JDBK-21


<<kembali | lanjut >>


WAJAH orang yang menyebut dirinya Ki Ageng Carangcendana itu menggeram. Dipandanginya Raden Sutawijaya dengan tajamnya.

Terasa angin semilir menyentuh tubuh Raden Sutawijaya. Demikian segarnya menyapu wajahnya, seakan-akan Raden Sutawijaya berada di sejuknya bayangan pohon yang rindang, di saat matahari menjadi terik.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa orang yang menyebut dirinya Ki Ageng Carangcendana itu menjadi sangat marah. Orang itu sudah mulai menyerangnya. Angin yang segar itu dapat membuat seseorang menjadi sangat mengantuk, sehingga kehilangan pemusatan nalar budi meskipun di medan pertempuran.

Tetapi Raden Sutawijaya adalah seorang yang memiliki ilmu seakan-akan tidak terbatas. Karena itu, maka dengan penuh kesadaran, ia telah meredam lapisan pertama ilmu Lintang Wora-wari yang tersimpan di dalam diri orang tidak berbaju itu. Lewat pandangan matanya ia mampu membuat lawannya menjadi lemah dengan seribu macam cara.

Raden Sutawijaya tiba-tiba menguap. Matanya menjadi redup. Namun sebenarnyalah bahwa ia sama sekali tidak terpengaruh oleh lapisan pertama ilmu lawannya itu.

“Aku sudah menyebut namaku. Siapakah namamu?” bertanya Ki Ageng Carangcendana.

Raden Sutawijaya mengusap matanya. Dengan nada dalam ia pun menjawab, “Namaku Sasangka. Aku adalah murid sulung perguruan Ki Panengah”

Ki Ageng Carangcendana menarik nafas panjang. Katanya, “Namamu bagus. Jika kau murid sulung Ki Panengah, maka kau merasa bahwa di antara murid-muridnya yang lain, kau adalah murid yang memiliki ilmu tertinggi”

Raden Sutawijaya menggeleng. Katanya, “Tidak. Ada dua orang saudaraku yang memiliki ilmu seimbang dengan aku. Murid kedua dan ketiga. Namanya Wijang dan Paksi. Ia juga berada di arena ini”

Ki Ageng Carangcendana mengangguk-angguk. Ia pun kemudian memandang berkeliling. Orang-orang di sekitarnya sudah mulai bergeser dan bahkan saling menjajagi kemampuan lawan.

“Kalian akan sangat menyesal dengan melayani tantangan Ki Ajar Wisesa Tunggal”

Tetapi Sutawijaya menggeleng. Katanya, “Tidak. Kami tidak menyesal. Perbandingan ilmu ini akan dapat menambah luasnya wawasan kami terhadap ilmu kanuragan”

“Kau salah, Sasangka. Setelah perbandingan ilmu ini, kalian tidak akan pernah mampu menyimpan ilmu yang paling dasar sekalipun. Meskipun tubuh kalian tidak cacat, tetapi urat nadi dan simpul-simpul syaraf kalian akan rusak, sehingga kalian akan menjadi orang-orang yang dungu. Lemah ingatan dan kehilangan pribadi”

“Bukankah tujuan perbandingan ilmu itu bukan begitu? Kita hanya akan melihat siapakah yang lebih unggul di antara kita. Itu saja”

Orang yang mengaku bernama Carangcendana itu tertawa. Katanya, “Kau mulai menyesal? Tidak ada gunanya sekarang. Semuanya harus berjalan menurut rencana. Kalian semuanya akan mengalami nasib yang sama, kecuali anak yang bernama Paksi itu. Ia akan kami bawa ke padepokan kami. Ia akan menyesali nasibnya untuk waktu yang sangat panjang. Bahkan sepanjang hidupnya. Ia akan merintih setiap hari, tetapi ia tidak akan cepat mati meskipun ia menghendaki. Paksi telah mempermalukan salah seorang kepercayaan Ki Ajar Wisesa Tunggal yang justru bermaksud baik untuk menjemputnya atas permintaan ayahnya”

“Ternyata kalian tidak jujur” desis Raden Sutawijaya. “Sebagaimana kau lihat, disini sepasukan prajurit siap untuk bertempur. Satu kata saja meluncur dari mulut Ki Gede Pemanahan, maka kalian akan menjadi debu. Apalagi jika Ki Gede Pemanahan dan Ki Kriyadama turun ke arena setelah mereka mengetahui kecurangan kalian. Niat kalian yang curang”

“Bukankah dalam perkelahian dapat saja terjadi kecelakaan sehingga kalian akan menjadi orang yang tidak waras seumur hidup kalian?”

“Jika itu terjadi tiba-tiba, memang tidak akan dapat dipersalahkan. Tetapi kali ini kau sudah merencanakannya”

“Tinggal kejantananmu dan kawan-kawanmu termasuk gurumu. Apakah kalian pengecut atau bukan”

“Baiklah. Jika demikian, jelas bagiku, apa yang harus aku lakukan”

Ki Ageng Carangcendana itu pun tertawa. Kembali terasa angin berhembus semilir mengusap wajah Raden Sutawijaya.

Pada saat yang demikian, Raden Sutawijaya sengaja memandang ke pusat mata Ki Ageng Carangcendana yang seakan-akan tersembunyi di dalam lubang yang sangat dalam. Pada mata itu, Raden Sutawijaya seakan-akan melihat kabut tipis yang mengepul, berhembus bersama semilirnya angin itu ke wajahnya.

Raden Sutawijaya itu pun menguap. Sementara itu terdengar suara Ki Ageng Carangcendana, “Jangan mengantuk, anak manis. Kita berada di tengah-tengah gelanggang pertarungan”

Raden Sutawijaya tidak menjawab. Namun angin lembut itu pun masih saja terasa. Tidak henti-hentinya. Sementara itu sekali lagi Raden Sutawijaya menguap.

“Jika udara panas bagaikan mencekik, aku senang dapat berbicara dengan kau, Ki Ageng Carangcendana”

“Kenapa?”

“Terasa kesejukan berhembus mengusap tubuhku. Aku memang mengantuk. Tetapi jangan takut bahwa aku akan tertidur, karena aku sadar, kita berada di arena”

“Tetapi beberapa kali kau menguap. Matamu jadi redup, tidurlah anak manis”

Raden Sutawijaya merasakan sentuhan kekuatan ilmu Ki Ageng Carangcendana sejak mereka mulai. Namun Raden Sutawijaya tidak juga memejamkan matanya.

“Tidurlah, Sasangka. Sudah waktunya kau tidur dan tidak akan pernah dapat bangun dengan kesadaran yang utuh”

Tetapi Raden Sutawijaya itu menjawab, “Kenapa bukan kau saja yang tidur, Ki Ageng? Aku tidak biasa tidur di arena”

Dahi Ki Ageng itu pun berkerut. Ia melihat Raden Sutawijaya masih berdiri tegak. Matanya masih tetap memandangnya dengan tajamnya.

“Apakah ilmuku tidak mempengaruhinya?” bertanya Ki Ageng itu di dalam hatinya.

Tetapi Raden Sutawijaya itu pun justru tersenyum sambil bertanya, “Ki Ageng, apakah Ki Ageng sudah terbiasa menjadi pemomong kanak-kanak sehingga mempunyai kemampuan lebih untuk dapat menidurkannya?”

“Anak iblis kau. Kenapa kau menguap?” bertanya Ki Ageng.

“Sudah aku katakan, anginmu terasa semilir menyejukkan. Sayang kita berada di arena pertarungan, sehingga aku tidak boleh tertidur”

Ki Ageng Carangcendana pun kemudian yakin, bahwa lawannya tidak terpengaruh oleh ilmunya. Bahkan agaknya ia telah mampu menebaknya dan berpura-pura menguap.

Kemarahan Ki Ageng Carangcendana itu pun bagaikan membakar jantungnya. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang Raden Sutawijaya. Tangannya yang terayun didahului dengan sambaran angin yang tajam, yang seakan-akan menusuk sampai ke tulang.

“Agaknya orang ini memang sangat berbahaya” berkata Raden Sutawijaya di dalam hatinya. “Ia langsung pada tataran ilmu yang tinggi seakan-akan tanpa ancang-ancang”

Sebenarnyalah. Ki Ageng Carangcendana tidak merasa perlu menjajagi ilmu lawannya. Demikian yakin akan kemampuannya, maka Ki Ageng berniat langsung menghancurkan lawannya dan membuatnya tidak berdaya untuk seterusnya. Kemudian Ki Ageng akan segera dapat membantu kawan-kawannya yang lain, karena pertarungan itu ditentukan bukan berdasarkan atas siapa melawan siapa. Tetapi berlima melawan berlima pula.

Tetapi ternyata Ki Ageng telah membentur kemampuan yang tidak diduganya sebelumnya. Ternyata lawannya yang masih terhitung muda itu tidak dapat segera dikuasainya.

