PdLS-65


<<kembali | lanjut >>

PERWIRA ITU mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Apakah aku dapat menilai sampai dimana kemampuannya?”

Sebelum penasehat raja itu menjawab, Tohjaya yang sombong, yang merasa mendapat tantangan segera menjawab, “Baik. Baik. Aku tidak berkeberatan. Tidak usah guruku. Aku akan menangkapmu. Dan aku pula yang akan membunuhmu.”

Perwira yang berkerudung hitam itu tertawa pendek. Masih berusaha merubah nada suaranya. Katanya, “Benar.”

Tetapi gurunya menggelengkan kepalanya, “Jangan tuanku. Biarlah aku saja menangkapnya. Biarlah ia mendapat kehormatan besar menjelang saat matinya. Aku kira aku dapat memanggil prajurit-prajurit peronda saja untuk menangkapnya. Tidak perlu aku sendiri. Tetapi aku kasihan kepadanya. Biarlah ia berbangga dihari matinya, bahwa aku, seorang penasehat rajalah yang akan membunuhnya. Bukan prajurit-prajurit kecil dan bukan pula seorang pemenggal leher yang akan memancungnya di alun-alun.”

“Begitu?”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Namun ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk melawan orang yang berkerudung hitam itu.

“Sekarang sebut namamu,” penasehat itu berkata.

Tetapi perwira itu menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu. Kau tidak perlu mengenal aku. Kalau kau mengenal aku, maka kau akan melihatnya apabila aku sudah kau tangkap, atau apabila aku sudah terbunuh.”

Kemarahan penasehat raja itu-pun sudah memuncak pula. Karena itu sambil menggeram ia maju selangkah, “Baiklah. Kita akan bertempur. Kau akan hancur menjadi kepingan tulang dan sayatan daging di dalam genangan darahmu.”

Kata-kata itu benar-benar telah mendirikan bulu di seluruh tubuh perwira itu. Bahkan juga Sumekar dan Anusapati. Kini mereka dapat melihat hati penasehat yang tampaknya lembut itu. Kata-kata yang terloncat dari bibirnya itu adalah bentuk yang sebenarnya dari sifat dan wataknya.

Tetapi perwira itu sudah bertekad untuk bertempur karena ia tidak mendapat kesempatan untuk menghindar. Apa-pun yang akan terjadi, ia tidak akan ingkar lagi. Mati disayat-sayat oleh penasehat yang rendah hati itu, atau dipancung di alun-alun, atau bahkan dihukum picis sekalipun.

Karena itu, sejenak kemudian kedua orang itu-pun telah terlibat didalam perkelahian. Penasehat raja yang marah itu tidak dapat mengekang dirinya lagi. Dengan garangnya ia mulai menyerang. Tetapi perwira itu-pun sudah siap pula, sehingga serangan itu sama sekali tidak mengenai sasarannya.

Demikianlah, maka keduanya segera mengerahkan segenap kemampuan mereka. Ternyata kini, bahwa sebenarnyalah penasehat raja itu adalah seorang yang kasar. Dengan garangnya tangannya terayun-ayun ke segenap penjuru. Kadang-kadang ia menggeram seperti seekor harimau. Namun kemudian suaranya meninggi seperti bunyi seekor kera raksasa.

Perwira prajurit, saudara sepupu Ken Umang itu-pun melawan sejauh-jauh dapat dilakukan. Tetapi ternyata bahwa ia-pun bukan orang yang lemah, meski-pun terlampau hati-hati. Itulah sebabnya, maka cara yang ditempuhnya untuk menuntun murid-muridnya sangat terpengaruh oleh sifatnya itu. Dengan demikian maka Tohjaya telah menempuh dua orang yang berlawanan di dalam menuntut ilmu kanuragan. Gurunya yang seorang menuntunnya dengan cara yang keras, kasar dan cepat, sedang yang lain, terlampau hati-hati dan agak lamban.

Namun demikian ketika kedua gurunya bertemu di dalam perkelahian yang sebenarnya, ternyata ilmu mereka tidak terpaut banyak seperti yang diduga. Perwira prajurit itu ternyata mempunyai jenis tata gerak yang selama ini belum pernah diberikan, baik kepada Tohjaya mau-pun kepada Anusapati, meskipun menurut tanggapan Sumekar dan Anusapati. tara gerak itu hanyalah pendalaman dari tata gerak yang pernah dilihatnya. Meskipun demikian, tanpa memperhatikan dengan saksama, maka seolah-olah perwira yang bertempur melawan penasehat raja itu, mempergunakan ilmu yang lain dari ilmu yang diberikan kepada Tohjaya dan Anusapati, sehingga baik penasehat raja yang sedang bertempur dan tidak banyak mendapat kesempatan untuk menilai tata gerak lawannya, maupun Tohjaya yang masih belum cukup matang.

Dengan demikian, maka baik Tohjaya maupun gurunya yang sedang bertempur itu tidak segera dapat mengenal, siapakah orang yang berkerudung hitam itu. Juga lewat tata geraknya Tohjaya tidak dapat mengetahui meskipun ia mendiri sudah mempelajarinya.

Karena itu, maka Tohjaya hanya dapat berdiri termangu-mangu. Ternyata orang yang berkerudung hitam itu mampu mengimbangi gurunya yang selama ini dibanggakannya.

Sumekar dan Anusapati yang bertengger di atas dahan menyaksikan pertempuran itu dengan dada yang berdebar-debar. Ternyata bahwa guru Tohjaya, penasehat raja itu, benar-benar seorang yang memiliki cabang ilmu yang kasar. Tata geraknya yang hampir tidak mengenal pengekangan, kadang-kadang memang membuat sulit mereka yang menyaksikan menjadi berkerut.

Tohjaya sendiri merasa ngeri melihat gurunya bertempur. Tangannya mengambang keduanya. Sekali-sekali terayun kesegenap arah, kemudian menyambar dan memukau seperti kaki burung rajawali. Jari-jarinya mengembang seperti hendak mencengkeram.

Lawannya, orang yang berkerudung hitam itu harus bertempur dengan hati-hati. Setiap kali ia meloncat menghindar. Namun sekali-sekali ia-pun menyerang dengan tiba-tiba.

Namun kemudian ternyata bagi Sumekar dan Anusapati. bahwa ilmu perwira itu memang tidak setingkat dengan ilmu penasehat raja itu. Meski-pun tidak terpaut banyak, tetapi karena kekasaran dan keganasannya, maka setiap kali orang yang berkerudung hitam itu selalu terdesak.

Meski-pun demikian, menurut penilikan Sumekar dan Anusapati. orang berkerudung hitam itu akan dapat menyelamatkan dirinya apabila dikehendakinya. Ia masih akan dapat bertahan untuk waktu yang lama, dan kesempatan melarikan diri-pun agaknya masih dapat dilakukannya.

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Ilmu mereka tidak terpaut banyak. Tetapi benar juga pamanda tuanku, bahwa penasehat itu pasti lebih tinggi meskipun hanya selapis, tataran ilmunya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi kekurangan itu tidak akan berbahaya baginya.”

Sekali lagi Anusapati mengangguk.

Namun dalam pada itu, perwira yang berkerudung hitam itu selalu terdesak surut. Meskipun demikian penasehat raja itu tidak pernah berhasil mengenainya dengan mantap, sehingga berpengaruh berat baginya.

“Jangan mencoba untuk lari,” penasehat itu menggeram, “kau harus hancur bersama namamu di sini.”

Perwira itu tidak menyahut. Dengan sekuat tenaga ia melawan serangan penasehat raja yang kasar itu.

Ternyata perlawanan yang gigih itu telah membuat penasehat raja itu menjadi semakin marah. Ia merasa seseorang yang tidak ada lawannya di istana ini, selain Sri Rajasa sendiri. Kini tiba-tiba ia bertemu dengan seseorang yang tidak dikenalnya, yang tidak segera dapat dikalahkannya, meskipun secara pasti ia dapat mendesak lawannya itu terus-menerus.

Karena itu, maka guru Tohjaya yang kasar itu tidak dapat menahan hati lagi. Sekali lagi ia hampir berteriak, “Jangan lari. Suaraku dapat menjadi semakin keras. Aku dapat berteriak memanggil para penjaga dan mengepung istana ini.”

Tetapi jawab perwira yang berkerudung hitam itu, “Jika ada prajurit peronda yang lewat di dekat bangsal ini, mereka pasti mengira bahwa suara kita yang sedang bertempur ini, adalah jejak kakimu dan tuanku Tohjaya yang sedang berlatih.”

“Bodoh kau. Aku dapat memanggil mereka dengan satu teriakan, atau aku dapat menyuruh salah seorang pengawal tuanku Tohjaya itu untuk membunyikan tanda.”

“Itu-pun tidak akan banyak berarti. Aku dapat lari dengan mudah. Aku dapat meloncat dinding dan terjun ke halaman sebelah. Bukankah di belakang dinding batu ini termasuk bagian dari istana tuan Puteri Ken Umang.”

“Kau sangka disana tidak ada prajurit peronda?”

“Aku dapat lari lebih cepat dari mereka.”

“Gila,” tiba-tiba penasehat raja itu kehilangan kesabaran. Lalu, “Tuanku, bawalah kedua pengawal tuanku itu untuk mengurung orang ini. Aku akan menangkapnya.”

Tohjaya termangu-mangu sejenak. Dan gurunya itu berkata terus, “Jangan beri kesempatan ia berloncatan surut menghindari seranganku. Itu licik sekali. Aku akan memaksanya menyerah, atau hancur sama sekali karena kekuatan aji pamungkasku.”

Perwira itu menjadi berdebar-debar. Mungkin orang itu tidak sekedar menakut-nakutinya. Mungkin ia akan segera melepaskan aji pamungkas yang masih belum diketahui sampai betapa jauh kemampuannya.

“Aku masih belum sempat menyempurnakan aji pamungkasku. Kalau ilmunya itu cukup masak, aku pasti tidak akan dapat mengimbanginya,” berkata perwira itu di dalam hatinya. Karena itu, maka ia-pun semakin terdesak surut.

Sumekar melihat keadaan itu. Ia merasakan, bahwa perwira yang berkerudung hitam itu semakin terdesak. Apalagi setelah Tohjaya menyadari keadaannya, dan siap untuk ikut bertindak bersama kedua pengawalnya.

“Nah,” berkata penasehat raja itu, “aku tidak perlu memanggil duapuluh lima orang. Sekarang kau akan hancur di bangsal ini. Sri Rajasa akan mengucapkan terima kasih kepadaku, apabila kelak aku dapat menunjukkan sekeping telingamu, atau jari-jarimu sebagai bukti bahwa seorang yang sakti telah memasuki longkangan ini. Namun aku masih juga dapat menumpasnya.”

Perwira yang berkerudung hitam itu tidak menyahut. Tetapi ia merasa bahwa ia benar-benar berada di dalam kesulitan. Ia tidak akan dapat dengan mudah meninggalkan longkangan itu, karena sejenak kemudian Tohjaya dan dua orang pengawalnya telah mengurungnya. Meskipun dengan mudah ia dapat mengalahkan ketiga orang itu sekaligus, tetapi di tempat itu hadir juga penasehat raja, sehingga meskipun ketiga orang itu tampaknya tidak begitu berarti, namun mereka pasti akan ikut menentukan akhir dari perkelahian ini.

“Perwira itu berada dalam kesulitan,” desis Sumekar.

Anusapati menganggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan membantunya, sekedar melepaskannya dari tangan penasehat ayahanda Sri Rajasa. Kalau orang itu dapat ditangkap, maka ia akan berceritera tentang bermacam-macam hal yang barangkali dapat menyinggung namaku. Mungkin ia pernah juga melihat tata gerakku yang tanpa aku sadari lepas di dalam latihan-latihan yang kami selenggarakan, terutama apabila aku harus menghadapi ketamakan Adinda Tohjaya.”

“Bukan tuanku,” berkata Sumekar, “biarlah hamba bermain-main dengan kedua orang itu. Bukankah mereka tidak akan mengenal hamba dan tata gerak dari cabang perguruan hamba? Mungkin masih akan tampak unsur-unsur gerak yang kasar, meloncat dari pada hamba.”

Anusapati mengerutkan keningnya.

“Biarlah tuanku berada di sini. Sudah hamba katakan, taruhannya terlampau mahal apabila tuanku ikut di dalam persoalan ini.”

Anusapati tidak menjawab. Tetapi ia menganggukkan kepalanya.

Sumekar tidak berkata apa-pun lagi. Dipandanginya dengan tajamnya bagaimana perwira, guru Anusapati itu semakin terdesak, sehingga akhirnya ia tidak dapat lepas lagi. Ia kini berdiri diantara penasehat itu dan Tohjaya bersama dua orang pengawalnya. Kalau ia memaksa dirinya untuk menyerang Tohjaya agar ia mendapat jalan keluar dari kepungan itu, maka waktu yang sesaat itu sudah cukup bagi lawannya untuk menghancurkan punggungnya.

Karena itu, perwira prajurit itu berdiri termangu-mangu. Namun ia sudah bertekad untuk menghadapi akibat apa-pun yang bakal menimpa dirinya.

“Sayang,” desisnya, “aku belum dapat mengatakan kepada Mahisa Agni, siapakah orang yang tersembunyi ini.”

Tetapi ia benar-benar tidak sempat. Berpikir-pun tidak sempat, karena lawannya itu melangkah semakin dekat sambil tertawa. Katanya di sela-sela suara tertawanya, “Maaf, bahwa aku harus berbuat sesuatu atasmu. Mungkin aku akan membunuhmu, mungkin karena ketahanan tubuhmu yang luar biasa, kau hanya akan sekedar menjadi pingsan. Tetapi sebenarnya itulah yang aku inginkan. Sebab apabila kau masih hidup, aku akan dapat lebih banyak berbuat atasmu. Mungkin aku akan dapat menyadap keterangan tentang usahamu yang gila ini, mungkin aku akan mendapat kepuasan yang khusus karena aku dapat membunuhmu dengan cara yang lebih baik daripada menghancurkanmu dengan satu pukulan.”

Terasa bulu-bulu di tubuh perwira itu meremang. Namun kemudian ia menemukan kebulatan tekadnya kembali. Bahkan ia sempat menjawab, “Mati adalah jalan yang paling baik untuk menyelesaikan semua persoalan. Juga persoalanku yang rumit ini.”

“Ternyata kau sudah berputus asa. Kau ingin membunuh diri di sini?” penasehat itu berhenti sejenak, lalu, “gila. Kau akan mempergunakan aku sebagai alat untuk membunuh diri? Itu sangat menyakitkan hati.” ia terdiam pula sejenak, lalu, “tetapi kau akan menyesal. Kau akan menyesal. Barangkali lebih baik bagimu untuk menggantung diri di batang beringin di alun-alun. Atau menerjunkan dirimu ke dalam jurang yang dalam, atau menusuk perutmu sendiri dengan senjatamu. Tetapi kau tidak akan mendapat kesempatan lagi. Kau akan mengalami jalan maut yang paling mengerikan.”

Perwira itu tidak menjawab. Tetapi ia tidak menyerah. Ia masih berdiri siap dengan senjatanya, meski-pun di segenap penjuru, ujung-ujung senjata telah mengarah kepadanya.

“Kau masih mendapat waktu sekejap. Berdoalah kepada Yang Maha Agung, agar kau mendapat tempat yang baik di masa hidupmu mendatang.”

Perwira itu sama sekali tidak menjawab. Dengan tenang ia menengadahkan dadanya menghadap maut yang bagimana-pun juga garangnya.

Namun, selagi penasehat raja itu melangkah selangkah maju, tiba-tiba ia terkejut. Telinganya yang tajam segera mendengar gemerasak daun di pepohonan. Ketika ia berpaling, dilihatnya sesosok tubuh meloncat dari cabang pohon yang satu kepohon yang lain, kemudian hinggap di atas dinding batu yang membatasi longkangan di belakang bangsal itu.

Orang-orang yang ada di longkangan itu-pun terperanjat. Yang berdiri di atas dinding batu itu juga seorang yang berkerudung hitam seperti orang yang sedang berkelahi itu. Namun sebenarnyalah bahwa perwira yang berkerudung hitam itu-pun terkejut pula melihat orang lain yang memakai pakaian seperti yang dipakainya.

“Ha,” berkata Sumekar. Seperti perwira prajurit itu, suaranya-pun telah dirubah menjadi suara yang lain, melengking tinggi meskipun tidak begitu keras, “ternyata orang yang namanya terkenal di seluruh Singasari ini adalah orang yang licik. Ia terpaksa menghadapi lawannya bersama-sama dengan murid dan pengawalnya. Itu sama sekali tidak adil. Kawanku datang dan bertempur seorang diri. Seharusnya kau melawan juga seorang diri. Perang tanding adalah sikap kesatria jantan di Singasari.”

Penasehat raja itu menggeram. Terdengar suaranya parau, “Siapa pula kau?”

Sumekar-pun kemudian meloncat dengan lincahnya turun ke longkangan belakang di atas rerumputan. Sambil bertolak pinggang Sumekar berdiri tegak memandang orang-orang yang keheranan itu satu demi satu.

“He, kenapa kalian berdiri keheranan seperti melihat hantu yang datang dari kegelapan atau barangkali hantu yang datang dari pojok-pojok istana ini.” Sumekar berhenti sejenak, lalu, “aku sama sekali bukan hantu. Aku hanya seseorang biasa yang dengan sengaja menutup wajahku dengan kain hitam, berpakaian hitam agar tidak mudah dilihat apabila aku bersembunyi, dan sudah barangkali tentu, dengan kerudung hitam ini aku ingin menyembunyikan wajahku. Mungkin kalian sudah mengenal aku dan kawanku itu. Karena itulah maka dengan sengaja kami ingin agar kalian tidak mengetahui siapakah aku ini.”

Penasehat raja itu menggeram. Terasa olehnya, bahwa orang yang baru datang ini mempunyai kepercayaan diri yang lebih besar dari orang yang pertama. Mungkin orang ini lebih berbahaya atau setidak-tidaknya sama seperti orang yang pertama yang masih berada di tempat itu pula.

Orang yang berkerudung hitam pertama, betapapun juga ia keheranan, namun ia mencoba menyesuaikan dirinya. Ia tidak berbuat apa-apa, meskipun ia tidak yakin, apakah orang berkerudung hitam yang datang kemudian itu nanti tidak berbahaya baginya sendiri.

“Siapakah sebenarnya kalian? Sudah waktunya kalian membuka kerudung-kerudung hitam itu. Marilah kita berhadapan dengan wajah tengadah seperti lazimnya laki-laki.”

Sumekar tertawa. Suaranya menggetarkan isi dada meskipun nadanya rendah dan tidak terlampau keras. Bahkan Anusapati-pun merasakan getaran itu menyentuh jantung. Ia tidak menduga bahwa Sumekar memiliki kekuatan yang tajam di dalam lontaran getaran suaranya.

“Cukup,” geram penasehat raja itu, “aku muak melihat kalian. Pengecut yang sombong. Jangan menyesal kalau aku dengan sungguh-sungguh berusaha membinasakan kalian berdua.”

Sumekar masih tertawa. Katanya di sela-sela derai tertawanya, “Jangan terlampau garang.”

“Persetan,” guru Tohjaya itu maju selangkah, “agaknya kau memang lebih berbahaya dari kawanmu ini.”

“Terserahlah apa saja yang akan kau katakan. Tetapi aku memang ingin berkelahi. Ingin mengetahui sampai di mana kemampuan guru tuanku Tohjaya yang namanya terkenal sampai ke ujung bumi.”

Penasehat raja itu maju selangkah lagi. Namun kemudian ia berpaling kepada Tohjaya, “Tuanku, jagalah agar yang seorang itu tidak lari dari longkangan ini. Hamba akan menyelesaikan orang ini. Orang yang agaknya lebih licik dari kawannya yang pertama itu.”

Tohjaya menganggukkan kepalanya. Tetapi tampaklah keragu-raguan menggetarkan dadanya. Apakah ia dapat menahan orang itu apabila orang itu benar-benar berniat untuk pergi? Tetapi kesombongannya ternyata telah mendorongnya untuk menjawab, “Baiklah guru. Aku akan membinasakannya apabila ia akan lari.”

Tetapi dadanya berdesir ketika orang yang pertama itu tertawa. “Apakah tuanku dapat melakukannya?”

“Persetan,” bentak Tohjaya sambil mengacukan pedangnya, “cobalah kalau kau ingin dadamu terbelah.”

Sekali lagi orang itu tertawa. Namun sebelum ia menyahut Sumekar telah mendahuluinya, “Biarlah. Jangan lari. Biarlah tuanku Tohjaya menganggap bahwa kau takut kepada ujung pedangnya itu. Supaya tidak sia-sialah guru-gurunya mengajarinya. Guru yang ini dan guru yang satu lagi. Apakah kau mengenalnya?”

Bukan saja dada Tohjaya yang berdesir. Tetapi dada perwira itu-pun menjadi berdebar-debar pula. Tetapi ia mencoba menghilangkan kesan itu. Sambil tertawa ia berkata, “Ya. Aku juga sudah mendengar bahwa tuanku Tohjaya mempunyai dua orang guru. Bukankah dengan demikian seharusnya tuanku Tohjaya menjadi orang yang mumpuni?”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak sempat menyahut karena penasehat raja itu membentak, “Tutup mulut kalian. Kalian akan menyesal. Selain kami yang berada disini masih ada lima puluh orang prajurit yang siap untuk menangkap kalian. Dengan satu tanda, mereka akan berlari-larian kemari.”

“He?” sahut Sumekar, “aneh. Nada suaramu berubah. Kalau semula kau mengucapkan kata-kata ini dengan kesombongan yang menggunung di hatimu, seolah-olah kau jauh lebih berharga dari limapuluh orang prajurit itu sehingga seolah-olah kau tidak usah berbuat apa-apa, cukup prajurit-prajurit itu saja, kini nada itu sudah berubah. Kau benar-benar ketakutan dan kau benar-benar membutuhkan bantuan mereka. Bantuan lima puluh orang prajurit, bukan karena kau jauh lebih berharga dan tidak pantas berbuat, karena limapuluh orang itu sudah cukup. Tetapi karena kau menjadi ketakutan.”

“Diam,” orang itu membentak. Dengan mata yang seakan-akan menyala itu mendekati Sumekar.

Sumekar tidak berbicara lagi. Tetapi ia sudah siap menghadapi setiap kemungkinan. Ia sudah melihat penasehat raja itu berkelahi, sehingga sedikit banyak ia sudah dapat menjajagi kedahsyatan ilmunya.

Dugaan Sumekar tidak salah lagi. Tiba-tiba orang itu meloncat menyerang dengan cepatnya, seperti tatit di udara. Tangannya terjulur lurus, seperti sepasang tangan harimau yang siap menerkam mangsanya.

Tetapi Sumekar sama sekali tidak lengah. Dengan tangkas ia menghindarkan dirinya, dan bahkan dengan tangkas pula ia membalas menyerang.

Sejenak kemudian maka keduanya telah terlibat dalam perkelahian yang seru.

Seperti yang telah diduga oleh Sumekar, maka guru Tohjaya yang kasar itu pasti memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Bukan saja untuk melawan perwira prajurit yang berkerudung hitam itu, tetapi juga untuk menghadapi orang-orang yang telah hampir masak menguasai ilmunya.

Dengan demikian, maka Sumekar-pun harus mengerahkan sebagian besar dari kemampuannya untuk melawannya, meskipun Sumekar kemudian segera dapat memastikan, bahwa ia akan segera dapat menguasai lawannya.

Namun demikian, kekuatan orang itu harus diperhitungkan apabila pada suatu saat terjadi sesuatu di dalam istana ini, apabila ada perubahan keadaan. Seandainya pada suatu saat datang waktunya, Sri Rajasa menyerahkan pimpinan kerajaan kepada Pangeran Pati, dan Tohjaya tidak dapat menerima kenyataan itu, maka penasehat raja ini harus mendapat perhatian yang khusus.

Demikianlah maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Sumekar harus melayaninya dengan sebaiknya, karena orang itu cukup berbahaya baginya. Apalagi setelah sekian lama mereka berkelahi, namun penasehat raja yang merasa dirinya tidak terkalahkan itu tidak dapat segera menguasai lawannya, maka kekasarannya-pun seolah-olah ditumpahkannya seluruhnya. Langkahnya dan gerak tangannya, bahkan mulutnya yang mengumpat-umpat. Benar-benar tidak sesuai dengan tingkah lakunya sehari-hari.

Tetapi Sumekar-pun pernah mendapat tuntunan ilmu yang agak kasar juga, sehingga untuk menyesuaikan dirinya, maka ia-pun melepaskan tata gerak yang kasar dan cepat, sehingga lawannya terkejut karenanya.

“Setan manakah yang telah mengirim kau kemari?” bentaknya.

