JDBK-14


<<kembali | lanjut >>

ORANG tua itu mengangguk-angguk meskipun masih nampak ragu. Ki Marta Brewok lah yang kemudian bertanya, “Ki Sanak, aku justru ingin bertanya, apa yang telah terjadi di padukuhan ini? Padukuhan ini adalah padukuhan yang nampak subur. Nampaknya kehidupan penghuni padukuhan ini cukup baik dilihat dari ujud lahiriahnya. Rumah-rumahnya cukup pantas. Halaman yang cukup luas dan pohon buah-buahan yang berbuah lebat. Sawah  pun nampaknya terhampar luas dan tidak akan pernah kekurangan air di segala musim.”

Orang   tua   itu   mengangguk-angguk   kecil.   Katanya, “Lingkungan ini memang subur, Ki Sanak.”

“Lalu,   apakah  yang  telah  terjadi  disini?  Padukuhan  ini menjadi sepi seperti kuburan.”

“Untunglah kalian tidak lewat padukuhan ini kemarin.”

“Apa yang terjadi kemarin?”

“Kemarin   di   padukuhan   ini   terjadi   keributan.   Bahkan pertempuran yang menimbulkan kematian.”

“Siapakah yang telah bertempur disini? Apakah antara penghuni padukuhan ini dengan sekelompok orang yang ingin berbuat jahat? Atau antara kelompok-kelompok yang datang dari luar padukuhan ini?”

Orang tua itu termangu-mangu sejenak. Sekali lagi ia mengamati ketiga orang yang duduk di serambi banjar itu. Katanya, “Tetapi bukankah kalian bukan bagian dari orang-orang yang kemarin menimbulkan keributan disini?”

“Tentu tidak. Apakah ada di antara kami yang mirip dengan orang-orang yang bertempur kemarin disini?”

Orang tua itu menarik nafas panjang.

“Entahlah, bagaimana mulanya. Tetapi dua kelompok orang bertemu dan bertengkar di ujung padukuhan. Kemudian mereka bertempur dengan sengitnya, sehingga salah satu kelompok melarikan diri dengan meninggalkan dua orang korban terbunuh. Sementara itu, kelompok yang menang justru telah berbuat semena-mena terhadap orang-orang di padukuhan ini. Mereka menggeledah setiap rumah untuk mencari seorang anak muda yang katanya melarikan diri dari istana Pajang.”

“Apakah mereka menyebut nama anak muda itu?” bertanya Paksi.

Wijang menarik nafas panjang. Ia tahu, bahwa Paksi sengaja menanyakannya, meskipun tanpa bertanya  pun ia sudah tahu siapakah yang dimaksud.

Orang tua itu memandang Paksi sekilas. Namun kemudian orang tua itu merenung sejenak. Katanya kemudian, “Ya. Orang itu menyebut sebuah nama. Pangeran Benawa.”

Paksi mengangguk-angguk. Namun ketika ia berpaling memandang wajah Wijang, hampir saja Paksi tertawa. Wajah itu nampak muram dan gelap. Sementara Ki Marta menggeleng lemah.

Wijang lah yang kemudian bertanya, “Apakah Pangeran Benawa itu dapat diketemukan?”

“Tentu tidak,” berkata orang tua itu. “Kami sama sekali tidak mengenal anak muda yang bernama Pangeran Benawa. Sepengetahuan kami, pangeran adalah sebutan bagi anak seorang raja. Mungkin Raja Pajang atau Raja Demak atau raja yang manapun.”

“Ya,” Ki Marta Brewok menyahut, “pangeran memang anak seorang raja.”

“Lalu,   apa  yang   mereka   lakukan   setelah   mereka   tidak menemukan Pangeran Benawa disini?” bertanya Paksi.

“Mereka mencoba memaksa kami untuk menunjukkan dimana Pangeran Benawa bersembunyi. Mereka sudah mendapat keterangan bahwa sehari sebelumnya Pangeran Benawa sedang menuju kemari,” jawab orang tua itu.

“Tetapi bukankah jalan bercabang-cabang sehingga mungkin saja Pangeran Benawa itu mengambil jalan simpang?” desis Wijang.

“Ya. Kami pun sudah mengatakannya. Tetapi orang-orang itu justru marah. Mereka memukuli para penghuni padukuhan ini. Sebelum pergi mereka sempat mengancam untuk menghukum kami jika ternyata Pangeran Benawa itu bersembunyi disini.”

“Bagaimana sikap para bebahu padukuhan ini?”

“Tulang punggung Ki Bekel hampir saja mereka patahkan karena Ki Bekel mencoba melindungi rakyatnya.”

“Bagaimana dengan bebahu kademangan?”

“Semalam kami telah mengirimkan orang untuk melaporkan kepada Ki Demang. Tetapi sampai siang ini kami belum mendapat keterangan. Tetapi entahlah jika orang itu sudah langsung menemui Ki Bekel di rumahnya.”

Ki Marta Brewok pun kemudian berkata, “Jika demikian, kami tidak akan terlalu lama disini, Ki Sanak. Kami tidak ingin menjadi sebab, Ki Sanak dan orang-orang padukuhan mengalami kesulitan karena kehadiran kami. Jika orang-orang yang mencari Pangeran Benawa itu melihat kehadiran kami, mungkin mereka akan berbuat sesuatu yang semakin menyulitkan penghuni padukuhan ini.”

“Tetapi bukankah kalian bukan termasuk orang-orang dari gerombolan yang saling bertengkar itu?”

“Tentu tidak, Kek,” jawab Paksi, “Kami hanya kebetulan saja lewat.”

“Jika demikian, hati-hatilah, Ki Sanak,” pesan orang tua itu.

“Baik, Kek. Kami akan berhati-hati,” jawab Wijang. Namun ia pun masih juga bertanya, “Tetapi apakah jalan ini akan sampai ke Alas Mentaok?”

“Apakah kalian akan pergi ke Alas Mentaok?” orang tua itu ganti bertanya.

“Kami hanya ingin tahu saja,” jawab Wijang.

Ki Marta Brewok menggamit anak muda itu. Sementara itu, orang tua itu pun menjawab, “Jalan ini memang akan sampai ke Alas Mentaok. Tetapi hutan itu adalah hutan yang sangat garang. Orang yang masuk ke dalamnya, tidak akan pernah keluar lagi.”

“Jika demikian, kami tidak akan masuk ke dalamnya, Kek. Kami akan berada di luarnya saja.”

“Untuk apa sebenarnya kalian ingin melihat hutan itu?”

“Tidak ada apa-apa, Kek. Kami hanya pernah mendengar namanya. Kami hanya ingin tahu, apakah hutan itu sebenarnya ada.”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Sebaiknya kalian urungkan saja niat kalian melihat-lihat hutan itu. Ular sebesar lidi pun akan dapat membunuh kalian. Kumbang mutiara yang beracun itu pun sangat berbahaya. Apalagi jika kalian terperosok ke dalam sarang semut salaka. Dalam waktu singkat, hanya tulang-tulang kalian sajalah yang akan tinggal.”

“Mengerikan sekali, Kek.”

“Belum lagi disebut jenis-jenis binatang buas. Segala jenis harimau terdapat di hutan itu. Yang paling mengerikan adalah kelompok-kelompok anjing hutan yang ganas dan licik. Burung pemakan bangkai dan yang tidak kalah berbahayanya adalah pusaran-pusaran lumpur dan pasir, yang dapat menghisap tubuh seseorang hingga sampai ke perut bumi.”

Meskipun Wijang dan Paksi bukan penakut, tetapi tengkuk mereka pun meremang.

Ki Marta Brewok hanya menarik nafas panjang. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa.

Wijang dan Paksi pun kemudian telah minta diri kepada orang tua itu. Demikian pula Ki Marta Brewok yang membawa mangkuk kecil berisi minyak kelapa itu. Katanya, “Kami akan menampung minyak ini dengan daun pisang saja, Ki Sanak.”

“Aku punya bumbung bambu kecil yang dapat kalian bawa,” desis orang tua itu.

“Jika demikian, terima kasih, Ki Sanak,” jawab Ki Marta Brewok.

Ketika orang tua itu meninggalkan mereka untuk mengambil bumbung kecil yang dikatakannya, Ki Marta Brewok berdesis, “Kenapa kau bertanya tentang Alas Mentaok?”

“Kenapa?” bertanya Wijang.

“Apakah kau sengaja meninggalkan jejak arah perjalananmu?”