Ayunan tangannya yang diharapkannya dapat mengakhiri perlawanan orang yang menyebut dirinya Sasangka itu, ternyata tidak menyentuh kening.

Raden Sutawijaya masih sempat memiringkan kepalanya ketika ayunan tangan itu dengan cepatnya menyambar ke arah wajahnya. Yang terasa adalah desis angin yang membuat kulit wajah Raden Sutawijaya terasa pedih.

Namun dengan demikian Raden Sutawijaya pun segera meningkatkan ilmunya pula. Ia tidak dapat bermain-main menghadapi orang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi itu.

Karena itulah, maka pertarungan di antara kedua orang yang berilmu sangat tinggi itu dengan cepat telah menjadi semakin sengit. Keduanya saling mendesak. Serangan dibalas dengan serangan.

Ki Ageng Carangcendana menjadi semakin marah. Lawannya yang masih terhitung muda itu masih mampu mengimbangi ilmunya. Serangannya di awal pertempuran sama sekali tidak menyusutkan kesadaran dan kemampuan lawannya itu. Bahkan lawannya itu semakin lama menjadi semakin garang.

Sementara itu, yang lain pun telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Untuk sementara ternyata mereka terikat seorang melawan seorang.

Ki Ajar Wisesa Tunggal memperhatikan pertarungan di arena yang luas itu dengan jantung yang berdebaran. Yang menjadi pusat perhatiannya adalah orang yang tidak berbaju, yang menyebut dirinya Ki Ageng Carangcendana itu. Ki Ajar Wisesa Tunggal melihat Ki Ageng mulai mengerahkan kemampuannya.

“Aneh” berkata Ki Ajar di dalam hatinya, “siapakah lawan Ki Ageng sehingga ia tidak segera dapat menundukkannya? Jika Ki Ageng ingin bermain-main, bukanlah waktunya. Ia harus segera mengurangi jumlah lawan, sehingga ia dapat membantu kawannya menghadapi lawan-lawannya. Sehingga dengan demikian, maka satu demi satu kelima orang dari padepokan Ki Panengah itu dapat dilumpuhkan. Seperti yang direncanakan, maka orang-orang yang dikalahkan itu akan tetap hidup. Tetapi hidupnya tidak akan berarti apa-apa. Bagian dalam tubuhnya akan dirusakkannya sehingga meskipun ujud kewadagannya masih tetap utuh, tetapi ada bagian-bagian dalam tubuhnya yang tidak dapat bekerja dengan wajar. Dengan demikian, maka perguruan Ki Panengah itu dengan sendirinya akan berakhir sampai disini. Ki Gede Pemanahan yang hadir di pinggir arena itu akan dapat melihat, apa yang sebenarnya terjadi, sehingga ia akan berpaling dari perguruan ini ke perguruanku. Dengan demikian segala macam bantuan itu akan mengalir dari istana Pajang ke padepokanku. Anak-anak para pemimpin di Pajang pun akan dikirim ke padepokanku untuk berguru dalam olah kanuragan”

Tetapi kenyataan itu ada di hadapannya. Ki Ageng Carangcendana harus mengerahkan kemampuannya untuk menundukkan lawannya. Bahkan ternyata Ki Ageng Carangcendana rasa-rasanya harus berpacu dengan kawan-kawannya yang lain.

“Apa yang terjadi dengan Ki Ageng?” pertanyaan itu selalu mengganggu jantung Ki Ajar Wisesa Tunggal.

Tetapi sebenarnyalah Ki Ageng mengalami kesulitan untuk dengan cepat menundukkan lawannya yang terhitung masih muda itu.

Di lingkaran pertarungan yang lain, Paksi yang masih sangat muda dibandingkan dengan lawannya itu, berloncatan dengan tangkasnya. Dengan kecepatan yang tinggi Paksi menghindari setiap serangan Ki Surakanda. Namun sekali-kali Paksi pun berusaha menjajagi kekuatan lawannya dengan menangkis serangannya.

Benturan-benturan kecil yang terjadi, memperingatkan Ki Surakanda agar berhati-hati menghadapi Paksi. Paksi telah mempermalukan Ki Semburwangi di hadapan ayahnya yang ingin mengirimkan Paksi ke padepokannya dengan pesan khusus.

Ternyata Ki Surakanda harus mengakui tingkat kemampuan ilmu Paksi. Anak muda itu bukan saja sekedar menghindari serangan-serangannya. Tetapi kemudian anak muda itu pun mampu menyerang kembali. Bahkan semakin lama tidak menjadi semakin mengendor, tetapi ketika kulitnya sudah basah oleh keringat, anak muda itu menjadi semakin garang.

“Kau harus menerima hukumanmu” geram Ki Surakanda. “Kau harus berada di padepokanku untuk menjalani satu kehidupan yang tentu tidak kau senangi. Jika semula ayahmu ingin membuatmu menjadi seorang laki-laki yang tidak ada duanya di Pajang, maka yang akan terjadi adalah sebaliknya”

Paksi tidak menjawab. Tetapi yang sangat mengejutkan itu terjadi. Kaki Paksi ternyata berhasil menembus pertahanan Ki Surakanda mengatupkan mulutnya.

Ternyata Paksi mampu menggoyahkan tubuh Ki Surakanda ketika kakinya menyentuh lambungnya.

Ki Surakanda itu harus meloncat mengambil jarak dan memperbaiki kedudukannya sambil mengumpat. Paksi sengaja tidak memburunya. Dibiarkannya Ki Surakanda menilai apa yang baru saja terjadi.

“Kau dapat berbangga untuk sementara, Paksi. Tetapi jangan samakan aku dengan Ki Semburwangi”

“Kau memang tidak sama dengan Ki Semburwangi. Kemampuanmu memang lebih tinggi. Agaknya kekuasaanmu pun lebih besar pula di padepokan Ki Ajar Wisesa Tunggal” sahut Paksi.

“Tetapi tidak ada gunanya kau melawanku. Akhirnya kau harus tunduk kepada kehendakku. Kepada keinginanku. Kau harus ikut aku ke padepokan dan menjalani satu kehidupan yang sudah kami persiapkan bagimu”

“Kenapa bukan kau saja yang ikut aku dan hidup di padepokan ini? Mungkin kau akan menjalani satu kehidupan yang lebih menyenangkan dari kehidupanmu di padepokanmu itu”

Ki Surakanda menggeretakkan giginya. Paksi memang keras kepala. Ia sama sekali tidak nampak gentar menghadapi keadaan yang gawat itu.

Ketika keduanya kembali bertempur, maka Ki Surakanda semakin merasakan bahwa Paksi memang berilmu tinggi. Karena itu, maka Surakanda harus mengerahkan kemampuannya untuk dapat menundukkan anak muda itu.

Tetapi ternyata sulit untuk dapat mengatasi Paksi. Meskipun tataran ilmu Ki Surakanda sudah hampir sampai ke puncak, namun Paksi masih tetap mampu mengimbanginya.

Sekali-sekali serangan Ki Surakanda memang mampu menembus pertahanan Paksi. Kaki Ki Surakanda sempat mengenai dada Paksi sehingga Paksi terdorong beberapa langkah surut. Tetapi Paksi tidak memaksa diri untuk mempertahankan keseimbangannya. Paksi justru menjatuhkan diri dan berguling menjauhi lawannya. Ketika ia melihat lawannya meloncat memburunya, maka Paksi itu pun telah melenting berdiri dan siap menghadapi lawannya.

Bahkan ketika Ki Surakanda menghentikan langkahnya, Paksi lah yang justru meloncat menyerang dengan cepatnya meskipun serangannya itu tidak menyentuh sasaran.

Sebenarnyalah bahwa Ki Surakanda harus memperhatikan kenyataan itu dengan bersungguh-sungguh, bahwa ia tidak segera dapat mengalahkan anak muda yang bernama Paksi itu.

Ketika Ki Surakanda sempat memperhatikan Ki Ageng Carangcendana sejenak, maka jantungnya berdesir. Tepat pada saat ia memperhatikan orang tua tidak berbaju itu, telapak tangan Raden Sutawijaya yang terbuka, menghantam dada Ki Ageng di arah jantungnya.

Ki Ageng Carangcendana itu terdorong dua langkah surut, namun keseimbangannya sempat menjadi goyah.

Tetapi lawannya tidak memburunya. Meskipun ia meloncat maju, namun lawannya yang masih terhitung muda itu telah menunda serangannya.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Ki Ageng Carangcendana?” bertanya Ki Surakanda di dalam hatinya. Ki Ageng Carangcendana adalah salah seorang yang diharapkan dapat menyelesaikan lawannya dalam waktu singkat. Kemudian ia akan dapat membantu kawan-kawannya yang membutuhkan bantuannya. Itulah sebabnya, Ki Ajar Wisesa Tunggal menentukan untuk membuat pertarungan dalam kebulatan kelompok. Tetapi ternyata Ki Ageng Carangcendana tidak segera menyelesaikan lawannya. Bahkan lawannya yang masih terhitung muda itu telah menggoyahkan pertahanannya.