Tetapi Sumekar tidak menjawab. Yang terdengar adalah suaranya melengking seperti suara hantu kelaparan.

“Gila,” geram penasehat itu, “sebut namamu sebelum kau mati. Tidak ada orang yang dapat mengalahkan aku. Tetapi kau tidak segera dapat aku bunuh. Namun dengan demikian, kau telah membuat aku menjadi semakin marah. Dan kau akan menyesal nanti.”

Sumekar tidak menghiraukannya. Ia bertempur terus dengan tangkasnya. Bahkan sekali-sekali ia telah membuat lawannya menjadi bingung.

“He, jangan berputar-putar seperti seekor anak ayam sakit-sakitan,” desis Sumekar ketika lawannya kehilangan arah.

“Persetan,” gigi penasehat itu gemeretak. Tetapi ia tidak dapat mengelakkan kenyataan, bahwa lawannya memang memiliki kelebihan daripadanya.

Tohjaya yang melihat perkelahian itu menjadi cemas. Ia tidak mengira bahwa ada orang yang mampu menandingi gurunya. Ia menyangka, bahwa gurunya adalah seorang yang paling kuat di seluruh Singasari kecuali ayahandanya dan Mahisa Agni.

“Apakah orang itu paman Mahisa Agni?” pertanyaan itu membersit di hatinya, “tentu bukan,” ia menjawabnya sendiri. “Bentuk tubuhnya sama sekali tidak sesuai dengan bentuk tubuh paman Mahisa Agni.”

“Dan siapa pulakah kawannya yang telah lebih dahulu berkelahi dengan guru itu?” ia bertanya pula didalam hatinya.

Tohjaya menjadi bingung karenanya. Ia melihat bahwa gurunya agaknya terdesak terus.

Tiba-tiba Tohjaya menggeretakkan giginya. Sambil meloncat maju ia berkata, “Guru. Perkenankan aku ikut menangkap orang ini?”

Gurunya yang sedang bertempur berpaling sejenak sambil meloncat menjauhi Sumekar. Dilihatnya Tohjaya melangkah maju dengan pedang di tangan. Karena itu dengan tergesa-gesa ia berkata, “Jangan tuanku. Orang ini cukup berbahaya bagi tuanku.”

“Aku menjadi muak melihatnya.” sahut Tohjaya.

“Tetapi tuanku jangan mendekatinya. Tangannya seperti mulut ular yang berbahaya apabila berhasil mematuk tubuh kita.”

“Aku akan membunuhnya dengan pedang.”

Sebelum gurunya menjawab, perwira yang berkerudung hitam itulah yang menyahut, “Jangan ikut campur tuanku. Ingat, hamba sekarang berdiri bebas. Hamba dapat berbuat apa saja terhadap tuanku.”

“Kedua pengawalku akan membunuhmu.”

Perwira itu tertawa. Katanya, “Jangan kau banggakan kedua pengawal tuanku yang tidak lebih dari dua ekor cucurut itu. Hamba dapat membunuh mereka dengan sekali gerak.”

“Bohong,” salah seorang dari kedua prajurit itu menjadi seakan-akan terbakar seluruh jantungnya. Ia melangkah maju dengan pedang di dalam genggaman.

Tetapi perwira prajurit itu masih tetap berdiri saja di tempatnya. Bahkan seakan-akan ia tidak mengacuhkannya sama sekali. Ia masih tetap memperhatikan orang yang berkerudung hitam yang telah terlibat kembali dalam perkelahian melawan penasehat raja itu.

“Perkelahian yang dahsyat,” desisnya, “tetapi sayang, bahwa kawan yang berkerudung hitam itu agaknya akan dapat mengalahkan guru tuanku itu.”

“Persetan,” Tohjaya mengumpat. Ia memandang perkelahian antara gurunya dengan orang yang berkerudung hitam itu dengan tajamnya. Dan tiba-tiba saja berkata lantang kepada kedua pengawalnya, “Bunuh dia. Aku akan ikut menyelesaikan orang itu.”

Tanpa menunggu perintah itu diulangi, kedua pengawal Tohjaya itu-pun segera menyerang perwira yang berkerudung hitam itu.

Perwira itu-pun terpaksa mengelakkan serangan itu. Mau tidak mau ia harus melayani mereka. Justru karena perwira itu tidak ingin mengalahkan lawannya dengan menjatuhkan korban jiwa, maka ia harus bertempur dengan berhati-hati. Tetapi meskipun demikian, ia masih juga sempat menyerang Tohjaya untuk mencegahnya, agar ia tidak melibatkan diri melawan orang yang berkerudung hitam itu.

Tohjaya mengumpat dengan kasarnya. Ternyata sifat gurunya sudah menjalar pula kepadanya, meskipun hanya di saat-saat tertentu. Di dalam kehidupannya sehari-hari, seperti juga gurunya, ia adalah orang baik, yang tidak pernah mengucapkan kata-kata kotor. Tetapi kalau gurunya berhasil menyembunyikan kesombongannya, Tohjaya sama sekali tidak berusaha untuk menahan diri.

Dengan kasarnya Tohjaya mencoba membalas menyerang bersama kedua pengawalnya. Kemudian, kembali ia meloncat meninggalkannya, dan mendekati gurunya yang sedang terdesak.

“Bunuh saja orang itu,” katanya kepada kedua pengawalnya. Tetapi membunuh perwira itu bukan pekerjaan yang mudah. Bahkan sama sekali di luar kemampuan mereka. Itulah sebabnya kedua pengawal itu hanya dapat berputar-putar sambil mengacu-acukan pedangnya.

“Tetapi mereka tidak tahu menahu tentang hal ini,” desis perwira itu di dalam hatinya, “sehingga tidak selayaknya apabila mereka mengalami bencana karenanya. Hanya apabila keadaan memaksa, apa boleh buat.”

Namun demikian ternyata kedua prajurit itu terasa sangat mengganggu usahanya mencegah Tohjaya agar tidak mengganggu pula orang yang berkerudung hitam itu. Karena Itu, maka timbullah pikirannya untuk membuat kedua orang itu tidak berdaya.

“Biarlah mereka aku paksa untuk tidur sejenak,” katanya didalam hati.

Demikianlah perwira itu ingin menyerang kedua prajurit pengawal itu di tempat yang langsung dapat membuat pingsan, tetapi tidak membahayakan jiwanya. Ia pernah mempelajari tekanan-tekanan di tengkuk yang dapat melenyapkan kesadaran seseorang untuk waktu yang tidak terlalu lama.

Tetapi sekali lagi longkangan itu telah dikejutkan oleh suara tertawa yang aneh. Serentak orang-orang yang ada dibelakang bangsal itu berpaling. Dengan dada yang berdebar-debar mereka melihat seorang lagi berjongkok di atas dinding. Orang ini-pun menutup wajahnya dengan kerudung hitam.

“Setan alas,” geram penasehat raja itu, “ternyata kalian datang dalam jumlah yang banyak. Kalau begitu, aku memang harus memanggil para pengawal istana ini.”

“Sekarang sudah tidak mungkin lagi,” desis Sumekar meskipun ia menggerutu di dalam hatinya. Agaknya Anusapati tidak berhasil mengekang perasaannya, sehingga ia-pun telah terjun pula kelongkangan itu.

“Kenapa tidak sempat?” bertanya penasehat raja.

“Kau tidak akan dapat pergi kemanapun atau membunyikan tanpa apapun.”

“Aku dapat berteriak.”

“Berteriak-pun kau tidak akan sempat.” sahut Sumekar, “bukan karena kau tidak mempunyai waktu, tetapi kejantananmulah yang akan mencegahnya. Menurut katamu, lima puluh orang itu tidak akan dapat mengimbangi kemampuanmu seorang diri.”

“Persetan,” geram orang itu pula.

“Nah, biarlah kita bermain-main sendiri,” berkata Sumekar selanjutnya, “kita adalah laki-laki jantan. Kita masing-masing mempunyai kekuatan lebih dari kekuatan lima orang. Marilah kita tunjukkan kemampuan itu. Bukan sekedar ceritera khayal tanpa ujung pangkal.”

Guru Tohjaya itu tidak menjawab. Ia menyerang Sumekar semakin garang, meskipun dengan demikian menjadi semakin jelas, bahwa ia tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu.

Namun dalam pada itu, Sumekar itu-pun menjadi cemas melihat Anusapati berada di antara mereka. Setelah meloncat turun, perlahan-lahan ia berjalan mendekati Tohjaya. Agaknya Anusapati ingin mengetahui kekuatan Tohjaya yang sebenarnya, sehingga karena itu dengan nada tinggi ia bertanya. “Inikah putera Sri Rajasa kinasih yang bernama Tohjaya?”

Tidak ada seorang-pun yang menjawab. Sumekar sedang sibuk berkelahi melawan penasehat raja, sedangkan kedua pengawal Tohjaya-pun telah mulai menyerang orang yang berkerudung itu pula.

Tohjaya yang agaknya menjadi sasaran orang berkerudung yang terakhir itu-pun merasa mendapat tantangan. Karena itu, sebelum orang berkerudung itu mempersiapkan dirinya, Tohjaya segera menyerangnya. Dengan cepatnya ujung pedang Tohjaya bagaikan lidah api yang mematuk tubuh Anusapati. Tetapi ternyata bahwa Anusapati mampu bergerak lebih cepat lagi, sehingga ujung pedang itu sama sekali tidak menyentuh sasarannya.

Dilongkangan itu-pun kemudian terjadi tiga lingkaran perkelahian. Namun sejenak kemudian, mereka masing-masing mengetahuinya, bahwa orang-orang yang berkerudung hitam itu ternyata tidak ingin berkelahi dengan sungguh-sungguh. Sumekar yang berhasil menguasai lawannya-pun tidak banyak berbuat atasnya. Hanya kadang-kadang tangannya menyentuh penasehat raja itu. Tetapi Sumekar sama sekali tidak ingin mencelakainya, meski-pun dengan demikian ia harus berhati-hati. Penasehat raja itu-pun memiliki ilmu yang cukup tinggi. Ia melepaskan ilmu tanpa kekangan, sedang Sumekar masih harus mempertimbangkan akibat dari setiap gerakannya. Itulah sebabnya maka kadang-kadang Sumekar masih harus meloncat menjauhinya, apabila ia kehilangan kesempatan untuk berpikir karena serangan lawannya yang datang membanjir.

Perwira prajurit yang bertempur dengan kedua pengawal Tohjaya itu-pun dapat mengimbangi lawannya dengan tanpa kesulitan. Bahkan apabila ia inginkan, ia pasti dapat mengalahkan keduanya dalam waktu yang singkat. Namun tiba-tiba saja ia masih ingin meneruskan permainan itu, sambil melihat Tohjaya berkelahi melawan orang ketiga yang datang terakhir itu.

Namun segera ternyata pula, bahwa Tohjaya tidak berdaya sama sekali. Meski-pun ia memegang senjata, sedang orang berkerudung itu hanya bertempur dengan tangannya, namun Tohjaya sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa.

Demikianlah, maka Anusapati telah berhasil memancing Tohjaya dalam perkelahian yang telah memeras semua kemampuan yang ada pada Tohjaya. Dengan demikian, maka Anusapati-pun dapat menilai tingkat ilmu adiknya itu pada suatu saat. Betapa Tohjaya mengerahkan segenap ilmunya yang kasar itu, namun kemampuannya sama sekali tidak dapat mendekati ilmu Anusapati yang sudah dipelajarinya bertahun-tahun, sehingga hampir masak.

Tetapi ternyata di dalam perkelahian itu, bahwa ketiga orang yang berkerudung hitam itu tidak ingin menimbulkan bencana. Mereka tidak ingin menjatuhkan korban sama sekali. Bahkan perwira prajurit yang sedang berkelahi melawan dua orang prajurit pengawal Tohjaya itu-pun membatalkan niatnya untuk membuat kedua prajurit itu pingsan.

Demikian pula Sumekar yang tidak dapat diimbangi oleh lawannya, betapa-pun penasehat raja itu mengerahkan kemampuannya, meskipun Sumekar harus berhati-hati karena kadang-kadang penasehat raja itu dapat menyerangnya dengan tiba-tiba dan cukup berbahaya, namun masih tetap di dalam penguasaannya.

Perkelahian yang tidak seimbang itu masih berlangsung beberapa lama. Penasehat raja yang memang sudah merasa tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu, dan apalagi setelah ia melihat, bagaimana Tohjaya hanya bagaikan golek permainan saja, benar-benar menjadi bimbang. Ia memang dapat berteriak memanggil penjaga yang ada disekitar bangsal itu. Tetapi harga diriya telah mencegahnya. Tetapi apabila ia tetap berdiam diri maka pada saatnya, ia pasti akan kehilangan segenap kemampuannya untuk melawan. Demikian pula Tohjaya dan kedua prajurit pengawalnya.

Selagi penasehat itu berkelahi sambil termangu-mangu, maka Sumekar-pun berkata, “Kami telah cukup lama bermain-main di sini, kami sudah mengetahui, sampai dimana kemampuan guru tuanku Tohjaya yang namanya bagaikan bunga Arum Dalu di malam hari, dalam taman Singasari yang besar ini. Tetapi sayang sekali, bahwa kemampuan yang sebenarnya, sama sekali tidak seimbang dengan keharuman namanya.”

Penasehat raja itu menggeram. Alangkah sakit hatinya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus menerima hal itu sebagai suatu kenyataan.

“Kami akan segera kembali. Kami akan menyampaikan berita ini kepada raja kami. Bukan Maharaja sebesar Sri Rajasa. Raja kami adalah Raja dari suatu kerajaan kecil yang terpencil, yang tidak banyak dikenal. Tetapi kalian sudah dapat melihat tiga orang prajurit dari negara kami. Kami bukanlah orang-orang terkuat di negara kami yang kecil itu. Tetapi kami telah berhasil menguasai orang yang paling kuat di Singasari, selain Sri Rajasa sendiri. Kami akui, bahwa Sri Rajasa adalah orang yang luar biasa menurut pendengaran kami. Tetapi pasti ada orang di negeri kami yang dapat mengalahkannya.”

Penasehat raja itu tidak menyahut. Tetapi terdengar giginya gemeretak. Ia masih memaksa dirinya untuk bertempur terus, meskipun ia tahu hal itu akan sia-sia saja.

“Kau tidak usah memanggil prajurit-prajurit yang sedang mengawal istana ini,” berkata Sumekar kemudian, “aku tidak akan tinggal lebih lama lagi di sini. Aku akan segera minta diri.”

“Persetan,” geram penasehat itu, “kau salah sangka. Di Singasari bukan Sri Rajasa sajalah orang-orang yang luar biasa di dalam olah kanuragan.”

“Aku tahu. Selain Sri Rajasa adalah kau sendiri. Begitu maksudmu?”

“Masih ada paman Mahisa Agni,” sahut Tohjaya yang nafasnya menjadi terengah-engah.

“Siapakah Mahisa Agni itu?” bertanya Sumekar.

“Yang mewakili ayahanda Sri Rajasa di Kediri saat ini.”

“Apakah Mahisa Agni juga bernama Kuda Taksaka yang perkasa itu?”

Tohjaya menjadi termangu-mangu. Ia belum pernah mendengar nama Kuda Taksaka.

“Kalau Mahisa Agni itu bukan Kuda Taksaka, maka namanya sama sekali tidak akan menggetarkan negeri kami yang kecil.”

Tohjaya tidak menyahut.

“Kami akan segera pergi,” berkata Sumekar, “sayang, disini tidak ada orang yang kau sebut bernama Mahisa Agni. Lain kali kami akan pergi ke Kediri. Kami ingin membuktikan dengan cara ini, betapa orang yang kau agung-agungkan itu dapat mengimbangi kemampuan kami. Selain Mahisa Agni, kami juga ingin menjajagi kemampuan Anusapati yang kini telah diangkat menjadi Pangeran Pati. Kami ingin tahu, apakah anak itu telah memiliki bekal cukup bagi jabatannya itu.”

Penasehat raja itu sama sekali tidak berkata apapun. Tohjaya-pun menjadi termangu-mangu pula. Bahkan perwira prajurit, guru Tohjaya dan Anusapati itu-pun heran mendengar kata-kata Sumekar. Agaknya orang berkerudung hitam yang membantunya itu belum mengenal Mahisa Agni, dan belum juga mengenal Anusapati. Dan bahkan ia menyebut-nyebut nama Kuda Taksaka yang belum pernah didengarnya.

Tetapi orang berkerudung hitam yang masih saja selalu menghindari serangan dua orang pengawal Tohjaya itu-pun mendengar Sumekar berkata, “Hentikan serangan-serangan kalian yang tidak berguna ini. Kami akan meninggalkan longkangan ini segera. Tetapi kalau kalian masih tetap ingin berkelahi, kami akan berkelahi dengan sungguh-sungguh dan meninggalkan kalian pingsan di sini.”

Tohjaya-pun menjadi ragu-ragu. Tanpa sesadarnya serangannya-pun telah mengendor. Bahkan ia tidak memburu lagi ketika Anusapati meloncat menjauhinya.

“Sudahlah. Kami sudah cukup untuk kali ini,” desis Sumekar dengan nada yang tinggi melengking.

Tohjaya, gurunya yang kasar dan kedua pengawalnya-pun kemudian berdiri termangu-mangu. Mereka menjadi seakan-akan kehilangan kesadaran, apa yang sebaiknya mereka lakukan.

Ketika ketiga orang berkerudung itu perlahan-lahan melangkah surut kesudut longkangan, mereka hampir tidak berbuat apa-apa selain dengan mata tanpa berkedip memandanginya.

“Selamat malam. Berlatihlah terus,” berkata Sumekar.

Sejenak kemudian maka Sumekar-pun meloncat keatas dinding longkangan itu disusul oleh Anusapati dan perwira prajurit itu, dan menghilang di dalam kegelapan malam.

Dalam pada itu, ketika ketiganya tidak lagi dapat mereka lihat, barulah penasehat raja itu menyadari keadaannya. Dengan lantang ia berkata, “Bunyikan tanda bahaya. Perintahkan kepada setiap prajurit untuk menutup semua regol dan menjaga agar tidak seorang-pun dapat keluar dari istana ini. Setiap jengkal dinding istana dan halaman dibagian mana-pun juga harus diawasi.”

Kedua prajurit pengawal Tohjaya itu-pun segera berlari-larian ke gardu peronda yang terdekat. Sejenak kemudian suara tanda itu-pun telah bergema memenuhi seluruh halaman.

Sementara itu, Sumekar dan kedua kawannya telah berada di luar halaman bangsal Sri Rajasa. Tetapi tanda bahaya itu merupakan peringatan bagi mereka, bahwa sebentar lagi, prajurit-prajurit yang sedang bertugas di halaman istana ini akan berlari-larian ke segenap penjuru.

Karena itu maka Sumekar-pun berkata. “Cepatlah kembali kepondokmu. Ternyata baik tuanku Tohjaya, mau-pun gurunya itu belum mengetahui siapakah kau ini.”

“Tetapi, siapakah sebenarnya kalian?”

“Aku harus segera meninggalkan istana ini sebelum semua bagian dari dinding istana ini diawasi. Aku tidak mempunyai banyak waktu, Kau-pun tidak.”

Tanda bahaya digardu pertama itu-pun segera disahut oleh gardu-gardu yang lain, sehingga sejenak kemudian setiap gardu di dalam lingkungan istana itu-pun telah membunyikan tanda-tanda yang serupa.

“Cepat,” desak Sumekar, “sebelum seseorang mengetahui tentang dirimu. Aku-pun akan segera pergi.”

Sumekar dan Anusapati-pun kemudian bagaikan terbang meninggalkan perwira yang termangu-mangu itu. Tetapi perwira itu-pun segera menyadari keadaannya dan menyelinap masuk ke dalam pondoknya. Dengan cepat ia-pun melepas kerudung hitamnya dan menyembunyikannya rapat, setelah ia berganti pakaian.

Tetapi perwira itu sama sekali tidak mengetahuinya, bahwa pada saat yang hampir bersamaan, Sumekar dan Anusapati-pun telah berbuat hal yang serupa. Mereka-pun telah mengganti pakaian mereka, dan menyembunyikan kerudung-kerudung hitam itu.

Demikianlah maka halaman istana itu menjadi gempar. Para pengawal segera bersiap di tempat tugas masing-masing. Para prajurit peronda-pun segera berlari-larian ke segenap sudut istana, mengawasi segala bagian dari dinding yang memagari istana Singasari, sehingga tidak ada sejengkal-pun yang dapat dilalui oleh siapapun.

Di muka bangsal Permaisuri-pun empat orang prajurit telah siap dengan senjata telanjang. Demikian pula di depan bangsal Ken Umang. Tohjaya yang masih berada di bangsal Sri Rajasa bersama guru dan pengawalnya segera bergabung dengan pengawal yang kemudian menempatkan diri di bagian depan dan yang lain di bagian belakang.

Empat prajurit yang lain telah berdiri sebelah menyebelah bangsal Putera Mahkota untuk mengawasi apabila ada orang-orang yang menyelinap dan berniat berbuat jahat.

Para prajurit pengawal bangsal Anusapati itu segera menyongsong Putera Mahkota yang keluar dari bangsalnya sambil menggosok-gosok matanya.

“Masuklah tuanku,” berkata salah seorang pengawal.

“Aku mendengar tanda bahaya.”

“Ya. Karena itulah hamba berada disini.”

Anusapati menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak memerlukan pengawal. Bukankah seluruh istana ini sudah diawasi.”

“Tetapi dalam keadaan bahaya, hamba mendapat tugas mengawasi bangsal ini.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih. Tetapi apakah yang sebenarnya sudah terjadi?”

“Ada tiga orang asing telah memasuki istana ini dalam pakaian hitam.”

“He?” Anusapati terkejut, “bagaimana hal itu dapat terjadi? Apakah para pengawal regol dan para peronda tertidur semuanya?”

“Tidak tuanku. Para pengawal dan para peronda tetap berada pada tugas masing-masing. Tetapi mereka tidak melihat mereka masuk.”

“Apakah mereka anak siluman?” Anusapati menjadi tegang, “saat ini Ayahanda Sri Rajasa tidak ada di istana. Semua tanggung jawab pasti terlimpah pada para panglima yang tinggal. Panglima kesatuan yang ada di Singasari, terutama kesatuan pengawal istana ini.”

“Hamba tuanku, Panglima itu sudah masuk ke lingkungan istana pula. Ia sekarang berada di regol terdepan.”

“Aku akan menemuinya. Apabila Ayahanda Sri Rajasa tidak ada, akulah yang harus bertanggung jawab atas seluruh keadaan di dalam istana ini.”

“Tetapi, keadaan ini sangat berbahaya tuanku. Kami harap tuanku tetap di dalam bangsal ini. Kamilah yang akan menjaga di luar.”

“Dimana Adinda Tohjaya sekarang?”

“Didepan bangsal Ayahanda Sri Rajasa.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah para prajurit itu. Ia sadar, bahwa prajurit-prajurit itu adalah prajurit-prajurit yang setia. Setia kepada Ayahanda Sri Rajasa. Tetapi ia menjadi terharu juga melihat mereka siap mengawasi bangsalnya.

“Kenapa Adinda Tohjaya berada di bangsal ayahanda?”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi mereka tidak segera menyahut.

“Apakah Adinda Tohjaya berada di bangsal itu setelah ia mendengar tanda bahaya, atau ia memang berada di sana ketika tanda bahaya berbunyi?”

“Hamba tidak jelas tuanku. Tetapi dari sanalah sumber berita, bahwa ada orang-orang yang tidak dikenal masuk ke dalam istana ini.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Aku akan ke regol depan menemui Panglima pengawal istana.”

“Tuanku, hamba berharap tuanku tetap berada di bangsal ini saja.”

“Jangan cemas. Aku bukan anak-anak lagi.” Anusapati tidak menunggu prajurit-prajurit itu menjawab. Dengan tergesa-gesa ia memasuki bangsalnya. Kemudian mengenakan pakaian keprajuritan dengan sebilah keris di punggungnya.

Ketika Anusapati keluar dari biliknya, hampir saja ia melanggar embannya yang berlari-larian datang ke bangsal itu pula dari biliknya di belakang bangsal.

“Bibi, kenapa kau datang kemari?”

Embannya menekan dadanya yang tersengal-sengal. Katanya, “Hamba mendengar tanda bahaya.”

“Dan kenapa kau keluar dari bilikmu? Apakah kau takut?”

Embannya menggeleng.

“Jadi?”

“Aku cemas akan tuanku.”

“Kenapa? Diluar ada empat orang prajurit yang telah siap menghadapi semua kemungkinan.”

Emban itu menundukkan kepalanya.

“Apakah yang kau cemaskan? Apakah kau sangka orang-orang yang dikabarkan masuk kedalam istana ini akan berbuat jahat atasku?”

