JDBK-34


<<kembali | lanjut >>

KESEPULUH orang itu masih saja berdebar-debar. Mereka menebak-nebak di dalam hati, apakah kira-kira yang akan dikatakan oleh Ki Ajar Permati.

“Anak-anakku” berkata Ki Ajar Permati kemudian, “apakah kalian ingin segera pulang ke kampung halaman?”

Beberapa orang saling berpandangan. Keragu-raguan yang sangat nampak membayang di wajah mereka. Tidak seorang  pun di antara mereka yang menjawab.

Ki Ajar Permati pun tersenyum. Ia dapat mengerti, kenapa orang-orang itu dibayangi oleh keragu-raguan.

“Anak-anakku” berkata Ki Ajar Permati kemudian, “baiklah aku beritahukan, Ki Tumenggung sudah mengambil keputusan, bahwa kalian semuanya akan dibebaskan. Kalian semuanya yang pernah ditawan dan diperlakukan tidak wajar di padepokan ini, akan diperkenankan pulang ke rumah kalian”

Sepercik kegembiraan telah memuncul dari wajah-wajah mereka. Seorang yang tidak dapat mengendalikan dirinya bergeser setapak maju sambil bertanya, “Jadi, apakah kami boleh segera pulang?”

“Besok kalian boleh pulang”

“Besok kami boleh pulang?” sahut yang lain.

“Ya” Ki Ajar Permati mengangguk-angguk.

Seorang lagi di antara mereka bergeser setapak maju sambil bertanya untuk meyakinkan pendengarannya, “Jadi besok kami sudah dapat meninggalkan neraka ini?”

“Ya. Kalian akan bebas”

“Ternyata Yang Maha Agung tidak meninggalkan kami” desis orang itu sambil mengusap matanya yang basah. Katanya selanjutnya dengan suara sendat, “Ibuku sudah menjadi semakin tua. Ayahku sudah tidak ada. Aku mempunyai tiga orang adik yang harus dihidupi”

“Kau belum beristri?”

Orang itu menggeleng. Katanya, “Belum, Ki Ajar”

“Apakah adikmu perempuan atau laki-laki?”

“Seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Aku berharap adikku laki-laki sudah dapat membantu ibu mengerjakan sawah, sedang adikku perempuan dapat mengerjakan pekerjaan di rumah”

Ki Ajar Permati mengangguk-angguk. Katanya, “Keluargamu tentu akan merasa sangat gembira menerima kau kembali kepada mereka”

“Ya, Ki Ajar”

Namun dengan demikian, maka Ki Ajar itu  pun berkata di dalam hatinya, “Anak ini sangat diperlukan oleh keluarganya. Apakah aku akan memberikan tawaran kepadanya untuk tinggal di padepokan ini?”

Namun akhirnya Ki Ajar Permati berpendapat, bahwa ia hanya ingin menawarkan kesempatan. Apakah kesempatan itu akan dipergunakan atau tidak, tergantung sekali kepada kesepuluh orang itu.

Karena itu, maka beberapa saat kemudian, Ki Ajar Permati itu pun mulai berbicara tentang niatnya untuk mendapatkan beberapa orang yang bersedia tinggal bersamanya di padepokan itu.

“Jangan salah paham” berkata Ki Ajar kepada mereka kemudian. “Bukan maksudku untuk menghambat kebebasan kalian. Yang aku katakan itu tidak lebih hanya satu tawaran. Besok kalian akan pulang ke rumah kalian masing-masing. Aku akan menunggu, siapa di antara kalian yang bersedia kembali, akan aku terima dengan senang hati. Jika aku mengundang kalian sekarang ini, karena menurut pendapatku, kalian masih muda, sehingga masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi atas kalian di masa mendatang. Kepada kalianlah aku memberikan tawaran. Tidak kepada orang-orang yang lebih tua. Tetapi tawaranku ini dapat kalian tolak jika kalian tidak tertarik. Mungkin kalian melihat kemungkinan yang lebih baik dari masa depan kalian lewat jalan yang lain”

Seorang anak muda yang bertubuh tinggi bertanya, “Apakah yang akan kami lakukan dan bekal apakah yang akan kami dapatkan bagi masa depan kami jika kami berada di padepokan ini? Selama ini kami sudah banyak kehilangan waktu. Bahkan kami  pun sudah berputus-asa dan menganggap bahwa hidup kami adalah sia-sia”

“Anak muda” jawab Ki Ajar Permati, “padepokan ini, sebelum dikuasai oleh Ki Gede Lenglengan, adalah padepokan yang aku bangun bersama beberapa orang muridku. Pada kesempatan lain akan aku ceriterakan, apakah yang pernah terjadi di padepokan ini sehingga aku terusir, bahkan hampir saja aku mati. Tetapi Yang Maha Agung agaknya masih belum menghendaki hal itu terjadi” Ki Ajar berhenti sejenak. Sepuluh orang yang dipanggilnya itu mendengarkannya dengan seksama. “Di sini kalian akan belajar berbagai macam pengetahuan menurut batas-batas pengetahuanku. Tentang olah kanuragan, tentang menggarap sawah, sedikit tentang kerajinan bambu, kayu, besi, tanah, mengenali lingkungan dan alam dan lain-lain yang perlu sebagai bekal masa depan. Tetapi sekali lagi, hanya sebatas pengetahuanku. Kalian tidak dapat menuntut terlalu banyak”

Keterangan Ki Ajar itu sangat menarik. Tetapi seorang anak muda telah bertanya, “Tetapi bukankah kami tidak akan dipekerjakan lagi sebagai seekor kerbau?”

“Kita akan bekerja keras. Mungkin sekeras apa yang pernah kalian lakukan. Tetapi dengan kesadaran memiliki padepokan ini, sehingga kemauan kerja itu akan tumbuh dari dalam diri kita sendiri. Kalian tidak boleh salah menilai kehidupan yang akan kita bangun di padepokan ini, seolah-olah kitalah yang menjadi Yang Dipertuan. Kemudian para budak-budaklah, sebagaimana kalian pada masa kepemimpinan Ki Gede Lenglengan, yang bekerja keras melayani kita. Kita memang akan menjadi Yang Dipertuan di padepokan ini, tetapi kita pulalah yang akan menjadi budak-budak itu atas kemauan kita sendiri”

Kesepuluh orang yang mendengarkan itu pun mengangguk-angguk kecil. Mereka mengerti maksud Ki Ajar Permati.

“Karena itu, kalian dapat menentukan pilihan. Yang sudah berada di padepokan ini sehari dua hari, sebulan atau setahun, namun kemudian tidak kerasan, mereka setiap saat dapat meninggalkan padepokan ini”

Sejenak suasana menjadi hening. Sepuluh orang itu nampaknya sedang memikirkan tawaran Ki Ajar Permati.

“Kalian mempunyai waktu untuk membuat pertimbangan-pertimbangan. Besok kalian akan pulang. Keluarga kalian sudah lama menunggu. Kalian dapat membicarakan tawaranku ini dengan keluarga kalian. Baru setelah tiga atau empat hari, kalian mengambil keputusan. Siapa yang menerima tawaranku, akan kembali ke padepokan ini. Siapa yang tidak menerima, biarlah mereka tidak kembali lagi”

“Tetapi bagaimana kami dapat sampai ke padepokan ini seorang diri seandainya aku ingin kembali? Kecuali jalan terlalu rumit, mungkin aku akan bertemu dengan sisa-sisa para pengikut Ki Gede Lenglengan”

“Aku akan menunggu kalian selama lima hari di penginapan Manjung. Kita akan bersama-sama naik ke padepokan ini”

Orang-orang itu mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Terima kasih atas kesempatan ini, Ki Ajar. Kami akan memikirkannya serta memperbincangkannya dengan keluarga kami”

“Baiklah. Tetapi ingat, bahwa kita akan bekerja keras. Mungkin sekeras sebagaimana pernah kalian lakukan. Namun yang akan kita lakukan itu akan berarti bagi kita pula. Tidak bagi orang lain”

Demikianlah, maka kesepuluh orang itu pun telah dikembalikan ke bangsal yang diperuntukkan bagi mereka. Pangeran Benawa telah memberitahukan kepada mereka, bahwa mereka boleh mengabarkan kabar kebebasan itu kepada kawan-kawan mereka, para tawanan di Padepokan Watukambang itu.

