AM_MS-05


Serial ARYA MANGGADA

Episode V: MATAHARI SENJA

JILID 5

kembali | lanjut

AMMS-05PANEMBAHAN Lebdagati mengangguk-angguk sambil tersenyum. Dengan nada datar ia berkata, “Terima kasih. Dengan demikian maka tugas kami akan semakin cepat selesai.”

“Aku tahu bahwa kau tidak memerlukan kami” berkata Lembu Palang, “orang-orangmu akan dengan cepat dapat membersihkan sisa-sisa pengikut Kiai Banyu Bening itu. Jika aku ikut bersamamu sama sekali bukan untuk membantumu. Tetapi sekedar ingin melepaskan kejenuhan. Kami akan sedikit terhibur dengan pekerjaan yang menyenangkan itu.”

“Kau memang gila” sahut Panembahan Lebdagati.

“Sudah beberapa lama jari-jari kami tidak menyentuh darah segar yang mengalir dari luka” berkata Lembu Palang.

“Setan kau” geram Panembahan Lebdagati.

Lembu Palang tertawa. Katanya, “Anak-anak kami akan dapat kehilangan gairah perjuangan mereka jika mereka tidak mendapat kesempatan untuk membasahi senjata mereka dengan darah korbannya” berkata Lembu Palang kemudian.

“Terserah kepadamu. Aku harap bahwa kau dan orang-orangmu mendapatkan apa yang kalian inginkan.” berkata Panembahan Lebdagati, “lusa aku akan menyabung ayam. Orangku baru saja mendapat tiga ekor ayam yang baik. Sementara itu sudah ada lima ekor ayam yang disiapkan untuk memasuki arena sabung ayam itu.”

Demikianlah, maka seisi padepokan itu pun telah bersiap-siap. Seperti pesan Panembahan Lebdagati, mereka tidak boleh menganggap lawan mereka kecil.

Tetapi bagaimanapun juga, orang-orang padepokan itu tidak melihat seorang pun yang harus mendapat perhatian khusus dari antara mereka yang berhasil melarikan diri dari padepokan yang waktu itu dipimpin oleh Kiai Banyu Bening. Mungkin satu dua orang padukuhan yang bersedia membantunya memiliki kelebihan. Mungkin Ki Bekel, mungkin Ki Jagabaya atau yang lain. Namun mereka tidak akan berarti apa-apa bagi para pengikut Panembahan Lebdagati itu.

Meskipun demikian, menjelang malam, Panembahan Lebdagati telah memberikan peringatan-peringatan lagi, agar para pengikutnya itu berhati-hati.

“Besok menjelang fajar kita berangkat. Kita akan mulai memasuki padukuhan itu setelah matahari terbit. Dengan demikian, kita tidak akan terjebak oleh keadaan medan yang belum kita kenal. Sebagaimana terjadi di padepokan ini, maka orang-orang yang melarikan diri itu pandai memanfaatkan medan, karena mereka mengenal jauh lebih baik dari kita.”

Para pengikut Panembahan Lebdagati itu memang mendengarkan peringatan itu, tetapi sebagian besar diantara mereka menganggap bahwa sikap berhati-hati Panembahan Lebdagati agak berlebihan.

“Beberapa kali Panembahan Lebdagati kegagalan. Bayangan yang muram itulah yang membuatnya menjadi sangat berhati-hati.” berkata salah seorang diantara para pengikutnya.

“Tidak ada salahnya Panembahan menjadi sangat berhati-hati. Tetapi kitapun harus ingat, bahwa penggraita Panembahan itu sangat tajam. Meskipun Panembahan secara wadag belum pernah melihat kekuatan lawan, tetapi Panembahan seakan-akan dapat mengetahuinya. Karena itu, maka peringatannya tidak boleh kita abaikan.” sahut yang lain, seorang yang janggutnya sudah mulai nampak menjadi abu-abu.

Dalam pada itu, maka Panembahan Lebdagati pun segera memperingatkan pula agar mereka beristirahat sebaik-baiknya. Terutama mereka yang telah ditunjuk untuk bersama Panembahan pergi ke padukuhan yang dianggap telah menantang isi padepokan itu.

Lembu Palang masih saja mentertawakan sikap Panembahan Lebdagati yang terlalu berhati-hati itu. Meskipun demikian, ia tidak mengatakan apa-apa lagi tentang persiapan yang nampak ber-sungguh-sungguh itu.

“Hanya untuk membunuh kecoak,” desis Lembu Palang.

Malam itu padepokan menjadi sepi. Para pengikut Panembahan Lebdagati tidak berkeliaran didalam padepokan. Seperti yang dinasehatkan oleh Panembahan, maka mereka pun telah berada di pembaringan. Hanya para petugas khusus sajalah yang justru mulai bersiap-siap untuk menyalakan perapian, karena sebelum berangkat didini hari, orang-orang yang akan pergi ke padukuhan itu akan makan lebih dahulu.

Demikianlah, sedikit lewat tengah malam, maka seisi padepokan itu sudah terbangun. Mereka mulai bersiap-siap untuk pergi ke padukuhan.

Orang-orang yang tidak dapat ikut serta karena harus berjaga-jaga di padepokan, merasa menyesal, kenapa mereka tidak diikut sertakan membantai sisa-sisa pengikut Kiai Banyu Bening dan orang-orang padukuhan yang dungu, yang telah berani menentang Panembahan Lebdagati. Mereka menganggap bahwa tugas yang akan dilakukan di padepokan itu adalah tugas yang ringan dan menyenangkan.

Demikianlah, menjelang fajar, maka Panembahan Lebdagati telah siap untuk berangkat. Telah terdengar suara kentongan yang memberi isyarat, semua orang yang akan berangkat harus sudah bersiap dalam kelompoknya masing-masing.

Dalam pada itu, Ki Pandi serta Manggada dan Laksana yang sedang bertugas mengawasi padepokan itu sejak lewat tengah malam, dapat merasakan kegiatan yang meningkat malam itu. Ketika lewat tengah malam mereka berada ditempat yang terlindung dibalik gerumbul perdu, mereka telah melihat bahwa padepokan itu nampak lebih tenang dari biasanya. Agaknya di halaman padepokan itu terpasang obor lebih banyak dari malam-malam yang lewat.

Ketika mereka bertiga melihat asap yang mengepul, maka mereka bertiga mengambil kesimpulan bahwa ada kegiatan di dapur padepokan itu.

Ki Pandi pun segera memerintahkan Manggada dan Laksana kembali ke padukuhan untuk memberitahukan, bahwa kemungkinan besar, orang-orang padepokan akan menyerang pagi itu.

“Biarlah padukuhan itu bersiap. Peringatan, agar api di dapur pun harus segera dinyalakan. Jika pertempuran itu menelan waktu yang panjang, tenaga kita akan cepat menjadi susut.

Manggada dan Laksana pun segera kembali ke padukuhan, sementara Ki Pandi mengawasi kegiatan di padepokan itu.

Manggada dan Laksana yang memberikan laporan kepada Ki Ajar Pangukan, kepada Ki Warana dan Ki Bekel, telah menyampaikan pesan Ki Pandi, terutama kepada Ki Bekel, bahwa api di dapur pun harus segera dinyalakan pula.

Padukuhan itu pun telah menjadi sibuk pula. Ki Warana telah membangunkan orang-orangnya dan menempatkan mereka sesuai dengan rencana. Sementara itu, orang-orang padukuhan pun telah dibangunkan pula tanpa isyarat sama sekali. Tidak sebuah pun kentongan yang dipukul untuk memberikan aba-aba.

Anak-anak muda yang menghadapi di banjar dan di rumah ki Bekel telah bersiaga pula menghadapi segala kemungkinan, sehingga dengan demikian maka perempuan dan anak anak-anak mengungsi tidak merasa sangat ketakutan.

Mereka yang bertahan di padukuhan itu pun telah bersiaga sepenuhnya. Anak-anak yang membawa busur telah mempersiapkan anak panah sepenuh endong yang mereka bawa Yang lain telah mempersiapkan lembing bambu yang mereka buat sendiri dengan ujung besi yang runcing.

Ketika langit menjadi merah menjelang fajar, maka Ki Pandi yang mengawasi padepokan itu melihat pintu gerbang padepokan telah terbuka.

Perlahan-lahan sepasukan pengikut Panembahan Lebdagati telah berderap keluar lewat pintu gerbang padepokan.

Ki Pandi pun kemudian telah bergerak perlahan-lahan. Ia harus mendapat kepastian bahwa pasukan itu memang bergerak menuju ke padukuhan.

Dalam kegelapan dilandasi dengan ilmunya yang tinggi Ki Pandi mengamati gerak pasukan itu, sehingga akhirnya ia yakin, bahwa pasukan itu memang menuju ke padukuhan.

Karena itu, maka Ki Pandi pun segera bergerak dengan cepat mendahului gerak pasukan yang maju dengan lamban.

Dalam pada itu, langit pun menjadi semakin merah. Ketika fajar menyingsing, Ki Pandi sudah ada di padukuhan. Kepada Ki Ajar Pangukan dan orang-orang tua yang tinggal dirumahnya, kepada Ki Warana dan Ki Bekel, Ki Pandi memberikan penjelasan tentang gerakan yang telah dilihatnya.

“Kita harus berhati-hati. Panembahan Lebdagati ternyata telah membawa kekuatan yang besar. Agaknya ia tidak ingin menganggap kita terlalu kecil.”

Dengan demikian, maka orang-orang yang berada di padepokan itu telah meningkatkan persiapan mereka.

Sebenarnyalah bahwa Panembahan Lebdagati telah membawa pasukannya menuju ke padukuhan yang telah berani melakukan persiapan untuk melawannya.

Beberapa saat kemudian, maka pasukan Panembahan Lebdagati itu telah menjadi semakin dekat. Beberapa puluh langkah dari dinding padepokan pasukan itu berhenti, sementara langit menjadi semakin merah.

Tiga orang, diantaranya adalah Panembahan Lebdagati sendiri telah melangkah mendekati regol padepokan. Dengan lantang Panembahan Lebdagati yang kemudian berdiri tegak menghadap ke regol padepokan itu pun berkata, “He, siapakah yang memimpin orang-orang di padepokan ini untuk menentang kuasaku?”

Yang melangkah kepintu regol yang kemudian dibuka adalah Ki Warana dan dua orang pengikutnya.

“Aku, Warana.”

“Apakah kau salah seorang pengikut Kiai Banyu Bening?” bertanya Panembahan Lebdagati.

“Ya. Aku adalah salah seorang pengikut Kiai Banyu Bening. Aku dan sekelompok kawan-kawan berhasil lolos dari padepokan itu dan sempat menyusun kekuatan di padukuhan ini.”

“Apakah kau tidak ingat, bahwa Kiai Banyu Bening tidak mampu melawan aku? Apalagi kau dan pengikut-pengikutmu. Bahkan seandainya para penghuni padukuhan ini seluruhnya ikut membantumu, maka dalam waktu sekejap kalian akan kami tumpas habis. Karena itu, selagi belum terjadi, aku perintahkan kalian untuk menyerah. Seperti kawan-kawanmu yang menyerah di padepokan, mereka kami beri kesempatan untuk menunjukkan kesetiaannya jika mereka ingin hidup untuk waktu yang lebih panjang.”

“Panembahan Lebdagati” sahut Ki Warana, “kami sudah bertekad untuk menuntut balas kematian Kiai Banyu Bening. Karena itu, maka serahkan orang yang bertanggung jawab atas kematian Kiai Banyu Bening, agar tidak semua orangmu akan menjadi korban. Jika orang itu kau sendiri Panembahan, maka kau harus dengan ikhlas menanggung beban tanggung jawab itu.”

“Setan kau” geram Panembahan Lebdagati, “kau kira kau siapa dan berbicara dengan siapa., he?”

“Namaku Warana. Aku salah seorang kepercayaan Kiai Banyu Bening. Ketika kau membunuh Kiai Banyu Bening, aku tidak menungguinya. Karena itu, ketika aku mendengar kabar kematiannya, aku bawa orang-orangku menyingkir, karena aku yakin bahwa kau akan memburu kami seperti sekarang ini. Nah, dalam kesempatan inilah, maka kau akan menerima beban pertanggungan.jawabmu itu.”

“Warana, bagaimana mungkin kau dapat mengalahkan aku, jika Banyu Bening itu saja tidak mampu melakukannya. Apakah kau memiliki ilmu melampaui tataran ilmu Kiai banyu Bening?”

“Itu bukan soal, Panembahan. Tetapi kau telah melanggar hak orang lain. Karena itu, kau harus dihukum.”

Lembu Palang ternyata tidak telaten mendengar percakapan itu. Karena itu, maka ia pun melangkah menyusul Panembahan Lebdagati. Sambil bertolak pinggang Lembu Palang itu berteriak, “Kalian menyerah atau tidak?”

Ki Warana termangu-mangu sejenak. Sementara itu, Ki Lemah Teles yang berdiri dibelakang selapis pengikut Ki Warana sehingga tidak begitu jelas nampak dari tempat Lembu Palang berdiri, telah berdesis, “Bukankah itu Lembu edan itu?”

Ki Sambi Pitu yang berdiri disebelahnya dan melihat Lembu Palang dari sela-sela kepala orang yang berdiri didepannya tertawa pendek. Kalanya, “Nah, kau akan bertemu dengan sahabatmu itu.

“Menyenangkan sekali. Sudah lama aku rindukan orang itu. Sekarang aku dapat menemuinya disini.”

“Tetapi berhati-hatilah. Umurmu sudah menjadi semakin tua.” pesan Ki Sambi Pitu.

“Iblis kau. Kau kira umur Kebo edan itu tidak bertambah tua pula?”

Ki Sambi Pitu tertawa. Katanya, “Bagus. Ternyata seumurmu masih juga akan mendapat lawan yang seumur. Bukankah selama ini kau mengembara mencari musuh, agar kau tetap yakin bahwa ilmumu masih berada, dalam tataran tertinggi.”

“Jangan mengigau lagi! Ilmuku memang masih yang terbaik sekarang ini” jawab Ki Lemah Teles.

Tetapi Lembu Palang sendiri tidak mengira bahwa diantara beberapa buah kepala yang berderet di belakang Ki Warana itu terdapat kepala Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu selain beberapa orang berilmu tingi yang lain. Apalagi orang bongkok yang sengaja tidak menampakkan dirinya.

Dalam pada itu, Ki Warana pun berteriak pula, “Tidak akan ada penyerahan. Kami sudah bertekad untuk melawan. Bahkan membalas dendam atas kematian Kiai Banyu Bening. Panembahan Lembdagati. Jika kau ingin para pengikutmu selamat, maka berlututlah dihadapanku.”

Jantung Panembahan Lebdagati bagaikan dihentak dari tangkainya. Penghinaan itu tidak dapat dimanfaatkan. Karena itu, maka ia pun berkata, “Bagus. Kau akan menyesal bahwa kau sudah menghina Panembahan Lebdagati. Orang yang berani menyebut namanya tanpa arti, sudah pantas untuk dihukum mati. Apalagi orang yang telah berani menghinanya.”

“Apakah ada hukuman yang lebih berat dari hukuman mati?” bertanya Ki Warana.

”Jangan bertanya kepada-ku. Ingat, apa yang pernah dilakukan oleh Kiai Banyu Bening. Ia sering melakukan-nya. Menjatuhkan hukuman yang lebih berat dari hukuman mati.”

“Tetapi kau tidak akan pernah dapat melakukannya atasku. Di bawah lidahku tersimpan serbuk racun yang dibalut dengan selaput lemak yang tipis. Jika aku harus jatuh ketanganmu, maka racun itu akan tertelan. Dan kau tidak akan dapat menghukumku.”

“Pengecut yang licik. Jika kau ingin membunuh diri, kenapa kau ajak pengikut-pengikutmu sebanyak itu?”

“Mereka adalah pengikut-pengikut setia Kiai Banyu Bening.”

“Panembahan” potong Lembu Palang, “apakah kita hanya akan berbicara saja panjang lebar?

“Aku sudah siap” sahut Panembahan itu.

“Jika demikian, berikan aba-aba. Tanganku sudah gatal. Aku ingin menebas batang ilalang di padukuhan itu dengan pedangku.

Panembahan Lebdagati mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Aku akan kembali ke dalam pasukanku. Aku ingin bergerak bersama-sama dengan mereka. Nampaknya orang-orang di padukuhan itu telah siap menunggu kita.”

Lembu Palang tertawa. Katanya, “Orang-orang yang putus asa. Mereka sudah menyiapkan racun untuk membunuh diri mereka sendiri, sehingga kita tidak perlu melakukannya. Tetapi aku ingin membunuh mereka sebelum mereka sempat membunuh diri dengan racun dimulutnya itu.”

“Jika kau sempat, jangan beri kesempatan mereka membunuh diri. Aku ingin menghukum mereka lebih berat dari hukuman mati.”

Lembu Palang itu tertawa. Katanya, “Apakah kau masih seperti beberapa tahun lalu?”

“Aku tidak berubah. Celakalah orang yang berani melawan aku dan kemudian jatuh ke tanganku hidup-hidup.”

Lembu Palang tertawa. Katanya, “Apalagi yang kau tunggu?

Panembahan Lebdagati pun kemudian melangkah menjauhi regol dan kembali kepada para pengikutnya, diikuti oleh pengawalnya dan dipaling belakang berjalan Lembu Palang dengan kepala tengadah. Ketika Lembu Palang itu berpaling, maka orang-orang yang berada di padukuhan telah menutup pintu regol dan menyelaraknya rapat-rapat.

