AM_MS-06


Serial ARYA MANGGADA

Episode V: MATAHARI SENJA

JILID 6

kembali | lanjut

AMMS-06KEDUA orang itu terkejut. Mereka saling berpandangan sejenak, sementara Ki Warana berkata selanjutnya, “Mungkin kalian pernah melihat sepuluh tahun yang lalu atau bahkan lebih, sehingga kalian tidak dapat mengenalinya lagi. Sepeninggal anak bayinya, perubahan itu terlalu cepat terjadi, sehingga Ki Banyu Bening menjadi cepat nampak tua.”

Kedua orang itu nampak ragu-ragu. Sementara itu sambil memandang Ki Ajar Pangukan orang itu berkata, “Apakah kau dapat mengenalinya?”

Kedua orang itu memandang Ki Ajar Pangukan dengan penuh keragu-raguan.

Sementara itu, Ki Ajar Pangukan sendiri agak terkejut mendengar pernyataan Ki Warana itu. Tetapi Ki Ajar Pangukan tidak dapat mengelak dari permainan itu. Karena itu maka iapun kemudian berkata, “Ki Sanak. Jika kalian pernah mengenal aku sebelumnya, tolong beritahu aku, siapakah kalian. Aku sudah menjadi pikun sekarang. Banyak sekali hal yang telah aku lupakan. Aku juga sudah tidak lagi dapat mengenali orang-orang yang pernah tidur dan makan bersama. Sejak anakku meninggal didalam api, segala-galanya seakan-akan telah larut dari duniaku. Yang aku ingat hanyalah tugu dan batu nisan kecil itu serta tulang-tulang yang hangus yang ada dida-lamnya.”

Yang tertua diantara kedua orang itupun kemudian berkata sambil menarik nafas dalam-dalam, “Kiai Banyu Banyu Bening. Kami mohon maaf, bahwa kami mengaku telah mengenal Kiai. Sebenarnyalah kami memang belum pernah mengenal. Yang kami ketahui adalah sekedar ancar-ancar. Ternyata Kiai sama sekali berbeda dengan ancar-ancar yang telah kami terima.

Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya, “Bagiku, apakah kalian pernah mengenal aku atau tidak, sama sekali tidak ada bedanya. Seandainya kita pernah berhubungan, maka aku tidak akan pernah ingat, siapakah kalian.”

“Kenapa Kiai cepat menjadi pikun?” bertanya yang termuda diantara kedua orang itu.

Ki Ajar Pangukan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak tahu. Tetapi sepeninggal anakku, rasa-rasanya masa laluku ikut hilang pula terkubur dibawah batu nisan kecil itu.”

“Kiai sangat menyesal atas kematian anak Kiai itu?”

Wajah Ki Ajar Pangukan menjadi tegang. Dengan lantang ia berkata, “Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau telah menyinggung perasaanku. Ingat, meskipun aku pikun, tetapi aku masih tetap menguasai ilmuku dengan baik. Selama tugu dan nisan itu ada disitu, maka ilmuku tidak akan pudar. Aku tinggal memerlukan beberapa hari lagi untuk mencapai puncak kejayaan ilmuku. Setelah itu, maka apapun yang terjadi, bahkan seandainya gempa mengguncang dan membuat tanah ini menganga sehingga tugu dan nisan itu tenggelam, maka ilmuku sudah tidak akan mungkin goyah lagi.”

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Ajar Pangukan itupun bertanya, “Nah, sekarang katakan, untuk apa kalian datang kemari?”

“Kiai” berkata yang tertua diantara keduanya, “Kami datang untuk menyampaikan pesan dari pemimpin kami.”

“Siapa? Apakah aku pernah mengenalnya dahulu?”

“Tentu, Kiai. Kiai pernah mengenalnya dahulu. Aku tidak tahu, apakah kiai masih dapat mengingatnya atau tidak.”

“Sudah aku katakan. Masa laluku sudah terkubur bersama tulang-tulang yang hangus dibawah nisan kecil itu. Semuanya gelap sama sekali. Tetapi katakan, barangkali aku dapat mengingatnya.”

“Kiai tentu ingat. Pemimpin kami adalah Kiai Narawangsa.”

“Narawangsa. Narawangsa. Aku pernah mendengar nama itu.”

“Bukan hanya pernah mendengar tetapi Kiai tentu akan teringat kepada orang itu.”

Ki Ajar Pangukan memandang Ki Warana sejenak, seakan-akan ingin menuntutnya, bahwa ia sudah menjerumuskannya kedalam kesulitan.

Namun Ki Warana lah yang kemudian menyahut, “Kiai. Mungkin Kiai telah melupakannya. Tetapi Kiai pernah berceritera kepadaku dahulu, bahwa orang yang bernama Kiai Narawangsa itu adalah orang yang pernah berhubungan dengan isteri Kiai. Perkelahian antara Kiai dan Kiai Narawangsa itulah, ini menurut ceritera Kiai yang pernah aku dengar, menyebabkan rumah Kiai terbakar. Kiai sempat menghindari api, sementara Kiai Narawangsa dan isteri Kiai melarikan diri. Tetapi bayi itu tertinggal didalam api.”

“O” Ki Ajar Pangukan menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Katanya, “Ya. Narawangsa. Orang gila itu.”

Ki Pandi lah yang harus menahan tertawa yang seakan-akan hendak meledak didalam dadanya. Untunglah bahwa ia mampu melarutkan diri kedalam permainan itu.

“Terkutuklah orang itu” desis Ki Ajar Pangukan, “meskipun aku sudah pikun, aku tidak dapat melupakan nama itu. Tetapi aku tidak yakin bahwa aku masih dapat mengenali wajahnya.”

“Kiai Narawangsa mudah sekali dikenal, Kiai. Tubuhnya seperti raksasa. Kiai ingat? Ia tidak pernah mengenakan ikat kepala sewajarnya. Ikat kepalanya lebih banyak disangkutkan di lehernya daripada dipakai di kepalanya. Di wajahnya terdapat cacat karena goresan pedang.”

“Aku ingat itu. Tetapi wajahnya tidak cacat pada waktu itu.”

“Kiai benar” jawab yang tertua diantara kedua orang itu, “tentu Kiai tidak pernah melihat wajahnya terluka, karena luka itu terjadi pada saat Kiai Narawangsa bertempur melawan Kiai Banyu Bening saat itu. Saat api menyala dan menelan rumah beserta bayi itu.”

“Kenapa aku tidak mengoyak lehernya pada waktu itu.” desis Ki Ajar Pangukan.

“Ternyata usia Kiai Narawangsa masih panjang.”

“Terkutuklah orang itu. Terkutuklah orang itu” berkata Ki Ajar Pangukan dengan lantang. Ki Pandi yang mendengarnya bergeser ke samping. Kemudian duduk dengan kepala menunduk sehingga dahinya hampir menyentuh tikar pandan tempatnya duduk.

Ki Pandi tidak ingin wajahnya dilihat oleh kedua orang tamu yang telah dikelabui oleh Ki Warangka itu..

Dengan lantang Ki Ajar Pangukan itupun kemudian bertanya, “Sekarang, apa yang ingin kalian katakan kepadaku. Nama itu telah membuat darahku mendidih. Sebelum aku berbuat sesuatu diluar kendali nalarku. Katakan apa yang harus kalian katakan.”

“Kiai” nampaknya kedua orang itu terpengaruh melihat sikap Ki Ajar Pangukan, “kami hanyalah sekedar utusan. Jika tidak berkenan di hati Kiai, janganlah menjadi murka kepada kami.”

“Katakan” geram Ki Ajar Pangukan.

“Kiai” desis yang tertua diantara mereka, “Kiai Narawangsa ingin minta agar Kiai memberinya kesempatan untuk merawat dan memakamkan kembali bayi itu dengan upacara khusus.”

“Gila” suara Ki Ajar Pangukan menggelegar, sehingga kedua orang itu mundur setapak, “kau menghina aku, he?”

“Bukan kami Kiai, Bukan kami.”

“Mulutmulah yang mengucapkannya.”

“Tetapi kami adalah sekedar utusan.”

“Katakan” suara Ki Ajar Pangukan menurun.

“Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari………..”

“Jangan sebut nama Nyai Banyu Bening itu. Kiai Banyu Bening tidak mau mendengar lagi nama isterinya.” potong Ki Warana.

“Terkutuklah semuanya, terkutuklah.” geram Ki Ajar Pangukan. Sebenarnya ia bingung mendengar nama Nyai Wiji Sari. Tetapi Ki Warana pun tangkas berpikir sehingga ia telah memberi tahukan kepada Ki Ajar Pangukan, siapakah Nyai Wiji Sari itu.

“Ampun, Kiai.” desis yang tertua.

“Katakan” desis Ki Ajar Pangukan, “tetapi jangan sebut nama itu. Aku telah mengutuk diriku sendiri. Jika aku melupakan masa laluku, kenapa nama itu tidak pernah dapat aku lupakan.”

“Baik, baik, Kiai.” sahut yang tertua itu, “sebenarnyalah mereka berdua ingin memakamkan kembali di halaman ini pula dan untuk selanjutnya ingin merawatnya.”

“He, kau sadar apa yang kau katakan?”

“Bukan aku, Kiai. Tetapi aku sekedar menyampaikan pesan Kiai Narawangsa.”

“Katakan, katakan” Ki Ajar Pangukan hampir berteriak.

“Keduanya ingin tinggal di padepokan ini untuk menunggui dan merawat makam bayi itu. Sementara itu mereka mohon Kiai Banyu Bening dan para cantrik yang ada disini untuk meninggalkan padepokan ini,”

Mata Ki Ajar Pangukan terbelalak. Dari sorot matanya memancar api kemerahan. Dengan suara lantang Ki Ajar Pangukan itu berkata, “pergi. Pergi. Jika kalian tidak segera pergi, aku pancung kau dibawah tugu dan batu nisan itu.”

“Bukan kehendak kami, Kiai.”

“Pergi, kau dengar” bentak Ki Ajar Pangukan. Lalu katanya kepada Ki Warana, “antar kedua orang ini keluar dari padepokan.”

Ki Waranapun segera bangkit dan berkata, “Marilah Ki Sanak. Cepatlah sedikit.”

Kedua orang itu pun kemudian bangkit pula sambil berdesis, “Kami mohon diri, Kiai.”

“Cepat pergi. Kalian telah menyakiti mataku, telingaku dan hatiku.”

“Cepat sedikit,” desis Ki Warana, “jika darahnya naik sampai ke kepala, hati-hatilah kalian tak akan pernah keluar dari padepokan ini.”

Kedua orang itu tiba-tiba saja kehilangan segala kegarangan dan keberanian mereka. Keduanya pun melangkah dengan cepat melintasi halaman diantar oleh Ki Warana.

Para cantrik yang berada diregol pun telah membuka selarak pintu regol itu dan membukanya.

Demikian keduanya keluar dari regol halaman, Ki Warangka pun berkata, “Itulah sosok orang yang kalian cari Ki Sanak. Kalian harus dapat menempatkan diri kalian, jika kalian menyampaikan jawaban Kiai Banyu Bening agar pemimpin kalian tidak terbakar hatinya.”

Ketika kedua orang itu merasa sudah berada diluar padepokan, maka keberanian mereka telah menyala kembali didalam dada mereka, sehingga yang muda diantara merekapun menjawab, “Kami tidak akan mengulas keterangan Kiai Banyu Bening, Ki Sanak. Kami justru akan membakar hati Kiai Narawangsa. Dengan demikian padepokan ini pun akan terbakar habis menjadi abu sebagaimana rumah Nyai Wiji Sari serta anaknya. Kau jangan mengira bahwa Nyai Wiji Sari tidak tersiksa oleh kematian anaknya itu.”

“Tetapi ia tidak menjadi gila seperti Kiai Banyu Bening. Jika kau sempat mendatangi padukuhan-padukuhan, maka di padukuhan-padukuhan itu telah dibangun sanggar-sanggar khusus untuk menyerahkan korban. Mula-mula hanya buah-buahan. Kemudian anak seekor binatang yang dipersembahkan hidup-hidup, dibakar diatas lantai yang khusus dibuat untuk itu. Pada saat terakhir, Kiai Banyu Bening telah memerintahkan, yang dipersembahkan adalah bayi-bayi yang masih hidup untuk dibakar. Kiai Banyu Bening akan mendapat kepuasan batin tertinggi jika ia mendengar jerit bayi yang terbakar itu. Dendamnya karena kematian bayinya telah menjadikannya gila.”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Jadi korban yang dituntut oleh Kiai Banyu Bening itu membakar bayi hidup-hidup.”

“Ya.”

Keduanya saling berpandangan sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “Semuanya akan kami katakan kepada Kiai Narawangsa. Tetapi kau harus mengatakannya kepada Kiai Banyu Bening, bahwa Kiai Narawangsa adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Demikian pula isterinya, Nyai Wiji Sari. Karena itu, jika keduanya datang kemari dan memaksakan kehendaknya, maka itu akan menjadi pertanda buruk bagi Kiai Banyu Bening.”

“Terserah kepadamu. Apakah kau akan berusaha mencegah pemimpinmu agar tidak datang kemari atau tidak. Jika kau tidak mencegahnya dengan cara apapun juga, maka sepanjang hidupmu, kau akan dibebani penyesalan, karena keduanya akan mati disini.”

Yang termuda diantara keduanya itu menyahut, “Jangan berusaha menakut-nakuti kami. Kami bukan pengecut.”

“Baiklah. Datanglah kemari. Bawa Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Kami akan segera menyiapkan batu nisan bagi mereka berdua. Mayat mereka akan dikubur disebelah-menyebelah tugu itu, karena didunia langgeng, mereka akan menjadi hamba dari bayi yang meninggal karena terbakar itu.”

“Impian gila.” geram yang muda.

Namun Ki Warana malah berkata, “Tetapi kematian yang paling buruk yang dapat terjadi atas Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari adalah, bahwa keduanya juga akan menjadi persembahan yang akan dibakar hidup-hidup.”

“Satu gagasan yang baik” geram yang tertua, “Kiai Narawangsa akan memperlakukan Kiai Banyu Bening seperti itu.”

Ki Warana tertawa. Katanya, “Pulanglah sebelum Kiai Banyu Bening memerintahkan para cantrik menangkapmu dan menyeretmu kembali ke pendapa. Kalian tentu melihat tonggak besi yang sudah menjadi hitam di sebelah pendapa itu. Kalian tentu dapat membayangkan gunanya.”

Keduanya pun kemudian meninggalkan padepokan itu. Disepanjang jalan mereka masih saja berbincang tentang orang-orang padepokan itu.

Namun mereka pun mengakui, betapa besarnya wibawa Kiai Banyu Bening, sehingga dihadapannya, keduanya seakan-akan telah dihadapkan pada sebuah pengadilan yang sedang mengadili mereka.

“Kiai Narawangsa akan membuat Kiai Banyu Bening itu menundukkan kepalanya” berkata yang tertua diantara keduanya.

Yang muda itu pun mengangguk-angguk sambil berkata, “aku tidak mengira, bahwa Kiai Banyu Bening adalah seorang yang luar biasa. Gambaranku tentang Kiai Banyu Bening sebagaimana sering aku dengar dari pembicaraan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sama sekali berbeda. Aku tidak membayangkan bahwa Kiai Banyu Bening itu mempunyai wibawa yang begitu tinggi.”

“Apa yang dikatakan oleh Kiai Narawangsa itu adalah Kiai Banyu Bening dimasa lampau. Demikian ia kehilangan anaknya, maka Kiai Banyu Bening nampaknya telah menghabiskan waktunya untuk memperdalam ilmunya, sehingga ia hampir lupa segala-galanya.”

Kawannya mengangguk-angguk. Bagaimana pun juga, diluar sadar, setiap kali mereka mengatakan bahwa Kiai Banyu Bening adalah seseorang yang mumpuni.

Dalam pada itu, ketika kedua orang itu melangkah pergi, maka Ki Warana pun segera kembali ke pendapa. Ia termangu-mangu sejenak, melihat Ki Pandi tertawa. Bahkan kemudian katanya, “Perutku terasa sakit karena aku harus menahan tertawa. Tetapi Ki Ajar Pangukan benar-benar seorang yang mampu mengelabuhi orang lain. Ki Ajar benar-benar mampu menjadi Kiai Banyu Bening.”

Ki Warana pun tertawa pula. Namun Ki Ajar itu pun berkata, “Ki Warana mengejutkan aku. Tiba-tiba saja sebelum kita berbicara lebih dahulu, aku ditunjuknya langsung menjadi Kiai Banyu Bening.”

“Aku sudah tidak mempunyai waktu lagi” berkata Ki Warana.

“Tetapi apakah keberatannya jika kita katakan berterus terang tentang padepokan ini.”

“Aku kira apapun alasannya, namun agaknya mereka akan tetap menuntut tanah ini, tanah yang diatasnya terdapat sebuah padepokan yang sudah berada di tangan kita.”

“Jika tanah dan padepokan ini bukan lagi milik Kiai Banyu Bening, apakah mereka juga akan menuntut? Sedangkan sebelumnya kita tidak saling mengenal dengan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari.” desis Ki Ajar Pangukan.

“Kita masih belum tahu benar, apakah yang sebenarnya mereka kehendaki. Apakah Nyai Wiji Sari dengan jujur ingin mendapatkan kembali anaknya yang telah lama meninggal atau alasan-alasan lainnya. Karena itu, selagi Ki Ajar, Ki Pandi dan yang lain ada disini, biarlah persoalannya diselesaikan dengan tuntas.”

Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Ia mengerti kecemasan yang mencengkam jantung Ki Warana yang merasa bahwa ilmunya masih belum memadai. Karena itu, maka Ki Warana memerlukan perlindungan dari beberapa orang yang berilmu tinggi.

