AM_MS-07


Serial ARYA MANGGADA

Episode V: MATAHARI SENJA

JILID 7

kembali | TAMAT

AMMS-07PARUNG Landung dan Paron Waja telah diberinya berbagai macam petunjuk sehingga usaha membakar pintu gerbang itu tidak akan gagal. Bahkan air tidak akan dapat menolong pintu gerbang itu.

Kiai Narawangsa yang telah mendapat laporan Gunasraba bahwa segala sesuatunya sudah siap, telah memberikan isyarat, bahwa mereka akan segera menyerang padepokan itu.

“Besok sehari kita mempersiapkan segala-galanya. Besok lusa, di dini hari, kita akan mulai membakar pintu gerbang. Menurut perhitungan, saat matahari naik, pintu gerbang dan pintu-pintu butulan tentu sudah menjadi abu.”

Perintah itu pun segera menjalar ke setiap telinga. Mereka yang sudah merasa jemu berkeliaran di hutan itu justru menjadi gembira. Saat-saat berburu binatang sudah berakhir. Mereka kemudian akan berburu lawan di padepokan Kiai Banyu Bening.

“Kita sudah terlalu lama tidak membasahi senjata kita,” berkata seorang yang berkepala botak, “mudah-mudahan orang-orang padepokan itu tanggap untuk bermain bersama.”

“Cantrik-cantrik padepokan pada umumnya juga memiliki kemampuan olah kanuragan.”

“Justru itulah yang rnenarik,” jawab orang botak itu.

Keputusan Kiai Narawangsa itu sesaat membuat wajah Nyai Wiji Sari menjadi cerah. Pertempuran akan membuatnya lupa pada kegelisahannya. Perang tidak akan memberinya kesempatan merenungi dirinya sendiri.

Tetapi malam-malam menjelang gerakan yang dilakukan oleh Kiai Narawangsa itu telah dilihat oleh Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi. Dengan sadar, bahwa diantara orang-orang yang berada di hutan itu terdapat orang-orang berilmu tinggi, Ki Ajar Pangukan, Ki Pandi berusaha mengamati kesibukan mereka.

Pada malam menjelang serangan yang akan dilakukan itu, Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi masih belum mengetahui, cara apakah yang akan dipergunakan untuk menghancurkan pintu gerbang.

Kiai Narawangsa dan Gunasraba cukup berhati-hati. Mereka mempersiapkan alat-alat dan bahan yang akan mereka pergunakan untuk membakar pintu gerbang itu ditengah-tengah lingkungan perkemahan mereka, sehingga Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi tidak dapat melihatnya.

Namun yang mereka ketahui, bahwa serangan itu akan berlangsung sejak dini hari.

Karena itu, maka kedua orang itu pun segera kembali ke padepokan untuk memberikan laporan kepada Ki Lemah Teles dan Ki Warana.

Akhirnya saat yang mendebarkan itu pun datang. Hari terakhir yang disediakan untuk mempersiapkan segala-galanya telah dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh para pengikut Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Sehingga dengan demikian, maka segala persiapan tidak ada lagi yang tercecer.

Di malam terakhir itu, sebagian dari para pengikut sempat beristirahat sebaik-baiknya. Mereka sempat tidur nyenyak dan bahkan mendekur keras. Hanya beberapa orang yang bertugas sajalah yang sibuk mempersiapkan segala-galanya. Namun demikian, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari berusaha untuk dapat memberi kesempatan kepada orang-orangnya untuk bergantian beristirahat.

Namun lewat tengah malam, maka semua orang telah dibangunkan. Mereka harus mulai mempersiapkan diri sebaik-baiknya

Mereka harus mengamati senjata mereka masing-masing, agar senjata mereka tidak mengecewakan jika mereka sudah berada di medan pertempuran.

“Semua orang harus bersiap untuk melindungi diri sendiri dari hujan anak panah,” berkata Kiai Narawangsa, “yang tidak berperisai supaya bersiap sebaik-baiknya agar tidak mati sebelum memasuki pintu gerbang padepokan.”

Demikianlah, setelah segala sesuatunya bersiap, maka sebuah iring-iringan yang cukup besar telah mulai bergerak menuju ke padepokan. Mereka juga sudah makan sekenyang-kenyangnya agar mereka tidak kehabisan tenaga disaat-saat mereka bertempur nanti di padepokan.

Sementara itu. orang-orang yang ditugaskan khusus telah menyediakan makanan pula yang dapat dimakan kapan saja menurut kebutuhan.

Diantara iring-iringan itu terdapat pula beberapa ekor kuda beban yang mengangkut bahan-bahan yang akan dipergunakan untuk membakar pintu padepokan.

Pada saat yang demikian Gunasraba telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Bersama beberapa orang yang telah terlatih dan berpengalaman, maka Gunasraba duduk diatas punggung kuda masing-masing. Beberapa orang diantaranya memegangi kendali kuda-kuda yang menjadi kuda beban.

Pada saat yang ditentukan, maka beberapa orang berkuda itu pun dengan cepat telah berpacu menuju ke pintu gerbang utama dan yang lain ke pintu butulan sebagaimana yang pernah mereka amati sebelumnya.

Semuanya berjalan dengan cepat. Para petugas yang berjaga-jaga diatas panggungan melihat beberapa ekor kuda muncul dari kegelapan. Kuda-kuda itu berlari kencang menuju ke padepokan. Bahkan ada diantaranya kuda-kuda yang tidak berpenumpang.

Mula-mula para petugas itu mengira bahwa orang-orang yang datang berkuda itu, sebagaimana pernah mereka lakukan, hanya akan mengamati keadaan. Tetapi kuda-kuda itu berlari langsung mendekati pintu gerbang utama. Yang lain memencar menuju ke pintu-pintu gerbang butulan.

Para petugas yang sedang berjaga-jaga itu terlambat mengambil sikap. Ketika beberapa orang menyadari keadaan itu, mereka berusaha untuk mencegahnya dengan anak panah. Tetapi para petugas itu memang terlambat memberikan tanggapan terhadap langkah-langkah yang tidak terduga itu.

Orang-orang beikuda itu pun segera telah berada di pintu-pintu gerbang. Anak panah yang diluncurkan dari panggungan di-belakang dinding memang agak sulit untuk mencapai orang-orang yang berdiri melekat pintu gerbang yang diatasnya terdapat atap ijuk.

Karena itu, maka dua orang diantara mereka pun segera berlari-lari turun untuk memberikan laporan kepada Kiai Lemah Teles yang berada di pendapa bersama Ki Warana.

“Kita benar-benar sudah mulai” berkata Ki Lemah Teles.

“Aku akan melihat apa yang terjadi, Ki Lemah Teles,” berkata Ki Warana.

“Aku juga akan pergi. Perintahkan memberitahukan kepada orang-orang yang malas itu.”

Ki Warana dan Ki Lemah Teles pun segera berlari-lari ke panggungan, sementara itu, Ki Warana telah memerintahkan seorang cantrik untuk memberitahukan kepada orang-orang tua yang berilmu tinggi yang sedang berada di belakang.

“Bongkok buruk dan Ki Ajar Pangukan tidak mengigau dengan ceriteranya tentang serangan yang akan dilakukan-menjelang fajar hari ini.” berkata Ki Lemah Teles sambil berlari-lari ke panggungan.

Demikian Ki Lemah Teles dan Ki Warana naik ke panggungan disisi kanan pintu gerbang, maka ia pun segera menyadari, apa yang akan terjadi. Meskipun tidak begitu jelas, tetapi pengalaman dan pengetahuan Ki Lemah Teles yang luas segera mengetahui, bahwa orang-orang itu akan membakar pintu gerbang.

Sebenarnyalah Gunasraba telah meletakkan beberapa onggok serat kering di bawah pintu gerbang. Serat kering yang sudah berbaur dengan serbuk biji jarak. Kemudian untuk meyakinkan bahwa api akan berkobar, dituang pula dua bumbung minyak kelapa. Kemudian beberapa kampil biji jarak ditaburkan pula diatasnya.

Beberapa saat kemudian, maka Gunasraba pun segera mempersiapkan api dengan batu titikan dan dimik-dimik belerang.

Demikian matangnya persiapan yang dilakukan, sehingga segalanya itu terjadi demikian cepatnya.

Gunasraba tidak mempergunakan kayu-kayu kering untuk mengobarkan api, karena serat yang disediakan sudah cukup banyak, sehingga Gunasraba itu yakin, bahwa api akan segera menelan pintu gerbang induk itu.

Sebenarnyalah serat-serat yang kering itu dengan cepat terbakar. Serbuk biji jarak yang mengandung minyak itu pun cepat membuat api semakin besar. Demikian pula minyak kelapa yang dituang serta beberapa kampil biji jarak

Untuk beberapa saat lamanya, Gunasraba memang masih harus melindungi apinya yang sedang membesar.

Dalam pada itu, maka didalam dinding padepokan telah terdengar isyarat untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. Suara kentongan-kentongan kecil telah melontarkan perintah kepada setiap orang yang ada didalam dinding padepokan.

Gunasraba yang mendengar suara kentongan itu sempat mengumpat. Ternyata orang-orang padepokan itu tidak menjadi gugup dan bingung. Suara kentongan-kentongan kecil, itu tidak membayangkan kegelisahan. Tiga atau ampat kentongan yang mengisyaratkan perintah itu memperdengarkan iramanya yang mapan.

Orang-orang padepokan itu memang tidak menjadi bingung. Sebelumnya mereka sudah mendapat perintah untuk berada dalam kesiagaan tertinggi.

Tetapi yang terjadi memang lebih cepat dari yang mereka duga. Mereka memperhitungkan bahwa serangan itu akan datang bersamaan dengan terbitnya matahari. Tetapi ternyata di dini hari kentongan itu sudah harus memberikan isyarat agar mereka bersiap.

Ternyata kentongan itu berbunyi di saat mereka sedang makan. Karena itu, maka mereka pun segera menelan nasi yang masih belum sempat mereka makan. Sedikit terhambat di kerongkongan, sehingga mereka harus minum lebih banyak.

Beberapa saat kemudian para cantrik itu pun berlari-larian naik ke panggungan. Sementara yang lain, bersiap-siap di tempat yang sudah ditentukan bagi setiap kelompok.

Tetapi terdengar perintah yang lain dari beberapa orang yang berada di belakang pintu gerbong, “Air. Air.”

Para cantrik yang berada di sekitar pintu gerbang utama dan pintu gerbang mereka. Karena itu, maka mereka pun segera berlari-lari mencari air dengan bumbung-bumbung panjang yang sering dipergunakan untuk mengusung air mengisi gentong dan tempayan didapur, atau dengan kelenting.

Tetapi bumbung-bumbung yang tersedia tidak cukup banyak untuk mengatasi api yang menyala semakin besar. Pintu gerbang utama dan butulan yang terbuat dari kayu itu sudah mulai terbakar. Bahkan gawang pintunya juga sudah mulai menyala. Sementara itu, ijuk pada atap pintu gerbang itupun akan sangat mudah terbakar pula.

Para pemimpin padepokan itu memang tidak mengira bahwa Kiai Narawangsa akan mempergunakan cara yang tidak banyak dipergunakan orang untuk memecahkan pintu gerbang utama dari sebuah sasaran. Kiai Narawangsa tidak memecahkan pintu gerbang dengan sebuah balok kayu yang panjang dan besar yang diusung oleh banyak orang. Tidak pula mempergunakan tali-tali yang kuat yang ditarik oleh beberapa ekor kuda. Tetapi Kiai Narawangsa telah mempergunakan api. Bukan untuk memecahkan pintu, tetapi membakar pintu itu sehingga menjadi abu.

Ternyata air memang tidak banyak menolong. Apalagi air itu tidak cukup banyak dibanding dengan nyala api yang membesar. Tidak cukup banyak bumbung-bumbung besar yang dibuat dari bambu petung yang dapat dipergunakan untuk mengangkut air.

Karena itu, maka Ki Lemah Teles akhirnya memerintahkan para cantrik untuk menghentikan usaha mereka memadamkan api. Tetapi para cantrik harus segera bersiap dalam kesiagaan kedua. Mereka harus bersiap untuk bertahan di belakang pintu gerbang yang sudah dapat dipastikan akan terbuka.

Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan yang berdiri di panggungan sebelah kiri itu pun menyaksikan api yang menyala itu dengan termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja Ki Pandi itu berkata kepada seorang cantrik, “Siapkan tali, he, kalian punya tampar ijuk?”

“Ada Kiai, “jawab seseorang cantrik, “sisa tampar ijuk yang kemarin dipergunakan untuk memperbaiki tali-tali ijuk panggungan ini?”

“Masih ada berapa gulung?”

“Masih ada beberapa gulung Kiai.”

Ki Pandi pun kemudian berkata kepada Ki Ajar Pangukan, “Ki Ajar, marilah kita bermain-main dengan orang-orang yang sedang membakar pintu gerbang itu.

Ki Ajar Pangukan pun segera tanggap. Karena itu, maka ia pun segera menyahut, “Marilah. Ajak kedua cucumu itu.”

Manggada dan Laksana yang ada di panggungan itu pula, segera menyahut, “Marilah, Ki Ajar. Kami akan ikut bersama Ki Ajar.”

Demikianlah, maka dengan cepat mereka telah mengurai tampar ijuk itu dan menjulurkannya keluar dinding.

Disisi lain, diatas panggungan Ki Lemah Teles melihat Ki Pandi menjulurkan tali ijuk. Tidak hanya sehelai, tetapi beberapa helai.

Ki Lemah Teles segera mengetahui apa yang akan dilakukan. Sementara itu Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana juga sudah naik ke panggungan itu pula.

Tanpa menunggu, maka Ki Jagaprana dan Ki Sambi Pitu pun segera bersiap. Karena di panggungan itu tidak ada tali ijuk yang dapat mereka pergunakan, maka mereka tidak mempergunakan-nya. Orang-orang berilmu tinggi itu kemudian meloncat begitu saja dari atas dinding padepokan seperti seekor kucing. Sementara itu, Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan telah turun dengan mempergunakan tali ijuk.

“Kenapa orang-orang itu mempersulit diri dengan tali-tali ijuk?” desis Ki Sambi Pitu.

“Sebenarnya tali-tali itu tidak untuk mereka” jawab Ki Jagaprana.

Sebenarnyalah selain kedua orang tua berilmu tinggi itu, Manggada dan Laksana pun telah turun pula menyusuri tali ijuk itu diikuti oleh beberapa orang cantrik.

Gunasraba yang berada di depan pintu menunggui api yang menyala semakin besar itu pun terkejut. Ia tidak mengira bahwa ada beberapa orang yang turun dari atas dinding dan berlari-lari mendekatinya.

“Cegah mereka,” teriak Gunasraba.

Beberapa orang yang datang bersamanya segera bersiap untuk menyongsong orang-orang yang berlari-lari itu. Namun Gunasraba sendiri tidak ikut bersama mereka. Dengan tangkasnya Gunasraba itu meloncat keatas punggung kudanya dan dengan cepat melarikan diri kedalam gelap.

Para pengikutnya memang termangu sejenak. Tetapi mereka tidak mempunyai kesempatan. Dengan geram Manggada dan Laksana telah berloncatan mendekat.

Tetapi Ki Pandi tidak segera menyerang mereka. Dengan lantang iapun berkata, “Menyerahlah. Kalian tidak mempunyai pilihan lain.”

Orang-orang yang datang bersama Gunasraba itu tidak menghiraukan. Jumlah orang yang turun dengan tali itu tidak banyak. Karena itu, maka mereka merasa mampu untuk bertahan sambil menunggu kawan-kawan mereka yang akan segera datang untuk menolong.

Mereka meyakini bahwa Ki Gunasraba sedang menghubungi Kiai Narawangsa untuk mendapatkan bantuan.

Karena itu, justru orang-orang itulah yang telah mendahului menyerang mereka yang turun dari dinding padapokan.

Beberapa orang cantrik pun segera terlibat dalam pertempuran. Manggada dan Laksana juga segera terjun langsung melawan orang-orang yang telah membakar pintu gerbang itu.

Namun bagaimana pun juga api yang membakar pintu gerbang itu tidak dapat dipadamkan. Pintu gerbang itu memang terbakar.

Yang dilakukan oleh para cantrik kemudian adalah mencegah panggungan disebelah menyebelah pintu gerbang itu ikut terbakar.

Dalam pada itu pertempuran yang terjadi di depan pintu gerbang itu tidak berlangsung lama. Ketika orang-orang tua berilmu tinggi itu melibatkan diri, maka dengan cepat orang-orang yang membakar pintu gerbang itu telah dikuasai.

Bahkan ketika orang-orang yang membakar pintu-pintu butulan ikut bergabung dengan kawan-kawan mereka, ternyata mereka tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Dalam waktu yang singkat beberapa orang telah terkapar di depan pintu gerbang yang telah terbakar sedangkan yang lain telah menyerah. Para cantrik padepokan itu justru berhasil menguasai beberapa ekor kuda.

Tetapi mereka tidak tahu, bagaimana mereka akan membawa kuda-kuda itu masuk kedalam padepokan, karena pintu gerbang utama dan pintu-pintu butulan telah dibakar.

Tetapi tiba-tiba saja seorang cantrik berteriak, “Masih ada satu pintu butulan yang tidak dibakar.”

Ki Pandi yang mendengar teriakan cantrik dari panggungan itu bertanya, “Disisi sebelah mana?”

“Pintu butulan kecil yang menghadap ke Timur. Pintu yang hampir tidak pernah dipergunakan.”

Ki Pandi, orang-orang tua yang berilmu tinggi serta Manggada dan Laksana pun telah membawa beberapa ekor kuda yang tertinggal serta para tawanan mengelilingi dinding padepokan menuju ke pintu gerbang yang menghadap kesebelan Timur, yang karena tidak sering dipergunakan, maka telah ditumbuhi oleh batang ilalang dan pohon-pohon perdu.

Namun dalam pada itu, Gunasraba yang melarikan diri diatas punggung kudanya telah sampai ke induk pasukannya. Dengan nafas yang terangah-engah, ia telah melaporkan apa yang terjadi di pintu gerbang utama padepokan Kiai Banyu Bening.

“Orang-orang gila, yang ingin membunuh dirinya sendiri. Baiklah. Marilah kita mendekat. Bukankah sebentar lagi, pintu gerbang utama dan beberapa pintu butulan itu sudah akan menjadi abu?”