Wijang mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun tertawa. Katanya, “Tanpa meninggalkan jejak, ternyata orang-orang yang mencari Pangeran Benawa itu dapat menemukan jejaknya.”

“Tetapi jejak itu tentu masih kabur. Kau memperjelas jejak yang kabur itu.”

“Maaf, Ki Marta,” desis Wijang, “aku tidak menyadarinya.”

“Sudahlah. Mudah-mudahan orang tua itu tidak akan pernah bercerita tentang kehadiran kita, maksudku dua orang anak muda di padukuhan ini kepada siapa pun juga.”

Wijang mengangguk-angguk. Namun pembicaraan mereka pun terhenti karena orang tua yang mengambil bumbung itu datang sambil membawa bumbung kecil yang sudah berisi minyak kelapa. Namun katanya kemudian, “Tuangkan minyak kelapa di mangkuk kecil itu juga ke dalam bumbung kecil ini. Barangkali kalian akan membutuhkannya lagi di perjalanan.”

“Terima kasih, Ki Sanak,” berkata Ki Marta Brewok. Sementara orang tua itu pun telah menyerahkan bumbung kecil itu beserta sumbatnya.

Ki Marta Brewok lah yang menerima bumbung kecil itu. Kemudian menuangkan minyak kelapa yang berada di mangkuk kecil. Sambil mengembalikan mangkuk kecil itu, Ki Marta Brewok pun berkata sekali lagi, “Terima kasih, Ki Sanak.”

Namun sebelum ketiga orang itu minta diri, mereka dikejutkan oleh derap kaki kuda yang dengan cepat mendekat. Bahkan tiba-tiba saja berderap memasuki halaman banjar itu.

Ketiga orang itu memang menjadi tegang. Orang tua penunggu banjar itu pun menjadi ketakutan pula.

Namun ketika orang tua itu mendengar namanya dipanggil, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Demang. Agaknya bersama Ki Jagabaya.”

Orang tua itu pun segera menghambur keluar langsung pergi ke halaman depan banjar itu.

Sebenarnyalah yang datang adalah Ki Demang, Ki Jagabaya dan dua orang pengiringnya. Mereka pun kemudian berloncatan turun dari kuda mereka.

Di serambi belakang banjar itu, Ki Marta Brewok, Wijang dan Paksi termangu-mangu sejenak. Dengan nada tinggi Paksi bertanya, “Apakah yang kita lakukan?”

Ki Marta Brewok lah yang menyahut, “Kita menunggu saja disini. Apa saja yang akan dilakukan oleh Ki Demang.”

Wijang dan Paksi pun mengangguk-angguk.

Dengan demikian, maka mereka bertiga pun telah duduk menunggu di serambi belakang banjar padukuhan itu.

Sementara itu, Ki Demang, Ki Jagabaya dan dua orang pengiringnya naik dan duduk di pendapa. Orang tua penunggu banjar itu pun kemudian bercerita apa yang telah terjadi di padukuhan itu kemarin.

“Baru semalam aku mendapat laporan,” berkata Ki Demang. “Kenapa ketika peristiwa itu terjadi, tidak seorang  pun yang memberi laporan kepadaku?”

“Semua orang sedang dicengkam ketakutan,” jawab penunggu banjar itu.

“Bagaimana dengan Ki Bekel?” bertanya Ki Demang.

“Ki Bekel sedang sakit. Punggungnya hampir dipatahkan oleh orang-orang yang garang itu.”

“Apakah Ki Bekel dapat datang kemari?”

“Aku tidak tahu, Ki Demang,” jawab penunggu banjar itu. “Apakah Ki Bekel dipanggil kemari? Biarlah aku pergi ke rumahnya.”

“Tidak usah kau sendiri yang pergi,” berkata Ki Demang yang kemudian memerintahkan salah seorang pengiringnya untuk memanggil Ki Bekel. Katanya kemudian, “Tetapi jika ia tidak mungkin untuk datang kemari, biarlah nanti aku datang ke rumahnya.”

Dalam pada itu, ternyata orang tua penunggu banjar itu tidak mengatakan bahwa ada tiga orang yang berada di serambi belakang banjar itu, sehingga dengan demikian ketiga orang itu tidak diminta untuk menghadap.

Sambil menunggu kedatangan Ki Bekel, penunggu banjar itu menceriterakan apa yang sudah terjadi di padukuhan itu sebagaimana yang diceriterakannya kepada ketiga orang yang sedang berada di serambi belakang banjar itu.

Beberapa saat kemudian ternyata Ki Bekel telah datang ke banjar. Meskipun punggungnya masih sakit, tetapi ia memaksa diri untuk memenuhi panggilan Ki Demang yang sudah berada di banjar.

Di serambi belakang, Ki Marta Brewok, Wijang dan Paksi berusaha untuk mempertajam pendengaran mereka, sehingga mereka dapat mengikuti pembicaraan di pendapa banjar itu.

“Ceriterakan, Ki Bekel. Apa yang telah terjadi. Tadi kakek penunggu banjar ini juga sudah berceritera. Tetapi Ki Bekel tentu akan dapat berceritera lebih lengkap.”

Ki Bekel pun mulai berceritera. Sebagian besar dari ceriteranya memang tidak berbeda dengan ceritera penunggu banjar itu.

Tetapi ketiga orang di serambi belakang itu kemudian mendengar Ki Demang bertanya, “Apakah Ki Bekel dapat menduga, siapakah yang telah datang ke padukuhan ini? Mungkin Ki Bekel mengenal ciri-cirinya atau mungkin ada di antara mereka yang menyebut nama gerombolan mereka atau apa pun yang dapat dipergunakan untuk mengenali mereka?”

“Sulit, Ki Demang,” jawab Ki Bekel. “Tetapi ada di antara mereka yang mengenakan pakaian sebagaimana pakaian prajurit Pajang meskipun tidak lengkap.”

“Mungkin mereka telah merampasnya atau mereka berhasil membunuh satu dua orang prajurit, kemudian mempergunakan pakaian prajurit yang terbunuh itu,” jawab Ki Demang.

Tetapi di belakang Wijang berdesis, “Tentu para pengikut Paman Harya Wisaka.”

Ki Marta Brewok dan Paksi mengangguk-angguk. Agaknya Wijang yakin, orang yang datang di padukuhan itu adalah para pengikut Harya Wisaka.

Pembicaraan selanjutnya tidak begitu penting lagi bagi ketiga orang yang berada di serambi itu. Ki Bekel ternyata tidak dapat menyebut ciri-ciri dari kelompok yang lain.

Beberapa saat kemudian, maka terdengar Ki Demang itu pun berkata, “Baiklah. Aku minta Ki Bekel menyiapkan semua laki-laki yang masih mampu mempergunakan senjata. Jika sejak sebelumnya kita sudah bersiap, maka akibatnya tentu akan berbeda. Kita tidak akan memberikan kesempatan kepada orang-orang itu untuk memasuki rumah demi rumah. Menakut-nakuti semua orang.”

“Tetapi apakah kami mampu untuk melawan mereka?”

“Aku tentu tidak akan mencuci tangan. Aku akan ikut campur. Setiap padukuhan akan menyiapkan kelompok-kelompok anak muda yang dapat bergerak cepat dari padukuhan yang satu ke padukuhan yang lain. Kalian harus menyiapkan alat-alat untuk memberikan isyarat. Apa pun yang terjadi, kita tidak akan membiarkan kampung halaman kita menjadi lingkungan perburuan tanpa memberikan perlawanan. Bukankah kita mempunyai harga diri?”

“Baik. Baik,” berkata Ki Bekel. “Sejak hari ini, kami akan mempersiapkan diri.”

“Nanti malam, setiap padukuhan akan mengirimkan lima sampai sepuluh orang untuk ikut berjaga-jaga disini. Tetapi tidak mustahil bahwa padukuhan yang lain  pun akan mengalami keadaan yang sama seperti padukuhan ini.”

“Baik, Ki Demang.”

“Nah, sekarang aku akan mengelilingi padukuhan-padukuhan. Malam nanti aku akan berada di banjar ini. Mudah-mudahan mereka tidak kembali. Tetapi jika mereka kembali, kita akan bersikap lain dari sikap kita kemarin.”

“Terima kasih, Ki Demang,” jawab Ki Bekel. “Aku akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya.”

“Bagaimana keadaan Ki Bekel sendiri?”

“Aku berharap bahwa aku segera menjadi baik. Aku sudah mendapat obat yang mujarab.”