Namun dalam pada itu, maka Ki Ajar Pangukan itu pun berkata, “Ki Warana, dengan pengakuan ini, maka kemungkinan terbesar, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari tentu akan datang ke padepokan ini. Karena itu, maka Ki Warana sebaiknya mempersiapkan orang-orang yang kini masih berada di padepokan ini. Kekuatan padepokan ini telah menyusut jauh dibandingkan pada saat Kiai Banyu Bening masih berada di padepokan ini.”

“Benar Ki Ajar. Tetapi yang tinggal sekarang adalah orang-orang yang lebih mapan.Mereka mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi atas diri mereka disaat Kiai Banyu Bening masih memimpin padepokan ini. Sedangkan sekarang mereka berada disini karena satu keyakinan yang lebih dewasa.”

Ki Ajar Pangukan itupun berkata, “Baiklah. Kita akan menunggu apa yang akan dilakukan oleh Kiai Narawangsa. Tetapi kita tidak boleh sekedar berpangku tangan.”

Demikianlah, maka Ki Ajar Pangukan pun telah memanggil beberapa orang tua yang ada di padepokan itu. Dengan singkat Ki Ajar telah menceriterakan apa yang telah dibicarakan dengan kedua orang yang mengaku utusan Kiai Narawangsa dan Nyai Wijisari.

“Seharusnya Ki Lemah Teles lah yang harus mengaku sebagai Kiai Banyu Bening” berkata Ki Ajar Pangukan.

“Kenapa aku?” bertanya Ki Lemah Teles.

“Bukankah kita sudah sepakat, bahwa Ki Lemah Teles akan berada di padepokan ini untuk seterusnya?”

Ki Lemah Teles mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia-pun berkata, “Tetapi biarlah kali ini Ki Ajar Pangukan yang akan berperan sebagai Kiai Banyu Bening.”

Ki Pandi pun tertawa sambil berkata, “Ki Ajar telah memainkan peranannya dengan baik sekali. Tetapi jika Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari yang datang kemari, maka mereka akan merasa bahwa mereka telah dikelabui oleh orang-orang yang sebelumnya tidak mereka kenal.”

Dengan demikian, maka orang-orang tua itu berpendapat, bahwa padepokan itu harus mempersiapkan diri menghadapi orang yang menyebut dirinya Kiai Narawangsa dan Nyai Wijisari, yang telah bertahun-tahun mencari orang yang bernama Kiai Banyu Bening itu.

Dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan pun berkata kepada Ki Warana, “Aku memerlukan pengenalan lebih jauh tentang pribadi Kiai Banyu Bening serta kehidupan yang mengelilinginya.”

“Sejauh aku ketahui, Ki Ajar” jawab Ki Warana.

“Tetapi darimana Ki Warana mengetahui kehidupan Kiai Banyu Bening yang tidak bening itu?” bertanya Ki Pandi.

“Kiai Banyu Bening memang sering berbicara tentang dirinya. Jika ia mulai dibayangi oleh kehidupan masa lampaunya, maka ia memerlukan seseorang yang mau mendengarkan ceriteranya. Bukan hanya aku yang pernah mendengarnya, tetapi beberapa orang yang lain pun pernah mendengarnya. Ceritera-ceritera itulah yang membuat aku semakin lama semakin ragu akan kepemimpinannya. Aku memang mendengar dan merasakan, bahwa apa yang dilakukannya itu tidak lebih dari ungkapan dendam yang mencengkam hatinya.”

“Baiklah” berkata Ki Ajar, “kita tidak boleh membuang waktu. Kita siapkan apa yang ada untuk mempertahankan tanah dan padepokan ini dari siapapun juga.”

Ki Warana pun kemudian telah menemui beberapa orang pemimpin kelompok di padepokannya. Mereka mendapat penjelasan tentang kemungkinan yang dapat terjadi atas padepokan itu.

“Kita belum sempat menyusun padepokan ini dan membuat tatanan baru yang lebih baik, kita sudah dihadapkan pada satu persoalan baru yang lebih baik, kita sudah dihadapkan pada satu persoalan baru. Tetapi kita harus tegar menghadapinya. Orang-orang tua yang berilmu tinggi itu masih tetap berada disini. Mereka bukan saja akan membimbing kita untuk mempertahankan padepokan ini, tetapi mereka pun akan dapat membimbing kita menempuh jalan kehidupan yang baru. Kita akan lebih mengenali diri kita dan mengenali sumber hidup kita.”

Para pemimpin kelompok orang-orang padepokan yang semula adalah pengikut Kiai Banyu Bening itu mengangguk-angguk. Mereka harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan mendatang.

Namun dalam pada itu, niat orang-orang tua yang berada di padepokan itu membongkar tugu dan menempatkan nisan kecil itu ke tempat yang lebih wajar, terpaksa.ditunda. Meskipun keberadaan tugu itu tidak lagi mempunyai arti sebagaimana – sebelumnya, tetapi mereka menunggu apa yang akan dilakukan oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari dengan anaknya yang telah meninggal itu.

Seperti yang dikehendaki oleh Ki Warana, maka orang-orang yang berada di padepokan itu pun telah mulai mempersiapkan diri. Mereka telah memperbaiki panggungan-panggungan yang telah rusak di belakang dinding padepokan. Mereka pun telah mulai berlatih pula dengan sebaik-baiknya.

Bahkan orang-orang tua yang berilmu tinggi, telah ikut terjun langsung didalamnya.

Namun orang-orang tua yang berilmu tinggi itu mempunyai cara tersendiri. Disamping memberikan latihan-latihan kepada semua orang yang ada di padepokan, mereka telah memilih beberapa orang untuk mendapat latihan-latihan khusus. Orang-orang tua yang berilmu tinggi itu masing-masing memilih ampat atau lima orang untuk ditempa menjadi orang-orang terbaik di padepokan itu. Dalam benturan kekuatan mereka akan menjadi kekuatan yang harus mampu menembus pertahanan lawan dan mengoyaknya.

Sementara itu, Manggada dan Laksana pun mempunyai kawan-kawan berlatih yang khusus pula. Kelebihan Manggada dan Laksana mampu mengangkat orang-orang yang mereka pilih ke tataran yang lebih tinggi. Kedua orang anak muda itu telah mempergunakan waktu sebaik-baiknya, karena mereka mengetahui bahwa waktu memang sangat sempit.

Meskipun demikian, Manggada dan Laksana sendiri tidak mengabaikan latihan-latihan untuk meningkatkan diri mereka sendiri. Dengan alat-alat yang ada di dalam sanggar di padepokan itu, keduanya dengan sungguh-sungguh telah menempa diri mereka sendiri pula.

Ternyata usaha itu tidak sia-sia. Ampat atau lima orang yang ditangani langsung oleh orang-orang berilmu tinggi itu telah meningkat lebih cepat. Ki Warana sendiri telah bekerja dengan tanpa mengenal lelah untuk menyadap ilmu kanuragan. Ia merasa masih jauh ketinggalan sehingga untuk mencapai tataran yang lebih baik, maka ia harus berbuat sejauh dapat dilakukannya.

Sementara itu, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari selalu menunggu laporan dari orang-orang yang diperintahkannya mencari dan menemui Kiai Banyu Bening.

Dua orang yang datang ke padepokan yang semula memang dihuni oleh Kiai Banyu Bening itu telah meninggalkan lereng Gunung Lawu bersama sekelompok kawan-kawannya. Mereka akan memberikan laporan tentang perjalanan mereka untuk mencari dan menemui Kiai Banyu Bening.

Orang itu harus menempuh perjalanan yang panjang untuk sampai ke sebuah padepokan yang dipimpin oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari.

Sekelompok orang itu menyusuri Kali Grompol untuk beberapa lama. Kemudian mereka berbelok meninggalkan Kali Grompol menyilang sampai kesebuah tempuran. Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri Kali Regunung yang panjang.

Perjalanan mereka memang bukan perjalanan yang ringan. Mereka sekali-sekali harus menyusup di lebatnya hutan belukar, sekali-sekali mereka harus menembus padang perdu yang panjang. Mereka harus melewati pegunungan gundul dan dibakar teriknya sinar matahari.

Sekelompok pengikut Kiai Narawangsa itu tidak dapat mencapai padepokan mereka dalam sehari. Mereka harus berhenti dan bermalam diperjalanan.

Untuk mendapatkan makan, mereka harus berburu di hutan yang lebat sehingga dengan demikian maka perjalanan mereka menjadi semakin terhambat.

Sekelompok pengikut Kiai Narawangsa itu maju dengan sangat lamban. Karena itu, untuk mencapai padepokannya, mereka memerlukan waktu yang panjang.

Bahkan ternyata mereka masih belum mencapai Kiai Narawangsa yang terletak tidak terlalu jauh dari Kademangan Susukan ditepi Kali Gandu, ketika malam turun di hari kedua. Meskipun mereka tahu, bahwa padepokan mereka sudah tidak terlalu jauh lagi, tetapi mereka tidak melanjutkan perjalanan. Jalan yang mereka, lalui adalah jalan pintas yang rumpil, yang kadang-kadang melewati tebing yang curam, naik lereng bukit-bukit dan menuruni lembah yang ditumbuhi belukar.

Karena itu mereka lebih senang memilih untuk bermalam di padang perdu yang tidak terlalu luas.

Bergantian orang-orang itu berjaga-jaga. Mungkin binatang buas dari hutan yang tidak terlalu jauh dari padang perdu itu sedang kelaparan karena mereka tidak berhasil menangkap kijang.

Menjelang matahari terbit, mereka telah melanjutkan perjalanan mereka menuju ke padepokan mereka yang berada di tepi Kali Gandu.

Sekelompok pengikut Kiai Narawangsa itu mendekati regol padepokan mereka sebelum matahari mencapai puncak langit. Orang tertua diantara mereka menjadi berdebar-debar. Hampir diluar sadarnya ia bertanya kepada kawan-kawannya, “Bukankah perjalanan kita ini dapat dikatakan berhasil?”

“Ya. Kita sudah berhasil melaksanakan perintah Kiai Narawangsa dengan baik. Kita sudah menemukan padepokan Kiai Banyu Bening. Kita telah menemukan pula makam anak Nyai Wiji Sari. Bukankah menemukan makam itu termasuk salah satu tugas kita yang penting?”

“Untunglah bahwa makam kecil itu berada didalam padepokan, sehingga kita tidak harus mencarinya lagi. Bahkan seandainya makam itu tidak berada di padepokan, maka Kiai Banyu Bening tentu tidak akan bersedia memberitahukannya.

“Karena itu, kita akan memasuki regol halaman padepokan kita dengan dada tengadah. Kita akan dapat membanggakan diri, bahwa akhirnya kitalah yang berhasil menemukan apa yang dicari Kiai Narawangsa untuk waktu yang lama itu setelah beberapa kali kelompok-kelompok yang lain mengalami kegagalan.”

Namun seorang diantara mereka menjawab, “Meskipun gagal, tetapi kelompok-kelompok yang lain telah mengumpulkan, banyak keterangan sehingga kita dapat langsung mencari padepokan itu di kaki Gunung Lawu.”

Orang tertua yang memimpin sekelompok orang itu memandanginya dengan tajamnya, Namun kemudian iapun berkata, “Kau pernah ikut-ikut dalam kelompok-kelompok sebelum kita pergi ke Gunung Lawu.”

“Ya.” jawab orang itu.

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kami tidak akan mengingkari petunjuk-petunjuk itu.”

Mereka pun kemudian terdiam. Langkah mereka semakin mendekati regol padepokan.

Beberapa saat kemudian maka sekelompok pengikut Kiai Narawangsa itu telah berdiri di depan regol. Orang yang tertua diantara mereka, yang memimpin sekelompok orang itu, telah mengetuk pintu regol padepokan.

Sejenak kemudian, maka sebuah lubang persegi ampat di pintu padepokan itu terbuka. Nampak sebuah wajah di lubang segi ampat itu memandang ke luar.

”Buka pintu” berkata orang tertua yang memimpin kelompok itu.

“He, kau kakang” terdengar orang yang menjengukkan wajahnya itu menyahut.

“Buka pintunya.”

“Baik, baik kakang” jawab orang yang berada didalam. Demikianlah, maka sejenak kemudian pintu regol itupun telah terbuka. Dua orang cantrik berdiri di belakang pintu itu. Dengan wajah yang cerah mereka telah mempersilahkan sekelompok pengikut Kiai Narawangsa itu masuk.

“Kiai ada dirumah?” bertanya orang tertua itu.

“Kiai dan Nyai baru saja pergi, kakang. Tetapi tentu tidak lama.”

“Kemana?”

“Aku tidak tahu. Tetapi mereka akan segera kembali. Mereka hanya membawa dua orang pengiring.”

Orang tertua yang memimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Sementara penjaga regol itu berkata, “Sambil menunggu, kakang sempat beristirahat barang sejenak. Mungkin kakang akan mandi dan makan dahulu.”

Orang tertua yang memimpin sekelompok orang untuk mencari padepokan Kiai Banyu Bening itu mengangguk-angguk. Katanya kepada kawan-kawannya yang menyertainya, “Marilah. Kita akan sempat beristirahat. Tetapi kita tidak wajib menceriterakan perjalanan kita sebelum kita memberikan laporan kepada Kiai Narawangsa.”

Kawan-kawannya pun mengerti maksud pemimpinnya itu. Karena itu, maka mereka pun harus tetap menyimpan ceritera perjalanan mereka.

Kedatangan sekelompok pengikut Kiai Narawangsa itu disambut hangat oleh kawan-kawannya. Namun tidak seorang pun diantara mereka yang mau menceriterakan pengalaman perjalanan mereka.

“Kami belum memberikan laporan kepada Kiai Narawangsa” berkata salah seorang diantara mereka.

“Apa salahnya? Jika kau ceriterakan kepada kami, bukankah laporanmu masih utuh?” desak kawannya.

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Kiai Narawangsa akan merasa dilampaui jika ia tahu, bahwa aku telah berceritera lebih dahulu tentang perjalanan kami.”

Kawannya tidak memaksa. Jika Kiai Narawangsa benar-benar merasa dilampaui sehingga ia menjadi marah, maka persoalannya akan menjadi gawat.

Dalam pada itu, sekelompok orang yang baru pulang dari kaki Gunung Lawu itu sempat mandi, makan dan sedikit beristirahat. Ketika matahari menjadi semakin rendah di sisi Barat, maka Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari dan kedua pengiringnya telah kembali ke padepokan.

Ketika mereka mendapat laporan tentang sekelompok orang-orangnya yang telah kembali, maka Nyai Wiji Sari dengan tergesa-gesa memerintahkan untuk memanggilnya.

Beberapa saat kemudian, maka Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari duduk di pendapa bangunan utama padepokannya dihadap oleh orang-orang yang baru pulang dari Kaki Gunung Lawu itu.

“Apakah kalian dapat menemukan padepokan Lembu Wirid yang kemudian bergelar Kiai Banyu Bening itu?”

“Ya, Kiai” jawab orang tertua yang memimpin kelompok itu.

“Kau bertemu dengan Kiai Banyu Bening itu sendiri?” bertanya Nyai Wiji Sari:

“Ya, Nyai.” jawab pemimpin kelompok itu, “dua orang diantara kami telah memasuki padepokan itu dan menemui Kiai Banyu Bening.”

“Kau bertanya tentang makam anakku kepada Kiai Banyu Bening itu?” Nyai Wiji Sari agaknya segera ingin mengetahuinya.

“Ya, Nyai.” jawab orang tertua itu.

“Apa kata Kiai Banyu Bening?” desak Nyai Wiji Sari. Orang tertua itupun segera menceriterakan kunjungannya di padepokan itu. Diceriterakannya pula, bahwa didepan pendapa bangunan utama padepokan itu terdapat sebuah tugu yang diatasnya terdapat sebuah nisan kecil.

Makam anak itu mendapat tempat yang sangat baik didalam padepokan Kiai Banyu Bening.

“Tetapi itu tidak lebih dari satu kepura-puraan” geram Nyai Wiji Sari.

Orang-orang yang telah pergi ke kaki Gunung Lawu itu termangu-mangu. Mereka melihat bagaimana Kiai Banyu Bening menghormati anaknya yang telah meninggal itu.

“Kalian tidak usah heran” berkata Nyai Wiji Sari, “Lembu Wirid memang seorang pembohong yang tidak ada duanya. Tidak seorang pun dapat membedakan, yang mana yang sebenarnya dan yang mana yang sekedar pura-pura atau sekedar tipuan untuk mengelabui orang lain.”

Orang tertua yang memimpin kelompok yang pergi ke kaki Gunung Lawu ifu menarik nafas dalam-dalam. Didalam hatinya ia berkata, “Itulah sebabnya, bahwa tingkah laku Kiai Banyu Bening itu nampak agak aneh. Agaknya ia hanya sekedar berpura-pura melupakan masa lalunya.”

“Jadi apa yang akan kita lakukan?” bertanya Kiai Narawangsa.”

“Kita datang untuk menemuinya. Aku akan memindahkan makam anakku itu. Aku akan melepaskan anakku dari cengkeraman orang yang tidak tahu diri itu.”

“Kematian anakmu itu sudah berlangsung lama sekali.”

“Akhir-akhir ini aku selalu diganggu oleh mimpi-mimpi buruk. Rasa-rasanya anakku itu menangis memanggilku. Ia merasa kesepian dan sendiri.

“Apakah kau menganggap banwa mimpimu itu mempunyai arti tertentu?”

“Lembu Wirid tentu sudah tidak menghiraukannya lagi.

“Bukan mimpi itu yang memberikan isyarat kepadamu. Tetapi karena kau selalu memikirkannya, maka kau mulai dibayangi oleh mimpi-mimpi itu.”

