JDBK-09


<<kembali | lanjut >>

ORANG-ORANG yang ada di sekitarnya menjadi tegang. Perempuan dari Goa Lampin itu pun menjadi tegang pula.

“Siapa pun yang mempermainkan aku akan mengalami nasib yang sama dengan orang gila ini,” geram Harya Wisaka.

“Aku rasa, belum ada kelompok yang dapat menangkap Pangeran Benawa,” berkata Ki Rangga Suraniti. “Tidak ada seorang pun yang tahu, dimana Pangeran Benawa itu sekarang berada”

“Aku memerlukan anak itu,” geram Harya Wisaka. “Aku harus menemukannya. Aku tidak mau ada orang lain yang mendahuluinya.”

“Kami akan berusaha sejauh dapat kami lakukan. Aku sudah mengeluarkan banyak beaya untuk keperluan ini.”

“Tetapi kami harus berhati-hati. Jika senapati Pajang di Jati Anom mengetahui apa yang kami lakukan, maka kami akan mendapat kesulitan.”

“Aku  akan  berbicara  dengan  senapati  di Jati Anom. Ia bukannya orang yang tidak tahu nilai uang.”

“Tetapi hatinya sekeras baja.”

“Aku akan melunakkannya.”

“Aku sudah memperingatkan, bahwa usaha untuk menembusnya sangat sulit. Lebih baik kita bekerja di luar pengetahuannya. Aku akan dapat membuat alasan-alasan yang masuk akal tentang kegiatan yang kita lakukan, serta korban yang jatuh karenanya.”

Harya Wisaka mengangguk-angguk. Katanya, “Terserah kepadamu. Tetapi aku memerlukan Pangeran Benawa.”

Rangga Suraniti mengangguk sambil menjawab, “Pangeran Benawa itu memang seperti demit. Ia hilang begitu saja Namun tiba-tiba ia sudah berada di istana lagi.”

“Bagaimana dengan Mas Ngabehi Loring Pasar?”

“Maksud Harya Wisaka, kita bekerja sama dengan Mas Ngabehi Loring Pasar?”

“Mungkin?”

“Mas Ngabehi Loring Pasar itu akan menjerat leher kita. Ia sangat sayang kepada adiknya.”

“Apakah tidak ada persaingan di antara mereka?”

“Persaingan apa?”

“Tanpa Pangeran Benawa, Mas Ngabehi Loring Pasar akan memiliki masa depan.”

“Bukankah masa depan itulah yang ingin kita ambil?”

“Kau memang bodoh. Tetapi sudahlah. Bawa semua tawanan ke Prambanan. Aku ingin berbicara dengan mereka satu satu. Bawa perempuan ini juga ke Prambanan.”

“Masih ada tiga ampat orang perempuan yang tertawan.”

“Bawa semuanya. Laki-laki dan perempuan. Sayang, tidak seorang pun dari pemimpin mereka yang tertangkap. Sebenarnya aku ingin menangkap Repak Rembulung dan Pupus Rembulung lebih dari yang lain.”

“Kenapa?” bertanya Ki Rangga Suraniti.

“Mereka mempunyai landasan kekuatan di lingkungan ini. Mungkin Pangeran Benawa tersesat di tangan para pengikut Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.”

“Mereka memang mempunyai landasan kekuatan di daerah ini. Tetapi sangat sulit untuk dilacak.”

“Aku tahu,” jawab Harya Wisaka. Lalu katanya, “Kita kembali ke perkemahan. Bukankah kau harus segera berada di Prambanan bersama pasukanmu.”

Ki Rangga Suraniti mengangguk. Katanya, “Marilah. Aku harus mempertanggung-jawabkan prajurit-prajuritku yang terbunuh.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Rangga Suraniti dan Ki Nukilan pun telah mengatur para prajuritnya. Sementara itu seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan mengumpulkan kelompoknya yang bertempur bersama para prajurit itu. Agaknya orang itu diperintah langsung oleh Harya Wisaka.

Selain para tawanan, maka mereka pun telah membawa kawan-kawan mereka yang terluka. Bahkan mereka yang telah terbunuh di peperangan. Tetapi mereka tidak menghiraukan tubuh-tubuh yang lain yang terbaring diam di bekas arena pertempuran itu. Beberapa orang dari beberapa perguruan telah terbunuh pula. Demikian pula orang yang telah dibunuh langsung oleh Harya Wisaka.

Beberapa saat kemudian, tempat itu pun menjadi sepi. Semua orang yang terlibat telah pergi.

Tetapi ketika Paksi bangkit berdiri, Wijang pun bertanya, “Kau akan pergi ke mana?”

“Kita lihat, apa yang tertinggal di bekas arena itu.”

“Jangan,” sahut Wijang. “Masih akan ada orang yang datang. Orang-orang dari perguruan itu tidak akan membiarkan saudara-saudara seperguruan mereka yang terbunuh, berceceran di bekas arena pertempuran itu. Mereka akan datang kembali untuk mengambil dan kemudian menguburkan mereka. Mungkin di sekitar tempat ini pula.”

Paksi mengurungkan niatnya. Sementara itu, Wijang pun berkata, “Marilah. Lebih baik kita pulang.”

Paksi mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Kita akan pulang saja. Mudah-mudahan orang-orang yang berlari cerai berai itu tidak ada yang tersesat ke gubuk kita.”

“Tidak. Mereka tentu akan segera berkumpul di tempat yang sudah diisyaratkan oleh masing-masing perguruan. Mereka pun akan segera mengirimkan orang untuk mencari saudara-saudara mereka yang tertinggal.”

Paksi tidak menyahut. Namun berdua mereka pun segera meninggalkan tempat itu.

Sebenarnyalah, gubuk mereka masih tetap tidak disentuh oleh orang lain. Pintunya masih tertutup dan perabot-perabotnya  pun masih tetap berada di tempatnya.

Malam itu, keduanya seakan-akan tidak sempat memejamkan mata. Beberapa saat kemudian langit pun telah dibayangi oleh cahaya fajar, sehingga mereka pun harus segera bangkit.

Ketika kemudian matahari terbit, keduanya duduk di dalam gubuk mereka. Setelah semalam mereka disibukkan bukan saja wadag mereka, tetapi juga ketegangan yang mencengkam jantung, maka mereka pun merasa perut mereka lapar.

“Aku akan makan,” desis Wijang.

Paksi tersenyum. Katanya, “Aku juga lapar.”

Keduanya pun kemudian makan nasi dingin dengan sayur yang sudah dingin pula. Tetapi mereka sudah terlalu biasa, sehingga keduanya makan dengan lahapnya.

Namun sambil makan, Wijang pun sempat berkata, “Peristiwa semalam masih merupakan satu teka-teki bagiku.”

“Kenapa?” bertanya Paksi.

“Aku tidak yakin akan sikap Ki Rangga Suraniti. Ia adalah seorang prajurit yang baik. Demikian pula Ki Nukilan. Namun tiba-tiba saja mereka sudah bekerja bersama dengan Paman Harya Wisaka. Rasa-rasanya sulit untuk dipercaya.”

“Tetapi bukankah itu sudah terjadi?”

“Justru karena Ki Rangga Suraniti seorang prajurit sandi,” berkata Wijang, “banyak kemungkinan dapat terjadi. Apakah Ki Rangga Suraniti telah dimanfaatkan oleh Paman Harya Wisaka atau Ki Rangga justru sedang memanfaatkan orang-orang Paman Harya Wisaka untuk menghancurkan perguruan-perguruan yang dicurigai akan menentang kuasa Pajang, sekaligus menjebak Paman Harya Wisaka justru dalam tugas sandinya.”

“Jika demikian, maka Ki Rangga Suraniti akan mendapatkan hasil ganda.”

“Tetapi Paman Harya Wisaka juga bukan orang yang dungu. Ia pun tentu mempunyai jaringan sandi sendiri.”

Paksi mengangguk-angguk. katanya, “Alangkah rumitnya. Tetapi yang jelas bahwa di dalam istana Pajang sendiri telah timbul persoalan. Tetapi apakah Harya Wisaka juga sering berada di istana Pajang?”

“Ya. Sampai saat-saat terakhir, Paman Harya Wisaka masih leluasa untuk berada di istana Pajang.”

“Apakah Kangjeng Sultan belum tahu, sifat dan watak Harya Wisaka.”

“Mungkin Kangjeng Sultan sudah mendapat laporan serba sedikit. Tetapi agaknya masih samar-samar dan belum ada bukti-bukti yang pasti. Tetapi Kakangmas Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar sudah mengetahuinya. Karena itu, setidak-tidaknya Kakangmas Sutawijaya dapat membayanginya.” Wijang itu pun terdiam sejenak. Dahinya berkerut. Agaknya ada sesuatu yang dipikirkannya. Namun kemudian ia pun berdesis, “Tetapi tidak lama lagi, Kakangmas Sutawijaya akan meninggalkan Pajang.”

“Kenapa?” bertanya Paksi.

Wijang menarik nafas dalam-dalam. katanya, “Ki Gede Pemanahan akan mendapatkan hak atas Alas Mentaok, sebagaimana Ki Penjawi yang telah lebih dahulu menerima tanah Pati setelah mereka berhasil menyingkirkan Paman Harya Penangsang.”

Paksi mengangguk-angguk pula. Namun ia pun kemudian bertanya, “Tetapi kenapa Pangeran Benawa justru meninggalkan istana?”

“Sudah aku katakan, suasananya sama sekali tidak menyenangkan. Di luar istana Pangeran Benawa akan dapat mengamati keadaan yang sebenarnya dari rakyat Pajang.”

“Tetapi kehadiran Harya Wisaka di istana Pajang?”

“Untuk sementara Kakangmas Sutawijaya masih ada di istana.”

Paksi tidak bertanya lagi. Sementara Wijang telah menyenduk nasi semangkuk lagi. Kemudian dituangkannya pula seirus sayur di mangkuk itu pula. Sebungkus pepes ikan yang masih tersisa.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Apakah di istana Pangeran Benawa juga dapat makan sebanyak itu.

Agaknya Wijang dapat membaca perasaan Paksi, sehingga karena itu, maka ia pun berkata, “Aku merasa bebas disini. Aku dapat makan dengan cara ini. Tidak dikekang oleh adat dan kebiasaan yang menjerat, sehingga rasa-rasanya menelan nasi pun harus mematuhi paugeran.”

“Tetapi di istana bagi seorang pangeran tentu disediakan makan dengan lauknya yang terpilih.”

“Kau kira juru madaran di istana pandai memasak? Hanya ujudnya sajalah yang menarik. Mungkin menimbulkan selera, tetapi setelah mulut mulai disuapi, rasa-rasanya semuanya hambar. Berbeda dengan masakan kita disini. Segala sesuatunya dapat disesuaikan dengan selera kita disini. Mau asin, manis, asam bahkan pahit sekali pun sebagaimana daun kates. Tetapi dengan ikan asin, lombok abang dan tempe nikmatnya bukan main.”

Paksi tertawa. katanya, “Akulah yang mengajarimu, Wijang.”

Wijang pun tertawa. Katanya, “Kau adalah juru madaran yang paling pandai di seluruh Pajang.”

Keduanya pun tertawa. Tetapi kemudian Wijang pun berhenti tertawa karena ia masih harus menyuapi mulutnya.

Namun dalam pada itu, Paksi telah teringat kepada ayahnya. Apakah ayahnya juga tersangkut dengan usaha Harya Wisaka. Atau ayahnya telah memberitahukan beberapa orang, bahkan termasuk dirinya, mencari cincin itu untuk mengangkat derajatnya sehingga ia akan mendapat kenaikan pangkat dan jabatan. Atau ayahnya sendiri memang menginginkan cincin itu untuk dipakainya sendiri.

Tetapi Paksi tetap mendekap pertanyaan-pertanyaan itu di dalam dadanya. Ia tidak ingin Wijang ikut mempertanyakannya pula.

Beberapa saat kemudian keduanya saling berdiam diri. Nampaknya keduanya sedang berangan-angan sejalan dengan persoalan mereka masing-masing.

Tiba-tiba saja Wijang berhenti mengunyah nasinya. Dengan kerut di dahi ia pun berdesis, “Paksi, kau tahu sekarang bahwa orang-orang itu akan mencariku. Jika Paman Harya Wisaka sudah mulai menyatakan dengan terbuka mencari Pangeran Benawa, maka semua orang tentu akan mencari Pangeran Benawa itu.”

Wijang pun berhenti berbicara untuk menelan nasi yang masih tersisa di mulutnya.

Paksi mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Dengan demikian, maka kau harus berhati-hati.”

“Paksi,” berkata Wijang kemudian, “menurut pendapatku, maka akan segera tersebar ceritera bahwa Harya Wisaka sedang mencari Pangeran Benawa yang diduga telah membawa cincin itu keluar dari istana.”

“Bukankah Harya Wisaka tidak menyebarkan ceritera itu? Harya Wisaka tentu berusaha untuk tetap merahasiakannya bagi kepentingannya sendiri. Jika ceritera itu diketahui oleh banyak orang, bukankah itu berarti bahwa ia akan mempunyai banyak saingan?”

“Tentu. Tetapi aku yakin bahwa ceritera itu tentu akan merembes keluar. Tidak semua pengikut Paman Harya Wisaka dan tidak semua prajurit mampu menyimpan rahasia serapat-rapatnya.”

“Apakah menurut pendapatmu, kita harus meninggalkan tempat ini?”

“Maksudku bukan kita. Tetapi aku. Sebaiknya kita memang berpisah. Jika akan terjadi sesuatu padaku, biarlah itu terjadi. Tetapi aku tidak ingin kau ikut terperosok ke dalam kesulitan karena aku.”

Paksi memandang Wijang dengan tajamnya. Dengan mantap ia pun berkata, “Apa pun yang terjadi, aku tidak akan berkeberatan.”

“Jangan Paksi. Kau harus menempuh jalanmu sendiri, Bukankah kau mengemban tugas?”

“Kau tahu, tugas apa yang harus aku lakukan?”

“Cincin itu?” bertanya Wijang.

“Ya.”

“Kau akan mengambil dari tanganku?”

“Kau tahu bahwa itu tidak akan dapat aku lakukan. Ilmumu lebih tinggi dari ilmuku. Tetapi bukan hanya karena itu, cincin itu sudah berada di tangan orang yang berhak.”

“Aku tidak memerlukannya. Aku hanya ingin mengamankannya.”

“Tetapi ijinkan aku pergi bersamamu. Bukankah aku juga tidak akan tetap berada disini sampai rambutku ubanan? Bukankah aku juga harus mempersiapkan sesuatu yang lebih besar bagi masa depanku? Bukan sekedar gula kelapa dan kebun pisang di pinggir kali itu?”

Wijang mengangguk-angguk. katanya, “Ya. Aku mengerti. Tetapi jika kau pergi bersamaku, maka mungkin sekali masa depanmu itu akan hilang sama sekali. Kita berdua tidak akan pernah disebut-sebut lagi untuk selamanya.”

“Sudah aku katakan, apa yang akan terjadi, aku tidak berkeberatan.”

“Tetapi apakah kau yakin, bahwa sikap yang kau ambil ini dapat diterima oleh ayahmu? Atau barangkali ayahmu justru telah bekerja bersama dengan Harya Wisaka.”

“Banyak kemungkinan dapat terjadi. Tetapi aku berhak menempuh jalanku sendiri. Umurku sudah delapan belas lebih sekarang.”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau akan meninggalkan tempat ini?”

“Aku harus meninggalkan tempat ini pada suatu saat. Jika tidak besok atau lusa, tentu sebulan atau setahun lagi. Aku masih membayangkan pada suatu saat aku akan kembali kepada keluargaku. Betapa kerasnya ayahku, tetapi ia adalah ayahku. Di rumah itu ada ibuku yang sangat mengasihiku serta adik-adikku.”

“Jika kau pergi bersamaku, mungkin kau tidak akan pernah sampai kepada mereka lagi.”

“Jika itu yang harus terjadi, maka biarlah terjadi.”

“Baiklah, Paksi. Jika kau benar-benar sudah mantap. Kau sudah cukup dewasa untuk mengambil sikap.”

“Aku bertanggung-jawab atas sikapku ini, Wijang.”

“Baiklah. Kita harus merencanakan, kapan kita meninggalkan tempat ini.”