Demikianlah, sejenak kemudian Ki Demang dan pengiringnya itu pun telah meninggalkan banjar padukuhan itu. Ki Bekel yang agaknya masih belum pulih benar itu pun telah kembali pula.

Sejenak kemudian, orang tua penunggu banjar itu telah berada di serambi belakang menemui ketiga orang yang berada di serambi itu.

“Mereka sudah pulang,” berkata penunggu banjar itu.

Ki Marta Brewok, Paksi dan Wijang pun kemudian telah minta diri.

“Kami akan meneruskan perjalanan, Kek,” berkata Wijang. “Berhati-hatilah, Ngger. Jika kalian bertemu dengan orang-orang yang garang itu, kalian akan diperlakukan semena-mena.

Orang-orang itu agaknya memang tidak berjantung.”

“Baiklah, Ki Sanak,” berkata Ki Marta Brewok, “mudah-mudahan kami tidak bertemu dengan mereka.”

Demikianlah, maka ketiga orang itu pun segera meninggalkan banjar padukuhan itu. Sebenarnya ada niat Wijang dan Paksi untuk berada di padukuhan itu barang satu dua malam. Mereka ingin bersama-sama dengan para penghuni padukuhan itu untuk melawan para pengikut Harya Wisaka.

Tetapi Ki Marta Brewok pun berkata, “Mungkin kita dapat mengusir orang-orang itu. Tetapi jika ada yang sempat mengenali Pangeran, padukuhan ini akan menjadi semakin parah. Pada kesempatan lain, akan datang kekuatan yang tidak terlawan. Apalagi setelah kita meninggalkan padukuhan ini, sementara orang-orang yang datang itu menganggap bahwa Pangeran memang bersembunyi disini.”

Wijang mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia pun berkata, “Apakah benar aku telah banyak menimbulkan malapetaka bagi banyak orang yang sebenarnya tidak tahu apa-apa?”

Ki Marta Brewok tidak menyahut. Tetapi ia sempat memperhatikan Wijang yang berjalan sambil menundukkan kepalanya.

Ketika mereka bertiga beristirahat di pinggir sebuah sungai dan duduk di atas sebongkah batu yang besar, yang nampaknya pernah ditumpahkan dari mulut Gunung Merapi, Wijang itu pun berkata, “Aku harus memperhatikan peristiwa-peristiwa itu. Aku tidak boleh menutup mata, bahwa banyak peristiwa yang tidak dikehendaki telah terjadi.”

“Tentu hal itu tidak Pangeran kehendaki. Tetapi sebenarnyalah bahwa hal itu telah terjadi. Orang-orang yang tamak itu tidak menghiraukan sama sekali akibat dari perbuatan mereka.”

Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Apa yang dilakukan oleh orang-orang tamak itu akibatnya sama seperti yang aku lakukan.”

“Maksud Pangeran?”

“Yang aku lakukan dan yang mereka lakukan sama-sama menimbulkan banyak korban.”

“Tetapi niat Pangeran jauh berbeda dari niat orang-orang yang tamak itu.”

“Ki Marta Brewok, bukankah Ki Marta Brewok pernah mengatakan, bahwa niat yang baik tidak selalu mendatangkan hasil yang baik?”

Ki Marta Brewok menarik nafas dalam-dalam, sementara itu Paksi pun berkata, “Sudahlah. Jangan risaukan.”

“Bagaimana mungkin aku tidak merisaukannya,” sahut Wijang. “Setiap kali kita bertemu dengan keributan yang memungut korban karena kepergianku dari istana. Apakah alasan mereka mencari cincin atau mencari aku, pada dasarnya sama saja.”

“Jadi, apakah yang terpikir oleh Pangeran sekarang?”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Marta Brewok itu pun berkata, “Bukankah kepergian Pangeran antara lain sengaja menyingkirkan cincin itu? Khususnya karena Pangeran tahu bahwa Harya Wisaka menginginkannya? Kecuali itu, Pangeran  pun ingin melihat kehidupan yang sebenarnya dari rakyat Pajang. Namun yang akhirnya tidak dapat Pangeran lakukan, karena Pangeran sibuk melayani orang-orang yang mencari Pangeran Benawa itu.”

“Ya, Ki Marta,” jawab Wijang.

“Jadi apa rencana Pangeran?”

“Aku akan pulang.”

“Pulang ke istana?” bertanya Paksi.

“Ya. Sementara itu aku akan menitipkan cincin ini kepadamu.”

Paksi terkejut. Dengan serta-merta ia pun menjawab, “Wijang, kau tahu bahwa ayahku menginginkan cincin itu. Jika aku membawanya, maka jika ayahku mengetahuinya, maka cincin itu tentu akan dimintanya. Dan aku sama sekali tidak akan dapat mempertahankannya.”

“Berikan saja cincin itu kepada ayahmu. Cincin itu tidak akan hilang.”

“Maksudmu? Kau biarkan aku memberikan cincin itu kepada ayah. Kemudian kau akan mengambilnya sebagaimana pernah kau lakukan?”

“Tentu tidak, Paksi. Tetapi bukankah kau dapat pulang jika kau membawa cincin itu? Jika kau pulang tanpa membawa cincin itu?”

“Yang akan pulang itu kau, Wijang. Bukan aku.”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku ingin mengajak kau pulang. Ibumu sangat merindukanmu. Sementara itu, ayahmu akan menerimamu jika kau membawa cincin itu.”

“Tetapi cincin itu adalah cincin yang sangat tinggi nilainya. Apa arti lingkup keluargaku dibanding dengan nilai cincin itu sendiri.”

“Aku tidak akan kehilangan cincin itu, Paksi. Sehari kemudian, aku akan datang sebagai Pangeran Benawa. Aku akan membawa pertanda dari ayahanda. Dengan demikian, maka ayahandalah yang mengambil cincin itu, karena aku melakukan atas namanya. Tentu dengan ucapan terima kasih dan barangkali ayahanda akan memberikan imbalan atas jasa ayahmu yang telah berhasil menemukan cincin itu. Mungkin pangkat, derajat atau semat.”

“Tetapi persoalannya tidak akan berakhir sampai disitu. Di istana masih ada Harya Wisaka,” jawab Paksi.

“Aku sadari itu. Pergolakan mungkin masih akan terjadi. Tetapi akhirnya aku berpendapat, bahwa gejolak yang terjadi karena cincin itu harus dipersempit ruang lingkupnya. Mungkin akan terjadi benturan-benturan di dalam. Tetapi tidak harus mengorbankan orang-orang padukuhan yang tidak tahu-menahu persoalannya. Biarlah aku dan barangkali Kakangmas Sutawijaya harus menghadapi Paman Harya Wisaka, karena aku yakin, bahwa Kakangmas Sutawijaya akan membantuku menghadapi Paman Harya Wisaka.”

Paksi termangu-mangu sejenak. Ia merenungi ajakan Wijang untuk pulang ke Pajang. Wijang akan memberikan cincin itu kepadanya.

“Satu tanggung jawab yang sangat besar. Jika cincin itu tidak sampai ke tangan ayahnya atau dalam waktu yang pendek sebelum Pangeran Benawa datang atas nama Kangjeng Sultan Pajang, ada orang yang merampasnya, maka persoalannya akan berkembang semakin rumit.”

Namun Ki Marta Brewok itulah yang kemudian berkata, “Sebaiknya kau renungkan gagasan itu, Paksi.”

“Tetapi ayahku tentu akan bertanya-tanya, kenapa Pangeran dengan serta-merta mengetahui bahwa cincin itu ada di tangan ayahku.”

Wijang tersenyum. Katanya, “Mudah sekali. Aku dapat mengatakan bahwa para peramal istana telah memberitahukan kepada ayahanda, bahwa cincin itu sudah berada di Pajang. Di tangan ayahmu.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Jawaban yang memang tidak akan dapat dipersoalkan lagi. Sementara itu Ki Marta Brewok yang kemudian tersenyum berkata, “Satu gagasan yang lengkap, Paksi.”

“Tetapi jika semalam sebelum Pangeran Benawa datang rumah kami dirampok orang, katakanlah Harya Wisaka dengan beberapa orang berilmu tinggi?” bertanya Paksi.

“Pukul kentongan. Seluruh Pajang akan terbangun,” jawab Ki Marta Brewok. “Pangeran Benawa juga akan terbangun. Jika cincin itu disembunyikan di tempat yang rapat, maka sebelum orang-orang itu dapat menemukan cincin yang mereka cari, Pangeran Benawa dan orang-orang yang dipercayanya, sudah akan berada di rumahmu untuk membantu ayahmu melindungi cincin itu.”

