepaskan pelukan ibundanya.

“Gendam biyung, ini adalah pengaruh Gendam” berkata Pinten.

“Tidak, tidak” Inten tiba-tiba saja berteriak seperti bukan atas kehendaknya sendiri.

Namun dalam pada itu, selagi mereka sedang diributkan oleh sikap aneh dari Inten Prawesti, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda memasuki halaman, ketika kuda di halaman depan meringkik, maka Sangkan pun berkata, “Raden Kuda Rupaka sudah datang”

Anak itu tidak menunggu apapun lagi, tiba-tiba saja ia berlari kedepan menyongsong Raden Kuda Rupaka. Dengan terbata-bata ia menceritakan keadaan Inten Prawesti yang hampir tidak dapat dicegah lagi.

“Paman” desis Kuda Rupaka, “Agaknya memang anak muda itulah yang telah menantangku. Kini dengan sengaja ia menjajagi ilmuku. Ia mempergunakan pengaruh kekuatan bunyi untuk mengganggu keseimbangan perasaan diajeng Inten Prawesti”

“Gendam Raden” desis Sangkan

“Ya, semacam itu”

“Jadi, bagaimanakah maksud Raden?” bertanya Panji Sura Wilaga.

“Aku harus membebaskannya dari pengaruh bunyi itu”

“Silahkan Raden, mungkin Raden dapat melakukannya”

Kuda Rupaka pun kemudian berkata kepada Sangkan, “Kembalilah kepada diajeng Inten Prawesti, aku akan masuk ke dalam istana dan mencoba memecahkan pengaruh bunyi seruling yang mengandung pesona bagi diajeng Inten Prawesti itu”

Ketika Sangkan mulai bergerak, Kuda Rupaka berkata kepada Panji Sura Wilaga, “Tinggalah disini, jika orang-orang Karangmaja itu datang ajaklah mereka mengubur kedua sosok mayat itu, kini, agaknya perang melawan Kidang Alit harus sudah dimulai”

Panji Sura Wilaga mengangguk sambil menjawab, “Baik Raden, silahkan mencoba untuk memerangi bunyi seruling itu”

Kuda Rupaka pun kemudian masuk ke dalam istana, sejenak ia termangu-mangu, namun kemudian ia masuk ke dalam biliknya dan menutup pintu itu rapat-rapat.

Dalam pada itu, Inten Prawesti masih sibuk berusaha melepaskan diri dari pelukan ibundanya dan bahkan Nyi Upih pula, seakan-akan ia sudah menyadari lagi, apa yang sedang dilakukannya.

Sementara itu, suara seruling dikejauhan menjadi semakin ngelangut, nadanya kadang-kadang meninggi, kadang-kadang cepat menukik merendah, lepas dari ikatan gending yang ada, namun langsung menusuk hati Inten Prawesti, gadis cantik puteri Pangeran Kuda Narpada.

Ibundanya dan Nyi Upih yang memeluknya manjadi semakin bingung, bahkan kemudian sambil menangis Nyi Upih kepada Pinten yang berdiri kebingungan, “Kenapa kakakmu begitu lama?, cepat, mohon Raden Kuda Rupaka datang kemari”

Pinten termangu-mangu sejenak, namun sebelum ia meloncat berlari sambil menyingsingkan kain panjangnya, langkahnya pun tertegun. Dari dalam istana ia mendengar suara tembang yang mengalun tinggi, bagaikan angin yang silir bertiup di panasnya udara yang kering.

Suara itu hanya terdengar lamat-lamat, tidak sekeras suara seruling yang masih melengking.

Namun ternyata suara tembang yang lamat-lamat, yang mengalunkan kidung kasmaran seorang jejaka itu, berhasil menyentuh perasaan Inten Prawesti, perlahan-lahan Inten bagaikan menyadari dirinya, bahkan kemudian dengan wajah yang terheran-heran ia berdesis, “Apakah aku mendengar suara tembang?”

“Ya, puteri” sahut Nyi Upih tiba-tiba

“Siapakah yang disaat begini sampai sempat berdendang?”

“Kakanda puteri, Raden Kuda Rupaka” jawab Nyi Upih yang kemudian berbisik kepada Raden Ayu Kuda Narpada, “Suara tembang itu agaknya telah berhasil memecahkan ilmu gendam itu”

“Apa yang Nyai maksud?” bertanya Inten Prawesti.

“Tidak apa-apa puteri”

Inten Prawesti mengerutkan keningnya, agaknya suara seruling dikejauhan masih sedikit mempengaruhinya, sehingga dengan demikian di dalam dirinya telah terjadi benturan pengaruh bunyi yang mengandung kekuatan ilmu yang langsung menusuk perasaannya.

Namun akhirnya ia berkata, “Apakah kakangmas Kuda Rupaka sudah datang?”

“Ya puteri” jawab Sangkan yang sudah ada di dekatnya pula, “Agaknya untuk melepaskan lelahnya, Raden Kuda Rupaka berbaring di dalam biliknya sambil menyanyikan sebuah kidung yang syahdu, aku benar-benar terpesona mendengar suaranya, tidak terlampau keras, tetapi sangat dalam dan betapa lembutnya”

Inten Prawesti mengangguk-angguk, tetapi suara tembang itu tidak memukaunya seperti suara seruling Kidang Alit, karena tujuan Kuda Rupaka hanyalah sekedar memecahkan pengaruh kekuatan bunyi yang dilontarkan oleh suara seruling Kidang Alit, sehingga apabila dengan demikian Inten Prawesti menjadi sadar akan dirinya, maka usahanya itu pun sudah berhasil.

Dan ternyata Inten Prawesti telah benar-benar menjadi sadar atas apa yang sedang dihadapinya. Meskipun ia masih mendengar suara seruling itu, tetapi ia tidak lagi dipukau oleh suatu keinginan untuk datang ke padang rumput atau kemana saja untuk mendengarkan suara seruling itu lebih dekat dan menemukan peniupnya.

Bahkan ia menjadi malu sekali, jika antara ingat dan tidak, seolah-olah ia tanpa dapat dikendalikan lagi berusaha untuk mencari Kidang Alit.

Bulu-bulu tengkuknya merinding, jika ia menyadari, siapakah anak muda yang bernama Kidang Alit itu, dua orang gadis Karangmaja telah menjadi korbannya.

“Ternyata bahwa dugaan kami salah” berkata Inten Prawesti dalam hatinya, “Bukan gadis-gadis itulah yang lengah dan menyerahkan dirinya kepada nafsu yang tidak terkendali, tetapi tentu ada semacam ilmu yang dapat membuat mereka kehilangan diri masing-masing, alangkah ngerinya”

Sementara itu, Kidang Alit yang memang dengan sengaja melepaskan suara serulingnya dengan kekuatan ilmu pengaruh bunyi, merasakan sesuatu yang lain pada suara serulingnya, jika semula rasa-rasanya suaranya menyentuh sasarannya, tiba-tiba ia menyadari, bahwa ada sesuatu yang telah mengganggunya.

Kidang Alit masih mencoba memperdalam pengaruh ilmunya atas sasarannya, tetapi perlawanan yang dirasakannya menjadi semakin berat, sehingga pada suatu saat, ia telah kehilangan sentuhan sama sekali.

“Memang berat untuk melawannya” berkata Kidang Alit kepada diri sendiri, ia tahu benar, bahwa Kuda Rupaka tentu sudah kembali ke istana itu, dan melawan ilmunya sehingga usahanya untuk menunjukan kelebihannya atas Kuda Rupaka telah gagal.

Sesungguhnya Kidang alit sedang mencoba untuk menjajagi ilmu Kuda Rupaka, jika ia berhasil menarik Inten Prawesti keluar dengan kemampuan ilmu pengaruh kekuatan bunyi, ia ingin melihat, apa yang akan dilakukan oleh Kuda Rupaka.

Namun ternyata, sebelum Inten Prawesti keluar dari istananya Kuda Rupaka telah datang dan berhasil memecahkan ilmunya.

Kidang Alit pun akhirnya menghentikan perlawanannya, jarak antara sumber ilmu dan sasaran memang ikut menentukan, karena kekuatan pengaruh bunyi itu seolah-olah telah susut sejalan dengan susutnya getaran suaranya.

Sejenak Kidang Alit termangu-mangu, dipandangnya Istana kecil itu dari kejauhan, seolah-olah ia sedang memandang sesuatu yang menyimpan seribu macam untuk dipecahkannya.

“Iblis-iblis itu telah mati di halaman istana itu, sedang yang seorang berhasil melarikan diri, mungkin sekali yang seorang itu akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar, sedang aku masih saja duduk tepekur tanpa berbuat sesuatu”

Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam, sekali lagi ia memandang istana terpencil itu, ternyata kehadiran Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga telah menimbulkan persoalan baru padanya, persoalan yang tidak diperhitungkan sebelumnya.

Dengan langkah yang lamban Kidang Alit meninggalkan tempatnya, kepalanya yang menunduk membayangkan betapa ia sedang merenungkan persoalan yang sedang dihadapinya”

“Tetapi Inten Prawesti itu sangat cantik dan ternyata gadis pelayan itu pun cantik sekali” katanya di dalam hati, lalu, “Jika aku tidak sedang mengemban tugas yang penting, aku kira aku hanya memerlukan kedua gadis itu saja”

Tetapi Kidang Alit menggelengkan kepalanya, katanya kemudian, “Aku tidak boleh terganggu oleh kecantikan keduanya sebelum tugasku selesai, untuk sementara aku dapat mengambil gadis Karangmaja yang manapun yang aku sukai”

Langkah Kidang Alit tiba-tiba semakin cepat, tetapi ia tidak kembali ke Karangmaja, ia dengan tergesa-gesa menuruni lereng bukit kecil, kemudian menyelinap di lembah yang jarang sekali dikunjungi oleh seseorang.

Sejenak Kidang Alit termangu-mangu, dipandangnya sebuah puncak bukit kecil diantara beberapa puncak yang lain.

“Nanti sore sajalah” katanya kepada diri sendiri.

Dengan demikian maka ia pun duduk di bawah sebatang pohon yang rindang, dipandanginya alam sekitarnya uang sudah menjadi hijau, meskipun masih belum merata sama sekali, sekali-sekali ia menengadahkan wajahnya memandang burung-burung kecil yang berlompatan diatas daun, dan sekali-sekali burung-burung itu berhenti untuk bersiul. Ketika ia melihat dua ekor gelatik hinggap di ranting kecil, Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam.

Beberapa saat lamanya Kidang Alit duduk ditempatnya, ia mengerutkan keningnya, ketika ia melihat sesuatu bergerak-gerak di semak-semak beberapa langkah agak kebawah tempatnya berteduh.

Ternyata seekor harimau yang haus telah melintasi lembah untuk mencari air di mata air kecil di ujung lembah, di bawah titik-titik air yang menetes pada gumpalan-gumpalan batu padas.

Tetapi harimau itu sama sekali tidak menggetarkan hatinya, bahkan ia sama sekali tidak menghiraukan lagi, Kidang Alit sama sekali tidak menjadi gemetar, seandainya harimau itu dengan perlahan-lahan merunduknya.

Namun demikian Kidang Alit meraba lambungnya, ketika tersentuh olehnya hulu sebuah pisau belati, maka ia pun kembali duduk menikmati silirnya angin yang bertiup dari lembah yang basah.

Dalam pada itu, di istana kecil di luar padukuhan Karangmaja, Inten Prawesti bersembunyi saja di dalam pembaringannya. Tiba-tiba saja perasaan malu telah semakin dalam mencengkam jantungnya.

Ia tidak mengerti, kenapa ia telah terpukau oleh suara seruling itu, beberapa kali ia pernah mendengar suara seruling, tetapi ia tidak pernah dicengkam oleh dorongan yang seolah-olah tidak terlawan untuk datang mendekat, bahkan ia telah berhasil untuk tidak menghiraukan lagi suara seruling yang sebelumnya memang telah menarik hatinya.

Tetapi agaknya orang-orang diluar bilik ini sama sekali tidak menghiraukan peristiwa itu lagi, mereka berbuat seperti kebiasaan mereka, sehingga lambat laun, Inten pun berhasil mengatur perasaannya. Ketika ia keluar dari biliknya, ternyata orang-orang itu telah melupakan apa yang sudah terjadi dan tidak menyinggungnya lagi, Inten pun tidak lagi menjadi canggung karenanya, Sangkan yang biasa bergurau dengan adiknya sama sekali tidak menyebut lagi suara seruling yang bagaikan bius yang sangat kuat bagi Inten Prawesti.

Namun dalam pada itu, diluar pengetahuan Inten, Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga duduk di bawah pohon yang rindang di halaman depan istana kecil itu, dengan sungguh-sungguh mereka membicarakan suara seruling yang ternyata telah mempengaruhi bukan saja perasaan tetapi nalar Inten Prawesti.

“Untunglah Raden berhasil memecahkan ilmu gendam itu” berkata Panji Sura Wilaga.

“Ya… untunglah, bahwa aku sudah dibekali ilmu untuk melawan ilmu semacam itu, paman, ilmu semacam itu bukan saja dapat mempengaruhi perasaan seorang gadis terhadap seorang anak muda, tetapi ada juga ilmu semacam itu yang dapat mempengaruhi siapa saja untuk tujuan apapun”

“Maksud Raden?”

“Orang dapat kehilangan perasaan dan nalarnya, apakah ia sedang berjaga-jaga, apakah ia sedang berperang”

“Ooo…, “ Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, katanya kemudian, “Ya… semacam ilmu sirep yang dapat membius seseorang sehingga ia tertidur nyenyak”

“Benar”

“Tetapi jika kita berhasil memusatkan kekuatan yang ada di dalam diri kita, maka kita akan terbebas dari kekuatan semacam itu, yang sulit adalah seperti yang baru saja Raden lakukan, membebaskan orang lain dari pengaruh semacam itu”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, lalu katanya, “Tetapi dalam hal ini, Kidang Alit adalah orang yang sangat berbahaya, aku tidak tahu, apakah tujuannya yang sebenarnya, mungkin ia menghendaki diajeng Inten Prawesti, menilik kelakuannya di padukuhan Karangmaja, dua orang gadis telah menjadi korbannya, bahkan mungkin masih akan bertambah” ia berhenti sejenak lalu, “Tetapi dapat juga pamrih yang lebih jauh dari pada itu”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk pula, katanya, “Kita memang harus siap menghadapi setiap kemungkinan Raden”

“Paman” berkata Raden Kuda Rupaka kemudian, “Apakah menurut pikiran paman kita akan menunggu saja disini sampai Kidang Alit berbuat sesuatu, atau kawan-kawan kedua iblis yang terbunuh itu datang?”

“Tidak Raden, tentu tidak, kita harus bertindak setelah kita mendapatkan kepastian”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, tetapi untuk sesaat ia tidak mengatakan sesuatu, ketika ia menengadahkan wajahnya, nampak langit telah menjadi suram, warna-warna merah di tepi gumpalan awan pun menjadi semakin gelap.

Tetapi tiba-tiba saja Raden Kuda Rupaka terkejut, tanpa disadarinya terpandang olehnya segumpal asap kehitam-hitaman yang membubung tinggi ke langit yang sudah mulai diwarnai oleh kegelapan.

“Paman” desisnya, “Kau lihat asap itu?”

Panji Sura Wilaga mengerutkan keningnya, sambil mengangguk kecil ia menjawab, “Ya Raden, asap yang mencurigakan”

Panji Sura Wilaga kemudian berdiri tegak, setelah memperlihatkan keadaan sekelilingnya, tiba-tiba saja ia melompat naik memanjat pohon itu dengan tangkasnya, seperti seekor tupai yang berkejaran, dalam waktu sekejap ia sudah berada diatas dahan yang tinggi.

Hanya beberapa saat ia berada diatas dahan itu, karena ia pun segera meluncur turun, lebih cepat dari saat ia memanjat naik.

“Apa yang kau lihat paman?” bertanya Raden Kuda Rupaka.

“Asap itu mengepul dari atas bukit, Raden”

“Apakah telah terjadi kebakaran?, mungkin semak-semak atau padang ilalang?, jika demikian, maka orang-orang Karangmaja harus mencegah menjalarnya api, sebab hutan yang baru mulai hijau itu akan lenyap, akibatnya, tanah itu akan menjadi kering lagi, orang-orang Karangmaja memerlukan waktu yang lama untuk memulai lagi dari permulaan sekali”

Panji Sura Wilaga mengerutkan keningnya, namun kemudian katanya, “Aku kira bukan kebakaran, tetapi ada kesengajaan untuk menyalakan api di puncak bukit kecil itu, justru di puncak yang gundul”

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Kidang Alit, tentu Kidang Alit sedang memberikan isyarat kepada seseorang”

“Ternyata yang kita jumpai di daerah ini berbeda sekali dengan dugaan kita semula, Raden. Disini bukannya suatu tempat yang aman, tenteram dan damai, yang dapat dipergunakan untuk beristirahat sepekan dua pekan, tetapi daerah ini justru akan menjadi pusat pertarungan yang dahsyat” ia berhenti sejenak, lalu, “Apakah kita akan terlibat didalamnya?”

“Jadi maksud paman, kita akan pergi begitu saja dari istana ini?”

“Tentu tidak Raden”

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, setelah merenung sejenak, maka katanya, “Aku mengerti, dan kita sudah terlanjur terlibat terlampau jauh dalam persoalan-persoalan yang semula tidak pernah kita bayangkan”

Panji Sura Wilaga tidak menjawab, tetapi ia menatap asap yang masih saja mengepul tinggi itu sambil berkata, “Jika orang yang mendapat isyarat itu dapat menangkapnya, mungkin besok atau lusa daerah ini akan dikepung oleh beberapa orang yang mungkin datang dari perguruan Kumbang Kuning”

“Apakah perguruan Cengkir Pitu akan tetap diam menghadapi perguruan Kumbang Kuning yang mulai dengan geramnya?”

Panji Sura Wilaga tersenyum, katanya, “Tentu tidak Raden, dan kita tidak perlu memberikan isyarat apapun juga, jika benar-benar ada gerakan dalam jumlah yang cukup kuat dari perguruan Kumbang Kuning atau Guntur Geni, maka Cengkir Pitu akan segera dapat mengetahuinya, sehingga persoalannya akan berganti menjadi besar, pertentangan antar perguruan yang berpengaruh di daerah Majapahit lama”

“Sebenarnya pertentangan itu memang sudah dimulai paman, tetapi masing-masing masih mencoba mengatasinya dan mencegah pergulatan yang tidak perlu diantara mereka, tetapi agaknya kini keadaannya sudah lain”

“Ya, aku memperhitungkan bahwa lima atau enam orang murid dari perguruan Kumbang Kuning memang sudah ada di sekitar daerah ini, tetapi hanya Kidang Alit sajalah yang masuk ke padukuhan Karangmaja, isyarat itu agaknya sudah pasti, bahwa ia memanggil saudara-saudaranya untuk mendekat”

“Jika benar lima atau enam orang yang datang maka separuh dari mereka adalah anak-anak ingusan”

“Mungkin malahan gurunya”

Raden Kuda Rupaka menarik dalam-dalam, dan Panji Sura Wilaga berkata seterusnya, “Bukankah kita sudah mengadakan pengamatan yang ketat pula?”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, lalu “Baiklah paman, meskipun kita tetap percaya kepada saudara-saudara seperguruan kita, namun kita disini harus tetap berhati-hati, mungkin ada sesuatu yang tiba-tiba saja terjadi diluar dugaan kita”

“Yang penting Raden, bibi dan adik sepupu Raden itu harus tetap tenang, mereka tidak boleh digelisahkan oleh kegelisahan kita, jika ada tindakan kasar di istana, ini adalah tanggung jawab kita, mereka sama sekali tidak boleh tersentuh, meskipun hanya ujung kain bibi dan adik sepupu Raden”

Raden Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, namun ia pun kemudian tersenyum, senyum yang membayangkan seribu macam arti, namun juga membayangkan seribu macam rahasia yang tersimpan di dalam hati anak muda yang perkasa itu.

Sementara di puncak sebuah bukit yang gundul, Kidang Alit memang sedang membakar seonggok sampah dan ranting-ranting, mula-mula ia membakar ranting-ranting kering, ketika api sudah mulai menyala, maka ditaburkannya dedaunan yang basah kedalam api itu, sehingga asap pun kemudian mengepul tinggi kehitam-hitaman.

Seperti yang diduga oleh Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga, Kidang Alit memang sedang memberikan isyarat kepada seseorang yang berada agak jauh dari padukuhan Karangmaja.

Ternyata bahwa isyaratnya itu dapat ditangkap oleh orang-orang yang dimaksudkan, seorang yang bertubuh sedang dan berwajah tenang meyakinkan.

Isyarat yang memang sudah disepakati bersama itu, telah mendorong orang yang bertubuh sedang dan berwajah tenang itu, untuk pergi menemui seorang saudara seperguruannya yang lain.

“Kadang Sambi Timur, aku sudah melihat isyarat yang diberikan oleh anak muda yang menyebut dirinya Kidang Alit”

Saudara seperguruannya yang disebut Kadang Sambi Timur itu, mengerutkan keningnya, namun kemudian ia bertanya, “Raden Waruju maksudmu?”

“Ya, ia menyebut dirinya Kidang Alit”

Sambi Timur menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Aku pun sudah melihatnya, apa katamu Bramadara”

Orang yang berwajah tenang itu menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian, “Isyarat itu telah jelas bagi kita, Waruju mengharap kita mendekat”

“Tentu kau yang dimaksudkan, karena ia tidak tahu bahwa aku pun sudah berada disini”

“Ya, aku, apalagi setelah aku mendengar berita yang kau bawa, bahwa Raden Kuda Rupaka tidak ada di istananya”

“Sudah beberapa lamanya ia menghilang, mungkin ia berada di istana bibinya di Karangmaja”

“Ya, dan itu berarti kesulitan bagi Kidang Alit”

“Sudah tentu, Raden Kuda Rupaka adalah seorang anak muda yang memiliki banyak kelebihan” desis Sambi Timur.

Bramadara menarik nafas dalam-dalam, hampir kepada dirinya sendiri ia berkata, “Kidang Alit belum pernah mengenal anak muda yang bernama Raden Kuda Rupaka, aku pun belum”

“Aku pernah berpapasan, tetapi aku pun belum jelas apakah aku masih dapat mengenalnya, ketika aku mendengar pemberitahuan itu, aku menjadi bimbang, tetapi perintah itu menyebut bahwa aku harus mendekati Kidang Alit, bukankah ia menyebut dirinya Kidang Alit?”

“Ya..”

“Aku harus berusaha membantunya, dan membantumu jika ia menemui kesulitan karena Raden Kuda Rupaka”

Bramadara mengangguk-angguk, namun kemudian katanya, “Tetapi Raden Waruju masih saja tidak dapat membebaskan diri dari kelemahannya”

“Kelemahan yang mana?”

“Setiap orang Karangmaja mengetahui, dan demikianlah semilirnya angin yang aku dengar, bahwa Raden Waruju sudah berhubungan dengan gadis-gadis Karangmaja, dua orang diantara mereka sudah kawin dengan anak muda Karangmaja, setelah Raden Waruju memberikan bekal sepasang lembu bagi mereka”

Sambi Timur tersenyum, katanya, “Aku kira sampai mati Raden Waruju tidak akan dapat meninggalkan kebiasaan itu”

“Namun dengan demikian, kedudukannya di Karangmaja menjadi lemah, ia tidak lagi menjadi seorang yang berwibawa dan mempunyai pengaruhi uang besar. Apalagi jika Raden Kuda Rupaka yang tidak ada di istananya itu benar-benar berada di istana kecil itu”

“Aku kurang mengerti, kenapa ia harus menyebut dirinya Kidang Alit, kenapa ia tidak datang dengan menengadahkan dadanya, dan menyebut dirinya -INILAH RADEN WARUJU”

“Dengan ujud seorang pengembara, ia akan dapat bergerak lebih leluasa, dan yang penting, ia akan dapat bergaul lebih dekat dengan anak-anak muda dan terutama dengan gadis-gadis Karangmaja”

Sambi Timur menarik nafas dalam-dalam, lalu katanya, “Sekarang ia memberikan isyarat, kita memang harus datang, agaknya Raden Kuda Rupaka memang berada di istana kecil itu”

“Jika benar demikian?”

“Jika perlu, kita akan mempergunakan kekerasan”

“Apakah kita cukup kuat?”

“Kita tidak tahu, apakah Raden Kuda Rupaka hanya seorang diri atau membawa sekelompok pengawal”

“Kita akan melihatnya nanti”

Keduanya pun kemudian mempersiapkan diri, mereka membawa senjata masing-masing dan menyediakan diri sepenuhnya jika mereka akan terlibat dalam kekerasan senjata dengan seseorang yang memiliki banyak kelebihan dari sesuatunya, Raden Kuda Rupaka.

Ketika kemudian gelap malam turun perlahan-lahan, Kidang Alit telah melontarkan sebongkok kayu kering kedalam apinya, sehingga ketika api itu menyala, nampaklah warna merah yang membayang di ujung bukit kecil itu”

“Bramadara harus melihat isyarat ini, ia harus segera datang dan menyelesaikan persoalanku dengan Raden Kuda Rupaka, semakin lama, tugasku akan menjadi semakin berat dan berlarut-larut” desisnya sambil di sebelah api yang menjadi semakin besar.

Tiba-Tiba saja Kidang Alit meloncat berdiri dan bersiap menghadapi setiap kemungkinan, ketika ia mendengar gemerisik langkah kaki mendekatinya.

“Aku Raden” terdengar suara dari kegelapan.

“Kau kakang Bramadara?” bertanya Kidang Alit.

“Ya, aku datang tidak seorang diri”

Dalam cahaya api yang kemerah-merahan, Kidang Alit melihat dua orang datang mendekatinya, yang seorang adalah Bramadara sedang yang lain adalah orang yang tidak disangka datang bersamanya.

“Kakang Sambi Timur?” desis Kidang Alit.

“Ya Raden”

Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian, “Tentu ada persoalan yang penting yang kau bawa kemari”

Sambi Timur dan Bramadara pun kemudian melangkah semakin dekat, dan ketiganya pun duduk di tepi perapian yang masih menyala meskipun apinya menjadi semakin redup.

“Berita apakah yang kau bawa, kakang Sambi Timur?” bertanya Kidang Alit

“Yang penting, aku mendapat perintah untuk mendekati Raden, jika pada suatu saat Raden memerlukannya”

“Ya, dan kau sekarang sudah berada disini”

“Yang kedua, aku membawa berita bagi Raden”

“Aku memang sudah menduga, katakan”

“Raden Kuda Rupaka telah meninggalkan istananya”

Kidang Alit tertawa kecil, katanya, “Baru sekarang kau memberitahukan hal itu kepadaku, Ia sudah berada disini sekarang, bahkan aku sudah menjajagi kemampuannya”

“Jadi Raden sudah bertempur melawan Kuda Rupaka?”

“Tidak, aku mempergunakan pengaruh bunyi, aku mencoba membius diajeng, eh maksudku puteri Pangeran Kuda Narpada, Inten Prawesti dengan suara seruling, namun ternyata bahwa Raden Kuda Narpada berhasil memecahkan pengaruh kekuatan bunyi itu”

Sambi Timur mengangguk-angguk, katanya, “Aku memang mendapat pesan agar Raden menjadi semakin berhati-hati karenanya, menurut perhitungan kami, Raden Kuda Rupaka memang akan pergi ke istana kecil itu, ternyata perhitungan itu benar”

“Ia tidak seorang diri, ia datang bersama seseorang yang bernama Panji Sura Wilaga”

“Sura Wilaga” desis Panji Timur, “Aku belum pernah mendengarnya, mungkin seorang murid baru, atau pengawal ayahandanya yang paling dapat dipercaya”

“Mungkin, ternyata keduanya merupakan orang yang harus diperhitungkan”

“Tentu Raden, dan kita tidak akan dapat bertindak dengan tergesa-gesa”

“Agaknya bukan saja Raden Kuda Rupaka yang harus kita perhitungkan disini”

“Siapa lagi Raden?”

“Anak-anak ingusan dari perguruan Sekar Pucang”

“Guntur Geni maksud Raden”

“Murid-murid Kiai Sekar Pucang”

“Ya, Kiai Sekar Pucang dari perguruan Guntur Geni”

Kidang Alit mengangguk-angguk dan Sambi Timur berkata seterusnya, “Mereka tentu orang-orang yang sangat berbahaya Raden, apakah mereka masih juga berada di padukuhan ini?”

“Mereka sudah mati dibunuh”

“Raden membunuhnya?”

“Tidak, Kuda Rupaka, dua diantara mereka sudah terbunuh, yang seorang lagi melarikan diri”

Sambi Timur menarik nafas dalam-dalam, sambil memandang kepada Bramadara ia bergumam, “Bahaya yang setiap saat dapat meledak”

“Ya, kita harus benar-benar berhati-hati”

“Karena itu kakang Samba Timur dan kakang Bramadara, persoalannya semakin mendesak” Kidang Alit berhenti sejenak, lalu katanya, “Karena itu, kalian jangan menjauh lagi, biarlah kalian berada disini”

“Di Karangmaja?”

“Ya, datanglah dengan sikap yang kasar, seperti sikap orang Guntur Geni”

“Maksud Raden?”

“Kalian akan ditempatkan di banjar padukuhan, tetapi kalian harus menunjukkan bahwa kalian memiliki sesuatu yang mirip atau serupa dengan ilmu orang-orang Guntur Geni” Kidang Alit berhenti sejenak lalu, “Salah seorang dari kalian berdua harus memukul salah seorang anak muda di hadapan Ki Buyut, sehingga anak itu pingsan”

“Dengan racun yang melumpuhkan?”

“Tidak perlu, asal saja ia pingsan, aku akan mengobatinya, aku akan mengatakan bahwa ilmumu lebih dari anak-anak Guntur Geni, dan aku akan mengobatinya dengan obat yang lebih baik dari yang pernah aku pergunakan untuk mengobati Kasdu, akulah yang membuatnya tetap lemah selama kira-kira sebulan”

Kidang Alit kemudian memberitahukan apa yang harus mereka lakukan seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang dari Guntur Geni.

“Kalian akan menjadi pusat perhatian Raden Kuda Rupaka, seperti saat Raden Kuda Rupaka memperhatikan orang-orang dari Guntur Geni, jika datang saatnya, Raden Kuda Rupaka memang harus dibunuh, kita harus menyelesaikan tugas kita”

“Semakin cepat semakin baik Raden”

“Ya, tetapi hadirnya Raden Kuda Rupaka merusak semua rencana kita, juga karena aku menginginkan kedua gadis itu”

“Dua orang gadis?”

“Inten Prawesti dan Pinten, anak pelayan istana kecil itu”

Bramadara dan Sambi Timur, menarik nafas dalam-dalam, tetapi mereka tidak mencoba mencegahnya, karena itu sudah menjadi sifat dan wataknya Raden Waruju.

Untuk beberapa saat lamanya, mereka masih berbicara tenang rencana, jika rencana mereka itu berhasil, maka mereka akan berada dalam jarak yang pendek tanpa diketahui oleh Raden Kuda Rupaka. Mungkin Raden Kuda Rupaka akan menjadi lengah, atau tidak memperhitungkan, bahwa ketiga orang yang berada di Karangmaja itu pada suatu saat bekerja bersama untuk, membunuhnya.

Namun dalam pada itu, Kidang Alit kemudian bertanya, “Kakang Sambi Timur, apakah pentingnya Raden Kuda Rupaka, maka kau harus datang khusus untuk memberitahukan bahwa ia sudah tidak di istananya lagi?”

“Selama ini bagi beberapa orang di Demak, Raden Kuda Rupaka merupakan seorang anak muda yang menjadi buah bibir, ia memiliki ilmu yang tinggi, namun ia juga seorang yang baik dan rendah hati, ia menolong hampir setiap orang yang diketahuinya mendapat kesulitan”

“Tetapi apakah ia memerlukan datang ke tempat yang jauh?”

“Raden harus ingat, bahwa Raden Kuda Rupaka adalah seorang bangsawan yang masih sangat dekat hubungannya dengan Pangeran Kuda Narpada, keduanya datang dari Majapahit saat Majapahit mengalami kemunduran”

“Bagi Demak, mereka adalah orang-orang baru”

“Ya, apalagi bagi Raden yang jarang sekali hadir ke kota Raja itu, meskipun dengan Raden Waruju masih ada gegayutan, tetapi tentu sudah agak jauh”

“Aku lebih suka bernama Kidang Alit, di sini aku dapat hidup diantara anak-anak muda Karangmaja tanpa jarak, jika aku menyebut diriku dengan nama dan kedudukan yang sebenarnya, aku akan menjadi jauh dari mereka”

“Terserahlah kepada Raden, namun dengan demikian Raden sudah mendapat gambaran serba sedikit tentang Raden Kuda Rupaka dan kedudukannya diantara para bangsawan, meskipun ia orang baru, namun pengaruhnya di kalangan anak-anak muda bangsawan, nampaknya sudah semakin berakar”

“Aku mengerti, tetapi pada suatu saat mereka akan kehilangan Raden Kuda Rupaka, yang datang kemudian adalah Raden Waruju dengan kekuatan dan wibawa yang baru setelah aku menyelesaikan tugasku disini” namun dahinya tiba-tiba saja berkerut, “Tetapi apakah dengan demikian berarti Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten Prawesti itu masih kadangku juga?”

“Ya, tetapi seperti Raden Kuda Rupaka, hubungan itu sudah amat jauh, hampir setiap keluarga Adipati di seluruh negeri masih mempunyai gegayutan, meskipun sekedar bersangkut paut karena perkawinan”

Kidang Alit mengangguk-angguk, namun kemudian katanya, “Persetan, aku harus mendapatkan semua yang aku inginkan di sini, Nah, sekarang pergilah, dan datanglah besok berkuda ke Karangmaja, seperti yang aku pesankan, datanglah ke rumah Ki Buyut dan hati-hatilah, semua harus berjalan seperti yang aku kehendaki”

“Baiklah Raden”

“Panggil aku Kidang Alit”

“Baiklah, tetapi kemana kami harus pergi sekarang? apakah aku harus kembali lagi ke persembunyianku?”

“Tidak perlu, tinggal sajalah di sini, dan datanglah besok ke Karangmaja”

Bab 9

Kidang Alit pun kemudian berdiri dan melangkah meninggal-kan kedua orang kawan-kawannya dengan pesan, “Aku akan kembali ke pondokku, ingat semua yang harus kau lakukan”

Kedua kawannya tidak menjawab, mereka memandang langkah Kidang Alit yang semakin lama menjadi semakin jauh, dan hilang didalam kegelapan malam.

Sambi Timur dan Bramadara masih termangu-mangu disamping perapian yang sudah hampir padam. Sejenak mereka merenungi bara api yang tertinggal diantara abu yang hitam. Namun kemudian terdengar Bramadara berkata, “Semalam suntuk kita harus menunggu perapian ini”

“Kita dapat tidur saja disini, apa bedanya tidur ditempat lalu?”

“Dan kita akan diterkam harimau tanpa melawan?, sebaiknya kita tidur bergantian”

“Tidak ada harimau disini, yang ada hanyalah kucing-kucing hutan yang agak besar”

“Aku sudah berada ditempat ini lebih lama dari kau, disini ada harimau, sebenarnya harimau bukan sekedar seekor blacan, bahkan disini ada harimau kumbang”

“Kau takut harimau kumbang?”

“Bukan takut, tetapi jika kita tidur, maka kita tidak akan sempat bangun”

“Baiklah, kita akan tidur bergantian”

Keduanya pun kemudian membagi saat pergantian lewat tengah malam, kapan yang seorang akan dibangunkan oleh yang berjaga-jaga terlebih dahulu.

Menjelang pagi hari, maka keduanya pun mempersiapkan diri, mereka bersepakat untuk tidak untuk tidak berbenah, bahkan mereka membuat pakaian mereka menjadi lusuh dan membuat diri mereka nampak sebagai orang-orang kasar, ikat kepala mereka pun tidak lagi mereka atur sebaik sebaik-baiknya, nampaknya asal saja membelit kepala, beberapa lembar rambut mereka yang panjang, mereka biarkan mencuat keluar.

“Jika kau berbicara, kau harus membelalakkan matamu” berkata Sambi Timur sambil tersenyum.

“Sebenarnya aku segan berbuat seperti ini, Tetapi apaboleh buat, Raden Waruju memang senang berbuat aneh-aneh. Seperti dirinya sendiri yang menyamar seperti anak padesan kebanyakan dan bernama Kidang Alit”

“Tetapi penyamaran itu sangat bermanfaat baginya” desis Sambi Timur.

Bramadara tertawa, tetapi ia tidak menjawab lagi. Demikianlah keduanya dengan cara yang aneh, mendekati padukuhan Karangmaja seperti petunjuk Kidang Alit, dengan wajah yang garang dan sikap yang kasar dibuat-buat, mereka memasuki padukuhan itu.

Beberapa orang yang melihat kehadiran mereka menjadi ketakutan, mereka belum melupakan hilangnya tiga orang dari banjar, yang menurut pendengaran mereka, telah dibunuh oleh Raden Kuda Rupaka, tetapi seorang dari mereka sempat melarikan diri dan sudah barang tentu ia akan kembali dengan dendam yang membara di hati.

Kini, tiba-tiba saja hadir dua orang kasar di padukuhan mereka, yang tidak mustahil ada sangkut pautnya dengan orang-orang yang telah dibunuh itu.

Kedua orang berkuda itu sama sekali tidak menghiraukan orang-orang yang dengan tergesa-gesa masuk kedalam rumah masing-masing dan menutup pintu, yang tidak sempat, segera berlindung dibalik dinding atau pepohonan atau pepohonan yang rimbun.

Namun keduanya tidak menghiraukan mereka, keduanya langsung menuju ke rumah Ki Buyut di Karangmaja.

Kedatangan kedua orang itu benar-benar telah mengejutkan Ki Buyut, belum lagi orang-orang yang mengubur kedua mayat orang-orang asing yang berada di banjar itu melupakan kengeriannya atas mayat-mayat yang penuh noda-noda darah itu, telah datangnya dua yang tidak mereka kenal dengan sikap yang kasar pula.

“He, siapakah Buyut di Karangmaja” Sambi Timur menggeram.

Ki Buyut melangkah mendekatinya sambil menjawab, “Aku Ki Sanak, aku adalah Buyut di Karangmaja”

Ki Sambi Timur membelalakkan matanya, dan berkata lantang, “Aku akan berada di Padukuhan ini untuk waktu yang tidak tertentu”

“Ki Sanak” berkata Ki Buyut, “marilah, silahkan duduk, barangkali kita dapat berbicara sebaik-baiknya”

“Aku tidak mempunyai waktu, beri aku tempat, beri aku makan dan beri aku semua kebutuhan yang aku inginkan”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, beberapa orang anak muda ragu-ragu untuk mendekatinya, mereka masih belum melupakan, apa yang pernah terjadi atas Kasdu.

Namun dengan demikian Sambi Timur dan Bramadara menjadi agak kebingungan, menurut pesan Kidang Alit, salah seorang dari mereka harus memukul salah seorang anak muda itu sehingga pingsan, tetapi tidak ada seorang anak muda pun yang mendekat.

“Cepat Ki Buyut” Bramadara berteriak, justru karena ia ingin membuat dirinya menjadi kasar, maka ia telah bertingkah laku dengan sikap yang berlebih-lebihan.

Berteriak dan sekali-sekali mengumpat dengan kata-kata yang tidak dimengerti.

Ki Buyut menjadi bingung, namun ia tidak dapat berbuat lain, dari pada memenuhi tuntutan orang-orang itu.

“He !!, kenapa kau justru mematung..!!” bentak Sambi Timur.

“Ya…ya… Ki Sanak, kami dapat menempatkan Ki Sanak di Banjar padukuhan ini”

“Baik, aku akan berada di banjar padukuhan, aku ingin disediakan makan dan minum secukupnya, dan kebutuhan-kebutuhan yang aku minta, jika kalian tidak sanggup menyediakan, maka padukuhan ini akan aku jadikan karang abang, He…!!! kalian mendengar…?”

“Ya.. ya.. Ki Sanak”

“Kalian mendengar…!!?” teriak Sambi Timur kepada anak-anak muda yang kebetulan berada di halaman. Ia mencari alas an, untuk dapat memenuhi pesan Kidang Alit, memukul salah seorang dari mereka.

Tetapi anak-anak muda itu menjadi ketakutan dan bergeser mundur.

“Gila..!” geram Bramadara, tiba-tiba saja ia meloncat turun dari kudanya dan memanggil seorang anak muda, yang bertubuh tinggi besar dan berdada bidang. “Kemari, kau kemari”

Anak muda itu termangu-mangu sejenak, “Siapa namamu He..!”

“Sambi, tuan”

“He..!!” tiba-tiba Bramadara terbelalak lebar sekali “Kau jangan menghina kami”

Anak muda itu menjadi bingung

“Sebut namamu sekali lagi”

“Sambi, Sambi Tuan” anak muda itu menjadi gemetar.

“He, kakang Sambi Timur, anak muda ini berani menyebut namamu, ia menyebut namanya dengan namamu”

“Mata Sambi Timur menjadi memerah, dicobanya untuk menunjukkan kemarahan yang meluap-luap, katanya, “Anak gila..!, kau telah menghina aku”

Sambi Timur pun kemudian meloncat turun, ia tidak membuat alasan lain yang dapat dipergunakan memenuhi pesan Kidang Alit, adalah kebetulan sekali bahwa nama anak itu sama dengan namanya.

“Satu-satunya alasan” berkata Sambi Timur didalam hatinya, dan agaknya Bramadara pun memperhitungkan demikian pula.

Maka tiba-tiba saja Sambi Timur menyambar ikat kepala anak muda itu dan membantingnya ke tanah, “Kau berani menyebut namaku He..!, Kau harus tahu, siapa yang menyebut namaku, maka ia harus berurusan denganku”

“Tetapi namaku, namaku memang dengan demikian Tuan” anak itu menjadi semakin gemetar.

“Persetan..!!, jika demikian, maka kau berani menyebut namaku, karena itu, kita harus berperang tanding, di dunia ini, hanya ada satu nama Sambi, Sambi Timur”

Anak muda itu menjadi semakin ketakutan, katanya dengan suara terputus-putus, “Tetapi namaku tidak memakai Timur”

“Itu tidak penting, cepat, bersiaplah, kita akan berperang tanding”

“Tidak, tidak” anak muda itu menjadi semakin ketakutan”

“Pengecut” tiba-tiba Sambi Timur membentak, tangannya terayun deras sekali mengenai wajah anak muda yang bernama Sambi itu, sehingga anak muda itu pun terpelanting jatuh.

Semua mata terbelalak melihat peristiwa yang terjadi itu, tidak seorang pun dapat mencegahnya, apalagi ketika Sambi Timur kemudian berkata, “Anak itu harus mengerti bahwa tidak ada orang lain bernama Sambi di dunia ini, sekarang ia tidak akan dapat menyebut namanya lagi”

“Tuan sudah membunuhnya?” bertanya Ki Buyut.

Sambil tertawa, dicobanya tertawa keras-keras, namun kadang-kadang tertawanya justru menjadi sumbang.

Katanya, “Ia tidak mati, tetapi akan menjadi lumpuh, buta, bisu dan tuli”

“Ooo” Ki Buyut menebah dadanya, katanya, “Kasihan anak itu, ia anak baik tuan, apakah tuan tidak dapat menyuruhnya saja berganti nama?”

“Aku tidak perduli, tidak ada orang yang akan dapat mengobatinya, ia akan mengalaminya sampai tua”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, sekilas teringat olehnya dengan seorang anak muda yang bernama Kidang Alit, anak muda yang telah berhasil mengobati Kasdu sehingga kini anak muda itu sudah dapat dikatakan sembuh, meskipun belum pulih, apalagi di istana kecil itu ada seorang bangsawan muda bernama Kuda Rupaka yang juga sanggup pula mengobati seseorang yang mengalami peristiwa seperti itu.

Tetapi Ki Buyut sama sekali tidak menyebutkannya, bahkan kemudian ia berkata, “Ki Sanak, aku minta maaf jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan bagi Ki Sanak, sekarang aku persilahkan Ki Sanak pergi ke banjar, di banjar Ki Sanak akan dapat tinggal dengan tenang tanpa gangguan apapun juga”

Sambi Timur memandang Ki Buyut dengan tajamnya, lalu katanya, “Baiklah, aku akan pergi ke banjar”

“Biarlah seseorang mengantarkan Ki Sanak”

“Aku sudah tahu dimana letak banjar itu, aku akan pergi ke banjar”

Sambi Timur dan Bramadara tidak menunggu lebih lama lagi, mereka pun kemudian meloncat ke punggung kudanya dan segera meninggalkan halaman rumah Ki Buyut.

Demikian kedua orang itu hilang, maka regol halaman itu telah berdiri termangu-mangu seorang anak muda yang lain, Kidang Alit.

Semua mata pun kemudian terpancang kepada Kidang Alit, perlahan-lahan anak muda itu melangkah maju, ketika matanya menyentuh tubuh Sambi yang berbaring diam, maka ia pun dengan tergesa-gesa berlari mendekatinya, sambil berjongkok disisinya ia bertanya, “Kenapa dengan Sambi?”

Ki Buyut mendekatinya dengan pandangan sedih, sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Agaknya padukuhan ini memang sedang ditimpa oleh malapetaka, aku tidak tahu, apakah kesalahan yang pernah kami perbuat disini, sehingga rasa-rasanya sebuah kutukan yang mengerikan kini sedang berlaku”

Kidang Alit meraba tubuh Sambi, dengan wajah tegang ia berkata, “Luar biasa, suatu ilmu yang hampir tidak ada duanya dimuka bumi.”

“Ia mengalami nasib seperti Kasdu” desis Ki Buyut yang kemudian menceritakan apa yang telah terjadi atas Sambi”

“Gila” desis Kidang Alit, “Apakah persamaan nama saja sudah cukup alas an baginya untuk menyiksa anak ini seumur hidupnya, Kasdu kini nampaknya sudah mulai dapat menggerakkan segenap tubuhnya, bahkan beberapa langkah ia sudah dapat berjalan, tiba-tiba kini malapetaka yang lebih besar telah menimpa Sambi”

“Lebih besar?” bertanya Ki Buyut.

“Ya, Sambi nampaknya lebih parah dari Kasdu”

“Jadi..?”

Kidang Alit menarik nafas dalam sekali, katanya, “Bawalah kedalam, aku mencoba mengobatinya”

Anak-anak muda yang ada di halaman itu pun kemudian mengangkat tubuh yang seolah-olah menjadi kejang itu masuk kedalam dan dibaringkannya di sebelah Kasdu yang sudah dapat bangkit berdiri meskipun masih tertatih-tatih dan harus mencari pegangan. Bahkan dengan dilayani oleh seseorang, ia sudah dapat berjalan beberapa langkah, sedangkan penglihatan dan pendengarannya seolah-olah telah pulih sama sekali.

Untuk beberapa saat lamanya, Kidang Alit meraba segenap tubuh Sambi, setiap kali ia seolah-olah menemukan sesuatu dibawah kulit anak muda yang pingsan itu.

Baru beberapa saat kemudian, Kidang Alit mengambil semacam serbuk dari dalam bumbung kecil yang disimpan di kantong ikat pinggangnya, dengan beberapa tetes air, serbuk itu dicairkan, dan dituangkannya kedalam mulut Sambi”

Setelah ditunggu beberapa lama kemudian, maka Sambi pun mulai sadar, matanya terbuka dan bibirnya pun mulai bergerak-gerak.

“Air” Desisnya

Kidang Alit tersenyum, demikian juga Ki Buyut yang menungguinya dengan tegang.

“Aku berhasil Ki Buyut, ia dapat membuka matanya dan melihat kita yang berada di sekitarnya, mulutnya dapat bergerak dan menyebut sesuatu yang di kehendakinya, mudah-mudahan ia dapat segera pulih seperti Kasdu meskipun akan membutuhkan waktu yang agak lama.

“Lebih lama..?” bertanya Ki Buyut.

“Ya…, orang-orang yang datang kemudian ini memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari orang-orang yang yang telah datang lebih dahulu, orang-orang yang telah dibunuh di istana kecil itu.”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak, lalu tiba-tiba saja ia bertanya, “Kidang Alit, apakah kau tahu serba sedikit tentang peristiwa di halaman istana kecil itu?”

“Maksud Ki Buyut?”

“Apakah kau ikut campur didalam pertempuran yang telah terjadi?”

Kidang Alit mengerutkan keningnya, namun kemudian ia tertawa, “Janganlah dirisaukan, aku tidak ikut campur sama sekali, aku tidak tahu menahu”

Ki Buyut tidak mendesaknya lagi, meskipun demikian, ia masih bertanya, “Kidang Alit, apakah kau berhubungan dengan Raden Kuda Rupaka?”

“Ooo…” Kidang Alit mengangkat keningnya, “Aku tidak ada hubungan dengan bangsawan-bangsawan yang hanya dapat menyombongkan dirinya, yang menganggap kita orang-orang kecil, ini hanyalah sekedar sasaran pelepasan kekuasaannya, Ki Buyut aku memang tidak ingin berhubungan dengan bangsawan-bangsawan itu”

“Tetapi mereka bukan orang-orang yang sombong”

“Ki Buyut, sejak aku kanak-kanak, aku tidak dibiasakan untuk mengangguk hormat dalam sekali, menundukkan kepala jika berbicara, atau dengan tata cara yang menjemukan sekali”

“Tidak, tidak Kidang Alit, aku tidak pernah tidak pernah mempergunakan tata cara yang demikian terhadap Raden Rupaka, bahkan terhadap Pangeran Kuda Narpada pun tidak, atas kehendak Pangeran Kuda Narpada sendiri”

“Tetapi kita masih harus memanggilnya Raden, dan dalam terhadap perempuan yang ada di istana itu, kita harus menyebutnya Gusti dan puteri. Ah, sudahlah Ki Buyut, biarlah aku hidup dengan caraku dan Raden Kuda Rupaka hidup dengan caranya”

“Baiklah Kidang Alit, tetapi sebagai orang tua, aku lebih senang melihat anak-anak muda dapat hidup rukun, apalagi anak-anak muda seperti kau dan Raden Kuda Rupaka, yang memiliki kelebihan dari sesama” Ki Buyut berhenti sejenak, lalu, “Jika kalian dapat hidup rukun, maka kami sepadukuhan ini, akan dapat menggantungkan nasih kami kepada kalian, apalagi jika setiap kali padukuhan ini didatangi oleh orang-orang yang mengerikan seperti yang berada di banjar itu”

“Mereka tidak akan berbuat apa-apa, seperti tiga orang yang terdahulu Ki Buyut, persoalan mereka tentu ada hubungannya dengan kematian kedua orang yang baru saja dikuburkan itu, meskipun agaknya mereka bukan saudara seperguruan”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak, namun kemudian “Darimana kau tahu bahwa mereka bukannya seperguruan dengan orang-orang yang telah terbunuh itu?”

“Aku dapat melihat akibat dari tangan mereka, memang ada persamaan, tetapi ada juga bedanya”

Ki Buyut tidak mendesaknya lagi, karena ia merasa bahwa ia tidak akan dapat mengerti, apapun yang dikatakan Kidang Alit, namun yang ditanyakan justru, “Kidang Alit, jika orang itu tidak dapat berbuat apa-apa, kenapa keduanya terbunuh justru di halaman istana itu”

“Maksudku, mereka tidak berbuat apa-apa atas kita disini, persoalan mereka dengan istana itu, sama sekali bukan persoalan kita Ki Buyut”

“Ki Buyut mengangguk-angguk, ia mengerutkan keningnya, ketika ia melihat seorang yang melayani Sambi yang merasa sangat haus, setitik demi setitik air diteteskan di mulutnya, dengan susah payah ia mencoba menelan air itu.

Sambi menarik nafas dalam-dalam, ia pun kemudian menggeleng lemah, “Cukup” desisnya lambat sekali.

“Ki Buyut” berkata Kidang Alit kemudian, “Aku minta diri, biarlah anak-anak menjaga Sambi sebaik-baiknya, jika ada orang lain yang datang, biarlah keduanya masih tetap berpura-pura lumpuh, bisu dan tuli”

“Tetapi orang-orang yang menyakiti Kasdu sudah tidak ada lagi?”

“Siapa tahu, bahwa aku keliru, jika kedua orang itu adalah kawan-kawan mereka yang sudah terbunuh, maka mereka pun tentu akan membunuhnya pula”

Ki Buyut mengangguk-angguk, Ia pun kemudian berpesan seperti yang dikatakan oleh Kidang Alit itu untuk keselamatan mereka sendiri”

“Kecuali terhadap Raden Kuda Rupaka” berkata Ki Buyut” Ia tidak dapat dibohongi, ia mengerti semuanya tentang Kasdu yang barangkali juga Sambi”

Kidang Alit tersenyum, katanya, “Biar sajalah, aku kira mereka tidak akan membahayakan Kasdu, bagaimana juga aku kira bangsawan-bangsawan itu masih juga mengenal peri-kemanusiaan”

Ki Buyut mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak menjawab, “Sudahlah Ki Buyut, aku akan pergi ke sungai, sudah dua hari aku tidak mencuci pakaian”

Kidang Alit pun kemudian meninggalkan rumah Ki Buyut, dimuka regol langkahnya terhenti sejenak, namun kemudian ia pun berkata kepada diri sendiri, “Persetan jika Kuda Rupaka mengetahui permainan ini, aku tidak akan memberi kesempatan kepadanya lebih lama lagi, tetapi semuanya memang tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa agar justru tidak gagal karenanya”

Ia pun kemudian melanjutkan langkahnya, kembali ke pondoknya, mengambil beberapa helai pakaiannya, dan langsung pergi ke sungai.

Kidang Alit mempunyai kesenangan mencuci pakaiannya di sungai disaat-saat gadis-gadis Karangmaja mencuci pakaian pula.

Namun gadis-gadis itu sama sekali tidak merasa terganggu oleh kehadirannya, meskipun tidak biasa laki-laki mencuci pakaian bersama dengan mereka. Biasanya laki-laki lebih suka mandi dan mencuci di gerojogan di bawah bendungan, di siang atau di sore hari setelah mereka pulang ke sawah.

Bahkan kehadiran Kidang Alit dapat memberikan kesegaran dan kegairahan pada gadis-gadis itu. Mereka tidak segan-segannya bergurau bahkan kadang-kadang berkejar-kejaran bersama Kidang Alit, sehingga dengan demikian, mereka sering terlambat pulang.

Tidak banyak yang mengetahui perbuatan Kidang Alit itu, gadis-gadis Karangmaja tidak pernah memperbincangkan dengan orang tua mereka tentang tingkah laku anak muda itu, tetapi mereka setiap saat memperbincangkannya dengan kawan-kawan mereka. Bahkan siapa yang paling dekat dengan anak muda itu, merasa sangat bangga, seolah-olah ia adalah gadis yang paling terkemuka di Karangmaja.

Meskipun dua orang dari mereka telah kehilangan pengekangan diri, namun seolah-olah hal itu tidak pernah diingatnya lagi oleh kawan-kawannya, apalagi keduanya kemudian telah kawin seperti kebanyakan gadis-gadis dewasa dengan laki-laki yang menganggap mereka sebagai isteri yang baik tanpa cela.

Tetapi bagaimanapun juga, tingkah laku Kidang Alit itu telah membuat Ki Buyut menjadi sangat berprihatin. Tidak kurang dari kehadiran dua orang yang tinggal di banjar, seolah-olah menggantikan tiga orang yang sebelumnya berada di banjar itu pula, dan yang dua diantaranya mereka telah terbunuh sedang yang seorang berhasil melarikan diri.

Namun keprihatinan itu harus ditekannya didalam dadanya, yang semakin lama menjadi semakin penuh dengan persoalan-persoalan yang datang berurutan.

“Kapan ada cahaya terang pada padukuhan kecil ini” Setiap kali Ki Buyut berdesah, jika ia mulai berbaring di malam hari, terasa betapa kecut hatinya menghadapi masa depan padukuhannya.

Memang sekali lagi timbul dugaannya, bahwa istana kecil itulah yang agaknya telah mengundang kesulitan bagi padukuhan Karangmaja, tetapi ia mengenang kebaikan hati Pangeran Kuda Narpada dan segala macam jasa yang telah diberikan maka, ia selalu mencoba mengusir dugaan-dugaan semacam itu.

Tetapi sebenarnyalah bahwa persoalan memang berkisar pada istana kecil yang terpencil itu, kegagalan-kegagalan orang dari perguruan Guntur Geni, bukan mengurangi kekalutan bagi Karangmaja. Karena salah seorang dari mereka yang tidak terbunuh mati, berhasil menghubungi kawan-kawannya dari perguruan Guntur Geni dan menceritakan apa yang telah terjadi di istana kecil itu.

“Gila” desis salah seorang yang bertubuh jangkung, berambut putih dan berjanggut panjang dan berwarna putih pula, “Jadi di Karangmaja telah hadir murid-murid dari perguruan Cengkir Pitu dan Kumbang Kuning?”

Gagak Wereng yang hampir kehabisan darah selama di perjalanan, hampir tidak mampu lagi bergerak, hanya karena ketahanan tubuhnya yang luar biasa sajalah, maka ia masih dapat berbicara beberapa kalimat, untuk menceritakan segala peristiwa pahit yang dialaminya. Ketika ia merasa bahwa semuanya sudah diucapkannya, betapapun sulitnya untuk menggerakkan bibir, tidak dapat lagi mengucapkan kata-kata.

Gagak Wereng masih sadar, bahwa oleh dua orang saudara seperguruannya, ia diangkat mendaki sebuah bukit kecil di ujung Pegunungan Sewu, beberapa tonggak lagi, terhampar ngarai yang luas, yang sebagian masih diselimuti oleh hutan yang sangat lebat.

Orang berjanggut dan berambut putih tidak memaksanya lagi untuk berbicara, tetapi ia memberikan beberapa tetes cairan, ramuan dari air dan serbuk obat untuk menenangkan dan memberi kekuatan kepada Gagak Wereng, tanpa obat ini maka Gagak Wereng tentu sudah jatuh pingsan, dan bahkan mungkin ia akan kehilangan kemungkinan untuk dapat hidup lebih lama lagi.

Namun agaknya Gagak Wereng memang belum saatnya mati, perlahan-lahan tubuhnya merasa menjadi segar, sehingga ia mulai dapat menggerakkan seluruh tubuhnya dan bibirnya mulai dapat menyebut beberapa kata.

Ketika ia merasa sudah menjadi semakin kuat, maka ia pun mulai mencoba untuk duduk bersandar pada sebongkah batu besar di pinggir jalan setapak.

“Wereng” salah seorang temannya mulai bertanya lagi ketika ia melihat keadaan Gagak Wereng semakin baik, “Jadi jelasnya, kau dan kedua saudara seperguruanmu itu telah gagal”

“Ya, ya Kiai, kami sudah gagal, gagal sama sekali, aku tidak melihat akhir dari pertempuran di halaman itu, namun menurut perhitunganku saudara-saudaraku tidak ada harapan lagi untuk melepaskan diri dari tangan Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga”

“Raden Kuda Rupaka” desis orang berjanggut dan berambut putih itu. “Aku mendengar namanya belum lama berselang, ia adalah seorang kesatria dari Majapahit yang memiliki beberapa kelebihan, namanya cepat dikenal di Demak oleh segala golongan, karena ia mempunyai jiwa pengabdian yang tinggi, ia banyak menolong orang-orang yang memang memerlukan pertolongannya, ia tidak segan-segan berbuat apa saja untuk kepentingan orang banyak yang lemah dan tersinggung oleh rasa keadilannya”

“Agaknya benar orang itu” desis Gagak Wereng dengan suara yang lemah, “Ia adalah seorang bangsawan yang memang pilih tanding”

“Tetapi disamping Kuda Rupaka, kau harus memperhatikan pula orang yang menyebut dirinya dari perguruan Kumbang Kuning” sahut orang yang berjanggut dan berambut putih itu. “Perguruan Kuning adalah perguruan yang pernah menggetarkan tanah ini”

Gagak Wereng mengangguk-angguk, namun kemudian ia berdesis, “Tetapi kenapa mereka itu kini berkumpul di Karangmaja?” bukankah itu berarti bahwa rahasia yang tersimpan di dalamnya telah banyak diketahui oleh beberapa pihak?”

“Mungkin demikian, tetapi yang menggelisahkan kita adalah Kuda Rupaka, ia adalah keluarga Raden Kuda Narpada, sehingga ia merupakan pelindung yang paling baik” orang yang berjanggut putih itu menggeram, “Kenapa Kuda Rupaka itu hadir juga di tempat yang demikian jauhnya?”

“Kita juga datang dari jauh, kini kiai berada disini beberapa lamanya, dan meninggalkan padepokan juga karena rahasia yang tersimpan di istana itu” Sahut Gagak Wereng, “Tentu Kuda Rupaka mengetahui juga rahasia itu, dan merasa wajib untuk melindunginya”

“Apakah bukan karena Kuda Rupaka sendiri mempunyai pamrih seperti kita dan murid-murid dari perguruan Kumbang Kuning itu?”

“Kita tidak tahu dengan pasti, tetapi yang jelas, bahwa Kuda Rupaka merupakan penghalang yang paling berat, kita dapat mengesampingkan yang lain dengan kekerasan atau dengan diam-diam mendahului memasuki istana itu, tetapi Raden Kuda Rupaka ada di istana itu”

Orang berjanggut itu menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian, “Baiklah Wereng, sementara kita akan mengawasi saja jalan menuju ke istana kecil itu, bukan hanya kita yang mengalami kesulitan memasuki istana itu, tetapi juga murid-murid dari Kumbang Kuning akan menghadapi kekuatan yang mungkin tidak tertembus”

Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi Cengkir Pitu adalah perguruan yang tidak banyak berhubungan dengan para bangsawan di Majapahit, adalah agak aneh jika kau mengatakan bahwa Kuda Rupaka mempunyai ilmu dari perguruan Cengkir Pitu”

“Bukan saja ilmu dari perguruan Cengkir Pitu, tetapi menurut pengakuan mereka, Raden Kuda Rupaka mempunyai batu akik Jumerut Sisik Waja, dan kawannya yang bernama Panji Sura Wilaga mempunyai akik Naga Keling”

Orang berjanggut dan berambut putih itu berkata, “Kedua akik itu memang menunjukkan ciri dari perguruan Cengkir Pitu, hanya orang-orang terpercaya saja dari perguruan itu yang dapat benda-benda yang mendapat benda-benda yang memiliki pengaruh atas orang yang memakainya”

“Dan selebihnya Kiai, orang yang mengaku memiliki cula Kumbang Kuning bermata berlian itu mengetahui dengan pasti bahwa Kiai Sekar Pucang yang sekarang ini sama sekali bukan Kiai Sekar Pucang pendiri perguruan Guntur Geni”

“Gila, tetapi itu dapat dimengerti, menurut gelar lahiriah sebagai seorang manusia tidak akan dapat hidup sampai ratusan tahun”

“Gagak Wereng termangu-mangu sejenak, Namun ia pun bertanya dengan ragu-ragu, “Kiai, sebenarnyalah bagiku murid dari perguruan Guntur Geni sendiri, merasa selalu dihadapkan pada sebuah teka-teki, kami tidak pernah dapat mengatakan dengan pasti apakah Kiai Sekar Pucang itu masih ada atau Guntur Geni mempunyai guru yang nunggak semi bernama Sekar Pucang pula”

“Gila” desis orang yang dipanggil kiai itu, “seharusnya kau tidak bertanya demikian, kiai Sekar Pucang adalah orang yang tidak berhubungan dengan waktu, ia telah berhasil melepaskan dari peredaran masa, sehingga ia tidak terikat lagi geseran hari, bulan dan tahun.”

“Maksud Kiai”

“Kau memang dungu, Kiai Sekar Pucang tidak akan pernah mengalami masa akhir dari hidupnya karena umur, berapa ribu tahun sekalipun tidak akan merenggut nyawanya, ia akan hidup sepanjang jaman, seandainya ia hanya berhadapan dengan tahun-tahun dan bahkan abad”

“Aku tidak mengerti Kiai”

“Wereng, aku adalah murid yang terdekat saat ini, aku tidak dapat mengatakan siapakah muridnya yang terdekat seratus tahun yang lalu, karena umurku belum seratus, karena itulah maka, aku adalah orang yang paling banyak mengetahui mengenai dirinya, bukankah aku sudah pernah, dan berkali-kali memberitahukan kepadamu bahwa Kiai Sekar Pucang harus mengurung diri dalam tempat terasing dan dirahasiakan”

“Ya, ya Kiai, namun karena itulah, maka timbullah pertanyaan di hati ketika aku mendengar kata-kata orang yang menyebut dirinya murid dari perguruan Kumbang Kuning itu”

“Kau sudah terpengaruh olehnya, memang ajar Sokaniti tidak mampu melepaskan dirinya dari sentuhan waktu, sehingga pada umur delapan puluh tahun lebih sedikit, ia sudah meninggal karena sakit, He… Gagak Wereng, ternyata betapa tinggi ilmu Ajar Sokaniti, namun ia harus mengalah melawan umurnya, dan hal ini tidak akan terjadi atas Kiai Sekar Pucang.”

