JDBK-01


<<kembali | lanjut >>

PERJALANAN itu sudah menjadi semakin jauh. Malam pun menjadi larut. Embun mulai terasa membasahi kulit.

Ketika Paksi Pamekas berpaling, yang nampak hanyalah kegelapan. Hitam pekat.

Paksi Pamekas tidak tahu, kemana ia harus pergi. Tetapi ia harus pergi meniggalkan rumahnya. Meninggalkan ibunya dan dua orang adiknya. Seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Masih terngiang perintah ayahnya yang memandangnya dengan mata membara, “Kau sudah menjadi seorang laki-laki dewasa. Kau tidak boleh hanya berpangku tangan saja di rumah, sementara keluarga ini terancam bencana.”

Paksi Pamekas menarik nafas dalam-dalam. Kakinya terantuk batu padas sehingga langkahnya menjadi gontai.

Paksi berhenti sejenak. Pepohonan yang tegak membeku disekelilingnya seakan-akan merubunginya. Gemerisik angin di dedaunan bagaikan melontarkan pertanyaan lembut, “Kau akan pergi ke mana anak muda?”

Paksi kemudian bahkan duduk diatas batu padas di pinggir jalan yang menjadi kian sempit dan rumpil.

Terngiang suara ibunya, “Kakang Tumenggung. Paksi masih terlalu muda untuk melakukan tugas yang begitu berat.”

“Kau selalu memanjakannya, “bentak ayahnya, “umurnya sudah menginjak tujuhbelas tahun. Apakah ia masih harus tidur dibawah lengan ibunya?”

“Kau sengaja mengusirnya” ibunya mulai menangis.

“Sudah waktunya ia menunjukkan baktinya kepada orang tuanya” ayahnya menjadi semakin keras.

Ibunya menjadi terisak. Tetapi ayahnya tidak menjadi semakin lembut. Bahkan kata-katanya menjadi semakin tajam, “Aku tidak ingin mempunyai anak yang hanya dapat merengek, merajuk dan bahkan menangis. Ia harus benar-benar menjadi seorang laki-laki. Adiknya pada saatnya juga harus menjadi laki-laki sejati. Sebagaimana anakmu yang bungsu juga harus menjadi perempuan panutan. Aku seorang Tumenggung. Seorang Pandhega dalam tatanan keprajuritan. Apakah anakku harus menjadi anak yang cengeng, sementara ayahnya berada dalam kesulitan?”

Paksi mengusap keningnya yang basah oleh keringat. Ia memang sudah menjadi semakin dewasa. Umurnya sudah menginjak tujuhbelas tahun Tetapi kawan-kawannya, yang sebaya dengan umurnya, masih sempat bermain bengkat. Binten atau bergulat di tepian.

Paksi terkejut ketika ia mendengar ranting yang berderak patah. Seekor burung malam mengepakkan sayapnya dan terbang menyusuri kegelapan. Yang tertinggal adalah suaranya yang melengking menggores sepinya malam.

Terbayang kembali, ibunya menangis memeluknya ketika ia keluar dari pintu rumahnya, pergi tanpa diketahui kemana?

Paksi Pamekaspun tidak tahu, apakah yang sebenarnya harus dilakukan.

Yang ia ketahui adalah, bahwa ayahnya telah mengeluh karena kedudukannya yang terancam. Diam-diam di istana Pajang telah tersebar desas-desus bahwa cincin kerajaan telah hilang. Sebuah cincin yang dianggap sebagai sipat kandel dari Kangjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang, disamping pusaka-pusakanya yang lain.

Cincin yang terbuat dari emas dan bermata tiga buah batu akik yang berbeda. Cincin yang dibuat tidak sebagaimana cincin yang lain. Cincin biasanya merupakan em-banan dari satu batu akik saja. Tetapi cincin yang hilang itu adalah cincin yang bermata tiga buah batu akik. Cincin yang disebut Kiai Tunggul.

“Siapa yang dapat menemukan cincin itu akan diangkat menjadi Tumenggung Wreda dan akan diangkat pula menjadi penanggung jawab pengamanan seluruh istana Pajang dan akan berada langsung dibawah perintah Ki Gede Pemanahan.”

Paksi belum pernah melihat cincin itu. Paksi juga tidak tahu apakah sebenarnya yang disebut bencana oleh ayahnya. Bencana yang mengancam keluarganya karena hilangnya cincin itu.

“Apakah ayah menjadi cemas bahwa kedudukannya terancam jika ia tidak dapat menemukan cincin itu?” bertanya Paksi didalam hatinya.

Menurut ayahnya, para Tumenggung juga sudah menyebarkan orang-orangnya untuk mencari cincin itu. Sementara itu ayahnya juga sudah memerintahkan tiga orang yang dianggap abdinya yang setia untuk mencarinya. Tetapi disamping ketiga orang abdinya, maka Paksi juga harus pergi mencari cincin yang belum pernah dilihatnya itu.

“Apakah ada juga di antara para Tumenggung yang memerintahkan anaknya pergi sebagaimana ayah?” pertanyaan itu selalu mengganggunya.

Tetapi Paksi sadar, bahwa ia memang tidak boleh cengeng. Ia tidak boleh mengeluh apalagi menangis. Tetapi ia harus berbuat sesuatu. Apapun juga.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Dalam kegelapan Paksi sampat menilai sikap ayahnya kepadanya. Ia memang bukan seorang anak yang disejukkan oleh kasih sayang ayahnya yang keras.

Diantara kawan-kawannya, Paksi termasuk anak muda yang kuat. Ketika ia bermain binten dengan anak-anak muda sebayanya, Paksi pernah membuat seorang kawannya tidak dapat berjalan sampai tiga hari. Bergulat di pasir tepian, Paksi pun menjadi anak muda yang disegani.

Tetapi sayang, bahwa kesempatan bermain bagi Paksi sangat sempit dibanding dengan kawan-kawannya.

Kini Pksi Pamekas harus meninggalkan semuanya itu. Rasa-rasanya segalanya begitu cepat berlalu. Ia merasa masih belum cukup puas berkumpul bersama keluarganya, bermain bersama kawan-kawannya dan sedikit bermanja-manja dirumah yangberhalaman luas dan terawat bersih oleh bekas tangan ibunya.

Burung hantu terdengar berlagu didalam kegelapan. Suaranya ngelangut membuai malam menjadi semakin terasa sendu.

Paksi tidak duduk terlalu lama. Iapun kemudian segera bangkit dan meneruskan perjalanan menuju ketem-pat yang tidak diketahinya.

Malampun menjadi semakin malam. Dinginnya terasa menggigit tulang.

Sambil berjalan Paksi menyelimuti tubuhnya dengan kain panjangnya. Ia sengaja tidak membawa apapun. Jika pakaiannya kotor, ia dapat mencucinya dan sekaligus menjemurnya diatas bebatuan di sungai, sehingga akan cepat menjadi kering. Jika pakaian itu kemudian rusak dan koyak, maka ia dapat membelinya. Ibunya memberinya bekal uang cukup banyak, serta beberapa buah perhiasan simpanannya. Jika keadaan memaksa, maka ia dapat menjualnya dan mempergunakan uangnya.

Paksi melangkah saja menuruti langkah kakinya. Yang dilakukannya adalah sekedar menjauhi Pajang tanpa tujuan, tanpa rencana dan tanpa tahu apa yang akan dilakukan.

Namun, akhirnya Paksi itupun menjadi letih. Ketika ia memasuki sebuah padukuhan, maka beberapa orang yang meronda pun menghentikannya.

“Siapa kau?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Namaku Paksi Pamekas” jawabnya.

“Kau akan pergi kemana atau pergi darimana?”

Paksi menjadi bingung. Tetapi ia tidak ingin mengatakan apa yang sebenarnya harus dilakukannya. Karena itu, maka jawabnya, “Aku adalah seorang pengembara. Aku mengembara dari satu tempat ketempat yang lain untuk mendapatkan pengalaman.”

“Dimana kau tinggal?” bertanya yang lain.

Paksi menjadi semakin bingung. Tetapi karena ia harus menjawab, maka iapun menjawab pula. Yang mula-mula diingatnya adalah rumah neneknya yang memang agak jauh dari Pajang. Orang tua ibunya itu semasa hidup-nya tinggal di sebuah padukuhan yang tenang dan tenteram. Paksi pernah tinggal beberapa lama dirumah. neneknya. Ketika kakeknya meninggal ia menunggui neneknya sampai beberapa bulan. Namun menjelang setahun, neneknya telah meninggal pula.

“Aku anak Banyuanyar” jawab Paksi.

Para peronda itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Perjalananmu belum begitu jauh jika kau memang seorang pengembara.”

“Aku baru mulai Ki Sanak.” jawab Paksi, “orang tuaku telah tidak ada lagi. Aku tidak mempunyai pilihan lain. Sementara itu, aku berharap bahwa aku akan mendapat pengalaman dari pengembaraanku ini.”

“Apakah kau tahu, dimana kau berada sekarang?” bertanya salah seorang diantara para peronda itu.

“Tidak” jawab Paksi.

“Kau masih berada di sekitar Pajang. Kau sekarang berada di padukuhan Dresanan.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah berjalan sepanjang hari. Tetapi orang itu mengatakan bahwa ia masih berada di sekitar Pajang.

Tetapi Paksi tidak menjawab selain mengangguk-angguk kecil.

“Apakah kau ingin beristirahat?” bertanya salah seorang peronda itu.

Paksi mengangguk.

“Baiklah” berkata orang itu, “marilah, aku antar kau ke banjar, kau dapat tidur di banjar. Besok pagi kau dapat meneruskan pengembaraanmu.”

“Terima kasih, paman” jawab Paksi.

Orang itu meskipun masih nampak muda, tetapi ia tentu bukan anak muda lagi. Wajahnya nampak bersih dan setiap kali giginya nampak disela-sela bibirnya jika ia tertawa.

Paksi diantar oleh orang itu ke banjar. Diserahkan nya Paksi kepada penunggu banjar, yang tinggal di bagian belakang banjar yang nampak bersih dan terawat itu.

Penunggu banjar itu ternyata orang yang sangat baik. Ia menerima Paksi dengan senang hati. Bahkan nasi yang masih terdapat digeledeg bambunya dengan sepotong pepes udang dan sambal terasi telah diberikannya pula kepada Paksi.

“Aku tidak mempunyai seorang anak pun sampai isteriku meninggal” berkata penunggu banjar itu.

Paksi mengangguk kecil. Sementara orang itu bertanya, “Siapa namamu?”

Paksi memang tidak ingin menyembunyikan namanya. Karena itu, maka iapun menjawab, “Namaku Paksi, paman.”

Kepada penunggu banjar itu, Paksi menceriterakan bahwa dirinya adalah seorang pengembara sebagaimana dikatakannya kepada para peronda.

“Kenapa hal itu kau lakukan, ngger. Apakah kau tidak mempunyai sanak kadang lainnya, sehingga kau harus pergi mengembara?”

“Tidak paman. Aku sudah tidak mempunyai sanak kadang.”

“Paksi” berkata penunggu banjar itu, “mumpung kau belum terlalu jauh pergi meninggalkan kampung halamanmu. Apakah kau mau tinggal disini saja bersamaku?”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Maaf, paman. Sudah bulat tekadku, bahwa aku akan pergi mengembara. Mungkin aku akan mendapatkan pengalaman yang dapat aku pergunakan sebagai bekal hidupku kelak.”

“Tetapi apakah yang kau harapkan dari sebuah pengembaraan? Menempa diri atau kesempatan melihat dinding cakrawala yang tidak akan pernah dapat disentuh? Jika kau tinggal, Paksi, maka kau dapat memperdalam ilmu dan menimba pengetahuan. Bekal yang lebih nyata bagi masa depanmu dari sekedar pengalaman menempuh perjalanan panjang.”

Paksi tidak dapat mengatakan, apa sebenarnya yang sedang dilakukannya itu. Juga ketidak-tahuannya tentang arah perjalanan yang tidak diketahuinya. Yang dapat dikatakannya adalah sebuah perjalanan kembara tanpa tujuan.

Penunggu banjar itu tidak dapat berbuat lebih banyak daripada berharap. Tetapi Paksi Pamekas tidak dapat memenuhinya.

Malam itu Paksi bermalam di sebuah banjar padukuhan. Dihari pertama dari per jalannya yang tidak diketahuinya sampai kapan itu, telah ditemuinya orang-orang yang berbaik hati. Tetapi ketika ia berangkat dari rumah, ibunya telah berpesan kepadanya, bahwa ada seribu sifat dan watak manusia di muka bumi ini. Ada yang baik, agak baik, ada yang dengki dan iri dan ada pula yang jahat.

Terngiang kembali pesan ibunya, “Paksi. Ada orang yang sikap lahiriahnya sangat baik. Tetapi sebenarnya dihatinya tumbuh bulu serigala. Bahkan menjadi hunian iblis yang paling jahat.”

Pesan ibunya itu telah membuat Paksi menjadi berhati-hati. Meskipun demikian, ia tidak mencurigai setiap orang dengan berlebihan.

Ketika Paksi kemudian berbaring di pembaringan, di sebuah ruangan yang dibuat diserambi belakang banjar padukuhan Dresanan itu, ia kembali membayangkan masa lampaunya yang memang tidak begitu terang. Kadang-kadang ia tidak mengerti maksud ayahnya yang tiba-tiba saja marah kepadanya. Bahkan kadang-kadang memukulnya. Jika ibunya mencoba menjelaskan persoalannya, maka ayahnya itu pun segera marah pula kepada ibunya.

Tetapi ibunya selalu berkata, “Ayahmu seorang prajurit Paksi. Ia terbiasa bersikap keras. Karena itu, di rumah pun ia bersikap keras pula.”

Meskipun demikian, ada juga segi yang baikdari sifat keras ayahnya itu. Bersama beberapa orang anak Tumenggung, Rangga dan perwira lainnya, ia berguru kepada seorang bekas prajurit yang memiliki ilmu yang tinggi. Ternyata Paksi Pamekas merupakan seorang murid yang sangat baik. Ia terhitung satu di antara beberapa orang murid yang terbaik.

Anehnya, ayahnya tidak pernah mengakui kemampuannya itu. Setiap kali ayahnya menuntut agar ia berbuat lebih baik dan lebih baik.

Namun ternyata Paksi dapat memenuhinya. Ia memang semakin lama menjadi semakin baik dan semakin menarik hati gurunya. Bahkan ketika gurunya mengetahui latar belakang kehidupannya serta hubungannya dengan ayahnya yang kurang manis, maka perhatian gurunya menjadi semakin melimpah.

“Kau akan menjadi anak terbaik yang pernah aku kenal” berkata gurunya.

Paksi memang tidak mengecewakan gurunya. Tetapi kemampuannya itu telah menjeratnya, untuk menjalankan tugas yang sangat berat.

“Kau sudah berumur tujuhbelas tahun.” terngiang kata-kata ayahnya.

“Tujuh belas. Tujuh belas. Ya, aku memang sudah berumur tujuh belas tahun” berkata Paksi didalam hatinya, “Tetapi apakah kawan- kawanku yang seumur tujuh belas tahun juga harus menjalani tugas seperti ini?”

Paksi menarik nafas dalam-dalam, iapun kemudian menghibur dirinya sendiri, “Ternyata aku dapat membanggakan diriku seandainya aku adalah satu-satunyaanak muda yang berumur tujuh belas tahun yang bertugas menjalani kuwajiban seperti ini.”