“Ya,” sahut Wijang. “Tetapi dalam keadaan seperti itu, cincin itu akan langsung dibawa oleh Pangeran Benawa atas nama Kangjeng Sultan.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan memikirkannya. Nanti malam aku akan memberikan jawaban.”

“Kenapa menunggu nanti malam?”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Apakah kita tidak jadi melihat-lihat keadaan Alas Mentaok?”

“Kalian sudah dapat menggambarkan ujud dari hutan yang sangat lebat itu, meskipun yang dikatakan oleh orang tua penunggu banjar itu memang agak berlebihan. Aku yang pernah berada di dalam hutan itu beberapa hari, masih juga sempat keluar dalam keadaan hidup. Meskipun demikian, Alas Mentaok memang hutan yang sangat berbahaya.”

Terasa angin berhembus semakin keras. Awan putih selembar-selembar terbang ke utara, tertimbun di ujung Gunung Merapi.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Pendapat Ki Marta Brewok memberikan   tekanan   pada  perasaannya.   Ia  terlalu   percaya kepada orang itu. Orang yang telah memberikan landasan ilmu kanuragan yang tinggi. Bahkan lebih dari itu. Dalam keadaan yang rumit, setiap kali Ki Marta Brewok itu selalu hadir.

Namun dalam pada itu, Ki Marta Brewok itu pun berkata, “Baiklah. Paksi masih akan merenungkan ajakan Pangeran. Marilah kita meneruskan perjalanan. Kapan saja Paksi mengambil keputusan, kita akan dapat menentukan sikap.”

Wijang mengangguk kecil. Katanya, “Baiklah. Marilah kita berjalan. Kita masih akan pergi ke arah selatan. Sampai atau tidak sampai Alas Mentaok.”

Mereka bertiga pun kemudian telah bangkit. Bertiga mereka melangkah ke arah selatan.

Tetapi baru beberapa langkah mereka berjalan, Paksi kemudian berkata, “Baiklah, Wijang. Aku pulang.”

Mereka pun berhenti melangkah. Sambil tersenyum Wijang pun menepuk bahu Paksi sambil berdesis, “Bagus, Paksi. Kita akan bersama-sama pulang. Kau akan membawa cincin itu dan memberikannya kepada ayahmu. Kau akan diterima sebagai anak laki-laki yang baik, yang berbakti kepada orang tua dan bahkan kau akan dapat menjunjung derajat ayahmu, karena dengan mempersembahkan cincin itu kembali ke istana, ayahmu akan mendapat anugerah.”

Paksi termangu-mangu sejenak, hampir di luar sadarnya ia berdesis, “Tetapi aku tidak tahu pasti, apakah ayah seorang yang setia kepada Pajang. Apakah ayah tidak menjadi salah seorang yang berada di bawah pengaruh Harya Wisaka.”

“Kau akan mengawasinya, Paksi.”

“Jika Harya Wisaka datang dengan kekerasan, maka aku dapat memukul kentongan, sehingga seluruh Pajang akan mendengar karena suara kentongan itu akan segera bersambut dan menjalar kemana-mana. Tetapi kalau Harya Wisaka atau kepercayaannya datang dengan diam-diam?”

“Sebaiknya jangan beri kesempatan hal itu terjadi,” berkata Ki Marta Brewok. “Sebaiknya kalian berdua sepakat tentang waktu, agar jarak waktu akan kedatangan Paksi dan kehadiran Pangeran Benawa di rumah Paksi atas nama Kangjeng Sultan tidak terlalu panjang. Dengan demikian, tidak ada kesempatan bagi Harya Wisaka mengambil cincin itu.”

“Baiklah. Kita dapat bersepakat untuk mengatur waktu itu.”

Demikianlah Wijang dan Paksi itu pun telah bersepakat untuk menempuh perjalanan pulang. Mereka telah mengatur, kapan Wijang memasuki istananya dan kapan Paksi akan sampai ke rumahnya. Paksi harus memberikan kesempatan kepada Wijang untuk menemui ayahandanya dan mohon pertanda bahwa Pangeran Benawa atas nama Kangjeng Sultan datang ke rumah Paksi untuk mengambil cincin yang dibawa oleh Paksi.

Namun perjalanan pulang itu harus mereka tempuh dengan berhati-hati. Di sepanjang jalan pulang itu masih mungkin terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan.

Tetapi kedua orang anak muda itu menjadi semakin tenang ketika Ki Marta Brewok itu pun berkata, “Aku akan menyertai kalian sampai ke Pajang.”

“Tetapi bukankah aku tidak perlu berada di alun-alun Pajang dua kali sebulan? Saat bulan purnama dan di tanggal pertama untuk menunggu Ki Marta Brewok?”

Ki Marta Brewok itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tertawa.

Wijang memandang keduanya berganti-ganti. Tetapi ia tidak tahu apa yang sedang ditertawakan oleh Ki Marta Brewok. Bahkan Paksi pun kemudian ikut tertawa pula.

“Apa yang kalian tertawakan?” bertanya Wijang.

Paksi menahan tertawa. Namun kemudian ia berceritera bahwa Ki Marta Brewok pernah mengancamnya untuk meminjamkan cincin itu. Ki Marta Brewok akan menemui Paksi di alun-alun Pajang dan menunggunya di saat purnama atau pada tanggal pertama.

Ternyata Wijang pun telah tertawa pula.

Di perjalanan kembali ke Pajang, Ki Marta Brewok telah berpesan agar mereka menghindari persoalan-persoalan yang dapat terjadi di jalan. “Kecuali yang memang tidak dapat kita hindari.”

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Meskipun demikian, mereka sadar, bahwa mereka berada di lingkungan yang berbahaya. Di daerah yang seakan-akan ditebari oleh orang-orang yang dapat mengancam keselamatan mereka.

Ketika mereka lapar, maka mereka telah memilih kedai yang kecil dan sempit, yang hanya disinggahi oleh orang-orang di sekitarnya, karena kedai itu sama sekali tidak menarik bagi orang-orang yang lewat dalam perjalanan jauh.

Mereka bertiga berharap bahwa di kedai yang kecil itu mereka tidak akan menemui persoalan-persoalan yang dapat menghambat perjalanan mereka.

Sebenarnyalah yang berada di dalam kedai itu agaknya orang-orang di sekitar tempat itu saja. Ada di antara mereka yang duduk tanpa baju dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Di samping nampak sebuah kapak pembelah kayu yang tersandar di dinding. Nampaknya orang itu baru saja membelah kayu di sebelah kedai itu. Di tangannya terdapat sepincuk nasi megana.

Di sisi lain, duduk dua orang yang sudah separo baya. Di hadapannya dihidangkan di paga bambu yang rendah, wedang sere dan beberapa macam makanan. Jadah, jenang alot, wajik dan tasikan. Beberapa kerat ketela rebus dengan tempe bacem dan lombok rawit.

Kedua orang itu nampak asyik berbincang. Mereka tidak menghiraukan orang-orang lain yang berada di kedai itu. Sekali-sekali terdengar keduanya tertawa.

Wijang, Paksi dan Ki Marta Brewok telah mengambil tempat di sudut. Di sebelah orang yang sedang makan sepincuk nasi megana.

Tetapi orang itu tidak menghiraukan kehadiran ketiga orang itu. Nampaknya ia sedang menikmati kangkung, lembayung dan kacang panjang rebus dengan bumbu megana.

Ketika pemilik kedai itu datang mendekat, maka Wijang pun memesan tiga pincuk nasi megana pula.

Ketika orang yang tidak berbaju itu mendengar, maka ia  pun mengangkat wajahnya. Dipandanginya Ki Marta Brewok, Wijang dan Paksi sambil tersenyum. Katanya, “Kalian juga senang nasi megana seperti ini?”

“Ya, Ki Sanak,” Ki Marta Brewoklah yang menjawab.

“Murah, kenyang dan awet.”

Ki Marta Brewok tertawa. Wijang dan Paksi pun tertawa pula. Tetapi Wijang lah yang bertanya, “Apa yang awet, Ki Sanak?”

“Awet kenyang. Lembayung dan kangkung membuat kita tidak cepat lapar meskipun kita bekerja keras.”

“Ya. Aku sependapat.” Wijang mengangguk-angguk.

Sejenak kemudian pemilik warung itu pun telah menghidangkan tiga pincuk nasi megana. Tetapi di dalamnya terdapat masing-masing sebutir telur.

“Ha, kalian orang kaya, ya?”

