Ruang Baca Karya SH Mintardja

Pengantar

Blog ini dibuka sebagai bagian untuk menyebarkan “virus” cerita silat dari bumi sendiri yang dituturkan oleh Almarhum Singgih Hadi Mihardja (SH. Mintadja). Biodata beliau bisa dilihat di sini. Kita tidak membahas biodata beliau tetapi, ingin menyebarkan karya beliau yang banyak dicari oleh para penggemar pada masanya, baik pembaca di Harian Kedaulatan Rakyat (KR) dan Bernas, maupun melalui buku-buku yang diterbitkan oleh berbagai media, Kedaulatan Rakyat, Panuluh atau Muria. Sedangkan buku-buku tersebut sudah mulai langka karena sudah mulai rusak dan tidak dicetak ulang kembali.

SH Mintardja dikabarkan telah menulis lebih dari 400 buku. Cerita berseri terpanjangnya adalah  Api di Bukit Menoreh yang terdiri dari 396 buku. Berikut ini daftar beberapa karya sang pengarang itu:

  1. Pelangi di Langit Singasari (79 jilid)
  2. Sepasang Ular Naga di satu Sarang (37 jilid)
  3. Panasnya Bunga Mekar (31 jilid)
  4. Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan (118 jilid)
  5. Api di Bukit Menoreh (396 jilid)
  6. Tanah Warisan (8 jilid)
  7. Matahari Esok Pagi (15 jilid)
  8. Meraba Matahari (9 jilid)
  9. Suramnya Bayang-bayang (34 jilid)
  10. Sayap-sayap Terkembang (67 jilid)
  11. Istana yang Suram (14 jilid)
  12. Nagasasra Sabukinten (29 jilid)
  13. Bunga di Batu Karang (14 jilid)
  14. Yang Terasing (13 jilid)
  15. Mata Air di Bayangan Bukit (23 jilid)
  16. Kembang Kecubung (6 jilid)
  17. Jejak di Balik Kabut (40 jilid)
  18. Tembang Tantangan (24 jilid)
  19. Arya Manggada (30 jilid)
  20. dll (belum punya datanya)

Belum ada data mana yang paling dulu, dan mana yang terakhir. Tetapi, melihat beberapa judul yang tidak sampai berakhir dengan semestinya ada beberapa yang overlap dan sama-sama tidak berakhir sampai akhir hayat beliau. Seperti pendekar yang diceritakannya, yang bangga kalau mati dalam perang, beliau juga meinggal pada saat bukunya belum selesai (menurut pikiran kita) karena berakhir menggantung.

Sudah banyak blog yang mengupload dalam bentuk ebook maupun ditempel di halaman, semakin baik karena “virus” yang dikembangkan dapat beranak-pinak.

Ada beberapa website yang mengunggah “pertama” kalinya karya-karya adiluhung Almarhum SH Mintardja, dalam format dejavu (djvu) diantaranya adalah: http://adbmcadangan.wordpress.com (Api di Bukit Menoreh) yang dipandegani oleh Ki GD dan Nyi Senopati,  http://pelangisingosari. wordpress.com (Pelangi di Langit Singasari),yang dipandegani oleh Ki Arema dan P. Satpamnya;  http://cersilindonesia.wordpress.com (Mata Air di Bayangan Bukit, Bunga di Batu Karang, Matahari Esok Pagi, dan tembang Tantangan) yang dipandegani oleh Ki Ismoyo dan di facebook group yang dipandegani oleh Ki Laz, Ki Zaki dan Ki Sukra (Suramnya bayang-bayang, Sayap-sayap Terkembang, Jejak di Balik Kabut, Kembang Kecubung, Meraba Matahari, dan Yang Terasing).

Wedaran dalam format dejavu (djvu) telah dikonversi ke berbagai format dan sekarang diupload dimana-mana. Satu lagi disediakan untuk menjadi taman bacaan sanak-kadang yang sedang iseng dan ingin menikmati karya almarhum SH Mintardja di sini. Selama kuota masih belum penuh (3GB) akan diupload satu persatu dimulai dari Seri Pelangi di Langit Singosari, Nagasasra & Sabukinten, Api di Bukit Menoreh, dst.

Khusus Seri Pelangi di Langit Singosari, naskah ini dipindahkan dari tempat aslinya http://pelangisingosari.wordpress.com yang mulai kelebihan memori sehingga menyulitkan upload naskah baru. Api di Bukit Menoreh dipindahkan dengan sedikit editing dari http://adbmcadangan.wordpress.com. Yang lain dicomot sana-sini, khususnya dari website Nyi DewiKZ di http://kangzusi.com.

Terimakasih kepada:

  1. Ki GD (dan Nyi Senopati) yang telah menyediakan blog  ADBM di adbmcadangan.wordpress.com, Ki Ismoyo yang telah menyediakan blog gagakseta di cersilindonesia.wordpress.com, Nyi DewiKZ yang menyediakan kangzusi.com (dkk).
  2. sanak-kadang yang telah bersusah payah konversi dari djvu ke doc/docx sehingga naskahnya bisa diupload disini:
    1. ADBM (kerja keroyokan Ki Prastawa, Ki Abu Gaza, Ki Sugita, Ki Sarip Tambak Oso, Mahesa, Ki Kuncung, Ki Raharga, Ki Arema, Ki Ajargurawa, K4ng tOmmy, dll saya tidak hafal, maaf…)
    2. Pelangi di Langit Singasari; Pasukan Retype: Ki Raharga, Ki Sunda,Ki Sukasasrana dan Dewi KZ; pasukan proofing/editing: Ki Raharga, Ki Sunda, Ki Hartono, Ki Wijil/Wiek, dan Ki Mahesa
    3. Sepasang Ular Naga di satu Sarang, pasukan retype: Ki Mahesa, Ki Ayasdewe, dan Ki Sunda; pasukan proofing/editing: Ki Mahesa, Ki Ayasdewe, dan Ki Sunda
    4. Panasnya Bunga Mekar, convert/proofing/editing; Nyi Dewi KZ dan Ki Banuaji
    5. Hijaunya Lembah dan Hijaunya Lereng Pegunungan,  convert/proofing/editing: Ki Raharga, Ki Dino, Nyi Dewi KZ.
    6. lain-lain: sanak-kadang yang melakukan convert/proofing/editing di website Tirai Kasih yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Selamat menikmati.

Malang, Maret 2011

Arema

————————————————————————————————————

Alamat kontak: pelangisingosari@gmail.com

AM_MS-03

Serial ARYA MANGGADA

Episode V: MATAHARI SENJA

JILID 3

kembali | lanjut

AMMS-03KI PANDI memang tidak dapat mengelak. Ia pun berjalan di antara dua orang yang memegangi kedua lengannya.

Semua mata memandang kearahnya. Seorang bongkok yang berjalan tertatih-tatih. Namun di wajahnya, betapa orang bongkok itu menjadi sangat cemas.

Delima menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Rasa-rasanya, ia ingin berteriak, bahwa orang bongkok itu adalah sahabatnya. Ia bukan orang jahat Tetapi jangankan berteriak, berbisik pun mereka dilarang.

Sejenak kemudian, diapit oleh dua orang laki-laki bertubuh tegap. Ki Pandi berdiri di hadapan kakak Ki Krawangan yang masih berada ditangga.

“Siapa kau he?” bertanya kakak Ki Krawangan itu. Ki Pandi menjadi bimbang. Ia tahu bahwa tidak seorang pun boleh berbicara. Karena itu, ia menduga bahwa pertanyaan itu memang merupakan satu pancingan agar ia melanggar ketentuan yang berlaku didalam sanggar itu.

“Kau siapa orang bongkok?” kakak Ki Krawangan itu mulai membentak.

Tetapi Ki Pandi masih belum menjawab, sehingga kakak Ki Krawangan itu berteriak, “He, apakah kau tuli?”

Ki Pandi mengerutkan dahinya. Tetapi kemudian Ki Pandi memberi isyarat dengan gerak tangannya, apakah ia dapat membuka mulutnya.

Kakak Krawangan itu termangu-mangu sejenak. Ia memang agak ragu. Namun kemudian iapun berkata, “Jawablah. Kau telah mendapat ijin untuk berbicara.”

Ki Pandi menarik nafas panjang. Dengan gagap ia pun berkata, “Aku ingin mendengarkan sesorah di sanggar ini. Selama ini aku tidak mempunyai pegangan hidup menghadapi hari-hari tua yang tidak dapat aku elakkan. Aku ingin mendapatkan ketenangan di hari-hariku yang terakhir. Karena itu, aku datang kemari. Jika di-sini aku menemukan ketenangan, maka aku akan menyatakan diri dengan saudara-saudaraku disini.”

“Omong kosong” geram kakak Ki Krawangan, “di hari-hari terakhir daerah ini telah didatangi oleh orang-orang asing yang mengganggu ketenangan hidup kami. Di padepokan, dua orang yang mengaku pedagang telah merusak suasana kehidupan damai di padepokan. Sekarang kau datang kemari dengan cara yang lain. Tetapi kami yakin bahwa kedatanganmu ada hubungannya dengan kedatangan kedua pedagang, itu”

“Aku tidak mengerti yang Ki Sanak katakan itu, “desis Ki Pandi, “Aku adalah pengembara yang mengembara tanpa tujuan. Jika disini aku mendapatkan kedamaian hati, maka pengembaraanku akan berakhir disini. Aku akan tinggal disini meskipun aku harus menjadi budak dan bekerja apa saja”

“Kau tidak dapat membohongi kami sebagaimana kedua orang yang mengaku pedagang itu. Ketika aku mendengar bahwa ada orang asing yang ingin ikut serta dalam keperpayaan kami, aku segera menjadi curiga justru baru saja dua orang yang mengaku pedagang telah datang di padepokan.”

“Tetapi aku bukan pedagang”

“Baik” berkata kakak Ki Krawangan, “karena kau orang asing disini, maka untuk menerimamu sebagai anggota dari kehidupan yang damai dan tentang disini, maka kau harus diuji. Besok malam kita akan berkumpul disini seperti sekarang ini. Kau harus menunjukkan kejujuranmu, bahwa kau benar-benar akan menjadi satu dengan lingkungan hidup di padukuhan ini dengan setia.”

“Apa yang harus aku lakukan?” bertanya Ki Pandi.

“Meskipun besok malam bulan belum penuh, tetapi kita akan menyerahkan korban. Kau yang harus mengumpulkan dahan-dahan kering besok siang. Kau yang harus mencari bahan persembahan. Kau pula yang harus membakarnya hidup-hidup diatas batu rias persembahan ini.”

Kerut kening Ki Pandi menjadi semakin dalam. Dengan suara yang bergetar ia bertanya, “Kemana aku harus mencari bahan persembahan? Aku hanya seorang pengembara.”

“Terserah kepadamu. Jika kau tidak mendapatkan seekor binatang, maka kau akan dianggap sebagai anggauta yang paling terhormat jika kau dapat mempersembahkan yang lain.”

“Maksud Ki Sanak?” bertanya Ki Pandi.

“Itu tergantung pada tingkat kesungguhanmu untuk bergabung dengan kami” jawab kakak Ki Krawangan.

“Barangkali padi, jagung atau buah-buahan?” bertanya Ki Pandi

Wajah kakak Ki Krawangan menjadi tegang. Namun kemudian ia menjawab, “Sudah aku katakan. Nilai persembahanmu akan berbanding lurus dengan nilai kesetiaanmu kepada kepercayaan ini. Kami akan menentukan, apakah kau akan dapat diterima, dikukuhkan menjadi yang terbaik atau justru kau akan kami lemparkan menjadi-korban diatas batu alas persembahan kami itu.”

Sepercik cahaya memancar dari mata Ki Pandi. Namun kemudian iapun menunduk dalam-dalam.

Sementara itu, kakak Ki Krawangar pun berkata, “Hari ini tidak ada sesorah. Besok, kita akan berkumpul lagi disini. Kita akan menyaksikan, persembahan apakah yang akan diserahkan oleh orang bongkok ini. Kita bersama-sama menilainya dan kita akan memutuskan, apakah ia dapat diterima atari tidak.”

Suasana didalam sanggar itu menjadi tegang. Kakak Ki Krawangan masih berdiri tegak di tangga. Dipandanginya orang-orang yang berdiri disekitarnya. Cahaya mata kakak Ki Krawangan itu bagaikan memancarkan pengaruh yang mencengkam semua jantung.

Demikianlah maka sejenak kemudian orang itupun berkata.

“Sekarang kalian dapat meninggalkan sanggar ini. Besok kita aaan bertemu lagi.”

Orang-orang yang berada di sanggar itu mulai bergerak. Mereka mengalir keluar dari sangar itu. Anak-anak dan remaja segera mencari orang tua masing-masing dan pulang dalam kelompok-kelompok kecil.

Ki Pandi pun pulang bersama keluarga Ki Krawangan. Dengan nada berat Ki Krawangan berkata, “Aku tidak tahu bahwa masih harus ada syaratnya bagi Ki Pandi untuk diterima menjadi keluarga didalam lingkungan kepercayaan kami.”

“Tetapi apa yang harus aku korbankan?” bertanya Ki Pandi.

“Aku juga tidak tahu, Ki Pandi.” jawab Ki Krawangan.

Delima berjalan disebelah Ki Pandi sambil berdesis, “Tinggalkan saja padukuhan ini, kek.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba ia berkata, “Aku akan memberikan korban buah-buahan. Jika korbanku diterima, maka akan menjadi kebiasaan yang lebih baik daripada mengorbankan seekor anak binatang.”

“Ya” sahut Delima, “kakek dapat mencobanya.”

Tetapi Ki Krawangan memotong, “Ki Pandi. Apakah jenis korban itu dapat ditawar-tawar seperti itu? Jika tadi kakang mengatakan terserah kepada Ki Pandi, itu tentu semacam pendadaran bagi Ki Pandi. Jika Ki Pandi mengorbankan buah-buahan, maka aku kira Ki Pandi tidak akan dapat diterima.”

“Tetapi darimana aku mendapat seekor anak binatang.”

Ki Krawangan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab dengan nada berat, “Ki Pandi. Aku masih mempunyai seekor anak kambing. Jika Ki Pandi memerlukan, biarlah anak kambing itu kita korbankan. Semakin banyak korban yang kita berikan, maka janji kesejahteraan tentu akan menjadi semakin dekat bagi kita sekeluarga. Tentu juga bagi Ki Pandi.”

“Kesejahteraan apa yang Ki Krawangan maksudkan?” bertanya Ki Pandi.

“Kesejahteraan lahir dan batin. Sawah kita akan menjadi subur. Dijauhkan dari segala macam hama. Sementara hidup kita akan tenang dan damai sepanjang jaman, lebih dari itu, kita akan mendapatkan tataran tertinggi di alam kematian.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Sementara Ki Krawangan berkata selanjutnya, “Karena itu, maka sejak sekarang sudah mulai dianjurkan, meskipun masih belum terjadi, untuk memberikan korban yang derajadnya lebih tinggi.”

“Apakah yang derajadnya lebih tinggi dari seekor binatang?” bertanya Ki Pandi.

Ki Krawangan terdiam sejenak. Sementara itu kaki mereka melangkah terus mendekati rumah Ki Krawangan. Beberapa orang berjalan lebih cepat dan mendahului Ki Krawangan sekeluarga yang berjalan perlahan-lahan sambil berbincang.

“Ki Pandi” berkata Ki Krawangan kemudian, “maksudku, bahwa korban seekor anak kambing mempunyai derajad lebih tinggi daripada korban seekor anak kucing misalnya atau anak ayam atau anak itik yang menetas dari sebutir telur.”

Ki Pandi tidak segera menjawab. Tetapi bulu-bulu tengkuk Delima meremang. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya Delima menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.

“Delima. Kau kenapa?” bertanya ibuanya.

Delima tidak segera menjawab. Namun ketika ibunya memegangi pundaknya, gadis itu menjawab dengan suara parau, “Malam ini terasa dingin ibu.”

“O, “ ibunya berdesis. Tetapi Kenanga tiba-tiba berkata, “Aku justru berkeringat kak Delima. Aku kira udara terasa panas.”

“Tentu tidak. Angin yang basah membuat udara malam ini dingin sekali.”

“Sudahlah” berkata ibunya, “jangan bertengkar.”

Namun dalam pada itu, Ki Pandi itu pun kemudian berkata, “Biarlah aku mencoba untuk menyerahkan korban buah-buahan. Mudah-mudahan justru akan membuka kebiasaan baru yang lebih baik dari kepercayaan ini.”

Ki Krawangan masih saja ragu-ragu. Katanya, “Sebaiknya Ki Pandi jangan mencoba-coba. Besok merupakan hari pendadaran bagi Ki Pandi. Jika Ki Pandi dianggap melakukan kesalahan, maka akibatnya dapat menyulitkan Ki Pandi sendiri.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi aku akan berdoa semalam suntuk, agar yang aku lakukan itu justru dapat diterima dengan baik.”

Ki Krawangan memang tidak menjawab lagi. Segala sesuatunya memang terserah kepada Ki Pandi. Tetapi ia sudah menawarkan sesuatu yang terbaik bagi Ki Pandi. Seekor anak kambing.

Malam itu, Ki Pandi ternyata tidak bermalam dirumah Ki Krawangan meskipun Ki Krawangan mempersilahkan. Ki Pandi ternyata telah minta diri untuk memenuhi kewajibannya. menyediakan korban yang akan dibakar esok malam.

Tetapi malam itu, Ki Pandi telah menghubungi Ki Ajar Pangukan dan orang-orang yang ada dirumah terpencil itu. Diberitahukannya, apa yang telah terjadi.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” bertanya Ki Ajar Pangukan dengan dahi yang berkerut.

“Aku akan membawa pisang setandan. Aku akan mengorbankan pisang itu jika diterima.”

“Jika tidak?” bertanya Ki Ajar.

“Nasibku akan menjadi sangat buruk” jawab Ki Pandi.

Ki Ajar dan orang-orang lain yang mendengarnya tertawa. Ki Jagaprana pun berdesis, “Jangan merajuk begitu Ki Pandi.”

Ki Pandi pun tertawa pula. Sementara Manggada dengan ragu-ragu berkata, “Ki Pandi. Malam nanti aku akan berada didekat sanggar itu. Aku akan mengikuti, apa yang akan terjadi.”

Ki Sambi Pitu tersenyum sambil menepuk bahu Manggada, “jangan cemas anak muda. Kami semua juga akan berada di tempat itu. Kami tentu tidak akan sampai hati mendengar Ki Pandi merajuk dengan nada sedih, bahwa nasibnya menjadi sangat buruk.”

Suara tertawa orang-orang tua itu menjadi semakin berkepanjangan. Bahkan Ki Pandi pun tidak dapat menahan tertawanya pula.

Dihari berikutnya, menjelang tengah hari, Ki Pandi sudah berada di sanggar sambil membawa setandan pisang raja yang besar. Dengan ragu-ragu ia memasuki sanggar yang kosong itu. Diletakkannya pisang itu diatas alas penyerahan korban.

Namun Ki Pandi masih harus mencari kayu kering untuk menyalakan api saat korban diserahkan.

Selagi Ki Pandi menyusun dahan dan ranting kayu kering yang dikumpulkannya, maka iapun mendengar lembut mendekatinya.

“Kek” terdengar suara Delima. Ki Pandi berpaling. Dilihatnya Delima yang ragu-ragu berdiri beberapa langkah dibelakangnya.

“Nah, Delima” berkata Ki Pandi, “korbanku sudah siap.” Tetapi wajah Delima masih saja suram. Bahkan dengan nada dalam ia berkata, “Pamanku tadi menemui ayah, kek.”

“O” Ki Pandi mengangguk-angguk, “apa ada hubungannya dengan aku?”.

“Ya, kek. Paman memperingatkan ayah, agar ayah tidak berhubungan dengan kakek.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Sementara Delima berkata selanjutnya, “Ketika ayah mengatakan bahwa kakek akan ikut ke sanggar, paman tidak berkeberatan. Tetapi ternyata bahwa semalam paman tidak sendiri. Mereka bersikap kasar kepada kakek. Menurut pendengaranku, orang-orang padepokan itu telah mencurigai semua orang yang dianggap asing, karena dua orang yang datang ke padepokan telah mengacaukan ketenangan padepokan itu.”

Ki Pandi termangu-mangu, sementara Delima berkata selanjutnya, “Paman baru tahu tentang dua orang asing yang mengacaukan padepokan itu kemudian. Bahkan kemudian padepokan itu telah meng-ambil sikap khusus kepada kakek”

”Apa hubungannya kedua orang yang mengacaukan padepokan itu dengan aku, Delima?”

“Aku tidak tahu, kek. Tetapi orang-orang padepokan itu menjadi semakin berhati-hati. Kedua orang asing yang datang di padepokan itu telah melukai beberapa orang padepokan. Bahkan ada yang parah.”

“Kemudian aku menjadi sasaran dendam mereka?”

“Entahlah, kek. Tetapi sebaiknya kakek meninggalkan tempat ini. Nanti malam kakek tidak usah datang, karena kedatangan kakek akan dapat mencelakakan diri kakek sendiri.”

Ki Pandi tersenyum sambil melangkah mendekati Delima. Ditepuknya pundak Delima sambil berkata, “Terima kasih atas peringatanmu Delima. Tetapi biarlah aku lebih banyak mengetahui tentang kepercayaan yang aneh ini. Jangan cemaskan aku.”

“Tetapi…….” wajah Delima menjadi muram. Sementara Ki Pandi berkata, “Aku akan berusaha menjaga diriku sendiri, Delima. Pulanglah dengan tenang.”

Delima termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Delima itu telah meninggalkan sanggar. Di pintu ia berpaling dan berhenti sejenak. Namun kemudian ia pun telah melangkah lagi meninggalkan Ki Pandi yang menyiapkan korban yang akan diserahkannya.

Hari itu Ki Pandi tidak pergi ke rumah Ki Krawangan. Bukan karena ia mencurigainya. Tetapi Ki Pandi justru menjaga agar Ki Krawangan tidak mengalami kesulitan justru karena sikapnya.

Sebenarnyalah bahwa dirumah Ki Krawangan telah hadir dua orang cantrik dari padepokan untuk mengawasi hubungan antara Ki Pandi dan Ki Krawangan. Kakak Ki Krawangan sendiri mencurigai seakan-akan ada hubungan khusus antara orang bongkok itu dengan Ki Krawangan. Namun justru karena Ki Pandi tidak datang ke rumah Ki Krawangan, maka kecurigaan itu pun menjadi berkurang. Mereka mempercayai ceritera Ki Krawangan, bahwa orang bongkok itu datang kerumahnya dalam keadaan kelaparan dan kehausan. Sesudah minum dan makan, orang itu pun telah pergi. Ia datang untuk bersama-sama pergi ke sanggar. Sesudah itu, ia telah pergi lagi.

“Baiklah” berkata salah seorang cantrik yang bertugas di rumah Ki Krawangan itu., “Namun karena itu, maka Ki Krawangan jangan berusaha membantunya jika padepokan mengambil sikap tertentu kepada orang bongkok itu.”

Ketika kemudian senja turun, maka seperti yang dikatakan oleh kakak Ki Krawangan di sanggar semalam, bahwa malam itu, orang-orang padukuhan itu harus berkumpul kembali di sanggar.

Ki Krawangan dan keluarganya, memenuhi perintah itu, malam itu juga pergi ke sanggar. Namun di sepanjang jalan, Ki Krawangan dengan nada ragu berbicara pula tentang Ki Pandi.

“Apakah orang bongkok itu meninggalkan padukuhan?” desis Ki Krawangan.

Tidak seorang pun yang menjawab. Namun kemudian dengan ragu-ragu pula isteri Ki Krawangan berkata hampir kepada diri sendiri, “Sebaiknya ia memang meninggalkan padukuhan ini.”

Ki Krawangan terkejut mendengar kata-kata isterinya. Bahkan Nyi Krawangan sendiri juga terkejut mendengar kata-katanya itu. Sedangkan Delima menjadi tegang. Hanya Kenanga yang tidak begitu memahami perasaan kedua orang tuanya dan kakaknya.

Selama itu, tidak ada orang padukuhan yang bersikap lain dari sikap orang-orang padepokan, termasuk kakak Ki Krawangan. Jika orang-orang padepokan menghendaki orang bongkok itu datang dengan persembahan korban, maka yang lain harus bersikap demikian pula. Karena itu, sikap Nyi Krawangan terasa menjadi asing. Seakan-akan Nyi Krawangan itu berusaha untuk melindungi orang bongkok yang justru sedang dicurigai itu.

Namun kemudian Ki Krawangan sendiri berdesis, “Ya. Memang sebaiknya orang bongkok itu meninggalkan padukuhan ini. Betapapun ia ingin mencari kedamaian hati, tetapi pada saat kakinya mulai melangkah masuk, ia sudah terantuk batu.”

Delima menarik nafas dalam-dalam. Ternyata sikap batinnya tidak berbeda dengan sikap batin ayah dan ibunya, meskipun dengan demikian menjadi berbeda dengan sikap orang-orang padukuhan itu yang tentu ingin melihat apa yang akan dibawa Ki Pandi ke sanggar. Bagaimana puia keputusan orang-orang padepokan tentang korban yang akan dipersembahkan oleh orang bongkok itu.

Namun demikian orang-orang padukuhan itu memasuki sanggar, maka mereka pun segera dicengkam oleh suasana yang tegang. Demikian mereka melihat setandan pisang yang diletakkan diatas seonggok kayu kering di atas batu persembahan, maka mereka pun segera menduga, bahwa sesuatu akan terjadi di sanggar itu.

Ketika Ki Krawangan dan keluarganya memasuki sanggar, mereka melihat Ki Pandi berdiri diapit oleh dua orang cantrik dari padepokan. Sedangkan kakak Ki Krawangan rasa-rasanya tidak sabar menunggu orang-orang padukuhan itu berkumpul.

Namun akhirnya, orang-orang padukuhan itu sudah berdiri pada deret-deret sebagaimana biasanya.

Delima benar-benar gelisah melihat Ki Pandi yang nampaknya sudah tidak berdaya lagi untuk menyelamatkan diri.

Beberapa saat kemudian, maka suasanapun menjadi semakin tegang. Kakak Ki Krawangan sudah berdiri di tangga bangunan batu alas meletakkan korban itu.

Orang-orang padukuhan yang berdiri dalam deretan-deretan, itu pun menjadi semakin tegang. Tidak seorang pun yang bergerak. Bahkan mata mereka pun seakan-akan tidak berkedip lagi.

Kakak Ki Krawangan yang berdiri ditangga itu pun kemudian berkata, “Saudara-saudaraku. Disini sekarang ada orang yang lebih tua dari aku dalam tataran kedudukan kami di padepokan. Karena itu, biarlah saudaraku yang lebih tua itu mengambil keputusan tentang orang bongkok itu.”

Orang-orang padukuhan itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka tidak tahu, perasaan apakah yang sebenarnya bergejolak didalam hati mereka. Sepercik kegelisahan menyala di dada orang-orang itu. Mereka merasa iba melihat orang bongkok yang berdiri diapit oleh dua orang cantrik yang masih muda serta bertubuh tegap kekar. Mereka yakin bahwa orang bongkok itu akan mendapatkan hukuman, karena ia telah berani membawa persembahan yang tidak memadai. Namun sementara itu, orang-orang itu juga merasa tersinggung. Orang bongkok itu seakan-akan dengan sengaja merendahkan derajat kepercayaan mereka. Seakan-akan orang bongkok itu dengan sengaja menjajagi tatanan yang berlaku di antara mereka.”

Sementara itu, kakak Ki Krawangan itu pun bergeser menepi. Sedangkan seorang yang lain, seorang yang bertubuh raksasa telah naik dan berdiri disebelah kakak Ki Krawangan.

Ki Pandi mengeratkan dahinya. Ia teringat ceritera Ki Sambi Pita dan Ki Lemah Teles tentang orang yang mula-mula melihat keduanya dari lubang di pintu gerbang padepokan. Tetapi Ki Pandi, bahwa orang itu bukan yang dimaksud oleh Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles.

Orang yang bertubuh raksasa dan berdiri di tangga itu pun kemudian berkata, “Aku akan mengambil alih tugas saudaraku. Persoalannya memang tidak sederhana. Bukan sekedar seseorang yang ingin mencari kesejahteraan hidup lahir dan batin. Serta bukan orang yang mencari ketentraman sejati dibawah naungan kuasa api yang menghembuskan kehidupan serta memancarkan kesejukan dan kedamaian hati di malam hari.”

Orang-orang yang mendengarkan sesorah itu menjadi semakin tegang. Mereka semakin yakin bahwa sesuatu yang tidak diharapkan akan terjadi malam itu di sanggar mereka.

Dalam pada itu, orang bertubuh raksasa itu pun berkata, “Ternyata orang bongkok yang datang ke sanggar ini tidak berbeda dengan kedua orang asing yang telah mendatangi padepokan. Mereka bukan saja telah menghina kepercayaan yang kita junjung tinggi, tetapi mereka telah menyerang dan melukai saudara-saudara kita yang justru ingin menolong mereka, menunjukkan jalan keluar dari lingkungan ini. Saudara-saudara kita yang sama sekali tidak menduga itu tidak sempat membela diri.”

Ki Pandi yang telah mendengar ceritera Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles, segera menghubungkan dengan ceritera orang bertubuh raksasa itu, meskipun ceritera itu sudah diputar-balikkannya.

Namun Ki Pandi sama sekali tidak mengatakan sesuatu.

Orang bertubuh raksasa itu pun berkata selanjutnya, “Nah, bukankah orang bongkok ini juga telah menghina kita semuanya. Lihat, apa yang dipersiapkannya diatas alas persembahan kita. Selama ini kita selalu mempersembahkan korban yang bernyawa. Tetapi orang bongkok itu telah membawa setandan pisang kemari”

Orang itu terdiam sejanak. Ketika ia memandang Ki Pandi yang berdiri termangu-inangu, maka semua orang telah memandang Ki Pandi pula.

“Apakah kita akan membiarkan pengalaman ini terjadi atas kita? Kita tentu akan memaafkan orang-orang yang menghina kita sendiri. Tetapi tidak menghina penguasa Maha Api di langit yang memancarkan nafas kehidupan atas bumi ini.”

Suara orang bertubuh raksasa itu semakin menggelegar. Lalu katanya pula, “Nah, siapakah diantara kita yang membiarkan penghinaan ini terjadi? Siapa?”

Semua orang yang ada di sanggar itu tetap terdiam diri. Dalam keadaan yang biasa, jika mereka datang untuk mendengarkan sesorah, mereka sudah harus berdiam diri. Apalagi dalam keadaan yang sangat tegang itu.

Dalam pada itu, orang itu pun kemudian berteriak, “Kita akan membunuh orang yang telah menghina penguasa kehidupan ini dan membebankan tanggung jawab di pundaknya. Jika tidak, maka kemarahan yang akan menimpa kita semua akan berakibat sangat buruk bagi kita dan bagi kehidupan di bumi.”

Orang-orang yang ada di sanggar itu menjadi semakin tegang. Jantung mereka serasa berdetak semakin cepat. Rasa-rasanya mereka sudah dijalari kekecewaan dan kemarahan pula terhadap orang bongkok yang hanya membawa setandan pisang itu.

Delima juga menjadi semakin tegang. Bukan karena merasa terhina oleh korban yang terletak diatas seonggok kayu itu. Tetapi Delima mencemaskan nasib Ki Pandi yang terasa menjadi semakin dekat dan akrab itu.

Tetapi Ki Pandi masih saja berdiri diam. Bahkan nampaknya justru menjadi semakin tenang, meskipun kepalanya masih tetap menunduk.

Namun dalam pada itu, orang bertubuh raksasa itu pun berkata dengan lantang, “Nah, kita tentu tidak akan membiarkan penguasa Maha Api itu akan murka kepada kita. Kita tidak mau menerima akibat buruk karena orang bongkok itu telah menghina Maha Api di langit. Karena itu, maka kita harus menyerahkan penebusan dari penghinaan ini sekarang. Meskipun saat ini bukan saatnya menyerahkan persembahan sebagaimana biasanya. Tetapi kita harus membersihkan noda yang telah terpercik di sanggar ini.”

Orang itu berhenti sejenak. Wajah-wajah menjadi bertambah tegang. Lebih-lebih Delima dan bahkan juga ayah dan ibunya. Kenanga yang berdiri di antara gadis-gadis remaja yang lain, tidak begitu mengerti, apa yang akan terjadi.

“Nah” berkata orang bertubuh raksasa itu, “sekarang juga kita harus mendapatkan persembahan dari mahluk yang bernyawa untuk menebus penghinaan itu. Jika tidak, maka mungkin besok, bahkan mungkin nanti atau kapan pun dapat terjadi, kemarahan iti akan menimpa kita.”

Suara orang itu terputus ketika tiba-tiba saja mereka melihat cahaya merah dilangit. Mereka melihat asap yang membubung, kemudian mereka juga melihat lidah api yang menjilat. Tidak terlalu jauh.

“Ampun kami ya Maha Api” teriak orang bertubuh raksasa itu, “murkamu telah datang menimpa kami.”

Orang-orang yang ada di sanggar itu menjadi gelisah. Mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa telah terjadi kebakaran di padukuhan mereka. Sementara itu, semua orang tidak ada di padukuhan, tetapi mereka berada di sanggar, sehingga tidak seorang pun yang akan dapat memendamkan api itu. Yang tinggal di padukuhan hanyalah orang-orang tua, orang-orang sakit dan bayi-bayi”

Namun.orang bertubuh raksasa itu berteriak, “Kita tidak akan mampu melawan kemurkaan itu. Agaknya telah terjadi kebakaran. Tetapi tentu bukan kebakaran biasa. Disini seseoràng telah menghina Sang Maha Api. Dan dengan serta merta murkanya telah menimpa kita. Jika penghinaan ini tidak segera ditebus, murka itu tentu akan semakin menjalar. Mungkin akibatnya akan menimpa, seluruh padukuhan dan mungkin seluruh negeri dan bahkan mungkin seluruh bumi.”

Kegelisaan semakin mencengkam. Tetapi orang itu berkata, “Jangan tinggalkan tempat ini. Orang yang telah menghina itu harus mempertanggungjawabkan kesalahannya. Diatas alas tempat kita menyerahkan korban itu harus ada korban mahluk bernyawa sekarang juga.”

Dalam pada itu selagi suasana di sanggar itu menjadi semakin tegang maka seseorang berjalan tertatih-tatih ke pintu, gerbang sanggar. Tetapi orang itu berhenti sebelum ia melangkah masuk. Ia sadar, bahwa ia tidak boleh berbicara jika ia berada didalam sanggar. Karena itu, selagi ia masih berada diluar, maka ia pun telah berteriak, “Banjar padukuhan kita terbakar.”

Semua orang berpaling dan memandang ke pintu gerbang. Mereka melihat seorang tua yang berdiri gemetar laki tua yang sedang sakit.

Orang-orang yang berada di dalam sanggar itu menjadi semakin tegang. Dua orang cantrik telah berlari kearah orang tua itu. Ketika orang tua itu hampir saja terjatuh karena tubuhnya yang sakit itu menjadi lemah serta letih, maka kedua orang cantrik itu sempat menolongnya.

“Banjar padukuhan itu terbakar” orang itu berdesis lagi.

Seorang dari kedua cantrik itu telah melangkah masuk kedalam sanggar. Dengan lantang ia berkata, “Banjar padukuhan itu telah terbakar. Murka Sang Maha Api telah menimpa kita.”

Orang bertubuh raksasa yang berdiri ditangga bangunan batu sebagai alas persembahan itu berkata, “Kita harus cepat-cepat menyerahkan korban agar kemarahan itu mereda.”

Orang-orang yang berdiri di sanggar itu telah dicengkam oleh suasana yang tidak menentu. Mereka menjadi sangat ketakutan melihat bahwa api telah mulai menelan korban dipadukuhan mereka. Banjar padukuhan mereka tiba-tiba saja telah terbakar.

Dalam ketegangan itu, maka orang bertubuh raksasa itu pun berteriak nyaring, “Ya, Sang Maha Api. Hentikan murkamu atas kami. Sekarang kami akan menyerahkan korban untuk menebus kesalahan kami, karena kami teiah berani menghina kuasa Sang Maha Api. Meskipun korban yang kami serahkan kali ini, bukan korban dibawah wajah purnama yang lembut, serta bukan pula korban yang kehadirannya diatas bumi ini berada dibawah percikan cahaya api damaimu, namun kami mohon, korban yang kami serahkan ini dapat menebus kesalahan yang pernah dilakukannya sendiri karena ia telah menghina kuasamu yang tidak terbatas.”

Semua orang terkejut mendengarnya. Seorang laki-laki kurus menjadi gemetar. Sementara Ki Krawangan menjadi gelisah. Delima berusaha untuk tidak menjadi pingsan, karena ia tahu maksud orang bertubuh raksasa itu.

Ki Pandilah yang akan dikorbankan.

Sebenarnyalah sesaat kemudian orang-orang padepokan yang berada di sanggar itu telah mengerumuni Ki Pandi. termasuk kakak Ki Krawangan dan orang bertubuh raksasa itu.

Dengan paksa maka Ki Pandi pun telah dibawa naik keatas alas tempat penyerahan korban itu. Diatas tempat itu telah tersedia seonggok kayu untuk membakar setandan pisang yang diletakkan oleh Ki Pandi.

Namun kayu itu tidak cukup banyak.

Karena itu, maka orang bertubuh raksasa itu pun berkata, “Agar korban yang kita serahkan sempurna, maka semua orang laki-laki harus keluar dari sanggar dengan cepat untuk mencari kayu bakar. Siapa yang tidak melakukannya, maka ia akan dikutuk oleh Sang Maha Api itu.”

Demikian, maka setiap orang laki-laki telah menghambur keluar untuk mencari kayu bakar.

Laki-laki tua yang sedang sakit dan kelelahan itu duduk bersandar dinding sanggar. Tetapi ia terada diluar sanggar. Para cantrik yang menolongnya telah masuk kedalam sanggar pula, dan membiarkannya duduk sendiri.”

Namun orang’ itu menjadi heran ketika dua orang anak muda mendekatinya sementara orang-orang disanggar itu sedang ribut untuk mencari kayu bakar.

“Duduk sajalah kek” desis seorang diantar a mereka.

“Siapakah kalian anak-anak muda?” bertanya orang itu.

“Kami bukan siapa-siapa kek. Kami hanya ingin melihat apa yang terjadi.”

Orang tua itu tidak berdaya lagi, sementara kedua orang anak muda itu masih berjongkok disebelah-menyebelahnya.

Orang-orang laki-laki yang mencari kayu bakar sambil berlari itu tidak menghiraukan kedua orang anak muda iiu. Mereka mengira bahwa keduanya adalah saudara-saudara mereka yang sedang menolong orang tua yang sakit itu.

Namun beberapa saat kemudian, suasana mulai meniadi sepi. Orang-orang padukuhan itu telah berdiri ditempatnya di sanggar, sementara seonggok kayu bakar telah tertimbun di alas tempat menyerahkan kurban itu.

Dalam pada itu, maka cahaya merah dilangitpun sudah mereda. Nampaknya Banjar padukuhan itu telah hampir seluruhnya menjadi abu. Untunglah bahwa halaman banjar itu cukup luas sehingga diharapkan api tidak menjalar kemana-mana. Apalagi malam itu angin tidak begitu kencang bertiup. Tidak pula pepohonan disekitar banjar padukuhan itu.

Dalam pada itu, Ki Pandi telah berada di tangan orang-orang padepokan. Orang yang bertubuh raksasa itu telah berada di tangga pula sambil berkata, “Nah, nampaknya persembahan kami berkenan dihati Sang Maha Api. Sebelum persembahan kami ini kami serahkan, api yang membakar Banjar padukuhan kami telah mereda. Satu pertanda yang baik bagi kita. Karena itu, maka persembahan kami ini akan segera kami serahkan dengan perantaraan api pula.”

Darah Delima bagaikan mengalir. Namun Delima tidak pingsan. Ia melihat orang bongkok itu didorong untuk naik keatas bangunan batu sebagai alas persembahan itu.

Delima dan orang-orang yang. hadir di sanggar itu menjadi heran. Ia tidak melihat orang bongkok itu menjadi gelisah, ketakutan atau bahkan meronta. Ia sama sekali tidak melawan.

Namun ketika orang-orang padepokan itu akan mengikatnya, orang bongkok itu berkata, “Aku tak perlu diikat. Aku akan berbaring diatas api.”

Orang-orang padepokan itu termangu-mangu sejenak. Namun orang bertubuh raksasa itu berkata, “Ikat orang itu. Jika api menjilat tubuhnya, ia akan meronta atau bahkan berusaha melarikan diri.”

Tetapi orang bongkok itu menyahut, “Sudah aku katakan, aku tidak mau diikat.

“Persetan” geram orang bertubuh raksasa itu, “ikat orang itu. Cepat.”

Para cantrik mulai memegangi tangan Ki Pandi. Seorang yang membawa tali yang dibuat dari sabut telah mulai melingkarkan tali itu di tubuh Ki Pandi.

Namun yang tidak diduga telah terjadi. Cantrik yang membawa tali itu telah terlempar. Kepalanya membentur bangunan batu yang dipergunakan sebagai alas penyerahan persembahan itu. Demikian kerasnya, sehingga cantrik itu langsung menjadi pingsan.

Sebelum orang-orang padepokan itu menyadari apa yang telah terjadi, seorang lagi cantrik yang memegangi tangan Ki Pandi itu pingsan pula. Pukulan yang keras mengenai ulu hatinya, sehingga cantrik itu terbongkok kesakitan. Namun kemudian sisi telapak tangan Ki Pandi telah mengenai tengkuk cantrik itu sehingga ia jatuh tersungkur. Giliran berikutnya adalah cantrik seorang lagi yang memegangi tangan Ki Pandi yang lain. Ayunan tangan yang keras telah menampar keningnya. Nyala api oncor di sanggar itu pun menjadi semakin kuning dan akhirnya menjadi semakin kabur. Ketika sebuah pukulan lagi mengenai pangkal lehernya, maka semuanya menjadi gelap.

Yang terjadi demikian cepatnya, sehingga orang-orang padepokan yang lain, yang kedudukannya lebih tua dari para cantrik itu tidak sempat menolongnya.

Namun kakak Ki Krawangan, orang bertubuh raksasa dan orang-orang padepokan yang lain dengan cepat menyadari keadaan. Karena itu, maka mereka pun segera mempersiapkan diri

Orang bertubuh raksasa itu sempat berteriak, “Orang bongkok itu menjadi gila. Tangkap orang itu agar kita tak kehilangan bahan korban yang akan kita serahkan, yang justru sudah berkenan dihati Sang Maha Api.”

Tetapi orang-orang padukuhan itu tidak segera berbuat sesuatu jantung mereka justru terasa terguncang. Apalagi ketika kemudian Ki Pandi meloncat naik keatas bangunan batu sebagai alas untuk menyerahkan persembahan itu.

“Saudara-saudaraku” berkata Ki Pandi, “kalian harus segera menyadari, bahwa aliran hitam ini akan merusak tata kehidupan kalian. Orang-orang ini telah membawa kalian dan bahkan kewadagan kalian. Orang-orang ini telah membawa kalian ke jalan sesat, mengingkari kuasa Yang Maha Agung yang telah mencipta-kan langit dan bumi. Termasuk matahari dan bulan. Karena itu, tidak sewajarnya kalian menyembah matahari dan bulan yang disebut dengan nama apapun juga.”

Ki Pandi tidak sempat berbicara lebih panjang. Orang yang bertubuh raksasa itu meloncat menyusulnya dan langsung menyerangnya. Bahkan dua orang yang lainpun Kini datang membantunya pula.

Keributan pun tidak dapat dihindari lagi. Orang-orang padepokan telah berkerumun di sekitar bangunan batu untuk menyerahkan persembahan itu.

Mereka berusaha untuk menangkap orang bongkok yang akan dijadikan bahan persembahan bagi Sang Maha Api.

Namun dalam pada itu, keributan itu pun telah menjalar. Tiba-tiba saja dua orang anak muda telah melibatkan diri, menyerang orang-orang yang berkerumun mengepung orang bongkok itu.

Delima tiba-tiba saja melonjak kegirangan. Dua orang anak muda itu dikenalnya pula. Mereka adalah anak-anak muda yang sering datang bersama orang bongkok itu.

Perkelahian pun segera terpecah. Manggada dan Laksana telah mengambil tempatnya sendiri. Mereka telah bersiap menghadapi orang-orang padepokan yang ada di sanggar itu.

Orang-orang padukuhan yang berada di sanggar itu menjadi ketakutan. Tetapi mereka tidak berani meninggalkan sanggar itu. Mereka hanya bergeser menjauh dan berdiri berdesakan melekat dinding sanggar.

Ternyata yang kemudian bertempur melawan orang-orang padepokan itu tidak hanya orang bongkok dan dua orang anak muda saja. Tetapi ada orang lain yang telah melibatkan diri pula diantara mereka.

Beberapa saat kemudian, sanggar itu benar-benar menjadi kacau ketika oncor-oncor yang menerangi sanggar itu padam satu demi satu.

Keributan itu pun tidak tertahankan lagi. Orang-orang padukuhan telah berlari-larian tidak tentu arah. Mereka menjadi kebingungan. Sementara itu agaknya ada orang yang dengan sengaja telah mengacaukan mereka. Orang yang berlari-larian menyusup diantara orang-orang padukuhan itu.

Dalam kekacauan itu tiba-tiba mereka melihat dua oncor yang menyala. Dua oncor yang berada disebelah menyebelah pintu gerbang sanggar terbuka itu.

Arus orang-orang yang kebingungan itu tidak tertahankan lagi. Mereka berlari-larian keluar dari sanggar melalui pintu gerbang yang tiba-tiba telah terbuka selebar-lebarnya.

Terdengar anak-anak berteriak-teriak ketakutan. Bahkan kemudian suara tangis pun melengking dimana-mana.

Namun beberapa saat kemudian beberapa buah oncor telah menyala kembali di sekitar pintu gerbang. Dua, tiga kemudian empat buah.

Dalam kekisruhan itu terdengar seseorang berteriak.

“Jangan berdesakan. He, hati-hati. Berjalanlah dengan tertib. Sebaiknya orang laki-laki tidak ikut berdesakan dipintu gerbang. Biarlah perempuan dan anak-anak berjalan lebih dahulu. Orang-orang laki-laki sebaiknya justru ikut mengatur agar tidak terjadi kecelakaan.”

Tidak seorang pun diantara orang-orang padukuhan yang mengetahui, siapakah yang telah berteriak itu. Namun beberapa orang laki-laki telah tergugah hatinya. Mereka segera menepi dan mulai ikut mengatur arus keluar orang-orang padukuhan itu.

Empat orang laki-laki yang memegang oncor justru bingung sendiri. Mereka tidak tahu siapakah yang telah meletakkan oncor di tangan mereka. Tiba-tiba saja mereka merasa bahwa mereka telah memegang oncor.

Beberapa saat kemudian, maka sanggar itu telah menjadi kosong. Orang-orang padukuhan sudah berada diluarnya. Namun masih ada satu dua orang anak-anak yang menangis karena mereka belum menemukan orang tua mereka.

Tetapi dalam waktu singkat, karena orang-orang padukuhan itu sudah saling mengenal, anak-anak itu pun telah berada ditangan ayah dan ibunya.

Namun dalam pada itu, didalam sanggar, pertempuran masih berlangsung. Orang-orang padepokan yang berada di sanggar itu telah bertempur dengan orang-orang yang tidak mereka kenal selain orang bongkok itu.

Delima juga sudah berada diluar, masih saja berdebar-debar, Ia tidak tahu apa yang terjadi didalam sanggar itu. tetapi Delima dan orang-orang padukuhan masih mendengar keributan di dalam sanggar.

Sementara itu, keempat orang yang memegang obor telah berada diluar sanggar pula.

Namun orang-orang padukuhan itu tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Karena itu, maka mereka hanya berkumpul saja di sekitar sanggar mereka. Sementara di dalam sanggar itu masih terjadi pertempuran.

Di dalam sanggar itu, Ki Pandi bersama Manggada, Laksana dan beberapa orang tua yang lain telah bertempur melawan orang-orang padepokan. Ternyata mereka tidak memerlukan waktu yang terlalu lama. Beberapa saat kemudian, maka pertempuran itu pun segera berakhir.

Tetapi orang-orang yang berada diluar sanggar tidak segera mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi di sanggar itu. Ketika kemudian tidak lagi terdengar suara apapun di dalam sanggar, mereka justru semakin ragu-ragu.

Delima yang gelisah berdiri didepan pintu gerbang.

Ki Krawangan yang melihat Delima berdiri didepan pintu segera menariknya sambil berkata, “Delima, apa yang kau cari? Kau tahu bahwa telah terjadi sesuatu yang, tidak kita mengerti.”

Delima tidak membantah. Ia pun kemudian bergeser menjauhi pintu gerbang.

Namun suasana didalam sanggar itu masih sepi.

Angin malam berhembus semakin dingin. Sekali-sekali masih terdengar anak-anak merengek. Namun dengan susah payah ibunya telah menenangkannya.

Empat orang laki-laki masih tetap memegang obor dan berdiri tidak jauh dari pintu gerbang yang masih terbuka lebar. Namun orang-orang yang berada diluar tidak segera dapat melihat, apa yang telah terjadi dalam kegelapan.”

Akhirnya, orang-orang yang memegang oncor itu sepakat untuk melihat, apa yang terjadi didalam sanggar.

Dengan hati-hati keempat orang itu melangkah masuk. Ketika mereka melihat sebuah oncor yang masih terpancang ditempatnya. maka oncor itu pun telah dinyalakannya pula. Demikian pula beberapa buah oncor yang lain.

Namun keempat orang itu terkejut bukan buatan. Orang-orang padepokan yang ada disanggar itu telah terbaring diam diantara mereka nampak terluka. Darah mengalir dari luka yang menganga itu.

Ketika keempat orang itu mendekat, maka mereka menyadari bahwa ada diantara mereka masih bernafas.

Karena itu, maka, dua diantara keempat orang itu pun segera berlari keluar memanggil kawan-kawannya.

“Kita harus menolong mereka” berkata orang itu diluar sanggar.

“Kenapa?” bertanya-beberapa orang bersama-sama

“Mereka terluka.” jawab orang yang bertubuh-tinggi.

“Kenapa?” bertanya Orang-orang yang menjadi semakin kebingungan.

“Entahlah, kita bawa saja mereka keluar. Kita akan mencoba menolong mereka.”

Beberapa orang laki-laki segera berlari memasuki sanggar. Tanpa mengatakan sesuatu lagi, mereka pun telah membawa orang-orang padepokan yang terbaring diam. Ada diantara mereka yang terluka. Tetapi ada yang ditubuhnya sama sekali tidak terdapat segores kecil luka pun, namun orang itu telah pingsan atau bahkan mati.

Demikianlah, maka orang-orang yang terbaring diam itu telah dibawa keluar dari sanggar. Diluar sanggar orang-orang padukuhan itu berbicara dengan leluasa. Sedangkan didalam sanggar, meskipun bukan saatnya upacara atau mendengarkan sesorah, namun rasa-rasanya segan juga untuk berbicara.

Beberapa orang telah mencari air, sedangkan yang lain sibuk mengusap kening dan dahi.

Orang bertubuh raksasa itu, terluka dilambungnya. Tidak oleh goresan senjata. Tetapi luka itu cukup dalam. Tiga goresan nampak menyilang, seakan-akan goresan tiga buah jari tangan tangan berkuku tajam.

Kakak Ki Krawangan justru sama sekali tidak terluka. Namun ia juga telah menjadi pingsan.

Beberapa saat kemudian, setelah orang-orang padukuhan itu menjadi sibuk satu dua orang mulai sadar. Kakak Ki Krawangan itu pun menggeliat, sementara orang bertubuh raksasa itu mulai mengerang kesakitan.

Ketika orang bertubuh raksasa itu mulai bergerak, maka darah yang mengalir sernakin banyak mengalir dari lukanya.

Tetapi orang itu ternyata membawa obat untuk mengurangi arus darahnya. Ia minta seseorang menaburkan semacam serbuk dari sebuah bumbung kecil dialas lukanya itu. .

Terasa luka itu menjadi pedih sekali. Tetapi darahnya pun menjadi semakin sedikit mengalir dari luka itu.

Beberapa orang lain yang terluka juga telah mendapat pengobatan yang sama, sementara kakak Ki Krawangan setelah diberi air beberapa tetes di bibirhya pun telah menjadi sadar pula.

“Iblis bongkok” geram kakak Ki Krawangan

“Apa yang telah terjadi, kakang?” bertanya Ki Krawangan yang berjongkok disebelah kakaknya.

“Orang yang pernah kau tolong itu ternyata tidak kurang dari sosok iblis yang paling jahat.”

“Aku tidak mengira kakang. Ia tampak lemah dan sakit pada waktu itu.” jawab Ki Krawangan.

“Ia datang bersama beberapa orang kawannya untuk mengacaukan upacara persembahan itu.” berkata kakak Ki Krawangan itu pula.

“Tetapi apa maksud orang bongkok itu?” bertanya Ki Krawangan.

“Ia berniat mengacaukan upacara ini. Bahkan mengacaukan akal kita sehingga kepercayaan kita menjadi menipis, ia datang dengan membawa kepercayaan baru untuk menyesatkan jalan hidup kita menuju ke kesejahteraan lahir dan batin.”

Delima yang mendengar keterangan pamannya itu hampir saja tidak dapat menahan hati. Menurut pendapatnya, kepercayaan yang diajarkan oleh pamannya itulah yang sesat.

Sebenarnyalah Ki Krawangan juga ragu. Setelah hutan lebat yang seakan-akan memagari lingkungan yang luas dibawah kaki Gunung Lawu itu terbuka, maka para penghuninya mempunyai hubungan yang lebih luas dengan orang-orang dari seberang hutan.

Tetapi Ki Krawangan tidak menjawab. Demikian pula Delima yang merasa lebih baik diam saja daripada membuka persoalan ,baru dengan orang-orang padepokan.

Dalam pada itu, selagi ketegangan mencengkam orang-orang yang berada di sekitar sanggar itu, telah terdengar suara dari dalam kegelapan. Suara yang tidak jelas sumbernya. Seakan-akan melingkar-lingkar di udara yang kelam. Suara tertawa yang berkepanjangan. Disela-sela suara tertawa itu terdengar kata-kata, “He, kalian orang-orang sesat Apa sebenarnya yang kalian cari dengan cara yang tidak pantas itu? Kalian telah digiring oleh seorang yang menjadi gila karena kehilangan anak bayinya. Orang yang gila karena keluarganya yang pecah dan menjadi berkeping-keping. Mungkin juga karena salahnya sendiri. Namun kemudian, ia telah mencari sasaran untuk menimpakan kesalahan itu. Ia membenci semua bayi. Ia ingin semua bayi mati seperti anaknya. Dalam api…”

Suara itu berhenti sejenak. Sementara kakak Ki Krawangan yang telah sadar sepenuhnya itu berteriak pula, “He, pengecut. Nampakkan dirimu. Jangan memfitnah sambil bersembunyi.”

“Aku telah mengalahkan kau” terdengar lagi suara dari kegelapan, “sekarang sadarilah. Jika sementara ini kalian harus mengorbankan seekor anak binatang di bawah purnama, maka beberapa saat lagi kalian akan digiring untuk mengorbankan anak manusia. Bayangkan, setiap bulan seorang bayi akan mati. Gila. Bahkan tidak hanya di padukuhan ini saja. Apakah kalian akan melakukan upacara yang gila itu? Hari ini orang-orang padepokan itu sudah berniat mengorbankan seseorang sebagai langkah awal niat mereka menggiring kalian untuk mengorbankan bayi disetiap bulan purnama, karena orang yang kalian anggap pemimpin padepokan itu telah terganggu penalarannya.”

“Cukup, fitnah itu sama sekali tidak benat.” Teriak kakak Ki Krawangan.

Tetapi suara tertawa itu masih berkepanjangan. Kata-kata di sela-sela derai tertawa itu masih terdengar., “Nah, kalian yang waras, yang masih mempunyai daya penalaran yang utuh, apakah kalian justru akan jatuh di bawah pengaruh orang gila? Orang yang terganggu kesadarannya oleh dendam kebencian?”

“Cukup, cukup” bukan hanya kakak Ki Krawangan saja yang berteriak, tetapi seorang cantrik yang telah sadar sepenuhnya berteriak pula, sementara orang yang bertubuh raksasa itu menggeram. Ia tidak berani berteriak, agar darah di lukanya tidak memancar lagi.

Namun suara itu masih terdengar, “Selamat malam saudara-saudaraku. Selama padepokan itu masih ada, maka kita masih akan sering berjumpa dimanapun.

“Gila. He orang-orang gila. Aku bunuh kalian pada saatnya.”

Tetapi suara itu menjawab, “Jika kami ingin membunuhmu, maka kami tentu sudah melakukannya. Tetapi kami bukan orang-orang yang menjadi mata gelap, kehilangan pegangan dan membunuh sasaran yang tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan yang sebenarnya terjadi. Nah, tolong, sampaikan kepada Kiai Banyu Bening, jika ia masih tidak menghentikan perbuatan gilanya, maka kami benar-benar akan memperlaku-kannya seperti orang gila.

“Diam, diam, diam,” teriak kakak Ki Krawangan. Suara tertawa itu masih bergema. Semakin lama terdengar semakin jauh, sehingga akhirnya hilang sama sekali.

Malam kembali menjadi sepi. Ketegangan masih mencengkam setiap jantung. Orang-orang padepokan yang masih lemah itu dicengkam oleh kemarahan, kebencian, dendam tetapi juga kekhawatiran.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka tidak dapat mem-buru orang-orang yang telah menghinakan mereka dan bahkan menyebut nama Kiai Banyu Bening.

Namun sejenak kemudian, maka orang yang bertubuh raksasa itu berkata, “Biarlah orang-orang padukuhan itu pergi. Kita akan membuat perhitungan dengan mereka kelak, karena mereka tidak mau membantu kita, disaat kita dalam kesulitan.”

Kakak Ki Krawangan tidak menyahut. Tetapi bagaimanapun juga ia merasa cemas tentang adiknya. Orang-orang padepokan dapat menyangka, bahwa adiknya benar-benar telah berhubungan dengan orang bongkok itu.

“Besok aku harus berbicara dengan Krawangan,” berkata orang itu di dalam hatinya.

Dalam pada itu, maka orang-orang padukuhan itu pun segera pulang ke rumah mereka masing-masing ketika mereka sudah mendapat ijin dari orang-orang padepokan.

Namun ancaman orang bertubuh raksasa itu didengar oleh salah seorang padukuhan itu, sehingga ia menjadi ketakutan. Ternyata perasaan takut itu kemudian telah menjalar pula ke setiap orang yang mendapat berita tentang ancaman itu.

Namun sebelum orang-orang itu memasuki gerbang padukuhan, maka seseorang telah berlari-lari keluar dari regol padukuhan. Justru orang yang belum mereka kenal.

“Siapa yang terikat di halaman banjar? Siapa?” teriak orang itu

“Siapa? Siapa?” setiap onng pun telah bertanya pula. Namun karena itu, maka orang-orang itu tidak jadi langsung pulang ke rumah. Tetapi mereka berduyun-duyun pergi ke banjar.

Sebenarnyalah dua orang terikat pada dua batang pohon yang tumbuh di halaman banjar. Orang yang juga belum mereka kenal. Kedua orang itu agaknya telah pingsan meskipun keduanya masih hidup.

Agaknya keduanya telah menjadi kepanasan oleh lidah api yang menelan banjar padukuhan mereka. Banjar yang mereka dirikan dengan susah payah itu telah menjadi abu diterpa oleh kemarahan Sang Maha Api karena pokal orang bongkok itu.

Kedua orang itu tubuhnya basah oleh keringat. Sementara udara di halaman banjar itu masih terasa panas, meskipun api sebagian besar sudah padam.

Seorang penghuni padukuhan yang sudah separo baya berkata, “Ambil air. Kita harus segera mendinginkan mereka.”

Seseorang pun telah berlari-lari ke sumur. Dengan upih orang itu membawa air yang kemudian telah disiramkan ke wajah kedua orang yang pingsan itu.

Kedua orang itu mulai menggeliat. Bahkan kemudian keduanya mulai menggelengkan kepalanya serta membuka matanya.

Namun adalah diluar dugaan ketika tiba-tiba sesosok tubuh yang hanya nampak hitam di kelamnya malam muncul dari antara sisa kayu dan pecahan genting yang berserakan di bekas banjar itu berdiri, sementara malam seakan-akan menjadi semakin hitam.

Orang-orang yang berada di halaman padukuhan itu termangu-mangu. Oncor di regol halaman banjar masih menyala, meskipun cahayanya tidak dapat menggapai seluruh halaman, juga tidak dapat menerangi sosok tubuh yang muncul dan dalam sisa-sisa kebakaran itu, meskipun disana-sini masih nampak lidah api menyala meskipun hanya sejengkal. Juga masih ada kayu yang membara dan kerangka bambu yang meledak.

Orang-orang yang ada di halaman tiu merasa bulu-bulu tengkuk mereka meremang ketika mereka mendengar sosok yang hitam itu tertawa berkepanjangan.

“He, orang-orang padukuhan yang dungu? Kenapa kalian percaya bahwa banjar kalian telah ditelan oleh murka Sang Maha api karena terhina oleh persembahan orang bongkok itu? Kalian mengira bahwa kuasa Sang Maha Api itu mengatasi segala-galanya, sehingga mampu menghukum kalian dengan menelan banjar itu? Semua itu omong kosong. Lihatlah dua orang yang terikat itu. Merekalah yang telah membakar banjar kalian atas perintah orang-orang dari padepokan. Mereka ingin meyakinkan kalian, betapa besar kuasa Sang Maha Api, sementara orang-orang itu sendiri tidak percaya akan kuasa Sang Maha Api itu sendiri. Lihat kedua orang itu. Apa yang telah mereka lakukan? Tanyakan kepada mereka, mereka tentu tidak dapat menjawab, karena mereka juga tidak tahu, tidak pernah merasa bersentuhan, apalagi bahwa Sang Maha Api itu manunggal didalam dirinya. Yang mereka tahu adalah, bahwa api itu panas. Sedangkan sinar matahari juga panas dan bersumber dari Maha Sumbernya di langit. Yang mereka tahu bahwa api itu memancarkan sinar sebagaimana bulan di langit.”

Halaman itu telah dicengkam oleh ketegangan Sementara itu, kedua orang yang terikat itu menggeretakkan gigi mereka. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena mereka masih terikat pada batang pepohonan.

Dalam pada itu, sosok yang kehitam-hitaman itu masih berkata, “Sekarang kalian berhadapan dengan kenyataan. Tidak ada kuasa Sang Maha Api yang dapat murka karena orang bongkok itu telah menghinanya. Yang terjadi adalah dua orang itulah yang telah membakar banjar ini.”

Orang-orang padukuhan itu semuanya telah memandang kedua orang yang terikat itu dengan penuh kebencian. Namun sosok yang hitam itu berkata pula, “Tetapi kalian jangan bertindak apa-apa. Kita justru harus melaporkannya. Jika kalian berbuat sesuatu atas kedua orang itu, maka seisi padepokan itu akan marah dan mendatangi kalian untuk membalas dendam. Karena itu, jangan kecewa bahwa orang yang membakar banjar padukuhanmu aku lepaskan. Keduanya telah melakukan tugas mereka dengan baik, membakar banjar padukuhan.

Orang-orang padukuhan itu memang menjadi bimbang. Ia tidak tahu pasti maksud sosok yang tiba-tiba saja muncul dari reruntuhan banjar yang terbakar itu.

Namun sosok itu pun kemudian telah melangkah kearah kedua orang yang terikat itu sambil berkata, “Biarlah keduanya kembali ke padepokannya. Biarlah keduanya melaporkan kepada orang yang menyebut dirinya Banyu Bening tetapi tidak tahu artinya, bahwa orang-orang padukuhan itu sudah tahu, merekalah yang membakar banjar padukuhan. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan setandan pisang yang disiapkan untuk persembahan dari orang bongkok itu.”

Tidak seorang pun yang berbicara di antara orang-orang yang ada di halaman banjar itu. Mereka merasa seakan-akan mereka berada didalam sanggar. Suasananya justru lebih mencekam ketika bayangan itu melangkah mendekati kedua orang yang terikat di batang pepohonan itu.

Sejenak kemudian orang itu mencabut sebuah pisau kecil. Kemudian dengan pisau itu, ia telah memutuskan tali pengikat kedua orang itu.

Adalah diluar dugaan, bahwa tiba-tiba seorang yang bertubuh gemuk telah menyerang orang yang melepaskan talinya itu. Dengan cepat ia mengayunkan tangannya menghantam kearah kening.

Tetapi orang itu sendirilah yang kemudian menjerit sambil meloncat surut. Ternyata tangannya sama sekali tidak menyentuh kening. Tetapi tangan itu telah menyambar tajamnya pisau di tangan orang yang telah memotong tali pengikatnya.

Orang itu tertawa. Katanya, “Bukan salahku. Jika kalian masih saja keras kepala, maka pisau ini akan menggorok leher kalian berdua.”

Orang itu memegangi tangannya yang berdarah. Tetapi ia tidak menjawab.

“Nah, sekarang pergilah. Katakan kepada Banyu Bening yang tidak bening itu, bahwa kami akan tetap menentangnya sampai ia menyadari, bahwa yang dilakukan itu sama sekali tidak pantas. Ia merasa terpukul karena anaknya terbakar. Tetapi pada suatu saat ia akan merasa terhibur melihat bayi-bayi yang terbakar seperti anaknya. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan matahari dan bulan.”

Kedua orang itu termangu-mangu, sehingga orang yang semula muncul dari antara reruntuhan itu membentak mereka, “Cepat, pergi atau aku akan mengambil keputusan lain.”

Keduanya pun kemudian dengan tergesa-gesa melangkah menjauhi orang yang melepaskan mereka itu. Sementara orang-orang padukuhan telah melihatnya.

Namun ketika keduanya sampai di regol, seorang diantara keduanya berteriah, “Awas. Pada suatu saat aku akan kembali untuk membunuhmu. Kau akan mati di atas api persembahan. Tubuhmu akan hancur menjadi debu. Ingat besok jika purnama naik, maka kami benar-benar akan mengorbankan kau. Jika kau bersembunyi, maka salah seorang penghuni padukuhan ini akan kami korbankan. Demikian berturut-turut setiap purnama. Kecuali jika ada seorang bayi yang diserahkan.”

Tetapi demikian ia selesai berbicara dan melangkah untuk meninggalkan halaman banjar itu, sebuah pukulan yang keras telah mengenai mulutnya. Sambil meloncat surut dan bahkan hampir kehilangan keseimbangannya, orang itu mengaduh. Ternyata dua giginya telah tanggal dan darah mengalir dari sela-sela bibirnya.

“Kau sudah dibebaskan. Tetapi mulutnya masih saja meneriakkan kegilaanmu.”

Kedua orang yang akan meninggalkan halaman itu tersentak. Dipandanginya orang yang berdiri di hadapannya. Karena orang itu membelakangi oncor di regol halaman, maka wajah orang itu tidak nampak jelas.

“Kau sudah dibebaskan dan dapat kembali ke padepokan. Tetapi suaramu menyengat telinga. Sebenarnya aku ingin membunuhmu sekarang. Tetapi biarlah kau kembali kepada Kiai Banyu Bening untuk memberikan laporan lengkap tentang peristiwa yang terjadi disini. Juga tentang keberhasilanmu membakar banjar tepat pada waktu yang sudah diperhitungkan oleh kawan-kawanmu.”

Kedua urang itu tidak menyahut. Ketika mereka berpaling, mereka masih melihat orang yang melepaskannya itu berdiri di sebelah batang pohon itu.

Ternyata ada beberapa orang-berilmu tinggi yang membayangi kekuatan padepokan mereka.

“Nah,” berkata orang yang telah memukul mulut salah seorang dari kedua orang itu hingga berdarah, “sekarang pergilah. Beritahukan kepada Banyu Bening, bahwa kami akan tetap membayanginya sampai ia menyadari, bahwa ia tidak dapat melontarkan dendamnya kepada bayi diseluruh permukaan bumi ini.”

Kedua orang itu masih berdiri mematung. Namun orang yang telah memukulnya itu berkata lagi, “pergilah. Kesempatan bagi kalian masih terbuka.”

Kedua orang itu pun kemudian telah beringsut perlahan-lahan. Namun kemudian keduanya seakan-akan telah meloncat dan berjalan dengan cepat meninggalkan regol banjar padukuhan itu.

Dalam pada itu, orang yang telah memutus tali yang mengikat kedua orang yang membakar banjar itu berkata kepada orang-orang yang berada di halaman, “Sekarang, pulanglah. Pesanku, jangan dengan serta-merta menentang orang-orang dari padepokan itu. Tetapi kalian sudah mengetahui, bahwa mereka telah berusaha memperbodoh kalian. Orang yang bernama Kiai Banyu Bening itu telah kehilangan anak bayinya yang terbakar. Ia merasa terpukul oleh peristiwa itu. Tetapi kami belum tahu pasti, siapakah yang telah bersalah atas kematian bayi itu. Mungkin justru Kiai Banyu Bening sendiri. Dan ia berusaha menimpakan kesalahannya kepada orang lain.”

Orang-orang yang berada di halaman itu memang telah tersentuh hatinya. Tetapi mereka menyadari, bahwa menentang orang-orang padepokan akan berarti hancurnya padukuhan mereka.

Demikianlah, maka satu-satu mereka telah keluar dari regol halaman banjar padukuhan yang telah menjadi abu. Di beberapa bagian api masih nampak menyala. Tetapi sudah menjadi semakin kecil. Masih ada pula bara yang merah diantara setumpuk reruntuhan. Namun sudah tidak banyak berarti lagi.

Sebuah kentungan yang menjadi kebanggaan padukuhan itu, karena besarnya dan bunyinya yang mendengung seperti gema yang menyusuri lembah di antara bukit-bukit, telah ikut menjadi abu pula.

Malam itu setiap keluarga telah membicarakan banjar mereka yang terbakar. Satu dua diantara mereka telah membicarakan pula orang-orang yang disebut membakar banjar itu.

“Siapakah sebenarnya orang bongkok itu?” desis Ki Krawangan yang duduk bersama keluarganya, “ternyata kedatangannya di padukuhan ini bukan sekedar kelaparan dan kehausan.”

Delima mengangguk-angguk. Tetapi ia sama sekali tidak menyahut. Yang kemudian berbicara adalah Nyi Krawangan, “Orang bongkok itu agaknya membawa pesan yang lebih berarti bagi para penghuni padukuhan ini.”

Ki Krawangan mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Aku tidak tahu, bagaimana sikap kakang terhadap peristiwa yang baru saja terjadi di sanggar dan di banjar. Dua peristiwa yang memang saling berhubungan. Jika benar kedua orang itu membakar banjar, maka segala sesorah orang-orang padepokan itu adalah omong kosong.”

“Apalagi menilik keterangan orang yang tidak dikenal itu. Kiai Banyu Bening, eh, jabang bayi, aku telah menyebut namanya, orang yang dibayangi oleh dendam karena kematian bayinya itu, ingin melihat orang lain juga mengalami sebagaimana dialaminya.

“Jika demikian, ia adalah orang yang perlu dikasihaninya,” desis Ki Krawangan.

Nyi Krawangan termangu-mangu sejenak. Dipandanginya anak perempuannya. Delima memang menjadi gelisah, tetapi ia tetap berdiam diri.

Namun peristiwa yang terjadi di sanggar itu nampaknya akan menjauhkan orang bongkok dan dua orang cucunya itu dari padukuhannya, karena orang-orang padukuhan ini telah mengenalnya.

Delima tidak dapat membayangkan tanggapan orang-orang di padukuhannya terhadap Ki Pandi. Apakah mereka menjadi marah, merasa terhina, atau justru seperti ayah dan ibunya, yang nampaknya mempunyai sikap tersendiri terhadap orang bongkok itu.

Dalam pada itu, maka Ki Krawangan pun kemudian berkata, “Sudahlah. Kita akan tidur. Kita akan melihat perkembangan keadaan esok pagi.”

Tetapi Nyi Krawangan agaknya justru merasa cemas. Karena itu, ia pun bertanya kepada suaminya, “Apakah orang-orang padepokan itu dapat menuduh kita terlibat dalam persoalan ini? Maksudku, apakah orang-orang padepokan menganggap bahwa kita telah menjadi jembatan kehadiran orang bongkok dan kawan-kawannya di padukuhan ini karena orang bongkok itu pernah berada di rumah ini?”

Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Entahlah Nyi. Tetapi mudah-mudahan tidak. Karena itu, aku berharap besok kakang datang kemari. Aku ingin berbicara dengan kakang.”

Nyi Krawangan pun mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian berkata kepada Delima dan Kenanga, “Sudahlah. Hari telah larut. Sebaiknya kita pergi tidur saja.”

Ketika kemudian Nyi Krawangan, Delima dan Kenanga sudah berbaring didalam biliknya, Ki Krawangan masih duduk di ruang tengah. Sebuah mangkuk berisi wedang jahe telah dihirupnya beberapa kali.

Bagaimanapun juga Ki Krawangan juga menjadi gelisah. Orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening itu memang dapat menuduhnya bahwa ia telah berhubungan sebelumnya dengan orang bongkok itu. Kakaknya memang pernah memberitahukannya dan bahkan para cantrik pernah datang pula kepadanya.

Baru menjelang dini, Ki Krawangan itu sempat tidur beberapa saat.

Ketika fajar menyingsing, Ki Krawangan telah terbangun. Ia minta agar isterinya tidak pergi ke pasar atau ke mana-mana.

“Ada apa kakang?” bertanya Nyi Krawangan.

“Apapun yang terjadi, kita ada dirumah.”

Nyi Krawangan mengangguk. Katanya, “Baiklah. Biarlah Delima mencuci di sumur saja nanti.”

Tetapi ketika kemudian matahari terbit, Delima telah mengumpulkan cuciannya di dalam bakul yang selalu dibawanya mencuci ke sungai.

“Delima,” berkata ibunya, “kau nanti tidak usah pergi ke sungai. Kau cuci saja pakaian kotor itu di sumur.”

“Kenapa?” bertanya Delima.

“Kau tahu bahwa baru semalam terjadi keributan. Banjar kita masih berasap. Kita tidak tahu apakah orang-orang dari padepokan semalam ada yang menjadi korban. Maksudku, terbunuh. Karena itu, maka sebaiknya kita berkumpul saja dirumah. Mungkin pamanmu akan datang memberikan penjelasan, apakah keluarga kita dianggap terlibat atau tidak.”

Delima termangu-mangu sejenak. Tetapi rasa-rasanya ia ingin pergi ke sungai, justru karena semalam terjadi keributan. Apakah orang bongkok itu masih datang atau benar-benar menjauhkan dirinya dari padukuhan ini.

Karena itu, maka Delima itu pun berkata, “Tetapi mencuci di sungai lebih bersih ibu. Lagi pula aku tidak usah menimba air.”

“Tetapi suasananya tidak menguntungkan Delima. Sebaiknya kau tetap di rumah. Jika terjadi sesuatu di padukuhan ini karena peristiwa yang terjadi semalam, kita sudah berkumpul di rumah.”

Delima menjadi kecewa. Tetapi ia memang menjadi cemas bahwa sesuatu akan terjadi di padukuhan itu sebagaimana dikatakan oleh ibunya. Bahkan mungkin sesuatu akan terjadi pada keluarganya, karena kecurigaan orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening terhadap keluarganya. Orang-orang dari padepokan itu dapat menganggap bahwa keluarganya merupakan jembatan kehadiran orang bongkok itu di padukuhan.

Karena itu, maka Delima pun memutuskan untuk tidak pergi ke sungai hari iiu. Ia akan mencuci di sumur. Tetapi Delima itu pun kemudian berkata kepada adiknya, “Kau harus membantu aku menimba air.”

“Aku membantu menggosok dengan lerak saja,” jawab Kenanga.

“Kau tidak boleh malas.”

“Aku sudah mencuci mangkuk.”

“Sudahlah,” ibunya memotong, “bukankah ayahmu sudah mengisi jambangan sampai penuh. Nanti ayahmu akan mengisinya lagi.”

“Bukan karena jambangan penuh ibu. Tetapi Kenanga tidak boleh bermalas-malasan saja. Ia menjadi semakin tumbuh dan menjadi besar. Ia tidak boleh selalu bermanja-manja.”

“Delima, kau kenapa sebenarnya? Bukankah kau tidak pernah berkata demikian?”

Delima termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak menjawab lagi. Dipungutnya bakul yang berisi pakaian-pakaian kotor itu dan dibawanya ke sumur.

Sambil berjalan ia melihat adiknya mengusap matanya yang basah. Sambil melangkah Delima berdesis perlahan yang hanya dapat didengarnya sendiri, “Anak manja yang cengeng.”

Tetapi ketika ia mulai duduk di atas dingklik kayu setelah merendam pakaian-pakaian yang kotor itu, hatinya menjadi luluh melihat Kenanga melangkah mendekatinya sambil berusaha menghapus air matanya.

“Biar aku menimba air kak?” suaranya agak serak.

Delima memandang adiknya yang berdiri termangu-mangu.

Namun katanya, ”Sudahlah Kenanga. Jambangan itu sudah penuh. Ayah sudah mengisinya.”

“Tetapi kak Delima marah” berkata adiknya.

“Tidak. Aku tidak marah Kenanga.”

Kenanga masih ragu. Selangkah ia mendekat, sementara Delima berkata, “marilah. Bantu aku menggosok dengan lerak!”

Kenanga pun kemudian berjongkok di sebelah Delima. Dicobanya untuk membantu mencuci pakaian-pakaian yang kotor itu.

Dalam pada itu, Delima sempat merenungi dirinya sendiri. Kenapa tiba-tiba saja ia menjadi kesal. Namun akhirnya Delima menyadari bahwa ia menjadi kecewa karena ia tidak dapat pergi ke sungai untuk bertemu dan berbicara dengan orang bongkok itu.

Tetapi ia telah menimpakan kekesalannya itu kepada adiknya.

Dalam pada itu, Ki Krawangan yang duduk di ruang dalam masih saja merasa gelisah. Nyi Krawangan yang sibuk di dapur, sempat melupakan kegelisahannya sejenak, justru karena kesibukannya.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka Ki Krawangan bergegas menyongsong kakaknya yang benar-benar telah datang ke rumahnya.

Dipersilahkannya kakaknya itu duduk didalam. Rasa-rasanya Ki Krawangan tidak sabar menunggu, apa yang akan dikatakan oleh kakaknya itu.

“Krawangan,” berkata kakaknya, “beberapa orang kawanku memang mempertanyakan hubunganmu dengan orang bongkok itu.”

“Tetapi kakang tahu, bahwa aku tidak mempunyai hubungan apa-apa.”

“Ya. Para cantrik yang kemarin ada disini itu juga mengatakan bahwa kau tidak mempunyai hubungan apa-apa.” kakaknya itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi sekarang yang ada hanya aku, Krawangan. Aku ingin kau berkata dengan jujur. Apakah sebenarnya kau mempunyai hubungan atau tidak.”

Sementara itu Delima yang diberitahu oleh ibunya, bahwa pamannya telah datang, berkata kepada adiknya, “Kau tunggu cucian ini Kenanga. Jika kau dapat membantu, lakukanlah. Tetapi jika kau merasa lelah, tunggui sajalah disini.”

Kenanga yang masih dibayangi oleh kemarahan kakaknya tidak berani membantah. Sambil mengangguk Kenanga menyahut, “Baik, kak. Tetapi jangan lama-lama.”

“Tidak. Aku tidak akan menunggui pembicaraan ayah dan paman sampai selesai.”

Bersama ibunya, maka Delima pun kemudian masuk ke dalam. Tetapi keduanya tidak menemui pamannya. Keduanya berusaha mendengarkan pembicaraan Ki Krawangan dengan kakaknya yang menjadi salah seorang penghuni padepokan Kiai Banyu Bening dari balik dinding.

Dalam pada itu, Krawangan berusaha menjelaskan sekali lagi, kenapa orang bongkok itu pernah berada dirumahnya sebelum terjadi peristiwa yang mengguncang tatanan yang dibuat oleh orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening itu.

Kakak Ki Krawangan itu mengangguk-angguk. Dengan nada berat ia berkata, “Ternyata segala sesuatunya telah disusun dengan rapi oleh orang bongkok itu. Tetapi kenapa ia telah memilih rumah ini? Apakah orang bongkok itu mengetahui, bahwa kau adalah adik dari salah seorang penghuni padepokan itu?”

“Aku tidak tahu, kakang. Yang aku ketahui, orang bongkok itu ada di depan rumahku. Sementara itu, ia mengaku kelaparan dan kehausan.”

Kakak Ki Krawangan itu kemudian berdesis, “Ternyata kelompok mereka terdiri dari beberapa orang berilmu tinggi. Semalam, tiga orang kawanku terluka cukup berat. Seorang diantaranya jiwanya sangat terancam. Sedangkan yang lain. semuanya terluka dan pingsan. Aku juga tiba-tiba saja tidak ingat apa-apa lagi.”

Ki Krawangan mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian justru bercerita tentang dua orang yang diikat di banjar, “Dua orang-orang yang tidak dikenal ini dikatakan telah membakar banjar dengan sengaja untuk memberikan kesan kemurkaan Sang Maha api.”

Wajah kakak Ki Krawangan itu menjadi tegang. Sementara kepada kakaknya, Ki Krawangan itu berkata, “Aku hanya berani mengatakan kepadamu kakang. Aku tidak berani mengatakan kepada siapapun juga, karena akan dapat menimbulkan salah paham. Bahkan aku tidak berani membicarakannya dengan orang-orang yang juga mendengar langsung keterangan orang yang tiba-tiba saja muncul dari reruntuhan banjar itu.”

“Mereka akan dapat menghancurkan padepokan Kiai Banyu Bening itu.”

Ki Krawangan melihat kecemasan di wajah kakaknya. Namun kemudian diberanikan dirinya untuk bertanya, “Kakang, kakang minta agar aku berkata dengan jujur. Aku pun telah menjawab semua pertanyaan kakang dengan jujur. Sekarang, apakah aku juga dapat minta kakang menjawab pertanyaanku dengan jujur dan tidak menimbulkan salah paham. Jika kakang bersedia menjawab dan tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka aku akan mengajukan beberapa pertanyaan. Tetapi jika kakang berkeberatan, maka aku pun akan mengurungkannya.”

Wajah kakak Ki Krawangan itu menjadi tegang. Tetapi ia seakan-akan mempunyai hutang kepada adiknya. Ketika adiknya itu menagihnya, maka sulit baginya untuk mengelak.

“Apa yang akan kau tanyakan?” desis kakaknya.

Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian barulah ia bertanya, “Apakah yang dikatakan oleh orang yang tiba-tiba saja muncul dari rerumputan itu benar?”

“Yang mana yang kau maksudkan?” kakak Ki Krawangan memang menjadi agak bingung.

“Maksudku, aku ingin mendapat jawaban tentang apakah benar bahwa banjar itu memang sengaja dibakar? Kemudian apakah benar, bahwa sebenarnya upacara yang dilakukan setiap bulan purnama yang mengarah kepada penyerahan korban seorang bayi itu semata-mata karena dendam yang membakar jantung Kiai Banyu Bening dan sama sekali tidak ada hubungan dengan kepercayaan tentang kesejahteraan lahir dan batin?”

Wajah kakak Ki Krawangan menjadi sangat tegang. Dengan nada berat ia berkata, “Jangan bertanya kepada siapapun tentang kebenaran ceritera itu. Jika terdengar orang-orang dari padepokan, maka kau akan dapat dibunuh.”

“Sudah aku katakan, kakang. bahwa aku tidak berani berbicara tentang keterangan orang-arang yang tidak dikenal itu dengan siapapun juga. Bahkan dengan orang-orang yang langsung mendengarnya.”

Kakak Ki Krawangan itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Krawangan. Jika semula aku hanya ingin tahu tentang isi padepokan Kiai Banyu Bening, maka akhirnya aku terjerat didalamnya. Sulit bagiku dan bagi orang-orang yang sudah terikat dapat melepaskan diri. Kami, orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening itu, satu dengan yang lain selalu saling mencurigai, saling mengawasi dan jika perlu saling membunuh di antara kami.”

“Jadi bagaimana menurut pendapat kakang tentang ceritera orang yang tidak dikenal itu?”

Kakak Ki Krawangan itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebagian besar dari yang dikatakannya itu benar, Krawangan. Banjar ini memang sengaja dibakar. Aku sebagai penghuni padukuhan ini sebenarnya merasa berkeberatan. Tetapi aku tidak berani mencegahnya, agar tidak menimbulkan masalah baru. Sedangkan dendam yang menyala dihati Kiai Banyu Bening tentang bayinya yang terbakar itu juga benar.”

“Jika demikian, apa artinya sebuah padepokan dengan para pengikutnya yang besar dan bahkan semakin besar? Mungkin Kiai Banyu Bening mendapat kepuasan kelak, jika korban bayi itu sudah dimulai. Ia akan merasa bahwa ia tidak sendiri kehilangan anak bayinya yang ditelan api. Ia akan tertawa mendengar jerit bayi yang kepanasan dan kemudian membakarnya menjadi abu. Tetapi apa yang didapatkan oleh para pengikutnya, seperti kakang, misalnya. Atau orang bertubuh raksasa yang terluka itu. Atau yang lain lagi. Bahkan yang hampir mati terbunuh oleh orang- orang yang tidak dikenal itu.

“Krawangan, isi padepokan itu bukan sekedar orang-orang yang sesorah mengelabuhi banyak orang dengan ceritera Sang Maha Api. Tetapi dipimpin oleh Kiai Banyu Bening sendiri sekelompok orang telah berkeliaran dengan alasan untuk mendapatkan dana bagi perkembangan padepokannya serta menyebarkan kepercayaan untuk mendapatkan kesejahteraan lahir dan batin.”

“Bagaimana cara mereka untuk mendapatkan dana itu?”

“Kau sengaja bertanya untuk memancing agar aku menyebutnya? Baiklah. Kami memang sering melakukan perampokan. Tentu tidak atas nama padepokan Kiai Banyu Bening. Selanjutnya, di kemudian hari, jika kami sudah berhasil mengikat orang-orang yang sudah terlanjur percaya, maka kami akan dapat memeras mereka. Uang dan barang-barang itu akan mengalir dengan sendirinya ke padepokan kami.”

“Dan kakang menjadi salah seorang diantara mereka?” bertanya Ki Krawangan.

“Aku sudah terlanjur terlibat didalamnya. Sulit bagiku untuk melepaskan diri. Jika aku hilang dari lingkungan mereka, maka semua keluargaku tentu akan ditumpas habis. Termasuk kau dan anak isterimu. Apalagi sekarang, setelah orang bongkok itu hadir di padukuhan ini,” kakaknya berhenti sejenak. Namun kemudian dengan kerut yang semakin dalam di keningnya ia berkata, “Selama ini aku adalah salah seorang diantara mereka yang mendapat kepercayaan itu untuk tetap dapat berbuat banyak. Tetapi aku sebenarnya sedang mencari jalan untuk keluar dari neraka itu. Apalagi Kiai Banyu Bening sudah mengatakan niatnya, untuk benar-benar mengorbankan seorang bayi meskipun baru akan dilakukan di padepokan itu saja.”

Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam. Semula ia tidak mengira bahwa kakaknya itu justru merasa tersiksa. Ia mengira bahwa kakaknya benar-benar merasa terpanggil untuk bekerja keras menyebarkan kepercayaan yang sekedar menjadi selubung dari satu gerakan yang kotor. Dendam dan pemerasan.

Tetapi Krawangan sendiri tidak berdaya untuk membantu kakaknya melepaskan diri dari lingkungan yang terkutuk itu.

Kakaknya yang melihat wajah Ki Krawangan menjadi muram, berkata, “Sudahlah. Jangan hiraukan aku. Aku akan dapat menjaga diriku sendiri.”

Ki Krawangan mengangguk-angguk. Katanya, “Maaf kakang. Aku tidak dapat membantu apapun juga.”

“Aku mengerti” jawab kakaknya, jika kau melibatkan diri, maka kaulah yang lebih terancam daripada aku sendiri. Bahkan dengan anak dan isterimu. Karena itu, kau justru harus berdiri pada jarak tertentu. Sementara ini aku masih orang yang dipercaya sehingga sikapku masih harus tidak berubah.”

Ki Krawangan mengangguk-angguk sambil berdesis, “Baik kakang.”

Demikianlah, maka kakak Ki Krawangan itu pun segera minta diri. Sebelum ia meninggalkan tempat itu ia berkata, “Kau harus berhati-hati Krawangan. Meskipun sampai, saat ini kau masih di-anggap bersih tetapi kau termasuk salah seorang yang pernah dibicarakan oleh para pemimpin padepokan Kiai Banyu Bening itu.”

“Ya, kakang. Tetapi sebenarnyalah aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan orang bongkok itu.”

Sejenak kemudian, maka kakak Ki Krawangan itu telah meninggalkan rumah adiknya. Sementara Ki Krawangan mengantarnya sampai ke luar regol halaman rumahnya.

Ketika seseorang lewat didepan regol itu, maka ia pun telah mengangguk dalam-dalam. Mereka menganggap bahwa kakak Ki Krawangan itu adalah salah satu dari antara orang-orang yang dihormati di padepokan Kiai Banyu Bening, karena kakak Ki Krawangan itu sudah mendapat wewenang untuk memberikan sesorah di sanggar diluar padukuhan itu.

Karena kakaknya itu pula, maka Ki Krawangan sendiri termasuk orang yang dihormati pula di padukuhan itu.

Delima dan ibunya mendengar semua pembicaraan itu. Ibunya, seperti juga ayahnya, sama sekali tidak melihat jalan yang dapat ditetapkan oleh kakak Ki Krawangan itu. Namun Delima agak sungkan untuk menyampaikannya kepada orang bongkok itu apabila mendapat kesempatan.

“Besok aku akan mencuci di kali. Mudah-mudahan orang bongkok itu masih mau datang lagi.” berkata Delima didalam hatinya.

Sebenarnyalah di keesokan harinya, Delima telah minta ijin ayah dan ibunya untuk mencuci di kali.

“Suasananya masih belum menentu, Delima,” berkata ibunya.

“Jika terjadi sesuatu, tentu telah terjadi kemarin, ibu,” jawab Delima, “agaknya memang tidak terjadi sesuatu. Apakah paman mengatakan bahwa crang-orang dari padepokan itu akan berbuat sesuatu atas orang-orang padukuhan ini?”

“Tidak” jawab ayahnya, “tetapi kita harus tetap berhati-hati.”

“Bukankah aku tidak akan berbuat apa-apa, ayah. Hanya mencuci pakaian. Tidak lebih.”

Ki Krawangan menarik nafas panjang. Namun akhirnya ia berkata, “Tetapi jangan terlalu lama. Kau pun harus berhati-hati. Jika bukan orang dari padepokan, mungkin orang-orang yang tidak kita kenal itu masih berkeliaran disini. Terutama orang bongkok itu.”

“Bukankah orang bongkok itu tidak berniat jahat? Ia justru mencoba untuk mengingatkan kita, bahwa jalan yang selama ini kita tempuh harus kita pertimbangkan lagi.”

“Delima, “potong ayahnya, “kau jangan berkata begitu. Hati-hatilah dengan setiap kata yang kau lontarkan. Jika lidahmu tergelincir maka kau akan dapat terjerumus kedalam kesulitan”

Delima memandang ayahnya dengan tajamnya. Namun kemudian ia mengangguk kecil sambil menjawab, “Ya, ayah.”

“Untuk selanjutnya, kau jangan mengatakan apa saja tentang hubungan kita dengan orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening, Mereka adalah orang-orang tanpa hati tanpa jantung.”

Delima mengangguk pula. Katanya, “Ya, ayah.”

“Nah, berhati-hatilah. Jangan terlalu lama.”

Delima pun kemudian membawa bakul berisi pakaian yang kotor itu ke sungai. Seperti biasanya ia pun merendam cuciannya. Satu-satu ia mulai mencuci dengan lerak.

Beberapa saat lamanya Delima mencuci. Ternyata memang belum ada orang lain yang keluar dan mencuci pakaiannya di kali sebagaimana dilakukan oleh Delima, sehingga karena itu, maka Delima itu pun berada di tepian itu sendiri.

Setiap kali Delima selalu memandang gerumbul-gerumbul di-seberang. Orang bongkok dan kedua orang cucunya, atau kadang-kadang sendiri, sering keluar dari gerumbul di seberang. Namun setelah ia menunggu beberapa lama, namun orang bongkok itu belum juga keluar dari dalam gerumbul.

“Agaknya kakek bongkok itu tidak mau lagi datang,” berkata Delima di dalam hatinya.

Sebenarnya, ingin menceriterakan sikap pamannya yang sangat menarik baginya. Pamannya yang harus berada di tempat yang dibencinya, sehingga karena itu, maka ia merasa selalu tersiksa.

Tetapi Delima masih menunggu. Ia masih tetap mencuci meskipun sebenarnya cuciannya sudah bersih. Sekali-sekali Delima meletakkan cuciannya. Bangkit terdiri dan menggeliat karena pinggulnya terasa menjadi pegal.

Namun orang bongkok itu tidak juga datang.

Akhirnya Delima menjadi kesal. Dimasukkannya cuciannya yang sudah bersih itu kedalam bakulnya. Dibenahinya pakaiannya, kemudian Delima pun siap untuk meninggalkan tepian.

Namun langkah Delima berhenti. Dua orang laki-laki berjalan kearahnya. Dua orang laki-laki yang agaknya belum dikenalnya.

Tetapi ketika kedua orang itu menjadi semakin dekat, maka Delima pun merasa pernah melihat wajah kedua orang itu.

Namun Delima tidak menghiraukannya. Ia tidak tahu pasti, apakahia pernah melihat atau belum.

Tetapi ketika ia melangkah sambil menjinjing bakulnya, salah seorang dari kedua orang itu memanggilnya, “nDuk. Tunggu.”

Karena tidak ada orang lain, maka Delima pun merasa bahwa orang itu telah memanggilnya.

Karena itu, maka Delima pun telah berhenti.

“Tunggu,” berkata orang itu pula., “Kenapa kau tergesa-gesa pergi? Bukankah hari masih pagi?”

Delima merasakan nada yang tidak wajar pada suara laki-laki itu. Karena itu, maka ia pun justru telah melangkah pula naik ke tanggul.

Tetapi laki-laki itu berkata lebih keras lagi., “Tunggu, he nduk. Jangan pergi. Ada yang ingin aku katakan kepadamu.”

Delima tidak menghiraukannya. Justru ia menjadi semakin ketakutan. Karena itu, maka ia berusaha untuk. semakin cepat meninggalkan tempat itu.

Tetapi kedua orang laki-laki itu juga melangkah semakin cepat. Ketika Delima hampir mencapai ujung tanggul, kedua orang itu sudah berada dibawahnya. Bahkah seorang diantara mereka telah memegang kaki Delima dan menariknya dengan kasar.

Delima terseret turun. Bakulnya terlepas dari tangannya dan. bahkan ia sendiri bergulir, beberapa kali dan kemudian terbaring kembali di tepian.

Delima dengan tergesa-gesa berusaha bangkit. Sementara kedua orang laki-laki itu tertawa berkepanjangan.

“Kau akan lari kemana nduk?” bertanya salah seorang dari keduanya.

Wajah Delima menjadi pucat. Ia menyesal, bahwa ia telah pergi ke kali untuk mencuci. Kenapa ia tidak mendengarkan nasehat ayah dan ibunya, agar tidak pergi dalam suasana yang masih tidak menentu.

Tiba-tiba saja Delima mulai mengenali kedua orang itu. Keduanya tentu orang dari padepokan Kiai Banyu Bening.

Dengan gagap Delima pun bertanya, “Siapakah kalian berdua?”

Kedua orang itu masih tertawa. Seorang dari mereka pun kemudian menyahut, “Tidak ada gunanya kau mengetahui siapa kami.”

“Kenapa kalian menggangguku?” bertanya Delima pula.

“Kami tidak mengganggumu. Kami hanya ingin duduk-duduk bersamamu disini. Kenapa kau lari?”

“Aku harus segera pulang. Aku harus masak bagi keluargaku.”

“Itu tidak perlu” jawab salah seorang dari kedua orang itu, ”lebih baik bersama kami disini.”

Delima benar-benar menjadi ketakutan. Mata kedua orang laki-laki itu menjadi semakin liar.

Tepian itu memang sepi. Biasanya banyak kawan-kawannya yang mencuci pakaian. Sekali-sekali ada orang yang memandikan kerbau atau sapinya. Sering juga anak-anak yang menggembala-kan kambingnya bermain-main di tepian. Atau seorang pencari ikan yang menyusuri arus sungai itu.

Tetapi hari itu tepian itu sama sekali tidak disentuh kaki seorang pun kecuali Delima.

Ternyata kedua orang ini benar-benar menjadi liar. Seorang diantara mereka berkata, “Marilah. Kita bawa anak ini ke seberang.

“Jangan” Delima mulai menangis.

“Diam kau,” bentak salah seorang dari kedua orang itu.

“Aku akan berteriak, “ tangis Delima.

“Tidak akan ada orang yang mendengar. Tetapi jika kau lakukan juga, aku akan membunuhmu.”

Ternyata Delima tidak menghiraukannya. Ia benar-benar berteriak nyaring.

Tetapi dengan cepat, kedua orang laki-laki itu menyergapnya dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.

“Iblis betina,” geram yang seorang.

Tetapi yang seorang berkata, “Aku senang kepada perempuan yang tidak mudah menyerah. Marilah, kita bawa anak ini keseberang. Cepat.”

Namun sebelum kedua orang laki-laki itu menyeret Delima keseberang, maka tiba-tiba seseorang telah berdiri diatas tanggul memandangi mereka dengan dahi yang berkerut.

Kedua orang laki-laki yang menyeret Delima itu terkejut. Tetapi keduanya menarik nafas lega. Seorang diantara mereka berdesis, “Ki Warana. Aku kira siapa?”

“Apa yang kalian lakukan?” bertanya orang itu.

Kedua orang laki-laki itu tertawa. Katanya, “Biasa, Ki Warana. Kami sudah terlalu lama tenggelam didalam tugas yang tidak berkeputusan. Tiba-tiba saja kami melihat perempuan yang kesepian ini. Kami memang merasa kasihan, sehingga kami perlu menemaninya.”

Delima memandang orang yang berdiri di atas tanggul itu dengan mata yang tanpa berkedip. Tetapi mulutnya justru bagaikan membeku. Delima tidak tahu, apa yang akan terjadi kemudian atas dirinya meskipun orang itu hadir diatas tanggul.

Namun dengan nada berat orang itu berkata, “Lepaskan anak, itu.”

“He?” kedua orang laki-laki ini terkejut.

“Lepaskan,” suara orang yang berdiri di atas tanggul itu menjadi semakin keras.

Delima mendengar kata-kata itu. Tiba-tiba saja ketegangan yang mencengkamnya sehingga membuat mulutnya bagaikan membeku itu, larut dalam satu pengharapan. Karena ini, maka tiba-tiba saja Delima berteriak, “Paman.”

Kedua orang laki-laki itu terkejut. Sejenak mereka termangu-mangu, tetapi mereka belum melepaskan Delima.

“Lepaskan,” berkata orang yang berdiri diatas tanggul itu semakin lantang., “Anak itu kemanakanku, kalian dengar?”

“Tetapi, tetapi …….” salah seorang laki-laki itu berdesis.

“Biarlah anak itu pulang kepada orang tuanya.”

Namun tiba-tiba seorang dari kedua orang itu berkata, “Ki Warana, hal itu tidak biasa. Biasanya tidak ada orang yang mencampuri persoalan orang lain di padepokan.”

“Ini bukan persoalan orang lain. Aku sudah mengatakan, anak itu kemanakanku, apakah kalian tuli?”

Tetapi kedua orang itu tidak mau kehilangan korbannya. Karena itu, maka seorang diantara mereka berkata, “Kami tidak akan melepaskan anak ini. Kami memerlukannya.”

Orang yang berdiri diatas tanggul itu melangkah turun. Demikian ia berdiri di tepian, maka suaranya yang berat terdengar lagi, “Lepaskan, biarlah aku membawanya pulang. Gadis itu anak adikku.”

“Aku tidak peduli,” jawab salah seorang dari kedua orang itu.

“Aku memberi peringatan terakhir kepada kalian. Jika kalian tidak melepaskannya, maka kita akan membuat perhitungan menurut kebiasaan kita, orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening.

“Bagus,” sahut seorang diantara kedua orang yang menangkap Delima itu, “kami akan membunuhmu. Kaulah yang mencari persoalan. Karena itu, jika kau mati, adalah karena salahmu sendiri.

Wajah Ki Warana, kakak Ki Krawangan itu menjadi merah. Dengan geram ia berkata, “Jadi kau berdua sudah berani menentang aku, he? Berapa lama kalian berada di padepokan. Kalian sudah berani menentang orang-orang tua di padepokan itu. Karena itu, maka kalian tidak pantas lagi berada di padepokan Kiai Banyu Bening, karena kau tentu hanya akan membuat air yang mengalir dari padepokan menjadi keruh.”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Tetapi benak mereka telah dicengkam oleh nafsu iblis yang menyuruk kedalamnya. Karena itu seorang diantara mereka berkata, “Ki Warana. Kami berani menentangmu, karena kau memiliki kelainan dari orang-orang tua yang lain. Mereka tidak akan pernah menghalangi apapun yang kami lakukan. Tetapi kau telah mencoba merampas sesuap nasi yang sudah berada di mulutku. Karena itu, siapa pun orangnya, akan kami lawan dengan segenap kemampuan kami. Tetapi melawan orang-orang tua yang tidak berarti seperti kau, tidak boleh setengah-setengah. Jika kakiku menginjak ular, maka sebaiknya aku injak kepalanya sampai mati, agar ular itu tidak akan mematuk aku dikemudian hari.”

Ki Warana tidak dapat menahan diri lagi. Iapun segera bergeser mendekati kedua orang itu.

Kedua orang itu pun segera bersiap pula. Seorang di antara mereka masih memegangi Delima.

Dengan geram Ki Warana pun telah menyerang salah seorang diantara mereka, sedangkan yang lain justru telah menyeret Delima agak menjauh.

Sejenak kemudian, terjadi perkelahian antara salah seorang diantara kedua orang itu dengan Ki Warana.

Namun Ki Warana memang memiliki banyak kelebihan. Dalam waktu singkat, lawannya telah terdesak. Beberapa kali serangan Ki Warana sempat mendorong lawannya, sehingga kadang-kadang keseimbangannya pun telah terguncang.

Namun dalam keadaan yang paling gawat bagi orang itu, terdengar kawannya berteriak, “Cukup. Hentikan perkelahian atau gadis itu akan mati.”

Ki Warana terkejut. Ia pun kemudian melihat tangan orang yang memegangi Delima itu mencengkam lehernya.

“Setan licik,” geram Ki Warana, “jika kalian laki-laki sebagaimana penghuni padepokan Kiai Banyu Bening, lepaskan gadis itu. Kita bertempur sampai tuntas disini. Aku tidak berkeberatan jika kalian bertempur berdua.

“Persetan dengan igauanmu itu. Sekarang kau harus memilih, kau atau gadis ini yang mati.”

Wajah Ki Warana menjadi sangat tegang. Tetapi Delima seakan-akan tidak lagi dapat bernafas. Tangan orang itu benar-benar telah mulai mencekik leher Delima.

“Cepat, katakan. Kau atau gadis ini yang akan mati.” Ki Warana menjadi semakin tegang. Namun kemudian iapun berdesis, “Jika kau bunuh aku, apa jaminanmu, bahwa gadis itu akan tetap hidup tanpa kau sakiti?”

“Kau tidak dapat menuntut jaminan apapun. Sekarang, berbaringlah menelungkup. Kami akan menghancurkan kepalamu dengan batu. Jika kau mati ditepian, maka anak ini akan tetap hidup.”

Namun tiba-tiba Delima berteriak, “Jangan hiraukan aku paman.”

Tetapi suaranya pun segera tertelan. Tangan yang kuat telah menutup mulutnya. Tetapi nampaknya Delima memang sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ketika tangan itu menutup mulutnya, Delima justru telah membuka mulutnya itu. Demikian tangan itu berada diantara giginya, maka Delima telah menggigit tangan itu keras-keras.

Orang itu berteriak kesakitan. Justru pada saat itu, Delima merenggut dirinya dari tangan orang itu dan berusaha berlari meninggalkan tepian.

Ki Warana tanggap akan keadaan itu. Dengan cepat ia meloncat memburu ketika orang yang kesakitan tangannya yang berusaha menggapai Delima lagi.

Orang itu memang mengurungkan niatnya mengejar Delima. Ia harus dengan cepat mempersiapkan diri melawan Ki Warana yang menyerangnya seperti badai.

Tetapi pada saat itu, orang yang hampir dikalahkan oleh Ki Warana itulah yang kemudian berlari memburu Delima yang naik keatas tanggul.

Delima memang mempunyai sedikit waktu berlebih. Tetapi ia memang tidak setangkas lawannya. Ketika ia hampir sampai diatas tanggul, maka orang yang mengejarnya itu hampir saja dapat menggapainya.

Tetapi tiba-tiba saja orang ku menjerit kesakitan. Tubuhnya meluncur dan berguling jatuh ke tepian. Sementara itu Delima telah berdiri di atas tanggul.

Namun yang sangat mengejutkan orang-orang yang berada di tepian itu adalah, seorang yang bertubuh bongkok duduk diatas tanggul itu.

Ki Warana pun berdiri termangu-mangu. Ia tahu, bahwa orang bongkok itu telah memusuhi seisi padepokan Kiai Banyu Bening.

Tetapi orang bongkok itupun kemudian berkata, “Delima, beruntunglah bahwa kau telah ditolong oleh pamanmu. Tetapi persoalan pamanmu dengan kedua orang itu belum selesai.”

“Setan, kau bengkok.” geram salah seorang dari kedua orang yang akan menyeret Delima, “jangan lari. Kami akan membunuhmu.”

Orang bongkok itu tertawa. Katanya, “Kalian tidak usah mengurusi aku. Aku berjanji tidak akan mencampuri persoalan kalian sendiri. Akupun tidak akan mengganggu Delima. Ia anak baik. Sudah sepantasnya ia kembali kepada orang tuanya.”

Ki Warana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan nada rendah ia berkata, “Kau ingin mengambil keuntungan dari keadaan kami sekarang ini bongkok?”

“Tidak Ki sanak., “jawab Ki Pandi, “tetapi baiklah. Jika kalian menganggap aku mengganggu. Biarlah aku pergi.”

“Dan kau akan mempergunakan kesempatan itu untuk mengganggu Delima?” bertanya Ki Warana.

Ki Warana justru terkejut ketika Delima menjawab, “Tidak paman. Kakek bongkok itu tidak akan mengganggu Delima.”

Ternyata yang terkejut bukan hanya Ki Warana. Tetapi Delima sendiri ternyata juga terkejut. Tetapi ia sudah terlanjur mengucapkannya.