“Mungkin sekali. Tetapi aku ingin mengambilnya dari tangan Kiai Banyu Bening.”

“Nyai” berkata orang tertua yang pergi ke kaki Gunung lawu itu, “mungkin aku dapat menceriterakan sesuai dengan keterangan salah seorang murid Kiai Banyu Bening, bahwa Kiai Banyu Bening telah melakukan satu perbuatan yang sangat gila.

“Apa yang telah dilakukan?” bertanya Nyai Wiji Sari.

Pemimpin kelompok itu pun kemudian telah menceriterakan apa yang telah didengarnya dari Ki Warana. Rencana Kiai Banyu Bening untuk menyerahkan korban-korban bayi yang harus dibakar hidup-hidup.

“Aku percaya bahwa gagasan seperti itu muncul di kepala Lembu Wirid.” sahut Nyai Wiji Sari, “tetapi itu bukan pertanda bahwa Lembu Wirid mencintai anaknya. Ia sekedar mencari kepuasan justru karena ia mendapat kepuasan ketika ia mendengar anaknya menangis melengking-lengking dipanggang panasnya api.”

Orang tertua itu mengerutkan dahinya. Namun Nyai Wiji-Sari itu berkata, “Sudahlah. Aku tidak mau mendengar lagi ceritera ngeri itu. Yang penting aku akan pergi ke padepokan Banyu Bening untuk mengambil anakku.”

“Kenapa kita harus mengambil anakmu dari padepokan itu? Bukankah masih ada cara yang lebih baik?” berkata Kiai Narawangsa.

“Cara yang bagaimana?” berkata Nyai Wiji Sari.

“Kita tidak usah membawa anakmu, pergi. Tetapi seperti rencana kita semula, kita akan tinggal di kaki Gunung Lawu. Kita ambil padepokan itu dari tangan Banyu Bening.”

“Lalu, bagaimana dengan Banyu Bening itu sendiri?”

“Kita akan membunuhnya atau mengusirnya. Bukankah begitu?”

Nyai Wiji Sari termangu-mangu sejenak. Ia nampak menjadi ragu-ragu. Sementara Kiai Narawangsa berkata, “Kau masih merasa sayang, kehilangan Banyu Bening.”

Nyai Wiji Saripun berpaling. Nampak kerut yang dalam di dahinya. Dengan nada tinggi ia berkata, “Kenapa kau bertanya begitu?”

“Jadi kenapa kau ragu-ragu membunuhnya?” justru Kiai Narawangsa lah yang bertanya.

“Tidak. Aku tidak ragu-ragu.” desisnya.

Kiai Narawangsa itulah yang kemudian bertanya kepada pemimpin kelompok itu, “Menurut pendapatmu manakah yang lebih baik. Padukuhan Banyu Bening atau padukuhan kita disini?”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Katanya, “Padukuhan kita ini adalah padukuhan yang paling menyenangkan. Kita sudah lama tinggal disini.”

“Jawab yang sebenarnya” Kiai Narawangsa itupun membentak, “manakah yang lebih baik? Kita akan memilih, justru karena anak Nyai Wiji Sari itu berada disana.”

“Jika aku boleh mengatakan yang sebenarnya, Kiai,” suara pemimpin kelompok itu nampak ragu, “padepokan Kiai Banyu Bening nampaknya lebih besar dari padepokan kita disini. Nampaknya padepokan itu berada diatas tanah yang subur. Sawah yang berada di seputar padepokan itu juga nampak subur. Aku kira sawah itu adalah sawah garapan para cantrik dari padepokan Kiai Banyu Bening. Hasilnya tentu cukup memadai. Tidak terlalu jauh dari padepokan itu masih terbentang hutan kaki pegunungan yang lebat. Padang perdu yang akan dapat menjadi cadangan masa depan. Bahkan padang perdu yang berbatu padas itupun selalu basah, karena ada seribu mata air yang dapat disalurkan dan ditampung menjadi parit-parit yang dapat mengaliri tanah yang luas.”

“Kau sempat meneliti keadaan di sekitar padepokan itu?” bertanya Kiai Narawangsa.

“Ketika aku berdua memasuki padepokan, maka kawan-kawan yang lain menunggu di padang yang sempat mendapat perhatian mereka.”

Kiai Narawangsa mengangguk-angguk. Katanya kepada Nyai Wiji Sari, “Nah, bukankah menarik untuk berada di padepokan itu? Disini kita tidak dapat berkembang. Meskipun kita tinggal di tepi sungai, namun tanahnya terasa semakin sempit. Kita tidak dapat mendesak orang padukuhan yang memang sudah berdiri dijarak yang jauh. Kita juga tidak dapat menebas hutan menurut keperluan. Kita memang dapat menakut-nakuti orang-orang Susukan. Tetapi dengan demikian, maka kita menjadi orang yang hidup terpencil. Meskipun kita tidak memerlukan mereka, namun ada baiknya kita dapat berhubungan dengan orang-orang padukuhan sekitar kita. Nyai Wiji Sari pun mengangguk-angguk pula.

“Nah, kita akan datang dan menyingkirkan Kiai Banyu Bening. Kita akan berada di satu daerah yang baru dengan harapan-harapan baru.”

“Tetapi kita memerlukan persiapan yang baik, Kiai” berkata pemimpin kelompok, “meskipun nampaknya tidak terlalu banyak, tetapi aku melihat kesiagaan yang tinggi dari para cantrik di padepokan Kiai Banyu Bening itu.”

“Apakah kau kira selama ini kita tidak menempa diri? He, bagaimana dengan kau sendiri? Apakah kau dibayangi oleh ketakutan untuk mengambil padepokan itu?”

“Tidak, Kiai. Bahkan aku telah mengatakannya kepada Kiai Banyu Bening, bahwa Kiai dan Nyai akan datang untuk merawat dan memakamkan kembali anak itu di padepokan itu pula dan mempersilahkan Kiai Banyu Bening untuk pergi.”

“Kita akan membunuhnya” geram Kiai Narawangsa.

“Aku tidak dapat mengatakannya seperti itu pada waktu aku menghadap Kiai Banyu Bening.”

“Aku mengerti” Kiai Narawangsa mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita akan membuat persiapan sebaik-baiknya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita akan pergi ke lereng Gunung Lawu.”

“Kami menempuh perjalanan kembari dari kaki Gunung Lawu dalam dua hari lebih sedikit. Kami bermalam dua malam diperjalanan.”

“Apakah perjalanan itu cukup berat?”

“Ya, Kiai. Perjalanan yang berat. Apalagi jika kita berangkat dengan seluruh isi padepokan ini.”

“Kita tidak akan berangkat bersama-sama. Kita akan mengirimkan beberapa orang lebih dahulu untuk membuat landasan tidak terlalu jauh dari padepokan itu. Mungkin di pinggir hutan yang dapat memberikan dukungan persediaan makan bagi kita. Tentu ada diantara kita yang memiliki kemampuan berburu. Padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu tentu juga akan dapat menjadi sumber bahan makanan bagi kita.”

“Dengan demikian, hubungan yang buruk akan terulang kembali di tempat yang baru itu.” potong Nyai Wiji Sari.

“Kita akan dapat menyebut nama Kiai Banyu Bening.” Nyai Wiji Sari mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia pun berkata, “persiapan kita harus meyakinkan. Tetapi yang penting bagiku, aku akan mengambil dan merawat anakku yang selalu hadir didalam mimpi-mimpiku.”

Kiai Narawangsa mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti.”

Beberapa saat kemudian, maka sekelompok orang yang baru datang dari kaki Gunung Lawu itu pun diperkenankan untuk beristirahat. Namun Kiai Narawangsa itupun berkata, “Mulai besok kita akan berkemas.”

“Aku tidak ingin persiapan kita berkepanjangan” berkata Nyai Wiji Sari, “aku rindukan anak itu.”

Perintah untuk mempersiapkan diri itupun kemudian telah sampai ke setiap telinga. Seorang yang rambutnya sudah ubanan berbisik kepada kawannya, “Langkah yang kurang bijaksana. Tempat ini merupakan tempat yang paling baik. Jika kita berada di daerah baru, apakah kita dapat dengan segera mendapatkan lahan yang subur.”

“Kawan-kawan kita sudah sempat melihat-lihat. Tanah di sekitar padepokan di kaki gunung Lawu itu sangat subur. Banyak cadangan tanah yang masih terbuka .”

“Kau memang dungu” geram orang yang rambutnya sudah ubanan itu, “bukan lahan yang akan kita tanami padi dan jagung.”

“Maksud paman?”

“Lahan yang dapat menyediakan uang, emas dan permata. He, bukankah disamping bercocok tanam kita juga selalu menuai benda-benda berharga itu? Kita tinggal mengambilnya dan membawanya ke padepokan.”

“O” orang itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya lagi, “Bukankah dimana-mana ada orang kaya?”

“Sudah, sudah” potong orang yang rambutnya ubanan, “kau memang dungu.”

Orang yang berambut ubanan itupun kemudian telah bangkit dan melangkah pergi.

Sejak hari berikutnya, maka Kiai Narawangsa telah memerintahkan orang-orangnya untuk berlatih. Disela-sela kerja mereka disawah dan pategalan, mereka telah menyelenggarakan latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuan mereka lebih dari biasanya.

Disamping latihan-latihan yang meningkat, maka Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari juga meningkatkan kegiatan mereka di malam hari. Sebelum mereka meninggalkan padepokan mereka, maka Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari berniat untuk mengurus benda-benda berharga yang ada di daerah jangkauan mereka.

Hampir setiap malam, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari telah keluar dari padepokan mereka. Sekali-sekali mereka berpacu di bulak-bulak panjang di atas punggung kuda bersama ampat atau lima orang pengikutnya. Tetapi pada kesempatan, lain, mereka berjalan menyusuri pematang dan bahkan padang-padang perdu untuk mengumpulkan benda-benda berharga.

Sementara itu di siang hari beberapa orang pengikutnya berkeliaran untuk mencari sasaran serta melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada sasaran itu.

Dengan demikian, maka pada lingkungan yang terhitung luas di sekitar padepokan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari itu, keadaannya menjadi semakin memburuk. Seakan-akan tidak ada kekuatan yang dapat membendung perampokan-perampokan yang semakin sering terjadi. Padukuhan-padukuhan besar dan kecil selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan. Gardu-gardu peronda justru menjadi kosong, karena para peronda berapapun jumlahnya tidak akan mampu menghentikan perampokan-perampokan itu.

Ketika pada suatu saat, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari menemui sebuah gardu yang ditunggui oleh lima orang peronda. maka nasib kelima orang peronda itu menjadi sangat buruk. Bahkan mereka masih juga sempat mengancam, jika masih ada yang meronda di malam-malam mendatang, maka mereka akan dihabisi.

Dengan demikian, maka ketakutan pun semakin tersebar di daerah yang luas di sekitar padepokan itu. Tetapi tidak ada yang mampu mengatasinya.

Disamping kegiatan yang meningkat itu, maka latihan-latihan pun berlangsung semakin meningkat. Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari telah menjadi semakin mantap. Daerah perburuan benda-benda berharga di lingkungan yang terasa menjadi semakin tua itu, telah menjadi semakin kering pula. Sehingga karena itu, maka mereka mengharapkan daerah baru yang masih subur.

Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari juga memperhitungkan kemungkinan, bahwa daerah di sekitar kaki Gunung Lawu itu juga sudah dikuras habis oleh Kiai Banyu Bening. Namun jika mereka dapat menduduki padepokan Kiai Banyu Bening, maka benda-benda yang tersimpan di padepokan itu akan jatuh ketangan mereka pula.

Namun Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari ternyata cukup berhati-hati. Mereka telah mengirimkan beberapa orang untuk mengamati padepokan itu dalam beberapa hari.

“Kalian harus mengetahui, seberapa kekuatan yang tersimpan di padepokan itu, sehingga kedatangan kita tidak sekedar menyurukkan kepala kita kedalam api.”

Dengan demikian, maka lima orang telah diperintahkan untuk berangkat menuju ke kaki Gunung Lawu. Dua diantara mereka adalah orang-orang yang pernah pergi ke padepokan Kiai Banyu Bening, sementara yang lain adalah urang-orang baru. Diharapkan bahwa orang-orang baru itu akan dapat memberikan pertimbangan yang lebih lengkap setelah mereka melihat padepokan Kiai Banyu Bening dan lingkungan disekitarnya.

Kelima orang itu menempuh perjalanan yang jauh. Tetapi perjalanan mereka tidak banyak dibayangi bahaya, karena mereka tidak mempunyai tugas lain kecuali melihat-lihat padepokan di kaki Gunung Lawu itu.

Dalam pada itu, orang-orang yang berada di padepokan di kaki Gunung Lawu itu masih saja menempa diri. Mereka memanfaatkan waktu degan sebaik-baiknya. Mereka yang tidak pergi ke sawah, telah masuk kedalam sanggar. Mungkin sanggar tertutup, mungkin sanggar terbuka. Orang-orang yang umurnya sudah menjelang senja itu dengan tekun membimbing mereka pula.

“Apa yang dapat kita lakukan harus kita lakukan pada masa-masa senja ini” berkata Ki Ajar Pangukan.

Ki Lemah Teles tertawa. Katanya, “Meskipun menjelang senja, kita tetap matahari.”

“Ya” Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk., “Sinar matahari senja masih dapat membakar langit.”

Ki Pandi tertawa pula. Katanya, “Jangan takut kehilangan panas jika api kalian telah menyalakan sebukit karang sehingga membara.”

“Tidak cukup” teriak Ki Lemah Teles, “panas cahaya matahari senjamu harus membuat bulan, bintang dan semua langit membara sampai saatnya terbit matahari baru.”

Ki Jagaprana tertawa berkepanjangan. Katanya, “Apakah matahari-matahari kini pandai bermimpi.”

“Bukan mimpi” teriak Ki Lemah Teles, “apimu lah yang akan segera padam didalam mimpi burukmu.”

“Kau akan menantang berperang tanding?” bertanya Ki Pandi.

“Bongkok edan” geram Ki Lemah Teles. Mereka pun tertawa. Sementara Ki Lemah Teles melangkah meninggalkan mereka.

Tetapi langkahnya terhenti ketika Ki Pandi berkata, “He, kau akan kemana? Berilah perintah-perintah. Kau sekarang memimpin padepokan ini bersama Ki Warana.”

“Perintah apa yang dapat aku berikan kepada matahari yang mulai redup sebelum senja?”

Ki Lemah Teles tidak menghiraukan orang-orang tua itu tertawa berkepanjangan.

Ki Warana menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin dapat berbuat sebagaimana orang-orang tua itu. Sempat tertawa dan memandang kehidupan tanpa dibebani oleh berbagai macam persoalan yang menekan. Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa ia harus bekerja keras untuk menyusun kembali tatanan kerja dan hubungan di padepokan itu.

Dari hari ke hari, kesibukan di padepokan itu menjadi semakin meningkat. Beberapa orang anak muda dari padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu justru menyatakan diri untuk ikut menimba ilmu di padepokan itu. Mereka dan orang-orang tua mereka kemudian mengetahui, bahwa telah terjadi perubahan yang mendasar di padepokan itu. Ki Warana telah menyatakan, bahwa sanggar-sanggar yang dapat di padukuhan-padukuhan tidak mempunyai arti lagi.

“Jika sanggar itu ingin tetap ada di padukuhan, maka gunanya sudah berbeda sama sekali.”

Perubahan-perubahan yang meyakinkan itulah, yang membuat orang-orang padukuhan mempercayakan beberapa orang anak muda mereka menyatakan diri untuk tinggal di padepokan.

Mereka bukan saja ingin mendapatkan tuntunan dalam olah kanuragan. Tetapi di padepokan mereka juga ingin menyadap pengetahuan tentang bercocok tanam, berternak dan mengenali musim. Mereka juga ingin dapat membaca huruf-huruf serta menangkap maksudnya.

Tetapi Ki Warana telah memberitahukan kepada mereka dan orang tua mereka, bahwa, padepokan itu masih berada dalam keadaan bahaya.

“Aku tidak ingin mereka terbakar dalam api permusuhan begitu mereka memasuki padepokan kami,” berkata Ki Warana kepada anak-anak muda itu serta orang tua mereka.

Beberapa orang memang menjadi ragu-ragu. Tetapi beberapa orang yang lain berkata, “Kami siap menjalani tugas apapun juga.”

Ki Warana justru menjadi terharu. Ia merasakan sambutan yang hangat dari padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu, setelah berhasil merombak alasnya sampai ke dasar.

Ketika hal itu dibicarakannya dengan Ki Lemah Teles, maka Ki Lemah Teles pada dasarnya sejalan dengan pikiran Ki Warana. Sebaiknya anak-anak muda itu tidak memasuki padepokan justru pada saat yang gawat.

“Mereka belum mempunyai bekal apa-apa” berkata Ki Lemah Teles.

Tetapi ternyata beberapa orang anak muda justru bersedia mengalami akibat apapun. Terutama dari padukuhan terdekat yang telah menjadi landasan perlawanan Ki Warana terhadap Panembahan Lebdagati dan Lembu Palang.

“Kami sudah mempunyai pengalaman” berkata beberapa orang anak muda itu.

Ki Warana memang tidak dapat menolak mereka. Jika Ki Warana tidak mau menerima mereka, maka akan dapat terjadi salah paham, seakan-akan setelah Ki Warana merebut kembali padepokannya, maka ia telah menolak kehadiran anak-anak muda itu di padepokannya.

“Apa boleh buat” berkata Ki Lemah Teles., “Mereka memang sudah mempunyai sedikit pengalaman.”

“Tetapi dengan demikian, kita tidak akan dapat menolak kehadiran anak-anak muda dari padukuhan yang lain.”

