NSSI-09


kembali | lanjut >>

I.

Karena pandangan mata itu, hati Mahesa Jenar jadi gelisah. Seolah-olah ada suatu pengaruh yang aneh pada dirinya. Maka untuk mengatasi kegelisahannya, kembali ia berteriak, “He, siapakah kau, yang telah berani mengambil pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten dari Banyu Biru…?”

Orang itu masih belum menjawab. Tetapi pandangan matanya semakin dalam menembus dada Mahesa Jenar yang menjadi semakin gelisah. Dan seperti orang yang bingung, Mahesa Jenar membentak-bentak, “Kau yang mengambil, he..? Ayo bilang, tak usah kau ingkari. Kalau demikian, kembalikan keris itu kepadaku. Kembalikan…!”

Karena orang itu masih saja tidak menjawab, perasaan Mahesa Jenar menjadi semakin melonjak-lonjak. Timbullah suatu perasaan kecut dan ngeri di dalam dirinya. Seolah-olah orang yang berdiri di hadapannya itu memancarkan suatu perbawa yang aneh. Sehingga kemudian Mahesa Jenar tidak dapat mengendalikan kecemasannya, bercampur-baur dengan perasaan bingung dan pepat. Mahesa Jenar mundur beberapa langkah, disilangkan satu tangannya di depan dada, satu lagi diangkat tinggi-tinggi. Sambil memusatkan segala tenaganya, Mahesa Jenar mengangkat satu kakinya dan ditekuknya ke depan. Sambil berteriak nyaring Mahesa Jenar meloncat maju, “Kembalikan keris-keris itu atau kau binasa.” Setelah itu, tangannya terayun deras dengan aji Sasra Birawa tersimpan di dalamnya. Tetapi terjadilah suatu peristiwa yang sama sekali tak terkirakan. Dengan cekatan, tangan orang tua itu bergerak dan dalam sekejap tangan Mahesa Jenar yang sedang mengayunkan Sasra Birawa itu dengan tenang ditangkapnya. Dengan demikian maka Mahesa Jenar tersentak oleh kekuatannya yang tidak tersalur itu, sehingga seolah-olah suatu pukulan yang dahsyat telah menghantam dadanya. Tetapi hanya sebentar. Sebab sesaat kemudian terasalah seolah-olah udara yang sejuk mengalir ke seluruh tubuhnya, sehingga dengan demikian tubuhnya sama sekali tidak merasakan suatu gangguan apapun.

Mengalami peristiwa itu, jantung Mahesa Jenar berdesir hebat sekali. Sadarlah ia bahwa yang berdiri di hadapannya itu adalah seorang yang maha sakti. Yang memiliki kedahsyatan ilmu lahir dan batin. Karena itu, ketika tangannya telah dilepaskan, Mahesa Jenar segera mundur beberapa langkah dan kemudian seperti orang yang tak berdaya, Mahesa Jenar menjatuhkan dirinya duduk bersila menghadap kepada orang yang tak dikenalnya itu. Maka, dengan gemetar Mahesa Jenar berkata, „Maafkanlah kelancanganku Kyai, dan perkenankanlah aku mengetahui siapakah sebenarnya Tuan?”

Terdengarlah orang tua berjubah abu-abu itu tersenyum, jawabnya, „Sudahlah Mahesa Jenar, kau tak perlu terlalu merasa bersalah. Bahkan aku menjadi gembira ketika kau masih ingat kepada kewajibanmu untuk menemukan kembali Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, sehingga kau berani bertindak terhadap apapun dan siapapun. Dengan demikian maka masa depanmu tidaklah akan gelap sama sekali”.

Mendengar kata-kata orang tua yang sama sekali tidak menjawab pertanyaannya itu, Mahesa Jenar menjadi tertegun heran. „Apakah gerangan maksudnya?”

Kemudian terdengarlah orang tua itu melanjutkan, “Mahesa Jenar…, apakah sebenarnya yang kau cari, sehingga kau sampai ke tempat ini?”

Perasaan Mahesa Jenar terasa seperti disentakkan mendengar pertanyaan itu. Yah, apakah sebetulnya yang dikehendaki sehingga sampai ke tempat ini…?

Teringatlah kemudian apa yang pernah dialami akhir-akhir ini, yang masalahnya berkisar di sekitar Rara Wilis. Namun untuk menguraikan kepada orang tua itu, Mahesa Jenar masih merasa kurang enak. Karena itu ia jadi bimbang sehingga beberapa lama ia tidak menjawab.

Karena Mahesa Jenar masih berdiam diri, terdengarlah orang tua itu meneruskan, “Aku kira, aku dapat menduga-duga apa yang sebenarnya telah kau alami Mahesa Jenar. Dan ketika aku melihat kau berlari-lari ke arah yang sama sekali tak kau ketahui, aku pun dapat mengira-ngira pula, apa yang akan kau lakukan. Sebab sebagian besar dari percakapanmu dengan Kyai Ageng Pandan Alas, serta kemarahanmu kepada Arya Salaka dapat aku dengar. Ditambah lagi dengan beberapa kejadian akhir-akhir ini yang dapat aku lihat pula. Hubunganmu dengan cucu Ki Ageng Pandan Alas serta murid Ki Ageng Pandan Alas yang bernama Sarayuda.”

Mendengar uraian orang tua itu, Mahesa Jenar seperti orang yang dihadapkan pada suatu peristiwa yang diluar kemampuan jalan pikirannya. Demikian banyaknya masalah yang dapat diketahui oleh orang tua itu. Kalau demikian maka orang tua itu pasti telah beberapa hari mengikutinya. Karena itu, pasti orang itu adalah orang yang sama sekali tidak bermaksud jahat kepadanya. Dengan demikian ia menjadi agak berani pula. Maka katanya, “Apa yang Tuan katakan adalah benar.”

Maka terdengarlah orang tua itu tertawa. “Bagus… katanya. Kau sadari semua itu, dan sekarang kau akan pergi kemana?”

Oleh pertanyaan itu kembali, Mahesa Jenar kebingungan. Apakah sebaiknya ia bekata terus terang? Sebab andaikata ia berbohong maka orang tua itupun agaknya dapat mengetahui pula. Karena itu jawabnya, “Aku akan pergi bertapa, Kyai. Menjauhi kesibukan kesibukan duniawi yang menjemukan.”

Sekali lagi orang tua itu tertawa. Katanya, “Apakah dengan bertapa serta menjauhkan diri dari persoalan manusia itu, kemudian keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten akan datang kepadamu dengan sendirinya?”

Sedikit-sedikit arah pembicaraan orang tua itu sudah dapat ditangkap oleh Mahesa Jenar. Ia menjadi bertanya pula pada diri sendiri, apakah sebenarnya yang dicarinya selama ini?

“Mahesa Jenar…” lanjut orang tua itu, “Kau adalah seorang kesatria, bukan seorang brahmana atau pertapa. Kewajiban kesatria adalah membina kesejahteraan umat manusia, kesejahteraan bangsanya dan tanah airnya. Apakah yang dapat kau lakukan apabila kau mengasingkan dirimu di puncak gunung atau di tengah-tengah hutan yang lebat? Di dalam goa-goa atau di bawah pohon beringin tua? Mahesa Jenar, aku sudah tua. Aku adalah gambaran dari orang-orang yang tak berarti. Tinggal di dalam goa yang jauh dari masalah-masalah bangsa dan tanah air, dimana aku meneguk air jika aku haus serta mencari ketenteraman diri. Tetapi dengan demikian masalah keluarga besar kita tak akan dapat diselesaikan. Sekarang adakah kau mau memperbanyak jumlah dari orang-orang yang demikian itu?”

Kata-kata orang tua itu memancar ke hati Mahesa Jenar seperti sinar matahari yang memecahkan gelapnya malam. Meskipun ia masih duduk tepekur, namun dadanya telah menyala kembali dengan api kekesatriaannya.

“Masihkah kau akan melanjutkan mencari pusaka-pusaka yang hilang itu?” tanya orang tua itu.

Karena pertanyaan itu Mahesa Jenar tersentak. Jawabnya tergagap, “Ya… Tuan, aku tetap mencarinya. Dan adakah Tuan mengetahui di manakah kedua keris itu sekarang?”

Orangtua itu tersenyum, lalu jawabnya, “Aku tahu. Kedua keris itu berada di dalam kekerasan hatimu serta usahamu.”

Kembali Mahesa Jenar tertunduk. Tepat benar jawaban orang tua itu.

“Mahesa Jenar…” lanjut orang itu, “hati-hatilah kelak akan memilih. Ada dua keturunan yang merasa berhak memiliki keris itu. Keturunan Trenggana dan keturunan Sekar Seda Lepen. Pilihlah siapa di antara mereka yang mengutamakan kepentingan rakyat serta kesejahteraan negerinya. Kepadanyalah keris itu kau serahkan. Seterusnya kau masih mempunyai satu kewajiban lagi. Membina masa depan. Dan sekarang kau sia-siakan satu tugas kekuatan masa depan itu.” Orang tua itu diam sesaat, lalu bertanya kepada Mahesa Jenar, “Dengarlah siapakah yang menyebut-nyebut namamu?”

Lamat-lamat ketajaman pendengaran Mahesa Jenar mendengar suara memanggil-manggilnya, “Paman…, Paman Mahesa Jenar…, di manakah kau Paman…?” Mendengar suara itu, terbantinglah hati Mahesa Jenar seperti kaca yang menimpa batu. Itu adalah suara Arya Salaka, putra Gajah Sora.

“Apa salah anak itu kepadamu Mahesa Jenar?” tanya orang tua itu sambil tersenyum.

Karena pertanyaan itu hati Mahesa Jenar merasa semakin pecah-pecah. Teringatlah ia, bagaimana ia membentak-bentak anak itu, meninggalkannya dalam kebingungan dan kekalutan pikiran.

“Mahesa Jenar…”  terdengarlah kembali kata-kata orang tua itu, “Masa depan tidaklah kalah pentingnya dengan masa kini. Justru apa yang kau lakukan adalah buat kepentingan masa depan. Karena itu peliharalah tunas-tunas buat masa depan itu dengan baik-baik. Kali ini kau telah mendapatkan pengalaman untuk dapat kau pergunakan sebagai cermin pada masa-masa yang akan datang. Setiap usaha pasti mengalami rintangan-rintangan. Apabila kau terperosok pada kepatahan hati maka tak akan ada usahamu yang berhasil. Aku setuju dengan kata-kata Pandan Alas, hatimu sekeras baja, tetapi getas seperti baja pula. Nah sekarang hayatilah tugasmu kembali. Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten serta anak Gajah Sora yang dititipkan kepadamu itu.”

Mahesa Jenar membungkuk hormat, namun masih juga ia mencoba bertanya, Siapakah sebenarnya Tuan?

Orang tua itu tersenyum. Jawabnya, “Tak banyak gunanya kau mengetahui siapakah aku ini. Sebab aku adalah orang yang tak berarti. Salah satu dari gambaran orang-orang yang tidak bertanggungjawab buat membina bebrayan agung. Namun aku masih ingin menitipkan sumbangsihku atas tanah ini kepadamu, dengan mencegah kehendakmu untuk menambah barisan orang-orang yang tak berarti seperti aku ini. Nah selamat bekerja Mahesa Jenar. Seharusnya kau memiliki keagungan seperti gurumu, Pangeran Handayaningrat.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, orang tua yang berkumis dan berjanggut lebat itu melangkah pergi.

Mahesa Jenar yang masih belum puas itu segera akan mengikutinya, tetapi tiba-tiba kembali didengarnya suara sayup-sayup menyusup dedaunan, “Paman…, Paman Mahesa Jenar…. Kenapa aku kau tinggalkan sendiri, Paman…?”

Suara yang timbul-tenggelam diantara desir angin di hutan itu telah menyentuh-nyentuh perasaan Mahesa Jenar seperti panasnya bara api. Cepat ia menyadari kesalahannya telah meninggalkan anak yang tak bersalah itu. Karena itu ia berteriak pula, “Arya…, tunggulah Paman segera datang.”

Setelah itu segera ia meloncat berlari sekencang-kencangnya menuju ke arah suara Arya Salaka, yang ketika mendengar suara Mahesa Jenar, berteriak lebih keras lagi, “Paman…, Paman….”

Ketika Arya Salaka melihat Mahesa Jenar yang tiba-tiba muncul dari rimbunnya hutan, segera ia berlari menyongsongnya. Tetapi karena tubuhnya sudah sangat lelah, maka ia pun terjatuh lemas. Melihat kadaan Arya, Mahesa Jenar jadi terharu. Cepat ia menangkap tubuh Arya yang sudah hampir terjerembab, dan dengan hati-hati anak itu didudukkan di atas rumput-rumputan.

“Arya….” bisik Mahesa Jenar.

Arya tidak menjawab, karena kerongkongannya terasa buntu. Namun air matanya mengalir seperti tanggul yang pecah.

Arya Salaka yang sebenarnya bukanlah anak cengeng, pada saat itu tangisnya tak tertahankan lagi, seperti berdesak-desakan berebut jalan.

“Arya…” kata Mahesa Jenar, “Anak laki-laki tidak sepantasnya menangis. Diamlah.

Meskipun nada suara Mahesa Jenar sudah menjadi lunak, namun Arya masih ketakutan kalau-kalau pamannya akan marah kembali. Karena itu ditahannya tangisnya kuat-kuat. Tetapi karena itu pula maka dadanya menjadi sesak karena isaknya yang tersekat, sehingga tubuhnya berguncang-guncang.

“Sudahlah Arya…” sambung Mahesa Jenar, “Kalau kau terlalu lama menangis kau dapat kemasukan angin.”

“Aku takut paman” kata Arya di sela-sela sedu sedannya.

“Takut…?” tanya Mahesa Jenar. “Apa yang kau takutkan?”

“Aku takut kalau Paman meninggalkan aku sendiri,” jawab Arya.

Mendengar jawaban itu hati Mahesa Jenar tergetar. Adalah wajar kalau seorang anak sebesar Arya Salaka menjadi ketakutan ditinggalkan seorang diri di padang ilalang di pinggir hutan yang sama sekali tak dikenalnya, bagaimanapun beraninya anak itu.

“Tidak Arya…, Paman tak akan meninggalkan kau sendiri,” kata Mahesa Jenar membesarkan hati anak itu.

“Tetapi tadi Paman berlari kencang sekali,” potong Arya.

Mendengar kata-kata Arya itu, Mahesa Jenar tersenyum. Senyuman yang pahit bagi dirinya sendiri. Namun jawabnya, “Tadi Paman tidak akan meninggalkan kau, Arya. Tetapi karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan, dan tidak boleh orang lain tahu, apalagi anak-anak. Karena hal itu adalah rahasia besar, maka aku pergi mendahuluimu untuk beberapa lama.”

Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan pandangan yang penuh keragu-raguan. Apa yang dilakukan oleh Mahesa Jenar tadi menurut anggapannya bukanlah sekadar mendahului, tetapi benar-benar telah berusaha untuk meninggalkannya. Karena itu ia bertanya, “Tetapi tadi Paman marah kepadaku.”

Sekali lagi Mahesa Jenar tersenyum. Namun hatinya mengeluh. “Sudahlah Arya, sekarang dan seterusnya Paman tak akan meninggalkan kau lagi.”

Arya mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun hatinya masih tetap ragu, katanya, “Kemana Paman pergi, aku ikut Paman.”

“Bagus Arya, bagus,” jawab Mahesa Jenar. “Nah, sekarang kemana?”

“Terserahlah kepada Paman,” jawab Arya.

“Kau lelah?” tanya Mahesa Jenar.

“Tidak, kalau berjalan dengan Paman aku masih kuat,” jawab Arya dengan mantapnya, meskipun sebenarnya kakinya sudah terlalu letih. Agaknya Mahesa Jenar mengetahui pula kelelahan Arya, karena itu katanya, “Kita beristirahat sebentar Arya, nanti kalau kau sudah tidak begitu letih, kita berjalan kembali.”

Arya menjadi gembira mendengar ajakan pamannya. Memang sebenarnya ia lelah sekali setelah beberapa lama berlari-lari mengejar Mahesa Jenar. Maka jawabnya, “Baiklah Paman. Aku akan beristirahat dahulu.”

Kemudian mereka mencari tempat yang teduh di bawah pepohonan, di tepi hutan. Arya Salaka dengan segera merebahkan dirinya berbaring diatas rumput-rumput kering. Dan, karena lelahnya maka segera ia pun tertidur.

Mahesa Jenar memandang Arya yang sedang tidur itu dengan perasaan belas kasih. Apalagi kalau diingatnya, bahwa hampir saja anak itu ditinggalkannya seorang diri. Dari wajah anak itu tampaklah memancar ketulusan serta keberanian yang diwarisinya dari ayahnya, Gajah Sora. Karena itu, apabila Arya Salaka menerima pendidikan serta latihan yang baik, pastilah kelak ia akan menjadi seorang pemuda yang perkasa.

Sementara itu matahari telah menempuh lebih dari tigaperempat bagian dari jalan peredarannya, karena itu panasnya tidak begitu tajam lagi. Di langit yang biru bersih, hanya kadang-kadang saja tampak awan tipis mengalir perlahan-lahan.

Bersama dengan awan yang tipis itu kenangan Mahesa Jenar membubung tinggi. Diingatnya segenap masa lampaunya yang penuh dengan bermacam-macam kejadian silih berganti. Ketenaran dua keagungan sebagai seorang perwira pasukan Naramanggala, kepahitan dan kekecewaan, kecemasan dan bermacam-macam lagi peristiwa yang datang silih berganti di masa perantauannya.

Namun akhirnya, ketika awan di langit itu pecah berpencaran ditiup angin, maka hilang pulalah semua kenangan yang mengganggu pikiran Mahesa Jenar. Yang tampak sekarang adalah masa yang menghadang di hadapannya. Masa yang akan penuh dengan tantangan-tantangan yang harus dijawab dengan tindakan-tindakan yang tepat.

Tetapi kemudian tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada orang tua yang telah membawanya kembali ke jalan yang lurus. Siapakah kira-kira orang itu? Benarkah orang itu yang telah mengambil keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten? Ketika pertanyaan-pertanyaan itu ditujukan kepadanya maka ia sama sekali tidak menyangkalnya meskipun tidak pula membenarkan. Ditilik dari pakaiannya maka Mahesa Jenar hampir pasti bahwa orang itulah yang mengambil kedua pusaka itu dari Banyubiru, sebab jarang orang yang berpakaian jubah berwarna abu-abu, kecuali Pasingsingan dan orang itu. Meskipun Mahesa Jenar belum pernah melihat wajah asli Pasingsingan yang nama sebenarnya adalah Umbaran, namun pastilah bahwa orang tua itu bukannya Umbaran.

Kalau demikian sampailah Mahesa Jenar pada suatu dugaan bahwa orang tua itu adalah Pasingsingan tua, guru dari Paniling, atau yang sebenarnya bernama Radite, Anggara dan Umbaran. Namun ia sendiri tidak yakin, apakah dugaannya itu benar.

Tetapi bagaimanapun Mahesa Jenar mendapat kesimpulan bahwa usaha untuk menemukan keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten akan merupakan suatu usaha yang berjangka panjang. Sebab sampai saat itu segala sesuatunya masih gelap. Gelap sama sekali. Tak ada satu titik pun yang dapat menunjukkan arah lenyapnya kedua pusaka yang sedang menjadi rebutan oleh beberapa pihak itu. Akibat dari itu, pasti akan menyangkut Gajah Sora pula. Makin lama waktu yang diperlukan untuk menemukan kedua keris itu, semakin lama pula waktu pembebasan yang akan diberikan kepadanya. Mahesa Jenar hanya dapat berdoa, mudah-mudahan Paningron dan Gajah Alit dapat menolong meringankan tuduhan yang dibebankan kepada Gajah Sora.

Tetapi ketika Mahesa Jenar baru asyik berangan-angan, tiba-tiba terdengarlah derap kuda yang semakin lama semakin dekat. Karena itu segera didukungnya Arya yang masih tidur, dibawa masuk ke dalam semak-semak yang rimbun. Untunglah bahwa Arya yang kelelahan itu tidak terbangun. Sedang Mahesa Jenar, dengan hati-hati sekali mengintip dari celah-celah rapatnya dedaunan ke arah suara kuda-kuda itu.

Sebentar kemudian dari balik tikungan semak-semak muncullah tiga orang berkuda. Melihat tiga orang itu, dada Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar. Mereka adalah sepasang Uling dari Rawa Pening, disertai oleh Sri Gunting.

Menilik perbekalan mereka, maka Mahesa Jenar dapat mengetahui bahwa dua bersaudara Uling itu akan menempuh perjalanan yang jauh. Mula-mula timbul keinginan Mahesa Jenar untuk menghadang mereka serta langsung membinasakan mereka. Tetapi tiba-tiba diingatnya pesan Ki Paniling, bahwa ia dinasehatkan untuk tidak bertindak tergesa-gesa. Ia harus tahu pasti bahwa tindakannya benar-benar akan menguntungkan. Sedang pada saat itu, ia masih belum yakin bahwa ia seorang diri dapat mengalahkan orang-orang itu. Apalagi ia sedang membawa Arya. Kalau sampai terjadi sesuatu atas anak itu, maka letak kesalahan ada padanya. Karena itu akhirnya, Mahesa Jenar hanya mengintip dengan dada yang bergetar menahan perasaannya.

Ketika ketiga orang itu lenyap dari pandangan matanya, Mahesa Jenar segera menyadari, betapa semakin sulitnya pekerjaan yang akan dilakukan. Dengan melihat kedua orang itu Mahesa Jenar dapat menerka, bahwa pasti tidak saja sepasang Uling itu yang pergi merantau, tetapi pasti juga tokoh-tokoh hitam yang lain, menempuh perjalanan dan bertebaran ke segenap penjuru untuk dahulu-mendahului menemukan Keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Kalau saja ia bertemu dengan Uling, Lawa Ijo, Jaka Soka dan sebagainya, bagaimanapun masih ada kemungkinan bagi Mahesa Jenar untuk menyelamatkan diri. Tetapi bagaimana halnya kalau di perjalanan ia berjumpa dengan tokoh-tokoh tua seperti Pasingsingan, Sima Rodra tua, Bugel Kaliki dan barangkali tokoh-tokoh tua yang berdiri di belakang Sepasang Uling dan Jaka Soka, atau guru-guru mereka, yang ternyata juga mengingini pusaka-pusaka itu? Terhadap mereka tidak akan banyak yang dapat dilakukan. Untunglah sampai saat ini beberapa kali jiwanya selalu terselamatkan oleh pertolongan mereka dari angkatan yang sebaya. Tetapi kalau tak seorangpun dari mereka yang melihat, pasti bahwa tinggal nama Mahesa Jenar saja yang mungkin masih sering disebut-sebut orang. Mengingat hal itu, tiba-tiba dirasanya bulu tengkuknya berdiri. Tetapi ketika segera menyusul gema yang berkumandang di rongga hatinya, gema suara orang tua yang tak dikenalnya, yang mengatakan bahwa Keris Nagasasra dan Sabuk Inten berada di dalam kekerasan hatinya serta usahanya, maka nyala tekad di dalam hatinya berkobar semakin besar, sebesar nyala api di lubang kepundan Gunung Merapi, yang tak akan dapat padam oleh hujan selebat apapun serta angin sekencang apapun.