Tetapi kedua orang yang mengganggu Delima itu lah yang agaknya tidak ingin melepaskan Delima. Karena itu, maka seorang diantara mereka berkata kepada Ki Warana, ”Kita tunda persoalan kita. Kita selesaikan dahulu orang bongkok itu.”

“Kemudian kau akan mengulanginya. Menangkap Delima dan mengancamku?”

“Pengkhianat kau,” geram orang itu.

Ki Warana sendiri tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja ia mempercayai orang bongkok itu, bahwa ia tidak akan mengganggu Delima. Karena itu, maka ia menganggap bahwa Delima telah aman ditangan orang bongkok itu. Ki Warana menganggap bahwa kedua orang itu justru lebih berbahaya dari orang bongkok itu. Yang terjadi di sanggar itu juga menunjukkan bahwa orang bongkok dan kawan-kawannya bukan orang jahat. Ternyata mereka tidak membunuh kawan-kawannya yang sudah tidak berdaya. Mereka justru meninggalkan kawan-kawannya dari padepokan meskipun mereka dapat membunuhnya dengan mudah jika mereka inginkan.

Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Biarlah Delima dibawa oleh orang bongkok itu. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku justru lebih percaya kepada orang bongkok itu daripada kepada kawan-kawanku sendiri.”

“Bagus,” geram salah seorang dari kedua orang yang merasa kehilangan Delima itu, “satu pihak diantara kita memang harus mati. Jika kau masih hidup, maka kau tentu akan melaporkan tingkah laku kami. Sebaliknya kami pun akan melaporkan pengkhianatanmu, karena kau lebih mempercayai orang bongkok yang sudah jelas ingin menghancurkan padepokan kita daripada kawan sendiri.”

“Persoalannya bukan persoalan padepokan atau yang bersangkut paut dengan padepokan. Tetapi persoalannya menyangkut kemanakanku, anak adikku. Nah, karena kita masing-masing mempunyai mulut, sehingga kami masing-masing dapat memberikan laporan, maka terserah kepada Kiai Banyu Bening, siapakah yang akan dipercaya.”

“Itu sama sekali tidak perlu” jawab orang iiu, “karena kau akan mati disini. Mayatmu akan dibawa hanyut oleh arus sungai itu meskipun tidak terlalu kuat. Saudara-saudara kita di padepokan akan mengira bahwa kau telah dibunuh oleh orang bongkok itu dengan kejam karena mayatmu akan kulumatkan. Jika mayatmu kemudian hilang sampai ke muara, maka saudara-saudara kita di padepokan akan mengira bahwa telah melarikan diri.”

“Bagus” Ki Warana mengangguk-angguk, “jika demikian, biar kalian sajalah yang mati.”

Kedua orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja keduanya menyerang hampir bersamaan. Jika seorang melawan seorang, mereka tidak dapat mengalahkan Ki Warana, maka berdua mereka tentu akan dapat menang.

Tetapi sebenarnyalah bahwa Ki Warana memang seorang yang berilmu tinggi. Meskipun kedua orang lawannya menyerangnya seperti banjir bandang, namun tidak mudah bagi mereka untuk dapat mengalahkan Ki Warana.

Sementara itu Ki Warana pun tidak lagi mengekang diri. Dengan kelebihannya, maka Ki Warana segera mampu mendesak kedua orang lawannya.

Tetapi kedua orang itu agaknya tidak mau melihat kenyataan. Karena itu, maka keduanya masih berusaha untuk dapat memenangkan perkelahian itu.

Kedua orang itu berusaha untuk memecah perhatian Ki Warana, Mereka menyerang dari dua jurusan yang berbeda. Namun mereka berusaha untuk dapat melakukannya berganti-ganti, susul menyusul tidak henti-hentinya.

Tetapi Ki Warana sama sekali tidak menjadi bingung, meskipun kadang-kadang ia juga terkejut mengalami serangan yang datang tidak terduga.

Tetapi Warana masih saja mampu mengatasi keduanya, sehingga kedua lawannya itu semakin terdesak.

Namun justru karena keduanya tidak lagi mampu menguasai Ki Warana, maka keduanya pun telah menggenggam senjata di tangan mereka. Keduanya telah menarik pedang yang tergantung di lambung mereka.

Ki Warana yang melihat kedua orang lawannya telah menggenggam senjata, meloncat beberapa langkah surut. Dengan wajah yang tegang iapun kemudian berkata, “Senjata kalian akan mempercepat kematian kalian. Bersiaplah untuk mati.”

Kedua orang lawannya sama sekali tidak mendengarkannya. Jantung mereka telah membeku. Bahwa Delima lepas dari tangan mereka, membuat kedua orang itu seakan-akan menjadi gila.

Demikianlah, maka pertempuran itu menjadi semakin sengit. Ki Warana juga sudah memegang senjata ditangannya.

Kedua orang yang kehilangan buruannya itu menyerang berganti-ganti dari arah yang berbeda. Namun kadang-kadang keduanya justru mengambil kesempatan untuk bersama-sama meloncat maju dengan senjata teracu.

Dalam pertempuran bersenjata, Ki Warana memang harus mengerahkan kemampuannya untuk melawan kedua orang itu. Ia harus mengerahkan tenaganya. Perhatiannya yang terpecah membuatnya kadang-kadang harus meloncat mengambil jarak.

Namun ternyata bahwa Ki Warana yang bertempur dengan tangkas itu sempat membuat kedua lawannya, terkejut ketika Ki Warana itu seakan-akan terbang menyerang keduanya berganti-ganti. Demikian cepatnya senjatanya menyambar lawannya yang seorang kemudian yang lainnya,

Dalam puncak kemarahannya, maka Ki Warana telah melenting dengan senjata terjulur lurus menyusup pertahanan salah seorang lawannya.

Terdengar teriakan nyaring. Ujung pedang Ki Warana sempat menembus dada orang itu sehingga meraba jantung.

Ketika Ki Warana menarik senjatanya, maka darah pun telah memancar dari dadanya, menghambur di tepian.

Sementara itu, kawannya tidak berhasil menyelamatkannya. Ketika ia menyerang Ki Warana, ujung pedang Ki Warana sudah terlanjur menikam jantung.

Melihat kawannya sudah tidak berdaya, maka lawan Ki Warana yang seorang lagi menjadi gentar. Berdua mereka tidak mampu mengimbangi kemampuannya. Apalagi seorang diri.

Karena itu, maka orang itu berusaha untuk melarikan diri dari arena pertempuran.

Namun orang itu gagal memanfaatkan kesempatan. Ketika ia melangkah meninggalkan arena, senjata Ki Warana justru telah mencapai punggungnya.

Orang itupun menjerit kesakitan. Ujung senjata Ki Warana telah menembus pula punggung lawannya yang seorang lagi.

Ki Warana pun kemudian berdiri termangu-mangu memandang dua sosok tubuh yang terbaring diam di tepian. Darah yang mengalir dari luka mereka membasahi pasir dan kerikil yang terserak.

Beberapa saat Ki Warana berdiri mematung. Ternyata ia sudah membunuh kawannya sendiri. Namun Ki Warana akan dapat mempertanggung jawabkan tindakannya, karena kedua orang kawannya itu telah mengganggu seorang gadis yang justru adalah kemanakannya.

Selagi Ki Warana masih berdiri termangu-mangu, maka terdengar suara Delima dari atas tanggul, “Paman.”

Ki Warana tersentak. Ketika ia berpaling, dilihatnya Delima berdiri di sebelah orang bongkok itu.

Bagaimanapun juga, Ki Warana menjadi berdebar-debar. Orang bongkok itu tentu orang yang berilmu sangat tinggi. Ia tidak tahu apa yang telah dilakukan ketika tiba-tiba saja salah seorang diantara kedua orang yang mengganggu Delima, yang hampir berhasil menangkap gadis itu selagi ia memanjat tanggul, telah menjadi kesakitan dan berguling dari lereng tanggul itu.

Orang bongkok itu pula bersama-sama dengan beberapa orang kawannya telah mengacaukan pertemuan di sanggar. Bahkan orang bongkok yang hampir saja dikorbankan diatas api itu bersama-sama dengan kawan-kawannya, telah mengalahkan beberapa orang kawan-kawannya dari padepokan Kiai Banyu Beriing.

Karena itu, jika ia harus berhadapan seorang melawan seorang dengan orang bongkok itu, maka ia harus sangat berhati-hati.

“Atau segala sesuatunya memang harus berakhir disini” berkata Ki Warana itu didalam hatinya.

Tetapi ia. menjadi heran ketika Delima justru menggandeng tangan orang bongkok itu turun ketepian. Kepada orang bongkok itu. Delima berkata, “Ini adalah pamanku, kek. Kakak ayahku.”

Ki Pandi tersenyum. Katanya, “Bukankah kita sudah berkenalan, Ki Warana?”

”Ya,” jawab Ki Warana.

“Paman” berkata Delima, “sambil mengamati paman bertempur melawan kedua orang itu, aku sempat berceritera tentang paman.”

“Tentang apa? Wajah Ki Warana menjadi tegang.

“Tentang niat paman keluar dari padepokan Banyu Bening” jawab Delima.

“Siapa yang mengatakan-nya?” Ki Warana rhenjadi tegang, “ayahmu?”

“Tidak, paman. Aku telah mendengar sendiri ayah berbicara dengan paman dirumah.” jawab Delima.

“Delima, kau telah melanggar unggah-ungguh. Kau tidak boleh mendengar-kan orang-orang tua ber-bincang.”

“Maaf, paman. Aku tidak sengaja mendengarkan paman dan ayah berbincang. Tetapi aku kebetulan duduk di belakang dinding dan mendengarnya. Aku mencoba untuk melupakan pembicaraan itu, tetapi aku membayangkan betapa paman setiap hari merasa tersiksa, karena apa yang paman lakukan, sama sekali tidak sesuai dengan nurani paman sendiri, karena itu, ketika hari ini kebetulan aku bertemu dengan kakek bongkok, yang pernah aku kenal di rumahku dan kemudian aku lihat kehadirannya di sanggar, maka aku ingin mempertemukan paman dengan kakek bongkok ini.”

“Delima” berkata pamannya, ”apakah sebelumnya orang bongkok itu sering datang kerumahmu?”

“Sekali paman. Ketika kakek bongkok itu mengaku kelaparan dan kehausan. Ayah dan ibu merasa iba melihatnya dan kemudian menolongnya. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba saja kakek bongkok ini mengatakan kepada ayah, berniat untuk ikut mendengarkan sesorah didalam sanggar, sehingga kita lihat, apa yang terjadi kemudian.”

Ki Warana itu berdiri termangu-mangu. Sementara itu, Ki Pandi pun melangkah mendekat sambil berkata, “Ki Warana. Aku memang sudah mendengar dari Delima, apa yang Ki Warana katakan kepada Ki Krawangan. Jika aku menemui Ki Warana sekarang, aku berniat untuk membantu agar Ki Warana tidak selalu dibelenggu oleh keadaan.”

Ki Warana menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Untuk waktu yang pendek ini, belum ada yang dapat aku lakukan, Ki Sanak. Aku berterima kasih atas sikapmu. Aku kira kau mendendamku. Tetapi temyata dugaanku keliru.”

“Baiklah, Ki Warama. Aku akan selalu menghubungi anak ini. Justru karena ia seorang gadis maka ia akan luput dari pengawasan kawan-kawanmu.”

Ki Warana mengangguk-angguk.

“Nah, sekarang, bagaimana dengan kedua orang kawanmu itu?”

Ki Warana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya kepada Delima, “Menyingkirlah Delima. Aku akan menguburkan kedua orang kawahku ini di tepian. Aku tidak dapat berbuat lain.”

“Duduklah diatas batu itu,” berkata Ki Pandi, “aku akan membantu pamanmu.. Kau tidak perlu melihat apa yang terjadi dengan kedua orang itu.”

Delima pun kemudian menurut. Ia duduk diatas sebuah batu yang besar sambil mengulangi membersihkan pakaian yang kotor lagi oleh debu dan pasir ketika bakulnya tertumpah.

Ki Pandi memang telah membantu Ki Warana membuat lubang di tepian yang memang agak lunak. Kemudian memasukkan tubuh itu kedalamnya dan menimbuninya dengan batu-batu kali. Agar tidak menarik perhatian, maka di sekitarnya telah ditaburkan batu kerikil dan pasir sebagaimana semula.

Dirumah, Ki Krawangan dan Nyi Krawangan menjadi gelisah. Delima sudah terlalu lama pergi. Beberapa kali Kenanga sudah menanyakan, kenapa Delima masih belum pulang.

“Aku akan pergi ke tepian” berkata Ki Krawangan, “mungkin terjadi sesuatu dengan anak itu.”

“Anak ini memang keras kepala” desis ibunya, “seharusnya ia tidak pergi ke sungai.”

Ki Krawangan pun kemudian bersiap-siap untuk pergi ke sungai. Tetapi justru karena suasana yang masih belum menentu, maka Ki Krawangan pun telah menyelipkan pedang di lambungnya.

Tetapi demikian Ki Krawangan keluar dari regol halaman, maka dilihatnya Delima melangkah sambil menjinjing bakul berisi cuciannya.

Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika ia melihat wajah Delima yang tidak memberikan kesan sesuatu yang menggelisahkan.

“Ayah akan kemana?” bertanya Delima ketika ia melihat ayahnya berdiri termangu-mangu di depan regol halaman rumahnya.

“Kemana saja kau Delima?” ayahnya ganti bertanya, “kami menjadi gelisah. Adikmu mulai merengek karena kau tidak segera pulang. Justru dalam suasana yang tidak menentu ini.”

“Sekarang ayah akan mencari aku?”

“Ya. Aku akan menyusulmu ketepian.”

Delima tersenyum. Katanya, “Aku sudah pulang, ayah. Bukankah aku tidak apa-apa?”

“Kau memang tidak apa-apa. Tetapi jantung kamilah yang apa-apa.”

Delima justru tertawa. Katanya, “Sebenarnya aku sudah selesai beberapa waktu yang lalu.”

“Jadi kenapa kau baru pulang sekarang?”

“Ketika aku naik tebing, aku tergelincir. Pakaian yang sudah bersih itu tumpah dan menjadi kotor kembali. Nah, aku terpaksa mencucinya lagi ayah.”

“Bukankah ibumu sudah mengatakan, bahwa sebaiknya kau mencuci dirumah saja.”

Delima memandang ayahnya sekilas. Ia memang melihat kecemasan membayang di mata ayahnya. Karena itu, maka Delimapun berkata, “Marilah ayah. Mungkin ibu juga gelisah.”

“Tidak sekedar mungkin. Bukankah aku sudah mengatakan, seisi rumah menjadi gelisah. Kenanga sudah ribut saja menanyakan kenapa kau tidak segera pulang.”

Keduanya pun kemudian masuk kembali ke regol halaman rumah menyeberangi halaman. Kenanga yang melihat Delima datang diiringi oleh ayahnya, segera berlari-lari mendapatkan-nya.

“Lama sekali kau di tepian kak?” bertanya adiknya. Delima mengusap pipi adiknya sambil berkata, “Aku harus mencucinya dua kali, karena cucian yang sudah bersih itu tumpah karena aku tergelincir ketika aku naik tanggul”

“Ah, lain kali hati-hati ya kak. Kau tidak terluka?” Pertanyaan adiknya tiba-tiba membuat Delima merasa pedih di kakinya. Teringat olehnya betapa ngerinya ketika kawan pamannya itu menarik kakinya ketika ia hampir sampai keatas tanggul.

Ketika ia kemudian mengamati kakinya, baru ia melihat bahwa kakinya memang tergores kerikil.

“Sakit kak?” bertanya adiknya.

Tetapi Delima tersenyum. Katanya, “Tidak. Hanya sedikit pedih. Tetapi segera akan baik.”

“Aku carikan daun metir, kak.”

“Ah. tidak seberapa,” jawab Delima.

Ketika ia masuk ke dapur, ibunya pun menyatakan kegelisahannya karena Delima tidak segera pulang.

Ketika kemudian Delima menjemur cuciannya di belakang rumahnya, matahari telah menjadi agak tinggi. Ia memang terlambat pulang. Namun yang terjadi di tepian membuatnya sedikit berpengharapan, bukan saja tentang pamannya, tetapi justru seisi padukuhannva akan dapat menyadari jalan sesat yang telah mereka tempuh, bahwa selama ini mereka sekedar menjadi alas berpijak oleh seorang yang membenci kenyataan yang dialaminya. Kemudian dendamnya menebar ke lingkungan luas yang dapat dijangkaunya.

Tetapi jalan tentu masih agak jauh.

Dalam pada itu, ketika Delima mendapat kesempatan untuk berbicara dengan ayahnya seorang diri, maka Delima pun telah menceriterakan apa yang telah terjadi di tepian. Hampir saja ia menjadi korban kebiadaban orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening. Untunglah bahwa pamannya melihatnya. Bahkan kemudian ternyata bahwa orang bongkok itu juga berada di tempat itu.

“Paman telah membunuh dua orang kawannya, ayah.”

Ayahnya mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Dengan demikian, pamanmu ada dalam bahaya.”

“Paman telah berbicara langsung dengan kakek bongkok itu, ayah. Tetapi nampaknya paman masih belum siap untuk mengambil langkah-langkah penting untuk meninggalkan padepokan.”

“Ya. Tentu tidak dapat dilakukan dengan serta-merta. Bukan karena pamanmu mencemaskan dirinya sendiri. Tetapi pamanmu justru memikirkan nasib kita sekeluarga.”

Delima mengangguk-angguk. Dugaannya tentang pamannya ternyata keliru. Pamannya bukannya orang yang tidak berjantung. Tetapi pamannya masih mempunyai perasaan wajar dan bahkan selalu memikirkan keselamalan adiknya.

Namun aknirnya Delima tidak dapat menyimpan rahasianya lagi. Ketika orang bongkok itu tidak lagi merupakan iblis yang dianggap menggoda untuk melemahkan kepercayaan keluarganya, Delima merasa aman untuk mengatakan kepada ayahnya, bahwa sejak sebelum peristiwa di sanggar itu terjadi, dan bahkan sejak sebelum orang bongkok itu datang sebagai orang yang kelaparan dan kehausan, Delima memang sudah mengenalnya.

“Jadi, kau sudah berhubungan dengan orang itu?” bertanya ayahnya.

“Ya ayah,” jawab Delima, “tetapi aku takut mengatakannya kepada ayah.”

Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata, “Untunglah, bahwa keadaan berkembang ke arah yang menguntungkan bagi kita. Sikap kakang yang tidak kita duga sebelumnya, serta perkembangan padepokan Kiai Banyu Bening itu sendiri. Seandainya yang terjadi sebaliknya, apa jadinya kita semuanya?”

“Jika perkembangannya tidak seperti ini, tentu aku tidak akan mengatakannya kepada ayah,”’ jawab Delima.

“Baiklah Delima. Tetapi kau harus tetap berhati-hati. Kita tidak tahu, apa yang terjadi sebenarnya di sekitar kita. Kita tidak tahu, apakah orang-orang lain di padukuhan ini mempunyai perasaan yang sama seperti kita.”

“Aku kira demikian, ayah. Aku kira sebagian besar orang-orang padukuhan kita mempertanyakan kebenaran sesorah-sesorah yang sering kita dengar di sanggar. Apalagi setelah peristiwa yang terjadi di sanggar itu, serta banjar padukuhan kita terbakar. Orang yang tiba-tiba muncul dari reruntuhan itu tentu kawan kakek bongkok itu pula. Demikian pula yang tiba-tiba saja sudah berada di pintu gerbang halaman banjar.”

“Nampaknya mereka mempunyai kekuatan yang cukup,” berkata Ki Krawangan. Namun kemudian katanya, “Meskipun demikian, sekali lagi aku peringatkan Delima, kita harus berhati-hati. Banyak kemungkinan masih daput terjadi. Demikian juga hubungan kita dengan padepokan Kiai Banyu Bening itu.”

Delima mengangguk kecil. Namun iapun menyadari, bahwa banyak hal yang tidak dapat diperhitungkan dahulu mungkin akan terjadi.

Peristiwa di pinggir kali itu, membuat Ki Krawangan sehari-harian merenung. Ia mulai menyadari, banwa anaknya memang sudah menginjak usia dewasanya. Sementara itu, orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening sering berkeliaran kemana-mana. Mereka melakukan tindakan-tindakan yang tidak terkendali.

Agaknya, peristiwa yang hampir saja menimpa Delima itu juga pernah menimpa gadis yang lain. Tetapi gadis itu, atau mungkin orang tuanya, sama sekali tidak berani mengatakan kepada siapapun juga, karena orang-orang dari padepokan itu tentu mengancamnya untuk membunuh atau tindak kekerasan yang lain.

Bersukurlah Ki Krawangan, bahwa anaknya ternyata masih selamat.

Tetapi tiba-tiba terbersit pertanyaan, “Mengucap sukur kepada siapa? Sang Maha Api? Matahari atau rembulan?”

Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam.

“Tidak. Tentu bukan Sang Maha Api yang telah menelan banjar padukuhan itu. Karena ternyata banjar padukuhan itu telah dibakar oleh orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening.”

Dalam pada itu, dari hari ke hari, orang-orang padukuhan itu masih tetap merasa tegang. Mereka masih belum yakin, bahwa padukuhan mereka akan benar-benar menjadi tenang. Apalagi ketika kepada orang-orang padukuhan itu diberitahukan bahwa untuk sementara tidak ada kegiatan apa-apa didalam sanggar.

“Orang bongkok dan kawan-kawannya akan dapat mengacaukan suasana yang seharusnya hening itu” berkata orang dari padepokan yang ditugaskan menemui orang-orang padukuhan.

“Sementara itu. orang-orang tua yang berada dirumah Ki Ajar Pangukan pun tidak dengan tergesa-gesa mengambil tindakan. Mereka menunggu perkembangan keadaan. Namun mereka tidak henti-hentinya mengamati padepokan Kiai Banyu Bening, serta padukuhan yang pernah mereka rambah untuk menyatakan, bahwa ada pihak yang menentang perbuatan Kiai Banyu Bening, yang tidak lebih dari ungkapan gejolak perasaan pribadinya yang penuh dengan dendam dan nafsu.

Dihari-hari berikutnya, ternyata Ki Pandi pun masih juga sering menemui Delima di pinggir kali, ketika Delima mencuci pakaian. Bahkan masih belum ada orang lain yang berani melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Delima. Namun bagi Delima, hal itu justru menguntungkan baginya.

Justru karena tepian itu selalu sepi, maka bukan saja Ki Pandi yang sering datang, tetapi juga Manggada dan Laksana.

Namun yang penting bagi Ki Pandi, ia justru dapat selalu berhubungan pula dengan Ki Warana.

Ceritera yang menarik yang dibawa oleh Ki Warana adalah ceritera tentang burung-burung elang yang sering berterbangan diatas padepokan Kiai Banyu Bening.

Ki Pandi selalu tertarik setiap kali ia mendengar ceritera tentang burung-hurung elang. Ia sendiri pernah melihat burung-burung elang itu terbang diatas padepokan Kiai Banyu Bening itu.

“Berhati-hatilah dengan burung elang itu” berkata Ki Pandi kepada Ki Warana ketika mereka bertemu di tepian, justru saat Delima sedang mencuci.

“Aku juga pernah mendengar ceritera tentang burung-burung elang itu,” berkata Ki Warana.

“Burung-burung itu selalu membawa perlambang buruk. Burung-burung elang berkuku timah itu adalah milik seorang yang menamakan diri Panembahan Lebdagati.”

“Kiai Banyu Bening telah mendengar nama itu,” desis Ki warana.

“Ia pernah membuat hal sama di daerah ini,” berkata Ki Pandi.

“Ya. Kiai Banyu Bening pernah mengatakan demikian. Karena itu, ia memilih tempat ini untuk mengembangkan kepercayaan yang disebarkannya, meskipun ia sendiri tidak pernah mempercayainya,” sahut Ki Warana, namun Panembahan Lebdagati itu sudah lebur bersama padepokannya ketika padepokannya dihancurkan disini oleh pasukan Pajang dan orang-orang berilmu tinggi yang menentang kepercayaannya.”

“Aku ada diantara mereka waktu itu,” berkata Ki Pandi.

Ki Warana mengangguk-angguk. Dengan demikian ia menjadi semakin yakin, bahwa orang bongkok itu tidak sekedar bermain-main jika ia berniat menghancurkan padepokan Kiai Banyu Baning.

“Berhati-hati sajalah,” pesan Ki Pandi, “jika elang itu sudah semakin sering nampak dan berputar-putar, maka itu merupakan isyarat bahwa Panembahan Lebdagati akan segera datang.”

Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, “Kiai Banyu Bening menganggap bahwa Panembahan Lebdagati sudah benar-benar tidak ada. Jika ada orang yang menamakan Panembahan Lebdagati, maka tentu bukan Panembahan Lebdagati yang sebenarnya.”

“Tidak. Kiai Banyu Bening salah. Panembahan Lebdagati yang sebenarnya itu masih ada. Masih hidup. Ia masih menunjukkan gejala-gejala kesalahan penalaran.”

Ki Warana masih saja mengangguk-angguk.

Sementara itu Ki Pandi berkata, “Namun apa yang dikembangkan Panembahan Lebdagati adalah benar-benar yang diyakini. Sedangkan Kiai Banyu Bening justru sekedar pelepasan dendamnya karena ia sudah kehilangan anak bayinya yang mati di dalam nyala api.”

Ki Warana mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya. Agaknya memang demikian.”

“Dengan demikian, maka dari sisi keyakinan, Panembahan Lebdagati masih lebih jujur dari Kiai Banyu Bening. Tetapi sayang, bahwa keyakinan Panembahan itu pun merupakan keyakinan yang sesat.” berkata Ki Pandi.

“Ya, “jawab Ki Warana, “tetapi aku tidak tahu, apakah aku dapat memberi peringatan kepada Ki Banyu Bening.”

“Kaulah yang mengetahui kemungkinan itu. Tetapi untuk melengkapi keteranganku tentang Panembahan Lebdagati, aku beritahukan bahwa aku telah bertemu dan bertempur melawannya dalam memperebutkan pusaka-pusaka yang berada di tangan Kiai Gumrah, dari sebuah perguruan yang murid-muridnya sebagian besar menjadi pembuat dan pedagang gula kelapa.”

Ki Warana mengerutkan dahinya sambil bertanya, “Kau telah bertempur melawan Panembahan Lebdagati?”

“Ya. Sudah beberapakali aku alami. Tetapi aku tidak pernah berhasil mengalahkannya. Apalagi menangkap atau membinasa-kannya. Karena itu, maka aku yakin, bahwa Panembahan Lebdagati itu masih ada sampai sekarang. Elang-elang itu adalah pertanda dari perhatiannya kepada padepokan Kiat Banyu Bening. Aku tidak tahu, apakah Kiai Banyu Bening memiliki kemampuan sebagaimana Panembahan Lebdagati.”

“Kiai Banyu Bening juga seorang yang berilmu sangat tinggi. Tetapi aku juga tidak tahu, apakah ia mampu mengimbangi Panembahan Lebdagati, karena aku belum pernah menyaksikan ilmunya.”

Ki Pandi pun kemudian berkata, ”Baiklah. Aku minta kau dapat memberi tabukan kepadanya, langsung atau lewat Delima setiap perkembangan yang terjadi di padepokanmu, juga dalam hubungannya dengan Panembahan Lebdagati.”

”Ki Warana meng-angguk-angguk. Namun kemudaan ia pun minta diri meninggalkan Ki Pandi dan Delima di tepian.

Dihari berikutnya, Ki Pandi bersama Manggada dan Laksana telah melihat lagi, dua ekor burung elang yang berputar-putar tinggi di udara. Burung itu tidak menukik dan tidak pula menyambar-nyambar. Nampaknya burung-burung itu dalam keadaan tenang, meskipun agaknya ada sesuatu yang sedang diawasinya.

Ternyata dikeesokan harinya, Delima telah berceritera kepada Ki Pandi yang datang bersama Manggada dan Laksana pula.

”Paman baru saja meninggalkan tempat ini,” berkata Delima, “ia harus segera berada di padepokan.”

“Apa ada sesuatu yang penting?” bertanya Ki Pandi.

Paman minta disampaikan kepada kakek, bahwa kemarin di padepokan telah datang dua orang utusan Panembahan Lebdagati.”

“O,” wajah Ki Pandi berkerut. Sementara Manggada bertanya, “Apa yang dibicarakan oleh utusan itu?”

“Paman tidak mengatakannya. Tetapi paman berpesan, bahwa paman ingin bertemu dengan Ki Pandi lewat tengah hari di sini.”

“Baiklah, nduk,” berkata Ki Pandi kemudian, “nanti kami akan datang kemari.”

“Apakah aku juga harus datang kemari, kek?” bertanya Delima.

”Ah, tentu tidak,” jawab Ki Pandi, “keadaan menjadi makin gawat, nduk. Persoalannya tidak lagi terbatas antara padepokan Kiai Banyu Bening dengan kakek yang bongkok ini, tetapi melihat Panembahan Lebdagati pula.”

Delima dapat mengerti keterangan Ki Pandi itu. Karena itu, maka iapun menjawab, “Baiklah kek. Tetapi besok pagi aku akan berada disini lagi.”

“Tetapi kau harus melihat suasana, Delima. Jika suasananya tidak memungkinkan, maka kau harus tetap tinggal dirumah. Yang perlu kau ketahui Delima, para pengikut Panembahan Lebdagati tidak kalah liarnya dengan orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening. Bahkan kemampuan orang-orangnya agak lebih tinggi dari orang-orang padepokan itu.”

Delima mcngangguak-angguk. Katanya, “Baik, kek.”

“Nah, sekarang, jika kau sudah selesai, pulanglah. Keadaan lingkungan ini benar-benar menjadi semakin gawat.” berkata Ki Pandi.

Ternyata Delima menuruti nasehat itu. Ia pun segera mengemasi cuciannya dan kemudian menjinjingnya. Ketika ia mulai naik tanggul, maka Laksana telah menyusulnya sambil berkata, “Marilah, aku bawakan bakul itu.”

“Aku sudah terbiasa membawa bakul sambil memanjat naik.”

“Tetapi jika ada yang membantumu, bukankah itu lebih baik?”

Delima tidak menolak ketika Laksana kemudian mengambil, bakul cucian itu dari tangannya.

Manggada hanya memandanginya saja sambil tersenyum. Tetapi ketika Delima sudah sampai diatas tanggul, maka ia pun berkata, “Sudahlah. Biar aku membawa bakul itu.”

“Aku antar kau sampai kerumahmu,” berkata Laksana. Tetapi Delima berkata, “Bukankah keadaan sekarang menjadi semakin gawat? Jika aku pulang bersama seseorang, maka tentu akan sangat menarik perhatian. Meskipun kita dapat mengabaikan perhatian tetangga-tetangga, tetapi tentu kita tidak dapat mengabaikan perhatian orang-orang padepokan dan mungkin para pengikut Panembahan Lebdagati itu.”

Laksana tersenyum masam. Tetapi ia sempat juga berkata, “Bagaimana jika kita juga mengabaikan perhatian orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening dan para pengikut Panembahan Lebdagati.”

“Mungkin akibatnya tidak terasa bagimu. Tetapi bagiku? Bagi keluargaku?”

Laksana tertawa. Katanya, “Ah, bukankah aku tidak bersungguh-sungguh?”

Wajah Delima berkerut. Tetapi ia pun kemudian tertawa pula, “Sampai besok,” desis Delima.

Ketika Delima kemudian menjadi semakin jauh dan mendekati padukuhannya, maka Laksana pun segera turun kembali ketepian.

Bertiga mereka meninggalkan tepian. Mereka akan kembali lagi sesuai dengan pesan Ki Warana lewat lengah hari.

Demikianlah, maka lewat lengah hari, Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah berada kembali di tepian. Mereka menunggu kedatangan Ki Warana untuk mendengarkan perkembangan terakhir padepokan Kiai Banyu Bening.

Ketiga orang itu tidak perlu menunggu terlalu lama. Beberapa saat kemudian, maka Ki Warana benar-benar datang sesuai dengan pesannya lewat Delima.

“Mereka adalah cucu-cucuku,” berkata Ki Pandi, ketika Ki Warana memandangi.Manggada dan Laksana.

“Mereka juga ada di sanggar malam itu” desis Ki Warana.

“Ya.” sahut Ki Pandi, “mereka berusaha menolong kakeknya.”

“Tidak Ki Sanak. Bukan mereka berusaha menolong kakeknya. Tetapi semuanya sudah terpencar. Sejak kau kelaparan dan kehausan di rumah Krawangan.”

Ki Pandi tertawa. Katanya, “Ya. Sekarang aku tidak akan ingkar. Kami memang telah membuat rencana itu, meskipun sebagian sedikit menyimpang. Tetapi untunglah bahwa kami dapat menyelesaikan bagian pertama dari permainan kami dengan baik meskipun ada unsur keberuntungan.”

“Kalian terdiri dari orang-orang berilmu tinggi” jawab Ki Warana.

“Nah, sekarang, apakah yang akan kau katakan kepada kami?”

“Di padepokan kami telah datang dua orang utusan Panembahan Lebdagati.”

Ki Pandi mengerutkan dahinya. Sambil mengangguk-angguk ia pun kemudian berkata, “Jadi mereka telah benar-benar datang?”

“Ya, Ki Pandi.”

“Apa yang mereka katakan?” bertanya Ki Pandi.

“Panembahan Lebdagati menuntut agar apa yang dianggapnya haknya, supaya dikembalikan.”

“Apa yang dimaksud?”

“Daerah ini. Panembahan Lebdagati menuntut agar Kiai Banyu Bening meninggalkan lingkungan ini dan menyerahkan padepokannya kepada Penambahan Lebdagati yang akan menanamkan kembali pengaruhnya di daerah ini. Panembahan Lebdagati merasa bahwa tanah ini adalah tanahnya.”

“Apa jawab Kiai.Banyu Bening?”

“Tentu saja Kiai Banyu Bening tidak ingin menyerahkannya. Ia pun tidak akan meninggalkan tempat itu. Ketika Kiai Banyu Bening membangun padepokannya, maka Panembahan Lebdagati sudah tidak ada di tempat itu.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berkata, “Jika Kiai Banyu Bening bersungguh-sungguh ingin mempertahankan padepokannya, ia harus benar-benar mempersiapkan dirinya. Panembahan Lebdagati masih mendapat kepercayaan dari beberapa orang pemimpin padepokan yang melandasi ilmunya dengan kepercayaan-kepercayaan hitam yang akan dapat diajaknya bergerak.”

“Kiai Banyu Bening memang telah mulai mempersiapkan dirinya. Tetapi Kiai Banyu Bening tetap menganggap bahwa Panembahan Lebdagati yang mengirimkan utusannya itu bukan Panembahan Lebdagati yang sebenarnya.”

“Kau benar-benar tidak dapat, memperingatkannya?” bertanya Ki Pandi.

“Dalam keadaan yang demikian, Kiai Banyu Bening tidak dapat mendengarkan pendapat orang lain.”

“Bagaimana pendapat pembantu-pembantu Kiai Banyu Bening?”

“Sebagian besar dari mereka juga tidak percaya bahwa yang mengirimkan utusan itu adalah Panembahan Lebgadati.”

“Apakah Kiai Banyu Bening pernah mengenal wajah Panembahan Lebdagati?”

Ki Warana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, Aku tidak tahu, Ki Pandi. Tetapi menilik setiap pembicaraan mengenai Panembahan itu, nampaknya Kiai Banyu Bening pernah bertemu dan berbicara dengan Panembahan Lebdagati. Namun yang terang, Kiai Banyu Bening mengakui bahwa Panembahan Banyu Bening adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Namun sebagaimana dikatakannya, bahwa Kiai Banyu Bening telah siap menghadapinya, meskipun orang yang mengaku Panembahan Lebdagati itu memiliki ilmu setinggi Panembahan Lebdagati sendiri.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Meskipun aku belum pernah menjajagi kemampuan Kiai Banyu Bening, namun rasa-rasanya sulit bagi Kiai Banyu Bening untuk mengimbangi kemampuan Panembahan Lebdagati.”

Ki Warana mengerutkan dahinya. Dengan ragu ia berkata, “Tetapi Kiai Banyu Bening juga memiliki ilmu yang sangat tinggi.”

“Mudah-mudahan,” jawab Ki Pandi. Namun kemudian ia berkata, “Tetapi sebaiknya kau berhati-hati Ki Warana. Bukan maksudku untuk menghasutmu agar kau berkhianat terhadap Kiai Banyu Bening, tetapi nurani Ki Warana sendiri sudah memanggil, agar Ki Warana meninggalkan padepokan yang diwarnai oleh kepalsuan sikap pemimpinnya. Kiai Banyu Bening sama sekali tidak jujur dengan kepercayaan yang disebarkannya. Disinilah letak kelebihan Panembahan Lebdagati. Ia bersikap jujur terhadap kepercayaannya, meskipun kepercayaan itu adalah kepercayaan hitam yang harus dihapuskan. Karena itu. jika terjadi perang antara kedua padepokan yang sama-sama harus dimusnahkan itu, sebaiknya Ki Warana berusaha untuk melepaskan diri. Jika Ki Warana tidak bersiap-siap sejak semula, maka Ki Warana akan terjebak kedalam satu pertempuran yang akan mengikat Ki Warana.”

Ki Warana termangu-mangu. Memang sulit untuk melakukannya. Meskipun ia sendiri merasa tersiksa hatinya selama ia berada di padepokan itu, namun untuk begitu saja meninggalkan justru di saat yang gawat, rasa-rasanya Ki Warana itu tidak akan sampai hati. Seandainya ia tidak membela Kiai Banyu Bening, namun apakah ia akan dapat membiarkan kawan-kawannya yang setiap hari selalu berhubungan, digilas oleh kekuatan lain tanpa melibatkan dirinya?.

Ki Pandi melihat keragu-raguan ini. Karena itu, maka iapun berkata, “Ki Warana. Kekuatan dan kemampuan Ki Warana seorang diri tidak banyak berpengaruh. Namun keselamatan Ki Warana sangat berarti bagi Ki Warana sendiri. Bukan keselamatan kewadagan saja, tetapi juga keselamatan jiwa Ki Warana. Jika Ki Warana bertempur dipihak Kiai Banyu Bening, itu akan berarti bahwa Ki Warana telah ikut serta mempertahankan sesuatu yang tidak sesuai dengan nurani Ki Warana sendiri.”

“Tetapi Ki Pandi, seandainya Kiai Banyu Bening dikalahkan oleh Panembahan Lebdagati, apakah bukan berani bahwa kepercayaan hitam Panembahan Lebdagati akan berkembang lagi di daerah ini? Betapa jujurnya Panembahan Lebdagati terhadap kepercayaannya, namun kepercayaan itu sendiri adalah kepercayaan yang sesat. Bagi orang lain, justru akan menjadi lebih berbahaya karena orang yang menerima keyakinan itupun akan menjadi yakin dan mengakar. Tidak seperti orang-orang yang menerima kepercayaan yang sekedar pura-pura, sehingga bagi para pengikutnya pun kepercayaan itu hanya sekedar mengambang saja?”

“Bukankah sudah aku katakan, bahwa kepercayaan yang ditebarkan oleh Panembahan Lebdagati itu pun harus dimusnahkan?”

Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Ki Pandi.”

-oo0o0dw0o0oo-

Bersambung ke jilid 4

 

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 5 – Matahari Senja

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | lanjut

AM_MS-02

Serial ARYA MANGGADA

Episode V: MATAHARI SENJA

JILID 2

kembali | lanjut

AMMS-02LAKSANA termangu-mangu sejenak. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Manggada. Tetapi wajah Manggada tidak memberikan kesan apapun sehingga Laksana tidak segera dapat menjawab.

Namun Ki Pandi lah yang kemudian menjawab, “Tentu Laksana akan mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Bukankah dengan demikian ia akan mendapatkan suatu pengalaman baru sebagaimana diinginkannya?”

Hampir diluar sadarnya laksana berdesis, “Ya. Demikianlah agaknya. Tentu jika kakang Manggada tidak berkeberatan.”

Manggada tersenyum. Katanya, “Aku akan sangat berterima kasih jika kami mendapat kesempatan itu. Bukan saja pengalaman baru. Tetapi juga kesempatan untuk ikut menghapus warna-warna hitam diwajah kehidupan ini.”

“Bagus” berkata Ki Ajar Pangukan, “jika demikian, aku akan mempersilahkan kalian tinggal disini lagi, bersama Ki Bongkok.” Ki Ajar berhenti sejenak. Baru kemudian berdesis, “Maaf, aku sudah terbiasa memanggil demikian.”

Ki Pandi tertawa mendengar sebutan atas dirinya justru menjadi persoalan. Katanya kemudian, “Apapun tetenger itu bagiku, asal jelas, bahwa akulah yang dimaksud.”

Orang-orang tua tertawa. Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun mereka pun tertawa pula.

Demikianlah, maka saat itu, Ki Pandi, Manggada dan Laksana berada dirumah Ki Ajar Pangukan bersama Ki Jagaprana yang terluka dibagian dalam tubuhnya. Namun dari hari kenari keadaannya menjadi berangsur baik sehingga akhirnya menjadi sembuh sama sekali.

Sementara itu, Ki Ajar Pangukan telah beberapa kali membawa Manggada dan Laksana berjalan-jalan menyusuri daerah yang pernah menjadi daerah pengaruh orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati.

Kehidupan di daerah itu memang sudah nampak berubah. Nampaknya jalan yang menembus hutan Jatimalang itu memberikan banyak arti bagi daerah itu. Perdagangan hasil bumi yang terjadi dengan wajar, kemudi an kebutuhan alat-alat pertanian yang didatangkan dari balik hutan, serta kebutuhan-kebutuhan yang lain seperti garam dan barang kerajinan, membuat daerah di lereng Gunung Lawu itu berkembang menjadi satu lingkungan yang wajar sebagaimana lingkungan-lingkungan yang lain.

Hilangnya kekuatan hitam yang selalu memaksakan kehendaknya kepada para penghuni lingkungan yang sebelumnya terpisah itu mempunyai pengarah yang sangat besar. Para penghuninya tidak lagi dibayangi oleh perasaan takut serta tidak lagi dibebani oleh berbagai macam keharusan. Bukan saja upeti yang harus mereka serahkan kepada Panembahan Lebdagati dan para pengikutnya, tetapi juga berbagai jenis upacara yang mereka lakukan sejalan dengan kepercayaan sesat yang dianut oleh Panembahan itu.

Namun semakin jauh Manggada dan laksana melihat keadaan yang berkembang dilereng Gunung Lawu itu, mereka justru mulai, mengenali warna-warna yang kusam.

“Kita mulai melihat perkembangan tatahan kehidupan yang berputar balik” berkata Ki Ajar Pangukan, “semula lingkungan kehidupan disini telah mengalami perubahan dan perkembangan sebagaimana tatanan kehidupan dilingkungan kehidupan.yang lain. Maksudku padukuhan-padukuhan yang mulai diwarnai oleh tatanan kehidupan yang wajar setelah penghuninya banyak berhubungan dengan lingkungan disebelah hutan Jatimalang dan bahkan lingkungan yang lebih jauh yang melakukan hubungan perdagangan. Tetapi pada saat terakhir, perkembangan tatanan kehidupan mulai bergeser lagi. Meskipun hubungan perdagangan masih juga berlangsung sehingga pengaruh tatanan kehidupan dari seberang hutan Jatimalang masih nampak mewarnai tatanan kehidupan disini, tetapi upacara-upacara yang aneh mulai mewarnai kehidupan disini.”

Manggada dan Laksana mendengarkan keterangan Ki Ajar itu dengan sungguh-sungguh. Meskipun kehidupan yang kusam itu belum nampak jelas dalam kehidupan sehari-hari, tetapi lambat-laun, perubahan-perubahan yang mendasar akan dapat terjadi.

Dengan ragu-ragu Manggada bertanya, “Ki Ajar. Selagi keadaan itu belum berkembang, apakah tidak sebaiknya mulai diluruskan kembali?”

“Itulah yang akan kami usahakan. Tetapi tentu bukan satu pekerjaan yang mudah. Sudah aku katakan, bahwa telah lahir satu padepokan baru yang agaknya memuat satu jenis perguruan yang berpijak pada atau setidak-tidaknya dipengaruhi oleh ilmu yang sesat sebagaimana dianut atau sejenis yang dianut oleh Panembahan Lebdagati”

“Dimanakah letak padepokan itu?”

“Kini tidak dapat dengan serta-merta mendekati tempat itu. Kita harus berhati-hati, karena didalam padepokan itu tentu tersimpan orang-orang berilmu tinggi dari aliran yang sesat itu.” jawab Ki Ajar Pangukan.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Keduanya mencoba untuk melihat kelainan yang mulai tumbuh di beberapa padukuhan. Mereka melihat ditempat-tempat tertentu terdapat bangunan yang khusus. Dihalamannya yang luas terdapat batu tersusun rapi dengan permukaan yang datar setinggi orang dewasa dengan tangga batu pula di keempat sisinya.”

“Untuk apa , Ki Ajar?” bertanya laksana.

“Sampai saat ini, yang kami lihat, diatas landasan batu itu diserahkan korban seekor anak binatang yang dilahirkan dibulan purnama. Jika tidak diketemukan maka yang akan dikorbankan adalah seekor anak binatang jenis apapun yang lahir terdekat dengan bulan purnama.”

“Caranya?” bertanya Laksana pula.

“Dengan sepotong bambu yang ditajamkan, jantung anak binatang yang dikorbankan itu ditikam.” jawab Ki Ajar Pangukan.

“Ah” desis Laksana diluar sadarnya.

“Yang menarik” berkata Ki Ajar Pangukan, “sebelum anak binatang itu dikorbankan, anak binatang itu dimandikan, kemudian dibalut dengan kain yang berwarna putih. Kemudian sesudah binatang itu mati, maka beberapa orang yang nampaknya merupakan rangkaian dari upacara itu, menangisinya. Kemudian anak binatang itu dikubur dengan upacara yang khusus pula.”

“Satu upacara yang aneh” berkata Manggada.

“Ya. Upacara yang aneh. Tetapi lebih dari itu, aku membayangkan apa yang akan terjadi kemudian. Maksudku, waktu-waktu mendatang. Jika kepercayaan yang aneh itu menjadi semakin menggigit, maka aku cemas bahwa korban itu tidak hanya sekedar seekor binatang dari jenis apapun.”

“Maksud Ki Ajar?” bertanya Laksana.

Ki Ajar tidak menjawab. Tetapi keningnya berkerut semakin dalam

Laksana tidak mendesaknya. Ia sendiri tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi kemudian.

Manggada lah yang kemudian justru bertanya, “jenis binatang apa sajakah yang dapat dipakai sebagai korban?”

“Segala macam binatang peliharaan. Dari anak lembu, anak kambing sampai anak ayam yang menetas pada atau disekitar bulan purnama.” jawab Ki Ajar Pangukan.

Manggada mengangguk-angguk. Tetapi ia pun tidak ingin mendesak dan mendengarkan jawaban tentang kecemasan Ki Ajar di hari kemudian itu.

Di rumah Ki Ajar, Manggada dan Laksana telah membicara-kannya dengan Ki Pandi yang sibuk menyiapkan minum dan makan seisi rumah itu sebagaiman pernah dilakukannya dahulu.

Memang ada perbedaan dengan upacara yang dilakukan oleh Panembahan Lebdagati. Tetapi bayangan dikemudian hari iiu, akan sama-sama mengerikannya.

“Bagaimana mungkin masih saja ada orang yang mempergunakan cara-cara seperti itu untuk pemenuhan kepuasan batinnya.” desis Manggada.

“Kita tidak akan dapat tinggal diam atau sekedar sebagai penonton yang menutup wajah kita dan melihat peristiwa itu itu dari sela-sela jari tangan kita.” berkata Ki Pandi.

Ternyata bahwa kemudian Ki Jagaprana pun telah tertarik pula kepada tata kehidupan yang tidak sewajarnya itu.

Dengan demikian, maka orang-orang yang tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan itu telah menyusun rencana untuk melihat dan mengenali sebuah padepokan yang memancarkan kepercayaan yang berlandaskan pada ilmu hitam itu yang pengaruhnya sudah terasa dipadukuhan-padukuhan di lereng Gunung Lawu. Penghuni padukuhan-padukuhan itu,yang sejak, semula memang sudah tersentuh oleh kepercayaan hitam itu agaknya tidak terlalu sulit untuk menerima kembali tatanan kehidupan yang pernah dikenali sebelumnya. Meskipun mereka sudah dipengaruhi oleh tatanan kehidupan yang lain, tetapi ketika pengenalan mereka itu tersentuh kembali, maka merekapun seakan-akan telah hanyut kedalam dunia lama yang telah mereka kenal itu.

Namun dalam pada itu, selagi Ki Ajar Pangukan, Ki Jagaprana dan Ki Pandi bersama Manggada dan Laksana akan mulai melangkahkan kaki, tiba-tiba saja telah datang dua orang yang pernah mereka kenal sebelumnya.

Ki Ajar Pangukan terkejut atas kehadiran kedua orang yang tiba-tiba saja sudah berada di plataran rumah Ki Ajar Pangukan yang terasing itu.

“Aku mencari Ki Jagaprana dan Ki Bongkok” teriak seorang di antara mereka.

Bukan hanya Ki Ajar Pangukan sajalah yang kemudian keluar dan berdiri diserambi. Tetapi seisi rumah itu telah menyongsong kedua orang itu didepan rumah.

“Selamat datang digubuk kecil ini, Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu.” sapa Ki Ajar Pangukan.

“Ki Ajar” berkata Ki Lemah Teles, “sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Aku mempunyai persoalan dengan keduanya. Aku memang menunggu Ki Jagaprana sembuh. Aku akan menantangnya untuk berperang tanding. Kemudian aku juga akan menantang orang bongkok yang telah mengganggu perang tandingku dengan Sambi Pitu.”

Dalam pada itu, Ki Sambi Pitu telah menyahut, “Ki Lemah Teles masih saja gila.”

”Persetan kau” geram Ki Lemah Teles, “kau akan mendapat giliran terakhir setelah aku menyelesaikan Jagaprana dan orang bongkok itu. Kecuali jika Ki Ajar ingin mencampuri persoalan ini. Maka ia akan aku selesaikan sebelum kau.”

Tetapi Ki Pandi justru tertawa. Katanya, “Atas nama Ki Ajar, aku persilahkan kau duduk Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu. Ki Ajar menjadi heran melihat sikapmu yang gila itu sehingga ia tidak segera mempersilahkan kalian duduk.”

“Ya, ya” sahut Ki Ajar., “sikapmu aneh Ki Lemah Teles, sehingga aku kehilangan unggah-ungguh tanpa mempersilahkan kalian duduk, meskipun hanya disebuah amben tua di serambi gubug kecil ini.”

“Aku tidak memerlukan sejenis basa-basi seperti itu” geram . Ki Lemah Teles.

“Bukan sekedar basa-basi. Aku benar-benar mempersilahkan kalian duduk” sahut Ki Ajar Pangukan.

Ki Lemah Teles masih saja ragu-ragu. Namun Ki Sambi Pitu lah yang kemudian melangkah ke serambi. Ia justru duduk mendahului Ki Ajar Pangukan sendiri.

Namun akhirnya semuanya pun duduk di amben bambu tua diserambi rumah itu, kecuali Manggada dan Laksana.

Ketika amben itu berguncang, maka Ki Lemah Teles pun berkata, “Kau jebak aku dengan amben reotmu ini.”

Ki Ajar tertawa. Katanya, “Hatimu yang goyah itu selalu dibayangi oleh kecurigaan. Kami sama sekali tidak bermaksud buruk terhadapmu.”

“Tetapi kenapa dengan amben ini?”

“Amben tua ini agaknya mengeluh karena bebannya yang terlalu berat. Tetapi tidak apa-apa. Aku jamin bahwa amben tua ini tidak akan roboh.”

Ki Lemah Teles tidak menjawab. Tetapi beberapa kali ia justru mengguncang amben bambu yang sudah tua itu.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksana telah pergi kedapur untuk menyiapkan minuman bagi tamu-tamu Ki Ajar Pangukan.

Sementara itu, Ki Lemah Teles masih saja dengan nada marah berkata, “Aku tidak mau diganggu lagi oleh siapapun juga. Aku harus membunuh mereka yang telah mengganggu perasaanku. Di umurku yang menjadi semakin tua, maka aku harus dapat hidup tenang, tenteram dan damai”

Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandii tertawa bersamaan, sehingga Ki Lemah Teles itu membentak, “Apa yang kalian tertawakan?”

“Begitukah caramu untuk mendapat ketenangan dan ketenteraman hidup? Membasahi tanganmu dengan darah sahabat-sahabatmu?” sahut Ki Ajar Pangukan.

“Ya.” jawab Ki Lemah Teles tegas, “tanpa membunuh orang-orang yang telah menyakiti hatiku, menjerumuskan aku kedalam sepi serta mereka yang menghalangiku, maka hidupku tidak akan tenang.”

“Tetapi sisa-sisa hidupmu akan selalu dibayangi oleh wajah-wajah yang sendu dari sahabat-sahabatmu yang telah kau bunuh itu. Mereka akan selalu datang dalam mimpi-mimpimu. Manggapai-gapai tanganmu, mohon pertolongan dan perlindungan dari seorang sahabatnya yang baik.”

“Mereka tidak akan datang kepadaku. Mereka tidak akan minta pertolongan dan perlindungan kepadaku, justru karena aku yang membunuh mereka.”

“Jika demikian mereka akan datang sambil merengek untuk mohon kau ampuni dan kau hidupkan kembali. Karena merasa bahwa mereka belum sampai pada saatnya untuk mati” berkata Ki Ajar Pangukan kemudian.

“Setan kau” geram Ki Lemah Teles, “aku tidak perduli.”

Tetapi tiba-tiba saja Ki Pandi berkata, “Bagaimana jika kau yang mati?”

“Tidak. Aku tidak akan mati. Ilmuku lebih tinggi dari ilmu kalian.” geram Ki Lemah Teles.

“Jangan membohongi dirimu sendiri” berkata Ki Pandi, “tentu ada orang lain yang ilmunya lebih tinggi dari ilmu yang ada padamu.”

Ki Lemah Teles mengerutkan dahinya. Tiba-tiba saja ia menantang, “Ayo. Siapa yang merasa ilmunya lebih tinggi dari ilmuku. Kita berperang tanding sampai mati.”

Pembicaraan itupun tiba-tiba terputus. Manggada dan laksana telah datang menghidangkan minuman panas. Wedang jahe dengan gula kelapa.

“Pembicaraan kita akan kita lanjutkan nanti. Sekarang, aku persilahkan kalian minum lebih dahulu..”.

Ki Lemah Tetes termangu-mangu sejenak. Namun ketika Ki Sambi Pitu dan yang lain telah menggapai mangkuk mereka, maka Ki Lemah Teles pun telah mengangkat mangkuknya pula.

“Tetapi Ki Ajar jangan mencoba untuk mengekang sikapku dengan minuman ini” berkata Ki Lemah Teles.

“Tidak” jawab Ki Ajar, “Jika aku ingin mengekang sikapmu, aku tidak hanya sekedar mempergunakan semangkuk minuman. Tetapi aku akan mempergunakan ilmuku yang sangat tinggi”

“Gila. Seberapa tinggi ilmumu?” bertanya Ki Lemah Teles. Orang-orang yang mendengar pertanyaan itu tertawa. Ki Ajar justru tertawa berkepanjangan. Katanya, “Ki Lemah Teles. Kenapa kau menjadi kehilangan akal disaat-saat kau merasa dicekik oleh kesepian. Kenapa kau harus menantang untuk berperang tanding dengan Ki Jagaprana, Ki Sambi Pitu dan kemudian Ki Pandi dan barangkali juga aku.”

“Mereka adalah orang-orang yang dengki atas kebahagiaan hidupku dan kemudian mendorong aku kedalam satu kehidupan yang kosong dan hampa seperti sekarang ini.”

“Tidak, Ki Lemah Teles” berkata Ki Ajar Pangukan, “bukan karena itu. Tetapi kau merasa bahwa dihari-hari tua, kau dan barangkali juga aku, Ki Jagaprana, Ki Sambi Pitu dan Ki Bongkok mulai kehilangan kebanggaan yang pernah kau miliki. Kau menjadi cemas, bahwa orang-orang yang mengenalmu tidak lagi menganggap bahwa kau adalah orang yang penting dan diperlukan oleh lingkunganmu. Karena itu, kau telah berbuat sesuatu untuk menarik perhatian orang untuk memaksa orang lain tetap menganggapmu, bahwa kau adalah orang penting. Orang berilmu dan orang yang dibutuhkan sekali. Kau paksa orang lain bertempur untuk mengingatkan mereka akan kemampuan yang tinggi. Tetapi kau lupa bahwa orang lain juga memiliki kemampuan yang tinggi pula. Jika Ki Jagaprana terluka bagian dalam tubuhnya itu, karena ia menyangka bahwa kau tidak bersungguh-sungguh. Sementara Ki Sambi Pitu juga tidak dapat kau kalahkan. Seandainya Ki Bongkok tidak menghentikan perang tanding antara kau dan Ki Sambi Pitu, maka kalian berdua tidak akan pernah sampai dirumah ini.”

Ternyata Ki Lemah Teles sempat mendengarkan kata-kata Ki Ajar Pangukan. Semula hatinya memang bergejolak Tetapi kemudian ia mulai merenungi kata-kata itu.

Bahkan kemudian Ki Pandi pun berkata, “Ki Lemah Teles. Jika Ki Lemah Teles tetap berniat untuk berperang tanding dengan siapa saja yang kenal dan dapat kau hubungi sekarang ini, maka aku akan minta agar Ki Lemah Teles menundanya. Tetapi kalau hatimu sudah benar-benar menjadi gelap, segala sesuatunya terserah kepadamu.”

“Kenapa harus ditunda?” bertanya Ki Lemah Tetes.

“Kita sedang mengamati sebuah padepokan yang mungkin berisi satu perguruan yang berlandaskan pada ilmu hitam. Kami terpanggil untuk membayanginya, karena perguruan itu mempunyai pengaruh yang kurang baik bagi lingkungannya.” jawab Ki Pandi. Lalu katanya kemudian, “Kecuali jika Ki Lemah Teles telah kehilangan suara nuraninya yang jernih.”

“Setan kau bongkok” sahut Ki Lemah Teles. Namun katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan berusaha menahan diri. Aku akan memberi kesempatan kepada kalian untuk melakukan niat kalian membayangi perguruan yang berlandaskan ilmu hitam itu.”

“Satu kesempatan bagimu, Ki Lemah Teles” berkata Ki Jagaparana yang lebih banyak berdiam diri saja.

“Kau akan menjerumuskan aku kedalam jebakan dan membunuhku dengan cara yang licik?”

“Tentu tidak. Aku masih berharap kita dapat berperang tanding setelah kita menyelesaikan perguruan yang berlandaskan ilmu hitam itu” jawab Ki Jagaprana. Bahkan katanya pula, “Aku berharap bahwa aku dapat membalas luka bagian dalam tubuhku dengan melukai bagian dalam tubuhmu pula.”

“Setan kau. Aku akan benar-benar membunuhmu” geram Ki Lemah Teles

“Sudahlah” berkata Ki Ajar Pangukan, “kenapa kita hanya berbicara tentang bunuh membunuh? Kenapa kita tidak berbicara tentang satu rencana yang mungkin dapat kita lakukan untuk membayangi padepokan orang-orang berilmu hitam itu?”

Ki Lemah Teles termangu-mangu. Namun kemudian ia pun bertanya, “seandainya aku bergabung dengan kalian, apakah aku juga harus tinggal disini.”

“Itu terserah kepadamu” jawab Ki Ajar Pangukan, “tetapi aku akan sangat senang jika kalian bersedia untuk tinggal bersama kami disini.”

“Tetapi bagaimana dengan kuda-kuda kami?” bertanya Ki Lemah Teles.

“Kau membawa kuda?” bertanya Ki Ajar Pangukan.

“Ya.”

Ki Ajar pun kemudian berkata kepada Ki Pandi, “Nah, kau adalah salah seorang di antara mereka yang tahu, bagaimana membawa seekor kuda ke tempat ini.”

Ki Pandi pun mengangguk-angguk. Katanya, “marilah, aku tunjukkan kepada kalian jalan yang dapat kalian lewati.”

Setelah minum beberapa teguk, maka Ki Pandi bersama kedua orang tamunya itu pun meninggalkan tempat itu untuk mengambil kuda-kuda mereka yang terhalang oleh sulitnya jalan yang harus mereka tempuh sampai ke rumah Ki Ajar Pangukan itu.

Rumah Ki Ajar Pangukan adalah rumah yang kecil saja. Tetapi tamu-tamunya bukan orang-orang manja yang memerlukan tempat yang baik untuk bermalam. Mereka dapat tidur dimana saja. Diserambi, diruang tengah atau bilik yang sempit. Sedangkan mereka bukan pula orang yang memilih makanan tertentu menurut selera yang sulit. Mereka dapat makan apa saja yang pantas dimakan.

Karena itu, kehadiran orang-orang itu dirumah Ki Ajar tidak terlalu menyulitkannya. Mereka dapat makan ketela pohon, ketela rambat, jagung, apalagi nasi putih. Sementara itu, sayur-sayuran terdapat dihalaman dan di kebun rumah yang luas, bahkan seakan-akan tanpa batas.

Kemudian kolam yang direnangi oleh berbagai jenis ikan. Di halaman belakang juga berkeliaran berpuluh ekor ayam, itik yang menebarkan telur dimalam hari dan bahkan angsa.

Di hari-hari berikutnya, rumah kecil itu memang menjadi ramai. Beberapa orang yang usianya telah merambat melampaui pertengahan abad dan dua orang anak muda, Manggada dan Laksana.

Namun dengan demikian, Manggada dan Laksana telah mendapatkan pengalaman yang cukup banyak. Orang-orang tua itu kadang-kadang mengisi waktunya dengan latihan-latihan sesuai dengan aliran ilmu mereka masing-masing untuk mempertahankan kemampuan ilmu dan daya tahan tubuh mereka. Ki Lemah Teles yang sebelumnya merasa hidup kesepian, mulai merasa bahwa ia masih mempunyai beberapa orang kawan yang memperhatikannya.

Dalam pada itu, orang-orang yang tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan itu mulai membagi diri untuk mengamati sebuah padepokan yang mereka duga, mempunyai landasan ilmu hitam sebagaimana padepokan Panembahan Lebdagati.

Mereka tidak saja bergerak disiang hari, tetapi kadang-kadang juga malam hari. Bahkan Ki Ajar Pangukan telah mulai berusaha untuk dapat berada dipadukuhan-padukuhan di sekitar padepok-an itu.

Dalam pada itu, Ki Pandi yang berjalan-jalan bersama Manggada dan Laksana disebuah padukuhan sempat melihat bangunan khusus yang agak lain dari bangunan-bangunan khusus yang pernah mereka lihat. Disekitar bangunan itu terdapat halaman yang cukup luas dipagari dengan potongan batang kelapa yang berjajar rapat Pagar itu cukup tinggi dengan sebuah pintu gerbang saja.

“Apa yang ada didalam?” desis Laksana.

Lingkungan disekitar bangunan yang memang terletak menjorok diluar padukuhan itu memang sepi. Karena itu, maka Manggada pun berkata, “Apakah kita akan memasuki dinding bangunan yang khusus itu?”

Ki Pandi masih saja temangu-mangu. Namun kemudian mereka melihat dua orang bocah yang menggiring beberapa ekor kambing untuk digembalakan. Anak-anak itu tertegun sejenak melihat orang yang mereka anggap asing berada di sekitar bangunan khusus

“Kita dapat berbicara dengan anak-anak itu. Tetapi jangan takut-takuti mereka.” berkata Ki Pandi.

Manggada mengangguk-angguk. Karena itu, maka ia pun berkata, “Biarlah aku sendiri datang kepada mereka.”

“Sebentar lagi” desis Ki Pandi.

Baru ketika kedua orang anak itu duduk di rerumputan sambi! melepas kambing mereka di tempat terbuka yang ditumbuhi rerumputan yang hijau subur itu, Manggada telah melangkah mendekati mereka.

Ia berjalan dengan langkah yang wajar saja. Tidak tergesa-gesa dan tidak menarik perhatian. Sedangkan Laksana dan Ki Pandi justru berdiri saja ditempat mereka, dekat dengan bangunan khusus itu.

Kedua orang anak itu memang menjadi berdebar-debar. Tetapi sambil melangkah mendekati kedua anak itu, Manggada menunjukkan wajah yang terang dengan senyum dibibirnya.

Kedua anak itu beringsut menjauh ketika Manggada kemudian duduk direrumputan itu pula.

“Jangan takut” berkata Manggada, “aku memang orang asing bagi kalian dan barangkali bagi padukuhan ini. Aku ingin membuka perdagangan dengan para penghuni padukuhan itu.”

Kedua orang anak itu termangu-mangu. Namun tidak seorang pun diantara mereka yang menyahut.

“Aku dengar di padukuhan ini terdapat beberapa orang yang membuat gerabah” desis Manggada.

Kedua orang anak itu saring berpandangan, sementara Manggada bertanya pula, “Apakah benar?”

Seorang dintara kedua orang anak itu menggeleng. Jawabnya singkat, “Tidak.”

“O” Manggada mengangguk-angguk. Tetapi ia bertanya lagi, “Dimana kami dapat membeli gerabah dalam jumlah yang cukup banyak untuk aku jual lagi diseberang hutan Jatimalang?”

Kedua anak itu menggeleng. Seorang diantara mereka menjawab, “Aku tidak tahu.”

Manggada mengangguk-angguk lagi. Namun ia bertanya, “he, bangunan apakah yang dikelilingi dinding potongan batang kelapa utuh itu?”

Kedua orang anak itu saling berpandangan lagi. Wajah mereka menunjukkan keragu-raguan.

“Untuk menyelenggarakan upacara barangkali?” Kedua orang anak itu mengangguk berbareng.

“Upacara apa?” bertanya Manggada lagi.

“Tempat itu belum pernah dipakai” jawab salah seorang dari kedua orang anak itu.

“O” Manggada mengangguk-angguk. Dengan dahi berkerut ia bertanya, “Apakah bangunan itu baru selesai dibuat?”

“Sudah beberapa bulan yang lalu.” jawab anak itu.

Manggada masih saja mengangguk-angguk. Sambil memandang dinding yang mengelilingi bangunan khusus itu ia bertanya, “Kenapa tempat upacara itu tidak segera dipergunakan?”

Kedua orang anak itu menggeleng. Manggada sadar, bahwa ia tidak akan mungkin mendapat keterangan yang cukup dari anak-anak itu.

Tetapi apa yang telah didengar sedikit banyak dapat memberikan gambaran tentang bangunan yang masih belum pernah dipergunakan itu.

Sementara itu, Ki Pandi dan Laksana sempat melihat dari sela-sela potongan batang kelapa yang berjajar utuh itu, sesusunan batu yang ditata rapi. Dipahat seperti candi kecil bersusun agak tinggi mendatar dibagian atasnya yang agaknya untuk meletakkan benda-benda upacara atau bahkan sesaji atau korban yang diserahkan.

Sejenak kemudian, Manggada telah berada diantara mereka kembali. Yang dapat disampaikan kepada Ki Pandi adalah sekedar apa yang telah didengarnya dari kedua orang anak yang sedang menggembala itu.

Namun nampaknya mereka bertiga mendapat perhatian khusus dari seorang yang melihat mereka dari kejauhan. Orang yang sudah terhitung tua. Bahkan lebih tua dari Ki Pandi.

Dengan tongkat kayu yang panjang orang itu melangkah mendekati Ki Pandi, Manggada dan Laksana yang masih berada dide-kat bangunan yang khusus itu.

“Selamat datang dipadukuhan kami Ki Sanak” sapa orang tua itu.

“Terima kasih” jawab Ki Pandi sambil membungkuk hormat, “kami mohon maaf, bahwa kami telah mengganggu ketenangan padukuhan ini.”

Orang tua itu tersenyum. Kemudian iapun bertanya, “Apa yang sebenarnya kalian kehendaki, Ki Sanak.”

Yang menyahut adalah Manggada, “Kami mendengar disini banyak dibuat gerabah, kek. Mungkin kami dapat membelinya dan membawanya keseberang hutan Jatimalang.”

Orang tua itu termangu sejenak. Namun kemudian ia pun menggeleng, “tidak anak muda. Disini tidak ada orang yang membuat gerabah. Kami justru membeli dari padukuhan-padukuhan yang terletak agak kebawah. Jika kalian datang dari seberang hutan Jatimalang, maka kalian tentu sudah melewati padukuhan kecil yang semua penghuninya membuat gerabah.”

Namun Manggada dengan tangkas menjawab, “sayang kek. Buatannya kurang baik menurut pendapat kami. Bahkan mudah pecah, sehingga kemungkinan rusak diperjalanan menjadi sangat tinggi.”

Orang tua itu tersenyum. Katanya, “Gerabah dari Mungkid adalah gerabah yang terbaik yang pernah aku lihat.”

Manggada termangu-mangu sejenak. Tetapi ia masih dapat menjawab, “Ternyata yang terbaik itu masih belum memenuhi syarat yang kami tentukan bagi perdagangan gerabah.”

Orang itu tertawa. Namun kemudian ia bertanya.”Apakah kalian tertarik kepada bangunan yang belum pernah dipergunakan ini?”

“Ya, Ki Sanak” yang menjawab adalah Ki Pandi, “Kami belum pernah melihat bangunan seperti ini sebelumnya?”

“Bangunan ini dibuat untuk keperluan upacara. Tetapi upacara itu belum pernah diselenggarakan dipadukuhan ini. Dahulu, ketika tempat ini berada dibawah pengaruh Panembahan Lebdagati, juga sering dilakukan upacara-upacara khusus disetiap bulan purnama. Tetapi upacara itu dilakukan disatu tempat saja. Tetapi sekarang tidak. Upacara itu dilakukan dibeberapa tempat. Dipadukuhan ini telah dibuat tempat upacara yang besar. Lebih besar atau lebih lengkap dari padukuhan-padukuhan kecil yang lain. Tetapi upacara itu sendiri tidak pernah dilakukan dipadukuhan ini.”

“Kenapa kek?” bertanya Laksana.

Orang tua itu memandang bangunan itu dengan mata yang redup. Katanya kemudian, “Sebagai seorang yang pernah mengalami pengaruh Panembahan Lebdagali, serta kemudian setelah daerah ini seolah-olah terbuka, sehingga hubungan dengan lingkungan seberang hutan Jatimalang berlangsung, maka upacara-upacara seperti itu rasanya sangat mengerikan. Aku sendiri sejak Panembahan Lebdgati menyelenggarakan upacara-upacara khusus didaerah ini, aku tidak pernah mengikutinya. Tetapi karena aku tidak mempunyai kekuatan apapun dan bahkan tidak mempunyai keberanian yang cukup, maka aku tidak berani berbuat apap-apa selain berharap.”

“Apakah upacara yang berlangsung waktu itu dan sekarang sama?” bertanya laksana.

“Tidak anak muda. Dahulu korban yang diserahkan adalah gadis-gadis.” jawab orang tua itu.

“Sekarang?” desak Laksana.

“Seekor anak binatang apapun. Ditusuk dadanya sampai mati. Bukankah itu mengerikan meskipun hanya seekor anak binatang? Seekor anak kambing berteriak melengking tinggi ketika sepotong bambu yang ditajamkan menusuk jantungnya, seperti tangis seorang bayi yang kesakitan.”

Laksana tidak bertanya lebih jauh. Sekilas melintas di angan-angannya sesuatu yang sangat mengerikan.

Tetapi orang tua itu masih berkata, “Bangunan ini dibuat oleh beberapa orang yang sejak semula melandasi kepercayaannya dalam pengaruh ilmu hitam. Mereka menganggap bahwa upacara seperti ini akan dapat memberikan keselamatan dan kesejahtera-an bagi hidupnya” Orang itu berhenti sejenak. Namun kemudian ia meneruskannya, “tetapi niat itu ditentang oleh banyak orang yang menyadarinya, bahwa upacara seperti itu hanya menimbulkan kengerian saja. Bahkan di hari mendatang akan menimbulkan malapetaka bagi penghuni padukuhan itu sendiri. Dan yang lebih buruk lagi jika malapetaka itu menyebar ke padukuhan-padukuhan di sekitarnya, apalagi sampai ke seberang hutan Jatimalang.”

“Apakah hal seperti itu akan mungkin terjadi?” Laksana justru bertanya lagi.

“Mungkin sekali. Jika di satu padukuhan tidak lagi terdapat seekor anak binatang pun, maka tentu akan dicari dari padukuhan-padukuhan yang lain, sementara padukuhan-padukuhan yang lain juga membutuhkan bagi upacara yang mereka selenggarakan sendiri. Jika demikian bukankah harus dicari ditempai yang semakin jauh yang justru tidak mempunyai kepercayaan pada upacara seperti itu. Sekali lagi aku ingatkan, bahwa yang dilakukan sekarang dalam upacara itu barulah semacam pendahuluan. Pada kesempatan lain upacara itu akan menjadi upacara yang sesungguhnya menurut kepercayaan sesat itu.”

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Pandi bertanya, “Apakah upacara itu tidak akan pernah dilakukan di padukuhan ini selama masih ada yang menentangnya?”

“Hanya untuk sementara” jawab orang itu, “pada satu saat nanti, orang-orang dari padepokan dibelakang gumuk itu akan datang lagi. Mencoba untuk mempengaruhi orang-orang padukuhan itu serta mengungkit lagi kepercayaan hitam dari penghuni padepokan ini yang sebenarnya sudah mulai berubah. Jika mereka tidak berhasil, maka mereka tentu akan mulai dengan cara yang lebih kasar. Menakut-nakuti, mengancam dan mengganggu ketenangan. Jika cara itu masih belum berhasil, maka mereka akan mempergunakan kekerasan. Mereka akan memaksa para penghuni padukuhan ini untuk melakukan upacara-upacara terkutuk itu.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Sementara orang itu berkata selanjutnya, “Para pemimpin padepokan itu agaknya tidak berjantuhg lagi. Mereka melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan tanpa mengingat lagi nilai-nilai dalam tatanan kehidupan yang berlaku bagi orang banyak.”

“Apakah Ki Sanak akan bertahan hidup dalam suasana yang demikian?” bertanya Ki Pandi.

“Aku tidak mempunyai pilihan lain. Orang tuaku tinggal disini. Aku mendapat warisan tanah berserta rumahnya. Sementara anak-anak pun tinggal disini pula. Bahkan cucu-cucuku.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Baiklah Ki Sanak. Untuk sementara kami merasa sudah banyak mendengar tentang bangunan khusus itu. Mungkin pada kesempatan lain, kami akan singgah dirumah Ki Sanak. Namun apakah kami boleh mengetahui ancar-ancar tempat tinggal Ki Sanak?” bertanya Ki Pandi.

Alenia ini tertukar tempat di buku aslinya (dewi KZ)

“Rumahku mudah dicari. Aku tinggal ditepi jalan induk padukuhan ini. Hampir berhadapan dengan banjar padukuhan. Jika kalian mengalami kesulitan, kalian dapat bertanya dirumah Ki Carang Ampel.”

“Baik, Kiai. Sekarang aku mohon diri.”

“Ki Sanak” desis Ki Carang Ampel, “apakah Ki Sanak mempunyai pendapat khusus mengenai upacara yang sering dilakukan dipadukuhan-padukuhan yang lain.”

“Tidak Ki Carang Ampel. Kami hanya sekedar ingin tahu saja” jawab Ki Pandi.

Orang tua itu mengangguk-angguk. Dengan nada berat orang itu bertanya, “Dimanakah Ki Sanak tinggal?”

“Kami orang-orang Pajang” jawab Ki Pandi. Orang tua itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya apapun lagi.

Ketika kemudian Ki Pandi, Manggada dan Laksana duduk berkumpul bersama orang-orang lain penghuni rumah Ki Ajar yang kecil itu disore hari, maka Ki Pandi pun telah menceriterakan pertemuannya dengan Ki Carang Ampel.

Ki Jagaprana dengan serta-merta menyahut, “Sulit bagi kita untuk mempercayai sikap dan pendapat orang disini. Mereka nampaknya berbicara apa saja tanpa dipikirkannya masak-masak.”

Tetapi Ki Pandi menyahut, “Tetapi nampaknya Ki Carang Ampel telah mencoba untuk mengatakannya sesuai dengan tanggapannya” atas bangunan khusus di padukuhannya.”

“Memang mungkin” sahut Ki Ajar Pangukan, “aku masih juga percaya bahwa orang penalarannya mulai terbuka sejak hutan Jatimalang itu ditembus. Beberapa orang mencoba membuka jalur perdagangan didaerah ini dapat membuka hati orang-orang yang semula dibayangi oleh ilmu hitam. Bahkan ada diantara para pedagang justru dengan sengaja berusaha membuka nalar budi orang-orang itu agar mereka mengenali hubungan antara mereka dengan penciptanya.”

Ki Jagaprana mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Lemah Teles berkata, “Nampaknya para pemimpin di padepokan itu telah mempelajari dengan baik lingkungan ini, sehingga mereka telah memilih tempat ini untuk mendirikan padepokan yang bukan sekedar sebuah perguruan tertutup. Tetapi para pemimpin padepokan itu berusaha menyebarkan pengaruhnya disatu lingkungan yang luas, menurut pendapat mereka, merupakan lahan yang subur bagi kepercayaan hitam, karena lingkungan ini memang pernah dibayangi oleh ilmu hitam ketika Panembahan Lebdagati ada disini.”

“Ya.” Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Karena itulah, maka kita merasa mendapat beban tugas yang berat meskipun kita sendiri yang meletakkan beban itu dipundak kita.

“Yang dapat kita lakukan adalah mencegah menjalarnya pengaruh ilmu hitam itu. Tetapi kita tidak boleh melupakan, bahwa kita akan berhasil dengan baik, jika kita dapat mematikan sumbernya. Tetapi kita tahu, bahwa hal itu tidak akan mudah kita lakukan. Kita belum tahu kekuatan yang sebenarnya yang ada di padepokan itu.”

Sementara itu Ki Sambi Pitu pun berkata, “Agaknya para pemimpin di padepokan itu menyebarkan pengaruhnya dengan bertahap. Satu hal yang menarik perhatian. Nampaknya para pemimpin di padepokan itu benar-benar mematangkan rencananya sebelum mereka bertindak.”

“Maksud Ki Sambi Pitu?” bertanya Ki Jagaprana.

“Mula-mula korban yang diserahkan oleh orang-orang yang sudah mulai terpengaruh lagi oleh ilmu hitam itu adalah anak-anak binatang jenis apapun dengan menusuk jantungnya sampat mati. Tetapi disatu padukuhan yang terhitung dekat dengan padepokan itu, upacara mulai berubah. Adalah kebetulan bahwa aku dapat berbicara dengan seorang anak muda yang tidak menyadari dengan siapa ia berbicara.”

“Perubahan apakah yang terjadi?” bertanya Ki Ajar.

“Di padukuhan itu, korban tidak lagi ditusuk. Tetapi dibakar hidup-hidup. Anak binatang itu diletakkan diatas seonggok kayu kering. Kemudian kayu itu dinyalakan.”

Orang-orang yang mendengar penjelasan Ki Sambi Pitu itu menjadi berdebar-debar. Mereka merasa ngeri membayangkan peristiwa itu terjadi. Apalagi ketika angan-angan mereka berkembang lebih jauh.

Dengan demikian, maka orang-orang yang tinggal dirumah Ki Ajar itu sepakat untuk melihat keadaan lebih jauh lagi.

Namun Ki Lemah Teles pun berkata, “Jika kita terlalu sering berkeliaran, maka kita tentu akan sangat menarik perhatian. Suatu ketika, maka kehadiran kita akan didengar oleh orang-orang padukuhan itu.”

“Ya” Ki Ajar mengangguk-angguk, “kita memang harus berhati-hati. Jika orang-orang padepokan itu mencium kehadiran kita, maka kita akan langsung berhadapan dengan mereka.”

Dengan demikian, maka orang-orang dirumah kecil itu sepakat untuk meningkatkan kewaspadaan mereka.

Ki Pandi agaknya sangat tertarik dengan keterangan Ki Sambi Pitu tentang perubahan upacara yang mengerikan itu. Karena itu, maka tanpa Manggada dan Laksana orang bongkok itu telah menyusuri jalan ke padukuhan itu.

Sebuah padukuhan yang letaknya agak tinggi di kaki Gunung Lawu itu bukan sebuah padukuhan yang besar.

Para penghuninya juga bukan orang-orang yang termasuk orang-orang berada. Meskipun demikian, ternyata bahwa mereka telah berusaha dengan susah payah yang membuat satu bangunan khusus untuk menyelenggarakan upacara yang aneh itu.

Ki Pandi telah memilih saat yang tepat. Ketika bulan purnama naik, maka dengan diam-diam ia telah berada di padukuhan itu.

Apa yang disaksikan, benar-benar mengerikan. Meskipun yang dikorbankan sekedar seekor anak kambing.

Ki Pandi melihat orang-orang padukuhan itu memasuki halaman bangunan khusus itu menjelang tengah malam. Mereka berjalan dengan kedua tangannya bersilang dimuka dada. Laki-laki dan perempuan. Kepala menunduk dan mereka tidak saling berbicara.

Suasananya memang terasa mencekam. Yang dilihat oleh Ki Pandi seakan-akan bukan orang-orang yang berjalan. Tetapi seperti sebuah golek kayu besar, yang bergerak dengan sendirinya menuju ke tempat upacara.

Tetapi setelah upacara selesai dan orang-orang padukuhan itu sudah kembali kerumah masing-masing dengan cara yang sama sebagaimana mereka datang, Ki Pandi tidak segera meninggalkan tempat itu.

Di pagi hari berikutnya, Ki Pandi masih berada disekitar padukuhan itu. Ketika Ki Pandi sedang mencuci kakinya di sebuah sungai kecil, maka dilihatnya seorang gadis yang sedang mencuci. Namun setiap kali gadis itu mengkerutkan lehernya sambil menggelengkan kepalanya.

Menurut penglihatan Ki Pandi, gadis itu agaknya sedang dibayangi oleh perasaan takut dan ngeri.

Ketika Ki Pandi mendekatinya, gadis itu menjadi cemas. Orang bongkok itu membuatnya gelisah. Apalagi ujud Ki Pandi yang lain dari kebanyakan orang..

Tetapi Ki Pandi yang menyadari perasaan gadis itu pun segera berkata, “Jangan takut ngger. Aku hanya ingin bertanya?”

Gadis itu tidak menjawab. Dipandanginya Ki Pandi dengan wajah gelisah.

“Ngger” berkata Ki Pandi yang kemudian duduk diatas sebongkah batu tidak jauh dari gadis yang sedang mencuci itu, “apakah angger tadi malam juga mengikuti upacara itu?”

“Ah” gadis itu tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Diluar sadarnya ia berdesis, “Mengerikan sekali. Aku masih selalu dibayangi oleh peristiwa itu. Aku sedang berusaha mengusirnya dari bayangan angan-anganku. Tiba-tiba saja kakek justru bertanya tentang hal itu.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Maaf ngger. Bukan maksudku untuk mengelitik perasaanmu dengan kengerian itu. Tetapi aku masih ingin bertanya serba sedikit tentang upacara yang aneh itu.”

“Jangan sebut-sebut lagi kek” minta gadis itu.

“Tetapi bukankah sebelumnya daerah ini juga pernah dipengaruhi oleh upacara-upacara yang pernah dilakukan oleh orang yang bernama Panembahan Lebdagati. Jika korban kali ini yang diserahkan hanyalah seekor anak binatang, beberapa waktu lalu korbannya justru seorang gadis. Sehingga keresahan telah tersebar bukan saja dikaki Gunung Lawu ini, tetapi sampai keseberang hutan Jatimalang.”

“Tetapi aku belum pernah hadir pada upacara itu, kek. Sanggar pemujaannya pun terletak agak jauh dari padukuhan ini. Tetapi sekarang hampir disetiap padukuhan yang mempunyai banyak pendukung dari aliran yang mengerikan itu telah membangun sendiri sanggar seperti itu.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia-pun bertanya, “Apakah dipadukuhanmu banyak orang yang menjadi pengikut aliran itu ngger?”

Gadis itu nampak ragu-ragu sejenak. Sekilas Ki Pandi melihat sinar matanya yang berkilat.

Gadis itu hanyalah seorang gadis desa yang sederhana. Tetapi nampaknya ia seorang gadis yang cerdas. Ia sadar, bahwa jawaban yang diberikan akan dapat menjeratnya dalam kesulitan jika ia salah ucap.

Namun gadis itu kemudian berdesis, “Semua orang dipadukuhanku menjadi pengikut aliran itu.”

Ki Pandi mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Baiklah ngger. Terima kasih atas keterangan angger. Mungkin pada kesempatan lain kita akan bertemu lagi.”

“Tetapi jangan bicarakan tentang upacara itu lagi, kek.”

Ki Pandi tersenyum. Dengan nada ringan ia menjawab, “Tidak ngger. Aku tidak akan bertanya lagi.”

Namun tiba-tiba sekali gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Suaranya yang serak terdengar dari balik telapak tangannya, “Tidak. Tidak akan lebih dari itu?”

“Kenapa ngger?” bertanya Ki Pandi, “bukankah aku tidak menyinggung lagi tentang upacara itu?”

“Bayangan itu selalu melintas di kepalaku kek. Semalam aku tidak dapat tidur setelah aku pulang dari upacara itu. Bayangan yang nampak dikepalaku, korban itu bukan sekedar seekor anak binatang.”

“Sudahlah ngger. Jika kau membayangkan yang, bukan-bukan, kau akan menjadi semakin ngeri. Sebaiknya kau lupakan saja. Lihat pakaian yang kau cuci itu agar tidak hanyut. Kau perhatikan apakah cucianmu sudah bersih atau belum. Yang penting kau palingkah ingatanmu kepada apa saja yang baik kau kenang. Mungkin seorang jejaka yang tampan atau barangkali ayah dan ibumu pernah berbicara tentang jodoh bagimu atau bahkan kau sudah berkeluarga?”

“Aku memang belum berkeluarga kek. Ayah dan ibu juga belum pernah berbicara tentang jodohku. Ah, semuanya masih jauh bagiku.” jawab gadis itu sambil duduk.

“Waktunya tentu akan datang” desis Ki Pandi. Namun kemudian katanya, “Sudahlah ngger. Aku akan pulang..”

“Dimana kakek tinggal?” bertanya gadis itu.

“Dekat hutan Jatimalang.” jawab Ki Pandi.

Gadis itu memandang Ki Pandi yang melangkah meninggalkan gadis yang sedang mencuci itu. Meskipun orang tua itu bongkok dan buruk, tetapi gadis itu tidak lagi merasa takut. Suaranya terdengar lembut seperti wajahnya yang banyak tersenyum.

Bayangan yang mengerikan sebagaimana dikatakan oleh gadis itu, justru telah semakin mencemaskan pula orang-orang yang tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan. Mereka semakin sering melihat perkembangan aliran sesat itu dipadukuhan-padukuhan yang dekat dan yang lebih jauh lagi dari padepokan. Namun ternyata bahwa aliran itu tidak dapat berkembang meliputi daerah dibelakang hutan Jatimalang sebagaiman sebelumnya, justru karena pengaruh hubungan yang lebih luas dengan orang orang seberang hutan.

Namun yang tidak diperhitungkan oleh orang-orang dirumah Ki Ajar Pangukan itu telah terjadi. Ketika Ki Pandi, Manggada dan Laksana sedang berada tidak terlalu jauh dari padepokan itu, mereka telah melihat dua ekor burung elang yang terbang berputar-putar diatas padepokan yang dilingkari dinding kayu yang kuat dan cukup dnggi.

“Elang itu” desis Ki Pandi.

“Apakah memang ada hubungan antara Panembahan Lebdagati dengan padepokan itu?” bertanya Manggada.

“Atau bahkan padepokan itu telah dibuat oleh para pengikut Panembahan Lebdagati dan memang dipersiapkan bagi kembalinya Panembahan itu di lereng Gunung Lawu ini?” desis Laksana.

“Perkembangan yang menarik” berkata Ki Pandi, “jika benar padepokan itu dipersiapkan bagi Panembahan Lebdagati yang ingin kembali menguasai daerah ini, maka persoalannya justru akan menjadi jelas.”

Namun Laksana itu pun bertanya, “Apakah tidak ada orang lain yang mampu mengendalikan elang seperti Panembahan Lebdagati?”

“Ada. Tentu ada” jawab Ki Pandi, “salah seorang pengikutnya atau bahkan orang lain yang mempunyai kegemaran yang sama. Tetapi menilik sikap dan ujud burung elang itu, nampaknya burung itu dikendalikan oleh para pengikut Panembahan Lebdagati yang tersisa.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian mereka telah diajak oleh Ki Pandi berlindung dibawah sebatang pohon yang rimbun.

“Jika saja burung itu mengenali kita bertiga” desis Ki Pandi.

Tetapi Laksana pun menyahut, “Seandainya mereka mengenali kita, apakah burung-burung itu mempunyai cara untuk memberitahukan kepada Panembahan Lebdagati atau pengikutnya? Bagaimana burung elang itu dapaf menyebut; bahwa burung elang itu sudah melihat Ki Pandi, Manggada dan Laksana?”

Ki Pandi tertawa. Katanya, “Tentu burung elang itu tidak dapat menyebut namamu, Laksana. Tetapi burung itu tentu dapat memberi isyarat bahwa ia melihat orang-orang yang pernah dikenalnya sebelumnya.”

Laksana mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi pemilik burung itu akan dapat salah menangkap artinya. Mungkin pemilik burung itu mengira bahwa eläng-elangnya melihat Kiai Gumrah atau melihat Ki Prawara atau orang lain lagi.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Mungkin saja. Tetapi dengan demikian, maka Panembahan Lebdagati atau pengikutnya akan mengirimkan orang itu untuk melihat langsung sesuai dengan isyarat burung-burung elang itu. Nah, orang-orang itu akan dapat berbicara tentang penglihatannya. Apalagi tentang orang-orang yang mempunyai ciri khusus seperti aku ini.”

Laksana mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Sementara kita tidak tahu, orang yang dikirim oleh Panembahan Lebdagati atau pengikutnya untuk mengamati kita.”

Dengan demikian, maka ketiga orang itupun kemudian telah duduk dibawah sebatang pohon yang rindang. Dari jarak yang agak jauh mereka melihat kedua burung elang itu masih saja berputar-putar. Namun kemudian menghilang kearah Utara.

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita dapat memperkirakan bahwa sarang kedua ekor burung elang itu ada di-sisi Utara Gunung ini, meskipun mungkin dapat juga salah, karena kedua ekor burung itu dapat juga mengelabuhi orang. Meskipun mereka menghilang ke Utara, namun kemudian mereka akan terbang kearah yang lain.”

Manggada dan Laksana yang memandang kedua ekor burung itu sampai hilang dikejauhan, mengangguk-angguk. Burung-burung elang yang terlatih baik itu seakan-akan memang mampu memperhitungkan sikap yang diambilnya.

Demikian kedua ekor burung elang itu hilang, maka Ki Pandi-pun telah mengajak Manggada dan Laksana melihat sebuah padukuhan yaag pernah dikunjunginya, justru ketika sedang berlangsung upacara disaat bulan sedang purnama.

“Tetapi tentu tidak ada upacara disiang hari, Ki Pandi” berkata Manggada.

“Memang tidak” berkata Ki Pandi, “di malam haripun tidak, karena upacara itu resminya hanya dilakukan setiap purnama. Beberapa hari yang lalu, di padukuhan itu baru saja dilakukan sebuah upacara sebagaimana di katakan Ki Sambi Pitu yang mendapat keterangan dari seorang anak muda.”

“Jadi, apa yang akan kita lakukan?” bertanya Ki Pandi.

“Kita akan dapat berbincang dengan penghuni padukuhan itu. Mumpung masih agak pagi.” jawab Ki Pandi.

Bertiga mereka menuju ke sebuah padukuhan yang pernah dikunjungi oleh Ki Pandi. Mereka tidak langsung menuju ke padukuhan. Tetapi mereka pergi kesebuah sungai diluar padukuhan itu.

Dari kejauhan Ki Pandi melihat beberapa orang perempuan sedang mencuci pakaian. Karena itu, maka katanya, “Nanti saja. Jika yang lain telah pergi.”

“Maksud Ki Pandi?” bertanya Manggada, “apakah kita harus mengintip orang mandi dan mencuci pakaian itu?”

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Pandi bertanya, “Apakah upacara itu tidak akan pernah dilakukan di padukuhan ini selama masih ada yang menentangnya?”

“Ah” Ki Pandi mengerutkan dahinya, “tentu tidak. Tetapi duduk sajalah disitu. Aku akan memperlihatkan diri. Bukankah di-sebelah itu jalan penyeberangan yang banyak dilalui orang? Aku akan lewat jalan itu. Nanti, aku beri kalian isyarat.”

Manggada dan Laksana tidak tahu maksud orang tua bongkok itu. Tetapi mereka menurut saja. Keduanya pun kemudian duduk di belakang gerumbul perdu yang tumbuh dibawah sebatang pohon nvamplung yang cukup besar.

“Tentu banyak ular disini” jawab Laksana. Manggada tertawa. Katanya, “Ki Pandi lah yang bertanggung jawab jika kita dipatuk ular.”

Sementara itu, Ki Pandi telah turun ke jalan penyeberangan yang memang banyak dilalui orang yang lewat dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Apalagi setelah hutan Jatimalang ditembus oleh jalan perdagangan yang sengaja dibuat oleh Pajang, agar lingkungan dibelakang hutan Jatimalang itu tidak menjadi terpisah dari lingkungan lainnya.

Seperti yang diharapkan, seorang gadis yang sedang mencuci pakaian di antara beberapa perempuan yang lain telah melihatnya. Beberapa orang perempuan yang lain juga melihat orang bongkok yang lewat itu. Tetapi mereka tidak memperhatikannya. Orang bongkok itu hanyalah salah seorang saja diantara orang-orang lain yang lewat.

Berbeda dengan perempuan-perempuan yang lain, gadis yang pernah ditemui Ki Pandi itu justru memperhatikannya. Orang bongkok itu tiba-tiba saja terasa sebagai seorang kawan yang akrab. Berbeda dengan orang-orang di padukuhannya, orang bongkok itu rasa-rasanya dapat mengerti gejolak perasaannya menanggapi upacara-upacara yang diselenggarakan di padukuhannya. Orang-orang di padukuhannya, bahkan ayah ibunya, tidak lagi mau mengerti, betapa hatinya menjadi ngeri dan ketakutan melihat upacara yang dilakukan di bulan purnama itu.

Ketika perempuan-perempuan dan gadis-gadis yang lain selesai mandi dan mencuci pakaian, maka mereka pun segera bersiap untuk kembali ke padukuhan. Tetapi gadis itu ternyata masih belum selesai. Bahkan iapun berkata kepada perempuan-perempuan yang lain, “Silahkan. Aku masih kurang sedikit. Nanti aku segera menyusul.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, sungai itu menjadi sepi. Hanya tinggal seorang gadis sajalah yang masih mencuci pakaiannya yang sebenarnya sudah bersih.

Seperti yang diharapkan oleh gadis itu, maka orang bongkok itu telah datang mendekatinya. Wajahnya yang kusam itu nampak lunak karena senyumnya.

“Kawan-kawanmu sudah selesai” berkata Ki Pandi.

“Aku belum, kek. Cucianku banyak sekali,” jawab gadis itu.

Ki Pandi tertawa pendek. Katanya, “Aku tahu, kau sudah selesai mencuci. Karena itu, berpakaianlah lebih rapi.”

“Kenapa?” wajah gadis itu tiba-tiba menjadi merah.

“Aku tidak datang sendiri. Aku datang bersama kedua orang, cucuku yang ingin melihat-lihat daerah ini.”

“O” gadis itu memang merapikan pakaiannya yang belum mapan.

“Jangan takut. Kedua cucuku dan aku sendiri ingin berbicara tentang kepercayaan yang berkembang di padukuhanmu. Tetapi jangan cemas. Kami tidak akan berbicara tentang korban-korban yang diserahkan.”

Gadis itu mengerutkan dahinya. Namun, laki-laki bongkok itu rasa-rasanya mengerti perasaannya yang sebenarnya ingin menolak upacara yang sering diselenggarakan di padukuhannya.

Karena itu, maka gadis itu mengangguk. Tetapi iapun kemudian berkata, “tetapi aku tidak dapat berlama-lama disini. Kawan-kawanku sudah pulang. Ibu akan bertanya kepada mereka, kenapa aku tinggal.”

“Baiklah. Aku akan memanggil kedua orang cucuku”

Gadis itu menunduk dalam-dalam. Wajahnya terasa panas ketika Manggada dan Laksana berdiri beberapa langkah disebelahnya. Di padukuhannya juga ada beberapa orang anak muda. Ketika gadis itu masih remaja, maka ia pun sering bermain-main dengan anak-anak laki-laki yang sebaya. Tetapi setelah ia menginjak dewasa, maka pergaulannya dengan anak-anak muda menjadi semakin terbatas.

Ketika kepercayaan hitam yang terdahulu berkembang, ia masih dapat bermain bersama di halaman jika bulan terang. Hanya saat buian purnama penuh, beberapa orang tua pergi ke upacara. Sedangkan sehari-hari, masa remajanya tidak begitu terpengaruh oleh kepercayaan yang sedang berkembang itu.

Namun ketika ia sudah mulai disebut seorang gadis, maka ia mulai mendapat batasan-batasan bergerak. Bukan saja karena ia dijauhkan dari anak-anak muda. Tetapi dalam keadaan yang memaksa, tiba-tiba saja seorang gadis dapat hilang dari lingkungannya.

Gadis itu tidak banyak mengetahui, apa yang telah terjadi. Namun baru kemudian ia menyadari, bahwa ilmu hitam dibawah pengaruh Panembahan Lebdagati, didalam upacara-upacara besarnya telah mengorbankan gadis-gadis. Gadis-gadis yang diambil dan dibeli dari seberang hutan Jatimalang. Tetapi jika gadis itu tidak didapatkannya, maka gadis dari lereng Gunung Lawu dibelakang hutan Jatimalang itu dapat saja tiba-tiba hilang.

Memang mengerikan, tetapi ia tidak pernah mengetahui apa yang terjadi.

Sedang apa yang dialaminya sekarang, membuat jiwanya tersiksa. Bersama orang-orang sepadukuhan, gadis itu harus pergi ke upacara. Ia harus menyaksikan, bagaimana seekor anak binatang diletakkan diatas seonggok kayu kering dan kemudian dinyalakan. Anak binatang itu berteriak-teriak kesakitan. Tetapi api itu sama sekali tidak mengenal belas kasihan. Bahkan orang-orang yang melakukan upacara itu juga tidak mengenal belas kasihan. Semua orang yang ada di lingkungan upacara itu seakan-akan telah kehilangan perasaannya.

Untuk beberapa saat lamanya Manggada, Laksana dan Ki Pandi bercakap-cakap dengan gadis itu. Tetapi sikap gadis itu menjadi jauh berbeda dengan sikapnya terhadap Ki Pandi. Wajahnya selalu menunduk dan kata-katanya hampir tidak dapat didengar.

Tetapi gadis itu sempat berkata, “Didalam lingkungan upacara, maka segala keterbatasan pergaulan itu dilupakan.”

“Maksudmu?” bertanya Ki Pandi.

Gadis itu bdak menjawab. Tetapi ia berusaha untuk menyembunyikan wajahnya. Gadis itu berpaling. Dipandanginya air sungai yang mengalir gemericik dibawah kakinya yang berpijak pada bebatuan. Beberapa lembar daun kering hanyut mengikuti aliran sungai.

“Sudahlah, kek” berkata gadis itu kemudian, “aku sudah terlalu lama ditinggalkan kawan-kawanku.”

Ki Pandi tidak menahannya. Namun ketika gadis itu beranjak dari tempatnya, Ki Pandi bertanya, “Siapa namamu, ngger?”

Gadis itu berpaling. Tetapi ia ragu. Apalagi ketika tatapan mata Laksana yang tajam seakan-akan menusuk sampai ke jantung.

Namun gadis itu kemudian berkata, “Namaku Delima, kek.”

Ki Pandi tersenyum. Katanya, “Nama yang bagus, ngger.”

“Ketika ibu mengandung aku, ibu memang mengidam buah delima. Kemudian selain membeli delima, ayah juga menanam pohon delima di halaman rumahku. Sekarang pohon itu sudah berbuah.”

“Manis sekali” desis Laksana. Namun kemudian tergesa-gesa ia menyambung, “Maksudku, buah delima yang benar-benar masak itu rasanya manis sekali.”

Wajah gadis itu terasa panas sesaat. Namun kemudian ia pun meninggalkan tepian itu.

Beberapa langkah kemudian Ki Pandi menyusul ketika Laksana berbisik, “Dimana rumahnya, Ki Pandi.”

“Ngger, apakah angger tidak berkeberatan jika aku datang menemui orang tuamu untuk berbicara tentang upacara-upacara yang mengerikan itu?”

“Ayah merupakan salah seorang pendukung kuatnya, kek. Juga paman-pamanku. Bahkan seorang diantara kakak ayahku berada di padepokan itu.”

“Apakah ia sering pulang ke padukuhan?” bertanya Ki Pandi.

“Sering, kek. Tetapi waktunya tidak tentu,”-jawab gadis itu.

“Baiklah. Aku akan mengunjungi rumahmu. Tetapi dimana rumahmu itu?”

“Rumahku berseberangan dengan banjar padukuhan, kek. Tetapi jika kakek pergi kesana. jangan katakan, bahwa kita pernah berbicara tentang kepercayaan itu.”

“Baiklah” Ki Pandi mengangguk-angguk, “aku akan menjaga, agar kau tidak mengalami kesulitan karena pembicaraan ini.

Delimapun segera melangkah pergi. Manggada sambil menggamit Laksana berkata, “Nah, rumahnya didepan banjar. Kapan kau akan kesana?”

“Ah, kau. Bukankah wajar bertanya rumah seseorang yang baru dikenalnya?” jawab Laksana.

“Tentu. Apakah aku tadi mengatakan tidak wajar?”

“Kau selalu begitu” desis Laksana.

Manggada tertawa. Namun kemudian ia bertanya, “Laksana, yang manakah yang lebih cantik. Winih atau Delima.”

Laksanapun tetawa. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah, Ki Pandi telah mengajak Manggada dan Laksana meninggalkan tempat itu. Dari kejauhan mereka melihat bangunan khusus yang dipergunakan untuk upacara menyerahkan torban. Tetapi mereka tidak mendekat.

Malam itu, dirumah Ki Ajar Anggara, beberapa orang sedang berbincang. Pada umumnya, mereka ingin berhubungan dengan isi padepokan itu.

“Jika kita berhasil berhubungan dengan mereka, maka kita akan mengetahui, siapakah mereka itu. Dengan demikian, maka kita akan dapat menentukan langkah lebih jauh.”

“Tetapi kita jangan bersikap bermusuhan” berkata Ki Ajar, “jika kita bersikap bermusuhan, maka segala-galanya leniu sudah tetutup.”

“Ya” desis Ki Lemah Teles, “kita harus bersikap bersahabat.

“Kita tidak boleh dengan serta-merta menantang perang tanding dengan pemimpin padepokan itu.” berkata Ki Sambi Pitu.

Ki Jagaprana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun tertawa. Ki Ajar memang terlambat pula tertawa. Namun Ki Lemah Teles berkata, “Apa pedulimu? Semua orang akan aku tantang sampai pada satu saat ada orang yang mampu membunuhku.”

“Ada banyak orang yang dapat membunuhmu. Tetapi orang-orang itu menaruh belas kasihan kepadamu, justru karena kau kehilangan akal seperti itu.”

“He?” wajah KiLemah Teles berkerut. Dengan nada dalam ia justru bertanya, “Apakah aku memang pantas dikasihani?”

“Tidak. Memang tidak” sahut Ki Ajar Pangukan.

Ki Lemah Teles bersungut-sungut. Tetapi kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam.

Dalam pada itu, orang-orang tua itu pun kemudian telah memutuskan untuk mulai berhubungan dengan orang-orang padepokan itu dengan cara apapun. Dengan demikian, maka mereka akan dapat mengetahui, apakah isi dari padepokan itu.

Yang paling baik dipergunakan sebagai alasan adalah, bahwa mereka ingin mendapatkan hasil bumi atau hasil kerajinan tangan di daerah ini untuk dibawa ke Pajang. Mereka harus menganggap bahwa di daerah yang semula tertutup ini tentu terdapat banyak sekali jenis pekerjaan tangan.

Sebenarnyalah, Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles kemudian mempersiapkan kuda-kuda mereka. Meskipun letak padepokan itu tidak jauh sekali dari tempat tinggal Ki Ajar yang tersembunyi, tetapi berkuda mereka akan nampak lebih mapan.

Di keesokan harinya dua orang berkuda telah meninggalkan halaman rumah Ki Ajar Pangukan. Mereka harus menyusup melalui jalan yang khusus. Sedikit melingkar-lingkar untuk dapat keluar dari tempat yang tersembunyi itu.

Baru kemudian mereka turun ke jalan dan melarikan kuda mereka memanjat kaki Gunung Lawu.

Keduanya telah sepakat untuk mengaku sebagai pedagang yang mencari barang dagangan di daerah yang semula dipisahkan oleh hutan Jatimalang itu.

Keduanya dengan tekad bulat menuju ke sebuah padepokan yang tidak mereka kenal sebelumnya, padepokan yang seakan-akan berdin dibelakang kabut sehingga yang nampak hanyalah bayangannya saja.

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles memang sudah bertekad untuk melihat apa yang ada didalam padepokan itu. Mereka dengan tabah akan menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.

“Mungkin kita akan ditangkap dan dibantai didalam padepokan yang berisi orang-orang dari aliran hitam itu.” berkata Ki Lemah Teles.

“Atau kita akan diserahkan sebagai korban kepada iblis sebagaimana anak binatang yang diletakkan diatas seonggok kayu kering dan kemudian mereka nyalakan, sehingga kita akan terbakar hidup-hidup.” sahut Ki Sambi Pitu.

Ki Lemah Teles tertawa. Katanya, “Tetapi sebelumnya kita tentu akan dipelihara sebaik-baiknya sampai saatnya purnama naik. Bukankah korban itu hanya diberikan setiap bulan purnama penuh.”

Ki Sambi Pitu pun tertawa. Katanya, “Bukankah itu lebih baik daripada kita saling membunuh diantara kita sendiri? Jika kita mati dipadepokan orang berilmu hitam itu, rasa-rasanya kematian kita ada juga gunanya, meskipun hanya sedikit”“

Ki Lemah Teles segera memotongnya, “Cukup. Cukup. Kau hanya akan mengatakan bahwa aku telah melakukan kesalahan dan bahkan pantas dikasihani. Tetapi jangan mengira bahwa kelak aku mengurungkan tantanganku untuk berperang tanding. Bukan hanya kau, tetapi orang-orang yang telah membuat hidupku kesepian.”

