hlhlp-082


<<kembali | lanjut >>

KARENA itu, maka pertempuran pun telah terjadi lagi. Tetapi sudah tidak lagi dalam keseimbangan yang sama. Orang-orang yang datang itu demikian terkejut melihat kawannya yang memancarkan darah dari lukanya, sehingga rasa-rasanya jantung mereka sudah menjadi kuncup.

Dengan demikian maka orang-orang itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Apalagi serangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat semakin cepat dan berat.

Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat tidak ingin kehilangan lawannya yang bertubuh tinggi besar itu. Karena itu, ketika ada tanda-tanda bahwa orang-orang itu akan melarikan diri, maka Mahisa Pukat berusaha untuk mengakhiri pertempuran itu dengan caranya.

Serangannya justru menjadi semakin cepat. Kedua orang lawannya tidak mampu lagi menahan arus serangannya. Namun seolah-olah kesempatan untuk menghindar dari pertempuran itu tidak pernah mereka dapatkan.

Orang-orang itu menjadi semakin cemas ketika mereka melihat seorang kawannya terlempar dari pertempuran. Ternyata wantilan telah mengakhiri pertempuran. Lawannya tidak sempat menangkis senjatanya ketika ia menjulurkan senjata itu langsung ke arah dadanya.

Lawannya sempat bergeser. Tetapi ia tidak berhasil membebaskan diri dari jangkauan senjata Wantilan itu.

Dengan demikian maka kekuatan orang-orang itu telah berkurang dengan dua orang. Hal itu akan membuat mereka menjadi semakin lemah menghadapi lawan-lawan mereka yang mengaku pengembara itu. Apalagi di tangan dua orang anak muda di antara mereka, terdapat senjata yang jarang ada bandingnya.

Namun dalam kecemasan itu, seorang di antara lawan Mahisa Murti telah berlari meninggalkannya, meloncat beberapa langkah menggapai obor di sudut rumah.

Mahisa Murti tidak membiarkannya. Namun lawannya yang seorang lagi menyerangnya membabi buta. Pedangnya yang besar terayun-ayun mengerikan.

Namun Mahisa Murti memiliki banyak kelebihan dari orang itu. Dengan membenturkan senjatanya, Mahisa Murti berhasil melemparkan pedang orang itu dari tangannya.

Tetapi Mahisa Murti ternyata terlambat. Orang itu berhasil menggapai obor di sudut rumah dan melemparkannya ke dinding.

“Tidak, tidak,” teriak perempuan tua itu.

Mahisa Murti memang menjadi marah. Dengan kemampuannya yang sangat tinggi, ia telah meloncat menyusul orang yang telah terlanjur melemparkan obor itu. Satu ayunan pedang telah menggores dada orang yang masih berusaha untuk mempertahankan diri.

Tetapi orang itu tidak sempat melakukannya. Ia memang sempat mengangkat rantainya dan memutarnya. Namun pedang Mahisa Murti ternyata lebih cepat terayun mengoyak dadanya.

Orang itu terlempar surut dan kemudian jatuh berguling di tanah.

Namun Mahisa Murti tidak memburu dan menyelesaikannya. Demikian lawannya yang seorang lagi. Perhatiannya lebih tertuju kepada api yang mulai membakar dinding.

Dalam pada itu perhatian Mahisa Pukat pun sekilas tertuju kepada api yang mulai menjilat itu.

Kesempatan itu telah dipergunakan oleh orang yang bertubuh tinggi tegap itu. Seolah-olah ia telah mendapat kesempatan. Ketika kawannya ingin mempergunakan kesempatan itu untuk menyerang Mahisa Pukat, maka orang bertubuh tinggi tegap itu justru telah meloncat melarikan diri.

Mahisa Pukat berteriak marah. Ia berusaha menyusulnya. Tetapi langkahnya tertahan ketika ia mendengar Mahisa Murti berkata lantang, “Padamkan api itu.”

Wantilan yang telah kehilangan lawannya pun segera berlari ke arah api itu. Demikian pula Mahisa Amping. Mereka telah membantu Mahisa Murti berusaha memadamkan api yang hampir menjilat atap dengan memotong tali-tali ijuk menghentakkan dinding yang telah terbakar itu sehingga terlepas dari tiang-tiang penguatnya.

Mahisa Murti dan saudara-saudaranya memang berhasil. Ketika dinding itu roboh sebelum api menjilat atap, maka mereka-pun telah memadamkannya. Mereka sempat memotong beberapa batang pohon pisang dan melemparkannya ke lidah api yang nampak semakin tinggi. Namun yang perlahan-lahan kemudian menjadi semakin surut dan akhirnya padam setelah disiram air.

Tetapi beberapa orang yang semula bertempur melawan orang-orang yang mengaku diri mereka pengembara itu telah hilang ke dalam kegelapan.

Mahisa Pukat menggeram menahan kemarahan yang bergejolak di dalam hatinya. Ia ingin menangkap orang bertubuh tinggi tegap itu dan membawanya kepada Ki Bekel. Namun usahanya itu tidak berhasil.

Sementara itu, ternyata hiruk pikuk yang terjadi, teriakan-teriakan dan kemudian lidah api yang menerangi daun pepohonan itu telah menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Mereka memang tidak dengan serta merta memasuki halaman rumah nenek tua itu. Mereka masih ragu-ragu dan bahkan ada yang menganggap bahwa yang terjadi itu adalah sebuah pergolakan ilmu hitam karena nenek tua itu telah menyerahkan rumah dan sawahnya kepada Ki Bekel.

Dengan demikian, maka beberapa orang padukuhan itu hanya berada di luar dinding. Sebagian dari mereka berkerumun di depan regol. Namun mereka yang mula-mula mendengar keributan dan melihat api, telah membangunkan tetangga-tetangga mereka dan membawa mereka berkumpul tanpa membunyikan isyarat apapun. Justru karena keragu-raguan dan kecemasan mereka bahwa mereka akan berhadapan dengan ilmu hitam.

Namun akhirnya laporan itu sampai kepada Ki Bekel. Dengan tergesa-gesa Ki Bekel telah datang pula. Tetapi beberapa saat Ki Bekel pun masih berada di luar regol halaman.

“Kami melihat api menyala Ki Bekel,” berkata seorang di antara orang-orang itu, “kami dua orang sedang meronda. Namun beberapa saat kemudian api pun padam. Yang terdengar adalah beberapa teriakan yang tidak terlalu jelas maknanya. Mungkin suara hantu-hantu dari ilmu hitam yang marah.”

Ki Bekel ragu-ragu sejenak. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Aku akan memasuki rumah itu.”

Sementara itu, Mahisa Murti memang menyadari, bahwa mungkin sekali beberapa orang telah mengetahui bahwa terjadi sesuatu di rumah itu. Karena itu, maka katanya, “Aku akan melihat ke halaman depan. Kau di sini. Lihat perasaan apa yang bergejolak di hati Amping yang telah membunuh itu. Ia masih terlalu kecil untuk melakukannya meskipun hal itu tidak disadarinya.”

Mahisa Pukat mengangguk kecil. Sementara itu Mahisa Murti telah melangkah menuju ke halaman depan diikuti oleh Mahisa Semu.

Ki Bekel memang sudah bersiap-siap untuk memasuki halaman rumah itu. Tetapi ternyata bahwa Mahisa Murti telah membuka regol halaman itu lebih dahulu.

Ki Bekel memang terkejut, ia melangkah surut beberapa langkah surut. Demikian beberapa orang yang lain. Bagaimanapun juga mereka merasa perlu berhati-hati. Mungkin justru orang-orang yang mengaku pengembara itulah yang telah membuat keributan dan bahkan membakar bagian dari rumah yang sudah diserahkan kepada Ki Bekel bagi padukuhan itu.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti pun berkata, “Ki Bekel. Ternyata telah terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki. Seseorang telah mengaku mempunyai hak atas warisan suami nenek tua itu. Karena itu, telah terjadi sesuatu di rumah ini.”

Ki Bekel masih saja termangu-mangu. Sementara itu Mahisa Murti berkata pula, “Ki Bekel. Marilah. Kita berbicara dengan nenek tua itu.”

Ki Bekel memang menjadi ragu-ragu. Namun ia pun telah memberi isyarat kepada orang-orang yang berkerumun di depan regol itu untuk mengikutinya.

Sementara itu, Mahisa Pukat tengah berbicara dengan Mahisa Amping. Ternyata jantung anak itu berdegup terlalu cepat. Dengan nada rendah Mahisa Pukat bertanya, “Bagaimana dengan kau, Amping.”

Mahisa Amping menggeleng lemah. Katanya, “Tidak apa-apa kak.”

“Kau telah melakukan sesuatu yang seharusnya belum kau lakukan,” desis Mahisa Pukat.

“Aku tidak sengaja melakukannya kak,” jawab Mahisa Amping.

“Jantungmu berdegup terlalu cepat,” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Amping menundukkan kepalanya. Sebenarnyalahia menjadi gelisah. Diluar sadarnya ia telah membunuh seseorang.

Dalam pada itu Mahisa Pukat pun berkata, “Baiklah. Mudah-mudahan kau tetap menyadari, apa yang telah terjadi.”

“Aku tahu maksud kakang Mahisa Pukat,” jawab Mahisa Amping.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ia pun mengerti bahwa Mahisa Amping tentu telah terpengaruh oleh peristiwa yang baru saja terjadi. Dalam umurnya yang masih sangat muda, Mahisa-Amping telah membunuh.

“Kau harus selalu mengingatnya. Meskipun apa yang kau lakukan telah memberikan jalan keluar bagi kesulitan yang kami alami, tetapi membunuh bukan cara yang baik diterapkan untuk mengatasi bermacam-macam persoalan yang masih akan kita hadapi bersama,” berkata Mahisa Pukat. Lalu katanya pula, “Kau tentu sering melihat hal itu terjadi. Kami memang pernah juga membunuh. Tetapi dengan pertimbangan-pertimbangan yang sangat masak.”

Mahisa Amping menganguk kecil.

Namun Mahisa Pukat berkata selanjutnya, “Tetapi yang kau lakukan kali ini justru memberikan satu pemecahan.”

Mahisa Amping mengangguk-angguk pula. Ia memang mengerti sepenuhnya maksud Mahisa Pukat. Ia mengerti bahwa Mahisa Pukat memberikan peringatan kepadanya, bahwa membunuh bukan satu-satunya cara yang terbaik. Tetapi ia pun mengerti bahwa yang dilakukan itu, telah dibenarkan oleh Mahisa Pukat, karena saat itu memang tidak ada cara lain yang dapat dilakukannya.

Sementara itu, maka Mahisa Murti telah membawa Ki Bekel dan beberapa orang penghuni padukuhan itu ke halaman belakang.

Mereka melihat orang-orang yang terbunuh dan terluka sangat parah. Bahkan agaknya tidak akan dapat tertolong lagi.

Mereka pun melihat dinding yang terbakar yang telah terlepas dari tiang-tiang penguatnya.

“Apa yang terjadi nek?” bertanya Ki Bekel.

Nenek tua itu pun telah menccriterakan apa yang telah terjadi. Seseorang telah mengaku berhak mewarisi rumah dan sawahnya. Mereka justru datang setelah mereka mendengar nenek tua itu menyerahkan warisan itu kepada Ki Bekel yang mewakili padukuhan itu.

“Yang mana orang itu nek?” bertanya Ki Bekel.

Tetapi Mahisa Pukat lah yang menjawab, “Orang itu justeru terlepas saat dinding itu terbakar. Kami tidak ingin melihat rumah itu menjadi abu. Justru pada saat perhatian kami terbagi, maka orang itu telah melarikan diri bersama beberapa orang kawannya.”

“Mereka sengaja membakar rumah ini?” bertanya Ki Bekel.

“Ya Ki Bekel,” jawab Mahisa Pukat, “satu usaha untuk menyelamatkan diri disamping didorong oleh perasaan dengki dan iri hati.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, maka kita harus berhati-hati.”

“Ya,” jawab Mahisa Murti, “memang ada kemungkinan mereka akan datang, meskipun sekedar melepaskan dendam.”

“Jika demikian, aku ingin menyerahkan rumah dan sawahku segera. Biarlah rumah ini segera dipergunakan bagi kegiatan isi padukuhan ini sebagai banjar padukuhan daripada harus dibakar oleh orang-orang yang dengki itu,” berkata nenek tua itu. Lalu katanya, “Jika rumah ini sudah menjadi banjar, maka rumah ini tentu tidak akan pernah sepi.”

Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Namun pendapat perempuan itu memang masuk akal. Ki Bekel pun tidak dapat melepaskan tanggung atas keselamatan perempuan itu, jika persoalannya menyangkut kerelaan perempuan tua itu untuk menyerahkan rumah dan sawahnya.

Dalam kebimbangan Ki Bekel mengangguk-angguk kecil. Sementara itu Mahisa Murti pun berkata, “Ki Bekel. Mungkin yang dikatakan oleh nenek itu merupakan salah satu jalan pemecahan yang baik. Nenek akan segera menyerahkan rumah dan sawahnya. Namun tentu saja dengan syarat, bahwa ia masih berhak tinggal di rumah ini sepanjang umurnya. Sementara itu, di bagian depan dari rumah ini, telah dapat dipergunakan bagi kegiatan anak-anak muda dan bagi kepentingan padukuhan dalam saat-saat tertentu.”

Ki Bekel masih mengangguk-angguk. Baru kemudian ia berkata, “Nampaknya jalan pikiran itu dapat dimengerti. Bahkan bukan saja berhak tinggal di rumah ini sepanjang umurnya, karena rumah ini memang rumahnya, bahkan aku berjanji untuk memenuhi segala kebutuhannya.”

Mahisa Pukat lah yang menyahut, “Nampaknya segala pihak telah mendapatkan persesuaian pendapat.”

“Ya,” berkata Ki Bekel kemudian, “sejak besok, aku akan menanggung segala kebutuhannya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Agaknya mereka tidak lagi merasa perlu mencemaskan keadaan nenek tua itu. Bukan saja makan, minum dan pakaiannya, tetapi juga keselamatannya.

Ki Bekel kemudian mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata,” besok kita dapat mengatur segala-galanya.”

“Aku sudah tidak memerlukan apa-apa lagi,” berkata nenek tua itu. Namun kemudian katanya, “Ki Bekel. Aku sudah berjanji untuk menyerahkan segala yang ada di rumah ini serta sawahku kepada Ki Bekel. Namun ternyata aku masih ingin mengusik janjiku itu meskipun hanya sedikit.”

“Maksudmu?” bertanya Ki Bekel.

Perempuan tua itu berpaling kepada Mahisa Amping. Dengan nada rendah ia berkata, “Anak ini telah menyelamatkan nyawaku meskipun dengan demikian ia telah melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang anak seumur anak itu. Ia terpaksa membunuh bagi keselamatanku,” perempuan tua itu berhenti sejenak, lalu “Ki Bekel, aku ingin memberikan sesuatu kepada anak itu. Dan yang ingin aku berikan itu akan aku ambil dari rumah ini.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Semuanya masih milik nenek. Ambillah apa saja yang ingin kau ambil. Apalagi yang kau anggap baik bagi orang-orang yang telah menyelamatkan nyawa nenek.”

Perempuan tua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku tidak akan mengambil terlalu banyak. Aku hanya akan mengambil salah satu dari beberapa jenis senjata yang ada di bilik tengah. Di dalam peti terdapat beberapa buah keris peninggalan suamiku dan ada sebuah luwuk yang tidak terlalu panjang. Aku ingin mengambil luwuk itu dan memberikannya kepada Mahisa Amping.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Bahkan ia nampak berpikir. Baru kemudian ia berkata, “Nenek. Menurut pendapatku, nenek tidak perlu menyerahkan pusaka-pusaka itu kepada kami. Nenek dapat mempergunakan seperlunya menurut kebutuhan nenek selagi nenek masih sempat. Kami akan merasa sulit untuk menerimanya.”

Nenek tua itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Marilah. Kita akan masuk ke ruang dalam.”

Ki Bekel pun kemudian mengikuti nenek tua itu masuk ke ruang dalam bersama Mahisa Murti dan saudara-saudaranya. Sementara itu Ki Bekel telah berpesan kepada orang-orang yang mengikutinya untuk berhati-hati serta mengamati keadaan. Demikian orang-orang itu masuk ke dalam, maka orang-orang padukuhan itu telah melangkah menjauhi beberapa sosok tubuh yang masih terbaring diam. Ternyata tidak seorang pun lagi di antara mereka yang masih hidup.