Sementara itu Arya telah menggeliat pula. Ketika ia membuka matanya maka yang pertama-tama dilakukan adalah berteriak memanggil, “Paman…, Paman Mahesa Jenar….”

“Sst…!” desis Mahesa Jenar. “Kenapa kau berteriak, Arya…?

Dengan pandangan yang masih diliputi oleh keragu-raguan, Arya mengawasi Mahesa Jenar tanpa berkedip. Sambungnya, “Paman tidak meninggalkan aku lagi bukan?”

Mahesa Jenar tertawa kosong, dengan penuh pengertian atas kecemasan yang mencengkam perasaan Arya.  Jawabnya, “Kalau aku akan meninggalkan engkau, bukankah lebih baik pada saat kau sedang tidur?”

Mendengar jawaban Mahesa Jenar, Arya menjadi percaya bahwa pamannya tidak akan pergi meninggalkannya. Setelah beberapa kali menggeliat, segera Arya duduk di samping Mahesa Jenar.

“Sudah tidak lelah lagi kau Arya”’ tanya Mahesa Jenar.

“Bukankah sejak tadi aku tidak lelah Paman?” jawab anak itu.

Terdengar Mahesa Jenar tertawa pendek, katanya meneruskan, Bagus kalau begitu. Nah sekarang kau sudah siap untuk berjalan lagi?”

“Tentu Paman, tentu aku siap berjalan setiap saat,” sahut Arya.

“Kalau begitu, mari kita berjalan, ajak Mahesa Jenar.

Oleh ajakan itu segera Arya meloncat berdiri dengan sigapnya. Memang setelah ia tertidur beberapa lama, tubuhnya telah menjadi segar kembali.

“Kita sekarang kembali ke rumah kita sebentar Arya,” ajak Mahesa Jenar meneruskan.

“Kenapa hanya sebentar Paman?” tanya Arya.

“Biarlah kami tinggalkan rumah itu. Rumah dimana kau hampir saja mengalami bencana,” jawab Mahesa Jenar, seterusnya ia menerangkan, “Arya, rumah itu ternyata sudah diketahui oleh orang-orang yang ingin membunuhmu. Karena itu bukankah lebih baik kalau kita pergi? Kita mampir sebentar hanyalah untuk mengambil tombak pusaka Banyubiru Kyai Bancak. Biarlah tombak itu kau bawa serta. Supaya tidak mencurigakan, nanti sebaiknya kita lepas tangkainya.”

“Baiklah Paman,” jawab Arya sambil menganggukkan kepalanya.

Kemudian berangkatlah mereka berdua meneruskan perjalanan. Tidak lama kemudian matahari tenggelam di ujung barat langit.

Dalam kegelapan, mereka tetap meneruskan perjalanan. Mahesa Jenar yang berpandangan tajam dapat menempuh perjalanan dengan tidak banyak menemui kesulitan, sambil menggandeng Arya Salaka.

Belum sampai tengah malam, mereka berdua telah tiba di pedukuhan dimana telah mereka bangun tempat untuk berteduh.

Pada pagi harinya, tetangga-tetangga Mahesa Jenar yang baik hati, ketika mengetahui bahwa Mahesa Jenar telah berhasil menemukan anak yang mereka anggap anak Mahesa Jenar sendiri, dengan selamat, segera berkerumun untuk mengucapkan syukur. Mereka bertanya bergantian tak ada henti-hentinya sehingga Mahesa Jenar kerepotan untuk menjawabnya.

Tetapi kemudian, mereka, tetangga-tetangga yang baik itu menjadi tercengang-cengang ketika tiba-tiba saja Mahesa Jenar mohon diri kepada mereka untuk pergi meneruskan perantauannya seperti ketika belum menetap di pedukuhan itu. Para tetangga yang menganggap Mahesa Jenar sebagai seorang petani yang banyak memberikan sesuluh kepada mereka, menjadi agak kecewa. Kata salah seorang dari mereka, “Adakah kami berbuat kesalahan terhadap Angger?”

“Tidak, Bapak,” sahut Mahesa Jenar cepat. “Sama sekali tidak.”

“Atau barangkali Adi marah kepada kami?” sambung yang lain, “Karena kami tidak dapat melindungi anak Adi?”

“Juga tidak,” jawab Mahesa Jenar. “Tidak ada kesalahan saudara-saudara kepada kami”.

“Lalu kenapa Adi mau pergi?” tanya seseorang pula.

Mahesa Jenar agak bingung menjawab pertanyaan itu. Tetapi akhirnya ia berkata, “Saudara-saudaraku yang baik. Aku ingin berjalan semata-mata karena kegemaranku merantau. Aku ingin menunjukkan beberapa pengalaman kepada anakku ini. Sebab aku bercita-cita bahwa kelak nasib anakku ini harus lebih baik dari nasibku sendiri.”

Para tetangga yang ramah itu pun mengangguk-anggukkan kepala. Agaknya Mahesa Jenar sudah tidak dapat di tahan lagi. Karena itu dengan berat hati mereka lepas Mahesa Jenar dan anaknya berjalan.

Pada suatu saat kami akan datang kembali, kata Mahesa Jenar kepada mereka yang mengantar sampai ke ujung desa.

Setelah itu, mulailah Mahesa Jenar dengan perantauannya kembali. Tetapi kali ini Mahesa Jenar tidak berjalan sendiri.

———-oOo———-

II

Mula-mula Mahesa Jenar dan Arya Salaka berjalan ke arah selatan, tetapi kemudian mereka membelok ke barat dan terus ke utara. Untuk sementara mereka berjalan asal saja menjauhi daerah kekuasaan Lembu Sora. Di bawah baju Arya Salaka terseliplah tombak pusaka Banyubiru yang telah dilepas dari tangkainya, yang dibalut rapi dengan kulit kayu.

Di perjalanan pagi itu Mahesa Jenar tidak banyak berkata-kata. Pikirannya diliputi oleh kegelapan yang menyelubungi keris-keris pusaka Demak yang hilang. Sampai saat itu ia sama sekali masih belum tahu kemana dan bagaimana harus mencari kedua keris itu. Apa yang dilakukan adalah seperti meraba-raba di dalam kelam. Tetapi disamping itu masih ada yang harus dilakukan. Membentuk Arya menjadi seorang jantan. Dan mengantarnya kembali ke daerah perdikan Banyubiru.

Sedang Arya Salaka agaknya sama sekali tidak menghiraukan apa-apa. Dalam cerah matahari pagi, ia berjalan agak di depan dengan riangnya. Ia berlari-lari selincah anak kijang, tanpa perasaan takut serta prasangka apa-apa, dalam irama nyanyi burung-burung liar yang berloncat-loncatan di rerumputan yang hijau segar.

Sekali-sekali Arya mengambil batu serta dilemparkan kearah gerombolan burung-burung yang asyik mematuk-matuk biji-biji rumput, yang kemudian karena terkejut beterbangan berputar-putar, tetapi sesaat kemudian burung-burung itu kembali hinggap di rerumputan.

Tiba-tiba Arya Salaka terhenti ketika didengarnya Mahesa Jenar memanggil. Ketika ia menoleh, dilihatnya pamannya sudah agak jauh tertinggal di belakang. Karena itu Arya segera duduk di atas batu untuk menanti Mahesa Jenar.

“Arya…” kata Mahesa Jenar setelah mereka berjalan bersama-sama. “Aku mempunyai pikiran bahwa untuk keselamatanmu kau harus berusaha sejauh-jauhnya agar kau tak dikenal orang. Karena itu Arya, aku berpendapat bahwa sebaiknya nama panggilanmu harus diganti. Sebab, selama kau masih mengenakan namamu yang sekarang, Arya Salaka, maka orang-orang yang akan mencarimu dengan mudahnya akan dapat menemukan kau. Sebab namamu adalah nama yang jarang-jarang dipakai orang. Maka sekarang kau ingin mengubah namamu dengan nama lain?”

Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan herannya, katanya,. “Apakah kalau aku berganti nama, orang tak mengenal aku lagi?

“Bukan begitu Arya,” jawab Mahesa Jenar. “Tetapi setidak-tidaknya orang tidak mendengar lagi nama Arya Salaka. Bukankah dengan mendengar namamu orang dapat menemukanmu?”

Arya Salaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya ia sudah mengerti maksud Mahesa Jenar. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Paman, meskipun namaku sudah diganti, tetapi apabila seseorang berkata tentang seorang anak yang berjalan bersama-sama dengan Mahesa Jenar, bukankah segera orang mengenal aku? Sebab yang selalu berjalan bersama-sama dengan Arya Salaka adalah Mahesa Jenar.”

“Kau benar-benar cerdas Arya,” jawab Mahesa Jenar sambil tertawa, “Aku setuju dengan pendapatmu. Kalau begitu, marilah kita bersama-sama mengganti nama.”

Mendengar pendapat itu Arya Salaka tertawa berderai. Agaknya hal itu merupakan suatu hal yang lucu. Melihat Arya tertawa, Mahesa Jenar pun tertawa.

“Nah, Arya… siapakah nama yang pantas buat mengganti namamu?” tanya Mahesa Jenar kemudian.

Arya tampak mengerutkan keningnya, tetapi beberapa lama kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Terserahlah kepada paman.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berpikir. Nama apakah yang sepantasnya diberikan buat anak itu. Tiba-tiba terlintaslah suatu nama yang tepat diberikan kepada Arya Salaka. Katanya, “Arya, kau tahu bahwa namaku adalah Mahesa Jenar. Mahesa adalah sejenis binatang bertanduk. Maksud dari nama itu adalah supaya aku mempunyai kesigapan dan ketangguhan seperti Mahesa. Sedang harapanku, kau harus lebih hebat daripadaku. Karena itu aku akan memberi nama kepadamu dengan nama yang lebih hebat pula. Bukankah nama ayahmu hebat pula? Gajah Sora. Dan ayahmu benar-benar hebat seperti seekor gajah. Nah, dengarlah Arya, aku akan memberimu nama Handaka.”

“Handaka…” ulang Arya, “Apakah Handaka itu?”

“Handaka adalah nama binatang bertanduk pula,” jawab Mahesa Jenar. “Tetapi jauh lebih hebat dari Mahesa Jenar. Sebab Handaka berarti banteng.”

Mendengar uraian Mahesa Jenar, hati Arya Salaka bergetar. Maka dengan bangga ia berkata, “Aku pernah mendengar ayah berceritera tentang seekor banteng.”

“Apa kata ayahmu?” tanya Mahesa Jenar.

“Banteng adalah binatang yang hebat sekali,” jawab Arya.

“Nah, kalau begitu sekarang aku memanggil kau, Handaka,” kata Mahesa Jenar meneruskan, “Tetapi siapakah kelanjutan nama itu?”

“Handaka Sora, seperti nama ayah,” usul Arya.

“Tetapi orang akan masih dapat mengenal kau dalam hubungan nama dengan ayahmu,” jawab Mahesa Jenar. “Juga seandainya kau bernama Handaka Jenar. Orang akan menghubungkan dengan nama Mahesa Jenar.”

“Lalu apakah yang baik menurut Paman?” tanya Arya Salaka.

“Begini Arya… aku mempunyai nama yang baik. Dengarlah…. Nama lengkapmu adalah Bagus Handaka. Bagaimana pendapatmu?”

Mata Arya menjadi berkilat-kilat. “Bagus… Paman. Bagus sekali. Nah, sejak saat ini aku bernama Bagus Handaka.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Dan sekarang siapakah namaku?”

“Terserahlah kepada Paman,” jawab Bagus Handaka.

“Jangan panggil aku Paman. Panggil aku Bapak untuk seterusnya.”

“Baiklah Bapak.”

“Bagus Handaka, dengarlah. Aku akan memakai nama seorang petani biasa. Sejak saat ini panggilah aku dengan nama Manahan, Bapak Manahan.”

“Baiklah Bapak Manahan.”

“Bagus. Kita sekarang sudah merupakan orang baru. Meskipun apa yang kita lakukan adalah kelanjutan usaha kita sebelumnya. Kau harus kembali ke Banyubiru kelak. Dengan atau tidak dengan kekerasan.”

“Tentu Paman… eh… Bapak. Sebab tanah itu bagiku merupakan Tanah Pusaka sekaligus tanah tercinta.”

Manahan dengan menepuk pundak Bagus Handaka berkata pula, “Bagus Handaka, karena semuanya itu, kau mulai saat ini harus melatih diri dengan tekun dan sungguh-sungguh. Supaya kau kelak tidak akan ketinggalan dengan anak pamanmu Lembu Sora.”

“Adi Sawung Sariti?” potong Bagus Handaka.

Manahan mengangguk. Katanya meneruskan, “Anak itu pun sekarang pasti mengalami penggemblengan. Supaya kelak dapat menjadi anak hebat pula. Karena itu kau jangan sampai kalah.”

“Baik Bapak, aku akan mencoba untuk berlatih sekuat-kuat tenagaku, supaya aku tidak mengecewakan Bapak Manahan serta ayah Gajah Sora,” jawab Bagus Handaka.

“Bagus Handaka. Masa yang akan datang ini bagimu adalah suatu masa pembajaan diri,” desis Bagus Handaka.

Kemudian setelah itu, mereka saling berdiam diri, hanyut dalam arus angan-angan masing-masing.

Di langit, matahari masih memancar dengan cemerlang memanasi gunung serta lembah-lembah.

Itulah permulaan dari suatu masa yang panjang, yang akan penuh dengan latihan olah kanuragan jaya kasantikan bagi Arya Salaka, yang kemudian bernama Bagus Handaka.

Ternyata ia memang seorang anak yang tangkas dan cerdas. Memiliki kekuatan jasmaniah yang hebat pula. Dalam perantauan mereka dari satu tempat ke lain tempat, mereka sama sekali hidup dalam keprihatinan. Manahan dan Bagus Handaka tidak lebih dari dua orang bapak dan anak yang miskin. Apabila mereka merambah hutan, maka yang dimakan adalah buah-buahan yang dapat mereka jumpai di perjalanan mereka. Sedangkan apabila mereka melalui jalan-jalan kota, mereka berusaha untuk mendapatkan pekerjaan apapun yang dapat mereka lakukan.

Tetapi karena semuanya itu mereka lakukan dengan suatu keyakinan bagi masa datang, maka hal itu sama sekali tidak menimbulkan gangguan apapun dalam diri mereka. Baik jasmaniah maupun tekad yang tersimpan di dalam dada mereka.

Di dalam masa perantauan itu, satu hal yang tak seorang pun mengetahui, adalah, bahwa setiap saat Bagus Handaka selalu menerima latihan-latihan yang berat dan teratur dari gurunya. Setiap pagi, bila matahari belum menampakkan diri, Bagus

Handaka harus sudah melakukan latihan berlari-lari dan kemudian dengan alat apa saja yang mungkin dipergunakan, cabang-cabang pohon, ia harus melakukan latihan tangan dengan bergantung dan berayun. Disamping itu, sedikit demi sedikit Manahan mengajarinya pula gerakan-gerakan pembelaan diri dengan segala unsur-unsurnya.

Bagus Handaka menerima semua pelajaran dari gurunya dengan tekad yang bulat, hati yang mantap. Karena itu semua pelajaran dengan cepatnya dapat dikuasainya dengan baik.

Maka beberapa lama kemudian perjalanan mereka sampai ke pantai utara. Seterusnya mereka menyusur pantai membelok ke arah barat, menerobos hutan-hutan rimba yang kadang-kadang masih sangat lebat.

Tetapi semuanya itu tidak menghalangi pertumbuhan Bagus Handaka. Tubuhnya semakin lama menjadi semakin kekar dan kuat, sedang geraknya menjadi semakin sigap.

Akhirnya mereka sampai ke suatu daerah pedukuhan yang kecil, dimana para penduduknya hidup sebagai nelayan. Di samping itu mereka gemar berburu kalong, sejenis binatang malam yang mirip dengan kelelawar, tetapi lebih besar dan pemakan buah-buahan. Meskipun ada juga diantara mereka yang bercocok tanam, tetapi penghidupan sebagai seorang petani agak tidak begitu menarik perhatian.

Di pedukuhan itulah Manahan dan Bagus Handaka berhenti berjalan. Mereka menyatakan diri untuk tinggal bersama-sama di padepokan itu. Meskipun penduduknya tampaknya agak bersikap kasar, namun sebenarnya hati mereka tulus. Karena itu Manahan dan anaknya diterima oleh mereka dengan tangan terbuka.

Di pedukuhan itulah Manahan menambah jumlah mereka yang mengolah tanah pertanian. Dengan tidak mencolok Manahan membawa cara-cara baru dalam pengolahan tanah dan cara-cara pengairan yang agak teratur. Karena itu dalam waktu singkat Manahan telah menjadi orang yang disenangi oleh penduduk pedukuhan itu.

Sedang di pedukuhan itu, Bagus Handaka mendapat kesenangan baru. Dengan para nelayan kadang-kadang ia ikut serta berlayar menangkap ikan. Adalah mengherankan bahwa Handaka yang belum begitu lama hidup di kalangan para nelayan, kesigapannya telah hampir melampaui pemuda-pemuda nelayan yang sebayanya. Agaknya kesenangannya bermain-main di Rawa Pening, serta kegemarannya menangkap Uling, merupakan bekal yang baik bagi seorang nelayan. Apalagi darah pelaut yang mengalir dalam tubuh ayahnya, Gajah Sora, agaknya melimpah juga kepada anak ini. Ditambah lagi dengan latihan-latihan keprigelan yang diterimanya dari Manahan. Dengan demikian Handaka pun menjadi cepat terkenal diantara teman-temannya. Bahkan orang-orang tua pun kemudian mengaguminya.

Tetapi ada kegemaran Handaka yang lain, yang tidak sama dengan pemuda-pemuda nelayan pada umumnya. Handaka mempunyai kegemaran menyepi apabila semua pekerjaannya sudah selesai. Kadang-kadang ia betah duduk lama-lama di pasir pantai yang sepi. Memandang ke arah laut yang luas. Pada gelombang-gelombang yang selalu bergerak disapu angin.

Apabila malam gelap yang turu, serta saat berlatih telah lampau, juga apabila ia tidak turuta serta ke laut, maka ia lebih senang duduk di pantai dari pada pergi tidur. Apabila tubuhnya terasa lelah sekali, di pasir pantailah Handaka merebahkan diri, yang kadang-kadang ketika terdengar ayam berkokok menjelang matahari terbit, ia baru bangkit dan berjalan pulang ke pondoknya.

Manahan sama sekali tidak keberatan atas kelakuan muridnya itu. Ia mengharap bahwa dengan demikian Bagus Handaka mendapat ketenangan dan pengendapan. Dalam kesepian yang demikian kadang-kadang ditemukannya masalah-masalah besar dalam perjuangan masa depan. Karena itu ia sama sekali tak mengganggunya. Dibiarkannya Handaka pada saat terluangnya menyepikan diri, sedang Manahan sendiri waktu-waktu luangnya selalu diisi dengan duduk-duduk di sudut desa bersama-sama dengan para petani yang menunggui sawahnya yang sering diganggu oleh babi hutan. Dalam keadaan yang demikian banyaklah masalah-masalah yang dapat diberikan kepada para petani secara tidak langsung.

Tetapi pada suatu malam terjadilah suatu hal yang mengejutkan. Saat itu, ketika malam kelam membalut pantai, Handaka sedang duduk seperti biasa merenungi lampu-lampu perahu nelayan yang hilir-mudik di laut. Tiba-tiba dilihatnya seseorang berjalan lurus ke arahnya. Di dalam gelap malam, Handaka tidak segera mengenal siapakah orang itu. Tetapi ia tahu pasti bahwa orang itu bukanlah Manahan.

Ketika orang itu sudah berdiri dekat di hadapannya, mendadak tanpa berkata apa-apa orang itu langsung menyerangnya. Mula-mula Handaka terkejut bukan main, tetapi kemudian ia sadar bahwa ia harus membebaskan dirinya. Karena itu segera ia meloncat menghindar. Tetapi penyerangnya tidak membiarkannya lolos, malahan kembali ia menyerang lebih hebat. Untuk beberapa saat Handaka menjadi ragu. Apakah salahnya dan siapakah orang itu? Sambil meloncat menghindar, ia berteriak, “Siapakah kau, dan apakah sebabnya kau menyerang aku?”

Tetapi penyerang itu sama sekali tak menghiraukannya. Dengan penuh nafsu orang itu menyerang terus.

Akhirnya karena tak ada kemungkinan lain, Handaka terpaksa melayaninya. Mula-mula ia masih berusaha untuk meyakinkan orang itu, bahwa mungkin ia keliru. Sebab selama ini Handaka merasa tak ada seorang pun yang memusuhinya di seluruh pedukuhan nelayan itu.

Tetapi ia menjadi terkejut sekali ketika orang yang menyerangnya itu berkata dengan suara yang dalam, “Bagus Handaka, kau sekarang tidak akan dapat melepaskan diri dari tanganku.”

Sekali lagi ia mencoba bertanya, “Apakah hubunganmu dengan diriku sehingga kau bermaksud menangkap aku? Dan siapakah sebenarnya kau ini?”

Orang itu tidak menjawab, tetapi tertawanya yang nyaring terdengar sangat mengerikan. Dan berbareng dengan itu serangannya menjadi bertambah cepat dan mendesak.

Tetapi Bagus Handaka sekarang bukanlah Arya Salaka dua tahun yang lalu. Bagus Handaka adalah seorang pemuda yang meskipun umurnya belum lebih dari 15 tahun, namun karena gemblengan yang menempa dirinya setiap saat, maka ia adalah seorang pemuda yang tangkas dan kuat. Karena itu ia dapat berkelahi dengan tenang dan lincah. Sehingga serangan-serangan orang yang tak dikenalnya itu beberapa kali dapat dihindarinya dengan mudah.