Sementara itu, kawan-kawan Ki Surakanda yang lain pun telah bertempur dengan garangnya. Tetapi mereka telah menjumpai lawan yang sangat tangguh. Bahkan orang yang berhadapan dengan Pangeran Benawa tidak segera mempercayai apa yang telah terjadi meskipun ia telah bertempur beberapa lama.

“Apakah yang sebenarnya terjadi atas diriku?” bertanya orang itu.

Lawan Pangeran Benawa adalah orang yang bertubuh kecil, tetapi sudah ubanan. Tubuh yang kecil itu selalu saja bergerak. Rasa-rasanya sulit untuk dapat menyentuhnya. Tetapi Pangeran Benawa sama sekali tidak menjadi bingung menghadapinya. Menghadapi orang yang tidak pernah berhenti bergerak itu, Pangeran Benawa justru lebih banyak diam. Ia berdiri saja tegak pada kedua kakinya. Lututnya sedikit merendah. Ia hanya bergeser saja setapak-setapak menghadapi ke arah orang bertubuh kecil yang tidak pernah berhenti bergerak itu.

Ketika orang itu mulai menyerang, maka kakinya berloncatan ringan sekali. Kadang-kadang orang itu bergerak seperti seekor kera. Tetapi tiba-tiba ia menggeliat dengan kedua tangannya terjulur seperti dua buah kepala dari seekor ular yang garang sedang mematuk-matuk mengerikan.

Namun kaki orang bertubuh kecil itu mampu melontarkan tubuhnya dengan sangat ringan, seakan-akan tubuhnya itu sama sekali tidak berbobot.

Meskipun demikian, serangan-serangannya tidak segera dapat menyentuh tubuh Pangeran Benawa yang nampaknya seakan-akan tidak bergerak. Serangan-serangan orang bertubuh kecil itu selalu membentur pertahanan Pangeran Benawa yang agaknya tidak ingin menghindar.

Namun setelah benturan-benturan itu terjadi beberapa kali, Pangeran Benawa semakin yakin, bahwa ia mampu mengimbangi kekuatan dan kemampuan orang bertubuh kecil yang sangat cekatan dan tangkas itu. Tekanan pertahanan Pangeran Benawa justru pada kecepatan gerak dalam kediamannya, karena lawannya pun mengandalkan kecepatan geraknya pula.

Orang bertubuh kecil itulah yang kemudian menjadi heran. Serangan-serangannya selalu saja membentur pertahanan lawannya yang nampaknya tidak terlalu banyak bergerak. Tetapi ternyata lawannya itu mampu bergerak mengimbangi kecepatan geraknya, sehingga setiap serangannya tidak mampu menembus pertahanannya.

Dalam pada itu, dua orang yang lain, yang harus berhadapan dengan Ki Panengah dan Ki Waskita, yang tidak memakai ikat kepala itu, segera mengalami kesulitan. Lawannya, Ki Panengah sendiri, dengan cepat mendesaknya.

“Kau tentu sudah mengetahui namaku, Ki Sanak” berkata Ki Panengah ketika orang bertubuh tinggi besar dan berkepala botak itu meloncat surut mengambil jarak, “tetapi aku belum mengetahui namamu”

“Apakah itu penting?”

“Aku kira memang penting” jawab Ki Panengah. “Mungkin waktu selanjutnya kita akan selalu berhubungan. Siapa tahu, dalam perbandingan ilmu semacam ini, kita akan dapat mengambil manfaatnya. Kita akan dapat saling mengasah sehingga kemampuan kita akan bersama-sama meningkat semakin tajam”

“Jangan bermimpi. Kau tidak sedang tidur, Ki Panengah. Kita berada di arena pertarungan. Meskipun kita tidak berniat saling membunuh, tetapi mungkin saja tanganku di luar sadarnya, melubangi dadamu di arah jantung, karena jari-jariku tidak kalah tajamnya dengan ujung pedang”

“Jangan terlalu garang, Ki Sanak. Bukankah kita tidak mempunyai alasan yang kuat untuk saling bermusuhan?”

“Muridmu yang bernama Paksi itu adalah sumber dari permusuhan di antara kita”

“Persoalan anak-anak itu akan dapat diselesaikan dengan baik tanpa melibatkan orang-orang tua seperti sekarang ini”

“Kau tentu melindungi muridmu yang sombong dan keras kepala itu”

Ki Panengah tertawa. Katanya, “Sebenarnya aku malu kepada para prajurit yang menonton permainan ini. Orang-orang tua masih harus menari-nari di gelanggang seperti anak-anak bermain jamuran di saat bulan terang”

“Itulah sebabnya murid-muridmu juga menjadi orang-orang sombong, karena kau sendiri juga seorang yang sangat sombong”

“Aku sama sekali tidak bermaksud menyombongkan diri, Ki Sanak. Tetapi baiklah, aku hanya ingin tahu, siapa namamu”

Orang bertubuh tinggi besar dan berkepala botak itu menggeram. Serangan-serangannya menjadi semakin garang. Ayunan tangan dan kakinya seakan-akan telah menggetarkan udara di seluruh arena yang luas itu. Tetapi serangan-serangannya yang garang, getar udara dan pusaran angin yang timbul karena serangan-serangannya itu sama sekali tidak berarti bagi Ki Panengah.

“Kau belum menyebut namamu” desis Ki Panengah sambil meloncat menghindari serangan orang berkepala botak itu. Namun tiba-tiba saja tubuhnya berputar dengan cepat. Tangannya terayun menyambar kening lawannya, sehingga lawannya itu tergetar selangkah surut. Pandangan matanya menjadi baur sesaat.

Orang itu justru meloncat surut untuk mengambil jarak. Sedangkan Ki Panengah sengaja tidak memburunya. Dibiarkannya orang itu memperbaiki kedudukannya.

Namun terdengar Ki Panengah yang melangkah mendekatinya berdesis, “Sebut namamu, Ki Sanak. Jangan takut, bahwa aku akan menenungmu”

“Tidak ada seorang juru tenung pun yang dapat menenungku” geram orang itu.

“Karena itu, sebut namamu”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Dengan suara yang bergetar ia pun kemudian berkata, “Namaku Suradirga”

“Nama yang bagus” berkata Ki Panengah. “Sayang jika nama itu menjadi cacat karena tingkah laku pemiliknya”

“Persetan. Kau tidak akan dapat mencoba mempengaruhi aku dengan cara itu. Aku akan tetap menghancurkanmu sekarang”

Ki Panengah tidak menjawab. Tetapi ia mendesak terus, sehingga Suradirga itu seakan-akan tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk menyerang.

Dalam pada itu, seorang yang berwajah tampan dengan kumis tipis di bawah hidungnya, harus berhadapan dengan Ki Waskita yang berewok. Namun yang berewoknya sudah nampak berwarna rangkap sebagaimana rambutnya yang ubanan.

Orang yang berwajah tampan itu ternyata seorang yang berilmu sangat tinggi. Ketika ia meningkatkan ilmunya hampir sampai ke puncak, maka telapak tangan orang itu seakan-akan nampak berasap. Asap yang memancarkan udara panas itu sempat beberapa kali menyentuh kulit Ki Waskita.

Tetapi Ki Waskita tidak menjadi gagap. Sebangsal pengalamannya dilambari dengan ilmunya yang sangat tinggi, menempatkannya pada kedudukan yang lebih mapan dari lawannya yang berwajah tampan itu.

Bahkan lawannya yang tampan itu sempat menjadi gelisah. Apa pun yang dilakukan, orang tua yang bernama Ki Waskita itu seakan-akan tidak terpengaruh sama sekali. Bahkan beberapa kali tangan orang tua berewok itu sempat menyentuh tubuhnya.

Ketika tangan Ki Waskita menyentuh bahunya, rasa-rasanya di bahunya itu telah diletakkan sepikul beban yang sangat berat, sehingga tubuh orang berwajah tampan itu tertekan dan lututnya sedikit merendah.

Tetapi dengan cepat orang itu meloncat surut untuk mempersiapkan dirinya serta mengambil ancang-ancang. Dengan cepat orang itu pun kemudian melenting sambil menjulurkan kakinya ke arah dada Ki Waskita.

Tetapi Ki Waskita sama sekali tidak berusaha menghindar. Disilangkannya kedua tangannya di dadanya, sehingga kaki orang berwajah tampan itu telah membentur kedua tangan Ki Waskita yang bersilang itu.

Akibatnya sangat buruk bagi orang berwajah tampan itu. Dengan keras orang itu terlempar surut. Tubuhnya terbanting di tanah seperti sebatang dahan yang patah dari batangnya.

Meskipun orang itu dengan cepat mencoba melenting berdiri, namun demikian ia tegak, mulutnya masih saja menyeringai menahan sakit pada punggungnya.

“Gila kau iblis tua” geramnya.

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Kenapa?”

“Kau akan menyesali nasibmu yang buruk”

“Apakah nasibku buruk?”