“Tetapi kenapa justru Kiai Sekar Pucang harus berada di tempat yang tertutup dan rahasia?”

“Gagak Wereng, setiap orang memiliki kelemahannya masing-masing, karena kau murid Guntur Geni yang sedang dicengkam oleh keragu-raguan, maka kau boleh mengerti serba sedikit, juga sebagai imbalan kesetiaanmu, meskipun hampir saja orang dari Kumbang Kuning itu merenggut nyawamu” Orang tua itu berhenti sejenak, lalu, “Dengarlah, Kiai Sekar Pucang bukannya orang yang tidak dapat mati, ia hanya dapat membebaskan diri dari perjalanan waktu, karena itu agar ia tidak terbunuh karena suatu yang terjadi pada tubuhnya, maka ia selalu mengasingkan diri, jelasnya Kiai Sekar Pucang belum berhasil memecahkan ilmu kekebalan yang sempurna, karena itu, maka bagaimanapun juga, masih ada kemungkinan untuk membunuhnya. Itulah sebabnya ia harus mengasingkan dirinya, waktunya sepenuhnya dipergunakannya antuk memecahkan ilmu kebal dengan sempurna.”

“Sudah berapa tahun Kiai Sekar Pucang itu mengasingkan diri Kiai?”

“Aku tidak ingat lagi waktu itu aku berguru pertama kali, aku asih sempat mendapat tuntunan langsung dari beliau, kemudian, perlahan-lahan ia membiarkan aku menyempurnakan ilmuku sampai pada satu tingkatan, bahwa aku berhak untuk menggantikannya, memberikan ilmu kepada adik-adik seperguruanku, kepadamu, kepada yang lain-lain, murid-murid Kiai Sekar Pucang yang belum pernah melihat wajah gurunya” Orang itu termenung sejenak, lalu, “Namun pada suatu saat, jika ilmu itu sudah dipecahkannya, kita semua akan menjadi orang-orang yang kebal, perguruan kita tentu akan menguasai seluruh tanah Majapahit yang telah jatuh itu, bahkan dengan kekuatan yang tidak terkalahkan kita akan bergerak terus ke ujung bumi”

Gagak Wereng mengangguk-angguk, meskipun masih ada berbagai keragu-raguan didalam hatinya, namun ia tidak bertanya lagi, Ia menganggap bahwa untuk sementara keterangan itulah yang paling naik baginya, dengan demikian ia masih mempunyai kiblat arah berguru, jika ia sudah kehilangan kepercayaan tentang Kiai Sekar Pucang yang belum pernah dilihatnya itu, maka ia akan kehilangan ikatan dan merasa dirinya terlepas dari sarangnya Perguruan Guntur Geni.

“Nah, kau beristirahatlah baik-baik, kita harus segera kembali ke Karangmaja. Rahasia Istana itu memang sudah diketahui oleh perguruan Kumbang Kuning, dan mungkin juga Cengkir Pitu, sehingga kedatangan Kuda Rupaka memang harus dicurigai”

“Apakah aku harus ikut kembali?”

“Kau sudah banyak mengetahui tentang Karangmaja, meskipun tubuhmu belum pulih kembali, kau harus ikut, jika kita menemui kesulitan diperjalanan, kau tidak usah ikut campur, kau akan dilindungi oleh saudara seperguruanmu”

“Baiklah Kiai, tetapi kapan kita akan berangkat ke Karangmaja?”

“Segera, yang penting adalah pengawasan itu terlebih dahulu, kita tidak langsung berada di padukuhan itu sendiri, kita akan berada beberapa ratus tonggak dari istana itu, diatas bukit kecil yang banyak terdapat di sekitar Karangmaja, tentu tanpa diketahui baik oleh Kuda Rupaka ataupun oleh orang-orang dari Kumbang Kuning”

“Kita akan tinggal di bukit itu?”

“Kita melihat perkembangan keadaan”

Gagak Wereng tidak bertanya lagi, rasa-rasanya malas sekali untuk kembali lagi ke Karangmaja, di padukuhan itu ternyata terdapat beberapa pihak yang akan saling berbenturan”

Namun Gagak Wereng tidak akan dapat ingkar, orang-orang berjanggut dan berambut putih yang bernama Kiai Paran Sanggit itu adalah wakil dari gurunya yang belum pernah dilihatnya.

Karena itu, maka ia pun mempersiapkan dirinya pula, untuk kembali ke daerah yang nampaknya sedang menjadi pusat perhatian beberapa pihak dengan maksud dan tujuan yang sama.

“Gagak Wereng, jika orang dari perguruan Kumbang Kuning berbenturan lebih dahulu dengan orang-orang dari Cengkir Pitu, maka keduanya akan menjadi lemah, kita akan datang kemudian membinasakan keduanya sama sekali, agaknya yang telah terjadi adalah suatu kesalahan, bahwa kitalah yang telah berbenturan lebih dahulu, sehingga orang Kumbang Kuning itu ingin memanfaatkan keadaan, meskipun pada mulanya, ia membantu orang-orang Cengkir Pitu”

“Agaknya memang demikian Kiai, tetapi saat itu, kami tidak mengetahui bahwa ada orang-orang dari Kumbang Kuning yang hadir di padukuhan Karangmaja dan kami pun tidak tahu bahwa kedua bangsawan itu adalah murid-murid dari Cengkir Pitu”

“Baiklah, kita harus memanfaatkan pengalaman itu, dan kita akan datang tidak hanya dengan tiga orang, tetapi enam orang seluruhnya yang berada disini harus mendekati Karangmaja, kita akan bergerak di malam hari dan memilih tempat yang jarang sekali didatangi oleh gembala-gembala dari Karangmaja dan sekitarnya. Semua bekal makanan akan kita bawa”

“Baiklah Kiai, mudah-mudahan tubuhku pun segera pulih, sehingga aku tidak hanya sekedar beban saja, tetapi setidak-tidaknya aku akan dapat melindungi diriku sendiri”

Ternyata orang-orang dari Perguruan Guntur Geni yang dipimpin langsung oleh Kiai Parang Sanggit itu tidak menyia-nyiakan waktu, yang mereka lakukan adalah tugas yang berat dan besar, karena itu, maka semua harus dilakukan dengan taruhan yang paling besar, yaitu kehadiran Kiai Paran Sanggit, yang merupakan murid terpercaya dari perguruan Guntur Geni, sedang pimpinan tertinggi yang mereka sebut dengan Kiai Sekar Pucang, sama sekali tidak pernah menampakkan diri, bahkan juga kepada murid-murid yang terpercaya.

Selagi orang-orang dari Guntur Geni mulai dengan persiapan perjalanannya menuju ke sebelah bukit di dekat istana kecil di luar padukuhan Karangmaja itu, maka jauh dari daerah pegunungan seribu, seorang pertapa sedang duduk menghadapi satu-satunya muridnya, seorang pertapa yang cacat kaki dan tangannya, sehingga secara badaniah, ia mengalami banyak kesulitan, untuk bergerak ia harus berjalan dengan tongkat, setapak demi setapak, tangan kirinya mengalami cidera, dan hampir tidak mempunyai kekuatan lagi untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

Namun demikian, dari wajahnya masih tetap memancar cahaya kebesaran jiwa dan kepribadiannya, sepasang matanya yang tajam menyimpan pertanda, bahwa banyak ilmu yang dikuasainya, ilmu kanuragan, kejiwaan bahkan ilmu kesusasteraan.

 -oo0 dw-arema 0oo-

Bersambung ke jilid 4

Sumber djvu : Koleksi Ismoyo

http://cersilindonesia.wordpress.com

Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://ebook-dewikz.com/

http://kang-zusi.info http://dewikz.byethost22.com/

diedit ulang oleh Ki Arema

kembali | lanjut

ISTANA YANG SURAM 02

ISTANA YANG SURAM

Jilid 2

Karya: SH Mintardja

kembali | lanjut

Istana Yang Suram-02KUDA RUPAKA mengangguk-angguk, perlahan-lahan ia meraba dahi Kasdu kemudian dadanya dan terakhir disusupkannya tangannya dibawah tengkuknya.

Tiba-tiba Kuda Rupaka tersenyum, katanya, “Kenapa Ki Buyut menipu aku?”

“Menipu?, Maksud Raden.?”

“Ki Buyut benar, bahwa anak ini telah terkena racun yang dapat membuatnya lumpuh, karena syarafnya langsung dilumpuhkan oleh racun itu”

“Ya… jadi kenapa Raden mengatakan aku telah menipu?”

“Tetapi anak ini tidak lumpuh, buta dan tuli… meskipun ia tidak bergerak dan tidak menunjukkan tanggapan apapun atas kedatanganku, seolah-olah ia memang tidak melihat dan tidak mendengar, namun aku mengetahui dengan pasti, bahwa sudah ada obat yang dapat menyembuhkannya”.

Dada Ki Buyut menjadi berdebar-debar, dalam beberapa hari ia harus menyaksikan beberapa macam peristiwa yang seolah-olah berada diluar jangkauan nalarnya.

Mula-mula sentuhan tangan kasar, yang membuat Kasdu menjadi kehilangan kesadaran dan kelumpuhan syarat mutlak. Kemudian ia melihat Kidang Alit berhasil mengobatinya meskipun Kasdu baru akan dapat pulih dengan perlahan-lahan dalam waktu yang cukup lama, yang dapat mengerti apa yang sebenarnya dihadapi. Kasdu sudah tidak lagi lumpuh, buta, tuli dan bisu.

Dalam kebingungannya itu Ki Buyut bertanya diluar sadarnya, “Dari mana Raden mengetahui bahwa anak itu sudah diobati?”

“Ujung jari-jariku tidak dapat dikelabui meskipun mungkin mata dan telingaku dapat, aku yakin bahwa anak ini akan sembuh dalam jangka yang pendek. Antara tiga atau empat bulan, bukankah begitu..?”

“Maaf Raden, bukan maksudku untuk menipu, tetapi aku hanya ingin berhati-hati”.

“Aku tahu, sebab jika orang yang melukai anak ini mengetahui bahwa kelumpuhan syaraf itu dapat disembuhkan, ia akan datang dan membunuhnya dengan cara lain. Mungkin anak ini akan dicekik atau langsung ditusuk jantungnya dengan belati atau keris yang mengandung warangan yang kuat, dan ditungguinya sampai ia yakin bahwa anak ini mati”

“Ya… ya Raden” Ki Buyut tergagap.

“Baiklah, aku justru bersyukur bahwa sudah ada seorang yang mengobatinya. Siapakah yang mengobati itu?”

Bab 4

“Seorang petualang yang singgah di padukuhan ini, Raden”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, kemudian bertanya, “Ki Buyut, apakah Ki Buyut mengetahui, siapakah yang sudah melukai anak ini dan yang menyembuhkannya?”

“Yang aku ketahui adalah mereka yang ada di padukuhan ini”

Kuda Rupaka menarik nafas. Katanya, “Mungkin orang yang kau ceritakan itu adalah orang yang tertentu dengan ciri-ciri tertentu, sehingga orang-orang yang ada di padukuhan ini, jelasnya tiga orang yang kasar itu adalah sebagian dari kesatuan yang jauh lebih besar lagi”

“Kami yang di padukuhan ini tidak mengetahuinya Raden”

Kuda Rupaka mengangguk-anggukan kepalanya, lalu katanya, “Ki Buyut, baiklah aku memberitahukan kepada Ki Buyut. Bukan maksudku membuat Ki Buyut bertambah kecil. Yang melukai anak muda ini tentu seorang yang datang dari perguruan yang namanya sangat dikagumi, Guntur Geni”

“Guntur Geni” Ki Buyut mengulang. Namun ia menjadi heran. Kidang Alit pernah juga menyebut sebuah perguruan, tetapi perguruan itu dipimpin oleh Kiai Sekar Pucang, yang masa mudanya tersebar semacam dongeng bahwa orang yang bernama Kiai Sekar Pucang itu tidak dapat mati, kebal dari segala macam senjata dan dapat melenyapkan diri dari tangkapan mata wadag. Tetapi kini anak muda yang bernama Raden Kuda Rupaka itu menyebut sebuah perguruan lain. Perguruan Guntur Geni.

“Apakah Ki Buyut pernah mendengarnya?” bertanya Kuda Rupaka kemudian.

Ki Buyut menggeleng dengan ragu-ragu. Jawabnya, “Belum Raden, aku belum pernah mendengar nama perguruan itu”.

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Perguruan Guntur Geni adalah perguruan yang dipimpin oleh seorang yang menyebut dirinya seperti nama seorang sakti pada masa beberapa puluh tahun yang lalu. Mungkin ia adalah muridnya yang paling dikasihi sehingga ia berhak memasuki namanya pula”.

“Siapakah nama itu?” tiba-tiba Ki buyut menjadi ingin tahu.

“Kiai Sekar Pucang”

“Ooo….” Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia baru saja menemukan sesuatu yang baru saja hilang”.

“Apakah Ki Buyut pernah mendengar nama itu?”

“Dahulu Raden. Pada masa aku masih muda, Kiai Sekar Pucang adalah orang yang sangat sakti, ia tidak dapat mati dan kebal, bahkan dapat menghilang”.

Kuda Rupaka tertawa, mirip sekali dengan saat-saat Kidang Alit tertawa, ketika ia mendengar kesaktian Kiai Sekar Pucang yang diucapkannya. Dan yang dikatakan oleh Rupaka ternyata mirip sekali pula. “Tidak seluruhnya benar Ki Buyut, Kiai Sekar ucang memang memiliki aji Lembu Sekilan. Tidak lebih. Memang jarang yang ada orang yang memiliki ilmu itu. Tetapi ada pula ilmu yang akan dapat menembus kekuatan daya tahan aji Lembu Sekilan, sehingga aji itu hampir tidak berarti sama sekali.”

Ki Buyut mengangguk-angguk, rasa-rasanya ia berhadapan sekali lagi dengan Kidang Alit. Apalagi ketika Kuda Rupaka berkata, “Tetapi sudah barang tentu bahwa Kiai Sekar Pucang pun akan mati, tidak ada orang yang tidak dapat mati”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Dalam saat-saat terakhir ia menghadapi banyak sekali teka-teki yang harus dipecahkannya, disamping kegelisahan yang memuncak karena tingkah tiga orang kasar yang sudah beberapa saat berada di padukuhannya yang kecil.

Beberapa tahun yang lalu. Ki Buyut menjadi cemas ketika Pangeran Kuda Narpada menyatakan keinginannya tinggal di padukuhan ini. Karena dengan demikian akan dapat mengundang banyak persoalan. Tetapi ternyata yang terjadi kemudian adalah kemajuan dan harapan bagi penduduk padukuhan kecil yang terpencil itu. Namun justru setelah Pangeran Kuda Narpada pergi, bahkan untuk waktu yang sudah cukup lama. Yang dahulu pernah dicemaskan itu baru datang, diikuti dengan kehadiran orang-orang yang dianggap aneh.

Karena Raden Kuda Rupaka menyebut beberapa hal yang mirip sekali dengan yang dikatakan oleh Kidang Alit, maka Ki Buyut mulai dibebani lagi oleh pertanyaan yang semakin menekan hatinya, “Siapakah sebenarnya Kidang Alit itu?”

“Ki Buyut…, berkata Raden Kuda Rupaka kemudian, “Baiklah untuk sementara aku minta diri, aku akan menghadap bibi Kuda Narpada. Mungkin kedatanganku dapat memberikan suasana yang agak baik bagi keluarganya meskipun aku tidak akan tinggal terlampau lama di istana itu”.

“Jadi Raden hanya akan tinggal sebentar di padukuhan ini?”

Kuda Rupaka tersenyum, katanya, “Aku hanya menengok keselamatan bibi, aku mempunyai tugas tertentu yang tidak dapat terlampau lama aku tinggalkan”

Ki Buyut mengangguk-angguk sejenak. Tetapi sebagai orang tua ia tidak dapat menahan hati dan berkata, “Raden…, agaknya istana kecil itu kini terancam. Kehadiran Raden adalah suatu kebetulan. Jika Raden dapat membantu Raden Ayu Kuda Narpada, maka alangkah gembiranya hati kami, penduduk padukuhan terpencil yang merasa pernah berhutang budi kepada penghuni istana itu. Pangeran Kuda Narpada telah memberikan banyak sekali kepada kami, dan kami tidak mampu untuk berbuat apapun juga.”

Kuda Rupaka tersenyum, katanya, “Baiklah, Ki Buyut, kami berdua akan berbuat sebaik-baiknya untuk kepentingan bibi”.

Namun tiba-tiba Ki Buyut bertanya, “Raden, apakah Raden tidak mengetahui, kemanakah Pangeran Kuda Narpada itu pergi?”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, dipandanginya Panji Sura Wilaga, namun orang itu tidak memberikan tanggapan apapun.

Karena itu, maka Kuda Rupaka berkata, “Pamanda Kuda Narpada pergi ke tempat yang tidak diketahui, tetapi sebaiknya kita tidak usah berbicara tentang sesuatu yang tidak aku mengerti dengan pasti. Jika aku membuat kesalahan, akibatnya mungkin akan sangat merugikan. Baik bagiku sendiri maupun bagi pamanda Kuda Narpada”.

“Tetapi Pangeran Kuda Narpada masih hidup?”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, sekilas ia berpaling memandang Panji Sura Wilaga. Namun kemudian ia berhasil menguasai perasaan dan menjawab sambil tersenyum. “Tentang pamanda Kuda Narpada, itu pun aku tidak mengetahui dengan pasti, karena itu, jangan berbicara lagi tentang pamanda Kuda Narpada”

Ki Buyut hanya dapat mengangguk-angguk, tetapi beberapa patah kata itu agaknya telah menumbuhkan harapan di dalam dadanya, bahwa Pangeran Kuda Narpada masih diliputi oleh rahasia yang tidak terpecahkan. Kemanakannya sendiri pun tidak mengetahui dengan pasti. Tetapi dengan demikian berarti bahwa belum dapat dipastikan bahwa Pangeran Kuda Narpada telah tidak ada lagi.

Meskipun demikian, Ki Buyut sama sekali tidak mendesak lagi. Ia tidak mau membuat kedua orang itu membuat kesan yang kurang baik padanya, sehingga dapat menyulitkan hubungan buat selanjutnya.

Karena itu, maka, Ki Buyut pun berkata, “Maaf Raden, aku tidak berniat memberikan pertanyaan yang kurang Raden senangi, tetapi baiklah, jika Raden ingin pergi ke istana yang menjadi semakin suram itu, aku persilahkan Raden menyelusuri jalan ini, satu-satunya jalan yang melalui depan regol istana kecil itu.” Ki Buyut berhenti sejenak, lalu. “Tetapi apakah Raden memerlukan seorang pengantar yang akan menunjukkan jalan ke istana itu?”.

“Aku sudah menempuh perjalanan yang jauh sekali, dan aku dapat menemukan padukuhan ini, karena itu, aku tidak memerlukan penunjuk jalan untuk menghabiskan sisa perjalanan yang tinggal beberapa langkah saja ini”

Ki Buyut mengangguk-angguk, lalu katanya, “Sebenarnya kami ingin menjamu Raden berdua….” ia berhenti sejenak, lalu dengan ragu-ragu ia berkata, “Mungkin dengan demikian kami dapat mengurangi kesibukan Raden Ayu di Istana kecil itu”.

Raden Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, lalu, “Jadi apakah keadaan bibi sudah terlampau sulit sekarang ini..?”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Selama ini tidak ada penghasilan apapun juga bagi Raden Ayu, sedangkan mereka harus membiayai hidup mereka sehari-hari”.

“Dan tidak ada seorang pun yang membantunya…?”

“Kami sudah berusaha, tetapi Raden Ayu Kuda Narpada tidak terlampau mudah menerima bantuan orang lain, bahkan untuk memperbaiki atap istananya pun Raden Ayu belum dapat menerimanya”.

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, lalu, “Keteranganmu mendorong aku untuk lebih cepat lagi mengunjungi bibi” ia berhenti sejenak, lalu berpaling kepada Panji Sura Wilaga, “Marilah Paman, kita segera pergi ke rumah bibi”

Demikianlah Raden Kuda Rupaka segera meninggalkan rumah Ki Buyut dan langsung menuju ke istana kecil yang terpisah beberapa tonggak dari padukuhan induk.

Di sepanjang jalan padukuhan beberapa orang dengan termangu-mangu memandang kedua orang penunggang kuda itu, sebagian dari mereka telah mengetahui bahwa keduanya telah singgah beberapa saat di rumah Ki Buyut di Karangmaja.

Sebagian dari mereka telah ditumbuhi oleh harapan, bahwa keduanya akan membuat perubahan-perubahan didalam padukuhan itu. kehadiran tiga orang kasar yang memiliki kemampuan mengerikan itu telah membuat Karangmaja serasa diselubungi oleh kecemasan dan ketakutan.

“Apakah kehadiran keduanya itu dapat merubah suasana?” bertanya seorang kepada kawannya.

Kawannya menggelengkan kepalanya, katanya, “Tidak seorang pun yang mengerti, tetapi mungkin justru sebaliknya, kedua orang itu akan mengalami nasib yang serupa dengan Kasdu.”

“Kasihan sekali, apakah dengan demikian berarti Raden Ayu Kuda Narpada yang sudah dalam kesulitan itu harus menanggung dua orang lumpuh, bisu, tuli dan buta…?”

Kawannya mengangkat bahunya, tetapi ia tidak menjawab. Dalam pada itu, kedua ekor kuda berderap terus menuju ke istana kecil itu. tidak terlampau cepat, karena keduanya tenggelam dalam pembicaraan yang bersungguh-sungguh.

“Paman” berkata Kuda Rupaka, “Ternyata di padukuhan ini tinggal beberapa orang dari perguruan Guntur Geni, itu merupakan tanda bahaya bagi kehadiran kita, meskipun kita tidak harus melarikan diri.”

“Bukan hanya dari perguruan Guntur Geni Raden, tetapi masih ada yang harus kita pertimbangkan”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, lalu, “Ya… ternyata ada orang yang mampu melawan kekuatan racun dari perguruan Guntur Geni itu, siapakah kira-kira orang itu?”

Sura Wilaga menggelengkan kepalanya, katanya, “Sulit untuk menebak, tetapi pasti orang yang memiliki kemampuan seimbang dengan perguruan Guntur Geni, dan perguruan yang demikian itu tidak banyak jumlahnya. Hanya satu atau dua saja di daerah yang luas, yang berada di kekuasaan Demak sekarang”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya, “Kita memang harus berhati-hati, rasa-rasanya padukuhan kecil ini kini telah berubah menjadi daerah jelajah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, justru karena istana kecil itu”.

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, namun ketika ia akan berbicara, tiba-tiba wajahnya menegang, ia memandang beberapa puluh langkah di hadapannya ketika ia telah berada di mulut lorong padukuhan.

Tetapi Kuda Rupaka justru tersenyum sambil berkata, “Kau juga melihatnya..?”

“Ya Raden, tiga orang yang barangkali telah disebut oleh Ki Buyut”.

Kuda Rupaka mengangguk, katanya, “Sekarang kita sudah langsung dapat bertemu, jika mereka ingin berbuat sesuatu sekarang ini, agaknya memang menyenangkan sekali, kita baru saja menempuh perjalanan yang berat, sehingga hati kita masih tegang, mungkin dengan demikian kita akan dapat melayani mereka dengan kasar seperti apa yang dapat mereka lakukan. Tetapi jika sempat beristirahat dan merenungi martabat kita, maka kita akan terlampau berhati-hati dan berbuat seperti seorang kesatria”

Panji Sura Wilaga tersenyum, katanya, “Baiklah Raden, Tiga orang dari perguruan Guntur Geni”.

Kuda Rupaka tersenyum pula, katanya, “Kau mulai menilai kemampuan kita masing-masing?”

“Ah bukankah itu wajar?”

Keduanya berjalan terus, seolah-olah mereka tidak melihat sesuatu, mereka sama sekali tidak memperhatikan tiga orang yang berkuda yang berada di lereng gumuk kecil disebelah istana kecil yang terpencil itu.

Ternyata kehadiran kedua orang itu telah mengejutkan pula ketiga orang yang sedang mengawasi istana kecil dari lereng bukit, rencana yang telah mereka susun di padukuhan terpencil itu.

“He…!, siapakah mereka” bertanya Kumbara kepada kedua kawannya.

Gagak Wereng dan Naga Pasa mengerutkan keningnya, kedatangan kedua orang itu benar-benar telah menggoncangkan setiap rencana yang telah setiap susun.

“Dua orang bangsawan” desis Naga Pasa.

“Gila… apakah mereka keluarga Pangeran Kuda Narpada?”

“Kita belum tahu pasti”

Namun tiba-tiba Gagak Wereng berkata, “Kita tidak perlu mempertimbangkan banyak persoalan, marilah kita potong perjalanan mereka yang tinggal beberapa langkah itu. kita bunuh mereka di muka gerbang istana yang sudah pudar itu”.

Kumbara mengerutkan keningnya, untuk beberapa lamanya ia merenung. Sedang Gagak Wereng mendesaknya, “Ya….kakang Kumbara, apakah kita menunggu mereka memasuki regol?”

“Membunuh keduanya tidak sulit, tetapi dengan demikian kita sudah menumbuhkan persoalan lain di padukuhan ini. Kau sangka keduanya itu berdiri sendiri?, jika pada waktunya mereka belum kembali ke istananya, maka ayahnya, pamannya, kakeknya dan prajurit-prajuritnya akan mencarinya. Tentu mereka tahu pasti bahwa anak itu pergi mengunjungi Raden Ayu Kuda Narpada”.

“Tetapi itu akan terjadi satu atau dua pekan mendatang, sementara itu, kita sudah menghilang dari padukuhan ini.”

“Kita sudah meninggalkan bekas disini, mereka akan menemukan ciri-ciri tentang kita semuanya dan segera menyusul ke padepokan dengan kekuatan yang tidak terlawan. Mungkin pasukan segelar sepapan dengan senapati-senapati pilihan dari Demak”.

“Tunggu…!” tiba-tiba yang lain memotong, “Apakah kau sudah yakin bahwa keduanya termasuk keluarga Pangeran Kuda Narpada?”

“Memang masih harus kita yakinkan, tetapi demikianlah dugaanku”.

Sejenak ketiga orang itu terdiam. Mereka memandangi saja kedua orang bangsawan yang berkuda menyusuri jalan menuju ke istana kecil itu.

“Kita yakin sekarang, mereka pasti keluarga Pangeran Kuda Narpada”.

“Dan kita yakin sekarang, bahwa kita tidak akan dapat begitu saja membunuhnya”.

Kumbara menggeram, katanya, “Jadi, apakah semua rencana kita harus batal?”

“Tidak, tidak harus batal, kita akan mencari jalan yang paling baik untuk dapat untuk dapat melaksanakan semua rencana itu”

“Tidak ada jalan lain kecuali dengan membunuh kedua orang itu”.

“Mungkin, tetapi sudah barang tentu dalam waktu yang tepat. Atau barangkali mereka tidak akan terlalu lama tinggal di istana itu.”

“Baiklah, kita menunggu dua hari lagi, Jika dalam waktu dua hari ini keduanya tidak meninggalkan istana itu, kita harus segera bertindak. Tidak ada kesempatan yang akan terbuka kelak, jika tidak sekarang.”

Kedua orang yang lain mengangguk-angguk. Sambil memandang kedua orang yang berkuda. Dengan acuh tidak acuh terhadap mereka bertiga itu. Naga Pasa berdesis, “Mereka amat sombong, aku sebenarnya ingin membunuhnya sekarang”

“Mungkin mereka belum tahu, siapakah kita. Jika mereka besok atau lusa mendengar tentang anak Karangmaja yang lumpuh, buta dan tuli itu, tentu keduanya akan memperhitungkan kehadiran kita disini” Jawab Kumbara.

Kawan-kawannya tidak menjawab lagi. Mereka memandang saja kedua orang yang semakin lama semakin dekat dengan pintu gerbang istana kecil itu.

Dalam pada itu, Raden Kuda Rupaka pun sekali-kali memandang ketiga orang itu dengan matanya, tetapi ia memang dengan sengaja memberikan kesan bahwa ia tidak mengacuhkan kehadiran ketiga orang di lereng bukit kecil itu.

“Kita langsung masuk kehalaman istana itu paman?” bertanya Raden Kuda Rupaka.

Sura Wilaga termangu-mangu sejenak, namun kemudian, “Memang sebaiknya demikian Raden, mungkin kedatangan Raden akan sangat mengejutkan. Tetapi Raden akan segera dapat memberikan penjelasan dan tentu Raden Ayu Kuda Narpada akan senang sekali menerima Raden di Istananya yang sudah menjadi suram itu.”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya, “Aku sependapat paman, mungkin aku akan mengejutkan bibi, tetapi kemudian bibi tentu akan sangat senang menerima kedatanganku” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bagaimana jika bibi nanti bertanya tentang pamanda Pangeran Kuda Narpada?”

Panji Sura Wilaga termangu-mangu sejenak, “Namun kemudian katanya, “Raden jangan membuat Raden Ayu menjadi semakin muram, sebaiknya Raden mengatakan saja, bahwa Raden tidak mengetahui sama sekali masalah pamanda Raden itu”.

“Bibi tentu tidak akan percaya…”

“Raden katakan saja bahwa Raden memang mendengar bahwa pamanda telah pergi bersama kedua orang pangeran yang lain”

“Ya…, Pamanda Pangeran Cemara Kuning dan Pamanda Pangeran Sendang Prapat”

“Seterusnya Raden tidak mengetahui apa yang terjadi dengan kedua Pamanda Raden itu”.

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, ketika ia memandang tiga orang yang berada di lereng bukit itu, dilihatnya ketiganya sedang meninggalkan tempatnya.

“Kita memang harus berhati-hati Raden” berkata Panji Sura Wilaga.

“Aku mengerti Paman, mereka bukan orang-orang yang dapat diabaikan, namun percayalah, mereka tidak akan dapat berbuat banyak atas kita, kita bukan sebangsa anak Karangmaja yang menjadi lumpuh, bisu, buta dan tuli, untunglah ada seseorang yang dapat mengobatinya. Seseorang yang harus masuk dalam hitungan kita.”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, tetapi ia tidak menyahut. Sementara itu mereka berdua semakin dekat dengan regol halaman yang mulai nampak gersang meskipun masih tetap bersih.

“Kita berhenti di depan regol” berkata Kuda Rupaka.

“Kenapa..??”

“Kita menunggu seseorang yang akan keluar dari regol itu”

“Tidak akan ada orang yang keluar dari regol. Kitalah yang harus masuk dengan hati-hati, agar jangan membuat penghuninya ketakutan”.

Raden Kuda Rupaka setuju, Karena itu, maka ketika mereka berada di depan regol, keduanya segera meloncat turun. Dengan hati-hati Panji Sura Wilaga membuka pintu regol itu dari luar perlahan-lahan.

“Diselarak Raden” desisnya

“Kau dapat membukanya?”

“Akan aku coba…”

Raden Kuda Rupaka menunggu sejenak, Panji Sura Wilaga dengan susah payah berhasil juga membuka selarak regol dari luar dengan menyusupkan tangannya disela-sela daun pintu yang sudah renggang.

“Marilah Paman” ajak Kuda Rupaka.

Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia pun kemudian menutup pintu regol kembali, sebelum mereka kemudian melangkah menuju tangga pendapa.

“Sepi sekali…” desis Kuda Rupaka.

“Ya… sepi sekali” sahut Panji Sura Wilaga

Untuk beberapa saat mereka berdiri termangu-mangu di pendapa, pintu pringgitan pun ternyata tertutup pula, sedangkan pintu samping sebelah menyebelah pun masih juga tertutup.

Dengan ragu-ragu Raden Kuda Rupaka mengucapkan salam perlahan-lahan. Namun semakin lama semakin keras. Tetapi tidak seorang pun yang membuka pintu pringgitan di belakang pendapa itu.

“Apakah kita akan masuk ke halaman samping atau ke longkangan gandok?”

“Apakah kiranya tidak akan mengejutkan sekali?” bertanya Panji Sura Wilaga.

“Itulah, jangan-jangan bibi menjadi pingsan.”

“Tetapi bagaimanakah jika kedatangan kita tidak diketahui oleh Raden Ayu..?, mungkin sehari penuh kita harus berdiri disini sampai seseorang keluar dengan membawa sapu lidi untuk membersihkan halaman”.

“Baiklah” berkata Raden Kuda Rupaka, “Pegang kendali kudaku, aku akan masuk lewat ke longkangan, mudah-mudahan pintu samping itu tidak diselarak pula”.

Panji Sura Wilaga pun kemudian menerima kendali kuda Raden Kuda Rupaka yang dengan ragu-ragu pergi ke pintu disisi kanan halaman istana itu. Perlahan-lahan ia mendorong pintu yang tertutup itu, ternyata pintu itu tidak diselarak, sehingga perlahan-lahan pula pintu itu terbuka.

Agar kedatangannya tidak mengejutkan sekali, maka Kuda Rupaka sekali lagi mengucapkan salam, namun tidak seorang pun yang menyahutnya. Beberapa titik keringat telah membasahi punggungnya, tetapi Kuda Rupaka terpaksa tersenyum sendiri, rasa-rasanya ia memasuki suatu tempat yang sangat mendebarkan jantungnya.

Beberapa langkah ia pun kemudian memasuki longkangan, dilihatnya longkangan dan gandok sebelah kanan pun sepinya bukan main, seolah-olah ia berada di dalam istana yang sudah bertahun-tahun kosong sama sekali.

Namun telinganya yang tajam itu pun kemudian mendengar suara seseorang di belakang, bahkan kemudian ia mendengar isak tangis. Wajahnya tiba-tiba menjadi tegang, untunglah bahwa ia masih dapat menahan diri, ketika kakinya hampir saja meloncat berlari kebelakang.

Sambil menahan hati, Kuda Rupaka berjalan dengan hati-hati menuju ke tempat suara tangis itu. Tetapi langkahnya terhenti ketika ia mendengar langkah didalam istana, dekat sekali dari tempatnya berdiri.

Karena itu, agar ia tidak mengejutkan orang-orang yang ada dibelakang, sekali lagi ia mengucapkan salam. Ternyata suaranya kali ini dapat didengar oleh penghuni istana itu, dari dalam ia mendengar suara seorang perempuan.

“Siapa diluar….?.

“Aku…… Kuda Rupaka”

“Kuda Rupaka…?, Aku belum pernah mendengar nama itu…”

“Aku ingin menghadap bibi Kuda Narpada….”

Sejenak tidak mendengar suara apapun. Agaknya perempuan yang menyahut tadi masih ragu-ragu, namun kemudian terdengar pintu berderit, perlahan-lahan daun pintu butulan itu pun terbuka.

Ketika sebuah wajah nampak dari balik daun pintu, dada Kuda Rupaka terguncang, wajah itu adalah wajah seorang gadis yang sangat cantik, Inten Prawesti.

Sejenak kemudian bagaikan membeku, Inten Prawesti pun terkejut melihat anak muda dalam pakaian kebangsawanannya berdiri di longkangan.

Ternyata Kuda Rupaka segera berhasil menguasainya, karena itu, maka ia pun segera bertanya. “Apakah aku berhadapan dengan diajeng Inten Prawesti..?”

“Ya,,, aku Inten Prawesti” jawab gadis itu terbata-bata.

“Aku adalah Kuda Rupaka, aku ingin menghadap bibi, apakah bibi ada di istana ini..?”

Ternyata hati Inten yang tergoncang, masih belum dapat ditenangkan, karena itu, maka dengan gelisah ia menerima tamunya yang rasa-rasanya belum pernah dilihatnya. Ia tidak sempat mempersilahkannya masuk ke dalam tetapi dengan tergesa-gesa ia berlari kebelakang mendapatkan ibundanya.

“Ibunda” desisnya, “Ada tamu di longkangan”

“Tamu…?” Ibunya menjadi heran, sudah lama ia tidak pernah mendengar sebutan itu…TAMU.

“Apakah benar kita menerima tamu…?” bertanya ibundanya pula.

“Ya…, tamu yang agak lain”

Ibundanya menjadi ragu-ragu, sejenak dipandangnya Nyi Upih yang sedang menangis, tiba-tiba tangisnya terhenti.

“Nyi…” berkata Raden Ayu Kuda Narpada, “Jangan menangis lagi, kita akan menerima tamu, biarlah anak-anakmu ini berbaring tenang lebih dahulu. Agaknya mereka tidak apa-apa, hanya karena lelah amat sangat, mungkin lapar dan haus, biarlah mereka beristirahat”

“Ya gusti, aku mengucapkan terima kasih tiada terhingga jika Gusti mengijinkan kedua anak-anakku yang menyusul aku ini tinggal disini bersamaku.”

“Ah, kenapa aku keberatan…? Aku senang sekali mendapat kawan di istanaku yang sepi dan terpencil ini”

Nyi Upih mengusap matanya.

”Kita mengucap sukur kepada Yang Maha Agung karena kedua anak-anakmu telah selamat sempai kepadamu meskipun wajahnya menjadi merah biru dan kakinya luka-luka”

Setitik air mata telah mengembun lagi di mata Nyi Upih, katanya, “bertahun-tahun mereka mencari aku, rasa-rasanya mereka sudah menjadi orang yang paling hina. Tidak lebih baik dari pengemis di sepanjang jalan kota raja, pakaian compang-camping, tubuh yang rusak.”

“Tetapi mereka selamat”

Nyi Upih mengangguk-angguk, sementara Inten Prawesti menggamit ibundanya sambil berbisik, “Tamu itu masih berdiri di longkangan”

Sebenarnyalah Kuda Rupaka masih berdiri di longkangan, Ia justru menjadi gelisah, kenapa Inten itu juga belum juga mempersilahkan masuk atau naik ke pendapa.

Namun sejenak kemudian muncullah seorang perempuan yang lain, seorang yang sudah melampui pertengahan umurnya.

Demikian perempuan itu muncul dimuka pintu, maka Kuda Rupaka pun segera meloncat maju, dengan serta merta ia berjongkok sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Bibi, baktiku bagi bibi Kuda Narpada”

“Anak muda” berkata Raden Ayu, “Siapakah sebenarnya kau ini?, aku belum pernah melihatmu dan aku belum pernah mengenalmu”

“Ampun bibi, mungkin bibi belum pernah mengenal aku, atau barangkali bibi sudah melupakan aku, aku adalah Kuda Rupaka, Putera Ayahanda Pangeran Lingga Watang”

“Putera Pangeran Linggar Watang?, jadi kau putera Kamas Linggar Watang?”

“Ya, bibi”

Raden Ayu Kuda Narpada mengusap kepala anak muda itu, setitik air mata nampak di pelupuknya, namun Raden Ayu Kuda Narpada tidak menangis.

“Inten” panggil Raden Ayu Kuda Narpada, “Kemarilah, ini adalah saudara sepupumu Kuda Rupaka, putera pamanmu Pangeran Lingga Watang” lalu, “Marilah Kuda Rupaka, masuklah, apakah kau datang seorang diri?”

“Tidak bibi, aku datang bersama paman Panji Sura Wilaga”

“Ooo…” tetapi keningnya berkerut, “Aku belum pernah mendengar nama itu!”

“Mungkin belum bibi, paman Panji Sura Wilaga adalah salah seorang perwira dari Demak”

“Ooo…” Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk-angguk, “Dimana Panji Sura Wilaga sekarang?”

“Di depan bibi, di tangga pendapa”

“Marilah, kalian harus kami terima dengan penuh kehormatan, sudah terlalu lama kami hidup terpencil dari sanak kadang”.

Demikianlah maka Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga itu pun kemudian diterima dengan segala senang hati, Nyi Upih pun kemudian sibuk mempersiapkan hidangan bagi kedua tamu tuannya itu. sementara Inten Prawesti mondar-mandir menghidangkan hidangan ke pendapa.

“Apakah tamunya masih muda puteri?” bertanya Nyi Upih.

“Yang seorang Nyai, yang seorang sudah separuh baya, yang seorang adalah putera pamanda Pangeran Linggar Watang, sedangkan yang seorang adalah pengiringnya, seorang senopati dari Demak. Apakah kau belum pernah mengenalnya?”

“Yang sudah aku kenal adalah Pangeran Linggar Watang itu sendiri dahulu, tetapi aku belum pernah melihat orang yang bernama Pangeran Sura Wilaga”

“Bukan Pangeran Nyai”

“Ooo…” Nyi Upih mengangguk-angguk, tentu seorang anak muda yang tampan”

“Ah, darimana kau tahu?”

“Pangeran Linggar Watang adalah seorang Pangeran yang tampan, gagah tinggi dan tegap, sedang Raden Ayu adalah seorang perempuan yang sangat cantik, juga bertubuh tinggi semampai. nah, apakah puteranya tidak akan menjadi seorang yang gagah, bertubuh tinggi dan berdada bidang, sedang wajahnya adalah wajah yang cerah dan tampan?”

“Tetapi Kuda Rupaka tidak begitu tinggi”

“Namun anak-anak muda masih akan berkembang, tentu Raden Kuda Rupaka akan bertambah tinggi dan tegap”

Inten Prawesti tersenyum, tetapi ia tidak menyahut, bahkan tiba-tiba saja ia bertanya, “Bagaimana dengan anak-anakmu Nyai?”

“Mereka sedang berbaring didalam bilik puteri”

“Apakah mereka sudah tenang?”

“Ya puteri, tetapi anak perempuan itu agaknya masih selalu gelisah”

“Nyai” tiba-tiba Inten bertanya sambil meletakkan nampan, “Kenapa aku belum pernah melihat anak-anakmu dahulu?, apakah anak-anakmu tidak pernah menengokmu saat kau bersama kami di Majapahit?”

“Nyi Upih tersenyum, katanya, “Sebuah ceritera yang memalukan sekali puteri”

“Cerita yang mana yang kau maksud?”

“Ah sudahlah”

“Ceritakan, bukankah sudah lama kita meninggalkan Majapahit, dan agaknya kita tidak akan kembali lagi?”

“Ah…” Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam sambil menyiapkan makan bagi tamu-tamunya, “Puteri, sebaiknya aku menyelesaikan tugasku ini dahulu, bukankah tamu itu akan segera dipersilahkan makan”

“Kau dapat menanak nasi sambil berceritera”

“Sebaiknya puteri ikut menemui tamu itu”

Inten menggeleng sambil tersenyum, katanya, “Aku malu Nyai”

“Ah, bukankah tamunya adalah saudara sendiri?”

“Tetapi aku malu” wajah Inten menjadi kemerah-merahan, “Sekarang ceritakan saja tentang anak-anak Nyai itu”

“Apakah menarik?”

“Tentu, mereka akan menjadi kawan-kawanku bermain”

“Puteri, dahulu aku ditinggalkan oleh suamiku, aku dicerai olehnya, anak-anakku itu dibawanya, dan diserahkannya kepada seorang ibu tiri. Demikianlah berlangsung lama, sehingga akhirnya suamiku itu meninggal. Anak-anakku tidak kerasan tinggal bersama ibu tirinya, mereka mencari aku ke kota, tetapi Majapahit sudah menjadi karang abang, dari beberapa orang mereka mendengar perjalanan Pangeran Kuda Narpada, karena itulah maka mereka menyusul perjalanan kita”

“Tetapi mereka terlambat bertahun-tahun”

“Tetapi Yang Maha Agung masih ingin mempertemukan anak dengan orang tuanya. Barangkali mereka menganggap lebih baik tinggal dengan ibu sendiri, betapapun sulitnya untuk mencari, dari pada dengan ibu tiri”

“Tentu, tentu Nyai, Eee.. Siapakah nama mereka? Aku belum sepat bertanya karena nampaknya mereka manjadi sangat letih dan anak perempuanmu itu hampir pingsan”

“Aku menemukan mereka di pinggir jalan ketika aku mencari sayuran ke padukuhan, aku hampir tidak mengenal mereka lagi” tiba-tiba mata Nyai Upih menjadi basah.

Inten tidak mendesaknya lagi, Ia tidak mau mengganggu perasaan Nyi Upih yang sudah hampir menjadi tenang kembali, apalagi ia harus menyiapkan makan bagi tamu-tamunya yang tentu juga lelah dan lapar.

Karena itu, Inten pun kemudian meninggalkan Nyi Upih yang mengisi waktunya dengan kesibukan di dapur, agar hatinya tidak selalu dipengaruhi oleh perasaan pedih melihat keadaan anak-anaknya.

Tetapi Inten pun menjadi gelisah, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan, dari celah-celah pintu pringgitan yang terbuka, ia melihat kedua tamunya duduk bersama ibunya, sekali-kali ia melihat kedua tamu itu mengangguk-angguk, agaknya ibunya menceritakan berbagai kesulitan hidup yang dialaminya.

Namun demikian Inten tidak mau ikut menemui karena perasaan malu seorang gadis. Meskipun tamu itu adalah saudara sepupunya, tetapi sudah terlampau lama Inten Prawesti tidak bergaul dengan seseorang diluar lingkungannya. Apalagi anak-anak muda.

Tiba-tiba saja Inten Prawesti yang termangu-mangu itu teringat kepada suara seruling dikejauhan, sudah agak lama ia tidak mendengar suara seruling yang sering didengarnya dekat dengan istananya. Tetapi sejak ia seolah-olah mengasingkan diri didalam istananya, suara seruling itu pun tidak pernah didengarnya lagi.

“Aku memang tidak ingin melihat anak itu lagi” desisnya. “Ternyata anak muda itu bertabiat buruk, Ia mengambil seorang gadis, yang kemudian diberikannya kepada orang lain”.

Dalam kegelisahan, dan ketidak tentuan apa yang harus dilakukannya, Inten Prawesti pun kemudian memasuki bilik Nyai Upih. Hampir diluar sadarnya ia mendekati kedua anak Nyi Upih yang berbaring dengan letihnya.

Melihat kedatangan Inten Prawesti anak laki-laki Nyi Upih itu pun segera bangkit, meskipun kemudian ia harus menyeringai. Tetapi adiknya ternyata tidak beranjak dari tempatnya. Punggungnya rasa-rasanya hampir patah setelah berjalan untuk waktu yang sangat lama menyusuri daerah selatan sampai ke daerah Gunung Sewu.

“Berbaring sajalah” berkata Inten Prawesti, “Kau tentu sangat letih”

“Maaf puteri, adikku memang sangat letih”

“Biarlah ia berbaring, “ berkata Inten ketika melihat gadis itu akan bangkit, “Jangan bangkit”

“Ampun puteri”

“Jangan segan, tetap berbaringlah”

Gadis itu pun kemudian meletakkan kepalanya kembali diatas tikar.

“Oo.. Kakimu berdarah” berkata Inten Prawesti.

“Sedikit puteri” jawab gadis itu.

Inten Prawesti pun kemudian duduk diatas pembaringan Nyi Upih, sedang kedua anak-anak itu berbaring diatas tikar di lantai.

“Siapa namamu?” bertanya Inten Prawesti.

“Sangkan puteri, sedangkan adikku bernama Pinten”

“Oo.., nama yang baik, Sangkan dan Pinten, “Inten mengangguk-angguk, “Jadi selama ini kau berjalan dari kota raja sampai ke lereng pegunungan ini?”

“Ya puteri, perjalanan kami berdua rasa-rasanya tidak akan berakhir, Tetapi kami bertekad menyelusuri jalan yang pernah dilalui oleh para bangsawan yang menyingkir dari kota raja, akhirnya Yang Maha Agung mempertemukan aku dengan biyung”

“Kau berjalan setiap hari?”

“Tidak puteri. Kami berdua pernah berhenti di suatu tempati untuk waktu yang agak lama. Kami menghambakan diri pada seorang pedagang yang baik. Tetapi ternyata keinginan kami untuk bertemu dengan biyung sangat mendesak”

“Dan kalian berjalan lagi menempuh jarak yang sangat panjang?”

“Sepanjang yang pernah ditempuh oleh puteri. Tetapi agaknya keadaan adikku jauh lebih buruk, dari keadaan puteri pada saat puteri sampai ke tempat ini”

“Tentu, di beberapa kesempatan aku masih sempat naik tandu, sampai pada suatu saat ayah terpisah dari seluruh pengikutnya atas kehendak ayah sendiri”

Sangkan mengangguk-angguk, wajahnya yang kemerah-merahan dibakar oleh terik matahari nampak keras dan kasar.

Untuk beberapa lamanya Inten Prawesti berada didalam bilik itu. Dengan perasaan iba ia melihat anak-anak Nyi Upih yang sangat letih, apalagi Pinten.

Namun Inten merasa senang atas kehadiran gadis itu, karena dengan demikian ia akan mendapat kawan yang sebaya, meskipun agaknya Pinten masih agak lebih muda sedikit daripadanya.

Tetapi selagi Inten Prawesti sedang mengamat-amati kaki Pinten yang luka dan berdarah, tiba-tiba Nyi Upih memasuki biliknya sambil berkata, “Puteri…, Ibunda memanggil”

“Ada apa Nyai..?”

“Aku tidak tahu, tetapi agaknya ibunda minta puteri ikut menemui tamu itu, bukankah kedua tamu itu masih ada hubungan keluarga dengan puteri?”

“Yang seorang, Kakangmas Kuda Rupaka, yang lain itu tentu bukan”.

Nyi Upih mengangguk-angguk, katanya kemudian, “Silahkanlah, ibunda menunggu, aku baru saja menghidangkan sirih”

Inten Prawesti termangu-mangu, namun ia berkata, “Tidak Nyai, aku disini saja, bersama anak-anakmu, aku malu”

“Ah, tentu tidak baik, marilah” Nyi Upih pun kemudian menarik tangan Inten Prawesti, “Marilah puteri sebentar lagi puteri juga harus menghidangkan makan dengan lauk seadanya, aku sudah menangkap seekor ayam. Sangkan tadi yang menyembelihnya. Meskipun ia masih lelah, tetapi ia masih mampu menyembelih ayam”

Inten Prawesti masih tetap bertahan, tetapi akhirnya ia berdiri juga dan melangkah keluar digandeng oleh Nyi Upih.

Sepeninggal Inten Prawesti, Sangkan menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian membaringkan dirinya lagi diatas tikar disisi adiknya yang terbaring memandang langit-langit yang bernoda disana-sini oleh titik air hujan yang menyusup disela-sela atap rumah.

Dalam pada itu, akhirnya Nyi Upih berhasil memaksa Inten untuk pergi ke pendapa, demikian ia muncul di pintu maka ibundanya segera memanggil, “Kemarilah Inten, ini adalah kakakmu sendiri”

Dengan kepala tunduk, Inten pun kemudian duduk disisi ibunya agak kebelakang. Seolah-olah ia berhadapan dengan jejaka yang hendak melamarnya.

“Diajeng tentu belum mengenal aku” berkata Raden Kuda Rupaka.

Inten tidak menyahut, justru kepalanya menjadi semakin tunduk.

“Ia seorang pemalu” berkata ibundanya.

“Wajar bagi seorang gadis” sahut Panji Sura Wilaga.

“Kau harus mengucapkan selamat datang Inten” berkata Ibundanya, “Kakakmu akan berada di istana ini barang dua tiga hari, memang menyenangkan sekali. Aku berharap mereka berdua akan lebih lama lagi berada disini”.

Inten Prawesti tidak menyahut, tetapi dadanya menjadi semakin bergejolak. Ada perasaan aneh didalam dirinya karena ia mendengar keterangan ibunya, bahwa kedua orang itu akan berada di istananya untuk dua tiga hari. Dalam dua tiga hari itu ia akan berhubungan dengan anak muda yang sebelumnya belum pernah dikenalnya meskipun ia masih saudara sepupunya. Ada semacam perasaan malu, tetapi juga kegembiraan yang tersembunyi.

Namun tiba-tiba saja ia berkata kepada diri sendiri, “Aku lebih senang bermain bersama Pinten daripada Kakangmas Kuda Rupaka, aku tentu akan menjadi canggung dan bingung. Kakangmas Kuda Rupaka tentu sering berkawan dengan gadis-gadis cantik di kota. Mungkin juga saudara-saudara sepupu yang lain yang selama ini berada di Demak.

Ada semacam kekecewaan yang merambat di hatinya, bahwa ayahandanya dahulu tidak membawanya ke kota, dan untuk waktu yang lama tinggal di padukuhan terpencil. Dengan demikian, maka ia seolah-olah telah terpisah dari pergaulan keluarga dan sanak kadangnya.

“Kini aku tidak lebih seorang gadis pedesaan, “Berkata Inten Prawesti didalam hatinya, “Aku tidak pantas bermain bersama orang-orang yang datang dari pusat pemerintahan, aku tentu tidak secantik gadis-gadis di kota, mungkin mereka tentu lebih pandai menghias diri dan menyesuaikan dengan kehidupan kota raja”.

Inten Prawesti terkejut ketika tiba-tiba saja ibundanya berkata, “Inten, bersihkanlah bilik ayahandamu, biarlah anakmas Kuda Rupaka mempergunakan bilik itu”

Inten Prawesti termangu-mangu sejenak, selama ini bilik itu tidak dipergunakan oleh ibundanya, sehingga ia tidak segera memahami kata-kata ibundanya.

Ibundanya seolah-olah dapat mengerti keragu-raguan di hati puterinya, sehingga ia pun berkata, “Kosongkan bilik itu, aku akan berada didalam bilikmu”

“Aku…??” diluar sadarnya Inten Prawesti bertanya.

“Kita berdua”

Inten tidak menjawab lagi, ia pun segera berdiri meninggalkan tempat yang rasa-rasanya menjadi semakin panas itu.

Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, ia tidak mengerti maksud yang sebenarnya dari bibinya. Apakah itu suatu penghormatan baginya atau karena bibinya terlampau berhati-hati. Kehadiran seorang anak muda di rumah itu, tentu akan dapat menumbuhkan persoalan meskipun ia adalah sepupu Inten Prawesti, sehingga dengan demikian, maka bibinya harus tidur bersama anak gadisnya itu. Anak gadisnya yang sangat cantik dalam kesederhanaan.

“Apalagi jika ia berhias seperti gadis-gadis kota raja,” tiba-tiba saja Kuda Rupaka berdesis didalam hatinya.

Sementara Inten Prawesti membersihkan bilik ayahandanya, maka dibelakang, Nyi Upih telah mempersiapkan jamuan makan, meskipun hanya apa adanya, tetapi Nyi Upih memang pandai memasak sehingga jamuannya merupakan jamuan yang pantas bagi kedua tamunya.

Dalam pada itu, selagi istana kecil itu sedang sibuk menjamu dua orang tamu, maka dengan tergesa-gesa Kidang Alit pergi ke rumah Ki Buyut.

Ki Buyut melihat kedatangan Kidang Alit, segera menyongsongnya sambil berkata, “Kidang Alit, apakah kau sudah mendengar kehadiran dua orang bangsawan di padukuhan kita?”

“Ya, aku mendengar Ki Buyut, karena itu, aku tergesa-gesa datang kemari” jawab Kidang Alit, lalu, “Apakah keduanya singgah disini?”

“Ya…”

“Dan mereka melihat Kasdu?”

“Ya, mereka ingin melihat anak itu”

“Apakah Kasdu tetap diam, seolah-olah ia lumpuh, bisu buta dan tuli?”

“Ya, tetapi ternyata ia tidak berhasil”

“Maksud Ki Buyut?”

“Kasdu tidak berhasil mengelabui kedua orang itu”

“Kenapa Ki Buyut?”

Ki Buyut pun menceritakan bahwa seorang dari keduanya, justru yang muda, telah meraba tubuh Kasdu. Dengan jari-jarinya ia berhasil mengetahui keadaan Kasdu yang sebenarnya, bahwa ia telah tidak lagi lumpuh, buta dan tuli.

Kidang Alit menjadi tegang, sejenak ia memandang wajah Ki Buyut Karangmaja, namun ia menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Kita mendapat tamu orang-orang yang luar biasa Ki Buyut”

Ki Buyut tidak segera menyahut.

“Hanya orang-orang yang luar biasa sajalah yang dapat berbuat demikian, dengan demikian maka padukuhan ini telah didatangi lima orang yang luar biasa, pertama adalah tiga orang yang memiliki tangan beracun itu. kemudian dua orang bangsawan saudara Pangeran Kuda Narpada”.

“Aku dapat mengerti, bahwa tiga orang-orang kasar itu berbahaya bagi padukuhan kita, tetapi apa salahnya dua orang bangsawan itu?, bukankah dengan demikian keluarga yang tinggal di istana kecil itu akan mendapat perlindungan”

“Kidang Alit mengangguk-angguk, katanya, “Ya mudah-mudahan demikianlah hendaknya”

“Kau curiga?”

“Ki Buyut” berkata Kidang Alit, “Dalam keadaan tidak menentu ini kita memang dapat saling mencurigai, untunglah bahwa ketiga orang-orang kasar itu belum tahu, bahwa sebenarnya, Kasdu sudah dapat diselamatkan dari racun yang berbahaya itu”

“Mereka tidak akan mengetahuinya”

“Mudah-mudahan kedua orang bangsawan itu tidak menceritakan kepada siapapun keadaan Kasdu yang sebenarnya”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil bergumam, “Ya, mudah-mudahan. Aku tidak tahu bahwa ia memiliki ketajaman penglihatan sehingga ia dapat mengetahui bahwa Kasdu sudah dibebaskan dari cengkeraman racun itu”

Kidang Alit pun mengangguk-angguk, lalu, “Apakah aku dapat melihat Kasdu?”

“Lihatlah” jawab Ki Buyut sambil melangkah diiringi oleh Kidang Alit.

Ketika mereka berada disisi pembaringan Kasdu, nampaknya Kasdu memang sudah menjadi semakin baik.

“Sayang sekali Kasdu” berkata Kidang Alit, “Ada orang yang mengetahui bahwa kau sudah bebas dari racun itu, aku berharap bahwa hal itu tidak didengar oleh orang-orang yang telah meracunimu dengan jari-jari itu”.

Wajah Kasdu yang sudah menjadi semakin merah itu, nampak manjadi pucat, dengan terbata-bata ia berkata, “Aku menjadi takut sekali”

“Maaf Kidang Alit, “ berkata Ki Buyut, “Aku tidak sengaja telah membuat suatu keputusan yang besar”.

“Sudahlah Ki Buyut, semuanya masih tergantung kepada sifat dan watak kedua bangsawan itu. Jika mereka menyadari bahwa yang dapat mengancam Kasdu, sudah tentu mereka aka tetap diam”

“Aku kira demikian Kidang Alit, yang muda diantara mereka pun, bahwa anak muda yang sakit itu memang sangat gawat. bukan saja karena sakitnya, tetapi jika orang-orang yang telah melukainya itu mengerti bahwa anak itu sudah tawar, maka ia akan dibunuhnya secara langsung oleh ketiga orang itu”

Ki Buyut mengangguk-angguk, tetapi ia tidak dapat mengusir kegelisahannya. Kidang Alit pun kemudian dengan tergesa-gesa minta diri, ia tidak mengatakan kepada Ki Buyut, kemanakah ia akan pergi.

Tetapi ternyata bahwa Kidang Alit telah pergi ke lereng bukit yang menghadap ke istana kecil itu. Ia masih sempat melihat ketiga orang berkuda yang kembali ke padukuhan dari lereng bukit itu pula. Tetapi Kidang Alit sempat bersembunyi dibalik batu-batu padas, apalagi jarak diantara mereka masih agak jauh, sedang Kidang Alit tidak berkuda, berada ditempat yang agak lebih tinggi dari orang-orang berkuda itu.

Setelah ketiga orang itu hilang dibalik tikungan. Maka Kidang Alit pun melanjutkan langkahnya. Dengan hati-hati ia mendekati istana itu dari arah bukit kecil.

Untuk Beberapa saat lamanya Kidang Alit menunggu, tetapi ia tidak melihat seorang pun di halaman. Ketika kemudian seseorang muncul dibelakang, ternyata ia adalah Nyi Upih.

Tetapi Kidang Alit tidak segera pergi. Dengan telaten ia duduk dibalik sebuah gerumbul agar orang-orang yang berada di halaman atau di dalam istana itu tidak dapat melihatnya.

Ternyata bahwa kemudian Kidang Alit tidak sia-sia, setelah menunggu beberapa lamanya, dengan seksama ia memperhati-kan dua orang laki-laki yang kemudian turun ke halaman dan berdiri dibawah bayangan sebatang pohon yang rindang.

“Agaknya mereka kepanasan di dalam” berkata Kidang Alit, lalu, “Tetapi sayang, bahwa aku tidak dapat melihat keduanya dengan jelas”

Agaknya jarak yang memisahkan lereng bukit kecil itu dengan istana agak terlampau jauh bagi Kidang Alit untuk dapat melihat wajah orang-orang itu dengan teliti. Hanya secara umum sajalah Kidang Alit dapat menyebut bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang gagah dan tampan. Selebihnya Kidang Alit pun dapat menduga, bahwa keduanya memiliki ilmu yang dapat dipergunakan sebagai bekal petualangannya.

Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada diri sendiri, “Ternyata bahwa pedukuhan kecil ini telah mengundang beberapa orang untuk berkumpul disini”

Sejenak kemudian, setelah Kidang Alit dapat melihat kedua laki-laki itu, meskipun tidak sempat pada bagian-bagiannya yang terkecil, ia pun kemudian meninggalkan tempatnya, kembali kepadukuhan. Di sepanjang jalan, ia mencoba untuk menilai, apakah yang kira-kira dapat terjadi antara kedua orang itu dengan tiga orang yang sudah datang lebih dahulu.

“Aku yakin, bahwa tiga orang itu mempunyai kepentingan dengan istana kecil itu” berkata Kidang Alit kepada diri sendiri.

“Dan kini di istana kecil itu telah hadir dua orang bangsawan yang menyebut dirinya saudara-saudara Pangeran Kuda Narpada.

Tetapi Kidang Alit bersikap hati-hati. Banyak kemungkinan akan dapat terjadi atas istana kecil itu.

Sementara itu Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga memang sedang berada di halaman, rasa-rasanya badan mereka menjadi sejuk disentuh angin yang semilir, dibawah dedaunan yang rimbun.

“Untung di lereng pegunungan ini terasa segar sekali” desis Raden Kuda Rupaka.

“Tetapi baru saja Raden mengatakan, bahwa udara di daerah ini terasa panas sekali”

Kuda Rupaka tersenyum, katanya, “Didalam istana pamanda Kuda Narpada udara memang terasa panas sekali, paman”

“Apakah hanya sekedar karena udara didalam istana itu?”

“Ah…” Kuda Rupaka berdesis, “Apapun sebabnya, tetapi diluar memang terasa sejuk. Disini sentuhan angin terasa mengusap kening yang basah oleh keringat. Tetapi di dalam istana itu tidak terasa udara yang bergerak seperti ini”

Panji Wiralaga hanya tersenyum saja.

Sejenak keduanya kemudian berjalan-jalan di halaman depan mereka melihat pintu gerbang yang telah rusak, regol yang miring dan bagian istana itu sendiri yang telah rusak.

“Paman…” berkata Kuda Rupaka, “Sepengetahuanku, istana ini masih belum terlampau lama, tetapi beberapa bagian telah mulai rusak dan lapuk”

“Raden…” jawab Panji Sura Wilaga, “Istana ini dibuat oleh orang padukuhan ini dengan kayu yang tidak terpilih. Karena itu, maka kekuatannya pun tidak seimbang. Apalagi pekerjaan mereka adalah pekerjaan yang sangat kasar”.

“Ya…” sahut Kuda Rupaka, “Mereka mengerjakan kayu seperti orang-orang tua mereka mengerjakannya”.

Keduanya tidak berbicara lagi, mereka berjalan saja menyusuri halaman sehingga mereka sampai kebagian belakang dari istana itu.

“Kita telah melihat semuanya” berkata Kuda Rupaka, “Halaman istana bibi tetap bersih dan terawat, meskipun sebagian dari bangunannya telah rusak, terutama bagian atap”

Panji Sura Wilaga menganggukkan kepalanya, tetapi ia tidak menyahut.

“Paman…” berkata Kuda Rupaka kemudian, “Ada satu yang masih tetap menggetarkan jantungku”

“Apa Raden…?”

“Bibi dan Inten Prawesti masih belum bertanya tentang pamanda Kuda Narpada dengan sungguh-sungguh, pada suatu saat mereka tentu akan mendesak, agar aku menceritakannya, apakah yang sebaiknya aku katakan…?, aku benar-benar menjadi bingung”.

“Raden harus berterus terang bahwa Raden memang tidak tahu”

“Mustahil…”

“Kenapa mustahil?, bukankah Raden selama ini tidak pernah bertemu dengan pamanda Pangeran Cemara Kuning, pamanda Pangeran Sendang Prapat? Bagaimana Raden dapat mengatakan tentang Raden Kuda Narpada…?”

Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, sambil mengangguk-angguk ia melangkah kembali kehalaman depan diikuti oleh Panji Sura Wilaga.

Sementara itu dibelakang, Nyi Upih sedang sibuk membersihkan alat-alat dapurnya. Inten Prawesti yang telah menyingkirkan jamuan makan bagi tamu-tamunya berkata kepada Nyi Upih, “Anak-anakmu sebaiknya kau suruh makan dahulu Nyai…”

“Bukankah mereka sudah makan puteri, demikian mereka datang pagi tadi, demikian mereka aku beri makan seadanya.”

“Ah…, tetapi biarlah kita menjamunya sekarang”

Nyi Upih tersenyum, “Biarlah puteri, nanti sajalah”

Inten Prawesti tidak memaksa lagi, tetapi ia menengok kedalam bilik pembantu setia itu. Dilihatnya Pinten sudah mulai duduk sambil memijit-mijit kakinya.

“Kau usap dengan apa kakimu itu..?” bertanya Inten.

“Dengan nasi dan air asem, puteri. Rasa-rasanya kaki ini menjadi dingin. Darah yang rasa-rasanya membeku telah mengalir kembali”

Inten Prawesti mengangguk-angguk, ia pun teringat saat-saat ia sampai ke padukuhan ini dan bermalam untuk sementara di rumah Ki Buyut sebelum istana kecilnya itu disiapkan.

Meskipun kadang-kadang ia masih sempat naik tandu, namun untuk mengurangi perasaan lelahnya, kakinya juga diparami dengan nasi yang diremas dengan air asam.

Ketika kemudian mereka bercakap-cakap lebih banyak tentang perjalanan, maka ternyata Pinten pun dapat mengatakan tempat-tempat yang dilaluinya meskipun waktu sudah terpaut jauh.

“Kau benar-benar dapat mengikuti jejak perjalananku” berkata Inten

“Kami tidak henti-hentinya bertanya kepada setiap orang yang kami temui di perjalanan, puteri” Jawab Pinten.

“Tetapi waktu kita terpaut panjang”.

“Ternyata orang-orang di sepanjang jalan yang pernah dilalui oleh Pangeran Kuda Narpada, mash tetap dapat menyebut kemana Pangeran itu pergi, bahkan beberapa orang masih dapat menunjukkan beberapa macam barang yang pernah dihadiahkan oleh Pangeran Kuda Narpada kepada orang-orang yang membantunya di perjalanan”.

“Ooo…” Inten Prawesti menarik nafas dalam-dalam. Ayahnya memang banyak memberikan sekedar kenang-kenangan kepada orang-orang yang sudah membantunya di sepanjang jalan, bahkan beberapa macam barang berharga.

“Kini hampir tidak ada sebuah barang pun yang masih dapat disebut berharga di dalam rumah ini” Berkata Inten Prawesti di dalam hatinya.

Demikianlah maka meskipun keduanya baru saja bertemu, tetapi karena keduanya hampir sebaya, dan sudah terlampau lama Inten Prawesti hidup sendiri, seolah-olah di pengasingan, maka Pinten baginya merupakan seorang yang dapat mengisi kekosongan itu. Ketika Inten kemudian sudah dapat berdiri dan berjalan keluar, maka Inten Prawesti menjadi sangat gembira pula karenanya.

Dengan serta merta ia minta kepada ibunya, agar kepada Pinten diberikan beberapa lembar pakaiannya yang sudah tidak dipakainya lagi, agar Pinten nampak lebih bersih dan pantas.

Namun sementara itu, di rumah itu Inten Prawesti ternyata mendapat kawan yang lain pula. Atas desakan ibunya maka Inten Prawesti mulai berkenalan dan sekali-kali berbicara dengan saudara sepupunya.

Dihari berikutnya, suasana istana kecil itu benar-benar sudah berbeda. Inten tidak kelihatan murung seperti biasanya. Jika ia berada di belakang, ia selalu bersama dengan Pinten, jika Pinten sibuk membantu ibunya, maka Inten pun ikut membantunya pula.

Tetapi jika Inten Prawesti berada didepan, ia duduk bersama Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga. Jarak yang mula-mula memisahkan antara Inten Prawesti dan Kuda Rupaka, semakin lama menjadi semakin dangkal, bahkan pada suatu saat rasa-rasanya akan lenyap sama sekali.

“Jasa pamanda Kuda Narpada terhadap padukuhan ini ternyata cukup besar” berkata Raden Kuda Rupaka kepada Inten Prawesti ketika mereka berdua berdiri di halaman memandang ke lereng bukit yang hijau.

“Ayah berusaha untuk membantu kesulitan orang-orang Karangmaja” sahut Inten.

“Menurut pendengaranku, bukit-bukit itu menjadi hijau karena usaha pamanda pangeran.”

“Sebagian memang demikian” jawab Inten.

“Aku ingin sekali-sekali melihat lereng-lereng bukit itu” gumam Raden Kuda Narpada, seolah-olah kepada diri sendiri.

Inten Prawesti hanya mengerutkan keningnya saja. Ia tidak berani menawarkan diri untuk menunjukan jalan-jalan setapak di lereng bukit itu, meskipun ia sendiri sudah agak lama ingin menyusuri jalan yang beberapa saat lampau selalu dilewatinya jalur jalan yang pernah di lalui oleh ayahandanya ketika ia menimang Nyi Upih sampai ke atas bukit. Dari bukit itu dia dapat melihat Ayahandanya meninggalkan padukuhan Karangmaja dan sampai saat terakhir, tidak nampak kembali lagi.

Tetapi ternyata bukan Inten lah yang mengajak untuk mendaki lereng bukit kecil itu. Agaknya Kuda Rupaka pun ingin sekali untuk mendekati lereng yang nampak hijau ditumbuhi oleh pohon perdu yang rimbun.

“Apakah bibi tidak berkeberatan jika kita pergi ke lereng bukit itu?”

Inten termangu-mangu.

“Cobalah memohon izin kepada bibi.”

Inten pun segera berlari menemui ibundanya yang sedang berada di belakang. Dengan ragu-ragu ia mohon izin untuk pergi ke lereng bukit itu.

Ibunya menjadi ragu-ragu sejenak. Apalagi ketika Nyi Upih berkata, “Puteri, sebaiknya puteri tidak mengajak tamu-tamu itu pergi ke lereng bukit. Mungkin ada sesuatu yang dapat membahayakan puteri dan tamu-tamu itu.”

“Apakah yang dapat membahayakan itu Nyai?” bertanya Inten.

Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mengatakan sesuatu. Tetapi kedua tangannya bermain di muka mulutnya seperti seseorang yang sedang meniup seruling.

Sekilas terbayang seorang anak muda yang pernah dijumpainya di lereng bukit itu pula. Bahkan yang kemudian sering hilir mudik di muka istananya. Tetapi kali ini, ia tidak akan pergi sendiri atau hanya berdua saja dengan Nyi Upih.

“Aku tidak akan pergi terlalu jauh ibu.” mohon Inten kemudian.

“Hati-hatilah” akhirnya ibundanya tidak dapat menolak. Setelah berkemas sejenak, maka Inten pun kemudian pergi bersama Raden Kuda Rupaka dan Panji Surawilaga, berjalan-jalan ke bukit kecil di sebelah istananya itu.

Terasa udara yang cerah menyegarkan tubuh. Angin pegunungan yang silir mengalir dengan lembut. Di udara yang jernih nampak beberapa ekor burung berterbangan di antara warna-warna putih awan yang berarak selembar-selembar di dorong angin ke utara.

“Menyenangkan sekali” desis Raden Kuda Rupaka, “Sebelum pamanda Pangeran Kuda Narpada menghijaukan lereng bukit itu, tentu yang nampak jauh berbeda dari sekarang”

“Pegunungan yang gundul” sahut Panji Sura Wilaga.

“Ya..” berkata Inten Prawesti. “Saat kami datang ditempat ini, maka yang nampak hanyalah tanah gersang, kuning kemerah-merahan”

“Tentu pamanda pangeran lah yang mengajari orang-orang Karangmaja membuat parit-parit di daerah kering. Menanami lereng bukit dengan pepohonan yang khusus. Pohon metir dan sebangsanya. Dan sudah barang tentu kemudian dengan pohon buah-buahan”

“Ya…” jawab Inten Prawesti.

Mereka bertiga pun kemudian berjalan perlahan-lahan melalui jalan kecil menuju ke lereng bukit kecil itu. Raden Kuda Rupaka dan Inten Prawesti de depan. Sedangkan Panji Sura Wilaga de belakang.

Untuk beberapa saat lamanya mereka berjalan perlahan-lahan sambil berbicara tentang padukuhan kecil itu. Istana kecil yang dibangun di dekat padukuhan itu, dan bukit-bukit yang kemudian menjadi hijau.

Namun tiba-tiba saja langkah Inten Prawesti terhenti, Inten Prawesti tertegun, wajahnya nampak menjadi pucat. Meskipun kemudian ia berusaha melenyapkan kesan-kesan ini, dan melangkahkan kakinya pula. Namun Kuda Rupaka segera dapat menangkap kegelisahannya itu.

Ternyata ketika Raden Kuda Rupaka memandang agak jauh ke depan, dilihatnya seorang anak muda yang nampaknya memang agak berbeda dengan anak-anak Karangmaja.

“Siapakah anak itu..?” bertanya Kuda Rupaka.

“Kidang Alit” jawab Inten Prawesti.

“Apakah orang itu menggelisahkan kau…?”

Inten menjadi ragu-ragu, tetapi ia pun kemudian menggeleng, jawabnya, “Tidak”.

Tetapi Kuda Rupaka tidak dapat dikelabuinya. Dan ia pun bertanya pula, “Apakah anak itu anak Karangmaja pula..?”

“Bukan Kamas, anak muda itu bukan anak Karangmaja, belum lama ia berada di padukuhan kecil ini”.

Terasa jantung Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga berdebaran. Tetapi keduanya pun berusaha menghapuskan semua kesan dari wajah mereka.

“Apakah kau mengetahui namanya…?”

“Namanya Kidang Alit, bukankah aku sudah menyebutnya”.

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, bahkan sekilas ia berpaling, tepat pada saat Sura Wilaga memandangnya.

Seolah-olah mereka sedang menyesuaikan pendapat mereka, bahwa anak muda yang bernama Kidang Alit itulah yang agaknya telah menyembuhkan Kasdu.

Karena itu, maka keduanya pun segera mempersiapkan diri. Meskipun tidak semata-mata, tetapi semakin dekat langkah mereka dengan anak muda yang duduk di atas sebuah batu itu, mereka pun menjadi semakin berhati-hati. Bahkan Sura Wilaga mencoba memandang berkeliling, apakah benar anak muda itu hanya seorang diri. Tetapi ia tidak melihat orang lain di tempat itu.

Beberapa dari Kidang Alit, kaki Inten Prawesti terasa semakin berat. Tetapi ia tidak berjalan sendiri. Ia berjalan dengan saudara sepupunya dan seorang pengawalnya. Apalagi jika teringat oleh Inten, bahwa Kidang Alit ternyata bukan seorang yang dapat menahan diri terhadap seorang gadis yang menarik perhatiannya, ternyata seorang gadis Karangmaja telah menjadi korbannya. Untunglah bahwa bagi gadis itu telah diketemukan jalan yang paling baik, meskipun sekedar seperti menimbuni sebuah lobang yang terlanjur tergali.

Kuda Rupaka menegang ketika ia melihat Kidang Alit berdiri, tetapi ia seolah-olah sama sekali tidak menghiraukannya, karena sebelumnya ia memang belum mengenalnya.

Dengan tajamnya Kidang Alit memandang ketiga orang yang menjadi semakin dekat. Namun Inten Prawesti dan Kuda Rupaka lewat tepat di hadapannya.

Kidang Alit menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil bertanya, “Apakah puteri akan naik ke atas bukit kecil itu..?”

Inten Prawesti menjadi bingung, tetapi seakan-akan di luar sadarnya terloncat jawabnya, “Ya… aku akan berjalan-jalan ke atas bukit kecil itu”

“Sudah lama puteri tidak pergi ke sana, melihat-lihat jalur jalan kecil itu dari atas bukit yang kini berwarna hijau. Dan sudah lama puteri tidak lagi menghiraukan suara seruling yang menghimbau dari lembah, tempat anak-anak gembala bermain-main dengan ternaknya.”

Inten semakin bingung, tetapi ia menjawab juga, “Aku tidak mempunyai waktu lagi..”

Kidang Alit tertawa, katanya, “Apakah yang puteri sibukkan…?, tamu-tamu puteri baru kemarin berada disini, sebelumnya puteri tentu masih sempat jika puteri ingin.”

Inten bertambah bingung, nampak wajahnya bahwa ia tidak dapat segera menemukan jawabnya. Ia tidak mengerti kenapa anak muda itu seakan-akan menuntunnya, karena agak lama tidak keluar dari istananya, justru pada saat ia berjalan bersama dengan saudara sepupunya.

Karena Inten Prawesti menjadi bingung, maka tiba-tiba saja Kuda Rupaka bertanya kepada Inten Prawesti, “Diajeng, apakah diajeng sering juga pergi ke atas bukit itu..?”

Pertanyaan itu pun membingungkan, tetapi Inten mengangguk sambil menjawab lirih. “Ya…aku memang sering pergi ke atas bukit itu…”

“Dan pada suatu saat diajeng tidak pergi ke atas bukit?”

“Ya…”

“Itu adalah hakmu, kau dapat pergi kapan saja kau ingin pergi. Dan kau dapat tinggal di dalam istana sampai kapan pun, bahkan jika tiba-tiba timbul keinginanmu untuk pergi ke Demak bersama aku besok atau lusa…”

Inten Prawesti termangu-mangu sejenak, dan sebelum ia menyahut, terdengar Kidang Alit tertawa, katanya, “Lembah ini mempunyai kenangan yang manis bagi puteri. Suara seruling yang tidak berirama itu justru merupakan daya tarik yang tidak mudah dipisahkan antara puteri dan lereng-lereng pegunungan yang hijau”

“Sebuah mimpi yang mengasyikkan” Kuda Rupaka yang menyahut. “Tetapi pada suatu saat seorang harus bangun dari tidurnya, jika tidak, maka ia akan tetap pada keadaannya yang paling buruk tanpa mengalami perubahan apapun juga”

Kidang Alit agaknya masih akan menjawab lagi, tetapi tiba-tiba Inten berkata, “Kenapa tiba-tiba saja kita harus melayaninya?”

Kuda Rupaka memandangi Inten sejenak. Sambil tersenyum ia berkata, “Agaknya diajeng baru menyadari bahwa tidak sepantasnya melayani pembicaraan seorang anak muda yang bukan kadang di pinggir jalan seperti ini”

“Marilah kita berjalan terus” ajak Inten

Kuda Rupaka mengangguk, senyumnya masih nampak di bibirnya, ia berkata, “Sebaiknya kita lebih memperhatikan bukit yang hijau itu daripada orang-orang yang mengganggu perjalanan ini”

Inten Prawesti yang menjadi semakin berdebar-debar itu tidak membicarakan lagi. Ia melihat keadaan yang rasa-rasanya menjadi semakin tegang, karena itu, maka ia pun segera meninggalkan tempat itu.

Kuda Rupaka masih sempat memandang wajah Kidang Alit sejenak, ketika ia pun kemudian melangkah mengikuti adik sepupunya. Nampak sesuatu yang aneh memancar di mata Kidang Alit.

Tetapi Kuda Rupaka pun kemudian tidak menghiraukan lagi. Dengan tergesa-gesa ia menyusul Inten Prawesti yang sudah mendahuluinya. Dibelakangnya Panji Sura Wilaga berjalan dengan tegangnya, seolah-olah ia sedang tidak melihat ketegangan yang baru saja terjadi.

Kidang Alit yang masih tetap berdiri di pinggir jalan kecil itu memandang ketiga orang yang berjalan menjauhinya. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia tersenyum sendiri, katanya, “Anak muda yang meyakinkan, agaknya memang ia memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan. Dengan jari-jarinya ia mengetahui bahwa Kasdu telah aku bebaskan dari racun yang sangat parah itu”

Namun kemudian, ia berkata pula kepada dirinya sendiri, “Tetapi kehadirannya di padukuhan kecil ini perlu mendapat perhatian. Ketiga orang kasar dan memiliki tenaga racun itu sudah terasa mengganggu, apalagi kedatangan kedua orang bangsawan ini”

Tetapi Kidang Alit tidak mengambil sikap apapun pada saat itu. Dengan tergesa-gesa, ia pun berjalan meninggalkan tempatnya dan kembali ke padukuhan.

“Mudah-mudahan ketiga orang yang berada di banjar padukuhan tidak pergi ke lereng itu pula, jika mereka bertemu muka dengan bangsawan-bangsawan itu, maka akan dapat timbul benturan diantara mereka” gumamnya sambil berjalan menyusuri jalan sempit.

Apa yang terjadi itu, agaknya telah menggelisahkan Inten Prawesti, itulah agaknya ia menjadi gelisah, bukit-bukit yang hijau dan lembah-lembah yang ditumbuhi rerumputan, tidak menarik lagi baginya, jalan-jalan yang nampak menjauh seperti tubuh seekor ular yang menjalar meninggalkan liangnya dibawah gunung, tidak dapat memikatnya lagi.

“Kau nampak gelisah diajeng” bertanya Kuda Rupaka

“Ya… aku gelisah sekali”

Kuda Rupaka tertawa, katanya, “Jangan hiraukan anak itu, mungkin sebelum aku berada di istana bibi, ia sudah sering mengganggumu pula”

Inten ragu-ragu sejenak, tetapi kemudian jawabnya dengan jujur, “Aku mula-mula senang mendengarkan ia bermain dengan seruling. Tetapi aku menjadi takut kepadanya setelah peristiwa gadis padukuhan itu terjadi”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, mendengar Inten yang kemudian bercerita dengan singkat tentang Kidang Alit itu.

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya, “Sudahlah, jangan dicemaskan lagi, kau memang tidak usah lagi berhubungan dengan anak muda itu”

Inten Prawesti mengangguk-angguk, tetapi ia sudah tidak dapat menenangkan dirinya lagi, setiap kali nampak kegelisahan memercik pada sikapnya.

Ternyata Raden Rupaka pun dapat mengerti, sehingga sejenak kemudian ia pun berkata sambil tersenyum “Paman Sura Wilaga, agaknya diajeng Inten Prawesti terpengaruh oleh peristiwa itu, karena itu, marilah kita kembali saja ke istananya, lain kali kita akan mendapat kesempatan untuk berada di bukit ini lagi”

Panji Sura Wilaga tersenyum, jawabnya, “Tentu puteri menjadi gelisah, baiklah kita kembali saja, tetapi lain kali, aku akan menyingkirkan anak muda itu jika ia berani mengganggu puteri”

Inten Prawesti sama sekali tidak menyahut, ia memang ingin segera pulang, tetapi ia tidak dapat mengatakannya.

Demikianlah, mereka bertiga tidak lama berada di lereng bukit itu. Perlahan-lahan mereka berjalan turun menyelusuri jalan di lereng yang rendah itu.

Namun di sepanjang perjalanan itu, Raden Kuda Rupaka tidak henti-hentinya mengagumi peninggalan Pangeran Kuda Narpada. Bukan berujud harta benda atau bangunan-bangunan yang besar dan kuat, tetapi peninggalan itu berupa warna-warna hijau di lereng pegunungan yang luas, parit yang mengalirkan air yang jernih dan jalan-jalan yang semakin teratur.

Inten sempat menceritakan keadaan padukuhan itu sebelum ia bersama keluarganya menetap di istana itu.

“Rakyat Karangmaja tentu tidak akan melupakan jasa paman Pangeran Kuda Narpada” berkata Kuda Rupaka.

“Ya…, agaknya mereka bersikap sangat baik kepada kami sampai saat ini”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, tentu rakyat padukuhan kecil itu tidak akan dapat mengingkari kenyataan yang masih dapat dihayatinya saat itu.

Ketika kemudian mereka menjadi semakin rendah di kaki bukit kecil itu, sekali ini Inten tertegun, ia melihat dua orang yang sedang berjalan menyusuri kaki bukit itu pula.

“Siapakah mereka?” bertanya Raden Kuda Rupaka

“Apakah mereka juga termasuk anak muda yang bertingkah laku seperti Kidang Alit itu?”

“Ooo…, Tentu bukan” sahut Inten Prawesti, “Apakah kamu tidak mengenal mereka?”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya.

“Apakah keduanya anak-anak yang ada di istana itu diajeng?”

“Ya.. keduanya adalah anak-anak pembantuku yang mengikuti perjalanan kami dari Majapahit”

“Ooo…” Kuda Rupaka mengangguk-angguk, tetapi ia tidak menghiraukan kedua anak muda kakak beradik itu.

Namun ketika mereka menjadi semakin dekat, Inten Prawesti lah yang memanggil keduanya untuk mendekat.

Sambil berjalan terbungkuk-bungkuk kedua orang kakak beradik itu mendekati Inten Prawesti, wajah mereka nampak tegang dan membayangkan kegelisahan.

“He… kenapa kalian berada disini?”

“Ampun puteri, maksud kami, kami hanya sekedar ingin melihat-lihat daerah baru ini”

Inten mengerutkan keningnya, tetapi ia pun kemudian tersenyum, “Kenapa kalian menjadi gelisah?, Aku tidak apa-apa, jika kalian ingin melihat-lihat tanah yang mulai menjadi hijau ini, pergilah, mungkin ada gunanya bagi kalian berdua”

“Ya… puteri, bahkan biyung tadi menyuruh kami berdua mencoba memperkenalkan diri kepada anak-anak muda di Karangmaja, biyung mengatakan agar aku menyebut diri sebagai anak Nyi Upih. Agaknya biyung kami sudah banyak dikenal oleh orang-orang Karangmaja”

Inten Prawesti tersenyum, katanya, “Itu memang ada baiknya, kalian dapat berhubungan dengan anak-anak muda Karangmaja, agar jika kalian memerlukan sesuatu, kalian dapat minta bantuan mereka”

“Terima kasih puteri”

“Pergilah ke Padukuhan itu, atau ke lereng bukit, tempat anak-anak muda Karangmaja menggembalakan ternak mereka”

“Baik puteri…”

Namun dalam pada itu, Raden Kuda Rupaka menyambung, “Tetapi berhati-hatilah, bersikaplah sebaik-baiknya agar kalian tidak mendapat gangguan dari mereka”

“Terima kasih Raden, kami akan mencoba berbuat sebaik-baiknya, sesuai dengan derajat kami”

Inten dan Raden Kuda Rupaka pun kemudian meneruskan perjalanan mereka diikuti olah Panji Sura Wilaga, kembali ke istana kecil yang terpencil itu.

Seperti yang diminta oleh ibunya, Sangkan dan Pinten berusaha untuk berkenalan dengan anak-anak muda dari Karangmaja, kehadiran mereka di padang rumput di lereng bukit, memang sama sekali belum pernah mengenal kedua kakak beradik itu.

Tetapi seperti pesan ibunya, maka Sangkan pun segera mengatakan bahwa mereka adalah anak Nyi Upih, pelayan pada istana kecil dan terpencil itu.

“Ooo….” Seorang gembala yang bertubuh tinggi besar mendekati Sangkan sambil tersenyum, “Jadi kau anak Nyi Upih itu?”

“Ya…” jawab Sangkan

“Kami mengenal ibumu dengan baik, ia sering ke rumahku dan kadang-kadang membeli sesuatu dari ibuku”

Sangkan mengangguk-angguk, sambil tersenyum pula ia berkata, “Kami ingin memperkenalkan diri kami”

“Marilah, ikut kami, kakak-kakak kami yang lebih besar berada dibawah, tetapi sebagian ada yang tinggal di rumah Ki Buyut disaat-saat seperti ini”

“Di rumah Ki Buyut?, Apakah mereka bekerja disana?”

“Jika ada waktu senggang, kakak-kakak kami memang sering berkumpul disana, Ki Buyut sering memerlukan anak-anak muda untuk membantunya mengatur padukuhan ini sebaik-baiknya seperti yang dianjurkan oleh Pangeran Kuda Narpada, bukankah kalian berada di istana Pangeran itu?“

“Ya… tapi sayang, kami datang jauh terlambat Pangeran Kuda Narpada sudah tidak ada di istana kecil itu lagi”

“Kami semua menyesal kepergian itu” berkata gembala itu, “Apalagi ayahku, ia benar-benar merasa kehilangan pelindung yang paling baik, bahkan telah berhutang budi kepada Pangeran Kuda Narpada?

Sangkan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Marilah..” ajak anak muda itu, “Aku antarkan kalian ke rumah Ki Buyut.

Sangkan memandang adiknya sejenak, namun agaknya Pinten berkeberatan, katanya, “Lain kali saja, pergilah sendiri ke rumah Ki Buyut itu kakang”

Sangkan tersenyum, katanya, “Lain kali saja Ki Sanak, tetapi kali ini, setidak-tidaknya aku sudah mengenal beberapa anak-anak muda Karangmaja”

Karena Pinten berkeberatan untuk pergi ke rumah Ki Buyut, maka mereka pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke padukuhan.

“Maaf Ki Sanak” berkata Sangkan kemudian “Sampaikan saja salamku kepada anak-anak muda di Karangmaja, pada suatu saat kami makan menemui mereka dan berkenalan dengan mereka, selanjutnya kami adalah bagian dari anak-anak di Karangmaja, kami sudah berniat, untuk tetap tinggal disini, sehingga karena itu, kami harus mempersatukan diri dengan kalian”

“Kami akan menerima kalian dengan senang hati” jawab anak yang bertubuh tinggi itu, “Seperti kami menerima Kidang Alit disini, Ia telah memberikan banyak pertolongan dan petunjuk bagi anak-anak muda di Karangmaja”

“Siapakah Kidang Alit itu?” bertanya Sangkan. “Jika yang kalian maksud dua orang bangsawan yang ada di istana Pangeran Kuda Narpada itu, mereka adalah Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga”

“Bukan…. Bukan kedua bangsawan itu, Kidang Alit adalah seorang petualang. Ia masih muda seperti engkau, ia mempunyai banyak kelebihan dari kami anak-anak muda Karangmaja dalam segala hal”

Sangkan mengangguk-angguk, lalu katanya, “Sayang kami tidak memiliki kelebihan apa-apa”

“Tetapi barangkali kalian dapat memberikan pengalaman-pengalaman yang pernah kalian alami di daerah kalian yang lama, bukankah kalian pernah tinggal di daerah peradaban yang lebih tinggi dari padukuhan kami yang terpencil ini?”

Sangkan mengangguk-angguk, tetapi jawabnya, “Di daerah yang lama itu pun kami berdua tidak lebih dari seorang anak pelayan”

“Tentu, justru oleh karena itu akan dapat berguna bagi kami disini yang masih ketinggalan”

Sangkan tersenyum, katanya, “Kami akan memberikan apa yang dapat kami lakukan seperti saat-saat kami berada di daerah kami yang lama. Tetapi agaknya Pangeran Kuda Narpada dan anak muda yang bernama Kidang Alit itu telah memberikan banyak sekali bagi kalian, sehingga tidak ada lagi yang dilampaui”

Gembala yang bertubuh tinggi itu pun tersenyum, katanya kemudian, “Baiklah, kami akan menyampaikan kepada kawan-kawan kami tentang kehadiran kalian di istana kecil itu, mudah-mudahan istana itu tidak lagi terlampau suram seperti saat-saat yang lalu”

“Kini istana itu akan menjadi semakin hidup dengan kehadiran Raden Kuda Rupaka” jawab Sangkan, lalu “Baiklah kami minta diri, kami akan pergi ke ujung bukit kecil itu, kami ingin melihat daerah yang luas dengan lekuk-lekuk alam yang sangat menarik. Dalam perjalanan dari kota raja, kami pun melalui daerah-daerah pegunungan, tetapi pada umumnya lereng-lereng pegunungan itu nampak gersang dan kering, tetapi pegunungan di daerah ini nampak hijau dan segar”

Demikianlah Sangkan dan Pinten meninggalkan gembala-gembala yang masih sangat muda itu. Tetapi hubungan itu adalah permulaan dari pergaulannya dengan anak-anak muda di Karangmaja yang lebih tua lagi dari gembala-gembala itu.

Ketika mereka sampai diatas bukit kecil itu, mereka pun menebarkan pandangan mata mereka ke sekelilingnya, daerah yang luas dan hijau, meskipun disana-sini masih ada juga daerah yang masih perlu mendapat pemeliharaan.

Keduanya tidak terlalu lama berada di ujung bukit kecil itu, Pinten pun kemudian mengajak kakaknya segera kembali ke istana kecil yang terpencil itu.

“Kau masih akan tidur lagi sepanjang hari?” bertanya kakaknya.

Pinten mengerutkan keningnya, katanya, “Tetapi aku sekarang tidak pincang lagi”

Kakaknya memandang wajah adiknya yang mulai cerah, tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

“Apakah kita akan berlomba lari?” Pinten lah yang bertanya.

“Lereng ini miring sekali, jika kau terdorong dan tidak dapat menahan diri, kau akan jatuh telungkup, mungkin wajahmu akan tergores batu padas”

Pinten termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia pun mengangguk-angguk sambil bertanya, “Apakah kira-kira akan terjadi demikian jika kita berlomba lari?”

Sangkan sama sekali tidak menjawab, tetapi ia pun menunjuk ke lembah, dibawah bukit disini yang lain dari istana kecil itu, “Kau lihat, ternak itu semakin lama semakin tumangkar, padukuhan ini akan mengalami hari-hari yang semakin baik jika mereka tidak meninggalkan petunjuk-petunjuk yang pernah diberikan oleh Pangeran Kuda Narpada”

Pinten mengedarkan tatapan matanya, sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Nampaknya orang-orang Karangmaja bukan orang-orang yang cepat menjadi jemu, sesuatu yang dianggapnya baik dilakukannya terus”

“Tetapi mungkin anak muda yang disebut namanya bernama Kidang Alit itu pun banyak memberikan pengaruh kepada padukuhan ini.

Pinten tidak menyahut, rasa-rasanya ia sedang menikmati hijaunya bukit disekitarnya.

Namun tiba-tiba ia menggamit kakaknya sambil berkata, “Kakang, kau lihat tiga orang yang berkuda itu?”

Sangkan mengangguk

“Bagaimana jika mereka datang kemari?”

“Kenapa?, biar sajalah mereka datang kemari?”

“Apakah mereka tidak akan berbuat apa-apa atas kita? Ketiga orang itu tentu orang-orang yang pernah dikatakan ibu, bahwa mereka adalah orang-orang yang kasar dan bahkan buas”

“Tetapi mereka tentu tidak akan berbuat apa-apa atas kita…, kita sama sekali bukan orang-orang penting, kita hanyalah anak seorang pelayan, apakah yang akan dilakukan oleh ketiga orang itu atas kita?”

“Tetapi aku cemas, aku seorang perempuan, mungkin mereka akan berbuat sesuatu atasku”

“Ah…, kau terlampau perasa, apa kau sangka kau itu seorang gadis yang cantik? yang dapat membuat setiap laki-laki tergila-gila kepadamu, sehingga dengan demikian kau cemaskan dirimu sendiri”

“Ah..!” Pinten mencubit kakaknya sehingga kakaknya mengaduh, “Katakan sekali lagi”

“Kukumu seperti kuku macan Pinten”

“Kau nakal sekali”

Sangkan masih akan menyahut, tetapi ternyata ketiga orang berkuda itu benar-benar menjadi semakin dekat.

“Sebaiknya kita pergi saja” ajak Pinten

“Kembali ke istana?”

“Tetapi Pinten mengerutkan keningnya sambil mengeluh, “Kita tidak punya waktu. Itu mereka sudah datang, mereka sudah melihat disini”

Sangkan memandang ketiga orang berkuda yang menjadi semakin dekat, namun tampaknya ia tidak menjadi cemas.

“Aku bukan orang penting, mereka tentu tidak akan menghiraukan kita” desisnya.

Namun ternyata ketiga orang itu memperhatikan kedua anak-anak muda itu, bahkan seorang dari mereka pun kemudian mendekatinya sambil bertanya, “He! siapakah kalian?”

“Aku sangkan tuan, dan ini adalah adikku Pinten”

Orang itu memandang Pinten dengan mata yang hampir tidak berkedip, namun tiba-tiba ia bertanya, “Itu adikmu?”

“Ya, ya tuan”

Orang itu masih saja memandang Pinten dengan tajamnya sehingga wajah Pinten menjadi kemerah-merahan, Ia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya, bahkan kemudian ia pun bergeser mendekati kakaknya,

“Dimana rumahmu? bukankah kau juga anak-anak Karangmaja?”

Sangkan menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Bukan tuan, kami bukan anak-anak Karangmaja”

“He…!, “

“Kami tinggal di istana kecil itu, kami adalah pelayan di istana itu”

“Orang yang masih duduk di punggung kudanya itu mengangguk-angguk, tetapi ia pun kemudian berpaling kepada kedua kawannya, katanya, “Mereka tinggal di istana itu”

“Kami mendengar” jawab salah seorang kawannya

“Biarlah mereka pergi, kami tidak memerlukannya”

“Tunggu !” jawab orang yang pertama, “Apakah gadis itu memang sebenarnya adikmu?”

“Ya tuan”

Orang itu masih akan bertanya lagi, tetapi kawannya telah memotongnya, “Ah… kau menjadi mabuk, jika kau melihat perempuan, biarlah mereka kembali ke istana itu, jika pada suatu saat kau benar-benar memerlukannya, kau dapat mengambilnya”

“Aku memang akan membawanya sekarang”

Kawannya mengerutkan keningnya, katanya, “Kemarilah”

Orang yang pertama-tama bertanya kepada kedua anak muda itu pun bergeser mendekati kawannya, sambil berkata kepada Pinten, “Jangan pergi !”

Pinten benar-benar menjadi bingung, sekali ia melihat orang berkuda itu mendekati kawan-kawannya.

“Kau jangan gila” berkata kawannya, “Di istana itu ada dua orang bangsawan, jangan membuka persoalan, yang penting bagi kita, masih belum kita ketemukan, jangan mementingkan persoalan-persoalan kecil yang tidak berarti, jika yang pokok itu sudah kita selesaikan, terserahlah kepadamu, di istana itu pun ada seorang gadis yang lebih cantik”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam.

“Biarkan mereka pergi”

Orang yang pertama-tama bertanya kepada Sangkan itu pun ragu-ragu sejenak, namun kemudian katanya dengan lantang, “Pergilah ! kami tidak memerlukan kalian”

Demikian kata-kata itu diucapkan, maka Pinten pun segera menarik tangan kakaknya dan dengan tergesa-gesa sekali meninggalkan tempat itu.

Ketiga orang berkuda itu tertawa melihatnya, namun dalam pada itu, sepasang mata yang memperlihatkan peristiwa itu dari balik gerumbul agak dikejauhan pun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa Kidang Alit memperhatikan peristiwa itu dari agak jauh dibalik gerumbul perdu, meskipun ia tidak mendengar percakapan diantara mereka, tetapi ia dapat menduganya.

Sejenak Kidang Alit tetap berada ditempatnya, didalam hati ia berkata, “Untunglah bukan kedua bangsawan bersama Inten Prawesti yang mereka jumpai, jika mereka bertiga masih belum kembali ke istana, mungkin akan dapat terjadi benturan diantara mereka, karena mereka masing-masing memiliki kelebihan”

Akhirnya Kidang Alit harus bergeser ketika ketiga orang berkuda itu pun kemudian meninggalkan bukit kecil itu. Tetapi agaknya mereka tidak akan segera kembali ke padukuhan, karena ternyata mereka menempuh perjalanan kearah lain.

Kidang Alit kemudian muncul dari balik gerumbul itu menarik nafas dalam-dalam, sejenak ia mengamati ketiga orang yang semakin lama semakin kecil dan akhirnya menghilang sama sekali.

“Jika bangsawan-bangsawan itu terlambat sedikit, mereka akan bertemu dengan ketiga iblis itu” Desisnya

Perlahan-lahan Kidang Alit pun kemudian meninggalkan tempatnya, tetapi ia tidak lagi tergesa-gesa kembali ke padukuhan, ia berdiri beberapa saat lamanya, memandangi istana kecil yang ternyata telah bertambah penghuni.

Sejak saat itu, perhatian Kidang Alit kepada istana kecil itu menjadi semakin bertambah, terutama kepada kedua bangsawan yang untuk beberapa saat lamanya tinggal di istana itu pula.

Ki Buyut Karangmaja merasa, bahwa kehadiran orang-orang baru di padukuhannya agaknya membawa pengaruh yang kurang baik, ia merasa adanya pertentangan meskipun tidak terbuka diantara mereka.

Namun Ki Buyut tidak merasa kuasa berbuat apa-apa, ia sadar bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang dapat dibanggakan, bahkan seakan-akan masing-masing justru ingin mencoba, apakah ada orang lain yang melampaui kemampuan ilmu masing-masing.

Dalam pada itu, tingkah laku ketiga orang-orang kasar yang menyebut dirinya bernama Kumbara, Gagak Wereng dan naga Pasa menjadi semakin menggetarkan hati setiap orang di padukuhan Karangmaja, bahkan beberapa orang tidak lagi berani lewat di muka banjar padukuhan, apalagi perempuan dan mereka yang sedang membawa barang-barang berharga bahkan makanan.

“Apakah ada seseorang yang pernah diganggunya?” bertanya Ki Buyut kepada anak-anak muda, “Terutama perempuan?”

Anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak, namun mereka pun kemudian menggeleng, “Yang dapat disebut dengan pasti memang belum ada Ki Buyut”

“Baiklah, jagalah agar perempuan-perempuan di Karangmaja berbuat dengan hati-hati, jangan mendorong orang-orang kasar itu berbuat sesuatu atas diri mereka, karena itu, jauhi sajalah mereka sedapat mungkin”

Pesan itu ternyata semakin menggetarkan hati perempuan dan gadis-gadis Karangmaja, ketiga orang kasar itu, seolah-olah bagaikan iblis yang merenungi liang-liang kubur yang masih baru. Dalam setiap saat, tangan-tangannya yang besar dan kasar, akan mencengkam tanah yang masih basah dan mengungkat kembali mayat yang terbujur di dalamnya.

Namun beruntunglah, bahwa tidak pernah terdengar berita tentang perempuan yang menjadi korban mereka

Dalam kecemasan tentang perempuan dan gadis-gadis di Karangmaja karena kehadiran orang-orang kasar itu, maka justru yang terjadi adalah diluar dugaan.

Sekali lagi Karangmaja diributkan oleh seorang gadis yang tidak dapat menahan diri dan melepaskan kegadisannya yang diserahkan kepada Kidang Alit. Dan sekali lagi dengan nada penyesalan yang dalam, Kidang Alit menghadap Ki Buyut Karangmaja dengan pengakuan yang jujur.

“Seperti yang pernah terjadi, Ki Buyut” berkata Kidang Alit, “Aku seolah-olah telah kehilangan kepribadianku ketika gadis itu memaksaku melakukan perbuatan terkutuk itu”

“Aku tidak memaksa” bantah gadis itu.

“Tidak dengan kata-kata, tetapi dengan sikap dan perbuatan” sahut Kidang Alit

Gadis tidak menjawab, ia memang melakukan seperti yang dikatakan oleh Kidang Alit, Kidang Alit Memang seorang anak muda yang lain dari anak muda Karangmaja.

“Kenapa terjadi hal itu?” bertanya Ki Buyut kepada gadis itu.

“Aku tidak tahu, tetapi sentuhan jari-jarinya bagaikan telah membiusku”

“Aku tidak sengaja berbuat apa-apa, aku menolongnya naik tebing yang curam itu” sahut Kidang Alit.

“Memang aneh sekali” berkata Ki Buyut, “Peristiwa yang pernah terjadi memang hampir serupa. Seolah-olah sentuhan jari-jari Kidang Alit telah meracuni gadis-gadis itu”

“Sama sekali tidak aku sengaja Ki Buyut, bahkan aku pun merasa seolah-olah aku telah ditenungnya dan melakukannya diluar sadar”

Penyelesaian yang ditempuhnya serupa pula dengan penyelesaian yang pernah dilakukan. Seorang anak muda Karangmaja bersedia mengawininya, tetapi Kidang Alit harus membeli sepasang kerbau bagi sepasang pengantin baru itu.

Kidang Alit tidak dapat ingkar, ia harus menerima keputusan itu.

Namun ternyata bahwa Kidang Alit mempunyai bekal yang cukup, ia masih sanggup bukan saja membeli sepasang lembu atau kerbau, tetapi berpasang-pasang.

Dan Ki Buyut pun bertanya didalam hatinya, “Apakah dengan demikian peristiwa yang serupa masih akan terjadi”

Tetapi untuk sementara waktu Ki Buyut masih berusaha menahan perasaannya. Kidang Alit telah pernah memberikan sesuatu yang tidak pernah dapat diberikan orang lain atau salah seorang anak-anak muda Karangmaja, ia telah menyelamatkan Kasdu dari bencana yang sangat mengerikan.

“Tetapi apakah dengan demikian berarti Kidang Alit akan dibiarkan berbuat apa saja di padukuhan ini?” pertanyaan itu telah memukul dinding jantung Ki Buyut di Karangmaja.

Dalam waktu yang singkat, berita itu pun telah menjalar di seluruh padukuhan, bahkan Nyi Upih yang sedang mencari keperluan sehari-hari di padukuhan itu pun segera mendengar pula peristiwa itu.

Karena itulah, maka ketika ia kembali ke istana, ia pun segera menyampaikan hal itu kepada momongannya, Inten Prawesti.

“Puteri, ternyata puteri telah mengambil keputusan yang paling bijaksana, memang bukan mustahil, bahwa Kidang Alit menyimpan maksud yang kurang baik terhadap gadis-gadis, apalagi apabila puteri sempat dibujuknya”

“Ah… mengerikan sekali” desis Inten Prawesti. Terasa seluruh kulit tubuhnya telah meremang.

“Yang manakah anak muda yang bernama Kidang Alit itu ibu?” bertanya Pinten, “Aku pun akan menjauhinya pula”

“Oo macam kau Pinten, kau jangan merasa dirimu cantik, gadis-gadis Karangmaja masih lebih cantik dari pada kau, karena itu Kidang Alit akan menghiraukan kau sama sekali”

“Tentu tidak Nyai” potong Inten Prawesti, “Pinten adalah seorang gadis yang cantik sekali, ketika ia baru datang, wajahnya memang nampak kasar, kotor dan terbakar oleh sinar matahari, tetapi kini ia nampak cantik sekali”

“Oo…. Puteri jangan memuji, ia akan kehilangan akal dan merasa dirinya orang yang paling cantik di seluruh Majapahit, itu akan berbahaya baginya”

Inten Prawesti tertawa, sedang Pinten yang memberengut nampak justru benar-benar cantik sekali.

Namun mereka terkejut ketika mendengar suara tertahan dari balik dinding, ternyata Sangkan yang mendengar pembicaraan itu tidak dapat menahan tertawanya, sambil menjengukkan kepalanya ia berkata, “Pinten, aku jadi kasihan sekali kepadamu, kenapa kau merasa dirimu menjadi perhatian orang”

“Siapa..! siapa he…?” Pinten menjawab lantang

Tetapi Sangkan sudah hilang dan berlari ke halaman belakang istana itu sambil menyambar sapu lidi, karena ia memang akan membersihkan halaman itu.

Di Karangmaja, Ki Buyut rasa-rasanya hampir kehilangan akal pula, ia tidak tahu, apakah yang sebaiknya dikerjakan. Ia memerlukan Kidang Alit, karena menurut perhitungannya, Kidang Alit akan dapat membantu mengatasi kesulitannya yang dapat terjadi setiap saat. Jika ketiga orang yang berada di banjar itu menjadi semakin liar. Tetapi agaknya Kidang Alit sendiri telah melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dapat dianggapnya baik bagi para penghuni padukuhan Karangmaja yang kecil itu

Kadang-kadang Ki Buyut pun dihinggapi oleh pertanyaan tentang anak muda itu, siapakah sebenarnya anak muda yang menyebut dirinya Kidang Alit, seorang petualang itu?

Dalam kebingungan Ki Buyut kadang-kadang berjalan tanpa tujuan mengelilingi padukuhannya, maka ia pun selalu menghindari banjar padukuhannya, ia lebih memilih jalan melingkari padukuhan kecilnya dari pada melalui jalan induk yang menjulur di depan banjar, jalan yang justru semakin lama menjadi semakin sepi. Hanya orang-orang yang bertugas untuk menyampaikan makan dan minum bagi ketiga orang yang tinggal di banjar itu sajalah agaknya yang masih berjalan melalui jalan induk padukuhan itu.

Ternyata Kumbara, Gagak Wereng dan Naga Pasa pun merasakan suasana yang semakin memburuk di padukuhan itu. Padukuhan kecil itu terasa menjadi semakin sepi dan asing.

Karena itu, maka Kumbara merasa perlu untuk segera mengambil sikap, ia sudah merasa terlalu lama berada di padukuhan kecil yang menjemukan itu.

“Kedua bangsawan itu ternyata tidak segera pergi dari istana kecil itu” berkata Kumbara.

“Ya.., kita sudah terlalu lama menunggu” Sahut Naga Pasa, “Aku sudah tidak sabar lagi”

“Mula-mula kita menunggu dua hari, kemudian tiga, empat dan berkepanjangan” potong Gagak Wereng, “Sudah waktunya untuk segera bertindak”

“Jadi, apakah ayahnya, kakeknya, pamannya dan siapa saja yang akan mengambil tindakan balasan, sekarang yang penting, tugas kita dapat kita selesaikan dengan sebaik-baiknya”

Ketiga orang itu mengangguk-angguk, seolah-olah mereka sudah mendapatkan kesepakatan untuk bertindak.

Ternyata mereka pun kemudian segera membicarakan apa yang sebaiknya mereka lakukan. Dengan mempertimbangkan semua keadaan dan kemungkinan yang ada di Karangmaja.

“Orang-orang Karangmaja tidak akan ada yang berani berbuat apapun juga, meskipun mereka mengetahui apa yang kita lakukan di istana kecil itu” berkata Kumbara

“Kita sudah memberikan contoh akibat yang dapat timbul jika seseorang berani mengganggu kehadiran kita disini”

“Ya…” sahut Gagak Wereng, “Jika perlu kita akan memberikan contoh lebih banyak lagi”

“Itu tidak perlu, orang-orang Karangmaja dapat kita abaikan didalam hubungan dengan tugas kita” berkata Naga Pasa, “Yang harus kita perhatikan adalah justru kedua orang bangsawan yang ada di istana itu”

“Sudah tentu” sahut Kumbara, “Bukankah kita sudah mengambil sikap terhadap keduanya?, Keduanya harus kita singkirkan tanpa menghiraukan siapapun yang dapat menuntut balas atas kematian mereka”

“Jika demikian maka tidak ada persoalan lagi bagi kita” berkata Naga Pasa, “Kita dapat berangkat sekarang juga ke istana kecil itu dan langsung bertindak sesuai dengan tugas kita”

“Memang tidak akan ada kesulitan apapun juga, tetapi tindakan yang demikian adalah tergesa-gesa dan dapat menimbulkan keonaran”

“Jadi…?” desis Naga Pasa, “Apakah yang harus kita lakukan?”

“Kita menunggu hari gelap, apapun yang kita lakukan, tidak dilihat oleh orang banyak, sehingga apabila kelak benar-benar datang beberapa orang yang mencari kedua bangsawan yang malang itu, tidak banyak orang yang dapat memberikan keterangan yang akan dapat menjadi petunjuk bagi mereka, untuk melacak jejak kita, meskipun seandainya mereka mengetahui juga siapakah kita, namun hal itu akan memerlukan waktu”

“Kau memang terlampau berhati-hati, aku tidak melihat perbedaan sama sekali, tetapi baiklah, jika kau menganggap bahwa bertindak di malam hari agaknya lebih baik dari siang hari. Kau orang tertua diantara kita”

“Baiklah” berkata Kumbara kemudian, “Kita akan memasuki istana itu dari pintu gerbang, kita tidak akan bersembunyi-sembunyi seperti tikus mencuri daging”

“Sudah barang tentu, kita akan memasuki dengan dada tengadah, kita tahu, bahwa kedua orang bangsawan itu tentu akan mencoba melawan. Tetapi mereka akan kita bunuh dan mayatnya kita tinggalkan di luar pintu gerbang”

“Semuanya yang menantang rencana dan tugas kita akan kita bunuh, Raden Ayu itu pun jika tidak mau membantu tugas kita, akan kita bunuh juga”

“Tetapi jangan gadis itu” desis Naga Pasa

“Persetan” geram Kumbara, “Itu diluar pembicaraan kita, tetapi jika gadis itu menyulitkan kita, apa boleh buat”

“Aku tidak akan membawanya, aku hanya memerlukannya sementara waktu, jika kemudian harus dibunuh, aku tidak berkeberatan” Naga Pasa berhenti sejenak, lalu, “Sudah barang tentu kedua-duanya”

“Kenapa kedua-duanya?” geram Gagak Wereng

“Bukankah ada dua orang gadis di dalam istana itu”

“Gila, itu urusanmu, tetapi jangan mengganggu tugas kita”

“Tidak…, aku berjanji, tugas kita akan kita selesaikan lebih dahulu, aku baru akan memerlukannya, setelah semuanya yang bersifat hidup di dalam istana itu, mati terbunuh, kecuali dua orang gadis itu”

Kumbara mengerutkan dahinya, namun kemudian ia pun menggeram, “Jangan kau membicarakan dengan kami, selesaikan persoalanmu sendiri, tetapi setiap persoalan yang dibeliti oleh nafsu seperti itu, akan mendatangkan sial. Karena itu, jika benar-benar demikian, biar kau sajalah yang akan dimakan oleh nasibmu yang buruk”

Naga Pasa tertawa katanya, “Kau jangan mengutuk begitu, baiklah, jika kalian tidak mau, aku pun tidak akan memaksa, nanti akan timbul pertimbangan tersendiri setelah semuanya selesai. Nah, karena itu, maka jika terjadi sesuatu, bukanlah aku penyebabnya”

Kedua kawannya tidak begitu menghiraukannya lagi. Mereka pun kemudian sibuk mempersiapkan senjata masing-masing, senjata yang jarang sekali mereka pergunakan, karena dalam keadaan sehari-hari mereka sudah cukup percaya kepada tangan-tangan mereka yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Apalagi mereka berada di dalam masyarakat pedesaan yang dianggapnya tidak akan mampu berbuat apapun juga atas mereka. Yang mereka pertimbangkan kemudian adalah dua orang bangsawan yang ada di dalam istana itu. Keduanya tentu bukan orang kebanyakan di dalam ilmu kanuragan. Karena itu, maka mereka bertiga harus mempersiapkan diri mereka sebaik-baiknya.

“Anak muda itu memang berani” berkata Kumbara, “Apalagi agaknya ia diiringi oleh seorang pengawal yang tangguh, tetapi mereka tentu belum mengenal siapakah kita”

“Tentu mereka sudah mendengar tentang anak Karangmaja yang kita lumpuhkan itu” sahut Naga Pasa.

“Tetapi berbuat demikian terhadap tikus dari Karangmaja adalah mudah sekali. Dengan ilmu yang paling permulaan dan sekedar racun yang dapat dicuri dari orang-orang yang mengerti tentang ilmu obat-obatan, maka hal itu akan dapat dilakukan”

“Tetapi sudah barang tentu tidak dengan cara seperti yang kita lakukan atas anak itu. Mungkin dengan menggoreskan senjata di tubuhnya atau menusuk dengan jarum. Tetapi kita tidak berbuat demikian. Dan Ki Buyut di Karangmaja dapat bercerita bahwa dengan sentuhan tangan, kita dapat membuat anak itu lumpuh, buta, tuli dan bisu”

Kumbara mengangguk-angguk, katanya, “Memang mungkin. Dan memang mungkin pula kedua bangsawan itu merasa memiliki sedikit ilmu untuk dapat melawan kita. Karena itu, bersiaplah sebaik-baiknya”

Ketiga orang itu tidak berbicara berkepanjangan lagi, Mereka benar-benar mempersiapkan diri. Kumbara telah menyiapkan sebilah pedang yang berwarna kehitam-hitaman oleh racun yang kuat. Jika pedang itu berhasil menyentuh lawannya, maka jika lawannya tidak mempunyai penawar yang baik, maka ia akan segera mati membeku”

Gagak Wereng ternyata memiliki senjata yang lain. Selain kekuatan tangannya yang luar biasa dan sebuah cincin yang beracun, ia pun memiliki senjata yang berujung runcing di kedua sisinya. Senjata yang tangkainya tidak lebih panjang dari dua jengkal, tetapi di sebelah menyebelah terdapat ujung seperti ujung tombak yang masing-masing panjangnya lebih dari sejengkal.

Seperti pedang Kumbara, maka ujung senjata Gagak Wereng itu pun beracun pula. Racun yang sama kuatnya dengan racun pedang Kumbara.

Naga Pasa mempunyai senjata yang lain pula, ia mempergunakan dua buah pisau belati panjang, selain kedua pisau belati panjang itu, juga memiliki beberapa buah pisau yang lebih kecil. Tangannya sudah terbiasa melontarkan senjata-senjata kecil yang seperti kedua kawan-kawannya, senjatanya itu pun beracun pula.

Ketiga orang itu hampir tidak sabar menunggu matahari yang merambat lambat sekali di langit, apalagi ketika warna merah mulai membayang, seolah-olah matahari itu telah berhenti di tempatnya.

“Kita berangkat setelah makan malam” berkata Kumbara, “Sebentar lagi, orang-orang Karangmaja akan mengirimkan makan malam kita yang terakhir, aku sudah berpesan kepada mereka, agar mereka memotong seekor kambing muda yang paling gemuk”

“Apakah kau juga mengatakan bahwa pengiriman ini adalah yang terakhir bagi kita?” bertanya Naga Pasa.

“Tentu tidak”

Naga Pasa menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Sebenarnya orang-orang Karangmaja terpaksa menyembelih seekor kambing seperti yang diminta oleh orang-orang yang mereka anggap sedang menghantui Karangmaja dan tinggal di banjar padukuhan itu. Mereka tidak dapat berbuat lain daripada memenuhinya, apalagi hanya seekor kambing muda yang gemuk, bahkan seekor lembu pun akan diberikannya.

Dalam keprihatinan Ki Buyut di Karangmaja selalu merasa dikejar-kejar oleh kewajiban yang tidak dapat dipenuhinya, ia sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa atas ketiga orang itu, sedangkan dipihak lain, seorang anak muda yang akan dapat diharap membantunya, ternyata telah mengambil korban bukan satu atau dua ekor kambing muda yang paling gemuk, tetapi korban itu adalah dua orang gadis muda yang terhitung cantik di Karangmaja. Pada suatu saat memang timbul niatnya untuk mengadukan kesulitannya kepada kedua bangsawan yang ada di istana itu.

“Mungkin mereka akan dapat membantu” katanya di dalam hati. Namun niat itu pun diurungkannya, dengan demikian, jika terjadi sesuatu atas bangsawan-bangsawan itu, maka ia adalah penyebabnya, yang mungkin akan dapat dibebani kesalahan seperti yang telah menciderainya pula, karena Ki Buyut menduga, keluarganya tidak akan dapat menerima hal itu terjadi atas keduanya.

Dengan demikian, yang dapat dilakukannya adalah sekedar merenungi dirinya sendiri dan padukuhan kecilnya yang telah dibayangi oleh kesulitan yang semakin lama akan menjadi semakin besar.

Sementara itu, langit merah menjadi semakin buram, beberapa orang Karangmaja dengan tergesa-gesa pergi ke banjar sambil membawa makanan dan minuman bagi tiga orang penghuninya.

Setiap kali mereka memasuki halaman banjar, terasa tubuh mereka tergetar, meskipun sejak orang-orang itu berada di banjar, belum seorang pun yang pernah diganggunya sejak ia memukul Kasdu. Tetapi bagaimanapun juga, hati mereka tetap tergetar untuk setiap kali bertemu.

“Apakah pesanku sudah terpenuhi?” bertanya Kumbara kepada orang-orang yang membawa makanan dan minuman itu.

“Daging kambing maksud Tuan?”

“Ya…, daging kambing muda dan gemuk, aku sudah jemu makan daging ayam dan telur”

“Sudah, sudah, kami membawa hampir seluruh tubuh kambing muda itu, hanya beberapa bagian kami tinggalkan buat makan Tuan-tuan besok pagi-pagi”

“Bagus” desis Gagak Wereng, “Orang-orang Karangmaja memang orang yang ramah dan baik hati. Kami mengucapkan terima kasih”

Orang-orang yang membawa makanan itu tidak menjawab, mereka meletakkan saja beberapa bakul diatas amben di dalam banjar sambil mengambil sisa-sisa makanan siang yang berserakan.

Ketika Kumbara membuka tutup bakul-bakul itu pun, ia tertawa katanya, “Lihatlah, bukankah itu merupakan bekal yang baik bagi kita yang malam ini akan melakukan tugas yang besar, yang akan menentukan kedudukan kita kelak?”

Gagak Wereng tidak menjawab, tetapi tangannya langsung menjamah gumpalan-gumpalan daging di dalam bakul itu, tanpa mengatakan sepatah katapun, ia segera menyumbatkan segumpal daging ke dalam mulutnya.

Kumbara tertawa melihat tingkah laku Gagak Wereng, disela-sela suara tertawanya ia berkata, “Dua orang kawanku mempunyai kebiasaan yang menjengkelkan dalam bentuknya masing-masing, yang seorang adalah seorang yang memanjakan nafsu makannya tanpa kendali, sedang yang lain sangat dipengaruhi oleh wajah-wajah cantik tanpa memikirkan akibat-akibat yang dapat timbul karenanya. Dua cacat yang apabila tidak disadari akan sangat membahayakan kedudukan kita semuanya.

Namun sambil mengunyah Gagak Wereng berkata, “Betapapun rakusnya aku, tetapi aku dapat membedakan, yang manakah yang boleh aku lakukan dan yang manakah yang tidak”

“Kau sangka aku tidak?” bertanya Naga Pasa, “Jika aku tidak dapat membedakannya, maka aku sudah lebih dari sepuluh gadis-gadis Karangmaja, terutama di istana itu, yang sudah aku seret ke dalam banjar”

Gagak Wereng tertawa, tetapi ia masih saja menyuapi mulutnya dengan gumpalan-gumpalan daging.

“Kita akan makan dahulu” berkata Kumbara, “Lalu kita akan melakukan tugas kita sebaik-baiknya, mungkin kita harus membunuh semua yang hidup di dalam istana itu”

Naga Pasa berpaling sekejap, namun ia tidak menghiraukannya lagi, ia tahu, Kumbara sengaja menggelitik hatinya agar ia menyatakan sikapnya, tetapi ia lebih baik diam saja.

Sesaat kemudian mereka bertiga pun telah memegang mangkuk masing-masing. Ternyata bukan hanya Gagak Wereng yang rakus terhadap gumpalan-gumpalan daging kambing, tetapi adalah mereka ketiga-tiganya bagaikan berlomba menghabiskan daging yang terbanyak.

Setelah mereka selesai makan dan melemparkan sisanya ke sudut ruangan, maka mereka pun segera membenahi diri, Kumbara yang dianggap tertua diantara mereka berkata, “Kita beristirahat sejenak sambil menyiapkan senjata kita masing-masing, jangan ada yang mengecewakan, selebihnya semua yang akan kita bawa harus sudah tersangkut di pelana kuda kita masing-masing. Karena kita tidak akan kembali lagi ke banjar ini, kita tidak akan bertemu lagi dengan orang-orang Karangmaja yang dungu untuk seterusnya. Memang mungkin beberapa tahun lagi kita akan datang lagi ke daerah ini, tetapi sudah barang tentu dengan kedudukan yang jauh berbeda”

Kedua kawannya tidak menyahut, mereka duduk di muka biliknya, sambil mengipasi dada mereka yang berkeringat.

Terasa angin mulai menjadi sejuk, langit yang buram menjadi semakin buram, satu-satu bintang mulai bergayutan di langit yang biru pekat. Beberapa helai awan yang putih mengambang dihembus oleh angin ke utara.

“Padukuhan ini segera menjadi sepi” gumam Gagak Wereng, “Jika matahari terbenam, maka hampir semua pintu telah tertutup, hanya satu dua orang saja yang masih berada diluar rumah”

“Pada umumnya mereka pergi ke rumah Ki Buyut” sahut Naga Pasa.

Gagak Wereng mengangguk-angguk, matanya yang tajam seolah-olah sedang menusuk ke dalam kegelapan.

Satu-satu nampak cahaya pelita yang menembus dinding rumah yang berlubang, jatuh keatas dedaunan di halaman, sentuhan angin yang menggerakkan dedaunan itu, bagaikan mengguncang sinar pelita yang menggeliat seperti sedang dibayangi oleh kegelisahan yang sangat.

Gagak Wereng menarik nafas dalam-dalam, meskipun hampir setiap pintu rumah sudah tertutup rapat, tetapi seolah-olah Gagak Wereng dapat melihat, sekeluarga yang sedang dilanda oleh kecemasan tentang hari depannya, duduk diatas amben bambu yang besar, betapapun juga seorang ayah mencoba menghibur anak-anaknya, tetapi anak-anak yang kecil itu tidak dapat menghindarkan diri dari ketakutan yang luar biasa, begitu juga ibunya.

“Kenapa aku justru menjadi hantu bagi sesama manusia?” pertanyaan itu tiba-tiba saja telah menghinggapi jantung gagak Wereng.

“Kali ini agaknya yang terakhir” katanya di dalam hati pula.

Gagak Wereng mulai membayangkan, bahwa jika usahanya kali berhasil, dan ia mendapat upah uang atau kedudukan yang cukup memadai, maka ia akan hidup wajar untuk seterusnya, dan ia pun akan menukar namanya lagi dengan namanya yang sebenarnya. Margajati.

Namun demikian ia berkata kepada diri sendiri, “Tetapi tugas ini harus diselesaikan dahulu”

Gagak Wereng menggeliat ketika ia mendengar Kumbara berkata, “Ujung malam ini sudah mulai gelap, marilah kita berangkat, kita tidak akan berjalan tergesa-gesa. Kita akan menikmati malam terakhir di Karangmaja ini sebaik-baiknya”

Ketiga orang itu pun kemudian mempersiapkan diri, semua milik mereka telah mereka siapkan dan mereka sangkutkan pada pelana kuda mereka masing-masing, senjata mereka telah siap pula untuk dipergunakan sewaktu-waktu.

“Mungkin kedua orang itu perlu dibantai dengan senjata” berkata Kumbara, “Karena itu jangan meremehkan keduanya, keduanya bukanlah anak-anak kecil lagi”

Sejenak kemudian, maka ketiga orang itu pun segera berangkat meninggalkan banjar desa, tidak ada orang Karangmaja yang mengetahuinya, pada umumnya mereka sudah berada di dalam bilik masing-masing.

Hanya satu dua anak muda sajalah yang masih berada di rumah Ki Buyut Karangmaja, mereka berjaga jaga sambil berbincang, sekali-kali mereka menengok Kasdu nampaknya keadaannya memang berangsur baik.

Tetapi anak-anak muda yang masih tinggal di rumah Ki Buyut itu. Tidak berani pulang ke rumah masing-masing, hingga menjelang pagi hari. Ketakutan itu selalu mencengkam hati setiap anak-anak muda sejak di banjar tinggal ketiga orang yang sama sekali tidak dikehendaki oleh orang-orang Karangmaja, namun yang sama sekali tidak dapat diusiknya itu.

Meskipun demikian, seperti juga perempuan dan gadis-gadis, anak-anak muda Karangmaja belum pernah mengalami perlakuan yang dapat menghentikan denyut jantung mereka dari ketiga orang yang tinggal di banjar itu.

Dalam pada itu, ketika angin malam menjadi semakin dingin, Kumbara, Gagak Wereng dan Naga Pasa telah menjadi semakin dekat dengan istana kecil yang terpencil, dimalam hari istana itu memang nampak suram dan sepi sekali.

“Seperti sebuah rumah hantu” desis Naga Pasa.

“Ya… sebuah rumah di lereng bukit kecil, lihat, jika bulan kebetulan purnama, maka istana itu justru akan menjadi semakin mengerikan nampaknya. Seolah-olah dari balik pintunya akan dapat bermunculan sebangsa hantu, jin dan bekasakan”

“Kita akan memasukinya, kita akan segera menemukan penghuni istana itu yang sebenarnya”

Kawan-kawannya tidak menyahut lagi, mereka memusatkan perhatian mereka kepada istana yang sepi dan suram itu. Sebuah lampu minyak yang berkeredipan menerangi sebagian kecil pendapa yang terbuka.