“Ya. Pada saat matahari terbit. Tetapi kita harus bersabar sedikit, agar kaki kita tidak menginjak bara yang masih panas.” Orang-orang yang pertama akan memasuki pintu gerbang sudah dipersiapkan. Bukankah mereka telah mengenakan tlumpah kulit kayu?”

“Aku memang sudah memberikan contoh, bagaimana membuat tlumpah kulit kayu untuk melindungi kaki mereka. Mudah-mudahan mereka telah mempersiapkannya.”

“Bukankah kita dapat melihat sekarang?” sahut Nyai Wiji Sari.

Gurasraba pun kemudian memerintahkan Parang Landung dan Paron Waja untuk melihat, apakah orang-orangnya mematuhi perintahnya membuat tlumpah-tlumpah kulit kayu untuk melindungi telapak kaki mereka dari bara yang masih panas.

Sementara itu, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari pun telah mempersiapkan segala-galanya. Sesaat lagi, mereka akan bergerak mendekati padepokan.

“Sayang, kita kehilangan beberapa ekor kuda” desis Kiai Narawangsa.

“Tidak. Sebentar lagi, kita akan mendapatkannya kembali.” jawab Gunasraba.

Dalam pada itu Parung Landung dan Paron Waja pun telah melaporkan bahwa orang-orang mereka telah membuat tlumpah kulit kayu dengan tali kedebog yang sudah dikeringkan.

“Tidak ada masalah” berkata Parung Landung, “mereka dapat mengabaikan panasnya bara yang tersisa. Meskipun ada yang membuat dari clumpring, tetapi cukup untuk menahan panasnya sisa-sisa gerbang yang sudah menjadi arang.”

“Tetapi clumpring itu sendiri akan terbakar,” berkata Gunasraba.

“Bukankah kita tidak akan berdiri tegak diatas bara itu?” sahut Paron Waja, “bukankah kita hanya akan berlari melintas?”

Kiai Narawangsa mengangguk-angguk. Tetapi Nyai Wiji Sari menyahut, “Jangan merendahkan lawan. Mereka akan menahan kita diatas bara api pintu gerbang itu.”

“Kita dapat mengulur waktu sebentar Nyai. Bukankah kita dapat berbicara lebih dahulu dengan Banyu Bening? Ia akan berpikir ulang jika ia melihat kekuatan lata yang besar ini.”

“Aku tidak ingin berbicara dengan Banyu Bening. Aku hanya ingin anakku itu.”

Kiai Narawangsa tidak menjawab lagi. Namun kemudian ia pun bertanya kepada Gunasraba, “Marilah. Apakah kita sudah bersiap sepenuhnya?”

“Sudah kakang. Kita sudah dapat bergerak sekarang. Mudah-mudahan kita masih sempat menolong orang-orang yang terjebak saat mereka membakar pintu gerbang.”

Demikianlah, maka Parung Landung dan Paron Waja pun segera memerintahkan pasukannya untuk bergerak menuju ke padepokan.

Sementara itu langit telah menjadi merah. Mereka berharap ‘ bahwa saat matahari terbit, mereka sudah memasuki pintu-pintu gerbang padepokan yang mereka sangka masih dipimpin oleh Kiai Banyu Bening itu.

Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sarilah yang melangkah di paling depan. Kemudian Gunasraba dan dua orang saudara seperguruannya. Dua orang kakak beradik yang sebenarnya tidak kembar, tetapi wajah mereka demikian miripnya, sehingga banyak orang menyangka bahwa mereka adalah dua orang saudara kembar. Sedangkan sebenarnya umur mereka terpaut dua tahun. Krendhawa dan Mingkara.

Demikianlah, maka langkah kaki yang berderap di padang perdu itupun seakan-akan telah menggetarkan bumi. Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari yang berjalan dipaling depan nampak menjadi tegang. Telah berpuluh bahkan beratus kali keduanya turun ke medan pertempuran. Bukan saja saat-saat mereka merampok dan menyamun di bulak-bulak panjang. Tetapi sudah berapa kali mereka terperosok ke dalam benturan kekuatan diantara mereka yang hidup dalam dunia yang kelam. Bertempur untuk memperebutkan pengaruh dan daerah jelajah, serta kadang-kadang tanpa sebab apa-apa.

Tetapi yang dihadapi oleh Nyai Wiji Sari saat ini adalah orang yang pernah tersangkut dalam perjalanan hidupnya. Bahkan seseorang yang telah memberinya seorang anak yang sekarang dimakamkan di belakang dinding padepokan itu.

Anak itulah yang setiap saat seakan-akan memanggil- manggilnya. Mengulurkan tangannya, menggapainya sambil memanggil-manggilnya, “Ibu, ibu, aku kedinginan, ibu.”

Nyai Wiji Sari menggeretak-kan giginya. Langkahnya menjadi semakin cepat. Bahkan rasa-rasanya Nyai Wiji Sari itu ingin meloncat langsung memasuki padepokan Kiai Banyu Bening.

Tetapi di samping itu, ada semacam keseganan untuk bertemu dengan Kiai Banyu Bening sendiri. Meskipun setiap kali Nyai Wiji Sari berusaha untuk mengingkari-nya, tetapi di dasar hatinya, ia mengakui, betapa ia telah melakukan kesalahan sebagai seorang isteri, karena ia sudah membiarkan Narawangsa masuk ke dalam bilik tidurnya, justru saat ia menidurkan anaknya.

Petaka itu tidak dapat dihindarinya.

Nyai Wiji Sari itu tertegun melihat api yang sudah menjadi semakin surut. Pintu gerbang padepokan itu telah runtuh. Tidak ada lagi yang menghalangi langkah mereka memasuki padepokan itu.

Tetapi yang terbuka, yang tidak menjadi penghalang lagi, adalah pintu pada gerbang utama dan butulan. Di belakang reruntuhan itu telah bersiap para cantrik dan para pengikut Kiai Banyu Bening.

Nyai Wiji Sari mengerutkan dahinya. Sementara itu, kakinya melangkah semakin panjang. Ada dua dorongan yang bertentangan didalam diri Nyai Wiji Sari. Ia memang ingin lebih cepat sampai di makam anaknya, tetapi ada keseganan di hatinya untuk bertemu dengan Kiai Banyu Bening. Nyai Wiji Sari rasa-rasanya tidak akan berani menatap wajah laki-laki itu. Laki-laki yang pernah menjadi suaminya.

Namun di luar sadar, mereka telah menjadi semakin dekat dengan reruntuhan pintu gerbang utama. Api telah jauh menyusut Meskipun demikian. Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari masih dapat melihat dengan jelas, beberapa sosok tubuh yang terbujur lintang. Mereka adalah orang-orang yang datang bersama Ki Gunasraba untuk membakar pintu gerbang.

“Kiai Banyu Bening telah membantai mereka,” berkata Gunasraba dengan geram.

Tetapi langkah mereka terhenti. Mereka sadari, bahwa diatas panggungan itu beberapa orang cantrik telah mempersiapkan anak-panah dan lembing yang sudah siap mereka lontarkan.

Dengan isyarat Kiai Narawangsa telah memanggil beberapa orang yang juga sudah mempersiapkan anak panah mereka.

“Pada saatnya, lindungi kami,” terdengar suara Kiai Narawangsa yang berat.

Tetapi pasukan itu memang berhenti.

“Kita memang harus bersabar” berkata Gunasraba yang melihat api di pintu gerbang itu hampir padam.

Dalam pada itu, Kiai Narawangsa pun segera memerintahkan orang-orangnya untuk bersiap di tempat yang telah ditentukan sesuai dengan rencana yang telah mereka susun. Beberapa kelompok diantara mereka telah pergi mengelilingi padepokan itu. Mereka adalah kelompok-kelompok yang mendapat tugas untuk memasuki padepokan lewat pintu butulan.

Kiai Narawangsa telah berpesan kepada mereka, bahwa kelompok-kelompok itu harus bergerak setelah mereka mendengar isyarat yang akan dilontarkan lewat panah sendaren dari depan pintu gerbang utama.

Dalam pada itu, dari atas panggungan para cantrik mengikuti terus gerak-gerik pasukan Kiai Narawangsa.

Setiap saat ada diantara para cantrik itu yang menghubungi dan memberikan laporan kepada Ki Lemah Teles dan Ki Warana.

Dalam pada itu, Gunasraba telah membagi kedua orang saudara seperguruannya serta kedua orang anaknya untuk memimpin pasukan yang akan memasuki pintu gerbang butulan. Parang Landung dan Paron Waja, yang dianggapnya sudah memiliki kemampuan yang memadai, akan memasuki padepokan itu lewat pintu butulan sebelah kiri yang juga telah terbakar habis. Sementara kedua orang saudara seperguruannya, Krendhawa dan Mingkara, akan memasuki pintu butulan sebelah kanan. Mereka telah membawa masing-masing pasukan secukupnya.

Dalam pada itu, langit pun menjadi bertambah terang. Manggada dan Laksana yang juga berada di panggungan melihat dua orang anak muda yang bergerak ke kiri dengan beberapa kelompok orang.

“He, kau kenal kedua orang itu?” bertanya Laksana sambil menggamit Manggada.

Manggada mengerutkan dahinya. Dengan ragu ia berkata, “Kedua anak muda itulah yang telah kita lihat dijalan bulak itu.”

“Ya. yang berpapasan dengan kita berdua. Mereka sama sekali tidak mau menepi, sehingga kita harus berjalan diatas tanggul parit.”

Manggada mengangguk-angguk. Sementara Laksana berkata selanjutnya, “Mereka akan berusaha memasuki pintu butulan sebelah kiri.”

“Kita akan menemui mereka,” sahut Manggada.

Atas ijin Ki Pandi dan Ki Lemah Teles, maka Manggada dan Laksana telah pergi ke pintu butulan sebelah kiri, yang juga sudah terbakar. Mereka segera bergabung dengan para cantrik yang bertugas di tempat itu.

“Aku akan berada diantara kalian” berkata Manggada.

“Bagaimana dengan pintu gerbang utama?” bertanya seorang cantrik yang diserahi pimpinan di belakang pintu butulan itu.

“Ki Lemah Teles ada disana. Diluar, dua orang anak muda yang memimpin para pengikut Kiai Narawangsa, nampaknya orang-orang berilmu. Mudah-mudahan bersama kalian, kami ber-dua dapat menahan rnereka.”

Para cantrik itu mengangguk-angguk. Mereka memang menjadi mantap dengan kehadiran Manggada dan Laksana, karena para cantrik itu mengetahui, bahwa kedua orang anak muda itu telah memiliki ilmu yang tinggi.

Dalam pada itu, maka Ki Jagaprana pun telah diminta untuk berada di butulan sebelah kanan” karena mereka melihat dua orang yang diduga kembar, berada diantara mereka yang akan memasuki padepokan lewat pintu gerbang sebelah kanan.

“Baik” jawab Ki Jagaprana, “aku akan melihat apakah orang kembar itu akan dapat mengejutkan anak-anak padepokan ini.”

“Tetapi berhati-hatilah” pesan Ki Lemah Teles, “jika keduanya menunjukkan kelebihannya, biarlah beberapa orang cantrik membantumu, sementara kau panggil salah seorang dari kami. Aku tidak mau kau mati. Kita masih mempunyai persoalan.”

Ki Pandi lah yang menyahut, “Jika kau masih ingin berperang tanding, kenapa tidak kau tantang saja Nyai Wiji Sari.”

“Kenapa tidak kau lakukan sendiri?” bentak Ki Lemah Teles.

Ki Pandi tertawa. Katanya, “Jika saja aku tidak bongkok dan tidak berpenampilan buruk.”

“Apakah kau tidak ingat bahwa umurmu sudah berada di senja hari? Seandainya kau tidak bongkok dan buruk, kau pun sudah menjadi pikun.”

Ki Pandi tertawa semakin keras. Orang-orang lain yang mendengarnya ikut tertawa pula.

“Sudahlah pergilah” bentak Ki Lemah Teles, “orang kembar itu sudah sampai di muka pintu butulan.”

“Api masih sedikit menyala” jawab Ki Jagaprana, “mereka tentu akan menunggu bara api itu padam.”

“Lihat. Sebagian besar dari mereka memakai tlumpah.”

Ki Jagaprana mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Dengan tergesa-gesa iapun melangkah menuju ke butulan sebelah kanan.

Sebagaimana Manggada dan Laksana, maka Ki Jagaprana pun disambut dengan gembira oleh para cantrik yang bertugas di pintu butulan sebelah kanan yang sudah hampir menjadi abu. Bahkan api pun mulai menjadi padam, meskipun asap masih mengepul.

Diatas panggungan Ki Jagaprana melihat para cantrik siap dengan busur dan anak-apanah serta lembing-lembing bambu.

Tetapi Ki Jagaprana pun kemudian telah memberitahukan beberapa orang cantrik yang bersenjata anak panah untuk bersiap menyambut para pengikut Kiai Narawangsa demikian mereka memasuki pintu butulan yang sudah terbuka itu,

“Kalian harus melumpuhkan lapisan pertama dari orang-orang yang memasuki pintu yang sudah menjadi abu itu. Jika mereka membawa perisai, maka bidiklah kakinya. Jika mungkin lututnya. Jika mereka tidak membawa perisai, maka sasaran kalian adalah dada mereka.”

Demikianlah, maka beberapa orang yang bersenjata busur dan anak panah pun telah bersiap. Mereka telah memasang anak-panahnya pada busurnya. Dilambungnya tergantung bumbung yang berisi anak-panah pula.

Beberapa saat mereka menunggu. Para cantrik yang ada didalam

Beberapa saat mereka menunggu. Para cantrik yang ada didalam dinding padepokan itu rasa-rasanya tidak sabar lagi. Terutama mereka yang sudah mengetrapkan anak-panah pada busurnya dan bahkan tali busur itu sudah mulai menegang.

Di depan pintu gerbang padepokan yang sudah terbakar. Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari bersama pasukan induknya telah berhenti. Mereka memang harus menunggu api di gerbang itu agar padam sama sekali. Tetapi sisa-sisa api dan bara tidak akan dapat menahan mereka, karena orang-orang yang sudah siap memasuki padepokan itu mempergunakan alas kaki yang mereka buat dari kulit kayu.

Sementara itu, para penghuni padepokan itu pun sudah siap pula untuk menahan serangan yang sebentar lagi akan melanda padepokan itu, Ki Pandi, Ki Ajar Pangukan dan Ki Sambi Pitu telah siap bersama para cantrik dibelakang pintu gerbang yang terbakar. Sementara Ki Lemah Teles dan Ki Warana masih berada di panggungan di sebelah pintu gerbang yang sudah terbakar itu.

“He, Kiai Banyu Bening” berteriak Kiai Narawangsa, “aku masih memberi kesempatan untuk menyerah. Meskipun kami yakin akan dapat menghancurkan seluruh padepokan ini, bukan hanya pintu gerbanya saja, tetapi kami masih mempunyai belas kasihan. Karena itu, sebaiknya kau menyerah saja.”

Ki Lemah Teles yang berada di panggungan memandang pasukan yang sudah siap itu dengan jantung yang berdebar-debar. Tetapi Ki Lemah Teles sudah bertekad untuk mengatakan yang sebenarnya, bahwa Kiai Banyu Bening sudah tidak ada. Kawan-kawannya telah menyetujuinya pula. Jika pengakuan itu dapat mencegah pertempuran, maka tidak perlu jatuh korban dari kedua belah pihak, meskipun hal itu sudah terjadi atas sekelompok orang yang telah membakar pintu gerbang, kecuali mereka yang telah menyerah.

“He. Kiai Banyu Bening” teriak Kiai Narawangsa pula, “jawab pernyataanku ini. Kesempatan untuk menyerah.”

Ki Lemah Teles yang ada diatas panggungan itu pun menyahut, “Kiai Narawangsa, apakah kau tidak dapat melihat kami yang berada diatas panggungan. Cahaya matahari telah nampak di langit. Kami yang ada di panggungan sudah dapat melihat wajah kalian seorang demi seorang.”

Kiai Narawangsa termangu-mangu sejenak. Suara itu bukan suara Kiai Banyu Bening. Meskipun sudah lama ia tidak mendengar suara Banyu Bening, tetapi Kiai Narawangsa masih akan dapat mengenali suara itu.

Ketika ia berpaling kepada Nyai Wiji Sari, maka Kiai Narawangsa itupun melihat kening Nyai Wiji Sari berkerut.

“Siapa kau?” tiba-tiba saja suara Nyai Wiji Sari melengking tinggi.

Kiai Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Aku Ki Lemah Teles yang menunggui padepokan ini bersama Ki Warana.”

“Kami ingin berbicara dengan Kiai Banyu Bening” teriak Kiai Narawangsa kemudian, “kami tidak akan berbicara dengan orang lain.”

Kiai Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian berteriak pula, “Kiai Narawangsa. Ketahuilah, bahwa padepokan ini bukan lagi padepokan yang dipimpin oleh Kiai Banyu Bening. Sekarang akulah yang memimpin padepokan ini setelah padepokan ini ditinggalkan oleh Kiai Banyu Bening beberapa saat yang lalu.”

Jawaban itu sangat mengejutkan. Hampir diluar sadar Nyai Wiji Sari berteriak nyaring, “Bohong. Kalian tidak usah menyembunyikan Kiai Banyu Bening. Kami datang untuk membuat perhitungan dengan orang itu.”

“Kami berkata sebenarnya Nyai. Kiai Banyu Bening sudah tidak ada. Sesuatu telah terjadi di padepokan ini. Bencana.”

“Jangan melingkar-lingkar” sahut Kiai Narawangsa., “Apakah Kiai Banyu Bening sekarang sudah menjadi seorang pengecut, sehingga tidak berani lagi menghadapi kami.”

“Tidak. Kiai Banyu Bening memang bukan pengecut. Itulah sebabnya maka kalian tidak lagi dapat menjumpai Kiai Banyu Bening sekarang.”

Di belakang pintu gerbang yang sudah menjadi abu, Ki Ajar Pangukan menjadi berdebar-debar. Ia pernah menerima utusan Kiai Narawangsa dan mengaku sebagai Kiai Banyu Bening.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi disini?” bertanya Nyai Wiji Sari, “penipuan? Kepura-puraan, atau sebuah permainan yang licik?”

“Tidak ada permainan yang licik. Tetapi ketahuilah, bahwa Kiai Banyu Bening memang sudah tidak ada dalam arti yang sebenarnya. Kiai Banyu Bening telah gugur saat ia mempertahankan padepokan ini.”