Di ruang dalam, nenek tua itu telah minta Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangkat sebuah peti dari bilik tengah ke ruang dalam yang lebih luas.

Dengan tegang orang-orang yang ada di ruang itu telah menyaksikan nenek tua itu membuka peti yang agaknya sudah lama tidak pernah dibuka.

Demikian peti itu terbuka, maka orang-orang yang menyaksikannya menarik nafas dalam-dalam. Isi peti itu memang hanya senjata. Tidak ada benda-benda berharga lainnya. Namun senjata yang tersimpan itu pun ternyata adalah senjata secara wadag mempunyai nilai yang tinggi. Sebuah luwuk yang tidak terlalu besar. Namun pada hulunya terdapat selut-selut emas dan permata. Demikian juga beberapa bilah pedang yang baik dan mahal. Selain itu masih terdapat beberapa bilah keris dalam wrangka berpendok emas.

Tetapi nenek tua itu lebih menghargai benda-benda itu sebagai pusaka suaminya daripada benda-benda yang mempunyai harga yang mahal.

Ki Bekel yang menyaksikan beberapa buah senjata yang tersimpan dengan baik itu menarik nafas. Ia merasa kagum melihat jenis-jenis senjata yang tersimpan itu.

Dengan nada rendah Ki Bekel berkata, “Nek, suamimu di masa hidupnya adalah seorang pengumpul pusaka yang baik. Nampaknya suamimu itu dahulu bukan saja seorang pengumpul senjata, tetapi juga seorang ahli yang tahu benar tentang berbagai jenis wesi aji.”

“Hidupnya seakan-akan menyatu dengan pusaka-pusakanya. Itulah sebabnya, aku tidak sampai hati menjual satu pun di antara senjata-senjata yang pernah dikumpulkan. Selama suamiku masih hidup, setelah semua barang-barangku habis dihisap kembali oleh ilmu hitam itu sampai anak-anakku sekali, maka suamiku pun telah mempertahankan pusaka-pusaka itu sebagaimana rumah dan beberapa kotak sawah yang masih aku miliki sekarang,” berkata nenek tua itu. Namun kemudian katanya, “Tetapi aku harus melihat kenyataan. Suamiku tidak akan kembali. Sementara aku pun akan segera menyusulnya. Karena itu, maka pusaka-pusaka itu tidak lagi berarti bagiku. Justru sebelum saat terakhir itu tiba, maka aku ingin pusaka-pusaka itu sudah pasti siapa yang akan memilikiya.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun katanya, “Nek. Kami, padukuhan ini sudah kau janjikan untuk menerima warisan rumah dan sawah. Karena itu, maka sebaiknya pusaka-pusaka itu kau berikan kepada anak-anak muda itu.”

Nenek tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Yang sudah aku pikirkan, luwuk yang agak kecil itu akan aku berikan kepada Mahisa Amping. Selebihnya aku tidak tahu, apakah pusaka yang lain itu akan berarti bagi anak-anak muda yang mengaku pengembara itu.”

Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berkata, “Kami berdua sudah memiliki pusaka yang sesuai dengan kebulatan kami. Saudara kami dan paman kami pun telah bersenjata pula.”

Nenek tua itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Tetapi Mahisa Amping jangan menolak meskipun ia juga sudah memiliki sebilah belati yang ternyata mampu membunuh seorang yang hampir saja menghancurkan semua rencana yang sudah kami susun.”

Mahisa Amping memandang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berganti-ganti. Namun Mahisa Murti kemudian berkata, “Kami tidak berkeberatan nek. Tetapi pusaka itu hendaknya jangan menjadi lambang kekerasan baginya.”

“Tentu tidak. Aku pun berharap untuk tidak terjadi seperti itu. Luwuk itu hendaknya jadi lambang keselamatan diri, karena senjata itu akan dipergunakan untuk melindungi diri dalam arti yang luas,” berkata perempuan tua itu.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Terimalah, Amping. Tetapi kau dengar pesan nenek itu. Senjata itu hanya kau pergunakan untuk melindungi dirimu. Senjata itu hanya kau pergunakan untuk melindungi dirimu. Kau tidak boleh menjadi salah langkah, justru karena kau sudah memiliki senjata yang sangat baik.”

Mahisa Arnping mengangguk kecil. Sementara itu nenek tua itu pun telah mengambil luwuk itu dan memberikannya kepada Mahisa Amping.

Luwuk itu seakan-akan memang sengaja dibuat untuk senjata kanak-kanak. Ukurannya sesuai bagi Mahisa Amping. Sementara itu senjata itu pun merupakan senjata yang mahal harganya dinilai dari ujung kewadagannya. Pada hulunya terdapat selut-selut emas dan bertahtakan beberapa buah permata yang mahal.

Mahisa Amping menerima luwuk itu dengan hati yang mekar. Disamping sebilah pisau belati panjang ia telah mempunyai sebuah luwuk. Dengan demikian, maka ia akan dapat belajar mempergunakan sepasang senjata.

“Terima kasih nek,” berkata Mahisa Amping dengan suara yang dalam.

“Kau memang anak yang baik dan cerdas,” berkata nenek tua itu.

Namun nenek itu pun kemudian berkata, “Aku masih mempunyai beberapa bilah keris. Jika angger berdua, Mahisa Semu dan Wantilan telah mempunyai senjata masing-masing, maka aku akan memberikan masing-masing sebilah keris. Keris yang memiliki tabiat yang khusus, yang oleh suamiku semasa hidupnya dianggap keris yang sangat berharga.”

Mahisa Semu dan Wantilan termangu-mangu. Namun kemudian nenek tua itu telah memungut dua bilah keris yang sarungnya dibalut dengan pendok emas dan tentu sangat mahal harganya, sementara itu ukiran keris itu pun terdapat gelang-gelang emas dan permata.

“Terimalah,” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Semu dan Wantilan dengan senang hati menerima senjata yang disebutnya keris itu, meskipun bentuknya agak berbeda dengan keris kebanyakan dan ukurannya sedikit lebih besar, namun wataknya memang dekat dengan watak sebilah keris.

“Keris itu akan dapat kalian pergunakan sebagai pasangan senjata kalian masing-masing,” berkata Mahisa Murti.

Namun ketika perempuan tu itu bertanya kepada Mahisa Murti sendiri, apakah ia juga memerlukan sebilah keris, maka Mahisa Murti berkata,”terima kasih nek. Senjataku ini adalah senjata tunggal, karena senjata kami berdua adalah berpasangan.”

Perempuan tua itu mengangguk-angguk. Ia tidak dapat memaksa kedua anak muda itu untuk menerima pemberiannya. Namun dengan demikian masih ada beberapa jenis senjata yang tersisa. Pedang, mata tombak tak bertangkai, keris dan patrem serta sebuah senjata yang tidak banyak dipergunakan. Kapak berujung tombak, yang juga tidak bertangkai.

Karena anak-anak muda yang menyebut dirinya pengembara itu tidak dapat menerima lagi pemberiannya, maka nenek tua itu pun berkata kepada Ki Bekel, “Ki Bekel. Biarlah aku serahkan senjata-senjata yang merupakan pusaka suamiku di masa hidupnya ini bersama-sama dengan rumah dan sawahku. Namun aku mohon perlindungan dari orang-orang yang berniat buruk sebagaimana baru saja aku alami.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, biarlah aku membicarakannya dengan para bebahu padukuhan ini. Mungkin ada kebijaksanaan yang dapat kami ambil. Namun dengan atau tidak dengan senjata itu, maka kami akan berbuat sebaik-baiknya buat nenek yang telah kami terima kembali dalam keluarga kami. Menurut pengamatan kami, peristiwa-peristiwa yang terjadi, telah menunjukkan kepada kami, bahwa nenek berbuat sejujurnya terhadap kami. Kecurigaan kami yang tersisa akan segera lenyap dari kepala kami.”

“Terima kasih Ki Bekel,” berkata nenek tua itu.

“Mulai besok, rumah ini akan dipergunakan sebagai banjar, meskipun belum dinyatakan dengan resmi. Sementara itu banjar kami yang lama masih juga kami pergunakan untuk kepentingan kepentingan khusus,” berkata Ki Bekel.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Pernyataan Ki Bekel itu adalah satu isyarat, bahwa mereka akan dapat segera meninggalkan rumah itu, meneruskan perjalanan mereka yang setiap kali telah terhenti. Namun mereka memang sudah menyatakan untuk menjalani laku tapa ngrame, sehingga mereka memang wajib menolong setiap orang yang memerlukan pertolongan mereka.

Dalam pada itu, maka Ki Bekel pun telah memerintahkan kepada orang-orang yang menyertainya untuk membersihkan rumah ini. Mereka harus menyelenggarakan orang-orang yang telah terbunuh di tempat itu. Sementara itu, langit pun menjadi semakin terang.

Sejenak kemudian, maka Ki Bekelpun telah minta diri. Tetapi ia berkata, “Nanti, jika matahari telah sepenggalah, aku akan datang lagi kemari dengan beberapa orang bebahu. Aku ingin beristirahat beberapa saat.”

Beberapa orang telah membawa tubuh-tubuh yang membeku itu ke banjar padukuhan mereka yang lama untuk diselenggarakan. Sementara beberapa orang yang lain, telah membersihkan rumah itu.

Pagi itu, Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Mahisa Semu, Wantilan dan Mahisa Amping telah menemui nenek tua, penghuni rumah itu. Ketika mereka menyatakan diri untuk meneruskan perjalanan, nenek tua itu masih juga mencegahnya.

“Maaf anak-anak muda,” berkata nenek tua itu, “sebelum semuanya selesai, maka aku masih berharap anak-anak muda bersedia tinggal di sini. Hari ini Ki Bekel akan menyelesaikan persoalan yang menyangkut rumah ini. Karena itu, menurut perhitunganku, kalian dapat meninggalkan rumah ini besok.

Mahisa Murti dan saudara-saudaranya tidak dapat memaksa meninggalkan nenek tua yang masih saja ketakutan itu. Karena itu, maka mereka memang harus menyabarkan diri, menunggu kepastian yang akan diberikan oleh Ki Bekel menjelang siang hari. Ia akan membawa beberapa orang bebahu untuk berbicara tentang rumah yang akan dipercepat penyerahannya setelah datang orang yang mengaku memiliki hak untuk mewarisi rumah dan segala isinya itu. Bahkan orang-orang itu telah memaksakan kehendaknya dengan kekerasan, sama sekali bukan berdasarkan atas hak yang sah.

Dengan demikian, maka hari itu, Mahisa Murti dan saudara-saudaranya ternyata masih harus tinggal sehari lagi di rumah itu. Namun ternyata Mahisa Amping dapat mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Ia telah minta Mahisa Pukat untuk memberikan petunjuk, apa yang dapat dilakukan dengan luwuk itu.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ia harus membuat jiwa anak seimbang lagi setelah ia membunuh. Jika ia mendapat kebanggaan dengan membunuh, maka untuk selanjutnya ia akan dapat menjadi seorang pembunuh yang berbahaya.

Karena itu, sambil memberikan tuntunan kepadanya tentang penggunaan luwuk itu, Mahisa Pukat sempat memberikan petunjuk-petunjuk tentang keselarasan hidup. Pembunuhan bukan sesuatu yang dapat dibanggakan. Pembunuhan harus selalu disesali meskipun seseorang kadang-kadang masih harus melakukannya lagi karena disudutkan oleh keadaan yang tidak mungkin dihindarinya lagi atau karena seseorang terperosok ke dalam keadaan yang tanpa pilihan.

Ternyata bahwa sedikit demi sedikit petunjuk-petunjuk itu dapat meresap dihati Mahisa Amping. Sehingga dengan demikian ia memang dapat membuat keseimbangan jiwanya, yang sebenarnyalah dipenuhi oleh satu kebanggaan meskipun tersembunyi di dasar hatinya.

Berulang kali ia mengingat kata-kata Mahisa Pukat itu. Pembunuhan memang bukan satu kebanggaan. Justru harus disesali. Dan Mahisa Pukat pun berkata, “Kita lebih berbangga jika kita dapat menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan, apalagi pembunuhan.”

Mahisa Amping yang kecil itu telah meresapkan kata-kata Mahisa Pukat dan mencoba menangkap maksudnya. Memang masih agak kabur. Tetapi Mahisa Pukat pun berkata, “Ingat pesan ini. Semakin kau menjadi dewasa, maka kau akan semakin memahaminya. Jika kau sekarang masih merasa agak asing, maka itu wajar sekali.”

Tetapi Mahisa Amping memang berpikiran terang. Karena itu, pada umurnya yang masih sangat muda, ia telah dapat merasakan pesan-pesan yang diberikan oleh Mahisa Pukat.

Sementara itu, sambil menunggu kedatangan Ki Bekel dan para bebahu yang agaknya tidak dapat mereka lakukan segera, karena Ki Bekel memerlukan waktu utnuk beristirahat, Mahisa Amping sibuk berlatih di halaman belakang. Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Wantilan pun kemudian sempat menyaksikannya pula, bagaimana Mahisa Pukat memberikan petunjuk dasar mempergunakan luwuk yang telah diterimanya dari nenek tua itu.

Karena sebelumnya, Mahisa Amping telah mempelajari serba sedikit olah kanuragan dan mempergunakan pisau belatinya, maka ia pun dengan cepat menyesuaikan diri dengan bentuk senjatanya yang baru itu.

Untuk beberapa saat anak itu berloncatan. Mula-mula pada gerakan dasar sama sekali. Namun kemudian Mahisa Amping mulai menirukan gerak-gerak yang mulai berganda. Meskipun masih sederhana sekali.

Tetapi ternyata Mahisa Amping tidak dapat terlalu lama berlatih pada hari itu, meskipun Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Wantilan masih ingin menyaksikannya. Ketangkasan anak itu justru membuat gerakan-gerakannya menjadi lucu.

Hampir diluar sadarnya, Mahisa Murti berkata di dalam hatinya, “Seperti melihat seekor kera bermain lidi.”

Tetapi Mahisa Murti justru merenungkan kata-katanya itu sendiri. Bahkan tiba-tiba saja ia ingin memperhatikan gerak-gerak seekor kera yang cekatan. Terlintas pula kemampuan gerak seekor anak kijang, seekor kelinci dan beberapa jenis binatang lain, yang mempunyai kekhususan ketika masih berusia muda. Lucu seperti Mahisa Amping yang berloncatan dengan sebilah luwuk di tangannya.

“Jika anak itu sempat ikut memperhatikannya,” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya.

Namun Mahisa Murti memang berniat untuk membawa anak itu melihat-lihat bagaimana seekor binatang melindungi dirinya dengan senjata yang memang sudah disediakan bagi setiap jenisnya. Mereka tidak dapat membuat senjata menurut keinginannya. Tetapi bagi seekor kuda, telah disediakan sepasang kaki belakang yang sangat kuat untuk mempertahankan diri serta jika perlu untuk menghindar dari lawan-lawannya yang tidak terlawan, sedangkan bagi seekor banteng, maka dikepalanya terdapat sepasang tanduk yang dapat mengoyak perut seekor harimau yang garang, yang bersenjatakan gigi serta kuku-kukunya yang tajam.

Tetapi sementara itu, Mahisa Amping memang harus berhenti bermain dengan senjatanya itu. Ternyata Ki Bekel dan para bebahu telah datang meskipun lewat dari waktu yang direncanakan semula. Karena matahari sudah lebih dari sepenggalah. Tetapi bahkan sudah tengah hari.

Karena itu, terutama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah diminta untuk ikut bertemu dan berbicara dengan para bebahu. Nenek tua itu seakan-akan telah mempercayakan segala pembicaraannya kepada kedua anak muda yang baru saja dikenalnya itu, tetapi yang telah merebut kepercayaannya sepenuhnya. Apalagi ketika anak-anak muda itu telah menolak pemberiannya meskipun yang ditawarkan itu bukan saja berharga karena ujud wadagnya, tetapi juga beberapa orang mengangap benda-benda itu sangat berarti bagi mereka.

Dalam pembicaraan itu, Mahisa Murti yang menyampaikan pesan nenek tua itu telah menyerahkan rumah dan pusaka-pusaka yang tersisa itu kepada Ki Bekel atas nama seluruh isi padukuhan.

“Jika Ki Bekel menganggap perlu, maka pusaka-pusaka itu dapat dijual kepada penghuni padukuhan ini yang kebetulan memiliki kekayaan cukup, kemudian uangnya dapat dipergunakan untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan orang-orang padukuhan ini,” berkata Mahisa Murti.