Sementara itu, para pengikut Ki Warana serta orang-orang padukuhan itu telah menebar. Mereka bersiap dibelakang dinding padukuhan yang tidak setinggi dinding padepokan.

Dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan dan orang-orang tua yang tinggal bersamanya telah menempatkan diri pula. Ki Lemah Teles telah berkata kepada Ki Ajar Pangukan, bahwa ia sudah siap untuk menghadapi Lembu Palang.

“Nampaknya kau menyimpan dendam kepadanya?”

“Bukan dendam” jawab Ki Lemah Teles, “aku hanya ingin membuat perhitungan. Ia telah membunuh salah seorang sepupuku. Sepupuku telah dirampoknya dalam perjalanan di malam hari. Sepupuku memang bukan seorang yang berilmu setataran dengan Kebo edan itu. Dua orang kawan seperjalanannya juga dibunuh oleh kawan-kawan Lembu Palang itu. Tetapi seorang lagi yang diduga telah mati, ternyata masih hidup. Orang itulah yang mengatakan kepadaku, siapakah yang telah membunuh sepupuku itu.”

“Kau tidak mencarinya waktu itu?” bertanya Ki Ajar Pangukan.

“Aku masih terikat dalam sebuah keluarga sehingga aku masih segan untuk mengembara mencarinya. Tetapi tiba-tiba saja sekarang aku dapat bertemu Lembu Palang itu.”

“Seandainya kau bertemu tidak dalam keadaan seperti ini, apakah kau juga akan menantangnya berperang tanding?” bertanya Ki Ajar.

“Aku akan menantangnya.” geram Ki Lemah Teles.

Ki Ajar tertawa. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Demikianlah, maka orang-orang tua itu pun segera menempatkan dirinya. Tetapi mereka tidak berada terlalu jauh dari regol padukuhan. Mereka menduga, bahwa para pemimpin dari padukuhan yang telah di rampas oleh Panembahan Lebdagati itu pun akan berusaha memasuki padukuhan lewat regol yang akan dibuka dengan paksa.

Meski pun demikian, orang-orang padukuhan serta para pengikut Ki Warana telah mendapat pesan, jika perlu mereka harus segera memberikan isyarat dengan kentomgan atau dengan penghubung.

“Jika kalian mengalami kesulitan dengan seseorang yang berilmu tinggi, maka kalian harus segera memukul tengara,” pesan Ki Warana kepada orang-orangnya, sebagaimana Ki Bekel juga berpesan kepada orang-orang padukuhan itu.

Sementara itu, di banjar dan dirumah Ki Bekel pun ditempatkan pula orang-orang yang harus melindungi perempuan dan anak-anak. Bahkan para remaja pun telah minta untuk dipersenjatai pula. Jika perlu mereka akan ikut terjun dalam pertempuran.

Dalam pada itu, Panembahan Lebdagati telah memerintahkan orang-orangnya yang cukup banyak untuk bergerak. Seperti yang dipesankan mewanti-wanti, agar para pengikutnya tidak memandang rendah lawan mereka.

“Seperti yang pernah terjadi, mereka tentu akan menahan gerak maju kita dengan panah dan lembing. Tetapi kita tahu, bagaimana kita menghindar, menangkis atau menahannya dengan perisai.” berkata Panembahan Lebdagati.

Para pengikutnya yang telah ikut menyerang padepokan dan merebutnya dari Kiai Banyu Bening telah berpengalaman menghadapi gaya bertahan para pengikut Kiai Banyu Bening itu.

Demikianlah, maka Panembahan Lebdagati pun telah memerintahkan orang-orangnya untuk menyerang.

Sementara itu langit nampak cerah. Cahaya matahari sudah mulai tersangkut di ujung pepohonan yang tinggi.

Ketika orang-orang padukuhan dan para pengikut Ki Warana kemudian melihat pasukan Panembahan Lebdagati yang datang seperti gelombang di bibir lautan, maka jantung mereka memang menjadi berdebar-debar.

“Jumlah mereka masih cukup banyak” desis seorang pengikut Ki Warana.

“Tetapi korban mereka juga cukup banyak ketika pertempuran di padepokan itu selesai.”

Kawannya terdiam. Namun ia masih mempunyai keyakinan diri untuk mampu bertahan atas serangan Panembahan Lebdagati.

Orang-orang padukuhan itu pun menjadi gelisah. Mereka bukan orang-orang yang terbiasa mengalami kekerasan. Tetapi mereka tidak mempunyai pilihan. Anak-anak muda itu tentu tidak akan membiarkan padukuhan mereka dihancurkan oleh Penambahan Lebdagati bersama para pengikutnya.

Karena itu, maka mereka pun telah bertekad untuk mempertahankan kampung halaman.

Demikianlah, seruan yang mengguntur telah diteriakkan oleh Ki Warana disambut oleh para pengikutnya untuk mulai menghambat gerak maju gerakan Panembahan Lebdagati.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian, anak panah pun telah meloncat dari busurnya. Susul menyusul seperti air hujan yang dicurahkan dari langit.

Para pengikut Panembahan Lebdagati sudah memperhitung-kan bahwa mereka akan menghadapi serangan seperti itu. Karena itu, maka mereka pun telah bersiap-siap untuk mengatasinya.

Namun bagaimana pun juga mereka mempersiapkan diri untuk menyusup diantara semburan anak panah, namun ada juga diantara mereka yang tidak berhasil. Ada diantara para pengikut Panembahan Lebdagati itu yang terhenti ditempatnya, karena anak panah yang terhunjam di dadanya. Tetapi ada pula yang merintih kesakitan karena anak panah itu menyambar bahunya. Dengan luka-lukanya orang itu harus merangkak menjauhi dinding padukuhan, agar anak panah berikutnya tidak melukainya lebih parah lagi.

Yang menggelisahkan para pengikut Panembahan Lebdagati itu adalah serangan anak panah yang tidak tepat mengenai sasaran telah menghentikan beberapa orang yang berlari-lari menggapai dinding padukuhan.

Ternyata bahwa orang-orang yang tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan telah menggenggam busur pula. Mereka tidak sekedar melepaskan anak panah tanpa membidik lebih dahulu. Tetapi anak panah yang terlepas dari busur mereka, mampu menembus dinding dada sasarannya dan menyentuh jantung .

Tetapi arus serangan itu mengalir demikian derasnya. Meski pun jumlahnya sudah menyusut sebelum mereka mencapai dinding padukuhan, tetapi jumlah mereka masih cukup banyak untuk mengguncang ketahanan hati para pengikut Ki Warana dan para penghuni padukuhan itu.

Tetapi para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan itu pun benar-benar sudah siap. Meski pun jumlah para pengikut Panembahan Lebdagati cukup banyak, tetapi para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan itu yang terdiri dari bukan saja anak-anak muda, tetapi hampir semua orang laki-laki yang masih mampu mengangkat senjata, ternyata masih lebih banyak lagi.

Dalam pada itu, orang-orang padukuhan itu selalu mengingat pesan, agar mereka tidak bertempur seorang-seorang. Mereka harus berusaha untuk bertempur dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga atau ampat orang untuk menghadapi lawan.

Karena itu, sejak mereka bersiap dibelakang dinding padukuhan mereka sudah mengikat diri dalam kelompok-kelompok itu. Mereka telah memilih kawan mereka masing-masing.

Dalam pada itu, maka para pengikut Panembahan Lebdagati yang langsung menyerang kearah regol padukuhan yang tertutup rapat itu pun telah berusaha memecah pintu. Pintu yang diselarak itu, memang tidak sekokoh pintu gerbang padepokan. Karena itu, didorong oleh beberapa orang dari luar,maka perlahan-lahan dinding itu menjadi retak. Akhirnya pecah dan terbuka.

Bersamaan dengan itu, maka disebelah-menyebelah, para pengikut Panembahan Lebdagati itu pun telah berusaha meloncati dinding padukuhan.

Orang-orang yang bertahan di belakang dinding telah bersiap untuk menerima mereka dengan ujung-ujung senjata. Sehingga beberapa orang diantara mereka demikian turun dari atas dinding, langsung roboh jatuh ditanah sambil mengerang kesakitan. Bahkan ada diantara mereka yang untuk seterusnya tidak akan pernah bangkit lagi.

Namun akhirnya orang-orang yang menyerang padukuhan itu telah berhasil menginjakkan kakinya didalam dinding, sehingga dengan demikian, maka pertempuran pun segera terjadi dengan sengitnya.

Para pengikut Panembahan Lebdagati adalah orang-orang yang telah berpengalaman. Namun mereka menjadi heran melihat lawan mereka menyambut kedatangan mereka dengan girangnya. Dendam yang tersimpan didada para pengikut Ki Warana, serta tekad untuk mempertahankan kampung halaman yang membakar jantung para penghuni padukuhan itu, telah mendorong mereka untuk bertempur tanpa mengenal takut

Dalam pada itu, demikian pintu regol padukuhan itu pecah, maka Panembahan Lebdagati dan para pengawalnya yang terpilih telah memasuki padukuhan. Kemarahan Panembahan Lebdagati kepada Ki Warana yang telah menghinanya telah mendorongnya untuk segera menemukan orang itu. Namun Panembahan Lebdagati itu sudah berpesan, agar Ki Warana dapat ditangkap hidup-hidup.

“Siapa pun diantara kalian yang menemukan orang itu, aku ingin ia tertangkap hidup-hidup. Aku masih mempunyai persoalan yang harus aku selesaikan dengan orang itu dalam keadaan hidup.

Lembu Palang yang mendengar pesan itu tertawa. Katanya, “Kau akan mendapatkan permainan yang menyenangkah.”

“Ia telah merendahkan namaku” geram Panembahan Lebdagati.

“Aku akan ikut mencari kecoak yang satu itu” berkata Lembu Palang.

Namun Lembu Palang itu terkejut ketika ia mendengar seseorang menyahut, “Apakah kau tidak mencari aku Kebo edan.”

Lembu Palang berpaling. Tiba-tiba saja terasa jantungnya bagaikan berhenti berdetak. Diantara mereka yang sedang bertempur itu, seseorang melangkah kearahnya. Orang itu berhenti beberapa langkah sambil bertolak pinggang, “Kau ingat kepadaku?”

“Iblis kau. Kenapa kau ada disini?” geram Lembu Palang.

“Aku memang menunggumu. Aku tahu beberapa hari yang lalu kau datang ke padukuhan yang telah direbut oleh Panembahan Lebdagati itu. Karena itu, aku sudah menduga bahwa kau akan ikut datang kemari memburu sisa-sisa para pengikut Kiai Banyu Bening. Nah, ternyata dugaanku benar.”

Wajah Lembu Palang ini menjadi panas. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan Ki Lemah Teles di tempat itu. Sementara itu Panembahan Lebdagati sempat berkata, “Nah, kau telah menemukan permainanmu sendiri, Lembu Palang. Biarlah aku mencari orang gila itu.”

Lembu Palang tidak menyahut. Tetapi ia tidak dapat lagi menganggap bahwa mereka sekedar sedang memburu kecoak di padukuhan itu. Ternyata diantara kecoak-kecoak itu terdapat seekor singa yang garang.

Karena itu, maka mimpinya untuk menebus ilalang tiba-tiba saja telah hanyut oleh kegelisahannya menghadapi orang yang berilmu tinggi itu. Meski pun Lembu Palang sendiri juga berilmu tinggi, tetapi bahwa tiba-tiba saja ia harus berhadapan dengan Ki Lemah Teles telah mengguncang jantungnya.

Tetapi Lembu Palang tidak dapat menghindar. Ia harus menghadapinya.

“Sudah lama aku menunggu untuk dapat berhadapan dengan seorang yang telah membunuh saudara sepupuku.”

“Salahnya sendiri” geram Lembu Palang, “ia mati karena kesombongannya. Tetapi juga karena kelemahannya. Ia tidak mampu mengimbangi ilmuku, meski pun ia menantangku.”

“Jangan mengigau. Kau tidak sedang berperang tanding melawan sepupuku. Tetapi kau merampoknya. Kau samun sepupuku itu ketika ia sedang dalam perjalanan malam. Benar-benar satu perbuatan keji yang tidak dapat dimaafkan. Kau dan sepupuku telah saling berkenalan sebelumnya. Tentu saja sepupuku tidak mengira bahwa kau sampai hati melakukannya. Bahkan untuk menghilangkan jejak, kau bunuh sepupuku. Tetapi kejahatan yang kau lakukan tidak dapat kau sembunyikan, justru karena salah seorang kawan sepupuku yang telah disangka mati, masih dapat hidup dan berceritera apa yang telah terjadi.”

“Persetan semuanya itu” geram Lembu Palang, “sekarang kita berada di medan pertempuran.”

Ki Lemah Teles tertawa. Katanya, “Kesempatan ini tidak akan aku sia-siakan. Kita akan menyelesaikan persoalan kita sampai tuntas. Pertempuran yang terjadi di sekitar kita hendaknya tidak mengganggu perhitungan yang sedang kita buat.”

Lembu Palang itu termangu-mangu sejenak Tetapi ketika ia memandang disekitarnya, ia menjadi heran. Salah seorang pengawalnya tengah bertempur melawan seorang anak muda yang ternyata mampu mengimbangi ilmunya.

“Kau heran?” bertanya Ki Lemah Teles, “anak itu bernama Manggada. Anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi. Lawannya itu akan segera disapunya dari medan. Jangan heran jika kau melihat anak muda yang lain lagi. Laksana yang memiliki ilmu setataran dengan anak muda yang kau perhatikan itu.”

“Gila. Apa saja isi padukuhan ini? Apakah kalian sengaja menjebak Panembahan Lebdagati?” geram Lembu Palang.

“Kenapa kami harus menjebaknya? Kita memasuki medan yang terbuka. Bukan satu jebakan.”

Lembu Palang itu menggeram. Katanya, “Jika demikian, maka aku harus dengan cepat menyelesaikanmu, agar aku dapat segera menangani orang-orang yang lain yang nampaknya telah bersembunyi di padukuhan ini pula.”

Tetapi Ki Lemah Teles tertawa. Katanya, “Jangan menipu diri sendiri. Kau mengenal aku. Kebo edan. Bagaimana mungkin kau berkata begitu? Seandainya ilmumu lebih tinggi dari ilmuku, maka kau tahu bahwa kau tidak akan dapat menyelesaikan aku dengan cepat.”

“Cukup” bentak Lembu Palang, “bersiaplah untuk mati.”

“Kau tidak akan membentak-bentak untuk melapisi kecemasanmu sendiri, marilah, aku sudah merindukan kesempatan seperti ini.”

Lembu Palang tidak menyadari lagi. Pertemuannya yang tiba-tiba dengan Ki Lemah Teles memang membuatnya berdebar-debar. Tetapi Lembu Palang masih berdiri pada kemungkinan yang sama antara kalah dan menang. Karena itu, maka ia pun segera bersiap untuk bertempur, apa pun yang terjadi.

Dalam pada itu, pertempuran pun telah berkobar di padukuhan itu. Orang-orang yang telah berhasil memasuki padukuhan itu harus mengalami perlawanan yang keras dari para pengikut Ki Warana dan para penghuni padukuhan itu. Namun bukan mereka saja yang berusaha menahan arus serangan para pengikut Panembahan Lebdagati. Ada kekuatan yang tidak terduga sebelumnya. Ternyata diantara mereka yang bertahan itu terdapat orang-orang yang berilmu tinggi. Dibelakang pintu gerbang ada dua orang anak muda yang dengan kemampuannya yang tinggi, telah menghadapi orang-orang yang datang bersama Lembu Palang. Mereka bukan sekedar pengawal, tetapi mereka adalah orang-orang yang juga berkemampuan tinggi. Bahkan untuk beberapa lama mereka masih tetap bertempur dengan garangnya melawan orang-orang yang menjadi kebanggaan Lembu Palang itu.

Sementara itu, pertempuran memang telah menjalar sepanjang jalan induk, bahkan di halaman-halaman rumah di sekitarnya. Para pengikut Ki Warana yang telah mengenali medan dengan baik, sebagaimana mereka lakukan di padepokan, telah mencoba memanfaatkan medan pula. Namun para pengikut Panembahan Lebdagati pun menjadi sangat berhati-hati. Mereka harus memperhatikan dmding-dinding halaman. Sudut-sudut rumah, dapur dan bahkan lumbung dan kandang, mereka harus memperhatikan pintu seketeng dan longkangan dirumah-rumah yang bertebar.

Dalam pada itu, Panembahan Lebdagati yang sedang mencari Ki Warana itu telah memasuki padukuhan semakin dalam. Setiap kali ia mengibaskan tangannya, maka orang-orang disekitarnya pun telah terlempar. Satu dua orang mengalami luka-luka dan harus segera beringsut menjauh.

“Warana, he, dimana kau Warana? Kau yang telah berani menghina harus berani bertangguang jawab. Jika tidak, maka orang-orangmu akan aku bantai habis. Kau tidak akan dapat melarikan diri lagi dari tanganku.”

Tiba-tiba saja orang yang bernama Ki Warana itu telah muncul dari balik dinding halaman di pinggir jalan itu. Dengan lantang ia pun menjawab, ”Aku disini, Panembahan.”

Panembahan Lebdagati yang marah itu telah berpaling kearah suara itu. Tetapi Ki Warana itu segera menghilang lagi di balik dinding, sehingga Panembahan Lebdagati itu berteriak, “Pengecut. Jangan lari. Kau tidak akan lepas dari tanganku.”

Panembahan Lebdagati itu pun kemudian bagaikan terbang meloncati dinding halaman itu. Ia yakin bahwa ia akan dapat memburu Warana yang telah menghilang dibalik dinding itu.