“Kapan saja kau kehendaki.”

Wijang mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berkata, “Satu hal yang harus kita perhitungkan, Paksi. Para pemimpin perguruan yang gagal mengadakan pertemuan itu, tentu akan berpencar. Mereka tidak akan merencanakan pertemuan lagi disini. Apalagi setelah berita tentang kepergian Pangeran Benawa yang membawa cincin yang mereka cari itu sampai ke telinga mereka. Maka tempat ini akan mereka tinggalkan. Bagi para pemimpin perguruan itu merasa bahwa kehadiran mereka disini sudah diketahui oleh petugas sandi Pajang siapa pun yang mengendalikan para petugas sandi itu. Selanjutnya, karena cincin itu dibawa oleh seseorang, maka orang itu dapat merayap dari satu tempat ke tempat lain. Agak berbeda dari gambaran mereka, bahwa cincin itu jatuh dari langit di antara bebatuan dan semak-semak, sehingga mereka menunggu isyarat. Mungkin cahaya, mungkin lidah api, mungkin semak-semak yang menjadi hangus tanpa sebab atau pertanda-pertanda lain. Tetapi jika cincin itu ada di tangan seseorang, maka keberadaannya tergantung kepada orang yang membawanya.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia pun berkata, “Yang akan terjadi kemudian adalah, para pemimpin perguruan yang tamak itu akan sibuk mencari Pangeran Benawa.”

“Ya.”

“Kenapa Pangeran Benawa itu tidak bersembunyi saja di istana Pajang sehingga mendapat perlindungan yang rapat.”

Wijang tersenyum. Katanya, “Sudah aku katakan, bahwa Pangeran Benawa tidak merasa tenang berada di istana, karena sikap beberapa orang di sekitar Kanjeng Sultan. Selebihnya, salah sekali jika Pangeran Benawa itu aman berada di istana. Setidak-tidaknya, Paman Harya Wisaka akan mempunyai kesempatan lebih banyak untuk mendapatkan apa yang dicarinya dengan akal liciknya. Akal yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan oleh orang lain.”

Paksi mendengarkan keterangan Wijang itu dengan bersungguh-sungguh. Beberapa saat ia terdiam. Sementara Wijang menghabiskan sisa nasi yang masih di mangkuknya.

Setelah Wijang selesai makan, maka Paksi pun segera mengumpulkan mangkuk-mangkuknya yang kotor, membawa keluar dan mencucinya, sementara Wijang pergi ke belik mengambil air.

“Aku akan pergi ke pasar,” berkata Paksi kemudian. “Aku ingin melihat, apakah ada sesuatu isyarat yang dapat ditangkap di pasar atau di sepanjang jalan.”

Wijang termangu-mangu sejenak. Katanya, “Baiklah, tetapi berhati-hatilah. Mungkin sesuatu dapat terjadi. Tetapi sebaiknya kau tetap tidak dikenal. Apalagi terlibat jika terjadi sesuatu di antara para cantrik dari berbagai perguruan atau bahkan dengan prajurit Pajang.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti.”

Sejenak kemudian, maka Paksi pun telah berjalan menyusuri jalan setapak. Kemudian turun ke jalan yang langsung menuju ke pasar.

Matahari telah menjadi agak tinggi. Panasnya mulai terasa menggatalkan kulit.

Ketika Paksi sampai di pasar, maka penjual nasi tumpang di dekat pintu gerbang sudah mulai membenahi sisa dagangannya. Nasinya sudah hampir habis. Sayur-sayurnya pun tinggal sedikit. Sementara bumbu kelapanya sudah habis sama sekali.

Kinong masih duduk di sebelah penjual nasi tumpang itu. Keranjang kecilnya diletakkannya tidak jauh dari tempat duduknya.

Sambil tersenyum Paksi mendekatinya. Dengan nada tinggi Paksi bertanya, “Apakah kau sudah tidak kebagian nasi tumpang?”

“Baru saja aku makan. Aku adalah pembeli yang terakhir pagi ini, sehingga aku mendapat dua kali lipat dari yang seharusnya. Perutku menjadi kenyang sekali.”

Penjual nasi tumpang itu tertawa. Katanya, “Ya. Ia memang pembeli terakhir hari ini. Jika kau juga lapar anak muda, sayang sekali, bumbu kelapanya sudah habis sama sekali.”

“Bagaimana kalau nasi dengan sambal bubuk dele saja? Atau barangkali masih ada besengek tempe?”

“Apakah kau lapar sekali?” bertanya penjual nasi tumpang itu.

Penjual nasi itu tertawa pula. katanya, “Masih ada kedai yang buka.”

“Kalau aku makan di kedai itu, maka aku tidak jadi berbelanja. Uangnya habis untuk semangkuk nasi rawon dengan sebutir telur pindang.”

Penjual nasi itu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Kau dapat beli pondoh jagung dengan tempe bacem.”

“Atau ketela pohung yang direbus pakai legen.”

“Beli, Kang. Manis sekali,” tiba-tiba Kinong menyambung.

“Kau masih belum kenyang?” bertanya penjual nasi itu.

“Sudah, Bi. Tetapi ketela pohung yang direbus pakai legen itu manis sekali.”

Paksi tertawa. Katanya, “Marilah kita cari kalau masih ada.”

“Perutmu, Kinong,” sahut penjual nasi itu di sela-sela tertawanya, “nampaknya hanya kecil saja, tetapi ternyata isinya lebih dari dua pincuk.”

Kinong bangkit sambil memegangi perutnya yang penuh. Diraihnya keranjang kecil. Lalu ia mengikuti Paksi yang melangkah meninggalkan penjual nasi tumpang yang sudah siap untuk pulang.

Seperti yang dikatakan, maka Paksi pun telah mengajak Kinong untuk membeli ketela pohung yang direbus di dalam legen. Diberikannya sebungkus ketela itu kepada Kinong sambil berkata, “Ambil.”

“Semua untuk aku?” bertanya Kinong.

“Ya.”

“Aku sudah kenyang.”

“Kau tidak perlu makan ketela itu sampai habis. Bawa saja. Barangkali nanti setelah kau merasa lapar lagi.”

Kinong mengerutkan dahinya. Namun Kinong itu berpaling ketika ia mendengar namanya dipanggil.

“Tolong bantu aku,” berkata seorang perempuan yang membawa beberapa kreneng sayuran. Nampaknya ia mendapat kesulitan untuk membawanya.

Kinong sudah mengenal orang itu dengan baik. Karena itu, maka ia pun segera berlari-lari setelah meletakkan sebungkus ketela pohung yang direbus dengan legen itu ke dalam keranjang kecilnya.

“Dimana biyungmu?” bertanya perempuan itu. “Sedang membantu membawakan seperangkat alat dapur ke padukuhan sebelah.”

“Siapa yang membeli seperangkat alat dapur?” bertanya perempuan itu.

“Yu Milah.”

“O, pantas. Baru sepekan yang lalu ia menikah. Agaknya Milah ingin berumah tangga sendiri terpisah dari orang tua dan mertuanya.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat Kinong dengan cekatan menempatkan kreneng itu ke dalam keranjang kecilnya. Namun perempuan itu berkata, “Dua saja, Kinong. Biarlah yang satu aku bawa sendiri. Terlalu berat buatmu jika kau bawa ketiga kreneng itu sekaligus dalam keranjang kecilmu.”

“Tetapi aku kuat,” sahut Kinong.

Perempuan itu tertawa. Sambil menepuk bahu Kinong ia berkata, “Jika membawa beban terlalu berat di atas kepalamu, maka kau tidak akan bertambah tinggi.”

Kinong mengerutkan dahinya. Namun kemudian satu dari ketiga kreneng itu diletakkan kembali di luar keranjang kecilnya.

Paksi pun kemudian melangkah pergi. Ketika ia lewat di depan penjual dawet itu, ia melihat beberapa orang sedang meneguk dawetnya. Tetapi tidak ada di antara mereka Ki Rangga Suraniti atau Ki Nukilan.

Seperti biasanya, penjual dawet itu menyapa Paksi dan mempersilahkannya singgah.

Paksi pun kemudian duduk di sebelah penjual dawet itu sambil bertanya, “Apakah dua orang pembeli yang selalu berbicara tentang undangan itu tidak datang?”

Penjual dawet itu tertawa. Katanya, “Jika mereka ada di sini, kau tidak perlu membayar dawet yang kau minum.”

Paksi tersenyum. Sementara penjual dawet itu berkata selanjutnya, “Mereka belum nampak sejak pagi.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi itu berarti aku harus membayar sendiri.”

“Bagaimana kalau hari ini aku yang membayar?” bertanya penjual dawet itu.

Tertawa Paksi pun meledak. Sementara penjual dawet itu pun tertawa pula sehingga orang-orang yang sedang membeli dawet itu memandangi mereka dengan terheran-heran.

Ketika penjual dawet itu menyadari, maka ia pun berkata kepada para pembelinya, “Kemenakanku ini kerjanya hanya berkelakar dan mengganggu orang saja.”

Para pembeli dawet itu mengangguk-angguk. Ada di antara mereka yang tersenyum. Tetapi ada yang justru merasa terganggu.

Dalam pada itu, menurut pengamatan Paksi, tidak ada sesuatu yang terjadi di pasar itu. Mungkin di antara orang-orang yang berjalan hilir mudik di pasar itu ada beberapa orang dari perguruan yang tidak dikenali cirinya. Namun mereka tidak berbuat apa-apa. Paksi pun tidak melihat Ki Rangga Suraniti dan Ki Nukilan. Ia juga tidak melihat prajurit yang masuk ke dalam pasar dalam tugas keprajuritan mereka. Seandainya ada, maka mereka tentu prajurit dalam tugas sandi.

Namun agaknya prajurit Pajang yang datang ke kaki Gunung Merapi itu mampu membatasi gerak mereka. Tidak ada seorang  pun di pasar itu yang berceritera tentang kehadiran sepasukan prajurit Pajang. Tidak seorang pula yang berbicara tentang pertempuran yang terjadi.

Menurut dugaan Paksi, setelah pertempuran itu terjadi, maka orang-orang dari beberapa perguruan itu justru akan menyebar. Seperti yang diperhitungkan oleh Wijang, maka ceritera tentang Pangeran Benawa itu pun akan menyebar pula, sehingga mereka akan berebut dahulu menemukan Pangeran Benawa. Jika mereka menemukan Pangeran Benawa, maka mereka akan menemukan cincin yang mereka cari itu.

“Jika mereka pergi menyebar, bukankah Wijang justru akan lebih aman berada disini,” berkata Paksi di dalam hatinya.

Namun Paksi tertegun ketika ia melihat dua orang suami istri yang sedang berbelanja di pasar itu. Menilik pakaiannya, keduanya bukan orang kebanyakan sebagaimana yang ada di pasar itu. Sikap mereka pun agak berbeda. Keduanya nampak dan bersikap baik.

Namun Paksi justru berusaha untuk menghindarinya. Perempuan yang memakai baju hijau pupus dan kain hijau selapis lebih tua dari bajunya pernah ditemuinya di Panjatan. Perempuan itu adalah Pupus Rembulung dalam sikapnya sebagai seorang perempuan yang lembut. Sedang suaminya, Repak Rembulung  pun sama sekali tidak menunjukkan sikap garangnya. Sikapnya yang ramah tidak memberikan kesan sebagaimana pernah dilihat Paksi di antara hiruk-pikuknya pertempuran.

Beberapa saat lamanya, keduanya berada di pasar. Namun kemudian keduanya pun melangkah ke pintu gerbang dan meninggalkan pasar itu. Paksi mencoba untuk melihat keduanya berjalan menyusuri jalan menjauhi pasar itu. Tetapi Paksi tidak tahu kemana keduanya akan pergi. Mungkin ke Panjatan. Tetapi mungkin pula tidak.

Tetapi Paksi pun kemudian melihat dua orang yang mengawasi Repak Rembulung dan Pupus Rembulung itu. Kedua orang yang tidak mengenal Paksi itu mulai membicarakan kedua orang suami isteri yang berjalan menjauh.

“Siapa yang menduga bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang paling garang di daerah ini.”

“Orang-orang Pajang tidak berhasil menangkap mereka.”

“Tidak seorang  pun dari antara para pemimpin yang tertangkap. Jika ada satu dua orang yang dibawa oleh para prajurit, mereka adalah cantrik-cantrik kecil.”

Paksi mencoba memperhatikan kedua orang itu. Tetapi Paksi sama sekali tidak dapat mengenali ciri-cirinya. Namun Paksi yakin, bahwa kedua orang itu tentu terlibat dalam pertempuran antara beberapa perguruan yang sedang berusaha untuk bertemu dan menyesuaikan sikap mereka itu melawan para prajurit Pajang.

“Mungkin keduanya murid dari perguruan-perguruan yang mengadakan pertemuan itu. Namun mungkin pula mereka petugas sandi dari Pajang atau pengikut Harya Wisaka.”

Paksi pun kemudian tidak terlalu lama lagi berada di pasar.

Ia pun segera membeli keperluannya sehari-hari dan sejenak kemudian Paksi pun telah berada di luar pasar.

Matahari telah sampai ke puncak langit. Pasar itu pun menjadi semakin sepi. Orang-orang yang berjualan di pasar itu telah membenahi sisa-sisa dagangan mereka.

Ketika Paksi sampai di gubuk kecilnya, Wijang sedang berbaring di bawah sebatang pohon yang rindang di atas ketepe yang baru saja dianyamnya.

“Kau membeli apa?” bertanya Wijang.

“Garam, terasi dan ikan asin. Bukankah kau sudah memetik daun kates gerandel?”

“Makanan maksudku?”

Paksi tertawa. katanya, “Aku lupa membeli kelepon. Tetapi bukankah kita dapat membuat makanan sendiri? Ketela pohung yang kita rebus dengan legen? Di pasar aku juga membelinya. Tetapi aku berikan kepada Kinong.”

“Kau lebih sayang kepada Kinong daripada kepadaku.”

“Kita mempunyai pohon ketela pohung. Kita mempunyai legen. Bukankah kita dapat membuat sendiri seberapa saja kita mau?”

“Tetapi kita harus menunggu nanti malam. Kau tidak mau terlalu sering mengepulkan asap dari gubuk ini di siang hari.”

Paksi tertawa. Sementara Wijang masih saja berbaring di bawah pohon itu. katanya, “Ceriterakan, apa yang kau temui di pasar.”

“Repak Rembulung dan Pupus Rembulung,” jawab Paksi.

Wijang pun segera bangkit dan duduk di atas ketepenya. Katanya, “Duduklah.”

Paksi pun kemudian duduk di sebelahnya. Diceriterakannya, apa yang dilihatnya di pasar. Repak Rembulung dan Pupus Rembulung dalam ujud dan sikapnya sebagai sepasang suami-isteri yang baik. Dengan pakaian dan sikap yang tertib keduanya berada di pasar. Nampaknya keduanya sedang berbelanja. Sementara itu, dua orang memperhatikan Repak Rembulung dan Pupus Rembulung itu.

“Tetapi aku tidak berhasil melihat ciri-ciri kedua orang itu,” berkata Paksi kemudian.

“Apa yang akan dilakukan oleh Repak Rembulung dan Pupus Rembulung itu?” desis Wijang.

“Entahlah,” sahut Paksi.

“Agaknya keduanya sudah siap meninggalkan daerah ini,” desis Wijang.

“Agaknya bukan hanya mereka berdua.”

“Ya.”

“Jika demikian, bukankah kau justru akan merasa aman disini daripada di tempat lain? Jika orang-orang yang mencarimu itu menyebar, maka kau justru akan dapat dengan leluasa tinggal disini tanpa diganggu orang lagi sampai saatnya kau ingin kembali Pajang.”

“Disini aku hanya sekedar bersembunyi. Tetapi aku tidak dapat melihat kehidupan yang sebenarnya.”

“Pasar adalah lingkungan kecil yang mencerminkan satu lingkungan yang luas. Kita dapat melihat kehidupan itu di pasar. Mendengarkan pembicaraan orang-orang dari berbagai lapisan dan lingkungan.”

“Tetapi banyak orang yang tidak sempat pergi ke pasar. Mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai uang sama sekali. Mereka yang tidak mempunyai hasil sawah untuk dijual. Mereka yang hanya dapat makan dengan mengais di kebun mereka yang sempit.”