“Bohong” teriak Nyai Wiji Sari dengan serta-merta. Betapa ia dan Kiai Banyu Bening bermusuhan karena kehadiran Kiai Narawangsa, tetapi berita kematian Kiai Banyu Bening sangat mengejutkannya.

“Kami tidak berbohong Nyai” jawab Kiai Lemah Teles, “kami dapat menceriterakan urut-urutan peristiwanya.”

“Siapa yang telah membunuh Kiai Banyu Bening?” bertanya Nyai Wiji Sari dengan suara bergetar.

“Panembahan Lebdagati,” jawab Ki Lemah Teles.

“Lebdagati. Jadi iblis itukah yang telah membunuh Kiai Banyu Bening?”

“Ya. Panembahan Lembadagi datang ke padepokan ini dan merebutnya untuk beberapa hari, sebelum kami datang membebaskannya,” sahut Ki Lemah Teles, “kami dapat mengusir Panembahan Lebdagati. Tetapi kami tidak dapat menangkapnya, apalagi membunuhnya.”

Jantung Nyai Wiji Sari terasa berdegup semakin cepat. Darahnya seakan-akan bergejolak didalam dadanya. Rasa-rasanya ia tidak rela mendengar berita kematian Kiai Banyu Bening. Betapa ia terpisah dari orang itu, namun Kiai Banyu Bening pernah menjadi suaminya. Ketika ia mula-mula mengenal sentuhan tangan laki-laki, orang itu adalah Kiai Banyu Bening.

Dalam pada itu, Kiai Narawangsa lah yang berteriak, “Apakah kau justru pengikut Panembahan Lebdagati itu?”

“Tidak. Kami bukan pengikut Panembahan Lebdagati. Kami justru telah bertempur melawannya dan mengusirnya dari padepokan ini.”

Sejenak Kiai Narawangsa menjadi termangu-mangu. Ia mencoba memandang wajah-wajah orang yang berada di panggungan. Sebenarnyalah bahwa tidak ada orang yang dapat diduganya Kiai Banyu Bening.

Tetapi Kiai Banyu Bening memang dapat saja bersembunyi atau melarikan diri sebelumnya.

Namun Kiai Banyu Bening memang bukan seorang pengecut yang dapat berbuat seperti itu.

Dalam pada itu, Ki Lemah Teles pun berkata, “Kiai Narawangsa, apakah sebenarnya yang kalian kehendaki dari Kiai Banyu Bening? Jika kami dapat memenuhinya, maka kami akan mencoba memenuhinya tanpa harus mengorbankan banyak orang.”

“Ki Lemah Teles” suara Nyai Wiji Sari dengan nada tinggi seakan-akan menggetarkan dinding-dinding padepokan dan bahkan panggungan di sebelah pintu gerbang yang terbakar itu. Gejolak perasaannya benar-benar telah mengguncang dadanya, sehingga getar suara yang dilontarkan bagaikan mengandung tenaga yang sangat besar, “apapun yang kau katakan tentang Kiai Banyu Bening, namun kami datang dengan niat yang tidak berubah. Kami menghendaki padepokan ini. Jika benar kau berniat menghindari penumpahan darah, maka tinggalkan padepokan ini. Tidak ada yang boleh kau bawa selain pakaian yang melekat ditubuh kalian. Aku akan tinggal di padepokan ini menunggui anakku yang telah dibawa ke padepokan ini oleh Kiai Banyu Bening.”

Ki Lemah Teles termangu-mangu sebentar. Namun kemudian ia pun bertanya, “Jadi itukah niat Nyai datang kemari? Nyai akan mengambil kembali anak Nyai? Juga anak Kiai Banyu Bening? Bagaimana mungkin Nyai datang untuk menemui seorang suami dengan membawa kekuatan yang demikian besarnya? Kecuali jika Nyai akan mengambil kembali suami Nyai yang berada di tangan orang lain.”

“Cukup” teriak Nyai Wiji Sari. Suaranya semakin lantang dan udara pun bergetar semakin keras. Bahkan getar suara perempuan itu telah mulai menyentuh isi dada, “jadi begitukah caramu mencari penyelesaian tanpa mengorbankan nyawa?”

“Nyai” berkata Ki Lemah Teles kemudian, “jika Nyai ingin mengambil anak Nyai itu, terserah kepada Nyai. Kami tidak akan menghalangi. Ambillah, karena itu memang anak Nyai. Tetapi jangan mengambil padepokan ini. Kami sudah merebutnya dari tangan Panembahan Lebdagati dengan menitikkan keringat dan darah. Bagaimana mungkin kami akan melepaskannya begitu saja.”

“Aku tidak peduli” sahut Kiai Narawangsa, “kami akan memberi waktu secukupnya jika kalian memang akan pergi. Kami tidak akan mengganggu kalian yang meninggalkan padepokan ini. Tetapi jika ada diantara kalian yang memilih bergabung dengan kami, kami tidak berkeberatan. Tetapi kalian harus bersedia mematuhi segala paugeran didalam lingkungan kami.”

“Kiai” jawab Ki Lemah Teles, “kami akan mempertahankan padepokan ini, apapun yang terjadi. Jika kalian memaksakan kehendak kalian, maka kami justru akan menutup kesempatan Nyai Wiji Sari untuk mengambil anaknya. Biarlah anak itu kesepian disini tanpa ayah dan ibunya.”

“Tidak” teriak Nyai Wiji Sari, “aku akan menunggui anakku disini.”

“Itu tidak mungkin, Nyai. Karena itu, maka terserah kepada Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Apakah kita harus bertempur atau tidak. Seandainya kita harus bertempur, kami pun sudah siap. Para cantrik dari padepokan ini masih menyandang kebanggaan setelah mereka berhasil mengusir Panembahan Lebdagati. Karena itu, maka dengan darah yang masih panas, kami akan menghadapi kalian. Tetapi jika kalian berniat mengambil anak itu dengan cara yang baik, kami tidak akan berkeberatan. Kami akan memberi kesempatan kepada kalian sebaik-baiknya.”

“Cukup” teriak Kiai Narawangsa, “kami akan mengusir kalian dengan kekerasan.”

Ki Lemah Teles tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka iapun berkata, “Jika demikian, maka kita akan bertempur. Tetapi dengan demikian maka kalian tidak akan pernah dapat mengambil anak itu lagi dari padepokan ini.”

“Jangan sentuh anak itu.” teriak Nyai Wiji Sari, “jika kalian melakukannya juga, maka nasib padepokan ini akan menjadi sangat buruk.”

“Aku tidak akan memeras dengan taruhan anakmu itu Nyai, meskipun sebenarnya anakmu itu sudah tidak berarti apa-apa lagi. Kami akan mempertahankan padepokan ini dengan sikap yang wajar.”

“Diam kau,” bentak Nyai Wiji Sari, “kau anggap anakku itu sudah tidak berarti apa-apa? Aku rindukan anakku siang dan malam. Aku tidak sampai hati melepaskan anakku dalam kesepian, kedinginan dan kepanasan karena ayahnya tidak memperdulikannya.”

“Ayahnya lebih peduli kepada anak itu daripada kau Nyai” tiba-tiba Ki Warana menyahut, “aku melayani Kiai Banyu Bening setiap hari jika ia berada disisi anaknya. Sampai akhir hayatnya ia sama sekali tidak pernah berpaling kepada seorang perempuan yang akan dapat menyakiti hati anaknya itu. Tetapi kau, apa yang kau lakukan? Kau tinggalkan anakmu didalam api, sementara kau lari dengan seorang laki-laki saat anakmu masih bayi.”

“Cukup, cukup. Diam kau iblis” teriak Nyai Wiji Sari dengan suara yang melengking-lengking.

“Kenapa aku harus diam? Kau khianati kesetiaan seorang suami. Kau nodai kasih seorang ibu kepada anaknya. Dan sekarang, ketika yang tinggal hanya tulang belulang, kau datang untuk mengambilnya. Semua itu omong kosong. Kau yang memanfaatkah anakmu yang telah kau tinggalkan didalam api yang menyala itu untuk menantang Kiai Banyu Bening dan sekaligus berusaha merebut padepokannya.”

“Kau gila. Kau gila” teriak Nyai Wiji Sari semakin keras.

“Aku adalah orang terdekat dengan Kiai Banyu Bening. Aku melihat bagaimana Kiai Banyu Bening menjadi gila karena tangis anaknya yang ditelan api, sehingga kegilaannya itu telah mewarnai kepercayaannya. Ia ingin seratus orang bayi mau sebagaimana anaknya, menangis didalam api yang menyala.”

“Tidak. Kau bohong” Kiai Narawangsa lah yang menyahut, ”Banyu Bening mendengar tangis anaknya bagaikan kidung yang mengalun di atas mega di langit biru. Ketika ia merindukan suara kidung itu lagi, maka ia telah memerintahkan untuk membakar seratus orang bayi demi kepuasan batinnya.”

Tetapi Ki Warana menjawab, “Kau benci akan kesetiaan Kiai Banyu Bening, karena kau telah mengambil isterinya dengan cara yang tidak beradab.”

“Cukup” teriak Kiai Narawangsa. Tiba-tiba saja Kiai Narawangsa itu mengangkat tangannya sambil berteriak, “Lontarkan anak panah sendaren. Kita koyak mulut-mulut yang memfitnah itu.”

Ki Lemah Teles tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Diperintahkannya, para cantrik yang bersenjata anak panah untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian, maka beberapa batang anak panah sendaren telah terlepas dari busurnya. Anak panah yang memberikan isyarat kepada semua kekuatan yang dibawa oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari untuk bergerak serentak.

Ki Lemah Teles yang berada di panggungan pun tanggap akan perintah itu. Ketika ia melihat pasukan itu mulai bergerak, maka Ki Lemah Teles telah memerintahkan membunyikan isyarat dengan memukul bende diatas panggungan itu.

Demikian suara bende itu meraung-raung diatas panggungan, maka para cantrik seisi padepokan itu telah bersiap. Anak-anak muda dari beberapa padukuhan yang telah berada di padepokan itu pun telah mendapatkan dirinya pula. Sebagian dari mereka memang sudah mempunyai sedikit pengalaman, tetapi yang lain sama sekali belum. Namun para pemimpin padepokan itu masih sempat memberikan latihan-latihan kepada mereka meskipun baru landasannya saja sementara lawan mereka adalah orang-orang yang setiap saat selalu bercanda dengan senjata mereka.

Tetapi para cantrik padepokan Kiai Banyu Bening yang mengikutii jejak Ki Warana juga cukup banyak. Mereka pun memiliki pengalaman sebagaimana para pengikut Kiai Narawangsa.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, seperti arus banjir bandang, para pengikut Kiai Narawangsa telah menyerang padepokan yang telah ditinggalkan oleh Kiai Banyu Bening itu. Mereka menerobos pintu gerbang induk dan pintu-pintu gerbang butulan yang telah menjadi abu.

Tetapi demikian mereka mulai bergerak, maka anak panah pun tercurah bagaikan hujan.

Tetapi hal itu memang sudah diperhitungkan oleh Kiai Narawangsa dan para pengikutnya. Karena itu, mereka pun tidak terkejut sama sekali. Bahkan mereka telah siap untuk menangkis serangan anak panah yang menghujan itu.

Meskipun demikian, beberapa orang telah terhenti di pintu-pintu gerbang. Anak panah yang menyusup dibawah perisai dan mengenai lutut, telah melumpuhkan beberapa pengikut Kiai Narawangsa. Namun ada pula anak panah yang menembus dada, sehingga orang yang dikenainya terjatuh dan terinjak-injak oleh kawan-kawannya. Mereka untuk selamanya tidak akan pernah bangkit lagi.

Sejenak kemudian, maka banturan kekuatan pun telah terjadi. Tetapi demikian derasnya arus serangan yang mengalir dari luar padepokan, telah memaksa para cantrik untuk bergerak mundur.

Tetapi para cantrik itu tidak melepaskan para penyerang untuk begitu saja memasuki padepokan yang telah mereka rebut dari tangan Panembahan Lebdagati itu.

Pertempuran pun segera menyala dengan sengitnya. Senjata yang teracu-acu, berputaran dan terayun-ayun itu, telah saling berbenturan. Suaranya berdentang diantara teriakan-teriakan yang mengguruh dari kedua belah pihak.

Di induk pasukan Kiai Narawangsa bertempur dengan garangnya. Apa saja yang ada didepannya telah disapunya tanpa ampun. Namun langkahnya terhenti ketika dihadapannya berdiri seorang yang sudah berada diusia senjanya.

“Sabarlah sedikit. Kiai Narawangsa. Jangan kau sapu anak-anak seperti menebas batang ilalang. Seharusnya kau mempunyai sedikit harga diri dengan mencari lawan yang seimbang, setidak-tidaknya mampu memberikan sedikit perlawanan.”

“Siapa kau?” bertanya Kiai Narawangsa.

“Namaku Ajar Pangukan.” jawab orang itu.

Kiai Narawangsa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Namamu tidak dikenal. Minggirlah. Kau sudah terlalu tua untuk berada di medan pertempuran. Aku tidak akan menghancurkan-mu sebagaimana orang-orang lain yang berani mendekati aku.”

“Kiai Narawangsa, aku berniat untuk melawanmu apapun yang terjadi.”

“Kau ternyata belum mengenal aku yang sebenarnya.”

“Jika sekarang aku berdiri disini, justru karena aku .ingin mengenalmu sebaik-baiknya.”

“Nampaknya kau juga orang berilmu. Tetapi belum terlambat bagimu jika kau ingin menyingkir.”

“Aku akan tetap mencoba menghadapimu. Marilah, aku sudah bersiap sepenuhnya.”

Kiai Narawangsa menggeram. Katanya, “Apaboleh buat jika aku harus membunuhmu.”

“Bukankah didalam perang dapat saja terjadi, membunuh atau dibunuh?”

“Bagus. Kau benar-benar sudah siap maju ke medan pertempuran. Aku senang mendapat seorang lawan yang sedikit dapat menggelitik ilmuku.”

Ki Ajar Pangukan pun kemudian telah bersiap. Kiai Narawangsa telah bergerak selangkah ke samping. Demikian pula Ki Ajar Pangukan sehingga keduanya untuk beberapa saat saling bergeser setapak-setapak.

Sesaat kemudian, maka Kiai Narawangsa yang garang itu mulai meloncat menyerang. Tetapi serangannya yang seakan-akan sekedar untuk menyentuh kulit lawannya itu pun telah dielakkan oleh Ki Ajar Pangukan.

Namun serangan-serangan Kiai Narawangsa berikutnya justru menjadi semakin cepat dan semakin garang. Namun demikian, serangan-serangan itu tidak menyentuh sasarannya.

Tetapi Kiai Narawangsa memang belum bersungguh-sungguh. Ia masih ingin mengetahui serba sedikit tentang kemampuan lawannya yang sudah lewat separo baya.

Ki Ajar Pangukan pun masih belum benar-benar bertempur. Seperti Kiai Narawangsa, Ki Ajar Pangukan baru sekedar ingin mengintip kemampuan lawannya.

Karena itu, maka keduanya masih belum menapak pada ilmu mereka yang sebenarnya.

Dalam pada itu, yang lebih kasar dari Kiai Narawangsa adalah Ki Gunasraba. Dengan senjata bindi ia menghancur-kan apa saja yang ada disekitarnya. Untuk menahan geraknya, maka lima orang cantrik padepokan itu telah mengepungnya.

Namun bindi Gunasraba berputaran dengan cepat. Bindi yang besar itu memang sulit untuk ditahan. Jika terjadi benturan dengan senjata para cantrik, maka senjata-senjata itu harus digenggam erat-erat. Dua orang cantrik telah kehilangan senjata mereka dalam benturan dengan bindi Gunasraba. Untunglah, seorang diantara mereka segera mendapatkan senjata kembali. Sementara cantrik yang lain telah memungut senjata siapa pun juga yang terkapar tidak jauh daripadanya.

Meskipun berlima, ternyata cantrik itu mengalami kesulitan. Yang dapat mereka lakukan adalah sekedar menahan, agar Gunasraba tidak mengacaukan pertahanan para cantrik pemula yang masih belum cukup berpengalaman.

Namun diantara riuhnya geram dan teriakan-teriakan, terdengar seseorang berkata, “Minggirlah. Aku akan mencoba menghadapinya.”

Para cantrik itu memang segera menyibak. Yang muncul adalah Ki Sambi Pitu. Seorang yang rambutnya sudah mulai ubanan. Beberapa lembar yang terjurai dibawah ikat kepalanya, nampak kelabu keputih-putihan.

“Kau mau apa, kakek tua?” bertanya Gunasraba.

“He, aku belum tua” jawab Ki Sambi Pitu, “gigiku masih utuh.”

“Tetapi rambutmu sudah mulai memutih.” sahut Gunasraba.

“Aku dapat menyembunyikan rambutku dibawah ikat kepalaku.”

“Kau cukur sampai gundul pun kau tidak akan dapat menyembunyikan umurmu.”

Ki Sambi Pitu tertawa. Katanya, “Aku memang sudah tua.”

“Minggirlah. Jangan ganggu aku. Aku akan membinasakan orang-orang yang berani menghalangi jalanku menuju ke pendapa bangunan utama padepokan ini.”

Tetapi Ki Sambi Pitu justru tertawa. Katanya, “Kau suka yang aneh-aneh, Ki Sanak. Kau kira kami akan mempersilahkan kalian naik ke pendapa dan menyuguhkan hidangan minuman hangat dan makan siang dengan memotong tiga ekor lembu?”

“Setan kau orang tua yang tidak tahu diri. Sekali kau tersentuh senjataku, maka tubuhmu akan segera lumat.”

Tetapi Ki Sambi Pitu tidak bergeser dari tempatnya. Dengan tangkasnya Ki Sambi Pitu telah menggerakkan pedangnya.

Namun Ki Sambi Pitu itu sadar, bahwa bindi lawannya yang berat itu merupakan senjata yang berbahaya. Ia harus menghindari benturan langsung sejauh dapat dilakukannya.

Gunasraba yang marah itupun kemudian berkata, “Jika demikian bersiaplah untuk mati. Tubuhmu akan segera lumat menjadi debu.”

Ki Sambi Pitu tidak menjawab lagi. Tetapi ia benar-benar sudah siap untuk menghadapinya.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian, keduanya telah terlibat dalam pertempuran yang sengit, mereka tidak merasa perlu untuk saling menjajagi. Apalagi tangan Gunasraba sudah terlanjur berkeringat ketika ia menghadapi kelima orang cantrik yang berusaha membatasi geraknya.