Ki Lemah Teles menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Anak-anak yang baru sama sekali itu justru akan dapat menjadi beban.”

”Tetapi mereka akan menganggap kita menjauhi sebuah padukuhan tetapi mendekati padukuhan yang lain.”

“Ki Warana” berkata Ki Lemah Teles, “beri mereka penjelasan sekali lagi, bahwa padepokan ini masih dibayangi oleh pertentangan dan perselisihan. Sehingga dengan demikian kita dapat membagi tanggung-jawab.”

Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, “Baik, Ki Lemah Teles. Aku akan menjelaskan kepada anak-anak muda itu serta orang tuanya, bahwa pertentangan dan perselisihan itu akan dapat membuahkan kematian.”

Dengan penjelasan itu, memang ada beberapa orang anak muda yang mengurungkan niatnya, tetapi ada pula diantara mereka yang dengan tekad bulat bergabung dengan para cantrik dari padepokan yang telah memperbaharui pijakannya itu.

“Kami akan membuka kesempatan seluas-luasnya setelah keadaan benar-benar menjadi tenang” berkata Ki Warana.

Namun mereka yang tidak menunda keinginannya untuk bergabung dengan para cantrik di padepokan itu, Ki Warana telah menaruh perhatian lebih besar daripada para cantrik yang lain.

“Kami serahkan mereka kepada kalian berdua ngger” berkata Ki Warana kepada Manggada dan Laksana.

“Tetapi apa yang dapat kami berikan kepada mereka?” bertanya Manggada, “pengetahuan dan ilmuku masih terlalu dangkal.”

“Tidak. Ilmu dan pengetahuan kalian jauh lebih baik dari ilmu dan pengetahuanku. Karena itu, aku serahkan mereka kepada angger berdua untuk dapat meletakkan dasar-dasar secara umum. Pada perkembangannya nanti, biarlah Ki Lemah Teles yang mengatur mereka.”

Manggada dan Laksana tidak dapat menolak. Ketika hal itu dikatakan kepada Ki Pandi, ternyata Ki Pandi sependapat. Katanya, “Kalian tentu dapat melakukannya.”

Tetapi Ki Pandi menasehatkan, agar semua latihan dilakukan didalam padepokan.

“Mungkin para pengikut Kiai Narawangsa selalu mengamati padepokan ini. Karena itu, maka mereka jangan melihat persiapan-persiapan yang dilakukan di padepokan ini.”

Sesuai dengan tugas yang diserahkan kepada Manggada dan Laksana, maka kedua anak muda itu pun segera mulai melakukannya. Anak-anak muda yang baru memasuki padepokan itu mendapat kesempatan terbanyak untuk melakukan latihan-latihan. Mereka tidak segera diserahi tugas untuk ikut memelihara sawah dan pategalan. Yang penting bagi mereka adalah menempa diri dalam olah kanuragan. Apalagi keadaan padepokan yang masih selalu dibayangi oleh perselisihan yang berkepanjangan

Setiap hari, Manggada dan Laksana memasuki sanggar terbuka bergantian. Keduanya telah membagi anak-anak muda yang baru memasuki padepokan itu menjadi dua kelompok yang besar. Kemudian kelompok-kelompok itu dibagi lagi menjadi kelompok-kelompok kecil.

Setiap hari, di dini hari, anak-anak muda itu harus sudah bangun. Setelah berbenah diri. mereka segera memasuki latihan-latihan pagi. Mereka memanasi tubuh mereka dengan gerakan-gerakan yang khusus. Kemudian berlari-lari memutari halaman dan kebun padepokan. Jika kelompok yang dipimpin oleh Manggada berlatih disanggar terbuka, maka Laksana melakukannya di halaman. Demikian sebaliknya.

Setelah sepekan mereka melakukan latihan-latihan gerak dasar, maka Manggada dan Laksana mulai mengajari mereka cara memegang berbagai jenis senjata. Mula-mula anak-anak muda itu berlatih memegang tombak dan melakukan gerak-gerak dasar. Kemudian mereka mulai berlatih memegang pedang dan perisai.

Untuk memburu waktu yang sempit, maka Manggada dan Laksana menekankan kemampuan anak-anak muda yang menjadi penghuni baru dari padepokan itu bermain dengan tombak pendek dan pedang dengan perisainya.

“Kalian tidak perlu menjelajahi berbagai macam senjata. Yang penting dalam waktu yang pendek ini kalian mampu mempergunakan tombak pendek dan pedang dengan perisainya,” berkata Manggada dan Laksana kepada anak-anak muda itu.

Namun anak-anak muda itu juga diajarinya mempergunakan tombak pendek dan pedang untuk melawan berbagai macam senjata. Mereka berlatih melawan orang yang bersenjata kapak. Berlatih melawan orang yang mempergunakan trisula, canggah, bindi atau cambuk.

Latihan-latihan yang dilakukan oleh para penghuni padepokan itu memang tidak dapat dilihat dari luar. Baik anak-anak muda yang baru memasuki padepokan itu, maupun mereka yang sudah berada di padepokan itu sejak padepokan itu dipimpin oleh Kiai Banyu Bening.

Jika ada empat atau lima orang penghuni padepokan itu yang pergi keluar, mereka tentu membawa cangkul atau bajak atau garu dengan sepasang kerbau untuk dipekerjakan di sawah. atau pategalan di seputar padepokan itu.

Dalam pada itu, ternyata Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari juga tidak segera mendatangi padepokan yang dipimpin oleh Ki Lemah Teles itu. Kecuali mereka juga ingin mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, mereka masih merasa sayang untuk meninggalkan lingkungannya. Rasa-rasanya mereka masih memerlukan waktu beberapa lama untuk menguras harta-benda yang ada di lingkungannya yang cukup luas itu.

Namun dalam pada itu, orang-orang yang ditugaskan oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sudah berada di kaki. Gunung Lawu.

Mereka mencoba mengamati padepokan yang mereka sangka masih dipimpin oleh Kiai Banyu Bening itu. Justru karena mereka menganggap bahwa padepokan itu memang masih dipimpin oleh Kiai Banyu Bening, maka mereka sama sekali tidak berusaha lagi untuk meyakinkannya lagi.

Bahkan kelima orang itu sama sekali tidak mencoba berhubungan dengan orang-orang padukuhan. Jika mereka melakukannya, maka mungkin sekali kedatangan mereka akhirnya diketahui oleh orang-orang padepokan.

Karena itu, maka mereka hanya sekedar melakukan pengamatan dari kejauhan.

Meskipun kelima orang itu tidak melihat kekuatan padepokan itu yang sebenarnya, tetapi mereka memang melihat kesiagaan yang mantap. Mereka melihat para cantrik yang mengawasi keadaan di sekeliling padepokan dari atas panggung dibelakang dinding.

Bahkan mereka juga melihat, dua orang cantrik dengan tombak ditangan mengawal sebuah pedati yang penuh berisi hasil bumi yang dipetik di pategalan.

“Ternyata Kiai Banyu Bening adalah seorang yang sangat berhati-hati” berkata salah seorang diantara mereka.

Setelah beberapa hari kelima orang itu mengadakan pengamatan, maka mereka mengambil kesimpulan, bahwa padepokan Kiai Banyu Bening adalah padepokan yang cukup tertib.

Pemimpin kelompok itu pada hari-hari terakhir dari tugasnya ternyata atas gagasan sendiri ingin memasuki padepokan Kiai Banyu Bening itu.

“Apakah tidak akan membahayakan jiwa kita?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Mungkin” jawab pemimpin kelompok itu, “tetapi dengan demikian, aku akan dapat melihat serba sedikit isi dari padepokan itu untuk menyesuaikan laporan kawan kita terdahulu, yang juga pernah datang menghadap Kiai Banyu Bening.”

“Tetapi menurut kawan kita itu, Kiai Banyu Bening adalah seorang yang tidak dapat diduga sifatnya. Namun ia adalah seorang yang mempunyai wibawa yang tinggi.”

“Jika aku tidak kembali setelah matahari sampai di puncak, sebaiknya kalian menyingkir dari tempat ini.” berkata pemimpin kelompok itu.

“Apa yang akan kau katakan kepada Kiai Banyu Bening?” bertanya seorang kawannya.

“Aku akan memberikan peringatan, bahwa Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari dalam waktu dekat akan segera datang.”

“Hanya itu?”

“Ya. Hanya itu. Bukankah ini penting sekali bagi mereka?”

“Tetapi apakah hal itu dibenarkan oleh Kiai Narawangsa. Jika karena itu, Kiai Banyu Bening menyingkir, bukankah Kiai Narawangsa terutama, akan menjadi sangat marah, karena ia ingin membunuh saja Kiai Banyu Bening itu?”

“Kiai Banyu Bening menurut perhitunganku, tidak akan melarikan diri.”

Pemimpin kelompok itu kemudian memutuskan untuk benar-benar pergi ke padepokan. Ia mengajak salah seorang dari kawan-kawannya itu yang pernah datang ke tempat itu sebelumnya, meskipun orang itu juga tidak ikut memasuki padepokan pada waktu itu.

Dengan kesadaran yang tinggi atas akibat yang mungkin terjadi atas diri mereka, maka pemimpin kelompok itupun telah pergi ke padepokan bersama dengan seorang kawannya. Namun bagaimana pun juga orang itu merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

Pemimpin kelompok yang orangnya berbeda dengan pemimpin kelompok yang datang terdahulu ke padepokan itu, memang seorang yang berani. Meskipun demikian, ketika ia melangkah menuju ke pintu gerbang, orang itu menjadi berdebar-debar pula.

Para petugas yang berada di panggungan di sebelah pintu gerbang itu telah melihat kedatangannya. Karena itu, maka petugas itupun kemudian berteriak bertanya, “He, siapakah kalian dan untuk apa kalian datang kemari.”

Pemimpin kelompok itu memandang para petugas diatas panggungan itu. Dengan lantang ia justru bertanya, “Apakah aku harus berteriak pula?”

Petugas itu termangu-mangu sejenak. Nampaknya orang yang datang itu bukan orang-orang padukuhan atau orang-orang yang telah terbiasa dengan padepokan itu. Karena itu, maka para petugas itupun menjadi lebih berhati-hati.

Seorang dari para petugas itupun telah menjawab, “Ya. Berteriaklah.”

“Inikah cara padepokan ini menerima tamu?”

“Ya” jawab petugas itu.

Pemimpin kelompok nu mulai merasa tersinggung. Tetapi ia harus menahan diri. Dengan lantang pula ia berkata, “Aku ingin menghadap Kiai Banyu Bening.”

Petugas itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “tunggulah, aku akan melaporkannya. Tetapi kalian harus menjawab, siapakah kalian dan kalian datang dari mana.”

“Aku utusan dari Kiai Narawangsa” jawab orang itu tanpa ragu-ragu. Bahkan ia mengucapkan nama itu dengan kebanggaan yang melonjak didalam dadanya. Menurut pendapatnya, nama Kiai Narawangsa akan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi Kiai Banyu Bening.”

Nama itu memang menggetarkan dada petugas di panggungan. Karena itu, salah seorang petugas di panggungan itu telah turun untuk melaporkan kedatangan utusan Kiai Narawangsa itu. Sementara petugas yang lain masih bertanya, “Kau datang untuk apa?”

“Aku akan bertemu dengan Kiai Banyu Bening”

“Keperluanmu apa?” bertanya petugas itu pula.

“Aku akan menyampaikan sendiri kepada Kiai Banyu Bening.”

“Aku tidak tahu, apakah Kiai Banyu Bening dapat menerimamu atau tidak” jawab petugas itu. Ia sudah mengerti, bahwa Ki Ajar Pangukan lah yang telah berperan menjadi Kiai Banyu Bening ketika utusan Kiai Narawangsa yang terdahulu datang ke padepokan itu.

Namun orang yang berada di muka regol itu berteriak, “Katakan kepada Kiai Banyu Bening bahwa aku utusan Kiai Narawangsa ingin bertemu.”

”Aku akan melaporkan permohonanmu”, berkata petugas di pintu regol, kemudian bergegas menemui Ki Warana untuk melaporkan kehadiran dua orang yang mengaku utusan dari Kiai Narawangsa.

Ki Warana pun segera menemui Ki Lemah Teles dan Ki Ajar Pangukan untuk minta pertimbangan apakah yang sebaiknya dilakukan terhadap utusan itu.

“Mereka bukan orang-orang yang pernah datang kemari,” berkata Ki Warana, “para petugas itu tentu masih dapat mengenali kedua orang utusan Kiai Narawangsa yang terdahulu, karena kebetulan waktu itu mereka melihat langsung kedatangan kedua orang utusan itu.”

“Katakan, bahwa Kiai Banyu Bening baru beristirahat. Ia tidak dapat menerima kedua utusan itu. Tanyakan saja kepadanya, apakah keperluan mereka datang. Agaknya kita sudah dapat menebak, apa yang akan mereka katakan.”

Ki Waranapun mengangguk-angguk.

“Temuilah mereka” berkata Ki Ajar Pangukan.

Ki Warana lah yang kemudian memerintahkan membuka regol depan setelah memerintahkan para penghuni padepokan yang tidak berkepentingan untuk menyingkir. Demikian pula anak-anak muda yang sedang berlatih bersama Manggada di halaman samping.

“Biarlah mereka melihat padepokan ini tidak terlalu ramai.” berkata Ki Warana.

Baru kemudian, setelah suasana di padepokan itu nampak lengang seperti yang dikehendaki oleh Ki Warana, para cantrik membuka pintu gerbang padepokan.

Sementara itu, kedua orang yang datang dari padepokan Kiai Narawangsa itu sudah menjadi tidak sabar.

“Kenapa kalian mempermainkan kami?” bertanya yang tertua diantara kedua orang itu demikian pintu terbuka.

Tetapi orang yang membuka pintu itu mengerti, bahwa utusan Kiai Narawangsa itu ingin menggertaknya, sehingga karena itu, maka iapun justru bertanya, “Apakah kami mempermainkan kalian?”

“Kalian sengaja tidak segera membuka pintu dan memaksa kami menunggu di depan regol seperti pengemis yang menunggu belas kasihan.”

Jawaban orang yang membuka pintu itu ternyata tidak kalah kerasnya dengan pernyataan kedua orang itu, “Jika kalian memang tidak menunggu belas kasihan, kenapa kalian tidak pergi saja?”

Wajah kedua orang itu menjadi merah. Yang tertua diantara mereka berkata, “Aku utusan Kiai Narawangsa. Jika kau menghina aku, sama artinya kau telah menghina Kiai Narawangsa.”

Tetapi orang yang membuka pintu itu menjawab, “Padepokan ini adalah padepokan Kiai Banyu Bening. Siapapun yang berhubungan dengan padepokan ini harus tunduk kepada tatanan yang berlaku di sini.”

Kemarahan yang memuncak hampir saja membuat kedua orang itu kehilangan kendali. Tetapi mereka sadari, bahwa mereka berdiri didepan regol sebuah padepokan yang dipimpin oleh seorang yang berilmu tinggi.

Karena itu, maka orang yang tertua itupun berkata, “Sekarang, bawa aku bertemu dengan Kiai Banyu Bening.”

Ki Warana yang melihat gelagat yang kurang baik di depan gerbang padepokan itu pun telah mendekat. Ki Warana itu mendengar ketika orang yang mengaku utusan Kiai Narawangsa itu minta untuk dibawa menghadap Kiai Banyu Bening.

Karena itu, justru Ki Warana lah yang menjawab, “Kiai Banyu Bening sedang beristirahat.”

Kedua orang yang mengaku utusan Kiai Narawangsa itu memandang Ki Warana yang melangkah semakin dekat. Dengan nada tinggi, yang muda diantara kedua orang itu berkata, “Kami utusan Kiai Narawangsa.”

“Kenapa Kiai Narawangsa itu tidak datang sendiri?”

“Pada saatnya Kiai akan datang. Sekarang, biarlah aku berbicara dengan Kiai Banyu Bening.”

“Kiai Banyu Bening baru beristirahat.”

“Aku utusan Kiai Narawangsa.”

Ki Warana tertawa. Katanya, “Jika Kiai Narawangsa itu datang sekarang, maka Kiai Banyu Bening tentu akan menemuinya. Karena itu pergilah, katakan kepada Kiai Narawangsa, agar ia datang sendiri agar Kiai Banyu Bening bersedia menemuinya.”

“Kalian akan menyesal telah mempermainkan utusan Kiai Narawangsa.”

“Pergilah. Jika Kiai Narawangsa berkeberatan, kenapa tidak Nyai Wiji Sari saja yang datang kemari? Mungkin Nyai Wiji Sari akan sempat mengenang kembali masa-masa lalunya bersama Kiai Banyu Bening. He, apakah Kiai Narawangsa akan cemburu?”

Orang itu menggeram. Tetapi keduanya memang tidak dapat berbuat apa-apa. Jika mereka kehilangan kendali, maka mereka justru akan terjerumus ke tangan orang-orang sepadepokan.

Sebenarnyalah mereka datang ke padepokan itu sekedar untuk melihat kesibukan di padepokan itu. Serba sedikit mereka ingin mendapat gambaran, apa yang ada didalam padepokan itu untuk kemudian disesuaikan dengan laporan pemimpin kelompok yang pernah datang terdahulu.

>> teks tidak terbaca>>

Dengan nada tinggi, orang yang tertua diantara kedua orang yang mengaku utusan Kiai Narawanmgsa itu berkata, “Ki Sanak. Kalian telah memperlakukan utusan Kiai Narawangsa dengan cara yang tidak baik. Pada suatu saat Kiai Narawangsa akan datang, menghukum kalian dan seisi padepokan ini. Kiai Narawangsa akan datang dengan kekuatan yang tidak akan dapat kalian bendung, melanda padepokan kalian. Tetapi selanjutnya, Kiai Narawangsa tidak akan pernah meninggalkan padepokan ini. Apalagi Nyai Wiji Sari. Ia akan tinggal disini, bersama anaknya yang telah dibunuh oleh ayahnya sendiri. Justru dibakar didalam api.”