Tetapi ia tidak dapat terus-menerus menghindar dan mengelak. Sebab orang yang menyerangnya menjadi semakin marah. Gerak-geriknya semakin cepat dan berbahaya. Karena itu, akhirnya Bagus Handaka terpaksa melakukan serangan-serangan pula, sebagai suatu cara terbaik untuk mempertahankan diri.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin hebat. Namun di masa-masa yang pendek, Bagus Handaka sempat mengamat-amati wajah penyerangnya. Orang itu agaknya telah berumur sedikit lebih tua dari gurunya. Wajahnya tampak bengis dan berkumis tebal. Selebihnya ia tidak begitu jelas. Kecuali orang itu selalu bergerak, juga karena malam yang kelam.

Untunglah bahwa orang itu tidak memiliki ilmu yang tinggi, sehingga meskipun Bagus Handaka pantas menjadi anaknya, tetapi dalam perkelahian itu, meskipun ia harus bekerja keras, ia sama sekali tidak perlu cemas akan kesudahan dari pertempuran itu.

Setelah mereka bertempur beberapa lama, akhirnya Bagus Handaka mendengar desah nafas lawannya semakin lama semakin cepat. Ia menjadi bergembira, karena dengan demikian ia tahu bahwa sebentar lagi lawannya akan kehabisan nafas. Karena itu, ia tidak perlu untuk melawannya dengan sungguh-sungguh. Ia cukup mengganggunya sehingga apabila nafas orang itu telah benar-benar tersekat, maka ia dengan mudah akan dapat menangkapnya. Mungkin gurunya tahu siapakah orang itu. Tetapi agaknya penyerang itu menyadari kelemahannya. Karena itu, dengan tergesa-gesa orang itu meloncat mundur sebelum kehabisan nafas dan berusaha melarikan diri. Tetapi Bagus Handaka sama sekali tak melepaskannya. Cepat ia berusaha mengejarnya. Namun ia menjadi keheran-heranan. Orang yang nafasnya tinggal seujung kuku itu, masih dapat melarikan diri dari kejarannya.

Bagus Handaka berhenti mengejar ketika orang itu menyusup ke dalam semak-semak yang rimbun. Sulitlah baginya untuk mencari seseorang di dalam gelapnya malam diantara semak-semak itu.

Setelah puas merenungi semak-semak itu, kemudian dengan langkah yang berat Bagus Handaka berjalan pulang ke pondoknya. Di dalam otaknya terjadilah suatu keributan. Ia sibuk menebak-nebak, siapakah orang yang dengan tiba-tiba saja menyerangnya. Bukan karena suatu kekeliruan, tetapi benar-benar dirinyalah yang dicari.

Sampai di pondoknya segera ia mencari gurunya. Tetapi ternyata Manahan masih belum pulang. Bagus Handaka yang tahu akan kebiasaan gurunya segera pergi menyusul ke pojok desa.

Tetapi akhirnya ia menjadi ragu. Apakah hal yang demikian saja sudah merupakan suatu hal yang perlu dibicarakan dengan gurunya. Apakah dalam hal-hal yang kecil tidak cukup kalau diselesaikannya sendiri.

Karena pikiran itu maka Bagus Handaka kemudian membatalkan maksudnya untuk menyatakan peristiwa yang baru saja dialami itu kepada gurunya. Sehingga ketika ia sampai di pojok desa, dan ketika ia sudah duduk di antara para petani dan nelayan yang sedang tidak turun ke laut, ia sama sekali tak berkata apapun mengenai peristiwa yang baru saja terjadi. Ia tidak mau mengganggu Manahan dengan soal-soal yang remeh-remeh.

Tetapi apa yang dialami kemudian adalah sangat memusingkan kepalanya. Pada malam berikutnya, ketika ia sedang berbuat seperti kebiasaannya, tiba-tiba datanglah seseorang yang juga tanpa sebab menyerangnya. Tetapi orang ini adalah orang yang lain dari yang menyerangnya kemarin. Orang ini agaknya sudah jauh lebih tua dari gurunya.

Seperti malam sebelumnya, Bagus Handaka berusaha pula meyakinkan bahwa mungkin orang itu keliru. Tetapi juga seperti malam sebelumnya, Bagus Handaka terkejut dan keheran-heranan ketika orang yang menyerangnya itu berkata dengan suara yang tinggi, “Tak usah kau mengelakkan diri. Soalnya sudah cukup jelas. Dan kau harus menyerah kepadaku sebelum orang lain berhasil menangkapmu mati atau hidup.”

Maka bersaling-silanglah teka-teki di dalam kepala Bagus Handaka. Apakah sebabnya maka hal ini bisa tejadi? Tiba-tiba ia teringat kepada orang-orang yang beberapa tahun yang lalu memburunya. Adakah orang-orang ini juga terdiri dari gerombolan yang sama? Karena itu dengan keras Bagus Handaka berkata, “Hai orang tua yang tak tahu diri, adakah kau termasuk dalam gerombolan orang-orang yang akan membunuhku beberapa tahun yang lalu?”

Terdengar orang itu tertawa dengan nada yang tinggi. Jawabnya, “Aku tidak mengenal orang-orang lain yang memburumu. Tetapi aku memerlukan kau seperti orang-orang lain yang barangkali juga memerlukan.”

Bagus Handaka menjadi semakin bingung. Katanya, “Adakah hubungan semua itu dengan tanah perdikan Banyubiru?”

“Banyubiru?” bertanya orang tua itu dengan heran. “Aku belum pernah mendengar nama Tanah Perdikan Banyubiru.”

“Lalu apa perlumu menangkap aku?” potong Handaka.

Sekali lagi orang tua itu memperdengarkan suara tertawanya yang semakin tinggi. Tetapi bersamaan dengan itu serangan menjadi bertambah cepat dan berbahaya.

Bagus Handaka pun kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Ia menjadi jengkel sekali atas kejadian-kejadian itu. Karena itu ia bertekad untuk menangkap penyerangnya kali ini.

Tetapi ternyata orang tua ini mempunyai ilmu yang agak lebih tinggi dari orang yang menyerang kemarin. Meskipun umurnya sudah lanjut, namun geraknya masih sangat membahayakan. Serangannya datang tiba-tiba dan kadang-kadang tak terduga.

Mula-mula Bagus Handaka menjadi agak mengalami kesulitan. Ia belum pernah melihat beberapa dari unsur-unsur gerak lawannya. Tetapi karena orang tua itu agaknya belum memiliki unsur-unsur gerak yang banyak macamnya, maka serangannya selalu dilakukan berulang kali dengan unsur-unsur gerak yang hanya ada beberapa macam itu saja. Meskipun unsur-unsur gerak itu mula-mula agak membingungkannya, tetapi lambat laun dapat dikuasainya. Apalagi karena Bagus Handaka sendiri telah banyak menerima bahan-bahan serta ilmu yang cukup banyak dari gurunya.

Malahan ketika mereka telah bertempur beberapa lama, Bagus Handaka mulai dapat mengenal ilmu lawannya dengan baik. Karena itu seperti malam sebelumnya, ia tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. Ia pasti akan dapat mengatasi lawannya yang sudah tua itu. Tetapi karena kali ini ia benar-benar ingin menangkap penyerang itu, maka Bagus Handaka selalu berusaha untuk dengan secepat-cepatnya menjatuhkan lawannya, meskipun hal itu tidak dapat dilakukannya dengan mudah.

Akhirnya, ketika orang tua itu merasa bahwa Bagus Handaka bukanlah anak-anak yang dengan mudahnya dapat ditakut-takuti serta dengan mudahnya dapat ditangkap, bahkan malahan dalam beberapa hal Bagus Handaka dapat melebihinya, maka tak ada jalan lain daripada melarikan diri.

Apalagi ketika ternyata Bagus Handaka dapat melawannya dengan mempergunakan bagian-bagian dari unsur-unsur geraknya sendiri. Orang tua itu menjadi bertambah takut lagi.

Cepat-cepat ia meloncat mundur beberapa langkah, dan kemudian berusaha untuk berlari secepat-cepatnya. Bagus Handaka yang sudah mengira hal itu akan terjadi, segera meloncat menghadang. Tetapi orang tua itu seakan-akan telah dapat memperhitungkan pula tindakan Bagus Handaka, karena demikian Bagus Handaka melontarkan diri, demikian orang tua itu membalik ke arah yang berlawanan, dan seperti terbang orang itu berlari masuk ke dalam semak-semak yang gelap. Bagus Handaka yang mengejarnya menjadi keheran-heranan. Meskipun ternyata ilmunya tidak kalah tinggi, bahkan beberapa unsur gerak orang tua itu malahan telah dapat dikuasai, namun dalam hal berlari ternyata ia masih kalah. Karena itu dengan hati yang semakin jengkel Bagus Handaka terpaksa melepaskan orang tua itu pergi.

Dengan kejadian-kejadian itu, teka teki yang melibat dirinya menjadi semakin kisruh. Ia mencoba mengingat-ingat semua kejadian yang pernah dialami, namun ia sama sekali tak dapat menghubungkannya dengan peristiwa dua malam terakhir itu.

Tetapi Bagus Handaka adalah seorang pemuda yang berani, cerdas dan banyak hal yang ingin diketahui. Karena itulah maka, setelah mengalami peristiwa dua malam berturut-turut, malahan ia ingin untuk mengetahui apakah yang akan terjadi seterusnya. Ia ingin melihat apakah pada malam-malam berikutnya akan terjadi pula hal-hal semacam itu. Malahan ia mengharap kedatangan salah seorang diantaranya, sehingga apabila orang itu dapat ditangkapnya, maka pastilah latar belakang dari peristiwa-peristiwa itu dapat disingkapkan. Namun sampai sedemikian jauh Bagus Handaka masih belum merasa perlu untuk menyampaikan masalah itu kepada gurunya. Nanti apabila salah seorang dari mereka dapat ditangkapnya, barulah Bagus Handaka bermaksud membawa orang itu kepada Manahan.

Pada malam berikutnya Bagus Handaka sengaja menghindarkan diri dari beberapa kawannya yang sering mengajaknya turun ke laut. Dengan demikian maka ia dapat leluasa pergi ke pantai untuk menanti peristiwa yang aneh, yang barangkali masih ada kelanjutannya.

Dan apa yang dinantinya benar-benar datang.

Ketika angin laut menghembus perlahan-lahan mempermainkan buih di pantai, Bagus Handaka dikejutkan oleh sebuah bayangan yang seolah-olah muncul saja dari dalam laut, dan dengan langkah yang cepat langsung menuju ke arahnya.

Meskipun Bagus Handaka sengaja menanti kejadian itu, namun hatinya tergetar juga. Dua malam berturut-turut ia mengalami serangan dari orang yang tak dikenalnya. Tetapi orang-orang itu datang dari arah semak-semak, sedangkan kali ini orang itu muncul seakan-akan dari dalam air.

Ketika orang itu sudah semakin dekat, Bagus Handaka segera meloncat berdiri serta mempersiapkan diri. Sebab menilik gerak serta arah datangnya, maka orang ini pasti lebih berbahaya dari dua orang yang pernah dilawannya.

Melihat Bagus Handaka berdiri serta mempersiapkan diri, orang itu terhenti. Agaknya ia heran melihat sikap Handaka. Tetapi kemudian terdengar ia tertawa pendek, menyeramkan. Katanya, “Aku tidak akan keliru lagi. Bukankah kau yang bernama Bagus Handaka?”

Di dalam gelap, Bagus Handaka mencoba mengawasi wajah orang itu. Tetapi yang dapat diketahuinya adalah, orang itu janggut serta kumisnya tumbuh lebat sekali, sehingga menutupi hampir seluruh lubang mulut serta hidungnya. Selain dari itu tak ada lagi kesan yang diperolehnya.

Dengan suara yang mantap, Bagus Handaka menjawab, “Ya, aku Bagus Handaka. Kau mau apa?”

Kembali terdengar suara tertawa pendek yang menyeramkan. Katanya, “Kau memang berani Handaka. Aku kira kau akan memungkiri dirimu. Kau tidak takut mendapat bahaya?”

“Kenapa aku mesti takut. Aku sudah mengira bahwa kau akan berkata seperti orang-orang yang pernah menyerangku dua malam berturut-turut meskipun orangnya tidak sama,” potong Bagus Handaka.

Agaknya orang itu heran mendengar kata-kata Handaka, sehingga ia bertanya, “Dua malam berturut-turut kau mendapat serangan?”

Sekarang Bagus Handaka yang tertawa berderai. Jawabnya, “Aku bukan anak-anak yang masih pantas kau bohongi dengan cara demikian. Adakah suatu peristiwa kebetulan sampai tiga kali berturut-turut dengan cara yang sama?”

Mendengar jawaban Bagus Handaka, orang itu berdesis, “Agaknya mereka telah mendahului aku.” Lalu tiba-tiba ia berkata kepada Bagus Handaka, “Tetapi kenapa kau masih sempat bermain-main di sini. Kalau apa yang kau katakan benar, aku kira kau sudah tergantung mati di tengah Alas Roban.”

Mau tidak mau jantung Handaka tergetar hebat mendengar kata-kata itu. Apakah sebabnya orang-orang itu memburunya dan akan menggantungnya di Alas Roban…? Karena itu pula ia menjadi marah sekali. Ia tidak pernah merasa berbuat salah kepada orang lain, tetapi kenapa ada orang yang menginginkan kematiannya?

Kemudian dengan tidak menunggu lebih lama lagi, Bagus Handaka meloncat mendahului menyerang orang itu. Serangannya hebat sekali dengan mengerahkan segenap tenaga yang ada.

Orang yang berkumis dan berjanggut lebat itu agaknya terkejut sekali. Ia tidak mengira bahwa Bagus Handaka akan memulai lebih dahulu. Cepat ia meloncat ke samping. Tetapi Bagus Handaka tidak membiarkannya. Disusullah serangan itu dengan serangan berikutnya. Serangan itu datangnya cepat sekali, sehingga orang asing itu tidak sempat mengelakkan dirinya. Karena itu cepat-cepat ia berusaha menahan serangan Bagus Handaka dengan kedua tangan yang disilangkan di muka dadanya.

Maka terjadilah suatu benturan yang keras. Bagus Handaka terdorong beberapa langkah surut, tetapi orang itu pun tak dapat bertahan pada tempatnya dan terlempar beberapa langkah pula. Dengan demikian masing-masing mengetahui bahwa kekuatan mereka berimbang. Maka untuk memenangkan pertempuran selanjutnya adalah terletak pada keprigelan dan ketinggian ilmu masing-masing.

Karena itu segera Bagus Handaka mempersiapkan dirinya. Ia merasa bahwa apabila orang itu dapat mengalahkannya, maka taruhannya adalah nyawanya. Ia tidak mau mati bergantungan di tengah-tengah Alas Roban, dan bangkainya nanti akan menjadi makanan burung gagak.

Sesaat berikutnya terjadilah pertempuran yang dahsyat. Masing-masing mempergunakan segenap tenaganya serta segenap ilmunya. Meskipun Bagus Handaka masih terlalu muda untuk melawan orang yang berjanggut dan berkumis lebat itu, namun karena latihan-latihan berat yang pernah dilakukan selama ini, maka ia pun tidak mengecewakan. Sebaliknya orang asing itu pun ternyata bukan pula seperti dua orang yang menyerangnya malam-malam sebelumnya. Sehingga dengan demikian perkelahian itu berlangsung dengan serunya. Hanya kadang-kadang saja Bagus Handaka dikejutkan oleh gerakan-gerakan yang aneh-aneh yang dilakukan oleh lawannya. Tetapi karena lawannya itu pun agaknya belum menguasai benar-benar ilmunya itu, sehingga pelaksanaannya masih belum seperti yang diharapkan. Bagus Handaka yang lincah dan kuat itu dapat untuk beberapa kali menyelamatkan diri dari serangan-serangan yang demikian.

Setelah mereka bertempur beberapa lama maka terasalah oleh Handaka bahwa meskipun kekuatan orang itu dapat menyamainya tetapi ia masih dapat membanggakan kelincahannya. Orang itu agaknya terlalu memberatkan serangan-serangannya pada kekuatan tenaga serta beberapa unsur geraknya yang meskipun berbahaya tetapi belum dapat dilakukannya dengan lancar. Karena itu lambat laun ia merasa bahwa ia akan dapat berhasil mengatasinya.

Sebaliknya orang asing itu akhirnya kehabisan akal. Semua ilmu serta tenaganya sudah dicurahkannya, namun ia sama sekali tidak berhasil menangkap anak yang dicarinya itu. Meskipun beberapa kali ia berhasil mengenai tubuh Bagus Handaka, namun ia sendiri dapat dikenai oleh anak itu dua kali lipat.

Dengan demikian maka sudah tidak ada harapan lagi baginya untuk memenangkan pertempuran itu. Maka akhirnya orang itu putus asa, dan menyerang membabi buta dengan ilmu andalannya. Dengan demikian bagi Bagus Handaka, malahan menguntungkan sekali. Sebab dengan membabi buta, lawannya telah kehilangan sebagian dari pengamatan diri serta kewaspadaan. Karena itulah agaknya Bagus Handaka semakin lama semakin berada dalam keadaan yang menguntungkan.

Tetapi hampir seperti kejadian-kejadian pada malam-malam sebelumnya, orang itu pun kemudian meloncat melarikan diri. Juga kali ini Bagus Handaka sama sekali tak berhasil mengejarnya. Apalagi orang aneh yang muncul dari dalam air itu berlari terjun ke dalam air pula.

Ketika orang itu lenyap, Bagus Handaka berdiri bertolak pinggang di batas air. Dadanya melonjak-lonjak dipenuhi oleh kemarahan, keheranan dan kengerian yang bercampur aduk. Tiga malam ia mengalami peristiwa yang disaput oleh kabut rahasia. Apakah kejadian ini akan berlangsung berlarut-larut…?

Tetapi jiwa keingintahuan Bagus Handaka tiba-tiba menguasai perasaannya kembali. Bagaimana dengan malam keempat? Kalau hal ini disampaikan kepada gurunya, mungkin kejadiannya akan berubah. Ia ingin melihat para penyerang itu datang berturut-turut sampai orang yang terakhir. Lalu apakah yang terjadi sesudah itu…?

Demikianlah kembali pada malam keempat. Bagus Handaka mencari-cari alasan untuk tidak terjun ke laut. Kawan-kawannya yang mengajaknya sama sekali tidak curiga bahwa Bagus Handaka sedang melakukan suatu perbuatan yang aneh namun sebenarnya penuh dengan bahaya.

Dan apa yang diharapkan kali inipun benar-benar datang pula.

Dengan penuh pertanyaan di dalam hati Bagus Handaka berjuang dengan sekuat tenaga untuk menangkap penyerangnya. Namun kali inipun ia tidak berhasil. Malahan orang keempat ini berhasil menghantam pergelangan tangan kirinya sehingga terasa sangat sakit. Untunglah bahwa akhirnya ia masih dapat mengalahkan orang itu, meskipun ia tidak pula berhasil menangkapnya.

Demikian pula pada malam kelima. Otak bagus Handaka rasa-rasanya hampir meledak memikirkan hal itu. Apalagi ketika orang kelima ini ternyata memiliki ilmu yang cukup tinggi.

Tidak seperti keempat orang sebelumnya, yang datang dari jurusan yang tidak sama, namun kedatangan mereka itu dapat diketahui sebelumnya, meskipun ada dua diantaranya yang datang dari jurusan yang aneh, dari laut. Tetapi orang kelima ini jauh lebih aneh lagi. Tahu-tahu orang itu sudah berdiri di belakang Bagus Handaka dengan suara garang dibarengi dengan suara tertawa yang menyeramkan ia berkata, “Bagus Handaka, kau mau melarikan dirimu kemana lagi. Berbulan-bulan aku mencarimu, dan sekarang aku menemukan kau di sini.”

Empat malam berturut-turut Bagus Handaka sudah bertempur dengan orang-orang yang tak dikenal, dan empat kali pula ia berhasil mengalahkan mereka. Namun kali ini bulu tengkuknya meremang juga. Wajah orang ini sama sekali bersih, hanya alisnya agak terlalu lebat dan hampir bertemu di atas hidungnya. Tetapi wajah yang bersih itu seakan-akan memancarkan udara maut dari setiap lubang-lubangnya.

Kemudian terdengar kembali orang itu berkata, “Ha, agaknya kau sudah ketakutan. Aku kira kau anak yang berani. Bukankah kau murid seorang perkasa yang menamakan dirinya Manahan? Sayang kalau murid Manahan sepengecut kau ini.”

Bagus Handaka adalah seorang anak yang berani. Meskipun hatinya tergetar pula menghadapi sesuatu, tetapi ia tidak akan menilai seseorang berlebih-lebihan. Apalagi orang itu telah menghinanya dengan menyebut-nyebut nama gurunya. Karena itu ia menjadi marah sekali. Dengan mulut yang terkatub rapat serta gigi yang gemeretak, Bagus Handaka tidak menanti orang itu selesai berkata. Seperti seekor banteng luka ia dengan dahsyatnya menyerang orang itu.

Orang yang mendapat serangan itu agaknya terkejut. Tetapi dengan tangkasnya ia menggeser kakinya sehingga ia terbebas dari serangan Bagus Handaka. Tetapi Bagus Handaka yang hatinya sudah terbakar oleh kemarahan itu, dengan cepatnya menyerang pula. Sekali lagi orang itu terpaksa mengelakkan diri, tetapi agaknya ia tidak mau diserang terus-menerus. Kemudian dengan garangnya ia pun menyerang kembali. Namun ternyata Bagus Handaka memiliki kelincahan yang cukup pula, sehingga serangan orang itu dapat dielakkannya. Kemudian terjadilah suatu pertempuran yang hebat. Masing-masing melancarkan serangan-serangan yang dahsyat dan berbahaya. Tetapi masing-masing ternyata memiliki kegesitan dan ketahanan yang cukup.

Bagus Handaka yang telah bertempur empat malam berturut-turut dan memenangkan setiap pertempuran, ternyata sangat mempengaruhi jiwanya. Ia semakin percaya kepada kekuatan dirinya sendiri. Dan perasaan yang demikian sangat membantu keadaannya pada malam kelima itu. Meskipun ia merasa bahwa orang kelima ini memiliki ilmu yang lebih tinggi dari orang-orang sebelumnya, namun hatinya yang telah dibesarkan oleh peristiwa-peristiwa empat malam sebelumnya menjadikannya tetap tatag dan tenang.

Tetapi suatu hal yang kurang menguntungkan bagi Bagus Handaka, adalah karena orang itu jauh lebih besar dan lebih tinggi, maka kesempatan orang itu untuk mengenainya agak lebih banyak. Tangan serta kakinya yang agak lebih panjang, ternyata mempengaruhi jalan pertempuran itu.

