ADBM-009


kembali | lanjut >>

SAMPAI digubug Alap-alap Jalatunda Tohpati berhenti. Wajahnya tampak berkerut-kerut. Diangkatnya telinganya sambil bergumam lirih, “Siapa itu paman?”

Sumangkar menarik pundaknya tinggi-tinggi. Katanya, “Itulah Raden, gambaran kehidupan kita”

Tohpati menggeram. Didengarnya sekali lagi suara tertawa perempuan seperti seekor kucing tercekik. Kemudian terdengar suara Alap-alap Jalatunda yang muda itu, “Jangan merajuk anak muda. Tinggalkan istrimu di sini. Ia tidak akan berkurang cantiknya”

Yang terdengar kemudian ringkik perempua. Katanya, “Kembalilah dulu kang, aku ingin tinggal di sini dahulu”

Tohpati itu kemudian melihat anak muda yang tinggi kurus dan berkumis jarang. Anak muda yang pernah diajaknya bercakap-cakap. Anak muda yang istrinya jauh lebih tua dan bernama Nyai Pinan. Laki-laki muda itu berjalan tersuruk-suruk dengan wajah yang suram. Sekali ia berpaling, dan terdengar istrinya berkata, “Kang, aku akan segera kembali membawa sepotong daging rusa untuk kakang. Bukankah kakang senang makan daging rusa?”

Laki-laki itu mengangguk. Dan kembali ia berjalan meninggalkan gubug itu diiringi oleh suara tertawa istrinya dan Alap-alap Jalatunda. Di antara suara tertawa itu terdengar Nyai Pinan berkata, “Suamiku adalah laki-laki yang baik hati”

Laki-laki muda yang bertubuh kurus itu berhenti sesaat mendengar pujian istrinya. Namun kemudian ia berjalan kembali.

Tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba sebuah tangan yang kuat menyambar bahunya. Ketika ia berpaling, maka tubuhnya terputar dengan kuatnya.

Laki-laki itu sesaat seakan-akan kehilangan kesadarannya. Namun ketika ia menengadahkan wajahnya, ia bertambah terkejut lagi. Dilihatnya sepasang mata Tohpati seolah-olah memancarkan sinar api yang merah membara.

Laki-laki muda itu tidak mengerti apa yang harus dilakukannya, sehingga dengan gemetar ia menyeringai ketika tubuhnya diguncang-guncang oleh tangan Tohpati yang serasa akan meremukkan tulangnya.

“Kembali masuk kedalam gubug itu” teriak Tohpati dengan suara parau dan gemetar, sehingga suaranya seolah-olah telah berubah menjadi suara hantu yang sedang marah, “Masuk kembali ke gubug itu. Seret perempuan itu keluar. Perempuan yang pernah kau larikan dari suaminya”

Laki-laki muda yang tinggi kurus dan berkumis jarang itu menjadi semakin bingung. Ia kini benar-benar kehilangan akal dengan demikian maka ia masih saja berdiri dengan mulut ternganga.

“Ayo masuk kembali kedalam gubug itu” teriak Macan Kepatihan dengan marahnya.

Laki-laki itu benar-benar menjadi kebingungan, sehingga tanpa sesadarnya terloncat jawabannya, “Tetapi tuan, ia masih ingin tinggal di sana”

“Ambil perempuan gila itu. Seret keluar kalau tidak mau dilemparkan dari perkemahan ini”

Otak laki-laki kurus itu kini seolah-olah menjadi seperti baling-baling yang dipermainkan angin. Kalau angin itu bertambah kencang sedikit saja, maka ia akan semakin kencang berputar, dan tidak mampu untuk mencoba berhenti dengan sendirinya.

Dalam kebingungan itu tiba-tiba terdengar suara Alap-alap Jalatunda dengan garangnya, “He, siapa di luar?”

Laki-laki kurus itu tidak dapat menjawab. mulutnya benar-benar serasa terbungkam, sehingga sekali lagi terdengar suara Alap-alap Jalatunda, “Siapakah laki-laki gila yang mengumpat-ngumpat itu?”

Demikian marahnya Macan Kepatihan mendengar kata-kata itu sehingga bibirnya menjadi gemetar, dan bahkan tak sepatah kata pun yang dapat melontar dari bibirnya.

 

Dalam pada itu terdengar suara perempuan dari dalam bilik itu, “Ah, jangan marah kang. Tunggulah di luar. Sebentar lagi antarkan aku kembali ke gubug suamiku”

Bukan main marahnya Macan Kepatihan itu. Dan kemarahannya itu benar-benar menimbulkan keheranan pada Sumangkar yang tua. Apa yang terjadi itu bukanlah barang baru di dalam perkemahan ini. Tetapi agaknya Tohpati tidak pernah menaruh perhatian atasnya. Namun tiba-tiba ada suatu perubahan pada sikapnya. Perubahan yang tak dapat diketahui ujung dan pangkalnya. Namun yang dilihatnya kini Macan Kepatihan itu tidak dapat lagi mengendalikan kemarahannya. Karena itu, maka tiba-tiba Tohpati itu mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Sekali ia meloncat mendekati gubug itu, dan dengan sekuat tenaganya tiang sudut gubug itu berderak patah, dan runtuhlah sudut gubug Alap-alap Jalatunda.

Mendengar suara berderak-derak itu, alangkah terkejutnya Alap-alap Jalatunda dan Nyai Pinan. Dengan tangkasnya anak muda itu meloncat ke pintu dan dengan sebuah loncatan yang panjang ia telah berdiri tegak di luar pintu.

Tetapi alangkah terkejutnya Alap-alap yang garang itu. Demikian ia berdiri tegak, maka dengan serta-merta sebuah tangan terjulur ke arahnya dan dengan kuatnya menggenggam leher bajunya. Alangkah kuatnya tangan itu. Alap-alap Jalatunda itu serasa kehilangan segenap kekuatannya ketika tangan itu menariknya.

Sebelum Alap-alap Jalatunda sadar akan keadaannya, maka sebuah tamparan yang keras mengenai pipinya. Kini ia terhuyung-huyung. Tangan yang kuat itu telah tidak menggenggam bajunya lagi, sehingga Alap-alap itu terbanting jatuh. Namun sebenarnya tubuh Alap-alap Jalatunda itu sedemikian kokohnya. Demikian ia terguling, maka segera ia meloncat berdiri di atas kedua kakinya yang kokoh.

Kini barulah ia melihat siapakah laki-laki yang telah menamparnya itu. Seorang laki-laki yang bertubuh tinggi kekar berkumis tebal melintang. Macan Kepatihan.

Ketika disadarinya siapa yang berdiri di hadapannya itu, maka berdesirlah hatinya. Tiba-tiba ia tidak lagi bersikap garang. Sekali ia membungkukkan badannya dan berkata, “Maafkan aku Raden. Aku tidak tahu, bahwa Raden berada di sini”

Terdengar gigi Macan Kepatihan gemeretak menahan kemarahannya yang memuncak. Dengan tajamnya ia memandangi wajah Alap-alap Jalatunda yang tunduk.

Seandainya pada saat itu Alap-alap Jalatunda berkata sepatah kata saja, maka wajahnya pasti akan menjadi bengkak, karena Tohpati telah menggenggam tinjunya siap untuk memukul mulut Alap-alap Jalatunda itu. Namun untunglah bahwa Sumangkar sempat menenangkannya, katanya, “Sudahlah ngger, biarlah ini menjadi pelajaran bagi setiap orang di perkemahan ini. Anak muda itu telah menyesal”

Tohpati tidak menjawab. Diedarkannya pandangan matanya berkeliling. Ternyata di sekitar tempat itu telah berdiri berkerumun beberapa orang. Di ujung berdiri seseorang dengan mulut yang bergerak-gerak, Sanakeling. Meskipun ia tegak dengan wajah tegang, namun mulutnya masih saja mengunyah daging menjangan yang belum sempat ditelannya.

Tohpati itu kemudian melangkah selangkah maju. Dengan tongkatnya ia menunjuk kedalam kekelaman malam, ke kelaman hutan di sekitarnya, “Perempuan yang jahat. Pergi dari sini. Kaulah yang membawa sial dalam laskar kami”

“Raden” cegah Sumangkar hati-hati, “Biarkan perempuan ini di sini. Tempatkanlah perempuan itu pada suaminya. Jangan meninggalkan tempat ini. Kalau ia pergi maka suaminyalah yang akan menjadi gantinya”

Betapa marahnya Macan Kepatihan, namun naluri kepemimpinannya segera merayapi otaknya. Karena itu, maka katanya, “Paman benar. Perempuan itu tidak boleh meninggalkan tempat ini”. Kemudian katanya kepada laki-laki kurus berkumis jarang, “Kau menjaga istrimu di gubug ini. Biarlah Alap-alap gila itu mencari tempat lain. Kalau istrimu sampai meninggalkan tempat ini, maka lehermu menjadi taruhannya”

Laki-laki itu mengangguk-anggukkan kepalanya dalam-dalam sambil gemetar. Ia tidak tahu kenapa istrinya tidak boleh meninggalkan tempat itu. Apakah besok istrinya akan dihukum, apakah ada persoalan-persoalan lain yang akan dilakukan oleh Macan Kepatihan itu? Tetapi ia hanya mampu menjawab, “Ya, ya tuan”

Namun Sumangkar yang berpengalaman itu dapat membayangkan apa saja yang akan terjadi seandainya perempuan itu benar-benar meninggalkan perkemahan itu. Perkemahan yang dengan hati-hati dipersiapkan khusus untuk tujuan yang penting. Perkemahan yang dibangun dengan tergesa-gesa untuk mempersiapkan laskar-laskar Jipang yang terpencar di segala penjuru. Kalau perempuan itu lepas dengan luka di hatinya, maka perkemahan itu pasti segera akan hancur. Sebab tidak mustahil, tempat itu pun akan segera diketahui oleh Untara dan Widura. Untunglah bahwa Tohpati segera menyadari pula keadaan itu, sehingga orang-orang Untara belum dapat mengetahui dengan pasti letak perkemahan itu. Hubungan-hubungan yang dibuat dengan orang-orang dalam masih terlalu sulit dan kesempatan untuk itu masih belum dapat diperoleh. Yang baru diketahui oleh orang-orang Untara adalah persiapan-persiapan dan kesibukan dari beberapa orang yang terpencar-pencar. Pemusatan kekuatan di sekitar daerah yang sudah dikenal. Namun secara pasti, tempat itu belum dapat diketahui. Apalagi tempat ini belum lama dibangun, setelah beberapa puluh kali berpindah-pindah.

Nyai Pinan kemudian menjadi ketakutan bukan alang kepalang. Merangkak-rangkak ia menangis minta ampun. Bahkan ketika ia hampir sampai di hadapan Tohpati, maka segera ia menjatuhkan dirinya menelungkup. Namun Tohpati tidak menghiraukannya. Sekali lagi matanya beredar di antara orang-orangnya yang berdiri berkerumun sambil menahan gelora hati masing-masing. Dengan lantang ia berkata, “Aku tidak mau melihat perbuatan terkutuk berulang di perkemahan ini”

Dan sebelum gema suaranya lenyap dalam kekelaman malam, maka segera Tohpati itu melangkah pergi. Beberapa orang menyibak ke samping memberinya jalan. Tanpa menoleh Tohpati berjalan masuk kedalam malam yang gelap. Di belakangnya Sumangkar berjalan cepat-cepat. Di ujung perkemahan itu Sumangkar masih sempat meraih sebuah golok pembelah kayu. Kalau mereka pergi ke Sangkal Putung, maka perjalanan itu bukanlah perjalanan tamasya di malam purnama. Sehingga karena itu, maka golok itu akan sangat bermanfaat baginya apabila ditemuinya bahaya di perjalanan.

Sepeninggal Tohpati, Sanakeling melangkah maju. Mulutnya yang masih mengunyah daging menjangan itu berkata, “Apakah yang kau lakukan Alap-alap kecil?”

Alap-alap Jalatunda menundukkan wajahnya. Terasa darah yang seakan-akan menggelegak, namun ia tidak berani berbuat apa-apa. Meskipun demikian terasa juga bahwa telah terjadi suatu perubahan sikap pada Tohpati yang garang itu.

Meskipun Pratanda yang juga bergelar Alap-alap Jalatunda itu belum menjawab, namun dengan melihat Nyai Pinan yang masih merangkak-rangkak, segera Sanakeling dapat menduga apa yang telah terjadi. Karena itu, maka gumamnya di dalam mulutnya, “Hem, karena itu aku tidak mau berurusan dengan perempuan. Perempuan dimana-mana dapat menimbulkan persoalan. Dunia ini dapat menjadi sedemikian indah dan menggairahkan, karena perempuan. Namun dunia ini dapat berubah menjadi neraka juga karena perempuan. Nah alap-alap kecil, jangan menyesal. Yang sudah biarlah terjadi, tetapi ingatlah untuk seterusnya, bahwa Macan Kepatihan yang garang itu membenci perempuan”

Alap-alap Jalatunda mengangkat wajahnya. Dilihatnya Sanakeling masih menggerak-gerakkan mulutnya. Tetapi Alap-alap Jalatunda tidak berkata apa-apa. dengan langkah yang gontai ia berjalan meninggalkan tempat itu.

“Mau kemana?” bertanya Sanakeling.

“Tidak kemana-mana” sahut Alap-alap Jalatunda.

“Kau tidak boleh menempati gubug yang hampir roboh itu. Tidurlah di tempatku bersama orang-orangku”

Alap-alap Jalatunda menggeleng, katanya, “Aku akan tidur bersama orang-orangku sendiri”

Sanakeling dengan susah payah menelan segumpal daging yang tidak dapat dikunyahnya. Sesaat terasa kerongkongannya tersumbat. Namun setelah gumpalan daging itu melalui lehernya ia berkata, “Terserahlah, tetapi aku akan berbicara kepadamu. Datanglah kegubukku”

“Tentang apa?” bertanya Alap-alap Jalatunda.

“Tidak tentang perempuan” sahut Sanakeling.

“Ah” desah Alap-alap Jalatunda, “Tentang apa?”

Sanakeling memandang Alap-alap Jalatunda dengan tajamnya. Ia tidak senang mendengar Alap-alap itu berkata tajam kepadanya. Meskipun demikian ia menjawab, “Tentang kedudukan kita dan Sangkal Putung. Pergilah”

“Apa yang akan kita bicarakan?”

“Pergilah ke gubugku” desak Sanakeling.

“Kita bicara di sini saja”

Sanakeling mengerutkan keningnya. Katanya, “He, apakah kau sudah menjadi gila?”

Alap-alap Jalatunda tidak memperdulikannya. Selangkah ia berjalan ke samping sambil bergumam, “Aku akan pergi”

“Pergilah ke tempatku. Aku perlu berbicara tentang berbagai persoalan”

Alap-alap Jalatunda yang sedang dibakar oleh gejolak hatinya itu menjawab dengan jengkelnya, “Berbicaralah di sini”

Sanakeling menjadi marah pula karenanya. Selangkah ia maju sambil menggeram perlahan-lahan, “Alap-alap kecil. Jangan menjadi gila. Kau dihukum karena kesalahanmu. Jangan membuat persoalan baru. Pergi ke gubug itu, atau kau aku tampar mulutmu di muka anak buahmu. Aku masih merasa berbaik hati kepadamu bahwa aku memperingatkanmu perlahan-lahan”

Langkah Alap-alap Jalatunda itu terhenti. Alangkah sakit hatinya mendengar geram itu. Tetapi ketika dilihatnya mata Sanakeling yang seolah-olah menyala itupun, hatinya menjadi kecut. Disadarinya kini kekecilannya di antara para pemimpin Jipang. Sanakeling adalah orang yang garang segarang Plasa Ireng yang telah mati dibunuh oleh Sidanti dengan luka arang kranjang di tubuhnya.

Sekali lagi Alap-alap Jalatunda terpaksa menahan gelora di dadanya. Ditelannya kepahitan itu meskipun hatinya tidak ikhlas. Karena itu, maka ia menjawab pendek, “Ya, aku akan pergi kesana”

Sanakeling menarik nafas panjang. Namun matanya masih saja menyalakan kemarahannya. Dengan langkah yang berat ia berjalan meninggalkan gubug itu sambil memperingatkan perempuan yang masih saja menangis sambil duduk di tanah, “Ingat semua kata-kata Macan Kepatihan supaya nyawamu tidak dicabut dengan tongkatnya yang mengerikan itu. Sekali kepalamu tersentuh kepala tongkatnya, maka otakmu pasti akan berhamburan. Nah, masuklah ke gubug itu dan jangan meninggalkan tempat ini”

“Baik tuan. Aku tidak berani melanggar perintah itu” tangis Nyai Pinan.

Sanakeling itu pun kemudian kembali ke gubugnya. Ia dapat mengerti juga kenapa Nyai Pinan tidak boleh meninggalkan tempat itu. Sebab perbuatan itu akan sangat berbahaya bagi rahasia gerombolannya.

Alap-alap Jalatunda pun tidak dapat berbuat lain daripada datang memenuhi permintaan Sanakeling. Ia sudah dapat membayangkan apa saja yang akan dikatakan oleh Sanakeling itu. Persiapan untuk menyerbu kembali Sangkal Putung.

Dalam pada itu, Tohpati berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan perkemahannya, seakan-akan ia ingin segera pergi sejauh-jauhnya dari tempat itu. Tempat yang dibangunnya sebagai landasannya untuk meloncat kedaerah perbekalan yang subur, Sangkal Putung. Namun perkemahan itu telah menumbuhkan kebencian padanya. Tempat yang terkutuk. Tempat yang dipenuhi oleh berbagai ciri kehidupan liar yang benar-benar menjemukan. Ia tidak mengerti apa yang terjadi di dalam dirinya, bahwa baru sekarang ia merasa muak melihat perbuatan-perbuatan itu. Bukankah sebelumnya telah diketahui, setidak-tidaknya pernah didengarnya bahwa hal-hal semacam itu pernah dan bahkan sering terjadi? Kenapa pada saat itu ia tidak berbuat apa-apa? Kenapa pada saat itu dibiarkannya kemaksiatan semacam itu tumbuh seenaknya?

Macan Kepatihan itu menggeram. Ketika ia berpaling dilihatnya Sumangkar berjalan beberapa langkah di belakangnya sambil menjinjing sebilah golok.

“Apakah yang paman bawa itu?”

“Golok” sahut Sumangkar.

“Untuk apa?”

“Tongkat” jawabnya pendek.

Tohpati mengerutkan keningnya dan memperlambat langkahnya, sehingga Sumangkar pun berjalan lebih lambat pula.

Sekali-sekali Macan Kepatihan itu berpaling dan akhirnya ia berkata, “Golok itu terlampau pendek untuk dijadikan tongkat”

Sumangkar terkejut mendengar kata-kata itu. Cepat ia mencari kawaban yang lain, katanya, “Tidak ngger. Bukan tongkat sebagai penyangga tubuh. Maksudku, golok ini dapat dipakai untuk menerabas dahan-dahan yang mengganggu jalan”

Tohpati itu tersenyum. Katanya dengan nada datar, “Paman ternyata memerlukan juga senjata”

Sumangkar tidak menjawab. Ternyata Macan Kepatihan itu dapat menebak maksudnya. Namun bukankah ia akan pergi ke daerah lawan? Maka adalah kewajibannya untuk berhati-hati. Meskipun demikian Sumangkar itu tidak menjawab. Ia masih saja berjalan di belakang Tohpati sampai mereka muncul dari balik rimbunnya dedaunan yang agak lebat.

Demikianlah mereka melangkahkan kaki mereka keluar hutan. Tohpati menarik nafas lega, seolah-olah ia telah keluar dari suatu daerah yang dibencinya. Suatu daerah yang sama sekali tidak menyenangkan. Seakan-akan ia baru keluar dari suatu tempat yang padat pepat sehingga menyesakkan nafasnya.

Ketika Tohpati menengadahkan wajahnya, di langit dilihatnya bulan yang terbelah. Sehelai-sehelai awan yang putih hanyut dibawa arus angin yang lembut.

Sekali lagi Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Bulan itu tampaknya sangat asing baginya. Sudah beberapa tahun ia melupakan keindahan bulan, langit yang sumeblak, bintang-bintang dan bahkan melupakan apa saja yang dapat memberinya kesegaran seperti malam ini. Angin yang lembut dan daun-daun yang bergerak-gerak dibelai oleh angin yang lembut itu.

“Hem” desahnya.

Sumangkar melangkah lebih cepat lagi, sehingga ia berjalan di samping Macan Kepatihan itu. Ketika ia mendengar Tohpati itu berdesah, ia berpaling. Tetapi ia tidak bertanya apa-apa.

Tohpati masih mengagumi kesegaran angin malam dan kelembutan sinar bulan setengah. Cahaya yang redup kekuning-kuningan dan daun-daun yang hijau gelap seperti langit di garis cakrawala. Dari dalam kekelaman malam, menjulang lamat-lamat gunung Merapi menyentuh langit.

“Paman” tiba-tiba terdengar Tohpati itu berkata, “Umurku sudah cukup banyak paman. Sudah sepertiga abad. Tetapi aku merasa tiba-tiba menjadi orang asing di sini. Asing dari alam di sekitarku ini”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Pertanyaan itu telah mengatakan kepadanya, bahwa terjadi sesuatu pergolakan di dalam dada murid saudara seperguruannya itu. Namun Sumangkar menjawab, “Mungkin angger merasa asing. Tetapi alam yang Raden anggap asing ini, adalah alam yang sehari-hari telah memeluk angger dalam rangkumannya. Alam ini mengenal angger dengan baik. Sebab angger adalah bagian daripadanya. Angger telah lahir dari sumber yang sama”

Tohpati berdesir mendengar kata-kata Sumangkar itu. Tiba-tiba disadarinya bahwa alam adalah saudara kandungnya. Pepohonan, hutan, gunung, ngarai, bahkan bintang dan bulan, matahari dan seluruh isi angkasa. Semuanya telah tercipta oleh sabda yang Maha Pencipta. Semesta alam dan isinya. Juga manusia yang amat kecilnya dibandingkan dengan seluruh kebesaran alam ini.