Ki Warana justru menunjuk pada tugu di depan pendapa bangunan utama dengan batu nisan kecil diatasnya., “Itulah makam anak Kiai Banyu Bening. Makam itu sangat dihormatinya. Kiai Banyu Bening memang sangat mendendam kepada isterinya yang sudah menyebabkan anaknya terbakar sehingga meninggal.”

“Itu salah Kiai Banyu Bening.”

“Salah Nyai Wiji Sari.”

Orang yang muda masih akan menyahut. Tetapi Ki Warana telah membentaknya, “Jika kau sebut lagi, bahwa Kiai Banyu Bening yang bersalah, maka kalian tidak akan pernah kembali ke padepokan Kiai Narawangsa. Membunuh atau tidak membunuh kalian, bagi kami sama saja. Kami harus mempertahankan padepokan ini dengan ujung senjata. Karena itu pergilah, sebelum kalian akan dibantai disini. Aku tidak main-main. Aku dapat menjatuhkan perintah itu.”

Kedua orang itu memang menjadi cemas. Karena itu, maka yang tertua diantara mereka berkata, “Aku akan pergi sekarang, tetapi dalam waktu dekat aku akan kembali lagi.

Kiai Warana memandang orang itu dengan tajamnya. Katanya, “Cepat pergi, sebelum aku melepaskan sekelompok cantrik-cantrik dari padepokan ini untuk membantaimu. Kami sama sekali tidak takut kepada Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari.”

Kedua orang itu pun kemudian beringsut meninggalkan pintu gerbang padepokan itu. Mereka ternyata tidak berhasil menggertak orang-orang padepokan itu. Mereka pun tidak berhasil menemui Kiai Banyu Bening. Tetapi mereka sudah berhasil melihat serba sedikit keadaan di dalam padepokan itu.

Ketika mereka berkumpul kembali dengan kawan-kawannya, maka orang itupun berkata, “Kita tidak melihat sesuatu yang pantas dicemaskan di dalam padepokan itu. Meskipun penjagaan di panggungan-panggungan nampaknya sangat ketat, tetapi nampaknya padepokan itu rapuh didalam. Kami tidak melihat sesuatu yang perlu mendapat perhatian khusus.”

“Apakah kita akan segera kembali dan memberikan laporan kepada Kiai Narawangsa.”

“Ya. Kita akan segera kembali.”

Kelima orang itu tidak menunggu hari berikutnya. Di sisa hari itu mereka mulai berangkat menempuh perjalanan jauh.

Tetapi seperti saat mereka berangkat, mereka tidak banyak mengalami rintangan diperjalanan pulang.

Dalam pada itu, Nyai Wiji Sari merasa sudah terlalu lama menunggu kesempatan untuk dapat pergi ke kaki Gunung Lawu. Apalagi ketika rasa-rasanya sudah tidak ada lagi rumah yang pantas diketuk pintunya.

Ternyata betapa pun kerasnya jalan kehidupan yang di tempuh oleh Nyai Wiji Sari, namun kerinduan yang hampir tidak tertahankan telah mencengkam jantungnya. Namun ia tidak dapat mengingkari satu kenyataan, bahwa anaknya memang sudah meninggal, terbakar bersama rumahnya dan seisinya.

Nyai Wiji Sari memang menganggap bahwa kematian anaknya itu disebabkan oleh kesalahan suaminya.

Jika saja waktu itu suaminya tidak cepat dibakar oleh perasaan marahnya, maka persoalannya akan menjadi lain.

Meskipun demikian, di hati kecilnya, Nyai Wiji Sari juga melihat bahwa dirinya juga bersalah. Seharusnya ia tidak membawa Narawangsa kerumahnya. Saat itu ia mengira bahwa Lembu Wirid tidak akan pulang sampai matahari terbit. Namun sebelum tengah malam suaminya sudah pulang.

Karena suaminya dan Narawangsa memang memiliki ilmu yang tinggi, maka perkelahian diantara mereka tidak dapat dihindari.

Nyai Wiji Sari tidak dapat menyesali peristiwa yang telah terjadi itu. Karena bagaimana pun juga ia menyesal, yang terjadi itu memang sudah terjadi.

Seakan-akan terbayang kembali, apa yang telah dilakukannya. Ternyata ia telah membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Ketika Narawangsa terdesak, maka ia justru membantu laki-laki itu untuk melawan suaminya.

Ketika rumahnya terbakar, dan jerit tangis anaknya melengking, Wiji Sari tidak tahan mendengarnya, sementara ia tidak lagi dapat menerobos api untuk menolongnya. Namun dalam keadaan yang sangat bingung tangannya telah ditarik oleh Narawangsa karena api telah membakar hampir seluruh bagian rumahnya. Demikian ia bergeser, maka langit-langit pun telah runtuh.

Nyai Wiji Sari tidak tahu lagi apa yang dilakukan oleh suaminya. Hampir diluar kesadarannva. Nyai Wiji Sari tidak menolak ketika tangannya ditarik terus menjauhi api yang menjadi semakin gemuruh menelan rumahnya dan isinya, termasuk bayinya.

Namun akhirnya Nyai Wiji Sari mengetahui, bahwa dihari berikutnya suaminya telah mengambil tubuh anaknya yang hangus dan dibawanya pergi. Orang-orang yang menyaksikannya tidak dapat berbuat banyak. Menurut keterangan tetangga-tetangganya, Lembu Wirid yang juga mengalami luka bakar itu, sama sekali tidak mau berbicara sepatah kata pun.

Baru kemudian, ketika ia memerintahkan beberapa orang anak buahnya menelusuri kepergian Lembu Wirid, maka orang-orangnya itupun menemukan Lembu Wirid itu di kaki Gunung Lawu dan bergelar Kiai Banyu Bening.

Namun laporan dari pengikutnya yang telah pergi ke kaki Gunung Lawu yang terdahulu, mengatakan bahwa anaknya yang meninggal itu telah dibuatkan sebuah tugu dan diatasnya diletakkan batu nisan kecil oleh bekas suaminya, Lembu Wirid.

Nyai Wiji Sari menarik nafas dalam-dalam. Jika hal itu benar, maka agaknya Lembu Wirid juga merasa getir karena kematian anaknya. Bahkan seperti yang dilaporkan oleh pengikutnya itu, bahwa Kiai Banyu Bening telah membuat satu upacara yang gila. Upacara dengan mengorbankan bayi yang sebenarnya.

“Ia memang, gila” desis Nyai Wiji Sari.

Namun setelah peristiwa itu lama sekali terjadi, Nyai Wiji Sari itu dapat melihat dengan lebih baik dari jarak yang cukup jauh.

Namun setiap kali terbersit penyesalan didalam hatinya, maka Nyai Wiji Sari tentu menghibur dirinya bahwa peristiwa yang memang akan terjadi itu tentu akan terjadi juga.

Dalam pada itu, Kiai Narawangsa yang melihat Nyai Wiji Sari selalu merenung, tidak terlalu sering menegur. Namun beberapa kali ia mengatakan, bahwa mereka akan segera berangkat ke kaki Gunung Lawu untuk melihat dan sekaligus memiliki padepokan tempat anaknya itu dikuburkan.

Tetapi Kiai Narawangsa tidak tahu, bahwa yang direnungkan oleh Nyai Wiji Sari tidak sekedar kerinduannya kepada anaknya yang sudah tidak ada serta keinginannya merambah daerah baru. Tetapi peristiwa yang telah terjadi itu justru selalu membayangi-nya. Hatinya. Lembu Wirid memang seorang yang sering membohonginya. Ia sering berbuat sesuatu yang tidak sewajarnya. Tetapi bukan seharusnya Wiji Sari itu menyakiti hatinya terlalu dalam. Bahwa ia membawa Narawangsa ke rumahnya itu sama artinya bahwa ia telah menikam punggung Lembu Wirid.

Ketika sekelompok orang yang ditugaskan pergi ke kaki Gunung Lawu untuk yang kedua kalinya datang, maka Nyai Wiji Sari pun segera memanggil mereka.

Bersama Kiai Narawangsa maka Nyai Wiji Sari telah menerima kelima orang yang baru datang dari kaki Gunung Lawu itu.

“Apa yang kalian lihat dan apa yang telah kalian dengar?” bertanya Kiai Narawangsa.

Orang tertua yang memimpin kelompok itu telah memberikan laporan tentang perjalanannya. Iapun telah melaporkan pula, bahwa ia telah melihat keadaan serta isi padepokan itu.

“Kau masuk ke padepokan?” bertanya Nyai Wiji Sari.

“Ya Nyai. Meskipun kami berdua waktu itu tidak berhasil menemui Kiai Banyu Bening.”

“Kau lihat sebuah tugu yang diatasnya terdapat batu nisan kecil?” bertanya Nyai Wiji Sari pula.

“Ya, Nyai. Tugu dan nisan kecil itu masih ada di halaman.”

Nyai Wiji Sari menarik nafas dalam-dalam. Setelah kematian bayinya itu, Nyai Wiji Sari tidak lagi mempunyai keturunan.

“Kematian anakku itu adalah kutukan bagiku sebagai seorang perempuan” berkata Nyai Wiji Sari didalam hatinya.

Namun untuk beberapa lama Nyai Wiji Sari dapat menyembunyikan kegelisahannya itu. Ia telah memasuki satu dunia yang hitam dan gelap. Berkuda di malam hari melalui jalan-jalan panjang, padang-padang rumput dan padang perdu yang luas. Jalan-jalan sempit di pinggir hutan. Sudah berapa kali ujang pedangnya menikam dada orang yang tidak mau menyerahkan harta bendanya. Sudah berapa kali tajam pedangnya menebas leher orang yang mengadakan perlawanan ketika ia merampok bersama Kiai Narawangsa yang kemudian dianggapnya sebagai suaminya.

Tetapi bagaimanapun juga hidup tanpa keturunan adalah seperti sebatang pohon yang tidak berbuah. Kering.

Keterangan pemimpin kelompok yang pergi ke kaki Gunung Lawu itu seakan-akan telah mendesak Nyai Wiji sari untuk segera berangkat mengambil padepokan itu. Rasa-rasanya anaknya itu sudah terlalu lama merengek sambil menjulurkan kedua tangannya.

“Baik, baik. Aku akan segera datang ngger.” Nyai Wiji Sari berkata didalam hatinya.

Keterangan pemimpin kelompok pertama dan kelompok kedua yang hampir bersamaan itu, telah mendorong Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari untuk segera berangkat.

Ketika segala persiapan sudah dianggap cukup, maka Kiai Narawangsa telah memerintahkan sekelompok orang untuk pergi mendahului ke kaki Gunung Lawu. Mereka harus membangun-kan landasan bagi seluruh kekuatan yang akan pergi dan kemudian mengambil padepokan di kaki Gunung Lawu itu.

Tetapi Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari tidak pergi berdua saja bersama-sama dengan para pengikutnya. Kiai Narawangsa telah mengajak adiknya serta beberapa orang saudara seperguruannya. Dua orang anak adiknya itu, yang seakan-akan telah diangkatnya menjadi anaknya, akan ikut pula bersama mereka. Dua orang anak muda yang telah ditempa dengan keras sehingga keduanya telah menjadi anak muda yang berilmu tinggi.

“Gunasraba” berkata Kiai Narawangsa kepada adiknya, “jika aku sudah mendapat daerah baru, maka aku serahkan padepokan ini kepadamu. Karena itu, aku minta bantuanmu untuk menemukan daerah baru itu.”

“Kenapa kakang tinggalkan padepokan yang telah mapan ini?”

“Di padepokan yang berada di kaki Gunung Lawu itu terdapat makam anak Nyai Wiji Sari. Ia merindukannya dan ingin selalu dekat dengan anaknya itu.”

“Bagaimana dengan pemim-pin padepokan itu?” bertanya Gunasraba.

”Namanya Kiai Banyu Bening. Ia adalah bekas suami Wiji Sari, yang dahulu namanya Lembu Wirid. Kita harus merebut padepokan itu dan sekaligus membunuhnya.”

Gunasraba mengangguk-angguk. Katanya, “Baik kakang, jika itu yang kau maui. Aku akan mengajak dua orang saudara seperguruanku. Anak-anak dan beberapa orang sahabat dan kepercayaanku. Jika kelak aku memimpin padepokan ini, maka setidak-tidaknya mereka akan dapat menompang tidur dan makan disini disela-sela petualangan mereka.”

“Kau sendiri, sudah waktunya untuk menghentikan petualanganmu dan menetap di sebuah padepokan. Nah, sebentar lagi kau akan mendapat kesempatan.”

Gunasraba tertawa. Katanya, “Mudah-mudahan aku kerasan tinggal di satu tempat untuk waktu yang lama.”

“Kau harus mencobanya” berkata Kiai Narawangsa.

Gunasraba tertawa semakin keras. Katanya, “Padepokan ini akan menjadi sarang serigala yang ganas. Padepokan ini akan menjadi semakin menakutkan.”

“Terserah saja kepadamu nanti.” sahut Kiai Narawangsa.

Di hari-hari terakhir, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari menjadi semakin sibuk mempersiapkan diri.

“Kita tinggal menunggu laporan dari orang-orang yang sedang membuat landasan sebelum kita menyerang padepokan yang dipimpin oleh Kiai Banyu Bening itu” berkata Kiai Narawangsa kepada adiknya itu.

Nyai Wiji Sari hampir tidak dapat menahan diri lagi untuk menunggu laporan dari sekelompok orang-orangnya yang telah lebih dahulu pergi ke kaki Gunung Lawu. Ia mulai mendesak Kiai Narawangsa untuk berangkat tanpa menunggu lebih lama lagi.

“Kita akan dapat berselisih jalan dengan orang yang akan memberikan laporan kepada kita. Selain itu, kita memang memerlukan seseorang yang akan menuntun perjalanan kita agar tidak diketahui lebih dahulu oleh orang-orang Banyu Bening.”

Nyai Wiji Sari masih mencoba bersabar untuk beberapa hari.

Namun akhirnya orang yang ditunggunya itupun datang juga. Dua orang diantara beberapa orang lebih dahulu.

“Kami membuat landasan dipinggir hutan,” berkata salah seorang dari kedua orang itu.

Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari mendengarkan laporan kedua orang itu dengan saksama. Bahkan Kiai Narawangsa minta agar adiknya ikut mendengarkannya pula, agar ia dapat memberikah pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan.

“Ternyata semuanya telah mendukung rencana kita” berkata Kiai Narawangsa, “keadaan padepokan Kiai Banyu Bening itu sendiri akan memberikan kesempatan kepada kita untuk dengan cepat menguasainya.”

“Tetapi mereka mengawasi keadaan di seputar padepokan mereka dengan ketat.” berkata salah seorang dari kedua orang itu.

“Apa arti pengawasan yang ketat jika keadaan didalam padepokan itu rapuh?” bertanya Kiai Narawangsa.

“Kami tidak melihat kekuatan yang akan dapat mencegah kita,” berkata orang itu pula.

“Pekan ini kita akan berangkat” berkata Kiai Narawangsa. Lalu katanya kepada adiknya, “Sebagian dari barang-barang kami akan kami tinggal. Pada kesempatan lain, kami akan mengambilnya.”

Gunasraba mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Sementara kita pergi, biarlah dua orang kepercayaanku menunggui padepokan ini. Mereka akan dapat mencari kawan yang akan dapat dipercaya pula.”

“Baiklah” berkata Kiai Narawangsa, “dengan demikian, maka segala persiapan sudah selesai.”

“Semuanya tinggal menunggu perintah kakang.”

“Aku ingin berbicara dengan kedua orang anakmu” berkata Kiai Narawangsa.

Dua orang anak muda yang bertubuh tegar telah menemui Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Dengan nada berat Kiai Narawangsa itupun berkata, “Aku dan ibumu ingin mengajakmu bertamasya ke kaki Gunung Lawu.”

“Kami sudah menunggu, kapan kita akan berangkat?”

“Aku juga sudah hampir tidak tahan” berkata Nyai Wiji Sari.

“Tetapi aku ingin berpesan kepada kalian, bahwa kita akan memasuki daerah berbahaya di kaki Gunung Lawu itu.”

Kedua orang anak muda itu tertawa. Parung Landung, yang tertua diantara mereka tertawa lebih keras. Katanya, “Bukankah kita ditempa untuk memasuki lingkaran-lingkaran yang paling berbahaya?”

Sementara itu, adiknya, Paron Waja berkata lantang, “Kami sudah siap paman. Apakah paman masih meragukan kami berdua?”

“Tidak. Kami sama sekali tidak meragukan kalian. Kami hanya ingin memperingatkan kalian, agar kalian berhati-hati.”

“Kami akan berhati-hati paman” sahut Parung Landung.

Dalam pada itu maka persiapan-persiapan yang dilakukan oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sudah sampai ke puncaknya. Mereka tinggal menunggu saat yang terbaik untuk berangkat ke kaki Gunung Lawu.

Sementara itu, anak-anak muda yang baru memasuki lingkungan padepokan yang dipimpin oleh Ki Lemah Teles dan Ki Warana itu telah berlatih semakin keras. Apalagi dua orang cantrik yang sedang berada disawah melihat dua orang yang nampak mencurigakan. Dua orang yang agaknya sedang mengamati padepokan yang sedang mengalami perubahan landasan dan tatanan itu.

Ketika hal itu disampaikan kepada Ki Warana, maka Ki Warana itupun berdesis, “Tidak mustahil bahwa keduanya adalah para pengikut Kiai Narawangsa yang sedang mengamati padepokan kita.”