Tetapi Ki Sambi Pitu tertawa pula. Katanya, “Apakah kita masih akan dapat keluar dari padepokan itu?”

Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Aku akan menantang pemimpin padepokan itu untuk berperang tanding. Orang itu harus tahu, siapakah Ki Lemah Teles.”

“Bukankah kita tidak akan menunjukkan sikap permusuhan?”

“Kita memang tidak. Tetapi jika mereka memaksakan permusuhan itu, apa boleh buat.”

Ki Sambi Pitu tidak menjawab. Sementara itu, keduanya menjadi semakin dekat dengan padepokan yang belum mereka kenal itu.

Sejak hutan Jatimalang dibuka, maka orang-orang yang belum dikenal, memang sering melintasi jalan-jalan di kaki Gunung Lawu itu. Hubungan antara dua lingkungan sebelah menyebelah hutan Jatimalang itu berjalan semakin lama semakin ramai. Namun perkembangan ilmu hitam itu membuat beberapa daerah yang terpengaruh, menjadi agak tertutup kembali.

Tetapi ketika dua orang berkuda lewat di jalan-jalan pedu-kuhan, orang-orang yang melihat mereka tidak terlalu banyak memperhatikan. Mereka memang sudah mengira bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang ingin melihat-lihat lingkungan dibelakang hutan Jatimalang sebagaimana sering terjadi sebelumnya.

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles pun memanjat terus menuju ke padepokan dari sebuah perguruan yang melandasi ajarannya dengan ilmu hitam.

Beberapa saat kemudian, maka Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itupun menjadi semakin dekat dengan padepokan yarig mereka tuju. Mereka telah berada di jalan yang langsung menuju ke pintu gerbang padepokan yang berdinding kayu-kayu utuh bulat yang dirangkai berjajar rapat.

“Sebuah padepokan yang terhitung besar” desis Ki Sambi Pitu.

“Bukan besar. Yang jelas kita lihat, padepokan ini cukup luas. Agaknya didalamnya terdapat bangunan-bangunan besar dan kecil bagi para.penghuninya” sahut Ki Lemah Teles.

Ki Sambi Pitu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, “Marilah. Kita sudah bertekad untuk masuk kedalamnya.”

Demikianlah, kedua orang itu pun langsung melarikan kudanya ke pintu regol padepokan yang tertutup.

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles menghentikan kuda mereka didepan regol. Mereka melihat pada pintu regol, sebuah lubang yang kemudian telah dibuka dari dalam.

Dari lubang itu, Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles melihat wajah seseorang yang nampaknya memang garang sekali. Seorang yang bermata tajam dan berkumis tebal.

Ki Sambi Pitu yang tepat berada di muka lubang itu pun mengangguk sambil tersenyum. Katanya, “Selamat pagi Ki Sanak.”

Orang yang berada dibelakang pintu itu bertanya dengan nada berat, “Siapakah kalian dan untuk apa kalian kemari?”

“Kami datang dari seberang hutan Jatimalang, Ki Sanak. Kami ingin berkenalan dengan penghuni padepokan ini.” jawab Ki Sambi Pitu.

Wajah orang itu nampak berkerut. Dipandanginya Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles berganti-ganti. Namun kemudian katanya, “Pergilah. Kami tidak memerlukan kalian.”

“Mungkin kalian memang tidak memerlukan kami, Ki sanak. Mungkin kamilah yang memerlukan kalian.” jawab Ki Sambi Pitu.

“Itu urusan kalian.” sahut orang itu, “tetapi pergilah.”

“Maaf Ki Sanak. Kami ingin berbicara serba sedikit. Mungkin kita dapat membuat hubungan yang saling menguntungkan” berkata Ki Sambi Pitu.

“Tidak” jawab orang itu., “Kami tidak membuat hubungan dengan siapapun yang belum kami kenal.”

“Kita dapat memperkenalkan diri” jawab Ki Sambi Pitu.

Tetapi orang itu justru membentak, “Cukup. Pergilah, atau kami akan mengusir kalian.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles saling berpandangan sejenak. Namun Ki Lemah Teleslah yang kemudian berkata, “Bagaimana kalau kita mencoba untuk berbicara dan menjajagi segala kemungkinan?”

“Sudahlah. Pergilah. Aku menjadi muak melihat wajah kalian berdua.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles menjadi kehilangan harapan. Meskipun demikian, keduanya tidak segera pergi sehingga orang dibelakang pintu gerbang itu memoantak, “Cepat, pergi, apalagi yang kalian tunggu?”

Ketika keduanya benar-benar akan meninggalkan tempat itu, maka tiba-tiba saja terdengar suara didalam, “Ada apa?”

“Dua orang yang ingin masuk ke padepokan ini, Kiai.”

“Untuk apa?” bertanaya suara itu.

“Tidak jelas. Mereka hanya menyebutkan, ingin membuat hubungan dengan kita disini.”

“Hubungan apa?” bertanya suara itu.

“Juga tidak jelas” jawab orang yang berkumis tebal itu.

Namun Ki Sambi Pitu mempergunakan kesempatan itu. Katanya hampir berteriak, “Kami ingin membuat hubungan yang saling menguntungkan kedua belah pihak.”

Sejenak suasana menjadi hening. Namun tiba-tiba terdengar suara, “Buka pintu gerbangnya. Biarlah dua orang itu masuk.”

Orang yang wajahnya nampak dari lubang pintu gerbang yang masih terbuka itu nampak ragu-ragu. Tetapi suara didalam itu berkata sekali lagi, “Buka pintu gerbang. Aku ingin bertemu dengan mereka.”

Tidak terdengar jawaban. Namun sejenak kemudian, terdengar selarak pintu yang berat itu terangkat. Kemudian, perlahan-lahan pintu itupun terbuka.

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles terkejut. Ternyata dibelakang pintu itu berdiri beberapa orang yang bersenjata telanjang. Kemudian seorang lagi yang berdiri terpisah. Pakaiannya nampaknya agak berbeda dengan yang iain. Warna pakaiannya lebih cerah dan penampilannya pun nampak lebih rapi dan bersih. Meskipun demikian laki-laki itu nampak tidak muda lagi meskipun belum setua Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles.

“Marilah Ki Sanak” berkata orang itu sambil tersenyum, “aku merasa mendapat kehormatan, karena Ki Sanak bersedia singgah di padepokan yang tidak berarti ini.”

“Terima kasih atas perkenan Ki Sanak, menerima kami berdua” jawab Ki Sambi Pitu.

Orang yang berpakaian rapi itupun kemudian telah mempersilahkan Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles untuk naik ke-pendapa.

Dengan ramah orang berpakaian rapi itu pun kemudian telah mengucapkan selamat datang kepada kedua orang tamunya.

“Kami jarang sekali mendapat kunjungan orang lain” berkata orang berpakaian rapi itu, “sehingga karena itu, maka orang-orangku menjadi sulit untuk bergaul. Tetapi kunjungan kalian berdua akan membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi padepokan kami.”

”Kami mengucapkan terima kasih atas penerimaan yang sangat baik ini” berkata Ki Lemah teles kemudian.

“Tetapi, jika aku boleh mengetahui, apakah keperlu-an Ki Sanak berdua ini sebenarnya?” bertanya orang itu.

“Sudah aku katakan, kami sebenarnya sedang mencari hubungan dagang dengan penghuni dibelakang hutan Jatimalang ini.”

“Di belakang? Kemana sebenarnya hutan itu menghadap?” bertanya orang berpakaian rapi itu.

“Maksudku, mereka yang tinggal di kaki Gunung Lawu yang dibatasi oleh hutan Jatimalang. Maaf, orang-orang diseberang hutan itu menyebut daerah ini, dibelakang hutan Jatimalang.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Sebenarnya bagi kami memang tidak ada bedanya. Sebutan apapun dapat kami terima asal sebutan itu menunjuk dengan jelas.” orang itu berhenti sejenak, lalu, “dagang apakah yang Ki Sanak jalankan sekarang?”

“Apa saja” jawab Ki Sambi Pitu, “tetapi yang terutama adalah hasil bumi dan kerajinan tangan. Aku dengar didaerah ini terdapat kelebihan bahar, pangan padi, jagung dan ketan. Tetapi kami juga ingin membeli gerabah dalam jumlah yang besar.”

Orang itu tertawa pendek. Katanya, “Jika demikian, kenapa kalian pergi ke sebuah padepokan?”

“Biasanya padepokan mempunyai tanah yang luas digarap oleh para cantrik, sehingga kadang-kadang hasilnya cukup melimpah dan berlebihan. Demikian pula para cantrik sering membuat benda-benda lain yang menjadi kebutuhan sehari-hari apapun ujudnya Mungkin oarang-barang kerajinan dari bambu atau dari kayu atau gerabah atau apapun.”

Orang yang berpakaian rapi itu ternyata seorang yang berhati terbuka. Ia banyak tertawa dan mengatakan apa yang dipikirkan.

“Ki Sanak berdua” berkata orang itu kemudian, “aku tidak yakin kalian benar-benar seorang pedagang. Mungkin kalian berdua sedang bertualang, tetapi mungkin pula kalian memang ingin melihat apakah yang ada dibelakang dinding padepokan ini. Tetapi itu bukan soal bagi kami, selama kalian tidak mengganggu semua kegiatan yang kami lakukan.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Ki Lemah Teles itupun berkata, “Ki Sanak. Kami benar-benar pedagang yang sedang mencari lubang-lubang kemungkinan untuk membuka jalur perdagangan. Kami sedang menjajagi, apa yang dapat kami bawa dari daerah ini ke seberang hutan Jatimalang dan sebaliknya apa yang dapat kami bawa dari seberang hutan itu kedaerah ini.”

Orang itu masih saja tertawa. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Siapakah nama kalian berdua?.”

“Namaku Sambi Pitu dan saudaraku ini dipanggil Ki Lemah Teles.”

“Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles, “orang itu mengulang, “nama yang baik.”

“Tetapi kami juga belum mengetahui nama Ki Sanak” desis Ki Sambi Pitu.

“Namaku Gandawira. Tetapi orang lebih senang memanggilku Kiai Banyu Bening”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba Ki Lemah Teles bertanya, “Jadi, menurut Kiai, bagaimana sebaiknya kami memanggil? Kiai Gandawira atau Kiai Banyu Bening?”

Orang itu tertawa pula. Katanya, “Terserah Ki Sanak. Tetapi murid-muirdku di padepokan ini memanggilku Kiai Banyu Bening. Bahkan orang-orang disekitar padepokan ini juga memanggilku Kiai Banyu Bening.”

“Maksud Kiai, orang-orang disekitar padepokan ini juga berguru kepada Kiai?”

“Ya. Tetapi itu terjadi begitu saja. Maksudku, bukan akulah yang memaksa mereka untuk mengikut aku, tetapi mereka sendiri berniat demikian.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itupun mengangguk-angguk pula. Sementara Kiai Banyu Bening itupun berkata, “Nah Ki Sanak. Kalian telah melihat isi padepokan kami. Tetapi jika kalian benar-benar berdagang, tidak ada yang dapat kami perdagangan disini.”

“Maksudku, jika kami tidak dapat membeli hasil bumi atau hasil kerajinan, kami dapat menawarkan barang-barang yang dibutuhkan oleh padepokan ini? Misalnya alat-alat pertanian atau barang-barang yang terbuat dari besi dan baja lainnya. Senjata misalnya.”

Kiai Banyu Bening mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia menggeleng. Katanya, “Sampai sekarang, kami dapat mencukupi kebutuhan kami sendiri. Tetapi aku tidak tahu kelak, jika padepokan kami ini berkembang. Mungkin kami memerlukan beberapa jenis senjata. Meskipun demikian, kami tidak akan membeli dari kalian. Kami dapat mengirim orang langsung ke seberang hutan Jatimalang untuk menghubungi beberapa orang pande besi yang cakap. Dengan demikian, kami akan dapat membeli senjata dengan harga yang lebih murah. Jika kalian benar-benar pedagang, kalian tentu akan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya.”

“Tetapi Kiai Banyu Bening, sebaiknya kalian tidak membeli senjata kepada pande besi. Kiai Banyu Bening harus berhubungan dengan seorang Empu yang mampu membuat pusaka yang pantas bagi Kiai Banyu Bening dan murid-murid Kiai.”

Kiai Banyu Bening tertawa berkepanjangan. Katanya, “Jangan ajari aku Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles. Aku memimpin padepokan bukannya baru sejak kemarin pagi. Tetapi sudah berpuluh tahun. Karena itu, aku tahu apa yang sebaiknya aku lakukan.”

Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk. Sementara Ki Lemah Teles berkala, “Maafkan Kiai. Kami hanya bermaksud agar dagangan kami dapat laku.”

“Nah, aku sudah memberi kesempatan kepada Ki Sanak berdua untuk memasuki padepokan kami. Nampaknya tidak ada lagi yang akan kita bicarakan kemudian. Kami akan memper-silahkan Ki Sanak untuk meninggalkan padepokan ini.”

“Baiklah Kiai” jawab Ki Sambi Pitu, “kami mohon diri.”

“Kesempatan seperti ini jarang sekali kami berikan kepada orang lain. Karena itu, kalian berdua tentu merasa beruntung dapat memasuki padepokan kami.”

“Ya, ya” jawab Ki Lemah Teles, “Kami memang merasa sangat beruntung”

“Nah, sekarang kami persilahkan kalian meninggalkan padepokan kami.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itu pun kemudian telah turun dari pendapa. Namun ketika mereka berada di halaman, mereka terhenti sejenak. Mereka tertarik pada sebuah bangunan yang menarik. Seperti yang pernah mereka lihat di padukuhan, sebuah bangunan batu yang ditata dengan baik. Lebih baik dan lebih besar dari bangunan serupa yang terdapat di padukuhan-padukuhan itu. Dibagian atasnya datar, sedangkan di ampat sisinya terdapat tangga untuk naik. Disebelah bangunan itu terdapat bangunan lain yang lebih tinggi. Namun yang menarik, diatas bangunan batu yang lebih tinggi itu terdapat batu nisan kecil.

Kiai Banyu Bening yang mengetahui bahwa kedua tamunya tertarik kepada kedua bangunan yang terbuat dari batu itu bertanya, “Apakah kalian belum pernah melihat bangunan kecil seperti itu?

“Belum Kiai” jawab Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles hampir berbareng.

Tetapi Kiai Banyu Bening itu menyahut, “Kalian tentu sudah pernah melihat di sebuah padukuhan. Bangunan seperti itu, tetapi lebih kecil, terdapat di beberapa padukuhan. Biasanya ditempatkan diluar dinding padukuhan, dipagari cukup rapat, sehingga jika diselenggarakan upacara didalamnya, tidak akan terganggu oleh lingkungan diluarnya.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Ki Lemah Teles bertanya, “Lalu apa yang dilakukan oleh orang-orang padukuhan itu dalam upacara tertutup itu?”

Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian sebagaimana sejak semula, orang itu tertawa lagi. Katanya, “Kau tidak akan mengetahui makna dari upacara yang kami lakukan karena kau tidak berpegang pada ilmu yang kami yakini.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles masih mengangguk-angguk. Tetapi Ki Lemah Teles itu bertanya lagi, “Lalu, apa artinya batu nisan kecil diatas bangunan yang agak tinggi itu?”

Wajah orang itu tiba-tiba menjadi suram. Katanya dengan nada rendah, “Itu adalah bangunan khusus yang sangat berarti bagiku pribadi. Yang dikuburkan dibawah bangunan itu adalah anakku. Anakku mati dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Pada umur satu tahun, anakku mati terbakar.”

“O” Ki Sambi Pitu berdesis, “Aku ikut berduka cita atas peristiwa itu. Tetapi bagaimana hal itu dapat terjadi?”

“Serangan itu datang demikian tiba-tiba. Ketika aku sedang bertempur, musuh-musuhku yang licik itu telah membakar rumahku Rumahku terbakar seisinya termasuk anakku,”

“Bagaimana dengan ibunya?” bertanya Ki Lemah Tcles.

Kesuraman diwajah Kiai Banyu Bening itu tiba-tiba larut. Yang kemudian nampak diwajahnya adalah senyumnya. Katanya, “Isteriku adalah perempuan gila. Yang datang membakar rumahku itu adalah laki-laki yang membuatnya gila. Ia lari dengan laki-laki itu dengan meninggalkan bayinya yang belum genap setahun. Bahkan kemudian dengan tidak langsung, ia telah membunuh bayi itu dengan tangan laki-laki yang buas itu. Bayiku mati dalam nyala api. Aku masih sempat mendengar bayi itu menangis meraung-raung. Namun kemudian aku sendiri menjadi pingsan. Lukaku arang kranjang. Bahkan laki-laki itu dan kawan-kawannya menyangka bahwa aku telah mati.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles mengangguk-angguk kecil. Sementara Kiai Banyu Bening itu berkata selanjutnya, “Waktu itu suara tangis bayiku itu bagaikan menarik nyawaku iewat ubun-ubunnya. Mengerikan sekali.” orang itu berhenti sejenak, namun kemudian katanya sambil tertawa berkepanjangan, semakin lama semakin keras, “tetapi sekarang suara tangis bayi yang terbakar itu bagiku bagaikan lagu yang sangat merdu yang terdengar bergema dilangit yang didendangkan oleh peri-peri yang sangat cantik sambil melambai-lambaikan tangannya turun kebumi untuk mengusap seluruh tubuhku yang dihangatkan oleh api yang berbau mayat itu.”

Wajah Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles menjadi tegang. Kengerian yang pernah dibayangkan sebelumnya itu rasa-rasanya semakin nampak menerawang di kepala mereka.

Namun Kiai Banyu Bening itu masih saja tertawa berkepanjangan. Bahkan kemudian katanya, “Laki-laki yang telah membawa isteriku itu dan bahkan isteriku itu sendiri harus mati didalam nyala api. Mereka telah membunuh anakku. Anakku bagiku adalah segala-galanya.”

Suara tertawa laki-laki itu terdiam. Ketika Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles memandang wajahnya, mereka terkejut. Di wajah itu tidak lagi membayang tawa dan senyum. Tetapi yang nampak adalah nyala api neraka disorot matanya.

Tiba-tiba saja orang itu menggeram, “pergilah. Kau sudah terlalu banyak mengetahui tentang isi padepokan ini, yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh orang lain. Jangan kembali lagi. Kau telah melanggar paugeran padepokan kami.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles tidak menjawab. Keduanya telah melangkah ke kuda mereka. Kemudian keduanya telah menuntun kuda mereka ke pintu gerbang

Pintu gerbang itupun terbuka. Orang yang berwajah garang, bermata tajam dan berkumis tebal itu berdiri dengan tegang di sebelah pintu. Beberapa orang dengan senjata telanjang tegak mematung memandangi Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles yang lewat sambi! menuntun kudanya.

Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya telah berpacu meninggalkan padepokan yang menyimpan seribu macam pertanyaan itu.

Sambil melarikan kuda mereka, untuk keduanya menjauhi padepokan itu, Ki Sambi Pitu itupun berkata, “Ternyata kita masih beruntung dapat keluar dari padepokan itu.”

“Yang kita cemaskan itu ternyata tinggal menunggu waktu saja.” berkata Ki Lemah Teles.

“Mengerikan sekali” sahut Ki Sambi Pitu., “Kita memang harus menghentikannya” desis Ki Sambi Pitu kemudian.

“Nampaknya Kiai Banyu Bening itu menderita semacam penyakit yang sangat berbahaya” berkata Ki Lemah Teles kemudian.

“Penyakit apa?”“bertanya Ki Sambi Pitu.

“Hatinya telah dicengkam oleh dendam yang membara. Kematian anaknya tidak pernah diikhlaskannya, sehingga hidupnya menjadi sangat gersang. Ia ingin menuntut kematian anaknya dengan kematian dan kematian.”

“Itulah yang membayangi upacara hitam yang dilakukan oleh para pengikutnya” berkata Ki Sambi Pitu, “apa yang terjadi sekarang, adalah semacam pemanasan. Pada saatnya, maka bayi-bayilah yang akan menjadi korban. Orang gila itu akan merasa sangat berbahagia mendengar jerit tangis bayi yang dikorbankannya, sebagaimana dikatakannya, seperti kidung yang didendangkan oleh peri-peri yang cantik, tetapi tidak dilangit. Peri-peri itu bangkit dari pusat bumi yang kelam yang membawakan lagu-lagu kematian.” Ki Sambi Pitu berhenti sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Tetapi sayang, bahwa Kiai Banyu Bening tidak menantang orang-orang yang terlibat kematian bayinya dengan perang tanding.”

“Aku bungkam mulutmu jika kau masih saja mengigau tentang perang tanding.” geram Ki Lemah Teles.

Ki Sambi Pitu tertawa. Namun ia menjauhkan kudanya dari kuda Ki Lemah Teles yang menggeram.

Namun kedua orang itu terkejut ketika mendengar derap kaki kuda. Ketika mereka berpaling, mereka melihat ampat ekor kuda yang berpacu seperti di kejar hantu.

“Siapa mereka?” bertanya Ki Lemah Teles.

“Berhati-hatilah. Kiai Banyu Bening menganggap kita terlalu banyak tahu.”

“Setan itu melepaskan kita dari padepokan, tetapi kemudian memerintahkan orang-orangnya memburu kita.”

Keduanya justru memperlambat derap kaki kuda mereka, seakan-akan mereka justru sengaja menunggu keempat orang berkuda itu.

“Kita belum tahu siapa mereka dan untuk apa mereka memburu kita. Tetapi sebaiknya kita tidak berprasangka buruk lebih dahulu. Mungkin mereka bukan dari padepokan Kiai Banyu Bening.” berkata Ki Sambi Pitu kemudian.

Dalam pada itu, keempat orang berkuda itu memacu kudanya . semakin cepat. Ketika mereka berhasil menyusul Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles yang memang memperlambat derap lari kudanya, maka dua orang diantara mereka justru mendahului. Kemudian setelah keduanya berada di depan, maka mereka memberi isyarat, agar Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itu berhenti.

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles yang sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan itupun menarik kendali kuda mereka sehingga sejenak kemudian, merekapun telah berhenti.

“Turunlah” perintah salah seorang diantara kedua orang yang mendahului Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles.

Ternyata orang itu adalah orang yang berwajah garang, bermata tajam dan berkumis tebal, yang berada dipintu gerbang padepokan Kiai Banyu Bening itu.

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itupun kemudian meloncat turun dari kuda mereka. Dengan tenang keduanya telah mengikat kuda mereka pada sebatang pohon perdu.

Demikian pula keempat orang yang memburu mereka. Keempat-empatnyapun telah meloncat turun serta mengikat kuda-kuda mereka pula.

“Ki Sanak” berkata orang berkumis tebal itu. Suaranya mengguntur menggetarkan selaput telinga, “ternyata kalian terlalu banyak bertanya, sehingga kalian pun mengetahui banyak tentang padepokan kami.”

‘“Tetapi bukankah Kiai Banyu Bening menjawab pertanyaan-pertanyaanku” sahut Ki Sambi JPitu.

“Kiai Banjar Bening kadang-kadang memang kehilangan kendali. Jika seseorang memancing dengan pertanyaan-pertanyaan, maka diluar sadarnya, iapun selalu menjawabnya.”

“Jadi?” bertanya Ki Lemah Teles.

“Pengertianmu yang banyak tentang padepokan kami akan sangat membahayakan kami. Karena itu, maka kalian tidak boleh menyebarkan apa yang telah kalian ketahui itu kepada orang lain.” berkata orang berkumis tebal itu.

Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kami berjanji untuk tidak menyebar-luaskan pengertian kami tentang padepokan Kiai Banyu Bening.”

“Sekedar janji sebagaimana kau katakan itu, tidak cukup Ki Sanak.” berkata orang berkumis tebal itu pula.

“Jadi apa yang harus aku lakukan?”

“Kau harus diam untuk selama-lamanya” jawab orang itu.

“Maksudmu?” desak Ki Lemah Teles.

“Kalian harus dibunuh.”

Kedua orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian Ki Lemah Telespun berkata, “Jika kau akan membunuhku, maka kau akan aku bunuh lebih dahulu.”

Wajah orang itu menjadi tegang. Tetapi kemudian ia pun tertawa. Suaranya meledak-ledak seperti petir yang menyambar-nyambar dilangit.

“He” bentak Ki Lemah Teles, “kenapa kau tiba-tiba menjadi gila?”

Orang itu tiba-tiba saja terdiam. Matanya menyala seakan-akan memancarkan api.

“Kaulah yang benar-benar gila. Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan”

“Tentu saja aku tahu. Kau adalah budak-budak kecil di padepokan orang yang berbangga dengan sebutan Kiai Banyu Bening. He, apakah kau tahu artinya Banyu Bening?”

“Cukup” orang itu berteriak, “sebaiknya kau sebut nama ayah dan ibumu. Sebentar lagi kau akan mati.”

“Sudah aku katakan, kau yang akan mati. Apakah kau tuli” Ki Lemah Telespun berteriak pula.

Namun Ki Sambi Pitu berkata dengan nada yang lebih rendah, “Apa sebenarnya yang terjadi dengan Kiai Banyu Bening? Apakah yang aku ketahui tentang padepokan itu cukup menjadi alasan baginya untuk membunuh?”

“Setiap orang yang tidak dikehendki oleh Kiai Banyu Bening akan mati.” jawab orang itu.

“Ki Sanak” berkata Ki Sambi Pitu, “agaknya peristiwa yang terjadi atas bayi Kiai Banyu Bening itu telah menghantuinya sepanjang hidupnya, sehingga nalar budinya tidak lagi dapat menilai baik dan buruk. Jangankan kehilangan bayinya dengan cara yang sangat mengerikan, sedangkan orang yang merasa kesepian dihari-hari tuanya dapat kehilangan akal pula.”

“Gila kau Sambi Pitu” geram Ki Lemah Telcs. Namun Ki Sambi Pitu itu tidak menghiraukannya.Dengan nada rendah ia berkata selanjutnya, “Apakah Kiai Banyu Bening tidak dapat menemukan isteri serta laki-laki yang mengajaknya pergi itu?”

“Kiai Banyu Bening tidak membutuhkannya lagi.”

“Mereka yang harus bertanggung jawab atas kematian bayi itu. Kiai Banyu Bening tidak seharusnya mencari korban untuk melepaskan kemarahan dan kekecewaannya.”

“Kau tidak usah mengguruinya. Jika keduanya dapat diketemukan, maka ia tentu sudah menuntut tanggung jawab itu. Tetapi keduanya telah menghilang setelah mereka mengetahui bahwa Kiai Banyu Bening masih tetap hidup. Apalagi peristiwa itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu sebelum perguruan Kiai Banyu Bening berdiri.”

“Kau tahu, siapakah nama laki-laki itu?” bertanya Ki Sambi Pitu.

Orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Seandainya aku tahu, tidak ada perlunya aku menyebut dihadapanmu.”

“Baiklah, Ki Sanak. Kau telah melengkapi pengenalanku atas Kiai Banyu Bening. Sekarang perkenankan aku melanjutkan perjalanan” berkata Ki Sambi Bitu.

“Tidak” tiba-tiba orang itu membentak, “kalian berdua tidak akan pernah keluar dari lingkungan dan kuasa kami. Kalian berdua akan mati.”

“Aku bunuh kau” geram Ki Lemah Teles, “kemudian aku tantang Kiai Banyu Bening untuk berperang tanding.”

“Agaknya kau benar-benar gila. Kau kira siapa Kiai Banyu Bening itu, he. Sehingga kau berani menantangnya untuk berperang tanding?” geram orang berkumis tebal itu, “menyebut namanya saja kau harus mendapat ijin dan palilahnya.”

Ki Lemah Teles tertawa. Suaranya meledak-ledak tidak kalah dari suara tertawa orang berkumis tebal itu. Katanya, “Apakah kau kira Kiai Banyu Bening itu memiliki kelebihan? Jika ia benar-benar memerintahkan membunuhku, aku benar-benar akan datang kepadanya dan menantangnya berperang tanding seperti yang aku katakan itu.”

“Kau tidak akan sempat melakukannya. Kau akan mati sekarang juga.”

“Jangan membantah. Kau yang akan mati sekarang. Sayang, kau tidak sempat melihat aku membantai Kiai Banyu Keruh itu besok atau lusa karena kau akan mati. Karena itu, pergilah. Kembalilah kepada Kiaimu itu. Katakan bahwa kau masih ingin hidup untuk melihat bagaimana aku membunuh Banyu Bening yang gila itu.” Ki Lemah Teles berteriak semakin keras.

Wajah orang berkumis tebal itu bagaikan tersentuh api. Karena itu tanpa menjawab lagi, ia pun segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya.

Ketika keempat orang itu bergerak mengepung Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles, maka Ki Lemah Teles itu masih berteriak, “kalian benar-benar gila. Jika kalian mati, jangan salahkan aku.”

Orang berkumis tebal dan berwajah garang itu tidak menjawab lagi. Dengan serta merta, maka ia mulai menyerang Ki Lemah Teles. Sedangkan kawan-kawannyapun mulai bergerak pula mendekati salah seorang dari kedua orang yang telah datang ke padepokan mereka itu.

Sejenak kemudian, pertempuran pun telah berlangsung dengan sengitnya. Orang berkumis tebal yang marah itu segera mengerahkan kemampuannya. Ia benar-benar ingin segera membunuh Ki Lemah Teles yang telah berani menghina pemimpin padepokannya yang sangat dihormatinya.

Agaknya orang berwajah garang dan berkumis tebal itu termasuk salah seorang kepercayaan Kiai Banyu Bening. Karena itu, maka dengan hentakan-hentakan ilmunya ia mampu mengejutkan Ki Lemah Teles. Apalagi seorang kawannya telah membantunya. Seorang yang juga bukan orang kebanyakan.

Sementara itu, dua orang yang lain telah bertempur melawan Ki Sambi Pitu. Keduanya berusaha memecah perhatian Ki Sambi Pitu dengan menyerang dari arah yang berlawanan.

Tetapi Ki Sambi Pitu adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu, maka ia tidak menjadi bingung meskipun dua orang lawannya itu justru berdiri diarah yang bertentangan.

Orang berkumis tebal itu tidak menduga bahwa orang yang mengaku pedagang yang mencari barang-barang dagangan itu untuk beberapa lama mampu mengimbangi ilmunya. Bahkan Ki Lemah Teies itu sekali-sekali justru telah mendesak lawannya meskipun mereka berdua.

Bahkan dengan lantang Ki Lemah Teles itupun berkata, “Nah, sekarang kita akan bertaruh, siapa yang akan terbunuh di pertempuran ini.”

Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Namun Ki Lemah Teles itupun berkata, “Marilah kita letakkan taruhan kita lebih dahulu. Uang, pendok keris atau timang, tetapi harus dari emas seperti timang yang aku pakai ini. Siapa yang tetap hidup boleh memiliki taruhan itu.”

“Setan kau” geram yang berwajah garang dan berkumis tebal itu. Matanya yang tajam bagaikan menyala memandang Ki Lemah Teles yang menantangnya bertaruh itu.

“Baiklah jika kau menolak” berkata Ki Lemah Teles., “nampaknya kau menyadari bahwa kau tidak akan dapat menang meskipun kau dibantu oleh seorang kawanmu.”

Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Tetapi serangan-serangannya datang semakin cepat. Seorang kawannya pun berusaha untuk mengimbangi kecepatan gerak orang berkumis tebal itu. Namun pertahanan Ki Lemah Teles sama sekali tidak terguncang karenanya. Bahkan Ki Lemah Teles yang berilmu tinggi itu semakin lama justru semakin mendesak lawan-lawannya.

Dengan tangkasnya Ki Lemah Teles telah meloncat meng-hindar ketika orang berkumis tebal itu melenting dengan cepat sambil menjulurkan kakinya menyamping. Namun dalam pada itu, lawannya yang lain telah memutar tubuhnya sambil mengayunkan kakinya mengarah kening.

Ki Lemah Teles dengan cepat bergeser kesamping. Tetapi demikian kaki lawannya yang berputar itu hampir menyambar keningnya, maka ia pun segera menjatuhkan diri. Tetapi justru kakinya dengan cepat serta dilambari dengan tenaganya yang besar, menyapu menebas kaki lawannya yang dipergunakannya sebagai tempat bertumpu.

Dengan derasnya, kaki itu bergeser. Justru karena itu, maka orang itu benar benar lelah kehilangan keseimbangannya. Karena itu, maka dengan keras ia telah terbanting jatuh di tanah. Namun dengan cepat pula orang itu melenting berdiri.

Tetapi Ki Lemah Teles bergerak lebih cepat. Ki Lemah Teles justru telah bersiap sepenuhnya. Demikian orang itu bangkit, maka kakinya telah menyambar dada.

Orang itu terdorong beberapa langkah surut. Namun ketika Ki Lemah Teles siap memburunya, maka lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya. Sambil meloncat maju, maka tangannya yang kuat telah terayun kearah pelipisnya.

Namun Ki Lemah Teles bergerak lebih cepat. Dengan loncatan ke samping, maka pukulan tangan itu tidak menyinggung tubuhnya sama sekali.

Dengan demikian, maka kedua orang lawan Ki Lemah Teles itu telah semakin meningkatkan ilmu mereka sampai ke puncak.

Tetapi memang tidak mudah bagi mereka untuk mengalahkan dan kemudian membunuh orang itu.

Dalam pada itu, Ki Sambi Pitu pun telah bertempur melawan dua orang lawannya pula. Dua orang yang memiliki kemampuan untuk bertempur cukup tinggi. Namun keduanya telah benar-benar berada didalam genggaman tangan Ki Banyu Bening. Jadi apa yang dikatakan oleh Ki Banyu Bening bagi mereka adalah paugeran.

Karena itu, mereka sama sekali tidak sempat mempergunakan akal mereka. Ketika Kiai Banyu Bening memerintahkan mereka untuk membunuh, maka mereka pun telah menjalankan perintah itu dengan sebaik-baiknya.

Tetapi lawan yang mereka hadapi adalah Ki Sambi Pitu. Seorang yang benar-benar berilmu tinggi.

Karena itu, maka kedua orang itu pun segera mengalami kesulitan. Betapapun mereka berusaha, tetapi serangan-serangan mereka tidak pernah menyentuh sasaran.

Bahkan kemudian ternyata bahwa serangan Ki Sambi Pitu pun yang justru lebih dahulu mengenai tubuh lawannya.

Seorang dari kedua lawannya itu telah terpelanting ketika tangan Ki Sambi Pitu terayun tepat mengenai tengkuknya.

Orang itu jatuh tersungkur dengan kerasnya. Wajahnya yang terjerembab telah terluka oleh goresan-goresan kerikil yang terserak di jalan. Debu.dan tanah yang melekat membuat wajahnya menjadi kotor dan berdarah.

Tetapi orang itu masih bangkit sambil menggeram. Diusapnya wajahnya dengan tangannya. Sementara mulutnya yang juga berdarah itu mengumpat-umpat.

Ki Sambi Pitu sempat tertawa melihat wajah orang itu. Bahkan sambil bergeser menghindari serangan lawannya yang seorang lagi, ia berkata, “He, darimana kau mendapatkan topeng yang menarik itu?”

“Aku koyak mulutmu” geram orang itu. Ki Sambi Pitu tertawa semakin keras. Katanya, “Jangan terlalu garang. Jagalah agar luka-lukamu tidak terlalu mengeluarkan darah.”

Kemarahan orang itu serasa membakar ubun-ubunnya. Karena itu, maka ia pun telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Sementara kawannya yang seorang lagi telah meloncat menyerang pula.

Pertempuran pun menjadi semakin sengit. Tetapi kedua lawan Ki Sambi Pitu semakin lama menjadi semakin tidak berdaya.

Tetapi keduanya tidak segera menyerah. Hampir berbareng keduanya telah menarik keris mereka dari wrangkanya yang terselip dipunggung.

Ki Sambi Pitu melihat kedua ujung keris itu dengan dada yang berdebar-debar. Setapak ia melangkah surut, sementara lawannya yang wajah tersuruk kedalam tanah itu menggeram, “Kau harus menebus kesombonganmu dengan nyawamu.”

“Kalian telah mendahului mempergunakan senjata” berkata Ki Sambi Pitu.

“Kau mulai menyesali tingkah lakumu.” geram lawannya yang lain.

Ki Sambi Pitu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika kalian tergores ujung kerisku, itu bukan salahku.”

Kedua orang itu justru tertegun melihat Ki Sambi Pitu juga menarik kerisnya. Sebuah keris luk sebelas yang manis buatannya. Pamornya nampak berkeredipan seakan-akan menyalakan cahaya yang kehijau-hijauan.

Tetapi kedua orang itu tidak sempat merenungi senjata lawannya. Ketika keris itu mulai berputar, maka mereka pun segera menyadari, bahwa mereka benar-benar akan bertempur habis-habisan.

Dalam pada itu, Ki Lemah Teles pun telah bertempur dengan garangnya. Kedua lawannya memang tidak banyak mempunyai kesempatan. Beberapa kali serangannya telah mengenai tubuh lawan-lawannya. Meskipun sekali-sekali tubuhnya juga tersentuh serangan lawannya, tetapi serangan itu tidak menggoyahkan pertahanannya.

Orang yang berkumis tebal itu setiap kali harus berdesis menahan sakit. Wajahnya seakan-akan telah menjadi lembab. Beberapa kali tangan Ki Lemah Teles telah mengenai wajahnya, seakan-akan Ki Lemah Teles sengaja menampar mulutnya sehingga berdarah.

Ketika orang berkumis lebat itu melihat kawan-kawannya yang bertempur melawan Ki Sambi Pitu telah menggenggam kerisnya, maka ia pun telah menarik senjatanya pula. Bukan sebilah keris seperti yang lain, tetapi sebilah parang yang besar, sedangkan kawannya memang bersenjata keris sebagaimana yang lain.

Ki Lemah Teles yang melihat lawan-lawannya bersenjata, maka ia pun telah menggenggam senjatanya pula. Seperti senjata Ki Sambi Pitu, maka Ki Lemah Teles telah menggenggam sebilah keris, tetapi lurus dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari kebanyakan keris.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun telah benar-benar sampai kepuncaknya. Serangan-serangan yang akan berhasil menyentuh lawan tidak lagi sekedar membuat tubuh menjadi biru lembab. Tetapi goresan-goresan luka itu akan dapat menitikkan darah. Bahkan jika senjata itu menukik di dada dan menyentuh jantung, maka senjata-senjata itu akan dapat membunuh.

Namun mereka yang bertempur tidak menghiraukannya. Mereka telah mengayun-ayunkan senjata mereka. Orang berkumis tebal itupun telah mengayun-ayunkan parangnya pula.

Tetapi Ki Lemah Teles adalah seorang yang tangkas. Ia mampu dengari cepat menghindari serangan-serangan lawannya. Namun tiba-tiba saja ia meloncat menyerang dengan ujung kerisnya.

Serangan yang datang beruntun dari kedua lawannya membuat Ki Lemah Teles berkeringat. Namun sejalan dengan itu, kemarahannya pun semakin menggigit jantung. Karena itu, maka kcrisnya pun menjadi semakin cepat menyambar-nyambar.

Ternyata orang yang berkumis lebat itu, mengalami banyak kesulitan menghadapi Ki Lemah Teles yang mampu bergerak dengan cepatnya. Sementara kerisnya bergerak melampaui kecepatan geraknya. Karena itu, maka sambil berteriak marah sekali, orang itu meloncat mundur mengambil jarak.

Namun ujung keris lawannya telah tergores dilambungnya.

Goresan itu memang tidak begitu dalam. Sementara itu ikat pinggang orang berkumis lebat yang terbuat dari kulit yang tebal dan lebar itu pun sempat ikut menahan ujung keris Ki Lemah Teles, sehingga goresan itu tidak terlalu panjang dan dalam.

Meskipun demikian, darah sudah mulai tertumpah. Titik-titik darah itu sudah membasahi lereng Gunung Lawu.

Namun pertempuran masih berlangsung terus. Orang berkumis tebal itu tidak berniat menghentikan pertempuran apapun yang terjadi. Sebagai murid kepercayaan Kiai Banyu Bening, maka orang itu tidak akan mundur setapak pun juga.

Ki Lemah Teles menyadari sepenuhnya akan hal itu. Karena itu ia tidak berniat untuk menawarkan kesempatan agar lawannya menyerahkan diri.

Karena itu, maka pertempuran pun segera mencapai puncaknya.

Orang berkumis tebal itu telah mengayun-ayunkan parangnya. Seorang kawannya yang bertempur bersamanya juga telah berusaha untuk menggapai tubuh Ki Lemah Teles dengan ujung kerisnya.

Tetapi bukan tubuh Ki Lemah Teles yang kemudian tergores senjata. Justru tubuh orang berkumis lebat dan kawannya itulah yang menjadi basah oleh darah.

Ki Lemah Teles telah menyelesaikan pertempurannya lebih dahulu. Orang berkumis tebal itu kehilangan kesempatan untuk melawannya ketika keris Ki Lemah Teles mengoyak pangkal paha kanannya. Orang itu seakan-akan tidak mempunyai kekuatan lagi untuk berdiri dan apalagi bertempur. Jika Ki Lemah Teles bergeser, maka orang berkumis tebal itu tidak lagi mampu berbuat sesuatu. Bahkan jika ia berusaha menapak dengan kaki kanannya, maka orang itu justru tidak dapat mempertahankan keseimbangannya.

Sedangkan yang seorang lagi telah terbaring sambil mengerang kesakitan. Keris Ki Lemah Teles telah menggores dadanya menyilang. Tetapi luka itu tidak menghunjam sampai ke jantung.

Ki Sambi Pitu masih bertempur untuk beberapa saat. Tetapi bahwa orang berkumis tebal itu sudah tidak mampu bertempur lagi, maka kedua orang lawan Ki Sambi Pitu pun kehilangan ketegarannya. Mereka pun kemudian telah terluka sebagaimana kedua kawannya yang lain, sehingga keduanya tidak lagi mampu untuk bertempur. Seorang tubuhnya terbaring diatas tanggul parit, sedang seorang lagi terkapar di pinggir jalan.

“Kenapa tidak kau bunuh aku?” teriak orang berwajah garang bermata tajam dan berkumis tebal itu.

“Apakah kematianmu ada artinya bagiku?” bertanya Ki Lemah Teles.

“Kau akan menyesal, karena pada kesempatan lain, akulah yang akan membunuhmu” geram orang itu.

“Kalau kau mampu membunuhku, tentu sudah kau lakukan sekarang ini, justru kau bertempur bersama dengan seorang kawanmu.”

“Lain kali aku akan membawa sepuluh orang kawan jika kau tidak membunuh aku sekarang?”

Ki Lemah Teles tertawa. Katanya, “Kau kira aku tidak mempunyai kawan? Di seberang hutan Jatimalang kawanku ada sepadang rumput yang luas menunggu aku. Jika pada kesempatan lain kau akan membawa sepuluh orang kawanmu, maka aku akan membawa pasukan segelar-sepapan.”

Orang berkumis tebal itu menggeram. Tetapi ia memang sudah tidak berdaya. Bahkan untuk berdiripun rasa-rasanya tidak lagi dapat tegak.

Namun Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu ternyata benar-benar tidak ingin membunuh lawannya. Bahkan Ki Sambi Pitu itu-pun kemudian berkata, “Aku akan memberi isyarat kepada kawan-kawanmu agar datang menjemputmu.”

“Setan kau. Kau sudah menghina aku dan padepokanku” geram orang berkumis lebat itu. Tetapi ia memang menjadi semakin lemah, sehingga ia tidak lagi bergerak terlalu banyak. Apalagi setiap gerakan seakan-akan telah menekan darahnya sehingga mengalir semakin banyak dari lukanya.

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itu pun kemudian telah melepaskan keempat ekor kuda yang semula dipergunakan oleh orang berkumis itu bersama kawan-kawannya. Kuda itu pun kemudian dihadapkan kearah padepokan Kiai Banyu Bening. Seekor demi seekor kuda itu dilecut sehingga berlari kencang menuju ke padepokan.

“Nah” berkata Ki Lemah Teles, “kawan-kawanmu, dan barangkali juga Kiai Banyu Bening akan melihat kedatangan keempat” ekor kuda tanpa penunggang itu, sehingga mereka akan segera mencarimu. Aku berharap bahwa mereka tidak datang terlambat, sehingga jiwa kalian dapat tertolong. Bukankah jarak ini masih belum terlalu jauh dari padepokanmu?”

Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Tetapi sorot matanya memancarkan dendam yang tidak ada taranya.

Demikianlah, sejenak kemudian Ki Sambi Pitu danKi Lemah Teles itu sudah meloncat ke punggung kuda mereka. Sejenak kemudian keduanya telah melarikan kuda mereka meninggalkan ampat orang yang terluka itu.

Jalan menuju ke padepokan itu memang jalan yang jarang dilewati orang. Sawah yang terbentang disebelah-menyebelah jalan itupun sebagian telah dikuasai oleh Kiai Banyu Bening pula. Sementara beberapa bagian yang lain masih terbentang padang ilalang dan padang perdu yang luas sampai kebatas hutan lereng gunung yang lebat.

Kedatangan Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles di rumah Ki Ajar Pangukan telah disambut dengan berbagai macam pertanyaan. Pakaian mereka yang terpercik darah telah menunjukkan, bahwa keduanya telah bertempur dan bahkan melukai lawan-lawan mereka.

“Aku tidak bermaksud menantang untuk berperang tanding” berkata Ki Lemah Teles mendahului Ki Sambi Pitu, sehingga Ki Sambi Pitu itu pun tertawa. Sementara Ki Lemah Teles pun kemudian berceritera tentang apa yang telah dialaminya.

Ki Ajar Pangukan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Dengan demikian, maka kita sudah membuka permusuhan dengan padepokan itu.”

“Tetapi bukan maksud kami” berkata Ki Lemah Teles, “kami dihadapkan pada satu keadaan tanpa pilihan. Orang berkumis lebat itu benar-benar akan membunuh kami atas perintah Kiai Ganda wira yang ternyata lebih senang disebut Kiai Banyu Bening meskipun kesannya seperti air yang sangat keruh.”

Ki Ajar Pangukan, Ki Jagaprana dan Ki Pandi mengangguk-angguk mendengar ceritera itu. Bahkan dengan nada berat Ki Ajar Pangukan itu berkata, “Orang-orang yang perlu dikasihani.”

“Siapa yang perlu dikasihani?” bertanya Ki Lemah Teles.

“Orang yang lebih senang disebut Kiai Banyu Bening itu.”

“Yang lain?” desak Ki Lemah Teles.

Ki Ajar Pangukan mengerutkan dahinya. Tetapi ia pun menjawab, “Maksudku, Kiai Banyu Bening itu saja.”

“Tetapi Ki Ajar menyebutnya seakan-akan lebih dari satu. Ki Ajar menyebutnya orang-orang. Bukankah itu lebih dari seorang.” berkata Ki Lemah Teles kemudian.

“Tidak. Ternyata aku salah ucap. Maksudku, Kiai Banyu Bening itu adalah orang yang pantas dikasihani. Bukankah ia telah kehilangan isterinya yang ternyata telah pergi bersama seorang laki-laki. Kemudian justru laki-laki yang membawa isterinya itu bersama kawari-kawannya telah menyerang dan berusaha membunuh Kiai Banyu Bening. Dan yang terjadi kemudian adalah, bahwa rumahnya telah terbakar dan yang paling parah adalah bayinya, satu-satunya miliknya yang tinggal, ikut terbakar pula.”

“Ya” Ki Sambi Pitu menyambung, “kesan yang terburuk yang terpahat di dinding hatinya adalah suara tangis bayi itu. Bayi itu menangis melengking-lengking disaat rumahnya terbakar. Namun Kiai Banyu Bening itu pun segera pingsan.”

Manggada dan Laksana juga mendengar keterangan itu. Rasa-rasanya mereka ingin menutup telinga mereka. Namun mereka pun ingin mendengar kelanjutan dari ceritera itu.

Tetapi Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles ternyata tidak jelas sejak kapan Kiai Banyu Bening itu mendirikan sebuah perguruan. Kapan pula ia membuat semacam tetenger bagi bayinya dihadapan sebuah tempat pemujaan untuk menyerahkan korban-korbannya.

Namun Ki Ajar Pangukan pun kemudian berkata, “Jadi yang kita hadapi sekarang berbeda dengan Panembahan Lebdagati. Panembahan Lebdagati adalah seorang yang benar-benar mengabdikan dirinya menurut satu keyakinan hitam. Panembahan Lebdagati ingin mempunyai sipat kandel yang paling baik di muka bumi, sehingga dengan demikian ia akan dapat menjadi orang yang tidak terkalahkan. Tetapi yang dilakukan oleh Kiai Banyu Bening adalah semata-mata pancaran dendam, kebencian dan kekecewaan yang membakar jantungnya.”

“Tetapi akibatnya juga sangat mengerikan. Ungkapan dari dendam, kebencian dan kekecewaan itu tidak kalah kejinya dengan upacara-upacara yang dilandasi dengan kepercayaan hitam Panembahan Lebdagati.” berkata Ki Pandi.

Yang lain mengangguk-angguk. Sementara itu hampir diluar sadarnya Manggada yang juga mendengarkan pembicaraan itu berkata, “Bahwa Kiai Banyu Bening memilih tempat di kaki Gunung Lawu ini pun nampaknya tidak sekedar kebetulan bahwa disini Panembahan Lebdagati pernah mendirikan sebuah padepokan pula.”

Orang-orang tua yang mendengar kata-kata Manggada yang seakan-akan meluncur begitu saja itupun mengangguk-angguk pula. Ki Jagapranapun segera menyahut, “Ya. Agaknya ada hubungannya, kenapa Kiai Banyu Bening memilih tempat ini untuk mendirikan padepokan dan perguruan di tempat ini.”

“Kita akan mencarinya” desis Ki Ajar Pangukan, “tetapi yang penting, kita harus menjadi lebih berhati-hati setelah Kiai Banyu Bening mengambil sikap yang kasar itu.”

“Tetapi, apakah di padepokan itu nampak banyak orang? Maksudku, apakah padepokan dan perguruan Kiai Banyu Bening itu termasuk perguruan yang mempunyai banyak murid dan pengikut?” bertanya Ki Pandi kemudian.

“Agaknya cukup banyak. Tetapi selain didalam padepokan itu, Kiai Banyu Bening telah menyebarkan pengaruhnya diluar dinding padepokannya. Perguruan Kiai Banyu Bening tentu menjanjikan sesuatu kepada para pengikut diluar padukuhan. Dengan menyerahkan korban-korban yang mengerikan itu, maka orang-orang yang berada dibawah pengaruh Kiai Banyu Bening itu tentu mengharapkan sesuatu. Tentu bukan sekedar kewadagan.” jawab Ki Sambi Pitu.

“Kita memang harus melengkapi bahan-bahan pengenalan kita atas padepokan itu.” desis Ki Pandi.

“Tetapi kita harus menjadi lebih berhati-hati” Ki Ajar Pangukan mengulangi.

Orang-orang yang sedang berkumpul itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi pun berkata, “Aku akan mulai dari sebuah padukuhan yang tidak terlalu jauh dari padepokan itu.”

Dengan demikian, maka sekelompok orang yang tinggal untuk sementara dirumah Ki Ajar Pangukan itu menjadi semakin tertarik untuk mengetahui, apa yang akan terjadi kemudian. Upacara-upacara yang dilakukan di beberapa padukuhan sudah berkembang. Anak-anak binatang yang dikorbankan itu tidak lagi ditusuk sampai mati. tetapi anak-anak binatang itu harus dibakar hidup-hidup.

Namun yang tidak kalah menariknya adalah burung-burung elang yang kadang-kadang nampak berterbangan diatas padepokan itu. Bahkan sekali-sekali burung-burung itu menyambar-nyambar seakan-akan ingin melihat dan meyakini apa yang ada didalam padepokan itu. Sebuah padepokan yang belum banyak diketahui bentuk dan isinya, yang berusaha menyebarkan pengaruhnya di bekas lingkungan pengaruh Panembahan Lebdagati. Sementara menurut penglihatan yang masih harus dikaji kebenarannya, padepokan itu isinya berbeda dan sama sekali bukan kelanjutan dari padepokan Panembahan Lebdagati.

Tetapi untuk mengetahui hubungan antara padepokan dan burung elang itu, masih diperlukan waktu dan pengamatan yang cermat dan berhati-hati.

Namun dalam pada itu. Ki Pandi masih saja sering bertemu dengan Delima. Untuk mencegah kemungkinan buruk serta prasangka yang tidak baik atas gadis itu jika kebetulan ada orang yang melihat, maka Ki Pandi tidak selalu datang bersama Manggada dan Laksana. Kadang-kadang Ki Pandi memang datang bersama kedua anak muda itu. Tetapi kadang-kadang anak-anak muda itu ditinggalkannya di seberang sungai.

Tetapi Ki Pandi sendiri kemudian menjadi semakin akrab dengan Delima. Delima tidak saja menunggu Ki Pandi di pinggir sungai, tetapi kadang-kadang juga di sawah atau pategalan.

Gadis itu senang mendengar ceritera Ki Pandi tentang daerah di seberang hutan Jatimalang. Tentang padukuhan-padukuhan yang ramai dan tidak dicengkam oleh kengerian. Ki Pandi juga bercerita tentang kota-kota yang pernah dikunjungi.

Namun sebenamyalah bahwa Delima menjadi gembira jika Manggada dan Laksana juga datang bersama Ki Pandi.

Namun pertemuan-pertemuannya dengan Ki Pandi serta Manggada dan Laksana, membuat gadis itu semakin jauh dari kepercayaan yang mulai mencengkam padukuhannya. Jika malam-malam yang ditentukan tiba, dua kali dalam sepekan, gadis itu harus ikut bersama kedua orang tuanya mendengarkan pamannya yang tinggal di padepokan itu menguraikan tentang jalan kehidupan sebagaimana dianutnya, maka hatinya menjadi terguncang-guncang. Tetapi gadis itu tidak berani berterus-terang menolak keyakinan pamannya itu. Setiap kali terbayang korban yang diserahkan hidup-hidup dengan perantaraan api itu. Apalagi jika bayangannya mengembara ke masa-masa mendatang serta kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Tetapi Ki Pandi sama sekali tidak mengatakan apa yang pernah didengar oleh Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles tentang Kiai Gandawira yang lebih senang disebut Kiai Banyu Bening, sehingga bayangan-bayangan yang mengerikan itu memang akan dapat terjadi.

Ketika Ki Pandi sempat berbicara dengan Delima di pategal-annya yang di tanami jagung diantara beberapa batang pohon buah-buahan dan batang pohon kelapa, maka Ki Pandi pun bertanya, “Bagaimana tanggapan kawan-kawanmu, Delima. Maksudku, gadis-gadis di padukuhanmu?”

“Entahlah, kek” jawab Delima, “kami tidak pernah memperbincangkan tentang upacara-upacara yang pernah diselenggarakan di padukuhan kami. Sejak korban yang diserahkan itu belum dibakar, tidak seorang pun yang berani menyebutnya. Apalagi mengatakan bahwa mereka menjadi ngeri melihatnya. Aku sendiri, yang menjadi sangat ngeri dan ketakutan tidak berani mengatakan kepada ayah dan ibu. Aku hanya dapat mengatakannya kepada kakek. Namun justru karena itu aku merasa beban perasaanku menjadi berkurang.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi kemudian iapun berkata, “Delima. Cobalah kau bertanya kepada kawan-kawanmu jika kau mendapat, kesempatan. Tentu saja dengan sangat berhati-hati. Sementara itu seperti yang aku katakan, aku ingin berbicara dengan ayah dan ibumu.”

“Tetapi jika kakek ingin berbicara tentang keyakinan yang mengerikan itu, maka kakek akan dapat menyinggung perasaan ayah dan ibuku.”

“Akupun akan berhati-hati ngger. Tetapi aku tentu harus mempunyai alasan untuk datang kepada ayah dan ibumu” berkata Ki Pandi kemudian.

Gadis itu mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Ayah dan ibu memang jarang sekali atau bahkan tidak pernah berhubungan dengan orang asing seperti kakek ini.”

“Tetapi aku akan mencoba, ngger. Justru karena cacadku ini.” berkata Ki Pandi Kemudian.

“Apa yang akan kakek lakukan?”

“Aku akan menjual belas kasihan. He, aku akan menjadi orang yang kelaparan di depan rumahmu. Kau tahu maksudku?”

Delima mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tersenyum.

Sehari kemudian, Ki Pandi seorang diri pula datang ke padukuhan tempat Delima tinggal. Ia tahu dimana letak rumah Delima. Karena itu, maka ia tahu, dimana ia harus terduduk kelelahan dengan keringat yang membasahi seluruh pakaiannya. Nafas tersengal-sengal dan mata yang hampir terpejam.

Delima yang melihat orang bongkok itu dalam keadaan yang sulit, segera memanggil ayah dan ibunya.

“Ayah, bawa orang itu masuk ia memerlukan pertolongan” minta Delima.

“Tetapi orang ini orang asing” berkata ayahnya.

“Siapapun juga orang itu, tetapi bukankah kita wajib menolongnya?” berkata Delima kemudian.

Ternyata ibunya Juga tidak berkeberatan, sehingga mereka telah menuntun Ki Pandi.yang bongkok itu ke serambi depan rumahnya.

Rumah keluarga Delima memang bukan rumah yang baik dan tidak besar pula. Rumah berdinding bambu itu berdiri di tengah-tengah sebidang tanah yang memang agak luas. Dibagian depan hampir tidak terdapat tanaman apapun. Halaman itu nampak bersih. Sementara itu di halaman samping nampak beberapa batang pohon buah-buahan. Di kebun belakang nampak beberapa batang pohon pula dan rumpun bambu yang subur.

Ki Pandi duduk di sebuah amben bambu. Delima memberinya semangkuk minuman hangat. Ibunya telah memberikan beberapa potong ketela rebus.

Ketika keadaan Ki Pandi sudah menjadi semakin baik, maka ayah Delima yang kemudian duduk di sebelahnya, mulai bertanya, “Kau siapa, Ki Sanak. Dari mana dan akan pergi ke mana?”

Ki Pandi yang letih itu menjawab, “Aku seorang pengembara Ki Sanak Aku tidak datang dari mana-mana dan aku tidak menuju kemana-mana. Aku berjalan saja mengikuti langkah kakiku.”

“Apakah kau tidak tahu, kau berada dimana sekarang?”

“Ya, Ki Sanak. Aku tahu. Aku berada di kaki Gunung Lawu.”

Ayah Delima itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi berkata selanjutnya, “Aku semula tidak sengaja pergi ke tempat ini. Tetapi ketika aku melihat jalan menembus hutan Jatimalang yang nampaknya belum terlalu lama dibuat, maka aku pun telah menyuruh masuk sehingga aku sampai di tempat ini.”

Ayah Delima itu mengangguk-angguk. Sementara keadaan Ki Pandi sudah nampak menjadi lebih baik.

“Makanlah.” ayah Delima itu mempersilahkannya.

“Sudah cukup Ki Sanak. Terima kasih. Aku sudah makan cukup banyak” jawab Ki Pandi yang kemudian berkata, “sebaiknya aku akan meneruskan perjalanan.”

“Kenapa tergesa-gesa. Beristirahatlah disini sampai keadaanmu benar-benar menjadi baik, Ki Sanak He, siapa namamu?”

“Namaku Ki Pandi, Ki Sanak. Tetapi orang-orang yang mengenal aku memanggilku Bongkok Buruk. Tetapi itu tidak apa-apa. Aku memang bongkok dan buruk” Ki Pandi berhenti sejenak Namun ia pun kemudian bertanya, “Bagaimana aku memanggil Ki Sanak?”

“Namaku Krawangan” jawab ayah Delima itu.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh keluarga ini Ki Krawangan. Aku sekarang minta diri untuk melanjutkan perjalanan yang tidak menentu ini. Aku akan melihat-lihat lingkungan df kaki Gunung Lawu itu.”

“Kau perlu beristirahat Ki Pandi.”

“Terima kasih, Ki Krawangan. Aku sudah rukup beristirahat, Tetapi pada kesempatan lain, aku akan singgah dirumah Ki Krawangan ini.” berkata Ki Pandi kemudian. Tetapi tiba-tiba saja Ki Pandi itu bertanya, “tetapi bukankah aku dapat mohon untuk bermalam di banjar padukuhan ini?”

“Tentu” jawab Ki Krawangan, “siapapun boleh bermalam di banjar. Tentu saja mereka yang kemalaman dalam perjalanan.”

“Tetapi apakah padukuhan ini baru akan membuat banjar atau justru, membuat yang, baru?” bertanya Ki Pandi.

“Maksud Ki Sanak?” bertanya Ki Krawangan.

“Aku melihat bangaunan diluar dinding padukuhan” jawab Ki Pandi, “jika padukuhan ini sudah mempunyai banjar, apakah banjar itu sudah tidak memenuhi kebutuhan sehingga harus dibuat banjar yang baru lagi?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menggeleng, “Tidak Ki Pandi. Kami tidak membuat banjar yang baru. Bangunan diluar dinding padukuhan itu gunanya lain sama sekali. Bukan untuk kegiatan sehari-hari padukuhan ini. Tetapi bangunan itu adalah bangunan untuk pemujaan.”

“Pemujaan?”

“Kau tidak mengetahui apa-apa tentang pemujaan yang kami lakukan dengan menyerahkan korban kepada penguasa api.” jawab Ki Krawangan.

“Penguasa api?” bertanya Ki Pandi.

“Ya. Apakah kau tertarik? Api adalah segala-galanya. Panasnya api juga karena menyalanya maha api di langit. Hidup kita memang tergantung kepada api. Tetapi jika api itu murka, maka segala-galanya akan dimusnahkan.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Sementara orang itu berkata, “Jika kau tertarik, kau dapat datang esok lusa. Dua hari lagi kakakku akan datang ke padukuhan ini untuk memberikan petunjuk-petunjuk, bagaimana kita mengabdikan diri kepada api. Api yang perkasa yang memancar di siang hari serta api yang lembut penuh kedamaian yang memancar dimalam hari.”

“Maksud Ki Krawangan, matahari dan bulan?”

“Ya” jawab Ki Krawangan., “Di bulan purnama kami menyerahkan korban itu”

Ki Pandi mengangguk. Katanya, “Apakah aku boleh datang dua hari lagi?”

“Boleh Ki Pandi. Kau dapat ikut mendengarkan sesorah itu.”

“Dimana sesorah itu diselenggarakan?” bertanya Ki Pandi.

“Di sanggar pamujan itu, Ki Pandi. Di bangunan yang kau sangka untuk memperbaharui banjar itu.”

KiPandi mengangguk

“Ki Krawangan. Aku tentu merasa takut untuk memasuki banjar itu sendiri. Karena itu aku mohon, apakah aku diperkenankan datang kemari dan kemudian mengikuti Ki Krawangan masuk kedalam sanggar pamujan itu?”

“Baik Ki Pandi. Aku tentu tidak merasa berkeberatan. Datanglah kemari setelah senja turun. Kita akan pergi bersama-sama ke sanggar. Penguasa api itu tidak menolak siapapun yang datang untuk memohon perlindungan bagi kesejahteraan hidupnya.”

“Terima kasih, Ki Krawangan. Besok lusa aku akan datang” berkata Ki Pandi kemudian.

Demikianlah, maka Ki Pandi meninggalkan rumah   Krawangan. Ketika ia sampai dipintu regol dan berpaling, dilihatnya Delima dengan seorang gadis yang iebih kecil daripadanya. Agaknya gadis kecil itu adalah adiknya.

Dihari berikutnya, Ki Pandi sempat bertemu lagi dengan Delima di pategalan. Dari Delima Ki Pandi mengetahui, bahwa gadis kecil itu memang adiknya. Kenanga.

“Pamanlah yang memberikan sesorah di sanggar” berkata Delima.

“Aku ingin mendengar isi sesorah itu” berkata Ki Pandi.

“Hati-hatilah kek” pesan Delima, “paman adalah seorang yang keras hati. Bahkan tidak segan-segan menghukum orang yang dianggapnya bersalah.”

“Aku akan berhati-hati Delima.”

Ketika rencana itu disampaikan kepada Manggada dan Laksana, maka keduanya menyatakan ingin ikut serta. Tetapi Ki Pandi berkata, “Ingat. Aku hanya seorang pengembara yang sendiri. Aku tidak datang dari mana-mana dan tidak pergi ke mana-mana. Karena itu, maka aku tidak akan datang bersama siapa-siapa.”

Manggada dan Laksana dapat mengerti keterangan Ki Pandi itu, Karena itu, maka mereka tidak memaksanya untuk ikut bersamanya.

Hari melompat ke hari. Waktu yang ditentukan itu pun mendekat. Ki Pandi segera bersiap-siap untuk mengikuti pertemuan yang diselenggarakan setiap pekan dua kali itu untuk mendengarkan sesorah orang-orang yang dikirim dari padepokan.

“Hati-hatilah Ki Pandi” pesan Ki Ajar Pangukan.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan aku tidak terjebak dalam kesulitan seperti Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles.”

“Mudah-mudahan. Tetapi kemungkinan itu harus kau pikirkan.” berkata Ki Jagaprana, “orang-orang padepokan itu tentu akan menjadi curiga kepada semua orang yang tidak mereka kenal sebelumnya.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku mengerti. Apa yang terjadi karena kehadiran Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles di padepokan, serta kegagalan para pengikutnya akan membuat orang-orang padepokan itu menjadi semakin berhati-hati.”

Meskipun demikian, Ki Pandi itupun pergi juga kerumah Ki Krawangan menjelang senja turun. Tetapi Ki Pandi tidak datang dari arah bawah kaki Gunung Lawu, tetapi ia memberikan kesan, bahwa ia baru saja turun dari lereng yang lebih tinggi.

Senja itu, maka Ki Krawangan sekeluarga lelah bersiap untuk pergi ke tempat yang disebutnya sebagai sanggar pamujan. Satu bangunan khusus yang dipagari dengan batang pohon kelapa utuh yang ditanam berjajar rapat. Pagar itu cukup tinggi sehingga tidak mudah untuk melihat apa yang sedang berlangsung didalamnya.

Ki Krawangan, isteri dan kedua orang anak gadisnya di lepas senja telah berangkat bersama Ki Pandi ke tempat yang disebut sanggar itu. Beberapa orang tetangganya juga pergi bersama keluarga mereka untuk mendengarkan sesorah tentang penguasa api serta laku yang harus dijalani para pemujanya.

Ketika-orang-orang itu memasuki sanggar, maka langit pun sudah mulai menjadi gelap. Di regol sanggar itu telah dipasang dua buah oncor yang cukup terang.

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, orang-orang padukuhan itu melihat bukan saja kakak Ki Krawangan yang akan memberikan sesorah itu yang sudah ada di sanggar. Tetapi mereka telah melihat beberapa orang yang sebelumnya jarang kelihatan di sanggar itu. Mereka tentu orang-orang dari padepokan sebagaimana kakak Ki Krawangan itu.

Ki Pandi memang tidak mengetahui perbedaan itu, karena ia belum pernah menghadirinya sebelumnya. Ketika mereka berjalan memasuki regol sanggar itu, maka setiap orang tiba-tiba saja telah berubah. Mereka tidak lagi berbicara yang satu dengan yang lain. Tetapi mereka berjalan saja dengan wajah yang menatap ke depan. Matanya seakan-akan tidak berkedip sementara mulut mereka terkatub rapat-rapat.

Hanya orang-orang tertentu sajalah yang nampaknya dapat bebas bergerak tanpa batasan-batasan.

Dan ternyata orang itu bukan orang padukuhan. Delima lah yang berbisik lirih di telinga Ki Pandi, “Orang-orang itu belum pernah hadir sebelumnya. Tetapi agaknya mereka orang-orang padepokan. Kawan-kawan pamanku.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi jantungnya menjadi berdebar-debar.

Beberapa saat kemudian, orang-orang padukuhan itu telah berdiri dalam beberapa deret. Mereka tidak lagi berdiri diantara keluarga mereka masing-masing. Tetapi anak-anak muda dan gadis-gadis berdiri di depan, di belakang deretan anak-anak. Baru kemudian orang-orang yang lebih tua dan paling belakang adalah orang-orang tua.

Ki Pandi yang tidak tahu dimana ia harus berdiri, mengikut saja petunjuk Ki Krawangan Sambil menunduk Ki Pandi berdiri di belakang Ki Krawangan dan isterinya. Sementara itu Delima dan Kenanga berada didepan bersama anak-anak muda dan gadis-gadis yang lain.

Suasana pun masih tetap mencengkam. Tidak seorang pun yang berbicara. Mereka memandang kedepan dengan wajah yang kosong. Sementara itu, yang akan sesorah masih belum nampak di-hadapan orang-orang yang sudah bersiap-siap untuk mendengarkan itu, meskipun orang itu sudah ada diantara mereka.

Bahkan kakak Ki Krawangan itu masih sibuk berbicara dengan beberapa orang kawan-kawannya dan bahkan berjalan hilir-mudik tidak seperti biasanya.

Beberapa saat kemudian, orang-orang yang sudah ada didalam sanggar itu mulai menjadi gelisah. Meskipun mereka masih tetap tidak berbicara apapun, namun sikap mereka menunjukkan kegelisahan mereka. Beberapa orang mulai memandang berkeliling. Mencari dimana kakak Ki Krawangan itu berdiri.

Ki Pandi berdiri dengan jantung yang berdebar-debar. Justru pada saat ia memasuki sanggar itu, terjadi sesuatu yang tidak seperti biasanya. Delima sebelum memisahkan diri sempat berbisik ditelinganya sehingga Ki Pandi menduga-duga apakah yang terjadi.

Dadanya menjadi semakin berdebar ketika ia merasa, dua orang selalu mengawasinya.

“Apa yang akan terjadi?” pertanyaan itu semakin keras bergema didalam hatinya.

Tetapi Ki Pandi sudah terlanjur ada didalam sanggar itu. Apapun yang akan terjadi, harus dihadapinya.

Orang-orang yang gelisah itu menjadi semakin gelisah. Mereka mulai saling bertanya, apa yang telah terjadi.

Namun sejenak kemudian, kakak Ki Krawangan itu naik ke tangga bangunan batu yang ada didalam sanggar itu. Sambil berdiri di tangga, maka ia memberi isyarat agar orang-orang yang ada di sanggar itu memperhatikannya.

Suasananya memang terasa agak berbeda. Meskipun Ki Pandi masih belum pernah mengunjungi pertemuan serupa itu, namun ia merasakan, bahwa biasanya suasananya tentu tidak seperti saat itu.

Demikian kakak Ki Krawangan itu mengangkat tangannya, maka suasanapun menjadi semakin bening. Orang-orang yang ada di sanggar itu berdiri tegak tanpa bergerak sama sekali. Bahkan sampai keujung jari kakinya sekalipun.

Kakak Ki Krawangan itu pun kemudian memandang berkeliling. Dengan lantang iapun mulai berbicara, “Saudara-saudaraku, Aku agak terlambat mulai berbicara dihadapan saudara-saudaraku.”

Orang itu memandangi orang-orang yang ada di sanggar itu semakin tajam, seakan-akan ingin menilik langsung kedalam hati mereka masing-masing.

Baru kemudian ia berkata selanjutnya, “Keadaan ini terjadi karena ada sesuatu hal yang juga berbeda dari biasanya. Selama ini aku yakin bahwa saudara-saudaraku dengan sepenuh hati mengikuti upacara-upacara yang telah kami selenggarakan. Saudara-saudaraku juga selalu datang ke banjar jika ada sesorah dari salah seorang yang mewakili Ki Banyu Bening. Yang bertugas disini biasanya memang aku sendiri. Tetapi dalam keadaan khusus memang dapat terjadi orang lain.”

Orang itu berhenti sejenak. Sementara Ki Pandi menjadi semakin berdebar-debar. Ketaatan orang-orang padukuhan itu terhadap peraturan di sanggar itu sangat mengagumkan. Apalagi dalam upacara korban yang sebenarnya.

Dalam pada itu, kakak Ki Krawangan itu pun berkata pula, “Tetapi kali ini kita tidak saja menerima saudara-saudara kami dari padukuhan. Malam ini kita menerima seorang tamu yang ingin melihat dan mendengarkan sesorah yang diselenggarakan didalam .sanggar ini. Sebenarnya hal seperti itu bukan masalah jika kami yakin bahwa orang itu memiliki keyakinan dan kepercayaan yang mantap.”

Jika saja orang-orang yang ada di sanggar itu tidak dilarang berbicara, maka mereka tentu akan saling bertanya, siapakah yang telah disebut sebagai seorang yang meragukan itu?

Namun orang-orang yang telah melihat kehadiran orang bongkok itu pun segera menduga bahwa yang disebut itu adalah orang bongkok yang datang bersama Ki Krawangan itu.

Kakak Ki Krawangan yang berdiri ditangga bangunan tempat menyerahkan korban itu berkata selanjutnya, “Nah, aku persilahkan KiSanak yang baru datang itu bersedia untuk mendekat. Aku ingin berbicara dengan Ki Sanak.”

Ki Pandi menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia segera menyadari, bahwa memang dirinyalah yang dimaksud.

Sejenak Ki Pandi termangu-mangu. Namun kemudian dua orang datang mendekatinya. Sambil memegangi kedua lengannya dari dua sisi, maka orang itu telah menarik Ki Pandi maju kedepan menghadap kakak Ki Krawangan itu.

Ki Pandi sama sekali tidak berniat menolak. Ia pun menurut saja. melangkah di antara orang-orang padukuhan yang kemudian menyibak.

Delima yang melihat Ki Pandi dibawa oleh dua orang kawan pamannya itu kedepan menjadi gelisah. Jantung berdetak semakin cepat.

-ooO-dw-arema-Ooo-

Bersambung ke jilid 3

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 5 – Matahari Senja

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | lanjut

AM_MS-01

Serial ARYA MANGGADA

Episode V: MATAHARI SENJA

JILID 1

kembali | lanjut

AMMS-01DI TIMUR matahari mulai membayangkan sinar paginya yang sejuk. Ketika Manggada dan Laksana keluar dari regol halaman, mereka melihat beberapa orang berjalan dengan tenang di jalan padukuhan. Diwajah mereka tidak lagi membayang kecemasan dan ketakutan. Dua orang perempuan yang nampaknya akan pergi ke pasar, sempat bergurau. Suara tertawa mereka yang renyah disahut oleh kicau burung kepodang yang hinggap di pelepah daun pisang.

Padukuhan Gemawang memang mulai tersenyum. Orang-orang yang pergi ke sawah pun tidak lagi nampak tergesa-gesa dengan wajah yang cemas.

Manggada dan Laksana pun kemudian melangkah menyusuri jalan padukuhan. Mereka memang akan pergi ke sawah untuk membuka pematang mengairi batang padi yang mulai berbunga.

Manggada dan Laksana sengaja berjalan lewat depan rumah Wira Sabet. Rumah yang sudah mulai dihuni lagi oleh pemiliknya setelah untuk beberapa lama ditinggalkan dan dibiarkan kosong dan kotor. Sampah berserakan dimana-mana. Kayu-kayu kering yang dibiarkan teronggok dibawah pepohonan.

Namun pohon duwet dan manggis dirumah Wira Sabet itu tetap berbuah.

Ketika keduanya berjalan didepan regol, tiba-tiba saja keduanya ingin singgah. Keduanya mendengar suara sapu lidi di halaman rumah yang pintu regolnya masih tertutup.

Perlahan-lahan Manggada mendorong pintu regol yang ternyata tidak diselarak itu.

Dari sela-sela pintu yang sedikit terbuka itu, Manggada melihat Pideksa yang sedang menyapu halaman, terkejut. Tetapi demikian Pideksa itu melihat Manggada dan Laksana yang kemudian melangkah masuk, maka anak muda itu pun tersenyum.

“Aku tidak sengaja mengejutkanmu” berkata Manggada.

“Aku tahu” jawab Pideksa yang berhenti menyapu, “tetapi jantungku yang menjadi rapuh sekarang membuat aku mudah sekali terkejut.”

“Lupakan” desis Manggada, “masih banyak yang harus kau lakukan. Bukankah umurmu tidak terpaut dengan umur kami berdua?”

“Kau tidak pernah terperosok kedalam kubangan yang mengotori tubuh dan jiwamu” berkata Pideksa.

“Tetapi yang penting sekarang, apa yang akan kita kerjakan kemudian.” jawab Manggada.

Pideksa mengangguk kecil, sementara Laksana pun berkata, “Bangkitlah. Anak-anak muda padukuhan ini ternyata dapat menerima kau kembali diantara mereka.”

Pideksa memandang Laksana sekilas. Tetapi kemudian pandangan matanya terlempar jauh kesudut halamannya. Suaranya yang parau terdengar ragu,, “Apakah mereka benar-benar memaafkan keluarga kami, atau sekedar meredam dendam didalam hati yang setiap saat akan meledak dan membakar keluarga kami.”

“Mungkin ada orang yang mendendammu. Mungkin keluarga dari korban yang jatuh ketika kami datang ke barakmu. Tetapi jika kau kembali memasuki kehidupan wajar dan membuktikari bahwa kau telah berubah, maka dendam itu akhirnya akan terkikis oleh kenyataan itu.”

Pideksa tersenyum, betapapun pahitnya. Katanya, “Aku berterima kasih kepada kalian berdua. Kalian telah memberi kesempatan kepada kami untuk menatap masa depan. Segala sesuatunya tentu tergantung kepada kami, apakah kami dapat mempergunakan kesempatan ini dengan baik atau tidak.”

“Tataplah hari depanmu dengan tegar” desis Manggada sambil menepuk bahu Pideksa.

Pideksa mengangguk.

“Ki Jagabaya dan Sampurna benar-benar telah memaafkan kau dan paman Wira Sabet. Bukankah kau rasakan itu?”

Pideksa mengangguk pula. Katanya, “Ya. Aku merasakannya. Ayah juga merasakannya. Tetapi sampai sekarang, ayah masih lebih senang mengurung diri didalam rumah dengan pintu yang tertutup.”

“Ajak paman Wira Sabet keluar. Aku yakin, kalian akan diterima dengan baik oleh seisi padukuhan.” desis Manggada.

Pideksa mangangguk-angguk.

“Sudahlah” berkata Manggada kemudian, “aku akan mengairi sawahku. Padi sedang berbunga. Jika terlambat, maka hasilnya tentu kurang baik.”

Pideksa memandang wajah Manggada dengan kerut didahi. Dengan ragu ia berkata, “Apakah Ki Bekel masih mengakui bahwa sawah ayah itu masih tetap menjadi milik ayah?”

“Ya, seharusnya demikian. Bukankah sampai sekarang sawah paman Wira Sabet masih kering dan tidak ditanami sejak paman Wira Sabet meninggalkan padukuhan ini?”

“Ya” jawab Pideksa.

“Sawah itu kini menjadi tempat anak-anak menggembala kambing. Tetapi sudah tentu bukan berarti bahwa kalian tidak boleh menanaminya lagi.” jawab Manggada.

Pideksa mengangguk-angguk. Tetapi ia masih tetap nampak ragu.

Manggada yang melihat keraguan di sorot mata Pideksa itu-pun berkata, “Baiklah. Aku akan menghubungi Ki Jagabaya untuk meyakinkan, apakah sawahmu itu dapat digarap lagi.”

Pideksa menarik nafas panjang. Dengan nada dalam ia berkata, “Terima kasih. Berapa kali lagi aku harus mengucapkan terima kasih kepada kalian.”

“Sudahlah. Jangan berlebihan. Kita akan bersama-sama hidup dalam suasana yang lebih baik di padukuhan ini.”

“Kami akan berusaha berbuat sebaik-baiknya. Kami benar-benar berharap bahwa kami dapat diterima oleh para penghuni padukuhan ini.”

“Penghuni padukuhan ini bukannya pendendam, Pideksa.”

“Kecuali ayah dan paman Sura Gentong.”

“Jangan sebut lagi.” potong Laksana. Lalu katanya, “Nah, marilah. Kami akan pergi ke sawah. Nanti dari sawah kami akan singgah. Pohon duwet itu seakan-akan tidak berdaun lagi. Kamilah yang selama ini memetik duwet dan manggis dari halaman ini. Tentu saja atas ijin paman Wira Sabet.”

Ketika kemudian Manggada dan Laksana meninggalkan halaman itu, maka Pideksa mengantar mereka sampai ke regol halaman. Demikian keduanya turun ke jalan, maka Pideksa melanjutkan kerjanya, menyapu halaman rumahnya yang terhitung cukup luas.

Dihari-hari berikutnya, Manggada dan Laksana memang berusaha untuk membawa Pideksa kembali kedalam pergaulan anak-anak muda. Sebagian dari anak-anak muda padukuhan itu, masih saja dibayangi oleh ketakutan, justru karena Pideksa anak Wira Sabet. Tetapi tingkah laku Pideksa memang meyakinkan anak-anak muda di Gemawang, bahwa Pideksa memang sudah berubah.

Seperti yang dijanjikan kepada Pideksa, maka Manggada dan Laksana telah menemui Ki Jagabaya. Mereka telah membicara-kan tentang sawah dan pategalan milik Wira Sabet dan Sura Gentong. Apakah Wira Sabet diperbolehkan menggarap sawahnya kembali.

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “Mereka perlu makan. Karena itu menurut pendapatku, biarlah mereka menggarap sawah mereka. Karena Sura Gentong sudah tidak ada lagi, maka miliknya memang akan diwarisi oleh kemanakannya, Pideksa.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Ternyata Ki Jagabaya cukup bijaksana. Ia memang bukan pendendam sebagaimana diduganya. Bahkan sikap Sampurna pun tidak berbeda dengan sikap ayahnya. Ia menganggap bahwa Wira Sabet memerlukan bekal untuk dapat tetap hidup.

“Jika hidup paman Wira Sabet dan Pideksa mengalami kesulitan dan bahkan tidak dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari, maka mereka akan dapat terperosok kembali kedalam dunianya yang gelap. Karena disamping mendendam orang-orang Gemawang, maka mereka telah hidup diantara para perampok, penyamun dan penjahat-penjahat yang lain, bahkan bersama para pengikut Ki Sapa Aruh.” berkata Sampurna.

“Nah, biarlah aku menemuinya” berkata Ki Jagabaya, “tetapi sebaiknya aku berbicara dengan Ki Bekel.”

“Apa gunanya” desis Sampurna, “selama ini Ki Bekel tidak berbuat apa-apa. Ia selalu dibayangi oleh keragu-raguan. Bahkan menurut pendapatku bukan keragu-raguan karena ia membayangkan kerusakan, korban dan bencana yang dapat menimpa padukuhan ini. Tetapi ketakutan yang amat sangat.”

“Jangan begitu” berkata Ki Jagabaya, “apapun yang dilakukan, tetapi ia masih tetap Bekel padukuhan Gemawang. Bukankah bukan hanya Ki Bekel yang berlaku seperti itu? Apa yang telah dilakukan oleh Kademangan Kalegen? Justru Ki Demang Rejandani yang dengan serta-merta bersedia membantu kita tanpa perasaan takut sama sekali meskipun ia sadar siapakah yang bakal dihadapi.”

“Meskipun Ki Demang mempunyai alasan tersendiri. Bukankah ia juga berusaha untuk mendapatkan kembali benda-benda yang sangat berharga yang dirampok oleh Ki Sapa Aruh dan orang-orang dari barak itu?” sahut Sampurna.

“Bukan hanya itu. Aku melihat sikap jujur pada Ki Demang Rejandani., “ sahut Ki Jagabaya.

Sampurna tidak menjawab. Ia hanya mengangguk-angguk kecil.

Ketika kemudian Manggada dan Laksana meninggalkan rumah Ki Jagabaya, maka seperti yang dikatakannya, Ki Jagabaya pun telah pergi ke rumah Ki Bekel. Bagaimanapun juga sikap Ki Bekel sebelumnya, tetapi ia masih tetap diakui sebagai Bekel padukuhan Gemawang.

Kedatangan Ki Jagabaya telah diterima oleh Ki Bekel Gemawang di pringgitan. Dengan sikap seorang pemimpin Ki Bekel pun bertanya, “Apakah keperluan Ki Jagabaya menghadap aku sekarang ini?”

“Ki Bekel” jawab Ki Jagabaya yang kemudian telah menceriterakan keperluannya datang menemui Ki Bekel.

Ki Bekel mendengarkan keterangan Ki Jagabaya dengan dahi yang kadang-kadang berkerut.

“Dengan menggarap sawahnya kembali, maka Wira Sabet akan dapat hidup bersama keluarganya.”

”Huh” pikir Ki Bekel tiba-tiba telah mencibir, “apakah ia mengira bahwa ia dapat berbuat apa saja di padukuhan ini? Ia sudah berkhianat dan bahkan merusak tata kehidupan padukuhan ini. Sekarang dengan enaknya ia ingin minta sawah dan pategalan-nya kembali. Tidak. Sawah dan pategalannya bahkan rumah dan halamannya akan menjadi milik padukuhan. Aku bukan seorang penden-dam. Tetapi ia sudah terlalu lama membuat kepalaku menjadi pusing. Jika saja aku tidak mempunyai daya tahan yang tinggi, maka aku tentu sudah menjadi gila karena tingkah lakunya yang buruk itu.”

“Jadi maksud Ki Bekel” bertanya Ki Jagabaya.

“Sudah aku katakan. Sebagai hukuman atas pengkhianatan-nya, maka sawah, pategalan, rumah, halaman dan segala kekayaannya akan dirampas dan menjadi milik padukuhan.”

“Ki Bekel” berkata Ki Jagabaya, “ia sudah menyatakan diri untuk meninggalkan dunianya yang gelap itu. Ia sudah berjanji untuk hidup dengan baik sebagaimana orang lain penghuni padukuhan ini. Ia sudah menyesali segala perbuatannya. Sebenarnyalah bahwa yang sama sekali tidak terkendali adalah Sura Gentong. Bukan Wira Sabet.”

“Begitu mudahnya orang mendapatkan pengampunan?” bertanya Ki Bekel, “aku harus bersikap adil. Yang memberikan lebih bagi padukuhan ini akan mendapatkan lebih pula. Yang berkhianat tentu akan mendapatkan hukumannya. Wira Sabet bukannya baru sekarang melakukan dosa yang besar bagi padukuhan ini. Ketika ia melarikan diri, maka ia telah meninggalkan noda pula di padukuhan ini.”

“Ya” jawab Ki Jagabaya, “ketika itu, Wira Sabet telah melukai aku.”

Ki Bekel mengerutkan dahinya. Ia mengingat-ingat sebentar. Lalu katanya, “Ya. Ia sudah melukai Ki Jagabaya. Kemudian ia telah berkhianat. Dengan susah payah aku harus berusaha mengatasinya, sehingga akhirnya ketenangan dapat diperoleh kembali oleh padukuhan ini.”

“Siapakah yang menangkap Wira Sabet menurut pendapat Ki Bekel?” tiba-tiba saja Ki Jagabaya bertanya.

Ki Bekel menjadi gagap. Namun kemudian jawabnya, “Itu memang kewajiban Ki Jagabaya. Tetapi segala perbuatan, sikap dan tingkah laku bebahu padukuhan ini tentu dibawah tanggung jawabku.”

“Ki Bekel benar” jawab Ki Jagabaya, “karena itu maka aku harus datang menghadap dan mohon persetujuan Ki Bekel tentang sawah dan pategalan milik Wira Sabet.”

“Keputusanku tetap” berkata Ki Bekel.

“Baiklah. Aku akan menyampaikan keputusan Ki Bekel kepada Wira Sabet. Aku akan mengatakan bahwa Ki Bekel tidak sependapat untuk menyerahkan kembali sawah dan pategalan Wira Sabet ketangannya.”

“Tetapi keputusan ini aku dasarkan atas jabatanku. Bukan aku pribadi.”

“Ya, Ki Bekel” jawab Ki Jagabaya.

“Dengan demikian, maka kita semuanya harus mengamankan keputusan itu. Semua orang padukuhan ini. Terutama para bebahu. Apalagi Ki Jagabaya yang memang mempunyai tugas khusus untuk menjaga ketenangan dan ketertiban di padukuhan ini.”

“Baik Ki Bekel. Aku akan berusaha. Tetapi tentu saja kemampuan dan tenagaku terbatas. Sementara Wira Sabet dan saudara-saudara seperguruannya akan semakin mendendam.”

“Maksud Ki Jagabaya” bertanya Ki Bekel.

“Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya mengatakan bahwa dendam Wira Sabet akan membakar jantungnya kembali.” jawab Ki Jagabaya.

“Adalah tugas Ki Jagabaya untuk menangkapnya dan memenjarakannya.” berkata Ki Bekel dengan wajah yang tegang.

“Tentu Ki Bekel. Tetapi sudah aku katakan, bahwa kemampuan dan tenagaku terbatas. Apalagi Wira Sabet sudah mendendamku sampai ke ujung rambutnya. Jika besok atau lusa saudara-saudara seperguruannya datang membunuh aku, maka segala sesuatunya tentu terserah kepada Ki Bekel. Mungkin Ki Bekel dapat menunjuk orang lain yang lebih baik dari aku atau Ki Bekel akan menanganinya sendiri.”

“Tetapi bukankah Ki Jagabaya mampu melawan mereka?” suara Ki bekel mulai bergetar.

“Mungkin seorang melawan seorang aku mampu mengimbangi kemampuan Wira Sabet. Tetapi jika datang dua orang, tiga orang, ampat orang dengan beberapa orang pengikut? Atau mereka memakai cara yang lama dengan menakut-nakuti seisi padukuhan termasuk Ki Bekel?”

Wajah Ki Bekel menjadi tegang. Untuk beberapa saat ia berdiam diri. Namun kemudian suaranya menjadi semakin gagap, “Bukankah Ki Jagabaya pernah mengalahkan Wira Sabet dan bahkan membunuh Sura Gentong.”

“Satu kebetulan Ki Bekel. Ada beberapa orang datang membantu. Ki Pandi dengan kedua ekor harimau peliharaannya yang garang tetapi terkendali. Ki Carang Aking dengan dua orang muridnya. Ki Ciirabawa dengan anaknya dan Ki Demang Rejandani yang kebetulan mempunyai kepentingan yang sama. Tanpa mereka, maka padukuhan ini akan dihancurkan sampai lumat.”

“Bagaimana dengan Ki Kertasana? Anaknya dan anakmu?”

“Aku akan menyuruh isteri dan anak-anakku mengungsi. Jika Wira Sabet dan saudara-saudara seperguruannya datang mengamuk, biar aku sajalah yang dibunuhnya. Sementara Ki Kertasana, entahlah, apakah ia masih bersedia bertempur lagi atau tidak.”

Ki Bekel memang menjadi kebingungan. Dengan suara yang bergetar ia berkata, “Orang-orang itu harus tetap bersedia melawan Wira Sabet. Bahkan sekarang mereka aku perintahkan untuk menangkap Wira Sabet itu sebelum ia membuat keributan di padukuhan ini lagi.”

“Mereka tidak berkewajiban untuk mematuhi perintah Ki Bekel, karena mereka bukan penghuni padukuhan ini.”

“Tetapi mereka ada di sini sekarang” bentak Ki Bekel.

Ki Jagabaya yang sudah menahan diri itu mengerutkan dahinya. Ia tidak senang dibentak dengan kasar oleh Ki Bekel sekalipun. Karena itu, maka katanya, “Jika Ki Bekel ingin memberikan perintah itu kepada mereka, berikan langsung kepada mereka. Tetapi jika kemudian mereka justru berpihak kepada Wira Sabet, dan bahkan termasuk aku, itu terserah kepada Ki Bekel.”

“Gila. Apakah kau sudah gila?” bertanya Ki Bekel.

“Mungkin aku sudah gila. Tetapi aku ingin menyelamatkan diri dan keluargaku.” jawab Ki Jagabaya.

Wajah Ki Bekel menjadi pucat. Sementara Ki Jagabaya berkata, “Jika Ki Bekel tidak senang dengan sikapku, aku minta Ki Bekel memberhentikan aku dan menggantinya dengan orang lain yang memiliki kemampuan yang tinggi untuk melawan Wira Sabet.”

“Tetapi itu tidak mudah” jawab Ki Bekel.

“Aku minta diri. Aku datang untuk minta agar Ki Bekel menyetujui menyerahkan kembali tanah dan pategalan Wira Sabet kepadanya. Hanya itu, Jika Ki Bekel tidak setuju, itu terserah. Tetapi akibatnya terserah pula kepada Ki Bekel. Aku memilih dipecat saja karena aku tidak ingin mengorbankan keluargaku.”

Ki Bekel menjadi bingung. Ketika Ki Jagabaya beringsut, maka Ki Bekel itupun berkata, “Tunggu Ki Jagabaya.”

“Apalagi yang ditunggu? Bukankah keputusan Ki Bekel tetap? Sebaiknya aku pulang saja mempersiapkan pengungsian isteri dan anak-anakku. Aku mohon Ki Bekel menghubungi langsung orang-orang yang telah membantu membebaskan padukuhan ini dari tekanan ketakutan dan kecemasan. Itu jika mereka masih ada di padukuhan ini serta bersedia. Pokoknya terserah kepada Ki Bekel.”

“Tetapi itu kewajibanmu” teriak Ki Bekel.

“Bukankah aku katakan, pecat saja aku.”

“Aku tidak memecatmu. Tetapi aku memerintahkan kau berbuat sesuatu.”

“Kalau Ki Bekel tidak memecatku, aku meletakkan jabatan”

“Tunggu. Tunggu.” minta Ki Bekel.

“Apalagi yang harus kita bicarakan?” bertanya Ki Jagabaya.

“Tetapi jangan pergi dahulu. Kita belum selesai” Ki Bekel menjadi gagap.

“Sebenarnya tidak banyak persoalan yang harus kita putuskan hari ini. Mengijinkan Wira Sabet menggarap sawah dan pategalannya lagi. Itu saja. Jika Ki Bekel memutuskan setuju, maka tidak ada persoalan lagi. Tetapi jika tidak, maka padukuhan ini akan memasuki kembali suasana sebagaimana pernah kita alami.”

Ki Bekel menjadi berdebar-debar. Suasana yang baru saja dialami oleh padukuhan itu benar-benar sangat menakutkan baginya. Bahkan ia tidak dapat berbohong kepada dirinya sendiri, bahwa segala sesuatunya Ki Jagabaya lah yang telah mengatasinya. Karena itu, maka dengan nada berat Ki Bekel itupun berkata, “Baiklah. Terserah kepada Ki Jagabaya. Jika Ki Jagabaya menganggap bahwa Wira Sabet pantas untuk menggarap sawah dan pategalannya kembali, maka aku pun tidak berkeberatan pula.”

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih Ki Bekel. Hanya itulah yang aku butuhkan. Aku mohon diri. Aku akan menyampaikannya kepada Wira Sabet dan anak laki-lakinya. Mereka tentu akan merasa senang dan tidak akan membuat keributan lagi di padukuhan ini.”

Berita bahwa Wira Sabet dan Pideksa diperkenankan menggarap sawahnya lagi, telah diterima dengan suka cita. Ketika Ki Jajabaya dengan mengajak Sampurna, Manggada dan Laksana datang kerumah Wira Sabet untuk menyampaikan ijin untuk menggarap sawah dan pategalannya lagi, maka Wira Sabet menjadi sangat terharu. Kegarangannya seakan-akan telah luluh oleh kebesaran jiwa orang-orang padukuhannya.

Ijin untuk menggarap sawah dan pategalannya kembali itu membuat penyesalan yang semakin mendalam di hatinya.

Dihari-hari mendatang, maka Wira Sabet tidak lagi menjadi orang yang terasing di padukuhannya sendiri, ia mulai keluar dari dinding rumahnya untuk pergi ke sawah. Di sepanjang jalan ia bertemu dengan tetangga-tetangganya. Mula-mula mereka hanya saling mengangguk. Namun kemudian mereka mulai berbicara yang satu dengan yang lain. Bahkan kemudian mereka mulai terbuka dan berbicara tentang banyak hal mengenai padukuhan mereka.

Demikian pula yang dilakukan oleh Pideksa diantara anak-anak muda Gemawang.

Di hari-hari mendatang, maka Gemawang benar-benar telah menjadi tenang. Tatanan kehidupan telah pulih kembali. Tidak ada lagi ketakutan dan kecemasan. Tidak pula ada perasaan saling curiga dan permusuhan.

Bagi orang-orang Gemawang, maka padukuhan mereka telah menjadi padukuhan yang dapat memberikan kesejukan. Gemawang bukan sekedar tempat tinggal, tetapi Gemawang merupakan kampung halaman yang teduh.

Ketika kehidupan di Gemawang menjadi mapan, maka Ki Citrabawa justru mulai teringat kepada kampung halamannya sendiri. Karena itu, maka kepada Ki Kertasana, ia telah menyampaikan niatnya untuk pulang.

“Aku sudah cukup lama berada disini kakang” berkata Ki Citrabawa.

Ki Kertasana tersenyum. Katanya, “Kalian berdua telah ikut mengalami satu peristiwa yang mendebarkan di padukuhan ini.”

“Sekarang, semuanya telah lewat.” desis Ki Citrabawa. Dengan demikian, maka Ki Kertasana tidak dapat menahan adiknya lebih lama lagi. Karena itu, maka ketika kemudian adiknya benar-benar minta diri, maka Ki Kertasana itu pun telah melepaskannya.

Namun Ki Kertasana masih minta Ki Citrabawa untuk minta diri kepada Ki Jagabaya.

Ki Jagabaya melepaskan Ki Citrabawa dengan berat hati. Ki Citrabawa telah ikut menentukan hari depan padukuhan Gemawang bersama Laksana.

Namun ternyata bukan hanya Ki Citrabawa sajalah yang akan meninggalkan Gemawang. Ki Kertasana telah minta agar Manggada dan Laksana mengantarkan Ki Citrabawa pulang.

“Lebih banyak kawan di perjalanan, tentu perjalanan akan dirasakan semakin pendek.” berkata Ki Kertasana.

Ki Citrabawa tidak menolak. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa anak dan kemanakannya itu sudah menjadi semakin matang. Bukan saja kemampuan ilmunya, tetapi juga cara mereka berpikir dan mengambil sikap.

Tetapi baik Ki Citrabawa maupun Ki Kertasana tidak menentukan, apakah Manggada dan Laksana akan tinggal dirumah orang tua mereka masing-masing, atau mereka akan selalu bersama-sama sebelum mereka masing-masing berkeluarga.

Tetapi justru karena itu, maka Ki Pandi pun telah minta diri pula. Katanya, “Aku berada disini karena Manggada dan Laksana ada disini. Jika mereka pergi, maka aku pun akan pergi juga.”

“Ki Pandi akan pergi ke mana?” bertanya Manggada, “seandainya Ki Pandi tidak mempunyai kepentingan tertentu, marilah, kita berjalan bersama-sama.”

Ki Pandi mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian berdesis, “Sebenarnya aku masih mempunyai tugas. Panembahan berilmu hitam itu masih belum dapat ditundukkan. Tetapi baiklah, sambil mencarinya, aku bersedia ikut berjalan bersama-sama Manggada dan Laksana. Bukankah itu berarti bahwa aku akan berjalan bersama Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa? Agaknya akan menjadi perjalanan yang menyenangkan.”

“Aku akan berterima kasih sekali jika Ki Pandi dapat berjalan bersama kami.” berkata Ki Citrabawa.

“Meskipun aku akan berjalan bersama Ki Citrabawa, tetapi jalan yang akan kita lalui akan berbeda.” sahut Ki Pandi kemudian. Lalu katanya pula, “Aku membawa momongan. Dua ekor harimau. Karena itu, aku harus memilih jalan terbaik yang dapat kami lalui tanpa mengganggu orang lain.”

Manggada tertawa. Katanya, “Apakah kedua momongan Ki Pandi itu pada suatu saat tidak dapat ditinggalkan disatu tempat?”

“Tentu. Tetapi disatu tempat yang terdekat. Setiap saat aku memerlukan keduanya atau keduanya memerlukan aku” berkata Ki Pandi kemudian.

“Jika demikian, biarlah kami yang menyesuaikan diri” berkata Ki Citrabawa.

Ki Pandi menggeleng. Katanya, “Jangan. Jika Ki Citrabawa tidak berjalan bersama Nyi Citrabawa, maka aku tidak berkeberatan, karena aku yakin, dimasa muda Ki Citrabawa tentu telah sering menempuh perjalanan pula.”

Ki Citrabawa pun tertawa. Katanya, “Itu sudah lama sekali terjadi. Tetapi baiklah. Meskipun Ki Pandi akan mengambil jalan sendiri, tetapi akhirnya Ki Pandi akan sampai kerumahku juga.”

Demikianlah, ketika sampai saat yang direncanakan, maka Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa telah meninggalkan padukuhan Gemawang diantar oleh Manggada dan Laksana. Bersama mereka adalah Ki Pandi. Namun Ki Pandi telah mengambil jalan yang lain, karena jika Ki Pandi menempuh jalan sebagaimana dilalui oleh Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa, maka kedua ekor harimaunya akan menakut-nakuti orang.

Perjalanan yang mereka tempuh memang merupakan perjalanan panjang. Tetapi ternyata bahwa mereka tidak mengalami hambatan di sepanjang perjalanan mereka, sehingga akhirnya mereka telah berada dirumah Ki Citrabawa.

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, maka Ki Pandi yang menyertai mereka tetapi mengambil jalan yang berbeda, telah sampai pula dirumah Ki Citrabawa. Ki Pandi sudah berjanji untuk tinggal di rumah itu beberapa lama sebagaimana Manggada.

“Jika pada suatu saat kau akan pulang, maka biarlah aku bersamamu” berkata Ki Pandi kepada Manggada.

”Terima kasih Ki Pandi” sahut Manggada, “tetapi aku tidak tahu, apakah Laksana akan tinggal bersama paman dan bibi atau masih ada niatnya untuk menempuh perjalanan pengembaraan.”

“Kau kira aku akan tinggal dirumah sebagai gadis pingit-an” sahut Laksana.

Ki Pandi tertawa. Katanya, “Tetapi bukan aku yang mengajakmu. Jangan-jangan Ki Citrabawa dan Nyi Citra-bawa salah mengerti.”

Manggada dan Laksana tertawa pula. Dengan nada tinggi Laksana berkata, “Aku akan mengatakan kepada ayah dan ibu, bahwa Ki Pandi telah memaksaku dan bahkan mengancamku jika aku tidak mau pergi bersamanya.”

Ki Pandi sendiri masih saja tertawa. Namun kemudian, ketika suara tertawa mereka mereda, Ki Pandi pun berkata, “Tetapi kalian harus mengetahui sebelumnya, bahwa jika kalian akan melakukan pengembaraan, kalian harus menjadi lebih berhati-hati.”

“Kenapa?” bertanya Manggada.

Dahi Ki Pandi menjadi berkerut. Ia menjadi lebih bersungguh-sungguh, “Perjalanan kalian selalu diamati oleh seseorang.”

“Siapa?” bertanya Laksana.

Ki Pandi menggeleng. Katanya, “Aku tidak mengenal. Aku ketahui justru karena di perjalanan kalian bersama Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa aku telah memisahkan diri. Tetapi aku dapat mengenali orang itu jika aku bertemu kembali dengan orang itu.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Manggada berkata, “Jika demikian, maka pada suatu saat, kita akan dapat menemukan orang itu.”

“Mudah-mudahan” jawab Ki Pandi, “tetapi karena untuk sementara kita akan berada disini, maka orang itu dapat kita lupakan saja. Kecuali jika pada suatu hari kita temui orang itu lagi dimanapun.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk pula. Namun mereka benar-benar telah melupakan orang itu, setidak-tidaknya untuk beberapa lama.

Ternyata Ki Pandi memang melihat orang itu. Bahkan ketika Ki Pandi berjalan-jalan seorang diri di luar halaman rumah Ki Citrabawa, ia melihat orang itu lagi. Tetapi Ki Pandi seakan-akan tidak menghiraukannya sama sekali. Untunglah bahwa orang itu juga tidak menghiraukan Ki Pandi.

Tetapi dihari-hari mendatang, Ki Pandi tidak pernah melihat orang itu lagi disekitar rumah Ki Citrabawa.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksana ternyata tidak dapat bertahan lebih lama lagi untuk tinggal dirumah saja. Karena itu, maka keduanya pun telah minta diri untuk menempuh satu perjalanan agar pengalaman mereka dapat bertambah.

“Tidak akan terlalu lama, paman” berkata Manggada.

“Tidak terlalu lama itu menurut ukuranmu berapa hari?” bertanya Ki Citrabawa.

“Jangan dihitung hari, ayah” sahut Laksana.

“Jadi?”

“Pertanyaan ayah seharusnya berdasarkan bulan. Berapa bulan atau bahkan tahun.” berkata Laksana.

Ki Citrabawa menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat merasakan gejolak perasaan anak-anak muda yang ingin mendapatkan pengalaman yang lebih luas serta melihat lebih banyak dari warna bumi ini. Berbeda dengan anak-anak muda yang merasa hidupnya sudah berada diatas kemapanan tertentu, maka Manggada dan Laksana ingin menjangkau kesempatan yang lebih banyak lagi.

Seperti saat-saat Manggada dan Laksana minta diri meninggalkan rumah itu untuk pergi ke Gemawang beberapa saat yang lewat, maka Nyi Citrabawa merasa sangat berat untuk melepas mereka. Tetapi nampaknya keinginan Manggada dan Laksana sulit untuk dicegah lagi.

“Ngger” berkata Nyi Citrabawa, “kau lihat anak-anak sebayamu di padukuhan ini, atau di padukuhan Gemawang, dapat bekerja dengan tenang di rumah, di sawah dan pategalan. Mereka merupakan tiang-tiang penyangga kehidupan keluarga dan padukuhannya. Tetapi kenapa kalian berdua menjadi gelisah dan ingin menempuh satu pengembaraan yang panjang?”

“Ibu” jawab Laksana, “pada suatu saat aku juga akan kembali ke padukuhan ini. Demikian juga kakang Manggada akan kembali ke Gemawang. Namun sebelum kami menetap tinggal dan bekerja bagi lingkungan kami, sebenarnyalah kami ingin melihat betapa luasnya tanah ini, meskipun aku sadar, bahwa yang dapat aku lihat itu tentu hanya selebar daun kelor dibanding dengan luasnya bumi.”.

Nyi Citrabawa itupun kemudian berpaling kepada Ki Pandi yang menunduk. Perasaan Ki Pandi memang agak tergelitik oleh sikap Nyi Citrabawa. Seperti yang dicemaskannya, akan dapat terjadi salah paham, seolah-olah Ki Pandi lah yang mengajak kedua orang anak muda itu untuk mengembara.

Tetapi Ki Citrabawa itupun justru berkata, “Baiklah. Jika kalian ingin melihat-lihat sebagaimana pernah kalian lakukan sebelumnya. ”Namun kemudian katanya kepada Ki Pandi, “Aku titipkan anak-anak ini kepada Ki Pandi. Mudah-mudahan pengembaraan mereka mendapat arti bagi hidupnya mendatang serta bagi sesamanya. Kami akan selalu berdoa, semoga Yang Maha Agung akan tetap melindungi mereka.”

Nyi Citrabawa memang tidak menahan mereka lagi. Sementara Ki Pandi berkata, “Aku akan berusaha sebaik-baiknya dalam keterbatasanku Ki Citrabawa. Sebenarnya aku juga sudah mencoba untuk menahan mereka untuk tetap tinggal dirumah sementara aku akan minta diri, karena aku masih mempunyai tugas yang belum terselesaikan. Tetapi ternyata keduanya berkeras hati untuk tetap pergi untuk melihat lingkungan yang lebih luas.”