Tetapi karena itu, maka Gunasraba pun segera terkejut. Orang tua itu ternyata mampu bergerak dengan tangkas. Tubuhnya bahkan seakan-akan seringan kapas. Sementara itu senjatanya berputaran dengan cepat, sehingga sebilah pedang itu seakan-akan telah berubah menjadi dua atau tiga atau bahkan ampat.

“Gila kakek tua ini” geram Gunasraba. Namun Gunasraba juga bukan orang kebanyakan. Ia pun memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan kekuatan Gunasraba ternyata memang melampaui kekuatan orang kebanyakan.

Namun dalam pada itu, demikian pasukan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari memasuki halaman padepokan, maka Nyai Wiji Sari langsung dapat melihat sebuah tugu batu dan sebuah nisan kecil diatasnya sebagaimana pernah dilaporkan oleh orang-orangnya yang pernah datang ke padepokan itu.

Karena itu, maka jantungnya benar-benar telah bergejolak. Demikian pasukannya sempat mendorong pertahanan para cantrik dari padepokan itu mundur, maka Nyai Wiji Sari tidak dapat menahan dirinya.

Nyai Wiji Sari pun dengan garangnya telah menerobos menusuk langsung pertahanan lawan. Tiba-tiba saja perempuan itu terlepas dari medan dan berlari langsung ke tugu didepan bangunan utama padepokan itu.

Dengan perasaan yang bergejolak, maka Nyai Wiji Sari pun segera berlutut didepan tugu itu.

Dua orang pengawalnya tidak melepaskan Nyai Wiji Sari pergi sendiri. Karena itu, maka keduanya segera memburunya. Demikian Nyai Wiji Sari berlutut didepan tugu dengan nisan kecil diatasnya itu, maka kedua orang pengawalnya itu pun telah bersiap untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi.

Beberapa orang cantrik memang siap untuk mengejar mereka. Tetapi seorang yang bongkok telah menahan mereka.

“Biarlah aku yang mengurusnya.”

Para cantrik itu mengurungkan niatnya. Namun karena Nyai Wiji Sari dikawal oleh dua orang pengikutnya, maka dua orang cantrik yang semula menjadi pengikut Kiai Banyu Bening telah ikut bersama Ki Pandi.

Kedua orang pengawal Nyai Wiji Sari itu pun segera mempersiapkan diri ketika mereka melihat Ki Pandi berjalan mendekat. Namun nampaknya Ki Pandi tidak akan dengan serta merta menyerang mereka.

Sebenarnyalah Ki Pandi melangkah dengan tenang mendekat. Dahi nya berkerut ketika ia melihat Nyai Wiji Sari itu mengusap matanya yang basah.

“Maafkan ibumu, anakku” desisnya, “ibu tidak dapat menjagamu dengan baik, sehingga bencana itu terjadi.”

“Kesalahanmu tidak terletak pada kelengahanmu menjaganya, Nyai” tiba-tiba saja Ki Pandi menyahut, “tetapi sumber kesalahan itu adalah karena kau tidak setia.”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Ia sudah siap menghadapi perempuan itu jika ia menjadi marah. Tetapi yang tidak terduga itu pun terjadi. Nyai Wiji Sari yang garang itu tidak dengan serta-merta bangkit dan menyerang Ki Pandi yang bongkok itu. Tetapi ia justru menjawab, “Kau benar, Ki Sanak. Ketidak-setiaan itu adalah sumber dari bencana ini.” Nyai Wyi Sari justru menangis. Isaknya telah mengguncang tubuhnya, “maafkan aku anakku. Ketidak setiaanku itu pula yang membuat Kiai Banyu Bening menjadi gila. Pada mulanya ia bukan orang yang jahat. Tetapi ketika ia melihat seorang laki-laki didalam bilik tidurnya dan bahkan membiarkan anaknya menangis, maka ia menjadi seperti orang gila. Malapetaka itu terjadi. Rumah itu terbakar dan bayi ini pun terbakar. Sejak itu, Kiai Banyu Bening telah berubah. Ia menjadi seorang penjahat yang ditakuti. Bahkan menurut pendengaranku, ia benar-benar menjadi gila disini, karena ia berniat mengorbankan bayi-bayi yang dibakar hidup-hidup didalam api. Ia ingin membalas dendam karena kematian bayinya yang terbakar itu. Ia ingin banyak orang mengalami kepahitan sebagaimana dialaminya.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Yang dilihatnya berlutut itu bukan seorang perempuan garang yang terbiasa berpacu diatas punggung kuda, menjelajahi padukuhan dan bulak-bulak panjang dimalam hari. Tetapi yang berlutut itu adalah seorang perempuan yang menyesali jalan hidupnya yang sesat.

“Ki Sanak” terdengar Nyai Wiji Sari itu berdesis, “Apakah benar Kiai Banyu Bening telah meninggal?”

“Ya, Nyai,” jawab Ki Pandi, “kedua orang ini adalah orang yang tinggal bersama Kiai Banyu Bening untuk waktu yang lama.”

“Apakah benar, Panembahan Lebdagati yang telah membunuh Kiai Banyu Bening?” bertanya Nyai Wiji Sari.

“Ya, Nyai” jawab salah seorang dari kedua orang cantrik itu., “Kiai Banyu Bening telah terbunuh oleh Panembahan Lebdagati. Padepokan ini pernah diduduki oleh Panembahan Lebdagati yang telah membunuh Kiai Banyu Bening itu.”

“Kenapa Panembahan Lebdagati membunuh Kiai Banyu Bening?”

“Menurut Panembahan Lebdagati, daerah ini, sepanjang lereng Gunung Lawu adalah daerahnya.”

“Apakah itu benar?” bertanya Nyai Wiji Sari.

“Panembahan Lebdagati memang pernah menguasai daerah ini. Tetapi ia pernah terusir oleh beberapa orang berilmu tinggi yang tidak dapat membiarkan kepercayaan sesatnya berkembang. Setiap purnama ia mengorbankan seorang gadis untuk membuat pusakanya menjadi pusaka terbaik di muka bumi.”

Dahi Nyai Wiji Sari berkerut.

“Lalu kenapa kalian kemudian dapat tinggal di padepokan ini?” bertanya Nyai Wiji Sari.

“Kami mengambilnya dari tangan Panembahan Lebdagati.”

“Jadi kau juga pengikut Kiai Banyu Bening?” bertanya Nyai Wiji Sari.

“Tidak, Nyai. Kebetulan tidak. Aku terlibat setelah tempat ini diduduki oleh Panembahan Lebdagati.” jawab Ki Pandi.

Nyai Wiji Sari termangu-mangu sejenak. Tetapi ia masih tetap berlutut. Sementara sekali-sekali tangannya masih mengusap air matanya.

Dalam pada itu, seorang pengawalnyalah yang berkata, “Sudahlah Nyai. Kiai Narawangsa masih terlibat dalam pertempuran yang sengit. Apakah Nyai tidak akan melibatkan diri?”

Tiba-tiba saja Nyai Wiji Sari mengangkat wajahnya. Dipandanginya Ki Pandi dengan tajamnya.

Ternyata wajah Nyai Wiji Sari itu berubah. Meskipun pelupuknya masih basah, tetapi mata itu bagaikan telah menyala.

Ki Pandi melihat perubahan itu. Karena itu, maka ia pun telah bersiap kembali untuk menghadapi segala kemungkinan. Agaknya Nyai Wiji Sari itu telah menghentakkan diri dari rintihan nuraninya, kembali ke dalam dunia petualangannya yang garang, yang penuh dengan kekerasan dan kekelaman nalar budi.

“Orang bongkok” geram Nyai Wiji Sari kemudian, “kau tentu salah satu dari orang yang telah mengacaukan segala sesuatunya. Mungkin kau justru yang telah mendalangi agar Panembahan Lebdagati membunuh Kiai Banyu Bening. Namun kemudian kau khianati Panembahan itu. Kau dengan licik telah mengadu kekuatan orang-orang berilmu tinggi. Diatas mayat mereka sekarang kau menari di padepokan ini.”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Selangkah ia bergerak surut ketika Nyai Wiji Sari yang telah bangkit berdiri itu melangkah maju sambil memandanginya dengan mata yang membara.

“Tidak, Nyai” suara Ki Pandi masih tetap lunak, “kau kembali terbenam ke alam arus perasaanmu yang kau landasi pengalaman hidupmu yang kelam. Ketika sepercik terang bersinar di hatimu, maka kau dapat menemukan dirimu sendiri. Tetapi jika kelam itu datang menyelimuti kalbumu, maka kau menjadi seorang perempuan yang garang.”

“Cukup. Siapa pun kau dan apapun yang kau katakan, namun aku datang untuk mengambil padepokan ini. Aku akan selalu berada disisi anakku. Ia sendiri disini, apalagi sepeninggal Kiai Banyu Bening.”

“Kaupun harus berpikir bening, Nyai.”

“Cukup. Tengadahkan wajahmu. Aku akan menebas lehermu. Kau akan dikubur disini, dibawah tugu ini. Kau akan menjadi pengawal anakku dan melakukan apa saja yang diinginkannya. Bahkan kau akan menjadi kuda tunggangan yang jinak dan penurut.”

Ki Pandi mengerutkan dahinya. Mata Nyai Wiji Sari justru menjadi liar. Tiba-tiba saja perempuan itu telah mencabut senjatanya, sebilah pedang.

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Perasaan Nyai Wiji Sari yang kacau telah mendorongnya untuk bertempur langsung pada tataran yang menentukan.

Ki Pandi memang tidak dapat mengelak. Ia sadar, bahwa Nyai Wiji Sari itu tentu memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, maka Ki Pandi tidak ingin menjadi lengah dan kehilangan kesempatan. Demikian Nyai Wiji Sari mulai memutar pedangnya, maka Ki Pandi telah melepas ikat kepalanya dan dibalutkan pada lengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam sebuah seruling yang semula terselip di punggungnya.

Betapapun gelap nalar Nyai Wiji Sari, tetapi ketika ia melihat senjata Ki Pandi, maka Nyai Wiji Sari itu pun segera menyadari, bahwa orang bongkok itu bukannya orang kebanyakan.

Karena itu, maka Nyai Wiji Sari itupun menjadi sangat berhati-hati menghadapinya.

Kedua orang pengawal Nyai Wiji Sari telah bersiap pula. Mereka bergeser di sebelah menyebelah Nyai Wiji Sari.

Ki Pandi masih bergeser surut. Kedua orang cantrik yang menyertai telah bersiap pula. Mereka akan menghadapi kedua orang pengawal Nyai Wiji Sari.

“Kau sadari apa yang aku lakukan, Nyai?” bertanya Ki Pandi.

“Kau mulai ketakutan bongkok. Sayang, aku tidak mempunyai perasaan belas kasihan kepada siapa pun juga. Apalagi jika aku sudah terlanjur mencabut pedangku.”

Ki Pandi tidak menjawab. Sementara itu Nyai Wiji Sari telah mengangkat pedangnya sambil berkata lantang, “Lihat pedangku yang berwarna kehitam-hitaman. Ini adalah warna darah yang membeku di daun pedangku. Aku tidak pernah membersihkan-nya jika pedangku berlumur darah.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya daun pedang Nyai Wiji Sari yang menyeramkan. Sama sekali tidak berkilat ditimpa cahaya matahari. Warna coklat kehitaman membuat tengkuk Ki Pandi meremang.

Tetapi Ki Pandi tidak mempunyai banyak kesempatan untuk merenungi lawannya yang menilik senjatanya, Nyai Wiji Sari benar-benar telah terbenam terlalu dalam di lumpur yang pekat.

Nampaknya dengan caranya Nyai Wiji Sari ingin melupakan kepahitan jalan hidupnya yang bernoda. Bahkan Nyai Wiji Sari juga ingin melupakan perasaan bersalah yang selalu membayanginya kemana saja ia pergi.

Dalam pada itu, maka Nyai Wiji Sari pun mulai menggapai tubuh Ki Pandi dengan ujung pedangnya. Namun Ki Pandi bergeser. menghindar.

Nyai Wiji Sari menyadari, bahwa kain ikat kepala Ki Pandi yang dipergunakan untuk membalut lengan kirinya, tentu bukan kebanyakan ikat kepala. Ikat kepala itu tentu selembar ikat kepala yang dibuat secara khusus. Yang liat dan serat-serat benangnya tidak mudah terputus oleh tajamnya senjata.

Demikian pula seruling ditangan kanan orang bongkok itu. Tentu bukan seruling yang dibelinya di pasar atau di sebuah keramaian merti desa. Tetapi seruling itu tentu sebuah seruling yang dibuat secara khusus pula.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, pertempuran pun telah berlangsung dengan sengitnya. Nyai Wiji Sari ternyata memang seorang perempuan yang tangkas, yang memiliki ilmu yang tinggi. Pedangnya berputaran dengan cepat. Sambaran anginnya bagaikan menusuk-nusuk lubang kulit.

Tetapi Nyai Wiji Sari harus melihat kenyataan, bahwa orang bongkok yang buruk itu ternyata benar-benar memiliki ilmu yang tinggi. Apapun yang dilakukan oleh Nyai Wiji Sari, Ki Pandi mampu mengindarinya atau menangkisnya dengan lengannya yang dibalut dengan ikat kepalanya atau dengan serulingnya.

Dengan demikian, maka Nyai Wiji Sari harus meningkatkan ilmunya. Bahkan sampai pada tataran tertinggi.

Dalam pada itu, di pintu-pintu butulan, pertempuran pun telah berlangsung dengan sengitnya. Di pintu butulan sebelah kiri, Manggada dan Laksana telah bertemu dengan dua orang yang pernah berjalan berpapasan di jalan bulak.

Sebagaimana Manggada dan Laksana masih mengenali kedua . orang anak muda itu, ternyata keduanya juga masih mengenali Manggada dan Laksana.

“Jadi kau penghuni padepokan ini, he?” bertanya Parung Landung.

Manggada termangu-mangu sejenak. Katanya, “Kita pernah bertemu Ki Sanak.”

“Kalau aku tahu, kau penghuni padepokan ini, maka saat kita berpapasan, kepalamu tentu sudah aku lumatkan.”

Laksana tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Aku menyesal bahwa kami waktu itu memberikan jalan kepadanya, sehingga kami terpaksa berjalan diatas tanggul parit. Waktu itu, aku memang sudah merencanakan untuk mencabuti kumismu yang jarang itu. Tetapi kakakku mencegahnya.”

“Tutup mulutmu” Paron Waja menggeram, “aku akan menyumbat mulutmu sekarang.”

Laksana masih saja tertawa. Katanya, “Kita mempunyai kesempatan yang sama sekarang. Kawan-kawanmu dan para cantrik di padepokan ini tengah bertempur. Kita pun akan bertempur tanpa orang lain yang akan mengganggu.”

“Bagus. Kita akan bertempur tanpa orang lain yang akan mengganggu kita sampai tuntas,” jawab Parung Landung.

“Kita bertempur di medan perang. Bukan sedang berperang tanding. Karena itu, kemungkinan datangnya gangguan dapat saja terjadi. Karena itu, persetan dengan istilahnya. Sejauh kita mendapat kesempatan bertempur seorang lawan seorang, maka kita akan melakukannya.

“Nah, kami silahkan kalian memilih lawan.”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Tetapi Laksanalah yang berkata, “Kalian saja yang memilih. Aku harus melawan yang mana, dan kakang Manggada yang mana. Bagi kami siapa pun yang kami hadapi, tidak ada bedanya. Kami sudah benar-benar siap menghadapi segala kemungkinan.”

Paron Waja menggeram. Katanya, “Biarlah aku bungkam mulut anak ini.”

Laksana tertawa pula. Katanya, “Mulut ini ada yang punya. Tentu yang punya akan berkeberatan jika mulut ini akan dibungkam.”

Kemarahan Paron Waja benar-benar sudah membakar jantungnya. Karena itu, tiba-tiba saja ia telah meloncat sambil mengayunkan tangannya ke arah wajah Laksana.

Tetapi Laksana sudah bersiap sepenuhnya. Dengan tangkas ia bergeser surut, sehingga tangan Paron Waja tidak menyentuh kulitnya. Namun terasa desir angin menerpa wajah Laksana yang luput dari jangkauan tangan Paron Waja itu.

Dengan demikian Laksana menyadari, bahwa kekuatan Paron Waja memang sangat besar.

Sementara itu, ketika Paron Waja mulai menyerang Laksana, maka Manggada tidak menyia-nyiakan waktu. Justru Manggada lah yang lebih dahulu mengambil langkah. Dengan cepat Manggada meloncat sambil menjulurkan kakinya.

Parung Landung melihat serangan itu. Tetapi demikian cepat dan tidak diduga-duga. Karena itu, maka Parung Landung tidak sempat mengelak. Yang dapat dilakukan adalah sekedar menepis serangan kaki Manggada dan kuat itu.

Ternyata Parung Landung tidak berhasil sepenuhnya. Meskipun kaki Manggada itu tidak mengenai sasaran, tetapi kaki itu masih juga mengenai pundak.

Tubuh Parung Landung itu terputar. Hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Tetapi Parung Landung justru telah bergeser beberapa langkah untuk memperbaiki kedudukan-nya.

Manggada memang tidak memburunya. Ia tidak ingin dianggap curang dan licik. Karena itu, maka Manggada itu pun menunggu sejenak, sehingga Parung Landung berdiri tegak dan siap untuk menghadapinya.

Parung Landung itupun menggeram, “Ternyata kau licik sekali.”

“Tidak. Bukan aku yang licik. Tetapi kau terlalu yakin akan kemampuanmu sehingga kau abaikan aku. Aku memang tidak ingin menentukan akhir dari pertempuran diantara kita dengan serangan yang pertama itu. Aku baru sekedar memperingatkan-mu, agar kau berhati-hati.”

“Kau dapat saja membuat seribu macam alasan. Tetapi sekarang, marilah kita buktikan, siapakah diantara kita yang akan dapat keluar dari pertempuran ini utuh. Bukan hanya namanya.”

Manggada menarik nafas dalam-dalam. Lawannya ternyata memang seorang yang sangat yakin akan kemampuannya

Karena itu, maka Manggada pun telah bersiap sebaik-baiknya untuk menghadapinya.

