ISTANA YANG SURAM 14


ISTANA YANG SURAM

Jilid 14

Karya: SH Mintardja

kembali | TAMAT

Istana Yang Suram-14DIDALAM bayangan sebatang pohon perdu yang rimbun, Panon berhenti. Sejenak ia melihat ke halaman banjar itu, berkali-kali ia masih mendengar suara gelak tertawa, bahkan sambil mengerutkan keningnya, Panon mendengar mangkuk-mangkuk yang pecah.

“Agaknya orang-orang itu menjadi gila” geram Panon. Ia membayangkan beberapa orang mabuk tuak di dalam banjar itu.

Beberapa langkah Panon maju lagi, ia melihat penjaga regol berjalan hilir mudik.

“Dua orang” desis Panon.

Namun ia tidak segera dapat mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu, ia masih harus melihat keadaan yang akan berkembang di banjar itu.

Karena itu, maka Panon pun bergeser lagi, ia ingin berada di tempat yang memungkinkannya melihat langsung ke pendapa. Tetapi untuk berdiri di muka regol ia merasa cemas, bahwa kedatangannya akan diketahui oleh orang-orang Guntur Geni.

Bagaimanapun juga Panon harus melihat katanya, jika orang-orang Guntur Geni itu melihatnya dan mengejar bersama, maka ia akan mengalami kesulitan.

“Untunglah bahwa aku termasuk seorang pelari yang baik” gumam Panon di dalam hatinya.

Akhirnya Panon memutuskan untuk memanjat sebatang pohon duwet yang agak rimbun dan tidak terlalu dekat dengan dinding halaman.

Dari atas pohon duwet itu, Panon melihat, apa yang dilakukan oleh orang-orang Guntur Geni di pendapa. Di pendapa terdapat beberapa onggok makanan. Beberapa mangkuk berserakan dan beberapa guci yang agaknya berisi arak.

“Mereka telah menjadi gila” geram Panon

“Sepatutnyalah bahwa mereka harus dibinasakan, meskipun mereka bermaksud sama buruknya dengan orang-orang Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu, tetapi ternyata bahwa, tingkah laku mereka jauh lebih buruk dan kasar.

Akhirnya Panon tidak tahan lagi melihat tingkah laku mereka. Karena itu pun maka ia pun segera turun. Ia sudah sampai pada rencananya untuk memancing orang-orang Guntur Geni agar mereka segera menyerang istana kecil itu.

“Dengan demikian maka tugasku akan segera selesai”

Perlahan-lahan Panon mendekati dua orang penjaga regol yang berjalan hilir mudik. Sejenak Panon menunggui keduanya menjadi lengah.

Tetapi Panon menjadi gemetar ketika tiba-tiba saja ia mendengar suara seorang di balik dinding halaman banjar itu tanpa melihat orangnya, “He, malam ini terlalu dingin”

“Ya, malam ini memang dingin sekali” sahut yang lain.

Terdengar suara tertawa berkepanjangan dan terdengar pula suara yang lain melengking, “Apa salahnya jika kita berbuat sesuatu. Kita sudah terlalu kenyang, sekarang kita memerlukan yang lain.

Dada Panon bagaikan mendengar kata-kata yang dapat ditebak arahnya itu, ternyata seorang lain menyahut, “He, perintahkan dua orang pergi ke rumah Ki Buyut. Ki Buyut harus memberikan upeti bukan saja makanan. Di padukuhan itu, Kidang Alit pernah mendapatkan beberapa orang gadis cantik yang kemudian dipaksanya kawin dengan laki-laki lain, kita lebih baik dari Kidang Alit dan kita pun berhak mendapatkannya meskipun dengan cara berbeda”

Tetapi ternyata ada jawab yang tidak kalah lantangnya, “Kalian membuat perjuangan ini menjadi sial, aku tidak peduli apa yang kalian lakukan setelah usaha kita selesai”

Yang mendengar adalah suara tertawa berkepanjangan, terdengar suara melengking menyahut, “Jangan kau rintangi, justru karena kita masih akan bertempur besok atau lusa, kita akan meneguk katanya duniawi sebelum kita akan mati, he, siapa tahu, kepalaku besok terpenggal oleh orang-orang Cengkir Pitu atau Kumbang Kuning atau orang-orang dari istana itu”

“Persetan, jika kau mau mati, matilah” sahut yang lain.

Tetapi terdengar suara lain lagi, “Biarkan saja apa yang akan dilakukan. Itu adalah tanggung jawabnya sendiri. Dengan demikian mereka tidak akan merajuk lagi.”

Tidak ada jawaban, yang terdengar kemudian adalah pembicaraan yang tidak jelas dari balik dinding di seberang jalan.

Sesaat Panon menunggu, ternyata ia melihat dua orang keluar dari regol halaman, di regol keduanya berhenti sejenak, berbicara dengan penjaga, kemudian terdengar mereka tertawa tertahan.

Panon bukan seorang yang dungu, ia mengerti, apakah yang kira-kira akan mereka lakukan. Mereka akan pergi ke rumah Ki Buyut dan memaksakan kehendak dari beberapa orang pemimpin perguruan Guntur Geni itu.

“Ki Buyut tidak akan dapat menolak atau ia akan dibunuh sama sekali.” Geram Panon dalam hatinya.

Namun kematian Ki Buyut adalah korban yang sia-sia, karena mereka pasti akan tetap melakukan niatnya tanpa Ki Buyut. Mereka dapat memasuki setiap pintu, menyeret gadis-gadis keluar dari rumahnya dan memaksanya ke banjar.

Karena itu, Panon tidak dapat berpikir lain, ia mencoba untuk menghubungkan tindakan yang akan dilakukan dengan rencananya, ternyata ia menemukan jalan.

Karena itu, dengan diam-diam ia mengikuti dua orang yang berjalan maju ke rumah Ki Buyut.

“Tidak boleh terlalu jauh dari banjar” Panon menggeram. Dengan susah payah ia menahan gejolak hatinya dengan nalarnya. Betapa tangannya menjadi gemetar oleh dentang jantungnya yang memukul dinding dadanya. Orang-orang Guntur Geni itu di mata Panon tidak lagi sebagai manusia-manusia yang beradab, tetapi mereka adalah binatang-binatang buas, yang hanya pantas dimusnahkan.

Namun Panon tidak dapat kehilangan akalnya, ia sudah mempunyai rencana untuk memancing orang-orang Guntur Geni untuk segera menyerang istana kecil itu.

Panon masih mengikuti kedua orang-orang Guntur Geni itu, sekali-sekali ia berpaling untuk mengetahui jarak dengan banjar padukuhan yang baru saja ditinggalkannya.

Ketika jarak yang diperkirakan sudah cukup, maka Panon pun meloncat mendahului kedua orang itu lewat halaman di sebelah lorong, kemudian dengan berhati-hati ia meloncati dinding halaman, turun ke jalan dibawah rimbunnya dedaunan yang pekat di malam hari.

Tetapi ternyata kedua orang Guntur Geni itu segera melihatnya, karena itu langkah mereka pun terhenti.

Panon tidak merasa perlu untuk bersembunyi lagi, gejolak jantungnya hampir tidak tertahankan, ia tidak menghiraukan lagi, apakah kedua orang itu tidak akan membahayakan jiwanya.

Karena itu, maka Panon pun segera melangkah mendekat sambil bertanya, “Siapa kau?, bukankah kau keluar dari halaman banjar?”

Pertanyaan itu justru membuat kedua orang itu termenung-menung sejenak, bahkan mereka pun saling berpandangan dengan dada yang berdebar-debar.

“Jawab, kau tentu orang-orang Guntur Geni, He, apakah yang akan kau cari di malam buta ini?”

Baru sejenak kemudian kedua orang itu sempat mengatur perasaannya, salah seorang maju melangkah sambil menggeram, “Apakah kau orang gila?”

“Aku seorang dari penghuni istana kecil yang menjadi sasaran banyak perguruan itu, kau tentu akan pergi ke istana kecil itu pula untuk mencari pusaka yang kalian sangka ada disana”

Kedua orang Guntur Geni itu menjadi semakin heran, nampaknya orang yang dijumpainya di lorong yang gelap itu benar-benar orang tidak waras.

“Apa maksudmu menghentikan kami disini?”

“Tentu sudah jelas bagi kalian, kalian orang-orang Guntur Geni hanya pantas untuk dibunuh, tingkah laku kalian benar-benar tidak menunjukkan peradaban manusia yang paling rendah sekalipun, kalian tidak lebih terhormat dari serigala yang mencari sisa-sisa bangkai bekas makanan seekor harimau yang memburu mangsanya dengan keberanian”

“Kau mengigau seperti orang gila, aku kira kau memang orang gila”

“Apapun yang kau katakan, tetapi aku siap membunuh kalian”

Tiba-tiba saja kedua orang Guntur Geni itu tertawa, sambil memandang rumah yang diam membeku di sekitarnya ia berkata, “Seandainya rumah dan pepohonan itu mendengar kata-katamu, mereka tentu akan tertawa. He, bagaimana mungkin kau akan membunuh kami berdua?, apakah kau orang perguruan Kumbang Kuning, perguruan Cengkir Pitu atau perguruan yang lain lagi?”

“Aku telah membunuh orang-orang Cengkir Pitu dan orang-orang Kumbang Kuning, aku juga telah membunuh orang-orang Guntur Geni beberapa waktu yang lalu”

Wajah orang-orang Guntur Geni itu menegang, sejenak mereka saling berpandangan. Namun tiba-tiba saja salah seorang dari mereka tertawa, katanya, “Kau memang pandai menakut-nakuti orang. tetapi jangan mencoba menakut-nakuti kami. Kami adalah orang-orang Guntur Geni yang sudah kenyang makan garamnya kehidupan di wajah-wajah kegelapan”

“Baik” jawab Panon, “Marilah kita melihat bahwa kata-kataku bukan sekedar hanya menakut-nakuti saja”

Kedua orang Guntur Geni itu bersiap ketika mereka melihat Panon bergeser setapak.

“Kita akan bertempur, kau berdua akan mati dan sebentar lagi seluruh pasukan Guntur Geni akan musnah, tidak seorang pun yang pantas untuk dibiarkan hidup. Bagiku, orang-orang Cengkir Pitu dan Kumbang Kuning masih terlalu baik dibanding orang-orang Guntur Geni.”

Wajah orang Guntur Geni itu menjadi merah padam, hanya karena gelapnya malam, maka wajah-wajah itu nampaknya tidak berubah.

“Aku tidak mempunyai waktu mendengarkan bualanmu anak gila. Bersiaplah untuk mati. Para pemimpin dari Guntur Geni itu tentu sudah menunggu aku. Mungkin mereka menjadi tidak sabar lagi, sehingga mereka akan langsung keluar dan memasuki rumah-rumah di sekitar sini”

Panon menjadi gemetar menahan kemarahan yang memuncak, tetapi kemungkinan itu memang dapat terjadi, karena orang-orang Guntur Geni ternyata lebih buas dari serigala.

Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi Panon selain dengan secepatnya menyelesaikan kedua orang, kemudian memancing orang-orang Guntur Geni untuk datang ke istana kecil, sehingga mereka tidak sempat melakukan perbuatan terkutuk lebih lama lagi.

Selangkah Panon maju lebih dekat lagi, ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat kedua orang Guntur Geni itu menarik senjata mereka masing-masing.

“Kita akan bunuh anak ini secepatnya” berkata salah seorang dari mereka. lalu, “Dengan demikian kita akan cepat-cepat pergi ke rumah Ki Buyut”

Panon tidak menyahut, tetapi ia pun telah mencabut senjatanya pula, sebuah pisau belati. Ia sama sekali tidak gentar meskipun kedua lawannya mempergunakan senjata panjang.

Ketika orang Guntur Geni itu melangkah maju, diluar dugaan mereka, Panon telah meloncat menyerang dengan garangnya, pisau belatinya menyambar mendatar mengarah lambung.

Tetapi orang-orang Guntur Geni itu pun sempat mengelak, hampir bersamaan mereka menyerang Panon dari dua arah yang berbeda.

Panon sudah memperhitungkannya, ia meloncat menghindar, tetapi tangannya sempat terayun menggapai wajah lawannya dengan ujung pisau belatinya.

Dengan demikian maka orang lawannya yang wajahnya hampir saja tergores senjata itu pun terpaksa menghindar dan mengurungkan serangannya, sementara yang lain telah kehilangan sasaran, karena Panon sempat menggeliat dan melenting beberapa langkah.

Sejenak kemudian pertempuran itu pun semakin sengit, tetapi kedua orang Guntur Geni itu ternyata telah salah hitung, lawannya yang masih muda itu bukannya seorang orang dungu, yang terperosok kedalam satu perlawanan yang kurang dimengerti, tetapi ternyata bahwa lawannya yang muda itu benar-benar seorang yang memiliki kelebihan dari kebanyakan anak-anak muda sebayanya.

Dengan demikian maka, kedua orang itu harus mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada mereka, keduanya harus benar-benar bertempur dengan gigih untuk mempertahankan hidup mereka, pisau belati di tangan anak muda itu seolah-olah berterbangan mengelilingi kepala mereka dan sekali-sekali berdesing di ujung telinga.

Panon telah mengerahkan kemampuannya, ia ingin bekerja lebih cepat, jika ia terlalu lama, maka orang-orang di istana kecil itu tentu sudah menjadi gelisah, bahkan mungkin gurunya akan mengira bahwa ia menemui kesulitan di perjalanan.

Tetapi kedua orang itu bukannya merupakan kesulitan yang dapat teratasi bagi Panon, ketika ia mengerahkan segenap kemampuannya, maka ia pun mulai dapat menekan lawannya.

Dengan garang kedua orang Guntur Geni itu bertempur, mereka bukan saja bergerak dengan kasar, tetapi mereka juga berteriak-teriak seperti orang kesurupan.

Namun hal itu memang sudah diperhitungkan oleh Panon, karena itu, maka ia telah memperhitungkan jarak dari banjar, betapapun kedua orang itu berteriak, namun suaranya tidak akan sempat terdengar oleh orang-orang di banjar. Sehingga dengan demikian, Panon akan dapat menyelesaikan kedua orang itu tanpa diganggu.

Ketika salah seorang lawannya menjulurkan senjatanya, Panon mengelakkan diri sambil menyerang lawannya yang lain. tetapi lawannya masih sempat menghindarinya, bahkan lawannya yang gagal itu pun memburunya dengan senjata terayun.

Serangan itu datang dengan tergesa-gesa, Panon masih sempat memiringkan badannya, ia meloncat selangkah surut, namun tiba-tiba saja ia melenting menyerang diluar dugaan lawannya, justru lawannya yang seorang.

Serangan itu benar-benar tidak terduga, dengan serta merta lawannya menangkis.

Panon menarik serangannya, loncatannya yang cepat seperti burung sikatan membuat lawannya menjadi bingung, belum lagi yang seorang mampu memperhitungkan keadaan, tiba-tiba saja serangan Panon telah mematuk dadanya.

Kesempatan untuk menghindar dan menangkis, ternyata sangat sempit, meskipun demikian orang itu masih berusaha untuk menghindarinya.

Terdengar keluhan pendek, pisau belati Panon tidak dapat mengenai sasarannya, tetapi pisau itu sempat merobek bahu lawannya, sehingga darah mengalir dari urat-uratnya yang terputus.

Orang yang terluka itu menggeram, tetapi ia tidak sempat merenungi pedih di lengannya, Panon masih saja menyambar-nyambar dengan belatinya yang berkilat-kilat di malam gelap, seakan-akan pisau itu bercahaya kebiru-biruan.

Dengan garangnya Panon menyerang lawannya, dalam kegelapan tangannya mengambang bagaikan sayap-sayap garuda, selangkah demi selangkah lawannya terdesak surut.

Orang-orang Guntur Geni itu semakin lama menjadi semakin bingung. Rasa-rasanya ujung pisau itu memburu kemana saja mereka pergi. Desing yang mengerikan selalu membelit telinganya, sementara kulit mereka menjadi semakin pedih oleh sentuhan-sentuhan ujung belati yang tajam.

Sejenak kemudian, luka-luka itu telah menyentuh yang seorang lagi, kemudian terulang dan terulang, sehingga keduanya bukan saja menjadi basah oleh keringat, tetapi darah mereka pun bagaikan mengalir segenap tubuh.

Kedua orang Guntur Geni itu benar-benar tidak lagi mampu bertahan dengan pedangnya, karena itu, maka salah seorang segera bergumam, “Aku akan mempergunakan racun”

Panon tertegun sejenak, hanya sekejap. Namun serangannya telah meluncur di udara diantara geramnya, “Aku tidak takut racun, aku mempunyai penawarnya, di istana kecil itu terdapat berbagai macam penawar racun, diantaranya adalah Jalu Sisik Sasra”

Kedua orang Guntur Geni itu menggeram, namun tubuh mereka semakin lama menjadi semakin lemah.

Pada saat-saat yang paling gawat bagi keduanya, tiba-tiba saja Panon mengurangi tekanannya, bahkan kemudian ia berhenti menyerang. Selangkah ia meloncat mundur sambil berkata, “Kalian akan mati, aku juga memakai racun yang lebih kuat dari racun orang-orang Guntur Geni, tidak ada obat yang dapat mengobati luka-lukamu yang terkena belatiku yang beracun”

Kedua orang itu termenung-menung, tubuh mereka semakin lama menjadi gemetar.

“Anak iblis”

Panon tertawa, katanya, “Suara tidak akan terdengar dari banjar, mungkin penduduk yang tinggal di sekitar sini telah menggigil ketakutan mendengar teriakanmu”

Kedua orang itu tidak menyahut, dari tatapan mata mereka membayang kemarahan yang tiada taranya.

“Matilah dengan tenang, aku tidak akan mengganggu” berkata Panon kemudian.

Kedua orang itu berdiri termenung-menung, dengan tanpa berkedip mereka memandang Panon yang justru melangkah surut.

“Matilah, kalian memang harus mati. Orang-orang Guntur Geni harus mati seperti binatang buas yang tersesat di padukuhan”

Panon tidak menunggu jawaban, ia pun kemudian meloncati dinding, dan mendarat di jalan dan hilang dalam kegelapan.

Kedua orang itu berdiri termenung-menung, sejenak mereka saling berpandangan, namun kemudian mereka pun menyadari keadaannya, tubuh-tubuh mereka menjadi semakin lemah karena darah yang mengalir dari luka. Apalagi Panon telah mengatakan, bahwa pisaunya mengandung racun yang tajam.

“Kita kembali ke banjar” desis yang seorang dengan suara gemetar.

“Tetapi apakah kata mereka nanti, ketika mereka melihat kita seperti ini?”