Sekali lagi emban itu menggeleng.

“Jadi, apa yang kau cemaskan?”

“Tuanku.”

“Kenapa dengan aku?”

Emban itu menahan nafasnya sejenak. Kemudian ia berpaling kepintu depan, seolah-olah ia ingin meyakinkan, bahwa tidak ada orang lain di dalam bangsal itu.

“Tuanku, hamba menjadi cemas, justru karena hamba mengetahui hanya beberapa hal saja atas tuanku. Hamba tidak mengetahui keadaan tuanku seluruhnya.”

“Apa yang kau ketahui tentang aku bibi?”

“Ampun tuanku. Hamba mengetahui, bahwa kadang-kadang tuanku meninggalkan bangsal ini. Dan bahkan meninggalkan halaman istana ini. Pakaian tuanku kadang-kadang terlampau kotor oleh debu dan pasir. Bukan pasir di halaman, tetapi pasir yang masih basah.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Kemudian ia-pun tersenyum. Ia sadar bahwa embannya mengetahui akan hal itu. Ia sadar pula, bahwa embannya pulalah yang selalu menghapus jejak itu sebelum pakaiannya yang kotor diserahkan kepada juru pakaian.

“Tetapi kali ini bukan aku bibi,” sahut Anusapati kemudian, “aku tahu bahwa kau menjadi cemas, kalau para penjaga melihat aku keluar atau masuk halaman dan berusaha menangkap aku karena mereka tidak tahu. Bukankah begitu?”

Embannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Anusapati menepuk pundak embannya itu. Katanya, “Tidurlah kembali. Aku akan ikut serta mencari orang yang memasuki istana ini.”

Embannya menarik nafas dalam-dalam.

“Atau kau ingin menunggui bangsal ini?”

“Tuanku akan pergi kemana?”

“Aku akan menemui Panglima pengawal di regol halaman.”

Embannya mengerutkan keningnya. “Apakah tuanku ingin menemuinya?”

“Ya.”

“Tuanku adalah Pangeran Pati. Tuanku dapat memerintahkan prajurit-prajurit itu memanggilnya. Panglima itulah yang harus menghadap tuanku.”

Anusapati tertegun sejenak. Tetapi ia-pun kemudian tersenyum. Katanya, “Aku kadang-kadang memang kurang menyadari, bahwa aku adalah Putera Mahkota. Tetapi biarlah aku melihat keadaan halaman istana ini selagi ada bahaya mengancam.”

Embannya tidak dapat menahannya lagi. Ketika Anusapati melangkah keluar bangsal, ia mengikuti di belakangnya.

“Aku akan pergi ke regol. Mungkin kini para perwira sudah berkumpul pula di sana.”

“Tetapi, apakah keadaan tidak sangat berbahaya bagi tuanku?” salah seorang prajurit itu masih berusaha mencegahnya.

Anusapati tidak menghiraukannya. Sambil tersenyum ia berkata kepada embannya, “Masuklah. Malam sangat gelap.”

Embannya membungkukkan kepalanya dalam-dalam, “Hamba tuanku.”

Anusapati-pun kemudian melangkah meninggalkan bangsal itu tanpa menghiraukan apa-pun lagi. Tetapi prajurit-prajurit yang berunding sejenak itu mengambil keputusan, bahwa dua di antara mereka harus mengawal Putera Mahkota, sedang dua lainnya menjaga bangsal itu.

Ketika dua orang di antara mereka berlari-lari mengikutinya, Anusapati berpaling sambil berkata, “Kalian mengawal aku?”

“Hamba Tuanku. Dalam keadaan ini, mungkin pengawal diperlukan.”

Anusapati melangkah terus. Kedua prajurit yang berlari-lari itu-pun kemudian berada dua langkah saja dibelakangnya.

“Aku tidak pernah mendapat pengawalan selama aku tinggal di dalam istana. Juga setelah aku menjadi Pangeran Pati. Dan selama itu, aku tidak pernah menemukan kesulitan apa-apa di dalam istana ini.”

“Hamba tuanku. Tetapi tidak dalam keadaan seperti ini.”

Anusapati tidak menjawab lagi. Ia berjalan terus.

Tetapi para prajurit yang mengawalnya itu menjadi heran. Putera Mahkota itu tidak langsung pergi ke regol depan menemui Panglima pasukan pengawal istana yang ternyata kali ini tidak ikut pula berburu.

“Apakah tuanku tidak pergi keregol depan?” bertanya salah seorang dari kedua prajurit yang mengawalnya.

“Ya. Tetapi aku ingin melihat, apakah semua penjagaan tidak ada yang lengah.”

Kedua prajurit itu saling berpandangan sejenak. Namun mereka berjalan saja mengikuti Putera Mahkota yang ternyata kemudian berjalan mengelilingi halaman istana. Dilaluinya gardu-gardu yang terpencil dan tempat-tempat yang gelap.

Di setiap gardu Anusapati menjumpai para pengawal telah siap menghadapi kemungkinan. Dan hampir di setiap tempat yang agak gelap ditemuinya peronda yang mengawasi setiap jengkal dinding yang mengelilingi istana.

“Hem,” Anusapati menarik nafas dalam-dalam, “dalam keadaan serupa ini, tidak mungkin ada seekor cicak-pun yang dapat lolos,” katanya di dalam hati.

Terbayang dirongga matanya, dirinya sendiri memanjat dinding yang tinggi itu. Tetapi ketika ia meloncat turun, tiba-tiba saja beberapa ujung tombak telah melekat di tubuhnya.

“Untunglah, semuanya itu tidak pernah terjadi,” katanya pula di dalam hatinya, “Agaknya hanya di dalam keadaan tertentu saja pengawasan menjadi begini ketat. Jika suatu saat, aku dilihat oleh para peronda itu, maka terpaksa aku membuat mereka menjadi pingsan.”

Namun ternyata sikap Putera Mahkota itu telah menumbuhkan keheranan di kalangan para prajurit dan perwira pengawal. Selama ini mereka menganggap bahwa Anusapati adalah seorang anak muda yang lemah, seperti yang selalu diceriterakan oleh Tohjaya kepada siapa-pun juga, sedang Anusapati sendiri tidak pernah memerlukan memberikan bantahan.

Tetapi kini, di dalam keadaan yang gawat, selagi Sri Rajasa tidak ada di istana, Putera Mahkota itu telah melakukan kuwajibannya dengan baik, mengambil alih tugas Sri Rajasa seperti yang sering dilakukan. Dalam keadaan yang gawat, Sri Rajasa selalu turun ke gelanggang sendiri. Dan begitu pulalah yang dilakukan oleh Anusapati. Bukan Tohjaya, putera kebanggaan Sri Rajasa yang tetap berada di bangsal Ayahanda Sri Rajasa bersama pengawalnya dan penasehat raja.

Demikianlah maka Anusapati telah mengunjungi gardu-gardu dan hampir setiap sudut-sudut halaman. Tetapi ia masih membatasi dirinya. Ia tidak mau melintasi regol yang membatasi halaman istana dengan taman yang diperuntukkan bagi ibunda Ken Umang.

Yang terlebih-lebih heran lagi adalah justru kedua prajurit yang mengawalnya. Dalam keadaan yang demikian, seandainya mereka tidak berlari-lari mengikuti atas kehendak mereka sendiri, agaknya Anusapati akan pergi seorang diri, mengitari halaman ini.

“Semua berada di tempatnya,” desis Anusapati kemudian.

“Hamba tuanku. Semua berada di tempatnya.”

Ketika Anusapati melintasi pondok perwira prajurit yang menjadi gurunya bersama dengan Tohjaya, dilihatnya prajurit itu berdiri di depan pintu lengkap dengan pakaian keprajuritannya.

“O, kau?” sapa Anusapati.

“Hamba tuanku. Hamba mendengar tanda bahaya itu. Seandainya diperlukan, hamba sudah siap apa-pun yang harus hamba lakukan.”

“Terima kasih. Bersiaplah apabila ada sesuatu yang penting. Kau dapat langsung pergi ke regol depan. Mungkin kau akan mendapat tugas khusus dari pemimpin pengawal.”

“Hamba tuanku,” sahut perwira itu.

Sepeninggal Anusapati perwira yang masih basah oleh keringat itu menarik nafas dalam-dalam. Ia kini merasa bebas dari segala macam dugaan apapun, karena Putera Mahkota sendiri telah melihatnya, justru pakaian yang dipakainya adalah pakaian keprajuritan.

Sejenak kemudian langkah Anusapati-pun sampai di muka pondok Sumekar di bagian belakang istana. Ia melihat pintu pondok itu tertutup rapat-rapat. Sedang pelita di dalamnya hampir tidak tampak dari luar, karena sangat redup.

“Orang-orang di sini sama sekali tidak terbangun oleh suara ribut itu,” berkata Anusapati. “Bukan saja pintu pondok Sumekar, juru taman itu, tetapi juga pondok-pondok yang lain, juru panebah, juru pangangsu dan pelayan-pelayan yang lain, justru tertutup rapat-rapat.”

“Mereka menjadi ketakutan,” desis seorang pengawalnya.

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Di samping pondok Sumekar Putera Mahkota itu berdesis, “He, apakah kau dapat juga tidur dalam keributan begini?”

“Ampun tuanku,” terdengar jawaban dari dalam, “apakah tuanku Putera Mahkota?”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Sumekar-pun telah ada di dalam pondoknya. Namun ia menjawab, “Ya. Aku adalah Putera Mahkota.”

“Ampun tuanku. Hamba sangat takut.”

“Tidurlah dan bermimpilah. Tidak akan ada seorang penjahat-pun yang akan masuk ke dalam pondokmu.”

Tidak ada jawaban. Yang terdengar adalah desah nafas tertahan-tahan. Kemudian desir langkah menuju kepintu.

Ketika pintu berderit, Sumekar menyembulkan kepalanya. Dianggukkan kepalanya itu kemudian dalam-dalam, sambil berkata, “Ampun tuanku. Hamba tidak berani membuka pintu seandainya tuanku tidak berada di luar. Tetapi, apakah tuanku tidak lebih baik berada di dalam bangsal?”

Anusapati tersenyum sambil menjawab, “Aku melihat keadaan halaman istanaku.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia-pun bertanya, “Apakah tuanku tidak menemukan sesuatu?”

Anusapati menggelengkan kepalanya. Tetapi ia tertawa di dalam hati.

“Sudahlah, masuklah. Aku akan meneruskan tugas ini.”

Sumekar-pun mengangguk pula dalam-dalam ketika Anusapati meninggalkan pintu pondoknya.

Ternyata halaman istana Singasari itu telah benar-benar bersiaga menghadapi setiap kemungkinan. Setiap prajurit yakin, bahwa tidak ada seekor nyamuk-pun yang telah berhasil lolos dari pengawasan.

Ketika Anusapati sampai di regol depan dilihatnya panglima pasukan pengawal istana sedang sibuk memperbincangkan langkah yang akan diambilnya bersama beberapa orang perwira. Ketika mereka melihat Anusapati datang, mereka-pun segera bersibak dan menganggukkan kepala mereka.

“Selamat malam tuanku,” berkata Panglima pengawal, “tetapi kedatangan tuanku telah mengejutkan kami. justru dalam keadaan yang gawat ini.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Ia-pun bertanya pula, “Kenapa kalian terkejut? Bukankah sudah menjadi kewajibanku untuk menilai setiap keadaan di dalam istana ini, justru dalam keadaan yang gawat, apalagi Ayahanda Sri Rajasa tidak ada di istana?”

Panglima itu menjadi terheran-heran. Ia tidak menyangka bahwa pada suatu saat Anusapati akan menunjukkan suatu sikap yang selayaknya bagi seorang Putera Mahkota. Selama ini seperti prajurit-prajurit yang lain, kesannya terhadap Anusapati agak terlampau kecil. Mereka menganggap bahwa Anusapati adalah seorang anak muda yang lemah, sehingga yang menonjol di antara mereka adalah putera Sri Rajasa yang lain, Tohjaya. Tetapi dalam keadaan ini. Anusapati lah yang hadir di antara mereka di regol depan. Terlebih-lebih lagi ketika mereka mengetahui, bahwa Anusapati telah mengelilingi seluruh halaman istana dengan diiringi hanya oleh dua orang prajurit pengawal.

Perwira itu seakan-akan tersadar ketika Anusapati bertanya, “Apakah rencana kalian sekarang?”

Panglima itu termangu-mangu sejenak. Jawabnya kemudian, “Baru hamba bicarakan tuanku.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Aku sudah melihat seluruh penjagaan, pengawalan dan peronda-peronda dari seluruh halaman istana selain halaman dan petamanan Ibunda Ken Umang. Menurut pengamatanku, pengawalan cukup rapat, sehingga tidak akan ada seorang-pun yang dapat keluar dari halaman tanpa diketahui. Seandainya benar seperti yang dikatakan, bahwa ada orang-orang yang memasuki halaman, aku kira mereka tidak akan dapat keluar. Karena itu, apabila kalian sedang membicarakan apa yang akan kalian lakukan, maka yang sebaiknya dan segera dapat kalian kerjakan adalah mencari orang-orang itu di seluruh halaman termasuk petamanan dan halaman bangsal ibunda Ken Umang. Apakah kau sependapat?”

Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang sedang merencanakannya seperti apa yang dikatakan oleh Anusapati itu. Namun dengan demikian, para perwira itu melihat, bahwa sebenarnya Anusapati bukan sekedar kepompong yang mati.

“Kami sedang mempersiapkan diri, tuanku,” berkata Panglima itu.

“Bagus. Lakukanlah segera apabila kalian sudah siap.”

“Hamba tuanku,” jawab Panglima itu.

“Aku ikut serta bersama kalian. Kalau kalian membentuk kelompok-kelompok, aku ikut salah satu dari kelompok itu.”

Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah tuanku. Hamba akan membentuk kelompok-kelompok yang akan mengaduk seluruh halaman mencari orang-orang yang dikabarkan memasuki halaman istana.”

Demikianlah, maka telah disiapkan empat buah kelompok kecil yang akan mengelilingi segenap sudut halaman dengan teliti. Semua bagian akan mendapat pengamatan. Karena seperti Anusapati, Panglima itu yakin, apabila benar ada orang-orang yang memasuki istana, mereka tidak akan dapat keluar.

Setelah kelompok-kelompok itu siap untuk mulai perondaan mereka, Anusapati menjadi berdebar-debar. Dilihatnya seseorang bersama dengan tiga orang prajurit datang ke regol itu pula.

“Kau Adinda Mahisa-wonga-teleng,” sapa Anusapati.

“Ya kakanda. Aku mendengar tanda itu. Dan aku merasa bahwa aku wajib datang ke regol ini. Semula aku datang mencari kakanda. Tetapi dua orang pengawal di bangsal kakanda mengatakan, bahwa kakanda telah mendahului pergi keregol depan.”

“Kenapa kau kemari? Bukankah berbahaya bagimu?”

Mahisa-wonga-teleng termangu-mangu sejenak. Kemudian jawabnya, “Tentu tidak menyenangkan apabila seluruh istana ini sibuk, aku sekedar membetulkan letak selimut. Mungkin begitu semasa aku masih kanak-anak. Tetapi sekarang aku sudah dewasa.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia memandang adiknya, barulah ia sadar, bahwa Mahisa-wonga-teleng sudah tumbuh menjadi seorang anak muda yang gagah.

Tetapi justru dengan demikian, Mahisa-wonga-teleng menjadi termangu-mangu. Dirasakannya bahwa tatapan mata Anusapati kali ini agak aneh. Karena itu maka ia-pun bertanya, “Apakah kakanda Anusapati melihat ada yang aneh padaku?”

Anusapati seperti tersadar dari lamunannya. Terbata-bata ia menjawab, “Tidak. Tidak ada yang aneh Adinda Mahisa-wonga-teleng. Tetapi kedatangan adinda memang agak mengejutkan. Meskipun demikian, baiklah adinda ikut bersama kami di sini. Kami sudah membagi diri untuk mengelilingi seluruh istana ini. Kami masing-masing akan mencari orang-orang yang dikatakan memasuki istana ini. Karena demikian tanda bahaya berbunyi, maka para prajurit segera menyebar sehingga tidak mungkin lagi seseorang dapat keluar dari halaman. Karena itu, orang-orang itu sampai kini pasti masih ada di dalam istana ini.”

Mahisa-wonga-teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku ikut bersama kakanda.”

“Baiklah. Marilah. Kau berada di dalam kelompokku.”

Demikianlah maka sejenak kemudian empat kelompok itu-pun segera mulai menjalankan tugasnya. Mereka memencar ke daerah yang sudah terbagi menurut persetujuan mereka bersama.

“Kita akan memeriksa seluruh isi halaman. Dan kita mendapatkan bagian di sebelah barat. Termasuk bangsal Ayahanda Sri Rajasa dan bangsal Ibunda Permaisuri,” berkata Anusapati.

Mahisa-wonga-teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

Kelompok itu langsung dipimpin oleh Panglima pasukan pengawal sendiri, karena daerah pengamatannya termasuk daerah yang paling penting.

Dengan hati-hati kelompok-kelompok itu mulai melakukan pemeriksaan. Setiap gerumbul perdu dan tanaman-tanaman bunga-bungaan telah diperiksa dengan cermat. Setiap pondok dan gardu, bahkan setiap bangsal yang ada. Bukan saja bagian-bagian di dalam bangunan dan di sekitarnya, tetapi juga di atasnya.

Setiap kali beberapa orang prajurit atau perwira telah mencoba meloncat ke atas dinding batu untuk melihat bagian atas dari setiap bangunan yang ada.

Tetapi belum ada suatu kelompok-pun yang menjumpai seseorang yang mencurigakan.

Kelompok yang mendapat tugas di bagian belakang, telah membangunkan setiap orang yang tinggal di sana. Pondok-pondok yang tertutup rapat harus dibuka. Dua atau tiga orang prajurit memasuki setiap rumah, mengamati setiap orang yang ada di dalam pondok-pondok itu, kalau-kalau mereka menemukan orang asing. Tetapi mereka tidak menemukan apa-apa.

Beberapa orang prajurit muda berebutan memeriksa pondok para emban. Tetapi mereka kehilangan nafsu penelitian mereka ketika beberapa orang emban yang terdapat di dalam pondok itu mulai bertanya, “Siapakah yang mau kau cari?”

Salah seorang prajurit menjawabnya sambil bergurau, “Kau.”

“Ah. Tentu bukan aku. Tetapi mBok ayu ini,” katanya sambil mendorong seorang kawannya sehingga hampir saja melanggar prajurit yang sedang memeriksa ruangan-ruangan itu.

Karena prajurit itu membawa pedang telanjang, maka emban itu hampir saja menyentuh ujungnya seandainya prajurit itu tidak dengan cepat menariknya.

“Kau, kau,” emban yang didorong itu meloncat sambil mencubit gadis yang mendorongnya.

“Aduh, aduh sakit.”

“Kau nakal sekali. Ayo apakah kau sudah jera.”

“Sudah. Aku sudah jera.”

“Ssst,” prajurit-prajurit yang ada di dalam pondok itu berdesis, “jangan ribut. Aku sedang bertugas. Kalau kau mulai bergurau maka kami tidak akan dapat menjalankan tugas kami dengan baik.”

Emban-emban itu tertawa. Salah seorang berkata, “Pandai juga kau memilih tugas.”

“Sudah kami rencanakan. Kami harus menggeledah seisi pondok ini. Mungkin kalian menyembunyikan orang asing disini.”

“Silahkan,” berkata emban-emban itu.

“Kalian harus menunggui kerja kami supaya kalian tidak kehilangan apa-pun juga. Kami-pun akan menggeledah kalian seorang demi seorang, kalau-kalau kalian menyembunyikan orang asing itu di dalam pakaian kalian.”

“Jadi?”

“Kami geledah pakaian yang kalian pakai.”

“Tidak mau, tidak mau,” emban-emban yang masih muda itu berteriak hampir berbareng.

“Ssst,” sekali lagi prajurit-prajurit itu berdesis, “jangan berteriak-teriak. Kami akan dicurigai oleh para prajurit dan perwira yang ada di luar. Mereka mungkin menjadi iri, dan memaksa kami keluar. Kalau para perwira itu menangani sendiri, kalian tidak akan dapat menolak seandainya mereka akan menggeledah seluruh tempat ini termasuk kalian masing-masing.”

“Tidak mau, tidak mau.”

“Kalau begitu tenanglah. Berkumpullah diruang tengah ini. Seluruhnya. Kami akan memasuki setiap ruangan.”

Demikianlah maka penelitian itu dilakukan secermat-cermatnya. Tidak ada tempat yang terlampaui.

Sementara itu, kelompok yang langsung dipimpin oleh Panglima pasukan pengawal sudah sampai pula di bangsal Sri Rajasa. Mereka masih menemukan Tohjaya, dua orang prajurit pengawalnya, beberapa orang prajurit yang lain. yang ikut serta mengawal bangsal itu setelah ada tanda bahaya, dan gurunya, penasehat Sri Rajasa itu.

“Kau,” desis Tohjaya ketika Panglima itu mendekati bangsal.

Panglima pasukan pengawal itu menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian sambil mendekat ia berkata, “Hamba tuanku. Hamba sedang meronda berkeliling setelah hamba mendengar tanda bahaya dari luar istana.”

“Ya. Aku memerintahkan para pengawal membunyikan tanda bahaya. Apakah tanda bahaya itu merambat keluar kota?”

“Hamba tuanku. Bukan saja halaman istana ini yang kini diliputi oleh kecemasan. Tetapi beberapa bagian di luar istana agaknya telah mendengar pula. Hamba telah memerintahkan kesiagaan di luar istana pula. bukan hanya di dalam istana.”

“Bagus,” Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya, “sekarang apakah yang kau lakukan?”

“Kami menjelajahi isi halaman ini untuk mencari orang-orang yang diberitakan masuk ke dalam halaman ini.”

“Bukan diberitakan. Tetapi pasti. Aku melihatnya sendiri.”

Dalam pada itu Anusapati-pun kemudian mendekat sambil berkata, “Adinda Tohjaya melihat orang-orang itu?”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Dipandanginya orang yang mendekat itu. “Kakanda Anusapati?” ia bertanya.

“Ya, aku,” sahut Anusapati.

“Apakah yang kakanda lakukan?”

“Aku bersama dengan para prajurit sedang meronda.”

“Apakah kakanda tidak mendengar tanda bahaya?”

“Justru karena aku mendengar tanda bahaya.”

Tohjaya termangu-mangu sejenak. Ia-pun menjadi heran. “Justru karena ia mendengar tanda bahaya.” Tohjaya mengulang di dalam hatinya.

“Jadi, kakanda tidak tinggal saja di dalam bangsal? Apakah kakanda menyadari bahaya yang sedang membayangi halaman istana ini?”

“Aku menyadari. Itu adalah salah satu kuwajibanku justru karena Ayahanda Sri Rajasa tidak ada.”

Tohjaya menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata Anusapati. Seperti para perwira prajurit yang menyertainya, sama sekali tidak mengira bahwa pada suatu saat Anusapati benar-benar bersikap sebagai Putera Sri Rajasa.

“Aku telah memerintahkan pula untuk menutup halaman ini dan mencarinya sampai kita semua mendapatkan orang-orang yang masuk kedalam istana itu, karena aku yakin, tidak seekor cicak-pun yang akan dapat keluar dari istana ini. Setiap jengkal dinding sudah diawasi. Aku sudah mengelilingi halaman istana sebelum aku sampai ke regol depan dan menemui Panglima pasukan pengawal.”

Tohjaya menjadi semakin berdebar-debar. Dan Anusapati-pun berkata pula, “Nah, sekarang kami sedang mencari orang-orang itu di segala sudut. Kami telah membagi pasukan yang ada menjadi empat kelompok kecil, untuk meneliti setiap jengkal tanah di dalam halaman istana.”

“Kenapa aku tidak melakukannya lebih dahulu,” Tohjaya berkata di dalam hatinya dengan penuh penyesalan, “kenapa aku tetap tinggal di bangsal ini menunggui angin?”

Tetapi semuanya sudah terlanjur. Untuk menutup kekecewaannya Tohjaya berkata, “Aku sudah menemukan mereka bertiga sebelum kalian berbuat sesuatu. Akulah yang memerintahkan tanda itu dibunyikan.”

“Apakah kau tidak berusaha menangkapnya?” bertanya Anusapati tiba-tiba.

Pertanyaan itu terasa menyinggung perasaan Tohjaya. Namun ia menjawab, “Aku sudah bertempur melawan ketiganya. Tetapi mereka melarikan diri.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kalau perintahmu tidak terlambat adinda Tohjaya, maka orang-orang itu pasti tidak akan dapat keluar istana ini. Tetapi kalau Adinda Tohjaya terlambat, dan tanda-tanda itu berbunyi justru setelah yang kau katakan tiga orang itu sudah berada di luar istana, maka kita pasti tidak akan dapat menemukannya.”