Demikianlah, Manggada dan Laksana telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Lawan mereka juga masih muda. Tetapi Parung Landung dan Paron Waja agaknva lebih tua dari lawan-lawan mereka.

Pertempuran antara anak-anak muda itupun dengan cepatnya meningkat. Jantung mereka lebih cepat membara dan darah mereka lebih cepat mendidih. Sehingga beberapa saat kemudian, maka pertempuran itu menjadi semakin garang dan segenap kemampuannya dikerahkan.

Parang Landung dan Paron Waja yang terbiasa hidup dalam petualangan, sama sekali tidak merasa canggung. Bahkan mereka pun berusaha dengan cepat untuk mengakhiri lawan-lawan mereka, agar mereka segera dapat terlibat dalam pertempuran melawan para cantrik dari padepokan itu. Adalah sangat menggembirakan untuk membantai cantrik-cantrik pemula yang masih belum banyak berpengalaman.

Tetapi ternyata mereka tidak dapat melakukannya semudah yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Kedua anak muda yang mereka hadapi itu ternyata adalah anak-anak muda yang berbekal ilmu sehingga untuk beberapa saat mereka masih mampu mengimbangi ilmu mereka.

“Karena itu, setelah bertempur beberapa saat lamanya, Parung Landung justru mengumpat-umpat kasar. Ternyata tangan Manggada sempat menggapai keningnya. Meskipun tidak terlalu keras, namun sentuhan itu sendiri membuat kemarahan Parung Landung semakin memuncak.

Karena itu, maka Parung Landung pun telah menghentakkan kemampuannya pula dengan serangan-serangan beruntun yang sempat mengejutkan Manggada.

Karena itu, Manggada telah terdorong surut. Namun serangan Parung Landung masih belum mampu menembus pertahanan Manggada.

Parung Landung menggeram. Ia tidak mau mengalami kenyataan itu. Parung Landung ingin lawannya itu segera dapat diselesaikannya, sehingga dengan wajah tengadah ia dapat menepuk dadanya, “Aku telah membunuh andalan padepokan ini.”

Tetapi ternyata tidak mudah untuk melakukannya. Lawannya ternyata sangat liat dan bahkan berilmu tinggi.

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit pula.

Paron Waja pun mulai menjadi gelisah, ia menyangka bahwa dalam waktu singka anak muda itu dapat segera dikalahkannya.

Tetapi ternyata bahwa anak muda itu mampu mengimbangi-nya.

Dalam pada itu, di belakang pintu butulan sebelah kanan, Ki Jagaprana telah menghentikan dua orang yang disangkanya kembar. Kedua orang yang mengamuk seperti sepasang harimau yang lerluka.

“Bagus” Ki Jagaprana mengangguk-angguk, “apakah memang sudah menjadi kebiasaan kalian bertempur berpasangan?”

“Siapa kau?” bertanya Krendhawa.

“Pertanyaanmu aneh. Seharusnya kau tahu bahwa aku adalah salah satu dari penghuni padepokan ini.”

“Maksudku, siapa namamu?” bentak Krendhawa.

Ki Jagapura tersenyum. Katanya, “Namaku Jagaprana. Aku mendapat perintah untuk menghentikan kalian berdua. Nah, jika kalian memang terbiasa bertempur berpasangan karena kalian anak kembar, maka aku tidak berkeberatan.”

“Kami bukan saudara kembar” geram Mingkara, “umur kami bertaut hitungan tahun.”

“O” Jagaprana mengangguk-angguk, “tetapi ujud kalian tidak ubahnya dua orang kembar.”

“Agaknya matamu lah yang kabur” geram Mingkara.

“Aku tidak peduli, apakah kalian kembar atau tidak. Yang penting bagiku, jika kalian terbiasa bertempur berpasangan, marilah. Aku ingin menjajagi kemampuan kalian berdua.”

“Kau terlalu sombong kakek tua. Betapapun tinggi ilmumu, wadagmu sudah tidak membantu. Kau sudah terlalu tua untuk bertempur di medan yang garang menghadapi petualangan yang terbiasa dengan kekerasan. Bahkan seandainya kau matahari yang menyala di langit, kau sudah memasuki masa senjamu.”

Jagaprana tertawa. Katanya, “Sinar matahari senja masih akan mampu membakar bibir mega di langit. Cahaya layung di senja hari masih dapat membuat mata puluhan orang menjadi sakit.

“Iblis kau” geram Krendhawa, “suaramu seperti sentuhan welat ditelingaku. Pedih. Karena itu, bersiaplah untuk mati. Kami ingin menunjukkan, betapa kami mampu bertempur berpasangan melampaui orang kembar sebenarnya.”

Ki Jagaprana masih tertawa. Katanya, “Marilah, aku sudah siap.”

Mingkara memang tidak sabar lagi. Dengan garangnya, ia pun meloncat menyerang Ki Jagaprana dengan ayunan tangannya.

Ki Jagaprana bergeser surut. Tangan itu tidak menyentuh tubuhnya.

Tetapi serangan berikutnya pun segera menyusul. Krendhawa telah menjulurkan kakinya menyerang lambung. Tetapi dengan cepat Ki Jagaprana menggeliat, sehingga serangan itu sama sekali tidak mengenainya.

Bahkan tiba-tiba saja Ki Jagaprana yang tua itu melenting sambil berputar. Kakinya yang terayun mendatar hampir saja menyambar kening Krendhawa.

“Iblis tua” geram Krendhawa sambil meloncat menjauh. Ki Jagaprana tertawa pula. Katanya, “Jangan mengumpat. Umpatanmu tidak akan membantumu mengalahkan aku.”

“Diam kau iblis tua,” teriak Mingkara.

Tetapi Jagaprana tertawa semakin keras.

Demikianlah pertempuran pun semakin lama menjadi semakin sengit. Krendhawa dan Mingkara memang bertempur berpasangan. Tetapi ternyata bahwa Ki Jagaprana benar-benar seorang yang berilmu tinggi.

Semakin lama Krendhawa dan Mingkara bertempur melawan orang tua iru, maka mereka pun semakin menyakini akan tingkat kemampuannya, sehingga kedua orang yang dianggap kembar itu harus meningkatkan ilmunya pula.

Pertempuran memang menyala semakin besar. Tidak hanya di belakang pintu-pintu butulan. Tetapi juga di belakang pintu gerbang utama.

Agak terpisah, Nyai Wiji Sari tengah bertempur melawan Ki Pandi yang bongkok. Pedang Nyai Wiji Sari yang kehitam-hitaman itu berputar dengan cepat. Namun Ki Pandi pun telah mengimbanginya. Dengan cepat orang bongkok itu menghindari serangan-serangan Nyai Wiji Sari. Pedang yang terayun-ayun itu tidak segera dapat mengenai tubuh orang bongkok yang mampu bergerak cepat itu.

Namun sebenarnya lah, bahwa serangan-serangan Nyai Wiji Sari tidak cukup membahayakan bagi Ki Pandi. Betapapun garangnya serta tingginya ilmu Nyai Wiji Sari, namun dihadapan Ki Pandi, Nyai Wiji Sari bukan seorang yang mencemaskan.

Karena itu, maka hentakan-hentakan serangan Nyai Wiji Sari tidak mampu menembus pertahanan Ki Pandi.

Nyai Wiji Sari mulai menjadi gelisah. Apa pun yang dilakukan, serangan-serangannya tidak mampu menyentuh tubuh orang bongkok itu.

Nyai Wiji Sari yang bangga akan kecepatan geraknya, di hadapan Ki Pandi tidak terlalu banyak berarti, karena Ki Pandi itu pun mampu bergerak cepat pula meskipun nampaknya orang itu selalu berjalan terbongkok-bongkok.

Semakin lama Nyai Wiji Sari semakin menyadari, bahwa orang bongkok itu memiliki ilmu yang lebih tinggi dari ilmunya. Bahkan Nyai Wiji Sari itu pun mulai menyadari, bahwa orang bongkok itu masih belum sampai ke puncak kemampuannya.

Meskipun demikian, Nyai Wiji Sari tidak segera berputus-asa. Perempuan yang garang itu mempunyai pengalaman yang luas sekali. Ia sudah pernah bertempur melawan orang yang memiliki berbagai macam ilmu.

Sementara itu, Nyai Wiji Sari masih merasa mempunyai puncak ilmu yang masih belum ditrapkan. Meskipun Nyai Wiji Sari itu tidak yakin bahwa puncak ilmunya itu akan dapat mengakhiri pertempuran itu, namun ia harus mencobanya.

Nyai Wiji Sari sendiri mencemaskan keragu-raguannya sendiri. Biasanya ia tidak pernah merasa ragu menghadapi lawan yang betapapun garangnya. Bahkan dalam pertempuran yang terjadi diantara mereka yang berebut daerah jelajah. Pertengkar-an dan permusuhan yang terjadi diantara orang-orang yang hidupnya berada di bawah permukaan.

Namun dalam pada itu. Nyai Wiji Sari pun merasa heran, bahwa serangan-serangan Ki Pandi pun tidak pernah membahayakannya. Sekali-sekali seruling Ki Pandi memang pernah menyentuh kulitnya, tetapi sama sekali tidak menyakitinya. Seakan-akan Ki Pandi hanya ingin membuktikan, betapa rapuhnya pertahanan Nyai Wiji Sari itu dihadapan Ki Pandi yang bongkok itu.

Meskipun Nyai Wiji Sari masih harus berteka-teki, namun ia masih bertempur terus. Pedangnya masih berputaran dengan garangnya, meskipun serangan-serangannya tidak pernah berhasil.

Dalam, keadaan yang gawat itu, maka Nyai Wiji Sari mulai mempertimbangkan untuk mengetrapkan ilmu puncaknya. Ia sadar, jika ia gagal, maka orang bongkok itu tentu akan menjadi bersungguh-sungguh pula. Mungkin dengan demikian pertahanannya justru benar-benar akan dihancurkannya.

Tetapi akibat yang paling buruk harus dijalaninya, karena sejak semula Nyai Wiji Sari sudah memperhitungkan kemungkinan yang demikian akan dapat terjadi atas dirinya.

Tetapi Nyai Wiji Sari memang tidak dengan serta-merta mengetrapkan ilmu puncaknya. Ia masih membuat beberapa pertimbangan dan persiapan.

Sementara itu, dua orang pengawalnya masih juga bertempur dengan sengitnya melawan dua orang cantrik yang datang bersama Ki Pandi. Nampaknya mereka memiliki kesempatan yang sama. Mereka adalah orang-orang yang memiliki pengalaman yang cukup luas dengan landasan ilmu yang cukup.

Sedangkan pertempuran yang terjadi di sekitar pintu-pintu butulan pun telah merambat semakin lebar. Para cantrik tidak dapat membatasi pertempuran di arena yang terbatas. Tetapi para pengikut Kiai Narawangsa berusaha untuk menebar seluas-luasnya di padepokan itu.

Namun ada yang pernah terjadi sebelumnya telah terjadi pula di padepokan itu. Para cantrik dari padepokan itu telah memanfaatkan penge-nalan mereka atas medan sebaik-baiknya. Diantara bangunan-bangunan yang ada, para cantrik menyerang lawan-lawannya dengan tiba-tiba. Mereka muncul dari balik sudut-sudut bangunan yang ada. Dari balik pintu dan dari ruang-ruang yang tersebar dalam bangunan-bangunan di padepokan itu.

Para cantrik pemula, yang terdiri dari anak-anak muda yang belum lama berada di padepokan, menyerang lawan-lawan mereka dalam kelompok-kelompok kecil.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi menggapai puncak langit, pertempuran telah menyebar hampir di seluruh padepokan. Para cantrik sulit mengendalikan lawan mereka.

Dalam pada itu, Ki Lemah Teles dan Ki Warana yang sudah turun dari panggungan, telah menghilang diantara bangunan yang ada di padepokan itu. Bersama beberapa orang cantrik pemula, mereka berusaha menemukan lawan disela-sela bangunan. Ki Lemah Teles kadang-kadang membiarkan para cantrik pemula untuk mendapatkan pengalaman. Tetapi dalam keadaan yang gawat, maka Ki Lemah Teles telah berusaha untuk mengurangi kekuatan lawan.

Seperti sosok hantu diterik cahaya matahari, Ki Lemah Teles telah berhasil menyusut lawan cukup banyak. Tetapi sebenarnya-lah Ki Lemah Teles bukan seorang pembunuh. Ia selalu berusaha melumpuhkan lawan-lawannya tanpa membunuhnya.

Dalam pada itu, pertempuran tidak jauh dari pintu gerbang utama masih berlangsung dengan sengitnya. Kiai Narawangsa ternyata tidak segera mengalahkan lawannya yang dianggapnya sudah terlalu tua untuk turun ke medan pertempuran. Lawannya, Ki Ajar Pangukan benar-benar seorang yang berilmu sangat tinggi, sehingga ilmunya sama sekali tidak dapat disusul oleh umurnya yang semakin tua.

Sementara itu, bindi Gunasraba yang berat itu setiap kali saling berbenturan dengan pedang Ki Sambi Pitu. Kekasaran dan tenaga yang besar dari Gunasraba sama sekali tidak banyak berarti bagi Ki Sambi Pitu. Beberapa kali Gunasraba harus meloncat menjauhi lawannya untuk memperbaiki keadaannya. Namun rasa-rasanya ujung pedang Ki Sambi Pitu selalu memburunya. Meskipun Gunasraba beberapa kali berusaha menjauh, namun Ki Sambi Pitu itu selalu saja lekat dihadapannya. Serangan-serangannya menjadi semakin berbahaya.

Namun akhirnya batas kemampuan pertahanan Gunasraba dapat ditembus. Ujung pedang Ki Sambi Pitu mulai menyentuh kulit. Sebuah goresan menyilang di lengan Gunasraba.

Gunasraba mengumpat kasar. Kemarahannya semakin membakar ubun-ubunnya. Luka di lengannya itu telah menitikkan darahnya yang hangat.

Tetapi kemarahan, umpatan dan geram tidak cukup untuk menghentikan perlawanan Ki Sambi Pitu. Untuk mengalahkan lawannya diperlukan kemampuan dan ilmu yang tinggi.

Gunasraba yang gelisah itu masih memutar bindinya. Justru semakin cepat. Bindi itu terayun-ayun di seputar tubuhnya, sehingga memang sulit bagi Ki Sambi Pitu untuk mendekat.

Tetapi Ki Sambi Pitu bukannya seorang cantrik yang baru mulai berlatih mengenali dasar-dasar ilmu kanuragan. Ki Sambi Pitu adalah seorang yang sudah kenyang menelan pahit manisnya dunia yang keras.

Itulah sebabnya, maka putaran bindi Gunasraba yang bahkan seakan-akan merupakan gumpalan awan hitam yang mengelilingi tubuhnya, tidak mampu membentengi serangan Ki Sambi Pitu.

Sebuah serangan yang cepat, menyusup diantara putaran bindi itu, langsung menyentuh pundak Gunasraba. Namun hampir saja bindi itu menghantam kening Ki Sambi Pitu.

Ki Sambi Pitu bergerak dengan cepatnya. Sambil merendah, sekali lagi pedangnya terjulur. Ketika sambaran angin yang ditimbulkan oleh ayunan bindi Gunasraba itu menyambar wajahnya, maka pedang Sambi Pitu itu mematuk dengan cepatnya menyusup disela-sela tulang iga Gunasraba.

Terdengar teriakan melengking tinggi. Gunasraba terhuyung-huyung surut. Demikian Ki Sambi Pitu menarik pedangnya, maka darah pun memancar dari luka di dada Gunasraba.

Sejenak kemudian, maka Gunasraba itupun jatuh terbanting di tanah seperti sebatang pohon pisang yang rebah.

Kematian Gunasraba menimbulkan kegelisahan yang mencengkam jantung para pengikut Kiai Narawangsa. Ki Gunasraba menurut pengertian mereka adalah seorang yang berilmu tinggi. Ia merupakan kepercayaan Kiai Narawangsa di medan pertempuran. Apalagi Ki Gunasraba adalah adik Kiai Narawangsa yang diharapkan akan menggantikannya memimpin padepokan yang akan ditinggalkan oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari.

Ki Sambi Pitu yang berdiri termangu-mangu sambil menggenggam hulu pedangnya yang basah oleh darah tercenung sejenak memandangi tubuh yang terbaring diam. Namun ia tidak mempunyai banyak kesempatan. Beberapa orang pengikut Kiai Narawangsa itupun serentak telah menyerang Ki Sambi Pitu.

Ki Sambi Pitu pun dengan cepat berloncatan menghindar. Sementara itu para cantrik pun tidak membiarkan lawan mereka bergerak leluasa.

Tetapi pertanda-pertanda buruk telah nampak pada pasukan Kiai Narawangsa. Ternyata kekuatan yang mereka hadapi jauh lebih besar dari perhitungan mereka. Bahwa di padepokan itu terdapat beberapa orang berilmu tinggi sebelumnya tidak pernah mereka duga. Satu-satunya orang yang mereka perhitungkan mempunyai ilmu yang tinggi adalah Kiai Banyu Bening sendiri. Tetapi justru Kiai Banyu Bening itu sudah tidak ada. Yang ada adalah beberapa orang ysng berilmu tinggi.

Kematian Gunasraba merupakan satu pukulan yang berat bagi Kiai Narawangsa. Kecuali Gunasraba adalah adiknya, ia termasuk orang yang cerdik dan berilmu tinggi. Namun di padepokan itu, Gunasraba tidak mampu mempertahankan diri menghadapi lawannya yang sudah menjadi tua itu.

Sementara itu, Kiai Narawangsa sendiri mengalami kesulitan menghadapi Ki Ajar Pangukan. Kiai Narawangsa yang memiliki pengalaman yang sangat luas itu harus menghadapi kenyataan, bahwa di padepokan itu terdapat seorang yang mampu mengimbangi ilmunya. Sedangkan orang yang lain lagi, masih juga bertempur melawan Nyai Wiji Sari. Nampaknya Nyai Wiji Sari yang bertempur tidak jauh dari sebuah tugu sebagai alas sebuah nisan kecil itu, juga tidak segera dapat mengalahkan lawannya.

“Darimana saja orang-orang berilmu tinggi yang berkumpul di padepokan ini?” bertanya Kiai Narawangsa didalam hatinya.

Kiai Narawangsa pun bertanya-tanya pula kepada diri sendiri.

Bagaimanakah dengan Parung Landung dan Paron Waja serta Krendhawa dan Mingkara.