Namun, bagaimanapun juga, hati ketiga orang itu pun terasa menjadi berdebar-debar, mereka sudah terbiasa membunuh, tetapi rasa-rasanya membunuh perempuan yang tidak berbahaya justru sangat mendebarkan hati.

Ketiga orang itu tidak akan tergetar hatinya jika senjata mereka pada saatnya terhujam di dada kedua orang bangsawan yang sedang berada di istana itu pula, tetapi jika mereka harus membunuh perempuan yang ada di dalamnya, maka tangan mereka akan manjadi gemetar.

Bahkan tiba-tiba saja tumbuh penyakit di hati Gagak Wereng, “Apakah untungnya dengan membunuh perempuan-perempuan itu?, mereka tidak dapat berbuat apa-apa, seandainya mereka melawan, apakah yang dapat mereka lakukan?, dengan sekali dorong, mereka akan jatuh pingsan”

Gagak Wereng menarik nafas dalam-dalam, tanpa sadarnya ia berpaling memandang wajah Kumbara yang tegang, didalam keremangan malam, Gagak Wereng tidak dapat melihat dengan jelas bentuk dan kerut merut di wajah kawannya itu.

Namun Naga Pasa agaknya mempunyai pikiran yang lain, setiap kali ia menengadahkan wajahnya, dan seolah-olah tersenyum seorang diri.

“Gila..!” desis Gagak Wereng di dalam hatinya, “Naga Pasa tentu akan mengambil kedua gadis yang ada di istana itu. Ia tidak akan segan membawanya dan melemparkan ke tepi jalan selagi gadis itu tidak sadarkan diri.”

Gagak Wereng adalah seorang laki-laki yang hampir tidak pernah bertanya kepada kawan-kawan dan kepada diri sendiri. Apakah korbannya perlu dikasihani atau tidak, ia adalah laki-laki yang bengis dan tidak berperikemanusiaan. Namun tiba-tiba saja, sebuah kejemuan telah merayapi hatinya, justru selagi ia bergerak mendekati istana yang kecil dan terpencil untuk melakukan tugasnya yang cukup berat.

“Gila,,!, “ Ia menggeram didalam hatinya, “Kenapa aku ragu?, Apakah sebenarnya aku ketakutan melihat kedua orang bangsawan yang ada di istana itu?”

Gagak Wereng tidak sempat merenung dirinya lebih jauh. Kumbara memberi isyarat dengan tangannya, sehingga mereka bertiga pun kemudian berhenti beberapa langkah di depan regol halaman istana yang suram itu.

“Kita akan memasuki halaman istana, kita akan menambatkan kuda kita diluar regol” berkata Kumbara

“Kenapa diluar regol?” bertanya Naga Pasa.

“Kuda kita tidak boleh menjadi sasaran kebingungan kedua orang yang ada di istana itu. Jika mereka kehilangan akal menghadapi kematian, mereka akan dapat dengan gila menyerang kuda yang tidak tahu menahu tentang perkelahian itu”

“Selebihnya, kita akan dapat dengan cepat meninggalkan halaman jika keadaan memaksa” desis Gagak Wereng

Naga Pasa memandanginya dengan heran, katanya, “He..!, sejak kapan kau memperhitungkan cara untuk melarikan diri?”

“Bukan untuk melarikan diri” sahut Gagak Wereng, tetapi ia tidak menemukan kata-kata untuk melanjutkan kalimatnya.

Naga Pasa tertawa, katanya, “Kedua orang yang tinggal di istana itu adalah bangsawan-bangsawan yang hanya pandai berhias dan merayu perempuan, karena itu mereka harus dibunuh, jika tidak, maka perempuan-perempuan akan menjadi korban mereka dan hidup tersia-sia di hari tuanya”

“Cukup.., desis Kumbara, “Marilah kita bersiap-siap, semuanya akan segera dimulai”

Ketiga orang itu pun meloncat turun dari kuda mereka dan menambatkan kuda-kuda itu di batang perdu di depan istana itu. Untuk sesaat mereka mencoba mengamati keadaan, tetapi istana itu benar-benar telah menjadi sepi.

“Kita akan masuk sekarang” berkata Kumbara.

Gagak Wereng dan Naga Pati mengangguk kecil, hampir diluar sadar, mereka pun telah meraba senjata masing-masing, Seolah-olah mereka ingin meyakinkan, bahwa senjata-senjata mereka akan dapat menyelesaikan persoalan yang sedang mereka hadapi. Sejenak kemudian Kumbara pun telah berdiri di muka pintu regol, beberapa kali ia mencoba mendorongnya, tetapi agaknya pintu itu telah diselarak.

“Kita dorong saja” desis Naga Pasa.

“Itu akan membuat keributan, kita dapat mengangkat selarak dengan memasukkan tangan kita pada bagian yang rusak itu”

“Aku tidak telaten” desis Gagak Wereng, “Aku akan loncat dinding batu dan aku akan membukanya dari dalam”

Kumbara mengangguk, katanya, “Baik, lakukanlah”

Gagak Wereng pun segera meloncat keatas dinding batu yang mengelilingi halaman, sejenak ia memandang ke bagian dalam dari dinding batu itu. Ternyata halaman itu benar-benar sepi. Tidak ada sesuatu nampak bergerak meskipun sekedar oleh seekor kadal. Gagak Wereng segera meloncat masuk, dengan hati-hati ia melangkah mendekati pintu gerbang dan kemudian membuka selaraknya.

Kumbara dan Naga Pasa yang berada di luar, menarik nafas dalam-dalam, seolah pintu telah terbuka lebar-lebar bagi tugas yang akan dilakukannya, meskipun yang sudah terjadi baru ujung dari keseluruhan tugas yang sangat berat. Terlebih-lebih dengan kehadiran kedua orang bangsawan yang berada di dalam istana itu pula.

“Apakah kita akan langsung memasuki istana?” bertanya Gagak Wereng

“Sudah barang tentu” Jawab Kumbara, “Kita tidak akan membuang waktu lebih lama lagi”

“Marilah” geram Naga Pasa, “Pekerjaan kita sudah selesai”

“Kau bermimpi, kita baru mulai”

“Ya…, kita baru mulai, tetapi selanjutnya adalah mudah sekali”

Kumbara memandang Naga Pasa dengan tatapan mata yang ragu, namun ia pun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Perlahan-lahan ia mulai melangkah mendekati pendapa yang remang-remang diterangi oleh lampu minyak yang redup.

“Kita akan naik ke pendapa dan langsung mengetuk pintu” berkata Kumbara.

“Ya, kita akan mengetuk pintu” sahut Naga Pasa yang mulai melangkahkan kakinya naik ke pendapa.

Tetapi langkahnya terhenti, dengan wajah yang tegang ia memandang Kumbara dan Gagak Wereng yang juga termangu-mangu.

“Aku mendengar sesuatu” desis Naga Pasa

“Ya, aku juga mendengar sesuatu” sahut Kumbara.

Ketiganya pun kemudian berdiri mematung, namun untuk beberapa saat lamanya, tidak ada sesuatu yang yang mereka dengar, desah angin pun tidak.

“Aku akan naik” berkata Naga Pasa, “Ternyata kita telah diganggu oleh kecemasan kita sendiri”

Kumbara mengangguk, katanya, “Ketuklah pintu itu keras-keras”

Namun Naga Pasa tidak sempat menjawab, tiba-tiba saja terdengar suara tertawa disisi pendapa itu, dari dalam kegelapan terdengar suara, “Kau tidak usah mengetuk pintu itu keras-keras, aku berada disini”

Naga Pasa segera meloncat turun, dengan wajah yang tegang ia memandang kedalam kegelapan sambil berkata, “Nah, ternyata yang kami dengar bukan sekedar nafas kami sendiri” ia berhenti sejenak, lalu, “He..! Siapakah kau, apakah kau bangsawan yang ada di istana ini?”

Ketegangan memuncak ketika mereka melihat dedaunan yang bergerak, dari dalam kegelapan muncul seseorang yang seperti telah diduga, ia adalah seorang dari kedua bangsawan yang ada diistana itu.

“Oo… Kau” desis Kumbara, “Terima kasih atas sambutanmu”

“Namaku Panji Sura Wilaga”

“Panji Sura Wilaga” Kumbara mengulang, “Baiklah, kemarilah, aku akan berbicara denganmu sedikit”

Panji Sura Wilaga melangkah mendekati ketiga orang itu dengan tanpa ragu-ragu, tidak ada sepercik kecemasan pun yang membayang di wajahnya.

“Dimanakah kawanmu itu?” bertanya Kumbara kepada Panji Sura Wilaga.

“Ia berada di dalam, tetapi ia akan dengan senang hati menyambut kedatangan kalian pula”

“Baiklah, apakah kau sedang menunggunya Panji Sura Wilaga?”

“Aku memang tinggal di istana ini bersamanya, ia sedang menengok bibinya yang agaknya hidup seolah-olah dalam pengasingan”

“Maksudku, sekarang ini, apakah kau sedang menunggu kawanmu itu?”

“Ia akan keluar nanti, ia tidak sedang tidur, ia tentu mendengar kedatangan kalian, tetapi ia masih berada didalam”

“Jika demikian, maka aku akan menemuinya dan menemui isteri Pangeran Kuda Narpada”

“Buat apa kau ingin menemuinya?”

“Ada sesuatu keperluan yang akan aku sampaikan kepada isteri Pangeran yang telah hilang itu”

“Ki Sanak, “ berkata panji Sura Wilaga, “Agaknya tidak pantas jika Ki Sanak pada malam hari yang gelap, datang sebagai tamu di istana ini, bukankah besok masih ada hari?, aku ingin menasehatkan kepada Ki Sanak, besok sajalah datang kembali di siang hari, jangan sekarang”

Kumbara menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin mengedepankan perasaannya yang mulai menjadi panas.

“Aku datang untuk menemui isteri Pangeran Kuda Narpada, aku ingin bertemu barang sekejap, dan aku ingin lakukan sekarang, tidak besok”

“Ki Sanak, “ berkata Sura Wilaga, “Sebaiknya Ki Sanak jangan memaksa, itu kurang baik, yang Ki Sanak lakukan sekarang ini benar-benar bertentangan dengan kesopanan yang lazim berlaku”

“Maaf Panji Sura Wilaga, “ sahut Kumbara, “Barangkali aku memang tidak menghiraukan sopan santun, tetapi demikianlah keinginanku, jangan menghalang-halangi aku, supaya hidupmu tidak menjadi pendek.”

“Ah, kau sedang menakuti-nakuti” jawab Sura Wilaga, “Jangan seperti menakut-nakuti anak-anak, karena itu, sebaiknya kalian kembali saja, dan datanglah besok jika matahari sudah naik tinggi.”

“Persetan !!” geram Kumbara yang hampir kehabisan kesabaran, “Kau jangan mempersulit dirimu sendiri.”

“Tentu tidak, aku sama sekali tidak mempersulit diriku, tetapi adalah menjadi kewajibanku untuk memperingatkanmu. Ketahuilah, bahwa Raden Ayu Kuda Narpada sekarang sudah tidur, agaknya ia lelah sekali, karena sehari-harian ia bekerja di dapur, adalah bukan menjadi kebiasaan isteri seorang bangsawan tinggi melakukan pekerjaan itu.”

“Aku tidak perduli.” Bentak Kumbara yang telah kehilangan kesabaran, “Aku akan masuk dan menemuinya”

“Sebaiknya jangan Ki Sanak, nanti kita akan dapat berselisih, bukan saja dengan kata-kata, tetapi mungkin dengan kekerasan”

Kumbara menggeram mendapat tantangan itu, maka katanya kemudian tidak kalah garangnya, “Baiklah, jika itu yang kau kehendaki, bukan kamilah yang menentang kalian, tetapi kaulah yang sudah memulainya”

“Tentu saja bukan aku, aku hanya sekedar mempersilahkan kalian untuk kembali besok, selebihnya adalah pengotak-atikmu saja”

“Panji Sura Wilaga !!!” berkata Naga Pasa yang sudah kehilangan kesabaran, “Kau tinggal memilih, membawa kami masuk dan mempertemukan kami dengan isteri Kuda Narpada, atau kau akan mati dengan penderitaan yang tidak dapat diperkirakan?. Dengarlah Panji Sura Wilaga, jika tangan kami menyentuh tubuhmu, maka kau akan menjadi lumpuh, bisu, tuli dan buta seperti seorang anak muda dari padukuhan Karangmaja”.

Tetapi diluar dugaan, Panji Sura Wilaga tertawa, katanya, “Memang kemampuan anak-anak dari Karangmaja, perguruan Guntur Geni dapat dibanggakan, apabila pemimpinnya yang menyebut dirinya bernama Kiai Sekar Pucang, tetapi bagiku, perguruan itu tidak ubahnya seperti berpuluh-puluh perguruan kecil lainnya yang tersebar dari ujung kulon sampai ke ujung timur pulau ini”

“Gila !!” Kumbara tiba-tiba menggeram, “Dari mana kau dapat menyebut nama perguruan dan pimpinanku?”

“Dari bekas tanganmu yang berbisa itu, aku pernah melihat seorang anak muda yang kau perlakukan seperti itu, adalah diluar peri-kemanusiaan jika kau memperlakukan seorang anak muda pedesaan yang tidak tahu menahu tentang ilmu kanuragan dengan cara seperti itu”

“Ia menentang aku”

“Apapun yang dilakukannya, kau tentu dengan mudah akan dapat mencederainya, karena anak pedesaan itu adalah anak yang bodoh dan dungu”

Tiba-tiba Gagak Wereng yang sejak semula hanya berdiam diri saja berkata, “Kita akan berbantah terus sepanjang semalam suntuk, atau akan menyelesaikan tugas kita yang penting ini?”

“Sudah tentu, kita akan segera bertindak”

“Marilah, aku akan memasuki pringgitan, Siapa yang sudah jemu berbicara, ikuti aku”

“Panji Sura Wilaga tertawa, katanya, “Masuklah, tetapi kalian tidak akan pernah keluar lagi”

“Jangan hiraukan” berkata Gagak Wereng sambil melangkah naik ke pendapa, “Kita akan berjalan terus, jika orang ini berani bertindak, ia akan bertindak, ia tahu pasti, bahwa ia akan berhadapan dengan perguruan Guntur Geni”

“Jangan panik” desis Panji Sura Wilaga.

“Persetan !!!” Gagak Wereng tidak menghiraukannya.

Panji Sura Wilaga maju beberapa langkah, ketika ia pun kemudian meloncat naik ke pendapa, terdengar pintu pringgitan terbuka. Nampak dalam cahaya lampu minyak seorang anak muda berdiri bersilang tangan di dada.

“Nah itulah yang seorang” berkata Gagak wereng.

“Ya…” jawab anak muda yang berada di pintu itu, “Aku kira kalian dapat diajak berbicara dan meninggalkan halaman istana ini, tetapi ternyata dugaanku keliru, kau memaksa naik dan masuk kedalam istana bibiku ini”

Gagak Wereng manjadi ragu-ragu sejenak, ada sesuatu yang bergetar di dada, hatinya, tetapi sambil menggerakkan giginya ia berkata, “Kau jangan mencoba mengganggu tugas-tugas kami, aku akan bertemu dengan bibimu”

“Jangan kasar” berkata Raden Kuda Rupaka, “Sebaiknya aku masih memperingatkan kalian sekali lagi, pergilah dan kembalilah besok siang jika memang kalian mempunyai kepentingan dengan bibi”

“Tidak aku akan bertemu dengan bibimu sekarang”

Raden Kuda Rupaka yang lebih muda dari Panji Sura Wilaga ternyata lebih cepat menjadi panas. Sambil menggeram ia melangkah lebih maju dan berkata, “Jangan menyombongkan diri karena kalian adalah anak-anak dari perguruan Guntur Geni, itu sama sekali tidak dapat menggetarkan hatiku. Namun aku masih dapat berbicara dan bersikap sebagai manusia, bukankah kita manusia yang mempunyai akal dan budi?, bukankah kita punya mulut untuk berbicara?, dan bukankah kita mengakui, bahwa setiap orang mempunyai hak atas miliknya, seperti bibi mempunyai hak atas istananya ini?, jangan melanggar hak itu, pergilah”

“Jangan berbicara lagi” Kumbara menjadi semakin marah, “Menepilah, aku akan lewat”

Wajah Kuda Rupaka menjadi merah, dengan garangnya ia berkata, “Jika demikian, kau akan memaksakan kehendakmu, baiklah itu berarti maut”

Kumbara mengerti bahwa tidak ada jalan lain kecuali bertempur, karena itu, maka ia pun berkata kepada Naga Pasa dan gagak Wereng, “Kalian bersama-sama dapat membunuh yang seorang itu dengan cepat, aku akan melayani anak gila ini, kemudian kita bertiga akan mencincangnya sampai lumat”

Kuda Rupaka tidak bergeser dari tempatnya, ia berdiri dengan kaki renggang seperti sebatang tonggak besi baja yang menghunjam jauh kedalam pusat bumi.

Namun dalam pada itu, Raden Ayu Narpada dan Inten Prawesti yang ketakutan didalam ruang tengah istananya yang suram itu. Tiba-tiba seolah-olah mendapat sebuah kekuatan yang lain, ia tidak ingin mengorbankan kemanakannya yang hanya secara kebetulan saja berada di istananya itu. Karena itu maka didorongnya Inten perlahan-lahan sambil berkata, “Inten, pergilah kepada Nyi Upih dan anak-anaknya, aku akan menemui orang-orang itu, mungkin yang dicarinya bukan sesuatu yang sulit untuk dipenuhi”

“Apakah mereka akan mengambil aku ibunda?” bertanya Inten Prawesti.

“Tentu tidak Inten, pergilah kepada Nyi Upih, ia akan dapat berbuat sesuatu untukmu”

Inten menjadi semakin gemetar, tetapi ia tidak dapat menahan ibundanya lagi.

Ketika ibunya bangkit dan melangkah ke pendapa, Inten siap-siap untuk berlari ke belakang, tetapi sebelum ia melangkah ternyata Nyi Upih lah yang berjalan tergesa-gesa memasuki ruangan itu.

“Gusti” ia berdesis

Raden Ayu Kuda Narpada terhenti, “Apakah Gusti akan menemui orang-orang itu?”

“Aku akan menemuinya Nyai, mungkin persoalannya dapat mudah aku selesaikan tanpa menimbulkan onar, aku tidak sampai hati melepaskan angger Kuda Rupaka bertempur dengan mereka, jika terjadi sesuatu atas anak itu, maka aku akan merasa sangat menyesal”

“Tetapi berhati-hatilah Gusti”

Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk, sementara Inten Prawesti telah memeluk pemomongnya dengan tubuh yang gemetar

“Marilah, duduklah puteri” Nyi Upih mencoba untuk menenangkannya.

“Nyai” desis Inten, “Dimana anak-anakmu?”

“Mereka membeku di pembaringan puteri, aku sudah mengajak mereka kemari, tetapi Pinten tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali, sedang Sangkan bersembunyi di bawah kolong amben bambunya”

“Aku juga takut sekali Nyai”

“Sudahlah, aku berharap bahwa segala sesuatunya dapat segera diselesaikan” berkata Raden Ayu Raden Kuda Narpada sambil melanjutkan langkahnya ke pendapa.

Sementara itu, Kuda Rupaka sudah siap untuk memaksa ketiga orang yang datang dengan kasarnya dimalam hari itu untuk pergi, Panji Sura Wilaga pun telah meraba hulu pedangnya pula.

Namun dalam pada itu, Kumbara, Naga Pasa dan Gagak Wereng pun telah siap menghadapi lawan masing-masing dengan garangnya.

Kehadiran Raden Ayu Narpada telah mengejutkan mereka yang sudah siap bertempur di pendapa, apalagi Kuda Narpada yang dengan sigapnya meloncat mendekati bibinya, “Bibi, silahkan bibi masuk, biarlah aku selesaikan persoalan kecil ini, mereka adalah anak-anak dari perguruan Guntur Geni yang tidak mempercayai kemampuan prajurit-prajurit Demak, tetapi sebentar lagi mereka akan menyesal dan akan menyebut nama Sultan Demak sambil berjongkok dihadapanku”

“Anakmas Kuda Rupaka” berkata Raden Ayu Kuda Narpada, “Kau adalah tamuku, kehadiranmu, membuat aku sekeluarga yang kecil ini menjadi gembira, karena itu, aku tidak mau sesuatu terjadi atasmu anakmas, jika pakaianmu sobek, apalagi kulitmu tergores ujung senjata meskipun hanya setebal rambut, aku akan sangat menyesal, semua kegembiraan akan lenyap dan persoalannya tentu akan menjadi berkepanjangan”

Kuda Rupaka tertawa, katanya, “Bibi, aku tidak biasa menyombongkan diri, tetapi bersama-sama dengan paman Panji Sura Wilaga, aku akan berusaha untuk melindungi istana peninggalan pamanda Kuda Narpada ini”

“Terima kasih anakmas, tetapi biarlah orang ini menyebutkan persoalannya, biarlah ia mengatakan, apakah yang akan dibicarakannya dengan aku”

“Nah…!” tiba-tiba saja Kumbara memotong, “Itu adalah suatu kebijaksanaan yang terpuji”

“Angger Kuda Rupaka” berkata Raden Ayu Kuda Narpada, “Biarlah ia berbicara”

Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, ia pun kemudian berjongkok dihadapan bibinya sambil berkata, “Bibi. Adalah kewajiban seorang ksatria untuk berbuat derma, melindungi yang lemah dan memerangi kejahatan, apalagi terhadap keluarga sendiri, sedangkan bagi orang lain pun harus dilakukannya tanpa pamrih. Bibi, terjadi sesuatu atas diri kami berdua, maka tidak akan ada seorang pun yang menyalahkan bibi. Bahkan ayahanda akan berbangga, bahwa anaknya telah melakukan tugas seorang ksatria, karena itu bibi, jangan layani orang-orang gila ini, serahkanlah mereka kepadaku”

“Bagus” teriak Naga Pasa, “Kau akan kami bunuh lebih dahulu, baru kami akan berbicara dan memaksa bibimu untuk memenuhi tuntutan kami”

“Apakah sebenarnya yang kalian kehendaki?” bertanya Raden Ayu Kuda Narpada

Namun sebelum mereka menjawab Kuda Rupaka telah meloncat berdiri sambil berkata lantang, “Selama aku masih berdiri di halaman ini, kalian tidak akan dapat memaksa bibi untuk berbuat apapun. Karena itu, jika kalian mampu membunuh aku, lakukanlah”

“Aku akan membunuhmu” geram Kumbara sambil melangkah maju.

“Bibi masuklah” Kuda Rupaka perlahan-lahan mendorong bibinya masuk kembali, sehingga Raden Ayu Kuda Narpada sama sekali tidak sempat menolak.

Demikian Raden Ayu itu hilang dibalik pintu, maka pintu itu pun segera ditarik oleh Raden Kuda Rupaka, sehingga tertutup rapat-rapat.

“Kau jangan menakuti-nakuti perempuan itu he..!!” geram Raden Kuda Rupaka, “Sekarang lakukan apa yang akan kau lakukan”

“Kumbara menggeram, namun sebelum ia berkata sesuatu, Kuda Rupaka dengan acuh tidak acuh berjalan turun ke halaman sambil berkata, “Di sini kita mendapat tempat yang lapang untuk saling berbunuhan”

Kumbara tidak menjawab, ia pun segera meloncat dari pendapa langsung menyerang anak muda yang memang sudah siap menunggunya itu.

Raden Kuda Rupaka sama sekali tidak terkejut mendapat serangan yang dahsyat itu, dengan sigapnya ia meloncat. Bahkan ia masih sempat berkata, “Racun di tanganmu dan senjatamu tidak akan dapat bekerja dihadapanku. Aku sudah menggosok seluruh tubuhku dengan obat panawar racun, Sementara di jariku terdapat sebuah cincin dengan batu akik Jumerut Sisik Waja, betapa tinggi ketajaman racunmu, kau sama sekali tidak akan berdaya”

“Gila…!!!, jadi kau mempunyai batu akik Jumerut Sisik Waja?” bertanya Kumbara.

“Ya…, dan paman Panji Sura Wilaga mempunyai batu akik Naga Keling. Kecuali obat penawar seperti yang aku pergunakan pula”

“Persetan…!!! Kalian tentu anak-anak dari perguruan Cengkir Pitu”

“Kau sudah mengenalnya?, nah, jika demikian, jangan bermain-main dengan racun, tentu tidak ada gunanya.ntu tidak ada gunanya. Perguruan Guntur Geni dan Cengkir Pitu mempunyai pengetahuan tentang racun dari sumber yang sama”

Kumbara menggeram, ia pun segera menyerang pula sambil berteriak, “Tetapi baik akik Jumerut Sisik Waja, maupun Naga Keling tidak mampu membuat kulitmu menjadi kebal. Meskipun kalian tawar dari racun, namun tubuh kalian tidak menjadi kebal oleh senjata tajam”

“Juga anak-anak dari Guntur Geni tidak akan dapat mengelakkan luka di tubuhnya”

Kumbara menjadi semakin marah karena serangannya sama sekali tidak menyentuh lawannya, karena itu, maka ia pun segera menyerang lawannya beruntun dengan senjatanya sambil bertanya, “Jika kalian anak-anak Cengkir Pitu, kenapa kalian berada disini?”

Kuda Rupaka tidak menyahut, tetapi suara tertawanya terdengar tinggi. Dalam pada itu Naga Pasa dan Gagak Wereng menjadi termangu-mangu melihat perkelahian yang terjadi. Dalam sekilas nampak bahwa Kuda Rupaka memang memiliki kemampuan yang dapat dibanggakannya.

Namun sementara itu, Panji Sura Wilaga telah siap pula menghadapi keduanya di halaman istana yang suram itu.

“Kau akan segera mati” desis Naga Pasa kemudian.

“Kau atau aku, atau kita bersama-sama”

“Persetan, Kau harus melawan kami berdua”

“Aku sudah terlalu biasa bertempur melawan kelinci-kelinci penakut yang berkelahi bersama seluruh keluarganya”

“Persetan…!!!” Kemarahan Naga Pasa telah memuncak, karena itu serangannya pun segera datang membadai, disusul dengan serangan-serangan Gagak Wereng yang dahsyat.

Panji Sura Wilaga pun kemudian mengerahkan segenap kemampuan bertempur yang cukup tinggi. Ia sadar, bahwa kedua orang itu akan memaksanya untuk menyerah dan mati. Kemudian mereka bertiga akan dengan sangat mudah dapat membunuh Kuda Rupaka pula.

Karena itu, maka Panji Sura Wilaga harus mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya sesuai dengan perkembangan pertempuran antara Kuda Rupaka dan lawannya.

“Aku harus bertahan sampai saatnya Raden Kuda Rupaka dapat membunuh iblis itu” berkata Panji Sura Wilaga kepada dirinya sendiri, sehingga dengan demikian, sejauh-jauh dapat dilakukan, Panji Sura Wilaga tidak menghambur-hamburkan tenaganya dalam perkelahian itu.

Tetapi hal itu sangat sulit dilakukannya, kedua lawannya memiliki kemampuan yang dapat memaksanya untuk memeras segenap tenaga yang ada padanya. Jika tidak, maka ia justru akan segera mengakhiri perlawanannya. Kumbara dan kawan-kawannya ternyata adalah orang-orang yang memang sepantasnya dipercaya oleh perguruannya untuk menjalankan tugas yang berat itu.

 -oo0 dw-arema 0oo-

Bersambung ke jilid 3

Sumber djvu : Koleksi Ismoyo

http://cersilindonesia.wordpress.com

Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://ebook-dewikz.com/

http://kang-zusi.info http://dewikz.byethost22.com/

diedit ulang oleh Ki Arema

kembali | lanjut

ISTANA YANG SURAM 01

ISTANA YANG SURAM

Jilid 1

Karya: SH Mintardja

lanjut

Istana Yang Suram-01KETIKA matahari terbenam dibalik ujung bukit di sebelah barat, beberapa ekor kelelawar bangkit dari persembunyiannya di atap sebuah istana kecil yang sudah tua, beterbangan menyusuri gelapnya malam.

Sebuah lampu yang suram menyala dipendapa yang terbuka, terguncang oleh Istana itu kian hari kian bertambah sepi. Halamannya masih tetap bersih seperti saat-saat lampau, tetapi tidak seorang pun yang pernah menjamah kerusakan yang terjadi pada bagian atap rumah itu. Didalam istana itu sama sekali tidak terdapat seorang laki-laki pun yang tinggal.

Mula-mula angin kencang telah menggeser bagian atap istana itu. Hanya sedikit sekali, tetapi ketika hujan turun, maka beberapa titik air menyusup lewat lubang atap yang tergeser itu, telah mengotori langit-langit. Semakin lama semakin banyak, bahkan kemudian lubang-lubang pada atap itu pun bertambah-tambah.

Meskipun demikian, titik air hujan yang jatuh di lantai selalu ditampung dengan jambangan kecil, sehingga tidak merusakkan lantai dan mengalir kemana-mana, tidak membasahi perabot istana yang masih lengkap dan terpelihara.

Jika senja lewat, maka penghuni istana kecil itu pun segera pergi ke bilik masing-masing, seorang perempuan menjelang hari-hari tuanya, seorang gadis remaja yang menginjak masa dewasa. Sedang di bagian belakang istana itu tinggal seorang pelayan perempuan setua perempuan yang tinggal di istana kecil itu.

Demikianlah hari-hari yang lewat, tidak menumbuhkan banyak perubahan dalam tata kehidupan istana kecil yang terpencil di kakí bukit yang gersang. Meskipun di halaman istana kecil itu nampak tumbuh-tumbuhan yang berwarna hijau.

Beberapa orang peronda dari pedukuhan kecil yang terletak beberapa puluh tonggak saja dari istana itu, selalu meronda berkeliling istana kecil itu. Seolah-olah mereka merasa wajib untuk ikut menjaga ketenangannya, meskipun hubungan antara padukuhan kecil itu sudah hampir terputus sama sekali dengan istana terpencil itu.

Namun setiap kali, perempuan tua penghuni itu pun pergi juga ke padukuhan kecil itu, untuk membeli kebutuhan mereka sehari-hari.

Kehadiran perempuan penghuni istana kecil itu selalu disambut dengan ramah dan dengan hati terbuka oleh penghuni padukuhan kecil itu. Mereka memberikan apa saja yang diperlukan oleh perempuan tua itu. Jika perempuan tua itu bertanya tentang harga barang-barang yang diperlukan, maka penghuni padukuhan kecil itu selalu menyebut kurang dari separuh harga yang sebenarnya.

Perempuan tua itu pun mengerti, bahwa yang dibelinya itu harganya terlampau murah, tetapi ia tidak mempersoalkannya, apalagi uang yang ada padanya pun semakin lama semakin tipis. Bahkan sekali-kali ia terpaksa menjual barang-barangnya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka seisi istana kecil itu.

Setiap orang yang tinggal di padukuhan kecil itu pun mengetahui, apa yang pernah terjadi di istana itu. Sejak istana itu didirikan, sehingga istana itu menjadi sangat sepi seperti saat-saat terakhir.

Beberapa orang pernah memberanikan diri datang menghadap perempuan tua penghuni istana dan menawarkan diri untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi pada atap istana itu. Tetapi sambil tersenyum perempuan tua itu menjawab, “Terima kasih Ki Sanak, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan hati kalian, tetapi biarlah, apabila aku memerlukan, aku akan katakan kepada kalian, agaknya sekarang aku belum berniat untuk memperbaiki atap rumahku yang rusak”

“Kami tidak memerlukan imbalan apapun” berkata salah seorang dari mereka yang datang menghadap perempuan tua itu, “kami akan melakukan semata-mata karena kami merasa berhutang budi kepada Pangeran Kuda Narpada”

Perempuan tua itu tersenyum, senyum yang amat pahit, katanya, “Terima kasih Ki Sanak, terima kasih, jika ada kebaikan hati Pangeran Kuda Narpada, lupakan sajalah. Itu sudah menjadi kewajibannya”

Dan orang-orang itu pun kemudian meninggalkan istana itu dengan hati yang penuh dengan berbagai macam pertanyaan.

“Apakah artinya pengasingan diri itu?” kata salah satu orang dari mereka.

Yang lain menggelengkan kepalanya, tetapi seorang yang sudah ubanan menyahut, “Hati Raden Ayu Kuda Narpada tidak melihat lagi hari depan yang sebenarnya masih panjang, setidak-tidaknya bagi puterinya. Bukankah dengan sikapnya itu, ia telah mematahkan kuntum bunga yang hampir mekar?”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, seorang anak muda berkata, “Gadis itu cantik sekali…”

“Jika gadis itu cantik sekali, apa maumu?”

“Tentu tidak apa-apa, aku hanya sekedar memuji, Raden Ajeng Inten Prawesti adalah gadis tidak ada duanya dimuka bumi”

“Bumi yang mana?” bertanya seorang kawannya,

“Yang kau lihat tidak lebih jauh dari daerah pegunungan yang sempit ini”

“Jadi apakah masih ada daerah yang lebih luas dari daerah pegunungan ini?”

“Kau memang anak muda yang terkungkung oleh lingkunganmu, yang kau ketahui tidak lebih dari dinding-dinding pedukuhanmu”

Anak muda itu tersenyum, katanya, “Baiklah, jika demikian, maka gadis itu adalah gadis yang paling cantik di daerah ini”

Kawan-kawannya pun tersenyum pula, meskipun ada diantara mereka tersenyum masam, bahkan seorang yang bertubuh gemuk berkata, “Sudahlah, kehidupan yang suram di istana itu bukan sekedar bahan untuk berkelakar, kita sebenarnya merasa kasihan melihat cara hidup mereka yang tidak sewajarnya itu”

Yang lain pun terdiam, mereka tidak lagi membicarakan hal istana itu, tetapi angan-angan mereka berkecamuk mengulang masa-masa lampau.

Istana itu pernah menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya, terlebih-lebih penghuni padukuhan kecil pegunungan itu.

Terbayang kembali saat-saat istana itu bagaikan pelita yang menerangi daerah disekitarnya. Sesaat istana itu didirikan, maka mulailah nampak bahwa penghuni istana itu adalah orang-orang yang baik dan rendah diri, meskipun sebenarnya ia adalah seorang pangeran, Pangeran Kuda Narpada.

Pangeran Kuda Narpada lah yang memberikan beberapa petunjuk yang sangat berarti bagi padukuhan itu, bagaimana mereka bercocok tanam, Pangeran Kuda Narpada lah yang mengajak para penghuni padukuhan kecil itu membuat parit-parit yang akan dapat mengairi daerah mereka yang gersang. Bukan saja memberikan petunjuk dan perintah, tetapi Pangeran Kuda Narpada sendiri menyingsingkan kain panjangnya, melepas bajunya dan turun ke tanah berlumpur.

Orang bertubuh gemuk yang berjalan diantara beberapa orang kawannya itu menarik nafas dalam-dalam sehingga orang-orang yang berjalan disisinya berpaling kepadanya meskipun mereka tidak bertanya sesuatu.

Dalam pada itu, peristiwa itu seolah-olah membayang kembali di rongga mata orang bertubuh gemuk itu. Saat-saat penghuni istana itu datang untuk yang pertama kalinya di padukuhannya, sebelum istana itu didirikan.

Kedatangan seorang Pangeran dan keluarganya di padukuhan terpencil itu sangat megejutkan penghuninya. Bahkan beberapa orang lari bersembunyi didalam rumahnya. Tetapi yang lain berkumpul di rumah Ki Buyut dengan senjata di tangan masing-masing.

“Jangan bingung” berkata Ki Buyut Karangmaja, “Aku akan menjumpainya dan bertanya apakah keperluannya datang ke padukuhan ini”

Ketika Ki Buyut menghadap Pangeran yang baru datang itu, nampaklah olehnya bahwa Pangeran dan keluarganya itu sedang dicengkam oleh kegelisahan, tetapi agaknya Pangeran itu menyadari bahwa ia berada didalam lingkungan yang berbeda dengan lingkungan yang ditinggalkannya.

Karena itu, kepada Ki Buyut Karangmaja yang nampak dengan jujur menyongsongnya, tanpa niat yang mencurigakan, Pangeran Kuda Narpada tidak menyembunyikan lagi maksud kedatangannya itu.

“Aku menghindarkan diri dari perang yang sedang berkecamuk di Majapahit” berkata Pangeran Kuda Narpada.

“Tetapi siapakah tuan?” bertanya Ki Buyut.

“Aku adalah Pangeran Kuda Narpada, adinda dari Maharaja di Majapahit”

“Apakah yang terjadi di Majapahit?”

“Perang, pasukan Harya Udara sudah menduduki pusat kerajaan beberapa saat yang lalu, Kakanda telah meninggalkan istana dengan beberapa pengiringnya. Pasukan bantuan yang diminta oleh kakanda dari ananda Raden Patah masih belum sampai ke pusat kerajaan ketika pasukan musuh sudah tidak tertahan lagi memasuki pusat pemerintahan”.

“Jadi pusat kerajaan Majapahit sudah direbut?”

“Ya, aku meninggalkan pusat pemerintahan yang terakhir, ketika pasukanku parah dan hampir tumpas. Aku tidak dapat mengingkari kenyataan dan mengorbankan jiwa tanpa arti lebih banyak lagi. Karena itu, maka aku terpaksa menarik pasukanku yang tersisa, kemudian aku menyusul kakanda Prabu setelah mengambil keluargaku di pengungsian, menurut pendengaranku, kakanda Prabu pergi ke barat, kemudian menyusuri daerah Pegunungan Seribu, tetapi aku tidak berhasil menemukannya”.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam.

“Aku mendengar berita terakhir, bahwa kakanda telah turun dari daerah pegunungan dan mendekati kedudukan ananda Raden Patah”

“Dan Pangeran akan menyusulnya juga?”

Pangeran Kuda Narpada menggeleng, katanya, “Aku tidak akan menyusulnya, disini aku merasa seolah-olah aku berada di tempat yang paling damai, karena itu, apabila kedatanganku, dirasa tidak mengganggu ketenangan padukuhan ini, aku akan tinggal di daerah ini”

Ki Buyut tidak dapat menolak meskipun ia sebenarnya ia sebenarnya masih ragu-ragu, ia tidak sampai hati untuk mempersilahkan pangeran itu meninggalkan padukuhannya, setelah ia melihat seorang perempuan Raden Ayu Kuda Narpada yang pucat dan lemah, seorang gadis yang kurus dan bermata cekung, meskipun gadis itu adalah seorang yang cantik sekali.

“Tetapi apakah Pangeran akan dapat tinggal bersama kami orang-orang kasar yang tidak mengenal adat dan dungu”.

“Apakah bedanya?, kalian adalah orang-orang yang masih lebih beruntung daripadaku, aku sekarang lebih tidak berarti lagi daripada kalian, aku tidak mempunyai tempat tinggal, tidak mempunyai apapun juga selain yang dapat kami bawa”.

Ki Buyut memandang tubuh-tubuh yang lemah dan pucat. Memang tidak ada yang mereka bawa selain sebungkus pakaian kusut, sedikit perhiasan yang nampak pada jari-jari Raden Ayu Kuda Narpada dan puterinya. Sekilas permata yang nampak dibalik kain Pangeran Kuda Narpada yang disingsingkan dibalik lambung, yang melekat pada timang ikat pinggang, kemudian sebilah keris dengan pendok mas di pinggang, selebihnya tidak ada apa-apa lagi.

Tetapi yang nampak itu seolah-olah telah meyakinkan kepada Ki Buyut Karangmaja bahwa yang dihadapannya itu benar-benar seorang pangeran. Dan ia mengaku bernama Pangeran Kuda Narpada.

“Pangeran” berkata Ki Buyut kemudian, “Tentu kami tidak akan dapat menolak jika pangeran ingin tinggal bersama kami, tetapi kenapa pangeran tidak berusaha menyusul Prabu Majapahit?”.

Pangeran Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Jika aku hendak menyusul Kakanda Prabu, maka yang terkilas didalam angan-anganku hanyalah keselamatannya, bukan kepentinganku sendiri. Dan kini, menurut pendengaranku, kakanda telah mendekati tempat kedudukan ananda Adipati di Demak, maka aku tidak mencemaskannya lagi”.

“Tetapi pangeran sendiri?, apakah pangeran tidak ingin berada di Demak pula?”

Pangeran Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Aku tidak mengharapkan apa-apa lagi selain kedamaian hati. Aku tidak akan melibatkan diri lagi kedalam lingkungan yang riuh seperti Demak”.

Ki Buyut mengangguk-angguk, katanya, “Pangeran, memang tidak ada yang lebih nikmat dari pada kedamaian hati, akhirnya setiap orang akan merindukan damai didalam dirinya sendiri. Apalagi apabila umur kita menjadi semakin tua, meskipun ada saja pengecualiannya pada satu dua orang” Ki Buyut itu berhenti sejenak, “Tetapi pangeran. Dalam usia pangeran sekarang ini, apakah pangeran akan terhenti di padukuhan kecil dan terpencil diatas Pegunungan Seribu ini? Pangeran adalah kesatria, tugas pangeran adalah luas sekali dalam kehidupan yang terbentang di depan tatapan mata kita. Bukankah seorang ksatria menurut pendengaranku dituntut untuk memberikan dermanya bagi sesama? Melindungi yang lemah, menegakkan yang layu dan menuntun yang buta?”

“Apakah aku tidak dapat melakukannya disini?” jawab Pangeran itu, “Jika ternyata bahwa disini akulah yang lemah, yang layu dan yang buta, maka adalah kewajiban kalian untuk memberikan derma ksatria”

“Kami adalah sudra”

Pangeran tersenyum, senyum yang sangat pahit. Kemudian katanya, “Aku pernah mendengar diantara desir angin yang lembut, yang mengalir dari istana Kadipaten Demak. Apakah ada bedanya antara Sudra dan Ksatria?, yang Paria dan yang Brahmana? Tidak. Dihadapan Yang Maha Agung, kami dan kalian, kita semua adalah hambanya yang terkasih, yang berbeda adalah tugas kita masing-masing, tugas ksatria berbeda dengan tugas Brahmana, berbeda dengan tugas orang-orang yang disebut sudra dan Waisa. Tetapi tidak ada bedanya bagi kita semuanya untuk menempuh jalan mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta, karena perbedaan yang ada semata-mata perbedaan duniawi, bukan perbedaan hakiki dari hamba-hamba Yang Maha Agung itu”.

Ki Buyut Karangmaja masih saja mengangguk-angguk, tetapi ia masih belum mengerti seluruhnya makna dari kata-kata Pangeran Kuda Narpada.

“Meskipun demikian Ki Buyut” berkata Pangeran Kuda Narpada, “Semuanya terserah kepada Ki Buyut, jika Ki Buyut mempunyai pertimbangan lain, maka aku akan meneruskan perjalanan”.

“Tidak, tidak pangeran” Ki Buyut menyahut dengan serta merta, “Kami memang dapat mencurigai setiap orang baru di daerah kami, tetapi terhadap pangeran yang datang bersama dengan keluarga, kami akan mencoba memberikan tempat yang ada pada kami”

Pangeran Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian ia pun berkata, “Aku memang merasa bahwa kedatangan kami dapat menumbuhkan salah paham, keragu-raguan dan ketidak-pastian sikap, aku melihat Ki Buyut dengan ikhlas menemui kami. Tetapi kami juga mengetahui, bahwa ada diantara kalian yang menjadi curiga”

“Maafkan pangeran, kami memang sedang dipengaruhi oleh kecurigaan sejak saat-saat terakhir. Kami memang mendengar bahwa disebelah timur dari padukuhan ini, serombongan bangsawan sedang melintas. Agaknya merekalah yang pangeran maksudkan dengan Prabu Brawijaya dengan pengiringnya” Ki Buyut berhenti sejenak, kemudian, “Namun setelah itu, kerusuhan sering terjadi. Beberapa orang yang mendapat hadiah pada saat iring-iringan itu lewat dan memberikan pelayanan seperlunya, telah didatangi oleh penjahat-penjahat yang merampok barang-barang itu. Tetapi agaknya yang mereka cari bukanlah semata-mata harta benda”

“Apakah yang mereka cari?”

“Kami juga tidak tahu pasti, mereka pun tidak tahu pasti, Tetapi agaknya sejenis pusaka atau semacamnya….”

Wajah Pangeran Kuda Narpada menegang sejenak, namun kemudian wajahnya itu menjadi tenang kembali, seolah-olah tidak ada kesan apapun dari ceritera Ki Buyut itu.

“Mungkin karena kerusuhan-kerusuhan yang terjadi itulah maka kalian mencurigai setiap orang baru di daerah ini”

“Ya, Pangeran, tetapi justru karena pangeran datang bersama dengan Raden Ayu dan seorang puteri yang nampaknya sudah terlampau letih oleh perjalanan yang lama, maka kami seharusnya tidak mencurigai pangeran lagi”.

Demikianlah sejak saat itu, Pangeran Kuda Narpada berada di padukuhan Karangmaja. Sesuai dengan keinginannya sendiri, maka dengan bantuan penduduk Karangmaja, Pangeran Kuda Narpada membuat istana kecil di luar padukuhan Karangmaja, meskipun hanya berjarak beberapa tonggak saja. Sebuah jalur jalan sempit menghubungkan istana kecil itu dengan sebuah lorong padukuhan.

Istana kecil itu adalah Istana Pangeran Kuda Narpada, istana yang kemudian menjadi semakin sepi. Istana yang seakan-akan telah kehilangan rambatannya.

Pada masa-masa yang lewat, istana itu seolah-olah menjadi pusat perhatian setiap orang di Karangmaja. Ki Buyut sendiri sering berkunjung ke istana itu. Pendapanya yang mungil hampir setiap hari menjadi tempat berkumpul. Orang-orang tua maupun anak-anak muda. Meskipun istana itu adalah istana seorang Pangeran, tetapi rasa-rasanya tidak ada bedanya dengan rumah-rumah yang bertebaran di padukuhan kecil.

Pangeran Kuda Narpada dengan senang hati menerima mereka setiap saat dan berbicara dengan mereka tentang berbagai bermacam persoalan. Dari lingkungan permainan anak-anak kecil, anak-anak meningkat dewasa, sampai dengan kepada menggali parit dan membangun bendungan.

Hubungan antara orang-orang Karangmaja dan Pangeran Kuda Narpada menjadi semakin rapat. Ketika Pangeran Kuda Narpada menyatakan dirinya, tidak lagi mempergunakan sebutan kebangsawanannya.

“Panggil aku Ki Narpada” berkata Pangeran yang rendah hati itu.

Untuk beberapa lamanya orang-orang Karangmaja masih saja merasa segan, namun akhirnya, lambat laun, sebagian kecil dari mereka berhasil juga membiasakan diri memanggil Ki Narpada.

Seperti juga orang-orang Karangmaja, Ki Narpada bekerja di sawah dan di ladang. Turut serta menggali parit seperti yang dianjurkannya sendiri. Membuat belumbang-belumbang untuk berternak ikan dan rumpon-rumpon di sungai. Menanam pohon buah-buahan dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Ternyata kehadiran Pangeran Kuda Narpada telah merubah tata kehidupan di Karangmaja. Mereka mulai mengenal cara menanam yang jauh lebih baik dari cara yang selama ini mereka pergunakan. Ki Narpada mulai menganjurkan agar orang-orang Karangmaja mempergunakan pupuk bagi tanah yang tandus.

“Apakah gunanya kotoran kandang ternak bagi tanaman?” bertanya Ki Buyut.

“Tanah yang setiap kali dihisap sari makanannya oleh pepohonan memerlukan sari makanan baru” jawab Ki Narpada. Dengan cara yang sederhana. Yang ternyata pada panen yang berikutnya memberikan pengaruh yang baik bagi hasil sawah mereka.

Dengan demikian maka Karangmaja rasa-rasanya menjadi semakin cerah, sawah-sawah yang kekuning-kuningan menjadi hijau dan pategalan yang kering dapat dibasahi oleh air yang mengalir lewat parit-parit dan bendungan yang mereka buat.

Tetapi mereka belum berhasil mengatasi kegersangan tanah di lereng perbukitan.

“Kita akan menghijaukannya” berkata Ki Narpada.

“Bagaimana Mungkin?” bertanya orang-orang Karangmaja.

“Kita sebarkan biji metir. Jika pohon metir dapat tumbuh dengan baik, meskipun tidak terlampau subur, maka keadaan tanah yang membatu itu akan berubah. Kita dapat berharap beberapa tahun kemudian, sebagian dari tanah yang gersang itu akan dapat kita tanami dengan pepohonan yang sesuai”

Orang-orang Karangmaja tidak segera mengerti, apakah pengaruhnya batang-batang metir atas tanah yang membatu. Meskipun Ki Narpada memberikan sedikit penjelasan tentang sifat akar pohon metir, namun mereka masih juga ragu-ragu.

Tetapi kini sudah ternyata bagi mereka, bahwa lereng bukit-bukit yang tandus itu dapat juga ditumbuhi beberapa jenis pepohonan. Sementara itu pohon metir menjadi semakin rimbun, tumbuh dimana-mana, yang seakan-akan akarnya dapat meremas batu-batu karang manjadi tanah yang dapat ditanami. Pohon-pohon yang lain sudah mulai dicoba diantara batu-batu pada pegunungan.

Namun dalam pada itu batang-batang kayu metir sendiri telah memberikan penghasilan dan khusus bagi orang-orang di padukuhan Karangmaja. Selain daunnya yang dapat dipergunakan untuk membantu memberi makanan ternak, biji-bijinya dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tetapi Pangeran Kuda Narpada tidak dapat melihat gunung yang semula kering itu sedikit demi sedikit menjadi hijau, meskipun di beberapa bagian masih belum berhasil. Hujan yang jatuh di musim basah memberikan banyak pengaruh atas pohon-pohon metir yang tersebar diatas perbukitan yang keras.

Dan setiap kali orang-orang Karangmaja memandang bukit yang mulai hidup itu, mereka selalu teringat kepada Pangeran Kuda Narpada. Seorang pangeran yang pernah hidup didalam lingkungan mereka dan yang pernah memberikan banyak sekali petunjuk bagi penduduk yang semula terlampau sedikit pengalamannya itu.

Tetapi kini Pangeran Kuda Narpada tidak ada lagi didalam istananya. Tidak seorang pun dapat mengatakan, kemana ia pergi. Yang mereka ketahui, pada suatu musim beberapa ekor kuda memasuki halaman istana itu. Tidak terlampau lama, sejenak kemudian penunggang-penunggang kuda itu pun pergi bersama dengan Pangeran Kuda Narpada.

“Mereka adalah saudara-saudara seayah Kamas Kuda Narpada”

Ki Buyut Karangmaja telah berusaha untuk menanyakan hal itu kepada isteri Ki Narpada. Tetapi isterinya itu pun hanya dapat menggelengkan kepala kepalanya dengan mata yang basah.

“Aku tidak mengerti, kemana Kamas Kuda Narpada itu pergi”

“Tetapi siapakah mereka yang datang itu?”

“Adimas Cemara Kuning dan Adimas Sendang Prapat bersama pengiringnya”

“Siapakah mereka itu?”.

Beberapa orang peronda hanya dapat memandang dari kejauhan. Semula mereka menyangka yang datang itu adalah beberapa orang tamu. Kemudian Pangeran Kuda Narpada ikut mengantarkan tamu itu ke tempat tertentu. Tetapi ternyata, sejak saat itu Pangeran Kuda Narpada tidak pernah kembali lagi.

“Apakah Pangeran tidak mengatakan, kemana ia akan pergi?”

Raden Ayu Kuda Narpada tidak dapat menjawab. Ia hanya dapat menggelengkan kepalanya dengan lemah.

Sejak kepergian Pangeran Kuda Narpada ke tempat yang tidak diketahui itulah, istana itu menjadi semakin sepi. Orang-orang Karangmaja yang semula sering datang dan duduk-duduk mendengarkan cerita Pangeran Kuda Narpada di pendapa kecil itu pun makin lama menjadi semakin jarang berkunjung.

Raden Ayu Kuda Narpada sendiri tidak pernah menolak setiap kunjungan, tetapi orang-orang itu sendirilah yang menjadi semakin segan. Apalagi mereka tahu, bahwa tidak ada seorang laki-laki pun yang tinggal didalam istana itu.

Dihari-hari berikutnya, jika Raden Ayu Kuda Narpada keluar dari batas halamannya, maka berdatanganlah perempuan Karangmaja menyambutnya dan menawarkan apa saja yang ada pada mereka. Pada umumnya perempuan-perempuan itu pernah mendengar dari suami mereka, bahwa Karangmaja menjadi hijau karena jasa Pangeran Kuda Narpada.

Di istana itu sendiri, suasananya pun terasa semakin sepi. Puteri Pangeran Kuda Narpada yang meningkat dewasa, rasa-rasanya telah kehilangan satu masa didalam garis hidupnya, justru masa yang paling cerah.

Tetapi ia tidak pernah mengeluh. Apalagi apabila ia melihat ibunya duduk termenung di tangga pendapa. Maka hatinya pun bagai tersayat.

Namun sebaliknya, demikian juga perasaan yang selalu membebani Raden Ayu Kuda Narpada, kadang-kadang ia menangis seorang diri didalam biliknya apabila ia membayangkan masa depan puterinya yang semakin dewasa.

“Apakah yang akan ditemukan didalam hidupnya kelak di tempat yang terpencil ini” katanya dalam hati.

Betapa rendah hati Pangeran Kuda Narpada sekeluarga, namun Raden Ayu Kuda Narpada tidak pernah membayangkan, dari mana anaknya akan mendapatkan jodohnya. Sama sekali tidak terkilas didalam angan-angannya, bahwa ada anak muda dari Karangmaja yang pantas untuk menjadi sisihan gadisnya.

Jika malam mulai menyentuh ujung pendapa istana kecil itu, dan kelepak kelelawar mulai mendengar diatas atap rumah yang tiris. Maka Raden Ayu Kuda Narpada mengantarkan gadisnya masuk kedalam biliknya. Kemudian ia sendiri duduk di bilik itu pula dengan hati yang resah.

Kadang-kadang masih juga tumbuh harapannya, pada suatu saat Pangeran Kuda Narpada akan datang kembali. Tetapi harapan itu pun semakin lama menjadi semakin susut. Sehingga akhirnya hanyalah sebuah gambaran yang samar-samar. Yang tidak nampak jelas, tetapi yang tidak dapat dihapuskannya.

“Adimas Cemara Kuning dan adimas Sendang Prapat mengatakan bahwa mereka hanya memerlukan kamas Kuda Narpada beberapa saat saja. Secepatnya kamas Kuda Narpada akan dikembalikan. Tetapi beberapa bulan telah lampau, dan kamas Kuda Narpada tidak pernah datang kembali” keluh Raden Ayu Kuda Narpada setiap kali dalam hatinya.

Demikian pula terjadi pada putrinya Inten Prawesti. Rasa-rasanya ia ingin terbang menyusul ayahandanya yang pergi bersama pamannya.

“Tetapi kemana ayah dibawa oleh pamanda Cemara Kuning dan pamanda Sendang Prapat?”

Menurut pengakuan kedua pangeran yang mengambil Pangeran Kuda Narpada itu, mereka mendapat perintah dari Raden Patah untuk memanggil Pangeran Kuda Narpada, tetapi ternyata Pangeran Kuda Narpada tidak pernah pulang kembali ke istananya yang terpencil.

“Apakah ayahanda mendapat tugas baru diistana Demak?”

Pertanyaan itu timbul pula didalam hati anak gadis itu, “Tetapi jika demikian, ayahanda tentu akan menjemput ibunda dan aku” ia melanjutkannya.

Namun seribu macam teka-teki itu pun tidak dapat diketemukan jawabannya. Yang diketahui dengan pasti adalah, ayahandanya pergi tidak pernah kembali.

Sementara kedua penghuni istana itu tenggelam didalam angan sendiri, maka dibelakang, Nyi Upih, seorang abdi yang setia satu-satunya orang masih mengikuti Pangeran Kuda Narpada sampai ke Karangmaja, tidak henti-hentinya berdoa didalam hati agar Pangeran yang diikutinya itu pun segera kembali.

Kadang-kadang masih juga terbayang didalam angan-angannya Nyi Upih, betapa beratnya perjalanan yang pernah ditempuh Pangeran Kuda Narpada memberikan kebebasan kepada para pengiringnya untuk memilih jalan masing-masing. Bahkan sebagian mendapat perintahnya untuk berpencar mencari Prabu Brawijaya di sepanjang Gunung Sewu, sehingga akhirnya Pangeran Kuda Narpada tidak lagi diikuti oleh seorang pengiring pun.

“Agaknya Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat telah menemukan Prabu Brawijaya. Mungkin sudah berada di Demak, mungkin ditempat lain. Kemudian mereka mendapat perintah untuk mencari Pangeran Kuda Narpada” berkata Nyi Upih didalam hati. “Tetapi jika demikian, kenapa Pangeran Kuda Narpada tidak mengambil anak isterinya. Padahal anak isterinya adalah anak isteri yang dibawanya sejak dari Majapahit. Bukan selir yang diketemukan di tengah jalan yang dapat ditinggalkan ditengah jalan pula.”

Namun seperti Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten Prawesti maka pertanyaan-pertanyaan itu akan tetap menjadi pertanyaan yang tidak terjawab. Pangeran Kuda Narpada yang melambaikan tangannya saat meninggalkan tangga pendapa itu ternyata hilang seperti kapas ditiup angin kencang, melambung tinggi dan tidak tahu dimana akan hinggap.

Tetapi diantara pertanyaan yang terselip di hatinya, Nyi Upih menjadi berdebar-debar apabila ia mengenangkan tanggapan beberapa orang atas Pangeran Cemara Kuning. Ia tidak tahu sama sekali tentang Pangeran Cemara Kuning, ia tidak tahu sama sekali tentang Pangeran Sendang Prapat, karena ia baru melihat beberapa kali selama ia menghambakan diri kepada Pangeran Kuda Narpada. Tetapi tentang Pangeran Cemara Kuning, ia sering mendengar ceritera beberapa orang pelayan kawan-kawannya.

“Si Sampir sudah diusirnya” berkata seorang kawannya. “Justru ketika Pangeran Cemara Kuning mengetahui perempuan itu mulai mengandung”

“Diusir?” bertanya Nyi Upih.

“Maksudku, pekatiknya lah yang harus mengawininya”

“Alangkah senangnya pekatik itu mendapat triman” Nyi Upih berhenti sejenak, “He…Bukankah Werdi juga diberikan kepada juru tamannya ketika ia mulai mengandung?”

“Mungkin, dan itu menjadi watak Pangeran Cemara Kuning”.

“Kau juga akan menjadi triman?” Nyi Upih bergurau.

Dan kawannya mencubitnya sambil berkata, “Aku tidak sudi, tetapi jika terpaksa apa boleh buat”

Nyi Upih tertawa, namun ia menjadi sedih juga. Memang ada satu dua orang dengan senang hati menerima nasib seperti itu. Mengandung dalam hubungannya dengan seorang bangsawan kemudian menjadi triman dengan pesangon yang banyak bagi dirinya sendiri dan bagi bakal suami yang harus dengan ikhlas menerimanya dalam keadaan apapun.

Tetapi Nyi Upih tidak terlampau dalam menyesali tingkah laku seorang bangsawan yang demikian. Yang paling sakit baginya justru Pangeran Cemara Kuning yang memang berwajah tampan itu tidak saja mengorbankan pelayan-pelayan perempuannya yang masih gadis saja, tetapi kadang-kadang mereka yang sudah bersuami pun diambilnya dengan segala pengaruh yang ada padanya. Pengaruh derajat dan pangkat, tetapi juga pengaruh kekayaan yang dimilikinya.

“Untuk berapa lama, ia dapat memenuhi segala keinginannya” berkata Nyi Upih didalam hatinya.

Peristiwa-peristiwa itu, ternyata telah mempengaruhi perasaannya. Pada saat terakhir. Pangeran Kuda Narpada pergi bersama Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat yang tidak begitu dikenalnya, membuatnya semakin lama semakin gelisah. Tetapi ia tidak mengatakan semuanya itu kepada Raden Ayu Kuda Narpada dan puterinya, Inten Prawesti. Ia tidak sampai hati menambah parah luka di hati keduanya.

Tetapi justru karena itu, maka beban perasaan itu harus dipikul diatas pundaknya sendiri, tidak ada orang lain yang dapat membantu membawa beban itu. Dan ia memang tidak ingin membaginya dengan orang lain.

Namun ternyata bahwa beban itu semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin berat, sehingga hampir tidak tertahankan lagi olehnya.

Sejalan dengan itu, maka istana kecil itu pun menjadi semakin suram pula. Raden Ayu Kuda Narpada semakin jarang keluar dari istananya. Apalagi puterinya Inten Prawesti. Yang kemudian harus pergi kepadukuhan Karangmaja untuk mendapatkan keperluan sehari-hari adalah Nyi Upih. Dan agaknya orang-orang Karangmaja pun menganggap pelayan yang setia itu seperti saudara mereka sendiri.

Justru apabila Nyi Upih pergi kepadukuhan Karangmaja, rasa-rasanya ia sempat bernafas. Sehari-hari ia merasa terkurung didalam halaman istana kecil itu. Jarang sekali ia bercakap-cakap dengan Raden Ayu yang menjadi semakin pendiam dan momongannya Inten Prawesti pun nampaknya semakin murung. Sehingga dengan demikian, jika ia mendapat kesempatan untuk keluar dari istana itu, rasa-rasanya dadanya agak menjadi lapang, meskipun tidak ada tempat untuk mengadukan semua beban didalam hati.

Dalam kemurungan itu, kadang-kadang Inten Prawesti masih juga sempat mengajak Nyi Upih berjalan-jalan dibelakang istana kecilnya. Naik ke lereng bukit yang sepi. Memandang lereng yang mulai hijau dan celah-celah bukit yang memberikan kesan tersendiri.

“Apakah ayahanda pergi lewat jalan itu?” bertanya Inten Prawesti kepada momongannya.

Nyi Upih memandang jalur jalan dibawah bukit kecil itu, sambil mengangguk kecil ia menjawab, “Demikianlah agaknya, jalur jalan itu menuju ke tempat yang sangat jauh”.

“Dan ayahanda pun pergi ke tempat yang sangat jauh. Sudah lebih dari setahun ayahanda tidak pulang kembali”.

Nyi Upih tidak menyahut, kepergian Pangeran Kuda Narpada memang sudah lebih dari bukan saja setahun, tetapi sudah lebih dari dua tahun.

Setiap kali Inten Prawesti mengajak Nyi Upih memanjat bukit kecil dan memandang jalur yang panjang berliku-liku dan yang ujungnya seolah-olah hilang menyusup kebawah bukit, gadis itu pun menjadi semakin nampak suram, ada kerinduan yang menekan didalam dadanya. Kerinduan kepada ayahandanya yang diikutinya sejak dari pusat kerajaan agung Majapahit.

Kadang-kadang Nyi Upih mencoba untuk mengajak Inten Prawesti berjalan-jalan ke tempat lain, tetapi gadis itu selalu menolak, dan mengajak pemomongnya naik ke lereng bukit kecil dan memandang jalan yang berliku-liku itu.

“Kenapa tidak pergi ke padukuhan itu saja puteri” bertanya Nyi Upih

Inten Prawesti menggelengkan kepalanya.

“Disini terlampau sepi. Kita tidak bertemu dengan seorang pun, tetapi di padukuhan kita dapat berbicara dengan orang-orang Karangmaja. Kadang-kadang yang mereka katakan memberikan pengalaman baru bagi kita. Kadang-kadang aneh, kadang-kadang tidak masuk akal dan kadang-kadang menggelikan sekali. Meskipun demikian bukan berarti bahwa mereka tidak mempunyai sikap hidup. Dan sikap hidup mereka, yang bertahun-tahun hidup didalam perjuangan melawan alam yang keras ini, dapat memberikan banyak petunjuk bagi kita”.

Tetapi Inten Prawesti menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Aku lebih suka senang berada ditempat yang sepi”

“Puteri” berkata Nyi Upih, “Bukankah dengan demikian kita akan menjadi semakin terasing dari pergaulan. Padahal pergaulan yang betapapun sederhananya, akan memberikan pengaruh bagi kita, manusia adalah makhluk yang hidup dalam lingkungannya, bukan seharusnya hidup menyendiri”.

Tetapi Inten Prawesti mengerutkan keningnya, namun kemudian ia berkata, “Aku mengerti Nyai, tetapi rasa-rasanya kini aku lebih senang hidup dalam ketenangan. Rasa-rasanya tidak ada lagi gairah untuk hidup dalam lingkungan yang luas, meskipun hanya seluas padukuhan Karangmaja. Disini aku mendapatkan kedamaian hati. Tidak ada persoalan-persoalan yang menambah hidupku menjadi semakin suram”.