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak mengira bahwa akhirnya justru kami telah kagum terhadap sikap orang yang selama ini kami singkiri.”

“Anak-anak muda inilah yang telah membuka mataku Ki Bekel,” jawab nenek tua itu.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnyalah, anak-anak muda itulah yang berhak atas pusaka-pusaka itu seluruhnya.”

Tetapi Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Yang diberikan kepada kami telah cukup banyak. Padukuhan ini tentu juga memerlukannya. Namun dengan permohonan, bahwa hidup mati nenek ini ada di tangan Ki Bekel dan seluruh isi padukuhan.”

“Kami akan berbuat sebaik-baiknya anak muda,” jawab Ki Bekel. “Sejauh dapat kami lakukan, maka kami akan melakukan apa saja.”

“Terima kasih Ki Bekel. Aku kira, hanya itulah yang terpenting. Nenek mohon semuanya dapat diterima, karena seperti yang sudah nenek katakan beberapa kali, nenek tidak akan dapat membawa apapun jika saat itu tiba,” desis Mahisa Murti.

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Ki Bekel memang sudah mendapat satu keyakinan bahwa nenek tua itu benar-benar telah menyadari tingkah lakunya atas dorongan sikap anak-anak muda itu.

Karena itu, maka Ki Bekel pun akhirnya memang harus menerima semuanya yang diserahkan oleh nenek tua itu. Beberapa buah pusaka yang bukan saja baik, tetapi juga mahal karena terbuat dari bahan-bahan yang bernilai tinggi.

Ki Bekel dan beberapa orang bebahu yang menyertainya sependapat, bahwa pusaka-pusaka itu akan dijual berdasarkan penawaran tertinggi. Adapun hasil penjualan itu akan diserahkan kepada padukuhan untuk dipergunakan seperlunya.

“Kita akan menyelenggarakan penjualan itu di banjar kita yang baru, meskipun belum ditetapkan dengan resmi,” berkata Ki Bekel.

“Silahkan Ki Bekel,” berkata nenek tua itu, “semakin cepat tempat ini dipergunakan semakin baik bagiku. Aku akan merasa aman di antara kegiatan-kegiatan apapun yang dilakukan oleh padukuhan ini, karena dengan demikian maka akan ada banyak orang di rumah ini.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Setelah berbicara sejenak dengan para bebahu, maka Ki Bekel berkata, “Penjualan itu akan dilakukan dua hari lagi. Bukankah semakin cepat, nenek akan merasa semakin tenang?”

“Ya, ya,” berkata nenek tua itu, “semakin cepat semakin baik. Aku akan merasa segera terbebas dari ketegangan yang selama ini bagaikan mencekik. Apalagi jika ada orang lain yang mengetahui tentang barang-barang itu. Mereka tentu akan berusaha mengambilnya dengan cara yang tidak sewajarnya atau dengan kekerasan. Karena itu, maka secepatnya sajalah diusahakan agar barang-barang itu cepat dibawa keluar dari rumah ini.”

“Jangan takut nek,” berkata Ki Bekel, “selama dua hari ini, rumah ini akan dijaga sebaik-baiknya, karena sejak hari diumumkan akan dilakukan penjualan pusaka-pusaka milik suamimu di masa hidupnya, maka sejak itu pula orang-orang akan mengerti bahwa di rumah ini memang tersimpan benda-benda berharga. Tetapi anak-anak muda padukuhan ini yang akan ikut mempergunakan uang hasil penjualan itu bagi kepentingan mereka, akan menjaga rumah ini dari segala kemungkinan buruk.”

Nenek tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya,”terima kasih. Ternyata akhirnya aku dapat berada di antara keluarga padukuhan ini. Semula aku sudah merasa berputus-asa, sehingga aku sudah akan menyiapkan lubang kuburku di longkangan atau membakar diri di ruang tengah rumahku ini. Tetapi sekarang aku justru merasa hidup kembali. Harta benda yang aku cari dengan cara yang paling gelap sekalipun itu ternyata tidak memberikan apa-apa kepadaku. Semuanya adalah kekosongan dan kesepian yang beku. Rumah yang besar, sawah yang luas, emas intan berlian dan segala macam benda yang gemerlapan di mata seseorang, ternyata tidak mampu membuat hatiku merasa berbahagia.”

“Jika harta, benda dan kekayaan itu sudah menjadi penguasa di hati kita, maka kita adalah budak yang paling sengsara,” berkata nenek tua itu selanjutnya. Lalu katanya, “Hanya jika kita mampu memiliki dan menguasainya, maka benda-benda mati itu akan berarti bagi kita. Karena kita tidak bergeser dari diri kita sendiri.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti nek. Nah, jika demikian, maka di sisa hari ini dan besok, ada kesempatan untuk memberitahukan kepada seisi padukuhan ini, bahwa dua hari lagi, akan diselenggarakan penjualan benda-benda berharga yang ada di rumah ini peninggalan suamimu semasa hidupnya, sedangkan hasilnya akan diserahkan kepada padukuhan. Namun sejak saat ini, maka beberapa orang anak muda akan berada di pendapa rumah ini.”

Nenek tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Segala sesuatunya terserah kepada Ki Bekel.”

Demikianlah, maka Ki Bekelpun telah minta diri bersama beberapa orang bebahu. Namun seperti yang dikatatkannya, maka Ki Bekel telah memerintahkan sekelompok anak-anak muda untuk berjaga-jaga di pendapa rumah nenek tua itu.

“Kalian jangan meninggalkan tempat ini, jika pengganti kalian belum datang,” pesan Ki Bekel.

“Baik Ki Bekel,” jawab anak-anak muda itu.

“Jangan takut kelaparan,” berkata Ki Bekel pula, “nanti aku akan mengirimkan makanan bagi kalian.”

Sejenak kemudian, maka Ki Bekel dan para bebahu memang sudah meninggalkan tempat itu. Yang ada di pendapa adalah sekelompok anak-anak muda yang berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Selain senjata, mereka telah melengkapi diri dengan kentongan yang dapat dibunyikan setiap saat diperlukan. Jika kentongan itu berbunyi dengan nada tertentu, maka suara kentongan itu akan segera menjalar dan akan sampai pula ke telinga Ki Bekel.

Namun dalam pada itu, tanpa setahu Ki Bekel, dua orang bebahu ternyata mempunyai sikap yang lain. Seorang di antaranya berkata, “Sikap Ki Bekel terlalu lunak. Ia dapat mengambil apa saja yang dikehendakinya. Benda-benda berharga itu dapat saja dimilikinya.”

“Sebenarnya memang tidak perlu dijual berdasarkan penawaran tertinggi,” berkata yang lain.

Kawannya termangu-mangu. Namun kemudian dengan nada rendah ia berkata, “Apakah kita dapat memiliki pusaka-pusaka itu?”

“Maksudmu?” bertanya yang lain.

“Kita dapat mengambilnya sebelum saat pusaka-pusaka itu dijual dengan penawaran tertinggi,” berkata kawannya.

“Kita? Apakah kita dapat melakukannya? Ingat, di rumah itu terdapat beberapa sosok mayat. Orang yang diceritakan mengaku berhak atas warisan suaminya yang telah meninggal itu bersama beberapa orang kawannya gagal memiliki pusaka-pusaka itu. Apalagi kita berdua,” jawab yang lain.

“Kita dapat mengupah beberapa orang yang kita yakin akan dapat melakukannya,”jawab kawannya.

“Daripada kita mengupah orang, apakah bukan lebih baik kita ikut menawar dan membelinya dengan cara yang baik,” desis yang lain.

“Kita tidak usah mengeluarkan sekeping uangpun,” jawab kawannya, “kita berjanji kepada orang-orang yang kita upah, bahwa pusaka-pusaka yang ada akan kita bagi dua. Jika ada delapan, maka mereka boleh membawa ampat. Kita akan memiliki ampat.”

“Apakah ada orang yang dapat kita percaya untuk berbuat seperti itu? Jika mereka telah menemukan pusaka-pusaka itu, maka mereka tentu tidak akan membagi dua. Mereka tentu ingin memiliki semuanya. Apalagi mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dalam olah kanuragan. Mereka tidak akan takut menghadapi ancaman apapun. Bahkan seandainya seluruh padukuhan ini terbangun dan berkelahi melawan mereka,” berkata yang lain.

Kawannya memang berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Satu kerja untung-untungan. Pusaka-pusaka itu bernilai sangat tinggi. Seandainya mereka berbuat curang, kita tidak kehilangan apa-apa. Tetapi jika mereka menepati janji, maka kita akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga.”

Yang lain termangu-mangu. Namun kemudian ia pun menggeleng, “Tidak. Aku tidak akan melakukannya. Aku kira, kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari kerja ini. Kita sudah berkhianat, namun akhirnya kita tidak mendapatkan apapun juga.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Baiklah. Lupakan saja mimpi buruk itu.”

Keduanya tidak berbicara lagi. Namun ketika mereka sampai di persimpangan jalan, maka seorang di antara mereka berkata, “Aku akan singgah di rumah adikku sebentar. Jalanlah dahulu.”

Seorang yang ingin memiliki pusaka dengan cara yang tidak sewajarnya itu pun telah berbelok menuju ke padukuhan sebelah. Sedangkan bebahu yang lain, langsung pulang kerumahnya.

Tetapi pembicaraannya dengan kawannya itu ternyata tidak begitu mudah dilupakan. Sekali timbul keinginannya untuk ikut berusaha mengambil pusaka-pusaka itu. Tetapi kemudian timbul penalarannya. Bukan karena ia dapat mengkesampingkan keinginannya untuk memiliki pusaka-pusaka itu saja yang menyebabkannya, tetapi juga karena penalarannya, bahwa orang-orang yang menyebut dirinya pengembara itu memiliki kemampuan yang tinggi untuk melindungi pusaka-pusaka itu. Apalagi ada sekelompok anak-anak muda dipendapa yang akan dapat membantu mereka. Jika anak-anak muda di pendapa itu tidak berhasil menguasai orang-orang yang berniat buruk, maka mereka tentu akan membunyikan isyarat.

“Lebih baik aku tidak ikut campur,” berkata bebahu itu kepada diri sendiri.

Namun untuk memperkuat sikapnya, untuk menebalkan keyakinannya, maka ia sudah berbicara kepada isterinya tentang niat kawannya itu.

Ternyata isterinya sependapat dengan bebahu itu. Bahkan ia telah mengutuk pikiran yang buruk itu sejadi-jadinya.

“Tetapi jangan kau katakan kepada siapapun,” berkata bebahu itu, “demi keselamatan kita sekeluarga.”

Isterinya mengangguk. Katanya, “Aku mengerti kakang. Namun jika niatnya diteruskan, keselamatanmu memang terancam. Orang itu tentu memperhitungkan kemungkinan kau membuka rahasianya itu.”

Suaminya mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Kita memang harus berusaha mendapatkan perlindungan. Tetapi jika hal ini aku laporkan kepada Ki Bekel, tetapi ternyata tidak terjadi sesuatu, maka akulah yang akan dituduh menyebarkan fitnah.”

“Jadi bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya isterinya.

“Kita pindahkan kentongan itu ke dalam rumah. Kita harus berhati-hati. Jika terjadi sesuatu yang mencurigakan, maka kita harus dengan segera membunyikan kentongan itu. Jika para peronda di gardu mendengarnya sekali dua kali saja, maka suara kentongan itu tentu akan segera menyebar ke seluruh padukuhan.” jawab suaminya.

Isterinya mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Satu rencana yang baik.”

“Malam ini kentongan itu harus sudah berada di dalam,” berkata suaminya.

“Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu,” desis isterinya yang meskipun menjadi cemas, tetapi ia tetap berpendapat, bahwa suaminya sebaiknya tidak melibatkan diri dalam rencananya yang sesat itu.

Dalam pada itu, bebahu itu pun telah menyiapkan segala sesuatu untuk mengamankan diri. Kentongan yang biasanya tergantung di serambi telah dipindahkan ke ruang dalam. Bebahu itu berharap, jika kentongan itu dibunyikan, maka suaranya akan dapat menyusup lubang udara yang terdapat antara pengeret dan sunduk, dibawah tutup keyong. Sehingga suaranya akan dapat menggetarkan udara padukuhan itu sebagaimana jika kentongan itu berada di luar.

Ketika kemudian malam tiba, maka bebahu itu telah minta adiknya yang berkunjung ke rumahnya untuk tidur di rumahnya itu.

“Kenapa?” bertanya adiknya.

“Tidak apa-apa. Tidurlah di sini malam ini,” jawab bebahu itu.

Adiknya termangu-mangu sejenak. Ketika ia kemudian melihat kentongan ada di dalam rumah, maka ia pun mulai menjadi curiga. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kakang menganggap akan ada bahaya yang datang malam ini?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa,” berkata bebahu itu.

Adiknya yang juga sudah cukup dewasa itu pun bertanyadengan nada rendah, “Apakah sebenarnya yang telah terjadi kakang? Sebaiknya kakang berterus terang. Kentongan yang kakang pindah ke dalam dan sikap kakang yang gelisah itu memberikan kesan tersendiri.”

Bebahu itu pun kemudian berkata, “Memang ada kegelisahan di hati ini. Tetapi kau jangan memaksa aku mengatakannya sekarang. Aku hanya minta kau tidur di sini. Mungkin semalam, mungkin dua malam. Pada saatnya aku akan memberitahukan kepadamu, apa yang sebenarnya terjadi.”

Adiknya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi katanya, “Ayah dan ibu dapat menjadi gelisah, karena aku tidak mengatakan bahwa aku akan bermalam di sini.”

“Tetapi bukankah kau minta diri ketika kau berangkat kemari?” bertanya bebahu itu.

“Ya. Aku memang mengatakan bahwa aku akan pergi ke mari,” jawab adiknya.

“Aku mendapat firasat buruk. Karena itu, tinggallah di sini. Besok pagi kau pulang dan malam hari kau tidur di sini lagi,” berkata bebahu itu.

Adiknya mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah. Setidak-tidaknya aku akan dapat memukul kentongan keras-keras.”

Sebenarnyalah malam itu adik bebahu itu telah tidur di rumah kakaknya yang gelisah. Bebahu itu merasa terancam jiwanya justru karena ia tidak sependapat dengan kawannya yang sudah terlanjur berbincang untuk melakukan perbuatan yang tercela itu.

Tetapi bebahu itu tidak dapat melaporkannya kepada Ki Bekel, karena jika kawannya itu benar-benar mengurungkan niatnya, ia akan dapat dituduh memfitnahnya.

Malam itu, bebahu itu seakan-akan tidak sempat berbaring di biliknya. Ia membiarkan isterinya tidur bersama dua orang anaknya yang masih kecil-kecil. Sementara ia sendiri dan adiknya berada di ruang tengah. Bebahu itu juga telah membuat sebuah lubang kecil di sebelah pintu rumahnya dan memasang obor yang cukup terang di serambi pendapanya yang tidak begitu luas. Dengan demikian ia akan dapat mengintip setiap orang yang berada di pendapa dari balik pintu pringgitan sebelum ia membukanya.

Namun ia masih juga selalu gelisah, sehingga setiap kali ia melihat selarak pintu-pintu butulan dan pintu yang menghubungkan ruang dalam dengan longkangan belakang, di depan dapur.

Tetapi seperti di pendapa, bebahu itu telah memasang lampu yang terang di setiap longkangan. Lebih terang dari kebiasaannya. Ia pun telah membuat lubang-lubang kecil di sebelah pintu-pintu butulan untuk melihat jika ada orang yang berada di luar.

“Kakang jangan gelisah begitu,” desis adiknya, “duduk sajalah. Atau kita tidur bergantian. Atau jika kakang tidak dapat tidur, duduk sajalah atau berbaring di bilik kakang menemani mbokayu yang tentu merasa gelisah pula. Aku akan duduk di sini bersandar dinding, agar jika ada seseorang di luar, aku dapat mendengarnya.”

Bebahu itu menurut, Ia pun merasa kasihan kepada isterinya yang ketakutan memeluk kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Karena itu, maka ia pun berbaring di dekatnya sambil menyadarkan tombak pendeknya di dinding dekat pembaringannya.

Namun ternyata malam itu tidak terjadi sesuatu. Tetapi adiknya yang ikut berjaga-jaga di rumah itu pun seakan-akan telah mendapat firasat yang sama dengan kakaknya meskipun ia tidak tahu menahu persoalan yang sesungguhnya. Karena itu, maka pagi-pagi ia minta diri untuk pulang agar ayah dan ibunya tidak gelisah sambil berkata, “Nanti siang aku akan kembali. Malam nanti aku akan tidur di sini lagi. Menarik untuk menjadi tegang dan berdebar-debar semalam suntuk.”

