JDBK-10


<<kembali | lanjut >>

YA, Repak Rembulung dan Pupus Rembulung dalam ujudnya sebagai seorang ayah dan ibu yang baik.”

“Repak Rembulung dan Pupus Rembulung juga gila.”

Terdengar suara tertawa seorang perempuan. Namun kemudian orang yang tertawa itu bertanya, “Nah, apakah kau yakin bahwa Repak Rembulung dan Pupus Rembulung tidak pergi ke Panjatan.”

“Aku yakin.”

“Jadi mereka akan pergi ke mana?”

“Darimana aku tahu. Kita tidak terikat untuk menemukan mereka. Bukankah kita mencari Pangeran Benawa? Kita hanya menduga bahwa Pangeran Benawa ada di tangan pengikut Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.”

“Kita pergi ke Panjatan. Kita cari Repak Rembulung dan Pupus Rembulung. Jika keduanya tidak ada disana, kita akan memaksa orang-orangnya untuk menunjukkan di mana mereka menyimpan Pangeran Benawa.”

“Jangan tergesa-gesa. Dalam keadaan seperti ini, sebaiknya kita tidak membuka permusuhan. Kecuali dalam keadaan terpaksa.”

“Jadi apa yang harus kita lakukan?”

“Jangan memaksa diri untuk menemukan jawabnya sekarang juga. Kita mempunyai banyak kesempatan untuk berpikir.”

“Lalu kita kemana?”

“Ke Panjatan.”

Kemudian mereka terdiam. Langkah mereka sudah menjadi semakin jauh.

Ketika kemudian Paksi dan Wijang menjengukkan kepala mereka, mereka tinggal melihat punggungnya saja. Dua orang perempuan dengan mengenakan pakaian sebagaimana kebanyakan perempuan justru pada saat-saat mereka pergi mengunjungi sebuah perhelatan.

Namun, meskipun dari belakang, keduanya langsung dapat menerka, bahwa keduanya adalah Nyi Melaya Werdi dan Nyi Megar Permati. Dua orang perempuan yang cantik namun yang sekaligus garang seperti serigala betina.

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika kemarin Repak Rembulung dan Pupus Rembulung mengenakan pakaian rapi sebagaimana seorang suami isteri dari keluarga yang baik, maka sekarang Melaya Werdi dan Megar Permati juga mengenakan pakaian sebagaimana perempuan yang akan pergi ke perhelatan.”

“Suasananya berubah,” berkata Paksi. “Mereka nampaknya sudah bersiap-siap untuk meninggalkan lingkungan ini. Mereka tidak lagi mencari cincin itu disini. Tetapi mereka akan mencari Pangeran Benawa yang dapat berkeliaran sampai kemana-mana.”

“Satu permulaan dari sebuah malapetaka,” desis Wijang “Sebuah tantangan.”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mereka akan pergi ke Panjatan. Jika kau memperhitungkan bahwa Repak Rembulung dan Pupus Rembulung tidak kembali ke Panjatan, maka kedua perempuan iblis itu akan dapat menghancurkan padukuhan itu untuk mencari Pangeran Benawa.”

“Bukankah mereka tidak ingin membuka permusuhan?” desis Paksi.

“Masih ada kecualinya. Kecuali jika tidak dalam keadaan terpaksa.”

“Tetapi aku kira, dua orang itu tidak akan melakukan kekerasan. Bukankah di Panjatan banyak sekali pengikut Repak Rembulung dan Pupus Rembulung?”

Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, aku kira Nyi Melaya Werdi dan Nyi Megar Permati tidak sedang mabuk sehingga mereka akan membuka benturan kekerasan. Menilik cara mereka berpakaian, mereka memang tidak sedang mencari perkara.”

Keduanya pun terdiam. Namun kemudian Wijang berkata, “Marilah kita lihat orang-orang yang terpelanting itu.”

Paksi dan Wijang pun kemudian telah pergi ke kedai di ujung dari jajaran kedai di depan pasar. Mereka melihat dua orang yang nampak kesakitan duduk di dalam kedai. Beberapa orang masih berkerumun di luar kedai itu.

“Sudahlah, pergilah,” teriak pemilik kedai itu. “Jika kedua perempuan itu kembali, maka kalian akan mengalami sebagaimana dialami oleh kedua orang ini.”

Beberapa orang memang segera pergi. Paksi dan Wijang pun kemudian mencoba bertanya kepada mereka apa yang telah terjadi.

“Salah mereka sendiri,” berkata seorang yang berkumis tipis. “Keduanya mencoba mengganggu kedua orang perempuan itu. Bahkan mereka mencoba untuk menyentuhnya.”

“Lalu, apa yang dilakukan oleh kedua orang perempuan itu?” bertanya Wijang.

“Entahlah, apa yang dilakukan oleh kedua orang perempuan itu. Yang aku lihat, keduanya telah terlempar dan terbanting jatuh. Nampaknya yang seorang agak parah. Mudah-mudahan punggungnya tidak patah.”

Paksi dan Wijang mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian Wijang itu pun berdesis, “Terima kasih. Aku lebih baik pergi saja. Lebih baik untuk selamanya tidak bertemu dengan perempuan segarang itu.”

Wijang pun kemudian telah mengajak Paksi meninggalkan tempat itu. Sementara masih ada satu dua orang yang berdiri di luar kedai itu. Di dalam kedai itu, dua orang masih saja nampak kesakitan duduk sambil menyeringai.

“Kita kemana sekarang?” bertanya Paksi.

“Rasa-rasanya aku juga ingin pergi ke Panjatan,” jawab Wijang.

“Sekarang?”

“Tentu tidak. Kita akan dapat bertemu dengan Nyi Melaya dan Nyi Megar Merpati. Sebaiknya kita masih harus menghindari benturan kekerasan dengan mereka. Juga dengan pemimpin-pemimpin perguruan yang lain.”

“Jadi?” bertanya Paksi.

“Nanti siang kita pergi ke Panjatan.”

“Jadi kemana kita selama menunggu siang?”

“Berkeliaran atau mencari tempat untuk berbaring sambil merenungi nasib.”

Paksi menarik nafas panjang. Ia mengerti, bahwa Wijang akan mengunjungi Panjatan, setelah Melaya Werdi dan Megar Permati meninggalkan padukuhan itu. Dengan demikian, maka keduanya pun telah pergi ke sebuah belik kecil di pinggir sebuah sungai.

“Kita sempat mencuci pakaian.”

Di tempat yang nampaknya memang sepi itu, keduanya menyempatkan diri untuk mencuci baju dan kain panjang mereka. Kemudian menjemurnya di atas sebuah batu besar.

Sinar matahari yang panas telah menghisap air yang melekat pada pakaian itu sehingga dengan cepat menjadi kering.

Baru lewat tengah hari keduanya bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Panjatan.

Keduanya berharap bahwa Melaya Werdi dan Megar Merpati telah meninggalkan padukuhan itu.

“Kita tidak akan membuat keributan, kecuali jika terpaksa. Mungkin kita bertemu dengan kedua perempuan itu, tetapi mungkin para pengikut Repak Rembulung dan Pupus Rembulung. Atau bahkan Repak Rembulung dan Pupus Rembulung sendiri yang ada di padukuhan itu,” berkata Wijang.

Paksi hanya mengangguk-angguk saja.

Demikianlah, maka keduanya pun melangkah terus menuju ke Panjatan. Meskipun jantung mereka menjadi berdebar-debar, tetapi mereka berketetapan hati untuk pergi ke padukuhan itu.

Debar di jantung mereka itu telah membuat mereka lebih banyak diam. Apalagi ketika mereka sudah melihat pintu gerbang padukuhan. Wijang memandang padukuhan itu dari ujung sampai ke ujung sambil berdesis, “Hati-hatilah. Kita tidak tahu apa yang tersembunyi di dalam padukuhan itu. Mungkin Melaya Werdi dan Megar Permati. Mungkin Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.”

Paksi mengangguk-angguk, dipeganginya tongkatnya erat-erat seakan-akan seorang akan merebut dari tangannya.

Ketika mereka sampai ke pintu gerbang padukuhan, mereka berhenti sejenak untuk mengamati suasana. Tetapi rasa-rasanya suasana di padukuhan itu tetap tenang. Tidak terjadi pergolakan apa pun yang dapat menggoncang ketentraman padukuhan itu. Mereka masih mendengar suara orang menumbuk padi. Mereka masih mendengar teriak anak-anak yang sedang bermain meskipun matahari mulai melayang di belahan langit sebelah barat.

Ampat orang anak tengah bermain benthik di tengah-tengah jalan padukuhan.

Wijang dan Paksi memang merasa ragu. Namun kemudian mereka pun melangkah memasuki padukuhan itu.

Anak-anak yang bermain benthik itu terhenti sejenak, mereka pun menepi, memberi jalan kepada Wijang dan Paksi.

Demikian Wijang dan Paksi lewat, maka anak-anak itu segera mulai bermain lagi. Tidak ada kesan apa pun kepada keempat anak itu terhadap orang-orang yang dianggap asing di padukuhan itu

Ketika mereka melangkah semakin dalam, maka mereka berpapasan dengan laki-laki muda yang membawa sekeranjang rumput di atas kepalanya. Tetapi laki-laki itu pun tidak menghiraukan Wijang dan Paksi yang termangu-mangu.

“Apa sebenarnya yang ada di padukuhan itu?” desis Paksi.

“Tanggapan orang-orang padukuhan ini terhadap orang yang mereka anggap asing telah berubah sama sekali,” sahut Wijang.

“Ya. Mereka tidak segarang saat kita memasuki padukuhan ini untuk pertama kali.”

“Apakah padukuhan ini memang berubah, atau kita yang berubah,” gumam Wijang kemudian.

Paksi mengangguk-angguk, tetapi ia tidak menyahut.

Sebenarnyalah ketika keduanya berjalan di sepanjang jalan padukuhan, maka orang-orang yang berpapasan sama sekali tidak menghiraukan mereka. Sama seperti padukuhan-padukuhan yang lain. Tidak ada kecurigaan. Tidak ada sikap permusuhan.

“Aneh,” desis Paksi.

Namun Wijang pun kemudian berdesis, “Aku dapat menduga sebabnya. Hanya menduga. Aku tidak tahu, apakah dugaanku ini benar atau salah.”

“Apa?” bertanya Paksi.

“Orang-orang padukuhan ini menjadi garang jika Repak Rembulung dan Pupus Rembulung ada disini. Tetapi jika keduanya pergi, maka sikap mereka pun kembali ke dalam kewajaran sikap dan kepribadian mereka masing-masing. Mungkin masih ada yang garang, tetapi pada umumnya mereka akan melepaskan segala kecurigaan karena mereka tidak sedang melindungi keselamatan dua orang yang mereka anggap sangat penting,” berkata Wijang dengan ragu.

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Agaknya memang demikian. Kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa Repak Rembulung dan Pupus Rembulung tidak ada di padukuhan ini sekarang.”

Untuk beberapa lama keduanya berjalan di jalan di sepanjang jalan padukuhan. Mereka memang tidak merasakan suasana yang lain dari suasana di kebanyakan padukuhan. Dengan demikian mereka pun berkesimpulan bahwa kehadiran Nyi Melaya Werdi dan Nyi Megar Permati di padukuhan itu juga tidak menimbulkan gejolak.