“Mungkin mereka akan memberikan kita penawar racun”

Kedua orang itu termenung-menung sejenak, mereka ragu-ragu untuk kembali tanpa membawa hasil dari tugas yang dibebankan kepada mereka. tetapi mereka tidak dapat mengingkari kenyataan yang terjadi atas diri mereka.

Karena itu, maka keduanya pun kemudian kembali ke banjar. Para pemimpin mereka tidak akan dapat menutup mata tentang keadaan mereka. apalagi menurut anak muda yang mencegatnya, bahwa mereka telah terkena racun yang sangat kuat.

Tertatih-tatih keduanya berusaha untuk kembali ke banjar, sekali-sekali mereka harus berhenti, bersandar pada dinding sebelah jalan.

Diluar sepengetahuan mereka, ternyata Panon masih mengikuti mereka. Ia hampir kehilangan kesabaran, ketika kedua orang itu berjalan terlalu lamban. Namun ia harus menunggu, betapapun dadanya bergejolak oleh kemarahan yang bagaikan tiada tertahan. Rasa-rasanya ia ingin memusnahkan orang-orang Guntur Geni yang menurut pengamatannya lebih buas dari serigala itu. Namun ia pun masih dibayangi oleh akal sehat, sehingga ia harus melihat kenyataan bahwa orang-orang Guntur Geni membawa kekuatan yang sangat besar.

Karena itu, rencananya untuk memancing mereka ke istana kecil itulah yang akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Beberapa saat kemudian, kedua orang yang sudah terluka itu melangkah semakin dekat dengan banjar. Para penjaga regol sudah nampak berjalan hilir mudik, bahkan sejenak kemudian salah seorang dari kedua penjaga regol itu sudah melihat dua orang berjalan tertatih-tatih kearah mereka.

“Siapa disana?”

Kedua orang itu melangkah semakin dekat.

“Siapa kalian, He” teriak penjaga itu.

“Aku, aku” suaranya terputus-putus.

Kedua orang itu menjadi curiga, suara itu pernah didengarnya. Tetapi suara itu terdengar gemetar dan putus-putus.

Karena itu kedua penjaga telah melangkah mendekati kedua orang yang berjalan tertatih-tatih.

Dalam pada itu, Panon sudah menunggu, semula ia ingin meninggalkan bekas atas kedua orang yang terluka itu apabila mereka sudah berada di halaman banjar. Ia melihat kedua orang yang terluka itu telah berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Mereka merayap kembali ke banjar untuk mendapatkan pertolongan. Jika saat terakhir dari usahanya yang sudah mulai nampak di matanya, tiba-tiba saja maut merenggutnya, alangkah kecewa kedua orang itu, justru disaat terakhir.

Karena itu, Panon mengurungkan niatnya, yang nampak olehnya kemudian adalah kedua orang penjaga yang berjalan dengan tegap menjinjing senjata masing-masing.

Sejenak Panon menunggu. Dibiarkannya kedua penjaga regol itu berjalan semakin dekat.

Namun agaknya kedua orang itu pun menjadi ragu-ragu. Ia melihat kedua kawannya itu dalam keadaan tidak wajar, sehingga karena itulah maka mereka pun terhenti beberapa langkah di hadapan kedua orang yang terluka parah itu.

“Kenapa kalian?”

Kedua orang yang terluka itu mencoba untuk maju lagi, tetapi ternyata mereka sudah sangat lemah.

Salah seorang dari mereka menyahut, “Aku terkena racun”

“Siapa yang meracunimu?”

“Aku tidak tahu, menurut keterangannya, ia adalah seorang penghuni istana kecil itu”

Kedua penjaga itu termangu-mangu sejenak, sementara kedua orang yang terluka itu masih merintih.

“Tolonglah kami, aku tidak dapat melangkah lagi, tubuhku tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi, tanpa pertolongan. Tolong, panggillah Kiai Sampuragi. Mungkin ia dapat menolongku”

“Sampuragi tidak ada diantara kita, He, bukannya kau sudah tahu?”

“Siapapun dukun yang ada diantara kita, siapapun yang dapat menawarkan racun” suara orang itu semakin sayup.

Kedua penjaga itu termangu-mangu, tetapi mereka masih tetap berdiri di tempatnya.

Ternyata bahwa kedua orang yang terluka itu sudah tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Darah yang terluka banyak mengalir dari luka. Telah menghisap semua kekuatan yang ada pada keduanya, sehingga bagaimanapun juga keduanya mencoba berpegangan pada dinding halaman di sebelah jalan, namun akhirnya keduanya pun jatuh terduduk.

“Tolong, tolong kami” yang seorang mengeluh dengan suara yang semakin dalam.

Pada saat itulah, kedua orang penjaga itu seolah-olah tersadar dari cengkaman perasaannya yang tegang melihat peristiwa itu, karena itulah maka keduanya bersiap untuk berlari memanggil kawan-kawannya.

“Tolonglah mereka, aku akan memanggil dukun yang ada diantara kita”

“Panggil kawan-kawan, kita bawa mereka masuk ke banjar”

Tetapi keduanya ternyata tidak sempat berbuat apa-apa, kedua orang yang terluka itu pun terjatuh berguling di tanah.

Kedua orang penjaga itu justru berlari mendekati keduanya. Namun keduanya sudah menjadi sangat lemah, darah mereka terlalu banyak mengalir.

Seorang dari kedua penjaga itu pun menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis, “Tidak ada detak jantungnya lagi”

“Nampaknya yang seorang itu akan segera mati, tetapi yang seorang lagi?”

Tetapi yang terdengar adalah desah panjang, ternyata itu adalah tarikan nafas yang terakhir, berurutan kedua orang itu meninggal susul menyusul oleh luka yang arang keranjang karena goresan senjata Panon.

Panon yang menyaksikan semuanya itu dari kegelapan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, ternyata kedua orang itu memang sudah saatnya direnggut oleh maut. Meskipun ia tidak membunuhnya secara langsung seperti yang direncanakan, tetapi ia telah membunuhnya juga. Karena keduanya mati oleh luka-lukanya, sehingga darahnya telah terperas dari tubuhnya.

Yang tinggal adalah kedua orang penjaga yang masih saja mengamati-amati kedua sosok mayat itu, mereka mencoba melihat keduanya dengan seksama, meskipun tidak begitu jelas, tetapi mereka dapat melihat, luka-luka yang seolah-olah silang menyilang di seluruh tubuhnya.

“Darahnya mengalir dari segenap lukanya” desis yang seorang.

“Apakah ada tanda-tanda keracunan seperti yang dikatakannya?”

“Tidak nampak tanda-tanda itu di dalam kegelapan, tetapi seandainya mereka tidak terkena racun, mereka pun akan meninggal juga, luka-lukanya terlampau parah”

“Siapakah yang membunuhnya?” geram kawannya.

“Mereka telah menyebutnya, orang dari istana kecil itu”

“Gila, tentu tidak hanya dua orang, mungkin empat atau lima orang”

Yang lain tidak segera menyahut, tetapi terdengar ia menggeram menahan kemarahan yang menyesak dadanya.

“Kita akan menumpas seisi istana buruk itu” akhirnya ia berkata dengan nada datar, “Siapapun yang ada di didalamnya”

“Marilah, kita akan melaporkannya, kita panggil beberapa orang untuk membawa mereka ke banjar.

Keduanya tidak mengira bahwa mereka akan bertemu dengan orang-orang dari istana kecil itu, sehingga agaknya mereka tidak bersiap menghadapi kemungkinan ini”

“Kita akan segera bertindak, kita bakar istana itu menjadi abu”

Namun tiba-tiba kawannya berkata, “Tetapi pemimpin-pemimpin kita masih memerlukan sesuatu, bukankah keduanya telah ditugaskan pergi ke rumah Ki Buyut?”

“Persetan, mereka akan marah melihat keadaan ini, bukankah ini merupakan suatu penghinaan?”

Kawannya mengangguk-angguk, namun nampaknya ia masih berpikir.

Dalam pada itu, Panon telah mengambil keputusan untuk bertindak, ia harus berbuat sesuatu untuk menambah minyak pada api yang sudah mulai dinyalakan, ia harus meninggalkan ciri yang meyakinkan bagi orang-orang Guntur Geni bahwa yang sudah melakukan pembunuhan-pembunuhan itu adalah orang dari istana kecil itu.

“Aku harus melontarkan pisau dengan tepat” berkata Panon kepada diri sendiri.

Ia tidak ingin mengenai salah seorang dari kedua orang yang berjaga-jaga di depan regol itu, tetapi ia akan mengenai keduanya dengan pisau yang berciri seekor kuda dengan sayap terkembang.

Dengan sangat hati-hati Panon mendekat, sejenak ia mencari tempat yang paling baik di balik dinding batu. Kemudian dengan sangat cermat ia mulai membidik keduanya dengan pisaunya.

Sejenak kemudian tangannya telah terayun, cepat sekali. Ayunan yang pertama, kemudian disusul dengan ayunan yang kedua.

Terdengar kedua orang penjaga berteriak. Namun agaknya lontaran pisau Panon benar-benar telah mengenai sasarannya. Keduanya telah tertusuk dadanya langsung mengenai jantung.

Beberapa orang Guntur Geni yang ada di dalam banjar mendengar teriakan yang terputus itu, mereka tidak peduli dengan teriakan-teriakan orang-orangnya, tetapi teriakan maut itu telah menarik perhatian. Seorang yang kebetulan berada di depan banjar berlari-lari melintasi halaman.

Ia terkejut sekali melihat kedua orang kawannya telah terbaring di tanah tanpa bernafas lagi.

“Gila” ia berteriak, “Siapa yang telah berani melakukan ini?”

Tidak ada yang menjawab yang terdengar kemudian adalah langkah kawan-kawannya yang berlari-lari mendekat.

Dengan obor lampu minyak orang-orang Guntur Geni itu menerangi mayat kawan-kawannya. Dengan tangan gemetar mereka telah menemukan dua buah pisau tertancap di dada kedua penjaga yang bertugas.

“Seorang telah membunuhnya” geram salah seorang dari mereka.

Orang-orang Guntur Geni itu menjadi gempar ketika mereka melihat sebuah lukisan pada tangkai pisau belati tersebut.

Sejenak kemudian banjar padukuhan Karangmaja itu telah menjadi gempar. Orang-orang Guntur Geni mulai bergejolak, seorang yang bertubuh tinggi menggeram sambil berkata, “Kita bunuh semua orang Karangmaja. Wajah-wajah yang kasar itu menjadi semakin buas dan liar. Suara tertawa yang meledak-ledak telah terhapus oleh umpatan kasar, sementara yang lain dengan teliti mengamati lukisan yang terdapat di tangkai pisau itu.

“Seekor kuda terbang” desis seorang diantara mereka yang mengerumuni mayat itu.

“He..!!” tiba-tiba seorang menyibaki kawan-kawannya, “Apa katamu?”

Orang yang mengamati pisau itu mengulangi, “Di tangkai pisau ini diukir lukisan seekor kuda dengan sayap yang terkembang”

“Pangeran Kuda Narpada, Darimana kau dapatkan pisau itu?”

“Pisau ini tertancap di dada mayat ini”

Orang yang tertarik dengan pisau itu adalah Kiai Paran Sanggit, dan sekarang ia menjadi tegang, kemudian ia berteriak, “Berikan pisau itu kepadaku”

Dengan tegang pisau itu pun diserahkan kepada Kiai Paran Sanggit yang menerimanya dengan tangan gemetar. Namun ia benar-benar melihat goresan seekor kuda dengan sayap yang terkembang.

“Gila, ini benar-benar gila. Dan aku tidak percaya kalau yang melakukan adalah Pangeran Kuda Narpada. Pangeran itu sudah lama terbunuh dan tidak pernah terdengar namanya lagi”

Seorang yang bertubuh pendek mendekatinya, dengan suara yang lirih ia bertanya, “Kenapa kau menjadi gemetar?”

“Lihat” sahut Kiai Paran Sanggit sambil menyerahkan pisau itu.

“Kau cepat menjadi cemas, setiap orang dapat membuat goresan semacam ini, aku pun bisa”

“Tetapi makna dari lukisan ini adalah seorang”

Ki Dumi orang yang bertubuh kecil dan pendek itu tertawa, jawabnya, “Apa artinya ciri seorang jika orang lain ingin mengaburkannya, Kuda Narpada sudah mati, mungkin di istana itu masih tersimpan banyak sekali pisau-pisau kecil serupa itu”

“Jadi siapakah yang mempergunakannya?”

“Siapa saja yang ada di istana itu, Kuda Rupaka, Kidang Alit, tikus piti atau siapa lagi”

“Kau memang terlalu sombong” seorang yang bertubuh tinggi raksasa menyahut dari kegelapan.

Ki Dumi berpaling, sementara orang yang tinggi besar itu masih meneruskan, “Tubuhmu yang kecil kerdil itu telah membuat jiwamu bergejolak untuk membuat imbangan atas kekecilan tubuhmu. Tetapi kau jangan menganggap bahwa di halaman istana tidak ada orang yang mampu memutar lehermu”

Ki Dumi tertawa, jawabnya, “Justru kekerdilan tubuhku inilah bekal yang paling berarti bagi ilmuku, dengan tubuh kecil dan pendek, maka sulit bagi seorang untuk menyentuh dan apalagi menangkap aku”

“Tetapi yang dapat kau lakukan atas lawan-lawanmu hanyalah sekedar berlari-larian tanpa berbuat sesuatu”

Ki Dumi tertawa semakin keras, katanya, “Ki Sraba yang perkasa, kau jangan menghina aku, untunglah aku baru saja mendapatkan makanan yang enak dari orang-orang Karangmaja, sehingga aku tidak mudah menjadi marah, tetapi jika kau ingin bertanding, marilah, kita bertaruh, siapakah diantara kita, kau yang bertubuh raksasa dan aku yang kau anggap kerdil ini dapat menelan makanan lebih banyak.”

“Cukup” potong Kiai Paran Sanggit, “Kita sedang menghadapi persoalan yang sungguh-sungguh. Bukan sekedar kelakar anak-anak gila seperti kalian.”

Ki Sraba menarik nafas dalam-dalam, jawabnya, “Jangan cepat marah Kiai. Aku tahu persoalan yang kita hadapi memang persoalan yang gawat. Tetapi bukankah aku juga sedang memperingatkan kepada Dumi kecil ini, bahwa di istana itu ada orang-orang yang harus kita tanggapi dengan sungguh-sungguh.”

Ki Dumi lah yang masih tertawa, katanya, “Orang-orang seperti Kiai Paran Sanggit tentu akan cepat menjadi tua” tetapi baiklah. kita akan mempersoalkan pisau-pisau itu dengan sungguh-sungguh. Pisau itu tentu ada hubungannya dengan Pangeran Kuda Narpada, begitu pendapatmu?”

“Ya” jawab Kiai Paran Sanggit, lalu, “Tetapi itu bukan berarti bahwa Pangeran Kuda Narpada sendiri yang harus memperguna-kan, seandainya ia benar-benar sudah mati. Tetapi yang telah membunuh kedua pengawal itu tentu orang-orang yang datang dari istana kecil itu, bukan orang Karangmaja. Aku yakin, orang-orang Karangmaja tidak akan ada yang berani melakukannya. Ingat, bahwa di dalam istana itu dijumpai orang-orang dari Cengkir Pitu dan Kumbang Kuning”

“Aku sudah tau” seorang yang lain memotong. Seorang yang sudah lanjut usia. Punggungnya sudah agak bungkuk. Ia berdiri dan berpegangan sebuah tongkat yang panjang berkepala ular yang terbuat dari baja dengan lidahnya terjulur, katanya kemudian, “Ketika kau minta aku ikut serta dalam pasukanmu, kau sudah mengatakan bahwa kita akan melawan orang-orang Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu. tetapi pisau itu bukan ciri orang-orang Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu. Aapakah tidak mungkin ada pihak lain yang ikut serta terlibat dalam perebutan ini?”

“Jangan mempersulit jalan pikiranmu, orang-orang Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu telah menemukan pisau itu di istana. mereka mempergunakannya untuk membunuh kedua pengawal itu” sahut Kiai Paran Sanggit, lalu, “Sekarang kita harus berbuat sesuatu, ini adalah tantangan, lebih dari itu, ini adalah satu penghinaan”

Ki Dumi masih saja tertawa, katanya, “Jangan meradang seperti anak-anak, kita datang kesini untuk bertempur, kau telah minta kepadaku agar aku membantumu merampas pasukan yang ada di istana itu, karena itu, kemungkinan-kemungkinan serupa ini sudah aku pikirkan akan terjadi”

Wajah Kiai Paran Sanggit yang tegang masih saja menegang, dengan lantang ia berkata, “Kita akan memasuki istana sekarang juga”

Ki Sraba mengangguk-angguk, katanya, “Kapan saja aku sudah bersedia. Aku memang berharap bahwa Guntur Geni akan mendapatkan pasukan yang sedang diperebutkan itu. jika kemudian ternyata dari pasukan itu dapat diketahui pasukan-pasukan yang lain dan kemudian dicari kelengkapannya di gedung perbendaharaan, maka Guntur Geni akan mendapatkan wahyu keraton. He, siapakah kelak yang akan menjadi raja, jika wahyu itu tiba di perguruan Guntur Geni?”

“Kiai Paran Sanggit adalah orang yang memiliki syarat untuk menerima wahyu itu” potong Kiai Kebo Ander, orang tua yang bongkok, yang sering disebut juga Kiai Bongkok dari Gunung Gamping, “Aku percaya bahwa di dalam susunan silsilahnya, ia adalah keturunan Perabu Kertajaya. Nah, itulah sebabnya aku bersedia ikut bersamanya. Tetapi darah keturunan itu, tidak seorang akan dapat menerima wahyu keraton”

 

“Kiai melupakan Ken Arok, anak petani miskin itu” teriak Ki Dumi tiba-tiba, “Aku pun dapat menjadi sarang wahyu keraton jika memang itulah yang harus terjadi, dan aku memiliki syarat yang lengkap”

“Ken Arok adalah putera Dewa Brahma” teriak Ki Sraba.