“Jangan bergurau. Aku benar-benar mengalami kecemasan,” berkata bebahu itu.

Adiknya yang masih lebih muda itu tersenyum. Katanya, “Aku tidak bergurau. Aku juga bersungguh-sungguh. Nanti aku kembali. Aku akan mengajak Ragil bersamaku.”

“Tidak perlu,” jawab bebahu itu, “ayah dan ibu akan lebih gelisah lagi jika Ragil tidak ada di rumah.”

Ternyata tidak seorang pun yang memperhatikan mereka. Orang yang melihat mereka memang mengira, bahwa mereka akan pergi ke sawah. Memang ada seseorang yang berkata di dalam hatinya, “Siang-siang begini, anak-anaknya dibawa ke sawah.”

Tetapi orang itu pun kemudian mengira bahwa anak-anak itu tidak ada yang menemaninya di rumah.

Ketika mereka sampai di rumah ayah bebahu itu, maka orang tua itu terkejut. Baru saja adiknya bersiap-siap untuk pergi ke rumah bebahu itu justru membawa adiknya yang bungsu.

“Kau kemari kakang?” bertanya adiknya.

“Hatiku merasa tidak enak sekali,” berkata bebahu itu, “bukan karena aku sendiri. Tetapi keadaan memang tidak menguntungkan bagi perempuan dan anak-anak. Aku tidak tahu apakah sesuatu akan terjadi atau tidak. Tetapi aku menganggap bahwa sebaiknya rumah itu aku kosongkan.”

“Jadi kau sekeluarga akan berada di sini sampai kau merasa sesuatu tentu sudah terjadi. Jika tidak, maka tidak akan terjadi apapun juga,” jawab bebahu itu.

Adiknya tidak bertanya lagi. Namun bebahu itulah yang kemudian berkata, “Malam nanti kita berdua pergi ke rumahku.”

“Ada apa sebenarnya?” bertanya ayahnya.

“Tidak ada apa-apa ayah. Hanya sekedar menebak-nebak. Sedikit curiga dan sedikit perhitungan,” jawab bebahu itu.

Ayahnya yang sudah tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Kau membuat orang tua ini menjadi berdebar-debar.”

“Ayah dan ibu tidak usah memikirkan aku. Aku tidak apa-apa,” jawab bebahu itu.

Ayahnya memang tidak bertanya lagi. Tetapi ia masih juga berkata,”berhati-hatilah mengambil langkah.”

“Ya ayah,” jawab bebahu itu.

Tetapi bebahu itu dan adiknya tidak tergesa-gesa berangkat.

Mereka akan berangkat jika langit sudah menjadi gelap dan malam sudah mulai turun.

Namun bebahu itu dan bahkan juga adiknya memang menjadi gelisah menunggu saat itu datang.

Ketika senja turun, maka bebahu itu sudah bersiap-siap. Tetapi mereka mengurungkan niatnya untuk membawa adiknya yang bungsu. Meskipun adiknya yang bungsu itu akan dapat melindungi dirinya sendiri jika terjadi sesuatu, tetapi sebaiknya mereka memang tidak pergi dengan terlalu banyak orang.

Berdua keduanya telah meninggalkan rumah ayah dan ibu mereka.

Bagaimanapun juga kedua orang tua itu memang menjadi cemas. Mereka melihat sesuatu yang tidak wajar. Tetapi mereka tidak dapat berbuat sesuatu.

Sementara itu, kedua orang itu pun dengan diam-diam telah kembali ke rumah bebahu itu. Tetapi mereka sama sekali tidak berada di dalam rumah. Mereka telah menunggu di serambi lumbung di belakang, duduk bersandar dinding di sela-sela setumpuk jerami. Dari tempat mereka, keduanya dapat melihat bagian belakang dari rumah mereka.

Namun demikian, maka bebahu itu telah menyempatkan diri untuk menyalakan lampu minyak di pendapa, di ruang tengah dan dalam, sehingga dengan demikian, maka rumah itu tidak nampak kosong. Menyelarak semua pintu dari dalam, kecuali pintu butulan di paling belakang.

Keduanya telah menunggu dengan sabar. Mereka tidak mengeluh karena gigitan nyamuk yang ternyata cukup banyak. Bahkan sekali-sekali semut merah telah membuat kulit mereka terasa panas.

Sampai tengah malam keduanya menunggu. Namun keduanya sama sekali tidak melihat apapun terjadi di rumahnya. Meskipun demikian, keduanya tidak bergeser dari tempatnya yang terasa semakin gatal itu.

Namun lewat tengah malam mereka mendengar suara ketukan di pintu rumahnya. Lamat-lamat, karena jaraknya yang agak jauh. Kemudian ketukan itu berpindah ke samping. Nampaknya orang yang mengetuk pintu depan itu telah berpindah mengetuk pintu belakang.

Bebahu itu menggamit adiknya yang disangkanya sedang terkantuk-kantuk. Namun ternyata adiknya pun telah mendengarnya pula. Namun keduanya tidak berbicara sama sekali.

Karena ketukannya tidak dijawab, maka terdengar seseorang memanggil. Mula-mula perlahan-lahan. Namun semakin lama menjadi semakin keras.

“Bangunlah. Ki Bekel memerlukan kita,” terdengar orang yang mengetuk pintu itu berbicara.

Tetapi karena tetap tidak ada jawaban, maka orang yang memanggil itu mulai mengancam, “Aku rusakkan pintu rumahmu jika kau tidak mau membukanya.”

Adik bebahu itu bergeser setapak. Tetapi kakaknya telah mencegahnya sambil berbisik, “Biar saja, apa yang akan dilakukannya. Kita hanya akan melihatnya.”

Ternyata sejenak kemudian mereka memang mendengar pintu berderak. Nampaknya orang-orang itu memang telah merusakkan pintu.

Bebahu itu pun menjadi berdebar-debar. Namun ia masih tetap menahan diri. Meskipun demikian ia pun berkata, “Marilah, kita lihat, apa yang telah mereka lakukan.”

Kedua orang itu memang berusaha mendekat. Tetapi mereka sangat berhati-hati. Mereka tahu, bahwa yang datang adalah ampat orang yang diperhitungkan cukup banyak untuk menghadapi hanya seorang bebahu itu.

Dari kejauhan mereka melihat, orang-orang yang memecahkan pintu dan kemudian masuk adalah orang-orang yang berpakaian kehitam-hitaman atau warna-warna gelap yang lain. Mereka telah menutup wajah-wajah mereka dengan ikat kepala mereka.

Tiga dari keempat orang itu telah masuk, sedangkan seorang berada di luar untuk mengamati keadaan.

Bebahu pemilik rumah itu termangu-mangu. Adiknya hampir tidak dapat menahan diri. Namun kakaknya selalu mencegahnya.

“Mereka berempat,” desis kakaknya perlahan-lahan.

“Aku tidak takut,” jawab adiknya.

Bebahu itu menggeleng.

Beberapa saat kedua orang itu memperhatikan apa yang telah terjadi. Jantung mereka berdentang semakin keras ketika mereka mendengar orang-orang yang ada di dalam rumah itu berteriak-teriak dan terdengar barang-barang gerabah pecah berjatuhan.

“Kita berbuat sesuatu,” geram adiknya tertahan.

Tetapi bebahu itu masih saja menggeleng. Katanya, “Asal mereka tidak membakar rumah kita.”

Adiknya menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak dapat melanggar pesan kakaknya. Betapapun jantungnya bergejolak, namun ia masih tetap menunggu di kegelapan.

Namun akhirnya ketiga orang yang masuk ke dalam rumah itu pun keluar. Dengan nada kesal, seorang di antaranya berkata, “Kosong. Rumah ini kosong.”

“Tetapi lampu-lampu menyala dan pintu-pintu diselarak dari dalam,” sahut yang lain.

“Mungkin mereka sempat melarikan diri,” berkata yang lain lagi.

“Lihat, apakah ada pintu yang tidak di selarak,” perintah salah seorang dari mereka.

Seorang di antara orang-orang itu telah masuk kembali. Ternyata mereka menemukan pintu butulan dibelakang yang memang tidak diselarak.

“Ada,” jawab orang yang masuk kembali itu, “pintu butulan yang menuju ke dapur.

“Cari, apakah orang-orang itu bersembunyi di dapur,” terdengar seorang di antara mereka memerintah lagi.

Tiga orang telah berlari memasuki rumah itu dan agaknya mereka langsung pergi ke dapur. Seorang di antara ketiganya telah membawa sebuah lampu minyak yang sudah menyala dari ruang dalam.

Beberapa saat lamanya ketiga orang itu berada di dapur. Tetapi mereka tidak menemukan seorang pun. Meskipun mereka membongkar semua perabot yang ada di dapur, tetapi mereka tidak menemukan seorang pun.

Terdengar orang-orang itu mengumpat. Namun kemudian mereka pun telah kembali ke ruang dalam dan keluar lewat pintu samping.

“Dapur juga telah kosong,” berkata seorang di antara mereka.

“Jangan dungu,” jawab orang yang menunggu diluar, “cari sampai ketemu.”

“Semuanya dungu,” jawab orang yang menunggu diluar, “cari sampai ketemu.”

“Semuanya sudah kami lihat. Bahkan geledeg-geledeg pun telah kami buka. Ronjot dan keranjang-keranjang yang besar tempat menyimpan padi dan semuanya yang ada di dapur,” jawab seorang di antara ketiga orang yang masuk.

“Jika demikian mereka tentu belum jauh. Bahkan mungkin mereka belum keluar dari lingkungan dinding halaman,” terdengar orang itu memerintah.

Ketiga orang lainnya termangu-mangu. Namun ketika orang yang memberikan perintah itu membentak, maka bertiga mereka telah pergi ke halaman belakang. Ketika mereka melihat lumbung, maka mereka telah mencarinya di sekeliling dan bahkan di dalam lumbung.

Namun mereka tidak menemukan sesuatu.

Beberapa saat lamanya orang-orang itu mencoba melihat pohon-pohon perdu di halaman samping. Tetapi mereka juga tidak menemukan seseorang.

Bebahu dan adiknya yang ada di halaman samping telah bersiap sepenuhnya. Jika mereka dilihat oleh orang-orang itu, maka mereka memang telah bersiap untuk bertempur.

Tetapi ternyata tidak seorang pun yang melihat mereka bersembunyi di balik serumpun pohon ceplok-piring yang agak lebat.

Beberapa saat keempat orang itu masih berbincang. Namun seorang di antara mereka memberikan perintah, “Bawalah barang-barang yang agak berharga. Kesannya adalah sebuah perampokan. Tidak lebih.”

Sekali lagi ketiga orang itu masuk. Mereka memang membawa barang-barang yang sedikit berharga. Sementara benda-benda yang benar-benar berharga telah dibawa oleh isteri bebahu itu mengungsi ke rumah mertuanya.

Dengan barang-barang itu, maka mereka telah meninggalkan rumah bebahu itu.

Bebahu yang bersembunyi itu menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya, “Kita dapat mengucap sukur, bahwa rumah itu tidak dibakar.”

Adiknya mengangguk-angguk. Katanya, “Apakah kakang tahu, siapakah mereka? Nampaknya kakang memang sudah menaruh curiga bahwa hal ini akan terjadi. Terbukti sejak kemarin kakang telah minta aku tinggal di sini. Bahkan kemudian kakang telah membawa keluarga kakang mengungsi.”

“Aku memang mencurigai seseorang,” berkata bebahu itu.

“Lalu sekarang apa rencana kakang?” bertanya adiknya.

“Mengajak keluargaku pulang, sebelum fajar,” jawab bebahu itu.

“Untuk apa?” bertanya adiknya.

“Besok kau akan tahu,” jawab bebahu itu.

Adiknya memang tidak banyak bertanya. Mereka berduapunkemudian dengan hati-hati telah meninggalkan halaman rumah itu sebagaimana dilakukan orang yang baru saja memasuki rumahnya. Mereka juga menghindari para peronda dan kemungkinan diketahui orang lain.

Namun, sebelumnya bebahu itu telah membuka selarak pintu butulan halamannya. Isteri dan anak-anaknya akan dibawanya masuk lewat pintu butulan.

Ayah dan ibu bebahu itu memang menjadi semakin cemas. Tetapi ia tidak dapat mencegah ketika bebahu itu membawa isteri dan anak-anaknya pulang di malam hari menjelang dini. Dua adiknya telah ikut mengawalnya. Kemungkinan buruk memang dapat terjadi atas mereka.

Sebelum fajar, mereka memang sudah berada di dalam rumah. Bersama adik-adiknya bebahu itu membenahi rumahnya. Ia tidak lagi mempersoalkan barang-barangnya yang hilang. Tetapi yang masih ada diaturnya dengan rapi. Yang pecah disingkirkannya, sehingga tidak ada kesan apapun yang telah terjadi di rumah itu.

Bebahu itu minta adiknya dan adiknya yang bungsu untuk tetap berada di rumah itu meskipun mereka diminta untuk tetap berada di dalam biliknya.

Ketika matahari menjelang terbit, bebahu itu telah membersihkan halaman depan rumahnya seperti biasanya. Seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu di rumah itu. Sementara itu, di dapur, asappun telah mengepul. Isterinya sudah mulai menjerang air dan menanak nasi, sedangkan kedua anaknya tidurdengan nyenyaknya di dalam biliknya. Sementara itu, kedua adiknyapun masih juga tidur pula di bilik sebelah sambil menunggui kedua kemanakannya meskipun disekat oleh dinding.

Bebahu itu terkejut ketika ia mendengar seseorang menyapanya dari luar regol yang sudah dibukanya sedikit. Ketika bebahu itu berpaling, maka dilihatnya bebahu kawannya yang berniat untuk mengambil barang-barang berharga di rumah nenek tua itu menjenguk dari luar.

“O, kau,” sapa bebahu itu, “marilah. Sepagi ini kau dari mana?”

“Berjalan-jalan,” jawab kawannya itu, “aku terbiasa berjalan-jalan di pagi hari. Sudah lebih dari setengah tahun ini. Sejak aku merasa menjadi semakin tua, maka aku telah memerlukan waktu untuk berjalan-jalan pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit.”

“Beginilah kerjaku di pagi hari,” jawab bebahu itu. Namun ia pun kemudian bertanya, “apakah kau tidak pernah lewat jalan ini?”

“Aku berganti-ganti jalan,” jawab kawannya, “hari ini aku lewat jalan ini. Besok aku berjalan lewat jalan lain. Hari berikutnya lain lagi. Bahkan kadang-kadang aku langsung keluar padukuhan dan berjalan-jalan di sawah.”

Bebahu itu mengangguk-angguk. Sementara, kawannya itu-pun telah naik ke halaman dan memandang ke sekelilingnya. Katanya, “Kau sempat memelihara halaman rumahmu dengan baik.”

“Ah, bukan aku, isteriku,” jawab bebahu itu.

“Kebetulan,” jawab kawannya itu, “aku haus sekali. Apakah kau mau mempersilahkan aku masuk ke rumahmu dan ikut minum minuman hangat menjelang matahari terbit.”

“Tentu, marilah,” bebahu itu mempersilahkan.

Keduanya pun kemudian naik ke pendapa. Tetapi kawannya itu justru langsung menuju ke pintu pringgitan. Katanya, “Apakah aku boleh masuk, agar tidak dilihat orang lewat, pagi-pagi begini aku sudah menjadi tamu.”

“Ah tidak apa-apa. Tamu tidak mengingat waktu. Mungkin pagi, mungkin siang dan bahkan mungkin tengah malam,” jawab bebahu itu.

Kawannya mengerutkan keningnya. Namun ia tidak menolak. Dipersilahkannya tamunya masuk ke ruang dalam.

Tamu itu memang tertegun sejenak. Dipandanginya perabot rumah itu sudah rapi. Tidak ada bekas-bekas apapun yang telah terjadi semalam di rumah itu.

Demikian tamu itu duduk, maka bebahu itu berkata sedikit keras, “Nyi, kita mempunyai seorang tamu. Bawa minuman itu kemari.”

Tetapi tidak ada jawaban. Isterinya memang tidak begitu mendengarnya, karena isterinya berada di dapur.

Tetapi keduanya adiknya yang terbangun telah mendengarnya, bahwa di rumah itu ada tamu, sehingga karena itu, maka keduanya harus menempatkan dirinya.