Ketika keduanya bertemu dengan tiga orang remaja yang memanggul sebatang bambu, maka Wijang pun bertanya, “Adi, apakah kau melihat kedua orang bibiku yang tadi berkunjung kemari?”

Ketiga orang remaja itu termangu-mangu sejenak, sementara Wijang menjelaskan, “Bibiku merencanakan untuk mengunjungi padukuhan ini. Apakah kalian melihatnya?”

“Dua orang perempuan dengan pakaian bagus,” bertanya salah seorang dari ketiga orang remaja itu.

“Ya,” Paksi menyahut dengan serta-merta.

“Aku melihat mereka tadi.”

“Dimana?”

“Nampaknya mereka telah pergi.” Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih.”

Ketiga orang remaja itu termangu-mangu sejenak. Sementara Wijang mengusap kepala salah seorang dari mereka sambil bertanya, “Untuk apa bambu itu?”

“Kami sedang membuat egrang.”

“O, hati-hati bermain egrang. Jika ujung jari kakimu terinjak, maka kukunya akan dapat terlepas.”

“Ah, tidak pernah ada di antara kami yang menginjak kaki kawannya,” jawab seorang di antara mereka.

Wijang tertawa. Katanya, “Mudah-mudahan memang tidak akan mudah terjadi.”

Ketiga orang remaja itu termangu-mangu. Sementara Wijang pun berkata, “Kami minta diri. Kami sedang mencari bibi kami.”

Ketiganya mengangguk kecil. Tetapi mereka tidak menjawab.

Wijang dan Paksi pun kemudian meninggalkan padukuhan itu. Mereka berkesimpulan, bahwa Repak Rembulung dan Pupus Rembulung memang sedang tidak berada di padukuhan itu.

“Sekarang, kita akan pergi kemana?” bertanya Paksi.

“Bukankah kita tidak mempunyai tujuan? Kita berjalan saja ke selatan, menuruni kaki Gunung Merapi. Mungkin kita akan sempat melihat-lihat keadaan Alas Mentaok. Satu daerah yang luas yang dijanjikan akan diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan oleh ayahanda Sultan.”

“Menarik sekali,” Paksi mengangguk-angguk.

“Mendahului Ki Ageng Pemanahan, kita akan melihat-lihat isi dari Alas Mentaok. Pada suatu saat, Ki Gede Pemanahan dan barangkali juga Kakangmas Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, akan membuka hutan yang masih gelap itu.”

“Satu kerja yang sangat berat,” desis Paksi.

“Ki Penjawi mendapat bagian yang lebih baik,” desis Wijang.

Paksi mengangguk-angguk, sementara Wijang berkata, “Pati sudah lebih dahulu menjadi ramai.”

“Kapan kita melihat Pati?” bertanya Paksi.

Wijang menarik nafas panjang. Katanya, “Aku tidak ingin pergi ke Pati. Ada beberapa orang Pajang yang ikut Ki Penjawi ke Pati. Ada di antara mereka yang akan dengan mudah mengenali aku, meskipun orang-orang itu tidak berniat buruk, tetapi aku akan kehilangan sesuatu dengan pengenalan itu.”

“Seperti Ki Rangga Suraniti yang akan dengan mudah mengenalmu?”

“Ya. Untunglah bahwa aku tidak dengan sengaja menemuinya. Ternyata ada sesuatu yang perlu mendapat perhatian khusus pada Ki Rangga Suraniti. Salah seorang prajurit pilihan yang mendapat banyak kepercayaan itu.”

“Wijang,” berkata Paksi dengan tiba-tiba, “apakah kita dapat menemui panglima pasukan Pajang di Jati Anom dan memberikan keterangan tentang Ki Rangga Suraniti?”

“Mereka tidak akan dengan mudah mempercayai kita. Sementara itu, aku tidak akan dapat melanjutkan pengembaraan ini. Aku akan ditangkap dan dikembalikan ke istana.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia merenung. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah pernah kau pergi ke Kembang Arum?”

Wijang termangu-mangu sejenak. Ia pernah mendengar ceritera Paksi tentang seorang gadis, yang menjadi anak angkat Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.

Dengan nada rendah Wijang itu bertanya, “Apakah kau berniat untuk menemui gadis itu sekaligus menemui Repak Rembulung dan Pupus Rembulung?”

Paksi tersenyum. Katanya, “Tidak. Aku tidak ingin menemui Repak Rembulung dan Pupus Rembulung. Ada kemungkinan bahwa Repak Rembulung dan Pupus Rembulung telah pergi ke Kembang Arum untuk menemui anak gadisnya itu?”

Wijang mengerutkan dahinya. Ia mengingat-ingat ceritera Paksi tentang gadis yang pernah ditolongnya itu. Dengan ragu ia bertanya, “Apakah Repak Rembulung dan Pupus Rembulung tahu bahwa anak gadisnya telah berada di Kembang Arum bersama pemomongnya yang sebenarnya adalah ibunya sendiri itu?”

Paksi pun mengingat-ingat pula. Katanya, “Mungkin Repak Rembulung dan Pupus Rembulung belum mengetahuinya. Gadis itu meninggalkan rumahnya setelah Repak Rembulung dan Pupus Rembulung pergi.”

“Apakah kau akan mencoba melihatnya? Jika keduanya ada di Kembang Arum, niat kita akan kita batalkan.”

“Bagaimana caranya kita dapat mengetahui bahwa Repak Rembulung dan Pupus Rembulung ada di Kembang Arum atau tidak?”

“Jika perlu kita akan mengintai rumah gadis itu sehari semalam. Jika keduanya ada di rumah itu, maka mereka atau salah seorang dari mereka tentu akan pernah keluar dan turun ke halaman selama satu hari satu malam itu.”

Paksi tertawa. Namun sebenarnya ia memang ingin pergi ke Kembang Arum. Menurut perhitungannya, maka Repak Rembulung dan Pupus Rembulung akan pulang dahulu ke rumahnya. Baru ketika ia mengetahui bahwa anaknya tidak ada, maka ia akan mencarinya. Mungkin ke Kembang Arum.

“Nah, kita ambil saja keputusan. Kita pergi ke Kembang Arum,” berkata Wijang kemudian.

“Baiklah,” sahut Paksi kemudian, “aku menurut saja.”

Tiba-tiba saja langkah Wijang terhenti, sehingga Paksi pun harus berhenti pula. Dengan nada tinggi Wijang berkata, “Kau harus menjawab. Setuju atau tidak setuju. Bukan hanya sekedar menurut. Kau harus ikut bertanggung jawab atas keputusan ini.”

“Baik, baik, aku setuju sekali.”

“Nah, dengan demikian, jika terjadi sesuatu atas diri kita, maka kau tidak dapat membebankan tanggung jawabnya kepadaku sendiri.”

“Marilah,” berkata Paksi, “tidak usah merajuk seperti itu.”

“Bukan sekedar merajuk. Tetapi ada kemungkinan kau ditangkap oleh Repak Rembulung dan Pupus Rembulung. Lebih pahit lagi jika kau ditangkap oleh Nyi Melaya Werdi dan Nyi Megar Permati yang sedang berusaha mengikuti Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.”

“Baik. Baik. Kita akan mempertanggung-jawabkan bersama.”

“Nah, kau tidak akan menyalahkan aku jika kau besok berada di kerangkeng dalam sarang Nyi Melaya Werdi dan Nyi Megar Permati.”

“Nama itu mirip dengan nama pemomong yang sebenarnya adalah ibu Kemuning itu sendiri.” “Siapa namanya?” “Nyi Permati.”

“O,” Wijang mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Ada ribuan orang yang mempunyai persamaan nama.”

Paksi menarik nafas panjang. Namun kemudian ia berdesis, “Untunglah bahwa Bahu Langlang tentu akan dilumatkannya menjadi debu.”

Wijang pun berdesis, “Itu namanya nyawa Bahu Langlang cukup liat.”

Paksi pun kemudian terdiam. Mereka pun kemudian melangkah semakin cepat menelusuri jalan yang lengang. Hanya ada satu dua orang sajalah yang berjalan cepat ke arah yang berlawanan.

Wijang dan Paksi pun kemudian telah berketetapan hati untuk pergi ke Kembang Arum. Mereka berjalan jauh lebih cepat dibandingkan dengan perjalanan Paksi bersama Kemuning dan ibunya.

Terik matahari yang menyengat membuat mereka menjadi haus. Meskipun di depan beberapa regol halaman rumah di padukuhan yang mereka lewati terdapat gentong berisi air bersih serta sebuah siwur yang tergantung di dinding halaman, namun keduanya lebih senang untuk singgah barang sebentar di sebuah kedai.

“Aku tidak saja haus,” berkata Wijang, “tetapi aku juga lapar.”

“Kita singgah di sebuah kedai di dekat sebuah pasar. Mungkin pasar itu telah menjadi lengang. Tetapi mudah-mudahan masih ada kedai yang membuka pintunya.”

Sebenarnyalah keduanya masih menemukan kedai yang membuka pintunya. Bahkan masih ada dua tiga kedai, sehingga mereka dapat memilih tempat yang terbaik.

Sesaat kemudian, mereka pun telah duduk di dalam kedai. Ada dua tiga orang yang telah duduk di dalamnya.

“Kita dengarkan, apa yang mereka bicarakan,” bisik Wijang.

Paksi mengangguk.

Mereka kemudian memesan makanan dan minuman. Sementara itu mereka berusaha untuk mendengarkan pembicaraan orang-orang yang telah lebih dahulu berada di kedai itu. Mungkin ada hal-hal yang menarik perhatian mereka.

Tetapi yang mereka bicarakan adalah persoalan mereka sendiri. Barang dagangan mereka yang agak sulit untuk dipisahkan pada saat-saat terakhir karena persaingan menjadi semakin ketat.

Karena itu, maka Wijang dan Paksi pun tidak menghiraukan pembicaraan mereka lagi. Apalagi ketika minuman dan makanan yang mereka pesan telah dihidangkan.

Namun selagi mereka makan, perhatian mereka telah tertarik pada seorang laki-laki muda yang berhenti di depan kedai itu. Tiga orang laki-laki menyertainya. Nampaknya ketiganya adalah para pengiringnya. Menilik sikapnya, maka laki-laki muda itu adalah seorang yang mempunyai pengaruh di lingkungannya.

Apalagi ketika penilik kedai itu dengan tergesa-gesa menyongsongnya.

Sambil membungkuk hormat, pemilik kedai itu mempersilahkan laki-laki muda itu untuk masuk ke dalam kedainya. Tetapi laki-laki muda itu kemudian bertanya, “Apakah kedua perempuan itu tidak ada di kedai ini?”

Pemilik kedai itu termangu-mangu. Dengan dahi yang berkerut ia bertanya, “Kedua perempuan yang manakah yang anak muda maksudkan?”

Laki-laki muda itu tidak menyahut. Tetapi diamatinya bagian dalam kedai itu. Agaknya yang dicarinya memang tidak ada disitu.