“Biarlah malam nanti mereka dapat tidur nyenyak di malam terakhir mereka berada di padepokan ini, kecuali mereka yang kelak berniat untuk kembali ke padepokan ini”

Kabar kebebasan itu benar-benar telah menggemparkan seisi bangsal. Ketika seorang dari sepuluh orang yang menghadap Ki Ajar Permati itu mewakili kawan-kawannya menyampaikan keputusan Ki Tumenggung bahwa esok mereka dapat meninggalkan padepokan itu, maka orang-orang sebangsal itu pun telah bersorak. Bahkan ada di antara mereka yang terduduk di pembaringan sambil menangis terisak-isak seperti anak-anak.

Pangeran Benawa dan Paksi yang mendengar sorak itu tersenyum. Mereka ikut merasakan kegembiraan yang meledak dari mereka yang sudah merasa terlalu lama diperlakukan seperti seekor binatang. Mereka yang kebebasannya terbelenggu.

Bahkan Pangeran Benawa itu pun kemudian berkata kepada Paksi, “Marilah, kita lihat mereka”

“Marilah, Pangeran”

Pangeran Benawa pun kemudian berkata kepada Ki Ajar Permati, “Kami akan ikut bergembira bersama mereka, Ki Ajar”

“Silahkan, Ngger. Sudah sepantasnya kita ikut bergembira bersama mereka yang sedang bergembira. Tetapi kita juga ikut berprihatin bersama mereka yang sedang menyandang duka”

“Ya, Ki Ajar. Aku mengerti”

“Bahkan Pangeran dan Angger Paksi telah melakukannya”

Pangeran Benawa tersenyum sambil mengangguk hormat. Orang-orang yang sedang bersuka-ria di bangsal tahanan itu tertegun ketika mereka melihat pintu bangsal itu terbuka.

Demikian mereka melihat Pangeran Benawa dan Paksi memasuki ruangan, maka berebut mereka mendapatkannya. Sebagian langsung berlutut dan berusaha menyentuh kaki Pangeran Benawa, yang lain memeluk Paksi sambil berdesah, “Kami bersyukur, anak muda. Akhirnya tangan Yang Maha Agung terasa menyentuh kami”

Pangeran Benawa sibuk menarik mereka yang berjongkok untuk berdiri. Katanya berulang kali, “Bangkitlah. Berdirilah”

Ketika mereka sudah menjadi tenang, maka Pangeran Benawa pun berkata, “Kami datang untuk mengucapkan selamat kepada kalian. Besok kalian akan meninggalkan padepokan yang telah agak lama kalian huni. Namun sekaligus mengikat kalian dalam perbudakan”

“Terima kasih, Pangeran. Kami tidak akan melupakan jasa Pangeran dan Raden Paksi” berkata seorang di antara mereka.

“Bukan karena jasa kami. Tetapi Ki Tumenggung atas pertimbangan Ki Ajar memang menentukan bahwa kalian harus dibebaskan setelah Ki Gede Lenglengan terusir dari padepokan ini”

“Sayang sekali, orang itu tidak dapat ditangkap”

“Ya, sayang sekali”

“Orang itu sangat menakutkan. Pada satu saat ia akan datang kembali kemari. Ia akan membawa banyak kawan-kawannya. Ia tentu akan menjemput anak-anak muda yang telah ditempanya di sini beberapa saat lalu”

“Siapakah mereka itu?” bertanya Paksi.

“Kami tidak tahu, Raden. Tetapi kami pernah melihat sekelompok anak muda yang mendapat perlakuan khusus”

“Berapa orang?”

“Tidak terlalu banyak. Tidak ada sepuluh orang”

“Mereka itulah yang kami maksudkan. Bukankah aku pernah bertanya tentang anak-anak muda angkatan mendatang kepada satu dua orang di bangsal ini?”

“Ya” sahut seorang yang lain, “namun akhir-akhir ini kami sudah tidak dapat melihat mereka lagi. Mereka tentu berada di satu tempat. Pada kesempatan lain, mereka akan datang bersama Ki Gede Lenglengan untuk mengambil kembali padepokannya”

“Ini bukan padepokan Ki Gede Lenglengan” jawab Paksi. “Padepokan ini adalah padepokan Ki Ajar Permati. Justru Lenglengan lah yang merebutnya dengan cara yang sangat licik, kotor dan keji”

Mereka yang mendengarkan mengangguk-angguk.

“Baiklah” berkata Pangeran Benawa, “kami mengucapkan selamat jalan kepada kalian yang besok akan meninggalkan padepokan ini. Sebaiknya kalian berjalan bersama-sama sampai ke sekat yang memisahkan padepokan ini dengan dunia di luarnya. Sekelompok prajurit akan mengawasi kalian sampai ke tempat yang meyakinkan, bahwa kalian tidak akan diganggu lagi oleh para pengikut Ki Gede Lenglengan”

“Terima kasih, Pangeran” berkata beberapa orang hampir bersamaan.

“Beristirahatlah malam nanti dengan sebaik-baiknya. Malam nanti adalah malam terakhir bagi kalian bermalam di padepokan yang tentu kalian anggap sebagai neraka ini”

“Ya, Pangeran”

“Mimpi kalian akan mendahului keberangkatan kalian menuju ke kebebasan” berkata Paksi sambil tersenyum. “Kalian tentu merasa diri kalian seperti burung yang besok akan dilepaskan dari sangkar yang dipanggang di atas api. Selamat malam”

Pangeran Benawa dan Paksi pun kemudian telah meninggalkan bangsal yang panjang itu.

Namun dalam pada itu, ternyata orang-orang yang akan mendapatkan kebebasan di keesokan harinya itu justru tidak dapat tidur. Mereka sudah berangan-angan, betapa keluarganya akan menjadi sangat gembira menyambut kedatangannya yang agaknya telah dianggap hilang atau mati.

Di keesokan harinya, dengan upacara singkat, Ki Tumenggung dan Ki Ajar Permati telah melepas orang-orang yang telah diperbudak oleh Ki Gede Lenglengan itu.

Wajah-wajah mereka pun menjadi cerah, secerah langit di saat matahari terbit.

Sementara itu sekelompok prajurit telah siap untuk mengantar mereka sampai ke seberang sekat yang memisahkan padepokan itu dengan dunia di luarnya. Sehingga para prajurit itu yakin bahwa orang-orang itu tidak akan mengalami kesulitan dengan sisa-sisa pengikut Ki Gede Lenglengan.

Dalam pada itu, Pangeran Benawa dan Paksi masih saja berada di padepokan itu. Ki Tumenggung sendiri sudah merencanakan untuk segera kembali ke Pajang sambil membawa beberapa orang kawan yang lain.

“Aku mohon Ki Tumenggung bersabar sampai sepekan” berkata Ki Ajar Permati.

“Kenapa sepekan?”

“Aku berjanji untuk berada sepekan di Manjung menunggu mereka yang bersedia untuk tinggal bersamaku di padepokan ini”

“Apakah aku yang harus berada di sini?”

“Masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi, justru karena Ki Gede Lenglengan tidak tertangkap”

“Kangjeng Sultan tentu menungguku”

“Ki Tumenggung dapat mengirimkan penghubung untuk menyampaikan laporan kepada Kangjeng Sultan”

Ki Tumenggung itu pun tersenyum. Katanya, “Baiklah, aku mengalah. Aku akan berada di sini sampai sepekan”

“Jika Ki Tumenggung berkenan, biarlah para tawanan itu tetap berada di sini sampai sepekan pula” berkata Paksi.

Ki Tumenggung mengerutkan dahinya. Lalu katanya, “Ya. Mereka akan pergi ke Pajang bersamaku”

“Terima kasih, Ki Tumenggung. Jika diperkenankan, aku akan berusaha mendapatkan keterangan serba sedikit tentang adikku yang sudah tidak berada di sini lagi”

“Aku tidak berkeberatan, Paksi. Tetapi kau  pun harus mengingat, bahwa selama berada di tangan Ki Gede Lenglengan atau orang-orang yang pikirannya sejalan, otak adikmu tentu sudah diracuni. Jika kau menemukannya, mungkin kau justru akan mengalami kesulitan. Kau tentu akan bersikap manis kepadanya, tetapi adikmu tentu mendendammu. Kau tentu dianggap berkhianat karena kau tidak mengikut langkah ayahmu. Sementara itu adikmu adalah seorang anak muda yang dibentuk untuk meneruskan apa yang disebutnya sebagai satu perjuangan yang panjang. Adikmu adalah salah seorang dari anak-anak muda yang disebut angkatan mendatang itu”

Paksi menarik nafas panjang. Seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri ia bergumam, “Apakah aku sudah terlambat?”