Rupa-rupanya orang itu mempergunakan keuntungan itu sebaik-baiknya. Ia selalu melawan serangan Bagus Handaka dengan serangan pula. Beberapa kali Bagus Handaka dapat dikenai dengan cara demikian sebelum tangannya sempat menyentuh tubuh orang itu. Sehingga Bagus Handaka menjadi semakin marah dan bertempur mati-matian.

Ternyata kali ini lawannya benar-benar tangguh. Orang itu licin seperti belut, serta lincah seperti singgat. Beberapa kali, apabila serangan-serangan Bagus Handaka agaknya sudah tidak dapat dihindari, tiba-tiba saja ia melenting beberapa langkah, dan kemudian dengan cara yang sama ia telah menyerang kembali.

Menghadapi serangan yang demikian Bagus Handaka merasa agak sulit. Dengan menjatuhkan diri ia mencoba membebaskan dirinya. Tetapi orang itu tidak membiarkan Bagus Handaka lolos. Dengan kakinya yang kokoh ia meloncat kearah dada anak itu. Sekali lagi Bagus Handaka berguling. Tetapi sekali lagi orang itu melakukan serangan yang sama pula sebelum Handaka sempat berdiri. Bagus Handaka kemudian menjadi agak gugup. Berapa kali ia harus bergulung-gulung di pasir pantai itu. Tiba-tiba ia teringat kepada lawan-lawannya yang pernah dikalahkannya. Ada beberapa unsur gerak yang dapat dikuasainya. Karena itu ketika sekali lagi Bagus Handaka mendapat serangan dengan cara yang sama, setelah ia berhasil menggeser tubuhnya, cepat-cepat ia menangkap pergelangan kaki lawannya. Dengan mempergunakan daya dorongnya sendiri, Bagus Handaka ternyata berhasil menjatuhkan orang itu, dengan menghantam betisnya. Ia sendiri pernah pula mengalami hal yang demikian. Ketika orang itu terjatuh dan berguling-guling, kesempatan itu cepat dipergunakan oleh Bagus Handaka untuk berdiri. Tetapi demikian ia berdiri, orang itupun dengan suatu gerak seperti roda yang bergulung telah berdiri di hadapannya pula. Bagus Handaka, melihat hal itu menjadi bertambah marah. Matanya menjadi merah menyala-nyala dan dadanya berdegupan. Dengan dahsyatnya ia melontar maju menyerang dada orang itu. Serangan itu demikian tak terduga-duga sehingga orang asing itu tak sempat mengelak. Karena itulah maka dadanya terpaksa terhantam hebat. Terhuyung-huyung ia terdorong beberapa langkah surut. Bagus Handaka tidak mau melepaskan kesempatan itu lagi. Dengan garangnya ia memburu dan sekali lagi menghantamnya. Sayang bahwa kali ini orang itu sempat memiringkan tubuhnya, sehingga serangan Bagus Handaka tidak mengenai sasarannya, bahkan ia sendiri hampir-hampir kehilangan keseimbangan. Dalam saat yang demikian, tampak lawannya mengayunkan tangannya dengan dahsyatnya. Melihat serangan itu, Bagus Handaka agak bingung. Tiba-tiba tanpa sadar Bagus Handaka telah mempergunakan unsur-unsur gerak yang pernah ditiru-tirukannya dari lawan-lawannya sebelumnya. Cepat ia sedikit merendahkan diri, menangkap tangan orang itu sambil memutar tubuhnya, dan dengan bantuan tenaga berat lawannya. Bagus Handaka menarik orang itu melampau pundaknya. Dengan kerasnya orang itu terlempar keatas lewat diatas pundaknya dan terbanting di pasir pantai.

Tetapi sekali lagi Bagus Handaka keheran-heranan. Demikian orang itu terbanting, demikian ia bergulung-gulung dan dengan cepatnya bangkit kembali. Namun sesaat kemudian ia sadar bahwa lawannya adalah orang yang luar biasa. Karena itu demikian orang itu berdiri, demikian kaki Bagus Handaka terlontar mengenai perutnya. Sekali lagi orang itu terdorong beberapa langkah ke belakang. Tetapi seterusnya ketika Bagus Handaka menyusul menyerang dagu orang itu, maka orang itu pun menghantamnya. Kali ini Bagus Handaka mengalami kembali hal yang sangat merugikannya. Tangannya agak lebih pendek dari tangan lawannya. Dengan demikian sebelum tangannya menyentuh dagu orang itu, terasa wajahnya seperti tersentuh bara. Dengan kerasnya wajahnya terangkat dan ia terlempar beberapa langkah surut, dan kemudian jatuh terlentang. Serangan itu disusul dengan suatu serangan yang garang sekali. Seperti seekor harimau, lawannya menerkam selagi Handaka belum sempat bangun. Maka tidak ada suatu cara yang mungkin untuk membebaskan dirinya kecuali dengan kedua kakinya Bagus Handaka menghantam tubuh orang yang seperti melayang ke arahnya. Akibatnya adalah bebat sekali. Orang itu terlempar ke udara. Kali ini Bagus Handaka juga menjadi keheran-heranan. Dengan gerak yang bagus orang itu melingkar di udara dan jatuh pada punggungnya untuk kemudian berguling dua kali. Setelah itu dengan cepatnya ia meloncat berdiri. Pada saat itu Bagus Handaka pun telah berdiri. Keringatnya mengalir membasahi seluruh tubuhnya, yang hampir seluruhnya terbalut oleh debu-debu pasir pantai. Sebenarnya Bagus Handaka pada saat itu telah menjadi gelisah sekali. Lawannya ternyata benar-benar licin seperti belut.

Tetapi kemudian terjadilah suatu hal di luar dugaan. Orang itu tiba-tiba menjadi gelisah dan liar. Nafasnya mengalir dengan derasnya. Bagus Handaka melihat keadaan itu, sehingga kelegaan membersit di hatinya. Ia tahu bahwa lawannya telah kehabisan tenaga. Karena itu ia tidak mau memberi kesempatan lagi. Cepat ia melangkah maju dan menyerangnya dengan hebat. Ternyata orang itu telah hampir tidak mampu melawannya. Beberapa kali Bagus Handaka berhasil menghantamnya sampai orang itu terhuyung-huyung dan roboh. Sekali lagi kegembiraan membayang di wajah Bagus Handaka. Orang yang hebat ini pasti akan dapat ditangkapnya. Tetapi ketika sekali lagi ia maju menyerang, tiba-tiba orang itu melemparkan segenggam pasir ke arah matanya. Cepat-cepat Handaka memalingkan mukanya, namun beberapa butir pasir telah menyebabkan matanya terasa nyeri sekali. Ketika ia sedang sibuk membersihkan mata itu, terasa sebuah hantaman mengenai punggungnya.

Untunglah bahwa tenaga orang itu, telah hampir separo lenyap, sehingga dengan demikian hantamannya telah tidak lebih dari sebuah dorongan saja. Meskipun demikian, karena Bagus Handaka sama sekali tidak menduga bahwa lawannya akan berbuat curang, menjadi sangat terkejut dan jatuh tertelungkup. Dengan marahnya Handaka cepat memutar tubuhnya, untuk menanti serangan berikutnya, yang dapat saja dilakukan dengan curang oleh lawannya itu.

Tetapi Bagus Handaka menjadi terkejut sekali sehingga tubuhnya menjadi gemetar. Orang yang sudah kehabisan tenaga dan hampir saja dapat ditangkapnya itu lenyap seperti debu dibawa angin. Beberapa kali Bagus Handaka mengusap-usap matanya yang masih terasa agak nyeri, tetapi orang itu benar-benar telah lenyap. Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk di atas pasir. Dilayangkannya pandangannya ke segenap malam, tetapi di pantai yang luas itu, pastilah ia tak dapat melihat seseorang. Bulu tengkuknya tiba-tiba terasa meremang. Meskipun ia selama ini mendapat didikan untuk tidak takut kepada hantu, namun mengalami peristiwa ini, hatinya bergetar juga.

Kecuali itu, terasa pula kengerian merayapi perasaannya. Untunglah kali ini ia masih dapat membebaskan diri, meskipun hampir saja ia kehilangan akal.

Lalu bagaimana dengan malam besok?

Sekarang Bagus Handaka tidak berani main-main lagi. Kalau besok datang seseorang menyerangnya, dan memiliki sedikit saja kelebihan dari orang ini, maka pasti ia tidak dapat melawannya. Sedangkan kalau para penyerang itu dapat menangkapnya, hampir pasti bahwa dirinya benar-benar akan digantung di tengah-tengah Alas Roban.

Karena itu akhirnya Bagus Handaka memutuskan untuk menyampaikan segala peristiwa yang pernah dialami itu kepada gurunya, serta menyerahkan segala penyelesaiannya kepadanya.

Pada saat Bagus Handaka melangkah pulang ke pondoknya, terdengarlah ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Di langit sebelah timur sudah mulai tampak membayang warna fajar, diantar oleh angin pagi yang sejuk. Namun tubuh Bagus Handaka justru mulai merasa nyeri dan sakit-sakit. Empat malam sebelumnya ia bertempur terus-menerus, tetapi tidak pernah ia merasakan lelah, letih dan sakit-sakit seperti saat itu.

Sampai di pondok, ia melihat Manahan telah bangun dan menunggui api. Agaknya ia sedang merebus air. Cepat-cepat Bagus Handaka mendekatinya dan berkata, “Bapak, biarlah aku yang merebus air dan jagung.”

Manahan tersenyum melihat kedatangan Bagus Handaka, katanya bertanya, “Apakah kau turun ke laut Handaka?”

“Tidak, Bapak,” jawab Handaka singkat.

“Dari pantai…?” tanya Manahan lebih lanjut. Bagus Handaka menganggukkan kepalanya. Dalam cahaya api barulah Bagus Handaka melihat tubuhnya merah-merah biru dan berdarah di beberapa tempat. Ketika Manahan melihat luka-luka itu, serta melihat wajah Handaka yang pucat dan nafasnya yang kurang teratur, ia menjadi keheran-heranan. Maka kemudian ia bertanya, “Handaka, apakah yang terjadi? Apakah kau berselisih dengan kawan-kawanmu, sehingga kau berkelahi?”

“Tidak, Bapak,” jawab Handaka.

“Lalu kenapa kau?” desak Manahan.

Bagus Handaka yang memang telah berkeputusan untuk menyampaikan keadaan yang dialaminya lima malam berturut-turut itu pun segera duduk disamping Manahan, dan segera mengalirlah ceritera dari mulutnya. Sejak malam pertama sampai malam terakhir, lengkap dengan bentuk-bentuk wajah dari orang-orang yang menyerangnya.

Mendengar ceritera Bagus Handaka itu, Manahan menarik alisnya. Memang ia pun menjadi keheranan-heranan, apakah pamrih orang-orang itu menyerang Bagus Handaka.

“Handaka…, kenapa kau baru sekarang mengatakan semua kejadian itu kepadaku?” tanya Manahan.

Dengan jujur Handaka mengatakan segala keinginannya untuk mengetahui kelanjutan peristiwa-peristiwa itu, serta keinginannya untuk menyelesaikan masalah itu sendiri.

Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya di dalam hatinya berkobar pula kemarahan ketika ia mendengar bahwa orang kelima yang menyerang Bagus Handaka itu telah menyebut-nyebut namanya. Padahal pada saat orang itu ia hanya melawan seorang anak-anak.

“Handaka…” kata Manahan kemudian, “Pergilah kau besok sekali lagi ke pantai. Aku akan melihat siapakah yang selalu datang itu.”

Mendengar kesanggupan gurunya, Handaka menjadi bergembira. Besok apabila benar-benar ada seseorang yang datang menyerangnya, meskipun kepandaiannya berlipat tiga, namun pasti orang itu akan dapat ditangkap oleh gurunya. Karena itu ia tersenyum-senyum sendiri. Dipandanginya api yang berkobar-kobar di hadapannya, yang bergerak-gerak seolah-olah menari-nari riang. Dan sebentar kemudian mendidihlah air yang dipanasinya. Segera ia bangkit untuk mengambil daun serai serta gula kelapa. Itulah kegemaran gurunya, air serai bergula kelapa.

Hari itu rasa-rasanya panjang sekali bagi Bagus Handaka. Matahari seolah-olah menjalani garis edar dengan malasnya. Sehari itu ia merasa amat malas untuk bermain-main dengan kawan-kawannya. Dihabiskannya waktunya dengan berangan-angan. Namun akhirnya, perlahan-lahan datanglah senja. Langit yang cerah dengan gumpalan-gumpalan mega yang berarak-arak mulai dirayapi oleh warna-warna lembayung. Bagus Handaka yang hampir tidak sabar itu memaki-maki di dalam hati. Kenapa kedatangan malam tidak saja langsung tanpa melewati senja?

Setelah melampaui masa-masa yang menjengkelkan, kemudian malam turun dengan tabir hitamnya. Bagus Handaka segera berangkat ke pantai, dimana ia biasa duduk-duduk memandangi ombak lautan. Manahan sengaja tidak berangkat bersama-sama supaya kehadirannya tidak diketahui. Ketika Manahan telah sampai di pantai pula, segera ia bersembunyi dengan membaringkan dirinya di belakang sebuah puntuk pasir tak begitu jauh dari Bagus Handaka.

Bersamaan dengan semakin gelapnya malam, hati Bagus Handaka menjadi semakin tegang dan gelisah. Jangan-jangan orang-orang yang menyerangnya telah mengetahui bahwa gurunya berada di tempat itu, sehingga para penyerang itu tidak berani mendekatinya.

Dan dalam kesempatan itu, ia mencoba pula mengingat-ingat kelima orang yang datang berturut-turut setiap malam. Masing-masing menyatakan bahwa mereka satu sama lain tidak berhubungan. Sejak semula ia sudah tidak percaya. Tetapi yang mengherankan, bahwa seolah-olah kedatangan mereka telah diatur sedemikian, sehingga setiap orang yang datang pasti memiliki kepandaian setingkat lebih tinggi dari orang sebelumnya. Tiba-tiba ketika sedang berangan-angan, Bagus Handaka dikejutkan oleh suara tertawa dekat di sampingnya. Suara itu terdengar nyaring dan menggetarkan hatinya. Cepat ia meloncat bangkit dan bersiap. Perasaannya telah mengatakan kepadanya bahwa orang ini pasti salah seorang yang datang untuk menyerangnya pula seperti malam-malam yang lewat. Ketika ia memandang wajah orang itu, hatinya menjadi bertambah berdebar-debar. Wajah orang itu sama sekali tidak mirip dengan wajah manusia. Barangkali demikian itulah wajah hantu yang ditakuti oleh anak-anak. Beberapa bintil-bintil sebesar biji rambutan bertebaran hampir di seluruh wajah itu. Gigi-giginya tampak berleret pada saat orang itu tertawa.

Kemudian disela-sela tertawanya ia berkata, “Siapakah nama anak muda yang bermain-main di pantai di malam hari…?”

Meskipun sebenarnya Bagus Handaka ngeri juga melihat wajah itu, namun karena ia merasa bahwa gurunya berada di dekatnya, hatinya menjadi tabah pula. Maka jawabnya lantang, “Kenapa kau bertanya? Kau pasti sudah tahu pula siapa aku. Dan kau pasti akan menangkapku seperti yang pernah dilakukan oleh lima orang sebelum kau datang, pada malam-malam sebelum malam ini.”

Mendengar kata-kata Bagus Handaka itu, tertawanya menjadi bertambah keras. Katanya, “Bagus… bagus, jadi sebelum ini telah datang lima orang mendahului aku? Agaknya monyet-monyet itu ingin menerima hadiah pula dengan menangkap anak ini. Dan kau dapat mengalahkan mereka berlima?”

“Mereka datang satu-persatu,” jawab Handaka.

“Alangkah bodohnya mereka,” sambung orang berwajah iblis itu. “Tentu kau dapat mengalahkannya.”

“Jangan banyak bicara,” potong Bagus Handaka dengan beraninya, “Jangan coba bohongi aku. Kau pasti telah bersekongkol dengan mereka. Dan barangkali kau malam ini akan mencoba menangkap aku bersama-sama. Ayo datanglah berenam.”

Kembali orang yang menakutkan itu tertawa berderai-derai sampai seluruh tubuhnya bergetar. Katanya, “Hebat, kau memang hebat. Tetapi jangan terlalu sombong. Sebab malam ini nyawamu benar-benar akan lenyap. Aku harus menangkap kau, mati atau hidup. Meskipun kalau aku membawamu hidup-hidup hadiahnya akan berlipat banyaknya. Sebab pertunjukan membunuh Bagus Handaka akan dapat mendatangkan uang yang banyak sekali.”

Tanpa sadar, bulu tengkuk Bagus Handaka serentak berdiri. Perkataan orang berwajah menakutkan itu sangat mempengaruhi perasaannya. Apakah sebenarnya latar belakang dari semua kejadian ini? Kenapa orang itu menyebut-nyebut pertunjukan membunuh Bagus Handaka? Mau tidak mau Bagus Handaka menjadi ngeri juga. Ia sudah membayangkan dirinya diikat di tengah-tengah lapangan, kemudian setiap orang diperkenankan untuk melukainya, sampai mati. Tetapi apa salahnya?

Tiba-tiba ia menjadi marah sekali. Ini hanyalah suatu gertakan saja. Karena itu ia menjawab sambil berteriak keras-keras, “Jangan coba-coba takut-takuti aku.” Namun demikian terasa suara Handaka bergetar pula.

Mendengar teriakan Bagus Handaka, orang itu sekali lagi tertawa keras-keras. “Jangan berbohong pula. Kau sudah ketakutan bukan? Bagus…, semakin takut kau, semakin lucu pertunjukan itu jadinya.”

Sekarang Bagus Handaka benar-benar menjadi marah sekali. Ternyata orang itu telah menghinanya. Karena itu segera ia meloncat dan langsung menyerang leher dengan jari-jarinya.

Orang itu, yang masih enak tertawa, ternyata terkejut melihat kecepatan bergerak Bagus Handaka, sehingga tertawanya segera terhenti. Desisnya, “Memang kau anak berani. Tetapi hati-hatilah.” Sambil berkata demikian ia merendahkan dirinya, dan dengan kakinya ia menghantam lambung Bagus Handaka. Bagus Handaka yang menyerang dengan sekuat tenaga, tidak sempat menarik serangannya, maka yang dapat dilakukan adalah memukul kaki itu dengan tangannya ke samping. Ternyata usahanya berhasil pula. Orang itu terputar sedikit dan dengan demikian lambungnya dapat diselamatkan, meskipun tangannya yang berbenturan dengan kaki orang itu terasa sakit. Dengan demikian Bagus Handaka segera dapat mengetahui, bahwa orang ini mempunyai ilmu diatas orang-orang yang pernah menyerangnya. Tetapi meskipun demikian ia sama sekali tidak gentar ketika diingatnya bahwa gurunya telah menungguinya. Mengingat hal itu, segera Bagus Handaka menjadi bertambah tatag, karena itu serangannya menjadi bertambah sengit. Tetapi perlawanan orang itu bertambah sengit pula. Bahkan ia pun telah menyerangnya dengan gerak-gerak yang sangat membingungkan dan berbahaya sekali. Namun ternyata Bagus Handaka telah memberikan perlawanan dengan gigih. Setiap serangan yang datang, bagaimanapun berbahayanya, Handaka selalu dapat menghindarkan dirinya. Malahan tidak jarang pula iapun berhasil membalas serangan-serangan itu dengan serangan-serangan yang tak kalah berbahayanya. Namun serangan-serangan itu pun selalu tidak berhasil pula.

Maka pertempuran itu semakin lama menjadi bertambah hebat dan cepat. Masing-masing menyerang dan menghindar berganti-ganti, sehingga tampaknya kedua orang itu seperti bayangan yang sedang libat-melibat dengan cepatnya, semakin lama semakin cepat. Tetapi kemudian ternyata bahwa Bagus Handaka tidak dapat menyamai kecepatan gerak lawannya, sehingga tiba-tiba terasa punggungnya terdorong oleh suatu kekuatan yang besar sekali. Dengan derasnya ia terlempar ke udara. Mengalami peristiwa itu hati Bagus Handaka berdesir. Untuk beberapa saat ia menjadi bingung. Tetapi untunglah bahwa otaknya yang cerdas dapat bekerja dengan cepat. Ia pernah menyaksikan lawannya terlempar ke udara pula, namun ia dapat jatuh dengan enaknya, seolah-olah sama sekali tidak terasakan sesuatu. Maka tanpa dikehendakinya sendiri Bagus Handaka menirukan gerak-gerak yang pernah disaksikannya itu. Cepat-cepat ia berusaha melingkarkan diri dan menjatuhkan diri pada punggungnya, yang kemudian dilanjutkan dengan berguling sampai dua kali. Setelah itu ia melenting berdiri.

Untunglah bahwa Bagus Handaka telah dibekali dengan olah keprigelan yang cukup, serta kekuatan jasmaniah yang besar, sehingga meskipun gerak-geraknya masih belum sempurna, namun ia tidak pula mengalami sesuatu.

Melihat cara Bagus Handaka membebaskan diri dengan cara yang demikian, terdengar lawannya tertawa keras-keras sambil berkata, “Hai monyet kecil, dari mana kau belajar berjungkir balik demikian…? Untunglah bahwa kau mengenal cara yang baik untuk menyelamatkan dirimu.”

Bagus Handaka tidak sempat menjawab kata-kata itu. Dengan darah yang mendidih ia meloncat maju kembali untuk menyerang lawannya sejadi-jadinya. Tangannya bergerak berganti-ganti mengarah ke segenap tubuh lawannya, sedang kakinya bergerak dengan lincahnya di atas pasir pantai. Tetapi ternyata lawannya tidak kalah lincah pula.

Karena itu, maka untuk beberapa lama serangan-serangannya tidak dapat menyentuh tubuh lawannya sama sekali. Bahkan ketika ia mencoba untuk menyerang mata lawannya dengan jarinya, maka tiba-tiba terasa kepalanya berguncang hebat. Guncangan yang pertama, disusul dengan yang kedua. Untunglah dalam keadaan terakhir Bagus Handaka masih sempat melihat sebuah kepalan tangan sekali lagi mengarah ke pelipisnya. Cepat-cepat ia memalingkan wajahnya. Tangan itu dengan derasnya menyambar tidak lebih dari tebal daun padi di muka hidungnya. Untunglah bahwa Bagus Handaka masih dapat bekerja cepat. Tangan itu segera ditangkapnya, serta sambil merendahkan diri ia pergunakan tenaga dorong serta berat badan lawannya sendiri untuk membantingnya ke tanah lewat pundaknya. Dengan kerasnya orang itu terpelanting. Tetapi meski ia jatuh terlentang namun ia berusaha jatuh di atas kedua kaki serta pundaknya saja yang menyentuh tanah. Bagus Handaka tidak mau membiarkannya dalam sikap yang demikian, cepat-cepat ia menyerang lagi lawannya sebelum sempat memperbaiki keadaannya. Dengan kakinya ia menghantam dada orang yang masih terlentang itu. Gerak Bagus Handaka sedemikian cepatnya sehingga lawannya tidak sempat menghindarinya. Maka terdengarlah keluhan pendek. Tetapi sesaat kemudian kaki lawannya itu dengan cepatnya menyapu kakinya, sehingga Bagus Handaka jatuh terbanting pula.