“Tulang-tulangmu akan aku remas hingga remuk dan tidak akan pernah dapat pulih kembali”

“Jangan begitu. Kita tidak akan saling menghancurkan. Kita hanya sekedar melakukan penjajagan”

Orang berwajah tampan itu tidak menjawab. Tetapi sambil menggeram ia melangkah setapak demi setapak.

“Kau nampak semakin garang” desis Ki Waskita.

Orang itu tetap berdiam diri. Sambil bergeser selangkah.

Ki Waskita pun bertanya, “Siapa namamu?”.

“Sumirat” desis orang itu.

“Nama yang bagus. Sayang, bahwa kau berada di tempat yang salah, sehingga tempatmu berdiri tidak sebagus namamu”

“Persetan dengan igauanmu” geram orang itu kemudian.

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Baiklah. Kita akan menyelesaikan penjajagan ilmu ini sampai tuntas. Tetapi jangan takut, aku tidak akan bersungguh-sungguh”

“Aku akan membunuhmu”

Ki Waskita menarik nafas panjang. Katanya, “Jangan dipengaruhi oleh pikiran buruk itu. Kita tidak akan saling membunuh”

“Jangan menyesali nasibmu”

Ki Waskita tidak menjawab. Ketika orang itu meloncat menyerang, maka Ki Waskita hanya bergeser selangkah ke samping. Tetapi serangan itu tidak mengenai sasaran.

Bahkan asap tipis yang memancarkan panas yang mengepul dari telapak tangan orang berwajah tampan itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap lawannya yang berewok itu.

Dalam pada itu, Ki Ajar Wisesa Tunggal menjadi sangat tegang. Ia berharap Ki Ageng Carangcendana dapat mengalahkan lawannya dalam sekejap. Kemudian ia membantu kawan-kawannya, menghancurkan lawannya seorang demi seorang. Tetapi ternyata Ki Ageng Carangcendana tidak segera dapat mengalahkan lawannya yang mengaku bernama Sasangka itu. Bahkan pertempuran di antara keduanya semakin lama menjadi semakin sengit.

“Kenapa dengan Ki Ageng Carangcendana itu?” pertanyaan itu semakin bergejolak di dalam dada Ki Ajar Wisesa Tunggal.

Hampir saja Ki Ajar itu meloncat memasuki arena. Tetapi ketika terpandang olehnya Ki Gede Pemanahan, maka ia pun menjadi ragu-ragu. Ia menyadari, bahwa Ki Gede Pemanahan adalah seorang yang sulit dicari tandingannya.

Karena itu, maka yang dapat dilakukan oleh Ki Ajar Wisesa Tunggal hanya sekedar menggeram menahan kemarahan yang bergejolak di dalam dadanya.

Bahkan Ki Ajar  pun harus menahan kebiasaannya untuk tidak mematuhi segala macam peraturan, paugeran dan apalagi sekedar kesepakatan. Di dalam arena itu terdapat seorang yang masih terhitung muda yang dapat melakukan hal yang sama. Orang yang masih terhitung muda itu telah mengancamnya akan menggerakkan para prajurit yang ada di sekitar arena itu jika Ki Ajar Wisesa Tunggal melanggar kesepakatan.

“Orang gila itu sangat mengganggu perasaanku” berkata Ki Ajar di dalam hatinya. “Gila. Semua orang sudah menjadi gila” geram Ki Ajar Wisesa Tunggal yang hanya dapat didengarnya sendiri.

Sebenarnyalah bahwa Ki Ageng Carangcendana tidak segera dapat mengalahkan lawannya. Bahkan lawannya yang mengaku bernama Sasangka itu telah berani menatap matanya tanpa terpengaruh sama sekali.

Tetapi Ki Ageng Carangcendana belum benar-benar sampai ke puncak ilmunya meskipun tataran demi tataran ilmu itu terus meningkat.

Tetapi Ki Ageng Carangcendana sendiri sempat tidak percaya atas kenyataan yang dihadapinya, bahwa meskipun ilmunya sudah hampir sampai ke puncak, namun lawannya itu sama sekali masih belum dapat ditundukkan. Bahkan serangan-serangan orang yang masih terhitung muda itu semakin lama menjadi semakin berbahaya.

Dalam pada itu, kegelisahan merambah jantung Ki Ageng Carangcendana. Apalagi ketika ia adalah orang yang mendapat kepercayaan untuk menjadi tumpuan kekuatan kelima orang dari perguruan Ki Ajar Wisesa Tunggal itu. Tetapi ternyata Ki Ageng Carangcendana tidak segera mampu menyelesaikan lawannya itu.

Sementara itu, Ki Surakanda yang bertempur melawan Paksi pun ternyata tidak mampu menguasai lawannya. Anak muda itu bertempur dengan tangkasnya. Tenaga dan kemampuannya yang tinggi, sekali-sekali membuat Ki Surakanda harus berloncatan surut.

“Gila, anak ini” geram Ki Surakanda. Ternyata yang dikatakan oleh Semburwangi tidak berlebihan dan tidak dibuat-buat sekedar untuk menutupi kekalahannya.

Namun Ki Surakanda memiliki kelebihan dari Ki Semburwangi. Karena itu, Ki Surakanda yakin, bahwa ia akan dapat mengalahkan dan menguasai Paksi. Menawannya dan membawanya ke padepokannya.

Tetapi kegelisahannya pun menjadi semakin besar ketika ia menyadari, bahwa orang yang diandalkannya, Ki Ageng Carangcendana masih belum mampu menguasai lawannya. Bukan karena Ki Ageng dengan sengaja mengulur waktu. Tetapi ia benar-benar dalam kesulitan. Jika ia mengulur waktu, maka Ki Ageng benar-benar tidak bijaksana karena beberapa orang yang lain justru mulai terdesak.

Jika Ki Ajar Wisesa Tunggal menentukan bahwa penjajagan ilmu itu dilakukan dalam keutuhan dari kelima orang yang turun ke arena dari masing-masing pihak, adalah karena Ki Ajar berharap bahwa Ki Ageng akan dapat menyelesaikan masalah jika yang lain mengalami kesulitan.

Tetapi ternyata Ki Ageng sendiri yang dianggap memiliki ilmu tanpa tanding, tidak dapat segera mengalahkan lawannya.

Dengan demikian, maka semua gambaran dan angan-angan yang telah memenuhi kepala Ki Ajar Wisesa Tunggal dan orang-orangnya itu mulai menjadi kabur.

Mereka mulai menjadi ragu, bahwa Pajang akan berpaling ke padepokan mereka, bahwa para senapati akan mengirimkan anak-anak mereka bergabung dengan perguruan mereka. Angan-angan mereka bahwa bantuan Pajang bagi padepokan Ki Panengah akan beralih ke padepokan Ki Ajar Wisesa Tunggal pun semakin buram.

Dalam pada itu, Ki Ageng Carangcendana pun menjadi gelisah pula. Ia menyadari, bahwa kawan-kawannya mengalami kesulitan. Mereka sangat mengharap bantuan Ki Ageng Carangcendana.

Tetapi Ki Ageng sendiri masih terikat dalam pertempuran yang tidak segera dapat dimenangkan.

Dalam pada itu, lawan Pangeran Benawa yang bertubuh kecil itu benar-benar telah kehilangan kesempatan. Ia tidak mungkin mampu menembus pertahanan Pangeran Benawa.

Bahkan jika ia mengerahkan tenaga dan kekuatannya menyerang Pangeran Benawa, maka Pangeran Benawa justru akan membenturnya. Orang bertubuh kecil itulah yang akan terlempar dan kehilangan keseimbangannya.

Dalam kesulitan itu, maka orang bertubuh kecil itu pun telah meningkatkan ilmunya sampai ke puncak. Ia tidak menghiraukan lagi akibat yang bakal terjadi. Jika lawannya terbunuh oleh ilmu puncaknya, maka itu adalah satu kecelakaan.

“Seharusnya aku tidak membunuhnya. Tetapi membuatnya tidak berdaya untuk selamanya” berkata orang bertubuh kecil itu di dalam hatinya. Namun ia tidak mampu melakukannya.

Karena itu, maka tanpa menghiraukan akibatnya, bahkan tanpa menghiraukan sepasukan prajurit yang seakan-akan mengepung arena itu, maka orang bertubuh kecil itu tiba-tiba menggeliat. Kedua tangannya pun menggeliat di depan dadanya. Kelima ujung jarinya merapat sementara itu mulutnya berdesis seperti desis ular bandotan yang marah.

Pangeran Benawa mengerutkan dahinya. Ia sadar, bahwa lawannya telah sampai pada puncak ilmu pamungkasnya. Karena itu, maka Pangeran Benawa itu pun harus menjadi semakin berhati-hati. Apalagi ketika ia melihat sejenis cairan yang berwarna putih gelap memercik dari ujung-ujung jarinya yang kuncup itu.