“Tetapi pasar itu dapat memberikan kehidupan kepada Kinong, kepada keluarganya, karena ibunya juga menjual tenaganya di pasar itu.”

“Mereka yang rumahnya jauh dari pasar tidak akan tahu, bahwa pasar itu dapat memberinya makan.”

Paksi terdiam. Namun kepalanya terangguk-angguk kecil. Meskipun demikian, nampaknya Wijang tidak tergesa-gesa meninggalkan tempat itu. Agaknya tanaman ketela pohung, jagung yang baru tumbuh setelah tanaman yang terdahulu dipetik. Padi gaga, kebun pisang, beberapa batang pohon kelapa dan rumpun-rum pun bambu tutul dan pering cendani, sempat menghambatnya. Ada perasaan sayang untuk meninggalkan itu semuanya.

Apalagi Paksi. Ia sudah lebih dari setahun berada di tempat itu. Sudah dua kali ia memetik jagung. Sekali menuai padi gaga. Tidak terhitung, berapa kali ia menebang batang pisang dan mengambil buahnya. Ketela pohon yang ditanamnya sejak lebih dari enam bulan yang lalu, yang dapat dicabut kapan saja ia inginkan, sebatang dua batang atau berapa saja.

Keduanya pun terdiam untuk beberapa saat lamanya. Nampaknya keduanya sedang merenungi apa yang sebaiknya mereka lakukan.

Namun tiba-tiba saja Wijang telah menggamit Paksi. Ketika ia memandang Paksi, maka Paksi itu pun mengangguk kecil. Wajah mereka nampak menegang.

Namun Paksi pun kemudian bangkit berdiri. Menggeliat. Kemudian melangkah masuk ke dalam gubuk kecilnya.

Sejenak kemudian, maka Wijang pun telah menyusulnya. Ia berhenti sejenak di depan pintu gubuknya. Namun kemudian ia pun telah masuk pula ke dalam.

Demikian Wijang berada di dalam gubuknya serta setelah menutup pintunya, maka ia pun segera mempersiapkan dirinya. Dikenakannya pelindung bagian atas pergelangan tangannya, menyelipkan senjatanya di bawah bajunya serta mempersiapkan dirinya. Sementara itu, Paksi pun telah memungut tongkatnya pula.

“Agaknya karena orang-orang itu sekarang berkeliaran di kaki gunung ini sebelum mereka pergi menjelajahi daerah yang luas untuk menemukan Pangeran Benawa, maka ada juga orang yang tersesat sampai ke tempat ini.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ternyata rumah kita sudah tidak terlindung lagi.”

“Kau dengar langkah mereka? Tidak hanya satu orang. Tetapi beberapa orang.”

“Ya. Aku masih berharap mereka tidak melihat gubuk kita ini.”

“Mereka menjadi semakin dekat. Kau dengar desir kaki mereka di sela-sela pepohonan itu?” Paksi mengangguk.

“Sebaiknya kita berada di luar saja,” desis Paksi. Wijang mengangguk. Tetapi ia pun berkata, “Mereka sudah ada di depan hidung kita.”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian telah mengikatkan tali kampilnya di atas ikat pinggangnya. Jika ia terpaksa meninggalkan gubuknya saat itu juga, maka bekal yang dibawanya dari rumah, serta perhiasan yang diberikan ibunya kepadanya, tidak akan tertinggal di gubuknya itu. Paksi belum tahu siapa yang datang.  Karena itu, maka ia harus sangat berhati-hati. Bahwa yang datang itu tidak berusaha untuk menyerap bunyi sentuhan tubuhnya pada dedaunan yang runtuh di tanah,  bukan berarti bahwa mereka tidak mampu melakukannya. Mungkin mereka menganggap hal itu tidak perlu mereka lakukan.

Namun sebelum membuka pintu, Wijang nampak ragu-ragu. Katanya hampir berbisik, “Jika mereka prajurit Pajang, dan bahkan Ki Rangga Suraniti sendiri, maka ia akan dapat mengenali aku.”

“Baiklah. Aku akan keluar lebih dahulu. Jika aku tidak memberi isyarat apa-apa, maka orang itu bukan Ki Rangga Suraniti dan bukan pula Ki Nukilan. Tetapi aku tidak mengenal prajurit Pajang yang lain yang akan dapat mengenalimu.”

“Baiklah. Keluarlah. Aku akan mengintip dari belakang pintu.”

Tetapi sebelum Paksi melangkah keluar, Wijang itu pun berkata, “Kau juga harus melindungi ujudmu.”

“Mereka sudah ada di luar.”

“Biar sajalah.”

Paksi tidak membantah. Ketika kemudian Wijang membuat garis-garis di wajahnya dengan jelaga yang dicoleknya dari pantat kuali, Paksi tidak mengelak. Bahkan kemudian, Wijang pun telah membuat garis-garis hitam pula di wajahnya sendiri. Di kening, di dahi, di pipi dan di dagunya. Kemudian keduanya telah mengenakan caping bambu yang lebar di kepalanya.

Keduanya pun kemudian telah mendengar orang yang bercakap-cakap sambil melangkah mendekati gubuk itu.

Yang kemudian lebih dahulu keluar dari gubuk itu adalah Paksi. Wajahnya nampak jauh lebih tua dari umurnya yang sebenarnya. Caping bambu yang lebar membuat wajahnya semakin tidak jelas.

Di luar berdiri empat orang yang berwajah garang. Mereka tidak mengenakan ciri-ciri apapun, sehingga Paksi tidak dapat mengenali, siapakah mereka dan dari perguruan yang mana.

Ketika mereka berempat melihat Paksi keluar dari gubuknya, maka orang-orang itu pun tertegun. Namun tiba-tiba saja seorang di antara mereka bertanya, “He, apakah kau pemilik gubuk ini?”

“Ya, Ki Sanak,” jawab Paksi. Suaranya pun bergetar sehingga tidak seperti suara aslinya.

Keempat orang itu memperhatikan wajah Paksi dengan seksama. Hampir serentak mereka tertawa.

“He, untuk apa sebenarnya kau samarkan wajahmu? Apa kau kira bahwa kau orang yang penting, sehingga kau merasa perlu menyamarkan wajahmu agar tidak mudah dikenali? Atau kau kira bahwa kau adalah seorang putera raja yang menghilang dari istana dan hidup menyendiri di kaki Gunung Merapi? Atau justru karena kau seorang penjahat yang sedang diburu, sehingga kau berusaha menghilangkan jejak dengan menyamarkan wajahmu?” bertanya salah seorang dari mereka.

Paksi tidak menjawab. Tetapi dahinya yang tercoreng jelaga itu berkerut. Orang itu telah menyebut seorang pangeran yang hilang dari istana. Apakah itu hanya satu kebetulan, atau ia memang sudah mendengar bahwa memang ada seorang pangeran telah menghilang dari istana.

Karena itu, hampir di luar sadarnya ia menyahut, “Akulah pangeran yang hilang dari istana itu.”

Keempat orang itu tertawa semakin keras. Seorang di antara mereka berkata kepada kawan-kawannya, “Ternyata kita menemui orang gila disini.”

Seorang yang lain, menyahut, “Tetapi nampaknya ia bukan orang gila yang berbahaya.”

“Aku memang tidak berbahaya bagi orang yang tidak menggangguku,” berkata Paksi dengan suara yang masih bergetar.

“Baiklah, Ki Sanak,” berkata seorang yang berkumis lebat, bermata kemerah-merahan. Nampaknya ia seorang yang lebih senang berbicara langsung sebagaimana dipikirkannya. “Aku tidak akan mengganggumu. Aku akan segera pergi. Tetapi katakan, apakah kau sudah menemukan cincin yang telah berada di sekitar tempat ini. Apakah cincin itu jatuh dari langit, atau dibawa dan disimpan oleh seseorang atau apa pun sebabnya berada di tempat ini. Menilik ujud gubukmu, kau tentu sudah cukup lama berada disini. Kami juga melihat tanamanmu yang terpelihara serta beberapa jenis kelengkapan yang lain.”

Paksi termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia pun bertanya,” Cincin apa yang kau maksud?”

“Kau tidak usah berpura-pura. Kau berada disini tentu karena cincin itu pula.”

“Aku tidak tahu maksudmu.”

“Jangan banyak bicara. Aku akan masuk ke dalam rumahmu untuk melihat, apakah cincin itu ada disini atau tidak.”

Ketika orang itu melangkah maju, Paksi berkata, “Tunggu, Ki Sanak. Kau tidak dapat masuk ke dalam rumah seseorang begitu saja. Kita belum saling mengenal. Nah, katakan siapakah kalian. Mungkin dengan mengenal kalian, aku akan mempersilahkan kalian masuk ke dalam gubukku.”

“Kami para murid utama dari sebuah perguruan yang terbesar di negeri ini. Tidak ada orang yang dapat menahan keinginan kami. Boleh atau tidak boleh, aku harus masuk ke dalam rumahmu untuk melihat, apakah kau menyembunyikan cincin itu atau tidak.”

“Ada banyak perguruan yang mengaku perguruan terbesar. Sebutkan, apakah kau murid Sima Pracima atau Wira Bangga atau Kebo Serut atau siapa? Tetapi aku kira kau bukan murid Melaya Werdi atau Megar Permati.”

Tetapi orang bermata merah itu tertawa. Katanya, “Kau sebut nama para pemimpin dari perguruan-perguruan kerdil itu? Jika mengenal nama-nama itu, seharusnya kau juga mengenal nama yang lebih besar dari mereka.”

“Apakah ada yang lebih besar dari mereka?” bertanya Paksi di luar sadarnya.

“Ternyata pengalamanmu masih terlalu picik. Apakah kau belum pernah mengenal nama Ajag Pinunjung?”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian tiba-tiba saja berkata, “Jadi kau murid utama Ajag Pinunjung? Pantas kalian datang berempat.”

“Kenapa?” bertanya orang bermata merah itu.

“Bukankah sejenis serigala itu selalu bergerombol?”

“Iblis kau. Sebut namamu dan perguruanmu. Jika kau mengenal nama-nama pemimpin perguruan-perguruan kerdil itu, maka kau tentu terlibat dalam pertemuan yang gagal itu.”

“Namaku Sumirat. Aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan perguruan-perguruan yang mengadakan pertemuan itu.”

“Tikus-tikus itu menjadi seperti semut disiram air. Mereka berpencar tanpa tujuan. Bercerai-berai kalang-kabut ke segala arah hanya karena kehadiran Harya Wisaka.”

Tetapi tiba-tiba saja kawannya menyahut, “Harya Wisaka itulah yang menyebarkan berita hilangnya seorang pangeran dari istana.”

Orang bermata merah itu tertawa. Katanya, “Mereka memang dungu. Mereka mencari pangeran yang hilang itu. Sementara cincin itu tersembunyi disini.”

Paksi memang menjadi berdebar-debar. Orang-orang yang mengaku dari perguruan yang dipimpin oleh Ajag Pinunjung itu mengetahui banyak hal tentang peristiwa yang terjadi di kaki Gunung Merapi itu. Bahkan mereka sudah mengetahui pula, bahwa seorang pangeran telah hilang dari istana. Seorang pangeran yang hilang bersamaan dengan hilangnya sebuah cincin yang sangat berarti bagi kerajaan Pajang.

Tetapi agaknya mereka mempunyai jalannya sendiri. Perguruan ini tidak ikut dalam pertemuan yang gagal itu.

Wijang yang mendengarkan di belakang pintu pun kemudian meyakini bahwa mereka bukan orang-orang dari istana yang sedang mencarinya atau para pengikut Harya Wisaka yang mungkin sudah mengenalinya. Dari celah-celah pintu yang sedikit terbuka Wijang dapat melihat pula ujud dari orang-orang yang sedang mencari cincin yang hilang dari istana itu.

Karena itu, maka sejenak kemudian, Wijang pun telah keluar pula dari gubuk itu.

Keempat orang itu terkejut. Seorang lagi yang keluar dari gubuk itu dengan wajah yang disamarkan. Dengan dahi yang berkerut seorang di antara mereka berkata, “Ternyata kau tidak sendiri.”

“Ini kakakku,” berkata Paksi, “namanya Sumirat.”

Wijang tertawa. Katanya, “Sumirat adalah namamu.”

“O,” Paksi termangu-mangu sejenak. Katanya, “Ya, ya. Namaku Sumirat. Ini kakakku.”

Orang bermata merah itu tiba-tiba membentak, “Buat apa kau menyebut sebuah nama. Jika kau sudah menyamarkan wajahmu, maka kau tentu tidak akan menyebut yang sebenarnya.”

“Itulah sebabnya aku tidak bertanya, siapakah namamu.”

“Aku bukan pengecut,” berkata orang yang bermata merah, “namaku Kerta Ambal dari Perguruan Rajah Malang. Sebuah perguruan yang besar yang dipimpin oleh Ki Ajag Pinunjung.”

“Baik, baik,” sahut Wijang, “justru karena kau bukan murid-murid dari perguruan yang berkumpul disini, maka kau telah menelusuri lingkungan yang berbeda. Selama ini belum pernah ada orang yang menyentuh halaman rumah kami ini.”

“Justru karena itu kau menganggap bahwa cincin itu masih kalian sembunyikan disini.”

“Sejak kecil kami tinggal disini. Sejak bapak dan biyungku meninggal, kami hidup berdua disini. Karena itu, maka kami tidak tahu menahu tentang cincin yang kau sebut-sebut itu.”

“Persetan,” geram orang yang bertubuh tinggi besar yang nampaknya seorang pendiam. “Minggir. Aku akan melihat isi rumahmu. Atau aku akan mencabut rumah itu dan melemparkannya ke dalam jurang sebelah.”

“Jangan Ki Sanak,” sahut Wijang. “Jika kau rusak rumahku, maka aku tidak mempunyai tempat tinggal lagi.”

“Karena itu, biarkan aku masuk.”

“Tetapi dengan syarat.”

“Syarat apa?”

“Jangan memindahkan satu barang  pun dari tempatnya. Apalagi merusaknya.”

“Aku akan melihat apa saja yang ingin aku lihat. Kami sedang mencari cincin.”

“Cincin itu tentu berharga sekali,” berkata Wijang. “Tetapi dengan caramu itu, kalian tentu tidak akan dapat menemukan. Kalian tidak dapat mencari cincin itu seperti mencari kecik di bawah pohon sawo. Cincin itu mungkin akan kalian dapatkan dengan menjalani laku. Berpuasa tiga hari tiga malam. Atau bertapa di atas gumuk kecil itu atau dengan tapa ngalong, bergayut pada sebatang pohon dengan kepala di bawah atau berendam di dalam air selama sepekan. Dengan demikian maka kau akan mendapat pertanda jika cincin itu benar-benar ada disini. Mungkin kau akan melihat cahaya atau getaran atau teja atau apapun.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Kerta Ambal menyahut, “Persetan dengan sesorahmu. Sekarang, biarkan kami masuk ke dalam gubukmu. Apa pun yang akan kami lakukan, kalian tidak akan dapat mencegahnya.”

“Jangan berkata begitu, Ki Sanak,” jawab Paksi. “Kami dapat menerima kalian dengan baik jika sikap kalian baik.”

Orang yang bertubuh tinggi besar itu agaknya tidak telaten lagi. Karena itu, maka ia pun segera melangkah mendekati gubuk Paksi.

Tetapi Paksi tidak membiarkannya. Ia pun melangkah menghadang orang yang bertubuh tinggi besar itu.

Namun orang itu tidak mau dihentikan. Dengan tangannya ia mendorong Paksi menyamping.

Orang yang bertubuh tinggi besar itu terkejut sekali ketika tangannya seakan-akan telah menyentuh sebuah tugu batu yang tidak bergetar oleh dorongan tangannya itu. Orang yang bertubuh tinggi besar itu justru melangkah surut. Dipandanginya Paksi dengan tajamnya.

“Kau jangan mencoba bermain api. Jika kau membuat aku marah, maka kau akan menyesal.”

“Aku tidak ingin membuat kalian marah. Tetapi kau  pun tidak dapat berbuat semaumu di rumahku.”

Orang itu seakan-akan tidak mendengar kata-kata Paksi. Bahkan orang itu membentak, “Minggir, kau dengar.”