“Kami juga menyangka demikian, Ki Warana.”

“Baiklah. Kita memang harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Meskipun kita tinggal menunggu, tetapi justru karena itu, kita akan selalu berada dalam ketegangan.”

“Kami akan berusaha untuk mengamati orang-orang yang mencurigakan itu Ki Warana.”

“Baiklah. Tetapi berhati-hatilah. Seandainya kita menemukan isyarat bahwa mereka memang para pengikut Kiai Narawangsa, kita tidak harus dengan serta-merta bertindak. Kita tidak boleh tergesa-gesa. Segala sesuatunya harus diperhitungkan dengan cermat sehingga kita tidak justru terjebak.”

“Ya, Ki Warana” jawab kedua cantrik itu.

“Baiklah. Aku akan memberikan laporan kepada Ki Lemah Teles dan kawan-kawannya itu.”

Ki Lemah Teles yang mendapat laporan itupun kemudian telah membicarakannya dengan Ki Ajar Pangukan, Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana dan Ki Pandi.

“Kita harus mengetahui siapakah mereka itu,” berkata Ki Pandi.

“Jika benar mereka adalah pengikut Kiai Nalawangsa, maka mereka tentu mempunyai tempat persembunyian di sekitar padepokan ini.”

“Aku akan mencarinya,” berkata Kiai Jagaprana.

“Aku ikut” sahut Ki Sambi Pitu, “biariah aku mendapat peranan disini. Tanpa peranan yang berarti, maka aku akan menjadi matahari yang redup sebelum senja.”

Ki Ajar Pangukan tertawa. Katanya, “Aku sudah mendapat peranan. Justru peranan terbesar di padepokan ini.”

Namun dalam pertemuan itu telah disepakati, bahwa Ki Jagaprana dan Ki Sambi Pitu akan mengamati orang-orang yang mencurigakan itu.

“Jangan Ki Pandi” berkata Ki Ajar Pangukan, “ketika dua orang utusan Kiai Narawangsa menemui Kiai Banyu Bening Ki Pandi duduk bersamaku.”

Ki Pandi tertawa pendek. Katanya, “Orang-orang seperti aku ini tentu akan dapat dengan mudah dikenali orang.”

“Kau sendiri yang mengatakannya Ki Bongkok” sahut Ki Ajar Pangukan.

Sementara itu, Ki Jagaprana pun bertkata, “Nanti malam, aku akan mulai.”

Tetapi keduanya tidak dapat dengan serta-merta melakukan-nya. Mereka harus berbicara dahulu dengan dua orang cantrik yang pernah melihat kedua orang yang mencurigakan itu ketika keduanya berada di sawah. Darimana mereka datang dan kemana mereka pergi.

Dengan bahan itu, maka keduanya akan dapat memperkirakan arah yang akan mereka datangi malam nanti.

Tugas-yang berbahaya itu memang tidak dapat diserahkan kepada para cantrik. Untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya maka tugas itu memang harus dilakukan oleh orang yang berilmu tinggi. Apalagi jika Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sudah berada diantara mereka. Maka untuk dapat mendekat, diperlukan kemampuan yang tinggi.

Untuk mendapat hasil yang sebaik-baiknya, maka Ki Sambi Pitu dan Jagaprana tidak dengan tergesa-gesa mencari tempat persembunyian orang-orang itu. Tetapi dihari berikutnya, mereka telah ikut pergi ke sawah. Dengan memanggul cangkul serta memakai caping bambu mereka bersama dua orang cantrik telah pergi ke sawah. Dibawah panasnya matahari yang memanjat semakin tinggi, mereka berendam di air berlumpur sambil mengayunkan cangkul mereka.

Sebenarnya, mereka melihat dua orang yang mencurigakan lewat meniti pematang. Mereka memang hanya berjalan melintas. Tetapi keduanya mengamati padepokan itu dari jarak yang tidak terlalu jauh.

Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana memperhatikan arah ke-mana mereka pergi.

Tidak terlalu jauh dari padepokan mereka berjalan melingkar. Juga masih meniti pematang. Mereka berjalan menjauh, kemudian memutar kembali kearah hutan kaki pegunungan.

“Kita akan melihat malam nanti, apa yang ada dihutan itu,” desis Ki Jagaprana.

“Kita sudah dapat menduga, dimana mereka bersembunyi” berkata Ki Sambi Pitu.

“Ya. Asap itu.”

“Ternyata mereka memang dungu.”

“Atau kita yang dungu, jika kita begitu saja percaya, bahwa mereka memang berada disekitar perapian itu.”

Keduanya mengangguk-angguk. Ki Sambi Pitu lah yang kemudian berkata, “Baiklah. Biarlah malam nanti kita akan membuktikannya.”

Seperti yang direncanakan oleh kedua orang itu, maka ketika senja turun, keduanya pun telah bersiap. Demikian gelap menyelimuti padepokan itu, maka mereka berdua telah keluar lewat regol butulan untuk melihat-lihat hutan lebat di kaki Gunung Lawu itu.

Dengan hau-hati keduanya kemudian menyusuri pinggir hutan. Yang menjadi sasaran utama adalah arah asap yang mereka lihat mengepul itu.

Ternyata orang-orang itu memang kurang berhati-hati. Malam itu mereka juga membuat perapian untuk melawan dingin meskipun tidak begitu besar. Mereka memang sudah berusaha untuk melindungi nyala api perapian itu dengan bebatuan. Namun warna merah yang menapak pada batang-batang pepohonan masih juga dapat dilihat oleh Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana.

“Ternyata tidak terlalu sulit” desis Ki Jagaprana.

Ki Sambi Pitu tidak menjawab. Namun mereka telah merayap semakin mendekati orang-orang yang berada di sekitar perapian.

Namun yang dilihat oleh kedua orang itu bukan sekedar perapian. Ternyata mereka melihat berbagai macam bahan dan peralatan yang teronggok tidak terlalu jauh dari tempat mereka membuat perapian.

Ki Sambi Pitu memberi isyarat kepada Ki Jagaprana untuk melihat benda-benda yang teronggok diantara pepohonan hutan itu.

Keduanya mengangguk-angguk meskipun mereka tidak saling berbicara. Mereka melihat potongan-potongan dan anyaman bambu. Tali ijuk dan seonggok batang ilalang.

Didalam hati mereka berkata, “Orang-orang ini tentu akan membuat gubug yang cukup besar.”

Apalagi, mereka juga melihat sebidang tanah yang sudah dibersihkan, siap untuk membangun sebuah gubug.

Beberapa saat kedua orang itu mengamati lingkungan itu. Baru kemudian, Ki Sambi Pitu telah memberikan isyarat, agar mereka meninggalkan tempat itu.

Demikian keduanya menjauhi tempat itu, maka Ki Sambi Pitu pun berkata, “Nampaknya mereka akan membuat sebuah pesanggrahan.”

“Ya” Ki Jagaprana mengangguk-angguk.

“Tentu bagi Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Sedangkan yang lain akan dapat berada di sembarang tempat.”

Ki Jagaprana mengangguk-angguk. Katanya, “Menilik tempat yang dipersiapkan, tentu banyak orang yang akan datang.”

“Tentu akan meriah” desis Ki Sambi Pitu.

“Mudah-mudahan kerajaan Ki Lemah Teles tidak segera berakhir.”

Demikian mereka sampai di padepokan, maka keduanya pun segera menceriterakan kepada orang-orang tua yang berilmu tinggi, yang memang menunggu kedatangan Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana.

“Menarik sekali” desis Ki Ajar Pangukan, “karena itu, maka kita harus benar-benar bersiap untuk menyambut kehadiran mereka. Kita tidak tahu pasti, berapa besar kekuatan mereka, sehingga karena itu, maka yang dapat kita lakukan adalah menyiapkan kekuatan penuh untuk menyambut mereka.”

“Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari tentu sudah bersiap-siap pula. Besok mereka tentu sudah akan mendirikan gubug itu. Sehingga dalam dua tiga hari lagi, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari tentu sudah akan datang.”

“Baiklah” berkata Ki Lemah Teles, “kita akan bersiap untuk menyongsong kehadiran tamu-tamu Kiai Bayu Bening itu. Karena itu, sebaiknya penyambutan itu dipimpin oleh Kiai Banyu Bening sendiri.”

Ki Ajar Pangukan tertawa. Katanya, “Sekarang sudah ada pimpinan baru di padepokan ini. Karena itu, biarlah pemimpin baru itu bekerja. Kita justru akan menguji, apakah pemimpin yang baru ini menjadi lebih baik atau tidak.”

“Baiklah” berkata Ki Lemah Teles, “jika ternyata pimpinan yang baru ini lebih buruk, biarlah ia dicampakkan keluar dari padepokan ini.”

“Jangan merajuk” desis Ki Pandi, “jika kurang baik, justru harus diperbaiki.”

“Kenapa bukan kau saja yang menjadi pemimpin disini, bongkok buruk.”

Ki Pandi pun tertawa pula. Demikian pula Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana.

Tetapi mereka tidak menyahut lagi.

Demikianlah yang dilakukan oleh para cantrik dan anak-anak muda yang baru memasuki padepokan itu sehari-hari adalah menempa diri dalam olah kanuragan.

Anak-anak muda yang berlatih bersama Manggada dan Laksana itupun serba sedikit telah memiliki pengetahuan, bagaimana mereka harus bermain dengan senjata, meskipun senjata utama mereka adalah tombak pendek dan pedang.

Namun dengan tombak pendek dan pedang, mereka telah berlatih mempergunakannya untuk melawan jenis-jenis senjata-senjata yang lain. Mereka telah belajar, bagaimana mereka mempergunakan senjata mereka untuk melawan yang kadang-kadang aneh.

Dalam pada itu dimalam berikutnya, Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana telah kembali melihat-lihat orang-orang yang berada di hutan itu. Seperti yang diduga oleh Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana, maka orang-orang itu sudah mendirikan sebuah gubug. Tidak terlalu dekat dengan bibir hutan. Tetapi sedikit ke tengah sehingga terlindung oleh pepohonan dan pohon-pohon perdu.

Bahkan Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana sempat mendengar orang-orang yang memanasi tubuh mereka dengan perapian itu berbincang dengan dua orang yang agaknya baru datang dari padepokan Kiai Narawangsa.

Dari mulut mereka, Ki Sambi Pitu dan Jagaprana mendengar, bahwa Kiai Narawangsa akan segera datang.

“Jika mereka sudah ada di gubug itu, maka tugas kita menjadi bertambah berat, karena Kiai Narawangsa dan Nyi Wiji Sari tentu memiliki ketajaman pendengaran dan penglihatan.

“Penglihatan kita sudah cukup. Kita tinggal menghitung, berapa besar jumlah mereka, sehingga akan dapat kita pergunakan sebagai perbandingan.”

Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Kita akan berusaha melihat sebuah iring-iringan yang memasuki hutan itu. Bukankah itu lebih mudah daripada kita datang ketempat ini pada saat Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sudah berada disini?”

“Siang malam kita mengamati tempat ini?”

“Di siang hari kita dapat berada dan bekerja di sawah. Tetapi di malam hari kita memang harus menyediakan waktu yang khusus.” jawab Ki Sambi Pitu.

Ki Jayaraga mengangguk-augguk. Katanya, “Kita dapat melakukannya bergantian.”

“Di siang hari biarlah para cantrik yang bekerja di sawah melakukannya. Tetapi Ki Warana harus memilih cantrik yang terbaik.”

Ketika hal itu disampaikan kepada Ki Warana dan Ki Lemah Teles, maka mereka pun, menyepakatinya.

Sejak hari itu, maka tidak semua cantrik dibenarkan pergi ke sawah didekat hutan yang menjadi landasan kekuatan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari.

“Jika aku yang melakukannya” berkata Ki Lemah Teles, “aku akan memilih tempat yang agak jauh. Bibir hutan itu terlalu dekat dengan sasaran mereka.”

“Yang melakukan bukan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sendiri. Tetapi para cantriknya yang tentu mempunyai wawasan yang lebih sempit dari keduanya.” sahut Ki Jagaprana.

Dengan demikian, maka ketegangan menjadi semakin meningkat di padepokan Ki Lemah Teles itu. Setiap orang benar-benar harus bersiap menghadapi kemungkinan yang paling buruk sekalipun.

Pada hari-hari terakhir, anak-anak muda yang baru memasuki padepokan itu telah berlatih mempergunakan busur dan anak panah. Mereka harus mempergunakan ketika orang-orang yang menyerang padepokan itu mulai mendekat.

Jika disiang hari para cantrik yang bekerja di sawah dipilih cantrik yang terbaik, karena mereka bertugas mengamati landasan bagi orang-orang Kiai Narawangsa, maka dimalam hari, pengawasan itu dilakukan berganti-ganti oleh orang-orang tua yang berilmu tinggi di padepokan itu.

Akhirnya, yang mereka tunggu-tunggu itu pun datang. Justru dimalam hari ketika Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana bertugas melakukan pengawasan.

“Kita pula yang mendapat kesempatan melihatnya pertama kali kehadiran orang-orang itu.

Dengan tegang, dari balik gerumbul-gerumbul perdu, kedua orang itu melihat sebuah iring-iringan yang datang menuju ke hutan yang sudah dipersiapkan oleh beberapa orang yang mendahuluinya.

Iring-iringan yang panjang itu berjalan menyusuri jalan setapak dalam gelapnya malam.

“Nampaknya mereka hanya bergerak di malam hari” berkata Ki Sambi Pitu.

“Ya. Tetapi aku yakin, mereka membagi orang-orangnya menjadi beberapa kelompok.”

“Ya. Tentu tidak hanya sejumlah itu. Jika hanya sejumlah itu, maka mereka akan dapat dengan mudah kita hancurkan. Tidak usah menunggu mereka menyerang.” sahut Ki Sambi Pitu. Namun tiba-tiba iapun berbisik, “Bagaimana jika mereka kita hancurkan esok pagi. Selanjutnya kita menunggu iring-iringan berikutnya dan berikutnya?”

“Begitu mudahnya?” sahut Ki Jagaprana, “seandainya hal itu kita lakukan, pada serangan terhadap kelompok pertama, belum tentu jika kita menemui Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari ada didalamnya. Sementara itu jika ada seorang saja yang lolos, maka iring-iringan berikutnya tidak akan pernah datang lagi. Tetapi Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari itu akan menjadi seperti api didalam sekam di waktu-waktu mendatang. Justru pada saat kita sudah tidak berada di padepokan itu, mereka datang dengan membawa orang yang lebih banyak.”

Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk. Dalam iring-iringan yang mereka lihat didalam gelapnya malam dari tempat yang tidak terlalu dekat itu, keduanya memang tidak dapat melihat, apakah didalam iring-iringan itu terdapat seorang perempuan. Menurut dugaan kedua orang itu, maka Nyai Wiji Sari tentu mengenakan pakaian yang sama dengan laki-laki yang ada didalam pasukannya.

Kedua orang itu pun kemudian telah menunggui jalan yang dilalui iring-iringan itu sampai pagi. Tetapi malam itu tidak ada lagi iring-iringan yang memasuki hutan itu.”

“Biarlah malam nanti orang lain yang mengawasinya” berkata Ki Sambi Pitu.

“Mungkin sebagian dari mereka akan datang siang hari.”

“Mungkin” Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk, “tetapi agaknya menurut perhitungan mereka, perjalanan siang hari untuk sebuah iring-iringan yang besar akan sangat menarik perhatian.”

Kedua orang itu tidak menunggu matahari -terbit agar mereka justru tidak terjebak oleh para pengamat yang tentu juga dipasang oleh orang-orang Narawangsa itu.

Selagi langit masih gelap, mereka sudah bergerak meninggalkan persembunyiannya kembali ke padepokan.

Setelah berbenah diri, maka Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana segera minta Ki Warana dan orang-orang yang berilmu tinggi di padepokan itu berkumpul. Pada umumnya mereka juga bangun pagi-pagi sekali.

Dengan singkat Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana telah melaporkan apa yang dapat mereka lihat malam itu.

“Nanti malam harus ada orang lain yang mengawasi jalan itu, sehingga kita mempunyai gambaran yang lebih lengkap tentang mereka.”

Ki Lemah Teles mengangguk-angguk. Kepada Ki Warana ia berkata, “Jika demikian, jangan ijinkan para cantrik pergi ke sawah. Sangat berbahaya bagi mereka. Orang-orang itu tentu akan mencari keterangan tentang padepokan ini. Jika mereka tahu bahwa sawah tidak jauh dari hutan itu adalah sawah padepokan ini, maka. mereka segera mengetahuinya, bahwa orang yang berada disawah itu adalah cantrik dari padepokan ini.”

Ki Warana mengangguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Apakah kita tidak perlu mengawasinya di siang hari? Aku kira mereka tidak akan tergesa-gesa membuka benturan kekerasan dengan padepokan ini. Bukankah mereka memerlukan waktu untuk bersiap-siap menghadapi benturan yang lebih besar.”

“Mungkin demikian, Ki Warana. Tetapi mungkin juga tidak. Mungkin mereka sengaja menangkap cantrik itu sebagai tantangan yang terbuka. Bukankah mereka sudah dengan berterus terang menantang kita semuanya dengan mengirimkan utusan sampai dua kali berturut-turut. Aku kira mereka masih akan mengirimkan utusan lagi untuk meyakinkan, bahwa kita benar-benar menolak permintaan mereka.”

Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan memerintahkan agar para cantrik tidak pergi ke sawah, terutama yang terdekat dengan sisi hutan yang dipergunakan sebagai landasan oleh Kiai Narawangsa itu.”

Namun dalam pada itu, Ki Lemah Teles itupun berkata, “Tetapi biarlah aku sendiri yang akan pergi ke sawah itu.”

“Sendiri?” bertanya Ki Warana.

“Ya, kenapa?”

