HLHLP-049


<<kembali | lanjut >>

SEBENARNYALAH bahwa para pengikut Jayaraja terkejut menghadapi kesiagaan yang sangat tinggi dari pasukan Sangling. Dengan demikian maka para pengikut Jayaraja itu harus mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk mendesak kekuatan prajurit Sangling yang telah siap menunggu kedatangan mereka.

Sementara itu, maka pasukan yang mendapat tugas khusus untuk menyerang istana telah berusaha untuk mendekati pintu gerbang. Mereka dengan berani dan tanpa ragu-ragu menyergap prajurit Sangling yang bertugas di pintu gerbang.

Namun kedatangan pasukan itu telah menurunkan perintah Senapati pasukan pengawal istana untuk menutup pintu gerbang itu. Sedangkan para prajurit Sangling telah bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Bukan saja yang berada di halaman depan, tetapi Senapati pasukan pengawal telah memerintahkan untuk bersiaga di segala tempat.

Sementara itu pasukan yang secara khusus telah diatur oleh Jayaraja untuk menyergap pintu gerbang itu mendekati sasaran, maka sekelompok orang-orang terpilih bersama Jayaraja sendiri telah mendekati dinding belakang istana pula. Mereka berhasil menyusup jalan-jalan sempit untuk menghindari pasukan Sangling yang nampaknya berada di segala tempat di dalam kota itu.

“Perhatian mereka akan tertuju pada pasukan yang datang dari depan,” berkata Jayaraja.

Sebenarnyalah sebagian besar dari para pengawal Akuwu telah berada di halaman depan istana. Mereka agaknya memang terpancing oleh pasukan para pengikut Jayaraja yang datang dari arah depan menuju ke pintu gerbang.

Hanya sebagian kecil sajalah yang masih berada di beberapa bagian dari istana Akuwu itu. Sementara Akuwu sendiri juga berada di pendapa istananya.

Ketika seorang melaporkan bahwa sepasukan pengikut Jayaraja menyerang istana, maka Akuwu berkata, “Kita akan menghalau mereka. Beritahukan kepadaku segera jika kalian melihat Jayaraja itu ada di antara mereka.”

“Hamba Akuwu,” jawab penghubungnya yang melaporkan itu, “kami akan selalu memberikan laporan-laporan.”

“Bagaimana dengan jumlah mereka?” bertanya Akuwu.

“Agaknya jumlah mereka cukup banyak,” jawab penghubung itu. Namun kemudian katanya, “Tetapi pasukan pengawal ini cukup kuat untuk menahan mereka.”

“Bagaimana dengan pasukan berkuda?” bertanya Akuwu.

“Mereka sudah siap menerima perintah,” jawab penghubung itu, “sampai saat ini mereka masih belum dilibatkan. Pasukan pengawallah yang akan mempertahankan istana ini, kecuali jika ada perintah lain dari Akuwu atau keadaan yang memaksa.”

“Panggil para Panglima,” perintah Akuwu.

Sejenak kemudian dua orang Panglima telah menghadap. Panglima pasukan Pengawal Khusus dan panglima pasukan berkuda. Dua pasukan pilihan di Sangling. Sementara itu para Panglima itu termasuk duapuluh orang Senapati terbaik di Sangling yang pernah ikut menempa diri bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Akuwu pun masih sempat memberikan beberapa petunjuk kepada kedua Panglima itu. Mereka harus bekerja bersama dalam keadaan tertentu, tetapi mereka jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dari keadaan yang mereka hadapi.

“Karena itu, sebelum sangat diperlukan, biarlah pasukan berkuda tidak melibatkan diri. Kecuali jika terpaksa. Mungkin aku memerlukan pasukan berkuda justru di luar istana ini atau di manapun dapat aku temui Jayaraja yang menjadi otak dari gerakan ini,” Akuwu menegaskan.

Kedua panglima itu mengangguk-angguk. Sementara itu, mereka telah mendengar satu isyarat, bahwa para pengikut Jayaraja telah berada di depan pintu gerbang.

“Kembalilah ke pasukanmu,” perintah akuwu kepada kedua Panglima itu.

Dengan tergesa-gesa keduanya meninggalkan Akuwu dan kembali ke pasukan masing-masing.

Sebenarnyalah bahwa para pengikut Jayaraja telah mulai berusaha memecahkan pintu gerbang yang tertutup rapat. Sementara itu beberapa orang prajurit Sangling telah berada diatas tangga yang disandarkan pada dinding di dalam halaman. Mereka membawa busur dan anak panah. Dengan senjata itu mereka berusaha menghambat gerakan para pengikut Jayaraja yang berusaha memecahkan pintu gerbang.

Beberapa anak panah memang mengenai sasaran. Tetapi mereka yang berada di depan pintu gerbang itu pun telah berusaha melindungi diri mereka dengan perisai dan berusaha menghalau para prajurit itu dengan mempergunakan senjata yang sama. Para pengikut Jayaraja itu telah menyerang orang-orang yang berada diatas tangga didalam dinding itu dengan anak panah pula.

Korban-korban yang pertama memang telah jatuh di antara kedua belah pihak. Namun dalam pada itu, para pengikut Jayaraja memang berusaha untuk memecahkan dinding. Ternyata mereka telah mendapat sepotong kayu yang besar dan diangkat bersama-sama. Mereka membuat ancang-ancang. Namun kemudian mereka berlari untuk menghantam pintu gerbang itu dengan ujung kayunya.

Pada hentakkan pertama mereka belum berhasil. Tetapi usaha itu diulanginya terus-menerus. Sementara itu, korban-korban berikutnya telah jatuh pula. Tidak semua anak sempat ditangkis atau dihalau. Tetapi ada juga di antara anak panah itu yang menusuk dada sampai ke jantung.

Namun beberapa saat kemudian selarak pintu gerbang pun mulai retak. Para prajurit Sangling sadar, bahwa sebentar lagi pintu itu akan terbuka.

Sebenarnyalah, maka dua kali hentakkan pada pintu gerbang itu telah dapat mematahkan selarak yang besar di dalam pintu gerbang itu. Karena itu, maka pintu itu pun segera terbuka.

Sepasukan pengikut Jayaraja itu pun segera berlari-lari memasuki pintu gerbang. Namun sambutan pertama adalah anak-anak panah yang bagaikan pasir yang dibaurkan ke arah mereka. Beberapa pucuk anak panah berhasil mengenai para prajurit itu dan bahkan membunuhnya. Tetapi yang lain telah berhasil dihalau atau ditangkis dengan pedang atau tombak.

Meskipun satu dua orang terkapar mati, namun yang lain maju seperti gelombang lautan. Agaknya mereka sudah tidak dapat lagi dicegah. Karena itu, maka para prajurit Sangling itu-pun telah bergerak mundur untuk memperluas arena. Sementara itu anak panah pun masih saja berterbangan mengerikan.

Tetapi pasukan yang mempergunakan busur dan anak panah itu tidak dapat bertahan lama. Ketika pasukan lawan dengan serta merta menyergap mereka, maka orang-orang yang berdiri di belakang pasukan panah itulah yang kemudian mengambil alih deretan pertama menghadapi lawan, sementara pasukan anak panah dan busur mendapat kesempatan untuk meletakkan busur, pendog dan menggenggam pedang di arena pertempuran.

Sejenak kemudian, maka pertempuran telah terjadi dengan sengitnya. Mereka tidak lagi mempergunakan anak panah dan busur. Tetapi kedua belah pihak telah mempergunakan pedang dan senjata-senjata di genggaman yang lain. Tombak pendek, parang, bindi, trisula dan jenis-jenis senjata yang lain.

Orang-orang yang menyerang istana itu pun telah mendesak pasukan Sangling dengan dahsyatnya. Bagaikan gelombang yang datang beruntun susul menyusul, mereka setapak demi setapak mendesak para prajurit yang berada di halaman itu.

Sebenarnyalah pasukan pengawal istana itu telah dikerahkan untuk melawan para pengikut Jayaraja. Karena jumlah pengikut Jayaraja itu cukup banyak, maka hampir semua orang dari pasukan pengawal telah berada di halaman.

Meskipun demikian masih juga ada satu dua orang yang bertugas di halaman belakang dan halaman samping untuk mengawasi keadaan.

Sementara itu Akuwu Sangling sendiri masih berada di pendapa. Ia menunggu laporan, di mana Jayaraja berada. Ia harus bergerak dengan cepat menuju ke tempat pimpinan pemberontak itu berada.

Tetapi ternyata untuk beberapa saat masih belum ada laporan yang diberikan kepadanya.

Dalam pada itu, pertempuran pun telah terjadi di mana-mana. Keseimbangan setiap benturan tidak sama. Di satu tempat prajurit Sangling terdesak, namun di bagian lain para pengikut Sangling itu telah menggulung lawan-lawannya.

Betapapun para prajurit Sangling berusaha menenangkan rakyat Sangling, namun sebagian dari mereka menjadi sangat gelisah. Tetapi jika mereka bersiap untuk pergi mengungsi, prajurit Sangling yang melihatnya selalu berkata, “Tidak ada bedanya. Di mana-mana terjadi pertempuran seperti ini. Karena itu jangan mengungsi. Tinggal di dalam rumah kalian masing-masing.”

Tetapi pertempuran itu benar-benar telah menggelisahkan seluruh rakyat Sangling, terutama yang tinggal di dalam kota.

Namun dalam pada itu, dengan kecepatan gerak para penghubung, maka akhirnya prajurit Sangling itu pun mulai merata sebagaimana keadaan lawan. Di tempat yang mendapat tekanan berat dari para pemberontak, telah diperkuat dengan bantuan beberapa kelompok prajurit. Sementara di tempat-tempat yang tidak sangat berbahaya telah ditinggalkan oleh sebagian prajurit Sangling.

Di halaman istana pertempuran telah menyala semakin besar. Kedua pasukan yang kuat itu pun bagaikan saling mendesak. Sekali-sekali pasukan Sangling lah yang terdesak. Namun kemudian para pemberontak itulah yang terdesak mundur. Namun untuk itu Sangling telah mengerahkan segenap prajurit dan pasukan khususnya, sehingga pada dasarnya, kekuatan pasukan pengawal itu telah terhisap seluruhnya di halaman itu.

Dengan demikian maka rencana Jayaraja agaknya akan dapat diujudkannya.

Sebenarnyalah Jayaraja memang telah mengirimkan penghubungnya. Ketika penghubung itu melihat pertempuran yang sengit di halaman, maka ia telah mencoba mengamati keadaan di sekitar pertempuran itu. Rasa-rasanya ia tidak melihat kelebihan dari pasukan Sangling. Sehingga jika masih ada prajurit di istana itu, maka prajurit itu tentu akan digerakkan untuk membantu prajurit khusus yang mengawal istana itu.

Karena itu, maka penghubung itu pun kemudian telah memberanikan diri untuk melingkari halaman istana dari luar dinding. Ketika ia berada di samping, maka dengan hati-hati ia melenting meloncat keatas dinding.

Memang tidak ada prajurit Sangling yang tersisa. Ketika ia sempat melihat ke dalam, maka di dalam halaman istana itu nampak sepi. Namun ia melihat dua orang prajurit agak dikejauhan berjaga-jaga.

“Prajurit Sangling tentu menganggap bahwa semua kekuatan kami telah berada di pintu gerbang,” berkata orang itu di dalam hatinya.

Karena itu, maka ia pun dengan tergesa-gesa telah menyampaikan laporan itu kepada Jayaraja.

“Di mana akuwu?” bertanya Jayaraja, “apakah kau sempat melihatnya pula.”

“Akuwu berada di pendapa,” jawab orang itu, “ketika aku mendekati pasukan kita di halaman yang berhasil mendesak pasukan Sangling, aku lihat Akuwu itu berdiri bertolak pinggang di pendapa.”

Jayaraja tertawa. Katanya, “Hari ini adalah hari terakhir bagi Mahisa Bungalan. Aku akan datang lagi untuk membunuhnya, sebentar prajurit-prajuritnya pun akan dibantai di halaman. Mereka akan habis lenyap sampai orang terakhir.”

Sejenak kemudian, maka Jayaraja pun telah menggerakkan pasukannya. Dengan sangat berhati-hati ia memerintahkan orang-orangnya untuk memasuki halaman belakang istana dengan meloncati dinding. Tetapi mereka harus sangat berhati-hati. Mereka tidak boleh mengejutkan satu dua orang yang masih meronda di bagian belakang istana itu.

Sebenarnyalah dengan sangat berhati-hati sekelompok kuat pasukan pemberontak itu memasuki halaman. Dengan kemampuan mereka yang tinggi, maka seorang demi seorang mereka telah meloncat masuk.

Ternyata sekelompok pemberontak itu memang tidak menimbulkan suara yang menarik perhatian, sehingga prajurit yang bertugas di halaman belakang pun tidak melihat mereka yang berloncatan seorang demi seorang.

Bahkan Jayaraja telah memerintahkan orangnya yang terpilih untuk membunuh saja dua orang prajurit yang bertugas di halaman belakang itu.

Para pengikutnya memang ragu-ragu. Namun Jayaraja telah menunjuk dua orang untuk merunduknya dan menusuk lambung mereka dengan pedang. Kemudian memerintahkan dua orang yang lain membayanginya.

“Jika mereka mengetahui kedatangan kalian, maka cepat meloncat dan hunjamkan pedang kalian tepat di jantung. Jangan beri kesempatan mereka berteriak,” desis Jayaraja.

Para petugas yang mendapat tugas itu merasa ragu-ragu. Jarak untuk menjangkau mereka cukup panjang. Bahkan mereka harus menempuhnya lewat tempat terbuka sampai beberapa langkah.

Tetapi mereka tidak berani membantah, sehingga karena itu, maka mereka berempat pun telah bergerak ke arah kedua orang prajurit Sangling itu.

Tetapi mereka berhenti ketika orang yang berjalan di paling depan memberikan isyarat kepada mereka untuk berhenti.

“Kenapa?” bertanya kawannya.

“Apakah mungkin untuk mendekati mereka berdua tanpa mereka ketahui?” bertanya orang yang berjalan di paling depan.

Kawannya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Memang tidak mungkin.”

“Karena itu, maka biarlah Ki Jayaraja bergerak lebih dahulu. Baru kemudian kita bertindak. Seandainya kita gagal, maka Ki Jayaraja telah sampai ke sasarannya,” berkata prajurit itu.