Tetapi Kiai Narawangsa tidak mempunyai banyak waktu untuk merenungi keadaan. Ki Ajar Pangukan telah melibatkan dalam pertempuran yang sengit. Hampir tidak ada waktu sekejap pun untuk memperhatikan keadaan, kecuali jika Kiai Narawangsa itu sengaja mengambil jarak.

Dalam pada itu, Manggada masih bertempur melawan Parung Landung, sedangkan Laksana menghadapi Paron Waja. Mereka adalah anak-anak muda yang jantungnya masih mudah terbakar. Sementara itu mereka adalah anak-anak muda yang memiliki bekal ilmu yang tinggi.

Namun Parung Landung yang bertempur melawan Manggada harus menyadari, bahwa lawannya ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Jika anak muda itu lebih baik menyingkir ketika mereka berpapasan, itu bukan karena mereka tidak mempunyai bekal untuk berkelahi, tetapi agaknya anak muda itu memang menghindari perselisihan yang tidak perlu.

Tetapi ketika anak muda itu benar-benar dihadapkan pada satu pertempuran yang tidak dapat dihindari, maka ternyata ia telah menunjukkan kemampuannya yang tinggi.

Sebenarnyalah Manggada mampu bertempur dengan cepat, keras dan garang. Tubuhnya yang liat seakan-akan tidak bertulang lagi. Anak muda itu mempunyai banyak sekali cara untuk menyerang dan bertahan. Kakinya dengan tangkas berloncatan seakan-akan tidak lagi berjejak diatas tanah.

Tetapi Parung Landung yang ditempa dalam lingkungan yang keras dan kasar itupun menjadi keras dan kasar pula. Ketika ia menyadari bahwa lawannya memiliki ilmu yang tinggi, maka Parung Landung itupun telah meningkatkan serangan-serangannya.

Dengan demikian, maka pertempuran pun menjadi semakin sengit. Serangan-serangan Parung Landung menjadi semakin garang. Ketika kemudian ditangannya tergenggam sebuah golok yang besar, maka Manggada pun telah memegang pedangnya pula.

Ternyata keduanya memiliki kemampuan bermain senjata yang tinggi. Golok yang besar di tangan Parung Landung menjadi semakin berbahaya karena kekuatan anak muda itu memang sangat besar. Tetapi tidak kalah berbahayanya pedang di tangan Manggada. Pedang itu berputaran dengan cepatnya. Terayun-ayun mendebarkan.

Sementara itu, Laksana dan Paron Waja pun masih juga bertempur dengan sengitnya pula. Keduanya juga sudah menggenggam senjata. Benturan-benturan telah terjadi dengan kerasnya. Kedua-duanya memiliki kekuatan yang besar.

Namun Laksana yang telah ditempa dalam kehidupan hutan bersama Manggada dan Ki Pandi itu, dengan cepat menyesuaikan diri dengan gaya permainan senjata lawannya.

Karena itu, apapun yang dilakukan oleh Mingkara, Laksana dapat mengimbanginya.

Justru karena itu, kemarahan Mingkara bagaikan telah menyulut ubun-ubunnya. Dihentakkannya kemampuan dan ilmunya untuk mengatasi ketangkasan lawannya.

Demikianlah, maka dentang senjata yang berbenturan itupun telah memercikkan bunga api. Senjata-senjata yang terbuat dari baja pilihan itu berputaran, menyambar, mematuk dan saling mendera.

Sementara itu, pertempuran antara para pengikut Kiai Narawangsa dan para penghuni padepokan itupun menjadi semakin sengit pula. Satu-satu korban pun berjatuhan. Beberapa orang yang sempat, telah menyingkirkan kawan-kawan mereka yang terluka, agar mereka tidak terlanjur mati terinjak-injak kaki mereka yang sedang bertempur.

Ketika matahari melewati puncaknya, maka langit pun bagaikan membara. Panasnya seakan-akan menyusup tubuh dan menghanguskan tulang. Sementara itu pertempuran masih saja berlangsung dengan sengitnya.

Ki Jagaprana memang harus bekerja keras menghadapi dua orang saudara yang semula disangkanya kembar. Kedua orang itu mampu bertempur berpasangan dengan rapat. Saling mengisi dan saling melindungi. Mereka datang menyerang berganti-ganti berurutan seperti gelombang yang didera oleh prahara, bergulung-gulung menghantam tebing.

Tetapi Ki Jagaprana adalah seorang yang mumpuni. Ilmunya yang tinggi benar-benar telah mapan di tempa oleh pengalaman. Meskipun umurnya menjadi semakin tua, tetapi ia masih tetap seorang yang sulit dicari tandingnya.

Sesaat demi sesaat, dua orang kakak beradik itu menjadi semakin berat. Serangan-serangan Ki Jagaprana tidak kalah garangnya dengan serangan-serangan kedua orang lawannya. Meskipun tidak terlalu sering, tetapi beberapa kali membuat kedua orang lawannya itu terkejut dan terpaksa berloncatan menjauhinya.

Namun Ki Jagaprana tidak ingin pertempuran itu menjadi semakin berkepanjangan. Ia hanya seorang diri, sedangkan lawannya bertempur berpasangan. Pada saatnya, maka ia harus memeras tenaga lebih banyak dari lawannya seorang-seorang. Karena, itu, selagi tenaganya masih belum susut, maka ia harus berusaha mengakhiri pertempuran itu.

Dalam pada itu, pertempuran di sekitarnya masih berlangsung Bahkan semakin menebar. Para pengikut Kiai Narawangsa tidak mau terkurung dalam batasan yang sempit. Karena itu, maka mereka pun berusaha untuk menebar semakin luas.

Dalam pada itu, Krendhawa yang sempat mendesak Ki Jagaprana surut berteriak, “Mati kau orang tua yang sombong.”

Tetapi Ki Jagaprana tidak mati. Ia sempat mengelakkan senjata Krendhawa yang terjulur ke arah dadanya. Namun dalam waktu yang hampir bersamaan Mingkara pun berteriak, “Mati kau iblis tua.”

Tetapi Jagaprana justru tertawa. Dengan nada tinggi ia berkata, “Kalian tahu artinya mati?”

“Tutup mulutmu” bentak Krendhawa.

Ki Jagaprana merendahkan dirinya. Senjata Krendhawa terayun deras di atas kepalanya. Tetapi senjata itu tidak menyentuh kulit Ki Jagaprana.

Namun Mingkara itu berteriak, “Kau tidak akan dapat luput dari tangan kami iblis tua. Kau akan segera jatuh ke tangan kami, apapun yang kau lakukan.”

“Jangan banyak sesumbar” desis Ki Jagaprana sambil menghindari serangan Krendhawa, “jika aku memerlukan kawan, maka aku tinggal berteriak saja. Beberapa orang akan segera berdatangan dan membantu aku membantai kalian berdua. Tetapi bukan itu niatku. Aku masih ingin menjajagi kemampuanku, apakah panasku, masih lebih tajam dari panasmu. Apakah panas Matahari senja masih mampu membuat air mendirih atau sekedar mengepulkan asap.”

“Kau memang terlalu banyak berbicara.” geram Krendhawa.

Namun kata-kata Krendhawa terputus. Ki Jagaprana memang sudah mulai merasa letih. Ia sadar, bahwa beberapa saat kemudian, maka tenaganya tentu akan menyusut.

“Apakah aku memang sudah tua?” bertanya Ki Jagaprana kepada diri sendiri, “kenapa aku sekarang menjadi terlalu cepat letih?”

Ki Jagaprana masih menguji dirinya sendiri. Tetapi karena ia harus bertempur melawan dua orang yang berilmu tinggi, maka Ki Jagaprana memang harus mengerahkan tenaga dan kemampuannya.

Namun dalam pada itu, meskipun Ki Jagaprana telah mulai merasa letih, tenaganya masih belum menyusut justru karena itu, maka ia ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu sebelum tenaganya benar-benar telah menyusut.

Sementara itu, maka Krendhawa dan Mingkara pun telah berusaha untuk memperbaiki keadaannya. Mereka pun ingin agar orang tua itu segera dapat diakhiri.

Karena itu, maka kedua orang itu telah mengerahkan kemampuan mereka tertinggi. Seperti Gunasraba, maka keduanya memiliki kekuatan yang sangat besar. Dengan mengandalkan kekuatannya itu, keduanya telah mencoba menghimpit Ki Jagaprana dari dua arah yang berlawanan.

Ki Jagaprana pun mulai merasakan seakan-akan kekuatan kedua orang lawannya itu meningkat. Setiap terjadi benturan, Jagaprana memang merasakan tekanan yang kuat dari kedua orang lawannya. Namun kekuatan yang besar itu tidak menjamin kemenangan dalam pertempuran yang cepat dan keras itu.

Dalam keadaan yang gawat itu, maka Ki Jagaprana telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghentikan pertempuran. Senjata yang sudah berada di tangannya itu mulai menyusup di sela-sela pertahanan senjata lawan-lawannya.

Di bawah teriknya sinar matahari, maka kecepatan gerak Ki Jagaprana ternyata menjadi sangat menguntungkan, justru karena lawannya mengandalkan kekuatan mereka. Ketika senjata Krendhawa terayun dengan derasnya, maka Ki Jagaprana masih sempat untuk merendah. Namun bersamaan dengan itu, Ki Jagaprana telah berputar, sementara tangannya yang menggenggam senjatanya itu pun telah terentang.

Putaran ujung senjata Ki Jagaprana itu ternyata berhasil menyusup dibawah pertahanan Krendhawa. Karena itu, maka sejenak kemudian terdengar Krendhawa itu berteriak nyaring. Umpatan-umpatan kasar terdengar meloncat dari mulutnya.

Krendhawa itu pun kemudian terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Ternyata ujung senjata Ki Jagaprana itu telah mengoyak lambung.

Mingkara yang melihat saudaranya terluka, dengan serta-merta telah meloncat menyerang Ki Jagaprana. Senjata terayun dengan derasnya mengarah ke kening Ki Jagaprana. Namun Ki Jagaprana sempat melihat serangan itu. Sekali lagi ia dengan cepat merendah dengan berjongkok diatas satu lututnya, sementara ujung senjatanya terjulur lurus menggapai tubuh lawannya.

Mingkara terkejut. Langkahnya terhenti. Namun ia tidak tahu lagi apa yang telah terjadi. Ujung senjata Ki Jagaprana itu ternyata telah menggapai jantung Mingkara.

Ketika kemudian Ki Jagaprana menarik senjatanya, maka Mingkara itu telah jatuh terjerembab. Tubuhnya terbanting di tanah sementara nafasnya telah terputus.

Krendhawa melihat keadaan saudara laki-lakinya itu. Karena itu dengan sisa tenaganya ia berusaha menyerang Ki Jagaprana.

Ki Jagaprana melihat serangan itu. Yang dilakukannya kemudian adalah sekedar menghindar. Dengan cepat ia bangkit dan meloncat, kesamping.

Serangan Krendhawa itu tidak menyentuh sasaran. Namun dengan menghentakkan tenaganya, sementara lambungnya sudah terkoyak, maka darah Krendhawa seakan-akan telah diperas keluar.

Sejenak Krendhawa itu terhuyung-huyung. Namun demikian banyaknya darah yang terperas, sehingga tubuh itu menjadi sangat lemah.

Perlahan-lahan Krendhawa jatuh berlutut. Namun kemudian tubuhnya itu terguling. Meskipun demikian Krendhawa itu masih sempat mengerang kesakitan.

Ki Jagaprana termangu-mangu sejenak. Dipandanginya tubuh yang terbaring diam. Beberapa langkah dari tubuh Krendhawa itu, tubuh Mingkara pun terbaring diam pula.

Ki Jagaprana mengerutkan keningnya ketika ia melihat Krendhawa itu kemudian telah bergerak. Dengan sisa tenaganya, Krendhawa berusaha untuk merangkak mendekati tubuh adiknya yang telah tidak bernafas lagi

“Bangkitlah Mingkara. Ayo bangkit. Kita bunuh iblis tua itu. Kita adalah orang-orang yang tidak terkalahkan. Segala kemauan kita terjadi.”

Ki Jagaprana memandang tingkah laku Krendhawa itu dengan jantung yang berdebaran. Ketika ia melihat Krendhawa itu mengguncang-guncang tubuh adiknya, maka dada Ki Jagaprana itupun menjadi berdebar-debar. Ternyata Krendhawa tidak mau melihat kenyataan sampai pada saat-saat terakhirnya.

Bahkan kemudian Krendhawa itu berusaha untuk bangkit. Dicobanya untuk mengangkat kepala adiknya sambil berkata dengan suara gemetar, “Bangkitlah Mingkara. Bangkitlah. Kita tidak punya banyak waktu lagi.”

Tetapi Mingkara sama sekali tidak bergerak lagi.

“Mingkara, Mingkara” Krendhawa itupun kemudian berte riak, “kau kenapa he?”

Sementara itu darah dari luka Krendhawa itupun mengalir semakin banyak. Gerak seru teriakan-teriakannya membuat darahnya mengalir bergumpal-gumpal.

Sementara itu pertempuran pun masih berlangsung di mana-mana. Tetapi tidak seorang pun yang sempat mendekati mereka. Para cantrik dari padepokan itu telah semakin menekan para pengikut Kiai Narawangsa. Ketika ada seorang yang akan berlari kearah Krendhawa dan Mingkara, maka seorang cantrik telah menahan mereka dan melibatnya dalam pertempuran.

Ki Jagaprana yang menyaksikan tingkah laku Krendhawa itu pun menjadi iba. Dengan hati-hati iapun telah mendekatinya.

Tetapi Krendhawa tidak menghiraukannya. Seakan-akan ia ti dak melihat lagi orang-orang lain yang ada di sekitarnya, selain adiknya yang telah terbunuh itu.

“Ki Sanak” desis Ki Jagaprana, “jangan terlalu banyak bergerak. Darahmu akan semakin terperas dari tubuhmu. Tenanglah, berbaringlah dengan baik.”

Krendhawa itu mencoba memandang wajah Ki Jagaprana. Tetapi ternyata ia tidak lagi dapat mengenalinya. Selain matanya yang sudah menjadi kabur, nalarnya juga sudah tidak utuh lagi. Sementara itu, matahari di langit membuat pandangannya menjadi silau.

“Siapa kau?” bertanya Krendhawa.

“Siapa pun aku tidak penting bagimu. Tetapi tenanglah. Berbaringlah.”

“Aku sedang membangunkan adikku. Ia sudah terlalu lama tidur. Ia harus bangkit. Perang sudah dimulai.”

“Perang sudah selesai. Biarlah adikmu beristirahat. Ia sangat letih.”

“Perang sudah selesai?” bertanya Krendhawa

Krendhawa itu termangu-mangu sejenak. Tetapi tubuhnya sudah menjadi semakin lemah. Darahnya membasahi tanah. Sementara tubuhnya sendiri juga sudah menjadi merah sebagaimana tubuh Mingkara.

“Perang memang sudah selesai. Beristirahatlah dengan sebaik-baiknya.”

Krendhawa mengerutkan keningnya. Ia mencoba untuk mengamati wajah Ki Jagaprana. Tetapi segala-galanya menjadi semakin kabur.

Meskipun demikian, Krendhawa itupun meletakkan kepalanya di tubuh adiknya. Seakan-akan diluar sadarnya ia berkata ‘“Aku akan tidur dahulu. Perang sudah selesai.”

Tetapi tiba-tiba Krendhawa itu mengangkat kepalanya sambil bertanya”Apakah kita menang?”

“Ya. Kita menang.”

“Kiai Banyu Bening sudah dibunuh?”

“Ya. Kiai Banyu Bening sudah dibunuh.”

Orang itu tersenyum. Namun kemudian kepalanya itupun diletakkannya kembali. Ia masih akan berbicara lagi. Tetapi terasa pedih dilambungnya.

Krendhawa masih mencoba tersenyum karena kemenangan yang telah dicapai oleh Kiai Narawangsa dengan membunuh Kiai Banyu Bening.

Namun senyuman itu adalah senyumannya yang terakhir. Krendhawa pun telah mengakhiri hidupnya di medan pertempuran.

Ki Jagaprana menarik nafas, dalam-dalam. Iapun Kemudian berdiri dan melangkah meninggalkan tubuh dua orang kakak beradik yang semula disangkanya kembar itu.

Pertempuran masih terjadi di sekitarnya. Para cantrik masih belum dapat mengusir lawan-lawannya. Bahkan pertempuran pun telah menjadi semakin meluas dimana-mana.

Ki Jagaprana yang telah kehilangan lawannya itu pun kemudian melangkah mendekati arena. Beberapa orang pengikut yang sempat melihat Ki Jagaprana membunuh Krendhawa dan Mingkara, menjadi berdebar-debar. Tengkuk mereka meremang, seolah-olah senjata Ki Jagaprana itu telah menyentuhnya.

“Siapa yang akan menyerah, menyerahlah” teriak Ki Jagaprana tiba-tiba.

Ternyata teriakannya itu berpengaruh. Para pengikut Kiai Narawangsa menjadi semakin gelisah.

Dengan lantang Ki Jagaprana itu berkata selanjurnya, “Hanya ada dua pilihan. Menyerah atau mati.”

Beberapa orang pengikut Kiai Narawangsa memang mulai memikirkan untuk menyerah. Namun seorang yang bertubuh tinggi dan besar itu berteriak, “Hanya ada dua pilihan bagi kami. Menang atau mati.”

“Apakah aku tidak salah dengar?” bertanya Ki Jagaprana, “menyerah atau mati.”

“Tidak. Menang atau mati.”

Ki Jagaprana menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya orang itu termasuk seorang yang berpengaruh di lingkungan para pengikut Kiai Narawangsa. Sambil berteriak orang itu bertempur melawan dua orang cantrik. Katanya, “Kita sudah berada di ambang kemenangan. Tidak ada orang yang dapat menghalangi kita.”

Jantung Ki Jagaprana mulai tergelitik. Karena itu, maka ia pun mendekatinya sambil berkata, “Kau lihat aku membunuh kedua orang yang semula aku sangka kembar itu?”

“Jangan mengigau. Aku tidak peduli apa yang telah kau lakukan. Tetapi kami tidak akan menyerah.”

Ki Jagaprana yang mulai letih itu memang menjadi mudah tersinggung. Panasnya terik matahari, keringat yang membasahi tubuhnya serta pertempuran yang menjalar kemana-mana membuatnya cepat mengambil keputusan. Orang itu harus dihentikan. Kemudian yang lain akan mudah dikendalikan.