Namun akhirnya Paksi pun tertidur. Tetapi tidak terlalu lama, karena sisa malam memang tidak cukup panjang lagi.

Pagi-pagi sekali Paksi telah bangun sebagaimana kebiasaannya. Tetapi di banjar itu ia tidak dapat langsung melakukan latihan-latihan yang berat seperti yang dilakukan di rumahnya. Atau pergi kesungai dan bergulat dengan beberapa orang kawannya untuk melengkapi latihan-latihan ketahanan tubuhnya. Atau binten sehingga kakinya sering menjadi bengkak. Atau bengkat, meskipun permainan itu dilakukan dengan kakinya, tetapi permainan itu mampu meningkatkan kemampuan bidiknya.

Tetapi pagi itu Paksi sudah berada di sumur menimba air untuk mengisi pakiwan, sebelum Paksi mandi. Tetapi demikian ia selesai mandi, maka pakiwan itu sudah diisinya kembali hingga penuh.

“Anak itu rajin sekali” berkata penunggu banjar itu didalam hatinya.

Tetapi seperti para peronda yang di gardu, bahkan yang mengantarnya ke banjar, tidak seorang pun yang menduga, bahwa anak itu adalah anak seorang Tumenggung.

Ketika kemudian Paksi minta diri untuk meneruskan perjalanannya, maka penunggu banjar itu telah menyediakan makan pagi baginya.

Paksi sempat menilai sikap penunggu banjar itu. Jika saja ia mempunyai anak, alangkah berbahagianya anak itu. Ia akan mempunyai seorang ayah yang baik.

Tetapi ketika matahari mulai nampak dilangit, Paksi sudah meninggalkan banjar itu. Setelah mengucapkan terima kasih, maka Paksi pun melangkah meninggalkan regol banjar yang memberikan kesan betapa bersahabatnya orang-orang asing yang memerlukan bantuan mereka.

Paksi yang melangkah di hangatnya sinar matahari pagi itu merasakan tubuhnya menjadi segar. Mandi air dingin, makan pagi serta minuman hangat, matahari dan langit cerah, mengantar perjalanan Paksi selanjutnya.

Tetapi hari itu rasa-rasanya menjadi kosong tanpa arti selain satu perjalanan mengulur jarak. Ia memang menjadi semakin jauh dari Pajang. Tetapi untuk apa?

Paksi Pamekas menggelengkan kepalanya. Diluar sadarnya ia bergumam, “Aku tidak tahu.”

Tetapi Paksi berjalan terus. Menjelang sore hari, Paksi sempat singgah di sebuah kedai kecil disudut sebuah padukuhan.

Meskipun jenis makan dan minuman yang ada tidak sesuai dengan seleranya, tetapi Paksi tidak menghiraukannya lagi. Ia sadar, bahwa didalam pengembaraannya, ia tidak dapat memilih. Makan, minum, tempat untuk tidur dan masih banyak masalah-masalah lain yang tidak sesuai dngan keinginan dan pilihannya, tetapi harus diterima apa adanya.

Beberapa saat lamanya, Paksi beristirahat sambil meneguk minumannya. Beberapa orang yang duduk di-kedai itu sudah berganti dengan orang-orang baru.

Setelah membayar harga makanan dan minumannya, maka Paksi pun kemudian telah melanjutkan perjalanannya.

Menjelang malam, Paksi memasuki sebuah padukuhan. Lampu-lampu minyak sudah mulai menyala. Di Beberapa regol halaman ada yang telah memasang oncor, menerangi jalan-jalan padukuhan.

Tetapi padukuhan itu nampak sepi. Pintu-pintu telah tertutup rapat. Bahkan pintu-pintu regolpun telah tertutup. Ketika Paksi lewat didepan gardu disimpang ampat jalan padukuhan, ia tidak melihat seorang pun berada didalam gardu itu.

“Suasananya berbeda dengan suasana di padukuhan Dresana.” berkata Paksi didalam hatinya.

Justru karena itu, maka Paksi tidak ingin bermalam di banjar padukuhan itu. Apalagi ketika ia berjalan di jalan induk padukuhan itu dan lewat di depan banjar, banjar padukuhan itu nampak sepi. Bahkan pintu regolnya-pun tertutup pula.

Paksi berjalan terus. Ia tidak akan bermalam di padukuhan itu.

Tetapi demikian ia keluar dari padukuhan itu, maka Paksi pun bertanya, “Aku akan bermalam dimana?”

Namun akhirnya Paksi tidak peduli lagi. Apapun yang akan terjadi, biarlah terjadi. Dimana ia berhenti dan meletakkan tubuhnya, disitu ia akan berhenti.

Malam sama sekali tidak menakutkan lagi baginya. Jika ketika ia berada di rumah, ia sering mendengar ceritera tentang hantu, yang sering berkeliaran di malam hari, maka pada malam itu, ia sama sekali tidak menghiraukannya lagi.

“Jika hantu-hantu itu akan datang, biarlah mereka datang” berkata Paksi didalam hatinya.

Namun akhirnya Paksi ingin juga berhenti berjalan. Karena itu, maka ketika ia melihat sebuah gubug di tengah tengah bulak sawah, maka ia pun tertarik untuk mendekatinya.

Paksi pun kemudian meniti pematang, mendekati gubug itu. Ternyata gubug itu kosong. Pemilik gubug itu tidak berada di sawahnya di malam hari.

Sambil menarik nafas panjang, Paksi naik tangga pendek masuk kedalam gubug itu.

Paksi merasa beruntung bahwa ia menemukan sebuah gubug yang dapat dipergunakannya untuk bermalam. Karena itu, maka ia pun langsung membaringkan dirinya di-gubug yang didasari dengan anyaman bambu itu.

Meskipun Paksi merasa letih, tetapi Paksi tidak segera dapat tidur. Nyamuk yang ganas telah merubunginya, menggigit sela-sela jari kakinya dan berterbangan di sekitar telinganya.

Karena itu, maka Paksi terpaksa menggelar kain panjangnya untuk menyelimuti tubuhnya dan bahkan telinganya.

Sambil sekali-sekali menggaruk kakinya, maka kembali Paksi mengenang saat-saat ia akan berangkat dari Pajang untuk melakukan pengembaraan.

Ketika ia minta diri kepada gurunya, maka gurunya menjadi terkejut sekali. Hampir tidak percaya gurunya bertanya, “Jadi kau harus pergi untuk melakukan sesuatu yang kau tidak mengerti sama sekali?”

“Ya, guru. Tetapi ayah mengatakan bahwa yang aku lakukan adalah tugas rahasia. Aku mohon guru melindungi rahasia ini. Jika ayah tahu aku mengatakannya kepada guru, mungkin ayah akan marah kepadaku. Tetapi aku tidak dapat merahasiakannya kepada guru” berkata Paksi Pamekas.

Gurunya mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih atas kepercayaanmu Paksi. Ada dua hal yang membuat aku menyesali kepergianmu. Kau masih sangat muda, sehingga tugas itu tfcntu akan sangat berat bagimu. Bahkan seakan-akan tidak masuk akal bahwa kau harus dilibatkan kedalamnya. Sedangkan yang kedua, kau adalah muridku yang terbaik. Aku berharap bahwa kau kelak akan dapat menggantikan kedudukanku. Bukankah aku menjadi semakin tua dan rapuh? Wadagku tidak akan dapat mendukung ilmuku untuk seterusnya. Karena itu, aku harus mempersiapkan seseorang yang akan dapat menggantikan aku.”

“Aku mohon guru berdoa agar aku dapat kembali dengan selamat serta dapat membantu guru di perguruan ini.”

Gurunya mengangguk kecil. Dalam saat terakhir, gurunya telah memberikan petunjuk dan pematangan ilmu sejauh dapat dilakukan dalam waktu yang singkat.

“Aku tidak dapat memberikan lebih dari itu, Paksi. Jika dipaksakan juga, maka justru wadagmu yang akan mengalami kesulitan. Tetapi aku berharap bahwa selama dalam perjalanan, kau dapat membuka dan mengembangkan ilmumu sampai tingkat yang tinggi.” berkata gurunya dengan nada yang dalam.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia telah terlempar kembali kedalam kenyataannya. Berbaring disebuah gubug kecil berselimut kain panjangnya.

Tetapi Paksi tidak dapat segera tidur.

Ketika ia memiringkan tubuhnya menghadap ke jalan beberapa puluh langkah dari gubug itu, Paksi terkejut. Ia melihat didalam keremangan malam sebuah keranda yang seperti terbang diatas jalan itu.

Dengan serta-merta iapun bangkit dan duduk sambil mengusap matanya.

Keranda yang diselimuti kain putih itu masih meluncur diatas jalan yang telah dilewatinya sebelum Paksi turun dan meniti pematang mencapai gubug itu.

Bulu tengkuk Paksi memang menjadi tergetar. Ia pernah mendengar dongeng tentang keranda yang melayang di malam hari, sebagai pertanda bahwa akan datang wabah penyakit yang berbahaya.

Tetapi tiba-tiba timbul pertanyaan di hati Paksi, “Jika keranda itu dapat terbang atau berjalan sendiri, kenapa harus lewat diatas jalan. Bukankah keranda itu dapat meluncur diatas pematang, parit atau bahkan sungai dan bukit-bukit kecil. Kepada siapa pula hantu keranda itu menampakkan diri di tempat yang jauh dari padukuhan itu? Kepada dirinya? Jika benar, kenapa keranda itu tidak mendekatinya?”

Paksi Pamekas yang sudah terlempar kedalam satu keadaan yang tidak diinginkannya itu telah bangkit. Keinginannya untuk mengetahui hantu keranda yang terbang itu telah mendesaknya untuk berbuat sesuatu.

Tiba-tiba saja Paksi itu turun. Dipakainya kain panjangnya sekenanya. Kemudian ia pun telah meloncat ke-atas pematang.

Dengan hati-hati Paksi mendekati jalan tempat keranda itu lewat. Dengan hati-hati pula ia mengikutinya dan berusaha mendekat dari arah belakang.

Namun jantung Paksi menjadi berdebar-debar ketika kemudian ia melihat bayang-bayang yang bergerak-gerak. Ternyata keranda itu tidak terbang atau meluncur sendiri. Paksi pun kemudian melihat beberapa orang berpakaian serba hitam memanggul keranda itu. Sementara beberapa orang mengikutinya.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Paksi tidak melepaskannya. Ia masih saja mengikutinya beberapa lama.

Keranda itu justru meluncur mendekati sebuah padukuhan. Kemudian lewat jalan yang lebih sempit meluncur sejajar dengan dinding padukuhan itu.

Paksi masih saja mengikutinya ketika keranda itu meluncur melewati sudut padukuhan dan kemudian kembali menjauh menuju kesebuah gumuk yang seakan-akan sebuah pulau kecil ditengah-tengah lautan tanaman padi di-sawah.

Ternyata bukit kecil itu adalah sebuah kuburan. Paksi menjadi berdebar-debar melihat keranda itu seakan-akan lenyap dari penglihatannya.

Namun kemudian Paksi itu mengetahui bahwa orang-orang yang membawa keranda itu dengan cepat telah menyelimuti keranda itu dengan kain hitam.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Keinginannya untuk mengetahui tentang keranda itu pun menjadi semakin mendesaknya sehingga dengan demikian, maka Paksi pun telah mendekati dan masuk kedalam kuburan itu pula.

Dengan landasan ilmu yang telah dimilikinya, maka Paksi berusaha untuk menjadi semakin dekat. Batu-batu nisan, gerumbul-gerumbul perdu dan pepohonan yang tumbuh diatas bukit kecil itu, memberi kesempatan kepada Paksi untuk menjadi lebih dekat lagi.

Paksi terkejut ketika ia melihat apa yang terdapat didalam keranda itu. Ketika keranda itu dibuka, maka yang ada didalamnya adalah beberapa jenis barang-barang yang nampaknya berharga.

Paksi sempat mendengar orang-orang itu tertawa. Mereka membongkar barang-barang yang terdapat didalam keranda itu sambil berbangga akan keberhasilan mereka.

“Jangan terlalu sering mempergunakan cara ini untuk membawa barang-barang rampokan itu” berkata salah seorang diantara mereka.

“Tidak ada cara lain yang lebih baik. Aku ragu-ragu untuk membawa barang-barang ini dengan pedati atau dengan mempergunakan kuda beban. Cara ini nampaknya lebih aman” sahut yang lain.

Tetapi orang yang pertama berkata pula, “Jika cara ini terlalu sering kita pergunakan, maka orang-orang akan menghubungkan setiap terjadi perampokan, tentu ada keranda yang terbang di malam hari.”

“Ya. Aku setuju” desis yang lain”tetapi sampai saat ini, orang-orang padukuhan itu telah menjadi ketakutan mendengar ceritera tentang keranda yang berjalan di malam hari.”

“Ceritera itu telah kita lengkapi dengan ceritera tentang ting hijau yang juga terbang di malam hari.” berkata yang lain lagi, “sehingga untuk beberapa lama kita akan dapat mempergunakan cara ini dengan aman.”

Yang terdengar adalah suara tertawa beberapa orang yang tertahan. Seorang diantara mereka berkata, “Sudahlah. Jangan terlalu berbangga atas keberhasilan ini. Kita harus segera mengubur barang-barang ini untuk beberapa lama, sebelum kita kemudian menjualnya. Disaat orang sudah melupakan peristiwa perampokan ini, kita akan mengambilnya dan menjualnya.”

“Sebenarnya kita tidak perlu bersusah payah. Bukankah ada orang-orang yang bersedia menerima barang-barang hasil rampokan ini?”

“Tetapi harganya sangat murah” jawab yang lain.

Tetapi dalam pada itu, orang yang agaknya memimpin sekelompok perampok itu berkata, “Marilah. Kita simpan barang-barang itu didekat barang-barang yang sudah terdahulu kita simpan. Kita akan memperlihatkan barang barang itu kepada kakang Kebo Lorog.”

“Kakang Kebo Lorog?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Ya. Kakang Kebo Lorog akan datang ke daerah ini.”

“Apakah ada kecurigaan kakang Kebo Lorog terhadap kita?”

”Tidak. Tetapi sudah agak lama kakang Kebo Lorog tidak melihat-lihat daerah ini. Besok bersamaan dengan saat padukuhan sebelah merti desa, kakang akan berada di sini. Kita dapat membawanya ketempat ini dan memperlihatkan apa yang kita punyai kepadanya.”

“Mudah-mudahan kakang Kebo Lorog puas dengan tugas-tugas kita disini.”

“Sekarang, kita akan menyimpan barang-barang kita.”

Paksi memperhatikan semua yang terjadi serta mendengarkan pembicaraan itu dengan jantung yang berdebar-debar. Paksi sendiri heran, bahwa batu-batu nisan, gerumbul-gerumbul liar dan satu dua pohon raksasa yang tumbuh dibukit itu tidak membuat bulu-bulunya meremang.

Sejenak kemudian, orang-orang yang berpakaian serba hitam itu pun telah menggali sebuah lubang di pinggir kuburan itu, di sebelah batu hitam yang besar, yang sulit untuk digeser. Agaknya mereka menjadikan batu itu sebagai pertanda, dimana mereka menyimpan barang-barang hasil kejahatan mereka.

Beberapa saat lamanya, Paksi harus menunggu. Di kuburan itu nyamuknya ternyata lebih banyak lagi daripada di gubug tempat ia membaringkan tubuhnya. Tetapi Paksi tidak dapat menyelimuti tubuhnya dengan kain panjangnya.