Paksi pun telah kehilangan kesabarannya. Tiba-tiba ia pun membentak, “Jangan ganggu kami. Pergi atau kami harus mengusir kalian?”

Kata-kata Paksi itu membuat orang bertubuh tinggi besar itu terkejut lagi. Orang itu telah berani mengusirnya.

“Kau ternyata terlalu sombong. Kau berani mengusir aku?”

“Rumah ini rumahku. Jika seseorang ingin melangkahi hakku, maka aku akan mengusirnya, siapa pun orang itu.”

“Aku masih mencoba bersabar. Minggirlah.”

“Kau yang harus pergi,” jawab Paksi.

Orang yang bertubuh tinggi besar itu tidak dapat menahan diri lagi. Orang yang mencoreng-coreng wajahnya dengan jelaga itu membuatnya marah. Karena itu, maka orang yang bertubuh tinggi besar itu telah mengayunkan tangannya menampar mulut Paksi.

Tetapi Paksi tidak membiarkan mulutnya kesakitan. Karena itu, maka Paksi telah bergeser sambil menarik wajahnya, sehingga tangan orang bertubuh tinggi besar itu tidak menyentuhnya.

Ternyata orang yang bertubuh tinggi besar itu benar-benar merasa tersinggung karena tangannya tidak menyentuh sasarannya. Karena itu, maka orang itu telah mengayunkan kakinya ke arah dada Paksi.

Tetapi Paksi sudah benar-benar siap menghadapinya. Karena itu, maka ketika kaki itu terjulur, dengan sigapnya Paksi meloncat surut.

Sekali lagi orang itu tidak menyentuh sasaran. Karena itu, maka ia tidak berniat lagi mengekang diri. Dengan serta-merta orang bertubuh tinggi besar itu telah menyerang Paksi.

Tetapi Paksi yang telah menggenggam tongkatnya itu tidak terlalu  sulit untuk menghindar.  Dengan tangkasnya ia berloncatan menghindari serangan-serangan orang bertubuh tinggi besar yang kemudian datang beruntun.

Kerta Ambal pun menggeram. Katanya, “Ternyata kalian bukan orang kebanyakan. Justru karena itu, aku menjadi semakin curiga, untuk apa kalian tinggal disini hanya berdua. Tentu ada hubungannya dengan cincin yang telah jatuh di tempat ini.”

Paksi pun berloncatan semakin cepat. Orang bertubuh tinggi besar itu menyerangnya semakin garang. Kemarahannya telah menghentak-hentak di dadanya.

Dalam pada itu, Kerta Ambal pun berkata kepada Wijang, “Sebaiknya kau tidak usah turut campur.”

“Sumirat adalah adikku.”

“Justru karena itu. Jika adikmu mati, kau dapat menguburkannya. Tetapi jika kau juga mati, maka tidak akan ada orang yang akan dapat menguburkan kalian, karena kami tidak ingin membuang-buang waktu untuk melakukannya,” berkata Kerta Ambal kemudian.

“Tentu saja kami tidak mau mati,” jawab Wijang.

“Tidak ada pilihan lain. Jika kau melawan, maka kau akan mati.”

Wijang termangu-mangu sejenak. Sesudah sekian lama Wijang dan Paksi bertahan untuk tidak terlibat dalam benturan kekerasan ternyata mereka disudutkan ke dalam satu keadaan yang memaksa mereka harus bertempur.

“Apaboleh buat,” berkata Wijang di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka Wijang dan Paksi itu pun kemudian telah terlibat dalam pertempuran. Sementara itu, dua orang di antara keempat orang itu pun justru telah melangkah menuju ke pintu gubuk Paksi.

“Jangan mencoba untuk memasuki rumahku,” teriak Paksi.

Tetapi kedua orang itu tidak menghiraukannya. Mereka melangkah terus.

Namun mereka terkejut ketika tiba-tiba saja Paksi meloncat meninggalkan lawannya langsung menyerang kedua orang yang sudah menjadi semakin dekat dengan pintu rumahnya.

Serangan Paksi yang datang bagaikan sambaran seekor burung alap-alap itu sangat mengejutkan kedua orang itu. Tongkat Paksi menyambar dada seorang di antaranya sehingga orang itu terhuyung-huyung surut beberapa langkah. Kemudian serangan berikutnya telah menghantam punggung yang seorang lagi, sehingga orang itu jatuh tertelungkup.

Kedua orang itu terkejut sekali. Orang yang bertubuh tinggi besar, yang semula bertempur melawan Paksi pun terkejut. Bahkan Kerta Ambal pun telah meloncat surut untuk mengambil jarak. Ia hampir tidak percaya, apa yang telah dilihatnya. Dua orang saudara seperguruannya itu tidak mampu menghindar atau menangkis serangan tongkat orang yang telah menyamarkan wajahnya itu.

Namun dalam pada itu, Kerta Ambal tidak mempunyai banyak kesempatan. Lawannya itu pun telah menyerangnya dengan cepat. Hampir saja tangannya menyambar wajah Kerta Ambal. Untunglah bahwa Kerta Ambal masih sempat mengelak. Kerta Ambal tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk memperhatikan saudara seperguruannya lagi. Serangan Wijang pun datang semakin cepat, sehingga Kerta Ambal terdesak beberapa langkah surut.

Orang yang bertubuh tinggi besar, yang semula bertempur melawan Paksi menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi ketika ia melihat Kerta Ambal terdesak, maka ia pun segera meloncat mendekatinya sambil berkata, “Marilah, kita habisi saja orang gila ini.”

Tetapi belum lagi mulutnya terkatup rapat, Wijang telah melenting menyongsongnya sambil menjulurkan kakinya. Demikian cepatnya, sehingga orang yang bertubuh tinggi besar itu tidak sempat mengelak.

Tetapi orang itu masih mencoba untuk menangkis serangan itu. Disilangkannya kedua tangannya di dadanya. Namun serangan Wijang demikian kuatnya, sehingga justru kedua tangan yang bersilang itu telah menekan dadanya dengan kuatnya, sehingga nafasnya terasa sesak. Bahkan orang yang bertubuh tinggi besar itu telah terdorong beberapa langkah surut. Tanpa dapat menjaga keseimbangannya lagi, maka orang itu pun telah jatuh berguling.

Tetapi Wijang tidak dapat memburu orang itu. Kerta Ambal telah meloncat menyerangnya. Karena itu, maka Wijang harus bergeser menghindarinya.

Dalam pada itu, orang yang bertubuh tinggi besar itu pun telah melenting berdiri. Meskipun nafasnya masih terengah-engah, namun ia sudah mempersiapkan dirinya untuk bertempur.

Sementara itu, Paksi memang membiarkan kedua lawannya berdiri. Namun demikian mereka tegak, maka mereka pun telah menarik senjata mereka. Masing-masing sebuah golok yang panjang.

Paksi harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Kedua orang lawannya yang bersenjata itu tentu akan bertempur dengan garang. Mereka tentu menjadi sangat marah setelah mereka bukan saja disakiti. Tetapi kedua-duanya telah terjatuh pula.

Sebenarnyalah kedua orang lawan Paksi itu menjadi sangat marah. Serangan yang tiba-tiba itu tidak diduganya.

Karena itu, maka seorang di antara mereka sambil menggeram berkata, “Kau akan menyesal. Aku hanya akan melihat isi rumahmu dan mencari cincin itu. Tetapi kau telah memaksaku untuk mengambil nyawamu pula.”

Paksi tidak menjawab. Tetapi tongkatnyalah yang bergetar di tangannya, sehingga kedua orang itu harus bergeser surut sambil memutar goloknya.

Dengan demikian, maka Paksi pun segera terlibat dalam pertempuran melawan kedua orang murid utama dari Perguruan Rajah Malang itu.

Ternyata bahwa kedua orang murid utama Perguruan Rajah Malang itu memang telah dibekali dengan ilmu yang cukup. Ketika mereka tidak lagi meremehkan lawannya, maka keduanya mulai mampu memberikan perlawanan.

Dengan golok di tangan, maka kedua orang itu bertempur berpasangan. Mereka menyerang silih berganti. Namun kadang-kadang mereka menyerang bersama-sama dari arah yang berbeda.

Paksi harus berhati-hati menghadapi keduanya. Murid Perguruan Rajah Malang itu semakin lama menjadi semakin garang. Mereka menyambar-nyambar sambil mengayunkan goloknya. Dengan tangkasnya mereka melenting, berputar di udara dan kemudian menjulurkan golok mereka.

Tetapi Paksi mampu bergerak lebih cepat dari kedua orang lawannya, sehingga karena itu, maka serangan-serangan mereka masih dapat dielakkan.

Semakin lama murid-murid dari Perguruan Rajah Malang itu bukan saja menjadi semakin garang, tetapi juga menjadi semakin kasar. Semakin meningkat ilmu mereka, maka mereka semakin tidak mengekang diri.

Tetapi Paksi tidak menjadi kehilangan akal. Ia sudah ditempa dengan menjalani laku yang sangat berat. Karena itu, maka Paksi tidak mudah untuk dapat ditaklukkan.

Namun melawan dua orang murid utama dari Perguruan Rajah Malang memang terasa sangat berat. Karena itu, maka Paksi pun harus mengerahkan tenaga dan kemampuannya.

Namun dengan tongkatnya, perlahan-lahan Paksi dapat menguasai keadaan. Sementara itu, kedua lawannya telah memeras seluruh tenaga dan kemampuan mereka, sehingga dengan demikian, keringat mereka pun telah membasahi pakaian mereka.

Dalam pada itu, kedua orang murid Rajah Malang yang lain telah bertempur melawan Wijang. Seperti kedua orang lawan Paksi, maka kedua orang itu pun telah menggenggam golok yang panjang pula.

Untuk melawan mereka, Wijang telah mencabut kedua bilah pisau belatinya, sementara penutup bagian atas pergelangannya telah dipakainya pula.

Kedua orang lawan Wijang itu menjadi heran. Berdua mereka tidak segera dapat mengalahkan lawannya. Bahkan sekali-sekali kaki lawannya itu sempat singgah di tubuhnya. Ketika lambung Kerta Ambal itu terkena serangan kaki Wijang maka Kerta Ambal itu telah terdorong beberapa langkah surut. Hampir saja ia terpelanting jatuh. Namun untunglah bahwa orang itu masih sempat mempertahankan keseimbangan.

Tetapi seorang kawannya yang bertubuh tinggi besar itu, harus berloncatan surut. Ujung pisau belati Wijang telah menyentuh bahunya.

Sambil mengumpat kasar orang itu meloncat mengambil jarak. Sementara itu Wijang tidak sempat memburunya, karena Kerta Ambal telah mampu memperbaiki kedudukannya dan bahkan meloncat menyerang sambil menjulurkan goloknya

Wijang dengan cepat bergeser menyamping untuk menghindari ujung golok lawannya.

Pada saat yang bersamaan, Kerta Ambal telah meloncat menyerang pula. Goloknya terayun dengan deras sekali mengarah ke lehernya.

Wijang tidak sempat mengelak. Namun kemudian dengan pelindung bagian atas pergelangan tangannya, Wijang menangkis ayunan golok lawannya.

Satu benturan yang keras sudah terjadi. Wijang memang tergetar, namun tangan lawannya bagaikan menyentuh bara. Hampir saja goloknya terlepas. Namun sambil meloncat mengambil jarak Kerta Ambal sempat memperbaiki keadaannya. Sementara itu kawannyalah yang telah menyerang Wijang, sehingga Wijang tidak sempat memburu Kerta Ambal.

Demikianlah, maka pertempuran di kaki Gunung Merapi itu berlangsung semakin cepat. Murid utama dari Perguruan Rajah Malang itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Sebagai murid utama dari sebuah perguruan yang membanggakan dirinya, maka keempat orang itu merupakan orang-orang yang berbahaya.

Meskipun demikian, baik Wijang mau pun Paksi masih mampu melindungi diri mereka dengan senjata-senjata mereka yang khusus. Betapa pun juga benturan-benturan keras terjadi, tetapi golok murid-murid utama dari Perguruan Rajah Malang itu tidak mampu mematahkan tongkat Paksi yang ujudnya hanyalah sebuah tongkat kayu. Sementara itu, lawan Wijang pun menjadi heran, bahwa lawannya itu menangkis tajam goloknya, seakan-akan hanya mempergunakan pergelangan tangannya.

Dalam pada itu, para murid dari Perguruan Rajah Malang itu menjadi semakin heran bahwa di kaki Gunung Merapi itu tinggal dua orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Sayang bahwa mereka tidak sempat melihat wajah-wajah mereka dengan jelas, karena kedua orang itu telah menyamarkan wajah mereka dengan jelaga.

Namun dengan demikian, keempat orang itu menjadi semakin marah. Mereka yang merasa diri mereka bagian dari orang-orang terpenting di perguruan, ternyata tidak mampu menguasai dua orang penghuni lereng Merapi itu.

Namun betapa pun juga mereka berusaha dengan mengerahkan kemampuan mereka, namun mereka justru menjadi semakin terdesak. Kedua orang lawan Paksi justru menjadi mata gelap. Beberapa kali tongkat Paksi mengenai tubuh mereka, sehingga tulang-tulang mereka serasa menjadi retak.

Meskipun demikian, sekali Paksi terlambat menghindar, sehingga golok lawannya itu sempat menyentuh lengannya.

Paksi meloncat beberapa langkah surut menjauhi lawannya. Dirabanya lengannya yang terluka. Darah yang hangat telah mengalir dari lukanya itu.

Luka itu telah membakar jantung Paksi. Karena itu, maka dalam pertempuran selanjutnya, Paksi benar-benar telah menghentakkan kemampuannya. Sementara itu kedua orang lawannya yang melihat bahwa Paksi sudah terluka, telah berusaha untuk semakin menekannya. Mereka semakin berpengharapan untuk dapat menghancurkan lawannya yang bersenjata tongkat itu.

Pertempuran selanjutnya memang menjadi semakin sengit. Tongkat Paksi berputaran semakin cepat. Tetapi kedua orang lawannya yang semakin berpengharapan itu pun bertempur semakin keras pula.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun semakin meningkat. Kedua belah pihak agaknya tidak lagi mengendalikan diri. Kedua orang yang bersenjata golok itu benar-benar berusaha untuk mengakhiri perlawanan Paksi dengan membunuhnya.

Tetapi Paksi pun tidak lagi membuat pertimbangan-pertimbangan lain. Ia harus melindungi nyawanya dengan segenap kemampuannya.

Dalam pada itu, Wijang mulai menunjukkan kemampuannya yang sangat tinggi. Ketika kedua orang lawannya sampai pada puncak kemampuan mereka, maka Wijang pun harus mengimbanginya. Kedua orang murid utama Perguruan Rajah

Malang itu bertempur dengan menghentak-hentakkan ilmu mereka. Sekali-sekali Kerta Ambal meloncat sambil berteriak.

Namun kemudian kawannyalah yang menyerang dari sisi yang berbeda.

Tetapi tidak banyak yang dapat mereka lakukan. Ketika pisau belati Wijang menjadi semakin garang, maka keduanya semakin mengalami kesulitan. Sementara itu mereka menjadi semakin heran, bahwa lawannya itu mampu menangkis serangan-serangan mereka dengan pergelangan tangannya.

Sekali-sekali jika lengan baju Wijang tersingkap, kedua lawannya memang melihat pelindung yang menutupi bagian atas pergelangan tangannya, sehingga mereka mengira bahwa pelindung pergelangan tangan itu terbuat dari baja.

Tetapi keempat orang murid dari Perguruan Rajah Malang itu benar-benar mengalami kesulitan. Seorang lawan Paksi terpelanting jatuh ketika tongkat Paksi memukul punggungnya. Dengan serta-merta ia berusaha untuk bangkit. Namun terasa tulang punggungnya menjadi sangat nyeri.

Meskipun demikian ia telah memaksa diri untuk bertempur terus. Ia tidak mempunyai waktu untuk mengeluh dan mencoba untuk mengatasi rasa sakitnya.

Sementara itu, Paksi justru menjadi semakin garang. Seorang lawannya yang berhasil melukai pundaknya, membuat Paksi menjadi semakin marah. Sambil meloncat Paksi telah menjulurkan tongkat kayunya. Demikian cepatnya sehingga lawannya tidak dapat menghindar dan bahkan tidak sempat menangkisnya pula.