Namun agaknya bebahu itu memang memberi kesempatan kepada tamunya untuk melihat-lihat. Ia yakin bagaimanapun juga tamunya tidak akan menjenguk ke dalam bilik.

Karena itu, maka bebahu itu berkata, “Tunggulah sebentar. Biar aku melihat ke dapur. Apakah isteriku sudah siap atau belum.”

Tamunya tidak menjawab. Namun ketika bebahu itu bangkit dan meninggalkannya, maka ia pun telah melihat-lihat seluruh ruangan itu.

Tamu itu benar-benar menjadi bingung melihat keadaan di dalam rumah itu. Semalam rumah itu kosong, sementara barang-barangnya telah berserakan. Tetapi ternyata semua itu bagaikan sebuah mimpi saja. Isi rumah itu masih nampak teratur rapi. Sementara itu bebahu itu masih tetap berada di rumah itu bersama isteri dan anak-anaknya.

Namun sejenak kemudian tamu itu sudah duduk lagi di tempatnya. Sedangkan bebahu pemilik rumah itu telah datang dari dapur bersama isterinya yang membawa seperangkat minuman dengan gula kelapa. Minuman yang masih hangat.

“Pagi-pagi sekali sudah merebus air,” desis tamunya.

“Kami terbiasa bangun pagi-pagi sekali,” jawab isteri bebahu itu.

“Apakah semalam kalian bepergian?” bertanya tamunya.

“Bepergian? Siapakah yang mengatakannya?” bertanya bebahu itu.

“Tidak. Tidak ada yang mengatakan. Tetapi nampaknya kalian bangun terlalu pagi,” jawab tamunya.

“Kami ada di rumah semalam,” jawab bebahu itu, “malahan anak-anak yang kecil beberapa kali terbangun. Mungkin agak kurang enak badan.”

Tamunya memang menjadi seperti orang bingung. Apalagi ketika ia mendengar anak bebahu pemilik rumah itu memanggil ibunya. Nampaknya anak itu telah terbangun.

Namun ibunya telah menepuk-nepuk anak itu agar tertidur kembali.

Tamunya menjadi semakin bingung. Bahkan ia telah bertanya kepada diri sendiri, “Apakah semalam kami sudah masuk ke rumah hantu?”

Namun untuk beberapa saat tamunya duduk sambil menghirup minuman hangat. Mungkin ia menemukan sesuatu yang dapat dipergunakan untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut dihatinya. Namun ia tidak menemukan sesuatu. Ia masih saja bingung dan hampir saja ia merasa bahwa ia sudah menjadi gila.

Namun minuman hangat agak menyegarkannya. Sejenakkemudian ia pun telah dapat menguasai perasaannya kembali, sehingga ia pun kemudian segera minta diri. Semakin lama ia berada di rumah itu, maka kesadarannya terasa menjadi semakin kabur.

Demikianlah, maka dengan seribu macam pertanyaan bergulat di dalam kepalanya, bebahu yang datang itu telah minta diri. Dengan langkah yang panjang ia pun telah meninggalkan regol halaman rumah itu.

Demikian orang itu pergi, maka kedua adiknya pun telah keluar pula dari dalam biliknya. Dengan heran adiknya yang besar bertanya, “Apa sebenarnya yang telah dilakukannya?”

“Aku sudah memperhitungkan bahwa semalam orang itu akan datang. Ternyata ia benar-benar datang. Pagi-pagi sekali ia memang ingin melihat apakah penglihatannya semalam benar. Tetapi ia menjadi bingung. Hampir saja ia kehilangan pegangan.”

Kedua adiknya mengangguk-angguk. Namun adiknya yang besar itu bertanya, “Kenapa ia berbuat seperti itu?”

“Besok kau akan tahu. Tetapi untuk sementara, biarlah aku merahasiakannya. Jika semuanya sudah pasti, barulah aku akan mengatakannya kepada orang-orang lain, bahkan seisi padukuhan ini,” jawab bebahu itu.

“Tetapi aku bukan orang lain,” jawab adiknya.

Bebahu itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Jika aku mengatakan kepada kalian, maka kalian harus berjanji untuk merahasiakannya.”

Kedua adiknya menjawab hampir bersamaan, “Aku berjanji.”

Bebahu itu memang menceriterakan apa yang telah pernah terjadi, sehingga ia harus berusaha untuk melindungi keluarganya dengan caranya.

Kedua adiknya mengangguk-angguk. Tetapi adiknya yang bungsu itu berkata, “Kakang tidak usah pergi. Jika mereka kembali, maka biarlah nyawa mereka yang mereka pertaruhkan.”

“Kakang tidak menyerang mereka,” sambung kakaknya, “kakang berada di rumah sendiri.”

Bebahu itu mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Aku akan memikirkannya.”

Sementara itu, matahari pun telah naik semakin tinggi. Dari kejauhan terdengar suara kentongan dengan nada dara muluk dua kali beruntun.

“Ki Bekel telah memanggil para bebahu,” berkata bebahuitu.

“Apakah kakang juga akan pergi?” bertanya adiknya.

“Ya. Aku akan pergi ke rumah Ki Bekel. Nampaknya Ki Bekel ingin membicarakan penjualan barang-barang berharga itu. Hari ini penjualan berdasarkan penawaran tertinggi itu sudah diumumkan ke seluruh penghuni padukuhan,” berkata bebahu itu.

Kedua adiknya mengangguk-angguk. Namun seorang di antara mereka bertanya, “Bukankah baru besok penjualan itu dilakukan?”

“Ya,” jawab kakaknya, “tetapi hari ini semua orang di padukuhan ini harus mendengar, agar mereka yang berminat mendapat kesempatan yang sama.”

“Lalu, bagaimana dengan kami?” bertanya salah seorang adiknya.

“Kalian berada di rumah ini. Tetapi usahakan menyesuaikan diri. Jangan keluar dari ruang dalam,” pesan kakaknya.

Sejenak kemudian, maka bebahu itu telah meninggalkan rumahnya untuk pergi ke rumah Ki Bekel. Jarang sekali ia membawa senjata jika ia hanya sekedar berada di dalam padukuhan saja. Namun saat itu, ia telah membawa sebilah cundrik yang disimpan dibawah kainnya.

Di rumah Ki Bekel memang telah berkumpul beberapa orangbebahu. Ki Bekel telah membagi tugas untuk menghubungi setiap orang di padukuhan itu. Mereka semua harus mendapat pemberitahuan bahwa akan dilakukan penjualan dengan penawaran tertinggi atas beberapa jenis senjata yang baik, bukan saja ujud kewadagannya, tetapi juga sebagai pusaka.

“Setelah kalian selesai dengan tugas kalian, maka kita semuanya akan berkumpul di sini lagi,” berkata Ki Bekel.

Demikianlah, maka sejenak kemudian para bebahu itu pun telah meninggalkan rumah Ki Bekel. Mereka mendapat tugas masing-masing sekelompok keluarga. Ki Bekel yakin, bahwa sebagian besar dari penghuni padukuhan itu tentu sudah tahu, bahwa akan dilakukan penjualan dengan penawaran tertinggi besok, tetapi agar tidak ada seorang pun di antara mereka yang mempermasalahkan para bebahu serta Ki Bekel, karena ketidak tahuannya, maka Ki Bekel sudah memerintahkan, agar setiap rumah harus dimasuki dan diberi tahukan langsung kepada penghuninya. Dengan demikian tidak akan ada seorang pun yang mempunyai alasan bahwa ia tidak tahu akan adanya penjualan itu dan merasa dirugikan.

Bebahu yang telah menyatakan diri untuk mengambil pusaka-pusaka itu ternyata telah berusaha untuk bertukar tempat dengan kawannya, sehingga ia mendapat bagian sekelompok rumah termasuk rumah bebahu kawannya itu. Ia tahu, bahwa sebenarnya rumah bebahu itu tidak perlu didatanginya. Namun ia ternyata mempunyai kepentingan lain. Ia ingin melihat, apakah di rumah itu benar tidak ada seorang laki-laki yang lain kecuali bebahu itu dan seorang anaknya yang masih kecil.

Namun sementara itu, bebahu yang menolak untuk melakukan pencurian itu telah mendapat tugas untuk memberitahukan sekelompok rumah termasuk rumah nenek tua yang memiliki beberapa jenis pusaka yang akan dijual itu.

Meskipun sebenarnya bebahu itu tidak perlu datang pula ke rumah itu, namun ia berniat untuk singgah.

Demikian bebahu itu memasuki halaman, maka ia melihat beberapa anak muda yang berjaga-jaga. Tetapi penjagaan itu sama sekali tidak cukup cermat. Anak-anak muda itu berkumpul saja di halaman di pendapa sambil bermain-main macanan. Ada yang bergurau sambil berbaring dan bahkan baru saja matahari naik ada sudah tertidur dengan nyenyaknya.

“Mereka ternyata lengah,” berkata bebahu itu di dalam hatinya.

Beberapa orang anak muda memang bangkit berdiri ketika mereka melihat seorang bebahu datang. Tetapi bebahu itu minta mereka agar tetap duduk saja.

“Aku akan menengok nenek tua itu,” berkata bebahu itu.

“Nenek itu baru saja keluar ke pendapa ini,” sahut salah seorang anak muda.

“Untuk apa?” bertanya bebahu itu.

“Tidak apa-apa, hanya sekedar menengok saja,” jawab anak muda itu.

Bebahu itu mengangguk-angguk. Namun ia masih juga berpesan, “jaga tempat ini baik-baik. Kalian harus mulai bersiap, karena besok akan dilakukan penjualan barang-barang berharga di pendapa ini dengan harga penawaran tertinggi.”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Demikian pula kawan-kawannya.

Namun dalam pada itu, maka bebahu itu pun telah memerlukan bertemu dengan para pengembara yang memang masih ditahan untuk tetap berada di rumah itu sampai saatnya dilakukan penjualan. Anak-anak muda yang mengaku pengembara itu memang tidak sampai hati meninggalkan nenek itu sendiri meskipun di pendapa terdapat beberapa orang anak-anak muda yangberjaga-jaga. Tetapi mereka sama sekali tidak berarti bagi seorang yang memang sudah mendapat gelar gegedug.

Ketika bebahu itu menemui anak-anak muda yang mengaku pengembara itu, maka ia pun telah mengaku berterus-terang. Katanya kemudian, “Malam harinya tinggal satu lagi. Karena itu, aku mohon kalian berhati-hati. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu. Sementara itu anak-anak muda itu tidak akan berdaya menghadapi kekuatan yang sebenarnya.”

Mahisa Murti sambil mengangguk-angguk menjawab, “terima kasih Ki Sanak. Memang mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu. Tetapi kita memang tidak boleh kehilangan kewaspadaan.”

Bebahu itu memang menceriterakan apa yang pernah dialaminya di rumahnya.

“Baiklah. Aku mohon diri,” berkata bebahu itu.

Mahisa Murti dan saudara-saudaranya tidak menahannya. Demikian pula nenek tua itu.

Dalam pada itu, ternyata Mahisa Murti dan saudara-saudaranya masih tertahan di rumah nenek itu sampai saat yang ditunggu itu datang. Mereka memang meragukan akan kemampuan anak-anak muda padukuhan itu, seandainya datang satu kekuatan yang dengan diperhitungkan, ingin mengambil pusaka-pusaka yang tertinggal itu.

Keterangan bebahu itu telah memperkuat dugaan mereka bahwa kemungkinan buruk masih akan dapat terjadi. Karena itulah, maka mereka bersedia untuk tetap tinggal dua hari lagi di rumah nenek tua itu. Bahkan telah timbul pula satu keinginan untuk melihat bagaimana Ki Bekel menjual pusaka-pusaka itu kepada orang-orang yang memiliki uang cukup dengan penawaran yang tertinggi.

Tetapi keterangan itu telah membuat nenek tua itu menjadi gelisah. Karena itu, maka ia pun bertanya kepada Mahisa Murti, “Apakah aku perlu memberitahukan kepada anak-anak muda yang berada di pendapa?”

Mahisa Murti menggeleng. Katanya, “Itu tidak perlu nek. Belum tentu akan terjadi sesuatu. Bebahu itu hanya mengatakan satu kemungkinan. Sementara itu, anak-anak muda itu tentu sudah selalu bersiap menghadapi kemungkinan buruk seperti itu. Namun apabila hal itu memang benar terjadi, maka kami akan ikut membantu anak-anak muda itu mengatasi keadaan.”

Nenek tua itu mengangguk-angguk. Ia memang percaya sepenuhnya kepada anak-anak muda yang mengaku pengembara itu. Bahkan yang terkecil di antara mereka pun telah mampu mengambil satu sikap yang menentukan di saat yang paling gawat.

Karena itu, maka nenek tua itu pun berdesis, “Untunglah bahwa kalian masih bersedia untuk tinggal sampai penjualan itu selesai. Jika kalian meninggalkan aku kemarin, sebagaimana yang kalian rencanakan, maka sekarang ini aku tentu telah menjadi sangat gelisah. Sementara itu, aku memang belum yakin benar terhadap anak-anak muda yang berada di pendapa. Mereka nampaknya sekedar berkumpul untuk berkelakar di antara mereka tanpa berjaga-jaga jika kemungkinan buruk itu datang.”

“Sekarang, nenek tidak usah terlalu memikirkannya. Di sini ada anak-anak muda itu. Ada kami dan dengan satu isyarat, maka tetangga-tetangga nenek akan berdatangan. Keadaan sudah berubah, nek. Tetangga-tetangga nenek telah menjadi tetangga yang baik,” berkata Mahisa Pukat.

“Mereka memang baik sejak semula,” jawab nenek itu, “akulah yang mula-mula tidak mampu menyesuaikan diri dengan mereka.”

“Sudahlah nek,” sahut Mahisa Pukat pula, “nanti persoalannya akan beralih lagi. Nenek akan masuk lagi ke dalam satu keadaan yang suram. Nenek mulai menyalahkan diri sendiri lagi. Kemudian merenungi masa-masa lampau dengan penuh penyesalan,” Mahisa Pukat berhenti sejenak, lalu “sebaiknya nenek memandang ke hari depan nenek yang tidak akan terlalu panjang lagi, namun hari-hari itu telah menjadi cerah.”

Nenek tua itu mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya. Aku mengerti anak muda.”

“Sekarang, silahkan nenek beristirahat. Besok pendapa rumah nenek ini akan menjadi ramai. Orang-orang berdatangan untuk menawar pusaka-pusaka nenek yang nenek sumbangkan kepada padukuhan ini,” berkata Mahisa Pukat pula, “dengan demikian maka mau tidak mau kita akan menjadi sibuk. Mungkin perlu merebus air dan menyiapkan sedikit makanan buat mereka yang melayani penjualan itu.”

“Itu tidak terpikirkan,” desis nenek tua itu, “jika demikian, aku harus bersiap-siap.”

“Tentu saja hanya sekedarnya nek,” berkata Mahisa Pukat kemudian, “bahkan mungkin Ki Bekel sudah memikirkannya.”

Nenek itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bergumam, “Aku akan membuat wedang jahe. Gula kelapanya akan aku masukkan sekaligus kedalamnya.”

“Bagus nek,” sahut Mahisa Pukat, “tetapi sudah tentu besok pagi saja. Sekarang nenek silahkan beristirahat.”

“Tetapi aku baru menanak nasi. Nanti jika nasi masak dan tidak segera diketahui atau sedikit terlupakan, tentu akan menjadi hangus,” berkata nenek tua itu.

Mahisa Pukat tidak berbicara lagi ketika nenek tua itu kemudian pergi ke dapur.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti berkata, “Bagaimana pendapat kalian tentang keterangan bebahu itu?”

“Bagaimanapun juga, kita wajib berhati-hati. Mungkin kawannya itu memang mengurungkan niatnya. Tetapi mungkin justru semakin bernafsu,” berkata Mahisa Pukat.

“Tetapi kita memang belum perlu berbicara dengan anak-anak muda itu,” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Mur-tipun telah minta Mahisa Semu dan Wantilan untuk berjaga-jaga terhadap semua kemungkinan.

“Kita sudah mendapat kepercayaan untuk berada di mana saja di rumah ini. Kita pun telah mendapat pertanda terima kasih dari nenek tua itu, yang nilainya cukup tinggi. Karena itu, maka kita pun harus berbuat sebaik-baiknya di sini,” pesan Mahisa Murti pula.

Mahisa Semu dan Wantilan mengangguk-angguk. Mereka-pun menyadari bahwa kemungkinan buruk seperti yang dikatakan bebahu itu memang mungkin terjadi. Apalagi semua orang telah mendengar bahwa di rumah itu ada barang-barang yang berharga.