“Lihat di kedai yang lain,” berkata laki-laki muda itu kepada pengiringnya.

Dua di antara ketiga pengiringnya itu pun segera melangkah meninggalkan laki-laki muda itu, sementara seorang di antaranya berdiri termangu-mangu di sisinya.

Pemilik kedai itu sekali lagi mempersilahkannya, “Marilah anak muda. Silahkan duduk.”

“Diam,” laki-laki itu tiba-tiba membentak.

Pemilik kedai itu terkejut. Wijang dan Paksi pun terkejut pula. Laki-laki itu menjadi marah tanpa sebab.

Ketika Wijang dan Paksi sempat berpaling, maka dilihatnya orang-orang yang sudah lebih dulu di kedai itu pun nampak menjadi gelisah.

“Kenapa mereka menjadi seperti melihat hantu?” desis Paksi.

“Sst,” Wijang memberi isyarat agar Paksi tidak ribut.

Paksi terdiam. Tetapi ia juga menjadi gelisah, meskipun alasannya berbeda dengan orang-orang yang sudah lebih dahulu berada di kedai itu.

Beberapa saat kemudian kedua orang pengiringnya yang melihat-lihat kedai yang lain itu pun kembali. Seorang di antara mereka berkata, “Mereka ada di kedai sebelah.”

Laki-laki muda itu tidak mengucapkan sepatah jawabpun. Tetapi dengan serta-merta ia melangkah ke kedai sebelah.

Pemilik kedai itu menarik nafas dalam-dalam. Demikian laki-laki muda pengiringnya itu pergi, maka ia pun melangkah kembali masuk ke dalam kedainya.

“Siapakah mereka itu?” tiba-tiba Paksi pun bertanya.

Pemilik kedai itu mendekatinya sambil berdesis, “Ki Sanak orang asing disini?”

“Kami hanya kebetulan saja lewat disini,” jawab Paksi.

Pemilik kedai itu mengangguk-angguk. Katanya, “Anak muda itu adalah anak Ki Demang Sekar Turi. Pasar ini terletak di lingkungan Kademangan Pasar Turi.”

“O,” Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia pun bergumam seolah-olah ditujukan pada diri sendiri, “Nampaknya ia seorang yang sangat dihormati disini.”

“Ya. Ia memang sangat dihormati. Kecuali ayahnya seorang demang yang sangat berpengaruh, anak muda itu sendiri mempunyai kebiasaan yang membuat orang lain harus menghormatinya.”

“Apakah anak muda itu telah berhasil membuat kademangan ini besar dan sejahtera?” Paksi bertanya.

Wijang yang lebih tua dari Paksi sempat menggamitnya. Tetapi pertanyaan itu sudah terlanjur dilontarkan.

Pemilik kedai itu sempat memandang orang-orang yang sudah lebih dahulu berada di kedainya. Sambil menarik nafas panjang ia berkata, “Ki Demang adalah seorang yang besar.”

Pemilik kedai itu pun melangkah meninggalkan Paksi yang agaknya masih ingin bertanya. Tetapi Wijang menggamitnya sambil berdesis, “Sudah.”

Paksi memang berhenti bertanya meskipun gejolak dadanya masih membayang di kerut keningnya.

Sejenak suasana di kedai itu menjadi lengang. Namun seorang di antara orang-orang yang sudah lebih dahulu berada di kedai itu bangkit berdiri dan melangkah mendekati Paksi dan kemudian bahwa duduk di sebelahnya.

“Laki-laki itu ditakuti disini,” desis orang itu.

“Kenapa?” bertanya Paksi yang semakin tertarik pada laki-laki muda itu.

Wijang menarik nafas panjang. Ia tidak berniat mengetahui lebih banyak tentang laki-laki muda itu untuk menjaga perasaan Paksi yang masih muda itu. Tetapi orang itu justru telah bicara lebih jauh tentang laki-laki itu.

“Justru karena ayahnya seorang demang yang mempunyai wibawa yang besar, maka anak itu merasa dapat berbuat apa saja. Yang mencemaskan penghuni kademangan ini adalah kesenangannya terhadap gadis-gadis. Bahkan perempuan-perempuan yang lebih tua dari laki-laki itu sendiri, sering diganggunya. Ia tidak peduli apakah perempuan itu sudah bersuami atau belum.”

Dahi Paksi berkerut semakin dalam. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Selama itu tidak ada orang pernah menegurnya? Ki Jagabaya atau Ki Demang itu sendiri?”

“Anak itu manja. Aku sendiri bukan penghuni kademangan ini. Karena itu, aku dapat berbicara lebih bebas tentang laki-laki muda itu. Tetapi sebenarnya pemilik kedai itu pun ingin berbicara sebagaimana aku katakan ini. Tetapi karena ia penghuni kademangan ini, maka ia lebih senang berdiam diri.”

Orang itu terdiam sejenak. Ketika pemilik kedai itu memandang orang yang sedang berceritera kepada Paksi itu, orang itu pun tersenyum sambil bertanya, “Bukankah begitu?”

Pemilik kedai itu berpaling sambil berdesis, “Berceritera atau tidak, itu urusanmu.”

Orang yang duduk di sebelah Paksi itu pun berceritera lebih lanjut, “Tadi ada dua orang perempuan yang masuk ke dalam kedai sebelah. Dua orang perempuan cantik dengan pakaian yang rapi dan menarik. Aku tidak tahu, siapakah mereka, karena agaknya baru kali ini ia singgah disini. Nah agaknya anak Ki Demang ini atau pengiring-pengiringnya yang sering mencari muka, melihatnya. Jika tidak ada orang yang menyelamatkan, kedua perempuan itu akan bernasib malang. Sementara itu orang sekademangan ini tidak ada yang berani menentang kehendaknya.”

Paksi dan Wijang terkejut mendengar ceritera itu, sehingga dengan serta-merta di luar sadarnya Wijang bertanya, “Dua orang yang berpakaian rapi seperti orang yang hendak pergi ke perhelatan perkawinan sahabatnya.”

“Ya.”

Wijang memandang Paksi dengan tegang. Agaknya Paksi pun mengerti bahwa kedua orang perempuan itu adalah Nyi Melaya Werdi dan Nyi Megar Permati.

“Jika itu benar, maka nasib laki-laki muda itu sudah dapat diramalkan,” berkata Wijang dalam hatinya.

Orang yang berceritera itulah kemudian yang kemudian bertanya, “Kau mengenal kedua perempuan itu?”

Dengan cepat  Wijang menjawab, “Tidak. Aku tidak mengenalnya. Kami hanya melihat sepintas. Kami juga merasa heran, bahwa dengan pakaian seperti itu, keduanya pergi ke pasar.”

“Cara mereka berpakaian dan merias diri memang sangat menarik perhatian. Ada beberapa kesan yang timbul. Bahkan ada kesan yang agak buram. Agaknya keduanya sengaja menarik perhatian.”

Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Wijang pun berkata, “Mungkin keduanya memang orang-orang dari lingkungan orang berada atau berkedudukan sehingga mereka terbiasa mengenakan pakaian dan rias yang demikian.”

“Jika hal itu benar, maka kasihan mereka. Mereka akan mengalami perlakuan yang paling buruk dari anak Ki Demang itu.”

“Tetapi apakah anak itu tidak memikirkan kemungkinan yang dapat terjadi kemudian. Jika kedua perempuan itu keluarga seorang senopati prajurit, bukankah itu berarti anak Ki Demang itu membunuh dirinya betapapun besar pengaruh Ki Demang di padukuhan ini. Anak Ki Demang itu akan dapat ditangkap. Jika ia melawan atau ayahnya berusaha melindunginya, maka para prajurit itu akan dapat mempergunakan alat-alat kekuasaan mereka.”

Orang yang berceritera itu menggeleng. Katanya, “Anak Ki Demang itu tidak akan sempat berpikir sampai sekian. Tetapi jika hal itu terjadi, agaknya ada baiknya juga untuk sedikit memberi pelajaran kepada anak Ki Demang itu. Bahkan ayahnya sekaligus.”

Namun di luar sadarnya Paksi berkata, “Sebentar lagi anak itu akan mendapat pelajaran pula.”

“He?” orang yang berceritera itu bertanya. “Maksudmu?”

Paksi terkejut sendiri. Namun ia pun kemudian menyahut, “Maksudku, pada suatu saat orang yang demikian itu akan mendapat hukumannya.”

“Ya, pada suatu saat. Tetapi pada suatu saat itu kapan?” desis orang yang berceritera itu.

Paksi tidak menjawab. Tetapi jantungnya menjadi berdebar-debar.

“Jika keduanya itu benar Nyi Melaya Werdi dan Nyi Megar Permati, maka sebentar lagi anak itu akan mendapat pelajaran,” berkata Paksi dalam hatinya.

Tetapi Paksi tidak berkata apa-apa lagi. Demikian pula Wijang.

Keduanya pun kemudian memusatkan perhatian mereka terhadap minuman dan makanan mereka.

Orang yang berceritera itu pun  kemudian  bangkit berdiri demikian kawan-kawan mereka berdiri. Katanya, “Silahkan. Aku sudah selesai. Kami akan pulang.”

Setelah membayar harga makanan dan minumannya, maka orang itu bersama-sama dengan kawan-kawannya melangkah menuju ke pintu kedai itu.

Tetapi langkah mereka tertegun. Agaknya di kedai sebelah telah terjadi keributan.

Orang yang telah berceritera kepada Paksi itu berpaling sambil berdesis, “Nah, perjalanan nasib buruk kedua perempuan itu sudah dimulai.”

Tetapi di luar sadarnya pula Paksi menyahut, “Atau yang terjadi justru sebaliknya. Anak itu akan mendapat sedikit pelajaran dari kedua orang perempuan itu.”

Orang itu termangu-mangu. Namun kawan-kawannya pun menggamitnya. Seorang di antara mereka berkata, “Aku tidak berurusan dengan peristiwa apa pun yang terjadi disini.”

Demikianlah, maka orang-orang itu pun melangkah keluar pintu kedai dan segera turun ke halaman.

Sementara itu, Wijang pun segera memberi isyarat kepada Paksi untuk keluar pula dari kedai itu dan melihat apa yang telah terjadi.

Setelah membayar makanan dan minumannya, maka Wijang dan Paksi pun segera melangkah keluar pula. Demikian mereka keluar dari pintu kedai, maka mereka melihat perkelahian yang terjadi di depan kedai sebelah. Dua orang perempuan melawan ampat orang laki-laki yang garang. Seorang di antara mereka adalah anak Ki Demang itu.

Tetapi pertempuran itu nampak tidak seimbang. Ampat laki-laki yang garang itu tidak berdaya menghadapi dua orang perempuan yang berpakaian bagus sebagaimana perempuan-perempuan dari lingkungan orang-orang berada.

Wijang dan Paksi menarik nafas dalam-dalam. Anak Ki Demang itu memang mendapat pelajaran. Tetapi bukan sekedar saja. Ia benar-benar berada dalam kesulitan. Bersama dengan pengiringnya ia berusaha mempertahankan diri. Tetapi perempuan yang dilawannya itu mampu berkelahi dengan garangnya. Jauh berbeda dengan ujudnya.