“Aku tidak terlambat,” berkata Tohjaya lantang, “tetapi aku memerlukan waktu. Setelah ketiganya melarikan diri, aku baru dapat memerintahkan pengawalku untuk membunyikan tanda bahaya dan menghubungi para petugas di malam ini.”

“Jadi Adinda Tohjaya bersama pengawal-pengawal itu?”

“Ya.”

“Di bangsal ini?”

Tohjaya menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi ia-pun menganggukkan kepalanya, “Ya. Aku berada di bangsal ini bersama pengawal-pengawalku.”

“Dan penasehat ayahanda Sri Rajasa itu?”

Sekali lagi Tohjaya menjadi ragu-ragu. Namun ia harus mengiakannya pula, “Ya. Bersama penasehat Ayahanda Sri Rajasa. Aku sedang mempelajari beberapa isi rontal.”

“Apakah pengawal-pengawal adinda tidak membantu berusaha menangkap salah seorang dari mereka?”

Wajah Tohjaya menjadi merah. Untunglah bahwa didalam gelapnya malam perubahan wajah itu tidak nyata kelihatan. Sambil mengumpat di dalam hati ia menjawab, “Pertanyaan kakanda adalah pertanyaan yang aneh. Sudah tentu kami semuanya berusaha sejauh-jauh dapat kami lakukan. Tetapi sudah aku katakan, mereka melarikan diri. Kalau kakanda bertanya apakah aku tidak mengejarnya, aku akan menjawab, bahwa aku sudah mengejarnya bersama para pengawal. Tetapi aku tidak akan dapat menjawab kalau kakanda bertanya, kenapa aku tidak dapat menangkapnya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, meski-pun ia tersenyum di dalam hati.

Agaknya Panglima pasukan pengawal yang mengetahui bahwa ada jarak pada kedua putera Sri Rajasa itu berkata, “Ampun tuanku berdua. Tugas kita sekarang adalah mencari orang-orang itu dan menemukannya. Kemudian menangkap mereka hidup atau mati.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Panglima itu cukup bijaksana sehingga karena itu ia menjawab, “Ya. Kita sekarang mencari orang itu. Kita akan menangkap hidup atau mati.”

Suasana yang sudah mereda itu tiba-tiba melonjak ketika Mahisa-wonga-teleng menyambung dari kejauhan, “Tetapi benarkah ada orang-orang yang memasuki istana ini?”

Tohjaya yang sudah menahan hati itu hampir-hampir saja menjadi marah kepada Mahisa-wonga-teleng. Namun agaknya ia masih berusaha menahan hatinya. Meskipun demikian ia menjawab, “Agaknya aku masih dapat mempercayai otakku Adinda Mahisa-wonga-teleng. Aku masih dapat membedakan antara sebuah mimpi dan kenyataan yang terjadi dihadapanku, bahkan yang telah memaksa aku untuk bertempur.”

Mahisa-wonga-teleng tidak menjawab lagi. Tetapi hatinya agak menjadi berdebar-debar juga. Ternyata ia telah menyinggung perasaan Tohjaya.

“Sudahlah.” Panglima itu sekali lagi menengahinya, “kita jangan membuang-buang waktu. Kita harus segera menemukan orang itu.”

“Ya, marilah, kita lanjutkan usaha kita malam ini. Selambatnya besok pagi-pagi, orang itu harus sudah tertangkap.”

Panglima itu-pun kemudian menganggukkan kepalanya dalam-dalam kepada Tohjaya sambil berkata, “Hamba akan melanjutkan tugas hamba tuanku. Hamba sengaja tidak melihat keadaan di dalam bangsal dan sekitarnya karena di sini ada tuanku serta para pengawal. Seandainya orang-orang itu kembali ke bangsal ini atau kelongkangan di belakang, hamba serahkan kepada tuanku.”

“Seharusnya kau tidak usah mengatakannya. Apakah tanpa pesan itu aku tidak akan berbuat apa-apa seandainya mereka kembali dan bersembunyi di sini?”

Dada Panglima itulah kini yang berdesir. Ia adalah seorang prajurit yang tertinggi di dalam kesatuannya. Ia mempunyai wewenang dan kekuasaan. Adalah tidak pada tempatnya bahwa Tohjaya bersikap begitu kasar kepadanya.

Tetapi sebagai orang yang telah cukup matang, Panglima itu masih menahan hati. Ia sadar pula bahwa ia berhadapan dengan putera terkasih dari Sri Rajasa. Karena itu maka ia-pun manganggukkan kepalanya sekali lagi sambil berkata, “Ampun tuanku. Hamba tidak bermaksud apa-apa. Hamba hanya terlampau berhati-hati. Kalau hal itu tidak berkenan di hati tuanku, biarlah aku mencabut ucapan itu kembali.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali.

Yang kemudian menyahut adalah penasehat Sri Rajasa, “Silahkanlah. Mungkin waktu akan sangat berharga bagi kalian.”

“Terima kasih,” desis Panglima itu, lalu, “Hamba mohon diri tuanku.”

“Ya,” jawab Tohjaya singkat.

Panglima itu-pun kemudian meninggalkan bangsal Sri Rajasa. Anusapati dan adiknya. Mahisa-wonga-teleng-pun minta diri pula kepada Tohjaya. Dan jawab Tohjaya-pun sesingkat jawabannya kepada Panglima itu.

Beberapa langkah setelah mereka meninggalkan bangsal itu, Mahisa-wonga-teleng bertanya kepada Anusapati, “Kakanda, kenapa kakanda Tohjaya ada di tempat itu?”

Anusapati menggeleng, “Aku tidak tahu. Mungkin ia mengikuti orang-orang yang dikatakannya memasuki halaman Istana ini. Atau ia sengaja mengawasi bangsal yang kosong itu, agar tidak dipergunakan sebagai tempat persembunyian orang-orang yang sedang kita cari.”

“Tetapi kita tidak mencari di sekitar bangsal itu. Orang-orang itu justru akan merasa aman bersembunyi di sana.”

“Ah kau. Dengan demikian adinda Tohjaya akan merasa tidak mendapat kepercayaan.”

“Tetapi ternyata kakanda Tohjaya tidak dapat menangkap.”

“Seandainya ia berada di sana, maksudku orang-orang itu, mereka tidak akan dapat keluar dari halaman ini. Pada suatu saat mereka pastu akan dapat kita tangkap juga.”

Mahisa-wonga-teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tetap tidak mengerti, kenapa Tohjaya berada di bangsal Ayahanda Sri Rajasa justru ketika Ayahanda Sri Rajasa tidak ada di istana.

“Mungkin ayahanda memang sudah mengijinkan Kakanda Tohjaya dengan orang-orang yang mengawaninya itu berada di bangsal itu,” katanya di dalam hati untuk menenteramkan hatinya itu sendiri.

Demikianlah maka kelompok-kelompok prajurit yang sedang mencari orang-orang yang dikatakan memasuki istana itu sudah mengelilingi semua sudut. Tidak ada sejengkal tanah-pun yang lepas dari pengawasan mereka. Namun demikian mereka tidak menemukan seorang-pun juga. Mereka tidak menemukan orang-orang yang mencurigakan.

Sambil mengusap keringat di kening, Panglima pengawal itu berdesis, “Ternyata kita tidak menemukan apa-pun juga. Tetapi apa yang dikatakan oleh tuanku Tohjaya itu pasti benar. Soalnya adalah, apakah ketika tanda bahaya berbunyi, orang-orang itu sudah berhasil keluar dari halaman istana ini. Jika demikian, kita tidak akan dapat menangkap mereka.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Tetapi bukankah di luar halaman ini penjagaan telah diperkuat pula?”

“Tetapi sudah tentu setelah tanda bahaya itu berbunyi tuanku.”

Sekali lagi Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Seolah-olah ia sependapat dengan Panglima itu. Sudah tentu bahwa Tohjaya memerlukan waktu sebelum tanda bahaya itu berbunyi.

Tetapi Anusapati tersenyum di dalam hati. Ia tahu benar apa yang sebenarnya telah terjadi. Lebih dari Tohjaya dan gurunya. Lebih dari setiap orang di dalam istana itu. Bahkan perwira prajurit yang lebih dahulu turun kelongkangan dan bertempur melawan guru Tohjaya itu-pun tidak mengetahui selengkap yang diketahuinya.

Meski-pun demikian Anusapati tidak dapat menjelaskannya kepada siapa-pun juga. Ditahannya saja perasaan ini di dalam hati. Ia akan menunggu sampai Mahisa Agni pada suatu saat berkunjung ke Singasari. Ia akan menceriterakan apa yang telah terjadi di dalam halaman istana itu.

Ketika fajar mulai menyingsing di Timur, semuai kelompok telah kembali ke regol depan. Mereka berkumpul di gardu induk untuk menyampaikan laporan mereka kapada Panglima pengawal istana.

“Aneh,” desis Panglima itu.

“Apakah kalian mencurigai seseorang?” bertanya Anusapati.

Hampir berbareng para pemimpin kelompok menyahut, “Tidak tuanku. Hamba tidak melihat tanda-tanda yang dapat menimbulkan kecurigaan. Apalagi pada seseorang.”

Anusapati mengangguk-angguk. Lalu katanya kepada Panglima itu, “Mungkin kita terlambat. Maksudku, tanda bahaya itulah yang terlambat sehingga orang-orang itu sempat meloncat keluar.”

Panglima itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin tuanku. Hamba juga menyangka demikian. Hamba menduga bahwa apabila tanda itu tepat pada waktunya, para pengawal cukup cepat bertindak. Setidak-tidaknya pasti ada satu dua orang yang melihatnya meloncat meskipun dari kejauhan. Karena menurut laporan, begitu tanda yang pertama berbunyi, maka semua prajurit yang mendengarnya langsung menjaga semua regol dan mengawasi segenap dinding.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Aku melihat sendiri. Aku-pun segera melihat berkeliling halaman istana.” Anusapati diam sejenak, “kita akan bersama-sama melaporkannya kepada Ayahanda Sri Rajasa. Kau dan aku. Ayahanda tidak akan dapat menyalahkan kita semua para prajurit. Kalau Ayahanda Sri Rajasa menganggap bahwa kesempatan lepas dari orang-orang itu merupakan suatu kesalahan, ayahanda harus menimbang secara adil, siapakah yang sebenarnya bersalah.”

Panglima itu merenung sejenak. Desisnya, “Hamba tuanku. Hamba akan menyampaikan laporan apa yang ada dan apa yang sebenarnya terjadi.”

Demikianlah maka malam itu, istana Singasari telah dilanda oleh suatu teka-teki yang menggemparkan. Sebelum matahari naik. maka berita itu telah tersebar hampir ke seluruh kota.

Orang-orang Singasari segera mempercakapkan peristiwa itu dengan setiap orang yang mereka jumpai. Di jalan-jalan, di pasar, di rumah-rumah tetangga dan bahkan di tikungan-tikungan.

“Pasti hantu dari prajurit-prajurit Kediri yang ingin membalas dendam,” berkata salah seorang dari mereka.

“Kenapa tidak kepada Sri Rajasa atau Mahisa Agni. Merekalah yang telah membinasakan para pemimpin puncak di Kediri. Kenapa hantu itu justru datang ke bangsal yang sedang kosong itu?”

“Tentu mereka tidak berani menghadapi Sri Rajasa. Mereka masih tetap ketakutan. Juga kepada Mahisa Agni. Itulah sebabnya mereka berusaha menakut-nakuti puteranya terkasih, Tohjaya.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Bukan, pasti bukan hantu. Mereka pasti orang-orang Kediri yang mendendam.”

“Tetapi kenapa mereka dapat hilang begitu saja?”

“Pasti dengan aji panglimunan. Mereka menjadi tidak kelihatan. Dengan demikian mereka dapat leluasa keluar lewat regol betapapun rapatnya penjagaan.”

“Kalau Kediri mempunyai tiga orang saja yang memiliki ilmu itu yang sebenarnya, Singasari tidak akan dapat mengalahkannya.”

“Kenapa?”

“Dengan mudahnya mereka akan membunuh semua prajurit Singasari di garis perang. Bahkan Sri Rajasa dan Mahisa Agni.”

“Bodoh kau. Sri Rajasa dan Mahisa Agni memiliki aji Sapta Pandulu dan Sapta Pangrungu. Mereka akan melihat yang tidak tampak oleh mata biasa, dan mereka akan mendengar apa yang tidak terdengar oleh telinga wadag ini. Meskipun mereka dapat melenyapkan diri dengan aji Panglimunun, namun baik Sri Rajasa dan Mahisa Agni tetap dapat melihat mereka dan mendengar langkahnya.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Itulah sebabnya mereka datang pada saat Sri Rajasa tidak ada dan demikian pula Mahisa Agni.”

“Tetapi apa maksudnya? Kalau mereka akan mengganggu putera-putera Sri Rajasa, mereka pasti dapat melakukannya. Mereka tidak usah bertempur dan melarikan diri.”

Mereka-pun terdiam. Sejenak mereka mencoba mencari alasan untuk membenarkan pendirian masing-masing.

Namun tiba-tiba saja tanpa mereka duga-duga, seorang anak laki-laki yang berdiri di antara mereka bertanya, “Siapakah mereka itu paman?”

“Tidak ada yang tahu.”

“Kenapa mereka memakai selubung hitam seandainya memang belum ada seorang-pun yang tahu? Apa pula gunanya?”

Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan orang-orang tua. Anak itu berkata dengan jujur, seperti apa yang tersirat di dalam hatinya.

Karena itu, maka beberapa orang tua-tua itu saling berpandangan. Salah seorang dari mereka kemudian berkata, “Ya, kenapa kita tidak bertanya seperti anak itu? Buat apa sebenarnya mereka memakai tutup wajah?”

Yang lain mengangguk-angguk, “Ya, sudah tentu mereka takut dikenal. Apakah mereka sebenarnya orang-orang yang memang sudah dikenal di istana?”

“Ah. Itu adalah urusan orang-orang istana. Bukan urusan kita.”

Ternyata pertanyaan itu-pun sudah tumbuh pula dikalangan orang-orang istana. Ketika para pengawal pasti, bahwa orang-orang itu tidak dapat diketemukan sampai pagi hari berikutnya, maka Panglima pengawal itu-pun bergumam hampir kepada diri sendiri, “Aneh. Tetapi apa pula gunanya mereka memakai tutup wajah?”

Anusapati yang masih berada di antara para prajurit itu-pun menjadi berdebar-debar. Tetapi ia-pun menyahut, “Ya. Apa pula gunanya mereka mempergunakan tutup kepala? Ada dua kemungkinan. Mereka memang orang-orang yang sebenarnya sudah dikenal di istana ini atau orang-orang yang takut dikenal kemudian karena mereka memang sering datang ke Singasari.”

Panglima itu mengangguk-angguk. Ia-pun kemudian bertanya, “Bagaimana pendapat tuanku?”

“Aku mengira bahwa mereka memang orang-orang yang sudah dikenal dan sudah mengenal liku-liku istana. Mereka dapat tanpa diketahui oleh seorang penjaga-pun mencapai pusat dari halaman istana yang luas ini. Mereka berhasil mendekati bangsal Ayahanda Sri Rajasa dan bahkan masuk kelongkangan belakang menurut Adinda Tohjaya. Kemudian mereka dapat menghilang tanpa diketahui oleh para penjaga. Menurut dugaanku orang-orang itu sudah cukup mengenal isi istana ini.”

Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hamba-pun berpendapat, bahwa hamba harus mengawasi setiap orang di dalam istana ini. Hamba wajib mencurigai mereka yang tinggal di dalam.”

“Tetapi menurut pengamatanku, sulitlah mencari, jangankan tiga, seorang saja di antara isi istana ini yang mampu berbuat seperti yang dikatakan oleh Adinda Tohjaya.”

Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut lagi.

Sehari berikutnya, halaman istana seakan-akan masih tertutup rapat-rapat. Tidak boleh ada orang yang keluar atau masuk tanpa pengamatan khusus.

Perwira prajurit, guru Tohjaya dan Anusapati-pun sudah mengunjungi pusat-pusat pengawasan halaman istana digardu induk. Seperti Anusapati dan Panglima pasukan pengawal ia sependapat, bahwa setiap orang memang harus dicurigai.

“Tetapi tiga orang yang berilmu. Apakah ada satu saja orang-orang di dalam halaman ini yang mampu berbuat seperti dikatakan oleh tuanku Tohjaya?”

Pertanyaan itu memang telah menyentuh setiap dada. Hanya para Panglima dan prajurit-prajurit pilihan sajalah yang memiliki kemampuan yang begitu tinggi. Dan pada umumnya mereka berada di luar istana.

Tetapi ada juga yang melihat, setidak-tidaknya seorang yang memiliki ilmu yang cukup. Perwira prajurit yang menjadi guru Tohjaya dan Anusapati.

“Tetapi orang itu tidak mempunyai kepentingan apapun. Apa pula maksudnya berbuat onar?” bertanya orang-orang yang telah menyorotinya di dalam hati, “apakah ia sekedar mencobai muridnya?”

Tetapi orang lain justru berpikir, “Apakah Sri Rajasa sendiri yang telah memasuki halaman ini bersama dua orang prajurit pilihan. Ia agaknya ingin melihat kesiagaan istana Singasari dengan langsung.”

Ada pula yang berpikir, “Mungkin Mahisa Agni.”

Namun tidak ada seorang-pun yang dapat mendekatkan dugaannya. Semuanya hanyalah sekedar dugaan yang masih belum dapat disertai dengan bukti atau alasan yang mapan.

Demikianlah maka penjagaan di istana Singasari itu-pun menjadi semakin ketat di hari berikutnya. Sampai saatnya Sri Rajasa datang kembali dari berburu.

Istana Singasari yang nampak sepi untuk beberapa hari itu-pun rasa-rasanya menjadi hidup kembali. Bangsal di pusat halaman itu-pun menjadi terang benderang, justru karena Sri Rajasa sudah berada di dalamnya.

Setelah Sri Rajasa beristirahat dan menikmati hasil buruannya, membagikan daging binatang buruan, dan menyimpan kulitnya, kulit harimau, kijang dan seekor biawak raksasa, barulah Panglima pengawal istana berani melaporkan apa yang sudah terjadi di istana. Panglima itu sengaja mengambil kesempatan yang pertama sebelum orang lain menyampaikannya.

Wajah Sri Rajasa tiba-tiba menjadi merah padam. Sambil menghentakkan tangannya ia berkata, “Dan kalian tidak berhasil menangkap orang-orang itu?”

“Ampun tuanku,” berkata Panglima, “sekejap setelah tanda bahaya berbunyi, kami sudah siap mengepung istana. Tidak seorang-pun yang dapat lolos lewat mana-pun juga. Tuanku Putera Mahkota-pun segera hadir di gardu induk dan bersama kami mengelilingi segenap sudut istana ini, sementara para pengawal dan prajurit tetap di tempat masing-masing. Bukan saja para prajurit yang bertugas, tetapi para prajurit di barak keprajuritan di sebelah istana ini-pun sebagian telah diperbantukan ke dalam istana.”

Sejenak Sri Rajasa terdiam. Tampak betapa gelora yang dahsyat telah melanda dadanya. Sementara Panglima itu meneruskan, “Putera tuanku yang lain-pun telah ikut pula di dalam usaha itu. Tuanku Tohjaya berada di bangsal tuanku, tuanku Mahisa-wonga-teleng ikut pula bersama kami dan tuanku Anusapati.”

Darah Sri Rajasa serasa telah mendidih. Adalah suatu penghinaan, bahwa tiga orang berkerudung hitam telah memasuki halaman istana. Meskipun para prajurit telah dengan cepatnya berusaha mengepung istana sehingga tidak memberinya kesempatan lolos, tetapi kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, orang-orang itu tidak dapat ditangkap.

Panglima itu-pun kemudian menceriterakan bahwa Tohjaya telah terlibat dalam perkelahian melawan ketiga orang itu. Namun mereka berhasil lolos juga.

Sri Rajasa menggeretakkan giginya. Hampir saja ia bertanya, kenapa penasehatnya yang menggurui Tohjaya tidak menangkap mereka. Tetapi untunglah bahwa ia sadar, dan menunda pertanyaannya itu dalam kesempatan yang lain.

“Aku mengharap mereka kembali,” berkata Sri Rajasa, “aku ingin melihat siapakah sebenarnya mereka itu.”

Panglima pasukan pengawal itu-pun duduk sambil menundukkan kepalanya. Agaknya Sri Rajasa benar-benar telah marah.

Demikianlah akhirnya Panglima itu diijinkan untuk meninggalkan bangsal. Yang menghadap kemudian adalah Tohjaya bersama penasehat Sri Rajasa yang telah ditunjuk untuk memberikan latihan-latihan kepada puteranya itu.

Dari mereka Sri Rajasa-pun mendengar laporan yang sama, bahkan lebih terperinci lagi. Tohjaya dapat menceriterakan bagaimana mereka seorang demi seorang turun dan berkelahi. Bagaimana gurunya telah turun tangan, tetapi tidak dapat mengimbangi kemampuan mereka. Salah seorang dari ketiga orang itu ternyata memiliki kemampuan di atas gurunya, sehingga mereka sama sekali tidak berhasil menangkapnya.

“Gila,” Sri Rajasa menggeram, “penghinaan tiada taranya bagi Sri Rajasa.”

Di hari berikutnya, justru telah keluar suatu perintah yang aneh bagi para pengawas. Tetapi ketika Panglima pengawal telah menghadap Sri Rajasa, ia mendapat penjelasan tentang perintah itu.

“Aku memang menghendaki, agar orang-orang itu menganggap bahwa kita sudah lengah. Penjagaan harus dikembalikan seperti biasa. Tetapi harus ada gardu-gardu pengawas yang khusus dan terlindung. Aku mengharap bahwa orang-orang itu akan datang kembali. Aku ingin tahu, apakah orang itu mampu melawan Sri Rajasa.”

Barulah Panglima pasukan pengawal itu menjadi jelas. Dan ia-pun segera mengatur segala macam persiapan untuk melakukan perintah Sri Rajasa itu.

Dalam pada itu, di suatu kesempatan Anusapati berkata kepada Sumekar, “Kita sekarang mengalami kesulitan untuk meloncat keluar paman. Di beberapa tempat telah dibuat gardu-gardu pengawas yang khusus. Dengan demikian, maka hampir setiap jengkal dinding dapat diawasi secara tersembunyi.”

Sumekar menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Hamba tuanku. Akibat dari permainan perwira yang telah memaksa kita untuk ikut serta.”

“Kita tidak akan dapat keluar lagi untuk waktu yang agak lama,” berkata Anusapati kemudian, “tetapi kau masih mempunyai kesempatan, justru di siang hari apabila kau ingin menjumpai paman Witantra.”

“Ya. Hamba masih mempunyai waktu.”

Demikianlah, maka istana Singasari itu seolah-olah telah tertutup. Setiap saat Sri Rajasa menunggu untuk mengetahui, sampai dimana kemampuan orang berkerudung itu.

Namun Sri Rajasa bukan seseorang yang terlampau cepat menentukan keputusan dalam setiap persoalan. Ia cukup teliti dan mempunyai perhitungan yang tajam. Seperti kebanyakan orang di dalam istana itu, Sri Rajasa-pun menyimpan kecurigaan bahwa sebenarnya orang di dalam istana itu sendirilah yang telah melakukannya, sehingga ia tidak perlu lari melintasi dinding yang betapa-pun ketatnya pengawasan.

Namun demikian, kecurigaan itu lambat laun terasa pula. Setiap kali Sri Rajasa memanggil seseorang yang pantas dicurigainya untuk dipertemukan dengan Tohjaya. Meskipun persoalan yang dibicarakan adalah persoalan-persoalan yang sama sekali tidak bersangkut paut dengan peristiwa itu, namun Sri Rajasa mengharap bahwa Tohjaya akan dapat mengenal sikap orang itu.

Tetapi dengan cara itu, Tohjaya tidak berhasil menemukan. Yang dipanggil oleh Tohjaya justru para perwira dan Panglima, orang-orang penting yang memiliki kemampuan cukup, dan perwira prajurit saudara sepupu Ken Umang. Tetapi perwira yang memang merasa dicurigai itu masih berhasil menyembunyikan setiap kesan yang memungkinkan membuka rahasianya.

Yang sama sekali tidak dicurigai di dalam hal ini adalah Sumekar dan Anusapati. Mereka sama sekali tidak dihitung sebagai orang-orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu.

Meskipun demikian kecurigaan Sri Rajasa atas orang-orang dalam memang membuat keduanya cemas. Apabila lambat laun perwira prajurit itu tidak berhasil menyembunyikan rahasia ini, maka ia akan mengalami nasib yang sangat buruk.