“Cukup” Kiai Paran Sanggit memotong, “Kita tidak sedang membicarakan keturunan. Kita menghadapi orang-orang Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu. Meskipun aku yakin bahwa mereka akan saling bertempur, namun menghadapi kita, mereka agaknya telah mempersatukan diri”

Ki Dumi akhirnya berhenti tertawa, sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Baiklah, kita akan pergi ke istana itu. aku setuju kita pergi sekarang, agar orang-orang Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu tidak menganggap bahwa kita pengecut”

Ki Sraba mengangguk-angguk, sedang Ki Kebo Ander berkata, “Tetapi jangan sekedar diburu oleh kemarahan hati, kita akan menyerang sekarang dengan sadar sepenuhnya, bahwa kita akan bertempur melawan orang-orang yang mempunyai nama. Selebihnya kita harus menahan diri agar kita masing-masing tidak menjadi tamak dan menghendaki pasukan yang ada di istana itu bagi diri kita sendiri, maksudku, kita masing-masing”

Kiai Paran Sanggit mengerutkan keningnya, ia melihat sorot mata yang aneh di wajah Ki Kebo Ander, namun Kiai Paran Sanggit tidak mencemaskannya, ia kenal orang tua itu dengan baik. apalagi ia membawa murid-muridnya lengkap jika seorang dari kawannya akan berkhianat.

Ki Sraba menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia tidak menyahut, Ki Dumi lah yang kemudian berkata, “Kita besiap sekarang, kita akan pergi ke istana kecil itu, kita akan menumpas semua orang yang ada di dalamnya, siapapun mereka, kemudian kita akan menunggu hadiah yang akan diberikan oleh Kiai Paran Sanggit kepada kita tanpa menghiraukan apakah pasukan itu akan dapat membuatnya menjadi raja seperti moyangnya, Maharaja Kediri atau Singasari atau manapun juga, kita pun tidak akan bertanya, kenapa Kiai Sekar Pucang yang telah membebaskan dirinya dari peredaran waktu itu tidak ikut serta bersama kita sekarang”

“Ia harus mengurung diri” jawab Ki Kebo Ander, karena meskipun ia dapat membebaskan diri dari perjalanan waktu, tetapi ia masih belum dapat membebaskan diri dari kematian, itulah agaknya yang sedang dicapainya sekarang”

“Pembicaraan ini selalu saja berbelok” potong Kiai Paran Sanggit, “Kita akan bersiap sekarang, dan kita akan menyerang istana itu”

Beberapa orang yang lain saling berpandangan sejenak, namun mereka pun kemudian mengikutinya pula, sementara beberapa orang telah mengangkat mayat kedua kawannya yang terbaring dan meletakkannya di pendapa”

Sejenak kemudian, Kiai Paran Sanggit dan kawan-kawannya telah siap dengan kudanya masing-masing, dengan lantang Kiai Paran Sanggit berteriak, “Kita semuanya akan pergi, tidak ada seorang pun yang tinggal”

Ki Dumi menahan senyumnya, katanya berbisik di telinga Ki Sraba, “Buat apa tinggal di banjar jika kita sudah berada di padukuhan ini?”

“Kata-kata tidak ditujukan kepada kita, tetapi kepada murid-muridnya yang sebagian besar adalah pengecut”

Ki Dumi tertawa, tetapi ia tidak menjawab.

Sejenak kemudian, maka orang-orang Guntur Geni itu telah siap. Mereka sudah bertekad untuk menghancurkan isi istana kecil itu, siapapun yang ada di dalamnya. Kemudian merampas pusaka yang tersimpan di istana itu.

Setelah semuanya siap, maka sesaat kemudian kuda-kuda itu pun telah berderap di sepanjang jalan padukuhan. Suaranya telah mengejutkan orang-orang yang telah tidur. Tetapi beberapa orang telah mengangkat kepalanya di pembaringan, namun mereka pun menjadi berdebar dan kembali berbaring sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut kain panjangnya.

Ki Buyut pun mendengar derap kaki kuda itu, seolah-olah debar jantungnya sendiri. Ia menjadi cemas, bahwa kedua anak muda yang telah singgah di rumahnya mengalami kesulitan dan tertangkap, atau orang-orang berkuda itu sedang mengejarnya.

Sejenak Ki Buyut termangu-mangu, ia meletakkan kepalanya lagi di pembaringannya, tetapi ia tidak dapat memejamkan matanya.

“Apa yang dapat aku lakukan?” pertanyaan itu telah mengganggunya.

Tiba-tiba saja Ki Buyut meloncat bangun. Dirabanya senjatanya yang disimpannya di bawah tikar. Kemudian dengan dada yang berdebar-debar ia keluar dari biliknya.

“Aku harus memberitahukan kepada isi istana itu, mungkin akan ada bencana yang menimpa pada Raden Kuda Rupaka dan Panon. bisiknya di telinga anak muda yang tidur di rumahnya.

“Ki Buyut” anak muda itu mencoba mencegahnya, “Itu berbahaya sekali”

“Beberapa hari yang lalu aku juga melakukan sesuatu yang sangat berbahaya, tetapi aku tetapi hidup, namun jika harus mati sekarang, aku sudah berterima kasih, bahwa umurku sudah bertambah beberapa hari sejak kematian yang seharusnya sudah menerkam aku” jawab Ki Buyut.

Anak muda itu tidak dapat mencegahnya lagi, ia hanya dapat menahan nafas ketika ia melihat Ki Buyut meninggalkan rumah pintu butulan dan hilang di kegelapan.

Seperti yang pernah dilakukan, Ki Buyut berjalan menuju ke istana kecil itu tanpa perasaan takut. Ia merasa mempunyai kewajiban untuk memberitahukan, bahwa mungkin sekali telah terjadi sesuatu dengan anak muda yang telah berada di padukuhan.

“Mudah-mudahan aku tidak terlalu lambat. Kuda-kuda itu sudah hilang dan suaranya tidak terdengar lagi. Mungkin mereka telah menangkap kedua anak muda itu, atau mungkin mereka akan menyerang istana kecil itu, sementara penghuni-penghuninya sedang tidur lelap” katanya kepada diri sendiri.

Diluar sadarnya Ki Buyut telah berlari-lari kecil. Ia sama sekali tidak menghiraukan apa yang akan mungkin terjadi atasnya. Karena itu, maka ia pun sama sekali tidak berusaha untuk berlindung dalam bayangan dedaunan atau menelusuri dinding batu, ia berlari-lari saja di sepanjang jalan dengan nafas yang mulai tersengal-sengal.

Ki Buyut terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seseorang muncul dari balik gerumbul, justru ia sudah mendekati jalur jalan menuju ke istana kecil diluar padukuhan.

Dengan serta merta ia mencabut senjatanya dan siap bertempur mempertaruhkan nyawanya.

Tetapi orang itu nampaknya tidak ingin berbuat sesuatu. bahkan terdengar suaranya berdesis, “Ki Buyut”

Ki Buyut mengerutkan keningnya, dalam keremangan malam ia melihat seorang anak muda mendekatinya.

“Panon”

“Ya, Ki Buyut. Aku Panon”

“Oh, jadi kau selamat?, tetapi dimana Raden Kuda Rupaka?”

“Ia sudah berada di istana”

“Tetapi apa yang sudah terjadi?”

Panon termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Ki Buyut, keadaan menjadi gawat, sebaiknya Ki Buyut kembali saja ke padukuhan, jangan meneruskan perjalanan ke istana itu”

“Kenapa?”

“Sudahlah, besok Ki Buyut akan mengetahuinya.”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak, namun Panon mendesaknya, “Ki Buyut harus mendengarkan pengamatanku, orang-orang Guntur Geni telah menyerang istana kecil itu, tetapi Raden Kuda Rupaka telah mendahului aku dan memberitahukan kepada orang-orang yang berada di istana itu, bahwa mereka harus mempersiapkan diri”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak, namun Panon mendesaknya lagi, “Cepatlah sedikit Ki Buyut, aku akan segera pergi menyusul orang-orang berkuda itu”

Ki Buyut masih tetap berdiri di tempatnya, namun kemudian ia bertanya, “Apakah orang-orang Guntur Geni itu tidak membahayakan kalian yang berada di istana?”

“Mudah-mudahan tidak Ki Buyut. Kami akan berusaha menjaga diri sebaik-baiknya”

Ki Buyut mengangguk-angguk, katanya, “Baiklah Panon, hati-hati, aku akan berdoa untuk keselamatan kalian yang berada di istana itu. Orang-orang Guntur Geni adalah orang-orang yang tidak mengenal peri kemanusiaan. Mereka memiliki permainan yang sangat berbahaya yang dapat membuat seorang bisu, buta, tuli dan lumpuh”

“Banyak diantara kami yang memiliki penawarnya Ki Buyut. Racun itu sama sekali tidak akan berarti apa-apa bagi kami”

Ki Buyut mengerutkan keningnya, Kidang Alit, anak muda yang mengaku bernama Raden Kuda Rupaka, dan kini orang-orang lain yang berada di istana kecil itu, sama sekali tidak takut terhadap racun yang mungkin dibawa oleh orang-orang Guntur Geni.

Ketika Panon mendesaknya sekali lagi, maka Ki Buyut pun kemudian minta diri dan meninggalkan Panon dalam gelapnya malam.

Panon memandang langkah Ki Buyut menjauh dan hilang dalam kegelapan, sejenak Panon termangu-mangu, namun ia pun kemudian melangkah menuju istana kecil yang sudah tidak terlalu jauh lagi. Ia yakin bahwa kuda yang berderap di jalan berbatu-batu itu sudah sampai di muka pintu gerbang istana kecil yang suram itu.

Sebenarnyalah, bahwa sekelompok orang berkuda telah berhenti di muka pintu gerbang. Seperti yang dikehendaki oleh Panon dan Raden Kuda Rupaka, yang telah memperbaiki pintu gerbang itu, maka orang-orang Guntur Geni tidak dapat langsung memasuki halaman. Mereka berhenti di muka pintu gerbang dan untuk beberapa saat menilai keadaan.

Tetapi nampaknya halaman istana kecil itu tetap sepi, tidak ada seorang pun yang dapat dilihat dari luar pintu gerbang, melintas atau berjaga-jaga.

Kiai Paran Sanggit yang berada di paling depan termangu-mangu sejenak, ia sudah mendengar bahwa beberapa orang dari Cengkir Pitu dan Kumbang Kuning telah meninggalkan sarang mereka menuju ke pegunungan Sewu.

“Mereka tentu akan memasuki istana ini” tiba-tiba Kiai Paran Sanggit menggeram.

“Tetapi istana itu nampaknya sepi sekali” sahut Ki Dumi.

“Apakah mereka sudah berhasil merampas pasukan itu dan meninggalkan istana kecil ini?” desis Ki Sraba.

“Tentu tidak” sahut Kiai Paran Sanggit, “Tetapi agaknya mereka telah bersembunyi. Mereka ingin membunuh orang-orang kita satu demi satu, karena mereka silau melihat jumlah kita yang tentu jauh lebih besar dari mereka.”

“Kita akan memasuki halaman ini” berkata Ki Kebo Ander, “Apapun yang sudah dan akan terjadi, adalah tanggung jawab kita semuanya, pembunuhan yang licik itu mg suatu tantangan dan sekaligus suatu penghinaan. Soalnya bukan sekedar upah yang akan kita terima dari Kiai Paran Sanggit jika ia menemukan pasukan itu dan kemudian dengan kelengkapannya akan dapat meraih derajat dan pangkat. Tetapi kita juga bertanggung jawab kepada harga diri kita masing-masing sebagai orang yang paling dihormati diantara sesama di daerah kita masing-masing”

Ki Dumi tertawa, katanya, “Kau juga merajuk seperti Kiai Paran Sanggit, Kiai. Tetapi kau benar, aku pun merasa bahwa penghinaan ini tidak dapat dibiarkan tanpa hukuman”

“Juga seandainya Kuda Narpada ada di istana itu, aku ingin membunuhnya sekali lagi jika benar ia bangkit dari kuburnya” geram Ki Sraba.

Namun tiba-tiba Ki Dumi berkata lantang, “Kita tidak hanya akan berbicara panjang, kita akan masuk dan kita akan menghancurkan semuanya, jika perlu istana kecil ini harus dibakar agar kita dapat menemukan pasukan yang sedang kita cari”

“Pasukan itu akan rusak dan kehilangan arti” potong Ki Kebo Ander.

“Tidak, tempat penyimpanan pasukan itu tentu tidak akan terbakar. Dan kita akan cepat menemukannya, aku tidak pernah peduli bahwa penghuni-penghuni istana itu akan terbakar habis” jawab Ki Dumi.

“Kau sudah putus asa, anak kerdil. Kita akan mulai dengan menguasai segala-galanya” sahut Ki Sraba.

Ki Dumi mengerutkan keningnya, tetapi sebelum ia menjawab, Kiai Paran Sanggit sudah mendahuluinya, “Kita akan menghancurkan regol ini terlebih dahulu, dan kita akan memasuki istana dan mengepungnya”

“Jangan hanya bicara, aku akan masuk sekarang” geram Ki Kebo Ander.

Seperti yang dikatakan, Ki Kebo Ander tidak menunggu lagi, ia pun kemudian meloncat dari kudanya, dan sekali hentak dengan kakinya, regol itu sudah berserakan.

Ki Kebo Ander tidak naik ke punggung kudanya lagi, bahkan dengan acuh tak acuh ia berjalan sambil menuntun kudanya memasuki halaman, seolah-olah tidak sedang berada di tempat yang berbahaya.

Ternyata tidak seorang pun yang nampak di halaman, dan apalagi mengganggunya, dengan tenang ia sempat mengikat kendali kudanya pada sebatang pohon perdu di samping regol halaman. kemudian berjalan melangkah sambil berteriak nyaring, “He, siapa yang ada di dalam, keluar!!”

“Jangan berteriak” Kiai Paran Sanggit memotong, “Kita akan mengepung istana ini”

“Cepat, lakukanlah” jawab Ki Kebo Ander.

Sejenak kemudian derap kaki kuda pun menjadi gemuruh di halaman istana itu, beberapa ekor kuda berlari-lari melingkari halaman dan mengepung istana itu dari segala arah”

Ketika mereka telah mendapat tempat yang sesuai dengan rencana mereka di seputar istana itu, maka mereka pun segera berloncatan turun pula dan mengikat kuda masing-masing pada batang-batang pohon yang ada di sekitar mereka.

Sementara itu Kiai Paran Sanggit yang berada di halaman depan, sekali lagi berdesis, ketika Ki Kebo Ander akan berteriak. Namun agaknya Ki Kebo Ander tidak telaten lagi, sekali lagi ia berteriak, “He, orang-orang Kumbang Kuning dan orang-orang Cengkir Pitu, Kidang Alit dan Raden Kuda Rupaka. atau siapa lagi yang ada di dalam, keluarlah. Kita akan bermain sejenak. Mungkin hanya sekedar bermain”

Tetapi ternyata halaman istana itu masih sepi.

“Gila” Kiai Paran Sanggit pun ternyata menjadi marah. “Kalian orang-orang Cengkir Pitu dan Kumbang Kuning, cepatlah keluar. Kawanku sudah terlanjur berteriak, dan aku pun akan berteriak lebih keras, karena kalian telah membunuh orang-orang kami dengan licik dan pengecut”

Ki Kebo Ander memandang Kiai Paran Sanggit sejenak, kemudian gumamnya, “Kau juga berteriak”

“Aku jemu mendengar suaramu. Lebih baik aku mendengar suaraku sendiri”

Ki Dumi tidak dapat menahan diri lagi, suara tertawanya meledak memenuhi halaman istana yang suram itu, memecah kesepian malam, suaranya bagaikan gemuruh guntur yang bergema di lembah yang panjang dan curam.

Ki Sraba mengerutkan keningnya, ia sadar, bahwa Ki Dumi tidak sekedar mentertawakan Ki Kebo Ander dan Kiai Paran Sanggit, tetapi ia telah melontarkan kekuatan ilmunya yang mengguncang istana kecil itu.

“Meskipun tubuhnya kerdil, tetapi suaranya bagaikan suara raksasa kelaparan” desis Ki Sraba kepada diri sendiri.

Ternyata suara Ki Dumi benar-benar mempengaruhi seisi istana kecil itu, sehingga istana kecil itu bagaikan diguncang oleh gempa bumi”

Di dalam istana kecil itu, cahaya lampu minyak memancarkan cahayanya yang kemerah-merahan, namun tidak seorang pun yang nampak di dalamnya. Bilik-biliknya telah kosong dan pintunya tidak lagi tertutup.

Betapapun suara Ki Dumi mengguncangnya, tetapi istana kecil itu tetapi diam.

“Gila” tiba-tiba Kiai Paran Sanggit menggeram, “Apakah orang-orang di dalamnya sudah mati?”

“Kita akan melihatnya” teriak Ki Kebo Ander.

Seperti pada saat masuk, maka dengan tenang Ki Kebo Ander itu pun melangkah menaiki tangga pendapa, beberapa orang yang menyaksikannya semula ragu-ragu, namun kemudian mereka pun mengikutinya pula.

Ki Kebo Ander berhenti sejenak di muka pintu di belakang pringgitan, seolah-olah ingin mendengarkan, apakah ada suara sesuatu di halaman rumah itu, tetapi agaknya telinganya yang memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, sama sekali tidak mendengar desah nafas sekalipun.

“Rumah ini telah kosong” geram Ki Kebo Ander.

Kiai Paran Sanggit mengerutkan keningnya. Dengan nada yang bagaikan berputar di dalam perutnya ia menyahut, “Apakah kau yakin?”

“Ya, aku yakin. Tidak seorang pun yang ada di dalam Rumah ini”

Kiai Paran Sanggit tidak sabar lagi, tiba-tiba saja kakinya telah menghantam pintu sehingga berderak keras sekali.

Pintu yang tidak kuat itu pun terbuka. Yang nampak adalah sebuah lampu minyak berkeredipan di ruang dalam.

“Kau lihat” berkata Ki Kebo Ander.

Kiai Paran Sanggit segera memasuki istana kecil itu, dengan tegang ia melihat setiap bilik yang kosong dan ruangan-ruangan yang tidak berpenghuni.

“Gila” teriak Kiai Paran Sanggit, “Apakah orang-orang Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu telah berhasil mendapatkan pusaka itu?”

“Tetapi dimanakah perempuan dan anaknya yang tinggal di rumah ini?” bertanya Ki Sraba.

“Tentu Kuda Rupaka yang gila itu yang membawanya atau Kidang Alit seperti yang dikatakan orang kepadaku. Ia adalah seorang anak muda yang menyukai gadis-gadis cantik, sehingga dari istana ini telah dibawa pusaka dan perempuan” geram Kiai Paran Sanggit.

“Jadi apakah kita terlambat?” bertanya Ki Dumi

“Kerdil gila, kenapa kau bertanya?, kau lihat sendiri, apakah yang ada di istana ini sekarang?” jawab Kiai Paran Sanggit.