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi jika mereka bergerak terus maka kedua prajurit itu tentu akan melihatnya. Dengan demikian maka akibatnya akan dapat menggagalkan gerak Ki Jayaraja dan para pengikutnya.

Adalah satu kebetulan, bahwa jalan yang mereka tempuh bertentangan tempatnya dengan sisi jalan yang dipergunakan oleh pasukan berkuda yang menunggu perintah. Karena itu, maka tidak seorang prajurit pun yang melihatnya.

Dalam pada itu, maka Ki Jayaraja dan pengikutnya memang sudah mendekati bagian depan dari istana Akuwu. Menurut laporan yang mereka terima, Akuwu berada di pendapa. Karena itu, maka mereka pun telah merayap dengan hati-hati ke pendapa.

Seorang prajurit yang bertugas di dekat regol butulan, tanpa dapat melawan sama sekali telah disergap dengan tusukan langsung ke arah jantung.

Dengan hati-hati Jayaraja membawa pasukannya meninggalkan longkangan di sisi istana itu untuk mencapai seketheng. Namun agaknya seorang prajurit yang bertugas di seketheng itu telah melihat mereka. Ketika dua orang berusaha menyergapnya, maka ia sempat meloncat menyelinap di balik seketheng dan berlari ke halaman depan sambil berteriak, “Akuwu. Berhati-hatilah sepasukan lawan telah menyelinap lewat seketheng.”

Akuwu mendengar teriakan itu. Dengan sigap ia pun bersiap. Dengan cepat ia memperhitungkan keadaan. Pasukan Sangling di halaman sudah mengalami tekanan yang berat. Karena itu, maka agaknya Akuwu tidak lagi dapat memanggil sebagian dari mereka. Karena itu, maka satu-satunya jalan adalah memanggil pasukan berkuda yang masih ada di longkangan samping dan bersiap untuk melakukan semua perintah Akuwu.

“Panggil pasukan berkuda,” perintah Akuwu.

Prajurit itu berlari dengan cepat. Sebatang tombak telah dilontarkan kepadanya. Untunglah bahwa tombak itu tidak mengenainya meskipun telah mengejutkannya.

Pada saat prajurit itu berlari ke longkangan yang lain, maka Jayaraja telah meloncat keluar dari longkangan yang satu lagi. Dengan garangnya ia berteriak, “Tangkap Akuwu, hidup atau mati.”

Akuwu Sangling itu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat sekelompok pasukan telah menebar. Perlahan-lahan mereka mendekati pendapa.

Dengan dahi yang berkerut, Akuwu telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Jika mereka naik ke pendapa sebelum pasukan berkuda datang, maka tidak ada jalan bagi Akuwu untuk dengan serta merta mempergunakan kemampuan puncaknya untuk menghalaukan mereka.
“Jika mereka akan mati seperti tebasan ilalang, bukan salahku,” berkata Akuwu kepada diri sendiri.

Selangkah demi selangkah mereka memang mendekat. Sementara itu Jayaraja telah meloncat naik ke pendapa sambil berkata lantang, “jangan menyesal Akuwu, bahwa aku telah datang lagi untuk mengadakan pendadaran. Tetapi sekarang, akulah yang menentukan cara dan syaratnya. Tidak seorang pun yang akan dapat menghambat keputusanku ini.”

Namun Jayaraja menjadi marah ketika ia tidak melihat Akuwu menjadi ketakutan. Akuwu Sangling masih tetap bersikap sebagaimana seorang Senapati besar. Bahkan kemudian katanya, “Cara dan syarat apakah yang kau ajukan Jayaraja?”

“Syaratnya, kau berdiri sendiri, sedangkan aku akan bertempur bersama-sama dengan sekelompok pengikutku. Mereka adalah orang-orang terpilih, sehingga kau tidak akan mempunyai kesempatan untuk mempertahankan dirimu. Kemudian kau mati dan seisi Sangling akan tunduk kepadaku,” Jayaraja itu pun kemudian tertawa. Katanya selanjutnya, “jangan menyesal. Bagaimanapun juga namamu akan tetap dicatat oleh sejarah, bahwa kau pernah terselip dalam daftar nama para Akuwu di Sangling meskipun hanya untuk waktu yang pendek.”

Akuwu Sangling tersenyum. Tanpa menunjukkan kegelisahan sedikit pun ia menjawab, “Marilah, siapakah yang akan maju paling depan?”

Tantangan itu justru membuat para pengikut Jayaraja menjadi ragu-ragu untuk melangkah maju.

Jayaraja sendiri menjadi ragu-ragu pula. Ia tidak melihat sama sekali kesan kecemasan pada Akuwu Sangling meskipun dihadapannya bertebaran sekelompok orang terpilih yang siap membunuhnya.

Namun keragu-raguan Jayaraja dan orang-orangnya itu ternyata telah menjebak mereka ke dalam kesulitan yang semakin tinggi.

Baru beberapa saat kemudian Jayaraja lah yang mula-mula meloncat mendekat sambil memberi isyarat kepada dua orang yang paling baik di antara orang-orangnya. Mereka telah mendekati Akuwu Sangling dari arah yang berbeda.

Tetapi pada saat yang demikian, muncul dari longkangan yang lain dari yang dilalui oleh para pengikut Jayaraja itu, sekelompok prajurit Sangling, justru dari pasukan berkuda.

Para pengikut Jayaraja memang menjadi berdebar-debar melihat kehadiran sekelompok prajurit itu. Namun yang datang tidak mempunyai banyak kesempatan. Pasukan berkuda yang datang itu tanpa banyak persoalan telah menyerang mereka.

Para pengikut Jayaraja tidak mempunyai pilihan lain kecuali bertempur melawan pasukan berkuda yang sekelompok itu, yang memang telah dipersiapkan oleh Akuwu untuk menyertainya menghadapi Jayaraja jika laporan tentang orang itu telah sampai kepadanya.

Jayaraja pun menjadi berdebar-debar pula. Namun ketika para pengikutnya telah bertempur, Jayaraja berpendapat, bahwa ia harus cepat menyelesaikan Akuwu itu, agar ia dapat membantu para pengikutnya menghadapi pasukan berkuda yang tentu sebuah pasukan yang kuat.

Namun didalam hati Jayaraja itu masih juga mengumpat, “Iblis licik itu masih juga menyimpan pasukan cadangan meskipun hanya sedikit.”

Demikianlah pertempuran di halaman istana Akuwu Sangling itu menjadi semakin sengit. Para prajurit dari pasukan pengawal khusus telah bertempur menghadapi sepasukan pengikut Jayaraja yang kuat, sementara itu sekelompok pasukan berkuda harus menghadapi sekelompok orang-orang yang paling baik dari para pengikut Jayaraja.

Dalam pada itu, Akuwu Sangling sendiri telah berhadapan dengan tiga orang terbaik dari orang-orang yang telah menyerang istananya itu.

“Jayaraja,” berkata Akuwu, “jangan kecewa bahwa sekelompok prajurit telah mengikat para pengikutmu dalam pertempuran sehingga hanya kau bertiga sajalah yang harus aku layani.”

“Akuwu Sangling,” berkata Jayaraja, “kau sangka bahwa kau akan dapat lepas dari tangan kami. Pada saat kau mengadakan sayembara menjelang pengangkatanmu menjadi Akuwu, maka kau berhasil mengalahkan aku. Tetapi waktu itu aku hanya sendiri. Sekarang kau tidak akan mampu berbuat banyak, karena aku datang bertiga. Biarlah kita tidak menghiraukan apa yang terjadi di halaman. Mungkin orang-orangku akan terbunuh, tetapi mungkin pula para prajuritmu akan habis dibantai oleh para pengikutku. Tetapi yang jelas, bahwa kau tidak akan mempunyai kesempatan lagi untuk lolos.”

Mahisa Bungalan yang kemudian disebut Akuwu Sangling itu tersenyum. Katanya, “Aku tidak pernah mengadakan sayembara. Tetapi aku mengerti yang kau maksudkan. Sementara itu kini kau datang untuk mengulangi kekalahanmu. Justru lebih parah meskipun kalian bertiga. Aku di sini tidak terikat oleh paugeran apapun. Aku dapat membunuhmu dan kedua orang kawanmu.”

“Persetan,” geram Jayaraja.

Ternyata ia tidak menunggu lagi. Ia pun segera meloncat menyerang diikuti oleh kedua orang yang bersamanya mengepung Akuwu Sangling itu.

Tetapi serangan yang pertama itu dapat dielakkannya. Meskipun kemudian kedua orang pengikut Jayaraja itu menyerang pula bersama-sama, namun Akuwu sama sekali belum merasakan tekanan yang menentukan dari ketiga orang itu.

Tetapi ternyata ketiga orang itu pun telah meningkatkan kemampuannya. Mereka menyerang Akuwu Sangling semakin garang, seperti badai yang mengamuk tanpa dapat dikekang lagi.

Akuwu Sangling mulai merasakan tekanan ketiga orang yang telah meningkatkan serangan mereka. Karena itu, maka Akuwu pun harus berbuat hal yang sama. Akuwu pun telah meningkatkan ilmunya, sehingga ia masih mampu mengimbangi kemampuan ketiga orang lawannya.

Namun karena arah serangan ketiga orang lawannya itu berbeda dan datang susul menyusul, maka rasa-rasanya Akuwu harus menentukan sikap secepatnya untuk melawan ketiga orang yang bergerak semakin cepat dan kuat itu.

Beberapa saat kemudian Akuwu tidak mau lagi dipusingkan oleh ketiga orang lawannya. Karena itu, maka ia pun telah menghentakkan kekuatannya ke satu arah. Justru ke arah Jayaraja sendiri.

Jayaraja memang terkejut mengalami serangan Akuwu yang seru itu. Sekilas ia teringat saat-saat ia mengikuti pendadaran atas Akuwu Sangling itu. Serangannya yang cepat dan kuat sehingga tidak mampu diatasinya lagi.

Demikian pula, serangan-serangan Akuwu saat itu, sehingga Jayaraja sendiri telah terdesak beberapa saat surut. Kesempatan itulah yang dipergunakan oleh Akuwu sebaik-baiknya. Ia menekan Jayaraja semakin berat.

Jayaraja memang telah terdesak. Tetapi kedua orang pengikutnya telah siap untuk meloncat dan membantunya.

Tetapi ketika kedua orang itu memburu Akuwu untuk membantu Jayaraja, maka tiba-tiba saja Akuwu telah melenting keluar dari kepungan mereka.

Jayaraja mengumpat. Tetapi ia mendapat kesempatan untuk bernafas. Sementara kedua orang pengikutnya berada di sebelah menyebelah.

Akuwu Sangling kemudian berdiri tegak dihadapan mereka bertiga. Ia pun telah bersiap menghadapi kemungkinan yang lebih keras dalam pertempuran itu.

Sementara itu, di halaman telah terjadi pertempuran yang keras pula. Para pengikut Jayaraja telah berusaha untuk menekan para prajurit Sangling. Namun pengawal khusus Akuwu itu ternyata telah berjuang sekuat-kuat mereka untuk mempertahankan diri.

Tetapi para pengikut Jayaraja ternyata jauh lebih banyak sehingga mereka berhasil mendesak pasukan pengawal.

Berbeda dengan para pengawal khusus yang terdesak, maka pasukan berkuda Sangling yang bersiap untuk mengikuti Akuwu melawan pemimpin tertinggi dari pemberontakan itu, mendapat kesempatan lebih baik. Merekalah yang mendesak para pengikut Jayaraja yang terpilih, karena jumlah mereka ternyata seimbang.

Karena itu, maka Panglima pasukan berkuda itu telah mengambil sikap untuk membuat keseimbangan di halaman istana itu. Karena itu, maka ia pun telah memutuskan untuk memerintahkan beberapa orang prajuritnya untuk bergeser dan bertempur bersama para pengawal khusus.

Dengan demikian, maka keseimbangan pertempuran itu-pun segera berubah. Usaha Panglima pasukan berkuda itu ternyata berhasil. Para pengikut Jayaraja yang memasuki pintu gerbang dan bertempur melawan pasukan khusus itu tidak lagi berhasil mendesaknya. Mereka telah tertahan dan harus mengerahkan tenaga untuk berusaha mendesak kembali para prajurit.

Tetapi mereka tidak segera berhasil. Dengan kemarahan yang membakar jantung, maka prajurit Sangling itu telah bertempur dengan garang.

Diluar halaman istana itu, pertempuran memang telah terjadi pula dimana-mana. Semakin lama semakin seru. Apalagi ketika kedua belah pihak telah berkeringat. Tangan-tangan yang basah itu membuat senjata mereka semakin cepat berputar.

Namun kemudian ternyata bahwa pasukan Sangling perlahan-lahan mengatasi keadaan. Mereka pun telah berusaha untuk menarik semua kekuatan ke titik-titik pertempuran. Para prajurit yang masih berada di tempat-tempat yang terpisah dari pertempuran, telah mendapat isyarat untuk bergeser ke daerah pertempuran yang semakin sengit. Dengan demikian maka prajurit Sangling yang semakin terkumpul itu, telah berhasil menekan lawan-lawan mereka. Meskipun di satu dua tempat, terjadi juga bahwa para pengikut Jayaraja lah yang mendesak pasukan Sangling.

Pada saat yang demikian, diluar dinding kota prajurit Sangling benar-benar telah menguasai para pengikut Jayaraja. Bahkan sebagian besar di antara mereka justru telah menyerah. Mereka telah diikat pada batang-batang pohon. Beberapa di antara prajurit harus menjaga para tawanan itu, sementara yang lain telah menyusul memasuki gerbang kota, dan menggabungkan diri dengan para prajurit Sangling yang lain yang sedang berjuang untuk melawan para pemberontak yang berusaha menguasai kota.

Dengan kehadiran para prajurit dari luar kota itu, maka kedudukan para prajurit Sangling menjadi semakin kuat.

Perlahan-lahan tetapi pasti, maka para prajurit Sangling telah mulai menguasai para pemberontak.

Sementara itu di halaman istana Akuwu Sangling para prajurit Sangling pun menjadi semakin mapan. Para pengikut Jayaraja sama sekali tidak lagi dapat mendesak mereka. Bahkan semakin lama merekalah yang semakin terdesak.

Ketika korban mulai jatuh di kedua belah pihak, maka prajurit Sangling pun menjadi semakin garang pula.