“Tidak. Kenapa?”

“Kalian memakai lauk masing-masing sebutir telur.”

“Kami tidak memesan. Tetapi pemilik kedai itulah yang memberinya.”

Orang yang tidak berbaju itu memandang pemilik kedai yang sudah kembali ke tempatnya. Katanya, “Kebiasaannya memang begitu. Tanpa bertanya, maka ditaruhnya lauk yang mahal-mahal. Disini harga telur tiga keping. Padahal dimana-mana hanya dua keping.”

“O. Apaboleh buat. Jika belum terlanjur, aku tidak mau diberi telur yang tiga keping harganya,” desis Paksi.

“Aku tidak berani mengambil sebutir telur. Nanti anak-anakku tidak makan. Hanya jika ayam kami bertelur lebih banyak, kami sering makan telur. Dua butir telur untuk orang serumah.”

“Apakah ayammu jarang bertelur?”

“Setiap hari ada ayamku bertelur. Tetapi telur itu harus dijual untuk membeli kebutuhan-kebutuhan lain. Aku punyai tujuh orang anak yang masih kecil-kecil.”

“Bukankah Ki Sanak mempunyai sebidang sawah?”

“Sawahku sudah digadaikan oleh ayahku untuk lima tahun. Jadi aku harus menunggu dua tahun lagi untuk dapat menggarap sawahku sendiri. Sekarang aku menggarap sawah orang lain, sambil bekerja menjadi blandong kayu. Istriku jual ayung-ayung. He, disini juga ada ayung-ayung buatan istriku itu. Kau tidak mencicipi? Setiap pagi aku bawa se-irig ayung-ayung. Banyak orang suka ayung-ayung buatan istriku.”

“O. Aku adalah penggemar ayung-ayung,” sahut Wijang.

Blandong kayu itulah yang berteriak kepada pemilik kedai, “He, mana ayung-ayungmu?”

“Habis. He, apakah kau masih belum puas makan ayung-ayung di rumah?”

“Bukan aku. Tetapi ketiga orang tamumu ini.”

“Sayang ayung-ayungnya sudah habis.”

“Nah,” blandong itu berkata dengan bangga, “bukankah ayung-ayung buatan istriku itu sangat laris.”

“Ya. Sayang sekali,” desis Wijang. “Tetapi lain kali aku akan singgah dan membeli ayung-ayungmu.”

Blandong itu tertawa. Katanya, “Tetapi jika kalian memang ingin mencicipinya,  silahkan  mampir.   Rumahku  tidak jauh. Mungkin masih ada beberapa bungkus ayung-ayung ada di rumah.”

“Terima kasih, Ki Sanak,” jawab Ki Marta Brewok. “Lain kali aku akan singgah.”

Orang itu terdiam. Dihabiskannya nasi megana di pincuknya. Kemudian diteguknya minumannya sehingga mangkuknya hampir menjadi kosong.

Sambil bangkit berdiri, ia pun menggeliat. Katanya, “Perutku sudah kenyang. Silahkan, Ki Sanak. Jika kau ingin ayung-ayung, singgahlah di rumahku.”

“Terima kasih, Ki Sanak,” jawab Ki Marta Brewok.

Orang itu pun kemudian melangkah mendekati pemilik warung. Diambilnya dua keping uang dan diserahkannya kepada pemilik kedai itu.

Tetapi sebelum orang itu keluar dari kedai itu, maka terdengar keributan di jalan yang membujur di depan kedai itu.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Diurungkannya langkahnya, sehingga ia kembali duduk di tempatnya semula. Tetapi nampak wajahnya yang menjadi tegang.

Ternyata bukan hanya orang itu saja yang menjadi tegang. Tetapi yang lain pun menjadi ketakutan. Bahkan seorang yang duduk di sudut menjadi gemetar.

“Orang-orang itu kembali lagi,” desis tukang blandong yang tidak berbaju itu.

“Siapa?”

“Kami tidak tahu, siapakah mereka itu.”

“Apa yang mereka cari?”

“Mereka mencari anak muda yang bernama Pangeran Benawa.”

Wijang   menarik   nafas   panjang.   Namun   Paksi lah   yang bertanya, “Apakah mereka berhasil?”

“Dua hari yang lalu tidak.”

“Jadi mereka sudah datang kemari dua hari yang lalu?”

“Ya.”

Wijang tidak bertanya lagi. Keributan itu menjadi semakin dekat. Ketika Paksi berdiri dan melangkah ke pintu, pemilik kedai itu berkata, “Jangan keluar. Jangan berbuat sesuatu yang dapat menarik perhatian mereka.”

Paksi mengurungkan niatnya. Ia justru melihat dua orang petani yang berlari-lari meloncati parit. Mereka melemparkan cangkul mereka di pinggir jalan.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian, empat orang berjalan di depan kedai itu. Seorang perempuan yang berpapasan dengan mereka menjadi gemetar. Sementara itu seorang di antara keempat orang membentaknya, “Kau mau kemana, he?”

Perempuan itu menjawab terbata-bata, “Tidak kemana-mana.”

Orang itu memperhatikan orang yang sudah separo baya sambil berkata. “Awas. Jangan berbuat macam-macam.”

Perempuan itu tidak menjawab. Tetapi kakinya bagaikan menjadi seberat timah.

Keempat orang itu pun kemudian telah berdiri di depan kedai itu. Seorang di antaranya melangkah ke pintu kedai. Sambil berpegangan uger-uger pintu kedai itu, ia memandang ke dalamnya. Ia melihat beberapa orang yang sedang berada di dalam kedai. Mereka melihat orang yang tidak berbaju itu. Orang yang ketakutan di sudut dan tiga orang yang sedang memegangi pincuk nasi megana.

Orang itu sama sekali tidak menduga bahwa seorang pangeran duduk di dalam kedai sambil memegang sepincuk nasi megana. Karena itu, maka orang itu pun kemudian berkata lantang, “Aku minta kalian tidak berbuat sesuatu yang dapat mengacaukan tugas-tugasku disini. Kali ini buruanku tidak boleh lepas. Aku sudah mendapat keterangan bahwa kemarin ia sudah berada disini.”

Tidak seorang  pun yang menyahut. Sementara orang itu pun berkata selanjutnya, “Jika sekali ini buruanku itu terlepas lagi, maka aku akan membawa sepuluh orang di antara penghuni padukuhan ini. Mereka tidak akan pernah kembali.”

Semua orang yang berada di kedai itu masih saja terbungkam. Bahkan mereka pun menundukkan kepala. Tidak seorang  pun yang berani mengangkat wajahnya, apalagi memandang orang yang berdiri di pintu itu.

“Kalian harus membantu kami. Kalian harus memberitahukan kepada kami, dimana anak muda yang aku cari itu bersembunyi.”

Orang-orang yang ada di dalam kedai itu termasuk pemilik kedai itu masih tetap berdiam diri.

“Baiklah. Kami akan pergi. Kami akan mencari anak muda yang  sejak  kemarin   sudah   ada  disini.”   Sejenak  orang  itu memandang berkeliling. Karena orang-orang yang berada di dalam kedai masih berdiam diri sambil menunduk, maka orang itu pun tidak berbuat apa-apa.

Sambil beringsut mundur orang itu berkata, “Ingat, siapa yang menggagalkan usaha kami, akan kami hancurkan. Tetapi sebaliknya, siapa yang membantu kami, akan kami beri hadiah yang sangat besar.”

Tidak seorang  pun yang menyahut. Semua orang yang ada di dalam kedai itu masih tetap menundukkan kepalanya. Wijang lebih senang menatap telur yang tinggal sepotong di dalam pincuknya daripada memandang orang yang berdiri di pintu itu.

Dalam pada itu, orang yang berdiri di pintu itu juga melihat dua orang anak muda berada di kedai itu. Tetapi dua anak muda dengan pakaian kusut, memegangi pincuk nasi megana di sebuah kedai kecil, sehingga dua orang anak muda itu tidak menarik perhatiannya. Yang ada di dalam kedai itu sama sekali tidak menggiring perhatian orang yang berdiri di pintu itu kepada seorang pangeran.

Demikianlah, maka sejenak kemudian orang-orang itu pun telah meninggalkan kedai itu. Mereka meneruskan langkah mereka sambil menakut-nakuti orang-orang yang lewat di sepanjang jalan.