Ketika ia kemudian tegak, lawannya telah berdiri di hadapannya pula. Bahkan dengan suatu lontaran dahsyat ia menyerang ke arah dadanya. Dengan cepatnya Bagus Handaka merendahkan dirinya, dan bersamaan dengan itu ia menjulurkan kakinya lurus-lurus, sehingga dengan demikian ia berhasil mengenai perut lawannya. Agaknya lawannya sama sekali tidak menyangka bahwa Bagus Handaka akan menyerang selagi ia melakukan serangan yang sedemikian cepat. Karena itu ia terdorong keras beberapa langkah surut disusul dengan serangan Bagus Handaka yang dahsyat pula.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung semakin hebat dan cepat. Pada malam kelima, Bagus Handaka yang hampir merasa dapat dikalahkan, ternyata memiliki nafas yang lebih baik dari lawannya sehingga akhirnya lawannya menjadi lemas karena kehabisan nafas. Tetapi orang keenam ini agaknya mempunyai nafas lebih baik dari kuda. Karena itu semakin lama terasa Bagus Handaka semakin terdesak, tenaganya semakin lama semakin berkurang pula setelah ia berjuang mati-matian untuk mempertahankan dirinya. Akhirnya pertempuran itu pun menjadi berat sebelah. Beberapa kali Bagus Handaka terpaksa terlempar, terbanting dan kadang-kadang perutnya terasa terguncang-guncang hebat. Dari mulut serta hidung melelehlah darah segar.

Sampai sedemikian jauh Bagus Handaka tidak melihat gurunya datang membantunya. Bahkan ketika matanya sudah mulai berkunang-kunang pun Manahan masih belum menampakkan dirinya. Ia menjadi keheran-heranan. Apakah sebenarnya maksud Manahan dengan membiarkannya demikian? Seolah-olah segenap sisa-sisa tenaganya ia tetap melawan dengan beraninya. Sampai beberapa saat kemudian ketika ia terbanting diatas pasir dan seolah-olah ia sudah sama sekali tidak dapat bergerak lagi, dilihatnya orang berwajah menakutkan itu tertawa berderai sambil selangkah demi selangkah mendekatinya. Bagus Handaka tidak tahu lagi bagaimana ia harus melawan. Tangannya serasa sudah membeku dan darahnya seolah-olah sudah tidak mengalir lagi.

Dalam keadaan yang demikian tiba-tiba orang itu, yang sudah tinggal beberapa langkah dari padanya, terhenyak dan memandang ke suatu titik. Maka sekali lagi meledaklah tertawanya yang mengerikan, disusul dengan suaranya yang menggelegar, “Hai, kaukah itu? Jadi kau datang pula untuk membantu muridmu…?”

Mendengar suara orang itu, melonjaklah sebuah kegembiraan di hati Bagus Handaka. Agaknya gurunya telah datang. Dan apa yang diduganya adalah benar. Ketika ia mengangkat mukanya, dilihatnya Manahan berjalan dengan tenangnya ke arah orang yang berwajah mirip hantu itu. Melihat gurunya datang, tiba-tiba Bagus Handaka merasa bahwa akan datanglah saatnya ia mengetahui latar belakang dari semua peristiwa-peristiwa itu.

Ketika Manahan telah berdiri di muka orang berwajah jelek itu terdengarlah orang berwajah menakutkan itu berkata, “Kaukah yang bernama Manahan?”

Manahan menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Kenapa kau tanyakan itu? Bukankah kau sudah pasti bahwa guru Bagus Handaka bernama Manahan?”

Kembali terdengar orang itu tertawa berderai sehingga suaranya memenuhi pantai. “Aku tidak mengira bahwa Manahan orangnya seperti kau ini.”

Terdengarlah Manahan menjawab sambil tersenyum, “Lalu dari mana kau tahu bahwa aku bernama Manahan?”

“Karena kau datang pada saat Bagus Handaka sudah tidak dapat bergerak lagi. Aku kira tidak ada orang lain yang akan menolongnya, selain gurunya,” sahut orang itu.

“Lalu apa anehnya aku ini?” tanya Manahan pula.

“Aku jadi kecewa melihat tampangmu. Seharusnya kau berwajah seperti asahan batu, berkumis lebat dan bertubuh seperti orang hutan. Supaya ujudmu sesuai dengan namamu yang terkenal itu.”

“Tak ada orang yang mengenal aku sebagai seorang yang seharusnya bertubuh demikian. Aku adalah seorang petani yang tidak lebih dari menggarap sawah setiap hari,” jawab Manahan.

Mendengar jawaban Manahan yang masih bernada dingin itu, Bagus Handaka bertambah heran pula. Kenapa gurunya tidak saja langsung menghantamnya sampai pingsan. Apalagi orang itu telah menghinanya pula.

Kemudian, dalam gelap malam Handaka melihat orang berwajah menakutkan itu menyeringai, benar-benar seperti hantu. Namun Manahan sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Bahkan masih saja ia tersenyum-senyum.

“Bagus…. Kau adalah seorang petani yang baik, Manahan. Pekerjaan petani adalah pekerjaan yang mulia pula. Tanpa petani maka banyaklah orang yang kelaparan. Tetapi daerah pertanian bukankah daerah pelarian? Apabila seseorang telah berputus asa dalam melaksanakan tugasnya sendiri, maka kemudian orang itu menerjunkan diri dalam daerah pertanian. Bukankah demikian…?”

Mendengar kata-kata orang itu tampaklah wajah Manahan berkerut. Segera senyumnya lenyap dari bibirnya. Namun tak sepatah katapun ia menjawab. Sehingga kemudian terdengar orang yang menakutkan itu meneruskan, “Atau barangkali kau sudah bercita-cita untuk menjadi seorang tuan tanah yang kaya raya, yang dapat menandingi kekayaan demang Gunung Kidul?”

———-oOo———-

III

Hampir terlonjak Manahan mendengar kata-kata itu. Juga Bagus Handaka menjadi keheran-heranan. Kemana arah bicara orang yang berwajah hantu itu. Tetapi ia menjadi semakin tidak sabar ketika ia masih saja melihat Manahan tegak seperti patung. Bahkan kemudian ia menjadi bertambah tidak mengerti ketika kemudian orang itu berkata, “Bagus Handaka…, untunglah gurumu datang, sehingga aku tidak berhasil menangkap kau untuk satu pertunjukan yang menarik di daerahku. Tetapi hati-hatilah lain kali aku datang lagi.”

Setelah itu segera ia meloncat dan melarikan diri seperti terbang di gelap malam.

“Bapak…!” teriak Bagus Handaka.

Manahan memandang anak itu dengan wajah yang dingin pula.

Sambil berdiri perlahan-lahan Bagus Handaka mendekati gurunya sambil berkata pula, “Kenapa Bapak membiarkan orang itu pergi? Selama ini aku ingin menangkap salah seorang diantaranya. Dengan hadirnya Bapak di sini aku mengharap bahwa aku akan dapat mengetahui alasan mereka menyerang aku. Tetapi Bapak membiarkan orang itu pergi.”

“Bagus Handaka,” kata Manahan tidak menjawab pertanyaan anak itu. “Bagaimana keadaan tubuhmu?”

“Sakit, Bapak,” jawabnya agak jengkel. “Tetapi bagaimana dengan orang tadi?”

“Kau sudah dapat bergerak kembali?” sambung Manahan tanpa menghiraukan kata-kata Bagus Handaka.

“Sudah, Bapak…” jawab Handaka masih belum mengerti.

“Bagus…. Bersiaplah. Aku adalah orang ketujuh yang akan menangkapmu,” kata Manahan tiba-tiba.

“Bapak… apakah artinya ini?” tanya Handaka semakin bingung.

“Aku adalah orang ketujuh yang akan menangkap kau dan akan menyerahkan kau kepada orang yang menyuruh mereka datang berturut-turut selama enam malam. Aku sekarang sudah tahu, siapakah orang yang berdiri di belakang mereka. Dan aku juga ingin menerima hadiah itu supaya aku dapat kaya-raya seperti Demang Gunung Kidul. Jelas?”

Handaka mendengar kata-kata gurunya seperti orang bermimpi. Tetapi tiba-tiba ia melihat gurunya benar-benar bersiap untuk menyerangnya. Sehingga ia menjadi bertambah bingung.

“Handaka…” kata Manahan kemudian, “Terserahlah padamu, apakah kau masih ingin hidup atau tidak. Aku tidak mempunyai kepentingan dengan kau lagi. Kau harus melawan aku. Kalau tidak, aku akan membawamu hidup-hidup. Kalau kau mau melawan, aku beri kau keringanan. Aku akan membawa kau setelah kau aku binasakan, supaya kau tidak menjadi bahan pertunjukan.”

Agaknya Handaka sadar bahwa ia tidak bermimpi. Ia harus memilih dua hal yang sama-sama tak dikehendaki. Karena itu ia menjadi bingung sekali. Tetapi ia tidak sempat berpikir-pikir lebih lanjut. Sebab tiba-tiba gurunya telah melangkah dan menghantam lambung. Maka dengan gerak naluriah Handaka menghindarkan diri. Dengan kekuatan yang ada padanya ia melenting tinggi dan kemudian jatuh berguling-guling menjauhi gurunya. Tetapi Manahan mengejar terus sambil melepaskan serangan-serangan yang sangat berbahaya dan bersungguh-sungguh. Ia memang pernah berlatih dengan gurunya seperti ia harus berkelahi sungguh sungguh, namun terasa bahwa selama itu gurunya selalu menyesuaikan diri dengan gerak-geraknya. Tetapi kali ini Manahan benar-benar telah menyerangnya dengan pukulan-pukulan yang dapat membinasakan.

Karena itu, Bagus Handaka menjadi benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan kecuali meloncat-loncat berlari, berguling dan cara-cara lain untuk menghindari serangan-serangan Manahan. Namun demikian Manahan menyerang terus seperti orang kehilangan akal.

Tetapi kemudian muncullah suatu pikiran yang agak jernih dalam otak Bagus Handaka. Tiba-tiba ia merasa bahwa saat ini adalah saat terakhir baginya untuk menunjukkan kepada gurunya, ketekunan serta kesungguhannya selama ini dalam menerima segala ilmu serta pelajarannya.

Ia sudah pasti, bahwa kalau benar-benar gurunya akan membunuhnya, maka saat terakhir ini akan dipergunakan sebaik-baiknya. Ia harus dapat menunjukkan kepada gurunya hasil-hasil yang telah dicapainya dalam olah kanuragan.

Meskipun Handaka menjadi semakin tidak mengerti kepada sifat-sifat gurunya, karena ketakutan-ketakutannya yang kadang-kadang aneh, misalnya beberapa tahun yang lalu, tiba-tiba saja ia ditinggal berlari jauh sekali sampai ia merasa bahwa tidak akan mungkin dapat menemukannya, tetapi tiba-tiba gurunya itu, yang pada saat itu bernama Mahesa Jenar datang kembali kepadanya, yang kemudian untuk beberapa tahun melatihnya dengan tekun. Sekarang tiba-tiba gurunya itu berbuat keanehan lagi. Tetapi agaknya kali ini gurunya tidak lagi bermain-main. Sebab apabila ia lengah, maka pastilah nyawanya akan melayang.

Namun demikian, apabila hal itu sudah dikehendaki oleh gurunya, maka yang dapat dilakukan adalah menyenangkan hati gurunya pada saat terakhir itu. Ia harus menunjukkan kepada gurunya hasil pelajaran yang diterimanya selama ini dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian ia akan dapat membesarkan hati gurunya itu yang telah berjerih payah mendidiknya.

Mendapat pikiran yang demikian, maka tiba-tiba Bagus Handaka merasa seolah-olah telah menerima segala kekuatannya kembali. Seolah-olah badannya merasa bertambah segar dan sehat. Tanpa mengenal ketakutan atas kematian yang bakal datang, Handaka kemudian bergerak dengan cepat seperti seorang anak-anak yang menari-nari riang menjelang ayahnya pulang dari rantau.

Dengan demikian maka ia telah berbuat sebaik-baiknya untuk melawan gurunya yang sangat disegani serta dicintainya itu.

Maka, pertempuran itu segera berjalan semakin cepat. Bagus Handaka telah berusaha untuk mengurangi tekanan Manahan dengan menyerangnya pula berkali-kali. Ia tiba-tiba saja merasa bahwa ia telah dapat melayani gurunya jauh lebih baik daripada saat-saat yang lampau. Dengan tangkasnya ia menyerang, melenting, kemudian melingkar di udara kalau kebetulan ia terlempar oleh pukulan-pukulan gurunya yang dahsyat. Ia sudah berusaha sebaik-baiknya.

Dalam keadaan yang demikian, setitik pun tak ada maksud Handaka untuk mencoba menyelamatkan dirinya. Sebab adalah tidak mungkin sama sekali baginya berbuat demikian. Jadi yang dilakukan itu adalah benar-benar suatu pernyataan kebaktian seorang murid terhadap gurunya. Sebab bagaimanapun, Manahan adalah gurunya.

Manahan adalah seorang yang perkasa, yang pernah menjabat sebagai seorang perwira pasukan pengawal raja. Karena itu kemampuannya pun luar biasa. Apalagi sebenarnya tenaga Bagus Handaka telah berada jauh di bawah kekuatannya, karena sebelumnya ia sudah harus bertempur mati-matian melawan seorang yang berwajah seperti hantu.

Daya perlawanan Bagus Handaka pun segera tampak surut. Dengan demikian maka serangan-serangan Manahan pun semakin banyak mengenai tubuhnya.

Meskipun demikian, Bagus Handaka sama sekali tidak mengeluh. Dengan tenaganya yang semakin lama semakin lemah itu ia tetap melawan sedapat-dapatnya.

Tetapi apa yang dapat dilakukannya adalah tidak seberapa lama. Sebuah serangan Manahan yang dahsyat datang mengarah ke lambungnya. Dengan tenaga yang masih ada padanya, Bagus Handaka mencoba menghindari serangan itu dengan memiringkan tubuhnya, tetapi ia tidak berhasil. Dengan kerasnya ia terlempar beberapa langkah dan kemudian jatuh terbanting. Yang dapat dilakukannya hanyalah mencoba menyelamatkan tubuhnya dengan berusaha menjatuhkan diri sebaik-baiknya. Dan apa yang diusahakan itu sebagian dapat berhasil. Namun setelah itu, kembali seluruh tulang-tulangnya terasa telah terlepas. Tubuhnya menjadi lemas dan darahnya seolah-olah tidak mengalir lagi. Bagaimanapun ia berusaha namun ia sudah tidak mampu lagi menggerakkan bagian-bagian dari tubuhnya. Meskipun demikian, Bagus Handaka tetap tidak mengeluh sama sekali. Dengan dada menengadah ia menanti apapun yang bakal terjadi. Sekilas dilihatnya langit yang biru gelap ditaburi bintang-bintang seperti jutaan lampu yang tergantung jauh sekali di udara, dengan sinarnya, yang berkedip-kedip mengelilingi bintang raksasa Bima Sakti yang melintang ke utara.

Kemudian dilihatnya gurunya, yang diakunya sebagai ayahnya setelah ayahnya yang sebenarnya pergi meninggalkannya, berjalan mendekatinya. Dan Bagus Handaka telah siap menerima apapun yang akan dilakukan oleh gurunya itu, meskipun untuk sesaat terlintas pula wajah-wajah ayahnya Gajah Sora. Ibunya, serta wajah-wajah yang pernah dikenalnya. Wajah-wajah bengis yang pernah akan membunuhnya pada saat ia ditolong oleh seorang yang menamakan dirinya Sarayuda, serta wajah keenam orang yang datang berturut-turut menyerangnya. Dan sekarang yang berada di depannya adalah gurunya, Manahan yang sebenarnya dikenalnya dengan nama Mahesa Jenar, yang menyatakan dirinya sebagai orang yang ketujuh.

Dengan sekuat tenaga perasaannya, Bagus Handaka mencoba melenyapkan semua bayangan yang berturut-turut datang mengganggu otaknya. Dipusatkannya pikirannya untuk menghadapi apapun yang bakal terjadi, dengan tabahnya.

Dan tiba-tiba dirasanya tangan gurunya itu meraba-raba tubuhnya. Memijat-mijat tangannya dan kemudian dengan suara yang rendah berkata, “Tidakkah kau dapat bergerak lagi Handaka?”

Dengan mata yang cerah, Bagus Handaka memandangi wajah gurunya. Jawabnya,  “Aku sudah berusaha sebaik-baiknya, Bapak.”

Kemudian tampaklah Manahan merenungi anak itu. Alisnya yang lebat bergerak-gerak karena kerut-kerut di keningnya. Seolah-olah ia sedang menghitung setiap titik di permukaan tubuh muridnya. Sesaat kemudian terdengarlah Manahan menarik nafas dalam-dalam serta mengangguk-anggukkan kepalanya.

Lalu terdengar ia bertanya kembali, “Adakah dengan cara demikian kau melawan orang-orang yang menyerangmu enam malam berturut-turut?”

Bagus Handaka tidak segera mengerti maksud pertanyaan gurunya. Karena untuk beberapa saat ia tidak menjawab, terdengar kembali Manahan berkata, “Ingat-ingatlah apa yang telah kau lakukan selama enam malam berturut-turut.”

Bagus Handaka semakin tidak mengerti. Tetapi ia menjawab juga, “Bapak, selama itu aku pun telah berusaha sebaik-baiknya melawan mereka. Bahkan aku sudah mencoba untuk menangkap salah seorang diantaranya. Tetapi aku tidak berhasil.”

Sekali lagi Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya, sedangkan Bagus Handaka menjadi bertambah bingung. Apalagi ketika kemudian dilihatkan gurunya tersenyum sambil membangunkannya. “Duduklah Handaka. Dan cobalah menggerak-gerakkan tubuhmu perlahan-lahan.” Dengan otak yang dipenuhi oleh berbagai pertanyaan, Bagus Handaka mencoba sedapat-dapatnya untuk bangun dan kemudian bertahan duduk di atas pasir pantai. Adakah gurunya menunggu sampai ia mampu untuk melawannya kembali…?

Tetapi, ternyata Manahan tidak berbuat demikian. Juga ternyata gurunya itu tidak membunuhnya. Malahan kemudian gurunya itu duduk pula di sampingnya dan dengan wajah yang jernih berkata, “Sudahkah kau ingat keenam orang yang menyerangmu?

Sambil mengangguk, Bagus Handaka menjawab sekenanya saja, “Sudah, Bapak.”

“Baik..”. sahut Manahan, “Kau pernah berkata kepadaku tentang wajah-wajah dari kelima orang itu, sedang orang yang keenam telah aku saksikan sendiri. Tetapi kau belum pernah menceriterakan kepadaku bagaimanakah bentuk tubuh kelima orang yang menyerangmu itu.”

Untuk sesaat Bagus Handaka jadi termenung. Memang selama itu ia belum pernah menyebut-nyebut bentuk tubuh lawan-lawannya. Dan sekarang tiba-tiba gurunya menanyakan hal itu. Maka dicobanya sekali lagi untuk membayangkan kembali kelima orang itu berturut-turut.

“Bagaimanakah dengan orang yang pertama?” tanya Manahan.

Dengan masih mencoba mengingat-ingat orang itu Bagus Handaka menjawab, “Orang itu bertubuh tegap tinggi dan berdada bidang.”

“Orang kedua?” desak Manahan.

Dengan mengingat-ingat mengerti sepenuhnya maksud pertanyaan gurunya, karena itu setelah merenung beberapa lama ia menjawab hampir berteriak, “Semuanya bertubuh tegap tinggi dan berdada bidang.”

“Lalu bagaimanakah pendapatmu mengenai mereka itu?” tanya Manahan pula.

Bagus Handaka diam menimbang-nimbang. Tetapi kemudian ia berkata, “Itu adalah aneh, Bapak. Tubuh mereka berenam hampir bersamaan. Hanya wajah merekalah yang agaknya berbeda-beda.”

“Kau yakin bahwa wajah mereka berbeda-beda?” desak Manahan.

Mendengar pertanyaan gurunya, tiba-tiba Handaka menjadi ragu. Memang sepintas lalu, apalagi di dalam gelapnya malam, wajah-wajah mereka tampak berbeda-beda.

“Sayang, aku tak dapat menangkapnya,” gumam Bagus Handaka.

Terdengarlah Manahan tertawa pendek, lalu katanya, “Inginkah kau menangkapnya?”

“Ya,” jawab Handaka. “Aku ingin tahu kenapa mereka menyerang aku.”

“Dan kenapa aku menjadi orang ketujuh?” tanya Manahan pula.

Bagus Handaka menatap Manahan dengan pandangan yang aneh. Apa yang terjadi lima malam berturut-turut telah cukup memusingkan kepalanya. Apalagi malam yang keenam itu. Segalanya menjadi semakin kabur dan penuh teka-teki.

Melihat Bagus Handaka kebingungan, berkatalah Manahan, “Handaka…. Meskipun aku tidak menyaksikan, namun aku berani meyakinkan bahwa keenam orang yang menyerangmu berturut-turut itu pasti mempunyai persamaan bentuk tubuh. Dan ketahuilah Handaka bahwa kau jangan mimpi untuk dapat menangkapnya.”

Mata Handaka masih memancarkan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Katanya, “Tetapi orang yang pertama, kedua dan ketiga adalah orang-orang yang belum memiliki ilmu yang cukup tinggi. Sehingga aku mempunyai kemungkinan yang besar untuk dapat menangkapnya.

Mendengar kata-kata itu Manahan tersenyum. Jawabnya, “Meskipun demikian, bukankah ternyata kau tidak mampu menangkapnya?”

Bagus Handaka mengangguk mengiyakan.

“Jangankan kau Handaka,” sambung Manahan, “Sedang aku pun tidak berani bermimpi untuk dapat menangkapnya.”

Mendengar perkataan itu Handaka terkejut bukan main, sampai ia tergeser ke samping. Matanya semakin membayangkan kebingungan yang memenuhi hatinya.