Tetapi selama ini Tohpati tidak pernah mengingat sumbernya lagi. Yang diingatnya sehari-hari adalah nafsu yang menyala-nyala di dalam dadanya untuk memusnahkan lawan. Membunuh dan menghancurkan. Membuat malapetaka dan meruntuhkan air mata.

Sekali lagi Tohpati menengadahkan wajahnya. Bulan itu masih memancar di langit, dan bintang-bintang masih bergayutan pada dataran yang biru.

“Paman” gumam Macan Kepatihan itu perlahan-lahan, “Besok kita akan mulai dengan persiapan yang terakhir. Mudah-mudahan kita akan dapat merebut daerah perbekalan itu kali ini”

Sumangkar berpaling. Kata-kata itu sama sekali tidak bernafsu seperti arti katanya. Tohpati itu seakan-akan berkata asal saja mengucapkan kata-kata. Karena itu Sumangkar tidak segera menjawab. Dibiarkannya Tohpati berkata pula, “Besok kita akan mulai lagi dengan suatu gerakan. Aku mengharap lusa kita telah berada di Sangkal Putung”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya pendek, “Ya ngger”

Tohpati sama sekali tidak tertarik kepada jawaban Sumangkar. Bahkan seolah-olah tidak didengarnya. Ia masih saja berkata seterusnya, “Besok aku akan mulai dengan pembunuhan-pembunuhan dan kematian-kematian baru. Besok aku mengadakan benturan benturan antara manusia dengan manusia. Antara sesama yang mengalir dari sumber yang satu”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kini ia tahu benar apa yang terkandung di dalam hati Macan Kepatihan itu. Sehingga karena itu diberanikan dirinya berkata, “Besok itu belum terjadi. Kita masih dalam keadaan kita sekarang. Apa yang terjadi besok bukanlah suatu kepastian dari sekarang. Kita mendapat wewenang untuk menentukan hari besok. Hari kita sendiri”

“Ya” sahut Tohpati, “Paman benar. Tetapi apa yang kita lakukan besok pasti berdasarkan pertimbangan tentang hari sekarang dan hari kemarin. Apakah dan siapakah kita sekarang dan kemarin. Dengan dasar itulah kita berbuat untuk besok”

“Ya. Kita sendiri adalah kelanjutan dari masa lampau. Tetapi tidak seharusnya apa yang kita lakukan besok harus senafas dengan apa yang kita lakukan kemarin” sahut Sumangkar, “Dengan demikian maka tidak akan ada perubahan-perubahan di dalam diri manusia. Tetapi perubahan-perubahan itu selalu terjadi. Seorang yang hidup karena pekerjaan yang nista suatu ketika akan dapat menjadi seorang yang alim dan berbudi. Seorang yang baik hati, suatu saat dapat berbuat di luar batas kemanusiaan”

“Seorang pahlawan di medan-medan perang, suatu ketika memilih jalan hidupnya di dapur-dapur dan di sudut-sudut perapian” potong Tohpati.

“Ya, itu pun suatu perkembangan yang terjadi di dalam diri manusia” sahut Sumangkar.

Tohpati mengerutkan keningnya. Sejenak ia berdiam diri. Ditatapnya padang rumput yang sempit di hadapannya, kemudian di seberang padang rumput itu terdapat sawah-sawah yang tidak pernah ditanami selama kerusuhan terjadi di daerah ini. Para petani yang memilikinya menjadi ketakutan untuk menggarapnya, sebab setiap saat laskat Jipang yang liar sering memerang mereka.

Ketika mereka melangkah semakin jauh kedalam padang itu, kembali Tohpati berkata tanpa berpaling, “Paman, apakah paman puas dengan keadaan paman sekarang?”

“Puas tentang apa, ngger?”

“Tentang keadaan paman. Paman yang pernah dikagumi digaris perang, kini tidak lebih dari seorang juru masak didapur”

“Aku puas ngger. Aku puas bahwa aku untuk sekian lamanya berhasil meletakkan senjataku dan menggantinya dengan pisau dapur dan golok pembelah kayu ini”

Macan Kepatihan mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu menggeram di dalam rongga dadanya, tetapi ia ragu-ragu untuk mengutarakannya.

Namun yang terloncat dari bibirnya adalah, “Paman adalah seorang yang berhati goyah. Paman telah meletakkan suatu tekad perjuangan. Namun paman berhenti di tengah jalan”

“Raden” sahut Sumangkar perlahan-lahan, “Aku memang pernah meletakkan suatu tekad. Tetapi aku bukan orang yang buta pada keadaan. Orang yang dengan membabi buta pula berbuat hanya karena sudah terlanjur. Sebenarnya ngger, terus terang, sejak Arya Penangsang dan Pamanda Patih Mantahun melakukan rangkaian-rangkaian pembunuhan, sejak itu hatiku telah goyah. Tetapi aku pada saat itu tidak yakin, hatiku dapat goyah. Aku tidak percaya pada setiap persoalan yang timbul di dalam diriku. Dan aku telah berusaha untuk membutakan mataku dan berbuat seperti yang sudah mulai aku lakukan. Tetapi akhirnya aku menyadari keadaanku. Aku tidak dapat membohongi perasaanku terus memerus. Aku jemu pada peperangan”

“Jangan berkata begitu” potong Tohpati. Langkahnya pun terhenti dan dengan pandangan yang tajam ditatapnya mata Sumangkar. Namun kini Sumangkar tidak lagi menundukkan wajahnya. Bahkan langsung dipandangnya biji mata Tohpati yang seakan-akan menyala itu. Pandangan mata seorang yang sudah lanjut usia.

Tohpati lah yang kemudian berpaling. Meskipun demikian ia bergumam, “Paman jangan mencoba melemahkan hatiku. Apakah paman ingin memaksa aku untuk berbuat seperti paman itu. Meletakkan senjata ini dan merunduk-runduk kepada orang Pajang untuk menjadi juru masak atau pekatik”

“Tidak” sahut Sumangkar, “Angger tidak dan aku pun tidak”

“Lalu?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Timbullah kebimbangan di dalam hatinya. Sudah pasti ia tidak dapat mengatakan kepada Tohpati meskipun ia tahu bahwa hati Macan Kepatihan yang garang itu sedang goncang.

Tetapi Sumangkar itu terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar Tohpati berkata, “Paman, aku bukan pengecut. Aku bukan orang yang takut melihat beberapa kekalahan kecil. Dan aku tak akan dapat digoyahkan oleh keadaan yang bagaimanapun juga. Lusa apabila Sanakeling telah berhasil mengumpulkan segenap orang-orang kita, maka aku benar-benar akan menghancur-lumatkan Sangkal Putung. Kali ini yang terakhir. Kalau aku tidak berhasil menguasai Sangkal Putung, maka lebih baik Sangkal Putung itu aku binasakan. Rumah-rumahnya, sawah-sawahnya dan segala kekayaan yang ada di dalamnya. Buat apa aku menyayangkan kehancurannya, kalau aku tidak dapat memanfaatkannya”

Sumangkar memandangi wajah Tohpati dalam keremangan cahaya bulan. Dilihatnya Macan Kepatihan itu kemudian menggigit bibirnya dan terdengar ia menggeram.

“Hem” Sumangkar menarik nafas dalam-dalam, meskipun ia tidak segera mengucapkan kata-kata.

“Kenapa paman berdesah?” bertanya Tohpati

“Tidak” sahut Sumangkar, “Aku tidak berdesah. Aku sedang menyesal”

“Apa yang paman sesali?”

“Angger sudah mulai berkelahi dengan pertimbangan-pertimbangan sendiri. Angger melihat kewajaran di dalam diri angger, tetapi angger tidak mau”

“Bohong” teriak Tohpati tiba-tiba. Wajahnya benar-benar menjadi merah. Tanpa disangka-sangka ia melangkah maju mendekati Sumangkar sambil menundingnya, “Jangan berkhianat terhadap pimpinanmu paman. Paman sedang berusaha melemahkan hatiku”

“Kekuatan hati seseorang tidak harus ditampakkan pada kekerasan pendirian yang membabi buta. Mungkin angger mampu menghancurkan Sangkal Putung. Tetapi itu perbuatan putus asa. Angger benar-benar kehilangan akal. Dengan demikian maka beribu-ribu jiwa akan kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian apabila sawah-sawahnya dihancurkan. Mereka akan kelaparan dam mereka akan mati sia-sia”

“Itu adalah akibat dari kekerasan kepala mereka. Kenapa mereka tidak menyadari bahwa mereka harus menyerah?”

“Siapakah yang keras kepala? Siapakah yang tidak menyadari keadaannya?”

“Setan” potong Tohpati, “Paman benar-benar telah berkhianat. Karena itu maka tidak sewajarnya paman ada di dalam barisanku”

“Apakah aku harus pergi ke Pajang?”

“Tidak, tidak dalam barisanku dan tidak boleh pergi ke Pajang. Sebab dengan demikian maka pengkhianatan paman akan menjadi sempurna”

“Jadi, apa yang harus aku kerjakan?”

Sejenak Tohpati terbungkam. Yang terdengar hanyalah dengus nafasnya yang terengah-engah. Tetapi tiba-tiba ia berteriak, “Mati, kau harus mati”

“He?” Sumangkar terkejut mendengar kata-kata itu, sehingga untuk sesaat mulutnya seakan-akan terkunci. Tetapi sesaat kemudian orang tua itu telah berhasil menguasai dirinya kembali sepenuhnya.

Bahkan Sumangkar itu kemudian tersenyum. Ditatapnya mata Tohpati seolah-olah orang tua itu ingin memandang tembus kedalam pusat jantungnya. Dengan tenangnya Sumangkar itu kemudian menjawab, “Angger, apakah angger bermaksud membunuh aku?”

Pertanyaan itu menghantam dada Tohpati sehingga serasa akan meruntuhkan segenap tulang-tulang iganya. Sesaat Tohpati terdiam, namun kemudian dikerahkannya segenap tenaga dan kekuatannya untuk menjawab, hanya sepatah kata, “Ya”

Kembali Sumangkar tersenyum. Senyum yang menggoncangkan hati Macan yang garang itu. Dimata Tohpati, Sumangkar yang berdiri di hadapannya itu bukan lagi seorang juru masak yang malas, namun Sumangkar itu kini berdiri dengan wajah tengadah. Sumangkar tu kini benar-benar bersikap sebagai seorang senapati di garis peperangan. Sumangkar yang pernah dikenalnya dahulu.

Karena itu dada Tohpati menjadi berdentang cepat. Meskipun demikian, ia masih berusaha untuk tegak dengan wajah yang tegang, menghadapi orang tua itu.

Mendengar jawaban Tohpati yang pendek itu, Sumangkar kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berkata, “Raden, aku adalah seorang abdi yang sejak Pamanda Kepatihan masih hidup aku adalah abdi kepatihan. Kalau aku kebetulan menjadi saudara seperguruan Gusti Patih itu bukanlah soal dalam hubungan antara hamba dan gustinya. Kini angger adalah pimpinan laskar Jipang sepeninggal Arya Penangsang. Dalam hal ini pun siapa Sumangkar dan siapa Tohpati bukan juga menjadi soal”

“Diam” potong Tohpati dengan suara bergetar, “Kubunuh kau”

Tetapi ia terkejut ketika ia melihat Sumangkar meletakkan golok pembelah kayu di tangannya dan selangkah ia maju mendekatinya, “Marilah ngger. Seperti juga Pamanda Kepatihan, Sumangkar dapat pula dibunuh dan mati untuk tidak bangkit kembali. Hanya dongeng-dongeng ngayawara saja yang mengatakan bahwa murid-murid perguruan Kedung Jati memiliki nyawa rangkap sepuluh”

Macan Kepatihan itu kemudian menundukkan wajahnya dalam-dalam. Bahkan kemudian kelangkah ia berjalan ke samping, dan dengan lemahnya menjatuhkan dirinya duduk datas rerumputan liar.

Sumangkar pun kemudian duduk pula di sampingnya. kini ia sudah yakin apa yang terjadi di dalam diri Tohpati itu. Kini ia yakin bahwa Tohpati telah menemukan nilai-nilai yang lain dari apa yang dimilikinya selama ini.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Sumangkar sengaja membiarkan Tohpati meyakinkan dirinya sendiri, sebelum ia membantunya.

Malam menjadi semakin lama semakin dingin. Angin yang basah mengusap tubuh-tubuh mereka yang seakan-akan membeku. Bagaimana di dalam dada mereka telah bergolak dengan riuhnya, berbagai-bagai pertimbangan dan angan-angan.

“Paman” berkata Tohpati kemudian, “Sejak aku memanggil paman Sumangkar, sebenarnya aku sudah dilanda oleh perasaan yang tidak menentu. Itulah sebabnya aku menunda penyerangan ke Sangkal Putung sampai beberapa kali. Tetapi aku tidak dapat berbuat demikian terus-menerus. Aku tidak dapat membiarkan anak buahku mejadi jemu dan semakin liar. Tetapi tiba-tiba aku kehilangan keberanian untuk menyerang Sangkal Putung”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ia pun menjadi terharu mendengar pengakuan itu. Pengakuan seorang pemimpin yang teguh hati serta soerang yang memiliki keberanian dan kemampuan yang cukup. Namun orang itu dihadapkan pada suatu kenyataan yang berlawanan dengan tekad serta kemauannya.

Dalam keremangan malam dibawah cahaya bulan sepotong, Sumangkar melihat kegelisahan wajah Tohpati. Tampaklah betapa ia menyesali keadaan dan menyesali kenyataan. Tetapi kenyataan itu telah dihadapkan di muka wajahnya.

Tohpati benar-benar bukan seekor binatang liar yang tidak mempunyai jantung. Betapa ia keras dan buas di dalam medan-medan peperangan, namun ia memiliki perasaan yang utuh. Karena itulah, maka ia dapat mengerti beberapa keberatan yang dikatakan oleh orang lain kepadanya. Yang dikatakan oleh orang tua di atas batu-batu di tengah sungai beberapa hari yang lalu, dan apa yang dikatakan Sumangkar sejak lama kepadanya. Meskipun ia telah berusaha menindas perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya, meskipun ia tidak ingin terpengaruh oleh perasaan-perasaan itu, namun sebenarnya hatinya selalu tersentuh-sentuh. Setiap kali ia pulang dari peperangan, setiap kali ia kembali dari nganglang, dan setiap kali ia melihat kekerasan, apalagi atas penduduk yang tidak banyak mengetahui seluk beluk pertentangan antara Pajang dan Jipang, hatinya selalu terganggu. Puncak dari gangguan di hatinya adalah orang tua di tengah-tengah kali itu, dan selanjutnya kata-kata Sumangkar itu sendiri. Sehingga seandainya benar Untara dan Widura mengatakan, bahwa pertentangan ini menjadi amat menjemukan, adalah benar. Kalau seseorang mengatakan bahwa pertentangan ini hanya akan menyengsarakan rakyat, adalah beralasan. Dan sejak ia melakukan pembunuhan yang pertama atas Sunan Prawata, apalagi ketika Sumangkar mendengar Ratu Kalinyamat bertapa tanpa mengenakan pakaian apa pun selain rambutnya sendiri sebagai suatu penolakan, sebagai suatu jerit seorang wanita atas kekerasan dan kebiadaban yang terjadi pada suaminya. Namun Sumangkar pun mencoba mengingkari perasaan sendiri pada waktu itu.

Demikianlah meskipun Tohpati itu duduk diam seperti patung, namun hatinya bergolak dahsyat. Sedahsyat pusaran di muara sungai yang sedang banjir bandang.

Tiba-tiba Tohpati itu mengeluh, “Aku kini sampai pada suatu titik yang terkatung-katung di tengah-tengah gumulan ombak yang tidak menentu. Aku tidak dapat terus, tetapi aku tidak dapat kembali”

Sumangkar merasakan kesulitan itu. Sumangkar dapat mengerti sepenuhnya, bahwa Tohpati benar-benar tidak dapat maju tetapi juga tidak dapat kembali. Meskipun demikian ia mencoba menjajagi hati anak muda yang perkasa itu, “Angger tidak usah terus dan tidak usah kembali. Angger dapat mencoba berhenti. Tetapi angger harus membiarkan orang lain kembali”

Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang benar, ia dapat menghilang dan tidak muncul kembali. Ia dapat menganjurkan orang lain untuk menghentikan perlawanan. Tetapi kenyataannya tidak dapat membenarkannya. Ia tidak mau lari dari kenyataan yang bagaimanapun pahitnya. Karena itu, Tohpati itu menggeleng lemah, “Tidak paman, tidak”

Sumangkar pun tahu, bahwa Tohpati tidak akan dapat menyetujuinya. Tetapi ia tidak mempunyai pendapat lain yang dapat dikemukakan saat itu, sehingga sejenak ia terdiam.

Kembali mereka diamuk oleh kegelisahan di hati masing-masing. Kembali mereka dicengkam oleh kesepian dipadang rumput yang tidak terlalu luas itu. Suara cengkerik terdengar mengorek-ngorek dinding telinga. Sekali-sekali terdengar pekik binatang-binatang hutan mengejutkan.

Dalam keheningan malam itu tiba-tiba Sumangkar menundukkan wajahnya. Terasa sesuatu berdesir di hatinya, sehingga duduknya bergeser beberapa jari. Matanya yang tajam, menembus keremangan malam menusuk kekejauhan.

Sumangkar menarik nafas. Ia berpaling ketika terdengar Tohpati menggeram perlahan-lahan. Tetapi Sumangkar itu mengangguk-anggukkan kepalanya ketika ia mendengar Tohpati bergumam perlahan-lahan, “Dua orang berjalan di ujung padang ini”

“Ya, aku melihatnya”

“Siapa paman, apakah orang itu orang-orang kita?”

“Entahlah ngger. Apakah angger memberikan perintah kepada seseorang atau kedua orang itu untuk suatu pekerjaan?”

“Aku tidak. Entahlah kalau Sanakeling. Atau Alap-alap Jalatunda atau yang lain. Mungkin juga para pengawas yang telah dikirim lebih dahulu”

Meskipun demikian, firasat Sumangkar yang tua itu memberitahukan kepadana, bahwa orang itu akan dapat membawa bahaya. Dengan demikian maka Sumangkar beringsut sejengkal demi sejengkal untuk meraih golok pembelah kayu yang diletakkannya.

“Apakah paman memerlukan benda itu?”

“Aku tidak tahu ngger, mudah-mudahan tidak”

“Mudah-mudahan. Tetapi orang itu datang dari jurusan yang lain dari setiap jurusan yang akan dilalui para pengawas ke Sangkal Putung. Juga sama sekali bukan jurusan orang-orang Pajang yang berada di Sangkal Putung”

“Mungkin mereka memilih jalan yang melingkar demi keamanan mereka”

“Mungkin”

Sumangkar memandang kedua bayangan itu dengan seksama. Semakin lama menjadi semakin dekat. Namun agaknya mereka belum melihat Sumangkar berdua dengan Tohpati yang sedang duduk.

“Bagaimana kalau mereka orang-orang Pajang paman?”

“Apakah angger akan membiarkannya?”

“Tidak, aku tidak dapat membiarkan mereka mengetahui kedudukan kami. Aku tidak dapat membiarkan orang-orangku dihancurkan oleh orang-orang Pajang dalam peperangan”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah tentu Tohpati tidak akan berbuat demikian. Tidak akan membiarkan orang-orangnya hancur disergap oleh lawannya, Betapapun juga.

Maka kalau benar kedua orang itu orang Pajang, maka kedua orang itu pasti mendapat tugas untuk menyelidiki pertahanan laskar Jipang.

Sumangkar dan Tohpati kemudian saling berdiam diri. Bahkan nafas mereka pun seakan-akan mereka tahankan, agar kehadiran mereka tidak segera diketahui oleh kedua orang itu.

“Kalau orang-orang itu orang Pajang” bisik Tohpati perlahan-lahan sekali, “alangkah beraninya”

Sumangkar mengangguk, tetapi ia tidak menjawab.

“Tetapi aku pasti, mereka bukan orang-orang kita” sambung Tohpati hampir tak terdengar.

Sekali lagi Sumangkar mengangguk.

Dada mereka tiba-tiba berdesir ketika melihat kedua orang itu berhenti sesaat. Namun kemudian mereka melangkah kembali. Tetapi mereka kini tidak menuruti arah mereka semula. Menyilang garis pandangan Tohpati. Jantung Tohpati hampir-hampir berhenti berdenyut, ketika dilihatnya kedua orang itu berjalan ke arahnya.

“Mereka kemari” bisik Tohpati.

Sumangkar menerik afas panjang-panjang, “Tak ada gunanya untuk menyembunyikan diri dan mengintai mereka. Mereka telah melihat kehadiran kita.”

“Belum tentu. Mungkin suatu kebetulan.”

Sumangkar menggeleng. “Aku yakin.”

Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Apabila demikian maka kedua orang itu pasti dua orang yang terlalu percaya kepada diri mereka sendiri, sehingga mereka sengaja mendatanginya.

Terkaan Sumangkar itu sesaat kemudian ternyata terbukti. Kedua orang itu berhenti berjalan, dan salah seorang daripada mereka berkata, “Siapa yang duduk disitu?”

Tohpati menjadi bimbang sesaat. Ditatapnya wajah Sumangkar untuk mendapatkan pertimbangan. Ketika Sumangkar menganggukan kepalanya, maka Macan Kepatihan itu pun segera menjawab, “Aku di sini, siapa kalian?”

“Aku siapa?” desak salah seorang yang berdiri itu.

“Kau siapa?” Jawab Tohpati.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Kedua orang itu masih tegak seperti patung. Dalam keremangan cahaya bulan,mereka tempaknya seperti bayangan hitam yang menakutkan.

Tohpati menjadi semakin berdebar-debar ketika kedua orang itu melangkah kembali. Dan bahkan mendekatinya.

“Berhenti” teriak Tohpati, “Kalau tidak, aku akan menyerang kalian dengan senjata jarak jauh.”