Di pendapa, Akuwu Sangling masih bertempur melawan tiga orang. Jayaraja bersama dua orang kepercayaannya.

Namun ternyata bahwa gabungan kekuatan mereka bertiga benar-benar telah memaksa Akuwu Sangling harus meningkatkan kekuatan dan kemampuannya pula. Dengan cepat dan tangkas ketiga orang itu menyerang berganti-ganti. Susul menyusul seperti arus gelombang di laut.

Meskipun demikian, Akuwu Sangling tidak menjadi gentar. Iapun menjadi semakin keras pula menghadapi lawannya. Ilmunya semakin meningkat, sehingga akhirnya, sampai pada satu batas yang mengguncangkan jantung ketiga orang lawannya.

Betapapun ketiga orang lawannya itu mengerahkan segenap kemampuan yang ada didalam dirinya, namun bagi mereka Akuwu Sangling bagaikan karang yang berdiri tegak menghadapi deru gelombang yang bagaimanapun dahsyatnya.

Tetapi Jayaraja dan kedua orang pengikutnya, yang terpilih itu pun tidak dengan cepat menjadi putus asa. Mereka pun merasa orang-orang berilmu, sehingga pada tataran tertentu, kemampuan mereka akan mencapai puncaknya, sehingga dengan demikian, maka mereka bertiga akan menjadi kekuatan yang tidak akan terlawan oleh siapa pun juga.

Apalagi ketika Jayaraja kemudian melihat sekilas-sekilas para pengikutnya yang bertempur di halaman menjadi semakin terdesak. Dengan demikian maka kegelisahannya pun menjadi semakin mencengkam jantung.

Bagi Jayaraja, maka tidak ada pilihan lain daripada dengan cepat membinasakan Akuwu Sangling itu.

Dalam keadaan yang demikian maka Jayaraja itu pun telah berteriak, “Marilah, jangan dihambat oleh perasaan belas kasihan lagi. Siapa pun yang mungkin dibunuh, bunuh sajalah. Kami yang di pendapa ini pun akan segera membunuh Akuwu Sangling yang sebenarnya tidak berhak untuk memerintah di Sangling ini.”

Suara Jayaraja itu memang memberikan dorongan pada para pengikutnya. Tetapi mereka adalah orang-orang berada dalam keterbatasan. Betapapun niat mereka bergelora di dalam dada mereka, namun kemampuan mereka memang terbatas, sehingga karena itu, maka betapapun mereka mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan, tetapi mereka tidak berhasil mendesak para pengawal khusus Sangling yang sudah diperkuat oleh pasukan berkuda.

Dalam pada itu, Jayaraja pun telah memerintahkan kedua orang kawannya mengerahkan kemampuan mereka. Kepada kedua orang itu Jayaraja telah berkata, “Marilah. Kesempatan kita hampir habis. Kita harus dapat menghancurkan orang ini sebelum pasukan kita pecah.”

Kedua orang kawannya tidak menjawab. Namun mereka-pun kemudian telah meningkatkan kemampuan mereka. Seperti Jayaraja mereka menyadari, bahwa jika mereka terlalu lama bertempur, maka keadaan pasukan Jayaraja di halaman itu akan mengalami banyak kesulitan.

Akuwu Sangling sendiri memang telah siap menghadapi segala kemungkinan. Akuwu telah menjajagi kemampuan Jayaraja sepenuhnya karena ia memang pernah bertempur melawannya. Tetapi kemampuan sebenarnya dari kedua orang itu masih diragukannya. Mungkin tidak perlu dicemaskan, sebagaimana yang dinyatakan dalam pertempuran itu. Namun mungkin juga mereka dengan sengaja menyimpan kemampuan mereka yang sangat tinggi.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, pertempuran pun menjadi semakin cepat. Ternyata kedua orang itu masih belum sampai ke puncak kemampuan mereka. Keduanya setapak demi setapak telah meningkatkan ilmu mereka masing-masing.

Jayaraja menunjukkan kelimpatannya sebagaimana dikenal oleh Akuwu pada saat pendadaran. Namun pada saat itu pun Jayaraja tidak mampu mengatasinya, bahkan sebelum ilmunya sampai ke puncak.

Tetapi saat itu, Jayaraja tidak sendiri, sehingga karena itu, banyak kemungkinan yang dapat terjadi.

Demikianlah maka pertempuran antara Akuwu Sangling melawan Jayaraja dan kedua orang kawannya itu pun menjadi semakin sengit. Ternyata bahwa kedua orang kawan Jayaraja itu juga orang-orang yang ilmunya tidak dapat diabaikan.

Dengan sepenuh kemampuannya, Jayaraja telah menyerang Akuwu. Sementara itu kedua orang kawannya telah bersiap pula untuk berbuat sesuatu jika Akuwu berhasil mengelak.

Sebenarnyalah Akuwu Sangling sempat mengelakkan serangan Jayaraja. Demikian kaki Akuwu menyentuh tanah, maka kedua orang itu sudah meloncat dengan cepat, menyerang Akuwu dari dua arah.

Tetapi Akuwu memang cukup tangkas. Ia pun segera bergeser sambil menggeliat. Dua serangan dari arah yang berlawanan berhasil dielakkannya.

Namun pada saat yang demikian, Jayaraja telah menyerangnya pula, demikian dahsyatnya, sehingga ayunan tangannya telah mengalirkan angin yang menampak tubuhnya. Meskipun Akuwu berhasil menghindar, tetapi angin yang menyambarnya itu membuat kulitnya menjadi pedih.

“Gila, ilmu apa pula ini?” bertanya Akuwu Sangling itu.

Tetapi Akuwu tidak sempat merenunginya terlalu lama. Dalam saat yang sekejap, kedua orang kawan Jayaraja itu telah menyerang. Hampir berbareng mereka menjulurkan kakinya, sehingga hampir saja Akuwu telah dikenainya.

Namun usaha kedua orang itu sia-sia. Dengan tangkas Akuwu menghindarinya. Sambil merendahkan diri sedikit, ia-pun telah berputar, sehingga kedua serangan itu sama sekali tidak menyentuhnya.

Akuwu tidak membiarkan dirinya menjadi sasaran serangan terus-menerus. Ia pun kemudian telah melenting dengan cepat. Kakinya terjulur lurus. Namun karena Jayaraja sempat melihat serangan itu dan mengelak, maka serangan Akuwu beralih. Tiba-tiba saja ia telah memutar tubuhnya. Dengan sekali ayunan, kakinya menyambar seorang kawan Jayaraja.

Tetapi orang itu pun sempat mengelak pula. Demikian cepatnya, sehingga ayunan kaki Akuwu tidak menyentuhnya.

Namun Akuwu tidak menghentikan serangannya. Di luar dugaan bahwa tiba-tiba Akuwu telah menyilangkan kakinya sambil merendah. Demikian cepat, Akuwu telah meloncat miring dengan kakinya yang terjulur lurus.

Kawan Jayaraja yang seorang lagi tidak mempunyai kesempatan untuk mengelak. Karena itu, ia berusaha untuk menyilangkan tangannya menangkis serangan Akuwu yang keras itu.

Sebuah benturan memang telah terjadi. Ternyata orang itu pun memiliki ilmu yang tinggi. Terasa kaki Akuwu memang bagaikan tergetar oleh kekuatan yang sangat besar.

Tetapi pada saat yang bersamaan, lawan Akuwu itu telah terlempar beberapa langkah, bahkan kemudian jatuh berguling keluar dari pendapa itu.

Jayaraja dan seorang kawannya sempat menyaksikannya. Jantung mereka pun telah berdebaran. Serangan Akuwu itu tentu serangan yang luar biasa kerasnya.

Untuk beberapa saat, Jayaraja dan seorang kawannya justru termangu-mangu. Namun mereka pun telah menarik nafas dalam-dalam ketika mereka melihat kawannya yang terbanting di halaman itu pun telah bangkit.

Orang itu memang menyeringai menahan sakit. Namun kemudian ia pun telah berdiri tegak. Wajahnya membayangkan dendam yang membara sementara giginya gemeretak menahan gejolak di jantungnya.

Dengan segenap kemampuannya orang itu berusaha untuk mengatasi perasaan sakit. Kemudian dengan lantang ia berkata, “Akuwu, jangan tergesa-gesa merasa bahwa kau akan menang, kami ketiga orang yang melawanmu, sama sekali belum sampai ke puncak kemampuan ilmu kami. Jika kami terpaksa melepaskan ilmu puncak itu, maka kau tentu akan menyesal.”

Akuwu tersenyum. Katanya, “Aku tahu, bahwa kalian masih belum melepaskan ilmu puncak kalian. Aku tahu, bahwa Jayaraja mampu meningkatkan ilmunya sampai ke tataran yang sangat tinggi. Aku pernah bertempur melawannya pada saat Jayaraja mencoba untuk membatalkan pencalonanku. Pada puncak ilmunya, tangannya dapat berasap. Nah, aku belum melihat tangannya berasap sekarang ini, sehingga karena itu aku tahu, bahwa kemampuannya belum sampai ke puncak.”

“Persetan,” geram Jayaraja, “kau ingin mengatakan, bahwa dalam pendadaran itu, kau telah menang. Tetapi kau tahu, bahwa penilaian itu tidak jujur. Aku belum benar-benar sampai ke puncak ilmuku. Aku belum mempergunakan senjataku.”

Akuwu Sangling termangu-mangu. Ia mulai memperhatikan senjata ketiga orang yang siap bertempur kembali. Jika mereka mempergunakan senjata mereka, maka Akuwu pun harus mengimbanginya. Ia harus juga mempergunakan senjata. Senjata di tangan-tangan orang berilmu itu tentu akan sangat berbahaya baginya. Apalagi mereka bertiga akan mampu bekerja sama dengan sangat mapan. Namun demikian, untuk beberapa orang tertentu, senjata justru terasa akan mengganggu. Kekuatan ilmu mereka akan lebih berbahaya jika dilontarkan tanpa mempergunakan senjata. Namun mereka yang mampu menyalurkan ilmu mereka pada senjata yang ada di tangan, maka rasa-rasanya senjata itu mempunyai kemampuan ganda.

Tetapi agaknya ketiga orang itu masih belum menarik senjata mereka. Jayaraja dengan wajah tengadah berkata, “Jangan cemas Akuwu. Aku tidak akan mempergunakan senjataku. Demikian pula kedua orang kawan-kawanku ini. Kami ingin membunuhmu dengan tangan kami. Karena kami akan mendapat kepuasan yang lebih besar. Namun jika kau ternyata mempersulit kedudukanmu sendiri dengan tingkah laku yang tidak wajar, maka itu adalah salahmu jika kau akan mengalami luka arang keranjang.”

Akuwu Sangling termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab, “Apa pun yang akan kau lakukan, lakukanlah. Sebentar lagi, kau akan mengalami nasib yang sangat buruk. Para pengikutmu akan dihancurkan. Dan akan datang gilirannya kaulah yang akan dihancurkan.”

“Persetan,” wajah Jayaraja menjadi merah, “kau terlalu sombong Akuwu.”

Akuwu tidak menjawab. Sementara itu, Jayaraja telah meloncat pula mendekat. Sedangkan kawannya yang terlempar ke halaman itu pun telah meloncat naik pula.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka pertempuran pun telah membakar pendapa itu pula. Jayaraja memang semakin meningkatkan kemampuannya. Demikian pula kedua orang kawannya.

Sebagaimana pernah dilihat oleh Akuwu Sangling, maka Jayaraja yang kemudian menggosokkan kedua telapak tangannya, telah nampak asap kelabu yang tipis mulai mengepul dari telapak tangannya itu.

Semula Akuwu tidak terlalu terpengaruh oleh asap itu, karena Akuwu pernah mengalami benturan dengan kekuatan Jayaraja itu. Namun ketika Akuwu juga melihat kedua orang kawan Jayaraja memusatkan segenap nalar budinya maka Akuwu harus benar-benar berhati-hati. Kedua orang kawan Jayaraja itu ternyata mempunyai sikap yang sama. Dengan demikian maka Akuwu Sangling tahu, bahwa keduanya adalah saudara seperguruan. Tetapi Akuwu Sangling itu tidak tahu, siapakah di antara mereka yang lebih tua dan memiliki landasan yang lebih tinggi. Ketika ia bertempur melawan ketiga lawannya, Akuwu tidak berusaha untuk menilai lawan-lawannya itu.

Akuwu Sangling tidak mempunyai kesempatan yang cukup lama. Sejenak kemudian, maka Jayaraja pun telah meloncat menyerang Akuwu Sangling. Ia berharap bahwa kedua orang kawannya pun akan melakukan hal yang sama pula. Betapa pun tinggi ilmu dan betapa pun besarnya kemampuan Akuwu Sangling, namun satunya kekuatan dari ketiga orang itu, akan dapat menghancurkannya.

Akuwu melihat serangan yang datang. Sebenarnyalah kedua kawan Jayaraja itu pun telah meloncat pula menyerang dengan cara yang sama. Keduanya mempersiapkan tangannya di sisi lambungnya dengan telapak tangan menelentang terbuka dan jari-jari merapat. Sedang tangan kirinya menyilang dada dengan jari-jari mengepal.

Demikian mereka meloncat, maka tangan yang terbuka dengan jari-jari merapat itu telah terayun dan siap mematuk tubuh lawan.

Namun Akuwu telah siap menghadapi segala kemungkinan. Namun ia pun sadar, bahwa ia tidak tahu pasti, apakah akibatnya jika ia membentur kekuatan mereka bertiga.

Tetapi Akuwu pun tidak akan melarikan diri dari benturan kekuatan itu. Meskipun Akuwu harus membuat perhitungan yang secermatnya.

Ternyata bahwa Akuwu Sangling tidak menunggu ketiga orang itu membenturnya. Dalam waktu singkat Akuwu telah mengambil keputusan.

Demikianlah, maka Akuwu justru telah menyongsong serangan ibu. Bukan serangan Jayaraja, tetapi seorang di antara kedua orang kawannya. Dengan demikian ia berharap bahwa kedua orang yang lain akan dapat dihindarinya untuk sementara.

Sikap Akuwu yang tiba-tiba itu memang mengejutkan. Akuwu telah meloncat dengan loncatan panjang membentur seorang di antara kedua orang kawan Jayaraja itu.