Tetapi Ki Dumi justru tertawa, jawabnya, “Kau benar-benar orang yang tidak nalar, kenapa kau marah-marah dan mengumpat-umpat?, jika kita datang terlambat, apa boleh buat, masalahnya tidak akan dapat diulangi dengan mengumpat seperti orang mabuk tuak”

Ki Sraba menyahut, “Ki Dumi, kau benar-benar orang yang tidak berperasaan, cobalah ikut menyatakan bela sungkawa atas keterlambatan ini. Kiai Paran Sanggit telah dikecewakan oleh keadaan yang tidak disangkanya, kau justru menambah hatinya semakin pahit”

“Baiklah” jawab Ki Dumi, tetapi Kiai Paran Sanggit segera memotong, “Cukup. Kalian tidak dapat berolok-olok, kita tidak akan berhenti sampai disini”

“Apa lagi yang akan kau lakukan?” bertanya Ki Kebo Ander.

“Kita akan menyusul kemanapun mereka pergi. Mereka tentu belum terlalu lama meninggalkan istana ini”

“Darimana kau tahu?” bertanya Ki Sraba.

“Mereka masih sempat menyalakan lampu. Secepatnya mereka pergi tentu sesudah gelap” jawab Kiai Paran Sanggit, “Diantara mereka terdapat perempuan, tentu tidak akan dapat berjalan terlalu cepat”

“Tetapi aneh sekali” berkata Ki Dumi kemudian, “Aku tidak melihat bekas perselisihan. Apakah orang-orang Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu sudah dapat menemukan persetujuan dengan orang-orang lain yang katanya berada di halaman istana ini pula?”

“Itu bukan urusan kita, kita harus menyelusuri jejak mereka kemana mereka pergi, mungkin ke perguruan Cengkir Pitu, tetapi mungkin pula ke perguruan Kumbang Kuning”

Ki Kebo Ander mengangguk-angguk, katanya kemudian, “Apakah diantara kalian ada orang-orang yang memiliki kemampuan menyelusuri jejak?”

“Tidak hanya satu atau dua, tetapi sepuluh orang, mereka akan mengenal jejak kuda maupun jejak orang yang baru dan yang lama, meskipun hanya sekedar dibawah nyala obor” jawab Kiai Paran Sanggit.

Ki Kebo Ander mengangguk-angguk, katanya, “Baiklah, kita sudah menjadi kuyup, karena itu, jangan kembali ditengah, sungai ini harus diseberangi sampai ke tepian”

Orang-orang yang berada di dalam rumah itu pun kemudian bersiap-siap untuk menyusuri. Namun tiba-tiba saja Ki Sraba berkata, “Aku ingin melihat, betapa api dapat menyala di istana ini, lampu itu masih menyimpan minyak, jika minyak itu aku tuangkan pada dinding, maka aku akan menemukan kegembiraan”

Kiai Paran Sanggit memandanginya sejenak, namun ia tidak menghiraukannya lagi, apakah istana itu akan dibakar atau dirobohkan.

Tetapi selagi Ki Sraba termangu-mangu, maka mereka telah mendengar isyarat dari anak buah mereka yang ada diluar. Karena itu dengan serta merta, mereka pun segera berloncatan keluar.

Dada mereka menjadi berdebar-debar, mereka melihat beberapa ekor kuda memasuki halaman lewat regol yang sudah pecah. Dibelakang orang berkuda, ada yang membawa obor, nampak dalam keremangan umbul-umbul kebesaran Demak.

Nampaknya sepasukan prajurit tugas telah datang ke istana kecil itu bersama beberapa orang pengawal.

“Gila” Kiai Paran Sanggit berteriak, “Itu tidak mungkin”

Dua orang yang membawa obor menyibak ke tepi. Mereka memandang orang-orang Guntur Geni yang bergeser ke tengah, seakan-akan memang dengan sengaja memberikan tempat kepada para prajurit Demak itu.

Di tengah-tengah tiba-tiba saja telah muncul seorang senapati dalam pakaian kebesarannya membawa sepucuk tombak dengan panji-panji keprajuritan.

Kiai Paran Sanggit menjadi semakin berdebar-debar, dengan tajamnya ia memandang senapati yang duduk tegak diatas punggung kudanya, dengan segala kelengkapan sebagai pertanda bahwa ia telah menerima limpahan kekuasaan dari Sultan Demak.

“Ki Sanak” suara senapati itu terdengar bagaikan bergema di seluruh halaman, “Aku tahu kalian adalah orang-orang Guntur Geni. kalian telah melakukan banyak kesalahan terhadap negara dan sesama. Kali ini kalian berusaha untuk mendapatkan satu diantara pusaka-pusaka yang menjadi sipat kandel Demak, bukan untuk kalian kembalikan, tetapi untuk kalian miliki sendiri”

“Ya” teriak Kiai Paran Sanggit, “Aku tidak ingkar bahwa aku adalah pimpinan tertinggi dari perguruan Guntur Geni yang ada disini. Aku tidak ingkar bahwa aku berusaha untuk menemukan pusaka yang pernah diberikan kepada Pangeran Kuda Narpada pada saat kekuasaan Majapahit runtuh”

“Ki Sanak” berkata senapati itu pula, “Aku mendapat tugas diantara beberapa orang perwira yang tersebar, untuk menemukan kembali semua pusaka dan benda-benda kebesaran Majapahit yang mungkin masih tercecer dan belum dapat dikumpulkan di Demak yang telah mengambil alih kekuasaan Majapahit dan berusaha untuk mengembalikannya kembali setelah Majapahit runtuh oleh sekelompok orang yang tidak mempunyai perhitungan luas dan dipengaruhi oleh keinginan pribadi”

“Aku tidak peduli” teriak Kiai Paran Sanggit, “Lakukanlah tugasmu dengan baik, tetapi aku pun akan melakukan tugasku sebaik-baiknya pula”

“Sudah Ki Sanak” jawab senapati itu, “Aku sudah berhasil melaksanakan tugas yang dibebankan kepadaku, aku telah menemukan pusaka itu dan telah aku kirim kembali ke Demak, mudah-mudahan perwira-perwira yang lain yang mendapatkan tugas yang berbeda, telah melaksanakannya pula seperti aku”

“He?” wajah Kiai Paran Sanggit menjadi tegang.

Dalam ketegangan itu, tiba-tiba saja terdengar suara Ki Dumi tertawa, suaranya menggelegar gemuruh bagai guntur yang meledak di setiap rongga dada.

Kiai Paran Sanggit menyadari bahwa Ki Dumi mulai tidak sabar lagi. Ia mulai menunjukkan kemampuannya dalam lontaran ilmunya lewat nada-nada tertawanya.

Senapati yang duduk di punggung kuda itu mengerutkan keningnya, namun kemudian ia pun tersenyum pula. Oleh cahaya obor yang kemerah-merahan nampak wajah senapati yang sama sekali tidak menghiraukan suara tertawa Ki Dumi. Bahkan katanya kemudian, “Ki Sanak, kedatangan kalian telah terlambat, tetapi lebih dari pada itu, bahwa kami telah memikul tugas sebagai seorang prajurit. Kecuali menemukan pusaka-pusaka yang hilang dan benda-benda kebesaran yang lain, kami tetap pada kewajiban kami untuk menjaga ketenangan seluruh wilayah Demak, termasuk daerah Pegunungan Sewu ini. Karena itu, maka kami telah datang menemui kalian yang terbukti telah berusaha merampok istana kecil yang terpencil ini”

“Cukup” tiba-tiba saja Ki Sraba berteriak, “Apa gunanya kalian sesorah dihadapanku, aku bukan orang dari perguruan Guntur Geni, tetapi aku adalah saudara terdekat dari padanya, aku tidak mau mendengar kau berkicau di malam begini, diamlah. Dan kembalilah ke Demak, katakan kepada Sultan, bahwa aku adalah orang yang berdiri diluar segala macam hukum dan ketentuan yang berlaku di Demak”

“Jadi hukum apakah yang berlaku atasmu?”

“Hukum kekuatan, kau datang dengan beberapa orang pengawal. Aku bersama dengan beberapa orang kawanku, tegasnya kami tidak akan tunduk kepadamu sebelum kami menjadi bangkai disini, itulah hukum yang berlaku atas kami, tetapi sebaiknya kalianlah yang akan menjadi bangkai makanan burung gagak disini.”

Senapati itu mengerutkan keningnya, ketika ia berpaling kearah para pengawalnya, tiba-tiba saja terdengar suara Ki Kebo Ander menggelegar, “Jumlah kami jauh lebih banyak dari jumlah pengawalmu, tidak ada jalan kembali bagi kalian, karena kalian telah membuat hatiku terbakar”

“Baiklah” jawab senapati itu, “Kita akan bertempur jika hukum yang berlaku atas kalian adalah hukum kekuatan. Kami akan menjalankan tugas kami dengan cara yang kalian kehendaki”

“Cukup” teriak Kiai Paran Sanggit, “Kita bertempur sekarang”.

Kiai Paran Sanggit yang marah itu pun kemudian melangkah mendekat setapak demi setapak. Tetapi kemarahan yang membakar dadanya bagaikan nyala di perut Gunung Merapi.

“Senapati” geram Kiai Paran Sanggit, “Sebut namamu sebelum bangkaimu di koyak-koyak burung gagak atau anjing liar”

Senapati itu mengerutkan keningnya, dengan isyarat ia memerintahkan para pengawalnya untuk menempatkan diri.

“Namaku Bondan Lamatan, Pangeran Bondan Lamatan”

Kiai Paran Sanggit menggeram katanya, “Kau adalah orang yang malang dari Demak, karena kaulah yang mendapat tugas naik ke Pegunungan Sewu. Disini, seorang pangeran akan terkapar mati. Tetapi jawab pertanyaanku Bondan Lamatan, apakah kau yang telah memerintahkan prajuritmu dengan licik membunuh kedua kawanku?”

Pangeran Bondan Lamatan mengerutkan keningnya, ia teringat pada Kuda Rupaka, apa yang akan dilakukan oleh Panon, karena itu maka jawabnya, “Bukan aku Ki Sanak, tetapi Pangeran Kuda Narpada”

“Gila, apa kau sudah gila?, apakah Pangeran Kuda Narpada dapat bangkit dari kuburnya?”

“Agaknya memang demikian, dan kini ia berada di dalam istananya”

“Tidak, rumah tua itu sudah kosong, kami baru saja memeriksanya”

Pangeran Bondan Lamatan mengerutkan keningnya, sejenak ia termangu-mangu, namun kemudian ia berkata, “Ia ada di istana ini, lihat, ia berdiri di pintu pringgitan”

Semua orang berpaling, mereka melihat Ki Wirit berdiri di pintu pringgitan yang sudah terbuka, tetapi ia sama sekali tidak dapat dikenal sebagai Pangeran Kuda Narpada.

“Ia adalah Pangeran Kuda Narpada” berkata Bondan Lamatan, “Percaya atau tidak percaya, tetapi ia memiliki ciri-ciri Pangeran Kuda Narpada dan sebenarnyalah ia adalah orang yang kau sebut telah bangkit dari kuburnya”

Kiai Paran Sanggit menjadi tegang sejenak, namun kemudian ia tertawa, “Permainan yang tidak aneh, ia dapat saja memasuki rumah tua itu saat aku keluar dari dalam. Apakah kau ingin memberi kesan bahwa orang itu semacam hantu yang mempunyai kelebihan dari manusia wajar?”

“Sama sekali tidak” berkata Pangeran Bondan Lamatan, “Tetapi aku hanya mengatakan bahwa kalian telah terkepung. Di dalam rumah itu ada dua orang yang lain. Raden Kuda Rupaka dan Panon Suka. Seperti yang kau katakan, ia memasuki rumah itu sesudah kau keluar.

Tetapi bahwa ia dapat memasukinya tanpa diketahui oleh orang-orangmu atau olehmu sendiri adalah pertanda bahwa mereka memiliki kelebihan ilmu dari orang-orang kebanyakan. Orang-orangmu yang kau anggap sudah menguasai seluruh halaman depan dan halaman belakang, sama sekali tidak melihat mereka bertiga”

Kiai Paran Sanggit menggeram, namun kemudian katanya, “Kami bukan kanak-kanak yang takut melihat kucing merunduk tikus, ayo, sekarang serahkan pusaka itu kepadaku. Kau pasti sudah menipu Raden Ayu Kuda Narpada dengan janji-janji yang tidak masuk di akal, atau justru kau telah menipu kami. Bahwa pusaka itu masih ada disini, tetapi Raden Ayu Kuda Narpada telah kau tangkap dan akan kau peras untuk menunjukkan pusaka itu”

Pangeran Bondan Lamatan mengerutkan keningnya, kemudian jawabnya, “Aku adalah senapati yang mengemban tugas dengan tanda-tanda dan ciri-ciri jabatanku, kenapa kau masih juga mengigau dengan khayalan yang aneh itu?. Sekarang menyerahlah. Atau aku akan memaksamu dengan kekerasan”

Kiai Paran Sanggit menggeram, tetapi yang terdengar adalah suara tertawa Ki Dumi yang menggetarkan jantung, “Pangeran yang baik hati” katanya, “Hamba mohon ampun, bahwa hamba terpaksa menolak tawaran yang seharusnya hamba junjung tinggi itu, karena wajah wajah pangeran sama sekali tidak meyakinkan bahwa pangeran akan dapat melakukan tugas pangeran dengan baik”

Darah Pangeran Bondan Lamatan bagaikan mendidih, Raden Kuda Rupaka dan Panon yang kemudian berdiri di pintu pringgitan pula, tidak dapat menahan gejolak hatinya mendengar kata-kata orang kerdil itu.

Namun ternyata Pangeran Bondan Lamatan tertawa pendek sambil menjawab, “Baiklah Ki Sanak, kekerdilanmu membuat kau mencari imbangan, agaknya kau berhasil dengan menguasai ilmu menghalau burung dengan suaramu yang mengandung getaran-getaran pengecut itu. Tetapi kami bukannya burung pipit yang hinggap di padang padi, itulah sebabnya kami tidak terkejut mendengar suaramu yang pasti sudah kau lontarkan dengan segenap ilmumu”

“Persetan” Ki Dumi menggeram, “Kau memang harus dibunuh”

“Jangan banyak berbicara” sahut Ki Kebo Ander, “Lihat akulah yang akan membunuh orang yang disebut Pangeran Kuda Narpada itu. Mungkin ia memang mempunyai pisau-pisau kecil yang dicurinya dari istana ini”

Ki Kebo Ander tidak menunggu jawaban. Ia pun segera memutar tubuhnya dan melangkah mendekati Pangeran Kuda Narpada yang berdiri di depan pintu pringgitan, disebelahnya berdiri Raden Kuda Rupaka dan Panon.

Ki Dumi termangu-mangu sejenak, lalu katanya, “Yang mana yang bernama Kuda Rupaka”

Kiai Paran Sanggit mengerutkan keningnya, lalu katanya, “Tidak ada orang yang Kuda Rupaka disitu”

“Yang disebelah kananku ini adalah Kuda Rupaka yang sebenarnya” berkata Pangeran Kuda Narpada

“Disebelah kiri ini adalah muridku, Panon. Orang-orang Guntur Geni yang pernah datang sebelumnya mengenal keduanya, meskipun mereka mengenal anak muda ini bernama Sangkan”

Ki Dumi tiba-tiba berlari-lari kecil, sambil meloncat-loncat ia mendekati Ki Kebo Ander sambil berkata, “Serahkan Kuda Rupaka itu kepadaku. Aku akan mencekiknya”

“Daripada aku tidak mendapat bagian” berkata Ki Sraba, “Biarlah aku membunuh anak dungu itu, selebihnya, aku akan membunuh setiap prajurit yang datang kepadaku”

“Bunuh mereka semuanya” teriak Kiai Paran Sanggit, “Senapati yang sombong itu kalian serahkan kepadaku, aku akan mencincangnya sampai lumat”

Pangeran Bondan Lamatan tidak menjawab lagi, ia pun kemudian menyerahkan kudanya kepada para pengawal yang membawa menepi.

Sejenak kemudian, kedua pihak bersiap menghadapi kemungkinan yang akan terjadi. Seolah-olah masing-masing telah memilih lawan, sedangkan para prajurit Demak sudah siap menghadapi para pengikut Kiai Paran Sanggit.

“Jangan takut kepada racun orang-orang Guntur Geni” berkata Pangeran Bondan Lamatan kemudian.

“Persetan” teriak Kiai Paran Sanggit.

Tidak ada jawab namun mereka pun telah dikejutkan oleh pertempuran yang justru telah terjadi disisi istana kecil itu.

“Apa yang telah terjadi?” teriak Kiai Paran Sanggit.

Tidak segera terdengar jawaban, tetapi pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit.

“Jangan terkejut” berkata Pangeran Bondan Lamatan, “Orang-orangmu telah disergap oleh para pengawal istana, sebelum aku datang bersama pasukanku dari Demak. Orang-orang Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu, juga kalian orang-orang dari Guntur Geni yang telah mencoba merampas pusaka ini, tidak dapat menembus pertahanan mereka. Apalagi kini, aku datang bersama pasukanku”

“Gila” geram Kiai Paran Sanggit, “Aku juga tidak sendiri”

Tang terdengar kemudian adalah teriakan Kiai Paran Sanggit yang menggema di lembah-lembah Pegunungan Sewu, “Bunuh semua orang yang berada di halaman istana ini, bakar istana ini menjadi abu, dan musnahkan semua sisa-sisanya rata dengan tanah”

Sejenak kemudian, maka para murid dari Guntur Geni itu pun segera menyerang para prajurit Demak yang sudah siap menghadapi mereka.

Dalam pada itu, Ki Kebo Ander telah berhadapan dengan Pangeran Kuda Narpada yang sudah siap pula, sejenak mereka saling berpandangan, namun tiba-tiba terdengar Ki Kebo Ander berdesis, “Apakah benar kau Pangeran Kuda Narpada?, memang ada kesamaan dari sinar matamu yang menusuk jantung itu”

“Mana yang baik menurut pertimbanganmu Ki Kebo Ander. Sebenarnya kedatanganmu ke rumah ini memberikan pengharapan baru bagiku. Jika aku dapat bertemu muka dengan saudara yang satu ini. Aku berharap bahwa aku dapat menggelitik perasaannya, karena kau sudah menempuh jalan yang salah”

“Siapa namamu?” desis Ki Kebo Ander, “Kau tentu mempunyai nama lain seandainya kau mengaku Pangeran Kuda Narpada”

“Namaku Ki Wirit, aku adalah guru anak muda yang bernama Panon Suka, yang barangkali memang anak nakal. Ia telah menggunakan pisau-pisauku untuk membunuh orang-orang Guntur Geni yang berada di regol banjar. Tetapi aku tidak menyangka bahwa kesesatanmu sudah terlalu jauh, sehingga kau berada diantara orang-orang Guntur Geni”

Wajah Ki Kebo Ander menjadi muram, tetapi sejenak kemudian terdengar giginya gemeretak. “Jangan pedulikan aku memang ingin tahu, betapa tebal kulitmu, atau barangkali nyawamu memang rangkap. Tetapi jika kau akan mati sekali lagi, kau tentu tidak akan dapat bangkit dari kuburmu”

Pangeran Kuda Narpada tersenyum, sekilas dipandanginya Ki Dumi yang sudah berhadapan dengan Raden Kuda Rupaka dan Ki Sraba yang dengan tegang memandang Panon yang berdiri dengan gagahnya.