Karena itu, maka Ki Jagaprana pun telah mendekatinya sambil berkata, “Mulutmu memang harus dibungkam.”

“Mulutmu yang akan aku koyakkan jika kau berani mendekat.”

Ki Jagaprana pun melangkah semakin dekat. Kemudian katanya kepada kedua orang yang bertempur melawan orang yang bertubuh tinggi besar itu, “Minggirlah. Bantu kawan-kawanmu, biarlah aku selesaikan orang ini.”

Kedua orang cantrik yang bertempur melawan orang yang bertubuh tinggi besar itupun segera berloncatan menjauh, sementara Ki Jagaprana telah memasuki medan.

Orang yang bertubuh tinggi besar itu menggeram. Ketika Ki Jagaprana melangkah semakin dekat, maka orang yang bertubuh tinggi besar itu telah meloncat menyerangnya.

Kemarahan memang sudah membakar jantung Ki Jagaprana. Karena itu, maka ketika orang itu meloncat menyerang, maka Ki Jagaprana telah bergeser selangkah, sehingga serangan itu tidak mengenai sasarannya. Namun bersamaan dengan itu, senjata Ki Jagaprana telah terayun mendatar.

Segores luka telah menyilang di dada orang itu. Terhuyung-huyung ia terdorong beberapa langkah surut

Orang itu masih sempat mengumpat. Tetapi tubuhnya pun segera jatuh terguling.

Orang itu memang tidak terbunuh. Namun ia sudah tidak mempunyai kemampuan lagi untuk bangkit.

Sejenak Ki Jagaprana berdiri termangu-mangu. Bahwa orang bertubuh tinggi besar itu sudah tidak berdaya, ternyata pengaruhnya memang besar sekali. Para pengikut Kiai Narawangsa yang bertempur di sekitar tempat itu hatinya menjadi semakin kecut.

Dalam pada itu Ki Jagaprana berteriak lagi, “Siapa yang akan menyerah, akan mendapat perlakuan wajar. Tetapi siapa yang tidak menyerah, akan mengalami perlakuan yang buruk.”

Tetapi masih juga ada pengikut Kiai Narawangsa yang setia. Dengan lantang ia berteriak, “Hanya pengkhianat sajalah yang akan menyerah.”

Tetapi demikian mulutnya terkatub, maka ujung sepucuk tombak pendek telah mematuknya.

Orang itu terkejut. Tetapi ia sudah terlambat untuk berbuat sesuatu. Ujung tombak itu telah menghunjam dalam-dalam di dadanya.

Ketika orang itu rebah di tanah, maka seorang cantrik dengan tombak di tangan telah bergeser menjauhinya.

Dalam pada itu, sekali lagi Ki Jagaprana berkata lantang, “Siapa yang akan menyerah? Yang keras kepala seorang demi seorang akan mati di padepokan ini.”

Tidak ada seorang pun yang berani berteriak lagi. Ketika Ki Jagaprana menawarkan kesempatan sekali lagi untuk menyerah, maka beberapa orang dengan serta-merta telah bergeser menjauhi lawan-lawannya sambil meletakkan senjata mereka, “Aku menyerah.”

Pernyataan beberapa orang itu telah diikuti oleh beberapa orang yang lain lagi. Semakin lama semakin banyak, sehingga akhirnya hampir semua orang yang bertempur di sekitarnya telah menyerah pula.

Tetapi mereka yang telah bergeser jauh dari pintu gerbang itu, tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi di pintu gerbang itu. Karena itu, mereka yang tidak mendengar teriakan Ki Jagaprana dengan jelas tidak berbuat sebagaimana dilakukan oleh kawan-kawan mereka.

Mereka masih saja bertempur dengan garangnya.

Namun akhirnya mereka mengetahuinya pula, kenapa banyak kawan-kawannya yang menghentikan perlawanan.

“Krendhawa dan Mingkara telah mati terbunuh.”

Sementara itu, di pintu butulan yang lain, Manggada dan Laksana masih bertempur dengan sengitnya melawan Parung Landung dan Paron Waja.

Anak-anak muda itu telah bertempur habis-habisan. Nampaknya pertempuran itu akan menentukan, siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati.

Namun sebenarnyalah kegarangan Parung Landung dan Paron Waja tidak mampu mengimbangi kemampuan ilmu Manggada dan Laksana. Kedua orang anak muda yang sudah ditempa di sanggar oleh ayah Laksana dan yang kemudian dimatangkan oleh pengalaman. Bahkan kemudian mereka telah ditumbuh-besarkan oleh Ki Pandi dengan caranya.

Tubuh Manggada dan Laksana menjadi liat dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan yang bagaimana pun juga rumitnya. Di hutan mereka menjalani laku yang berat, namun yang sangat berarti bagi perkembangan ilmu mereka.

Parung Landung yang merasa dirinya mempunyai kemampuan yang sangat tinggi, semula merasa yakin akan dapat mengalahkan lawannya. Tetapi ternyata kemudian bahwa kemampuannya tidak dapat mengguncang ilmu Manggada. Goloknya yang besar setiap kali terayun tanpa mampu menyentuh sasarannya. Jika terjadi benturan, maka goloknya yang berat itu malah terasa sebagai beban.

Di bawah teriknya matahari, maka ujung pedang Manggada mulai menyusup menembus pertahanan Parung Indung. Betapa kuatnya Parung Landung, namun ketangkasan Manggada ternyata sulit untuk diimbanginya.

Demikianlah maka perlahan-lahan tetapi pasti, Manggada telah mendesak lawannya. Ayunan golok yang berat sama sekali tidak menyulitkannya. Senjata yang lebih kecil justru terasa lebih berarti. Ketika ujungnya sempat menggapai tubuh Parung Landung, maka terdengar Parung Landung itu mengeluh tertahan.

Parung Landung meloncat surut. Ia sempat mengusap bahunya dengan telapak tangannya yang menjadi merah.

Ketika Parung Landung dengan geram melangkah maju, terdengar tidak terlalu jauh daripadanya, Paron Waja berteriak kesakitan. Terhuyung-huyung ia melangkah surut. Namun kemudian tidak memberinya kesempatan. Dengan cepat Laksana memburunya. Pedangnya terjulur lurus mengarah ke dada.

Paron Waja masih berusaha menangkis. Tetapi karena keseimbangannya sedang goyah, maka ayunan senjatanya tidak mampu menepis ujung pedang Laksana. Karena itu, maka dalam keadaan yang goyah, ujung pedang Laksana telah terhunjam di dadanya, langsung menyentuh jantungnya.

Paron Waja tidak mempunyai kesempatan lagi. Tubuhnya terdorong semakin jauh, sehingga akhirnya jatuh terbanting di tanah.

Parung Landung yang melihat adiknya tertusuk di dadanya berteriak memanggil namanya sambil meloncat menjauhi lawannya, memburu kearah Paron Waja terpelanting jatuh.

Tetapi langkahnya terhenti, ketika Laksana pun menghadangnya sambil mengacukan pedangnya.

Parung Landung termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya Manggada maju selangkah demi selangkah mendekatinya.

“Menyerahlah” berkata Manggada, “kau sudah terluka. Kau tidak akan dapat melawan kami berdua, sementara orang-orangmu tidak akan sempat menyelamatkanmu, karena mereka telah terikat dengan lawannya masing-masing.

Parung Landung menggeram. Ketika ia memandang pertempuran di sekitarnya, maka ia memang tidak dapat mengharapkan para pengikut Kiai Narawangsa membantunya. Setiap orang harus berjuang untuk melindungi dirinya sendiri.

Sementara itu, Manggada dan Laksana telah menjadi semakin dekat. Keduanya telah mengacukan senjata mereka.

Parung Landung masih berdiri tegak di tempatnya. Sementara Manggada sekali lagi berkata, “Jangan melawan lagi. Tidak akan ada gunanya”

Parung Landung berdiri termangu-mangu. Dari lukanya masih mengembun darahnya yang merah.

Namun senjata Parung Landung itu seakan-akan telah terkulai. Ujungnya bahkan telah menyentuh tanah.

Kepala anak muda itu tertunduk lesu. Sekali-sekali ia masih berpaling memandang tubuh adiknya yang terkapar.

“Menyerahlah. Letakkan senjatamu.” berkata Manggada kemudian.

Parung Landung itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun mulai membungkuk untuk meletakkan senjatanya. Nampaknya ia tidak ingin melemparkan goloknya yang telah mengawani dalam petualangannya yang panjang.

Laksana melangkah mendekat. Ia berniat untuk memungut senjata itu setelah diletakkan oleh Parung Landung.

Namun tiba-tiba saja Manggada berteriak, “Laksana, hati-hati.”

Laksana terkejut. Tetapi yang tidak dikehendaki itu telah terjadi. Parung Landung yang seolah-olah sudah meletakkan senjatanya itu, tiba-tiba telah meloncat menyerang Laksana dengan garangnya sambil berteriak, “Aku bunuh kau karena kau sudah membunuh saudaraku.”

Laksana memang agak terlambat menangkis serangan itu. Golok yang berat itu terjulur langsung mengarah ke dada Laksana.

Serangan itu terjadi demikian cepatnya. Laksana yang menepis golok lawannya itu tidak seluruhnya berhasil. Ujung golok itu ternyata masih sempat mengoyak pundaknya.

Tubuh Laksana bagaikan diputar. Anak muda itu benar-benar telah kehilangan keseimbangannya. Dengan derasnya Laksana terlempar jatuh. Pedangnya terlepas dari tangannya dan terpental beberapa langkah daripadanya.

Parung Landung dengan cepat meloncat memburunya. Goloknya yang besar itu pun segera terangkat Dengan geramnya ia mengayunkan goloknya untuk menghabisi anak muda yang telah membunuh saudaranya itu.

Laksana tidak dapat berbuat banyak. Yang dapat dilakukan adalah melindungi dahinya dengan lengannya ketika golok itu mengaiah kekepalanya.

Tetapi golok itu tidak pernah memecahkan kepala Laksana atau mematahkan lengannya. Demikian golok itu terayun, maka Parung Landung itu terdorong dengan derasnya. Justru dari dadanya tersembul ujung pedang yang ditusukkan dari punggung.

Parung Landung tidak sempat mengaduh. Goloknya yang terayun itu tidak mengenai sasarannya justru ketika Parung Landung itu jatuh tertelungkup. Ketika tubuhnya terdorong maju, maka kakinya sudah menyangkut tubuh Laksana yang terbaring di hadapannya.

Bukan hanya Parung Landung, bahkan Manggada yang telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyelamatkan Laksana telah terdorong dan seperti Parung Landung, kakinya juga terantuk tubuh Laksana.

Sejenak kemudian, Manggada pun telah bangkit berdiri. Demikian pula Laksana meski pun harus terdorong tubuh Parung Landung.

Demikian mereka berdiri, maka tubuh Laksana justru telah menjadi merah oleh darah. Kecuali darahnya sendiri yang mengalir dari lukanya di pundaknya, darah Parung Landung telah membasahi tubuhnya pula.

Manggada yang kemudian telah menarik pedangnya, memandangi tubuh kedua orang saudara yang terbaring diam itu.

Laksana yang telah memungut senjatanya pula, kemudian berdiri tegak memandangi arena pertempuran yang semakin meluas.

Tetapi kekuatan Kiai Narawangsa sudah menjadi semakin tipis. Mereka bahkan seakan-akan telah kehilangan hubungan yang satu dengan yang lain, sehingga mereka harus menentukan langkah mereka masing-masing.

Manggada dan Laksana pun kemudian telah mendekati arena pertempuran itu. Beberapa sosok tubuh telah terbaring diam. Namun masih ada yang merintih dan mengaduh karena luka-lukanya.

Ketika Manggada itu telah berdiri di arena, maka ia pun segera berteriak, “Menyerahlah. Tidak ada gunanya lagi kalian bertempur. Lihat, kedua orang pemimpin kalian telah terbunuh.”

Para pengikut Kiai Narawangsa memang menjadi ragu-ragu. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi di medan yang lain. Tetapi rasa-rasanya keadaan kawan-kawannya menjadi tidak jauh berbeda. Seandainya mereka mampu mendesak para cantrik dari padepokan itu, maka aliran kemenangan mereka yang memasuki pintu gerbang utama tentu sudah sampai dan memenuhi seisi padepokan.

Tetapi mereka belum melihat kelompok-kelompok yang memasuki padepokan itu dari pintu gerbang utama sampai ke tempat itu.

Dalam pada itu, sekali lagi mereka mendengar suara Manggada, “Aku beri kesempatan kepada kalian untuk menyerah. Jika kesempatan ini kalian sia-siakan, maka kalian tidak akan pernah mendapat kesempatan lagi.”

Para pengikut Kiai Narawangsa itu memang tidak melihat kemungkinan lain. Apalagi sebagian dari mereka rasa-rasanya sudah menjadi berputus-asa. Pertempuran diteriknya panas matahari tanpa melihat harapan. Pemimpin mereka telah terbunuh, sehingga dengan demikian, maka kedua orang anak muda yang telah membunuh pemimpin mereka itu akan dapat membunuh mereka pula tanpa ampun.

Karena itu, selagi masih ada kesempatan, maka beberapa orang diantara mereka yang ketahanan jiwaninya lemah, telah memutuskan untuk menyerah.

Tetapi sebagaimana di bagian lain dari kelompok-kelompok pengikut Kiai Narawangsa, maka di kelompok-kelompok itu pun terdapat orang-orang yang setia kepada Kiai Narawangsa. Dengan lantang orang itupun berteriak, “Jika nanti Kiai Narawangsa mengambil alih padepokan ini, maka siapa yang berkhianat akan digantung.”

Keragu-raguan memang melanda para pengikut Kiai Narawangsa. Untuk meyakinkan mereka, maka Manggada dan Laksana pun benar-benar telah turun kedalam arena pertempuran.

Ternyata pedang kedua orang anak muda itu benar-benar membuat bulu tengkuk para pengikut Kiai Narawangsa itu berdiri. Karena itu, maka mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Ketika sekali lagi Manggada meneriakkan kesempatan untuk menyerah, maka beberapa orang diantara mereka pun langsung melemparkan senjata-senjata mereka.

Beberapa orang yang setia kepada Kiai Narawangsa masih berusaha untuk membakar keberanian kawan-kawan mereka Tetapi masih saja ada diantara mereka yang melemparkan senjata mereka.

Pertempuran itu pun kemudian telah mereda. Mereka yang tidak mau menyerahkan dirinya, harus menghadapi kenyataan, bahwa mereka benar-benar akan dihancurkan.

Dengan demikian maka pertempuran di beberapa tcmpat pun sudah menjadi semakin mereda. Sebagian dari para pengikut Kiai Narawangsa sudah menyerah.

Namun di halaman depan padepokan itu, pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Apalagi karena Kiai Narawanagsa sendiri masih bertempur melawan Ki Ajar Pangukan. sementara Nyai Wiji Sari bertempur melawan Ki Pandi.

Namun kehadiran orang-orang tua yang berilmu tinggi di arena pertempuran itu sangat membatasi gerak para pengikut Kiai Narawangsa.

Ki Sambi Pitu yang telah kehilangan lawannya, telah berada diantara para cantrik pula. Sementara itu Ki Lemah Teles dan Ki Warana bersama-sama para cantrik telah membersihkan para pengikut Kiai Narawangsa yang sudah terlanjur menyusup diantara bangunan-bangunan di padepokan itu.

Dalam pada itu, Kiai Narawangsa sendiri ternyata tidak segera dapat mengalahkan lawannya. Bahkan Ki Ajar Pangukan itu selalu dapat mengimbangi ilmunya yang selalu ditingkatkannya.

Kiai Narawangsa itu semakin lama menjadi semakin gelisah. Kematian Gunasraba telah membuat hatinya bagaikan terkoyak. Kecuali ia merasa kehilangan, menurut perhitungannya, lawan Gunasraba itu akan dapat dengan semena-mena menghancurkan para pengikutnya. Sedangkan Nyai Wiji Sari masih juga belum dapat melepaskan diri dari lawannya yang bongkok itu.

Sementara itu, Kiai Narawangsa pun mulai dapat menilai kenyataan yang dihadapinya. Para pengikutnya sudah menyusut dengan cepat. Para pemimpin kelompoknya sudah terbunuh di medan.

Karena itu, maka satu-satunya harapannya adalah membinasakan lawannya, kemudian menghadapi yang lainnya yang berkeliaran di antara para cantriknya.

Dalam saat-saat yang gawat itu Kiai Narawangsa telah mengerahkan ilmu pamungkasnya. Sejenak ia sempat memusatkan nalar budinya. Kemudian disebutnya sumber-sumber kekuatan dan daerah kelam. Kiai Narawangsa memang mengandalkan ilmunya berdasarkan kekuatan dari kerajaan hitam.

Ketika kemudian Kiai Narawangsa itu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, maka rasa-rasanya tubuhnya telah bergetar. Semacam awan yang hitam mulai mengabut di sekitarnya. Semakin lama semakin tebal. Awan itu mulai berputar perlahan-lahan. Tetapi semakin lama menjadi semakin cepat.

Ki Ajar Pangukan yang berpengalaman itu pun segera menyadari, bahwa lawannya telah mengetrapkan ilmunya yang sangat berbahaya. Awan yang kehitam-hitaman itu akan dapat melibatnya, mengangkatnya tinggi-tinggi, kemudian membantingnya ke tanah.

Karena itulah, maka Ki Ajar Pangukan harus menanggapinya. Ia tidak ingin dilibat oleh awan yang akan menjadi semacam angin pusaran itu.

Dengan cepat, Ki Ajar Pangukan telah mengambil jarak untuk mendapat kesempatan melawan awan yang berputar itu.

Para cantrik dan bahkan para pengikut Kiai Narawangsa sendiri yang sedang bertempur telah menyibak. Tidak seorang pun yang dapat bertahan jika awan yang kehitam-hitaman itu melibat mereka dan mengangkatnya ke udara. Kemudian membantingnya jatuh di atas tanah. Tubuh mereka tentu akan lumat dan mereka akan kehilangan nyawa mereka.

Ki Ajar Pangukan memperhatikan awan itu dengan dahi yang berkerut.

Sementara itu, Ki Sambi Pitu, Ki Lemah Teles serta para cantrik menyaksikan ungkapan ilmu Kiai Narawangsa itu dengan jantung yang berdebar-debar.