Tetapi Panembahan Lebdagati itu terkejut sekali ketika demikian ia berdiri tegak dibalik dinding, dilihatnya seorang laki-laki duduk dibawah sebatang pohon kemiri yang besar. Orang itu seakan-akan sama sekali tidak menghiraukan kehadirannya. Ia masih asyik mengamati seruling ditangannya.

“Kau bongkok” geram Panembahan Lebdagati.

Ki Pandi berpaling. Dipandanginya Panembahan Lebdagati itu dengan tajamnya. Perlahan-lahan Ki Pandi itu pun berdiri sambil berdesis, “Kita bertemu lagi Panembahan.”

“Kau licik sekali. Agaknya kau peralat Ki Warana untuk memancing aku datang menemuimu.”

“Aku memang menunggumu, Panembahan. Tetapi hal ini tidak terjadi jika kau tidak merebut padepokan Kiai Banyu Bening.

“Aku mengambil hakku” jawab Panembahan Lebdagati.

“Hak apa? Apakah kau mempunyai hak atas padepokan itu?

“Tentu. Kau tahu bahwa aku pernah berada di tempat ini. Aku telah terusir dari padepokanku sehingga aku harus mengembara. Tetapi tiba-tiba saja aku mendengar bahwa ada orang lain yang telah membangun padepokan di tempat ini.”

“Panembahan. Sebenarnya aku dan beberapa orang kawanku berada disini untuk menghancurkan padepokan Kiai Banyu Bening yang telah menyebarkan kepercayaan yang sesat, bertolak dari perasaan dendamnya, karena anak bayinya yang terbunuh didalam api. Ia pun kemudian telah bertekad,untuk membakar bayi sebanyak-banyaknya, karena ia mendapat kepuasan jika ia mendengar bayi yang menangis menjerit-jerit di telan nyala api.” Ki Pandi berhenti sejenak. Lalu katanya, “Menurut penilaianku, dendam yang menyala dihati Kiai Banyu Bening itu harus dihentikan, karena dendam itu tidak kalah berbahayanya dengan kepercayaan sesatmu. Karena kau menginginkan sebilah keris yang mempunyai kekuatan tidak terbatas, sehingga kau akan menjadi orang yang tidak terkalahkan diseluruh permukaan bumi ini. Karena itu, padepokan Kiai Banyu Bening harus dihancurkan. Tetapi ternyata kemudian kau telah datang. Karena itu, maka aku telah menunggu. Tanpa menitikkan keringat kami telah berhasil menghancurkan padepokan Kiai banyu Bening. Dan sekarang tugas kami adalah menghancurkan padepokan yang telah bersalin tangan itu. Meski pun demikian aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu, bahwa kau telah membantu aku membunuh gerakan yang ditumbuhkan oleh Kiai Banyu Bening dan bersumber pada dendam yang membara itu.”

“Baiklah Bongkok. Sekarang sudah saatnya aku membunuhmu, agar kau untuk selanjutnya tidak selalu menggangguku.”

“Kau kira kau dapat membunuhku dengan mudah?” Ki Pandi justru bertanya.

“Kita akan melihat apa yang terjadi disini” berkata Panembahan Lebdagati, “penghuni padukuhan ini akan ditumpas habis. Orang-orang yang berhasil melarikan diri dari padepokan dan agaknya telah berada disini pula, akan dibantai sampai orang yang terakhir. Bongkok buruk, jika hal itu terjadi, maka kau lah yang bertanggung jawab, karena agaknya kau telah menggerakkan mereka untuk melakukan perbuatan bodoh itu.”

“Tidak Panembahan” jawab Ki Pandi, “yang akan dibantai bukan penghuni padukuhan ini. Bukan pula orang-orang yang lolos dari padepokan itu. Tetapi justru orang-orangmu. Aku disini tidak sendiri. Ada beberapa orang tua yang datang bersamaku.”

Wajah Panembahan Lebdagati menjadi tegang. Ia telah melihat seorang diantaranya telah menempatkan diri berhadapan dengan Lembu Palang. Meski pun Panembahan Lebdagati percaya akan kemampuan Lembu Palang, tetapi orang yang menemuinya itu tentu juga bukan orang kebanyakan.

“Panembahan” desis Ki Pandi, “kau nanti juga akan dapat bertemu dengan Ki Ajar Pangukan jika kau kehendaki.”

“Bawa iblis itu kemari. Aku akan menghancurkannya sama sekali.”

“Jangan membohongi dirimu sendiri. Kau tidak mampu mengalahkannya. Kekuatanmu menundukkan kehendak orang lain, ternyata tidak mampu mempengaruhinya.”

“Tetapi aku akan membunuhnya jika aku berhasil menemuinya nanti sesudah aku membunuhmu.”

“Marilah, kita akan melihat, siapakah yang lebih kuat diantara kita. Kau atau aku. Kita dibesarkan diperguruan yang sama Panembahan. Kita mendapat landasan ilmu yang sama. Tetapi perkembangan ilmu kita berlainan. Jalan hidup kita pun berselisih. Aku mencoba untuk tetap mengemban kewajiban dari perguruanku, sementara itu kau telah tersesat semakin jauh.”

“Kau tidak usah menggurui aku. Minggirlah, jika kau masih ingin menghirup hangatnya sinar matahari.”

Orang bongkok itu tertawa. Katanya, “Kita sudah berhadapan sekarang. Beruntunglah kita mendapat tempat yang lapang dan tidak banyak terganggu di sini.”

Panembahan Lebdagati menggeram. Tetapi ia harus menghadapi orang bongkok itu.

Dalam pada itu, maka para pengikut Panembahan Lebdagati ingin dengan cepat menyelesaikan lawan mereka yang disebut oleh. Lembu Palang tidak lebih dari kecoak-kecoak yang mengotori geledeg tempat makanan. Karena itu, maka mereka pun telah mengerahkan kemampuan mereka. Sebelum matahari sampai ke puncak, maka mereka berharap, orang-orang yang memberanikan diri melawan Panembahan Lebdagati itu sudah tertumpas habis.

Tetapi ternyata tidak semudah itu untuk melakukannya. Dalam pertempuran yang sengit, tiba-tiba saja sesosok bayangan telah menyambar-nyambar dengan garangnya. Sosok itu seakan-akan tidak dapat disentuh oleh ujung senjata, sehingga kehadirannya telah mengacaukan medan. Sekilas bayangan itu lewat dan hilang di balik dinding halaman. Namun beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagati telah terluka.

Peristiwa itu telah membesarkan hati para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan itu. Mereka menjadi semakin berani. Apalagi jumlah lawan mereka pun telah susut pula.

Sementara itu Ki Jagaprana berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Ia telah menunjukkan keperkasaannya. Meski pun umurnya sudah merambat melampaui pertengahan abad, namun ternyata bahwa ia masih seorang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Ki Jagaprana menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia teringat kepada Ki Lemah Teles yang telah menantangnya untuk bertempur. Dan bahkan telah melukainya justru pada saat ia tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi.

“Apakah ilmu Ki Lemah Teles memang lebih tinggi dari ilmuku?” bertanya Ki Jagaprana didalam hatinya.

Namun tiba-tiba sepercik ingatan telah melonjak didalam hatinya, “Agaknya waktu itu Ki Lemah Teles sedang dihinggapi perasaan yang asing justru setelah ia merasa menjadi semakin tua. Ia merasa bahwa dirinya tidak berarti lagi, sehingga ia ingin menunjukkan, bahwa ia masih tetap Ki Lemah Teles sebagaimana Ki Lemah Teles sepuluh tahun sebelumnya.

Ki Jagaprana itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun segera menyadari, bahwa ia berada ditengah pertempuran. Sementara para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan itu tidak memiliki ilmu setinggi ilmu para pengikut Panembahan Lebdagati. Karena itu, maka Ki Jagaprana itu pun segera meloncat dan kembali ke arena pertempuran.

Tetapi ia tertegun sejenak melihat Ki Sambi Pitu yang berhadapan dengan ampat orang yang bertempur sambil berputar-putar. Berganti-ganti keempat orang itu menyerang. Namun pada satu ketika keempatnya datang bersama-sama. Keempatnya menyambar-nyambar dari arah yang berbeda-beda. Senjata mereka mematuk dengan cepat, sementara mereka selalu bergerak dalam putaran yang sekali-sekali melebar, namun kemudian menyempit.

“Mereka menirukan elang yang bertempur di langit” desis Ki Jagaprana.

Adalah diluar dugaan, bahwa Ki Jagaprana itu pun menengadahkan wajahnya kelangit. Ia memang melihat beberapa ekor burung elang berterbangan.

Sejenak Ki Jagaprana termangu-mangu. Ternyata pengikut Panembahan Lebdagati ada juga yang harus diperhitungkan selain Lebdagati sendiri.

Sambil bertempur Ki Sambi Pitu yang melihat Ki Jagaprana termangu-mangu berteriak, “He, apakah kau pernah berkenalan dengan kelompok Kukila Dahana?”

Ki Jagaprana mengerutkan dahinya. Ia pernah mendengar nama sekelompok orang berilmu tinggi yang menyebut nama kelompoknya dengan Kukila Dahana. Burung api yang sangat berbahaya. Sentuhan serangannya pada kulit lawannya, akan memberikan bekas seakan-akan kulit lawannya itu terjilat oleh api yang panasnya melampaui panasnya bara tempurung kelapa.

Karena itu, maka Ki jagaprana pun menyempatkan diri untuk melihat, apakah kemampuan mereka benar-benar tinggi sebagaimana ceritera yang pernah didengarnya.

Ternyata bahwa Ki Sambi Pitu seorang diri mampu mengimbangi mereka berempat. Meski pun Ki Sambi Pitu harus bertempur dengan puncak kemampuannya, namun keadaannya tidak terlalu membahayakan. Meski pun setiap kali Ki Sambi Pitu harus berloncatan mengambil jarak, namun Ki Jagaprana tidak akan mengganggunya, karena Ki Sambi Pitu akan dapat menjadi marah kepadanya. Kecuali jika Ki Sambi Pitu sendiri memanggilnya.

Ternyata Ki Sambi Pitu sama sekah tidak memberi isyarat kepadanya untuk melibatkan diri. Karena itu, beberapa saat, Ki Jagaprana hanya berdiri saja termangu-mangu.

Namun sekali lagi ia pun teringat bahwa para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan itu harus bertempur dengan mengerahkan segenap tenaga, kekuatan dan kemampuan mereka. Sementara itu orang-orang padukuhan itu sudah mulai menjadi letih. Mereka bukan orang-orang yang terlatih untuk bertempur. Sehingga ketahanan tubuh mereka tidak setinggi para pengikut Ki Warana dan apalagi para pengikut Panembahan Lebdagati.

Karena itu, maka Ki Jagaprana pun segera kembali menceburkan diri dalam kancah pertempuran.

Dibagian lain, Manggada dan Laksana telah berganti lawan ketika lawan-lawan mereka merangkak menjauhi garangnya arena pertempuran. Baik Manggada mau pun Laksana telah berhasil melukai lawan-lawan mereka sehingga mereka harus berhenti bertempur.

Sedangkan di bagian lain lagi, Ki Ajar Pangukan membiarkan Ki Pandi menghadapi Panembahan Lebdagati. Ki Ajar sendiri harus bertempur melawan sekelompok orang diantara para pengikut Panembahan Lebdagati.

Namun ternyata Ki Ajar Pangukan telah terlalu banyak menghisap lawan. Setiap kali seorang telah terlempar dari arena pertempuran.

Dalam pada itu, Ki Lemah Teles masih bertempur mengadu ilmu dengan Lembu Palang. Keduanya adalah orang yang berilmu tinggi. Keduanya memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing.

Kegarangan Kebo Palang kadang-kadang mampu mendesak Ki Lemah Teles. Namun pada kesempatan lain, Ki Lemah Teles berhasil menyentuh lawannya dengan serangan-serangannya.

Kemarahan Lembu Palang pun menjadi semakin menjadi-jadi. Dikerahkannya semua kemampuan dan ilmunya untuk melawan orang yang menyebut dirinya Ki Lemah Teles itu.

Benturan-benturan pun telah terjadi. Ternyata bahwa Lembu Palang telah merambah kedalam ilmu puncaknya. Ki Lemah Teles mulai merasakan hembusan-hembusan ilmu yang sangat tajam menyentuhnya.

Seperti sentuhan angin yang sekali-sekali menerpa wajahnya, maka Ki Lemah Teles merasakan sesuatu masuk kedalam lubang hidungnya. Tidak berbau sama sekali. Namun ketajaman pang-graita Ki Lemah Teles telah menangkap sentuhan ilmu Lembu Palang menyusup melalui indera penciumannya.

Dengan cepat Ki Lemah Teles telah mengatur indera penciumannya yang menjadi pintu bagi kekuatan ilmu lawannya.

Seandainya Ki Lemah Teles tidak menyadarinya, maka ia akan menjadi semakin lama semakin lemah dan bahkan kehilangan tenaganya sama sekali.

Untuk melawan Lembu Palang, maka Ki Lemah Teles telah melepaskan ilmunya pula.

Asap yang tipis tiba-tiba saja telah mengepul dari celah-celah jari tangan Ki Lemah Teles yang terjulur lurus menggapai kearah kepala Lembu Palang.

Tangan Ki Lemah Teles memang tidak menyentuh kepala Lembu Palang, tetapi asap yang tipis itu berhembus ke wajahnya.

Tiba-tiba saja Lembu Palang itu meloncat mengambil jarak. Matanya menjadi sangat panas. Ternyata asap yang tipis itu mengandung semacam racun yang menyakiti mata Lembu Palang.

Tetapi Lembu Palang bukan orang kebanyakan. Ia pun segera mengembus asap tipis itu sehingga hanyut menebar diudara.

Namun bukan berarti bahwa keduanya sudah tidak bertempur lagi. Keduanya masih saja berloncatan sambar menyambar. Bukan saja dengan kemampuan lewat ujud kewadagan, tetapi mereka telah saling membenturkan ilmu mereka yang tinggi.

Lembu Palang yang tidak mengira akan bertemu dengan Ki Lemah Teles di padukuhan itu, benar-benar berusaha untuk segera mengakhirinya, tetapi Ki Lemah Teles juga bukan orang kebanyakan.

Bahkan setelah saling membenturkan ilmu mereka, Lembu Palang justru menjadi semakin terdesak.

Ada sepercik penyesalan, bahwa ia telah ikut pergi ke padukuhan itu. Menurut perhitungannya, ia akan dapat menghibur diri dengan berburu kecoak. Tetapi ternyata bahwa ia telah bertemu seorang raksasa dalam ilmu kanuragan.

Lembu Palang memang tidak dapat mengharapkan bantuan dari siapapun. Orang-orangnya yang ikut pula bersamanya pergi ke padukuhan itu tidak mampu pula untuk melindungi dirinya. Di hadapan anak-anak yang masih terlalu muda, mereka tidak berdaya untuk bertahan.

Karena itu, maka Lembu Palang pun telah mengerahkan ilmunya sampai pada ilmu pamungkasnya.

Tetapi Ki Lemah Teles yang juga berilmu tinggi, tidak membiarkan dirinya digilas oleh kemampuan lawannya. Untuk beberapa lama Ki Lemah Teles sedang diganggu oleh kesadarannya bahwa ia menjadi semakin tua. Hidupnya menjadi semakin sepi dan ia merasa tidak berarti lagi.

Tetapi di pertempuran itu, ia telah bertemu dengan seseorang yang telah pernah menyakiti hatinya. Karena itu, maka Ki Lemah Teles itu pun merasa bahwa ia telah mendapat kesempatan bahwa ia bukan orang yang terbuang.

“Jika aku gagal, maka aku benar-benar orang yang tidak berarti lagi.” berkata Ki Lemah Teles didalam hatinya.

Karena itu, maka Ki Lemah Teles pun telah meningkatkan ilmunya sampai ke puncak pula.

Dengan demikian, maka kemampuan dua jenis ilmu dalam puncak kemampuannya telah saling berbenturan. Lembu Palang yang marah, kecewa dan menyesal itu harus membenturkan ilmunya melawan Ki Lemah Teles yang mendendam serta sedang berusaha untuk menegakkan kepercayaan diri, bahwa pada umurnya yang semakin tua, ia masih tetap seorang yang berilmu tinggi dan yang masih mempunyai arti dalam lingkungan orang-orang yang berkemampuan tinggi.

Ketika keduanya sampai pada batas kemampuan mereka, maka benturan ilmu yang dahsyat tidak dapat dihindarkan. Ketika Lembu Palang meloncat menyerang dengan ayunan tangan yang memuat ilmu pamungkasnya, maka Ki Lemah Teles dengan cepat menanggapinya. Ayunan tangan Lembu Palang yang mengarah ke kepala Ki Lemah Teles telah membentur kekuatan ilmu tertinggi lawannya. Ki Lemah Teles telah mengayunkan tangannya pula.

Dengan demikian, maka benturan kedua ilmu tertinggi dari dua orang yang memiliki kekuatan, kemampuan dan ilmu yang sangat tinggi itu telah mengguncangkan medan. Getaran dari benturan itu seakan-akan telah mengetuk setiap dada dari pihak yang manapun.

Dengan demikian, maka pertempuran itu seakan-akan telah terhenti. Setiap orang yang terlalu jauh dari kedua orang yang telah membenturkan dua ilmu puncak itu telah berpaling sehingga per-tempuran pun seakan-akan telah terhenti sesaat.