“Jadi kau yang telah membunuh kedua pengawal pintu gerbang banjar itu, He?” bertanya Ki Sraba.

Panon menarik nafas dalam-dalam.

“Kemudian kau menyelinap memasuki istana ini dari belakang, ya kan?”

Panon masih tetap diam.

Ki Sraba yang kemudian merasa terhina oleh kediaman Panon berteriak, “He, apakah kau tuli, atau bisu?”

Panon masih tetap diam tidak menyahut, namun karena itu, kesabaran Ki Sraba telah sampai ke puncaknya, sehingga tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang.

Panon sudah memperhitungkannya. Itulah sebabnya maka ia pun segera bergeser menghindar, sehingga serangan itu sama sekali tidak mengenainya.

Tetapi Ki Sraba yang marah tidak menghentikan serangannya, ia segera meloncat sambil berputar, kakinya menyerang mendatar setinggi lambung.

Namun Panon masih sempat mengelak dengan sebuah loncatan surut.

Sementara itu Ki Dumi tertawa berkepanjangan katanya, “Jangan cepat marah Ki Sraba, lawanmu sengaja membuat kau marah. Orang yang marah akan kehilangan akalnya, karena……”

Ki Dumi tidak dapat melanjutkan kata-katanya, serangan Raden Kuda Rupaka tiba-tiba saja hampir menyengat dagunya. Karena itu, ia harus bergeser dan memiringkan kepalanya.

“Gila” teriak Ki Dumi, “Kau memang anak setan, anak iblis, pengecut yang tidak tahu malu”

“Jangan lekas marah Ki Sanak” tiba-tiba saja terdengar suara Raden Kuda Rupaka, “Kau akan kehilangan akalmu”

“Tutup mulutmu cindil abang” teriakan Ki Dumi menjadi semakin keras.

Pangeran Kuda Narpada tersenyum, katanya kepada Ki Kebo Ander, “Inilah kemanakan Pangeran Kuda Narpada yang bernama Kuda Rupaka, yang telah dipalsukan untuk mendapat-kan pusaka yang ada di istana ini. Tetapi usaha itu sama sekali tidak berhasil”

Ki Kebo Ander termangu-mangu sejenak, tiba-tiba saja ia berkata, “Semakin lama aku semakin percaya, bahwa kau adalah Pangeran Kuda Narpada”

“Terserah kepadamu”

“Tetapi bukankah kau sudah mati dibunuh oleh kedua pangeran itu?”

“Bukan kita yang menentukan kematian seseorang, meskipun menurut perhitungan manusia, kita sudah tidak lagi dapat menghindarkan diri dari maut, tetapi ternyata Yang Maha Agung menentukan lain”

“Dan kau benar Pangeran Kuda Narpada”

“Ya, aku adalah Pangeran Kuda Narpada”

Wajah Ki Kebo Ander menjadi merah padam, dengan suara datar ia berkata, “Sepanjang peristiwa yang pernah terjadi diantara kita, aku tidak pernah menang melawanmu, tetapi aku tidak jemu-jemunya mencoba menebus kekalahan demi kekalahan yang pernah aku alami”

“Dan sekarang?, apakah kau ingin menebus kekalahan itu?, justru pada saat kau berada dipihak orang-orang Guntur Geni?”

Ki Kebo Ander termangu-mangu, sekilas dipandanginya pertempuran yang telah menyala membakar seluruh halaman istana kecil itu.

Namun di mata Ki Kebo Ander, pertempuran itu menjadi semakin lama semakin kabur. Yang nampak di matanya adalah peristiwa puluhan tahun yang lalu, peristiwa yang telah melibatkannya dalam perkelahian melawan Pangeran Kuda Narpada, perkelahian yang telah lama terjadi.

Justru dalam keriuhan pertempuran di halaman istana kecil itu, maka yang telah terjadi puluhan yang lalu itu bagaikan nampak lagi di matanya, semakin lama semakin jelas.

***

“Kenapa kau hentikan aku disini?” bertanya seorang anak muda yang duduk diatas punggung kudanya bersama beberapa orang pengawalnya.

Seorang anak muda yang lain, yang berdiri sambil bertolak pinggang tertawa, di belakangnya berdiri beberapa orang anak-anak muda yang lain dalam sikap yang serupa.

“Kuda Narpada” berkata anak muda yang berdiri tegak dengan bertolak pinggang, “Marilah kita membicarakan persoalan terjadi diantara kita”

Anak muda di punggung kuda yang disebut Kuda Narpada itu mengerutkan keningnya, katanya, “Apakah ada persoalan diantara kita?”

“Kau gila, kau coba mengingkarinya?, aku kira kau seorang laki-laki jantan, tetapi agaknya kau adalah seorang pengecut yang tidak kenal diri”

Anak muda di punggung kuda itu mengerutkan keningnya, sejenak ia termangu-mangu, kemudian katanya, “Daripada aku harus berteka-teki, katakan. Apakah persoalan yang ada diantara kita itu?”

Anak muda yang berdiri sambil bertolak pinggang tiba-tiba saja tertawa, katanya, “Kuda Narpada, kau menjadi ketakutan, He” lalu katanya kepada kawan-kawannya yang berdiri di belakangnya, “Lihat, betapa pucat wajahnya, meskipun ia dikawal oleh beberapa orang pengawalnya, namun ia menjadi ketakutan”

Kuda Narpada yang menggeretakkan giginya, tetapi ia masih tetap menahan diri.

“Katakan, katakan” Kuda Narpada menggeram.

“Baik, baik. Jika kau masih berpura-pura tidak mengetahui, maka aku akan mengatakannya” anak muda itu berdiri sejenak, lalu, “Kuda Narpada, setiap orang tahu, bahwa Puteri Trang Wisesa Wardani adalah seorang gadis yang akan menjadi pendamping hidupku, aku sudah mempersiapkan diri menghadapi hari-hari perkawinanku. Meskipun tataran kebangsawanan ku kalah selapis dari Puteri Trang Wisesa Wardani, tetapi hubunganku antara seorang perempuan tidak lagi dapat dipisahkan oleh tataran itu. Dan agaknya kau yang merasa dirimu dalam tataran yang sama, telah berusaha untuk menguasai gadis itu”

Wajah Kuda Narpada menjadi merah padam, dengan suara datar ia berkata, “Jangan mengada-ada, aku kenal siapa kau sebenarnya. Bukan karena aku lebih tinggi selapis dalam tataran kebangsawanan ku, tetapi tingkah lakumu memang sudah terlalu banyak menumbuhkan persoalan. adalah mustahil bahwa kau sudah terlibat dalam hubungan pribadi yang mendalam dengan Puteri Trang Wisesa Wardani. Puteri itu adalah seorang gadis yang jarang sekali keluar dari istananya. mustahil bahwa ia telah berkenalan dengan anak muda seperti kau”

“Kuda Narpada, kau jangan berpura-pura dungu, meskipun aku resminya seorang bangsawan dari garis keturunan yang berbeda-beda, tetapi setiap gadis di Majapahit selalu berusaha mengintip jika aku lewat. Kuda Narpada, aku hanya datang ke Majapahit sepekan sekali, bahkan lebih. Namun aku adalah anak muda yang paling dikenal di Majapahit, melampaui anak muda yang tinggal di Kota Raja ini”

“Mungkin kau benar, setiap gadis di Kota Raja ini mengenalmu, tetapi bukan karena mereka tertarik kepada pribadimu, kepada ketampananmu. Tetapi mereka tertarik kepada namamu yang sudah terlalu banyak dikenal orang, kau dengan lima atau enam orang kawanmu tidak mempunyai kesibukan lain kecuali menyusuri jalan-jalan sambil membuat onar. Menakut-nakuti rakyat kecil, berkelahi dengan sesama anak jalanan, dan sekali-sekali namamu selalu dihubungkan dengan air mata gadis-gadis muda yang kehilangan kegadisannya”

“Omong kosong” anak muda yang berdiri bertolak pinggang itu memotong, “Semuanya omong kosong. Jika kau tidak percaya, bertanyalah kepada Puteri Trang Wisesa Wardani. Setiap kali ia menyelinap keluar istana apabila ia mendengar suaraku, tanyalah kepada seorang emban tua yang selalu mengawasinya jika gadis itu dengan diam-diam keluar dari istana”

Wajah Kuda Narpada menjadi tegang, namun ia masih saja mencoba untuk menenangkan hatinya.

“Sayang” katanya kemudian, “Aku tidak dapat mempercayaimu, aku lebih percaya kepada para penasehatku, kepada orang-orang tua kami yang telah merestui hubungan dengan Puteri Trang Wisesa Wardani, dan kepada gadis itu sendiri”

Tetapi anak muda yang bertolak pinggang itu tertawa berkepanjangan, katanya, “Itu adalah kebodohanmu yang paling menggelikan, kau kira bahwa gadis itu akan dengan terus terang mengatakan kepadamu bahwa ia mencintai aku?”

“Jika cintanya mendalam dan jika ia sudah bertekad untuk hidup bersama dengan seorang laki-laki, maka sebagai seorang gadis dari keturunan kesatria, ia akan berterus terang, meskipun akan berakibat buruk sekalipun” Kuda Narpada berhenti sejenak, lalu, “Nah, terhadap gadis yang demikian kau baru mempertaruhkan nyawamu untuk merebutnya, jika gadis itu bukan gadis yang menyerahkan segenap cintanya, dalam bayangan hidup atau mati, kenapa kau bersusah payah mempertaruhkan nyawamu?”

“Siapa yang mempertaruhkan nyawa?” tiba-tiba saja anak muda itu bertanya.

Kuda Narpada terkejut, sejenak ia termangu-mangu, sementara anak muda itu berkata terus. “Aku tidak mempertaruhkan nyawaku sekarang ini. Tetapi aku menemuimu untuk minta agar kau batalkan niatmu untuk memperisteri Puteri Trang Wisesa Wardani. Jika kau berkeberatan, maka kami akan menghajarmu sampai kau jera, itu saja”

Kuda Narpada menjadi tegang, dengan suara berat ia berkata, “Sudah sering aku mendengar, kau membuat persoalan dengan anak-anak muda sebayamu, sekarang akulah yang menjadi sasaran. Tetapi baiklah. aku akan melayanimu apa saja yang kau kehendaki agar kau tidak menyangka bahwa anak jalanan sajalah yang mampu menjaga diri dan nama baiknya dengan kekerasan, jika kau memang menghendaki agar kita berkelahi, sebaiknya kau tidak usah mencari banyak alasan dan menyinggung harga diri Puteri Trang Wisesa Wardani. Lebih baik kau katakan saja, bahwa kau ingin menggangguku dan menantangku berkelahi”

Wajah anak muda itu menegang, belum pernah ia bertemu anak muda segarang Kuda Narpada, yang dalam hidupnya sehari-hari merupakan anak muda yang luruh agak pendiam, namun tiba-tiba ia kini dapat bersikap garang.

Tetapi sejenak kemudian anak muda itu tertawa sambil berkata, “Bagus, marilah kita berkelahi, tempat ini cukup sepi”

Kuda Narpada yang telah turun dari kudanya bertanya dengan tenang, “Apakah yang kau kehendaki?, apakah kita akan berkelahi seorang lawan seorang, atau kau akan membawa semua kawan-kawanmu serta dalam perkelahian yang ribut seperti yang sering kau lakukan dimana-mana?”

“Persetan”, geram anak muda itu, “Aku akan membuatmu cacat di wajahmu yang mulus itu, sehingga Puteri Trang Wisesa Wardani yang cantik itu tidak akan sudi menjadi isterimu, meskipun seandainya kau seorang pangeran Pati di Majapahit”

“Apapun yang akan kau lakukan terserahlah, tetapi kau belum menjawab pertanyaanku. Jika kau ingin berkelahi beramai-ramai, maka beberapa orang pengawalku yang jumlahnya hanya kira-kira separuh dari kawan-kawanmu itu akan berbuat terlalu banyak, karena tugas mereka memang untuk berkelahi” sahut Kuda Narpada.

Sekali lagi anak muda itu tercekat, ternyata Pangeran Kuda Narpada telah mempergunakan istilah-istilah yang dapat menyentuh perasaan anak muda jalanan itu. Kuda Narpada telah menyebut para pengawalnya sebagai orang-orang yang tugasnya memang untuk berkelahi.

Namun sejenak kemudian terdengar anak muda itu menggeram, “Kita akan berkelahi seperti laki-laki, kau melawan aku, karena persoalannya memang menyangkut kau dan aku”

“Baiklah” jawab Kuda Narpada tenang.

Setelah menyerahkan kudanya kepada seorang pengawalnya, maka Kuda Narpada pun mempersiapkan dirinya, kepada para pengawalnya ia berpesan agar mereka tidak mencampuri persoalannya dengan anak muda itu.

Sejenak kemudian keduanya telah besiap, kedua anak muda itu nampaknya mempunyai kelebihan masing-masing, keduanya bertubuh sedang dengan sikap yang cepat cekatan.

“Hati-hatilah pangeran, sebenarnya lebih baik kau serahkan saja puteri kepadaku. Kau akan aku bebaskan” geram anak muda itu.

Tetapi Kuda Narpada menjawab, “Jika bukan kau, akulah yang mencarimu dan menantang kau untuk berkelahi”

Jawab itu benar-benar telah membakar hati anak muda itu, karena itu maka tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Tetapi Kuda Narpada pun telah besiap menghadapi kemungkinan itu, sehingga ia pun sempat mengelak dan bahkan dengan tangkasnya ia pun telah menyerang lawannya pula.

Perkelahian yang sengit tidak dapat dihindarkan lagi. Beberapa orang kawan anak muda itu segera mengerumuninya. Mereka berteriak-teriak dan mengacu-acukan tangannya.

Para pengawal menambatkan kuda-kuda mereka pada pohon-pohon perdu di pinggir jalan. Meskipun Kuda Narpada telah memesan agar mereka tidak melibatkan diri, namun mereka merasa perlu untuk besiap-siap menghadapi segala kemungkinan dari anak-anak muda jalanan yang nakal itu.

Dugaan anak muda itu ternyata keliru, Kuda Narpada bukannya seorang bangsawan yang cengeng, yang hanya pandai menghias diri dan menyusuri jalan-jalan raya dengan kuda yang bagus, ternyata Kuda Narpada memiliki kemampuan yang tidak teratasi oleh lawannya.

“Setan alas” geram anak muda itu, ia merasa bahwa ilmu yang diterimanya dari perguruannya telah cukup, namun menghadapi Kuda Narpada itu ia telah terdesak.

Ketika tangannya terayun menghantam kening, tiba-tiba saja terasa tangan itu bagaikan dihentakkan dengan kuatnya, agaknya Kuda Narpada berhasil menangkap tangannya yang terjulur,

Anak muda itu tidak sempat berbuat banyak, ketika Kuda Narpada memutar tubuhnya sambil merendah, kemudian menarik tangan lawannya diatas pundaknya dan menghentakkannya kuat-kuat.

Anak muda itu terlempar melalui pundak Pangeran Kuda Narpada dan dengan kerasnya terbanting di tanah.

Terasa punggungnya bagaikan patah, ketika ia meraba kepalanya, darah telah mengalir memerahi jari-jarinya. Agaknya kepalanya telah terantuk sebongkah batu yang tajam dan melukainya.

Kuda Narpada berdiri tegak dihadapannya, dengan garangnya anak muda itu membentaknya, “Bangun, katakan, apakah kita akan melanjutkan perkelahian?”

Lawannya tidak menjawab.

“Sekali ini aku maafkan kau. Tetapi jika kau sekali lagi menyebut dan apalagi menyinggung harga diri puteri Trang Wisesa Wardani, maka aku tidak akan memaafkan kau lagi. Aku akan menyerahkan kau kepada para prajurit, agar kau mendapatkan hukuman yang setimpal”

Anak muda itu tidak menjawab, dengan wajah dan darah mengalir dari luka di kepalanya, ia berjalan kearah kawan-kawannya, dengan isyarat ia pun mengajak mereka pergi.

Namun dengan demikian anak muda itu telah menyimpan dendam di hatinya.

Ki Kebo Ander menggelengkan kepalanya, kenangan itu jelas nampak diangan-angannya, bahkan kemudian disusul dengan angan-angannya yang menyusuri jalan hidupnya.

Beberapa tahun kemudian.

Setelah anak muda itu menyempurnakan ilmunya, diluar kehendaknya ia telah bertemu kembali dengan iring-iringan prajurit Majapahit yang dipimpin oleh orang pangeran. Pangeran Kuda Narpada..

Timbullah niatnya untuk mencoba pangeran itu sekali lagi, apalagi ketika ia mendengar bahwa sekelompok prajurit itu baru saja berhasil menumpas segerombolan penjahat yang telah mengacaukan beberapa daerah terpencil.

“Pangeran” berkata orang yang menghentikan iring-iringan itu, “Persoalan kita adalah persoalan pribadi. Meskipun sekarang pangeran membawa sekelompok prajurit, jika pangeran memang seorang kesatria, apalagi yang telah berhasil menghancurkan segerombolan penjahat, maka aku mengharap bahwa kita akan menyelesaikan persoalan kita sebagai laki-laki”

Sekali lagi Pangeran Kuda Narpada tidak menolak, ia memerintahkan para prajuritnya untuk menjadi saksi.

Dan sekali lagi Pangeran Kuda Narpada memenangkan perkelahian itu. Sekali lagi ia berdiri sambil mengancam, “Jika kau berbuat sekali lagi, aku akan membunuhmu”

Tetapi ketika terjadi sekali lagi perkelahian diantara mereka, setelah sepuluh tahun kemudian, Pangeran Kuda Narpada tidak membunuhnya juga, bahkan persoalan sudah berkembang semakin jauh. Persoalan bukan saja persoalan pribadi, tetapi saat itu beberapa orang telah terlibat dalam usaha memisahkan diri dari kepemimpinan Majapahit. Dan sekali lagi Pangeran Kuda Narpada mengancam.