Sementara itu, bebahu yang baru saja singgah di rumah nenek tua itu pun telah berada di rumah Ki Bekel. Ia telah melaporkan hasil tugasnya mendatangi beberapa buah rumah yang memang menjadi bagiannya.

“Semua sudah aku datangi. Terutama tiga buah rumah dari antara orang-orang terkaya di padukuhan ini. Mereka bersedia untuk datang melihat pusaka-pusaka itu dan jika mereka berminat, mereka akan ikut menawar,” berkata bebahu itu.

“Terima kasih,” berkata Ki Bekel, “semakin banyak orang datang, maka penawarannya tentu akan menjadi semakin tinggi. Apalagi mereka tahu, bahwa uang yang akan mereka bayarkan semuanya bagi kepentingan padukuhan ini pula.”

Bebahu itu mengangguk-angguk. Namun sebelum ia minta diri, maka kawannya yang telah menyatakan berniat untuk mengambil pusaka-pusaka itu telah datang pula untuk memberikan laporan yang sama. Semua rumah yang menjadi bagian tugasnya telah didatanginya. Orang-orang terkaya telah menyatakankesediaannya untuk datang memberikan penawaran jika ternyata pusaka-pusaka itu sesuai bagi mereka.

Demikianlah, maka sejenak kemudian bebahu-bebahu itu-pun telah minta diri. Bebahu yang berniat mengambil pusaka itu berjalan bersama kawannya yang singgah di rumah nenek tua itu sambi berkata, “Mudah-mudahan besok kita mendapat uang banyak dari hasil penjualan benda-benda berharga itu. Dengan demikian kita akan mendapat kesempatan untuk berbuat banyak bagi padukuhan kita ini.”

Bebahu itu mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mudah-mudahan. Beberapa orang kaya telah menyatakan kesediaan mereka untuk datang.”

Bebahu yang telah menyatakan untuk mengambil pusaka-pusaka itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian telah tertawa pendek.Desisnya,”beruntunglah padukuhan ini karenanya.”

Bebahu itu mengerutkan keningnya. Ia merasakan sesuatu yang aneh pada nada kata-kata kawannya itu. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Ketika bebahu itu sampai di rumah, ia baru tahu, bahwa kawannya itu telah singgah di rumahnya. Isterinya telah menceriterakannya kepadanya.

“Apa yang dilakukannya?” bertanya bebahu itu.

“Melihat-lihat. Ia bertanya, apakah ada keluarga yang lain di rumah ini,” berkata isterinya, “ia juga menanyakan, apakah malam itu kita pergi dan kembali lagi pagi-pagi benar.”

Bebahu itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia pun bertanya, “Apa jawabmu?”

“Aku menyesuaikan jawabanku dengan jawaban-jawabanmu. Untunglah bahwa ia tidak melihat kedua adikmu itu,” jawab isterinya.

“Aku yakin, malam nanti ia akan datang. Dua peristiwa akan terjadi malam nanti. Di sini dan di rumah perempuan tua itu,” jawab bebahu itu.

“Lalu, bagaimana dengan kami? aku dan anak-anak kita?” bertanya isterinya.

“Dua adikku ada di sini. Ragil akan dapat mengatasi banyak persoalan. Ia memiliki sesuatu yang dapat dijadikan bekal untuk menghadapi persoalan ini?” berkata bebahu itu, “aku akan bertemu dengan mereka.”

Bebahu itu pun kemudian telah menemui kedua adiknya. Dengan nada yang mantap ia bertanya, “Bagaimana jika yang datang jumlahnya lebih banyak dari kita bertiga?”

“Tidak apa-apa,” jawab adiknya yang bungsu, “mudah-mudahan kita dapat bertahan.”

“Baik. Aku sudah mengajari isteriku untuk membunyikan kentongan. Selama kita berusaha untuk bertahan, maka biar ia membunyikan kentongan itu,” berkata bebahu itu sambil tersenyum.

Sementara itu, maka kedua adiknya itu pun telah mempersiapkan senjata mereka. Apapun yang akan terjadi, keduanya telah bersiap untuk menghadapinya.

Ketika hari merambat melewati senja, maka seisi rumah itu memang menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika bebahu itu menyalakan lampu regol halamannya, ia melihat kawannya itu lewat.

Kawannya itu juga terkejut. Ia tidak memperhitungkan kemungkinan bebahu itu itu berada di regol setelah senja.

Dengan nada tinggi bebahu itu bertanya, “Darimana kau menjelang malam begini?”

“Aku mengunjungi saudaraku di rumah sebelah,” jawab bebahu itu asal saja.

“Rumah sebelah yang mana? Bukankah kita mengenal semua orang di sini?” jawab bebahu itu.

“Bukankah setiap orang saudara bagi kita?” jawab bebahu yang lewat itu.

Bebahu yang sedang menyalakan lampu itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar. Kita semua bersaudara.”

Ketika kawannya yang lewat itu menjadi semakin jauh dan hilang dalam kegelapan yang kemudian turun, maka bebahu itu telah kembali masuk ke dalam rumahnya. Memasang lampu lebih besar dari biasanya di luar dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu, di sisi isterinya tidur, terletak pemukul kentongan. Setiap saat kentongan di ruang dalam itu akan dapat dibunyikan.

Dalam pada itu, bebahu itu bersama kedua adiknya telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Mereka duduk di ruang tengah, dibawah cahaya lampu yang redup. Di pangkuan mereka masing-masing terletak senjata mereka. Bebahu itu telah menyiapkan senjata yang paling dipercayainya. Bukan saja terbuat dari baja pilihan, tetapi senjata itu adalah peninggalan kakeknya. Sebilah luwuk yang besar. Sedangkan adiknya yang besar menyiapkan pedangnya. Pedang yang panjang lurus dan tajam di kedua sisinya. Sedangkan adiknya yang bungsu mempunyai senjata yang berbeda. Senjata yang penggunaannnya sudah dipelajarinya dalam sebuah perguruan dengan sebaik-baiknya. Seutas rantai baja yang tidak terlalu panjang. Dengan rantai itu, ia mampu menghadapi segala macam senjata.

Sementara itu, maka malam pun menjadi semakin malam. Isterinya yang menunggui anak-anaknya di dalam biliknya pun tidak segera dapat tidur. Rasa-rasanya jantungnya telah dicengkam oleh kegelisahan sehingga setiap kali, ia terkejut dan bangkit duduk di bibir pembaringnnya. Disentuhnya pemukul kentongan yang terletak di pinggir pembaringannya.

Hatinya memang menjadi agak tenang ketika ia mendengar sekali-sekali suara suaminya di ruang tengah. Namun ketika malam menjadi semakin malam, bebahu itu tidak lagi berbicara. Dibiarkannya adiknya yang bungsu untuk tidur lebih dahulu. Mereka tidak boleh membuang tenaga untuk menghadapi kemungkinan yang pahit.

Dengan nada rendah bebahu itu berkata kepada adiknya yang seorang lagi, “Tidurlah. Nanti jika perlu aku akan membangunkanmu. Jaga tenagamu agar tidak terhambur sia-sia.”

Tetapi adiknya menggeleng. Desisnya, “Aku tidak mengantuk.”

Kakaknya tidak memaksanya. Namun ia pun kemudian telah bersandar dinding penyekat ruangan.

Dalam pada itu, di rumah nenek tua, beberapa orang anak muda telah sibuk di pendapa. Sibuk bermain-main dengan macanan dan bas-basan. Yang lain berkelakar dan berolok-olok. Namun ketika tengah malam tiba, maka mereka mulai berbaring di tikar yang terbentang di pendapa. Tinggal beberapa orang saja yang masih berjaga-jaga.

Namun beberapa saat kemudian, mereka pun telah terbaring diam tidak atas kehendak mereka sendiri. Biasanya tiga orang di antara mereka berjaga-jaga bergantian sampai menjelang pagi. Tetapi tiba-tiba saja malam itu semua anak muda itu telah tertidur nyenyak.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berada di dalam rumah itu mengikuti tingkah laku anak-anak muda itu dengan saksama. Mereka memang tidak dapat menyalahkan mereka. Tanggung jawab yang dibebankan anak-anak muda itu nampaknya kurang disertai penjelasan sehingga mereka akan melakukannya dengan bersungguh-sungguh.

Namun bagaimanapun juga, biasanya tidak semua orang telah membiarkan dirinya tertidur nyenyak tanpa seorang pun yang berjaga-jaga.

Tetapi malam itu memang agak berbeda. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berada di rumah nenek tua itu, merasakan sesuatu yang tidak wajar. Sementara itu Mahisa Semu, Wantilan dan Mahisa Amping memang dibiarkannya tidur sejak malam mulai menjelang pertengahannya. Mereka akan dibangunkan di dini hari menggantikan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, karena menjelang pagi, agaknya tidak akan ada lagi orang yang berniat buruk di rumah itu.

Namun ternyata bahwa malam itu merupakan malam yang gawat bagi rumah nenek tua itu. Udara terasa menjadi sejuk. Angin seakan-akan berhembus dari celah-celah dinding meniupkan udara yang segar.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang terserang perasaan kantuk yang sangat. Tetapi pengalaman mereka yang luas justru telah mengingatkannya, bahwa mereka pun pernah beberapa kali mengalami serangan seperti itu.

“Sirep,” desis Mahisa Murti.

“Jadi apa yang dikatakan bebahu itu benar,” sahut Mahisa Pukat.

Dengan kekuatan tenaga cadangan di dalam dirinya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membangunkan Mahisa Semu dan Wantilan.

Namun dengan isyarat keduanya minta Mahisa Semu dan Wantilan berdiam diri. Mahisa Murti lah yang berdesis, “Sirep. Kita telah terkena kekuatan ilmu sirep.”

Mahisa Semu dan Wantilan saling berpandangan sejenak. Dengan suara yang hampir tertelan ditenggorokannya Mahisa Semu bertanya, “Bagaimana dengan anak-anak muda di pendapa?”

“Nampaknya mereka telah tertidur nyenyak. Tidak ada suara apapun lagi,” jawab Mahisa Murti, “Tetapi biar saja mereka tertidur. Jika yang datang orang-orang berilmu tinggi, maka mereka lebih baik tidak ikut melakukan perlawanan.”

“Bagaimana dengan kita?” bertanya Wantilan.

“Kita akan menunggu. Tetapi sebaiknya kita berbaring saja sambil berdiam diri,” jawab Mahisa Murti.

Keempat orang itu pun telah berbaring kembali. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus membantu Mahisa Semu dan Wantilan agar tidak tertidur lagi oleh ilmu sirep yang tajam yang menyelimuti rumah nenek tua itu.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menunggu. Sekali-sekali mereka telah menyentuh Mahisa Semu dan Wantilan, agar mereka tetap sadar menghadapi segala kemungkinan.

Ternyata orang-orang yang akan mengambil benda-benda berharga itu tidak melakukan kekerasan. Mereka ingin mengambilnya tanpa diketahui oleh seorang pun di rumah itu, yang disangkanya sudah tidur nyenyak.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat mengetahui dengan jelas apa yang dilakukan oleh orang-orang itu. Tiga orang bertubuh tinggi tegap. Sementara Mahisa Semu dan Wantilan pun telah diberi isyarat agar tidak berbuat sesuatu.

Tiga orang yang menganggap bahwa semua orang sudah tertidur itu telah berhasil mencungkil dinding kayu rumah nenek tua itu. Kemudian seorang di antara mereka telah masuk dan membuka selarak pintu butulan.

Dari pembaringannya Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan melihat tiga orang itu telah mendapatkan peti yang mereka cari di dalam geledeg di ruang tengah. Dengan sangat berhati-hati mereka mengangkat peti yang berat itu dan diletakkannya di lantai.

Tetapi ketiga orang itu tidak sempat membukanya. Peti itu memang dililit oleh tali ijuk yang kuat. Namun justru itu ketiga orang itu dapat mengenalinya, sebagaimana keterangan yang diperoleh mereka.

“Apakah kita akan melihat isinya,”desis salah seorang di antara mereka.

Namun sebelum yang lain menjawab, maka Mahisa Murti tiba-tiba saja telah menguap, bahkan kemudian beringsut.

Dengan demikian maka ketiga orang itu pun terkejut karenanya. Seorang yang agaknya berpengaruh atas kawan-kawannya berkata, “Kita singkirkan saja peti itu dahulu.”

Ketiga orang itu pun kemudian telah mengangkat peti itu keluar. Mereka telah menutup pintu dari luar. Seorang di antara mereka sempat menyelaraknya dan kemudian keluar dari lubang papan kayu yang berhasil dicungkilnya. Namun papan itu pun telah dikembalikannya pula di tempatnya meskipun tidak lagi melekat karena kayu pengapitnya telah patah.

Demikian ketiga orang itu pergi, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bangkit. Dengan perlahan-lahan sekali Mahisa Murti berdesis, “Hati-hatilah jika mereka kembali. Karena itu jangan tertidur lagi.”

Mahisa Semu dan Wantilan mengangguk-angguk. Mereka berusaha untuk tidak tertidur lagi. Kemungkinan yang lain memang akan dapat terjadi.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan sangat berhati-hati telah bergeser ke pintu butulan. Pintu yang dipergunakan oleh orang-orang yang membawa peti yang berat itu keluar.

Ketika mereka sudah tidak mendengar suara apapun lagi, maka mereka pun yakin bahwa ketiga orang itu telah pergi membawa hasil yang diperolehnya malam itu di rumah nenek tua yang telah diserahkan kepada padukuhannya itu.

Dengan demikian maka keduanya telah kembali ke pembaringan mereka, sebuah amben besar di sudut ruang tengah itu. Mereka kemudian tinggal menunggu. Mungkin mereka akan mendengar suara kentongan yang berasal dari rumah bebahu yang telah datang ke rumah nenek tua itu.

Tetapi suara kentongan itu sama sekali tidak terdengar. Beberapa lama mereka menunggu, bahkan sampai fajar mulai menyingsing.

Hari yang datang adalah hari yang bakal sibuk di rumah nenek tua itu. Sementara itu, bebahu yang pernah berniat mengambil benda-benda berharga di rumah nenek tua itu mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Orang-orang yang bersedia datang kepadanya dan bersama-sama pergi ke rumah bebahu, kawannya yang pernah mendengar niatnya itu, ternyata tidak datang.

“Mereka memang gila. Setelah mereka berhasil membawa peti itu, mereka telah berkhianat,” geram bebahu itu.

Dengan demikian maka ia merasa sangat cemas. Jika rahasia itu terbuka, maka ia tentu akan ditangkap oleh Ki Bekel. Meskipun ia sama sekali tidak ikut menikmati hasil pencurian itu.

Ketika sampai pagi hari ia tidak mendengar kegemparan yang terjadi di padukuhan itu, maka bebahu itu mengira bahwa orang-orang yang mengambil barang-barang berharga itu telah berhasil. Bahkan nenek tua itu belum menyadari, bahwa ia telah kehilangan.

Namun sampai matahari terbit, bebahu itu tidak mendengar berita apapun. Tidak ada orang yang menjadi ribut, karena rumah nenek tua itu telah kecurian. Tidak pula terdengar ada perkelahian atau hal-hal lain yang dapat memberikan petunjuk bahwa telah terjadi. Sementara orang-orang yang bersedia bekerja ama itu tidak lagi datang kepadanya.

Berbagai pikiran telah bergejolak di dalam hatinya, sementara itu saat yang dijanjikan untuk melakukan penjualan barang-barang berharga itu dengan penawaran tertinggi menjadi semakin dekat. Jika matahari sepenggalah, maka ia, para bebahu dan Ki Bekel harus sudah berada di rumah nenek tua itu. Sementara orang-orang yang berminat pun akan mendapat kesempatan untuk melihat-lihat pusaka-pusaka yang akan dijual dengan penawaran tertinggi itu.

Demikianlah maka matahari telah bergerak semakin tinggi.

Pada saatnya, maka di rumah nenek tua itu, beberapa orang telah berdatangan. Ki Bekel dan para bebahu telah berada di rumah itu pula. Sementara itu, Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan pun telah ikut melayani beberapa orang yang datang untuk melihat barang-barang berharga yang akan dijual itu.

Bebahu yang berusaha untuk memiliki benda-benda itu dengan meminjam tangan beberapa orang gegedug menjadi heran. Pusaka-pusaka peninggalan suami nenek tua itu masih utuh berada di rumah nenek tua itu.