Kedua orang yang telah membenturkan ilmunya itu telah terlempar beberapa langkah surut. Ki Lemah Teles terdorong beberapa langkah dan kemudian jatuh terguling. Dengan serta merta Ki Lemah Teles telah berusaha untuk bangkit.Tetapi ternyata bahwa punggungnya yang terasa bagaikan patah tidak mampu lagi menahan tubuhnya, sehingga Ki Lemah Teles itu telah terjatauh kembali.

Terdengar Ki Lemah Teles itu mengerang kesakitan.

Namun dalam pada itu, Lembu Palang, yang semula datang, untuk sekedar melihat pertunjukan yang baginya dianggapnya sangat menarik, karena ia menduga bahwa orang-orang Lebdagati akan membantai sisa-sisa para pengikut Ki Banyu Bening, ternyata mengalami nasib yang lebih buruk. Ketika ia harus membenturkan ilmunya melawan ilmu Ki Lemah Teles, ternyata bahwa tingkat ilmunya berada selapis di bawah ilmu Ki Lemah Teles.

Karena itu, maka isi dada Lembu Palang itu seakan-akan telah terbakar.

Ki Jagaprana sempat melihat benturan kekuatan itu. Dengan serta-merta ia pun telah berlari mendekati Ki Lemah Teles yang terbaring kesakitan.

Namun Ki Lemah Teles itu masih sempat bertanya, “Bagaimana keadaan Kebo Edan itu?”

“Ia dalam keadaan yang sangat parah, Ki Lemah Teles.” jawab Ki Jagaprana.

“Aku juga dalam keadaan parah. Tetapi siapakah menurut pendapatmu yang keadaannya lebih baik. Aku atau Lembu Palang?

“Kau masih berada dalam keadaan lebih baik.”

“Jangan mencoba menipu aku. Persoalan kita masih belum selesai. Kita masih akan berperang tanding.”

“Sudahlah. Sekarang tenangkan hatimu. Cobalah mengatur pernafasanmu untuk mengatasi perasaan sakitmu. Jika kau berhasil mengerahkan daya tahan tubuhmu, maka kau tentu dapat mengatasi rasa sakitmu.”

Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Keadaan Lembu Palang memang lebih parah lagi. Tetapi tidak seorang pun diantara kawan-kawannya atau pengikut Panembahan Lebdagati yang sempat mendekatinya. Sementara itu pertempuran masih berlangsung terus, meski pun jumlah para pengikut Panembahan Lebdagati menjadi semakin susut.

Yang kemudian justru mendekati Lembu Palang yang terbaring diam adalah Ki Jagaprana setelah Manggada dan Laksana membawa Ki Lemah Teles menepi.

Ki Lemah Teles yang diangkat oleh Manggada dan Laksana itu harus menahan sakit di punggungnya yang terasa semakin, menggigit. Bahkan dadanya pun mulai terasa sesak. Dalam benturan ilmu yang terjadi, maka dadanya pun terasa menjadi sakit pula.

Ki Jagaprana sempat meraba dada Lembu Palang. Detak jantungnya sudah menjadi tidak teratur lagi. Semakin lama semakin perlahan.

“Dimana Panembahan Lebdagati” desisnya tanpa mengetahui siapakah yang berjongkok disampingnya, karena matanya yang menjadi kabur.

“Ia masih terlibat dalam pertempuran” jawab Ki Jagaprana.

“Sampaikah kepadanya. Aku memperingatkannya agar ia meninggalkan tempat ini. Panembahan Lebdagati itu telah salah membuat perhitungan atas orang-orang yang diburunya.”

“Baik. Aku akan menyampaikannya jika aku berpeluang” jawab Ki Jagaprana.

“Ternyata ia telah terjebak disini.” desis Lembu Palang yang menjadi semakin sendat, bahkan kemudian terdiam.

Ki Jagaprana pun meraba dadanya. Detak jantung ia sudah tidak terasa ditangannya.

Dari sela-sela bibir Lembu Palang itu nampak darah, sementara matanya pun telah terpejam.

Lembu Palang terbunuh justru saat ia tidak bersiap untuk mati. Ia datang karena ia ingin ikut membabat ilalang. Namun yang terjadi adalah sebaliknya.

Dalam pada itu, pertempuran yang terjadi di padukuhan itu justru semakin menyebar. Tetapi para pengikut Panembahan Lebdagati telah semakin menyusut. Mereka yang terluka terbaring di-pinggir jalan, di sudut-sudut halaman dan bahkan di tangga-tangga pendapa. Mereka tidak dapat bertahan jika kebetulan mereka bertemu dengan Ki Jagaprana atau bahkan Ki Ajar Pangukan sendiri. Sementara itu Manggada dan Laksana pun telah mengacaukan para pengikut Panembahan Lebdagati dengan ilmu mereka yang memanjat semakin tinggi.

Sementara orang-orangnya menjadi semakin kalang kabut. Panembahan Lebdagati sendiri tengah bertempur dengan Ki Pandi. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu dari sumber yang sama. Namun arah perkembangannya yang menjadi jauh berbeda, bahkan bertentangan.

Dengan demikian, maka kedua-duanya seakan-akan tidak dapat menyembunyikan unsur-unsur gerak dasar mereka, meski pun kadang-kadang masing-masing menjadi terkejut karena unsur-unsur gerak baru yang tumbuh disaat ilmu mereka berkembang.

Ternyata Panembahan Lebdagati itu pun telah menyesali kesalahannya sebagaimana dilakukannya beberapa kali. Ia selalu salah menilai kekuatan orang bongkok dan kawan-kawannya itu. Meski pun kawan orang bongkok saat ini berbeda dengan kawan-kawannya yang terdahulu, namun mereka masih juga orang-orang yang berilmu tinggi.

Dalam pertempuran itu, meski pun kedua-duanya mengerahkan kemampuan mereka, namun masing-masing merasa bahwa mereka akan terjebak dalam pertempuran tanpa akhir.

Sementara itu Panembahan Lebdagati pun mengetahui, bahwa ada beberapa orang berilmu tinggi yang akan dapat membantu orang bongkok yang telah menjebaknya dalam padukuhan kecil itu.

Meski pun demikian, pertempuran diantara keduanya masih berlangsung di halaman yang seakan-akan sengaja memisahkan diri dari keseluruhan pertempuran.

Dalam pada itu, para pengikut Panembahan Lebdagati yang menebar, harus menghadapi perlawanan yang keras dari para pengikut Ki Warana. Sementara itu, Manggada dan Laksana telah meninggalkan Ki Lemah Teles yang sudah dirawat oleh beberapa orang padukuhan yang ikut bertempur bersama para pengikut Ki Warana. Bahkan Ki Bekel sendiri telah menunggui Ki Lemah Teles. Sedangkan Ki Jagaprana telah berada di pertempuran pula. Tanpa Manggada, Laksana, Ki Jagaprana dan Ki Ajar Pangukan, maka para pengikut Ki Warana tentu akan segera mengalami kesulitan.

Ki Warana yang telah berhasil memancing Panembahan Lebdagati dan meninggalkannya setelah berhadapan dengan Ki Pandi, bersama-sama dengan Ki Bekel dan beberapa yang lain berusaha membawa Ki Lemah Teles ke rumah Ki Bekel.

Ki Lemah Teles sendiri masih tetap dicengkam oleh perasaan sakit. Apalagi ketika tubuhnya diangkat oleh beberapa orang. Tetapi ia sadar, bahwa keadaan itu adalah keadaan yang terbaik bagi dirinya.

Ki Warana dan Ki Bekel bersama beberapa orang berusaha menembus pertempuran yang kadang-kadang terjadi di tengah jalan, disimpang ampat atau ditikungan-tikungan.

Namun ternyata bahwa Ki Warana dan Ki Bekel serta beberapa orang itu mampu menembus jalan sampai kerumah Ki Bekel, sementara Manggada dan Laksana sempat mengamati sambil bertempur untuk mencegah para pengikut Panembahan Lebdagati memasuki padukuhan sampai kerumah Ki Bekel itu.

Sebenarnyalah bahwa kemudian keadaan para pengikut Panembahan Lebdagati menjadi semakin sulit. Korban berjatuhan semakin banyak. Sementara mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Panembahan Lebdagati sendiri.

Dalam pada itu Panembahan Lebdagati telah menjadi gelisah. Meski pun ia tidak dapat melihat pertempuran dalam keseluruhan, namun panggraita Panembahan Lebdagati yang tajam itu dapat melihat bahwa keadaan para pengikutnya menjadi sulit oleh kenyataan yang mereka hadapi di padukuhan itu.

Karena itu, maka Panembahan Lebdagati itu tidak mempunyai pilihan lain. Meski pun ia masih bertempur terus dengan mengerahkan segenap kemampuannya, namun Panembahan Lebdagati sudah mulai mencoba melihat kemungkinan lain dari pertempuran itu.

Dalam pada itu, maka Ki Pandi pun ternyata tidak dapat dengan cepat mengakhiri pertempuran sebagaimana Panembahan Lebdagati. Keduanya yang memiliki dasar ilmu yang sama, dalam perkembangannya ternyata yang satu juga tidak melampaui yang lain.

Namun baik para pengikut Panembahan Lebdagati, mau pun para pengikut Ki Warana atau penghuni padukuhan itu, menjadi berdebar-debar dan bahkan ngeri ketika mereka melihat akibat dari benturan ilmu kedua orang itu. Karena mereka semula tidak melihat langsung pertempuran antara orang bongkok melawan Panembahan Lebdagati itu, maka mereka agak terkejut ketika tiba-tiba saja mereka melihat angin pusaran yang memutar seisi sebuah kebun di padukuhan itu. Namun tiba-tiba saja angin pusaran itu pun pecah diguncang oleh ledakan petir yang menggelegar.

Dengan demikian, maka mereka pun segera mengetahui, bahwa dua orang raksasa dalam olah kanuragan sedang bertempur di kebun itu. Bagi para pengikut Panembahan Lebdagati, mereka pun segera mengetahui, bahwa Panembahan itu sedang bertempur di kebun itu.

Pada kesempatan lain, tiba-tiba saja mereka melihat lidah api yang menyala dan menjilat-jilat. Bahkan dedaunan pun menyala terbakar pula.

Namun lembaran awan yang basah telah turun menyelimuti kebun yang menjadi dingin membeku.

Sebenarnyalah, Panembahan Lebdagati masih mencoba dengan tataran kemampuannya yang tertinggi untuk menghentikan perlawanan Ki Pandi. Tetapi ternyata setelah berpisah dan menempuh jalan hidup yang berbeda, Ki Pandi masih saja mampu mengimbangi ilmu Panembahan Lebdagati.

Akhirnya Panembahan Lebdagati pun telah menghentakkan sejenis ilmunya yang sangat berbahaya. Panembahan itu justru berdiri tegak sambil mengacukan tangannya dengan telapak tangan menghadap kearah lawannya. Loncatan-loncatan cahaya yang berwarna kemerah-merahan tiba-tiba saja telah meluncur dari telapak tangannya itu, seakan-akan beribu-ribu petir kecil meluncur menyambar-nyambar kearah orang bongkok itu.

Ki Pandi yang mengira bahwa lawannya akan mempergunakan Aji Gelap Ngampar terkejut. Rupa-rupanya Panembahan Lebdagati mengetahui bahwa Ajinya Gelap Ngampar tidak akan berarti apa-apa bagi orang bongkok itu. Karena itu, maka Panembahan Lebdagati telah mempergunakan ilmunya yang lain.

Loncatan-loncatan beribu petir yang nampaknya kecil-kecil itu seakan-akan telah membelenggu Ki Pandi dan dengan kekuatan yang sangat besar telah menarik tubuhnya mendekat Panembahan Lebdagati.

Ki Pandi harus mengerahkan tenaganya untuk menahan dirinya agar tidak terhisap oleh kekuatan ilmu Panembahan Lebdagati itu. Bahkan dalam saat-saat yang paling berbahaya itu, Ki Pandi harus mampu mengambil sikap, agar ia tidak dihancurkan oleh saudara seperguruannya yang telah menempuh jalan sesat itu.

Ki Pandi yang harus bertahan dari hisapan kekuatan lawannya itu pun kemudian berdiri sambil menyilangkan tangannya didadanya. Kedua kakinya melekat diatas tanah dengan kuatnya, seakan-akan telah menghunjam ke dalam bumi.

Tetapi setapak demi setapak Ki Pandi masih juga beringsut semakin mendekati lawannya. Bahkan kemudian semakin dekat dan semakin dekat.

Panembahan Lebdagati semakin mengerahkan kekuatan ilmunya. Ia semakin berpengharapan bahwa Ki Pandi akan menjadi semakin dekat, sehingga Panembahan Lebdagati itu akan dapat menggapai dengan kerisnya.

Namun semakin dekat orang itu dari Panembahan Lebdagati, ternyata udara terasa menjadi semakin panas. Dari tubuh Ki Pandi itu telah memancar kekuatan api dan dalam dirinya, sehingga tubuh orang bongkok itu seakan-akan telah menjadi bara yang panasnya melampaui panasnya bara batok kelapa.

Panembahan Lebdagati menjadi berdebar-debar. Demikian orang bongkok itu beringsut semakin dekat, maka keringat ditubuh Panembahan Lebdagati pun menjadi semakin diperas dari dalam tubuhnya.

Tetapi Panembahan Lebdagati tidak ingin melepaskan ikatan dan kekuatan ilmunya yang menghisap itu. Karena itu, maka Ki Pandi pun semakin lama menjadi semakin dekat pula.

Namun Ki Pandi bukan saja membuat tubuh Panembahan Lebdagati berkeringat karena panas, tetapi tubuh Ki Pandi itu seakan-akan menjadi sangat menyilaukan. Dari kedua mata Ki Pandi yang memandang mata Panembahan Lebdagati, memancar sinar yang putih seperti pantulan cahaya matahari diwajah air yang beriak kecil.

Panembahan Lebdagati ternyata sulit untuk mengatasi panas jerta matanya yang menjadi silau. Ia seakan-akan tidak dapat melihat lagi jarak antara dirinya dengan orang bongkok itu.

Dengan demikian, maka ilmunya itu pun tidak mampu mengakhiri pertempuran. Meski pun orang bongkok itu tidak mudah untuk mengalahkannya, namun Panembahan Lebdagati sendiri juga merasa sangat sulit untuk mengalahkan orang bongkok itu.

Karena itu, akhirnya Panembahan Lebdagati benar-benar sudah mengambil keputusan yang pasti.

Dengan tiba-tiba saja Panembahan Lebdagati itu pun telah menghentikan ilmunya yang menghisap lawannya dan seakan-akan membelenggunya itu. Demikian tiba-tiba sehingga justru Ki Pandi terkejut karenanya.

Demikian Ki Pandi menyadari kedudukannya, maka ia melihat Panembahan Lebdagati itu bagaikan terbang meloncati dinding kebun yang telah menjadi berserakan itu. Ranting-ranting kayu dan dahan-dahan pepohonan berpatahan, bahkan dedaunan menjadi hangus terbakar.

Dengan serta-merta Ki Pandi pun telah berusaha memburunya. Ia masih mendengar suara Panembahan itu bagaikan teriakan elang yang berterbangan di langit.

Namun Ki Pandi terkejut ketika dua ekor elang telah menukik langsung menyambarnya. Hampir saja kuku-kuku elang yang tajam itu menggores wajahnya.

Ki Pandi harus menyelesaikan kedua ekor elang itu lebih dahulu. Namun yang sekejap itu telah dimanfaatkan Panembahan Lebdagati dengan sebaik-baiknya.

Ternyata burung-burung dilangit tidak hanya sepasang. Teriakan Panembahan Lebdagati itu telah memberikan aba-aba khusus kepada beberapa ekor elang yang berterbangan. Burung-burung tu pun telah berteriak-teriak pula dengan riuhnya.

Seperti Panembahan Lebdagati, maka elang-elang itu telah memberikan isyarat agar para pengikut Panembahan Lebdagati mengundurkan diri.

Ki Pandi hanya dapat menggeram marah. Ia telah kehilangan buruannya., Panembahan Lebdagati memiliki kecepatan bergerak yang sangat mengagumkan. Apalagi Ki Pandi harus tertahan oleh burung-burung elang yang menyerang mengarah langsung ke wajah dari matanya. Burung-burung elang yang berusaha menahannya agar Panembahan Lebdagati sempat menghindar dari medan.

Dengan demikian, maka para pengikut Panembahan Lebdagati itu pun telah berusaha dengan cepat menarik diri dari pertempuran.

Para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan itu memang tidak dengan mudah berniat melepaskan para pengikut Panembahan Lebdagati yang melarikan diri. Namun agaknya orang yang mengendalikan burung-burung elang itu tidak hanya melepas dua tiga pasang burung elang. Tetapi sekelompok burung elang telah berterbangan menyambar-nyambar. Burung-burung itu telah berusaha menahan orang-orang yang berusaha mengejar para pengikut Panembahan Lebdagati, sehingga dengan demikian, mereka yang melarikan diri telah mendapat peluang untuk lepas dari kejaran lawan-lawan mereka.

Burung-burung elang itu ternyata memang sangat berbahaya. Kuku-kuku yang ujungnya diberi baja yang tajam itu benar-benar telah menghambat gerak maju orang-orang yang sedang mengejar para pengikut Panembahan Lebdagati.

Dengan demikian maka jarak diantara mereka pun menjadi semakin jauh. Beberapa orang yang lolos dari hambatan burung-burung elang itu pun akhirnya menghentikan usaha mereka mengejar lawan mereka, karena justru akan membahayakan diri mereka, karena orang-orang yang mereka kejar itu akan mampu memberikan perlawanan.