“Masalahnya menjadi gawat, kau sudah pantas untuk dibunuh. Tetapi nampaknya kau hanya terpengaruh oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sehingga kau masih aku maafkan. Tetapi sekali lagi kita bertemu, maka aku akan membunuhmu”

Namun pertemuan berikutnya justru berakibat aneh bagi keduanya, saat itu orang yang telah bertempur melawan Kuda Narpada itu datang ke rumahnya, tanpa sebab, maka ia berkata, “Aku sudah memiliki ilmu yang sempurna, sekarang aku pasti akan dapat mengalahkanmu”

Kuda Narpada menerima tantangan itu, tanpa memberitahukan kepada siapapun, keduanya meninggalkan istana dan pergi ke tempat yang sepi.

“Kuda Narpada, jika sekali ini aku kalah, maka aku akan menyerah untuk selama-lamanya, kau akan aku anggap sebagai saudara tuaku, meskipun mungkin kau tidak bersedia, karena aku adalah seorang yang kau anggap meninggalkan peradaban dan adat para bangsawan”

Ternyata Kuda Narpada tidak dapat dikalahkannya, Kuda Narpada memiliki ilmu yang tiada taranya, sehingga akhirnya orang itu menyerah.

“Aku berjanji, bahwa aku tidak akan mengganggumu lagi”

***

Ki Kebo Ander menarik nafas dalam-dalam, semuanya itu sudah terjadi. Dan ia masih ingat dengan jelas, bagaimana ia minta maaf untuk tidak akan berani menantangnya lagi.

“Aku kira Kuda Narpada sudah mati” berkata Ki Kebo Ander di dalam hatinya, “Tetapi ternyata kini aku bertemu dengan orang itu sekali lagi”

Sementara itu, Kiai Paran Sanggit pun telah menyerang Pangeran Bondan Lamatan, ia sadar, bahwa senapati Demak itu tentu orang yang pilih tanding, tetapi Kiai Paran Sanggit pun merasa bahwa dirinya memiliki ilmu cukup untuk melawan senapati itu.

Sejenak kemudian, di seputar istana itu pun telah terjadi pertempuran sengit, beberapa orang telah terlibat dalam perkelahian melawan para prajurit. tetapi beberapa orang diantara orang-orang Guntur Geni itu terkejut, bahwa ternyata mereka telah bertempur melawan orang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Ki Ajar Respati dan adiknya Kiai Rancang bandang telah bertempur pula, di sebelah lingkaran itu, Ki Reksabahu pun sedang mempertaruhkan dirinya dengan garang melawan orang-orang Guntur Geni.

Hanya Pinten sajalah yang tidak nampak di pertempuran itu, ia berada beberapa puluh langkah dari istana, menunggui bibinya, Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten Prawesti.

“Apakah kita akan dapat bertahan dari orang-orang Guntur Geni itu Raksi?” bertanya bibinya.

“Tentu bibi, orang-orang Guntur Geni tidak akan sekuat orang-orang Kumbang Kuning yang bergabung dengan orang-orang Cengkir Pitu” jawab Pinten

“Tetapi jumlah prajurit Demak sudah banyak berkurang, sebagian dari mereka telah membawa para tawanan ke Demak” potong Inten Prawesti.

“Tetapi jumlah yang tinggal masih tetap cukup kuat, aku kira orang-orang Guntur Geni tidak akan berbuat banyak menghadapi pamanda Bondan Lamatan, pamanda Kuda Narpada dan orang-orang yang sebenarnya tidak banyak berkepentingan, tetapi sudah mempertaruhkan jiwa dan raganya disini, karena mereka mempunyai suatu keyakinan kebenaran dan keadilan” jawab Raksi.

Inten menarik nafas dalam-dalam, ia tidak dapat ikut berbuat sesuatu untuk mempertahankan istana kecilnya jika terjadi kekerasan. Agaknya jalan hidup yang ditempuhnya, berbeda dengan jalan yang dilalui Puteri Raksi Padmasari, sehingga gadis itu merupakan gadis yang berwajah rangkap. Kadang-kadang manja dan nakal, tetapi dalam keadaan yang gawat, ia adalah seorang gadis yang garang dengan rantai berkepala bola baja dan bahkan pedang rangkap di lambung.

Namun bagaimanapun juga, Raden Ayu Kuda Narpada tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya, seakan-akan ia baru saja menemukan apa yang pernah hilang daripadanya untuk beberapa tahun, sehingga ia menjadi sangat cemas, bahwa yang baru saja diketemukan itu akan hilang kembali.

Tetapi ia mencoba untuk mengatasinya agar puterinya tidak menjadi semakin kecil hatinya menghadapi peristiwa gawat yang susul menyusul, seakan-akan tidak akan ada habisnya seperti gelombang lautan dihempaskan angin.

Namun sebenarnyalah bahwa hati Inten Prawesti justru sudah menjadi semakin mantap, ia sudah berada di dekat ayahandanya, sudah ada Puteri Raksi Padmasari yang bukan saja merupakan kawan bermain, tetapi juga seorang pengawal yang mrantasi. Bahkan Inten tidak dapat mengingkari, bahwa kehadiran Kuda Rupaka yang sebenarnya itu pun telah memberikan warna tersendiri pada dinding jantungnya.

Sementara itu pertempuran di halaman istana kecil itu masih berlangsung dengan sengitnya, ternyata bahwa Kiai Paran Sanggit benar-benar seorang yang memiliki bekal ilmu yang tinggi, sehingga Pangeran Bondan Lamatan harus berjuang dengan segenap kemampuannya untuk mengimbangi orang tertinggi di perguruan Guntur Geni itu.

Di bagian lain, Ki Dumi berusaha secepatnya menguasai lawannya yang masih muda. Dengan lincahnya ia berloncatan di seputar lawannya, seperti seekor burung gelatik yang berterbangan sambil menyambar-nyambar.

Tetapi Raden Kuda Rupaka adalah anak muda yang tangguh ia bertempur bukan saja mempergunakan tenaganya, tetapi juga nalar dan akalnya.

Justru karena itu ia tidak terseret oleh perasaannya, mengikuti tata gerak lawannya yang memang sangat cekatan, untuk menghadapinya Raden Kuda Rupaka hanya sekedar beringsut dan bergeser. Sekali-sekali ia berputar menurut gerak dan loncatan lawannya, sehingga setiap saat maka Raden Kuda Rupaka itu tetap menghadapi Ki Dumi dimanapun ia berada.

“Anak setan” geram Ki Dumi, “Kenapa kau tidak menjadi bingung dan pingsan saja?”

“Aku berusaha untuk tetap sadar, apalagi melawan hantu kerdil seperti kau”

“Gila, aku akan menyobek mulutmu”

“Kau suka tertawa, dan kau tidak senang jika seseorang marah di dalam pertempuran”

“Gila” teriak Ki Dumi sambil menyerang.

Tetapi Raden Kuda Rupaka masih selalu berhasil mengelak dan berputar. Betapapun senjata orang kerdil itu menyambar-nyambar, namun ia tidak berhasil menyentuhnya.

“Kau sunguh luar biasa” desis Raden Kuda Rupaka, “Tetapi dalam pertempuran seperti ini, panjang tanganku telah menolongku, senjatamu tidak dapat mencapai tubuhku, betapa kau mengulurkan tanganmu yang pendek itu”

Ki Dumi tidak dapat menahan kemarahannya lagi, tiba-tiba saja senjatanya telah berpindah ketangan kiri.

Raden Kuda Rupaka menjadi curiga, tangan kanan Ki Dumi tentu akan mempunyai tugas yang lain, yang barangkali sangat berbahaya baginya.

Ternyata seperti yang diduganya, sejenak kemudian tangan Ki Dumi telah memegang sebatang paser kecil dengan juntai berwarna merah yang terikat pada ekornya.

“Anak yang malang” geram Ki Dumi. “Kau akan mati oleh paserku ini, tidak seorang pun di dunia ini yang dapat menawarkan racun yang terdapat papda ujung paser ini, orang Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu juga tidak”

Raden Kuda Rupaka menjadi tegang.

“Mungkin kau dapat menghindari lemparan pertama ini. Tetapi aku mempunyai empat buah paser seperti ini. Salah satu diantaranya tentu akan berhasil menyentuh kulitmu”

Raden Kuda Rupaka tiba-tiba saja tersenyum, jawabnya, “Orang-orang Guntur Geni adalah orang yang paling senang bermain dengan racun. Tetapi racunnya tidak akan dapat mempengaruhi aku dan orang-orang yang ada di halaman ini, meskipun ia dapat membuat seorang anak muda Karangmaja menjadi cacat”

Ki Dumi mengerutkan keningnya, namun ia tertawa sambil berkata, “Sekedar permainan anak-anak, tetapi racunku lain. Racunku bukan racun ular yang dapat ditawarkan dengan racun ular pula. Tetapi racunku adalah getah batang cangkring eri sungsang”

“O” sahut Raden Kuda Rupaka, “Getah cangkring hanya dapat membuat kulit menjadi gatal”

“Ya, tetapi berbeda dengan cangkring eri sungsang, susuhing naga raja. Meskipun batang itu tidak benar-benar menjadi sarang seekor naga raksasa, tetapi orang-orang sakti mengenal, bahwa cangkring eri sungsang memiliki racun yang luar biasa, sedangkan di dunia ini tidak lebih dari tiga atau empat batang saja yang pernah ditemui manusia”

Raden Kuda Rupaka termangu-mangu, meskipun ia tidak percaya sepenuhnya, tetapi ia harus benar-benar hati-hati.

Namun demikian, ia masih tersenyum sambil menyahut, “Aku belum pernah mengenal batang cangkring eri sungsang, tetapi jika kau yakin bahwa getahnya beracun, maka aku pun tidak berkeberatan, karena kau tentu belum pernah mencoba ketajaman racunnya, sebab kau hanya memiliki empat buah paser saja.

“Kau keliru” Ki Dumi tertawa, “Aku pernah membunuh dengan paser ini beberapa kali, sementara racunnya menjadi semakin tajam bila tersentuh dan berbau darah”

Raden Kuda Rupaka ternyata tidak mau menelan akibat yang paling parah, dengan sengaja ia menampakkan keragu-raugan. Namun selagi Ki Dumi dengan bangga melihat kecemasan lawannya, tiba-tiba saja Raden Kuda Rupaka yang tidak ingin mati oleh racun itu telah menyerang. Hampir diluar perhitungan Ki Dumi. sebuah loncatan panjang telah melontarkan Raden Kuda Rupaka itu langsung menyerang dengan senjatanya yang terjulur.

Ki Dumi benar-benar terkejut, tetapi ia terlambat untuk menarik pasernya. Sebuah sentuhan senjata Raden Kuda

Rupaka, telah melepaskan paser itu dari tangan Ki Dumi.

Ki Dumi yang merasa sebuah sengatan senjata telah melukai tangannya, ia berteriak nyaring. Serangan yang tiba-tiba dan tidak disangka-sangkanya itu benar-benar telah menghentakkan jantungnya.

Serangan Raden Kuda Rupaka tidak terhenti sampai sekian. Ketika Ki Dumi berusaha untuk memperbaiki keadaannya, serangan anak muda itu telah menderanya dengan dahsyatnya, sehingga Ki Dumi hanya meloncat menghindarinya.

Raden Kuda Rupaka yang mencemaskan racun yang ada di ujung paser lawannya itu, benar-benar tidak mau mengalami akibat yang menentukan. Itulah sebabnya, maka ia telah bertempur dengan perhitungan yang matang.

Seperti yang diperhitungkannya, maka Ki Dumi berusaha untuk menjauhi lawannya untuk mengambil paser dari kantung diikuat pinggangnya seperti yang sudah dilakukannya. Saat itulah sebenarnya ditunggu oleh Raden Kuda Rupaka, ketika tangan Ki Dumi meraih pasernya, maka Raden Kuda Rupaka telah berguling sambil menjulurkan tangannya menggapai paser Ki Dumi yang terjatuh di tanah.

Sesaat kemudian, maka yang terjadi adalah pertarungan kecepatan yang mendebarkan jantung. Raden Kuda Rupaka sama sekali tidak berusaha bangkit, tetapi sambil berbaring ia sempat melontarkan paser Ki Dumi kearah pemiliknya yang sudah siap pula melepaskan pasernya.

Namun sekali lagi Ki Dumi berteriak dengan kemarahan yang menghentak bagaikan memecahkan dadanya. Demikian tangannya terangkat, maka paser yang dilontarkan oleh Raden Kuda Rupaka justru telah mengenai pergelangan tangan Ki Dumi.

Teriakan Ki Dumi itu bukan sekedar teriakan kemarahan, tetapi sentuhan pasernya itu benar-benar telah membuat jantungnya bagaikan pecah oleh kemarahan dan kecemasan.

Ternyata seperti yang dikatakan oleh Ki Dumi, pengaruh racun dan kecemasan yang memuncak, telah mempercepat pergolakan yang terjadi di dalam tubuhnya sendiri. Racun itu memang terlalu kuat sehingga pengaruhnya segera nampak pada tubuh Ki Dumi yang kerdil itu.

Sementara itu, ketika tubuh Ki Dumi mulai menjadi gemetar, darahnya terasa mulai membeku di jantungnya.

Di tempat lain Ki Sraba tengah mempertahankan hidupnya melawan Panon yang tidak diduganya sama sekali memiliki ilmu yang luar biasa. Ki Sraba yang terlalu yakin akan kekuatannya, dengan sengaja tidak menghindari serangan Panon yang mengarah ke dadanya, dengan menyilangkan senjata di dadanya, Ki Sraba ingin menjajagi, berapa tinggi ilmu anak muda itu.

Tetapi ternyata kekuatiran yang terlontar dari hentakan ilmu Panon, telah melemparkannya sehingga ia jatuh terguling. Kepalanya terasa pening terbentur lantai, sementara dadanya yang tertekan oleh senjatanya sendiri, terasa sesak.

“Gila” Ki Sraba menggeram sambil meloncat berdiri, namun ia tidak sempat meneruskannya, kata-katanya terputus karena serangan Panon telah memburunya.

Ki Sraba terpaksa berloncatan menghindar, bahkan kemudian ia seakan-akan tidak mendapat kesempatan lagi untuk berbuat sesuatu selain berjuang mempertahan hidupnya.

Pertempuran di halaman itu ternyata telah berjalan cukup lama, perlahan-lahan warna langit mulai berubah, cahaya kemerah-merahan sudah membayang dikehitamannya malam.

Di halaman Pangeran Bondan Lamatan pun sedang bertempur dengan sengitnya melawan Kiai Paran Sanggit, pemimpin tertinggi perguruan Guntur Geni yang ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi, sehingga Pangeran Bondan Lamatan harus memeras kemampuannya untuk bertahan.

Dalam hiruk pikuknya pertempuran di halaman dan disekitar istana itu, Ki Kebo Ander masih berdiri tegak, bahkan seakan-akan ia sudah kehilangan segala nafsunya untuk menyerang Pangeran Kuda Narpada yang masih berdiri tegak, bahkan keduanya seolah-olah dua orang sahabat yang berdiri mengawasi pertunjukkan yang mengasyikkan.

“Kiai Paran Sanggit memang memiliki llmu yang tinggi” tiba-tiba saja Pangeran Kuda Narpada berdesis.

Ki Kebo Ander mangangguk-angguk, namun kemudian katanya, “Pangeran, apakah kira-kira aku sekarang masih juga tidak dapat mengalahkanmu?”

“Aku tidak tahu, tetapi jika kau tidak mendapat kurnia ilmu yang mengejutkan, aki kira keseimbangan kita masih belum berubah”

Ki Kebo Ander menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Memang tidak ada gunanya untuk bertempur melawan pangeran, seandainya ilmuku meningkat sedikit, maka ilmu pangeran tentu meningkat berlipat ganda. Dalam dunia kematian, pangeran dapat mempelajari berbagai ilmu yang tidak ada bandingnya”

“Dunia kematian itu memang terasa damai, ketika aku bangkit lagi dari dunia yang damai itu dan menengok rumah ini, aku sudah mulai terlibat lagi dalam tindakan-tindakan kekerasan seperti yang terjadi”

Ki Kebo Ander mangangguk-angguk, ketika ia melihat Panon menyerang lawannya tanpa ampun, maka Ki Kebo Ander itu berkata, “Bukankah anak muda itu muridmu?”

Pangeran Kuda Narpada mengerutkan keningnya.

“Ilmunya sudah mencapai taraf yang tinggi, ia tinggal mematangkan beberapa bagian yang masih agak kabur, tetapi aku yakin Ki Sraba tidak akan dapat mengalahkannya” sambung Ki Kebo Ander.

Pangeran Kuda Narpada mangangguk-angguk kecil. Katanya, “Mudah-mudahan ia dapat memenangkan perkelahian itu”

“Anak muda yang satu itu pun memiliki kemampuan yang luar biasa, bahkan……………….” Kata-kata Ki Kebo Ander terputus.

Pangeran Kuda Narpada bergeser setapak, ia melihat Ki Dumi yang kerdil itu sudah menggigil. Sejenak ia mencoba bertahan, namun kemudian ia terjatuh pada lututnya.

“Ia terkena racunnya sendiri” desis Ki Kebo Ander.

Pangeran Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat Raden Kuda Rupaka merenungi lawannya, Ki Dumi yang kerdil itu.

“Kau luar biasa anak muda” desisnya.

Ki Dumi berpaling ketika ia melihat Ki Kebo Ander mendekatinya dan berjongkok disampingnya.

“Pasermu sendiri yang telah merenggut nyawamu Ki Dumi, jika benar yang kau katakan bahwa pasermu itu kau lumuri getah batang cangkring eri sungsang, maka tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya”. berkata Ki Kebo Ander.

Ki Dumi mengangguk kecil, jawabnya dengan suara gemetar, “Ya, aku telah merendam paserku pada beberapa tetes getah cangkring eri sungsuang dan aku pun sadar, bahwa aku akan mati sekarang”

Ki Kebo Ander kemudian membantu Ki Dumi membujurkannya di lantai dan meletakkan kepalanya pada alas ikat kepalanya sendiri.

Tetapi Ki Dumi sudah terlalu lemah, pada saat terakhir ia masih berusaha bertanya, “Kebo Ander, kenapa kau tidak berbuat sesuatu?”

“Aku percaya bahwa orang ini adalah Pangeran Kuda Narpada, sepanjang umurku, aku sudah beberapa kali berusaha untuk memenangkan setiap perkelahian yang beberapa kali pula telah aku lakukan melawannya. Tetapi aku selalu kalah. Dan aku kira sekarang aku tidak perlu mengulanginya lagi, justru sekarang aku berdiri di pihak orang-orang gila dari Guntur Geni itu”

Ki Dumi menarik nafas dalam-dalam, suaranya semakin samar dan katanya kemudian, “Musnahkan saja paser-paserku Kebo Ander. Aku kira paser semacam itu tidak akan banyak gunanya bagi siapapun juga, semula aku menganggapnya sebagai suatu kebanggaan. Tetapi ternyata bahwa aku sudah terbunuh oleh kebanggaanku itu sendiri”

Ki Kebo Ander mengangguk, jawabnya, “Baiklah, aku akan membakarnya sehingga paser-pasernu akan musnah”

Ki Dumi memandang Ki Kebo Ander sejenak, lalu katanya, “Kau orang baik Kebo Ander, umurmu masih akan panjang dengan pengakuanmu bahwa kau tidak akan menang atas lawanmu itu”.