Namun bebahu itu menganggap bahwa hal itu lebih baik daripada jika benda-benda berharga itu hilang sedangkan gegedug-gegedug yang telah diberitahu tentang rahasia rumah nenek tua itu berkhianat.

Kerena itu, maka rencana penjualan pusaka-pusaka itu nampaknya akan berlangsung sebagaimana direncanakan.

Sementara itu, bebahu yang telah mencurigai kawannya itu-pun menjadi berdebar-debar. Ia merasa beruntung, bahwa ia masih belum melaporkan kepada Ki Bekel bahwa ia telah mencurigai kawannya. Ternyata tidak terjadi apapun juga. Rumahnya pun semalam tidak didatangi oleh siapapun juga.

Yang terasa kemudian adalah kantuk yang sangat karena semalam suntuk ia tidak tertidur. Ia harus berjaga-jaga dalam kecemasan, karena ia memperhitungkan bahwa orang-orang yang datang di malam sebelumnya akan datang lagi.

Tetapi, bagaimanapun juga ia masih merasa beruntung. Isterinyapun rasa-rasanya telah terlepas dari kecemasan yang mencengkam. Bahkan kedua adiknya telah ikut datang pula ke rumah nenek tua itu untuk melihat penjualan benda-benda berharga menurut penawaran yang tertinggi.

Orang-orang yang termasuk berkecukupan di padukuhan itu, bahkan dari padukuhan tetangga yang mendengarnya telah memerlukan datang. Mereka yang datang lebih dahulu, sempat melihat lebih dahulu, benda-benda pusaka yang diletakkan di atas sebuah amben kecil yang diberi alas kain yang berwarna cerah agar dengan demikian menjadi lebih menarik.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat selain ikut melayani mereka yang ingin melihat-lihat bersama dengan Ki Bekel, harus sangat berhati-hati, karena peristiwa yang terjadi semalam. Meskipun mereka berharap bahwa tidak akan terjadi akibat buruk karenanya, namun mereka harus tetap berjaga-jaga atas segala kemungkinan.

Ketika orang-orang yang diundang secara khusus sudah nampak hadir, maka Ki Bekel telah bersiap-siap untuk mulai dengan penjualan atas dasar penawaran tertinggi itu.

Namun dalam pada itu, bebahu yang semula berniat untuk mengambil pusaka-pusaka itu terkejut. Ia melihat gegedug yang pernah dihubungi untuk mengambil pusaka-pusaka itu ternyata nampak pula di antara orang-orang yang ingin menyaksikan penjualan itu.

Karena itu, ia pun menjadi berdebar-debar. Jika gegedug-gegedug itu menjadi gila dan akan mengambilnya dengan paksa hari itu juga, maka akan dapat timbul kekacauan yang mungkin akan berakibat sangat buruk.

Apalagi ketika bebahu itu melihat gegedug itu agaknya telah datang dengan kelompoknya yang cukup besar.

“Pusaka-pusaka itu nilainya memang tinggi,” berkata bebahu itu di dalam hatinya, “agaknya mereka tidak akan tanggung-tanggung. Taruhannya cukup besar untuk mendapatkan barang-barang yang memang bernilai tinggi.”

Namun dengan demikian maka persoalannya tentu akan terlepas dari dirinya. Bahkan mungkin gegedug itu akan mengambil langkah lain untuk menghilangkan jejak. Satu-satunya orang yang mereka anggap mengenali mereka adalah bebahu itu.

Karena itu, maka bebahu itu justru menjadi sangat cemas. Ia tidak lagi sempat memperhatikan Ki Bekel yang sudah berdiri di hadapan orang-orang yang duduk di atas tikar yang terbentang di pendapa. Bahkan Ki Bekel sudah mulai sedikit sesorah. Ki Bekel sudah mengucapkan syarat-syarat untuk mendapatkan pusaka-pusaka peninggalan suami nenek tua yang telah meninggal itu, yang hasil penjualannya seluruhnya akan diserahkan kepada padukuhan untuk kepentingan padukuhan.

Memang terdengar tepuk tangan gemuruh. Orang-orang yang duduk di pendapa, yang berniat membeli barang-barang berharga itu pun ikut bertepuk tangan.

Namun tiba-tiba gemuruh tepuk tangan itu terhenti. Beberapa orang yang garang tiba-tiba saja telah berloncatan ke atas lantai pendapa. Tidak hanya tiga orang. Tetapi yang nampak adalah sepuluh orang gegedug, meskipun nampak pada sikap mereka bahwa mereka tidak memiliki bekal ilmu yang sama.

Suasana memang menjadi sedikit kacau. Beberapa orang menjadi ketakutan dan meninggalkan halaman itu.

“Jangan melakukan perlawanan,” teriak orang yang nampaknya paling garang di antara mereka, “aku akan mengambil milikku.”

Ki Bekel masih tetap berdiri di tempatnya. Ia memang menjadi berdebar-debar. Tetapi sebagai pemimpin maka ia tetap merasa bertanggungjawab.

“Siapa kalian?” bertanya Ki Bekel.

Sementara itu Mahisa Murti telah memberikan isyarat kepada Mahisa Semu untuk mengajak nenek tua itu menepi.

Mahisa Semu pun segera tanggap. Ia pun kemudian membimbing perempuan tua itu untuk menepi dan berada di tempat yang lebih baik daripada berada di antara banyak orang. Bahkan Mahisa Murti pun telah minta kepada Wantilan untuk bersama-sama dengan Mahisa Semu dan Mahisa Amping. “Lindungi nenek itu. Jangan sampai nenek itu menjadi bahan taruhan oleh orang-orang yang nampaknya menjadi gila. Mereka menjadi sangat marah karena semalam mereka telah tertipu, karena isi peti yang berat itu tidak seperti yang mereka duga.”

Wantilan pun kemudian telah membimbing Mahisa Amping bergeser mendekati Mahisa Semu yang mendampingi perempuan tua yang menjadi ketakutan.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya nenek tua itu.

“Tenanglah nek. Mungkin hanya sedikit salah paham. Nenek tidak akan mengalami kesulitan apapun juga,” berkata Mahisa Semu.

“Apakah mereka juga mengaku berhak atas warisan yang ditinggalkan oleh suamiku?” bertanya nenek tua itu.

“Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan dapat mengatasinya.”

Nenek tua itu mengangguk-angguk. Ia sudah menjadi sangat percaya kepada anak-anak muda. Itu Karena itu, apa yang dikatakannya itu memang memberikan ketenangan kepadanya.

Sementara itu, salah seorang dari sepuluh orang itu melangkah maju mendekati Ki Bekel, sementara orang-orang yang duduk di pendapa itu telah bangkit berdiri.

“Ki Bekel,”geram orang itu, “apakah Ki Bekel menyadari apa yang telah Ki Bekel lakukan?”

“Apa maksudmu?” bertanya Ki Bekel.

“Pusaka-pusaka yang akan dijual itu adalah milik kami,” bentak orang itu.

Tetapi Ki Bekel tidak cepat menjadi gentar. Di tempat itu berkumpul banyak orang yang akan dapat membantunya jika diperlukan. Ada beberapa bebahu dan bahkan anak-anak muda.

Karena itu, maka ia pun bertanya, “Apakah kau juga merasa berhak memiliki warisan dari suami nenek tua itu setelah ia meninggal begitu lama?”

“Aku tidak peduli dengan warisan itu. Tetapi barang-barang itu aku perlukan. Ki Bekel harus menyerahkannya, atau aku harus membantai orang-orang padukuhan ini semua di sini?” geram orang itu.

Ki Bekel menjadi tegang. Tetapi ia justru mulai menjadi marah, “Kau kira aku siapa he? Aku tahu bahwa kau tentu seorang perampok atau mungkin seorang yang berilmu tinggi. Tetapi kau dengan kawan-kawanmu tidak akan dapat menang melawan orang sepadukuhan ini. Aku juga bukan anak-anak yang mudah kau takut-takuti atau menjadi keheranan melihat senjata yang bergetar. Sekarang katakan, apa yang sebenarnya kau inginkan.”

“Ki Bekel,” berkata orang itu, “jangan berpura-pura. Aku adalah gegedug dari Bukit Palang. Aku menghendaki pusaka-pusaka itu. Boleh atau tidak boleh. Jika kau menolak, maka aku bersepuluh akan membunuh semua orang yang mencoba menghalangi aku. Aku akan mengampuni orang-orang yang menghindar, tetapi mereka yang dengan sombong mencoba menentang kehendakku, akan aku bantai dengan caraku.”

Ki Bekel memang terpengaruh oleh kata-kata orang itu. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, orang-orang yang datang dengan sikap yang garang itu terkejut mendengar seseorang tertawa.

“He, apakah kau memang gila anak muda?” bertanya orang yang mengaku gegedug dari Bukit Palang itu.

Mahisa Murti lah yang melangkah maju. Dengan nada rendah ia bertanya, “Apakah gegedug Bukit Palang itu mempunyai kelebihan dari orang-orang kebanyakan?”

“Setan kau. Kau siapa he?” bertanya orang itu.

“Sebagaimana kau lihat, aku adalah salah seorang dari antara orang-orang padukuhan ini. Aku adalah pembantu Ki Bekel menyelenggarakan penjualan barang-barang berharga ini, yang hasilnya akan dipergunakan bagi kesejahteraan seisi padukuhan.”

“Persetan dengan igauanmu. Kata-kataku berlaku juga untukmu. Jika kau menyingkir, maka kau akan aku ampuni. Tetapi jika kau melibatkan diri, maka kau akan ikut terbantai di sini.” geram orang itu.

Tetapi Mahisa Murti masih saja tertawa. Katanya, “Agaknya kaulah yang semalam datang mengambil peti di rumah ini. Kau taburkan sirep yang tidak berarti apa-apa. Kau kira semua orang sudah tidur nyenyak. Kau kira kau berhasil masuk ke rumah ini tanpa diketahui orang lain dan berhasil membawa peti yang berat itu. He, apakah isinya peti itu?”

“Anak iblis,”orang itu menjadi sangat marah, “jika kau berkata satu patah kata lagi, aku koyak mulutmu.”

“Aku tidak hanya akan berbicara saja. Bahkan aku tantang kau berperang tanding jika kau memang mengaku gegedug dari Bukit Palang. Aku adalah anak gegedug dari Pagar Rampak. Tetapi aku sudah lama tinggal di padukuhan ini dan hidup sebagaimana orang kebanyakan. Sekarang kita buktikan. Manakah yang lebih besar. Bukit Palang atau Pagar Rampak, meskipun aku hanya anaknya. Dengan mengukur tingkat ilmu sirepmu aku dapat menjajagi seberapa tinggi ilmumu. Ilmu kebanggaan Bukit Palang yang menurut ceritera ayahku, sama sekali tidak sebanding dengan tingkat ilmu dari Pagar Rampak.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat, apakah ia pernah mendengar perguruan yang disebut perguruan Pagar Rampak. Atau satu kelompok kekuatan dari Pagar Rampak apalagi Gegedug Pagar Rampak.

Mahisa Murti melihat kebimbangan di hati orang itu. Lalu katanya dengan nada tinggi, “Apakah kau sedang mempertimbangkan sesuatu?”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku belum pernah mendengar gegedug dari Pagar Rampak.”

Mahisa Murti tertawa. Katanya, “Kau mencoba menyembunyikan kecemasanmu. Ayahku pernah berceritera tentang perbandingan ilmu yang pernah diselenggarakan antara para gegedug dari Bukit Palang dan para gegedug dari Pagar Rampak. Ternyata bahwa kemampuan orang-orang Bukit Palang tidak berarti apa-apa.”

“Persetan kau. Kau kira kau dapat menakut-nakuti aku?” bentak orang itu.

“Tidak. Aku yakin bahwa kau tidak akan takut. Aku yakin bahwa kau tentu akan bersedia membuktikan, siapakah yang lebih baik di antara kita. Pusaka-pusaka ini menjadi taruhan. Jika kau menang, maka kau akan dapat mengambil pusaka-pusaka itu. Tetapi jika kau aku menang, maka kalian akan menjadi tawanan kami,” jawab Mahisa Murti.

Orang itu menggeram. Ia benar-benar merasa tersinggung oleh tantangan Mahisa Murti. Karena itu, maka ia telah melupakan perhitungan yang paling baik yang harus dilakukannya.

Dengan nada tinggi ia menjawab, “Aku terima tantanganmu anak gila dari Pagar Rampak. Tetapi jika kau kalah, aku tidak saja akan mengambil pusaka-pusaka itu. Tetapi aku akan membunuhmu dan membunuh Bekel yang sombong itu.”

“Silahkan,” jawab Mahisa Murti, “aku kira setiap perbandingan ilmu memang akan membawa akibat seperti itu.”

“Cepat. Turunlah ke halaman,” geram gegedug dari Bukit Palang itu. “Aku akan menghancurkan kepalamu.”

Mahisa Murti tersenyum. Ia pun kemudian berbisik kepada Mahisa Pukat, “Kau awasi pusaka-pusaka itu.”

Mahisa Pukat mengangguk kecil. Sementara itu, gegedug dari Bukit Palang itu telah meloncat ke halaman.

Orang-orang yang masih ada di halaman itu pun segera menyibak. Orang-orang yang ada di pendapa, yang sudah siap memberikan penawaran itu pun telah turun pula untuk menyaksikan perang tanding antara dua orang yang mengaku gegedug dari Bukit Palang itu dengan Mahisa Murti.

Ki Bekel pun telah ikut turun ke halaman pula. Bahkan ia telah memberitahukan agar para bebahu bersiap-siap. Masih ada sembilan orang yang dapat bertindak curang setiap saat. Mereka dapat dengan tiba-tiba menyerang siapa saja yang ada di sekitarnya. Karena itu, maka Ki Bekel telah minta kepada para bebahu untuk berhati-hati menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi kemudian.

“Apapun yang terjadi, kitalah yang bertanggung jawab atas padukuhan ini,” berkata Ki Bekel kepada para bebahu. Lalu katanya pula, “Karena itu, kita tidak dapat sekedar menonton di saat-saat yang paling gawat.”

Para bebahu mengangguk-angguk. Mereka menyadari keadaan itu. Bahkan beberapa orang bebahu telah berbisik kepada orang-orang padukuhan itu. Juga mereka yang semula berada di pendapa. Anak-anak muda dan siapapun yang dapat ditemui oleh para bebahu itu.

Sementara itu, Mahisa Murti dan gegedug dari Bukit Palang itu telah berada di halaman. Sembilan orang kawannya, yang semula telah naik ke pendapa telah ada di halaman itu pula.

Mahisa Murti menyadari, bahwa sesuatu yang tidak diinginkan dapat saja terjadi. Ia sama sekali belum menjajagi kemampuan orang yang mengaku gegedug Bukit Palang itu. Mungkin orang itu memang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Namun bagaimanapun juga, ia harus memilih cara yang dianggapnya terbaik. Jika benar-benar terjadi pertempuran langsung melawan sepuluh orang itu, maka orang-orang padukuhan itu tentu akan banyak yang menjadi korban meksipun seandainya mereka akan dapat mengalahkan mereka.

Tetapi dengan perang tanding Mahisa Murti berharap, bahwa persoalannya akan dapat dibatasi. Seandainya masih harus terjadi pertempuran melawan mereka semuanya, jika Mahisa Murti mampu mengalahkan pimpinannya, maka yang lain pun tentu akan merasa kecil di hadapan orang-orang padukuhan itu. Atau bahkan mereka tidak akan berani berbuat apa-apa sama sekali. Namun sebaliknya, jika Mahisa Murti dapat dikalahkan, maka orang itu memang tidak akan dapat dihalang-halangi.

Untuk beberapa saat keduanya saling berhadapan. Orang yang menyebut dirinya gegedug dari Bukit Palang itu pun kemudian berkata, “bersiaplah untuk mati anak muda. Biar ayahmu dari Pagar Rampak itu mendengar, bahwa kau telah dibunuh oleh gegedug dari Bukit Palang. Jika ayahmu ingin menuntut kematianmu, biarlah ia datang ke Bukit Palang untuk mengantarkan nyawanya pula.”

“Aku sudah bersiap. Marilah, kita akan melihat ilmu dari manakah yang terbaik di antara kita,” jawab Mahisa Murti.

Gegedug dari Bukit Palang itu pun kemudian bergeser selangkah maju.

Mahisa Murti telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Menurut pengamatannya maka orang yang mengaku gegedug dari Bukit Palang itu memang seorang yang berilmu tinggi. Karena itu, maka ia harus berhati-hati menghadapi kemungkinan yang akan dapat menjadi sangat gawat. Sementara itu, masih ada sembilan orang lagi yang ada di halaman itu.