“Apa kau membawa panah?” terdengar suara di antara mereka.

“Tulup” sahut Tohpati, “Aku tulup biji tulupku dengan getah pohon luwing dan bisa serangga. Kalian akan mati terkena sentuh saja”.

“Jangan terlalu kejam” sahut suara itu pula.

“Karena itu jawab, siapa kalian?”

Tohpati terkejut ketika kemudian didengarnya suara tertawa berderai. Di antara suara tertawa itu terdengarlah kata-kata, “Menyerang dengan tulup bukanlah pekerjaan yang mudah. Bagaimanakah kalau aku berlari melingkar-lingkar.”

Sesaat Tohpati tidak menjawab. sebenarnya ia tidak membawa tulup. Kalau orang itu berlari melingkar-lingkar, maka ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jangankan berlari melingkar-lingkar sedangkan apabila mereka berjalan perlahan-lahan dalam garis yang lurus sekalipun ia tidak akan dapat menyerang dari jarak yang jauh. Sebenarnya Tohpati pun tidak perlu menyerangnya dari jarak yang jauh. Namun ia hanya ingin menggertaknya dan segera mengetahui siapakah mereka itu. Tetapi ternyata orang itu orang yang berani dan tidak gentar mendengar ancamannya.

Namun tiba-tiba terasa Sumangkar merebut tongkat bajanya. Demikian tiba-tiba sehingga Tohpati tidak sempat menahannya. Sebelum Tohpati itu menyadari, Sumangkar telah meletakkan ujung tongkat itu di muka mulutnya sambil berjongkok. Dengan suara parau Sumangkar berteriak, “Nah cobalah. Berlarilah melingkar-lingkar. Salah seorang dari kalian berdua akan mati. Aku tidak akan memperdulikan yang seorang lagi.”

Kedua orang yang berdiri beberapa puluh langkah dari mereka itu pun terdiam. Baru sejenak kemudian terdengar salah seorang berkata, “Bagus. Kalian benar-benar dapat mempergunakan tulup. Kalian tidak akan dapat dibingungkan oleh bayangan kami berdua yang berlari melingkar-lingkar. Tetapi kami benar-benar tidak akan berbuat jahat terhadap kalian, siapa pun kalian berdua itu.”

“Kalau demikian, sebut namamu” sahut Sumangkar.

Orang itu diam sesaat , dan kemudian terdengar ia menyebutkan sebuah nama, “Supita, namaku Supita dan kawanku ini bernama Sukra.”

Sumangkar menarik nafas panjang-panjang. Bahkan hampir ia tertawa mendengar orang-orang itu menyebutkan namanya. Sekali ia berpaling memandang wajah Tohpati. Agaknya Tohpati pun sependapat dengan pikirannya, sehingga karena itu terdengar Tohpati menjawab lantang, “Namaku Patra dan kawanku bernama Dadi. Nah apakah kau puas mendengar nama-nama kami?”

Orang itu terdengar tertawa. Suaranya berderai melingkar-lingkar membentur dinding hutan dan menggema kembali berulang-ulang. Katanya, “Adakah gunanya kita menyebutkan nama masing-masing?”

Sumangkar menyahut, “Nama-nama yang kami sebut, mungkin jauh lebih baik dari nama kalian sebenarnya. Nah apakah maksudmu datang kemari.”

“Apakah kita dapat berbicara perlahan-lahan” berkata orang itu.

Sumangkar tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Tohpati seakan-akan menyerahkan segenap persoalan kepadanya. Namun Tohpati tidak dapat berbuat lain daripada menerima orang itu. Seandainya orang itu lari sekalipun pasti akan dikejarnya. Dan kini orang itu bersedia datang kepadanya.

Karena itu, maka Tohpati menjawab tegas, “Datanglah, supaya aku tidak menghajarmu.”

Sekali lagi terdengar salah seorang daripadanya tertawa. Sejenak kemudian kedua bayangan itu bergerak maju perlahan-lahan penuh kewaspadaan.

Tohpati dan Sumangkar pun segera berdiri. Diserahkannya tongkat Tohpati kembali. Tongkat ciri kebesaran, keperkasaan dan kewibawaan Macan Kepatihan, sehingga kawan maupun lawan mengenal tongkat itu seperti mengenal pemiliknya sendiri.

Semakin dekat kedua bayangan itu, hati mereka masing-masing baik yang menunggu maupun yan mendatangi, saling berdebaran. Semakin dekat, maka wujud masing-masing menjadi semakin jelas dibawah cahaya keremangan bulan sepotong yang menggantung di antara bintang-bintang di langit.

Ketika bayangan itu sudah cukup dekat, maka terdengarlah Tohpati menggeram keras. Selangkah ia maju dan tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar. Bayangan itu pun kemudian berhenti beberapa langkah daripadanya.

Yang terdengar adalah suara Macan Kepatihan itu parau, “Kau. Kau guru dan murid lereng merapi. He, apa kerjamu di sini Tambak Wedi?”

Terdengar orang itu, yang tak lain adalah Ki Tambak Wedi dann Sidanti, menarik nafas perlahan-lahan. Dengan menganggukkan kepalanya Ki Tambak Wedi menjawab, “Selamat malam angger Macan Kepatihan. Apakah angger pernah melihat muridku?”

“Hampir kupecahkan dadanya dengan tongkatku ini kalau paman Widura tidak menyelamatkannya. Nah, sekarang kalian datang untuk memberi kesempatan kepadaku menyelesaikan pekerjaan itu?”

“Jangan marah. Dengarlah dulu maksud kedatangan kami” berkata Ki Tambak Wedi. Sesaat ia berpaling kepada Sumangkar yang berdiri di belakang Tohpati. Tampaknya alisnya berkerut, dan dengan ragu-ragu ia berkata, “Adi Sumangkar?”

Sumangkar tertawa pendek. Kini ia maju selangkah. Goloknya terselip pada ikat pinggangnya. Sambil mengangguk ia menjawab, “Ya, Kakang Tambak Wedi. Agaknya kakang masih ingat kepadaku.”

“Ah. Aku tidak akan dapat melupakan kalian. Sepasang murid perguruan Kedung Jati.”

“Huh” potong Tohpati, “Kau juga tidak lupa kepada guruku?”

“Tentu tidak angger. Aku adalah kawan seiring dengan almarhum patih Mantahun.”

“Omong kosong. Kau tinggalkan paman dalam kesulitan. Bahkan kemudian aku temui muridmu di Sangkal Putung dalam laskar paman Widura.”

Tambak Wedi terbahak-bahak. Sahutnya, “Angger keliru. Angger keliru. Muridku berada di Sangkal Putung dengan tugasnya sendiri. apakah angger tidak mendengar bahwa Untara terluka?”

“Untara?”

Tambak Wedi mengangguk penuh kebanggaan.”Ya, Angger Untara terluka. Hampir-hampir mambawa nyawanya.”

Tohpati mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar ia bertanya, “Apakah hubungan luka Untara itu dengan paman Tambak Wedi?”

“Ada sangkut paut yang erat dengan perjuanganmu, ngger” jawab Tambak Wedi, “Karena itulah maka aku sengaja menemuimu. Maksudku aku akan datang keperkemahanmu.”

“Apakah paman Tambak Wedi tahu letak perkemahan kami?”

“Aku tidak tahu tepat. Tetapi aku kira-kira saja letak perkemahan itu.”

Macan Kepatihan menggeram. “Kau sedang memata-matai perkemahan kami untuk kepentingan Untara?”

“Tidak ngger, tidak.” potong Tambak Wedi cepat-cepat. “Aku datang untuk keperluan yang cukup penting.”

“Apa itu?”

“Apakah angger dapat menerima kami di perkemahan angger?”

Tohpati menggeleng. Dengan tegas ia berkata, “Tidak. Di sini paman dapat mengatakan keperluan itu.”

Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi kecewa tetapi ia tahu keberatan Macan Kepatihan. Karena itu ia berkata, “Angger. Luka Untara adalah bukti, bahwa sebenarnya aku tidak pernah meninggalkan pamanmu patih Mantahun.”

“Apakah hubungannya?”

“Sidanti lah yang melakukannya atas petunjukku.”

Tohpati mengerutkan keningnya. Desisnya, “Tetapi Untara masih hidup. Ia masih berkeliaran, bahkan sampai ke Benda dan sekitarnya.”

“Sidanti salah hitung. Disangkanya serangannya berhasil, karena itu tidak diulanginya.”

“Omong kosong. Mungkin benar Sidanti melukai Untara, sebagai suatu cara untuk berpura-pura mengusir atau mengejar Sidanti. Sidanti akan lari kepadaku. Namun dalam pada itu, segala rahasiaku akan jatuh ke tangan Untara.”

“Tidak angger. Tidak. Sebenarnya Untara dan Sidanti telah bermusuhan. Aku memang memberikan beberapa petunjuk. Bukankah aku sahabat pamanda kepatihan?”

Tohpati mengerutkan keningnya. Dan dibiarkannya Tambak Wedi berkata, “Namun sayang. Tugas Sidanti itu tidak dapat selesai dengan baik.”

“Apa sebabnya Sidanti melukai Untara?”

“Untara adalah pemimpin laskar Pajang di lereng Merapi ini. Sedangkan lereng Merapi ini adalah Ki Tambak Wedi. Apalagi Untara adalah lawan sahabat Tambak Wedi, patih Mantahun.”

Tohpati menarik alisnya. Sesaat ia terdiam. Dicobanya untuk menimbang kata-kata Ki Tambak Wedi. Namun kemudian terdengar Sumangkar berkata, “Muridmu yang bernama Sidanti itu, berusaha membunuh Untara karena daerah kekuasaanmu dikuasai pula olehnya, begitu?”

“Ya. Sebagian begitu.”

“Kalau demikian, maka kalian telah terlibat dalam persoalan kalian sendiri.” sahut Sumangkar.

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Sumangkar. Namun sejenak kemudian ia tersenyum sambil berkata, “Hem, Adi Sumangkar, jangan menarik garis dari kepentingan yang saling mendorong itu. Aku mendendamnya karena ia berada di dalam daerah kekuasaanku, tetapi aku tidak akan berbuat demikian terhadap angger Macan Kepatihan, meskipun angger itu berada di lereng merapi pula.”

Namun kata-kata itu segera disahut oleh Tohpati, “Jangan mengelabuhi aku paman. Seorang pimpinan Jipang telah dibunuh mati oleh Sidanti.”

Hati Sidanti menjadi berdebar-debar karenanya. Tetapi ia sama sekali tidak ikut campur dalam percakapan itu, seolah-olah sama sekali tidak mempunyai kepentingan, atau benar-benar seperti anak-anak yang sedang dibicarakan nasibnya oleh ayah bundanya.

Yang menjawab kemudian adalah Ki Tambak Wedi, “Ya, angger. Hal itu terpaksa dilakukan. Maksudnya untuk menghilangkan jejak dibunuhnya Untara, sehingga Sidanti tidak pernah meninggalkan Sangkal Putung dan dapat berbuat serupa terhadap pemimpin-pemimpin yang lain”

“Hem” geram Tohpati, “Jadi Sidanti membunuh Plasa Ireng hanya sekedar untuk mendapat kepercayaan. Jadi Plasa Ireng itu nilainya tidak lebih dari alat untuk mendapat kepercayaan. Seandainya demikian, kenapa Sidanti kemudian melukainya arang kranjang meskipun Plasa Ireng telah terbunuh? Itu benar-benar suatu kekejaman. Kekejaman yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang yang beradab. Orang-orangku yang kalian sebut liar itu pun jarang-jarang yang berbuat demikian.” Sekali lagi Ki Tambak Wedi menarik nafas. Ia terdorong dalam kesulitan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Meskipun demikian ia tidak segera kehilangan akal, maka katanya, “Angger, memang sulit untuk menjawab pertanyaan angger. Memang sukar untuk menjelaskan sikap kami. Tetapi biarlah aku coba urut-urutannya. Sidanti menggabungkan diri dalam kelaskaran Pajang dan berhasil memilih Sangkal Putung sebagai daerah garis perangnya, kenapa tidak di tempat lain? Karena aku yakin bahwa suatu ketika Untara akan hadir di tempat itu. Kemudian Sidanti akan membunuh pimpinan-pimpinan Pajang itu satu demi satu tanpa kecurigaan. Baru kemudian setelah selesai pekerjaannya, ia akan memberitahukan kepada angger. Sebab apabila sebelum itu angger telah menyadari kedudukan Sidanti, serta orang lain mendengarnya, maka jiwa Sidanti sendiri akan terancam. Karena itulah, maka Sidanti selalu berusaha menjadi orang yang tampaknya paling gigih di Sangkal Putung sebagai usaha untuk menyelubungi dirinya. Tetapi usahanya itu tidak dapat sempurna. Suatu ketika usaha itu diketahui setelah Untara hampir mati. Sayang ia dapat sadar kembali dan mengatakan siapa yang telah berusaha untuk membunuhnya. Nah sekarang tidak ada lagi cara lain untuk berjuang selain melalui garis perang yang langsung berhadapan. Karena itu Sidanti aku bawa kemari. Mungkin dapat angger pergunakan untuk ganti yang telah terbunuh itu.”

Tohpati mendengarkan kata-kata Tambak Wedi itu dengan wajah yang tegang. Sepercik harapan timbul di dalam hatinya. Mungkin Sidanti tidak benar-benar seperti apa yang dikatakan oleh Ki Tambak Wedi itu, namun dengan hadirnya Sidanti di perkemahannya, pasti akan mengurangi kekuatan Sangkal Putung. Mungkin ia masih harus mencoba kesetiaannya sekali dua kali dengan pangawasan yang ketat. Namun apabila kemudian ternyata kata-kata Tambak Wedi itu benar, maka ia akan mendapat kekuatan baru di samping berkurangnya kekuatan di Sangkal Putung.

Tetapi tidak demikian yang terlintas diotak Sumangkar. Ia tidak dapat menerima Sidanti apa pun alasannya. Ia tidak mau melihat Sidanti mengkhianati Tohpati. Menusuk dari belakang atau perbuatan apa pun yang akan mencelakakannya. Tetapi seandainya Sidanti benar-benar ingin bekerja sama dengan Tohpati pun sama sekali tidak dikehendakinya. Dengan demikian maka peperangan ini akan semakin riuh. Dengan kekuatan baru mungkin Tohpati akan melupakan persoalan-perasoaan yang sudah timbul di dalam kepalanya. Hal itu akan menghanyutkan kejemuannya terhadap perang, seandainya ia mendapat kemenangan baru saat-saat terakhir nanti. Dengan demikian penderitaan akan berjalan semakin lama. Usaha yang sia-sia dan putus asa ini pun akan berjalan semakin lama pula. Korban yang berjatuhan akan menjadi semakin banyak. Korban-korban dari mereka yang sama sekali tidak tahu sudut tepinya peristiwa antara Pajang dan Jipang.

Karena itu, ketika diketahuinya Tohpati menjadi ragu-ragu maka Sumangkar itu pun menjadi cemas. Sehingga ketika Tohpati tidak segera menjawab, berkatalah Sumangkar sambil tertawa lirih, “Sebuah dongeng yang bagus Kakang Tambek Wedi.”

Tambak Wedi terkajut mendengar tanggapan Sumangkar itu. Karena itu, maka segera wajahnya menjadi tegang. Suaranya pun menjadi tegang pula. Katanya, “Adi Sumangkar. Apakah adi tidak percaya pada muridku, murid Ki Tambak Wedi.”

“Kakang, bagaimana aku akan percaya. Ingatkah kakang apa yang telah kakang lakukan pada saat-saat ki Patih Mantahun terjepit antara dua pasukan Pajang yang kuat, yang dipimpin langsung oleh Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi, segera sepeninggal Arya Penangsang. Alangkah ngerinya. Patih itu berjuang mati-matian tanpa mengenal takut meskipun usianya telah lanjut. Nah, apa kerjamu waktu itu Ki Tambak Wedi? Seandainya kau tidak meninggalkannya waktu itu, setidak-tidaknya Patih Mantahun akan dapat meloloskan dirinya.”

Wajah Tambak Wedi menjadi merah semerah bara. Untunglah malam yang remang-remang telah melindunginya, sehingga perubahan wajah itu tidak segera diketahui oleh Tohpati. Namun demikian terasa dadanya bergetar dan suaranya pun gemetar pula. “Adi. Adi terlalu berparasangka. Aku sudah menasehatkan untuk meninggalkan pertempuran kepada kakang Mantahun waktu itu. Tetapi ia menolak.”

Mendengar jawaban Tambak Wedi Sumangkar tertawa. Dengan menengadahkan wajahnya ia berkata, “Kata-katamu aneh kakang. Pada saat perang antara Jipang dan Pajang pecah, setelah Arya Penangsang gagal membunuh Karebet karena ia memiliki Aji Lembu Sekilan, maka kau hampir-hampir tak pernah tampak lagi di Kepatihan Jipang. Apalagi setelah laskar Jipang terdesak dan Arya Penangsang terbunuh. Sehingga tidak mungkin kau berada di sekitar Kakang Mantahun pada saat menjelang ajalnya. Ketahuilah, bahwa Kakang Mantahun meninggal dalam pangkuanku, setelah menyingkir dari peperangan. Namun laskar Pajang berhasil merebut jenazahnya.”

Tubuh Tambak Wedi menjadi gemetar menahan marah. Meskipun demikian ditenangkannya hatinya sejauh mungkin. Ia masih mengharap Macan Kepatihan menerima muridnya. Karena itu, maka katanya, “Angger Macan Kepatihan, terserahlah dalam penilaian angger. Tetapi kalau angger mau bekerja bersama Sidanti, maka aku janjikan bahwa tenagaku akan aku serahkan pula. Angger pasti percaya, bahwa Untara, Widura, Agung Sedayu dan siapa lagi, biarlah mereka maju bersama-sama, maka mereka akan terbunuh olehku, asal laskar Jipang membebaskan aku dari laskar Pajang yang pasti akan membantu pemimpin-pemimpinnya”

Dentang jantung Tohpati seakan-akan menjadi semakin cepat. Sekali-sekali dipalingkannya wajahnya memandang Sumangkar, namun Sumangkar tidak sedang memandangnya. Bahkan Sumangkar itu agaknya benar-benar menyerahkan persoalan itu kepadanya. Namun percakapan Ki Tambak Wedi dan Sumangkar telah memberinya banyak bahan. Dikenangnya apa yang pernah dilakukan oleh Ki Tambak Wedi itu atas gurunya, Patih Mantahun. Dikenangnya pula saat Sidanti datang menyongsongnya, benar-benar bukan sedang bermain-main. Dikenangnya bentuk mayat Plasa Ireng yang sobek di punggungnya arang kranjang. Ya, dikenangnya semuanya. Sehingga kemudian Tohpati itu menjawab, “Paman Tambak Wedi, aku tidak dapat percaya, bahwa Sidanti akan melakukan kerjasama yang jujur. Pada saat Adipati Jipang sedang berusaha merebut kekuasaan dengan kekuatan yang agaknya cukup, paman berada di pihak kami. Tetapi demikian Jipang terdesak oleh kekuatan Pajang yang tak terduga-duga, murid paman itu berada di pihak Pajang. Apakah sekarang ada persoalan baru yang telah menyebabkan Sidanti berbalik pendirian lagi?”

“Sudah aku katakan sebabnya ngger, bukan benar-benar berpihak pada Untara”

Tohpati menggeram, kemudian katanya sambil menggeleng, “Aku semakin yakin, bahwa kejujurannya tidak dapat dipercaya. Mungkin ia berselisih dengan Untara atau dengan Widura. Jangan disangka bahwa aku akan terjebak”

Sekali lagi Ki Tambak Wedi menggeram keras. Tubuhnya menjadi semakin gemetar oleh kemarahannya yang semakin memuncak. Namun lebih dari Ki Tambak Wedi yang sudah tua itu, Sidanti tidak dapat melawan kemarahannya. Karena itu dengan lantang ia mendahului gurunya, “Guru. Kenapa kita harus mengemis belas kasihannya?”

Mendengar kata-kata Sidanti itu, maka telinga Macan Kepatihan serasa tersentuh api. Sekali ia menggeretakkan giginya, kemudian setapak ia melangkah maju sambil menunjuk wajah Sidanti, “Kau ternyata lebih jantan dari gurumu. Nah, sekarang bersikaplah jantan untuk seterusnya”

“Baik” sahut Sidanti dengan beraninya. Diangkatnya dadanya sambil berkata, “Aku juga memiliki harga diri, Tohpati yang perkasa. Jangan disangka, bahwa hidup matiku ada di tanganmu”

Ki Tambak Wedi pun kemudian telah benar-benar kehilangan setiap kesempatan untuk menggabungkan Sidanti pada kekuatan Tohpati untuk membalas dendam kepada Untara beserta laskarnya. Alangkah kecewanya ketika semua rencananya dapat ditebak oleh Sumangkar, dan karena itu, maka di dalam hatinya, Ki Tambak Wedi itu mengumpat tiada habisnya. Diumpatinya Sumangkar, dan bahkan Ki Tambak Wedi itu berjanji, bahwa Sumangkar itu harus dilenyapkannya. Kini muridnya telah kehilangan kesabaran dan merasa tersinggung harga dirinya. Maka keadaan akan dapat berkembang ke arah yang tidak dikehendakinya. Namun ia tidak perlu pengkhawatirkan Sidanti. Selama ini anak muda itu telah ditempanya terus menerus. Mudah-mudahan telah dicapainya suatu tingkatan yang dapat menyamai Macan Kepatihan itu. Bukankah pada saat mereka bertempur di Sangkal Putung, kekuatan mereka tidak terpaut terlalu banyak. Ki Tambak Wedi itu pun bahkan dengan bernafsu mendorong muridnya untuk masuk kedalam pertengkaran yang lebih dalam, sehingga ia akan mendapat kesempatan untuk membinasakan Sumangkar yang telah merusak segenap rencananya.