Dalam pada itu, beberapa orang penghuni kademangan yang melihat anak demangnya dihajar habis-habisan menyaksikan dengan dengan dada yang tegang. Semula mereka menganggap bahwa peristiwa itu akan sedikit memberikan peringatan kepadanya. Tetapi lambat laun mereka menjadi cemas, bahwa anak Ki Demang itu akan benar-benar dihancurkan oleh perempuan-perempuan yang asing bagi kademangan itu.

Karena itu, seorang di antara mereka telah berlari ke serambi samping. Sejenak kemudian, maka terdengar bunyi kentongan dengan irama titir.

Suasananya pun segera berubah menjadi kacau. Pasar di depan kedai itu memang sudah menjadi sepi. Tetapi orang-orang yang masih tersisa menjadi bingung. Mereka yang sedang mengemasi barang-barang dagangan mereka yang tersisa menjadi gelisah dan bahkan ketakutan. Tetapi mereka yang memiliki keberanian justru mempercepat kerja mereka.

Ternyata dari sudut pasar, suara kentongan itu telah disahut pula. Seorang petugas yang menjaga ketertiban pasar telah ikut memukul kentongan dengan irama titir pula. Sementara itu dua orang petugas pasar yang lain, yang ditunjuk oleh Ki Demang tidak dapat tinggal diam melihat kesulitan yang dialami oleh anak muda itu, tetapi mereka tidak mau dianggap bersalah karena mereka tidak berbuat apa-apa ketika terjadi perkelahian di depan pasar. Sedang yang berkelahi dan kemudian mengalami kesulitan adalah anak Ki Demang yang mengangkat mereka bekerja di pasar itu.

Dua orang petugas keamanan di pasar itu pun segera menggabungkan diri betapapun jantung mereka bergetar sejak mereka mendekati arena.

Tetapi kedua orang di pasar itu tidak berarti apa-apa bagi kedua orang perempuan yang garang itu. Seperti diduga oleh Wijang dan Paksi, kedua orang perempuan itu adalah Nyi Melaya Werdi dan Nyi Megar Permati.

Anak Ki Demang itu benar-benar tidak berdaya. Darah sudah mengalir dari sela-sela bibirnya. Matanya nampak menjadi biru. Tulang-tulangnya terasa bagaikan berpatahan.

“Seorang yang telah menyentuh tubuhku dengan tangannya tanpa aku kehendaki, maka tangan itu harus dipotong,” berkata Megar Permati.

Namun Melaya  Werdi bertanya, “Apakah kau tidak memerlukan anak itu?”

“Buat apa anak lerut seperti itu? Aku tidak hanya akan memotong tangannya, tetapi aku juga akan memotong lehernya. Ia terlalu berani menyentuh tubuhku di atas batas leherku.”

Seorang pengawal anak Ki Demang yang bertempur bersama anak Ki Demang itu melawan Megar Permati sama sekali sudah tidak berdaya. Sementara itu, petugas pasar yang datang membantunya itu telah terpelanting dan membentur dinding kedai.

Anak demang itu benar-benar menjadi ketakutan.

Namun dalam pada itu, suara kentongan dengan irama titir itu telah memanggil beberapa orang padukuhan. Bahkan beberapa orang bebahu. Mereka dengan serta-merta telah mengepung Melaya Werdi dan Megar Permati.

Seorang bebahu  dengan serta-merta berteriak,  “Hentikan. Anak muda itu adalah anak Ki Demang.”

Anak muda itu terbaring tidak berdaya. Di dekatnya Megar Permati berdiri sambil bertolak pinggang.

Dengan kakinya ia menyentuh tubuh anak Ki Demang itu sambil berkata dalam nada tinggi, “O, jadi ini anak Ki Demang. Dimana Ki Demang itu sekarang?”

Suasana menjadi semakin tegang. Nyi Melaya Werdi pun sudah tidak berkelahi pula. Dua orang pengawal anak Ki Demang yang berkelahi melawannya ditambah dengan seorang petugas pasar, telah terbaring diam. Agaknya mereka menjadi pingsan.

Nyi Melaya Werdi pun melangkah mendekati adiknya sambil berkata, “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini.”

“Tidak. Aku tidak akan membiarkan anak ini mengganggu perempuan lagi. Jika perempuan-perempuan itu tidak berdaya, maka mereka akan menjadi korbannya.”

Nyi Melaya Werdi memandang beberapa orang yang datang berlari-lari dari padukuhan di sekitar pasar. Bahkan dari padukuhan yang lain, suara kentongan telah merambat dengan cepat.

Namun seorang bebahu telah berkata lantang, “Jangan ganggu lagi anak Ki Demang.”

“Kau tidak melihat apa yang dilakukannya,” bentak Megar Permati.

“Apa pun yang dilakukannya, tetapi kau tidak boleh memperlakukannya seperti itu.”

“Jadi, karena ia anak demang, maka ia dapat berbuat sekehendak hatinya terhadap perempuan? Apakah ia juga memperlakukan perempuan-perempuan di kademangan ini seperti itu?”

Bebahu itu termangu-mangu sejenak. Sebenarnya seperti orang lain di kademangan itu, ia pun menjadi muak terhadap tingkah laku anak Ki Demang itu. Tetapi seperti orang lain, bebahu itu tidak berani berbuat sesuatu.

Dalam pada itu, selagi ketegangan menjadi semakin memuncak, terdengar derap kaki beberapa ekor kuda. Ketika orang-orang yang berkerumun itu berpaling, maka mereka telah melihat Ki Demang, Ki Jagabaya dan dua orang bebahu mendatangi tempat itu.

Orang-orang pun segera menyibak. Sejenak kemudian keempat orang itu pun telah berloncatan dari punggung kudanya.

“Apa yang terjadi?” bertanya Ki Demang. Seorang yang bertubuh tinggi, tegap, berdada bidang dan berkumis lebat di atas bibirnya yang tebal.

Ki Jagabaya dengan serta-merta telah melangkah mendekati anak Ki Demang yang terbaring sambil mengerang kesakitan.

Tetapi semua orang yang berdiri di sekitarnya terkejut bukan buatan. Di hadapan Ki Demang yang garang, perempuan yang telah menghajar anak Ki Demang itu berteriak sambil meletakkan kakinya di dada anak muda yang sudah tidak berdaya itu.

“Iblis betina,” teriak Ki Demang, “siapa kau?”

“Kaukah demang itu?” bertanya Megar Permati.

“Nah, kau ternyata dapat mengenali aku. Anak itu anakku. Sikapmu itu sangat menyakitkan hatiku.”

“Kebetulan sekali aku dapat bertemu dengan ayah dari anak yang gila ini. Ia telah mencoba menggangguku. Dikiranya aku perempuan jalanan yang dapat diperlakukan sekehendak hatinya. Atau anakmu memang terbiasa memperlakukan perempuan-perempuan seperti itu? Memaksakan kehendaknya, sementara jantungnya dicengkam oleh nafsu?”

“Cukup. Apakah kau sadari bahwa tingkah lakumu itu akan dapat membunuhmu?”

“Kau mau apa, demang gila? Kau kira kau dapat menakut-nakuti aku seperti menakut-nakuti rakyatmu?”

Ki Demang itu pun kemudian memberikan isyarat kepada Ki Jagabaya, para bebahu dan orang-orang padukuhan yang telah lebih dahulu datang ke tempat itu untuk mengepung kedua orang perempuan itu.

Sementara itu Melaya Werdi menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Jadi kita harus membunuh?”

“Merekalah yang menentukan, apakah kita akan membunuh atau tidak.”

Ki Demang yang marah itu ternyata tidak sempat menilai kedua orang perempuan itu. Karena itu, maka ia pun berkata lantang, “Tangkap perempuan itu. Mereka harus mendapat hukuman atas penghinaan mereka terhadap kademangan ini.”

“Bagus,” teriak Megar Permati, “aku juga menunda niatku membunuh anakmu. Biarlah ia melihat bagaimana orang-orang kademangannya mati karena tingkah lakunya.”

Namun Melaya Werdi lah yang kemudian berkata lantang, “Ki Sanak. Aku masih memberi kesempatan kepada kalian. Siapa yang tidak ingin mati, jangan dekati kami berdua. Sekali kami meloncat, maka kematian-kematian akan datang beruntun. Karena itu, aku minta kalian sempat membuat pertimbangan demi keselamatan kalian masing-masing.”

“Diam kau perempuan iblis,” teriak Ki Demang. “Jangan mencoba dengan licik menyelamatkan dirimu.”

“Jangan hanya berteriak-teriak. Ayo, siapa yang akan mati lebih dahulu.”

Ki Demang, Ki Jagabaya dan para bebahu pun segera berloncatan maju. Beberapa orang yang mengepung mereka pun telah bergerak pula. Meskipun ada kecemasan di hati mereka, tetapi bersama banyak orang mereka menjadi berani. Ketakutan mereka kepada Ki Demang lebih mencengkam daripada kecemasan mereka menghadapi kedua orang perempuan itu.

“Apa yang dapat dilakukan oleh dua orang perempuan,” berkata orang-orang itu di dalam hatinya.

Seperti yang dikatakan, Megar Permati tidak segera membunuh anak Ki Demang itu. Didorongnya anak muda itu dengan kakinya, sehingga berguling beberapa kali. Sementara itu, Ki Demang telah menyerangnya dengan keris di tangannya. Sebilah keris yang ukurannya lebih besar dari keris kebanyakan. Pamornya nampak berkilat-kilat tertimpa sinar matahari.

Bersamaan dengan itu, seorang bebahu telah berlari menolong anak Ki Demang. Diangkatnya anak muda itu, dan dibawanya menepi. Sedangkan beberapa orang yang lain telah membantu Ki Demang menyerang perempuan yang telah menyakiti anak Ki Demang itu, bahkan dengan beraninya menghina Ki Demang itu sendiri.

Sementara itu, Ki Jagabaya dengan beberapa orang yang lain telah langsung mengepung dan menyerang Nyi Melaya Werdi. Nyi Melaya Werdi sengaja mengambil jarak dari adik perempuannya, agar mereka dapat bertempur lebih leluasa.

Nyi Melaya Werdi menghadapi lawan-lawannya dengan tangkasnya. Disingkapkannya kain panjangnya. Di bawah kain panjangnya Nyi Melaya Werdi mengenakan celana hitam sampai di bawah lututnya sebagaimana Nyi Megar Permati.

Namun ternyata Nyi Megar Permati nampak lebih garang dari kakak perempuannya. Kakinya berloncatan dengan cepatnya sehingga seakan-akan tidak menyentuh tanah. Sementara itu beberapa ujung senjata beruntun datang menyerangnya.

Betapapun tinggi ilmu Megar Permati, menghadapi banyak orang tanpa senjata di tangan telah membuatnya terdesak surut. Sementara itu kemarahannya telah menyala sampai ke ubun-ubunnya.

Ki Demang memang menjadi sangat heran melihat perempuan cantik itu. Ternyata ia berilmu sangat tinggi. Meskipun Ki Demang dan beberapa orang bebahu serta orang-orang kademangan yang membantunya berhasil mendesak perempuan itu surut, tetapi Ki Demang menyadari, bahwa perempuan itu adalah perempuan yang sangat berbahaya.