“Kita akan mencobanya” sahut Pangeran Benawa. “Kita tidak tahu pasti, apa yang telah terjadi dengan adikmu. Tetapi menurut perhitungan nalar, maka adikmu tentu sudah dibelenggu oleh ajaran-ajaran Ki Gede Lenglengan. Meskipun demikian, kita dapat mencobanya. Mudah-mudahan kita dapat bertemu dan berbicara dengan terbuka”

Tetapi Ki Tumenggung menggelengkan kepalanya. Katanya, “Menurut pendapatku, Paksi memang sudah terlambat. Jika Paksi pergi juga untuk mencarinya, maka Paksi tentu akan menghadapi rintangan dan hambatan yang sulit dapat ditembus, karena rintangan dan hambatan itu akan berlapis, sebagaimana Paksi datang ke padepokan ini. Dengan kekuatan yang terhitung besar, kita pecahkan padepokan ini. Tetapi kita tidak menemukan adik Paksi itu”

“Terbalik, Ki Tumenggung” sahut Pangeran Benawa sambil tersenyum.

“Apa yang terbalik, Pangeran?”

“Kita menyerang padepokan ini dengan kekuatan yang terhitung besar karena kita sudah mendapat keterangan bahwa anak-anak muda itu sudah tidak berada di sini”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk sambil berdesis, “Ya, Pangeran Benawa. Meskipun demikian, padepokan ini dapat dipakai sebagai ukuran, bahwa adik Paksi itu berada di lingkungan sebagaimana padepokan ini. Paksi tidak akan mudah memasukinya dan bertemu dengan adiknya itu”

“Terima kasih atas peringatan Ki Tumenggung” desis Paksi. “Tetapi sulit bagiku untuk mengurungkan niat mencari adikku itu. Mungkin yang terjadi adalah sama sekali berlawanan dengan niatku menemuinya karena keadaan. Tetapi aku ingin mencobanya, Ki Tumenggung”

“Jika tekadmu sudah tidak dapat digoyahkan lagi, terserah kepadamu. Tetapi kau harus sangat berhati-hati”

“Aku menyertainya, Ki Tumenggung. Mudah-mudahan apa  pun yang terjadi, kami berdua tidak akan kehabisan akal”

“Baiklah, Pangeran, kami akan berdoa bagi Pangeran Benawa dan Paksi. Selanjutnya, jika Paksi masih ingin berbicara dengan para tawanan, tentu tidak ada keberatannya apa-apa. Silahkan. Mungkin Pangeran dan Paksi akan mendapatkan petunjuk-petunjuk tentang anak-anak muda itu”

Sebenarnyalah, Pangeran Benawa dan Paksi berusaha untuk mendapat keterangan tentang anak-anak muda yang telah dikirim ke tempat yang lain di sisi selatan kaki Gunung Merapi.

Di hari-hari berikutnya, dengan sabar Pangeran Benawa dan Paksi berbicara dengan beberapa orang tawanan. Seorang demi seorang mereka dipanggil untuk menghadap Pangeran Benawa dan Paksi.

Namun ternyata tidak banyak keterangan yang didapat oleh Pangeran Benawa dan Paksi tentang adik laki-laki Paksi, meskipun adik laki-laki Paksi itu banyak dikenal di padepokan itu.

Raden Lajer Laksita memang memiliki beberapa kelebihan dari kawan-kawannya, sehingga ia termasuk seorang anak muda pada tataran tertinggi di antara beberapa orang anak muda yang lain.

Namun ketika Pangeran Benawa dan Paksi memanggil seorang yang rambutnya sudah mulai memutih, maka keterangan-keterangan yang didengarnya dapat sedikit menambah pengenalannya atas arah dan tujuan sekelompok anak muda yang disiapkan bagi angkatan mendatang itu.

“Siapakah namamu?” bertanya Pangeran Benawa kepada orang yang rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban itu.

“Ki Gede Lenglengan memanggil hamba Riwut” jawab orang itu.

“Itu adalah nama panggilanmu menurut lidah Ki Gede Lenglengan. Tetapi siapakah namamu yang sebenarnya?”

“Nama hamba yang sebenarnya adalah Surareja, Pangeran”

“Apa hubunganmu dengan Ki Gede Lenglengan?”

“Hamba tidak mempunyai hubungan khusus dengan Ki Gede Lenglengan”

“Jadi kenapa kau berada di sini? Apakah kau memang seorang yang menganggap dirimu pejuang untuk ikut mempersiapkan angkatan mendatang di sini?”

Surareja menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hamba terlempar ke tempat ini bukan atas keinginan hamba sendiri”

“Jadi?”

“Sebenarnya hamba adalah pemomong Raden Suminar. Ketika Raden Suminar untuk sementara berada di sini, hamba  pun berada di sini pula”

“Bukankah Raden Suminar itu murid Ki Gede Lenglengan?”

“Ya. Tetapi bukan murid murni dari perguruan ini. Ketika Raden Suminar memasuki padepokan ini, Raden Suminar sudah berbekal ilmu. Namun di sini ilmu Raden Suminar itu dimatangkan, dilengkapi, diisi dan semakin ditingkatkan”

“Ketika Raden Suminar itu bergabung dengan Harya Wisaka, kenapa kau tidak ikut pula?” bertanya Paksi.

“Ilmuku tidak selengkap ilmu Raden Suminar. Aku tidak diperlukan oleh Harya Wisaka. Bahkan mungkin aku hanya akan menjadi penghambat bagi Raden Suminar. Karena itu, aku ditinggalkan saja di padepokan ini, mengabdi kepada Ki Gede Lenglengan”

“Pada saat Raden Suminar sudah tidak ada di padepokan ini, bukankah ada beberapa orang anak muda yang ditempa di sini dan dipersiapkan sebagaimana Raden Suminar untuk mendukung perjuangan Harya Wisaka di masa mendatang?” bertanya Pangeran Benawa.

“Hamba, Pangeran. Ada beberapa orang anak muda yang ditempa di sini. Mereka memang dipersiapkan untuk melanjutkan perjuangan di masa mendatang. Tetapi Harya Wisaka itu sendiri telah tertangkap”

“Karena itukah mereka telah dipindahkan ke sisi selatan kaki Gunung Merapi?”

“Ada beberapa sebab, Pangeran. Di antaranya memang karena Harya Wisaka tertangkap serta gugurnya Raden Suminar. Tetapi tentu ada sebab-sebab lain yang menimbulkan kekhawatiran Ki Gede Lenglengan, bahwa pada suatu saat padepokannya yang terpencil ini akan diketahui orang”

“Tetapi Ki Gede tidak meletakkan penjagaan di mulut sekat yang memisahkan padepokan ini dengan dunia luar”

“Ketika beberapa lama setelah timbul kecemasan itu tidak terjadi apa-apa, maka keyakinan Ki Gede Lenglengan bahwa padepokan ini tidak akan diketahui oleh orang lain, kembali menjadi kuat. Itu adalah satu kelengahan”

“Apa yang kau ketahui tentang anak-anak muda itu, Ki Surareja?” bertanya Paksi kemudian.

“Tidak banyak, Raden”

“Mereka sekarang ditempatkan di mana?”

“Tidak seorang  pun tahu kecuali Ki Gede Lenglengan sendiri”

“Ki Surareja” berkata Pangeran Benawa kemudian, “ketika Paman Harya Wisaka tertangkap, setelah Raden Suminar gugur, Paman Harya Wisaka telah menyadari betapa anak-anak muda itu akan hidup dalam kesia-siaan. Raden Suminar yang telah dipersiapkan dengan baik itu pun akhirnya terkapar mati tanpa arti apa-apa. Karena itu, maka akhirnya Paman Harya Wisaka mengambil keputusan untuk memberitahukan kepada kami, di mana anak-anak muda itu ditempa untuk menjadi seorang pejuang yang tangguh sebagaimana Raden Suminar. Namun yang akhirnya akan terdampar ke dalam kematian yang sia-sia”

“Pangeran berkata sebenarnya?”

“Ya. Kenapa aku berbohong? Bukankah akhirnya kami benar-benar menemukan padepokan ini?”

“Apakah pengakuan Harya Wisaka itu diberikan setelah mengalami tekanan lahir dan batin?”

“Kau kira ada orang yang dapat memaksa Harya Wisaka berbicara tanpa dikehendakinya sendiri?”