Macan Kepatihan itu pun menjadi marah bukan buatan. Tangannya pun kemudian menjadi gemetar dan dengan serta-merta ia berkata, “Siapkan senjatamu. Tohpati akan mengayunkan tongatnya pada gerakan yang pertama”

Sidanti tidak menjawab. selangkah ia meloncat ke samping, ditatapnya Tohpati dengan tajamnya, dan tiba-tiba kedua tangannya telah menggenggam dua belah pedang pendek.

Dalam pada itu Ki Tambak Wedi berkata, “Angger Tohpati, aku tidak mengharapkan perkelahian ini. Tetapi aku tidak dapat menyalahkan muridku. Sebagai murid lereng Merapi, ia tidak akan bersedia menelan hinaan”

“Persetan” sahut Tohpati, “Dengan membunuhmu maka aku akan mengurangi kekuatan Sangkal Putung”

Sidanti sama sekali tidak berkata apapun. Kedua pedangnya bersilangan di muka dadanya.

Namun Tohpati masih juga menggeram, “Manakah senjatamu yang mengerikan itu?”

Sidanti masih tetap diam. Hanya di dalam hatinya ia berkata, “Peduli apa kau dengan senjata yang tertinggal di Sangkal Putung itu. Tetapi ternyata aku cukup kuat dengan senjata yang sepasang ini sekuat senjata yang aneh itu”

Kediaman Sidanti benar-benar telah membangkitkan luapan kemarahan Tohpati tiada taranya. Karena itu segera ia meloncat dan menyerang Sidanti dengan tongkat baja putihnya.

Tohpati Sidanti telah benar-benar bersiap. Ketika tongkat baja Tohpati terayun kekepalanya, Sidanti sama sekali tidak berkisar dari tempatnya. Sidanti itu telah pernah bertempur dengan Tohpati sehingga kekuatan Tohpati telah diketahuinya.

Sidanti yakin bahwa selama ini Tohpati pasti tidak akan sempat memperdalam ilmunya, selain yang telah dimilikinya. Karena itu sengaja ia tidak mengelak, tetapi dibenturnya serangan itu dengan kedua pedang pendeknya. Dengan pedang itu Sidanti ingin menunjukkan, bahwa kini kekuatannya tidak lagi seperti beberapa waktu yang lalu, setelah dengan tekun ia melatih diri sejak ia meninggalkan Sangkal Putung. Lukanya yang tidak terlalu parah segera dapat disembuhkan oleh Ki Tambak Wedi. Dalam pada itu Sidanti yang menyimpan dendam di hatinya, segera berusaha untuk menambah ilmunya. Dendam kepada Untara dan orang-orang Sangkal Putung itu harus ditumpahkan.

Kini tiba-tiba Sidanti menemukan lawan yang tidak disangka-sangka. Namun lawan ini pun sedahsyat orang yang didendamnya. Karena itu maka disadarinya, bahwa ia harus berjuang sekuat-kuat tenaganya.

Ketika tongkat baja putih Tohpati membentur kedua pedang pendek Sidanti, terdengarlah gemerincing senjata-senjata itu. Suaranya membelah sepi malam, membentur ujung rimba. Demikian dahsyatnya sehingga bunga-bunga api memercik ke udara.

Tohpati terkejut mengalami benturan senjata itu. Apalagi ketika dilihatnya Sidanti tetap di tempatnya, dan kedua senjatanya masih di tangannya. Bahkan kemudian terdengar anak muda murid Ki Tambak Wedi itu menggeram.

Alangkah marahnya Macan Kepatihan. Terasa bahwa kekuatan Sidanti telah meningkat. Anak muda itu kini dapat mengimbangi kekuatannya yang disalurkan pada ayunan tongkat putihnya. Namun apa yang terjadi adalah suatu peringatan baginya, bahwa lawannya kini bukanlah Sidanti beberapa saat yang lampau.

Meskipun demikian, sebenarnya tangan Sidanti yang melawan tongkat baja putih Macan Kepatihan, merasakan arus kekuatan yang hampir melontarkan pedang-pedangnya. Namun dengan menggeretakkan giginya, ia berhasil menahan senjata-senjata itu, meskipun tangannya terasa nyeri. Dengan demikian, maka Sidanti merasa, bahwa kekuatan Macan Kepatihan masih belum dapat dikembarinya, namun ia masih dapat membanggakan kelincahannya dan ketajaman ujung pedangnya. Dengan sentuhan-sentuhan kecil, ia akan dapat merobek kulit Macan Kepatihan itu. Namun apabila ia tersentuh kepala tongkat Tohpati yang kekuning-kuningan dan berbentuk tengkorak itu, maka tulang-tulangnya pun akan dipecahkan.

Demikianlah maka mereka segera terlibat dalam sebuah perkelahian yang sengit. Sidanti yang lincah meloncat-loncat di sekitar lawannya, seakan-akan bayangan hantu yang sedang menari-narikan sebuah tarian maut. Namun lawannya adalah seekor harimau yang garang. Betapa Macan Kepatihan itu dengan tangguhnya melawan sambaran-sambaran pedang Sidanti. Dilindunginya dirinya dengan tongkat putihnya, dan sekali-sekali tongkatnya terjulur mematuk tubuh lawannya. Namun Sidanti benar-benar seperti bayangan yang tidak dapat disentuhnya.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin cepat. Macan Kepatihan yang garang itu pun menjadi semakin garang, sedang Sidanti yang lincah menjadi semakin lincah. Kedua senjatanya dengan cepatnya menyambar seakan-akan dari segala penjuru. Dengan kelincahannya, sekali-sekali ujung pedangnya berhasil menyentuh tubuh Tohpati meskipun hanya seujung rambut. Namun ujung rambut yang runcing itu telah berhasil menggores kulit dan bahkan telah berhasil meneteskan darah. Tetapi darah yang menetes dari luka itu bahkan telah membakar kemarahan Tohpati. Wajahnya yang membara seakan-akan menyala dalam kegelapan. Sehingga tandangnya pun menjadi semakin dahsyat.

Ki Tambak Wedi untuk sesaat berdiri mematung melihat muridnya bertempur. Mula-mula ia masih juga ragu-ragu, apakah Sidanti dapat mengimbangi Tohpati. Namun kemudian Ia tersenyum. Ia telah menemukan timbang-berat keduanya. Meskipun Sidanti belum dapat menyamai Tohpati sepenuhnya, namun masih dapat diharapkan, Tohpati berbuat kesalahan-kesalahan kecil yang dapat membantu Sidanti Seandainya tidak sekalipun, maka ia tidak perlu terlalu cemas, bahwa muridnya akan dikalahkan oleh lawannya.

Ki Tambak Wedi itu kemudian mengangguk-angguk sambil bergumam, “Itulah murid Ki Tambak Wedi. He, adi Sumangkar, apakah aku tidak berbangga karenanya?”

Sumangkar yang memperhatikan perkelahian itu berpaling. Jawabnya, “Ya, kakang dapat berbangga karenanya. Umurnya masih cukup muda, sehingga perkembangannya dihari depan akan menjadi semakin menggemparkan lereng Merapi”

Ki Tambak Wedi tertawa pendek. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya terus ia berkata, “Siapakah yang akan menang di antara mereka?”

“Aku tidak tahu” jawab Sumangkar pula. “Mereka memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Meskipun demikian, muridmu masih harus belajar sebulan dua bulan lagi dengan tekun, supaya ia dapat mensejajarkan diri dengan angger Macan Kepatihan sepenuhnya. Tetapi meskipun demikian, bukan berarti muridmu kehilangan kesempatan untuk memenangkan perkelahian ini”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Perkelahian di antara keduanya masih berjalan dengan serunya. Bahkan semakin seru. Seperti angin pusaran mereka berputar-putar. Tetapi semakin seru perkelahian itu semakin nampak, bahwa sebenarnya Tohpati adalah seorang yang pilih tanding.

“Kau lihat perkembangan perkelahian itu?” bertanya Sumangkar.

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya kembali sambil menjawab, “Apakah kau sedang bergembira karena kau melihat kelemahan muridku?”

“Ya” sahut Sumangkar pendek.

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi tertawa. Tertawa berkepanjangan dan sangat menyakitkan telinga. Di antara suara tertawanya terdengar ia berkata, “Meskipun tampak kekurangan pada muridku, namun ia akan mempunyai cukup waktu untuk menanti aku membunuhmu, adi”

Mendengar suara tertawa dan kata-kata Ki Tambak Wedi, Sumangkar berpaling. Dilihatnya Ki Tambak Wedi masih tertawa dan memandang muridnya yang sedang bertempur itu. Namun Sumangkar sama sekali tidak terkejut.

“Kau mendengar kata-kataku adi?” tiba-tiba Ki Tambak Wedi berteriak, “Bahwa aku akan membunuhmu?”

Sumangkar mengangguk perlahan, “Ya, aku mendengar” sahutnya.

Namun ancaman Ki Tambak Wedi itu telah mempengaruhi Macan Kepatihan yang sedang bertempur dengan Sidanti, sehingga sambil mengayunkan tongkatnya dengan dahsyatnya ia menggeram, “Ki Tambak Wedi, biarlah aku menyelesaikan persoalan ini dengan Sidanti. Paman Sumangkar tidak akan ikut campur dalam hal ini”

“Benar ngger, pamanmu Sumangkar tidak ikut campur dalam persoalan ini, tetapi ia pasti menghalangi aku seandainya aku ingin membunuh angger pula bersama-sama dengan muridku. Karena itu maafkan aku ngger. Aku terpaksa membunuhnya. Sesudah itu untuk membunuh Angger Macan Kepatihan yang perkasa akan mejadi semudah seperti membunuh seekor kelinci. Biarlah aku mendapat bintang jasa di dada, atau lebih baik Sidanti yang akan menyebut dirinya telah membunuh Macan Kepatihan. Kepala angger akan kami bawa sebagai bukti pekerjaan yang telah dilakukan oleh Sidanti. Besok Sidanti akan menerima anugerah pangkat Senapati dari Wiratamtama Pajang. Kalau mereka yang membunuh Adipati Jipang mendapat Mentaok dan Pati, maka kami akan memilih daerah di sebelah barat Mentaok, atau daerah Wanakerta di sebelah Pajang. Dari daerah-daerah itu kami akan dapat menguasainya, atau apabila kami mendapat Wanakerta, kami akan langsung menembus jantung Pajang”

“Diam” teriak Tohpati keras sekali. Suaranya mengguntur menyobek kepekatan malam yang sunyi. Namun suara itu ditimpa oleh gelak tertawa Ki Tambak Wedi, “Bukankah itu suatu rencana yang bagus? Aku lebih berpijak pada kenyataan daripada angger Tohpati. Siapakah yang akan dapat mengalahkan Pemanahan, Penjawi dan Adipati Jipang itu di dalam laskar angger? Ki Tambak Wedi akan dapat menepuk dada melawan mereka. Karena itu jangan menyesal”

“Persetan dengan ocehanmu Tambak Wedi. Tetapi kau benar-benar setan yang licik. Ayo, majulah bersama Sidanti, Macan Kepatihan bukan seorang pengecut”

Suara Ki Tambak Wedi semakin berkepanjangan. Katanya, “Nah, kenapa angger menolak uluran tangan kami? Kalau kami bekerja bersama, bukankah kami dapat membagi tanah Demak ini? Angger mendapat Jipang, dan kami mendapat Pajang dan Demak beserta daerah pesisir lainnya”

“Kau jangan banyak bicara pemimpi tua. Jipang bukanlah tempat orang-orang yang hanya dapat mengantuk dan mimpi seperti kau. Jipang mempunyai cukup kekuatan untuk melawanmu. Apalagi Tohpati sendiri mampu membunuh kau berdua sekarang ini”

“Jangan sombong ngger, jangan membual. Semakin banyak kau membual, semakin tampak bahwa kau menjadi berputus asa menjelang saat kematianmu yang nista”

Mendengar hinaan itu Macan Kepatihan menjadi marah bukan buatan. Namun karena itu, maka tandangnya menjadi terganggu. Dalam pada itu Sidanti mempergunakan saat itu sebaik-baiknya, menyerang dengan segenap kemampuan dan kelincahannya.

Macan Kepatihan menggeram keras sekali untuk melepaskan kemarahan yang seolah-olah akan meledakkan dadanya. Apalagi suara tertawa Ki Tambak Wedi masih saja mengganggunya.

Namun Di sela suara tertawa Ki Tambak Wedi itu kemudian terdengar Sumangkar berkata, “Angger Tohpati, kenapa angger menjadi gelisah sehingga murid Tambak Wedi itu mendapat kesempatan untuk memperpanjang nafasnya? Dalam pengamatan kami Raden, maka Sidanti benar-benar sudah hampir mati terjepit oleh kekuatan tongkat angger. Namun karena angger terganggu oleh suara Ki Tambak Wedi, maka Sidanti itu mampu bernafas kembali”

Sekali lagi Tohpati menggeram. Kata-kata Sumangkar telah memperingatkannya, bahwa ia telah berbuat kesalahan. Namun dalam pada itu kembali suara Ki Tambak Wedi, “Suatu peringatan yang baik. Peringatan yang terakhir dari adi Sumangkar. Setelah ini maka adi akan mati aku cekik, dan angger Tohpati akan mati pula untuk kemudian aku penggal lehernya”

Kembali kegelisahan merambat di hati Tohpati. Namun kemudian Sumangkar berkata lantang kepada Tohpati, “Jangan hiraukan aku ngger. Bukankah aku seorang juru masak yang baik? Karena itu aku selalu membawa golok pembelah kayu ini. Namun sebagai murid Kedung Jati, sebagai saudara seperguruan Patih Mantahun, maka golok ini akan dapat aku pergunakan untuk membelah dada Ki Tambak Wedi yang sombong. Bukankah Sumangkar murid kedua dari perguruan Kedung Jati yang tidak kalah besarnya dari perguruan lereng Merapi?”

“Setan” desis Ki Tambak Wedi. Kini Ki Tambak Wedi itu tidak tertawa lagi. Diamat-amatinya wajah Sumangkar di dalam keremangan cahaya bulan. Wajah itu masih tenang setenang awan yang berlayar lembut dikebiruan langit, “Kau merasa dirimu setingkat dengan Ki Tambak Wedi?”

Sumangkar tidak menghiraukan pertanyaan itu, namun kepada Tohpati ia berkata, “Cekiklah Sidanti itu Raden. Sementara itu biarlah aku akan menyumbat mulut pemimpi tua itu dengan golokku”

Ternyata kata-kata Sumangkar itu memberi juga ketenangan pada Macan Kepatihan. Disadarinya kemudian, bahwa Sumangkar adalah saudara seperguruan gurunya sendiri, sehingga karena itu Macan Kepatihan itu tersenyum sendiri atas kegelisahan yang mencengkam dadanya. Kenapa ia mencemaskan nasib Sumangkar juru masak yang malas itu? Ia bukan seorang juru masak kebanyakan. Ia adalah seorang murid dari perguruan Kedung Jati seperti juga gurunya sendiri. Patih Mantahun yang sakti.

Dalam pada itu terdengar Ki Tambak Wedi berkata, “Cecurut yang malang. Kau benar-benar jemu untuk hidup. Bukankah Ki Tambak Wedi telah terkenal mampu menangkap angin?”

Sumangkar tersenyum, jawabnya, “Perguruan Kedung Jati terkenal karena murid-muridnya mampu menyimpan nyawa rangkapan di dalam tubuhnya”

Ki Tambak Wedi menggeram penuh kemarahan. Apalagi ketika dilihatnya bahwa Macan Kepatihan telah menemukan keseimbangannya kembali. Sehingga karena itu maka katanya, “Kau juga pandai membual adi Sumangkar. Kalau murid Kedung Jati dapat menyimpan nyawa rangkap di dalam tubuhnya, maka Patih Mantahun itu tidak akan mati terbunuh meskipun harus bertempur melawan Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi atau Ki Juru Mertani ditambah Hadiwijaya dan Ngabehi Loring Pasar”

Sumangkarlah yang kini tertawa menyakitkan hati. Dengan renyah ia menjawab, “Kau salah kakang. Mantahun waktu itu hanya membawa nyawa rangkap tiga. Tetapi ia benar-benar harus melawan lima orang sekaligus, Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, Karebet, Juru Mertani dan Sutawijaya dengan Kiai Plered di tangannya. Nah, karena itulah maka ketiga nyawanya terpaksa dilepaskan”

“Setan belang” umpat Ki Tambak Wedi, “Jangan banyak bicara. Sekarang kau harus dienyahkan”

Sumangkar memutar tubuhnya menghadap Ki Tambak Wedi yang memandanginya seolah-olah biji matanya akan meloncat dari kepalanya. Namun Sumangkar masih tetap dalam ketenangan. Ia tahu, bahwa Ki Tambak Wedi adalah seorang yang sakti pilih tanding. Tetapi ia tidak bernafsu untuk mengalahkannya. Ia hanya harus bertahan, sampai Macan Kepatihan menyelesaikan tugasnya. Setelah itu, maka ia akan dapat menghindar bersama-sama dengan Macan Kepatihan. Dan ia mengharap bahwa ia akan mampu melakukannya, bertahan melampaui ketahanan Sidanti melawan Macan Kepatihan.

Karena itu ketika Ki Tambak Wedi memakinya sekali lagi, berkatalah Sumangkar, “Kakang, aku sudah siap. Kali ini aku pun membawa nyawa tiga rangkap. Ayo mulailah. Kalau kau berhasil membunuh aku satu kali, maka kedua nyawaku yang lain akan mampu mencekik lehermu itu”

Ki Tambak Wedi tidak menjawab. Sekali ia menggeram dan dengan dahsyatnya ia meloncat menerkam Sumangkar. Namun Sumangkar sudah siap. Meskipun ia belum merasa perlu untuk mempergunakan senjata, namun goloknya tidak dapat diletakkannya dan tidak dapat terus disangkutkannya pada ikat pinggangnya karena tidak berwrangka. Karena itu maka sambil menghindar ia berkata, “Kakang, sebenarnya aku sama sekali tidak menganggap perlu mempergunakan senjata ini. Namun terpaksa aku harus memeganginya terus supaya senjata ini tidak hilang apabila aku letakkan. Sebab aku sekarang adalah seorang juru masak. Aku perlu golok ini untuk membelah kayu bakar”

Tetapi Sumangkar itu terkejut ketika terasa goloknya menyentuh benda keras di tangan Ki Tambak Wedi. Barulah kini ia sadar. Di dalam kedua tangan hantu lereng Merapi itu tergenggam sepasang gelang-gelang besi. Dengan gelang-gelang itu Ki Tambak Wedi menyambar golok Sumangkar. Namun untunglah Sumangkar cepat menyadarinya, sehingga goloknya tidak terloncat dari tangannya. Dengan demikian, maka Sumangkar tidak dapat lagi berkelahi sambil membual. Ia harus benar-benar bertempur dengan segenap kewaspadaan dan kemampuan yang ada padanya.

Maka dalam keremangan cahaya bulan, tampaklah dua lingkaran perkelahian yang semakin lama menjadi semakin sengit. Ki Tambak Wedi yang menjadi amat marah itu pun bertempur dengan darah yang seolah-olah menyala membakar seluruh tubuhnya. Sumangkar itu adalah sumber kegagalannya malam ini. Kegagalan atas rencananya. Dan kegagalan itu membuatnya sangat marah. Karena itu, maka Ki Tambak Wedi pun segera berusaha untuk menyingkirkan Sumangkar supaya muridnya dapat membunuh Tohpati meskipun ia harus membantunya. Pikirannya yang tiba-tiba saja timbul untuk membunuh Tohpati dan membawa bukti kematian itu ke Pajang, sangat mempengaruhinya. Dengan demikian ia ingin Sidanti akan mendapat kepercayaan melampaui kepercayaannya yang telah didapat Untara, sebab apabila ia berhasil, maka telah membawa bukti kesetiannya, sedang Untara dan Widura yang telah berjuang berbulan-bulan di Sangkal Putung sama sekali tidak mampu menangkap Macan Kepatihan hidup atau mati.

Tetapi Sumangkar ternyata bukan seorang yang bermalas-malasan saja. Ketika lawannya menjadi semakin dahsyat, maka gerakannya pun menjadi semakin tangguh. Ternyata murid kedua dari perguruan Kedung Jati itu tidak mengecewakan. Ketika terasa olehnya bahwa kedua tangan Ki Tambak Wedi seakan-akan terbalut oleh selapis baja, maka Sumangkar tidak lagi segan-segan mempergunakan goloknya. Meskipun golok itu golok pembelah kayu yang tidak setajam pedang Sidanti, namun di tangan Sumangkar senjata itu merupakan senjata yang cukup berbahaya.

Bulan di langit beredar dengan lambannya. Sepotong-sepotong awan mengalir keutara dihembus angin lembah yang lembut. Betapa dinginnya malam namun keempat orang yang sedang berjuang antara hidup dan mati itu telah basah oleh keringat yang mengalir dari segenap lubang-lubang dipermukaan kulit mereka. Dan ketika tubuh-tubuh mereka telah menjadi basah, maka gerak mereka pun menjadi semakin cepat dan semakin lincah.

Sidanti kini benar-benar telah menemukan nilai-nilai baru di dalam tata geraknya. Unsur-unsur yang dapat memberinya kekuatan dan kelincahan. Kakinya melontar-lontar dengan cepatnya membawa tubuhnya yang seakan-akan tidak memiliki berat. Seperti seonggok kapuk yang diputar angin pusaran, sekali melenting tinggi, kemudian menukik menyambar dengan sepasang pedang pendeknya.