Namun dalam pada itu, Ki Warana telah menemui Ki Ajar Pangukan setelah ia menyadari bahwa Panembahan Lebdagati dan para pengikutnya telah melepaskan diri.

Ki Pandi yang sudah lebih dahulu menemui Ki Ajar Pangukan nampak menyesali kegagalannya.

“Maaf Ki Ajar. Aku telah melakukannya sendiri dan gagal. Aku mencoba untuk tidak mengganggu orang lain ketika aku masih berpengharapan untuk dapat menangkapnya.”

“Bukan kau yang harus minta maaf kepadakau, Ki Bongkok. Tetapi justru aku. Kenapa aku dan orang-orang yang lain tidak tahu dan tidak sempat menghentikan Panembahan Lebdagati yang melarikan diri itu.”

Namun Ki Warana itu pun kemudian berkata, “Tetapi bagaimana dengan para cantrik Kiai Banyu Bening yang tertawan di padepokan itu. Apakah mereka tidak akan dibantai habis oleh para pengikut Panembahan Lebdagati?”

Ki Ajar Pangukan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jadi, bagaimana menurut pendapatmu?”

“Apakah tidak sebaiknya kita juga pergi ke padepokan?” Ki Ajar Pangukan termanagu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia mengangguk-angguk sambil berkata, “Aku mengerti Ki Warana.” Namun kemudian ia pun berpaling kepada Ki Pandi sambil bertanya, “Bagaimana pendapatmu?”

“Aku setuju Ki Ajar. Tetapi biarlah Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana berada disini. Mungkin Panembahan Lebdagati itu dengan licik kembali lagi ke padepokan ini. Ia akan dapat membantai orang-orang yang tinggal di padukuhan ini jika tidak ada orang yang dapat menghentikannya.”

“Baiklah. Kita akan berbicara dengan keduanya. Ki Lemah Teles yang terluka itu juga memerlukan perlindungan.”

Demikianlah dengan cepat, Ki Warana mengatur orang-orangnya. Sementara Ki Bekel telah menawarkan kepada orang-orang padukuhan itu, siapakah diantara mereka yang bersedia ikut bersama Ki Warana dan orang-orangnya mengejar Panembahan Lebdagati dan para pengikutnya.

“Sebagian dari kalian harus tinggal” berkata Ki Bekel.

Demikianlah, maka Ki Warana, orang-orangnya dan sebagian orang-orang padukuhan yang dengan suka rela ikut bersama mereka telah dengan cepat menyusul Panembahan Lebdagati dan para pengikutnya yang sudah menjadi lemah. Mereka harus meninggalkan korban cukup banyak di padukuhan. Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana, Ki Ajar Pangukan sendiri, Manggada dan Laksana telah menghentikan banyak diantara mereka yang ternyata merasa terjebak.

Bagaimana pun juga Ki Warana tidak dapat tinggal diam, karena ia menyadari sepenuhnya, bahwa dendam para pengikut Panembahan Lebdagati tentu ditujukan kepada orang-orang yang berada didalam tangan mereka.

Dengan cepat iring-iringan itu pun bergerak mendekati padepokan. Namun Ki Warana menjadi sangat berdebar-debar bahwa orang terakhir dari para pengikut Panembahan Lebdagati yang melarikan diri sudah tidak dapat mereka lihat lagi. Burung-burung elang pun telah berputaran diatas padepokan, seakan-akan sedang menyaksikan satu pertunjukan yang sangat mengerikan.

Karena itu, maka Ki Warana menjadi semakin tergesa-gesa. Dibawanya orang-orangnya berlari-lari melintasi sawah, pategalan dan padang-padang perdu.

Bahkan Ki Warana telah mengacu-acukan senjatanya untuk menarik perhatian burung-burung elang yang berterbangan. Jika burung-burung elang itu melihat mereka datang, burung-burung itu tentu akan memberikan isyarat. Isyarat itu akan membuat orang-orang yang berada didalam padepokan itu mempersiapkan diri dan tidak sempat membantai kawan-kawan Ki Warana yang tertawan di padepokan itu.

Yang kemudian melambai-lambaikan senjatanya bukan saja Ki Warana. Tetapi para pengikutnya dan bahkan orang-orang dari padukuhan yang dengan suka rela membantu mereka, telah melakukan hal yang sama pula.

Sebenarnyalah bahwa burung-burung elang itu telah melihat kedatangan sebuah iring-iringan yang terhitung besar. Diantara mereka terdapat Ki ajar Pangukan, Ki Pandi, Manggada dan Laksana yang ikut menjadi cemas akan nasib bekas para pengikut Kiai Banyu Bening.

Karena itu, maka burung-burung elang yang terbang berputaran itu pun telah menjadi bubar. Burung-burung itu dengan cepat melayang menyongsong iring-iringan yang berlari-larian menuju ke padepokan.

Beberapa ekor diantaranya telah berterbangan hilir mudik. Dengan caranya burung-burung itu telah memberikan isyarat bahwa sekelompok orang telah berdatangan ke padepokan itu.

Beberapa saat lamanya burung-burung elang itu seolah-olah telah menjadi kebingungan. Mereka belum menerima aba-aba dari orang yang mengendalikannya. Namun agaknya orang yang mengendalikan burung-burung elang itu pun sedang kebingungan pula.

Beberapa saat kemudian, dua ekor diantara burung elang itu telah menukik dan hilang didalam padepokan. Namun sejenak kemudian sepasang burung itu telah muncul kembali. Naik ke angkasa tinggi sekali. Melampaui kawan-kawannnya yang gelisah. Burung elang itu lelah membuat beberapa gerakan khusus. Namun kemudian burung-burung elang yang lain pun seakan-akan telah terhisap dan menukik turun kedalam padepokan.

Beberapa saat kemudian sepi. Tidak seekor burung pun yang nampak terbang diatas padepokan atau disekitarnya.

Ki Warana dan orang-orang yang sedang menuju ke padepokan itu justru menjadi berdebar-debar. Mereka tidak tahu, apa yang telah terjadi di padepokan.

“Mereka sedang mempersiapkan diri” berkata orang-orang yang sedang menuju ke padepokan itu didalam hati. Mereka menduga, bahwa burung-burung elang itu sedang mendapat perintah-perintah khusus dari orang-orang yang mengendalikannya.

Tetapi ternyata burung-burung itu tidak segera terbang lagi.

Sementara itu, Ki Warana yang berjalan dipaling depan telah mendekati padepokan itu. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Beberapa orang pun kemudian berdiri disebelahnya. Namun tidak seorang pun yang menyatakan pendapatnya.

Beberapa saat kemudian, Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi telah berdiri pula memandangi pintu gerbang padepokan yang tertutup rapat itu.

Orang-orang yang kemudian berdiri termangu-mangu itu pun mencoba membayangkan, apa yang terdapat dibelakang dinding padepokan itu. Panembahan Lebdagati dan pengikutnya yang bersiap-siap menerima kedatangannya lawan-lawannya. Atau mereka sedang sibuk membuat jebakan atau cara apa pun untuk melawan. Justru karena kekuatan mereka telah menyusut terlalu banyak. Orang-orang yang mereka tinggalkan di padepokan, yang masih segar dengan tenaga utuh, tentu akan dapat membantu mengisi kekosongan karena korban yang telah mereka tinggalkan di padukuhan.

Untuk beberapa saat lamanya, mereka berdiri termangu-mangu. Namun mereka tidak melihat tanda-tanda apa pun yang dapat mereka pergunakan untuk menduga, apa saja yang telah terjadi didalam lingkungan dinding padepokan.

Ki Pandi lah yang kemudian berkata kepada Laksana dan Manggada, “Lihatlah di seputar dinding padepokan ini. Berhati-hatilah. Bawalah tiga ampat orang bersamamu.”

Namun Ki Warana sendiri menyahut, “Aku akan pergi bersama mereka.”

“Baiklah” sahut Ki Pandi, “tetapi jangan terperangkap dalam jebakan-jebakan yanga mereka buat.”

Demikianlah, Manggada, Laksana, Ki Warana dan tiga orang pengikutnya telah berjalan mendekati padepokan itu. Mereka pun kemudian berjalan dengan hati-hati mengitari padepokan yang nampak sepi itu.

Dengan senjata siap ditangan, sementara seorang dari mereka telah mempersiapkan anak panah sendaren yang siap memberikan isyarat kepada Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan, mereka berjalan mengelilingi padepokan.

Tidak ada seorang pun yang nampak berdiri diatas panggungan di belakang dinding.

“Apakah panggungan itu memang sengaja dikosongkan?” desis Ki Warana.

Manggada dan Laksana tidak menjawab. Namun mereka justru berjalan lebih dekat lagi dengan dinding padepokan.

Ketika mereka sempat didepan sebuah pintu butulan, Manggada pun berkata, “tunggu. Aku akan melihat pintu butulan itu.”

Ki Warana tidak sempat mencegah. Manggada itu pun segera berlari mendekati pintu butulan itu.

Ternyata pintu butulan itu tertutup rapat. Bahkan diselarak dengan kuatnya.

Beberapa saat Manggada berdiri didepan pintu itu. Dicobanya untuk mendengarkan sesuatu di dalam padepokan, tetapi ia juga tidak mendengar apa pun juga.

Sejenak kemudian ia pun telah kembali menemui Ki Warana dan Laksana. Sambil memberitahukan apa yang dilihatnya, mereka telah berjalan lagi mengitari padepokan itu. Tetapi dibagian belakang padepokan itu pun nampaknya sepi-sepi saja.

Ketika mereka sampai ke pintu butulan di belakang, maka mereka bertigalah yang mendekat. Ki Warana sempat berpesan kepada ketiga orang pengikutnya, agar jika perlu, mereka jangan segan-segan melepaskan anak panah sendaren untuk memberikan isyarat kepada Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi.

Ketika bertiga mereka mendekati pintu butulan itu, maka mereka memang menjadi berdebar-debar. Ketika Ki Warana menyentuh pintu itu, maka ternyata pintu itu tidak diselarak.

Perlahan-lahan Ki Warana mendorong pintu itu sehingga terbuka sepenuhnya.

“Pintu ini tidak diselarak.” desis Ki Warana.

“Aneh” sahut Manggada.

Tetapi Laksana memperingatkan” Hati-hati. Jangan terjebak.”

Ki Warana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Tetapi nampaknya padepokan ini memang kosong.”

“Ya” Manggada mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Meski pun demikian kita harus tetap mencurigai. Mungkin mereka sengaja bersembunyi di setiap bangunan. Baru kemudian mereka menjebak kita.”

“Jika demikian, kita akan memasuki padepokan ini dengan kekuatan penuh.”

Mereka pun kemudian telah menjauhi pintu butulan itu. Ki Warana pun kemudian berkata, “Aku akan menjemput mereka.”

Manggada dan Laksana pun berdiri beberapa puluh langkah dari pintu butulan itu, untuk mengawasi kemungkinan-kemungkinan yang belum dapat mereka perhitungkan. Seorang diantara pengikut Ki Warana yang membawa panah sendaren tinggal bersama mereka, sementara Ki Warana dan orang-orangnya yang lain telah kembali menemui Ki Ajar Pangukan.

Ketika Ki Ajar mendengar laporan itu, maka katanya, “Baiklah. Kita akan memasuki padepokan ini dengan kesiagaan tertinggi. Mungkin kita akan menghadapi sesuatu yang tiba-tiba saja diluar perhitungan kita.”

Demikianlah, maka seluruh kekuatan yang datang ke padepokan itu telah bergerak. Mereka semuanya berada disisi sebelah dan di belakang padepokan. Dengan hati-hati Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi memasuki pintu butulan itu, diikuti oleh Ki Warana, Manggada dan Laksana. Kemudian berurutan para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan yang ikut bersama mereka.

Ki Ajar Pangukan pun kemudian menyarankan agar orang-orang itu tidak dengan tergesa-gesa menebar. Meski pun kemudian orang-orang itu mengalir ke dalam padepokan, tetapi mereka masih tetap berada dalam jangkauan pengawasan Ki Warana.

Ketika orang terakhir telah memasuki padepokan itu, maka Ki Ajar Pangukan telah membawa mereka bergerak lebih ke tengah-tengah padepokan itu.

“Kau lebih mengenal tempat ini, Ki Warana” berkata Ki Ajar.

“Ya, Ki Ajar.”“jawab Ki Warana.

“Jika demikian, kau tuntun kami, kemana kami harus pergi.”

Ki Warana pun telah membawa seluruh pasukannya menuju ke depan bangunan induk padepokan itu. Namun tiba-tiba saja sekelompok diantara orang-orangnya yang berjalan melalui celah-celah dua bangunan terhenti. Mereka mendengar sesuatu dari dalam bangunan itu, sehingga salah seorang dari mereka telah memberitahu kepada Ki Warana tentang suara-suara yang mencurigakan itu.

Ki Warana menjadi sangat tertarik mendengar suara-suara itu. Bersama Ki Ajar Pangukan, Ki Pandi, Manggada dan Laksana mereka telah mendekati pintu bangunan itu.

“Ki Warana” Ki Ajar Pangukan itu pun bertanya, “bangunan ini pada saat Kiai Banyu Bening masih tinggal di padepokan ini dipergunakan untuk apa?”

“Dahulu bangunan ini dipergunakan untuk tempat tinggal sebagian dari para cantrik, Ki Ajar.”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan melihat, apa yang ada didalam bangunan ini.”

“Biarlah aku masuk lebih dahulu” berkata Ki Warana. Ki Ajar termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dua orang pengikut Ki Warana berkata, “marilah. Kita masuk lebih dahulu.”

Ki Warana mengangguk kecil. Dengan senjata telanjang, Ki Warana dan kedua orang itu pun segera berdiri didepan pintu.

Seorang diantara keduanya yang bersenjata tombak telah melangkah sambil merundukkan ujung tombaknya. Dengan ujung tombaknya orang itu mendorong pintu bangunan itu.

Perlahan-lahan pintu itu terbuka. Ujung tombak orang itulah yang lebih dahulu memasuki ruangan yang terhitung luas itu. Baru kemudian orang itu perlahan-lahan melangkah masuk pula diikuti oleh seorang kawannya. Demikian keduanya meloncat kesamping pintu, maka Ki Warana telah memasuki mangan itu pula dengan ujung senjata teracu.

Namun ketiga orang itu pun bagaikan membeku. Mereka melihat beberapa orang yang terbaring silang menyilang. Tubuh mereka berlumuran darah yang masih basah.

”Mereka ada disini” teriak Ki Warana;

“Siapa?” bertanya Ki Ajar Pangukan,

“Kawan-kawan kita. Kita terlambat. Mereka benar-benar sudah membantai kawan-kawan kita.”

Ki Ajar Pangukan dan Pandi pun segera berloncatan masuk. Mereka pun menarik nafas dalam-dalam menyaksikan kengerian yang sangat mendalam di ruangan yang terhitung luas itu.

Namun Ki Pandi itu pun kemudian berkata, “Masih ada yang hidup. Kita harus menolong mereka.”

Ki Warana pun kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk mengamati kawan-kawan mereka yang menjadi tawanan Panembahan Lebdagati dan yang telah dibantai diruangan itu.

Ternyata memang masih banyak diantara mereka yang belum benar-benar mati. Agaknya para pengikut Panembahan Lebdagati itu telah melakukannya dengan tergesa-gesa.

Dalam pada itu, maka beberapa orang telah melihat keadaan bangunan sebelah. Ternyata bangunan di sebelahnya benar-benar kosong. Karena itu, maka orang-orang yang masih bernafas telah dipindahkan keruangan sebelah.

Sementara beberapa orang mengumpulkan kawan-kawan mereka yang masih selamat, maka Ki Ajar Pangukan, Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah melihat-lihat keadaan padepokan itu bersama sekelompok orang-orang padukuhan yang menyertai mereka.

“Mengerikan” desis salah seorang dari orang-orang padukuhan itu.

“Mereka sudah kehilangan landasan kemanusiaan mereka” desis yang lain.

“Untunglah bahwa padepokan ini sudah kosong ketika kita masuk kemari. Seandainya belum, apakah kita tidak justru membeku ketakutan di tengah-tengah padepokan yang asing ini?”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Sementara mereka menjadi semakin berdebar-debar ketika mereka sempat melihat beberapa pucuk senjata yang tertinggal. Di bangunan induk padepokan itu terdapat beberapa pucuk senjata disudut. Sebuah kapak yang besar yang tergolek diantara tangkai sebuah canggah yang pada mata canggahnya terdapat gerigi menduri-pandan. Kemudian sebuah tombak berkait dan yang lain sebuah trisula disamping beberapa tombak seperti tombak kebanyakan.

Namun ternyata bahwa padepokan itu memang sudah ditinggalkan oleh panembahan Lebdagati dan para pengikutnya.

Didapur perapian masih menyala. Tiga buah bakul besar berisi nasi yang masih hangat. Sayur yang masih berada didalam kuali yang masih berada diatas api.

Nampaknya para pengikut Panembahan Lebdagati yang bertugas di dapur tengah menyediakan makan bagi orang-orangnya yang menurut perhitungan akan segera kembali dari pertempuran.

Ternyata Panembahan Lebdagati memang telah kembali. Tetapi dalam keadaan yang jauh berbeda dari yang mereka kehendaki.

Sementara itu, Ki Warana telah selesai mengumpulkan kawan-kawannya yang benar-benar telah terbunuh. Namun hatinya masih juga terhibur, bahwa ternyata masih lebih banyak yang berkesempatan untuk tetap hidup daripada yang benar-benar mati.

Ki Aajar Pangukan dan Ki Pandi pun kemudian telah membantu Ki Warana mengobati merawat orang-orang yang terluka parah. Dengan obat-obat yang ada, mereka mencoba untuk memperingan penderitaan orang-orang yang terluka.