“Harya Wisaka memang seorang yang berilmu tinggi. Tetapi di Pajang  pun ada orang yang berilmu tinggi, yang akan dapat memberikan tekanan kewadagan, sehingga memaksa Harya Wisaka untuk berbicara”

“Harya Wisaka adalah seorang laki-laki. Bahkan mungkin kami  pun tidak akan dapat memaksamu berbicara meskipun kau harus mati dengan luka arang keranjang. Tetapi dengan kesadaran betapa pentingnya menyelamatkan jiwa anak-anak muda itu dari masa depan yang kelam dan tidak berarti sama sekali bagi dirinya sendiri dan bagi orang banyak, mungkin kau akan berbicara tentang anak-anak muda itu”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pangeran telah mengusik ketenangan jiwa hamba. Sampai saat ini hamba yang tertangkap dalam pertempuran tidak merasa cemas sama sekali tentang nasib hamba. Hamba sudah pasrah seandainya hamba dihukum mati dengan cara apa pun juga. Justru karena itu, hamba tidak pernah merasa gelisah. Tetapi keterangan Pangeran itu benar-benar membuat hamba menjadi gelisah”

“Jadi kau sudah pasrah seandainya kau dihukum mati?”

“Ya, Pangeran”

“Apakah yang kau maksud dengan pasrah? Pasrah kepada para petugas Pajang yang berwenang untuk mengadilimu, kemudian pasrah kepada para prajurit yang akan melaksanakan hukuman itu?”

“Ya”

“Hanya itu? Kepada siapa kau pasrahkan nyawamu?”

Pertanyaan itu terasa menyengat jantung Surareja. Dipandangnya Pangeran Benawa dengan tajamnya. Kemudian dipandanginya pula wajah Paksi.

Akhirnya Surareja yang rambutnya sudah mulai ubanan itu menundukkan wajahnya.

Sementara itu Pangeran Benawa berkata selanjutnya, “Ki Surareja, terserah kepadamu, apakah kau bersedia untuk memberikan beberapa petunjuk tentang anak-anak muda itu atau tidak. Jika kau masih mempunyai keinginan untuk menyelamatkan anak-anak muda itu dari kegelapan di masa depannya, tolonglah mereka. Kelak mereka akan berterima kasih
kepadamu”

Surareja itu semakin menundukkan wajahnya. Namun seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri. Surareja itu pun bergumam, “Bagaimana aku tahu, bahwa Pangeran dan Raden Paksi akan menyelamatkan mereka? Bukan sebaliknya menangkap dan menghukum mereka dengan hukuman mati”

Paksi lah yang segera menyahut, “Seorang di antara mereka adalah adikku”

Surareja mengerutkan dahinya. Sementara Paksi berkata selanjutnya, “Lajer Laksita adalah adikku”

“Bukankah Raden Lajer Laksita itu putera Ki Tumenggung Sarpa Biwada?”

“Ya. Aku juga putera Ki Tumenggung Sarpa Biwada”

“Tetapi…”

“Aku sudah berkhianat menurut sisi penglihatan para pengikut Harya Wisaka. Aku memang tidak sependapat dengan ayah. Karena itu, aku bukan pengikut Harya Wisaka. Tetapi adikku yang sedang meningkat dewasa itu telah dibentuk oleh ayah menjadi seorang Suminar baru. Jika ia tidak diselamatkan, maka nasibnya tentu akan seperti Raden Suminar. Bahkan mungkin akan lebih buruk lagi, karena para pengikut Harya Wisaka itu sekarang tidak lebih dari sebuah gerombolan yang tidak lagi mempunyai pengikat yang cukup berwibawa”

Surareja menarik nafas dalam-dalam. Nampak keragu-raguan yang sangat sedang mencengkam jantungnya, sehingga tubuhnya menjadi basah oleh keringat.

“Ki Surareja” desis Pangeran Benawa kemudian.

“Hamba, Pangeran”

“Aku sudah tahu, bahwa anak-anak muda dari padepokan ini yang jumlahnya tidak mencapai sepuluh orang itu berada di sisi selatan kaki Gunung Merapi. Mereka diasuh oleh sepasang suami-istri yang berilmu tinggi. Namun orang yang mengatakan hal itu tidak mengetahui nama sepasang suami-istri itu”

Surareja terkejut. Bahkan ia pun bertanya, “Siapa yang mengatakan hal itu kepada Pangeran?”

“Kau tidak perlu tahu, Ki Surareja. Kau berpendirian lain, itu berarti bahwa aku telah mengadu kalian berdua, jika aku memberitahukanmu”

Surareja menarik nafas panjang. Katanya, “Keterangan itu benar, Pangeran”

“Dapatkah kau menyebutkan, siapakah sepasang suami-istri itu?”

“Ki Gede Lenglengan tidak menyebut namanya. Tetapi Ki Gede pernah di luar sadarnya mengatakan, bahwa sepasang suami-istri iblis itu dapat mencala putra mencala putri”

“Mereka dapat berganti rupa menjadi orang lain?”

“Maksudku tidak sejauh itu. Sepasang suami-istri itu pada suatu saat dapat menjadi dua orang suami-istri yang nampak lembut, baik dan akrab. Namun pada saat yang lain benar-benar dapat berhati iblis. Mereka membunuh dengan tanpa berkedip”

Jantung Pangeran Benawa dan Paksi menjadi berdebar-debar. Sementara itu orang yang rambutnya mulai ubanan itu berkata selanjutnya, “Mula-mula kedua orang suami-istri itu bermusuhan dengan Harya Wisaka. Namun tidak karena landasan paham dan sikap mereka terhadap Pajang. Tetapi sekedar persaingan yang tidak mempunyai landasan apapun. Mereka sama-sama menginginkan pusaka istana yang hilang dari bangsal perbendaharaan. Namun ketika sepasang suami-istri itu sempat bertemu dengan Ki Gede Lenglengan yang memang sudah mereka kenal sejak masa muda mereka, maka kedua orang suami-istri itu bersedia dan bahkan menjadi pendukung yang kuat dari perjuangan Harya Wisaka. Sehingga akhirnya justru mereka mendapat kepercayaan untuk membentuk masa depan beberapa orang anak muda yang semula ditempa di padepokan ini”

Pangeran Benawa dan Paksi saling berpandangan sejenak. Meskipun mereka tidak mempunyai kepastian, tetapi tiba-tiba saja angan-angan mereka hinggap pada sepasang suami-istri yang aneh yang pernah mereka jumpai di sisi selatan kaki Gunung Merapi.

Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.

Namun mereka pun berkata di dalam hati, “Mungkin tidak ada hubungannya sama sekali dengan kedua orang itu” Karena itu, baik Pangeran Benawa maupun Paksi tidak menyahut sama sekali.

Dalam pada itu, Pangeran Benawa pun bertanya, “Apalagi yang dapat kau katakan tentang sepasang suami-istri itu?”

“Tidak ada lagi, Pangeran. Hamba memang tidak banyak mengetahui tentang kedua orang itu”

“Kau pernah bertemu dengan orang itu?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun wajahnya membayangkan keragu-raguan yang dalam. Kemudian ia pun berkata, “Aku pernah melihat orang itu. Tetapi jaraknya tidak terlalu dekat”

“Jadi orang itu pernah datang kemari dan mengetahui bahwa di sini ada sebuah padepokan?”

“Tidak. Tidak di sini. Tetapi di tempat lain. Pembicaraan antara mereka dilakukan di tempat yang juga dirahasiakan. Waktu itu, hamba mendapat kesempatan mengikuti Ki Gede Lenglengan bersama seorang kepercayaannya yang lain”

“Siapa orang itu?”

“Ki Prana Sanggit”

“Kau dapat menunjukkan kepada kami orang yang bernama Prana Sanggit itu?”

“Orang itu sudah terbunuh, Pangeran. Hamba melihat mayatnya pada saat siap dikuburkan”

“Jadi Prana Sanggit itu sudah terbunuh?” Paksi menegaskan.

“Ya, Raden”

“Jadi kau satu-satunya orang yang dapat memberikan keterangan tentang suami-istri itu?”

“Aku sudah mengatakan apa yang aku ketahui, Raden”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia memang harus pergi ke kaki Gunung Merapi di sisi selatan. Namun Paksi dan Pangeran Benawa tidak segera meninggalkan padepokan itu. Ia masih mencoba untuk berbicara dengan beberapa orang yang lain. Namun tidak seorang  pun di antara mereka yang dapat memberikan keterangan lebih jelas dari laki-laki yang rambutnya sudah mulai ubanan itu.

Dalam pada itu, Ki Ajar Permati telah menepati janjinya untuk berada di Manjung, menunggu beberapa orang yang bersedia tinggal bersamanya di padepokan. Padepokan yang kemudian telah menjadi padepokan yang terbuka, karena sudah banyak diketahui orang, terutama para prajurit Pajang.

Selama sepekan di Manjung, ternyata Ki Ajar Permati telah menerima lebih dari sepuluh orang. Ternyata ada seorang anak muda yang datang bersama seorang kawannya yang menyatakan ingin sekali tinggal di Padepokan Watukambang.