Tohpati kini terpaksa melawannya dengan sepenuh kemampuannya. Bahkan kadang-kadang ia menjadi bingung melihat gerak Sidanti. Tetapi Macan Kepatihan adalah seorang yang memiliki pengalaman yang sangat luas, sehingga sesaat kemudian ia telah berhasil menemukan keseimbangannya kembali. Meskipun terasa juga, kadang-kadang ujung pedang Sidanti berhasil menggores kulitnya dan meneteskan darahnya, namun kini ia tidak menjadi cemas. Apabila sekali ia mencoba melihat perkelahian antara Ki Tambak Wedi dan Sumangkar, maka terasa olehnya, bahwa keduanya pun mempunyai ilmu yang dapat disejajarkan, sehingga karenanya maka ia tidak perlu memecah perhatiannya, mencemaskan nasib Sumangkar. Demikianlah, mereka berempat telah memeras tenaga masing-masing. Ki Tambak Wedi terpaksa mengakui, bahwa murid kedua perguruan Kedung Jati benar-benar mampu melawannya. Meskipun senjata yang dipergunakan bukanlah senjata ciri perguruan Kedung Jati, namun senjata seadanya itu benar-benar dapat membantu Sumangkar memperpanjang umurnya.

Golok yang kehitam-hitaman di tangannya itu, berputaran, sekali mematuk, sekali menebas menyambar seperti hendak menebang roboh tubuh Ki Tambak Wedi itu. Namun hampir disetiap kesempatan Ki Tambak Wedi dengan beraninya memukul golok lawannya dengan tangannya yang terlindung oleh sepasang gelang baja. Dalam benturan-benturan yang terjadi itu, maka menyalalah bunga api memercik ke udara. Setiap kali terjadi benturan, senjata Sumangkar, golok pembelah kayunya mengalami luka dibagian tajamnya, sehingga kemudian mata golok yang memang bukan senjata buatan khusus itu, menjadi semacam mata gergaji. Namun dengan demikian, maka setiap goresan akan mampu menyobek kulit dengan bekas yang tersayat-sayat.

Ki Tambak Wedi pun kemudian terpaksa berjuang dengan sengitnya untuk segera mengalahkan Sumangkar. Namun Sumangkar tidak mau menerima keadaan dengan kedua tangan ngapurancang, Tetapi sepasang tangannya berjuang sekuat-kuat tenaganya, tenaga murid kedua perguruan Kedung Jati. Goloknya kadang-kadang menyambar dalam genggaman tangan kanannya, namun kemudian mematuk dalam kelincahan tangan kirinya.

“Demit, tetekan” Ki Tambak Wedi tak habis-habisnya mengumpat. Tetapi lawannya sama sekali tidak takut mendengar umpatan itu, bahkan dengan serunya Sumangkar melawannya tanpa mengenal lelah.

Keduanya adalah orang-orang sakti yang pilih tanding. Keduanya adalah orang-orang tua yang telah hampir merasa dirinya harus beristirahat dan menyerahkan segala persoalan kepada mereka yang masih muda. Namun pada saat-saat terkhir, mereka masih harus melindungi anak-anak muda yang mereka anggap akan dapat meneruskan umur mereka. Ki Tambak Wedi, seorang guru yang terlalu bangga akan muridnya dan terlalu jangkaunya, sedang Sumangkar melihat Tohpati adalah penerus perguruannya, lewat kakak seperguruan. Karena itu maka seandainya anak muda itu lenyap, lenyap pulalah ajaran-ajaran perguruan Kedung Jati yang pernah terkenal karena orang menyangka bahwa murid-murid perguruan Kedung Jati tidak dapat mati, karena memiliki nyawa rangkap. Sedang perguruan lereng Merapi yang terkenal seakan-akan setiap muridnya mampu menangkap angin.

Di pihak lain, Sidanti bertempur dengan sepenuh tekad melawan Macan Kepatihan. Kali ini ia akan menebus kekalahannya pada saat ia berhadapan dengan Macan Kepatihan itu. Seperti juga gurunya, ia benar-benar ingin membunuh Tohpati. Membawa kepalanya ke Pajang dan mengharap hadiah daripadanya, seperti hadiah yang akan diterima oleh mereka yang berhasil membunuh Arya Penangsang, tanah mentaok dan Pati. Kalau ia membunuh Macan Kepatihan, maka setidak-tidaknya ia akan menerima hadiah separo dari mereka yang membunuh Arya Penangsang.

Dengan harapan itu, serta pangkat yang akan melampaui pangkat Untara, maka Sidanti berjuang sekuat-kuat tenaganya.

Namun ternyata Macan Kepatihan tidak menyerahkan lehernya begitu saja. Bahkan semakin lama Tohpati seakan-akan menjadi semakin segar. Tongkatnya menjadi semakin cepat bergerak menyambar-nyambar seperti burung garuda yang bertempur di udara.

Mula-mula Sidanti berbangga dengan kemenangan-kemenangan kecilnya. Ketika sekali dua kali ujung pedangnya mampu meneteskan darah dari tubuh Tohpati. Namun kemudian terasa, bahwa kulitnya pasti menjadi merah biru pula. Setiap sentuhan ujung tongkat Macan Kepatihan yang berbentuk tengkorak itu, seakan-akan benar-benar memecahkan tulangnya. Meskipun ia selalu dapat menghindarkan dirinya dari benturan langsung, atau dengan sepasang senjatanya menghentikan ayunan tongkat lawannya, namun terasa tongkat itu menyengat-nyengat tubuhnya semakin lama semakin sering. Sehingga dengan demikian, maka Sidanti kemudian tidak lagi dapat membanggakan kelebihan-kelebihan yang ada padanya. Betapa ia menjadi semakin lincah di saat-saat terkhir, namun lawannya pun ternyata cukup tangguh untuk mengimbanginya.

Karena itulah maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Ketika bulan menjadi semakin merendah ke garis cakrawala di ujung barat, maka mereka yang bertempur itu semakin ngetok kekuatan. Mereka tidak mau masing-masing menjadi korban dari perkelahian itu, dan mereka masing-masing berusaha untuk mengalahkan lawannya sebelum pasangannya dapat dikalahkan.

Tetapi kemudian, perkelahian itu menjadi terganggu karenanya. Dikejauhan mereka melihat tiga bayangan yang bergerak-gerak dalam keremangan cahaya bulan. Tiga bayangan manusia yang datang mendekat daerah perkelahian itu.

Baik Ki Tambak Wedi maupun Sumangkar bertanya-tanya di dalam hati mereka, siapakah mereka, orang-orang yang mendatangi itu. Tohpati dan Sidanti pun kemudian melihat mereka pula. Karena itu, maka mereka menjadi berdebar-debar. Tetapi mereka tidak dapat menghentikan perkelahian itu. Perkelahian itu adalah perkelahian antara hidup dan mati. Namun kalau yang datang itu kawan dari salah satu pihak, maka keseimbangan perkelahian itu akan terganggu.

Sesaat Tohpati menggeram keras sekali. Tiba-tiba ia memperketat tekanannya. Ia melihat satu tenaga cadangan yang akan mampu mempercepat penyelesaiannya. Kalau ia mengerahkan tenaganya dan berhasil, maka perkelahian itu akan menjadi semakin cepat selesai. Tetapi kalau tidak, maka akibatnya ia akan menjadi lebih dahulu kelelahan dan mungkin ia akan menjadi korban. Namun ia tidak dapat berbuat lain. Ketiga bayangan yang menjadi semakin dekat itu benar-benar mengganggunya.

Akibatnya terasa pula oleh Sidanti. Serangan Macan Kepatihan menjadi bertambah dahsyat. Sedahsyat angin prahara yang melanda tebing pegunungan, menggetarkan pepohonan dan menggugurkan daun-daunnya. Sekali Sidanti terpaksa meloncat surut, namun Tohpati mengejarnya terus.

Serangan Sidanti itu serasa benar-benar menyusup dari segenap arah, mematuk seluruh bagian tubuhnya. Dengan demikian maka Sidanti pun terseret kedalam pencurahan segenap tenaga, segenap kekuatan dan segenap kemampuannya. Namun, meskipun demikian, maka amat sulitlah baginya untuk segera dapat membebaskan diri dari belitan serangan Tohpati yang seperti lesus itu.

Pada saat-saat terakhir, Ki Tambak Wedi sebenarnya telah menemukan segi-segi lawannya. Betapapun saktinya Sumangkar, namun pada orang tua itu masih terdapat beberapa kelemahan. Apalagi ketika pada saat-saat terakhir ia lebih senang tinggal didapur saja, maka nafsunya untuk bertempur tidak sehangat Ki Tambak Wedi lagi. Meskipun Sumangkar mampu mengimbangi hampir setiap usaha Ki Tambak Wedi untuk menembus pertahanannya, namun lambat laun, terasa bahwa Ki Tambak Wedi masih selapis berada di atas Sumangkar.

Tetapi pada sat yang demikian, pada saat Ki Tambak Wedi memperkuat tekanannya untuk segera mengakhiri perkelahian itu, supaya ia sempat memenggal leher Tohpati, maka pada saat yang demikian itu pula, Sidanti terpaksa beberapa kali beringsut surut.

“Gila” desis Ki Tambak Wedi itu, “Macan Kepatihan benar-benar berkelahi seperti seekor harimau jantan yang garang”

Dengan menggeram keras sekali ia mencoba mengakhiri perkelahiannya dengan Sumangkar, ketika dengan tangan kirinya ia memukul golok Sumangkar ke samping, dan dengan tangannya yang lain, Ki Tambak Wedi berusaha memecahkan kepala lawannya itu. Namun usahanya masih belum berhasil, Sumangkar masih mampu menggenggam golok itu di tangannya, dan masih mampu melontar ke samping sambil merendahkan dirinya, sehingga tangan Ki Tambak Wedi yang berlapis baja itu terbang beberapa jari dari kepalanya. Sesaat kemudian ketika Ki Tambak Wedi berusaha menerkamnya, maka Sumangkar sudah mampu mempersiapkan dirinya, dan menjulurkan goloknya di muka dadanya. Bahkan kemudian ketika Ki Tambak Wedi mengurungkan serangannya, Sumangkarlah yang meloncat maju dengan sebuah ayunan pendek.

Namun kembali Ki Tambak Wedi mengumpat di dalam hatinya. Kini ia benar-benar melihat muridnya dalam kesulitan. Karena itu maka mau tidak mau ia harus membagi perhatiannya. Namun karena orang tua itu memiliki pengalaman yang bertimbun-timbun di dalam perbendaharaan ilmunya, maka segera ia menemukan jalan untuk menyelamatkan muridnya tanpa mengorbankan kehormatannya. Dengan lantang kemudian ia berkata, “Ayo, meskipun Macan Kepatihan bukan muridmu Sumangkar, namun ia adalah murid saudara seperguruanmu, sehingga ilmumu berdua bersumber dari perguruan yang sama. Kalau ternyata kau tidak mampu melawan aku seorang diri, marilah, aku beri kesempatan kalian bertempur berpasangan. Muridku pasti akan senang juga melayanimu dengan cara itu”

“Kau licik” sahut Sumangkar, “Agaknya kau telah melihat bahwa muridmu telah hampir sampai pada titik ajalnya”

“Persetan, aku sobek mulutmu itu”

“Silakanlah kakang” jawab Sumangkar.

Ki Tambak Wedi menggeretakkan giginya. Namun ia tidak merubah rencana. Langsung ia melepaskan Sumangkar dan berlari ke arah Sidanti yang semakin terdesak. Dengan demikian maka Sumangkar tidak dapat berbuat lain daripada berlari pula mengejar Ki Tambak Wedi itu.

Sesaat kemudian maka mereka terlibat dalam pertempuran berpasangan. Mula-mula Sumangkar dan Tohpati agak canggung juga menyesuaikan diri masing-masing, namun karena mereka bersumber pada ilmu yang sama, maka segera mereka menemukan titik-titik yang dapat membuka kemungkinan-kemungkinan seterusnya.

Dalam pada itu, ketika mereka telah luluh dalam satu lingkaran perkelahian, maka bayangan yang datang mendekati mereka menjadi semakin dekat. Mereka berjalan perlahan-lahan dengan penuh kebimbangan. Setapak mereka maju, dan sesaat mereka berhenti. Sejenak mereka maju lagi, namun dua tiga langkah mereka kembali tegak mengawasi perkelahian yang semakin seru.

“Mereka bertempur berpasangan” berkata salah seorang dari mereka.

“Ya. Salah satu pihak sedang mencari keseimbangan” jawab yang lain.

“Siapakah mereka?”

Tak seorang pun yang dapat menjawab. Namun salah seorang dari mereka berkata, “Marilah kita mendekat”

Mereka berjalan maju lagi. Langkah mereka terayun satu-satu di antara rumput-rumput liar. Ragu-ragu dan penuh kewaspadaan, Namun kemudian mereka berhentu pada jarak yang tidak terlalu dekat.

“Dahsyat” terdengar salah seorang bergumam.

“Ya” sahut yang lain.

Dan yang lain lagi berkata, “Aku sangka, mereka adalah guru dan murid saling berpasangan. Dua perguruan bertemu di padang rumput ini”

Namun sesaat kemudian mereka bertiga mengerutkan kening mereka. Hampir bersamaan mereka dapat melihat semakin jelas ketika mereka sudah menjadi lebih dekat lagi.

Perlahan-lahan di sela deru angin malam terdengar salah seorang berdesis, “Macan Kepatihan”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tongkat baja putihnya, yang berkilat-kilat di keremangan cahaya bulan yang hampir tenggelam telah menunjukkan kepada mereka, siapakah salah seorang dari mereka yang sedang bertempur itu.

Namun kemudian timbullah kebimbangan di hati mereka bertiga. Salah seorang berkata, “Macan Kepatihan bertempur berpasangan. Siapakah yang seorang itu? Bukankah guru Macan Kepatihan itu Patih Mantahun? Dan Patih Mantahun itu telah mati terbunuh?”

Salah seorang bergumam lirih, “Perguruan Kedung Jati terkenal, bahwa murid-muridnya mampu menyimpan nyawa rangkap di dalam tubuhnya”

“Aku juga mendengar itu” sahut yang lain.

Tetapi yang seorang lagi tertawa perlahan-lahan. Gumamnya, “Sebuah dongeng untuk menidurkan anak-anak di senja hari”

Kedua orang yang lain saling berpandangan sesaat, seolah-olah mereka tidak mengerti, kenapa yang seorang itu sama sekali tidak menaruh perhatian atas berita tentang nyawa yang rangkap itu.

“Apakah kalian percaya bahwa ada seorang yang mampu menyimpan nyawa rangkap di dalam dirinya? Aji Pancasona barangkali? Nah, kalau kalian percaya, atau setidak-tidaknya bimbang akan hal itu, mulailah sejak ini menganggap bahwa itu hanya sebuah dongengan semata-mata. Dan hal itu pun terbukti pula, bahwa Patih Mantahun tidak lagi bangkit dari kuburnya”

Kedua orang yang lain kini berdiam diri. Namun mata mereka tajam menatap pasangan-pasangan yang sedang bertempur dengan serunya. Dalam keremangan cahaya bulam, maka mereka seolah-olah hanya melihat bayangan-bayangan hitam yang berputaran dan berbenturan, di sela-sela cahaya keputih-putihan yang memantul dari tongkat putih Macan Kepatihan dan sekali-sekali gemerlapnya pedang Sidanti. Golok Sumangkar yang kehitam-hitaman bahkan di sana sini tampak berkarat, sama sekali tidak mampu memantulkan cahaya bulan yang semakin rendah.

“Apakah kalian ingin melihat lebih jelas?” terdengar salah seorang bertanya.

“Marilah Kiai” jawab yang lain.

Orang yang mengajak itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kainnya yang bercorak gringsing menutupi sebagian tubuhnya sedang kedua orang yang lain, berjalan di belakangnya dengan penuh kewaspadaan. Mereka adalah dua orang anak muda yang sebaya. Yang seorang bertubuh sedang dan yang lain pendek gemuk hampir bulat. Di lambung mereka masing-masing tergantung sehelai pedang. Namun di lambung orang yang berjalan dipaling depan dan bahkan kedua anak-anak muda itu, melingkar sebuah cambuk yang bertangkai pendek dan berujung janget.

Ternyata orang yang pertama, yang berkain gringsing itu, telah menuntun mereka untuk mempergunakan senjata, ciri perguruannya, di samping senjata yang disukainya. Cambuk yang bertangkai tidak lebih dari sejengkal dan ujungnya berjuntai agak panjang, terbuat dari tambang kulit yang sangat kuat beranyam rangkap tiga ganda. Lemas namun kuatnya bukan main.

Tiba-tiba orang yang berkain gringsing itu berkata, “Kemarilah ngger”

Kedua anak muda yang berjalan di belakangnya segera berdiri di sampingnya sebelah menyebelah.

“Apakah kalian kenal yang seorang lagi?”

Keduanya mengerutkan kening mereka dan mempertajam pandangan mata mereka. Tiba-tiba mereka berdesis, “Sidanti”

“Ya, Sidanti” berkata orang yang berkain gringsing, “Yang seorang pasti Ki Tambak Wedi”

Dua orang anak muda, Agung Sedayu dan Swandaru, mengangguk-anggukkan kepala mereka. Perlahan-lahan mereka berdesis, “Kiai, lalu siapakah yang seorang lagi, pasangan Macan Kepatihan itu?”

Kiai Gringsing, yang oleh murid-muridnya lebih dikenal dengan nama Ki Tanu Metir menjawab, “Aku belum tahu, siapakah orang itu. Aku masih belum dapat mengenalnya. Seandainya ia adalah seorang yang telah pernah terkenal di daerah ini, atau daerah Pajang, mungkin aku dapat menyebut namanya”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Kini mereka menjadi semakin berani. Apabila salah satu pihak dari mereka adalah Sidanti dan Ki Tambak Wedi, sedang di pihak lain dalam keadaan yang seimbang melayaninya, maka bersama guru mereka, mereka tidak akan menjadi cemas lagi siapa pun yang sedang bertempur itu. Karena itu maka Agung Sedayu kemudian berkata, “Marilah kita dekati Kiai. Aku ingin melihat dengan pasti siapakah yang tengah bertempur itu”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia menjawab, “Marilah. Tetapi berhati-hatilah. Siapa tahu bahwa mereka akan memilih lawan. Dan pilihan itu jatuh kepada kita”

Swandaru tersenyum. Selangkah ia maju. Tetapi ia segera berhenti ketika ia melihat perkelahian itu cepat bergeser dari tempatnya.

“Kenapa?” desisnya. “Apakah ada perubahan dari keseimbangan mereka?”

Tetapi ternyata perkelahian itu segera berjalan kembali dengan sengitnya.

Mereka hanya bergerak sekedar menemukan bentuk yang baru dari daerah perkelahian serta letak pasangan dari antara mereka.

Namun waktu yang sesaat itu telah menggoncangkan hati Kiai Gringsing. Pada saat yang demikian itu, ia mengenal, siapakah seorang lagi, yang selama ini menjadi teka-teki di antara murid-muridnya. Namun untuk meyakinkannya, ia dengan serta-merta melangkah maju lagi beberapa langkah, sehingga jarak mereka menjadi semakin dekat, bahkan terlalu dekat.

Yang sedang bertempur itu pun kemudian terkejut melihat kehadiran mereka yang terlalu dekat itu. Apalagi dengan demikian segera mereka mengenal siapakah orang-orang yang datang mendekat. Yang pertama-tama berteriak di antara mereka adalah justru Ki Tambak Wedi, “He, orang yang menamakan diri Kiai Gringsing , apakah kerjamu di sini?”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Matanya sedang menekuni gerak seorang lagi di antara mereka yang selama ini tak pernah disangkanya akan bertemu kembali. Tiba-tiba terdengar ia bergumam, “Sumangkar, murid kedua dari perguruan Kedung Jati”

“He, siapakah kau?” sahut Sumangkar yang mendengar namanya disebut-sebut.

“Bertanyalah kepada Ki Tambak Wedi” sahut Kiai Gringsing

“Aku mendengar ia menyebutmu Kiai Gringsing. Siapakah sebenarnya kau ini?”

“Itulah aku sebenarnya”

Sumangkar masih mau berkata lagi. Tetapi tiba-tiba terdengar Tohpati berteriak, “He, bukankah kalian orang-orang yang aku temukan di tengah kali itu? Yang gemuk itu, yang satunya dan apakah kau orang tua itu pula?”

“Ya, akulah itu” jawab Kiai Gringsing.

Ternyata dada Tohpati berdesir mendengar pengakuan itu, meskipun hal itu telah diketahuinya atau setidak-tidaknya telah digambarkannya. Sehingga karena itu ia berkata, “Aku sudah menyangka. Kalau aku tahu bahwa kalian orang-orang aneh dari Sangkal Putung, maka pada saat itu kalian pasti telah aku bunuh”

“Apa salah kami?” teriak Kiai Gringsing, “Dan karena itu pula agaknya waktu itu kami tidak mengaku orang-orang aneh”

“Gila!” teriak Tohpati, “Jangan mengigau, nanti akan datang giliran kalian untuk aku bunuh setelah musuh-musuhku ini mati”

Yang terdengar adalah suara tertawa Ki Tambak Wedi. Sementara itu mereka basih bertempur dengan serunya. Dan di antara derai tertawa itu terdengar Ki Tambak Wedi berkata, “Jangan sombong Macan Kepatihan yang gagah perkasa. Mungkin kalian berdua mampu membunuh kami, tetapi orang-orang itu?”

Macan Kepatihan benar-benar terkejut mendengar kata-kata Ki Tambak Wedi yang biasanya terlalu menyombongkan diri. Tetapi ia tidak segera bertanya lagi. Tekanan Ki Tambak Wedi bahkan menjadi semakin mendesak.

Dalam kesibukan perkelahian itu yang terdengar kemudian adalah geram Sidanti penuh kemarahan, “Agung Sedayu, musuh bebuyutan, apakah kau sudah jemu hidup sehingga kau berani mendatangi tempat ini, dimana aku dan guruku sedang berpesta? Kedatanganmu akan merupakan hadiah terbesar bagiku sesudah kepala Tohpati malam ini”

Ketika Agung Sedayu hampir membuka mulutnya untuk menjawab maka terasa lengannya digamit oleh gurunya. Dengan serta-merta ia mengurungkan niatnya sambil berpaling kepada gurunya, untuk mendapat penjelasan. Namun Kiai Gringsing itu hanya mengangkat dagunya ke arah perkelahian itu. Dalam kebimbangan Agung Sedayu menuruti arah itu. Barulah kemudian ia tahu maksud gurunya, bahwa kata-kata Sidanti itu pasti akan menyinggung perasaan Tohpati pula. Dan Kiai Gringsing mengharap biarlah Macan Kepatihan itulah yang menjawab.