“Handaka…” kata Manahan seterusnya dengan perasaan iba, “Sudah sewajarnya kalau kau menjadi bingung karenanya.”

Handaka mendengarkan kata-kata gurunya itu dengan saksama, meskipun sikap gurunya itu tidak kalah membingungkan pula.

“Pertama-tama ketahuilah, bahwa apa yang aku lakukan, tidaklah benar-benar seperti apa yang aku katakan. Otakku masih cukup sehat untuk tidak melakukan hal-hal seperti itu. Sedang apa yang aku lakukan, adalah untuk meyakinkan dugaanku terhadap keenam orang yang telah menyerangmu enam malam berturut-turut. Dengan caraku itu aku kemudian yakin siapakah orang-orang yang datang berturut-turut itu.”

“Guru…” potong Handaka dengan penuh haru, “Jadi Bapak tidak benar-benar mau membunuhku?”

Mendengar pertanyaan Bagus Handaka, Manahan jadi terharu. Jawabnya sambil membelai kepala anak itu, “Kenapa aku akan membunuhmu?”

“Bukankah Bapak sendiri berkata demikian?” jawab Handaka.

“Dan kau telah mencoba mempertahankan dirimu?” tanya Manahan pula.

“Tidak, Bapak…. Aku sama sekali tidak berusaha untuk menyelamatkan diri, tetapi aku hanya bermaksud untuk menunjukkan hasil pelajaran-pelajaran yang aku terima selama ini pada saat-saat terakhir.”

Diam-diam Manahan memuji di dalam hati. Benar-benar anak ini berhati bersih dan setia. Karena itu Manahan menjadi semakin terharu. Namun demikian ia berusaha agar wajahnya sama sekali tidak membayangkan perasaannya.

“Handaka…” kata Manahan kemudian, “Baiklah aku beritahukan dugaanku atas semua kejadian-kejadian yang berlaku itu, supaya kau tidak terlalu lama menebak.”

Handaka menjadi sangat tertarik. Karena itu ia menggeser duduknya semakin dekat dengan gurunya.

“Handaka….” Manahan melanjutkan, “Mengucapkan syukur atas semua peristiwa yang berlaku enam malam berturut-turut. Meskipun barangkali untuk dua-tiga hari tubuhmu akan masih terasa sakit-sakit, namun setelah itu kau akan berbangga karenanya.”

“Apakah yang dapat aku banggakan Bapak?” tanya Handaka.

Manahan tersenyum, lalu jawabnya, “Aku telah mencoba untuk memancingmu dalam suatu perkelahian. Apapun alasanmu tetapi kau telah berbuat sebaik-baiknya. Sedang apa yang kau lakukan sebagian adalah bukan hasil pelajaran yang aku berikan.”

“Bapak…” potong Handaka, “Kenapa kau berbuat demikian. Aku tidak pernah belajar kepada siapapun kecuali kepada Bapak.”

Kembali Manahan tersenyum. Katanya, “Meskipun andaikata unsur-unsur itu tidak kau miliki sekarang, kemudian aku pun akan memberikannya pula. Tetapi kemajuan yang kau capai selama lima hari akan sama dengan kemajuan yang akan kau capai dalam waktu berbulan-bulan apabila hal itu kau pelajari dariku, serta dalam keadaan yang biasa.”

Masih saja Handaka belum mengerti maksud gurunya. Sehingga kemudian Manahan berkata pula, “Handaka…, menurut dugaanku orang yang datang enam malam berturut-turut itu adalah orang yang sama.”

“Orang yang sama?” tanya Handaka keheran-heranan.

“Ya,” jawab Manahan. Orang itu hanya mengubah mukanya sedikit dengan menggores-goreskan warna-warna hitam dan kadang-kadang memasang kumis dan janggut palsu.

“Tetapi tingkat kepandaiannya sama sekali tidak sama, Bapak,” potong Handaka.

Sekali lagi Manahan tersenyum. Jawabnya, “Itulah sebabnya kepandaianmu meningkat dengan wajar, meskipun waktunya dipercepat. Dan ketahuilah bahwa yang dapat berbuat demikian hanyalah orang-orang sakti yang berilmu mumpuni.”

Handaka menjadi termenung karenanya.

“Jadi apakah maksudnya menyerangku…? Dan kenapa dikatakannya bahwa orang-orang itu akan menangkap aku untuk sebuah pertunjukan pembunuhan…?” tanya Handaka.

“Satu-satunya cara untuk memaksamu bekerja sekeras-kerasnya adalah menakut-nakutimu dengan cara demikian,” jawab Manahan.

Bagus Handaka menarik nafas dalam-dalam. Mengertilah ia sekarang bahwa orang yang datang setiap malam itu sama sekali tidak akan membunuhnya seperti gurunya itu pula.

“Adakah Bapak mengenal orang yang datang setiap malam itu?” tanya Handaka kemudian.

Manahan menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Meskipun aku telah berusaha mengenal gerak-geraknya sebaik-baiknya namun aku tetap tidak dapat mengatakan siapakah dia. Apalagi apa yang diberikan kepadamu selama ini ternyata adalah urut-urutan pelajaran dari ilmuku sendiri yang akan aku berikan pula kepadamu.”

Sekarang semuanya menjadi agak jelas bagi Handaka. Ternyata orang itu datang kepadanya dengan maksud baik. Menuntunnya untuk berlatih lebih keras. Dan tahulah ia sekarang kenapa pada malam-malam pertama, kedua dan ketiga orang itu seolah-olah hanya memiliki unsur-unsur gerak yang itu-itu saja, sehingga dengan demikian ia berhasil menguasai unsur-unsur itu, serta kemudian pada malam-malam berikutnya tanpa disengajanya unsur-unsur itu terselip pada gerak-gerak perlawanannya, sedang lawan-lawannya dapat memberikan perlawanan sebaik-baiknya dan diulang-ulangnya pula.

Karena itu, dadanya jadi bergelora. Apalagi ketika gurunya berkata, “Handaka… orang yang datang berturut-turut itu pastilah seorang yang sakti, jauh lebih sakti dari gurumu ini. Itulah sebabnya aku sama sekali tidak berusaha untuk menangkapnya, sebab hal itu pasti akan sia-sia. Hal itu juga ternyata pula, bahwa orang itu dapat mengetahui bahwa aku berada di sekitar ini meskipun aku telah bersembunyi sebaik-baiknya.”

Handaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Hal itu sama sekali tak pernah dibayangkan sebelumnya, bahwa seorang yang sakti, bahkan lebih sakti dari gurunya, datang kepadanya dengan cara-cara yang aneh. Katanya, “Jadi Bapak diketahuinya sebelum Bapak menampakkan diri?”

“Tidak hanya itu saja Handaka…” Manahan meneruskan, “Sedang aku pun telah menerima nasihatnya pula.”

“Nasihat untuk Bapak?” tanya Handaka terkejut.

Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Bukankah orang itu berkata kepadaku bahwa pertanian bukanlah daerah pelarian. Bukan daerah tempat orang-orang yang berputus asa apabila kewajibannya sendiri sudah tak dapat ditunaikan…?”

Handaka memandang Manahan dengan mata yang bertanya-tanya. Ia sama sekali tidak tahu maksud perkataan itu. Sampai Manahan melanjutkan, “Handaka…, barangkali kau sama sekali tak dapat menghubungkan perkataan-perkataan itu dengan keadaan kita. Tetapi ketahuilah bahwa ada sesuatu hal yang selama ini belum pernah aku katakan kepadamu, sebab kau masih aku anggap terlalu kanak-kanak. Sekarang, aku kira kau telah cukup dewasa untuk mengetahui lebih banyak hal tentang keadaan kita. Keadaan serta kewajiban-kewajibanku dan keadaan serta kewajiban-kewajibanmu.”

Bagus Handaka mendengarkan setiap kata gurunya dengan saksama. Sakit-sakitnya di seluruh tubuhnya sudah tidak dirasakannya lagi. Sementara itu angin malam bertiup lemah, dan bintang-bintang di langit telah mengubah susunannya. bintang Waluku telah jauh condong di barat, sedang bintang Bima Sakti telah mulai mengabur pada kedua ujungnya, jauh di selatan dan utara.

“Bagus Handaka….” Manahan meneruskan perlahan-lahan. “Sebenarnya saat ini aku sedang mengemban suatu tugas yang berat. Tugas yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Sekarang, karena kau telah cukup dewasa, ternyata seorang sakti yang tak dikenal telah berkenan langsung mengajarmu, maka baiklah aku berterus-terang pula. Saat ini aku sedang berusaha untuk mencari dua pusaka Istana yang hilang, berwujud keris yang bernama Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.”

Handaka mendengarkan ceritera gurunya sampai tidak sempat berkedip. Sedang Manahan kemudian berceritera tentang kedua keris yang pernah diketemukannya bersama ayahnya, Gajah Sora. Tetapi keris itu kemudian hilang kembali. Dan karena itu pula maka ayahnya terpaksa menghadap Sultan Demak untuk mempertanggungjawabkan hilangnya kedua pusaka itu. Sepeninggal Gajah Sora, Banyubiru kemudian ditimpa oleh banyak malapetaka dan Bagus Handaka sendiri hidupnya selalu terancam bahaya.

“Untunglah bahwa Paman Lembu Sora segera bertindak,” desis Bagus Handaka, “Dengan demikian pasti Ibu serta Banyubiru dapat diselamatkan.”

Mendengar kata-kata Bagus Handaka itu Manahan menarik nafas dalam-dalam. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berkata dengan suara sayu, “Kau keliru Bagus Handaka.”

“Keliru?” sela Handaka terkejut.

Ya, kau keliru”. Manahan menjelaskan, “Sayang bahwa pamanmu sama sekali tidak berbuat demikian. Meskipun apa yang dikatakan kepada semua warga Banyubiru, pamanmu telah berusaha menyelamatkan ibumu serta daerah perdikan itu, namun nyatanya tidaklah demikian. Sebab pamanmulah sebenarnya sumber keributan itu.”

Handaka menjadi semakin tidak mengerti. Ia melihat sendiri ketika itu pamannya telah membantu ayahnya menghalau gerombolan yang menyerang Banyubiru. Bahkan kemudian ibunya telah memerintahkan Sawungrana untuk meminta bantuan pamannya pula ketika kemudian timbul hura-hara.

“Bagus Handaka…” sambung Manahan, “Ketahuilah, pamanmulah yang berusaha untuk menyingkirkan ayahmu. Karena pamanmu ingin menguasai seluruh daerah perdikan Pangrantunan Lama. Karena itu ia telah berusaha untuk menyingkirkan kau pula, yang pasti akan menjadi penghalang usahanya itu.”

Mendengar kata-kata terakhir itu, menggigillah tubuh Bagus Handaka karena kemarahan yang mencengkam perasaannya. Ia sama sekali tidak mengira, bahwa apa yang terjadi adalah kebalikan dari dugaannya.

“Benarkah apa yang Bapak katakan…?” Handaka bertanya untuk mendapat suatu kepastian.

“Aku telah berkata sebenarnya,” jawab Manahan.

“Tetapi kenapa Bapak baru mengatakan itu kepadaku sekarang?”

“Aku menganggap bahwa sebelum ini, kau belum cukup dewasa, Handaka,” jawab Manahan pula.

Tetapi agaknya Handaka tidak puas mendengar keterangan itu, maka ia mendesak, “Dan kenapa pada saat itu Bapak tidak berbuat sesuatu untuk mencegah perbuatan itu?”

Manahan membenarkan letak duduknya. Ia dapat mengerti sepenuhnya pergolakan perasaan muridnya. Dengan sabar Manahan menjelaskan, “Handaka….., waktu itu aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku tidak dapat menunjukkan bukti-bukti kejahatan yang telah dilakukan oleh pamanmu. Juga karena kelicinan pamanmu, di hadapan ayahmu aku pernah hampir-hampir dibinasakan oleh Laskar Banyubiru sendiri, karena mereka curiga kepadaku tentang hilangnya kedua keris itu. Untunglah bahwa ayahmu sempat mencegahnya. Kemudian aku tidak yakin bahwa kecurigaan para pimpinan Laskar Banyubiru itu kepadaku telah lenyap dari hati mereka seluruhnya atau baru sebagian saja dari antara mereka.”

Mendengar penjelasan gurunya, Bagus Handaka semakin terbakar hatinya. Matanya kemudian menjadi merah menyalakan kemarahannya. Giginya terdengar gemeretak serta denyut jantungnya bertambah cepat. Dan tiba-tiba saja lenyaplah segala perasaan sakit dan nyeri. Meskipun masih agak tertatih-tatih ia bangkit berdiri serta dengan suara lantang ia berkata, “Bapak…, apapun yang terjadi atasku, aku tidak ambil pusing. Besok pada saat matahari terbit aku minta ijin Bapak untuk kembali ke Banyubiru. Aku atau Paman Lembu Sora yang akan binasa tidaklah menjadi soal. Tetapi aku harus menuntut balas.”

“Handaka…” kata Manahan masih setenang tadi, “Duduklah.”

Handaka dengan tidak sabar memandangi Manahan yang masih saja duduk di pasir pantai. Katanya, “Tidakkah sekarang sudah saatnya Bapak…? Kita harus bertindak tegas.

“Duduklah Handaka….” Meskipun Manahan berkata perlahan-lahan, namun nadanya penuh dengan tekanan, sehingga Handaka tidak dapat berbuat lain, kecuali duduk kembali di sisi gurunya.

“Handaka…” sambung Manahan, “Aku dapat mengerti sepenuhnya perasaan yang bergelora di dalam dadamu. Tetapi jangan membiasakan diri bertindak tergesa-gesa. Membunuh pamanmu Lembu Sora barangkali tidaklah terlalu sulit, meskipun bagaimana saktinya. Tetapi akibat dari perbuatan itu sudahkah menjadi perhatianmu? Setidak-tidaknya pasti akan timbul permusuhan antara Pamingit dan Banyubiru. Kalau benar demikian, maka di antara kedua daerah perdikan itu pasti akan ditelan oleh masa depan yang suram.”

Setelah diam sejenak, Manahan melanjutkan, “Dalam kekalutan itu akan hadirlah kekuatan-kekuatan dari pihak lain yang akan menelan Pamingit dan Banyubiru sekaligus. Sebab dalam hal ini golongan hitam pasti tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Kemudian dapatlah dipastikan bahwa di atas mayat-mayat laskar Pamingit dan Banyubiru akan berkibar bendera-bendera mereka, bendera yang bergambarkan harimau hitam, sepasang uling yang berlilitan, kelelawar raksasa berkepala serigala, ular laut yang ganas. Setelah itu lenyaplah sudah nama daerah perdikan Pamingit dan Banyubiru sekaligus. Lenyap pulalah hasil jerih payah eyangmu Sora Dipayana yang dengan memeras keringat dan darah membangun kedua daerah perdikan itu. Lenyap pulalah nama kebesaran keluarga Sora yang selama ini disegani oleh daerah-daerah lain, bahkan sampai ke Istana Demak. Yang ada kemudian tinggallah nama-nama Sima Rodra, Uling Rawa Pening, Lawa Ijo, dan Jaka Soka.”

Bagus Handaka adalah seorang anak yang cerdik. Karena itu segera ia dapat menangkap maksud gurunya. Namun meskipun demikian amat sulitlah baginya untuk mengendalikan perasaannya.

Maka bertanyalah ia, “Bapak, kalau demikian apakah kita biarkan saja Paman Lembu Sora tidak terhukum atas kesalahannya itu?”

“Itu pasti Handaka,” jawab Manahan. “Siapa yang bersalah harus dihukum. Tetapi kita harus menjaga agar kita dapat menarik garis antara pamanmu Lembu Sora dan orang-orangnya yang sama sekali tidak tahu-menahu, sehingga dengan demikian pertumpahan darah yang luas dapat terhindar. Itu adalah tugasmu Handaka, meyakinkan orang-orang Pamingit dan Banyubiru, bahwa pamanmu telah berbuat suatu dosa yang harus dipertanggungjawabkan.”

Bagus Handaka menjadi tertegun diam. Perkataan Manahan itu seolah-olah satu demi satu menyusup ke dalam dadanya serta mendinginkan hatinya. Sadarlah bahwa pekerjaan yang dihadapinya bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan dengan tergesa-gesa, tetapi harus ditempuhnya dengan penuh kebijaksanaan.

“Lalu apakah yang harus aku lakukan Bapak?” tanya Handaka kemudian.

Untuk beberapa saat Manahan tidak menjawab. Ia sendiri masih belum tahu dengan pasti, apa yang akan dilakukannya. Namun demikian ia kemudian menjawab, “Handaka, kita harus meninggalkan pedukuhan ini. Aku harus tetap berusaha mencari keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Disamping itu ada baiknya kalau kita mencari berita tentang Banyubiru dan perkembangannya setelah kau tinggalkan. Kemudian baru kau menentukan cara untuk memecahkan masalahnya. Meskipun kau sebenarnya belum dewasa penuh, namun aku kira kau telah cukup untuk memulai pekerjaan yang besar itu, dengan kehati-hatian dan yang mungkin memerlukan waktu tidak sehari dua hari, tetapi setahun dua tahun, bahkan mungkin lebih dari itu.”

Bagus Handaka memperhatikan setiap kata gurunya yang menambah keyakinannya bahwa pekerjaan yang betapapun beratnya itu pasti akan dapat diselesaikan. Namun ia sadar bahwa jalan yang akan ditempuhnya bukanlah jalan yang lurus dan licin, tetapi pasti akan penuh dengan rintangan dan bahaya.

Namun ia sadar pula bahwa apa yang dilakukannya nanti seharusnya tidak menyingkir dari bahaya-bahaya itu, tetapi ia harus berani menghadapi serta mengatasinya.

Kemudian untuk sesaat mereka saling berdiam diri. Masing-masing tenggelam dalam angan-angan serta gambaran-gambaran masa yang akan datang. Masa yang pasti akan penuh dengan perjuangan.

“Bagus Handaka….”

Kemudian terdengar Manahan memulai, “Marilah kita pulang. Sejak besok kita harus sudah berkemas-kemas. Kita tinggal menunggu padi yang sudah menguning. Setelah itu baiklah kita melanjutkan perantauan kita untuk menemukan kedua pusaka itu, beserta mempersiapkan diri untuk mendapatkan kembali tanah pusaka yang kau tinggalkan. Sekarang bekalmu telah jauh lebih banyak dari lima atau enam hari yang lalu.”

Bagaimanapun Bagus Handaka masih belum begitu yakin kepada kata-kata gurunya. Benarkah ilmunya sudah sedemikian menanjak sehingga gurunya merasa bahwa bekalnya telah cukup banyak? Karena itu bertanyalah ia meyakinkan, “Bapak, benarkah ilmuku telah jauh lebih banyak dari lima atau enam hari yang lalu…?”

Mendengar pertanyaan muridnya, Manahan tersenyum. “Bagus Handaka…, aku telah mengujimu. Dalam keadaan payah dan luka-luka kau mampu melawan aku sampai beberapa lama. Hal itu tidak akan dapat kau lakukan lima atau enam hari yang lalu. Bahkan aku telah mencoba untuk menyerangmu dengan bersungguh-sungguh walaupun masih dalam batas-batas tertentu. Tetapi kau nyata-nyata telah bertambah jauh. Karena itu maka yang akan aku berikan kepadamu seterusnya tinggallah tingkat yang tertinggi.”

Oleh keterangan-keterangan itu, diam-diam Bagus Handaka jadi berbangga. Beberapa kali bibirnya bergerak-gerak mengucapkan terima kasih kepada orang yang tak dikenalnya, namun tak sepatah kata pun yang meluncur keluar.

Kemudian berjalanlah mereka berdua perlahan-lahan sepanjang pantai menuju ke pondoknya. Di sepanjang jalan hampir tak ada kata-kata yang mereka ucapkan. Apalagi Bagus Handaka, yang sedang merenungi dirinya sendiri. Dicobanya mengingat-ingat kembali segala peristiwa yang pernah dialaminya dengan lebih saksama. Dicobanya mengingat-ingat setiap gerak yang pernah dilakukan dan yang pernah disaksikan. Akhirnya ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa memang banyak unsur-unsur yang tanpa sesadarnya telah dimiliki dan bahkan telah dikuasainya dengan baik.

Maka, sejak matahari terbit di pagi harinya, Bagus Handaka mulai berkemas-kemas. Sesuai dengan perintah gurunya, apabila padi telah dituai, maka mereka segera akan meninggalkan pedukuhan Tegal Arang, untuk meneruskan perjalanan ke tempat yang tak ditentukan.

Namun sesuai dengan harapan gurunya untuk mengetahui perkembangan Banyubiru, maka mereka pasti akan mendekati tempat itu, dengan harapan bahwa mereka sudah tidak akan dikenal lagi setelah hampir tiga tahun meninggalkan tempat itu. Bila perlu, mereka akan mempergunakan penyamaran.

Demikianlah, tidak sampai dua pekan, padi telah masak. Tetapi demikian orang pergi menuai, demikian Manahan dan Bagus Handaka mulai minta diri kepada tetangga-tetangganya, bahwa ia tidak dapat tinggal lebih lama lagi di pedukuhan itu. Tentu saja, hal itu sangat mengejutkan mereka, yang mengira bahwa Manahan dan anaknya akan tetap tinggal bersama mereka sampai hari tuanya.

“He…, kau mau kemana lagi Manahan?” tanya salah seorang dari mereka yang bertubuh pendek, kasar dan berambut tegak, “Kami telah menerima kau dengan baik, tetapi kau agaknya tidak betah tinggal di pantai.

Meskipun kata-kata itu diucapkan dalam nada yang kasar seperti tubuhnya, namun sebenarnya itu adalah suatu pernyataan yang jujur dari rasa persahabatannya.

“Maafkan Kakang,” jawab Manahan. “Aku terpaksa meninggalkan kalian karena aku masih mempunyai pekerjaan yang lain”

“Apa yang harus kau kerjakan?” tanya yang lain, seorang nelayan yang kurus dan berkumis tipis.

“Aku masih harus mencari bapakku,” jawab Manahan berbohong.

Orang yang kurus dan berkumis tipis itu mengerutkan keningnya, lalu sambungnya, “Kemana bapakmu pergi…?”

Manahan menggeleng-gelengkan kepala. Jawabnya, “Itu yang aku tidak tahu. Karena itu aku harus mengelilingi seluruh pulau untuk menemukannya.”

Hampir semua orang yang mendengar, mengerutkan dahinya. Mereka merasa aneh bahwa seseorang sampai kehilangan bapaknya. Tetapi meskipun demikian ternyata mereka tidak berhasil mencegah. Manahan serta Bagus Handaka pergi meninggalkan mereka. Banyak pula kawan-kawan Handaka yang menjadi kecewa karena kepergiannya.