Dengan derasnya tongkat Paksi yang menembus pertahanan lawannya itu telah menghantam pundak salah seorang lawannya.

Akibatnya ternyata cukup parah. Orang itu terpelanting jatuh. Kepalanya telah membentur sebongkah batu. Perasaan sakit pada tulangnya yang pecah menyengatnya. Namun kepalanya yang membentur batu itu telah menentukan segala-galanya.

Darah telah memancar dari luka di kepalanya.

Paksi tertegun sejenak. Demikian pula lawannya yang lain, yang membeku melihat kawannya berlumuran darah. Ia melihat kawannya menggeliat. Namun kemudian terdiam.

Bukan hentakkan tongkat Paksi yang membunuhnya, tetapi justru kepalanya yang membentur batu itu.

Lawan Paksi yang lain berdiri dengan tegang. Namun Paksi tidak berbuat apa-apa. Ia berdiri saja di tempatnya. Bahkan ketika lawannya yang seorang lagi melangkah dengan ragu-ragu mendekati tubuh kawannya yang terbaring diam.

Ketika orang itu berjongkok di samping kawannya yang terbunuh itu, Paksi sama sekali tidak mencegahnya. Bahkan seakan-akan ia telah memberi waktu kepadanya untuk melihat keadaan kawannya.

Orang itu meraba leher kawannya yang terbaring diam. Kemudian dadanya.

Tidak ada detak. Tidak ada tarikan nafas. Orang itu benar-benar telah mati.

Dalam pada itu, maka kedua orang lawan Wijang pun merasa semakin tidak berdaya. Kedua-duanya telah terluka. Seorang di antaranya lukanya cukup parah. Goresan ujung pisau Wijang telah menyilang di dadanya.

Karena itu, maka mereka menganggap bahwa pertempuran selanjutnya tidak akan menguntungkannya. Apalagi setelah seorang kawannya terbunuh.

Dengan demikian, maka Kerta Ambal pun telah memberikan isyarat kepada kawannya untuk mengambil jarak.

Wijang tidak memburunya. Dipandanginya kedua orang lawannya itu berganti-ganti.

“Kami akui kekalahan kami,” berkata Kerta Ambal. “Seorang kawanku telah terbunuh. Sekarang, jika kalian kehendaki, kalian dapat membunuh kami, meskipun kami akan tetap memberikan perlawanan sampai batas kemampuan kami.”

“Apa yang sebenarnya kalian kehendaki? Menyerah? Atau minta ampun? Atau justru menantang untuk bertempur terus?”

“Kami mengakui kekalahan kami,” jawab Kerta Ambal, “terserah kepadamu. Apakah kau akan membunuh kami meskipun kami tidak akan begitu saja menyerahkan leher kami, atau membiarkan kami pergi tetapi dengan kemungkinan buruk bagi kalian, karena pada suatu saat kamilah yang akan membunuh kalian.”

Wijang tertawa. Katanya, “Satu cara yang bagus sekali untuk melepaskan diri. Kalian tetap menjaga harga diri kalian, karena kalian tidak minta ampun. Tetapi dengan mengancam, kalian yakin bahwa kami akan melepaskan kalian. Kalian mengira bahwa ancaman itu akan mengungkit harga diri kami, sehingga kami justru akan melepaskan kalian.”

Wajah Kerta Ambal menjadi semakin tegang. Ia melihat Wijang melangkah mendekat sambil berkata, “Kalian telah menitikkan darahnya dari luka-lukanya.”

Kerta Ambal tidak menjawab. Tetapi jantungnya seakan-akan telah berhenti berdetak. Nampaknya Kerta Ambal dan saudara-saudara seperguruannya itu benar-benar telah terjebak ke dalam jeratan maut.

Namun tiba-tiba saja Wijang berkata, “Baiklah. Ancaman kalian berhasil membebaskan kalian. Tetapi sama sekali bukan karena kami tersinggung harga diri kami dan melepaskan kalian agar kami jangan dianggap ketakutan, tetapi yang kami lakukan adalah karena kami merasa kasihan melihat kalian. Kalian yang merasa murid-murid utama dari sebuah perguruan yang kalian bangga-banggakan, harus mengalami kenyataan pahit disini.”

“Aku tidak perlu dikasihani.”

“Sudahlah. Jangan mencoba-coba. Jika kau salah ucap, maka kau akan benar-benar mati. Karena itu, pergilah. Kami membebaskan kalian. Tetapi bawa kawanmu yang mati itu. Agaknya ia mati bukan karena senjata adikku. Tetapi karena salahnya sendiri, bahwa ia telah membenturkan kepalanya pada sebuah batu hitam.”

Kerta Ambal tidak menjawab. Tetapi sesuatu telah menyelinap di dalam dasar hatinya. Orang-orang yang tinggal di gubuk di lereng Gunung Merapi itu sudah membuatnya heran karena kemampuannya. Kemudian mereka  pun melihat kenyataan, bahwa keduanya tidak membunuhnya serta tidak membunuh saudara-saudara seperguruannya pula.

Dalam pada itu, maka Wijang pun telah berkata sekali lagi dengan lantang, “Cepat. Tinggalkan tempat ini dan jangan kembali lagi. Jangan ganggu ketenangan kami yang untuk waktu yang sangat lama tidak terusik.”

Ketiga orang murid utama dari Perguruan Rajah Malang itu pun kemudian telah mengangkat kawannya yang terbunuh untuk membawanya pergi meninggalkan tempat tinggal Paksi dan Wijang itu.

Sepeninggal murid-murid utama Rajah Malang itu, maka Wijang pun kemudian telah mendekati Paksi yang terluka. Dibimbingnya anak muda itu sambil berkata, “Aku akan merawat luka-lukamu.”

“Lukaku tidak seberapa,” berkata Paksi.

“Meskipun tidak seberapa, tetapi luka itu harus diobati.”

Paksi tidak menolak. Ia pun kemudian duduk di teritisan gubuknya. Dibukanya bajunya yang terkoyak oleh senjata lawannya.

Dengan hati-hati Wijang pun kemudian mengobati luka di tubuh Paksi itu.

Sambil mengobati luka di tubuh Paksi, Wijang pun berkata, “Kehadiran mereka telah mengganggu kedamaian tempat tinggalmu, Paksi.”

“Ya,” Paksi mengangguk. Namun katanya kemudian, “Justru pada saat kita menjadi bimbang, apakah kita akan meninggalkan gubuk ini atau tidak.”

Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Apakah menurut pendapatmu, kedatangan beberapa orang murid utama dari Perguruan Rajah Malang itu mempertegas niat kita untuk meninggalkan tempat ini?”

“Ya,” jawab Paksi, “aku tidak boleh menjadi cengeng, sehingga hidupku dan masa depanku akan terikat oleh tanaman jagung, padi gaga dan kebun pisang itu. Sejak semula aku memang sudah yakin, bahwa pada suatu saat aku akan pergi.”

“Baiklah,” berkata Wijang, “jika demikian, kita akan menetapkan niat kita untuk pergi. Kita harus merelakan segala-galanya yang pernah kau miliki disini. Perabot-perabot yang pernah kau beli dan tanaman yang pernah kau pelihara. Kelapa itu kelak akan mengeluarkan buahnya jika tidak disadap legennya lagi. Sedangkan kebun pisang itu akan menjadi liar.”

“Apaboleh buat,” desis Paksi.

“Malam nanti kita akan bersiap-siap. Besok pagi pagi kita berangkat,” berkata Wijang kemudian.

“Mudah-mudahan jika orang-orang Rajah Malang itu ingin datang kembali, tidak datang malam nanti.”

Wijang tertawa. Katanya, “Jika mereka kembali malam nanti, kita akan menyambutnya dengan baik.”

“Jika mereka datang, mereka tentu akan membawa kawan lebih banyak. Bahkan mungkin guru mereka pun akan datang pula.”

Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Kita harus berhati-hati. Jika perlu malam nanti kita tidak tidur di dalam gubuk ini. Kita akan mengamatinya untuk malam yang terakhir dari gubuk kecil itu.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sudah membulatkan tekad untuk meninggalkan gubuk kecilnya itu.

Di sisa hari itu, Paksi dan Wijang menyempatkan diri untuk melihat-lihat tanaman yang akan mereka tinggalkan. Jagung dan padi gaga. Di sekitarnya ketela pohon yang sudah waktunya mencabut. Beberapa jenis sayuran. Kacang panjang yang merambat pada lanjarannya. Lombok rawit yang buahnya seakan akan lebih banyak dari daunnya. Hijau dan merah.

Ketika mereka berada di antara batang-batang pisang di kebun pisang mereka, beberapa batang telah berbuah. Bahkan ada yang dalam beberapa hari lagi, akan suluh, sehingga tinggal menebang dan menyimpan buahnya sampai benar-benar masak di gubuknya.

Tetapi semuanya harus ditinggalkannya.

Sebenarnyalah Paksi merasa sangat berat meninggalkan gubuknya serta tanaman yang dipeliharanya dengan baik. Tetapi setiap kali ia selalu digelitik oleh kegelisahan, bagaimana dengan masa depannya. Apakah ia akan tetap saja berada di kaki

Gunung Merapi dan hidup dalam keterasingan? Apakah ia akan membiarkan dirinya tenggelam dan tidak lagi timbul dalam lingkungan yang lebih luas di Pajang?

Setiap kali Paksi harus memantapkan keputusannya, meninggalkan gubuk kecilnya.

Bagi Paksi, usaha untuk menemukan cincin bermata tiga butir batu akik itu sudah dipupusnya. Yang dicarinya itu sudah ada di depan hidungnya. Tetapi tidak mungkin baginya untuk mengambilnya, karena Paksi tahu bahwa cincin itu berada di tangan yang aman dan yang memang seharusnya.

Menjelang malam, seperti biasa Paksi telah menyalakan dlupak minyak kelapanya dan menempatkannya di ajug-ajug di sudut gubuknya. Kemudian ia masih menyempatkan diri untuk membenahi barang-barangnya. Yang ada di luar gubuk disimpannya di dalam. Sementara itu, ia masih juga menanak nasi dan membuat sayur lembayung dan kacang panjang. Sedikit lombok rawit dan santan.

Kemudian dibuatnya pula pepes ikan dengan kelapa muda.

Paksi dan Wijang itu pun kemudian makan selagi nasi dan sayurnya masih hangat.

“Kita tidak sempat membuat gula,” berkata Paksi.

“Biar sajalah. Kita simpan saja legen itu di dalam bumbung.”

“Legen itu akan menjadi tuak kelak.”

“Yang sempat minum akan menjadi mabuk.”

Setelah mencuci dan mengatur mangkuk dan alat-alat dapurnya, maka seperti yang dikatakan Wijang, mereka pun telah pergi ke gumuk kecil. Tidak jauh dari gubuk mereka. Dari gumuk kecil itu mereka dapat melihat gubuk yang akan mereka tinggalkan itu. Dari celah-celah dindingnya nampak cahaya lampu minyak memancar keluar. Namun tidak akan dapat dilihat dari jarak yang agak jauh, karena hutan lereng pegunungan yang mengelilinginya.

Meskipun malam terasa sangat dingin, namun keduanya tidak beranjak dari tempat mereka. Bagaimanapun juga mereka harus berhati-hati.

Lewat tengah malam, sebelum Paksi dan Wijang tertidur, mereka telah dikejutkan oleh desir langkah kaki beberapa orang. Meskipun dalam kegelapan, namun mereka dapat melihat beberapa orang kemudian berdiri di depan gubuk kecil itu, karena mereka memiliki penglihatan yang sangat tajam dengan landasan ilmu mereka. Sapta Pandulu.

“Ternyata mereka benar-benar kembali,” desis Wijang.

Paksi mengangguk-angguk. Dengan ketajaman ilmu Sapta Pangrungu, maka mereka mencoba mendengarkan pembicaraan di antara mereka yang berdiri di depan gubuk itu.

“Kita akan menemui mereka,” seseorang berdesis, “aku tidak akan membiarkan salah seorang muridku dibunuh oleh siapa pun dengan alasan apapun.”

“Guru,” terdengar suara yang lain. Wijang dan Paksi saling berpandangan. Menurut pendengaran mereka, suara itu adalah suara Kerta Ambal, “saudaraku itu meninggal karena kepalanya membentur batu. Bukan karena dibunuh oleh salah seorang dari kedua penghuni gubuk ini.”

“Tetapi bukankah itu terjadi karena ia bertempur melawan salah seorang dari mereka berdua?”

“Tetapi mereka bukan pembunuh, Guru. Dalam keadaan yang panas itu, mereka membiarkan kami bertiga pergi meninggalkan medan.”

“Sejak kapan hatimu menjadi serapuh kayu randu itu, he.”

Kerta Ambal termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Guru, aku menjadi bimbang, justru karena aku belum pernah bertemu dengan orang-orang seperti itu. Jika saja mereka seperti kebanyakan orang yang pernah aku temui, maka aku tentu sudah menjadi mayat. Bahkan mungkin tubuhku akan diseret dan diceburkan ke dalam jurang, sehingga esok paginya, tubuh itu sudah hancur dikoyak-koyak oleh binatang buas atau burung pemakan bangkai.”

“Diam,” bentak orang yang disebutnya guru itu, “kau menjadi cengeng. Bersiaplah. Kita akan memasuki rumah ini jika penghuninya tidak mau keluar.”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika mereka tidak menemukan kita berada di dalam rumah itu, maka mereka tentu akan mencarinya. Mungkin akan sampai ke tempat ini.”

Paksi mengangguk-angguk. Ia melihat Wijang telah mengenakan penutup pergelangan tangannya. Nampaknya ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

“Mereka datang bersama guru mereka,” berkata Wijang kemudian, “bahkan dengan jumlah orang yang lebih banyak lagi.”

“Tetapi Kerta Ambal dan tentu juga kedua orang kawannya agak ragu.”

“Tetapi jika pertempuran benar-benar sudah mulai, keragu-raguan mereka pun akan hilang.”

“Tetapi apakah kita akan menunggu sampai mereka menemukan kita disini?”

“Tidak. Jika mungkin kita akan menghindar. Kita jangan membiarkan diri kita mati tanpa arti.”

Paksi mengangguk-angguk.

Meskipun demikian, mereka tidak segera meninggalkan gumuk kecil itu. Mereka masih ingin melihat, apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dari Perguruan Rajah Malang itu. Jika mereka mengetahui bahwa penghuni dari gubuk itu tidak ada di dalam.

“Mungkin gubuk itu akan dibakarnya,” berkata Paksi di dalam hati. Alangkah sakit hatinya jika ia melihat gubuk itu menjadi seonggok api yang menjilat-jilat langit.

Tetapi Paksi tidak boleh kehilangan perhitungan. Berdua mereka tidak akan mampu melawan sekelompok orang dari Perguruan Rajah Malang yang langsung dipimpin oleh seorang yang disebutnya guru itu.

“Mungkin orang itulah yang disebut Ajag Pinunjung,” berkata paksi di dalam hatinya.

Sementara itu Wijang pun mengamati sekelompok orang itu dengan tegang. Mereka mulai mengepung gubuk kecil itu. Sementara orang yang disebut guru itu telah berdiri di muka pintu.

“Bersiaplah,” desis Wijang, “jika kita harus menyingkir, kita akan menuruni tebing sungai itu. Kita akan menelusuri arus dan naik beberapa ratus patok di sebelah selatan. Mudah-mudahan kita dapat melepaskan diri dari mereka.”

Paksi mengangguk-angguk. Tetapi seperti Wijang, ia tidak terlalu cemas, karena berdua mereka telah menguasai medan dengan baik.

Karena itu, maka keduanya masih tetap berada di gumuk kecil itu untuk melihat, apa yang akan terjadi kemudian.

Dalam pada itu, maka orang yang disebut guru itu mulai mengetuk pintu dan berkata lantang, “He, penghuni gubuk ini, keluarlah. Aku ingin berbicara dengan kalian.”

Tetapi tidak seorang pun yang menjawab.

Karena itu, maka orang itu pun tidak lagi mengetuk pintu. Tetapi dengan kasarnya, mereka mendorong pintu lereg itu ke samping, sehingga pintu yang memang tidak diselarak itu terbuka.