Disaat-saat Sumekar mendapat kesempatan di siang hari berjalan-jalan keluar istana, ia tidak dapat menahan desakan keinginannya untuk mengatakan hal ini kepada Witantra, sehingga sambil tersenyum Witantra berkata, “Kalian telah menyusahkan diri kalian sendiri. Tetapi kasihan juga perwira itu.” Witantra berhenti sejenak, lalu, “Baiklah, aku akan membebaskannya dari kecurigaan itu.”

“Maksudmu?” bertanya Sumekar.

Witantra tertawa. Jawabnya kemudian, “Aku akan berbuat sesuatu sehingga timbul kesan bahwa yang telah melakukannya adalah memang orang di luar istana.”

“Tetapi apakah hal itu tidak akan dapat menimbulkan salah paham?”

Witantra mengerutkan keningnya. Ia tidak segera mengetahui maksud Sumekar sehingga ia bertanya, “Apakah yang kau maksud dengan salah paham?”

“Mungkin Sri Rajasa akan menduga terlampau jauh. Mungkin ia menyangka bahwa akan ada semacam pemberontakan yang didahului dengan perbuatan-perbuatan aneh untuk menunjukkan kelebihan mereka yang akan memberontak. Atau dugaan-dugaan lain yang semacam itu.”

“Aku hanya akan melakukannya satu atau dua kali untuk menyelamatkan orang-orang yang mungkin dicurigai, padahal orang itu tidak pernah berbuat apa-apa, karena Sri Rajasa tidak akan mungkin mencurigai seorang juru taman atau Putera Mahkota yang dungu itu.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, namun kemudian. “Tetapi apakah tidak mungkin bahwa Sri Rajasa akan menduga, bahwa hal itu dilakukan oleh Mahisa Agni yang berada di Kediri?”

Witantra mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan menunggu Mahisa Agni berada di istana Singasari. Bukankah kini ia sering berkunjung kemari untuk membicarakan masalah Putera Mahkota yang sudah sepantasnya kawin?”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih bertanya, “Tetapi apakah hal itu tidak akan terlampau berbahaya bagimu?”

Witantra tertawa. Katanya, “Kalau hanya sekedar melarikan diri, aku kira aku tidak akan kalah dari Sri Rajasa.”

Sumekar-pun tersenyum. Ia percaya, bahwa Witantra memiliki beberapa kelebihan dari orang kebanyakan. Witantra pasti sudah mengetahui, betapa tinggi ilmu Sri Rajasa, sehingga ia akan dapat mengira-ngirakan, apa yang sebaiknya dilakukan.

Demikianlah, maka persoalan orang-orang berpakaian hitam yang memasuki istana itu, dengan sengaja dihapus dari pembicaraan sehari-hari. Sri Rajasa sendiri memerintahkan, agar masalah itu tidak selalu diulang-ulang, selalu dibicarakan dan menjadi bahan kecemasan bagi penghuni istana.

“Mereka tidak akan berani datang apabila aku berada di istana,” berkata Sri Rajasa, “bahkan aku mengharap ia sekali-sekali datang mengunjungi aku. Karena itu, jangan terlampau ketat menjaga dinding istana. Beri mereka kesempatan masuk. Aku sendiri akan menangkapnya.”

Dengan demikian, maka masalah orang-orang berkerudung hitam itu sudah tidak pernah diucapkan lagi oleh orang-orang Singasari.

Ketika orang-orang di dalam dan di sekeliling istana sudah melupakannya, maka Mahisa Agni mendapat kesempatan untuk mengunjungi Singasari. Dengan penuh harapan ia menghadap Sri Rajasa untuk menyampaikan kelanjutan persoalan Anusapati yang dianggap sudah agak terlampau lambat kawin bagi seorang Putera Mahkota.

“Hamba menghadap untuk menyampaikan hasil pembicaraan hamba dengan para bangsawan di Kediri,” berkata Mahisa Agni.

“Lalu?”

“Seorang bangsawan yang berdarah Tumapel telah menyetujui permintaan hamba.”

“Kenapa berdarah Tumapel?”

“Adalah menguntungkan sekali bagi kesatuan Singasari dan Kediri.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Apakah kau sudah meneliti lajur keturunannya?”

“Hamba tuanku. Sudah hamba ketahui semuanya.”

“Apa katamu?”

“Menurut hamba, pantaslah apabila keturunan kebangsawanannya akan dikuatkan bagi sisihan Putera Mahkota.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukan kepalanya. “Terserahlah kepada ibunya.”

Dada Mahisa Agni berdesir. Agaknya Sri Rajasa hampir tidak peduli, apa saja yang akan terjadi dengan Anusapati. Namun demikian Mahisa Agni berkata lebih jauh, “Ampun tuanku. Hamba telah mendahului tuanku, bahwa hamba telah membayangkan kepada keluarga itu, bahwa tuanku menghendaki puterinya bagi Putera Mahkota.”

“Kau adalah pamannya. Kau pasti dapat mempertimbangkannya.”

“Tetapi yang ingin hamba persembahkan kepada tuanku adalah, bahwa di dalam keluarga itu terdapat dua orang gadis kakak beradik.”

“Jadi, yang mana yang kau kehendaki?”

“Ampun tuanku, bagaimana kalau kedua-duanya?”

“Kedua-duanya?”

“Maksud hamba, yang seorang bagi putera tuanku yang muda, tuanku Tohjaya.”

“He,” wajah Sri Rajasa menjadi berkerut-merut. Sejenak ia termenung. Namun kemudian ia berkata, “Aku sama sekali belum pernah berbicara dengan ibunya. Aku kira tidak menginjak perkawinan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi agak kecewa. Katanya, “Hamba sudah menyinggungnya. Tetapi ampun tuanku bahwa hamba agak mendahului tuanku. Menurut tilikan hamba, tuanku Tohjaya-pun sudah cukup dewasa. Sudah sepantasnya apabila tuanku Tohjaya-pun segera menginjak perkawinan.”

“Aku akas berbicara dengan ibunya. Tetapi tidak untuk waktu yang singkat”

Mahisa Agni mengangguk-angguk pula. Sedang Sri Rajasa berkata didalam hatinya, “Tidak pantas bahwa putera kebanggaan Sri Rajasa mendapatkan seorang isteri saudara sekandung dengan isteri Anusapati yang bodoh itu. Tohjaya harus mendapat isteri yang lebih tinggi derajatnya.”

Meskipun demikian Sri Rajasa berkata, “Kalau kau sudah pernah memberikan harapan pada keluarga itu, terlebih-lebih kepada anak gadisnya, bagaimana kalau yang seorang kita kawinkan dengan Mahisa-wonga-teleng?”

Mahisa Agni terperanjat. “Apakah tidak masih terlampau muda tuanku?”

Sri Rajasa tidak segera menjawab. Memang Mahisa-wonga-teleng masih terlampau muda. Tetapi ia sudah tumbuh menjadi seorang anak muda yang pantas disebut dewasa.

“Mungkin umurnya masih terlampau muda,” berkata Sri Rajasa. “Tetapi tiga tahun lagi ia sudah seorang anak muda yang dewasa. Sudah tentu bahwa seandainya Anusapati akan diikat dalam perkawinan, tidak akan kita selenggarakan tahun ini. Kita akan melakukan persiapan seperlunya. Kalau saat perkawinan itu akan berlangsung tahun depan, maka umur Mahisa-wonga-teleng-pun sudah menjadi semakin mendekati batas kedewasaannya sehingga sudah pantas baginya untuk segera kawin di tahun berikutnya.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk. Kalau perhitungan Sri Rajasa demikian, maka dua tahun lagi Mahisa-wonga-teleng memang sudah pantas untuk menjadi seorang suami, meski-pun seorang suami muda.

“Aku kira ibunya tidak akan berkeberatan,” berkata Sri Rajasa. “Bukan Mahisa-wonga-teleng yang terlampau cepat, tetapi Anusapati dan Tohjaya lah yang agak lambat.”

“Jika demikian, kenapa bukan tuanku Tohjaya?”

“Aku memerlukan pembicaraan dengan ibunya. Sedangkan Mahisa-wonga-teleng adalah saudara seibu dengan Anusapati, sehingga pembicaraan tentang masalah perkawinan tidak akan merupakan masalah baru,” Sri Rajasa berhenti sejenak, lalu, “apalagi kau adalah pamannya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Segala sesuatu tergantung kepada kebijaksanaan tuanku. Hamba akan melaksanakan saja semua titah tuanku.”

“Aku akan berbicara dengan Permaisuri. Aku rasa ia tidak akan berkeberatan. Kemudian pembicaraan seterusnya, kau sendiri dapat mengaturnya. Pada saatnya, aku akan menyampaikan keputusan itu kepada sidang para pemimpin dan tetua Singasari. Mudah-mudahan mereka tidak berkeberatan.”

“Hamba tuanku. Hamba akan melakukannya.”

“Untuk sementara tinggallah di istana Singasari. Kau tidak perlu mondar-mandir setiap kali dalam pembicaraan ini. Aku akan memberikan keputusanku, sehingga pada saat kau kembali ke Kediri, semuanya sudah selesai. Kita tinggal menunggu saat yang akan kita tentukan itu.”

“Hamba tuanku. Hamba akan menjunjung titah tuanku.”

Demikianlah maka untuk beberapa lama Mahisa Agni berada di istana Singasari. Ia telah bertemu dengan Ken Dedes di dalam persoalan Anusapati.

Mahisa Agni terkejut ketika pada suatu saat perwira prajurit saudara sepupu Ken Umang, datang menemuinya. Dengan gelisah ia mengamati keadaan di sekitarnya. Ketika ia yakin bahwa tidak ada seorang-pun yang mengetahuinya, maka ia-pun mulai berceritera tentang usahanya untuk mengetahui guru Tohjaya yang dianggapnya telah menyainginya itu.

“Kau berhasil?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku berhasil tuan,” jawabnya, “tetapi aku menjumpai keajaiban di dalam hal itu.”

“Keajaiban?”

“Ya tuan. Suatu hal yang sama sekali tidak aku sangka-sangka.” Dan perwira itu-pun kemudian menceriterakan, bagaimana ia tidak dapat lagi menghindarkan diri dari perkelahian melawan guru Tohjaya itu. Tetapi tiba-tiba telah hadir pula dua orang yang kebetulan sekali mempergunakan penutup wajah seperti dirinya sendiri.

“Kau tidak mengenal keduanya?”

“Sama sekali tidak tuan.” ia berhenti sejenak, lalu, “Dan ternyata peristiwa itu telah menggemparkan istana sampai Sri Rajasa kembali dari perburuannya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Jadi penasehat raja itulah yang telah menuntun Tohjaya dengan cara yang kasar untuk mempelajari ilmu yang kasar itu pula.

Namun demikian, ceritera tentang dua orang yang berkerudung hitam itu telah menarik perhatian Mahisa Agni pula. Tetapi sebelum ia mendengar ceritera itu dari sumber yang lain, ia sudah dapat menduga, siapakah kira-kira dua orang yang tiba-tiba ada pula di longkangan belakang bangsal Sri Rajasa itu.

Ternyata dugaan Mahisa Agni tidak salah. Disaat lain, ia bertemu dengan Anusapati. Sambil tersenyum Anusapati menceriterakan pula apa yang telah terjadi.

“Orang itu menjadi bingung,” berkata Mahisa Agni, “ia menganggap hal itu sebagai suatu keajaiban.”

Anusapati tertawa. Katanya, “Pada suatu saat, paman Sumekar akan berceritera pula.”

Demikianlah, ketika Mahisa Agni sempat berjalan-jalan di taman, ia menjumpai Sumekar di antara para juru teman. Namua Sumekar sempat juga menemukan waktu untuk berceritera. Tetapi karena ia yakin bahwa Anusapati sudah mengatakan tentang semuanya, maka yang dikatakannya justru pertemuannya dengan Witantra.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, “jadi Witantra akan ikut pula bermain-main.”

“Ya. Ia akan membuat Sri Rajasa menjadi semakin bingung.” Sumekar berhenti sejenak, “tetapi bukan itulah tujuannya. Ia ingin membebaskan setiap orang di dalam istana ini dari kecurigaan. Karena sampai saat ini, meskipun seakan-akan tidak ada masalah lagi tentang tiga orang berkerudung itu, namun sebenarnya penyelidikan masih terus dilakukan. Kadang-kadang seseorang dipanggil langsung oleh tuanku Tohjaya, apabila mungkin ia masih dapat mengenalinya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku percaya bahwa Witantra akan dapat melakukannya. Saat ini aku tidak dapat mengatakan, siapakah yang lebih unggul dari keduanya setelah kakang Witantra mengasingkan dirinya untuk waktu yang lama.”

Ceritera-ceritera itu ternyata telah sangat menarik perhatian Mahisa Agni. Ia tahu bahwa Witantra hanya ingin sekedar membebaskan prasangka orang-orang yang terdekat dengan Tohjaya, kepada mereka yang mungkin dicurigai. Memang tidak mustahil bahwa pada suatu saat, orang-orang Tohjaya yang tidak segera dapat menemukan ketiga orang itu, akan segera bertindak kasar. Mereka dapat menangkap siapa saja yang tidak disukainya dan dipaksakannya untuk mengakui perbuatan itu.

Tetapi lebih dari itu, dengan demikian Sri Rajasa akan membuat pertimbangan di setiap tindakannya. Ia tidak akan segera tenggelam dalam kebanggaan, seolah-olah di seluruh permukaan bumi tidak ada orang yang dapat mengimbanginya setelah ia berhasil mengalahkan Maharaja di Kediri. Sehingga dengan demikian, ia tidak akan terperosok ke dalam pemujaan terhadap dirinya dan bertindak sewenang-wenang.

“Kapan Witantra akan melakukannya?” bertanya Mahisa Agni kemudian.

“Segera setelah kakang Mahisa Agni ada disini.”

“Kenapa menunggu aku ada di sini? Apakah Witantra masih juga memerlukan seorang penonton bagi pertunjukannya yang menarik itu?”

“Kami menjadi cemas, bahwa Sri Rajasa akan salah paham. Menurut penilaian orang-orang Singasari, hanya ada dua orang yang memiliki kemampuan melampaui kemampuan orang kebanyakan. Yang pertama adalah Sri Rajasa sendiri, yang kedua adalah Mahisa Agni. Para Panglima dan prajurit pilihan tidak ada seorang-pun yang mampu menyamainya. Dengan demikian, apabila Witantra melakukannya selagi kakang Mahisa Agni tidak ada di istana, maka mungkin akan timbul dugaan, setidak-tidaknya bagi kebanyakan orang, bahwa kakang Mahisa Agni lah yang telah melakukannya.”

“Ah. Apakah akan sampai begitu jauh?”

“Mudah-mudahan tidak. Tetapi tidak akan ada orang yang berani berbuat demikian selain kakang Mahisa Agni.”

Mahisa Agni tersenyum. Ternyata pertimbangan mereka sudah sampai begitu jauh, yang barangkali justru tidak terpikir sama sekali oleh Sri Rajasa.

Namun demikian Mahisa Agni berkata, “Terima kasih, bahwa kalian di sini masih sempat juga mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atasku. Jika demikian, kita tinggal menunggu kapan kakang Witantra akan membuat tontonan yang aneh itu.”

“Dengan demikian, kita yang ada di dalam istana ini akan bebas dari segala kecurigaan. Terutama perwira prajurit itu. Sorotan yang paling tajam ditujukan kepadanya.”

“Sorotan yang tepat. Tetapi sampai saat ini ia masih sanggup mengelak.”

“Tetapi pada suatu saat ia akan tersudut ke dalam kesulitan sehingga ia tidak akan dapat mengelak lagi, kasihan. Ia akan menjadi bahan pangewan-ewan meskipun ia seorang saudara sepupu tuan puteri Ken Umang.”

“Baiklah kita menunggu, apa yang akan dilakukan oleh Witantra.”

Demikianlah, selama di Singasari Mahisa Agni mendapat kesempatan untuk menyaksikan suatu peristiwa yang cukup menarik, selain ia harus menunggu keputusan Sri Rajasa mengenai perkawinan Putera Mahkota yang masih harus dibicarakan di dalam sidang. Mahisa Agni mengerti bahwa ia sendiri akan dipanggil di dalam sidang itu untuk memberikan penjelasan tentang semua pembicaraan yang pernah dilakukan di Kediri.

Meskipun demikian, meskipun Mahisa Agni percaya kelebihan yang ada di dalam diri Witantra, ia masih juga berdebar-debar menunggu kehadirannya di dalam istana, karena ia sadar bahwa Sri Rajasa adalah seorang yang ajaib sejak ia masih berkeliaran di Padang Karautan.

Tiba-tiba saja Mahisa Agni teringat kepada sebuah pusaka kecil yang diterimanya dari gurunya. Sebuah Trisula yang kini telah disimpannya baik-baik. Trisula yang mempunyai pengaruh langsung kepada Sri Rajasa di dalam sikap jasmaniah.

“Tetapi Sri Rajasa akan segera mengenal benda itu,” desisnya.

Demikianlah, maka hampir setiap malam Mahisa Agni selalu berdebar-debar. Sehingga pada suatu saat dari Sumekar ia mendapat kabar, bahwa malam nantilah Witantra akan hadir di halaman istana.

“Apakah ia akan datang seorang diri?”

“Ya. Ia akan datang seorang diri. Jika kehadirannya telah diketahui orang, dan tanda bahaya sudah berbunyi, maka kakang Mahisa Agni diminta untuk menampakkan diri dihadapan umum. Setidak-tidaknya di gardu induk bersama para Panglima.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu benar maksud Witantra, agar tidak seorang-pun yang menyangka, bahwa ialah yang telah berbuat gila-gilaan itu.

Ketika malam kemudian tiba, Mahisa Agni menjadi gelisah. Anusapati yang mengetahui akan kehadiran Witantra itu-pun menjadi gelisah pula. Sejak matahari terbenam, ia sudah berada di bangsalnya. Dicobanya menenangkan dirinya dengan membaca beberapa helai rontal. Namun sama sekali tidak sebuah huruf-pun yang tersangkut dihatinya.

Sumekar-pun tidak beranjak pula dari pondoknya. Ia masih berbicara beberapa patah kata dengan juru taman yang lain, yang tinggal di pondok itu pula. Namun kemudian ia segera merebahkan diri di pembaringannya.

Hanya Mahisa Agni lah yang masih tetap duduk tepekur di bangsal penginapannya. Sekali-sekali ia berdiri dan berjalan mondar-mandir. Ketika ia membuka pintu dan menyembulkan kepalanya, dilihatnya dua orang pengawal berjaga-jaga di muka bangsal itu.

Menjelang tengah malam, Mahisa Agni-pun telah merebahkan dirinya di pembaringan sambil bertanya kepada diri sendiri, “Apakah Witantra menggagalkan niatnya malam ini?”

Dalam pada itu Witantra-pun telah siap dengan rencananya. Ia sadar bahwa permainannya itu adalah permainan yang berbahaya. Tetapi dengan demikian ia akan menyelamatkan orang-orang yang mungkin dicurigai di dalam halaman istana.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Sumekar, maka ia-pun mengenakan pakaian yang serupa. Berkerudung hitam dan hampir menutup seluruh tubuhnya.

Sebagai bekas Panglima pengawal istana, maka Witantra telah mengenal segala sudut istana dengan baik. Meskipun kini istana Singasari telah berubah, tetapi pokok-pokok bentuknya masih diingatnya. Ditambah dengan, petunjuk Sumekar, maka seolah-olah Witantra setiap hari masih saja berada di halaman yang luas itu.

Ketika ayam jantan berkokok di tengah malam, maka Witantra-pun mulai merayap mendekati istana. Dari Sumekar ia tahu, dimana para penjaga bertugas mengawasi dinding istana itu. Seperti yang dikehendaki oleh Sri Rajasa, maka para penjaga memang memberi kesempatan kepada orang yang dianggapnya masih akan masuk kembali ke dalam istana Singasari.

Ketika Witantra berdiri di seberang jalan yang mengelilingi dinding halaman istana hatinya memang menjadi berdebar-debar. Tetapi kemudian ia membulatkan tekadnya dengan kepercayaan bahwa ia pasti masih akan mampu menghindarkan dirinya dari tangan Sri Rajasa. Ia menganggap bahwa tidak akan ada orang lain yang dapat mengimbangi ilmunya, dalam kecepatan lari. Satu-satunya yang mungkin adalah Sri Rajasa. Dan Sri Rajasa baginya kini bukan lagi manusia ajaib yang tidak terkalahkan, meskipun ia sadar, bahwa Sri Rajasa adalah seseorang yang melampaui manusia kebanyakan.

Demikianlah, Witantra-pun semakin mendekat ke dinding istana yang menurut petunjuk Sumekar tidak medapat pengawasan terlampau ketat. Seperti seekor bilalang ia melenting dan hinggap di atas dinding istana langsung menelungkup melekat. Dalam kegelapan malam, bayangan hitam itu sama sekali tidak dapat segera dilihat oleh mata biasa.

Sejenak Witantra beristirahat sambil menahan nafas. Ia tidak ingin bersembunyi seluruhnya. Ia justru ingin menimbulkan keributan. Karena itu, ia justru harus menampakkan dirinya.

Sejenak Witantra menunggu. Ketika ternyata halaman itu sunyi ia-pun segera meloncat masuk.

Perlahan-lahan Witantra merayap di halaman. Berlindung dan gerumbul yang satu kegerumbul yang lain.

Ia pertama-tama ingin menampakkan dirinya di dekat gardu sebelah bangsal Sri Rajasa. Kemudian apabila para prajurit yang meronda membunyikan tanda bahaya, ia akan berlari di sepanjang dinding penyekat antara halaman istana yang lama dan halaman bagian istana yang baru, tempat kediaman Ken Umang. Dinding penyekat itu akan langsung sampai ke dinding yang mengelilingi istana ini.

Memang tidak mudah untuk berlari cepat di atas dinding yang tidak terlampau tebal itu. Tetapi sudah tentu bahwa Witantra akan dapat melakukannya.

Dengan menahan nafasnya Witantra melalui beberapa gardu peronda tanpa diketahui oleh para prajurit yang ada di dalamnya. Apalagi mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa ada bayangan hitam yang merayap-rayap di balik batang-batang bunga yang cukup rimbun. Sedangkan beberapa orang di antara mereka sudah menjadi kantuk pula.

Sejenak kemudian Witantra-pun telah sampai di halaman bangsal Sri Rajasa. Dicobanya untuk mengenal kembali daerah itu. Beberapa bagian masih juga belum berubah.

Lamat-lamat telinga Witantra yang tajam itu mendengar suara gemerisik langkah kaki di belakang bangsal. Kadang-kadang ia mendengar loncatan-loncatan yang cepat. Karena itu maka segera ia menduga bahwa seperti yang dikatakan oleh Witantra, Tohjaya pasti sedang mengadakan latihan di belakang bangsal Sri Rajasa.

Tetapi kali ini bangsal itu tidak sedang kosong. Sri Rajasa ada didalamnya.

Sejenak kemudian Witantra-pun sudah bertengger di atas dahan sawo kecik. Dari dahan itu ia dapat melihat apa yang sedang dilakukan oleh Tohjaya di belakang bangsal itu.

Witantra yang berada di dahan sawo kecik itu menarik nafas dalam-dalam. Seperti yang dikatakan oleh Sumekar, Tohjaya memang jatuh ketangan seorang guru yang aneh. Seolah-olah guru itu tidak menghiraukan kemampuan jasmaniah muridnya sama sekali. Ia harus berlatih melakukan gerakan-akan yang terlampau berat baginya. Apalagi terlampau kasar.

“Sri Rajasa memang orang yang aneh,” berkata Witantra di dalam hatinya, “ia mampu berkelahi melawan Maharaja di Kediri, bahkan mengalahkannya. Tetapi ia tidak mengerti bagaimana ia mendidik anaknya sendiri dalam olah kanuragan. Ternyata anaknya yang terkasih itu sudah diserahkan kepada seorang guru yang sama sekali tidak terpuji.”

Witantra-pun kemudian melihat, bagaimana Tohjaya harus jatuh bangun melayani kehendak gurunya. Keringatnya bagaikan terperas dari segenap wajah kulitnya.

Mungkin Tohjaya dapat menjadi seorang yang luar biasa. Tetapi umurnya pasti tidak akan panjang. Tulang-ulangnya akan menjadi retak sebelum mengeras. Latihan itu terlampau tergesa-gesa.