Ki Kebo Ander masih akan menjawab, tetapi Ki Dumi itu pun tersenyum pahit sambul memejamkan matanya. Bibirnya masih bergerak, tetapi tidak ada kata-kata yang terucapkan.

Orang kerdil itu pun kemudian mati oleh racunnya sendiri yang menyumbat pembuluh-pembuluh darahnya dengan gumpalan-gumpalan yang mengeras, sehingga pada kulitnya nampak merah kebiru-biruan.

Sementara itu Ki Sraba sudah tidak mempunyai kesempatan lagi, meskipun demikian ia masih berloncatan, bahkan dengan lantang ia berteriak, “Kebo Ander, apakah kau telah menjadi soerang yang berkhianat?”

Ki Kebo Ander tidak menjawab, ia menyilangkan tangan Ki Dumi dengan tatapan mata yang redup.

Namun sikap Ki Kebo Ander itu membuat Ki Sraba semakin marah, sehingga ia pun berteriak lebih keras sambil menghindarkan diri dari serangan lawannya, “He, pengkhianat, apa yang sedang kau lakukan?”

Ki Kebo Ander berpaling, dilihatnya Ki Sraba benar-benar telah kehilangan kesempatan sehingga tidak ada jalan lain baginya kecuali menyerah.

“Hentikan perlawanmu, Ki Sraba. Tidak ada gunanya lagi kau mengorbankan nyawamu untuk orang-orang Guntur Geni, kau tidak akan mendapatkan apapun juga”

“Gila” geram Ki Sraba, “Aku bukan pengecut macam kau. Seandainya aku tidak mendapatkan apa-apa, tetapi setidak-tidaknya aku mempunyai harga diri. Harga diriku sama nilainya dengan nyawaku”

“Luar biasa” desis Ki Kebo Ander, “Tetapi itu bukan berarti sikap yang dungu”

“Persetan” potong Ki Sraba.

Dengan sisa-sisa tenaganya ia berusaha untuk dapat mengatasi tekanan Panon. Namun Panon yang muda itu benar-benar tidak memberinya kesempatan.

“Menyerah sajalah” berkata Pangeran Kuda Narpada.

“Kubunuh kalian semuanya” teriak Ki Sraba.

Namun kata-katanya terputus ketika senjata Panon tergores di tubuhnya.

Darah yang menitik dari lukanya telah membuat Ki Sraba bagaikan gila. Dengan liarnya ia menyerang Panon seperti seekor harimau yang terluka, seakan-akan ia telah kehilangan akalnya sehingga ia tidak lagi dapat memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas dirinya.

Panon yang muda itu menjadi gelisah. Lawannya bagaikan hantu yang buas siap menerkamnya. Betapapun Panon berusaha mencegahnya, namun lawannya benar-benar tidak mau melihat kenyataan yang dihadapinya.

Sekali-sekali Panon berhasil menahan lawannya dengan ujung senjatanya, namun Ki Sraba seakan-akan tidak menghiraukannya lagi, luka di tubuhnya menjadi semakin banyak, dan darahpun mengalir semakin deras. Tetapi Ki Sraba bertempur semakin liar.

Pangeran Kuda Narpada menjadi gelisah melihat Ki Sraba, bahkan Ki Kebo Ander yang datang bersamanya itu pun nampak menjadi tegang.

Tetapi ternyata bahwa hentakan-hentakan ilmu Ki Sraba yang mengerikan itu adalah hentakan-hentakan dari sisa tenaganya, ketika ia meloncat meyerang Panon sambil berteriak nyaring, maka Panon telah meloncat menghindarinya.

Panon kemudian bagaikan membeku melihat lawannya yang gagal melukainya, Ki Sraba tiba-tiba saja telah terhuyung-huyung, bahkan kemudian ia pun terduduk.

Darah terlalu banyak mengalir dari tubuhnya, sehingga tubuh itu bagaikan terperas kering.

Perlahan-lahan Ki Kebo Ander melangkah mendekatinya, tetapi ketika ia berjongkok disampingnya, Ki Sraba masih menggeram, “Jangan sentuh aku pengkhianat, pengecut”

Ki Kebo Ander menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian yang disaksikannya adalah saat-saat terakhir orang yang merasa nilai harga dirinya sama dengan nyawanya itu.

Ki Kebo Ander kemudian berdiri disamping berdiri disamping Pangeran Kuda Narpada, dengan suara datar ia berkata, “Pangeran, kau dengar bagaimanakah penilaian orang itu atasku?, aku adalah pengkhianat dan pengecut”

Pangeran Kuda Narpada mangangguk-angguk, namun kemudian katanya, “Tetapi apakah kau tidak bertanya kepada orang lain, bagaimanakah penilaian mereka terhadap sikapmu?”

“Jika aku bertanya kepada pangeran, maka pangeran tentu akan menjawab, bahwa aku adalah orang yang berdiri atas perhitungan nalar yang tidak ingkar pada kenyataan. Bahkan mungkin pangeran akan menyebutku sebuah seorang yang benar-benar jantan karena berani mengakui kelemahan diri” jawab Ki Kebo Ander.

Pangeran Kuda Narpada mengangguk, katanya, “Kita sudah cukup dewasa untuk menilai sikap kita masing-masing. terserahlah kepadamu, Kiai. Barangkali penilaianmu sendiri atas sikapmu adalah penilaian yang berdasarkan atas suatu keyakinan tanpa menghiraukan penilaian orang lain”

“Ya, dan aku sudah mengambil keputusan”

Pangeran Kuda Narpada termangu-mangu ketika ia melihat Panon berdiri tegak memandang Ki Sraba yang sudah tidak bernyawa lagi, sementara di arah lain, Raden Kuda Rupaka pun berdiri tegang.

“Kemarilah” panggil Pangeran Kuda Narpada.

Meskipun agak ragu, tetapi kedua anak muda itu pun mendekatinya.

Pertempuran ini sudah mendekati akhirnya” berkata Pangeran Kuda Narpada, “Agaknya para prajurit Demak, sudah berhasil menguasai orang-orang Guntur Geni, bahkan mereka masih sempat membantu Ki Reksabahu dan kakak beradik Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandang”

“Ya, paman” sahut Raden Kuda Rupaka, “Agaknya Kiai Paran Sanggit pun harus melihat kenyataan ini meskipun barangkali ia mempunyai harga diri seperti orang yang terbunuh oleh Panon itu”

“Ya” Ki Kebo Anderlah yang menyahut, “Agaknya Kiai Paran Sanggit merasa bahwa dirinya adalah pangkal dari peristiwa ini. Ia tentu akan memilih mati daripada harus memikul tanggung jawab, bukan saja terhadap Demak, tetapi juga terhadap anak buahnya yang terpaksa menyerah karena tidak ada kesempatan lagi untuk melawan”

“Apa yang harus dipertanggung jawabpun terhadap orang-orangnya?, apakah orang-orang Guntur Geni akan menuntut, karena mereka dikalahkan di halaman istana ini?”

Ki Kebo Ander menggelengkan kepalanya, katanya, “Kiai Paran Sanggit telah menipu murid-muridnya selama ini”

Pangeran Kuda Narpada memandang Ki Kebo Ander dengan tajamnya, sementara Ki Kebo Ander meneruskan, “Kiai Paran Sanggit mengatakan bahwa guru agung mereka masih hidup dan akan terus hidup. Ia sudah dapat melepaskan diri dari peredaran waktu”

“Apakah anak-anak Guntur Geni tidak pernah bertanya, dimanakah pendiri perguruan Guntur Geni itu berada?” bertanya Pangeran Kuda Narpada.

“Ia sedang bertapa untuk mencapai kesempurnaan dari ilmunya, yang telah berhasil mencapai tingkatan pembebasan diri dari peredaran waktu. Ia ingin dapat membuat dirinya kebal sehingga ia benar-benar dapat membebaskan diri dari kematian dengan mutlak”

Pangeran Kuda Narpada mangangguk-angguk, sekilas ia memperhatikan pertempuran yang sudah mendekati akhirnya.

Betapa sulitnya Kiai Paran Sanggit mempertahankan diri terhadap serangan-serangan Pangeran Bondan Lamatan yang membadai. Semakin lama ia menjadi semakin terdesak, sementara pengikut-pengikutnya pun telah dilumpuhkan seorang demi seorang.

Bahkan beberapa saat kemudian, pertempuran di halaman itu telah selesai, selain Kiai Paran Sanggit yang tidak mau melihat kenyataan yang terjadi. Kiai Rancangbandang, Ki Ajar Respati dan Ki Reksabahu dan para prajurit Demak sudah berhasil menguasai lawan-lawan mereka, sebagian dari mereka terbunuh dan yang sebagian yang lain menyerah.

Tetapi Kiai Paran Sanggit masih bertempur dengan gigihnya melawan Pangeran Bondan Lamatan.

Ketika seorang senapati mendekat, maka Pangeran Bondan Lamatan berkata, “Biarlah ia menemukan dirinya sendiri. Agaknya Kiai Paran Sanggit ingin melakukan perang tanding. Jangan ganggu. Jika ia berhasil, biarlah ia mendapatkan kepuasan dari keberhasilannya yang terakhir”

“Persetan” teriak Kiai Paran Sanggit, “Tidak ada yang dapat menghentikan perlawananku”

Pangeran Bondan Lamatan tidak menjawab, tetapi keduanya bertempur semakin seru.

Namun ketika Kiai Paran Sanggit melihat Ki Kebo Ander yang tidak mencabut senjatanya sama sekali, ia berteriak, “Pengecut, kau ingkar kepada janjimu sendiri he?”

“Kau dengar pangeran” desis Ki Kebo Ander, “Ia pun menyebut aku pengecut, apakah benar aku seorang pengecut menurut laki-laki?”

“Terserahlah kepadamu Kebo Ander. Jika kau memerlukan seorang lawan untuk membuktikan bahwa kau bukan seorang pengecut, maka aku juga masih belum mempergunakan pisau-pisauku”

Ki Kebo Ander menarik nafas dalam-dalam.

“Pengecut, jangan dekati aku” Kiai Paran Sanggit berteriak lebih keras.

“Maaf Kiai Paran Sanggit” jawab Ki Kebo Ander, “Aku sudah menemukan suatu keyakinan di dalam diriku, bahwa aku tidak akan dapat berbuat apa-apa melawan Pangeran Kuda Narpada”

“Kau gila, Kuda Narpada sudah mati”

“Ia ada disini, dan aku yakin, bahwa orang yang bernama Ki Wirit itu adalah Pangeran Kuda Narpada. Muridnyalah yang telah melepaskan pisau-pisaunya untuk membunuh dua orang pengikutmu di banjar”

“Gila, kau sudah gila” teriak Kiai Paran Sanggit sehingga seolah-olah ia telah melupakan perang tanding yang sedang berlangsung.

Tetapi Pangeran Bondan Lamatan adalah orang yang memiliki sifat-sifat seorang prajurit. Meskipun lawannya sedang lengah. Ia sama sekali tidak mempergunakan kesempatan itu. Bahkan katanya, “Kiai Paran Sanggit, jika kau masih ingin mengumpat, lakukanlah. Aku beri kesempatan kau sepuas-puasnya. Jika kemudian kau ingin melanjutkan pertempuran, aku akan siap melayanimu”

“Persetan” teriak Kiai Paran Sanggit sambil menyerang dengan dahsyatnya, senjatanya yang menghentak hampir saja menyentuh dada Pangeran Bondan Lamatan, tetapi Pangeran Bondan Lamatan sempat mengelak, bahkan ia pun kemudian telah mengambil keputusan, bahwa agaknya Kiai Paran Sanggit tidak dapat lagi merubah sikapnya, karena sebenarnyalah ia sudah berniat untuk membunuh diri dengan caranya.

Agaknya Pangeran Bondan Lamatan pun sudah mulai dijalari kejemuan. Tidak ada harapan lagi untuk berbicara. Bahkan pada suatu saat tenaganya sendiri yang akan susut. Sehingga mungkin justru Kiai Paran Sanggit akan berhasil melumpuhkannya.

Karena itulah, maka Pangeran Bondan Lamatan pun telah mengambil keputusan untuk menyelesaikan perang tanding itu.

Karena itulah, maka tiba-tiba saja serangan Pangeran Bondan Lamatan telah menghentak-hentak bagaikan debur ombak di lautan, sekali memukul dengan dahsyatnya, kemudian menghindar dengan cepat.

Kiai Paran Sanggit menjadi semakin bingung, tetapi keputusannya telah membuatnya bagaikan gila, ia menyerang tanpa perhitungan lagi. Justru pada saat serangan Pangeran Bondan Lamatan menghantamnya, ia telah membenturkan kekuatan dengan memutar senjatanya.

Tetapi akibat dari benturan itu menjadikannya sangat parah, ia terdorong surut beberapa langkah. Namun ketika ia mencoba memperbaiki keseimbangannya, maka sekali lagi senjata Pangeran Bondan Lamatan menyentuhnya.

Terdengar keluhan tertahan, Kiai Paran Sanggit terdorong sekali lagi dan sekali lagi ia terdorong karena hempasan senjata lawan.

Tidak ada lagi kesempatan baginya, sehingga ia pun kemudian terlempar jatuh ditanah.

Wajahnya yang kemudian basah oleh darah menjadi sangat mengerikan, loncatan dendam dan kebencian membayang pada sorot matanya. Bahkan Kiai Paran Sanggit itu masih sempat berteriak, “Serahkan pusaka itu”

Pangeran Bondan Lamatan mendekatinya, betapa mengerikan wajah Kiai Paran Sanggit yang telah dihempaskan pada suatu kenyataan, bahwa usahanya telah gagal.

Namun sejenak kemudian, Kiai Paran Sanggit tidak dapat lagi menentang kepastian yang telah merenggut umurnya. Ketika ia menggeliat sekali lagi, terdengar ia mengerang. Namun sebuah hentakan kekecewaan telah membuatnya berteriak sekali lagi, “Serahkan Pusaka Ituuu”

Ketika gema suaranya lenyap dari lembah-lembah yang membujur diantara pegunungan, maka Kiai Paran Sanggit itu pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kematiannya adalah pertanda kegagalan mutlak dari usahanya untuk mendapatkan pusaka yang menurut dugaannya akan dapat memberikan kemukten kepadanya dan keturunannya.

Ki Kebo Ander masih berdiri membeku. Dipandanginya kawannya yang telah tidak bernafas lagi. Pada tubuh yang membeku itu masih nampak, betapa nafsunya melonjak-lonjak tidak terkendali.

“Kematian-kematian yang terjadi agaknya telah mengakhiri semua persoalan yang menyangkut rumah kecil yang suram ini” berkata Pangeran Kuda Narpada kemudian, “Jika disini ada Ki Kebo Ander yang mengetahui bahwa pusaka itu sudah ada ditangan kami, maka terserah kepadamu apa yang akan kau lakukan”

“Pangeran” berkata Ki Kebo Ander, “Sudah aku katakan, tidak ada yang dapat kau lakukan karena disini ada Pangeran Kuda Narpada. Aku hanya akan mohon diri jika pangeran tidak bernafsu menangkapku”

Pangeran Kuda Narpada menggelengkan, katanya, “Tidak Kebo Ander, aku tidak ingin menangkapmu, tetapi aku ingin mengatakan, agar kau kembali saja ke Kediri. Agaknya kau lebih baik menyebut dirimu Raden Panji Bantarsari”

Ki Kebo Ander menarik nafas dalam-dalam, sementara Pangeran Bondan Lamatan terkejut dan bertanya, “Jadi, apakah maksud kakangmas, bahwa orang ini adalah Raden Panji Bantarsari dari Kediri?”

“Ya”

Pangeran Bondan Lamatan menarik nafas dalam-dalam.

“Ya, pangeran” gumam Ki Kebo Ander, “Tetapi aku sudah tidak pantas lagi menyebut diriku Raden Panji Bantarsari. Aku adalah orang yang sudah terbuang dari lingkunganku”

“Kau terlalu menuruti hawa nafsu, sehingga kau mempunyai sifat dan watak yang terpisah dari lingkinganmu”

“Tetapi apakah yang aku lakukan lebih buruk dari yang dilakukan oleh Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat?”

Pangeran Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Tidak, kau adalah orang yang mempunyai sifat-sifat buruk pada kebiasan hidupmu, tetapi jika kau berhasil dan tidak bertemu dengan aku disini, mungkin yang kau lakukan akan jauh lebih buruk dari adimas Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat.”

Ki Kebo Ander menarik nafas dalam-dalam.

“Raden Panji Bantarsari” berkata Pangeran Bondan Lamatan, “Saat ini aku sedang mengemban tugas dari Sultan di Demak. Namun aku masih berpengharapan, bahwa kau akan berhasil melihat kenyataan hidup yang terjadi disini dan yang selama ini kau alami. Karena itu, seperti nasehat kakangmas Kuda Narpada, kembali sajalah ke Kediri, tentu kau masih akan diterima diantara keluargamu”

Ki Kebo Ander menggelengkan lemah, katanya, “Tidak, aku sudah mencobanya. Tetapi keluargaku merasa bahwa hidupku terlalu banyak dilumuri lumpur yang memuakkan. Hal itulah yang mendorong aku semakin jauh tersesat, sehingga akhirnya aku telah bersedia bekerja bersama dengan orang-orang Guntur Geni”

“Kau harus membuktikan bahwa dugaan mereka salah”

Tiba-tiba saja Ki Kebo Ander tertawa, katanya, “Terima kasih, aku tidak mempunyai lagi jalan kembali, tetapi percayalah bahwa aku pun tidak akan membiarkan diriku lebih lama lagi hidup dalam kegelapan. Aku sekarang minta diri jika aku masih diberi kesempatan”

Pangeran Kuda Narpada memandang Ki Kebo Ander dengan sorot mata redup. Namun kemudian katanya, “Selamat jalan. Mudah-mudahan kau menemukan jalan hidup yang baik menjelang usia tuamu”

“Terima kasih, pangeran”

“Jika kau menemui kesulitan, datanglah kepadaku” berkata Pangeran Bondan Lamatan.