“Ketika aku menceriterakan niatku untuk kembali ke padepokan ini, ia menyatakan keinginannya, apabila diperkenankan, untuk ikut berguru di Padepokan Watukambang, Ki Ajar”

Ki Ajar tersenyum. Katanya, “Baiklah. Tetapi ia harus menyadari sebelumnya, bahwa berada di sebuah padepokan berbeda dengan bekerja keras. Mungkin sikapku  pun akan berbeda. Sebagai seorang guru dan pemimpin padepokan, aku tidak akan seramah sekarang ini”

Anak muda itu berpaling kepada kawannya. Dengan nada berat ia pun berkata, “Nah, kau dengar?”

Kawannya itu mengangguk. Katanya, “Ayah juga mengatakan seperti itu”

“Ayahmu?” bertanya Ki Ajar Permati.

“Ya, Ki Ajar. Ayah juga pernah berguru. Tetapi hanya sebentar. Dengan berat hati ayah harus meninggalkan perguruannya”

“Kenapa?”

“Ayah dipanggil kakek untuk segera menikah. Kakek sudah sepakat dengan seorang sahabatnya untuk mengikat persaudaraan mereka lebih erat”

“Dan ayahmu benar-benar pulang?”

“Ya. Ayah minta diri kepada gurunya. Kemudian ayah pun menikah dengan gadis yang sudah ditetapkan. Maka kemudian lahirlah anak-anaknya, termasuk aku”

Ki Ajar tertawa. Ia senang mendengar cara anak muda itu berceritera. Katanya kemudian, “Baiklah, jika kau sudah siap bekerja keras”

Dalam pada itu, seorang anak muda yang lain telah membawa adiknya ke Manjung. Dengan ragu-ragu ia pun berkata, “Ki Ajar, aku adalah anak yang tertua. Seperti sudah pernah aku sampaikan kepada Ki Ajar, bahwa ayahku sudah tidak ada. Ibuku menjadi semakin tua. Karena itu, aku akan menjadi seorang ayah bagi adik-adikku. Seorang dari adikku itu justru ingin berada di padepokan. Aku sudah mengatakan kepadanya, bahwa tinggal di padepokan adalah sama artinya dengan bekerja keras. Tetapi ia benar-benar ingin, sementara ibu  pun telah mengijinkannya”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Dipandanginya seorang remaja yang memasuki masa dewasanya. Tubuhnya nampak kokoh oleh kerja yang sehari-hari dilakukannya. Kulitnya berwarna tembaga oleh sinar matahari yang setiap hari memanggangnya.

“Baiklah” berkata Ki Ajar Permati, “aku tidak berkeberatan. Biarlah ia bersamaku di padepokan”

“Terima kasih, Ki Ajar” berkata anak muda yang memasuki usia dewasanya itu. “Aku akan patuh dan menjalankan segala perintah dan petunjuk Ki Ajar”

Ki Ajar tersenyum. Katanya, “Kau akan menjadi murid yang baik”

Sementara itu, ada tiga orang yang datang atas kehendak mereka sendiri. Mereka termasuk orang-orang yang tertawan. Meskipun mereka tidak termasuk sepuluh orang yang dipanggil Ki Ajar, tetapi karena mereka mendengar dari seorang di antara kesepuluh orang itu, maka mereka pun telah datang untuk menyatakan keinginan mereka tinggal di padepokan itu. “Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi, Ki Ajar” berkata seorang di antara mereka. “Kedua orang tuaku memang sudah lama meninggal. Sementara itu, selama aku berada di padepokan ini, istriku  pun telah meninggal pula. Karena itu, maka aku merasa bahwa sebaiknya aku berada di Padepokan Watukambang saja”

Sementara itu, seorang yang lain berkata, “Ki Ajar, selama aku berada di dalam perbudakan, ternyata istriku telah meninggalkan aku. Ia telah menikah lagi dengan orang lain. Sedangkan orang lain itu adalah sepupuku sendiri. Seorang anakku ikut bersama mereka. Ibunya dan suaminya yang sekarang tidak melepaskan anak itu untuk aku asuh. Karena itu, aku berniat untuk menenggelamkan hidupku di padepokan ini. Aku tidak pernah berniat untuk menikah lagi, jika hanya sampai sekian batas kesetiaan seorang perempuan”

“Belum tentu kalau istrimu bukan seorang perempuan yang setia. Tetapi karena kau disangkanya hilang dan setelah lebih dari setahun tidak ada kabar beritanya, maka istrimu tidak dapat menolak ketika lamaran dari saudara sepupumu itu datang”

“Ya, ya, Ki Ajar benar. Istriku memang sudah hampir gila memikirkan kepergianku. Menurut ayah dan ibuku, pernikahannya itu dapat menjadi obat baginya”

“Baiklah. Jika kalian semuanya bersedia untuk bekerja keras bersamaku, maka aku tidak akan berkeberatan atas kehadiran kalian semuanya”

Demikianlah, setelah lewat sepekan, maka Ki Ajar pun telah mengajak orang-orang yang menyatakan kesediaannya berada di padepokan itu meninggalkan Manjung. Mereka akan memasuki sebuah dunia yang tidak lagi disekat dan dipisahkan oleh dunia di luarnya, meskipun letak padepokan itu tetap saja terasing.

Setelah Ki Ajar berada lagi di padepokan, maka Ki Tumenggung Yudatama pun berniat untuk meninggalkan padepokan itu. Tetapi seperti rencana semula, sebagian dari prajuritnya akan tinggal di padepokan itu. Ki Tumenggung masih memikirkan kemungkinan, bahwa Ki Gede Lenglengan akan kembali lagi.

“Mudah-mudahan tidak, Ki Tumenggung” berkata Ki Ajar Permati. “Setelah sekat padepokan ini terbuka, Lenglengan tidak akan tertarik lagi kepada padepokan ini, karena padepokan ini tidak ada perbedaannya dengan padepokan-padepokan yang berdiri di mana-mana. Meskipun demikian, bahwa Ki Tumenggung berkenan meninggalkan sebagian prajurit Pajang, aku mengucapkan terima kasih”

Dalam pada itu, Pangeran Benawa dan Paksi  pun telah berniat untuk meninggalkan padepokan itu pula. Dengan nada berat Paksi pun berkata, “Pangeran, hamba berniat untuk menyusuri lorong-lorong di sisi selatan kaki Gunung Merapi. Mungkin hamba akan berada di sana untuk waktu yang agak panjang”

“Aku akan pergi bersamamu, Paksi”

“Pangeran adalah putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya. Agaknya kurang baik bagi Pangeran untuk terlalu lama berada di luar istana. Karena itu, apakah tidak sebaiknya Pangeran kembali ke Pajang bersama Ki Tumenggung Yudatama, sementara itu, biarlah hamba pergi ke sisi selatan kaki Gunung Merapi ini”

“Aku akan pergi bersamamu, Paksi. Aku sadari, bahwa sebaiknya aku segera kembali ke istana. Karena itu, pada saatnya mungkin aku akan meninggalkanmu di sisi selatan kaki Gunung Merapi”

“Mungkin Kangjeng Sultan telah menunggu kehadiran Pangeran di istana”

“Biarlah Ki Tumenggung Yudatama mengatakan kepada Ayahanda, bahwa aku akan pergi ke sisi selatan Gunung Merapi. Tetapi tidak akan terlalu lama”

“Kangjeng Sultan akan dapat menjadi kesepian. Raden Sutawijaya juga tidak berada di kasatrian. Bukankah Raden Sutawijaya pergi ke Alas Mentaok?”

“Mungkin Kakangmas Sutawijaya justru sudah berada di istana sekarang”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia mengenal Pangeran Benawa dengan baik. Karena itu, ia tidak akan dapat merubah keinginannya untuk pergi bersamanya.

Demikianlah, ketika Ki Ajar dan beberapa orang yang bersedia berada di padepokan itu telah siap, Ki Tumenggung pun telah minta diri bersama sebagian dari prajurit-prajuritnya. Bersama Ki Tumenggung telah dibawa pula para tawanan yang tertangkap dan yang telah menyerah.

Dengan upacara kecil, Ki Ajar dan seisi padepokan itu telah melepas Ki Tumenggung yang meninggalkan padepokan itu. Para prajurit yang ditinggalkan di padepokan itu pun telah memberikan penghormatan kepada kawan-kawannya yang berangkat menuju ke Pajang.