“Kami mempunyai tanaman yang dapat diramu menjadi obat-obatan” berkata Ki Warana.

Ki Pandi agaknya tertarik pada keterangan Ki Warana i(u. Karena itu, maka ia pun bertanya, “Dimana?”

Ki Warana pun kemudian memanggil seorang dari antara orang-orang yang ikut bersamanya dan yang sebelumnya pernah memelihara kebun tanaman yang dapat dipergunakan sebagai obat-obatan itu, “Tunjukkan Ki Pandi tanaman itu jika masih ada.”

Orang itu pun kemudian telah membawa Ki Pandi ke bagian belakang kebun padepokan itu. Ternyata kebun itu masih utuh. Kebun khusus yang dipagari disudut kebun yang ada didalam lingkungan padepokan itu.

Ki Pandi yang kemudian berdiri diantara berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang dapat dipakai sebagai obat-obatan itu menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya, “Begitu lengkap. Tentu ada seorang yang mengetahui benar tentang obat-obatan diantara para pengikut Kiai Banyu Bening.”

Namun ketika hal itu kemudian ditanyakannya kepada Ki Warana, maka dengan nada dalam Ki Warana itu berkata, “Orang itu ada diantara mereka yang tertangkap oleh para pengikut Panembahan Lebdagati. Ia ada diantara orang-orang yang terbunuh itu.”

“Sayang sekali” desis Ki Pandi, “kenapa ia tidak lari bersama Ki Warana dan sebagian dari penghuni padepokan ini?”

“Ia terlalu setia kepada Kiai Banyu Bening. Karena itu, maka ia tidak akan mau meninggalkan padepokan ini.”

“Tetapi bukankah Kiai Banyu Bening sudah terbunuh?”

“Setianya tidak terbatas-pada masa hidup Kiai Banyu Bening. Aku yakin itu, karena aku mengenalnya dengan baik.”

Ki Pandi mengangguk-anggguk. Katanya, “Sekarang yang tinggal hanyalah bekas-bekas kemampuannya. Tetapi peninggalannya itu akan sangat berharga jika kita dapat memanfaatkannya.”

“Aku harap Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan dapat mempergunakannya.”

“Kami akan mencoba” jawab Ki Pandi, “mudah-mudahan akan berarti bagi saudara-saudara kita yang sedang terluka itu.”

Hari itu, Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan memang berusaha untuk membuat obat dari dedaunan, akar-akaran dan berbagai macam bunga yang ada di kebun yang khusus itu menurut pengenalan mereka, sebanyak-banyaknya karena orang yang terluka pun cukup banyak. Mereka telah membuat obat yang dioleskan, ditaburkan dan diminum oleh orang-orang yang terluka itu.

Namun dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan telah minta agar beberapa orang pergi ke padukuhan, untuk memberitahukan apa yang telah terjadi, agar Ki Bekel tidak menjadi sangat cemas.

“Kami akan berada di padepokan ini” pesan Ki Ajar Pangukan kepada orang itu, “kami harus merawat orang-orang yang terluka.”

Sebenarnyalah bahwa Ki Bekel, Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana serta orang-orang yang berada di padukuhan itu merasa lega bahwa tidak terjadi pertempuran yang harus merenggut korban lagi.

“Mudah-mudahan untuk selanjutnya tidak akan terjadi benturan kekerasan,” berkata Ki Bekel yang harus menyerahkan beberapa orang padukuhan itu sebagai korban dalam pertempuran yang baru saja terjadi. Meski pun hal itu sudah diduga sebelumnya, namun perpisahan dengan orang-orang terbaik membuat hati Ki Bekel menjadi sedih

Apalagi ketika Ki Bekel melihat, bagaimana keluarga mereka yang meneteskan air mata.

Hari itu, mereka yang sudah terlanjur berada di padepokan, tetap tinggal di padepokan, sedangkan yang berada di padukuhan tetap pula berada di padukuhan. Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana berusaha untuk merawat Ki Lemah Teles sebaik-baiknya, sementara tabib terbaik dari padukuhan itu dibantu oleh beberapa orang, bekerja keras untuk merawat orang-orang yang terluka. Bahkan para pengikut Panembahan Lebdagati. Namun para tawanan itu harus dijaga dengan ketat, agar mereka tidak menimbulkan kesulitan.

Ketika malam kemudian menyelimuti padukuhan dan padepokan yang baru saja mengalami goncangan-goncangan karena pertempuran yang telah merenggut korban jiwa itu, para pemimpinnya masih juga mengatur penjagaan sebaik-baiknya, karena tidak mustahil masih akan terjadi sesuatu.

Orang-orang yang berada di padepokan telah menempatkan beberapa orang penjaga di panggungan dibelakang dinding. Sementara itu, Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi bergantian mengelilingi padepokan itu di malam hari. Sedangkan Manggada dan Laksana berada di bangunan induk bersama orang-orang padukuhan yang masih berada di padepokan.

Dalam pada itu, Ki Bekel pun telah mengatur orang-orangnya pula untuk mengamati keadaan. Disetiap sudut dan lekuk padukuhan, Ki Bekel menempatkan orang-orangnya untuk berjaga-jaga. Demikian pula disetiap regol jalan yang keluar dan memasuki padukuhan.

Sementara itu, Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana berada di rumah Ki Bekel merawat Ki Lemah Teles yang berangsur menjadi baik. Ternyata ketahanan tubuh Ki Lemah Teles cukup tinggi, sehingga ia masih mampu mengatasi perasaan sakit yang timbul karena luka-lukanya yang parah.

Demikianlah, kesiagaan yang tinggi masih terdapat baik di padepokan mau pun di padukuhan.

Namun ternyata di malam itu tidak ada sesuatu yang terjadi.

Ki Pandi yang menempatkan kedua ekor harimaunya di luar padepokan juga tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, sehingga kedua ekor harimau itu tidak memberikan isyarat apapun.

Di hari berikutnya, setelah semua korban di makamkan, baik yang ada di padepokan, mau pun yang ada di padukuhan, maka Ki Warana mulai membicarakan hari depan padepokan yang telah direbut kembali dari tangan Panembahan Lebdagati itu.

“Bukankah Ki Warana pantas untuk menjadi pemimpin di padepokan ini menggantikan kedudukan Kiai Banyu Bening? Hanya menggantikan kedudukannya. Menggantikan kedudukannya sebagai pemimpin dari padepokan ini. Bukan pemimpin dalam arti penyebaran kepercayaan sesat yang berlandaskan pada dendamnya itu.”

Tetapi Ki Warana menjawab, “Mungkin aku dapat melakukannya, mengatur tumbuh dan berkembangnya padepokan ini. Tetapi sulit bagiku untuk dapat mempertahankan-nya. Jika Panembahan Lebdagati itu datang kembali, maka aku tentu hanya dapat menyerahkan padepokan ini kepadanya. Bahkan menyerahkan nyawaku pula.”

Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan mengerti alasan itu. Karena itu, maka Ki Pandi itu pun berkata, “Ki Ajar Pangukan yang tempat tinggalnya paling dekat dari padepokan ini akan dapat memberikan petunjuknya.”

“Seorang diantara kita sebaiknya memang tinggal disini.” berkata Ki Ajar Pangukan.

“Bagaimana kalau Ki Ajar?”

“Lalu rumahku?” bertanya Ki Ajar.

“Rumah itu dapat ditinggalkan saja. Bukankah Ki Ajar juga sendiri saja dirumah?”

Ki Ajar tersenyum. Katanya, “Aku sudah tinggal cukup lama dirumah itu, sehingga ikatan antara aku dan rumah itu sudah demikian eratnya. Bagaimana jika Ki Bongkok saja yang tinggal disini? Jika Ki Bongkok tinggal disini, Panembahan Lebdagati tentu tidak akan berani datang lagi.”

Ki Bongkok menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak terbiasa tinggal disatu rumah. Aku pun masih harus mencari dan menemukan Panembahan Lebdagati itu. Karena itu, seandainya aku harus memimpin sebuah padepokan, maka aku tidak akan pernah ada ditempat.”

Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Sementara Ki Warana berkata, “Aku mohon seseorang bersedia melindungi kami. Dendam Panembahan Lebdagati tentu tidak akan pernah padam. Persoalannya bukan sekedar padepokan ini. Tetapi kaki Gunung Lawu disebrang hutan Jatimalang ini diakunya sebagai daerah kuasa Panembahan Lebdagati itu.”

Ki Pandi yang termangu-mangu itu tiba-tiba berdesis, “bagaimana dengan Ki Lemah Teles. Jika ia bersedia tinggal di padepokan ini, maka ia akan menemukan satu dunia yang lain. Ia tidak akan merasa kesepian dan tidak merasa terbuang dari lingkungan dunia kanuragan, sehingga mencari kawan untuk berkelahi.”

Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan mencoba untuk berbicara dengan orang itu. Ia sudah menjadi semakin baik.”

Hari itu juga, Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi telah pergi menemui Ki Lemah Teles. Sebelumnya keduanya telah berbicara pula dengan Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana, tentang perrnintaan Ki Warana untuk menempatkan seseorang yang dapat dianggap sebagai pemimpin tertinggi di padepokan itu, sementara untuk mengatur pertumbuhan dan perkembangan padepokan ini Ki Warana akan melakukannya.”

Ternyata semuanya setuju, bahwa Ki Lemah Teles akan diminta untuk tinggal dan memimpin padepokan itu.

Ketika hal itu kemudian disampaikan kepada Ki Lemah Teles, maka dengan serta-merta ia berkata, “Kalian ingin aku mengorbankan bayi setiap bulan purnama?”

“Tentu tidak” jawab Ki Pangukan, “justru kau harus berusaha meyakinkan orang-orang yang sudah mulai terpengaruh oleh kepercayaan Kiai Banyu Bening yang dilandasi oleh dendam dan kebenciannya itu, bahwa apa yang dikatakan dan diajarkan oleh Kiai Banyu Bening itu adalah justru akan menjauhkan mereka dari sumber hidup mereka.”

Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Sambi Pitu berkata, “Jika kau memimpin padepokan itu, maka kami akan ikut merasa memiliki. Setiap kali kami merasa jenuh tinggal dirumah, kami dapat pergi ke kaki Gunung Lawu untuk tinggal beberapa hari di padepokanmu. Tentu sebuah padepokan yang lain dengan padepokan Kiai Banyu Bening dan padepokan Panembahan Lebdagati. Padepokanmu akan menjadi padepokan yang mendapat sinar terang dari Yang Maha Pencipta karena kau akan memimpin seisi padepokan untuk mengenalinya. Bukan hanya seisi padepokan, tetapi juga orang-orang yang tinggal disekitarnya.”

Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku akan memikirkannya.”

“Kau perlukan waktu berapa hari untuk menentukan jawabanmu itu?” bertanya Ki Sambi Pitu.

“Tergantung pada turunnya terang dihatiku” jawab Ki Lemah Tetes.

“Baiklah” berkata Ki Ajar Pangukan, “bukankah kita masing-masing tidak tergesa-gesa? Kita akan dapat untuk beberapa lama tinggal di padepokan ini sambil menunggu keputusan Ki Lemah Teles. Tetapi menurut perhitungan kami, Ki Lemah Teles tidak akan menolaknya. Di padepokan ini Ki Lemah Teles akan menemukan apa yang terasa hilang selama ini.”

“Aku juga berharap” berkata Ki Bekel, “padukuhan ini akan ikut merasa tenang, jika satu atau dua orang berilmu tinggi berada di padepokan ini. Selama ini padukuhan ini terkait dengan padepokan itu. Jika terjadi perubahan di padepokan itu, maka kami pun akan ikut pula mengalami perubahan. Sepeninggal Kiai Banyu Bening, mungkin kami akan mendapatkan petunjuk baru yang benar-benar dapat memberikan pengharapan bagi kami.”

Ki Lemah Teles memang belum memberikan harapan pasti. Agaknya Ki Lemah Teles ingin menyembuhkan luka-luka dalamnya ketika ia membenturkan ilmunya melawan kekuatan ilmu Lembu Palang.

Namun di hari-hari berikutnya, tatanan di padukuhan yang menjadi ajang pertempuran yang menentukan itu sudah menjadi wajar kembali. Sementara itu, Ki Lemah Teles sudah berada di padepokan. Demikian pula Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana.

“Jika Ki Bekel memerlukan sesuatu, Ki Bekel dapat memberitahukan kepada kami di padepokan itu.” berkata Ki Ajar Pangukan.

“Baik Ki Ajar. Kami tentu masih sangat memerlukan kehadiran Ki Ajar dan yang lain. Perubahan sikap dan tatanan kehidupan yang akan terjadi sejalan dengan perubahan yang terjadi di padepokan memerlukan tuntunan yang mapan.”

“Baik, Ki Bekel. Kami tidak akan segera meninggalkan padepokan itu.”

Dengan demikian, maka gelombang pembaharuan di padepokan itu pun telah menyentuh padukuhan-padukuhan yang lain pula.

Gejolak yang terjadi sejak Panembahan Lebdagati menduduki padepokan itu untuk beberapa lama, masih terasa.

Namun Ki Warana sudah berjanji untuk bekerja keras. Wajah padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu harus segera berubah. Para penghuni padukuhan itu harus menjadi yakin, bahwa kepercayaan yang disebarkan oleh Kiai Banyu Bening itu, semata-mata merupakan percikan dendam pribadinya, karena anaknya yang karena sesuatu hal telah terbakar.

Demikianlah dari hari ke hari kehidupan di kaki Gunung Lawu itu menjadi semakin tenang. Sedikit demi sedikit Ki Warana, yang sebelumnya sering memberikan sesorah di padukuhan-padukuhan, berubah untuk meyakinkan perubahan yang terjadi di padepokan itu justru akan dapat memberikan jalan yang terang.

Manggada dan Laksana pun sudah sering berjalan-jalan keluar dari padepokan. Bersama kedua ekor harimau peliharaan Ki Pandi, mereka menyusuri padang-padang perdu melihat-lihat keadaan di lereng Gunung Lawu. Mereka pun sempat menyusup kedalam hutan yang letaknya agak lebih tinggi dari padukuhan dan padepokan yang baru saja direbut kembali dari tangan Panembahan Lebdagati itu.

Ternyata hutan itu masih merupakan hutan yang lebat dan dihuni oleh berjenis-jenis binatang termasuk binatang buas. Tetapi Manggada dan Laksana sudah terbiasa berada ditengah-tengah hutan yang lebat. Karena itu, maka ia sama sekali tidak menjadi canggung. Apalagi bersama mereka, dua ekor harimau yang besar dan kuat bahkan memiliki kelebihan dari harimau kebanyakan ada bersama mereka.

Namun pada hari berikutnya, ternyata Laksana telah mempunyai rencana. Ia mengajak Manggada untuk pergi ke sebuah padukuhan yang pernah mereka kunjungi sebelumnya.

“Ah, kau” desis Manggada.

“Apa salahnya?” bertanya Laksana.

“Kau harus berbicara dengan Ki Pandi.”

Laksana termangu-mangu. Katanya, “Apakah untuk itu aku harus mendapat ijin?”

“Bukan ijin. Tetapi agar Ki Pandi tahu, kita berada dimana.” jawab Manggada.

Laksana akhirnya menurut juga. Ia pun telah memberitahukan kepada Ki Pandi, kemana ia akan pergi bersama Manggada.

Ki Warana ternyata mendengar pula pembicaraan itu. Karena itu, maka Ki Warana pun kemudian berkata, “Tolong ngger. Sampaikan salamku kepada Krawangan. Sejak peristiwa itu terjadi, ia tentu belum mendengar kabar tentang perkembangan terakhir padepokan ini. Juga tentang keselamatanku.”

“Baik Ki Warana.” jawab Laksana.

Berdua mereka pergi ke padukuhan tempat Ki Krawangan tinggal. Dua ekor harimau yang menyertai mereka, berhenti dan bersembunyi di semak-semak agak jauh dari padukuhan agar tidak menakut-nakuti orang yang melihatnya.

Tetapi ternyata Laksana tidak langsung pergi ke padukuhan. Tetapi ia telah mengikuti jalan kecil menuju ke tanggul.

“He, kita pergi ke mana?” bertanya Manggada.

“Sebentar. Aku akan melihat ke tepian.”

“Untuk apa?”

“Tidak apa-apa” jawab Laksana.

Manggada menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa Laksana ingin melihat, apakah Delima ada di tepian atau tidak.

“Belum ada yang berani mencuci ditepian” berkata Manggada.

“Tetapi Delima lain. Ia lebih senang mencuci ditepian daripada di rumahnya sendiri. Bukankah keadaan sudah lebih baik sekarang ini? Pada saat yang gawat itu, Delima masih juga mencuci ditepian.”

Manggada tidak menjawab lagi. Dibiarkannya Laksana berjalan menyusuri tanggul. Dan bahkan Manggada pun telah mengikutinya dibelakangnya pula.

Namun keduanya tertegun. Dari kejauhan mereka melihat, bahwa yang berada di tepian bukan hanya Delima. Tetapi beberapa orang perempuan telah berada di tepian itu pula.

“Nah, bukankah orang-orang dari padukuhan ini menganggap bahwa keadaan telah menjadi tenang, sehingga mereka telah berani turun ke tepian?” bertanya Laksana.

“Apakah kau juga akan menemui Delima sekarang ini?” bertanya Manggada.

Laksana menggeleng. Katanya, “Nanti saja.”

“Kita menunggu sampai mereka selesai? Jika mereka pulang, maka Delima tentu akan pulang bersama mereka pula.”