Kedua orang yang lain, yang sudah terlanjur melancarkan serangannya harus mengambil sikap pula. Mereka mengurungkan serangannya, namun demikian cepatnya terjadi, sehingga keduanya telah kehilangan waktu beberapa saat.

Sementara itu telah terjadi benturan yang keras antara Mahisa Bungalan, yang disebut Akuwu Sangling itu dengan salah seorang kawan Jayaraja.

Akuwu Sangling merasakan betapa ilmunya telah membentur kekuatan yang besar, sehingga hentakannya justru telah mendorong Akuwu terpental selangkah surut. Namun ia masih tetap dapat menguasai diri dan keseimbangannya. Bahkan dengan cepat ia memperbaiki kedudukannya, siap untuk menerima serangan baru yang akan meluncur ke arahnya.

Namun sementara itu, lawannya yang membentur kekuatan ilmu Akuwu Sangling benar-benar mengalami goncangan yang luar biasa. Akuwu Sangling memang masih belum mempergunakan ilmu puncaknya sepenuhnya. Ilmu yang diwarisinya dari beberapa orang, termasuk Mahisa Agni.

Meskipun demikian, ternyata bahwa kekuatan ilmu Akuwu Sangling itu bagaikan merontokkan isi dadanya. Orang itu telah terlempar keluar gelanggang. Orang itu terbanting di halaman, sebagaimana pernah terjadi. Namun bukan sekedar dorongan kekuatan, tetapi satu hentakkan ilmu yang luar biasa.

Orang itu jatuh terkapar di tanah. Tidak seperti sebelumnya, yang dengan serta merta mampu bangkit berdiri tegak. Tetapi karena benturan ilmu itulah maka orang itu merasa isi dadanya bagaikan diremukkan nya. Demikian ia jatuh terkapar, maka ia serasa tidak mempunyai kekuatan lagi meskipun hanya untuk bangkit dan duduk di halaman itu pula.

Jayaraja yang menyaksikan sikap Akuwu Sangling itu dengan serta merta berkata, “Curang. Kau telah menipu kami dengan sikapmu. Jika kau seorang kesatria maka kau tidak akan melakukan hal seperti itu.”

“Apa yang curang?” jawab Mahisa Bungalan, “aku telah menyongsong salah seorang dari lawan-lawanku yang sekaligus berjumlah tiga orang itu. Siapakah yang berbuat tidak jantan dalam hal ini?”

Jayaraja tidak menjawab. Namun ia pun kemudian memberi isyarat kepada kawannya yang seorang untuk bersiap. Katanya tanpa menghiraukan Akuwu Sangling, “Marilah. Kita akan menghancurkannya. Kita harus menyerang dari arah yang sama dan dalam waktu yang bersamaan.”

Kawannya tidak menjawab. Namun ia telah bergeser mendekati Jayaraja. Dalam waktu sesaat keduanya telah bersiap untuk melontarkan ilmu mereka yang tertinggi yang mereka miliki.

Akuwu Sangling sadar, bahwa ia tidak dapat melakukan perlawanan dengan cara yang sama. Jika ia berusaha membentur kekuatan salah seorang lawan dalam serangan yang begitu ketat, maka orang yang lain akan dapat menghancurkannya, karena kekuatannya sedang tersalur untuk berbenturan.

Dengan demikian maka Akuwu justru bertekad untuk membentur keduanya sekaligus. Namun Akuwu telah meningkatkan ilmunya sampai ke puncak.

Sejenak kemudian maka kedua orang itu telah meloncat bersama-sama dengan sikap mereka dalam pelontaran ilmu tertinggi yang mereka miliki.

Demikianlah, maka Akuwu Sangling tidak mempunyai kesempatan lain. Ia tidak boleh lari dari lawan-lawannya jika ia tidak ingin kehilangan nama yang sudah dirintisnya selama ini.

Karena itu, maka sejenak kemudian telah terjadi benturan yang dahsyat. Sebelah tangan Akuwu Sangling membentur kekuatan ilmu Jayaraja yang pernah dijajaginya pada saat pendadaran, kemudian yang sebelah lagi telah melawan serangan kawan Jayaraja itu. Telapak tangan yang terbuka dengan jari-jari rapat itu.

Benturan itu telah terjadi dengan dahsyatnya. Ternyata bahwa dua kekuatan yang digabungkan untuk bersama-sama menggempur Akuwu Sangling itu merupakan kekuatan yang luar biasa. Akuwu Sangling bukan saja telah terlempar beberapa langkah surut. Tetapi ia pun telah terjatuh pula terguling di lantai pendapa.

Hampir saja kepala Akuwu membentur tiang. Untung bahwa dalam keadaan yang sulit itu Akuwu masih sempat menggeliat, sehingga tubuhnya lepas dari benturan.

Sebaliknya kedua orang lawannya pun telah terdorong oleh benturan itu. Mereka keduanya telah terlempar keluar dari pendapa dan jatuh terguling di tanah. Benturan itu ternyata demikian dahsyatnya sehingga bagi keduanya, benturan itu rasa-rasanya bagaikan kiamat.

Dalam pada itu, baik para prajurit Sangling, maupun para pengikut Jayaraja telah melihat apa yang telah terjadi. Dua orang pengikut Jayaraja telah meninggalkan arena, dan merawat orang yang pertama kali terlempar dan tidak dapat bangkit kembali. Kemudian, ketika kedua orang yang lain juga terlempar dan dalam keadaan yang sama, maka beberapa orang pun telah mendekatinya.

Orang-orang yang datang untuk menyerang istana Sangling itu tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa orang yang mereka anut selama ini telah mengalami kesulitan pada saat ia menghadapi Akuwu Sangling sekali lagi. Bersama dengan dua orang kawannya yang paling dipercaya, mereka bertiga tidak berhasil mengalahkan Akuwu. Apalagi menangkap Akuwu, hidup atau mati. Bahkan mereka bertiga telah terlempar dan kemudian terkapar di halaman istana Akuwu Sangling itu.

Karena itu, maka agaknya bagi mereka, tidak ada gunanya lagi untuk bertempur mempertaruhkan nyawa. Dalam keadaan yang sulit maka satu-satunya kemungkinan yang dapat mereka tempuh dan mempunyai harapan untuk hidup paling tinggi adalah melarikan diri.

Ternyata bahwa pikiran yang demikian itu tumbuh pada beberapa orang di antara mereka yang bertempur itu. Tanpa pembicaraan sebelumnya, namun pikiran itu rasa-rasanya telah menjalar kepada semua orang yang ada di dalam arena pertempuran di halaman istana itu.

Ketika kemudian mereka melihat Akuwu Sangling yang ternyata tidak mengalami kesulitan apa pun di dalam dirinya dan bahkan mulai menuruni tangga, maka agaknya hal itu telah mempercepat keputusan yang diambil oleh para pengikut Jayaraja.

Dalam keadaan yang sulit itu, maka orang-orang yang berjongkok di samping Jayaraja dan kawannya yang terkapar itu, saling berpandangan sejenak. Namun kemudian tiba-tiba salah seorang di antaranya berdiri dan berlari meninggalkan halaman itu. Kawannya yang melihatnya dengan cepat menyusulnya pula.

Tiba-tiba arena itu menjadi riuh. Para pengikut Jayaraja telah kehilangan kendali pertempuran. Mereka sengaja berbuat sesuatu untuk mengacaukan arena, sehingga memungkinkan mereka untuk melarikan diri.

Sebenarnyalah arena itu menjadi bagaikan diaduk. Namun dengan demikian kesempatan untuk melarikan diri menjadi semakin besar bagi para pengikut Jayaraja itu.

Akuwu Sangling yang melihat keadaan itu, tiba-tiba saja telah meloncat turun dan berlari ke pintu gerbang. Ia berusaha untuk mencegah usaha melarikan diri dari para pengikut Ki Jayaraja.

Tetapi ternyata bahwa mereka tidak saja berlari melalui pintu, tetapi mereka pun telah berloncatan dinding halaman.

Namun para prajurit tidak membiarkan mereka berlari. Dengan tangkas para prajurit telah memburu mereka dan berusaha untuk menangkap mereka hidup-hidup.

Dalam kekalutan itu, terdengar suara Akuwu lantang bagaikan bergaung di udara, “Menyerahlah. Lemparkan senjata kalian. Agaknya itu lebih baik daripada kalian harus terbaring mati di halaman ini.”

Rasa-rasanya suara Akuwu itu menggelepar di dalam setiap dada, sehingga para pengikut Jayaraja yang terbaring karena luka di dalam jantungnya itu tidak dapat mengelak. Karena itu maka mereka pun telah melemparkan senjata masing-masing dan berdiri tegak bersandar dinding.

Para prajurit Sangling pun berusaha untuk mengekang diri mereka. Jika mereka terlanjur berbuat sesuatu atas orang-orang yang sudah menyerah itu, maka Akuwu tentu akan marah kepada mereka.

Dengan demikian, maka para prajurit Sangling, baik dari pasukan pengawal khusus, maupun pasukan berkuda yang ada di halaman itu adalah mengumpulkan orang-orang yang telah menyerah itu.

Dalam pada itu, pertempuran yang terjadi di luar halaman istana itu pun masih juga berjalan seru. Tetapi di beberapa tempat, pasukan Sangling benar-benar telah menguasai keadaan meskipun di beberapa tempat yang lain, para prajurit memang telah terdesak oleh para pengikut Jayaraja.

Namun usaha-usaha yang cepat telah dilakukan untuk mengatasi kesulitan itu.

Sementara itu, maka para prajurit dari pasukan berkuda yang semula bertempur di halaman, telah mendapat perintah oleh Akuwu untuk keluar dari halaman dan menempatkan diri di antara para prajurit yang lain, sementara itu para penghubung diperintahkan untuk segera memberitahukan apa yang terjadi di halaman istana Akuwu. Sedangkan para pengawal khusus telah mengikat tawanan mereka dengan menghubungkan beberapa orang menjadi satu.

“Maaf Ki Sanak,” berkata seorang prajurit, “kami terpaksa melakukannya. Sebagian dari kekuatan yang ada di istana ini akan keluar. Karena itu, maka kalian tidak boleh berdiri bebas.”

Para tawanan itu tidak menolak. Setiap lima orang telah diikat dengan seutas tali yang panjang dan menyambungnya pada sebatang pohon.

Sementara para prajurit dari pasukan pengawal khusus menjaga para tawanan dengan senjata terhunus, maka para prajurit dari pasukan berkuda telah dengan tergesa-gesa mengambil kuda mereka.

Sejenak kemudian, maka prajurit dari pasukan berkuda itu telah berderap di alun-alun dan menyusup di jalan-jalan raya Sangling. Mereka tidak terikat lagi untuk bersama-sama dengan Akuwu untuk menjumpai Jayaraja, karena ternyata Jayaraja telah datang atas kehendaknya sendiri ke Istana.

Derap kaki kuda itu memang mengumandangkan kemenangan pasukan Sangling yang bertempur di mana-mana. Sambil berpacu diatas punggung kuda, maka para prajurit dari pasukan berkuda itu telah mengitari arena pertempuran dua tiga kali. Ketika kemudian mereka meninggalkannya, maka beberapa orang lawan pun telah terkapar dengan luka yang menganga di tubuhnya.

Demikianlah, maka orang-orang yang telah terperangkap ke dalam pengaruh Akuwu Sangling itu telah kehilangan kesempatan sama sekali untuk bergerak dimana-mana. Apalagi ketika mereka kemudian mendengar bahwa Jayaraja sendiri telah tertangkap, sementara seluruh pasukan yang menyertainya telah menyerah.

Tidak ada pilihan lain bagi mereka. Sebelum mereka dihancurkan mutlak, maka mereka pun telah memilih jalan yang memang ditawarkan oleh prajurit Sangling. Menyerah.

Dengan demikian maka sebagian dari gejolak pertempuran yang terjadi di sudut-sudut kota Sangling telah selesai. Meskipun di sana-sini masih terjadi benturan-benturan kecil, namun hal itu tidak terjadi terlalu lama. Beberapa saat kemudian maka seluruh pertempuran pun telah dapat diselesaikan. Semua orang yang terlibat dalam pertempuran telah menghentikan benturan-benturan senjata.

Namun demikian di antara mereka yang menyerah, ada juga pengikut Jayaraja yang sempat melarikan diri.

Sejenak kemudian, maka para prajurit Sangling telah menggiring para tawanan ke istana Akuwu. Ternyata berita yang mereka dengar bukan sekedar berita ngayawara. Jayaraja benar-benar telah dilumpuhkan dan kehilangan kemampuan untuk melawan. Dua orang kawan kepercayaannya pun tidak lagi dapat bangkit. Bahkan ketiga orang itu benar-benar berada dalam keadaan yang gawat. Ketiganya telah dibaringkan di pendapa. Namun ketiganya masih belum sadar.

Yang kemudian mulai membuka matanya adalah Jayaraja. Namun ia benar-benar dalam keadaan yang lemah. Meskipun ia membentur ilmu Akuwu Sangling bersama seorang kawannya, namun ternyata bahwa kemampuan dan kekuatan ilmu Akuwu dapat mengatasinya.

Dalam benturan itu, bukan Akuwu Sangling yang mengalami kesulitan, tetapi justru Jayaraja dan kawannya. Mereka berdua ternyata tidak mampu menahan gempuran ilmu Akuwu Sangling yang diwarisinya dari Mahisa Agni dan dimatangkan oleh beberapa orang tua.

Dalam pada itu Akuwu Sangling sempat merenungi orang itu sejenak. Puncak kemampuan ilmunya ternyata berjarak terlalu jauh dari batas kemampuan Jayaraja dan kawannya. Berdua mereka tidak mampu mengimbangi ilmu Mahisa Bungalan yang nggegirisi.

Ketika kemudian Akuwu itu berjongkok di sebelah Jayaraja terbaring, maka Jayaraja itu berdesis, “Aku menjadi yakin.”

“Yakin tentang apa?” bertanya Akuwu.

“Aku kira aku akan dapat mengalahkanmu,” berkata Jayaraja, “dengan hati-hati dan bersungguh-sungguh aku menghimpun kekuatan. Tetapi saatnya aku sendiri menghadapimu, meskipun aku bertiga, ternyata aku tidak berhasil. Bahkan aku telah mengalami luka parah didalam bagian dalam tubuhku.”

“Lalu apa yang kau yakini?” bertanya Akuwu.