“Aku akan pergi bersama Ki Lemah Teles. Mungkin aku tidak berarti apa-apa dalam olah kanuragan. Tetapi aku kira aku dapat berlari lebih cepat dari orang lain.”

Orang-orang tua yang berilmu tinggi itu tersenyum. Ki Ajar Pangukan itupun berkata, “Bukankah aku juga dapat pergi ke sawah itu?”

“Jangan kau dan jangan si bongkok buruk. Kalian berdua sudah dikenali oleh utusan Kiai Narawangsa. Sementara itu, Ki Warana juga sudah dikenali pula. Karena itu, biarlah aku pergi sendiri. Yakinlah, tidak akan ada persoalan apa-apa.”

Tetapi Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana tidak mau membiarkan Ki Lemah Teles pergi sendiri. Karena itu, maka Ki Sambi Pitu itupun berkata, “Baiklah. Biarlah aku dan Ki Jagaprana yang ikut pergi ke sawah. Tetapi janji, tidak lebih sampai tengah hari. Semalam kami berdua semalam suntuk tidak memejamkan mata.”

“Bukankah sudah terbiasa bagi kalian berdua,” desis Ki Lemah Teles.

Ki Sambi Pitu tersenyum. Namun katanya, “tetapi aku akan menolak jika di tengah sawah nanti aku ditantang berperang tanding.”

“Persetan kau” geram Ki Lemah Teles, “aku tidak akan menantangmu. Tetapi aku ingin langsung menebas lehermu dengan cangkul.”

Yang mendengarnya justru tertawa.

“Baiklah” berkata Ki Lemah Teles, “biarlah aku berbenah diri. Disaat matahari naik, aku akan pergi ke sawah bersama Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana.”

Tetapi selama ketiga orang itu bekerja di sawah, mereka tidak melihat iring-iringan yang datang dan menuju ke arah sisi hutan yang sudah dipersiapkan itu.

Malam berikutnya, Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan lah yang mendapat giliran untuk mengamati sisi hutan itu. Seperti malam sebelumnya, maka keduanya memang melihat sebuah iring-iringan yang berjalan menuju ke landasan bagi orang pengikut Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari itu.

Bahkan pada malam ketiga, masih juga datang iring-iringan berikutnya.

“Mereka membawa beberapa ekor kuda tunggangan dan beberapa ekor kuda beban. Agaknya banyak barang dan barangkali persediaan makanan yang mereka bawa.”

“Ya. Segala sesuatunya yang akan terjadi sebaiknya segera terjadi. Semakin cepat semakin baik” berkata Ki Ajar Pangukan, “kehadiran orang sebanyak itu akan dapat mempengaruhi tatanan kehidupan di padukuhan-padukuhan di sekitar tempat ini. Jika persediaan makan mereka habis, maka mereka tentu akan lari ke padukuhan. Kecuali keadaan padukuhan itu akan menjadi resah dan bahkan lebih dari itu, maka mereka akan mendengar bahwa Kiai Banyu Bening sudah tidak ada lagi.”

Ketika hal itu kemudian dibicarakan di padepokan, maka Laksana yang ikut mendengarkannya menjadi gelisah.

“Kenapa kau. Laksana?” bertanya Manggada.

“Kehadiran sekian banyak laki-laki di daerah ini akan sangat berbahaya bagi gadis-gadis. Mereka tidak boleh lagi mandi dan mencuci di tepian.”

“Terutama Delima” desis Manggada.

“Bukan hanya Delima” sahut Laksana, “juga kawan-kawannya. Mereka harus tahu itu.”

Manggada memang berniat untuk mengganggu Laksana. Tetapi ia melihat kebenaran pendapat Laksana. Apalagi peristiwa yang tidak diinginkan itu hampir saja terjadi justru atas Delima.

Karena itu, ketika Laksana mengajak Manggada menemui Delima, Manggada tidak berkeberatan.

“Tetapi berhati-hatilah” pesan Ki Pandi ketika Manggada dan Laksana itu minta diri, “ketahui sajalah, bahwa sisi hutan itu sekarang menjadi landasan para pengikut Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari.”

“Arah yang akan kami tempuh justru berlawanan, Ki Pandi.”

“Ya, aku tahu. Tetapi bukan berarti bahwa kalian tidak mungkin akan bertemu dengan pengikut Kiai Narawangsa yang berkeliaran disekitar padepokan ini.”

“Ya, Ki Pandi.”

Sementara itu Ki Lemah Teles pun berpesan, “Jangan terlalu lama. Kita masih belum tahu cara apakah yang akan mereka pergunakan. Mungkin mereka justru akan membangun perkemahan di sekitar padepokan ini antuk menutup hubungan padepokan ini dengan dunia disekitarnya. Cara ini banyak dilakukan untuk memaksa orang yang mereka kepung itu kehabisan persediaan pangan, sehingga mereka akan menyerah.”

“Baik Ki Lemah Teles” jawab Manggada dan Laksana hampir bersamaan.

Dengan hati-hati, maka Manggada dan Laksana itupun telah pergi menemui Delima. Kedatangan Manggada dan Laksana memang mengejutkan. Namun kedua orang anak muda itu sama sekali tidak menunjukkan sikap yang gelisah.

“Tidak ada apa-apa. Paman Krawangan,” berkata Manggada, “kami hanya ingin sekedar singgah.”

“Kalian bawa pesan dari Warana?”

“Tidak secara khusus, Ki Krawangan. Tetapi kami ingin memberitahukan persoalan yang harus mendapat perhatian dari Delima dan kawan-kawannya.”

“Delima?” bertanya Ki Krawangan.

“Ya, paman. Kami membawa pesan bagi Delima.” sahut Laksana.

Manggada menarik nafas panjang. Ia sudah akan membuka mulutnya untuk mengucapkan peringatan bagi Delima dan kawan-kawannya itu lewat Ki Krawangan. Tetapi agaknya Laksana ingin menyampaikannya langsung kepada Delima.

Tetapi Ki Krawangan itu memang bangkit berdiri untuk memanggil Delima.

Ternyata Delima pun kemudian dengan wajah yang terang bersama ayahnya, ikut menemui Manggada dan Laksana, meskipun wajah itu harus terap menunduk.

Laksana lah yang kemudian menceriterakan kepada Ki Krawangan dan Delima bahwa telah datang ke lingkungan itu, sebuah gerombolan yang mungkin akan dapat membahayakan Delima dan kawan-kawannya.

“Untuk sementara kalian tidak usah pergi ke tepian untuk mandi dan mencuci,” berkata Laksana selanjutnya.

Delima mengangguk-angguk. Demikian pula Ki Krawangan.

“Terima kasih” desis Ki Krawangan kemudian, “apakah agaknya masih akan terjadi benturan kekerasan?”

“Mungkin, paman” jawab Manggada. Namun kemudian anak muda itupun berkata, “Tetapi aku mohon paman dan Delima tidak mengabarkan kepada siapapun, bahwa kami sudah mengetahui kedatangan gerombolan itu. Ki Warana sampai sekarang masih mengambil jarak dari gerombolan itu. Ki Warana masih berusaha untuk mengetahui lebih jauh tentang keadaan gerombolan itu.”

Ki Krawangan mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan memperhatikan pesan itu. Mudah-mudahan Warana dapat menempatkan dirinya dalam satu tatanan baru yang terjadi di padepokan itu.”

Manggada lah yang kemudian menyampaikan kepada Ki Krawangan, bahwa sampai saat terakhir, Ki Warana masih menyatakan kepada orang-orang dari gerombolan itu bahwa Kiai Banyu Bening masih hidup.

“Apakah Warana sudah berhubungan dengan mereka?” bertanya Ki Krawangan.

“Mereka telah mengirimkan utusan ke padepokan. Mereka adalah orang-orang yang mendendam Kiai Banyu Bening.”

“Aku tidak mengerti maksud Warana. Seandainya ia mengatakan bahwa Kiai Banyu Bening sudah tidak ada lagi, bukankah tidak akan terjadi permusuhan lagi.”

“Tetapi mereka tidak hanya mendendam kepada Kiai Banyu Bening. Tetapi mereka ingin mengambil padepokan itu.”

Ki Krawangan mengangguk-angguk. Sementara itu Manggada pun berkata, “Tetapi sekali lagi kami berpesan, Biarlah persoalan itu menjadi persoalan Ki Warana dengan orang-orang gerombolan itu.”

Ki Krawangan masih mengangguk-angguk. Sementara Manggada merasa bahwa ia tidak akan dapat menceriterakan semuanya kepada Ki Krawangan dalam waktu yang singkat.

Ketika Manggada menggamit Laksana untuk minta diri, ternyata Laksana tidak menanggapinya. Ia masih saja berbicara tentang kemungkinan buruk yang dapat terjadi, jika Delima dan kawan-kawannya turun ke tepian.

Namun dalam pada itu, Ki Krawangan pun berkata kepada Delima, “Delima. Kau dapat membuat minuman untuk tamu-tamumu.”

“Tidak usah, paman. Tidak usah” sahut Laksana dengan serta merta, “masih ada beberapa pesan lagi buat Delima.”

Ki Krawungun tersenyum. Katanya, “Biarlah nanti setelah menghidangkan minuman, Delima mendengarkan pesan-pesan itu lagi.”

Ternyata Manggada dan Laksana berada di rumah Ki Krawangan untuk waktu yang agak lama. Mereka menunggu minuman menjadi dingin. Kemudian menghirupnya dengan gula kelapa, dan bahkan kemudian telah dihidangkan pula beberapa potong makanan.

Namun Manggada lah yang menjadi gelisah. Ketika ia mendapat kesempatan, ia pun berbisik, “Kita harus segera kembali. Kita akan masuk kedalam sanggar bersama anak-anak muda itu.”

Tetapi Laksana berdesis, “Sekali-sekali kita dapat melepaskan ketegangan-ketegangan yang setiap hari memburu kita. Sebelum kita benar-benar harus bertempur, sebaiknya kita beristirahat barang satu hari.”

Manggada hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat memaksa Laksana untuk segera kembali ke padepokan.

Baru setelah beberapa kali Manggada memperingatkan, maka akhirnya Laksana pun bersedia pula meninggalkan rumah Delima itu.

Di perjalanan kembali, Manggada masih saja bersungut-sungut. Mereka telah kehilangan waktu beberapa lama. Seharusnya mereka sudah berada diantara anak-anak muda yang sedang dengan bersungguh-sungguh menempa diri itu.

Tetapi Laksana hanya tersenyum-senyum saja menanggapi sikap kakak sepupunya itu.

Keduanya sempat menjadi berdebar-debar ketika mereka di tengah-tengah bulak bertemu dengan dua orang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Menilik sikap dan cara mereka mengenakan pakaiannya, maka keduanya tentu bukan orang yang tinggal disisi Barat kaki Gunung Lawu itu.

Tetapi Manggada dan Laksana tidak ingin membuat persoalan. Karena itu, maka ketika mereka berpapasan dengan kedua orang itu, keduanya lebih baik menepi.

Kedua orang yang berpapasan dengan Manggada dan Laksana itu juga masih muda sebagaimana Manggada dan Laksana. Nampaknya keduanya merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang pantas dihormati. Ketika mereka berpapasan dengan Manggada dan Laksana, keduanya sama sekali tidak mau bergeser menepi sedikitpun, sehingga Manggada dan Laksana lah yang harus minggir sehingga keduanya melipir tanggul parit yang membujur sepanjang jalan itu.

“Gila” geram Laksana, “jika saja padepokan itu tidak sedang dalam ketegangan.”

“Lalu, mau kau apakan mereka?” bertanya Manggada.

“Aku akan memilin leher mereka.”

Manggada tertawa. Katanya, “Sudahlah. Saat ini kita memang harus memusatkan perhatian kita kepada gerombolan yang dipimpin oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari itu.”

“Keduanya tentu para pengikut Kiai Narawangsa itu pula.”

“Aku juga menduga demikian” sahut Manggada.

“Bagaimana jika kita tantang saja mereka, mumpung tidak nampak ada orang disawah.”

“Kiai Lemah Teles dan Ki Warana belum membunyikan pertanda perang. Kita harus bersabar.”

“Apapun yang terjadi jika kita menantang kedua orang itu, tidak akan mempengaruhi persoalan yang tumbuh antara para pengikut Kiai Narawangsa dengan orang-orang padepokan.”

“Biarlah segalanya tertimbun pada benturan yang tentu akan terjadi pada satu hari. Mungkin besok, lusa atau mungkin sepekan lagi. Tetapi tentu tidak akan terlalu lama.”

Tiba-tiba saja Laksana itu berhenti. Ketika ia berpaling, punggung kedua orang anak muda itu masih nampak.

“Apakah mereka akan pergi ke rumah Delima?”

“Kau jangan menjadi gila seperti itu” desis Manggada. Lalu katanya, “Bahkan aku ingin memperingatkanmu, agar kau tidak terlalu dekat dengan Delima.”

“Kenapa?” bertanya Manggada.

“Mungkin tidak apa-apa bagimu sendiri. Tetapi sudah berapa kali terjadi kau memuji kecantikan seorang gadis. Nah, bukankah akhirnya kau terus pergi meninggalkan mereka itu?”

Laksana mengerutkan dahinya.

“Jika pada suatu saat tumbuh perasaan yang mendalam di hati seorang gadis, sedangkan pada satu saat kita harus melanjutkan perjalanan pengembaraan ini sebelum kita benar-benar pulang, kau dapat mengira-irakan, apa yang akan terjadi dengan gadis itu selanjutnya.”

Laksana tidak menjawab. Tetapi kata-kata Manggada itu menyentuh hatinya pula.

Sementara itu, Manggada pun berkata pula, “Kecuali jika kau sudah jemu mengembara dan ingin menetap disatu tempat.”

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Memang tidak terbersit dihatinya, bahwa ia ingin segera menghentikan pengembaraan-nya.

Namun Manggada tidak ingin memperpanjang persoalan itu. Ia menyerahkan segala sesuatunya kepada Laksana, karena ia tahu, bahwa Laksana pun sudah menjadi dewasa.

Laksana mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah, mereka berdua pun kemudian berjalan semakin cepat menuju ke padepokan.

Ketika keduanya kemudian memasuki regol padepokan, Ki Pandi yang duduk di pendapa bangunan utama padepokan itu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian bangkit berdiri menyongsong kedua orang anak muda itu.

“Aku sudah berdebar-debar. Rasa-rasanya kalian pergi terlalu lama. Kami disini terpengaruh oleh ketegangan suasana dengan kedatangan para pengikut Kiai Narawangsa itu. Dan bahkan mungkin Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sendiri juga sudah ada ditempat itu.”

“Maaf, Ki Pandi” Laksana lah yang menjawab, “Ki Krawangan telah menghidangkan makanan dan minuman, sehingga kami tidak dapat meninggalkannya begitu saja.”

“Sudahlah. Tidak apa-apa. Hanya kecemasan seorang tua.”

Kedua orang anak muda itupun kemudian langsung pergi menemui kelompok-kelompok yang berlatih di bawah bimbingan mereka. Tetapi keduanya tertegun, karena anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu sedang berlatih bersama orang-orang tua yang berilmu tinggi di padepokan itu. Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana, Ki Lemah Teles dan Ki Ajar Pangukan sedang sibuk mcnjajagi kemampuan anak-anak muda yang untuk waktu yang sangat singkat mencoba untuk menyadap ilmu kanuragan dari Manggada dan Laksana.

Ternyata orang-orang tua itu merasa puas dengan kemajuan yang telah mereka capai. Dengan tombak dan pedang dengan perisai atau tidak dengan perisai, anak-anak muda itu sudah mampu mempertanankan diri melawan berbagai macam senjata.

Untuk beberapa lama penjajagan itu berlangsung. Manggada dan Laksana serta Ki Pandi berdiri saja mengamatinya.

“Sama sekali tidak mengecewakan” desis Ki Pandi, “jika jiwa kalian tidak dibakar oleh kemudaan kalian, mungkin anak-anak itu masih belum mampu mencapai tataran sebagaimana sekarang ini. Mereka telah bekerja dengan sangat keras untuk dapat menyesuaikan diri dengan keinginan kalian.”

Manggada dan Laksana tidak menjawab.

”Manggada dan Laksana” berkata Ki Pandi kemudian, “justru menjelang hari-hari yang gawat, yang tentu akan memaksa kita semua bekerja sangat-sangat keras, maka kalian harus mengurangi beban anak-anak itu. Biarlah mereka sempat beristirahat.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Semen-tara Ki Pandi berkata selanjut-nya, “Dari hari ke hari mereka nampak menjadi semakin kurus. Meskipun mereka tidak mengeluh, tetapi biarlah tubuh mereka menjadi semakin segar menjelang hari-hari yang mendebarkan itu.”

“Baiklah, Ki Pandi” desis Manggada kemudian.

“Yang harus kalian pertahankan, adalah latihan-latihan ketahanan tubuh setiap mereka bangun pagi. Kemudian latihan-latihan olah senjata, setidak-tidaknya untuk mempertahankan tataran yang telah mereka capai. Kalian harus memberikan waktu beristirahat lebih banyak. Memberi kesempatan mereka untuk berbuat sesuatu sebagaimana anak-anak muda yang lain. Tidak semuanya dapat kalian ukur sebagaimana kalian sendiri.”

“Baik, Ki Pandi.” jawab Manggada dan Laksana. Dalam pada itu, maka orang-orang tua yang berilmu tinggi di padepokan itu menganggap bahwa tingkat kemampuan anak-anak muda yang belum lama berada di padepokan itu sudah cukup memadai diukur dari waktu yang mereka pergunakan untuk belajar dan berlatih. Apalagi yang memimpin mereka juga anak muda yang umurnya tidak terpaut banyak dengan mereka.