Demikian orang-orang itu selesai menguburkan barang-barang hasil rampokannya yang dibungkus dengan kain, maka mereka telah berganti pakaian. Mereka tidak lagi mengenakan pakaian-pakaian hitam. Ditempatkannya keranda itu disebuah cungkup yang besar, yang agaknya memang tempat untuk menyimpan keranda.

Paksi hampir tidak tahan menunggu orang-orang itu pergi. Tetapi ia tidak bergerak di tempatnya selagi orang-orang itu masih berkeliaran di kuburan itu.

Baru kemudian, setelah kuburan itu menjadi sepi, Paksi pun keluar dari persembunyiannya.

“Ternyata mereka adalah orang-orang yang cerdas. Mereka memanfaatkan ceritera-ceritera tentang hantu dan jadi-jadian untuk melakukan kejahatan” berkata Paksi.

Malam itu semalam suntuk Paksi tidak tidur. Dari kuburan Paksi telah menyusuri parit. Ketika ia mendengar suara air gemericik, maka Paksi pun mengetahui, bahwa ia berada tidak jauh dari sebuah sungai.

Menjelang fajar Paksi sudah berendam di air sungai untuk membersihkan tubuhnya yang terasa gatal-gatal. Tetapi Paksi masih belum dapat mencuci pakaiannya, karena matahari masih agak lama terbit.

Setelah mandi, maka Paksi untuk beberapa lama duduk di tepian. Justru setelah ia berendam, maka ia tidak merasakan dinginnya udara pagi.

Langit yang cerah menjadi semakin terang. Cahaya matahari mulai menusuk lembaran-lembaran awan tipis yang menggantung dilangit.

Ketika perasaan mengantuk mulai menyentuhnya, Paksi Pamekas pun segera bangkit dan berjalan diatas pasir tepian.

Sambil berjalan selangkah-selangkah, Paksi sempat merenungi peristiwa yang dilihatnya semalam. Agaknya karena hantu keranda itulah, maka padukuhan-padukuhan menjadi sepi setelah gelap.

“Tetapi tentu ada orang yang pernah melihat keranda itu” berkata Paksi didalam hatinya, “jika tidak, mereka tentu tidak akan dicengkam ketakutan.”

Paksi berniat untuk menjelaskan kepada orang-orang padukuhan, bahwa hantu keranda itu hanyalah akal orang-orang jahat agar mereka dapat leluasa bergerak di-malam hari.

“Tetapi kepada siapa aku harus mengatakannya?” bertanya Paksi Pamekas kepada diri sendiri.

Paksi pun kemudian sudah memanjat tanggul dan melangkah menuju ke padukuhan terdekat.

Tetapi hari masih terlalu pagi. Karena itu, maka Paksi pun tidak tergesa-gesa menemui seseorang. Bahkan Paksi sempat mengikuti beberapa orang perempuan yang berjalan beriringan sambil menggendong bakul. Beberapa orang membawa bakul berisi hasil kebun. Sedangkan yang lain membawa makanan dan bahkan seorang diantara mereka membawa nasi tumpang digendongannya.

“Mereka tentu akan pergi ke pasar.” berkata Paksi didalam hatinya.

Ternyata iring-iringan itu telah menarik perhatiannya. Ketika ia melihat sayuran rebus yang digelar diatas tambir ditutup dengan daun pisang, maka tiba-tiba saja ia merasa lapar. Apalagi semalaman Paksi hampir tidak tidur sama sekali.

Karena itu, maka Paksi pun telah pergi ke pasar pula.

Di pasar Paksi telah membeli nasi tumpang yang jarang sekali ditemuinya di rumahnya. Ia tidak memikirkan pula dimana ia duduk dan makan nasi tumpang yang masih hangat itu. Sekali-sekali Paksi berdesis karena bubuk kedelenya yang terlalu pedas serasa menyengat lidahnya.

Namun dalam pada itu, sambil makan nasi tumpang dan duduk dibelakang penjualnya di dekat pintu gerbang pasar, Paksi mendengar beberapa orang yang berceritera tentang keranda yang berjalan sendiri di malam hari.

“Suamiku melihat sendiri malam tadi” berkata seorang penjual kelapa dengan mantap, “bersama tiga orang, suamiku memang berusaha untuk dapat melihat langsung keranda yang berjalan sendiri itu. Malam tadi, malam Jumat Kliwon, bersama tiga orang, suamiku sengaja menunggu disudut padukuhan. Ternyata sedikit lewat tengah malam, dari kejauhan mereka benar-benar melihat keranda itu berjalan sendiri, seolah-olah terbang meluncur dengan cepat. Suamiku dan ketiga kawannya menjadi sangat ketakutan. Beberapa puluh langkah dari padukuhan itu, keranda itu berhenti sejenak. Seakan-akan berpaling memandangi keempat orang yang telah mengintip itu. Seorang kawan suamiku hampir menjadi pingsan. Untunglah keranda itu berjalan lagi menuju ke kuburan di bulak itu. Sebelum masuk pintu gerbang kuburan, keranda itu tiba-tiba telah lenyap.”

“Apa yang dilakukan suamimu kemudian?” bertanya seorang penjual sirih.

“Tidak apa-apa. Sebelumnya keempat orang itu bertekad untuk melihat dari dekat jika benar-benar ada keranda yang terbang di malam hari. Tetapi ketika mereka benar-benar melihat langsung, maka jantung mereka menjadi kuncup sebesar biji mentimun.”

“Siapa yang tidak menjadi ketakutan melihat keranda terbang itu?” desis penjual nasi tumpang itu.

“Pagi ini suamiku tidak pergi ke sawah. Badannya merasa tidak enak. Dahinya panas dan jantungnya serasa berdetak lebih cepat.”

“O” penjual nasi tumpang itu menjadi cemas, ”apakah suamimu tidak pergi ke rumah seorang tua yang dapat menyingkirkan kutukan keranda terbang itu? Mungkin karanda itu mengetahui bahwa suamimu dan kawan-kawannya sengaja mengintipnya.”

Penjual kelapa itu termangu-mangu sejenak. Katanya, “Belum. Tetapi siang nanti aku akan mengajaknya pergi kerumah Kiai Samid yang terkenal itu. Suamiku mengenalnya dengan baik, karena Kiai Samid minta suamiku menggarap sawahnya sampai lebih dari tiga tahun. Letak sawah Kiai Samid berdekatan dengan sawah suamiku, sehingga suamiku dapat menggarapnya dengan baik dan memuaskan bagi Kiai Samid.”

“Tetapi jangan sampai terlambat” desis penjual sirih.

Penjual kelapa itu mengangguk. Tetapi ia tidak menjawab. Dua orang datang untuk memilih beberapa buah kelapa yang sudah tua.

Paksi mendengarkan pembicaraan itu. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Paksi tidak dapat berbicara tentang keranda terbang itu dengan perempuan-perempuan yang tidak melihat sendiri semalam.

Tetapi Paksi bertekad untuk mengikuti penjual kelapa itu sampai ke rumahnya dan berbicara dengan suaminya tentang keranda terbang yang dilihatnya semalam.

Ketika kemudian Paksi sudah menjadi kenyang, maka ia pun segera membayar harga nasi yang dimakannya. Dari penjual nasi tumpang, Paksi bergeser duduk di dekat penjual wedang sere. Sambil menunggu penjual kelapa itu menghabiskan dagangannya, maka Paksi pun minum wedang sere hangat dan masih juga makan beberapa potong makanan meskipun perutnya sudah terasa kenyang.

Satu dua butir kelapa pun telah laku. Berurutan orang-orang yang datang dan pergi. Namun penjual kelapa itu nampak gelisah. Sekali-sekali ia melihat matahari dilangit yang memanjat semakin tinggi.

“Aku meninggalkan suamiku yang sedang sakit” desis penjual kelapa itu.

“Tetapi kelapamu sudah hampir habis” berkata penjual nasi tumpang itu.

“Aku ingin segera pulang.”

“Suamimu memang harus dibawa dengan cepat ke rumah Kiai Samid agar segera mendapat obat penolak bala.”

“Tetapi kelapaku ini?”

“Jika kau mau menjualnya agak murah, aku akan membelinya semua yang tersisa. Untuk membuat bumbu gudanganku ini, aku memerlukan kelapa setiap hari. Sementara itu, kelapa di kebun sudah tidak ada yang cukup tua.”

“Apakah kelapa itu tidak terlalu tua untuk membuat bumbu gudangan?” bertanya penjual sirih.

“Cukupan” sahut penjual kelapa itu.

Akhirnya, kelapa itu telah dibeli dengan harga yang lebih murah oleh penjual gudangan itu, karena penjual kelapa itu ingin segera pulang dan membawa suaminya kepada Kiai Samid.

Paksi yang telah cukup lama menunggu, telah minta diri kepada penjual minuman itu setelah membayar harga makanan dan minumannya.

Pada jarak tertentu Paksi telah mengikuti perempuan yang berjalan dengan tergesa-gesa pulang itu. Seperti yang diduganya, maka perempuan itu tinggal di padukuhan yang semalam dilewati keranda terbang itu, meskipun pada jarak yang tidak terlalu dekat.

Paksi yang mengikutinya itu pun kemudian melihat, perempuan itu memasuki sebuah regol halaman rumah di sebelah simpang ampat.

Paksi memang menjadi ragu-ragu. Ia sama sekali tidak dikenal di padukuhan itu. Seandainya ia menceriterakan apa yang dilihatnya, apakah orang padukuhan itu akan mempercayainya?

Tetapi Paksi pun kemdian telah membulatkan tekadnya untuk mengatakan apa yang telah dilihatnya semalam.

Karena itu, maka beberapa saat kemudian, Paksi telah berdiri di depan regol halaman rumah perempuan yang baru saja pulang dari pasar itu.

Dengan ragu-ragu Paksi pun melangkah melintasi halaman yang terhitung luas. Beberapa batang pohon tumbuh di halaman itu. Disana-sini nampak pohon kelapa yang tumbuh mencuat mengatasi pepohonan yang lain.

Agaknya sebagian dari dagangan kelapanya telah dipetik dari halaman dan kebun di rumahnya sendiri.

Ketika Paksi berdiri ragu-ragu di halaman, maka seorang anak remaja datang mendekatinya sambil bertanya, ”Siapa yang kau cari, kakang?”

Paksi tersenyum. Anak itu nampak ramah. Karena itu, maka iapun bertanya, “Apakah yang pulang dari pasar itu ibumu?”

“Ya. Ibu memang berjualan kelapa di pasar.”

“Ayahmu ada?” bertanya Paksi.

“Ada. Tetapi ayah sedang sakit. Kepala pening. Jantungnya berdebar-debar dan tidak dapat tidur.”

“Apakah aku dapat bertemu dengan ayahmu?”

“Ayah berbaring saja di pembaringan dengan gelisah. Kami bergantian menungguinya selama ibu berada di pasar.”

“Kamu siapa?” bertanya Paksi.

“Aku dan adikku.”

“Bagus” desis Paksi, “kau anak yang pandai.” Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, ”Jika demikian, aku ingin bertemu dengan ibumu.”

“Duduklah. Aku akan memanggil ibu.”

Paksi pun kemudian duduk di sebuah lincak bambu yang panjang diserambi depan rumah yang sederhana, tetapi nampak bersih itu.

Sejenak kemudian, maka perempuan yang berjualan kelapa di pasar itupun keluar dari pintu depan. Ia termangu-mangu sejenak, melihat Paksi yang belum pernah dikenalnya.

“Kau mencari aku, nak?” bertanya perempuan itu.

“Ya, bibi” jawab Paksi, “sebenarnya aku ingin berbicara dengan paman. Tetapi bukankah paman sedang sakit?”

Perempuan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Suamiku sedang sakit.”

Perempuan itu pun kemudian duduk di lincak bambu itu pula.

“Aku belum pernah melihat kau sebelumnya, nak.” berkata perempuan itu.

“Ya, bibi. Aku memang baru kali ini menginjakkan kakiku di padukuhan ini.”

“Jadi apakah maksudmu menemui suamiku?”

“Bibi” berkata Paksi, “aku mendengar pembicaraan bibi dengan beberapa orang perempuan di pasar. Menurut bibi, paman menjadi sakit setelah semalam melihat keranda terbang itu?”

“Ya” jawab perempuan itu dengan wajah berkerut.

“Aku ingin memberikan sedikit keterangan tentang keranda terbang itu.”

“Jangan, nak. Jangan. Pamanmu sangat terpengaruh oleh penglihatannya semalam. Ia merasa seakan-akan selalu dibayangi oleh keranda yang berjalan sendiri itu. Bahkan rasa-rasanya keranda itu telah terbang mengitari rumah ini.”

“Apakah ketiga orang kawan paman yang melihat keranda itu juga sakit?”

“Adik pamanmu telah menghubungi mereka. Menurut keterangannya, mereka juga menjadi sakit, terutama seorang yang semalam hampir pingsan. Badannya panas dan sekali-sekali ia mengigau. Tetapi yang seorang lagi, hanya terasa pening-pening sedikit.”

“Tetapi orang itu tidak menjadi sakit seperti paman?”

“Tidak. Ia memang seorang yang sangat berani, meskipun semalam ia mengurungkan niatnya untuk mendekati keranda yang terbang itu.

“Jika demikian, apakah aku sebaiknya berbicara dengan orang itu?”

“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?”

“Bibi. Aku minta bibi memberitahukan kepada paman, bahwa paman tidak perlu menjadi sakit. Keranda terbang itu hanyalah sekedar pokal orang jahat.”

“Tetapi pamanmu melihat sendiri.”

“Akupun melihatnya bibi. Aku sempat mengikutinya. Keranda itu sebenarnya juga dipikul oleh beberapa orang dan bahkan diiringi beberapa orang yang lain. Tetapi mereka berpakaian hitam agar mereka tidak nampak dari jarak tertentu.”

“Ah. Kau jangan mengada-ada anak muda.”

“Benar bibi. Aku dapat membuktikan. Tetapi aku memerlukan orang-orang yang berani seperti yang bibi sebutkan itu.” jawab Paksi. Lalu katanya pula, “Jika saja paman tidak cepat percaya kepada keranda itu, maka aku ingin mengajak paman untuk melihat kenyataan tentang keranda itu.”

Perempuan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Sebaiknya aku hubungi kakang Sura saja.”

“Dimanakah rumahnya, bibi?” bertanya Paksi.

Perempuan itupun kemudian memberikan ancar-ancar rumah Sura di dekat gardu peronda yang tidak pernah terisi sejak ada ceritera tentang keranda yang dapat berjalan sendiri di malam hari.

Paksi pun kemudian minta diri untuk menemui orang yang bernama Sura itu.

Meskipun agak ragu, namun Paksi pun kemudian telah memasuki halaman rumah di dekat gardu parondan. Seorang anak laki-laki yang sedang berlari-lari di halaman tertegun. Berlari-lari kecil anak itu menyongsong Paksi.

“Kakang mencari siapa?” ternyata anak itu ramah sekali.

“Apakah paman Sura ada di rumah?”

“Ayah?” bertanya anak itu.

“Ya. Tolong, katakan kepada ayah, bahwa seseorang mencarinya” berkata Paksi.

“Siapa nama kakang?”

Paksi tersenyum. Sambil menyentuh pipi anak itu ia menjawab, “Namaku Paksi.”

“Nama kakang bagus. Tetapi namaku jelek. Ayah tidak pandai memilih nama.”

“Siapa namamu?”

“Namaku Salam.”

“Nama yang bagus. Aku senang mendengarnya. Salam.”