Ketika kemarahan Megar Permati menjadi tidak terkendali, maka perempuan itu telah mengibaskan selendangnya. Selendangnya yang di kedua ujungnya dihiasi pernik-pernik mas dan perak. Tetapi mas dan perak itu bukan sekedar perhiasan yang membuat selendangnya menjadi sangat mahal, tetapi mas dan perak itu menjadi sangat berbahaya jika Megar Permati mempergunakan selendangnya itu sebagai senjata.

Sebenarnyalah, bahwa sejenak kemudian, selendang Megar Permati telah mulai menyebarkan malapetaka. Seorang bebahu yang bertempur bersama Ki Demang telah terlempar dari arena, jatuh berguling di tanah. Sambil menggeliat berputar-putar bebahu itu mengaduh kesakitan. Pundaknya telah terkoyak oleh senjata Megar Permati. Lukanya yang menganga telah mencucurkan darah yang hangat.

Dalam pada itu, terdengar suara Nyi Melaya Werdi yang melengking menggetarkan jantung, “Ternyata kalian tidak tahu apa yang dapat terjadi atas diri kalian. Jika kalian tidak menarik diri, maka kematian demi kematian akan mencengkam kalian. Jika darah di dalam tubuh ini sudah terlanjur mendidih, maka tidak akan ada jalan kembali. Hanya nama kalian sajalah yang masih akan dikenang oleh orang-orang kademangan ini.”

Tetapi seorang bebahu telah berteriak marah, “Menyerahlah. Kalian hanya berdua. Kalian telah dikepung sehingga kalian tidak akan dapat melarikan diri.”

“Kau akan menyesal dengan sikapmu. Tetapi aku masih memberi kesempatan,” berkata Melaya Werdi.

Tetapi Megar Permati justru berteriak, “Tidak ada belas kasihan lagi, Kakangmbok.”

“Beri mereka kesempatan sekali lagi jika mereka masih ingin berumur panjang.”

“Aku ingin menunjukkan kepada anak demang itu, bahwa akibat dari perbuatannya adalah mengerikan.”

Namun Nyi Melaya Werdi masih berkata lantang, “Nah, kau dengar. Cepat, pergi dari sini.”

Tetapi Ki Demang berteriak pula, “Kami akan menggantung kalian di halaman banjar kademangan karena kalian telah menghina kami dan seisi kademangan ini.”

Nyi Melaya Werdi masih menyahut, “Jadi kau tetap akan bertempur demi anakmu yang gila itu?”

“Persetan dengan igauanmu.”

Ternyata jawaban Ki Demang itu merupakan aba-aba bagi Nyi Melaya Werdi dan Megar Permati. Kesempatan yang diberikan oleh Melaya Werdi itu telah disia-siakan, sehingga sejenak kemudian, maka darah pun menjadi semakin banyak tertumpah.

Seorang lagi di antara mereka yang bertempur melawan Megar Permati telah terlempar keluar arena. Lambungnyalah yang terkoyak. Ternyata ia tidak sempat mengaduh.

Ki Demang dan orang-orang yang bertempur bersamanya tidak sempat memperhatikan orang itu. Selendang Megar Permati telah mematuk seorang lagi. Seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan. Orang itu terpelanting jatuh menimpa bebatur kedai sehingga kepalanya retak selain dadanya bagaikan meledak. Beberapa tulang iganya patah.

Demikian parah keadaannya, sehingga ia pun telah meninggal seketika.

Ternyata Megar Permati benar-benar tidak mengekang diri lagi. Sementara itu semakin banyak orang yang datang karena kentongan masih saja meneriakkan irama titir. Beberapa orang laki-laki yang berani telah ikut serta mengepung kedua orang perempuan itu. Orang-orang yang semula membenci anak Ki Demang itu, ternyata tersinggung juga melihat dua orang perempuan yang telah mengacaukan kademangan mereka.

Namun orang-orang kademangan yang tidak mempunyai pengalaman yang luas itu menjadi sangat gelisah melihat kegarangan lawan. Nyi Melaya Werdi yang telah memberikan kesempatan terakhir itu pun menjadi marah pula. Seperti adiknya, maka sejenak kemudian selendangnya pun telah memungut korban. Satu-satu lawannya terlempar keluar arena. Tidak sekedar terluka. Tetapi mereka telah terbunuh.

Dengan demikian, maka orang-orang yang mengepung kedua orang perempuan itu mulai menjadi gentar. Hanya orang-orang yang mempunyai keberanian yang tinggi sajalah yang masih berani menyerang Nyi Melaya Werdi dan Nyi Megar Permati. Sementara itu, keduanya benar-benar telah menyebarkan maut.

Akhirnya kepungan itu pun menjadi semakin longgar. Orang-orang mulai berpikir, bahwa sulit bagi mereka untuk menundukkan kedua orang perempuan itu. Sementara itu, senjata Melaya Werdi dan Megar Permati bagaikan ular yang memburu dan mematuk lawannya tanpa ampun.

Sikap Ki Demang pun mulai goyah. Sementara itu Megar Permati pun berteriak, “Terakhir, aku akan membunuh anak Demang edan itu dengan caraku. Tetapi jika ayahnya ingin ikut mati, aku sama sekali tidak berkeberatan. Kademangan ini akan segera mendapat seorang demang baru yang lebih baik, yang anaknya tidak gila seperti anak muda itu.”

Ki Demang memang menjadi sangat cemas. Tetapi ia tidak akan membiarkan anaknya dibunuh. Karena itu, selagi masih banyak orang yang memiliki sisa-sisa keberanian, Ki Demang itu pun berteriak, “Bawa anak itu pergi.”

Dua orang bebahu telah berusaha mengangkat anak Ki Demang yang sudah tidak berdaya itu dibantu oleh beberapa orang. Tetapi langkah mereka terhenti. Megar Permati telah meloncat menembus kepungan dengan melemparkan dua orang di antara mereka yang mencoba untuk menghalanginya.

“Jangan bawa pergi anak itu. Aku memerlukannya. Ia akan mati seperti orang-orang yang mencoba membelanya, termasuk ayahnya. Letakkan anak itu.”

Orang-orang yang mengangkat anak Ki Demang itu mencoba berlari. Tetapi selendang Megar Permati telah mematuk dua orang di antara mereka di punggung, sehingga tulang punggung mereka serasa berpatahan. Sementara itu, orang-orang lain tidak mampu mencegahnya. Apalagi kemudian, selendang itu telah berputaran melindungi tubuh Megar Permati dari ujung senjata di seputarnya. Seorang yang mencoba melemparkan tombaknya, ternyata runtuh oleh sentuhan selendang itu sebelum sempat melukai kulitnya.

Dalam pada itu, Wijang dan Paksi memperhatikan pertempuran itu dengan jantung yang berdebaran. Semula ia bergeser menjauh dan bahkan berusaha bersembunyi di balik pepohonan.

Tetapi ketika mereka melihat Melaya Werdi dan Megar Permati menyebar kematian dengan semena-mena, jantung mereka pun berdentang semakin cepat. Meskipun mereka sudah mengira bahwa malapetaka bakal terjadi atas anak Ki Demang, tetapi yang terjadi itu ternyata jauh lebih mengerikan lagi. Apalagi Megar Permati masih juga berniat untuk membunuh anak Ki Demang itu dengan caranya.

“Pelajaran itu sudah lebih dari cukup,” berkata Wijang di luar sadarnya.

Paksi yang berdiri di dekatnya berdesis, “Tingkah laku mereka sudah keterlaluan.”

“Kita harus menghentikannya. Keduanya akan menyebarkan kematian jauh lebih banyak lagi. Justru mereka yang tidak bersalah. Orang-orang itu berdiri di antara mulut buaya dan mulut harimau. Jika mereka tidak mau membantu Ki Demang, maka nasib mereka pun akan dapat menjadi sangat buruk, bahkan bersama keluarga mereka.”

“Apa yang akan kita lakukan?”

“Apaboleh buat. Kita tidak dapat bersembunyi terus sementara kedua orang perempuan itu membunuh tanpa kendali.”

Paksi mengangguk. Meskipun masih ada sedikit keraguan, apakah ia mampu menghadapi perempuan-perempuan garang itu. Namun akhirnya ia telah membulatkan tekadnya. Ia tidak dapat berdiam diri melihat pembunuhan yang semena-mena.

Sejenak kemudian, Wijang pun telah memberi isyarat, sehingga keduanya pun telah melangkah dengan cepat, mendekati arena pertempuran yang tidak seimbang itu.

“Nyi Melaya Werdi dan Nyi Megar Permati,” Wijang pun menyebut nama mereka untuk menghentikan pembunuhan-pembunuhan yang berlangsung itu.

Sebenarnyalah Melaya Werdi dan Megar Permati terkejut mendengar namanya disebut. Karena itu, maka mereka pun telah meloncat mengambil jarak dari orang-orang yang sedang dibantainya.

“Siapa kau?” bertanya Melaya Werdi ketika mereka melihat dua orang anak muda mendekatinya.

Wijanglah yang menjawab, “Beruntunglah aku dapat bertemu dengan kalian disini. Kami adalah utusan khusus Harya Wisaka untuk mencari kalian, karena kalian tidak ada di sarang kalian. Kami mendapat tugas untuk membawa Pangeran Benawa kembali ke istana.”

Kedua orang perempuan itu termangu-mangu sejenak. Sementara itu, orang-orang kademangan yang merasa tidak berdaya itu berdiri bagaikan membeku di tempat mereka.

“Aku tidak mengerti maksudmu,” desis Nyi Melaya Werdi.

“Harya Wisaka telah mendapat pengakuan dari murid-muridmu yang tertawan ketika terjadi pertempuran di kaki Gunung Merapi itu. Kalian berdua telah menyimpan Pangeran Benawa di dalam sarangmu. Tetapi ternyata kalian sampai hari ini belum kembali ke sarangmu dan bahkan dengan semena-mena telah membunuh orang-orang tidak berdaya disini.”

“Persetan dengan Harya Wisaka,” geram Melaya Werdi. “Aku tidak tahu-menahu tentang Pangeran Benawa.”

“Jangan ingkar. Murid-muridmu yang tertawan di antara beberapa orang tawanan yang lain telah mengaku, bahwa Pangeran Benawa ada di tanganmu.”

“Iblis kau. Kau telah mengganggu permainanku,” geram Megar Permati. “Pergilah dan katakan kepada Harya Wisaka, bahwa kami tidak tahu-menahu tentang Pangeran Benawa.”

“Megar Permati,” sahut Wijang, “kau jangan ingkar. Pasukan segelar sepapan telah siap untuk melumatkan sarangmu di Goa Lampin yang dipimpin langsung oleh Harya Wisaka. Karena itu, sebaiknya kalian berdua berterus-terang, dimana Pangeran Benawa kalian sembunyikan. Jika kalian mau menyerahkan Pangeran Benawa, maka sarangmu tidak akan menjadi karang abang.”

“Jangan mengigau kau anak ingusan,” jawab Megar Permati. “Sekarang pergilah. Biarlah aku mendapat kepuasan dengan permainanku ini.”