“Aku justru merasa beruntung, bahwa ketika keduanya ingin pergi, Ki Pandi justru bersama mereka. Itu akan jauh lebih baik daripada mereka pergi hanya berdua saja. Kemudian mereka kadang-kadang dapat membuat mereka kurang dapat mengekang diri.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi didalam hati ia berkata, “Justru kepercayaan ini merupakan beban yang berat bagiku, Untunglah kedua anak muda itu termasuk anak-anak muda yang tidak terlalu sulit dikendalikan.”

Demikianlah, maka Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa harus melepaskan anak dan kemanakannya itu pergi. Yang membuat mereka cemas adalah justru karena mereka mengetahui, bahwa kedua-nya tidak sekedar mengembara menyusuri jalan-jalan dan menghindari kesulitan yang dapaf timbul diperjalanan. Tetapi sebagaimana yang pernah terjadi atas mereka, adalah justru peristiwa yang dapat membahayakan jiwa mereka.

Ketika mereka meninggalkan rumah Ki Citrabawa, maka bertiga mereka telah pergi ke sebuah hutan yang tidak terlalu jauh. Di-hutan itu dahulu Manggada dan Laksana sering berburu harimau untuk mendapatkan kulitnya. Kulit harimau itu biasanya dibeli oleh para pedagang dengan harga yang cukup tinggi.

Tetapi Ki Citrabawa pun kemudian melarang mereka untuk setiap kali memburu harimau, sehingga keduanyapun telah menghentikan kegiatan mereka.

Di perjalanan itulah Ki Pandi telah memperingatkan mereka sekali lagi, bahwa mereka berdua agaknya sedang dalam pengawasan seseorang.

“Kita belum dapat memastikan, apakah ada hubungannya antara orang itu dengan peristiwa yang terjadi di barak Wira Sabet dan Sura Gentong. Terbunuhnya beberapa orang berilmu tinggi kadang-kadang membuat persoalan berlarut-larut. Mungkin ada orang yang tersinggung karenanya, sehingga memahatkan dendam didalam hatinya. Dendam itulah yang membuat tanah ini selalu dibayangi oleh kekerasan, disamping sifat-sifat bujuk yang lain yang dapat hinggap dihati seseorang.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Tetapi pesan Ki Pandi itu mereka perhatikan dengan sungguh-sungguh. Benih itu akan dapat tumbuh dan berkembang di hati yang pada da-sarnya memang merupakan ladang yang subur.

Demikianlah, di hutan itu Ki Pandi sempat menemui kedua ekor harimaunya. Berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Manggada dan Laksana.

Namun kemudian Ki Pandipun berkata, “Aku berharap bahwa keduanya bersedia tinggal dihutan ini untuk beberapa lama.

“Di hutan ini banyak terdapat binatang buas Ki Pandi.” berkata Manggada.”

“Kedua ekor harimauku ini memiliki sedikit kelebihan. Mereka dapat menghindari perkelahian. Tetapi jika hal itu harus terjadi, maka keduanya dapat melakukan yang tidak dapat dilakukan oleh jenis-jenis binatang buas yang lain.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun mereka meyakini kata-kata Ki Pandi yang sudah bergaul dengan kedua ekor harimaunya untuk waktu yang lama.

Ketiga orang itu bermalam di hutan itu. Manggada dan Laksana yang pernah tinggal dihutan sebulan penuh sama sekali tidak merasa canggung tidur di atas pepohonan. Merekapun tidak canggung pula berburu untuk mendapatkan makan malam mereka.

“Baru dihari berikutnya, menjelang matahari terbit, setelah mereka mandi di sebuah mata air, maka merekapun meninggal-kan hutan itu.

Demikian keduanya keluar dari hutan itu, maka dilihatnya cahaya matahari yang membayangi di langit. Kemerah-merahan. Semakin lama semakin cerah.

Ki Pandi yang sudah berpengalaman telah mengajak mereka untuk menentukan arah perjalanan. Meskipun mereka tidak mempunyai rencana tertentu, namun sebaiknya mereka tidak berjalan asal melangkahkan kaki mereka.

“Bagaimana pendapat Ki Pandi jika kita melihat keadaan di-seberang hutan Jatimalang sepeninggal Panembahan Lebdagati?”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian bertanya kepada diri sendiri, “Sepeninggal Panembahan Lebdagati yang berilmu hitam itu?”

Manggada yang mendengar kata-kata itu justru menyahut, “Ya. Apakah Ki Ajar Pangukan masih berada ditempatnya?”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Dapat saja jika kita memang ingin singgah.”

“Ya, sekedar singgah. Agaknya kita memang tidak akan? Menjumpai apa-apa lagi disana. Panembahan Lebdagati sudah meninggalkan padepokannya dan mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain.”

“Panembahan itu sudah kehilangan kesempatan yang telah dirintisnya sejak lama dengan mengorbankan gadis-gadis. Satu kali purnama lepas dari padanya, maka ia harus mengulanginya lagi dari awal. Agaknya Panembahan itu sudah tidak mungkin lagi untuk memulainya, sehingga ia telah mencari jalan lain yang dianggapnya lebih pendek daripada mengorbankan gadis-gadis disetiap bulan purnama. Karena ia sudah kehilangan waktu yang panjang, sejak kita menggagalkannya dan merebut anak Ki Wiradadi itu.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun rencana untuk singgah di lingkungan seberang hutan Jatimalang sangat menarik bagi mereka. Mungkin perubahan-perubahan sudah dan sedang berlangsung disana.

Dengan demikian, maka mereka telah mengarahkan arah perjalanan mereka. Mereka akan melihat, apakah kehidupan di kaki Gunung Lawu itu sudah banyak mengalami perubahan atau belum.

Namun mereka tidak tergesa-gesa. Mereka tidak mempunyai satu kepentingan tertentu di seberang hutan Jati, selain sekedar ingin melihat kembali lingkungan itu.

Karena itu, maka mereka berjalan sambil melihat-lihat. Padukuhan, sawah, pategalan, sungai dan hijaunya pepohonan.

Ketika mereka melewati sebuah pasar, maka Laksana pun berniat untuk singgah sebentar di sebuah kedai di pinggir pasar itu.

“Aku ingin minum dan makanan hangat” desis anak muda itu.

Manggada tersenyum. Ketika ia berpaling kepada Ki Pandi, sebelum Manggada bertanya kepadanya, maka Ki Pandi itu sudah mengangguk sambil berkata, “Bukankah aku hanya mengikuti kalian?”

Manggada tersenyum. Kata-nya, “Baiklah. Kita singgah sebentar.”

Demikianlah, maka mereka bertiga telah singgah di sebuah kedai yang tidak terlalu besar. Meskipun demikian, agaknya kedai itu menyediakan makanan dan minuman yang baik, sehingga karena itu, maka kedai itu menjadi cukup ramai.

Dalam kesibukan menghirup minuman dan mengunyah makanan, tiba-tiba wajah Ki Pandi berkerut. Ia melihat lagi orang yang dilihatnya mengikuti perjalanan Manggada dan Laksana ketika mereka mengantar Ki Citrabawa dan isterinya. Orang yang juga pernah dilihatnya di dekat rumah Ki Citrabawa.

Tetapi Ki Pandi tidak sempat menunjukkannya kepada Manggada dan Laksana karena orang itu hanya lewat dan berhenti sejenak di depan kedai itu.

Namun nampaknya orang itu tidak seorang diri.

Meskipun orang itu sudah tidak nampak lagi, namun Ki Pandi telah memberitahukan juga kepada Manggada dan Laksana, bahwa orang yang pernah dikatakannya mengamati perjalanan mereka itu baru saja lewat didepan kedai itu.

“Kenapa Ki Pandi tidak menunjukkan kepada kami?”

“Orang itu hanya lewat. Ketika aku berniat untuk mengatakan kepada kalian, orang itu sudah tidak nampak lagi.”

“Kita akan mencarinya. Mungkin ia masih berada di sekitar tempat ini” berkata Laksana.

Tetapi Ki Pandi itu menggeleng. Katanya, “Kita tidak perlu bersusah payah mencarinya.”

“Tetapi menurut Ki Pandi, orang itu berbahaya bagi kita” sahut Laksana.

“Ya. Tetapi tanpa mencarinya, orang itu tentu akan datang lagi kepada kita. Nanti, esok atau lusa. Mereka tentu akan selalu mengikuti kalian berdua. Namun setelah mereka mengetahui bahwa aku selalu bersama kalian, maka aku pun akan ikut mereka awasi.”

“Apakah Ki Pandi tidak keliru? Justru Ki Pandi lah yang diikutinya.” desis Manggada.

“Agaknya memang suatu kemungkinan. Tetapi yang sempat mereka temukan dahulu adalah kalian berdua. Orang itu memperhitungkan, bahwa dengan mengikuti kalian berdua, maka kalian akan membawanya kepadaku.”

“Ternyata perhitungannya benar” desis Laksana.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Setelah merenung sejenak, maka Ki Pandi itupun berdesis, “Memang masuk akal. Tetapi semua itu baru merupakan dugaan-dugaan. Meskipun demikian aku kira pada suatu saat, kita akan mengetahui, apakah sebenarnya yang dikehendakinya.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka masih menghirup minuman dan mereka bahkan mulut mereka masih juga mengunyah makanan.

Sementara itu Ki Pandi mulai membayangkan kembali orang yang pernah dilihatnya. Ketika ia melihat orang itu didekat rumah Ki Citrabawa, maka orang itu seakan-akan tidak memperhatikan.

Tetapi Ki Pandi tidak ingin pening memikirkan orang itu. Ia berharap bahwa suatu ketika ia mendapat kejelasan.

Dalam pada itu, setelah Manggada membayar harga makanan dan minuman, mereka bertigapun keluar dari kedai itu dan berjalan searah dengan orang yang telah dikenali Ki Pandi. Namun mereka sudah tidak melihat lagi orang itu.

“Mungkin orang itu salah seorang saudara seperguruan Sura Gentong atau saudara-saudara seperguruannya.” berkata Manggada.

“Jika demikin, kenapa mereka tidak mencari ayah?” bertanya Laksana. Namun nada pertanyaannya memang mengandung kecemasan. Laksana benar-benar memikirkan keadaan ayahnya.

“Sudahlah” berkata Ki Pandi. “Kita tidak dapat memecahkan teka-teki itu.”

Dengan demikian, maka perjalanan mereka bertiga sama sekali tidak terpengaruh oleh kehadiran orang yang tak dikenal itu. Siapapun mereka, maka ketiga orang itu melanjutkan perjalanan ke arah hutan Jatimalang.

Perjalanan mereka memang perjalanan yang panjang. Meskipun Manggada dan Laksana teringat juga kepada Ki Wiradadi, namun mereka tidak ingin singgah kerumah itu.

“Jika kita harus singgah dimana-mana, maka kita tidak akan sampai dihutan Jatimalang.” berkata Manggada.

Laksana mengerutkan dahinya. Tetapi sebelum ia mengucapkan sesuatu, Manggada telah mendahuluinya, “Anak gadis Ki Wiradadi itu?”

“Ah, tidak.” jawab Laksana.

Manggada tertawa. Sementara Laksana melemparkan pandangan matanya jauh-jauh.

Ki Pandi sempat tersenyum juga mendengar pembicaraan kedua orang anak muda itu. Namun ia tidak berkata sesuatu.

Demikianlah, maka mereka pun berjalan semakin jauh. Matahari yang kemudian melewati puncak langit, panasnya bagaikan membakar kulit.

Namun perjalanan mereka selanjutnya sama sekali tidak terganggu. Juga ketika mereka berhenti untuk minum dan makan di sebuah kedai.

Menjelang malam, ketiga orang itu memasuki sebuah padukuhan. Bertiga mereka berniat untuk menumpang bermalam di banjar padukuhan itu.

Tetapi ketiga orang itu merasa aneh. Padukuhan itu nampak sepi. Pintu-pintu rumah sudah tertutup dan gardu-gardu pun tidak terisi.

“Mungkin masih terlalu sore untuk berada di gardu” berkata Manggada.

“Mungkin” sahut Ki Pandi, “tetapi regol-regol halaman dan bahkan pintu-pintu rumah sudah tertutup rapat.”

“Seperti padukuhan Gemawang sebelum barak Wira Sabet dan Sura Gentong di kuasai.” berkata Laksana.

“Ya” sahut Manggada, “apapun yang terjadi ditempat ini, tentu ada yang tidak wajar.”

Ki Pandi mengangguk-angguk mengiakan. Namun ia tidak berkata sesuatu. Ia berjalan saja menelusuri jalan padukuhan.

Beberapa saat kemudian, ternyata mereka telah berada di-depan banjar padukuhan. Namun nampaknya banjar padukuhan itu juga nampak sepi.

Dengan agak ragu ketiga orang itu melangkah memasuki banjar padukuhan. Mungkin mereka dapat bertemu dengan penunggu banjar itu.

Seperti yang mereka duga, maka di belakang banjar itu tinggal sebuah keluarga kecil. Ia bertugas untuk menunggu dan memelihara banjar milik padukuhan itu.

Meskipun nampak ragu-ragu, namun ketiga orang itu dipersilahkan masuk kerumahnya yang tidak begitu besar.

Ki Pandi lah yang minta kepada penunggu banjar itu untuk diijinkan bermalam barang semalam saja dibanjar itu.

Penunggu banjar itu termangu-mangu sejenak. Nampak keraguan semakin bergejolak didadanya. Namun agaknya penunggu banjar itu tidak sampai hati untuk menolak permintaan ketiga orang yang minta ijin untuk menginap itu.

“Siapakah sebenarnya ki sanak bertiga ini?” bertanya penunggu banjar itu.

“Kami adalah pengembara yang menyusuri jalan-jalan yang panjang” jawab Ki Pandi.

“Untuk apa? Jika kalian melakukan sesuatu, kalian tentu mempunyai maksud tertentu” bertanya penunggu banjar itu.

“Benar Ki sanak” jawab Ki Pandi, “kedua kemenakanku ini ingin memperluas pengalaman hidupnya. Mereka ingin melihat tempat-tempat yang jauh yang belum pernah dilihatnya. Mereka ingin melihat tatanan kehidupan yang beraneka di tanah ini.”

Penunggu banjar itu mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “sebenarnya kami tidak berkeberatan. Para pejalan dan barangkali juga pengembara, bermalam di banjar ini. Tetapi kalian datang pada saat yang kurang baik.”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun rasa-rasnya ia mendapat jalan justru untuk menanyakan, apa yang sedang terjadi di padukuhan itu.

Karena itu, maka Ki Pandi itupun bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi disini?”

Penunggu banjar itu memandang Ki Pandi dan kedua orang anak muda yang menyertainya itu dengan tajamnya. Namun orang itupun berkata, “Siapakah nama kalian?”

“Orang memanggilku Ki Pandi. Kedua kemenakanku ini adalah Manggada dan Laksana.”

Penunggu banjar itu mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Pandi lah yang bertanya, “Apakah aku diperkenankan mengenal nama Ki sanak?”

Orang itu menarik nafas panjang. Jawabnya, “Namaku Kerta. Orang memanggilku Kerta Banjar, karena dipadukuhan ini ada tiga orang yang bernama Kerta.”

Ki Pandi pun mengangguk-angguk. Namun ia masih juga bertanya, “Tetapi tadi Ki Kerta mengatakan bahwa kami datang pada waktu yang kurang baik.”

“Ya, Ki Pandi” jawab penunggu banjar itu, “dalam waktu terakhir ini, padukuhan kami sedang dibayangi oleh ancaman yang mencemaskan seisi padukuhan.”

“Apa yang telah terjadi?”

“Dipadukuhan ini tinggal seorang yang sangat disegani oleh para penghuni padukuhan ini. Ia seorang yang sangat baik. Ia suka menolong sesama dan memberikan bantuan apa saja yang dibutuhkan oleh orang banyak dalam batas kemampuannya.”

Ki Pandi mengangguk-angguk pula.

“Namun pada hari-hari terakhir ini, seorang berkuda telah mencarinya. Seorang yang tidak dikenal.” orang itu melanjutkan.

“Ia bertanya kepada orang-orang padukuhan ini dimana orang yang baik itu tinggal. Orang-orang padukuhan ini yang tidak tahu maksudnya telah menunjukkan tempat tinggal orang yang dicarinya. Tetapi akhirnya kami mengetahui bahwa orang yang mencarinya itu tidak berniat baik.”

“Apa yang akan dilakukannya?” bertanya Ki Pandi.

“Orang berkuda itu menantang untuk berperang tanding.” jawab Ki Kerta Banjar.

“Apa yang ia kehendaki?” bertanya Ki Pandi.

“Kami tidak mengetahuinya. Orang yang kami anggap orang baik dan disegani seisi padukuhan inipun tidak mau mengatakan-nya, persoalan apakah yang membuat orang berkuda itu menantangnya untuk berperang tanding.”

“Apakah keduanya masih terhitung muda, separo baya atau justru sudah memasuki usia tua?” bertanya Ki Pandi kemudian.

“Mereka sudah menjelang masa-masa tua. Orang yang dihormati di padukuhan inipun sudah memasuki hari tuanya. Rambutnya sudah mulai memutih. Demikian pula janggut dan kumisnya.”

“Tetapi apakah orang berkuda itu mengganggu seisi padukuhan ini?” bertanya Ki Pandi.

“Tidak. Orang itu tidak mengganggu seisi padukuhan ini. Tetapi tantangamitu membuat seisi padukuhan ini gelisah. Kami sudah menyatakan keinginan kami untuk membantu. Tetapi orang yang kami segani itu tidak menghendakinya. Ia menganggap bahwa persoalan itu adalah persoalan pribadinya. Karena itu tidak sepantasnya, orang-orang padukuhan ini melibatkan diri.”

“Jika demikian, kenapa seisi padukuhan ini menjadi ketakutan? Bukankah tantangan itu semata-mata ditujukan kepada seseorang?” bertanya Ki Pandi.

“Tetapi seakan-akan orang itu telah menjadi bagian dari kami, seisi padukuhan ini.” jawab Ki Kerta Banjar.

“Siapakah nama orang yang disegani itu?” tiba-tiba saja Ki Pandi bertanya.

Penunggu banjar itu menjadi ragu-ragu pula. Namun kemudian ia menjawab, “Kami, seisi padukuhan ini memanggilnya Ki Sambi Pitu.”

“Sambi Pitu” Ki Pandi mengulang. Wajahnya nampak berkerut. Tetapi kemudian ia menarik nafas dalam-dalam.

Hampir diluar sadarnya, Laksana bertanya, “Ki Pandi mengenal nama itu?”.

Ki Pandi menggeleng sambil menjawab, “Tentu tidak. Yang aku kenali tidak lebih dari tetangga-tetanggaku dan sanak-kadangku.”

Laksana menarik nafas panjang. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Ki Pandi lah yang kemudian berkata, “Ki Kerta. Menurut pendapatku, orang-orang padukuhan ini tidak usah merasa ketakutan. Agaknya ancaman itu semata-mata hanya ditujukan kepada Ki Sambi Pitu saja.”

“Kami tidak dapat memisahkan diri kami dari orang tua itu.” jawab Ki Kerta Banjar.

“Seandainya orang-orang padukuhan ini sudah siap membantu, kenapa mereka menjadi ketakutan?” bertanya Ki Pandi.

“Ki Sanak” berkata Ki Kerta Banjar, “bukankah wajar, jika terjadi benturan kekerasan, maka akan timbul ketakutan? Bahkan orang-orang padukuhan ini terutama perempuan dan anak-anak sudah menjadi ketakutan sejak beberapa hari yang lalu.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi bukankah kehadiran kami tidak menambah kegelisahan yang terjadi di padukuhan ini?”

“Tidak. Tidak Ki Pandi” jawab Ki Kerta Banjar, “jika kalian hanya ingin bermalam disini, silahkan. Tetapi jika kalian mendengar derap kaki kuda itu, kalian jangan. terkejut.”

“Apakah orang berkuda itu sering kali datang?” bertanya Ki Pandi.

“Ya. Tiba-tiba saja kami mendengar derap kaki kuda menjelang tengah malam. Kuda itu berputar-putar di jalan-jalan padukuhan. Namun kemudian derap kaki kuda itu pun menghilang.”

“Setiap malam?” bertanya Manggada.

“Tidak” jawab Ki Kerta, “tetapi sering kali.”

Manggada mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Dalam pada itu, maka Ki Kerta pun kemudian telah mempersilahkan tamunya untuk mengikutinya ke banjar. Ki Kerta telah menunjukkan tempat bagi ketiganya untuk bermalam.

“Serambi ini memang kami sediakan bagi mereka yang singgah dan bermalam di banjar ini” berkata Ki Kerta. Lalu katanya pula, “Di halaman samping terdapat pakiwan. Bawa lampu minyak di sudut itu jika kalian ingin pergi ke pakiwan.”

“Terima kasih Ki Kerta” jawab Ki Pandi.

Namun Laksana sempat bertanya, “Apakah tidak ada anak-anak muda yang bertugas ronda di banjar setiap malam?”

“Sejak orang berkuda itu berkeliaran di padukuhan, maka anak-anak muda tidak meronda di banjar. Tetapi mereka berkumpul di rumah Ki Bekel. Mereka merasa cemas bahwa orang berkuda itu juga memusuhi Ki Bekel.”

Ki Pandi hanya mengangguk-angguk saja. Sementara Ki Kerta kemudian berkata, “Silahkan beristirahat Ki Sanak. Mudah-mudahan kalian tidak merasa terganggu disini.”

“Terima kasih Ki Kerta” jawab Ki Pandi.

Ki Kertapun kemudian meninggalkan ketiga orang itu dise-rambi banjar yang disekat dengan dinding bambu. Diserambi itu terdapat sebuah amben yang agak besar, diterangi sebuah lampu minyak yang berkeredipan.

Sepeninggal Ki Kerta, maka mereka bertiga pun bergantian pergi ke pakiwan. Baru kemudian mereka duduk berbincang-bincang sebelum mereka membaringkan tubuh mereka di amben yang agak besar itu.

Tetapi sebelum mereka sempat berbaring, Ki Kerta telah datang lagi sambil membawa minuman hangat serta nasi beras gaga yang kemerah-merahan.

“Marilah Ki Sanak. Nasinya sudah dingin, tetapi sayurnya sudah dipanasi. Silahkan minum dan makan seadanya.”

“Kami sangat berterima kasih, Ki Kerta. Kami telah membuat Ki Kerta dan keluarga Ki Kerta menjadi sibuk.”

“Bukankah itu sudah merupakan tugas kami?” sahut Ki Kerta.

Ki Pandi, Manggada dan Laksana tidak ingin mengecewakan kebaikan hati Ki Kerta. Karena itu maka mereka pun telah minum dan makan hidangan itu.

“Bukan sekedar agar tidak mengecewakan mereka” desis Laksana, “tetapi aku memang merasa lapar.”

Manggada tersenyum. Katanya, “Aku sudah menduga melihat caramu makan.”

“Apakah kau tidak lapar?” bertanya Laksana. Menggada tertawa sambil berpaling kepada Ki Pandi.

Demikian mereka selesai makan, serta membenahinya dan membawa mangkuk yang kotor ke rumah Ki Kerta, maka mereka telah duduk di tangga banjar padukuhan itu.

Udara memang terasa lebih sejuk di luar daripada di serambi yang disekat dengan dinding bambu itu.

Sementara itu, Ki Pandi pun kemudian berkala, “Aku tidak dapat menjawab pertanyaan kalian dihadapan Ki Kerta, apakah aku mengenal Ki Sambi Pitu. Sebenarnya aku sudah mengenalnya meskipun tidak begitu akrab. Ia memang orang yang baik. Bahkan aku ingin menemuinya dan menanyakan siapakah yang dimaksud dengan orang berkuda oleh Ki Kerta itu.

“Apakah besok kita akan singgah?” bertanya Manggada.

“Ya. Jika kalian tidak berkeberatan, maka kita akan singgah dirumah orang itu. Seharusnya orang seperti Ki Sambi Pitu itu tidak mempunyai musuh. Jika ada orang yang mendendamnya dan bahkan menantangnya untuk berperang tanding, maka persoalannya agaknya sulit dimengerti.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak bertanya lagi.

Ketika mereka sudah merasa lebih segar oleh sejuknya udara malam, maka mereka bertigapun telah kembali kedalam bilik mereka yang panas. Namun mereka pun segera berbaring. Tetapi mereka sudah berjanji, bahwa seorang diantara mereka tidak boleh tidur, bergantian untuk sekedar berjaga-jaga karena mereka berada di tempat yang asing.

Menurut persetujuan mereka, maka yang pertama-tama berjaga-jaga adalah Laksana. Ia akan membangunkan Manggada jika ia sudah menjadi sangat mengantuk lewat tengah malam.

Tetapi ketika Ki Pandi dan Manggada mulai memejamkan mata mereka, maka tiba-tiba saja mereka mendengar derap kaki kuda berlari kencang lewat jalan induk padukuhan itu. Derap kaki kuda itu terasa bagaikan mengguncang tiang-tiang banjar yang berdiri dipinggir jalan induk itu.

“Itulah yang dikatakan oleh Ki Kerta” desis Ki Pandi yang kemudian bangkit dan duduk bersandar dinding.

“Mudah-mudahan perang tanding itu tidak terjadi malam ini,“ berkata Manggada.

“Ya” sahut Laksana, “sehingga kita besok masih mempunyai kesempatan untuk berbincang dan mengetahui, siapakah yang telah menantangnya untuk berperang tanding.”

“Tetapi orang yang menantangnya itu sudah sering memacu kudanya berputar-putar di padukuhan ini. Namun perang tanding itu masih juga belum terjadi.” desis Manggada.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi ia justru menjadi gelisah.

Tiba-tiba saja ia berkata, “Biarlah kalian tinggal disini. Aku akan melihat, apa yang terjadi.”

“Apakah Ki Pandi akan pergi kerumah orang itu?” bertanya Manggada.

“Ya” jawab Ki Pandi, “tetapi aku tidak akan menemuinya sekarang.”

“Apakah Ki Pandi sudah mengetahui letak rumahnya?” bertanya Laksana.

“Belum” jawab Ki Pandi, “tetapi biarlah aku mencarinya. Kita tahu arah derap kaki kuda yang lewat tadi. Jika kuda itu berderap lagi lewat jalan ini, maka suara derap kakinya akan dapat aku pergunakan sebagai ancar-ancar untuk menemukan rumahnya yang agaknya juga berada ditempat yang mudah diketemukan.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk mengiakan. Mereka menyadari, bahwa sebaiknya mereka memang tinggal di banjar karena jika terjadi sesuatu mereka tidak justru menjadi beban Ki Pandi.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Pandi telah meninggalkan banjar itu dengan diam-diam. Ia menyelinap keluar dari halaman dan berjalan di kegelapan.

Ki Pandi tahu bahwa seperti di banjar, maka gardu-gardu perondan pun menjadi sepi.

Tetapi justru karena itu, tidak seorang pun yang dapat ditanya, dimana rumah Ki Sambi Pitu. Bahkan seandainya ada beberapa orang digardu, pertanyaan tentang letak rumah Ki Sambi Pitu akan dapat menimbulkan persoalan.

Ki Pandi tertarik ketika ia mendengar lagi derap kaki kuda. Ternyata sejenak kemudian maka derap kaki kuda di malam yang sepi itu justru melingkar sehingga kuda itu seakan-akan ingin menyusul perjalanan Ki Pandi.

Dengan cepat Ki Pandi berusaha untuk meloncati dinding halaman yang tidak terlalu tinggi, sehingga demikian kuda itu lewat, maka Ki Pandi sudah berada di balik dinding.

Namun demikian kuda itu berderap, maka Ki Pandi pun dengan cepat telah meloncat turun kembali di jalan dan berlari menyusul derap kaki kuda itu.

Tetapi Ki Pandi tidak perlu berlari terlalu jauh. Ia memperlambat larinya ketika ia menyadari bahwa kuda itu sudah berhenti beberapa puluh langkah saja dihadapannya.

Ki Pandi menyadari, bahwa ia harus sangat berhati-hati. Orang berkuda yang sudah berani menantang Ki Sambi Pitu itu tentu orang yang berilmu sangat tinggi.

Karena itu, maka Ki Pandi pun kemudian telah meloncat pula ke halaman samping. Ia merasa lebih aman untuk mendekati orang berkuda itu lewat halaman, menyusup diantara beberapa batang pepohonan daripada lewat jalan yang terbuka.

Ki Pandi berhenti dihalaman sebelah. Dengan sangat berhati-hati ia memperhatikan seseorang yang berdiri di sebuah halaman yang tidak begitu luas, yang ditanami beberapa batang pohon bunga ceplok piring dan bunga soka. Baunya semerbak di malam hari.

Dari tempatnya bersembunyi Ki Pandi mendengar orang yang berdiri di halaman itu berkata keras-keras tanpa ragu, bahwa suaranya itu dapat didengar oleh tetangga Ki Sambi Pitu, “He, dengar Ki Sambi Pitu. Aku memperingatkanmu. Dua malam lagi, aku menunggumu di bulak Parapat. Kita akan membuat perhitungan sampai tuntas. Hutangmu harus kau bayar bersama bunganya sekali.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya dendam membara dihati orang yang menantang Ki Sambi Pitu itu.

Dengan jantung yang berdebaran Ki Pandi melihat dari halaman sebelah, pintu rumah itu terbuka. Sesosok tubuh melangkah keluar dan berdiri di tangga sambil menjawab, “Kau selalu menggangguku Ki Lemah Teles. Sudah aku katakan, bahwa dua malam lagi aku akan pergi ke bulak Parapat. Aku terima tantanganmu meskipun aku tidak pernah mengakui mempunyai hutang apapun kepadamu.”

“Jangan mengigau. Banyak orang yang tidak mengakui hutangnya kepada orang lain atau sengaja melupakannya. Tetapi orang yang mempunyai piutang tentu bersikap lain.”

”Terserah apa saja alasan-mu. Aku tahu semuanya itu sekedar kau pergunakan untuk memancing perang tanding. Sudah aku katakan bahwa kau tidak perlu memakai alasan apapun juga. Kita akan berperang-tanding di bulak Parapat dua malam mendatang. Sekarang pergi-lah, biar aku dapat tidur nyenyak. Derap kaki kudamu telah mengganggu dan membangunkan anak-anak yang tidur di pelukan ibunya. Sementara mereka tidak tahu menahu tentang persoalan kita.”

Orang yang disebut Ki Lemah Teles itu tidak menjawab. Ia-pun melangkah keluar dari halaman dan langsung meloncat ke punggung kudanya.

Ketika kemudian sosok yang berdiri di tangga itu masuk kembali kedalam rumahnya, maka Ki Pandi pun telah merenungi peristiwa yang dilihatnya itu

Ternyata Ki Pandi telah mengenal kedua orang yang bermusuhan itu. Ia mengenal Ki Sambi Pitu. Iapun mengenal Ki Lemah Teles pula. Dua orang yang berilmu sangat tinggi.

Namun yang tidak diketahuinya adalah sebab dari pertengkar-an di antara mereka berdua.

Tetapi Ki Pandi itu pun segera menyadari dirinya, bahwa ia berada di halaman orang. Karena itu maka iapun segera beringsut meninggalkan tempat itu.

Ki Pandi itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar derap kaki kuda itu lagi. Ternyata Ki Lemah Teles tidak segera pergi dari padukuhan itu. Tetapi kudanya masih saja berlari-larian berputar-putar di jalan-jalan padukuhan.

“Orang aneh” desis Ki Pandi.

Karena itu, maka Ki Pandi itu pun berjalan dengan hati-hati. Ia harus memasang telinganya, agar ia tidak dengan tiba-tiba saja bertemu, berpapasan di simpang tiga atau simpang ampat atau didahului oleh orang berkuda itu.

Ketika Ki Pandi kemudian telah berada di banjar lagi dan duduk diamben yang agak besar itu bersama Manggada dan Laksana, maka ia pun telah menceriterakan apa yang lelah dilihatnya.

“Bagaimana menurut pendapat Ki Pandi?” bertanya Manggada, “apa yang dimaksud dengan hutang Ki Sambi Pitu kepada Ki Lemah Teles itu?”

Ki Pandi menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu. Tetapi menurut Ki Sambi Pitu, agaknya Ki Lemah Teles sekedar mencari persoalan untuk menantangnya berperang tanding.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Namun Laksana pun kemudian bertanya pula, “Apakah Ki Lemah Teles menurut pengenalan Ki Pandi seorang yang jahat?”

Ki Pandi menggeleng. Katanya, “Tidak. Ki Lemah Teles juga bukan seorang yang jahat. Tetapi dua orang yang baik hati sekalipun pada suatu saat akan dapat berselisih pendapat, bertentangan kepentingannya atau justru mempunyai kepentingan yang sama terhadap sesuatu hal atau persoalan-persoalan yang lain.”

“Tetapi jika bukan persoalan yang mendasar, keduanya tentu tidak akan memasuki perang tanding” berkata Manggada.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Tentu ada persoalan yang mendasar. Karena itu, biarlah besok kita singgah sebentar dirumah Ki Sambi Pitu.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Keduanya memang menjadi tertarik oleh persoalan yang timbul diantara orang-orang yang berilmu tinggi itu.

Namun kemudian Ki Pandi pun berkata, “Tidurlah, hari sudah larut. Biarlah aku yang berjaga-jaga.”

“Ki Pandi tentu letih. Biarlah kami berdua bergantian” jawab Manggada.

“Aku dapat tidak memejamkan mata selama sepekan terus-menerus siang dan malam. Bahkan lebih.” jawab Ki Pandi sambil tersenyum.

Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka percaya kata-kata Ki Pandi itu.

Karena itu, maka Manggada dan Laksana pun kemudian telah berbaring di amben itu. Mereka masih sempat berangan-angan sejenak. Namun kemudian keduanya pun telah tertidur nyenyak.

Pagi-pagi sekali ketiga orang itu sudah bangun. Mereka segera mengisi jambangan untuk mandi bergantian. Sebelum matahari terbit, ketiganya sudah siap untuk melanjutkan perjalanan.

Tetapi ketika mereka minta diri, Ki Kerta Banjar telah mempersilahkan mereka minum minuman hangat. Rebus ketela yang masih mengepulkan asap, baunya menyentuh hidung Manggada dan Laksana.

Keduanya sempat berpandangan dan menahan senyum dibibir mereka.

Baru setelah mereka bertiga minum dan makan ketela rebus itu, maka mereka telah dilepas oleh Ki Kerta Banjar untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak mengatakan bahwa mereka ingin singgah dirumah Ki Sambi Pitu.

Ketiga orang itu pun kemudian melangkah meninggalkan banjar padukuhan. Matahari yang terbit, memancarkan sinarnya yang cerah. Satu dua titik embun masih bergayutan di ujung dedaunan yang merunduk.

Manggada dan Laksana berjalan dibelakang Ki Pandi yang melangkah berbongkok-bongkok. Burung-burung yang berkicau membuat suasana pagi menjadi gembira.

Orang-orang padukuhan itu yang sudah mulai turun ke jalan-jalan, melihat ketiga orang itu dengan dahi berkerut. Mereka yang akan pergi ke pasar atau pergi ke sawah, menganggap Ki Pandi, Manggada dan Laksana sebagai orang-orang asing. Namun ada di-antara mereka yang memang menduga, bahwa ketiganya adalah pejalan yang telah menginap di banjar padukuhan mereka.

“Tentu bukan orang berkuda itu” desis seseorang kepada kawannya yang berjalan disampingnya sambil membawa cangkul, karena keduanya memang akan pergi ke sawah.

Ki Pandi dan kedua anak muda itu berjalan termangu-mangu. Sekali-sekali jika tatapan mata mereka bertemu dengan orang-orang padukuhan itu yang menandangi mereka, maka merekapun telah menganggukkan kepala.

Seperti yang mereka rencanakan, maka mereka pun telah menyusuri jalan padukuhan menuju ke rumah Ki Sambi Pitu. Kedatangan mereka di hari yang masih terhitung pagi itu memang mengejutkan.

Seorang yang rambutnya sudah ditumbuhi uban yang keputih-putihan itu termangu-mangu sejenak ketika ia melihat seorang yang berjalan terbongkok-bongkok memasuki halaman rumah-nya.

“Ki Bongkok” desis orang itu.

“Apakah kau masih dapat mengenali aku, Ki Sambi Pitu?”

“Tentu, tentu Ki Bongkok. Marilah, naiklah” berkata Ki Sambi Pitu.

Ki Pandi pun kemudian telah naik kependapa rumah Ki Sambi Pitu yang tidak terlalu besar. Berbeda dengan pendapa rumah pada umumnya yang berbentuk joglo, maka pendapa rumah Ki Sambi Pitu yang tidak begitu besar itu dibuat dalam bentuk limasan, sehingga kesannya menjadi lebih sederhana.

“Setelah mereka saling mempertanyakan keselamatan masing-masing, maka Ki Sambi Pitu itupun bertanya, “Ki Bongkok. Aku merasa aneh bahwa tiba-tiba saja Ki Bongkok telah mengunjungi aku. Apalagi hari masih sepagi ini.”

Ki Pandi mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Aku minta maaf, Ki Sambi Pitu, bahwa di hari yang masih pagi ini aku sudah mengganggu ketenangan Ki Sambi Pitu.”

“Tidak, Ki Bongkok. Aku sama sekali tidak merasa terganggu. Aku senang mendapat kunjungan seseorang di hari tuaku. Rasa-rasanya hidup menjadi semakin sepi. Tetapi kedatangan Ki Bongkok membuat aku merasa bahwa aku tidak hidup sendiri dan terasing disini.”

“Bukankah sikap orang-orang padukuhan ini baik terhadap Ki Sambi Pitu?”

“Baik. Baik sekali. Aku merasa berada diantara keluarga sendiri.” Ki Sambi Pitu berhenti sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi kunjungan Ki Bongkok yang datang dari dunia yang pernah kami huni bersama, rasa-rasanya hidup ini masih tersisa.”

“Bukankah bukan aku satu-satunya orang yang sering berkunjung kerumah Ki Sambi Pitu?”

“Tidak ada, Ki Bongkok. Justru itu aku merasa bahwa segala sesuatunya sudah lewat.”

“Tentu tidak Ki Sambi Pitu. Aku yang kurang-lebih sebaya dengan Ki Sambi Pitu merasa bahwa hidupku masih berarti. He, bukankah itu tergantung kepada kita sendiri?”

“Ya. Ya. Aku juga mencoba memberi arti dari sisa hidupku ini bagi tetangga-tetanggaku yang baik di padukuhan ini. Tetapi karena rasa-rasanya kami datang dari dunia yang berbeda, maka kehadiran seseorang dari dunia kita, membuat aku sangat bergembira hari ini.”

“Ki Sambi Pitu. Bukankah Ki Lemah Teles juga sering berkunjung kemari?”

“O” Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk, “Ya. Ki Lemah Teles memang sering datang kemari. Tetapi ia lebih banyak mengganggu daripada satu kunjungan seorang sahabat.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berkata, “Maaf, Ki Sambi Pitu. Apakah Ki Lemah Teles sering datang mengganggu Ki Sambi Pitu?”

“Ya. Tetapi aku senang. Meskipun ia datang mengganggu, tetapi justru karena itu, maka aku menganggap bahwa ia masih menghargai aku yang pernah hidup di dunia pada tataran yang sama dengan Ki Lemah Teles itu sendiri.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata, “Apa saja yang dilakukan oleh Ki Lemah Teles sehingga Ki Sambi Pitu merasa terganggu karenanya?”

Ki Sambi Pitu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata, “Ki Lemah Teles masih selalu mengajak bergurau dihari-hari tua.”

Ki Pandi masih ingin bertanya lebih jauh. Tetapi Ki Sambi Pitu telah lebih dahulu bertanya, “Ki Bongkok, siapakah nama kedua orang anak muda itu?”

“Mereka adalah kemanakanku, Ki Sambi Pitu” jawab Ki Pandi.

“Kau tidak usah berbohong kepadaku” desis Ki Sambi Pitu, “keduanya tentu bukan kemanakanmu.”

Ki Pandi tertawa. Katanya, “Siapapun mereka, tetapi mereka sekarang bersamaku. Namanya Manggada dan Laksana.”

Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya, “Anak-anak yang kokoh.”

“Mereka ingin melihat-lihat tempat yang jauh yang belum pernah dilihatnya. Semalam kami sampai di padukuhan ini. Kami minta belas kasihan kepada Ki Kerta Banjar untuk bermalam di banjar padukuhan.”

“Itu sebabnya, maka kalian sepagi ini sudah berada disini. Tetapi siapakah yang memberitahukan kepada kalian bahwa aku tinggal disini?”

“Suara kuda yang berderap mengelilingi padukuhan inilah yang menuntun aku sampai ke rumah ini.”

“Jadi kau tentu tahu apa yang telah terjadi.”

Ki Pandi tidak ingkar. Karena itu, maka iapun mengangguk sambil menjawab, “Ya. Aku mendengar pembicaraan kalian. Aku minta maaf atas keinginan tahuku itu.”

“Tidak apa-apa. Setiap orang berhak mengetahuinya, karena Ki Lemah Teles dengan sengaja berteriak-teriak.”

“Karena persoalan yang kurang aku mengerti itulah, maka aku memerlukan datang kepadamu pagi ini.” berkata Ki Pandi kemudian.

Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk. Katanya dengan nada rendah, “Apakah kau ingin tahu kenapa Ki Lemah Teles menantang aku berperang tanding?”

Ki Pandi mengangguk kecil. Katanya, “Ya. Menurut pendapatku, kau dan Ki Lemah Teles tidak akan berbenturan kepentingan. Kalian saling mengenal sejak lama. Seandainya ada persoalan, tentu sudah kalian selesaikan sebelum rambut kalian mulai ditumbuhi uban seperti sekarang ini.”

Ki Sambi Pitu menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya yang semula nampak cerah, telah berkerut dan nampak bersungguh-sungguh.

“Ia menganggap aku berhutang kepadanya.” berkata Ki Sambi Pitu, “sebelumnya ia memang tidak pernah menyebut-nyebutnya. Namun tiba-tiba ia datang minta aku melunasi hutangku dengan menantang untuk berperang tanding.”

“Apakah yang dimaksud dengan hutang itu?” bertanya Ki Pandi.

“Itulah yang membuat aku bingung” jawab Ki Sambi Pitu.

“Ternyata kau terima tantangannya” desis Ki Pandi.

“Ya. Aku menganggapnya satu kehormatan bahwa ia masih menghargai kemampuanku sama dengan dirinya.” jawab Ki Sambi Pitu.

“Tetapi bukankah itu tidak bijaksana?” bertanya Ki Pandi.

“Justru aku merasa bahwa sisa hidupku masih berarti. Kalah atau menang, hidup atau mati, tidak penting bagiku. Tetapi aku masih sempat untuk menerima penilaian yang tinggi dari Ki Lemah Teles., “jawab Ki Sambi Pitu.

Ki Pandi mengerutkan dahinya. Ternyata jalan pikiran Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles hampir bersamaan justru di hari tua mereka. Agaknya justru karena keduanya adalah orang-orang penting dan dihormati, sehingga mereka merasa, bahwa akhirnya mereka tercampak dan tidak berarti apa-apa lagi bagi dunia yang pernah menjadi lingkungan .hidupnya sebagai orang-orang berilmu tinggi.

Dalam pada itu, maka pembicaraan mereka pun terputus. Seorang pembantu dirumah Ki Sambi Pitu telah menghidangkan minuman panas bagi tamu-tamunya.

Untuk selanjutnya, Ki Sambi Pitu justru mencoba untuk menghindari pembicaraan tentang tantangan Ki Lemah Teles itu. Dipersilahkannya ketiga orang tamunya untuk minum. Sementara itu, Ki Sambi Pitu mulai berceritera tentang masa mudanya yang panjang serta masa muda Ki Pandi yang bongkok itu menurut pengenalannya.

Namun tiba-tiba saja Ki Sambi Pitu bertanya, “Dimana binatang peliharaanmu itu? Kau sembelih ketika kau kelaparan?”

“Tentu tidak” jawab Ki Pandi, “aku tinggalkan keduanya disebuah hutan yang aku anggap aman bagi keduanya.”

Ki Sambi Pitu tertawa. Katanya, “Seharusnya kau mencari lagi anak harimau, atau anak orang hutan atau bahkan anak gajah, kau ajari binatang-binatang itu menurut segala perintahmu”

“Kau..” Ki Pandi tertawa, sementara Ki Sambi Pitu berkata selanjutnya, “Kau akan menjadi seorang raja di hutan, karena kau akan dapat menguasai segala-galanya jika binatang-binatang terkuat menjadi pendukungmu. Kau dapat memaksakan kehendakmu terhadap seisi hutan karena binatang-binatang yang lebih kecil dan lemah tidak akan berani melawanmu.”

Ki Pandi tertawa semakin keras. Manggada dan Laksana pun tertawa pula.

Namun dengan demikian, maka Ki Pandi menjadi sulit untuk mencari jalan kembali pada pembicaraan mereka tentang Ki Lemah Teles. Apalagi Ki Sambi Pitu selalu berusaha menghindari pembicaraan itu.

Karena itu, maka akhirnya Ki Pandi justru minta diri untuk melanjutkan perjalanan mereka.

“Terima kasih akan kunjungan kalian” berkata Ki Sambi Pitu, “aku masih berharap bahwa kalian masih sudi singgah dirumahku ini. Dengan kehadiran mereka yang sebaya dengan aku, maka rasa-rasanya aku tidak terlalu terpisah dari duniaku.”

“Kau sudah mendapatkan dunia yang baru, Ki Sambi Pitu” berkata Ki Pandi, “dunia yang lebih baik. Lebih sejuk dan tentu te-rasadamai. Ternyata yang mengguncang kedamaian hidupmu diduniamu yang baru itu adalah orang-orang yang datang dari duniamu yang kau anggap sudah meninggalkanmu itu.”

Ki Sambi Pitu mengerutkan dahinya. Ia nampak merenung. Namun kemudian sambil menarik nafas ia berkata, “Mungkin kau benar Ki Bongkok. Tetapi kadang-kadang sulit bagi kita untuk berbicara sekedar berpijak pada nalar.”

Ki Pandi mengangguk. Katanya, “Ya. Kau juga benar.” Demikianlah maka Ki Pandipun telah meninggalkan Ki Sambi Pitu. Bertiga mereka menyusuri jalan keluar dari padukuhan itu, memasuki bulak persawahan yang luas.

Matahari sudah menjadi semakin tinggi. Orang-orang yang bekerja di sawah mulai berkeringat.

Dari ujung padukuhan terdengar suara orang menumbuk padi. Lenguh anak lembu berbaur dengan tangis bayi yang minta minum susu ibunya.

Ki Pandi, Manggada dan Laksana berjalan menyusuri jalan ditengah-tengah kotak-kotak sawah yang terbentang luas. Seorang petani berdiri sambil meneguk air sejuk dari sebuah gendi yang terbuat dari tanah liat.

Ternyata Ki Pandi sambil lalu sempat bertanya kepada seseorang, “Apakah Ki Sanak mengetahui, dimanakah letak Bulak Parapat?”

“Apakah Ki Sanak akan pergi ke sana?” bertanya orang itu.

“Ya” jawab ki Pandi.

“Untuk apa?” orang itu nampak keheranan.

“Tidak apa-apa. Sekedar melihat-lihat.” jawab Ki Pandi.

Kening orang itu berkerut. Dengan nada tinggi ia berkata, “Bulak Parapat adalah nama sebuah hutan perdu yang membentang dibawah bukit kecil itu.”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Seperti juga Manggada dan Laksana ia mengira bahwa Bulak Parapat adalah sebuah bulak persawahan sebagaimana sedang dilaluinya itu. Namun ternyata Bulak Parapat adalah nama sebuah hutan perdu di lereng bukit kecil,

Namun Ki Pandi yang cepat berpikir itu segera menyahut, “Terima kasih Ki Sanak.”

“Tetapi apa kepentingan kalian dengan Bulak Parapat?” orang itu masih mendesak.

“Kami adalah pembuat gerabah dari tanah liat. Kami ingin membuktikan, apakah benar kata orang, bahwa tanah liat di Bulak Parapat lebih baik dari tanah liat dari tempat yang lain.”

Ternyata jawab orang itu tidak disangka-sangka, “Mungkin keterangan itu benar. Bukit kecil itu seluruhnya terdiri dari tanah liat yang warnanya merah agak keputih-putihan. Aku tidak tahu, apakah itu termasuk tanah liat yang baik atau bukan.”

“Dengan jari-jari kita dapat mengetahui, apakah tanah liat itu baik atau tidak, lembut atau kasar, keras atau lentur.” sahut Ki Pandi.

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Jika ternyata tanah liat di bukit itu baik, maka tempat itu tentu akan menjadi ramai.”

“Terima kasih Ki Sanak” berkata Ki Pandi kemudian, “aku akan pergi ke bukit kecil itu untuk melihat, apakah tanah liat disana cukup baik.”

Ki Pandi pun kemudian mengajak Manggada dan Laksana untuk meneruskan perjalanan. Namun orang yang telah menunjukkan letak Bulak Parapat itu berkata, “Jalan ini yang harus kalian tempuh. Bukan kesana.”

“Terima kasih Ki Sanak. Nanti kami akan pergi ke bukit itu. Tetapi kami masih mempunyai sedikit kepentingan yang lain.” sahut Ki Pandi.

Orang itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Ki Pandi, Manggada dan Laksana kemudian telah meneruskan langkah mereka. Namun kemudian Ki Pandi pun telah membuat rencana. Pada saat perang tanding itu dilaksanakan dua malam lagi, mereka bertiga akan berada di Bulak Parapat itu.

“Lalu kita sekarang akan pergi kemana? Tentunya kita masih belum langsung menuju ke Jatimalang.”

“Belum” jawab Ki Pandi. Lalu katanya kemudian, “Bukankah kita terbiasa tidur dimana pun juga. Jika kita ingin sedikit bermanja-manja, kita dapat menginap di banjar padukuhan. Tetapi, jika tidak, maka kita dapat saja tidur di pinggir hutan, di pategalan atau bahwa di Bulak Parapat itu sekali.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sebenarnya mereka memang ingin segera melihat kembali hutan Jatimalang, dan terutama lereng kaki Gunung Lawu dibelakang hutan Jatimalang itu. Tetapi mereka sadar, jika mereka memaksa juga untuk berangkat, Ki Pandi tentu akan menjadi sangat kecewa.

Karena itu, maka Manggada dan Laksanapun tinggal menurut saja, kemana Ki Pandi akan pergi.

“Kita masih mempunyai waktu” berkata Ki Pandi tiba-tiba, “untuk memanfaatkan waktu itu sebaik-baiknya, maka kita tidak usah berada terlalu jauh dari hutan Bulak Parapat itu.”

Demikianlah, sambil menunggu, Ki Pandi telah mengajak Manggada dan Laksana menuju ke hutan kecil tidak begitu jauh dari Bulak Parapat. Di hutan itu Ki Pandi telah mempergunakan waktunya yang dua hari itu untuk membimbing Manggada dan Laksana memperdalam ilmu yang mereka miliki. Ternyata bahwa keduanya telah meningkat semakin jauh dari dasar ilmu yang mereka warisi dari Ki Citrabawa. Meskipun demikian, bagi Manggada dan Laksana, ilmu yang mereka terima dari Ki Citrabawa merupakan alas ilmu mereka yang kemudian berkembang semakin tinggi.

Selama dua hari ketiga orang itu keluar dari hutan. Mereka memburu binatang dan membuat perapian. Meskipun mereka tidak lagi melakukan Tapa Ngidang, namun ternyata yang dua hari itu dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Manggada dan Laksana.

Meskipun ketiga orang itu tidak berkepentingan langsung dengan perang tanding yang bakal terjadi antara Ki Sambi Pitu dengan Ki Lemah Teles, namun ternyata mereka ikut menjadi tegang ketika saat-saat yang ditentukan itu tiba.

Ki Pandi yang sudah melihat-lihat hutan perdu yang disebut Bulak Parapat itu dapat menduga, dimana perang tanding itu akan dilakukan. Didalam lingkungan hutan perdu itu terdapat sepetak tanah yang lebih lapang dari yang lain tidak ditumbuhi pohon-pohon perdu dan bahkan semak-semak berduri.

Sejak senja turun, maka Ki Pandi telah menempatkan Manggada dan Laksana di antara pohon-pohon perdu yang rapat, yang dapat melindungi mereka, sehingga tidak mudah dilihat oleh orang yang lewat dekat mereka sekalipun.

Ki Pandi juga sudah mengajari, bagaimana mereka harus mengatur pernafasan mereka, agar dapat menyerap bunyi tarikan nafas mereka sedalam-dalamnya sehingga suaranya tidak lebih dari gesekan daun-daun yang paling lembut.

Malam itu ternyata langit jernih. Yang nampak hanyalah bintang-bintang yang berhamburan. Selembar awan tipis terbang melintas dan lenyap di cakrawala.

Ketika malam menjadi semakin dalam, Manggada dan Laksana mulai menjadi gelisah. Kulit mereka mulai terasa gatal digigit nyamuk yang buas di hutan perdu itu.

Ki Pandi yang melihat gelagat itupun berkata, “Belum tengah malam. Kita harus sabar menunggu. Kesabaran merupakan salah satu syarat bagi keberhasilan.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sebenarnyalah menjelang tengah malam, maka mereka telah mendengar derap kaki kuda memasuki hutan perdu itu. Seperti yang diperhitung-kan oleh Ki Pandi, maka orang berkuda itu melintasi semak-semak dan gerumbul-gerumbul perdu disela-sela batang ilalang, menuju ketempat yang lebih lapang dari lingkungan disekitarnya. Beberapa saat kudanya berputar-putar. Namun kemudian orang itu telah meloncat turun dan mengikat kudanya pada pohon batang perdu dipinggir tempat yang lapang itu.

Untuk beberapa saat, orang itu menunggu. Ketika ia mulai gelisah, maka didengarnya suara tembang yang ngelangut. Suara tembang itu seakan-akan menyelusuri hutan perdu yang tidak terlalu luas yang membentang didekat sebuah bukit kecil.

Orang berkuda yang berdiri termangu-mangu itupun tiba-tiba saja telah berteriak, “He, kau orang yang licik. Aku hampir jemu menunggumu. Cepat, kemarilah. Aku tidak mempunyai banyak waktu.”

Suara tembang itu masih terdengar. Semakin lama nadanya seakan-akan menjadi semakin tinggi, melengking di sepinya malam. Menggetarkan udara membentur lereng bukit.

Orang berkuda itu berteriak sekali lagi, “Cepat, aku sudah jemu menunggumu. Jika kau merasa ketakutan untuk menerima tantanganku, maka datanglah berlutut dan mohon ampun atas segala kesalahanmu. Maka hutangmu pun akan aku anggap lunas.”

Suara tembang itu menjadi semakin perlahan. Akhirnya suara itupun berhenti sama sekali.

Ternyata beberapa saat kemudian, seseorang melangkah mendekati orang yang datang berkuda itu. Manggada dan Laksana yang melihat semuanya dari jarak yang tidak terlalu dekat, segera dapat membedakan. Orang yang datang berkuda itu tentu Ki Lemah Teles. Sedangkan orang yang sempat melontarkan tembang itu tentu Ki Sambi Pitu.

Meskipun tidak ada bulan dilangit, namun keredipan bintang dapat membantu Manggada dan Laksana melihat kedua orang yang berdiri ditempat terbuka itu. Ternyata bahwa Ki Lemah Teles adalah seorang yang bertubuh kecil, dapat disebut pendek menurut ukuran yang wajar. Sementara Ki Sambi Pitu adalah seorang yang ukuran tubuhnya sedang-sedang saja sebagaimana orang kebanyakan.

“Nah” berkata Ki Lemah Teles, “sekarang katakan, apakah kau akan membayar hutangmu, atau kau akan mohon ampun atau kita akan berperang tanding.”

”Ki Lemah Teles” jawab Ki Sambi Pitu, “sudah aku katakan, bahwa tanpa alasan apapun kau dapat menantang aku untuk berperang tanding. Karena itu, kau tidak usah menyebut-nyebut tentang hutang itu, karena sebenarnya aku tidak mengerti sama sekali, apa yang kau maksud dengan hutangku dan yang sudah kau sebut lebih dari seribu kali itu.”

“Sudah aku katakan, orang yang mempunyai hutang kadang-kadang dengan sengaja melupakannya atau berpura-pura lupa.”

“Lupa atau berpura-pura lupa atau apapun yang kau katakan, sekarang aku minta kau sebut, berapa hutangku kepadamu dan atas dasar apa kau nilai apa yang kau sebut dengan hutang itu.” berkata Ki Sambi Pitu.

Ki Pandi, Manggada dan Laksana masih harus menahan diri serta mengatur pernafasan mereka, ahar kehadiran mereka tidak diketahui oleh kedua orang yang akan berperang tanding itu.

Dalam pada itu, Ki Lemah Teles pun kemudian berkata, “Baiklah. Jika kau ingin aku menyebut hutangmu.” Ki Lemah Teles berhenti sejenak. Lalu katanya pula, “Kau ingat, ketika kita sama-sama muda, maka diantara kita berdiri seorang gadis cantik, anak perempuan seseorang yang sama-sama kita hormati, karena sikap lahir dan batinnya.”

“Setan kau Lemah Teles. Kau masih mengungkit persoalan itu? Persoalan yang sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. Sekarang rambut kita sudah memutih dan umur kita tinggal sepanjang umur jagung, kau sebut lagi persoalan yang sudah kita lupakan itu.”

“Jangan berkata seperti itu. Baru sekarang kau merasa betapa getirnya akibat dari persoalan yang terjadi puluhan tahun yang lalu itu.”

“Peristiwa getir yang mana yang kau maksudkan?”

“Ternyata karena gadis itu kau curi dari sisiku, maka aku harus menikmati perempuan lain.”

“Siapa yang mencuri gadis itu? Gadis itu mencintai aku. Tidak mencintaimu.” Namun suara Ki Sambi Pitu merendah, “alangkah memalukan untuk berbicara tentang seorang gadis pada saat rambut kita mulai beruban.”

“Tetapi akibatnya terasa amat pahit. Karena aku harus menikahi perempuan lain, yang baru kemudian aku ketahui, bahwa menurut perhitungan hari kelahirannya dan hari kelahiranku tidak sesuai, maka meskipun aku mempunyai tiga orang anak, tetapi tidak seorang pun yang tinggal hidup. Ketiga anakku meninggal pada umur yang berbeda-beda. Seorang diantara mereka meninggal saat dilahirkan. Seorang meninggal ketika berumur ampat belas tahun. Hanyut disebuah sungai yang banjir. Sedangkan anakku yang satu lagi, meninggal beberapa tahun yang lalu. ia terbunuh saat anakku itu justru melindungi seorang pedagang yang sedang dirampok. Anakku berdua dengan pedagang itu harus bertempur melawan lebih dari tujuh orang perampok yang garang.” suara Ki Lemah Teles merendah, “sekarang aku hidup sendiri.”

“Bukankah kau mempunyai cucu dari anakmu yang baru saja meninggal itu?” bertanya Ki Sambi Pitu.

“Aku mempunyai dua orang cucu.” jawab Ki Lemah Teles.

“Jika demikian, bukankah kau tidak sendiri? Kau dapat hidup dengan kedua orang cucumu yang dapat kau anggap sebagai anakmu.”

“Aku tidak dapat memiliki kedua cucuku itu.” berkata Ki Lemah Teles.

“Kenapa?” bertanya Ki Sambi Pitu.

“Keduanya berada dirumah kakek dan nenek mereka. Maksudku ayah dan ibu menantuku. Mereka orang-orang kaya yang akan dapat menghidupi kedua cucuku itu jauh lebih baik daripada keduanya hidup bersamaku.”

“Bagaimana dengan isterimu?”

“Jika saja ia masih hidup, meskipun hari kelahirannya tidak sesuai dengan hari kelahiranku, namun aku tentu tidak akan menjadi kesepian seperti ini.”

“Jadi kau mencari kesalahan atas kematian anak-anakmu itu pada hari, kelahiranmu dan hari kelahiran isterimu?”

“Ya. Tetapi letak kesalahan sebenarnya adalah padamu. Seandainya tidak kau rampas gadis itu. Ia akan menjadi isteriku. Anak-anakku tidak akan mati dan cucu-cucuku tidak akan diambil oleh keluarga menantuku.”

“Kau sudah gila” geram Ki Sambi Pitu, “aku juga kehilangan segala-galanya. Aku justru menganggap nasibmu lebih baik dari nasibku. Aku dan isteriku, gadis yang pernah kau cintai itu, tidak pernah mempunyai seorang anakpun. Kami belum pernah merasakan kebahagiaan seorang ayah dan ibu yang menimang anaknya. Apalagi kemudian isteriku itu mati muda oleh penyakit yang tidak pernah aku ketahui sampai sekarang. Nah, apakah kau masih akan menyebut aku mempunyai hutang kepadamu?”

“Jika kau tidak mempunyai anak itu karena salahmu. Kaulah yang mandul. Dan perempuan itu mati karena hatinya tersiksa oleh kesepiannya, sementara hidupmu kau habiskan merayapi lereng gunung dan menyusuri sungai-sungai yang panjang. Kau kira dengan caramu kau akan menjadi orang yang tidak terkalahkan di-muka bumi ini.”

“Kau kira aku meninggalkan isteriku untuk sekedar mencari kesenangan, membiarkan ketamakan tumbuh subur didalam hati atau keserakahan yang tidak terkendali? Aku pergi kesegala sudut bumi untuk mencari seorang tabib yang mampu menyisihkan kemandulan kami. Aku atau isteriku. Tetapi semuanya sia-sia.”

“Kau kira keluhanmu itu dapat meruntuhkan belas kasihanku? Aku justru menganggap hutangmu semakin besar karena kau telah menyia-nyiakan gadis yang kau rebut dari sisiku ini.”

“Cukup, cukup” Ki Sambi Pitu tiba-tiba saja berteriak, “sekarang kau mau apa? Kau tidak usah mengungkit apapun untuk menantang aku bertempur. Marilah, aku sudah siap. Apakah kau ingin kita bertempur dengan senjata atau tidak atau kita akan saling menggigit.”

“Setan kau Sambi Pitu. Bersiaplah. Kita akan berperang tanding dengan cara apapun sekehendak kita masing-masing. Apakah kita akan bersenjata atau tidak atau dengan menaburkan tanah berpasir ke mata atau apapun caranya.” geram Ki Lemah Teles.

Ki Sambi Pitu tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun segera bersiap untuk bertempur.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, keduanya telah saling berhadapan. Tidak seorang pun di antara mereka yang bersenjata. Agaknya senjata juga bukan merupakan alat yang paling penting bagi keduanya.

Ketika Ki Lemah Teles mulai bergeser sambil mengayunkan tangannya, maka perang tanding itupun segera mulai. Keduanya mulai dengan gerakan-gerakan lamban. Namun pada setiap gerak, maka terasa seakan-akan getarannya mengguncang udara Bulak Parapat.

Namun semakin lama gerak mereka pun mulai menjadi semakin cepat, meskipun getar ayunan serangan mereka masih tetap mengguncang udara.

Beberapa saat kemudian, keduanya berloncatan saling menyerang, menghindar dan berkisar. Keduanya memiliki ketangkasan dan ketrampilan yang seimbang.

Untuk beberapa saat lamanya, Manggada dan Laksana memperhatikan pertempuran itu. Tidak lebih dari dua orang yang berkelahi dengan mengandalkan tenaga kewadagan mereka semata-mata.

“Ternyata mereka hanya bermain-main” berkata Manggada dan Laksana didalam hatinya.

Tetapi pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua-duanya mulai meningkatkan kemampuan mereka. Selapis demi selapis.

Manggada dan Laksana lah yang menjadi tidak telaten. Kenapa semuanya itu berjalan sangat lamban? Bukankah mereka sudan saling mengetahui tataran kemampuan masing-masing, sehingga jika mereka langsung melepaskan kemampuan puncak mereka, maka sentuhan tangan mereka tidak akan dengan serta-merta membunuh lawannya karena lawannya juga berilmu tinggi.

Tetapi Manggada dan Laksana tidak dapat mengatur kedua orang yang sedang bertempur itu. Keduanya agaknya ingin menja-jagi kemampuan mereka sendiri serta menilai kembali tataran-tataran kemampuan yang agaknya sudah agak lama tidak mereka pergunakan.

Namun ketika darah didalam tubuh mereka mulai memanas, maka pertempuran itu mulai berubah. Yang dilihat Manggada dan Laksana tidak lagi sekedar dua orang yang berloncatan dengan cepat serta ayunan-ayunan serangan yang kuat dengan tenaga yang besar, tetapi mereka mulai merasa sentuhan ilmu yang tinggi dari keduanya. Hentakan-hentakan yang mengejut serta gerak yang tidak terduga, bahkan menjadi semakin rumit, menunjukkan bahwa keduanya memang berilmu tinggi.

Ketika kemudian mulai terjadi benturan-benturan, Manggada dan Laksana mulai menahan nafasnya. Ternyata keduanya mulai merambah kedalam ilmu mereka masing-masing.

Manggada dan Laksana kadang-kadang terkejut bahwa sesuatu telah terjadi. Keduanya kadang-kadang terlambat menyadari, apa yang sebenarnya telah terjadi itu.

Bergantian Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu terdorong beberapa langkah surut. Bahkan kemudian salah seorang dari mereka terlempar beberapa langkah. Tetapi dalam sekejap orang itu telah berdiri tegak menunggu serangan berikutnya.

Kecepatan gerak kedua orang itu sulit untuk diikuti oleh Manggada dan Laksana. Bahkan tiba-tiba saja tangan Ki Lemah Teles telah mengguncang pertahanan Ki Sambi Pitu. Tetapi dengan cepat Ki Sambi Pitu telah memperbaiki keadaannya, justru dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh tatapan mata Manggada dan Laksana, Ki Sambi Pitu telah membalas serangan itu dengan serangan-serangan beruntun, sehingga Ki Lemah Teles harus berloncatan mengambil jarak.

Tetapi pertempuran itupun kemudian telah berubah pula. Ketika kedua belah pihak telah semakin sering disentuh oleh serangan-serangan lawan, maka pertempuran itu justru mulai menjadi lamban kembali. Keduanya tidak lagi berloncatan seakan-akan tidak menyentuh tanah. Tetapi keduanya mulai saling menyerang dengan kekuatan ilmu mereka yang memancar meloncat dari dalam diri mereka masing-masing ke arah lawan.

Manggada dan Laksana menjadi semakin berdebar-debar. Ia mulai melihat kebesaran nama kedua orang yang sedang bertempur itu, justru ketika mulai bergerak dengan lamban.

Namun akhirnya, Ki Pandi lah yang menjadi berdebar-debar ketika ia melihat kedua orang itu justru seakan-akan berhenti bertempur. Tetapi keduanya justru mulai duduk dengan kaki dan tangan bersilang saling berhadapan.

“Apa yang terjadi?” bertanya Manggada dan Laksana dida-lam hatinya.

Tetapi detak jantung mereka menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian seperti memukul-mukul dada mereka.

Dari kedua orang yang duduk berhadapan itu, Manggada dan Laksana melihat seakan-akan telah berloncatan kunang-kunang kecil dari yang seorang hinggap kepada yang lain.

Tetapi semakin lama keduanya nampak menjadi letih. Keduanya mulai goyah ketika dari kepala mereka nampak seakan-akan mengepul asap putih tipis.

Tiba-tiba saja Ki Pandi berdesis, “Keduanya mulai bersungguh-sungguh. Itu sangat membahayakan mereka masing-masing.”

“Apa yang akan Ki Pandi lakukan?” Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berbisik, “Pertempuran yang gila itu harus dihentikan, meskipun mungkin akibatnya akan buruk bagiku.”

Manggada dan Laksana tidak segera mengerti maksud Ki Pandi. Namun kemudian ternyata Ki Pandi telah mengambil serulingnya. Ia pun mulai duduk dengan menyilangkan kakinya, mengangkat serulingnya dan meletakkannya dibibirnya.

Sejenak kemudian terdengar alunan getar suara seruling Ki Pandi. Nada-nada yang mengalir adalah nada-nada yang geram, keras dan menghentak-hentak. Namun semakin lama nada suara seruling itu pun berubah. Iramanya juga berubah. Semakin lama menjadi semakin lembut. Namun nadanya meninggi menggeliat menggapai mega-mega yang mengalir diwajah langit yang digayuti beribu bintang.

Manggada dan Laksana menjadi tegang. Mereka pun tahu, bahwa Ki Pandi adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Ilmunya setatar dengan ilmu seorang Panembahan yang ditakuti karena ilmunya yang tinggi, namun yang dibumbuinya dengan ilmu hitam. Panembahan Lebdagati.

Ternyata suara seruling itu berpengaruh atas kedua orang yang sedang bertempur. Pemusatan nalar budi mereka ternyata telah mulai terganggu oleh nada-nada dan irama seruling yang ditiup oleh Ki Pandi itu.

Karena itu, maka Manggada dan Laksana justru tidak melihat lagi kepulan asap putih yang tipis itu. Bahkan kemudian loncatan-loncatan cahaya seperti kunang-kunang kecil itu pun semakin jarang dan memudar.

“Apa yang terjadi?” bertanya Manggada dan Laksana didalam hati.

Sebenarnyalah suara seruling Ki Pandi telah mengoyak pemusatan nalar budi kedua orang yang sedang bertempur itu. Dengan demikian, maka kemampuan mereka melontarkan ilmupun menjadi semakin menyusut.

Karena itu, maka kedua orang yang sedang bertempur itu menjadi marah oleh gangguan suara seruling itu.

Seperti berjanji, maka kedua orang itu pun telah saling memberikan isyarat, menghentikan pertempuran. Kunang-kunang kecil itu pun kemudian berhenti sama sekali, sedangkan asap tipis yang keputih-putihan itupun sudah tidak nampak lagi diseputar kepala kedua orang yang sedang berperang tanding itu.

Hampir berbareng, keduanya telah bangkit berdiri. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian Ki Sambi Pitu pun berteriak lantang, “ki Bongkok. Kenapa kau mengganggu kami? Aku sudah mengira bahwa kau akan hadir disini. Tetapi aku tidak mengira bahwa kau telah mencampuri persoalan kami.”

Ki Pandi masih saja meniup serulingnya. Sementara itu Ki Lemah Teles itupun berteriak pula, “He, bongkok buruk. Kenapa kau datang juga ke tempat ini?”

Suara seruling Ki Pandi pun semakin perlahan. Akhirnya berhenti sama sekali.

“Marilah, kita mendekat” berkata Ki Pandi kepada Manggada dan Laksana.

Manggada dan Laksana tidak menyahut. Tetapi dengan jantung yang berdebaran mereka bangkit dan melangkah mengikuti langkah Ki Pandi mendekati kedua orang yang merasa terganggu itu.

“Bongkok buruk. Jika kau masih suka mengganggu orang, maka aku akan membunuhmu disini.” geram Ki Lemah Teles.

Tetapi Ki Pandi tertawa pendek. Katanya, “Kau tidak akan dapat melakukannya Ki Lemah Teles. Kau sudah menjadi lemah. Tenaga dalammu sudah terhisap habis dalam benturan ilmu dengan Ki Sambi Pitu. Sebagai seorang yang berilmu tinggi kau tentu dapat mengukur betapa tinggi ilmuku. Karena itu, jika kita saling membunuh sekarang, aku tentu akan dapat membunuhmu dengan mudah. Bahkan sambil meniup serulingku, aku akan dapat membunuhmu. Melawan atau tidak melawan.”

“Iblis kau, “ geram Ki Lemah Teles.

Namun Ki Pandi berkata, “Tetapi bukankah kita tidak saling membunuh?”

“Ki Pandi” berkata Ki Sambi Pitu, “aku tahu bahwa kau tentu akan datang kemari. Tetapi sebaiknya kau tidak mencampuri urusanku dengan Ki Lemah Teles.”

“Kalau yang kalian persoalkan itu benar-benar persoalan yang mendasar, maka aku tidak akan mencampuri persoalan kalian berdua. Tetapi setelah aku mendengar dari mulut kalian, bahwa ternyata persoalan yang mendorong kalian untuk membunuh diri bersama-sama itu bukan persoalan yang berarti, maka aku berusaha untuk mencegahnya. Sebaiknya Ki Lemah Teles pulang saja dan mencoba menyusun alasan-alasan yang lebih masuk akal untuk menantang seseorang untuk berperang tanding. Atau dalam kenyataan yang hampir saja terjadi, kalian berdua akan mati bersama-sama. Dengar, mati tanpa arti sama sekali.”

“Omong kosong” bentak Ki Lemah Teles, “aku bertempur untuk mempertahankan harga diriku sebagai laki-laki.”

“Kau sudah terlambat puluhan tahun, Ki Lemah Teles. Yang mendorong kau sekarang datang menantang Ki Sambi Pitu sama sekali bukan harga dirimu sebagai seorang laki-laki. Tetapi hari-hari tuamu yang sepi. Kau merasa bahwa di hari tuamu kau sudah tidak berarti lagi, sehingga kau telah berusaha menunjuk-kan, bahwa kau masih Ki Lemah Teles yang dahulu.”

“Setan kau Bongkok. Sekarang aku tantang kau” geram Ki Lemah Teles.

Tetapi Ki Pandi menjawab dengan keras pula, “Dengar. Jika aku menerima tantanganmu, maka kau akan mati. Sementara itu tidak akan ada orang yang menyalahkan aku, karena aku membunuhmu dalam perang tanding. Karena itu, maka jika kau masih ingin melawan hari tuamu dengan cara yang aneh-aneh dan tidak masuk akal, datanglah kepadaku. Aku akan menerima tantanganmu.”

“Sudahlah” berkata Ki Sambi Pitu, “aku dapat mengerti niat baik Ki Pandi. Aku pun sebenarnya menyadari, untuk apa aku berperang tanding.”

Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Kata-katamu membuat jiwaku menjadi lemah.”

“Kau masih punya kesempatan untuk merenunginya” berkata Ki Pandi., “Mudah-mudahan nalarmu bertambah bening di-hari tuamu.”

Ki Lemah Teles tidak menjawab. Dengan kaki yang terasa berat, ia berjalan menuju ke kudanya. Namun Ki Lemah Teles harus mengakui, bahwa ia sudah terlalu banyak memeras tenaganya, sehingga tubuhnya memang terasa menjadi sangat lemah.

Sejenak kemudian terdengar derap kaki kudanya mengumandang menggetarkan udara Bulak Parapatan yang-membentang dikaki sebuah bukit kecil itu.

“Terima kasih, Ki Bongkok” desis Ki Sambi Pitu kemudian, “kau telah membebaskan aku dari persoalan yang tidak lebih dari kegilaan yang mencengkam jantung Ki Lemah Teles. Jiwanya yang sakit telah menyeret aku kedalam keadaan yang serupa. Untunglah bahwa aku segera menyadari hal ini karena kehadiranmu Ki Bongkok.”

“Aku sekedar mengingatkanmu. Sementara kau sudah menemukan pijakan baru di padukuhan yang ramah itu. Kau dianggap orang tua yang menjadi panutan. Jika saja orang-orang padukuhan mengetahui apa yang kau lakukan malam ini, maka mereka tentu akan ikut melibatkan dirinya dan berdatangan kemari tanpa mengetahui bahaya sebenarnya ada disini. Bukankah untuk beberapa lama padukuhan itu dicengkam oleh ketegangan dan bahkan ketakutan karena pokal Ki Lemah Teles yang setiap kali berkeliaran dengan kudanya di padukuhan? Ketakutan yang amat sangat dapat meledak menjadi tenaga yang luar biasa ibetsarnya.”

“Aku mengerti Ki Bongkok” Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk.

“Tetapi apa pula kata orang-orang padukuhan jika mereka juga tahu, bahwa yang terjadi adalah sekedar gejolak perasaan orang yang kehilangan pegangan menjelang hari-hari tuanya.”

Ki Sambi Pitu tersenyum. Katanya, “Aku memang harus menatap wajahku di permukaan air tenang.”

“Kau dapat melihat bahwa orang-orang tua padukuhan, yang tidak pernah hidup dalam gejolak dunia yang lain, tidak merasa kehilangan apa-apa.”

Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk pula. Katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan berusaha meyakinkan diri pada pijakanku sekarang ini. Meskipun demikian, aku minta Ki Pandi sekali-sekali datang melihatku.”

“Tentu” jawab Ki Pandi, “aku yang masih saja berkeliaran ini mempunyai kesempatan lebih banyak untuk berkunjung. Tetapi aku masih mengemban beban yang tidak dapat aku letakkan, meskipun aku sendiri yang memungut beban itu dan membawa dialas bongkokku ini kemana aku pergi.”

“Apakah aku boleh mengetahuinya?” bertanya Ki Sambi Pitu.

“Setan yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu masih berkeliaran.” jawab Ki Pandi.

Ki Sambi menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara serak ia bertanya, “Dengan burung-burung Elangnya?”

“Ya.” jawab Ki Pandi.

“Baiklah Ki Pandi” berkata Ki Sambi Pitu, “jika saja aku mendapat kesempatan untuk mengetahui, sengaja atau tidak sengaja, aku akan memberitahukan kepadamu. Tetapi dimana aku dapat menemuimu?”

Ki Pandi tertawa. Katanya, “Rumahku terbentang seluas atapnya. Langit.”

“Aku mengerti” desis Ki Sambi.

“Akulah yang akan singgah dirumahmu setiap kali.” berkata Ki Pandi.

Demikianlah, maka Ki Pandi pun telah minta diri. Ia akan melanjutkan perjalanannya. Tanpa menyembunyikan arah perjalanannya ia berkata, “Dibelakang hutan Jatimalang itulah aku pernah menemukan sebuah padepokan yang dibangun oleh Panembahan Lebdagati. Tetapi setelah padepokan itu hancur, Ki Lebdagati justru berkeliaran kemana-mana.”

“Hubungi aku jika kau memerlukan. Setiap saat aku bersedia membantumu. Justru kesempatan untuk tetap merasa diriku berarti.” berkata Ki Sambi Pitu.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksana pun telah minta diri pula kepada Ki Sambi Pitu. Sambil menepuk kedua orang anak muda itu, Ki Sambi Pitu berkata, “Kalian merupakan harapan masa depan bagi Ki Bongkok. Tetapi beruntunglah Ki Bongkok yang menemukan kalian berdua” Ki Sambi Pitu berhenti sejenak. Dengan ujung kelima jari tangan kanannya Ki Sambi menyentuh punggung kedua orang anak muda itu berganti-ganti. Kemudian memijit-mijit pundak mereka dan menyentuh lambung. Kemudian katanya, “Jika Ki Bongkok datang kemari, aku harap kalian juga ikut bersamanya.”

“Baik Ki Sambi Pitu” jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Pandi dan kedua anak muda yang menyertainya itu telah melangkah meninggalkan Ki Sambi Pitu yang berdiri termangu-mangu seorang diri. Namun Ki Sambi Pitu itupun segera melangkah pergi, kembali pulang ke-rumahnya.

“Nampaknya orang bongkok itu masih saja tidak membuat tempat tinggal yang tetap menjelang hari-hari tuanya.” berkata Ki Sambi Pitu kepada dirinya sendiri. Tetapi kemudian ia berkata pula

“Meskipun demikian, ia dapat meletakkan masa depannya pada kedua anak muda yang dibawanya. Nampaknya keduanya adalah anak-anak baik, kokoh dan cerdas. Tetapi aku tidak dapat merasa iri akan keberuntungannya itu.”

Sambil menundukkan kepalanya, Ki Sambi Pitu itu pun melangkah menyusuri Bulak Parapat kembali ke padukuhan.

Dalam perjalanan itu ia merasakan bahwa tubuhnya menjadi sangat letih. Kekuatan dan tenaganya memang serasa terkuras dalam perang tanding melawan Ki Lemah Teles. Perang tanding yang tidak ada artinya sama sekali. Baik bagi dirinya sendiri, apalagi bagi orang banyak.

“Seperti dikatakan Ki Bongkok” desis Ki Sambi Pitu, “jika perang tanding itu diteruskan, dan kami berdua atau salah seorang diantara kami mati, maka kematian itu adalah sia-sia.”

Sementara itu, Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah berjalan meninggalkan Bulak Parapat. Tetapi merekapun kemudian telah berhenti ditepi hutan perdu itu untuk beristirahat. Meskipun mereka tidak terlibat sama sekali dalam perang tanding itu, tetapi ketegangan selama mereka mengikuti peristiwa di Bulak Parapat itu membuat mereka menjadi letih.

Dengan nada berat Ki Pandipun berkata, “Besok kita melanjutkan perjalanan menuju ke hutan Jatimalang untuk melihat perkembangan lingkungan di kaki Gunung Lawu, dibelakang hutan itu.”

“Apakah kita akan singgah dirumah Ki Ajar Pangukan?” bertanya Laksana.

“Ya.” jawab Ki Pandi dengan serta-merta, “aku pernah tinggal bersamanya untuk ikut membayangi padepokan Panembahan Lebdagati itu.”

“Tetapi apakah Ki Ajar masih berada ditempat yang dahulu?” bertanya Laksana pula.

“Mudah-mudahan Ki Ajar Pangukan masih tinggal di gubug-nya itu. Nampaknya ia sudah kerasan tinggal disana.” jawab Ki Pandi.

Di dini hari ketiga orang itu sudah bersiap. Mereka mencuci muka di sebuah sungai kecil yang mengalir dipinggir hutan perdu itu.

Agaknya Laksana merasa malas untuk berburu binatang. Dengan nada berat ia berkata, “Kita cari makan di kedai saja nanti.”

Ki Pandi tertawa.-Katanya, “Berburu dikedai agaknya lebih mudah dari berburu dipadang perdu ini.”

“Bukankah kita mempunyai senjata yang baik untuk berburu di kedai.”

Manggada pun tertawa pula. Tetapi iapun berkata, “Baiklah. Kami akan mengikuti saja apa yang kau inginkan.”

Laksana ternyata tertawa paling keras. Namun di hutan perdu itu tidak seorang pun akan mendengarnya.

Sebelum Matahari terbit, mereka sudah melanjutkan perjalanan mereka ke hutan Jatimalang. Mereka menyusuri jalan yang langsung menuju kehutan itu.

Ketika Matahari terbit, mereka sudah semakin jauh dari Bulak Parapat. Mereka melintasi padukuhan dan bulak-bulak persawahan. Langit nampak bersih kebiru-biruan.

Jalan-jalan mulai ramai dilalui orang yang akan pergi ke pasar dan yang akan pergi ke sawah.

Ki Pandi, Manggada dan Laksana yang berjalan diantara orang yang mengalir itu menduga, bahwa mereka akan segera sampai ke pasar.

Ternyata dugaan mereka benar. Beberapa saat kemudian, mereka memasuki lingkungan yang terasa semakin ramai.

Manggada dan Laksana mencoba mengingat-ingat, apakah mereka pernah melewati pasar itu sebelumnya.

“Belum” desis Manggada, “kita belum pernah melewati jalan ini.”

Laksana mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Agaknya memang belum.”

Namun ketika mereka sampai didepan pasar itu, tiba-tiba saja Laksana bertanya kepada Ki Pandi, “Bagaimana dengan orang yang mengikuti kita itu? Apakah Ki Pandi tidak melihatnya lagi?”

Ki Pandi menggeleng. Katanya, “Ya. Agaknya orang itu kehilangan jejak kita. Mungkin ketika kita berada di hutan perdu itu.”

“Mudah-mudahan kita tidak bertemu dengan orang itu lagi” geram Laksana.

“Biar sajalah. Apakah kita akan bertemu lagi atau tidak” desis Manggada.

“Jika kita bertemu lagi dengan orang itu, aku ragu-ragu apakah aku dapat mengekang diriku untuk tidak membunuhnya.” berkata Laksana.

“Jangan begitu” berkata Manggada, “kau akan menyesal jika ternyata orang itu bermaksud baik.”

“Apakah mungkin orang itu bermaksud baik?”

“Kenapa tidak?”

Laksana mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Demikianlah mereka berjalan terus. Pasar yang berada di tempat yang cukup luas dipinggir jalan itu adalah pasar yang cukup ramai. Disebelah pasar itu terdapat pemberhentian pedati dan disebelahnya lagi sebuah tempat yang terbiasa untuk menginap para pedagang dan sais pedati yang datang dari tempat yang agak jauh.

Ternyata Manggada dan Laksana tertarik untuk melihat-lihat isi pasar itu, sementara Ki Pandi pun tidak berkeberatan.

Tetapi mereka tidak terlalu lama berada dipasar itu. Tidak ada benda-benda yang khusus yang tidak terdapat ditempat lain.

Karena itu, maka ketiga orang itu pun segera keluar lagi dari pasar itu untuk melanjutkan perjalanan.

Jalan yang kemudian mereka lalui, adalah jalan yang lurus menuju ke lereng Gunung Lawu. Tetapi Ki Pandi berkata, “Jika kita menempuh jalan ini, maka kita tidak akan mendekati lereng Gunung Lawu lewat hutan Jatimalang.”

“Jadi?” bertanya Laksana, “apakah kita akan menempuh jalan lain?”

“Sementara kita dapat mengikuti jalan lain. Tetapi kita akan berbelok ke kiri dan menyusuri jalan yang lebih kecil yang menuju ke Jatimalang, meskipun kita masih harus beberapa kali berbelok untuk sampai ke jalan yang pernah kalian lalui.”

Manggada dan Lakasana mengangguk-angguk. Ki Pandi tentu mengenal jalan di sekitar hutan Jatimalang dengan baik.

Demikianlah, maka ketiga orang itu berjalan menyusuri jalan yang panjang. Mereka melangkah semakin jauh dari pasar yang bertambah-tambah ramai ketika Matahari menjadi semakin tinggi.

Ketika Matahari naik semakin tinggi, maka ternyata Laksana berdesis, “Marilah, kita mulai berburu.”

Manggada tertawa menghentak, sementara Ki Pandi tersenyum pula.

“Kenapa kau tidak berburu dipasar saja?” bertanya Manggada. dengan wajah yang bersungguh-sungguh.

Laksanalah yang tertawa berderai. Tetapi ia tidak menjawab.

Setelah mereka berhenti di sebuah kedai, maka mereka pun berjalan langsung menuju ke Jatimalang. Di sepanjang jalan mereka mecoba mengenali kembali, jalan mereka lalui sebelumnya.

“Memang sudah berubah” berkata Ki Pandi ketika melihat Manggada dan Laksana sekali-sekali menjadi bingung.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Nampaknya Pajang telah memerintahkan untuk membuka jalan menuju ke seberang hutan Jatimalang, agar daerah itu tidak menjadi daerah yang seakan-akan terpisah.

Namun Ki Pandi tidak kehilangan pengenalannya atas lingkungan yang dikenalnya dengan baik. Karena itu, maka dengan pasti Ki Pandi membawa Manggada dan Laksana menuju kerumah Ki Ajar Pangukan yang terletak di daerah terpencil.

Ternyata meskipun Pajang telah mengusahakan agar lingkungan diseberang hutan Jatimalang tidak terpisah oleh hutan yang padat, namun tempat tinggal Ki Ajar Pangukan masih tetap rumit untuk dijangkau.

Perjalanan yang melelahkan itu akhirnya berakhir. Menjelang senja mereka telah mendekati tujuan. Manggada dan Laksana ingat benar gerojogan air yang meluncur dari tebing. Beberapa kali mereka harus memanjat lereng yang terjal. Baru kemudian mereka sampai ke sebuah dataran dengan bangunan kecil beratap ilalang.

Dalam keremangan senja mereka melihat rumah itu masih berdiri ditempatnya. Pintu sudah tertutup. Namun ketiganya menarik nafas panjang ketika mereka melihat sinar lampu minyak yang memancar dari ruang dalam rumah kecil itu.

“Ki Ajar Pangukan masih tinggal dirumah itu?” desis Manggada meskipun agak ragu.

“Siapa tahu kalau orang lain yang menempatinya sekarang” sahut Laksana.

“Tentu tidak. Tempat ini sangat terpencil.”

Keduanya terdiam ketika mereka menjadi semakin dekat. Bahkan Ki Pandipun nampak sedikit ragu untuk dengan serta merta mengetuk pintu.

Namun Ki Pandi pun kemudian melangkah mendekat. Perlahan-lahan Ki Pandi mengetuk pintu yang sudah tertutup itu.

Tidak segera terdengar jawaban. Ki Pandi, Manggada dan Laksana menyadari, bahwa penghuni rumah itu harus sangat berhati-hati. Jarang orang yang mengetahui, bahwa ditempat itu terdapat sebuah rumah yang dihuni orang.

Sejenak ketika orang menunggu. Tetapi tidak terdengar jawaban atau langkah kaki atau tanda-tanda bahwa rumah itu dihuni kecuali nyala lampu minyak didalam.

Ki Pandi pun kemudian telah mengetuk pintu itu sekali lagi. Tetapi Ki Pandi itu tiba-tiba telah berbalik. Ia mendengar langkah lembut. Tetapi tidak didalam rumah.

Manggada dan Laksana terkejut melihat sikap Ki Pandi, karena mereka tidak mendengar desir kaki justru disebelah rumah, dibayangan kegelapan.

Sejenak suasana menjadi hening. Namun tiba-tiba saja terdengar suara dari sebelah rumah, “Kau itu Bongkok.”

“Ya Ki Ajar. Ini aku” sahut Ki Pandi yang bongkok itu sambil melangkah mendekat.

Ki Ajar nampak sangat gembira sekali melihat kedatangan Ki Pandi. Apalagi bersama Manggada dan Laksana.

“Marilah. Silahkan. Aku akan membuka pintu.”

Ki Ajar itu pun kemudian masuk kembali kedalam rumahnya lewat pintu butulan. Langkah kakinya terdengar cepat mendekati pintu disusul suara selarak diangkat.

Sejenak kemudian pintu itu pun terbuka. Ki Ajar Pangukan mempersilahkan Ki Pandi, Manggada dan Laksana untuk masuk keruang dalam.

Setelah duduk di sebuah amben bambu yang agak besar, yang hampir memenuhi sebagian ruang dalam itu, maka Ki Ajar pun telah menanyakan keselamatan perjalanan Ki Pandi serta kedua orang anak muda itu.

Demikian pula Ki Pandi. Namun dalam pada itu, Ki Pandi nampak agak gelisah. Ia telah mendengar tarikan nafas seseorang di rumah itu.

Tetapi Ki Pandi tidak segera menanyakannya.

Namun agaknya Ki Ajar Pangukan dapat membaca perasaan Ki Pandi. Karena itu, maka katanya, “Aku memang tidak sendirian dirumah ini.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia bertanya, “siapakah orang itu, Ki Ajar?”

“Aku mengenalnya dengan sebutan Ki Jagaprana.” jawab Ki Ajar Pangukan, “agaknya kau sudah mengenalnya.”

Ki Pandi mengangguk kecil. Katanya, “Nama itu sudah pernah aku dengar Ki Ajar. Apakah ia sekarang tinggal bersama Ki Ajar disini?”

“Untuk sementara. Ia terluka meskipun tidak terlalu parah. Lukanya sudah berangsur baik. Mudah-mudahan dalam beberapa hari lagi, ia sudah benar-benar sembuh.”

“Kenapa orang itu terluka, Ki Ajar?” bertanya Ki Pandi.

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Duduklah disini sebentar. Aku akan membuat minuman panas bagi tamu-tamuku.”

“Tidak usah” berkata Ki Pandi, “biarlah kami merebus sendiri minuman kami. Bukankah sudah terbiasa bagiku untuk membuat minuman?”

“Tetapi sekarang kau dan kedua anak muda itu adalah tamu-tamuku., “ berkata Ki Ajar kemudian.

Namun Ki Pandi berkata, “Sudahlah Ki Ajar. Ki Ajar jangan menjadi terganggu oleh kehadiranku sekarang.”

Ki Ajar Pangaukan tidak memaksa. Katanya kemudian, “Baiklah jika itu yang kalian kehendaki. Bukan aku yang tidak ingin menghargai tamu-tamuku.”

“Kami sama sekali bukan tamu disini, “ sahut Ki Pandi.

Ki Ajar tersenyum. Kepada kedua orang anak muda yang datang bersama Ki Pandi, Ki Ajar Pangukan bertanya, “Bagaimana awalnya, sehingga kalian datang bersama dengan Ki Bongkok itu?”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggada itu pun bertanya, “Kisahnya cukup panjang Ki Ajar.”

“Tentu dalam rangka perjalanan Ki Bongkok memburu Panembahan Lebdagati.”

“Mulanya memang begitu Ki Ajar” desis Ki Pandi, “namun kemudian keduanya ingin menyertai pengembaraanku untuk menambah pengalamannya yang masih terlalu sempit menurut pengakuan mereka berdua.’“

Ki Ajar tertawa. Katanya, “Agaknya tersimpan jiwa pengembara dihati kalian berdua. Tetapi aku ingin menasehatkan, kalian harus dapat mengendalikan jiwa pengembaraan kalian itu, sehingga pada suatu saat kalian tidak akan menjadi orang-orang yang hidup tidak sewajarnya seperti kami. Maksudku, aku, Ki Bongkok dan barangkali ada orang-orang yang lain.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Manggada menjawab, “Kami akan berusaha, Ki Ajar.”

“Bagus” jawab Ki Ajar, “jika usiamu bertambah, maka kau harus menetap, berumah tangga, mempunyai keturunan dan menumbuhkan keturunan dengan baik sesuai dengan tuntunan Yang Maha Agung. Kalian jangan hidup di tempat terpencil atau pengembara tanpa akhir seperti Ki Bongkok, apapun alasannya. Kalian tidak usah menambah jumlah orang-orang aneh seperti kami.”

Manggada dan Laksana masih mengangguk-angguk. Namun yang terbayang di angan-angan justru orang-orang yang hidup tidak sewajarnya itu tentu mengikuti panggilan hatinya untuk melakukan pengabdian. Namun kepada siapa mereka mengabdi, itulah yang penting diketahui. Panggilan untuk mengabdikan diri bagi Ki Pandi tentu berbeda dengan panggilan untuk mengabdi bagi Panembahan Lebdagati, yang mengabdikan diri pada dunia yang hitam.

Namun dalam pada itu, nampaknya perhatian Ki Pandi masih tertuju kepada orang yang disebut bernama Ki Jagaprana itu. Sekali-sekali bahkan ia berpaling ke sentong sebelah kiri yang pintu leregnya tertutup hampir rapat.

Ki Ajar Pangukan itupun kemudian berkata, “Ki Jagaprana itu sudah berada dirumah ini selama lebih dari sepekan.”

“Bukankah Ki Jagaprana termasuk orang berilmu tinggi?” bertanya Ki Pandi.

“Ya. Tetapi lawan bertandingnya memiliki kelebihan dari Ki Jagaprana.”

Ki Pandi memang ingin mengetahuinya. Tetapi pertanyaannya yang sudah diucapkannya tidak langsung dijawab oleh Ki Ajar Pangukan sehingga Ki Pandi merasa kurang pantas untuk mengulangi pertanyaannya. Mungkin Ki Ajar memang mempunyai keberatan untuk menyebut siapakah yang telah melukai Ki Jagaprana.

Namun ternyata bahwa Ki Ajar itu sendirilah yang berkata, “Ki Bongkok. Seandainya aku tidak mengatakannya sekarang, kau tentu akhirnya juga mengetahuinya.”

Ki Pandi menarik nafas panjang. Sementara Ki Ajar Pangukan itu berkata, “Ki Jagaprana itu telah dilukai oleh seorang pengembara berkuda yang bernama Ki Lemah Teles.”

Ki Pandi terkejut. Manggada dan Laksanapun terkejut pula. Bahkan hampir diluar sadarnya. Laksana bertanya, “Jadi Ki Lemah Teles itu sampai ke tempat ini pula?”

Ki Ajar Pangukanlah yang terkejut. Dengan dahi yang berkerut ia bertanya, “Kau mengenal Ki Lemah Teles?”

Ki Pandi lah yang menyahut, “Secara kebetulan keduanya mengenal Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu, Ki Ajar.”

“Kau yang memperkenalkan kedua anak muda ini kepada mereka?“ bertanya Ki Ajar Pangukan.

“Dengan tidak sengaja” jawab Ki Pandi yang kemudian menceriterakan apa yang pernah mereka lihat di Bulak Parapat.

Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, Ki Lemah Teles itu sudah dihinggapi penyakit yang sangat berbahaya. Bukan saja buat dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain yang pernah mempunyai persoalan dengan dirinya.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah Ki Lemah Teles juga mengungkit persoalan yang sudah lama lalu sehingga ia harus bertanding dengan Ki Jagaprana.”

“Ya. Persoalan yang sebenarnya tidak perlu diungkit lagi sekarang ini, setelah cukup lama berlalu. Apalagi persoalannya bukan persoalan yang pantas untuk diselesaikan dengan perang tanding.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Ki Sambi Pitu memiliki ilmu yang setidak-tidaknya seimbang dengan Ki Lemah Teles. Tetapi justru karena itu, hampir saja kedua-duanya mengalami kesulitan, sedangkan persoalannya juga bukan persoalan yang mendasar yang pantas diselesaikan dengan perang tanding sebagaimana aku ceriterakan.”

Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya Ki Lemah Teles memerlukan perhatian khusus dari orang-orang sebaya kita. Agaknya ia melihat hari-hari tuanya dengan tatapan mata yang buram.”

“Persoalan apakah yang dipergunakan Ki Lemah Teles untuk memancing pertengkaran dengan Ki Jagaprana?” bertanya Ki Pandi.

“Ki Jagaprana justru orang yang terhitung dekat dengan Ki Lemah Teles. Ketika anak laki-laki yang tinggal satu-satunya meninggal, justru ketika ia sedang berusaha menyelamatkan seseorang, Ki Jagaprana berusaha untuk melerai pertengkaran-nya dengan keluarga menantunya. Agaknya mereka memperebutkan dua orang cucu. Saat itu, Ki Lemah Teles mau mendengarkan pendapat Ki Jagaprana untuk melepaskan cucunya dan menyerahkan kepada keluarga menantunya. Namun ternyata kemudian ia menyesal. Ia merasa kehilangan segala-galanya. Pada usia yang semakin tua, Ki Lemah Teles menyesali keputusan itu, dan menganggap Ki Jagaprana lah yang bersalah. Ia menantang sahabatnya itu untuk berperang tanding, sehingga Ki Jagaprana mengalami luka-luka parah.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Ia sependapat dengan Ki Ajar, bahwa Ki Lemah Teles telah dihinggapi sejenis penyakit aneh yang dapat berbahaya bagi orang lain.

“Tetapi keadaannya sekarang sudah berangsur baik” berkata Ki Ajar Pangukan.” Setelah makan, Ki Jagaprana telah tertidur nyenyak. Biasanya ia akan terbangun menjelang tengah malam. Setelah itu, Ki Jagaprana jarang sekali tidur lagi.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun agaknya malam itu Ki Jagaprana tidak dapat tidur nyenyak sampai menjelang tengah malam. Pembicaraan di dalam rumah itu telah membangunkan-nya.

Untuk beberapa saat Ki Jagaprana mencoba mendengarkan pembicaraan diruang dalam. Ki Jagaprana itu mendengar namanya beberapa kali disebut. Bahkan kemudian ceritera Ki Ajar tentang dirinya. Perang tanding yang dilakukannya dan keadaannya saat itu.

Karena itu, maka Ki Jagaprana itupun segera bangkit dan melangkah keluar dari biliknya.

“O” Ki Ajar beringsut, “marilah. Nampaknya kau telah terbangun.”

Sejenak Ki Jagaprana memandang Ki Pandi dengan tajamnya. Kemudian beralih kepada kedua orang anak muda yang menyertai Ki Pandi itu.

Ki Jagaprana memang sudah mengenal orang bongkok yang juga pernah disebut-sebut oleh Ki Ajar Pangukan itu. Tetapi pengenalannya memang tidak cukup akrab.

Meskipun demikian, maka sejenak kemudian Ki Jagaprana itu tersenyum. Sambil duduk diamben itu pula ia berdesis, “Selamat datang ketempat yang terpencil ini Ki Sanak bertiga.”

“Terima kasih, Ki Jagaprana.” jawab Ki Pandi sambil membungkuk hormat.

“Bukankah kalian sudah saling mengenal?” bertanya Ki Ajar Pangukan.

“Ya” jawab Ki Jagaprana, “setidak-tidaknya mengenal kehadirannya didunia olah kanuragan.”

Ki Pandi pun tersenyum. Katanya, “Aku lebih banyak dikenal bukan karena kemampuanku dalam olah kanuragan, tetapi karena kekhususan ujudku.”

“Ah, jangan begitu” Ki Ajar tersenyum, “jika kau saudara seperguruan Panembahan Lebdagati dan yang membebani dirimu dengan janji untuk membayangi dan bahkan melenyapkan wajah hitam yang melekat pada Panembahan itu, maka orang-orang setua kita akan dapat menilai tataran kemampuanmu. Meskipun aku sendiri pernah merasa penglihatanku kabur sehingga penilaianku atasmu keliru.”

“Ki Ajar sejak dahulu masih saja suka memuji” desis Ki Pandi.

Demikianlah, maka mereka bertiga serta kedua orang anak muda yang menyertai Ki Pandi itu pun mulai duduk berbincang tentang Ki Lemah Teles. Ki Jagaprana telah menceriterakan apa yang dialaminya saat ia harus berperang tanding melawan Ki Lemah Teles.

“Aku, yang merasa mengenalnya dengan akrab, tidak menduga, bahwa ia memang bersungguh-sungguh. Itulah sebabnya, maka aku terlambat untuk mengimbangi kemampuannya, sehingga aku telah terluka didalam. Bahkan terhitung parah.” berkata Ki Jagaprana sambil mengingat apa yang telah terjadi. Namun katanya kemudian, “Tetapi ternyata masih juga tersisa nilai-nilai persahabatan kami. Ketika aku menjadi semakin tidak berdaya, maka ia telah meninggalkan aku begitu saja. Ia tidak membunuh aku sebagaimana tantangannya. Berperang tanding sampai tuntas.”

Ki Pandi mendengarkan ceritera itu dengan dahi yang berkerut, sementara Ki Jagaprana melanjutkan, “Tetapi aku tidak merasa terhina karenanya. Aku menerima kekalahan serta pengampunannya dengan iklas. Karena itu, aku tidak membunuh diri.”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia melihat Ki Ajar dan Ki Jagaprana sendiri tertawa, iapun ikut tertawa pula.

“Sikapnya sangat menarik perhatian” berkata Ki Pandi yang mempunyai penilaian yang sama dengan Ki Ajar Pangaukan.

Dalam pembicaraan yang berkepanjangan kemudian. Laksana yang lebih terbuka itu tiba-tiba saja bertanya, “Ki Ajar. Apakah untuk seterusnya Ki Ajar akan tetap tinggal disini? Apakah sepeninggal Panembahan Lebdagati, Ki Ajar tidak ingin tinggal ditempat yang lebih dekat dengan lingkungan kehidupan yang wajar sebagaimana Ki Sambi Pitu?”

Ki Ajar Pangukan tersenyum. Katanya, “Tentu aku ingin anak muda. Tetapi banyak hal yang mempengaruhi keputusan yang akan aku ambil. Aku kira tidak ada salahnya jika aku memberitahukan kepada kalian, termasuk Ki Jagaprana, bahwa tempat yang telah dibuka dilereng Gunung Lawu itu belum sepenuhnya tenang dan bersih dari kepercayaan hitam. Hal ini merupakan salah satu sebab, kenapa aku masih tetap ingin tinggal disini.”

“Tetapi bukankah kehidupan di lereng Gunung Lawu itu sudah dialiri arus kehidupan sebagaimana nampak di lingkungan yang lain? Hutan yang sudah ditembus dengan jalan yang cukup baik itu, telah memungkinkan para pedagang keluar masuk lingkungan di belakang Gunung Lawu ini.” berkata Laksana kemudian.

“Ya, anak muda. Tetapi ketahuilah, bahwa di tempat yang sedikit lebih tinggi, pada arah yang lain, masih terdapat sebuah perguruan yang menyadap ilmu hitam. Perguruan itu timbul setelah Panembahan Lebdagati meninggalkan lereng Gunung Lawu. Aku masih belum tahu pasti, apakah di perguruan itu tinggal bekas pengikut Panembahan Lebdagati atau orang lain yang juga berpijak pada ilmu hitam.”

“Jika demikian, tempat itu tentu agak jauh dari tempat tinggal Ki Ajar ini.” desis Laksana pula.

“Ya. Tetapi juga tidak terlalu jauh. Aku mencoba mengamati perguruan itu. Perguruan yang tinggal di-sebuah padepokan yang termasuk baru dibangun.”

“Mungkin beberapa pengikut Panembahan Lebdagati yang lepas dari ikatan ada yang memasuki perguruan itu, karena perguruan yang baru itu mempunyai pijakan yang sama dengan ajaran Panembahan Lebdagati,” desis Ki Pandi.

“Memang mungkin sekali” jawab Ki Ajar.

“Menarik sekali” desis Laksana.

“Apa yang menarik?” Ki Pandipun tiba-tiba bertanya.

“Maksudku, perguruan itu memang menarik perhatian. Karena itu, maka Ki Ajar Pangukan tidak ingin pindah dari tempat ini. Setidak-tidaknya untuk sementara.” jawab Laksana.

Ki Pandi tersenyum. Katanya, “Apakah kau juga tertarik?”

Laksanapun tersenyum pula. Katanya, “Memang sangat menarik.”

Ki Ajar Pangukan mengetahui arah bicara Laksana. Karena itu maka katanya, “Jika kau memang tertarik, aku tidak berkeberatan jika kau ikut bersamaku mengamati nya.”

 

-oo00odwo00oo-

Bersambung ke Jilid 2

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 5 – Matahari Senja

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | lanjut

AM_SKH-06

Serial ARYA MANGGADA

Episode IV: SEJUKNYA KAMPUNG HALAMAN

JILID 6

kembali | lanjut

AMSKH-06BEBERAPA saat kemudian, maka Ki Sapa Aruh telah keluar pula lewat pintu pringgitan. Dengan wajah yang cerah ia telah memanggil Wira Sabet dan Sura Gentong.

Ketiga orang itu berbicara sejenak di pintu pringgitan. Kemudian Wira Sabet memberi isyarat kepada saudara-saudara seperguruannya untuk ikut masuk ke dalam rumah itu. Namun Sura Gentong sempat berteriak kepada orang-orangnya, “Jaga keempat orang itu agar mereka tidak melarikan diri”

Ki Pandi hanya dapat melihat segala yang terjadi itu dengan jantung yang bergejolak. Ia melihat kekerasan terjadi. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu.

Ki Sapa Aruh dan beberapa orang yang masuk ke dalam rumah itu segera telah keluar pula. Mereka membawa beberapa buah peti kecil yang isinya tentu barang dagangan yang nilainya sangat mahal. Tentu perhiasan emas dan berlian. Bahkan mungkin beberapa buah wesi aji. Mungkin keris dan mata tombak yang dianggap bertuah.