Pangeran Benawa pun bergeser selangkah surut. Ia yakin, bahwa cairan yang berwarna putih gelap itu adalah racun.

Karena itu, maka Pangeran Benawa pun dengan cepat menghisap ibu jarinya seperti kebiasaan seorang bayi yang kehausan.

Sejenak kemudian, maka keduanya telah bertempur lagi dengan sengitnya. Kedua tangan orang bertubuh kecil itu mematuk-matuk seperti kepala seekor ular liar yang sangat garang.

Pangeran Benawa harus menyesuaikan dirinya dengan gerak lawannya. Ia pun telah berloncatan pula menghindari sentuhan tangan lawannya.

Namun akhirnya, tangan orang bertubuh kecil itu sempat pula mematuk lengan Pangeran Benawa.

Ternyata kuku-kuku orang bertubuh kecil itu sangat tajam, sehingga sentuhan ujung jarinya yang kuncup menyatu itu telah melukai lengan Pangeran Benawa itu.

Pangeran Benawa meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak. Namun orang bertubuh kecil itu tidak memburunya.

Ketika Pangeran Benawa berdiri termangu-mangu, maka orang bertubuh kecil itu tertawa sambil berdesis, “Aku tidak peduli apa yang terjadi atas dirimu. Dalam perbandingan ilmu seperti ini, dapat saja seseorang mati terbunuh. Tetapi itu adalah satu kecelakaan. Aku tidak sengaja membunuhmu”

Pangeran Benawa berdiri tegak sambil memandang orang itu. Sementara orang bertubuh kecil itu berkata, “Jika racun itu merasuk ke dalam urat darahmu, itu karena kelemahanmu sendiri. Racun itu memang sudah ada di dalam kantung racun di kuku-kukuku. Itu bukan senjata. Karena itu, aku tidak menyalahi ketentuan, karena aku tidak bersenjata”

Pangeran Benawa memandang orang itu dengan tajamnya. Namun kemudian Pangeran Benawa itu pun berkata, “Tidak ada orang yang menuduhmu menyalahi ketentuan. Kau sudah berpegang kepada ketentuan itu. Karena itu, jangan gelisah. Tidak ada yang akan menghukummu karena menyalahi ketentuan itu”

Orang bertubuh kecil itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian katanya, “Sayang, bahwa kau akan mati. Sebaiknya kau minta diri kepada saudara-saudara seperguruanmu. Kepada gurumu dan kepada semua orang di sekitar arena ini”

“Untuk apa aku minta diri? Siapa yang mengatakan bahwa aku akan mati?”

“Racun itu?”

“Racun yang memercik dari ujung-ujung jarimu?”

“Ya. Racun itu setajam bisa ular”

“Aku sudah terlalu sering digigit ular jenis apapun. Ular dakgrama, ular gadung, ular welang, weling, dan bahkan ular kendang dan ular bandotan. Tetapi tidak apa-apa. Jika racunmu hanya setajam bisa ular, maka jangan cemas. Racunmu tidak akan membunuhku”

Wajah orang bertubuh kecil itu tiba-tiba menegang. Dipandanginya Pangeran Benawa dengan tajamnya. Namun luka di lengan Pangeran Benawa itu kemudian telah mengalirkan darah. Semula biru kehitam-hitaman. Namun kemudian darah itu menjadi merah segar. Namun kemudian darah itu pun menjadi pampat kembali.

“Anak iblis kau. Kau kebal terhadap racun dan bisa?”

“Mungkin, Ki Sanak” jawab Pangeran Benawa.

Orang bertubuh kecil itu pun menggeram. Tiba-tiba saja ia pun meloncat menerkam. Kedua tangannya terjulur menggapai leher Pangeran Benawa.

Tetapi Pangeran Benawa telah bersiap menghadapi serangan itu. Serangan yang dilakukan dengan tergesa-gesa karena kemarahan yang menghentak-hentak di dalam dada orang bertubuh kecil itu. Kegagalan racunnya seakan-akan telah membuat nalarnya menjadi gelap.

Demikian kedua tangan orang bertubuh kecil itu terjulur, maka dengan sikapnya Pangeran Benawa telah menangkap pergelangan tangan itu, langsung diputarkannya seperti baling-baling.

Orang bertubuh kecil itu berteriak. Namun suaranya pun kemudian terputus ketika Pangeran Benawa melepaskan orang itu dan melemparkannya ke arah Ki Ajar Tunggal Wisesa.

Kekalahan orang bertubuh kecil itu membuat darah Ki Ajar menggelegak. Karena itu, ketika tubuh orang itu terpelanting menimpanya, maka Ki Ajar justru telah membentur tubuh itu dengan kedua belah tangannya.

Terdengar orang bertubuh kecil itu berteriak lagi. Jauh lebih keras. Namun kemudian tubuhnya terbanting jatuh di tanah tanpa sempat menggeliat. Orang bertubuh kecil itu mati justru karena membentur tangan Ki Ajar yang marah.

“Kau bunuh orangmu sendiri” teriak Pangeran Benawa.

“Orang itu pantas mati” geram Ki Ajar. Kemudian katanya, “Aku akan menggantikannya”

“Tidak” Ki Kriyadama lah yang menyahut. “Kedudukannya tidak dapat digantikan oleh siapa pun juga”

“Diam kau” bentak Ki Ajar Wisesa Tunggal. “Akulah yang memimpin pertarungan ini”

“Siapa yang menentukan bahwa kau pemimpin dari pertarungan di arena ini?”

“Aku. Segala sesuatunya akulah yang menentukan”

“Tidak. Aku mengambil alih pimpinan perbandingan ilmu ini. Minggir. Aku akan berdiri di tengah-tengah arena”

“Apa hakmu mengambil alih pimpinan pertarungan ini?”

“Sekehendakku. Aku akan berbuat menurut kehendakku sendiri. Jika kau tidak senang, pergilah”

“Setan tua. Apakah kau ingin mati?”

Tiba-tiba saja terdengar Pangeran Benawa berteriak, “He, Ki Lurah, siapkan prajuritmu. Perintahkan mereka menarik senjata mereka. Jika aku memberi isyarat, perintahkan prajuritmu mencincang orang-orang gila ini. Mereka hanya mengotori padepokan ini saja”

“Kau tidak dapat berbuat demikian” geram Ki Ajar Wisesa Tunggal.

“Tergantung kepada sikapmu”

Ki Ajar Wisesa Tunggal mengumpat kasar. Sementara itu, orang-orang yang bertempur di arena itu seakan-akan telah mendapat perintah untuk berhenti.

Ki Ageng Carangcendana pun telah bergeser mengambil jarak. Demikian pula orang yang bertubuh tinggi besar dan berkepala botak. Orang yang berwajah tampan dan Ki Surakanda.

Bahkan Ki Carangcendana pun telah melangkah mendekati orang yang bertubuh kecil yang terbaring diam di sebelah kaki Ki Ajar Wisesa Tunggal.

“Kenapa kau bunuh orang ini” desis Ki Ageng Carangcendana.

“Ia tidak berarti lagi bagiku” jawab Ki Ajar Wisesa Tunggal.

“Orang ini sangat setia kepadamu”

“Tetapi ia sudah mempermalukan padepokan kita. Ia sudah dikalahkan oleh bocah edan itu”

“Kita memang dihadapkan pada satu kenyataan pahit sekarang ini. Orang-orang dari padepokan ini adalah orang-orang berilmu tinggi. Kau lihat, apakah ada seorang  pun di antara kami yang turun di arena dapat menguasai lawan?”

“Kita akan memastikan diri bahwa padepokan kita lebih berarti dari padepokan buruk ini”

“Kita tidak dapat bersikap kekanak-kanakan seperti itu” berkata Ki Ageng Carangcendana. “Kita harus mengakui kenyataan ini. Bahkan aku yakin bahwa Surakanda akan dapat dikalahkan oleh anak itu. Dan aku bahkan tidak yakin bahwa aku akan dapat memenangkan pertarungan ini dengan lawanku yang masih terhitung muda itu”

“Ki Ageng, sejak kapan kau menjadi seorang pengecut?”

“Aku bukan pengecut. Tetapi aku adalah orang yang berdiri di atas kenyataan yang kita hadapi? Kita tidak dapat bermimpi indah, tetapi kemudian terpelanting jatuh ke dalam kenyataan pahit”

Ki Ajar Wisesa Tunggal memperhatikan orang-orangnya yang termangu-mangu. Sebenarnyalah ia melihat, bahwa orang-orangnya tidak akan mampu mengalahkan orang-orang pertama di padepokan Ki Panengah itu. Bahkan Ki Ageng Carangcendana sudah mengakui pula, bahwa ia tidak yakin akan dapat menang atas lawannya itu.

“Lalu apa katamu?” suara Ki Ajar Wisesa Tunggal itu merendah.