Yang terjadi benar-benar sangat mengejutkan. Orang yang disebut guru itu meloncat surut. Dari dalam gubuk itu, seorang yang membawa tongkat dan mengenakan caping yang besar melangkah keluar. Tongkat teracu ke arah perut orang yang mendorong pintu gubuk itu.

“Gila,” geram Wijang, “siapakah orang itu?”

Demikian terkejutnya, maka untuk sesaat Paksi justru diam membeku. Ia seakan-akan melihat dirinya sendiri keluar dari gubuk itu. Bahkan kemudian disusul oleh seorang lagi yang juga mengenakan caping yang besar.

“Apakah mataku sudah kabur?” desis Wijang. Lalu digamitnya Paksi sambil berdesis, “Kau lihat dua orang yang keluar dari gubuk itu? Sejak kapan mereka ada di dalamnya dan bagaimana mereka masuk tanpa kita ketahui?”

“Ya. Aku melihat mereka. Seorang di antaranya bersenjata tongkat. Keduanya mengenakan caping yang kita tinggalkan di dalam gubuk itu. Tetapi kapan mereka masuk ke dalam?”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Perhatian mereka pun kemudian tertuju kepada orang-orang yang berdiri di depan gubuk kecil itu.

Dalam pada itu, terdengar orang yang membawa tongkat itu bertanya, “Apakah kau yang disebut Ajag Pinunjung?”

“Ya,” jawab orang yang telah mendorong dan membuka pintu gubuk itu.

“Apa maumu datang kemari? Jika kau merusakkan pintu gubukku, kau harus memperbaikinya.”

“Bukan hanya pintunya. Aku akan merusak gubukmu.”

“Kenapa? Apakah kau iri melihat gubukku dan bahkan ketenangan hidupku disini?”

“Jangan berpura-pura. Kau sudah membunuh seorang di antara murid utamaku.”

“Bukan aku yang membunuh.”

“Saudaramu itu?”

“Juga bukan. Kami bukan pembunuh. Tetapi murid utamamu itu membunuh dirinya sendiri. Ia mengantukkan kepalanya pada sebuah batu. Jika kau sempat melihat, batu itu tentu masih diwarnai dengan darah kering.”

“Persetan. Tetapi itu tidak terjadi jika muridku tidak bertempur melawan salah seorang dari kalian.”

“Mereka datang kemari. Mereka menyerang kami. Bertanyalah kepada ketiga orang murid utamamu yang masih hidup. Jika kami mau membunuh mereka, maka mereka tentu sudah mati. Tetapi kami bukan pembunuh.”

“Omong kosong,” geram Ajag Pinunjung. “Kalian harus menebus kematian muridku dengan nyawa salah seorang dari kalian.”

“Kau jangan mencari persoalan. Kami tidak bersalah.”

“Aku tidak peduli,” jawab Ajag Pinunjung.

Wijang yang berada di gumuk kecil itu pun menggamit Paksi sambil berkata, “Orang bertongkat itu mengetahui apa yang telah terjadi dengan keempat murid utama Ajag Pinunjung.”

“Rasa-rasanya tidak masuk akal.”

Wijang tidak menjawab. Keduanya pun semakin tegang ketika mereka mendengar Ajag Pinunjung itu berkata, “Siapa yang bertanggung jawab atas kematian muridku?”

“Muridmu itu sendiri,” jawab orang bertongkat itu.

Tetapi Ajag Pinunjung itu menggeram. Katanya, “Aku menuntut salah seorang dari kalian harus menebus kematian muridku dengan kematian pula. Bukankah lebih baik salah seorang di antara kalian masih tetap hidup daripada aku harus membunuh kalian berdua.”

“Tidak,” jawab orang bertongkat itu, “kami tidak mau mati. Juga tidak salah seorang di antara kami.”

“Jika demikian, maka kalian berdua justru akan mati.”

“Jika kemudian benar-benar terjadi kematian lagi di antara murid-muridmu, itu bukan tanggung-jawab kami pula. Kalian datang dengan sikap yang bermusuhan.”

Ajag Pinunjung itu tidak banyak berbicara lagi. Ia pun segera memberi isyarat kepada murid-muridnya untuk bersiap.

“Apaboleh buat,” berkata Ajag Pinunjung, “kita akan membunuh keduanya.”

Murid-murid Ajag Pinunjung itu pun segera mempersiapkan diri. Sementara itu Kerta Ambal masih juga nampak ragu-ragu. Demikian pula kedua orang saudara seperguruannya. Kecuali mereka merasa bahwa nyawa mereka diselamatkan, tubuh mereka pun masih terasa sakit dan nyeri.

Tetapi mereka tidak berani melawan perintah gurunya. Karena itu, maka ketika saudara-saudaranya seperguruannya bersiap, Kerta Ambal pun bersiap pula.

Dalam pada itu, kedua orang yang berdiri di pintu gubuk itu pun telah bergeser merenggang. Mereka pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu, Ajag Pinunjung segera mengeluarkan perintah kepada murid-muridnya, “Hancurkan mereka berdua jika mereka tetap keras kepala.”

Sejenak kemudian, maka murid-murid Ajag Pinunjung itu pun mulai bergerak untuk menghadapi orang yang bersenjata tongkat, sedangkan yang lain bersiap menghadapi yang seorang lagi.

Dalam pada itu, Ajag Pinunjung sendiri justru mundur beberapa langkah. Agaknya ia sendiri tidak ingin segera memasuki arena pertempuran. Ajag Pinunjung itu ingin melihat, seberapa jauh murid-muridnya menguasai ilmu yang diajarkannya.

Ketika Ajag Pinunjung itu memberikan isyarat, maka murid-muridnya pun segera mulai bergerak. Beberapa orang yang bersenjata golok pun mulai memutar goloknya. Beberapa orang di antara mereka mempergunakan senjata lain. Semacam bindi yang panjang. Namun ada pula yang bersenjata kapak bertangkai panjang.

Pertempuran pun segera terjadi dengan sengitnya. Kedua orang yang keluar dari gubuk itu tidak dapat bertahan untuk tetap menjaga pintu gubuknya. Lawannya terlalu banyak untuk memaksakan kemauan mereka bertempur di depan pintu.

Karena itu, maka pertempuran itu pun kemudian bergeser semakin lama semakin menjauhi pintu gubuk kecil itu. Sehingga dengan demikian, maka pintu yang terbuka itu terbuka pula bagi Ajag Pinunjung untuk memasukinya.

Kedua orang yang keluar dari dalam gubuk itu tidak mendapat kesempatan untuk mencegah ketika Ajag Pinunjung melangkah memasuki gubuk kecil itu sementara pertempuran berlangsung terus.

Sementara itu, Wijang dan Paksi masih memperhatikan pertempuran yang sedang terjadi. Baik orang yang bersenjata tongkat mau pun yang seorang lagi, bertempur menghadapi beberapa orang yang garang murid-murid Ajag Pinunjung.

Namun kedua orang yang memakai caping dan keluar dari gubuk itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Wijang dan Paksi seakan-akan mengenali ciri-ciri ilmu mereka. Seorang memiliki ciri ilmu sebagaimana Paksi sedangkan yang lain memiliki ciri ilmu sebagaimana Wijang. Meskipun ada beberapa warna lain yang nampak, rasa-rasanya kedua orang itu adalah saudara-saudara seperguruan Paksi dan Wijang.

Dengan demikian maka pertempuran itu menjadi semakin sengit. Meskipun harus bertempur melawan beberapa orang sekaligus, namun kedua orang yang berada di gubuk itu masih mampu mempertahankan diri mereka.

Wijang dan Paksi tidak tahu apa yang dilakukan oleh Ajag Pinunjung di dalam gubuk kecil itu. Namun agaknya ia sedang sibuk mencari cincin yang diduga berada di lereng sebelah selatan Gunung Merapi itu.

Sementara itu, pertempuran menjadi semakin sengit. Setiap kali para murid dari Perguruan Rajah Malang yang mengepung kedua orang yang mengenakan caping itu harus berloncatan mundur. Mereka mengalami kesulitan untuk mempersempit kepungan mereka. Bahkan kadang-kadang kepungan mereka telah pecah dan orang yang berada di dalam kepungan itu meloncat keluar dan berdiri di luar kepungan.

Tetapi kedua orang itu tidak meninggalkan medan. Keduanya masih tetap bertempur dan orang-orang dari Rajah Malang itu selalu berusaha untuk melingkari kedua orang itu. Jika kepungan mereka pecah dan orang yang berada di dalam kepungan itu sempat meloncat keluar, maka dengan serta-merta mereka pun segera berlari-larian mengepung orang bercaping itu lagi.

Dari tempat persembunyiannya, dengan landasan Aji Sapta Pandulu, Wijang dan Paksi mampu melihat, seorang yang bercaping dan yang tidak membawa tongkat panjang itu juga bersenjata sepasang pisau belati sebagaimana Wijang. Pisau yang ujudnya sederhana saja. Tetapi keduanya tidak melihat, apakah orang itu juga mempergunakan selapis pelindung pada pergelangan tangannya.

Dalam pada itu, pertempuran yang sengit masih saja berlangsung. Orang-orang dari Perguruan Rajah Malang itu bertempur semakin keras. Namun kedua orang yang keluar dari dalam gubuk itu berloncatan semakin cepat. Tongkat di tangan salah seorang dari mereka itu pun menyambar-nyambar dengan garangnya. Seorang yang mengepungnya terpelanting jatuh ketika tongkat itu menyambar tengkuknya. Seorang yang lain terdorong beberapa langkah surut. Namun akhirnya orang itu pun jatuh terduduk. Pangkal tongkat itu terjulur mengenai perutnya, sehingga rasa-rasanya isi perutnya itu akan tumpah.

Sedangkan seorang yang bertempur melawan orang yang bersenjata pisau belati itu meloncat sambil mengaduh tertahan. Pisau belati itu telah menyentuh bahunya, sehingga luka pun telah menganga. Darah telah mengalir dari luka itu.

Tetapi sejenak kemudian seorang lagi telah berteriak kesakitan sambil mengumpat kasar. Darah meleleh dari lengannya yang tergores senjata lawannya.

Agaknya Ajag Pinunjung mendengar teriakan dan umpatan murid-muridnya. Apalagi ia tidak menemukan apa-apa di dalam gubuk itu. Karena itu, maka Ajag Pinunjung itu pun segera melangkah keluar.

Di depan pintu ia berdiri beberapa saat. Diamatinya pertempuran yang sedang terjadi itu. Namun tiba-tiba saja terdengar ia berteriak, “Lepaskan orang yang memakai tongkat itu. Aku akan menyelesaikannya.”

Beberapa orang muridnya pun segera menyibak. Ajag Pinunjung itu pun dengan tangkasnya meloncat menghadapi orang yang bersenjata tongkat, “Kau sudah membunuh muridku. Sekarang aku akan membunuhmu.”

Orang yang bersenjata tongkat itu tidak menjawab. Tetapi beberapa langkah ia meloncat surut. Ia tidak menghiraukan murid-murid Ajag Pinunjung yang mulai menjauhinya. Dengan suara yang parau ia menjawab, “Aku tidak membunuh muridmu. Muridmu yang mati disini itu terjadi karena ulahnya sendiri.”

“Aku akan mengampunimu jika kau dapat menyerahkan cincin itu kepadaku.”

“Cincin apa? Cincin istana itu? Sudah aku katakan, aku tidak tahu-menahu tentang cincin yang kalian cari itu.”

“Jangan berbohong,” geram Ajag Pinunjung. “Satu-satunya cara untuk menebus nyawamu adalah cincin itu.”

“Aku tidak perlu mengulang-ulang keteranganku.”

“Bagus,” geram orang yang disebut guru itu, “jika demikian kau memang harus mati. Saudaramu itu juga harus mati. Cincin itu adalah satu-satunya syarat untuk membebaskan nyawamu dan nyawa saudaramu.”

“Kau tidak usah membebaskan nyawaku,” jawab orang bersenjata tongkat itu. Suaranya masih tetap parau. “Karena aku sendiri akan membebaskannya. Demikian pula saudaraku.”

Ajag Pinunjung itu menjadi semakin marah. Karena itu, maka ia pun berteriak lebih keras lagi ditujukan kepada murid-muridnya, “Minggir. Selesaikan yang seorang lagi itu. Aku akan menyelesaikan yang ini. Aku sendiri yang akan membunuhnya.”

Murid-muridnya yang masih termangu-mangu segera berloncatan meninggalkan lingkaran di seputar orang bertongkat itu. Mereka beramai-ramai menuju dan ikut dalam kelompok yang bertempur melawan orang yang bersenjata sepasang pisau belati itu.

Namun demikian mereka bergabung, dua orang telah terlempar dari kepungan. Darah mengalir dari luka-luka mereka di dada dan lambung.

“Marilah,” berkata orang yang bersenjata sepasang pisau belati itu, “semakin banyak jumlah kalian, maka akan semakin banyak pula korban yang jatuh.”

Yang menggeram adalah Ajag Pinunjung. Dengan suara melengking ia berteriak, “Cepat, bunuh orang itu. Kalian harus dapat membunuhnya lebih cepat dari aku.”

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya orang yang bersenjata tongkat.

“Membunuhmu dengan caraku,” jawab Ajag Pinunjung. “Kau tidak akan mempunyai kesempatan untuk hidup, kecuali cincin itu.”

“Kau tidak perlu mengulang-ulang ancamanmu. Jika kau ingin bertempur, marilah kita bertempur.”

Ajag Pinunjung itu pun segera menarik pedangnya yang panjang. Sambil menggeram orang itu berkata, “Kau telah mempercepat kematianmu sendiri.”

“Kau tidak akan mampu melakukannya.”

Tetapi orang bersenjata tongkat itu tidak dapat berbicara lebih panjang lagi. Ajag Pinunjung dengan serta-merta telah meloncat menerkamnya.

Dengan sigapnya orang bersenjata tongkat itu menghindar. Namun sambil merendahkan diri, tongkatnya terjulur mengarah lambung lawannya. Tetapi Ajag Pinunjung itu dengan sikap menghindarinya pula.

Dengan demikian, maka pertempuran pun menjadi semakin meningkat. Ajag Pinunjung semakin mengerahkan ilmunya untuk segera mengakhiri perlawanan orang bertongkat itu.

Tetapi orang bertongkat itu tidak segera menjadi silau menghadapi ilmu Ajag Pinunjung yang garang itu. Sebagaimana seorang yang sangat yakin akan kemampuannya, maka Ajag Pinunjung itu langsung berusaha untuk menghentikan perlawanan orang bertongkat itu. Pedangnya berputaran, menyambar dan menikam dengan garang.

Tetapi ternyata orang yang bersenjata tongkat itu cukup tangkas. Kakinya bagaikan tidak menyentuh tanah. Dengan tangkasnya ia meloncat, melenting dan bahkan berputar di udara untuk menghindari ujung pedang Ajag Pinunjung itu. Sementara putaran tongkatnya mampu menangkis, menepis dan membentur serangan-serangan Ajag Pinunjung.

Ajag Pinunjung akhirnya harus menyadari, bahwa ia berhadapan dengan orang yang berilmu tinggi, yang mampu mengimbangi ilmunya. Sementara itu di tangannya tergenggam senjata yang sangat berbahaya. Meskipun ujudnya tidak lebih dari sepotong kayu, namun tajamnya pedang tidak mampu mematahkannya.

Dengan demikian, pertempuran antara Ajag Pinunjung dengan orang yang bersenjata tongkat itu menjadi semakin sengit. Ajag Pinunjung berloncatan menyambar-nyambar. Sementara itu, orang bertongkat itu menghadapinya dengan ketenangan seorang yang melandasi kemampuannya dengan ilmu yang tinggi.

Sementara itu, para murid Ajag Pinunjung masih bertempur dengan seorang yang lain, yang keluar dari dalam gubuk itu pula. Kedua tangannya memegang pisau belati. Meskipun pisau itu tidak sepanjang senjata-senjata lawannya, tetapi pisau itu ternyata menjadi sangat berbahaya di tangannya.

Beberapa kali pisau itu telah menyentuh tubuh lawan-lawannya. Seorang yang berjambang tebal, terlempar dari arena pertempuran. Dadanya terkoyak menyilang meskipun tidak terlalu dalam, senjata kapak di tangannya telah terlempar beberapa langkah

Orang itu masih berusaha menggapai senjatanya. Namun darah terlalu banyak mengalir dari lukanya. Semakin banyak ia bergerak, maka darah itu pun menjadi semakin banyak mengalir.