———-oOo———-

IV

Maka dengan rendah hati Manahan menyerahkan seluruh hasil panennya kepada para tetangganya, dan dengan hati yang agak berat pula, setelah bergaul hampir tiga tahun dengan para nelayan yang kasar namun berhati bersih, ia terpaksa meninggalkan mereka. Suatu hal yang terpaksa berulang kali dialaminya. Menetap di suatu tempat dan kemudian meninggalkannya, dan kembali ia harus berjalan menyusur jalan-jalan pedukuhan, hutan dan lereng-lereng gunung serta lembah-lembah yang hijau padat.

Tetapi kali ini Manahan tidak membawa muridnya menyembunyikan diri, tetapi bahkan sebaliknya. Mereka berusaha mendekati Banyubiru untuk mengambil ancang-ancang atas perjuangan yang bakal dilakukan. Mereka harus lebih dahulu mengetahui seluk-beluk daerah itu dan mengetahui tanggapan rakyatnya terhadap pimpinan daerah yang sebenarnya tidak berhak sama sekali itu.

Dengan Kyai Bancak, tanda kebesaran Banyubiru yang berwujud sebuah ujung tombak, di pinggangnya, setelah dilepas dari tangkainya, Bagus Handaka berjalan dengan tegapnya menuju ke arah selatan. Manahan yang berjalan di belakangnya memandangi anak itu dengan bangga. Ia mengharap agar Bagus Handaka benar-benar dapat menjadi seorang anak yang kuat dan berhati mulia seperti harapan ayahnya. Tetapi dengan demikian Manahan jadi teringat kepada Gajah Sora. Apakah kira-kira yang terjadi atasnya? Namun ia percaya bahwa Gajah Alit dan Paningron dapat membantu kesulitannya. Setidak-tidaknya memperingan tuduhan yang ditimpakan atasnya.

Perjalanan Manahan dan Handaka kemudian sampai pada daerah hutan dan kemudian mereka harus menyusur kaki gunung Slamet, membelok kearah timur.

Demikianlah dari hari ke hari mereka selalu berjalan tanpa henti-hentinya. Ternyata kekuatan jasmaniah Bagus Handaka cukup memuaskan. Ia sama sekali tetap segar dan lincah. Disamping itu selama perjalanan mereka, masih sempat juga Manahan memberikan tambahan pengetahuan kepada muridnya. Dan bahkan karena kecerdasan Bagus Handaka, maka dapatlah ia menemukan unsur-unsur gerak yang bagus, yang ditirunya dari gerak-gerak binatang buas. Dengan tuntunan gurunya, Bagus Handaka yang hampir menghabiskan waktunya selama perjalanan itu dengan memperhatikan gerak-gerik kera-kera yang berloncatan dari dahan ke dahan, maka kemudian ia berhasil menirukan beberapa bagian, yang dapat dileburnya ke dalam unsur-unsur gerak yang telah dimilikinya.

Handaka juga senang sekali memperhatikan perkelahian antar binatang. Dari binatang yang paling buas sampai binatang yang paling lemah. Diperhatikannya pula, bagaimana seekor kancil berhasil melepaskan diri dari terkaman serigala-serigala yang buas, dan bagaimana seekor banteng dengan tangguhnya menanti serangan seekor harimau dan kemudian dengan tanduk-tanduknya yang tajam membinasakannya.

Dengan demikian Bagus Handaka mendapatkan berbagai macam pengetahuan dari alam. Manahan sendiri sebenarnya kagum atas ketangkasan otak muridnya, maka ia menjadi semakin bangga bahwa tidak sia-sialah ia menuntun anak itu.

Karena itu, Manahan selalu memberinya petunjuk-petunjuk atas kemungkinan kemungkinan yang dapat dimanfaatkan dari setiap gerak yang dilihatnya. Kecuali gerak-gerak binatang, juga gerak-gerak dari benda-benda yang lain, seperti angin pusaran, air bah dan bahkan kelincahan gerak nyala api.

Demikianlah, di sepanjang perjalanan itu, tidak sedikitlah pengetahuan yang ditangkap oleh Handaka. Dan karena itu pula ia sama sekali tidak merasakan suatu kejemuan atau keletihan selama ia bersama-sama dengan gurunya menyusuri jalan-jalan hutan yang lebat dan sulit.

Setelah meninggalkan lembah kaki gunung Slamet, mereka mulai dengan perjalanan yang tidak kalah sulitnya. Mereka menyusur tebing pegunungan Prau, setelah melampaui beberapa pedukuhan yang tak berarti.

Tetapi meskipun mereka sama sekali tidak mengenal letih, namun kadang-kadang mereka terpaksa berhenti pula untuk beberapa lama di suatu tempat. Kadang-kadang sampai satu dua bulan, kadang-kadang malahan lebih. Setelah itu kembali mereka meneruskan perjalanan mereka sambil berbuat bermacam-macam kebajikan. Di tempat-tempat yang pernah dilewati oleh mereka itu, banyaklah hal-hal yang ditinggalkannya. Pemberitahuan tentang banyak hal. Tentang pertanian dan sebagainya.

Karena itu mereka selalu meninggalkan kesan yang baik, sehingga nama Manahan dan Bagus Handaka menjadi banyak dikenal orang. Pada suatu kali mereka memasuki sebuah pedukuhan yang sepi di ujung hutan. Penduduknya yang menamakan pedukuhannya itu Gedangan, terdiri dari petani-petani yang menggarap sawah dengan cara yang sederhana sekali. Mereka masih belum begitu menaruh perhatian kepada saluran-saluran air. Untunglah bahwa tanah mereka adalah tanah yang subur, sehingga meskipun dengan cara-cara yang sangat sederhana, hasil pertanian mereka dapat mencukupi kebutuhan.

Berbeda dengan pengalaman-pengalaman mereka, Manahan dan Bagus Handaka ketika memasuki pedukuhan itu, mengalami penerimaan yang aneh. Hampir setiap mata memandang mereka dengan penuh kecurigaan. Manahan dan Handaka merasakan keasingan penerimaan itu. Karena itu mereka bersikap hati-hati dan berusaha untuk tidak menyinggung perasaan mereka.

Kepada salah seorang dari para petani yang sedang berdiri di pematang, Manahan bertanya dengan hormatnya, “Kakang, apakah aku diperkenankan untuk memasuki pedukuhan ini?”

Orang itu tidak segera menjawab. Tetapi sekali dua kali ia melemparkan pandangannya kepada beberapa orang yang bertebaran menggarap sawah di sekitarnya. Baru setelah beberapa saat ia menjawab, “Siapakah kau berdua?”

“Aku bernama Manahan dan ia anakku, Handaka,” jawab Manahan.

Mendengar nama itu, orang itu mengernyitkan alisnya. Agaknya nama itu asing baginya. Kemudian terdengar ia berkata, “Entahlah aku tak tahu. Berkatalah kepada lurah kami.”

Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil bertanya pula, “Di manakah Bapak Lurah itu?”

“Di rumahnya” jawab yang ditanya pendek.

“Maksudku, di mana rumahnya?” sambung Manahan.

Kembali orang itu ragu-ragu dan kembali ia menebarkan pandangannya kepada orang-orang yang sedang menggarap sawah di sekitarnya. Tiba-tiba ia menunjuk pada salah seorang daripadanya sambil berkata, “Bertanyalah kepada orang itu.”

Manahan menoleh menurut arah tangan orang itu. Dilihatnya di sudut desa berdiri seorang yang bertubuh pendek kokoh dengan urat-urat yang menonjol. Namun matanya membayangkan kejernihan hatinya.

Setelah mengucapkan terimakasih, segera Manahan dan Handaka berjalan ke arah orang bertubuh pendek itu. Dan kemudian dengan hormatnya Manahan bertanya, “Adakah Bapak ini Lurah dari pedukuhan ini?”

Orang itu menggelengkan kepalanya, sambil menjawab, “Bukan Ki Sanak, aku bukan lurah di sini. Adakah kau punya keperluan dengan lurahku?

Manahan menganggukkan kepalanya. Sambungnya, “Demikianlah, aku mempunyai sedikit keperluan.”

“Apakah keperluan itu?” tanya orang yang bertubuh pendek.

Tiba-tiba saja setelah mengalami peristiwa itu, timbullah keinginan Manahan untuk mengetahui lebih banyak hal lagi. Karena itu timbul pula keinginan untuk bermalam.

Maka kemudian kata Manahan, “Sebenarnya keperluanku hanyalah akan mohon izin untuk bermalam barang semalam dua, setelah aku berjalan beberapa hari terus-menerus tanpa beristirahat.

Orang yang bertubuh pendek itu mengernyitkan keningnya. Kemudian ia bertanya pula, “Siapakah kau berdua?”

“Aku adalah seorang perantau dan bernama Manahan. Sedang anak ini adalah anakku, bernama Handaka,” jawab Manahan memperkenalkan diri.

Dengan seksama orang itu mengamat-amati mereka berdua. Baru sesaat kemudian ia berkata, “Saat ini lurah kami sedang menerima beberapa orang tamu. Karena itu mungkin tak ada tempat lagi bagi kalian untuk bermalam di rumah lurah kami. Ataupun kalau tempat itu ada, pastilah lurah kami dengan terpaksa tidak akan mengizinkan kalian bermalam di sana.”

Manahan mengangguk perlahan-lahan. Ia menjadi semakin ingin untuk mengetahui lebih banyak lagi. Karena itu katanya, “Bukan maksudku untuk bermalam di rumah Pak Lurah. Meskipun aku ditempatkan di kandang kuda sekalipun, asal aku diizinkan bermalam untuk melepaskan lelah barang semalam dua malam, aku akan mengucapkan terimakasih.”

Orang yang bertubuh pendek serta bermata jernih itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian setelah berpikir sejenak ia menjawab, “Menilik wajah-wajah kalian yang merah hitam terbakar terik matahari, serta menilik pakaian kalian maka aku percaya bahwa kalian telah menempuh jarak yang sangat jauh. Maka adalah kewajiban kami untuk memberikan sekadar tempat melepaskan lelah bagi kalian berdua. Karena itu maka kalian akan aku bawa pulang ke rumahku, di sana kalian dapat bermalam. Sebab selain Lurah di pedukuhan ini, aku pun termasuk orang yang harus membantu pekerjaannya.”

Oleh jawaban itu, hati Manahan menjadi gembira. Karena itu segera ia mengangguk hormat, katanya, “Alangkah besar hati kami berdua atas ijin sekaligus tempat yang disediakan untuk kami berdua. Tetapi hendaknya kehadiran kami janganlah menambah kesibukan,” katanya.

Orang itu tersenyum sambil menggelengkan kepala, “Aku memang selalu sibuk,” katanya, “jadi kehadiran Ki Sanak sama sekali tak mempengaruhi kesibukan itu.”

Memang sejak semula Manahan sudah mengira bahwa orang itu pasti seorang yang baik hati serta ramah, ditilik dari sinar matanya yang jernih. Apalagi setelah Manahan bercakap-cakap sejenak, makin pastilah ia bahwa orang itu orang yang berbudi.

“Marilah Ki Sanak,” kata orang itu, “Ikutlah ke pondokku. Dan kalian dapat beristirahat sepuas-puasnya.”

Maka kemudian ikutlah Manahan serta Bagus Handaka ke rumah orang yang bertubuh pendek bermata jernih itu. Dan kemudian ketika mereka bercakap-cakap di sepanjang jalan, tahulah Manahan bahwa orang itu adalah tangan kanan dari lurah mereka, namanya Wiradapa.

Sebagai seorang kepercayaan kepala pedukuhan, rumah Wiradapa tidaklah begitu jauh dengan rumah lurahnya. Halamannya cukup luas ditumbuhi berbagai macam pepohonan serta dipagari oleh deretan pohon nyiur yang berpuluh-puluh jumlahnya. Di pedukuhan yang kecil itu, rumah Wiradapa merupakan rumah yang cukup baik meskipun tidak begitu besar. Beratap ijuk dan bertulang-tulang kayu.

Di rumah itu pun Manahan mengalami pelayanan yang baik, meskipun bagi Manahan dan Handaka hanya disediakan ruangan di bagian belakang rumah. Sebab menurut tangkapan Wiradapa, Manahan tidaklah lebih dari dua ayah-beranak yang pergi merantau untuk mencari penghidupan yang baik. Tetapi kemudian sejak Manahan serta Handaka dipersilakan di ruang yang diperuntukkan bagi mereka, maka mereka tidak lagi bertemu dan bercakap-cakap dengan Wiradapa sampai malam, karena Wiradapa harus pergi ke lurahnya.

Manahan dan Handaka yang setelah beberapa lama selalu tidur di tempat-tempat yang sama sekali tak menentu, dan sekarang mendapat tempat pembaringan yang selayaknya, segera membaringkan diri sejak gelap mulai turun. Tempat pembaringan yang tidak lebih dari sebuah bale-bale bambu serta tikar pandan yang dibentangkan di atas galar. Bagi Manahan serta Handaka, pada saat itu dirasakan sebagai suatu pembaringan yang sangat baik. Karena itu pula maka belum lagi malam sampai seperempat bagian, mereka telah tertidur nyenyak.

Tetapi meskipun bagaimana nyenyaknya mereka tidur, namun telinga Manahan adalah telinga yang terlatih baik. Itulah sebabnya meskipun suara itu sangat perlahan-lahan tetapi sudah cukup untuk membangunkannya.

Manahan menjadi terkejut ketika mendengar seseorang berkata perlahan, “Di mana mereka tidur…?”

“Di ruang sebelah belakang, Tuan,” jawab yang lain, yang oleh Manahan suara itu dikenalnya, yaitu suara Wiradapa.

Kemudian terdengarlah beberapa orang melangkah mendekat ke ruang tidurnya. Mendengar langkah-langkah itu, segera Manahan curiga. Karena itu ia pun segera bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Tetapi sampai sedemikian ia merasa masih belum perlu untuk membangunkan muridnya yang masih tidur dengan nyenyaknya.

Sampai di muka pintu, terdengarlah langkah-langkah itu berhenti, dan terdengarlah seseorang berbisik, “Kau yakin bahwa orang itu tak berbahaya…?”

“Tidak, Kakang Lurah, aku yakin bahwa orang itu hanyalah bagian dari orang-orang yang hidup berpindah-pindah seperti burung yang selalu mencari tempat dimana ada makanan.” Terdengar Wiradapa menjawab.

“Aku akan melihatnya….” Terdengar suara lain lagi.

“Silakan Tuan,” jawab Wiradapa.

“Aku akan dapat mengetahui apakah dia orang berbahaya atau benar-benar orang-orang malas yang kerjanya mondar-mandir dari desa yang satu ke desa yang lain” terdengar lagi suara itu, “sebab aku tidak mau ada orang yang dapat mengganggu usahaku.”

Kembali terdengar Wiradapa menjawab, “Apa saja yang baik bagi Tuan.”

Kemudian terdengarlah langkah-langkah mereka semakin dekat dan dengan sekali dorong pintu itu sudah terbuka.

Dengan tangkasnya salah seorang dari mereka meloncat masuk dan tiba-tiba saja di tangannya telah tergenggam sebilah pedang. Dalam sinar pelita yang remang-remang, berkilat-kilatlah cahayanya menyilaukan. Dengan suara yang keras orang itu membentak, “He, perantau malang, aku bunuh kau.” Berbareng dengan itu melekatlah ujung pedangnya di dada Manahan yang masih saja berbaring di bale-bale bambu. Mendengar orang itu berteriak, Bagus Handaka menjadi terkejut. Cepat ia dapat menguasai kesadarannya karena latihan-latihan berat yang pernah dijalani. Tetapi demikian ia akan bergerak, terasalah pergelangannya dipijat oleh gurunya, yang berbaring di sampingnya. Sehingga dengan demikian ia mengurungkan niatnya, meskipun ia sama sekali tidak tahu maksudnya. Bahkan kemudian ia melihat gurunya menggigil ketakutan dan dengan suara gemetar berkata, “Tuan… jangan aku Tuan bunuh. Ampunilah aku yang tidak berdosa.”

Untuk beberapa saat beberapa pasang mata memandanginya dengan seksama. Mereka terdiri seorang anak sebaya dengan Bagus Handaka, yang kira-kira baru berumur 16 tahun. Dialah yang dengan geraknya yang lincah mengancam Manahan dengan pedangnya. Kemudian di sampingnya sebelah-menyebelah berdiri dua orang yang lain lagi terdiri Wiradapa dan seorang lagi yang disebutnya Kakang Lurah. Ialah kepala daerah Pedukuhan Gedangan.

Kemudian terdengarlah anak yang memegang pedang itu berkata dengan nyaring, “Menyebutlah nama nenek moyangmu, sebab saat kematianmu telah datang.”

Handaka tidak tahu siapakah yang telah mengancam gurunya, juga orang-orang yang berdiri di dalam ruangan itu. Ia tidak habis herannya melihat sikap gurunya. Baginya lebih baik mati dengan tangan terentang daripada mati seperti seekor cacing yang sama sekali tak berdaya. Bukankah gurunya telah menuntunnya demikian dalam menghadapi lawan-lawannya …? Tetapi sekarang gurunya sendiri bersikap sebagai seorang pengecut. Karena perasaan-perasaan yang berdesakan itulah Handaka menjadi gemetar. Bukan karena ketakutan, tetapi karena pergolakan dadanya yang tak tertahan.

Hampir Handaka tak dapat menguasai dirinya ketka sekali lagi ia mendengar Manahan menjawab, “Ampun Tuan, ampun…. Apakah dosaku maka Tuan akan membunuhku?”

Melihat sikap Manahan itu Wiradapa memandangi wajah anak muda yang memegang pedang itu dengan sikap meminta untuk membebaskannya. Tetapi anak muda itu agaknya sama sekali tidak menaruh belas kasihan. Namun kemudian terdengarlah ia tertawa sambil berseru, “Apakah kerjamu berdua di sini?”

Manahan nampak gugup mendengar pertanyaan itu. Maka jawabnya gemetar, “Aku tidak apa-apa, Tuan. Sungguh aku tidak apa-apa.”

Sekali lagi anak muda itu tertawa menyeringai. Sedang ujung pedangnya masih saja melekat di dada Manahan. Sesaat kemudian terdengarlah ia berkata, “Kau datang pada saat yang tidak menguntungkan bagimu.” Dan setelah itu ia merenung sejenak menyambung “Kenapa kau pilih desa ini untuk bermalam…?”

Manahan emandang wajah anak muda itu dengan wajah kecemasan. Untuk beberapa lama ia tidak menjawab, sampai terdengar anak muda itu membentaknya, “Hei perantau malas, jawab, kenapa kau bermalam di sini”

“Aku tidak tahu,” jawab Manahan gugup.

Anak muda itu menarik nafas panjang mendengar jawaban Manahan yang ketakutan itu. Kemudian tangannya yang memegang pedang itu mengendor. Dan dengan nada yang merendahkan ia berkata, “Kalau di dunia ini dipenuhi oleh orang-orang macam itu, maka manusia ini tak ada bedanya dengan binatang-binatang melata yang mengais makanan dari dalam tanah tanpa dapat berbuat apa-apa.” Kemudian ia membentak, “He orang-orang malang. Kau harus menggerakkan tanganmu kalau kau ingin mengisi perutmu. Selama kau berada di sini kau harus bekerja keras. Aku menjadi muak melihat kau menjual belas kasihan untuk mendapat makan. Karena itu besok pada saat matahari terbit, kau sudah harus datang ke rumah bapak lurah untuk menerima pekerjaan yang harus kau lakukan besok.”

Sesudah berkata demikian anak muda itu segera menyarungkan pedangnya kembali, dan sekali lagi dengan pandangan yang menghina ia menggerutu, “Seharusnya orang-orang macam itu wajib dimusnahkan, supaya dunia kita tidak kekurangan makan.” Setelah itu segera ia pun melangkah pergi, diikuti oleh kedua orang yang bertubuh kokoh kuat berwajah seram, serta lurah pedukuhan itu. Tinggallah Wiradapa yang memandangi Manahan dengan perasaan welas. Tetapi ketika ia akan berkata sesuatu, terdengarlah suara di luar, “He Wiradapa, apa yang kau kerjakan?”

Wiradapa mengurungkan niatnya, lalu dengan cepatnya ia melangkah keluar. Sebentar kemudian hilanglah langlah-langkah mereka ditelan oleh bunyi binatang-binatang malam.

Demikian langkah mereka menghilang, melentinglah Bagus Handaka dari tempat tidurnya, dan dengan kecepatan yang luar biasa ia sudah tegak berdiri di hadapan gurunya, seolah-olah ia ingin memperlihatkan ketangkasannya. Dengan mata yang memancarkan kemarahan dan gigi yang gemeretak terdengar ia menggeram, “Bapak…” Setelah itu bibirnya sajalah yang gemetar, tetapi tak ada kata-katanya yang meluncur keluar. Meskipun di dalam dadanya berdesak-desakkan berbagai macam perasaan yang akan dilahirkan, namun hanya satu kata itulah yang berhasil diucapkan.

Tetapi ia bertambah bingung dan tidak mengerti ketika dilihatnya gurunya masih saja berbaring dengan bibir yang tersenyum-senyum. Baru ketika ia melihat Handaka gemetar di hadapannya, ia berkata “Duduklah Handaka.

Tetapi Handaka masih saja tegak seperti patung, suara gurunya itu tidak terdengar oleh telinganya yang seperti mendesing-desing, sehingga Manahan terpaksa mengulangi lagi, “Duduklah Handaka.”

Dengan perasaan yang dipenuhi oleh teka-teki, Handaka kemudian duduk di samping gurunya. Namun terasa bahwa dadanya masih bergetar keras.

“Tenanglah Handaka. Tak ada yang perlu kau khawatirkan,” sambung Manahan kemudian.

“Tetapi…” sahut Handaka tergagap. “Tetapi kenapa demikian?”

Handaka menjadi semakin bingung ketika gurunya kemudian tertawa panjang, meskipun perlahan-lahan, supaya tidak menimbulkan suara riuh.

“Apa yang demikian…?” tanya Manahan sambil tertawa.

Handaka menjadi semakin bingung, meskipun demikian ia menjawab, “Kenapa Bapak tadi menjadi sedemikian takut? Kalau Bapak tidak menahan aku, barangkali aku sanggup berbuat sesuatu untuk mengusir mereka. Ataupun kalau mereka adalah orang-orang sakti, bukankah lebih baik binasa daripada mereka hinakan sedemikian?”