“Ah, kakang hanya ingin membuatku senang.” Paksi tertawa. Anak itu ternyata anak yang sangat cerdas.

Namun anak itupun kemudian berkata, “Aku akan memanggil ayah di belakang.”

Anak itupun segera berlari kebelakang memanggil ayahnya.

Sura terkejut melihat kedatangan anak muda yang belum pernah dikenalnya. Dipersilahkan Paksi naik dan duduk di pendapa.

“Apakah angger mempunyai keperluan dengan aku?”

”Ya, paman. Ada yang ingin aku bicarakan.”

“Tentang?”

“Bukankah paman tidak sakit sekarang?”

“Rasa-rasanya kepalaku sedikit pening ngger. Tetapi tidak apa-apa. Aku dapat mendengarkan dengan baik persoalan yang akan angger katakan.”

“Apakah paman sakit karena keranda yang berjalan sendiri semalam?”

Orang itu mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Apakah kau mengetahui bahwa aku telah melihat keranda yang berjalan sendiri?”

“Ya paman. Tetapi itu tidak penting. Aku hanya ingin tahu, bahwa paman tidak menjadi sakit karena keranda itu?”

“Tidak. Tetapi kenapa?”

“Kenapa semalam paman tidak berusaha untuk menangkap keranda itu?”

“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan ngger?” bertanya Sura.

Paksi menarik nafas panjang. Kemudian diceriterakannya apa yang dilihatnya semalam sehingga keranda itu hilang dikuburan dan orang-orang berpakaian hitam yang menyembunyikan barang-barang hasil rampokan itu.

“Kau berkata sebenarnya?” bertanya Sura.

“Aku dapat menunjukkan tempat mereka menyembunyikan barang-barang itu jika paman ingin membuktikannya.”

Sura mengagguk-angguk. Katanya, “Jika kau berkata benar, aku kagum akan keberanianmu.”

“Bukan soal keberanian paman. Tetapi aku sudah tersudut dalam satu keadaan yang tidak dapat aku hindari.”

“Sebenarnya aku memang ingin melihat dari dekat keranda yang dikatakan orang dapat terbang sendiri itu. Tetapi kawan-kawanku semalam menjadi ketakutan, sehingga aku mengurungkan niatku. Bahkan ada seorang di-antara kami yang hampir pingsan.”

“Ada diantara mereka yang menjadi sakit sekarang.”

“Ya. Aku dengar memang demikian. Mereka menjadi sangat terpengaruh. Tetapi sejak semula aku sudah meragukannya.”

“Tetapi paman juga menjadi pening.”

“Bukan karena keranda itu. Tetapi hampir semalam suntuk aku tidak dapat tidur. Aku harus mengantar orang-orang yang ketakutan itu. Memapah kawanku yang hampir pingsan. Baru aku pulang terakhir setelah langit menjadi merah. Aku hanya sempat berbaring. Ketika aku hampir tertidur, adik salah seorang yang ikut bersamaku semalam datang kemari.”

Paksi mengangguk-angguk. Dengan nada berat ia berkata, “Aku juga tidak tidur semalam.”

“Kau dapat beristirahat disini” berkata Sura.

“Terima kasih paman. Tetapi apakah paman melihat barang-barang itu?”

Sura termangu-mangu sejenak. Dipandanginya anak muda yang sebelumnya belum pernah dikenalnya itu. Dari sorot matanya, memang tersirat keragu-raguannya.

Tetapi Paksi tidak tersinggung. Ia tahu, bahwa hal itu adalah wajar sekali. Karena itu, maka katanya, “Paman. Sebenarnya aku ingin sekali melihat apa saja yang disembunyikan oleh para perampok itu. Tetapi aku tidak dapat melakukannya sendiri. Aku tidak mempunyai alat untuk menggali.”

“Baiklah” berkata Sura” kita akan melihatnya. Tetapi aku akan mengajak seorang lagi yang memiliki keberanian untuk membongkar barang-barang yang disembunyikan itu.”

Paksi mengangguk sambil menjawab, “Silahkan paman. Tetapi orang itu harus dapat paman percaya, karena mungkin ada sesuatu yang untuk sementara masih harus disimpan.”

“Baik. Tetapi kapan sebaiknya kita melakukannya?”

“Bukankah sebaiknya kita lakukan di siang hari? Di malam hari orang-orang yang menyembunyikan barang-barang itu justru berkeliaran. Di siang hari mereka tidak akan menampakkan diri. Meskipun demikian, kita harus berhati-hati.”

“Baiklah. Kita dapat berpura-pura membersihkan kuburan. Aku mempunyai leluhur yang dimakamkan di kuburan itu.”

Surapun minta Paksi untuk menunggu. Minuman dan makanan pun telah dihidangkan pula.

“Salam akan menemanimu, ngger.” berkata Sura. Beberapa s&at kemudian Sura telah datang bersama seorang kawannya. Bertiga mereka pergi ke kuburan untuk membuktikan, apakah yang dilihat Paksi semalam bukan sekedar sebuah mimpi atau khayalannya saja.

Dalam pada itu, Sura pun berkata, “ngger, pamanmu Mertawira ini kebetulan adalah anak juru kunci kuburan itu.”

“O” Paksi mengangguk-angguk, “kebetulan sekali paman.”

“Tetapi aku segan untuk menggantikan jabatan orang tuaku. Aku lebih senang tidak mengurusi kuburan.” desis Mertawira.

“Harus ada orang yang bersedia melakukannya. Jika tidak, orang-orang yang memerlukan akan menjadi sangat repot.” berkata Sura.

Mertawira tertawa. Katanya, “Adikku telah menyatakan kesediaannya.”

“Syukurlah. Dengan demikian, maka segala sesuatunya ada yang mengatur. Orang-orang padukuhan yang kematian keluarganya tidak asal saja mengubur di kuburan ini, sehingga berjejal-jejal tanpa diatur.”

Mertawira tertawa semakin keras.

Beberapa saat kemudian, mereka telah berada di kuburan. Tidak ada orang yang melihat mereka meskipun mereka memasuki kuburan itu disiang hari.

Paksi memang agak sulit untuk menemukan batu yang besar itu. Bahkan Paksi sempat menjadi bimbang, bahwa apa yang dilihatnya tidak lebih dari sebuah khayalan. Mungkin hantu keranda itu sempat menyesatkan penglihatannya, sehingga seolah-olah ia melihat keranda itu memasuki kuburan Ini.”

Namun setelah mengitarti kuburan itu beberapa kali, maka Paksi pun telah menemukan batu yang besar itu.”Kami hampir kehabisan kesabaran” desis Sura.

Mertawira pun tertawa pula. Katanya, “Aku kira kau hanya bermimpi. Tetapi itu pun masih harus dibuktikan, apakah barang-barang itu benar-benar ada.””

Paksi mengangguk-angguk. Ketika mereka bersiap-siap untuk mulai menggali, maka jantung Paksi menjadi berdebar-debar. Jika barang-barang yang dikatakan itu tidak ada, maka kedua orang itu akan dapat menjadi marah kepadanya. Mereka akan mengira, bahwa Paksi telah mempermainkan kedua orang itu.

Namun Sura dan Mertawira memang melihat tanah yang kemerahan disekitar batu yang besar itu. Nampaknya tanah itu memang tanah yang baru dari sebuah galian yang telah ditimbun kembali.

Ketika mereka mulai menggali, maka tanah itupun agaknya masih juga lunak, sehingga dengan demikian, mereka tidak banyak menemui kesulitan.

Mereka menjadi berdebar-debar ketika cangkul mereka mulai terasa menyentuh sesuatu. Dengan hati-hati mereka menggali lebih dalam lagi.

Ternyata Paksi tidak sekedar berkhayal atau bermimpi atau penglihatannya dipengaruhi oleh hantu keranda itu. Didalam lubang galian itu memang terdapat barang-barang yang disembunyikan oleh para perampok yang telah mengelabuhi banyak orang itu.

“Apa yang sebaiknya kita lakukan dengan barang-barang ini” berkata Sura kemudian.

“Besok jika padukuhan ini merti desa, maka salah seorang pemimpin dari para perampok ini akan datang” berkata Paksi, “karena itu, maka barang-barang yang disembunyikan disini akan ditunjukkan kepada pemimpin mereka itu.”

“Jika demikian, biarlah barang-barang ini disini” berkata Mertawira, “kita akan mengawasinya. Besok, pada saatnya pemimpin perampok itu datang, kita akan menangkapnya.”

“Kau kira kita akan mudah melakukannya” sahut Sura, “para perampok adalah orang-orang yang telah menyatukan hidup matinya dengan senjata. Mereka terbiasa berkelahi dan bahkan bunuh-membunuh, sehingga darah bagi mereka tidak lagi menggetarkan perasaan mereka.”

“Tetapi kita mempunyai kawan yang tentu jauh lebih banyak dari para perampok itu. Mungkin jumlah mereka hanya sekitar sepuluh orang.”

“Ya” sahut Paksi, “sekitar sepuluh orang. Mereka bergantian memanggul keranda itu.”

“Nah, bukankah kita memiliki kesempatan?”

Sura mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan berbicara dengan Ki Jagabaya.”

“Hanya dengan Ki Jagabaya, “desis Mertawira, “jika hal ini didengar oleh banyak orang, maka persoalannya akan menjadi lain. Tetapi bagaimana menurut pendapatmu ngger?”

“Aku hanya ingin menunjukkan kepada paman, bahwa keranda itu sama sekali bukan hantu. Salah satu buktinya adalah barang-barang yang telah mereka sembunyikan disini. Selanjutnya, terserah kepada paman berdua. Kasihan jika orang-orang padukuhan itu menjadi terlalu lama dicengkam oleh ketakutan.”

“Padahal bukan hanya satu dua padukuhan saja yang dibayangi ketakutan kepada hantu keranda yang berjalan sendiri di malam hari, yang bahkan dapat lenyap dalam sekejap mata.”

“Kita harus dapat menangkap hantu keranda itu. Tetapi kita memang memerlukan beberapa orang yang berani” berkata Sura kemudian.

“Ya. Aku setuju, jika kita menemui Ki Jagabaya. Tetapi untuk sementara tidak ada orang lain yang mengetahuinya” berkata Mertawira.

Bertiga mereka sependapat untuk menimbun barang-barang itu lagi. Namun dengan demikian mereka sudah menjadi yakin, bahwa keranda yang berjalan sendiri ditengahi malam itu sama sekali bukan hantu. Sementara itu, mereka pun mengetahui dimana para perampok itu menyembunyikan barang-barang hasil rampokan mereka.

“Tetapi kenapa pemimpin perampok itu akan datang tepat pada saat merti desa?” desis Sura.

“Entahlah” berkata Mertawira, “mungkin pada hari itu perhatian orang-orang padukuhan tertuju kepada keramaian di padukuhan ini.”

“Baiklah. Sekarang, marilah kita pulang.”

Namun dalam pada itu, Paksi pun berkata, “Paman berdua. Sebaiknya aku meneruskan perjalananku. Aku merasa bahwa kewajibanku melaporkan tentang keranda yang berjalan sendiri di malam hari itu sudah aku lakukan dengan baik. Karena itu, segala sesuatunya terserah kepada paman berdua serta para bebahu padukuhan . Tindakan apa yang akan mereka ambil. Namun barangkali yang harus mendapat perhatian adalah, bahwa pemimpin perampok yang akan datang itu bernama Kebo Lorog.”

“Kebo Lorog” kedua orang itu terkejut. Dengan nada tinggi Sura berdesis, “Jadi permainan ini dikendalikan oleh Kebo Lorog yang namanya menggetarkan bulu tengkuk itu?”

“Apakah paman sudah pernah mendengar nama itu?”

“Ya. Kami sudah pernah mendengar. Banyak orang yang pernah mendengar nama itu. Orang-orang padukuhan menjadi ketakutan mendengar nama itu sebegaimana mereka mendengar ceritera tentang hantu keranda. Tetapi hantu keranda itu ternyata hanya sebuah tipuan. Tetapi Kebo Lorog benar-benar mampu memilin leher kita sampai patah.”

“Tetapi jumlah penghuni padukuhan ini cukup banyak.” berkata Paksi.

“Itu tidak berarti apa-apa bagi Kebo Lorog” jawab Sura.

“Jika demikian maka keranda yang berjalan sendiri itu tetap menakutkan bagi kita. Bukan karena kita menyangka keranda itu hantu, tetapi justru karena yang ada di belakangnya adalah Kebo Lorog.”

“Jika nama Kebo Lorog itu lebih menakutkan daripada hantu, kenapa mereka harus bermain hantu-hantuan? Kenapa tidak Kebo Lorog itu saja datang kemari dan melakukan kegiatan yang dilakukan oleh keranda itu?

“Kebo Lorog mempunyai lingkungan yang luas, ngger. Sehingga ia tidak dapat berada di satu tempat, Tetapi jika Kebo Lorog itu mengunjungi satu lingkungan, tentu ia mempunyai kepentingan tertentu.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin keberhasilan orang-orang yang mempunyai gagasan bermain hantu-hantuan itu telah menarik perhatiannya, sehingga permainan itu akan dapat dikembangkan di daerah lain.”

Sura dan Mertawira mengangguk-angguk. Dengan nada datar Mertawira berkata, “Mungkin kau benar ngger. Kita akan melihat bersama-sama, apa yang akan terjadi kemudian.”

“Paman berdua. Aku sudah berniat untuk mohon diri. Aku ingin melanjutkan pengembaraanku. Aku sudah merasa cukup berhasil dengan menunjukkan benda-benda yang disembunyikan itu.”

“Aku minta kau tetap disini menunggu kedatangan Kebo Lorog” berkata Sura.

“Apakah artinya keberadaanku disini?”

“Kita akan bersama-sama menyaksikan, untuk apa Kebo Lorog itu datang.” jawab Mertawira.

Paksi termangu-mangu sejenak. Sementara Sura itupun berkata, “Kita akan pergi kerumah Ki Jagabaya ngger. Kau akan dapat menjelaskan apa yang telah terjadi itu. Mudah-mudahan kita akan dapat mencari jalan keluar dari bayangan gelap karena kehadiran Kebo Lorog itu.”

Paksi termangu-mangu sejenak. Sura nampaknya mengerti getar perasaan anak muda itu. Karena itu, maka katanya, “Selama kau berada di padukuhan ini, kau dapat tinggal bersama kami, ngger. Salam tentu akan merasa senang jika kau berada disini.”

“Apakah aku tidak akan merepotkan paman dan keluarga?” bertanya Paksi dengan ragu.

“Tentu tidak ngger. Kau tentu sudah dapat mengurus dirimu sendiri. Kau sudah dapat mandi sendiri, mencuci pakaian sendiri. Makan sendiri, sehingga kami tidak usah menyuapi.”

Mertawira tertawa. Katanya, “Juga tidak harus menggendong dan menidurkan menjelang malam.”

Paksi tertawa. Kemudian iapun menjawab, “Baiklah paman. Jika paman tidak berkeberatan, aku akan tinggal disini sampai merti desa.”

Ternyata bahwa keberadaan Paksi di rumah Sura justru memberikan kesegaran baru. Paksi adalah seorang anak yang rajin. Pagi-pagi ia sudah bangun. Menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan. Kamudian menyapu halaman samping, karena halaman depan tentu sudah disapu oleh Sura sendiri.

Pengaruh keberadaan Paksi di rumah itu justru sangat baik bagi Salam, la dapat bangun lebih pagi dari kebiasaannya. Anak itu ingin bersma-sama dengan Paksi. Juga saat Paksi menimba air, menyapu halaman atau membelah kayu di siang hari.