Anak Ki Demang dan ketiga orang kawannya yang telah terluka itu hanya dapat memandangi orang-orang yang telah membawa barang dagangan mereka tanpa dapat mencegahnya.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, Ki Sapa Aruh itu pun berkata kepada anak Ki Demang dan ketiga orang kawannya, “Terima kasih anak-anak. Ternyata kalian adalah anak-anak yang bijaksana. Yang tahu apa yang sebaiknya kalian lakukan. Sekali lagi kami minta maaf, jika ada tingkah laku kami yang tidak berkenan di hati kalian”

Keempat orang itu hanya dapat menggeretakkan gigi tanpa dapat berbuat sesuatu.

Sejenak kemudian, maka terdengar isyarat. Seorang di antara mereka telah bersuit nyaring. Getar suaranya menyusup pepohonan dan menggetarkan udara Kademangan itu.

Isyarat itu ternyata telah disahut oleh pengikut-pengikut mereka yang berada di luar halaman rumah Ki Demang. Mereka yang berada di depan gardu, di simpang empat dan di tempat-tempat lain.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian, maka Ki Sapa Aruh dan semua pengikutnya telah berderap di atas punggung kuda meninggalkan tempat itu. Bahkan mereka telah membawa beberapa ekor kuda yang ada di rumah Ki Demang. Empat di antaranya adalah kuda yang telah disiapkan oleh Ki Demang dan kawan-kawannya untuk dipergunakan di keesokan harinya.

Sejenak kemudian, maka halaman rumah Ki Demang itu menjadi sepi. Namun hanya sebentar, karena sebentar kemudian, beberapa orang anak muda yang berada di gardupun telah berdatangan. Bahkan anak-anak muda yang tidak sedang meronda tetapi telah terbangun oleh derap kaki kuda yang berlari-lari di jalan-jalan padukuhan.

Tetapi yang mereka temui adalah anak Ki Demang serta tiga orang kawannya yang lemah karena letih, sakit karena luka-luka di tubuhnya serta sakit di hatinya.

Anak-anak muda itu telah membantu mereka naik ke pendapa. Memang hanya itulah yang dapat mereka lakukan. Orang-orang yang datang merampok rumah itu sudah pergi jauh. Bahkan seandainya masih berada di halaman itu pun, anak-anak muda itu tentu tidak akan dapat mencegah mereka.

Anak Ki Demang yang masih kesakitan itu pun kemudian berkata kepada anak-anak muda itu, “Terima kasih atas perhatian kalian. Sekarang, pulanglah. Yang bertugas ronda, kembalilah ke gardu-gardu perondan”

“Bagaimana dengan kalian disini?” bertanya salah seorang di antara anak-anak muda itu.

“Tidak apa-apa. Kami dapal merawat diri kami sendiri”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Kami minta maaf, bahwa kami tidak dapat berbuat sesuatu pada saat yang gawat itu”

Anak Ki Demang itu mencoba tersenyum. Katanya, “Aku mengerti. Orang-orang itu benar-benar orang-orang yang keras dan kasar”

Demikianlah, anak-anak muda itu pun minta diri. Sebagian dari mereka kembali ke gardu-gardu perondaan. Yang lain pulang ke rumah masing-masing Sedang masih ada satu dua di antara mereka yang lelap berada di rumah Ki Demang.

Dalam pada itu. para pembantu rumah itu baru berani keluar ketika mereka yakin, bahwa para perampok telah tidak ada lagi di halaman rumah itu.

“Tolong, sediakan air panas buat kami” berkata anak Ki Demang kepada seorang laki-laki separuh baya, pembantunya, “kami harus mencuci luka-luka kami”

Orang itu mengangguk sambil berdesis, “Apa ada pesan yang lain?”

“Tidak” jawab anak Ki Demang itu.

Ketika pembantu rumah itu turun dari pendapa dan melangkah masuk lewat pintu seketeng, maka mereka yang ada di pendapa itu terkejut. Mereka melihat seorang yang bongkok berjalan dengan ragu-ragu ke arah mereka.

Anak-anak muda yang masih berada di pendapa rumah itu pun segera berloncatan bangkit untuk mempersiapkan diri.

Namun anak Ki Demang itupun berkata, “Biarlah orang itu naik”

Ki Pandi memang menjadi ragu-ragu. Namun seorang anak muda telah menyongsongnya dan mempersilahkannya naik.

Ki Pandi pun kemudian duduk bersama anak Ki Demang, kawan-kawannya yang letih dan kesakitan serta beberapa orang anak muda yang masih berada di rumah itu.

“Maaf, Ki Sanak” berkata Ki Pandi, “aku melihat apa yang terjadi. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku memanjat pohon di halaman sebelah, sehingga aku dapat mendengarkan sebagian dari pembicaraan kalian dengan orang-orang yang merampok Ki Sanak berempat itu”

Anak Ki Demang itu mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Akulah yang harus minta maaf, bahwa aku tidak mendengarkan petunjuk Kiai. Akhirnya aku harus mengalami keadaan seperti ini”

“Ki Sanak” berkata Ki Pandi, “apakah ada niat kalian untuk melacak benda-benda yang mereka rampok itu?”

“Tentu saja niat itu ada, Kiai. Tetapi bagaimana kami dapat melakukannya. Kami tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa mereka terlalu kuat. Bahkan seandainya kami mengerahkan kekuatan se Kademangan, sulit bagi kami untuk dapat mengalahkan mereka. Korban pun akan berjatuhan” jawab anak Ki Demang. Lalu katanya pula, “Aku tidak dapat mengorbankan sedemikian banyaknya orang untuk kepentingan kami berempat. Bukan kepentingan Kademangan ini Kiai”

Ki Pandi menarik nafas panjang. Katanya, “Aku menghargai sikap Ki Sanak. Tetapi kita juga dibebani tugas untuk menghentikan perbuatan mereka, agar dihari mendatang tidak akan jatuh lagi korban perampokan dan mungkin kekerasan yang dapat menimbulkan kematian”

Salah seorang di antara saudagar perluasan itu berkata, “Tetapi apa yang dapat kami lakukan, Ki Sanak? Kematian akan berhamburan di antara anak-anak Kademangan Rejandani. Orang tua, saudara dan isteri yang kehilangan orang-orang yang dikasihi akan mengutuk kami berempat”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Bagaimana pendapat kalian, jika kami, maksudku bukan hanya aku seorang diri, menawarkan kerja sama. Kami memang berniat untuk menghentikan perbuatan mereka. Kami memang tidak melihat kemungkinan lain kecuali dengan kekerasan. Jika hal ini harus dilakukan, bukan berarti bahwa kita adalah orang-orang yang tidak waras lagi, atau otak kita sudah dikotori dengan impian-impian tentang perang, pembunuhan dan kekerasan-kekerasan serupa. Tetapi justru kami inginkan ketenangan dan ketenteraman”

Anak Ki Demang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi bagaimanakah caranya?”

“Jika Ki Sanak berniat, kita akan dapat membicarakan langkah-langkah yang dapat kita ambil”

“Kami memerlukan penjelasan, Kiai” sahut anak Ki Demang.

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya beberapa orang anak muda yang ada di pendapa itu. Baru kemudian ia berkata, “Ki Sanak. Jika Ki sanak bersedia, kami akan menghubungi Ki Sanak kemudian. Tentu saja dalam waktu yang tidak terlalu lama”

“Baiklah, Kiai. Kami akan menunggu. Tetapi sekali lagi kami nyatakan, bahwa kami berempat tidak ingin mengorbankan banyak orang hanya untuk memperoleh barang-barang kami itu kembali. Betapapun tinggi nilai barang dagangan kami, tetapi tentu tidak akan setinggi nilai nyawa seseorang”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sangat menghormati sikap Ki Sanak. Tetapi baiklah, sekarang aku minta diri. Jika Ki Sanak bertiga bersedia untuk sementara tinggal bersama disini, pada saat lain aku akan dapat menghubungi kalian utuh berempat. Tentu saja jika tidak ada keberatan apapun”

“Baik Kiai” jawab salah semang kawan anak Ki Demang itu, “kami akan tinggal disini. Tetapi tentu saja tidak untuk waktu yang terlalu lama”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu. Aku akan segera kembali jika segala sesuatunya sudah menjadi jelas”

Ki Pandi yang bongkok itu pun kemudian telah minta diri. Keempat orang saudagar itu memandanginya dari pendapa. Ketika mereka akan bangkit berdiri, Ki Pandi berkata, “Sudahlah. Duduk sajalah. Kalian harus segera mengobati luka-luka kalian. Apakah kalian sudah mempunyai obatnya?”

“Sudah Kiai” jawab anak Ki Demang, “Ayah mempunyai persediaan beberapa jenis obat-obatan”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun orang bongkok itu pun segera melintasi halaman dan hilang di balik regol.

Di sisa malam menjelang fajar, Ki Carang Aking yang dipanggil Sampar di barak itu, Manggada dan Laksana menjadi sibuk. Mereka harus menerima dan merawat kuda-kuda yang semalam dipergunakan untuk merampok di Kademangan Rejandani. Dua orang penyabit rumput dan bahkan beberapa orang kawannya telah diminta untuk membantunya. Terutama kuda-kuda para pemimpin barak itu. Wira Sabet, Sura Gentong, Pideksa dan saudara-saudara seperguruan Wira Sabet yang ada di barak itu. Namun ternyata di-antara mereka tidak terdapat Ki Sapa Aruh. Ternyata disisa malam itu Ki Sapa Aruh tidak ikut memasuki barak itu.

Tetapi Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat Wira Sabet, Sura Gentong dan Pideksa membawa beberapa peti kecil. Di antaranya agak panjang. Dengan demikian, maka mereka menduga, bahwa perampokan itu telah berhasil.

Ketika mereka sempat berbicara, Manggada berdesis, “Apakah Ki Pandi terlambat?”

Ki Carang Aking mengangguk kecil. Katanya, “Mungkin. Mungkin sekali Ki Pandi terlambat. Mudah-mudahan nanti malam Ki Pandi datang kemari. Kita akan mendapatkan keterangan tentang perampokan itu”

Betapa pun keinginan Manggada dan Laksana mendesak, tetapi mereka memang harus menunggu untuk mendengar keterangan Ki Pandi secepatnya malam nanti.

Tetapi mereka masih dapat mengharapkan ceritera dari pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong yang pernah dikalahkan oleh Laksana di padukuhan Gemawang.

Sampai fajar, Manggada, Laksana, Ki Carang Aking serta beberapa orang penyabit rumput masih sibuk di kandang kuda. Baru ketika langit menjadi terang, mereka sempal duduk beristirahat. Tetapi mereka sudah tidak mempunyai kesempatan untuk kembali ke pembaringan.

Namun yang mereka harapkan itu pun datang, bahwa lebih cepat dari dugaan mereka. Tiga orang pengikut Wira Sabet yang pernah dikalahkan oleh Laksana itupun datang ke kandang. Seorang dari mereka berkata, “Hari ini, dua orang di antara kami akan bertugas di Gemawang. Apakah kalian ada pesan untuk anak muda yang cengeng itu?”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggada menggeleng sambil menjawab, “Tidak. Tidak ada pesan khusus. Tetapi amati anak itu agar tidak berusaha menemui kawan-kawan kalian yang lain. Kalian harus selalu menakut-nakutinya agar anak itu benar-benar diam”

Keduanya mengangguk. Tetapi yang seorang kemudian bertanya, “Jika kami tidak menemuinya di jalan-jalan padukuhan?”

Manggada pun kemudian memberikan ancar-ancar rumah Wisesa. Katanya, “Jika perlu, cari anak itu di rumahnya”

“Baiklah” berkata orang itu sambil beranjak pergi. Tetapi Manggada sempat bertanya sambil lalu, “Bagaimana tugas kalian semalam?”

“Kami berhasil baik” jawab orang itu.

“Apakah kalian semalam pergi bersama Ki Sapa Aruh?” bertanya Manggada.

“Ya” jawab orang itu.

“Apakah Ki Sapa Aruh tidak kembali ke barak ini?” bertanya Laksana.

Orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Ki Sapa Aruh langsung pergi ke tempat lain. Ia masih mempunyai tugas penting yang harus dilakukan”

“Kapan ia akan datang kemari?” bertanya Manggada pula.

“Aku tidak tahu. Tetapi di pekan mendatang, nampaknya Ki Sapa Aruh akan lebih lama berada di tempat ini. Agaknya persoalan padukuhan Gemawang sudah akan di tanganinya dengan sungguh-sungguh. Apalagi mengingat perkembangan di padukuhan itu pada saat terakhir, yang agaknya sudah dilaporkan oleh Ki Wira Sabet dan Sura Gentong kepada Ki Sapa Aruh”

“Jadi selama ini persoalannya masih belum di tangani dengan sungguh-sungguh?”

“Belum. Selama ini Ki Sapa Aruh masih mempunyai persoalan penting yang harus diselesaikan. Nampaknya persoalan itu sudah selesai sekarang, sehingga menurut pembicaraannya dengan Wira Sabet dan Sura Gentong yang sempal aku dengar, Gemawang dan Kademangan Kalegen baru akan di tangani dengan sungguh-sungguh”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Sementara orang itu berkata, “Bukankah selama ini kami baru berusaha menakut-nakuti dan mematangkan keadaan? Namun dalam suasana yang berkembang sebagaimana kami kehendaki, maka justru telah terjadi perubahan yang berlawanan dari kehendak kami. Sebelum keadaan itu berkembang lebih buruk, sementara Ki Sapa Aruh sudah mempunyai kesempatan, maka persoalan Gemawang dan Kalegen akan segera diselesaikan”

Manggada tidak bertanya lagi. Demikian pula Laksana. Sementara Sampar pura-pura tidak mendengarkan pembicaraan itu. Ia masih menyibukkan diri dengan kuda-kuda di kandang. Terutama kuda putih, justru karena pemiliknya orang yang sangat keras dan kasar.

Namun, sepeninggal orang-orang itu, maka Manggada dan Laksana telah duduk bersama Ki Carang Aking di belakang kuda. Ternyata mereka telah membicarakan keterangan ketiga, orang pengikut Wira Sabet itu.

“Kita harus berbicara dengan Ki Pandi secepatnya” berkata Ki Carang Aking, “mudah-mudahan nanti malam ia benar-benar datang. Persoalannya tidak dapat ditunda-tunda lagi”

“Kita hanya dapat menunggu” sahut Manggada. Namun kemudian katanya, “Tetapi menilik keberhasilan perampokan semalam, maka menurut pendapatku, Ki Pandi akan datang nanti malam. Ki Pandi tentu akan memberi penjelasan tentang usahanya yang gagal itu”

Ki Carang Aking mengangguk-angguk. Katanya, “Banyak yang dapat kita ketahui disini. Tetapi ternyata gerak kami sangat terbatas. Rasa-rasanya aku ingin mengikuti Ki Pandi untuk dapat lebih banyak bergerak”

“Ki Carang Aking akan keluar dari barak ini?” bertanya Laksana.

Ki Carang Aking mengerutkan dahinya. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Tidak. Untuk sementara aku akan tetap bersama disini”

Dalam pada itu, Ki Pandi yang sudah berada di rumah Ki Kertasana menceriterakan apa yang telah dilakukannya semalam. Bahkan ia lelah gagal mencegah perampokan atas keempat orang saudagar perhiasan emas, berlian dan bahkan juga wesi aji.

“Tetapi aku telah menawarkan kerja sama dengan mereka jika mereka ingin melacak perhiasan dan wesi aji yang berhasil dirampok itu” berkata Ki Pandi

“Apakah mereka bersedia?” bertanya Ki Citrabawa.

“Nampaknya mereka mempertimbangkannya. Yang tidak mereka inginkan adalah jika mereka harus mengorbankan orang lain untuk mengambil kembali barang dagangan mereka itu”

Ki Kertasana dan Ki Citrabawa mengangguk-angguk. Dengan dahi yang berkerut Ki Kertasana bertanya, “Apakah mereka bersedia melakukannya bersama kita. Kita bukan sekedar bersedia berkorban untuk mengambil perhiasan yang dirampas itu. Tetapi kita mempunyai kepentingan sendiri”

“Itulah yang ingin aku tawarkan kepada mereka” jawab Ki Pandi.

“Apakah mereka berempat memiliki bekal yang cukup untuk melakukannya?” bertanya Ki Citrabawa.

“Menurut pengamatanku, mereka mempunyai ilmu yang tinggi. Tetapi malam itu mereka menghadapi terlalu banyak lawan, sehingga mereka tidak dapat mempertahankan diri”

“Jika demikian, sebaiknya kita segera menghubungi mereka untuk menyusun rencana selanjutnya” berkata Ki Citrabawa pula.

“Kita hubungi Ki Jagabaya” berkata Ki Kertasana.

Orang-orang padukuhan Gemawang itu pun harus berpacu dengan waktu. Karena itu, maka Ki Kertasana pun segera menghubungi Ki Jagabaya untuk membuat rencana lebih jauh.

“Baiklah Ki Kertasana” berkata Ki Jagabaya, “kita memang harus segera berbuat sesuatu. Sementara kita sudah berhasil menghimpun beberapa orang anak muda. Memberikan sedikit bekal bagi mereka, jika mereka benar-benar akan memasuki barak Wira Sabet dan Sura Gentong”

Sampurna yang ikut menemui Ki Kertasana itupun berkata, “Kami sudah siap, Ki Kertasana. Sementara Manggada dan Laksana sudah berada di dalam barak itu. Jika kita terlalu lama menunggu, maka aku mencemaskan keadaan Manggada dan Laksana. Jika orang-orang di barak itu tahu, bahwa Manggada dan Laksana sengaja memasuki barak itu, maka keselamatan keduanya akan terancam”

“Baiklah” berkata Ki Kertsana, “jika kita menganggap bahwa keadaan sudah memungkinkan, maka kita akan dapat segera bergerak. Kita tidak akan menunggu mereka datang ke padukuhan ini karena dengan demikian keadaan padukuhan ini akan menjadi ajang pertempuran. Orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu mungkin akan menimbulkan kerusakan yang besar. Bukan saja atas bangunan-bangunan, tetapi mungkin juga atas para penghuni padukuhan ini. Apalagi jika mereka terdesak”

Ki Jagabaya pun mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Kertasana telah menceriterakan pula tentang keempat orang saudagar yang nampaknya akan bersedia bergabung dengan mereka.

Demikianlah, maka mereka sependapat, bahwa mereka harus segera bertindak agar keadaan padukuhan mereka dan bahkan Kademangan mereka tidak menjadi semakin muram sehingga tata kehidupan tidak dapat dikendalikan dengan sewajarnya.

Dalam pada itu, pada hari itu juga, dua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong telah dalang ke padukuhan. Kedatangan mereka seperti biasa menimbulkan kecemasan dan ketakutan. Beberapa orang yang berada di luar halaman, segera masuk dan menutup pintu regol halaman rumah mereka. Namun tidak diselarak sebagaimana selalu mereka lakukan.

Kedua orang itu selain menyusuri jalan padukuhan, ternyata mereka sempat singgah pula di rumah Wisesa. Seperti pesan Manggada dan Laksana, maka keduanya berusaha untuk menakut-nakuti Wisesa, agar ia tidak lagi berusaha untuk mempersoalkan keberadaan Manggada dan Laksana di barak Wira Sabet dan Sura Gentong.

Ternyata Wisesa benar-benar menjadi ketakutan, sehingga anak muda itu agaknya tidak akan mengucapkannya lagi kepada siapapun juga. Karena jika alasan keberadaan Manggada dan Laksana yang sebenarnya diketahui, yang akan mengalami bencana bukan saja Manggada dan Laksana, tetapi juga ketiga orang yang telah membawanya masuk.

Sementara itu Ki Jagabaya dan Sampurna benar-benar telah mempersiapkan rencana untuk justru datang ke barak Wira Sabet dan Sura Gentong. Sampurna hari itu juga telah menghubungi anak-anak muda yang telah menyatakan kesediaannya untuk membantunya membebaskan padukuhan mereka dari bayangan kegarangan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Ketika kemudian malam turun, maka seperti yang diharapkan, maka Ki Pandi telah mengunjungi Manggada dan Laksana. Ki Carang Aking pun telah ikut terlibat pula dalam pembicaraan yang sungguh-sungguh tentang berbagai hal yang menyangkut rencana Ki Jagabaya untuk justru menyerang barak itu lebih dahulu.

“Empat orang saudagar itu akan aku hubungi pula. Jika mereka menyatakan kesediaan mereka, maka kita akan segera mulai”

“Nampaknya perhiasan dan wesi aji yang dirampas itu memang dibawa kemari” berkata Ki Carang Aking, “dengan demikian, maka jika kita berhasil, maka keempat orang saudagar itu akan mendapatkan barang-barang mereka yang harganya sangat tinggi itu kembali”

Namun dalam pada itu, Manggada pun telah mengatakannya pula, bahwa agaknya Ki Sapa Aruh telah berniat untuk dengan bersungguh-sungguh menangani persoalan padukuhan Gemawang dan Kademangan Kalegen.

Nampaknya tugas-tugas yang lain akan dikesampingkan. Perkembangan terakhir di padukuhan Gemawang agaknya tidak sejalan dengan rencana Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Baiklah, Ki Pandi” berkata Ki Carang Aking, “Ki Pandi agaknya harus semakin sering mengunjungi kami disini”

“Bukankah hampir setiap malam aku datang kemari?

“Lebih dari setiap malam” desis Ki Carang Aking.

“Jadi maksudmu juga di siang hari?” bertanya Ki Pandi pula.

“Tidak. Itu akan sulit dilakukan. Maksudku, jika perlu satu malam dua kali. Mungkin tentang hasil sebuah pembicaraan harus segera kami dengar atau sebaliknya” berkata Ki Carang Aking.

Ki Pandi termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Jika saja aku masih semuda Manggada dan Laksana”

Ki Carang Aking tersenyum. Katanya, “Kenapa bukan aku yang mencoba membantu Ki Pandi keluar masuk barak ini”

“Itu lebih berbahaya“ Manggadalah yang menyahut, “setiap saat orang-orang di barak ini memerlukan kita. Pagi, siang, malam dan kapan saja mereka kehendaki tanpa mengenal waktu. Saat mereka akan pergi dan saat mereka kembali”

Ki Carang Aking mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berdesis, “Aku tidak terbiasa mengungkung diri seperti ini. Aku terbiasa terbang kesana kemari menuruti keinginan sepasang kakiku ini”

Tetapi Ki Pandi segera menyahut, “Siapa yang mengikatmu disini? Ki Sapa Aruh?”

Ki Carang Aking tersenyum. Katanya, “Ya. Ki Sapa Aruh”

“Kau mengeluh karena kau telah membawa beban yang kau letakkan sendiri dipundakmu” berkata Ki Pandi.

Ki Carang Aking bahkan tertawa. Katanya, “Aku tidak mengira bahwa keterkaitanku akan menjadi berlama-lama seperti ini. Tetapi aku agaknya dapat mengharap, bahwa aku akan segera dapat meninggalkan penjara ini, setelah kalian datang”

“Ki Pandi pun tersenyum keluar dari penjara ini ”

Demikianlah, maka sejak hari itu, Ki Jagabaya di Gemawang telah meningkatkan segala persiapan meskipun dengan diam-diam. Sementara Ki Pandi lelah menghubungi lagi anak Ki Demang Rejandani yang telah dirampok habis-habisan oleh Ki Sapa Aruh dan para pengikutnya.

“Tidak akan ada korban yang sia-sia” berkata Ki Pandi, “jika orang-orang Gemawang terlibat dalam hal ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan perhiasan dan wesi aji yang dirampok itu. Tetapi karena orang-orang Gemawang mempunyai kepentingan sendiri. Selama ini mereka berada dalam bayangan kekuatan orang-orang yang telah merampok kalian disini”

Bukan saja anak Ki Demang Rejandani yang menemui Ki Pandi. Tetapi Ki Demang sendiri ikut menemuinya dan bahkan Ki Demang itulah yang menjawab, “Ki Sanak. Kami akan bekerja sama dengan Ki Sanak. Persoalannya bukan sekedar mereka merampok anakku. Tetapi perampokan itu telah melanggar hak atas orang-orang Kademangan Rejandani. Karena itu, bukan saja anakku dan ketiga orang saudagar kawan-kawannya itu yang akan melibatkan diri. Tetapi aku dan beberapa orang terpilih dari Kademangan ini. Menurut keterangan anakku, kelompok perampok itu adalah kelompok yang sangat kuat. Karena itu, maka tanpa kerja sama dengan pihak lain, Kademangan ini agaknya juga akan mengalami kesulitan”

Namun Ki Pandi pun telah berterus terang, bahwa orang-orang padukuhan Gemawang dan bahkan Kademangan Kalegen dibayangi oleh ketakutan. Nampaknya terhadap orang-orang Gemawang dan Kalegen yang lebih berbicara adalah justru dendam di hati Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Kami sedang mencari sisa-sisa keberanian di hati anak-anak mudanya” berkata Ki Pandi.

Ki Demang Rejandani itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kami dapat mengerti, Ki Sanak. Jika setiap hari mereka selalu ditakuti dengan segala macam cara, maka lambat laun, mereka benar-benar kehilangan keberanian”

“Beruntunglah bahwa kami masih menemukan kekuatan yang tersimpan di padukuhan Gemawang sehingga kami masih dapat merencanakan satu langkah yang mungkin sangat berbahaya” berkata Ki Pandi. Namun kemudian katanya pula, “Apalagi yang dihadapi adalah Ki Sapa Aruh”

Ki Demang mengerutkan dahinya. Kalanya, “Nama itu memang dapat menggelutkan jantung. Tidak ada orang yang dapat melawannya. Karena itu untuk membatasi kemampuannya, harus disiapkan beberapa orang yang khusus akan menghadapinya”

“Ya“ Ki Pandi mengangguk-angguk, “kita akan membicarakannya dengan matang sebelum kita melangkah. Tetapi kesediaan Ki Demang telah membesarkan hati kami. Ki Jagabaya padukuhan Gemawang akan mengatur segalagalanya”

“Baiklah” berkata Ki Demang Rejandani, “bahwa mereka telah merampok di daerah kami, tentu menjadi kewajiban kami untuk mencegah hal itu terulang lagi. Adalah juga tugas kami untuk menemukan kembali barang-barang yang telah dirampok itu. Bukan karena sebagian daripadanya adalah milik anakku, tetapi siapapun yang mengalami, maka kami semuanya mempunyai tugas untuk mengambilnya kembali. Karena itu, sebelum penghuni Kademangan ini mengalami nasib seperti orang-orang Gemawang yang telah dicengkam oleh ketakutan karena keberhasilan para pengikut Sapa Aruh untuk menciptakan suasana seperti itu, maka kami harus bertindak lebih cepat”

“Ya Ki Demang” berkata Ki Pandi, “jika keadaan ini berlangsung terlalu lama, maka Gemawang dan bahkan Kademangan Kalegen benar-benar tidak akan mampu berbuat apa-apa lagi. Dengan demikian maka Gemawang tidak akan pernah dapat bangkit lagi, karena pimpinan padukuhan itu akan berada di tangan Ki Sapa Aruh, yang perlahan-lahan tetapi pasti juga akan menguasai Kademangan Kalegen seluruhnya.

“Baiklah Ki Pandi” berkata Ki Demang Rejandani, “kami menunggu saat untuk bertindak. Kapanpun, kami sudah siap. Tidak hanya keempat orang yang sudah dirampok itu. Aku sendiri dan beberapa orang terkuat di Kademangan ini akan ikut serta”

Kesediaan Ki Demang itu membesarkan hati Ki Pandi. Kesediaan ini kemudian telah diteruskan kepada Ki Kertasana yang kemudian menyampaikannya kepada Ki Jagabaya.

“Baiklah” berkata Ki Jagabaya, “kita akan segera mulai. Tetapi sebaiknya kita bertemu langsung dan membuat rencana-rencana yang matang dengan Ki Demang, agar kita tidak terperosok ke dalam kesulitan karena salah paham”

Sebenarnyalah Ki Jagabaya dan Ki Kertasana serta Ki Pandi telah pergi ke Kademangan Rejandani untuk menemui Ki Demang dan keempat saudagar perhiasan dan wesi aji itu.

Akhirnya mereka menentukan, bahwa mereka dalam waktu dekat akan menyerang barak Wira Sabet dan Sura Gentong di sekitar pekan mendatang.

“Kita mengalami kesulitan untuk menentukan, apakah kita akan menunggu kedatangan Ki Sapa Aruh atau tidak?” berkata Ki Pandi, “jika kita menunggu, maka dapat terjadi kesulitan yang sulit di atasi oleh Manggada dan Laksana, karena sulit untuk mengetahui Ki Sapa Aruh. Tetapi jika tidak menunggu kehadirannya, maka ia akan tetap merupakan duri yang ada di dalam daging bagi ketenangan hidup khususnya di Gemawang”

“Ki Pandi benar” berkata Ki Kertasana. Untuk hal itu, maka sebaiknya Ki Pandi berbicara langsung dengan anak-anak itu. Bukankah Ki Pandi dapat memasuki barak itu kapan saja?”

“Hanya di waktu malam” jawab Ki Pandi.

“Nah, jika demikian, maka nanti malam Ki Pandi dapat membicarakannya dengan Manggada dan Laksana” berkata Ki Kertasana yang selalu dibayangi kecemasan tentang anak dan kemanakannya itu.

Ki Pandi mengangguk mengiakan. Katanya kemudian, “Besok kita akan berbicara lagi”

Demikianlah, maka Ki Jagabaya, Ki Kertasana dan Ki Pandi pun telah minta diri untuk kembali ke Gemawang.

Malam itu, seperti biasanya, Ki Pandi mengunjungi Manggada dan Laksana. Ki Pandi pun kemudian menceriterakan pertemuannya dengan Ki Jagabaya, Ki Kertasana dan Ki Demang Rejandani.

“Aku sanggup menemui mereka esok dengan membawa laporan, bagaimana menurut pendapat kalian dan Ki Carang Aking?”

“Memang rumit Ki Pandi. Kedua-duanya mengandung kemungkinan baik tetapi juga kemungkinan buruk” jawab Ki Carang Aking. Namun katanya kemudian, “Tetapi aku condong untuk menunggu kedatangan Ki Sapa Aruh. Orang itu harus kita hancurkan sampai tuntas. Agaknya tidak akan terlalu lama lagi. Selebihnya, Ki Sapa Aruh tidak begitu memperhatikan keadaan budak-budaknya, sehingga ia tidak dapat mengenali budak-budak itu dengan baik. Karena itu maka kelebihan satu dua orang di barak itu tidak akan menarik perhatiannya”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun agaknya ia masih mencemaskan nasib Manggadadan Laksana. Karena itu, maka ia pun kemudian bertanya, “Seandainya sengaja atau tidak sengaja Ki Sapa Aruh menemukan kalian disini?”

“Jika hal itu terjadi, maka apaboleh buat. Jika hidupku harus berakhir disini. Tetapi jika aku mati, maka Ki Sapa Aruh tentu akan mati juga” jawab Ki Carang Aking.

Ki Pandi masih mengangguk-angguk. Tetapi seandainya terjadi demikian, maka Manggada dan Laksana masih tetap berada dalam bahaya.

Ki Carang Aking yang melihat keragu-raguan itu berkata, “Untuk mengatasi kemungkinan itu, maka sebaiknya Ki Pandi segera mempersiapkan orang-orang yang bersedia melibatkan diri untuk melawan para penghuni barak itu. Ki Pandi akan membawa mereka secepat mungkin demikian diketahui Ki Sapa Aruh itu datang”

“Baiklah. Meskipun tetap mengandung bahaya, tetapi aku akan menempuh jalan ini. Besok aku akan minta Ki Jagabaya mempersiapkan segala-galanya” berkata Ki Pandi.

“Kami akan memberikan isyarat Ki Pandi” berkata Manggada kemudian, “jika kami ketahui ia berada disini di siang hari, maka kami akan menaruh sebuah cemeti kuda di ujung senggol timba itu. Bukankah ujung senggot itu akan nampak dari luar dinding?”

Sambil tersenyum Ki Pandi menjawab, “Dari jarak berapa puluh langkah aku dapat berdiri paling dekat dengan barak ini? Apakah kira-kira mata tuaku masih dapat melihat ujung cemeti itu? Kecuali itu, apakah berarti siang dan malam aku harus menunggui barak ini?”

Ki Carang Akingpun tertawa. Katanya, “Tetapi aku sependapat bahwa isyarat itu akan ditaruh di ujung senggot timba itu. Jika cemeti itu terlalu kecil, maka kami akan menaruh apa saja di ujung senggot itu”

“Bukankah ilu tidak perlu. Setiap malam aku datang kemari” berkata Ki Pandi.

“Maksudku, jika Ki Sapa Aruh datang di pagi hari. Maka waktu yang sehari menunggu kedatangan Ki Pandi di malam hari, tentu terlalu lama. Mungkin Ki Sapa Aruh itu sudah sempat melakukan sesuatu disini. Sementara itu, Ki Pandi kami mohon untuk melihat-lihat meskipun dari kejauhan di siang hari.”

Ki Pandi tertawa. Katanya, “Baiklah. Aku terima beban ini, karena agaknya memang hanya aku yang dapat melakukannya”

Demikianlah, maka di tengah malam dengan hati-hati Ki Pandi pun telah keluar dari barak itu dengan meloncati dinding sebagaimana sering dilakukannya.

Ternyata Ki Pandi yang meskipun sudah terhitung tua itu, adalah seorang penghubung yang baik, lagi-pagi ia sudah berbicara dengan Ki Kertasana dan Ki Citrabawa. Ki Kertasana kemudian berbicara dengan Ki Jagabaya dan bersama-sama pergi ke rumah Ki Demang Rejandani dengan Ki Pandi pula.

Merekapun kemudian telah mendapatkan kesempatan, bahwa menjelang pekan mendatang, Ki Demang, anaknya bersama tiga orang kawannya dan beberapa orang terkuat dari Kademangan Rejandani akan berada di hutan dekat barak Wira Sabet dan Sura Gentong. Ki Pandi yang sudah terbiasa berada di hutan itu akan mengatur tempat bagi mereka. Demikian pula orang-orang padukuhan Gemawang. Mereka juga akan berkemah di hutan itu pula.

Namun dalam pada itu. Manggada dan Laksana pun berusaha untuk mengetahui kapan Ki Sapa Aruh akan datang ke barak itu.

Justru sehari sebelum hitungan pekan itu sampai, Ki Sapa Aruh memang sudah berada di barak itu. Tetapi tidak sampai setengah hari. Nampaknya ia masih sangat sibuk sehingga sebelum matahari turun, ia sudah tidak ada lagi di barak.

Tetapi pada hari itu juga Manggada dan Laksana mendengar dari orang-orang yang pernah dikalahkan oleh Laksana itu, bahwa Ki Sapa Aruh akan kembali lagi dalam dua hari mendatang. Mereka mengatakan bahwa segala sesuatu sudah dipersiapkan untuk menyelesaikan persoalan padukuhan Gemawang.

“Dendam Ki Sura Gentong sudah sampai ke ubun-ubun“ berkata salah seorang dari mereka.

“Apakah ia juga mengatakan kepada para pengikutnya tentang dendam itu?” bertanya Laksana.

“Ya” jawab orang itu, “isterinya telah dibunuh oleh Ki Jagabaya. Karena itu, maka sebagai gantinya, maka ia akan mengambil anak Ki Jagabaya itu sebagai isterinya meskipun anak Ki Jagabaya itu masih terlalu muda”

“Itu tidak boleh terjadi” desis Laksana.

Tetapi sambil tersenyum Manggada bertanya, “Yang mana yang tidak boleh terjadi? Pembalasan dendam itu atau rencana Sura Gentong untuk mengambil anak Ki Jagabaya?”

“Kedua-duanya” jawab Laksana.

Tetapi Laksana itu pun tertawa pula.

Demikianlah, maka keterangan itu pun lelah disampaikan pula kepada Ki Pandi. Keterangan itulah yang dipergunakan sebagai ancar-ancar kehadiran Ki Sapa Aruh di barak itu.

Dengan demikian, maka Ki Pandi pun segera mempersiapkan kekuatan yang akan menyerang barak itu. Ki Jagabaya, Ki Kertasana, Ki Citrabawa bersama beberapa orang anak muda yang dipimpin Sampurna telah berkemah di dalam hutan bersama Ki Demang Rejandani, anaknya dan ketiga orang kawannya, bersama beberapa orang yang dianggap memiliki kelebihan dan keberanian di Kademangan Rejandani.

Seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang pernah dikalahkan oleh Laksana, maka dua hari kemudian, Ki Sapa Aruh benar-benar telah berada di barak itu. Tetapi Ki Sapa Aruh tidak sendiri. Ia datang bersama seorang kawannya dan beberapa orang pengikutnya.

Ki Carang Aking pun menjadi semakin berhati-hati. Ia telah memberitahukan kepada kedua orang muridnya yang juga berada di barak itu sebagai dua orang penyabit rumput.

Sambil membersihkan kuda di kandang, maka Ki Carang Aking telah memberikan petunjuk-petunjuk kepada Manggada, Laksana dan dua orang muridnya yang sedang memotong-motong rumput bagi kuda-kuda yang sudah dibersihkan itu.

Untunglah, bahwa sebentar kemudian matahari turun. Ki Sapa Aruh yang memang tidak banyak menaruh perhatian kepada budak-budak itu tidak sempat melihat kekuatan-kekuatan yang tersembunyi di sekitar kandang kuda itu.

Malam itu, Ki Pandi telah datang pula ke kandang. Namun Ki Carang Aking telah memperingatkannya, bahwa malam itu Ki Sapa Aruh telah berada di barak.

“Ia bukan saja mempunyai penglihatan dan pendengaran yang tajam, tetapi penggraitanya melampaui panggraita seekor kuda”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan segera keluar dari barak ini. Tetapi kita harus membuat persetujuan. Kapan sebaiknya, kami akan menyerang barak ini”

“Jangan tertunda-tunda” jawab Ki Carang Aking, “jika kalian memang sudah siap, maka sebaiknya kalian melakukan serangan itu”

“Besok, saat fajar menyingsing, kami akan memasuki barak ini. Kami sudah mendapat keterangan dari kalian tentang kekuatan yang ada, sehingga kami dapat memperhitungkan kekuatan yang kami miliki”

“Tetapi perlu diperhitungkan. Ki Sapa Aruh tidak datang sendiri. Ia datang dengan seorang kawannya yang mungkin juga berilmu tinggi serta empat orang pengikutnya. Agaknya mereka termasuk kepercayaan Ki Sapa Aruh untuk memperkuat kedudukannya disini jika pada saatnya ia akan memasuki padukuhan dan tentu selanjutnya Kademangan Kelegen” berkata Ki Carang Aking selanjutnya.

Ki Pandi menganggukangguk. Katanya, “Baiklah. Kami akan memperhitungkan kembali kekuatan yang ada pada kami”

“Hati-hatilah Ki Pandi” berkata Ki Carang Aking kemudian.

Demikianlah, dengan sangat berhati-hati Ki Pandi keluar dari dinding barak itu. Ia sudah terbiasa melakukannya. Tetapi justru karena Ki Sapa Aruh ada di barak itu, maka Ki Pandi harus menjadi lebih berhati-hati.

Ketika Ki Pandi berada diperkemahan di hutan sebelah barak itu, maka ia pun telah memberitahukan kehadiran Ki Sapa Aruh.

“Manggada dan Laksana tidak perlu memasang isyarat di ujung senggot timba. Sebenarnya akupun cemas, bahwa isyarat itu akan dapat memanggil kecurigaan kepada orang-orang yang ada di dalam barak itu” berkata Ki Pandi pula.

Malam itu juga Ki Jagabaya dan Ki Demang Rejandani memutuskan untuk menyerang perkemahan itu esok saat fajar menyingsing. Karena itu, maka merekapun segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mereka harus benar-benar siap untuk berperang sebagaimana sekelompok prajurit yang turun ke medan.

Menurut perhitungan Ki Pandi, maka kekuatan yang ada di perkemahan itu akan dapat mengatasi kekuatan yang ada di dalam barak. Meskipun demikian Ki Pandi itu pun memperingatkan, “Namun bagaimanapun juga kita harus menganggap bahwa kita akan berhadapan dengan lawan yang sangat tangguh. Di dalam barak itu tinggal orang-orang yang sudah terbiasa melakukan kekerasan. Bahkan hidup mereka sehari-hari memang diwarnai oleh kekerasan. Suasana yang sangat berbeda dengan suasana hidup kita sehari-hari. Apalagi Ki Sapa Aruh dan kepercayaannya. Mereka nampaknya memiliki kelebihan dari kebanyakan penghuni barak itu. Selain mereka masih ada saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong”

“Baik Ki Pandi” berkata Ki Jagabaya, “kita sudah sepakat untuk bertempur dalam satu kekuatan. Mungkin ada di antara kita yang mempercayakan segala kemampuan kita secara pribadi. Tetapi pada dasarnya kita akan bertempur bersama-sama. Karena itu, maka jika perlu kita akan bertempur dalam kelompok-kelompok kecil tergantung pada lawan yang akan kita hadapi, karena agaknya sulit bagi kita untuk dapat memilih lawan”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Kita akan bertempur dalam satu kebulatan kekuatan”

“Di dalam barak itu ada Manggada dan Laksana” berkata Ki Kertasana.

“Ya” sahut Ki Pandi, “selain mereka masih ada tiga orang yang dapat membantu kita. Seorang tua yang berilmu tinggi bersama dua orang muridnya”

“Bagaimana mereka dapat berada disana? Apakah mereka dapat dipercaya?” bertanya Ki Jagabaya.

“Mereka sengaja menyusup sebagaimana Manggada dan Laksana. Tetapi tentu dengan cara yang berbeda. Agaknya Ki Carang Aking memang membayangi Ki Sapa Aruh” jawab Ki Pandi.

“Tetapi bagaimana kita mengisyaratkan kepada mereka yang ada di dalam barak itu, bahwa kita akan menyerang mereka esok saat fajar menyingsing?” bertanya Ki Demang Rejandani.

“Bukankah aku baru saja dari barak itu? Meskipun belum pasti, tetapi aku sudah mengisyaratkan bahwa besok saat fajar menyingsing kita akan menyerang perkemahan itu. Meskipun demikian, biarlah nanti aku memberitahu isyarat lagi kepada mereka”

“Ki Pandi akan memasuki barak itu lagi?” bertanya Ki Demang.

“Tidak. Itu tidak perlu. Biarlah kedua ekor harimauku memberitahu isyarat itu esok menjelang lajar”

“Harimau?” bertanya Ki Demang dan Ki Jagabaya hampir berbareng.

Ki Pandi mengerutkan keningnya. Ia tidak sengaja ingin menyebut kedua ekor harimaunya. Namun di luar sadarnya, ia sudah mengatakannya. Karena itu, maka iapun menjawab, “Ya. aku memelihara dua ekor harimau yang dapat membantuku dalam keadaan yang khusus. Besok, aku juga akan membawanya. Tetapi mereka tidak akan melibatkan diri jika aku tidak memberikan perintah”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bertanya, “Apakah kedua ekor harimau itu tidak dapat salah menyerang kawan sendiri?”

“Aku sendiri harus mengendalikannya” jawab Ki Pandi.

Demikianlah, maka keputusan itu telah disampaikan kepada semua orang yang berada di perkemahan itu. Mereka pun telah mendapat penjelasan, siapakah yang akan mereka hadapi. Cara yang akan mereka pergunakan dalam pertempuran itu, sehingga karena itu, maka Ki Jagabaya pun berkata, “Seperti yang sudah aku katakan kita tidak akan berpencaran. Seandainya kita memecah kelompok ini, maka kita harus masih tetap berada di dalam kelompok-kelompok meskipun lebih kecil. Kita harus menyadari, bahwa orang-orang yang ada di barak itu secara pribadi memiliki kemampuan dan bahkan kebiasaan untuk melakukan kekerasan. Namun dalam pada itu, kita berbekal tekad untuk memberantas kejahatan sebagaimana sering mereka lakukan. Dengan menghancurkan mereka, maka kita akan menghentikan kejahatan-kejahatan yang akan mereka lakukan kemudian”

Demikianlah, maka Ki Jagabaya pun telah menasehatkan kepada orang-orang yang berada di perkemahan itu untuk beristirahat. Besok pagi-pagi mereka harus sudah bergerak ke barak itu.

Sementara itu, Ki Jagabaya telah menunjuk orang-orang yang khusus untuk menyiapkan perbekalan bagi mereka. Termasuk persediaan makan. Beberapa orang ditugaskan untuk mengambil makanan yang dipersiapkan di padukuhan. Meskipun jaraknya cukup jauh, tetapi itu adalah cara yang paling baik untuk tidak menarik perhatian, karena mereka tidak dapat menyiapkannya di perkemahan.

Tugas mereka yang mempersiapkan makan dan minum itu tidak kalah beratnya dari tugas yang dibebankan kepada mereka yang akan memasuki barak Wira Sabet dan Sura Gentong itu.

Malam itu, mereka yang akan turun ke medan masih sempat beristirahat meskipun tidak terlalu lama. Karena di dini hari, mereka harus sudah bangun dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Karena tugas-tugas kekerasan seperti itu bukannya kebiasaan mereka, maka beberapa orang memang menjadi tegang. Di dinginnya dini hari, keringat mereka sudah mulai membasahi pakaian mereka.

Tetapi sikap Ki Jagabaya, Ki Demang Rejandani, Ki Kertasana, Ki Citrabawa dan beberapa orang yang lain cukup meyakinkan, sehingga ketegangan beberapa orang itu pun menjadi agak mengendor.

Menjelang fajar, maka Ki Jagabaya masih sempat memperingatkan orang-orang yang siap bergerak itu, untuk memeriksa senjata mereka. Di pertempuran yang akan terjadi, senjata-senjata itu jangan mengecewakan. Bahkan beberapa orang telah membawa senjata rangkap. Disamping sebilah pedang, ada yang masih membawa keris atau pisau belati yang panjang.

Anak-anak muda Gemawang, yang belum berpengalaman telah mendapat petunjuk bahwa lawan mereka mungkin akan mempergunakan senjata yang tidak biasa mereka jumpai. Mungkin tongkat besi, kapak, rantai baja dan bahkan mungkin senjata lontar seperti paser dan cakram.

Karena itu, maka Ki Jagabaya pun telah memperingatkan mereka agar mereka tidak mencoba untuk bertempur seorang-seorang.

Namun Ki Kertasana pun kemudian berkata, “Meskipun kalian harus berhati-hati, tetapi tidak semua orang yang berada di barak itu memiliki kemampuan bertempur. Mungkin mereka nampak garang, tetapi mereka tidak mempunyai otak yang cukup baik untuk membuat perhitungan-perhitungan yang mapan di pertempuran. Karena itu, maka kalian pun jangan sampai kehilangan perhitungan. Jika perlu jangan segan-segan menjauhi lawan yang memang tidak terlawan. Kalian tidak sendiri dalam pertempuran itu”

Ketika langit menjadi kemerah-merahan, maka Ki Pandi meninggalkan perkemahan itu untuk memanggil kedua ekor harimaunya. Kemudian diperintahkannya kedua ekor harimau itu mendekati barak dan memberikan isyarat dengan auman mereka yang memang agak berbeda dengan aum harimau kebanyakan. Namun hanya orang-orang tertentu sajalah yang dapat membedakannya.

Sementara itu, seperti biasa Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana telah berada di kandang saat warna fajar mulai nampak di langit. Sementara kedua murid Ki Carang Aking telah menyiapkan keranjang mereka yang biasa mereka pergunakan untuk menyabit rumput. Namun mereka tidak segera meninggalkan kandang. Mereka sudah mendapat penjelasan dari Ki Carang Aking, bahwa pagi itu akan terjadi sesuatu yang mungkin akan menentukan keberadaan barak itu.

“Kita menunggu isyarat” berkata Ki Carang Aking.

“Isyarat apa yang akan diberikan oleh Ki Pandi?” desis Manggada.

“Mungkin mereka langsung datang menyerang” jawab Ki Carang Aking.

Namun dalam pada itu, maka tiba-tiba saja mereka mendengar aum harimau tidak terlalu jauh dari barak itu. Aum harimau yang berbeda dengan aum harimau liar yang berada di hutan itu.

Ki Carang Aking yang mengenal suara harimau itu pun berdesis, “Aum harimau itu. Nampaknya Ki Pandi benar-benar akan datang”

Namun yang mendengar suara itu bukannya hanya Ki Carang Aking, kedua muridnya, Manggada dan Laksana saja. Tetapi aum harimau yang mempunyai ciri tersendiri itu juga didengar oleh Ki Sapa Aruh.

Ki Sapa Aruh pun kemudian memanggil seorang kawannya yang datang bersamanya serta Wira Sabet dan Sura Gentong.

Demikian mereka datang, maka Ki Sapa Aruh itu pun segera bertanya, “Kalian dengar aum harimau itu?”

Wira Sabet dan Sura Gentong termangu-mangu sejenak. Mereka memang tidak begitu menghiraukannya. Namun kawan Ki Sapa Aruh yang datang bersamanya itu langsung berkata, “Apakah orang bongkok itu ada disini?”

“Maksudmu?” bertanya Sura Gentong.

“Apakah di antara orang-orang yang bekerja untukmu disini terdapat orang bongkok?” bertanya Ki Sapa Aruh.

“Maksud Ki Sapa Aruh, budak-budak itu?” bertanya Sura Gentong.

“Ya” jawab Ki Sapa Aruh.

Sura Gentong pun kemudian bertanya kepada Pideksa yang juga telah hadir pula disitu, “He, apakah di antara budak-budak itu terdapat orang bongkok?”

Pideksa menggeleng sambil berdesis, “Tidak paman. Tidak ada orang bongkok di barak ini”

Tetapi Ki Sapa Aruh yang tertarik oleh aum harimau itu berkata, “Aku ingin melihat orang-orangmu yang ada di barak ini”

“Maksud Ki Sapa Aruh?” bertanya Pideksa.

“Kumpulkan semua orang. Aku ingin melihat mereka seorang demi seorang” jawab Ki Sapa Aruh.

Pideksa tidak segera mengerti maksud Ki Sapa Aruh. Karena itu Ki Sapa Aruh itu pun menjelaskan, “Semua orang yang kau sebut budak-budak itu harus dikumpulkan sekarang. Mereka semua tentu sudah bangun dan mulai melakukan tugas mereka sendiri-sendiri”

“Lakukan Pideksa” berkata Wira Sabet, “perintahkan satu dua orang untuk memanggil kawan-kawannya. Jangan ada yang terlampaui seorangpun”

“Baik ayah” jawab Pideksa yang kemudian turun ke halaman.

Dipanggilnya seorang yang disebutnya budak yang sudah mulai menyapu halaman.

Dengan ketakutan budak yang sedang menyapu halaman itu melangkah mendekat sambil merunduk-runduk.

“Panggil semua kawan-kawanmu. Ingat, semua budak-budak yang ada di barak ini. Dari mereka yang setiap hari mengisi jambangan pakiwan, mereka yang menumbuk padi, mereka yang menyabit rumput, mereka yang memelihara dan merawat kuda dan semua orang yang lain”

“Baik, baik anak muda” jawab orang itu.

“Lakukan beranting supaya lebih cepat. Dengar, perintah ini datang dari Ki Sapa Aruh. Karena itu, maka harus kau lakukan dengan sebaik-baiknya”

Orang yang menyapu halaman itupun segera berlari-lari memanggil semua orang yang dianggap budak-budak di barak itu. Yang seorang meneruskan panggilan itu kepada yang lain tanpa ada yang terlampaui.

Di kandang kuda, Ki Carang Aking menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa Ki Sapa Aruh tentu menaruh kecurigaan terhadap sesuatu.

“Tentu aum harimau itu” desis Ki Carang Aking.

“Apakah Ki Sapa Aruh dapat mengenali suara harimau itu?” bertanya Manggada.

“Ki Sapa Aruh adalah orang yang memiliki pengalaman dan pengenalan di dunia olah kanuragan secara luas. Ia tentu sudah mendengar tentang seorang bongkok yang dapat mengendalikan sepasang harimau meskipun mungkin Ki Pandi sendiri belum mengenal Ki Sapa Aruh selain isyarat tentang pribadinya” sahut Ki Carang Aking yang nampak lebih bersungguh-sungguh.

“Ki Pandi memang pernah menyebut Ki Sapa Aruh sebagai seorang yang berilmu sangat tinggi” sahut Manggada.

“Nah, agaknya Ki Pandi tidak memperhitungkan bahwa isyaratnya itu dapat memanggil perhatian Ki Sapa Aruh” desis Ki Carang Aking. Namun katanya kemudian, “tetapi kita tidak usah cemas. Sebentar lagi Ki Pandi dan orang-orang yang menyertainya itu akan datang. Sekarang, marilah kita ikut terkumpul dengan orang-orang yang disebutnya budak-budak itu”

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, di halaman depan barak itu, orang-orang yang disebutnya budak-budak itu telah berkumpul. Di antara mereka memang terdapat Manggada, Laksana, Ki Carang Aking dan kedua orang muridnya.

Yang ikut menjadi berdebardebar adalah ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong yang telah membawa Manggada dan Laksana memasuki barak itu. Jika akhirnya Manggada dan Laksana dapat dikenali kemampuannya oleh Ki Sapa Aruh, maka ketiga orang itu tentu akan mengalami kesulitan pula.

Tetapi untuk mengenal orang-orang yang disebut budak itu, Ki Sapa Aruh memerlukan waktu. Ketika ia mulai menuruni tangga bangunan induk barak itu, maka Ki Jagabaya lelah mulai bergerak. Sekali lagi Ki Jagabaya memperingatkan anak-anak muda Gemawang yang berhasil di gelitik untuk bangkit itu, agar mereka bertempur dalam kelompokkelompok kecil sehingga mereka akan dapat saling membantu.

Ki Carang Aking yang tua itu berdiri di deret paling belakang dari antara orang-orang yang disebut budak-budak itu. Sementara Ki Sapa Aruh mulai mengenali orang-orang yang disebut budak-budak itu seorang demi seorang.

Ki Carang Aking memang menjadi tegang. Jika Ki Pandi datang terlambat, maka mungkin sekali ia harus mengambil sikap tersendiri. Ki Sapa Aruh termasuk orang yang tidak dapat ditawar lagi sikapnya. Ia akan dapat bertindak tanpa menunggu otaknya sempat membuat pertimbangan-pertimbangan lain.

Dalam pada itu, langit pun menjadi semakin merah. Di halaman barak itu, Ki Sapa Aruh memanggil orang-orang yang telah berkumpul itu seorang demi seorang.

Para penghuni barak itu memperhatikan sikap Ki Sapa Aruh dengan tegang. Mereka menyaksikan, bagaimana Ki Sapa Aruh menyentuh, menekan dada dan punggung seseorang, kemudian mengguncang bahu dan pundaknya.

Dua tiga orang sudah lewat. Tetapi tidak ada orang yang mencurigakan. Sementara itu, yang disebut orang bongkok itu pun tidak ada pula di antara mereka.

Tetapi Ki Sapa Aruh ingin melihat semua orang yang dikumpulkan itu sampai orang yang terakhir.

“Jika orang bongkok itu tidak ada di antara mereka, tentu orang lain yang sengaja disusupkan di antara para budak itu” berkata Ki Sapa Aruh kepada kawannya yang berdiri disampingnya ikut melihat kemungkinan-kemungkinan yang tersembunyi pada budak-budak itu.

Sementara itu Wira Sabet dan Sura Gentong serta saudara-saudara seperguruannya memperhatikan pengamatan Ki Sapa Aruh itu dengan saksama.

Lima, enam dan sepuluh orang telah dilampaui. Sementara itu, langit pun menjadi semakin terang. Bayangan sinar matahari mulai menyeruak keremangan fajar.

Dalam pada itu, Ki Jagabaya dan kawan-kawannya telah merayap semakin dekat. Mereka mendekati barak tidak dari arah depan. Tetapi mereka berusaha mendekati pintu butulan. Ki Pandi yang paling mengenal barak itu, berada di paling depan bersama Ki Jagabaya. Mereka berusaha untuk menghindari penglihatan para penghuni barak yang bertugas berjaga-jaga untuk mencapai jarak yang sependek-pendeknya.

Para penghuni barak itu memang agak lengah. Mereka merasa tempat mereka itu tidak diketahui oleh siapapun kecuali penghuni barak itu sendiri. Setiap orang yang sudah berada di dalam barak itu tidak akan pernah dapat keluar lagi.

Dengan demikian, maka Ki Pandi dan Ki Jagabaya berhasil mendekati pintu butulan pada dinding di sisi sebelah kiri dari lingkungan barak yang tertutup itu.

Namun ketika keduanya memberikan isyarat bagi kawan-kawannya yang kemudian mendekati sambil berlari-lari, maka kehadiran mereka telah menarik perhatian seorang penghuni barak itu yang sedang bertugas mengawasi pintu butulan itu. Meskipun pengawasan mereka lebih banyak ditujukan untuk menjaga agar tidak ada budak yang melarikan diri, namun hiruk-pikuk di luar dinding telah memaksanya untuk dengan segera memanjat tangga panggungan di sebelah pintu butulan itu.

Orang itu pun terkejut ketika ia melihat sekelompok orang telah berada di depan pintu butulan. Dengan serta-merta, orang itu pun berteriak memberitahukan bahwa barak mereka telah diserang.

“Sekelompok orang berusaha memecahkan pintu butulan dari luar“ teriak orang itu.

Teriakan itu didengar oleh penghuni barak yang lain, yang ikut pula berteriak memberitahukan serangan itu.

Sementara itu, langit sudah menjadi terang. Cahaya matahari mulai nampak di bibir awan yang tipis yang dihanyutkan angin pagi.

Teriakan itu benar-benar mengejutkan seisi barak. Ki Sapa Aruh yang sedang sibuk itu pun terkejut pula. Kepada kawannya ia berkata, “Tentu orang bongkok itu”

“Ya” jawab kawannya, “Agaknya ia ingin membunuh dirinya.”

“Lanjutkan pekerjaan yang menjemukan ini. Aku akan melihat, apakah benar orang bongkok itu datang. Jika ia benar-benar mencampuri persoalanku, maka aku akan menyelesaikannya sekarang. Hati-hati, tentu ada orang-orangnya yang disusupkan di antara budak-budak ini”

Kawan Ki Sapa Aruh itu mengangguk. Sementara itu, Ki Sapa Aruh pun telah mengajak Wira Sabet dan Sura Gentong untuk pergi ke pintu butulan.

“Biar Pideksa membantumu disini. Yang lain akan pergi bersamaku” berkata Ki Sapa Aruh.

Ki Sapa Aruh pun segera meninggalkan tempat itu bersama Wira Sabet dan Sura Gentong. Dua orang saudara seperguruan merekapun ikut pula bersama mereka, sedangkan yang lain menunggui kawan Ki Sapa Aruh yang sedang melihat budak-budak yang ada di halaman itu seorang demi seorang.

Ki Carang Aking yang berdiri di deret paling belakang bersama dua orang muridnya serta Manggada dan laksana menarik nafas panjang. Meskipun demikian, mereka masih harus memper-hitungkan kawan Ki Sapa Aruh yang tentu terhitung orang berilmu tinggi pula.

Seorang demi seorang yang diamatinya telah lepas tanpa menimbulkan kecurigaan. Sentuhan tangannya pada pusat dan simpul-simpul syaraf sama sekali tidak menimbulkan getar yang menarik perhatiannya.

Namun menjelang orang-orang yang terakhir membuat Ki Carang Aking menjadi semakin berdebar-debar. Ia harus mengambil satu sikap, jika ternyata orang itu dapat menyentuh dengan kesadaran perabanya, kemampuan Ki Carang Aking itu.

Menjelang orang terakhir sebelum kawan Ki Sapa Aruh itu memanggil Ki Carang Aking, maka Ki Carang Aking menggamit Manggada dan Laksana serta memberi isyarat kepada kedua orang muridnya.

Dalam pada itu, Ki Jagabaya dan kawan-kawannya ternyata telah mampu memecahkan pintu butulan. Dengan sepotong kayu yang cukup besar, mereka beramai-ramai menghantam pintu itu dari luar. Ketika mereka menghantamkan sepotong kayu itu untuk yang ketiga kalinya, maka pintu itu pun pecah dan butulan itu pun menganga lebar-lebar.

Ki Jagabaya dan kawan-kawannya itu pun kemudian telah menyusup memasuki pintu butulan itu. Namun demikian mereka berada di dalam, maka merekapun terhenti. Ki Sapa Aruh, Wira Sabet, Sura Gentong dan saudara-saudara seperguruannya yang menyertainya, telah berdiri menghadang bersama para pengikutnya. Orang-orang yang nampaknya kasar dan keras dengan senjata di tangan mereka masing-masing.

Anak-anak muda Gemawang yang datang bersama Ki Jagabaya itu memang menjadi berdebar-debar. Mereka mulai memperhatikan senjata-senjata yang ada di tangan para penghuni barak itu. Seperti telah diberitahukan kepada mereka, bahwa penghuni barak itu mempergunakan berbagai macam senjata yang tidak terbiasa dipergunakan kebanyakan orang. Sebenarnyalah bahwa ada di antara mereka yang membawa tongkat besi, kapak, bindi dan bahkan canggah yang nampak mengerikan. Seorang yang bertubuh gemuk meskipun tidak terlalu tinggi, membawa pedang yang bergerigi di punggungnya. Sedangkan yang lain membawa tombak pendek dengan mata tombak berkait.

Senjata-senjata itu memang mengerikan. Tetapi mereka selalu ingat pada pesan Ki Jagabaya, bahwa mereka tidak akan bertempur seorang-seorang, mereka akan bertempur dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga atau empat orang.

“Aku sudah mengira” berkata Ki Sapa Aruh, “orang bongkok itu menjadi biang keladi yang mengganggu ketenangan padepokan kami ini”

“Padepokan? Adakah ini sebuah padepokan yang mengajarkan budi pekerti, unggah-ungguh dan mengajarkan ketakwaan terhadap Yang Maha Esa?” bertanya Ki Pandi.

“Kau kira padepokan ini tempat apa?” Ki Sapa Aruh itu ganti bertanya.

Namun Ki Jagabaya Gemawang itulah yang menyahut, “Bertanyalah kepada Wira Sabet dan Sura Gentong. Ia tahu pasti, tempat ini tempat apa. He, siapakah kau?”

“O, jadi kau belum mengenal aku?” Ki Sapa Aruh itu pun kemudian berpaling kepada Wira Sabet dan Sura Gentong, “Siapakah orang yang sombong ini?”

“Orang inilah yang sampai sekarang masih mengaku Jagabaya padukuhan Gemawang. Orang itulah yang telah membunuh isteriku” jawab Sura Gentong.

Ki Sapa Aruh mengangguk-angguk. Katanya, “Sebaiknya kau mengenal aku, meskipun barangkali kau sudah mengenal namaku. Akulah yang dipanggil Ki Sapa Aruh”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk di luar sadarnya. Namun ia memang menjadi berdebar-debar, Ia sudah mendengar betapa orang yang bernama Sapa Aruh itu memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Namun Ki Pandi yang dapat melihat betapa pengaruh nama itu dapat menggetarkan jantung Ki Jagabaya dan barangkali beberapa orang yang lain itupun berkata, “Ki Jagabaya. Orang inilah yang namanya selalu disebut-sebut orang. Mungkin bayangan kita tentang Ki Sapa Aruh agak berbeda dengan apa yang kita temui sekarang ini”

“Setan bongkok, apa maksudmu?” bertanya Ki Sapa Aruh.

“Aku hanya ingin menempatkan kau di tempat yang sewajarnya. Sampai sekarang, orang yang mendengar namamu menjadi berdebar-debar, sementara kau sendiri tidak mempunyai kelebihan apa-apa” jawab Ki Pandi.

Ki Sapa Aruh menggeram. Sementara Ki Jagabaya menjadi semakin berdebar-debar. Ia menganggap Ki Sapa Aruh orang yang berilmu sangat tinggi, sehingga untuk menahannya, maka sekelompok orang yang berilmu harus bersama-sama melawannya. Tetapi Ki Pandi nampaknya tidak begitu silau terhadap orang itu.

“Kau jangan mencoba menyembunyikan kecemasanmu. Bersiaplah. Aku akan membuktikan, bahwa kau akan menyesali kata-katamu itu” geram Ki Sapa Aruh.

Tetapi Ki Pandi menyahut, “Jika aku datang kemari, Ki Sapa Aruh, aku memang merencanakan sebuah pertemuan. Biarlah kawan-kawanku yang datang bersamaku berusaha untuk mencegah orang-orangmu yang akan mengganggu permainan kita”

Ki Sapa Aruh itu pun kemudian memberi isyarat kepada Wira Sabet dan Sura Gentong serta dua orang saudara seperguruannya untuk segera melibatkan dirinya. Sementara itu, langit pun menjadi semakin terang.

Ketika Sura Gentong bersiap untuk bertempur, maka ia pun berkata, “Satu kesempatan yang bagus. Ki Jagabaya, kita membuat perhitungan sekarang”

Tetapi Ki Kertasana dengan cepat menyahut, “Tidak Ki Sura Gentong. Ki Jagabaya mempunyai tugas tersendiri. Ia memegang pimpinan dalam tugas ini, sehingga ia tidak boleh terikat dalam pertempuran melawan siapapun”

“Ki Kertasana. Apa maksudmu?” bertanya Wira Sabet.

“Biarlah aku mewakilinya” jawab Ki Kertasana.

“Setan kau. Apakah kau tahu apa yang sedang kau lakukan?” bertanya Wira Sabet.

“Aku menyadari sepenuhnya, Ki Wira Sabet.”

Wajah Wira Sabet menjadi merah. Ia mengenal Ki Kertasana sebagai seorang pendiam yang tidak terlalu banyak melibatkan diri dalam persoalan-persoalan yang terjadi di padukuhan Gemawang. Ia bukan pula termasuk orang-orang yang beramai-ramai mengusirnya dan bahkan rasa-rasanya dengan penuh kebencian orang-orang padukuhan itu akan membunuhnya waktu itu.

Tetapi Wira Sabet tidak mempunyai banyak waktu. Sementara itu, beberapa orang benar-benar sudah terlibat dalam pertempuran yang segera menyala.

“Jika demikian, bersiaplah untuk mati” geram Wira Sabet, “aku tidak peduli siapa kau, karena kau sudah melibatkan diri dalam perbuatan gila ini”

Ki Kertasana pun telah bersiap sepenuhnya. Namun ia masih berkata, “Ki Wira Sabet, jika aku ikut datang kemari, karena aku ingin mengambil anakku, Manggada yang kau perlakukan dengan kasar disini bersama adik sepupunya, Laksana”

Sura Gentong itu memang teringat kepada Manggada yang ada di dalam barak itu bersama sepupunya Laksana. Dengan geram Wira Sabet, itu menyahut, “anakmu berusaha merusak rencanaku”

Ki Kertasaha tidak berbicara lebih banyak lagi. Ia pun kemudian telah bergeser sambil memperpsiapkan diri menghadapi orang yang mendendam seisi padukuhan Gemawang, terutama Ki Jagabaya.

Dalam pada itu, maka Sura Gentong pun telah melibat ke dalam pertempuran pula. Namun ia harus berhadapan dengan Ki Citrabawa yang belum dikenalnya.

“Aku ayah Laksana. Anak yang telah diambil dan di perlakukan sebagai budak disini” berkata Ki Citrabawa.

“Darimana kau tahu bahwa anakmu diperlakukan sebagai budak disini?” bertanya Sura Gentong.

Citrabawa tersenyum. Katanya, “Kau tentu mencurigai bahwa ada di antara orang-orangmu yang berkhianat”

“Ya” jawab Sura Gentong, “setelah kami menghancurkan kalian, kami akan dapat menemukannya”

Citrabawa tidak sempat menyahut karena Sura Gentong telah mulai menyerangnya.

Dengan demikian, maka pertempuran pun segera berkobar. Sementara Ki Sapa Aruh bersiap menghadapi Ki Pandi, maka orang-orang Gemawang dan Rejandani telah terlibat dalam pertempuran.

Namun sebelum Ki Sapa Aruh sendiri mulai bertempur, ia sempat melihat anak Demang Rejandani yang pernah dirampoknya. Karena itu, maka ia pun berteriak hampir di luar sadarnya, “He saudagar perhiasan dan wesi aji anak Demang Rejandani. Kenapa tiba-tiba saja kau ikut dalam rombongan tikus-tikus Gemawang ini?”

“Aku akan mengambil milikku itu kembali” jawab anak Ki Demang Rejandani.

Tetapi Ki Sapa Aruh itu menjawab, “Kau tidak akan mendapatkan perhiasan dan wesi aji itu kembali. Tetapi kau justru akan menyerahkan nyawamu sebagaimana tikus-tikus dari Gemawang ini.”

Tetapi Ki Demang yang mendengar pembicaraan itu pun berkata, “Barak ini akan dihancurkan hari ini. Kami tidak akan memberi kesempatan lagi kepada kalian. Beruntunglah kami, tikus-tikus kecil yang hari ini mendapat perlindungan dari orang-orang berilmu yang akan dapat mematahkan kegiatan kalian untuk selanjutnya”

“Setan, siapa kau?” bertanya Ki Sapa Aruh.

“Aku Demang Rejandani” jawab Ki Demang.

“O, jadi kau bawa anakmu untuk membunuh diri disini” geram Ki Sapa Aruh.

Ki Demang tidak menjawab. Ia pun segera terlibat dalam pertempuran. Ternyata para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong cukup banyak. Dua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong yang ikut merampok dirumah Ki Demang Rejandani telah bertempur pula melawan saudagar-saudagar perhiasan yang telah diperlakukan dengan kasar itu.

Sementara itu, Ki Pandi yang masih berdiri termangu-mangu itu pun kemudian bertanya, “Apakah kau sudah selesai dengan sesorahmu. Aku datang untuk mencari kawan bermain. Karena itu, aku jangan kau tinggal berbicara saja dengan setiap orang yang datang memasuki barakmu itu”

“Iblis bongkok. Kau akan menyesal dengan kesombonganmu. Kau sudah mengajak orang-orang itu datang kemari. Kematian demi kematian akan membebani saat terakhirmu. Seharusnya jika kau ingin membunuh dirimu, datanglah seorang diri. Jangan mengajak orang lain ikut membunuh diri bersamamu”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah kau sudah selesai? Jika kau masih akan berbicara, berbicaralah. Apa saja, sebelum kau akan terdiam untuk selama-lamanya. Aku masih akan memberimu waktu”

Ki Sapa Aruh menjadi sangat marah. Ia tidak berbicara lagi. Tetapi ia pun dengan serta-merta telah meloncat menyerang Ki Pandi. Tetapi Ki Pandi sudah menyiapkan diri sebaik-baiknya. Karena itu serangan Ki Sapa Aruh itupun mampu dielakkannya.

Pertempuran pun kemudian telah menebar. Anak-anak muda Gemawang yang belum berpengalaman tidak melupakan pesan dari Ki Jagabaya. Sementara Sampurna berada di antara mereka sambil memberikan petunjukpetunjuk.

Selain anak-anak muda Gemawang, maka orang-orang Kademangan Rejandani pun telah terlibat pula dalam pertempuran yang menjadi semakin sengit. Ki Demang berusaha untuk membangkitkan tekad yang terguncang oleh kenyataan yang mereka hadapi.

Namun orang-orang Rejandani itu menjadi berbesar hati ketika mereka sempat melihat anak Ki Demang itu bertempur dengan garang bersama-sama dengan ketiga orang kawannya, sementara rasa-rasanya Ki Demang selalu ada disamping mereka.

Ketika pertempuran itu berlangsung semakin sengit, maka di halaman barak itu, Ki Srayatapa, kawan Ki Sapa Aruh yang mengambil alih tugasnya meneliti orang-orang yang dianggap budak di barak itu, sudah sampai pada orang-orang terakhir.

Orang yang kemudian dipanggilnya adalah orang tua yang ditugaskan untuk merawat kuda-kuda di kandang.

Ketika namanya dipanggil, maka ia pun berbisik kepada Manggada, “Lindungi aku. Ia akan mengetahui siapa aku dan kami akan bertempur disini”

Manggada mengangguk kecil. Ia sadar, bahwa di tempat itu masih ada Pideksa dan dua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Tetapi baik Manggada, maupun Laksana, agaknya merasa segan untuk berhadapan dengan Pideksa. Anak muda itu, secara tidak langsung berusaha untuk meringankan tekanan-tekanan atas diri mereka berdua. Bagaimanapun juga Pideksa adalah kawan bermain Manggada di masa kecilnya. Sisa-sisa persahabatan di masa kecil itu masih saja membekas di dalam dada mereka.

Jika pertempuran harus terjadi di tempat itu, maka Manggada dan Laksana akan berusaha berhadapan dengan kedua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong. Meskipun keduanya adalah orang-orang yang berpengalaman, namun Manggada dan Laksanapun selain memiliki pengalaman yang cukup, juga telah menempa diri dalam tataran-tataran yang semakin tinggi.

Ketika Manggada memandang wajah tampan salah seorang saudara seperguruan Wira Sabet, maka dadanya menjadi berdebar-debar. Orang yang nampaknya bersih dan ramah itu, justru pernah merendahkannya dan bahkan menghinanya. Orang itu pernah menginjak punggungnya, menganggapnya landasan untuk naik ke punggung kuda dan sikap-sikap yang menyakitkan hati hatinya.

Sementara itu, Ki Carang Aking telah melangkah dengan ragu-ragu mendekati Ki Srayatapa, kawan dekat Ki Sapa Aruh. Sejenak kemudian, maka orang tua itu sudah berdiri terbungkuk-bungkuk di hadapan orang yang sedang meneliti orang-orang yang dianggap budak itu untuk menemukan seorang yang dicurigai menyusup ke dalam barak itu.

Orang tua itu memang telah merasa bahwa ia tidak akan dapat melepaskan diri. Karena itu, justru bersiaga menghadapi segala kemungkinan.

Ketika Ki Srayatapa meletakkan tangannya di pundak orang tua itu, ia terkejut. Tetapi ia masih tetap menahan diri. Perlahan-lahan ia menyentuh punggung Ki Carang Aking di sebelah-menyebelah tulang belakang.

Terasa getaran ilmu yang tinggi menyentuh ujung jari Ki Srayatapa yang sangat peka. Dengan segera ia mengetahui bahwa orang tua itu adalah orang yang berilmu. Karena itu, maka ia tidak akan memberinya kesempatan. Ia ingin langsung menghancurkan simpul-simpul syaraf di punggungnya.

Tetapi Ki Carang Aking yang berilmu tinggi itu pun merasakan getar syaraf di ujung-ujung jari Ki Srayatapa. Terasa di ujung jari itu denyut jantungnya yang menjadi semakin cepat sejalan dengan gejolak di dadanya.

Karena itu, sebelum ujung-ujung jari itu menekan dan menghancurkan simpul-simpul syarafnya, maka Ki Carang Aking itupun segera meloncat menjauh.

Ki Srayatapa terkejut. Ia kehilangan kesempatan yang sangat baik. Tetapi orang tua itu memang sudah terlepas dari tangannya.

“Kenapa kau menghindar, kek?” bertanya Ki Srayatapa.

“Sakit sekali. Punggung tua ini sama sekali tidak tahan atas tekanan yang sangat lemah sekalipun” jawab Ki Carang Aking.

Tetapi Ki Srayatapa itu tertawa. Katanya, “Bukankah aku belum mulai menekan punggungmu?”

Ki Carang Akingpun tertawa pula. Katanya, “Jari-jarimu ternyata sangat kasar, sehingga sentuhan lembut sekalipun telah menyakiti kulitku.”

Orang-orang yang disebut budak-budak di barak itu menjadi heran dan bahkan kemudian tegang melihat sikap orang tua perawat kuda itu.

“Apa yang dilakukan?” mereka saling bertanya di antara para budak itu.

Tidak seorang pun yang dapat memberi jawaban. Namun mereka menjadi heran dan bahkan menjadi sangat tegang.

Kedua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong itupun bergeser mendekat pula. Hampir berbareng mereka bertanya, “Kenapa dengan orang tua itu?”

“Sudah berapa lama ia berada disini?” bertanya Ki Srayatapa kepada orang yang berwajah tampan itu.

“Sudah lama” jawabnya.

“Dan kalian tidak tahu tentang orang tua itu?” bertanya Ki Srayatapa pula.

“Kenapa dengan orang itu?” bertanya saudara seperguruannya yang seorang lagi.

Ki Srayatapa tersenyum. Katanya, “Kalian tidak memperhati-kan orang-orang yang kalian jadikan budak-budak kalian itu. Ki Sapa Aruhpun tidak. Ternyata orang ini adalah orang yang sedang dicari oleh Ki Sapa Aruh”

“Orang itu tidak bongkok” berkata saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu.

“Memang bukan orang ini yang disebutnya orang bongkok itu. Tetapi orang ini tidak kalah berbahayanya dengan orang bongkok itu. Isyarat aum harimau peliharaan orang bongkok itu tentu ditujukan kepada orang ini”

“Jika demikian, serahkan orang tua itu kepadaku” berkata orang yang berwajah tampan itu.

Tetapi Ki Srayatapa itu tertawa. Katanya, “Orang ini bukan lawanmu”

“Maksud Ki Srayatapa? Apakah anak-anak dapat menyelesaikan jika terhitung orang berilmu tinggi?”

“Maksudku bukan anak-anak. Bahkan kaupun tidak akan dapat menyelesaikannya” berkata Ki Srayatapa.

“Jadi?” bertanya orang berwajah tampan itu.

“Yang dapat menyelesaikan adalah aku atau Ki Sapa Aruh sendiri” jawab Ki Srayatapa.

“Jadi?” bertanya saudara seperguruan Wira Sabet yang seorang lagi.

“Ia adalah seorang yang berilmu sangat tinggi, sehingga kalian justru tidak melihat kelebihannya. Tetapi perannya di barak ini akan berakhir hari ini”

“Kepung orang ini. Ia tidak boleh lepas. Aku sendiri akan menyelesaikannya”

Namun ketika orang-orang itu bergeser untuk mengepung Ki Carang Aking, maka hiruk-pikuk pertempuran terdengar semakin mendekat.

“Setan” geram Ki Srayatapa, “orang-orang ilu tentu telah mendapat isyarat dari dalam. Dan orang yang memberikan isyarat itu adalah orang ini”

“Jika demikian, kita akan meremukkan kepalanya” geram saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu.

Ki Carang Aking sendiri justru tertawa sambil berkata, “Kita jangan disibukkan oleh persoalan kecil ini. Kalian harus tahu, bahwa barak ini sudah jatuh ketangan orang yang kau sebut orang bongkok itu. Bersama orang bongkok itu datang pula Ki Jagabaya Gemawang yang selama ini kalian takut-takuti. Kalian mengira bahwa Gemawang benar-benar sudah menjadi pingsan. Namun hari ini mereka datang untuk menunjukkan bahwa darah anak-anak muda Gemawang masih tetap menghangat di tubuhnya. Bahkan bersama mereka telah datang pula anak Demang Rejandani yang telah kalian rampok habis-habisan. Mereka datang untuk mengambil kembali perhiasan dan wesi aji yang telah kalian rampok itu”

“Sudahlah” sahut Ki Srayatapa, “kau tidak usah mengigau. Sekarang bersiaplah. Kau akan segera diakhiri disini. Baru kemudian aku dan Ki Sapa Aruh akan mengurusi orang bongkok itu”

Kedua saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong itu pun segera mempersiapkan diri. Demikian pula Pideksa dan beberapa orang pengikut yang lain.

Namun saudara seperguruan Wira Sabet yang tampan itu terkejut ketika Manggada tiba-tiba saja melangkah mendekatinya sambil berkata, “Ki Sanak. Aku ingin kau membungkuk dihadapanku. Aku ingin menginjak punggungmu sebagai landasan. Aku tidak ingin naik kuda sekarang ini. Tetapi aku ingin melihat kau dihinakan sebagaimana pernah kau lakukan atasku”

Wajah orang itu menjadi merah seperti bara. Untuk sesaat orang itu justru bagaikan membeku. Kemarahan yang membakar jantungnya membuai mulutnya bagaikan tersumbat.

Yang kemudian tertawa pula adalah Laksana. Dengan nada tinggi ia berkata, “Kenapa kalian menjadi bingung? He, aku masih mempunyai seseorang untuk diajak bermain. Marilah. Bukankah kau saudara seperguruan paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong?”

Saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah bengis itu juga menjadi bingung. Tetapi anak muda yang untuk beberapa lama dijadikan budak untuk merawat kuda itu meskipun seperti seseorang yang sedang bermain-main, namun cukup mengandung kesungguhan.

Dalam pada itu, Pideksapun berteriak, “He, Manggada dan Laksana, apa yang akan kalian lakukan?”

“Pideksa” jawab Manggada, “aku memang telah memilih lawan. Aku tidak dapat melawanmu dalam pertempuran yang bakal terjadi. Kita pernah bersahabat di masa kanak-kanak. Sikapmu pun masih aku hargai. Aku masih merasakan sisa-sisa persahabatan kita selama kami berada di barak ini”

“Tetapi kau harus menyadari, siapakah orang yang kau tantang itu?” Pideksa justru menjadi cemas.

“Aku akan mencobanya” jawab Manggada.

Kecemasan memang membayang di wajah Pideksa. Namun saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu justru mulai tersenyum. Wajahnya mulai nampak cerah lagi.

Katanya, “Aku kagum kepadamu anak muda. Sejak semula aku memang sudah mengaguminya, bahwa kalian masih berani berkuda berkeliaran di padukuhan Gemawang di saat-saat yang paling gawat. Meskipun akhirnya kalian berhasil ditangkap dan dibawa masuk ke dalam barak ini. Sekarang aku menjadi semakin kagum bahwa kalian berdua berani menantang kami berdua”

Manggada dan Laksana tidak menjawab lagi. Namun keduanya pun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan”

Ki Srayatapa pun kemudian berkata pula, “Anak-anak memang tidak tahu bahwa seharusnya mereka tidak menggenggam bara. Itu bukan satu keberanian. Tetapi satu kebodohan”

Tetapi Ki Carang Akinglah yang menyahut, “Tidak. Mereka tidak dapat disamakan dengan seorang anak kecil yang tiba-tiba saja memungut bara. Tetapi keduanya sadar, bagaimana cara memukul seekor serigala. Meskipun serigala itu setampan wajah domba yang manis sekalipun”

Ki Srayatapa tidak mengumpatinya. Tetapi ia justru tertawa. Katanya, “Jangan terlalu yakin Ki Sanak. Kau sendiri akan mati hari ini”

Kedua orang itu pun telah bergeser pula. Seakan-akan mereka telah mencari tempat yang terbaik untuk bertempur.

Sementara itu Pideksa sendiri menjadi bingung. Namun penyabit rumput yang sehari-hari dianggap kurang waras itu pun telah mendekatinya sambil berkata, “Kita juga berkesempatan untuk bermain-main”

Pideksa menarik nafas panjang. Katanya, “Ternyata kalian telah mengelabui kami selama ini”

“Ya” jawab murid Ki Carang Aking itu, “sebelum kau bertanya, biarlah aku lebih dahulu menjawab. Namaku Sirat. Aku murid perawat kuda yang tua itu”

Pideksa mengangguk-angguk. Kalanya, “Baiklah. Kita akan berhadapan dalam kedudukan yang berbeda sekarang”

Sementara itu, pertempuran yang sengit telah terjadi di dalam lingkungan dinding barak itu. Ki Pandi masih bertempur melawan Ki Sapa Aruh. Keduanya adalah orang-orang berilmu sangat tinggi, sehingga beberapa orang yang menyaksikan menjadi bingung, apakah yang sebenarnya telah terjadi dengan kedua orang itu.

Di halaman depan barak itu, Ki Srayatapa pun telah bertempur pula melawan Ki Carang Aking, sementara Manggada dan Laksana telah terlibat dalam pertempuran yang garang melawan saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu ternyata memang seorang yang sangat bengis. Watak orang itu sangat jauh berbeda dengan ujudnya yang tampan, senyumnya yang banyak nampak tersungging di bibirnya. Bahkan kata-katanya yang kadang-kadang lembut dan ramah.

Demikian pertempuran mulai, maka orang itu telah menyerang dengan garang dan bahkan kasar. Seakan-akan orang itu ingin membunuh lawannya pada ayunan serangannya yang pertama.

Tetapi orang itu sempat terkejut. Ternyata anak muda yang bernama Manggada dan yang telah menjadi budak beberapa lama di barak itu, tidak dapat langsung dilumatkannya. Bahkan Manggada masih sempat membalas serangan-serangannya dengan serangan pula.

“Anak iblis kau” geram orang itu, “jika kau tidak segera mati, maka kau akan mengalami kematian yang paling menyengsara-kan bagimu”

Manggada tidak menjawab. Tetapi ia melihat saat kelengahan lawannya justru pada saat ia berbicara.

Karena itu, maka Manggada telah memanfaatkan kesempatan itu, ia tidak menyerang kearah dada atau lambung lawannya, yang tentu akan dapat ditangkis atau dihindarinya. Tetapi tiba-tiba saja Manggada menjatuhkan diri. Kakinya dengan cepat menyapu kaki lawannya. Manggada memang tidak berniat untuk dengan cepat menghentikan perlawanan saudara seperguruan Wira Sabat dengan serangannya itu. Tetapi ia justru ingin menghentak lawannya untuk mempengaruhi ketahanan jiwaninya.

Serangan dengan sapuan kaki itu memang tidak diduga-duga. Karena itulah, maka sapuan kaki itu benar-benar telah menebas kedua kakinya yang berdiri tegak disaat ia berbicara.

Keseimbangan orang itu telah terguncang. Bahkan demikian derasnya sapuan kaki Manggada, maka orang itu telah kehilangan keseimbangannya.

Tubuh orang berwajah tampan dan berpakaian rapi itu terbanting jatuh di tanah. Namun dengan sigapnya ia berguling dan kemudian melenting berdiri lagi.

Ketika orang itu tegak, ia melihat Manggada berdiri sambil tersenyum memandanginya. Bahkan anak muda itu pun kemudian berkata, “Kenapa kau kotori pakaianmu yang tentu berharga mahal itu? Aku sendiri tidak peduli bahwa pakaianku akan menjadi kotor, karena setiap hari pakaian ini pula yang aku pakai bahkan tidur di kandang kuda sekalipun”

Orang berwajah tampan itu menggeram. Dengan mengerah-kan tenaga dan kekuatannya orang itu meloncat menyerang dengan menjulurkan kakinya.

Manggada yang mengetahui bahwa serangan itu dilandasi dengan kekuatan yang sangat besar, tidak berniat untuk membenturnya. Dengan tangkasnya ia mengelak, sehingga serangan itu tidak mengenainya sama sekali.

Namun dengan demikian, kemarahan pun telah meledak di kepalanya. Anak muda itu benar-benar telah menghinanya dengan cara yang sangat menyakitkan hati.

Dalam pada itu, Laksana pun telah bertempur pula melawan saudara seperguruan Wira Sabet yang lain. Saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah garang. Orang itu tidak banyak berbicara. Tetapi ketika pertempuran terjadi, maka orang itu mulai dengan hati-hati.

Laksana menanggapi sikap lawannya dengan sikap berhati-hati pula. Untuk beberapa saat mereka masih saling menjajagi. Bahkan orang yang pendiam itu sempat memperingatkan dirinya sendiri, “Jika anak ini tidak mempunyai bekal yang cukup, ia tidak akan berani melakukan sebagaimana dilakukannya sekarang ini.”

Sementara itu Pideksa yang bertempur melawan salah seorang murid Ki Carang Aking sempat melihat bagaimana Manggada menjatuhkan saudara seperguruan ayahnya yang berwajah tampan itu.

“Tidak masuk akal” desis Pideksa. Manggada adalah anak muda yang umurnya tidak terpaut banyak dengan dirinya. Tetapi Manggada ternyata telah memiliki ilmu yang tinggi. Yang luput dari penglihatan ayahnya dan orang-orang berilmu tinggi lainnya di barak itu.

Dengan demikian Pideksa pun menyadari, bahwa kehadiran Manggadadan Laksana di barak itu tentu telah disengaja dan diperhitungkannnya dengan sebaik-baiknya, sebagaimana kehadiran Ki Carang Aking yang secara kebetulan mereka bersama-sama di tempatkan di kandang kuda.

Dalam pada itu, para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong memang menjadi heran, bahwa budak-budak itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan dua orang penyabit rumput yang dianggap tidak waras itu pun telah bertempur pula bersama Manggada dan Laksana. Namun dalam pada itu, para pengikut yang lain tidak sempat turun kemedan melawan orang-orang yang selama dalam perbudakan bekerja untuk merawat kuda itu. Arus serangan yang memasuki barak dari pintu butulan itu telah sampai ke halaman depan barak itu.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun telah menyala di beberapa sudut barak. Betapapun garangnya para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, bahkan orang-orang yang dibawa Ki Sapa Aruh, namun kehadiran orang-orang Gemawang yang tidak diduganya itu benar-benar telah mengguncang seisi barak itu.

Wira Sabet dan Sura Gentong yang telah yakin akan mampu menguasai padukuhan Gemawang dan bahkan kemudian Kademangan Kleringan bersama Ki Sapa Aruh, benar-benar menjadi sangat marah karena serangan yang tiba-tiba dan sama sekali tidak diduga. Keduanya merasa bahwa keberanian orang-orang Gemawang telah benar-benar dihancurkan. Anak-anak muda yang mencoba untuk mengganggu rencananya telah tertangkap dan dibawa ke barak itu.

Sura Gentong lah yang sangat menyesal, kenapa ia tidak membunuh saja Ki Jagabaya dan sebelumnya.

Dalam pada itu, Ki Sapa Aruh bertempur dengan sengitnya melawan Ki Pandi, orang bongkok namun berilmu tinggi. Keduanya justru telah memisahkan diri dari hiruk pikuk pertempuran. Keduanya seakan-akan telah memilih tempat yang tidak akan terganggu oleh orang lain.

Ternyata di halaman barak itu, Ki Srayatapa yang berhadapan dengan perawat kuda tua itu pun telah bertempur tanpa terganggu oleh pertempuran di sekitarnya. Agaknya masing-masing telah terikat dan berhadapan dengan lawan mereka.

Manggada yang bertempur melawan saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu telah mulai meningkatkan ilmu dari tataran ke tataran. Ia sadar, bahwa lawannya itu tentu memiliki kelebihan dari kebanyakan orang. Namun Manggada juga bukan orang kebanyakan.

Lawan Manggada memang merasa aneh menghadapi anak muda itu. Anak muda yang dianggapnya budak itu tiba-tiba saja bertempur melawannya.

Lawan Manggada menggeram ketika ia benar-benar tidak mampu menghancurkan lawannya dalam waktu singkat. Bahkan ketika ia berusaha dengan mengerahkan kemampuannya, budak yang masih muda itu masih saja mampu mengimbanginya.

Sementara itu, lawan Laksana yang berwajah garang itu justru lebih berhati-hati menghadapi lawan yang masih muda. Orang itu meningkatkan ilmunya selapis demi selapis. Ia sadar sepenuhnya, bahwa ia tidak akan dapat dengan cepat mengalahkan lawannya yang muda itu.

Bahkan orang itu sempat mengaguminya. Katanya, “Jika kau memilik ilmu sedemikian baiknya, demikian pula saudaramu itu, maka aku yakin bahwa kalian memasuki barak ini tentu dengan sengaja. Orang-orangku tidak akan mampu menangkap kalian berdua meskipun orang-orangku itu bertiga”

“Kami memang ingin melihat rumah tangga paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong” jawab Laksana.

“Aku percaya bahwa kau memang sengaja melakukannya” jawab orang itu.

Laksana tidak menjawab. Tetapi sikap lawannya itu justru membuatnya lebih berhati-hati. Ia sadar bahwa lawannya itu menghadapinya dengan bersungguh-sungguh. Tidak sekedar dihanyutkan oleh perasaan marahnya.

Di arena pertempuran yang lain, Sampurna dan anak-anak muda Gemawang bertempur melawan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Ternyata anak-anak muda itu tidak mengecewakan. Apalagi di antara mereka terdapat orang-orang Rejandani yang dipimpin langsung oleh Ki Demang yang berpengalaman.

Sementara pertempuran di barak itu berkobar semakin panas, maka di Gemawang, jalan-jalan masih saja nampak sepi. Orang-orang Gemawang tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Ki Jagabaya dan beberapa orang anak muda yang ternyata telah berhasil dibangunkan oleh Sampurna. Namun yang mereka ketahui, bahwa mereka tidak melihat Ki Jagabaya dan Sampurna lewat di jalan-jalan padukuhan.

Tetapi tidak banyak perubahan sikap terjadi di Gemawang. Sejak semula orang-orang Gemawang memang lebih banyak berada di dalam lingkungan rumah dan halamannya saja. Demikian Manggada dan Laksana dibawa oleh para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, maka jalan-jalan di Gemawang menjadi semakin sepi.

Namun dalam pada itu, Wisesa telah menyempatkan diri pergi ke rumah Ki Jagabaya. Ketika ia mengetuk pintu, maka yang terdengar bukan suara Sampurna, tetapi suara Tantri di belakang pintu seketeng.

“Kau siapa?” bertanya Tantri meskipun ia juga sudah terbiasa mendengar irama ketukan pintu Wisesa.

“Aku, Tantri” jawab Wisesa.

“Untuk apa kau kemari?” bertanya Tantri, “sebaiknya kau pulang saja. Bukankah aku pernah mengatakan, bahwa dalam keadaan seperti ini, kita tidak usah bertemu dan berbicara tentang apapun karena akhirnya pembicaraan kita akan berselisih semakin lama semakin jauh”

“Tetapi, beri kesempatan aku kali ini saja untuk menemuimu Tantri. Aku hanya sebentar. Tidak lebih” Wisesa justru mulai merengek seperti anak-anak yang kehilangan mainan.

Akhirnya hati Tantri menjadi lunak juga. Bagaimanapun juga, Wisesa sudah terlalu sering datang ke rumahnya.

Karena itu, maka Tantri itu pun mulai mengangkat selarak pintu seketengnya sambil berkata, “Baiklah. Aku mempunyai waktu sebentar. Tetapi hanya sebentar”

“Aku juga hanya sebentar Tantri” jawab Wisesa. Demikian pintu terbuka, maka Wisesa itu pun segera melangkah masuk sambil berkata, “Selarak pintunya lagi Tantri”

“Tidak. Bukankah kau hanya sebentar?” sahut Tantri,

“Meskipun demikian, orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong selalu berkeliaran” jawab Wisesa.

“Tetapi tidak hari-hari ini. Wira Sabet dan Sura Gentong serta para pengikutnya tidak akan datang” jawab Tantri.

“Kenapa? Setiap saat mereka dapat saja datang kemari” jawab Wisesa.

“Hari ini justru ayah pergi ke baraknya bersama anak-anak muda pedukuhan Gemawang yang masih sisa-sisa keberaniannya untuk melakukan apa yang kau takutkan itu Wisesa”

“Maksudmu menyerang barak Wira Sabet dan Sura Gentong?” wajah Wisesa menjadi tegang.

“Ya” jawab Tantri, “ayah tidak mempunyai pilihan lain, sementara Ki Bekel masih saja tetap ragu-ragu”

“Tantri, ayahmu dan Sampurna telah menyurukkan kepala anak-anak muda kemulut buaya”

“Apa yang sebenarnya kau maui?” bertanya Tantri.

“Tetapi kenapa aku tidak kau persilahkan duduk?” bertanya Wisesa.

“Kau hanya sebentar disini” jawab Tantri.

“Tantri, aku sudah memperingatkan beberapa kali, cara yang ditempuh Ki Jagabaya dan Sampurna itu salah. Sebaiknya mereka tidak mempergunakan kekerasan. Aku sedang memikirkan gagasan-gagasan baru yang dapat menyelesaikan persoalan kita disini dengan Wira Sabet dan Sura Gentong itu”

“Telan kembali gagasan-gagasanmu itu” berkata Tantri dengan serta merta, “semua orang akan jemu mendengar gagasan-gagasanmu yang tidak pernah sesuai dengan pendapat orang lain”

”Tantri, kenapa kau tiba-tiba menjadi kasar begitu?” bertanya Wisesa.

“Sudahlah. Pulanglah” berkata Tantri.

“Kau mengusir aku?”

“Bukankah kau sendiri mengatakan bahwa kau hanya sebentar?”

Wajah Wisesa menjadi merah. Dipandanginya Tantri dengan tajamnya. Sudah lama ia sering mengunjungi gadis itu. Tantri tentu tahu, bahwa kedatangan Wisesa tentu bukannya tanpa maksud.

Sebelum Manggada dan Laksana datang ke pedukuhan itu, sikap Tantri dinilainya baik kepadanya. Bahkan Tantri telah memberinya harapan-harapan. Namun tiba-tiba Tantri berubah menjadi keras dan bahkan kasar.

Tiba-tiba iblis telah mengembuskan pikiran buruk ke dalam otak anak muda itu. Dengan nada berat Wisesa itu bertanya, “Jadi, ayah dan kakakmu sekarang pergi ke barak Wira Sabet dan Sura Gentong?”

“Ya” jawab Tantri berperasangka buruk.

Tiba-tiba mata Wisesa itu menjadi liar. Ia memandang keliling. Namun ia tidak melihat scorang pun.

Tantri mengerutkan dahinya. Ia melihat perubahan sikap dan sorot yang memancar di mata Wisesa.

Dengan suara yang bagaikan ditelan di tenggorokan Wisesa berkata, “Aku akan bertemu dengan ibumu”

“Ibu sedang sibuk di dapur” jawab Tantri.

“Siapa saja yang dapat aku ajak bicara di rumah ini?”

“Tidak ada” jawab Tantri, “dua orang pembantu ayah telah ikut bersama ayah. Pembantu perempuan ibu sedang pergi membeli kebutuhan ibu di dapur.”

“Kau bohong” geram Wisesa.

“Buat apa aku membohongimu” jawab Tantri, “sekarang sebaiknya kau pergi”

“Tantri” berkata Wisesa yang menjadi semakin liar, “aku memang akan segera pergi. Aku akan pergi bersamamu”

“Bersama aku?” bertanya Tantri.

“Ya. Aku sangat mencintaimu. Kita akan dapat hidup bersama di luar pedukuhan ini. Aku yakin, bahwa Ki Jagabaya akan gagal dan Wira sabet serta Sura Gentong akan menjadi semakin garang. Kau tentu benar-benar akan diambil menjadi isterinya”

“Ayah tidak akan gagal” jawab Tantri.

“Kau salah menilai usaha yang dilakukan oleh ayahmu, Tantri” berkata Wisesa itu selanjutnya.

“Tidak” jawab Tantri, “aku yakin”

“Apapun yang terjadi, aku akan membawamu pergi dari rumah ini. Kau dapat berada di rumah nenekku di kademangan lain. Kau akan lepas dari buruan Sura Gentong”

“Tidak. Aku tidak akan pergi” jawab Tantri.

“Aku akan membawamu” berkata Wisesa kemudian.

Tantri melangkah surut ketika Wisesa bergeser mendekatinya. Dengan nada tinggi Tantri berkata, “Jadi kau tanyakan ibuku, pembantu-pembantu di rumah ini sekedar untuk meyakinkan bahwa rumah ini kosong, sehingga kau dapat memaksa aku pergi bersamamu kerumah nenekmu?”

“Ya. Kau tidak mempunyai pilihan lain” berkata Wisesa dengan mata yang semakin liar.

Tantri menjadi semakin ngeri melihat mata Wisesa. Tetapi ia masih menjawab, “Wisesa. Kau kira kau dapat membawaku keluar dari halaman ini? Seandainya hal itu dapat kau lakukan, apakah kau akan menyeret aku di sepanjang jalan padukuhan? Aku punya mulut yang dapat berteriak-teriak Wisesa”

“Jari-jariku terlalu kuat Tantri. Aku dapat mencekikmu sehingga suaramu tidak akan sempat melintasi kerongkonganmu”

“Tetapi aku dapat mati karenanya. Apa gunanya membawa mayatku ke rumah nenekmu? Kau tentu akan mendapat kesulitan jika hal itu kau lakukan. Nah, kau sadari itu?”

Wisesa menjadi termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata, “Tantri, apapun yang akan terjadi, aku akan membawamu pergi dari rumah ini. Kau akan menjadi isteriku. Aku harap kau tidak akan mempersulit perjalanan kita. Kita akan berjalan sebagai sepasang pengantin baru. Aku akan menggandeng tanganmu atau kau akan berpegangan lenganku. Aku minta kau tidak akan berteriak-teriak di sepanjang jalan, karena hal itu hanya, akan membuatmu sengsara. Aku dapat memperlakukan dirimu sekehendakku, bahkan aku akan meyiksamu dengan cara apapun juga. Nah, marilah Tantri. Bukankah kita saling mencintai”

“Wisesa. Apakah kau sudah gila? Jika kau paksa aku dengan cara apapun, maka besok ayah akan mencarimu dan membunuhmu”

“Ayahmu akan mati di barak Wira Sabet dan Sura Gentong. Orang yang datang kepadanya, tidak akan dapat pulang kembali”

“Jika bukan ayah, tentu kakang Sampurna akan melakukannya”

“Kakangmu itu juga akan mati”

“Jika bukan mereka, tentu Manggada dan Laksana”

Mendengar nama itu disebut, Wisesa benar-benar menjadi sangat marah. Katanya, “Jangan memaksaku membunuhmu”

“Apakah itu pertanda cintamu padaku?” bertanya Tantri.

“Jarak antara cinta dan kebencian itu hanya selangkah. Jarak antara mencumbu dan membunuh tidak lebih dari satu lambaian tangan” jawab Wisesa yang matanya sudah menjadi merah.

Wajah Tantri memang tegang. Sementara Wisesa bergeser lagi selangkah maju, “Tidak ada gunanya kau menolak aku Tantri. Aku dapat berbuat lembut, tetapi aku juga dapat berbuat kasar”

“Kau sudah menjadi gila Wisesa” desis Tantri.

“Bukan baru sekarang. Sudah lama aku tergila-gila kepadamu. Karena itu, kau jangan membuat aku semakin gila, karena dengan demikian, aku akan dapat lupa diri”

Namun jawaban Tantri mengejutkan Wisesa. Ia tersentak sehingga matanya terbelalak.

“Wisesa” berkata Tantri, “Jika kau akan memaksaku, maka sudah tentu aku akan mempertahankan diri. He, kau ingat masa kanak-kanak kita. Jika kita berkelahi, maka kaulah yang menangis meskipun kau laki-laki. Bukan aku”

Sejenak Wisesa tercenung. Namun kemudian ia menggeram “Tetapi aku sekarang bukan anak kecil lagi Tantri. Aku sekarang tumbuh dan menjadi kuat. Kau tidak akan mampu melawan kehendakku”

Tetapi Tantri masih menjawab, “Aku juga bukan kanak-kanak yang hanya dapat mencakar mukamu atau menarik rambutmu jika kita berkelahi. Tetapi sekarang aku mempunyai kemampuan lebih banyak, karena seperti kau, aku sekarang tumbuh menjadi dewasa.

“Tantri, apa yang akan kau lakukan?” bertanya Wisesa.

“Aku akan melawan jika kau melakukan tindak kekerasan”

“Kau masih bermimpi dengan masa kanak-kanakmu itu. Itu sudah lama lampau Tantri”

“Ya. Itu sudah lama lampau. Dan dalam waktu yang lama itu, aku menjadi matang menghadapi persoalan-persoalan. Juga menghadapi sikapmu karena kau sudah kehabisan akal. Kau tidak berani melakukan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Manggada, Laksana dan kakang Sampurna. Kemudian kau mencoba menutupi harga dirimu itu, kau telah membuat gagasan-gagasan gila yang tidak masuk akal itu”

Wisesa menggeram. Ia menjadi marah sekali. Sebagai seorang laki-laki ia benar-benar merasa terhina. Karena itu, maka katanya, “Apapun yang akan terjadi, aku akan membawamu. Tubuhmu, hidup atau mati akan aku seret sepanjang jalan sampai ke rumah nenekku”

“Apakah kau sudah memikirkan kemungkinan untuk bertemu dengan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong?”

“Mereka tidak akan berkeliaran hari ini. Ayahmu dan orang-orang itu sedang pergi ke tempat tinggal mereka”

“Mungkin ayah dan kakang Sampurna sudah dikalahkannya. Mereka sedang berkeliaran untuk mencari anak-anak muda di padukuhan ini. Sementara itu mereka menemukan kau dan aku di jalan. Apakah kau sedang menggandeng tanganku, atau aku sedang berpegangan lenganmu atau kau sedang menyeret mayatku”

Wajah Wisesa menjadi tegang. Matanya bertambah liar dan bertambah merah pula. Hembusan suara iblis semakin mencengkamnya, sehingga iapun kemudian berkata, “Aku tidak perduli. Aku tidak perduli. Aku memerlukanmu”

Tangan Wisesa memang terjulur untuk menggapai tangan Tantri. Tetapi Tantri justru telah menangkapnya. Menarik dengan kerasnya, sehingga tubuh Wisesa itu seakan-akan melekat ketubuh Tantri. Namun tiba-tiba saja terdengar Wisesa itu berteriak kesakitan. Tangan Tantri yang lain dengan kerasnya telah memukul perut Wisesa.

Ketika kemudian Tantri mendorongnya, maka Wisesa itu pun jatuh terlentang sambil menyeringai kesakitan.

Tertatih-tatih Wisesa bangkit. Kemarahannya benar-benar telah membakar ubun-ubunya. Dengan geram ia berkata, “Tantri. Kau seorang perempuan. Aku seorang laki-laki. Apapun yang dapat kau lakukan, kau tidak akan dapat melawan aku”

Namun belum lagi Wisesa terkatub rapat, tangan Tantri telah menyambar mulutnya, sehingga Wisesa mengaduh kesakitan. Ketika ia merasakan cairan yang hangat di mulutnya, maka dengan berdebar-debar Wisesa mengusapnya. Ternyata jari-jarinya menjadi merah oleh darah.

Wisesa benar-benar tidak dapat mengekang dirinya. Tantri bukan hanya menyakitinya. Tetapi ia sudah menitikan darah dari sela-sela bibirnya.

Karena itu, maka Wisesa pun kemudian telah menjulurkan tangannya kearah leher Tantri.

Namun yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Tantri justru menyambut tangan itu, ditangkapnya pergelangan tangan Wisesa, kemudian Tantri memutar tubuhnya membelakangi anak muda itu. Dengan pundaknya, ia mengangkat tubuh Wisesa dipangkal lengannya, sementara sambil merendah Tantri menarik tangan Wisesa itu kuat-kuat.

Wisesa sama sekali tidak menduga, bahwa hal itu akan dilakukan oleh Tantri. Karena itu, maka ia pun terlempar, berputar sekali dan kemudian jatuh terbanting di tanah.

Wisesa benar-benar berteriak bukan saja karena kesakitan, tetapi putaran tubuhnya itu benar-benar membuat ketakutan.

Untuk beberapa saat Wisesa terbaring di tanah. Pungungnya serasa akan patah. Sementara itu Tantri berdiri di sebelahnya sambil bertolak pinggang.