“Kita pulang. Lupakan keinginanmu untuk merebut pengaruh padepokan ini. Lupakan Paksi yang telah menghajar Semburwangi yang hanya dapat menyombongkan dirinya tetapi kemampuannya sama sekali tidak berarti. Lupakan semuanya”

Wajah Ki Ajar Wisesa Tunggal menjadi tegang. Dipandanginya orang-orangnya yang masih berdiri termangu-mangu.

Sementara itu Ki Panengah pun melangkah mendekatinya sambil berkata, “Segala sesuatunya terserah kepadamu, Ki Ajar Wisesa Tunggal. Apakah kita anggap bahwa permainan ini sudah selesai, atau kita akan meneruskannya berdasarkan atas kesepakatan kita atau apa saja”

“Kalian telah memenangkan pertandingan ini” Ki Ageng Carangcendana lah yang menyahut. Lalu katanya, “Seorang korban telah cukup. Tetapi kau harus menyadari Ki Panengah, bahwa kemenanganmu tidak berlaku untuk selamanya. Roda pedati yang berputar, bagian-bagiannya sekali tersuruk ke dalam lumpur, namun pada kesempatan lain akan naik ke atas. Sedangkan yang di atas kemudian akan membenam di dalam lumpur”

“Aku mengerti” desis Ki Panengah.

“Apa katamu, Ki Ajar?” bertanya Ki Ageng Carangcendana kemudian.

“Kita pulang. Tetapi persoalan antara kedua padepokan ini masih belum tuntas”

Ki Panengah tertawa. Katanya, “Terserah kepadamu, Ki Ajar”

Tanpa menghiraukan apa-apa lagi, maka Ki Ajar itu pun telah berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke kudanya.

Para pengikutnya pun telah mengikutinya pula. Sementara itu Ki Ageng Carangcendana justru melangkah mendekati Raden Sutawijaya sambil berdesis, “Kau luar biasa, Sasangka. Tetapi yang kau lihat belum segala-galanya”

“Aku tahu. Kau belum sampai ke puncak ilmu Lintang Wora-warimu”

Ki Ageng Carangcendana mengerutkan dahinya, sementara Raden Sutawijaya berkata selanjutnya, “Aku pernah menghadapi ilmu Lintang Wora-wari yang mengerikan itu. Bahkan sampai ke puncaknya”

“Kau jangan membual, anak muda”

“Tidak. Aku tidak membual”

“Siapakah yang pernah kau hadapi? Hanya ada beberapa orang yang memiliki ilmu Lintang Wora-wari”

“Seorang pertapa dari Tlagahima”

“Kakang Resi Wiguna?”

“Ya. Telah terjadi salah paham di antara kami”

“Kau bunuh orang itu?”

“Tidak. Tiga hari kami bertempur. Di malam hari kami berhenti. Akhirnya Resi Wiguna menghentikan pertempuran itu”

Wajah Ki Ageng Carangcendana terasa panas. Dengan nada rendah ia pun bertanya, “Kau mengembara sampai ke Tlagahima?”

“Ya”

Ki Ageng Carangcendana mengangguk-angguk. Katanya, “Itulah sebabnya, kau menghadapi ilmu Lintang Wora-wari kali ini dengan tabah. Tanpa kesan kecemasan sedikit pun. Jika kau mampu menghadapi Kakang Resi Wiguna sampai tiga hari, maka aku harus mengaku bahwa aku tidak akan dapat mengalahkanmu”

“Entahlah. Tetapi aku siap untuk mencobanya”

Ki Ageng Carangcendana itu tersenyum. Katanya, “Jika demikian kau bukan murid Ki Panengah”

“Aku murid Ki Panengah. Kau kenali unsur-unsur gerak padepokan ini”

“Mungkin kau memang murid Ki Panengah. Tetapi Ki Panengah bukan satu-satunya gurumu”

Raden Sutawijaya mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun justru bertanya, “Apa bedanya?”

“Selamat, Ki Sanak” berkata Ki Ageng Carangcendana.

Sementara itu, Ki Ajar Wisesa Tunggal dan para pengiringnya sudah meninggalkan halaman. Ki Ageng Carangcendana tertinggal seorang diri. Tetapi ia pun kemudian minta diri dengan unggah-ungguh yang utuh. Ditemuinya Ki Gede Pemanahan untuk minta maaf atas tingkah lakunya.

“Aku terseret arus, Ki Gede” berkata Ki Ageng Carangcendana.

“Tergantung kepadamu. Jika kau memiliki keteguhan hati, maka kepribadianmu tidak akan tenggelam”

Ki Ageng Carangcendana mengangguk-angguk. Kemudian ia pun telah minta diri pula kepada Ki Panengah, Ki Waskita, Ki Kriyadama dan orang-orang yang berada di arena. Bahkan sambil menepuk bahu Paksi ia pun berkata, “Kau harapan bagi masa datang”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab, “Terima kasih, Ki Ageng”

Ki Ageng Carangcendana tersenyum. Kepada Pangeran Benawa, Ki Ageng itu pun bertanya, “Darimana kau sadap ilmumu? Dengan begitu mudahnya kau kalahkan Ricik yang licin seperti belut, tetapi licik seperti ular itu”

“Ia memang ular, Ki Ageng”

“Ya. Dan kau memiliki kekebalan yang sangat tinggi terhadap bisa dan racun”

Pangeran Benawa tidak menjawab.

Demikianlah sejenak kemudian Ki Ageng Carangcendana itu pun telah meninggalkan padepokan itu pula. Orang tua itu berkuda sendiri, menyusuri jalan panjang menjauhi Alas Jabung.

Sekali ia masih sempat berpaling. Kemudian kudanya dipacunya lebih cepat. Namun dalam pada itu, hatinya telah digelitik oleh sebuah pertanyaan, “Untuk apa aku ikuti jejak Ki Ajar Wisesa Tunggal? Aku hampir kehilangan wawasan luasnya bumi. Ternyata ada orang yang masih terhitung muda yang dapat mengimbangi ilmu Lintang Wora-wari. Membebaskan diri dari cengkaman kuasa ilmu itu”

Meskipun demikian, kaki kuda Ki Ageng Carangcendana itu pun masih juga mengikuti jejak kaki-kaki kuda yang berlari lebih dahulu menjauhi Hutan Jabung itu.

Dalam pada itu, yang ditinggalkan di Hutan Jabung pun telah bernafas lega. Para prajurit yang berada di sekitar arena itu pun telah berkumpul di halaman barak mereka. Sedangkan para cantrik telah naik ke pendapa bangunan induk padepokan sementara di pinggir Hutan Jabung itu.

“Kita sudah menyelesaikan persoalan dengan padepokan Ki Ajar itu” berkata Ki Panengah.

“Ya” Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk, “mereka meninggalkan seorang kawannya yang terbunuh begitu saja”

“Kita akan mengurusnya” desis Pangeran Benawa.

“Ya, kita akan mengurusnya”

“Untuk sementara mereka tidak akan mengganggu kita” berkata Raden Sutawijaya.

“Belum tentu” sahut Pangeran Benawa. “Mereka adalah orang-orang gila. Mereka dapat berbuat di luar penalaran yang waras. Mereka tinggalkan begitu saja seorang kawannya tanpa berpaling sama sekali. Kematian kawannya itu sama sekali tidak berbekas di hati mereka”

“Ya” Ki Waskita mengangguk-angguk, “mereka memang tidak waras. Mereka dapat berbuat apa saja di luar dugaan. Tetapi sikap Ki Ageng Carangcendana nampaknya mengisyaratkan, bahwa mereka tidak akan bertindak tergesa-gesa”

“Agaknya ia adalah satu-satunya orang yang waras di lingkungan padepokan Ki Ajar Wisesa Tunggal” desis Pangeran Benawa.

“Tetapi kita tidak boleh lengah terhadapnya” sahut Raden Sutawijaya.

Pertemuan itu tidak berlangsung terlalu lama. Para cantrik setelah mendapat beberapa pesan, diminta untuk meninggalkan pendapa dan membantu mengurus penguburan orang yang bertubuh pendek dan kecil yang terbunuh oleh Ki Ajar Wisesa Tunggal sendiri ketika orang itu dilemparkan oleh Pangeran Benawa.

Dalam pada itu, pada hari itu, para prajurit tidak diminta kembali ke pekerjaan mereka. Ketegangan yang telah mencengkam jantung mereka harus dilepaskan. Karena itu, maka para prajurit itu pun justru diminta untuk beristirahat.

Di pendapa, Ki Gede Pemanahan masih berbincang dengan Ki Panengah, Ki Waskita, Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi. Ki Gede masih memberikan beberapa pesan kepada mereka, jika sesuatu yang tidak diduga telah terjadi.

Namun beberapa saat kemudian, Ki Gede itu pun minta diri untuk kembali ke Pajang.

Ki Kriyadama yang berada di antara para prajurit telah datang pula ikut melepas Ki Gede di halaman padepokan sementara itu.

Demikianlah, Ki Gede dan para pengawalnya telah meninggalkan Hutan Jabung. Sementara para cantrik sibuk menyelenggarakan penguburan pengikut Ki Ajar Wisesa Tunggal yang ditinggalkan begitu saja di padepokan itu.