Karena itu, maka ia pun menyempatkan diri untuk merangkak menjauhi arena. Sejenak kemudian, maka diobatinya sendiri luka di dadanya itu dengan obat yang dibawanya. Sebagaimana murid-murid dari Perguruan Rajah Malang yang lain, maka orang berjambang lebat itu juga membawa obat untuk memampatkan darah pada luka-luka yang baru.

Demikianlah darah orang itu mulai pampat, sehingga ia mencoba untuk bangkit dan melangkah kembali ke arena sambil menyeringai menahan pedih, seorang yang lain terdorong dengan derasnya menimpa orang itu, sehingga keduanya terpelanting jatuh.

Orang yang berjambang tebal itu berusaha untuk dengan cepat bangkit. Didorongnya kawannya yang menimpanya sehingga berguling di sisinya.

Namun demikian orang itu bangkit, maka ia sadar, bahwa darahnya yang semula sudah pempat, telah mengalir lagi. Karena itu, ia harus menaburkan obatnya sekali lagi.

Kawannya yang menimpanya itu pun telah terluka pula. Karena itu, maka ia pun harus mengobati luka-lukanya itu

Namun ternyata seorang yang lain lagi telah terluka pula. Yang lain terdorong beberapa langkah surut sambil memegangi perutnya yang telah dikenai tendangan orang yang membawa sepasang pisau itu.

Ternyata sekelompok murid Ajag Pinunjung itu tidak segera dapat mengalahkan lawannya. Bahkan setiap kali ada saja yang terdorong keluar dari arena. Ada di antara mereka yang dapat kembali memasuki arena pertempuran, tetapi ada yang karena luka-lukanya tidak mampu lagi bertempur.

Dalam pada itu, Ajag Pinunjung sendiri ternyata tidak dengan segera mampu mengalahkan orang bertongkat itu. Pedangnya tidak mampu menembus pertahanannya. Tongkat yang ujudnya seperti sepotong kayu itu ternyata menjadi sangat berbahaya.

Beberapa kali tongkat itu mematuk pundak, lengan dan lambung Ajag Pinunjung. Meskipun bukan serangan-serangan yang menentukan, tetapi rasa sakit dan nyeri telah menyengatnya.

Wijang dan Paksi mengamati pertempuran itu dengan jantung yang berdebaran. Wajah mereka menjadi semakin tegang. Mereka melihat sekelompok murid Ajag Pinunjung yang mengeroyok orang yang bersenjata sepasang pisau itu.

Wijang pun kemudian menggamit Paksi sambil berdesis perlahan, “Seandainya kita yang ada di dalam gubuk itu saat mereka datang, apakah kita mampu melawan mereka?”

Paksi menggeleng. Dengan jujur ia berkata, “Orang bertongkat itu memiliki ilmu lebih tinggi dari ilmuku.”

“Tetapi tidak berarti bahwa kau dapat dikalahkan oleh Ajag Pinunjung,” jawab Wijang.

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya. “Kau akan dapat melawan murid-murid Ajag Pinunjung sebagaimana dilakukan oleh orang bersenjata sepasang pisau itu.”

“Aku tidak yakin,” desis Wijang.

Sementara itu, Ajag Pinunjung yang tidak segera dapat mengalahkan orang bertongkat itu menjadi sangat marah. Tiba-tiba saja terdengar isyarat dari mulutnya. Isyarat yang tidak dimengerti oleh orang lain kecuali murid-muridnya.

Namun kedua orang yang sedang bertempur, bahkan Wijang dan Paksi pun segera mengetahuinya, bahwa isyarat itu merupakan perintah kepada beberapa orang muridnya untuk membantunya.

Tiga orang murid terpilihnya telah berloncatan mendekatinya. Mereka segera menempatkan dirinya untuk ikut bertempur melawan orang bersenjata tongkat itu.

Dalam pada itu, Kerta Ambal yang bertempur bersama saudara-saudara seperguruannya melawan orang yang bersenjata sepasang pisau itu masih tetap ragu-ragu. Meskipun demikian, ia tidak ingin mengalami kesulitan di lingkungan perguruannya.

Karena itu, maka ia pun membenamkan diri dalam pertempuran yang masih saja berlangsung itu.

Salah seorang murid di antara murid-murid terbaik telah bertempur pula bersamanya. Murid itulah yang memimpin kawan-kawannya melawan orang bersenjata sepasang pisau itu. Tetapi usahanya untuk menguasai orang bersenjata sepasang pisau itu nampaknya tidak segera berhasil. Bahkan saudara-saudara seperguruannya satu-satu telah terluka dan tidak mampu lagi kembali memasuki gelanggang.

Akhirnya Wijang dan Paksi harus mengakui, bahwa kedua orang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Orang bersenjata tongkat itu sama sekali tidak mengalami kesulitan meskipun ia harus bertempur melawan Ajag Pinunjung itu sendiri serta tiga orang murid terbaiknya.

Demikianlah, maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin jelas, bahwa Ajag Pinunjung tidak akan mampu mengalahkan kedua orang itu. Meskipun ia sudah membawa sekelompok muridnya yang beberapa di antaranya adalah murid-murid utamanya, namun kedua orang yang berada di dalam gubuk itu adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi.

Karena itu, maka Ajag Pinunjung tidak mau mengalami kesulitan yang semakin parah lagi. Beberapa orang muridnya sudah terluka. Jika ia dan murid-muridnya memaksa diri untuk bertempur terus, maka mereka akan mengalami kesulitan yang paling parah.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, terdengar Ajag Pinunjung itu memberikan isyarat lagi kepada murid-muridnya, isyarat yang juga hanya diketahui oleh murid-muridnya saja.

Wijang dan Paksi yang menyaksikan pertempuran itu melihat beberapa orang murid Ajag Pinunjung yang bertempur melawan orang yang bersenjata sepasang pisau belati itu telah menghentakkan serangan-serangan mereka.  Namun beberapa orang yang lain justru telah meninggalkan arena. Mereka berusaha menolong saudara-saudara mereka yang terluka dan membawanya menyingkir meninggalkan gelanggang pertempuran. Mereka membawa kawan-kawan mereka ke tempat yang terlindung. Menembus semak-semak belukar dan kemudian memasuki hutan lereng pegunungan.

Wijang dan Paksi pun kemudian dapat menerka apa yang akan terjadi. Ketika kemudian Ajag Pinunjung itu memberikan isyarat sekali lagi, maka dugaan mereka pun benar. Ajag Pinunjung telah membawa murid-muridnya meninggalkan medan.

Masih ada yang pantas dipuji pada Ajag Pinunjung. Ia tidak begitu saja melarikan diri menyelamatkan jiwanya. Tetapi ia masih tetap mengingat, bahwa ia sedang mengundurkan diri bersama murid-muridnya.

Orang bertongkat itu memang memburunya beberapa puluh langkah. Tetapi demikian Ajag Pinunjung memasuki celah-celah gerumbul dan semak-semak, maka orang bertongkat itu pun berhenti. Demikian pula kawannya yang bersenjata sepasang pisau itu. Ia pun tidak mengejar murid-murid Ajag Pinunjung itu. Bahkan ia tidak lagi berusaha untuk menangkap satu atau dua orang di antara mereka, meskipun hal itu tentu dapat dilakukannya jika ia menghendakinya.

Sesaat kedua orang itu  berdiri termangu-mangu.  Namun kemudian Wijang dan Paksi melihat kedua orang itu melangkah ke pintu gubuk mereka dan melangkah masuk ke dalamnya.

Wijang dan Paksi saling berpandangan sejenak. Dengan nada ragu Wijang pun berkata, “Apakah kita akan menemui mereka?”

“Ya,” desis Paksi, “rasa-rasanya ingin tahu, siapakah mereka berdua. Apakah mereka melihat apa yang telah kita lakukan sebelumnya ketika Kerta Ambal dan ketiga orang kawannya itu datang ke gubuk kita.”

Wijang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Marilah, berhati-hatilah. Keduanya memiliki ilmu yang tinggi. Lebih tinggi dari ilmu kita masing-masing.”

“Lebih tinggi dari ilmuku. Tetapi belum tentu lebih tinggi dari ilmumu yang tidak dapat dijajagi.”

“Jangan mengigau,” sahut Wijang.

Paksi mengerutkan dahinya. Namun ia tidak menjawab lagi.

Keduanya pun kemudian telah bangkit berdiri. Dikibaskannya pakaiannya yang kotor dan basah oleh embun yang lekat di dedaunan dan rumput alang-alang.

Sejenak kemudian Wijang dan Paksi itu pun melangkah meninggalkan gumuk kecil menuju ke gubuknya.

Pintu gubuk itu masih terbuka. Lampu minyak di dalamnya masih menyala, meskipun nyalanya meliuk-liuk dihembus angin perlahan-lahan.

Dengan hati-hati keduanya mendekati pintu yang terbuka itu. Kemudian Wijang pun menyentuh dinding gubuk itu sambil bertanya, “Siapa yang ada di dalam?”

Tidak terdengar jawaban. Paksi yang berdiri di belakangnya melangkah dengan hati-hati untuk menengok ke dalam lewat pintu yang terbuka.

Wijang mengamatinya sambil memberi isyarat agar Paksi berhati-hati.

Tetapi Paksi tidak segera melihat seseorang. Karena itu, maka ia pun bergerak semakin maju. Bahkan Wijang pun telah berdiri pula di depan pintu.

Namun mereka memang tidak melihat seorang pun.

Keduanya menjadi semakin berhati-hati. Ruangan gubuknya tidak terlalu luas. Tidak ada dinding penyekat. Karena itu, jika ada orang di dalamnya, maka satu-satunya tempat untuk melindungi dirinya adalah justru melekat dinding di sebelah menyebelah pintu.

Karena itu, maka keduanya tidak langsung meloncat memasuki gubuk itu. Tetapi sekali lagi Wijang bertanya, “Siapa yang ada di dalam?”

Masih tetap tidak ada jawaban. Karena itu, maka Wijang pun kemudian memberi isyarat kepada Paksi untuk berhati-hati.

Namun Paksi pun kemudian berkata, “Dinding ini tidak terlalu rapat, jika ada orang yang bersembunyi di dalamnya dan berada di sebelah-menyebelah pintu, maka bayangannya akan nampak dari luar karena lampu minyak itu ada di sudut sebelah dalam.”

“Ya. Aku juga sudah memikirkannya. Tetapi aku tidak mengerti bahwa kedua orang itu begitu saja hilang.”

“Memang aneh,” desis Paksi.

Namun demikian, Wijang masih tetap berhati-hati. Ia masih juga berkata, “Jika ada orang di dalam, kami ingin berbicara.”

Tetapi masih tetap tidak ada jawaban. Karena itu, maka Wijang pun memberi isyarat kepada Paksi untuk bersiap-siap. Wijang akan memasuki rumah itu. Sementara Paksi harus tetap berada di luar.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Wijang pun telah meloncat masuk. Dengan cepat ia berguling dan melenting berdiri sambil mempersiapkan kedua pisaunya, sementara Paksi melangkah berdiri di ambang pintu dengan tongkatnya yang siap terayun.

Tetapi ternyata rumah itu memang kosong. Tidak ada seorang  pun di dalamnya.

Wijang dan Paksi yang kemudian melangkah masuk berdiri termangu-mangu. Mereka melihat isi rumah itu berserakan. Mereka memang sudah mengira bahwa Ajag Pinunjung akan mencari cincin di dalam rumah itu. Namun bahwa kedua orang itu tidak ada di dalamnya, benar-benar membuat keduanya heran dan bahkan bingung.

“Apakah mereka penunggu Gunung Merapi,” desis Paksi.

Wijang tidak menyahut Tetapi keningnya nampak berkerut.

Untuk beberapa saat keduanya termangu-mangu.  Namun agaknya keduanya tidak menyerah. Keduanya telah meneliti dinding gubuk itu dari sudut sampai ke sudut. Tetapi seekor kucing  pun tidak akan dapat masuk dan keluar.

Namun ketika Wijang menyentuh dinding pada sudut gubuk itu, ia pun tertegun. Sambil menarik nafas dalam-dalam

Wijang pun berkata, “Ternyata kitalah yang terlalu bodoh.”

Paksi tertegun sejenak. Namun kemudian ia pun melangkah mendekat. Sementara itu Wijang menunjuk dinding pada sudut gubuknya itu.

“Kenapa?” bertanya Paksi.

“Lihatlah sendiri,” jawab Wijang.

Paksi pun kemudian menyentuh dinding itu pula.

Paksi kemudian menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Ya. Kitalah yang dungu.”

Wijang pun kemudian mendorong dinding itu sehingga terbuka lebar dan cukup untuk menyusup seseorang.

“Mereka keluar dan masuk lewat sudut dinding ini.”

Keduanya pun kemudian telah duduk di dalam gubuk itu. Sambil memandangi barang-barangnya yang berserakan, Paksi berkata, “Aku tidak akan mengaturnya lagi.”

“Kenapa?” bertanya Wijang.

“Aku menjadi semakin mantap untuk meninggalkan tempat ini. Bukannya karena aku menjadi ketakutan. Tetapi Pangeran Benawa itu harus dijauhkan dari keadaan seperti ini.”

“Kenapa dengan Pangeran Benawa?”

“Persoalannya akan dapat beralih. Jika gubuk ini kemudian menarik perhatian banyak orang, maka kita akan diributkan oleh hal-hal yang tidak kita inginkan.”

Wijang tertawa. Katanya, “Aku mengerti. Mungkin pada suatu saat ada orang yang menduga bahwa Pangeran Benawa itu ada disini. Bahkan mungkin paman Harya Wisaka. Paman tentu juga menduga bahwa cincin itu ada di sekitar tempat ini, sementara disini ada orang yang diselubungi rahasia.”

Paksi mengangguk-angguk kecil.

Namun Wijang itu pun kemudian berkata, “Namun kitalah sekarang yang dihadapkan pada sebuah teka-teki. Siapakah kedua orang yang telah berada di dalam gubuk ini pada saat kita meninggalkannya. Aku menjadi malu kepada mereka.”

“Kenapa malu?” bertanya Paksi.

“Bukankah kita telah melarikan diri dan bersembunyi di gumuk itu? Mereka pun tentu melihat, bagaimana kita menjadi ketakutan untuk memasuki gubuk ini. Bahkan sekarang  pun mereka tentu masih berada di sekitar kita.”

Paksi mengerutkan dahinya. Namun kemudian katanya, “Tidak. Kita tidak perlu malu. Bukankah seorang prajurit sekali pun akan membuat perhitungan jika mereka akan maju berperang? Dua orang prajurit tidak akan menyerang begitu saja sebuah pasukan yang terdiri lebih dari sepuluh orang. Apalagi dipimpin oleh seorang senapati yang mumpuni.”

Wijang mengangguk-angguk. Sementara Paksi berkata selanjutnya, “Dasar perhitungan itulah yang membuat seseorang mengatasi kesulitan-kesulitannya.”

“Kau benar. Kau akan menjadi seorang senapati yang baik. Lebih baik dari ayahmu.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba saja ia berdesis, “Doakan saja. Mudah-mudahan ada seorang pangeran yang mengangkat aku menjadi seorang senapati kelak.”

Wijang tertawa berkepanjangan. Katanya, “Jika ada orang yang bersedia menempatkan kau pada kedudukan itu, apakah kau bersedia memberikan gajimu selama setahun kepadanya?”

“Jangankan setahun,” berkata Paksi. Namun katanya kemudian, “Orang-orang yang demikian tentu cepat menjadi kaya.”

“Ya, meskipun menghisap darah sesamanya,” sahut Wijang. “Tetapi jangan terkejut jika kau pada suatu saat menjumpai orang yang benar-benar berbuat demikian.”

Paksi terdiam. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba Wijang pun bertanya, “Menurut pendapatmu, siapakah mereka berdua?”

Paksi merenung sejenak. Katanya, “Aku hanya mengenal dua orang yang pernah datang kemari.”

“Ki Marta Brewok,” desis Wijang.

“Ya. Dan seorang lagi yang pernah datang mencobaiku.”