“Bangkitlah” desis Tantri. Dengan kakinya ia mengguncang tubuh Wisesa yang masih mengaduh sambil menggeliat.

“Bangkitlah” teriak Tantri. ”Kita akan menyelesaikan persoalan kita sampai tuntas. Kau atau aku yang tubuhnya akan diseret sepanjang jalan padukuhan”

“Ampun Tantri“ Wisesa merintih, sementara Tantri justru berkata lantang, “bangkitlah, bangkit atau aku bunuh kau tanpa perlawanan”

“Ampun Tantri, ampun“ Wisesa memang berusaha bangkit meskipun punggungnya bagaikan patah.

“Kita selesaikan persoalan kita” geram Tantri.

“Ampun, aku mohon ampun Tantri” Wisesa hampir menangis.

“Kau masih saja anak cengeng. Kau bukan anak muda yang seperti katamu tumbuh menjadi kuat”

“Ampun, aku minta ampun” tangis Wisesa tanpa malu-malu.

Sementara itu, terdengar suara pintu serambi, “Apa yang terjadi?”

Tantri berpaling, dilihatnya ibunya melangkah mendekati anaknya yang masih berdiri tegak sambil bertolak pinggang, “Apa yang kau perbuat Tantri”

“Ia sudah menghina aku ibu” jawab Tantri.

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian berdiri di sebelah anak perempuannya sambil berkata, “sudahlah. Jangan berkelahi lagi. Biarlah Wisesa bangkit”

“Aku sudah menyuruhnya bangkit atau aku cekik lehernya sampai mati” jawab Tantri.

“Aku sudah minta ampun“ tangis Wisesa.

“Sudahlah. Bangkitlah dan pulang” berkata Nyi Jagabaya.

Wisesa berusaha untuk bangkit. Batapapun punggung terasa nyeri. Tapi selagi Nyi Jagabaya menyuruhnya pergi, maka ia akan pergi.

Tertatih-tatih Wisesa bangkit dan melangkah pergi setelah ia minta diri kepada Nyi Jagabaya.

“Anak itu gila” berkata Tantri, “Selagi kami menjadi tegang menunggu ayah dan kakang Sampurna kembali, anak itu mulai berbuat kasar”

“Sudahlah. Selarakkan pintu seketeng itu”

Sementara itu di barak Wira Sabet dan Sura Gentong, pertempuran masih berlangsung sengit. Ketika keringat mulai membasah di telapak tangan, maka para penghuni barak itu menjadi semakin garang. Namun lawan-lawan mereka menjadi semakin garang pula.

Wira Sabet yang bertempur melawan Ki Kertasana menjadi heran. Ia tidak melihat kemampuan orang yang lebih banyak diam itu. Namun tiba-tiba ia kini turun ke gelanggang pertempuran dengan ilmunya yang tinggi.

Sementara itu, Ki Citrabawa bertempur dengan sengitnya melawan Sura Gentong. Ternyata Sura Gentong memang jauh lebih kasar dari Wira Sabet sendiri. Apalagi ia sama sekali belum mengenal lawannya sebelumnya.

Sementara itu, empat orang saudagar perhiasan itu masih bertempur melawan dua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong. Ternyata bahwa mereka perlahan-lahan mulai mendesak kedua orang lawan mereka.

Dalam pada itu, budak-budak yang ada di barak itu pun menjadi kebingungan. Ada diantara mereka yang justru menjadi gemetar dan terduduk tanpa dapat berbuat apa-apa. Ketakutan yang sangat telah melanda jantungnya.

Namun beberapa orang yang tubuhnya kuat masih sempat berbisik yang satu dengan yang lain. Beberapa orang bahkan telah bangkit. Di hatinya tumbuh keberaniannya untuk melibatkan diri dalam pertempuran itu. Jika orang-orang yang menyerang barak itu menang, maka mereka akan mendapat kesempatan untuk bebas dari perbudakan.

Karena itu, maka beberapa orang pun telah menyelinap mencari apa saja yang dapat mereka pergunakan sebagai senjata. Ada yang menemukan parang di dapur, ada yang mendapatkan kapak pembelah kayu, linggis pengelupas sabut kelapa atau apa saja. Bahkan potongan-potongan kayu dan selarak-selarak pintu.

Dengan demikian, maka pertempuran pun menjadi semakin menebar di seluruh sudut-sudut barak. Budak-budak yang ingin lepas itu juga dibekali dengan dendam kepada isi barak yang bertindak semena-mena terhadap mereka.

Para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong menjadi semakin gelisah menghadapi tekanan yang semakin berat. Sementara itu para pemimpin mereka telah terikat pula dalam pertempuran yang rumit.

Saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan dan selalu berpakaian rapi itu mengumpat dengan kasarnya, ketika serangan Manggada mulai menyentuh tubuhnya. Ia tidak lagi dapat merendahkan anak muda yang telah menempa dirinya dengan sungguh-sungguh itu. Bahkan dengan laku tapa ngidang di hutan sebelum mereka menginjakkan kakinya di halaman rumahnya.

Orang berwajah tampan itu sama sekali tidak menduga bahwa anak muda yang pernah dihinakannya itu pada suatu saat siap membalas sakit hatinya dengan cara yang lebih jantan.

Namun orang itu tidak membiarkan dirinya dihinakan. Karena itu, maka ia pun mengerahkan segenap kemampuannya untuk menghentikan perlawanan Manggada.

Tetapi Manggada pun telah meningkatkan kemampuannya pula. Bahkan bukan orang yang berwajah tampan itulah yang mendesak Manggada, tetapi perlahan-lahan Manggada lah yang telah mendesaknya. Serangan-serangannya yang cepat dan dilandasi dengan kemampuan yang tinggi telah membuat lawannya selalu terdesak.

Di bagian lain dari pertempuran itu, Ki Sapa Aruh telah mempertaruhkan segala-galanya untuk mengalahkan orang bongkok itu. Jika ia tidak dapat menghancurkan orang bongkok itu, maka bukan saja dirinya sendiri, namanya yang untuk waktu yang lama ditakuti, tetapi juga barak itu dengan segala isinya

Tetapi setiap kali ia meningkatkan tataran ilmunya, maka lawannya yang bongkok itu pun mampu melakukannya pula, sehingga dengan demikian, maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin sengit. Orang-orang yang bertempur di sekitarnya yang sempat melihat sekilas pertempuran antara Ki Sapa Aruh dan Ki Pandi itu hanya dapat berdecak kagum, bahwa kedua orang itu memiliki ilmu yang sulit untuk dimengerti.

Di halaman barak, Ki Carang Aking masih juga bertempur melawan Ki Srayatapa, yang sama sekali tidak mengira bahwa di barak itu ia akan bertemu dengan orang yang berilmu tinggi, bahkan mampu mengimbangi tingkat ilmunya.

Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Yang harus dilakukannya adalah berusaha menghancurkan lawannya yang tua itu.

Dalam pada itu, Ki Kertasana yang berhadapan dengan Wira Sabet telah terlibat dalam pertempuran yang sengit pula. Wira Sabet yang tidak mengira bahwa Kertasana yang sudah dikenalnya sejak lama itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi.

“Kenapa baru sekarang kau tunjukkan kemampuanmu Ki Kertasana?” bertanya Wira Sabet ketika ia harus meloncat mengambil jarak ketika serangan Ki Kertasana menyulitkannya.

“Baru sekarang aku merasa perlu mempergunakannya, Ki Wira Sabet. Ternyata kau dan Sura Gentong telah memancing aku dan adikku untuk dengan terpaksa melakukan kekerasan ini karena kami tidak mempunyai pilihan lain”

Wira Sabet tidak bertanya lebih jauh. Tetapi dikerahkannya ilmunya yang diterimanya selama ia berguru. Namun ternyata Ki Kertasana memiliki kematangan yang lebih tinggi.

Di sisi lain, Sura Gentong dengan garangnya berusaha untuk segera menghabisi Ki Citrabawa. Namun Sura Gentong telah membentur kekuatan ilmu lawannya. Citrabawa yang bukan orang Gemawang itu justru telah mendesak Sura Gentong. Ayah Laksana yang juga sekaligus menjadi gurunya dan guru Manggada itu, memiliki kelebihan dari Sura Gentong meskipun Sura Gentong lelah berguru cukup lama.

Namun Sura Gentong yang marah sekali itu tidak mau melihat kenyataan itu. Ia bertempur semakin keras dan bahkan menjadi kasar sebagaimana tingkah lakunya.

Kekasarannya itu kadang-kadang memang sempat mendesak Ki Citrabawa. Namun hanya sekedar hentakan-hentakan saja. Selanjutnya, maka Ki Citrabawa kembali menguasai medan.

Kekalahan-kekalahan yang terjadi kemudian, telah membuat Sura Gentong justru kehilangan akal. Ia menjadi semakin garang, kasar dan bahkan liar. Namun dengan demikian maka ia kehilangan kendali dan pengamalan diri.

Kekasaran dan keliaran itulah yang membuat Ki Citrabawa harus meningkatkan ilmunya sampai ketataran tertinggi. Benturan-benturan yang keras tidak dapat dielakkannya lagi.

Berkali-kali Sura Gentong harus terlempar jatuh di setiap benturan. Namun demikian ia bangkit, maka seperti seekor badak ia menyerang lawannya.

Akhirnya Ki Citrabawa tidak mempunyai pilihan lain. Ia hanya dapat menghentikan perlawanan Sura Gentong itu jika Sura Gentong sudah tidak berdaya sama sekali.

Karena itu, maka Ki Citrabawa itu pun segera meningkatkan ilmu sampai ketataran tertinggi. Dari Manggada dan Laksana ia telah mendengar sikap Sura Gentong. Apalagi Ki Citrabawa sebelumnya memang belum pernah mengenalnya. Karena itu, maka tanggapannya atas Sura Gentong pun baru terbentuk sejak ia berada di Gemawang.

Dengan hentakan puncak kemampuannya, maka Ki Citrabawa menjadi semakin berbahaya. Bahkan kemudian serangan-serangannya seakan-akan telah menggulung semua kemampuan Sura Gentong.

Pada saat-saat terakhir dari pertempuran itu, Sura Gentong justru telah bertempur tanpa perhitungan lagi. Senjatanya, sebatang tongkat besi yang berkepala bulatan bergigi lembut, terayun-ayun mengerikan. Namun Ki Citrabawa yang menggenggam pedang di tangannya, memiliki kecepatan gerak yang lebih tinggi. Pedang Ki Citrabawa yang besar itu mampu mengimbangi ayunan tongkat besi lawannya dalam benturan-benturan yang keras.

Namun Citrabawa yang mengerahkan tingkat kemampuannya yang tertinggi itu telah berhasil dengan kecepatan melampaui kecepatan ayunan tongkat besi Sura Gentong menembus pertahanannya. Ujung pedang Ki Citrabawa sempat menggores lengan Sura Gentong.

Sura Gentong terkejut. Ketika ia bergeser surut, maka ujung pedang Ki Citrabawa sempat membentur tongkat besi Sura Gentong, sehingga tongkat itu terlepas dari tangannya.

“Menyerahlah” desis Ki Citrabawa.

Tetapi yang dilakukan oleh Sura Gentong adalah justru menarik sebilah luwuk dari sarungnya. Luwuk yang tidak terlalu besar, tetapi tentu berbahaya di tangan Sura Gentong yang kehilangan pengamatan diri itu.

Karena itu, maka Ki Citrabawa pun dengan cepat sekali menghantam luwuk itu dengan pedangnya. Demikian tiba-tiba sehingga luwuk itu terlepas dari tangan Sura Gentong.

Sekali lagi Ki Citrabawa mengacukan pedangnya sambil berkata, “Menyerahlah”

Tetapi yang terjadi, membuat Ki Citrabawa kehilangan kesabaran. Tiba-tiba saja Sura Gentong telah melemparkan pisau-pisau kecil ke arah lawannya.

Ki Citrabawa terkejut. Dengan serta-merta ia berloncatan mengelak. Tetapi sebilah pisau telah tersangkut di lengannya.

Kemarahan Ki Citrabawa tidak terbendung lagi. Ujung pedangnya pun kemudian telah memburu lawannya. Satu tusukan yang tepat menukik menembus dada Sura Gentong sampai ke jantung.

Sura Gentong tidak sempat mengeluh. Tubuhnya rebah ketika Ki Citrabawa menarik ujung pedangnya. Ia kehilangan nyawanya bersama dengan hilangnya semua angan-angan gilanya.

Ki Citrabawa termangu-mangu sejenak. Dipandanginya tubuh yang terbaring diam itu. Sementara di sekitarnya, pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya.

Namun kematian Sura Gentong adalah isyarat yang paling jelas, bahwa Gemawang akan dapat lepas dari impian-impian gila Sura Gentong yang dilambari oleh dendam yang membara di hatinya. Tetapi kegilaan Sura Gentong bukan sekedar baru mulai sejak ia ingin menguasai Gemawang. Tetapi sejak ia hampir saja dihancurkan oleh orang-orang Gemawang oleh pokalnya sendiri, sehingga Sura Gentong itu harus melarikan diri.

Ki Jagabaya yang melihat Sura Gentong terbujur diam telah mendekatinya. Kerut di keningnya menunjukkan gejolak di hatinya.

Sementara itu, Ki Pandi yang berilmu sangat tinggi itu masih bertempur melawan Ki Sapa Aruh. Betapapun ditakutinya nama Ki Sapa Aruh, tetapi berhadapan dengan Ki Pandi, ternyata ia tidak mampu berbuat lebih banyak dari sekedar bertahan. Serangan-serangan Ki Pandi semakin lama semakin garang. Benturan-benturan telah terjadi. Beberapa kali Ki Sapa Aruh menerima kerataan, bahwa ia menjadi semakin terdesak.

Namun pada saat-saat terakhir, Ki Sapa Aruh telah bertekad untuk mempertaruhkan ilmu puncaknya, ia sadar, bahwa Ki Pandi pun tentu akan membentur ilmu puncaknya dengan ilmu andalannya pula. Tetapi Ki Sapa Aruh tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus dengan cepat memenangkan pertempuran, atau hancur sama sekali.

Sementara pertempuran di barak itu mencapai puncaknya, maka Ki Sapa Aruh lelah mengerahkan segenap kemampuan ilmunya. Ketika ia menyilangkan tangannya di dadanya, maka Ki Pandi segera mengetahui apa yang akan terjadi. Karena itu, maka Ki Pandi pun telah mengetrapkan ilmu pamungkasnya pula.

Ki Citrabawa yang lelah kehilangan lawannya sempat melihat apa yang terjadi. Demikian pula Ki Jagabaya. Mereka melihat dua sosok tubuh yang meluncur bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Benturan yang dahsyatpun telah terjadi. Benturan dua sosok tubuh yang dilambari dengan kemampuan ilmu mereka masing-masing yang sangat tinggi.

Keduanya pun terlempar beberapa langkah surut. Keduanya jatuh terbanting di tanah.

Pertempuran di sekitar peristiwa itu terjadi seakan-akan justru telah terhenti. Mereka menyempatkan diri melihat apa yang telah terjadi Perlahan-lahan Ki Pandi mulai menggeliat. Sambil berdesah menahan nyeri di dadanya, Ki Pandi itu bangkit. Ki Citrabawa dan Ki Jagabaya pun telah mendekatinya dengan tergesa-gesa untuk membantu orang bongkok itu duduk.

Dengan suara yang lemah dan gemetar, Ki Pandi itu pun bertanya, “Bagaimana dengan Ki Sapa Aruh?

Mereka yang seakan-akan telah melupakan Ki Sapa Aruh itu serentak berpaling. Yang mereka lihat adalah sesosok tubuh yang terbaring diam.

“Tolong bantu aku melihatnya” desis Ki Pandi.

Ki Citrabawa dan Ki Jagabaya telah membantu Ki Pandi melangkah perlahan-lahan mendekati sosok tubuh Ki Sapa Aruh yang terbaring diam.

Ketika Ki Pandi berjongkok disampingnya, dan berdesis memanggil namanya, maka Ki Sapa Aruh itu membuka matanya. Namun mata itu sudah menjadi redup dan bahkan hampir padam sama sekali.

Namun dari bibirnya masih terdengar desisnya perlahan, “Kau orang yang luar biasa Bongkok”

Ki Pandi menarik nafas dalam. Namun kemudian Ki Sapa Aruh pun telah memejamkan matanya untuk selama-lamanya.

Ki Pandi itupun kemudian bangkit berdiri dibantu oleh Citrabawa dan Ki Jagabaya. Kepada orang-orang yang berdiri mematung di sekitarnya ia berkata, “Apakah pertempuran masih akan diteruskan. Ki Sapa Aruh sudah terbunuh. Sura Gentong juga sudah tidak ada lagi. Segala-galanya kini tergantung kepada Ki Wira Sabet”

Wira Sabet termangu-mangu sejenak. Pertempuran di sekitarnya memang tiba-tiba saja telah berhenti. Ternyata seorang saudara seperguruan Wira Sabet telah terbunuh juga dipertempuran itu oleh anak Ki Demang Rejandani dan seorang kawannya. Sementara saudaranya yang lain telah terluka pula.

“Tidak ada gunanya kau bertahan Wira Sabet” berkata Ki Pandi kemudian.

“Sudahlah Ki Wira Sabet” berkata Ki Kertasana, “kita dapat melupakan permusuhan ini. Bukankah kita masih tetap merindukan padukuhan Gemawang yang sejuk, tenang dan damai?”

Wira Sabet menundukkan kepalanya. Katanya kemudian “Aku menyerah”

“Jika demikian, perintahkan pengikut-pengikutmu menyerah” berkata Ki Kertasana.

Wira Sabet memang memerintahkan pengikut-pengikutnya menyerah. Tidak ada lagi gunanya bertempur terus. Wira Sabet dan pengikutnya tentu tidak akan mampu berbuat banyak.

Namun demikian, Ki Srayatapa ternyata tidak mau mengakui kekalahan itu. Dengan lantang ia berkata, “Kau pengecut Wira Sabet. Setelah saudaramu terbunuh dan kemudian Ki Sapa Aruh yang telah banyak sekali berjasa kepadamu, kau telah menyerah”

“Kematian-kematian berikutnya tidak akan ada artinya lagi Ki Srayatapa”

Namun yang menyahut adalah saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan, “Aku akan berhenti bertempur setelah mematahkan leher anak yang sombong ini”

Tetapi Manggada tidak memberikan banyak waktu. Ia pun kemudian berkata, “Bersiaplah. Kita selesaikan persoalan kita. Lepas dari persoalan yang terjadi antara barak ini dengan padukuhan Gemawang”

Berbeda dengan orang itu, maka lawan Laksana justru telah menghentikan pertempuran itu. Ia menyadari sepenuhnya, bahwa kemampuannya yang dianggapnya sudah cukup tinggi itu, ternyata tidak mampu mengimbangi kemampuan anak yang masih dianggapnya sangat muda itu.

Pertempuran di barak itu sebagian besar sudah berhenti Namun Ki Srayatapa sama sekali tidak menghiraukannya. Sementara itu, Ki Carang Aking tidak ingin dianggap licik dengan melibatkan orang lain dalam pertempuran itu.

Namun Ki Carang Aking itulah yang kemudian tidak ingin bertempur terlalu lama. Jika yang lain telah berhenti, maka iapun ingin segera berhenti, apapun yang terjadi.

Dengan mengerahkan segenap kemampuan ilmu puncaknya, maka Ki Carang Aking telah meloncat menyerang lawannya, Ki Srayatapa.

Sementara Ki Srayatapa yang melihat sikap lawannya itu pun segera mempersiapkan diri untuk membentur ilmu orang tua perawat kuda itu.

Benturan yang keraspun telah terjadi pula. Namun ternyata bahwa tataran ilmu Ki Srayatapa masih selapis dibawah tataran ilmu Ki Carang Aking. Dengan demikian, maka Ki Srayatapa itu telah terlempar beberapa langkah. Ia pun kemudian jatuh terguling dengan derasnya. Ia tidak dapat mengelak sama sekali ketika kepalanya kemudian membentur batu bebatur bangunan induk barak itu.

Sementara itu, Ki Carang Aking tergetar dan terdorong surut. Tetapi ia masih tetap tegak meskipun ia harus mengatasi perasaan sakit yang menyengat dadanya.

Ki Srayatapa tidak sempat mengaduh. Bukan saja karena hentakan ilmu lawannya. Tetapi kepalanya yang membentur batu di bebatur rumahnya itu telah mengalirkan darah.

Dalam pada itu, Manggada yang masih bertempur melawan saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu berkata, “Nah, apakah kau masih belum akan menyerah?”

“Persetan” geramnya, “aku tidak peduli apakah mereka nanti akan membunuhku. Tetapi kau juga harus mati”

Dengan ganasnya orang itu pun kemudian telah menyerang Manggada. Namun Manggada yang telah sampai pada tingkat tertinggi ilmunya itu menjadi sangat liat. Tubuhnya menjadi lentur dan geraknya menjadi semakin cepat. Orang berwajah tampan itu sama sekali tidak sempat menyentuh tubuh Manggada.

Namun tiba-tiba orang itupun berkata, “He anak sombong. Cari senjata, kita akan bertempur dengan senjata”

Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Ki Kertasana telah melemparkan pedangnya kepada anaknya, sementara orang berwajah tampan itu telah menggenggam pedang pula.

Namun justru karena itu, maka pertempuran itu menjadi semakin cepat berakhir. Kemampuan dan kecepatan gerak Manggada ternyata tidak dapat diimbangi oleh lawannya. Karena itu, maka ujung pedang Manggada pun segores-segores telah mengoyak tubuh orang berwajah tampan itu.

Tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa lawannya itu akan menyerah. Bahkan sambil mengumpat-umpat orang itu bertempur semakin liar meskipun darah telah mengalir membasahi pakaiannya.

Manggada yang muda itu ternyata tidak dapat mengekang dirinya lagi. Ia menjadi semakin benci kepada lawannya yang tidak tahu diri itu. Karena itu, maka sebuah loncatan panjang dengan pedang yang lurus terjulur kearah dada telah mengakhiri pertempuran itu. Demikian orang itu roboh di tanah, maka pertempuran di barak itu benar-benar telah berhenti.

Laksana yang berdiri termangu-mangu melihat ketiga orang yang pernah menangkapnya dan membawanya masuk ke dalam barak itu bersama dengan Manggada. Dua orang di antaranya telah terluka, meskipun tidak terlalu parah. Namun seorang murid Ki Carang Akingpun telah terluka pula.

Disamping mereka itu, pertempuran itu memang tidak dapat menghindari korban. Seorang anak muda Gemawang telah gugur, disamping beberapa orang yang terluka. Dua di antaranya terhitung parah. Sementara itu, seorang anak muda Rejandani juga gugur. Tiga orang terluka cukup parah, termasuk seorang saudagar, kawan anak Ki Demang.

Meskipun pertempuran itu telah selesai, tetapi masih ada persoalan lain yang harus diselesaikan. Orang-orang yang menyerah itu akan menjadi persoalan pula bagi Gemawang dan Rejandani.

Namun demikian, maka ancaman-ancaman dan ketakutan tidak akan melanda padukuhan gemawang lagi. Orang-orang Gemawang akan menikmati lagi sejuknya kampung halaman mereka.

Sementara itu Wira Sabet telah menunjukkan dimana disimpan perhiasan-perhiasan bukan saja yang telah mereka rampok dari anak Ki Demang Rejandani dan kawan-kawannya. Tetapi juga yang pernah mereka rampok dari banyak orang.

Pembicaraan antara Ki Jagabaya Gemawang dan Ki Demang Rejandani menimbulkan kesepakatan bahwa orang-orang yang tertawan itu untuk sementara akan dibawa ke Rejandani, justru karena Rejandani tidak mengalami goncangan-goncangan sebagaimana dialami oleh Gemawang dan bahkan Kademangan Kleringan. Namun Ki Demang Rejandani minta agar khususnya Wira Sabet dan saudara seperguruannya yang masih ada, dibawa ke Gemawang.

“Di Gemawang ada orang-orang berilmu tinggi” berkata Ki Demang.

“Bukankah Rejandani dapat minta bantuan Ki Carang Aking?” bertanya Ki Pandi.

Tetapi Ki Carang Aking tersenyum sambil menjawab, “Seperti burung yang terlepas dari sangkarnya. Aku akan terbang jauh menembus mega-mega pulih. Sayapku sudah terlalu lama terkekang di barak buruk itu”

Tidak seorang pun dapat mengekangnya. Ki Carang Aking memang tidak akan dapat bertahan terlalu lama di satu tempat.

Di hari-hari berikutnya, maka Gemawang lelah mulai dengan menata diri kembali. Bayangan ketakutan telah hilang seperti embun yang disengat oleh panasnya sinar matahari.

Di padukuhan, Ki Jagabaya telah mengijinkan Wira Sabet untuk menempati rumahnya kembali bersama anaknya, Pideksa, bersama tiga orang pengikutnya yang telah dikalahkan oleh Laksana. Baru kemudian hal itu diketahui oleh Wira Sabet dan Pideksa. Tetapi mereka tidak menjadi heran, karena Laksana mampu mengalahkan saudara seperguruan Wira Sabet.

Namun Sampurna, Manggada dan Laksana sempat tertawa ketika mereka mendengar ceritera Tantri tentang Wisesa yang mencoba untuk memaksanya mengikutinya ke rumah neneknya.

“Sejak saat itu, Wisesa tidak pernah datang lagi” berkata Tantri.

Laksana mengangguk-angguk. Tiba-tiba wajahnya nampak bersungguh-sungguh. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Namun ternyata untuk mendapatkan kembali kampung halaman yang sejuk, tenteram dan damai serta sejahtera, masih banyak sekali yang harus dikerjakan.

 

T A M A T

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 4 – Sejuknya Kampung Halaman

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

Selanjutnya

ikuti episode ke 5: MATAHARI SENJA

kembali | lanjut

AM_SKH-05

Serial ARYA MANGGADA

Episode IV: SEJUKNYA KAMPUNG HALAMAN

JILID 5

kembali | lanjut

AMSKH-05TIBA-TIBA tangan orang itu telah mencengkam pundak Manggada, sehingga Manggada telah menyeringai kesakitan, “Kalian memang anak-anak muda yang perkasa”

Manggada tidak menjawab. Tetapi wajahnya membayangkan ketakutan. Sinar obor di sudut barak membuat wajah Manggada semakin nampak pucat.

Orang itu tertawa. Sementara yang seorang lagi telah menepuk pipi Laksana sambil berkata, “Kalian masih terlalu kanak-kanak untuk mengenal liku-liku kehidupan seutuhnya. Karena itu, kalian tidak tahu apa yang kalian lakukan dengan pameran keberanian dan sikap seorang pahlawan. Namun akhirnya kalian sekarang berada disini. Jangan menyesal”

Manggada dan Laksana tidak menjawab sama sekali. Sementara Pideksa berkata, “Paman Sura Gentong telah menyerahkan keduanya kepadaku, paman”

Kedua orang itu mengangguk. Seorang di antara mereka berkata, “Apakah mereka akan ditugaskan mengurusi kuda-kuda ini?”

“Ya, paman. Karena mereka senang berkuda, maka mereka tentu senang pula mengurusi kuda-kuda” jawab Pideksa.

Kedua orang itu pun kemudian telah meninggalkan kandang kuda itu.

Pideksa menarik nafas panjang. Demikian kedua orang itu hilang di balik bangunan dalam barak itu, maka Pideksa pun berkata, “Marilah. Kalian harus kembali ke tempat tahanan itu”

Manggada dan Laksana pun mengikuti Pideksa yang melangkah meninggalkan kandang itu dan membawanya kembali ke bilik mereka yang dijaga kuat.

Watang yang bertanggung jawab atas mereka yang ditahan, memandang kedua anak muda itu dengan mata yang merah. Seperti hantu yang haus menghisap darah korbannya, Watang menatap kedua tawanan itu dengan tajamnya. Tangannya sudah menjadi gatal untuk memilin tangan-tangan kedua orang tawanan itu dan mematahkannya.

Tetapi setiap kali Pideksa memperingatkan, bahwa Watang tidak boleh mengusik kedua orang tawanan muda itu.

Malam pun kemudian turun. Manggada dan Laksana memandang mangkuk yang berisi minum dan makan bagi mereka. Nasi dan sepotong ikan kering.

Tetapi makanan yang sangat sederhana itu bukan masalah bagi mereka. Di hutan selama sebulan mereka makan apa saja. Bahkan pucuk dedaunan, meskipun kadang-kadang mereka makan daging panggang dan buah-buahan jika mereka menemukan.

Malam itu, Manggada dan Laksana tidak segera dapat tidur. Mereka mencoba mereka-reka apa yang akan mereka alami esok. Namun Manggada sempat berbisik, “Masih terasa sisa hubungan masa kanak-kanakku dengan Pideksa. Ia masih juga berusaha melindungi kita”

“Paman Wira Sabet ternyata juga baik” berkata Laksana.

“Yang benar-benar bersifat permusuhan adalah paman Sura Gentong dan tentunya juga orang yang bernama Ki Sapa Aruh itu. Sementara saudara-saudara seperguruan paman Sura Gentong itu nampaknya hanya ingin menumpang saja untuk ikut menikmati hari-hari mendatang”

Manggada mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berdesis, “Kita berharap bahwa ada orang yang mengikuti jejak kita”

Laksana termangu-mangu sejenak. Dengan nada rendah ia pun berdesis, “Yang kita harapkan adalah Ki Pandi itu sendiri. Jika orang lain yang mencobanya, mungkin sekali mereka akan terperosok ke dalam bahaya”

Manggada mengangguk pula. Tetapi ia tidak menjawab. Laksana pun kemudian terdiam. Keduanya berusaha untuk dapat tidur. Mungkin besok mereka harus bekerja keras sebagai budak di barak itu.

Namun keduanya justru bangkit dan duduk di pembaringan. Di kejauhan mereka mendengar aum harimau. Tidak hanya seekor. Tetapi dua ekor harimau yang mengaum bersentuhan dari sisi yang berbeda.

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Mereka mengenal suara harimau itu. Meskipun aumnya sama dengan aum harimau yang lain, tetapi ada sesuatu yang dapat mereka kenali.

“Ki Pandi nampaknya sudah berada di sekitar barak ini” desis Manggada.

Laksana tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan kita dapat berbuat sesuatu di dalam barak ini”

“Tetapi kita tidak boleh tergesa-gesa”

Namun justru karena aum harimau itu, maka keduanya kemudian dapat tidur nyenyak hampir sepanjang malam yang tersisa.

Tetapi pagi-pagi mereka harus sudah bangun. Watang yang garang itu telah membangunkan mereka. Raksasa itu membuka selarak pintu dari luar dan langsung melangkah ke pembaringan. Tanpa mengatakan sepatah katapun, kedua tangan orang itu telah mencengkeram baju Manggada dan Laksana. Dengan garangnya orang itu menariknya dan melemparkan kedua anak muda itu ke pintu.

Manggada dan Laksana jatuh berguling. Dengan susah payah keduanya berusaha untuk bangkit berdiri. Dengan ketakutan keduanya kemudian berdiri di pintu.

“Pemalas” geram Watang sambil melangkah mendekat. Sementara Manggada dan Laksana itu melangkah surut.

“Kau harus sudah berada di tempat kerjamu” bentak orang itu, “tetapi kau masih belum bangun”

“Maaf. Kami belum terbiasa” jawab Manggada.

Namun tangan orang itu segera terayun ke wajah Manggada. Ketika Manggada melihat tangan orang itu bergerak, maka ia harus meningkatkan daya tahannya, agar rahangnya tidak terlepas.

Tetapi Manggada harus terhuyung-huyung dan jatuh tersandar dinding. Kedua tangannya memegangi wajahnya yang kesakitan. Bahkan Manggada itu harus berjongkok menahan sakit sambil mengaduh tertahan.

“Ingat” berkata Watang, “kalian tidak boleh membantah apa yang aku katakan. Jika saja Pideksa tidak menginginkan kalian, maka kalian telah aku hancurkan disini”

Laksana sama sekali tidak menjawab, sementara Manggada masih berjongkok sambil berdesah.

“Cepat, pergi ke tempat kerjamu. Dua orang pengawal di luar akan mengantarkanmu”

“Baiklah” sahut Laksana, “biarlah kami mandi dahulu”

Jawaban itu membuat Watang menjadi marah. Tiba-tiba tangannya terayun menghantam perut Laksana.

Seperti Manggada ia pun harus mengerahkan daya tahannya, sehingga serangan orang itu tidak merontokkan isi perutnya. Namun juga seperti Manggada, Laksana bahkan terlempar keluar dari biliknya dan jatuh berguling di tanah.

Dua orang pengawal yang berdiri di luar terkejut. Keduanya adalah justru orang-orang yang telah membawanya ke barak itu. Namun yang seorang lagi tidak ada di antara mereka.

Adalah di luar sadar ketika kedua pengawal itu kemudian membantu Laksana berdiri.

Watang yang berdiri di muka pintu berkata, “Kenapa anak itu harus kalian tolong?”

Tetapi salah seorang pengawal itu menjawab, “Siapa yang menolongnya? Aku hanya ingin mereka cepat sampai di tempat kerja mereka. Setiap saat kuda-kuda itu akan dipakai. Jika saatnya datang dan kuda-kuda itu belum dibersihkan, maka kau akan bertanggung jawab”

“Kenapa aku?” bertanya Watang.

“Anak-anak ini menjadi kesakitan dan tidak segera dapat melakukan pekerjaan mereka”

Watang tidak menjawab. Namun dengan kakinya ia mendorong Manggada yang berjongkok sambil berkata, “Cepat. Jika kau tidak cepat bangkit, aku hancurkan tengkukmu”

Manggada pun berusaha untuk segera bangkit. Demikian pula laksana. Tertatih-tatih keduanya pun kemudian digiring oleh kedua orang pengawal ke kandang.

“Bukankah kalian dipekerjakan di kandang kuda?” bertanya seorang di antara kedua pengawal itu.

“Ya” jawab Manggada sambil berpaling. Ketika ia sadar, bahwa Watang tidak melihat mereka lagi, maka Manggada pun segera berjalan dengan wajar.

Kedua orang pengawal itu mengerutkan dahinya. Ketika mereka melihat Laksana juga berjalan dengan tegak dan tidak lagi terbungkuk-bungkuk memegangi perutnya, maka salah seorang pengawai itu bertanya, “Kalian tidak apa-apa?”

Laksana lah yang menjawab, “Raksasa dungu itu hanya mengandalkan tenaga wadagnya saja. Tidak lebih”

Kedua pengawal itu mengangguk-angguk. Mereka sudah tahu pasti kemampuan anak muda yang bernama Laksana itu. Bertiga mereka tidak mampu mengalahkannya.

Namun Manggada pun kemudian bertanya, “Apakah kami tidak boleh mandi dahulu. Bukankah matahari belum terbit?”

Pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kalian mandi bergantian setelah kalian berada di kandang. Jika seseorang di antara para pemimpin barak ini melihat ke kandang, nampaknya kalian sudah berada disana dan sudah mulai bekerja”

“Apakah terbiasa disini pekerjaan dimulai sebelum matahari terbit?” bertanya Manggada.

“Ya. Bagi budak-budak” jawab pengawal itu.

Manggada dan Laksana tidak bertanya lagi. Mereka pun berjalan terus menuju ke kandang.

Sementara itu, telah terdengar pula bunyi orang menumbuk padi. Di dekat lumbung padi beberapa orang telah mulai menumbuk padi dengan lesung dan lumpang kayu. Sementara beberapa orang yang lain mulai membelah kayu dan mengangkut barang-barang dari satu tempat ke tempat lain.

“Apakah mereka juga budak-budak?” bertanya Manggada.

“Ya” jawab salah seorang pengawal.

“Darimana paman Wira Sabet dan Sura Gentong mendapatkan budak-budak itu?” bertanya Manggada pula.

“Aku tidak tahu darimana mereka bawa” jawab pengawal itu.

“Tetapi bukankah sasaran paman Wira Sabet dan Sura Gentong adalah padukuhan kami dilandasi dendam yang menyala sejak keduanya meninggalkan padukuhan?”

“Mungkin. Tetapi yang terjadi sekarang, keduanya bekerja bersama dengan Ki Sapa Aruh. Nampaknya Ki Sapa Aruh mempunyai sasaran yang lebih luas dari sekedar padukuhan Gemawang”

“Kita berada di sebuah gerombolan perampok” desis Laksana.

Kedua pengawal itu saling berpandangan. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata, “Ya. Ki Sapa Aruh mempunyai sebuah jaringan yang luas”

“Dan kalian adalah bagian dari mereka?” bertanya Manggada kemudian.

“Ya. Kami terperosok ke tempat ini. Kami tidak mempunyai pilihan lain pada waktu itu”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun mereka mengerti, meskipun keduanya termasuk di dalam lingkungan itu, tetapi di dasar hati mereka masih terdapat sepeletik api penalaran yang jernih.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, Manggada dan Laksana telah berada di kandang. Orang tua yang sudah lebih dahulu menjadi budak dan dipekerjakan di kandang itu telah berada di kandang itu pula.

Kedua pengawal itu pun kemudian menyerahkan kedua orang anak muda itu sambil berkata, “Kakek tua. Awasi kedua anak muda ini. Jika mereka berusaha melarikan diri, maka kau harus membunyikan isyarat. Jika keduanya sampai berhasil menghilang dari barak ini, maka lehermu akan dijeret di tiang gantungan”

“Tetapi, kenapa harus aku yang bertanggung jawab?” bertanya orang tua itu dengan suara gemetar.

“Kau tidak berhak bertanya. Sekali lagi membuka mulutmu, gigimu yang tersisa itu akan aku patahkan semuanya”

Orang tua itu memang terdiam. Kepalanya terangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Demikianlah, kedua orang pengawal itu pun segera meninggalkan Manggada dan Laksana di kandang kuda itu.

Sepeninggal kedua pengawal itu, maka orang tua itu pun berkata, “Anak-anak muda. Jangan mencoba untuk melarikan diri. Ternyata leherku menjadi taruhan. Aku sudah tua. Aku tidak mau mati di tiang gantungan”

“Kami tidak akan melarikan diri, kek” jawab Manggada, “jika kami berani mencoba dan gagal, maka nasib kami akan menjadi sangat buruk. Bukankah kemarin Pideksa itu mengatakannya disini ketika ia membawa kami kemari?”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Apakah angger semalam dapat tidur?”

“Ya, kenapa?” bertanya Manggada.

“Jika demikian angger tidak mengalami goncangan perasaan seperti kami dan budak-budak yang lain. Demikian kami sampai di tempat ini” berkata orang tua itu.

“Maksud kakek, mengalami ketakutan dan kecemasan?“ bertanya Laksana.

“Ya. Begitulah”

“Tentu kek. Kami mengalami ketakutan yang amat sangat, sehingga jantung kami berdebaran”

Orang tua itu memandang Laksana sejenak. Namun kemudian orang tua itupun tersenyum, “Kalian berdua hanya main-main”

“Maksud kakek?” bertanya Manggada dengan wajah menegang.

“Aku mendengar aum harimau semalam” berkata orang itu.

“Kenapa? Bukankah barak ini terletak di hutan yang lebat? Tentu banyak binatang buas yang ada di hutan itu. Termasuk harimau. Harimau kumbang, harimau loreng dan barangkali juga harimau tutul”

“Suara harimau itu aneh. Sebelum kalian bermalam disini, tidak pernah ada aum harimau seperti itu”

“Apa sebenarnya yang kakek maksud?” desak Manggada.

Orang tua itu tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Sejak aku melihat kalian kemarin, aku sudah mengira bahwa kalian bukan orang kebanyakan. Maksudku, di dalam diri kalian tersimpan sesuatu. Mungkin kalian dapat mengelabui Wira Sabet, Sura Gentong dan saudara-saudara seperguruannya. Tetapi kau tidak dapat mengelabui mata tuaku”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Baru kemudian Matiggada bertanya, “Kakek mengenal aum harimau itu?”

Orang itu tertawa lagi. Katanya, “Harimau itu tentu harimau orang bongkok itu. Isyarat itu tentu diberikan kepada kalian berdua, karena sebelumnya, isyarat seperi itu tidak pernah aku dengar”

“Jika demikian, maka kakek tentu juga bukan orang kebanyakan. Mungkin kakek saudara seperguruan Ki Pandi”

“Bukan. Aku bukan saudara seperguruan Ki Pandi yang bongkok itu. Tetapi aku mengenalnya dengan baik. Ia pun mengenal aku dengan baik. Tetapi sudah agak lama kami tidak bertemu”

“Aku yakin, bahwa kakek juga memiliki ilmu yang sangat tinggi seperti Ki Pandi” berkata Laksana.

“Jarang ada orang yang memiliki ilmu setinggi orang bongkok itu” jawab orang tua itu. Namun kemudian katanya, “hati-hatilah dengan Ki Sapa Aruh. Mungkin kalian sulit menyembunyikan kelebihan kalian terhadap orang itu. Namun untungnya, Ki Sapa Aruh jarang datang kemari. Jika ia datang, maka ia tidak pernah memperhatikan kami, budak-budak yang baginya tidak berarti sama sekali ini”

“Tetapi kenapa kakek ada disini?” bertanya Laksana.

“Jawabnya sama jika ada orang yang bertanya kepada kalian, kenapa kalian berada disini?”

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggadapun berkata, “Apakah kami boleh mengetahui nama atau sebutan kakek?”

“Disini aku dipanggil Sampar. Tetapi orang bongkok itu mengenali aku dengan sebutan, Carang Aking”

“Bagaimana kami memanggil kakek?” bertanya Manggada.

“Disini sudah tentu kalian memanggil aku kakek Sampar”

“Baiklah kek. Tetapi justru sekarang aku berani minta ijin untuk mandi bergantian” berkata Manggada.

“Di sudut itu ada sumur. Tetapi jangan menimbulkan banyak suara. Hari masih sangat pagi. Sumur itu memang diperuntukkan bagi orang-orang yang mereka sebut budakbudak”

Sejenak kemudian, Manggada dan Laksana sudah mandi bergantian. Namun mereka sudah mulai berkeringat lagi ketika matahari terbit, karena keduanya sibuk membersihkan kandang, menyediakan makan bagi kuda-kuda sekandang, kemudian juga membersihkan kuda-kuda itu.

Dalam pada itu, bagaimanapun juga orang tua Manggada dan Laksana menjadi sangat gelisah. Kedua anak muda itu telah mengambil satu langkah yang sangat berbahaya.

Namun hati mereka menjadi agak tenang ketika Ki Pandi mengatakan kepada mereka, bahwa Ki Pandi sudah dapat mengetahui dimana kedua orang anak muda itu berada.

“Mereka sengaja memberikan petunjuk kepadaku” berkata Ki Pandi.

“Jika demikian, apakah kita akan mengambilnya?” berkata Ki Citrabawa.

“Jika keduanya tidak dapat keluar dari tempat itu, kita memang akan mengambilnya” berkata Ki Pandi, “tetapi tentu kita tidak akan tergesa-gesa. Aku sedang mencari jalan untuk dapat memasuki barak itu nanti malam. Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan berhubungan dengan keduanya”

“Tetapi itu sangat berbahaya pula” berkata Ki Kertasana.

“Mudah-mudahan aku dapat menghindarinya” sahut Ki Pandi. Namun wajahnya menampakkan kesungguhannya untuk melakukan sebagaimana dikatakannya”

Ki Kertasana dan Ki Citrabawa yang memang meyakini kemampuan Ki Pandi itu hanya mengangguk-angguk saja. Keduanya percaya bahwa Ki Pandi tidak akan membiarkan Manggala dan Laksana mengalami kesulitan dan apalagi mengalami bencana.

Dalam pada itu, Ki Kertasana dan Ki Citrabawa yang sebelumnya seolah-olah tidak melibatkan diri dengan keadaan yang mencengkam padukuhan Gemawang, bahkan orang-orang Gemawang menganggap bahwa keduanya bersikap sebagaimana para penghuni yang lain, memutuskan untuk mulai berbuat sesuatu. Justru karena anak-anak mereka sudah terlibat semakin jauh.

Karena itu, maka keduanya bersepakat untuk menghubungi Ki Jagabaya untuk menentukan langkah-langkah lebih jauh.

Namun setelah Manggada dan Laksana dibawa ke barak Wira Sabet dan Sura Gentong, untuk beberapa hari tidak nampak lagi para pengikut keduanya itu berkeliaran di padukuhan Gemawang. Mungkin mereka menganggap bahwa setelah Manggada dan Laksana berhasil mereka tangkap, maka tidak akan ada lagi orang-orang Gemawang yang akan berani menentang mereka kecuali Ki Jagabaya yang ternyata tidak berhasil membangkitkan keberanian orang-orang Gemawang.

Dalam pada itu, Ki Jagabaya pun untuk sementara telah mengekang tingkah laku Sampurna agar anaknya itu tidak terperangkap ke dalam kesulitan.

“Aku tidak mengira, bahwa Laksana memiliki kemampuan yang sangat tinggi, ayah” berkata Sampurna.

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu Manggada juga memiliki kemampuan setingkat dengan adik sepupunya”

“Ya” sahut Sampurna, “aku menjadi merasa kecil di hadapan mereka”

“Adalah satu keberuntungan bagi kita, bahwa kedua orang anak muda itu memahami sikap kita. Bahkan keduanya dengan ikhlas telah membantu kita”

“Itulah agaknya mereka dengan berani menemui Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong. Agaknya jika terpaksa mereka tidak akan menjadi ketakutan untuk memberikan perlawanan”

“Banyak yang dapat kita harapkan dari mereka” berkata Ki Jagabaya.

Ketika Ki Kertasana dan Ki Citrabawa menemuinya, maka Ki Jagabaya menyambutnya dengan gembira. Ternyata niatnya untuk mempertahankan padukuhan Gemawang bukan sekedar mimpi buruk, beberapa orang yang memiliki kemampuan yang meyakinkan, telah menyatakan dukungan mereka terhadap sikapnya yang teguh.

“Jika aku sempat berhubungan dengan Wira Sabet dan Sura Gentong, aku akan menegaskan sikapku lagi” berkata Ki Jagabaya.

“Sudah sampai saatnya kita berbuat tegas” berkata Ki Kertasana, “Ki Pandi, orang tua yang sekarang tinggal di rumah kami, telah berhasil menemukan barak Wira Sabet dan Sura Gentong”

“Tetapi apakah mungkin kita memasuki barak mereka?” desis Ki Citrabawa, “bukankah menurut Ki Pandi, barak itu dihuni oleh banyak orang. Selain saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong, di barak itu juga tinggal Ki Sapa Aruh dan para pengikutnya. Sementara Ki Pandi masih belum dapat mengetahui lebih banyak daripada penglihatannya sekilas dari kejauhan”

Ki Kertasana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita memang tidak dapat berbuat dengan tergesa-gesa. Tetapi kita juga tidak dapat membiarkan keadaan seperti ini berlangsung terlalu lama”

“Baiklah” Ki Jagabaya berkata dengan sungguh-sungguh, ““kita akan berbuat lebih banyak lagi”

Tetapi sementara itu, orang-orang Gemawang sendiri sama sekali tidak membantu. Bahkan mereka masih saja mengusulkan agar Ki Jagabaya mengurungkan niatnya untuk melawan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Tetapi diam-diam ceritera tentang perkelahian antara Laksana melawan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu menjalar dari mulut ke mulut. Bagi mereka, apa yang terjadi itu merupakan satu rahasia yang sulit mereka pecahkan. Laksana telah memenangkan perkelahian itu. Tetapi berdua dengan Manggada, mereka justru telah menyerahkan diri dan dibawa ke sarang Wira Sabet dan Sura Gentong.

Kenyataan itu ternyata telah menimbulkan tanggapan yang berbeda di antara orang-orang padukuhan Gemawang. Sebagian dari mereka menjadi semakin ketakutan, karena mereka memperhitungkan, akan timbul persoalan-persoalan baru yang akan menambah kesulitan para penghuni padukuhan Gemawang. Tetapi sebagian yang lain mulai mempertimbangkan kemungkinan yang lain pula.

Bahwa Manggada dan Laksana telah menyerahkan diri setelah memenangkan satu pertempuran, sangat membingungkan orang-orang Gemawang. Beberapa orang anak muda menganggap bahwa yang dilakukan oleh Manggada dan Laksana adalah satu usaha dengan mempertaruhkan jiwa mereka untuk kepentingan padukuhan Gemawang.

“Apakah kita akan membiarkannya?” desis seorang anak muda.

“Kita kenal Manggada di masa menjelang remaja. Apakah kini kita akan membiarkannya berjuang sendiri bagi padukuhan ini? Kita harus mencari jawaban, kenapa Manggada dan Laksana justru menyerahkan diri” sahut yang lain.

“Kita akan menghubungi Sampurna. Ia tentu tahu pasti, apa yang sedang dilakukan oleh Manggada dan Laksana. Saat itu Manggada dan Laksana mencegah agar Sampurna tidak ikut menyerahkan dirinya”

”Tetapi bagaimana dengan ketiga orang yang sudah dikalahkan itu?” bertanya anak muda yang lain lagi.

Akhirnya mereka memutuskan untuk berbicara dengan Sampurna. Dua di antara mereka akan mewakili kawan-kawan mereka menemui Sampurna di rumahnya, karena sejak Manggada dan Laksana ditangkap, Sampurna jarang nampak di jalan-jalan padukuhan

Ketika kedua orang itu pergi ke rumah Sampurna, maka mereka telah bertemu dengan Wisesa yang juga akan pergi menemui Tantri.

“Kalian akan pergi ke mana?” bertanya Wisesa.

“Kami akan menemui Sampurna” jawab salah seorang anak muda itu.

“Benar?” bertanya Wisesa pula.

“Benar, kenapa?” bertanya anak muda itu.

“Kau tidak akan menemui Tantri?” desak Wisesa.

“Untuk apa? Kami memerlukan Sampurna” sahut anak muda yang seorang. Anak muda itu tahu bahwa Wisesa nampaknya sangat tertarik kepada Tantri, sehingga setiap anak muda yang datang ke rumah Ki Jagabaya dianggap akan menemui Tantri.

Wisesa menarik nafas panjang. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Untuk apa kalian akan berbicara dengan Sampurna?”

“Kami ingin menanyakan, kenapa Manggada dan Laksana yang telah memenangkan perkelahian itu justru harus menyerahkan diri untuk dibawa ke tempat Wira Sabet dan Sura Gentong?” jawab anak muda itu.

“Itu hanya omong kosong saja” desis Wisesa

“Manggada dan Laksana, dan ternyata juga Sampurna, hanya anak-anak muda yang pandai membual”

“Sumber ceritera ini tidak dari Manggada dan Laksana” jawab anak muda itu, “juga tidak dari Sampurna. Tetapi dari beberapa orang yang melihat perkelahian itu”

Tetapi Wisesa tetap menggeleng. Katanya, “Ceritera itu tidak dapat dipercaya. Aku juga sudah mendengar dongeng itu. Katanya Laksana mampu mengalahkan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, Bukankah itu tidak masuk akal? Seorang lawan seorangpun Laksana tidak akan dapat berbuat apa-apa. Apalagi melawan tiga orang”

“Kita akan bertanya kepada Sampurna” jawab anak muda itu.

“Sampurna adalah kawan dekatnya. Tentu ia akan mengiakannya. Bahkan membumbuinya, sehingga ceriteranya akan menjadi semakin sedap” berkata Wisesa kemudian.

Mereka tidak meneruskan pembicaraan itu, karena mereka sudah berdiri di regol halaman Ki Jagabaya. Karena itu, maka mereka pun kemudian melangkah masuk sambil berdiam diri. Seorang dari antara anak-anak muda itu telah menutup pintu regol. Tetapi tidak diselarak dari dalam.

Wisesalah yang mengetuk pintu seketheng. Karena itu, maka Sampurna yang sudah terbiasa mendengar ketukan itu, segera mengetahui bahwa Wisesa telah datang berkunjung.

“Ada tamu, Tantri” desis Sampurna.

“Kenapa anak itu masih juga datang kemari? Bukankah ayah pernah marah kepadanya?”

“Kau kira anak itu punya perasaan?” sahut Sampurna.

“Kakang tidak usah membuka pintunya” geram Tantri.

“Ah, kasihan. Nanti ia akan menunggu sampai senja. Tetapi kemudian Wisesa tidak berani pulang sendiri, sehingga aku harus mengantarkannya” berkata Sampurna sambil tertawa.

“Kenapa harus bersusah-susah mengurusinya?” wajah Tantri menjadi semakin gelap.

“Kenapa kau justru marah kepadaku?” bertanya Sampurna.

Sebelum Tantri menjawab, pintu itu sudah diketuk pula dengan gaya ketukan Wisesa.

Sampurna menarik nafas dalam-dalam, sementara Tantri telah melangkah masuk ke ruang dalam.

Sampurna lah yang kemudian membuka pintu seketheng betapapun segannya.

Tetapi Sampurna terkejut ketika ia melihat Wisesa tidak sendiri. Dua orang anak muda menyertainya masuk ke halaman samping rumahnya.

Tetapi Sampurna mengenal keduanya dengan baik, karena keduanya adalah kawan bermainnya pula.

Ketiganyapun kemudian dipersilahkan duduk di serambi. Sementara Sampurna memberitahukan kepada Tantri bahwa tamu tidak hanya seorang, tetapi tiga orang.

“Kenapa kalau tiga?” bertanya Tantri dengan wajah gelap.

Sampurna tertawa. Katanya, “Jika kau menghidangkan minuman, jangan hanya semangkuk buat Wisesa”

Tantri tiba-tiba bangkit. Sampurna tahu apa yang akan dilakukan adiknya. Karena itu, maka ia pun segera berlari keluar dari dapur. Tetapi suara tertawanya masih tertinggal, sehingga Tantri itupun berkata, “Awas kau nanti”

Di serambi Sampurna kemudian duduk menemui ketiga orang anak muda itu. Baru kemudian ia mengetahui bahwa dua orang anak muda itu tidak dengan sengaja datang bersama-sama dengan Wisesa.

“Kami bertemu di jalan” berkata salah seorang dari kedua orang anak muda itu.

“Jadi, apakah kalian mempunyai keperluan lain atau sekedar singgah?” bertanya Sampurna. Karena tidak terbiasa ada orang yang datang menemuinya sejak keadaan padukuhan itu menjadi buram.

Seorang dari anak muda itupun menjawab, “Sampurna. Kami mengikuti perkembangan terakhir dari perkembangan padukuhan kita ini. Kami telah mendengar bahwa Manggada dan Laksana telah ditangkap dan dibawa oleh para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Sementara itu, ada orang yang melihat bahwa sebenarnya Laksana sendiri telah dapat mengalahkan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu.”

Sampurna menarik nafas panjang. Perhatian anak muda terhadap peristiwa itu justru memberikan harapan kepadanya.

Tetapi Wisesalah yang menyahut, “Kenapa kau terpancing oleh berita yang menyesatkan itu. Adalah tidak masuk akal bahwa setelah memenangkan perkelahian itu, Manggada dan Laksana kemudian menjadi tahanan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Apa yang terjadi adalah karena kesombongan keduanya, sehingga keduanya harus menanggung akibat yang mungkin sangat buruk”

“Wisesa” berkata Sampurna kemudian, “ketika peristiwa itu terjadi, aku berada di antara mereka. Bahkan semula aku telah menyediakan diri untuk ditangkap bersama Manggada dan Laksana. Tetapi Manggada dan Laksana memperingatkan aku, agar aku tidak ikut bersama mereka. Mereka menganggap bahwa tumpuan dendam terutama tertuju kepada ayah, sehingga aku akan dapat menjadi sasaran dendam mereka atau aku akan dapat dijadikan taruhan. Karena itu, maka akupun telah mengurungkan niatku untuk menyerahkan diri sebagaimana Manggada dan Laksana”

“Bukankah itu tidak masuk akal?” sahut Wisesa.

“Masuk akal atau tidak, tetapi itulah yang terjadi“ jawab Sampurna.

“Aku percaya” jawab salah seorang dari kedua orang anak muda itu, “aku sudah bertemu pula dengan orang yang telah melihat langsung apa yang terjadi”

“Terima kasih” sahut Sampurna.

”Tetapi kami menjadi bingung, kenapa keduanya justru menyerahkan diri mereka?” bertanya salah seorang dari kedua orang anak muda itu.

“Manggada dan Laksana menganggap bahwa cara itu adalah cara yang terbaik untuk mengetahui dimana Wira Sabet dan Sura Gentong itu tinggal” jawab Sampurna.

“Lalu, apa hasilnya?” Wisesa memotong, “meskipun mereka mengetahui tempat tinggal Wira Sabet dan Sura Gentong, namun keduanya kemudian menjadi tawanan, apakah itu berarti bagi kita disini?”

“Sekarang memang belum. Tetapi kita berharap bahwa pada suatu saat, pengorbanan mereka akan sangat berarti”

“Kami mengerti” sahut salah seorang dari kedua orang anak muda itu, “yang ingin kami tanyakan, apakah yang sebaiknya kami lakukan justru setelah Manggada dan Laksana mengorbankan diri mereka. Kami sebenarnya juga merasa cemas, bahwa Manggada dan Laksana akan mengalami nasib buruk”

Wajah Sampurna menjadi cerah. Ia melihat perubahan sikap anak-anak muda itu, justru setelah Manggada dan Laksana menyerahkan dirinya meskipun dalam perkelahian yang terjadi, Laksana sendiri dapat mengalahkan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong.

Dengan nada tinggi Sampurna berkata Satu pertanda yang bagus. “Aku minta kalian dapat mempertimbangkan kemungkinan yang dapat kalian lakukan. Ingat, ayah akan tetap mempertahankan sikapnya. Melawan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong. Ayah memang tidak mempunyai pilihan lain. Ada atau tidak ada yang memberikan bantuan kekuatan, maka ayah akan tetap berusaha membebaskan padukuhan ini dari bayangan Wira Sabet dan Sura Gentong yang menakutkan itu. Ayah sama sekali tidak sedang berjuang untuk mempertahankan kedudukannya. Tetapi lebih daripada itu. Ayah ingin padukuhan kita bebas dari bayangan kelam Wira Sabet dan Sura Gentong. Manggada dan Laksana serta keluarganya mengerti maksud ayah. Karena itu, maka mereka telah menyatakan diri untuk membantu ayah. Bahkan manggada dan Laksana telah mengambil sikap yang sangat berbahaya bagi keselamatan mereka”

Kedua orang anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara Wisesa berkata, “Aku ingin memperingatkan kalian. Jangan main-main dengan Wira Sabet dan Sura Gentong”

“Tidak. Kami tidak sedang bermain-main. Bagaimana jika kami menawarkan kesediaanmu melindungi Tantri dari dendam Sura Gentong yang garang itu?”

“Kau akan mengadu aku dengan Sura Gentong seperti mengadu jengkerik?” bertanya Wisesa.

Sampurna tertawa. Katanya, “Sudahlah Wisesa. Sebaiknya kau tinggal di dapur saja. Menjerang air, menanak nasi dan mengukur kelapa”

Wajah Wisesa menjadi merah, tetapi ia tidak segera dapat mengatakan sesuatu, justru karena gejolak jantungnya yang semakin cepat.

Dalam pada itu, maka Tantri pun muncul dari balik pintu membawa hidangan bagi ketiga orang tamunya dan bagi kakaknya. Sekilas ia memandang wajah kakaknya. Ternyata Sampurna tersenyum kepadanya. Hampir saja Tantri menggapai kakaknya di lengannya dan mencubitnya keras-keras. Tetapi sebelum hal itu terjadi, Sampurna sudah bergeser menjauh.

Tetapi Tantri tidak duduk di serambi itu. Setelah meletakkan minuman dan makanan, ia pun segera masuk kembali ke ruang dalam.

Wisesa hampir saja memanggilnya. Tetapi ketika ia teringat bahwa di serambi itu ada dua orang anak muda yang lain, maka niatnya itu pun diurungkannya.

Dalam pada itu, maka Sampurna pun berkata kepada anak-anak muda, “Nah, jika kalian memang benar-benar mulai terpanggil untuk menegakkan ketenangan di padukuhan kita ini, marilah. Ayah akan menyambut dengan gembira. Selebihnya, aku ingin mempersilahkan kalian menghimpun kawan-kawan kita yang memiliki keberanian untuk berbuat sesuatu. Aku tahu, bahwa para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong bukan sekedar orang kebanyakan seperti kita. Tetapi dengan lambaran keberanian dan tekad maka kita tentu akan dapat berbuat banyak. Sementara itu di antara kita terdapat anak-anak muda seperti Manggada dan Laksana”

Kedua orang anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara Sampurna berkata pula, “Aku akan menghubungi keluarga Manggada dan Laksana. Mungkin mereka sudah mendengar berita tentang kedua orang anak muda itu”

Kedua anak muda itu memang belum menyatakan kesanggupan mereka. Nampaknya mereka masih harus mempertimbangkan beberapa hal. Namun bahwa sepeletik api kepedulian anak-anak muda itu atas keadaan padukuhannya, telah menggembirakan Sampurna.

Sejenak kemudian, maka kedua orang anak muda itu pun telah minta diri, sementara Wisesa masih ingin tinggal di rumah itu. Apalagi Tantri masih belum menemuinya karena ada kedua orang tamu anak muda yang lain.

Sepeninggal kedua anak muda itu, maka Wisesa pun berkata, “Kau telah memberikan gambaran yang salah kepada anak-anak muda itu. Apakah kau kelak tidak akan menyesal menyaksikan mereka mengalami nasib buruk? Seandainya kau berhasil membakar keberanian mereka dan dengan membabi buta melawan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong yang sudah berpengalaman dan memiliki kemampuan yang tinggi, namun kemudian jatuh korban yang tidak terhitung, kau harus bertanggung jawab”

Sampurna termangu-mangu sejenak. Meskipun ia menganggap Wisesa tidak lebih dari seorang anak muda yang cengeng, tetapi pendapatnya itu memang perlu mendapat perhatian. Bukan untuk mengurungkan kesediaan mereka menyelamatkan padukuhan Gemawang, tetapi satu cara untuk tidak membiarkan anak-anak muda itu menjadi korban.

Karena Sampurna tidak segera menjawab, maka Wisesa itu berkata selanjutnya, “Nah, bukankah kau menjadi ragu-ragu?

“Tidak” jawab Sampurna, “aku tidak menjadi ragu-ragu. Tetapi pendapatmu memang harus mendapat perhatian. Kami akan tetap melakukan perlawanan, tetapi dengan usaha agar korban tidak terlalu banyak jatuh”

“Jika ada satu orang saja yang menjadi korban, maka kaulah yang bertanggung jawab”

“Kita semuanya bertanggung jawab” jawab Sampurna.

“Tidak. Aku tentu tidak akan bersedia untuk ikut bertanggung jawab, karena aku mempunyai gagasan lain”

“Kecuali kau” jawab Sampurna pendek.

Sekali lagi wajah Wisesa menjadi merah. Sementara itu Sampurna pun kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan ruang itu.

Sampurna yang kemudian pergi ke dapur berkata kepada adiknya, “Temuilah anak itu. Jika aku terlalu lama berbicara dengan Wisesa. mungkin aku akan kehilangan kesabaran”

“Kenapa tidak kau usir saja?” bertanya Tantri.

”Aku masih mencoba mengendalikan diri dan mengingat unggah-unggah. Sebagai tuan rumah, aku masih harus berusaha menghormati seorang tamu betapapun perasaan kita bergejolak”

Tantri menggeleng. Katanya, “Biar saja ia duduk di serambi”

“Jangan begitu Tantri. Temuilah anak itu. Kau dapat saja berusaha untuk menjauhinya. Tetapi dengan baik-baik”

“Dengan baik-baik bagaimana? Ia tidak mempunyai perasaan sehingga tidak mungkin aku menolaknya dengan cara baik-baik itu. Kepada Wisesa aku harus berterus terang”

“Jangan. Orang-orang cengeng seperti itu akan dapat berbuat licik untuk mencapai maksudnya. Justru karena ia pengecut”

Tantri termangu-mangu sejenak. Dengan nada tinggi ia bergumam, “Jika ia marah, apa yang akan dilakukannya?”

“Justru yang tidak terduga-duga” jawab Sampurna yang kemudian masih membujuk adiknya, “Sudahlah. Pergi ke serambi sejenak”

Tantri akhirnya pergi juga ke serambi untuk menemui Wisesa.

“Tantri” berkata Wisesa setelah Tantri duduk di pendapa, “Aku minta kau bantu aku. Cobalah menjelaskan kepada kakakmu, bahwa menyeret anak-anak muda Gemawang untuk melawan Wira Sabet dan Sura Gentong adalah langkah yang sangat berbahaya bagi keselamatan anak-anak muda Gemawang. Mungkin Sampurna sendiri dapat disebut pahlawan kelak. Tetapi ia harus berdiri di atas alas tubuh kawan-kawan kita yang menjadi korban”

Telinga Tantri serasa menjadi panas. Tetapi ia justru tidak menjawabnya. Tantri justru berkata tentang persoalan yang lain sama sekali. Dengan nada datar ia berkata, “Aku telah membuang bibit pohon kemuning yang kau berikan”

“Kenapa?” bertanya Wisesa.

“Jadi untuk apa? Kau tidak memperbolehkan pohon itu aku tanam di depan. Padahal aku ingin menanamnya di halaman depan rumah ini”

“Tetapi kau tidak perlu membuangnya Tantri. Aku sudah berusaha dengan susah payah”

“Aku tidak tahu lagi, buat apa bibit pohon kemuning itu bagiku. Tidak ada tempat lagi untuk menanamnya selain di halaman depan. Sedangkan kau tidak memperbolehkannya”

Wisesa menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian Wisesa itupun berkata, “Sudahlah. Lupakan saja bibit pohon kemuning itu. Tetapi yang aku minta kemudian, bantu aku, agar kakakmu tidak menjerumuskan kawan-kawan kita ke dalam kesulitan”

“Aku sependapat dengan kakang Sampurna. Aku juga mendorong agar ia melakukannya” sahut Tantri.

“Tantri, kau jangan sekedar menuruti perasaan. Aku tahu bahwa perempuan memang lebih condong kepada perasaannya dari pada penalarannya. Tetapi yang akan terjadi adalah jatuhnya korban. Tidak hanya satu atau dua orang. Mungkin lima, tujuh atau bahkan sepuluh orang anak muda Gemawang”

“Wisesa” jawab Tantri, “dengar baik-baik. Untuk mencapai sesuatu perlu pengorbanan. Jika kau sudah pernah mendengar sukurlah. Jika belum, sebaiknya kau sekarang mendengarnya”

“Tantri” sahut Wisesa, “kau mulai meremehkan aku”

“Itu tergantung kepada sikapmu sendiri. Apakah kau pantas dijunjung tinggi atau diremehkan. Bahkan kau selalu saja menghambat segala usaha untuk memulihkan keadaan padukuhan ini”

“Tantri, kau jangan asal menuduh. Aku sudah melahirkan gagasan-gagasan besar yang sangat berharga bagi padukuhan kita ini. Tetapi ayahmu dan kedua anak muda yang tertangkap itu tidak mampu melaksanakannya. Itu bukan salahku. Jika gugasanku itu mampu mereka laksanakan, maka tidak akan ada korban yang bakal jatuh”

“Ada Wisesa” jawab Tantri.

“Tidak. Tidak ada benturan kekerasan”

“Korbannya setidak-tidaknya aku. Kemudian keluargaku dan jika kau mempunyai kesadaran yang tinggi dan merasa ikut memiliki, adalah padukuhan Gemawang. Aku akan diambil oleh Sura Gentong, karena ia merasa kehilangan bakal isterinya, perempuan yang akan dilarikannya itu disini. Kemudian dendamnya kepada ayah dan keluarga ini. Selanjutnya, seisi padukuhan akan dimilikinya. Sementara kau bermimpi dengan gagasan-gagasanmu itu”

Wisesa mengerutkan dahinya. Sementara Tantri berkata selanjutnya, “Sebaiknya kau tidak usah datang lagi kemari, Wisesa”

“Tantri“ keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

“Aku lebih menghormati anak-anak muda seperti Manggada dan Laksana. Atau justru mereka yang mengungsi meninggalkan padukuhan ini daripada kau”

“Jangan begitu Tantri. Jika kau tidak sependapat dengan aku, itu tidak apa-apa. Tetapi kau jangan bersikap seperti itu”

“Setidak-tidaknya untuk sementara Wisesa. Aku minta maaf, bahwa dalam keadaan yang kemelut ini, jalan pikiran kita tidak sejalan. Entahlah kelak jika segala sesuatunya telah teratasi”

Wajah Wisesa menjadi pucat. Ketika sekilas ia memandang wajah Tantri, maka Tantri juga sedang memandanginya dengan tajamnya, sehingga Wisesa itu menundukkan kepalanya.

Karena Wisesa tidak menjawab, maka Tantri berkata, “Aku tidak bermaksud mengusirmu Wisesa. Tetapi jika kita berbicara lebih banyak lagi, maka perbedaan sikap kita akan menjadi semakin jelas. Karena itu, sebaiknya kita hentikan pembicaraan ini. Mudah-mudahan kau sempat merenunginya dan bangkit bersama anak-anak muda yang lain”

Jantung Wisesa memang bergejolak. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Nampaknya Tantri sudah mengambil keputusan yang pahit baginya.

“Jika kau akan pulang, maka aku akan mengantarkanmu sampai ke pintu seketheng. Aku harap jalan pikiranmu segera berubah”

Meskipun Tantri mengang-gap Wisesa tidak berperasaan, namun anak muda itu masih dapat mengerti, bahwa sebaik-nya ia pulang saja.

Tetapi apa yang diharapkan oleh Tantri, bahwa Wisesa akan berubah pendapatnya, yang terjadi justru sebaliknya. Wisesa merasa bahwa sebab dari sikap Tantri itu adalah kedua orang anak muda yang kini berada di tangan Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Jika benar Laksana dapat mengalahkan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, namun kemudian keduanya telah dibawa kesarang mereka, tentu ada maksud-maksud tertentu pada Manggada dan Laksana. Bahkan mungkin mereka bekerja sama dengan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu sendiri” berkata Wisesa kepada diri sendiri.

Ternyata pikiran buruk telah tumbuh di dalam jantungnya. Wisesa tidak ingin bahwa Tantri mengagumi Manggada atau Laksana. Atau bahkan kedua-duanya. Karena itu, maka Wisesa berniat untuk bertemu dan berbicara dengan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong jika mereka datang ke padukuhan itu. Menurut kata beberapa orang, maka para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong memang sudah mulai berkeliaran lagi di padukuhan Gemawang.

Sementara itu, Ki Pandi yang mengikuti perkembangan keadaan barak Wira Sabet dan Sura Gentong, telah berhasil berhubungan dengan Manggada dan Laksana. Karena keduanya dinilai tidak berbahaya lagi, serta atas usaha Pideksa yang masih dipengaruhi sisa-sisa kenangan masa kanak-kanaknya, maka Manggada dan Laksana telah diperkenankan tidur di sebuah barak kecil bersama Sampar atau yang dikenal oleh Ki Pandi. Ki Carang Aking.

Kesempatan itu telah dipergunakan oleh keduanya dengan sebaik-baiknya. Menjelang malam, maka Manggada yang sedang menimba air disumur tidak terlalu jauh dari dinding barak, telah bersenandung dengan lagu yang dikenal benar oleh Ki Pandi. Isyarat itulah yang memungkinkan Ki Pandi dapat bertemu dengan Manggada dan Laksana tanpa diketahui oleh para penjaga barak itu. Bahkan Ki Pandi berhasil masuk bukan saja ke dalam lingkungan dinding barak, tetapi masuk ke dalam barak kecil, yang dipergunakan bagi Sampar, Manggada dan Laksana.

Pertemuan Ki Pandi dengan Ki Carang Aking adalah pertemuan dari dua orang yang sudah saling mengenal dengan baik, namun yang sudah cukup lama tidak bertemu.

“Ki Sapa Aruh memang jarang berada di barak ini” berkata Sampar yang sehari-hari nampak tua dan lemah. Tetapi di dalam baraknya meskipun wajahnya tetap membayangkan umurnya yang tua, tetapi ia nampak tegar dan kuat.

“Apakah tidak dapat diketahui, kapan ia berada disini?” bertanya Ki Pandi.

“Tidak. Jika Ki Sapa Aruh datang ke barak ini, ia tidak akan terlalu lama disini. Untungnya, Ki Sapa Aruh tidak begitu menghiraukan kami yang disebut budak-budak. Jika saja ia tertarik untuk bertemu dan berbicara dengan kami sekali dua kali, agaknya memang sulit untuk menyembunyikan diri lagi” jawab Sampar yang dikenal oleh Ki Pandi dengan sebutan Ki Carang Aking.

Ki Pandi itu pun mengangguk-angguk. Kepada Manggada dan Laksana iapun berpesan, “Jika demikian, maka kalian berdua harus berhati-hati. Jika orang itu berada di barak ini, kalian berdua harus berusaha untuk menghindarinya. Aku yakin jika Ki Carang Aking masih mempunyai kemampuan untuk menghindari penglihatan Ki Sapa Aruh. Tetapi kalian berdua tentu akan mengalami kesulitan”

Manggada dan Laksana itu pun mengangguk kecil, sementara Ki Pandi pun berkata, “Karena kemungkinan itu, maka sebaiknya kalian tidak terlalu lama berada disini”

“Jika mereka pergi, akupun harus pergi” berkata Ki Carang Aking, “jika tidak, maka aku akan menjadi sasaran kemarahan Sura Gentongdan saudara-saudara seperguruannya”

“Bagaimana dengan Wira Sabet?” bertanya Ki Pandi.

”Meskipun termasuk orang yang garang, tetapi Wira Sabet dan anaknya tidak segarang Sura Gentong dan saudara-saudara seperguruannya”

“Baiklah, Ki Carang Aking. Mudah-mudahan Ki Jagabaya dan Sampurna berhasil membangunkan orang-orang Gemawang yang masih tertidur nyenyak” berkata Ki Pandi kemudian.

Demikianlah, maka lewat tengah malam, Ki Pandi pun dengan hali-hati meninggalkan bilik Ki Carang Aking. Sebagaimana ia masuk, maka iapun berhasil keluar dari barak itu tanpa diketahui oleh para penjaga barak itu.

Hubungan itu telah menenangkan keluarga Manggada dan Laksana. Meskipun kecemasan masih tetap ada di antara mereka, karena setiap saat orang yang bernama Ki Sapa Aruh itu akan datang.

Ketika Sampurna kemudian datang menghubungi keluarga Manggada dan Laksana, maka Sampurna pun mendapat keterangan tentang kedua orang anak muda yang berada di dalam barak Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Sasaran mereka kemudian bukan sekedar dendam atas padukuhan Gemawang dan Kademangan Kalegen. Tetapi nampaknya bagi Ki Sapa Aruh dan para pemimpin yang lain, sasaran akan lebih jauh lagi. Sebagaimana sekarang ternyata bahwa barak itu telah menjadi sarang sekelompok perampok dan penyamun yang ganas” berkata Ki Pandi. Namun Ki Pandi itu pun berkata selanjutnya, “Tetapi untuk beberapa hari, agaknya masih cukup aman bagi Manggada dan Laksana berada di barak itu”

Sampurna mengangguk-angguk kecil. Katanya kemudian, “Aku melihat, ada perubahan sikap dari anak-anak muda di padukuhan ini selelah Manggada dan Laksana menyerahkan diri. Meskipun ada juga sikap yang justru sebaliknya, yang menganggap bahwa sikap Manggada dan Laksana itu justru akan dapat menimbulkan persoalan-persoalan baru”

“Pendapat di padukuhan ini untuk sementara memang akan dapat terpecah. Tetapi jika kita dapat mengatasi bayangan hitam Wira Sabet dan Sura Gentong, maka keadaannya tentu akan segera menjadi baik” berkata Ki Kertasana.

“Mudah-mudahan kita dapat segera mengatasinya“ berkata Sampurna kemudian pagi ini ayah masih menghubungi Ki Bekel. Bagaimanapun juga ayah masih berharap, bahwa Ki Bekel dapat bangkit. Pengaruhnya akan menjadi cukup besar”

“Mudah-mudahan usaha Ki Jagabaya itu juga akan berhasil, ngger” berkata Ki Kertasana kemudian.

Dengan keterangan itu, maka Sampurna menjadi semakin mantap. Ia berharap bahwa segala usaha tidak akan menjadi sia-sia. Namun dengan nada dalam Sampurna pun menyatakan kecemasannya, bahwa korban akan banyak yang berjatuhan. Anak-anak muda Gemawang akan menjadi gampang jika mereka benar-benar harus berkelahi melawan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong yang sudah berpengalaman serta memiliki dasar-dasar kemampuan olah kanuragan.

“Kita memang tidak dapat membentuk mereka menjadi anak-anak muda yang berilmu dalam waktu yang sangat singkat, ngger. Tetapi setidak-tidaknya kita dapat memberikan petunjuk-petunjuk, apa yang sebaiknya harus mereka lakukan jika hal seperti itu benar-benar akan terjadi”

“Bagaimana mungkin kita dapat memberikan petunjuk kepada mereka? Akhir-akhir ini, orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong sudah mulai nampak lagi berkeliaran meskipun mereka belum mengambil tindakan-tindakan baru yang dapat membuat orang-orang Gemawang semakin ketakutan”

“Kita akan memikirkan satu cara yang paling baik” berkata Ki Kertasana, “jika perlu, kita membagi diri. Kitalah yang akan datang kepada anak-anak muda yang menyatakan kesediaan mereka untuk berjuang membebaskan padukuhan ini dari ketakutan dan kecemasan. Kita minta dua atau tiga orang anak muda untuk berkumpul di salah satu rumah di antara mereka. Kemudian salah seorang dari kita akan datang. Kita dapat memberikan petunjuk-petunjuk yang penting. Setidak-tidaknya bagaimana cara mereka berlindung di antara orang-orang yang memiliki kemampuan olah kanuragan disaat-saat yang paling gawat dalam pertempuran. Namun dalam keadaan yang memungkinkan mereka dapat membantu mengurangi tekanan lawan. Tetapi memang tidak mungkin untuk menghindari korban yang bakal jatuh”

Sampurna sependapat dengan jalan pikiran Ki Kertasana meskipun dengan demikian mereka akan menjadi sangat sibuk. Tetapi kesibukan itu masih akan mungkin disembunyikan dari penglihatan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Ya. Memang berbeda dengan apabila kita mengumpulkan anak-anak muda itu di satu tempat. Apalagi lebih dari sepuluh orang” berkata Sampurna.

Demikianlah, maka atas persetujuan Ki Jagabaya, Sampurna telah mulai dengan langkah-langkah yang nyata. Kedua orang anak muda yang pernah datang kepadanya, telah membantunya.

Akhirnya Sampurna mendapat dukungan dari beberapa orang anak muda padukuhan Gemawang. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, tetapi justru keberanian mereka menentang pendapat sebagian besar orang-orang Gemawang, bahwa usaha untuk melawan Wira Sabet dan Sura Gentong hanya akan menimbulkan malapetaka, telah menyatakan kesungguhan dan kemantapan niat mereka.

Dengan sangat berhati-hati mereka telah menetapkan tempat-tempat berkumpul kelompok-kelompok yang sangat kecil, yang terdiri hanya oleh dua atau tiga orang.

Sementara itu, sebagaimana direncanakan, maka beberapa orang yang dianggap memiliki ilmu, justru datang kepada mereka untuk memberikan petunjuk-petunjuk apa yang harus mereka lakukan, jika mereka harus bertempur melawan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong.

Tugas itu memang melelahkan. Ki Jagabaya sendiri, Sampurna, Ki Kertasana, Ki Citrabawa dan bahkan Ki Pandi telah ikut pula membantu mereka, mendatangi rumah-rumah yang telah ditentukan. Mereka juga menuntun bagaimana sebaiknya mereka memegang senjata, mengayunkannya, menangkis dan menghindar. Mereka juga memberi tahukan, bahwa jika keadaan memaksa, jangan merasa malu untuk bergeser mundur, bahkan berlari-lari untuk mencuri perlindungan di antara pertempuran yang sedang berlangsung. Namun mereka pun memberitahukan pula, bahwa mereka akan mendapat kesempatan menyerang mereka yang sedang usik mengejar lawannya.

Namun yang lebih penting lagi bagi mereka yang datang kepada kelompok-kelompok kecil itu adalah justru mendorong keberanian mereka untuk berbuat sesuatu bagi kampung halaman.

Memang tidak banyak yang dapat diharapkan dalam waktu yang singkat itu. Meskipun setiap hari, orang-orang yang memiliki bekal ilmu itu harus berkunjung dua tiga kali di tempat-tempat yang ditentukan, namun mereka tidak dapat dengan serta merta membuat anak-anak muda itu berkemampuan tinggi.

Namun demikian, maka mereka memperkenalkan jenis-jenis senjata dan penggunaannya, maka mereka berharap untuk dapat mengurangi korban yang jatuh dari antara anak-anak muda itu.

Sementara itu, orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong telah mulai menakut-nakuti orang padukuhan Gemawang lagi. Dua orang di antara mereka telah berkeliaran di padukuhan tanpa ada orang yang mengganggu.

Dalam pada itu, Wisesa yang otaknya dicengkam oleh niat buruk terhadap Manggada dan Laksana, karena setiap kali Tantri memuji mereka, benar-benar ingin menemui kedua orang itu. Betapapun ia dicengkam ketakutan, tetapi ia telah memaksa dirinya untuk melakukannya. Perasaan dengki yang membakar jantungnya itu tidak dapat lagi disingkirkannya.

Demikianlah, ketika Wisesa melihat seseorang berjalan tergesa-gesa dan memberitahukan bahwa dua orang pengikut Wira Sabet datang lagi ke padukuhan mereka, maka Wisesa pun telah memaksa dirinya untuk menemui keduanya.

Kedua orang itu terkejut melihat seorang anak muda dengan sengaja menemuinya. Karena itu, maka kedua orang itu pun segera mempersiapkan diri.

Tetapi Wisesa sama sekali tidak menunjukkan niatnya untuk melakukan perlawanan. Bahkan masih berjarak beberapa langkah, Wisesa berhenti sambil membungkuk hormat.

“Ampun Ki Sanak” berkata Wisesa, “aku tidak bermaksud apa-apa”

Kedua orang itu telah mengambil jarak. Seorang di antara mereka bertanya dengan suara serak, “Kau mau apa?”

“Ampun Ki Sanak. Aku ingin memberikan keterangan yang mungkin berarti bagi Ki Sanak”

“Keterangan apa?” bertanya orang itu lagi. Wisesa pun memandang keadaan di sekelilingnya. Sepi. Tidak ada orang yang turun ke jalan.

“Ki Sanak” berkata Wisesa, “aku ingin memberitahukan, bahwa ada yang tidak wajar pada Manggada dan Laksana”

Kedua orang itu nampak terkejut. Bahkan seorang di antara mereka telah melangkah maju mendekati Wisesa.

Sikap orang itu membuat Wisesa kelakuan. Karena itu, maka sambil terbungkuk-bungkuk hormat ia berkata, “Ampun, Ki Sanak. Ampun. Aku bermaksud baik”

“Katakan, apa yang tidak wajar itu” bentak orang itu.

“Menurut ceritera orang, ketika Mangada, Laksana dan Sampurna berkuda berkeliling padukuhan itu dan bertemu dengan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, mereka telah berselisih dan berkelahi”

“Kau hanya menyebut namanya saja Wira Sabet dan Sura Gentong?” geram orang itu.

“Maksudku, paman Wira Sabet dan paman Wira Gentong” Wisesa menjadi gagap.

“Teruskan” desak orang itu.

“Dalam perkelahian itu, Laksana sendiri dapat mengalahkan ketiga orang penakut paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong” Wisesa meneruskan.

“Apa? Laksana mampu mengalahkan tiga orang kawan kami?” bertanya orang itu dengan nada tinggi.

Wisesa menjadi ragu-ragu. Ia melihat seakan-akan ada nyala api di mata kedua orang itu.

“Hanya menurut kata orang” jawab Wisesa dengan kaki gemetar.

“Setan kau geram yang seorang lagi” berani benar kau mengatakan bahwa tiga orang kawan kami kalah oleh seorang anak muda. He, jika kau belum tahu, dengarlah, Laksana dan Manggada sekarang menjadi tawanan kami”

“Itulah yang ingin aku katakan” suara Wisesa menjadi terputus-putus. Namun ia berkata selanjutnya, “justru karena Laksana memenangkan perkelahian itu, namun keduanya menjadi tawanan. Jika benar hal itu terjadi, bukankah berarti ada semacam permainan yang harus diperhatikan?”

Kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu termangu-mangu. Sementara Wisesa yang merasa sedikit mendapat angin meneruskan, “Bukankah hal itu sangat tidak wajar, jika benar-benar telah terjadi?”

“Kau lihat sendiri perkelahian itu?” bertanya salah seorang dari keduanya.

“Tidak, Ki Sanak, tetapi demikian kata orang. Aku mohon Ki Sanak berhati-hati dengan kedua orang itu. Mereka benar-benar licik. Mungkin mereka mempergunakan uang atau benda-benda berharga lainnya untuk melakukan rencananya”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Sementara Wisesa berkata pula, “Selain daripada itu, ternyata Sampurna di padukuhan ini berhasil mempengaruhi beberapa orang anak muda. Meskipun sampai saat ini jumlahnya belum begitu banyak, tetapi semakin lama tentu akan menjadi semakin banyak. Karena itu, sebaiknya paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong menjadi lebih berhati-hati”

“Anak muda” salah seorang dari kedua orang itu menggeram sambil melangkah mendekat. Ketika orang itu kemudian memegangi baju Wisesa, maka rasa-rasanya jantung Wisesa terlepas dari tangkainya, “Kau jangan mengigau. Apakah kau bermaksud menakut-nakuti kami?”

“Tidak, Ki Sanak. Tidak” bukan saja suara Wisesa yang gemetar, tetapi juga tubuhnya, “sudah aku katakan. Aku bermaksud baik. Aku berkata sebenarnya”

“Kenapa kau sampai hati memberi tahukan kepada kami tentang hal seperti itu? Bukankah itu berarti satu pengkhianatan bagi kawan-kawanmu sendiri?”

Pertanyaan itu sama sekali tidak diduganya. Wajah Wisesa menjadi pucat dan darahnya serasa berhenti mengalir.

“Kenapa?” orang itu mengguncang tubuh Wisesa, “apa yang kau kehendaki sebenarnya?”

Wisesa tidak dapat berpikir lagi. Yang kemudian terlontar dari mulutnya adalah, “Ampun. Aku tidak berkhianat. Tetapi aku tidak tahan mendengar gadis yang aku inginkan selalu mengagumi Manggada dan Laksana”

“O. Jadi kau dengan licik ingin memenangkan persainganmu untuk memperebutkan seorang gadis? Kau telah memfitnah kawan-kawanmu itu, agar kami menghukumnya” berkata orang yang memegangi baju Wisesa itu. Sementara orang yang lain berkata, “Kita bawa anak itu. Biar ia berbicara di hadapan Manggada dan Laksana.”

Wisesa menjadi semakin ketakutan. Kakinya serasa menjadi lemah, sehingga ia pun telah jatuh berlutut sambil merengek, “Ampun. Jangan bawa aku. Aku mohon ampun. Aku bermaksud baik”

“Baik buat siapa?” bentak orang itu.

Wisesa benar-benar telah menangis.

Orang yang tinggal di sebelah jalan, telah mendengar tangis Wisesa. Merekapun mendengar dua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong membentak-bentak meskipun mereka tidak dapat mendengar dengan jelas kata-kata yang diucapkan. Namun mereka mendengar orang-orang itu menyebut nama Manggada dan Laksana.

Namun, apapun yang terjadi, orang-orang itu tidak dapat berbuat apa-apa.

Tetapi akhirnya pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu melepaskan baju Wisesa. Ketika orang itu mendorong Wisesa, maka anak itu pun telah jatuh terlentang.

“Bangun anak cengeng” bentak orang itu.

Dengan susah payah Wisesa berusaha untuk bangkit dan duduk di tanah. Kepalanya tunduk, sementara ia masih saja menangis ketakutan.

“Baiklah anak cengeng” berkata orang itu, “kami akan kembali ke tempat tinggal kami. Kami akan melihat kebenaran kata-katamu. Jika kau berkata sebenarnya, kami akan mengucapkan terima kasih kepadamu. Tetapi jika kau berbohong, maka kaulah yang akan dihukum”

Seberkas harapan telah tumbuh lagi dihati Wisesa. Ia berharap bahwa orang itu berhasil mengetahui rahasia Manggada dan Laksana, sehingga keduanya akan mendapat hukuman sehingga mereka kelak tidak akan lagi dikagumi oleh Tantri.

Sejenak kemudian, maka kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu pun meninggalkan padukuhan Gemawang kembali ke barak mereka.

Sementara itu, salah seorang yang tinggal di sebelah jalan ternyata telah memberanikan diri, merayap mendekati dinding rumahnya yang menghadap ke jalan. Ia berusaha untuk mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu dengan Wisesa.

Meskipun tidak begitu jelas, tetapi keduanya dapat meraba, bahwa Wisesa telah mengadukan Manggada dan Laksana.

“Gila anak itu” desis orang di sebelah jalan, “ia tidak memikirkan akibatnya. Manggada dan Laksana yang telah melakukan tindakan yang aneh itu akan dapat mengalami perlakuan yang sangat buruk, karena mereka sengaja menyerahkan diri justru setelah Laksana memenangkan perkelahian melawan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong”

Orang itu justru menjadi gelisah. Tetapi ketakutan yang mencengkam jantungnya, membuatnya kebingungan. Apa yang harus dilakukannya.

“Kenapa Wisesa itu memberitahukan hal itu kepada para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong?” pertanyaan itu telah membuat orang itu semakin gelisah.

Dalam kegelisahan orang itu telah pergi ke rumah tetangganya dan menceriterakan apa yang didengarnya.

Tetapi seperti dirinya sendiri, tetangganya itu juga tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.

Bahkan tetangganya itu berkata, “Manggada dan Laksana juga gila. Kenapa ia menyerahkan dirinya jika Laksana telah memenangkan perkelahian melawan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong”

Akhirnya keduanya memang tidak dapat berbuat apa-apa.

Sementara itu, kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu langsung kembali ke baraknya. Pemberitahuan Wisesa itu telah menjadi bahan pembicaraan keduanya di sepanjang jalan kembali ke barak mereka itu.

Ketika keduanya sampai di barak, maka keduanya pun segera melaporkan hasil pengamatan mereka atas padukuhan Gemawang. Namun keduanya masih belum melaporkan pengaduan Wisesa tentang Manggada dan Laksana.

”Nampaknya segala sesuatunya masih tidak berubah” berkata salah seorang dari mereka.

Wira Sabet dan Sura Gentong yang mendengarkan laporan itu mengangguk-angguk. Dengan nada keras Sura Gentong berkata, ”Setiap hari kita harus melihat perkembangan keadaan di padukuhan Gemawang. Aku sudah tidak sabar lagi. Kita tinggal menunggu Ki Sapa Aruh. Demikian ia datang, maka kita akan segera bertindak. Semakin banyak kita memberi kesempatan, maka Ki Jagabaya akan menjadi semakin berani. Ia tentu mengira bahwa kita hanya banyak berbicara saja tanpa berbuat apa-apa”

Wira Sabet mengangguk-angguk. Katanya, “Sebaiknya kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya lebih dahulu. Demikian Ki Sapa Aruh datang, maka kita sudah siap. Pagi, siang atau malam kita dapat segera berangkat”

Kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu tidak lagi berkepentingan dengan pembicaraan tentang persiapan para penghuni barak itu. Mereka akan berbicara dengan saudara-saudara seperguruan mereka.

Karena itu, maka keduanya pun segera minta diri, meninggalkan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Ternyata keduanya pun segera mencari Manggada dan Laksana, yang dipekerjakan di kandang kuda. Namun sebelumnya keduanya telah mengajak seorang kawannya lagi.

Bertiga mereka menemui Manggada dan Laksana di kandang kuda. Namun sebelum mereka berbicara, orang tua yang disebut Sampar telah diminta oleh salah seorang di antara mereka mengambil air sambil membentak, “Beginikah caranya kalian memberi makan kuda? Jika kalian memberinya rendeng dan dedak padi, maka airnya harus lebih banyak lagi agar kuda-kuda itu tidak terlalu sulit menelannya. Kecuali jika kalian memberi makan rumput segar, maka kalian tidak perlu air”

Tetapi ketika Manggada memungut kelenting untuk mengambil air, maka orang itu membentak pula, “Biar orang tua yang malas itu. Kalian akan mendapat tugas lain”

Manggada dan Laksana termangu-mangu. Namun orang tua itulah yang kemudian mengambil kelenting itu dan membawanya ke sumur.

Demikian orang tua itu pergi, maka salah seorang dari kedua orang yang kembali dari padukuhan Gemawang itu berkata, “Manggada dan Laksana. Aku baru saja kembali dari Gemawang untuk melakukan tugas-tugasku sebagaimana biasa. Di Gemawang kami bertemu dengan seorang anak muda yang memberitahukan kepadaku, apa yang telah terjadi dengan kalian berdua. Anak muda itu tahu benar, bahwa kalian hanya berpura-pura saja menyerah dan kami bawa ke barak ini”

“Siapa namanya?” bertanya Manggada.

“Kami tidak menanyakannya. Tetapi ia anak cengeng. Ia mengatakan bahwa ia tidak tahan mendengar seorang gadis yang ia inginkan mengagumi kalian berdua”

“He?” Laksana dengan serta-merta bertanya, “gadis yang mana yang kau maksud?”

“Kami tidak tahu”

Namun Laksana pun tertawa. Katanya, “Tentu Wisesa”

“Ia juga mengatakan bahwa Sampurna telah berhasil meyakinkan beberapa orang anak muda untuk membantunya”

“Setan anak itu. Jadi apa yang akan kalian lakukan?” bertanya Manggada.

“Aku akan membungkamnya. Untung ia melaporkannya kepadaku. Jika pada suatu saat ada kawan kami yang lain mendapat laporan pula, maka itu akan sangat berbahaya. Bukan saja bagi kami, tetapi juga bagi kalian”

Manggada masih akan menjawab. Tetapi orang itu berdesis, “Orang tua itu lelah kembali”

Manggada menarik nafas. Katanya, “Kau dapat menakut-nakutinya agar ia tidak berbicara lagi dengan siapapun. Tetapi kau tidak usah menyakitinya”

“Besok aku masih akan pergi ke padukuhan. Tetapi pada suatu saat, tentu orang lain yang akan pergi” berkata orang itu, orang yang pernah dikalahkan oleh Laksana, namun yang kemudian membawa Laksana dan Manggada ke dalam barak itu.

Orang itu mengangguk-angguk. Namun ketika orang tua itu mendekat, orang itu mulai membentak lagi, “Cepat. Sebelum Pideksa melihat, kandang ini harus sudah bersih”

Manggada dan Laksana tidak menjawab. Tetapi keduanya pun kemudian telah mengambil sapu lidi untuk membersihkan kandang yang sebenarnya sudah bersih.

Beberapa saat kemudian, maka ketiga orang itu pun segera meninggalkan kandang kuda itu, sementara Sampar tengah menuang air bersih pada kotak makanan kuda.

“Aku sudah terbiasa memberi makan kuda dengan rendeng yang dipotong lembut dengan dedak. Aku sudah terbiasa dengan takaran air yang seharusnya. Tetapi tiba-tiba saja orang-orang dungu itu mencoba mengajariku” berkata orang tua itu.

“Ki Carang Aking” desis Manggada, “ternyata ada sesuatu yang dikatakan orang-orang itu kepada kami”

“Apa?” bertanya orang tua yang di barak itu dipanggil Sampar.

Manggada dan Laksanapun kemudian berceritera kepada orang tua itu, sebagaimana dikatakan oleh ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu.

Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kalian memang harus berhati-hati terhadap anak itu. Sebaiknya kalian beritahukan kepada Ki Pandi, agar ia berhubungan dengan Sampurna”

“Mudah-mudahan Ki Pandi datang malam nanti”

Ketiganya kemudian berhenti berbicara ketika seorang saudara seperguruan Wira Sabet datang. Seorang yang berwajah tampan dengan senyum yang banyak nampak menghiasi bibirnya.

Sambil menepuk bahu Manggada ia berkata, “Kalian telah bekerja dengan rajin disini. Kau juga telah memelihara kudanya dengan baik. Terima kasih anak muda”

Manggada mengangguk hormat sambil menjawab, “Itu sudah kewajiban kami”

Orang itu tertawa. Katanya, “Aku akan pergi sebentar. Sediakan kudaku. Pasang pula pelananya”

Manggada dan Laksanapun kemudian menjadi sibuk. Mereka segera mengeluarkan kuda orang ilu serta memasang pelananya pula.

Namun demikian Laksana menuntun kuda itu mendekat, maka orang itu sambil tersenyum dan sekali lagi menepuk bahu Manggada berkata, “Membungkuklah anak muda”

Manggada menjadi bingung. Ia tidak tahu maksud orang itu. Sekali lagi orang itu berkata, “Membungkuklah disini”

Manggada tidak bertanya. Tanpa diketahui maksudnya, Manggada pun telah membungkuk di sebelah orang itu.

Tetapi orang itu menekan punggung Manggada sambil berkata, “Terlalu tinggi. Membungkuklah seperti orang yang merangkak”

Manggada telah melakukannya pula meskipun dengan jantung yang berdebar-debar.

Namun demikian Manggada melakukannya, maka ia merasa kaki orang itu menapak di punggungnya.

Ternyata Manggada telah dipergunakannya alas untuk naik kepunggung kudanya.

Manggada mengumpat di dalam hati. Hampir saja ia kehilangan kesabarannya. Namun ketika ia memandang wajah Ki Carang Aking serta kedip matanya, Manggada berusaha menahan hatinya.

Namun ia masih terkejut lagi ketika orang itu tertawa sambil menggerakkan kendali kuda. Demikian kudanya mulai berlari, tangan orang itu telah mendorong kepala Manggada sehingga Manggada terhuyung-huyung beberapa langkah. Tetapi Manggada tidak jatuh terguling.

Suara tertawa orang itu masih terdengar, sementara kudanya berlari di antara bangunan bambu di barak itu dan kemudian hilang di belakang sudutnya.

“Orang gila” geram Manggada, “hampir saja aku patahkan lehernya”

“Kau masih harus menahan diri” berkata Ki Carang Aking.

Manggada mengangguk-angguk. Sementara, Laksana bertanya kepada orang tua itu, “Apakah benar bahwa yang nampaknya selalu tersenyum itu adalah orang yang paling garang di antara saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong?”

Orang tua itu mengangguk. Katanya, “Ya. Ia adalah orang yang paling kasar dan paling garang. Ujud lahiriahnya ternyata tidak menunjukkan sikap hatinya. Kita memang harus berhati-hati terhadapnya”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka mulai merasakan sikap yang kasar dan sama sekali tidak menghargai orang lain itu.

Namun mereka tidak dapat berbicara lebih banyak. Seorang lagi saudara seperguruan Wira Sabet telah datang ke kandang. Orang yang wajahnya nampak bengis dan kasar.

Manggada dan Laksanapun kemudian telah sibuk mempersiapkan kuda orang itu. Sementara orang itu berdiri saja tanpa berkata sepatah katapun. Tetapi ia pun tidak berbuat apa-apa ketika Laksana menyerahkan kendali kudanya.

Demikian orang itu menerima kendali kudanya, maka ia pun segera meloncat naik dan meninggalkan kandang kuda itu.

“Ia tidak banyak berbicara” berkata Sampar.

“Seperti sebuah kedung yang airnya nampak diam. Tetapi tentu kedung yang dalam dan barangkali terdapat beberapa ekor buaya di dalamnya” berkata Laksana.

Sampar tertawa. Katanya, “Ya. Agaknya memang demikian”

Sepeninggal orang itu, maka ketiganyapun lelah kembali ke dalam kerja. Membersihkan kandang dan sekitarnya. Mengisi kotak-kotak tempat makanan dan menyimpan rumput segar sebagai persediaan.

Namun setelah beberapa hari di tempat itu, maka Manggada dan Laksanapun mengetahui pula, bahwa segerombolan orang yang dipimpin oleh Wira Sabet dan Sura Gentong itu memang segerombolan perampok yang bergerak di daerah yang luas. Sementara itu Ki Sapa Aruh agaknya telah menghubungkan kelompok itu dengan kelompok-kelompok lain yang memiliki kegiatan yang sama.

“Kita memang harus menghentikannya” berkata Ki Carang Aking yang sehari-harinya nampak tua dan lemah itu.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun Laksana pun berkata, “Tetapi apakah kita mempunyai cukup kekuatan untuk melakukannya?”

“Nanti malam, mudah-mudahan Ki Pandi benar datang. Kita akan menghitung kekuatan kita agar kita tidak terjebak dalam kesulitan” berkata Ki Carang Aking.

Manggada dan Laksana memang menanti datangnya malam dengan gelisah. Rasa-rasanya waktu berjalan sangat lamban. Apa saja sudah mereka kerjakan untuk melupakan kegelisahan mereka. Tetapi rasa-rasanya masih saja tersisa waktu yang panjang.

Ketika senja turun, keduanya masih belum dapat beristirahat dengan tenang. Masih ada beberapa ekor kuda yang belum kembali ke kandangnya.

Bahkan Pideksa dan pamannya, Sura Gentong yang pergi sejak fajar, masih juga belum kembali.

Tetapi ternyata Ki Pandi tidak menunggu sampai semua kuda terkumpul. Ia memasuki barak tidak lama setelah malam turun. Menurut Ki Pandi, justru saat-saat yang paling aman, karena para peronda menganggap bahwa saat-saat seperti itu masih belum perlu diawasi dengan ketat.

Tetapi baik Ki Pandi maupun Ki Carang Aking tidak menjadi cemas tentang orang-orang yang belum kembali. Mereka akan mendengar derap kaki kuda mendekati kandang sehingga mereka sempat keluar dari bilik mereka sementara Ki Pandi sempat bersembunyi di kolong amben jika perlu.

Sebenarnyalah bahwa Ki Pandi dan Ki Carang Aking telah membuat perhitungan, apakah mereka akan dapat menghentikan segerombolan orang yang dipimpin oleh Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Di padukuhan ada beberapa orang yang dapat diperhitungkan” berkata Ki Pandi.

“Berapa orang?” bertanya Ki Carang Aking.

“Ki Kertasana, ayah Manggada. Ki Citrabawa, ayah Laksana dan sekaligus gurunya serta guru Manggada. Ki Jagabaya dan anak-anaknya, Sampurna. Menurut beberapa keterangan sebenarnya juga Ki Bekel. Tetapi Ki Bekel telah dibayangi oleh seribu satu macam keraguan dan kecemasan. Kemudian Manggada dan Laksana sendiri”

“Selain itu ada Ki Pandi” desis Ki Carang Aking.

“Dan Ki Carang Aking” sahut Ki Pandi.

“Bagaimana dengan harimau-harimaumu itu?” bertanya Ki Carang Aking.

“Bukankah keduanya dapat membantu menakut-nakuti para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong?” Sambung Ki Carang Aking dan yang kemudian berkata pula, “Ada dua orang kemanakanku disini”

“Kemanakan?” bertanya Ki Pandi.

“Mereka juga menjadi budak disini sebagaimana kami” jawab Ki Pandi, “tetapi aku berharap bahwa keduanya akan dapat membantu menghentikan kegiatan gerombolan ini”

“Sejak kapan mereka ada disini?” bertanya Manggada.

“Bersama dengan aku. Kami bertiga bersama-sama disekap di barak ini” jawab Ki Carang Aking.

“Apakah aku pernah melihat mereka berdua?” bertanya Laksana ragu.

“Tentunya sudah. Mereka adalah anak-anak yang mendapat tugas untuk menyabit rumput bagi kuda-kuda ini”

“Yang mana?” bertanya Laksana sambil mengerutkan dahinya.

Ki Carang Aking tersenyum. Katanya, “Kalian memang jarang berhubungan langsung. Keduanya adalah anak-anak cacat. Seorang nampaknya seperti kehilangan kekuatan di separuh tubuhnya, sedang yang lain nampaknya memang agak kurang lengkap penalarannya”

“O” Manggada dan Laksana hampir berbareng menyahut.

Sementara itu Laksanapun berkata, “Ternyata anak-anak muda itu. Kami memang jarang berhubungan langsung. Tetapi mereka nampak meyakinkan sekali”

“Sebagaimana angger berdua” berkata Ki Carang Aking sambil tersenyum.

Ki Pandipun tertawa pendek. Katanya, “Jika demikian, kita mempunyai harapan”

“Ya” jawab Ki Carang Aking, “disini kekuatan yang kami ketahui adalah Wira Sabet dan Sura Gentong bersama empat orang saudara seperguruannya. Ki Sapa Aruh yang mudah-mudahan tidak menyeret orang lain lagi di dalam barak ini”

“Mudah-mudahan tidak. Aku kira ia juga tidak mau disaingi oleh orang lain yang memiliki kemampuan sejajar dengan kemampuannya” berkata Ki Pandi.

Namun pembicaraan merekapun terhenti. Mereka mendengar derap kaki kuda. Lebih dari satu.

“Tentu Sura Gentong dan Pideksa” berkata Ki Carang Aking.

Orang tua itu pun kemudian keluar dari biliknya bersama Manggada dan Laksana, sementara Ki Pandi tetap berada di biliknya. Tetapi ia sudah siap untuk bersembunyi, apabila perlu.

Namun agaknya Sura Gentong dan Pideksa itu tidak sempat berlama-lama di kandang. Nampaknya keduanya sangat letih, sehingga keduanya ingin segera beristirahat.

Demikian Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana selesai menyimpan kedua ekor kuda itu serta memberinya minum dan makan, maka keduanya pun segera kembali ke dalam bilik mereka untuk meneruskan pembicaraan mereka dengan Ki Pandi.

Sebelum Ki Pandi kemudian meninggalkan bilik itu, Manggada dan Laksana sempat memberitahukan sebagaimana dikatakan oleh orang-orang yang bertemu Wisesa di padukuhan Gemawang.

“Sampaikan kepada Sampurna, agar ia menjadi lebih berhati-hati” berkata Ki Carang Aking yang mengikuti pembicaraan itu.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Untunglah bahwa orang yang mendapat pengaduan Wisesa adalah orang-orang yang pernah berhubungan dengan Manggada dan Laksana, sehingga pengaduan itu tidak langsung didengar oleh Wira Sabet dan Sura Gentong” meskipun demikian ia pun berkata pula, “tetapi bagaimanapun juga hal itu akan menjadi ancaman bagi persiapan yang dilakukan oleh orang-orang padukuhan Gemawang. Jika pengaduannya itu tidak segera mendapat tanggapan, mungkin Wisesa akan mengadu lagi. Kemungkinan buruk dapat terjadi karena Wisesa mungkin akan bertemu dan berbicara dengan orang lain”

“Aku sudah berpesan, agar kedua orang itu besok menemui Wisesa dan mengancamnya untuk tidak berbicara lagi tentang hal itu. Mudah-mudahan mereka berhasil menakut-nakuti Wisesa yang hatinya memang tidak lebih besar dari biji sawi itu”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun Sampurna memang harus mendapat peringatan agar menjadi lebih berhati-hati. Ki Pandi juga harus mengingat anak-anak muda yang sedang bersiap-siap untuk membantu Ki Jagabaya menenangkan padukuhan mereka dari kegelisahan yang berkepanjangan.