“Tidak. Kita akan berjalan lewat tanggul di seberang. Jika Delima melihat kita menyusuri tanggul itu, maka ia tentu akan tinggal lebih lama dari kawan-kawannya.”

Manggada tidak membantah Mereka pun kemudian berjalan melingkar dan menyeberangi sungai itu. Seperti dikatakan oleh Manggada dan laksana, keduanya berjalan saja diatas tanggul di-seberang. Mereka sama sekali tidak berpaling, seakan-akan mereka tidak memperhatikan sama sekali perempuan-perempuan yang sedang mencuci itu.

Perempuan-perempuan yang sedang mencuci ditepian itu pun melihat mereka pula. Tetapi keduanya sama sekali tidak menarik perhatian mereka. Tanggul itu memang dilewati banyak orang. Diantara mereka adalah orang-orang yang memang belum mereka kenal.

Berbeda dengan kawan-kawannya, Delima yang melihat dua orang anak muda itu lewat, menjadi berdebar-debar. Meski pun keduanya sama sekali tidak berpaling, tetapi Delima tahu, bahwa keduanya akan menemuinya setelah kawan-kawannya pulang.

Tetapi selain kedua orang anak muda itu, ternyata ada dua orang laki-laki yang lain yang berjalan justru diatas tanggul disisi yang lain. Keduanya justru berhenti ketika mereka melihat beberapa orang perempuan sedang mencuci itu.

Perempuan-perempuan yang sedang mencuci itu mulai menjadi gelisah. Nampaknya keduanya menaruh perhatian terhadap mereka yang sedang mencuci itu.

Delima pun menjadi gelisah pula. Ketika ia memandang ke atas tanggul di seberang, ternyata Manggada dan Laksana telah tidak nampak lagi.

“Seandainya mereka masih ada” berkata Delima didalam hatinya. Meski pun demikian, Delima masih juga berharap bahwa mereka berdua masih berada disekitar tempat itu, karena Delima pun berharap untuk dapat bertemu dengan anak-anak muda itu setelah kawan-kawannya pulang.

Kedua orang yang berada diatas tanggul itu masih berdiri dilemparnya. Sejenak keduanya saling berbicara perlahan-lahan. Agaknya keduanya sedang membicarakan, apakah yang akan mereka lakukan.

Perempuan-perempuan itu menjadi cemas, ketika kedua orang itu pun kemudian justru turun dari atas tanggul dan melangkah mendekati mereka yang sedang mencuci itu.

Beberapa orang diantara perempuan itu justru telah mencebur kedalam air dengan pakaian mereka yang memang sudah basah.

Wajah kedua orang itu memang kelihatan garang. Bahkan berkesan menyeramkan.

“Jangan takut” berkata salah seorang dari mereka, “aku hanya ingin bertanya.”

Perempuan-perempuan itu justru terdiam bagaikan membeku.

Delima yang pernah didatangi orang-orang yang tidak dikenalnya, masih juga merasa takut. Jika saja ia tidak ditolong oleh pamannya, maka ia sudah menjadi korban keganasan orang-orang dari padepokan pamannya itu sendiri. Ketika mula-mula orang bongkok itu mendatanginya, Delima pun menjadi ketakutan. Tetapi wajah orang bongkok itu nampak lembut sehingga akhirnya ia justru menjadi akrab. Bukan saja dengan orang bongkok itu sendiri, tetapi juga dengan anak-anak muda yang sering bersamanya.

Sementara itu, orang yang berwajah garang itu berkata selanjutnya, “Aku hanya ingin mengetahui, dimana letaknya padepokan Kiai Banyu Bening. Menurut pendengaranku, padepokan itu ada disekitar tempat ini.”

Perempuan-perempuan itu tahu benar, dimanakah letak padepokan itu. Tetapi mereka tidak tahu perkembangan terakhir yang telah terjadi di padepokan itu. Mereka hanya tahu bahwa telah terjadi perang. Orang-orang lewat, dipasar dan di kedai-kedai berbicara tentang perang yang telah terjadi di padepokan, kemudian merambat kesekitarnya. Segala macam upacara telah terhenti. Kemudian mereka pun tahu bahwa perang telah selesai. Tetapi perkembangan keadaan masih belum mereka ketahui dengan pasti.

Karena perempuan-perempuan itu tidak segera menjawab, maka laki-laki itu mengulangi pertanyaannya, “He, kenapa kalian. diam saja? Dimana letak padepokan Kiai Banyu Bening?”

Wajah orang itu nampak berkerut. Sementara itu orang itu berkata dengan nada yang merendah, “Jangan takut kepada orang-orang padepokan itu. Kami akan melindungi kalian jika mereka marah hanya karena kalian menunjukkan kepada kami, dimana letak padepokan Kiai Banyu Bening.”

Dalam ketegangan itu, akhirnya Delima lah kemudian menjawab, “Tidak terlalu jauh dari padukuhan ini memang terdapat sebuah padepokan paman. Tetapi kami tidak tahu siapakah yang tinggal di padepokan itu.”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Seorang diantara mereka kemudian bertanya pula, “Apakah kau tidak pernah mendengar nama pemimpin dari padepokan itu?”

Delima menggeleng. Katanya, “Tidak paman. Padepokan itu nampaknya memang menutup diri.”

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Tunjukkan arahnya.”

Delima memang menunjuk kearah padepokan yang sebenarnya diketahuinya padepokan Kiai Banyu Bening. Namun Delima pun tahu serba sedikit bahwa telah terjadi pertempuran di padepokan itu. Selanjutnya, Delima memang tidak tahu, apa yang kemudian terjadi.

Kedua orang itu pun kemudian telah melangkah meninggalkan tepian.

Demikian orang-orang itu pergi, maka perempuan-perempuan yang sedang mencuci itu sibuk mengemasi cucian mereka. Meski pun ada diantara mereka yang belum selesai, namun mereka menjadi tergesa-gesa pulang. Kedua orang yang bertanya tentang padepokan itu membuat mereka menjadi ketakutan.

Tetapi ternyata Delima tidak ingin pulang bersama mereka. Ia yakin bahwa kedua anak muda yang dilihatnya lewat tanggul di seberang sungai itu masih ada di sekitar tempat itu.

Ketika kawan-kawannya siap untuk meninggalkan tepian, maka Delima itu pun berkata, “Kurang sedikit. Silahkan.”

“Kau tidak takut sendiri ditepian, Delima?” bertanya seorang kawannya.

“Hanya kurang sedikit, sebelum kalian sampai ke tikungan, aku sudah menyusul.”

Kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Namun sekali lagi Delima berkata, “Pulanglah. Aku tidak apa-apa disini.”

Mula-mula kawan-kawannya tidak sampai hati meninggalkan Delima sendiri. Namun ketika beberapa kali Delima minta mereka mendahuluinya, maka mereka pun telah bergerak meninggalkan tepian.

Sebenarnyalah Delima memang ragu-ragu. Demikian kawan-kawannya naik keatas tanggul, Delima pun segera mengemasi cuciannya pula. Jika ia tidak yakin kedua anak muda itu ada disekitarnya, maka Delima akan segera berlari menyusul mereka.

Beberapa saat kemudian, kawan-kawan Delima itu sudah tidak nampak lagi. Mereka telah hilang dibalik pepohonan ketika mereka memasuki lorong sempit diujung padukuhannya.

Delima mulai menjadi gelisah. Ia masih berdiri ditepian memandangi tanggul diseberang sungai. Tetapi ia tidak segera melihat kedua orang anak muda yang sering datang bersama orang yang bongkok itu.

Delima terkejut sekali ketika tiba-tiba saja dua orang muncul dan berdiri diatas tanggul sungai itu. Hampir saja Delima menjerit. Namun untunglah, bahwa mulutnya masih terkatub.

“Kalian mengejutkan aku” desis Delima.

Keduanya tertawa pendek. Sementara Delima berkata, “Aku sudah akan pulang. Nanti kawan-kawan itu menjadi gelisah. Jika mereka menyampaikan kegelisahan mereka pada orang-orang padukuhan, maka beberapa orang akan berdatangan kemari.”

“Kenapa kau tidak pulang bersama mereka saja?” bertanya Laksana.

Delima menjadi agak bingung. Tetapi kemudian ia menjawab juga, “Cucianku kurang sedikit. Dan sekarang aku sudah selesai.”

Laksana pun kemudian menuruni tebing sambil bertanya, “Kau takut kepada kedua orang yang menanyakan padepokan Kiai Banyu Bening itu?”

“Kau melihat mereka?” bertanaya Delima.

“Ketika aku melihat keduanya, aku segera mendekat. Aku sudah sejak tadi berada dibalik perdu itu.”

“Karena mereka berdua maka aku justru harus segera menyusul kawan-kawanmu. Aku memang yakin bahwa kalian masih ada ditempat ini. Aku ingin mendengar kabar pamanku.”

“Pamanmu tidak apa-apa. Ia mengirimkan salamnya kepada ayahmu. Pamanmu sekarang berada di padepokan.”

“Bagaimana dengan Kiai Banyu Bening atau orang yang membayangi padepokan Kiai Banyu Bening itu? Apakah benar bahwa padepokan itu sudah beralih tangan?”

“Ceriteranya panjang. Tetapi sampaikan saja kepada ayahmu, bahwa pamanmu tidak apa-apa dan bahkan sekarang menjadi salah seorang penentu di padepokan itu.”

“Kalian dengar kedua orang yang mencari padepokan Kiai Banyu Bening tadi?”

“Ya. Nampaknya masih akan ada persoalan lagi.”

“Ah, terima kasih. Aku harus segera menyusul kawan-kawanku sebelum mereka menjadi gelisah dan memberitahukan kepada orang-orang padukuhan.”

Laksana memang menjadi sedikit kecewa. Tetapi ia mengerti, bahwa kedatangan kedua orang yang mencari padepokan Kiai Banyu Bening itu telah merusak suasana. Namun Laksana tidak ingin menahan Delima lebih lama lagi.

Sejenak kemudian, maka Delima itu pun sudah naik kealas tanggul. Kepada Manggada dan Laksana ia pun berkata, “Salamku kepada paman. Tolong, sampaikan pula tentang kedua orang yang mencari padepokan Kiai Banyu Bening itu.”

“Baik Delima,” jawab Laksana, “pada kesempatan lain, aku akan datang lagi.”

“Mungkin kami tidak berada di tepian lagi besok. Kedua orang itu telah menakut-nakuti kawan-kawanku. Sendiri aku juga takut, sementara kalian belum pasti ada di tepian.”

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Suasananya benar-benar telah dirusak oleh kedua orang itu. Bukan hanya hari itu. Tetapi mungkin dalam tiga ampat hari mendatang, gadis-gadis itu masih belum berani turun ke sungai lagi.

Demikianlah, maka Delima pun berlari-lari kecil menyusul kawan-kawannya. Ia tidak ingin kawan-kawannya menjadi gelisah karena ia terlalu lama tidak segera nampak.

Sebenarnyalah, kawan-kawan Delima itu terhenti di simpang ampat di ujung padukuhan. Mereka memang mulai menjadi cemas.

Seorang laki-laki yang berjalan sambil membawa cangkul sempat bertanya, “Ada yang kalian tunggu?”

“Kami menunggu Delima paman.”

“Dimana anak itu?”

“Kami bersama-sama mencuci di tepian. Ketika kami naik, Delima masih tinggal untuk menyelesaikan cuciannya yang tinggal sedikit.”

“Kenapa kalian tidak menunggu di tepian?”

“Delima sendiri minta kami mendahului.”

Laki-laki itu mengangguk-angguk. Sambil melangkah pergi ia bergumam, “Nanti ia akan pulang sendiri.”

Kawan-kawan Delima yang menunggu itu menjadi semakin gelisah. Mereka membayangkan, bahwa kedua orang laki-laki itu datang kembali, menangkap Delima dan membawanya pergi.

“Delima terlalu cantik untuk berada di tepian seorang diri” berkata kawan-kawannya itu didalam hatinya.

Tiba-tiba serentak anak-anak itu bersorak ketika mereka melihat Delima berlari-lari kecil muncul dari balik tikunagan. Sambil melambaikan tangannya Delima bergegas menyusul kawan-kawannya itu.

“Kau membuat kami cemas” berkata salah seorang dari kawan-kawannya itu.

Delima yang sudah berada diantara kawan-kawannya disela-sela nafasnya yang tersengal-sengal berkata, “selembar cucianku jatuh di pasir tepian. Aku harus mencucinya kembali.”

“Jangan terlalu berani Delima” desis kawannya yang sedikit lebih tua daripadanya.

“Sebenarnya aku juga ketakutan. Tetapi untunglah, laki-laki itu tidak kembali.”

“Besok kita tidak pergi ke tepian” berkata seorang diantara mereka.

“Ya. Tentu tidak. Jika kita pergi juga ke tepian dan terjadi sesuatu, itu adalah salah kita sendiri.”

“Atau kita dapat mengajak dua tiga orang kawan laki-laki kita.”

“Tetapi orang-orang yang nampaknya garang itu sangat berbahaya” sahut yang lain, “anak-anak muda padukuhan ini tidak akan dapat melawan mereka.”

“Ya,” berkata Delima, “wajahnya saja sudah menakutkan.”

“Marilah” seorang diantara mereka mengajak kawan-kawannya pulang.

Ketika Delima sampai di rumah, ayahnya sudah siap pergi ke sawah. Namun Delima sempal berceritera bahwa ia bertemu dengan anak-anak muda yang sering lewat ditepian bersama Ki Pandi yang bongkok itu.

“Apakah orang bongkok itu juga datang?”

“Tidak ayah. Orang bongkok itu tidak nampak. Namun kedua anak muda itu mendapat pesan dari paman, salam paman bagi ayah. Selebihnya paman memberikan pesan pula, bahwa paman tidak apa-apa. Paman baik-baik saja.”

“Sokurlah” ayahnya mengangguk-angguk.

Namun sebelum ayahnya bertanya lebih jauh tentang anak-anak muda itu, maka Delima pun telah menceriterakan kedatangan dua orang laki-laki yang garang, yang bertanya letak padepokan Kiai Banyu Bening.

“Apalagi yang akan terjadi?” desis Kiai Krawangan. Namun orang itu pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan pergi ke sawah. Berhati-hatilah jika kau turun ke tepian.”

“Kawan-kawan sudah berjanji, esok kami tidak turun ke sungai ayah.”

“Bagus. Kau dapat mencuci pakaian di sumur. Bukankah airnya cukup banyak dan seberapa pun kau memakainya tidak akan kering. Bahkan dimusim kemarau sekalipun?”

“Ya, ayah” jawab Delima.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksana telah melangkah meninggalkan tepian menyusuri tanggul. Namun Manggada tiba-tiba saja memperlambat langkahnya sambil berkata, “Kita harus mengambil jalan lain.”

“Kenapa?”bertanya Laksana.

“Mungkin kedua orang laki-laki itu juga pergi ke padepokan. Sebaiknya kita menghindar agar kita tidak bertemu dengan mereka” jawab Manggada.

“Apa salahnya?” bertanya Laksana.

“Mungkin akan dapat terjadi benturan.”

Laksana mengerutkan dahinya. Agaknya benturan kekerasan tidak menjadi persoalan bagi Laksana. Hampir bergumam Laksana itu berkata, “Asal bukan kita yang mendahuluinya, benturan kekerasan itu bukan tanggung-jawab kita.”

“Kita belum tahu, apa maksud mereka mencari padepokan Kiai Banyu Bening.”

“Apa pun maksudnya, jika mereka tidak bermaksud buruk, maka berselisih jalan pun tidak akan timbul persoalan.”

“Tetapi sebaiknya kita hindari mereka agar tidak menimbulkan persoalan-persoalan baru, justru persoalan mereka yang sebenarnya bukan persoalan kita.”

Laksana tidak menjawab. Tetapi ia mengikuti langkah Manggada yang mencoba menghindari kedua orang yang sedang mencari padepokan Kiai Banyu Bening itu.

Karena itu, maka keduanya telah mengambil jalan melingkar, meski pun dengan demikian perjalanan mereka menjadi lebih jauh. Namun keduanya masih harus mengajak kedua ekor harimau Ki Pandi yang menunggu mereka di semak-semak.

Ternyata kedua ekor harimau itu tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan seekor diantaranya sempat tertidur ketika Manggada dan Laksana lewat.

Dengan demikian, maka kedua orang anak muda itu telah berjalan melewati padang perdu yang luas, namun yang menurut pengamatan keduanya, padang perdu itu dapat dijadikan lahan persawahan jika air sempat menggapai tempat itu.

“Tinggal membuat parit. Agak di atas dapat ditemukan banyak mata air yang dapat dialirkan menjadi satu sehingga menjadi sebuah parit yang cukup deras” berkata Manggada.

Laksana mengangguk-angguk. Kalanya, “Nampaknya orang-orang di daerah ini masih belum membutuhkan.”

“Mereka bukan orang-orang yang terbiasa bekerja keras. Justru apa yang ada telah memberikan pangan yang cukup, mereka tidak berusaha apa-apa lagi selain menikmati apa yang sudah ada.”

“Ki Warana akan dapat memanfaatkan tanah ini. Tentu saja dengan seijin lingkungannya.”

Manggada mengangguk-angguk. Sementara itu keduanya berjalan terus melalui jalan setapak dan bahkan kemudian, mereka menyusuri gumuk-gumuk kecil berbatu padas.

Namun tiba-tiba saja kedua ekor harimau itu menjadi gelisah. Agaknya ada sesuatu yang menarik perhatian mereka.