Beberapa saat kemudian, maka latihan latihan itu pun berakhir. Semuanya menganggap bahwa latihan yang telah mereka lakukan sangat baik. Kemampuan mereka sudah memadai, apalagi dilihat dari sisi waktu. Namun semuanya telah memberikan saran yang sama, bahwa anak-anak muda itu harus mendapat kesempatan untuk beristirahat lebih banyak tanpa mengabaikan latihan-latihan yang harus mereka lakukan untuk mengasah tajamnya kemampuan yang telah mereka miliki.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Orang-orang tua itu tentu memiliki pengalaman yang jauh lebih luas dari Manggada dan Laksana.

Ketika kemudian Manggada dan Laksana berada diantara anak-anak muda itu, maka Manggada dan Laksana pun telah mengatakan kepada mereka, untuk mendapatkan tenaga yang sebesar-besarnya menjelang saat-saat yang paling gawat, maka kesempatan untuk beristirahat pun akan diberikan lebih banyak.

Namun keduanya masih menambahkan, bahwa hal itu bukan berarti bahwa latihan-latihan yang berat dan kerja yang keras sudah berakhir.

“Sementara itu di hutan tua, Kiai Natawangsa dan Nyai Wiji Sari telah bersiap menerkam kita.” berkata Manggada kepada anak-anak muda itu.

Sebenarnyalah saat itu Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari telah berada diantara para pengikutnya di hutan yang sebelumnya memang telah dipersiapkan.

Ternyata keduanya tidak mempunyai pendirian sebagaimana orang yang berilmu tinggi di padepokan, Kiai Natawangsa dan Nyai Wiji Sari tidak menganggap landasan yang dibangun itu terlalu dekat dengan padepokan yang akan menjadi sasaran mereka.

Bahkan Kiai Narawangsa berkata, “Kalian memang memiliki ketajaman penalaran. Tempat ini adalah tempat yang sangat baik untuk meloncat ke padepokan itu. Tidak terlalu jauh dan cukup terlindung dari penglihatan orang-orang padepokan.”

“Bukankah kita tidak berniat untuk berlindung” berkata Nyai Wiji Sari, “kita justru akan datang ke padepokan itu dan menuntut agar padepokan itu diserahkan kepada kita.”

“Tetapi kita tidak boleh tergesa-gesa Nyai” jawab Kiai Narawangsa, “segala sesuatunya harus diperhitungkan sebaik-baiknya, agar kita dapat mencapai hasil sebagaimana kita kehendaki.”

“Apalagi yang harus diperhitungkan?” Nyai Wiji Sari memang tidak sabar lagi, “kita datangi padepokan itu. Kita hancurkan pintu-pintunya. Kemudian kita menyerbu masuk.”

“Bagaimana dengan rencana kita untuk datang menemui Banyu Bening?”

“Apakah ada gunanya?” bertanya Nyai Wiji Sari.

“Mudah-mudahan masih ada gunanya. Jika Banyu Bening dapat mencegah pertempuran, maka ia akan mendapat kesempatan untuk hidup beberapa lama lagi.”

“Apakah ukurannya waktu yang kau katakan tidak lama lagi itu?” bertanya Nyai Wiji Sari.

“Sampai kita menjadi jemu dan kemudian membunuhnya,” jawab Narawangsa.

“Akhirnya sama saja. Kenapa tidak kita bunuh sekarang?”

“Jika ia dapat mencegah perang, bukankah orang-orang kita tidak banyak yang akan mati? Sementara itu, kita akan menangkap Banyu Bening dan terserahlah kepada kita. Tetapi para pengikutnya tentu sudah terpecah bercerai berai dan tidak akan mampu menyusun kekuatan lagi untuk melawan kita.”

Nyai Wiji Sari merenung sejenak. Namun ada sesuatu yang terasa bergejolak dihatinya. Nyai Wiji Sari sendiri tidak tahu, apakah yang mengekang perasaannya untuk datang menemui Kiai Banyu Bening dan berbicara dengan laki-laki itu.

Bagi Nyai Wiji Sari, datang dengan pasukan dan bertempur, akan lebih baik daripada harus datang menemuinya dan berbicara dengannya.

“Aku muak melihat laki-laki itu.” geram Nyai Wiji Sari. Tetapi kata-kata yang terlontar disela-sela bibirnya itu tidak meyakinkan dirinya sendiri. Bahkan didalam lubuk hatinya telah timbul pertanyaan, “Apakah bukan karena sebab lain?”

Nyai Wiji Sari menggeretakkan giginya. Ia mencoba mengusir sentuhan-sentuhan perasaan yang dianggapnya sebagai satu kelemahan justru karena ia seorang perempuan. Bagaimanapun juga Kiai Banyu Bening adalah bekas suaminya dan yang pernah memberinya seorang anak.

Tetapi anak itu meninggal, justru karena terbakar.

Kiai Narawangsa melihat keragu-raguan yang sangat di wajah Nyai Wiji Sari. Tetapi menurut tanggapan Kiai Narawangsa justru karena Wiji Sari itu sangat membenci suaminya. Ketika Nyai Wiji Sari itu masih menjadi istri Lembu Wirid, ia sudah membencinya. Apalagi kemudian setelah anaknya terbunuh didalam lidah api yang menyala menelan rumahnya.

“Terserah kepadamu” berkata Kiai Narawangsa, “jika kau berkeberatan, maka aku akan menurut, mana yang kau anggap lebih baik. Jika aku berniat untuk datang menemuinya, itu karena kita pernah merencanakannya.”

“Tidak. Aku tidak mau menemui laki-laki keparat itu” geram Nyai Wiji Sari. Hampir berteriak iapun berkata, “Tidak. Aku muak. Muak sekali.”

“Baik. Baik” berkata Kiai Narawangsa, “kita akan langsung datang ke padepokan itu dengan seluruh kekuatan kita. Kita akan membakar pintu-pintunya dan menerobos masuk kedalamnya.”

“Aku sudah menyiapkan beberapa bakul biji jarak. Beberapa bakul yang lain sudah dihancurkan menjadi bubuk kasar yang dicampur dengan serat yang sudah dikeringkan.”

“Apakah serbuk dan biji jarak itu cukup banyak untuk membakar pintu gerbang dan pintu butulan?”

“Tentu. Kita akan menimbun kayu-kayu kering diluar pintu itu untuk mempercepat nyala api. Jika daun pintu gerbang itu terbakar, maka kita akan segera dapat menerobos masuk.”

“Baiklah. Kita harus menyiapkan gerobak-gerobak kecil untuk mengusung kayu, serbuk biji jarak dan biji jarak itu.”

“Besok kita akan melihat pintu gerbang itu,” berkata Kiai Narawangsa.

Sebenarnyalah dihari berikutnya, Kiai Narawangsa dan Gunasraba berserta beberapa orang pengiringnya telah mendatangi padepokan. Berkuda mereka tanpa ragu-ragu mendekati rintu gerbang padepokan itu dari arah depan. Beberapa puluh langkah mereka menghentikan kuda mereka.

Para petugas di panggungan disebelah menyebelah pintu gerbang itu melihat kedatangan beberapa orang berkuda. Namun mereka mengerti, bahwa serangan yang sebenarnya masih belum datang, karena jumlah orang berkuda itu tidak lebih dari sepuluh orang.

Meskipun demikian, para petugas itu telah memberikan laporan langsung kepada Ki Lemah Teles tanpa membunyikan kentongan.

Orang-orang tua yang berilmu tinggi, yang ada di padepokan itu telah memanjat panggungan yang ada disebelah menyebelah pintu gerbang itu. Tetapi merekapun berpendapat, bahwa orang-orang itu masih belum akan berbuat sesuatu.

“Mungkin mereka akan menemui orang yang bernama Kiai Banyu Bening itu” berkata Ki Lemah Teles.

Tetapi ternyata tidak. Ternyata mereka tidak menyatakan maksudnya itu. Beberapa orang itu hanya berkeliaran hilir mudik diatas punggung kuda mereka sambil mengamat-amati pintu gerbang.

“Mereka sedang memperhitungkan kemungkinan untuk merusak pintu gerbang itu” desis Ki Ajar Pangukan.

“Ya. Tetapi mereka tidak dapat menghitung ketebalan daun pintu gerbang itu. Mereka juga tidak dapat menduga, seberapa besarnya selarak pintu itu.”

Namun diluar, Kiai Narawangsa berkata, “Pintu itu dibuat dari kayu.”

“Kita akan dapat membakarnya” berkata Gunasraba.

“Kau yakin biji jarakmu itu cukup untuk menyalakan pintu gerbang itu?”

“Tentu kakang” jawab Gunasraba, “pintu gerbang itu akan menjadi abu. Dan kita akan dapat dengan leluasa masuk kedalamnya. Kita bukan orang dungu yang mau membuang-buang waktu dan bahkan nyawa dengan memanggul balok kayi yang besar untuk menghantam dan merobohkan pintu gerbang itu. Selama kita hilir mudik mengambil ancang-ancang, maka anak panah orang-orang diatas panggungan itu sudah menghujani kita.”

“Jika kita membakar pintu itu, bukankah mereka juga dapat membunuh kita dengan anak panahnya?”

“Tetapi kita tidak memerlukan banyak orang. Ampat orang menaburkan serbuk yang bercampur serat itu serta biji jarak sementara lima atau enam orang melindunginya dengan perisai. Sementara itu, orang-orang kita akan melontarkan serangan anak panah pula dari tempat kita ini untuk mengurangi tekanan mereka terhadap orang-orang kita yang sedang membakar pintu gerbang itu.

Kiai Narawangsa mengangguk-angguk. Iapun yakin bahwa rencana adiknya itu tentu akan dapat dilakukan. Biji jarak memang mengandung minyak yang dapat dipergunakan sebagai oncor di malam hari.

Sementara itu, orang-orang yang berada dipanggungan di sebelah-menyebelah pintu gerbang itu memperhatikan orang-orang berkuda itu dengan saksama. Tetapi mereka tidak dapat mengerti, apa yang akan mereka lakukan. Mereka hanya melihat orang-orang itu menunjuk kearah pintu gerbang, kearah panggungan disebelah-menyebelah pintu gerbang itu serta sekali-sekali memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Tetapi orang-orang itu tidak hanya memperhatikan pintu gerbang utama. Ternyata mereka juga memperhatikan pintu-pintu butulan. Kuda-kuda itu berlari-lari melingkari padepokan yang terhitung luas itu.

>>teks tidak terbaca >>

rusak pintu.” berkata Ki Ajar Pangukan.

“Kita akan melayani, cara apa saja yang akan mereka pergunakan” desis Ki Sambi Pitu.

Ki Lemah Teles dan Ki Warana memperhatikan orang-orang itu dengan saksama.

Beberapa saat lamanya beberapa orang berkuda itu hilir mudik di sekitar padepokan. Namun akhirnya kuda-kuda itu berlari meninggalkan padepokan itu.

Orang-orang tua yang berilmu tinggi, yang melihat beberapa orang berkuda itupun menyadari, bahwa Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari ternyata cukup berhati-hati. Mereka tidak langsung datang menyerang, tetapi mereka telah mencoba untuk melihat sasaran untuk membuat perhitungan yang lebih mantap.

“Seorang diantara mereka itu adalah Kiai Narawangsa sendiri” desis Ki Warana.

“Ya” Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk, “menurut utusannya yang terdahulu, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi.”

“Yang manakah diantara mereka yang kau maksud Ki Narawangsa itu?” bertanya Ki Lemah Teles.

“Yang bertubuh raksasa. Yang tidak mengenakan ikat kepalanya, tetapi hanya disangkutkan dilehernya sedang jika kita sempat melihat lebih dekat, maka kita akan melihat segores luka diwajahnya.”

Ki Lemah Teles mengangguk-angguk. Seorang diantara orang-orang berkuda itu adalah seorang yang bertubuh raksasa. Ikat kepalanya disangkutkan dibahunya, sementara itu rambutnya yang ikal dan panjang itu disanggulnya agak tinggi.

Kiai Narawangsa ditilik dari ujud lahiriahnya memang sangat meyakinkan. Jika ia kemudian datang untuk menantang Kiai Banyu Bening, Kiai Narawangsa itu tentu memiliki keyakinan diri yang tinggi.

Kehadiran orang-orang berkuda itu, telah memperingatkan kepada Ki Lemah Teles, Ki Warana dan orang-orang tua yang berilmu tinggi, agar mereka menjadi lebih berhati-hati menghadapi lawan yang membuat perhitungan-perhitungan yang cermat.

Ketika sekelompok orang berkuda itu telah hilang dari penglihatan mereka, maka Ki Warana dan orang-orang tua yang berilmu tinggi itupun duduk di pendapa bangunan induk padepokan itu untuk berbincang tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Seorang cantrik yang bertugas di panggungan itu bertanya kepada kawannya, “Apa kira-kira yang akan mereka lakukan?

“Mereka tentu merencanakan nntuk memecahkan pintu gerbang itu” jawab kawannya.

“Aku tahu. Tetapi bagaimana caranya?” kawannya membentak.

Cantrik itu tertawa. Katanya, “Kenapa kau tiba-tiba menjadi uring-uringan?”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak bertanya bertanya lagi.

Dipendapa, orang-orang berilmu tinggi itu juga menduga-duga. Cara apakah yang akan ditempuh oleh Kiai Narawangsa untuk membuka pintu gerbang padepokan itu.

Tetapi yang mereka sebutkan adalah cara-cara yang sering dipergunakan untuk memecahkan pintu. Tidak seorangpun diantara mereka yang menduga, bahwa Kiai Narawangsa akan memecahkan pintu gerbang itu dengan cara yang lain. Api.

Sementara itu, di dalam hutan tempat Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari menunggu kesempatan, Gunasraba telah mempersiapkan segala-galanya. Seonggok serat kulit kayu yang kering, telah dicampur serbuk biji jarak. Selain itu telah dipersiapkan pula biji jarak yang cukup banyak. Untuk meyakinkan diri, maka Gunasraba itu pun telah menyediakan minyak kelapa yang cukup, yang akan dituang pada onggokan-onggokan serat kayu yang Kering itu.

“Pintu gerbang itu tentu akan terbakar.” geram Gunasraba.

“Bukankah kau akan membakar semua pintu,” bertanya Kia Narawangsa.

“Ya. Semua pintu. Gerbang utama dan gerbang-gerbang butulan. Seperti yang kita ketahui, ada ampat pintu butulan.

Cara yang dipilih oleh Gunasraba itu memang tidak dapat dilakukan dengan serta-merta. Tetapi mereka harus menunggu api yang dinyalakan itu menjadi besar. Baru kemudian api itu akan membakar pintu gerbang yang terbuat dari kayu itu.

“Kita memang harus sedikit bersabar” berkata Gunasraba, “tetapi cara ini adalah cara yang akan menelan korban paling sedikit.

Namun dalam pada itu, Nyai Wiji Sari nampaknya menjadi semakin tidak sabar. Perempuan itu menjadi semakin banyak merenung. Wajahnya nampak muram dan tingkah lakunya yang gelisah.

“Aku tidak dapat duduk disini berhari-hari tanpa berbuat apa-apa berkata Nyai Wiji Sari itu.

“Kami sedang mempersiapkan segala-galanya Nyai” jawab Kiai Narawangsa, “kami tidak ingin gagal.”

“Apa sebenarnya yang mencemaskan kita? Kita akan menghancurkan Lembu Wirid itu. Jika orang itu mati, maka para pengikutnya tentu akan segera menyerah.”

“Aku mengerti” jawab Kiai Narawangsa, “tetapi bukankah kita perlu memikirkan cara agar kita dapat masuk dan berhadapan dengan Kiai Banyu Bening?”

Nyai Wiji Sari tidak menyahut lagi. Namun wajah masih saja nampak gelap.

Sebenarnya semakin lama Nyai Wiji Sari berada di hutan itu, kegelisahan terasa semakin mencengkamnya. Rasa-rasanya ia sudah mendengar tangis anaknya yang melengking-lengking dibalik dinding padepokan itu. Tetapi Nyai Wiji Sari rasa-rasanya juga selalu dibayangi oleh wajah Lembu Wirid. Wajah yang keras seorang laki-laki.

Dalam kegelisahannya itu, kadang-kadang masih juga timbul pertanyaan, kenapa waktu itu ia telah tergelincir untuk menerima Narawangsa memasuki lingkungan dinding ruang tidurnya.

“Itulah awal bencana ini” Nyai Wiji Sari merintih didalam hatinva.

Tetapi hati Nyai Wiji Sari yang gelap itu tidak melihat jalan penyelesaian yang terbaik yang dapat ditempuhnya. Ketika kerinduannya ktpada seorang anak memuncak, maka perempuan itu telah menyalurkan gejolak perasaannya itu dengan caranya yang keras dan kasar, sebagaimana cara hidup yang dijalaninya.

“Tetapi bukan aku yang ingin membunuh Lembu Wirid” perasaan Nyai Wiji Sari melonjak, “aku hanya ingin mengambil apa yang masih tersisa dari anakku.”

Tetapi Nyai Wiji Sari tidak dapat mengatakannya kepada Kiai Narawangsa. Jika hal itu dikatakannya, maka Kiai Narawangsa akan dapat menjadi salah paham. Sementara itu, Nyai Wiji Sari tidak ingin merusak hidup kekeluargaannya sekali lagi. Meskipun selama itu ia berada dijalan kehidupan yang gelap serta membina keluarga yang kelam pula, namun Nyai Wiji Sari itu ingin mempertahankannya.

Dalam pada itu, segala persiapan pun telah dilakukan. Gunasraba telah yakin, bahwa ia akan dapat membuka pintu, gerbang itu dengan caranya.

 

(Oo-dwkz-mch-oO)

Bersambung ke jilid 7

 

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 5 – Matahari Senja

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s