Tetapi Witantra tidak menghiraukannya lagi. Ia sedang melakukan permainan tersendiri. Kini ia tidak ingin menampakkan dirinya pada gardu di sebelah bangsal itu. Tetapi ia ingin bertengger menonton latihan itu, sehingga guru Tohjaya pasti akan segera melihatnya. Sebuah keributan kecil akan segera membangunkan Sri Rajasa, sementara Tohjaya akan memerintahkan pengawalnya membunyikan tanda bahaya.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak boleh segera keluar dari halaman. Sri Rajasa pasti harus melihat, bagaimana ia meloncat keluar dan menghilang di dalam kegelapan. Dengan demikian ia tidak akan lagi mencari-cari orang di dalam halaman ini.

Demikianlah maka Witantra merayap semakin maju. Ia tidak saja berdiri pada sebatang dahan sawo kecik, tetapi ia-pun kemudian meloncat keatas pagar batu di pinggir longkangan belakang itu.

Ternyata guru Tohjaya itu sedang sangat asyik mengajar Tohjaya sehingga kehadiran Witantra yang berpakaian serba hitam itu tidak segera diketahuinya.

Tetapi ternyata pelatih itu tidak sebodoh yang disangka oleh Witantra. Meskipun ia masih terus melatih Tohjaya, namun ternyata sejenak kemudian matanya telah tertarik oleh bayangan hitam yang bergerak-gerak di belakang dedaunan.

“Gila,” ia berkata di dalam hatinya ketika ia yakin bahwa yang bergerak-gerak itu adalah bayangan seseorang yang berkerudung hitam. Meskipun orang itu berlindung di balik dedaunan, namun jelas baginya, bahwa bayangan itu adalah seseorang yang mencoba mengintip latihan yang sedang diselenggarakannya.

“Orang itu ternyata benar-benar kembali seperti dugaan Sri Rajasa,” berkata pelatih itu di dalam hatinya, “tetapi sekarang ia tidak akan dapat pergi karena Sri Rajasa ada di dalam bangsal.”

Dalam pada itu, pelatih itu masih tetap berpura-pura tidak melihat bahwa bayangan hitam dibalik dedaunan itu adalah bayangan seseorang.

Namun ia-pun ternyata pula tidak dapat tetap mengelabui Witantra. Ketika ia mencoba membisikkan sesuatu kepada Tohjaya, sambil melemparkan tatapan matanya meskipun hanya sekejap, maka Witantra-pun mengetahui pula, bahwa pelatih itu telah melihatnya. Tetapi seperti pelatih itu, Witantra-pun tidak beringsut dari tempatnya. Ia juga masih tetap berpura-pura tidak tahu, bahwa orang-orang yang ada dilongkangan itu telah melihatnya.

Dalam pada itu, Tohjaya-pun mendengar gurunya berbisik, “Dengarlah, jangan bertanya dan jangan menimbulkan kesan bahwa kau mendengarkan kata-kataku.”

Tohjaya tidak bertanya apa-pun juga. Ia mengerti, pasti ada sesuatu yang tidak wajar. Sedang gurunya berkata terus, “Diatas dinding longkangan ini ada seseorang yang memakai kerudung hitam mengintip latihan ini seperti yang pernah kita saksikan dahulu.”

“Oh,” tetapi Tohjaya tidak bertanya terus.

“Tetapi sekarang ia tidak akan dapat lolos. Kalau Sri Rajasa mengetahui, maka orang itu pasti akan tertangkap.”

“Jadi, apakah aku harus memberitahukan kepada ayahanda?” bertanya Tohjaya perlahan-lahan sekali sambil berlatih terus.

“Kalau orang itu mengetahui, ia akan melarikan diri sebelum tuanku Sri Rajasa terbangun.”

“Aku kira ayahanda masih belum tidur selama kaki kita masih berderap dilongkangan ini.”

“Tuanku akan hamba lemparkan kepada pengawal tuanku. Berpura-puralah tidak segera dapat bangkit supaya mereka menolong tuanku. Berbisiklah kepada mereka, bahwa salah seorang harus membunyikan tanda bahaya, meskipun perintah yang akan diberikannya adalah mengambil air untuk tuanku yang hampir pingsan.”

Tohjaya mengerti maksud gurunya. Karena itu, maka ia-pun mengangguk sambil menjawab, “Baik guru.”

Sejenak kemudian maka latihan itu-pun menjadi semakin sengit. Tohjaya-pun kemudian terlempar beberapa langkah, hampir saja menimpa pengawalnya yang menyaksikan di pinggir arena.

Terdengar Tohjaya merintih perlahan. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa kedua pengawalnya mendekatinya.

Dalam kesempatan itulah Tohjaya memberikan pesan kepada kedua pengawalnya. Ketika salah seorang dari mereka akan berpaling, Tohjaya mencegahnya, “Sst, jangan sampai orang itu mengetahui bahwa kita sudah melihatnya.”

Sejenak kemudian pelatihnya perlahan-lahan mendekatinya sambil bertanya, “kenapa tuanku Tohjaya?”

Kedua pengawal itu tidak menyahut.

“Ambillah air,” perintah gurunya.

“Baik, baik tuan.”

Salah seorang pengawal Tohjaya itu-pun segera meninggalkan arena. Ia mendapat pesan untuk menyampaikannya kepada prajurit pengawal Sri Rajasa, kemudian ia sendiri harus membunyikan tanda bahaya sebelum orang itu berhasil keluar dari istana.

Tetapi Witantra tensenyum di dalam hati.

“Cerdik juga orang-orang itu,” katanya kepada diri sendiri, karena ia mengerti, bahwa kepergian prajurit itu pasti bukan untuk sekedar mengambil air.

Dugaan Witantra memang segera ternyata. Prajurit yang menerima pesan itu segera memberanikan diri memasuki bangsal dan langsung mengetuk pintu Sri Rajasa.

Ternyata Sri Rajasa memang belum tidur, meski-pun sudah berada dipembaringannya. Hampir saja ia membentak karena prajurit itu sudah mengejutkannya. Namun karena prajurit itu berbisik, maka niatnya-pun diurungkannya.

“Ampun tuanku,” bisik prajurit itu, “orang berkerudung hitam itu benar-benar kembali. Ia berada di longkangan belakang sekarang ini.”

Sri Rajasa segera meloncat berdiri. Dibenahinya pakaiannya sejenak. Kemudian dengan tergesa-gesa ia-pun meloncat keluar dari biliknya.

Namun pada saat itu, Witantra telah bergerak menjauh, sehingga guru Tohjaya itu mengira bahwa Witantra berniat untuk meninggalkan tempat itu. Karena itu, maka ia-pun tidak ingin melepaskannya sambil menunggu Sri Rajasa.

(Bersambung jilid ke 66).

Koleksi & Scanning: Arema
Retype & Proofing: Raharga
Re-checking: Arema

<<kembali | lanjut >>

Iklan

2 Tanggapan

  1. Setelah dibaca antara akhir Pdls-64 dengan 65 tidak nyambung. Kemudian ditelusuri ke berbagai sumber, ketemu yang terlewatkan :