Sebenarnyalah kemudian Macan Kepatihan menggeram, “Gila kau Sidanti, kau sangka bahwa Macan Kepatihan sama murahnya dengan kepalamu?”

“Jangan marah ngger” sahut Ki Tambak Wedi, “Sidanti hanya berkata sebenarnya”

Betapa marahnya Macan Kepatihan mendengar penghinaan itu. Namun kemudian terdengar Sumangkar berkata tenang, “He orang yang menamakan dirinya Kiai Gringsing, kau lihat, bahwa di tempat ini terjadi dua macam perkelahian? Yang pertama perkelahian jasmaniah. Kami masing-masing telah bertempur dengan sekuat-kuat tenaga kami, namun belum ada di antara kami yang dapat dikalahkan oleh pihak yang lain, Sedang perkelahian yang kedua adalah perkelahian mulut. Kami masing-masing mencoba saling menyombongkan diri kami. Kami masing-masing berkata bahwa kami akan membunuh lawan-lawan kami. Kalau itu mampu lakukan, maka sudah pasti kami lakukan. Tetapi ternyata seperti yang kau lihat. Kami masih bertempur mati-matian sehingga kami harus tertawa mendengar suara kami sendiri. Karena itu Kiai, kalau Kiai masih ingin menonton, menontonlah dengan tenang. Waktu masih panjang. Kalau ada di antara kami yang akan memusuhi Kiai, maka itu masih harus melalui waktu yang cukup banyak untuk mengalahkan lawan-lawan kami”

Ki Tambak Wedi dan Sidanti menggeram mendengar kata-kata itu, bahkan Tohpati sendiri menggertakkan giginya. Namun dengan demikian mereka tidak lagi berteriak-teriak dan saling mengancam. Mereka kini memusatkan tenaga mereka dalam pertempuran yang terjadi. Namun meskipun demikian hati mereka telah digelisahkan oleh kehadiran Kiai Gringsing dengan murid-muridnya. Mereka mempunyai persoalan sendiri-sendiri terhadap mereka. Tohpati menyadari bahwa di antara orang-orang itu terdapat orang-orang Sangkal Putung. Namun justru karena itu ia mulai menimbang-nimbang. Kalau tidak ada persoalan di antara mereka dengan Sidanti, maka mereka pasti akan membantu Sidanti. Karena itu maka kehadiran mereka benar-benar mempengaruhi perasaannya. Dalam pada itu, Ki Tambak Wedi pun menjadi gelisah. Disadarinya bahwa orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing itu tidak dapat dikalahkan. Ternyata Kiai Gringsing telah mengambil lawan Sidanti menjadi muridnya. Dengan demikian maka apabila terpaksa mereka harus berhadapan saat itu, maka tidak akan dapat memberinya kesempatan apa-apa.

Yang terdengar kemudian adalah suara Kiai Gringsing. Kiai Gringsing senang mendengar kejujuran sikap Sumangkar, sehingga menyahut, “Kau benar-benar murid kedua perguruan Kedung Jati yang perkasa. Aku terpaksa tertawa mendengar pengakuanmu. Dan aku akan mencoba memenuhinya. Duduk di sini sambil melihat kalian berkelahi”

“Gila!” teriak Ki Tambak Wedi, namun suaranya segera tenggelam dalam kata-kata Sumangkar, “Silakan Kiai, silakan. Kiai akan dapat menilai, sampai sejauh mana kemungkinan yang ada dikedua belah pihak. Dan kira-kira Kiai akan lebih senang melawan pihak yang mana? Bukankah dengan demikian Kiai dapat berbuat sesuatu?”

Kembali Kiai Gringsing tertawa, jawabnya, “Tidak, aku tidak berpihak. Aku tidak akan berpihak pada yang lemah untuk nanti mendapatkan lawan yang lemah itu”

Sumangkar tertawa pendek. Sekali ia harus meloncat ke samping untuk menghindari sambaran tangan Ki Tambak Wedi. Namun ia harus segera menggeliat pula, ketika dilihatnya pedang Sidanti menjulur mematuk lambungnya. Namun ketika Ki Tambak Wedi akan menyerangnya kembali, segera Sumangkar meloncat dan memutar golok di tangannya. Ia tidak perlu memperhatikan Sidanti lagi, karena dengan serta-merta, tongkat Macan Kepatihan menyambar lengan anak muda itu, sehingga ia terpaksa meloncat surut.

Namun dalam pada itu, timbullah banyak pertimbangan di kepala Tohpati. Seandainya perkelahian itu dibiarkannya berjalan dalam keseimbangan, maka semalam suntuk mereka pasti tidak akan menemukan penyelesaian. Bahkan mungkin pada saat-saat mereka hampir mati kekelahan, pada saat itulah Kiai Gringsing baru tampil ke gelanggang.

Karena itu, maka segera timbul banyak pertimbangan dikepala Macan Kepatihan. Ia sendiri tidak yakin, apakah yang dapat dilakukan oleh Kiai Gringsing. Apakah ia akan berpihak ataukah ia akan melawan segala pihak. Namun keadaannya pasti akan menjadi paling baik. Seperti tantangan Sumangkar, Kiai Gringsing dapat berpihak yang dianggapnya paling lemah untuk membinasakan yang kuat, supaya apabila kemudian terpaksa bagi Kiai Gringsing untuk bertempur, maka musuhnya adalah pihak yang lemah. Namun agaknya permusuhan telah terjadi antara Kiai Gringsing dan Ki Tambak Wedi seperti halnya murid-muridnya di kedua belah pihak. Apakah permusuhan itulah yang menyebabkan Sidanti meninggalkan Sangkal Putung? Sekali-sekali terlintas juga di dalam benaknya untuk melawan saja Kiai Gringsing bersama muridnya itu bersama-sama dengan Sidanti dan gurunya dalam satu gabungan kekuatan, maka pasti Kiai Gringsing dapat dikalahkan. Namun kemudian Tohpati itu menjadi ragu-ragu pula. Meskipun hatinya cenderung berbuat demikian. Sebab apabila yang tinggal adalah mereka berempat, maka kekuatan mereka pasti akan tetap seimbang.

Dalam keragu-raguan itu tiba-tiba Tohpati mendengar tawaran Ki Tambak Wedi yang agaknya mempunyai pikiran yang sama, sehingga tawaran itu benar-benar mengejutkan Macan Kepatihan, “He, angger Tohpati yang perwira. Orang baru itu adalah musuhku bebuyutan. Sedangkan apa yang kita lakukan adalah suatu permainan yang tidak berarti apa-apa. Karena itu, apakah tidak sebaiknya kita hentikan permainan ini, dan kita binasakan saja lawan kita yang berbahaya itu bersama-sama. Kemudian baiklah permainan ini kita lanjutkan kembali?”

Tohpati mengerutkan keningnya. Semula ia tidak yakin akan tawaran Ki Tambak Wedi, namun kemudian tampaklah serangan-serangan Ki Tambak Wedi mengendor, sehingga Tohpati menjadi ragu-ragu dan bertanya, “Apakah pertimbanganmu?”

Ki Tambak Wedi tertawa, jawabnya, “Sebenarnyalah kita sudah dapat mengetahui keadaan kita masing-masing. Juga Kiai Gringsing itu pasti tahu, kenapa kita akan menyatukan kekuatan kita. Bukankah dengan demikian kita akan dapat meneruskan permainan ini tanpa terganggu dan tanpa menunggu kemungkinan yang paling buruk? Membiarkan Kiai Gringsing menunggu kita masing-masing mati kelelahan?”

Sekali lagi Tohpati dilanda oleh keragu-raguan. Sementara itu, Swandaru dan Agung Sedayu yang mendengar tawaran Ki Tambak Wedi itu segera meraba hulu pedang masing-masing. Tanpa berpikir akibat yang akan terjadi maka tiba-tiba Swandaru tertawa sambil berkata, “Kiai, kita akan mendapat latihan yang baik”Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah Swandaru dan Agung Sedayu berganti-ganti. Tiba-tiba ia menjadi cemas. Mungkin Agung Sedayu dapat mempertahankan dirinya melawan Sidanti atau Tohpati sekalipun dalam taraf kekuatannya kini setelah ia maju dengan pesatnya.

Namun Swandaru masih belum dapat disejajarkan dengan salah seorang dari mereka. Apalagi kalau kekuatan mereka digabung, maka Sumangkar dan Ki Tambak Wedi akan menjadi lawan yang amat berat meskipun kekuatan mereka telah menunjukkan tanda-tanda menurun karena perjuangan yang berat di antara mereka.

Tetapi Swandaru yang sedang berkembang itu tidak dapat menimbang berat ringan orang-orang yang dihadapinya. Ia masih dalam tingkatan ingin mencoba segala kemampuan yang ada di dalam dirinya. Apalagi kini di hadapannya berdiri Sidanti dan Tohpati. Ia ingin menakar diri. Apakah kekuatannya sudah seimbang dengan Tohpati atau Sidanti?

Dalam kesibukan berpikir itu, Kiai Gringsing mendengar Sumangkar menjawab tawaran Ki Tambak Wedi sebelum Tohpati mengambil keputusan, “Ki Tambak Wedi, di hadapan kami berdiri Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Kini datang Kiai Gringsing dengan kedua muridnya, anak-anak Sangkal Putung. Adakah itu suatu kebetulan? Apakah Ki Tambak Wedi sudah menyediakan perangkap untuk menjebak kami berdua?”

Ingatan Tohpati benar-benar seperti tersengat lebah mendengar kata-kata itu. Alangkah mengejutkan meskipun seharusnya kemungkinan itu telah dipertimbangkannya. Ya, seandainya mereka telah merencanakan itu, alangkah bodohnya. Kalau ia menerima tawaran Ki Tambak Wedi, kemudian Ki Tambak Wedi dan Sidanti mengkhianatinya dalam perkelahian itu, maka membunuh Tohpati akan sama mudahnya dengan memijat bji ranti. Karena itu tiba-tiba Tohpati menggeram dengan marahnya. Katanya, “Hem. Ternyata kalian adalah orang-orang yang sangat licik. Kalian berpura-pura saling bertentangan antara kedua pihak guru dan murid sekali. Tetapi ternyata kalian telah menjebak kami. Tetapi jangan kalian sangka Tohpati akan menyerah. Tohpati hanya menyerah apabila Tohpati telah menjadi mayat”

Ki Tambak Wedi mengumpat di dalam hatinya. Sumangkar benar-benar gila. Beberapa kali ia merusak usahanya. Kini orang itu telah menempatkannya pada kesulitan pula. Karena itu ia berteriak, “Sumangkar, kau adalah biang keladi dari kehancuran Macan Kepatihan. Kini kau menolak tawaranku. Baiklah marilah kita teruskan perkelahian ini. Siapa yang menang, biarlah ia menjadi korban berikutnya dari kebodohanmu. Dan kita berempat akan mati di lapangan rumput ini. Apa katamu?”

“Lebih baik demikian Ki Tambak Wedi” sehut Sumangkar, “Lebih baik kita mati berempat di sini daripada hanya kami saja berdua. Setuju”

Sekali lagi Ki Tambak Wedi menggeram. Rupanya kesempatan untuk bersama-sama menghancurkan Kiai Gringsing telah benar-benar tertutup baginya, sehingga tidak ada pilihan lain daripada meneruskan perkelahian itu mati-matian.

Tetapi sejak saat itu Tohpati selalu dihantui oleh kemungkinan yang sangat pahit. Terjebak oleh perangkap Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing bersama-sama. Karena itu maka otaknya bekerja dengan sibuknya, di samping tenaganya yang berjuang melawan lawan-lawannya, ia harus menemukan jalan untuk melepaskan diri seandainya Kiai Gringsing dan kedua anak muda Sangkal Putung itu mulai menyerangnya pula dengan cara apapun.

Karena itulah maka Tohpati harus menemukan suatu cara untuk mengusir mereka dari padang rumput ini. Bukan karena ia takut untuk bertempur sampai mati, tetapi ia tidak mau mati meringkuk dalam perangkap lawannya.

Tiba-tiba dalam kesibukan pertempuran itu Tohpati memasukkan jari-jari tangan kirinya kedalam mulutnya, dan sesaat kemudian terdengarlah ia bersuit nyaring membelah sepi malam.

Sekali suaranya seolah-olah meluncur memenuhi padang rumput, bahkan terpantul oleh bukit dikejauhan melengking berkali-kali.

Ki Tambak Wedi terkejut mendengar suara itu. Bahkan semua orang yang mendengarnya, termasuk Sumangkar. Namun sebelum mereka menyadari keadaan mereka, terdengar kembali suitan Tohpati untuk kedua kalinya dan sesaat kemudian untuk ketiga kalinya.

“Gila!” teriak Sidanti, “Apakah yang kau lakukan pengecut?”

“Mari, mari Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing, majulah bersama-sama. Cobalah tangkap Tohpati dan Sumangkar malam ini”

“Kau panggil anak buahmu?” bertanya Sidanti

“Itu adalah hakku”

“Pengecut, kau tidak berani berkelahi sebagai seorang laki-laki”

“Aku adalah pemimpin pasukan Jipang. Aku tidak mau masuk kedalam perangkap kalian. Apakah aku harus membiarkan kalian berbuat licik, berusaha memasukkan kami berdua ke dalam perangkap? Sedang aku, Macan Kepatihan sebagai pemimpin pasukan tidak boleh memanggil pasukannya?”

“Gila” desis Ki Tambak Wedi.

Namun sebelum mereka sempat berkata lagi, kembali terdengar Tohpati bersuit. Kali ini berkepanjangan.

“Apa artinya?” gumam Ki Tambak Wedi.

Macan Kepatihan tertawa, katanya, “Orang-orangku harus menangkap kalian hidup-hidup”

“Kau benar-benar licik seperti setan” geram Ki Tambak Wedi.

Tohpati tidak menjawab, namun tongkatnya berputar semakin cepat menyambar lawan-lawannya.

Dalam pada itu timbullah pikiran baru di dalam benak Ki Tambak Wedi. Kalau pasukan Tohpati segera datang dan membantu, maka keseimbangan akan segera berubah. Betapapun lemahnya orang seorang dalam pasukan Tohpati, namun mereka pasti akan mampu menambah kekuatan kedua orang yang tak dapat mereka kalahkan bersama dengan Sidanti. Karena itu, maka tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu menggeram, “Bagus Tohpati, karena kau tidak menepati kejantananmu, maka biarlah aku melepaskan kesempatan kali ini memenggal lehermu, memenggal leher adik gurumu. Tetapi ingatlah, aku pasti akan datang untuk kedua kalinya”

“Pengecut” terdengar suara Tohpati, “Kau akan lari?”

“Bukan aku yang licik”

“Tidak ada kesempatan. Perintahku, mengepung tempat ini dan merapat dari jarak yang agak jauh, supaya setiap usaha untuk lari dapat digagalkan”

“Persetan, laskarmu akan aku tumpas kalau berani menghalangi aku”

Macan Kepatihan itu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Jangan mengigau. Umurmu tidak akan lebih dari umur bintang pagi yang baru terbit itu”

Ki Tambak Wedi menggeram sekali lagi. Tiba-tiba ia berkata kepada muridnya, “Musuh kita kali ini licik seperti demit. Tak ada gunanya kita menjual kejantanan diri, menghadapi setan-setan pengecut itu. Marilah kita tinggalkan padang rumput ini, kita mencari kesempatan dilain kali”

“Tunggulah sebentar” cegah Sumangkar, “Aku belum selesai”

“Persetan” sahut Ki Tambak Wedi yang menyangka bahwa Sumangkar ingin memperlambatnya, sehingga laskar Jipang cukup waktu untuk mengepung mereka.

Sesaat kemudian Ki Tambak Wedi dan Sidanti itu berloncatan menarik diri masing-masing, kemudian segera mereka berlari meninggalkan gelanggang sebelum mereka terjebak dalam kepungan laskar Macan Kepatihan.

Kegelisahan itu sebenarnya tidak saja melanda Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Kiai Gringsing pun ternyata terpaksa berpikir menghadapi keadaan itu. Seandainya laskar Jipang yang sarangnya mungkin tidak jauh dari tempat ini benar-benar datang, maka mereka benar-benar berada dalam kesulitan. Sebab Kiai Gringsing seperti juga Ki Tambak Wedi menyadari, bahwa di dalam laskar Tohpati itu ada orang-orang seperti Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan orang-orang lain yang tidak jauh tingkatnya dari mereka itu. Di samping Sumangkar dan Tohpati, maka mereka pasti akan menjadi orang-orang yang sangat berbahaya.

Sekali dua kali Kiai Gringsing menimbang-nimbang. Diamat-amatinya muridnya. Ia menjadi cemas apabila ia menatap Swandaru yang gemuk itu. Anak itu kurang perhitungan. Ia merasa tenaganya terlampau kuat, sehingga ia tidak pernah mempertimbangkan kekuatan lawan-lawannya.

Karena itu maka ketika dilihatnya Ki Tambak Wedi melarikan dirinya, tiba-tiba Kiai Gringsing berteriak, “Angger Macan Kepatihan dan Sumangkar yang perkasa. Aku kali ini lebih berkepentingan dengan Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Karena itu biarlah aku mengejar mereka. Mudah-mudahan lain kali aku dan murid-muridku dapat menjumpai kalian berdia dalam kesempatan seperti ini”

“Kau juga mau lari?” teriak Macan Kepatihan.

Kiai Gringsing tertawa, tetapi ia sudah meloncat sambil berkata kepada murid-muridnya, “Jangan lepaskan Sidanti”

Swandaru dan Agung Sedayu tidak sempat bertanya lebih banyak. Segera ia pun berloncatan mengikuti Ki Tanu Metir mengejar Ki Tambak Wedi dan Sidanti.

Tohpati dan Sumangkar melihat mereka berlari-larian meninggalkan lapangan rumput sambil tertawa, “Hem” geramnya, “Aku sudah hampir kehabisan akal”

Sumangkar tidak segera menyahut. Ia masih memandang kedalam malam yang semakin gelap, karena bulan yang terbelah telah lenyap di balik pepohonan.

Baru setelah mereka lenyap dari pandangan mata Sumangkar, maka berkatalah orang tua itu kepada Tohpati, “Semula aku tidak tahu, apakah maksud angger sebenarnya”

Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Kita tidak akan dapat melawan mereka semuanya apabila mereka benar-benar ingin menjebak kita”

“Ya, dan angger telah membuat permainan yang baik sekali. Ternyata mereka semuanya pergi meninggalkan kita. Mereka menyangka bahwa angger benar-benar memanggil anak buah angger”

Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata bersungguh-sungguh, “Tetapi ada sesuatu yang tidak wajar paman. Aku sangka, Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing benar-benar tidak akan bekerja bersama-sama, meskipun kita harus berhati-hati terhadap dugaan itu”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya, “Aku juga menyangka demikian. Bahkan aku menyangka di antara mereka benar-benar ada persoalan yang telah membawa mereka dalam suatu keadaan permusuhan”

“Nah, bukankah kalau demikian kita akan dapat mempergunakan salah satu pihak untuk keuntungan kita? Sidanti misalnya?”

“Belum pasti ngger. Belum pasti kalau Sidanti dan Ki Tambak Wedi akan dapat memberi keuntungan kepada angger. Kalau sekali ia telah meninggalkan kesetiannya kepada kesatuannya dan berpihak kepada lawannya, maka orang yang demikian adalah orang yang benar-benar tidak dapat dipercaya. Mungkin ia akan memperalat kita untuk kepentingannya, kemudian menhancurkan kita sendiri. Gurunya, Ki Tambak Wedi, bukankah contoh yang sangat baik bagi sifat Sidanti itu?”

“Aku akan dapat mempergunakannya dimana perlu paman, jangan sebaliknya”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Kembali dadanya dirayapi oleh kecemasan. Mungkin Tohpati akan dapat mempergunakan Sidanti tanpa mencelakakan dirinya. Mungkin kemudian Sidanti akan dapat dibinasakan oleh Tohpati apabila ada tanda-tanda ia akan mengkhianatinya. Namun dengan demikian, maka keadaan akan menjadi semakin parah. Peperangan akan menjadi semakin berlarut-larut. Karena itu, maka diberanikan dirinya berkata, “Raden, apakah Raden dapat bekerja sama dengan anak muda itu? Setiap kali angger malahan akan kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu. Angger setiap kali hanya akan mengawasinya saja. Pekerjaan itu pasti akan menjemukan sekali. Dan bukankah dengan demikian angger akan memperluas kesulitan rakyat Jipang dan Pajang sendiri?”

Tohpati menundukkan wajahnya. Tiba-tiba hatinya bergetar cepat sekali. Teringatlah ia kini, akan apa yang mengganggunya akhir-akhir ini. Kesadaran diri atas segala yang telah berlaku dan akan dilakukan benar-benar mengganggunya siang dan malam. Perang, kebencian, kekerasan dan permusuhan merajalela.

Sesaat kemudian terdorong dalam suatu kesepian yang pekat. Malam menjadi sangat gelapnya. Di langit bintang-bintang masih bercanda dengan awan yang mengalir dihanyutkan oleh angin yang lembut.

Sementara itu Ki Tambak Wedi dan Sidanti berlari kencang-kencang meninggalkan padang rumput itu. Mereka benar-benar menyangka bahwa Tohpati sedang memanggil anak buahnya. Apabila demikian, maka mereka pasti akan dibinasakan. Binasa dalam keadaan yang benar-benar mengecewakan.

Apalagi ketika mereka berpaling, mereka melihat tiga buah bayangan mengejarnya, maka segera mereka mempercepat langkah mereka. Sesaat kemudian mereka telah menyelinap kedalam gerumbul-gerumbul liar dan hilang di dalamnya.