“Aku tidak mempunyai banyak waktu. Jika kau tidak segera kembali, maka aku akan mendapat hukuman dari Harya Wisaka. Tetapi lebih buruk dari itu, Goa Lampin akan lenyap untuk selama-lamanya.”

“Cukup,” bentak Melaya Werdi. “Sebenarnya sayang sekali untuk membunuh kalian berdua. Tetapi jika kalian berdua tidak mau kami jinakkan, maka kalian akan kami bunuh bersama dengan orang-orang kademangan ini.”

Wijang pun sempat berdesis perlahan, “Hati-hatilah terhadap matanya, Paksi.”

“Ya,” sahut Paksi singkat. Ia sadar sepenuhnya bahwa kedua perempuan itu memiliki kekuatan sihir yang dapat mencengkam penalaran seseorang, sehingga seseorang akan kehilangan kepribadiannya.

Dalam pada itu, Ki Demang, para bebahu dan orang orang kademangan itu kembali berpengharapan. Kedua orang anak muda itu nampaknya telah mengenal kedua orang perempuan yang garang dan menakutkan itu. Jika mereka bukan orang-orang berilmu, maka mereka tidak akan berani menentang kedua orang perempuan itu.

Wijang dan Paksi pun melangkah semakin dekat. Dengan lantang Wijang pun berkata, “Melaya Werdi, kau tidak mempunyai pilihan lain. Serahkan Pangeran Benawa kepada kami.”

“Anak-anak setan. Apakah kalian sadari apa yang sedang kalian lakukan? Mungkin Harya Wisaka memberikan perintah itu kepadamu tanpa menjelaskan siapakah kami berdua.”

“Kami mengetahui kalian berdua dengan sebaik-baiknya. Kami pun sudah melihat apa yang kalian lakukan terhadap orang-orang kademangan ini. Justru karena itu, maka kami telah dengan tergesa-gesa menemui kalian.”

“Jika demikian, baiklah. Kami akan berurusan dahulu dengan kalian berdua. Baru kemudian kami akan menyelesaikan permainan kami,” berkata Melaya Werdi. Sedangkan Megar Permati pun kemudian berkata kepada Ki Demang, “Ki Demang, jangan mencoba membawa anakmu pergi selama aku mengurus kedua orang anak yang keras kepala ini. Jika kau bawa anakmu pergi, maka nanti aku akan mencarinya. Kademanganmu akan menjadi rusak. Aku akan membakar banyak rumah dan membunuh banyak orang termasuk perempuan dan kanak-kanak. Kaulah yang harus bertanggung jawab terhadap kematian dan kerusakan atas kademangan itu.”

Jantung Ki Demang berdetak semakin cepat. Ia tidak tahu apa yang sebaiknya harus dilakukannya. Sementara itu, orang-orang yang mengangkat anaknya telah meletakkannya kembali di tanah sejak dua orang di antara mereka terpelanting jatuh karena punggungnya telah dipatuk oleh senjata Megar Permati.

Sementara itu Wijang dan Paksi pun telah mengambil jarak. Meskipun Megar Permati lebih garang dari Melaya Werdi, tetapi Wijang meyakini bahwa Melaya Werdi mempunyai ilmu yang lebih matang. Karena itu, maka Wijang pun telah menempatkan dirinya untuk menghadapi Melaya Werdi.

Ternyata Wijang telah memasang perisai di pergelangan tangannya. Sementara itu, kedua tangannya telah menggenggam pisau belatinya pula, justru karena yang dihadapinya adalah Melaya Werdi yang telah mengurai selendangnya. Sedangkan Paksi pun telah bersiap pula menghadapi Megar Permati yang garang. Namun Paksi pun menyadari, bahwa ilmu perempuan yang garang itu tidak sematang ilmu kakak perempuannya.

Dengan hati-hati Paksi mempersiapkan diri. Ki Marta Brewok telah banyak memberikan petunjuk kepadanya untuk menghadapi segala macam senjata. Bahkan Paksi pun sudah bersiap untuk menghadapi tatapan mata pemimpin dari Perguruan Goa Lampin itu. Tatapan mata yang dapat mempengaruhi daya nalar dan budi seseorang.

Menghadapi orang-orang yang mengaku pengikut Harya Wisaka itu, Nyi Melaya Werdi dan Nyi Megar Permati nampak lebih berhati-hati. Kedua orang pengikut Harya Wisaka itu tentu tidak sekedar mampu berteriak-teriak sebagaimana orang-orang kademangan itu.

Sejenak kemudian, maka selendang kedua orang perempuan itu pun mulai berayun. Wijang yang menggenggam dua pisau belatinya serta mengenakan penutup pergelangan tangannya yang juga merupakan perisai itu, bergeser beberapa langkah. Wijang pun sadar, bahwa lawannya adalah seorang perempuan berilmu tinggi.

Ketika kemudian Melaya Werdi mengibaskan selendangnya, Wijang pun bergeser surut selangkah. Sambaran angin menunjukkan kepada lawannya, betapa tinggi ilmunya sehingga lawannya yang masih muda itu harus berpikir dua tiga kali untuk bertempur melawannya.

“Apakah kau tetap ingin melaksanakan perintah Harya Wisaka untuk memaksa kami menyerahkan Pangeran Benawa yang memang tidak berada di tangan kami?”

“Kami tidak mempunyai pilihan lain,” jawab Wijang.

“Bersiaplah. Kau tidak akan mampu bertahan sepenginang.”

Wijang tidak menjawab. Tetapi ia pun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Senjata lawannya adalah senjata yang sangat berbahaya. Apalagi di tangan Melaya Werdi yang berilmu sangat tinggi itu.

Sejenak kemudian, maka selendang Melaya Werdi itu sudah berputar. Semakin lama semakin cepat. Ayunannya yang deras menyambar ke arah tubuh Wijang. Tetapi tubuh Wijang itu telah melayang menghindarinya.

Serangan-serangan selanjutnya pun datang beruntun. Namun kedua pisau belati Wijang itu pun berputaran pula. Benturan-benturan segera terjadi. Setiap kali ujung selendang Melaya Werdi itu telah menyentuh pergelangan tangan Wijang yang dilindungi oleh lembaran kulit yang lebar yang melingkari pergelangannya itu.

Setiap kali Melaya Werdi mengerutkan dahinya. Ujung selendangnya itu terasa bagaikan menyentuh lapisan baja yang tidak tertembus oleh senjatanya itu.

Dengan demikian, maka Nyi Melaya Werdi pun telah meningkatkan kemampuannya pula. Selendangnya berputaran semakin cepat. Setiap kali ujung selendang itu telah menyambar dengan derasnya. Namun kemudian mematuk dengan garangnya.

Tetapi setiap kali, lawannya mampu menghindar, menangkis dan bahkan sekali-sekali terasa selendang itu bagaikan terkait oleh ujung-ujung sepasang belati anak muda itu.

Nyi Melaya Werdi memang menjadi cemas. Belati itu memang bukan belati kebanyakan. Ketajaman penglihatan Melaya Werdi sempat melihat peletik-peletik pamor pada pisau belati itu.

“Nampaknya memang seperti sebilah keris,” berkata Melaya Werdi di dalam hatinya, “tetapi hulunya sajalah yang sengaja dibuat sederhana seperti hulu pisau belati.”

Dengan demikian, maka Melaya Werdi harus semakin berhati-hati. Ia tidak ingin selendangnya menjadi cacat oleh ujung belati lawannya yang mendebarkan itu.

Dalam pada itu, kecepatan gerak Wijang bukan saja mampu menghindari serta menangkis setiap serangan Melaya Werdi. Namun serangan-serangannya justru mampu mengejutkan perempuan yang berilmu tinggi itu.

Dalam pada itu, Megar Permati pun telah bertempur dengan garangnya. Namun setiap kali ujung selendangnya telah membentur tongkat lawannya. Tongkat yang ujudnya tidak lebih dari sepotong kayu yang seakan-akan begitu saja dipatahkannya dari pagar di pinggir jalan. Namun ternyata tongkat itu mampu menggetarkan tangannya jika selendangnya membenturnya.

Dengan demikian, maka Megar Permati pun menjadi berdebar-debar. Ia tidak mengira bahwa anak muda itu ternyata memiliki ilmu yang mampu mengimbangi ilmunya.

Paksi yang sejak semula sudah mengetahui bahwa Megar Permati memiliki ilmu yang tinggi, bertempur dengan sangat berhati-hati. Paksi sendiri menyadari, bahwa pengalamannya masih terlalu sempit dibanding dengan pengalaman Megar Permati. Namun keyakinannya tentang ilmu yang didasari oleh gurunya dan yang kemudian ditingkatkan dan dimatangkan oleh Ki Marta Brewok, membuat Paksi mampu bertempur dengan mapan. Tongkatnya berputaran dengan cepat. Bukan saja sekedar menangkis serangan-serangan lawannya. Tetapi sekali-sekali Paksi pun mampu menyerang pula. Bahkan sekali-sekali Megar Permati terpaksa meloncat surut untuk mengambil jarak dari ujung tongkat Paksi yang seakan-akan memburunya itu.

Dalam pada itu, Ki Demang dan orang-orangnya menyaksikan pertempuran itu dengan jantung yang berdebaran. Mereka sama sekali tidak mengenal dua orang anak muda yang tiba-tiba datang dan bahkan telah mengambil alih pertempuran, melawan kedua orang perempuan yang garang itu.

Sementara itu pertempuran pun semakin lama menjadi semakin sengit. Megar Permati tidak lagi mengekang diri. Serangan-serangannya langsung mengarah ke tempat-tempat yang paling berbahaya pada tubuh Paksi. Namun Paksi pun dengan tangkasnya mampu mengimbanginya. Bahkan semakin lama Paksi pun menjadi semakin percaya diri. Betapapun tinggi kemampuan Megar Permati serta betapapun luasnya pengalamannya, namun masih dalam jangkauan batas kemampuan Paksi meskipun Paksi harus mengerahkan segenap kemampuannya.

Ki Demang dan orang-orang kademangan yang datang ke tempat itu, tidak lagi mampu menilai pertempuran itu. Pertempuran yang seakan-akan tidak lebih dari kelebat bayangan yang berterbangan berputar-putar.

Dalam pada itu, seorang bebahu yang menyadari keadaan sempat berbisik di telinga Ki Demang, “Kita dapat meninggalkan tempat ini. Biarlah mereka menyelesaikan pertempuran itu.”

Ki Demang berpikir sejenak. Hampir saja ia menyetujui pendapat itu. Namun ternyata ada sesuatu yang menghambatnya.

“Aku tidak dapat meninggalkan kedua orang anak muda itu begitu saja,” berkata Ki Demang. “Mereka telah memberikan harapan kepada kita untuk hidup. Dalam keadaan yang memaksa, kita harus membantunya, apa pun yang terjadi.”

“Tetapi pertempuran itu benar-benar tidak dapat kita mengerti.”

“Bagaimanapun juga, kita dapat mengganggu pemusatan nalar budi kedua orang perempuan itu. Mungkin kita masih harus memberikan korban lagi. Tetapi itu tentu lebih baik daripada kita meninggalkan arena ini. Jika kedua perempuan itu memenangkan pertempuran, maka mereka akan dapat menghancurkan seluruh kademangan. Mereka dapat membunuh lebih banyak lagi. Bahkan perempuan dan anak-anak.”