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia sudah luput dari perhatian orang itu. Wijang sama sekali tidak menjadi ketakutan. Tetapi ia masih memikirkan orang-orang padukuhan yang akan dapat menjadi sasaran kemarahan dan dendam jika ia berbuat sesuatu terhadap orang-orang yang mencari Pangeran Benawa itu. Sementara itu, Ki Marta Brewok pun telah berpesan agar Wijang dan Paksi menghindari persoalan-persoalan yang dapat timbul dan menghambat perjalanan pulang mereka.

“Marilah, kita selesaikan nasi megana ini. Kita sebaiknya segera meninggalkan tempat ini,” desis Ki Marta Brewok.

Wijang mengangguk-angguk. Sementara itu Paksi pun telah menyelesaikan nasi megananya meskipun agak tertahan di lehernya, sehingga Paksi harus meneguk minumannya sampai hampir habis.

Wijang tersenyum. Katanya, “Pincuknya jangan ikut ditelan, Paksi.”

“Telurnya,” desis Paksi.

Ki Marta Brewok pun tertawa.

Namun sebelum mereka membayar dan meninggalkan kedai itu, mereka melihat seorang anak muda yang berjalan dengan wajah tengadah dan berhenti di depan kedai itu. Seorang laki-laki bersenjata golok mengiringinya di belakangnya.

Sambil memandang pemilik kedai yang duduk di belakang paga rendah tempat ia menggelar dagangannya, anak muda itu menyapa, “He, Kang. Kemana istrimu? Kaukah yang sekarang berjualan nasi disini?”

Pemilik kedai itu terkejut. Dipandanginya anak muda itu dengan seksama. Namun kemudian ia pun berdesis, “Wicitra. Kapan kau pulang?”

“Kemarin. Aku sekarang sudah berubah. Kenapa kau masih tetap saja menjadi penjual nasi? Bahkan tanpa istrimu?”

“Istriku sedang pulang untuk mengambil bumbu megana. He, kau memang berubah. Dimana kau selama ini?”

Anak muda itu mengangkat wajahnya. Katanya, “Aku tidak mau hidup di tempat yang pengap seperti ini. Aku harus berubah. Dan aku berhasil.”

“Jadi, apa yang kau lakukan disini sekarang?”

“Aku akan menjual warisanku untuk menambah modal kerjaku. Aku seorang saudagar yang berhasil.”

“Maksudmu, tanah dan rumah yang ditinggali kedua orang tuamu itu?”

“Ya.”

“Tetapi bukankah kedua orang tuamu masih hidup?”

“Tanah dan rumah itu akhirnya akan jatuh ke tanganku juga. Apa bedanya sekarang dengan setelah ayah dan ibuku meninggal?”

“Lalu, dimana ayah dan ibumu harus tinggal?”

“Ia dapat tinggal bersama Paman. Bukankah umur mereka sudah tidak akan terlalu panjang lagi?”

“Citra.”

Wicitra tertawa. Katanya, “Jangan dibelenggu oleh kecengengan. Kematian seseorang adalah alami. Semua orang akan mati. Juga ayah dan ibu.”

Wijang dan Paksi mendengar pembicaraan itu. Tiba-tiba Paksi menggamit Wijang sambil berdesis, “Apakah anak itu sudah gila?”

“Sst,” potong Wijang, “biar saja ia berkicau sesuka hati.”

“Tetapi telingaku terasa panas.”

Wijang tertawa tertahan. Katanya, “Jangan membiasakan diri cepat tersinggung.”

Ki Marta Brewok tersenyum. Katanya, “Satu pengenalan yang menarik. Jadi ada juga anak yang bersikap demikian terhadap orang tuanya. Tetapi kita belum tahu, apakah orang tuanya itu orang tuanya sendiri, orang tua angkat atau sekedar mengaku orang tua.”

“Tetapi warisan itu?”

“Sst,” Wijang berdesis.

Ternyata anak muda itu melangkah ke pintu kedai. Seperti orang yang sedang mencari Pangeran Benawa, anak muda yang bernama Wicitra itu berdiri berpegangan uger-uger pintu. Dipandanginya orang-orang yang berada di dalam kedai itu.

Dengan nada tinggi Wicitra itu berkata, “Kedaimu masih juga kedai kerdil dan kotor. Orang-orang yang makan di dalam kedaimu juga orang-orang yang tidak berbaju dan berpakaian kusut.”

“Kau tidak ingat lagi kepada Kang Setra Blandong?”

“Tentu ingat. Ia masih juga blandong seperti dahulu. Ia masih juga makan di kedaimu tanpa baju.”

Orang yang disebut Setra Blandong itu hanya memandangi Wicitra saja tanpa mengatakan sesuatu.

Wicitra tertawa melihat tukang blandong yang duduk termangu-mangu, yang sebenarnya sudah akan meninggalkan kedai itu, tetapi tertahan karena kehadiran empat orang yang mencari Pangeran Benawa itu. Jika ia kemudian tidak segera pergi sepeninggal keempat orang, ia memang menunggu agar orang itu menjadi semakin jauh. Tetapi sebelum ia beranjak pergi, Wicitra itu telah datang ke kedai itu.

Sementara itu pemilik kedai itu pun kemudian bertanya, “Jadi kau datang kemarin, Wicitra?”

“Ya.”

“Wicitra, ada yang perlu kau ketahui.”

“Apa?”

“Di padukuhan ini sekarang berkeliaran beberapa orang yang sedang mencari seorang anak muda. Mereka baru saja datang ke kedai ini. Mereka mengatakan bahwa anak muda yang mereka cari kemarin sudah datang ke padukuhan ini.”

“Siapakah yang mereka cari?”

“Pangeran Benawa.”

“Pangeran Benawa? Apakah Pangeran Benawa ada di padukuhan kita?”

“Yang aku cemaskan, bahwa kaulah yang dikira Pangeran Benawa itu. Karena kau juga datang ke padukuhan ini kemarin.”

“O. Bukankah aku pantas jika aku dikira seorang pangeran?

Ujudku memang ujud seorang pangeran.”

“Tetapi dengan demikian kau terancam bahaya.”

“Bahaya apa?”

“Orang-orang yang mencari Pangeran Benawa itu adalah orang-orang yang garang. Yang tadi singgah di kedai ini adalah empat orang bersenjata yang kasar dan berwajah seram.”

“Lalu menurut pendapatmu, apa yang harus aku lakukan?”

“Sebaiknya kau tinggalkan padukuhan ini untuk satu dua hari. Jika mereka benar-benar menyangka bahwa kau adalah Pangeran Benawa, maka kau tentu akan mereka bawa.”

“Apakah sia-sia aku berguru beberapa tahun. Pengawalku itu pun seorang gegedug yang tidak terkalahkan. Apalagi hanya empat orang. Sembilan orang  pun akan dapat aku binasakan dalam waktu sekejap.”

“Tetapi nampaknya keempat orang itu juga orang-orang berilmu. Mereka sudah datang beberapa hari yang lalu. Mereka kasar dan nampaknya berbahaya.”

“Kau menakut-nakuti aku?”

“Tidak. Tetapi orang-orang itu berbahaya bagimu. Agaknya orang-orang itu sulit diajak bicara. Apakah tidak ada seorang pun yang memberitahukan kepadamu? Ayah dan ibumu?”

“Aku tidak memerlukan pemberitahuan itu, Kang. Lupakan saja. Aku justru akan menampakkan diri untuk mengetahui, apakah aku benar-benar mirip dengan seorang pangeran.”

“Tetapi…. “

Ternyata tukang blandong yang lebih banyak berdiam diri itu akhirnya berbicara juga, “Sudahlah. Wicitra sudah dewasa. Ia dapat membuat pertimbangan-pertimbangan yang mapan. Manakah yang baik dilakukan dan mana yang tidak.”

Pemilik kedai itu memang terdiam. Namun Wicitra itulah yang melangkah mendekati blandong yang tidak memakai baju itu. Pengawalnya pun telah melangkah ke pintu pula sambil memegangi hulu goloknya yang berada di dalam sarungnya dan tergantung di lambung.

“Ternyata kau cukup bijaksana Setra. Terima kasih atas kebijaksanaanmu itu. Tetapi sayang, aku sama sekali tidak memerlukannya. Kau  pun tidak membuat pertimbangan dengan ikhlas. Bahkan dalam nada suaramu, tersirat perasaanmu yang jengkel terhadap sikapku. He, apakah kau ingin membuat gara-gara.”

“Sama sekali tidak,” jawab Setra Blandong. “Aku hanya ingin pemilik kedai ini diam.”

Wicitra tertawa. Katanya, “Apakah bajumu masih saja selembar sehingga kau tidak pernah mengenakannya kecuali jika kau pergi jagong bayen?”