Kiai Gringsing yang berlari sambil menunggu murid-muridnya ternyata kehilangan jejak. Karena itu, maka segera mereka berhenti di antara gerumbul-gerumbul perdu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Kiai Gringsing bergumam, “Hilang, mereka hilang di sini”

“Marilah kita cari Kiai” ajak Swandaru.

Swandaru benar-benar tidak melihat bahaya yang dapat menyergapnya apabila mereka mencari. Ki Tambak Wedi akan dapat menerkam muridnya satu persatu. Bagi Kiai Gringsing sendiri, maka bahaya itu tidak akan sampai membinasakannya. Namun bagaimana dengan Swandaru dan Agung Sedayu? Ki Tambak Wedi dan Sidanti dapat berada di setiap kegelapan di balik gerumbul-gerumbul itu. Dengan ujung-ujung pedangnya Sidanti dapat mendahuluinya. Apalagi Ki Tambak Wedi.

Karena itu, maka Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya sambil bergumam, “Sangat berbahaya Swandaru, terutama bagimu dan bagi Agung Sedayu”

“Kalau demikian, lalu apa yang harus kita lakukan Kiai?”

Kiai Gringsing berdiam diri untuk sejenak. Ia tahu pasti bahwa Swandaru menjadi kecewa. Jauh lebih kecewa dari Agung Sedayu, sebab ia kehilangan kesempatan untuk mencoba ilmunya. Sehingga Ki Tanu Metir dengan sangat hati-hati mencoba melunakkan hatinya, “Kita kehilangan lawan Swandaru”

“Tetapi kita tidak mencarinya”

“Disetiap ujung daun-daun perdu itu mungkin sekali kau temukan ujung pedang Sidanti atau ujung-ujung jari Ki Tambak Wedi”

“Tetapi dengan demikian mereka tidak berlaku jantan”

“Mungkin demikian, namun apakah yang dapat kita katakan dengan kejantanan itu apabila lambung kita telah tembus oleh pedangnya. Dan bukankah sangat sulit untuk mencari dua orang saja di antara gerumbul-gerumbul liar itu?. Mungkin mereka tidak menunggu kita dengan ujung pedang, tetapi mereka kini telah hilang menyusur gerumbul-gerulbul itu masuk kedalam hutan. Nah, apakah dengan demikian kita tidak hanya akan membuang waktu?”

“Apakah kita akan kembali ke tempat Tohpati?”

Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Setiap kemungkinan untuk dapat bertemu semua pihak telah hilang. Seandainya Tohpati benar-benar memanggil anak buahnya, maka kita akan masuk kedalam perangkapnya. Seandainya Macan Kepatihan hanya menakut-nakuti Ki Tambak Wedi dan muridnya, maka kini ia pasti sudah pergi”

“Ternyata bukan Ki Tambak Wedi dan Sidanti saja yang menjadi ketakutan Kiai, kita juga menjadi ketakutan dan lari terbirit-birit”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia tahu benar perasaan muridnya yang seorang itu. Swandaru menjadi sangat kecewa, bahwa ia tidak berhasil mendapat tempat untuk mencoba segala macam ilmu yang selama ini dipelajarinya.

Maka berkatalah dukun tua itu, “Swandaru, kita harus mempertimbangkan segala ekmungkinan yang dapat terjadi atas perbuatan kita. Kita bukan orang-orang yang memiliki kekhususan yang berlebih-lebihan. Bukan orang yang tak pernah melihat kelemahan diri. Apabila demikian ngger, maka kita telah mulai dengan langkah yang sangat berbahaya”

“Tetapi kita bukan pengecut-pengecut Kiai. Bukankah kita anak-anak jantan yang pantang menghindari kesulitan?”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya, “Ya, apabila kesulitan itu berada di jalan kita, maka kita tidak boleh menghindar. Kita harus mencoba mengatasinya. Tetapi bukan kita mencari kesulitan apabila kesulitan itu sama sekali tidak akan berarti apa-apa bagi kita”

“Kiai, baik Sidanti maupun Tohpati adalah orang-orang yang sangat berbahaya bagi Sangkal Putung. Kenapa mereka kita lepaskan setelah mereka berada di ujung hidung kita? Apakah dengan demikian kita tidak hanya malas mengatasi kesulitan yang bakal datang?”

Ki Tanu Metir tersenyum. Muridnya yang seorang ini memang keras hati. Dalam kekerasan itu maka apabila mendapat menyaluran yang tepat, maka Swandaru akan dapat menjadi seorang prajurit yang nggegirisi. Tetapi ternyata bahwa akalnya masih belum mampu mempertimbangkan setiap kemungkinan dari tindakannya.

“Swandaru” jawab Ki Tanu Metir, “Sebaiknya mulai saat ini belajarlah menilai diri sendiri secara wajar. Jangan terlalu menghargai kekuatan sendiri berlebih-lebihan. Dengan demikian kita akan mudah terjerumus kedalam tindak yang kurang bijaksana. Coba hitunglah, apa yang dapat kita lakukan bertiga dan apa yang dilakukan oleh Tohpati berdua ditambah dengan laskarnya yang bakal datang. Kita tidak tahu berapa orang, tiga, enam, sepuluh atau lebih. Di antaranya akan datang Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan orang-orang lain yang cukup berbahaya bagi kita. Nah, kita harus memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kalau kita bertempur melawan mereka”

“Jadi kita tidak berani menghadapi mereka itu?”

“Ada bedanya Swandaru” jawab Ki Tanu Metir, “Ada perbedaan antara seorang pengecut dan seorang yang memperhitungkan kekuatan diri. Seseorang dapat saja meninggalkan perkelahian dan pertempuran dalam keadaan tertentu. Kalau kita meninggalkan Tohpati yang memanggil laskarnya, maka kita sama sekali bukan pengecut. Tohpati lah yang mulai. Sebab ia memanggil orang banyak untuk menghadapi kita bertiga. Dan kita tidak mau membunuh diri kita. Seorang pemberani bukanlah seorang yang membabi buta dan membunuh diri sendiri”

Swandaru terdiam sesaat. Ia dapat mengerti keterangan gurunya itu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berguman, “Ya, aku mengerti Kiai”

“Bagus, ingatlah untuk seterusnya” sahut Kiai Gringsing.

Swandaru tidak menjawab. Ia dapat mengerti keterangan gurunya, namun di hati kecilnya tumbuhlah perasaan yang aneh. Seolah-olah ia sedang melarikan diri dari suatu tugas yang harus diselesaikan.

Ketika malam yang hening merambat makin jauh, maka bergumamlah kiai Gringsing, “Kita kembali ke kademangan. Ada sesuatu yang harus kita sampaikan kepada Angger Widura dan Angger Untara. Perjalanan kita kali ini menangkap suatu peristiwa yang tidak kita duga-duga sebelumnya. Sidanti dan Tohpati berdiri berhadapan langsung sebagai lawan”

“Apakah yang penting dari peristiwa ini Kiai?” bertanya Agung Sedayu.

“Mereka tidak bekerja bersama” sahut Kiai Gringsing. “Mungkin hal ini baik bagi Sangkal Putung. Tetapi mungkin buruk pula. Sidanti dapat membentuk suatu gerombolan baru yang akan mempersulit keadaan. Ki Tambak Wedi mempunyai pengaruh yang kuat di lereng Merapi ini”

Kedua murid Ki Tanu Metir itu terdiam. Berbagai persoalan hilir mudik di dalam kepala mereka. Swandaru masih merasa aneh tentang dirinya, sedang Agung Sedayu dapat berpikir lebih tenang dan memandang lebih jauh. Sifat-sifatnya dimasa anak-anaknya ternyata ikut membantu mengekangnya menghindari bentrokan-bentrokan yang sama sekali tidak perlu. Untunglah bahwa setelah ia berhasil memecahkan dinding yang mengungkungnya dalam dunia ketakutan, ia tidak kehilangan keseimbangan. Untunglah bahwa ia berada di dekat kakaknya yang dapat memberinya petunjuk-petunjuk, untunglah bahwa gurunya adalah seorang dukun yang banyak sekali berusaha menyembuhkan orang-orang sakit, bukan sebaliknya membuat orang menjadi sakit.

Sejenak kemudian maka mereka pun meninggalkan padang rumput itu, dan kembali ke kademangan Sangkal Putung.

Pada saat itu Tohpati dan Sumangkar telah pula melangkah pergi. Mereka tidak meneruskan perjalanan mereka ke Sangkal Putung. Tetapi mereka bermaksud kembali ke sarang mereka. Tohpati berjalan dengan wajah tertunduk, sedang di sampingnya Sumangkar berjalan sambil mengamat-amati goloknya. Perlahan-lahan ia bergumam, “Besok aku akan mengalami kesulitan”

“Apa?” Tohpati terkejut mendengar keluhan itu.

Sambil menunjukkan goloknya Sumangkar berkata, “Mata golokku menjadi pecah-pecah. Aku tidak dapat lagi mempergunakannya untuk membelah kayu”

“Oh” Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kalau bukan Sumangkar yang berkata demikian, maka orang itu pasti sudah ditamparnya. Namun tiba-tiba untuk melepaskan kejengkelannya Tohpati itu berkata lantang, “Besok aku akan pergi ke Sangkal Putung untuk yang terakhir kalinya”

Sumangkar lah kini yang terkejut, “Besok? Apakah angger sudah cukup siap?”

Tohpati tidak segera menjawab. Ia melangkah semakin lama menjadi semakin cepat dan semakin panjang, sehingga Sumangkar terpaksa berkali-kali mempercepat langkahnya pula.

Ketika Tohpati tidak segera menjawab pertanyaannya maka sekali lagi Sumangkar bertanya, “Angger, apakah angger besok dapat menyiapkan laskar Jipang untuk menyerang Sangkal Putung?”

“Aku telah siap sejak pecah perang Jipang dan Pajang” geram Tohpati tanpa berpaling.

Sumangkar mengerutkan keningnya. Tiba-tiba terasa sesuatu pada dinding Tohpati itu. Meskipun demikian Sumangkar mencemaskan nasib Macan Kepatihan itu pula sehingga ia berkata, “Mungkin angger Tohpati sendiri telah siap sejak lama. Tetapi apakah laskar angger, dan pimpinan-pimpinan yang lain telah siap pula?”

“Aku tidak peduli apakah mereka sudah siap atau belum. Besok aku akan menyerbu Sangkal Putung. Untuk yang terakhir kalinya”

“Kenapa yang terakhir kalinya ngger?”

“Aku sudah jemu pada peperangan ini. Aku sudah jemu melihat pepati. Aku sudah jemu melihat darah dan penderitaan”

Dada Sumangkar berdesir mendengar jawaban itu. Ia sendiri adalah orang yang jemu menghadapi persoalan yang seakan-akan tidak berpangkal dan tidak berujung. Tetapi ia melihat pada dada Tohpati itu membayang keputus-asaan dan kekecewaan yang meluap-luap. Di samping Widura dan Untara, kini ia mengenal lawan yang baru, yang cukup berbahaya pula baginya. Bukan Sidanti, tetapi Ki Tambak Wedi. Ia tidak akan dapat menggantungkan nasibnya terus menerus kepada Sumangkar, paman gurunya itu. Bahkan kemudian diketahuinya pula bahwa di Sangkal Putung ada orang yang menamakan dirinya Kiai Gringsing yang memiliki ilmu sejajar dengan Ki Tambak Wedi, sehingga orang itu berani menonton perkelahian yang sedang berlangsung di antara mereka. Di antara ilmu yang bersumber dari Kedung Jati melawan ilmu yang bersumber dari lereng Merapi.

Persoalan-persoalan yang tumbuh di dalam perkemahannya, persoalan-persoalan yang tumbuh di sekitarnya telah mendorong Tohpati dalam keadaan yang sulit. Tetapi semuanya itu tidak akan menggoncangkan tekadnya, seandainya tidak ada persoalan-persoalan yang tumbuh di dalam dadanya sendiri. Beberapa hari ia telah diganggu oleh pertimbangan-pertimbangan yang membingungkannya. Pertimbangan-pertimbangan yang tidak pernah dikenalnya sebelumnya. Tak pernah sehelai bulunya  pun yang meremang, apabila ia melihat darah, mayat, mendengar pekik rintih dan tangis. Dadanya sama sekali tidak tergetar melihat pedang yang berlumur darah dan bahkan tubuh yang terpisah-pisah. Namun tiba-tiba kini ia merasa ngeri hanya mengenangkan itu semua. Mengenangkan kembali dan tidak sedang menghayatinya.

“Setan” geramnya.

Sumangkar berjalan terloncat-loncat di sampingnya. Ketika ia mendengar Tohpati menggeram, maka sekali lagi ia bertanya, “Kenapa angger menjadi jemu?”

Sekali lagi Tohpati menggeram, katanya, “Kenapa paman bertanya? Paman adalah salah satu sebab dari kejemuan itu. Paman telah membujuk aku. Paman telah memperlemah tekadku. Dan paman pasti akan menyetujui pendapatku. Peperangan ini harus segera berakhir. Pajang atau Jipang yang akan hancur”

Dada Sumangkar benar-benar bergetar mendengar jawaban itu. Sehingga cepat-cepat ia menjawab, “Angger telah memilih jalan yang sama sekali tidak tepat”

Langkah Tohpati terhenti mendengar perkataan Sumangkar itu. Dengan tajamnya ia memandang wajah orang tua itu dengan sinar kemarahan yang menyala-nyala, “Apakah yang kau katakan paman?”

“Angger mencoba menempuh jalan yang salah”

“Kenapa?”

“Angger telah meninggalkan segenap perhitungan seorang senapati”

“Apa gunanya perhitungan-perhitungan itu lagi? Bukankah paman juga menghendaki supaya kami cepat hancur dan peperangan berhenti?”

“Tidak”

“Paman” geram Tohpati, “Paman sudah tua. Dan perkataan paman sama sekali tidak dapat didengar dengan pasti. Apa yang paman kehendaki sebetulnya? Jangan mencla-mencle”

“Tidak, aku tetap pada pendirianku. Aku menghendaki peperangan segera berakhir. Tetapi aku tidak menghendaki laskar Jipang membunuh dirinya”

“Apa pedulimu paman. Hidupku adalah wewenangku. Kalau besok aku menyerbu Sangkal Putung sebagai sulung menjelang api, dan kemudian aku akan binasa karenanya, namun peperangan akan berhenti, bukankah paman akan tertawa pula karenanya. Paman akan tertawa melihat mayat Tohpati dipenggal kepalanya dan diseret sepanjang jalan raya Pajang untuk dipertontonkan kepada rakyat. Dan paman akan tertawa melihat Untara mendapat hadiah serupa dengan yang diterima oleh Pemanahan dan Penjawi?”

“Angger salah terka. Aku tidak ingin melihat angger membunuh diri bersama seluruh laskar”

“Apa pedulimu? Apa pedulimu. He? Nyawa ini adalah nyawaku. Hidup ini adalah hidupku sendiri”

“Aku tidak keberatan kalau Raden membunuh diri dengan cara itu. Tetapi jangan membinasakan laskar angger itu. Jangan membawa mereka terjun kedalam lembah kengerian itu”

“Diam, diam kau tua bangka” teriak Tohpati dengan marahnya sehingga tongkatnya terayun-ayun menunjuk keakrah kepala Sumangkar. Tetapi kini Sumangkar tidak meletakkan goloknya, tidak menyerahkan kepalanya sambil ngapurancang. Tetapi orang tua itu tiba-tiba meloncat surut sambil mempersiapkan dirinya. Benar-benar bukan Sumangkar juru masak yang malas, tetapi Sumangkar yang telah berhasil mengimbangi kekuatan hantu lereng Merapi.

Mata Tohpati terbelalak karenanya, seakan-akan ingin meloncat dari pelupuknya. Betapa dadanya menjadi bergelora seolah-olah akan meledak melihat sikap Sumangkar itu. Melihat Sumangkar menyilangkan goloknya di muka dadanya dan siap menghadapi setiap kemungkinan.

Sejenak kemudian tubuhnya menjadi gemetar karena marahnya. Tongkatnya yang putih berkilauan itu pun bergetar dalam genggaman tangannya. Sambil menunjuk si dengan tongkatnya itu Macan Kepatihan menbentak, “He, Sumangkar, apakah kau akan berani melawan Macan Kepatihan?”

“Hem” Sumangkar berdesah, “Angger Macan Kepatihan, meskipun angger bernyawa rangkap berkadang dewa-dewa di langit, namun kau tidak akan mampu melawan Sumangkar”

“Persetan dengan kesombonganmu itu tetapi kau telah berbuat kesalahan terhadap pemimpinmu di sini”

“Apa salahku? Aku mencoba mengatakan apa yang baik bagiku. Bagi pendirianku. Apakah itu salah? Kalau kau tidak mau mendengarkan nasehatku, jangan kau dengar. Berbuatlah sesuka hatimu. Kau bukan anakku, bukan cucuku. Kau bagiku tidak lebih dari murid saudara seperguruanku. Apakah kau akan mati pancang, ataukah mati digilas guntur dari langit, aku tidak akan kehilangan. Tetapi sebagai orang tua aku ingin melihat, kalau kau mati, matilah dengan hormat. Kalau kau jemu melihat penderitaan, jangan kau jerumuskan anak buahmu dalam penderitaan. Kalau kau jemu melihat pepati, jangan kau bawa anak buahmu kedalam lembah kematian. Kau dapat berbuat banyak, namun orang akan menilai apa yang telah kau lakukan. Apalagi kalau kau sudah memutuskan untuk pergi ke Sangkal Putung yang terakhir kalinya. Maka nilaimu sebagai seorang pemimpin akan terletak pada saat-saat yang demikian itu”

Tohpati menjadi seolah-olah terbungkam. Ia tidak mampu menjawab kata-kata Sumangkar itu. Dan bahkan kepalanya pun terkulai tunduk menghunjam ke tanah di muka kakinya. Tongkatnya pun kemudian tertunduk dengan lemahnya.

Terdengar Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Maafkan aku paman”

Sesaat mereka terhentak kedalam kesenyapan. Angin malam yang lembut mengusap mahkota dedaunan. Suaranya yang gemerisik seolah-olah suara tembang yang sangat rawan dikejauhan.

Dalam keheningan malam itu terdengar suara Tohpati berat, “Maafkan aku paman. Ternyata aku telah kehilangan akal”

“Jangan menyesal ngger” sahut Sumangkar sambil mendekati Tohpati yang masih berdiri di tempatnya. “Aku hanya ingin memberimu peringatan. Rupa-rupanya dengan cara yang wajar, kau tidak dapat mendengar kata-kataku. Mungkin dinding hatimu yang kisruh itu hampir-hampir telah tertutup rapat oleh kebingungan dan kekecewaan, sehingga aku harus menjebolnya dengan sedikit permainan yang agak kasar”

“Tidak paman” sahut Tohpati, “Aku berterima kasih kepada paman. Paman telah menarik aku kembali pada tempat yang sewajarnya bagiku. Aku akan dapat tegak kembali sebagai seorang kesatria dari Kepatihan Jipang. Aku bukan sebangsa cecurut yang kerdil menghadapi kesulitan. Terima kasih paman. Akan aku pikirkan nasehat paman. Aku akan kembali ke Sangkal Putung untuk yang terakhir kalinya, tetapi tidak besok. Aku akan berbicara dengan Sanakeling”

Sementara itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Bagus. Angger adalah seorang pemimpin. Angger tidak boleh kehilangan kebeningan pikiran. Kepadamu tergantung beratus-ratus nyawa anak buahmu. Sedang pada beratus-ratus nyawa itu tergantung beribu-ribu jiwa keluarganya”

Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berkata, “Marilah kita kembali keperkemahan”

Sumangkar mengangguk kecil, “Marilah” katanya.

Sepanjang jalan kembali itu mereka sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Mereka terbenam dalam kesibukan pikiran masing-masing.

Begitu sampai ke baraknya, segera Tohpati berteriak kepada seseorang yang berada di samping barak itu untuk berjaga-jaga, “He, panggil Sanakeling kemari”

Orang itu mengangguk hormat sambil menjawab, “Baik Raden”

Sepeninggal orang itu maka berkatalah Sumangkar, “Aku akan kembali ke barakku Raden. Silakan Raden membicarakan persoalan ini dengan para pemimpin laskar Jipang”

“Tidak paman” sahut Tohpati, “Paman tetap di sini”

Sumangkar menggeleng lemah, “Aku hanya akan mengganggu saja ngger. Mungkin aku akan menambah persoalan yang akan angger bicarakan. Mungkin aku tidak dapat menahan mulutku, apabila aku mendengar persoalan-persoalan yang aku tidak sependapat. Karena itu, aku tidak akan mencampuri persoalan-persoalan para pemimpin. Aku hanya akan tunduk pada setiap perintah. Mudah-mudahan angger tetap pada kejernihan hati”

“Nasehat paman sangat kami perlukan”

“Tetapi aku adalah orang tua ngger. Aku sudah tidak dapat menyesuaikan diri lagi dengan anak-anak muda seperti angger Sanakeling, angger Alap-alap Jalatunda dan beberapa orang yang lain. Tetapi aku akan menjalankan setiap perintah”

Sumangkar benar-benar tidak mau lagi tinggal dibarak Tohpati. Karena itu maka Macan Kepatihan terpaksa membiarkannya pergi meninggalkannya dan berjalan tersuruk-suruk di antara beberapa barak kembali menuju kebaraknya sendiri. Sebuah barak doyong beratap daun-daun ilalang, bertiang bambu muda dan berdinding anyaman bambu pula.

Di dalam barak itu ditemuinya beberapa orang tidur mendengkur di atas tumpukan ilalang kering. Ketika salah seorang membuka matanya terdengar suaranya parau, “Dari mana kau, paman Sumangkar?”

“Berjalan-jalan” sahut Sumangkar

“Tidurlah, hari telah jauh malam, bahkan hampir menjelang pagi. Besok Kau terlambat bangun. Kenapa golok itu kau bawa kemari?”

“Golokku rusak”

“Kenapa?”