“Tetapi yang puteri dapatkan bukanlah kedamaian yang sejati, tetapi sekedar kesunyian, karena hati yang damai seharusnya memancar seperti pelita yang menerangi keadaan sekitarnya, bukan seperti pelita yang berada dibawah kerudung yang rapat, sehingga sinarnya tidak memberikan arti apapun bagi kehidupan si lingkungannya”.

Inten Prawesti menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Nyai, bagaimana hati ini dapat menjadi pelita yang menerangi lingkungannya, jika hati ini rasa-rasanya menjadi semakin suram dan bahkan padam. Itulah yang mungkin benar, kesuraman yang sepi, bukan kedamaian, karena didalam hati ini tersimpan kegelisahan yang menggelora”.

“Ah…” Nyi Upih menjadi semakin menyesal akan kata-katanya sendiri. Sehingga karena itu ia pun segera menyahut, “Sudahlah Puteri, bukankah puteri ingin mendapatkan kesegaran dengan berjalan-jalan diatas bukit ini?. Nah puteri dapat melihat lereng-lereng bukit yang menjadi hijau meskipun baru ditumbuhi batang metir. Tetapi kelak lereng itu akan dapat ditanami pepohonan yang mempunyai arti yang lebih besar lagi. Pohon aren, jambu kelutuk, bahkan mungkin sebuah ladang jagung”.

Inten Prawesti mengangguk-angguk, tetapi hatinya seolah-olah tidak melekat pada pemomongnya yang sedang mencoba untuk menggeser perhatian gadis itu.

Nyi Upih hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, sedang momongannya masih saja memandang jalur jalan yang berliku-liku seperti tubuh seekor ular raksasa yang membelit perbukitan.

Namun selagi mereka termenung diatas bukit kecil itu, tiba-tiba pendengaran mereka tertarik oleh suara seruling dikejauhan, suara seruling yang melengking menyusup celah-celah perbukitan.

Inten Prawesti yang selama itu rasa-rasanya tidak mempunyai perhatian terhadap apapun juga, agaknya sentuhan suara seruling itu dapat menggetarkan dinding hatinya pula.

“Nyai…” berkata Inten Prawesti, “Kau mendengar suara seruling itu?”

“Ya..Puteri” jawab Nyi Upih, lalu, “Suara seruling itu mengingatkan kita kepada kidung tentang cinta”

“Ah…” desah Inten Prawesti.

“Ooo…” Nyi Upih menutup mulutnya, ia sudah terlanjur lagi menyebutkan sesuatu yang hampir tidak dikenal oleh momongannya. Karena itu maka cepat-cepat ia menyambung, “Seperti cinta Maha Pencipta atas kita yang telah memberikan banyak sekali kenikmatan. Meskipun kadang-kadang kita merasa sesuatu yang agak mengganggu, tetapi kurnia yang paling berharga bagi kita adalah kemampuan untuk mengatasi setiap kesulitan dan gangguan didalam hidup kita.”

Inten Prawesti tidak menjawab.

“Puteri, cobalah dengar, lagu itu seperti mengalun dari langit”.

Untuk sejenak Intern Prawesti masih berdiam diri, agaknya suara seruling itu benar-benar dapat menyentuh hatinya.

Ternyata bahwa di hari berikutnya, Inten Prawesti mengajak Nyi Upih untuk pergi lagi ke bukit itu, rasa-rasanya ia ingin mendengar suara seruling yang pernah didengarnya itu.

“Seruling seorang gembala puteri, jika puteri ingin mendengar, maka puteri dapat memanggil gembala itu dan menyuruhnya bersenandung di halaman istana.”

“Ah, tentu tidak akan merdu suara seruling yang diiringi oleh gemanya di lereng-lereng bukit seperti itu Nyai”

Nyai Upih tidak menjawab, ia pun mengerti bahwa apabila gembala itu dibawa masuk halaman, kemudian duduk dipendapa dan meniup sulingnya, kesan getarannya akan jauh berbeda. Karena itu maka ia pun tidak lagi mengganggu Inten Prawesti yang sedang asyik mendengar lagu yang melontar dari seruling dikejauhan tanpa mengetahui siapakah yang membunyikannya. Lagu yang rasa-rasanya sengaja disesuaikan dengan gejolak yang sedang melanda dinding-dinding jantung Inten Prawesti, gejolak kerinduan kepada ayahandanya yang pergi bertahun-tahun yang lalu.

Tetapi sebenarnyalah ada perasaan rindu yang lain yang terselip didalam di dalam hati gadis yang meningkat dewasa itu. Inten Prawesti sendiri tidak mengetahuinya. Apalagi orang lain. Sebagai seorang gadis yang sudah dewasa, maka hatinya pun menjadi peka sekali terhadap sentuhan yang sendu. Suara seruling itu agaknya telah membelainya, bukan saja sebagai curahan perasaan rindu kepada ayahandanya, tetapi sentuhan-sentuhan yang lain didalam kalbunya, karena seperti yang dikatakan oleh Nyi Upih, lagu itu adalah kidung cinta, Asmaradana, tembang yang melontarkan gairah cinta yang menyala didalam kalbu.

Karena itu, maka rasa-rasanya suara seruling itu terdengar manis ditelinganya dan mendapat tempat di hatinya, seolah-olah suara seruling itu sengaja disiulkan untuknya.

“Nyai…, siapakah yang meniup seruling itu?” tiba-tiba Inten Prawesti bertanya.

“Seorang gembala, puteri. Seperti yang sudah aku katakan

“Apakah ia anak Karangmaja….?”

“Tentu, padukuhan yang lain terletak ditempat yang agak jauh, agaknya hanya anak-anak Karangmaja sajalah yang menggembalakan ternak-ternaknya sampai ke lereng bukit itu”

Inten Prawesti merenung sejenak, tetapi ia menjadi kecewa jika suara itu pun kemudian terhenti.

“Disaat-saat begini, gembala-gembala biasanya mulai mengumpulkan ternaknya, sebentar lagi mereka akan menggiringnya kembali ke kandang”.

Inten Prawesti hanya mengangguk-angguk saja.

“Matahari menjadi semakin rendah, sebentar lagi senja akan turun, sehingga ternak harus sudah berada di kandangnya, bukankah di lembah yang curam itu, kadang-kadang masih terdapat harimau yang berkeliaran?, karena itu menjelang senja para gembala harus sudah pulang”.

“Apakah di siang hari harimau itu tidak mau mencuri ternak?”

“Kadang-kadang puteri, tetapi di siang hari gembala-gembala itu mempunyai banyak kawan, juga orang-orang yang di ladang. Jika ada seekor atau dua ekor harimau yang berani mengganggu ternak, maka beramai-ramai gembala itu melawannya, karena itu, mereka membawa senjata ke ladang”

Inten Prawesti menganguk-angguk pula.

“Sekarang, kita pun pulang puteri”

“Sebentar Nyai, Aku ingin melihat matahari menjadi semakin rendah dan turun ke punggung bukit”

“Ah…” wajah Nyai Upih menegang, “Sudah aku katakan, disela-sela perbukitan itu masih berkeliaran harimau kumbang, mungkin macan tutul”

“Tetapi harimau-harimau itu tidak akan datang kemari, disini tidak ada ternak.”

Inten Prawesti tersenyum, senyum yang sudah jarang sekali nampak dibibirnya.

“Apakah suara seruling itu tidak akan terdengar lagi?”

“Besok lagi kita datang kemari untuk mendengarkan, mereka sekarang sudah pulang”

Inten Prawesti menarik nafas dalam-dalam, ia pun tiba-tiba menjadi ngeri jika ada seekor harimau yang tersesat sampai keatas bukit kecil itu. Karena itu, maka katanya, “Baiklah, kita akan pulang, besok kita akan mendengarkan seruling itu lagi” ia berhenti sejenak, lalu, “Bagaimana jika kita pergi mendekat?”

“Ah, tidak mungkin, puteri. Jalan terlampau sulit, anak-anak gembala dapat berlari-lari di lereng yang terjal sambil menggiring ternak, tetapi kita tidak akan dapat merangkak sekalipun.”

Inten Prawesti mengangguk-angguk, ia mengerti, bahwa jalan di lereng bukit itu terlampau sulit dilalui sampai ke ladang tempat anak-anak menggembalakan ternaknya.

“Puteri” berkata Nyi Upih pula. “Matahari menjadi semakin terlampau rendah, apakah kita tidak sebaiknya pulang sekarang”

Inten Prawesti mengangguk, sekali ia masih memandang ke lereng bukit, kearah seruling itu melontarkan tembang, namun kemudian ia pun bergeser dan melangkah meninggalkan tempatnya.

Tetapi tiba-tiba saja ia langkahnya terhenti, ketika dengan tiba-tiba pula ia mendengar suara seruling itu pula, tidak sejauh yang didengarnya sebelumnya.

“Nyai…” desis Inten Prawesti.

Nyi Upih pun tertegun, suara seruling itu terdengar dekat sekali. Hanya dibalik gerumbul dibawah ujung bukit kecil itu

“Kau dengar suara seruling itu?” bertanya Inten Prawesti

“Tentu, puteri”

“Dekat sekali”

“Ya…dekat sekali”

Inten Prawesti memandang Nyi Upih yang menjadi pucat.

“He…! Kenapa Kau”

“Suara seruling itu…?

“Kenapa…”

“Lain puteri, agak lain. Apakah puteri tidak merasakan perbedaannya.

Inten Prawesti bukan seorang yang mengerti tentang kidung dan tembang, tetapi ia merasakan ia memang merasakan sesuatu yang lain. Suara seruling yang didengarnya itu justru lebih menyentuh perasaannya, halus dan menggelayut.

“Nyai…, apakah hanya pendengaranku dan ketidak tahuanku tentang suara seruling?, lagunya bertambah indah”.

“Ya..ya.. puteri, lebih syahdu, tetapi…..” Ia berhenti sejenak.

“Tetapi apa Nyai…”

Nyi Upih memandang ke sekelilingnya, ia tidak melihat seorang pun, sehingga kemudian ia berkata, “Apakah aku hanya mendengar suaranya saja?”

“Oooh…” Inten Prawesti menepuk bahu pemomongnya, “Aku mengerti Nyai, Kau takut? Kau anggap suara seruling itu suara hantu yang sedang bermain seruling?”

“Puteri, tempat ini jarang sekali disentuh kaki manusia”

“Jika sekiranya ada hantu yang pandai bermain seruling apa salahnya?”

Nyi Upih mengerutkan lehernya, katanya, “Marilah kita pulang”.

“Sebelum Inten Prawesti menjawab, maka suara seruling itu pun tiba-tiba telah lenyap, seperti tiba-tiba saja suara itu melengking, sehingga Nyi Upih menjadi semakin gemetar. Bulu-bulu tubuhnya serasa berdiri. Sambil mendekati momongannya ia berkata, “Puteri… marilah kita cepat-cepat pulang”

Inten Prawesti mengangguk, tetapi ia sama sekali tidak menjadi ketakutan, ia yakin bahwa seorang gembala dengan sengaja telah mengganggunya, mungkin seorang ingin bergurau, seperti orang-orang Karangmaja sering bergurau dengan ayahandanya sebelum ayahandanya pergi.

Keduanya kemudian melangkah meninggalkan bukit itu dan kembali ke istana kecil yang terpencil itu.

“Puteri telah mengganggu pekerjaanku” berkata Nyi Upih sambil mencubit Inten Prawesti.

“Kenapa Nyai…?”

“Aku belum merebus air, ibunda biasanya mandi dengan air hangat. Karena aku ikut mendengarkan suara seruling itu, maka aku terlambat.

“Belum terlambat Nyai, dan biarlah aku yang mengatakannya kepada ibunda”

Tetapi ternyata Inten Prawesti tidak mengatakan tentang suara seruling itu, ia hanya mengatakan bahwa Nyi Upih telah dibawanya berjalan-jalan.

“Jangan terlalu jauh Inten” berkata ibundanya, “Kita masih belum mengenal seluruh keadaan padukuhan itu, meskipun kita sudah beberapa tahun berada disini. Berbeda dengan ayahandamu, mengenal Karangmaja lebih baik dari orang-orang Karangmaja itu sendiri, tetapi kau belum”.

“Ya…ibunda”

“Apalagi menurut ceritera orang, di daerah perbukitan itu masih ada berkeliaran beberapa ekor harimau. Karena itu, sebaiknya jika kau ingin berjalan-jalan, pergi sajalah ke padukuhan. Orang-orang Karangmaja masih tetap baik kepada kita”

Inten Prawesti mengangguk saja, tetapi ia rasa-rasanya sudah sangat dipengaruhi oleh suara seruling, dan berlebih-lebih lagi suara yang tiba-tiba ada dibalik gerumbul yang tidak terlampau jauh daripadanya.

“Gembala-gembala itu pandai memandang meniup suling” katanya kepada Nyi Upih.

“Hanya seruling sajalah permainan mereka, mereka tidak dapat bermain-main dengan cara yang lain, apalagi bermain sembunyi-sembunyi atau semacamnya. Dengan demikian mereka akan meninggalkan ternak mereka, jika ternak mereka itu hilang, maka mereka akan menyesal.”

“Jadi mereka duduk-duduk saja sambil meniup seruling?”

“Ya… satu dua, yang lain bermain dengan kayu, membuat ukiran dan patung-patung kecil seperti yang terdapat di ruang depan, anak-anak lah yang memberikan patung-patung kecil itu kepada pangeran waktu itu”.

Inten Prawesti mengangguk-angguk, ia memang melihat ukiran dan patung-patung kecil itu di ruang depan. Agaknya ayah dari anak-anak yang membuatnya telah memberikannya kepada ayahandanya sebelum ayahandanya pergi. Dan ternyata bahwa patung-patung kecil itu sampai saat itu masih disimpannya baik-baik.

Tetapi di hari berikutnya terjadilah sesuatu yang agak lain dan tidak disangka-sangka sama sekali. Sebelum Inten Prawesti pergi ke bukit kecil, tempat ia biasa mendengarkan suara seruling dan memandang jalan kecil yang berliku-liku disela-sela bukit, tiba-tiba saja terdengar suara seruling dari pendapa rumahnya. Suara itu memang agak jauh, tetapi jelas terdengar.

“Nyi Upih” ia memanggil pemomongnya yang masih ada di dapur, “Kau mendengar suara seruling itu?”

Nyi Upih mencoba mendengarkannya, tetapi ia menggeleng, “Aku tidak mendengar , puteri”.

“Aku telah mendengarkannya”.

“Tetapi aku tidak”

Inten Prawesti pun kemudian mencoba mendengarkan suara itu, tetapi agaknya suara seruling itu memang tidak terdengar dari dapur, karena suara air yang mendidih didalam belanga.

Inten Prawesti pun menarik tangan Nyi Upih dan mengajaknya ke pendapa.

“Ada apa Inten?” bertanya ibunya yang melihat anaknya menarik tangan pemomongnya.

Inten Prawesti tidak menjawab, tetapi Nyi Upih lah yang menyahut. Suara seruling Gusti, suara itu terdengar jelas dari pendapa”.

“Ah hanya suara seruling”

Inten Prawesti sama sekali tidak menjawab, tetapi ia menarik Nyi Upih melintasi ruang dalam, langsung ke pendapa.

Ketika mereka berdiri di pendapa, maka Nyi Upih pun mencoba mempertajam pendengarannya, tetapi ia tidak mendengar apa-apa.

“Apa puteri masih mendengarnya?”

“Inten mengerutkan keningnya, dengan kecewa, ia menggeleng lemah, “Suara itu sudah tidak terdengar lagi Nyai;

“Aku kira puteri terlampau memikirkan suara seruling itu, sehingga ketika angin berhembus dan mengguncang dedaunan, suaranya seperti suara seruling yang merdu”

“Ah…, tentu lain” jawab Inten, “Apakah kau kira aku sudah tidak dapat membedakan lagi suara seruling dan suara gemerisik dedaunan?”

“Bukan maksudku puteri. Tetapi karena perasaan puteri terlampau dicengkam oleh suara seruling cinta itu, maka rasa-rasanya semua suara seperti suara seruling. Demikian juga dengan tingkahku sewaktu tigapuluh tahun yang lampau, pada saat aku masih remaja seperti puteri”.

“Ah… aku yakin aku mendengar suara itu”

“Baiklah puteri, nanti aku akan ikut mendengarkan.

Tetapi airku sudah mendidih, aku akan menanak nasi sebelum airnya kering”

“Kau akan menanak nasi?”

“Ya, puteri, bukankah sehari-hari aku juga menanak nasi?”

“Bukankah kita akan berjalan-jalan?”

“Ya, biasanya aku menjerang nasi sebelum berangkat, kemudian aku akan menyenduknya setelah kita kembali”

“Jika nasi itu sangit?”

“Biasanya, jika ibunda mengetahui aku mengantar puteri berjalan-jalan, maka ibunda tidak berkeberatan turun ke dapur? Bukankah hal itu sering dilakukannya pula?”

Inten Prawesti mengangguk-angguk. Ibundanya bukan lagi Gusti Raden Ayu yang hanya duduk diatas tempat duduk yang dialasi dengan beludru atau bercengkerama di taman yang ditumbuhi oleh seribu macam pohon bunga, ibunya adalah seorang yang harus menyesuaikan diri dari keadaan. Meskipun selagi ibundanya berada di Majapahit, bukan pula seorang yang tinggi hati, namun jarang sekali ibundanya menjenguk kebagian belakang istananya.

“Jika demikian” berkata Inten kemudian, “Cepatlah kita akan berangkat”.

Nyi Upih pun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke belakang, menurunkan belanga berisi air yang sudah mendidih, kemudian menjerang nasi, baru ia membuat minuman panas bagi Raden Ayu Kuda Narpada. Sebelum ia pergi mengantarkan Inten Prawesti berjalan-jalan.

Setelah semuanya selesai, maka Inten dan Nyi Upih pun mohon diri kepada Raden Ayu Kuda Narpada untuk berjalan-jalan sebentar keatas bukit seperti hari-hari yang lewat.

Tetapi mereka tertegun ketika beberapa langkah mereka mulai menyusuri jalan setapak, mereka melihat seorang anak muda yang berjalan perlahan-lahan di lereng bukit kecil. Ditangannya tergenggam sebuah seruling bambu yang panjang berwarna gading.

“Nyai…” desis Inten Prawesti, “Apakah anak muda itu juga seorang gembala?”

Nyi Upih termangu-mangu sejenak, dipandangnya seorang anak muda yang mempunyai ciri agak lain dari anak-anak muda dari Karangmaja. Meskipun ia mengenakan pakaian yang sederhana, tetapi kesederhanaannya adalah berbeda sekali dengan pakaian anak-anak muda di Karangmaja. Anak muda yang berjalan di lereng bukit itu memakai pakaian lengkap dan dengan cara yang baik pula, rambutnya disanggul tinggi keatas kepalanya dan sebuah anyaman rotan yang tipis membelit di dahinya.

“Agaknya bukan anak Karangmaja, puteri” berkata Nyi Upih.

Inten Prawesti tiba-tiba saja menjadi berdebar-debar, anak muda itu berjalan langsung menuju ke arahnya.

“Nyai…, kenapa ia berjalan kemari?”

Nyi Upih pun menjadi berdebar-debar, tetapi ia justru menjadi ketakutan seperti ketika ia membayangkan hantu yang berterbangan disekitar bukit kecil itu.

Karena itu, maka ia pun kemudian berdiri disisi Inten Prawesti yang justru termangu-mangu ditempatnya.

Beberapa langkah dihadapan Inten Prawesti, anak muda itu pun berhenti, dengan hormatnya ia membungkukkan kepalanya sambil berkata, “Hormat bagi tuan puteri Inten Prawesti”

Inten terkejut, dengan suara bergetar ia bertanya, “Kau sudah mengenal namaku?”

“Setiap orang di Karangmaja telah mengenal tuan puteri”

“Kau juga anak muda Karangmaja…? Bertanya Nyi Upih.

“Bukan Nyai, aku adalah seorang perantau” jawab anak muda itu.

“Ooo…” Nyi Upih mengangguk-angguk, “Aku sudah menduga, kau tentu bukan anak muda dari Karangmaja. Tatapan matamu membayangkan tingkat kecerdasan yang lain dari anak-anak muda Karangmaja yang berpikir dengan sederhana”.

“Ah, aku pun hanya anak padukuhan, tetapi aku mempunyai kegemaran mengembara. Menjelajahi padukuhan, mendaki perbukitan dan menuruni lembah”.

Nyi Upih mengangguk-angguk, wajah anak muda itu memang menunjukkan hatinya yang keras, tatapan matanya bagaikan ujung tombak yang langsung menusuk ke pusat jantung.

“Aku sekarang untuk sementara tinggal di Karangmaja puteri” berkata anak muda itu.

“Kaukah yang bermain seruling?” tiba-tiba Inten Prawesti bertanya.

“Ya…, tetapi bukan yang tuan puteri dengar di lembah, disela-sela bukit. Suara seruling itu adalah suara seruling gembala dari Karangmaja”

“Jadi yang mana..?”

“Aku sering melihat tuan puteri pergi ke bukit kecil itu dan tertarik kepada suara seruling yang berlagu tanpa irama, seperti gemuruhnya suara pasar sedang temawon”

“Dan kau…?”

“Aku mencoba untuk memperkenalkan puteri dengan suara seruling yang baik dan irama yang benar dari tembang asmaradana, aku membunyikan seruling dibalik gerumbul dibawah bukit itu.”

“Oo..Kaukah itu?” Inten Prawesti tersenyum, tetapi ketika kakinya akan melangkah mendekat, Nyi Upih telah menggamitnya.

“Tetapi sebenarnya, aku pun bukan peniup seruling yang baik, meskipun demikian, aku tentu dapat melakukannya lebih baik dari gembala-gembala Karangmaja”

“Tentu, suara serulingmu lebih bak, lebih halus dan berirama”

“Aku mempunyai pengalaman yang jauh lebih luas dari anak-anak Karangmaja, dan karena itulah, aku mencoba untuk memberikan yang lebih baik dari yang dapat mereka berikan”

Inten Prawesti mengangguk-angguk, dan kemudian ia pun bertanya, “Aku belum bertanya, siapakah namamu dan dari manakah asalmu?”

Anak muda itu tersenyum, jawabnya, “Namaku Kidang Alit puteri, asalku? …entahlah, aku sendiri tidak mengetahuinya dengan pasti, aku adalah anak kabur kanginan, berselimut langit dan beralaskan bumi, aku tidak tahu, siapakah yang menurunkan aku sebenarnya”

“Ah…, apakah begitu…?”

“Benar Puteri, dan sekarang aku mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain, kali ini aku tersangkut di padukuhan Karangmaja”

Inten Prawesti tidak segera bertanya lagi, nampak keragu-raguan membayang wajahnya yang bening, tetapi ia tidak mempersoalkannya.

“Aku akan mencoba bermain lebih baik lagi puteri” berkata anak muda yang mengaku Kidang Alit itu.

“Aku senang sekali mendengarnya” jawab Inten Prawesti.

“Aku akan dengan senang hati menghadap puteri di istana, dan bermain seruling siang dan malam”

“Ah…, Inten berdesah, “Tetapi apa salahnya jika kau datang mengunjungi istanaku, eh…maksudku rumahku”.

“Puteri…” Nyi Upih memotong, “Tentu puteri harus mengatakannya lebih dulu kepada ibunda, bahwa akan ada seorang datang menghadap”.

“Ah, bukankah sejak ayahanda masih ada, siapapun boleh masuk dan naik keatas pendapa?”

“Justru kini ayahanda puteri sudah tidak ada di istana”

Inten Prawesti mengerutkan keningnya, dipandangnya wajah anak muda itu sejenak lalu, “Ya, aku akan mengatakannya kepada ibunda. Tetapi jika tidak berkenan di hati ibunda, kau dapat meniup serulingmu dimana saja kau suka. Aku akan mendengarkannya dari pintu butulan, atau dari pendapa”.

Kidang Alit tertawa, katanya, “Itu bukan persoalan lagi puteri, setiap saat aku akan meniup seruling, didengarkan atau tidak.

Inten mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, Nyi Upih menggamitnya dan berkata “Aku meninggalkan nasi diatas api puteri”

“Ah. Bukankah ibunda ada..?”

“Tentu ibunda tidak akan turun ke dapur”

“Bukankah kau juga mengatakan, biarlah ibunda nanti yang mengangkat belanga itu, sebelum kita pulang”

“Tetapi, bagaimana kalau ibunda tertidur…?!”

Inten masih akan menjawab, tetapi Kidang Alit segera memotong. “Silahkan puteri, agaknya pemomong puteri masih mempunyai tugas di istana”.

Inten menjadi kecewa, tetapi ia mengikutinya ketika Nyi Upih melangkah pulang.

Tetapi Inten masih berpaling dan berkata kepada Kidang Alit, “Aku akan mendengarkan suara serulingmu”

Kidang Alit tersenyum, tetapi ia tidak menjawab. Nyi Upih pun kemudian menyanding Inten Prawesti mereka berjalan semakin cepat, seolah-olah mereka begitu tergesa-gesa.

“Nyai, kenapa kau berlari-lari?.”

“Nasi itu”

“Tetapi kakiku sakit, dan ibunda tentu akan turun ke dapur, bukankah biasanya ibunda berbuat demikian jika kita pergi”

Nyi Upih berpaling sejenak, ia masih melihat Kidang Alit berdiri tegak ditengah lorong sempit itu, sekilas Nyi Upih melihat tubuh tegap dengan dada yang bidang, meskipun wajahnya tidak begitu tampan, namun kecerdikan memancar dari sepasang mata anak muda itu.

Ketika Nyi Upih dan Inten memasuki regol halaman istananya, barulah Nyi Upih berhenti dengan nafas terengah-engah, dan keringat dikeningnya.

“Nyai berlari-lari seperti dikejar hantu, cepatlah jika kau ingin pergi ke dapur” berkata Inten dengan jengkel.

“Ampun puteri, sebenarnya aku tidak tergesa-gesa karena nasi itu”

“Jadi kenapa?”

“Bukankah kita belum mengenal anak muda itu…?”

“Ya.. anak muda itu nampaknya agak lain dengan anak-anak Karangmaja, Ia baik dan ramah”

“Ya…puteri, Anak muda itu baik dan ramah, justru karena ia terlalu baik dan ramah, aku menjadi curiga”

“Kau terlampau cepat berprasangka Nyai”

“Puteri masih terlampau hijau, puteri tidak pernah bergaul dengan anak-anak muda, aku tidak senang melihat tatapan matanya yang gelisah memandang puteri, dan aku tidak senang mendengar kesombongannya”.

“Ah, apakah anak muda itu sombong..?”

“Ia adalah anak muda yang sombong, keramahan yang dibuat-buat itulah yang menyembunyikan kesombongannya” Nyi Upih berhenti sejenak. Lalu, “Puteri, Nyai ini sudah tua, sudah banyak bergaul dengan anak-anak muda dimasa Nyai masih muda dahulu, sehingga Nyai dapat membedakan sifat-sifat yang jujur dan dibuat-buat”

Inten mengerutkan keningnya, namun katanya, “Tetapi anak itu baik Nyai, setidak-tidaknya ia tidak mempunyai maksud buruk”.

“Mungkin, mungkin tidak ada niat buruk padanya, tetapi puteri harus hati-hati.

“Kenapa Nyai…?”

“Salah satu sebab bahwa puteri harus berhati-hati adalah karena puteri sudah meningkat dewasa, dan berlebih-lebih lagi adalah karena puteri tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik”.

“Ah…” Inten mencubit Nyi di lengannya, sehingga pemomongnya itu mengaduh kesakitan.

“Sudahlah Puteri” berkata Nyi Upih kemudian, “Sebaiknya puteri masuk kedalam, anak muda itu tentu akan lewat didepan istana ini, dan puteri tidak boleh berada diluar, apalagi seakan-akan puteri sedang menunggunya”

“Kenapa?, aku ingin mendengar ia bermain dengan serulingnya”

“Mungkin puteri hanya ingin sekedar mendengarkan ia bermain dengan serulingnya dalam kidung cinta. Tetapi hal itu akan menimbulkan salah paham bagi anak muda, apalagi menilik tatapan matanya. Kidang Alit adalah seorang anak muda yang cepat mengagumi kecantikan seorang gadis”

Inten memandang sejenak wajah Nyi Upih dengan tajamnya, sepercik keragu-raguan memancar pada sorot matanya. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu.

Nyi Upih mengerti bahwa Inten Prawesti masih belum mengenal sifat anak-anak muda, sehingga ia tidak akan muda mengerti keterangannya.

Karena itu Nyi Upih pun kemudian mengajak Inten untuk pergi saja ke dapur. Ia dapat melupakan serulingya itu sejenak dengan beberapa kesibukan. Inten Prawesti bukannya seorang gadis yang malas. Meskipun ia seorang puteri Pangeran. Tetapi seperti ibundanya, ia pun sudah berusaha menyesuaikan diri dengan keadaannya. Hidup terpencil di padukuhan kecil, segala sesuatu harus dilakukannya sendiri, karena Nyi Upih sudah terlampau banyak pekerjaan. Inten sudah biasa mencuci pakaiannya sendiri, membantu memasak dan membersihkan perabot rumahnya.

Dalam pada itu, ternyata dugaan Nyi Upih tidak meleset, Kidang Alit tidak puas menatap langkah Inten yang hilang ditikungan. Ia pun berjalan mengikutinya meskipun dengan jarak yang jauh, anak muda itu tidak dapat menahan keinginannya untuk lewat didepan istana kecil yang lengang itu.

Namun ternyata bahwa halaman istana itu benar-benar telah sepi.

“Gadis itu tidak ada di pendapa” desisnya. Tentu pemomongnya itulah yang mengajaknya masuk kedalam”

Tetapi Kidang Alit tidak memasuki halaman rumah itu, ia pun kemudian duduk dibawah sebatang pohon wuni di seberang jalan yang melintasi didepan istana itu.

Sejenak kemudian terdengar suara seruling memecah sepi, mengalun bersama angin yang berhembus perlahan-lahan mengumandang di seluruh halaman istana kecil itu

Inten yang sedang berada di dapur terkejut mendengar suara seruling itu. tanpa sadarnya ia pun segera bangkit berdiri. Hampir saja ia meloncat berlari, jika Nyi Upih tidak menangkap lengannya dan berkata, “Tinggalah disini saja puteri”

Inten termangu-mangu sejenak

“Sebaiknya puteri tidak menjenguknya”

“Kenapa Nyai…?”

“Tidak apa, tetapi duduk sajalah disini membantu Nyai menyiapkan makan. Aku juga harus menjerang air bagi ibunda jika ibunda akan mandi”.

Inten Prawesti menjadi ragu-ragu, ada keinginannya untuk ke pendapa, bukan saja untuk mendengarkan suara seruling itu. tetapi ada sesuatu yang seolah-olah telah mendorongnya untuk melihat anak muda yang bernama Kidang Alit itu.

Tetapi agaknya Nyi Upih mengerti perasaan Inten sepenuhnya, karena ia pun pernah menjadi muda. Sudah lama Inten Prawesti terpisah dari pergaulan justru menjelang usia dewasanya. Adalah wajar sekali, jika ada sebuah sentuhan di hatinya pada saat ia memandang meskipun baru untuk pertama kali, seorang anak muda yang memiliki beberapa kelebihan dari anak-anak muda yang kadang-kadang dilihatnya di Karangmaja.

Namun Nyi Upih berkata pula, “Duduklah puteri, nanti Nyai akan bercerita”

Inten menjadi sangat kecewa, tetapi seperti biasanya, ia mendengarkan kata-kata pemomongnya, karena itulah maka ia pun kemudian duduk disamping Nyi Upih yang sedang menyenduk sayur ke pinggan.

Demikiankah setiap kali Nyi Upih berusaha menahan Inten agar tidak keluar rumahnya, bukan saja sehari itu, tetapi di hari-hari berikutnya.

“Kenapa kau menahan aku keluar rumah?, beberapa hari yang lalu kau selalu menemani aku pergi ke bukit kecil itu, sekarang kau sama sekali memperlakukan aku sebagai tawanan”

Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Ampun puteri, sebenarnyalah aku cemas bahwa puteri akan tersentuh oleh pergaulan yang kurang sewajarnya”

“Maksudmu, aku harus menjadi seekor burung yang kau simpan didalam sangkar?, betapapun banyaknya kau memberi aku makan, tetapi aku akan menjadi semakin kurus dan sakit-sakitan.

“Tidak puteri” jawab Nyi Upih, “Bukan maksudku, tetapi bukankah selama ini puteri memang jarang sekali keluar halaman, baru beberapa lama puteri sering pergi melihat bukit kecil itu?, Ketika kemudian puteri tertarik kepada suara seruling, puteri memang sering pergi keluar halaman, aku tidak keberatan putri pergi keatas bukit mendengarkan suara seruling anak-anak gembala dari Karangmaja meskipun iramanya kurang baik. Tetapi suara seruling yang sengaja diperdengarkan bagi puteri oleh seorang anak muda yang belum kita kenal dan dengan sengaja menyembunyikan asal-usulnya, masih harus kita nilai lebih jauh puteri.”

“Tetapi sikapnya baik padaku”

“Sikap yang baik belum tentu menjadi bayangan yang utuh dari sikap batinnya” jawab Nyi Upih, “Puteri, biarlah Nyai mencoba mengerti serba sedikit tentang anak muda itu. besok jika Nyai pergi ke padukuhan, Nyai akan bertanya kepada orang-orang Karangmaja, apakah mereka mengenal seorang anak muda yang bernama Kidang Alit. Baru jika yakin anak muda itu tidak berbahaya, tentu bagi puteri, bukan bagiku, kita dapat bebas menerimanya atau menjumpainya dimana saja”.

Inten Prawesti mengerutkan keningya.

“Jika aku menyampaikan kepada ibunda, aku kira pendapat ibunda puteri pun akan sama dengan pendapat Nyai”

Inten tidak menyahut, betapa perasaan kecewa mencekamnya, namun ia memaksa dirinya untuk sama sekali tidak keluar dari rumahnya.

Untuk mengatasi keinginannya mendengarkan suara seruling dan melihat jalan yang membelit perbukitan, seolah-olah sambil menunggu ayahandanya kembali dari perantauannya yang panjang. Inten mengisi waktu dengan berbagai macam kesibukan yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya. Namun diluar sadarnya, kadang-kadang Inten mulai meraba wajahnya. Menjelang saat-saat mandi di jambangan, Inten sering menatap wajahnya itu di permukaan air yang bening, perlahan-lahan namun pasti, ia mulai percaya, bahwa ia memang seorang gadis yang cantik, secantik ibundanya.

Ketika pada suatu saat, Nyi Upih harus pergi ke padukuhan Karangmaja untuk membeli kebutuhan mereka sehari-hari, maka ia pun mempergunakan kesempatan itu pula untuk bertanya kepada orang-orang Karangmaja, apakah mereka mengenal anak muda bernama Kidang Alit.

“Ooo….” Seorang perempuan gemuk mengangguk-angguk, “Ya seorang anak muda yang tampan, bertubuh tegap kekar dan berwajah seperti bangsawan?”

“Ya…”

“Tidak seorang pun yang tahu tentang dirinya. Tiba-tiba saja ia berada di padukuhan ini dan menumpang di rumah seorang janda yang sudah tua di sudut desa”

“Siapakah janda itu?”

“Nyai Windu”

“Oo.. jadi anak muda itu tinggal di rumah Nyai Windu”

“Ya…, anak muda itu ternyata seorang yang kaya, ia memberi banyak uang kepada Nyai Windu”

“Anak yang baik..”

Tetapi Nyi Upih terkejut ketika ia melihat wanita gemuk itu menggelengkan kepalanya, katanya, “Tidak terlalu baik, banyak sekali imbalan yang harus diberikan kepadanya”

“Ooo…apa saja”

“Makan yang enak, yang kadang-kadang tidak dapat disiapkan oleh janda itu, karena ia tidak biasa menyediakan makan seperti yang dimintanya, dan setiap saat anak muda itu memerlukan sesuatu, Nyai Windu yang harus pergi mencarinya”

“Tetapi Nyai Windu membiarkan anak muda itu tinggal dirumahnya?”

“Nyai Windu tidak mempunyai anak, dan anak muda itu kadang-kadang bersikap baik juga kepadanya, selebihnya, semua kebutuhan Nyai Windu dipenuhi oleh anak muda itu. Bahkan Nyai Windu mulai mengenakan pakaian yang selamanya belum pernah disentuhnya, bahkan dilihatnya.”

Nyai Upih mengangguk-angguk, dan wanita gemuk itu meneruskan, “Anak itu memang sulit dimengerti, tetapi jika aku menjadi Nyai Windu, aku biarkan anak itu tinggal, karena keuntungan yang didapat oleh janda itu, agaknya masih lebih banyak dari kesulitan yang dihadapinya”.

“Apakah kau tahu, darimana asal-usul anak itu?”

“Tidak seorang pun yang mengetahuinya, Nyai Windu juga tidak, karena anak itu tidak pernah mengatakannya, setiap kali ia menyebut dirinya seperti selembar daun yang diterbangkan angin, tanpa sangkan tanpa paran”

Nyi Upih tidak dapat memaksa wanita yang gemuk itu untuk bercerita lebih banyak, namun dari orang-orang lain pun Nyi Upih tidak mendapat keterangan lebih banyak dari yang didengarnya dari wanita yang gemuk itu.

Dengan demikian, maka Nyi Upih pun mengambil kesimpulan bahwa Inten Prawesti untuk sementara tidak boleh berhubungan lagi dengan anak muda itu.

“Jika perlu, aku mendapat mengatakannya kepada gusti, sehingga Gusti Raden Ayu akan langsung memberikan nasehat kepada puterinya yang sedang meningkat dewasa itu.”

Tetapi ternyata Nyi Upih tidak perlu mengatakannya kepada ibunda Inten Prawesti, karena Inten masih mendengarkan nasehat pemomongnya, betapapun ia menjadi kecewa.

Sebenarnyalah, sejak saat itu, Inten Prawesti tidak pernah keluar dari rumahnya, jika suara seruling itu terdengar dekat sekali dari istananya, ia mendengarkannya dengan penuh minat, tetapi jika suara itu menjauh, Inten dapat menarik nafas dalam-dalam.

Setiap kali terbayang ketakutan-ketakutan yang dilukiskan oleh Nyi Upih menghadapi peristiwa yang dapat terjadi atas seorang yang meningkat dewasa seperti Inten Prawesti. Apalagi seorang gadis yang sangat cantik.

Dalam pada itu, bukan saja Inten Prawesti yang menjadi gelisah, tetapi anak muda yang menyebut dirinya Kidang Alit itu pun hatinya menjadi tidak tenang. Setiap kali ia mencoba memancing gadis cantik yang sedang meningkat dewasa itu, tetapi Inten Prawesti tidak pernah keluar lagi dari rumahnya. Apalagi pergi ke bukit kecil itu, sedangkan turun ke halaman pun seakan-akan tidak pernah dilakukannya lagi.

Tetapi diluar pengetahuan Kidang Alit, setiap kali sepasang mata selalu mengintip dari balik dinding istana, jika ia berada di depan regol, atau di seberang jalan dibawah pohon wuni sambil meniup seruling. Namun tatapan mata itu selalu memancarkan kecurigaan dan prasangka.

Demikianlah Nyi Upih selalu berusaha mengetahui tingkah laku anak muda itu, jika ia berkeliaran di sekitar istana, tetapi ia tidak pernah mengatakannya kepada siapapun juga. Semuanya seolah-olah hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri.

Bahkan ternyata kemudian Nyi Upih tidak hanya sekedar mengawasi tingkah laku yang dapat diintipnya dari celah-celah dinding, tetapi ia pun selalu bertanya kepada orang-orang Karangmaja tentang anak muda yang bernama Kidang Alit itu.

Tetapi Nyi Upih kemudian menjadi kecewa, bahwa sebenarnya tingkah laku Kidang Alit tidak mencerminkan tingkah laku anak muda yang memiliki sifat-sifat seperti yang dikehendaki. Kidang Alit kadang-kadang bersikap aneh dan dapat menumbuhkan kecurigaan.

“Aku tidak dapat membiarkan momonganku tergelincir” berkata Nyi Upih.

Sebenarnya bahwa Nyi Upih semua mempunyai harapan, bahwa pada suatu saat momongannya akan bertemu dengan anak muda yang pantas baginya. Bukan sekedar anak-anak muda Karangmaja yang sangat sederhana. Bukan karena baginya anak-anak Karangmaja berderajat rendah, tetapi sebagai seorang menganggap Inten seperti anaknya sendiri, ia menghendaki seorang laki-laki yang mempunyai beberapa kelebihan, sesuai engan kedudukan Inten Prawesti.

“Tidak berlebih-lebihan” katanya didalam hati, “Tetapi Kidang Alit agaknya terlalu banyak menyimpan teka-teki sehingga justru akan dapat menumbuhkan kekaburan bagi masa depan puteri itu sendiri”

Itulah sebabnya, Nyi Upih kemudian selalu berusaha menghalangi setiap kemungkinan hubungan Inten Prawesti dengan Kidang Alit.

Akhirnya Kidang Alit pun merasa bahwa sulitlah baginya untuk dapat menembus dinding istana kecil itu. suara serulingnya tidak mampu lagi memancing puteri cantik itu untuk keluar dari halaman, bahkan ke halaman pun tidak.

“Pemomongnya itulah yang mendengkinya” geram Kidang Alit.

Dan ternyata kemudian Nyi Upih merasa, bahwa sikapnya itu adalah sikap yang benar, ketika pada suatu saat ia pergi ke padukuhan Karangmaja dan mendengar orang-orang Karangmaja membicarakan anak muda yang bertubuh tegap dan mempunyai kelebihan dari anak muda yang lain itu.

“Sunti kehilangan kegadisannya” berkata seorang perempuan yang sudah separuh baya.

“Ah… darimana kau tahu?” bertanya Nyi Upih.

“Beberapa anak muda menemukannya”

“Atas tingkah laku Kidang Alit…?”

“Tetapi salah Sunti sendiri, ia merasa bangga berkawan dengan seorang anak muda yang memiliki kelebihan dari kawan-kawannya yang lain”

“Dan akhirnya ia mengalami perlakuan kasar?”

Perempuan separuh baya itu menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Tidak, Sunti sendiri menyerahkan kehormatannya kepada anak muda yang tampan itu”

“Dan mereka akan kawin?”

“Itulah yang menjadi persoalan, agaknya anak muda itu menyesal bahwa ia sudah tenggelam dalam hubungan yang terlampau dalam, ia tidak pernah berfikir untuk kawin dengan gadis desa seperti Sunti”

“Jadi…?”

“Akhirnya diketemukan penyesalan itu. anak muda yang bernama Kidang Alit itu memberikan biaya perkawinan Sunti dengan anak muda Karangmaja”

“Gila…!”

“Itu sudah saling disetujui. Selain biaya perkawinan, Kidang Alit memberikan sepasang kerbau kepada anak muda yang manjadi suami Sunti itu, sebagai bekal untuk menempuh hidup kekeluargaan. Dengan sepasang kerbau, maka suami Sunti akan dapat bekerja sebaik-baiknya di sawah”

Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam, tetapi hal itu sudah terjadi.

Diluar sadarnya, kenangan Nyi Upih meloncat ke masa lampau, saat ia masih mengikuti Pangeran Kuda Narpada dipusat kerajaan Majapahit. Terbayang sekilas tingkah laku beberapa orang bangsawan tertinggi. Yang diketahuinya dengan pasti, adalah Pangeran Cemara Kuning.

“Diluar lingkungan kebangsawanan ada juga orang-orang yang berlaku demikian, orang-orang yang memiliki kekayaan yang dapat dipergunakannya untuk menjadi apa saja. Bahkan kehormatan orang lain sekalipun” berkata Nyi Upih didalam hati.

Namun tiba-tiba ia berdesah, “Apakah dapat disebut dengan pasti bahwa Kidang Alit tidak mempunyai darah kebangsawanan. Ia seorang anak muda yang menyimpan rahasia tentang pribadinya. Apalagi kebangsawanan ini bukan hanya bersumber dari Majapahit, mungkin dari Kediri, mungkin dari Demak” ia berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi apakah maksud kunjungannya kemari…?”

Pertanyaan-pertanyaan itu telah membuat Nyi Upih menjadi semakin berhati-hati menghadapi anak muda yang bernama Kidang Alit itu. meskipun anak muda itu tidak berkesempatan bertemu dengan Inten Prawesti secara terbuka, mungkin ia akan apat menempuh jalan lain”

“Jika ia seorang perantau yang sebenarnya, ia tidak dapat tinggal terlampau lama di suatu tempat” berkata Nyi Upih kepada dirinya sendiri pula, “Apalagi membawa bekal uang sebanyak-banyaknya”

Tetapi Kidang Alit tidak berbuat lebih jauh lagi, bahkan semakin lama, Kidang Alit menjadi seolah-olah putus asa. Suara serulingnya tidak terdengar lagi, disekitar istana kecil itu. dan anak-anak muda itu pun jarang sekali nampak berlalu di jalan yang terjulur di depan istana itu.

Dengan demikian, maka lambat laun Inten pun telah melupakannya, ia tidak pernah lagi bertanya-tanya tentang seruling Kidang Alit dan akhirnya ia sama sekali tidak pernah menyebut namanya lagi.

Untuk beberapa lamanya Kidang Alit itu pun menjadi bahan pembicaraan lagi bagi rakyat Karangmaja. Kehadirannya sudah merupakan kebiasaan yang tidak menimbulkan persoalan lagi. Persoalan Sunti pun seolah-olah telah dilupakan orang, Jika seseorang bertemu dengan Kidang Alit, maka mereka sekedar menundukkan kepala sambil tersenyum, seperti yang dilakukan Kidang Alit. Selebihnya, mereka tidak memperdulikan lagi.

Namun ketenangan padukuhan Karangmaja tiba-tiba saja terganggu pula. Selagi orang-orang Karangmaja telah menjadi terbiasa dengan keadaannya setelah diguncang untuk beberapa saat oleh Kidang Alit, maka datanglah persoalan-persoalan baru di padukuhan kecil itu.

Dengan tidak terduga-duga, tiga orang yang berkuda telah memasuki padukuhan itu dari arah yang tidak diketahui. Wajah menunjukkan sikap mereka yang keras dan bahkan agak kasar.

Demikian mereka sampai di regol padukuhan kecil itu, maka salah seorang dari mereka segera meloncat turun dan mendatangi seorang laki-laki tua yang berdiri di regol halaman rumahnya dan bertanya, “Kau kenal Buyut Karangmaja…?!”

“Tetapi siapakah Ki Sanak ini?” bertanya orang tua itu.

“Aku bertanya rumah Ki Buyut Karangmaja!!” tiba-tiba saja orang itu membentak sehingga orang tua yang bertanya itu pun terkejut bukan buatan”

“Kau tunjukkan saja, kemana aku harus pergi, kesana…atau kesana!!, desak orang itu dengan kasarnya.

Orang tua yang ketakutan itu pun menjadi gemetar, ia tidak dapat berpikir apapun lagi. Dengan suara tergagap ia menunjuk ke satu arah sambil berkata, “Kesana… pergilah kesana…”

Ketiga orang itu tidak berbicara lebih banyak, mereka pun segera meneruskan perjalanan mereka kearah yang ditunjuk oleh orang tua itu.

Di sepanjang jalan orang-orang itu masih bertanya dengan kasarnya, membentak-bentak dan menakut-nakuti, sehingga akhirnya ia pun mendekati rumah Ki Buyut di Karangmaja.

Dalam waktu sekejap, berita kedatangan orang-orang yang kasar itu segera tersebar, jauh lebih cepat dari saat-saat kedatangan Kidang Alit, karena Kidang Alit datang tanpa memberikan kejutan apapun bagi padukuhan Karangmaja, meskipun tingkah lakunya kemudian menjadi perhatian, tetapi saat kedatangannya sendiri tidak banyak diketahui orang.

Orang-orang Karangmaja adalah orang-orang yang sederhana dan tidak segera mudah dicengkam prasangka. Tetapi mereka pun adalah orang-orang yang menyadari haknya. Karena itu, ketika anak-anak muda Karangmaja mendengar kehadiran ketiga orang asing yang mencurigakan, dan bersikap kasar, mereka pun segera saling mendekatkan diri dengan kawan-kawannya, sehingga tanpa mereka sadari mereka pun telah berkumpul di depan regol padukuhan mereka.

Seorang anak muda yang memiliki pengaruh atas kawan-kawannya mulai bertanya, “Apakah yang dapat kita lakukan sekarang?” orang-orang itu agaknya telah sampai di rumah Ki Buyut”

“Marilah kit pergi ke rumah Ki Buyut, kita melihat apa yang mereka lakukan”

“Beberapa tahun yang lalu, kita pernah juga dicengkam oleh kecurigaan karena terjadi peristiwa-peristiwa yang terjadi di padukuhan-padukuhan yang kebetulan menjadi tempat persinggahan para bangsawan dari Majapahit. Banyak penjahat-penjahat yang kemudian mencari sisa-sisa kekayaan para bangsawan itu. Karena mereka tidak berani melawan para bangsawan yang pada umumnya adalah prajurit-prajurit pilihan, maka mereka pun mulai merampok penduduk yang mereka sangka mendapat imbalan atau pemberian berupa apapun juga”

“Dan sekarang mereka memasuki padukuhan kita, karena di padukuhan kita ada sebuah istana kecil” berkata seorang yang bertubuh gemuk.

“Tidak…,” tiba-tiba seorang anak muda yang lain membantah, “Jika istana kecil itulah yang menyebabkannya, maka hal ini tentu sudah terjadi beberapa waktu yang lalu”.

“Bagaimana jika penjahat-penjahat itu baru saja mendengar bahwa di tempat ini ada istana kecil itu?, jika demikian, maka istana kecil itu akan menjadi penyebab kesulitan di padukuhan ini”

“Tidak” hampir berbareng empat orang anak muda menyahut sekaligus, salah seorang dari mereka meneruskan, “Istana itu sudah membuat padukuhan ini menjadi hidup, lereng-lereng yang tandus manjadi semakin hijau dan dapat ditanami meskipun hanya pepohonan yang khusus. Sebelumnya kita hampir tidak mengenal jalur-jalur air untuk membasahi sawah di musim kering, sehingga seolah-olah sawah kami hanya dapat ditanami di musim basah. Sekarang parit-parit yang selalu dialiri air yang naik dari bendungan seolah-olah telah menjalar ke seluruh tanah persawahan” ia berhenti sejenak, lalu, “Bahkan jika terjadi sesuatu atas istana itu, adalah menjadi tanggung jawab kita untuk menjaganya, kita tahu, bahwa di dalam istana itu tidak ada seorang laki-laki pun yang akan dapat melindunginya”.

“Ya…, kita harus membalas kebaikan yang sampai saat ini dan bahkan untuk seterusnya selalu akan kita hayati. Sawah yang subur, lereng yang hijau dan pemeliharaan ternak yang baik, kita tidak akan dapat berbuat demikian tanpa kehadiran Pangeran Kuda Narpada, yang tinggal di istana kecil itu”.

Anak muda yang cemas dengan kehadiran istana kecil itu tidak menjawab lagi, ia sadar, bahwa tidak ada seorang pun yang akan berada di pihaknya, karena itu, maka lebih baginya untuk berdiam diri.

Jadi sekarang kita pergi ke rumah Ki Buyut” tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata.

“Ya, sekarang kita lihat, apa yang telah terjadi”

“Tetapi bagaimana dengan Kidang Alit?, apakah orang-orang itu kawan-kawan Kidang Alit?”.

“Mereka tidak bertanya tentang Kidang Alit”

“Tetapi siapa tahu…”

Namun anak-anak muda itu pun tiba-tiba terkejut, ketika mereka mendengar suara dari balik dinding batu.

“Aku tidak mengenal mereka”.

Ketika anak-anak itu berpaling, mereka melihat Kidang Alit meloncat dinding itu dan berdiri tegak dengan wajah tengadah.

“Aku akan ikut bersama kalian ke rumah Ki Buyut, aku juga ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh ketiga orang itu. dengan demikian, maka tidak akan ada prasangka lagi terhadapku bahwa akulah yang menyebabkan padukuhan ini menjadi terganggu. Aku menyesal bahwa aku telah berbuat sesuatu yang terlampau jauh dan menyinggung ketenangan padukuhan ini. Untunglah bahwa persoalan Sunti itu cepat mendapat jalan keluar, karena itu, maka aku tidak mau lagi dilibatkan dalam peristiwa yang dapat merusak nama baikku”.

Anak-anak muda Karangmaja itu pun berdiri termangu-mangu sejenak, baru sesaat kemudian seorang yang paling berpengaruh diantara mereka berkata, “Baiklah Kidang Alit, kau pergi bersama kami dan melihat apa yang telah terjadi”

“Aku akan menyesuaikan diriku seperti kalian, agar aku tidak menarik perhatian orang itu”

“Anak-anak muda Karangmaja tidak menghiraukannya lagi. Merekapun kemudian pergi bersama-sama ke rumah Ki Buyut untuk melihat apa yang sudah terjadi di rumah tetua padukuhan mereka.

Ketika anak-anak muda itu sampai ke regol halaman, mereka melihat ketiga orang itu masih berdiri di tangga pendapa, mereka mengikat kuda mereka pada batang-batang perdu di halaman.

“Kau harus menyediakan sebuah rumah buat kami disini” seorang diantara mereka berkata lantang.

Ki Buyut nampak sangat gelisah, beberapa orang bebahu dan pembantunya pun berdiri termangu-mangu, tidak seorang pun dapat berbuat sesuatu.

“Tidak ada alasan apapun yang dapat kau pergunakan untuk menolak kehadiran kami disini.” Yang lain berkata lantang.

Ki Buyut tidak segera dapat menjawab, rasa-rasanya ia tidak lagi dapat berbuat sesuatu dan memutuskan apapun juga, karena kegelisahan didalam dadanya.

Ketika Ki Buyut melihat anak-anak muda berdatangan, maka wajahnya menjadi agak cerah. Meskipun suaranya masih bergetar namun ia berhasil menguasai perasaannya. “Silahkan duduk Ki Sanak, kita akan berbicara sebaik-baiknya.”

“Kau harus menyanggupi permintaanku lebih dahulu” berkata salah seorang dari mereka, seorang laki-laki berkumis tebal, setebal ibu jari.

Ki Buyut bukan seorang penakut, ia memiliki sedikit kelebihan dari orang lain, namun justru karena itu, maka ia melihat bahwa ketiga orang itu adalah orang-orang yang sangat berbahaya.

Dalam pada itu, anak-anak muda yang sudah memasuki regol halaman rumah Ki Buyut di Karangmaja menjadi ragu-ragu sejenak, mereka menjadi ngeri melihat wajah-wajah yang keras seperti batu-batu padas di tebing pegunungan, bahkan rasa-rasanya orang-orang itu sama sekali tidak mengacuhkan kedatangan anak-anak muda itu.

Ki Buyut yang melihat mereka mendekat itu pun kemudian berkata kepada anak-anak muda yang memiliki pengaruh atas kawan-kawannya itu, “Kasdu, kemarilah”

Anak muda yang bernama Kasdu itu pun melangkah mendekat, tetapi nampak ia ragu-ragu.

“Mereka memerlukan tempat tinggal” berkata Ki Buyut.

Kasdu memandang ketiga orang itu yang sama sekali tidak mengacuhkannya, namun betapapun juga ia bertanya, “Apakah kalian akan tinggal di padukuhan ini?”

Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Bahkan malah seorang membentak kepada Ki Buyut, “Ki Buyut..!!!, jawab pertanyaanku…!!!, jangan membawa anak-anak ingusan ini dalam pembicaraan…!”

“Ki Sanak, mereka adalah anak-anak muda Karangmaja, setiap kali aku mengajak mereka berbincang, apalagi dalam keadaan seperti ini”.

“Kau tidak usah berbincang dengan siapapun, yang perlu kau kerjakan adalah menyediakan tempat tinggal bagi kami, kami tidak akan selamanya tinggal di padukuhan ini”

“Ya… itulah yang akan aku katakan kepada Kasdu”

“Aku tidak memerlukan anak-anak itu…!!” salah seorang dari ketiga orang itu hampir berteriak.

Kasdu, betapa ia menjadi ngeri melihat sikap dari tingkah laku ketiga orang itu, namun ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan padukuhannya. Karena itu, maka ia pun segera melangkah maju sambil berkata, “Jangan teriak-teriak disini Ki Sanak, kau orang asing bagi kami, jika kau menginginkan sesuatu, kau harus bersikap baik, karena keputusan terakhir akan berada ditangan kami”

Tetapi Kasdu tidak dapat meneruskan kata-katanya, tiba-tiba saja tangan salah seorang dari ketiga orang itu terayun menampar wajah Kasdu.

Akibatnya benar-benar tidak terduga, Kasdu terlempar dari tempatnya, dan jatuh berguling di tanah, …pingsan.

Beberapa anak muda dengan gerak naluriah memburu dan berjongkok disisinya. Mereka terkejut ketika mereka melihat wajah Kasdu bernoda biru.

Tubuh Ki Buyut menjadi gemetar, gemetar oleh kemarahan yang tertahan, tetapi ia pun sadar, bahwa ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Orang-orang itu bukan orang-orang kebanyakan.

Karena itu, ia tidak memberikan aba-aba apapun kepada anak muda yang berada di halaman. Jika terjadi benturan kekerasan maka Karangmaja akan menyesali anak-anaknya yang akan menjadi korban keganasan orang-orang asing yang tidak mereka kenal itu.

Dalam pada itu, maka anak-anak muda Karangmaja yang berada di halaman pun menjadi ngeri, sentuhan tangan orang-orang itu bagaikan sentuhan bara api yang membakar wajah Kasdu.

“Siapa yang akan mencoba sekali lagi berdiri di hadapanku!” teriak orang yang memukul Kasdu itu, “Aku masih berbaik hati untuk memberi peringatan kepada kalian. Apalagi jika kalian mencoba menyesuaikan persoalan ini dengan senjata, maka sudah tentu kalian semuanya akan tumpas, karena kami pun akan mempergunakan senjata pula”.

Tidak seorang pun yang berani bergerak.

“Bawa anak itu pergi..!!” teriak orang yang memukul Kasdu, “Ia akan menyesali kelancangannya sepanjang hidupnya, ia tidak akan mati karena pukulan itu, tetapi ia akan cacat seumur hidup”.

Beberapa anak muda itu menjadi gemetar, tetapi beberapa orang yang lain dengan ragu-ragu saling berpandangan di sekitar Kasdu.

Kidang Alit turut berjongkok di sebelah Kasdu, dengan matanya ia memberi isyarat kepada anak-anak muda yang lain, untuk membawa Kasdu pergi.

Dengan ragu-ragu pula beberapa orang mengangkatnya dan membawanya menepi.

Tetapi Kidang Alit berbisik, “Kita bawa masuk ke rumah Ki Buyut, lewat pintu butulan”

Mereka pun kemudian membawa Kasdu melalui longkangan bagian belakang rumah Ki Buyut Karangmaja, sementara itu perempuan dan kanak-kanak di belakang, seakan-akan sama sekali tidak berani lagi bergerak dari tempatnya, mereka berkumpul di dapur dengan tubuh gemetar dan ketakutan.

Dengan hati-hati tubuh Kasdu itu pun segera dibaringkan diatas amben bambu di bilik dalam. Sejenak anak-anak muda yang membawanya masuk itu menjadi tegang melihat noda-noda yang seolah-olah tumbuh di bagian wajah Kasdu yang lain.

“Darahnya telah di kotori oleh semacam racun yang dengan ganas dapat membuatnya lumpuh” berkata Kidang Alit.

“Darimana kau tahu..?” bertanya salah seorang anak muda.

“Bukankah orang itu mengatakan, bahwa Kasdu akan menjadi cacat”

“Lumpuh…?”

“Lumpuh dan mungkin buta”

“Mengerikan sekali”

“Tentu cincin itu mengandung racun, mungkin pula akik pada cincinnya itu, atau alat-alat lain di jarinya” desis Kidang Alit.

“Dan Kasdu akan cacat sepanjang hidupnya…?, kasihan ia masih terlampau muda untuk mengakhiri hidup sewajarnya”

Kidang alit termenung sejenak, kemudian ia pun berkata dengan hati-hati, seolah-olah tidak ingin didengar oleh orang lain, “Aku akan berbuat sesuatu, tetapi berjanjilah, bahwa kalian yang melihat, tidak mengatakan kepada siapapun juga”

Anak-anak muda yang ada disekitar tubuh Kasdu itu pun termangu-mangu sejenak.

“Berjanjilah, cepat sebelum racun itu mencapai pusat sarap Kasdu.”

“Apa yang akan kau lakukan”

“Berjanjilah…!!” desis Kidang Alit.

Anak-anak muda itu pun termenung sejenak, namun kemudian salah seorang dari mereka mengangguk sambil berkata lirih, “Aku berjanji”

Dan yang lain pun berkata pula, “Ya… aku berjanji”

“Baiklah” berkata Kidang Alit, “Aku mempunyai obat penawar racun, mudah-mudahan akan dapat aku pergunakan, jika penawar racunku sesuai dengan diderita oleh Kasdu, maka ia akan sembuh, tetapi jika aku gagal, maka ia bukan saja akan cacat, tetapi mungkin mati”

Anak-anak muda itu saling berpandangan.

“Nah, apakah kita akan bersama-sama bertanggungjawab jika Kasdu mati?… Kita tidak akan mengatakan apa yang sudah terjadi disini, jika ia mati, biarlah kesalahannya kita timpakan saja kepada orang-orang itu, artinya, bahwa pukulan itulah yang menyebabkan kematiannya”.

Sejenak, ruangan itu menjadi hening, baru kemudian salah sorang berkata, “Berdosakah kita, jika kita mencobanya?, jika kita berhasil, maka Kasdu akan tertolong, tetapi jika kita gagal, apakah kita dapat dipersalahkan karena kita berusaha?, apalagi Kasdu pasti akan cacat sepanjang hidupnya jika kita tidak berbuat sesuatu”

“Maksudmu, daripada cacat, jika gagal, lebih baik jika ia tidak tersiksa sepanjang hidupnya” bertanya seorang kawannya.

“Bukan, bukan begitu, tetapi hampir seperti itu, bagiku, lebih baik kita berbuat sesuatu, jika perbuatan itu dapat menumbuhkan harapan”.

“Ya… aku setuju” desis yang lain berurutan. Kidang Alit menarik nafas, wajahnya menjadi tegang, di keningnya mengembun keringat dingin, dan bahkan menitik keatas tubuh Kasdu yang tergolek diam.

Perlahan-lahan Kidang Alit mengambil sebuah bumbung kecil dari kantong ikat pinggangnya, kemudian seorang anak muda yang lain disuruhnya mengambil semangkuk air.

Sepercik serbuk yang berwarna kekuning-kuningan dimasukkannya ke dalam air itu dan dimasukkan ke dalam mulut Kasdu yang seolah-olah membeku.

“Mudah-mudahan aku tidak terlambat, dan mudah-mudahan racun itu dapat bersentuhan dengan racun yang telah masuk ke dalam darahnya” berkata Kidang Alit sambil menitikkan air yang sudah berisi serbuk itu lalu katanya, “Tetapi itu belum cukup”

Tidak ada yang menjawab, semua telah dicengkam oleh ketegangan yang memuncak.

“Air itu akan menghentikan cengkaman racun itu lebih jauh” berkata Kidang Alit sambil meletakkan mangkuknya, kemudian sambil membuka sebuah bungkusan kecil ia berkata, “Obat ini harus diusapkan pada lukanya”

“Ia tidak terluka” desis seorang anak muda.

Kidang Alit tidak menjawab, tetapi dengan seksama ia mengamati wajah Kasdu yang menjadi semakin biru.

Beberapa orang memandanginya sambil menahan nafas, mereka tidak mengerti, apa yang dilakukan olah Kidang Alit, mereka sama sekali tidak melihat luka pada wajah Kasdu yang kebiru-biruan itu.

Namun kemudian Kidang Alit berkata, “Inilah lukanya, kecil sekali, tidak lebih dari gigitan serangga”

“Kau dapat melihatnya…?”

Kidang Alit tidak menjawab, ia pun kemudian mengusapkan obat penawar yang berwarna kehitam-hitaman, obat yang kental seperti bubur pati ketela pohung, hanya seusap kecil.

Dengan hati-hati Kidang Alit membungkusnya kembali dan menyimpannya bersama bumbung kecilnya pada kantong kuning ikat pinggangnya yang besar.

Sejenak anak-anak muda yang menunggui Kasdu itu menjadi semakin tegang, mereka tidak segera melihat perubahan yang terjadi pada anak muda yang terluka itu.