Wijang mengangguk. Katanya, “Aku setuju.”

Namun tiba-tiba saja Paksi bertanya, “Siapakah sebenarnya mereka itu?”

“Bagaimana aku tahu?” jawab Wijang. Namun katanya kemudian, “Tetapi pada saatnya kita akan mengetahuinya.”

“Ya. Pada suatu saat.”

Wijang mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun tertawa, “Jadi, aku harus menjawab bagaimana?” Paksi tidak menjawab.

Untuk beberapa saat keduanya saling berdiam diri. Namun kemudian Wijang itu pun bertanya, “Apakah kita akan tidur di ujung malam? Kita masih mempunyai sedikit waktu tersisa sebelum fajar menyingsing.”

“Jika kita mencoba tidur, maka kita hanya akan menjadi pening, karena sesaat kemudian kita harus sudah bangun lagi. Karena itu lebih baik kita tidak tidur. Aku akan mandi.”

“Jangan berendam. Semalam kita tidak tidur. Jika kita berendam terlalu lama, kita akan menjadi kedinginan.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Untuk terakhir kalinya kita mandi disini.”

Wijang menarik nafas. Katanya, “Ya. Untuk terakhir kalinya.”

Demikianlah, maka keduanya pun telah mandi dan berbenah diri.

Ketika kemudian matahari terbit, maka keduanya telah siap untuk meninggalkan gubuk yang telah dihuni oleh Paksi lebih dari setahun itu.

Namun ketika Paksi melihat barang-barangnya berserakan, rasa-rasanya memang menjadi iba. Karena itu, maka katanya, “Tunggu. Aku tidak dapat meninggalkan gubukku dalam keadaan berserakan seperti ini.”

Wijang tersenyum. Namun ia pun kemudian ikut membantu membenahi barang-barang yang berserakan itu.

Baru ketika matahari sepenggalah, mereka selesai. Namun Paksi masih juga ingin melihat-lihat tanaman-tanamannya yang tumbuh subur, yang memang harus ditinggalkannya.

Baru sejenak kemudian, maka kedua orang itu benar-benar telah melangkah meninggalkan gubuk itu. Paksi membawa tongkatnya. Tetapi karena tongkat itu adalah tongkat kayu, maka tongkat itu tidak menarik perhatian.

Kedua orang itu pun melangkah menuruni kaki Gunung Merapi. Mereka mengikuti jalan setapak. Kemudian menelusuri jalan yang lebih besar. Tetapi mereka tidak akan singgah di pasar berdua.  Hanya Paksi yang akan melihat keadaan di pasar, sementara Wijang akan menunggu di tempat yang agak terlindung.

Namun Paksi tidak menjumpai orang-orang yang dikenal atau dimengerti. Paksi itu berjalan seperti biasa. Tidak ada hal-hal yang menarik perhatian. Kinong masih juga berlari-lari dengan keranjang kecilnya. Agaknya ia sudah mendapat beberapa keping uang sehingga ia dapat membeli makan paginya. Wajahnya sudah nampak cerah ketika ia bertemu dengan Paksi.

“He, kau nampak gembira hari ini,” sapa Paksi.

“Kami mendapat banyak rejeki pagi ini.”

“Syukurlah. Mudah-mudahan tidak hanya hari ini.”

“Kakang membawa tongkat,” desis Kinong.

Paksi tertawa. Katanya, “Aku sering bertemu dengan anjing hutan yang berkeliaran sampai ke padukuhan-padukuhan. Aku takut terhadap anjing. Jangankan anjing hutan. Kepada anjing di padukuhan-padukuhan itu pun aku takut.”

“Tetapi biasanya Kakang tidak membawa tongkat,” berkata Kinong.

“Aku akan pergi ke rumah pamanku. Rumahnya agak jauh, sehingga aku harus berjalan melalui lorong sempit di pinggir padang perdu. Di gerumbul-gerumbul dan semak-semak hidup banyak anjing hutan.”

“Bukankah anjing hutan itu sangat berbahaya, Kakang. Menurut orang-orang tua, anjing hutan itu hidupnya bergerombol-gerombol.”

“Ya itulah sebabnya aku membawa tongkat.”

Kinong tidak bertanya lagi. Namun Paksi lah yang kemudian berkata, “Karena aku akan pergi ke rumah paman, maka mungkin untuk waktu yang agak lama aku tidak akan mengunjungi pasar ini.”

Kinong mengerutkan dahinya. Namun kemudian katanya, “Tetapi bukankah kelak Kakang akan datang lagi ke pasar ini?”

“Ya. Jika aku sudah pulang dari rumah pamanku, maka aku tentu akan sering datang ke pasar ini lagi.”

Kinong mengangguk-angguk. Katanya, “Pasar ini semakin menakutkan.”

“Kenapa?”

“Kadang-kadang ada orang-orang yang berkeliaran dengan membawa senjata. Kadang-kadang ada di antara mereka yang mengambil barang-barang di pasar ini tanpa membayar. Bahkan kadang-kadang barang-barang yang berharga. Sementara itu, Uwa Reja, orang yang diserahi tanggung-jawab atas pasar ini, tidak berani mengambil tindakan apa-apa.”

“Apakah hal seperti itu sering terjadi?”

“Sering, Kakang. Aku sendiri memang tidak penuh dirugikan. Tetapi jika karena ketakutan pada suatu saat pasar ini ditutup, maka aku tidak akan dapat mencari makan lagi disini.”

“Ah,” desah Paksi, “sumber pekerjaan tidak hanya di pasar ini. Dimana-mana ada kerja. Mungkin kau dapat membantu bekerja di sawah atau pekerjaan-pekerjaan lain.”

“Sawah siapa? Ayah sudah tidak mempunyai sawah lagi. Semuanya sudah habis untuk judi. Yang tinggal hanyalah isteri dan anak-anaknya. Aku benci kepada ayah.”

“Jangan begitu, Kinong. Kau tidak boleh benci kepada ayahmu. Kau harus menghormatinya. Tanpa ayahmu kau tidak akan pernah ada di bumi ini.”

“Ibu juga berkata begitu, Kang. Tetapi aku lebih baik tidak mempunyai seorang ayah daripada ayah yang satu itu.”

“Kau tidak dapat memilih seorang ayah, Kinong. Baik-baiklah terhadap ayahmu, apa pun yang dilakukannya. Berdoalah agar pada suatu saat ayahmu dapat berubah.”

Kinong terdiam.

Sementara itu, Paksi pun bertanya, “Tetapi bukankah hari ini tidak ada orang-orang yang menakutkan itu?”

“Tidak, Kakang.”

“Kemarin? Juga tidak?”

Kinong mengingat-ingat. Katanya, “Bukankah kemarin Kakang juga ada di pasar ini?” “Ya.”

“Ya. Kemarin juga tidak ada.”

“Nah, mudah-mudahan orang-orang itu tidak datang lagi kemari. Bukan hanya kemarin dan sekarang. Tetapi juga besok, besok lusa dan seterusnya.”

“Mudah-mudahan, Kakang,” jawab Kinong.

Paksi mengusap kepala Kinong. Kemudian ia pun mengambil beberapa keping uang dan diberikannya kepada Kinong.

Kinong terkejut. Tetapi sebelum Kinong bertanya, Paksi sudah mendahuluinya berkata, “Jangan bertanya apa-apa. Kau dapat menambah tabunganmu dengan uang itu. Bukankah kau masih menabung?”

“Ya, Kakang,” Kinong mengangguk.

“Baiklah. Aku minta diri. Katakan kepada biyungmu, bahwa aku akan pergi untuk beberapa pekan.”

Kinong mengangguk.

Namun kemudian Paksi pun berkata, “Nah, itu ada orang memanggilmu. Mudah-mudahan rejeki banyak, Kinong.”

“Terima-kasih, Kakang. Terima-kasih.”

Kinong pun kemudian berlari meninggalkan Paksi yang termangu-mangu.

Dalam pada itu, Paksi pun sempat singgah pada penjual nasi tumpang, penjual dawet, pande besi dan orang-orang yang dikenalnya yang lain. Penjual garam dan ikan yang diasinkan sempat bertanya, “Kau akan pergi kemana, cah bagus.”

“Menengok pamanku, Bibi. Agak jauh.”

“Kau akan kembali, kan?”

“Ya, Bibi.”

“Aku sudah terlanjur berkata kepada anak gadisku, bahwa kau akan aku ambil menantu.”

“Ah, Bibi ini ada-ada saja. Aku kan tidak dapat berbuat apa-apa. Selain itu juga tidak punya apa-apa kecuali tongkat ini.”

“Kau anak yang baik, Ngger. Kalau kau menjadi menantuku, kau dapat membantu berjualan di pasar. Aku tidak harus mencari tenaga untuk mengusung garam, ikan asin dan barang-barang dagangan yang lain.”

Paksi tertawa. Katanya, “Bibi dapat mengambil menantu seorang anak muda yang lebih baik dari aku. Apalagi anak gadis Bibi itu adalah gadis yang cantik. Bukankah gadis itu yang sering ikut berjualan disini?”

“Ya. Anak gadisku sering ikut membantu aku berjualan disini. Hampir setiap hari pasaran ia ada disini.”

“Sampaikan salamku kepadanya, Bibi. Tetapi aku tidak pantas untuk menjadi jodohnya.”

“Kau terlalu merendah,” berkata penjual garam dan ikan asin itu.

Namun Paksi pun kemudian telah mohon diri.

“Kau akan pergi ke mana, anak muda?” bertanya penjual empon-empon di sebelah penjual garam itu.

Seperti kepada yang lain, Paksi pun minta diri pula kepada penjual empon-empon dan reramuan jamu itu.

Namun perempuan penjual jamu itu kemudian berbisik, “He, kau tahu gadis yang mana anak penjual garam itu?”

“Yang sering ikut berjualan disini itu, kan.”

“Ada dua orang gadis yang sering membantu berjualan di pasar ini.”

Paksi termangu-mangu. Sementara penjual empon-empon itu berbisik, “Anaknya bukan yang langsing dan cantik itu. Itu adalah kemenakannya.”

“Jadi?”

“Yang seorang lagi.”

“Ah.”

“Untung kau belum menyatakan kesediaanmu menjadi menantunya. Ditambah lagi, gadis itu angkuhnya bukan main. Manja dan tidak tahu diri. Ia memang merasa cantik sekali, sebagaimana ibunya menilainya.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Untunglah aku belum dengan serta-merta menyatakan kesediaanku.”

Penjual empon-empon itu tertawa. Namun tiba-tiba saja penjual garam itu berteriak, “Apa yang kau tertawakan?”

Penjual empon-empon itu pun berteriak pula, “Anak ini tidak mau makan kencur. Padahal hampir semua orang suka beras kencur.”

Penjual garam itu mengerutkan dahinya. Namun ia pun kemudian tidak menghiraukannya lagi.

Sejenak kemudian, maka Paksi pun telah meninggalkan pasar itu. Wijang tentu sudah mulai memberengut, karena ia terlalu lama berada di dalam pasar itu.

Karena itu, maka Paksi pun kemudian dengan tergesa-gesa melangkah meninggalkan gerbang pasar.

Ketika Paksi keluar dari kesibukan orang-orang yang ada di depan pasar itu, maka ia merasa seseorang sedang mengikutinya. Tidak jauh di belakangnya. Jika ia berjalan cepat, orang itu juga berjalan cepat. Jika ia memperlambat langkahnya, maka orang itu pun berjalan lambat.

Karena itu, Paksi tidak mau berteka-teki lebih lama. Tiba-tiba saja ia menepi, berhenti dan berbalik.

Paksi menarik napas dalam-dalam. Yang mengikuti beberapa langkah di belakangnya adalah Wijang.

“Kau,” desis Paksi.

Wijang berhenti selangkah di hadapan Paksi. Katanya, “Kau menghukum aku di bawah pohon duwet itu. Aku menunggu sambil duduk membelakangi jalan agar wajahku tidak dilihat orang lewat. Tetapi nampaknya kau tertidur di pasar.”

Paksi tersenyum. Katanya, “Jangan marah. Aku melihat-lihat seisi pasar itu. Aku tidak ingin ada yang terlampaui, justru orang-orang yang seharusnya  mendapat  perhatian  kita. Selebihnya, aku bertemu dengan Kinong dan penjual nasi tumpang.”

“Kau makan nasi tumpang?”

“Tidak. Aku hanya memberitahukan kepada Kinong bahwa untuk beberapa pekan aku tidak akan datang ke pasar ini.”

“Aku menunggu sampai tertidur.”

“Nah, sekarang kita lanjutkan perjalanan.”

“Kau harus singgah dan berhenti sebentar di bawah pohon duwet itu.”

“Baiklah,” jawab Paksi.

Keduanya pun kemudian melanjutkan langkah mereka. Keduanya memang berhenti sejenak di bawah pohon duwet itu. “Duduklah,” berkata Wijang.

Paksi pun kemudian telah duduk di bawah pohon duwet itu.

“Letakkan tongkatmu, agar tidak menarik perhatian orang yang akan lewat.”

Paksi pun meletakkan tongkatnya di sisinya.

Wijang pun kemudian menggamit Paksi sambil berkata, “Aku menduga bahwa orang itu akan kembali melalui jalan ini.”

“Orang yang mana?” bertanya Paksi.

Wijang tidak menyahut. Namun ketika Paksi memandang ke arah pandangan Wijang, maka agak jauh dari tempat mereka duduk, nampak kedai yang berada di ujung jajaran kedai di depan pasar itu.

Dengan mempertajam penglihatannya, maka Paksi dapat melihat dengan jelas kedai itu.

“Siapakah yang berada di kedai itu?”

“Dua orang yang tentu dari lingkungan perguruan yang mengadakan pertemuan itu.”

“Apakah kau tidak mengenal ciri-cirinya?” bertanya Paksi.

“Bukan hanya ciri-cirinya. Tetapi aku mengenali kedua orang itu.”

“Siapa?” bertanya Paksi. “Kau tentu juga mengenalnya.”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak bertanya lebih jauh. Ia tinggal menunggu saja kedua orang itu keluar dari kedai itu berjalan lewat jalan di depan mereka.

Namun keduanya terkejut ketika tiba-tiba saja mereka melihat seseorang terlempar dari kedai itu. Kemudian seorang lagi terbanting jatuh dan tidak segera dapat bangkit berdiri.

“Apa yang terjadi?” bertanya Paksi.

Beberapa orang pun segera berlari-larian. Beberapa orang di antaranya berlari-lari di jalan di depan Paksi dan Wijang itu duduk menunggu.

“Suasana menjadi buruk,” desis Wijang.

“Nampaknya memang demikian.”

“Agaknya kita pun lebih baik menyingkir.”

Demikianlah, maka Paksi dan Wijang pun ikut pula bersama orang-orang yang melarikan diri dan bersembunyi di celah-celah tanaman pepohonan perdu di tanggul parit atau meloncat memasuki halaman rumah sebelah-menyebelah yang dinding halamannya tidak terlalu tinggi.

Paksi dan Wijang pun ikut meloncati dinding halaman dan bersembunyi di balik tanaman yang ada di dalamnya.

Beberapa saat mereka menunggu. Suasananya dicengkam oleh keheningan yang tegang.

Dalam pada itu, pendengaran Paksi dan Wijang yang tajam pun sudah mendengar langkah dua orang yang menyelusuri jalan di sebelah dinding itu. Langkah dua orang perempuan. Bahkan mereka pun mendengar salah seorang di antara kedua perempuan itu berkata, “Tangan yang usil itu seharusnya dipotong saja.”

“Kenapa tidak kau lakukan?”

“Orang itu sudah mau memberi keterangan tentang Repak Rembulung dan Pupus Rembulung yang kemarin juga berada di pasar ini. Aku hargai keterangannya, sehingga aku tidak memotong tangannya.”

“Ia salah mengerti. Pernyataan terima-kasihmu dikiranya mempunyai ungkapan yang lebih dalam dari pernyataan terima-kasih biasa.”

“Orang itu memang gila. Seandainya ia tidak mau berbicara sebelumnya tentang sepasang suami isteri yang ciri-cirinya seperti Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.”

 -ooo00dw00ooo-

Diedit dari

naskah yang dikirimkan oleh Nyi Dewi KZ (Website Tirai Kasih)

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s