“Tulang-tulang harimau yang keras telah memecahkan dibagian tajamnya”

Orang yang terbangun itu menguap sekali, lalu sahutnya, “Apakah kau mendapat seekor harimau?”

“Hanya tulang-tulangnya” sahut Sumangkar.

“Huh” orang itu mencibirkan bibirnya. “Jangan membual, sekarang tidurlah”

“Aku belum mengantuk”

Orang itu, yang mengenal Sumangkar tidak lebih dari seorang juru masak yang malas mengumpat. Katanya, “Pemalas tua. Besok kau pasti akan terlambat bangun. Kalau kau tidak dapat menyiapkan makan kami, maka kepalamu akan aku gunduli”

“Bukankah tidak aku sendiri juru masak di perkemahan ini?” Bantah Sumangkar.

“Tetapi kaulah yang paling malas di antara mereka. Dan kemalasanmu akan dapat menjalar ke segenap orang.”

“Bukankah itu bukan salahku.”

“Diam. Sekarang kau tidur. Kalau tidak aku sumbat mulutmu dengan ilalang.”

Sumangkar tidak menjawab. Segera ia merebahkan dirinya di atas tumpukan ilalang itu pula.

“Nah. Begitulah.” Gumam orang yang membentak-bentaknya.

Sumangkar hanya tersenyum, “Biarlah ia mendapat kepuasan” katanya dalam hati, “kasian orang itu. Jarang-jarang ia menemukan kepuasan seperti ini. Apa salahnya aku menyenangkan hatinya?”

Lamat-lamat masih terdengar orang itu berkata, “Kalau kau tidak mau menuruti perintahku, maka kau benar-benar akan menyesal seumur hidupmu.”

Sumangkar masih saja berdiam diri. Dan orang itu pun masih saja bergumam untuk melepaskan kepuasannya. Ia mengumpat Sumangkar sepuas-puasnya. Akhirnya orang itu pun terdiam. Ketika Sumangkar mengangkat kepalanya, dilihatnya orang itu tidur mendekur menikmati mimpi yang indah.

“Kasihan” desis Sumangkar, “Anak itu tidak pernah mendapat kesempatan untuk membentak-bentak orang lain kecuali aku dan para juru masak. Para pemimpin lebih banyak membentak-bentaknya daripada memberinya hati.”

Tetapi sejenak kemudian Sumangkar itu pun benar-benar merasa sangat penat. Matanya mulai diganggu oleh kantuk yang amat sangat, sehingga sejenak kemudian orang tua itu pun tertidur pula di atas batang-batang ilalang kering.

Dalam pada itu, penjaga yang mendapat perintah dari Tohpati untuk memanggil Sanakeling telah melakukan pekerjaannya. Betapa Sanakeling mengumpat tidak habis-habisnya. Matanya yang seolah-olah melekat itu benar-benar mengganggunya.

“Kenapa tidak menunggu sampai esok” keluhnya. Tetapi ia tidak dapat membantah panggilan itu. Sanakeling tahu, bahwa agaknya Macan Kepatihan sedang diganggu oleh perasaan yang tidak menyenangkannya. Sehingga Alap-alap Jalatunda mengalami perlakuan yang sedemikian buruknya. Karena itu, maka betapapun juga, Sanakeling berjalan pula ke barak Tohpati.

Sedangkan Tohpati hampir tidak sabar menunggu kedatangan Sanakeling. Mondar-mandir ia berjalan di dalam ruang yang sempit itu. Ketika itu ia mendengar langkah seorang di luar pintu, maka segera ia menyapa, “Kau Sanakeling”

“Ya Raden”

“Duduklah”

Sanakeling melangkah memasuki ruangan yang diterangi oleh pelita yang samar. Meskipun demikian, betapa terkejutnya Sanakeling melihat tubuh Tohpati. Di beberapa tempat dilihatnya goresan-goresan dan darah yang telah kering.

“Kenapa luka itu?” bertanya Sanakeling dengan serta-merta.

Macan Kepatihan menggeram. Dipandanginya goresan-goresan itu. Tetapi sama sekali luka-luka itu tak terasa lagi.

“Kakang bertempur?” bertanya Sanakeling.

“Ya” sahut Tohpati pendek.

“Dengan orang-orang Sangkal Putung?”

Tohpati menggeleng, “Tidak” sahutnya, “Dengan Sidanti”

“Sidanti?” ulang Sanakeling. “Jadi benar dengan orang Sangkal Putung”

“Tidak” Macan Kepatihan mencoba menjelaskan, “Sidanti sudah tidak lagi di Sangkal Putung. Agaknya ada pertentangan di antara mereka”

“Oh” Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tetapi kenapa kakang bertempur melawan Sidanti itu? Apakah dengan demikian kakang tidak dapat mengambil keuntungan dari pertentangan itu?”

“Sidanti telah berkhianat atas kesatuan dan kesetiaannya. Dimana pun ia berada maka ia akan berbuat hal yang serupa. Anak itu memang ingin menggabungkan kekuatannya dengan kita. Namun aku menolaknya”

Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tersirat pula kekecewaan hatinya. Segera ia mengetahui apa yang agaknya terjadi. Tohpati dan Sidanti pasti telah bertempur. Tetapi luka-luka itu benar-benar mengherankannya, sehingga ia bertanya, “Apakah Sidanti seorang diri?”

“Tidak, bersama gurunya”

“Oh” Sanakeling mengangguk-angguk kembali. Ia kini dapat membayangkan semakin jelas perkelahian yang terjadi antara Tohpati dan Sumangkar melawan Sidanti dan Ki Tambak Wedi.

Namun ia masih juga diliputi oleh perasaan kecewa. Kalau saja Sidanti dapat berada di pihaknya, maka orang itu akan dapat menambah banyak kekuatan pada kesatuan Jipang. Sudah pasti bahwa Ki Tambak Wedi akan membantunya pula. Mungkin pengaruh yang dimilikinya atas orang-orang di lereng Merapi akan menambah jumlah kekuatan mereka. Tetapi ia tidak berani menanyakannya kepada Tohpati. Besok atau kapan saja apabila ada kesempatan ia ingin menemui Sidanti dan membawanya dalam lingkungan mereka. Namun di antara kekecewaan yang merayapi hatinya, Sanakeling menjadi heran pula. Agaknya Sumangkar yang tua itu masih saja memiliki ketangguhan yang dapat dibanggakan, meskipun selama ini ia lebih senang berada di muka perapian menanak nasi.

Sanakeling itu pun kemudian duduk di sebuah bale-bale bambu. Ia masih memandangi tubuh Tohpati yang tergores oleh ujung pedang di beberapa tempat.

“Sidanti menjadi semakin maju” desisnya, “Agaknya gurunya selalu mengolahnya”

Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau demikian maka Sidanti akan lebih baik baginya.

Namun seolah-olah Tohpati mengetahui apa yang tersirat di dalam kepala Sanakeling itu. Maka katanya, “Tetapi Betapapun baiknya anak itu, namun ia tidak dapat kita jadikan kawan. Suatu ketika ia pasti akan menerkam kita sendiri”

Sanakeling tidak menjawab. Ia mengangguk lemah.

“Nah, lupakanlah Sidanti dan Ki Tambak Wedi itu” berkata Tohpati tiba-tiba. “Kewajiban kita adalah menyerang Sangkal Putung. Bagaimanamun juga kepergian Sidanti pasti akan mengurangi kekuatan Sangkal Putung. Aku tidak tahu, apakah laskar Sangkal Putung terpecah atau tidak. Syukurlah kalau ada sebagian dari mereka pergi mengikuti Sidanti, tetapi ukuran kita laskar Sangkal Putung masih utuh”

“Ya” sahut Sanakeling. Ia menjadi gembira mendengar pendapat Macan Kepatihan itu. Laskarnya sudah terlalu lama menunggu sehingga ia takut apabila akan timbul kejemuan dikalangan mereka. Kejemuan itu sudah pasti akan sangat membahayakan. Mereka akan dapat berbuat aneh-aneh untuk mengisi kekosongan waktu mereka. Dan kadang-kadang akan sangat merugikan. Kadang-kadang mereka berpencaran kedesa-desa dan dengan demikian maka kadang-kadang ada di antara mereka yang dapat ditangkap oleh laskar Pajang.

“Bagaimana pendapatmu?” bertanya Macan Kepatihan itu kemudian.

“Sangat menarik. Aku sudah lama mengharap keputusan itu. Agaknya kakang selalu ragu-ragu. Sekarang apabila kakang telah menemukan keputusan, maka keputusan itu harus segera dilaksanakan. Tidak ditunda-tunda lagi. Aku juga sudah membuat perintah untuk bersiap. Tetapi karena aku ragu-ragu bahwa kakang akan menundanya lagi, maka perintahku belum perintah terakhir, belum perintah kepastian”

“Sekarang aku sudah pasti. Kita harus secepatnya pergi ke Sangkal Putung, bagaimana kalau besok?”

“He?” mata Sanakeling terbelak. Namun kemudian ia tersenyum, “Tidak mungkin. Besok aku baru mengambil keputusan tentang perintah yang akan aku berikan. Besok perintah itu pula baru akan di jalankan. Besok malam secepat-cepatnya laskar itu baru siap. Sedang kalau ada beberapa kelambatan maka laskar itu baru akan siap lusa. Sehingga sehari sesudah itu kita baru akan dapat mulai dengan setiap rencana penyerangan yang baik. Bukankah kakang telah beberapa kali mengalami kegagalan? Apakah kakang Raden Tohpati, harus gagal lagi nanti?”

“Tidak. Kali ini harus kali yang terakhir”

Sanakeling tertawa. Sahutnya, “Bagus. Karena itu persiapan kita harus benar-benar masak. Bukankah kita harus mendapatkan Sangkal Putung sebagai tempat perbekalan? Kalau kita menduduki Sangkal Putung, maka kita harus dapat memanfaatkannya. Lumbung kademangan itu harus dapat segera kita singkirkan. Kita duduki tempat itu sejauh dapat kita pertahankan. Meskipun kakang akan melepaskan beberapa kepentingan di daerah selatan ini kelak, namun apa yang ada di daerah yang subur dan kaya itu harus benar-benar bermanfaat bagi kita. Korban telah banyak jatuh untuk merebut daerah itu”

Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayanglahh apa saja yang pernah dilakukan untuk merebut daerah ini. Bahkan akhirnya dirinya sendirilah yang memimpin pasukan Jipang untuk menguasai daerah yang kaya. Kaya akan hasil bumi, sehingga lumbung-lumbung Sangkal Putung penuh dengan padi. Dan kaya akan berbagai macam benda-benda berharga. Penduduk Sangkal Putung terkenal sebagai penduduk yang senang sekali menyimpan barang-barang berharga. Perhiasan, ternak dan benda-benda lainnya.

Tetapi, meskipun ia sendiri yang memimpin laskar Jipang di daerah Sangkal Putung, namun ia belum berhasil untuk merebutnya. Belum berhasil untuk menguasai kekayaan yang tersimpan di dalamnya. Dan Pajang pun agaknya tidak mau melepaskan daerah itu, sehingga di tempatkannya Untara untuk mencoba melindunginya.

Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Sejak Arya Jipang dan kemudian Patih Mantahun terbunuh dipeperangan, maka korban masih saja berjatuhan. Satu demi satu dan bahkan sepuluh dua puluh sekaligus. Peperangan masih saja terjadi dimana-mana. Gerombolan kecil-kecil dari sisa-sisa laskar Jipang masih bergerak terus, meskipun demikian mereka tidak lebih dari gerombolan-gerombolan perampok dan penyamun. Tetapi karena mereka masih merasa terikat oleh seorang pemimpin yang mereka segani, maka mereka masih belum melepaskan diri dari kelaskaran mereka. Kesetiaan mereka kepada pemimpin mereka masih mengikat mereka untuk merasa wajib melakukan perang untuk seterusnya. Dan karena itulah maka dimana-mana masih timbul pepati.

Sedang pemimpin itu adalah dirinya sendiri, Tohpati

Tohpati menggigit bibirnya. Ia berterima kasih kepada kesetiaan itu. Ia merasa betapa dirinya mendapat kehormatan untuk mengikat sekian banyak manusia dalam satu ikatan. Tetapi ia merasa bahwa dirinyalah sumber dari setiap akibat dari kesetiaan itu. Akibat yang kadang-kadang tidak dikehendakinya.

Ruangan itu untuk sejenak dikuasai oleh kesepian. Masing-masing terbenam dalam angan-angan sendiri. Angan-angan yang bertolak dari gejolak perasaan yang berbeda-beda. Sanakeling masih dikuasai oleh nafsu untuk memiliki segenap kekayaan yang ada di Sangkal Putung. Kekayaan yang mungkin masih akan dapat membantu gerakan-gerakan yang mereka lakukan. Dan kekayaan yang mungkin dapat dimilikinya. Bahkan mungkin untuk dirinya sendiri. Mungkin akan ditemuinya perhiasan-perhiasan yang sangat berharga. Gelang, kalung atau pendok emas tretes berlian. Atau apa saja yang dapat dimilikinya sendiri.

Sesaat mereka masih tetap membisu. Sanakeling masih saja berangan-angan tentang kekayaan yang akan dapat dirampasnya dari Sangkal Putung, sedang Tohpati berjejak pada pendapat yang berbeda. Pendapat seorang pemimpin yang melihat kenyataan-kenyataan dari laskar yang dipimpinnya, perkembangan keadaan dan perhitungan-perhitungan atas masa-masa yang akan datang.

Malam yang hening itu kemudian dipecahkan oleh suara Sanakeling penuh nafsu, “Kakang, baiklah aku kembali ke barakku. Aku berjanji bahwa orang-orangku dan orang-orang baru yang telah aku panggil dari daerah utara akan merupakan kekuatan yang dapat dibanggakan. Sangkal Putung kini ternyata telah berkurang kekuatan, sedang kekuatan kita bertambah. Menurut perhitunganku maka kekuatan yang telah ada di sini ditambah dengan kekuatan-keuatan baru, akan dapat melanda Sangkal Putung dan menghancurkannya. Laskar dari utara itu kelak akan kembali dengan perbekalan untuk mereka, sedang laskar di daerah ini pun akan dapat memperkuat diri dengan semua yang akan kita dapatkan dari Sangkal Putung”

Tohpati mengerutkan keningnya. Ia tidak menanggapi angan-angan Sanakeling itu, tetapi ia berkata, “Kembalilah. Aku tidak dapat menunggu lebih lama dari waktu yang kau katakan”

Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi timbullah keheranannya atas sikap Tohpati itu. Beberapa kali ia menunda penyerangan sehingga laskarnya tercerai berai kembali, namun tiba-tiba kini Macan Kepatihan itu menjadi sangat tergesa-gesa.

“Mungkin Raden Tohpati melihat kelemahan Sangkal Putung kini” pikirnya.

Sanakeling itu kemudian berdiri. Dilihatnya halaman barak itu. Gelapnya masih menghitam.

“Aku akan kembali” katanya.

“Kembalilah. Ingat-ingat perintahku”

“Baik” sahut Sanakeling sambil melangkah meninggalkan ruangan itu. Di sepanjang jarak yang ditempuhnya, bahkan sampai ke tempatnya dan ketika ia telah membaringkan dirinya, dirasakannya beberapa keanehan pada pemimpinnya itu. Ia melihat wajahnya yang murung, dan kadang-kadang perbuatan-perbuatan yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya. Dalam keseluruhannya, tampaklah Tohpati menjadi sangat gelisah. Tetapi Sanakeling tidak mempedulikannya. Mungkin Tohpati sedang diganggu oleh beberapa persoalan yang bersifat pribadi. Mungkin ia kesal pada kegagalan-kegagalan yang dialaminya, atau mungkin Tohpati sedang membuat rencana-rencana baru yang belum dimengertinya.

Pada hari berikutnya, maka tampaklah kesibukan di perkemahan itu. Beberapa orang berjalan hilir mudik dari satu barak kebarak yang lain, sedang beberapa orang lagi pergi meninggalkan perkemahan itu di atas punggung-punggung kuda. Mereka harus pergi berpencaran mencari tempat-tempat yang tersebar dari kawan-kawan mereka. Gerombolan-gerombolan yang seolah-olah liar dan melakukan berbagai perbuatan yang kadang-kadang benar-benar kasar dan menakutkan. Perampokan, perampasan dan sebagainya. Kadang-kadang hanya sekedar untuk memberikan kesan bahwa keadaan sedemikian buruknya, tetapi kadang-kadang mereka benar-benar melakukannya untuk memperpanjang hidup mereka.

Dalam pada itu Sangkal Putung pun telah disibukkan pula oleh persoalan yang dibawa Kiai Gringsing beserta murid-muridnya. Untara dan Widura yang mendengarkan cerita Ki Tanu Metir menjadi berlega hati, bahwa kekuatan Sidanti pada saat yang pendek masih belum mungkin bergabung dengan kekuatan Tohpati. Meskipun demikian di saat-saat yang akan datang, mereka merasa, bahwa pekerjaan mereka akan menjadi semakin berat. Apakah Sidanti dan Tohpati menemukan titik-titik persamaan dan kemudian dapat bekerja sama, apakah Sidanti dengan Ki Tambak Wedi akan menyusun kekuatan baru untuk menggagalkan semua rencananya. Kalau demikian, maka Sidanti pasti hanya akan sekedar membalas dendam, dan mungkin setelah usaha Untara dan Widura gagal di Sangkal Putung, Sidanti akan menjual jasa melenyapkan Tohpati.

“Tetapi kedudukan Tohpati cukup kuat ngger” berkata Ki Tanu Metir kemudian.

Untara, Widura dan bahkan Ki Demang Sangkal Putung yang ikut pula mendengarkan segenap cerita itu mengerutkan kening-kening mereka. Terdengarlah kemudian Untara bertanya, “Bukankah kita sudah mengetahui kekuatan mereka?”

“Ternyata ada yang belum angger ketahui”

“Apakah itu?” bertanya Widura.

Ki Tanu Metir memandang mereka satu demi satu. Kemudian katanya, “Murid kedua dari Kedung Jati ternyata ada di antara mereka”

“Siapa?” desak Untara

“Angger pasti sudah pernah dengar namanya, Sumangkar”

“Sumangkar” Untara dan Widura hampir bersamaan mengulang nama itu.

“Ya” berkata Untara seterusnya, “Aku pernah mendengar nama itu, dan pernah pula melihat dan bertemu dengan orang itu di Kepatihan Jipang. Bukankah paman Sumangkar itu adik seperguruan paman Mantahun?”

“Ya” sahut Kiai Gringsing.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Yang terdengar kemudian adalah suara Widura, “Nama itu cukup mengejutkan hampir seperti nama patih Matahun sendiri. Tetapi kenapa selama ini orang itu tidak pernah hadir di dalam setiap pertempuran? Bukankah dengan tenaganya maka Sangkal Putung pasti sudah dapat dipatahkan sejak serangan yang pertama?”

Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya. “Entahlah. Aku tidak tahu. Apakah Sumangkar belum lama berada di antara mereka, apakah ada sebab-sebab lain”

Namun ternyata berita itu benar-benar telah menyebabkan Untara dan Widura berpikir keras. Kalau pada saat-saat mendatang orang itu hadir pula dalam pertempuran, maka keadaan Sangkal Putung pasti akan sangat berbahaya. Tetapi tiba-tiba Untara tersenyum, katanya, “Sumangkar benar-benar berbahaya bagi kita di sini seandainya ia ikut bertempur bersama Tohpati, kecuali Kiai Gringsing bersedia menolong kami”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Untara itu. Namun kemudian ia tersenyum sambil menjawab, “Hem, apakah aku harus melibatkan diriku langsung dalam pertengkaran antara Pajang dan Jipang?”

“Adalah menjadi kewajiban kita bersama untuk berbuat demikian Kiai” sahut Untara, “Seperti Sumangkar merasa wajib pula untuk melindungi Tohpati”

“Ya, angger benar. Angger tahu pasti pendirian Sumangkar dalam pertentangan antara Jipang dan Pajang. Sumangkar adalah orang kedua setelah Mantahun dalam perguruannya, sedang orang kedua setelah Mantahun dalam tata kelaskaran Jipang adalah Tohpati itu sendiri. Sehingga mau tidak mau, maka Sumangkar adalah orang yang langsung berkepentingan atas Tohpati itu. Baik Tohpati sebagai pemimpinnya maupun Tohpati sebagai murid saudara seperguruannya”

Mendengar jawaban itu, Untara mengerutkan keningnya. Widura yang duduk di samping Untara mengangguk-anggukkan kepalanya sambil memijit-mijit betisnya.

“Ya” desah Untara, “Kiai benar. Seharusnya aku tidak melibatkan Kiai dalam pertentangan yang belum pasti Kiai setujui. Sebenarnyalah bahwa aku belum tahu pasti pendirian Kiai dalam pertentangan antara Pajang dan Jipang”

Kiai Gringsing itu pun tertawa. Sahutnya, “Jangan menangkap kata-kataku itu terlalu tajam ngger. Meskipun aku termasuk orang yang menjadi bersedih hati melihat pertentangan yang berlarut-larut antara orang-orang Pajang dan orang-orang Jipang, namun aku melihat kenyataan-kenyataan yang kini berlangsung. Aku pun tidak akan dapat melihat kelaliman dan kekerasan berlangsung terus-menerus. Aku tidak menutup mata, bahwa laskar Jipang yang putus asa itu menjadi liar dan berbuat banyak hal yang terkutuk. Karena itu aku pun tidak akan mengingkari tugasku untuk membantu mencegah perbuatan-perbuatan itu”

Tiba-tiba wajah Untara dan Widura menjadi cerah. Meskipun Kiai Gringsing tidak menjanjikan sesuatu dengan jelas, namun apa yang dikatakannya adalah jaminan, bahwa apabila Sumangkar turut campur pula dalam pertempuran yang akan datang, dalam setiap pertempuran yang pasti akan berlangsung lagi, maka Kiai Gringsing akan dapat menjadi lawannya yang cukup berbahaya bagi murid kedua setelah Mantahun dari perguruan Kedung Jati itu.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 010)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-09/

kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s