“Bahwa kau memang memiliki ilmu yang sangat tinggi,” berkata Jayaraja, “ketika aku kau kalahkan dalam pendadaran itu, aku memang sudah memperhitungkan bahwa kau memiliki ilmu yang tinggi, tetapi tidak sebagaimana ternyata sekarang. Aku kira kau akan hancur melawan kemampuan kami bertiga. Namun yang hancur justru kami bertiga.”

“Aku memang harus membela diri,” berkata Akuwu.

“Ya. Kau memang harus membela diri,” jawab Jayaraja, “karena itu maka kau tidak bersalah. Kau telah mempergunakan hakmu. Dan ternyata kami harus menanggung akibat dari perbuatan kami.”

Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau memang harus mendapat perawatan.”

Jayaraja menggeleng. Katanya, “jantungku telah kau pecahkan. Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan aku.”

“Kau harus mencoba,” berkata Akuwu.

“Tidak,” jawab Jayaraja, “aku akan mati. Kematianku akan menjadi pertanda, bahwa tidak ada darah Akuwu Sangling yang lama yang akan merasa berhak untuk mewarisi kedudukannya. Aku adalah orang yang terakhir, yang dialiri darah dari keturunan laki-laki.”

Akuwu Sangling menarik nafas dalam-dalam. Namun menurut penglihatannya, keadaan Jayaraja itu memang sudah terlalu parah.

Sementara itu kedua kawannya yang lain masih belum sadar sama sekali. Yang dilukai Akuwu Sangling lebih dahulu, memang sudah nampak bergerak. Tetapi agaknya ia telah pingsan pula.

Namun agaknya keadaan mereka lebih parah dari keadaan Jayaraja. Meskipun ujud tubuh mereka tidak terluka, tetapi mereka benar-benar sudah kehilangan kesempatan untuk bertahan.

Sebenarnyalah, bahwa ketiga orang itu memang tidak dapat tertolong lagi. Kedua orang kawan Jayaraja itu tidak sempat sadar kembali sampai saat terakhir mereka. Sementara Jayaraja masih dapat menyatakan perasaannya yang terasa menghambat perjalanannya kembali ke asalnya. Katanya, “Akuwu. Baiklah pada kesempatan terakhir ini aku minta maaf atas segala kesalahanku. Mudah-mudahan jalanku kembali tidak menjadi terlalu gelap karena tingkah lakuku.”

Menghadapi saat terakhir dari seseorang, maka tidak ada jawaban lain yang dapat diucapkan oleh Akuwu kecuali, “Aku maafkan kau Jayaraja.”

Jayaraja tersenyum. Namun ia tidak sempat lagi mengatakan sesuatu. Matanya perlahan-lahan terpejam dan nafasnya-pun menjadi semakin sendat, sehingga akhirnya terputus sama sekali.

Akuwu Sangling menarik nafas dalam-dalam. Dua orang Senapati dari pasukan Pengawal Khusus ada disebelahnya. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa atas Jayaraja itu.

Sesaat Akuwu masih termangu-mangu. Dipandanginya tubuh Jayaraja yang terbaring diam. Kemudian dua tubuh lagi yang bagaikan telah membeku.

Para Senapati Sangling yang memang sudah mengagumi kemampuan Akuwunya yang baru, menjadi semakin kagum pula. Sementara itu umur Akuwu itu masih terhitung muda, sehingga ilmunya tentu masih akan mampu berkembang lagi.

Namun sejenak kemudian maka Akuwu itu pun telah memerintahkan untuk menyelenggarakan tubuh-tubuh yang membeku itu sebaik-baiknya dan sebagaimana seharusnya. Bukan hanya tubuh Jayaraja dan kedua orang pembantunya yang paling dipercaya itu, tetapi juga orang-orang lain yang telah terbunuh di peperangan, meskipun bagaimanapun juga masih tetap dipisahkan antara para prajurit dan orang-orang Sangling sendiri yang gugur, dengan para pemberontak yang telah menyerang Sangling.

Demikianlah, ketika pertempuran kemudian selesai, maka orang-orang Sangling mempunyai kesibukan tersendiri. Namun bagaimanapun juga, Sangling telah berkabung dengan peristiwa itu. Di sana-sini telah terdengar tangis orang-orang yang telah kehilangan keluarganya di peperangan.

Namun dengan demikian, Sangling seakan-akan telah menguji diri. Para prajurit Sangling yang telah ditempa beberapa lama telah membuktikan, bahwa mereka mampu meningkatkan ketahanan mereka. Para Senapati yang telah bersama-sama dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menempa diri dengan keras, yang kemudian dengan berjenjang dijalarkannya kepada para prajurit yang lain, telah memberikan hasil yang dapat dibanggakan. Para Senapati yang langsung menempa diri bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mampu menunjukkan kelebihan mereka sebagai prajurit pilihan menghadapi pemberontakan yang menggemparkan seluruh Sangling itu.

Untuk melihat akibat yang telah terjadi atas Sangling, maka setelah menyerahkan tugas-tugas untuk menyelesaikan para korban, maka Akuwu telah meninggalkan istana diiringi oleh sekelompok pasukan pengawal khusus berkuda dan sekelompok pasukan berkuda.

Mereka melihat apa yang telah terjadi setelah pertempuran yang membakar seluruh kota. Akuwu telah mengunjungi padukuhan yang satu dan padukuhan yang lain. Akuwu telah bertemu dengan para bekel di setiap padukuhan untuk berbicara langsung dengan mereka tentang akibat telah terjadi.

Dalam pengamatannya maka Akuwu sempat melihat kerusakan-kerusakan yang gawat di beberapa padukuhan, bahkan ada satu dua rumah yang ternyata mengalami kerusakan yang berat. Ada percobaan untuk membakar banjar. Tetapi untunglah bahwa prajurit Sangling cepat mengatasi keadaan. Dibantu oleh para penghuni padukuhan itu, dibawah perlindungan para prajurit, maka usaha pembakaran itu dapat diurungkan, dan api segera dipadamkan.

Di padukuhan yang lain, Akuwu masih melihat beberapa orang tawanan yang belum sempat dibawa ke halaman istana. Bahkan masih ada beberapa orang yang terbunuh di peperangan yang terbaring di tempatnya. Agaknya pertempuran di tempat itu agak terlambat selesai, karena para pemberontak yang keras kepala. Namun dengan demikian, maka para prajurit Sangling pun menjadi keras pula dan memperlakukan para tawanan dengan kasar.

“Jangan mendendam,” berkata Akuwu kepada Senapati yang memimpin prajurit Sangling di tempat itu, “mereka sudah menyerah.”

“Tetapi mereka keras kepala,” desis Senapati itu.

“Bukankah kita pada umumnya juga bersikap keras kepala di peperangan?” bertanya Akuwu. Lalu katanya, “Seperti perintah yang pernah aku berikan, bawa saja para tawanan ke halaman istana. Biarlah para pemimpin prajurit Sangling menyelesaikan persoalan mereka. Juga mereka yang telah menjadi korban.”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Hamba Akuwu. Namun apakah para korban dari Sangling dan para pemberontak akan diperlakukan sama?”

Akuwu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Pada dasarnya sama. Bukankah kita akan menyelenggarakan para korban sesuai dengan yang seharusnya? Namun aku tidak menolak keinginan para Senapati untuk memisahkan mereka. Tetapi tidak sepatutnya kita masih juga mendendam mereka yang sudah meninggal.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Namun demikian ia masih berkata, “Ampun Akuwu, jika kita memberikan penghormatan terakhir kepada mereka yang menjadi korban pertempuran ini, apakah penghormatan yang kita berikan pada para pahlawan dan pengkhianat akan sama saja?”

“Upacara kematian yang kita selenggarakan akan sesuai dengan keharusan yang berlaku,” berkata Akuwu, “yang tidak kita hargai adalah sikap mereka di saat-saat hidup mereka. Dan mereka sudah kehilangan kesempatan untuk melakukan kesalahan yang sama. Tetapi seperti yang aku katakan, upacara yang dilakukan dapat dipisahkan antara mereka dan para prajurit Sangling. Agar kita dapat membedakan pula yang manakah yang dapat kita contoh pengabdiannya di masa hidupnya dan yang manakah yang kita anggap langkah-langkah pengkhianatan.”

Senapati itu mengangguk dalam-dalam sambil berkata, “Hamba Akuwu. Semoga para pahlawan mendapat tempat yang sesuai dengan pengabdiannya.”

Akuwu mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti perasaan para Senapati yang tidak dapat melupakan apa yang telah dilakukan oleh para pengkhianat itu. Apalagi para Senapati yang telah kehilangan beberapa orang anak buahnya.

Demikianlah Akuwu telah mengelilingi Sangling untuk bukan saja melihat dari dekat, tetapi juga memberikan sedikit ketenangan bagi mereka yang gelisah.

Keluarga yang sedang menangisi anaknya yang gugur merasa bagaikan mendapat sentuhan tangan yang sejuk ketika Akuwu datang menjenguknya. Setiap kata hiburan yang diucapkan, telah meredakan isak yang serasa menyumbat jantung.

“Sangling tidak akan melupakannya,” berkata Akuwu.

Seluruh keluarga yang sedang berkabung itu mengangguk.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah hati akuwu sendiri telah terluka pula sebagaimana keluarga yang kehilangan itu sendiri.

Di hari-hari berikutnya, ketika hati orang-orang Sangling sudah menjadi tenang kembali, maka Akuwu sempat memanggil para Senapatinya untuk menekankan, betapa pentingnya kesiagaan yang tinggi. Karena itu, maka Akuwu telah memerintahkan untuk mempercepat jenjang penyebaran ilmu kanuragan kepada para prajurit. Bahkan Akuwu juga memerintahkan, anak-anak muda yang khusus bertugas sebagai pengawal di padukuhan-padukuhan untuk mendapat tuntunan yang lebih baik.

“Tidak hanya yang berada di kota dan sekitarnya,” berkata Akuwu, “tetapi juga di padukuhan-padukuhan terpencil. Orang-orang yang kecewa itu, yang berhasil melarikan diri, akan dapat mengganggu padukuhan-padukuhan itu jika anak-anak mudanya tidak siap untuk memberikan perlindungan.”

Pengalaman yang pahit itu, bahwa sebuah pemberontakan seakan-akan berhasil menyentuh seisi kota Sangling, telah mendorong para prajurit dan anak-anak muda Sangling untuk lebih banyak memperhatikan perlindungan atas rakyatnya.

Itulah sebabnya, maka ketika mereka mendapat kewajiban untuk mengikuti latihan-latihan keprajuritan yang berat, mereka sama sekali tidak mengeluh.

Sejalan dengan kesibukan yang semakin meningkat di Sangling, yang dikembangkan oleh para Senapati yang pernah menempa, diri bersama-sama dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sendiri telah melakukan hal yang sama di padepokan kecilnya. Tetapi ternyata bahwa karena jumlah penghuni padepokan itu tidak terlalu banyak, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya mengambil mula-mula sepuluh orang. Mereka bersama-sama dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, telah melakukan latihan-latihan yang berat sebagaimana pernah dilakukan di Sangling.

Bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, hal semacam itu selalu menambah pengalaman-pengalaman baru. Ia bukan saja memberikan tuntunan kepada orang lain, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Ilmu kedua anak muda yang telah berkembang pesat itu memang menjadi semakin padat sejalan dengan pengalaman mereka yang semakin banyak.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendapat kesempatan waktu yang lebih leluasa bagi orang-orang padepokannya untuk menempa diri. Meskipun ia juga mengambil kesatuan waktu sepekan, tetapi untuk diulang beberapa kali atas orang yang sama dengan jarak waktu tertentu untuk mengendapkan masukan yang mereka dapat dalam waktu sepekan sebelumnya.

Namun sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sedang sibuk menempa beberapa orang padepokan itu, ternyata patung yang telah dipersiapkan itu benar-benar hampir selesai sepenuhnya. Di halaman tengah padepokan yang pernah bernama Suriantal itu tengah digarap pada sentuhan-sentuhan terakhir sebuah patung yang berwarna kehijauan. Patung sepasang ular naga dalam satu sarang.

Setiap saat, jika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berada di padepokan di sela-sela kesibukannya menempa diri bersama para penghuni padepokan itu, keduanya selalu menunggui patung yang berwarna kehijauan itu. Dalam bentuknya yang hampir selesai sepenuhnya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah melihat pancaran endapan tangkapan penglihatan batin para pemahatnya tentang sepasang ular naga sebagai perlambang dua orang saudara sepupu yang memerintah Singasari sebagai Maharaja dan Ratu Angabaya. Kedua-duanya adalah keturunan Ken Dedes seorang perempuan yang menyandang perlambang keagungan yang lahir di sebuah desa padepokan bernama Panawijen.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pernah mendengar ceritera Mahisa Agni yang tua itu tentang kebesaran Ken Arok pada jamannya, saat-saat Singasari berdiri. Saat Tumapel menundukkan Kediri.

Namun setiap kali Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang pernah bekerja bagi kepentingan Kediri itu melihat ketidak ikhlasan orang-orang Kediri atas peristiwa yang dianggap melukai jantung kebesaran Kediri itu. Kekalahan Kediri atas Tumapel pada saat Sri Baginda Kertajaya bertahta di Kediri.

Bahkan menurut pengamatan perasaan kedua anak muda itu, pada suatu saat tentu akan terjadi ledakan yang akan dapat mengguncang Singasari yang merasa sudah mapan.

“Mudah-mudahan aku hanya sekedar bermimpi buruk,” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian berkata, “Paman Mahisa Agni sudah sangat tua. Demikian pula paman Witantra. Ayah kita masih dapat bekerja sedikit-sedikit sebagaimana dilakukan sebelumnya. Tetapi sebenarnya ayah pun sudah terlalu tua. Dengan demikian maka agaknya Singasari sebentar lagi akan tidak mempunyai orang-orang tua yang akan dapat selalu memperingatkan agar mereka selalu berhati-hati.”

“Mengapa tidak kita lakukan sejak sekarang?” bertanya Mahisa Murti.

“Kita masih saja dianggap kanak-kanak yang baru pantas bermain-main dengan gundu, atau barangkali jirak kemiri,” sahut Mahisa Pukat.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi aku kira waktu yang demikian memang masih agak panjang.”

Mahisa Pukat mengangguk kecil. Ia pun sependapat dengan Mahisa Murti. Tetapi katanya, “Agaknya memang demikian, tetapi apakah tidak sebaiknya hal itu disadari jauh sebelum lambat.”