Setra memandang orang yang berdiri di pintu. Seorang yang bertubuh tinggi dan besar. Bersenjata golok. Wajahnya seram sedangkan matanya yang tajam seperti mata burung hantu itu memandanginya.

Setra menarik nafas dalam-dalam. Ia hanya seorang blandong kayu. Mungkin ia memiliki tenaga yang besar. Tetapi sejak kecil Setra tidak pernah berkelahi. Karena itu, Setra sama sekali tidak menjawab.

Ketika Wicitra meraba pundak Setra, maka ia pun berkata,

“Keringatmu masih saja belum kering Setra. Tetapi mungkin minuman panasmu itulah yang membuat kau berkeringat.”

Setra Blandong masih tetap diam saja.

Wicitra pun tertawa pula. Katanya, “Hati-hatilah, Setra. Jika kau menebang pohon, kau harus tahu kemana arah pohon itu tumbang, agar pohon itu tidak menimpa kepalamu.”

Setra Blandong itu masih saja berdiam diri.

Wicitra itulah yang kemudian melangkah ke pintu. Ketika pengawalnya bergeser, Wicitra itu pun melangkah keluar sambil berkata lantang kepada pemilik kedai itu, “Aku akan mencari orang-orang yang telah menakut-nakuti penghuni padukuhan ini. Aku akan mengaku Pangeran Benawa.”

Sejenak kemudian, maka Wicitra dan pengawalnya itu pun meninggalkan kedai itu. Tetapi ia masih bertanya kepada pemilik kedai itu, “Kemana mereka pergi, Kang?”

Pemilik kedai itu termangu-mangu sejenak. Keempat orang itu menyusuri jalan di depan kedai itu ke timur. Namun pemilik kedai itu berkata, “Mereka pergi ke barat.”

Wicitra tertawa. Tetapi bersama pengawalnya ia pergi ke timur.

“Kau yang bodoh,” berkata Setra Blandong. “Anak itu datang dari arah barat.”

Pemilik kedai itu mengerutkan dahinya. Namun ia pun tersenyum pula.

Setra Blandong itulah yang kemudian bangkit berdiri dan berjalan keluar. Katanya, “Sejak tadi aku sudah akan pergi. Aku menyesal bertemu dengan anak yang sombong itu.”

“Aku mencemaskannya,” berkata pemilik kedai itu.

“Kau tidak bersalah. Kau sudah mencoba untuk memperingatkannya. Tetapi ia keras kepala. Aku bahkan menjadi jengkel karena kesombongannya. Tetapi pengawalnya itu membuat hatiku berkerut. Terus terang aku takut.”

Pemilik kedai itu mengangguk-angguk. Katanya, “Jangan berkecil hati. Itu wajar-wajar saja. Kita bukan orang yang terbiasa berkelahi. Meskipun kau membawa kapak, tetapi pohon yang kau tebang selalu saja pasrah.”

Setra Blandong itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun tersenyum. Kecut sekali. Tetapi Setra Blandong itu masih juga berkata kepada Ki Marta Brewok dan kedua orang anak muda yang menyertainya, “Jika kau perlu ayung-ayung, ambil di rumahku.”

Ki Marta Brewok tertawa sambil menjawab, “Terima kasih, Ki Setra.”

Sepeninggal Setra Blandong, maka Ki Marta Brewok, Wijang dan Paksi pun telah minta diri pula. Setelah membayar harga makan dan minum mereka, maka mereka pun meninggalkan kedai itu pula.

Namun demikian mereka keluar dari kedai itu, Ki Marta Brewok pun berkata, “Nasib anak itu agaknya akan menjadi kurang baik.”

“Anak itu terlalu sombong,” desis Paksi.

“Apakah kita sebaiknya memperingatkannya. Orang itu masih nampak dari sini. Kita dapat menyusulnya dan memberitahukan bahaya yang dapat mengancamnya. Mungkin jika orang lain yang memberinya peringatan, anak itu akan mau mendengarkannya,” sahut Wijang.

Ki Marta Brewok menarik nafas panjang. Katanya, “Belum tentu. Agaknya anak itu terlalu sombong. Kau dengar apa yang dikatakannya tentang kedua orang tuanya?”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Anak itu memang sangat menjengkelkan.”

“Tetapi biarlah kita mencobanya. Mungkin kita dapat meyakinkannya.”

Ketiganya pun mempercepat langkah mereka. Namun anak muda yang bernama Wicitra itu telah hilang di tikungan.

“Kita pun akan berbelok pula,” berkata Ki Marta Brewok. “Tetapi persoalan ini adalah persoalan terakhir yang akan dapat menghambat perjalanan kita. Selanjutnya kita akan langsung menempuh perjalanan pulang.”

“Ya. Kita tidak menghiraukan lagi, apa pun yang terjadi di sekitar diri kita,” berkata Paksi.

Tetapi Wijang justru tertawa. Katanya, “Benar begitu?”

Paksi mengerutkan dahinya. Ki Marta Brewoklah yang kemudian tertawa pula.

Paksi yang memberengut itu pun berkata, “Jadi akulah yang telah menghambat perjalanan pulang?”

“Tidak. Bukankah aku tidak berkata begitu?” sahut Wijang.

Paksi tidak berbicara lagi. Tetapi ia berjalan lebih cepat. Tongkatnya menghentak-hentak tanah yang dilewatinya.

Namun langkahnya tiba-tiba terhenti. Mereka mendengar suara keributan kecil terjadi di belakang tikungan.

Dengan hati-hati ketiganya mendekat sambil melekat di dinding. Dari tempat mereka berhenti, ketiganya mendengar suara seorang laki-laki, “Sebaiknya kau tinggalkan padukuhan ini untuk satu dua hari.”

“Tidak, kau dengar.”

“Jika kau bukan anakku, aku tidak akan mempedulikanmu, Wicitra.”

“O, jadi kau usir agar aku tidak sempat menuntut warisan itu lagi.”

“Ambil, ambil semuanya yang akan kau ambil, Wicitra. Tetapi banyak orang dan bahkan Ki Bekel menasehatkan agar kau meninggalkan padukuhan ini. Orang-orang itu adalah orang-orang yang tidak mengenal kasihan. Mereka tentu menyangka bahwa kaulah yang mereka cari.”

“Pangeran Benawa?”

“Ya.”

“Aku memang akan mengaku sebagai Pangeran Benawa. Bukankah tampangku pantas untuk disebut sebagai seorang pangeran.”

“Tetapi kau akan ditangkap.”

“Siapa yang dapat menangkap aku, biarlah dilakukannya. Aku tidak takut. Kau ajari anakmu menjadi pengecut?”

“Tidak. Tentu tidak. Tetapi aku dan ibumu mohon.”

“Cukup. Sebaiknya ayah menyiapkan segala sesuatunya yang akan ayah wariskan kepadaku. Besok kita menghadap Ki Bekel. Kemudian aku akan menjual semuanya untuk menambah modalku. Jika perdaganganku menjadi besar, aku akan menjadi saudagar yang paling kaya di Pajang.”

“Sudah aku katakan. Ambil yang akan kau ambil.”

“Jangan mencari alasan untuk menunda-nunda lagi.”

“Wicitra.”

“Cukup,” bentak Wicitra. “Biar aku menentukan sikapku sendiri. Aku sudah dewasa. Aku sudah tahu, manakah yang baik dan mana yang tidak baik. Mana yang berbahaya dan mana yang tidak berbahaya.”

“Wicitra…, Wicitra.”

“Diam, diam kau. Jangan ikuti aku.”

Suara mereka tidak terdengar lagi. Langkah Wicitra semakin jauh. Sedangkan desah ayahnya masih terdengar dari balik dinding di tikungan.

Ki Marta Brewok lah yang kemudian berbisik, “Marilah kita dekati orang tua Wicitra itu.”

“Bukan aku yang membuat persoalan,” desis Paksi.

Wijang tertawa tertahan. Katanya, “Tetapi persoalan ini masih terkait dengan persoalan terakhir yang akan melibat kita.”

Ki Marta Brewok pun kemudian memberi isyarat kepada kedua orang anak muda itu untuk mengikutinya.

Demikian ketiganya muncul di tikungan, ayah Wicitra itu terkejut bukan buatan. Hampir saja ia meloncat berlari untuk mengejar anaknya. Tetapi kakinya serasa menjadi seberat timah.

Ki Marta Brewoklah yang kemudian berkata dengan kata-kata yang sareh, “Jangan takut, Ki Sanak. Aku tidak berniat buruk.”