Sementara itu, dipendapa, Ki Buyut tidak dapat berbuat lain kecuali memenuhi permintaan ketiga orang yang tidak dikenalnya itu. untuk menjaga agar tidak ada seorang pun yang merasa dikorbankan, maka Ki Buyut berkata, “Ki Sanak, berkeras untuk tinggal di padukuhan ini, maka baiklah Ki Sanak bisa tinggal di Banjar desa padukuhan ini, meskipun Banjar itu tidak begitu besar, tetapi bagian belakang terdapat dua buah bilik yang cukup untuk tinggal sementara”

“Kau tempatkan aku di Banjar?, bagaimana aku makan sehari-hari?” bertanya salah satu dari ketiga orang itu.

“Jadi bagaimana maksud Ki Sanak?”

“Aku memerlukan makan dan minum….”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam katanya, “Baiklah, aku akan menyuruh pembantuku setiap hari mengirimkan makan dan minum, pagi, siang dan sore hari, cukup…?”

“Persetan…!,” orang itu menggeram, lalu, “Baiklah kami berbaik hati. Tetapi jika makananmu terlambat datang, aku akan mengambil apa saja yang dapat aku ambil dari siapapun juga!…”

Ki Buyut mengangguk kecil, jawabnya, “akulah yang akan tanggung jawab, karena aku adalah Buyut di Karangmaja”

Orang berwajah sekeras batu padas tu tertawa, katanya, “He…., kau mengenal tanggung jawab juga Ki Buyut. Terima kasih. Sayang, bahwa aku telah membuat seorang anak muda Karangmaja menjadi cacat. Tetapi itu adalah salahnya sendiri, tidak ada seorang pun yang akan dapat mengobatinya. Ia akan lumpuh, buta dan tuli sepanjang umurnya”

Wajah Ki Buyut menegang sejenak. Tetapi sebelum ia bertanya sesuatu, salah seorang dari ketiga orang asing itu berkata, “Jumlahnya tentu akan bertambah, jika orang-orang Karangmaja tidak bersikap baik kepadaku, aku adalah orang-orang yang harus kalian penuhi segala kebutuhanku, bukan sekedar makan dan minum”.

Jantung Ki Buyut berdentangan memukul dinding dadanya, ia telah dicengkam bayangan-bayangan yang mengerikan, bahkan kemudian ia berkata kepada diri sendiri, “Apakah jadinya jika orang-orang itu melihat seorang gadis cantik yang sedang tumbuh di istana kecil itu.?”

Tetapi Ki Buyut menahan perasaan itu dalam dadanya, ia tidak mengatakannya kepada siapapun juga sebelum ia menemukan jalan sebaik-baiknya.

Dalam pada itu, Ki Buyut pun kemudian memerintahkan dua orang anak muda untuk mengantarkan ketiga orang itu, dengan dada bergetar, kedua anak muda itu tidak dapat menolak, betapapun ketakutan melanda perasaannya, tetapi keduanya pun kemudian berangkat juga mengantarkan ketiga orang yang berwajah sekasar batu padas.

Tetapi diluar dugaannya, ketika mereka sampai di banjar padukuhan, ketiganya tersenyum kepada kedua anak muda itu. Dengan ramah salah seorang berkata, “Terima kasih Ki Sanak, kalian adalah anak muda yang baik. Nah, ingat-ingatlah. Aku elum memperkenalkan nama kami. Sampaikan kepada Ki Buyut, bahwa namaku adalah Kumbara, dan kedua kawanku yang lain adalah Gagak Wereng dan Naga Pasa”.

Orang yang disebut bernama Naga Pasa itu tertawa, katanya, “Ya… namaku Naga Pasa, seperti nama sebuah ilmu yang mempunyai kekuatan seperti racun ular. Setiap sentuhan akan berakibat mengerikan sekali, seperti kawanmu yang lancang itu”

Kedua anak muda Karangmaja itu sama sekali tidak berani berbuat apapun juga, bahkan bergerak pun hampir tidak dapat dilakukan.

“Pergilah, pesanku kepada Ki Buyut, makananku jangan terlambat, dan semua kebutuhanku harus dipenuhi. Aku dapat berbuat banyak di padukuhan ini, jika mereka menentang setiap kehendakku”

Kedua anak-anak muda itu pun kemudian dengan kaki gemetar pergi meninggalkan Banjar, kembali ke rumah Ki Buyut dan menyampaikan semua pesan ketiga orang itu.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, hatinya bagaikan pepat. Bahkan ia langsung menghubungkan kehadiran ketiga orang itu dengan istana kecil yang sepi itu.

Ki Buyut seperti terbangun dari mimpinya, ketika ia teringat kepada Kasdu, demikian hatinya dicengkam oleh kegelisahan sehingga ia hampir lupa, bahwa didalam rumahnya terdapat seorang yang sedang terluka parah.

Karena itu, maka ia pun kemudian berdiri dan mengajak dua orang bebahu yang masih berada di halaman rumahnya untuk menengok anak muda yang terluka parah itu.

“Tunggulah disini” berkata Ki Buyut kepada anak-anak muda yang masih berada di halaman rumahnya pula.

Anak-anak muda itu tidak menjawab, tetapi tatapan mereka membayangkan kecemasan yang luar biasa. Orang-orang yang menyebut dirinya bernama Kumbara, Gagak Wereng dan Naga Pasa itu, akan dapat berbuat apa saja seperti yang dikatakannya.

Seperti Ki Buyut, anak-anak itu pun menjadi cemas akan isi istana kecil. Gadis itu terlampau cantik dan apalagi tanpa pelindung sama sekali. Jika ketiga orang itu melihatnya, maka tidak seorang pun akan dapat mencegah jika mereka menghendakinya dengan cara yang paling buas.

“Pangeran Kuda Narpada sudah memberikan petunjuk dan bimbingan terlampau banyak kepada kami” berkata salah seorang anak muda itu kepada diri sendiri. “Apakah kami dapat membiarkan keluarganya menjadi korban…?”

Bahkan anak-anak muda itu menduga bahwa ketiga orang itu tentu menganggap bahwa didalam istana kecil itu terdapat benda yang tiada ternilai harganya.

“Istana itu sama sekali tidak menyimpan harta bernilai uang” berkata anak muda itu didalam hatinya. “Tetapi bernilai kebajikan, jika orang-orang itu mencari harta kekayaan bernilai uang, maka, mereka tidak akan mendapatkannya. Adalah mengerikan sekali jika orang-orang itu tidak percaya dan memaksa dengan kekerasan untuk memberikan apapun juga yang mereka anggap ada”

Tetapi semuanya itu hanya bergetar didalam angan-angan saja. Meskipun isi hati anak-anak muda itu hampir bersamaan, bahkan seperti yang tergetar didalam hati Ki Buyut di Karangmaja, namun tidak seorang pun yang berani mempersoalkannya, seakan-akan mereka cemas, bahwa kata-kata mereka akan dapat mendorong itu terjadi.

Dalam pada itu, dengan ragu-ragu, Ki Buyut masuk ke ruang dalam, hampir saja ia mengurungkan niatnya. Hatinya tentu akan menjadi sangat pedih melihat keadaan Kasdu yang akan menjadi cacat seumur hidupnya. Lumpuh, buta dan tuli. Ia kan menjadi beban keluarganya seperti bayi yang aneh, karena besar tubuhnya dan umurnya yang dewasa, tetapi tidak akan dapat berbuat apa-apa.

“Sesuatu siksaan yang mengerikan” berkata Ki Buyut didalam hati, “tetapi tidak seorang pun akan dapat menolongnya. Ia akan tergolek dipembaringan seperti orang yang sudah mati didalam hidupnya.”

Langkah Ki Buyut tertegun ketika ia melihat beberapa orang muda yang berjongkok disisi sebuah pembaringan. Namun kemudian ia memaksa kakinya untuk melangkah terus. Ia adalah orang yang mempunyai tanggung-jawab tertinggi di padukuhan Karangmaja. Apapun yang akan dilihatnya, ia tidak akan dapat ingkar.

Anak-anak muda yang ada didalam ruangan itu pun kemudian menyibak ketika mereka melihat Ki Buyut dan dua orang bebahu padukuhan mendekati Kasdu yang berbaring diam. Kidang Alit yang tegang mengikuti setiap perkembangan anak muda yang luka parah itu pun bergeser pula, sambil berkata, “Silahkan Ki Buyut”

Ki Buyut melangkah semakin mendekat, dengan dada yang berdebaran ia melihat Kasdu dengan perasaan yang penuh iba. Bahkan kedua bebahu yang lain, rasa-rasanya tidak dapat lagi bernafas didalam ruangan itu.

Tetapi betapa Ki Buyut dan kedua bebahu itu terkejut ketika mereka mendengar sebuah desah perlahan, “Apakah yang datang Ki Buyut?”

Ki Buyut seolah-olah tidak percaya kepada pendengarannya. Sehingga dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah aku mendengar seseorang bertanya..?”

Kidang Alit mengangguk, “Ya, Ki Buyut”

“Apakah aku mendengar dan melihat bibir Kasdu bergerak dan menyebut aku?”

“Ya…, Ki Buyut. Kasdu sudah mampu melihat dan berbicara”

Ki Buyut menjadi bingung, beberapa kali ia berpaling kepada kedua pembantunya dan memandang anak-anak muda yang ada di ruangan itu berganti berganti-ganti.

“Jadi Kasdu tidak menjadi buta, tuli dan lumpuh…?”

“Ia akan dapat menjadi demikian jika tidak segera mendapat pengobatan” jawab Kidang Alit.

“Siapa yang mengobatinya…?”

“Aku Ki Buyut…”

“Kau…., kau…”

Kidang Alit berdiri disisi pembaringan sambil tersenyum, katanya, “Aku sudah berhasil mengobati Kasdu, tidak seorang pun akan dapat melakukannya selain aku sekarang ini. Tetapi mungkin di daerah dan padepokan lain ada juga orang yang mampu menahan bisa seperti bisa yang telah menyentuh Kasdu”

Ki Buyut menjadi termangu-mangu, ia benar-benar menjadi bingung dan seolah-olah tidak yakin akan penglihatanya.

“Memang luka Kasdu sangat parah” berkata Kidang Alit, “Untunglah bahwa aku sedang berada di padukuhan ini pada saat ia mengalaminya, sehingga aku dapat menolongnya. Perlahan-lahan ia akan sembuh dan akan menjadi pulih kembali meskipun diperlukan waktu kira-kira tiga atau empat bulan, tetapi bukankah itu jauh lebih baik daripada ia harus menjadi lumpuh buta, tuli dan bisu..?”

“Ya, jauh, jauh lebih baik”, Ki Buyut menelan ludahnya, “Aku sangat berterima kasih kepadamu Kidang Alit”

Kidang Alit masih saja tersenyum, katanya kemudian, “Aku berharap tidak akan ada orang lain yang mengalami peristiwa seperti ini lagi Ki Buyut”

“Mudah-mudahan, tetapi kehadiran ketiga orang itu tentu akan membuat banyak kesulitan bagi padukuhan ini”

“Apa yang kira-kira akan mereka lakukan? Bertanya Kidang Alit.

“Akut tidak tahu, tetapi mereka sudah mengancam bahwa kita harus dapat menyediakan semua kebutuhan yang mereka kehendaki selama mereka berada di padukuhan ini”

Kidang Alit mengerutkan keningnya, kemudian katanya kepada Ki Buyut, “Ki Buyut, aku berharap bahwa apa yang sudah aku lakukan sekarang ini, dan tidak akan dapat dilakukan oleh orang lain, untuk sementara dirahasiakan, aku sudah minta kepada anak-anak muda yang melihat usaha penyembuhan ini, agar mereka tidak mengatakan bahwa Kasdu menjadi lumpuh, buta dan tuli. Racun itu benar-benar telah melumpuhkan bukan saja kekuatan jasmaniah, tetapi juga pusat syarafnya. Dengan demikian, ketiga orang itu tidak akan berusaha untuk mencari, siapakah yang telah berhasil mengobati luka yang sebenarnya tidak terobati itu” Kidang Alit berhenti sejenak, lalu, “Ki Buyut, ketahuilah, menilik ciri-cirinya ketiga orang itu adalah murid-murid dari perguruan yang dipimpin oleh Kiai Sekar Pucang”

“Kiai Sekar Pucang?” wajah Ki Buyut tiba-tiba menjadi semakin tegang.

“Apakah Ki Buyut pernah mendengarnya?” bertanya Kidang Alit.

“Aku pernah mendengar nama itu, tetapi sudah lama sekali. Pada waktu itu aku masih remaja, jika orang yang menjadi semacam dongeng itu memang ada, ia sekarang sudah tua sekali”

“Mungkin Ki Buyut, tetapi mungkin pula murid yang sangat dipercayainya, akan dapat menggantikan kedudukannya”

Ki Buyut mengangguk-angguk, ia pun kemudian bergumam seperti kepada dirinya sendiri, “Menurut dongeng yang aku dengar, Kiai Sekar Pucang adalah orang yang tidak dapat mati, kebal dari segala macam senjata dan mampu melenyapkan diri dari tangkapan mata wadag, namun dibalik kemampuannya yang tidak terlawan itu, ia adalah orang yang paling bengis dimuka bumi.”

Tetapi Kidang Alit justru tertawa, katanya, “Hanya sebagian kecil saja dari ceritera itu yang benar Ki Buyut, Kiai Sekar Pucang memang seorang yang pilih tanding. Ia memang memiliki ilmu yang luar biasa, Lembu Sekilan, sehingga seolah-olah ia manjadi kebal. Tetapi tidak ada orang yang tidak dapat mati. Ia pada suatu saat tentu kehilangan kekuatannya dan mati seperti kebanyakan orang. Selebihnya, ia sama sekali tidak dapat melenyapkan diri seperti yang memang pernah aku dengar”

“Jadi kau mendengar dongeng itu pula…?”

“Dongeng itu tersebar ke seluruh tlatah Majapahit. Tatapi aku sama sekali tidak percaya bahwa seluruhnya itu benar. Apa lagi kemudian setelah Demak berhasil merebut kembali pusat pemerintahan Majapahit yang telah direbut oleh Kediri dari Prabu Brawijaya Pamungkas.”

“Apa hubungannya dengan Demak..?”

“Kiai Sekar Pucang adalah salah seorang yang ikut serta merebut Majapahit dari Prabu Brawijaya. Tetapi ternyata ia tidak mampu mempertahankan pusat pemerintahan yang sudah direbutnya bersama pasukan Kediri itu dari serangan balasan yang dilakukan oleh Demak, dibawah pimpinan langsung Raden Patah, pasukan yang telah berhasil menduduki pusat pemerintahan Majapahit itu pun segera terusir, dan Raden Patah berhasil menyelamatkan tanda-tanda kebesaran Majapahit dan dibawanya ke Demak”.

“Jadi siapakah Sekar Pucang yang sebenarnya?”

“Sekar Pucang, ia adalah Sekar Pucang”

“Ki Buyut termangu-mangu sejenak, namun tiba-tiba ia bertanya, “Dan siapakah kau sebenarnya?”

Kidang Alit mengerutkan keningnya. Kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Aku adalah Kidang Alit, seorang anak yang bertualang, tanpa asal usul dan tujuan”.

“Aku sudah mendengar seribu kali jawaban yang demikian”

“Ki Buyut meragukan…?”

“Ya….”

Kidang Alit tertawa, katanya kemudian, “Sudahlah Ki Buyut, jangan hiraukan aku. Aku adalah orang yang merantau dan kini telah berhasil menyelamatkan Kasdu disini. Tetapi ingat, hal ini adalah rahasia. Jika ternyata ketiga orang kelak mengetahui bahwa Kasdu tidak menjadi lumpuh, buta dan tuli, maka tentu ada salah seorang dari kita yang berada di ruangan ini yang berkhianat. Akibatnya dapat dibayangkan. Orang-orang beracun itu akan marah dan akan bertebaranlah anak-anak muda yang mengalami nasib serupa Kasdu sebelum aku sebelum aku sembuhkan. Dan aku akan segera lari dari padukuhan ini, karena aku tidak mau mengalami nasib yang lebih buruk lagi dari kalian, tanpa berusaha untuk mengobati siapapun juga diantara kalian yang mengalami bencana itu.”

Ki Buyut mengangguk-angguk, katanya, “Kami semuanya sudah mendengar keteranganmu Kidang Alit, kami akan berbuat seperti yang kau kehendaki, karena kami tidak mau melihat korban semakin banyak lagi”

“Terima kasih Ki Buyut, selama ini biarlah Kasdu berada disini, Ia harus dirawat seperti seorang yang lumpuh, buta tuli dan bisu.”

“Bagaimana dengan orang tuanya?”

“Orang tuanya tidak boleh mengetahui keadaan yang sebenarnya. Biarlah untuk sementara orang tuanya menganggap bahwa Kasdu memang lumpuh, buta, tuli dan bisu”

“Mereka akan menderita, dan apakah jawabku jika Kasdu diminta orang tuanya?”

“Biarlah ia disini, dan biarlah orang tuanya menderita untuk sementara waktu”

Ki Buyut termenung sejenak, namun kemudian ia mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah Kidang Alit, Kasdu akan kami rawat disini, ia akan kami anggap sebagai seorang yang lumpuh, buta, tuli dan bisu. Aku berharap bahwa Kasdu sendiri akan dapat membantu, sehingga pelayan dan keluargaku yang lain tidak mengetahui keadaannya yang sebenarnya.”

Kemudian katanya, “Kau mendengar sendiri Kasdu, He…! Bukankah kau sudah dapat mendengar??”

Kidang Alit berpaling kepada Kasdu yang terbaring diam, Kasdu mengangguk kecil, katanya, “Aku mendengar pembicaraan kalian”

“Bagus, terhadap orang lain kau harus berpura-pura buta, bisu, tuli dan lumpuh, kau mengerti?”

“Apakah aku harus memejamkan mataku?”

“Tidak perlu, mata itu dapat saja terbuka, tetapi kau tidak melihat apapun juga. Hati-hatilah, semuanya itu untuk kepentinganmu sendiri. Jika kau lengah, maka ketiga orang itu akan datang, dan barangkali mereka akan membunuhmu saat itu juga”

“Baiklah,” berkata Kasdu, lalu, “Aku mengucapkan terima kasih kepadamu Kidang Alit”

“Lupakan, tetapi kau harus menjaga dirimu baik-baik. Kau akan baik kembali dalam waktu yang agak lama. Tiga atau empat bulan. Dan aku berharap bahwa kau akan dapat pulih kembali”

Kasdu menarik nafas dalam-dalam, hingga masih saja dicengkam berbagai macam perasaan, cemas, ngeri, gelisah dan campur-baurnya perasaan takut. Namun bahwa ia mempunyai kemungkinan yang jauh lebih baik karena pertolongan Kidang Alit, telah membuatnya terhibur, meskipun ia masih harus berbaring tiga sampai empat bulan”.

Sejenak kemudian, maka anak-anak muda itu pun minta diri. Atas persetujuan Ki Buyut, maka anak-anak muda dianjurkan untuk tidak berbuat sesuatu, ketiga orang itu amat berbahaya.

“Jadi apakah kita harus membiarkan kesulitan itu terjadi untuk selanjutnya?” bertanya seorang bebahu padukuhan itu.

“Tentu saja hati kita tidak akan rela. Tetapi apa yang dapat kita lakukan ditempat yang terpencil ini?”

Bebahu itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Memang tidak ada yang dapat mereka lakukan kecuali pasrah diri kepada Yang Maha Agung agar rakyat padukuhan terpencil itu dibebaskan dari bencana yang lebih dahsyat lagi.

Sepeninggal kawan-kawannya, Kasdu dengan sadar, menjadikan dirinya seorang yang buta, tuli dan lumpuh. Hanya dengan Ki Buyut dan orang-orang tertentu saja ia kadang-kadang melepaskan kepepatan dan ketegangan perasaan selama ia memerankan dirinya dalam keadaan yang parah.

Namun sementara itu, orang-orang Karangmaja mulai merasa diri mereka sangat terganggu oleh kehadiran tiga orang yang sama sekali tidak mereka kehendaki. Tetapi tidak seorang pun yang dapat mencegah mereka melakukan apa saja yang mereka kehendaki. Bahkan di hari-hari terakhir mereka mulai menyebut beberapa ekor kambing yang gemuk, yang sering digembalakan oleh anak-anak Karangmaja di pinggir padukuhan.

“Sekali-sekali aku memerlukan kambing itu” berkata Kumbara kepada salah seorang anak yang sedang menggembalakan kambingnya.

Mula-mula anak tidak mengerti maksudnya, tetapi sehari kemudian, ia menangis sepanjang malam, karena ternyata yang dimaksud oleh Kumbara adalah, bahwa kambing itu harus disembelih.

Ki Buyut menjadi sangat berprihatin atas kehadiran ketiga orang itu. Yang mereka minta semakin hari menjadi semakin banyak, dan kadang-kadang gawat, karena itulah sudah mulai terbayang diangan-angan Ki Buyut, bahwa pada suatu saat mereka minta lebih dari seekor kambing, bahkan seekor lembu, karena di Karangmaja banyak terdapat gadis-gadis yang memang sedang tumbuh. Dan diantara gadis-gadis itu terdapat seorang gadis yang sangat mereka hormati, Inten Prawesti.

Berita kehadiran orang-orang itu, pada akhirnya sampai juga ke telinga penghuni istana kecil itu, Nyi Upih yang mendengar pertama kali, segera menjadi cemas. Seperti bisik-bisik orang-orang di Karangmaja, bahwa hampir setiap orang mencemaskan anak-anak gadisnya, dan terutama Inten Prawesti.

“Jadi apa pendapatmu Nyai…?” bertanya Raden Ayu Narpada ketika Nyi Upih menyampaikan berita itu kepadanya.

“Untuk sementara, puteri sama sekali tidak boleh menampakkan diri Gusti. Ternyata bahwa di Karangmaja kini sedang mengintai dua ujung bahaya yang hampir sama, di Karangmaja ada seorang anak muda bernama Kidang Alit. Nyai sudah mencemaskan kehadirannya, karena rasa-rasanya ia sangat tertarik kepada puteri”

“Dimana mereka dapat bertemu?”

“Kadang-kadang puteri keluar istana melihat-lihat bukit yang semakin hijau” Nyi Upih berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kemudian menyusul bahaya yang kedua, yang tidak kalah tajamnya dengan sikap anak muda yang bernama Kidang Alit itu. Keduanya dapat berbuat kasar jika niat mereka tidak dapat mereka penuhi dengan halus. Namun agaknya orang-orang kasar yang baru datang itu memang belum pernah melihat puteri”.

Raden Ayu Kuda Narpada menundukkan kepalanya. Dalam keadaan yang demikian, perasaanya bagaikan terbang menyusuri masa-masa lampaunya, selagi suaminya masih ada disampingnya. Suaminya adalah seorang senopati yang mumpuni, karena itu, jika suaminya ada, jangankan anak muda yang seorang, tiga atau empat orang sekaligus datang ke istana itu, mereka akan kehilangan kesempatan untuk keluar lagi dalam keadaan hidup.

Tetapi suaminya kini sudah tidak dapat diharapkannya lagi. Pangeran Kuda Narpada pergi untuk saat yang tidak dapat diperkirakan. Bahkan mungkin tidak akan dapat kembali lagi kepadanya dan kepada anak gadisnya.

Setitik air menggenang di pelupuk mata puteri bangsawan itu. Kepada siapa ia minta perlindungan agar anaknya tidak terlibat dalam kesulitan.

“Gusti” desis Nyi Upih yang melihat luka di hati Raden Ayu itu menjadi semakin pedih”, “Kita masih mempunyai pelindung yang paling berkuasa atas siapapun juga”

Raden ayu mengangkat wajahnya dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapa Nyai?”

“Nyai tidak begitu jelas, menurut tuntunan orang-orang yang pernah berhubungan dengan kekuasaan Demak sekarang. Mereka menyebutnya Yang Maha Kuasa”

Raden Ayu Kuda Narpada menarik nafas, katanya, “Dewa-Dewa yang agung”

“Ya… Yang Tunggal, Yang Esa, tidak lebih”

Raden Ayu itu menundukkan kepalanya lagi, tetapi ia pun mencoba untuk pasrah diri kepada kekuasaan Yang Maha Kuasa itu.

Namun dalam pada itu, kecemasan, orang-orang Karangmaja menjadi semakin memuncak. Seorang anak gembala melihat ketiga orang itu berkuda di lereng perbukitan. Tetapi kemudian mereka berhenti dan memandang istana yang kecil itu dari arah belakang untuk waktu yang lama.

“Apakah yang mereka lakukan?” bertanya seorang anak muda kepada gembala itu.

“Waktu itu mereka tidak berbuat apa-apa selain memandanginya sambil berbicara satu sama lain”.

“Apa yang mereka bicarakan?”

“Tentu aku tidak mendengarnya. Aku berada ditempat yang agak jauh. Aku tidak berani memandang mereka terlampau lama, jika tangannya itu menyentuh pipiku, aku akan menjadi lumpuh seperti Kasdu, lumpuh, buta, tuli dan bisu. Mengerikan sekali”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia merasa wajib menyampaikan kepada Ki Buyut.

Berita kecil itu cukup membuat Ki Buyut menjadi semakin bingung, karena itu, maka ia pun segera memanggil Kidang Alit, seorang anak muda, yang dianggapnya memiliki banyak kelebihan dari anak-anak muda Karangmaja sendiri.

“Mengerikan sekali” desis Ki Buyut, “Aku tidak tahu apakah kehadiran ketiga orang itu justru karena mereka tertarik kepada istana kecil itu. Mula-mula mereka tentu menyangka bahwa di istana kecil itu ada harta, kekayaan yang tidak ternilai. Tetapi pada suatu saat mereka tentu akan melihat daya tarik yang lain”

“Puteri itu” desis Kidang Alit.

“Ya… dan banyak kemungkinan dapat terjadi atas gadis itu” Kidang Alit mengerutkan keningnya. Terbayang wajah puteri yang cantik di halaman istana kecil itu. Gadis yang sudah agak lama tidak dilihatnya.

“Pemomongnya itulah yang gila” desis Kidang Alit, namun kemudian, “Tetapi ada juga baiknya untuk sementara gadis itu bersembunyi.”

“Kenapa dengan pemomongnya?” bertanya Ki Buyut.

“Tidak apa-apa, maksudku, pemomongnya harus lebih berhati-hati”

“Tetapi apakah daya mereka, Istana itu dihuni hanya oleh tiga orang dan semuanya perempuan”

“Apakah kalau ada seorang laki-laki di rumah itu, maka gadis itu akan dapat diselamatkan dari ketiga iblis yang gila itu?”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Kidang Alit, agaknya kau bukan sekedar perantau, tetapi kau tentu seorang petualang yang senang mengalami peristiwa-peristiwa yang dahsyat dan keras. Ternyata dengan persiapan yang kau bawa. Kau mempunyai obat yang dapat menghentikan kerja racun yang ganas itu. Dan tidak mustahil kau menyembunyikan senjata di rumah janda itu”

“Akut memang mempunyai senjata Ki Buyut. Tetapi dalam keadaan serupa ini, maka senjataku itu harus aku sembunyikan. Jika ketiga orang itu melihat aku mempunyai senjata, maka umurku akan menjadi sangat pendek”.

Ki Buyut mengangguk-angguk, Ia menyadari, bahwa Kidang Alit seorang diri tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Sedangkan anak-anak muda Karangmaja sama sekali tidak dapat diharapkan untuk membantunya menghadapi ketiga orang yang ganas itu.

“Jadi apa yang dapat kita lakukan?”

Kidang Alit mengangkat bahunya, namun kecemasan nampak membayangi wajahnya.

“Untuk sementara kita hanya dapat mengamatinya saja” desis Kidang Alit.

“Apakah pada saat lain kau melihat pemecahan?”

“Sekarang belum Ki Buyut, tetapi kita tidak boleh diam sampai disini, kita akan berusaha meskipun kita tidak tahu apakah yang harus kita lakukan”

Ki Buyut menggigit bibirnya, kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berucap, “Jika kita tidak berhutang budi kepada Raden Kuda Narpada dan seluruh keluarganya, beban kita tidak akan seberat sekarang. Maksudku, beban perasaan. Kita memang wajib menolong siapapun juga jika kita mampu. Tetapi terlebih-lebih karena seluruh penduduk Karangmaja pernah merasakan uluran tangan penghuni istana kecil itu”.

Kidang Alit mengangguk-angguk, katanya, “Aku belum pernah merasa berhutang budi, tetapi aku pun merasa wajib menolongnya. Ki Buyut, biarlah untuk sementara anak-anak mengawasinya”

“Kenapa anak-anak?”

“Mereka tidak akan mencurigai anak-anak kecil yang sedang menggembalakan ternak di pinggir padukuhan, atau di lereng-lereng bukit-bukit.”

“Tetapi apakah yang dapat dilakukan oleh anak-anak itu?”

“Mereka hanya melihat-lihat, apa yang dilakukan oleh ketiganya”

“Dan kita menyuruh anak-anak itu menggembalakan di lereng bukit di belakang istana kecil itu?”

“Jangan ada perubahan apapun yang dilakukan oleh anak-anak itu sehari-hari. Setiap perubahan keadaan tentu tidak akan lepas dari pengamatan ketiga iblis itu. biarlah anak-anak menggembalakan seperti biasanya. Yang bermain-main dengan seruling, meskipun iramanya tidak tepat, biarlah mereka bermain-main seperti biasanya. Kita tidak usah berpesan apa-apa kepada mereka”

“Lalu…”

“Setiap kali saja kita bertanya, apakah mereka melihat ketiga orang itu? bukankah tanpa kita pesan, anak-anak itu merasa bahwa wajib ikut mengawasi ketiga orang itu? Ternyata salah seorang dari mereka telah memberitahukan kepada kita bahwa tiga orang itu sedang mengamati istana kecil itu dari kejauhan”

Ki Buyut mengangguk-angguk, ia sadar, bahwa anak-anak masih belum mampu membuat pertimbanganpertimbangan sebaik-baiknya, sehingga jika mereka menyadari bahwa mereka harus mengawasi orang-orang itu, maka mereka akan melakukan perbuatan yang aneh-aneh yang justru akan dapat menimbulkan kecurigaan, atau sebaliknya, justru anak-anak itu akan menjadi ketakutan.

“Agaknya memang baru itulah yang dapat kita lakukan” berkata Ki Buyut kemudian.”

“Dan pesan kepada Nyi Upih, bahwa mereka yang tinggal di istana itu harus semakin berhati-hati” sambung Kidang Alit.

Namun ternyata bahwa pesan yang kemudian sampai ke telinga Nyi Upih saat-saat ia pergi ke padukuhan, membuat perempuan itu menjadi cemas, tetapi seperti biasanya, ia tidak mau membuat Gusti dan momongannya menjadi bertambah gelisah. Sehingga karena itu kecemasannya ditahankannya didalam hatinya sendiri.

Tetapi seperti peristiwa beruntun yang tidak dapat dimengerti, selagi istana kecil itu dicengkam oleh ketakutan, sekali lagi padukuhan Karangmaja dikejutkan oleh kehadiran dua orang berkuda yang tidak mereka kenal.

Selagi orang-orang Karangmaja sibuk bekerja di sawah, tiba-tiba saja seorang anak muda berlari-lari mendapatkan kawannya sambil bertanya.

“Kau melihat debu yang mengepul itu?”

“Dua orang berkuda” desis kawannya.

Anak muda yang berlari-lari itu menganggukkan kepalanya. “Apalagi yang akan terjadi di padukuhan yang kecil ini?”

“Kita harus memberitahukan Ki Buyut”

“Terlambat, kuda-kuda itu akan segera memasuki padukuhan”.

Keduanya termangu-mangu, namun mereka sempat melihat dua orang penumpang kuda itu.

Ketika kuda itu mendekati padukuhan Karangmaja, maka keduanya mengurangi kecepatan. Bahkan kemudian mereka berhenti sejenak sambil mengamati gerbang padukuhan.

Ternyata bukan hanya kedua anak muda itu saja yang terpaku melihat kedua penumpang kuda itu. Beberapa orang yang lain, yang sedang bekerja di sawah pun telah terpaku pula. Dengan dada yang berdebar-debar mereka melihat dua orang berkuda diatas dua ekor kuda yang tegar. Yang seekor berwarna kelabu kehitam-hitaman, yang lain berwarna merah sawo.

Kedua nak muda yang memperhatikan kedua penunggang kuda berdesis, “He, lihat, pakaian mereka seperti pakaian Kuda Narpada, pada saat Pangeran datang”

“Ya…, jika demikian, agaknya keduanya adalah bangsawan-bangsawan yang lain”.

“Jauh berbeda dengan orang-orang kasar yang telah berada di padukuhan itu”.

Namun tiba-tiba yang seorang menyahut, “Tetapi apakah keduanya tidak akan masuk kedalam sarang tiga ekor serigala yang paling ganas”, ketiga orang itu tidak menghendaki kehadiran kedua bangsawan itu, maka tentu akan terjadi benturan-benturan diantara mereka”.

Yang lain tidak menyahut, ia memandang dengan tajamnya kepada kedua penunggang kuda yang sejenak kemudian telah memasuki padukuhan.

Seperti saat-saat kedatangan ketiga orang-orang kasar itu, maka kedua orang bangsawan itu pun berhenti di ujung padukuhan dan bertanya kepada orang tua, “Ki sanak, maaf, apakah Ki Sanak dapat menunjukkan rumah Ki Buyut?, maksudku Ki Buyut Karangmaja, bukankah ini padukuhan Karangmaja?”

“Ooo…, tentu Tuan-tuan, tetapi siapakah tuan-tuan ini?”

Kedua orang yang masih berada diatas punggung kudanya itu tersenyum. Yang seorang yang masih muda menyahut, “Kami adalah petualang-petualang yang tersesat sampai ke tempat ini”.

Tetapi orang tua itu menjawab, “Tuan tidak tersesat, ini memang padukuhan Karangmaja”

“Terima kasih Ki Sanak” penunggang kuda yang separuh baya itu menyahut.

Orang tua itu pun menunjukkan arah untuk sampai ke rumah Ki Buyut Karangmaja.

“Jalanlah terus tuan, jalan ini menuju ke rumah Ki Buyut” orang tua itu tertegun sejenak, lalu, “Tetapi, tetapi……..” ia menjadi ragu-ragu untuk meneruskan.

“Ada apa Ki Sanak?” bertanya penunggang kuda yang sudah separuh baya.

“Maaf tuan-tuan, aku tidak dapat mengatakannya”.

Kedua penunggang kuda itu termangu-mangu, nampak sesuatu bergejolak di hatinya.

“Sebaiknya katakan saja Ki Sanak” desis yang muda, “Kami akan sangat berterima kasih kepadamu”

Orang itu termangu-mangu sejenak, ada maksudnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi nampaknya ia menjadi ketakutan untuk menyebutnya.

Kedua orang berkuda itu saling berpandangan sejenak. Kemudian orang yang tua itu berkata sambil tersenyum, “Apakah ada suatu yang menakut-nakutimu Ki Sanak?”

“Tuan sebaiknya tuan-tuan pergi saja ke rumah Ki Buyut. Nanti tuan akan mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi di padukuhan ini”.

Kedua orang berkuda tersenyum. Mereka tidak dapat memaksa orang tua itu untuk berkata sesuatu, karena itu maka yang muda pun menyahut, “Baiklah Ki Sanak, Kami akan pergi ke rumah Ki Buyut”

“Berhati-hatilah tuan”

Penunggang kuda yang muda tertawa, katanya, “Aku sudah menempuh perjalanan beratus-ratus bahkan beribu tonggak, tetapi baiklah, aku akan sangat berhati-hati di sisa perjalanan ini hanya tinggal beberapa puluh langkah ini”

Orang tua itu tidak berkata apapun lagi, ia memandang saja kedua penunggang kuda yang meninggalkannya sambil melambaikan tangannya.

Namun sejenak kemudian penunggang kuda yang muda itu pun berkata, “Paman, agaknya memang ada sesuatu yang terjadi di padukuhan ini, mungkin kita memang harus berhati-hati”

“Ya, ngger, orang tua itu tentu berkata sebenarnya, mudah-mudahan kita akan dapat mengatasi semua kesulitan yang akan terjadi”.

Yang muda tersenyum, katanya, “Kita tidak boleh bimbang. Kita sudah mulai melangkahkan kaki, kita mendapat kepercayaan yang besar dari tugas ini”

Yang tua tersenyum, katanya, “Aku yakin akan kemampuan anakmas. Mudah-mudahan pula, aku dapat membantu sebaik-baiknya seperti yang diharapkan”.

Keduanya terdiam, dihadapan mereka nampak regol halaman yang agak lebih besar dari regol-regol yang lain.

“Itulah rumah Ki Buyut, regolnya nampak lebih besar dan halamannya cukup luas seperti yang dikatakan oleh orang tua itu” berkata yang tua.

“Agaknya memang regol itu regol halaman rumah Ki buyut paman. Kita sudah sampai dengan selamat. Tetapi bukan berarti kita tidak harus tetap waspada. Mungkin bahaya yang dimaksud berada didalam halaman itu, atau mungkin setiap saat setelah kita berada disini”.

Yang tua tidak menjawab, namun nampak wajahnya menjadi agak tegang, alisnya berkerut dan dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Semuanya mungkin terjadi, anakmas”

Keduanya pun terdiam ketika mereka berada di regol halaman. Untuk sesaat keduanya termangu-mangu. Mereka melihat beberapa anak-anak muda di halaman yang terkejut melihat kehadirannya.

“Apakah kita akan langsung masuk?” bertanya yang muda.

“Agaknya demikian anakmas, anak-anak muda itu tentu tidak berbahaya bagi kita asal kita bersikap baik kepada mereka”.

Keduanya kemudian memasuki halaman rumah Ki Buyut. Meskipun nampaknya keduanya tenang-tenang saja, namun keduanya tidak lepas dari kewaspadaan.

Ki Buyut yang sudah diberi tahu bahwa ada dua orang tamu memasuki regol halaman, dengan tergopoh-gopoh menyongsong-nya. Menurut ujud lahiriahnya, tamu-tamunya kali ini jauh berbeda dengan tiga orang yang berkuda yang telah masuk ke padukuhan itu dan bahkan telah menyakiti Kasdu.

Kedua penunggang kuda itu pun kemudian meloncat turun ketika mereka melihat beberapa orang menyongsong.

Ki Buyut yang berjalan paling depan, mendekati kedua orang itu sambil berkata, “Aku adalah buyut di Karangmaja. Maaf tuan-tuan, kami di padukuhan ini belum pernah melihat tuan berdua. Perkenankanlah sebelum kami mempersilahkan tuan-tuan naik ke pendapa, kami ingin bertanya, siapakah tuan berdua?”

Kedua penunggang kuda itu saling berpandangan sejenak, terasa adanya kecurigaan pada Ki buyut itu, sehingga dengan demikian keduanya menjadi semakin yakin bahwa pernah terjadi sesuatu di padukuhan ini.

Yang muda dari kedua orang berkuda itu pun kemudian mengangguk hormat sambil menjawab. “Maaf Ki buyut, mungkin kedatangan kami agak mengejutkan Ki buyut, jika Ki Buyut ingin mengetahui siapakah kami berdua maka kami akan memperkenalkan diri. Kami berdua datang dari jauh, kami adalah keluarga istana Demak.”

“Ooo…” Ki Buyut mengangguk hormat, menilik pakaiannya ia memang sudah menduga.

“Namaku Kuda Rupaka”.

“Kuda Rupaka” Ulang Ki Buyut, namun orang yang berkuda yang tua itu menyahut, “Raden Kuda Rupaka”

“Oh maaf Raden, jadi nama lengkap Raden adalah Raden Kuda Rupaka”

“Demikianlah” anak muda itu tersenyum, lalu, “Dan kawanku ini adalah paman Sura Wilaga”

“Raden Sura Wilaga” ulang Ki Buyut.

“Sebutlah Panji Sura Wilaga” sebut anak muda yang bernama Raden Kuda Rupaka itu.

“Panji Sura Wilaga…. Ki Buyut mengucapkannya lagi diluar sadarnya. Lalu seperti orang terbangun ia bertanya serta merta, “Jadi Raden keduanya adalah bangsawan dari Demak?”

“Raden Kuda Rupaka tersenyum pula, jawabnya, “Begitulah, aku adalah saudara sepupu Sultan di Demak sekarang”.

“Ooo maafkan kami Raden, kami sama sekali tidak mengetahui meskipun seharusnya menilik pakaian dan kelengkapan Raden kami harus sudah menduga bahwa Raden berdua datang dari pusat kerajaan.”

Raden Kuda Rupaka masih tersenyum saja, katanya, “Kau tidak bersalah sama sekali, meskipun kami dari istana Demak, tetapi bukan untuk menakut-nakuti orang-orang pedesaan, kami datang sebagai orang biasa. Disini, Ki Buyut adalah orang yang paling berkuasa. Kami adalah tamu-tamu Ki Buyut sehingga kami pun harus menyesuaikan diri, karena kami sadar bahwa padukuhan Karangmaja, kami berada dibawah kekuasaan Ki Buyut”.

“Ah…, Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam sejenak, ia memandang wajah kedua orang bangsawan itu. Katanya didalam hati, “Agaknya bangsawan-bangsawan ini rendah hati seperti Raden Kuda Narpada”

Selagi Ki Buyut termangu-mangu, maka Raden Kuda Rupaka bertanya, “Ki Buyut, apakah Ki Buyut dapat menerima kedatanganku setelah Ki Buyut tahu serba sedikit tentang aku dan paman Sura Wilaga?”

Sekali lagi Ki Buyut seperti tersentak dari tidurnya, “Tentu…tentu Raden. Marilah, aku persilahkan Raden berdua naik ke pendapa”

Tetapi Raden Kuda Rupaka menggelengkan kepalanya, katanya, “Terima kasih Ki Buyut, sebaiknya aku tidak usah naik, jika Ki Buyut tidak berkeberatan aku berada di padukuhan ini, maka aku pun tidak akan segera melanjutkan perjalananku”.

“Aku tidak mengerti Raden” Ki Buyut menjadi bingung.

“Maksudku, akhir dari perjalananku, berdua aku akan menghadap bibi Kuda Narpada”

“He…, jadi Raden masih keluarga Pangeran Kuda Narpada?”

“Aku masih saudara sepupunya”.

“Ooo…..” Ki Buyut mengusap dadanya, “Raden… kedatangan Raden seperti titiknya embun di panas yang terik. Adalah kebetulan sekali jika Raden berdua ingin mengunjungi Raden Ayu Kuda Narpada, agaknya sekarang waktunya memang tepat sekali”

“Kenapa…?” Kuda Rupaka mengerutkan keningnya. Lalu, “Apakah ada hubungannya dengan pesan orang tua di ujung padukuhan ini?”

“Apa pesannya…?”

“Aku tidak mengenal orang tua itu, orang tua itu pun belum mengetahui siapa aku. Tetapi ia sudah berpesan agar aku sangat berhati-hati”

“Mungkin Raden, mungkin sekali…” Ki Buyut mengangguk-angguk. “Karena itu, silahkan Raden duduk sejenak, mungkin kami dapat menceritakan apa yang sudah terjadi”.

Kuda Rupaka memandang Panji Sura Wilaga sejenak, lalu desisnya, “Apakah kita akan singgah..?”

“Sebentar saja ngger, kita harus segera sampai kepada bibi anakmas”

“Kuda Rupaka mengangguk-angguk, lalu, “Baiklah Ki Buyut, tetapi tidak terlalu lama, aku sudah sangat rindu kepada keluarga pamanda Kuda Narpada”

Kedua tamu Ki Buyut itu pun kemudian dipersilahkan naik ke pendapa, dan duduk diatas sebuah tikar pandan yang putih kekuning-kuningan.

Beberapa orang anak muda yang mendengar percakapan Ki Buyut dengan kedua bangsawan itu pun kemudian menyampai-kan kepada kawan-kawannya yang saling memperbincangkannya.

Dipendapa Ki Buyut menceritakan apa yang sudah terjadi di padukuhan kecilnya. Kedatangan orang-orang yang membuat seluruh penduduk padukuhan itu menjadi cemas, apabila agaknya mereka menaruh perhatian kepada istana kecil yang sejak kepergian Pangeran Kuda Narpada, istana itu seperti kehilangan gairah hidupnya.

“Jadi, orang-orang itu agaknya mulai tertarik kepada istana pamanda Kuda Narpada yang kosong itu?”

“Begitulah Raden” jawab Ki Buyut yang tidak lupa menceritakan Kasdu yang berbaring di ruang dalam.

“Jadi anak muda itu menjadi lumpuh, tuli, buta dan bisu?”

Ki Buyut ragu-ragu sejenak, Apakah ia akan mengatakan bahwa seorang anak muda bernama Kidang Alit telah dapat menyembuhkannya.

Namun akhirnya Ki Buyut memutuskan untuk tetap memegang rahasia itu, namun agaknya kedua bangsawan itu dapat dipercayai. Tetapi jika pengakuan itu didengar dan diketahui oleh orang lain, maka, hal itu akan membahayakan jiwa Kasdu.

Karena itu Ki Buyut yang termangu-mangu itu tidak segera menjawab, maka, Kuda Raden Rupaka pun berkata, “Apakah aku boleh melihat anak yang sakit itu Ki Buyut?”

Ki Buyut masih ragu-ragu.

“Ah… baiklah Ki Buyut” berkata Raden Kuda Rupaka

“Aku mengerti bahwa Ki Buyut tidak akan dapat langsung mempercayai seseorang yang baru saja dikenalnya. Tetapi menilik cerita Ki Buyut, aku dapat menduga. Bahwa ketiga orang itu tentu bukan orang-orang kebanyakan. Dan karenanya aku memang harus berhati-hati. Tetapi karena aku memang tidak mempunyai maksud apa-apa, selain menengok kesehatan bibi, maka aku kira, mereka tidak akan marah kepadaku. Tetapi apabila mereka akan marah juga, maka sudah barang tentu, kami akan memberikan banyak penjelasan tentang maksud kedatangan kami dengan segala macam cara. Mungkin cara-cara yang tidak biasa dipergunakan orang lain”.

Ki Buyut masih termangu-mangu sejenak, namun kemudian, “Baiklah Raden, tetapi sebaiknya Raden harus berhati-hati”.

“Terima kasih Ki Buyut, tetapi baiklah besok aku akan kembali kemari, jika sudah ada kepercayaan dari Ki Buyut tentang dan paman Panji Sura Wilaga, karena Ki Buyut benar-benar mengetahui bahwa aku berada di istana bibi Kuda Narpada. Maka, aku tidak berkeberatan jika aku diperkenankan melihat anak muda yang bernama Kasdu itu. mungkin aku mempunyai cara untuk mengobatinya, jika aku belum terlampau lambat”.

“Mengobati..?”

“Yaa… kenapa…?”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak, semula ia mendengar dari orang yang memukul Kasdu, bahwa kemungkinan yang paling buruk itu tidak akan ada orang yang dapat mengobatinya. Kemudian datang Kidang Alit, dengan obat-obatan yang ada. Ia berhasil menawarkan racun yang mencengkam tubuh Kasdu, dan yang akan membuatnya lumpuh, bisu, tuli dan buta itu. tetapi Kidang Alit mengatakan bahwa jarang sekali, bahkan hampir tidak ada orang yang dapat mengobatinya kecuali Kidang Alit Sendiri. Tetapi ternyata anak muda yang bernama Kuda Rupaka itu sanggup pula untuk mengobatinya.

Dalam kebimbangan itu, tiba-tiba telah timbul pikiran lain pada Ki Buyut, menurut pengamatannya, bangsawan-bangsawan itu tentu bukan orang yang bermaksud jahat. Sehingga apa salahnya jika mereka dapat juga melihat dan mengenal dan mengetahui keadaan Kasdu yang sebenarnya.

“Ki Buyut…” berkata Raden Rupaka kemudian, “kenapa Ki Buyut nampak ragu-ragu, ketika aku mengatakan bahwa aku akan berusaha mengobati luka-luka anak itu..?”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak, saat itu Kidang Alit tidak nampak berada di halaman, sehingga ia tidak dapat meminta pertimbangannya.

Namun akhirnya Ki Buyut berniat untuk memperlihatkan Kasdu kepada kedua bangsawan itu. kemudian, ia akan berbuat sesuatu dengan tanggapan kedua orang itu atas Kasdu.

“Raden…” berkata Ki Buyut kemudian, “Sebenarnyalah bahwa anak yang terluka itu ada disini. Terus terang aku memang ragu-ragu karena aku belum pernah mengenal Raden sebaik-baiknya. Tetapi agaknya Raden dapat dipercayai, sehingga aku akan memperlihatkan anak yang terluka itu kepada Raden”.

Kuda Rupaka tertawa pendek, katanya, “Terserahlah kepada Ki Buyut, jika Ki Buyut percaya kepada kami, baiklah kami akan melihatnya. Seperti aku katakan, jika aku masih belum terlambat, maka aku mencoba mengobatinya, karena menilik keterangan-mu, luka-luka itu disebabkan oleh sebangsa racun yang kuat”.

“Baiklah Raden, marilah, aku persilahkan Raden pergi ke ruang belakang.”

Demikianlah maka Ki Buyut itu pun membawa Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga ke ruang belakang, ke tempat Kasdu masih terbaring diam.

“Inilah anak muda itu”.

Kuda Rupaka mendekatinya, dipandanginya Kasdu dengan seksama. Beberapa kali ia menyentuh tubuh Kasdu dengan jari-jarinya, bahkan kemudian pada noda-noda di wajahnya.

“Apakah ia benar-benar lumpuh, bisu, tuli dan buta?” bertanya Kuda Rupaka.

“Benar Raden”

Sejenak Kuda Rupaka terdiam, lalu, “Apakah ia melihat atau mendengar kedatanganku?”

“Tentu tidak Raden…”

 -oo0 dw-arema 0oo-

Bersambung ke jilid 2

Sumber djvu : Koleksi Ismoyo

http://cersilindonesia.wordpress.com

Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://ebook-dewikz.com/

http://kang-zusi.info http://dewikz.byethost22.com/

diedit ulang oleh Ki Arema

lanjut

AM_MS-07

Serial ARYA MANGGADA

Episode V: MATAHARI SENJA

JILID 7

kembali | TAMAT

AMMS-07PARUNG Landung dan Paron Waja telah diberinya berbagai macam petunjuk sehingga usaha membakar pintu gerbang itu tidak akan gagal. Bahkan air tidak akan dapat menolong pintu gerbang itu.

Kiai Narawangsa yang telah mendapat laporan Gunasraba bahwa segala sesuatunya sudah siap, telah memberikan isyarat, bahwa mereka akan segera menyerang padepokan itu.

“Besok sehari kita mempersiapkan segala-galanya. Besok lusa, di dini hari, kita akan mulai membakar pintu gerbang. Menurut perhitungan, saat matahari naik, pintu gerbang dan pintu-pintu butulan tentu sudah menjadi abu.”

Perintah itu pun segera menjalar ke setiap telinga. Mereka yang sudah merasa jemu berkeliaran di hutan itu justru menjadi gembira. Saat-saat berburu binatang sudah berakhir. Mereka kemudian akan berburu lawan di padepokan Kiai Banyu Bening.

“Kita sudah terlalu lama tidak membasahi senjata kita,” berkata seorang yang berkepala botak, “mudah-mudahan orang-orang padepokan itu tanggap untuk bermain bersama.”

“Cantrik-cantrik padepokan pada umumnya juga memiliki kemampuan olah kanuragan.”

“Justru itulah yang rnenarik,” jawab orang botak itu.

Keputusan Kiai Narawangsa itu sesaat membuat wajah Nyai Wiji Sari menjadi cerah. Pertempuran akan membuatnya lupa pada kegelisahannya. Perang tidak akan memberinya kesempatan merenungi dirinya sendiri.

Tetapi malam-malam menjelang gerakan yang dilakukan oleh Kiai Narawangsa itu telah dilihat oleh Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi. Dengan sadar, bahwa diantara orang-orang yang berada di hutan itu terdapat orang-orang berilmu tinggi, Ki Ajar Pangukan, Ki Pandi berusaha mengamati kesibukan mereka.

Pada malam menjelang serangan yang akan dilakukan itu, Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi masih belum mengetahui, cara apakah yang akan dipergunakan untuk menghancurkan pintu gerbang.

Kiai Narawangsa dan Gunasraba cukup berhati-hati. Mereka mempersiapkan alat-alat dan bahan yang akan mereka pergunakan untuk membakar pintu gerbang itu ditengah-tengah lingkungan perkemahan mereka, sehingga Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi tidak dapat melihatnya.

Namun yang mereka ketahui, bahwa serangan itu akan berlangsung sejak dini hari.

Karena itu, maka kedua orang itu pun segera kembali ke padepokan untuk memberikan laporan kepada Ki Lemah Teles dan Ki Warana.

Akhirnya saat yang mendebarkan itu pun datang. Hari terakhir yang disediakan untuk mempersiapkan segala-galanya telah dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh para pengikut Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Sehingga dengan demikian, maka segala persiapan tidak ada lagi yang tercecer.

Di malam terakhir itu, sebagian dari para pengikut sempat beristirahat sebaik-baiknya. Mereka sempat tidur nyenyak dan bahkan mendekur keras. Hanya beberapa orang yang bertugas sajalah yang sibuk mempersiapkan segala-galanya. Namun demikian, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari berusaha untuk dapat memberi kesempatan kepada orang-orangnya untuk bergantian beristirahat.

Namun lewat tengah malam, maka semua orang telah dibangunkan. Mereka harus mulai mempersiapkan diri sebaik-baiknya

Mereka harus mengamati senjata mereka masing-masing, agar senjata mereka tidak mengecewakan jika mereka sudah berada di medan pertempuran.

“Semua orang harus bersiap untuk melindungi diri sendiri dari hujan anak panah,” berkata Kiai Narawangsa, “yang tidak berperisai supaya bersiap sebaik-baiknya agar tidak mati sebelum memasuki pintu gerbang padepokan.”

Demikianlah, setelah segala sesuatunya bersiap, maka sebuah iring-iringan yang cukup besar telah mulai bergerak menuju ke padepokan. Mereka juga sudah makan sekenyang-kenyangnya agar mereka tidak kehabisan tenaga disaat-saat mereka bertempur nanti di padepokan.

Sementara itu. orang-orang yang ditugaskan khusus telah menyediakan makanan pula yang dapat dimakan kapan saja menurut kebutuhan.

Diantara iring-iringan itu terdapat pula beberapa ekor kuda beban yang mengangkut bahan-bahan yang akan dipergunakan untuk membakar pintu padepokan.

Pada saat yang demikian Gunasraba telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Bersama beberapa orang yang telah terlatih dan berpengalaman, maka Gunasraba duduk diatas punggung kuda masing-masing. Beberapa orang diantaranya memegangi kendali kuda-kuda yang menjadi kuda beban.

Pada saat yang ditentukan, maka beberapa orang berkuda itu pun dengan cepat telah berpacu menuju ke pintu gerbang utama dan yang lain ke pintu butulan sebagaimana yang pernah mereka amati sebelumnya.

Semuanya berjalan dengan cepat. Para petugas yang berjaga-jaga diatas panggungan melihat beberapa ekor kuda muncul dari kegelapan. Kuda-kuda itu berlari kencang menuju ke padepokan. Bahkan ada diantaranya kuda-kuda yang tidak berpenumpang.

Mula-mula para petugas itu mengira bahwa orang-orang yang datang berkuda itu, sebagaimana pernah mereka lakukan, hanya akan mengamati keadaan. Tetapi kuda-kuda itu berlari langsung mendekati pintu gerbang utama. Yang lain memencar menuju ke pintu-pintu gerbang butulan.

Para petugas yang sedang berjaga-jaga itu terlambat mengambil sikap. Ketika beberapa orang menyadari keadaan itu, mereka berusaha untuk mencegahnya dengan anak panah. Tetapi para petugas itu memang terlambat memberikan tanggapan terhadap langkah-langkah yang tidak terduga itu.

Orang-orang beikuda itu pun segera telah berada di pintu-pintu gerbang. Anak panah yang diluncurkan dari panggungan di-belakang dinding memang agak sulit untuk mencapai orang-orang yang berdiri melekat pintu gerbang yang diatasnya terdapat atap ijuk.

Karena itu, maka dua orang diantara mereka pun segera berlari-lari turun untuk memberikan laporan kepada Kiai Lemah Teles yang berada di pendapa bersama Ki Warana.

“Kita benar-benar sudah mulai” berkata Ki Lemah Teles.

“Aku akan melihat apa yang terjadi, Ki Lemah Teles,” berkata Ki Warana.

“Aku juga akan pergi. Perintahkan memberitahukan kepada orang-orang yang malas itu.”

Ki Warana dan Ki Lemah Teles pun segera berlari-lari ke panggungan, sementara itu, Ki Warana telah memerintahkan seorang cantrik untuk memberitahukan kepada orang-orang tua yang berilmu tinggi yang sedang berada di belakang.

“Bongkok buruk dan Ki Ajar Pangukan tidak mengigau dengan ceriteranya tentang serangan yang akan dilakukan-menjelang fajar hari ini.” berkata Ki Lemah Teles sambil berlari-lari ke panggungan.

Demikian Ki Lemah Teles dan Ki Warana naik ke panggungan disisi kanan pintu gerbang, maka ia pun segera menyadari, apa yang akan terjadi. Meskipun tidak begitu jelas, tetapi pengalaman dan pengetahuan Ki Lemah Teles yang luas segera mengetahui, bahwa orang-orang itu akan membakar pintu gerbang.

Sebenarnyalah Gunasraba telah meletakkan beberapa onggok serat kering di bawah pintu gerbang. Serat kering yang sudah berbaur dengan serbuk biji jarak. Kemudian untuk meyakinkan bahwa api akan berkobar, dituang pula dua bumbung minyak kelapa. Kemudian beberapa kampil biji jarak ditaburkan pula diatasnya.

Beberapa saat kemudian, maka Gunasraba pun segera mempersiapkan api dengan batu titikan dan dimik-dimik belerang.

Demikian matangnya persiapan yang dilakukan, sehingga segalanya itu terjadi demikian cepatnya.

Gunasraba tidak mempergunakan kayu-kayu kering untuk mengobarkan api, karena serat yang disediakan sudah cukup banyak, sehingga Gunasraba itu yakin, bahwa api akan segera menelan pintu gerbang induk itu.

Sebenarnyalah serat-serat yang kering itu dengan cepat terbakar. Serbuk biji jarak yang mengandung minyak itu pun cepat membuat api semakin besar. Demikian pula minyak kelapa yang dituang serta beberapa kampil biji jarak

Untuk beberapa saat lamanya, Gunasraba memang masih harus melindungi apinya yang sedang membesar.

Dalam pada itu, maka didalam dinding padepokan telah terdengar isyarat untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. Suara kentongan-kentongan kecil telah melontarkan perintah kepada setiap orang yang ada didalam dinding padepokan.

Gunasraba yang mendengar suara kentongan itu sempat mengumpat. Ternyata orang-orang padepokan itu tidak menjadi gugup dan bingung. Suara kentongan-kentongan kecil, itu tidak membayangkan kegelisahan. Tiga atau ampat kentongan yang mengisyaratkan perintah itu memperdengarkan iramanya yang mapan.

Orang-orang padepokan itu memang tidak menjadi bingung. Sebelumnya mereka sudah mendapat perintah untuk berada dalam kesiagaan tertinggi.

Tetapi yang terjadi memang lebih cepat dari yang mereka duga. Mereka memperhitungkan bahwa serangan itu akan datang bersamaan dengan terbitnya matahari. Tetapi ternyata di dini hari kentongan itu sudah harus memberikan isyarat agar mereka bersiap.

Ternyata kentongan itu berbunyi di saat mereka sedang makan. Karena itu, maka mereka pun segera menelan nasi yang masih belum sempat mereka makan. Sedikit terhambat di kerongkongan, sehingga mereka harus minum lebih banyak.

Beberapa saat kemudian para cantrik itu pun berlari-larian naik ke panggungan. Sementara yang lain, bersiap-siap di tempat yang sudah ditentukan bagi setiap kelompok.

Tetapi terdengar perintah yang lain dari beberapa orang yang berada di belakang pintu gerbong, “Air. Air.”

Para cantrik yang berada di sekitar pintu gerbang utama dan pintu gerbang mereka. Karena itu, maka mereka pun segera berlari-lari mencari air dengan bumbung-bumbung panjang yang sering dipergunakan untuk mengusung air mengisi gentong dan tempayan didapur, atau dengan kelenting.

Tetapi bumbung-bumbung yang tersedia tidak cukup banyak untuk mengatasi api yang menyala semakin besar. Pintu gerbang utama dan butulan yang terbuat dari kayu itu sudah mulai terbakar. Bahkan gawang pintunya juga sudah mulai menyala. Sementara itu, ijuk pada atap pintu gerbang itupun akan sangat mudah terbakar pula.

Para pemimpin padepokan itu memang tidak mengira bahwa Kiai Narawangsa akan mempergunakan cara yang tidak banyak dipergunakan orang untuk memecahkan pintu gerbang utama dari sebuah sasaran. Kiai Narawangsa tidak memecahkan pintu gerbang dengan sebuah balok kayu yang panjang dan besar yang diusung oleh banyak orang. Tidak pula mempergunakan tali-tali yang kuat yang ditarik oleh beberapa ekor kuda. Tetapi Kiai Narawangsa telah mempergunakan api. Bukan untuk memecahkan pintu, tetapi membakar pintu itu sehingga menjadi abu.

Ternyata air memang tidak banyak menolong. Apalagi air itu tidak cukup banyak dibanding dengan nyala api yang membesar. Tidak cukup banyak bumbung-bumbung besar yang dibuat dari bambu petung yang dapat dipergunakan untuk mengangkut air.

Karena itu, maka Ki Lemah Teles akhirnya memerintahkan para cantrik untuk menghentikan usaha mereka memadamkan api. Tetapi para cantrik harus segera bersiap dalam kesiagaan kedua. Mereka harus bersiap untuk bertahan di belakang pintu gerbang yang sudah dapat dipastikan akan terbuka.

Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan yang berdiri di panggungan sebelah kiri itu pun menyaksikan api yang menyala itu dengan termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja Ki Pandi itu berkata kepada seorang cantrik, “Siapkan tali, he, kalian punya tampar ijuk?”

“Ada Kiai, “jawab seseorang cantrik, “sisa tampar ijuk yang kemarin dipergunakan untuk memperbaiki tali-tali ijuk panggungan ini?”

“Masih ada berapa gulung?”

“Masih ada beberapa gulung Kiai.”

Ki Pandi pun kemudian berkata kepada Ki Ajar Pangukan, “Ki Ajar, marilah kita bermain-main dengan orang-orang yang sedang membakar pintu gerbang itu.

Ki Ajar Pangukan pun segera tanggap. Karena itu, maka ia pun segera menyahut, “Marilah. Ajak kedua cucumu itu.”

Manggada dan Laksana yang ada di panggungan itu pula, segera menyahut, “Marilah, Ki Ajar. Kami akan ikut bersama Ki Ajar.”

Demikianlah, maka dengan cepat mereka telah mengurai tampar ijuk itu dan menjulurkannya keluar dinding.

Disisi lain, diatas panggungan Ki Lemah Teles melihat Ki Pandi menjulurkan tali ijuk. Tidak hanya sehelai, tetapi beberapa helai.

Ki Lemah Teles segera mengetahui apa yang akan dilakukan. Sementara itu Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana juga sudah naik ke panggungan itu pula.

Tanpa menunggu, maka Ki Jagaprana dan Ki Sambi Pitu pun segera bersiap. Karena di panggungan itu tidak ada tali ijuk yang dapat mereka pergunakan, maka mereka tidak mempergunakan-nya. Orang-orang berilmu tinggi itu kemudian meloncat begitu saja dari atas dinding padepokan seperti seekor kucing. Sementara itu, Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan telah turun dengan mempergunakan tali ijuk.

“Kenapa orang-orang itu mempersulit diri dengan tali-tali ijuk?” desis Ki Sambi Pitu.

“Sebenarnya tali-tali itu tidak untuk mereka” jawab Ki Jagaprana.

Sebenarnyalah selain kedua orang tua berilmu tinggi itu, Manggada dan Laksana pun telah turun pula menyusuri tali ijuk itu diikuti oleh beberapa orang cantrik.

Gunasraba yang berada di depan pintu menunggui api yang menyala semakin besar itu pun terkejut. Ia tidak mengira bahwa ada beberapa orang yang turun dari atas dinding dan berlari-lari mendekatinya.

“Cegah mereka,” teriak Gunasraba.

Beberapa orang yang datang bersamanya segera bersiap untuk menyongsong orang-orang yang berlari-lari itu. Namun Gunasraba sendiri tidak ikut bersama mereka. Dengan tangkasnya Gunasraba itu meloncat keatas punggung kudanya dan dengan cepat melarikan diri kedalam gelap.

Para pengikutnya memang termangu sejenak. Tetapi mereka tidak mempunyai kesempatan. Dengan geram Manggada dan Laksana telah berloncatan mendekat.

Tetapi Ki Pandi tidak segera menyerang mereka. Dengan lantang iapun berkata, “Menyerahlah. Kalian tidak mempunyai pilihan lain.”