“Agaknya memang demikian. Mudah-mudahan kita mendapat kesempatan,” berkata Mahisa Murti.

“Kita akan memohon waktu untuk menghadapi Sri Maharaja Sri Jaya Wisnuwardhana dan Ratu Angabaya Sri Nara-simhamurti, untuk menyerahkan patung itu,” berkata Mahisa Pukat, “apakah kita dapat mengatakan sesuatu tentang sikap Kediri?”

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “jangan kita. Mungkin orang-orang tua itu akan menyertai kita. Biarlah mereka yang mengatakannya.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. “Baiklah. Kita akan mohon agar mereka dapat menyampaikannya secepatnya, agar Singasari tidak terkejut jika Kediri tiba-tiba saja bergolak dengan dahsyatnya.”

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah bersiap-siap untuk pergi ke Singasari dengan patung yang sudah hampir siap. Sementara itu, ia telah menempa hampir setiap orang di padepokannya agar mereka memiliki kemampuan yang tinggi. Bahkan ternyata kemampuan mereka telah melampaui kemampuan para prajurit Sangling. Jika terjadi sesuatu atas padepokan itu, maka isi padepokan itu akan dapat berusaha melindungi padepokannya. Namun jumlah penghuni padepokan itu memang tidak terlalu banyak.

Dengan dasar kemampuan ilmu mereka masing-masing, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berhasil meningkatkan kemampuan mereka. Ciri-ciri dari orang-orang Suriantal masih juga nampak pada tongkat-tongkat mereka yang panjang. Namun di samping kemampuan mereka mempergunakan tongkatnya, maka mereka pun telah memiliki ketrampilan yang tinggi untuk mempergunakan segala macam senjata sebagaimana dikehendaki oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

“Tongkat panjang kalian agaknya kurang menguntungkan dalam pertempuran yang seru dan berjarak pendek. Tongkat panjang kalian memang akan sangat berarti jika kalian sempat membatasi lawan kalian pada jarak tertentu. Tetapi dalam pertempuran yang riuh dan ganda, maka kalian akan mendapat kesulitan.” berkata Mahisa Murti. Namun kemudian katanya, “Ilmu kalian yang menopang kemampuan kalian bermain tongkat diciptakan pada masa-masa seseorang terlalu yakin akan sifat kejantanan dan selalu berusaha mengatasi persoalan secara pribadi. Tetapi dalam hubungan kita dengan bermacam-macam kekuatan, termasuk kekuatan prajurit yang terbiasa bertempur dalam satu gelar, maka kita harus menyesuaikan diri.”

Orang-orang padepokan yang semula berasal dari perguruan Suriantal itu berusaha untuk mengikuti petunjuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mereka telah memendekkan tongkat-tongkat mereka dan berlatih dengan keras untuk menyesuaikan diri dengan jenis senjata mereka yang baru. Dengan tuntunan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta dengan latihan-latihan yang berat, maka orang-orang Suriantal itu seakan-akan telah memperbaharui ilmu mereka.

Dengan peningkatan kemampuan ilmu para penghuni padepokan itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah merencanakan untuk meninggalkan padepokan itu beberapa saat.

Mereka akan pergi ke Singasari untuk menyerahkan patung mereka yang terbuat dari jenis batu yang jarang terdapat.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mau perjalanan mereka sia-sia. Karena itu, sebelum mereka benar-benar datang dengan membawa patung yang berat itu, maka mereka harus mendapat kepastian, bahwa patungnya akan diterima di istana Singasari.

Karena itu, ketika patung itu sudah benar-benar siap, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah merencanakan perjalanan pendahuluan menuju ke Singasari.

“Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu di sini,” berkata Mahisa Murti.

“Aku akan menjaganya,” berkata pemahat yang juga seorang prajurit Singasari itu.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih. Aku pun percaya kepada para penghuni padepokan ini, bahwa mereka pun akan menjaga dengan baik.”

“Yaa,” berkata prajurit yang memahat patung itu, “menurut penglihatanku, latihan-latihan yang berat, yang kalian lakukan membuat para penghuni padepokan ini mempunyai kemampuan melampaui prajurit kebanyakan.”

“Mereka hanya memerlukan pimpinan yang dapat mengatur dan memanfaatkan kemampuan mereka,” berkata Mahisa Murti, “karena itu, maka aku akan memberitahukan kepada mereka bahwa sementara kami berdua pergi, sedangkan pekerjaanmu memahat patung itu sudah selesai, maka kau akan menyandang tugas baru sebagai Senapati yang akan memimpin orang-orang yang menghuni padepokan ini. Sebagai seorang prajurit maka kau tentu akan dapat melakukannya.”

Pemahat itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku berada di tempat ini dikenal sebagai seorang pemahat. Demikian pula adikku.”

“Aku akan memberitahukan kepada mereka, bahwa kau adalah seorang perwira dari prajurit Singasari,” berkata Mahisa Murti.

“Terserah kepadamu,” orang itu menarik nafas dalam-dalam.

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memanggil para pemimpin kelompok dari para penghuni padepokan itu, yang meskipun mereka berasal dari berbagai perguruan, namun mereka benar-benar telah merasa satu di dalam padepokan itu.

Dengan singkat Mahisa Murti memberitahukan rencananya untuk pergi ke Singasari sebelum mereka membawa patung yang telah siap itu.

Para pemimpin kelompok itu memang sudah menduga, bahwa pada suatu saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan pergi ke Singasari seperti yang sering dikatakannya, jika patung itu sudah selesai. Namun agaknya sebelum kedua anak muda itu membawa patung yang besar dan berat itu, ia ingin meyakinkan , bahwa patung itu akan diterima oleh Sri Maharaja di Singasari.

Dengan singkat Mahisa Murti pun kemudian memerintahkan agar para penghuni padepokan itu berhati-hati menjaga padepokannya dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi, apalagi selama patung batu yang berwarna kehijauan itu masih ada di padepokan. Kepada para pemimpin kelompok itu Mahisa Murti memberitahukan pula bahwa yang akan memimpin mereka selama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak ada di tempat adalah seorang Perwira dari prajurit Singasari yang lebih mereka kenal sebagai seorang pemahat.

Tetapi sebagian besar dari para penghuni padepokan itu sudah tahu, bahwa pemahat itu adalah prajurit. Dan bahkan seorang perwira dari Singasari. Karena itu, maka para pemimpin kelompok itu tidak ada yang menyatakan keberatannya. Bahkan mereka telah menyatakan kesediaan mereka untuk berbuat sebaik-baiknya, menjaga padepokan itu sebagaimana milik mereka sendiri.

Demikianlah, di pagi hari berikutnya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bersiap diatas punggung kuda. Tanpa pengawalan sebagaimana selalu mereka lakukan sebelumnya dalam pengembaraan mereka. Bahkan pengembaraan yang terdahulu selalu dilakukannya hanya dengan berjalan kaki saja.

Ternyata bahwa perjalanan kedua anak muda itu berjalan dengan lancar. Keduanya tidak mengalami hambatan apapun juga, sehingga keduanya sempat menghadap Mahisa Agni dan Witantra di istana Singasari.

Kedua anak muda itu pun kemudian telah menyampaikan niat mereka untuk menyerahkan patung yang berwarna kehijauan itu.

“Patung itu tidak kau bawa sekali?” bertanya Mahisa Agni.

“Tidak paman,” jawab Mahisa Murti, “patung itu cukup besar dan berat. Kami ingin meyakinkan bahwa patung itu akan diterima dengan baik oleh Sri Maharaja.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk, Ia pun kemudian berkata kepada Witantra, “Apakah kita akan mohon menghadap?”

“Tidak ada jeleknya,” jawab Witantra, “tetapi patung itu merupakan perlambang kebesaran kewadagan Sri Maharaja dan Ratu Angabaya. Bukan lambang kejiwaan dan pancaran perujudan kemuliaan kedalaman pribadi Sri Maharaja dan Ratu Angabaya.”

Witantra mengangguk-angguk. Namun katanya, “Meskipun demikian patung itu mempunyai nilai tersendiri.”

“Ya. Aku pun menduga bahwa Sri Maharaja dan Ratu Angabaya akan menerimanya dengan senang hati.” berkata Mahisa Agni kemudian. Lalu, “Kita akan mencoba.”

Ketika keduanya mendapat kesempatan untuk menghadap Sri Maharaja, maka keduanya telah mengutarakan niat kedua anak Mahendra untuk menyerahkan sebuah patung dari batu yang berwarna kehijauan yang menurut kepercayaan adalah batu yang jatuh dari langit.

“Patung apa?” bertanya Sri Maharaja.

“Ampun Sri Baginda, hamba sendiri belum pernah melihat patung itu. Tetapi menurut pendengaran hamba dari kedua anak muda itu adalah, bahwa patung tersebut adalah patung sepasang ular naga dalam satu sarang.”

Sri Maharaja mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Patung kewadagan.”

Mahisa Agni mengangguk dalam-dalam sambil berkata, “Hamba Sri Maharaja. Patung yang memberikan ungkapan perlambang namun tentang ujud kewadagan.”

Namun Sri Baginda pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan menerimanya. Aku ingin melihat ujud dari patung itu.”

Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak merasa ragu-ragu lagi bahwa ia akan melakukan kerja yang sia-sia. Sri Maharaja telah membenarkan agar patung itu dibawa saja ke Singasari.

Dengan tergesa-gesa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah kembali ke padepokan Suriantal. Namun sebelum mereka meninggalkan Singasari, keduanya telah menyampaikan semacam peringatan kepada Singasari, bahwa pada satu saat Kediri tentu akan meledak.

“Aku sudah memperhitungkan hal itu jauh sebelumnya,” berkata Mahisa Agni, “bahkan demikian pula pamanmu Witantra. Kami berdua pernah bertugas di Kediri. Namun menurut pendapatku, hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.”

“Mungkin paman,” jawab Mahisa Murti,” sampai saat ini Pangeran Singa Narpada masih dapat diandalkan. Namun apakah hubungan antara Kediri dan Singasari dalam ikatan seperti sekarang ini hanya akan berlangsung sepanjang umur Pangeran Singa Narpada?”

“Ya,” berkata Mahisa Agni, “aku mengerti yang kalian maksudkan. Tetapi selama ini Singasari pun telah memasang petugas-petugasnya di Kediri. Persoalan yang kau maksudkan, mungkin memang akan terjadi. Tetapi untuk sementara hanyalah ledakan-ledakan kecil yang akan dapat diatasi oleh Kediri sendiri. Tetapi mungkin akan lain halnya dengan tataran keturunan mendatang.”

“Itulah yang kami cemaskan,” berkata Mahisa Murti yang memang mempunyai wawasan yang jauh tentang Kediri.

“Justru pada saat itu Singasari sudah menjadi lengah,” berkata Mahisa Pukat kemudian.

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah aku akan memperingatkan Sri Maharaja. Karena aku sendiri sudah terlalu tua sekarang, sehingga aku tidak akan dapat ikut menyaksikan perkembangan Singasari lebih lama lagi.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Di luar sadar mereka telah memandangi wajah Mahisa Agni dan Witantra. Keduanya memang nampak sudah terlalu tua, meskipun penalaran dan perasaan mereka rasa-rasanya masih utuh.

“Tidak seorang pun yang mampu menghindarkan diri dari ketuaan,” berkata anak-anak muda itu di dalam hatinya, “siapapun, meskipun ilmunya menggapai langit.”

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah mohon diri untuk mengambil patung yang dibuat dari batu yang berwarna kehijauan itu. Meskipun patung itu tidak melambangkan pancaran ujud kemuliaan kedalaman pribadi Sri Maharaja dan sekedar menunjukkan keperkasaan kewadagannya, serta persatuannya yang utuh dengan Ratu Angabaya sejak mereka remaja, namun pahatan patung itu sangat baik dan halus. Ujudnya pun merupakan ungkapan keperkasaan itu sehingga setiap orang yang menyaksikannya akan tersentuh pula perasaannya.

Sebagaimana ketika mereka berangkat, maka ketika mereka kembali pun tidak ada gangguan apapun di perjalanan. Sementara itu padepokan Suriantal pun tidak disentuh oleh maksud-maksud yang kurang baik, sehingga tidak pernah terjadi sesuatu di padepokan itu.

“Sri Maharaja akan menerima baik patung itu,” berkata Mahisa Murti kepada perwira Singasari yang juga menjadi pemahat.

“Kita akan menghadap. Kau tentu akan ikut,” berkata Mahisa Pukat pula.

Perwira prajurit Singasari itu pun menjadi gembira. Ada kebanggaan tersendiri bahwa patungnya akan diserahkan kepada Sri Maharaja di Singasari.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan seisi padepokan Suriantal pun telah bersiap-siap. Mereka ingin segera dapat menyerahkan patung itu kepada Sri Maharaja. Jika terjadi sesuatu atas patung yang sudah terlanjur disampaikan kepada Sri Maharaja untuk diserahkan itu, tentu akan membawa akibat yang tidak menyenangkan bagi mereka.

Demikianlah beberapa hari kemudian, telah dipersiapkan sebuah pedati yang kuat yang akan ditarik bukan hanya oleh dua ekor lembu, tetapi oleh enam ekor.

Setelah dipersiapkan segala sesuatunya, baik yang akan berangkat ke Singasari maupun yang akan tinggal untuk menunggui padepokan, maka sebuah iring-iringan telah berangkat menuju ke Kota Raja.

Dengan diselubungi kain yang berwarna putih, maka patung yang terbuat dari batu yang berwarna kehijauan itu telah dibawa ke Singasari diatas sebuah pedati yang terbuka. Namun sebelum mereka berangkat, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memerintahkan masing-masing dua orang penghubung untuk menghadap Akuwu Sangling dan Akuwu Lemah Warah, memberitahukan bahwa patung sepasang ular naga dalam satu sarang telah dibawa ke Singasari.