Bahkan Paksi pun telah mengajari Salam untuk menuliskan huruf-huruf, kemudian membacanya.

Sementara itu, ceritera tentang keranda hantu itu masih saja membayangi kehidupan beberapa padukuhan. Sura dan Mertawira memang belum mengambil langkah-langkah tertentu untuk membuktikan kepada banyak orang, bahwa ceritera tentang hantu keranda itu hanya sebuah olok-olok dari para penjahat yang kebingungan membawa hasil rampokannya. Namun yang kemudian ternyata berhasil.

Seperti yang sudah direncanakan, maka ketika saatnya dianggap sudah tiba, maka Sura dan Mertawira telah pergi menemui Ki Jagabaya sambil mengajak Paksi Pamekas.

Ki Jagabaya menerima mereka bertiga di pendapa rumahnya. Karena keduanya tidak terbiasa berkunjung ke-rumah Ki Jagabaya, maka Ki Jagabaya menjadi heran atas kedatangan mereka bertiga.

“Nampaknya ada sesuatu yang penting” desis Ki Jagabaya.

“Ya, Ki Jagabaya. Kami ingin berbicara tentang keranda hantu itu.”

Ki Jagabaya mengerutkan dahinya. Dengan nada berat Ki Jagabaya itupun bertanya, “Ada apa dengan dongeng itu? Kalian berdua terhitung orang-orang yang berani di padukuhan ini. Apakah kalian juga percaya tentang keranda yang berjalan sendiri itu?”

“Kami percaya, Ki Jagabaya” jawab Sura.

“Sikapmu tentang keranda yang berjalan sendiri itu tentu akan menjadi panutan. Jika kau berkata bahwa kau percaya, maka padukuhan ini akan menjadi semakin kalut.”

“Aku telah melihat sendiri, Ki Jagabaya.”

Ki Jagabaya mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi ia berkata, “Apa maksudmu? Apakah kau memang menghendaki orang-orang padukuhan ini dicengkam oleh ketakutan? Dengan susah payah aku menjelaskan kepada mereka, bahwa tidak ada hantu keranda. Omong kosong. Tidak ada hantu yang sedang menyebarkan wabah penyakit.”

“Ki Jagabaya” berkata Sura kemudian, “aku benar-benar telah melihat keranda itu berjalan di malam hari. Aku yakin akan penglihatanku itu. Hal itulah yang akan aku katakan kepada Ki Jagabaya.”

“Persetan dengan igauanmu. Kau tidak akan dapat mempengaruhi aku. Kau tidak akan dapat menyeret aku kedalam ketakutan seperti orang-orang bodoh itu.”

Sura termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, ”Aku mohon Ki Jagabaya mendengarkan ceriteraku. Nanti Ki Jagabaya dapat percaya atau tidak percaya.”

Wajah Ki Jagabaya menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Cepat katakan. Tetapi jangan mengharap aku terseret kedalam arus yang melanda padukuhan kita dan beberapa padukuhan yang lain.”

Surapun kemudian menceriterakan apa yang pernah dilihatnya. Keranda yang berjalan di malam hari. Seakan-akan keranda itu berjalan sendiri.

Hampir saja Ki Jagabaya yang tidak mempercayainya itu menjadi marah. Namun kemudian Sura pun menceriterakan apa yang telah dilihat oleh Paksi Pamekas.

Wajah Ki Jagabaya nampak berkerut. Dipandanginya Paksi dengan tajamnya. Kemudian Ki Jagabaya itupun bertanya, “Siapakah kau sebenarnya?”

Paksi pun telah menyebut namanya. Tetapi ia selalu mengatakan bahwa dirinya berasal dari Banyuanyar serta selalu mengatakan bahwa kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi.

“Ceriteramu memang masuk akal.” berkata Ki Jagabaya.

“Kami sudah membuktikannya, Ki Jagabaya.”

“Bukti apa?” bertanya Ki Jagabaya.

“Kami sudah menggali tempat para perampok itu menyembunyikan barang-barangnya?”

“Kau telah mengambil barang-barang itu?”

“Tidak Ki Jagabaya” jawab Mertawira, “kami hanya membuktikan bahwa penglihatan angger Paksi itu bukan sekedar mimpi atau khayalan yang ditimbulkan oleh hantu keranda. Tetapi benar-benar ada. Sekarang barang-barang itu telah kami timbun kembali.”

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Sementara Sura minta Paksi menceriterakan tentang rencana Kebo Lorog datang ke lingkungan mereka.

Ki Jagabaya mendengarkan keterangan Paksi tentang Kebo Lorog sebagaimana didengarnya di kuburan dengan jantung yang berdebar-debar. Seakan-akan kepada diri sendiri Ki Jagabaya itu berkata, ”Kebo Lorog. Ternyata orang itu ada di belakang ceritera tentang hantu itu.”

“Mungkin sebaliknya, Ki Bekel. Kebo Lorog tertarik kepada gagasan para pengikutnya tentang hantu-hantu itu, sehingga ia ingin melihat hasil dari permainan itu.”

“Kebo Lorog itu sendiri lebih dari hantu yang manapun juga.” berkata Ki Jagabaya.

“Apakah kita sepadukuhan tidak dapat menghentikannya?” bertanya Mertawira.

Ki Jagabaya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kita sepadukuhan tidak akan berdaya melawan para penjahat itu jika diantara mereka terdapat Kebo Lorog. Kecuali karena Kebo Lorog itu mempunyai ilmu yang tinggi, ia akan dapat menjadi penyulut api keberanian dan kekuatan para pengikutnya. Bersama Kebo Lorog itu sendiri, maka sekelompok penjahat tidak akan dapat dihentikan oleh orang se padukuhan. Bahkan mungkin sekali kita akan dibantai habis oleh Kebo Lorog itu.”

“Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan jika benar besok pada saat kita merti desa Kebo Lorog itu datang?”

“Kita akan berbicara dengan Ki Bekel.”

Ternyata Ki Jagabaya tidak membuang waktu. Diajaknya ketiga orang yang datang kerumahnya itu langsung menemui Ki Bekel.

“Merti desa itu tinggal beberapa hari lagi. Kita harus dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Jika kita harus menyerah kepada keadaan, apaboleh buat. Kita tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi jika Ki Bekel maih melihat satu kesempatan untuk menggeliat meskipun Kebo Lorog ada disini, maka biarlah kita mempersiapkan diri selagi kita masih mempunyai waktu.” gumam Ki Jagabaya.

Ternyata Ki Bekel juga merasa heran melihat kedatangan ki Jagabaya bersama tiga orang kerumahnya. Di wajah mereka nampak persoalan yang membebani mereka, sehingga mereka harus datang menemuinya.

“Apakah Ki Jagabaa tidak dapat menyelesaikan persoalan mereka sehingga mereka harus datang kepadaku?“ bertanya Ki Bekel didalam hatinya.

Ketika mereka sudah duduk dipringgitan, maka Ki Jagabaya lah yang telah menyampaikan persoalan yang mereka bawa menghadap Ki Bekel.

Wajah Ki Bekel pun menjadi tegang. Kebo Lorog baginya juga merupakan hantu yang mendebarkan.

Namun tiba-tiba dari ruang dalam rumah Ki Bekel, keluar seorang laki-laki muda yang bertubuh sedang. Wajahnya memancarkan kecerahan nalar budinya. Dengan sebuah senyum yang menghiasi bibirnya, laki-laki muda itu berkata, “Maaf, kakang. Aku tidak sengaja telah mendengar nama Kebo Lorog disebut-sebut. Jika kakang Bekel tidak berkeberatan, aku ingin ikut mendengar ceritera tentang Kebo Lorog itu.

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kemarilah. Duduklah.”

Sura dan Mertawira terkejut melihat laki-laki itu. Hampir berbareng mereka menyapa, “Adeg Panatas.”

Laki-laki itu tersenyum. Sambil mendekat ia bertanya

“Kakang berdua tidak lupa kepadaku.”

“Tentu tidak” jawab Mertawira.

Laki-laki muda itupun kemudian duduk bersama mereka. Ki Bekelpun kemudian berkata, “Kemarin ia datang.”

Adeg Panatas, adik Ki Bekel itu tersenyum sambil menyahut, “Aku sudah menjadi sangat rindu pada padukuhan ini.”

“Kau datang pada saat padukuhan ini dibayangi oleh hantu keranda yang mencekam seluruh penghuninya. Bahkan bukan hanya padukuhan ini. Tetapi juga padukuhan-padukuhan yang lain.”

“Aku sudah mendengar. Tetapi bukankah Ki Jagabaya tidak mempercayainya?”

“Ki Bekel juga tidak mempercayainya” jawab Ki Jagabaya.

“Tetapi agaknya hantu-hantuan itu ada hubungannya dengan Kebo Lorog.”

“Ya” jawab Ki Jagabaya, “anak inilah yang mendengar langsung pembicaraan para perampok itu.”

Sekali lagi Paksi harus berceritera tentang pari perampok dan pembicaraan diantara mereka tentang rencana kedatangan Kebo Lorog.

“Sebaiknya kita sambut kedatangan Kebo Lorog itu.” berkata Adeg Panatas.

“Kau jangan main-main dengan nama itu” desis Ki Bekel.

Adeg Panatas tersenyum. Katanya, “Aku tahu kelebihan Kebo Lorog. Tetapi jangan biarkan Kebo Lorog menguasai padukuhan ini. Sekali ia dapat bergerak leluasa disini, maka padukuhan ini akan menjadi ladang yang subur bagi Kebo Lorog. Ia akan memeras setiap orang yang memang sudah ketakutan karena ceritera tentang keranda yang dapat berjalan sendiri itu.”

“Tetapi bagaimana kita dapat melawannya?” bertanya Ki Bekel.

“Kita harus melakukan bersama-sama. Biarlah aku mencoba untuk menahan Kebo Lorog. Jika aku tidak mampu mengimbanginya, maka kakang Bekel akan dapat membantuku. Berdua aku yakin, bahwa ,ami akan dapat menahan Kebo Lorog.”

“Bagaimana dengan para pengikutnya?”

“Mereka banyak tergantung kepada pemimpinnya. Jika kami benar-benar dapat menahan Kebo Lorog, maka aku yakin, bahwa para pengikutnya akan menjadi ragu-ragu, sehingga kita akan dapat mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk menghancurkan mereka. Bukankah jumlah mereka tidak terlalu banyak. Sepuluh, lima belas atau katakan duapuluh lima orang. Bukankah jumlah laki-laki di padukuhan ini jauh lebih banyak dari jumlah itu?”

“Tetapi hanya ada berapa orang laki-laki yang berada di paduhukan ini.” berkata Sura dengan dahi yang berkerut, “apalagi menghadapi Kebo Lorog dan pengikutnya, sedangkan ceritera tentang keranda terbang itu saja sudah membuat seisi padukuhan ini ketakutan.

”Tetapi bukankah ada orang-orang yang akan dapat menjadi sandaran kekuatan isi padukuhan ini? Disini ada kakang Bekel, Kakang Jagabaya, kakang Sura dan kakang Mertawira. Di padukuhan ini ada bebahu yang tentu akan dapat dikerahkan. Mereka tidak hanya dapat sekedar menikmati bengkok sawah yang mereka petik hasilnya setiap musim. Tetapi mereka juga harus bersedia menjadi perisai di padukuhan ini. Kemudian menurut pengenalanku disini ada juga beberapa orang bekas prajurit dan anak-anak muda yang haus penjelasan bahwa keranda itu tidak lebih dari hantu-hantuan saja.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Masih ada waktu berapa lama menjelang merti desa itu?”

“Tidak lebih dari sepuluh hari, Ki Bekel.”

“Cukup panjang” sahut Adeg Panatas, “kita siapkan perlawanan terhadap para perampok itu dalam waktu sepuluh hari. Aku kenal isi padukuhan ini. Karena itu, aku yakin bahwa kita akan dapat mempertahankan harga diri padukuhan ini. Tetapi sebelumbya kita harus juga menyadari, bahwa akan jatuh korban di antara kita. Tetapi itu tentu wajar bagi setiap perjuangan. Karena itu, maka kita harus mampu mengerahkan kekuatan yang sebesar-besarnya. Semakin banyak dan semakin kuat kita, maka korban akan menjadi semakin sedikit. Didalam pertempuran, kita harus saling menolong sehingga setiap orang pengikut Kebo Lorog, akan menghadapi lawan yang dapat membuat jantungnya bergetar.”

“Bagaimana pendapatmu, Ki Jagabaya?” bertanya Ki Bekel.

“Aku setuju dengan adi Adeg Panatas. Aku akan menggerakkan setiap laki-laki di padukuhan ini.”

“Baiklah” berkata Sura, “jika kita sudah sependapat bahwa kita akan mengadakan perlawanan, maka kita harus melakukan-dengan sepenuh hati. Kita tidak boleh ragu-ragu. Jika kita menjadi ragu, maka kita justru akan terjebak dalam kesulitan.”

“Tentu kakang Sura. Sekali kita turun ke gelanggang, maka kita harus sudah bersiap untuk menghadapi maut.” sahut Adeg Panatas.

“Itulah yang harus dijelaskan kepada rakyat padukuhan ini. Jika mereka bersedia, kita harus benar-benar terjun dengan segala akibat yang mungkin terjadi. Sebaliknya, jika rakyat padukuhan ini ragu, sebaiknya kita pasrah saja pada keadaan, meskipun leher kita akan dicekiknya” sahut Mertawira.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan memanggil para bebahu malam nanti.”

Demikianlah, maka Ki Jagabaya, Sura, Mertawira dan Paksi telah minta diri. Malam nanti mereka akan kembali ke rumah Ki Bekel itu kecuali Paksi

Menjelang malam, maka para bebahu yang dipanggil Ki Bekel telah berkumpul. Sura dan Mertawira pun telah datang pula memenuhi panggilan Ki Bekel meskipun mereka bukan bebahu.

Paksi yang merasa dirinya orang lain di padukuhan itu, tidak ikut hadir dirumah Ki Bekel. Namun beberapa orang telah mendengar ceriteranya tentang hantu keranda, para perampok dan hasil rampokan mereka yang mereka sembunyikan di kuburan.

Sementara Sura tidak ada dirumah, maka Paksi pun telah minta ijin kepada Nyi Sura untuk berjalan-jalan.

“Malam-malam kau akan pergi kemana ngger?” bertanya Nyi Sura.

“Hanya berjalan-jalan saja bibi, menghirup angin. Udara terasa panas malam ini.”

“Jangan terlalu lama ngger. Nanti jika pamanmu datang, ia tentu akan mencarimu” pesan Nyi Sura.

Paksi pun kemudian telah meninggalkan rumah Sura. Ia menyusuri jalan-jalan padukuhan yang sudah menjadi sepi. Ada beberapa oncor terpancang di regol-regol rumah yang besar dan di simpang-simpang ampat terpenting di-padukuhan.

Sejak terbetik berita tentang hantu keranda, maka jarang sekali ada orang yang berani keluar setelah gelap. Bahkan gardu-gardupun menjadi kosong. Satu dua orang yang mempunyai keberanian mencoba untuk mengintip dari belakang dinding padukuhan. Tetapi mereka tidak pernah dapat melihat keranda yang berjalan sendiri itu. Justru orang yang tidak sengaja untuk melihatnya, sekali-sekali pernah ada yang sempat melihatnya.

Tetapi akhirnya Sura, dan ketiga orang kawannya berhasil melihat keranda yang dikiranya dapat berjalan sendiri itu, sehingga justru ada diantara mereka yang menjadi sakit.