    PERWIRA ITU mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Apakah aku dapat menilai sampai dimana kemampuannya?”
    Sebelum penasehat raja itu menjawab, Tohjaya yang sombong, yang merasa mendapat tantangan segera menjawab, “Baik. Baik. Aku tidak berkeberatan. Tidak usah guruku. Aku akan menangkapmu. Dan aku pula yang akan membunuhmu.”
    Perwira yang berkerudung hitam itu tertawa pendek. Masih berusaha merubah nada suaranya. Katanya, “Benar.”
    Tetapi garunya menggelengkan kepalanya, “Jangan tuanku. Biarlah aku saja menangkapnya. Biarlah ia mendapat kehormatan besar menjelang saat matinya. Aku kira aku dapat memanggil prajurit-prajurit peronda saja untuk menangkapnya. Tidak perlu aku sendiri. Tetapi aku kasihan kepadanya. Biarlah ia berbangga dihari matinya, bahwa aku, seorang penasehat rajalah yang akan membunuhnya. Bukan prajurit-prajurit kecil dan bukan pula seorang pemenggal leher yang akan memancungnya di alun-alun.”
    “Begitu?”
    Tohjaya mengerutkan keningnya. Namun ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk melawan orang yang berkerudung hitam itu.
    “Sekarang sebut namamu,” penasehat itu berkata.
    Tetapi perwira itu menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu. Kau tidak perlu mengenal aku. Kalau kau mengenal aku, maka kau akan melihatnya apabila aku sudah kau tangkap, atau apabila aku sudah terbunuh.”
    Kemarahan penasehat raja itu-pun sudah memuncak pula. Karena itu sambil menggeram ia maju selangkah, “Baiklah. Kita akan bertempur. Kau akan hancur menjadi kepingan tulang dan sayatan daging di dalam genangan darahmu.”
    Kata-kata itu benar-benar telah mendirikan bulu di seluruh tubuh perwira itu. Bahkan juga Sumekar dan Anusapati. Kini mereka dapat melihat hati penasehat yang tampaknya lembut itu. Kata-kata yang terloncat dari bibirnya itu adalah bentuk yang sebenarnya dari sifat dan wataknya.
    Tetapi perwira itu sudah bertekad untuk bertempur karena ia tidak mendapat kesempatan untuk menghindar. Apa-pun yang akan terjadi, ia tidak akan ingkar lagi. Mati disayat-sayat oleh penasehat yang rendah hati itu, atau dipancung di alun-alun, atau bahkan dihukum picis sekalipun.
    Karena itu, sejenak kemudian kedua orang itu-pun telah terlibat didalam perkelahian. Penasehat raja yang marah itu tidak dapat mengekang dirinya lagi. Dengan garangnya ia mulai menyerang. Tetapi perwira itu-pun sudah siap pula, sehingga serangan itu sama sekali tidak mengenai sasarannya.
    Demikianlah, maka keduanya segera mengerahkan segenap kemampuan mereka. Ternyata kini, bahwa sebenarnyalah penasehat raja itu adalah seorang yang kasar. Dengan garangnya tangannya terayun-ayun ke segenap penjuru. Kadang-kadang ia menggeram seperti seekor harimau. Namun kemudian suaranya meninggi seperti bunyi seekor kera raksasa.
    Perwira prajurit, saudara sepupu Ken Umang itu-pun melawan sejauh-jauh dapat dilakukan. Tetapi ternyata bahwa ia-pun bukan orang yang lemah, meski-pun terlampau hati-hati. Itulah sebabnya, maka cara yang ditempuhnya untuk menuntun murid-muridnya sangat terpengaruh oleh sifatnya itu. Dengan demikian maka Tohjaya telah menempuh dua orang yang berlawanan di dalam menuntut ilmu kanuragan. Gurunya yang seorang menuntunnya dengan cara yang keras, kasar dan cepat, sedang yang lain, terlampau hati-hati dan agak lamban.
    Namun demikian ketika kedua gurunya bertemu di dalam perkelahian yang sebenarnya, ternyata ilmu mereka tidak terpaut banyak seperti yang diduga. Perwira prajurit itu ternyata mempunyai jenis tata gerak yang selama ini belum pernah diberikan, baik kepada Tohjaya mau-pun kepada Anusapati, meskipun menurut tanggapan Sumekar dan Anusapati. tara gerak itu hanyalah pendalaman dari tata gerak yang pernah dilihatnya. Meskipun demikian, tanpa memperhatikan dengan saksama, maka seolah-olah perwira yang bertempur melawan penasehat raja itu, mempergunakan ilmu yang lain dari ilmu yang diberikan kepada Tohjaya dan Anusapati, sehingga baik penasehat raja yang sedang bertempur dan tidak banyak mendapat kesempatan untuk menilai tata gerak lawannya, maupun Tohjaya yang masih belum cukup matang.
    Dengan demikian, maka baik Tohjaya maupun gurunya yang sedang bertempur itu tidak segera dapat mengenal, siapakah orang yang berkerudung hitam itu. Juga lewat tata geraknya Tohjaya tidak dapat mengetahui meskipun ia mendiri sudah mempelajarinya.
    Karena itu, maka Tohjaya hanya dapat berdiri termangu-mangu. Ternyata orang yang berkerudung hitam itu mampu mengimbangi gurunya yang selama ini dibanggakannya.
    Sumekar dan Anusapati yang bertengger di atas dahan menyaksikan pertempuran itu dengan dada yang berdebar-debar. Ternyata bahwa guru Tohjaya, penasehat raja itu, benar-benar seorang yang memiliki cabang ilmu yang kasar. Tata geraknya yang hampir tidak mengenal pengekangan, kadang-kadang memang membuat sulit mereka yang menyaksikan menjadi berkerut.
    Tohjaya sendiri merasa ngeri melihat gurunya bertempur. Tangannya mengambang keduanya. Sekali-sekali terayun kesegenap arah, kemudian menyambar dan memukau seperti kaki burung rajawali. Jari-jarinya mengembang seperti hendak mencengkeram.
    Lawannya, orang yang berkerudung hitam itu harus bertempur dengan hati-hati. Setiap kali ia meloncat menghindar. Namun sekali-sekali ia-pun menyerang dengan tiba-tiba.
    Namun kemudian ternyata bagi Sumekar dan Anusapati. bahwa ilmu perwira itu memang tidak setingkat dengan ilmu penasehat raja itu. Meski-pun tidak terpaut banyak, tetapi karena kekasaran dan keganasannya, maka setiap kali orang yang berkerudung hitam itu selalu terdesak.
    Meski-pun demikian, menurut penilikan Sumekar dan Anusapati. orang berkerudung hitam itu akan dapat menyelamatkan dirinya apabila dikehendakinya. Ia masih akan dapat bertahan untuk waktu yang lama, dan kesempatan melarikan diri-pun agaknya masih dapat dilakukannya.
    Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Ilmu mereka tidak terpaut banyak. Tetapi benar juga pamanda tuanku, bahwa penasehat itu pasti lebih tinggi meskipun hanya selapis, tataran ilmunya.”
    Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
    “Tetapi kekurangan itu tidak akan berbahaya baginya.”
    Sekali lagi Anusapati mengangguk.
    Namun dalam pada itu, perwira yang berkerudung hitam itu selalu terdesak surut. Meskipun demikian penasehat raja itu tidak pernah berhasil mengenainya dengan mantap, sehingga berpengaruh berat baginya.
    “Jangan mencoba untuk lari,” penasehat itu menggeram, “kau harus hancur bersama namamu di sini.”
    Perwira itu tidak menyahut. Dengan sekuat tenaga ia melawan serangan penasehat raja yang kasar itu.
    Ternyata perlawanan yang gigih itu telah membuat penasehat raja itu menjadi semakin marah. Ia merasa seseorang yang tidak ada lawannya di istana ini, selain Sri Rajasa sendiri. Kini tiba-tiba ia bertemu dengan seseorang yang tidak dikenalnya, yang tidak segera dapat dikalahkannya, meskipun secara pasti ia dapat mendesak lawannya itu terus-menerus.
    Karena itu, maka guru Tohjaya yang kasar itu tidak dapat menahan hati lagi. Sekali lagi ia hampir berteriak, “Jangan lari. Suaraku dapat menjadi semakin keras. Aku dapat berteriak memanggil para penjaga dan mengepung istana ini.”
    Tetapi jawab perwira yang berkerudung hitam itu, “Jika ada prajurit peronda yang lewat di dekat bangsal ini, mereka pasti mengira bahwa suara kita yang sedang bertempur ini, adalah jejak kakimu dan tuanku Tohjaya yang sedang berlatih.”
    “Bodoh kau. Aku dapat memanggil mereka dengan satu teriakan, atau aku dapat menyuruh salah seorang pengawal tuanku Tohjaya itu untuk membunyikan tanda.”
    “Itu-pun tidak akan banyak berarti. Aku dapat lari dengan mudah. Aku dapat meloncat dinding dan terjun ke halaman sebelah. Bukankah di belakang dinding batu ini termasuk bagian dari istana tuan Puteri Ken Umang.”
    “Kau sangka disana tidak ada prajurit peronda?”
    “Aku dapat lari lebih cepat dari mereka.”
    “Gila,” tiba-tiba penasehat raja itu kehilangan kesabaran. Lalu, “Tuanku, bawalah kedua pengawal tuanku itu untuk mengurung orang ini. Aku akan menangkapnya.”
    Tohjaya termangu-mangu sejenak. Dan gurunya itu berkata terus, “Jangan beri kesempatan ia berloncatan surut menghindari seranganku. Itu licik sekali. Aku akan memaksanya menyerah, atau hancur sama sekali karena kekuatan aji pamungkasku.”
    Perwira itu menjadi berdebar-debar. Mungkin orang itu tidak sekedar menakut-nakutinya. Mungkin ia akan segera melepaskan aji pamungkas yang masih belum diketahui sampai betapa jauh kemampuannya.
    “Aku masih belum sempat menyempurnakan aji pamungkasku. Kalau ilmunya itu cukup masak, aku pasti tidak akan dapat mengimbanginya,” berkata perwira itu di dalam hatinya. Karena itu, maka ia-pun semakin terdesak surut.
    Sumekar melihat keadaan itu. Ia merasakan, bahwa perwira yang berkerudung hitam itu semakin terdesak. Apalagi setelah Tohjaya menyadari keadaannya, dan siap untuk ikut bertindak bersama kedua pengawalnya.
    “Nah,” berkata penasehat raja itu, “aku tidak perlu memanggil duapuluh lima orang. Sekarang kau akan hancur di bangsal ini. Sri Rajasa akan mengucapkan terima kasih kepadaku, apabila kelak aku dapat menunjukkan sekeping telingamu, atau jari-jarimu sebagai bukti bahwa seorang yang sakti telah memasuki longkangan ini. Namun aku masih juga dapat menumpasnya.”
    Perwira yang berkerudung hitam itu tidak menyahut. Tetapi ia merasa bahwa ia benar-benar berada di dalam kesulitan. Ia tidak akan dapat dengan mudah meninggalkan longkangan itu, karena sejenak kemudian Tohjaya dan dua orang pengawalnya telah mengurungnya. Meskipun dengan mudah ia dapat mengalahkan ketiga orang itu sekaligus, tetapi di tempat itu hadir juga penasehat raja, sehingga meskipun ketiga orang itu tampaknya tidak begitu berarti, namun mereka pasti akan ikut menentukan akhir dari perkelahian ini.
    “Perwira itu berada dalam kesulitan,” desis Sumekar.
    Anusapati menganggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan membantunya, sekedar melepaskannya dari tangan penasehat ayahanda Sri Rajasa. Kalau orang itu dapat ditangkap, maka ia akan berceritera tentang bermacam-macam hal yang barangkali dapat menyinggung namaku. Mungkin ia pernah juga melihat tata gerakku yang tanpa aku sadari lepas di dalam latihan-latihan yang kami selenggarakan, terutama apabila aku harus menghadapi ketamakan Adinda Tohjaya.”
    “Bukan tuanku,” berkata Sumekar, “biarlah hamba bermain-main dengan kedua orang itu. Bukankah mereka tidak akan mengenal hamba dan tata gerak dari cabang perguruan hamba? Mungkin masih akan tampak unsur-unsur gerak yang kasar, meloncat dari pada hamba.”
    Anusapati mengerutkan keningnya.
    “Biarlah tuanku berada di sini. Sudah hamba katakan, taruhannya terlampau mahal apabila tuanku ikut di dalam persoalan ini.”
    Anusapati tidak menjawab. Tetapi ia menganggukkan kepalanya.
    Sumekar tidak berkata apa-pun lagi. Dipandanginya dengan tajamnya bagaimana perwira, guru Anusapati itu semakin terdesak, sehingga akhirnya ia tidak dapat lepas lagi. Ia kini berdiri diantara penasehat itu dan Tohjaya bersama dua orang pengawalnya. Kalau ia memaksa dirinya untuk menyerang Tohjaya agar ia mendapat jalan keluar dari kepungan itu, maka waktu yang sesaat itu sudah cukup bagi lawannya untuk menghancurkan punggungnya.
    Karena itu, perwira prajurit itu berdiri termangu-mangu. Namun ia sudah bertekad untuk menghadapi akibat apa-pun yang bakal menimpa dirinya.
    “Sayang,” desisnya, “aku belum dapat mengatakan kepada Mahisa Agni, siapakah orang yang tersembunyi ini.”
    Tetapi ia benar-benar tidak sempat. Berpikir-pun tidak sempat, karena lawannya itu melangkah semakin dekat sambil tertawa. Katanya di sela-sela suara tertawanya, “Maaf, bahwa aku harus berbuat sesuatu atasmu. Mungkin aku akan membunuhmu, mungkin karena ketahanan tubuhmu yang luar biasa, kau hanya akan sekedar menjadi pingsan. Tetapi sebenarnya itulah yang aku inginkan. Sebab apabila kau masih hidup, aku akan dapat lebih banyak berbuat atasmu. Mungkin aku akan dapat menyadap keterangan tentang usahamu yang gila ini, mungkin aku akan mendapat kepuasan yang khusus karena aku dapat membunuhmu dengan cara yang lebih baik daripada menghancurkanmu dengan satu pukulan.”
    Terasa bulu-bulu di tubuh perwira itu meremang. Namun kemudian ia menemukan kebulatan tekadnya kembali. Bahkan ia sempat menjawab, “Mati adalah jalan yang paling baik untuk menyelesaikan semua persoalan. Juga persoalanku yang rumit ini.”
    “Ternyata kau sudah berputus asa. Kau ingin membunuh diri di sini?” penasehat itu berhenti sejenak, lalu, “gila. Kau akan mempergunakan aku sebagai alat untuk membunuh diri? Itu sangat menyakitkan hati.” ia terdiam pula sejenak, lalu, “tetapi kau akan menyesal. Kau akan menyesal. Barangkali lebih baik bagimu untuk menggantung diri di batang beringin di alun-alun. Atau menerjunkan dirimu ke dalam jurang yang dalam, atau menusuk perutmu sendiri dengan senjatamu. Tetapi kau tidak akan mendapat kesempatan lagi. Kau akan mengalami jalan maut yang paling mengerikan.”
    Perwira itu tidak menjawab. Tetapi ia tidak menyerah. Ia masih berdiri siap dengan senjatanya, meski-pun di segenap penjuru, ujung-ujung senjata telah mengarah kepadanya.
    “Kau masih mendapat waktu sekejap. Berdoalah kepada Yang Maha Agung, agar kau mendapat tempat yang baik di masa hidupmu mendatang.”
    Perwira itu sama sekali tidak menjawab. Dengan tenang ia menengadahkan dadanya menghadap maut yang bagimana-pun juga garangnya.
    Namun, selagi penasehat raja itu melangkah selangkah maju, tiba-tiba ia terkejut. Telinganya yang tajam segera mendengar gemerasak daun di pepohonan. Ketika ia berpaling, dilihatnya sesosok tubuh meloncat dari cabang pohon yang satu kepohon yang lain, kemudian hinggap di atas dinding batu yang membatasi longkangan di belakang bangsal itu.
    Orang-orang yang ada di longkangan itu-pun terperanjat. Yang berdiri di atas dinding batu itu juga seorang yang berkerudung hitam seperti orang yang sedang berkelahi itu. Namun sebenarnyalah bahwa perwira yang berkerudung hitam itu-pun terkejut pula melihat orang lain yang memakai pakaian seperti yang dipakainya.
    “Ha,” berkata Sumekar. Seperti perwira prajurit itu, suaranya-pun telah dirubah menjadi suara yang lain, melengking tinggi meskipun tidak begitu keras, “ternyata orang yang namanya terkenal di seluruh Singasari ini adalah orang yang licik. Ia terpaksa menghadapi lawannya bersama-sama dengan murid dan pengawalnya. Itu sama sekali tidak adil. Kawanku datang dan bertempur seorang diri. Seharusnya kau melawan juga seorang diri. Perang tanding adalah sikap kesatria jantan di Singasari.”
    Penasehat raja itu menggeram. Terdengar suaranya parau, “Siapa pula kau?”
    Sumekar-pun kemudian meloncat dengan lincahnya turun ke longkangan belakang di atas rerumputan. Sambil bertolak pinggang Sumekar berdiri tegak memandang orang-orang yang keheranan itu satu demi satu.
    “He, kenapa kalian berdiri keheranan seperti melihat hantu yang datang dari kegelapan atau barangkali hantu yang datang dari pojok-pojok istana ini.” Sumekar berhenti sejenak, lalu, “aku sama sekali bukan hantu. Aku hanya seseorang biasa yang dengan sengaja menutup wajahku dengan kain hitam, berpakaian hitam agar tidak mudah dilihat apabila aku bersembunyi, dan sudah barangkali tentu, dengan kerudung hitam ini aku ingin menyembunyikan wajahku. Mungkin kalian sudah mengenal aku dan kawanku itu. Karena itulah maka dengan sengaja kami ingin agar kalian tidak mengetahui siapakah aku ini.”
    Penasehat raja itu menggeram. Terasa olehnya, bahwa orang yang baru datang ini mempunyai kepercayaan diri yang lebih besar dari orang yang pertama. Mungkin orang ini lebih berbahaya atau setidak-tidaknya sama seperti orang yang pertama yang masih berada di tempat itu pula.
    Orang yang berkerudung hitam pertama, betapapun juga ia keheranan, namun ia mencoba menyesuaikan dirinya. Ia tidak berbuat apa-apa, meskipun ia tidak yakin, apakah orang berkerudung hitam yang datang kemudian itu nanti tidak berbahaya baginya sendiri.
    “Siapakah sebenarnya kalian? Sudah waktunya kalian membuka kerudung-kerudung hitam itu. Marilah kita berhadapan dengan wajah tengadah seperti lazimnya laki-laki.”
    Sumekar tertawa. Suaranya menggetarkan isi dada meskipun nadanya rendah dan tidak terlampau keras. Bahkan Anusapati-pun merasakan getaran itu menyentuh jantung. Ia tidak menduga bahwa Sumekar memiliki kekuatan yang tajam di dalam lontaran getaran suaranya.
    “Cukup,” geram penasehat raja itu, “aku muak melihat kalian. Pengecut yang sombong. Jangan menyesal kalau aku dengan sungguh-sungguh berusaha membinasakan kalian berdua.”
    Sumekar masih tertawa. Katanya di sela-sela derai tertawanya, “Jangan terlampau garang.”
    “Persetan,” guru Tohjaya itu maju selangkah, “agaknya kau memang lebih berbahaya dari kawanmu ini.”
    “Terserahlah apa saja yang akan kau katakan. Tetapi aku memang ingin berkelahi. Ingin mengetahui sampai di mana kemampuan guru tuanku Tohjaya yang namanya terkenal sampai ke ujung bumi.”
    Penasehat raja itu maju selangkah lagi. Namun kemudian ia berpaling kepada Tohjaya, “Tuanku, jagalah agar yang seorang itu tidak lari dari longkangan ini. Hamba akan menyelesaikan orang ini. Orang yang agaknya lebih licik dari kawannya yang pertama itu.”
    Tohjaya menganggukkan kepalanya. Tetapi tampaklah keragu-raguan menggetarkan dadanya. Apakah ia dapat menahan orang itu apabila orang itu benar-benar berniat untuk pergi? Tetapi kesombongannya ternyata telah mendorongnya untuk menjawab, “Baiklah guru. Aku akan membinasakannya apabila ia akan lari.”
    Tetapi dadanya berdesir ketika orang yang pertama itu tertawa. “Apakah tuanku dapat melakukannya?”
    “Persetan,” bentak Tohjaya sambil mengacukan pedangnya, “cobalah kalau kau ingin dadamu terbelah.”
    Sekali lagi orang itu tertawa. Namun sebelum ia menyahut Sumekar telah mendahuluinya, “Biarlah. Jangan lari. Biarlah tuanku Tohjaya menganggap bahwa kau takut kepada ujung pedangnya itu. Supaya tidak sia-sialah guru-gurunya mengajarinya. Guru yang ini dan guru yang satu lagi. Apakah kau mengenalnya?”
    Bukan saja dada Tohjaya yang berdesir. Tetapi dada perwira itu-pun menjadi berdebar-debar pula. Tetapi ia mencoba menghilangkan kesan itu. Sambil tertawa ia berkata, “Ya. Aku juga sudah mendengar bahwa tuanku Tohjaya mempunyai dua orang guru. Bukankah dengan demikian seharusnya tuanku Tohjaya menjadi orang yang mumpuni?”
    Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak sempat menyahut karena penasehat raja itu membentak, “Tutup mulut kalian. Kalian akan menyesal. Selain kami yang berada disini masih ada lima puluh orang prajurit yang siap untuk menangkap kalian. Dengan satu tanda, mereka akan berlari-larian kemari.”
    “He?” sahut Sumekar, “aneh. Nada suaramu berubah. Kalau semula kau mengucapkan kata-kata ini dengan kesombongan yang menggunung di hatimu, seolah-olah kau jauh lebih berharga dari limapuluh orang prajurit itu sehingga seolah-olah kau tidak usah berbuat apa-apa, cukup prajurit-prajurit itu saja, kini nada itu sudah berubah. Kau benar-benar ketakutan dan kau benar-benar membutuhkan bantuan mereka. Bantuan lima puluh orang prajurit, bukan karena kau jauh lebih berharga dan tidak pantas berbuat, karena limapuluh orang itu sudah cukup. Tetapi karena kau menjadi ketakutan.”
    “Diam,” orang itu membentak. Dengan mata yang seakan-akan menyala itu mendekati Sumekar.
    Sumekar tidak berbicara lagi. Tetapi ia sudah siap menghadapi setiap kemungkinan. Ia sudah melihat penasehat raja itu berkelahi, sehingga sedikit banyak ia sudah dapat menjajagi kedahsyatan ilmunya.
    Dugaan Sumekar tidak salah lagi. Tiba-tiba orang itu meloncat menyerang dengan cepatnya, seperti tatit di udara. Tangannya terjulur lurus, seperti sepasang tangan harimau yang siap menerkam mangsanya.
    Tetapi Sumekar sama sekali tidak lengah. Dengan tangkas ia menghindarkan dirinya, dan bahkan dengan tangkas pula ia membalas menyerang.
    Sejenak kemudian maka keduanya telah terlibat dalam perkelahian yang seru.
    Seperti yang telah diduga oleh Sumekar, maka guru Tohjaya yang kasar itu pasti memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Bukan saja untuk melawan perwira prajurit yang berkerudung hitam itu, tetapi juga untuk menghadapi orang-orang yang telah hampir masak menguasai ilmunya.
    Dengan demikian, maka Sumekar-pun harus mengerahkan sebagian besar dari kemampuannya untuk melawannya, meskipun Sumekar kemudian segera dapat memastikan, bahwa ia akan segera dapat menguasai lawannya.
    Namun demikian, kekuatan orang itu harus diperhitungkan apabila pada suatu saat terjadi sesuatu di dalam istana ini, apabila ada perubahan keadaan. Seandainya pada suatu saat datang waktunya, Sri Rajasa menyerahkan pimpinan kerajaan kepada Pangeran Pati, dan Tohjaya tidak dapat menerima kenyataan itu, maka penasehat raja ini harus mendapat perhatian yang khusus.
    Demikianlah maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Sumekar harus melayaninya dengan sebaiknya, karena orang itu cukup berbahaya baginya. Apalagi setelah sekian lama mereka berkelahi, namun penasehat raja yang merasa dirinya tidak terkalahkan itu tidak dapat segera menguasai lawannya, maka kekasarannya-pun seolah-olah ditumpahkannya seluruhnya. Langkahnya dan gerak tangannya, bahkan mulutnya yang mengumpat-umpat. Benar-benar tidak sesuai dengan tingkah lakunya sehari-hari.
    Tetapi Sumekar-pun pernah mendapat tuntunan ilmu yang agak kasar juga, sehingga untuk menyesuaikan dirinya, maka ia-pun melepaskan tata gerak yang kasar dan cepat, sehingga lawannya terkejut karenanya.
    “Setan manakah yang telah mengirim kau kemari?” bentaknya.
    Tetapi Sumekar tidak menjawab. Yang terdengar adalah suaranya melengking seperti suara hantu kelaparan.
    “Gila,” geram penasehat itu, “sebut namamu sebelum kau mati. Tidak ada orang yang dapat mengalahkan aku. Tetapi kau tidak segera dapat aku bunuh. Namun dengan demikian, kau telah membuat aku menjadi semakin marah. Dan kau akan menyesal nanti.”
    Sumekar tidak menghiraukannya. Ia bertempur terus dengan tangkasnya. Bahkan sekali-sekali ia telah membuat lawannya menjadi bingung.
    “He, jangan berputar-putar seperti seekor anak ayam sakit-sakitan,” desis Sumekar ketika lawannya kehilangan arah.
    “Persetan,” gigi penasehat itu gemeretak. Tetapi ia tidak dapat mengelakkan kenyataan, bahwa lawannya memang memiliki kelebihan daripadanya.
    Tohjaya yang melihat perkelahian itu menjadi cemas. Ia tidak mengira bahwa ada orang yang mampu menandingi gurunya. Ia menyangka, bahwa gurunya adalah seorang yang paling kuat di seluruh Singasari kecuali ayahandanya dan Mahisa Agni.
    “Apakah orang itu paman Mahisa Agni?” pertanyaan itu membersit di hatinya, “tentu bukan,” ia menjawabnya sendiri. “Bentuk tubuhnya sama sekali tidak sesuai dengan bentuk tubuh paman Mahisa Agni.”
    “Dan siapa pulakah kawannya yang telah lebih dahulu berkelahi dengan guru itu?” ia bertanya pula didalam hatinya.
    Tohjaya menjadi bingung karenanya. Ia melihat bahwa gurunya agaknya terdesak terus.
    Tiba-tiba Tohjaya menggeretakkan giginya. Sambil meloncat maju ia berkata, “Guru. Perkenankan aku ikut menangkap orang ini?”
    Gurunya yang sedang bertempur berpaling sejenak sambil meloncat menjauhi Sumekar. Dilihatnya Tohjaya melangkah maju dengan pedang di tangan. Karena itu dengan tergesa-gesa ia berkata, “Jangan tuanku. Orang ini cukup berbahaya bagi tuanku.”
    “Aku menjadi muak melihatnya.” sahut Tohjaya.
    “Tetapi tuanku jangan mendekatinya. Tangannya seperti mulut ular yang berbahaya apabila berhasil mematuk tubuh kita.”
    “Aku akan membunuhnya dengan pedang.”
    Sebelum gurunya menjawab, perwira yang berkerudung hitam itulah yang menyahut, “Jangan ikut campur tuanku. Ingat, hamba sekarang berdiri bebas. Hamba dapat berbuat apa saja terhadap tuanku.”
    “Kedua pengawalku akan membunuhmu.”
    Perwira itu tertawa. Katanya, “Jangan kau banggakan kedua pengawal tuanku yang tidak lebih dari dua ekor cucurut itu. Hamba dapat membunuh mereka dengan sekali gerak.”
    “Bohong,” salah seorang dari kedua prajurit itu menjadi seakan-akan terbakar seluruh jantungnya. Ia melangkah maju dengan pedang di dalam genggaman.
    Tetapi perwira prajurit itu masih tetap berdiri saja di tempatnya. Bahkan seakan-akan ia tidak mengacuhkannya sama sekali. Ia masih tetap memperhatikan orang yang berkerudung hitam yang telah terlibat kembali dalam perkelahian melawan penasehat raja itu.
    “Perkelahian yang dahsyat,” desisnya, “tetapi sayang, bahwa kawan yang berkerudung hitam itu agaknya akan dapat mengalahkan guru tuanku itu.”
    “Persetan,” Tohjaya mengumpat. Ia memandang perkelahian antara gurunya dengan orang yang berkerudung hitam itu dengan tajamnya. Dan tiba-tiba saja berkata lantang kepada kedua pengawalnya, “Bunuh dia. Aku akan ikut menyelesaikan orang itu.”
    Tanpa menunggu perintah itu diulangi, kedua pengawal Tohjaya itu-pun segera menyerang perwira yang berkerudung hitam itu.
    Perwira itu-pun terpaksa mengelakkan serangan itu. Mau tidak mau ia harus melayani mereka. Justru karena perwira itu tidak ingin mengalahkan lawannya dengan menjatuhkan korban jiwa, maka ia harus bertempur dengan berhati-hati. Tetapi meskipun demikian, ia masih juga sempat menyerang Tohjaya untuk mencegahnya, agar ia tidak melibatkan diri melawan orang yang berkerudung hitam itu.
    Tohjaya mengumpat dengan kasarnya. Ternyata sifat gurunya sudah menjalar pula kepadanya, meskipun hanya di saat-saat tertentu. Di dalam kehidupannya sehari-hari, seperti juga gurunya, ia adalah orang baik, yang tidak pernah mengucapkan kata-kata kotor. Tetapi kalau gurunya berhasil menyembunyikan kesombongannya, Tohjaya sama sekali tidak berusaha untuk menahan diri.
    Dengan kasarnya Tohjaya mencoba membalas menyerang bersama kedua pengawalnya. Kemudian, kembali ia meloncat meninggalkannya, dan mendekati gurunya yang sedang terdesak.
    “Bunuh saja orang itu,” katanya kepada kedua pengawalnya. Tetapi membunuh perwira itu bukan pekerjaan yang mudah. Bahkan sama sekali di luar kemampuan mereka. Itulah sebabnya kedua pengawal itu hanya dapat berputar-putar sambil mengacu-acukan pedangnya.
    “Tetapi mereka tidak tahu menahu tentang hal ini,” desis perwira itu di dalam hatinya, “sehingga tidak selayaknya apabila mereka mengalami bencana karenanya. Hanya apabila keadaan memaksa, apa boleh buat.”
    Namun demikian ternyata kedua prajurit itu terasa sangat mengganggu usahanya mencegah Tohjaya agar tidak mengganggu pula orang yang berkerudung hitam itu. Karena Itu, maka timbullah pikirannya untuk membuat kedua orang itu tidak berdaya.
    “Biarlah mereka aku paksa untuk tidur sejenak,” katanya didalam hati.
    Demikianlah perwira itu ingin menyerang kedua prajurit pengawal itu di tempat yang langsung dapat membuat pingsan, tetapi tidak membahayakan jiwanya. Ia pernah mempelajari tekanan-tekanan di tengkuk yang dapat melenyapkan kesadaran seseorang untuk waktu yang tidak terlalu lama.
    Tetapi sekali lagi longkangan itu telah dikejutkan oleh suara tertawa yang aneh. Serentak orang-orang yang ada dibelakang bangsal itu berpaling. Dengan dada yang berdebar-debar mereka melihat seorang lagi berjongkok di atas dinding. Orang ini-pun menutup wajahnya dengan kerudung hitam.
    “Setan alas,” geram penasehat raja itu, “ternyata kalian datang dalam jumlah yang banyak. Kalau begitu, aku memang harus memanggil para pengawal istana ini.”
    “Sekarang sudah tidak mungkin lagi,” desis Sumekar meskipun ia menggerutu di dalam hatinya. Agaknya Anusapati tidak berhasil mengekang perasaannya, sehingga ia-pun telah terjun pula kelongkangan itu.
    “Kenapa tidak sempat?” bertanya penasehat raja.
    “Kau tidak akan dapat pergi kemanapun atau membunyikan tanpa apapun.”
    “Aku dapat berteriak.”
    “Berteriak-pun kau tidak akan sempat.” sahut Sumekar, “bukan karena kau tidak mempunyai waktu, tetapi kejantananmulah yang akan mencegahnya. Menurut katamu, lima puluh orang itu tidak akan dapat mengimbangi kemampuanmu seorang diri.”
    “Persetan,” geram orang itu pula.
    “Nah, biarlah kita bermain-main sendiri,” berkata Sumekar selanjutnya, “kita adalah laki-laki jantan. Kita masing-masing mempunyai kekuatan lebih dari kekuatan lima orang. Marilah kita tunjukkan kemampuan itu. Bukan sekedar ceritera khayal tanpa ujung pangkal.”
    Guru Tohjaya itu tidak menjawab. Ia menyerang Sumekar semakin garang, meskipun dengan demikian menjadi semakin jelas, bahwa ia tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu.
    Namun dalam pada itu, Sumekar itu-pun menjadi cemas melihat Anusapati berada di antara mereka. Setelah meloncat turun, perlahan-lahan ia berjalan mendekati Tohjaya. Agaknya Anusapati ingin mengetahui kekuatan Tohjaya yang sebenarnya, sehingga karena itu dengan nada tinggi ia bertanya. “Inikah putera Sri Rajasa kinasih yang bernama Tohjaya?”
    Tidak ada seorang-pun yang menjawab. Sumekar sedang sibuk berkelahi melawan penasehat raja, sedangkan kedua pengawal Tohjaya-pun telah mulai menyerang orang yang berkerudung itu pula.