Ki Pandi yang sedang bertempur melawan Nyai Wiji Sari pun sempat melihat awan yang berputaran itu sejenak. Sementara itu Nyai Wiji Sari yang melihat kerut di dahi Ki Pandi berkata, “Nah, bongkok buruk. Apa yang dapat dilakukan oleh kawan-kawanmu untuk melawan kemampuan Kiai Narawangsa. Ilmu itu adalah ilmu yang jarang sekali dipergunakan. Tetapi karena kalian membuatnya sangat marah, maka tidak ada pilihan lain dari Kiai Narawangsa kecuali membinasakan kalian dengan ilmunya.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi ia tetap memelihara jarak dengan Nyai Wiji Sari, agar tidak terjadi serangan yang tiba-tiba.

“Bongkok buruk. Kenapa kau tidak menghentikan saja perlawananmu? Menyerahlah. Kau akan mendapat hukuman yang ringan.”

“Apakah pengertian hukuman yang ringan itu didalam lingkunganmu?” bertanya Ki Pandi, “dipenjara setahun, dua tahun atau harus bekerja paksa di kebun-kebun di bawah teriknya matahari atau justru digantung?”

“Apapun ujudnya, tetapi tentu lebih baik daripada disambar angin pusaran itu.”

Tetapi sikap Ki Pandi itu mengejutkan sekali. Orang bongkok itu justru tersenyum sambil berkata, “Aku tidak mengira bahwa didalam kalutnya pertempuran yang menentukan ini. Kiai Narawangsa sempat mengajak bermain-main.”

“Gila kau. Ia tidak sedang bermain-main. Ilmu itu benar-benar dapat membunuhmu.”

Tetapi Ki Pandi menggeleng. Katanya sambil tertawa, “Bagi Ki Ajar Pangukan, maka asap-asapan itu hanya dapat membuatnya sedikit terbatuk-batuk.”

“Tidak” Nyai Wiji Sari hampir berteriak, “lihat. Kawanmu itu akan mati dilibat, diangkat dan kemudian dihempaskan diatas batu padas.”

“Nyai keliru” sahut Ki Pandi, “penilainan itu adalah permainan Ki Ajar Pangukan dimasa kanak-kanaknya.”

“Iblis bongkok. Kau akan melihat, bagaimana tubuh kawanmu itu hancur nanti”.

“Marilah kita bertaruh, Nyai” desis Ki Pandi.

Nyai Wiji Sari tidak menyahut. Tetapi wajahnya nampak menjadi tegang.

Dalam pada itu, asap yang kehitam-hitaman serta berputar semakin cepat itu telah dilihat pula oleh para pengikut Kiai Narawangsa yang berada di bagian belakang padepokan. Bahkan mereka yang telah menyerah pun menyesali keputusannya yang tergesa. Ilmu yang nggegirisi itu tentu akan sanggup menyelesai-kan pekerjaan Kiai Narawangsa yang berat itu.

“Kenapa kita demikian tergesa-gesa menyerah” desis salah seorang pengikut Kiai Narawangsa.

“Bukan salah kita. Kenapa baru sekarang Kiai Narawangsa melepaskan ilmunya? Kenapa tidak tadi sebelum kita menyerah?”

“Awan yang kehitam-hitaman itu akan dapat menghancurkan kawan-kawan kita sendiri. Agaknya kawan-kawan kita sekarang telah berpencar, sehingga Kiai Narawangsa mendapat kesempatan untuk melepaskan ilmunya itu.”

“Alangkah bobohnya kita disini.”

Tetapi para pengikut Kiai Narawangsa yang sudah terlanjur menyerah itu tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Senjata mereka telah dirampas. Di sekelilingnya para cantrik siap berjaga-jaga dengan senjata telanjang.

Namun seorang diantara para pengikut Kiai Narawangsa yang sudah terlanjur menyerah itu bangkit berdiri sambil berteriak, “Itulah akhir dari segala-galanya. Padepokan ini akan hanyut diterbangkan oleh angin pusaran itu. Kita semuanya pun akan hanyut pula. Kemudian dilepaskan di udara sehingga kita akan mati terbanting di atas tanah ini. Tetapi itu lebih baik bagi kita daripada menjadi tawanan”

Mulutnya terkatup ketika tiba-tiba saja pangkal landean tombak menyambar mulutnya. Dua giginya tanggal dan mulutnya pun mulai berdarah.

Dalam pada itu, maka angin pusaran itu mulai merayap menuju ke tempat Ki Ajar Pangukan berdiri.

Ki Ajar Pangukan menyadari, apa yang sedang dihadapinya itu. Karena itu, maka ia pun telah bersiap sebaik-baiknya. Ki Ajar Pangukan sudah bertekad untuk beradu ilmu, apapun yang akan terjadi atas dirinya.

Karena itu, maka Ki Ajar Pangukan itu pun segera mempersiapkan dirinya. Dipusatkannya nalar budinya menghadapi ilmu lawannya itu.

Ketika pusaran asap yang kehitam-hitaman itu mendekatinya, maka Ki Ajar Pangukan itu pun telah mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dilandasi dengan segenap kekuatan ilmu dan kemampuannya, maka Ki Ajar Pangukan itu telah meloncat dan mengayunkan tangannya menghantam pusaran kabut yang kehitam-hitaman itu.

Satu benturan ilmu telah terjadi. Kabut yang kehitam-hitaman dan berputar menghampiri Ki Ajar Pangukan itu tiba-tiba telah pecah. Angin pusaran itu bagaikan telah tertiup eleh prahara sehingga pecah bercerai berai.

Kiai Narawangsa terkejut melihat akibat dari benturan ilmu itu. Selangkah ia mundur. Ia hampir tidak percaya, bahwa ilmunya itu telah dipecahkan sehingga tidak berdaya sama sekali.

Dalam pada itu, selagi Kiai Narawangsa itu termangu-mangu, maka Ki Ajar Pangukan telah menghentakkan tangannya sekali lagi mengarah langsung kepada Kiai, Narawangsa.

Tangannya sama sekali tidak menyentuh Kiai Narawangsa yang masih berdiri termangu-mangu karena ungkapan ilmunya itu hancur dan kemudian hanyut tidak berbekas.

Namun selagi kabut yang kehitam-hitaman itu menjadi semakin tipis, maka Kiai Narawangsa itu terkejut sekali. Ayunan tangan Ki Ajar Pangukan yang mengarah kepadanya itu, telah menghentakkan kekuatan dan ilmu yang dahsyat sekali.

Tetapi Kiai Narawangsa itu terlambat. Kekuatan ilmu Ki Ajar Pangukan itu menghantam tubuhnya dengan kekuatan yang tidak terlawan.

Tubuh Kiai Narawangsa itu pun telah terlempar beberapa langkah surut. Kemudian jatuh terbanting di atas tanah.

Sekali Kiai Narawangsa itu menggeliat. Namun kemudian tubuhnya menjadi tidak berdaya sama sekali.

Ketika ia berusaha untuk bangkit, maka tidak ada lagi kekuatan yang dapat menggerakkan tubuhnya.

Nyai Wiji Sari pun terkejut pula menyaksikan peristiwa itu. Di luar sadarnya, maka ia pun segera berlari ke arah tubuh Kiai Narawangsa terbaring. Dengan serta-merta Nyai Wiji Sari pun berlutut di sisi tubuh yang menjadi sangat lemah itu.

“Kiai” suara Nyai Wiji Sari bagaikan tersangkut di kerongkongan.

Kiai Narawangsa masih membuka matanya. Dilihatnya Nyai Wiji Sari yang berlutut di sebelahnya.

“Nyai” suaranya lemah sekali, “aku tidak dapat lagi membantumu mengambil anakmu.”

“Kiai” desis Nyai Wiji Sari, “bangkitlah. Jangan tinggalkan aku sendiri di sarang serigala ini.”

Wajah Kiai Narawangsa menjadi merah sesaat. Namun kemudian wajah itu menjadi pucat kembali. Nafasnya menjadi tersengal-sengal.

“Nyai, aku tidak kuasa menyeberangi batas ini.”

“Tidak. Kau adalah seorang yang tidak terkalahkan. Kau mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Atasi kesulitan bagian dalam tubuhmu, Kiai.”

Kiai Narawangsa menggeleng lemah. Katanya, “Siapa pun aku Nyai, ternyata aku juga mempunyai keterbatasan. Hati-hatilah membawa diri Nyai. Kau memang berada di sarang serigala-serigala yang lapar.”

“Kiai, Kiai.” Nyai Wiji Sari menggungcang-guncang tubuh itu. Namun Kiai Narawangsa telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Nyai Wiji Sari yang garang itu menangis. Kepergian Kiai Narawangsa benar-benar tidak diduganya. Ketika mereka berangkat dari padepokan mereka, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sudah demikian yakin akan keberhasilan mereka. Tetapi ternyata mereka harus menghadapi kekuatan yang tidak mereka duga sebelumnya.

Ternyata bahwa Kiai Narawangsa itu telah terbunuh.

Ki Ajar Pangukan berdiri termangu-mangu. Di sebelahnya Ki Pandi mengangguk-angguk kecil. Ki Lemah Teles, Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana bahkan Manggada dan Laksana pun telah berdiri di sekitar tubuh yang terbaring itu.

Pertempuran yang terjadi di halaman itu pun dengan cepat menyusut. Tanpa ada yang memberi peringatan atau mengancam, para pengikut Kiai Narawangsa itu telah menyerah.

Namun berbeda dengan mereka, Nyai Wiji Sari itu tiba-tiba telah bangkit. Pedangnya masih berada di tangannya. Bahkan pedang itu pun kemudian telah berputar dengan cepatnya.

Orang-orang yang berdiri di seputarnya berloncatan surut. Mereka tidak menduga bahwa tiba-tiba saja Nyai Wiji Sari telah mengamuk seperti seseorang yang kerasukan iblis.

Yang terutama menjadi sasaran serangan-serangannya adalah Ki Pandi, sehingga Ki Pandi itupun berloncatan surut beberapa langkah.

“Nyai” Ki Pandi mencoba untuk mencegahnya, “jangan Nyai. Jangan kehilangan akal seperti itu.”

Tetapi Nyai Wiji Sari tidak mendengarnya. Serangan-serangannya datang beruntun. Bahkan kemudian dengan membabi buta.

Kiai Pandi terpaksa setiap kali berloncatan menghindar, menangkis dan bahkan sekali-sekali membentur senjata Nyai Wiji Sari.

Tetapi Ki Pandi sendiri tidak pernah membalas serangan-serangan itu.

Nyai Wiji Sari yang mengetahui bahwa lawannya tidak pemah membalasnya menyerang, berkata lantang, “Kenapa kau hanya berloncatan menghindar? Kenapa kau tidak membalas menyerang.”

“Sabarlah Nyai. Sebenarnya apa yang kau cari. Jika kau ingin mendapatkan anakmu, itulah anakmu. Tidak seorang pun yang akan menghalangimu. Ambil anakmu dan bawa kemana kau mau.”

“Kau berusaha untuk melemahkan tekadku untuk membunuh-mu dan membunuh kawan-kawanmu. Ayo, katakan kepada kawan-kawanmu itu. Kita akan bertempur sampai tuntas. Aku sanggup membunuh semua penghuni padepokan ini.”

“Nyai” berkata Ki Pandi sambil menghindari serangan-serangannya., “Cobalah kau pergunakan nalarmu. Berpikirlah dengan tenang. Jangan kau biarkan gejolak perasaanmu itu membakar dadamu.”

Nyai Wiji Sari tidak mendengarkannya sama sekali. Perempuan itu masih saja menyerang Ki Pandi dengan garangnya.

Tetapi akhirnya Ki Pandi tidak mencegahnya lagi. Dibiarkannya perempuan itu mengerahkan tenaga dan kemampuannya. Bahkan Ki Pandi itu justru sekali-sekali mulai menyerang, menyentuh tubuh lawannya dengan serulingnya meskipun tidak menimbulkan akibat apapun juga. Tetapi sentuhan-sentuhan itu telah memancing Nyai Wiji Sari untuk mengerahkan tenaga dan kemampuannya.

Ki Ajar Pangukan, Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana dan Ki Lemah Teles dan beberapa orang yang lain memang dapat mengetahui maksud Ki Pandi. Karena itu, mereka sama sekali tidak mencegahnya.

Selangkah demi selangkah Ki Pandi memancing lawannya mendekati tugu kecil di depan pendapa bangunan utama padepokan itu, sehingga akhirnya keduanya telah bertempur hanya beberapa langkah saja dari tugu kecil itu.

Namun betapapun Nyai Wiji Sari mengerahkan kemampuannya, namun ia sama sekali tidak pernah mampu menyentuh tubuh lawannya dengan ujung pedangnya. Tetapi Ki Pandi pun tidak pula pernah menyakiti Nyai Wiji Sari.

Betapapun tinggi daya tahan tubuh Nyai Wiji Sari, akhirnya iapun telah sampai pada batas ketahanannya. Semakin bernafsu ia ingin membunuh lawannya, maka tenaganya pun menjadi semakin terperas habis.

Akhirnya, Nyai Wiji Sari itu tidak dapat mengingkari bahwa tenaganya justru mulai menyusut.

Kenyataan itulah yang kemudian dihadapi oleh Nyai Wiji Sari. Ketika tenaganya benar-benar sudah terkuras habis, maka serangan-serangannya menjadi tidak berarti lagi. Nyai Wiji Sari setiap kali justru terhuyung-huyung terseret oleh ayunan pedang sendiri.

Akhirnya, Nyai Wiji Sari itu pun justru telah terjatuh di sisi tugu kecil itu.

Ki Pandi berdiri termangu-mangu sejenak. Nyai Wiji Sari masih menggenggam pedangnya yang kehitam-hitaman. Meskipun pedangnya tidak mengkilap, tetapi pedang itu tentu tajam sekali.

“Nyai” suara Ki Pandi lunak, “sudahlah. Bukankah tidak ada artinya lagi jika Nyai masih saja membiarkan perasaan Nyai bergejolak.”

Nyai Wiji Sari tidak menyahut.

“Nyai, anakmu sudah tidak ada lagi. Kiai Banyu Bening juga sudah tidak ada. Aku tidak tahu, apa yang akan kau lakukan terhadap Kiai Banyu Bening seandainya ia masih ada.”

Nyai Wiji Sari tidak segera menjawab.

“Terakhir, Kiai Narawangsa pun sudah tidak ada pula Nyai.”

Nyai Wiji Sari tidak menjawab. Tetapi yang terdengar kemudian adalah isak tangisnya. Bahkan tiba-tiba dipeluknya tugu itu, seperti ia sedang memeluk anaknya.

Pertempuran pun benar-benar telah selesai, tidak ada perlawanan lagi di seluruh padepokan itu. Semua pengikut Kiai Narawangsa sudah menyerah.

Ketika matahari kemudian turun menjelang senja, maka Nyai Wiji Sari itu berdiri di pintu gerbang padepokan. Ki Ajar Pangukan, Ki Pandi, Ki Lemah Teles, Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana bahkan Manggada dan Laksana mengantarnya sampai keluar pintu gerbang.

“Aku akan melihat dunia dari sisi yang lain” berkata Nyai Wiji Sari, “aku titip anakku. Aku yakin bahwa ia tidak akan tersia-sia di sini. Aku akan mencari jalan untuk dapat menebus segala dosa dan kesalahanku. Semuanya itu bersumber dari ketidak-setiaanku.”

Ki Ajar Pangukan mengangguk kecil sambil berdesis, “Hati-hatilah Nyai.”

Nyai Wiji Sari itupun kemudian berjalan meninggalkan padepokan itu sambil berdesis, “Terima kasih atas kesempatan yang kalian berikan kepadaku.”

Perempuan itupun kemudian melangkah dengan langkah yang tetap menjauhi padepokan itu. Tetapi ia tidak lagi mengenakan pakaian khususnya. Ia mengenakan pakaian sebagaimana seorang perempuan tanpa senjata dilambungnya.

Matahari masih bersinar. Sinarnya tidak lagi menggigit. Tetapi matahari senja itu masih memberikan cahaya kepada Nyai Wiji Sari yang berjalan menjauh. Ia tidak tau kemana ia harus memilih jalan yang lain dari jalan yang pernah ditempuhnya bersama Kiai Narawangsa.

Meskipun kemudian langit menjadi semakin suram, tetapi di-hati Nyai Wiji Sari, matahari justru memancarkan cahayanya yang terang.

(Oo-ismo-dwkz-mch-oO)

“TAMAT”

0oOdw-aremaOo0

 

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 5 – Matahari Senja

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | TAMATMAT

6 Tanggapan

  1. Rupanya penulis bingung mengenai jodoh Manggada dan Laksana. Dengan siapa jodoh mereka masing-masing?

    Kalau sudah ketahuan, tolong dikirim undangannya….


  2. https://polldaddy.com/js/rating/rating.jsCeritanya aneh, ternyata tokoh Arya Manggada bukan tokoh utama dan jagoan utama dalam cerita ini, karena ceritanya didominasi sama tokoh tokoh tua yg sakti. Menurut saya arya Manggada / laksana cuma pelengkap saja dalam cerita ini.


  3. https://polldaddy.com/js/rating/rating.jsAlur ceritanya monoton dan membosankan, dari setiap episode cuma beda judulnya doank, tapi jalan ceritanya sama aja.

  4. sayang ki ledgapati tidak berhasil sampai terbunuh, tapi cerita ini sudah tamat

  5. sungguh sangat mengasikkan membaca karangan dari sang maestro seolah-olah kita diaja pada apa yang dicertakan (topik cerita itu) seperti kita hidup dizaman dahulu. itu terlihat dari properti yang sebutkan seperti gentong, slarak pintu, ruang pringgitan, sentong dsbnya. tapi sayang Ki Lebgopati belum terbunuh sudah tamat

  6. Mungkin ini ciri khas SH Mintardja, justru tokoh – tokoh tambahan adalah orang yang kekuatannya melebihi tokoh utama. Manggada dan Laksana selaku tokoh utama dibuat seolah anak-anak muda yang sedang mencari ilmu, sedang di sekelilingnya banyak tokoh tua yang lebih kuat. Seperti tokoh Mahesa Jenar dalam NSSI, tokoh2 seperti Ki Ageng Sora Dipayana, Titis Anganten, Pasingsingan, Pangeran Buntara dan Sultan Trenggono adalah tokoh-tokoh yang lebih kuat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s