Ki Pandi pun kemudian telah minta diri. Namun Manggada pun berpesan, “Besok kami berharap Ki Pandi untuk datang lagi. Mungkin ada sesuatu yang dapat kami ceriterakan tentang barak ini”

“Baiklah” berkata Ki Pandi, “besok pada saat seperti ini aku akan datang lagi. Jika berbahaya, beri aku isyarat. Jika besok saat seperti ini pintu bilikmu ini terbuka lebar, berarti aku harus menunda beberapa saat”

“Jadi kami harus menutup pintu bilik ini jika kami menganggap keadaan aman?” bertanya Ki Carang Aking.

“Ya” jawab Ki Pandi.

“Tetapi bagaimana kami dapat memberitahukan kepadamu, jika kebetulan seseorang ada di dalam bilikku dan minta agar bilik ini ditutup?”

“Berbicaralah agak keras sehingga aku dapat mendengar apa yang kalian bicarakan. Kecuali jika kalian bertiga dicekik hantu disini” berkata Ki Pandi.

Mereka yang ada di bilik itu pun tertawa tertahan.

Namun dalam pada itu, maka Ki Pandi pun telah minta diri. Dengan sangat berhati-hati ia telah meninggalkan barak itu.

Sepeninggal Ki Pandi, Manggada dan Laksana masih berbincang tentang berbagai kemungkinan sambil menunggu kedatangan beberapa orang penghuni barak itu dengan kuda kuda mereka. Sementara Ki Carang Aking berbaring sambil membayangkan apa yang dapat terjadi di kemudian. Apabila kegiatan Wira Sabet dan Sura Gentong itu tidak dihentikan, maka akibatnya akan parah bagi banyak pihak. Apalagi jika mereka berhasil menguasai padukuhan Gemawang dengan alasan yang telah direka-rekanya, dihubungkan dengan dendam mereka atas orang-orang padukuhan Gemawang. Seolah-olah mereka memang mempunyai hak yang sah untuk melepaskan dendam mereka.

Namun mereka telah memperhitungkan kemungkinan yang lebih jauh dari sekedar menguasai padukuhan Gemawang dan bahkan kemudian Kademangan Kalegen. Dengan menguasai Kademangan itu, maka mereka mempunyai landasan yang sangat mapan bagi pekerjaan mereka yang kotor itu.

Namun dalam pada itu, telah terdengar pula derap kaki kuda, sehingga mereka bertiga harus bangkit dan menerima kuda yang baru datang itu. Sedangkan untuk menunggu kuda berikutnya, maka bertiga mereka telah membagi waktu. Seorang dari mereka harus tetap terjaga. Jika seorang di antara saudara seperguruan Wira Sabet datang tanpa ada yang mengetahuinya, maka kemarahan mereka akan dapat berakibat sangat buruk bagi Sampar dan kemudian kedua orang anak muda yang membantunya itu.

Baru setelah kuda terakhir datang, maka mereka dapat tidur dengan nyenyak sampai dini hari.

Namun Manggada, Laksana dan Sampar telah mendapat kesan, bahwa barak itu menjadi sibuk. Sebelum matahari naik dua orang sudah meninggalkan barak itu dengan kudanya. Kemudian Wira Sabet dan Pideksa. Demikian matahari naik lebih tinggi, Sura Gentong dan saudara seperguruannya yang berwajah tampan itu telah pergi pula.

Sampar yang tua, yang telah lebih lama berada di tempat itu, berdesis, “Kesibukan ini memang mendebarkan”

“Kenapa?” bertanya Manggada.

“Kesibukan seperti ini adalah pertanda, bahwa mereka menemukan sasaran. Mereka nampaknya sedang meyakinkan, apakah malam nanti mereka dapat melakukannya”

“Melakukan apa?” bertanya Laksana.

“Perampokan” jawab orang tua itu.

Manggada dan Laksana berpandangan sejenak. Namun keduanya tidak berbicara lagi. Mereka sudah mengerti, apa yang kira-kira akan terjadi malam nanti.

Hari itu Sampar nampak gelisah. Menjelang tengah hari, maka kedua orang yang menyabit rumput telah datang ke kandang sambil membawa masing-masing sekeranjang rumput segar. Seorang di antara keduanya berjalan dengan sebelah kaki yang timpang. Bahkan tangan dan separuh tubuhnya nampak lemah. Sedangkan yang lain memandang dunia dengan penuh keheranan, meskipun umurnya sudah sepertiga abad. Sekali-kali ia nampak tersenyum-senyum melihat sekelilingnya. Namun kemudian wajahnya menjadi murung.

“Inilah kedua kemanakanku itu” berkata Ki Carang Aking.

Manggada dan Laksana tersenyum. Mereka yakin bahwa keduanya adalah murid Ki Carang Aking.

Karena itu, maka Laksana pun telah mendekati orang yang nampaknya akan terganggu syarafnya itu sambil bertanya, “Kau dapat juga menyabit rumput sekeranjang penuh?”

Orang itu tertawa. Namun sebelum ia mengucapkan sepatah katapun, Ki Carang Aking pun berkata, “Mereka sudah tahu, siapakah kalian”

Orang yang tertawa itu tiba-tiba mengerutkan dahinya, sementara Ki Carang Aking berkata, “Ia berada di tempat ini dengan tujuan yang sama sebagaimana kita disini. Mereka adalah anak-anak muda Gemawang. Bukankah kalian sudah mendengar nama mereka berdua?”

Orang yang sehari-hari nampak seperti terganggu syarafnya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika aku harus melakukan peranan ini sebulan lagi, maka aku benar-benar dapat menjadi gila”

Manggada dan Laksana tertawa. Sementara Ki Carang Aking pun tersenyum sambil berkata, “Kita sedang berusaha untuk secepatnya menyelesaikan tugas kita disini”

Orang yang timpang itupun telah menjadi tegak pula sambil berkata, “Aku sudah lelah. Setiap malam aku harus memijit kakiku yang timpang ini”

“Kita semua berpura-pura disini” berkata Ki Carang Aking.

“Tetapi kedua anak muda ini lain, guru. Mereka tidak perlu menjadi cacat. Mungkin mereka hanya berpura-pura tunduk kepada segala perintah” berkata orang yang pura-pura cacad itu.

“Semuanya akan segera kita selesaikan” jawab gurunya.

Namun pembicaraan itupun segera terhenti. Mereka mendengar derap kaki kuda yang mendekat.

Demikianlah, maka kedua orang yang cacat itupun segera meletakkan keranjang yang penuh rumput itu dan mengambil keranjang yang kosong. Mereka harus pergi lagi ke bagian belakang barak itu untuk menyabit rumput. Mereka harus melakukan pekerjaan itu sehari penuh. Mereka hanya berhenti di siang hari untuk makan.

Hari itu memang terasa sibuk. Satu-satu para penghuni barak itupun kembali. Namun agaknya mereka masih harus berbicara panjang di antara mereka.

Di sore hari, ketika Manggada dan Laksana baru saja selesai membersihkan kuda-kuda yang baru saja dipakai, tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong telah datang menemui Manggada dan Laksana. Keduanya dipanggil ke sudut kandang untuk diberi keterangan tentang pertemuan mereka dengan Wisesa hari itu di padukuhan Gemawang.

“Kami sudah menakut-nakutinya” berkata salah seorang dari mereka, “kami mengatakan bahwa ia telah memfitnah. Bukan saja Manggada dan Laksana, tetapi terutama kawan-kawan kami yang dikatakan telah kalian kalahkan itu”

“O” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sambil tersenyum Laksana bertanya, “Apa katanya?”

“Anak itu memang menjadi ketakutan. Bahkan hampir pingsan. Kami memaksanya berjanji untuk tidak memfitnah lagi. Jika sekali lagi ia berbicara tentang kekalahan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, maka kami akan mengoyakkan mulutnya.

“Aku kira ia benar-benar akan diam” berkata Manggada kemudian, sementara Laksana menyambung, “ia tidak akan mempunyai keberanian untuk memperbandingkan sikap kalian dengan kawan-kawan kalian yang lain”

“Baiklah” berkata salah seorang dari ketiga orang itu, “kami harus segera bersiap-siap untuk tugas khusus malam ini”

“Tugas khusus apa?” bertanya Manggada.

“Kami mempunyai sasaran yang sangat baik malam ini”

Manggada dan Laksana pun segera mengetahui maksud orang itu. Dengan nada datar Manggada bertanya, “Dimana?”

“Saudagar emas dan permata serta wesi aji. Tiga orang pedagang yang membawa dagangan cukup banyak. Mereka akan berada di rumah saudagar emas dan permata pula. Esok pagi mereka akan bersama-sama pergi ke pesisir Utara dengan membawa dagangannya itu. Ki Sapa Aruh telah memerintahkan kami untuk bergerak. Kami tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang jarang ada. Empat orang pedagang dengan dagangannya telah berkumpul. Seakan-akan mereka memang menyediakan emas, permata dan yang tidak kalah nilainya adalah wesi aji itu”

“Dimana rumah saudagar itu?” bertanya Manggada sambil lalu.

Orang-orang itu sama sekali tidak mencemaskan keduanya, bahwa keduanya akan membocorkan rahasia itu, karena keduanya tidak akan dapat keluar dari tempat itu. Karena itu seorang di antara mereka berkata, “Tidak terlalu jauh dari tempat ini. Saudagar itu tinggal di padukuhan Rejandani Kulon. Saudagar emas yang tinggal di Rejandani itu kebetulan anak Ki Demang Rejandani itu sendiri”

“Kapan kalian akan berangkat?” bertanya Manggada.

“Biasanya kami lakukan tugas itu pada tengah malam” jawab orang itu.

Manggada dan Laksana tidak bertanya lebih banyak lagi. Sementara itu, ketiga orang itu pun segera meninggalkan mereka sebelum orang lain memperhatikannya.

Sepeninggal ketiga orang itu, maka Manggada dan Laksana segera menghubungi Ki Carang Aking dan menceriterakan apa yang mereka dengar dari ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu.

“Menarik sekali” desis Ki Carang Aking, “tetapi apa yang dapat kita lakukan karena kita berada disini?”

“Kita akan menceriterakan kepada Ki Pandi jika ia benar-benar datang” desis Manggada.

Ki Carang Aking mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Mudah-mudahan ada satu cara untuk membantu saudagar-saudagar itu”

Dengan demikian, maka yang dapat mereka lakukan hanyalah menunggu. Namun mereka menyadari, bahwa tugas mereka akan menjadi berat. Mereka tentu akan mendapat perintah untuk menyiapkan tidak hanya lima atau enam ekor kuda. Tetapi tentu lebih dari itu.

“Menjelang tengah malam, kuda-kuda itu tentu harus siap” berkata-Ki Carang Aking.

“Apakah kita dapat menyiapkan mulai sekarang?” bertanya Laksana.

“Bagaimana mungkin” jawab Manggada, “bukankah kita tidak tahu bahwa kuda-kuda itu akan dipergunakan malam nanti?”

Laksana mengerutkan dahinya. Namun ia pun kemudian tertawa kecil sambil berdesis, “Ya. Alangkah bodohnya”

Karena itu, tidak ada yang dapat mereka kerjakan mendahului perintah, karena hal itu akan dapat membuat para pemimpin barak itu menjadi curiga.

Ketika kemudian senja lewat dan malam turun, mereka benar-benar menanti kedatangan Ki Pandi.

“Sebagaimana pesan Ki Pandi, kita harus menutup pintu” berkata Laksana.

Ki Carang Aking mengangguk-angguk. Sementara itu mereka pun duduk di dalam bilik itu sambil berbicara di antara mereka agar jika Ki Pandi berada di luar, ia dapat mendengar bahwa tidak ada orang lain di dalam bilik itu.

Ki Pandi memang benar datang. Dari jauh ia sudah melihat pintu tertutup. Karena itu, maka ia pun dengan sangat berhati-hati mendekati pintu yang tertutup itu.

Beberapa saat Ki Pandi memang berdiri di luar. Ia mendengarkan pembicaraan orang-orang yang ada di dalam. Baru ketika ia yakin bahwa tidak ada orang lain, maka ia pun telah mengetuk pintu. Tidak terlalu keras, tetapi segera didengar oleh mereka yang ada di dalam bilik itu.

Ketika kemudian Ki Pandi duduk di dalam bilik itu, serta pintu telah ditutup kembali, Manggada dan Laksana pun segera menceriterakan rencana para penghuni barak itu untuk merampok beberapa orang saudagar emas, permata serta wesi aji yang akan berkumpul di rumah anak Ki Demang Rejandani dan tinggal di Rejandani Kulon.

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Sebaiknya rencana itu kita gagalkan. Kita harus membantu para saudagar itu. Kita memang tidak bersangkut-paut dengan mereka. Jika kita tidak mendengar rencana ini, maka kita tidak akan merasa dibebani penyesalan jika esok kita mendengar berita tentang perampokan itu. Dan mungkin tindak kekerasan yang lain, karena aku yakin keempat orang saudagar itu tidak akan menyerahkan barang dagangan mereka yang nilainya sangat tinggi begitu saja. Kitapun tahu bahwa saudagar keliling yang sering menempuh perjalanan jauh biasanya memiliki kepercayaan diri serta bekal kemampuan olah kanuragan”

“Jadi bagaimana menurut Ki Pandi?” bertanya Ki Carang Aking.

“Aku akan pergi ke Rejandani itu” berkata Ki Pandi. Lalu katanya, “Aku menduga bahwa kekuatan yang dibawa oleh orang-orang dari barak ini cukup besar, sehingga keempat orang itu tidak akan mampu melawan”

“Aku sependapat Ki Pandi. Tetapi sayang, bahwa aku tidak dapat membantu, justru sebentar lagi, aku tentu akan mendapat tugas untuk menyiapkan kuda-kuda ini”

“Baiklah. Jika demikian aku minta diri. Aku akan pergi ke Rejandani”

Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana tidak menahannya lebih lama. Kesempatannya tidak terlalu panjang, karena tengah malam nanti, Wira Sabet, Sura Gentong dan saudara-saudara seperguruannya, bahkan beberapa orang pengikutnya yang terpercaya akan merampok saudagar-saudagar itu.

Dengan sedikit petunjuk dari Manggada yang sedikit banyak tahu arah Kademangan Rejandani, maka Ki Pandi pun telah langsung menuju ke Kademangan itu.

Tidak terlalu sulit menemukan rumah Ki Demang. Tetapi waktu menjadi semakin sempit Ketika Ki Pandi memasuki halaman Kademangan, maka Kademangan itu nampaknya sudah menjadi sepi. Tidak ada peronda di rumah itu. Tetapi ada gardu disimpang tiga, hanya beberapa puluh langkah saja dari rumah Ki Demang.

Ki Pandi memang menjadi ragu-ragu. Ia berjalan dengan hati-hati mengelilingi rumah itu. Dari jarak yang agak jauh, Ki Pandi melihat beberapa ekor kuda berada di dalam kandang, sehingga ia percaya, bahwa di rumah itu memang sedang ada tamu, sehingga kandang kuda yang cukup besar itu terasa agak sempit bagi beberapa ekor kuda yang ada di dalamnya.

Tetapi Ki Pandi sudah bertekad untuk memberitahukan rencana para perampok itu.

Karena itulah, maka Ki Pandi pun kemudian kembali ke halaman depan. Ia pun naik ke pendapa dan melangkah ke pringgitan. Perlahan-lahan ia mengetuk pintu rumah Ki Demang.

Sekali dua kali ketukan pintu itu tidak dijawab. Karena itu, maka Ki Pandi pun mengetuk lebih keras lagi.

Meskipun tidak ada jawaban, namun telinganya yang tajam mendengar langkah-langkah di ruang dalam rumah itu. Karena itu, maka ia pun kemudian menunggu pintu itu dibuka.

Tetapi Ki Pandi tidak mendengar langkah mendekati pintu. Beberapa saat kemudian, maka langkah-langkah itu pun seakan-akan justru menjauh dan kemudian hilang dari pendengarannya.

Tetapi tidak lama. Beberapa saat kemudian, ia justru mendengar pintu seketenglah yang terbuka.

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa pemilik rumah itu, atau bahkan mungkin tamu-tamunya, menjadi sangat berhati-hati.

Sebenarnyalah Ki Pandi pun kemudian melihat seorang yang muncul dari pintu seketeng. Sambil melangkah ke tangga pendapa orang itu bertanya, “Siapakah kau Ki Sanak. Dan apakah keperluanmu malam-malam begini datang kemari?”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menyadari, bahwa dari seketeng sebelah yang lain, dua orang telah keluar pula dan turun ke halaman.

Ki Pandi masih berdiri di muka pintu pringgitan. Katanya, “Ada sesuatu yang penting dan segera harus aku beri tahukan kepada kalian. Tetapi siapakah di antara kalian putera Ki Demang Rejandani yang menjadi saudagar emas dan permata?”

“Aku” jawab orang itu. Orang yang masih terhitung muda dengan kumis yang tebal di atas bibirnya.

“Baiklah. Aku mohon kesempatan untuk berbicara sejenak. Maaf, jika aku harus melakukannya dengan cepat, karena waktunya sangat sempit” berkata Ki Pandi.

“Siapa sebenarnya kau ini?” bertanya anak Ki Demang itu.

“Itu tidak penting. Tetapi aku minta kata-kataku didengar” berkata Ki Pandi.

“Apa yang ingin kau katakan?”

Ki Pandi melangkah mendekati orang itu. Tetapi orang itu berkata, “Berdiri sajalah disitu”

“Tetapi yang ingin aku katakan ini penting bagi Ki Sanak, karena bukan saja menyangkut barang-barang dagangan Ki Sanak dan kawan-kawan Ki Sanak, tetapi juga keselamatan Ki Sanak sendiri bersama dengan kawan-kawan Ki Sanak”

“Apa yang kau ketahui tentang kami? Kami tidak mempunyai barang-barang berharga. Aku memang mengaku anak Ki Demang. Tetapi bukan pedagang emas dan permata.”

“Kenapa harus kau ingkari, Ki Sanak. Tetapi siapapun Ki Sanak, aku mohon Ki Sanak menyadari bahwa sekelompok perampok tengah dalam perjalanan kemari. Sebaiknya Ki Sanak membawa barang-barang berharga itu menyingkir dari rumah ini. Sebaiknya rumah ini dikosongkan, sementara satu dua orang pembantu di rumah ini harus diberi pesan, bagaimana mereka menjawab pertanyaan para perampok itu”

“Ki Sanak. Jika kau sedang mengigau, sebaiknya kau tidak berada di rumahku. Pergilah”

“Aku berkata sebenarnya Ki Sanak. Pembantu itu harus mengatakan bahwa di rumah ini tidak ada tamu. Ki Demang dan Nyi Demang sebaiknya juga meninggalkan rumah ini dan berada di banjar saja bersama para peronda. Pembantu itu dapat mengatakan bahwa Ki Demang dan Nyi Demang sedang pergi”

“Ayah dan ibuku memang tidak sedang di rumah, Ki Sanak. Pamanku sedang menikahkan anaknya”

“Jika demikian, silahkan kalian pergi. Meskipun aku melihat ada gardu di sebelah, namun kekuatan para perampok itu terlalu besar untuk ditandingi”

Anak Ki Demang itu kemudian justru menggeram, “Apakah kau salah seorang dari mereka dan berusaha untuk menakut-nakuti kami, agar kami tidak memberikan perlawanan?”

“Bukan sekedar tidak memberikan perlawanan. Tetapi aku mohon kalian menyingkir”

“Pergilah, atau aku bahkan akan menangkapmu”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Bahkan seorang yang berdiri di sisi lain dari pendapa itu menggeram, “Orang bongkok. Kau jangan mencoba mengganggu ketenangan kami”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam Ternyata orang-orang itu tidak mempercayainya. Mungkin karena ujud lahiriahnya, maka ia dianggap orang yang kurang waras, yang tersesat di Kademangan Rejandani.

“Pergilah” berkata anak Ki Demang itu, “kami malam ini harus beristirahat sebaik-baiknya. Besok kami akan menempuh perjalanan panjang”

“Aku mohon kalian mendengarkan kata-kataku” berkata Ki Pandi sekali lagi.

“Kau orang aneh. Untuk apa sebenarnya permainan ini kau lakukan. Apakah kau memang sedang memancing persoalan, atau mencoba membuka kesempatan bagi gerombolanmu untuk masuk ke dalam rumahku? Dengar Ki Sanak, sekali lagi aku peringatkan kau agar pergi. Jika tidak, maka kami akan menangkapmu. Malam ini juga kami akan memerintahkan anak-anak muda untuk memanggil ayah dan mengadilimu”

Ki Pandi kehilangan harapannya untuk memberi peringatan kepada orang-orang itu. Sebenarnya ia memang mempunyai pamrih. Jika ia berhasil menyelamatkan emas dan permata dan bahkan wesi aji dari saudagar-saudagar itu, maka pada kesempatan lain, ia akan dapat minta bantuan mereka untuk menyelamatkan padukuhan Gemawang, karena Kademangan Kalegen nampaknya ragu-ragu menghadapi Ki Sapa Aruh. Tetapi nampaknya usaha itu sia-sia.

Dengan kecewa Ki Pandi pun kemudian melangkah turun dari pendapa. Demikian ia berdiri di halaman, maka ia melihat empat orang yang berada didekat pintu seketeng sebelah menyebelah.

“Wira Sabet dan Sura Gentong cukup teliti memperhitungkan sasarannya. Atau barangkali atas petunjuk Ki Sapa Aruh” berkata Ki Pandi di dalam hatinya.

Dengan hati yang berat Ki Pandi melangkah keluar dari halaman rumah itu. Namun sebelum ia keluar dari regol halaman, ia pun masih berkata, “Aku minta kalian mengingat peringatanku ini Ki Sanak. Jika terjadi sesuatu atas kalian, maka kalian jangan menyesal.”

Keempat orang itu tidak menjawab. Sementara itu, Ki Pandi yang kecewa itu pun melangkah keluar lewat pintu regol halaman.

“Ada juga orang gila datang malam-malam begini” berkata salah seorang dari mereka”

“Lupakan” berkata anak Ki Demang yang berkumis itu, “kita masih mempunyai waktu untuk tidur lagi”

Tetapi seorang di antara mereka itupun berkata, “Perasaanku menjadi tidak enak. Jika orang itu tidak mempunyai keterangan tentang yang dikatakannya itu, apakah sebenarnya tujuannya?”

“Mungkin ia memang orang gila” desis yang lain, “atau bahkan sedang menjajagi apakah kami menjadi ketakutan”

“Sudahlah” berkata anak Ki Demang, “Sudahlah. Kita tidur saja lagi”

Sementara itu waktu bergulir semakin jauh. Walaupun menjadi semakin malam. Keempat orang itu sudah berada di dalam rumah lagi.

Keempat orang itu memang sengaja tidur di ruang dalam bersama-sama. Ketiga orang tamu yang bermalam di rumah itu, tidak dipersilahkan tidur di gandok, karena mereka bersama-sama menjaga barang-barang mereka yang nilainya tinggi.

Sejenak kemudian, maka ketiga orang di antara mereka segera tertidur lagi. Yang seorang lagi masih saja merasa gelisah. Ia tidak menjadi ketakutan. Tetapi peringatan yang diberikan orang bongkok itu membuatnya berhati-hati. Ada perasaan tidak enak yang menggelitik jantungnya.

Beberapa saat orang itu berbaring tanpa dapat memejamkan matanya. Karena itu maka iapun justru bangkit dan duduk di ruang dalam. Suara-suara malam di luar dinding rumah itu membuat malam menjadi semakin mencengkamnya.

Sementara itu, ketiga orang kawannya, termasuk anak Ki Demang telah tertidur nyenyak. Seorang di antara mereka justru mendengkur seirama dengan tarikan nafasnya yang teratur.

Orang itu mengerutkan dahinya ketika ia mendengar jauh dalam keheningan malam suara derap kaki kuda. Semakin lama menjadi semakin jelas. Tidak hanya satu dua. Tetapi di telinganya terdengar banyak sekali.

Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Bahkan ia sempat bertanya kepada diri sendiri, “Apakah karena kegelisahanku, tiba-tiba saja telingaku seakan-akan mendengar derap kaki kuda sedemikian banyaknya?”

Tetapi suara derap kaki kuda itu tidak segera lenyap. Bahkan semakin lama menjadi semakin jelas.

Orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera membangunkan ketiga orang kawannya yang masih tidur nyenyak.

“Ada apa?” bertanya anak Ki Demang.

“Kau dengar derap kaki kuda itu?” bertanya orang yang membangunkannya.

“Kaki kuda apa?” anak Ki Demang itu memang bangkit dan bahkan duduk dibibir amben besar di ruang dalam

“Dengarlah baik-baik” berkata orang itu.

Kedua orang yang lainpun telah duduk pula. Seorang di antara mereka sempat berkata, “Kau dibayangi oleh ceritera orang bongkok itu”

Tetapi anak Ki Demang itu justru berdesis, “Ya. Aku sudah mendengarnya”

Akhirnya keempat orang itu menjadi yakin. Mereka mendengar derap kaki kuda.

Dengan cepat keempatnya berloncatan menggapai senjata mereka masing-masing. Anak Ki Demang mengambil tombak di plonconnya. Sementara seorang kawannya menjinjing pedang panjang. Seorang lagi bersenjata sepasang tongkat baja yang dihubungkan dengan seutas rantai yang agak panjang. Sedangkan seorang lagi menyelipkan kerisnya yang besar dan panjang melampaui ukuran keris kebanyakan di punggungnya.

“Apakah orang bongkok itu tidak berbohong?” desis orang yang sejak semula sudah ragu-ragu itu.

Ketiga orang kawannya hanya terdiam. Mereka menjadi tegang ketika suara derap kaki kuda itu menjadi semakin dekat.

Anak Ki Demang itu menggeretakkan giginya ketika ia mendengar derap kaki kuda itu memasuki halaman rumahnya.

“Setan. Orang bongkok itu tidak berbohong. Mungkin ia gila, tetapi ia berkata sebenarnya”

“Kita harus bersiap menghadapinya”

Sejenak kemudian maka merekapun mendengar orang-orang di halaman itu berloncatan turun. Mereka mendengar langkah beberapa orang ke halaman samping, sedangkan beberapa orang yang lain naik ke pendapa.

Sementara itu, tiga ekor kuda telah langsung berhenti di depan gardu. Ada lima anak muda yang sedang meronda. Namun ketika ketiga orang berkuda itu mengancam mereka, maka mereka tidak berani berbuat apa-apa.

“Jika kalian mencoba melibatkan diri, maka kalian akan menyesal” berkata salah seorang dari ketiga orang berkuda itu.

Kelima anak muda itu memang tidak akan dapat melawan mereka, sehingga mereka lebih baik berdiam diri saja di dalam gardu.

Sementara itu, orang-orang yang berada di halaman rumah Ki Demang, telah mengawasi segala pintu keluar rumah itu. Bahkan sampai ke pintu dapur sekalipun.

Empat orang kemudian telah berdiri di depan pintu pringgitan. Seorang di antara mereka adalah seorang yang umurnya sudah melampaui pertengahan abad. Namun badannya masih nampak, kuat, kekar dan tegar.

Orang itulah yang mengetuk pintu pringgitan

“Buka pintumu atau aku rusakkan. Kalian yang ada di dalam tidak mempunyai pilihan apapun kecuali mendengarkan dan melakukan segala perintah kami. Kami tahu, bahwa ada empat orang yang ada di dalam. Ki Demang dan Nyi Demang sedang pergi ke peralatan pernikahan kemanakannya”

Orang-orang yang berada di dalam rumah itu menjadi semakin tegang. Tetapi tidak seorang pun yang membuka pintunya.

Ternyata bukan hanya pintu pringgitan saja yang diketuk. Tetapi pintu butulan di gladri sebelah kanan juga diketuk. Justru lebih keras. Terdengar suara lantang, “Buka pintu. Cepat”

Tetapi keempat orang itu tidak membuka pintu.

Karena itu, maka orang-orang yang berdiri di depan pintu pringgitan itu tidak sabar lagi. Mereka mulai menghentak-hentak pintu itu semakin lama menjadi semakin keras.

Orang yang sudah berumur lebih setengah abad itu menjadi semakin tidak sabar. Karena itu, maka dengan kekuatannya yang melampaui takaran kekuatan wajarnya, orang itu telah menghentakkan pintu itu, sehingga pintu dari dinding gebyog itu pecah dan roboh ke dalam, sehingga pintu itu pun kemudian menjadi menganga.

Namun nampaknya tidak diduga sebelumnya, bahwa dengan tiba-tiba empat orang yang ada di ruang dalam itu pun telah meloncat menyerang, sehingga orang-orang yang berdiri di pintu itu berloncatan mundur.

Dengan kecepatan yang tinggi, keempat orang itu berloncatan melintasi pendapa dan turun ke halaman. Agaknya mereka memilih bertempur di halaman daripada di pendapa. Karena di halaman mereka tidak akan terganggu oleh tiang-tiang yang berdiri tegak membeku.

Tetapi demikian keempat orang itu berdiri di pendapa, maka beberapa orang telah menyusul mereka dan bahkan kemudian mengepung mereka.

Orang yang mengetuk dan kemudian merusakkan pintu itu pun telah melangkah dan kemudian berdiri di tangga pendapa sambil berkata, “Ki Sanak. Aku tahu, kau adalah orang-orang yang berilmu. Tetapi akupun tahu bahwa ilmu kalian masih belum apa-apa bagiku dan bagi orang-orangku. Karena itu, maka sebaiknya kalian menyerah saja. Jika kalian menyerah, maka kalian akan kami perlakukan dengan baik. Tetapi jika kalian melawan, maka nasib kalian akan menjadi lebih buruk lagi”

“Kau siapa?” bertanya anak Ki Demang.

“Orang memanggilku Ki Sapa Aruh” jawab orang itu.

Wajah anak Ki Demang itu menjadi tegang. Sementara itu Ki Sapa Aruh itupun berkata, “Kau pernah mendengar namaku? Mungkin namaku memang belum terlalu banyak dikenal disini”

Anak Ki Demang menggeram. Ternyata ia memang pernah mendengar nama Ki Sapa Aruh. Namun ketika tiba-tiba saja ia berhadapan, maka hatinya memang menjadi sangat berdebar-debar.

“Nah, Ki Sanak. Marilah kita menyelesaikan persoalan kita dengan baik. Kami bukan orang yang senang mempergunakan kekerasan untuk tujuan apapun. Kami juga bukan orang yang senang berselisih di antara sesama. Karena itu, marilah kita sama-sama mengekang diri agar tidak terjadi perselisihan” berkata Ki Sapa Aruh dengan nada yang lunak.

“Apa maksudmu?” bertanya anak Ki Demang.

“Aku datang dengan tujuan yang baik. Aku ingin meneruskan keinginan kawan-kawan kami yang sedang kekurangan untuk minta bantuan kalian untuk sedikit meringankan beban hidup mereka sehari-hari. Adalah tidak wajar jika mereka hidup dalam kekurangan dan bahkan hampir kelaparan, sementara kalian dapat hidup dengan berlebihan”

Wajah anak Ki Demang itu menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia menyahut, “Siapa yang hidup berlebihan?”

“Tentu saja yang kami maksudkan adalah kalian. Juga para bebahu Kademangan ini dan para saudagar kaya. Dengan memeras orang-orang yang justru sedang membutuhkan pertolongan, kalian mendapatkan untung yang berlebihan” jawab Ki Sapa Aruh.

“Itu tidak benar. Kami tidak hidup berlebihan. Kami memang mencari untung dengan pekerjaan kami. Tetapi bukankah itu wajar? Jika ada sedikit tersisa serta kesempatan untuk hidup kecukupan itu adalah hasil kerja keras kami. Juga para bebahu Kademangan. Sawah pelungguh yang mereka dapatkan di dasari oleh paugeran yang berlaku dan sah. Merekapun harus bekerja keras untuk dapat hidup dengan layak”

Tetapi Ki Sapa Aruh tertawa. Katanya, “Kau dapat berkata apa saja. Tetapi aku tahu, bahwa kalian telah mendatangi orang-orang yang terjepit oleh satu kebutuhan. Kalian memanfaatkan keterjepitan orang itu untuk dapat membeli perhiasan mereka, emas dan permata dengan harga murah. Kemudian kalian jual perhiasan itu dengan harga yang berlipat”

“Ki Sanak” jawab anak Ki Demang, “apa sebenarnya yang kalian maui. Kalian tidak perlu mengusik pekerjaan yang memang kami lakukan dengan wajar itu. Kami tidak pernah memaksakan kehendak kami untuk membeli atau menjual apapun kepada kami. Kamipun tidak pernah memaksakan harga kepada mereka yang menjual atau membeli barang-barang dagangan kami”

“Baiklah. Apapun alasan kalian, tetapi bagi kami, kalian adalah sama jahatnya dengan lintah yang selalu menghisap darah. Sekarang sudah saatnya kami minta kembali darah yang telah kau hisap dan kau simpan sebagai harta kekayaan yang sangat besar. Nah, berikan emas, permata dan wesi aji yang kalian siapkan dan yang akan kalian bawa besok”

“Tidak” jawab anak Ki Demang, “kalian tidak dapat merampas milik kami. Hak kami, apapun alasannya”

“Ki Sanak. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa kami adalah orang-orang yang tidak suka kekerasan? Apalagi aku yang sudah menjadi semakin tua. Aku ingin dapat hidup tenang dan tenteram. Karena itu, aku minta kalian tidak membuat persoalan yang akan dapat menimbulkan perselisihan.”

“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu itu Ki Sapa Aruh. Tegasnya, aku tidak akan memberikan sebutir permata pun kepada kalian” geram anak Ki Demang itu.

“Itulah yang tidak aku senangi. Ternyata kau adalah orang yang keras hati, yang mencoba memaksakan tindak kekerasan terjadi” nada suara Ki Sapa Aruh pun meninggi.

“Kau jangan berbicara dengan memutar balikkan penalaran orang waras. Sekarang pergilah sebelum kami kehabisan kesabaran” berkata anak Ki Demang yang mulai menjadi pening mendengarkan kata-kata Ki Sapa Aruh.

Tetapi Ki Sapa Aruh justru tertawa. Katanya, “Orang-orang yang di kepalanya selalu dipenuhi dengan nafsu kekerasan, tentu sulit dapat mengerti keinginanku. Tetapi baiklah, meskipun kami orang-orang yang tidak suka berselisih, namun kami juga tidak ingin melepaskan landasan hidup kami. Kami akan mewakili orang-orang miskin yang pernah kau cekik lehernya dan kau hisap darahnya sehingga kering. Berikan emas, permata dan wesi aji itu kepada kami”

“Tidak” jawab anak Ki Demang.

“Jika kau berkeras tidak mau memberikan emas, permata dan wesi aji itu kepada kami, maka dengan terpaksa sekali kami akan mengambilnya”

“Kami akan mempertahankan hak kami” jawab anak Ki Demang.

Ki Sapa Aruh itu mengerutkan dahinya. Ia sudah cukup panjang berbicara, sehingga kemudian iapun telah memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk bersiap.

Keempat orang pedagang emas, permata dan wesi aji itu pun bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Namun mereka harus melihat kenyataan, bahwa lawan yang berdiri di sekitarnya terlalu banyak. Sementara itu, keempat orang itu pun menyadari bahwa selain orang-orang yang ada di sekitarnya, masih ada yang lain di halaman samping bahkan di halaman belakang.

Tetapi keempat orang itu tidak membiarkan miliknya dirampok apapun alasannya. Bahkan yang tidak dapat diikuti dengan nalarnya. Apa yang mereka miliki itu, menurut pendapat mereka adalah hasil kerja keras mereka. Bukan karena memeras, merampas atau menipu orang lain.

Karena keempat orang itu tidak mau menyerahkan milik mereka, maka Ki Sapa Aruh pun kemudian telah memerintahkan orang-orangnya untuk segera menangkap keempat orang itu.

“Kita akan memaksa mereka melakukan sebagaimana aku katakan” berkata Ki Sapa Aruh, “mereka ternyata sama sekali tidak menghargai niat kita untuk menyelesaikan persoalan ini dengan baik-baik tanpa harus melakukan kekerasan”

Keempat orang pedagang emas dan permata itu sudah tidak mau mendengar lagi. Justru merekalah yang lebih dahulu menyerang, karena jumlah lawan mereka terlalu banyak, sehingga keempat orang itu tidak ingin mendapat tekanan lebih dahulu.

Dengan demikian, maka pertempuran pun segera terjadi. Dengan tangkasnya keempat orang pedagang emas dan permata itu berloncatan di halaman menghadapi lawan yang terlalu banyak.

Namun dengan berani keempat orang itu bertempur. Senjata mereka terayun-ayun dengan cepatnya menebas dan mematuk.

Ki Sapa Aruh sendiri tidak langsung turun ke arena. Bahkan Wira Sabet dan Sura Gentong yang ikut datang ke rumah itu masih berdiri di tangga pendapa, meskipun mereka sudah menggenggam senjata telanjang di tangan. Tetapi Pideksa sudah mulai terlibat dalam pertempuran itu bersama keempat orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong, disamping beberapa orang pengikutnya yang lain.

Dalam pada itu, di atas sebatang pohon nangka yang besar, di halaman sebelah, Ki Pandi duduk melekat pada sebatang dahan yang besar. Oleh ketajaman penglihatannya ia dapat menyaksi-kan pertempuran yang terjadi di halaman rumah Ki Demang itu. Nyala lampu minyak di pendapa dapat sedikit membantunya, sehingga dengan tegang Ki Pandi melihat bahwa keempat orang saudagar itu mulai terdesak.

Namun dengan demikian Ki Pandi sempat melihat kemampuan para penghuni barak Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Ki Pandi pun melihat seberapa jauh tataran ilmu saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Bahkan Ki Pandi juga dapat menilai kemampuan Pideksa, anak Wira Sabet itu.

Untuk beberapa saat pertempuran itu berlangsung. Keempat orang saudagar itu masih bertempur dengan berani. Meskipun mereka mulai mengalami kesulitan, tetapi mereka sama sekali tidak menjadi gentar.

Agaknya Ki Sapa Aruh menjadi tidak sabar Karena itu, maka ia pun memberi isyarat agar Wira Sabet dan Sura Gentong bersama dirinya sendiri segera memasuki arena.

“Kita tangkap keempat orang itu hidup-hidup. Kita memang bukan pembunuh-pembunuh yang tidak berjantung. Kita akan mengampuni mereka setelah kita mendapatkan apa yang kita cari” teriak Ki Sapa Aruh yang bersama Wira Sabet dan Sura Gentong telah menuruni arena pertempuran.

Pertempuranpun menjadi semakin sengit. Tetapi keempat orang saudagar itu benar-benar telah kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri.

Sementara seisi rumah Ki Demang itu sudah terbangun. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Beberapa orang membentak dengan kasar dan mengancam akan membunuh siapapun yang berniat membantu keempat orang saudagar itu.

Sebenarnyalah keempat orang saudagar itu menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat minta pertolongan kepada siapapun juga. Sehingga karena itu maka mereka harus menyadarkan diri kepada kemampuan mereka berempat.

Tetapi mereka memang tidak dapat mengingkari kenyataan. Semakin lama mereka menjadi semakin tidak berdaya. Apalagi setelah Ki Sapa Aruh sendiri, Wira Sabet dan Sura Gentong ikut dalam pertempuran. Dengan cepat kemampuan perlawanan keempat orang saudagar itu pun menyusut.

Ki Pandi yang duduk di atas dahan pohon nangka menyaksikan pertempuran itu dengan sungguh-sungguh. Ia melihat bagaimana Ki Sapa Aruh sendiri turun di gelanggang. Ia sempat melihat unsur-unsur gerak yang dipergunakannya, meskipun Ki Pandi tahu, bahwa Ki Sapa Aruh dalam pertempuran itu tidak merasa perlu untuk menumpahkan segala macam kemampuannya.

Namun dalam pada itu, Ki Pandi dapat menilai tataran kemampuan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Beberapa saat kemudian, maka keempat orang saudagar itu telah menjadi tidak berdaya. Senjata mereka tidak mampu lagi melindungi diri mereka dengan baik.

Dalam pertempuran yang tidak terlalu lama itu, maka keempat orang saudagar itu semuanya telah terluka. Sementara itu, Ki Sapa Aruh dengan kemampuannya yang tinggi benar-benar mampu menguasai keempat orang itu bersama-sama dengan Wira Sabet Sura Gentong dan saudarasaudara seperguruannya.

“Kita tidak akan membunuh mereka” berkata Ki Sapa Aruh.

Pertempuran itupun kemudian telah terhenti. Sura Gentong dengan garangnya telah mendorong anak Ki Demang dengan kakinya, sehingga anak Ki Demang itu jatuh tertelungkup di hadapanKi Sapa Aruh.

Tidak ada lagi yang dapat melawan. Senjata-senjata mereka pun telah dirampas.

Ki Pandi yang menyaksikan berakhirnya pertempuran itu menjadi tegang. Seorang yang bertubuh sedang, dengan wajah yang tampan serta penampilan yang bersih serta wajah yang cerah ternyata telah memperlakukan keempat orang saudagar itu dengan kasar sebagaimana Sura Gentong. Sementara itu, seorang yang berwajah bengis justru hanya berdiri saja termangu-mangu menyaksikan sikap kawannya itu.

“Ki Sanak” berkata Ki Sapa Aruh kemudian, “kami memang bukan orang-orang yang haus darah. Sudah aku katakan, bahwa kami ingin menghindari setiap pertengkaran, apalagi kekerasan. Tetapi kalian telah memancing persoalan, sehingga kekerasan telah terjadi. Nah, sekarang, agar pekerjaan kami segera selesai, tunjukkan barang-barang simpanan kalian”

Anak Ki Demang itu tidak segera menyahut. Meskipun tubuhnya telah menjadi lemah, namun mereka masih mencoba bertahan.

Tetapi Ki Pandi terkejut, sehingga debar jantungnya terasa menjadi semakin cepat, ketika ia melihat perlakuan orang yang berwajah tampan itu. Demikian kasarnya dan bahkan buas sekali. Jauh berbeda dengan kesan yang nampak pada ujud lahiriahnya.

Ki Sapa Aruh ternyata tidak mencegah perlakuan itu. Bahkan sambil tertawa ia berkata, “Nah, Ki Sanak. Aku tidak mempunyai banyak waktu. Jika kau tidak menunjukkan benda-benda berharga itu, maka kami dengan sangat menyesal akan berbuat lebih jauh lagi. Kami akan membakar rumah Ki Demang ini. Aku tidak tahu apakah nilai rumah dan isinya ini lebih besar atau lebih kecil dari benda-benda berharga yang kau pertahankan itu. Selebihnya, kalian akan mengalami perlakuan yang sangat buruk. Kami minta ampun atas kekhilafan kami memperlakukan Ki Sanak tidak sebagaimana seharusnya. Tetapi hal itu kami lakukan atas landasan kesetiaan kami kepada orang-orang yang telah kau peras selama ini”

Akhirnya keempat orang itu memang tidak mempunyai pilihan lain. Jika rumah itu benar-benar dibakar, maka Ki Demang akan ikut memikul beban.

Karena itu, maka seorang di antara keempat saudagar itu berkata kepada anak Ki Demang, “Jangan libatkan Ki Demang dalam persoalan ini”

“Maksudmu?” bertanya anak Ki Demang dengan suara parau.

“Kita terpaksa menyerahkan apa yang mereka kehendaki, tetapi dengan janji, bahwa rumah ini tidak akan dibakar”

“Satu pikiran yang bijaksana” desis Ki Sapa Aruh, “seperti berulang kali aku katakan, kami bukan orang-orang yang tidak berjantung. Jika apa yang kami inginkan sudah berada di tangan kami, maka kami tidak akan berbuat lebih jauh lagi”

Anak Ki Demang itu tidak dapat mengelak lagi. Ketiga orang kawannya memang sudah nampak terlalu letih dan kesakitan. Tubuh mereka telah terluka sebagaimana anak Ki Demang itu sendiri.

Karena itu, maka ia pun tidak dapat berbuat lain. Dengan suara yang bergetar ia berkata, “Aku akan menunjukkan dimana dagangan kami itu kami simpan”

“Katakan” berkata Ki Sapa Aruh.

Anak Ki Demang itu berusaha untuk bangkit berdiri sambil berkata, “Aku akan menunjukkan”

Tetapi di luar dugaan, bahwa sarung pedang orang yang berwajah tampan itu telah menghantam tengkuknya sehingga anak Ki Demang itu jatuh terduduk.

Ki Sapa Aruh tertawa. Namun ia berkata, “Biar ia mengatakannya. Sarung pedangmu dapat membuatnya pingsan”

Anak Ki demang itu berdesah kesakitan. Sementara Ki Sapa Aruh berkata, “Katakan saja. Kau tidak usah bersusah payah menunjukkan kepada kami. Aku tidak ingin merepotkan kau dan kawan-kawanmu. Kalian tentu letih dan perlu beristirahat”

Hati keempat orang itu menjadi sangat sakit sebagaimana tubuh mereka. Tetapi mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Karena anak Ki Demang itu tidak segera mengatakan sebagaimana dikehendaki oleh Ki Sapa Aruh, maka Ki Sapa Aruh itu pun melangkah mendekat sambil berdesis, “Apakah kau sengaja mengulur waktu? Kau tidak dapat mengharap bantuan dari siapapun. Seandainya ada juga beberapa orang anak muda yang mencoba membantu kalian, maka akibatnya akan menjadi buruk sekali. Korban akan jatuh. Anak-anak muda itu akan terbunuh disini tanpa mengerti kenapa mereka harus mati. Keluarga merekalah kelak yang akan menyadari, bahwa mereka telah menjadi tumbal kekayaan kalian. Keluarga mereka tidak akan pernah mendapatkan imbalan apapun dari kalian meskipun mereka mati karena mereka mempertahankan harta-benda kalian itu”

Anak Ki Demang itu menggeram. Tetapi ia memang tidak mempunyai pilihan.

Karena itu, maka anak Ki Demang itupun berkata, “Yang kalian cari ada di sentong sebelah kiri. Dibawah gledeg bambu tempat pakaianku”

Ki Sapa Aruh tertawa. Sambil menepuk wajah anak Ki Demang ia berkata, “Ternyata kau adalah seorang anak yang manis. Terima kasih. Aku akan melihatnya. Tetapi aku peringatkan, bahwa kau tidak boleh bohong. Jika kau berbohong, maka kau bukan lagi anak yang manis. Tetapi kau tentu anak yang nakal, yang pantas dicubit pantatnya”

Anak Ki Demang tidak menjawab. Ia memang sudah berkata sebenarnya karena ia sama sekali tidak melihat peluang lagi.

Ki Sapa Aruh pun kemudian telah mengajak Wira Sabet dan Sura Gentong untuk masuk ke dalam rumah itu. Sementara itu, saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu tiba-tiba saja telah menekan punggung anak Ki Demang itu sehingga anak Ki Demang itu hampir saja jatuh terjerembab.

Ki Pandi hanya dapat menyaksikan semua itu dari tempatnya bersembunyi. Ia tidak dapat berbuat sesuatu. Jika ia mencampuri persoalan itu, maka keadaannya akan menjadi semakin parah bagi keempat orang saudagar emas itu. Ia sendiri tentu akan terikat dalam pertempuran dengan Ki Sapa Aruh dan tentu beberapa orang akan membantu. Mungkin ia akan dapat meloloskan diri. Tetapi keempat orang itu justru akan menjadi sasaran kemarahan orang-orang itu.

Karena itu, maka Ki Pandi hanya dapat menahan gejolak jantung di dalam dadanya.

Sementara itu, Ki Sapa Aruh telah hilang di balik pintu pringgitan untuk melihat dan kemudian mengambil barang-barang yang nilainya tentu sangat tinggi.

 

0oO-dw-arema-Oo0

Bersambung ke jilid 6

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 4 – Sejuknya Kampung Halaman

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | lanjut

AM_MR-04

Serial ARYA MANGGADA

Episode II: MAS RARA

JILID 4

kembali | lanjut

AMMR-04“AKU juga mohon diri“ sambung Wirantana, “aku akan kembali menjemput ayah dan ibuku. Sebelum sepekan mereka harus sudah berada di padukuhan ini”

“Baiklah anak-anak muda“ berkata pemimpin prajurit itu, “kami akan menyampaikannya kepada Raden Panji”

Sepeninggal para prajurit itu, Manggada berdesis, “Untuk menyampaikan hadiah seperti ini, kenapa harus sekelompok prajurit. Bukankah satu atau dua orang saja sudah cukup?“

“Satu kehormatan“ desis Wirantana, “bukankah dengan demikian kalian cukup dihormati disini, sehingga untuk menyerahkan hadiah yang tidak berarti itu telah dilakukan oleh sekelompok prajurit?“

“Kami memang tidak pernah memikirkan hadiah. Karena itu, kami tidak memikirkan apakah hadiah itu benilai atau tidak” desis Manggada.

“Justru karena itu“ berkata Wirantana, “justru karena hadiahnya tidak bernilai, maka ada nilai yang lain yang diberikan kepada kalian. Satu penghormatan”

Manggada mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa sambil berkata, “Nilai-nilai yang sulit aku dapatkan di tempat lain”

Ketiga anak muda itu pun tertawa. Namun hati mereka terasa seperti disentuh ujung duri. Mereka merasa betapa perlakuan yang diberikan oleh Raden Panji itu benar-benar menyakiti hati mereka. Terutama Manggada dan Laksana. Namun demikian Manggada juga merasa gelisah karena adiknya yang tentu merasa sangat gelisah pula. Wirantana sudah membayangkan bahwa menjadi isteri Raden Panji bukannya satu peristiwa yang bernilai tinggi, tetapi justru akan merupakan satu penderitaan yang panjang. Apalagi Mas Rara adalah isteri Raden Panji yang keenam. Ia akan menjadi endapan kepahitan hidup kelima isteri Raden Panji sebelumnya.

Namun tiba-tiba terbersit satu pertanyaan, “Apakah aku akan membiarkan penderitaan itu berkepanjangan?“

Wirantana menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, ketiga anak muda itu pun telah berada di dalam biliknya. Laksana sempat membaringkan diri dipembaringan, sementara Manggada dan Wirantana duduk diamben bambu sambil merenung.

Sementara itu maka senja pun menjadi semakin gelap. Lampu telah dinyalakan dimana-mana. Di gandok itu pun lampu telah dinyalakan pula.

“Aku akan berbicara dengan sais dan pembantunya itu“ berkata Wirantana.

Manggada dan laksana mengangguk. Dengan nada datar Manggada berkata, “Aku akan segera tidur agar besok aku dapat bangun dini hari”

Wirantana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukankah kita menunggu makan malam?“

Manggada tidak menjawab. Ia duduk sambil tersenyum, sementara Laksana masih saja berbaring. Sekali-sekali matanya justru terpejam meskipun ia tidak ingin segera tidur.

Kepada kedua orang yang melayani pedati berkuda itu Wirantana sudah berpesan, agar pedati itu dipersiapkan. Mereka akan berangkat menjelang fajar.

“Kita tinggal berangkat“ berkata seorang diantara mereka, “segalanya sudah siap”

“Baiklah“ berkata Wirantana, “besok kita berangkat sebelum padukuhan ini terbangun. Kita berangkat bersama-sama dengan Manggada dan Laksana meskipun tujuan kita berbeda”

“Kedua orang anak itu akan pergi kemana?“ bertanya seorang yang lain.

“Mereka memang sedang mengembara. Mungkin mereka akan pergi ke Pajang“ jawab Wirantana.

Demikian maka Wirantana pun telah meninggalkan kedua orang itu. Sementara itu, kedua orang itu memang sudah menyiapkan segala-galanya. Bahkan senjata mereka pun telah mereka siapkan.

Ketika Wirantana kembali ke gandok ternyata makan malam bagi mereka telah dipersiapkan.

Setelah makan malam maka rasa-rasanya udara menjadi panas sehingga bertiga anak-anak muda itu justru duduk-duduk diserambi yang udaranya terasa lebih sejuk.

Namun mereka tidak terlalu lama berada diserambi. Halaman rumah itu nampak terlalu sepi. Meskipun ada dua orang prajurit yang berjaga, juga diregol dan lima orang yang lain berada di gardu meskipun dua orang diantaranya sudah berbaring karena mendapat giliran tidur disore hari, namun suasananya terasa sangat lengang.

Malam yang menjadi semakin dalam telah membuat ketiga orang itu mulai mengantuk. Tetapi rasa-rasanya mereka masih belum puas berbicara justru disaat terakhir mereka sempat melakukannya. Besok mereka sudah akan berpisah.

Tanpa mereka sadari, maka mereka telah berbicara kian kemari, termasuk membicarakan sifat-sifat Raden Panji serta kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas Mas Rara.

Namun akhirnya mereka memang menjadi mengantuk sekali menjelang tengah malam. Karena itu, maka Wirantana pun berkata, “Baiklah. Kita akan beristirahat sekarang. Besok menjelang fajar kita akan bersiap”

Manggada dan Laksana pun mengangguk-angguk. Dengan nada rendah agak tertelan Manggada berkata, “Aku juga sudah mengantuk”

Demikianlah, maka ketiga orang anak muda itu pun telah membaringkan dirinya di pembaringan. Sekali-sekali mereka menguap dan menggosok mata mereka. Memang terasa sayang sekali bahwa mereka akan melewatkan saat-saat terakhir mereka bertemu hanya untuk tidur. Namun mereka tidak dapat mengelak.

Tetapi ketika mata mereka telah terpejam, maka ketiga anak muda itu telah dikejutkan oleh pembicaraan yang terjadi di halaman. Tidak terlalu keras. Namun nampaknya bersungguh-sungguh.

“Aku mengemban tugas dari Raden Panji” terdengar suara yang berat.

 

“Apakah kau membawa pertanda perintah itu?“ bertanya suara yang lain.

“Ada“ jawab orang yang pertama.

Wirantana memang sangat tertarik oleh pembicaraan itu. Iapun segera bangkit, memadamkan lampu dan dengan sangat berhati-hati membuka pintu bilik gandok.

Manggada dan Laksana pun telah ikut pula mengintip dari sela-sela pintu bilik gandok itu. Mereka melihat dua orang yang berdiri dihadapan salah seorang dari para prajurit yang bertugas, bahkan agaknya pemimpin kelompoknya. Sementara dua orang prajaurit yang lain, yang sudah bersiap-siap untuk beristirahat setelah tugasnya di regol digantikan oleh dua orang kawannya, berdiri termangu-mangu didepan gardu.

Ketiga orang anak muda itu melihat salah seorang dari kedua orang yang mengaku utusan Raden Panji itu telah menunjukkan sesuatu. Agaknya sebuah cincin.

“Kau tentu mengenal cincin ini. Cincin ini memang cincin pertanda perintah Raden Panji“ berkata orang itu.

Pemimpin sekelompok prajurit yang bertugas itu menarik nafas dalam-dalam Namun katanya, “tetapi Mas Rara tentu sudah tidur”

“Tidak apa apa. Kita harus membangunkannya dan segera membawanya menghadap Raden Panji” jawab orang itu.

“Tetapi kenapa harus malam-malam begini?“ bertanya pemimpin prajurit itu.

“Jangan bodoh“ jawab orang yang membawa cincin itu.

Pemimpin prajurit yang sedang bertugas di rumah itu menarik nafas dalam-dalam. Namun keragu-raguannya pun kemudian telah terdesak kesamping ketika utusan Raden Panji itu berkata, “Perintah Raden Panji, kami harus membawa Mas Rara. Tidak boleh ada orang yang menghalanginya”

“Terserahlah” berkata pemimpin prajurit itu, “tetapi sebenarnya aku kasihan melihat gadis itu”

“Apakah kau akan melawan perintah Raden Panji?“ bertanya utusan itu.

“Tentu tidak. Ambillah“ jawabnya.

Tetapi utusan itu berkata, “Kaulah yang membangunkannya dan membawanya kemari. Aku akan membawanya sampai kepada Raden Panji”

“Kau yang mendapat perintah. Lakukan perintah itu“ jawab pemimpin prajurit yang bertugas.

“Perintah Raden Panji termasuk perintah kepada kalian“ jawab utusan itu.

Tetapi pemimpin prajurit itu menggeleng. Katanya, “Tentu tidak. Raden Panji hanya memerintahkan kepadamu untuk mengambil gadis itu. Sekarang terserah kepadamu, apakah kau akan membawanya menghadap atau tidak”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Seorang diantara mereka berkata, “Baiklah. Kami akan mengambilnya”

Meskipun sebenarnya ragu-ragu, tetapi kedua orang itu pun telah menuju ke pintu pringgitan. Dengan perlahan-lahan pintu itu pun diketuknya.

Baru setelah diulang sampai dua tiga kali, maka terdengar seorang perempuan menyapa, “Siapa diluar?“

“Kami bibi. Mengemban perintah Raden Panji“ jawab salah seorang diantara keduanya.

“Kenapa malam-malam?“ bertanya perempuan yang ada didalam itu.

“Kami hanya mengemban perintah bi, “jawab prajurit itu.

“Bagaimana kalau besok saja?“ bertanya perempuan yang ada di dalam.

“Apakah ada diantara kita yang berani menentang perintah Raden Panji?“ prajurit itu justru bertanya.

Perempuan itu pun kemudian telah membuka pintu. Sebelum orang tua itu bertanya, prajurit itu telah menunjukkan cincin yang dipakainya sambil berkata, “Aku membawa pertanda pengemban perintah Raden Panji”

Perempuan tua yang melayani Mas Rara termangu-mangu. Ia menyadari apa yang akan terjadi dengan gadis yang lugu itu. Tetapi ia pun mengerti, apa yang terjadi terhadap seseorang yang berani menentang perintah Raden Panji itu. Apalagi tentang seorang perempuan cantik yang telah mengguncang-kan hatinya sehingga Raden Panji itu tidak sabar lagi menunggu waktu sepekan yang telah ditentukannya sendiri”

Satu gejolak perasaan telah terjadi dihati perempuan tua itu. Rasa-rasanya ia memang ingin menghalangi kedua orang itu mengambil Mas Rara. Tetapi perempuan tua itu menyadari, bahwa ia tidak akan berdaya berbuat sesuatu untuk mencegahnya.

”Maaf bibi“ berkata prajurit itu, “aku minta bibi membangunkannya dan membawanya kemari. Kami akan mengantar mereka kepada Raden Panji sekarang juga. Raden Panji sudah berpesan agar aku segera kembali sambil membawa Mas Rara bersamaku. Raden Panji sudah mengancam, jika aku gagal, maka leherku akan menjadi taruhan”

Perempuan tua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “ Itulah biliknya”

“Bawa gadis itu kemari“ berkata kedua orang itu hampir berbareng.

Tetapi perempuan tua itu menggeleng lemah. Katanya, “Kau ambil gadis itu sendiri, Aku tidak sampai hati membangunkannya dan memberitahukannya bahwa ia diperlukan Raden Panji sekarang juga, sementara masih ada tenggang waktu sepekan dengan hari pernikahan yang ditentukan sendiri oleh Raden Panji”

Kedua orang itu menjadi tegang. Namun ia tidak akan dapat memaksa perempuan tua itu untuk membangunkan Mas Rara. Sementara waktunya sudah menjadi terlalu lama. Raden Panji yang memberikan perintah langsung kepada kedua orang itu nampaknya tidak sabar lagi menunggu.

Karena itu, maka keduanya pun telah menyingkirkan perasaannya sendiri yang justru berlawanan dengan tugas yang harus diembannya. Seorang diantara mereka berkata, “Aku akan membangunkannya”

Orang itu telah mendekati pintu bilik Mas Rara. Namun sebenarnyalah keragu-raguan masih saja mencengkamnya.

Ketika diluar sadarnya prajurit itu menyentuh pintu, maka ia pun tahu bahwa pintu bilik itu telah diselarak dari dalam.

Perlahan-lahan orang itu mengetuk pintu sambil berdesis, “Mas Rara, Mas Rara”

Beberapa saat orang itu mengetuk pintu, namun sama sekali. tidak terdengar jawaban. Karena itu, maka prajurit itu mengetuk semakin keras.

“Mas Rara” panggil prajurit itu.

Mas Rara sebenarnya memang sudah terbangun. Tetapi ia justru menjadi ketakutan. Yang terdengar diluar pintu adalah suara laki-Iaki.

“Mas Rara“ berkata prajurit yang membangunkannya itu, “aku membawa pesan Raden Panji. Pesan yang sangat penting bagi Mas Rara”

Mas Rara masih saja ragu-ragu. Namun karena pintu itu diketuk lagi, maka ia pun bertanya, “Siapa diluar?“

Prajurit yang mendapat tugas untuk menjemput Mas Rara itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Kami adalah utusan Raden Panji. Jika Mas Rara ragu-ragu, maka silahkan membuka pintu. Kami akan menunjukkan pertanda perintah dari Raden Panji”

“Kenapa tidak besok saja?“ bertanya Mas Rara.

“Pesan itu sangat penting Mas Rara” jawab prajurit itu, “aku persilahkan Mas Rara melihat cincin itu. Mas Rara tentu akan yakin, bahwa kami adalah utusan Raden Panji”

Mas Rara memang tidak dapat berbuat lain. Ia menyadari, bahwa dirinya bagaikan seekor kelinci didalam kandang seekor harimau yang ganas.

Ketika prajurit itu mengetuk pintunya lagi, maka Mas Rara pun telah membukanya.

Diluar pintu ia melihat dua orang prajurit berdiri termangu-mangu. Beberapa langkah dibelakangnya, orang tua yang melayaninya berdiri tegak dan tubuh gemetar.

Demikian pintu terbuka, maka perempuan tua itu telah berlari memeluknya. Diluar sadarnya, terasa air mata perempuan tua itu menitik dibahunya.

“Bibi“ desis Mas Rara.

Perempuan tua itu tidak menjawab sama sekali. Tetapi kedua orang prajurit itulah yang kemudian mengangguk hormat.

Mas Rara berdiri tegak memandangi kedua orang prajurit yang menunduk itu. Meskipun keduanya belum mengatakan sesuatu kepadanya, tetapi Mas Rara seakan-akan sudah tahu apa yang akan dilakukan Raden Panji atas dirinya.

Namun kemudian salah seorang dari kedua prajurit itu betapapun segannya, terpaksa mengatakan, “Mas Rara. Kami adalah utusan Raden Panji. Kami membawa pertanda perintah. Kami ditugaskan untuk mempersilahkan Mas Rara bersama-sama dengan kami menghadap Raden Panji”

Meskipun Mas Rara sudah menduga, namun ketika kedua orang prajurit itu menyampaikan perintah Raden Panji, jantungnya masih juga berdentangan keras sekali.

Perempuan tua yang kemudian melepaskan pelukannya itu pun berdiri dengan cemasnya disisi Mas Rara. Sudah beberapa kali ia menyaksikan perempuan yang menjadi isteri Raden Panji. Namun perasaannya terasa lain ketika ia berhadapan dengan Mas Rara. Apalagi jika ia melayani seorang perempuan yang tamak dan sombong. Maka ia sama sekali tidak merasa tersentuh melihat saat-saat seperti yang sedang terjadi itu. Ia merasa sangat benci kepada perempuan yang menyambut perintah Raden Panji itu dengan sangat gembira dan penuh harapan.

Namun ternyata bahwa sikap Mas Rara itu berbeda. Pada saat yang sangat gawat itu, ia justru menemukan keberanian yang sudah terlepas dari dirinya sejak ia dinyatakan akan menjadi isteri Raden Panji. Pribadinya yang serasa hilang itu tiba-tiba pula telah bangkit kembali didalam dirinya. Bahwa tubuhnya rasa-rasanya tidak menjadi miliknya lagi, dengan serta merta telah tersentak dari relung jantungnya.

Karena itu, maka Mas Rara itu dengan tengadah berkata, “Katakan kepada Raden Panji, bahwa aku tidak dapat menghadap sekarang. Kecuali hari telah larut malam, katakan bahwa aku sedang sakit”

“Tetapi perintah Raden Panji mawanti-wanti” berkata prajurit itu, “jika aku kembali tanpa Mas Rara, maka aku akan mendapat hukuman yang sangat berat. Bahkan mungkin aku akan dihukum mati”

“Kau tidak bersalah“ berkata Mas Rara, “perintahnya telah sampai kepadaku. Tetapi akulah yang menolaknya. Bukan kalian berdua”

“Benar Mas Rara. Tetapi apakah aku dapat meyakinkan Raden Panji bahwa Mas Rara menolak perintah itu?“ desis prajurit itu.

“Apakah kau akan membawa cincinku untuk meyakinkan Raden Panji?“ bertanya Mas Rara.

“Tidak Mas Rara. Bukan cincin itu. Yang penting kami mengharap Mas Rara menghadap Raden Panji. Apapun yang akan dilakukan Raden Panji benar-benar diluar tanggung jawab kami. Jika kami melakukannya, itu semata-mata karena kamipun merasa takut untuk menolak perintah itu“ berkata prajurit yang menjadi gelisah itu.

“Katakan kepada Raden Panji, bahwa kau telah melakukan tugasmu dengan baik. Dan katakan pula bahwa akulah yang menolak perintahnya. Jika Raden Panji marah dan akan menjatuhkan hukuman, biarlah aku yang dihukum. Hukuman mati sekalipun“ jawab Mas Rara. Lalu katanya pula, “Sampaikan kepada Raden Panji bahwa aku menolak kemauannya. Aku baru akan menjadi isterinya sepekan lagi.”

Wajah kedua utusan itu menjadi tegang. Mereka tidak mengira bahwa Mas Rara akan menolak perintah yang diberikan Raden Panji. Secara kebetulan, seorang diantara mereka juga melakukan perintah yang sama atas isteri Raden Panji yang ke lima. Tapi perintah itu tidak ditolaknya. Utusan itu tidak tahu perasaan apa yang bergejolak di hati perempuan itu. Tapi perempuan itu tampaknya merasa bangga sekali. Baru beberapa hari kemudian pernikahannya akan berlangsung. Namun keluarga itu tidak lama tampak utuh. Beberapa bulan kemudian hubungan mereka mulai retak dan nasib isteri kelima itu menjadi kurang baik.

Tetapi sekarang, seorang perempuan dari padukuhan Nguter telah berani menentang perintah Raden Panji. Bahkan menentang untuk menerima hukuman mati sekalipun.

Ketika keduanya masih termangu-mangu, Mas Rara yang seakan-akan telah menemukan dirinya kembali itu berkata, “Ki Sanak, kembalilah. Aku masih letih. Aku masih ingin tidur lagi”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun seorang diantara mereka berkata, “Tidak Mas Rara. Aku harus kembali menghadap Raden Panji bersama Mas Rara”

“Aku tidak mau“ bentak Mas Rara.

“Kami juga tidak berani kembali tanpa Mas Rara“ sahut yang seorang lagi.

“Terserah pada kalian. Tapi aku tidak akan pergi“ jawab Mas Rara.

Kedua orang itu menjadi bingung. Dengan gagap, seorang diantara mereka berkata, “Tidak. Mas Rara harus pergi”

“Aku tidak mau“ jawab Mas Rara tegas.

“Kami akan memaksa Mas Rara“ utusan yang kehilangan akal itu mulai mengancam.

Wajah Mas Rara jadi makin tegang. Dengan suara bergetar ia berkata, “Kau tahu siapa aku? Kau tidak akan dapat menakut-nakuti aku. Aku adalah calon isteri Raden Panji. Jika kalian berani menentang perintahku, itu berarti kalian berani menentang Raden Panji”

Kedua orang itu memang menjadi bimbang. Tetapi ketakutan yang bergejolak di jantung mereka ternyata lebih berat dibanding keragu-raguan mereka, sehingga seorang diantara mereka berkata, “Raden Panjilah yang memerintahkan kami datang kemari. Karena itu, yang kami lakukan adalah atas nama dan atas kuasanya. Karena itu, jangan menentang kami”

Debar jantung Mas Rara bagaikan semakin cepat berdegup. Tapi ia masih berkata lantang, “Pergi. Jangan mencoba mengganggu aku. Jika Raden Panji mengetahuinya, kalian akan dihukum gantung”

“Kami mengemban perintah Raden Panji“ ulang salah seorang dari mereka.

Tetapi Mas Rara tetap pada pendiriannya. Katanya, “Aku tidak mau. Jika kau akan memaksakan, kalian akan menyesal. Aku dapat mengatakan hitam atau putih tentang kalian kepada Raden Panji. Aku dapat mengatakan bahwa kalian telah memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingan dan kesenangan kalian sendiri”

“Gila“ wajah orang-orang itu menjadi marah. Seorang diantara mereka berkata, “Kami akan melakukannya dihadapan saksi-saksi, para prajurit yang bertugas di tempat ini akan menjadi saksi apa yang telah kami lakukan. Mereka akan mengatakan sesuai dengan apa yang mereka lihat”

Wajah Rara Wulan jadi panas. Ternyata orang-orang itu tidak lekas menjadi ketakutan. Namun ia sudah bertekad untuk tidak mau pergi mengikuti keduanya. Karena itu, Rara Wulan berkata, “Aku tidak peduli. Tapi aku tidak mau. Jika kalian coba menjamah kulitku dan menjadi kotor, Raden Panji tentu tidak akan memaafkan kalian lagi”

Kedua orang itu memang berpikir. Namun seorang diantara mereka tiba-tiba saja telah mencabut pedangnya sambil berkata, “Mas Rara harus pergi. Aku memiliki wewenang penuh untuk melakukan apa saja sampai Mas Rara berhasil aku bawa menghadap Raden Panji”

“Termasuk membunuh aku?“ tanya Mas Rara.

Orang yang memegang pedang itu menjadi makin bingung. Ternyata Mas Rara sama sekali tidak menjadi gentar melihat ujung pedang yang tajam runcing itu. Bahkan sambil menengadahkan dadanya ia berkata, “Marilah. Jika itu perintah Raden Panji, lakukanlah”

Sejenak kedua orang itu tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Sementara itu, perempuan tua yang melayani Mas Rara menjadi sangat ketakutan. Ketika seorang diantara kedua utusan Raden Panji itu mengacungkan pedangnya, perempuan itu bergeser mendekati Mas Rara.

Karena kedua orang itu tidak segera berbuat sesuatu, sekali lagi Mas Rara berkata, “Ayo, bunuh aku jika kau berani melakukannya. Nanti bawa tubuhku menghadap Raden Panji. Kau tentu akan menerima hadiah yang sangat besar, atau lehermu akan di penggal di halaman rumah Raden Panji untuk dijadikan pangewan-ewan. Kepalamu akan dijadikan peringatan bagi orang-orang yang berani pada calon isterinya. Jika hal seperti ini kau lakukan dua tiga bulan lagi, setelah aku benar-benar jadi isterinya, mungkin kau akan naik pangkat. Tapi jika sekarang kau lakukan, berarti kau akan membunuh diri”

Kedua orang itu benar-benar menjadi bingung. Tampaknya Mas Rara terlalu yakin akan dirinya. Seakan-akan dalam waktu singkat Mas Rara telah berubah sama sekali. Bukan lagi seorang perempuan lembut, penurut dan tanpa berani mengangkat wajahnya dihadapan seseorang. Namun tiba-tiba ia dapat menjadi garang dan menantang ujung pedang.

Perempuan tua yang melayaninya menjadi sangat heran. Kekuatan apa yang telah menggerakkan Mas Rara untuk berbuat demikian.

Namun dalam kebingungan dan tanpa dapat melihat jalan keluar yang lebih baik, kedua orang itu telah melakukan kekerasan. Memang tidak menusuk jantung Mas Rara dengan pedang. Justru senjata tajam yang sudah dicabut itu disarungkan kembali. Keduanya kemudian memaksa Mas Rara untuk mengikutinya. Seorang diantara mereka telah memegang lengan gadis itu dan menariknya sambil berkata, “Aku tidak tahu apakah jalan ini yang terbaik. Tetapi aku tidak mau mendapat hukuman karena perempuan yang keras kepala ini”

Ketika Mas Rara meronta, yang seorang lagi telah membantunya, memegangi lengannya yang satu lagi.

Mas Rara, seorang gadis lembut dan lugu, tidak dapat mengatasi kekuatan kedua orang prajurit itu. Tangannya yang kasar dan tenaganya yang besar, telah menyeret Mas Rara dari ruang dalam.

Mas Rara tidak mengira bahwa ia akan mendapat perlakuan sangat kasar. Sementara itu, perempuan tua yang melayaninya telah memeluk dan menahannya sambil berkata, “Lepaskan. Lepaskan. Kau akan digantung besok jika kau berani berbuat kasar terhadap calon isteri Raden Panji”

Tapi bagi kedua orang itu, berbuat kasar tentu akan lebih baik daripada tidak membawa Mas Rara sama sekali. Apalagi Raden Panji telah mengancam, apapun alasannya, ia tidak mau mendengarkan jika mereka datang tanpa Mas Kara. Ketakutan akan pesan itulah yang telah membuat kedua utusan itu kebingungan dan tidak dapat melihat jalan keluar.

Ketika keduanya menarik Mas Rara keluar ruang dalam, Mas Rara menjerit hingga suaranya yang melengking telah mengejutkan semua orang yang ada di lingkungan rumah itu.

Beberapa orang prajurit berlari-larian ke pendapa, ketika mereka melihat kedua utusan Raden Panji itu keluar dari pintu pringgitan.

“Apa yang terjadi?” tanya pemimpin prajurit yang bertugas sambil mengacungkan tombaknya.

“Aku harus membawa gadis itu menghadap Raden Panji. Beliau yang memerintahkan. Tidak ada alasan untuk mengelakkan perintah itu. Malam ini, Mas Rara harus dihadapkan padanya. Tapi Mas Rara menolak, sehingga kami harus memaksanya. Karena itu, aku minta dua orang diantara kalian pergi bersama kami untuk menjadi saksi bahwa kami melakukan atas perintah Raden Panji dan tidak mengkhianatinya sama sekali“ berkata salah seorang dari kedua utusan itu.

Para prajurit itu termangu-mangu. Seorang diantara mereka bertanya, “Apakah tindakan ini tidak membuat Raden Panji marah?“

“Kami sudah mendapat wewenang. Dengan cara apapun juga, Mas Rara harus dihadapkan padanya malam ini juga“ berkata salah seorang dari utusan itu. Katanya lagi, “Karena itu, bantu aku agar tugas ini dapat kami selesaikan dengan baik, sehingga kita semuanya tidak mendapat hukuman besok pagi”

Para prajurit itu termangu-mangu. Namun mereka yakin bahwa kedua orang itu memang utusan Raden Panji, menilik pertanda yang mereka bawa. Dengan demikian, keduanya telah bertindak atas nama Raden Panji.

Dalam keragu-raguan itu, Mas Rara meronta sekali lagi. Demikian tiba-tiba hingga kedua orang prajurit yang memeganginya terkejut. Mas Rara memang dapat melepaskan diri. Tapi ia tidak sempat berlari turun dari pendapa. Tangan-tangan yang kuat itu telah menggapainya lagi. Bahkan kemudian tangan-tangan kasar itu memeganginya lebih erat di lengannya, sehingga lengan Mas Rara terasa sakit.

Sekali lagi Mas Rara menjerit. Tapi suaranya bagaikan hilang ditelan geiapnya malam.

Namun dalam pada itu, Wirantana, Manggada dan Laksana telah berdiri di halaman rumah itu, Dengan sigapnya mereka meloncat naik ke pendapa Dengan geram Wirantana bertanya, “Apa yang kalian lakukan atas adikku?“

“Kami mengemban tugas dari Raden Panji” berkata utusan itu sambil menunjukkan cincin pertanda kekuasaan Raden Panji.

Wirantana, Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Wirantana telah bertanya kepada Mas Rara, “Apa yang mereka kehendaki?“

“Aku tidak mau. Aku tidak mau“ teriak Mas Rara.

Sedangkan perempuan tua yang melayani Mas Rara itu pun telah berada di pendapa rumuh itu dengan wajah yang tegang.

“Ki Sanak“ berkata Wirantana kemudian, “Mas Rara datang ke rumah ini karena permintaan Raden Panji. Mas Rara itu dalam waktu sepekan lagi akan menjadi isteri Raden Panji. Kenapa sekarang kau perlakukan seperti itu?“

“Kami mengemban tugas. Kami harus membawa Mas Rara menghadap Raden Panji sekarang ini. Seharusnya Mas Rara tidak menolaknya, sehingga tidak akan terjadi sesuatu” berkata salah seorang dari mereka yang membawa Mas Rara itu.

“Tetapi bukankah kau dapat mengatakan kepada Raden Panji bahwa Mas Rara berkeberatan untuk menghadap malam ini?“ sahut Wirantana.

“Kau belum mengenal Raden Panji dengan baik. Tetapi kau seharusnya sudah tahu, meskipun kau baru mengenal beberapa saat, bahwa bagi Raden Panji, tidak akan pernah mau mendengarkan jawaban seperti itu” berkata orang itu selanjutnya.

“Jadi, dianggap apa adikku itu? Apakah ia tidak dianggap sebagai seseorang yang mempunyai perasaan, yang mempunyai kehendak dan harga diri? Ia baru akan menjadi isteri Raden Panji sepekan lagi” berkata Wirantana. Lalu katanya, “Apapun yang akan dilakukannya malam ini, namun Mas Rara harus mendapat hak untuk bersedia atau tidak bersedia datang. Jika Mas Rara tidak bersedia datang, maka tidak ada orang yang dapat memaksanya”

“Raden Panji dapat memaksanya“ jawab orang itu.

“Tidak“ geram Wirantana tegas.

“Jadi kau berani melawan Raden Panji?“ bertanya orang itu kemudian.

“Tidak. Aku tidak berani melawan Raden Panji, tetapi aku pun tidak rela adikku kehilangan haknya untuk menentukan kehendaknya dan mempertahankan harga dirinya“ jawab Wirantana.

“Cukup“ orang yang membawa Mas Rara itu menjadi semakin marah, “Minggir, atau kau akan mendapat hukuman dari Raden Panji. Ketahuilah, Raden Panji tidak pernah tanggung-tanggung jika ia memberikan hukuman kepada seseorang yang telah berani melawan kehendaknya”

“Hukuman sepantasnya hanya diberikan kepada orang-orang yang bersalah. Tidak kepada orang-orang yang mempertahankan haknya” jawab Wirantana.

“Raden Panji tidak akan mempedulikan, apakah ia bersalah atau tidak. Tetapi semua orang yang menentang kehendaknya, ia akan dihukum. Termasuk Mas Rara. Karena itu, maka biarlah Mas Rara datang memenuhi perintah Raden Panji” jawab orang itu.

Wirantana tiba-tiba telah menjadi garang pula. Gejolak perasaannya ternyata tidak dapat dikendalikan lagi. Apalagi sikap kedua orang itu justru menjadi semakin kasar terhadap Mas Rara. Seorang diantaranya seakan-akan telah menyeretnya sementara yang lain berdiri menghadapi Wirantana, Manggada dan Laksana.

Dengan lantang Wirantana berkata, “Lepaskan adikku”

“Kau gila. Raden Panji mempunyai wewenang untuk menghukum mati kepada siapa saja yang dianggapnya menghalangi tugasnya” berkata orang itu.

“Wewenang dari siapa?” bertanya Wirantana. Lalu katanya, “kalau wewenang itu diberikan oleh ayah dan ibunya, maka itu tidak akan mempunyai nilai sama sekali untuk ditrapkan dalam tugas-tugasnya sebagai seorang prajurit”

”Tutup mulutmu. Raden Panji mendapat tugas dari Kangjeng Sultan di Pajang untuk mengamankan daerah ini dari kekuasaan para penjahat dengan wewenang untuk memberikan hukuman mati kepada siapa saja yang berani menentangnya” berkata orang itu.

“Jika demikian, kaulah yang gila. Atau Raden Panji itulah yang sudah menjadi gila“ Wirantana benar-benar telah kehilangan pengekangan diri.

Kedua orang prajurit yang mengambil Mas Rara itu terkejut. Mereka tidak menduga, sama sekali, bahwa kata-kata yang keras itu akan terlontar dari mulut seseorang apalagi dari sebuah padukuhan yang jauh.

Dengan lantang seorang diantara mereka berkata, “Kau sudah benar-benar menjadi jenuh untuk hidup. Kau akan digantung sebagaimana para penjahat yang telah tertangkap”

“Wewenang untuk menghukum mati hanya diberikan kepada Raden Panji dalam tugasnya memberantas kejahatan. Tidak untuk kepentingan diri sendiri, apalagi untuk memaksa perempuan-perempuan muda menjadi isterinya yang ke enam, ketujuh bahkan kelak isterinya yang ke seratus. Apalagi memaksa seorang perempuan yang bukan isterinya datang kepadanya di malam hari seperti ini“ suara Wirantana tidak kalah lantangnya.

“Tutup mulutmu“ bentak prajurit itu, “atas nama Raden Panji dengan wewenang yang diberikan kepadaku, jangan ganggu tugasku. Atau aku akan mempergunakan wewenangku”

“Aku tidak akan mengganggumu jika kau tidak mengganggu adikku“ Wirantana membentak pula.

“Aku melakukan perintah Raden Panji“ orang itu berteriak.

Tetapi Wirantana pun berteriak pula, “Jika demikian, jika kalian telah menjadi budak-budak yang mati, katakan, Raden Panji tidak boleh mengganggu adikku“

Wajah kedua orang prajurit itu menjadi merah. Namun dengan demikian, mereka telah memusatkan perhatian mereka kepada Wirantana.

Dalam kesempatan itu, Mas Rara telah menghentakkan tangannya dan merenggutnya dari pegangan prajurit itu. Demikian tiba-tiba dan diluar dugaan, sehingga sejenak kemudian tangan Mas Rara telah terlepas.

Keberanian Mas Rara benar-benar telah tumbuh tanpa segera berlari kearah Wirantana dan seakan-akan bersembunyi di belakang punggungnya.

Kemarahan kedua orang prajurit yang mengemban tugas Raden Panji itu sudah sampai ke puncak. Kemarahan mereka telah dilandasi pula oleh perasaan takut jika mereka gagal menjalankan perintah. Seandainya mereka tidak dapat membawa Mas Rara menghadap Raden Panji, maka Raden Panji tentu akan menjadi kehilangan kesabaran sebagaimana sering dilakukannya. Keduanya tentu akan mengalami nasib yang sangat buruk. Apalagi tugas mereka adalah tugas yang sangat mudah. Membawa seorang per-empuan menghadap Raden Panji. Hanya itu.

Karena itu, maka seorang diantara mereka berkata, “Aku masih ingin memperingatkan kalian sekali lagi. Aku tengah mengemban perintah Raden Panji. Bahkan lebih dipercaya untuk membawa pertanda kuasanya. Cincin jabatannya. Jika kalian masih menghalangi tugasku ini, maka aku akan mempergunakan kekerasan. Seperti Raden Panji, maka aku berwenang untuk membunuh seorang yang melawan perintahnya, karena seseorang yang melawan perintah Raden Panji yang berkuasa atas nama Kanjeng Sultan adalah pengkhianat”

“Aku tidak berkeberatan disebut pengkhianat oleh Raden Panji karena mencegah tingkah lakunya yang tidak pantas serta menerapkan wewenang yang tidak sewajarnya atas seorang gadis yang tidak berdaya seperti Mas Rara. Meskipun Mas Rara sudah ditetapkan menjadi bakal isteri Raden Panji, tetapi baru sepekan lagi ia sah menjadi isterinya. Baru sepekan lagi Mas Rara wajib tunduk atas segala kemauan Raden Panji. Tetapi tidak sekarang”

“Cukup” bentak prajurit itu, “aku memang harus menyumbat mulutmu”

Kedua prajurit itu tiba-tiba saja telah bergerak. Sementara itu Manggada dan Laksana pun telah bergerak pula. Mereka sama sekali tidak lagi menghiraukan kemungkinan hukuman yang tidak terbayangkan karena kemarahan Raden Panji.

Tetapi kedua anak muda itu merasa wajib membela Wirantana.

“Lindungi adikku“ berkata Wirantana sambil mendorong adiknya kepada Manggada dan Laksana.

Namun Manggada pun berkata, “Jaga Mas Rara baik-baik”

Laksana tidak sempat menjawab. Tetapi iapun bergeser mendekati Mas Rara ketika Manggada bergeser maju dan berdiri disisi Wirantana.

Kedua prajurit yang marah itu tidak berpikir panjang lagi. Dengan serta merta keduanya telah menyerang Wirantana dan Manggada, sehingga sejenak kemudian mereka pun telah bertempur dengan sengitnya.

Keributan itu telah menimbulkan kebingungan beberapa orang prajurit yang bertugas meronda. Mereka berdiri termangu-mangu. Mereka tidak tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan. Mereka mengerti bahwa kedua orang kawannya itu sekedar menjalankan perintah. Tetapi mereka pun tahu, kenapa Wirantana, kakak Mas Rara berkeras untuk mencegah tindakan kedua orang prajurit itu.

Sementara itu, ternyata kemampuan Wirantana dan Manggada untuk bertempur seorang lawan seorang, jauh lebih tinggi dari kedua prajurit itu. Dengan demikian, maka dalam waktu singkat, maka kedua orang prajurit itu sudah terdesak.

Namun dalam pada itu, salah seorang prajurit, yang mengenakan cincin pertanda kekuasaan Raden Panji itu berteriak, “Para prajurit yang bertugas, Atas nama Raden Panji, kalian aku perintahkan untuk menangkap ketiga orang itu serta Mas Rara”

Para prajurit masih juga ragu-ragu. Ada diantara mereka yang memang merasa kasihan kepada Mas Rara. Namun ternyata ketika prajurit yang memakai pertanda kuasa Raden Panji itu menyebut namanya, maka prajurit-prajurit itu pun menjadi cemas tentang nasib mereka sendiri.

Karena itu, maka mereka pun mulai bergerak ke pendapa. Empat orang bersama-sama.

Namun Wirantana dan Manggada pun telah siap menyambut mereka.

Ketika kemudian mereka terlibat dalam perkelahian, maka Laksana tidak dapat tinggal diam. Ia pun telah terjun pula kedalam lingkaran perkelahian. Sementara itu mereka bertigalah yang kemudian berusaha untuk melindungi Mas Rara yang ketakutan.

Tetapi adalah diluar dugaan, bahwa kedua orang yang dikirim oleh Ki Jagabaya untuk melayani kereta berkuda itu pun telah tanggap akan keadaan. Mereka dengan cepat telah mengemasi pedati berkuda mereka.

Wirantana, Manggada dan Laksana yang bertempur melawan beberapa orang sekaligus itu memang mengalami kesulitan, justru karena Rara Wulan menjadi sangat ketakutan. Karena itu maka yang mereka lakukan kemudian adalah bergeser turun ke halaman sambil membawa Mas Rara diantara mereka.

Pada saat itulah, pedati yang ditarik kuda itu telah memasuki halaman pula. Dengan cambuk yang panjang yang diputar dan dihentak-hentakkan sendal pancing, maka beberapa orang justru telah menyibak.

“Cepat, masuk” berkata kedua orang yang melayani pedati itu hampir bersamaan.

Salah seorang diantara kedua orang itulah yang kemudian menolong Mas Rara masuk, sementara Manggada dan Laksana telah menghadangi setiap orang yang berusaha mendekat.

Wirantana masih bertempur dengan sengitnya. Namun kemudian ia pun mulai bergerak, bergeser sejalan dengan gerak pedati menuju ke regol.

Dua orang prajurit masih berada di regol. Mereka pun segera berusaha menghadangi usaha Wirantana melarikan adiknya.

Tetapi Wirantana telah menyerang keduanya sehingga seorang diantara mereka terdesak keluar. Sementara yang lain harus bergeser menjauh ketika cambuk sais pedati yang ditarik kuda itu menghentak-hentakkan cambuknya dengan keras.

Demikian pedati berkuda itu lolos, maka Wirantana yang meloncat naik segera bertindak, “Manggada, Laksana, cepat naik”

Kedua orang anak muda itu pun telah meloncat naik pula. Para prajurit yang berlari-lari memang berusaha untuk mengejar mereka. Semua prajurit yang ada di halaman rumah yang dipergunakan oleh Mas Rara. Beberapa diantara mereka yang semula masih bermimpi, bukan saja karena mereka terbangun dan terkejut, tetapi mereka pun tidak dapat sepenuhnya melakukan perintah kawannya yang membawa cincin kekuasaan Raden Panji, karena mereka menganggap Mas Rara masih terlalu muda untuk mengalami nasib yang buruk.

Tetapi kemudian mereka kemudian tidak dapat ingkar akan tugas mereka. Mereka juga tidak mau mendapatkan hukuman dari Raden Panji karena mereka tidak membantu para prajurit kepercayaannya yang justru memakai cincin kuasanya.

Wirantana, Manggada dan Laksana telah bersiap sepenuhnya. Kedua orang yang melayani pedati itupun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Pedati itu meskipun ditarik oleh kuda, tetapi tidak dapat berlari terlalu cepat. Sementara Wirantana, Manggada dan Laksana tidak sempat mengambil seekor kuda pun meskipun dibelakang terdapat beberapa ekor kuda.

Lebih dari sepuluh orang prajurit telah mengejar mereka. Sementara itu, seorang prajurit yang lain telah berlari minta bantuan prajurit berkuda yang ada di padukuhan itu.

Jalan yang kurang menguntungkan, serta Mas Rara yang beberapa kali memekik kecil oleh guncangan-guncangan roda pedati yang menginjak batu-batu padas, membuat pedati itu semakin lambat. Para prajurit yang berlari itu ternyata semakin lama menjadi semakin dekat. Mereka telah mengacu-acukan senjata mereka sambil berteriak-teriak.

Tetapi yang tidak diduga telah terjadi pula. Beberapa orang berkuda telah muncul dari tikungan. Dengan serta merta orang-orang berkuda itu justru telah menyerang para prajurit yang sedang mengejar pedati itu.

Dengan demikian pertempuran pun telah terjadi, Namun memang tidak terlalu lama. Orang-orang berkuda, yang jumlahnya hanya ampat orang itu ternyata mampu menahan sepuluh orang yang mengejar pedati itu. sehingga jaraknya menjadi semakin jauh. Bahkan kemudian pedati itu telah keluar dari padukuhan menyusuri jalan-jalan bulak.

Dalam kegelapan malam, pedati itu meluncur terguncang-guncang menjauhi padukuhan yang dipergunakan oleh Raden Panji sebagai landasan kekuatannya untuk mengawasi daerah yang luas. Tetapi tidak semua prajurit Raden Panji berada di padukuhan itu. Beberapa kelompok justru tersebar untuk mengawasi keadaan serta untuk menegakkan kekuasaan yang diberikan oleh Pajang kepadanya. Sepuluh orang yang mengejar mereka sudah tidak nampak lagi. Apalagi gelap malam memang telah menghalangi pandangan mata mereka.

Tetapi beberapa saat kemudian, Wirantana, Manggada dan Laksana terkejut. Mereka mendengar derap kaki kuda. Dan bahkan dalam keremangan malam di bulak yang terbuka luas, mereka melihat empat orang penunggang kuda menyusul mereka.

Ketiga orang anak muda itu termangu-mangu. Mereka tidak tahu apa yang dikehendaki oleh ampat orang berkuda itu. Apakah mereka benar-benar ingin menolong atau sebaliknya, mereka menghendaki Mas Rara. Jika mereka berhasil menguasai Mas Rara maka masih ada kemungkinan bagi mereka untuk memeras Raden Panji. Sementara Raden Panji tentu ingin mendapatkan Mas Rara. Tidak sebagai calon isterinya, tetapi sebagai seorang buruan yang harus dihukum berat. Mungkin Raden Panji masih menghendaki Mas Rara sebagai seorang gadis. Tetapi tentu tidak lagi sebagai isterinya kelak setelah Mas Rara berusaha melarikan diri dan apalagi melawan perintahnya.

Bagaiamanapun sais pedati itu melecut kudanya, namun kuda yang menarik pedati itu memang tidak dapat berlari cepat. Sehingga dengan demikian, maka keempat orang berkuda itu semakin lama menjadi semakin dekat.

Seorang diantara mereka yang berkuda itu bergerak maju lebih cepat dari kawan-kawannya sehingga beberapa saat kemudian telah berada hanya beberapa langkah dibelakang pedati itu.

“Berhenti“ teriak orang itu, “berhentilah. Aku ingin berbicara dengan kalian”

Pedati itu tidak juga berhenti. Sementara orang itu sekali lagi berteriak, “Berhenti. Apakah kalian tidak mengenal aku lagi?“

Malam memang gelap. Wirantana, Manggada dan Laksana yang juga berada didalam pedati itu sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

“Pedati itu terlalu berat membawa beban enam orang. Karena itu, maka pedati itu tidak dapat berlari lebih cepat. Berhentilah“ orang itu masih berteriak.

Pedati itu masih saja berlari. Namun roda pedati yang lebih berat dari roda kereta biasa itu, serta enam orang yang ada didalam-nya benar-benar telah membebani tenaga kuda yang menariknya.

Ketika roda pedati itu terperosok kedalam lumpur, maka pedati itu tertahan sejenak. Mas Rara telah menjerit oleh goncangan yang tiba-tiba itu, sehingga gadis itu terkejut bukan buatan.

Kuda-kuda yang menarik pedati itu memang segera dapat mengangkat roda yang terperosok tidak begitu dalam itu. Namun dua orang penunggang kuda telah berhasil menggapai kendali kuda penarik pedati itu dan menghentikannya.

Sais yang mengemudikan pedati itu ragu-ragu. Meskipun cambuknya telah siap terayun, namun kedua orang sais itu masih ragu-ragu untuk menyerang meskipun keretanya sudah berhenti.

Wirantana, Manggada dan Laksana telah berloncatan turun. Mereka telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Dua orang penunggang kuda yang tidak memegangi kendali kuda dan masih berada dibelakang pedati itupun telah meloncat turun pula. Seorang diantara mereka telah melangkah maju. Dengan nada rendah orang itu bertanya, “kau benar-benar tidak mengenal aku lagi?“

Ketiga orang anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun dalam jarak yang semakin dekat ketiganya dapat melihat lebih jelas meskipun malam cukup gelap. Tetapi di tempat terbuka maka cahaya bintang dilangit, membuat malam menjadi remang-remang.

Akhirnya ketiga orang anak muda itu mengangguk-angguk. Wirantana lah yang menyahut, “Ya. Kami mengenal Ki Sanak. Bukankah Ki Sanak orang yang duduk disebelah kami kemarin siang ketika Raden Panji datang menjumpai Mas Rara?“

“Tepat“ jawab orang itu.

“Sekarang, apakah yang Ki Sanak kehendaki?“ bertanya Wirantana.

“Sebaiknya kalian lebih cepat meninggalkan padukuhan ini. Agar pedati itu tidak terlalu berat, pakailah kuda-kuda kami. Tetapi ingat, jika segala sesuatunya sudah selesai, maka kuda itu harus kalian kembalikan kepada kami“ berkata orang itu.

Satu hal yang sama sekali tidak terduga. Namun Wirantana yang sedang menghadapi kesulitan itu tidak sempat berpikir panjang. Apalagi orang itupun berkata, “Cepat. Tinggalkan tempat ini. Sebentar lagi, pasukan berkuda tentu akan menyusul kalian, jika kalian terlambat”

Anak-anak muda itu tidak berpikir panjang lagi. Meskipun segera menerima ampat ekor kuda, Wirantana, Manggada, Laksana dan seorang dari kedua orang sais itu. Mereka berdua akan bergantian mengemudikan pedati yang menjadi semakin ringan itu.

Namun Manggada sempat juga bertanya, “Lalu bagaimana dengan Ki Sanak”

“Jangan pikirkan aku” jawab orang itu.

“Tetapi Ki Sanak telah melawan para prajurit yang mengejar kami“ berkata Manggada.

“Mereka tidak mengenal kami. Malam cukup gelap, sementara kami tidak membiarkan mereka sempat melihat wajah kami dengan jelas. Para prajurit pun tidak akan mengira bahwa kami, yang tinggal disekitar rumah itu, akan melakukan perlawanan seperti ini“ jawab orang itu.

Demikianlah, maka Wirantana dan yang lainpun telah melanjutkan perjalanan mereka yang mendebarkan. Mereka sadar, bahwa prajurit berkuda tentu akan mengejar mereka.

Namun rasa-rasanya perjalanan mereka memang menjadi lebih cepat. Pedati kuda yang menjadi semakin ringan itu dapat melaju meskipun justru terguncang-guncang. Sekali-sekali Mas Rara memekik bukan saja ketakutan, tetapi juga kesakitan.

Ketiga orang anak muda yang berpacu disebelah dan belakang pedati itu, setiap kali mendengar pekik Mas Rara yang berpegangan tiang-tiang pedati itu kuat-kuat.

Manggada yang mendekati Wirantana itupun kemudian berkata, “Kau naik saja menemani Mas Rara. Biarlah kami berkuda dibelakang pedatimu.

“Lalu kuda ini?“ bertanya Wirantana.

“Sangkutkan kendalinya pada tiang pedati itu“ jawab Manggada.

“Terlalu pendek“ desis Wirantana kemudian.

Sais pedati itu ternyata menyahut pula, “Disini ada tambang sabut kelapa”

Sais itu telah memberikan tambang itu kepada Wirantana. Namun Wirantana pun berkata, “Berhentilah sebentar”

Kereta itu memang berhenti. Hanya sebentar. Selama Wirantana mengikat kendali kudanya dengan tali dan mengikatkan ujung tadi yang lain pada tiang kereta berkudanya.

Sejenak kemudian kereta itu sudah berpacu kembali. Ditambah Wirantana, maka berat pedati itu menjadi semakin mantap. Sementara itu, Wirantana pun dapat mengawani Mas Rara yang ketakutan.

Beberapa saat kemudian, kereta berkuda itu melewati simpang empat ditengah-tengah bulak. Beberapa saat kemudian, kereta itu akan memasuki sebuah padukuhan.

Anak-anak muda itu memang menjadi berdebar-debar. Jika para peronda di padukuhan itu menghentikan mereka, maka mereka akan kehilangan waktu.

Namun Manggada lah yang kemudian mendahului kereta itu mendekati regol.

Sebenarnyalah ada beberapa orang yang berdiri di sebelah menyebelah regol. Bahkan dua orang diantara mereka berdiri di tengah-tengah regol sambil mengangkat tangannya.

Tetapi Manggada justru berteriak lebih dahulu, “Minggir. Minggir. Kuda pedatiku menjadi gila”

Teriakan itu begitu tiba-tiba sehingga orang-orang yang ada di regol itu terkejut. Karena pedati itu justru berpacu semakin cepat, maka mereka pun telah berloncatan menepi.

Dengan demikian maka pedati itu pun telah berderap dengan kencangnya lewat gardu peronda di depan pintu gerbang yang terbuka diregol padukuhan.

Para peronda itu termangu-mangu sejenak. Namun mereka pun tidak menghiraukannya lagi. Mereka tidak akan dapat menolong karena kereta itu berpacu terlalu kencang. Sehingga dalam waktu yang pendek, derapnya sudah tidak terdengar lagi.

Manggada yang masih tetap berpacu dipaling depan itu telah melakukan hal yang sama ketika pedati berkuda itu akan keluar dari regol padukuhan di ujung sebelah. Para peronda pun telah meloncat menepi ketika mereka melihat beberapa ekor kuda berpacu seperti dikejar hantu.

Ketika pedati itu sampai ke bulak kembali, rasa-rasanya sesak nafas orang-orang berkuda serta mereka yang ada didalam pedati itu menjadi longgar. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak mengurangi laju kuda-kuda mereka pada kemungkinan yang paling baik.

Namun anak-anak muda yang melarikan Mas Rara itu terkejut. Ketika mereka mendekati simpang empat yang lain di tengah-tengah bulak itu, dalam keremangan malam mereka melihat beberapa orang berkuda tengah memotong jalan mereka dari arah kanan simpang empat itu.

“Tidak ada kesempatan untuk berhenti dan mengambil arah yang lain. Seakan-akan begitu tiba-tiba beberapa orang prajurit berkuda telah berada didepan mereka.

Anak-anak muda yang membawa Mas Rara itu tidak mempunyai pilihan lain. Mereka pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atas mereka.

Beberapa langkah dari para prajurit berkuda yang berhenti di simpang empat itu. Manggada telah memberi isyarat kepada yang lain untuk berhenti. Namun Laksana telah menyusul Manggada dan berhenti disisinya, sementara Wirantana pun telah meloncat pula dari dalam pedati.

“Jaga adikku baik-baik“ pesan Wirantana kepada sais pedati itu.

Beberapa saat anak-anak muda itu saling berhadapan dengan beberapa orang prajurit berkuda. Semuanya ada tujuh orang dengan senjata masing-masing.

Namun pemimpin prajurit itu tiba-tiba saja telah meloncat turun sambil berkata, “Aku mengalami kesulitan malam ini”

Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia dapat mengenali prajurit itu.

Sementara itu pemimpin prajurit itu berkata selanjutnya, “Aku mendapat perintah untuk menangkap kalian, tetapi bagaimana mungkin hal ini dapat aku lakukan?“

“Apakah kalian tidak mengenal kami?“ bertanya prajurit itu.

“Ya. aku kenal. Kau adalah pemimpin prajurit Raden Panji yang mendapat tugas menjemput Mas Rara“ jawab Manggada.

“Ya. Ternyata kalian telah menyelamatkan jiwaku pada saat itu. Karena itu aku tidak berhasil membawa Mas Rara karena tingkah laku pamannya itu, maka aku tentu akan digantung. Tanpa kalian maka Mas Rara tentu sudah hilang. Dan kami akan tergantung di tiang gantungan itu”

Manggada justru menjadi termangu-mangu. Sementara pemimpin prajurit jtu berkata, “Kami adalah prajurit yang membawa Mas Rara itu dari padukuhannya. Kami mendapat perintah dari Raden Panji untuk membawa Mas Rara kembali”

“Dan kalian berusaha untuk membawanya“ bertanya Manggada.

Pemimpin prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menggeleng lemah. Katanya hampir hanya terdengar oleh dirinya sendiri, “Tidak. Aku tidak dapat melakukannya. Aku tahu apa yang akan terjadi dengan Mas Rara jika ia kami bawa kembali. Raden Panji tidak akan memperlakukannya lagi sebagai seorang gadis yang akan dinikahinya sepekan lagi. Ia akan menghukum gadis itu dengan caranya. Cara seorang yang seakan-akan memang sudah tidak wajar lagi. Kelakuannya tidak pantas untuk disebut. Apalagi terhadap gadis-gadis yang diinginkannya”

“Jadi?“ bertanya Manggada.

“Baiklah. Teruskan perjalanan kalian. Aku akan mengatakan bahwa aku tidak dapat menjumpai kalian telah mengambil jalan lain dari jalan yang kami telusuri“ jawab prajurit itu.

“Apakah dengan demikian kalian tidak akan dihukum?“ bertanya Laksana.

“Hukumannya tentu akan lebih ringan. Kami dapat dianggap tidak melakukan tugas kami sebaik-baiknya. Tetapi yang terjadi adalah diluar batas kemampuan kami” jawab pemimpin prajurit itu.

Manggada, Laksana dan Wirantana saling berpandangan

sejenak. Hampir berbareng mereka mengucap, “Terima kasih

atas kebaikan kalian”

“Cepatlah, kamipun akan segera berpacu mengikuti jalan menyilang ini” Namun kemudian pemimpin prajurit itu berdesis perlahan, “mudah-mudahan tidak ada pengkhianatan. Jika Raden Panji mengetahui hal itu, maka kami benar-benar akan digantung di ara-ara”

“Apakah sebenarnya ia berhak melakukannya?“ bertanya Wirantana.

“Raden Panji mendapat wewenang tanpa batas. Maksudnya untuk mengatasi keadaan yang tidak aman di daerah ini karena sebuah gerombolan perampok dan penyamun yang besar dan kuat yang bahkan kemudian menghimpun para penjahat yang lain. Brandal, gegedug dan bahkan pencuri-pencuri kecil, mereka ikut dalam satu gerombolan. Raden Panji memang berhasil. Dengan kekerasan yang tidak tanggung-tanggung Raden Panji berhasil menumpas gerombolan itu. Menangkap beberapa orang diantaranya. Namun sebagian dari mereka sudah dihabisi oleh Raden Panji sendiri sebelum dibawa ke Pajang”

“Bukankah dengan demikian Raden Panji menjadi seorang pahlawan?“ bertanya Laksana.

“Tetapi setelah gerombolan perampok itu dimusnahkannya menjadi debu, maka kekuasaan yang ada ditangannya dipergunakan menurut kehendak hatinya sendiri” jawab prajurit itu. Lalu katanya pula, “Kadang-kadang Raden Panji itu bertindak bijaksana. Namun justru yang sering dilakukan, ia lupa pada sangkan paraning dumadi”

“Apakah tidak ada laporan kepada para Senapati di Pajang?“ bertanya Wirantana.

“Siapa berani memberikan laporan? Jika laporan itu jatuh ketangan sahabat Raden Panji, maka orang yang memberikan laporan itu akan dapat menjadi ndeg pengamun-amun“ jawab prajurit itu. Namun katanya kemudian, “Sudahlah. Lanjutkan perjalananmu. Sebaiknya kalian tidak berhenti sejauh mungkin kuda kalian dapat bertahan. Kalian dapat beristirahat sebentar untuk memberi kesempatan kuda kalian minum dan makan rumput diperjalanan itu. Tetapi kalian harus segera melanjutkan perjalanan kalian sampai ke rumah. Setelah itu terserah kepada kalian. Tetapi pertimbangkan kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas kalian sekeluarga”

“Jadi?“ bertanya Wirantana, “apakah kami harus mengungsi?“

“Aku kira itu adalah kemungkinan yang paling baik” jawab pemimpin prajurit itu. Lalu katanya, “Bawa Mas Rara keluar dari daerah kekuasaan Raden Panji. Tetapi kalian harus tahu, bahwa Raden Panji adalah pendendam. Ia tentu masih akan mencari Mas Rara sepanjang sisa umurnya”

Wirantana mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih atas keterangan Ki Sanak. Bahkan kami segera melanjutkan perjalanan”

Perjalanan ke Nguter memang perjalanan yang agak panjang. Karena itu, maka semua yang ada di iring-iringan itu harus mampu menyesuaikan diri dengan perjalanan mereka yang berat. Jauh lebih berat dari perjalanan ke Pajang pulang balik.

Sejenak kemudian, maka Mas Rara dan para pengawalnya telah melanjutkan perjalanan. Namun mereka masih akan selalu dibayangi oleh kekuasaan dan kewenang-wenangan Raden Panji.

Meskipun demikian di sepanjang perjalanan, anak-anak muda itu masih sempat mengagumi keberanian pemimpin prajurit yang telah memberikan kesempatan kepada Mas Rara untuk melarikan diri.