“Bagus, memang sedemikianlah seharusnya,” potong Manahan.

“Tetapi kenapa aku tidak boleh berbuat demikian?” sambung Handaka yang merasa mendapat kesempatan untuk menyatakan perasaannya. Maka mengalirlah kata-katanya seperti hujan yang dicurahkan dari langit. “Dan kenapa Bapak sama sekali tidak melakukan perlawanan. Malahan bapak minta ampun kepada orang yang sama sekali tidak kenal. Bukankah kami tidak pernah berbuat kesalahan terhadap mereka? Sebab kami belum pernah bertemu sebelumnya, dan… “

“Sudahlah Handaka,” potong Manahan. Tenanglah, dan dengarkanlah kata-kataku seterusnya.

Handaka menjadi terdiam. Ia mencoba untuk mendengarkan kata-kata gurunya dengan baik.

“Handaka…” kata Manahan kemudian, “Aku percaya bahwa apa yang kau katakan itu dapat kau lakukan. Memang harusnya kita berbuat demikian. Tetapi untuk kali ini aku mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain. Pertimbangan pikiran yang kadang-kadang bertentangan dengan perasaan. Sebagai seorang laki-laki yang berhati jantan, seharusnya kita lawan setiap serangan dengan dada tengadah. Apalagi penghinaan. Namun demikian ada kalanya keadaan menuntut tanggapan yang lain atas penghinaan yang kita terima itu. Karena pertimbangan-pertimbangan itulah maka aku tidak melawan sama sekali ketika anak muda itu mengancamku dengan pedangnya.”

“Tetapi ia tidak sekadar mengancam,” bertanya Handaka, “Bagaimana kalau pedang itu benar-benar ditusukkan kepada Bapak?”

“Bukankah ia tidak berbuat demikian? jawab Manahan sambil tersenyum, dan hal itu aku ketahui dengan pasti. Ia hanya akan menggertak untuk mengetahui apakah aku memiliki kemampuan untuk melawan atau tidak. Ia hanya ingin mengetahui apakah kita memiliki ilmu tata perkelahian atau tidak. Sekarang ternyata bahwa ia telah mendapat kesan bahwa kita adalah orang-orang yang malas, yang merantau dari satu desa ke lain desa untuk sekadar mendapat makan. Bukankah dengan demikian kita mendapat keuntungan?”

Setelah diam sejenak, Manahan kemudian meneruskan, “Handaka… sebenarnya aku ingin mengetahui apa yang mereka lakukan di sini, tanpa kecurigaan apapun.”

Mendengar penjelasan itu Handaka menundukkan kepalanya. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri atas ketergesa-gesaannya. Apalagi ia telah telanjur seolah-olah mengajari gurunya. Ternyata apa yang dilakukan gurunya adalah suatu cara untuk maksud-maksud tertentu.

“Sudahkah kau jelas Handaka?” tanya Manahan.

Handaka mengangguk perlahan. Sadarlah ia sekarang, betapa banyak persoalan yang sama sekali tidak dipikirkannya, yang ternyata perlu untuk diketahuinya. Ternyata bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kekuatan dan kekerasan, tetapi dapat diambil cara yang lain. Dengan demikian ternyata bahwa pandangan gurunya sangat jauh mendahuluinya.

“Nah, Handaka… marilah kita tidur kembali. Hari masih malam. Tutuplah pintu itu,” ajak Manahan sambil membaringkan dirinya kembali. Handaka sama sekali tidak berkata sepatah kata pun. Perlahan-lahan ia pun bangkit menutup pintu, dan kemudian merebahkan dirinya di samping Manahan. Pikirannya sibuk menduga-duga siapakah orang-orang yang telah datang menjenguk nya tadi. Dalam remang-remang cahaya pelita ia tidak dapat memandang wajah mereka dengan jelas.

“Handaka… kata Manahan pelan, “Mulai besok kita akan mendapat pekerjaan baru. Aku tidak tahu apakah kira-kira yang harus kita kerjakan. Mudah-mudahan dengan demikian kita akan mengetahui siapakah mereka dan apakah maksud kedatangan mereka kemari.”

“Tetapi alangkah sombongnya anak muda itu, Bapak,” gerutu Handaka.

Manahan tertawa pendek, lalu jawabnya, “Bukankah itu persoalan biasa? Anak-anak sebaya dengan kau memang sedang dalam taraf pergolakan. Mereka senang menunjukkan ketangkasan serta kelebihannya.”

Handaka tidak menjawab lagi. Ia merasa bahwa sebagian jawaban gurunya ditujukan kepadanya pula.

Sesaat kemudian terdengarlah Manahan meneruskan, “Karena itu, jiwa yang bergolak itu harus mendapat saluran yang sebaik-baiknya. Untuk itu perlu kesadaran. Kesadaran akan keadaan diri sendiri serta keadaan yang melingkupinya.”

Seperti biasa, Handaka selalu mendengarkan nasihat gurunya baik-baik. Ia berjanji dalam hati bahwa ia akan berusaha untuk mentaatinya sejauh-jauh mungkin.

Setelah itu Manahan tidak berkata-kata lagi. Kantuknya telah mulai menyerangnya kembali. Dan sesaat kemudian ia pun telah tertidur pula. Demikian pula Bagus Handaka. Ketika ayam jantan berkokok untuk kedua kalinya, kesadarannya pun mulai tenggelam. Dan ia pun tertidur kembali dengan penuh angan-angan di kepala.

Pagi-pagi benar Manahan telah bangun. Segera Handaka dibangunkannya pula. Sebab pada saat matahari terbit mereka harus sudah sampai di halaman kalurahan untuk menerima tugas-tugas yang akan diberikan oleh anak muda yang datang semalam.

Ketika mereka keluar dari ruang itu mereka melihat Wiradapa sudah berdiri di pagar halaman. Agaknya ia pun baru bangun. Maka ketika ia melihat Manahan mendekati, ia pun berkata mengingatkan, “Ki Sanak, bukankah kau diwajibkan datang ke kalurahan pagi ini?”

Manahan mengangguk hormat sambil menjawab, “Benar Tuan, dan aku akan segera pergi.”

Baik Ki Sanak, bersiap-siaplah. Nanti kita pergi bersama. Sekarang mandilah, aku pun akan membersihkan diri pula,” kata Wiradapa sambil melangkah pergi.

Manahan dan Handaka pun segera pergi ke sumur di belakang rumah untuk membersihkan diri. Setelah itu mereka menghangatkan diri dengan air panas dan gula kelapa yang sudah disediakan untuk mereka. Sementara itu Manahan selalu menasihati Handaka untuk tidak bertindak tergesa-gesa dalam segala hal. Ia harus menyesuaikan diri dengan kedudukannya sebagai seorang yang dianggap tak berdaya. Hanya apabila jiwanya benar-benar terancam, barulah boleh bertindak untuk melindungi dirinya.

Beberapa saat kemudian Wiradapa pun telah siap. Bertiga mereka berjalan bersama-sama ke kalurahan.

Ketika mereka sampai ke halaman kalurahan, ternyata di pendapa telah banyak orang. Dari pakaian mereka segera dapat diketahui bahwa beberapa orang di antaranya bukanlah orang dari padukuhan itu. Orang-orang asing itu berpakaian lebih baik dan lengkap daripada orang pedukuhan itu sendiri, serta pada umumnya di pinggang mereka terselip sebilah keris atau senjata-senjata yang lain.

Melihat Wiradapa datang, segera mereka mempersilahkannya. Dan lurah mereka sendiri memanggilnya untuk duduk di sampingnya. Sedang Manahan dan Handaka, mereka suruh duduk di lantai di tangga pendapa itu. Tampaklah di wajah Handaka perasaan tidak senang, namun Manahan sendiri, wajahnya sama sekali tidak berkesan apa-apa.

Sebentar kemudian muncullah dari ruang dalam seorang pemuda sebaya dengan Bagus Handaka. Wajahnya memancar cerah dan pakaiannya pun lebih baik dari pakaian mereka semua yang hadir di pendapa itu. Di sampingnya sebelah menyebelah, berdirilah orang-orang yang bertubuh gagah tegap dengan wajah-wajahnya yang seram. Mereka itulah yang tadi malam datang melihat Manahan di tempatnya menginap.

Pada saat itu, sinar matahari yang baru saja naik, mulai menembus dedaunan dan jatuh di tanah-tanah lembab. Embun malam yang melekat di rerumputan perlahan-lahan mulai mengering menimbulkan asap putih yang melapisi cahaya pagi. Sedangkan tetesan-tetesan embun yang tersangkut di dedaunan, tampak berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari yang masih kemerah-merahan, seperti butiran-butiran permata yang cemerlang.

Dengan semakin cerahnya cahaya matahari, semakin jelas pulalah wajah-wajah yang berada di dalam pendapa kalurahan. Mulai dari wajah yang sudah dikenalnya dengan baik, yaitu Wiradapa, sampai wajah lurah pedukuhan itu. Juga wajah orang-orang asing itu satu demi satu mulai dapat dikenal. Manahan dan Bagus Handaka yang duduk agak jauh dari mereka, mulai memperhatikan wajah-wajah itu pula. Satu demi satu. Namun Manahan tak dapat mengenal seorang pun dari mereka. Mereka bagi Manahan benar-benar orang asing yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Karena itu Manahan sama sekali tidak lagi menaruh banyak perhatian, kecuali menanti pekerjaan apakah yang akan diberikan kepadanya, dan seterusnya menyelidiki apakah yang mereka kerjakan di situ. “Mudah-mudahan mereka tidak berbuat keributan,” pikirnya.

Lalu setelah itu mulailah perhatiannya beredar ke sudut-sudut halaman rumah kepala pedukuhan itu. Sejak dari pagar batu yang mengelilingi setinggi orang, sampai pada pohon-pohon liar yang tumbuh tidak begitu teratur bertebaran di sana-sini.

Tetapi tiba-tiba Manahan terkejut karena gemeretak gigi Handaka. Ketika ia menoleh, dilihatnya wajah Handaka yang merah padam, sedang nafasnya mengalir cepat. Manahan menjadi agak terkejut. Sadarlah ia bahwa pasti ada sesuatu di hati anak itu. Untunglah bahwa Manahan cepat dapat menggamit Bagus Handaka yang hampir saja melompat berdiri.

“Handaka…” bisik Manahan, “Ada apa?”

Mata Bagus Handaka menjadi merah menyala. Tubuhnya gemetar karena menahan diri. “Bapak, biarkan aku kali ini membuat perhitungan,” desisnya.

Manahan menjadi keheran-heranan. “Kau kenapa Handaka?” tanya Manahan.

Aku tidak mau melepaskan anak itu pergi,” jawabnya.

Manahan menjadi semakin heran. Karena itu ia segera berusaha menenangkan hati Bagus Handaka.

Dengan perlahan-lahan ia berkata, “Tenanglah Handaka, jangan kau biarkan perasaanmu meluap-luap. Ada apakah sebenarnya dengan anak itu?”

“Bapak, belumkah Bapak kenal dia?” tanya Handaka.

Manahan menggelengkan kepalanya.

“Semalam aku agak kurang dapat melihat wajah anak muda itu. Juga barangkali setelah tiga tahun aku tidak bertemu, maka baru setelah aku mengingat-ingat agak lama, aku kenal ia kembali,” sambung Bagus Handaka.

“Siapakah dia?” desak Manahan ingin tahu.

“Sawung Sariti, putra Paman Lembu Sora,” jawab Handaka.

Berdesirlah dada Manahan mendengar jawaban itu. Memang sebelumnya ia belum pernah melihat anak itu. Tetapi bagaimanapun, Manahan tidak ingin maksudnya gagal. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa anak itu adalah anak Lembu Sora, keinginannya untuk mengetahui maksud kedatangannya di pedukuhan itu semakin mendesak. Maka itu segera ia berkata, “Bagus Handaka, cobalah kuasai perasaanmu. Dengan bertindak tergesa-gesa barangkali, tidak banyak keuntungannya. Sudah aku katakan bahwa aku ingin mengetahui apakah kedatangannya kemari. Agaknya ia sudah tidak mengenal kau kembali setelah kau menjadi anak sawah dan anak laut. Barangkali kulitmu telah hitam terbakar matahari dan tersiram ombak lautan. Hal itu adalah suatu keuntungan bagimu sehingga usaha kita tidak lekas dapat diketahui. Dengan mengetahui lebih banyak tentang Sawung Sariti itu, bukankah jalanmu menjadi semakin licin…?”

Bagus Handaka menekan giginya kuat-kuat. Ia sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. Seperti biasa ia tidak pernah berani melanggar perintah dan nasehat gurunya, bagaimanapun nasehat atau perintah itu bertentangan dengan kehendaknya.

“Handaka…” sambung Manahan, “Barangkali permintaanku ini mengecewakan engkau, tetapi dengan sangat aku harapkan bahwa kau dapat memenuhinya.”

Handaka menundukkan kepalanya. Dengan penuh ketaatan ia menjawab, “Baiklah Bapak, aku selalu berusaha untuk dapat memenuhi nasehat Bapak.”

Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan. Sambil tersenyum ia berkata pula, “Nah, sekarang nikmatilah permainan ini. Ingat, kita adalah perantau yang tak berharga. Dua orang ayah-beranak yang malas, yang pergi dari satu tempat, ke lain tempat untuk menuntut belas kasihan orang.”

Handaka menganggukkan kepalanya, tetapi ia tidak menjawab. Terkilaslah di dalam otaknya permainan-permainan aneh yang pernah dilakukan oleh gurunya, yang kadang kadang sangat membingungkannya. Kemudian teringat pulalah keanehan orang yang tak dikenal, yang bahkan gurunya pun tak mengenalnya, yang mengajarkannya dengan cara yang sama sekali tak diduga-duganya. Enam malam berturut-turut menyerangnya dengan cara yang berbeda-beda menurut urutan yang teratur.

“Apakah setiap orang sakti itu mempunyai cara-cara yang tidak menurut kebiasaan orang-orang lumrah…?” pikirnya.

Tetapi ia tidak menanyakan hal itu kepada gurunya.

Sementara itu terjadi pulalah berbagai pembicaraan diantara orang-orang yang berada di pendapa. Pembicaraan mereka mula-mula berkisar pada persoalan-persoalan yang berarti. Tentang sawah, air dan tentang kebiasaan-kebiasaan penduduk pedukuhan itu. Diantara mereka terdengarlah seorang yang tampaknya berasal dari Pamingit, yang bersama-sama dengan Sawung Sariti memberikan beberapa petunjuk mengenai cara-cara mengolah sawah.

Tiba-tiba kemudian terdengarlah anak muda yang ternyata adalah Sawung Sariti itu berkata nyaring, “He, Paman Lurah, siapakah dua orang yang duduk di sana itu?”

Mendengar sapa itu, semua mata kemudian tertuju kepada Manahan dan Bagus Handaka, yang kemudian kepalanya menjadi semakin tunduk. Dadanya terasa bergelora hebat, namun ia sama sekali tidak berani melanggar pesan gurunya.

Sesaat kemudian terdengarlah Wiradapa menjawab, “Mereka adalah Manahan dan Bagus Handaka, yang semalam bermalam di rumahku, Tuan.”

“O…” sahut Sawung Sariti. “Untuk apa mereka datang kemari?”

“Bukankah Tuan yang memerintahkannya?” jawab Wiradapa pula.

Terdengarlah Sawung Sariti tertawa. Suaranya terdengar melengking tinggi. Katanya, “Benar Paman, memang aku yang menyuruhnya kemari. Aku sama sekali tidak senang melihat orang bermalas-malas seperti kedua orang itu.”

Mendengar percakapan itu dada Bagus Handaka serasa akan pecah terdesak oleh gelora perasaannya. Ia belum pernah mengalami tanggapan yang sangat menyakitkan hati seperti itu. Ia menjalani semua pahit getir penghidupan dengan senang hati, tetapi tidak untuk direndahkan sedemikian.

Namun dengan tabah ia menelan segala kepahitan itu, sebagai suatu kewajiban. Karena itu mukanya menjadi merah pengab. Dadanya seolah-olah berdentang dentang oleh pukulan detak jantungnya. Manahan melihat keadaan Bagus Handaka itu dengan penuh pengertian. Sebenarnya ia merasa kasihan kepada anak itu, namun ia harus mengajarinya menahan diri. Maka dengan lembut ia berbisik, “Di dalam perjalanan hidupmu kelak Handaka, banyaklah tekanan-tekanan batin yang lebih dahsyat daripada permainan ini. Karena itu anggaplah kali ini sebagai latihanmu yang masih terlalu ringan.”

Kata-kata Manahan itu ternyata besar pengaruhnya. Memang latihan selamanya terasa hebat. Karena itu ia menjadi agak tenang dan menerapkan dirinya dalam suatu keadaan latihan.

“Paman Lurah…” kembali terdengar suara Sawung Sariti, “Pekerjaan apakah yang dapat diberikan kepada orang-orang malas itu?”

Lurah Gedangan yang sama sekali tidak mempunyai rencana apapun menjadi agak bingung, maka jawabnya, “Terserahlah Tuan, sebab aku tidak memerlukan mereka berdua.”

Kembali terdengar Sawung Sariti tertawa nyaring. Tetapi kemudian tampak wajahnya berkerut. Agaknya ia teringat sesuatu yang sangat penting. Tiba-tiba ia berdiri dan mendekati salah seorang pengiringnya. Untuk beberapa saat mereka saling berbisik-bisik. Setelah itu kemudian dengan tersenyum-senyum Sawung Sariti berkata, “He orang-orang malas, siapakah namamu?”

Manahan memutar duduknya, dan sambil membungkuk hormat ia menjawab, “Namaku Manahan, Tuan… dan ini anakku bernama Handaka.”

“Nama-nama yang bagus,” sahutnya, kemudian ia meneruskan, “Apakah yang dapat kau kerjakan?”

Manahan mengangkat mukanya, jawabnya, “Apa saja yang Tuan perintahkan, aku akan mencoba melakukannya.”

Sawung Sariti mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Besok aku mempunyai pekerjaan penting untukmu berdua. Sekarang belum. Tetapi ingat, jangan coba-coba meninggalkan pedukuhan ini. Sebab menurut pikiranku tak ada orang lain yang dapat melakukannya kecuali kalian berdua. Kalau kalian mencoba dengan diam-diam pergi dari pedukuhan ini, maka pasti orang-orangku akan menemukan kalian dan memenggal leher kalian. Mengerti…?”

Manahan memandangi wajah anak muda itu dengan penuh pertanyaan. Dengan nada bertanya-tanya ia menjawab, “Pekerjaan apakah yang akan Tuan berikan itu. Dan adakah aku mampu melaksanakan?”

“Kau pasti dapat melakukan,” jawabnya bersungguh-sungguh lalu ia meneruskan, “Karena kalian akan melakukan pekerjaan yang penting itu, maka sekarang kalian boleh beristirahat, tidur untuk sehari penuh. Dan jangan takut kelaparan untuk sehari ini. Paman Wiradapa akan memberimu makan sebanyak-banyaknya.”

Sekali lagi dada Handaka berguncang. Apalagi kalau diingatnya bahwa orang yang mengucapkan kata-kata itu adalah anak pamannya yang telah berkhianat kepada ayahnya.

Tetapi kemudian Bagus Handaka telah dapat menempatkan perasaannya sebaik baiknya, sehingga karena itu hanya suatu tarikan nafas yang dalam yang terdengar.

“Nah, orang-orang malas…” sambung Sawung Sariti, “Sekarang kau boleh pergi. Kau boleh berjalan kemana kau suka, tetapi ingat jangan tinggalkan pedukuhan ini.”

“Baiklah Tuan,” jawab Manahan penuh hormat. Dan kemudian bersama-sama dengan Bagus Handaka mereka meninggalkan halaman kalurahan.

Mereka berjalan begitu saja sepanjang jalan desa tanpa tujuan. Manahan berjalan di depan dengan kepala tunduk, sedang di belakangnya Bagus Handaka mengikutinya dengan kepala yang dipenuhi teka-teki.

“Kemana kita pergi Bapak?” tanya Handaka kemudian.

Manahan menoleh, dan kemudian memperlambat jalannya sampai Handaka berjalan di sisinya. Kemudian ia menjawab, “Asal kita berjalan Handaka. Melihat sawah-sawah, ladang serta lereng-lereng pegunungan.”

“Apakah kira-kira yang harus kita kerjakan besok pagi?” tanya Handaka pula.

“Entahlah,” jawab Manahan. “Agaknya bukan pekerjaan yang menyenangkan.”

Setelah itu mereka berdua bersama-sama berdiam diri. Tetapi kaki mereka melangkah terus sepanjang jalan yang kemudian sampai ke daerah persawahan. Batang-batang jagung yang sudah setinggi lutut, tampak hijau segar di bawah sinar matahari pagi.

Burung liar terbang bertebaran mencari mangsanya. Dan di sana sini beberapa orang telah mulai mengerjakan sawahnya. Menyiangi tanamannya dan mengalirkan air dari parit-parit. Meskipun apa yang mereka lakukan adalah cara-cara yang sederhana sekali, namun karena tanah yang subur maka tanaman mereka tampak subur pula.

Manahan dan Handaka berjalan saja berkeliling tanpa tujuan. Ketika kemudian matahari semakin tinggi, mereka berdua beristirahat di bawah pohon rindang di simpang jalan. Selama itu tidak juga banyak yang mereka percakapan, karena pikiran mereka masing-masing dipenuhi oleh berbagai masalah yang melingkar-lingkar.

Matahari merayap-rayap semakin tinggi di kaki langit. Manahan dan Handaka melihat iring-iringan orang berkuda keluar dari pedukuhan. Mereka adalah Sawung Sariti dengan tiga atau empat pengawalnya, Pak Lurah dan beberapa orang lagi. Agaknya mereka akan menempuh suatu perjalanan yang agak jauh, meskipun pasti pada hari itu juga mereka akan kembali ke pedukuhan itu.

“Wiradapa tidak ikut dengan mereka,” bisik Manahan.

Handaka menganggukkan kepalanya. Tetapi, ia tidak menjawab. Manahan pun tidak melanjutkan kata-katanya pula. Kembali mereka tenggelam dalam angan-angan mereka masing-masing.

Tetapi sejenak kemudian mereka melihat Wiradapa berjalan keluar lewat sudut desanya. Sebentar ia berhenti sambil memperhatikan titik-titik yang semakin lama semakin jauh sambil meninggalkan hamburan debu putih.

 ———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 10

Koleksi Ki Arema

Editing oleh Ki Arema

kembali | lanjut >>

4 Tanggapan

  1. ndherek MOCO NSSI pak SATPAM,

  2. seLAMAT SIANG kadang Padepokan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s