Hutan Jabung memang tidak terlalu jauh dari Pajang. Karena itu, maka Ki Gede Pemanahan pun tidak terlalu lama berada di perjalanan.

Sementara itu, di istana Pajang, Sekarsari menjadi semakin bebas keluar dan masuk istana. Para prajurit pengawal dan para pelayan dalam tidak lagi menghentikannya dan bertanya apa keperluannya masuk ke dalam istana. Sekarsari seakan-akan mendapat ijin khusus untuk keluar dan masuk menemui Kangjeng Sultan.

Bahkan Kangjeng Sultan pun telah menentukan dimana Sekarsari dapat menemuinya setiap saat.

Kebebasan Sekarsari keluar masuk istana itu juga membuat Ki Gede Pemanahan semakin prihatin.

Namun kebebasan Sekarsari keluar masuk istana itu tidak dipergunakannya untuk menemui Harya Wisaka. Bahkan rasa-rasanya Sekarsari menjadi semakin jarang menengok suaminya yang berada di dalam bilik tahanan khusus di istana Pajang. Tetapi ia justru lebih banyak bertemu dengan Kangjeng Sultan.

Tidak seorang pun yang dapat mencegahnya. Ketika seorang prajurit masih juga menghentikan Sekarsari dan bertanya untuk apa ia masuk ke dalam istana, maka demikian Sekarsari melaporkannya, prajurit itu langsung dipecatnya.

“Ia tidak pantas menjadi prajurit yang bertugas di istana Pajang” berkata Kangjeng Sultan.

Setiap kali Ki Gede Pemanahan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berbicara dengan prajurit yang bertugas untuk menjaga Harya Wisaka, maka prajurit itu pun berkata, “Perempuan itu menjadi semakin jarang mengunjungi Harya Wisaka”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Yang aku cemaskan, Sekarsari justru akan memanfaatkan kebebasannya itu untuk kepentingan Harya Wisaka”

“Perempuan itu hampir melupakan suaminya. Bahkan nampaknya Harya Wisaka mulai menjadi curiga. Kami sering mendengar keduanya bertengkar jika Sekarsari datang menengoknya”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia pun berkata, “Namun bagaimanapun juga, jangan menjadi lengah. Harya Wisaka adalah orang yang sangat berbahaya”

“Ya, Ki Gede” prajurit itu mengangguk-angguk.

Tetapi yang kemudian didengar oleh Ki Gede Pemanahan bukan hanya kebebasan Sekarsari masuk keluar istana serta pertengkaran yang sering terjadi antara Sekarsari dan suaminya jika ia datang berkunjung. Tetapi seperti yang pernah didengarnya, seorang petugas sandi telah melaporkan kepada Ki Gede Pemanahan bahwa Sekarsari menjadi semakin sering berdua dengan seorang lurah prajurit, justru seorang pelayan dalam.

“Sampai sekarang, Kangjeng Sultan dan petugas-petugas sandinya masih belum mengetahuinya” desis Ki Gede. “Jika saja Kangjeng Sultan mengetahuinya, maka lurah pelayan dalam yang masih muda itu tidak akan berumur panjang”

“Ternyata perempuan itu bukan seorang perempuan yang setia. Agaknya ia berpaling dari Harya Wisaka yang ada di penjara itu bukan karena Kangjeng Sultan. Tetapi karena lurah pelayan dalam itu”

“Perempuan bodoh” desis Ki Gede Pemanahan. “Apa artinya seorang lurah pelayan dalam baginya. Harya Wisaka adalah seorang yang memiliki wibawa dan pengaruh yang besar di lingkungannya. Apalagi kemudian Sekarsari itu seakan-akan sudah seperti seorang selir yang sangat dikasihi oleh Kangjeng Sultan. Tetapi kenapa ia masih berhubungan dengan seorang lurah prajurit?”

“Tetapi lurah pelayan dalam itu memang tampan, Ki Gede.

Tubuhnya yang kokoh kekar tetapi tidak nampak gemuk. Kulitnya yang kuning keputih-putihan, kumisnya yang tipis, senyumnya, kemudaannya”

“Sekarsari telah dibakar oleh berbagai macam nafsu sehingga ia dapat melekat pada Kangjeng Sultan, tetapi juga pada prajurit muda itu”

“Agaknya memang demikian, Ki Gede”

“Baiklah. Tetapi ikut awasi Harya Wisaka. Para prajurit yang bertugas menjaganya, langsung berada di bawah perintah Kangjeng Sultan sehingga aku tidak dapat memberikan perintah langsung kepada mereka. Yang dapat aku lakukan hanya memberikan peringatan kepada mereka untuk berhati-hati”

“Baik, Ki Gede. Tetapi gerak kami sangat terbatas. Para pelayan dalam akan merasa wewenangnya dilanggar jika kami mencampuri tugas-tugas mereka”

“Berhati-hati sajalah”

Petugas sandi kepercayaan Ki Gede itu pun kemudian telah minta diri.

Kebebasan Sekarsari di istana benar-benar tidak dapat diganggu lagi. Ki Gede Pemanahan harus menerima kenyataan itu dengan gelisah. Seperti biasanya, jika Kangjeng Sultan sedang terikat dengan seorang perempuan, maka tidak seorang pun yang dapat memperingatkannya.

Tetapi kali ini, perempuan itu mempunyai hubungan dengan seorang yang sangat berbahaya, Harya Wisaka.

Namun Kangjeng Sultan sendiri nampaknya tidak menghiraukan Harya Wisaka lagi. Sementara itu Harya Wisaka pun menjadi keras kepala. Ia tidak mau berbicara jika tidak dengan Kangjeng Sultan sendiri.

Kadang-kadang timbul niat Ki Gede untuk berbicara dengan Pangeran Benawa. Kadang-kadang Kangjeng Sultan merasa segan kepada puteranya yang sudah dewasa itu, sehingga Kangjeng Sultan itu harus membatasi tingkah lakunya sendiri. Tetapi nampaknya kehangatan Sekarsari benar-benar telah membuat Kangjeng Sultan kehilangan kesempatan untuk mempergunakan penalarannya. Bahkan Pangeran Benawa pun tidak akan dapat mengusiknya.

Karena itu niatnya itu pun telah diurungkannya. Persoalan itu justru hanya akan mengganggu ketenangan Pangeran Benawa saja.

Tetapi pertengkaran yang sering terjadi antara Sekarsari dan Harya Wisaka nampaknya menjauhkan kekhawatiran Ki Gede Pemanahan terhadap kelicikan Sekarsari.

Meskipun demikian, setiap kali Ki Gede memperingatkan agar para prajurit yang bertugas tidak menjadi lengah.

Di hadapan Ki Gede Pemanahan para prajurit yang bertugas itu menyatakan kesiapan mereka. Namun jika Ki Gede pergi, maka mereka pun telah melupakannya.

“Kita tidak berada di bawah perintah Ki Gede” berkata salah seorang dari mereka.

“Aku sudah menyampaikan kepada Ki Gede, bahwa Sekarsari tidak lagi menghiraukan suaminya. Jika ia datang tentu hanya sekedar memenuhi kewajiban seorang isteri. Namun kemudian disini mereka bertengkar. Hampir saja Sekarsari itu dicekiknya sampai mati. Jika saja kita tidak melerainya”

“Ya. Perempuan itu tentu lebih senang jika suaminya tetap berada di penjara. Ia akan dapat berbuat sesuka hatinya”

Dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan terkejut ketika Kangjeng Sultan tiba-tiba memanggilnya untuk berbicara langsung hanya berdua saja, tanpa ada orang lain yang ikut serta.

“Kakang, menurut Kakang, hukuman apakah yang paling baik aku berikan kepada Harya Wisaka”

“Tetapi selama ini, hamba masih belum dapat berbicara dengan Harya Wisaka, Sinuhun”

“Apa yang akan Kakang bicarakan dengan Harya Wisaka?”

“Bukankah kita wajib mengetahui, bobot kesalahan Harya Wisaka. Apakah alasan-alasan yang telah mendorongnya untuk melawan Kangjeng Sultan. Apa pula yang pernah dilakukan, direncanakan tetapi belum sempat dilakukan. Orang-orang yang bekerja bersamanya dan mungkin hal-hal lain yang perlu kita dengar”

“Harya Wisaka bukan pencuri yang dapat dipaksa untuk mengaku sudah berapa kali ia mencuri, Kakang. Jika ia tidak mau berbicara, maka kematian pun tidak akan dapat membuka mulutnya”

“Tetapi pembicaraan kita dengan Harya Wisaka akan dapat menentukan, setidak-tidaknya memberikan batasan tentang bobot kesalahannya”

“Itu tidak perlu. Harya Wisaka telah memberontak melawan kekuasaanku. Kita tahu, apakah hukuman yang paling pantas untuk seorang pemberontak”

Wajah Ki Gede menjadi tegang.