Dua kali anak-anak muda itu mendapat pertolongan dari orang yang berbeda, sehingga mereka masih dapat melanjutkan perjalanan. Tetapi mereka tidak tahu, apabila sekali lagi ada sekelompok prajurit mampu mengejar mereka lagi, maka apakah mereka masih sempat untuk membebaskan diri.

Malam itu, pedati yang ditarik kuda itu masih berjalan terus diikuti oleh beberapa penunggang kuda yang letih. Tetapi mereka tidak berhenti sejauh dapat mereka capai. Ketika matahari terbit, iring-iringan itu memang sempat berhenti sejenak di sebelah jalan yang tidak begitu besar. Laksana telah dengan tergesa-gesa pergi ke sebuah kedai yang baru saja dibuka, sementara kuda-kuda mereka sempat beristirahat sambil minum air bening yang mengalir disebuah parit.

“Kasihan kuda-kuda itu“ desis Manggada.

Tetapi mereka tidak berhenti terlalu lama. Mereka pun segera melanjutkan perjalanan mereka menuju ke padukuhan Nguter.

Wirantana merasa tidak perlu mencari jalan lain dari jalan yang paling dekat yang dapat ditempuh, karena orang-orang Raden Panji sudah tahu dengan pasti, dimanakah letaknya Nguter.

Yang penting menurut perhitungan Wirantana adalah sampai ke rumah dan langsung mengungsi ke tempat yang berada diluar jangkauan kekuasaan Raden Panji.

“Tetapi kemana?“ pertanyaan itu telah semakin menggelisahkan Wirantana.

“Akan dipikirkan kemudian“ katanya didalam hati.

Demikianlah, maka secepat-cepat dapat dilakukan, pedati itu pun berderap diatas jalan yang tidak terlalu rata. Mas Rara yang telah sama sekali tidak mau makan apapun yang dibeli oleh Laksana. Kegelisahannaya tidak memungkinkan untuk menelan apapun juga.

Tetapi Manggada, Laksana dan Wirantana sendiri sempat makan makanan yang telah dibeli sambil duduk di punggung kuda. Demikian juga kedua orang yang dikirim oleh Ki Jagabaya untuk melayani pedati serta kudanya itu.

Matahari pun menjadi semakin terik. Panasnya terasa makin menggigit kulit. Ketika mereka melampaui jalan yang lewat diantara pegunungan yang kecil berbatu-batu padas, maka mereka menjadi semakin berpengharapan bahwa mereka akan dapat sampai ke rumah dengan selamat. Tetapi perjalanan ke padukuhan Nguter memang jauh.

Dengan demikian maka Wirantana tidak dapat memaksa kuda-kuda dari iring-iringan yang kecil itu untuk berjalan terus. Jika Wirantana memaksanya juga, maka mungkin kuda-kuda itu justru akan kehabisan tenaga diperjalanan. Karena itu, maka perjalanan itu pun menjadi perjalanan yang cukup lama.

Sementara itu, Raden Panji yang mendapat laporan dari penolakan Mas Rara untuk datang ke rumahnya, serta sikap anak-anak muda yang menyertainya dari padukuhan Nguter telah membuatnya sangat marah. Demikian marahnya Raden Panji, sehingga berteriak-teriak memberikan beberapa perintah.

Apalagi ketika ia menyadari bahwa prajurit-prajurit yang ada di rumah pondokan Mas Rara tidak dapat mengatasi anak-anak muda itu. Bahkan hadirnya orang yang tidak dikenal dan ikut campur dalam persoalan itu.

Kemarahan Raden Panji memuncak ketika ia mendapat laporan dari sekelompok pasukan berkuda, bahwa mereka tidak menemukan Mas Rara setelah mereka mengelilingi lingkungan itu, terutama mengikuti jalan kearah padukuhan Nguter.

“Kenapa kau kembali tanpa membawa Mas Rara?“ teriak Raden Panji.

Kakinya tiba-tiba saja telah menghantam pemimpin prajurit yang telah memberikan kesempatan kepada Mas Rara untuk melepaskan diri sehingga prajurit itu jatuh terlentang.

“Ampun Raden Panji” mohon prajurit itu kemudian, “jika Raden Panji berkenan, kami akan menyusulnya ke padukuhan Nguter. Jalan mana pun yang mereka tempuh, maka kami berjanji bahwa kami akan datang lebih dahulu di rumah Mas Rara itu. Kami akan menangkap kedua orang tuanya dan apabila Mas Rara langsung pulang, kamipun akan menangkapnya dan membawanya menghadap Raden Panji”

“Setan kau. Kau akan melarikan diri dari hukuman yang pantas aku berikan kepadamu he?“ bentak Raden Panji.

“Tidak Raden. Hukuman apapun yang akan diberikan kepadaku, akan aku terima dengan kepala tunduk. Namun demi kesetiaanku, maka aku ingin benar-benar membawa Mas Rara menghadap Raden Panji.

 

“Tidak. Kau tidak boleh pergi sendiri. Siapkan kudaku. Aku sendiri akan pergi ke Nguter. Aku sendiri akan menangkap perempuan liar itu dan menghukumnya sepanjang jalan dari Nguter sampai ke rumahku menurut caraku. Ia harus menjalani hukuman yang terberat dari antara semua hukuman yang pernah aku berikan kepada isteri-isteriku sebelumnya, sehingga akhirnya perempuan itu akan aku hukum mati karena ia telah menghina aku yang berkuasa di daerah ini”

Tidak seorang pun yang berani menjawab apalagi membantah. Namun dalam pada itu, Raden Panji itu berdesis dengan nada rendah, “Tetapi ia sangat cantik. Ia harus menjadi isteriku sebelum aku akan menghukumnya dengan hukuman yang terberat”

Pemimpin prajurit itu mengumpat di dalam hati. Tetapi ia masih saja menundukkan kepalanya. Ia tahu, Raden Panji adalah orang yang berilmu sangat tinggi sehingga dengan ilmunya itu ia mampu menduduki jabatannya yang seakan-akan tidak dapat diganggu gugat itu.

Tetapi pemimpin prajurit itu terkejut ketika Raden Panji tiba-tiba saja membentak, “Cepat, sediakan kudaku atau aku bunuh kau”

Pemimpin prajurit itu pun segera bergerak. Ia dengan tergesa-gesa telah pergi ke belakang untuk mencari orang yang terbiasa memelihara kuda yang paling baik milik Raden Panji itu.

Dalam waktu tidak terlalu lama kuda itu memang sudah siap. Tetapi prajurit itu tidak segera membawa kuda itu ke halaman. Ia masih memerintahkan orang yang menyiapkan kuda itu untuk memberi makan lebih dahulu.

“Kuda ini telah makan dengan kenyang“ berkata gamel yang mengurusi kuda-kuda Raden Panji itu.

“Tetapi kuda ini akan menempuh perjalanan jauh“ jawab prajaurit itu.

Gamel itu tidak menjawab lagi. Iapun telah menyiapkan makanan secukupnya bagi kuda yang telah disiapkan bagj Raden Panji itu.

Namun sebelum kuda itu sempat makan, seorang prajurit berlari-lari ke belakang sambil berkata, “Kakang. Raden Panji sudah tidak sabar lagi. Cepat sebelum ia datang sendiri kemari dan membunuhmu disini”

Pemimpin prajurit itu mengangguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan membawa kuda ini ke halaman depan”

Sejenak kemudian itu telah siap. Demikian pula beberapa ekor kuda yang lain.

Dengan lantang Raden Panji berkata, “Kita akan pergi. Lima belas orang akan ikut bersamaku”

Sejenak kemudian, maka enam belas ekor kuda sudah berpacu menuju ke padukuhan Nguter, termasuk pemimpin prajurit yang telah memberi kesempatan Mas Rara pergi, bersama prajurit-prajurit. Sementara itu, beberapa orang yang lain harus tinggal untuk menjaga para tawanan yang disimpan di padukuhan yang menjadi pusat pengendalian dari pasukan Raden Panji itu.

Ternyata Raden Panji dan prajurit-prajuritnya berpacu lebih cepat dari pedati yang ditumpangi Mas Rara. Meskipun jarak pada saat Raden Panji berangkat dengan pedati Mas Rara cukup jauh, tetapi kuda Raden Panji berpacu seperti angin.

Prajurit yang pernah merasa diselamatkan kedudukannya oleh anak-anak muda yang menyertai Mas Rara itu memang menjadi berdebar-debar. Ia telah berusaha menghambat keberangkatan Raden Panji dengan menghambat kesiagaan kudanya. Tetapi ternyata itu tidak berpengaruh banyak.

Kuda Raden Panji yang berpacu didepan memang seperti seekor kuda yang ketakutan karena dikejar hantu. Tanpa menghiraukan bahaya yang dapat terjadi diperjalanan. Raden Panji berpacu dengan cepatnya.

Di jalan yang agak ramai, Raden Panji memang sedikit mengurangi kecepatannya. Tetapi laju kudanya masih tetap jauh lebih cepat dari laju pedati yang ditunggangi oleh Mas Rara.

Hanya karena kesempatan yang telah didapatkannya dengan berlari lebih dahulu sajalah, maka pedati itu tidak segera dapat disusul.

Wirantana rasa-rasanya ingin terbang saja melintasi jarak yang tersisa. Ia pun sudah membayangkan bahwa di belakangnya sekelompok prajurit dibawah pimpinan Raden Panji sendiri tengah memburunya. Seperti dikatakan oleh prajurit yang melepaskannya meneruskan perjalanan itu bahwa Raden Panji adalah seorang pendendam.

Sisa-sisa hari berjalan sangat cepat. Justru perjalanan merekalah yang terasa maju sangat lamban. Ketika matahari terbenam Mas Rara masih belum sampai ke rumahnya

Namun akhirnya, iring-iringan kecil itu telah mendekati padukuhan Nguter. Padukuhan yang nampaknya sudah menjadi sepi. Pintu-pintu sudah ditutup setelah lampu dan oncor mulai dipasang di regol-regol halaman. Nguter agaknya memang sudah lelap.

Ketika pedati yang ditumpangi Mas Rara masuk ke regol padukuhan, maka kegelisahan justru semakin membakar jantung. Rasa-rasanya kudanya sudah tidak mau berlari lagi.

Nampaknya kuda-kuda itu telah menjadi sangat letih.

Dalam pada itu, jarak antara pedati yang membawa Mas Rara dengan iring-iringan orang berkuda yang dipimpin langsung oleh Raden Panji itu menjadi semakin pendek. Meskipun jarak yang ditempuh cukup panjang, tetapi Raden Panji tidak terlalu banyak beristirahat. Kecepatan lari kudanya pun berlipat dengan kecepatan lari kuda pedati Mas Rara.

Wirantana memang menjadi sangat gelisah. Ia harus segera sampai ke rumah. Memaksa ayah dan ibunya berkemas dan dengan cepat pergi mengungsi.

Tetapi pedati itu memang tidak mau berjalan lebih cepat lagi. Sais yang memegang kendali kuda penarik pedati itu pun telah mencoba untuk menyentuh kudanya dengan ujung cemeti. Tetapi kuda itu hanya menghentak dua tiga langkah. Lalu kembali berlari dengan letihnya.

Karena kegelisahan yang menghentak jantung, maka Wirantana itu pun kemudian berkta kepada adiknya, “Kita sudah ada di padukuhan. Biarlah aku mendahului perjalanan kalian agar aku sempat minta kepada ayah dan ibu untuk bersiap-siap. Kita semuanya harus mengungsi ketempat yang tidak diketahui oleh Raden Panji”

“Jangan tinggalkan aku, kakang“ minta Mas Rara.

“Tetapi kita tidak boleh terlambat“ jawab Wirantana.

“Kau tetap bersamaku“ berkata Mas Rara dengan suara yang sangat dalam.

Wirantana tidak sampai hati meninggalkan adiknya yang ketakutan. Namun ia pun berharap agar ayah dan ibunya akan sempat bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang sangat buruk itu.

Karena itu, maka Wirantana menjadi bingung.

Dalam pada itu, Manggada lah yang kemudian berkata, “Apakah kau sependapat, jika aku mendahului perjalanan kalian? Bukankah perjalanan ini sudah tidak jauh lagi?“

Wirantana lah yang ragu-ragu. Jika Raden Panji dan pasukannya datang menyusul, maka ia tidak mempunyai seorang kawan pun untuk melindungi Mas Rara.

Namun akhirnya Wirantana pun setuju. Kedua orang sais dan pembantunya itu tentu akan bersedia berbuat sesuatu.

Karena itu, maka Wirantana pun kemudian berkata, “Baiklah. Pergilah. Biarlah ayah dan ibu menyiapkan kuda agar kita dapat segera berangkat. Kuda pedati itu harus diganti agar kita dapat berjalan lebih cepat. Mudah-mudahan Raden Panji tidak membawa seorang atau lebih orang-orang yang ahli dalam menelusuri jejak”

Manggada dan Laksana pun tidak membuang waktu lagi. Keduanya telah mempercepat derap kuda mereka yang masih lebih segar dari kuda penarik pedati itu. Apalagi kuda-kuda kedua anak muda itu tidak menarik muatan apapun juga.

Demikianlah kedua ekor kuda itupun segera berpacu. Mereka sudah mengenal dengan baik jalan menuju ke rumah Ki Partija Wirasentana. Karena itu, maka kedua anak muda itu dengan cepat telah mendekati regol rumah Ki Partija Wirasentana.

Dengan tergesa-gesa keduanya langsung memasuki regol halaman yang ternyata masih terbuka.

Namun kedua orang anak muda itu terkejut sekali. Demikian mereka memasuki regol, maka beberapa orang yang sudah berada di halaman segera bergeser ke pintu. Tanpa menutup pintu regol, orang-orang itu telah merundukkan ujung tombak pendek mereka.

Manggada dan Laksana segera meloncat turun dari kudanya. Demikian mereka sempat memperhatikan orang-orang yang berdiri dipintu, maka keduanya berdesis, “Prajurit”

“Kita terjebak“ berkata Manggada, “untung Mas Rara tidak bersama kita”

“Tetapi bagaimana kita sempat memberitahukan kepadanya?“ desis Laksana.

Keduanya pun tidak segera mendapatkan jalan yang dapat mereka tempuh untuk menyelamatkan Mas Rara.

Sementara itu, beberapa orang prajurit telah mengepung mereka. Sekilas Manggada dan Laksana sempat menghitung. Delapan orang.

Manggada dan Laksana pun segera berdiri saling membelakangi. Dengan serta merta mereka telah mencabut pedang-pedang mereka dan siap menghadapi segala kemungkinan, meskipun bagi mereka delapan orang itu tentu terlalu banyak.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja dari pringgitan terdengar suara orang bertanya, “Siapakah mereka?“

Salah seorang prajurit menjawab, “Kami tidak tahu. Kedua-duanya langsung menyerbu masuk dan tiba-tiba saja telah mencabut pedang.

Beberapa orang telah melintasi pendapa dan kemudian turun kehalaman. Sementara itu, beberapa buah obor menerangi halaman rumah itu.

Seorang diantara mereka yang turun dari pendapa itu adalah Ki Partija Wirasentana. Berlari-lari ia mendekati Manggada dan Laksana sambil berkata, “Ngger, kaukah itu?“

“Ya“ jawab Manggada, “kami datang tergesa-gesa Ki Partija. Tetapi kami terlambat. Para prajurit ini telah berada disini.”

“Prajurit yang mana? Apakah angger tahu, dari mana datangnya para prajurit ini?“ bertanya Ki Partija.

“Bukankah mereka prajurit Raden Panji?“ bertanya Laksana.

“Raden Panji Prangpranata maksud angger?“ bertanya Ki Partija pula.

“Ya, “ jawab Laksana.

Ki Partija menggeleng. Katanya, “Bukan ngger. Mereka bukan prajurit yang dikirim oleh Raden Panji. Tetapi kenapa angger menjadi tergesa-gesa dan menyangka bahwa para prajurit ini prajurit Raden Panji?“

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggada berkata, “Ada sesuatu yang penting harus aku sampaikan kepada Ki Partija Wirasentana. Tetapi prajurit-prajurit ini datang dari mana dan untuk apa?“

“Marilah, silahkan duduk“ berkata Ki Partija Wirasentana, “tetapi kenapa angger tiba-tiba saja telah menarik pedang? Apa yang sebenarnya terjadi?“

“Ki partija“ berkata Manggada yang menjadi sangat tegang., “Mas Rara berada diperjalanan. Beberapa saat lagi ia akan sampai kehalaman rumah ini. Kami minta Ki Partija dengan cepat bersiap-siap. Kita harus mengungsi”

“Kenapa kita harus mengungsi? Apa yang telah terjadi?“ bertanya Ki Partija tegang.

“Mas Rara melarikan diri dari tangan Raden Panji yang nampaknya ingin melanggar paugeran. Raden Panji menghendaki Mas Rara sebelum hari pernikahan dilangsungkan. Sedangkan Mas Rara berpegang teguh pada batas-batas ketentuan hubungan antara laki-laki dan perempuan menurut paugeran“ jawab Manggada.

“Bagaimana hal itu dapat terjadi?“ bertanya Ki Partija.

“Wirantana tidak sampai hati melihat kesulitan Mas Rara. Kami telah menembus para penjaga dan melarikan diri. Kami tahu, bahwa saat ini Raden Panji dengan pasukannya sedang mengejar kami menuju kemari. Karena itu, Wirantana minta agar Ki partija Wirasentana bersiap untuk mengungsi. Jika tidak, maka kedatangan Raden Panji akan merupakan malapetaka bagi kita semuanya” berkata Manggada kemudian.

Ki Partija memang menjadi bingung. Diluar sadarnya ia memandang orang-orang yang turun bersamanya dari pringgitan.

Seorang diantara mereka, seorang yang bertubuh tinggi tegap berdada bidang dengan lengan dan bahu yang kekar maju selangkah. Ketika ia berbicara, maka Manggada dan Laksana terkejut. Suaranya tidak mencerminkan kegarangan tubuhnya. Tetapi suaranya terdengar lembut, “Aku mendengar ceritamu anak-anak muda. Memang belum begitu jelas. Tetapi yang sedikit itu telah memberikan gambaran, bahwa gadis yang disebut Mas Rara itu lari dari Raden Panji dan menuju kemari”

“Ya, ya Ki Sanak“ sahut Manggada.

Tiba-tiba saja Ki Partija memotong, “Kau tentu belum mengenalnya. Ki Tumenggung Purbarana, sedangkan yang berdiri disebelahnya itu adalah Raden Puspasari. Salah seorang bangsawan keturunan dari Majapahit yang kini berada di istana Pajang”

“Keturunan Majapahit?“ ulang Manggada dan Laksana hampir berbareng. Jantungnya memang menjadi berdebar-debar.

“Tetapi bagaimana dengan Mas Rara?“ bertanya Manggada dengan tegang.

Raden Puspasari yang disebut sebagai keturunan dari Majapahit yang berada di Pajang itu telah menyahut, “Baiklah Ki Sanak. Biarlah Mas Rara kembali ke rumah ini”

“Tetapi jika Raden Panji datang pula dengan prajurit-prajuritnya?“ bertanya Manggada.

“Kami akan berbicara dengan Raden Panji“ jawab Raden Puspasari.

“Apakah Raden mengenal Raden Panji?“ bertanya Laksana tiba-tiba.

Bangsawan itu menggeleng. Katanya, “Secara pribadi belum. Tetapi bukankah kita dapat berbicara dengan baik? Raden Panji adalah seorang Senopati perang. Karena itu, maka penalarannya tentu dapat berjalan dengan baik“

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Partija wirasentana yang juga menjadi cemas bertanya, “Apakah Raden dapat melindungi Mas Rara?“

Raden Puspasari tersenyum. Katanya, “Kita akan berbicara baik-baik. Ki Partija. Bukankah nalar budi yang ada pada kita dapat kita pergunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan? Jika kita bersikap baik dan berbicara dengan baik, aku kira tidak akan ada persoalan yang tidak akan dapat kita selesaikan”

“Tetapi Raden Panji mempunyai sikap yang sangat keras menghadapi orang-orang yang dianggap berani menentang perintahnya“ berkata Laksana dengan nada cemas.

“Ia seorang Senapati yang mendapat tugas untuk menenangkan satu daerah yang bergejolak” sahut Ki Tumenggung Purbarana, “dengan demikian maka memang perlu sikap yang keras dan tegas.

“Tetapi juga kepada orang-orang yang tidak bersalah seperti Mas Rara” desis Laksana.

“Tenanglah anak muda“ berkata Ki Tumenggung sambil tersenyum.

Manggada dan Laksana tidak sempat berbicara panjang. Mereka telah mendengar gemeretak kereta kuda serta derap kaki kuda yang mengikutinya.

“Mereka datang“ berkata Manggada.

Sebenaranyalah sejenak kemudian sebuah pedati yang ditarik kuda telah memasuki halaman rumah Ki Partija. Didalamnya terdapat Wirantana yang terkejut sekali melihat beberapa prajurit telah berada di halaman rumah itu. Terdengar pekik kecil Mas Rara yang ketakutan.

Dengan sigap Wirantana meloncat turun. Ia melihat Manggada dan Laksana memegang pedang ditangannya, sehingga dengan serta merta iapun telah menarik pedangnya pula.

Suasana memang menjadi tegang. Manggada dan Laksana yang semula mulai menundukkan pedangnya, tiba-tiba pedang itu telah terangkat kembali. Terdengar Manggada berdesis, “Apakah kami tidak berada dalam jebakan Raden Panji?“

“Kami bukan sekelompok prajurit dibawah pimpinan Raden Panji“ berkata Ki Tumenggung Purbarana.

Wirantana masih bingung. Namun Ki Partija kemudian telah berlari-lari mendapatkan Mas Rara yang gemetar.

“Ayah“ Mas Rara yang kemudian turun dari pedati itu langsung memeluk ayahnya.

“Marilah. Kita mendapatkan ibumu“ berkata ayahnya.

“Siapakah mereka ayah? Apakah mereka utusan Raden Panji?“ bertanya Mas Rara.

“Bukan. Bukan ngger“ jawab Ki Partija.

“Tetapi siapa?“ desak Wirantana

”Nanti aku ceriterakan. Sekarang marilah, masuklah” ajak Ki Partija.

Tetapi Wirantana berkata, “Ayah. Kita harus menyelamatkan diri dari tangan Raden Panji. Setidak-tidaknya kita harus menyelamatkan Mas Rara. Biarlah aku disini, menghambat Raden Panji yang tentu akan mengejar kami”

“Sudahlah anak muda” berkata Raden Puspasari, “tenanglah. Kita masing-masing membawa ceritera yang panjang yang tidak sempat kita ceriterakan sekarang. Tetapi sebaiknya kita tidak usah gelisah. Biarlah nanti kita bersama-sama berbicara dengan baik-baik jika Raden Panji datang. Betapapun keras hatinya, jika kita bersikap baik dan lunak, maka aku kira hatinya akan menjadi lunak pula”

“Tetapi Raden Panji adalah seorang yang keras hati“ berkata Wirantana.

“Kedua orang anak muda yang datang lebih dahulu itu pun telah mengatakannya” jawab Raden Puspasari, “Tetapi aku masih tetap berkeyakinan, bahwa kita nanti akan dapat berbicara dengan baik”

Wirantana termangu-mangu. Tetapi seperti juga Manggada dan Laksana, masih ada kecurigaan yang memancar disorot mata mereka.

Namun dalam pada itu, Ki Partija telah membimbing Mas Rara naik kependapa, kemudian masuk keruang dalam.

Demikian Mas Rara bertemu dengan ibunya, maka tangannya bagaikan meledak. Bahkan ibunya yang ingin menenangkan hati gadis itu, ternyata telah ikut menangis pula.

“Sudahlah“ berkata Ki Partija, “duduklah dengan tenang., “Mudah-mudahan persoalannya akan segera dapat diselesaikan dengan baik”

Demikian Mas Rara dan ibunya duduk diruang dalam, maka Ki Partija Wirasentana telah kembali ke halaman.

Meskipun Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari nampak tenang, tetapi terasa ketegangan telah mencengkam halaman rumah itu. Beberapa orang prajurit yang bersenjata tombak dan pedang, berdiri tegak tanpa mengetahui persoalan yang sedang berkembang. Namun ketika mereka melihat Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari masih belum menunjukkan kegelisahannya, para prajurit itupun masih berusaha untuk tetap tenang.

Dalam pada itu, maka Raden Panji yang marah berderap bersama para prajuritnya menyusul Mas Rara. Hampir tanpa mengucapkan sepatah katapun di sepanjang perjalanan selain perintah-perintah dan umpatan-umpatan kasar. Raden Panji memacu kudanya secepat-cepatnya. Sementara malam masih mencengkam.

Namun akhirnya Raden Panji dan para pengiringnya itu pun menjadi semakin dekat dengan padukuhan Nguter. Bahkan Raden Panji masih memaksa kudanya berlari lebih cepat lagi.

Beberapa ekor kuda mulai tertinggal beberapa langkah di belakang iring-iringan itu. Semakin lama semakin banyak meskipun jaraknya tidak terlalu jauh. Sementara itu kuda Raden Panji yang tegar itu masih berdiri dengan kecepatan yang sangat tinggi, tanpa menghiraukan kemungkinan buruk yang dapat terjadi jika kuda itu terperosok kakinya ke dalam lubang disepanjang jalan atau terantuk batu yang cukup besar.

Darah Raden Panji justru terasa mendidih ketika ia memasuki pintu gerbang padukuhan Nguter. Rasa-rasanya ia ingin meloncat menerkam dan mencekik Mas Rara yang telah berani menolak kemauannya. Bahkan kemudian telah melarikan diri dari tangannya. Satu hal yang belum pernah terjadi pada isteri-isterinya yang terdahulu. Bahkan tidak seorang pun yang berani menentang kemauannya.

Dalam pada itu, orang-orang yang ada di halaman rumah Ki Partija pun segera mendengar derap kaki kuda yang semakin lama semakin dekat. Ki Tumenggung Purbaranapun segera memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk bergeser dan menempatkan diri ditempat yang tidak menarik perhatian.

Tidak ada tanda-tanda bahwa di halaman itu telah bersiap sekelompok orang untuk melakukan kekerasan. Sementara Wirantana, Manggada dan Laksanapun telah menepi pula, berdiri didepan tangga pendapa. Didepannya Ki Partija Wirasentana berdiri bersama Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari.

Pedati yang ditarik kuda dan membawa Mas Rara melarikan diri itu pun telah digeser ke pinggir halaman, dibawah sebatang pohon nangka. Sedangkan kedua orang yang melayani pedati itu berdiri termangu-mangu menunggu apa yang akan terjadi kemudian.

Sejenak kemudian, maka derap kaki kuda di sepanjang jalan padukuhan itu menjadi semakin dekat. Orang-orang padukuhan yang semula terkejut mendengar derap kaki dua tiga ekor kuda, serta gemeretak pedati, telah terkejut pula mendengar pasukan berkuda lewat jalan padukuhan.

Beberapa orang yang terbangun dari tidurnya yang nyenyak menjadi berdebar-debar. Mereka memang sudah mengira bahwa derap kaki kuda yang rasa-rasanya datang berturut-turut itu ada hubungannya dengan Mas Rara.

“Apa yang telah terjadi?“ desis seorang perempuan yang menjadi cemas mendengar kuda-kuda yang berlari-larian dimalam hari itu.

“Entahlah“ jawab suaminya, “mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu”

Keduanya tidak bercakap-cakap lagi. Mereka sudah tidak mendengar apa-apa diluar. Derap kaki kuda itu sudah menjauh dan keduanya memang yakin, bahwa kuda-kuda itu menuju ke rumah Ki Partija Wirasentana.

Sebenarnyalah Raden Panji telah memacu kudanya langsung memasuki regol halaman yang memang telah dibuka. Para prajuritnya pun telah mengikutinya pula, langsung menebar di halaman yang memang agak luas itu.

Namun ternyata Raden Panji pun terkejut melihat orang-orang yang sudah berada di halaman. Meskipun mereka sama sekali tidak menunjukkan kesiagaan untuk bertempur, namun orang-orang yang berdiri berderet di pinggir halaman, di depan tangga pendapa serta pedati dibawah pohon nangka, membuat jantungnya berdegup semakin keras. Tiba-tiba saja masih diatas punggung kudanya Raden Panji berteriak lantang, “Jadi kalian sudah bersiap-siap untuk melawan aku he? Apakah kalian sudah menjadi gila? Aku mendapat wewenang mengambil tindakan apapun untuk membuat daerah ini tenteram. Siapa yang melawan perintahku sama dengan melawan kekuasaan Pajang, sehingga mereka dapat disebut pemberontak. Dengan dasar itu, aku akan dapat membunuh semua orang yang ada disini, yang sudah bersiap untuk memberontak”

Orang-orang yang berdiri di halaman masih belum ada yang menjawab ketika Raden Panji kemudian berteriak, “Partija, Partija Wirasentana”

Ki Partija Wirasentana terkejut. Seperti seorang yang terbangun dari mimpi. Wajahnya menjadi tegang dan jantungnya berdebar-debar.

Karena Ki Partija Wirasentana masih saja termangu-mangu, maka Raden Panji itu pun telah meloncat turun dari kudanya.

Dengan demikian maka para prajuritnya pun telah berloncatan turun pula. Seorang diantara prajurit-prajurit itu telah mendekati Raden Panji untuk menerima kudanya dan membawanya menepi.

Beberapa langkah Raden Panji bergeser maju. Sekali lagi ia memanggil, “Partija Wirasentana. Kemari. Bukankah kau tidak tuli”

“Ya, ya Raden“ jawab Ki Partija gagap. Selangkah ia maju.

“Mana anakmu itu he?“ bentak Raden Panji.

“Ia ada didalam Raden“ jawab Ki Partija.

“Apakah kau kira kau dapat melawan Pajang?“ suaranya bergetar menghentak-hentak karena kemarahan yang membakar isi dadanya.

Wajah Raden Panji masih tegang. Ia melihat dalam keremangan cahaya obor dan lampu minyak, orang-orang yang berdiri di halaman itu. Mereka tidak menunjukkan sikap bermusuhan. Tetapi mereka pun tidak menjadi ketakutan.

Dengan nada tinggi Raden Panji kemudian bertanya lantang, ”Siapakah mereka? Kau upah orang untuk melindungimu dari kuasaku? Tentu kau bayar mereka dengan Mas Kawin yang kau terima untuk Mas Rara yang ternyata berkhianat itu”

“Sama sekali tidak Raden” berkata Ki Partija Wirasentana dengan jantung yang berdebaran.

“Jadi siapakah mereka yang berada di halaman ini?” bertanya Raden Panji.

“Mereka adalah prajurit dari Pajang“ jawab Ki Partija Wirasentana.

“Kau jangan mengigau seperti orang gila. Aku memang melihat mereka berpakaian seperti prajurit Pajang. Tetapi disini, akulah penguasa tunggal dari Pajang. Tidak ada pasukan yang lain yang mendapat wewenang berkeliaran di daerah ini tanpa ijinku“ Raden Panji hampir berteriak.

“Tetapi mereka benar- benar prajurit Pajang, Raden” jawab Ki Partija Wirasentana.

“Siapa pemimpinnya, aku ingin bicara” geram Raden Panji.

Yang melangkah maju adalah Ki Tumenggung Purbarana. Seorang Tumenggung yang memiliki bentuk tubuh yang meyakinkan. Namun sikapnya bukan sikap seorang prajurit yang kasar.

”Siapa kau?“ bertanya Raden Panji.

“Aku Tumenggung Purbarana” jawab Ki Tumenggung. Raden Panji mengerutkan keningnya. Ia memang melihat tanda-tanda seorang perwira prajurit Pajang.

Raden Panji yang marah itu memang mencoba untuk mengekang diri. Dihadapan seorang Tumenggung Raden Panji harus berpikir ulang untuk membentak-bentak.

Sebelum Raden Panji menjawab, Tumenggung Purbarana berkata selanjutnya, “Yang berdiri disebelah ini adalah Raden Puspasari. Cucu dari Pangeran Kuda Kertanata, putera Prabu Brawijaya Pamungkas. Yang sekarang berada di Pajang, karena ibunda Raden Puspasari yang berada di Demak telah memerintahkannya untuk menyertai pusaka-pusaka yang disemayamkan dari Majapahit dan berada di Demak untuk selanjutnya dibawa ke Pajang.

Wajah Raden Panji nampak menjadi semakin tegang. Namun kemudian tiba-tiba ia berkata, “Aku hormati kedudukan Ki Tumenggung serta Raden Puspasari. Tetapi aku mohon maaf. Daerah ini adalah kuasaku. Aku mendapat wewenang dengan pertanda cincin kekuasaan pemerintah Pajang di daerah ini”

“Ya, ya. Kami tahu Raden Panji“ jawab Ki Tumenggung Purbarana. Lalu katanya, “Raden Panji justru telah dianggap berhasil membuat daerah yang bergolak ini menjadi tenang kembali“

“Tetapi kenapa Ki Tumenggung berada di daerah kuasaku tidak memberitahukan kepadaku lebih dahulu, apalagi mendapat ijinku“ bertanya Raden Panji.

“Persoalan kami sekedar persoalan keluarga. Kami tidak mencampuri keberhasilan Raden Panji di daerah ini. Kami pun sama sekali tidak mengulangi kuasa Raden Panji untuk menentukan kebijaksanaan di daerah ini” jawab Ki Tumenggung Purbarana.

“Jika demikian, kami yang mendapat tugas di daerah ini mohon agar Ki Tumenggung serta Raden Puspasari meninggalkan daerah ini” berkata Raden Panji.

“Tentu. Kami akan segera meninggalkan daerah ini” jawab Ki Tumenggung Purbarana, “bahkan barangkali akan lebih cepat dari yang Raden duga”

“Tetapi apa hubungan Ki Tumenggung dengan Partija Wirasentana sehingga Ki Tumenggung berada di rumah ini?” bertanya Raden Panji kemudian.

“Kami mendapat perintah untuk melihat kembali, apakah benar bahwa di rumah Ki Partija ini telah dititipkan sebilah pusaka dari Majapahit, milik Pangeran Kuda Kertanata yang dibawa oleh puteranya Raden Kuda Respada yang mengembara sejak kanak-kanak. Yang kemudian hidup dan tinggal di padesan dengan nama Ki Respada. Namun ketika isterinya meninggal saat melahirkan, maka Ki Respada telah meneruskan perjalanan menuju ke Demak. Tetapi pusaka yang dibawanya dari Majapahit itu telah ditinggalkan di sebuah padukuhan.

Nama padukuhan itu Nguter. Sedangkan orang yang mendapat titipan itu namanya Partija dan kemudian menjadi Partija Wirasentana“ jawab Tumenggung Purbarana. Lalu katanya pula, ”Raden Puspasari ini adalah orang yang berhak untuk mengambil pusaka itu sesuai dengan pesan ibundanya, karena Raden Kuda Respada itu pun segera meninggal setelah berada di Demak tanpa sempat melihat kembali keris pusakanya yang ditinggalkan”

Raden Panji menjadi semakin tegang. Katanya, “Partija Wirasentana tidak pernah mengatakannya”

“Mungkin Ki Partija menganggap bahwa hal itu tidak perlu dikatakan kepada siapapun” berkata Ki Tumenggung Purbarana.

“Jika demikian, lakukanlah. Ambillah keris itu jika memang ada. Kemudian Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari aku persilahkan untuk meninggalkan tempat ini. Aku masih akan menyelesaikan tugasku disini”

“Apakah disini ada pemberontak atau semacamnya sebagaimana disebut-sebut oleh Raden Panji tadi?” bertanya Ki Tumenggung.

“Ya. Setidak-tidaknya ketiga orang anak muda yang telah melarikan isteriku itu“ jawab Raden Panji. Namun kemudian, “Tetapi ini bukan tugas Ki Tumenggung. Tugas itu adalah tugasku disini. Bukankah tugas Ki Tumenggung mengambil keris dan membawanya kepada ibunda Raden Puspasari?“

“Ya Raden“ jawab Ki Tumenggung. Namun kemudian katanya, “Tetapi selain keris, Raden Puspasari masih mempunyai tugas yang lain”

“Apa?“ bertanya Raden Panji.

Ki Tumenggung Purbarana berpaling kepada Raden Puspasari. Katanya, “Sebaiknya Raden sajalah yang memberikan penjelasan”

Raden Puspasari melangkah selangkah maju. Katanya, “Kami memang sedang mengemban tugas untuk mengambil pusaka yang pernah ditinggalkan oleh paman Kuda Respada disini. Tetapi tugas itu masih disertai dengan tugas yang lain. Tugas inilah yang semula membuat kami agak bingung. Pada saat kami datang ke tempat ini, maka yang ada di rumah ini tinggal keris pusaka itu. Sedangkan yang lain sudah tidak ada di rumah ini”

“Yang lain apa maksud Raden?“ bertanya Raden Panji.

“Raden Panji“ berkata Raden Puspasari, “yang terjadi disini memang membingungkan. Aku tidak tahu, yang manakah yang
sebaiknya dilakukan. Karena itu, maka bukankah sebaiknya kita duduk dan berbicara sebaik-baiknya? Mungkin kita akan dapat memecahkan persoalannya dengan baik”

“Tidak ada yang harus dibicarakan Raden. Raden Puspasari melakukan tugas yang dibebankan di pundak Raden. Aku menjalankan tugas yang memang sudah aku emban sejak lama. Tugas kita memang sangat berbeda“ jawab Raden Panji.

“Tetapi ada yang berkait Raden” berkata Raden Puspasari.

“Bagaimana mungkin tugas kita dapat berkait. Tugas itu tidak ada hubungannya sama sekali, “ jawab Raden Panji dengan nada tinggi.

Raden Puspasari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia masih bertanya, “Jadi, dapatkah kita duduk sejenak untuk berbicara?“

“Apa yang sebenarnya akan Raden katakan? Katakanlah. Aku tidak mempunyai banyak waktu“ berkata Raden Panji.

Namun Raden Puspasari berkata, “Raden. Bukankah hari telah jauh malam. Bahkan sebentar lagi kita akan memasuki dini hari. Apakah kita tidak dapat menunda persoalan kita sampai esok pagi?“

“Aku seorang prajurit Raden“ jawab Raden Panji, “aku harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Aku datang ke rumah ini karena aku mempunyai persoalan. Karena itu, maka aku harus menyelesaikannya segera. Sementara itu aku mohon Raden pun cepat menyelesaikan tugas Raden”

“Aku tidak tergesa-gesa seperti Raden Panji” jawab Raden Puspasari.

“Aku berkeberatan“ jawab Raden Panji.

“Baiklah jika demikian. Aku memang harus mengatakannya karena persoalannya sudah terlanjur terkait. Seandainya, sekali lagi, seandainya Mas Rara tidak Raden bawa, maka persoalannya memang sama sekali tidak bersinggungan dengan tugas Raden“ jawab Raden Puspasari.

“Apa hubungannya dengan Mas Rara?“ bertanya Raden Panji.

“Yang ditinggalkan oleh paman Raden Kuda Respada sebenarnya bukan hanya sekedar sebilah keris pusaka. Tetapi keris itu akan menjadi pertanda kelak, bahwa di rumah ini tinggal seorang anak yang pernah dilahirkan oleh isteri paman Raden Kuda Respada. Namun bibi telah meninggal setelah melahirkan. Sementara paman yang kemudian pergi ke Demak dengan meninggalkan bayi dan pusakanya tidak sempat mengurusinya lagi karena paman juga segera meninggal“ jawab Raden Puspasari. Lalu katanya, “Bayi itu adalah bayi perempuan yang kemudian dibesarkan oleh Ki Partija Wirasentana. Dinamainya bayi perempuan itu Wiranti, namun yang kemudian dipanggil dengan Mas Rara ketika bayi yang telah menjadi gadis dewasa itu akan diambil menjadi isteri Raden Panji. Sebenarnya rencana perkawinan itu sendiri sama sekali tidak berpengaruh. Jika Raden Panji memang mencintainya dan Mas Rara pun mencintai Raden Panji. Bahkan kami telah memutuskan untuk menyusul Mas Rara esok pagi ke rumah Raden Panji. Namun tiba-tiba Mas Rara justru telah kembali ke rumah ini“ Raden Puspasari berhenti sejenak, lalu katanya pula, “Karena itu, silahkan duduk Raden. Ternyata masih ada beberapa masalah yang harus kita bicarakan”

Wajah Raden Panji menjadi tegang. Dipandanginya orang yang menyebut dirinya Raden Puspasari itu. Kemudian Ki Tumenggung Purbarana, seorang yang memang mengenakan pakaian seorang prajurit. Tubuh dan ujudnya memang meyakinkan, bahwa ia adalah seorang prajurit yang berpangkat Tumenggung.

Untuk beberapa saat Raden Panji menjadi bingung. Tetapi tiba-tiba saja ia berkata lantang, “Siapapun kalian, akulah penguasa yang sah di daerah ini atas nama Sultan Pajang. Karena itu, kuasaku adalah sama dengan kuasa Sultan itu sendiri”

“Bukanlah kami sudah menyatakan bahwa kami mengakui kuasa Raden Panji? Sejak dari Pajang kami sudah membekali diri dengan pengakuan, bahwa di daerah ini ada seorang Panji yang mendapat tugas untuk memulihkan keamanan dari gangguan para perampok yang ganas. Raden Panji ternyata telah berhasil menghancurkan perampok itu, sehingga daerah ini telah menjadi aman kembali, “ jawab Raden Puspasari.

“Jika demikian, silahkan kalian meninggalkan tempat ini. Aku berhak menentukan, apakah kalian dapat berbuat sesuatu di sini atau tidak“ jawab Raden Panji dengan wajah yang menjadi tegang.

“Raden Panji“ berkata Raden Puspasari, “aku telah mendapat perintah untuk mengambil pusaka yang ditinggalkan pamanda Raden Kuda Respada. Itu tentu tidak akan ada persoalan. Namun ibunda juga memerintahkan agar aku membawa bayi yang pernah ditinggalkan oleh pamanda Raden Kuda Respada itu, yang sekarang telah mekar menjadi seorang gadis dewasa. Nah, dalam hal inilah persoalan kita berkait, karena gadis itu Raden tetapkan untuk menjadi isteri Raden yang ke enam”

Ketegangan mencengkam, bukan saja wajah Raden Panji, tetapi jantungnya terasa telah berdegup semakin keras. Dengan suara lantang, Raden Panji berkata, “Gadis itu telah melakukan kesalahan yang sangat besar di daerah kuasaku. Ia telah berkhianat. Karena itu ia harus dihukum. Kuasaku di daerah ini belum pernah dicabut”

“Baiklah“ berkata Raden Puspasari, “Mas Rara tidak akan melarikan diri. Aku akan membawanya ke Pajang beserta keris pusaka pamanda Kuda Respada. Namun persoalannya dengan Raden Panji masih belum selesai. Silahkan Raden Panji mengusutnya ke Pajang agar Mas Rara diserahkan kepada Raden Panji untuk menjalani hukuman”

“Jangan menganggap aku kanak-kanak“ jawab Raden Panji, “aku akan menangkap Mas Rara”

“Sudahlah Raden Panji“ potong Ki Tumenggung Purbarana, “sebaiknya kita tidak bersitegang dengan sikap kita masing-masing. Bukankah masih ada orang-orang yang lebih berwenang memutuskan persoalan yang sedang kita hadapi. Kami akan menyerahkan Mas Rara itu kepada ibunda Raden Puspasari. Sementara itu, Raden Panji yang merasa dikhianati atau apa, dapat menuntutnya, sehingga persoalannya akan diselesaikan di Pajang.

“Ki Tumenggung tidak dapat memperkecil kuasaku di sini. Meskipun pangkat Ki Tumenggung lebih tinggi dari pangkatku, tetapi aku mengemban tugas yang mewakili kuasa Sultan di Pajang. Karena itu, silahkan kalian meninggalkan tempat ini tanpa mencampuri persoalan-persoalan yang terjadi di tempat ini, di daerah kuasaku“ suara Raden Panji menjadi semakin keras.

“Baiklah Raden“ jawab Ki Tumenggung Purbarana, “sudah beberapa kali kami katakan. Besok, jika matahari telah terbit, kami akan pergi bersama Mas Rara dan pusaka yang dibawa oleh pamanda Kuda Respada itu. Bukankah cukup jelas”

“Mas Rara tidak dapat dibawa. Ia melakukan kejahatan di sini, di daerah kuasaku. Ia harus diadili di sini. Apalagi ia bakal isteriku yang telah berkhianat“ jawab Raden Panji.

“Raden Panji tidak boleh berbuat demikian, meskipun Raden Panji memiliki pertanda kuasa Sultan Pajang“ jawab Raden Puspasari, “karena Sultan Pajang sendiri tidak akan berbuat sebagaimana dilakukan oleh Raden Panji”

“Jangan mengada-ada“ kesabaran Raden Panji yang kasar itu sudah habis, “sekali lagi aku mempersilahkan kalian pergi sekarang. Tidak besok pagi. Tinggalkan Mas Rara di sini. Ini perintah atas dasar kuasa yang aku terima dari Kangjeng Sultan”

Tetapi Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari masih tetap bersikap tenang. Dengan sareh Ki Tumenggung berkata, “Raden Panji. Jangan perlakukan kami seperti perampok dan penyamun di daerah ini, yang telah berhasil Raden tenangkan. Kami juga prajurit Pajang, sebagaimana Raden Panji. Jika Raden Panji mendapat kuasa untuk menumpas perampok dan penyamun di daerah ini, tentu bukan berarti bahwa Raden Panji juga mendapat kuasa untuk memperlakukan kami seperti itu. Karena itu, sekali lagi aku mengulangi permintaan Raden Puspasari. Silahkan duduk. Kita berbicara. Dengan demikian, kita akan mendapatkan penyelesaian yang terbaik, yang dapat kita pilih”

“Kuasa yang aku terima tidak terkecuali“ jawab Raden Panji, “kedatangan kalian akan dapat menimbulkan persoalan di sini, yang dapat mengguncangkan ketenangan yang dengan susah payah telah aku pulihkan. Karena itu, masih atas dasar kuasa yang aku terima dari Sultan, pergilah”

“Baiklah“ berkata Raden Puspasari kemudian, “kami akan pergi. Tetapi keris pusaka dari Majapahit serta Wiranti akan aku bawa”

“Bawalah pusaka itu. Tetapi Mas Rara tidak. Ia melakukan kejahatan disini. la harus diadili disini, sebagaimana aku mengadili para perampok dan penyamun“ geram Raden Panji.

“Mas Rara bukan perampok dan bukan penyamun“ jawab Raden Puspasari.

“Ia berkhianat terhadapku. Justru terhadap seorang Senapati yang bertugas atas dasar kuasa tertinggi“ jawab Raden Panji semakin keras.

“Raden“ berkata Raden Puspasari kemudian, “baiklah. Marilah kita lihat sebentar saja. Apakah sebenarnya kesalahan Mas Rara sehingga Raden menganggapnya berkhianat, atau memberontak, atau mengganggu ketenangan daerah kuasa Raden Panji”

Wajah Raden Panji menjadi tegang. Sementara Raden Puspasari berkata selanjutnya, “Dalam hal ini, meskipun aku baru mendengar sedikit dari anak-anak muda yang mendahului perjalanan Mas Rara serta kakaknya, aku tahu, bahwa yang terjadi sama sekali tidak dapat disebut sebagai satu pemberontakan atau pengkhianatan atau semacamnya”

“Kalian tidak tahu pasti persoalannya” geram Raden Panji.

“Raden“ Ki Tumenggung Purbarana pun ternyata tidak lagi dapat menahan-perasaannya yang bergejolak, “Raden mendapat tugas di sini untuk menghancurkan para perampok dan penyamun. Itu bukan berarti memberi wewenang kepada Raden Panji justru untuk merampok”

“Merampok?“ wajah Raden Panji menjadi merah membara.

“Berapa tahun Raden Panji berada di tempat ini? Dua atau selama-lamanya tiga tahun. Berapa kali selama itu Raden Panji telah kawin? Dan apa yang sebenarnya Raden Panji lakukan di daerah ini terhadap perempuan-perempuan itu juga atas Mas Rara?“ suara Ki Tumenggung Purbarana mulai bergetar, “saat terakhir Raden akan melakukan pelanggaran karena Raden Panji menghendaki Mas Rara sebelum hari perkawinan dilangsungkan.

“Cukup“ bentak Raden Panji, “aku tidak mau mendengar fitnah buruk itu. Kalian tentu iri melihat keberhasilanku di sini. Namun dengan fitnah itu, aku pun menjadi curiga, apakah benar kalian prajurit Pajang yang mengemban tugas sebagaimana yang kalian katakan”

“Kami juga memiliki pertanda sebagaimana perintah kuasa yang kau bawa Raden“ jawab Ki Tumenggung Purbarana.

“Omong kosong. Pertanda itu dapat dibuat sendiri atau dipalsukan“ geram Raden Panji.

“Apakah Raden Panji juga melakukannya?“ bertanya Raden Puspasari.

“Aku sudah berada di sini lebih dari dua tahun. Jika pertanda yang aku bawa itu palsu, maka Pajang mempunyai kesempatan luas untuk mengambil tindakan” jawab Raden Panji lantang.

“Pertanda yang kau bawa memang tidak palsu Raden, tetapi pengetrapan kuasa di daerah ini itulah yang akhirnya menjadi palsu“ sahut Raden Puspasari.

“Kau menghina seorang Senapati yang berkuasa di sini“ teriak Raden Panji yang marah.

Namun tiba-tiba saja terdengar seseorang berkata, “Raden Puspasari benar. Bukan pertanda kuasa itu yang dipalsukan. Tetapi apa yang dilakukan Raden Panji lah yang palsu”

Semua orang berpaling kearah suara itu. Seorang yang berjalan memasuki halaman itulah yang mengatakannya, sementara seorang yang lain menuntun kudanya mendekat.

“Aku sengaja tidak ingin mengejutkan kalian. Karena itu, aku turun dari kudaku pada jarak yang masih agak jauh. Aku terpaksa berlari-lari kecil kemari agar aku tidak terlambat mendengar pembicaraan ini meskipun aku tidak mengira bahwa di sini ada pihak lain yang telah datang lebih dahulu dari aku”

Manggada, Laksana dan Wirantana terkejut ketika melihat wajah orang itu setelah tersentuh cahaya obor di halaman. Orang itu adalah orang yang pernah duduk di sebelah mereka di pendapa rumah persinggahan Mas Rara. Mereka pulalah yang telah memberikan beberapa ekor kuda. Namun agaknya mereka telah menyusul pula perjalanan para prajurit berkuda yang dipimpin oleh Raden Panji sendiri.

“Aku datang berempat. Dua orang kawanku masih berada di luar regol untuk mengatasi kesulitan jika hal itu terjadi“ berkata orang itu selanjutnya, “namun agaknya dengan kehadiran beberapa orang prajurit Pajang dari kesatuan yang lain, keadaan akan berubah”

“Siapa kau?“ bertanya Raden Panji.

“Aku adalah tetangga Raden Panji“ jawab orang itu, “tetapi mudah-mudahan Ki Tumenggung Purbarana masih mengenal aku”

Ki Tumenggung Purbarana termangu-mangu sejenak. Dipandanginya orang yang mengenakan pakaian sebagaimana orang kebanyakan dalam keremangan cahaya obor.

Orang itu tersenyum sambil berkata, “Aku juga prajurit Pajang. Aku Panji Wiratama”

“O“ Ki Tumenggung Purbarana mengangguk-angguk, “Maaf adhi, aku memang agak lupa. Sudah agak lama kita tidak bertemu”

“Sejak aku mendapat tugas dalam lingkungan prajurit sandi“ jawab Panji Wiratama. Lalu katanya, “Nah, dalam rangka tugas sandiku, aku diperintahkan mengawasi tugas Raden Panji Prangpranata. Beberapa laporan telah sampai ke Pajang tentang tingkah lakunya. Sebenarnya aku tidak perlu terlibat langsung dalam tindakan kewadagan. Tetapi aku tidak sampai hati melihat nasib gadis yang bernama Mas Rara itu. Ia mempunyai kelainan dengan isteri Raden Panji sebelumnya. Agaknya gadis itu tidak pantas mengalami nasib yang buruk karena tingkah laku Raden Panji”

“Cukup“ teriak Raden Panji Prangpranata, “aku tahu. Kalian semua ternyata telah sepakat untuk menjatuhkan namaku. Agaknya kalian merasa iri hati akan keberhasilanku serta kepercayaan yang aku terima dari Kangjeng Sultan di Pajang. Nah, sekarang sekali lagi aku perintahkan kalian untuk pergi atau kalian akan aku hancurkan disini atas nama Kangjeng Sultan Pajang”

“Raden Panji“ berkata Panji Wiratama, “sudahlah. Aku mohon Raden Panji bersedia meninjau kembali segala tingkah laku Raden Panji. Sementara itu Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari juga membawa pertanda kuasa Sultan Pajang. Aku pun memiliki pertanda tugas sandiku. Karena itu bukankah tidak baik terjadi benturan kekerasan antara kekuatan Pajang sendiri, sementara Pajang baru berusaha untuk menyusun diri menjadi negara yang besar”

“Aku tidak memperdulikan sesorahmu” bentak Raden Panji Prangpranata.

“Aku sudah cukup lama tinggal menjadi tetangga Raden Panji. Aku adalah saksi yang akan dapat mengatakan segala tingkah laku Raden Panji yang tidak terpuji bersama orang-orang yang bertugas bersamaku. Tetapi jika Raden Panji bersedia mengerti, maka sudah tentu aku tidak akan sampai hati menjerumuskan Raden Panji ke dalam kubangan yang dalam dan kotor. Apalagi aku tahu bahwa Raden Panji adalah orang yang pernah berjasa disini meskipun dengan cara yang agak kasar menghadapi para penjahat“ berkata Panji Wiratama kemudian.

Tetapi agaknya Raden Panji Prangpranata tidak mau mendengarkan kata-kata Panji Wiratama maupun Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari yang berusaha untuk mencari penyelesaian dengan cara yang lebih baik dari kekerasan.

Bahkan kemudian Raden Panji itu berkata kepada para prajuritnya, “He anak-anak. Bersiaplah. Kalian harus bermain-main lagi. Tidak dengan para prajurit yang sering merampok dan menyamun. Tetapi dengan prajurit-prajurit Pajang sendiri yang ternyata tidak tahu paugeran dan dengan sengaja melanggar hak dan wewenangku. Tunjukkan kepada mereka bahwa kalian adalah prajurit-prajurit Pajang terpilih yang sudah berbilang tahun mengarungi medan demi medan menghancurkan kelompok-kelompok penjahat di daerah ini. Ingat siapa aku. Aku adalah orang yang paling banyak memberikan hadiah kepada prajurit-prajuritku. Tetapi aku juga orang yang tidak segan-segan menghukum prajurit-prajurit yang tidak berbuat sebaik-baiknya dalam pertempuran, apalagi dihadapanku”

Para prajurit Raden Panji memang menjadi berdebar-debar. Mereka sadar, bahwa Raden Panji berkata sesungguhnya. Jika mereka tidak baik menurut penilaian Raden Panji, maka mereka tentu benar-benar akan dihukum. Hukuman yang pernah diberikan oleh Raden Panji kepada prajurit-prajuritnya memang tidak tanggung-tanggung.

Karena itu, apapun yang terjadi, maka para prajurit Raden Panji itu pun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Tiga dari tujuh prajurit yang melepaskan Mas Rara ketika mereka mengejar sesaat setelah Mas Rara meninggalkan pedukuhan Raden Panji, ada diantara para prajurit yang mengiringi Raden Panji itu. Agaknya yang lain mendapat perintah untuk menjaga para tawanan yang belum sempat mendapat perlakuan khusus dari Raden Panji karena kesibukannya mengurus Mas Rara.

Ki Tumenggung Purbarana memang menjadi sedikit cemas menghadapi perkembangan keadaan Raden Panji memang sulit diajak berbicara seperti telah dikatakan oleh anak-anak muda yang menyelamatkan Mas Rara dari tangan Raden Panji.

Karena itu, maka Ki Tumenggung Purbarana pun telah memberikan isyarat pula kepada prajurit-prajuritnya. Bahkan Panji Wiratama pun berkata kepada kawannya, “Panggil kedua kawanmu”

Orang itu pun mengangguk. Kemudian iapun telah bergeser menuju ke regol halaman.

Berapa saat kemudian, maka dua orang menuntun kudanya memasuki halaman itu, langsung mengikat kuda mereka di tepi didekat kedua ekor kuda yang lain.

Halaman rumah Ki Partija Wirasentana itu telah dicengkam ketegangan. Setiap orang telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sementara tangan para prajurit itupun telah berada di hulu senjata mereka masing-masing. Mereka ternyata akan berhadapan dengan semua prajurit Pajang sendiri, sehingga dengan demikian maka pertempuran pun akan menjadi pertempuran yang paling mendebarkan diri berbagai macam pertempuran yang pernah mereka alami melawan para penjahat dan perampok.

Dalam pada itu dengan suara yang bergetar Raden Panji berkata lantang, “Anak-anak, tugas kalian adalah mengambil perempuan liar yang telah berkhianat itu. Siapa yang mencoba menghalangi, singkirkan dengan cara sebagaimana kalian lakukan terhadap para penjahat, karena sebenarnyalah setiap orang yang menghalangi tugasku disini, aku perlakukan sebagai para, penjahat”

Wajah Ki Tumenggung Purbarana menjadi tegang. Dengan lantang iapun berkata, “Aku masih memperingatkan kau sekali lagi Panji Prangpranata” Suara Ki Tumenggung memang berubah. Ia tidak lagi tersenyum dan berbicara dengan suara yang lembut.

Tetapi jawab Raden Panji, “Kesempatan terakhir bagimu Tumenggung Purbarana. Tinggalkan tempat ini”

Namun suara Panji Wiratama tidak lebih garangnya, “Aku berhak menangkapmu berdasarkan tugas dan wewenangku”

“Setan kau“ teriak Raden Panji, “singkirkan orang itu. Dengar perintahku. Ambil perempuan pengkhianat itu. Siapa menghalangi, patahkan lehernya”

Pertempuran memang tidak dapat dicegah. Beberapa orang prajurit mulai bergerak. Sementara Raden Panji masih berteriak, ”Masuk ke dalam rumah itu. cari sampai ketemu. Ia menjadi penyebab peristiwa ini. Jika ada seorang saja diantara prajuritku yang kulitnya tergores senjata, maka hukuman bagi perempuan itu akan berlipat ganda. Ia akan mengalami hukuman picis. Hukuman picis yang pertama yang aku berikan kepada seorang perempuan.”

Pertempuran memang tidak dapat dicegah. Beberapa orang prajurit Pajang di bawah perintah Raden Panji Prangpranata telah berusaha naik ke pendapa, menuju ke pintu pringgitan. Tetapi para prajurit yang datang bersama-sama Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari telah mencegah mereka.

Sementara itu, Ki Partija Wirasentana sendiri menjadi bingung. Wirantana yang gelisah menjadi termangu-mangu. Manggada ternyata masih sempat berpikir dan berkata kepada Wirantana, “Bawa ayahmu masuk. Lindungi adikmu yang ada di dalam. Jika ada orang yang sempat menyusup”

“Baik. Aku dan ayah akan melindungi Mas Rara“ berkata Wirantana.

Ia pun segera berlari mendekati ayahnya sambil berkata, “Marilah. Lindungi Mas Rara”

Ki Partija seperti orang yang terbangun dari mimpi yang sangat buruk. Sementara itu Wirantana telah menariknya naik ke pendapa dan masuk ke ruang dalam.

Di ruang dalam Mas Rara dan ibunya duduk gemetar saling berpelukan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di luar. Mereka hanya mendengar orang-orang saling membentak. Tetapi Mas Rara tidak tatu pasti, apakah yang mereka katakan selain teriakan Raden Panji untuk menghukumnya. Ia tidak mendengar jelas penjelasan Raden Puspasari tentang dirinya.

Keduanya terkejut sekali ketika pintu tiba-tiba terbuka. Tetapi jantung mereka bagaikan disiram setitik embun ketika mereka melihat Wirantana dan Ki Partija Wirasentana yang masuk ke ruang dalam.

“Aku akan menemani kalian“ berkata Ki Partija.

Wirantana pun kemudian berdiri selangkah di sebelah adiknya. Sekilas ia sempat memandang wajah yang basah itu. Baru ia menyadari, bahwa wajah gadis itu memang lain dari wajahnya sendiri. Lain dari wajah ibunya dan lain dan wajah ayahnya.

“Ternyata ia seorang gadis asing“ desisnya.

Ki Partija Wirasentana pun kemudian telah memungut senjatanya dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu, di luar telah terjadi pertempuran yang sengit. Kedua belah pihak memiliki ketangkasan yang seimbang. Prajurit Raden Panji adalah prajurit yang untuk beberapa lamanya menjelajahi arena pertempuran melawan para penjahat, sementara para prajurit yang datang bersama Ki Tumenggung Purbarana adalah prajurit pilihan.

Manggada dan Laksana tidak dapat tinggal diam. Keduanya pun telah terlibat dalam pertempuran melawan prajurit Raden Panji yang garang. Prajurit yang terbiasa bertempur dengan keras dan kasar menghadapi para perampok dan penjahat di daerah yang lain, yang harus mereka amankan.

Tetapi Manggada dan Laksana pun memiliki bekal yang cukup. Mereka memiliki landasan ilmu yang mereka sadap dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Meskipun belum begitu banyak, tetapi keduanya memiliki pengalaman yang keras pula.

Raden Panji Prangpranata sendiri adalah seorang Senapati perang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia telah berhasil menguasai satu daerah yang luas selama ia bertugas. Kekuasaannya seakan-akan tidak terbatas, karena kecuali Raden Panji sendiri seorang yang berilmu tinggi, ia pun memiliki kekuatan. Sepasukan prajurit Pajang yang tangguh. Sehingga untuk beberapa lama Raden Panji merasa bahwa ia adalah orang yang dapat berbuat apa saja menurut kehendaknya. Siapa yang mencoba untuk menentangnya dengan tanpa kesulitan telah disingkirkan. Bahkan jika dianggap perlu disingkirkan untuk selama-lamanya.

Raden Panji Prangpranata memang tidak saja berkuasa untuk menentukan satu kebijaksanaan. Tetapi iapun merasa mempunyai wewenang untuk menghukum orang yang dianggapnya bersalah tanpa dapat dibatalkan oleh orang lain. Bahkan ia pun merasa tidak perlu untuk mendengar pendapat orang lain apabila sendiri sudah menganggap perlu untuk mengambil keputusan.

Namun dalam pada itu, di halaman rumah Ki Partija itu, ia telah bertemu dengan seorang Senapati yang juga seorang pilihan. Ki Tumenggung Purbarana yang dengan sengaja telah menempatkan diri menghadapi langsung Raden Panji Prangpranata.

Beberapa orang prajurit Raden Panji dengan cepat telah bergerak ke segala celah-celah halaman. Mereka yang sudah untuk waktu yang lama mengikuti segala perintah Raden Panji itu pun menjadi sangat garang pula. Satu dua orang prajurit memang berusaha untuk menembus pertahanan dan memasuki rumah lewat seketheng. Namun para prajurit Pajang yang datang bersama Ki Tumenggung Purbarana telah menyebar. Sementara Manggada dan Laksana telah ikut pula menghadapi para prajurit yang berusaha memasuki seketheng sebelah kiri.

Sementara itu Panji Wiratama telah melibatkan diri pula dalam pertempuran itu. Sebagai seorang petugas sandi, Panji Wiratama telah ditempa dengan ilmu kanuragan, sehingga ia sama sekali tidak menjadi bingung menghadapi prajurit-prajurit Raden Panji Prangpranata yang berpengalaman luas.

Raden Puspasari yang mendapat tugas untuk menjemput Mas Rara itu memang termangu-mangu sejenak. Bukannya karena ia menjadi cemas menghadapi pertempuran itu, tetapi pertempuran itu sama sekali tidak dikehendakinya.

Namun ia tidak banyak dapat berbuat sesuatu menghadapi seseorang yang keras seperti Raden Panji Prangpranata, yang merasa dirinya orang yang paling berkuasa.

Ketika pertempuran menjadi semakin sengit, maka Raden Puspasari telah naik ke pendapa. Dengan jantung yang berdebaran ia melihat seluruh arena di halaman itu. Bahkan satu dua orang prajurit telah bertempur di pendapa itu pula.

Mereka adalah prajurit-prajurit Raden Panji yang ingin menerobos memasuki pintu pringgitan untuk mengambil Mas Rara, namun telah dihentikan dan dihadapi oleh para prajurit Pajang yang datang bersama-sama dengan Raden Puspasari itu.

Dalam pada itu, hampir diluar sadarnya, Raden Puspasari sempat melihat Manggada dan Laksana yang sedang bertempur. Dengan kening yang berkerut, Raden Puspasari melihat, bahwa kedua anak muda itu ternyata mampu mengimbangi kemampuan para prajurit Pajang. Mereka sama sekali tidak mengalami banyak kesulitan untuk mempertahankan dirinya. Tangannya pun dengan tangkas mempermainkan pedang.

“Anak-anak muda yang berani“ berkata Raden Puspasari di dalam hatinya, “agaknya tidak banyak dari antara anak-anak muda yang berani mengambil sikap seperti mereka. Di saat Raden Panji berada dalam puncak kekuasaannya, mereka berani mengambil langkah yang dapat membahayakan hidup mereka untuk melindungi Mas Rara yang diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh Raden Panji”

Sementara itu Manggada dan Laksana memang sedang bertempur dengan sengitnya. Masing-masing menghadapi seorang prajurit yang terlatih dengan baik dan berpengalaman luas. Namun kedua anak muda itu sama sekali tidak menjadi gentar. Apalagi mereka sadar, bahwa langkah-langkah yang diambilnya ternyata mendapat sandaran yang mapan. Justru seorang Tumenggung dari Pajang bersama pasukan kecilnya.

Manggada dan Laksana memang telah mengambil jarak. Mereka menahan dua orang prajurit yang akan menyelinap lewat seketheng untuk masuk ke dalam rumah melalui pintu-pintu butulan atau pintu samping. Jika kedua orang prajurit itu berhasil masuk dan menguasai Mas Rara, maka segala bentuk perlawanan memang harus dihentikan, karena jiwa Mas Rara tentu akan terancam.

Namun Manggada dan Laksana memang berhasil menahan kedua orang prajurit itu. Dengan ketangkasannya, kedua anak muda itu telah membuat kedua orang prajurit yang bertempur melawannya menjadi heran

Kedua orang prajurit yang bertempur melawan Manggada dan Laksana itu pernah melihat keduanya ketika Raden Panji mengunjungi bakal isterinya di rumah yang telah disediakan baginya. Tetapi berbeda dengan para prajurit yang menjemput Mas Rara dari rumahnya dan harus bertempur melawan orang-orang yang telah diupah oleh paman Mas Rara sendiri untuk mencegahnya, mereka belum pernah melihat kemampuan kedua anak muda itu. Meskipun mereka mendengar bahwa kedua anak muda itu pernah menolong Mas Rara ketika gadis itu hampir diterkam seekor harimau, serta ceritera beberapa orang kawannya bahwa kedua anak muda itu telah mempertaruhkan nyawanya di saat Mas Rara dijemput dari rumahnya, namun mereka tidak mengira bahwa kedua anak muda itu mampu mengimbangi mereka, prajurit yang berpengalaman.

Karena itu, maka kedua orang prajurit itu pun kemudian telah mengerahkan segenap kemampuannya. Seorang diantara mereka berkata, “Anak-anak muda. Sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Kau bukan sanak bukan kadangnya. Jika perlawanan ini dilakukan oleh kakaknya, maka hal itu masih dapat dimengerti. Tetapi kau bukan. Karena itu, kami memberi kesempatan kepada kalian berdua untuk melarikan diri jika kalian ingin selamat”

“Terima kasih” jawab Manggada, “tetapi sebagaimana kau dengar, ternyata gadis itu bukan sekedar anak Ki Partija Wirasentana. Tetapi ia adalah seorang gadis yang seharusnya tidak berada di padukuhan. Ia seorang gadis bangsawan”

“Siapapun gadis itu, tetapi segala sesuatunya harus dikembalikan kepada kekuasaan yang ada di daerah ini. Yang berkuasa adalah Raden Panji Prangpranata“ berkata prajurit itu.

“Bukan berarti Raden Panji dapat berbuat apa saja tanpa menghiraukan tatanan yang berlaku di Pajang. Raden Panji bukan Sultan Pajang yang berlaku di Pajang yang berhak dan berwenang membuat paugeran sekehendak hatinya“ jawab Manggada.

“Kau anak yang sombong“ geram prajurit itu, “jika kau sia-siakan kesempatan ini, maka kau akan menyesal. Jika kau tidak terbunuh dalam pertempuran ini, maka kau akan mendapat hukuman pula dari Raden Panji. Jika kau tahu, Raden Panji tidak pernah ragu-ragu menghukum orang yang dianggapnya bersalah.

“Tetapi Kangjeng Sultan Pajang pun tidak akan ragu-ragu menghukum Raden Panji dengan kesewenang-wenangannya meskipun ia pernah berjasa dalam tugasnya yang besar dan berat”

“Persetan kalian“ geram prajurit yang seorang lagi. Kalian memang ingin mati. Jangan kau kira, bahwa keberhasilanmu membunuh seekor harimau akan dapat menolongmu menghadapi senjata kami. Dengan membunuh seekor harimau kalian telah menjadi kehilangan akal. Kepalamu menjadi besar dan tidak tahu diri”

Namun Laksana yang menjawab, “Kita buktikan saja. Kepala siapa yang besar sekarang ini”

Prajurit itu menjadi merah. Dengan serta merta ia telah meloncat dengan menjulurkan senjatanya kearah dada. Tetapi dengan tangkas Laksana telah menangkisnya, sehingga ujung senjata itu sama sekali tidak menyentuh sasaran. Bahkan Laksana sempat memutar pedangnya dan seolah-olah menggeliat dengan cepat, sehingga sabetan mendatar justru telah memaksa prajurit itu meloncat surut.

Pertempuran itu pun kemudian telah menjadi semakin sengit. Para prajurit itu memperlakukan kedua anak muda itu seperti para perampok dan penjahat lainnya. Merekalah yang mulai bertempur dengan kasar, keras dan tidak terkendali.

Namun Manggada dan Laksana tidak menjadi kehilangan akal. Mereka telah pernah bertempur melawan orang-orang yang lebih keras dan lebih kasar dari para prajurit itu.

Raden Puspasari menarik nafas dalam-dalam. Namun ia harus bergeser ke samping ketika seorang prajurit menyerangnya dengan tiba-tiba. Namun seorang prajurit Pajang yang datang bersamanya telah menempatkan diri melawan prajurit itu.

Sementara itu, Raden Panji Prangpranata yang bertempur melawan Ki Tumenggung Purbarana menjadi semakin keras pula. Ternyata Raden Panji memang seorang yang berilmu tinggi. Dengan tangkas ia berloncatan di seputar lawannya. Meskipun Raden Panji itu nampaknya sudah mendekati usia lanjutnya, namun ia masih seorang Senapati yang pilih tanding. Tubuhnya yang tua itu masih mampu melenting dengan ringannya, seakan-akan tidak digantungi bobot sama sekali. Senjatanya berputaran dengan cepatnya. Sekali mematuk, dan di kesempatan lain terayun dengan derasnya.

Tetapi lawan yang dihadapi adalah Ki Tumenggung Purbarana. Seorang Tumenggung yang pilih landing. Selain tubuhnya yang meyakinkan, Ki Tumenggung pun memiliki bekal ilmu yang tinggi. Sebagai seorang Senapati perang, maka Ki Tumenggung memiliki pengalaman yang tidak kalah luasnya dari Raden Panji Prangpranata. Meskipun Raden Panji memiliki kecepatan gerak yang tinggi, tetapi Ki Tumenggung sama sekali tidak menjadi bingung.

Sementara itu, di ruang dalam, Ki Partija Wirasentana dan Wirantana menunggui Mas Rara dengan jantung yang berdebar-debar. Namun tidak ada niat mereka untuk meninggalkan ruangan itu dan untuk selanjutnya mengungsi ke tempat lain. Di halaman sudah terlanjur terjadi pertempuran. Karena itu, keduanya justru tidak lagi merasa takut kepada Raden Panji Prangpranata. Apalagi ada beberapa orang saksi yang juga datang dari Pajang.

Yang menjadi sangat gelisah adalah Raden Puspasari. Ia sama sekali tidak menghendaki pertempuran seperti itu terjadi. Namun ia pun tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa Raden Panji Prangpranata sama sekali tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Ia menganggap bahwa kebenaran itu hanya ada pada dirinya.

Dengan jantung yang berdebaran, Raden Puspasari menyaksikan pertempuran yang menjadi semakin sengit. Bahkan korban telah mulai jatuh. Beberapa orang prajurit telah terluka.

Namun Raden Panji sendiri tampaknya tidak begitu menghiraukannya. Ia bertempur dengan garangnya. Namun lawannya pun seakan-akan telah kehabisan pola. Raden Panji yang selalu berhasil menghancurkan lawannya dalam tugasnya di daerah itu, kini telah membentur kekuatan yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Gegedug yang paling garang sekalipun tidak membuatnya mengalami kesulitan. Namun Ki Tumenggung Purbarana justru mulai membuatnya gelisah. Apalagi ketika terasa bahwa Ki Tumenggung Purbarana mulai menekannya.

Dalam pada itu, para prajurit Raden Panji pun mulai mengalami kesulitan. Lawan-lawan mereka ternyata memiliki kelebihan yang sulit mereka atasi. Para prajurit yang berada di bawah perintah Ki Tumenggung Purbarana memang tidak lebih baik dari para prajurit Raden Panji Prangpranata, sehingga iantara mereka terdapat keseimbangan. Tetapi para prajurit yang harus bertempur melawan Panji Wiratama dan kawan-kawannya dari prajurit sandi Pajang, harus memeras tenaganya untuk dapat mengimbangi mereka. Bahkan prajurit-prajurit yang harus bertempur dengan anak-anak muda yang pernah menolong Mas Rara dari cengkeraman kuku-kuku seekor harimau itupun telah mengalami kesulitan pula. Manggada dan Laksana ternyata memiliki bekal yang cukup tinggi untuk melawan para prajurit Pajang, meskipun para prajurit Pajang itu memiliki pengalaman yang sangat luas.

Dengan demikian, semakin lama semakin terasa bahwa Raden Panji Prangpranata dan para prajuritnya menjadi semakin terdesak.

Tetapi karena hal seperti itu belum pernah terjadi selama ia bertugas di daerah yang luas itu, maka Raden Panji masih saja tidak mau mengakui kekalahan yang perlahan-lahan mencengkamnya. Bahkan dengan lantang Raden Panji itu masih meneriakkan aba-aba untuk menghancurkan lawannya.

“Bunuh semua orang yang tidak mau menyerah“ teriak Raden Panji Prangpranata, “jangan takut. Aku mempunyai pertanda kuasa dari Sultan Pajang”

Namun para prajuritnya yang tidak pernah gagal melaksanakan perintah Raden Panji itu mulai menjadi gelisah. Yang mereka hadapi bukan para perampok dan para penjahat, yang harus mereka bunuh jika tidak mau menyerah. Tetapi yang mereka hadapi adalah prajurit-prajurit Pajang. Orang-orang yang memiliki kemampuan setidak-tidaknya setingkat dengan mereka. Bahkan beberapa orang diantara mereka memiliki kelebihan yang sulit diimbangi.

Ki Panji Wiratama ternyata dengan cepat menekan lawannya. Tidak ada niat sama sekali untuk membunuh sesama prajurit Pajang. Namun Panji Wiratama tidak dapat berbuat lain untuk menghentikan perlawanan prajurit Pajang itu tanpa melukainya.

Sebenarnyalah, prajurit yang melawan Panji Wiratama itu sulit untuk dapat melindungi dirinya sendiri dari serangan-serangan yang membingungkan. Karena itu, maka prajurit itu meloncat surut ketika senjata Panji Wiratama menyentuh pundak.

Tetapi Panji Wiratama tidak melepaskannya. Demikian prajurit itu berdiri tegak, maka ujung senjata Panji Wiratama telah memburunya. Seleret luka pun kemudian tergores di dada prajurit itu.

Prajurit itu mengaduh tertahan Namun terasa betapa pedihnya luka di pundak dan di dadanya.

Ternyata Panji Wiratama tidak melepaskannya. Selagi orang itu berusaha memperbaiki keadaannya, maka kaki Panji Wiratama-lah yang menghantam lambungnya, sehingga perutnya terasa mual.

Selagi orang itu terbongkok-bongkok menahan sakit di lambungnya, maka Panji Wiratama telah mengetuk tengkuk orang itu dengan sisi telapak tangannya.

Orang itu pun jatuh menelungkup. Bahkan langsung menjadi pingsan.

Prajurit yang lain sempat melihat apa yang terjadi atas kawannya itu. Ternyata Panji Wiratama tidak mengetuk leher kawannya itu, maka leher prajurit itu akan dapat terpenggal karenanya.

Semakin lama keadaan para prajurit Raden Panji menjadi semakin sulit. Tetapi Raden Panji tidak mau mengakui kenyataan itu. Ia masih menuntut kemenangan sebagaimana setiap terjadi benturan antara para prajuritnya dengan para perampok dan penjahat. Bahkan setiap kali Raden Panji masih mengulangi perintahnya, “Bunuh yang tidak mau menyerah”

Tetapi tidak seperti yang selalu terjadi, maka para prajuritnya tidak dapat melakukan perintah itu. Bahkan Raden Panji sendiri telah mengalami kesulitan menghadapi lawannya, Ki Tumenggung Purbarana.

Raden Puspasari sendiri memang tidak terlibat dalam pertempuran itu. Hanya sekali-sekali ia harus menghindar jika datang serangan tiba-tiba. Namun para prajuritnya selalu berusaha untuk melindunginya.

Dalam kecemasan Raden Puspasari ternyata tertarik sekali kepada Manggada dan Laksana yang dengan tangkas mengimbangi para prajurit yang menjadi lawan mereka. “Meskipun keduanya bukan prajurit dan umurnya masih terhitung sangat muda, namun keduanya nampak tangkas dan cekatan. Keduanya sama sekali tidak mencemaskan, meskipun keduanya harus melawan prajurit-prajurit yang berpengalaman. Bahkan sekali-sekali kedua anak muda itu berloncatan dengan cepatnya, sehingga lawannya menjadi kebingungan. Seperti anak kijang yang bermain-main di rerumputan“ desis Raden Puspasari.

Sementara itu, keadaan Raden Panji Prangpranata bersama para prajuritnya menjadi semakin sulit. Semakin lama semakin banyak orang-orangnya yang terluka, sehingga tidak mampu lagi memberikan perlawanan yang berarti. Meskipun pada kedua belah pihak nampaknya tidak dibakar oleh nafsu untuk saling membunuh, namun bagaimanapun juga di dalam pertempuran yang sengit, kemungkinan itu akan dapat terjadi.

Raden Panji sendirilah yang selalu berteriak-teriak untuk membunuh lawan yang tidak mau menyerah. Namun Raden Panji beberapa kali harus berloncatan surut untuk memperbaiki keadaannya yang semakin sulit.

Pada saatnya, maka Ki Tumenggung Purbarana yang berteriak-teriak, “Raden Panji. Sebagai seorang Senopati kau arus mampu menilai keadaan medan. Menyerahlah. Selagi kita masih dikendalikan oleh penalaran kita. Jika perasaan mulai menguasai otak kita, maka keadaan tentu akan lain”

“Setan kau Purbarana“ geram Raden Panji yang benar-benar tidak man melihat kenyataan itu, “siapapun yang menentang uasaku di sini, akan aku hancurkan sampai lumat”

“Kau jangan kehilangan akal Raden Panji“ sahut Ki Tumenggung Purbarana, “aku akan memberimu kesempatan untuk menilai pertempuran ini dalam keseluruhan”

Tetapi Raden Panji justru meloncat menyerang dengan garangnya.

Ki Tumenggung Purbarana bergeser mengelak. Namun senjatanya telah berputar mematuk tubuh Raden Panji. Tetapi ternyata Raden Panji yang tangkas itu masih sempat menggeliat. Bahkan dengan cepat senjatanya terayun menyambar kearah kening Ki Tumenggung.

Ki Tumenggung dengan cepat mengangkat senjata menangkis serangan Raden Panji itu. Dengan demikian, kedua senjata itupun telah berbenturan. Masing-masing dengan mengerahkan segenap kekuatannya.

Raden Panji mengumpat sejadi-jadinya. Hampir saja senjatanya terlepas dari tangannya. Namun ia masih sempat mempertahankannya meskipun tangannya terasa menjadi pedih.

Sambil meloncat mundur tiba-tiba saja ia berteriak, “Jangan hiraukan yang lain. Ambil perempuan pengkhianat itu. Aku hanya memerlukan perempuan itu. Siapa yang menghalangi, bunuh saja di tempat”

Tetapi tidak seorang pun yang dapat melakukannya. Selain mereka masih harus bertempur, mereka pun tidak akan mampu melakukannya.

Di ruang dalam, Mas Rara mendengar teriakan Raden Panji itu. Dengan gemetar ia telah memeluk ibunya, sementara Wirantana berkata, “Jangan takut, ayah dan aku ada di sini”

Tetapi Mas Rara memang menjadi ketakutan. Apalagi ia tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di pendapa dan di halaman depan rumahnya.

Dalam pada itu, seakan-akan seluruh padukuhan menjadi ketakutan. Satu dua orang yang mendengar keributan itu dan keluar dari rumahnya, menjadi berdebar-debar. Satu dua orang itu mencoba untuk melihat apa yang terjadi di halaman rumah Ki Partija. Tetapi demikian mereka melihat sebuah pertempuran yang sengit, maka mereka pun telah pergi menjauh. Beberapa orang yang lain yang ingin melihat keadaan, telah diberitahu tentang apa yang telah terjadi.

“Apa, yang sebenarnya terjadi di rumah itu?“ desis seseorang.

“Kita tidak tahu. Ada dua pasukan yang datang ke rumah itu. Namun ternyata kedua pasukan itu telah bertempur”

Dengan demikian, meskipun seakan-akan seisi padukuhan itu telah terbangun, namun mereka tidak berani mendekat rumah Ki Partija Wirasentana. Meskipun ada niat diantara mereka untuk membantu jika ada kesulitan yang terjadi. Tetapi mereka tidak akan dapat melibatkan diri dalam pertempuran yang sengit. Merekapun tidak tahu kepada siapa mereka harus berpijak.

Karena itu, mereka hanya dapat mengikuti pertempuran itu dari jarak yang agak jauh, dengan jantung yang berdebar-debar. Namun demikian, pintu setiap rumah telah ditutup rapat-rapat. Nyala lampu diperkecil dan perempuan-perempuan memeluk anak-anak mereka semakin erat.

Seorang anak laki-laki merengek mencari ayahnya. Dengan susah payah ibunya membujuknya agar anak itu diam.

“Ayah sedang meronda ngger. Tidurlah. Masih malam“ bisik ibunya dengan suara yang gemetar.

Sebenarnyalah hampir setiap laki-laki memang keluar dari rumahnya dan berpesan agar isterinya menyelarak pintu rapat-rapat. Yang tidak mendengar keributan telah diketuk pintunya oleh tetangga-tetangganya dan dimintainya keluar rumah, meskipun di luar rumah mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Pertempuran di halaman rumah Ki Partija masih saja berlangsung. Tidak ada tanda-tanda bahwa Raden Panji akan menyerah, meskipun orang-orangnya semakin terdesak. Beberapa orang justru telah terluka. Dan beberapa saat kemudian Raden Panji sendiri telah tergores ujung senjata pula. Meskipun lukanya tidak dalam dan tidak mempengaruhi kemampuannya, tetapi pakaiannya telah terkoyak lebar.

Dalam pada itu, Raden Puspasari akhirnya menjadi tidak sabar lagi. Iapun mulai menyingsingkan kain panjangnya. Sikap Raden Panji menurut Raden Puspasari telah melampaui batas wewenangnya, sementara ia tidak mau mendengarkan pendapat orang lain sama sekali.

“Orang yang semula dianggap berjasa itu ternyata telah menjadi mabuk kekuasaan“ berkata Raden Puspasari di dalam atinya. Namun katanya kemudian kepada dirinya sendiri, “Apa-boleh buat. Aku akan mengambil alih orang itu. Aku harus benar-benar sampai hati untuk melumpuhkannya. Biarlah Ki Tumenggung Purbarana menyelesaikan para prajuritnya”

Tetapi ketika Raden Puspasari melangkah ke tangga pendapa, ia terkejut karenanya. Raden Puspasari telah mendengar derap kaki kuda mendekati halaman rumah Ki Partija Wirasentana.

Karena itu, ia urung turun ke halaman. Dengan berdebar-debar Raden Puspasari menunggu siapa yang telah datang itu. Mungkin prajurit-prajurit Raden Panji yang menyusul. Mungkin orang lain. Atau siapapun.

Ternyata tidak hanya derap beberapa ekor kuda mendekati pintu gerbang halaman. Namun mereka masih saja terikat dalam pertempuran, sehingga mereka tidak dapat memperhatikannya dengan seksama. Tetapi derap kaki kuda itu telah menyentuh setiap jantung yang ada di halaman rumah Ki Partija dan sedang bertempur itu.

Beberapa saat kemudian, beberapa ekor kuda muncul dari luar regol. Dua orang dalam pakaian perwira tinggi Pajang, diikuti oleh lima orang prajurit pengawal. Bahkan menilik pakaiannya, mereka adalah prajurit khusus bagian dari Wiratamtama.

Demikian mereka berada di halaman, maka pertempuran itu pun seakan-akan telah berhenti. Beberapa orang yang sedang bertempur itu telah berloncatan surut mengambil jarak. Bahkan Raden Panji pun telah meloncat menjauhi Ki Tumenggung Purbarana sambil berteriak, “Siapa lagi yang datang ke halaman rumah pengkhianat ini? Jika kalian prajurit Pajang, maka kewajiban kalian adalah melaporkan kehadiran kalian kepada kami. Pasukan yang telah mendapat wewenang untuk memelihara keamanan di daerah ini”

Dua orang perwira yang masih duduk di punggung kudanya itu tidak segera menjawab. Mereka memandang berkeliling halaman. Sekali-sekali mereka mengusap keringat di kening.

Ketujuh orang itu nampak letih. Demikian pula kuda-kuda mereka.

Namun ketika mereka bergerak lebih dekat dan mulai disentuh oleh cahaya lampu minyak di pendapa, maka orang-orang yang ada di halaman itupun terkejut. Raden Puspasari lah yang pertama-tama menyebut namanya, “Paman Wilamarta”

Orang yang disebut namanya itu memandang ke pendapa. Dengan nada rendah ia berdesis, “Raden sudah berada di sini”

“Ya. Aku mendapat tugas bersama Ki Tumenggung Purbarana“ jawab Raden Puspasari.

“Tetapi apa yang telah terjadi di sini?“ bertanya Ki Wilamarta.

Raden Puspasari pun kemudian turun dari pendapa. Sementara Ki Wilamarta dan para pengiringnya pun meloncat turun dari kudanya.

Sambil mendekati Ki Wilamarta Raden Puspasari pun berkata, “Silahkan Ki Wilamarta bertanya kepada Raden Panji Prangpranata”

Ki Wilamarta mengerutkan keningnya. Dipandanginya Raden Panji Prangpranata, Beberapa langkah Ki Wilamarta maju mendekat.

Sebelum Ki Wilamarta bertanya, Raden Panji telah berkata, ”Selamat datang di daerah tugasku Ki Wilamarta”

Ki Wilamarta tersenyum. Katanya, “Aku menjadi kelelahan. Aku datang ke barak induk pengendalian pasukanmu. Tetapi kau tidak ada. Aku mendapat keterangan bahwa belum terlalu lama kau pergi ke Nguter untuk memburu para pengkhianat”

“Ya. Ya, Ki Wilamarta“ sahut Raden Panji dengan serta merta, “aku memang sedang berusaha menangkap pengkhianat yang ternyata mendapat perlindungan dari beberapa orang prajurit Pajang. Mereka datang ke daerah kuasaku tanpa melaporkan kehadirannya kepadaku”

“Siapa“ bertanya Ki Wilamarta.

“Tumenggung Purbarana“ jawab Raden Panji Prangpranata.

“Tetapi aku melihat Panji Wiratama ada di sini pula“ berkata Ki Wilamarta.

“Ya Ki Wilamarta“ jawab Panji Wiratama yang ada dikejauhan, yang telah mengambil jarak pula dari lawannya, ”aku telah datang pula kemari. Aku telah mencoba mencegah tindakan yang diambil Raden Panji Prangpranata meskipun aku datang agak terlambat. Tetapi Raden Panji sama sekali tidak menghiraukannya”

“Aku sedang menjalankan tugasku Ki Wilamarta sahut Raden Panji.

“Tugas apa?“ bertanya Ki Wilamarta.

“Aku sedang memburu pengkhianat dan para perampok Selama ini aku telah berhasil menjalankan tugasku dengan baik. Menguasai daerah yang luas dan membersihkannya dari kejahatan. Tetapi ternyata kemudian justru aku sendirilah yang dirampok dan dikhianati“ jawab Raden Panji.

“Apa saja milik Raden Panji yang dirampok?” bertanya Ki Wilamarta.

Raden Panji termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab, “Justru lebih berharga dari harta benda. Calon isterikulah yang telah dirampok orang”

“Dan siapakah pengkhianat itu?“ bertanya Ki Wilamarta pula.

Raden Panji memang menjadi bingung. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Bakal isteriku itu”

“Jika demikian, kenapa Raden Panji harus menyusul demikian jauhnya untuk mengambil pengkhianat itu? Biar sajalah pengkhianat itu dibawa oleh para perampok. Raden Panji tidak perlu berusaha menolongnya”

“Aku tidak akan menolongnya Tetapi aku akan menangkap mereka semuanya” jawab Raden Panji tersendat-sendat.

Ki Wilamarta tersenyum. Dipandanginya orang-orang yang ada di halaman itu. Raden Puspasari, Ki Tumenggung Purbarana yang termangu-mangu, Panji Wiratama dan para prajurit Pajang yang sedang saling bertempur itu.

Mereka pada umumnya telah mengenal Ki Wilamarta seorang Senapati dari prajurit Wiratamtama Pajang. Seorang yang dekat sekali hubungannya dengan Sultan di Pajang.

Halaman itu pun kemudian telah dicengkam oleh suasana yang tegang namun hening. Tidak seorang pun yang berbicara diantara mereka. Sementara Ki Wilamarta melangkah ke pendapa dan kemudian naik serta berdiri tegak menghadap kehalaman.

“Raden Panji“ berkata Ki Wilamarta, “kami, di Pajang telah menerima laporan tentang tugas-tugas yang kau lakukan. Di samping keberhasilanmu menenangkan daerah ini dari kerusuhan yang ditimbulkan oleh para perampok, maka Raden Panji pun telah menimbulkan kegelisahan tersendiri. Tugas yang kau pikul telah kau laksanakan dalam batas-batas wajar. Tetapi semakin lama menjadi semakin sulit dimengerti, sehingga pada suatu saat, tingkah laku Raden Panji sudah terlepas dari kendali”

“Itu fitnah“ potong Raden Panji.

Tetapi Ki Wilamarta seakan-akan tidak mendengarkannya. Ia berkata selanjutnya, “Aku mendapat tugas untuk mengikuti perkembangan tugas Raden Panji. Karena itu, aku telah menugaskan Panji Wiratama yang belum kau kenal untuk mengamatimu dari dekat. Ia tinggal beberapa rumah saja dari rumah yang kau pergunakan sebagai barak induk pasukanmu. Ia tahu benar apa yang kau lakukan. Ia tahu, berapa orang perempuan yang telah menjadi korbanmu. Selain itu, Raden Panji juga telah merasa berwenang untuk menjatuhkan hukuman apa saja kepada orang yang dianggap bersalah. Bahkan hukuman mati sekalipun”

“Puncak dari kegelisahan tugas Raden Panji adalah keinginan Raden Panji mengambil calon isteri dari Nguter ini. Kami telah mendapat laporan lengkap. Laporan itu kami hubungkan dengan tugas Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari. Kedua-duanya juga menyebutkan padukuhan Nguter. Apalagi ketika laporan yang terperinci itu menyebut tentang Mas Rara“ dia berhenti sejenak.

“Karena itu, aku datang langsung ingin bertemu dengan Raden Panji. Tetapi saat kami datang, Raden Panji sedang memburu pengkhianat dan perampok kemari Ke Nguter. Betapapun kami letih, kami berusaha menyusul kemari, meskipun harus beristirahat beberapa kali di perjalanan”

Wajah Raden Panji menjadi merah. Dipandanginya orang di sekelilingnya. Nampak beberapa orang perwira yang memiliki kekuasaan di dalam tataran keprajuritan Pajang. Bahkan beberapa orang yang kedudukannya lebih tinggi dari kedudukannya. Apalagi Ki Wilamarta sendiri telah datang ke tempat itu.

Sementara itu Ki Wilamarta telah berkata selanjutnya, “Kau masih sempat mengingat apa yang kau lakukan selama ini Raden Panji. Sekarang aku datang tidak untuk melupakan keberhasilanmu. Tetapi aku sekadar membawa perintah baru bagimu. Kembali ke Pajang”

Raden Panji yang tua itupun kemudian menundukkan kepalanya. Ia masih mendengar Ki Wilamarta bertanya, ”Bukankah aku tidak perlu menunjukkan pertanda tugasku kepadamu? Bukankah wajahku yang telah kau kenal ini sudah merupakan pertanda itu?”

“Ya Ki Wilamarta“ desis Raden Panji, “aku tidak akan berani menanyakan pertanda tugas Ki Wilamarta, justru aku mengenal Ki Wilamarta”

“Nah, jika demikian, marilah. Kita akan kembali ke Pajang“ berkata Ki Wilamarta.

“Aku tidak akan melawan perintah itu” jawab Raden Panji, “tetapi aku akan berbicara dengan para prajuritku. Aku akan kembali ke barak induk pengendalian pasukanku. Aku akan mengumumkan mereka dan berbicara kepada mereka”

“Tidak Raden Panji“ jawab Ki Wilamarta, “kita akan langsung pergi ke Pajang. Kita akan mengambil jalan lain dan tidak akan singgah di barak pengendalian pasukanmu itu”

“Tetapi aku masih mempunyai barang-barang di sana” desis Raden Panji.

“Biarlah orang lain mengurusnya“ jawab ki Wilamarta.

Raden Panji tidak menjawab lagi. Kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk.

Namun Raden Puspasari lah yang berkata, “Tentu paman Wilamarta tidak kembali ke Pajang sekarang. Paman telah menjadi sangat letih. Kuda-kuda paman pun letih. Paman akan berada di sini sampai besok siang, sehingga cukup untuk beristirahat. Besok kita bersama-sama menempuh perjalanan ke Pajang“

Ki Wilamarta termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan beristirahat di sini sampai besok siang”

Dengan demikian, maka pertempuran di halaman itu pun telah selesai. Beberapa orang yang terluka sempat mendapat perawatan. Sementara Ki Wilamarta telah memanggil beberapa orang untuk berbicara di pendapa. Raden Puspasari, Ki Tumenggung Purbarana, Panji Wiratama, Raden Panji Prangpranata serta Ki Partija Wirasentana. Sedangkan di halaman para prajurit berada dalam kelompok-kelompok mereka masing-masing. Namun mereka yang terluka telah dibaringkan di pringgitan untuk mendapat perawatan. Apalagi mereka yang terluka cukup parah. Bahkan ada dua diantara mereka yang nyawanya tidak dapat tertolong lagi.

Malam itu Ki Wilamarta telah memberikan beberapa perintah kepada para perwira yang telah dikumpulkannya itu.

Ki Wilamarta yang membawa wewenang penuh dari Kangjeng Sultan itu telah memerintahkan Panji Wiratama untuk menggantikan kedudukan Raden Panji Prangpranata.

“Tugasmu tidak seberat tugas Raden Panji Prangpranata“ berkata Ki Wilamarta, “Apalagi satu atau dua tahun yang lalu”

“Ya Ki Wilamarta“ jawab Panji Wiratama, “aku siap menjalankan perintah”

“Para prajurit yang datang ke Nguter bersama-sama dengan Raden Panji Prangpranata akan menjadi saksi perintahku. Tetapi untuk sandaran Ki Panji Wiratama dalam menjalankan tugasnya, maka aku perintahkan Raden Panji menyerahkan pertanda tugasnya kepada Ki Panji Wiratama”

Raden Panji Prangpranata tidak dapat mengingkarinya melakukan segala perintah Ki Wilamarta.

Sementara itu, di ruang dalam Mas Rara masih saja ketakutan. Namun Wirantana yang menemaninya berkata, “Jangan takut. Segala sesuatunya telah berlalu”

Mas Rara tidak menjawab. Tetapi tubuhnya masih gemetar.

Demikianlah, maka segala sesuatunya telah diselesaikan oleh Ki Wilamarta. Para perwira yang ada di pendapa itu sudah tahu pasti apa yang akan mereka lakukan besok.

Namun masih ada satu hal yang mereka bicarakan, bagaimana mereka akan membawa Mas Rara ke Pajang

“Mas Rara tidak mau duduk di punggung kuda” berkata Ki Partija Wirasentana, “namun atas kebaikan hati Ki Jagabaya, aku telah meminjam pedati kuda itu. Pedati kuda yang beberapa hari yang lalu telah dibawa mengantarkan Mas Rara menghadap Raden Panji Prangpranata”

“Apakah pedati itu masih dapat dipinjam?“ bertanya Ki Wilamarta.

“Besok aku akan berbicara dengan Ki Jagabaya“ jawab Ki Partija Wirasentana.

Tetapi Ki Wilamarta itu pun kemudian telah bertanya kepada Raden Puspasari, “Apakah Mas Rara sudah siap berangkat besok?”

Raden Puspasari itu pun termangu-mangu sejenak. Sambil memandangi Ki Partija Wirasentana, Raden Puspasari itu berkata, “Aku belum mengatakan apa-apa kepada gadis itu”

Ki Wilamarta mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa Raden belum berbicara dengan gadis itu?“

“Gadis itu baru datang. Ketika aku datang ke rumah ini, Mas Rara telah berada di tempat Raden Panji Prangpranata. Namun kemudian telah melarikan diri, “jawab Raden Puspasari.

Ki Wilamarta pun mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Ya. Aku dapat mengerti dan membayangkan peristiwanya. Tetapi bukankah sebaiknya Raden berbicara sekarang dengan Mas Rara jika ia belum tidur?“

“Belum Ki Wilamarta“ jawab Ki Partija Wirasentana, “gadis itu masih ketakutan di dalam, ditunggui kakaknya, maksudku anakku, Wirantana”

Raden Puspasari mengangguk-angguk. Katanya kepada Ki Partija, “Aku dan Ki Tumenggung Purbarana akan berbicara dengan gadis itu”

“Tetapi Wiranti tentu tidak akan berani keluar, “desis Ki Partija Wirasentana.

“Jadi?“ desis Raden Puspasari.

“Biarlah Raden dan Ki Tumenggung masuk ke pringgitan” berkata Ki Partija Wirasentana.

Demikianlah. Diantar oleh Ki Partija, kedua utusan dari Pajang itu telah memasuki pringgitan. Ketika pintu terbuka, Mas Rara telah memeluk ibunya erat-erat.

“Jangan takut” berkata ayahnya, “keduanya adalah utusan dari Pajang yang justru telah menolongmu”

Namun bagaimanapun juga, bayangan ketakutan itu masih nampak di wajah Mas Rara.

Raden Puspasari dan Ki Tumenggung Purbarana itupun kemudian telah duduk di ruang dalam. Dengan sangat berhati-hati Raden Puspasari mulai berbicara dengan Wiranti yang kemudian disebut Mas Rara.

Mas Rara sendiri menjadi sangat terkejut mendengar keterangan itu. Bahkan ketika ia menyadari, bahwa para utusan dari Pajang itu berniat menjemputnya dan membawanya ke Pajang. Mas Rara telah memeluk ibunya erat-erat. Hampir berteriak Mas Rara menangis, “Aku tidak mau. Aku tidak mau”

Bagi Mas Rara memang tidak ada orang lain yang dianggapnya sebagai ayah dan ibunya kecuali Ki Partija Wirasentana suami isteri. Meskipun keduanya tidak lebih dari orang-orang padesan, tetapi Mas Rara merasakan kesejukan kasih sayangnya sejak ia masih belum menyadari kehadiran dirinya.

Namun Raden Puspasari, Ki Tumenggung Purbarana dan bahkan Ki Partija Wirasentana suami isteri, dengan sabar berusaha, meyakinkan bahwa Mas Rara sudah sepantasnya berada di Pajang.

Sampai dini hari mereka membujuk Mas Rara untuk bersedia pergi ke Pajang. Namun mereka masih saja mengalami kesulitan. Apalagi di Pajang, sebenarnya Mas Rara sudah tidak lagi mempunyai ayah dan ibu kandung lagi.

Meskipun demikian, dengan segala macam kesediaan dan janji, maka Mas Rara akan pergi ke Pajang namun bersama dengan orang yang dianggap orang tuanya itu. Ki Partija Wirasentana suami isteri, dan kakaknya Wirantana.

Raden Puspasari dan Ki Tumenggung Purbarana memang tidak berkeberatan. Mereka pun membayangkan bahwa akhirnya Wiranti itu tentu akan kembali lagi kepada Ki Partija Wirasentana suami isteri, karena selain kedua orang tuanya sendiri sudah tidak ada, hubungan antara Wiranti dengan kedua orang tua angkatnya itu sudah terlanjur demikian eratnya.

Ketika fajar mulai membayang di langit, maka di pendapa rumah Ki Partija Wirasentana itu Ki Wiratama telah mendapat laporan tentang kesediaan Mas Rara pergi ke Pajang, namun bersama dengan seluruh keluarganya.

“Tentu tidak berkeberatan” berkata Ki Wilamarta, “bagaimanapun juga, nama Pangeran Kuda Kertanata masih juga dihormati. Demikian pula dengan Raden Kuda Respada, ayah Wiranti itu”

Ketika kemudian matahari terbit, maka para perwira prajurit Pajang itu justru baru mulai beristirahat. Namun demikian, Raden Panji Prangpranata merasa bahwa dirinya selalu berada di dalam pengawasan.

Menjelang siang, mereka akan meninggalkan tempat itu ke arah yang berbeda, meskipun perjalanan mereka akan mereka lakukan sampai jauh malam. Ki Wilamarta akan membawa Raden Panji Prangpranata ke Pajang, bersama-sama dengan Raden Puspasari dan Ki Tumenggung Purbarana yang akan membawa Mas Rara dengan seluruh keluarganya ke Pajang. Sedangkan Ki Panji Wiratama bersama para prajurit yang datang bersama Raden Panji serta para pembantunya, akan kembali ke padukuhan induk pengendalian pasukan Pajang yang semula dipimpin oleh Raden Panji Prangpranata.

Namun dalam pada itu, sebelum semuanya berangkat meninggalkan rumah Ki Partija Wirasentana, setelah Ki Jagabaya meminjamkan pedati kudanya. maka dua orang anak muda telah menemui Ki Partija Wirasentana untuk minta diri.

“Tidak“ jawab Ki Partija Wirasentana, “kalian berdua akan pergi bersama kami ke Pajang”

“Terima kasih Ki Partija“ jawab Manggada, “kami sudah terlalu lama tersangkut di padukuhan Nguter ini. Karena itu, maka kami mohon diri untuk menentukan perjalanan kami. Sebenarnyalah kami sedang menempuh perjalanan pulang untuk menjumpai orang tua kami setelah beberapa lama mengembara”

“Siapakah mereka Ki Partija?“ bertanya Ki Wiratama. Dengan singkat Ki Partija telah menceriterakan tentang kedua orang anak muda itu, yang bersama-sama dengan anaknya telah membebaskan Wiranti dari tangan Raden Panji. Namun Wirantana sempat menceriterakan apa yang pernah dilakukan oleh keduanya. Manggada dan Laksana adalah orang yang telah menyelamatkan Mas Rara dari kuku-kuku dan taring harimau lapar. Namun keduanya pula yang telah melepaskan Mas Rara dari nafsu hitam Ki Resa, pamannya.”

“Tanpa kedua orang anak muda itu, maka para prajurit yang dikirim oleh Raden Panji untuk menjemput Mas Rara tentu akan dihancurkan di perjalanan“ berkata Wirantana kemudian.

Ki Wilamarta mengangguk-angguk. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka ia pun dapat melihat kemampuan yang terpancar pada kedua orang anak muda itu.

Maka katanya kemudian, “Anak-anak muda. Jika berkenan di hati kalian, aku ingin menawarkan, agar kalian bersedia menjadi prajurit di Pajang”

Namun Manggada menjawab, “Kami mengucapkan terima kasih. Memang sangat menarik bagi kami untuk menjadi seorang prajurit. Tetapi kami mohon untuk minta ijin dahulu kepada orang tua kami”

Ki Wilamarta tersenyum. Katanya, “Baiklah. Sebenarnya kalian memang minta ijin lebih dahulu”

Dengan demikian maka Ki Partija Wirasentana suami isteri, Wirantana dan bahkan Mas Rara sendiri tidak dapat lagi mencegahnya. Manggada dan Laksana benar-benar meninggalkan padukuhan Nguter dengan seribu macam kesan dan kenangan.

Kedua anak muda itu sempat melihat sepasang mata Raden Panji Prangpranata yang menyala. Namun ia pun melihat senyum ramah Raden Puspasari dan pandangan lembut Ki Tumenggung Purbarana. Kepada Ki Panji Wiratama, Manggada dan Laksana mengingatkan akan kuda-kuda yang disediakan bagi mereka.

“Kuda itu masih ada di sini“ desis Manggada.

Ketika mereka berdua meninggalkan halaman rumah itu, Mas Rara dan keluarganya telah melepaskan mereka sampai ke regol. Dengan nada yang lemah Mas Rara berbisik, “Terima kasih. Aku tidak akan pernah melupakan kalian berdua”

Manggada dan Laksana hanya dapat menarik nafas. Namun mereka pun kemudian telah melangkah meninggalkan regol halaman semakin lama semakin jauh.

 

T A M A T

Episode berikutnya adalah “SANG PENERUS”

ikuti kisah selanjutnya.

 

kembali | lanjut

ARYA MANGGADA

Yang Terasing selesai diupload Kamis 14 Agustus 2014. Masih tersisa dua buku karangan Ki SHM, yaitu Istana Yang Suram dan Serial Arya Manggada.

Pada kesempatan selanjutnya akan kami upload Setial ARYA MANGGADA yang terdiri dari lima episode:

1. Menjenguk Cakrawala (6 jilid)

2. Mas Rara (4 jilis)

3. Sang Penerus, (7 jilid)

4. Sejuknya Kampung Halaman, (6 jilid) dan

5. Matahari Senja (7 jilid)

Rencananya, episode awal (Menjenguk Cakrawala) akan diupload tanggal 17 Agustus 2014 dengan kecepatan upload 3 hari sekali

AMMC-02 AMMR-01 AMMS-01 AMSKH-01 AMSP-01

Mohon doanya agar kami dapat menyelesaikan rencana tersebut.

Lereng Gunung Kawi Agustus 2014

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 68 pengikut lainnya.