Tetapi Paksi Pamekas sama sekali tidak takut bertemu dengan keranda yang dapat terbang. Meskipun demikian ia harus berhati-hati, karena disekitar keranda itu terdapat sekitar sepuluh orang yang berpakaian serba hitam. Jika orang-orang itu menyadari, bahwa rahasia mereka diketahui, maka mereka tidak akan segan-segan menyingkirkan orang yang mengetahui rahasia mereka itu.

Beberapa lama Paksi berjalan di tengah-tengah bulak yang luas itu. Tetapi Paksi sudah menduga bahwa keranda yang belum lama lewat, hari itu tidak akan lewat. Apalagi keranda itu hanya lewat di hari-hari tertentu saja.

Semakin lama maka langkah Paksi menjadi semakin jauh dari padukuhan. Sementara malam menjadi semakin malam. Disimpang ampat ditengah bulak, Paksi berhenti. Dipandanginya padukuhan yang nampak kehitam-hitaman. Seleret sinar oncor memancar menyusup disela-sela dedaunan.

Paksi harus menunda perjalanan panjangnya yang tidak diketahuinya kemana. Ia tidak merasa bersalah jika ia berhenti di padukuhan itu beberapa hari. Bahkan sampai sepuluh hari, karena ia memang tidak dibatasi oleh waktu. Bahkan tiba-tiba terngiang kembali suara ibunya melengkah, “Kau sengaja mengusirnya.”

Tetapi ayahnya selalu menjawab” Ia sudah menginjak tujuhbelas tahun.”

Paksi menarik nafas panjang.

Namun tiba-tiba saja Paksi terkejut. Dibawah sebatang pohon randu yang tumbuh di pinggir simpang ampat itu ia melihat sesuatu yang bergerak. Bahkan kemudian menjadi semakin jelas baginya, bahwa yang bergerak itu adalah seseorang yang sedang duduk bersandar batang pohon randu itu.

Paksi melangkah surut. Sementara orang yang duduk bersandar pohon randu itu seakan-akan tidak menghiraukannya.

Paksi memang tidak ingin membuat persoalan. Karena itu, Maka Paksi pun merasa lebih baik ia pergi tanpa mengganggu orang itu.

Namun ketika ia melangkah menjauh, terdengar orang itu berkata, “Kau kira begitu saja kau dapat pergi?”

Paksi berhenti. Sambil menghadap kearah orang itu, Paksi bertanya, “Apakah maksud Ki Sanak?”

“Kau telah mengetahui rahasiaku. Rahasia keranda terbang itu, serta kau telah melihat tempat kami menyimpan benda-benda rampokan itu.”

Jantung Paksi berdentang semakin cepat. Ternyata orang itu mengerti bahwa ia telah mengetahui rahasia hantu keranda itu.

”Apakah kau salah seorang dari mereka ?” bertanya Paksi

Orang itu masih tetap duduk. Dengan suara yang seakan-akan bergulung didalam mulutnya, ia menjawab, “Ya. Aku salah seorang dari mereka.”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun dadanya mulai bergejolak. Jika benar orang itu salah seorang dari para perampok yang membuat hantu-hantuan serta yang telah menyembunyikan barang-barang hasil rampokan itu, maka ia harus benar-benar mempertahankan hidupnya.

Tetapi Paksi masih tetap berdiri ditempatnya karena orang yang duduk dibawah pohon randu itupun masih saja duduk di tempatnya pula.

Namun kemudian terdengar orang itu berkata, “Anak muda. Kau telah bermain dengan api. Adalah salahmu jika api itu menjilat dan membakar tubuhmu.”

Paksi menyadari, bahwa ia tidak akan dapat mengelak lagi. Tetapi apa boleh buat. Ia harus berani memikul tanggung jawab atas perbuatannya sendiri sebagaimana dikaitkan oleh orang itu.

Tiba-tiba saja keberaniannya telah menghangatkan darahnya. Dengan suara yang mantap Paksi bertanya, “Apa yang kau kehendaki Ki Sanak.”

“Nyawamu” jawab orang itu.

“Ambillah sendiri” jawab Paksi.

Orang itu mulai bangkit. Ia berdiri dibawah pohon randu alas itu. Gelap malam telah mengaburkan wajah orang itu, sehingga Paksi tidak dapat melihat dengan jelas. Tetapi yang nampak di matanya dalam keremangan malam adalah tubuhnya yang gagah, tinggi dan besar.

“Menyerahlah” suaranya terdengar serak.

“Untuk apa aku menyerah?” bertanya Paksi.

“Aku akan membunuhmu.”

“Kau kira aku apa?” Paksi justru bertanya dengan nada yang mantap.

Pengalaman hidupnya membuat Paksi tidak mengenal takut lagi. Bahwa ia seakan-akan telah terbuang dari rumahnya membuatnya tidak peduli lagi apa yang terjadi biarlah terjadi. Bahkan kematian tidak lagi menghantuinya.

Orang itu mulai melangkah mendekat. Katanya, “Kau akan aku bunuh dengan caraku.”

“Jika kau benar-benar akan membunuhku, maka aku pun harus berusaha untuk mempertahankan hidupku. Jika karena aku mempertahankan diri terjadi sesuatu atasmu, aku tidak bertanggung jawab.”

“Bersiaplah anak yang sombong. Kau tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mundur.”

Paksi pun segera mempersiapkan diri. Meskipun ia masih terhitung sangat muda di umurnya yang tujuhbelas itu, namun Paksi pernah menyadap ilmu dari seorang guru yang berilmu tinggi. Karena itu, ketika hidupnya terancam, maka ia akan mempertahankan dirinya dengan ilmunya sejauh yang dikuasainya.

Demikianlah, maka pertempuran pun tidak dapat dihindarinya lagi.

Dengan garangnya orang yang semula duduk dibawah pohon randu itupun mulai menyerangnya. Tetapi Paksi pun telah bersiap sepenuhnya. Karena itu, ketika serangan itu datang, maka Paksi pun dengan tangkasnya telah mengelak. Bahkan dengan cepat, Paksi telah membalas menyerangnya.

Tetapi orang itu pun mampu bergerak cepat pula. Serangan Paksi pun sama sekali tidak menyentuhnya.

Ketika Paksi memburunya dengan serangan berikutnya, maka orang itu justru telah membenturnya. Serangan kaki paksi yang terjulur mengarah ke dada, telah ditangkis lawannya dengan kedua tangannnya yang bersilang didadanya.

Paksi yang belum mengetahui seberapa besar kekuatan dan tenaga lawannya telah terdorong selangkah surut. Namun Paksi tidak berkecil hati. Lawannya ternyata juga tergetar dan surut selangkah pula.

Demikianlah, keduanya pun segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Keduanya saling menyerang, bertahan dan menghindar.

Dalam pertempuran yang semakin cepat itu, Paksi berusaha untuk dapat mengenali lawannya. Dalam keremangan malam, Paksi melihat bahwa lawannya itu adalah seorang yang cacat. Meskipun dalam gelap, tetapi setiap kali Paksi sempat melihat wajah yang cacat itu.

Ternyata orang itu merasa, bahwa Paksi memperhatikan cacat di wajahnya. Karena itu, maka orang itu pun telah meloncat mengambil jarak sambil bertanya, “Kau memperhatikan cacat diwajahku?”

“Ya” jawab Paksi berterus-terang.

Orang itu tertawa. Katanya, “Aku adalah seorang penjahat yang sudah berpuluh tahun melakukan kejahatan. Aku pernah menjadi pencopet kecil. Pencuri ayam dan jemuran. Aku pernah menjadi penyamun di tempat-tempat sunyi. Kemudian aku menjadi perampok dan bahkan perampok dilaut. Selama berpuluh tahun aku ditempa oleh kerasnya duniaku. Cacat di tubuhnya terjadi di sepanjang pengalamanku yang luas itu. Aku pernah disangka mati karena dipukuli orang sepasar. Tubuhku dilemparkan begitu saja ke jurang tidak terlalu jauh dari pasar itu

“Jangan membual” potong Paksi.

“Kau menjadi ketakutan mendengar petualanganku?” bertanya orang itu.

“Sama sekali tidak” jawab Paksi, “jika sampai hari ini kau masih sempat bertualang, maka malam ini petualanganmu akan berakhir disini.”

Orang itu tertawa semakin keras. Katanya, “Kau benar-benar anak yang sombong. Tetapi kau akan segera menyesali kesombonganmu itu.”

“Aku sudah siap apapun yang terjadi” jawab Paksi.

Orang itu tidak segera menyerang lagi. Tetapi iapun berkata, “Lihat, betapa wajahku menjadi cacat. Kakiku sedikit timpang. Bekas luka yang terdapat dimana-mana. Tetapi ilmukupun meningkat di setiap goresan yang terdapat pada tubuhku.”

“Aku tidak peduli. Tetapi aku akan mempertahankan hidupku.”

Orang itupun mulai melangkah mendekat lagi. Dengan cepat orang itu telah menyerang pula.

Pertempuran pun telah menyala kembali. Keduanya bergerak semakin cepat. Serangan demi serangan telah dilakukan oleh kedua belah pihak.

Orang yang berwajah dan bertubuh cacat itu ternyata semakin lama menjadi semakin garang. Serangan-serangannya menjadi semakin cepat dan semakin keras.

Tetapi Paksi pun telah meningkatkan kemampuannya pula. Pada umurnya, Paksi memiliki tenaga yang mantap. Kebiasaannya bermain dengan permainan keras telah membantu meningkatkan kekuatan dan ketahanan tubuhnya. Kesenangannya bergulat di tepian membuat tubuhnya semakin liat dan tahannya pun menjadi semakin tinggi. Karena itu maka setelah bertempur beberapa lama, tenaga Paksi pun masih belum menyusut.

Tetapi pengalaman orang cacat itu memang jauh lebih luas dari Paksi. Karena itu, maka setiap kali serangan orang itu mengejutkan Paksi.

Namun betapapun Paksi mengerahkan kemampuannya, orang itu ternyata mampu menembus pertahanannya. Serangan-serangannya sekali-sekali telah menyentuh tubuhnya.

Tetapi setelah bertempur beberapa lama, Paksi mulai melihat celah-celah pertahanan lawannya. Paksi yang kemudian mengalami kesulitan itu, tidak lagi sekedar bertempur dengan unsur-unsur gerak yang dikuasainya. Tetapi ia harus mempergunakan penalarannya sebaik-baiknya. Ia harus membuat perhitungan-perhitungan dengan cepat, tetapi cermat agar tidak justru membuatnya semakin sulit.

Ketika Paksi harus meloncat menjauhi lawannya untuk mengambil jarak, ia melihat bahwa lawannya tidak terlalu cepat menyusulnya. Terasa ada tenggang waktu sekejap sebelum lawannya melibatnya lagi dalam pertempuran yang sengit.

Sekali dua kali Paksi mencoba, Sehingga ia pun dapat mengambil kesimpulan bahwa lawannya kurang memiliki ketangkasan untuk bertempur dengan loncatan-loncatan panjang.

Dengan demikian, maka Paksi telah memilih cara yang justru tidak disukai lawannya. Paksi bertempur pada jarak yang dipeliharanya dengan baik.

Ternyata Paksi berhasil mempersulit kedudukan lawannya. Tetapi setiap kali pengalaman orang cacat yang luas itu, terasa sangat berpengaruh dalam pertempuran itu.

Orang cacat itu tidak mau terpancing dalam pertempuran dengan jarak yang panjang. Setiap kali Paksi meloncat menjauh, lawannya tidak tergesa-gesa memburunya. Tetapi ia justru melangkah satu-satu mendekatinya.

Paksilah yang kemudian menjadi tidak telaten. Ia menjadi tidak sabar lagi, sehingga ia tidak berpegang teguh pada perhitungannya.

Dengan demikian, maka serangan-serangan lawannya itu menjadi semakin sering menembus pertahanan anak muda itu. Ketika Paksi menjulurkan kakinya menyerang ke arah lambung lawannya, maka orang cacat itu justru menjatuhkan dirinya. Kakinya dengan cepat menyapu kaki Paksi yang lain, sehingga Paksi telah menjadi kehilangan keseimbangan.

Karena itu, maka Paksi pun telah terjatuh. Tetapi ia pun dengan cepat berguling. Dengan tangkas pula Paksi segera meloncat bangkit.

Tetapi diluar dugaan. Lawannya yang timpang, yang selalu menghindari pertempuran dengan jarak yang panjang, mampu meloncat dengan cepat.

Ternyata Paksi terkejut. Tetapi ia terlambat menghindar. Tangan orang itu dengan cepat menghantam perutnya.

Diluar sadarnya, Paksi terbungkuk. Namun dengan cepat pula lawannya memegang kepalanya. Dengan kerasnya kepala Paksi telah membentur lutut oranng yang timpang itu.

Mata Paksi menjadi gelap. Tetapi ia tidak mau kehilangan kesadarannya. Bahan dengan cepat ia surukkan kepalanya keperut lawannya.

Keduanya terjatuh berguling di Tanah, Namun Paksi tidak ingin menjadi sasaran serangan-serangan lawannya. Meskipun perutnya masih terasa mual serta kepalanya maih angat pening, tetapi Paksi telah bersiap kembali untuk bertempur.

Pada saat yang sama, lawannya telah bangkit pula. Bahkan dengan cepat ia telah menyerang Paksi. Sambil meloncat orang itu telah menjulurkan tangannya kearah dada.

Tetapi Paksi dengan cepat bergeser kesamping. Justru pada saat tangan lawannya terjulur, Paksi telah menyerang lambung orang’itu dengan kakinya.

Meskipun orang itu menggeliat, tetapi kaki Paksi masih dapat menggapainya, sehingga orang yang sedang meluncur itu telah terdorong kesamping dan jatuh berguling.

Tetapi orang itu kurang beruntung, bahwa ia tidak memperhatikan parit yang membujur di pinggir jalan, sehingga ia justru terperosok kedalamnya.

Dengan cepat orang itu bangkit. Pakaian dan tubuhnya menjadi basah kuyup. Karena hal itu tidak terduga, maka beberapa teguk air telah masuk kedalam kerongkongannya.

Ketika orang itu sibuk mengusap wajahnya, serangan Paksi telah datang lagi. Kakinya dengan cepat sekali terjulur menyambar kening orang itu.

Sekali lagi orang itu terlempar. Bahkan orang itu telah terlempar kedalam lumpur di kotak sawah yang basah.

Paksi yang ingin mengambil kesempatan tidak menunggunya. Dengan cepat ia memburu lawannya. Demikian lawannya bangkit, maka tangannya telah menyambar dagu.

Gigi orang itu terdengar gemeretak. Dengan kasarnya orang itu mengumpat. Tetapi ketika dengan satu putaran kaki Paksi menyambar dadanya, maka orang itu telah terlempar jatuh.

Dengan cepat orang itu bangkit. Tetapi ia tidak berusaha menyerang Paksi. Dengan serta-merta, maka orang itu pun telah melarikan dirinya kedalam kegelapan.

Beberapa puluh langkah Paksi mengejarnya. Tetapi kemudian ia pun telah menghentikan usahanya untuk menangkap orang itu. Karena itu, maka Paksi pun kemudian berhenti.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia harus terlibat dalam pertempuran dengan salah seorang diantara para perampok yang telah membuat hantu-hantuan itu. Bahkan hampir saja ia terdesak. Jika ia gagal mempertahankan dirinya, maka nyawanya tentu benar-benar akan dihabisi oleh orang itu.