Manggada dan Laksana pun menjadi semakin berhati-hati. Agaknya dibalik batu-batu itu ada sesuatu yang membuat kedua ekor harimau itu gelisah.

Manggada dan Laksana yang sudah semakin terbiasa dengan kedua ekor harimau itu telah memberi isyarat, agar keduanya menunggu semen-tara Manggada dan Laksana dengan sangat berhati-hati melihat keadaan dibalik batu-batu padas itu.

Keduanya tertegun ketika mereka mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap.

Manggada dan Laksana pun segera mengetahui. Bahwa yang sedang ber-bincang itu tentu lebih dari dua orang.

Manggada pun kemudi-an memberi isyarat kepada Laksana untuk melangkah mundur. Agaknya Manggada tidak ingin terlibat dalam perselisihan dengan orang-orang yang tidak dikenal itu. Karena itu, maka Manggada menganggap lebih baik mereka tidak bertemu dengan orang-orang itu.

Namun demikian Manggada dan Laksana bergeser menjauh, tiba-tiba saja mereka mendengar seseorang berteriak, “He, berhenti. Jangan bergerak.”

Manggada dan Laksana terkejut. Ketika mereka menengadahkan wajah mereka, maka mereka melihat seorang yang berdiri diatas batu padas yang besar dengan tombak di tangan. Tombak yang sudah siap dilontarkan kearah Manggada atau Laksana.

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka memang tidak beringsut dari tempatnya.

Orang-orang yang berada dibalik batu-batu padas itu pun mendengar teriakan itu. Karena itu, maka mereka pun berlari-larian melingkari batu padas itu.

Manggada dan Laksana masih berdiri ditempatnya. Mereka sempat menghitung orang-orang yang kemudian mengerumuninya.

“Ampat orang. Lima orang dengan yang diatas.” Sementara itu orang yang tertua diantara mereka dan berdiri dipaling depan bertanya dengan nada datar, “Siapakah kalian?”

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggada pun menjawab, “Kami datang dari padukuhan dipinggir sungai itu, Ki Sanak.”

“Untuk apa kalian datang kemari?” bertanya orang itu.

Manggada pun menjawab meski pun agak ragu, “Kami sedang melihat kemungkinan untuk memperluas lahan sawah kami, Ki Sanak. Tempat ini memang sangat memungkinkan. Sementara penghuni padukuhan kami menjadi semakin banyak, sedang sawah kami tidak cukup luas.”

Orang itu mengangguk-angguk. Ternyata jawaban Manggada masuk di akal mereka.

Yang kemudian bertanya adalah justru Manggada, “Siapakah Ki Sanak ini? Agaknya kami masih belum pernah bertemu dengan kalian selama ini.”

“Kami datang dari jauh” jawab orang yang tertua diantara mereka, “Kami sedang mencari seseorang yang bernama Kiai Banyu Bening. Nama yang dipakai sejak orang itu mendirikan satu padepokan di kaki Gunung Lawu ini,”

“Apakah kalian termasuk murid dari padepokan itu?” bertanya Manggada.

“Ternyata kau anak yang dungu” sahut orang itu, “jika aku murid dari padepokan itu, tentu aku tidak perlu mencarinya.”

“Mungkin Ki Sanak murid yang sudah tuntas sehingga meninggalkan padepokan. Sementara itu padepokan itu telah berpindah tempat.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Memang mungkin,” Namun seorang yang lain tiba-tiba saja telah bertanya, “Kau melihat padepokan Kiai Banyu Bening itu?”

“Kami tidak tahu Ki Sanak. Yang kami tahu, disana ada sebuah padepokan, Tetapi aku tidak tahu siapakah pemimpin dari padepokan itu.”

“Ya. Ampat kawanmu sedang melihat padepokan itu. Mudah-mudahan benar bahwa padepokan itu adalah padepokan Kiai Banyu Bening.”

“Untuk apa kalian mencari Kiai Banyu Bening?” bertanya Laksana tiba-tiba.

Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun menjawab, “Tidak apa-apa. Kami mempunyai kepentingan pribadi dengan Kiai Banyu Bening.”

“Cobalah. Datanglah ke padepokan itu. Mungkin di padepokan itu tinggal orang yang sedang kalian cari.”

“Sudah aku katakan, ampat orang kawanku sudah pergi ke-sana untuk mengetahuinya.”

“Baiklah. Jika Demikian, kami minta diri” berkata Manggada.

“Kalian akan pergi kemana?” bertanya orang itu.

“Kami masih akan melihat lingkungan yang luas. Bukan saja melihat kesuburan tanahnya, tetapi juga letaknya apakah mungkin kami dapat menggali sebuah parit induk melalui daerah ini, meski pun dasar sungai itu termasuk terlalu rendah, atau menanmpung air dari banyak mata air.”

Orang tertua diantara mereka itu pun mengangguk sambil menjawab, “Pergilah. Tetapi kalian tidak usah berceritera tentang kehadiran kami disini. Kami tidak ingin membuat persoalan dengan orang-orang padukuhan, sasaran kami terutama adalah Kiai Banyu Bening.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara orang itu pun berkata selanjutnya, “Jangan membuat orang-orang padukuhan ketakutan. Kami tidak mempunyai persoalan dengan mereka. Kecuali jika mereka sengaja mencampuri persoalan kami.”

“Baiklah” berkata Manggada, “kami bukan orang yang sedang mencampuri persoaan orang lain.”

“Bagus” sahut orang itu, “pergilah. Lakukan pekerjaanmu sebaik-baiknya.”

Namun Laksana tiba-tiba menyahut, “Kami sekaligus sedang menggembalakan ternak kami.”

“Ternak?” tiba-tiba saja seorang diantara mreka bertanya, “Ternak apa? Kambing? Atau apa? Kami sudah lama tidak makan daging kambing. Jika kau mengembalakan kambing, tinggal seekor untuk kami.”

“Ternakku hanya dua ekor” Jawab Laksana.

“Tidak apa. Satu untuk kami.”

Tetapi yang tertua dari antara mereka pun berkata, “Ternaknya hanya dua ekor. Jika satu kau ambil, maka ia hanya tinggal mempunyai seekor.”

“Tidak apa. Ia akan dapat membeli lagi.”

“Bawa ternakmu pergi” berkata orang itu.

Namun agaknya yang lain berusaha memaksanya., “Biar sajalah. Kami memerlukan seekor. Bukankah itu lebih baik daripada aku merampasnya semua.”

Laksana lah yang kemudian berkata, “Biarlah aku panggil ternak yang sedang aku gembalakan.”

Orang yag tertua itu menjadi heran. Agaknya anak muda itu tidak berkeberatan jika seekor ternaknya harus ditinggalkannya di padang perdu itu.

Seperti yang diajarkan Ki Pandi, maka Laksana pun telah memberikan isyarat memanggil kedua ekor harimaunya yang ditinggalkannya. Meskipiun tidak memakai suara seruling, tetapi kedua ekor harimau itu pun mengerti pula isyarat itu, sehingga kedua-nya pun segera mendekati Laksana.

Orang-orang itu terkejut melihat dua ekor harimau yang besar dan tegar berjalan mendekat, Dengan serta merta mereka pun segera mempersiapkan senjata mereka.

Namun Laksana sambil tersenyum berkata, “Inilah ternak kami yang kami gembalakan.”

“Setan kau,” geram salah seorang dari mereka.

Manggada dan Laksana pun kemudian meninggalkan orang-orang yang memandanginya dengan termangu-mangu. Laksana berjalan sambil memegangi tengkuk salah seekor dari kedua harimau yang mengikutinya, sementara yang seekor lagi berjalan di depan.

“Kau dapat membuat mereka curiga” berkata Manggada.

“Mereka tidak akan berbuat apa-apa” jawab Laksana.

“Tetapi sebenarnya tak perlu kau lakukan.”

“Bukankah mereka benar-benar tidak berbuat apa-apa?”

“Tetapi penilaian mereka terhadap kita telah berubah.” Laksana tidak menjawab. Tetapi menurut pendapatnya, sama sekali tidak terjadi akibat buruk dari kelakarnya yang mendebarkan itu.

Manggada dan Laksana pun berjalan semakin menjauhi orang-orang yang berada di belakang gumuk kecil berbatu-batu padas itu. Namun mereka tidak akan memilih jalan lagi. Justru ia berusaha menghindari pertemuan dengan dua orang yang tidak dikenalnya, mereka malahan bertemu dengan sekelompok orang yang lebih banyak. Untunglah orang-orang itu tidak berbuat apa-apa atas diri Manggada dan Laksana, sehingga tidak terjadi benturan kekerasan.

Manggada dan Laksana pun berjalan semakin jauh. Mereka langsung berjalan menuju ke padepokan.

Ketika mereka sampai di padepokan, maka Manggada dan Laksana pun segera menyampaikan apa yang mereka lihat dan dengar kepada Ki Pandi.

Ki Pandi mendengarkannya dengan sungguh-sungguh Kemudian dengan serta-merta ia pun bertanya, “Dimana kedua ekor harimau itu sekarang?”

“Mereka berada diluar seperti saat sebelum kami berangkat.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian memanggil kawan-kawannya serta Ki Warana untuk berbincang.

Masih ada saja persoalan yang timbul. Ki Warana pun termangu-mangu sejenak. Dengan ragu ia bertanya, “Apakah yang sebenarnya mereka inginkan?”

“Ternyata banyak pihak yang mempunyai persoalan dengan Kiai Banyu Bening” desis Ki Lemah Teles.

“Untunglah jika mereka mau menyelesaikan persoalan itu sekarang, sehingga yang tinggal kemudian adalah ketenangan dan tatanan kehidupan yang mantap disini.” berkata Ki Ajar Pangukan.

“Kita memang sudah letih” desis Ki Warana, “meski pun demikian, jika kita dipaksa, maka kita akan mempertahankan padepokan ini dengan kekerasan.”

“Kita akan menunggu. Nampaknya keempat orang yang sedang mengamati padepokan ini masih ragu-ragu untuk datang langsung kemari” berkata Ki Pandi.

Sebenarnyalah dua orang yang bertemu dengan beberapa orang perempuan yang sedang mandi itu telah menemui kawan-kawannya di gumuk kecil itu. Kemudian mereka berempat berniat untuk mencari keterangan lebih jauh tentang padepokan yang memang didirikan oleh Kiai Banyu Bening itu.

Akhirnya, keempat orang itu dapat meyakinkan, bahwa padepokan itu memang padepokan yang dipimpin oleh Kiai Banyu Bening, karena padepokan itu memang satu-satunya padepokan yang mereka jumpai didaerah itu.

Seorang laki-laki tahu pasti bahwa padepokan itu adalah padepokan Kiai Banyu Bening. Hampir disetiap padukuhan telah didirikan sanggar untuk melakukan upacara.

Meski pun demikian, orang-orang padukuhan itu masih kurang mengerti, bagaimana keadaan padepokan itu setelah terjadi pertempuran-pertempuran yang menggetarkan jantung itu.

“Semua orang menunggu, apakah yang sebenarnya telah terjadi di padepokan itu. Perang disusul dengan perang.”

“Tetapi bukankah sekarang tidak sedang terjadi perang itu?” bertanya salah seorang dari keempat orang itu.

“Tidak Ki Sanak” jawab laki-laki itu.

Tetapi keempat orang itu tidak langsung pergi ke padepokan itu. Mereka masih harus menemui kawan-kawan mereka untuk meminta pertimbangan, apakah yang sebaiknya harus mereka lakukan.

“Ada diantara kita yang harus datang memasuki padepokan itu” berkata orang tertua diantara mereka.

“Siapa?” bertanya salah seorang kawannya.

“Aku sendiri” jawab yang tertua itu.

“Jangan sendiri.”

“Siapa akan pergi bersamaku?” bertanya orang tertuaku. Seorang yang bertubuh sedang berkumis tebal berkata, “Aku.”

Demikianlah, maka mereka berdua pun telah pergi ke padepokan yang tidak diketahui dengan jelas, siapakah yang ada di dalamnya itu.

Ketika keduanya sampai ke depan regol padepokan, maka keduanya termangu-mangu sejenak Di hadapan mereka, regol padepokan itu berdiri dengan angkuhnya menantang kedatangan mereka berdua.

Orang yang tertua itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ditetapkannya hatinya melangkah mendekati regol itu.

Beberapa kali ia mengetuk pintu regol padepokan yang tertutup rapat itu.

Beberapa saat orang itu menunggu. Ia mengangkat wajahnya ketika dari atas panggung disebelah regol itu terdengar seseorang bertanya, “He, siapakah kalian dan siapakah yang kau cari?”

“Perkenankan aku masuk. Ada sesuatu yang penting” jawab orang yang berdiri didepan regol itu.

“Siapakah kalian?” bertanya orang yang ada dipanggungan.

“Nanti akan kami jelaskan” jawab orang itu.

Orang yang berdiri diatas panggungan itu memandang berkeliling. Ia harus memastikan bahwa tidak ada kemungkinan buruk yang dapat terjadi di saat regol padepokan itu dibuka.

Baru setelah ia yakin akan hal itu, maka ia pun memberi isyarat kepada penjaga regol itu, agar regol itu dibuka.

Perlahan-lahan regol padepokan itu pun terbuka. Beberapa orang yang berada dibelakang regol itu pun mempersilahkan kedua orang itu masuk.

Demikian keduanya berada didalam, maka pintu regol itu pun segera tertutup kembali.

“Siapakah yang kalian cari?”

“Kami ingin bertemu dengan pemimpin padepokan ini” jawab orang itu.

“Siapa?”

“Siapa pun orang itu.”

Para petugas di regol itu pun termangu-mangu sejenak. Seorang diantara mereka berkata, “tunggulah. Aku akan menyampaikannya.”

Orang itu pun segera menemui Ki Warana untuk menyampaikan keinginan kedua orang yang telah memasuki regol halaman padepokan itu.

Ki Warana menjadi termang-mangu sejenak. Tetapi Ki Pandi yang mendengar pembicaraan itu berkata, “Apakah tidak sebaiknya orang itu dipersilahkan naik?”

Ki Warana mengangguk sambil berkata, “Baiklah. Biarlah mereka naik.”

Sejenak kemudian, maka kedua orang itu sudah duduk dipendapa, ditemui oleh Ki Warana, Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan.

“Siapakah yang kalian cari Ki Sanak?” bertanya Ki Warana.

Kedua orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya sebuah bangunan batu yang ada di depan pendapa. Satu diantaranya menyerupai sebuah tugu. Dialasnya terdapat sebuah nisan kecil.

“Kenapa nisan itu ada disana?.” bertanya orang yang tertua itu.

“Nisan itu nisan seorang bayi yang mati terbakar” jawab Ki Warana.

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya dengan pasti, “Aku akan berbicara dengan Kiai Banyu Bening.”

Ki Warana mengerutkan dahinya. Katanya, “Apakah kalian mempunyai kepentingan dengan Kiai Banyu Bening?”

“Ya, Ki Sanak.” jawab orang itu.

“Persoalan apakah yang kalian bawa?”

“Aku akan menyampaikannya sendiri.”

“Tetapi setiap orang yang datang untuk menemuinya harus memastikan, persoalan apakah yang akan dibicarakannya. Jika aku menyampaikan niat kalian menemuinya tanpa menyebutkan persoalan yang kalian bawa, maka Kiai Banyu Bening tidak akan menemui kalian.”

Orang itu menjadi ragu-ragu. Namun ia tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka katanya, “Baiklah Ki Sanak. Jika hal itu menjadi syarat untuk dapat bertemu dengan Kiai Banyu Bening,” orang itu berhenti sejenak. Lalu katanya kemudian, “Kami datang untuk berbicara tentang nisan kecil itu.”

Ki Warana mengerutkan dahinya. Katanya, “Tentang nisan kecil itu? Ada apa dengan nisan itu. Nisan itu adalah nisan anak Kiai Banyu Bening yang terbunuh didalam api, ketika api itu membakar rumahnya.”

“Benar.” orang itu mengangguk-angguk. Ia menjadi yakin, bahwa ia telah datang ketempat yang benar. Sementara itu, orang itu berkata selanjutnya, “persoalan itulah yang akan aku bicarakan dengan Kiai Banyu Bening.”

“Ki Sanak. Jangan mengganggu ketenangan Kiai Banyu Bening. Sejak lama ia berusaha melupakan persoalan yang terjadi pada anaknya itu. Jika Ki Sanak membicarakannya lagi, maka hatinya yang luka itu akan berdarah kembali.”

“Aku tidak dapat berbuat lain, Ki Sanak” jawab orang itu. Bahkan kemudian katanya, “Bukankah nisan itu selalu mengingatkannya kepada anaknya itu?”

“Tetapi tugu batu itu merupakan tempat yang sangat berarti baginya. Tempat itu merupakan sumber kekuatan dan ilmu Kiai Banyu Bening.”

“Sudahlah Ki Sanak” berkata orang tertua itu, “aku ingin berbicara dengan Kiai Banyu Bening. Persoalan ini hanya diketahui oleh Kiai Banyu Bening. Setelah bertahun-tahun kami mencarinya, maka kini kami sudah menemukannya disini.”

“Apakah kau pernah bertemu dengan Kiai Banyu Bening?” bertanya Ki Warana tiba-tiba.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya orang-orang yang duduk di sekitamya. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Sudah Ki Sanak. Tentu sudah.”

Tetapi Ki Warana itu pun berkata, “Jika sudah, kenapa kau tidak tahu, bahwa Kiai Banyu Bening duduk diantara kita sekarang ini?”

(Oo=dwkz-mch-oO)

Bersambung ke jilid 6

 

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 5 – Matahari Senja

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s