Ternyata Ki Lurah Wirapranata yang diserahi pimpinan atas para prajurit yang ditinggalkan adalah seorang yang baik dan rajin. Diperintahkannya para prajuritnya untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di sebuah padepokan. Mereka tidak berpijak dengan kaku pada kedudukan mereka sebagai seorang prajurit. Tetapi mereka  pun telah mencoba untuk ikut berbuat sebagaimana dilakukan oleh penghuni padepokan itu.

Ki Ajar Permati memang harus mulai segala-galanya dari permulaan. Diajaknya para cantriknya yang baru untuk mengenali lingkungannya. Ternyata banyak pula para prajurit yang ikut melakukannya. Mereka berjalan berkeliling lingkungan yang semula terpencil itu. Sawah, pategalan, sungai, belumbang yang menyimpan berbagai jenis ikan, padang rumput untuk menggembalakan kambing, lembu dan kerbau yang banyak terdapat di padepokan itu. Lingkungan yang dipagari dengan pagar bambu yang rapat, tempat para cantrik di padepokan itu memelihara ayam, dan semuanya yang terdapat di lingkungan yang semula tidak dikenal oleh dunia di sekitarnya.

Para cantrik yang semula menjadi budak di padepokan itu sudah mengenali semuanya itu. Tetapi orang-orang yang baru saja memasuki padepokan itu, harus berdecak kagum. Ternyata di padepokan itu segala kebutuhan seakan-akan telah dapat dipenuhi. Bahkan di padepokan itu, terdapat juga para cantrik yang pandai membuat kerajinan bambu, kayu dan besi. Ada beberapa perapian pande besi terdapat di sudut padepokan. Sebuah barak yang panjang untuk mengerjakan pekerjaan kayu
dan bambu.

“Di satu sisi, aku menaruh hormat kepada Ki Gede Lenglengan” berkata Ki Ajar Permati, “Tetapi di sisi lain, Ki Gede Lenglengan adalah orang yang terkutuk. Kebengisannya yang tidak terkendali, nafsunya yang melonjak-lonjak di dadanya serta mimpinya yang buruk, membuatnya menjadi orang yang tidak terkendali”

Para cantriknya dan para prajurit mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Sementara itu, Ki Ajar pun berkata selanjutnya, “Sekarang, kitalah yang tinggal di sini. Yang kita anggap baik akan kita pertahankan. Bahkan jika mungkin kita tingkatkan. Daerah ini bukan lagi daerah tertutup. Karena itu, maka hubungan kita dengan dunia luar akan berjalan lebih mantap”

Demikianlah, maka padepokan yang namanya masih tetap dipertahankan oleh Ki Ajar Permati, yaitu Padepokan Watukambang, telah mulai dengan langkah pertamanya.

Sementara itu, maka Pangeran Benawa dan Paksi pun telah menemui Ki Ajar Permati serta Ki Lurah Wirapranata. Mereka minta diri untuk melanjutkan usaha mereka mencari adik laki-laki Paksi yang telah dipindahkan dari Padepokan Watukambang.

“Apakah Pangeran dan Angger Paksi menemukan petunjuk-petunjuk baru untuk menelusuri jejak adik laki-laki Angger itu?” bertanya Ki Ajar Permati.

“Tidak begitu jelas, Ki Ajar” jawab Pangeran Benawa. “Yang dapat kami ketahui, adik laki-laki Paksi bersama beberapa orang anak muda telah diserahkan kepada sepasang suami-istri di sisi selatan kaki Gunung Merapi ini”

“Apakah Pangeran memerlukan pasukan untuk menangkap kedua orang itu?” bertanya Ki Lurah Wirapranata.

“Tidak, Ki Lurah. Kami masih harus menemukan siapakah kedua orang suami-istri itu”

“Jika Pangeran sudah menemukan, panggil kami. Kami akan menangkap mereka jika Pangeran menghendaki”

Pangeran Benawa mengangguk. Katanya, “Baiklah, Ki Lurah. Tetapi kami tidak dapat mengatakan, kapan kami dapat menemukan mereka”

“Kapan saja Pangeran memerintahkan”

“Terima kasih atas kesediaan Ki Lurah”

Sementara itu, Ki Ajar pun berkata, “Pangeran dan Angger Paksi harus berhati-hati. Bukan saja kedua orang suami-istri itu tentu orang berilmu tinggi. Tetapi ada kemungkinan Pangeran dan Angger Paksi bertemu dengan Ki Gede Lenglengan. Aku yakin bahwa Ki Gede Lenglengan tentu juga pergi ke padepokan suami-istri itu, di mana mereka menempatkan anak-anak muda dari angkatan mendatang”

“Ya, Ki Ajar. Kami akan berhati-hati”

“Persoalannya adalah karena adik Angger Paksi itu sendiri, menganggap bahwa Angger Paksi telah berkhianat kepada ayahnya serta perjuangannya”

“Aku menyadari itu, Ki Ajar”

“Dengan demikian, pekerjaan yang Angger pikul adalah pekerjaan yang berat sekali”

“Ya, Ki Ajar. Mudah-mudahan Yang Maha Agung memberi jalan kepadaku agar aku dapat membawa adikku itu pulang. Ibu tentu akan merasa gembira sekali”

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku akan berdoa bagi keberhasilan Angger Paksi dan Pangeran Benawa yang akan menyertai Angger”

“Terima kasih, Ki Ajar”

“Kapan Pangeran Benawa dan Angger Paksi akan berangkat?”

“Besok pagi-pagi, Ki Ajar”

“Baiklah. Namun ada yang ingin aku peringatkan kepada Pangeran Benawa”

“Tentang apa, Ki Ajar?”

“Jangan pernah mengenakan cincin kerajaan itu di sepanjang perjalanan”

Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, “Baiklah, Ki Ajar. Aku mengerti”

“Pangeran akan dapat terlibat dalam persoalan yang lain, yang sama sekali tidak Pangeran duga sebelumnya”

“Terima kasih atas peringatan itu, Ki Ajar. Aku akan menyembunyikan cincin itu agar aku tidak terjerat dalam persoalan baru”

Malam menjelang kepergian Pangeran Benawa dan Paksi, keduanya telah menyempatkan diri menemui para penghuni baru Padepokan Watukambang itu untuk minta diri. Juga kepada para prajurit yang berada di padepokan itu.

Demikianlah, di dini hari berikutnya, padepokan itu sudah nampak sibuk. Dua orang cantrik telah menyalakan api, menjerang air dan menanak nasi. Mereka mempunyai beberapa butir telur yang dapat mereka rebus. Sayur kacang panjang yang dingin  pun segera dipanasi.

Ketika cahaya fajar membayang di langit, maka Wijang dan Paksi pun telah siap pula untuk berangkat, menempuh sebuah perjalanan baru yang panjang.

“Silahkan makan dahulu, Pangeran dan Angger Paksi. Kalian berdua akan berjalan jauh. Bahkan kalian tidak tahu, di mana dan kapan kalian akan sampai ke tujuan”

Keduanya memang tidak menolak. Mereka pun kemudian makan pagi lebih dahulu sebelum berangkat meninggalkan padepokan.

Baru ketika langit menjadi semakin terang, menjelang matahari terbit, keduanya sekali lagi minta diri kepada penghuni padepokan itu serta para prajurit untuk meninggalkan Padepokan Watukambang.

“Selamat jalan, Pangeran. Selamat jalan, Angger Paksi” desis Ki Ajar Permati. “Aku mohon kalian berdua datang lagi ke padepokan ini. Kapan pun”

Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, “Tentu, Ki Ajar. Pada suatu hari kami akan singgah di padepokan ini”

Sejenak kemudian, maka Pangeran Benawa dan Paksi itu pun telah keluar dan regol padepokan. Mereka akan melewati bulak di antara sawah yang digarap oleh para cantrik dan orang-orang yang telah diperbudak oleh Ki Gede Lenglengan.

Untuk beberapa saat mereka berjalan di jalan yang rata dan nampak terpelihara di antara tanaman yang nampak hijau subur. Air yang jernih mengalir di parit yang membujur panjang di pinggir jalan itu. Beberapa batang pohon turi tumbuh di atas tanggul parit, yang dapat menjadi tempat berlindung bagi mereka yang berjalan di bawah teriknya matahari.

Di kejauhan nampak hutan lereng pegunungan yang hijau lebat melindungi lingkungan dari ganasnya air hujan.

Ketika cahaya matahari pagi nampak bagaikan membakar langit, maka keduanya telah sampai di sekat yang memisahkan padepokan itu dari dunia di sekitarnya. Namun sekat itu seakan-akan sudah runtuh pada saat pasukan Pajang memasuki padepokan yang tertutup itu. Padepokan yang ternyata menjadi bagian dari landasan kekuatan Harya Wisaka, justru untuk jangka yang panjang.