“Baiklah pangeran. Aku akan mengingat itu”

Perlahan-lahan Ki Kebo Ander meninggalkan halaman itu diiringi oleh tatapan mata orang-orang yang berada di halaman. Begitu ia hilang di balik regol, Pangeran Kuda Narpada berkata, “Mudah-mudahan ia menemukan jalan yang terang, tetapi aku yakin akan hal itu”

Pangeran Bondan Lamatan mangangguk-angguk desisnya, “Mudah-mudahan”

Demikianlah, maka orang-orang yang ada di halaman itu pun segera melakukan tugas mereka yang tersisa. Mengubur korban-korban peperangan. Sementara yang lain melayani orang-orang yang terluka.

Hari yang terlampaui adalah hari yang mendebarkan, tetapi juga merupakan kepastian, bahwa sebagian besar dari tugas para utusan Demak itu sudah selesai.

***

Dibawah lampu minyak di malam berikutnya, orang-orang yang berada di istana kecil itu telah berkumpul, Pinten telah membawa bibinya kembali ke istana bersama Inten dan Nyi Upih.

“Tugas kita sudah selesai” berkata Pangeran Bondan Lamatan, lalu, “dengan demikian, maka sudah datang saatnya kita meninggalkan tempat ini”

Pangeran Kuda Narpada merenung sejenak, dipandanginya Raden Ayu Kuda Narpada yang menundukkan kepalanya dan Inten Prawesti yang gelisah. Tetapi Pangeran Kuda Narpada tidak merasa, apakah yang sebenarnya bergejolak di dalam hati kedua orang puteri itu. Apakah mereka merasa gembira bahwa dengan demikian mereka sudah terhindar dari bahaya, atau tumbuh harapan dihati mereka untuk bersama-sama pergi ke Demak.

“Kamas Kuda Narpada” berkata Pangeran Bondan Lamatan, “Agaknya tidak ada lagi yang harus menahan kita disini. Juga tidak ada yang menahan kakangmas bersama seluruh keluarga”

Pangeran Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara yang dalam ia berkata, “Beberapa tahun aku sudah terpisah dari istana ini, tetapi rasa-rasanya, aku tidak akan dengan mudah meninggalkannya. Ada sesuatu yang mengikat aku disini. Bukit-bukit yang sudah menjadi hijau dan sawah-sawah yang mulai digarap dengan cara yang lebih baik, sehingga padukuhan Karangmaja menjadi semakin subur”

Pangeran Bondan Lamatan mengerutkan keningnya, sementara Pangeran Kuda Narpada meneruskan, “Aku kira, aku akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di Demak, adimas. Tetapi semuanya masih juga tergantung kepada keluargaku”

Pangeran Bondan Lamatan menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia sadar bahwa Pangeran Kuda Narpada masih harus membicarakannya dengan seluruh keluarganya.

“Baiklah kakangmas” berkata Pangeran Bondan Lamatan, “Besok aku berharap bahwa aku akan dapat menempuh perjalanan kembali. Aku mohon kakangmas dengan seluruh keluarga dapat pergi bersama kami”

“Aku akan memikirkannya adimas, semalam ini aku kira cukup waktu untuk membicarakannya”

Pangeran Bondan Lamatan tidak mendesaknya lagi, ia pun kemudian minta diri untuk beristirahat, seperti biasanya ia berada di lingkungan para prajuritnya sebagaimana seorang senapati yang baik.

Ketika kemudian Pangeran Kuda Narpada sedang berbincang di ruang dalam, Pinten duduk sambil bertopang dagu di pintu butulan. Dipandanginya bayang-bayang kegelapan yang menyelubungi halaman istana kecil itu, meskipun ia belum terlalu lama berada di istana kecil itu, namun rasa-rasanyanya ada sesuatu yang mengikatnya untuk tetap tinggal.

Pinten yang berpendengaran tajam, berpaling ketika ia mendengar desir langkah mendekatinya. Dalam keremangan malam ia melihat Panon berdiri termangu-mangu.

“Kau akan pergi ke Demak?” tiba-tiba terdengar suara Pinten datar.

“Aneh puteri. Akulah yang sebenarnya harus bertanya, kapan puteri akan kembali ke Demak?, berkumpul kembali dengan keluarga para bangsawan”

Pinten menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Aku tidak pernah tinggal di Demak, aku selalu berada di sebuah padepokan kecil yang terpisah, aku tidak tahu, bagaimana bergaul dengan para bangawan meskipun kadang-kadang ada orang yang memanggilku puteri seperti kebanyakan puteri bangsawan”

Panon termangu-mangu sejenak, lalu, “Jadi, apakah yang akan puteri lakukan?”

“Aku tidak tahu, sebagian terbesar tergantung kepada kamas Kuda Rupaka”

“Jika puteri wenang memilih?” desak Panon.

“Pinten memandang wajah Panon dalam keremangan malam. Namun kemudian terdengar ia berdesis, “Aku akan tinggal, tetapi tentu aku akan sendiri, karena paman dan bibi Kuda Narpada akan segera meninggalkan istana kecil ini, dan kau murid yang sangat dikasihi seperti anak sendiri, tentu akan ikut pula bersama mereka”

Panon menundukkan kepalanya, tetapi tidak ada yang dapat dikatakannya.

Ia berpaling ketika Pinten berkata, “Panon”

Panon termangu-mangu, namun ternyata Pinten tidak mengatakan sesuatu. Bahkan gadis itu pun kemudian berdiri dan cepat-cepat melangkah masuk pintu butulan.

Namun hampir saja ia melanggar kakaknya yang sudah berdiri di belakangnya, dengan sungguh-sungguh kakaknya berkata, “Kitalah yang akan pergi ke Demak bersama paman Bondan Lamatan. Agaknya paman dan bibi Kuda Narpada akan tetap tinggal di istana ini bersama diajeng Inten Prawesti”

“Darimana kau tahu?”

“Aku ikut dalam pembicaraan diruang dalam. Paman mencarimu, ternyata kau berada disini”

“Ah”

“Besok kita berangkat bersama pasukan Demak”

Pinten merenung sejenak, tiba-tiba ia menyahut, “Tidak, aku tidak pernah merasa diriku keluarga bangsawan di Demak. Kita adalah anak-anak padepokan. Meskipun kita tidak menolak menjalankan tugas apapun juga bagi keselamatan Demak. Tetapi aku tidak akan betah tinggal diantara saudara-saudara kita yang berbeda dalam sikap dan tingkah laku”

“Apa yang berbeda Raksi?” bertanya Raden Kuda Rupaka.

“Mereka adalah anak-anak para bangsawan yang hanya tahu memilih seekor kuda yang paling tegar. Memilih calon suami atau isteri yang sesuai dengan martabat mereka, memilih istana yang paling indah. Tetapi kenapa Sultan Demak tidak mengutus mereka untuk pergi bersama paman Bondan Lamatan?, tetapi justru kita yang hidup di padepokan terpencil?, bukankah itu berarti suatu pengakuan bahwa mereka yang berada di Kota Raja sudah tidak mampu lagi menjunjung kewajiban mereka sebagai suatu tataran kehidupan yang akan tumbuh dimasa datang?”

“O, rupanya kau sedang merajuk Raksi, tentu dugaanmu tidak seluruhnya benar. Di Kota Raja terdapat banyak anak-anak muda yang siap mengemban tugas seperti kita. Tetapi Sultan tentu tidak melupakan kita yang tidak berada di Kota Raja”

“Tidak. Aku akan berada disini”

“He?” Raden Kuda Rupaka termangu-mangu. “Kita berdua akan kembali ke Demak, Raksi”

Pinten termangu-mangu sejenak, namun tiba-tiba ia berlari masuk ke ruang dalam.

Raden Kuda Rupaka tidak mencegahnya. Ia menjengukkan kepalanya di pintu butulan, ketika ia melihat Panon masih termangu-mangu, ia tersenyum kecil.

Dalam pada itu Pinten tidak mencari bibinya, tetapi ia langsung menemui Inten Prawesti yang masih berada di ruang tengah mengemasi mangkuk-mangkuk.

“Diajeng” ia berbisik, “Apakah paman dan bibi sudah mengambil keputusan?”

Inten memandang Pinten sejenak, kemudian sambil menundukkan kepalanya ia menjawab, “Ayahanda dan ibunda sudah mengambil keputusan untuk tinggal disini”

“Bagaimana dengan diajeng?”

Sejenak Inten ragu-ragu. namun kemudian jawabnya, “Aku juga akan tinggal disini bersama ayahanda dan ibunda”

Wajah Pinten menegang sejenak, namun kemudian suaranya merendah, “Bagaimana dengan kakangmas Kuda Rupaka?”

Inten menunduk semakin dalam, ada secercah warna merah membayang di pipinya, namun kemudian suaranya lirih, “Aku kira kakangmas Kuda Rupaka telah memohon kepada ayahanda dan ibunda agar diperkenankan tinggal di rumah ini pula untuk beberapa lama sebelum ia akan kembali ke padepokannya”

“O” tiba-tiba Pinten melonjak, dengan serta merta ia meloncat berlari. Tetapi sekali lagi ia hampir melanggar kakaknya yang berdiri tersenyum.

“Kau bohong” Pinten hampir berteriak.

“Kita akan tetap tinggal disini Pinten. Bukankah biyung ada disini?”

Pinten yang sudah hampir meloncat sambil mengulurkan tangan untuk mencubit lengan Kuda Rupaka, tiba-tiba saja ia berdiri tegak sambil menundukkan kepalanya. Ternyata yang tersirat adalah sikap seorang gadis yang memang sedang meningkat dewasa, seolah-olah sedang menemukan kepribadian-nya yang sewajarnya.

Setitik air mata telah mengembang di pelupuk mata Puteri Raksi Padmasari.

Ketika kemudian Pinten melangkah meninggalkan ruangan itu, Kuda Rupaka sama sekali tidak bertanya kemana ia akan pergi, Kuda Rupaka tahu pasti, bahwa Pinten akan menemui Panon dan mengatakan bahwa ia akan tetap tinggal disini.

Dalam pada itu Inten yang tinggal sambil termangu-mangu bertanya kepada Kuda Rupaka, “Apakah yang telah terjadi pada kakangmbok Raksi, kakangmas?”

Kuda Rupaka tersenyum, jawabnya, “Ada ikatan yang memaksanya untuk tetap tinggal”

Inten yang mengalami gejolak perasaan yang sama telah menundukkan kepalanya pula. Tatapan mata Raden Kuda Rupaka bagaikan menembus langsung ke dasar jantungnya.

Sementara itu, Pinten kembali menuju ke pintu butulan, tetapi ia menjadi kecewa, karena Panon tidak ada di tempatnya. Adalah diluar sadarnya bahwa Pinten itu pun kemudian turun ke longkangan dan berjalan ke belakang.

Langkahnya tertegun ketika ia melihat beberapa orang duduk di serambi.

“O marilah puteri” Ki Ajar Respati mempersilahkan.

“Ki Ajar, kenapa Ki Ajar duduk di serambi?, marilah, silahkan naik ke pendapa”

Ki Ajar tersenyum, katanya, “Seperti pamanda puteri, kamipun sedang berunding. Apakah yang akan kami lakukan besok”

Pinten termangu-mangu, ketika ia melihat Panon ada diantara mereka, maka ia pun menundukkan kepalanya.

“Puteri” berkata Ki Ajar Respati, “Ternyata bahwa kami pun merasa bahwa tugas kami sudah selesai, kami akan menghadapi Pangeran Kuda Narpada dan Pangeran Bondan Lamatan untuk menyampaikan niat kami”

Pinten sama sekali tidak dapat menjawab, ia mengerti, bahwa orang-orang itu sama sekali tidak mempunyai kepentingan langsung dengan pusaka yang diperebutkan, tetapi mereka telah mempertaruhkan hidup mereka, karena mereka yakin bahwa pusaka-pusaka itu harus dipertahankan agar tidak jatuh ke tangan orang-orang yang tidak berhak.

Pinten yang tunduk itu terkejut ketika ia mendengar Kiai Rancangbandang yang berdiri sambil mendekatinya, “Puteri adalah seorang gadis yang luar biasa”

“Ah” Pinten semakin menunduk.

“Bukan saja karena puteri memiliki ilmu yang tinggi, tetapi pengorbanan yang telah puteri berikan, justru pada usia puteri sekarang ini”

“Ah” sekali lagi Pinten berdesah.

“Pada usia seorang gadis yang lagi saat suka bercermin dan bersolek, puteri telah memberikan pengorbanan yang tidak ada taranya”

Sesuatu terasa tergetar di dalam dada gadis itu. Namun semudian suaranya tersendat-sendat, “Terima kasih paman, tetapi semuanya itu adalah kewajibanku”

“Aku berdoa puteri” berkata Kiai Rancangbandang, “Mudah-mudahan dalam suramnya istana kecil ini, masih ada sepercik sinar yang dapat menerangi hati puteri, tidak saja sebagai seorang puteri berkalung rantai baja atau berpedang rangkap, tetapi juga sebagai seorang gadis yang berhati lembut yang sedang meningkat dewasa”

“Ah” Pinten tidak dapat menahan gejolak hatinya, ia pun kemudian berlari meninggalkan serambi itu.

Kiai Rancangbandang menarik nafas dalam-dalam, Puteri Raksi Padmasari benar-benar seorang gadis yang aneh baginya, tetapi benar-benar mengagumkan.

Ketika Kiai Rancangbandang kembali duduk diantara beberapa orang, ia berkata, “Panon. aku kira bukan karena kita berada di tempat terpisah, sehingga karena tidak ada orang lain maka Puteri Raksi Padmasari telah menarik perhatian. Seandainya ia berada diantara seribu puteri bangsawan dari Demak maupun Majapahit yang sudah hancur itu. Ia tetap seorang puteri yang sulit dicari duanya. Rantai bajanya dan pedang rangkapnya adalah ciri yang nampak jelas padanya. Namun ia pun seorang gadis yang cantik dan merak ati. Ia dapat bersikap keras dan masak saat-saat ia menggenggam senjata. Tetapi Ia kadang-kadang lembut dan kekanak-kanakan”

Panon menundukkan kepalanya. Ia tidak menyahut, namun di dalam hatinya, cengkaman perasaannya telah menghunjam semakin dalam betapapun ia merasa rendah diri, karena ia hanyalah seorang anak pegunungan.

Demikianlah ketika masing-masing telah berbaring di pembaringannya, maka berbagai macam angan-angan telah bermain di batas mimpi, dua orang gadis yang berada di dalam istana itu menjadi sama-sama gelisah meskipun masing-masing tidak mengatakan kepada orang lain.

Dipagi hari berikutnya, ketika matahari mulai menjamah langit, istana kecil itu menjadi sibuk. Beberapa orang telah siap meninggalkan istana yang menjadi pusat perhatian beberapa pihak karena pusaka-pusaka yang sedang mereka cari.

“Kami mengharap kalian sudi datang ke Demak. Kami tidak akan dapat ingkar akan bantuan kalian. Tanpa kalian, maka kami tidak akan dapat berhasil. Karena itu. Sultan tentu akan mengakui laporan kami tentang kalian” berkata Pangeran Bondan Lamatan.

Ki Ajar Respati tersenyum, jawabnya, “Terima kasih pangeran. Pada suatu saat kami tentu akan datang, tetapi kami berhasrat untuk kembali lebih dahulu melihat keluarga kami”

Pangeran Bondan Lamatan mangangguk-angguk, katanya kemudian, “Kedatangan kalian tetap kami tunggu, kapanpun kalian sempat”

Ketegangan telah terjadi di halaman itu pada saat beberapa orang diantara mereka sudah siap meninggalkan istana kecil itu. Pangeran Bondan Lamatan akan kembali ke Demak bersama pengiringnya untuk melaporkan hasil yang sudah didapatkannya, sementara

Ki Ajar Respati, adiknya Kiai Rancangbandang dan Ki Reksabahu pun telah minta diri untuk kembali ke padukuhan masing-masing.

“Pakailah kalung itu Panon” desis Ki Ajar Respati, kemudian katanya kepada Pangeran Kuda Narpada, “Pangeran, aku mohon agar aku diperkanankan mengaku anak muda itu sebagai anakku pula”

Pangeran Kuda Narpada tersenyum, jawabnya, “Tentu aku tidak akan berkeberatan Ki Ajar”

“Terima kasih pangeran” desis Ki Ajar Respati yang kemudian berpaling kepada Pangeran Bondan Lamatan “Bakti kami kepada Sultan di Demak”

Pangeran Bondan Lamatan tersenyum, sambil mangangguk-angguk ia menjawab, “Baiklah, kami akan menyampaikan kepada Sultan. juga tentang semua peristiwa yang pernah terjadi, terlebih-lebih lagi tentang hadirnya kakangmas Kuda Narpada”

Demikianlah maka Pangeran Bondan Lamatan pun kemudian sekali lagi minta diri sambil membawa beberapa orang tawanan. Ki Buyut yang hadir bersama-sama para bebahu tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih atas kehadiran mereka di padukuhan Karangmaja.

Demikianlah peristiwa demi peristiwa telah berlalu, istana yang suram mulai cerah kembali, Karangmaja menjadi padukuhan yang tenang damai dan sejahtera, begitu juga dengan kehidupan di dalam istana itu.

***

Beberapa tahun kemudian diadakanlah sebuah perayaan pernikahan, Panon dengan bahagianya memperisterikan Pinten atau Puteri Raksi Padmasari, dan Sangkan atau Raden Kuda Rupaka memperisterikan Inten Prawesti. Semua kerabat-kerabat turut hadir pada acara kebahagian tersebut, baik para bangsawan Demak dari Kota Raja, maupun kerabat seperjuangan dalam mempertahankan pusaka yang pernah terjadi di istana itu.

Acara kebahagian tersebut berlangsung sederhana, namun cukup meriah, karena dihadiri oleh tamu istemewa yaitu Pangeran Bondan Lamatan beserta keluarganya, serta kawan-kawan seperjuangan seperti Ki Ajar Respati, Kiai Rancang-bandang dan Ki Reksabahu beserta keluarga mereka. Juga tidak ketinggalan dihadiri oleh Ki Kebo Ander yang sudah menemukan jati dirinya kembali.

Demikianlah akhir cerita ini, semoga terhibur dan mudah-mudahan ada sesuatu yang dapat diambil dari cerita ini sebagai pelajaran. Sampai jumpa dalam lain cerita.

-oo0 dw-arema 0oo-

T A M A T

Sumber djvu : Koleksi Ismoyo

http://cersilindonesia.wordpress.com

Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://ebook-dewikz.com/

http://kang-zusi.info http://dewikz.byethost22.com/

diedit ulang oleh Ki Arema

kembali | TAMAT

3 Tanggapan

  1. Menitikkan air mata

  2. Istanan yang suram 14


  3. https://polldaddy.com/js/rating/rating.jsLuar biasa, airmataku tidak terbendung lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s