Paksi berdiri termangu-mangu sejenak. Angin terasa semilir menghembus kulitnya. Ketika Paksi menengadahkan wajahnya, dilihatnya langit bersih. Bintang-bintang berkeredipan kebatas cakrawala.

Namun tubuh Paksi semakin terasa nyeri. Tulang-tulangnya bagaikan menjadi retak. Sedangkan kepalanya masih saja terasa pening.

Sejenak Paksi berdiri termangu-mangu. Namun kemudian ia pun membenahi pakaiannya. Ketika ia melangkah kembali ke padukuhan, sendi-sendinya terasa sakit.

Ketika Paksi memasuki regol halaman rumah Sura, ternyata Sura masih duduk di sebuah lincak bambu yang panjang di serambi. Demikian ia melihat Paksi memasuki regol halaman dan keremangan malam, Surapun segera bangkit dan menyongsongnya.

“Kau membuat aku cemas, ngger.”

Paksi menarik nafas panjang. Namun iapun bertanya pula, “Pertemuan di rumah Ki Bekel itu begitu cepat selesai?”

“Pertemuan itu cukup lama, ngger. Kaulah yang pergi terlalu lama. Kita sudah berada di belahan malam terakhir.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tengah malam memang sudah lewat. Agaknya ia bertempur cukup lama pula.

“Marilah ngger” ajak Sura, “sudah waktunya kita beristirahat.”

Keduanya pun melangkah ke serambi. Namun Paksi pun berkata, ”Aku akan pergi ke pakiwan paman.”

“Baiklah. Tetapi lewat pintu butulan saja.”

“Aku akan masuk lewat pintu butulan.”

Paksi pun kemudian langsung pergi ke pakiwan lewat samping rumah meskipun Sura mengajaknya lewat ruang dalam rumahnya.

Paksi memang harus membersihkan tubuhnya dari debu dan lumpur. Tetapi ia tidak dapat membersihkan pakaiannya malam itu.

Ketika Paksi masuk ke ruang dalam lewat pintu butulan, Sura terkejut. Ia melihat wajah anak itu lembab kebiru-biruan dekat arah matanya, langkah Paksi pun menjadi berat dan bahkan kaki kanannya menjadi sedikit timpang.

“Apa yang terjadi, ngger?”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sura kemudian menggandengnya dan mempersilahkannya duduk diatas tikar pandan.

Paksi yang nampak sangat letih dan sekali-sekali memegang perutnya yang sakit dan mual, duduk sambil menundukkan wajahnya. Ketika ia mencuci mukanya, terasa wajahnya menjadi pedih.

“Apa yang terjadii?” Sura mendesaknya, “aku sudah gelisah menunggumu. Ternyata kau telah mengalami sesuatu.”

“Aku berjalan-jalan sampai keluar padukuhan ini paman. Tetapi malang, aku bertemu dengan salah seorang dari para perampok itu. Ketika aku diserang, aku mencoba untuk bertahan. Tetapi inilah yang terjadi. Tetapi aku masih beruntung bahwa aku sempat lari” jawab Paksi merendahkan diri agar orang-orang padukuhan itu tidak terlalu menaruh pengharapan kepadanya jika ternyata kelak mereka benar-benar harus menghadapi Kebo Lorog.

Sura mengerutkan dahinya. Diluar sadarnya iapun berdesis, “Syukurlah bahwa kau dapat melepaskan dirimu.”

Paksi tidak menyahut. Tetapi ia melihat sesuatu yang terbersit di hati Sura.

Meskipun ragu-ragu, Sura itupun bertanya, “Tetapi bagaimana peristiwa itu terjadi? Apakah kau tahu pasti, bahwa orang itu salah seorang diantara para perampok itu?”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “Orang itu tiba-tiba saja menuduhku, bnhwa aku telah mengetahui rahasianya. Aku tidak tahu, apakah ia benar-benar mengetahui bahwa aku menyaksikan apa yang telah dilakukan oleh para perampok itu atau sekedar mencari alasan untuk melakukan kekerasan. Tetapi agaknya orang itu benar-benar ingin membunuhku.”

Sura mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, kita memang harus berhati-hati. Nampaknya mereka sudah membuat persiapan-persiapan menjelang kehadiran Kebo Lorog.”

“Mungkin sekali, paman.”

“Karena itu, besok jangan berjalan-jalan setelah lewat senja. Nampaknya keadaan menjadi gawat. Bukan saja ceritera tentang hantu keranda, tetapi orang-orang itu telah langsung melakukan kekerasan.”

Paksi mengangguk-angguk kecil sambil menjawab, “Baik, paman.”

“Bila Kebo Lorog itu benar-benar akan datang saat padukuhan ini merti desa, maka keadaan akan menjadi gawat.”

“Tetapi apakah paman dan para bebahu padukuhan ini pasti, bahwa Kebo Lorog akan melakukan tindakan kekerasan terhadap padukuhan ini. Aku sekedar melihat hasil kerja orang-orangnya yang berkeliaran di sekitar tempat ini dan menyembunyikan harta-bendanya di kuburan itu?”

“Kita memperhitungkan keadaan yang paling gawat yang mungkin terjadi, ngger.” jawab Sura, “kita semuanya memang berharap bahwa Kebo Lorog tidak akan mengganggu padukuhan ini. Tetapi jika gangguan ini terjadi, maka kita tidak akan tinggal diam.”

Paksi mengangguk-angguk. Sementara Sura itu berkata selanjutnya, “Karena itu, maka kita akan mempersiapkan diri sejauh dapat kita lakukan. Kita harus mempertahankan harga diri agar kita untuk selanjutnya tidak akan menjadi ampas kelapa yang diperah sampai kering.

Paksi memandang wajah Sura sejenak. Wajah itu nampak bersungguh-sungguh. Bahkan sekali dua kali Sura mengusap keringatnya yang mengembun di kening.

Paksi mengerti, bahwa persoalan yang telah dibicarakan oleh Ki Bekel dengan para bebahunya itu dianggap persoalan yang gawat sekali, karena akan menyangkut kehidupan di padukuhan itu.

Dengan ragu-ragu Paksi pun kemudian bertanya, “Paman jadi apakah yang akan dilakukan oleh Ki Bekel dan para bebahu menghadapi kemungkinan kedatangan Kebo Lorog?”

“Kita akan bersiap. Ki Jagabaya akan mengumpulkan anak-anak muda serta laki-laki yang berani serta masih mempunyai kemampuan untuk berkelahi. Ada tiga atau empat orang bekas prajurit di padukuhan ini yang akan diminta kesediaannya memimpin perlawanan. Selain mereka, Ki Jagabaya, Ki Bekel sendiri dan adik Ki Bekel yang bernama Adeg Panatas itu.”

Paksi menarik, nafas dalam-dalam. Agaknya para penghuni padukuhan ini akan mengerahkan segenap kekuatan yang ada untuk melindungi diri sendiri.

Namun Paksi itupun berkata, “Paman. Jika persiapan itu diketahui oleh para pengikut Kebo Lorog, apakah bukan berarti bahwa kita justru mengisyaratkan agar Kebo Lorog datang dengan kekuatan yang lebih besar.”

Sura mengerutkan dahinya. Sambil mengangguk kecil Sura berkata, “Memang mungkin sekali. Persiapan-persiapan yang kita lakukan akan membuat Kebo Lorog dan para pengikutnya menjadi berhati-hati serta memuat perhitungan yang lebih bersungguh-sungguh.”

“Jika terjadi demikian, maka keadaan padukuhan ini akan dapat menjadi parah sekali.”

“Ya. Seharusnya hal ini juga diperhitungkan.” Sura mengangguk-agguh. Lalu katanya pula, “Biarlah besok aku bertemu dengan Ki Jagabaya.”

“Agaknya Ki Jagabaya juga perlu diberi tahu, bahwa orang-orang yang membuat hantu-hantuan itu adalah orang-orang yang sangat garang. Mereka tidak ragu-ragu untuk bertindak kasar.”

Sura mengangguk-angguk. Paksi sendiri sudah mengalaminya. Untunglah bahwa Paksi dapat melarikan diri.

Karena malam menjadi semakin dalam, maka Sura itupun kemudian telah mempersilahkan Paksi untuk beristirahat. Tetapi ketika Sura sempat memperhatikan pakaian Paksi, maka iapun telah menawarkan untuk meminjami Paksi sepengadeg pakaiannya.

“Terima kasih, paman” jawab Paksi yang mulai merasa gatal-gatal dengan pakaiannya yang kotor dan berlumpur.

Malam itu Paksi mendapat sepengadeg pakaian dari Sura, sehingga besok ia dapat mencuci pakaiannya yang dipakainya sejak ia meninggalkan rumahnya.

Di sisa malam itu, Paksi berbaring di bilik yang diperuntukkan baginya. Meskipun agak sulit, tetapi akhirnya Paksi pun tertidur pula. Namun jika sekali-sekali ia terbangun, maka badannya masih terasa nyeri di beberapa bagian. Kepalanya masih pening dan perutnya masih mual.

Tetapi ketika ia terbangun menjelang matahari terbit, tubuhnya terasa semakin segar. Apalagi setelah ia menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan, kemudian mandi dengan air dingin.

Hari itu, pagi-pagi Sura mengajak Paksi untuk menemui Ki Jagabaya. Sura berusaha menjelaskan bahwa persiapan yang berlebihan justru akan memancing perhatian para pengikut Kebo Lorog. Dengan demikian, mereka akan memperkuat barisan mereka jika mereka memang inlgin menguasai padukuhan itu.

Ki Jagabaya pun ternyata menganggap pendapat itu masuk akal. Karena itu, maka iapun berkata, “Kami akan menghimpun orang-orang yang sudah siap untuk terjun ke medan pertempuran untuk melawan para perampok. Selebihnya baru anak-anak muda di padukuhan untuk melawan para perampok. Selebihnya baru anak-anak muda di padukuan ini.”

“Bagaimana kita mempersiapkan mereka tanpa menarik perhatian?”

“Kita akan menentukan orang-orang tertentu untuk memimpin sekelompok kecil anak-anak muda dari tiga atau ampat orang. Mereka harus mempersiapkan kelompok mereka masing-masing bisa sampai saatnya mereka tidak mengecewakan. Tetapi persiapan yang tinggal sedikit itu tidak akan menarik perhatian.”

Sura mengangguk-angguk sambil berkata, “Juga untuk menghindari kecurigaan, merti desa akan berlangsung seperti biasanya. Ki Bekel sudah berjanji untuk menyelenggarakan tari tayub di bulak sawah padukuhan kita sesudah padi dituai.”

“Besok kita sudah mulai menuai padi di bulak itu.”

“Ya. Kita akan menyelenggarakan merti desa menurut hari yang sudah kita tentukan.”

Ternyata Ki Jagabaya kemudian telah menjalankan tugasnya dengan baik. Sementara Ki Jagabaya mempersiapkan perlawanan dengan diam-diam, maka Ki Bekel dan bebahu yang lain telah mempersiapkan sebuah keramaian untuk merti desa.

Dalam pada itu, maka para perampok pun telah brsiap-siap sebaik-baiknya pula untuk menyambut kedatangan salah seorang pemimpin mereka, Kebo Lorog.

Jika Kebo Lorog hadir di lingkungan itu, maka Kebo Lorog akan melihat hasil kerja mereka. Barang-barang yang telah mereka simpan di kuburan, serta keramaian merti desa di padukuhan sebelah.

“Apakah orang-orang padukuhan itu bersedia menerima kita untuk ikut hadir dalam keramaian merti desa itu?” desis salah seorang perampok itu.

Kawannya tertawa. Katanya, “Sambil membawa keranda?”

Kawan-kawannya yang lainpun tertawa. Namun seorang dari mereka berkata, “Bersedia atau tidak, kita akan menentukan sikap kita sendiri.”

“Maksudmu?”

“Di saat mereka sedang menyelenggarakan keramaian, kita akan lewat. Jangan terlalu dekat. Maka mereka akan menjadi sangat ketakutan. Keramaian itu akan bubar. Masing-masing akan melarikan diri dan pulang dengan tubuh gemetar.”

“Apa keuntungan kita?” bertanya seorang kawannya.

“Hari itu memang tidak ada. Tetapi pada kesempatan lain, jika kita memasuki padukuhan itu dan mengambil harta-benda yang tersimpan didalamnya, tidak akan ada seorangpun yang berani keluar rumahnya. Kita akan dapat dengan leluasa melakukannya.”

“Kita membawa barang-barang itu dengan keranda?

“Justru tidak. Keranda itu akan kita tutup agar tidak kelihatan.” jawab orang yang berbicara terdahulu” hanya jika terjadi ditempat lain yang agak jauh, keranda itu akan nampak memasuki kuburan itu dan hilang diluar regol.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka mengerti bahwa jika perampokan itu terjadi di tempat yang terlalu dekat dengan terlihatnya keranda yang berjalan, apalagi di padukuhan sebelah, orang-orang dari padukuhan itu akan mempertanyakan, apakah memang ada hubungannya antara perampokan itu dengan keranda yang lewat.

Demikianlah hari-haripun menjadi semakin dekat. Padi disawah sebagian besar sudah dibawa pulang dan disimpan dilumbung. Jerami di sawah sudah mulai dibabat, ditimbun dibeberapa tempat diantara kotak-kotak sawah dan kemudian dibakar. Abunya akan dapat menjadi pupuk selain beberapa pupuk yang lain, termasuk pupuk kandang.

Di kotak sawah Ki Bekel yang juga sudah dituai, telah dibuat tratag anyaman bambu. Sebuah tratag bertiang baimbu yang akan dipergunakan oleh para penari tayub untuk menari serta bagi para pengiring gamelan. Alas dari tratag itupun dibentangkan anyaman bambu pula.

Dari kejaunan satu dua orang perampok ikut menyaksikan orang-orang padukuhan yang sibuk itu.

Setiap kali mereka tertawa membayangkan apa yang bakal terjadi pada saat keramaian itu diselenggarakan. Jika sebuah keranda berjalan sendiri dikejauhan, maka mereka yang ikut menyaksikan tari tayub itu berlari meninggalkan tempat itu pulang kerumah masing-masing. Mereka akan menjadi sangat ketakutan, sehingga dimalam malam berikutnya mereka tidak akan berani keluar setelah gelap turun.

Keyakinan itulah yang kemudian akan mereka sampaikan kepada Kebo Lorog. Peristiwa itu akan dapat menjadi bahan tontonan yang sangat menarik bagi pemimpin mereka yang sangat mereka takuti itu.

Sementara itu, orang-orang di padukuhan itu pun sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Beberapa orang yang dianggap memiliki bekal untuk turun tangan jika benturan kekerasan itu benar-benar terjadi, telah menyiapkan masing-masing dua atau tiga orang anak muda. Seorang bekas prajurit yang meskipun rambutnya sudah beruban, tetapi masih tegar, telah mengajari tiga orang anak muda, bagaimana mereka harus mempergunakan senjata.

Sementara itu, kepada mereka Sura dan Mertawira telah berusaha meyakinkan, bahwa tidak ada hantu keranda. Yang ada adalah sebuah tipuan untuk mengelabuhi orang-orang padukuhan. Bukan hanya padukuhan mereka, tetapi beberapa orang padukuhan yang lain. Sementara itu ceritera dari mulut ke mulut yang merambat dari padukuhan ke padukuhan telah menyebar ketempat yang luas. Bahkan telah merambat keluar Kademangan.