“Kakang, hukuman yang paling pantas bagi Harya Wisaka adalah hukuman mati”

Ki Gede terkejut sehingga dipandanginya wajah Kangjeng Sultan dengan tajamnya. Hampir di luar sadarnya ia berkata, “Kangjeng Sultan, setiap orang sampai sekarang menyebut Kangjeng Sultan sebagai seorang raja yang pengampun. Dua orang utusan Harya Penangsang yang tertangkap basah di bilik peraduan Kangjeng Sultan dengan keris Kiai Setan Kober yang sudah terhunus itu tidak menerima hukuman mati. Bahkan Kangjeng Sultan telah membebaskan mereka dan membiarkan mereka kembali ke Jipang”

“Persoalannya tentu lain, Kakang. Waktu itu, aku sengaja berniat untuk mengguncang ketahanan jiwani Harya Penangsang”

“Paduka juga sudah mengampuni Surengjurit yang menyerang paduka selagi paduka mencoba beberapa ekor kuda terbaik yang ingin Paduka ambil menjadi kuda tunggangan Paduka”

“Persoalannya lain lagi, Kakang. Surengjurit marah karena aku mengambil anak perempuannya tanpa setahu orang lain. Namun akhirnya ia sama sekali tidak berkeberatan dan membiarkan anak perempuannya berada di istana”

“Kangjeng Sultan” berkata Ki Gede Pemanahan, “hamba adalah orang yang paling membenci Harya Wisaka. Tetapi hamba mohon Kangjeng Sultan memerintahkan Harya Wisaka untuk bersedia berbicara dengan hamba. Baru kemudian hamba dapat menyampaikan pertimbangan hamba tentang hukuman yang pantas bagi Harya Wisaka”

“Harya Wisaka sudah bersalah dua kali. Ia telah memberontak dan kedua ia menolak berbicara dengan Kakang. Karena itu, maka hukuman yang paling pantas baginya adalah hukuman mati”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Keputusan hukuman itu tentu dipengaruhi oleh hubungan Kangjeng Sultan dengan Sekarsari. Kematian Harya Wisaka adalah satu kepastian, bahwa Sekarsari tidak akan lari lagi dari sisi Kangjeng Sultan.

Tetapi sampai kapan Sekarsari mampu mengikat Kangjeng Sultan dengan kehangatan sikapnya? Pada saatnya, Sekarsari akan tidak lagi diperkenankan melewati pintu gerbang istana. Para prajurit akan mendapat perintah untuk mencegah Sekarsari masuk. Tetapi mungkin keputusan itu justru dikehendaki oleh Sekarsari sendiri yang ingin membebaskan diri dari tangan Harya Wisaka. Mungkin Sekarsari juga sadar, bahwa pada suatu saat ia akan terlempar dari istana. Tetapi ia sudah mempunyai seorang lurah prajurit yang muda dan tampan.

Karena Ki Gede tidak segera menjawab, maka Kangjeng Sultan itu telah mendesaknya, “Bagaimana pendapat Kakang?”

“Beri hamba waktu, Kangjeng Sultan”

“Kau akan berbicara dengan Harya Wisaka?”

“Hamba mohon, Kangjeng Sultan memerintahkannya”

Kangjeng Sultan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Kangjeng Sultan itu pun berkata, “Aku akan memanggilnya”

Ki Gede Pemanahan tidak sempat menjawab. Kangjeng Sultan itu pun telah memberi isyarat kepada seorang prajurit pengawal yang bertugas di luar ruangan.

Demikian prajurit itu masuk, maka Kangjeng Sultan itu pun memberikan perintah, “Perintahkan kepada para prajurit pelayan dalam yang bertugas menjaga Harya Wisaka untuk membawanya menghadap sekarang. Hati-hati. Jika orang itu terlepas maka semuanya akan aku gantung di alun-alun sebagai gantinya”

Demikianlah, maka prajurit itu pun telah menyampaikan perintah itu kepada para prajurit yang bertugas.

Lurah prajurit yang memimpin sekelompok petugas itu pun menerima perintah itu dengan hati yang berdebar-debar. Mereka menyadari bahwa Harya Wisaka adalah seorang yang berilmu sangat tinggi, sehingga kemungkinan buruk dapat saja terjadi.

Karena itu, maka ketika Harya Wisaka dibawa menghadap, maka pengawalannya pun dilakukan dengan seluruh kekuatan yang ada.

Namun Harya Wisaka tidak berusaha untuk melarikan diri. Harya Wisaka  pun sadar, bahwa jika ia mencobanya, maka Kangjeng Sultan sendiri tentu akan turun tangan jika Ki Gede Pemanahan tidak sedang berada di istana.

Ketika ia memasuki bilik khusus dan melihat Kangjeng Sultan dan Ki Gede Pemanahan sudah berada di dalam, maka dipandanginya Ki Gede Pemanahan sambil tersenyum.

Meskipun tidak terucapkan, tetapi Harya Wisaka itu menyatakan kemenangannya. Akhirnya, ia dapat berbicara langsung dengan Kangjeng Sultan. Tidak hanya dengan Ki Gede Pemanahan.

Harya Wisaka itu pun kemudian duduk menyilangkan kakinya sambil menyembah, “Hamba menghadap, Kangjeng Sultan”

Kangjeng Sultan memandanginya sejenak. Namun kemudian Kangjeng Sultan itu pun berkata lantang, “Dengar Harya Wisaka, Ki Gede Pemanahan akan berbicara dengan kau. Jawab semua pertanyaannya dengan jujur. Hasil pembicaraanmu akan menentukan berat ringannya hukumanmu. Semakin berbelit-belit kau menjawab pertanyaannya, maka hukumanmu akan menjadi semakin berat. Hukumanmu dapat lebih berat melampaui hukuman mati”

Harya Wisaka memandang Kangjeng Sultan dengan tegang. Sementara Kangjeng Sultan berkata, “Di Pajang masih berlaku bagi mereka yang mempunyai kesalahan yang sangat besar hukuman picis. Atau hukuman-hukuman jenis lain yang akhirnya terhukum juga akan mati”

“Kangjeng Sultan” potong Harya Wisaka, “hamba akan mengatakan dengan jujur apa yang telah terjadi kepada Kangjeng Sultan. Hamba tidak mau berbicara dengan anak petani seperti Ki Gede Pemanahan. Derajatnya terlalu rendah bagiku untuk berbicara dengan aku”

“Harya Wisaka. Aku rendahkan derajatmu. Aku cabut kedudukan kebangsawananmu. Sementara itu, Ki Gede Pemanahan akan mewakili aku sehingga kedudukannya di hadapanmu sama dengan kedudukanku”

Wajah Harya Wisaka menjadi tegang. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, maka Kangjeng Sultan itu telah bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan itu.

“Kangjeng Sultan” Harya Wisaka itu memanggil. Tetapi Kangjeng Sultan sama sekali tidak berpaling.

Harya Wisaka itu kemudian memandang Ki Gede Pemanahan dengan tajamnya. Dengan geram ia pun berkata, “Kau kira aku akan tunduk kepada perintah ini. Tidak. Aku tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu”

Namun Ki Gede Pemanahan itu menjawab, “Jawaban-jawabanmu itu penting artinya bagimu. Tidak bagiku. Terserah, apakah kau akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku atau tidak. Bagiku sama saja, karena aku tidak akan dirugikan. Aku tidak akan digantung atau bahkan dihukum picis atau dihukum yang lebih berat atau lebih ringan. Aku adalah orang yang bebas. Aku tidak akan dikembalikan ke penjara”

“Persetan kau, Pemanahan. Akan datang saatnya aku membunuhmu kelak”

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Katanya, “Kau tidak akan sempat melakukannya, Harya Wisaka. Tetapi jika kau bersedia menjawab beberapa pertanyaanku, kau masih mempunyai waktu”

“Aku tidak akan menjilat ludah sendiri meskipun aku akan dihukum picis”

“Aku hargai kekerasan hatimu. Tetapi aku cela kebodohanmu”

“Setan kau, Pemanahan. Aku tantang kau berperang tanding”

Bersambung ke bagian 2

3 Tanggapan

  1. Ternyata….rame banget…

  2. Ha,,,ha,,,ha,,,walaupun ADBM baca ulang cukup rame karena sudah menunjukan karakter masing2,,,,,sayang wedarannya tersendat sendat,,,,,,JDBK pun cukup rame walaupun judulnya beda tapi masih dalam pergerakan bangkitnya Mataram,,,,itulah kejelian sang Maestro kita SHM,,,,,lanjut Kiai wedarannya walaupun sudah dibaca ulang masih juga kepingin baca,,,,matur nuwun sederek.

    • Monggo ki sanak, dilanjutkan saja sampai akhir cerita.

      tentang ADBM saya kira tidak tersendat ki, memang diatur wedaran dua hari sekali disesuaikan dengan beliau yang edit ulang dari naskah yang telah ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s