Pangeran Benawa yang dalam pengembaraannya mengenakan nama Wijang, serta Paksi itu pun kemudian mulai menuruni kaki Gunung Merapi melalui tanah yang miring, berbatu-batu padas ditebari dengan batu-batu yang besar berserakan di mana-mana.

Untuk beberapa saat mereka berjalan di atas tanah yang sama sekali tidak layak untuk dilalui. Tidak ada lorong sekecil apa pun. Tidak ada jalan setapak yang menandai bahwa lingkungan itu sering didatangi orang meskipun jarang-jarang.

Namun agaknya dalam waktu dekat, maka di atas tanah yang berbatu-batu padas di sela-sela batu-batu raksasa itu, akan menjelujur jalan setapak menuju ke Padepokan Watukambang.

Dalam pada itu, Wijang dan Paksi telah sepakat untuk lebih dahulu pergi ke Manjung. Mereka ingin melihat keadaan Manjung setelah mereka tidak lagi diancam oleh para pengikut Ki Gede Lenglengan. Mereka tidak perlu lagi takut dirampok di atas sasak penyeberangan yang menuju ke Nglungge. Demikian pula sebaliknya. Penginapan di Manjung dan Nglungge  pun tidak lagi dicemaskan oleh kedatangan sekelompok orang-orang bersenjata yang akan merampas bekal dan harta benda orang-orang yang menginap.

Kedatangan Wijang dan Paksi di penginapan di Manjung, disambut dengan ramah sekali oleh pemilik penginapan itu. Meskipun pemilik penginapan itu tidak mengetahui dengan pasti, dengan siapa ia berhadapan, namun ia tahu, bahwa kedua orang itu tentu mempunyai peran yang penting pada saat prajurit Pajang menghancurkan padepokan yang sebelumnya tidak diketahuinya itu.

“Aku persilahkan kalian berdua menginap di penginapanku kapan saja kalian kehendaki” berkata pemilik penginapan itu.

“Terima kasih” sahut Wijang. Namun yang kemudian berkata, “Kami tidak akan menginap. Kami datang untuk memberikan peringatan”

“Peringatan?” orang itu mengerutkan dahinya.

“Mungkin keadaan sudah menjadi jauh lebih baik sekarang. Meskipun demikian, sebaiknya di penginapan ini masih harus ada petugas-petugas untuk menjaga segala kemungkinan. Mungkin sisa-sisa penghuni padepokan yang sudah dihancurkan itu. Mungkin justru perampok dari tempat lain yang mendengar peristiwa yang terjadi di sini serta melihat bahwa penginapan ini seakan-akan menjadi lengah. Dengan sedikit perhitungan, mereka dapat memanfaatkan keadaan yang berkembang di daerah ini”

Pemilik penginapan itu mengangguk-angguk sambil berkata, “Terima kasih atas peringatan ini. Aku akan memanggil orang-orangku yang dahulu. Mungkin mereka tidak lagi dibayangi ketakutan sekarang ini. Untuk menghadapi gerombolan perampok yang lain, yang tentu tidak akan sekuat para penghuni padepokan itu, orang-orangku itu akan dapat mengatasinya”

“Tolong sampaikan pesan ini juga kepada pemilik penginapan di Nglungge, agar orang-orang yang menginap menjadi lebih tenang”

Namun Wijang dan Paksi tidak terlalu lama berada di rumah pemilik penginapan itu. Meskipun pemilik penginapan itu mencoba menahannya, namun keduanya terpaksa meninggalkan penginapan itu karena mereka sudah berniat untuk mulai dengan perjalanan mereka menuju ke sisi selatan kaki Gunung Merapi.

Demikian mereka mulai dengan perjalanan mereka, maka Wijang pun berkata, “Agaknya kita akan menuju ke arah yang sama dengan Ki Gede Lenglengan”

Paksi mengangguk-angguk. Ia  pun sadar bahwa Wijang ingin memperingatkannya, bahwa mereka mungkin sekali akan bertemu dengan Ki Gede Lenglengan di perjalanan. Jika demikian, maka itu akan berarti bahwa mereka akan bertemu dengan orang yang ilmunya sangat tinggi. Orang yang tidak dapat ditangkap oleh Ki Ajar Permati meskipun mereka sudah bertemu di medan.

Meskipun keduanya akan menempuh perjalanan panjang melalui jalan yang kadang-kadang mendaki, namun kadang-kadang bagaikan menukik turun, keduanya tidak mengalami kesulitan. Keduanya telah memiliki pengalaman pengembaraan yang cukup.

Tetapi kadang-kadang mereka sampai juga di jalan datar yang panjang, di antara sawah yang nampak hijau terbentang dari cakrawala sampai ke cakrawala.

Namun mereka  pun sering pula menyusup jalan yang menembus padukuhan-padukuhan yang keadaannya sangat berbeda-beda. Kadang-kadang mereka berjalan di padukuhan yang nampak cerah, bersih dan dihuni oleh orang-orang yang tataran hidupnya cukup baik. Namun mereka juga melewati padukuhan-padukuhan yang nampak muram. Di sebelah-menyebelah jalan nampak rumah yang sederhana meskipun halamannya cukup luas.

Tetapi tanaman yang tumbuh di atasnya, daunnya tidak nampak hijau dan rimbun. Tetapi jarang dan agak kekuning-kuningan.

Ketika mereka sampai di sebuah padukuhan yang nampak gersang itu, Wijang pun berkata, “Padukuhan ini memerlukan perhatian khusus”

“Nampaknya tanahnya kering dan tandus”

“Ya. Tetapi aku juga tidak melihat jalur-jalur parit di sekitar padukuhan ini”

Paksi mengerutkan dahinya. Sementara Wijang pun berkata, “Sebenarnya lingkungan ini cukup basah. Jika saja dibuat parit, maka air akan mengalir dari lereng”

“Agaknya tidak ada orang yang mengarahkannya. Atau orang-orang padukuhan ini memang orang-orang malas”

Belum lagi duapuluh langkah, Wijang dan Paksi itu melihat tiga orang laki-laki yang masih terhitung muda, duduk-duduk sambil memeluk lutut di mulut sebuah lorong.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itulah agaknya yang mereka lakukan sehari-hari. Tentu bukan hanya tiga orang itu. Tetapi masih banyak yang lain yang kerjanya hanyalah duduk-duduk sambil memeluk lutut”

Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Rasa-rasanya hati ini tergelitik untuk berbicara dengan mereka. Jika saja aku bukan putera Ayahanda Sultan, aku dapat menutup mata melihat keadaan seperti ini”

Paksi mengangguk sambil berdesis, “Itu adalah kepedulian Pangeran terhadap rakyatnya”

“Namaku Wijang”

“Putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya namanya bukan Wijang”

Wijang memandang Paksi dengan tajam. Namun kemudian ia tersenyum. Katanya, “Ya, kau benar, Paksi. Aku keliru.

Seharusnya aku berkata, bahwa setiap orang harus mempedulikan lingkungannya. Termasuk kita. Wijang dan Paksi. Kita tidak dapat membiarkan mereka tertinggal dalam kehidupan mereka yang apa adanya tanpa berusaha untuk dapat meningkatkannya”

Paksi pun tertawa pendek. Dengan nada berat ia pun berkata, “Apakah kita akan melakukannya sekarang?”

“Apa salahnya? Kita akan berbicara dengan mereka. Jika mereka mau mendengarkan, syukurlah. Jika tidak, bukankah kita tidak kehilangan apa-apa?”

“Kita akan berbicara dengan ketiga orang itu?”

“Tidak. Kita akan berbicara dengan Ki Bekel”

“Jika demikian, maka kita akan mencari rumah Ki Bekel”

Wijang mengangguk-angguk.

Beberapa puluh langkah lagi, keduanya tertegun. Mereka melihat dua orang perempuan duduk di tangga sebuah regol halaman yang sudah agak miring karena tidak terpelihara. Seorang dari mereka sedang sibuk mencari kutu rambut dan yang seorang lagi sambil asyik berbicara tanpa henti-hentinya.

“Itu adalah bayangan dari seluruh kehidupan di padukuhan ini, Paksi” desis Wijang.

“Aku akan bertanya kepada mereka, di manakah rumah Ki Bekel dari padukuhan ini”

Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Bertanyalah. Hati-hati. Jangan membuat mereka curiga. Agaknya mereka tidak ingin terusik dari kehidupan mereka yang tenang dan tenteram”

“Tetapi tanpa greget sama sekali. Yang mereka jalani sekarang adalah apa yang telah mereka jalani kemarin. Apa adanya tanpa usaha peningkatan sama sekali”

Wijang tidak menjawab. Sementara itu, Paksi pun telah melangkah mendekati dua orang perempuan yang duduk di tangga regol itu.