Akuwu Sangling yang menerima pemberitahuan itu menjadi ikut bergembira. Penghubung itu juga menyampaikan pesan, bahwa Sri Maharaja telah berkenan untuk menerima patung itu, sebagaimana dikatakan oleh Mahisa Agni dan Witantra kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Namun kesan yang diterima oleh Akuwu Lemah Warah memang agak berbeda. Sebagai orang Kediri, maka Akuwu Lemah Warah memang merasa tersentuh betapapun lemahnya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang pernah bertugas bagi Kediri bersama-sama dengan para petugas sandi Kediri dibawah perintah Pangeran Singa Narpada, sehingga Akuwu Lemah Warah yang tertarik kepada keduanya telah memberikan banyak warisan ilmu, namun bagaimanapun juga keduanya adalah orang-orang Singasari. Batu yang berwarna kehijauan dan banyak menelan korban itu akhirnya dipersembahkan kepada Sri Maharaja Singasari.

Sebenarnya Akuwu Lemah Warah sudah menyadari bahwa yang akan terjadi memang demikian sejak patung itu dibuat.

Namun ketika laporan dari kedua penghubung itu sampai kepadanya, maka masih juga terasa debar di dadanya.

Sebagai seorang Akuwu, Akuwu Lemah Warah telah menjalankan tugasnya sebaik-baiknya. Ia melakukan segala perintah Pangeran Singa Narpada yang dengan gigih mempertahankan kesatuan Singasari termasuk Kediri. Namun pada saat-saat tertentu, Akuwu Lemah Warah itu masih juga merasakan betapa besarnya Kediri pada masa-masa lampaunya.

Tetapi Akuwu Lemah Warah tidak memberikan tanggapan yang memberikan kesan gejolak perasaannya. Kepada para penghubung Akuwu berkata, “Sampaikan kepada kedua anak muda yang sudah aku anggap sebagai kemanakanku sendiri itu, bahwa aku mengucapkan selamat atas keberhasilan mereka.”

“Patung itu belum sampai ke Singasari Akuwu,” jawab salah seorang di antara kedua penghubung itu.

Akuwu Lemah Warah tersenyum. Katanya, “Tetapi aku yakin bahwa mereka akan berhasil sampai ke istana Singasari untuk menyerahkan patung itu serta diterima dengan baik oleh Sri Maharaja.”

“Hamba Akuwu,” jawab salah seorang penghubung itu, “semoga Yang Maha Agung melindungi perjalanan mereka. Sebagaimana Akuwu mengetahui, bahwa banyak pihak yang menginginkan batu itu. Apalagi setelah menjadi patung yang baik seperti sekarang ini.”

“Tetapi patung itu tidak akan berarti apa-apa bagi orang lain. Patung itu adalah lambang keperkasaan dan persatuan yang utuh antara Rangga Wuni dan Mahisa Campaka yang kemudian bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana sebagai Maharaja Kediri dan Narasimhamurti sebagai Ratu Angabaya.”

Penghubung yang datang menghadap Akuwu Lemah Warah itu hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi memang masuk diakalnya, bahwa patung itu hanya berarti bagi Sri Maharaja di Singasari dan Ratu Angabaya yang telah bersama-sama mengalami pahit getir di masa muda mereka, sehingga akhirnya mereka berhasil mencapai tahta di Singasari.

Demikianlah, maka penghubung itu pun kemudian telah mohon diri. Namun pada mereka sama sekali tidak terkesan gejolak perasaan Akuwu yang sebenarnya.

Sepeninggal penghubung yang dikirim oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka Akuwu Lemah Warah justru mulai merenung. Namun sambil menarik nafas dalam-dalam ia kemudian berdesis, “Masih harus dipelajari suasana yang bakal berkembang kemudian.”

Namun bagaimanapun juga Akuwu Lemah Warah memang tidak ingin mengguncang ketenangan yang sudah mulai tumbuh di Singasari termasuk Kediri. Jika ada pergolakan-pergolakan kecil yang terjadi, tentu segera akan dapat diatasi, sebagaimana yang terjadi di Sangling.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sedang berjuang untuk membawa patung yang cukup besar itu ke Singasari. Mereka menelusuri jalan yang dianggapnya paling baik meskipun agak jauh. Pedati yang mereka pergunakan adalah pedati yang kuat dan besar yang dipersiapkan secara khusus. Enam ekor lembu tengah bekerja keras untuk menarik pedati yang berat itu.

Iring-iringan itu memang menarik perhatian. Sebuah pedati yang memuat sebuah benda yang berkerudung kain putih. Enam ekor lembu itu sudah merupakan tontonan tersendiri bagi orang-orang yang tinggal di pinggir jalan yang dilalui oleh pedati itu.

“Apakah yang ada diatas pedati itu,” terdengar setiap kali pertanyaan dari orang-orang yang berdiri di pinggir jalan. Demikian sering sehingga seorang di antara orang-orang yang ikut mengawal patung itu menjawab, “Seekor orang hutan raksasa.”

Yang mendengar jawaban itu merenung sejenak. Tetapi seorang yang lain bertanya, “Sudah mati?”

“Masih hidup,” jawab pengawal itu.

“Tetapi kenapa diam saja?” bertanya yang lain pula.

“Sedang tidur,” jawab pengawal yang mulai jengkel itu.

“Bagaimana jika bangun?” bertanya beberapa orang sekaligus.

“Menerkam kau,” teriak pengawal itu.

Beberapa orang termangu-mangu. Namun mereka pun kemudian tertawa berkepanjangan.

Ketika kemudian di ujung padukuhan yang lain, seorang bertanya, maka pengawal itu menjawab, “Seonggok jenang alot bercampur jadah ketan.”

“He, untuk siapa makanan sebanyak itu?” bertanya yang lain.

Pengawal itu menjawab, “Untuk menyumbat mulutmu.”

Orang yang bertanya itu mengerutkan keningnya. Namun ketika pedati itu lewat, mereka pun telah tertawa berkepanjangan.

Ternyata membawa patung itu ke Kota Raja memang merupakan pekerjaan yang sangat berat. Di jalan-jalan yang tidak semuanya lebar dan rata merupakan penghambat yang utama. Sekali-sekali iring-iringan itu harus berhenti. Mereka harus memeriksa roda pedati yang sering sekali bagaikan menggeliat. Lembu-lembu yang letih dan haus.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan sabar berusaha mengatasi segala kesulitan. Bukan saja terhadap pedati dan lembunya, tetapi juga terhadap pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang selalu mengerumuninya di saat-saat pedati itu berhenti. Sikap yang kadang-kadang menjengkelkan dan dari orang-orang yang ingin tahu tentang benda yang dikerudungi itu.

Ketika pedati yang memuat patung yang berat dan besar itu memanjat tikungan yang menanjak, maka tiba-tiba saja keenam lembu1 yang menarik pedati itu bagaikan tertahan. Jalan ternyata tidak begitu baik dan berbatu-batu.

Beberapa orang yang mengawal pedati itu harus cepat bertindak. Jika tidak, maka pedati itu akan dapat meluncur mundur.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun mereka harus mengatasi kesulitan itu. Karena itulah maka keduanya telah ikut pula mendorong pedati itu sebelah menyebelah.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyadari, bahwa tenaga wajar mereka tidak akan banyak berarti di antara sekian banyak orang. Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah mengetrapkan tenaga cadangannya, sehingga kekuatan mereka pun bagaikan menjadi berlipat ganda.

Perlahan-lahan pedati itu mulai bergerak. Perlahan-lahan pula roda yang terjerumus itu mulai terangkat. Sehingga akhirnya roda itu telah mencapai tanah datar di bibir lubang itu.

Barulah kemudian pedati itu mulai bergerak lagi. Perlahan-lahan. Namun ketika pedati itu sudah lepas dari lubang yang menjerat rodanya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak merasa perlu lagi untuk ikut mendorong dengan tenaga cadangannya. Meskipun keduanya masih ikut pula bersama-sama dengan para pengawal yang menyertai patung itu, tetapi ia telah mempergunakan tenaga wajarnya saja.

Namun di jalan mendaki itu pedatinya seperti siput yang malas. Setapak-setapak kecil perlahan-lahan sekali.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat memaksa lembunya bergerak cepat.

Bahkan ketika pedati itu tiba di kelokan yang tajam, tiba-tiba saja telah menjadi miring.

“Berhenti. Berhenti,” teriak salah seorang di antara pengawal pedati itu.

Perwira Singasari yang menjadi pemahat dari patung itu dan yang ikut bersama iring-iringan itu pun berlari-lari menahan lembu yang menarik pedati itu. Untunglah bahwa pedati itu cepat berhenti sehingga rodanya belum terlepas.

Untuk beberapa lamanya, iring-iringan itu memang harus berhenti. Mereka harus memperbaiki roda pedati itu. Sementara itu beberapa orang yang melihat telah mengundang kawan-kawan mereka untuk mengerumuni pedati yang besar dan kuat itu. Meskipun demikian rodanya ternyata hampir saja terlepas dari porosnya.

Ternyata bahwa orang-orang yang berkerumun itu sangat menjengkelkan. Bahkan ada anak-anak muda yang mencoba untuk menguakkan kain penutup patung itu, sehingga para pengawal setiap kali harus berteriak-teriak memperingatkan mereka. Bahkan sekali-sekali mereka harus mendorongnya agar mereka menjauhi pedati itu.

Tetapi semakin lama orang-orang yang berkerumun itu pun menjadi semakin banyak. Anak-anak muda pun menjadi semakin banyak pula. Bahkan ada di antara mereka anak-anak muda yang keras kepala.

“Buka saja,” berkata seorang anak muda, “aku menjadi tidak tahan melihat kerudung putih yang menutupi benda diatas pedati itu. He, apa isinya?”

“Bukan urusanmu,” bentak seorang di antara mereka yang mengawal pedati itu.

Tetapi anak muda yang merasa dirinya seorang yang ditakuti di padukuhannya serta merasa mempunyai banyak kawan itu pun kemudian justru membentak, “He, buka kain itu, biar kami dapat melihat apa yang ada di dalamnya. Mungkin yang kalian sembunyikan itu barang-barang curian.”

Ternyata kata-kata itu sangat berpengaruh atas orang-orang yang semakin banyak berkerumun. Mereka pun menjadi semakin ingin tahu, apa yang tersembunyi di balik kain putih itu. Sementara itu beberapa orang pengawal pedati sedang sibuk memperbaiki roda pedati yang hampir terlepas.

Karena itu, maka terdengar pula suara yang lain lagi, “Buka saja. Boleh atau tidak boleh.”

“Ya. Buka saja. Bukankah barang itu tidak akan berkurang? Atau barangkali benar-benar barang curian yang sedang disembunyikan?” berkata seorang yang bukan anak muda itu. Tetapi seorang laki-laki yang bertubuh tinggi tegap dan berjambang panjang.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bersama dengan kedua orang prajurit Singasari yang memahat patung itu sedang sibuk membantu orang-orangnya yang sedang memperbaiki roda pedati. Mereka tengah memasang tonggak-tonggak kayu untuk membantu menahan agar pedati itu tidak menjadi terlalu miring. Sehingga karena itu maka mereka tidak begitu menghiraukan apa yang telah terjadi.

Namun dalam pada itu ternyata orang-orang yang mengerumuni pedati itu menjadi semakin ingin tahu apa yang tersembunyi di balik kain yang berwarna putih itu.

Orang-orang padepokan Suriantal yang ikut mengawal patung itu berusaha mencegah orang-orang yang semakin mendesak maju. Tetapi orang-orang itu tidak lagi menghiraukannya.

Mereka mendesak terus, bahkan beberapa orang telah berteriak-teriak pula.

“Buka saja. Buka saja,” terdengar suara yang semakin riuh.

Seorang di antara mereka yeng mengawal patung itu pun telah berteriak pula mengatasi suara mereka, “Tidak. Tidak seorang pun yang boleh mendekat.”

“Jangan halangi kami. Atau kami akan memaksa kalian untuk membuka itu?” geram orang yang bertubuh tinggi tegap dan berjambang panjang.

Orang-orang yang mengawal patung itu masih berusaha untuk tetap bersabar. Namun akhirnya ada juga di antara mereka yang kehilangan kesabarannya sehingga terdengar seorang di antaranya membentak, “jangan sentuh lagi pedati itu. Atau kalian akan menyesal.”

Suara itu telah mengejutkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sehingga dengan serta merta mereka pun telah berdiri pula. Dengan nada berat Mahisa Murti pun bertanya, “Apakah kau tidak dapat berbuat lebih lembut?”

“Kami sudah berusaha,” berkata seorang pengawal yang justru orang lain.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang kemudian memandang berkeliling memang melihat sikap orang-orang yang mengerumuni pedati yang justru sedang diperbaiki itu bersikap kasar pula. Namun demikian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih berusaha untuk tetap bersabar.

“Ki Sanak,” berkata Mahisa Pukat, “kalian sama sekali tidak berkepentingan dengan benda itu. Karena itu, kami mohon maaf, bahwa kami tidak dapat menunjukkan benda itu kepada kalian.”

“Buka atau kami memaksa,” teriak seorang yang lain yang kemudian disusul oleh teriakan-teriakan lainnya, “cepat. Jangan menunggu kami kehabisan kesabaran.”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun Mahisa Murti lah yang berkata, “Aku mohon. Jangan ganggu kami sebagaimana kami juga tidak mengganggu kalian.”

Tetapi ternyata orang-orang yang mengerumuni pedati itu tidak dapat diajak berbicara lagi dengan baik. Anak-anak muda yang jumlahnya semakin banyak, berlipat ganda dari jumlah orang-orang yang mengawal pedati itu, agaknya merasa bahwa niat mereka tidak akan dapat dihalangi lagi.

Karena itu, maka mereka pun telah mendesak maju. Dengan suara lantang orang yang bertubuh tinggi tegap dan berjambang panjang itu pun berkata, “Anak-anak muda. Kita berhak untuk melihat apa yang ada dibawah kain putih itu. Memang mungkin sekali justru barang-barang curian yang disembunyikan. Dengan demikian maka orang-orang yang membawa pedati ini dapat kita tangkap.”

“Kalian sangat menjengkelkan,” potong Mahisa Pukat yang sudah hampir kehilangan kesabaran, “seharusnya kalian dapat menghargai kepentingan orang lain.”

“Jika kalian perampok, apakah kami harus menghargai kepentingan kalian?” teriak orang berjambang panjang itu.