“Jika aku berhasil, maka sembilan orang itu akan terpengaruh. Sebaliknya orang-orang padukuhan ini akan berbesarhati dan keberanian mereka pun akan timbul,” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya.

Sejenak kemudian, maka gegedug itu mulai menyerang. Nampaknya orang itu pun menjadi sangat berhati-hati. Keyakinan yang nampak pada sorot mata Mahisa Murti telah memperingatkannya agar ia tidak merendahkannya.

Ketika gegedug itu meloncat sambil menjulurkan tangannya, maka Mahisa Murti pun bergeser surut.

Sembilan orang yang datang bersama gegedug itu pun menjadi tegang. Bahkan mereka merasa tidak sabar. Kenapa gegedug yang sangat mereka kagumi itu tidak saja menerkam anak muda itu dan langsung mematahkan lehernya.

Namun dalam pada itu, Ki Bekel dan para bebahu pun telah bersiapa pula. Tidak hanya sembilan orang, tetapi bersama-sama dengan anak-anak muda padukuhan itu, mereka siap menarik senjata mereka masing-masing. Jika sembilan orang itu mulai bergerak, maka mereka pun akan dengan senjata-senjata mereka menyerang seperti amuk banjir bandang.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan gegedug Bukit Palang itu telah mulai saling menjajagi. Mereka saling menyerang dan menghindar. Selapis demi selapis mereka telah meningkatkan ilmu mereka.

Sementara itu, Mahisa Pukat yang mengawasi pusaka-pusaka itu merasa juga berkewajiban memperhatikan pertempuran yang terjadi di halaman. Termasuk orang-orang yang datang bersama gegedug dari Bukit Palang itu. Jika mereka berbuat curang, maka Mahisa Pukat tidak akan dapat membiarkannya, sementara pusaka-pusaka itu dapat diserahkan pengawasannya kepada orang lain.

Sementara itu, ketika pertempuran itu terjadi beberapa lama, maka sembilan orang yang menganggap bahwa gegedug itu adalah orang yang paling mumpuni dalam olah kanuragan, telah terlalu lama membiarkan lawannya melakukan perlawanan. Beberapa orang justru telah menjadi gelisah.

Namun akhirnya mereka terpaksa mengikuti pertempuran itu dengan saksama. Ternyata bukan pemimpinnya yang telah mendesak anak itu. Tetapi setiap pemimpinnya itu meningkatkan ilmunya, maka lawannya pun masih saja mampu mengimbanginya.

“Kenapa Ki Lurah tidak segera membunuh anak sombong itu?” geram salah seorang dari mereka, “semakin lama anak itu akan merasa dirinya semakin baik dan merasa semakin memiliki kemampuan bahkan merasa seimbang dengan Ki Lurah.”

Yang lain pun menjadi tidak telaten. Katanya, “Kenapa tidak diserahkan saja kepadaku? Aku tentu telah membunuhnya.”

Beberapa di antara mereka saling berpandangan sejenak. Sementara itu pertempuran di antara mereka yang berada di arena itu pun menjadi semakin cepat.

Namun akhirnya Mahisa Murti harus mengakui, bahwa lawannya memang berilmu tinggi. Ketika mereka telah bertempur beberapa lama, maka agaknya lawannya menjadi marah, karena masih belum dapat mengalahkan Mahisa Murti. Dengan demikian maka orang itu pun telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi.

Tetapi dengan demikian, maka Mahisa Murti telah mampu menjajagi ilmu lawannya itu. Bahkan kemudian Mahisa Murti memang lelah bertekad untuk menjajagi lebih jauh kekuatan lawanya itu.

Itulah sebabnya, ketika lawannya bersiap menyerangnya, Mahisa Murti telah menghimpun tenaganya. Ia tidak akan menghindari serangan lawannya itu. Tetapi ia ingin membentur serangan itu untuk mengukur, perbandingan kekuatan di antara mereka. Meskipun Mahisa Murti menyadari bahwa orang itu agaknya belum sampai ke puncak, tetapi ia sudah berada di tataran tertinggi dari ilmunya.

Sebenarnyalah, ketika orang itu meloncat sambil menyerang dengan tangannya yang terjulur lurus ke arah dada, maka Mahisa Murti sama sekali tidak menghindar. Tetapi ia justru tetap berdiri di tempatnya. Kedua tangannya bersilang di muka dada untuk melindungi dadanya itu, sedangkan satu kakinya agak ditariknya ke belakang, sementara lututnya merendah sedikit.

Sejenak kemudian telah terjadi satu benturan yang menggetarkan jantung. Sembilan orang kawan gegedug dari Bukit Palang itu menarik nafas lega. Mereka memperhitungkan bahwa dalam benturan itu, anak muda yang mengaku anak gegedug dari Pagar Rampak itu akan hancur lumat menjadi debu. Mereka kenal sekali akan kekuatan gegedug dari Bukit Palang itu. Jangankan seseorang. Gunung pun akan runtuh dan lautan akan menjadi kering jika dikenai oleh kekuatan ilmunya yang tidak ada bandingnya.

Sebenarnyalah, Mahisa Murti memang terguncang. Ia terdorong surut beberapa langkah. Tetapi Mahisa Murti masih tetap tegak berdiri di atas kedua kakinya tanpa merubah sikapnya. Kedua tangannya masih bersilang di depan dadanya. Satu kakinya agak ditarik ke belakang, sementara lututnya agak merendah. Dalam sikap itu ia terdorong oleh kekuatan gegedug dari Bukti Palang.

Tetapi ternyata bahwa gegedug Bukit Palang itu terkejut bukan buatan. Tangannya seakan-akan telah membentur bukit karang yang berdiri tegak dengan kokohnya.

Karena itu, maka gegedug dari Bukit Palang itulah yang telah terpental dan terlempar beberapa langkah surut. Ia tidak berhasil tetap tegak sebagaimana Mahisa Murti. Tetapi keseimbangannya telah benar-benar terguncang, sehingga meskipun ia berusaha untuk tetap tegak, namun akhirnya ia pun telah terjatuh juga.

Meskipun gegedug itu dengan cepat telah bangkit, namun ternyata bahwa keseimbangannya masih goyah. Apalagi tangannya yang membentur kekuatan Mahisa Murti itu itu terasa sakitnya sampai ke tulang.

Sembilan orang kawannya tidak kalah terkejutnya. Mereka tiba-tiba saja membentur pada satu kenyataan tentang pertempuran itu. Mereka sudah membayangkan bahwa anak muda itu akan hancur lumat digilas oleh kekuatan gegedug dari Bukit Palang itu. Namun yang terjadi justru sangat berlainan. Karena itu maka benturan angan-angan itu dengan kenyataan yang mereka lihat, ternyata telah menggetarkan isi dadanya.

Kesembilan orang itu harus menyaksikan betapa orang yang mereka bangga-banggakan itu harus terlempar jatuh berguling di tanah. Meskipun orang itu dengan cepat berusaha bangkit, namun nampak betapa orang itu harus menahan kesakitan yang sangat.

Mahisa Murti kemudian telah melangkah mendekat. Ia tidak tergesa-gesa menyerang.Namun ia sempat bertanya, “Nah, apakah kau mengaku kalah? Apakah kau mengakui, bahwa ilmu dari Pagar Rampak jauh lebih baik dari ilmu yang kau banggakan? Kau sekarang telah mengalami sendiri, bahwa Bukit Palang bukan apa-apa bagi Pagar Rampak.”

Gegedug itu sama sekali tidak menjawab. Ia pun segera meloncat menyerang Mahisa Murti meskipun tangannya masih terasa sakit sampai ke bagian dalam dadanya. Tetapi kemarahan yang membakar jantungnya ternyata tidak dapat ditahankannya lagi.

Namun serangannya yang tergesa-gesa itu sama sekali tidak mampu menggetarkan pertahanan Mahisa Murti. Bahkan gegedug itu seakan-akan telah terseret oleh ayunan kekuatannya sendiri. Sedangkan Mahisa Murti dengan bergeser selangkah, telah lepas dari garis serangan gegedug itu.

Kegagalan itu telah membuat gegedug dari Bukit Palang itu semakin marah. Tanpa menghiraukan lagi perasaan sakitnya, maka ia pun telah berloncatan menyerang.

Mahisa Murti masih bergeser surut. Namun kemudian, Mahisa Murti itu merasa betapa lawannya menjadi semakin cepat bergerak.

Akhirnya Mahisa Murti sampai pada satu kesimpulan bahwa yang dilakukan oleh lawannya itu tentu bukan kekuatan dan kemampuan wadag sawantahnya. Tetapi lawannya itu tentu sudah mulai merambah ke ilmunya.

Mahisa Murti pun kemudian telah meningkatkan kekuatan cadangan di dalam dirinya, sehingga ia pun masih mampu mengimbangi kecepatan gerak lawannya itu.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Keduanya mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi. Keduanya berloncatan seperti bayangan yang saling menyambar.

Sembilan orang kawan gegedug dari Bukit Palang itu menjadi heran bahwa anak muda itu mampu mengimbangi kecepatan gerak gegedug dari Bukit Palang. Satu hal yang menurut pendapat mereka tidak mungkin dapat terjadi.

Namun mereka benar-benar telah menyaksikan, anak muda yang mengaku anak gegedug dari Pagar Rampak itu mampu mengimbangi kemampuan orang yang mereka anggap memiliki kemampuan tanpa tanding itu.

Sebenarnyalah, bahwa gegedug dari Bukit Palang itu tidak segera mampu mengalahkan Mahisa Murti. Namun semakin tinggi ia memanjat puncak ilmunya, maka ia pun mampu bergerak semakin cepat. Bahkan kemudian, orang itu seakan-akan telah berubah menjadi bayangan yang tidak teraba.

Mahisa Murti memang menjadi agak bingung. Ternyata kecepatan gerak orang itu melampaui kemampuannya. Sekali-sekali mulai terasa orang itu sempat mengenai tubuhnya. Meskipun kadang-kadang Mahisa Murti mampu membentur kekuatan itu dan melemparkannya beberapa langkah surut, sehingga kehilangan keseimbangannya, namun Mahisa Murti memang ketinggalan selapis jika ia harus berlomba dalam kecepatan gerak.

Dalam pertempuran yang berlangsung kemudian, maka sebenarnyalah orang itu telah berhasil menyerang dan menyentuh tubuh anak muda itu beberapa kali. Bahkan kemudian, sentuhan-sentuhan itu semakin lama menjadi semakin terasa sakit.

Dengan demikian, maka Mahisa Murti pun harus mulai merambah ilmunya jika ia tidak ingin dihancurkan oleh gegedug dari Bukit Palang itu. Namun Mahisa Murti tidak ingin dengan serta merta melepaskan ilmunya yang dapat dilontarkan dari jarak jauh. Mahisa Murti tidak mau gagal karena orang itu memiliki kecepatan yang tinggi dan mampu menghindariya. Apalagi jika serangannya itu justru akan mengenai orang lain yang ada di sekitarnya.

Karena itu, maka Mahisa Murti telah mengetrapkan ilmunya yang lebih tersembunyi. Ilmu yang mampu menghisap kekuatan lawannya dan bahkan kemampuan ilmunya.

Namun dengan demikian Mahisa Murti memerlukan kesempatan untuk dapat menyentuh orang itu, sehingga dengan demikian satu getaran yang kuat akan menghisap kekuatan di tubuh lawannya.

Sejenak kemudian pertempuran pun menjadi semakin sengit. Orang yang mengaku gegedug dari Bukit Rampak itu pun bergerak semakin cepat, sehingga Mahisa Murti menjadi semakin sulit untuk mengatasi serangan-serangannya. Sekali dua kali Mahisa Murti memang behasil menangkis. Ia mempunyai kelebihan kekuatan di banding dengan lawannya. Tetapi ia tidak mampu mengimbangi kecepatan geraknya, sehingga beberapa kali ia tidak berhasil menangkis serangan gegedug dari Bukit Palang itu, sehingga serangan-serangannya yang mengenai tubuh Mahisa Murti pun menjadi semakin sering. Hanya kadang-kadang saja Mahisa Murti mampu menangkis dan dengan demikian mendorong lawannya surut.

Ketika Mahisa Murti kehilangan jejak gerak lawannya, maka naluriahnya seakan-akan telah memberitahukan, bahwa lawannya telah menyerangnya ke arah lambung. Mahisa Murti segera bersiap. Ia berusaha melindungi lambungnya dengan sikunya. Namun ternyata bahwa lawannya sempat melihat gerakan itu. Karena itu maka gegedug dari Bukit Palang itu segera menggeliat. Geraknya memang sangat cepat, sehingga sambil menggeliat, maka kakinya telah menyerang menyamping menghantam punggung Mahisa Murti.

Mahisa Murti memang tidak menyangka bahwa tubuh orang itu demikian liatnya, sehingga sambil menggeliat menghindar, ia masih juga sempat menyerang. Demikian kerasnya serangan itu, justru dari arah yang tidak diduga, maka Mahisa Murti telah terdorong beberapa langkah maju. Hampir saja ia jatuh terjerembab. Namun Mahisa Murti telah memilih cara lain untuk jatuh. Ia justru menjatuhkan tubuhnya dan terguling beberapa kali. Ketika lawannya memburunya dan menyerangnya selagi Mahisa Murti masih terbaring, Mahisa Murti sempat berputar bertumpu pada punggungnya. Kedua kakinya tiba-tiba telah menyepak kaki lawannya. Demikian cepatnya sehingga lawannya itu pun telah terjatuh.

Mahisa Murti sempat menggapai tubuh orang itu dengan memeganginya pada kakinya. Tetapi orang itu sempat menghentakkannya. Kaki yang terpegang oleh Mahisa Murti itu ditariknya sementara kaki yang lain telah menyerang.

Mahisa Murti tidak dapat menyelamatkan keningnya, sehingga kepalanya terangkat dan pegangannya terlepas.

Mahisa Murti harus berguling beberapa kali. Dengan sigapnya ia pun telah melenting berdiri, sementara lawannya pun telah tegak berdiri.

Keduanya telah berhadapan kembali. Keduanya siap dengan segenap kemampuan masing-masing.

Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu seakan-akan telah dicengkam oleh ketegangan. Sembilan orang kawan gegedug dari Bukit Palang itu bagaikan membeku. Mereka tidak mengira bahwa anak muda itu mampu mengimbangi kemampuan gegedug dari Bukit Palang itu. Bahkan ketika gegedug itu telah sampai ke puncak ilmunya yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Namun melihat keseimbangannya yang terakhir, maka sembilan orang kawan gegedug itu memastikan bahwa gegedug itu akan menang. Apalagi setelah sekali dua kali Mahisa Murti jatuh dan berguling di tanah. Sekali-sekali berloncat mundur dan beberapa kali gagal menangkis serangan gegedug dari Bukit Palang itu.

Tetapi ketika keduanya berhadapan lagi, maka keadaannya nampaknya sudah berbeda. Mahisa Murti masih tetap segar, meskipun beberapa kali ia mengalami kesakitan. Sementara gegedug dari Bukit Palang itu nampak mulai menjadi letih.

Mahisa Pukat yang menunggui pusaka-pusaka itu pun menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya Mahisa Murti telah hampir berhasil. Karena itu, maka ia tidak lagi mengawasi pertempuran itu. Yang kemudian mendapat perhatiannya sepenuhnya adalah sembilan orang kawan gegedug itu. Mereka akan dapat bergerak dengan tiba-tiba. Namun nampaknya Ki Bekel dan para bebahu cukup berhati-hati, sehingga mereka pun telah siap untuk bertindak jika sembilan orang itu dengan serta merta mulai menyerang.

Tetapi sembilan orang itu masih berpengharapan kuat, bahwa gegedug dari Bukit Palang itu akan menang. Mereka masih saja membeku menyaksikan pertempuran yang segera berlangsung kembali.

Gegedug itu masih mampu bergerak dengan cepat sekali. Tetapi kekuatannya telah mulai susut. Sebelum kekuatannya susut, ia tidak mampu mengimbangi kekuatan Mahisa Murti. Apalagi ketika kekuatan itu perlahan-lahan mulai berkurang.

Namun gegedug itu tidak segera menyadari. Ia masih menduga bahwa karena ia telah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya, maka ia menjadi lebih cepat merasa letih.

(Bersambung ke Jilid 83).

Koleksi buku: Ki Ismoyo
Scanning: Ki Ismoyo
Convert/Proofing: Ki Raharga
Rechecking/Editing: Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s