Bebahu itu termangu-mangu sejenak. Perasaannya yang paling dalam merasakan perubahan sikap Ki Demang. Ternyata Ki Demang itu tidak lagi memikirkan dirinya sendiri atau keluarganya. Ia masih memikirkan kedua orang anak muda yang telah membantunya meskipun keduanya mempunyai alasan tersendiri.

Ki Demang memang tidak beranjak dari tempatnya. Orang-orang kademangan itu pun telah menahan diri pula untuk tidak lari dari arena.

Namun Ki Demang itu pun kemudian berkata, “Cari air. Usahakan menolong anakku. Tetapi kau tidak usah membawanya pergi.”

Bebahu itu pun kemudian telah memerintahkan seseorang untuk mencari air bagi anak Ki Demang yang ada dalam keadaan parah.

Sementara itu, Nyi Melaya Werdi dan Megar Permati masih bertempur dengan sengitnya. Bahkan semakin lama menjadi semakin sengit. Mereka telah berada pada puncak kemampuan mereka masing-masing. Selendang Melaya Werdi dan Megar Permati berputaran semakin cepat. Bahkan kemudian selendang itu bagaikan kabut yang mengepul di sekitar tubuh Melaya Werdi dan Megar Permati.

Namun Wijang dan Paksi sama sekali tidak menjadi gentar.

Tongkat Paksi pun berputaran pula. Bahkan beberapa kali Paksi sengaja membenturkan tongkatnya, menghantam kabut yang menyelimuti tubuh Megar Permati.

Ternyata tenaga dalam Paksi setiap kali mampu menggetarkan dada Megar Permati. Benturan yang terjadi, rasa-rasanya telah menggetarkan bukan saja tangan Megar Permati. Tetapi merambat menyusup di antara urat-uratnya sampai ke jantung.

Sementara itu Melaya Werdi pun mulai gelisah. Sekali-sekali masih terasa ujung-ujung pisau belati lawannya, seakan-akan telah terkait pada anyaman selendangnya. Bahkan pada perhiasan mas dan perak di ujung-ujung selendangnya. Dalam puncak kekuatan dan kemampuan masing-masing, maka ujung pisau itu akan dapat mengoyakkan selendang pusakanya itu.

“Anak ini memang gila,” geram Melaya Werdi.

Wijang ternyata mendengar geram itu. Karena itu, maka ia pun menjadi semakin berhati-hati. Agaknya Melaya Werdi akan segera sampai pada ilmu puncaknya, yang hanya dilepaskan dalam keadaan yang paling gawat.

Sementara itu, Megar Permati pun semakin lama semakin mengalami kesulitan pula melawan Paksi. Tongkat Paksi semakin lama menjadi semakin berbahaya. Bahkan Megar Permati itu terkejut dan melompat mengambil jarak ketika ujung tongkat Paksi itu sempat menyentuh lengan bajunya.

“Anak iblis,” Megar Permati mengumpat marah ketika ia mengetahui bahwa lengan bajunya terkoyak.

Paksi tidak segera memburunya. Sejenak ia berdiri termangu-mangu.

Dalam pada itu, Melaya Werdi benar-benar telah mengerahkan ilmu pamungkasnya. Selendangnya yang berputar tidak saja seakan-akan merupakan lingkaran kabut yang menyelubungi tubuhnya. Tetapi kabut itu semakin lama menjadi semakin kemerah-merahan. Udara yang bergetar karena putaran selendang itu pun menjadi hangat dan bahkan semakin lama semakin panas.

Kabut itu tidak lagi nampak karena putaran selendangnya, tetapi selendang yang kemudian menjadi kemerah-merahan itu benar-benar telah berasap.

Wijang menyadari keadaannya. Ilmu yang sangat berbahaya itu akan dapat menelannya dan bahkan membuatnya menjadi arang. Karena itu, maka Wijang pun telah meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak. Dengan memusatkan nalar budinya, maka Wijang pun telah mengetrapkan ilmunya pula. Sambil menggenggam pisau belatinya, Wijang menyilangkan kedua tangannya di dadanya.

Tubuh Wijang itu tiba-tiba seakan-akan telah mengembun. Asap yang dingin bagaikan mengepul dari lubang-lubang kulitnya. Seperti tertiup angin yang lembut, maka asap yang dingin itu mengalir perlahan-lahan, berputar mengelilingi tubuhnya.

Melaya Werdi terkejut. Ia sudah menjelajahi dunia olah kanuragan yang penuh dengan belukar yang berduri runcing. Namun ia masih juga terkejut dan berdebar-debar melihat kemampuan anak muda itu.

Udara panas yang dipancarkan dari putaran selendang Nyi Melaya Werdi itu seakan-akan telah terhisap membeku ke dalam asap yang mengelilingi tubuh Wijang. Bahkan Wijang kemudian tidak hanya berdiri membeku sambil menyilangkan tangannya. Beberapa saat kemudian, maka Wijang pun telah berloncatan menyerang lawannya, sementara asap putih itu masih saja selalu berada di seputarnya kemana pun ia bergeser.

Dengan demikian, maka ilmu Nyi Melaya Werdi tidak mampu menghadapi asap yang dingin di seputar tubuh Wijang. Pertahanan yang membuat benturan yang lunak dengan ilmu Nyi Melaya Werdi itu benar-benar menyulitkan kedudukannya.

Karena itu, maka Nyi Melaya Werdi itu pun harus berloncatan surut untuk menghindari serangan-serangan sepasang pisau belati di tangan anak muda itu.

Sementara itu, Megar Permati pun menjadi semakin terdesak oleh serangan-serangan Paksi. Beberapa kali Megar Permati harus meloncat surut, sementara Paksi masih saja terus mendesaknya.

Namun tiba-tiba Megar Permati itu menghentikan putaran selendangnya. Bahkan perempuan itu pun kemudian berkata, “Tunggu, anak muda. Ternyata kau memiliki ilmu yang sangat tinggi.”

Paksi yang sudah siap menyerang itu memang tertegun sejenak. Dipandanginya wajah Megar Permati sejenak. Wajah yang berkerut dan menegang. Namun wajah itu perlahan-lahan telah berubah. Namun Megar Permati itu justru mulai tersenyum.

Paksi menjadi heran melihat perubahan itu. Bahkan jantungnya menjadi berdebar-debar ketika ia melihat kedua mata Megar Permati yang seakan-akan menjadi berkilat-kilat.

“Apakah kau benar-benar menjadi marah, anak muda,” bertanya Megar Permati sambil tersenyum.

Tiba-tiba saja bulu-bulu tengkuk Paksi meremang. Ia tidak menjadi gentar melihat permainan selendang Megar Permati yang garang. Namun ketika ia melihat Megar Permati tersenyum maka debar jantungnya serasa menjadi semakin cepat.

“Aku tidak bersungguh-sungguh, anak muda,” berkata Megar Permati dengan lembut.

Paksi masih berdiri membeku di tempatnya.

Dalam pada itu, selagi Paksi dicengkam oleh kegelisahan, terdengar Wijang yang masih bertempur dengan Melaya Werdi berteriak, “Hati-hati dengan matanya.”

Paksi seperti terbangun dari mimpinya. Ia sempat melihat mata Megar Permati yang berkilat-kilat. Terasa getar tatapan mata itu mulai menyentuh hatinya.

Namun peringatan Wijang itu sempat menggugah kesadarannya, bahwa tatapan mata Megar Permati itu sangat berbahaya. Ada kekuatan sihir yang memancar dari sepasang mata itu. Karena itu, maka Paksi pun harus meningkatkan daya tahannya serta kemampuan mempertebal kesadaran dirinya. Ia tidak boleh kehilangan kepribadiannya dan tunduk kepada kehendak Megar Permati.

Peringatan Wijang itu membuat jantung Megar Permati bagaikan terbakar. Tetapi ia masih mencoba menahan diri. Ia masih ingin meyakinkan dirinya atas kemampuan daya tahan lawannya yang masih muda itu.

Karena itu, maka Megar Permati itu masih saja tersenyum sambil berkata, “Jangan takut, anak muda. Pandang mataku.

Kau akan melihat indahnya dunia ini. Kau akan melihat betapa luasnya langit dan betapa cerahnya cahaya matahari. Kau akan melihat dirimu sendiri yang mengambang dalam kenikmatan hidup yang tidak akan sempat kau nikmati pada kesempatan lain.”

Paksi menggeratakkan giginya. Meskipun ia memiliki kemampuan daya tahan yang tinggi serta kesadaran akan dirinya yang kuat, tetapi Paksi tidak mau memandang mata Megar Permati.

Terdengar suara Megar Permati yang ramah, “Kenapa kau malu, anak muda. Kau akan melihat mataku. Kau akan mendengar suaraku. Kau akan melakukan apa yang aku katakan. Marilah. Jangan malu.”

Paksi memang mengangkat wajahnya. Tetapi ia sudah memagari jantungnya dengan kesadaran yang tinggi, bahwa dirinya tidak akan terbenam ke dalam pengaruh sihirnya.

“Megar Permati,” berkata Paksi, “kau tidak usah mencoba mempergunakan sihirmu untuk menguasai kehendakmu atas aku. Karena itu, kau tidak usah tersenyum-senyum seperti itu, karena aku tetap menyadari, bahwa di balik senyummu itu tersembunyi jantungmu yang berbulu setajam duri.”

Senyum Megar Permati pun tiba-tiba lenyap dari bibirnya. Bahkan perempuan itu pun menggeram, “Anak iblis. Kau benar-benar akan mati.”

“Kematianku tidak berada di tanganmu,” sahut Paksi. Lalu katanya, “Sekarang lebih baik kau serahkan Pangeran Benawa itu kepada kami. Kami akan pergi dan menyerahkannya kepada Harya Wisaka. Kami berjanji tidak akan menyakitimu dan tidak akan mengganggu perguruanmu.”

Megar Permati tidak menjawab. Tetapi selendangnya kembali berputar dengan cepatnya.

Namun pada saat yang bersamaan, Nyi Melaya Werdi benar-benar telah terdesak. Panas apinya tidak mampu mengatasi dinginnya embun lawannya. Bahkan udara yang dingin itu mulai merambah mencengkam kulitnya. Nafasnya pun menjadi terganggu karena udara pun seakan-akan telah membeku di lubang hidungnya.

Sementara itu, serangan-serangan anak muda itu masih saja memburunya. Ujung pisau belati itu seakan-akan mulai berdesing di telinganya seperti seekor nyamuk yang berterbangan di sekeliling kepalanya.

Karena itu, maka Nyi Melaya Werdi tidak mempunyai pilihan lain. Ia pun segera memberikan isyarat kepada Megar Permati dengan siulan nyaring.

Sejenak kemudian, kedua orang perempuan itu pun dengan cepatnya meloncat surut. Kemudian dibentangkannya selendangnya sepanjang kedua lengannya yang merentang.

Nyi Melaya Werdi dan Nyi Megar Permati itu bagaikan terbang meninggalkan arena.