Orang-orang yang datang bersama Gunasraba itu tidak menghiraukan. Jumlah orang yang turun dengan tali itu tidak banyak. Karena itu, maka mereka merasa mampu untuk bertahan sambil menunggu kawan-kawan mereka yang akan segera datang untuk menolong.

Mereka meyakini bahwa Ki Gunasraba sedang menghubungi Kiai Narawangsa untuk mendapatkan bantuan.

Karena itu, justru orang-orang itulah yang telah mendahului menyerang mereka yang turun dari dinding padapokan.

Beberapa orang cantrik pun segera terlibat dalam pertempuran. Manggada dan Laksana juga segera terjun langsung melawan orang-orang yang telah membakar pintu gerbang itu.

Namun bagaimana pun juga api yang membakar pintu gerbang itu tidak dapat dipadamkan. Pintu gerbang itu memang terbakar.

Yang dilakukan oleh para cantrik kemudian adalah mencegah panggungan disebelah menyebelah pintu gerbang itu ikut terbakar.

Dalam pada itu pertempuran yang terjadi di depan pintu gerbang itu tidak berlangsung lama. Ketika orang-orang tua berilmu tinggi itu melibatkan diri, maka dengan cepat orang-orang yang membakar pintu gerbang itu telah dikuasai.

Bahkan ketika orang-orang yang membakar pintu-pintu butulan ikut bergabung dengan kawan-kawan mereka, ternyata mereka tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Dalam waktu yang singkat beberapa orang telah terkapar di depan pintu gerbang yang telah terbakar sedangkan yang lain telah menyerah. Para cantrik padepokan itu justru berhasil menguasai beberapa ekor kuda.

Tetapi mereka tidak tahu, bagaimana mereka akan membawa kuda-kuda itu masuk kedalam padepokan, karena pintu gerbang utama dan pintu-pintu butulan telah dibakar.

Tetapi tiba-tiba saja seorang cantrik berteriak, “Masih ada satu pintu butulan yang tidak dibakar.”

Ki Pandi yang mendengar teriakan cantrik dari panggungan itu bertanya, “Disisi sebelah mana?”

“Pintu butulan kecil yang menghadap ke Timur. Pintu yang hampir tidak pernah dipergunakan.”

Ki Pandi, orang-orang tua yang berilmu tinggi serta Manggada dan Laksana pun telah membawa beberapa ekor kuda yang tertinggal serta para tawanan mengelilingi dinding padepokan menuju ke pintu gerbang yang menghadap kesebelan Timur, yang karena tidak sering dipergunakan, maka telah ditumbuhi oleh batang ilalang dan pohon-pohon perdu.

Namun dalam pada itu, Gunasraba yang melarikan diri diatas punggung kudanya telah sampai ke induk pasukannya. Dengan nafas yang terangah-engah, ia telah melaporkan apa yang terjadi di pintu gerbang utama padepokan Kiai Banyu Bening.

“Orang-orang gila, yang ingin membunuh dirinya sendiri. Baiklah. Marilah kita mendekat. Bukankah sebentar lagi, pintu gerbang utama dan beberapa pintu butulan itu sudah akan menjadi abu?”

“Ya. Pada saat matahari terbit. Tetapi kita harus bersabar sedikit, agar kaki kita tidak menginjak bara yang masih panas.” Orang-orang yang pertama akan memasuki pintu gerbang sudah dipersiapkan. Bukankah mereka telah mengenakan tlumpah kulit kayu?”

“Aku memang sudah memberikan contoh, bagaimana membuat tlumpah kulit kayu untuk melindungi kaki mereka. Mudah-mudahan mereka telah mempersiapkannya.”

“Bukankah kita dapat melihat sekarang?” sahut Nyai Wiji Sari.

Gurasraba pun kemudian memerintahkan Parang Landung dan Paron Waja untuk melihat, apakah orang-orangnya mematuhi perintahnya membuat tlumpah-tlumpah kulit kayu untuk melindungi telapak kaki mereka dari bara yang masih panas.

Sementara itu, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari pun telah mempersiapkan segala-galanya. Sesaat lagi, mereka akan bergerak mendekati padepokan.

“Sayang, kita kehilangan beberapa ekor kuda” desis Kiai Narawangsa.

“Tidak. Sebentar lagi, kita akan mendapatkannya kembali.” jawab Gunasraba.

Dalam pada itu Parung Landung dan Paron Waja pun telah melaporkan bahwa orang-orang mereka telah membuat tlumpah kulit kayu dengan tali kedebog yang sudah dikeringkan.

“Tidak ada masalah” berkata Parung Landung, “mereka dapat mengabaikan panasnya bara yang tersisa. Meskipun ada yang membuat dari clumpring, tetapi cukup untuk menahan panasnya sisa-sisa gerbang yang sudah menjadi arang.”

“Tetapi clumpring itu sendiri akan terbakar,” berkata Gunasraba.

“Bukankah kita tidak akan berdiri tegak diatas bara itu?” sahut Paron Waja, “bukankah kita hanya akan berlari melintas?”

Kiai Narawangsa mengangguk-angguk. Tetapi Nyai Wiji Sari menyahut, “Jangan merendahkan lawan. Mereka akan menahan kita diatas bara api pintu gerbang itu.”

“Kita dapat mengulur waktu sebentar Nyai. Bukankah kita dapat berbicara lebih dahulu dengan Banyu Bening? Ia akan berpikir ulang jika ia melihat kekuatan lata yang besar ini.”

“Aku tidak ingin berbicara dengan Banyu Bening. Aku hanya ingin anakku itu.”

Kiai Narawangsa tidak menjawab lagi. Namun kemudian ia pun bertanya kepada Gunasraba, “Marilah. Apakah kita sudah bersiap sepenuhnya?”

“Sudah kakang. Kita sudah dapat bergerak sekarang. Mudah-mudahan kita masih sempat menolong orang-orang yang terjebak saat mereka membakar pintu gerbang.”

Demikianlah, maka Parung Landung dan Paron Waja pun segera memerintahkan pasukannya untuk bergerak menuju ke padepokan.

Sementara itu langit telah menjadi merah. Mereka berharap ‘ bahwa saat matahari terbit, mereka sudah memasuki pintu-pintu gerbang padepokan yang mereka sangka masih dipimpin oleh Kiai Banyu Bening itu.

Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sarilah yang melangkah di paling depan. Kemudian Gunasraba dan dua orang saudara seperguruannya. Dua orang kakak beradik yang sebenarnya tidak kembar, tetapi wajah mereka demikian miripnya, sehingga banyak orang menyangka bahwa mereka adalah dua orang saudara kembar. Sedangkan sebenarnya umur mereka terpaut dua tahun. Krendhawa dan Mingkara.

Demikianlah, maka langkah kaki yang berderap di padang perdu itupun seakan-akan telah menggetarkan bumi. Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari yang berjalan dipaling depan nampak menjadi tegang. Telah berpuluh bahkan beratus kali keduanya turun ke medan pertempuran. Bukan saja saat-saat mereka merampok dan menyamun di bulak-bulak panjang. Tetapi sudah berapa kali mereka terperosok ke dalam benturan kekuatan diantara mereka yang hidup dalam dunia yang kelam. Bertempur untuk memperebutkan pengaruh dan daerah jelajah, serta kadang-kadang tanpa sebab apa-apa.

Tetapi yang dihadapi oleh Nyai Wiji Sari saat ini adalah orang yang pernah tersangkut dalam perjalanan hidupnya. Bahkan seseorang yang telah memberinya seorang anak yang sekarang dimakamkan di belakang dinding padepokan itu.

Anak itulah yang setiap saat seakan-akan memanggil- manggilnya. Mengulurkan tangannya, menggapainya sambil memanggil-manggilnya, “Ibu, ibu, aku kedinginan, ibu.”

Nyai Wiji Sari menggeretak-kan giginya. Langkahnya menjadi semakin cepat. Bahkan rasa-rasanya Nyai Wiji Sari itu ingin meloncat langsung memasuki padepokan Kiai Banyu Bening.

Tetapi di samping itu, ada semacam keseganan untuk bertemu dengan Kiai Banyu Bening sendiri. Meskipun setiap kali Nyai Wiji Sari berusaha untuk mengingkari-nya, tetapi di dasar hatinya, ia mengakui, betapa ia telah melakukan kesalahan sebagai seorang isteri, karena ia sudah membiarkan Narawangsa masuk ke dalam bilik tidurnya, justru saat ia menidurkan anaknya.

Petaka itu tidak dapat dihindarinya.

Nyai Wiji Sari itu tertegun melihat api yang sudah menjadi semakin surut. Pintu gerbang padepokan itu telah runtuh. Tidak ada lagi yang menghalangi langkah mereka memasuki padepokan itu.

Tetapi yang terbuka, yang tidak menjadi penghalang lagi, adalah pintu pada gerbang utama dan butulan. Di belakang reruntuhan itu telah bersiap para cantrik dan para pengikut Kiai Banyu Bening.

Nyai Wiji Sari mengerutkan dahinya. Sementara itu, kakinya melangkah semakin panjang. Ada dua dorongan yang bertentangan didalam diri Nyai Wiji Sari. Ia memang ingin lebih cepat sampai di makam anaknya, tetapi ada keseganan di hatinya untuk bertemu dengan Kiai Banyu Bening. Nyai Wiji Sari rasa-rasanya tidak akan berani menatap wajah laki-laki itu. Laki-laki yang pernah menjadi suaminya.

Namun di luar sadar, mereka telah menjadi semakin dekat dengan reruntuhan pintu gerbang utama. Api telah jauh menyusut Meskipun demikian. Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari masih dapat melihat dengan jelas, beberapa sosok tubuh yang terbujur lintang. Mereka adalah orang-orang yang datang bersama Ki Gunasraba untuk membakar pintu gerbang.

“Kiai Banyu Bening telah membantai mereka,” berkata Gunasraba dengan geram.

Tetapi langkah mereka terhenti. Mereka sadari, bahwa diatas panggungan itu beberapa orang cantrik telah mempersiapkan anak-panah dan lembing yang sudah siap mereka lontarkan.

Dengan isyarat Kiai Narawangsa telah memanggil beberapa orang yang juga sudah mempersiapkan anak panah mereka.

“Pada saatnya, lindungi kami,” terdengar suara Kiai Narawangsa yang berat.

Tetapi pasukan itu memang berhenti.

“Kita memang harus bersabar” berkata Gunasraba yang melihat api di pintu gerbang itu hampir padam.

Dalam pada itu, Kiai Narawangsa pun segera memerintahkan orang-orangnya untuk bersiap di tempat yang telah ditentukan sesuai dengan rencana yang telah mereka susun. Beberapa kelompok diantara mereka telah pergi mengelilingi padepokan itu. Mereka adalah kelompok-kelompok yang mendapat tugas untuk memasuki padepokan lewat pintu butulan.

Kiai Narawangsa telah berpesan kepada mereka, bahwa kelompok-kelompok itu harus bergerak setelah mereka mendengar isyarat yang akan dilontarkan lewat panah sendaren dari depan pintu gerbang utama.

Dalam pada itu, dari atas panggungan para cantrik mengikuti terus gerak-gerik pasukan Kiai Narawangsa.

Setiap saat ada diantara para cantrik itu yang menghubungi dan memberikan laporan kepada Ki Lemah Teles dan Ki Warana.

Dalam pada itu, Gunasraba telah membagi kedua orang saudara seperguruannya serta kedua orang anaknya untuk memimpin pasukan yang akan memasuki pintu gerbang butulan. Parang Landung dan Paron Waja, yang dianggapnya sudah memiliki kemampuan yang memadai, akan memasuki padepokan itu lewat pintu butulan sebelah kiri yang juga telah terbakar habis. Sementara kedua orang saudara seperguruannya, Krendhawa dan Mingkara, akan memasuki pintu butulan sebelah kanan. Mereka telah membawa masing-masing pasukan secukupnya.

Dalam pada itu, langit pun menjadi bertambah terang. Manggada dan Laksana yang juga berada di panggungan melihat dua orang anak muda yang bergerak ke kiri dengan beberapa kelompok orang.

“He, kau kenal kedua orang itu?” bertanya Laksana sambil menggamit Manggada.

Manggada mengerutkan dahinya. Dengan ragu ia berkata, “Kedua anak muda itulah yang telah kita lihat dijalan bulak itu.”

“Ya. yang berpapasan dengan kita berdua. Mereka sama sekali tidak mau menepi, sehingga kita harus berjalan diatas tanggul parit.”

Manggada mengangguk-angguk. Sementara Laksana berkata selanjutnya, “Mereka akan berusaha memasuki pintu butulan sebelah kiri.”

“Kita akan menemui mereka,” sahut Manggada.

Atas ijin Ki Pandi dan Ki Lemah Teles, maka Manggada dan Laksana telah pergi ke pintu butulan sebelah kiri, yang juga sudah terbakar. Mereka segera bergabung dengan para cantrik yang bertugas di tempat itu.

“Aku akan berada diantara kalian” berkata Manggada.

“Bagaimana dengan pintu gerbang utama?” bertanya seorang cantrik yang diserahi pimpinan di belakang pintu butulan itu.

“Ki Lemah Teles ada disana. Diluar, dua orang anak muda yang memimpin para pengikut Kiai Narawangsa, nampaknya orang-orang berilmu. Mudah-mudahan bersama kalian, kami ber-dua dapat menahan rnereka.”

Para cantrik itu mengangguk-angguk. Mereka memang menjadi mantap dengan kehadiran Manggada dan Laksana, karena para cantrik itu mengetahui, bahwa kedua orang anak muda itu telah memiliki ilmu yang tinggi.

Dalam pada itu, maka Ki Jagaprana pun telah diminta untuk berada di butulan sebelah kanan” karena mereka melihat dua orang yang diduga kembar, berada diantara mereka yang akan memasuki padepokan lewat pintu gerbang sebelah kanan.

“Baik” jawab Ki Jagaprana, “aku akan melihat apakah orang kembar itu akan dapat mengejutkan anak-anak padepokan ini.”

“Tetapi berhati-hatilah” pesan Ki Lemah Teles, “jika keduanya menunjukkan kelebihannya, biarlah beberapa orang cantrik membantumu, sementara kau panggil salah seorang dari kami. Aku tidak mau kau mati. Kita masih mempunyai persoalan.”

Ki Pandi lah yang menyahut, “Jika kau masih ingin berperang tanding, kenapa tidak kau tantang saja Nyai Wiji Sari.”

“Kenapa tidak kau lakukan sendiri?” bentak Ki Lemah Teles.

Ki Pandi tertawa. Katanya, “Jika saja aku tidak bongkok dan tidak berpenampilan buruk.”

“Apakah kau tidak ingat bahwa umurmu sudah berada di senja hari? Seandainya kau tidak bongkok dan buruk, kau pun sudah menjadi pikun.”

Ki Pandi tertawa semakin keras. Orang-orang lain yang mendengarnya ikut tertawa pula.

“Sudahlah pergilah” bentak Ki Lemah Teles, “orang kembar itu sudah sampai di muka pintu butulan.”

“Api masih sedikit menyala” jawab Ki Jagaprana, “mereka tentu akan menunggu bara api itu padam.”

“Lihat. Sebagian besar dari mereka memakai tlumpah.”

Ki Jagaprana mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Dengan tergesa-gesa iapun melangkah menuju ke butulan sebelah kanan.

Sebagaimana Manggada dan Laksana, maka Ki Jagaprana pun disambut dengan gembira oleh para cantrik yang bertugas di pintu butulan sebelah kanan yang sudah hampir menjadi abu. Bahkan api pun mulai menjadi padam, meskipun asap masih mengepul.

Diatas panggungan Ki Jagaprana melihat para cantrik siap dengan busur dan anak-apanah serta lembing-lembing bambu.

Tetapi Ki Jagaprana pun kemudian telah memberitahukan beberapa orang cantrik yang bersenjata anak panah untuk bersiap menyambut para pengikut Kiai Narawangsa demikian mereka memasuki pintu butulan yang sudah terbuka itu,

“Kalian harus melumpuhkan lapisan pertama dari orang-orang yang memasuki pintu yang sudah menjadi abu itu. Jika mereka membawa perisai, maka bidiklah kakinya. Jika mungkin lututnya. Jika mereka tidak membawa perisai, maka sasaran kalian adalah dada mereka.”

Demikianlah, maka beberapa orang yang bersenjata busur dan anak panah pun telah bersiap. Mereka telah memasang anak-panahnya pada busurnya. Dilambungnya tergantung bumbung yang berisi anak-panah pula.

Beberapa saat mereka menunggu. Para cantrik yang ada didalam

Beberapa saat mereka menunggu. Para cantrik yang ada didalam dinding padepokan itu rasa-rasanya tidak sabar lagi. Terutama mereka yang sudah mengetrapkan anak-panah pada busurnya dan bahkan tali busur itu sudah mulai menegang.

Di depan pintu gerbang padepokan yang sudah terbakar. Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari bersama pasukan induknya telah berhenti. Mereka memang harus menunggu api di gerbang itu agar padam sama sekali. Tetapi sisa-sisa api dan bara tidak akan dapat menahan mereka, karena orang-orang yang sudah siap memasuki padepokan itu mempergunakan alas kaki yang mereka buat dari kulit kayu.

Sementara itu, para penghuni padepokan itu pun sudah siap pula untuk menahan serangan yang sebentar lagi akan melanda padepokan itu, Ki Pandi, Ki Ajar Pangukan dan Ki Sambi Pitu telah siap bersama para cantrik dibelakang pintu gerbang yang terbakar. Sementara Ki Lemah Teles dan Ki Warana masih berada di panggungan di sebelah pintu gerbang yang sudah terbakar itu.

“He, Kiai Banyu Bening” berteriak Kiai Narawangsa, “aku masih memberi kesempatan untuk menyerah. Meskipun kami yakin akan dapat menghancurkan seluruh padepokan ini, bukan hanya pintu gerbanya saja, tetapi kami masih mempunyai belas kasihan. Karena itu, sebaiknya kau menyerah saja.”

Ki Lemah Teles yang berada di panggungan memandang pasukan yang sudah siap itu dengan jantung yang berdebar-debar. Tetapi Ki Lemah Teles sudah bertekad untuk mengatakan yang sebenarnya, bahwa Kiai Banyu Bening sudah tidak ada. Kawan-kawannya telah menyetujuinya pula. Jika pengakuan itu dapat mencegah pertempuran, maka tidak perlu jatuh korban dari kedua belah pihak, meskipun hal itu sudah terjadi atas sekelompok orang yang telah membakar pintu gerbang, kecuali mereka yang telah menyerah.

“He. Kiai Banyu Bening” teriak Kiai Narawangsa pula, “jawab pernyataanku ini. Kesempatan untuk menyerah.”

Ki Lemah Teles yang ada diatas panggungan itu pun menyahut, “Kiai Narawangsa, apakah kau tidak dapat melihat kami yang berada diatas panggungan. Cahaya matahari telah nampak di langit. Kami yang ada di panggungan sudah dapat melihat wajah kalian seorang demi seorang.”

Kiai Narawangsa termangu-mangu sejenak. Suara itu bukan suara Kiai Banyu Bening. Meskipun sudah lama ia tidak mendengar suara Banyu Bening, tetapi Kiai Narawangsa masih akan dapat mengenali suara itu.

Ketika ia berpaling kepada Nyai Wiji Sari, maka Kiai Narawangsa itupun melihat kening Nyai Wiji Sari berkerut.

“Siapa kau?” tiba-tiba saja suara Nyai Wiji Sari melengking tinggi.

Kiai Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Aku Ki Lemah Teles yang menunggui padepokan ini bersama Ki Warana.”

“Kami ingin berbicara dengan Kiai Banyu Bening” teriak Kiai Narawangsa kemudian, “kami tidak akan berbicara dengan orang lain.”

Kiai Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian berteriak pula, “Kiai Narawangsa. Ketahuilah, bahwa padepokan ini bukan lagi padepokan yang dipimpin oleh Kiai Banyu Bening. Sekarang akulah yang memimpin padepokan ini setelah padepokan ini ditinggalkan oleh Kiai Banyu Bening beberapa saat yang lalu.”

Jawaban itu sangat mengejutkan. Hampir diluar sadar Nyai Wiji Sari berteriak nyaring, “Bohong. Kalian tidak usah menyembunyikan Kiai Banyu Bening. Kami datang untuk membuat perhitungan dengan orang itu.”

“Kami berkata sebenarnya Nyai. Kiai Banyu Bening sudah tidak ada. Sesuatu telah terjadi di padepokan ini. Bencana.”

“Jangan melingkar-lingkar” sahut Kiai Narawangsa., “Apakah Kiai Banyu Bening sekarang sudah menjadi seorang pengecut, sehingga tidak berani lagi menghadapi kami.”

“Tidak. Kiai Banyu Bening memang bukan pengecut. Itulah sebabnya maka kalian tidak lagi dapat menjumpai Kiai Banyu Bening sekarang.”

Di belakang pintu gerbang yang sudah menjadi abu, Ki Ajar Pangukan menjadi berdebar-debar. Ia pernah menerima utusan Kiai Narawangsa dan mengaku sebagai Kiai Banyu Bening.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi disini?” bertanya Nyai Wiji Sari, “penipuan? Kepura-puraan, atau sebuah permainan yang licik?”

“Tidak ada permainan yang licik. Tetapi ketahuilah, bahwa Kiai Banyu Bening memang sudah tidak ada dalam arti yang sebenarnya. Kiai Banyu Bening telah gugur saat ia mempertahankan padepokan ini.”

“Bohong” teriak Nyai Wiji Sari dengan serta-merta. Betapa ia dan Kiai Banyu Bening bermusuhan karena kehadiran Kiai Narawangsa, tetapi berita kematian Kiai Banyu Bening sangat mengejutkannya.

“Kami tidak berbohong Nyai” jawab Kiai Lemah Teles, “kami dapat menceriterakan urut-urutan peristiwanya.”

“Siapa yang telah membunuh Kiai Banyu Bening?” bertanya Nyai Wiji Sari dengan suara bergetar.

“Panembahan Lebdagati,” jawab Ki Lemah Teles.

“Lebdagati. Jadi iblis itukah yang telah membunuh Kiai Banyu Bening?”

“Ya. Panembahan Lembadagi datang ke padepokan ini dan merebutnya untuk beberapa hari, sebelum kami datang membebaskannya,” sahut Ki Lemah Teles, “kami dapat mengusir Panembahan Lebdagati. Tetapi kami tidak dapat menangkapnya, apalagi membunuhnya.”

Jantung Nyai Wiji Sari terasa berdegup semakin cepat. Darahnya seakan-akan bergejolak didalam dadanya. Rasa-rasanya ia tidak rela mendengar berita kematian Kiai Banyu Bening. Betapa ia terpisah dari orang itu, namun Kiai Banyu Bening pernah menjadi suaminya. Ketika ia mula-mula mengenal sentuhan tangan laki-laki, orang itu adalah Kiai Banyu Bening.

Dalam pada itu, Kiai Narawangsa lah yang berteriak, “Apakah kau justru pengikut Panembahan Lebdagati itu?”

“Tidak. Kami bukan pengikut Panembahan Lebdagati. Kami justru telah bertempur melawannya dan mengusirnya dari padepokan ini.”

Sejenak Kiai Narawangsa menjadi termangu-mangu. Ia mencoba memandang wajah-wajah orang yang berada di panggungan. Sebenarnyalah bahwa tidak ada orang yang dapat diduganya Kiai Banyu Bening.

Tetapi Kiai Banyu Bening memang dapat saja bersembunyi atau melarikan diri sebelumnya.

Namun Kiai Banyu Bening memang bukan seorang pengecut yang dapat berbuat seperti itu.

Dalam pada itu, Ki Lemah Teles pun berkata, “Kiai Narawangsa, apakah sebenarnya yang kalian kehendaki dari Kiai Banyu Bening? Jika kami dapat memenuhinya, maka kami akan mencoba memenuhinya tanpa harus mengorbankan banyak orang.”

“Ki Lemah Teles” suara Nyai Wiji Sari dengan nada tinggi seakan-akan menggetarkan dinding-dinding padepokan dan bahkan panggungan di sebelah pintu gerbang yang terbakar itu. Gejolak perasaannya benar-benar telah mengguncang dadanya, sehingga getar suara yang dilontarkan bagaikan mengandung tenaga yang sangat besar, “apapun yang kau katakan tentang Kiai Banyu Bening, namun kami datang dengan niat yang tidak berubah. Kami menghendaki padepokan ini. Jika benar kau berniat menghindari penumpahan darah, maka tinggalkan padepokan ini. Tidak ada yang boleh kau bawa selain pakaian yang melekat ditubuh kalian. Aku akan tinggal di padepokan ini menunggui anakku yang telah dibawa ke padepokan ini oleh Kiai Banyu Bening.”

Ki Lemah Teles termangu-mangu sebentar. Namun kemudian ia pun bertanya, “Jadi itukah niat Nyai datang kemari? Nyai akan mengambil kembali anak Nyai? Juga anak Kiai Banyu Bening? Bagaimana mungkin Nyai datang untuk menemui seorang suami dengan membawa kekuatan yang demikian besarnya? Kecuali jika Nyai akan mengambil kembali suami Nyai yang berada di tangan orang lain.”

“Cukup” teriak Nyai Wiji Sari. Suaranya semakin lantang dan udara pun bergetar semakin keras. Bahkan getar suara perempuan itu telah mulai menyentuh isi dada, “jadi begitukah caramu mencari penyelesaian tanpa mengorbankan nyawa?”

“Nyai” berkata Ki Lemah Teles kemudian, “jika Nyai ingin mengambil anak Nyai itu, terserah kepada Nyai. Kami tidak akan menghalangi. Ambillah, karena itu memang anak Nyai. Tetapi jangan mengambil padepokan ini. Kami sudah merebutnya dari tangan Panembahan Lebdagati dengan menitikkan keringat dan darah. Bagaimana mungkin kami akan melepaskannya begitu saja.”

“Aku tidak peduli” sahut Kiai Narawangsa, “kami akan memberi waktu secukupnya jika kalian memang akan pergi. Kami tidak akan mengganggu kalian yang meninggalkan padepokan ini. Tetapi jika ada diantara kalian yang memilih bergabung dengan kami, kami tidak berkeberatan. Tetapi kalian harus bersedia mematuhi segala paugeran didalam lingkungan kami.”

“Kiai” jawab Ki Lemah Teles, “kami akan mempertahankan padepokan ini, apapun yang terjadi. Jika kalian memaksakan kehendak kalian, maka kami justru akan menutup kesempatan Nyai Wiji Sari untuk mengambil anaknya. Biarlah anak itu kesepian disini tanpa ayah dan ibunya.”

“Tidak” teriak Nyai Wiji Sari, “aku akan menunggui anakku disini.”

“Itu tidak mungkin, Nyai. Karena itu, maka terserah kepada Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Apakah kita harus bertempur atau tidak. Seandainya kita harus bertempur, kami pun sudah siap. Para cantrik dari padepokan ini masih menyandang kebanggaan setelah mereka berhasil mengusir Panembahan Lebdagati. Karena itu, maka dengan darah yang masih panas, kami akan menghadapi kalian. Tetapi jika kalian berniat mengambil anak itu dengan cara yang baik, kami tidak akan berkeberatan. Kami akan memberi kesempatan kepada kalian sebaik-baiknya.”

“Cukup” teriak Kiai Narawangsa, “kami akan mengusir kalian dengan kekerasan.”

Ki Lemah Teles tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka iapun berkata, “Jika demikian, maka kita akan bertempur. Tetapi dengan demikian maka kalian tidak akan pernah dapat mengambil anak itu lagi dari padepokan ini.”

“Jangan sentuh anak itu.” teriak Nyai Wiji Sari, “jika kalian melakukannya juga, maka nasib padepokan ini akan menjadi sangat buruk.”

“Aku tidak akan memeras dengan taruhan anakmu itu Nyai, meskipun sebenarnya anakmu itu sudah tidak berarti apa-apa lagi. Kami akan mempertahankan padepokan ini dengan sikap yang wajar.”

“Diam kau,” bentak Nyai Wiji Sari, “kau anggap anakku itu sudah tidak berarti apa-apa? Aku rindukan anakku siang dan malam. Aku tidak sampai hati melepaskan anakku dalam kesepian, kedinginan dan kepanasan karena ayahnya tidak memperdulikannya.”

“Ayahnya lebih peduli kepada anak itu daripada kau Nyai” tiba-tiba Ki Warana menyahut, “aku melayani Kiai Banyu Bening setiap hari jika ia berada disisi anaknya. Sampai akhir hayatnya ia sama sekali tidak pernah berpaling kepada seorang perempuan yang akan dapat menyakiti hati anaknya itu. Tetapi kau, apa yang kau lakukan? Kau tinggalkan anakmu didalam api, sementara kau lari dengan seorang laki-laki saat anakmu masih bayi.”

“Cukup, cukup. Diam kau iblis” teriak Nyai Wiji Sari dengan suara yang melengking-lengking.

“Kenapa aku harus diam? Kau khianati kesetiaan seorang suami. Kau nodai kasih seorang ibu kepada anaknya. Dan sekarang, ketika yang tinggal hanya tulang belulang, kau datang untuk mengambilnya. Semua itu omong kosong. Kau yang memanfaatkah anakmu yang telah kau tinggalkan didalam api yang menyala itu untuk menantang Kiai Banyu Bening dan sekaligus berusaha merebut padepokannya.”

“Kau gila. Kau gila” teriak Nyai Wiji Sari semakin keras.

“Aku adalah orang terdekat dengan Kiai Banyu Bening. Aku melihat bagaimana Kiai Banyu Bening menjadi gila karena tangis anaknya yang ditelan api, sehingga kegilaannya itu telah mewarnai kepercayaannya. Ia ingin seratus orang bayi mau sebagaimana anaknya, menangis didalam api yang menyala.”

“Tidak. Kau bohong” Kiai Narawangsa lah yang menyahut, ”Banyu Bening mendengar tangis anaknya bagaikan kidung yang mengalun di atas mega di langit biru. Ketika ia merindukan suara kidung itu lagi, maka ia telah memerintahkan untuk membakar seratus orang bayi demi kepuasan batinnya.”

Tetapi Ki Warana menjawab, “Kau benci akan kesetiaan Kiai Banyu Bening, karena kau telah mengambil isterinya dengan cara yang tidak beradab.”

“Cukup” teriak Kiai Narawangsa. Tiba-tiba saja Kiai Narawangsa itu mengangkat tangannya sambil berteriak, “Lontarkan anak panah sendaren. Kita koyak mulut-mulut yang memfitnah itu.”

Ki Lemah Teles tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Diperintahkannya, para cantrik yang bersenjata anak panah untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian, maka beberapa batang anak panah sendaren telah terlepas dari busurnya. Anak panah yang memberikan isyarat kepada semua kekuatan yang dibawa oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari untuk bergerak serentak.

Ki Lemah Teles yang berada di panggungan pun tanggap akan perintah itu. Ketika ia melihat pasukan itu mulai bergerak, maka Ki Lemah Teles telah memerintahkan membunyikan isyarat dengan memukul bende diatas panggungan itu.

Demikian suara bende itu meraung-raung diatas panggungan, maka para cantrik seisi padepokan itu telah bersiap. Anak-anak muda dari beberapa padukuhan yang telah berada di padepokan itu pun telah mendapatkan dirinya pula. Sebagian dari mereka memang sudah mempunyai sedikit pengalaman, tetapi yang lain sama sekali belum. Namun para pemimpin padepokan itu masih sempat memberikan latihan-latihan kepada mereka meskipun baru landasannya saja sementara lawan mereka adalah orang-orang yang setiap saat selalu bercanda dengan senjata mereka.

Tetapi para cantrik padepokan Kiai Banyu Bening yang mengikutii jejak Ki Warana juga cukup banyak. Mereka pun memiliki pengalaman sebagaimana para pengikut Kiai Narawangsa.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, seperti arus banjir bandang, para pengikut Kiai Narawangsa telah menyerang padepokan yang telah ditinggalkan oleh Kiai Banyu Bening itu. Mereka menerobos pintu gerbang induk dan pintu-pintu gerbang butulan yang telah menjadi abu.

Tetapi demikian mereka mulai bergerak, maka anak panah pun tercurah bagaikan hujan.

Tetapi hal itu memang sudah diperhitungkan oleh Kiai Narawangsa dan para pengikutnya. Karena itu, mereka pun tidak terkejut sama sekali. Bahkan mereka telah siap untuk menangkis serangan anak panah yang menghujan itu.

Meskipun demikian, beberapa orang telah terhenti di pintu-pintu gerbang. Anak panah yang menyusup dibawah perisai dan mengenai lutut, telah melumpuhkan beberapa pengikut Kiai Narawangsa. Namun ada pula anak panah yang menembus dada, sehingga orang yang dikenainya terjatuh dan terinjak-injak oleh kawan-kawannya. Mereka untuk selamanya tidak akan pernah bangkit lagi.

Sejenak kemudian, maka banturan kekuatan pun telah terjadi. Tetapi demikian derasnya arus serangan yang mengalir dari luar padepokan, telah memaksa para cantrik untuk bergerak mundur.

Tetapi para cantrik itu tidak melepaskan para penyerang untuk begitu saja memasuki padepokan yang telah mereka rebut dari tangan Panembahan Lebdagati itu.

Pertempuran pun segera menyala dengan sengitnya. Senjata yang teracu-acu, berputaran dan terayun-ayun itu, telah saling berbenturan. Suaranya berdentang diantara teriakan-teriakan yang mengguruh dari kedua belah pihak.

Di induk pasukan Kiai Narawangsa bertempur dengan garangnya. Apa saja yang ada didepannya telah disapunya tanpa ampun. Namun langkahnya terhenti ketika dihadapannya berdiri seorang yang sudah berada diusia senjanya.

“Sabarlah sedikit. Kiai Narawangsa. Jangan kau sapu anak-anak seperti menebas batang ilalang. Seharusnya kau mempunyai sedikit harga diri dengan mencari lawan yang seimbang, setidak-tidaknya mampu memberikan sedikit perlawanan.”

“Siapa kau?” bertanya Kiai Narawangsa.

“Namaku Ajar Pangukan.” jawab orang itu.

Kiai Narawangsa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Namamu tidak dikenal. Minggirlah. Kau sudah terlalu tua untuk berada di medan pertempuran. Aku tidak akan menghancurkan-mu sebagaimana orang-orang lain yang berani mendekati aku.”

“Kiai Narawangsa, aku berniat untuk melawanmu apapun yang terjadi.”

“Kau ternyata belum mengenal aku yang sebenarnya.”

“Jika sekarang aku berdiri disini, justru karena aku .ingin mengenalmu sebaik-baiknya.”

“Nampaknya kau juga orang berilmu. Tetapi belum terlambat bagimu jika kau ingin menyingkir.”

“Aku akan tetap mencoba menghadapimu. Marilah, aku sudah bersiap sepenuhnya.”

Kiai Narawangsa menggeram. Katanya, “Apaboleh buat jika aku harus membunuhmu.”

“Bukankah didalam perang dapat saja terjadi, membunuh atau dibunuh?”

“Bagus. Kau benar-benar sudah siap maju ke medan pertempuran. Aku senang mendapat seorang lawan yang sedikit dapat menggelitik ilmuku.”

Ki Ajar Pangukan pun kemudian telah bersiap. Kiai Narawangsa telah bergerak selangkah ke samping. Demikian pula Ki Ajar Pangukan sehingga keduanya untuk beberapa saat saling bergeser setapak-setapak.

Sesaat kemudian, maka Kiai Narawangsa yang garang itu mulai meloncat menyerang. Tetapi serangannya yang seakan-akan sekedar untuk menyentuh kulit lawannya itu pun telah dielakkan oleh Ki Ajar Pangukan.

Namun serangan-serangan Kiai Narawangsa berikutnya justru menjadi semakin cepat dan semakin garang. Namun demikian, serangan-serangan itu tidak menyentuh sasarannya.

Tetapi Kiai Narawangsa memang belum bersungguh-sungguh. Ia masih ingin mengetahui serba sedikit tentang kemampuan lawannya yang sudah lewat separo baya.

Ki Ajar Pangukan pun masih belum benar-benar bertempur. Seperti Kiai Narawangsa, Ki Ajar Pangukan baru sekedar ingin mengintip kemampuan lawannya.

Karena itu, maka keduanya masih belum menapak pada ilmu mereka yang sebenarnya.

Dalam pada itu, yang lebih kasar dari Kiai Narawangsa adalah Ki Gunasraba. Dengan senjata bindi ia menghancur-kan apa saja yang ada disekitarnya. Untuk menahan geraknya, maka lima orang cantrik padepokan itu telah mengepungnya.

Namun bindi Gunasraba berputaran dengan cepat. Bindi yang besar itu memang sulit untuk ditahan. Jika terjadi benturan dengan senjata para cantrik, maka senjata-senjata itu harus digenggam erat-erat. Dua orang cantrik telah kehilangan senjata mereka dalam benturan dengan bindi Gunasraba. Untunglah, seorang diantara mereka segera mendapatkan senjata kembali. Sementara cantrik yang lain telah memungut senjata siapa pun juga yang terkapar tidak jauh daripadanya.

Meskipun berlima, ternyata cantrik itu mengalami kesulitan. Yang dapat mereka lakukan adalah sekedar menahan, agar Gunasraba tidak mengacaukan pertahanan para cantrik pemula yang masih belum cukup berpengalaman.

Namun diantara riuhnya geram dan teriakan-teriakan, terdengar seseorang berkata, “Minggirlah. Aku akan mencoba menghadapinya.”

Para cantrik itu memang segera menyibak. Yang muncul adalah Ki Sambi Pitu. Seorang yang rambutnya sudah mulai ubanan. Beberapa lembar yang terjurai dibawah ikat kepalanya, nampak kelabu keputih-putihan.

“Kau mau apa, kakek tua?” bertanya Gunasraba.

“He, aku belum tua” jawab Ki Sambi Pitu, “gigiku masih utuh.”

“Tetapi rambutmu sudah mulai memutih.” sahut Gunasraba.

“Aku dapat menyembunyikan rambutku dibawah ikat kepalaku.”

“Kau cukur sampai gundul pun kau tidak akan dapat menyembunyikan umurmu.”

Ki Sambi Pitu tertawa. Katanya, “Aku memang sudah tua.”

“Minggirlah. Jangan ganggu aku. Aku akan membinasakan orang-orang yang berani menghalangi jalanku menuju ke pendapa bangunan utama padepokan ini.”

Tetapi Ki Sambi Pitu justru tertawa. Katanya, “Kau suka yang aneh-aneh, Ki Sanak. Kau kira kami akan mempersilahkan kalian naik ke pendapa dan menyuguhkan hidangan minuman hangat dan makan siang dengan memotong tiga ekor lembu?”

“Setan kau orang tua yang tidak tahu diri. Sekali kau tersentuh senjataku, maka tubuhmu akan segera lumat.”

Tetapi Ki Sambi Pitu tidak bergeser dari tempatnya. Dengan tangkasnya Ki Sambi Pitu telah menggerakkan pedangnya.

Namun Ki Sambi Pitu itu sadar, bahwa bindi lawannya yang berat itu merupakan senjata yang berbahaya. Ia harus menghindari benturan langsung sejauh dapat dilakukannya.

Gunasraba yang marah itupun kemudian berkata, “Jika demikian bersiaplah untuk mati. Tubuhmu akan segera lumat menjadi debu.”

Ki Sambi Pitu tidak menjawab lagi. Tetapi ia benar-benar sudah siap untuk menghadapinya.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian, keduanya telah terlibat dalam pertempuran yang sengit, mereka tidak merasa perlu untuk saling menjajagi. Apalagi tangan Gunasraba sudah terlanjur berkeringat ketika ia menghadapi kelima orang cantrik yang berusaha membatasi geraknya.

Tetapi karena itu, maka Gunasraba pun segera terkejut. Orang tua itu ternyata mampu bergerak dengan tangkas. Tubuhnya bahkan seakan-akan seringan kapas. Sementara itu senjatanya berputaran dengan cepat, sehingga sebilah pedang itu seakan-akan telah berubah menjadi dua atau tiga atau bahkan ampat.

“Gila kakek tua ini” geram Gunasraba. Namun Gunasraba juga bukan orang kebanyakan. Ia pun memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan kekuatan Gunasraba ternyata memang melampaui kekuatan orang kebanyakan.

Namun dalam pada itu, demikian pasukan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari memasuki halaman padepokan, maka Nyai Wiji Sari langsung dapat melihat sebuah tugu batu dan sebuah nisan kecil diatasnya sebagaimana pernah dilaporkan oleh orang-orangnya yang pernah datang ke padepokan itu.

Karena itu, maka jantungnya benar-benar telah bergejolak. Demikian pasukannya sempat mendorong pertahanan para cantrik dari padepokan itu mundur, maka Nyai Wiji Sari tidak dapat menahan dirinya.

Nyai Wiji Sari pun dengan garangnya telah menerobos menusuk langsung pertahanan lawan. Tiba-tiba saja perempuan itu terlepas dari medan dan berlari langsung ke tugu didepan bangunan utama padepokan itu.

Dengan perasaan yang bergejolak, maka Nyai Wiji Sari pun segera berlutut didepan tugu itu.

Dua orang pengawalnya tidak melepaskan Nyai Wiji Sari pergi sendiri. Karena itu, maka keduanya segera memburunya. Demikian Nyai Wiji Sari berlutut didepan tugu dengan nisan kecil diatasnya itu, maka kedua orang pengawalnya itu pun telah bersiap untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi.

Beberapa orang cantrik memang siap untuk mengejar mereka. Tetapi seorang yang bongkok telah menahan mereka.

“Biarlah aku yang mengurusnya.”

Para cantrik itu mengurungkan niatnya. Namun karena Nyai Wiji Sari dikawal oleh dua orang pengikutnya, maka dua orang cantrik yang semula menjadi pengikut Kiai Banyu Bening telah ikut bersama Ki Pandi.

Kedua orang pengawal Nyai Wiji Sari itu pun segera mempersiapkan diri ketika mereka melihat Ki Pandi berjalan mendekat. Namun nampaknya Ki Pandi tidak akan dengan serta merta menyerang mereka.

Sebenarnyalah Ki Pandi melangkah dengan tenang mendekat. Dahi nya berkerut ketika ia melihat Nyai Wiji Sari itu mengusap matanya yang basah.

“Maafkan ibumu, anakku” desisnya, “ibu tidak dapat menjagamu dengan baik, sehingga bencana itu terjadi.”

“Kesalahanmu tidak terletak pada kelengahanmu menjaganya, Nyai” tiba-tiba saja Ki Pandi menyahut, “tetapi sumber kesalahan itu adalah karena kau tidak setia.”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Ia sudah siap menghadapi perempuan itu jika ia menjadi marah. Tetapi yang tidak terduga itu pun terjadi. Nyai Wiji Sari yang garang itu tidak dengan serta-merta bangkit dan menyerang Ki Pandi yang bongkok itu. Tetapi ia justru menjawab, “Kau benar, Ki Sanak. Ketidak-setiaan itu adalah sumber dari bencana ini.” Nyai Wyi Sari justru menangis. Isaknya telah mengguncang tubuhnya, “maafkan aku anakku. Ketidak setiaanku itu pula yang membuat Kiai Banyu Bening menjadi gila. Pada mulanya ia bukan orang yang jahat. Tetapi ketika ia melihat seorang laki-laki didalam bilik tidurnya dan bahkan membiarkan anaknya menangis, maka ia menjadi seperti orang gila. Malapetaka itu terjadi. Rumah itu terbakar dan bayi ini pun terbakar. Sejak itu, Kiai Banyu Bening telah berubah. Ia menjadi seorang penjahat yang ditakuti. Bahkan menurut pendengaranku, ia benar-benar menjadi gila disini, karena ia berniat mengorbankan bayi-bayi yang dibakar hidup-hidup didalam api. Ia ingin membalas dendam karena kematian bayinya yang terbakar itu. Ia ingin banyak orang mengalami kepahitan sebagaimana dialaminya.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Yang dilihatnya berlutut itu bukan seorang perempuan garang yang terbiasa berpacu diatas punggung kuda, menjelajahi padukuhan dan bulak-bulak panjang dimalam hari. Tetapi yang berlutut itu adalah seorang perempuan yang menyesali jalan hidupnya yang sesat.

“Ki Sanak” terdengar Nyai Wiji Sari itu berdesis, “Apakah benar Kiai Banyu Bening telah meninggal?”

“Ya, Nyai,” jawab Ki Pandi, “kedua orang ini adalah orang yang tinggal bersama Kiai Banyu Bening untuk waktu yang lama.”

“Apakah benar, Panembahan Lebdagati yang telah membunuh Kiai Banyu Bening?” bertanya Nyai Wiji Sari.

“Ya, Nyai” jawab salah seorang dari kedua orang cantrik itu., “Kiai Banyu Bening telah terbunuh oleh Panembahan Lebdagati. Padepokan ini pernah diduduki oleh Panembahan Lebdagati yang telah membunuh Kiai Banyu Bening itu.”

“Kenapa Panembahan Lebdagati membunuh Kiai Banyu Bening?”

“Menurut Panembahan Lebdagati, daerah ini, sepanjang lereng Gunung Lawu adalah daerahnya.”

“Apakah itu benar?” bertanya Nyai Wiji Sari.

“Panembahan Lebdagati memang pernah menguasai daerah ini. Tetapi ia pernah terusir oleh beberapa orang berilmu tinggi yang tidak dapat membiarkan kepercayaan sesatnya berkembang. Setiap purnama ia mengorbankan seorang gadis untuk membuat pusakanya menjadi pusaka terbaik di muka bumi.”

Dahi Nyai Wiji Sari berkerut.

“Lalu kenapa kalian kemudian dapat tinggal di padepokan ini?” bertanya Nyai Wiji Sari.

“Kami mengambilnya dari tangan Panembahan Lebdagati.”

“Jadi kau juga pengikut Kiai Banyu Bening?” bertanya Nyai Wiji Sari.

“Tidak, Nyai. Kebetulan tidak. Aku terlibat setelah tempat ini diduduki oleh Panembahan Lebdagati.” jawab Ki Pandi.

Nyai Wiji Sari termangu-mangu sejenak. Tetapi ia masih tetap berlutut. Sementara sekali-sekali tangannya masih mengusap air matanya.

Dalam pada itu, seorang pengawalnyalah yang berkata, “Sudahlah Nyai. Kiai Narawangsa masih terlibat dalam pertempuran yang sengit. Apakah Nyai tidak akan melibatkan diri?”

Tiba-tiba saja Nyai Wiji Sari mengangkat wajahnya. Dipandanginya Ki Pandi dengan tajamnya.

Ternyata wajah Nyai Wiji Sari itu berubah. Meskipun pelupuknya masih basah, tetapi mata itu bagaikan telah menyala.

Ki Pandi melihat perubahan itu. Karena itu, maka ia pun telah bersiap kembali untuk menghadapi segala kemungkinan. Agaknya Nyai Wiji Sari itu telah menghentakkan diri dari rintihan nuraninya, kembali ke dalam dunia petualangannya yang garang, yang penuh dengan kekerasan dan kekelaman nalar budi.

“Orang bongkok” geram Nyai Wiji Sari kemudian, “kau tentu salah satu dari orang yang telah mengacaukan segala sesuatunya. Mungkin kau justru yang telah mendalangi agar Panembahan Lebdagati membunuh Kiai Banyu Bening. Namun kemudian kau khianati Panembahan itu. Kau dengan licik telah mengadu kekuatan orang-orang berilmu tinggi. Diatas mayat mereka sekarang kau menari di padepokan ini.”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Selangkah ia bergerak surut ketika Nyai Wiji Sari yang telah bangkit berdiri itu melangkah maju sambil memandanginya dengan mata yang membara.

“Tidak, Nyai” suara Ki Pandi masih tetap lunak, “kau kembali terbenam ke alam arus perasaanmu yang kau landasi pengalaman hidupmu yang kelam. Ketika sepercik terang bersinar di hatimu, maka kau dapat menemukan dirimu sendiri. Tetapi jika kelam itu datang menyelimuti kalbumu, maka kau menjadi seorang perempuan yang garang.”

“Cukup. Siapa pun kau dan apapun yang kau katakan, namun aku datang untuk mengambil padepokan ini. Aku akan selalu berada disisi anakku. Ia sendiri disini, apalagi sepeninggal Kiai Banyu Bening.”

“Kaupun harus berpikir bening, Nyai.”

“Cukup. Tengadahkan wajahmu. Aku akan menebas lehermu. Kau akan dikubur disini, dibawah tugu ini. Kau akan menjadi pengawal anakku dan melakukan apa saja yang diinginkannya. Bahkan kau akan menjadi kuda tunggangan yang jinak dan penurut.”

Ki Pandi mengerutkan dahinya. Mata Nyai Wiji Sari justru menjadi liar. Tiba-tiba saja perempuan itu telah mencabut senjatanya, sebilah pedang.

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Perasaan Nyai Wiji Sari yang kacau telah mendorongnya untuk bertempur langsung pada tataran yang menentukan.

Ki Pandi memang tidak dapat mengelak. Ia sadar, bahwa Nyai Wiji Sari itu tentu memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, maka Ki Pandi tidak ingin menjadi lengah dan kehilangan kesempatan. Demikian Nyai Wiji Sari mulai memutar pedangnya, maka Ki Pandi telah melepas ikat kepalanya dan dibalutkan pada lengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam sebuah seruling yang semula terselip di punggungnya.

Betapapun gelap nalar Nyai Wiji Sari, tetapi ketika ia melihat senjata Ki Pandi, maka Nyai Wiji Sari itu pun segera menyadari, bahwa orang bongkok itu bukannya orang kebanyakan.

Karena itu, maka Nyai Wiji Sari itupun menjadi sangat berhati-hati menghadapinya.

Kedua orang pengawal Nyai Wiji Sari telah bersiap pula. Mereka bergeser di sebelah menyebelah Nyai Wiji Sari.

Ki Pandi masih bergeser surut. Kedua orang cantrik yang menyertai telah bersiap pula. Mereka akan menghadapi kedua orang pengawal Nyai Wiji Sari.

“Kau sadari apa yang aku lakukan, Nyai?” bertanya Ki Pandi.

“Kau mulai ketakutan bongkok. Sayang, aku tidak mempunyai perasaan belas kasihan kepada siapa pun juga. Apalagi jika aku sudah terlanjur mencabut pedangku.”

Ki Pandi tidak menjawab. Sementara itu Nyai Wiji Sari telah mengangkat pedangnya sambil berkata lantang, “Lihat pedangku yang berwarna kehitam-hitaman. Ini adalah warna darah yang membeku di daun pedangku. Aku tidak pernah membersihkan-nya jika pedangku berlumur darah.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya daun pedang Nyai Wiji Sari yang menyeramkan. Sama sekali tidak berkilat ditimpa cahaya matahari. Warna coklat kehitaman membuat tengkuk Ki Pandi meremang.

Tetapi Ki Pandi tidak mempunyai banyak kesempatan untuk merenungi lawannya yang menilik senjatanya, Nyai Wiji Sari benar-benar telah terbenam terlalu dalam di lumpur yang pekat.

Nampaknya dengan caranya Nyai Wiji Sari ingin melupakan kepahitan jalan hidupnya yang bernoda. Bahkan Nyai Wiji Sari juga ingin melupakan perasaan bersalah yang selalu membayanginya kemana saja ia pergi.

Dalam pada itu, maka Nyai Wiji Sari pun mulai menggapai tubuh Ki Pandi dengan ujung pedangnya. Namun Ki Pandi bergeser. menghindar.

Nyai Wiji Sari menyadari, bahwa kain ikat kepala Ki Pandi yang dipergunakan untuk membalut lengan kirinya, tentu bukan kebanyakan ikat kepala. Ikat kepala itu tentu selembar ikat kepala yang dibuat secara khusus. Yang liat dan serat-serat benangnya tidak mudah terputus oleh tajamnya senjata.

Demikian pula seruling ditangan kanan orang bongkok itu. Tentu bukan seruling yang dibelinya di pasar atau di sebuah keramaian merti desa. Tetapi seruling itu tentu sebuah seruling yang dibuat secara khusus pula.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, pertempuran pun telah berlangsung dengan sengitnya. Nyai Wiji Sari ternyata memang seorang perempuan yang tangkas, yang memiliki ilmu yang tinggi. Pedangnya berputaran dengan cepat. Sambaran anginnya bagaikan menusuk-nusuk lubang kulit.

Tetapi Nyai Wiji Sari harus melihat kenyataan, bahwa orang bongkok yang buruk itu ternyata benar-benar memiliki ilmu yang tinggi. Apapun yang dilakukan oleh Nyai Wiji Sari, Ki Pandi mampu mengindarinya atau menangkisnya dengan lengannya yang dibalut dengan ikat kepalanya atau dengan serulingnya.

Dengan demikian, maka Nyai Wiji Sari harus meningkatkan ilmunya. Bahkan sampai pada tataran tertinggi.

Dalam pada itu, di pintu-pintu butulan, pertempuran pun telah berlangsung dengan sengitnya. Di pintu butulan sebelah kiri, Manggada dan Laksana telah bertemu dengan dua orang yang pernah berjalan berpapasan di jalan bulak.

Sebagaimana Manggada dan Laksana masih mengenali kedua . orang anak muda itu, ternyata keduanya juga masih mengenali Manggada dan Laksana.

“Jadi kau penghuni padepokan ini, he?” bertanya Parung Landung.

Manggada termangu-mangu sejenak. Katanya, “Kita pernah bertemu Ki Sanak.”

“Kalau aku tahu, kau penghuni padepokan ini, maka saat kita berpapasan, kepalamu tentu sudah aku lumatkan.”

Laksana tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Aku menyesal bahwa kami waktu itu memberikan jalan kepadanya, sehingga kami terpaksa berjalan diatas tanggul parit. Waktu itu, aku memang sudah merencanakan untuk mencabuti kumismu yang jarang itu. Tetapi kakakku mencegahnya.”

“Tutup mulutmu” Paron Waja menggeram, “aku akan menyumbat mulutmu sekarang.”

Laksana masih saja tertawa. Katanya, “Kita mempunyai kesempatan yang sama sekarang. Kawan-kawanmu dan para cantrik di padepokan ini tengah bertempur. Kita pun akan bertempur tanpa orang lain yang akan mengganggu.”

“Bagus. Kita akan bertempur tanpa orang lain yang akan mengganggu kita sampai tuntas,” jawab Parung Landung.

“Kita bertempur di medan perang. Bukan sedang berperang tanding. Karena itu, kemungkinan datangnya gangguan dapat saja terjadi. Karena itu, persetan dengan istilahnya. Sejauh kita mendapat kesempatan bertempur seorang lawan seorang, maka kita akan melakukannya.

“Nah, kami silahkan kalian memilih lawan.”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Tetapi Laksanalah yang berkata, “Kalian saja yang memilih. Aku harus melawan yang mana, dan kakang Manggada yang mana. Bagi kami siapa pun yang kami hadapi, tidak ada bedanya. Kami sudah benar-benar siap menghadapi segala kemungkinan.”

Paron Waja menggeram. Katanya, “Biarlah aku bungkam mulut anak ini.”

Laksana tertawa pula. Katanya, “Mulut ini ada yang punya. Tentu yang punya akan berkeberatan jika mulut ini akan dibungkam.”

Kemarahan Paron Waja benar-benar sudah membakar jantungnya. Karena itu, tiba-tiba saja ia telah meloncat sambil mengayunkan tangannya ke arah wajah Laksana.

Tetapi Laksana sudah bersiap sepenuhnya. Dengan tangkas ia bergeser surut, sehingga tangan Paron Waja tidak menyentuh kulitnya. Namun terasa desir angin menerpa wajah Laksana yang luput dari jangkauan tangan Paron Waja itu.

Dengan demikian Laksana menyadari, bahwa kekuatan Paron Waja memang sangat besar.

Sementara itu, ketika Paron Waja mulai menyerang Laksana, maka Manggada tidak menyia-nyiakan waktu. Justru Manggada lah yang lebih dahulu mengambil langkah. Dengan cepat Manggada meloncat sambil menjulurkan kakinya.

Parung Landung melihat serangan itu. Tetapi demikian cepat dan tidak diduga-duga. Karena itu, maka Parung Landung tidak sempat mengelak. Yang dapat dilakukan adalah sekedar menepis serangan kaki Manggada dan kuat itu.

Ternyata Parung Landung tidak berhasil sepenuhnya. Meskipun kaki Manggada itu tidak mengenai sasaran, tetapi kaki itu masih juga mengenai pundak.

Tubuh Parung Landung itu terputar. Hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Tetapi Parung Landung justru telah bergeser beberapa langkah untuk memperbaiki kedudukan-nya.

Manggada memang tidak memburunya. Ia tidak ingin dianggap curang dan licik. Karena itu, maka Manggada itu pun menunggu sejenak, sehingga Parung Landung berdiri tegak dan siap untuk menghadapinya.

Parung Landung itupun menggeram, “Ternyata kau licik sekali.”

“Tidak. Bukan aku yang licik. Tetapi kau terlalu yakin akan kemampuanmu sehingga kau abaikan aku. Aku memang tidak ingin menentukan akhir dari pertempuran diantara kita dengan serangan yang pertama itu. Aku baru sekedar memperingatkan-mu, agar kau berhati-hati.”

“Kau dapat saja membuat seribu macam alasan. Tetapi sekarang, marilah kita buktikan, siapakah diantara kita yang akan dapat keluar dari pertempuran ini utuh. Bukan hanya namanya.”

Manggada menarik nafas dalam-dalam. Lawannya ternyata memang seorang yang sangat yakin akan kemampuannya

Karena itu, maka Manggada pun telah bersiap sebaik-baiknya untuk menghadapinya.

Demikianlah, Manggada dan Laksana telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Lawan mereka juga masih muda. Tetapi Parung Landung dan Paron Waja agaknva lebih tua dari lawan-lawan mereka.

Pertempuran antara anak-anak muda itupun dengan cepatnya meningkat. Jantung mereka lebih cepat membara dan darah mereka lebih cepat mendidih. Sehingga beberapa saat kemudian, maka pertempuran itu menjadi semakin garang dan segenap kemampuannya dikerahkan.

Parang Landung dan Paron Waja yang terbiasa hidup dalam petualangan, sama sekali tidak merasa canggung. Bahkan mereka pun berusaha dengan cepat untuk mengakhiri lawan-lawan mereka, agar mereka segera dapat terlibat dalam pertempuran melawan para cantrik dari padepokan itu. Adalah sangat menggembirakan untuk membantai cantrik-cantrik pemula yang masih belum banyak berpengalaman.

Tetapi ternyata mereka tidak dapat melakukannya semudah yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Kedua anak muda yang mereka hadapi itu ternyata adalah anak-anak muda yang berbekal ilmu sehingga untuk beberapa saat mereka masih mampu mengimbangi ilmu mereka.

“Karena itu, setelah bertempur beberapa saat lamanya, Parung Landung justru mengumpat-umpat kasar. Ternyata tangan Manggada sempat menggapai keningnya. Meskipun tidak terlalu keras, namun sentuhan itu sendiri membuat kemarahan Parung Landung semakin memuncak.

Karena itu, maka Parung Landung pun telah menghentakkan kemampuannya pula dengan serangan-serangan beruntun yang sempat mengejutkan Manggada.

Karena itu, Manggada telah terdorong surut. Namun serangan Parung Landung masih belum mampu menembus pertahanan Manggada.

Parung Landung menggeram. Ia tidak mau mengalami kenyataan itu. Parung Landung ingin lawannya itu segera dapat diselesaikannya, sehingga dengan wajah tengadah ia dapat menepuk dadanya, “Aku telah membunuh andalan padepokan ini.”

Tetapi ternyata tidak mudah untuk melakukannya. Lawannya ternyata sangat liat dan bahkan berilmu tinggi.

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit pula.

Paron Waja pun mulai menjadi gelisah, ia menyangka bahwa dalam waktu singka anak muda itu dapat segera dikalahkannya.

Tetapi ternyata bahwa anak muda itu mampu mengimbangi-nya.

Dalam pada itu, di belakang pintu butulan sebelah kanan, Ki Jagaprana telah menghentikan dua orang yang disangkanya kembar. Kedua orang yang mengamuk seperti sepasang harimau yang lerluka.

“Bagus” Ki Jagaprana mengangguk-angguk, “apakah memang sudah menjadi kebiasaan kalian bertempur berpasangan?”

“Siapa kau?” bertanya Krendhawa.

“Pertanyaanmu aneh. Seharusnya kau tahu bahwa aku adalah salah satu dari penghuni padepokan ini.”

“Maksudku, siapa namamu?” bentak Krendhawa.

Ki Jagapura tersenyum. Katanya, “Namaku Jagaprana. Aku mendapat perintah untuk menghentikan kalian berdua. Nah, jika kalian memang terbiasa bertempur berpasangan karena kalian anak kembar, maka aku tidak berkeberatan.”

“Kami bukan saudara kembar” geram Mingkara, “umur kami bertaut hitungan tahun.”

“O” Jagaprana mengangguk-angguk, “tetapi ujud kalian tidak ubahnya dua orang kembar.”

“Agaknya matamu lah yang kabur” geram Mingkara.

“Aku tidak peduli, apakah kalian kembar atau tidak. Yang penting bagiku, jika kalian terbiasa bertempur berpasangan, marilah. Aku ingin menjajagi kemampuan kalian berdua.”

“Kau terlalu sombong kakek tua. Betapapun tinggi ilmumu, wadagmu sudah tidak membantu. Kau sudah terlalu tua untuk bertempur di medan yang garang menghadapi petualangan yang terbiasa dengan kekerasan. Bahkan seandainya kau matahari yang menyala di langit, kau sudah memasuki masa senjamu.”

Jagaprana tertawa. Katanya, “Sinar matahari senja masih akan mampu membakar bibir mega di langit. Cahaya layung di senja hari masih dapat membuat mata puluhan orang menjadi sakit.

“Iblis kau” geram Krendhawa, “suaramu seperti sentuhan welat ditelingaku. Pedih. Karena itu, bersiaplah untuk mati. Kami ingin menunjukkan, betapa kami mampu bertempur berpasangan melampaui orang kembar sebenarnya.”

Ki Jagaprana masih tertawa. Katanya, “Marilah, aku sudah siap.”

Mingkara memang tidak sabar lagi. Dengan garangnya, ia pun meloncat menyerang Ki Jagaprana dengan ayunan tangannya.

Ki Jagaprana bergeser surut. Tangan itu tidak menyentuh tubuhnya.

Tetapi serangan berikutnya pun segera menyusul. Krendhawa telah menjulurkan kakinya menyerang lambung. Tetapi dengan cepat Ki Jagaprana menggeliat, sehingga serangan itu sama sekali tidak mengenainya.

Bahkan tiba-tiba saja Ki Jagaprana yang tua itu melenting sambil berputar. Kakinya yang terayun mendatar hampir saja menyambar kening Krendhawa.

“Iblis tua” geram Krendhawa sambil meloncat menjauh. Ki Jagaprana tertawa pula. Katanya, “Jangan mengumpat. Umpatanmu tidak akan membantumu mengalahkan aku.”

“Diam kau iblis tua,” teriak Mingkara.

Tetapi Jagaprana tertawa semakin keras.

Demikianlah pertempuran pun semakin lama menjadi semakin sengit. Krendhawa dan Mingkara memang bertempur berpasangan. Tetapi ternyata bahwa Ki Jagaprana benar-benar seorang yang berilmu tinggi.

Semakin lama Krendhawa dan Mingkara bertempur melawan orang tua iru, maka mereka pun semakin menyakini akan tingkat kemampuannya, sehingga kedua orang yang dianggap kembar itu harus meningkatkan ilmunya pula.

Pertempuran memang menyala semakin besar. Tidak hanya di belakang pintu-pintu butulan. Tetapi juga di belakang pintu gerbang utama.

Agak terpisah, Nyai Wiji Sari tengah bertempur melawan Ki Pandi yang bongkok. Pedang Nyai Wiji Sari yang kehitam-hitaman itu berputar dengan cepat. Namun Ki Pandi pun telah mengimbanginya. Dengan cepat orang bongkok itu menghindari serangan-serangan Nyai Wiji Sari. Pedang yang terayun-ayun itu tidak segera dapat mengenai tubuh orang bongkok yang mampu bergerak cepat itu.

Namun sebenarnya lah, bahwa serangan-serangan Nyai Wiji Sari tidak cukup membahayakan bagi Ki Pandi. Betapapun garangnya serta tingginya ilmu Nyai Wiji Sari, namun dihadapan Ki Pandi, Nyai Wiji Sari bukan seorang yang mencemaskan.

Karena itu, maka hentakan-hentakan serangan Nyai Wiji Sari tidak mampu menembus pertahanan Ki Pandi.

Nyai Wiji Sari mulai menjadi gelisah. Apa pun yang dilakukan, serangan-serangannya tidak mampu menyentuh tubuh orang bongkok itu.