Karena itu, menjelang malam yang biasanya menggembirakan bagi seisi padukuhuan itu, bahwa ceritera tentang keranda itu tidak lebih dari sebuah mimpi buruk.

“Tidak ada keranda yang dapat berjalan sendiri” berkata Ki Jagabaya tanpa menceriterakan bahwa dua orang penghuni padepokan itu sudah dapat memberi kesaksiannya.

Ki Jagabaya memang harus memberikan keterangan yang berbeda kepada orang-orang padukuhan itu, agar kesiagaan seisi padukuhan itu sudah dapat memberikan kesaksiannya.

Ki Jagabaya memang harus memberikan keterangan yang berbeda kepada orang-orang padukuhan itu, agar kesiagaan seisi padukuhan itu tidak didengar oleh para perampok yang akan menyambut kedatangan pemimpin mereka. Tidak sebagaimana Sura dan Mertawira meyakinkan anak-anak muda di padukuhan itu.

Meskipun demikian, Ki Jagabaya, Ki Bekel dan para bebahu padukuhan itu mengerti, bahwa usaha untuk menjebak orang yang bernama Kebo Lorog itu adalah satu kerja yang mengandung kemungkinan yang sangat buruk bagi padukuhan mereka.

Tetapi kehadiran adik Ki Bekel yang sudah lama meninggalkan padukuhan, yang agaknya telah menyadap ilmu kanuragan itu, telah memberikan harapan baru bagi Ki Bekel dan para bebahu.

Hari-hari yang mendebarkan itupun akhirnya datang juga. Sebagian dari orang-orang padukuhan itu memang mulai percaya, bahwa memang tidak ada keranda yang berjalan sendiri.

“Siapa yang pernah melihatnya?” bertanya Ki Jagabaya, ”semua orang mengatakan, kata orang. Jika ada orang yang merasa pernah melihat, keterangannya sangat meragukan. Karena itu, jangan takut. Kita akan merayakan keberhasilan panen kita seperti biasanya.”

Sebagian orang-orang padukuhan itu sependapat dengan Ki Jagabaya. Keranda yang berjalan sendiri itu tidak lebih dari cerita ngaya-wara.

Dalam pada itu, para pengikut Kebo Lorog yang semula memang sedikit ragu, apakah merti desa di padukuhan itu dapat berlangsung seperti biasanya, menjadi semakin mantap. Jika orang-orang padukuhan yang terlanjur menjadi ketakutan itu urung merayakan kegembiraan atas hasil panen mereka maka pertunjukan yang menarik itu tidak dapat mereka perlihatkan kepada Kebo Lorog. Mereka tidak akan dapat melihat bagaimana orang-orang yang sedang mengikuti keramaian merti desa itu lari tunggang langgang, saling bertubrukan serta berteriak-teriak ketakutan melihat keranda yang berjalan sendiri agak jauh dari tempat keramaian itu, menuju ke kuburan.

Sementara itu, di sebuah rumah yang terhitung besar, di sebuah padukuhan yang lain, beberapa orang tengah menunggu, Di rumah itu tinggal seorang yang termasuk disegani oleh tetangganya, karena orang itu terhitung orang yang kaya di padukuhannya. Bukan saja seorang yang kaya, tetapi ia juga dianggap seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi.

Tidak seorang pun yang pernah berprasangka buruk terhadap Ki Pituhu, pemilik rumah itu meskipun kadang-kadang satu dua orang tetangganya merasa heran, dari manakah datangnya kekayaan Ki Pituhu itu. Menilik sawahnya yang tidak terlalu luas serta sehari-harian ia lebih banyak dirumah, maka menurut penalaran mereka, penghasilannya tentu tidak begitu banyak. Sedangkan menurut pengetahuan tetangga-tetangganya. Ki Pituhu juga tidak pernah mendapatkan warisan yang cukup, karena orang tuanya juga bukan orang berada.

Namun bagi tetangga-tetangganya, Ki Pituhu adalah seorang yang sangat baik. Ia seorang yang sangat sering sekali memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Juga kepada padukuhannya, Ki Pituhu sering memberikan sumbangan yang berarti.

Tidak seorang pun yang pernah mencurigai bahwa dirumah Ki Pituhu yang baik itu tinggal beberapa orang yang hari itu sedang menunggu kehadiran seseorang yang bernama Kebo Lorog.

Ketika dua orang yang bertubuh tinggi tegap dan berwajah garang berjalan melalui jalan padukuhan, memang tidak banyak menarik perhatian. Seorang anak muda yang kebetulan memperhatikan kedua orang itu, sempat juga bertanya di dalam hatinya, siapa sajakah kedua orang yang lewat itu. Tetapi karena keduanya berada di jalan yang banyak dilalui orang yang memang tidak dikenalinya, maka anak muda itu menganggap bahwa keduanya adalah orang yang lewat sebagaimana orang yang lain. Apalagi kedua orang itu sama sekali tidak menunjukkan sikap yang mencurigakan. Mereka berjalan sebagaimana orang lain berjalan. Sedikit berbincang dan kadang-kadang memperhatikan keadaan disekitainya.

Karena itu maka anak muda itu tidak menghiraukannya lagi, Sehingga dengan demikian, maka anak muda itu tidak tahu, bahwa kedua orang itu telah memasuki regol halaman rumah Ki Pituhu.

Kedatangan kedua orang itu telah disambut dengan hangat oleh orang-orang yang memang sudah nenunggu dirumah Ki Pituhu, terutama Ki Pituhu sendiri.

“Marilah, kakang” Ki Pituhu itu mempersilahkan.

Kedua orang itupun kemudian naik ke pendapa dan duduk diantara beberapa orang yang menunggunya.

“Aku sudah menjadi cemas, bahwa kakang tidak jadi datang hari ini.”

“Apakah aku sering ingkar janji?” jawab salah seorang dari kedua orang itu.

“Tidak, Kakang Kebo Lorog memang tidak pernah ingkar janji” desis Ki Pituhu, “karena itu, kami sudah menunggu kakang disini bersama beberapa orang kawan kami,”

“Aku ingin melihat apa yang telah kalian lakukan disini, Aku sudah mendengar permainan kalian dengan hantu-hantuan itu,”

“Apakah cara itu menarik perhatian kakang Kebo Lorog?” bertanya Ki Pituhu.

”Aku sedang mempelajarinya.” Jawab Kebo Lorog,

“Besok malam keramaian merti desa itu akan diselenggarakan, Besok malam kami akan mempertunjukkan tontonan yang tentu menarik bagi kakang Kebo Lorog.”

“Tontonan apa?”

“Keranda itu akan berjalan tidak jauh dari tempat keramaian itu diadakan.”

Sebelum Ki Pituhu berceritera lebih lanjut, Kebo Lorog sudah tertawa lebih dahulu, Katanya, “Kau akan menunjukkan kepadaku, bagaimana orang-orang padukuhan itu berlarian kalang kabut.”

“Ya” Ki Pituhupun tersenyum.

Tetapi Kebo Lorog menggeleng sambil berkata, “Pertunjukan itu belum tentu dapat berlangsung.”

“Kenapa?” bertanya Ki Pituhu,

“Sejak sebelumnya orang-orang padukuhan itu sudah ketakutan. Karena itu, maka mereka tidak akan berani keluar dari rumah mereka setelah senja turun.”

“Tetapi tratag sudah dibuat di sawah Ki Bekel. Nampaknya keramaian itu tetap akan diadakan.” jawab Ki Pituhu.

“Mungkin saja. Tetapi apakah ada yang menonton atau tidak, kita masih belum dapat memastikannya” berkata Kebo Lorog. Namun iapun kemudian berkata, “Itu tidak penting. Yang penting bahwa kalian berhasil melakukan tugas kalian didaerah ini.”

“Kami akan menunjukkan kepada Kakang Kebo Lorog. Kami simpan hasil kerja kami di kuburan.”

“Kenapa tidak ditempat ini?” bertanya Kebo Lorog.

“Nampaknya lebih aman disimpan di kuburan itu. Sebagian dari hasil kerja kami memang dibawa ke rumah ini dan disimpan disini untuk satu dua pekan. Selanjutnya, semua kami bawa dan simpan di kuburan itu sekaligus sambil bermain hantu-hantuan.”

“Apakah di rumah ini tidak dapat dijamin pengamanannya?”

Ki Pituhu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Rumah ini masih terhitung rumah warisan yang akan dimiliki oleh tiga orang, karena aku masih mempunyai dua orang bersaudara,”

”Dimana mereka sekarang?”

“Keduanya perempuan. Mereka ikut suami mereka. Tetapi kadang mereka datang berkunjung kemari. Aku adalah yang tertua diantara kami bertiga, sehingga kedua adikku itu merasa wajib untuk setiap kali datang” jawab Ki Pituhu, “selebihnya aku harus mencurigai orang-orangku sendiri yang tidak terlibat dalam kerja ini.”

“Maksudmu, siapakah mereka itu?”

“Aku mempunyai beberapa orang yang membantu kesibukan keluarga kami. Ada yang mengurusi ternak dan kuda. Ada yang mengurusi sawah dan ladang dan ada pula yang membantu isteriku di dapur, mencuci pakaian dan sebagainya. Aku mengkhawatirkan, bahwa tidak dengan sengaja mereka menemukan sesuatu yang dapat menarik perhatian mereka. Karena itu, barang-barang itu tidak boleh terlalu lama berada disini.”

Kebo Lorog mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kapan kita akan melihat hasil kerja kalian.”

“Besok malam, setelah kita menonton pertunjukan yang kita harapkan dapat menarik itu.” jawab Ki Pituhu.

Kebo Lorog mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bertanya, “Apakah pembantu-pembantumu itu tidak mencurigaimu jika di rumah ini terdapat beberapa orang seperti sekarang ini?”

“Tidak. Menurut pengertian mereka, aku adalah seorang saudagar perhiasan, permata dan wesi aji, sehingga dengan demikian maka mereka tidak pernah menaruh perhatian terhadap tamu-tamuku yang mereka anggap kawan berdagang atau bahkan pembantu-pembantuku dalam perdagangan ini.”

Kebo Lorog mengangguk-angguk.

Sebenarnyalah orang-orang yang bekerja dirumah Ki Pituhu sama sekali tidak menghiraukan apa saja yang pernah dilakukan oleh Ki Pituhu. Meskipun ada diantara mereka yang sekali-sekali diganggu oleh pertanyaan dari-mana datangnya kekayaan Ki Pituhu, namun mereka berusaha untuk melupakannya. Mereka memang mencoba untuk meyakini bahwa Ki Pituhu adalah seorang saudagar perhiasan, permata dan wesi aji, meskipun Ki Pituhu nampaknya tidak benar-benar sibuk dengan kerja itu. Mereka juga tidak menghiraukan apakah banyak orang yang berdatangan di rumah Ki Pituhu. Yang penting mereka bekerja dirumah itu dengan upah yang memadai.

Hari itu, Kebo Lorog dan seorang kawannya akan bermalam di rumah Ki Pituhu, Seorang yang mengendalikan para pengikut Kebo Lorog yang ada dilingkungannya. Namun yang oleh tetangga-tetangganya dianggap seorang yang baik, dermawan dan rendah hati.

Menjelang malam, Kebo Lorog dan kawannya bersama Ki Pituhu sempat melihat persiapan keramaian merti desa yang akan diselengarakan esok malam.

“Nampaknya mereka bersungguh-sungguh” berkata Kebo Lorog.

“Tayub” sahut Ki Pituhu, “dengan menyelenggarakan tari tayub sebagai pernyataan terima kasih atas keberhasilan panen mereka kepada Dewi Padi, mereka berharap bahwa pada kesempatan lain, panen mereka akan semakin baik”

Kebo Lorog itu mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia merasa heran, kenapa orang-orang padukuhan itu masih juga berani menyelenggarakan keramaian jika untuk beberapa lama selalu dibayangi ketakutan karena hantu keranda itu.

Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Ternyata hantu-hatuan kalian tidak berhasil menakut-nakuti  orang padukuhan itu.”

“Selama ini padukuhan itu menjadi sepi, kakang. Bukan hanya padukuhan itu, tetapi beberapa padukuhan yang lain. Aku tidak tahu, apakah demikian kuatnya dorongang naluri mereka untuk menyelenggarakan keramaian itu sehingga mengatasi perasaan takut mereka. Tetapi besok kita akan membuktikan, bahwa mereka akan menjadi ketakutan.”

Kebo Lorog mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa baginya tidak menjadi terlalu penting, apakah nereka menjadi ketakutan atau tidak. Yang menjadi perhatian utamanya adalah justru keberhasilan kerja para pengikutnya di lingkungan itu.

Karena itu, maka Kebo Lorog pun tidak memperhatikan persiapan keramaian itu lebih lama lagi. Ia menjadi tertarik untuk melihat-lihat padukuhan-padukuhan yang lain disekitarnya.

Lewat tengah malam, mereka telah berada di rumah Ki Pituhu kembali. Kebo Lorog dan kawannya yang sudah merasa letih itupun segera dipersilahkan beristirahat.

Dihari berikutnya, mereka lebih banyak berada dirumah. Duduk-duduk sambil berbincang. Bersama beberapa orang pengikutnya yang hari itu ada dirumah Ki Pituhu, mereka tengah merencanakan niat Kebo Lorog untuk melihat harta benda yang disembunyikan di kuburan.

“Aku tidak akan mengganggu milik kalian selain yang memang sudah kalian siapkan untuk kalian berikan kepadaku. Yang lain itu hak kalian.” berkata Kebo Lorog

Ki Pituhu mengangguk-angguk. Katanya, “Kita sudah memisahkan yang terbaik yang akan kami serahkan kepadamu, Kakang.”

“Aku juga tidak akan menyebutkan, apa yang aku inginkan dari barang-barang yang kalian simpan itu. Terserahlah kepada kalian berkata Kebo Lorog itu pula.

“Setelah kita bermain-main dengan hantu-hantuan itu, kita akan ke kuburan.”

“Persetan dengan keramaian itu,” desis Kebo Lorog.

Ki Pituhu mengerutkan dahinya Tetapi ia tidak menjawab. Permainan yang akan menjadi salah satu tontonan yang menarik itu ternyata tidak dianggap penting oleh Kebo Lorog.

“Tetapi ia akan senang melihatnya” berkata Ki Pituhu didalam hatinya.

Dalam pada itu, dua orang pengikut Kebo Lorog telah memeritahukan, bahwa gamelan telah diletakkan dibawah tratag yang dibuat di tengah sawah itu. Mereka tidak lagi merasa ragu, bahwa keramaian itu akan berlangsung siang hari.

“Keramaian itu tentu akan diselenggarakan seperti biasanya, dimalam hari” berkata salah seorang dari keduanya.

Ki Pituhu tersenyum. Katanya, “Aku sedikit curiga, bahwa untuk mengatasi rasa takut mereka akan menyelenggarakan keramaian disiang hari.”

“Tetapi tayub dan upacara terima kasih itu biasanya memang dilakukan di malam hari. Pada saat kegelapan menyelimuti bulak sawah yang luas itu, karena kegelapan merupakan bagian dari upacara itu sendiri.” berkata sajah seorang dari antara mereka.

Kebo Lorog hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia tidak menanggapinya.

Demikianlah. semakin rendah matahari, maka di sekitar tempat keramaian itu memang menjadi semakin banyak dikunjungi orang.

 -ooo00dw00ooo-

Diedit dari

naskah yang dikirimkan oleh Nyi Dewi KZ (Website Tirai Kasih)

<<kembali | lanjut >>