“Barang rampokan tidak akan berujud seperti itu,” berkata Mahisa Murti. Agaknya ia benar-benar ingin menghindari pertengkaran sehingga katanya, “Baiklah. Biarlah aku memberitahukan apa yang kami bawa. Yang berada dibawah kain itu adalah sebuah patung. Patung yang akan kami bawa ke Singasari. Namun kami minta maaf, bahwa sebelum patung itu kami perlihatkan kepada yang berhak, maka patung itu tidak boleh kami buka, agar kemudian tidak menjadi hambar. Jika ujud patung itu kemudian sudah diperbincangkan orang, maka kehadiran patung itu di tempatnya, tidak lagi merupakan kejutan yang berarti.”

“Persetan,” geram orang berjambang panjang, “kau dapat menyebut apa saja. Tetapi kalian harus memperlihatkan benda itu kepada kami agar kami yakin bahwa benda itu bukan benda yang kalian dapat dari hasil curian atau perampokan.”

“Maaf Ki Sanak,” geram Mahisa Pukat, “kami tidak dapat memenuhinya. Sekali lagi aku katakan, patung itu tidak akan dibuka.”

“Bagaimana jika kami memaksa?” geram orang yang berjambang tinggi tegap itu.

“Kau jangan membuat perkara Ki Sanak,” berkata Mahisa Pukat. Sementara itu pemahat yang juga seorang prajurit Singasari itupun telah berdiri pula di samping Mahisa Pukat sambil berkata, “Akulah yang memahat patung itu. Apakah kalian akan memaksa untuk melihat patung itu? Jika kalian berbuat demikian maka kalian akan menyesal. Dengar, kami akan mencegah perbuatan kalian. Jika perlu dengan kekerasan. Kami sudah kehilangan kesabaran sementara roda pedati itu masih belum baik sepenuhnya. Karena itu, kami minta sekali lagi. Jangan ganggu kami.”

“Persetan,” geram orang berjambang itu, “kau kira dengan menggertak kami, kalian dapat menakut-nakuti kami?”

Mahisa Pukat hampir tidak dapat menahan diri lagi. Tetapi ketika ia melihat Mahisa Murti masih berdiri saja di tempatnya, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan Mahisa Pukat itu ingin mengendapkan kembali jantungnya yang sudah terlanjur bergejolak.

Tetapi agaknya orang-orang yang mengerumuni pedati itu, yang datang dari padukuhan terdekat dari tikungan yang tajam itu bahkan dari beberapa padukuhan yang lain, tidak lagi dapat dicegah. Mereka mendesak semakin maju. Ketika beberapa orang benar-benar ingin menggapai kain putih itu harus bertindak! Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun harus mendorong mereka surut.

Tetapi agaknya prajurit yang memahat patung itu telah mendorong seorang anak muda terlalu keras, sehingga anak muda itu telah terjatuh menimpa beberapa orang yang lain yang berdiri di belakangnya.

Agaknya hal itu merupakan api yang telah menyalakan kemarahan orang-orang yang mengerumuni pedati itu. Karena itu, maka hampir serentak mereka telah menyerang para pengawal yang berdiri di seputar pedati itu.

Tidak ada pilihan lain bagi para pengawal. Mereka harus menyelamatkan patung yang akan mereka persembahkan kepada Sri Maharaja di Singasari. Mereka tidak dapat membiarkan patung itu dibicarakan orang sebelum Sri Maharaja sendiri melihatnya. Jika sebelumnya Sri Maharaja telah mendengar pembicaraan orang tentang patung itu, maka mungkin Sri Maharaja akan kecewa.

Anak-anak muda yang mengerumuni pedati itu dan mendesak maju, ternyata terkejut ketika mereka menyaksikan apa yang diperbuat oleh para pengawal pedati itu. Meskipun mereka hanya mempergunakan tangan mereka, tetapi seolah-olah setiap sentuhan tangannya telah membuat seseorang menjadi hampir pingsan.

Beberapa orang anak muda yang berhati kecil segera mengundurkan diri dan menjauhi pedati itu. Namun yang memiliki keberanian justru menjadi sangat marah.

Tetapi mereka tidak dapat asal saja berdesakkan maju. Demikianlah kemarahan mereka meledak, maka mereka pun telah mengepung pedati itu.

Orang yang bertubuh tinggi tegap dan berjambang panjang itu agaknya memang memiliki pengaruh yang sangat besar atas anak-anak muda itu. Ialah yang kemudian memimpin anak-anak muda itu menghadapi para pengawal pedati.

“Seorang di antara kami terluka, maka kalian semua akan mati di sini,” geram orang itu.

“Ki Sanak,” Mahisa Murti masih berusaha untuk menempuh cara lain, “kami mohon, jangan ganggu kami. Jika benar-benar terjadi kekerasan, maka kalian benar-benar akan menyesal.”

Tetapi orang berjambang itu tidak menghiraukannya. Bahkan ia pun telah memberikan aba-aba untuk menyerang.

Namun dengan demikian, arena menjadi semakin longgar. Anak-anak muda yang mengerumuni pedati itu tidak lagi berdesak-desakan. Mereka justru telah membuat jarak. Beberapa orang kawan-kawan mereka yang kesakitan telah mereka papah menjauh. Bahkan beberapa orang justru telah turun ke sawah di sebelah menyebelah jalan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah kehilangan segala kesempatan untuk mencegah terjadi benturan antara pengawal patungnya dengan anak-anak muda, bahkan orang-orang tua-pun agaknya telah melibatkan diri pula, terutama orang berjambang panjang itu.

Dengan demikian maka memang tidak ada pilihan lain lagi para pengawal selain berkelahi. Benar-benar berkelahi sebagaimana anak-anak muda itu memang berniat berkelahi.

Para pengawal yang telah mendapatkan latihan-latihan yang berat itu memang agak bimbang juga. Apakah mereka harus bersungguh-sungguh. Tetapi menilik kemarahan anak-anak muda dan orang-orang padukuhan yang ingin membuka kerudung patungnya, maka mereka memang harus bersungguh-sungguh meskipun tidak seorang pun di antara para pengawal, apalagi kedua orang prajurit Singasari yang telah memahat patung itu serta Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, untuk benar-benar menyakiti apalagi melukai mereka.

Jika mereka harus menyakiti anak-anak muda itu, maksudnya tidak lebih dari satu usaha untuk membuat agar mereka tidak mengganggu lagi.

Dengan demikian maka perkelahian pun telah terjadi dengan riuhnya. Anak-anak muda dan orang-orang padukuhan itu menyangka bahwa mereka akan dapat berbuat banyak terhadap para pengawal dan memaksa mereka untuk membiarkan anak-anak muda itu membuka kerudung dari patung yang besar di-atas pedati yang besar pula itu.

Tetapi ternyata bahwa mereka sama sekali tidak berhasil menguasai para pengawal yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari jumlah mereka. Setiap kali, maka anak-anak muda itu telah terdorong dan terlempar surut. Bahkan ada di antara mereka yang jatuh terguling di tanah dan tanpa sengaja telah terinjak oleh kaki kawan-kawannya.

Orang berjambang panjang itu menjadi marah sekali. Setiap kali ia berteriak-teriak memacu anak-anak muda dan orang-orang padukuhan itu untuk menyerang. Namun setiap kali mereka pun telah terlempar surut.

Akhirnya orang itu mengerti, bahwa para pengawal pedati itu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang anak-anak muda dan orang-orang padukuhan. Para pengawal pedati itu memiliki kemampuan dalam olah kanuragan. Mereka memiliki ilmu yang mapan untuk melindungi dirinya bahkan untuk menyerang lawannya.

Karena itu, maka orang berjambang itu pun tidak lagi membiarkan orang-orangnya terdesak. Dengan lantang ia pun kemudian berteriak, “Cari senjata. Apa saja. Cepat.”

Beberapa orang telah siap untuk berlari-larian mencari senjata. Namun dalam pada itu Mahisa Murti pun dengan cepat telah meloncat keatas pedati yang masih belum siap benar-benar itu. Hampir saja pedati yang kemudian terguncang itu roboh. Namun beberapa orang telah menahannya.

“Jangan lakukan,” teriak Mahisa Murti, “jika kalian mengambil senjata, keadaannya akan jauh lebih berbahaya bagi kalian. Lihat, di lambung kami juga tergantung senjata. Jika kalian mengambil senjata itu berarti kalian telah memancing senjata kami keluar dari wrangkanya.”

Orang bertubuh tinggi tegap dan berjambang panjang itu berkata, “Aku tidak peduli. Jika kalian memang menjadi ketakutan berkatalah terus terang. Kami tidak akan melakukannya. Tetapi buka tutup patungmu itu.”

“Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti, “bukan maksud kami menyombongkan diri. Tetapi kami akan dapat berbuat jauh lebih banyak dari pada yang dapat kalian lakukan meskipun jumlah kalian berlipat ganda. Kami adalah orang-orang yang sudah terlalu biasa dan memiliki pengalaman bermain senjata. Karena itu, jangan pergunakan senjata.”

“Jangan dengarkan,” teriak orang bertubuh tinggi tegap dan berjambang panjang, “betapapun tinggi kemampuan mereka, tetapi jika kita menyerang dari segala jurusan, maka mereka tentu akan dapat kami hancurkan.”

Tetapi orang-orang padukuhan itu masih saja ragu-ragu.

Namun satu dua orang telah berlari kembali ke padukuhan untuk mengambil senjata.

Ketika orang berjambang panjang itu berteriak sekali lagi, maka berhamburanlah orang-orang serta anak-anak mudanya kembali untuk mengambil apa saja yang mereka miliki.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu orang berjambang panjang itu berteriak nyaring, “Nah, kalian menjadi ketakutan sekarang.”

“Kau memang dungu,” geram Mahisa Pukat yang marah, “kau kira tingkahmu akan dapat menyelesaikan persoalan?”

Tetapi orang itu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Sebentar lagi mereka akan datang. Kalian akan dibantai di sini karena kesombongan kalian.”

Mahisa Pukat yang marah itu pun kemudian maju selangkah demi selangkah mendekatinya. Dengan nada datar ia berkata, “Aku ingin menunjukkan kepadamu, bahwa kau telah mengambil langkah yang salah.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia menjadi gemetar ketika Mahisa Pukat tiba-tiba telah menarik pedang.

“Kau tidak boleh curang. Aku tidak bersenjata sekarang.” suara orang itu gemetar.

Mahisa Pukat seakan-akan tidak mendengarnya. Ia masih saja melangkah maju mendekatinya.

Orang bertubuh tinggi tegap itu semakin berdebar-debar. Sementara itu, kawan-kawannya dan anak-anak muda yang memiliki keberanian telah berlari-larian mengambil senjata. Tetapi belum seorang pun di antara mereka yang kembali. Sedangkan yang masih ada di tempat itu adalah mereka yang justru telah menebar semakin jauh.

Sambil mengacungkan pedang Mahisa Pukat berkata, “Marilah. Kita mencoba kemampuan kita. Kau jangan hanya berteriak-teriak membakar kerusuhan. Kau sendiri harus mencoba untuk mengalami. Apakah benar kau dan kawan-kawanmu akan mampu memaksa kami untuk membuka kain kerudung dari patung itu.”

Orang itu menjadi pucat. Katanya, “Aku tidak bersenjata.”

Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berpaling kepada salah seorang pengawal, “berikan senjatamu. Aku ingin melihat, apakah ia mampu berbuat sebagaimana dikatakannya.”

Pengawal pedati itu ragu-ragu sejenak. Namun Mahisa Pukat pun mengulangi, “berikan.”

Pengawal pedati itu pun telah memberikan pedangnya kepada orang yang bertubuh tinggi tegap itu. Namun orang itu telah menerima pedang itu dengan tangan gemetar.

“Kita akan mencoba, siapakah di antara kita yang lebih baik bermain pedang,” berkata Mahisa Pukat, “jangan takut bahwa aku akan dibantu oleh siapapun. Aku akan berkelahi sendiri apapun yang akan terjadi.”

Orang bertubuh tinggi tegap itu masih saja mematung. Pedangnya sama sekali sama sekali tidak teracu ke arah Mahisa Pukat.

Namun sambil menyentuh pedang lawannya Mahisa Pukat, berkata, “Angkat pedangmu, atau kau akan mati tanpa perlawanan. Kaulah yang telah berteriak-teriak memberikan aba-aba kepada anak-anak muda untuk mengambil senjata. Tetapi kau sendiri akan mengelak. Nah, sambil menunggu orang-orang yang telah kau hasut, maka kau akan bertempur. Mau tidak mau. Melawan atau tidak melawan.”

Tatapan mata Mahisa Pukat benar-benar telah meruntuhkan keberanian orang bertubuh tinggi tegap itu. Karena itu, maka rasa-rasanya nyawa orang itu telah berada di ujung ubun-ubunnya.

Tetapi ia pun terkejut ketika pedangnya telah disentuh oleh pedang Mahisa Pukat sambil berkata, “Angkat senjatamu. Cepat.”

Orang bertubuh tinggi tegap itu pun kemudian menyadari apa yang terjadi atas dirinya. Ketika beberapa kali pedangnya disentuh oleh pedang Mahisa Pukat, maka ia pun mulai menggerakkan pedangnya.

“Nah, bukankah kau juga laki-laki? Berlakulah sebagai mana kau membakar hati orang-orang yang dungu dan pergi mengambil senjata itu,” geram Mahisa Pukat.

Orang bertubuh tinggi tegap itu pun kemudian mengedarkan pandangannya berkeliling. Ia masih melihat banyak orang yang berkerumun. Namun semakin jauh. Mereka pun nampaknya merasa sangat cemas dan wajah mereka pun nampak tegang. Sementara itu yang berlarian mengambil senjata masih belum datang.

Tetapi dihadapan orang-orang yang dalam sikap mereka sehari-hari sangat menghormatinya, ia tidak mau direndahkan oleh anak muda itu. Karena itu, maka betapapun hatinya berdebar-debar, namun akhirnya orang bertubuh tinggi itu telah mengangkat pedangnya pula.

“Bagus,” berkata Mahisa Pukat, “kita dapat segera mulai.”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia mulai mengangkat pedangnya. Mahisa Pukat lah yang mula-mula menjulurkan senjatanya. Tidak terlalu cepat, langsung menggapai dada orang itu. Tetapi orang itu sempat bergeser sambil menangkis. Demikian kerasnya ia menangkis serangan itu dengan mengerahkan segenap kekuatannya, sehingga pedangnya telah bergeser jauh ke samping.

(Bersambung ke Jilid 50).

Koleksi buku: Ki Ismoyo
Scanning: Ki Ismoyo
Convert/Proofing: Ki Raharga
Rechecking/Editing: Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s