Nyai Wiji Sari yang bangga akan kecepatan geraknya, di hadapan Ki Pandi tidak terlalu banyak berarti, karena Ki Pandi itu pun mampu bergerak cepat pula meskipun nampaknya orang itu selalu berjalan terbongkok-bongkok.

Semakin lama Nyai Wiji Sari semakin menyadari, bahwa orang bongkok itu memiliki ilmu yang lebih tinggi dari ilmunya. Bahkan Nyai Wiji Sari itu pun mulai menyadari, bahwa orang bongkok itu masih belum sampai ke puncak kemampuannya.

Meskipun demikian, Nyai Wiji Sari tidak segera berputus-asa. Perempuan yang garang itu mempunyai pengalaman yang luas sekali. Ia sudah pernah bertempur melawan orang yang memiliki berbagai macam ilmu.

Sementara itu, Nyai Wiji Sari masih merasa mempunyai puncak ilmu yang masih belum ditrapkan. Meskipun Nyai Wiji Sari itu tidak yakin bahwa puncak ilmunya itu akan dapat mengakhiri pertempuran itu, namun ia harus mencobanya.

Nyai Wiji Sari sendiri mencemaskan keragu-raguannya sendiri. Biasanya ia tidak pernah merasa ragu menghadapi lawan yang betapapun garangnya. Bahkan dalam pertempuran yang terjadi diantara mereka yang berebut daerah jelajah. Pertengkar-an dan permusuhan yang terjadi diantara orang-orang yang hidupnya berada di bawah permukaan.

Namun dalam pada itu. Nyai Wiji Sari pun merasa heran, bahwa serangan-serangan Ki Pandi pun tidak pernah membahayakannya. Sekali-sekali seruling Ki Pandi memang pernah menyentuh kulitnya, tetapi sama sekali tidak menyakitinya. Seakan-akan Ki Pandi hanya ingin membuktikan, betapa rapuhnya pertahanan Nyai Wiji Sari itu dihadapan Ki Pandi yang bongkok itu.

Meskipun Nyai Wiji Sari masih harus berteka-teki, namun ia masih bertempur terus. Pedangnya masih berputaran dengan garangnya, meskipun serangan-serangannya tidak pernah berhasil.

Dalam, keadaan yang gawat itu, maka Nyai Wiji Sari mulai mempertimbangkan untuk mengetrapkan ilmu puncaknya. Ia sadar, jika ia gagal, maka orang bongkok itu tentu akan menjadi bersungguh-sungguh pula. Mungkin dengan demikian pertahanannya justru benar-benar akan dihancurkannya.

Tetapi akibat yang paling buruk harus dijalaninya, karena sejak semula Nyai Wiji Sari sudah memperhitungkan kemungkinan yang demikian akan dapat terjadi atas dirinya.

Tetapi Nyai Wiji Sari memang tidak dengan serta-merta mengetrapkan ilmu puncaknya. Ia masih membuat beberapa pertimbangan dan persiapan.

Sementara itu, dua orang pengawalnya masih juga bertempur dengan sengitnya melawan dua orang cantrik yang datang bersama Ki Pandi. Nampaknya mereka memiliki kesempatan yang sama. Mereka adalah orang-orang yang memiliki pengalaman yang cukup luas dengan landasan ilmu yang cukup.

Sedangkan pertempuran yang terjadi di sekitar pintu-pintu butulan pun telah merambat semakin lebar. Para cantrik tidak dapat membatasi pertempuran di arena yang terbatas. Tetapi para pengikut Kiai Narawangsa berusaha untuk menebar seluas-luasnya di padepokan itu.

Namun ada yang pernah terjadi sebelumnya telah terjadi pula di padepokan itu. Para cantrik dari padepokan itu telah memanfaatkan penge-nalan mereka atas medan sebaik-baiknya. Diantara bangunan-bangunan yang ada, para cantrik menyerang lawan-lawannya dengan tiba-tiba. Mereka muncul dari balik sudut-sudut bangunan yang ada. Dari balik pintu dan dari ruang-ruang yang tersebar dalam bangunan-bangunan di padepokan itu.

Para cantrik pemula, yang terdiri dari anak-anak muda yang belum lama berada di padepokan, menyerang lawan-lawan mereka dalam kelompok-kelompok kecil.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi menggapai puncak langit, pertempuran telah menyebar hampir di seluruh padepokan. Para cantrik sulit mengendalikan lawan mereka.

Dalam pada itu, Ki Lemah Teles dan Ki Warana yang sudah turun dari panggungan, telah menghilang diantara bangunan yang ada di padepokan itu. Bersama beberapa orang cantrik pemula, mereka berusaha menemukan lawan disela-sela bangunan. Ki Lemah Teles kadang-kadang membiarkan para cantrik pemula untuk mendapatkan pengalaman. Tetapi dalam keadaan yang gawat, maka Ki Lemah Teles telah berusaha untuk mengurangi kekuatan lawan.

Seperti sosok hantu diterik cahaya matahari, Ki Lemah Teles telah berhasil menyusut lawan cukup banyak. Tetapi sebenarnya-lah Ki Lemah Teles bukan seorang pembunuh. Ia selalu berusaha melumpuhkan lawan-lawannya tanpa membunuhnya.

Dalam pada itu, pertempuran tidak jauh dari pintu gerbang utama masih berlangsung dengan sengitnya. Kiai Narawangsa ternyata tidak segera mengalahkan lawannya yang dianggapnya sudah terlalu tua untuk turun ke medan pertempuran. Lawannya, Ki Ajar Pangukan benar-benar seorang yang berilmu sangat tinggi, sehingga ilmunya sama sekali tidak dapat disusul oleh umurnya yang semakin tua.

Sementara itu, bindi Gunasraba yang berat itu setiap kali saling berbenturan dengan pedang Ki Sambi Pitu. Kekasaran dan tenaga yang besar dari Gunasraba sama sekali tidak banyak berarti bagi Ki Sambi Pitu. Beberapa kali Gunasraba harus meloncat menjauhi lawannya untuk memperbaiki keadaannya. Namun rasa-rasanya ujung pedang Ki Sambi Pitu selalu memburunya. Meskipun Gunasraba beberapa kali berusaha menjauh, namun Ki Sambi Pitu itu selalu saja lekat dihadapannya. Serangan-serangannya menjadi semakin berbahaya.

Namun akhirnya batas kemampuan pertahanan Gunasraba dapat ditembus. Ujung pedang Ki Sambi Pitu mulai menyentuh kulit. Sebuah goresan menyilang di lengan Gunasraba.

Gunasraba mengumpat kasar. Kemarahannya semakin membakar ubun-ubunnya. Luka di lengannya itu telah menitikkan darahnya yang hangat.

Tetapi kemarahan, umpatan dan geram tidak cukup untuk menghentikan perlawanan Ki Sambi Pitu. Untuk mengalahkan lawannya diperlukan kemampuan dan ilmu yang tinggi.

Gunasraba yang gelisah itu masih memutar bindinya. Justru semakin cepat. Bindi itu terayun-ayun di seputar tubuhnya, sehingga memang sulit bagi Ki Sambi Pitu untuk mendekat.

Tetapi Ki Sambi Pitu bukannya seorang cantrik yang baru mulai berlatih mengenali dasar-dasar ilmu kanuragan. Ki Sambi Pitu adalah seorang yang sudah kenyang menelan pahit manisnya dunia yang keras.

Itulah sebabnya, maka putaran bindi Gunasraba yang bahkan seakan-akan merupakan gumpalan awan hitam yang mengelilingi tubuhnya, tidak mampu membentengi serangan Ki Sambi Pitu.

Sebuah serangan yang cepat, menyusup diantara putaran bindi itu, langsung menyentuh pundak Gunasraba. Namun hampir saja bindi itu menghantam kening Ki Sambi Pitu.

Ki Sambi Pitu bergerak dengan cepatnya. Sambil merendah, sekali lagi pedangnya terjulur. Ketika sambaran angin yang ditimbulkan oleh ayunan bindi Gunasraba itu menyambar wajahnya, maka pedang Sambi Pitu itu mematuk dengan cepatnya menyusup disela-sela tulang iga Gunasraba.

Terdengar teriakan melengking tinggi. Gunasraba terhuyung-huyung surut. Demikian Ki Sambi Pitu menarik pedangnya, maka darah pun memancar dari luka di dada Gunasraba.

Sejenak kemudian, maka Gunasraba itupun jatuh terbanting di tanah seperti sebatang pohon pisang yang rebah.

Kematian Gunasraba menimbulkan kegelisahan yang mencengkam jantung para pengikut Kiai Narawangsa. Ki Gunasraba menurut pengertian mereka adalah seorang yang berilmu tinggi. Ia merupakan kepercayaan Kiai Narawangsa di medan pertempuran. Apalagi Ki Gunasraba adalah adik Kiai Narawangsa yang diharapkan akan menggantikannya memimpin padepokan yang akan ditinggalkan oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari.

Ki Sambi Pitu yang berdiri termangu-mangu sambil menggenggam hulu pedangnya yang basah oleh darah tercenung sejenak memandangi tubuh yang terbaring diam. Namun ia tidak mempunyai banyak kesempatan. Beberapa orang pengikut Kiai Narawangsa itupun serentak telah menyerang Ki Sambi Pitu.

Ki Sambi Pitu pun dengan cepat berloncatan menghindar. Sementara itu para cantrik pun tidak membiarkan lawan mereka bergerak leluasa.

Tetapi pertanda-pertanda buruk telah nampak pada pasukan Kiai Narawangsa. Ternyata kekuatan yang mereka hadapi jauh lebih besar dari perhitungan mereka. Bahwa di padepokan itu terdapat beberapa orang berilmu tinggi sebelumnya tidak pernah mereka duga. Satu-satunya orang yang mereka perhitungkan mempunyai ilmu yang tinggi adalah Kiai Banyu Bening sendiri. Tetapi justru Kiai Banyu Bening itu sudah tidak ada. Yang ada adalah beberapa orang ysng berilmu tinggi.

Kematian Gunasraba merupakan satu pukulan yang berat bagi Kiai Narawangsa. Kecuali Gunasraba adalah adiknya, ia termasuk orang yang cerdik dan berilmu tinggi. Namun di padepokan itu, Gunasraba tidak mampu mempertahankan diri menghadapi lawannya yang sudah menjadi tua itu.

Sementara itu, Kiai Narawangsa sendiri mengalami kesulitan menghadapi Ki Ajar Pangukan. Kiai Narawangsa yang memiliki pengalaman yang sangat luas itu harus menghadapi kenyataan, bahwa di padepokan itu terdapat seorang yang mampu mengimbangi ilmunya. Sedangkan orang yang lain lagi, masih juga bertempur melawan Nyai Wiji Sari. Nampaknya Nyai Wiji Sari yang bertempur tidak jauh dari sebuah tugu sebagai alas sebuah nisan kecil itu, juga tidak segera dapat mengalahkan lawannya.

“Darimana saja orang-orang berilmu tinggi yang berkumpul di padepokan ini?” bertanya Kiai Narawangsa didalam hatinya.

Kiai Narawangsa pun bertanya-tanya pula kepada diri sendiri.

Bagaimanakah dengan Parung Landung dan Paron Waja serta Krendhawa dan Mingkara.

Tetapi Kiai Narawangsa tidak mempunyai banyak waktu untuk merenungi keadaan. Ki Ajar Pangukan telah melibatkan dalam pertempuran yang sengit. Hampir tidak ada waktu sekejap pun untuk memperhatikan keadaan, kecuali jika Kiai Narawangsa itu sengaja mengambil jarak.

Dalam pada itu, Manggada masih bertempur melawan Parung Landung, sedangkan Laksana menghadapi Paron Waja. Mereka adalah anak-anak muda yang jantungnya masih mudah terbakar. Sementara itu mereka adalah anak-anak muda yang memiliki bekal ilmu yang tinggi.

Namun Parung Landung yang bertempur melawan Manggada harus menyadari, bahwa lawannya ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Jika anak muda itu lebih baik menyingkir ketika mereka berpapasan, itu bukan karena mereka tidak mempunyai bekal untuk berkelahi, tetapi agaknya anak muda itu memang menghindari perselisihan yang tidak perlu.

Tetapi ketika anak muda itu benar-benar dihadapkan pada satu pertempuran yang tidak dapat dihindari, maka ternyata ia telah menunjukkan kemampuannya yang tinggi.

Sebenarnyalah Manggada mampu bertempur dengan cepat, keras dan garang. Tubuhnya yang liat seakan-akan tidak bertulang lagi. Anak muda itu mempunyai banyak sekali cara untuk menyerang dan bertahan. Kakinya dengan tangkas berloncatan seakan-akan tidak lagi berjejak diatas tanah.

Tetapi Parung Landung yang ditempa dalam lingkungan yang keras dan kasar itupun menjadi keras dan kasar pula. Ketika ia menyadari bahwa lawannya memiliki ilmu yang tinggi, maka Parung Landung itupun telah meningkatkan serangan-serangannya.

Dengan demikian, maka pertempuran pun menjadi semakin sengit. Serangan-serangan Parung Landung menjadi semakin garang. Ketika kemudian ditangannya tergenggam sebuah golok yang besar, maka Manggada pun telah memegang pedangnya pula.

Ternyata keduanya memiliki kemampuan bermain senjata yang tinggi. Golok yang besar di tangan Parung Landung menjadi semakin berbahaya karena kekuatan anak muda itu memang sangat besar. Tetapi tidak kalah berbahayanya pedang di tangan Manggada. Pedang itu berputaran dengan cepatnya. Terayun-ayun mendebarkan.

Sementara itu, Laksana dan Paron Waja pun masih juga bertempur dengan sengitnya pula. Keduanya juga sudah menggenggam senjata. Benturan-benturan telah terjadi dengan kerasnya. Kedua-duanya memiliki kekuatan yang besar.

Namun Laksana yang telah ditempa dalam kehidupan hutan bersama Manggada dan Ki Pandi itu, dengan cepat menyesuaikan diri dengan gaya permainan senjata lawannya.

Karena itu, apapun yang dilakukan oleh Mingkara, Laksana dapat mengimbanginya.

Justru karena itu, kemarahan Mingkara bagaikan telah menyulut ubun-ubunnya. Dihentakkannya kemampuan dan ilmunya untuk mengatasi ketangkasan lawannya.

Demikianlah, maka dentang senjata yang berbenturan itupun telah memercikkan bunga api. Senjata-senjata yang terbuat dari baja pilihan itu berputaran, menyambar, mematuk dan saling mendera.

Sementara itu, pertempuran antara para pengikut Kiai Narawangsa dan para penghuni padepokan itupun menjadi semakin sengit pula. Satu-satu korban pun berjatuhan. Beberapa orang yang sempat, telah menyingkirkan kawan-kawan mereka yang terluka, agar mereka tidak terlanjur mati terinjak-injak kaki mereka yang sedang bertempur.

Ketika matahari melewati puncaknya, maka langit pun bagaikan membara. Panasnya seakan-akan menyusup tubuh dan menghanguskan tulang. Sementara itu pertempuran masih saja berlangsung dengan sengitnya.

Ki Jagaprana memang harus bekerja keras menghadapi dua orang saudara yang semula disangkanya kembar. Kedua orang itu mampu bertempur berpasangan dengan rapat. Saling mengisi dan saling melindungi. Mereka datang menyerang berganti-ganti berurutan seperti gelombang yang didera oleh prahara, bergulung-gulung menghantam tebing.

Tetapi Ki Jagaprana adalah seorang yang mumpuni. Ilmunya yang tinggi benar-benar telah mapan di tempa oleh pengalaman. Meskipun umurnya menjadi semakin tua, tetapi ia masih tetap seorang yang sulit dicari tandingnya.

Sesaat demi sesaat, dua orang kakak beradik itu menjadi semakin berat. Serangan-serangan Ki Jagaprana tidak kalah garangnya dengan serangan-serangan kedua orang lawannya. Meskipun tidak terlalu sering, tetapi beberapa kali membuat kedua orang lawannya itu terkejut dan terpaksa berloncatan menjauhinya.

Namun Ki Jagaprana tidak ingin pertempuran itu menjadi semakin berkepanjangan. Ia hanya seorang diri, sedangkan lawannya bertempur berpasangan. Pada saatnya, maka ia harus memeras tenaga lebih banyak dari lawannya seorang-seorang. Karena, itu, selagi tenaganya masih belum susut, maka ia harus berusaha mengakhiri pertempuran itu.

Dalam pada itu, pertempuran di sekitarnya masih berlangsung Bahkan semakin menebar. Para pengikut Kiai Narawangsa tidak mau terkurung dalam batasan yang sempit. Karena itu, maka mereka pun berusaha untuk menebar semakin luas.

Dalam pada itu, Krendhawa yang sempat mendesak Ki Jagaprana surut berteriak, “Mati kau orang tua yang sombong.”

Tetapi Ki Jagaprana tidak mati. Ia sempat mengelakkan senjata Krendhawa yang terjulur ke arah dadanya. Namun dalam waktu yang hampir bersamaan Mingkara pun berteriak, “Mati kau iblis tua.”

Tetapi Jagaprana justru tertawa. Dengan nada tinggi ia berkata, “Kalian tahu artinya mati?”

“Tutup mulutmu” bentak Krendhawa.

Ki Jagaprana merendahkan dirinya. Senjata Krendhawa terayun deras di atas kepalanya. Tetapi senjata itu tidak menyentuh kulit Ki Jagaprana.

Namun Mingkara itu berteriak, “Kau tidak akan dapat luput dari tangan kami iblis tua. Kau akan segera jatuh ke tangan kami, apapun yang kau lakukan.”

“Jangan banyak sesumbar” desis Ki Jagaprana sambil menghindari serangan Krendhawa, “jika aku memerlukan kawan, maka aku tinggal berteriak saja. Beberapa orang akan segera berdatangan dan membantu aku membantai kalian berdua. Tetapi bukan itu niatku. Aku masih ingin menjajagi kemampuanku, apakah panasku, masih lebih tajam dari panasmu. Apakah panas Matahari senja masih mampu membuat air mendirih atau sekedar mengepulkan asap.”

“Kau memang terlalu banyak berbicara.” geram Krendhawa.

Namun kata-kata Krendhawa terputus. Ki Jagaprana memang sudah mulai merasa letih. Ia sadar, bahwa beberapa saat kemudian, maka tenaganya tentu akan menyusut.

“Apakah aku memang sudah tua?” bertanya Ki Jagaprana kepada diri sendiri, “kenapa aku sekarang menjadi terlalu cepat letih?”

Ki Jagaprana masih menguji dirinya sendiri. Tetapi karena ia harus bertempur melawan dua orang yang berilmu tinggi, maka Ki Jagaprana memang harus mengerahkan tenaga dan kemampuannya.

Namun dalam pada itu, meskipun Ki Jagaprana telah mulai merasa letih, tenaganya masih belum menyusut justru karena itu, maka ia ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu sebelum tenaganya benar-benar telah menyusut.

Sementara itu, maka Krendhawa dan Mingkara pun telah berusaha untuk memperbaiki keadaannya. Mereka pun ingin agar orang tua itu segera dapat diakhiri.

Karena itu, maka kedua orang itu telah mengerahkan kemampuan mereka tertinggi. Seperti Gunasraba, maka keduanya memiliki kekuatan yang sangat besar. Dengan mengandalkan kekuatannya itu, keduanya telah mencoba menghimpit Ki Jagaprana dari dua arah yang berlawanan.

Ki Jagaprana pun mulai merasakan seakan-akan kekuatan kedua orang lawannya itu meningkat. Setiap terjadi benturan, Jagaprana memang merasakan tekanan yang kuat dari kedua orang lawannya. Namun kekuatan yang besar itu tidak menjamin kemenangan dalam pertempuran yang cepat dan keras itu.

Dalam keadaan yang gawat itu, maka Ki Jagaprana telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghentikan pertempuran. Senjata yang sudah berada di tangannya itu mulai menyusup di sela-sela pertahanan senjata lawan-lawannya.

Di bawah teriknya sinar matahari, maka kecepatan gerak Ki Jagaprana ternyata menjadi sangat menguntungkan, justru karena lawannya mengandalkan kekuatan mereka. Ketika senjata Krendhawa terayun dengan derasnya, maka Ki Jagaprana masih sempat untuk merendah. Namun bersamaan dengan itu, Ki Jagaprana telah berputar, sementara tangannya yang menggenggam senjatanya itu pun telah terentang.

Putaran ujung senjata Ki Jagaprana itu ternyata berhasil menyusup dibawah pertahanan Krendhawa. Karena itu, maka sejenak kemudian terdengar Krendhawa itu berteriak nyaring. Umpatan-umpatan kasar terdengar meloncat dari mulutnya.

Krendhawa itu pun kemudian terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Ternyata ujung senjata Ki Jagaprana itu telah mengoyak lambung.

Mingkara yang melihat saudaranya terluka, dengan serta-merta telah meloncat menyerang Ki Jagaprana. Senjata terayun dengan derasnya mengarah ke kening Ki Jagaprana. Namun Ki Jagaprana sempat melihat serangan itu. Sekali lagi ia dengan cepat merendah dengan berjongkok diatas satu lututnya, sementara ujung senjatanya terjulur lurus menggapai tubuh lawannya.

Mingkara terkejut. Langkahnya terhenti. Namun ia tidak tahu lagi apa yang telah terjadi. Ujung senjata Ki Jagaprana itu ternyata telah menggapai jantung Mingkara.

Ketika kemudian Ki Jagaprana menarik senjatanya, maka Mingkara itu telah jatuh terjerembab. Tubuhnya terbanting di tanah sementara nafasnya telah terputus.

Krendhawa melihat keadaan saudara laki-lakinya itu. Karena itu dengan sisa tenaganya ia berusaha menyerang Ki Jagaprana.

Ki Jagaprana melihat serangan itu. Yang dilakukannya kemudian adalah sekedar menghindar. Dengan cepat ia bangkit dan meloncat, kesamping.

Serangan Krendhawa itu tidak menyentuh sasaran. Namun dengan menghentakkan tenaganya, sementara lambungnya sudah terkoyak, maka darah Krendhawa seakan-akan telah diperas keluar.

Sejenak Krendhawa itu terhuyung-huyung. Namun demikian banyaknya darah yang terperas, sehingga tubuh itu menjadi sangat lemah.

Perlahan-lahan Krendhawa jatuh berlutut. Namun kemudian tubuhnya itu terguling. Meskipun demikian Krendhawa itu masih sempat mengerang kesakitan.

Ki Jagaprana termangu-mangu sejenak. Dipandanginya tubuh yang terbaring diam. Beberapa langkah dari tubuh Krendhawa itu, tubuh Mingkara pun terbaring diam pula.

Ki Jagaprana mengerutkan keningnya ketika ia melihat Krendhawa itu kemudian telah bergerak. Dengan sisa tenaganya, Krendhawa berusaha untuk merangkak mendekati tubuh adiknya yang telah tidak bernafas lagi

“Bangkitlah Mingkara. Ayo bangkit. Kita bunuh iblis tua itu. Kita adalah orang-orang yang tidak terkalahkan. Segala kemauan kita terjadi.”

Ki Jagaprana memandang tingkah laku Krendhawa itu dengan jantung yang berdebaran. Ketika ia melihat Krendhawa itu mengguncang-guncang tubuh adiknya, maka dada Ki Jagaprana itupun menjadi berdebar-debar. Ternyata Krendhawa tidak mau melihat kenyataan sampai pada saat-saat terakhirnya.

Bahkan kemudian Krendhawa itu berusaha untuk bangkit. Dicobanya untuk mengangkat kepala adiknya sambil berkata dengan suara gemetar, “Bangkitlah Mingkara. Bangkitlah. Kita tidak punya banyak waktu lagi.”

Tetapi Mingkara sama sekali tidak bergerak lagi.

“Mingkara, Mingkara” Krendhawa itupun kemudian berte riak, “kau kenapa he?”

Sementara itu darah dari luka Krendhawa itupun mengalir semakin banyak. Gerak seru teriakan-teriakannya membuat darahnya mengalir bergumpal-gumpal.

Sementara itu pertempuran pun masih berlangsung di mana-mana. Tetapi tidak seorang pun yang sempat mendekati mereka. Para cantrik dari padepokan itu telah semakin menekan para pengikut Kiai Narawangsa. Ketika ada seorang yang akan berlari kearah Krendhawa dan Mingkara, maka seorang cantrik telah menahan mereka dan melibatnya dalam pertempuran.

Ki Jagaprana yang menyaksikan tingkah laku Krendhawa itu pun menjadi iba. Dengan hati-hati iapun telah mendekatinya.

Tetapi Krendhawa tidak menghiraukannya. Seakan-akan ia ti dak melihat lagi orang-orang lain yang ada di sekitarnya, selain adiknya yang telah terbunuh itu.

“Ki Sanak” desis Ki Jagaprana, “jangan terlalu banyak bergerak. Darahmu akan semakin terperas dari tubuhmu. Tenanglah, berbaringlah dengan baik.”

Krendhawa itu mencoba memandang wajah Ki Jagaprana. Tetapi ternyata ia tidak lagi dapat mengenalinya. Selain matanya yang sudah menjadi kabur, nalarnya juga sudah tidak utuh lagi. Sementara itu, matahari di langit membuat pandangannya menjadi silau.

“Siapa kau?” bertanya Krendhawa.

“Siapa pun aku tidak penting bagimu. Tetapi tenanglah. Berbaringlah.”

“Aku sedang membangunkan adikku. Ia sudah terlalu lama tidur. Ia harus bangkit. Perang sudah dimulai.”

“Perang sudah selesai. Biarlah adikmu beristirahat. Ia sangat letih.”

“Perang sudah selesai?” bertanya Krendhawa

Krendhawa itu termangu-mangu sejenak. Tetapi tubuhnya sudah menjadi semakin lemah. Darahnya membasahi tanah. Sementara tubuhnya sendiri juga sudah menjadi merah sebagaimana tubuh Mingkara.

“Perang memang sudah selesai. Beristirahatlah dengan sebaik-baiknya.”

Krendhawa mengerutkan keningnya. Ia mencoba untuk mengamati wajah Ki Jagaprana. Tetapi segala-galanya menjadi semakin kabur.

Meskipun demikian, Krendhawa itupun meletakkan kepalanya di tubuh adiknya. Seakan-akan diluar sadarnya ia berkata ‘“Aku akan tidur dahulu. Perang sudah selesai.”

Tetapi tiba-tiba Krendhawa itu mengangkat kepalanya sambil bertanya”Apakah kita menang?”

“Ya. Kita menang.”

“Kiai Banyu Bening sudah dibunuh?”

“Ya. Kiai Banyu Bening sudah dibunuh.”

Orang itu tersenyum. Namun kemudian kepalanya itupun diletakkannya kembali. Ia masih akan berbicara lagi. Tetapi terasa pedih dilambungnya.

Krendhawa masih mencoba tersenyum karena kemenangan yang telah dicapai oleh Kiai Narawangsa dengan membunuh Kiai Banyu Bening.

Namun senyuman itu adalah senyumannya yang terakhir. Krendhawa pun telah mengakhiri hidupnya di medan pertempuran.

Ki Jagaprana menarik nafas, dalam-dalam. Iapun Kemudian berdiri dan melangkah meninggalkan tubuh dua orang kakak beradik yang semula disangkanya kembar itu.

Pertempuran masih terjadi di sekitarnya. Para cantrik masih belum dapat mengusir lawan-lawannya. Bahkan pertempuran pun telah menjadi semakin meluas dimana-mana.

Ki Jagaprana yang telah kehilangan lawannya itu pun kemudian melangkah mendekati arena. Beberapa orang pengikut yang sempat melihat Ki Jagaprana membunuh Krendhawa dan Mingkara, menjadi berdebar-debar. Tengkuk mereka meremang, seolah-olah senjata Ki Jagaprana itu telah menyentuhnya.

“Siapa yang akan menyerah, menyerahlah” teriak Ki Jagaprana tiba-tiba.

Ternyata teriakannya itu berpengaruh. Para pengikut Kiai Narawangsa menjadi semakin gelisah.

Dengan lantang Ki Jagaprana itu berkata selanjurnya, “Hanya ada dua pilihan. Menyerah atau mati.”

Beberapa orang pengikut Kiai Narawangsa memang mulai memikirkan untuk menyerah. Namun seorang yang bertubuh tinggi dan besar itu berteriak, “Hanya ada dua pilihan bagi kami. Menang atau mati.”

“Apakah aku tidak salah dengar?” bertanya Ki Jagaprana, “menyerah atau mati.”

“Tidak. Menang atau mati.”

Ki Jagaprana menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya orang itu termasuk seorang yang berpengaruh di lingkungan para pengikut Kiai Narawangsa. Sambil berteriak orang itu bertempur melawan dua orang cantrik. Katanya, “Kita sudah berada di ambang kemenangan. Tidak ada orang yang dapat menghalangi kita.”

Jantung Ki Jagaprana mulai tergelitik. Karena itu, maka ia pun mendekatinya sambil berkata, “Kau lihat aku membunuh kedua orang yang semula aku sangka kembar itu?”

“Jangan mengigau. Aku tidak peduli apa yang telah kau lakukan. Tetapi kami tidak akan menyerah.”

Ki Jagaprana yang mulai letih itu memang menjadi mudah tersinggung. Panasnya terik matahari, keringat yang membasahi tubuhnya serta pertempuran yang menjalar kemana-mana membuatnya cepat mengambil keputusan. Orang itu harus dihentikan. Kemudian yang lain akan mudah dikendalikan.

Karena itu, maka Ki Jagaprana pun telah mendekatinya sambil berkata, “Mulutmu memang harus dibungkam.”

“Mulutmu yang akan aku koyakkan jika kau berani mendekat.”

Ki Jagaprana pun melangkah semakin dekat. Kemudian katanya kepada kedua orang yang bertempur melawan orang yang bertubuh tinggi besar itu, “Minggirlah. Bantu kawan-kawanmu, biarlah aku selesaikan orang ini.”

Kedua orang cantrik yang bertempur melawan orang yang bertubuh tinggi besar itupun segera berloncatan menjauh, sementara Ki Jagaprana telah memasuki medan.

Orang yang bertubuh tinggi besar itu menggeram. Ketika Ki Jagaprana melangkah semakin dekat, maka orang yang bertubuh tinggi besar itu telah meloncat menyerangnya.

Kemarahan memang sudah membakar jantung Ki Jagaprana. Karena itu, maka ketika orang itu meloncat menyerang, maka Ki Jagaprana telah bergeser selangkah, sehingga serangan itu tidak mengenai sasarannya. Namun bersamaan dengan itu, senjata Ki Jagaprana telah terayun mendatar.

Segores luka telah menyilang di dada orang itu. Terhuyung-huyung ia terdorong beberapa langkah surut

Orang itu masih sempat mengumpat. Tetapi tubuhnya pun segera jatuh terguling.

Orang itu memang tidak terbunuh. Namun ia sudah tidak mempunyai kemampuan lagi untuk bangkit.

Sejenak Ki Jagaprana berdiri termangu-mangu. Bahwa orang bertubuh tinggi besar itu sudah tidak berdaya, ternyata pengaruhnya memang besar sekali. Para pengikut Kiai Narawangsa yang bertempur di sekitar tempat itu hatinya menjadi semakin kecut.

Dalam pada itu Ki Jagaprana berteriak lagi, “Siapa yang akan menyerah, akan mendapat perlakuan wajar. Tetapi siapa yang tidak menyerah, akan mengalami perlakuan yang buruk.”

Tetapi masih juga ada pengikut Kiai Narawangsa yang setia. Dengan lantang ia berteriak, “Hanya pengkhianat sajalah yang akan menyerah.”

Tetapi demikian mulutnya terkatub, maka ujung sepucuk tombak pendek telah mematuknya.

Orang itu terkejut. Tetapi ia sudah terlambat untuk berbuat sesuatu. Ujung tombak itu telah menghunjam dalam-dalam di dadanya.

Ketika orang itu rebah di tanah, maka seorang cantrik dengan tombak di tangan telah bergeser menjauhinya.

Dalam pada itu, sekali lagi Ki Jagaprana berkata lantang, “Siapa yang akan menyerah? Yang keras kepala seorang demi seorang akan mati di padepokan ini.”

Tidak ada seorang pun yang berani berteriak lagi. Ketika Ki Jagaprana menawarkan kesempatan sekali lagi untuk menyerah, maka beberapa orang dengan serta-merta telah bergeser menjauhi lawan-lawannya sambil meletakkan senjata mereka, “Aku menyerah.”

Pernyataan beberapa orang itu telah diikuti oleh beberapa orang yang lain lagi. Semakin lama semakin banyak, sehingga akhirnya hampir semua orang yang bertempur di sekitarnya telah menyerah pula.

Tetapi mereka yang telah bergeser jauh dari pintu gerbang itu, tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi di pintu gerbang itu. Karena itu, mereka yang tidak mendengar teriakan Ki Jagaprana dengan jelas tidak berbuat sebagaimana dilakukan oleh kawan-kawan mereka.

Mereka masih saja bertempur dengan garangnya.

Namun akhirnya mereka mengetahuinya pula, kenapa banyak kawan-kawannya yang menghentikan perlawanan.

“Krendhawa dan Mingkara telah mati terbunuh.”

Sementara itu, di pintu butulan yang lain, Manggada dan Laksana masih bertempur dengan sengitnya melawan Parung Landung dan Paron Waja.

Anak-anak muda itu telah bertempur habis-habisan. Nampaknya pertempuran itu akan menentukan, siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati.

Namun sebenarnyalah kegarangan Parung Landung dan Paron Waja tidak mampu mengimbangi kemampuan ilmu Manggada dan Laksana. Kedua orang anak muda yang sudah ditempa di sanggar oleh ayah Laksana dan yang kemudian dimatangkan oleh pengalaman. Bahkan kemudian mereka telah ditumbuh-besarkan oleh Ki Pandi dengan caranya.

Tubuh Manggada dan Laksana menjadi liat dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan yang bagaimana pun juga rumitnya. Di hutan mereka menjalani laku yang berat, namun yang sangat berarti bagi perkembangan ilmu mereka.

Parung Landung yang merasa dirinya mempunyai kemampuan yang sangat tinggi, semula merasa yakin akan dapat mengalahkan lawannya. Tetapi ternyata kemudian bahwa kemampuannya tidak dapat mengguncang ilmu Manggada. Goloknya yang besar setiap kali terayun tanpa mampu menyentuh sasarannya. Jika terjadi benturan, maka goloknya yang berat itu malah terasa sebagai beban.

Di bawah teriknya matahari, maka ujung pedang Manggada mulai menyusup menembus pertahanan Parung Indung. Betapa kuatnya Parung Landung, namun ketangkasan Manggada ternyata sulit untuk diimbanginya.

Demikianlah maka perlahan-lahan tetapi pasti, Manggada telah mendesak lawannya. Ayunan golok yang berat sama sekali tidak menyulitkannya. Senjata yang lebih kecil justru terasa lebih berarti. Ketika ujungnya sempat menggapai tubuh Parung Landung, maka terdengar Parung Landung itu mengeluh tertahan.

Parung Landung meloncat surut. Ia sempat mengusap bahunya dengan telapak tangannya yang menjadi merah.

Ketika Parung Landung dengan geram melangkah maju, terdengar tidak terlalu jauh daripadanya, Paron Waja berteriak kesakitan. Terhuyung-huyung ia melangkah surut. Namun kemudian tidak memberinya kesempatan. Dengan cepat Laksana memburunya. Pedangnya terjulur lurus mengarah ke dada.

Paron Waja masih berusaha menangkis. Tetapi karena keseimbangannya sedang goyah, maka ayunan senjatanya tidak mampu menepis ujung pedang Laksana. Karena itu, maka dalam keadaan yang goyah, ujung pedang Laksana telah terhunjam di dadanya, langsung menyentuh jantungnya.

Paron Waja tidak mempunyai kesempatan lagi. Tubuhnya terdorong semakin jauh, sehingga akhirnya jatuh terbanting di tanah.

Parung Landung yang melihat adiknya tertusuk di dadanya berteriak memanggil namanya sambil meloncat menjauhi lawannya, memburu kearah Paron Waja terpelanting jatuh.

Tetapi langkahnya terhenti, ketika Laksana pun menghadangnya sambil mengacukan pedangnya.

Parung Landung termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya Manggada maju selangkah demi selangkah mendekatinya.

“Menyerahlah” berkata Manggada, “kau sudah terluka. Kau tidak akan dapat melawan kami berdua, sementara orang-orangmu tidak akan sempat menyelamatkanmu, karena mereka telah terikat dengan lawannya masing-masing.

Parung Landung menggeram. Ketika ia memandang pertempuran di sekitarnya, maka ia memang tidak dapat mengharapkan para pengikut Kiai Narawangsa membantunya. Setiap orang harus berjuang untuk melindungi dirinya sendiri.

Sementara itu, Manggada dan Laksana telah menjadi semakin dekat. Keduanya telah mengacukan senjata mereka.

Parung Landung masih berdiri tegak di tempatnya. Sementara Manggada sekali lagi berkata, “Jangan melawan lagi. Tidak akan ada gunanya”

Parung Landung berdiri termangu-mangu. Dari lukanya masih mengembun darahnya yang merah.

Namun senjata Parung Landung itu seakan-akan telah terkulai. Ujungnya bahkan telah menyentuh tanah.

Kepala anak muda itu tertunduk lesu. Sekali-sekali ia masih berpaling memandang tubuh adiknya yang terkapar.

“Menyerahlah. Letakkan senjatamu.” berkata Manggada kemudian.

Parung Landung itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun mulai membungkuk untuk meletakkan senjatanya. Nampaknya ia tidak ingin melemparkan goloknya yang telah mengawani dalam petualangannya yang panjang.

Laksana melangkah mendekat. Ia berniat untuk memungut senjata itu setelah diletakkan oleh Parung Landung.

Namun tiba-tiba saja Manggada berteriak, “Laksana, hati-hati.”

Laksana terkejut. Tetapi yang tidak dikehendaki itu telah terjadi. Parung Landung yang seolah-olah sudah meletakkan senjatanya itu, tiba-tiba telah meloncat menyerang Laksana dengan garangnya sambil berteriak, “Aku bunuh kau karena kau sudah membunuh saudaraku.”

Laksana memang agak terlambat menangkis serangan itu. Golok yang berat itu terjulur langsung mengarah ke dada Laksana.

Serangan itu terjadi demikian cepatnya. Laksana yang menepis golok lawannya itu tidak seluruhnya berhasil. Ujung golok itu ternyata masih sempat mengoyak pundaknya.

Tubuh Laksana bagaikan diputar. Anak muda itu benar-benar telah kehilangan keseimbangannya. Dengan derasnya Laksana terlempar jatuh. Pedangnya terlepas dari tangannya dan terpental beberapa langkah daripadanya.

Parung Landung dengan cepat meloncat memburunya. Goloknya yang besar itu pun segera terangkat Dengan geramnya ia mengayunkan goloknya untuk menghabisi anak muda yang telah membunuh saudaranya itu.

Laksana tidak dapat berbuat banyak. Yang dapat dilakukan adalah melindungi dahinya dengan lengannya ketika golok itu mengaiah kekepalanya.

Tetapi golok itu tidak pernah memecahkan kepala Laksana atau mematahkan lengannya. Demikian golok itu terayun, maka Parung Landung itu terdorong dengan derasnya. Justru dari dadanya tersembul ujung pedang yang ditusukkan dari punggung.

Parung Landung tidak sempat mengaduh. Goloknya yang terayun itu tidak mengenai sasarannya justru ketika Parung Landung itu jatuh tertelungkup. Ketika tubuhnya terdorong maju, maka kakinya sudah menyangkut tubuh Laksana yang terbaring di hadapannya.

Bukan hanya Parung Landung, bahkan Manggada yang telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyelamatkan Laksana telah terdorong dan seperti Parung Landung, kakinya juga terantuk tubuh Laksana.

Sejenak kemudian, Manggada pun telah bangkit berdiri. Demikian pula Laksana meski pun harus terdorong tubuh Parung Landung.

Demikian mereka berdiri, maka tubuh Laksana justru telah menjadi merah oleh darah. Kecuali darahnya sendiri yang mengalir dari lukanya di pundaknya, darah Parung Landung telah membasahi tubuhnya pula.

Manggada yang kemudian telah menarik pedangnya, memandangi tubuh kedua orang saudara yang terbaring diam itu.

Laksana yang telah memungut senjatanya pula, kemudian berdiri tegak memandangi arena pertempuran yang semakin meluas.

Tetapi kekuatan Kiai Narawangsa sudah menjadi semakin tipis. Mereka bahkan seakan-akan telah kehilangan hubungan yang satu dengan yang lain, sehingga mereka harus menentukan langkah mereka masing-masing.

Manggada dan Laksana pun kemudian telah mendekati arena pertempuran itu. Beberapa sosok tubuh telah terbaring diam. Namun masih ada yang merintih dan mengaduh karena luka-lukanya.

Ketika Manggada itu telah berdiri di arena, maka ia pun segera berteriak, “Menyerahlah. Tidak ada gunanya lagi kalian bertempur. Lihat, kedua orang pemimpin kalian telah terbunuh.”

Para pengikut Kiai Narawangsa memang menjadi ragu-ragu. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi di medan yang lain. Tetapi rasa-rasanya keadaan kawan-kawannya menjadi tidak jauh berbeda. Seandainya mereka mampu mendesak para cantrik dari padepokan itu, maka aliran kemenangan mereka yang memasuki pintu gerbang utama tentu sudah sampai dan memenuhi seisi padepokan.

Tetapi mereka belum melihat kelompok-kelompok yang memasuki padepokan itu dari pintu gerbang utama sampai ke tempat itu.

Dalam pada itu, sekali lagi mereka mendengar suara Manggada, “Aku beri kesempatan kepada kalian untuk menyerah. Jika kesempatan ini kalian sia-siakan, maka kalian tidak akan pernah mendapat kesempatan lagi.”

Para pengikut Kiai Narawangsa itu memang tidak melihat kemungkinan lain. Apalagi sebagian dari mereka rasa-rasanya sudah menjadi berputus-asa. Pertempuran diteriknya panas matahari tanpa melihat harapan. Pemimpin mereka telah terbunuh, sehingga dengan demikian, maka kedua orang anak muda yang telah membunuh pemimpin mereka itu akan dapat membunuh mereka pula tanpa ampun.

Karena itu, selagi masih ada kesempatan, maka beberapa orang diantara mereka yang ketahanan jiwaninya lemah, telah memutuskan untuk menyerah.

Tetapi sebagaimana di bagian lain dari kelompok-kelompok pengikut Kiai Narawangsa, maka di kelompok-kelompok itu pun terdapat orang-orang yang setia kepada Kiai Narawangsa. Dengan lantang orang itupun berteriak, “Jika nanti Kiai Narawangsa mengambil alih padepokan ini, maka siapa yang berkhianat akan digantung.”

Keragu-raguan memang melanda para pengikut Kiai Narawangsa. Untuk meyakinkan mereka, maka Manggada dan Laksana pun benar-benar telah turun kedalam arena pertempuran.

Ternyata pedang kedua orang anak muda itu benar-benar membuat bulu tengkuk para pengikut Kiai Narawangsa itu berdiri. Karena itu, maka mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Ketika sekali lagi Manggada meneriakkan kesempatan untuk menyerah, maka beberapa orang diantara mereka pun langsung melemparkan senjata-senjata mereka.

Beberapa orang yang setia kepada Kiai Narawangsa masih berusaha untuk membakar keberanian kawan-kawan mereka Tetapi masih saja ada diantara mereka yang melemparkan senjata mereka.

Pertempuran itu pun kemudian telah mereda. Mereka yang tidak mau menyerahkan dirinya, harus menghadapi kenyataan, bahwa mereka benar-benar akan dihancurkan.

Dengan demikian maka pertempuran di beberapa tcmpat pun sudah menjadi semakin mereda. Sebagian dari para pengikut Kiai Narawangsa sudah menyerah.

Namun di halaman depan padepokan itu, pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Apalagi karena Kiai Narawanagsa sendiri masih bertempur melawan Ki Ajar Pangukan. sementara Nyai Wiji Sari bertempur melawan Ki Pandi.

Namun kehadiran orang-orang tua yang berilmu tinggi di arena pertempuran itu sangat membatasi gerak para pengikut Kiai Narawangsa.

Ki Sambi Pitu yang telah kehilangan lawannya, telah berada diantara para cantrik pula. Sementara itu Ki Lemah Teles dan Ki Warana bersama-sama para cantrik telah membersihkan para pengikut Kiai Narawangsa yang sudah terlanjur menyusup diantara bangunan-bangunan di padepokan itu.

Dalam pada itu, Kiai Narawangsa sendiri ternyata tidak segera dapat mengalahkan lawannya. Bahkan Ki Ajar Pangukan itu selalu dapat mengimbangi ilmunya yang selalu ditingkatkannya.

Kiai Narawangsa itu semakin lama menjadi semakin gelisah. Kematian Gunasraba telah membuat hatinya bagaikan terkoyak. Kecuali ia merasa kehilangan, menurut perhitungannya, lawan Gunasraba itu akan dapat dengan semena-mena menghancurkan para pengikutnya. Sedangkan Nyai Wiji Sari masih juga belum dapat melepaskan diri dari lawannya yang bongkok itu.

Sementara itu, Kiai Narawangsa pun mulai dapat menilai kenyataan yang dihadapinya. Para pengikutnya sudah menyusut dengan cepat. Para pemimpin kelompoknya sudah terbunuh di medan.

Karena itu, maka satu-satunya harapannya adalah membinasakan lawannya, kemudian menghadapi yang lainnya yang berkeliaran di antara para cantriknya.

Dalam saat-saat yang gawat itu Kiai Narawangsa telah mengerahkan ilmu pamungkasnya. Sejenak ia sempat memusatkan nalar budinya. Kemudian disebutnya sumber-sumber kekuatan dan daerah kelam. Kiai Narawangsa memang mengandalkan ilmunya berdasarkan kekuatan dari kerajaan hitam.

Ketika kemudian Kiai Narawangsa itu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, maka rasa-rasanya tubuhnya telah bergetar. Semacam awan yang hitam mulai mengabut di sekitarnya. Semakin lama semakin tebal. Awan itu mulai berputar perlahan-lahan. Tetapi semakin lama menjadi semakin cepat.

Ki Ajar Pangukan yang berpengalaman itu pun segera menyadari, bahwa lawannya telah mengetrapkan ilmunya yang sangat berbahaya. Awan yang kehitam-hitaman itu akan dapat melibatnya, mengangkatnya tinggi-tinggi, kemudian membantingnya ke tanah.

Karena itulah, maka Ki Ajar Pangukan harus menanggapinya. Ia tidak ingin dilibat oleh awan yang akan menjadi semacam angin pusaran itu.

Dengan cepat, Ki Ajar Pangukan telah mengambil jarak untuk mendapat kesempatan melawan awan yang berputar itu.

Para cantrik dan bahkan para pengikut Kiai Narawangsa sendiri yang sedang bertempur telah menyibak. Tidak seorang pun yang dapat bertahan jika awan yang kehitam-hitaman itu melibat mereka dan mengangkatnya ke udara. Kemudian membantingnya jatuh di atas tanah. Tubuh mereka tentu akan lumat dan mereka akan kehilangan nyawa mereka.

Ki Ajar Pangukan memperhatikan awan itu dengan dahi yang berkerut.

Sementara itu, Ki Sambi Pitu, Ki Lemah Teles serta para cantrik menyaksikan ungkapan ilmu Kiai Narawangsa itu dengan jantung yang berdebar-debar.

Ki Pandi yang sedang bertempur melawan Nyai Wiji Sari pun sempat melihat awan yang berputaran itu sejenak. Sementara itu Nyai Wiji Sari yang melihat kerut di dahi Ki Pandi berkata, “Nah, bongkok buruk. Apa yang dapat dilakukan oleh kawan-kawanmu untuk melawan kemampuan Kiai Narawangsa. Ilmu itu adalah ilmu yang jarang sekali dipergunakan. Tetapi karena kalian membuatnya sangat marah, maka tidak ada pilihan lain dari Kiai Narawangsa kecuali membinasakan kalian dengan ilmunya.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi ia tetap memelihara jarak dengan Nyai Wiji Sari, agar tidak terjadi serangan yang tiba-tiba.

“Bongkok buruk. Kenapa kau tidak menghentikan saja perlawananmu? Menyerahlah. Kau akan mendapat hukuman yang ringan.”

“Apakah pengertian hukuman yang ringan itu didalam lingkunganmu?” bertanya Ki Pandi, “dipenjara setahun, dua tahun atau harus bekerja paksa di kebun-kebun di bawah teriknya matahari atau justru digantung?”

“Apapun ujudnya, tetapi tentu lebih baik daripada disambar angin pusaran itu.”

Tetapi sikap Ki Pandi itu mengejutkan sekali. Orang bongkok itu justru tersenyum sambil berkata, “Aku tidak mengira bahwa didalam kalutnya pertempuran yang menentukan ini. Kiai Narawangsa sempat mengajak bermain-main.”

“Gila kau. Ia tidak sedang bermain-main. Ilmu itu benar-benar dapat membunuhmu.”

Tetapi Ki Pandi menggeleng. Katanya sambil tertawa, “Bagi Ki Ajar Pangukan, maka asap-asapan itu hanya dapat membuatnya sedikit terbatuk-batuk.”

“Tidak” Nyai Wiji Sari hampir berteriak, “lihat. Kawanmu itu akan mati dilibat, diangkat dan kemudian dihempaskan diatas batu padas.”

“Nyai keliru” sahut Ki Pandi, “penilainan itu adalah permainan Ki Ajar Pangukan dimasa kanak-kanaknya.”

“Iblis bongkok. Kau akan melihat, bagaimana tubuh kawanmu itu hancur nanti”.

“Marilah kita bertaruh, Nyai” desis Ki Pandi.

Nyai Wiji Sari tidak menyahut. Tetapi wajahnya nampak menjadi tegang.

Dalam pada itu, asap yang kehitam-hitaman serta berputar semakin cepat itu telah dilihat pula oleh para pengikut Kiai Narawangsa yang berada di bagian belakang padepokan. Bahkan mereka yang telah menyerah pun menyesali keputusannya yang tergesa. Ilmu yang nggegirisi itu tentu akan sanggup menyelesai-kan pekerjaan Kiai Narawangsa yang berat itu.

“Kenapa kita demikian tergesa-gesa menyerah” desis salah seorang pengikut Kiai Narawangsa.

“Bukan salah kita. Kenapa baru sekarang Kiai Narawangsa melepaskan ilmunya? Kenapa tidak tadi sebelum kita menyerah?”

“Awan yang kehitam-hitaman itu akan dapat menghancurkan kawan-kawan kita sendiri. Agaknya kawan-kawan kita sekarang telah berpencar, sehingga Kiai Narawangsa mendapat kesempatan untuk melepaskan ilmunya itu.”

“Alangkah bobohnya kita disini.”

Tetapi para pengikut Kiai Narawangsa yang sudah terlanjur menyerah itu tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Senjata mereka telah dirampas. Di sekelilingnya para cantrik siap berjaga-jaga dengan senjata telanjang.

Namun seorang diantara para pengikut Kiai Narawangsa yang sudah terlanjur menyerah itu bangkit berdiri sambil berteriak, “Itulah akhir dari segala-galanya. Padepokan ini akan hanyut diterbangkan oleh angin pusaran itu. Kita semuanya pun akan hanyut pula. Kemudian dilepaskan di udara sehingga kita akan mati terbanting di atas tanah ini. Tetapi itu lebih baik bagi kita daripada menjadi tawanan”

Mulutnya terkatup ketika tiba-tiba saja pangkal landean tombak menyambar mulutnya. Dua giginya tanggal dan mulutnya pun mulai berdarah.

Dalam pada itu, maka angin pusaran itu mulai merayap menuju ke tempat Ki Ajar Pangukan berdiri.

Ki Ajar Pangukan menyadari, apa yang sedang dihadapinya itu. Karena itu, maka ia pun telah bersiap sebaik-baiknya. Ki Ajar Pangukan sudah bertekad untuk beradu ilmu, apapun yang akan terjadi atas dirinya.

Karena itu, maka Ki Ajar Pangukan itu pun segera mempersiapkan dirinya. Dipusatkannya nalar budinya menghadapi ilmu lawannya itu.

Ketika pusaran asap yang kehitam-hitaman itu mendekatinya, maka Ki Ajar Pangukan itu pun telah mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dilandasi dengan segenap kekuatan ilmu dan kemampuannya, maka Ki Ajar Pangukan itu telah meloncat dan mengayunkan tangannya menghantam pusaran kabut yang kehitam-hitaman itu.

Satu benturan ilmu telah terjadi. Kabut yang kehitam-hitaman dan berputar menghampiri Ki Ajar Pangukan itu tiba-tiba telah pecah. Angin pusaran itu bagaikan telah tertiup eleh prahara sehingga pecah bercerai berai.

Kiai Narawangsa terkejut melihat akibat dari benturan ilmu itu. Selangkah ia mundur. Ia hampir tidak percaya, bahwa ilmunya itu telah dipecahkan sehingga tidak berdaya sama sekali.

Dalam pada itu, selagi Kiai Narawangsa itu termangu-mangu, maka Ki Ajar Pangukan telah menghentakkan tangannya sekali lagi mengarah langsung kepada Kiai, Narawangsa.

Tangannya sama sekali tidak menyentuh Kiai Narawangsa yang masih berdiri termangu-mangu karena ungkapan ilmunya itu hancur dan kemudian hanyut tidak berbekas.

Namun selagi kabut yang kehitam-hitaman itu menjadi semakin tipis, maka Kiai Narawangsa itu terkejut sekali. Ayunan tangan Ki Ajar Pangukan yang mengarah kepadanya itu, telah menghentakkan kekuatan dan ilmu yang dahsyat sekali.

Tetapi Kiai Narawangsa itu terlambat. Kekuatan ilmu Ki Ajar Pangukan itu menghantam tubuhnya dengan kekuatan yang tidak terlawan.

Tubuh Kiai Narawangsa itu pun telah terlempar beberapa langkah surut. Kemudian jatuh terbanting di atas tanah.

Sekali Kiai Narawangsa itu menggeliat. Namun kemudian tubuhnya menjadi tidak berdaya sama sekali.

Ketika ia berusaha untuk bangkit, maka tidak ada lagi kekuatan yang dapat menggerakkan tubuhnya.

Nyai Wiji Sari pun terkejut pula menyaksikan peristiwa itu. Di luar sadarnya, maka ia pun segera berlari ke arah tubuh Kiai Narawangsa terbaring. Dengan serta-merta Nyai Wiji Sari pun berlutut di sisi tubuh yang menjadi sangat lemah itu.

“Kiai” suara Nyai Wiji Sari bagaikan tersangkut di kerongkongan.

Kiai Narawangsa masih membuka matanya. Dilihatnya Nyai Wiji Sari yang berlutut di sebelahnya.

“Nyai” suaranya lemah sekali, “aku tidak dapat lagi membantumu mengambil anakmu.”

“Kiai” desis Nyai Wiji Sari, “bangkitlah. Jangan tinggalkan aku sendiri di sarang serigala ini.”

Wajah Kiai Narawangsa menjadi merah sesaat. Namun kemudian wajah itu menjadi pucat kembali. Nafasnya menjadi tersengal-sengal.

“Nyai, aku tidak kuasa menyeberangi batas ini.”

“Tidak. Kau adalah seorang yang tidak terkalahkan. Kau mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Atasi kesulitan bagian dalam tubuhmu, Kiai.”

Kiai Narawangsa menggeleng lemah. Katanya, “Siapa pun aku Nyai, ternyata aku juga mempunyai keterbatasan. Hati-hatilah membawa diri Nyai. Kau memang berada di sarang serigala-serigala yang lapar.”

“Kiai, Kiai.” Nyai Wiji Sari menggungcang-guncang tubuh itu. Namun Kiai Narawangsa telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Nyai Wiji Sari yang garang itu menangis. Kepergian Kiai Narawangsa benar-benar tidak diduganya. Ketika mereka berangkat dari padepokan mereka, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sudah demikian yakin akan keberhasilan mereka. Tetapi ternyata mereka harus menghadapi kekuatan yang tidak mereka duga sebelumnya.

Ternyata bahwa Kiai Narawangsa itu telah terbunuh.

Ki Ajar Pangukan berdiri termangu-mangu. Di sebelahnya Ki Pandi mengangguk-angguk kecil. Ki Lemah Teles, Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana bahkan Manggada dan Laksana pun telah berdiri di sekitar tubuh yang terbaring itu.

Pertempuran yang terjadi di halaman itu pun dengan cepat menyusut. Tanpa ada yang memberi peringatan atau mengancam, para pengikut Kiai Narawangsa itu telah menyerah.

Namun berbeda dengan mereka, Nyai Wiji Sari itu tiba-tiba telah bangkit. Pedangnya masih berada di tangannya. Bahkan pedang itu pun kemudian telah berputar dengan cepatnya.

Orang-orang yang berdiri di seputarnya berloncatan surut. Mereka tidak menduga bahwa tiba-tiba saja Nyai Wiji Sari telah mengamuk seperti seseorang yang kerasukan iblis.

Yang terutama menjadi sasaran serangan-serangannya adalah Ki Pandi, sehingga Ki Pandi itupun berloncatan surut beberapa langkah.

“Nyai” Ki Pandi mencoba untuk mencegahnya, “jangan Nyai. Jangan kehilangan akal seperti itu.”

Tetapi Nyai Wiji Sari tidak mendengarnya. Serangan-serangannya datang beruntun. Bahkan kemudian dengan membabi buta.

Kiai Pandi terpaksa setiap kali berloncatan menghindar, menangkis dan bahkan sekali-sekali membentur senjata Nyai Wiji Sari.

Tetapi Ki Pandi sendiri tidak pernah membalas serangan-serangan itu.

Nyai Wiji Sari yang mengetahui bahwa lawannya tidak pemah membalasnya menyerang, berkata lantang, “Kenapa kau hanya berloncatan menghindar? Kenapa kau tidak membalas menyerang.”

“Sabarlah Nyai. Sebenarnya apa yang kau cari. Jika kau ingin mendapatkan anakmu, itulah anakmu. Tidak seorang pun yang akan menghalangimu. Ambil anakmu dan bawa kemana kau mau.”

“Kau berusaha untuk melemahkan tekadku untuk membunuh-mu dan membunuh kawan-kawanmu. Ayo, katakan kepada kawan-kawanmu itu. Kita akan bertempur sampai tuntas. Aku sanggup membunuh semua penghuni padepokan ini.”

“Nyai” berkata Ki Pandi sambil menghindari serangan-serangannya., “Cobalah kau pergunakan nalarmu. Berpikirlah dengan tenang. Jangan kau biarkan gejolak perasaanmu itu membakar dadamu.”

Nyai Wiji Sari tidak mendengarkannya sama sekali. Perempuan itu masih saja menyerang Ki Pandi dengan garangnya.

Tetapi akhirnya Ki Pandi tidak mencegahnya lagi. Dibiarkannya perempuan itu mengerahkan tenaga dan kemampuannya. Bahkan Ki Pandi itu justru sekali-sekali mulai menyerang, menyentuh tubuh lawannya dengan serulingnya meskipun tidak menimbulkan akibat apapun juga. Tetapi sentuhan-sentuhan itu telah memancing Nyai Wiji Sari untuk mengerahkan tenaga dan kemampuannya.

Ki Ajar Pangukan, Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana dan Ki Lemah Teles dan beberapa orang yang lain memang dapat mengetahui maksud Ki Pandi. Karena itu, mereka sama sekali tidak mencegahnya.

Selangkah demi selangkah Ki Pandi memancing lawannya mendekati tugu kecil di depan pendapa bangunan utama padepokan itu, sehingga akhirnya keduanya telah bertempur hanya beberapa langkah saja dari tugu kecil itu.

Namun betapapun Nyai Wiji Sari mengerahkan kemampuannya, namun ia sama sekali tidak pernah mampu menyentuh tubuh lawannya dengan ujung pedangnya. Tetapi Ki Pandi pun tidak pula pernah menyakiti Nyai Wiji Sari.

Betapapun tinggi daya tahan tubuh Nyai Wiji Sari, akhirnya iapun telah sampai pada batas ketahanannya. Semakin bernafsu ia ingin membunuh lawannya, maka tenaganya pun menjadi semakin terperas habis.

Akhirnya, Nyai Wiji Sari itu tidak dapat mengingkari bahwa tenaganya justru mulai menyusut.

Kenyataan itulah yang kemudian dihadapi oleh Nyai Wiji Sari. Ketika tenaganya benar-benar sudah terkuras habis, maka serangan-serangannya menjadi tidak berarti lagi. Nyai Wiji Sari setiap kali justru terhuyung-huyung terseret oleh ayunan pedang sendiri.

Akhirnya, Nyai Wiji Sari itu pun justru telah terjatuh di sisi tugu kecil itu.

Ki Pandi berdiri termangu-mangu sejenak. Nyai Wiji Sari masih menggenggam pedangnya yang kehitam-hitaman. Meskipun pedangnya tidak mengkilap, tetapi pedang itu tentu tajam sekali.

“Nyai” suara Ki Pandi lunak, “sudahlah. Bukankah tidak ada artinya lagi jika Nyai masih saja membiarkan perasaan Nyai bergejolak.”

Nyai Wiji Sari tidak menyahut.

“Nyai, anakmu sudah tidak ada lagi. Kiai Banyu Bening juga sudah tidak ada. Aku tidak tahu, apa yang akan kau lakukan terhadap Kiai Banyu Bening seandainya ia masih ada.”

Nyai Wiji Sari tidak segera menjawab.

“Terakhir, Kiai Narawangsa pun sudah tidak ada pula Nyai.”

Nyai Wiji Sari tidak menjawab. Tetapi yang terdengar kemudian adalah isak tangisnya. Bahkan tiba-tiba dipeluknya tugu itu, seperti ia sedang memeluk anaknya.

Pertempuran pun benar-benar telah selesai, tidak ada perlawanan lagi di seluruh padepokan itu. Semua pengikut Kiai Narawangsa sudah menyerah.

Ketika matahari kemudian turun menjelang senja, maka Nyai Wiji Sari itu berdiri di pintu gerbang padepokan. Ki Ajar Pangukan, Ki Pandi, Ki Lemah Teles, Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana bahkan Manggada dan Laksana mengantarnya sampai keluar pintu gerbang.

“Aku akan melihat dunia dari sisi yang lain” berkata Nyai Wiji Sari, “aku titip anakku. Aku yakin bahwa ia tidak akan tersia-sia di sini. Aku akan mencari jalan untuk dapat menebus segala dosa dan kesalahanku. Semuanya itu bersumber dari ketidak-setiaanku.”

Ki Ajar Pangukan mengangguk kecil sambil berdesis, “Hati-hatilah Nyai.”

Nyai Wiji Sari itupun kemudian berjalan meninggalkan padepokan itu sambil berdesis, “Terima kasih atas kesempatan yang kalian berikan kepadaku.”

Perempuan itupun kemudian melangkah dengan langkah yang tetap menjauhi padepokan itu. Tetapi ia tidak lagi mengenakan pakaian khususnya. Ia mengenakan pakaian sebagaimana seorang perempuan tanpa senjata dilambungnya.

Matahari masih bersinar. Sinarnya tidak lagi menggigit. Tetapi matahari senja itu masih memberikan cahaya kepada Nyai Wiji Sari yang berjalan menjauh. Ia tidak tau kemana ia harus memilih jalan yang lain dari jalan yang pernah ditempuhnya bersama Kiai Narawangsa.

Meskipun kemudian langit menjadi semakin suram, tetapi di-hati Nyai Wiji Sari, matahari justru memancarkan cahayanya yang terang.

(Oo-ismo-dwkz-mch-oO)

“TAMAT”

0oOdw-aremaOo0

 

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 5 – Matahari Senja

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | TAMATMAT

ISTANA YANG SURAM

Istana Yang Suram-01

ISTANA YANG SURAM

Sepanjang yang kami ketahui, kisah ini adalah karya SH Mintardja terakhir yang belum kami unggah di dunia maya.

Kisah ini berlatar belakang kerajaan Demak, dimana diisukan ada sebuah senjata Kerajaan Majapahit yang dibawa oleh seorang pangeran yang sedang “melarikan diri”. Perburuan keris tersebut, menyebabkan persaingan antara kelompok keturunan Majapahit dan keturunan Kerajaan Kediri.

He he he …, embuhlah… saya agak lupa ceritanya, silahkan ditunggu saja kisahnya pada saatnya nanti setelah Serial Arya Manggada selesai diwedar.

Serial Arya Manggada (Matahari senja) jilid terakhir diunggah Rabu 12 Nopember 2014.

Jika tidak ada halangan, Sabtu atau minggu jilid pertama Istana Yang Suram sudah bisa dinikmati.

 

Nuwun

Satpampelangi