Kedua orang perempuan itu memang terkejut. Tetapi jauh-jauh Paksi sudah mengangguk hormat sambil berkata, “Maaf, Bibi. Apakah aku boleh bertanya?”

Sikap Paksi itu membuat kedua orang itu menjadi tenang.

Seorang di antara mereka segera bangkit berdiri dan bertanya, “Ada apa, anak muda?”

“Bibi, di manakah rumah Ki Bekel padukuhan ini?”

“Ki Bekel? Apakah kau akan menemui Ki Bekel?”

“Ya, Bibi”

“Untuk apa?”

“Sekedar memperkenalkan diri”

Perempuan itu memandang Paksi dari ujung kakinya sampai ke kepalanya. Dengan nada tinggi perempuan itu masih saja bertanya, “Untuk apa kau memperkenalkan diri?”

“Tidak apa-apa, Bibi”

Kedua orang perempuan itu saling berpandangan. Yang seorang, yang juga telah bangkit berdiri, bertanya, “Siapakah kalian?”

“Namaku Paksi, Bibi. Itu kakakku, namanya Wijang”

Perempuan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau dapat sampai ke rumah Ki Bekel lewat lorong sebelah. Atau kau dapat berjalan melingkar mengikuti jalan induk ini. Kau akan sampai di banjar, kemudian dua rumah dari banjar adalah rumah Ki Bekel”

“Terima kasih, Bibi”

Kedua orang perempuan itu tidak menjawab. Namun mereka agaknya tertarik pada kehadiran dua orang anak muda yang belum pernah mereka kenal.

Sejenak kemudian, maka Wijang dan Paksi pun memilih menyusuri jalan induk itu meskipun harus melingkar. Jika mereka memilih lorong sebelah, maka ada tiga orang laki-laki yang duduk memeluk lutut di mulut lorong itu.

“Betapa malasnya kedua orang perempuan itu. Matahari sudah melewati puncak dan mulai bergulir ke barat. Nampaknya mereka masih saja belum membenahi diri. Jika hal itu karena mereka sibuk melakukan kerja, maka mereka adalah orang-orang yang rajin. Tetapi agaknya kerja kedua perempuan itu sejak pagi, juga hanya duduk-duduk, berbincang tentang keluarga mereka, tentang sanak kadang mereka, tentang tetangga-tetangga mereka dan tentang apa saja yang tidak berarti” desis Wijang.

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Jika saja mereka sedikit berbenah diri, maka mereka tidak akan kelihatan begitu kotor sebagaimana halaman rumah mereka”

“Bagaimana dengan halaman rumah mereka?”

“Nampaknya sudah sepekan tidak dibersihkan”

Wijang tidak segera menyahut. Diperhatikannya dinding halaman yang kotor, berlumut dan di sana-sini sudah mulai retak-retak.

Beberapa saat kemudian, seperti yang dikatakan oleh perempuan itu, mereka pun sampai di depan banjar. Banjar itu nampak sepi dan juga kurang terpelihara.

“Kita sudah hampir sampai” berkata Wijang.

Paksi mengerutkan dahinya. Katanya, “Tidak banyak anak di sini. Aku baru melihat dua orang anak yang berlari-larian di halaman”

“Ya” sahut Wijang, “tetapi mungkin anak-anak itu sedang menggembala kambing atau sedang merumput di pategalan”

Paksi tidak sempat menyahut. Mereka sudah sampai di pintu regol halaman sebuah rumah yang nampaknya lebih besar dari rumah-rumah di sekitarnya. Lebih terawat dan halamannya yang luas juga nampak lebih bersih.

“Agaknya inilah rumah Ki Bekel” berkata Paksi.

“Ya. Rumah ini lebih besar dari yang lain. Marilah”

Keduanya pun segera memasuki regol halaman rumah Ki Bekel itu.

Ketika seorang yang sedang duduk di tangga pendapa melihat kehadiran kedua orang anak muda itu, maka orang itu pun bangkit dan menyongsongnya.

“Apakah ini rumah Ki Bekel?” bertanya Wijang.

“Ya. Rumah ini adalah rumah Ki Bekel” jawab orang itu.

“Apakah aku dapat menemuinya?”

“Untuk apa?”

“Ada sedikit pesan bagi Ki Bekel”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab, “Ki Bekel masih tidur. Tadi juga ada seorang yang mencarinya. Tetapi orang dari padukuhan ini saja”

“Masih tidur? Maksudmu sejak pagi Ki Bekel belum bangun?”

“Belum, Ki Sanak. Semalam Ki Bekel berada di rumah tetangga sebelah yang melahirkan anaknya yang pertama. Ikut berjaga-jaga dan membaca tembang”

“Semalam suntuk?”

“Tidak. Menjelang tengah malam, Ki Bekel baru pulang”

“Menjelang tengah malam?”

“Ya”

“Lalu tidur sampai sekarang?”

“Ya”

“Bagaimana dengan kebiasaan Ki Bekel di hari-hari lain, jika Ki Bekel tidak berjaga-jaga di tempat orang yang sedang melahirkan atau mengunjungi perhelatan?”

“Ki Bekel tidak terlalu sering tidur terlalu malam”

“Kalau bangun?”

“Biasanya Ki Bekel bangun lebih pagi. Pada saat matahari sepenggalah, Ki Bekel tentu sudah bangun”

“Sampai matahari sepenggalah?”

“Ya, kenapa? Bukankah biasa seseorang bangun saat matahari sepenggalah?”

Wijang dan Paksi saling berpandangan sejenak. Agaknya Ki Bekel pun seorang pemalas, sehingga seluruh padukuhan seakan-akan telah menirukannya, menjadi seorang pemalas pula.

“Kapan Ki Bekel akan bangun?” bertanya Paksi.

“Aku tidak tahu, Ki Sanak”

“Apakah Ki Bekel dapat dibangunkan?”

“Tidak ada yang berani membangunkannya. Nyi Bekel  pun tidak. Apalagi orang lain”

“Jika ada masalah yang penting?”

“Yang berkepentingan harus menunggu”

“Jika masalah itu penting sekali sehingga harus mendapat penanganan dengan cepat?”

“Bukankah ada bebahu yang lain?”

“Jadi orang yang berkepentingan harus mencari bebahu yang lain? Siapa?”

“Menurut kepentingannya. Jika persoalannya menyangkut tentang ketenangan dan tata tertib, maka itu adalah tugas Ki Jagabaya. Mengenai persoalan-persoalan yang bersifat umum yang menyangkut hubungan antara keluarga padukuhan ini, adalah urusan Ki Kamituwa. Jika persoalannya menyangkut sawah dan pategalan, itu adalah urusan bebahu yang lain lagi”

Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Namun Wijang pun kemudian berkata, “Ki Sanak, jika demikian, biarlah kami menunggu. Mungkin di banjar atau di mana saja”

“Kau tidak usah pergi ke banjar. Jika kau memang akan menunggu, tunggulah di serambi gandok itu”

Wijang dan Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Wijang pun berkata, “Baiklah. Kami akan menunggu di sini”

“Nah, jika kau akan menunggu, silahkan duduk di serambi gandok. Mungkin kau merasa lebih bebas duduk di serambi daripada di pendapa”

Wijang lah yang menjawab, “Terima kasih, Ki Sanak. Kami akan menunggu di serambi”

Keduanya pun kemudian dipersilahkan duduk di serambi, di atas sebuah amben bambu yang memanjang. Beberapa saat lamanya mereka duduk di serambi sambil berbincang tentang padukuhan yang kering itu. Tetapi Ki Bekel masih juga belum menemuinya. Agaknya Ki Bekel itu masih belum bangun juga. Sementara itu, orang yang mempersilahkan mereka duduk itu pun tidak nampak lagi di pendapa.

“Sampai kapan kita harus menunggu?” bertanya Paksi.

“Kita tunggu sebentar lagi. Bukankah kita perlu bertemu dengan Ki Bekel itu untuk menunjukkan kepedulian kita?”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Wijang pun berkata pula, “Biarlah kita sedikit bersabar”

Ketika mereka mendengar langkah di pintu seketeng, maka yang mereka lihat kemudian keluar dari pintu itu adalah orang yang mempersilahkannya duduk di serambi sambil membawa minuman hangat serta beberapa potong makanan.

Ketika orang itu meletakkan sebuah nampan kayu di amben panjang itu, Paksi pun bertanya, “Apakah Ki Bekel sudah bangun?”

“Sudah, Ki Sanak. Baru saja”

—- > Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s