    Tohjaya yang agaknya menjadi sasaran orang berkerudung yang terakhir itu-pun merasa mendapat tantangan. Karena itu, sebelum orang berkerudung itu mempersiapkan dirinya, Tohjaya segera menyerangnya. Dengan cepatnya ujung pedang Tohjaya bagaikan lidah api yang mematuk tubuh Anusapati. Tetapi ternyata bahwa Anusapati mampu bergerak lebih cepat lagi, sehingga ujung pedang itu sama sekali tidak menyentuh sasarannya.
    Dilongkangan itu-pun kemudian terjadi tiga lingkaran perkelahian. Namun sejenak kemudian, mereka masing-masing mengetahuinya, bahwa orang-orang yang berkerudung hitam itu ternyata tidak ingin berkelahi dengan sungguh-sungguh. Sumekar yang berhasil menguasai lawannya-pun tidak banyak berbuat atasnya. Hanya kadang-kadang tangannya menyentuh penasehat raja itu. Tetapi Sumekar sama sekali tidak ingin mencelakainya, meski-pun dengan demikian ia harus berhati-hati. Penasehat raja itu-pun memiliki ilmu yang cukup tinggi. Ia melepaskan ilmu tanpa kekangan, sedang Sumekar masih harus mempertimbangkan akibat dari setiap gerakannya. Itulah sebabnya maka kadang-kadang Sumekar masih harus meloncat menjauhinya, apabila ia kehilangan kesempatan untuk berpikir karena serangan lawannya yang datang membanjir.
    Perwira prajurit yang bertempur dengan kedua pengawal Tohjaya itu-pun dapat mengimbangi lawannya dengan tanpa kesulitan. Bahkan apabila ia inginkan, ia pasti dapat mengalahkan keduanya dalam waktu yang singkat. Namun tiba-tiba saja ia masih ingin meneruskan permainan itu, sambil melihat Tohjaya berkelahi melawan orang ketiga yang datang terakhir itu.
    Namun segera ternyata pula, bahwa Tohjaya tidak berdaya sama sekali. Meski-pun ia memegang senjata, sedang orang berkerudung itu hanya bertempur dengan tangannya, namun Tohjaya sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa.
    Demikianlah, maka Anusapati telah berhasil memancing Tohjaya dalam perkelahian yang telah memeras semua kemampuan yang ada pada Tohjaya. Dengan demikian, maka Anusapati-pun dapat menilai tingkat ilmu adiknya itu pada suatu saat. Betapa Tohjaya mengerahkan segenap ilmunya yang kasar itu, namun kemampuannya sama sekali tidak dapat mendekati ilmu Anusapati yang sudah dipelajarinya bertahun-tahun, sehingga hampir masak.
    Tetapi ternyata di dalam perkelahian itu, bahwa ketiga orang yang berkerudung hitam itu tidak ingin menimbulkan bencana. Mereka tidak ingin menjatuhkan korban sama sekali. Bahkan perwira prajurit yang sedang berkelahi melawan dua orang prajurit pengawal Tohjaya itu-pun membatalkan niatnya untuk membuat kedua prajurit itu pingsan.
    Demikian pula Sumekar yang tidak dapat diimbangi oleh lawannya, betapa-pun penasehat raja itu mengerahkan kemampuannya, meskipun Sumekar harus berhati-hati karena kadang-kadang penasehat raja itu dapat menyerangnya dengan tiba-tiba dan cukup berbahaya, namun masih tetap di dalam penguasaannya.
    Perkelahian yang tidak seimbang itu masih berlangsung beberapa lama. Penasehat raja yang memang sudah merasa tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu, dan apalagi setelah ia melihat, bagaimana Tohjaya hanya bagaikan golek permainan saja, benar-benar menjadi bimbang. Ia memang dapat berteriak memanggil penjaga yang ada disekitar bangsal itu. Tetapi harga diriya telah mencegahnya. Tetapi apabila ia tetap berdiam diri maka pada saatnya, ia pasti akan kehilangan segenap kemampuannya untuk melawan. Demikian pula Tohjaya dan kedua prajurit pengawalnya.
    Selagi penasehat itu berkelahi sambil termangu-mangu, maka Sumekar-pun berkata, “Kami telah cukup lama bermain-main di sini, kami sudah mengetahui, sampai dimana kemampuan guru tuanku Tohjaya yang namanya bagaikan bunga Arum Dalu di malam hari, dalam taman Singasari yang besar ini. Tetapi sayang sekali, bahwa kemampuan yang sebenarnya, sama sekali tidak seimbang dengan keharuman namanya.”
    Penasehat raja itu menggeram. Alangkah sakit hatinya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus menerima hal itu sebagai suatu kenyataan.
    “Kami akan segera kembali. Kami akan menyampaikan berita ini kepada raja kami. Bukan Maharaja sebesar Sri Rajasa. Raja kami adalah Raja dari suatu kerajaan kecil yang terpencil, yang tidak banyak dikenal. Tetapi kalian sudah dapat melihat tiga orang prajurit dari negara kami. Kami bukanlah orang-orang terkuat di negara kami yang kecil itu. Tetapi kami telah berhasil menguasai orang yang paling kuat di Singasari, selain Sri Rajasa sendiri. Kami akui, bahwa Sri Rajasa adalah orang yang luar biasa menurut pendengaran kami. Tetapi pasti ada orang di negeri kami yang dapat mengalahkannya.”
    Penasehat raja itu tidak menyahut. Tetapi terdengar giginya gemeretak. Ia masih memaksa dirinya untuk bertempur terus, meskipun ia tahu hal itu akan sia-sia saja.
    “Kau tidak usah memanggil prajurit-prajurit yang sedang mengawal istana ini,” berkata Sumekar kemudian, “aku tidak akan tinggal lebih lama lagi di sini. Aku akan segera minta diri.”
    “Persetan,” geram penasehat itu, “kau salah sangka. Di Singasari bukan Sri Rajasa sajalah orang-orang yang luar biasa di dalam olah kanuragan.”
    “Aku tahu. Selain Sri Rajasa adalah kau sendiri. Begitu maksudmu?”
    “Masih ada paman Mahisa Agni,” sahut Tohjaya yang nafasnya menjadi terengah-engah.
    “Siapakah Mahisa Agni itu?” bertanya Sumekar.
    “Yang mewakili ayahanda Sri Rajasa di Kediri saat ini.”
    “Apakah Mahisa Agni juga bernama Kuda Taksaka yang perkasa itu?”
    Tohjaya menjadi termangu-mangu. Ia belum pernah mendengar nama Kuda Taksaka.
    “Kalau Mahisa Agni itu bukan Kuda Taksaka, maka namanya sama sekali tidak akan menggetarkan negeri kami yang kecil.”
    Tohjaya tidak menyahut.
    “Kami akan segera pergi,” berkata Sumekar, “sayang, disini tidak ada orang yang kau sebut bernama Mahisa Agni. Lain kali kami akan pergi ke Kediri. Kami ingin membuktikan dengan cara ini, betapa orang yang kau agung-agungkan itu dapat mengimbangi kemampuan kami. Selain Mahisa Agni, kami juga ingin menjajagi kemampuan Anusapati yang kini telah diangkat menjadi Pangeran Pati. Kami ingin tahu, apakah anak itu telah memiliki bekal cukup bagi jabatannya itu.”
    Penasehat raja itu sama sekali tidak berkata apapun. Tohjaya-pun menjadi termangu-mangu pula. Bahkan perwira prajurit, guru Tohjaya dan Anusapati itu-pun heran mendengar kata-kata Sumekar. Agaknya orang berkerudung hitam yang membantunya itu belum mengenal Mahisa Agni, dan belum juga mengenal Anusapati. Dan bahkan ia menyebut-nyebut nama Kuda Taksaka yang belum pernah didengarnya.
    Tetapi orang berkerudung hitam yang masih saja selalu menghindari serangan dua orang pengawal Tohjaya itu-pun mendengar Sumekar berkata, “Hentikan serangan-serangan kalian yang tidak berguna ini. Kami akan meninggalkan longkangan ini segera. Tetapi kalau kalian masih tetap ingin berkelahi, kami akan berkelahi dengan sungguh-sungguh dan meninggalkan kalian pingsan di sini.”
    Tohjaya-pun menjadi ragu-ragu. Tanpa sesadarnya serangannya-pun telah mengendor. Bahkan ia tidak memburu lagi ketika Anusapati meloncat menjauhinya.
    “Sudahlah. Kami sudah cukup untuk kali ini,” desis Sumekar dengan nada yang tinggi melengking.
    Tohjaya, gurunya yang kasar dan kedua pengawalnya-pun kemudian berdiri termangu-mangu. Mereka menjadi seakan-akan kehilangan kesadaran, apa yang sebaiknya mereka lakukan.
    Ketika ketiga orang berkerudung itu perlahan-lahan melangkah surut kesudut longkangan, mereka hampir tidak berbuat apa-apa selain dengan mata tanpa berkedip memandanginya.
    “Selamat malam. Berlatihlah terus,” berkata Sumekar.
    Sejenak kemudian maka Sumekar-pun meloncat keatas dinding longkangan itu disusul oleh Anusapati dan perwira prajurit itu, dan menghilang di dalam kegelapan malam.
    Dalam pada itu, ketika ketiganya tidak lagi dapat mereka lihat, barulah penasehat raja itu menyadari keadaannya. Dengan lantang ia berkata, “Bunyikan tanda bahaya. Perintahkan kepada setiap prajurit untuk menutup semua regol dan menjaga agar tidak seorang-pun dapat keluar dari istana ini. Setiap jengkal dinding istana dan halaman dibagian mana-pun juga harus diawasi.”
    Kedua prajurit pengawal Tohjaya itu-pun segera berlari-larian ke gardu peronda yang terdekat. Sejenak kemudian suara tanda itu-pun telah bergema memenuhi seluruh halaman.
    Sementara itu, Sumekar dan kedua kawannya telah berada di luar halaman bangsal Sri Rajasa. Tetapi tanda bahaya itu merupakan peringatan bagi mereka, bahwa sebentar lagi, prajurit-prajurit yang sedang bertugas di halaman istana ini akan berlari-larian ke segenap penjuru.
    Karena itu maka Sumekar-pun berkata. “Cepatlah kembali kepondokmu. Ternyata baik tuanku Tohjaya, mau-pun gurunya itu belum mengetahui siapakah kau ini.”
    “Tetapi, siapakah sebenarnya kalian?”
    “Aku harus segera meninggalkan istana ini sebelum semua bagian dari dinding istana ini diawasi. Aku tidak mempunyai banyak waktu, Kau-pun tidak.”
    Tanda bahaya digardu pertama itu-pun segera disahut oleh gardu-gardu yang lain, sehingga sejenak kemudian setiap gardu di dalam lingkungan istana itu-pun telah membunyikan tanda-tanda yang serupa.
    “Cepat,” desak Sumekar, “sebelum seseorang mengetahui tentang dirimu. Aku-pun akan segera pergi.”
    Sumekar dan Anusapati-pun kemudian bagaikan terbang meninggalkan perwira yang termangu-mangu itu. Tetapi perwira itu-pun segera menyadari keadaannya dan menyelinap masuk ke dalam pondoknya. Dengan cepat ia-pun melepas kerudung hitamnya dan menyembunyikannya rapat, setelah ia berganti pakaian.
    Tetapi perwira itu sama sekali tidak mengetahuinya, bahwa pada saat yang hampir bersamaan, Sumekar dan Anusapati-pun telah berbuat hal yang serupa. Mereka-pun telah mengganti pakaian mereka, dan menyembunyikan kerudung-kerudung hitam itu.
    Demikianlah maka halaman istana itu menjadi gempar. Para pengawal segera bersiap di tempat tugas masing-masing. Para prajurit peronda-pun segera berlari-larian ke segenap sudut istana, mengawasi segala bagian dari dinding yang memagari istana Singasari, sehingga tidak ada sejengkal-pun yang dapat dilalui oleh siapapun.
    Di muka bangsal Permaisuri-pun empat orang prajurit telah siap dengan senjata telanjang. Demikian pula di depan bangsal Ken Umang. Tohjaya yang masih berada di bangsal Sri Rajasa bersama guru dan pengawalnya segera bergabung dengan pengawal yang kemudian menempatkan diri di bagian depan dan yang lain di bagian belakang.
    Empat prajurit yang lain telah berdiri sebelah menyebelah bangsal Putera Mahkota untuk mengawasi apabila ada orang-orang yang menyelinap dan berniat berbuat jahat.
    Para prajurit pengawal bangsal Anusapati itu segera menyongsong Putera Mahkota yang keluar dari bangsalnya sambil menggosok-gosok matanya.
    “Masuklah tuanku,” berkata salah seorang pengawal.
    “Aku mendengar tanda bahaya.”
    “Ya. Karena itulah hamba berada disini.”
    Anusapati menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak memerlukan pengawal. Bukankah seluruh istana ini sudah diawasi.”
    “Tetapi dalam keadaan bahaya, hamba mendapat tugas mengawasi bangsal ini.”
    Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih. Tetapi apakah yang sebenarnya sudah terjadi?”
    “Ada tiga orang asing telah memasuki istana ini dalam pakaian hitam.”
    “He?” Anusapati terkejut, “bagaimana hal itu dapat terjadi? Apakah para pengawal regol dan para peronda tertidur semuanya?”
    “Tidak tuanku. Para pengawal dan para peronda tetap berada pada tugas masing-masing. Tetapi mereka tidak melihat mereka masuk.”
    “Apakah mereka anak siluman?” Anusapati menjadi tegang, “saat ini Ayahanda Sri Rajasa tidak ada di istana. Semua tanggung jawab pasti terlimpah pada para panglima yang tinggal. Panglima kesatuan yang ada di Singasari, terutama kesatuan pengawal istana ini.”
    “Hamba tuanku, Panglima itu sudah masuk ke lingkungan istana pula. Ia sekarang berada di regol terdepan.”
    “Aku akan menemuinya. Apabila Ayahanda Sri Rajasa tidak ada, akulah yang harus bertanggung jawab atas seluruh keadaan di dalam istana ini.”
    “Tetapi, keadaan ini sangat berbahaya tuanku. Kami harap tuanku tetap di dalam bangsal ini. Kamilah yang akan menjaga di luar.”
    “Dimana Adinda Tohjaya sekarang?”
    “Didepan bangsal Ayahanda Sri Rajasa.”
    Anusapati mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah para prajurit itu. Ia sadar, bahwa prajurit-prajurit itu adalah prajurit-prajurit yang setia. Setia kepada Ayahanda Sri Rajasa. Tetapi ia menjadi terharu juga melihat mereka siap mengawasi bangsalnya.
    “Kenapa Adinda Tohjaya berada di bangsal ayahanda?”
    Prajurit itu mengerutkan keningnya. Sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi mereka tidak segera menyahut.
    “Apakah Adinda Tohjaya berada di bangsal itu setelah ia mendengar tanda bahaya, atau ia memang berada di sana ketika tanda bahaya berbunyi?”
    “Hamba tidak jelas tuanku. Tetapi dari sanalah sumber berita, bahwa ada orang-orang yang tidak dikenal masuk ke dalam istana ini.”
    Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Aku akan ke regol depan menemui Panglima pengawal istana.”
    “Tuanku, hamba berharap tuanku tetap berada di bangsal ini saja.”
    “Jangan cemas. Aku bukan anak-anak lagi.” Anusapati tidak menunggu prajurit-prajurit itu menjawab. Dengan tergesa-gesa ia memasuki bangsalnya. Kemudian mengenakan pakaian keprajuritan dengan sebilah keris di punggungnya.
    Ketika Anusapati keluar dari biliknya, hampir saja ia melanggar embannya yang berlari-larian datang ke bangsal itu pula dari biliknya di belakang bangsal.
    “Bibi, kenapa kau datang kemari?”
    Embannya menekan dadanya yang tersengal-sengal. Katanya, “Hamba mendengar tanda bahaya.”
    “Dan kenapa kau keluar dari bilikmu? Apakah kau takut?”
    Embannya menggeleng.
    “Jadi?”
    “Aku cemas akan tuanku.”
    “Kenapa? Diluar ada empat orang prajurit yang telah siap menghadapi semua kemungkinan.”
    Emban itu menundukkan kepalanya.
    “Apakah yang kau cemaskan? Apakah kau sangka orang-orang yang dikabarkan masuk kedalam istana ini akan berbuat jahat atasku?”
    Sekali lagi emban itu menggeleng.
    “Jadi, apa yang kau cemaskan?”
    “Tuanku.”
    “Kenapa dengan aku?”
    Emban itu menahan nafasnya sejenak. Kemudian ia berpaling kepintu depan, seolah-olah ia ingin meyakinkan, bahwa tidak ada orang lain di dalam bangsal itu.
    “Tuanku, hamba menjadi cemas, justru karena hamba mengetahui hanya beberapa hal saja atas tuanku. Hamba tidak mengetahui keadaan tuanku seluruhnya.”
    “Apa yang kau ketahui tentang aku bibi?”
    “Ampun tuanku. Hamba mengetahui, bahwa kadang-kadang tuanku meninggalkan bangsal ini. Dan bahkan meninggalkan halaman istana ini. Pakaian tuanku kadang-kadang terlampau kotor oleh debu dan pasir. Bukan pasir di halaman, tetapi pasir yang masih basah.”
    Anusapati mengerutkan keningnya. Kemudian ia-pun tersenyum. Ia sadar bahwa embannya mengetahui akan hal itu. Ia sadar pula, bahwa embannya pulalah yang selalu menghapus jejak itu sebelum pakaiannya yang kotor diserahkan kepada juru pakaian.
    “Tetapi kali ini bukan aku bibi,” sahut Anusapati kemudian, “aku tahu bahwa kau menjadi cemas, kalau para penjaga melihat aku keluar atau masuk halaman dan berusaha menangkap aku karena mereka tidak tahu. Bukankah begitu?”
    Embannya mengangguk-anggukkan kepalanya.
    Anusapati menepuk pundak embannya itu. Katanya, “Tidurlah kembali. Aku akan ikut serta mencari orang yang memasuki istana ini.”
    Embannya menarik nafas dalam-dalam.
    “Atau kau ingin menunggui bangsal ini?”
    “Tuanku akan pergi kemana?”
    “Aku akan menemui Panglima pengawal di regol halaman.”
    Embannya mengerutkan keningnya. “Apakah tuanku ingin menemuinya?”
    “Ya.”
    “Tuanku adalah Pangeran Pati. Tuanku dapat memerintahkan prajurit-prajurit itu memanggilnya. Panglima itulah yang harus menghadap tuanku.”
    Anusapati tertegun sejenak. Tetapi ia-pun kemudian tersenyum. Katanya, “Aku kadang-kadang memang kurang menyadari, bahwa aku adalah Putera Mahkota. Tetapi biarlah aku melihat keadaan halaman istana ini selagi ada bahaya mengancam.”
    Embannya tidak dapat menahannya lagi. Ketika Anusapati melangkah keluar bangsal, ia mengikuti di belakangnya.
    “Aku akan pergi ke regol. Mungkin kini para perwira sudah berkumpul pula di sana.”
    “Tetapi, apakah keadaan tidak sangat berbahaya bagi tuanku?” salah seorang prajurit itu masih berusaha mencegahnya.
    Anusapati tidak menghiraukannya. Sambil tersenyum ia berkata kepada embannya, “Masuklah. Malam sangat gelap.”
    Embannya membungkukkan kepalanya dalam-dalam, “Hamba tuanku.”
    Anusapati-pun kemudian melangkah meninggalkan bangsal itu tanpa menghiraukan apa-pun lagi. Tetapi prajurit-prajurit yang berunding sejenak itu mengambil keputusan, bahwa dua di antara mereka harus mengawal Putera Mahkota, sedang dua lainnya menjaga bangsal itu.
    Ketika dua orang di antara mereka berlari-lari mengikutinya, Anusapati berpaling sambil berkata, “Kalian mengawal aku?”
    “Hamba Tuanku. Dalam keadaan ini, mungkin pengawal diperlukan.”
    Anusapati melangkah terus. Kedua prajurit yang berlari-lari itu-pun kemudian berada dua langkah saja dibelakangnya.
    “Aku tidak pernah mendapat pengawalan selama aku tinggal di dalam istana. Juga setelah aku menjadi Pangeran Pati. Dan selama itu, aku tidak pernah menemukan kesulitan apa-apa di dalam istana ini.”
    “Hamba tuanku. Tetapi tidak dalam keadaan seperti ini.”
    Anusapati tidak menjawab lagi. Ia berjalan terus.
    Tetapi para prajurit yang mengawalnya itu menjadi heran. Putera Mahkota itu tidak langsung pergi ke regol depan menemui Panglima pasukan pengawal istana yang ternyata kali ini tidak ikut pula berburu.
    “Apakah tuanku tidak pergi keregol depan?” bertanya salah seorang dari kedua prajurit yang mengawalnya.
    “Ya. Tetapi aku ingin melihat, apakah semua penjagaan tidak ada yang lengah.”
    Kedua prajurit itu saling berpandangan sejenak. Namun mereka berjalan saja mengikuti Putera Mahkota yang ternyata kemudian berjalan mengelilingi halaman istana. Dilaluinya gardu-gardu yang terpencil dan tempat-tempat yang gelap.
    Di setiap gardu Anusapati menjumpai para pengawal telah siap menghadapi kemungkinan. Dan hampir di setiap tempat yang agak gelap ditemuinya peronda yang mengawasi setiap jengkal dinding yang mengelilingi istana.
    “Hem,” Anusapati menarik nafas dalam-dalam, “dalam keadaan serupa ini, tidak mungkin ada seekor cicak-pun yang dapat lolos,” katanya di dalam hati.
    Terbayang dirongga matanya, dirinya sendiri memanjat dinding yang tinggi itu. Tetapi ketika ia meloncat turun, tiba-tiba saja beberapa ujung tombak telah melekat di tubuhnya.
    “Untunglah, semuanya itu tidak pernah terjadi,” katanya pula di dalam hatinya, “Agaknya hanya di dalam keadaan tertentu saja pengawasan menjadi begini ketat. Jika suatu saat, aku dilihat oleh para peronda itu, maka terpaksa aku membuat mereka menjadi pingsan.”
    Namun ternyata sikap Putera Mahkota itu telah menumbuhkan keheranan di kalangan para prajurit dan perwira pengawal. Selama ini mereka menganggap bahwa Anusapati adalah seorang anak muda yang lemah, seperti yang selalu diceriterakan oleh Tohjaya kepada siapa-pun juga, sedang Anusapati sendiri tidak pernah memerlukan memberikan bantahan.
    Tetapi kini, di dalam keadaan yang gawat, selagi Sri Rajasa tidak ada di istana, Putera Mahkota itu telah melakukan kuwajibannya dengan baik, mengambil alih tugas Sri Rajasa seperti yang sering dilakukan. Dalam keadaan yang gawat, Sri Rajasa selalu turun ke gelanggang sendiri. Dan begitu pulalah yang dilakukan oleh Anusapati. Bukan Tohjaya, putera kebanggaan Sri Rajasa yang tetap berada di bangsal Ayahanda Sri Rajasa bersama pengawalnya dan penasehat raja.
    Demikianlah maka Anusapati telah mengunjungi gardu-gardu dan hampir setiap sudut-sudut halaman. Tetapi ia masih membatasi dirinya. Ia tidak mau melintasi regol yang membatasi halaman istana dengan taman yang diperuntukkan bagi ibunda Ken Umang.
    Yang terlebih-lebih heran lagi adalah justru kedua prajurit yang mengawalnya. Dalam keadaan yang demikian, seandainya mereka tidak berlari-lari mengikuti atas kehendak mereka sendiri, agaknya Anusapati akan pergi seorang diri, mengitari halaman ini.
    “Semua berada di tempatnya,” desis Anusapati kemudian.
    “Hamba tuanku. Semua berada di tempatnya.”
    Ketika Anusapati melintasi pondok perwira prajurit yang menjadi gurunya bersama dengan Tohjaya, dilihatnya prajurit itu berdiri di depan pintu lengkap dengan pakaian keprajuritannya.
    “O, kau?” sapa Anusapati.
    “Hamba tuanku. Hamba mendengar tanda bahaya itu. Seandainya diperlukan, hamba sudah siap apa-pun yang harus hamba lakukan.”
    “Terima kasih. Bersiaplah apabila ada sesuatu yang penting. Kau dapat langsung pergi ke regol depan. Mungkin kau akan mendapat tugas khusus dari pemimpin pengawal.”
    “Hamba tuanku,” sahut perwira itu.
    Sepeninggal Anusapati perwira yang masih basah oleh keringat itu menarik nafas dalam-dalam. Ia kini merasa bebas dari segala macam dugaan apapun, karena Putera Mahkota sendiri telah melihatnya, justru pakaian yang dipakainya adalah pakaian keprajuritan.
    Sejenak kemudian langkah Anusapati-pun sampai di muka pondok Sumekar di bagian belakang istana. Ia melihat pintu pondok itu tertutup rapat-rapat. Sedang pelita di dalamnya hampir tidak tampak dari luar, karena sangat redup.
    “Orang-orang di sini sama sekali tidak terbangun oleh suara ribut itu,” berkata Anusapati. “Bukan saja pintu pondok Sumekar, juru taman itu, tetapi juga pondok-pondok yang lain, juru panebah, juru pangangsu dan pelayan-pelayan yang lain, justru tertutup rapat-rapat.”
    “Mereka menjadi ketakutan,” desis seorang pengawalnya.
    Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Di samping pondok Sumekar Putera Mahkota itu berdesis, “He, apakah kau dapat juga tidur dalam keributan begini?”
    “Ampun tuanku,” terdengar jawaban dari dalam, “apakah tuanku Putera Mahkota?”
    Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Sumekar-pun telah ada di dalam pondoknya. Namun ia menjawab, “Ya. Aku adalah Putera Mahkota.”
    “Ampun tuanku. Hamba sangat takut.”
    “Tidurlah dan bermimpilah. Tidak akan ada seorang penjahat-pun yang akan masuk ke dalam pondokmu.”
    Tidak ada jawaban. Yang terdengar adalah desah nafas tertahan-tahan. Kemudian desir langkah menuju kepintu.
    Ketika pintu berderit, Sumekar menyembulkan kepalanya. Dianggukkan kepalanya itu kemudian dalam-dalam, sambil berkata, “Ampun tuanku. Hamba tidak berani membuka pintu seandainya tuanku tidak berada di luar. Tetapi, apakah tuanku tidak lebih baik berada di dalam bangsal?”
    Anusapati tersenyum sambil menjawab, “Aku melihat keadaan halaman istanaku.”
    Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia-pun bertanya, “Apakah tuanku tidak menemukan sesuatu?”
    Anusapati menggelengkan kepalanya. Tetapi ia tertawa di dalam hati.
    “Sudahlah, masuklah. Aku akan meneruskan tugas ini.”
    Sumekar-pun mengangguk pula dalam-dalam ketika Anusapati meninggalkan pintu pondoknya.
    Ternyata halaman istana Singasari itu telah benar-benar bersiaga menghadapi setiap kemungkinan. Setiap prajurit yakin, bahwa tidak ada seekor nyamuk-pun yang telah berhasil lolos dari pengawasan.
    Ketika Anusapati sampai di regol depan dilihatnya panglima pasukan pengawal istana sedang sibuk memperbincangkan langkah yang akan diambilnya bersama beberapa orang perwira. Ketika mereka melihat Anusapati datang, mereka-pun segera bersibak dan menganggukkan kepala mereka.
    “Selamat malam tuanku,” berkata Panglima pengawal, “tetapi kedatangan tuanku telah mengejutkan kami. justru dalam keadaan yang gawat ini.”
    Anusapati mengerutkan keningnya. Ia-pun bertanya pula, “Kenapa kalian terkejut? Bukankah sudah menjadi kewajibanku untuk menilai setiap keadaan di dalam istana ini, justru dalam keadaan yang gawat, apalagi Ayahanda Sri Rajasa tidak ada di istana?”
    Panglima itu menjadi terheran-heran. Ia tidak menyangka bahwa pada suatu saat Anusapati akan menunjukkan suatu sikap yang selayaknya bagi seorang Putera Mahkota. Selama ini seperti prajurit-prajurit yang lain, kesannya terhadap Anusapati agak terlampau kecil. Mereka menganggap bahwa Anusapati adalah seorang anak muda yang lemah, sehingga yang menonjol di antara mereka adalah putera Sri Rajasa yang lain, Tohjaya. Tetapi dalam keadaan ini. Anusapati lah yang hadir di antara mereka di regol depan. Terlebih-lebih lagi ketika mereka mengetahui, bahwa Anusapati telah mengelilingi seluruh halaman istana dengan diiringi hanya oleh dua orang prajurit pengawal.
    Perwira itu seakan-akan tersadar ketika Anusapati bertanya, “Apakah rencana kalian sekarang?”
    Panglima itu termangu-mangu sejenak. Jawabnya kemudian, “Baru hamba bicarakan tuanku.”
    Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Aku sudah melihat seluruh penjagaan, pengawalan dan peronda-peronda dari seluruh halaman istana selain halaman dan petamanan Ibunda Ken Umang. Menurut pengamatanku, pengawalan cukup rapat, sehingga tidak akan ada seorang-pun yang dapat keluar dari halaman tanpa diketahui. Seandainya benar seperti yang dikatakan, bahwa ada orang-orang yang memasuki halaman, aku kira mereka tidak akan dapat keluar. Karena itu, apabila kalian sedang membicarakan apa yang akan kalian lakukan, maka yang sebaiknya dan segera dapat kalian kerjakan adalah mencari orang-orang itu di seluruh halaman termasuk petamanan dan halaman bangsal ibunda Ken Umang. Apakah kau sependapat?”
    Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang sedang merencanakannya seperti apa yang dikatakan oleh Anusapati itu. Namun dengan demikian, para perwira itu melihat, bahwa sebenarnya Anusapati bukan sekedar kepompong yang mati.
    “Kami sedang mempersiapkan diri, tuanku,” berkata Panglima itu.
    “Bagus. Lakukanlah segera apabila kalian sudah siap.”
    “Hamba tuanku,” jawab Panglima itu.
    “Aku ikut serta bersama kalian. Kalau kalian membentuk kelompok-kelompok, aku ikut salah satu dari kelompok itu.”
    Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah tuanku. Hamba akan membentuk kelompok-kelompok yang akan mengaduk seluruh halaman mencari orang-orang yang dikabarkan memasuki halaman istana.”
    Demikianlah, maka telah disiapkan empat buah kelompok kecil yang akan mengelilingi segenap sudut halaman dengan teliti. Semua bagian akan mendapat pengamatan. Karena seperti Anusapati, Panglima itu yakin, apabila benar ada orang-orang yang memasuki istana, mereka tidak akan dapat keluar.
    Setelah kelompok-kelompok itu siap untuk mulai perondaan mereka, Anusapati menjadi berdebar-debar. Dilihatnya seseorang bersama dengan tiga orang prajurit datang ke regol itu pula.
    “Kau Adinda Mahisa-wonga-teleng,” sapa Anusapati.
    “Ya kakanda. Aku mendengar tanda itu. Dan aku merasa bahwa aku wajib datang ke regol ini. Semula aku datang mencari kakanda. Tetapi dua orang pengawal di bangsal kakanda mengatakan, bahwa kakanda telah mendahului pergi keregol depan.”
    “Kenapa kau kemari? Bukankah berbahaya bagimu?”
    Mahisa-wonga-teleng termangu-mangu sejenak. Kemudian jawabnya, “Tentu tidak menyenangkan apabila seluruh istana ini sibuk, aku sekedar membetulkan letak selimut. Mungkin begitu semasa aku masih kanak-anak. Tetapi sekarang aku sudah dewasa.”
    Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia memandang adiknya, barulah ia sadar, bahwa Mahisa-wonga-teleng sudah tumbuh menjadi seorang anak muda yang gagah.
    Tetapi justru dengan demikian, Mahisa-wonga-teleng menjadi termangu-mangu. Dirasakannya bahwa tatapan mata Anusapati kali ini agak aneh. Karena itu maka ia-pun bertanya, “Apakah kakanda Anusapati melihat ada yang aneh padaku?”
    Anusapati seperti tersadar dari lamunannya. Terbata-bata ia menjawab, “Tidak. Tidak ada yang aneh Adinda Mahisa-wonga-teleng. Tetapi kedatangan adinda memang agak mengejutkan. Meskipun demikian, baiklah adinda ikut bersama kami di sini. Kami sudah membagi diri untuk mengelilingi seluruh istana ini. Kami masing-masing akan mencari orang-orang yang dikatakan memasuki istana ini. Karena demikian tanda bahaya berbunyi, maka para prajurit segera menyebar sehingga tidak mungkin lagi seseorang dapat keluar dari halaman. Karena itu, orang-orang itu sampai kini pasti masih ada di dalam istana ini.”
    Mahisa-wonga-teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku ikut bersama kakanda.”
    “Baiklah. Marilah. Kau berada di dalam kelompokku.”
    Demikianlah maka sejenak kemudian empat kelompok itu-pun segera mulai menjalankan tugasnya. Mereka memencar ke daerah yang sudah terbagi menurut persetujuan mereka bersama.
    “Kita akan memeriksa seluruh isi halaman. Dan kita mendapatkan bagian di sebelah barat. Termasuk bangsal Ayahanda Sri Rajasa dan bangsal Ibunda Permaisuri,” berkata Anusapati.
    Mahisa-wonga-teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.
    Kelompok itu langsung dipimpin oleh Panglima pasukan pengawal sendiri, karena daerah pengamatannya termasuk daerah yang paling penting.

  2. terimkasih atas sambungannya yg hilang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s