Dengan wajah yang tegang, ayah Wicitra itu memandang Ki Marta Brewok dan kedua anak muda yang menyertainya itu berganti-ganti.

“Siapakah kalian? Apakah kalian akan mencari Pangeran Benawa? Disini tidak ada Pangeran Benawa. Yang kalian sangka Pangeran Benawa itu adalah anakku. Namanya Wicitra. Ia sama sekali tidak tahu-menahu tentang Pangeran Benawa.”

“Ki Sanak, kami tidak sedang mencari Pangeran Benawa. Kami sama sekali tidak mengenalnya, bahkan baru sekarang kami mendengar namanya.”

“Jadi, apa yang kalian cari disini?”

“Kami tidak mencari apa-apa disini, Ki Sanak,” jawab Ki Marta Brewok. “Kami hanya lewat. Di tikungan ini kami mendengar suara ribut-ribut, sehingga kami berbelok kemari.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jadi kalian tidak mencari Pangeran Benawa?”

“Tidak, Ki Sanak.”

“Tetapi banyak orang yang mengatakan bahwa sekelompok orang sedang mencari Pangeran Benawa disini. Pangeran Benawa yang kemarin sudah datang di padukuhan ini. Sedangkan anak muda yang kemarin datang di padukuhan ini adalah anakku. Aku cemas, bahwa anakku itulah yang disangka Pangeran Benawa.”

“Apakah anakmu mirip dengan Pangeran Benawa?” bertanya Wijang.

“Aku tidak tahu. Aku belum pernah melihat Pangeran Benawa. Yang jelas mirip adalah kemudaannya. Menurut kata orang, Pangeran Benawa itu masih muda. Anakku juga masih muda.”

“Tetapi aku dengar, Ki Sanak justru bertengkar tadi.”

“Itu tadi anakku. Aku mencoba untuk membujuknya agar ia bersedia meninggalkan padukuhan ini barang satu dua hari sampai orang-orang yang mencari Pangeran Benawa itu pergi.”

“Apakah orang-orang yang mencari Pangeran Benawa itu mirip kami?”

“Yang kami dengar adalah empat orang. Mungkin saja yang seorang baru mempunyai keperluan lain.”

“Tetapi orang itu bukan kami,” jawab Ki Marta Brewok yang selanjutnya berkata, “Bagaimana tanggapan anakmu?”

“Anak itu menolak. Ia justru ingin mengaku sebagai Pangeran Benawa itu sendiri.”

“Apakah anakmu tidak takut kepada orang-orang yang sedang mencari Pangeran Benawa itu? Mereka tentu orang-orang yang berilmu tinggi, karena mereka tahu bahwa Pangeran Benawa itu pun berilmu tinggi.”

“Seharusnya anakku menyadari akan hal itu. Tetapi anakku pun merasa memiliki ilmu. Ia baru saja selesai berguru. Sementara itu seorang pengawalnya juga berilmu tinggi.”

“Siapakah pengawalnya itu?”

“Aku tidak tahu, tetapi ia adalah orang yang diupah oleh anakku. Ia seorang upahan yang setia.”

“Seharusnya anakmu mendengar nasehatmu.”

“Apakah kalian bersedia menolong aku?” bertanya ayah Wicitra itu.

“Maksud Ki Sanak?” bertanya Ki Marta Brewok. “Tolong, beri tahu anakku. Kau dapat menakut-nakutinya atau dengan cara apa pun juga.”

“Kemana anakmu sekarang?”

“Mungkin ia pulang dan menunggu orang-orang yang mencari Pangeran Benawa itu di rumah. Atau justru anak itu juga sedang mencari keempat orang yang mencari Pangeran Benawa itu.”

“Aku tidak berkeberatan menemui anakmu dan mencoba mencairkan hatinya yang keras itu.”

“Terima kasih, Ki Sanak. Marilah, aku mohon Ki Sanak bersedia singgah di rumahku.”

Ki Marta Brewok, Wijang dan Paksi pun kemudian telah mengikuti ayah Wicitra itu. Mereka akan menemui Wicitra dan mencoba untuk menyelamatkannya dari tangan orang-orang yang mencari Pangeran Benawa itu.

Demikianlah,    sejenak   kemudian,    ketiga   orang   itu pun dipersilahkan untuk duduk di pringgitan. Namun ternyata bahwa Wicitra masih belum pulang.

“Anak itu membuat jantungku kuncup,” berkata ayah Wicitra.

“Ia adalah anakku satu-satunya. Meskipun ia telah menyakiti hatiku dengan permintaannya yang sebenarnya tidak masuk akal, tetapi bagaimanapun juga ia adalah anakku.”

“Apa yang diminta oleh anak itu?” bertanya Ki Marta Brewok.

“Rumah dan tanahnya. Sawah dan pategalan yang ada. Anakku akan menjualnya untuk menambah modal usahanya yang nampaknya menjadi semakin maju.”

“Lalu, Ki Sanak akan tinggal dimana?”

“Itu tidak menjadi soal. Aku dan istriku dapat tinggal dimana-mana. Bukankah aku hanya berdua? Aku dapat tinggal di rumah adikku atau di rumah kakak perempuanku atau dimana saja. Bahkan sebuah kandang kerbau pun cukup untuk kami tempati berdua.”

Ki Marta Brewok menarik nafas panjang. Sementara Wijang dan Paksi yang juga masih muda itu tersentuh hatinya. Mereka melihat betapa besar kasih orang tua kepada anaknya, meskipun anaknya telah melakukan pemerasan yang tidak masuk akal.

Namun pembicaraan mereka pun terputus. Sejenak kemudian mereka melihat Wicitra memasuki halaman rumahnya bersama seorang pengawalnya yang menakutkan itu.

Wicitra itu berhenti di tangga pendapa rumahnya. Dengan tegang ia memandang ketiga orang yang duduk di pringgitan bersama ayahnya. Namun kemudian dengan lantang ia pun berkata, “Apakah kau orang-orang yang sedang mencari Pangeran Benawa di padukuhan ini?”

“Bukan Wicitra,” ayahnyalah yang menyahut. “Marilah. Duduklah. Mereka ingin berbicara kepadamu.”

“Siapakah mereka?” bertanya Wicitra. Namun setelah memperhatikan ketiga orang itu dengan seksama Wicitra itu pun berkata, “Bukankah mereka orang-orang yang tadi ada di kedai itu?”

“Ya, Ki Sanak,” jawab Ki Marta Brewok.

“Untuk apa kalian datang kemari? Kalian akan memeras keluarga kami dan mengancam untuk memberitahukan kehadiranku di padukuhan ini?”

“Jangan berprasangka buruk, Wicitra. Duduklah. Mereka akan berbicara kepadamu. Sebentar saja.”

Wicitra memandang Ki Marta Brewok, Wijang dan Paksi berganti-ganti. Namun tanpa naik ke pendapa Wicitra itu berkata, “Apa yang akan kau katakan?”

“Duduklah, Wicitra,” minta ayahnya.

Tetapi jawab Wicitra, “Aku tidak tuli. Katakan.”

Ki Marta Brewok termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Wicitra. Aku hanya ingin memperingatkanmu. Orang-orang yang mencari Pangeran Benawa itu adalah orang-orang yang berilmu. Karena itu, seperti yang dikatakan oleh ayahmu, oleh pemilik kedai itu, maka sebaiknya kau tinggalkan padukuhan ini barang dua tiga hari.”

“Persetan dengan penghinaanmu itu. Kalau aku tadi tidak mengingat pemilik kedai itu kawanku bermain, aku sudah menyumbat mulutnya dengan daun pisang. Ia menganggap aku pengecut yang harus bersembunyi. Sekarang kau datang juga untuk menghina aku. Aku peringatkan kau sekali lagi. Jangan membuat aku marah.”

“Wicitra,” berkata Ki Marta Brewok kemudian, “aku minta maaf, bahwa mungkin kata-kataku menyinggung perasaanmu. Tetapi orang-orang itu benar-benar berbahaya bagimu.”

“Cukup,” teriak Wicitra. “Sekarang kalian pergi. Aku akan mencari orang-orang itu dan mengatakan kepada mereka bahwa akulah Pangeran Benawa itu.”

—- > Bersambung ke bagian 2

Satu Tanggapan

  1. Asyieeekk…akhirnya ketemu di sini…
    Matursuwun katur sadayana…spesial Ki Banu Aji Aja Deh yg telah memberi peta jalur ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s