Paksi sudah bersiap untuk memburunya. Namun Wijang berdesis, “Biarkan mereka pergi.”

Paksi mengurungkan niatnya. Sambil menarik nafas panjang ia berkata, “Kenapa kita melepaskan mereka?”

“Apakah kau mempunyai kerangkeng untuk mengurungnya?”

Paksi pun terdiam. Sementara Wijang itu pun berkata, “Mereka tidak akan pernah melupakan kekalahan ini. Tetapi itu bukan persoalan kita lagi. Itu persoalan mereka dengan Harya Wisaka.”

Paksi tersenyum. Namun ia pun kemudian berdesis perlahan,

“Mudah-mudahan mereka mempercayainya.”

Sementara itu, Ki Demang dan orang-orangnya berdiri termangu-mangu. Mereka telah terpukau oleh pertempuran yang telah terjadi.

“Bagaimana dengan anakmu?” bertanya Wijang kepada Ki Demang.

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Dalam keadaan biasa, ia tidak mau mendengar pertanyaan seperti itu. Ia adalah demang yang berkuasa di kademangan itu.

Tetapi menghadapi kenyataan yang terjadi, maka Ki Demang itu mengangguk hormat sambil menjawab, “Keadaannya cukup parah, anak muda.”

Wijang pun kemudian melangkah mendekati anak Ki Demang yang terbaring sambil mengerang kesakitan.

Sebenarnyalah keadaan anak muda itu memang parah. Namun agaknya masih berpengharapan jika ia ditangani oleh seorang tabib yang baik.

“Apakah di kademangan ini ada tabib yang baik?” bertanya Wijang kemudian.

“Ada, anak muda,” jawab Ki Demang. “Seorang tua yang mempunyai pengalaman yang cukup luas.”

“Baik. Hubungi tabib itu. Serahkan anakmu dalam perawatannya agar keadaannya dapat membaik. Berdoalah untuk anakmu. Kau tahu artinya?”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk, “Aku mengerti, anak muda.”

“Selanjutnya, kau harus menemukan arti dari keseluruhan peristiwa ini. Kau harus berani melihat ke belakang. Kau harus mengenali anakmu lebih baik lagi. Apa yang pernah dilakukannya dan apa yang tadi dilakukan, sehingga ia mendapat malapetaka. Kau pun harus mengenali dirimu sendiri. Apa yang pernah kau lakukan dan apa yang pernah kau lakukan buat anakmu? Bukan memanjakannya, tetapi berbuat sesuatu yang membuat hidup anakmu itu berarti bagi banyak orang.”

Ki Demang tidak menjawab. Kepalanya menunduk. Sekali-sekali ia sempat melihat anaknya yang dalam keadaan parah, mengerang kesakitan.

“Bawa anakmu pulang. Ingat apa yang terjadi hari ini. Jika tidak terjadi perubahan atas dirimu dan tingkah laku anakmu, maka yang akan membunuh anakmu bukan kedua orang perempuan itu. Tetapi aku. Meskipun demikian kau boleh mengetahui, bahwa kedua orang perempuan itu adalah pemimpin tertinggi Perguruan Goa Lampin. Jika kau belum pernah mendengar, maka aku akan memberitahukan, bahwa Goa Lampin adalah ajang pembantaian bukan saja atas wadag seseorang, tetapi terutama jiwanya.”

Jantung Ki Demang terasa berdebar semakin cepat. Ia memang belum pernah mendengar Perguruan Goa Lampin. Tetapi keterangan anak muda itu membuatnya menjadi resah.

“Pulanglah,” berkata Wijang kemudian.

“Apakah kalian tidak singgah di rumahku?” bertanya Ki Demang.

Wijang menggeleng. Katanya, “Terima kasih. Kami akan meneruskan perjalanan. Tetapi pada suatu saat kami akan singgah. Kami akan melihat apakah anakmu sudah berubah atau belum. Jika belum, maka aku akan membawanya, mengajarinya dengan caraku agar ia sedikit menghargai orang lain, terutama perempuan-perempuan.”

“Ya, ya, anak muda. Aku akan mengajarinya.”

“Kami pun ingin melihat caramu menjalankan tugasmu sebagai demang pada kesempatan lain. Kami adalah utusan Harya Wisaka yang mempunyai pengaruh yang besar di istana. Harya Wisaka akan dapat memerintahkan sekelompok prajurit untuk menangkapmu dan membawamu ke Pajang.”

“Ya, ya, anak muda,” Ki Demang itu mengangguk-angguk. Namun kemudian dengan nada rendah ia berkata, “Tetapi apakah kedua orang perempuan itu tidak akan mendendam kami?”

“Mereka akan melupakan kalian. Mereka mempunyai persoalan yang jauh lebih penting dari mengurus anakmu. Tetapi yang terjadi ada juga gunanya bagi anakmu.”

Ki Demang mengangguk kecil. Katanya, “Kami mohon ampun.”

“Sudahlah. Aku akan pergi,” berkata Wijang kemudian. Namun ia masih sempat berkata sambil melangkah pergi,

“Rakyatmu menjadi saksi apa yang telah terjadi disini.”

Ki Demang terdiam. Tetapi di luar sadarnya ia memandang ke sekelilingnya. Beberapa orang bebahu serta orang-orang kademangannya, terutama di padukuhan itu, berdiri termangu-mangu. Sementara itu, anak Ki Demang masih saja mengerang kesakitan. Sedangkan beberapa orang terbaring diam. Ada di antara mereka yang terluka parah sehingga pingsan. Tetapi ada yang benar-benar telah terbunuh.

Wijang dan Paksi pun tidak berpaling lagi. Mereka melangkah semakin jauh.

Demikian keduanya hilang di tikungan, maka perhatian Ki Demang pun segera beralih kepada anaknya yang terluka parah. Kemudian dipandanginya beberapa orang yang juga telah menjadi korban karena kelakuan anak laki-lakinya.

Ki Demang memang sangat menyesali perbuatan anaknya. Tetapi ia pun menyesali dirinya sendiri pula. Ia terlalu memanjakan anaknya itu. Apa yang dikehendakinya selalu dipenuhinya. Bahkan jika anaknya tertarik pada seorang perempuan tanpa memperdulikan keadaannya. Anak Ki Demang itu sudah memberikan beberapa orang gadis yang terlanjur mengandung kepada beberapa orang laki-laki dan memaksa mereka untuk menikahinya.

Beberapa orang bebahu dan orang-orang kademangan yang sudah merasakan aman itu, mulai menilai lagi peristiwa itu. Mereka bersyukur bahwa akhirnya ada juga orang yang dapat memaksa anak Ki Demang itu untuk menyadari tingkah lakunya. Bahkan Ki Demang  pun telah dipaksa untuk menilai sikapnya pula.

Sementara itu, Wijang dan Paksi pun telah berjalan semakin jauh. Dengan nada berat Wijang pun berkata, “Kita terpaksa harus memperlihatkan diri di antara para pemimpin perguruan yang sedang mencari Pangeran Benawa itu.”

Paksi mengangguk kecil sambil menjawab, “Ya. Yang terjadi adalah di luar kehendak kita.”

“Anak demang itu memang gila. Seandainya tidak ada korban lagi, kita dapat meninggalkannya pergi. Tetapi kita tidak akan dapat membiarkan kedua orang perempuan itu membantai orang-orang padukuhan yang tidak bersalah itu. Orang-orang yang demikian takutnya kepada Ki Demang, sehingga mereka tidak mempunyai pertimbangan lagi untuk melakukan perbuatan yang bodoh itu.”

“Tetapi kenapa ketakutan mereka kepada maut yang ditebarkan oleh kedua orang perempuan itu tidak dapat mengalahkan ketakutan mereka kepada Ki Demang.”

“Ketakutan mereka kepada Ki Demang sudah berlangsung bertahun-tahun. Ketakutan itu seakan-akan telah melapisi dinding jantung mereka. Semakin lama menjadi semakin tebal, sehingga dapat mengalahkan perasaan-perasaan yang lain.”

Paksi mengangguk-angguk. Orang-orang kademangan itu telah dicekam oleh kekuasaan Ki Demang yang sewenang-wenang itu sejak bertahun-tahun sehingga mereka tidak dapat melepaskan diri lagi daripadanya.

Namun Paksi pun kemudian berdesis, “Kemana Melaya Werdi dan Megar Permati itu melarikan diri?”

“Entahlah. Mungkin mereka pun mengurungkan niatnya untuk mencari Repak Rembulung dan Pupus Rembulung. Tetapi mungkin pula mereka justru ingin melepaskan dendamnya kepada suami istri itu.”

“Tetapi mereka akan berpikir ulang jika mereka akan bersikap keras terhadap Repak Rembulung dan Pupus Rembulung yang nampaknya cukup meyakinkan itu.”

Wijang mengangguk-angguk. Namun ia tidak mengatakan sesuatu. Beberapa saat mereka saling berdiam diri. Di telinga Paksi terngiang kembali kata-kata Ki Pananggungan, bahwa meskipun Repak Rembulung dan Pupus Rembulung itu berilmu tinggi, namun mereka masing-masing tidak akan melampaui kemampuan Paksi.

“Mudah-mudahan,” berkata Paksi di dalam hatinya. Ia semakin yakin akan dirinya, setelah ia mampu mengalahkan Megar Permati. Bahkan ia pun mampu menangkal ilmu sihirnya pula.

Wijang dan Paksi itu pun melangkah terus menyusuri jalan berbatu-batu. Sentuhan kaki mereka telah menebarkan debu yang kelabu. Beberapa orang yang lain pun berjalan dengan cepatnya pula menyusuri bayang-bayang dedaunan dari pohon yang tumbuh di pinggir jalan.

Di luar sadarnya, Wijang dan Paksi berjalan mengikuti jalan menuju ke Kembang Arum. Tetapi Kembang Arum masih cukup jauh.

Ketika keduanya melewati sebuah padukuhan yang pernah terjadi tempat tinggal seorang yang menyebut dirinya Bahu Langlang, mereka sempat berhenti sejenak di depan regol halaman.

“Rumah Bahu Langlang,” desis Paksi. “Nampaknya rumah ini sudah kosong,” sahut Wijang. Paksi mengangguk-angguk. Rumah Bahu Langlang itu memang kosong. Agaknya sejak Bahu Langlang meninggalkan rumah itu, maka semua penghuninya pun telah pergi pula. Kecuali tidak ada lagi ikatan, mereka juga takut menanggung beban, karena Bahu Langlang ternyata  mempunyai banyak musuh.

Wijang dan Paksi itu pun kemudian melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Kembang Arum.

Meskipun keduanya dapat berjalan lebih cepat, tetapi keduanya tidak merasa tergesa-gesa. Karena itu, maka mereka berjalan seenaknya. Menyusuri bulak-bulak panjang dan kemudian mereka memilih jalan singkat lewat lorong sempit di pinggir hutan yang jarang sekali dilalui orang.

Mereka memang tidak menemukan jejak apapun. Agaknya Melaya Werdi dan Megar Permati tidak menuju ke Kembang Arum atau setidak-tidaknya mereka tidak melalui lorong di pinggir hutan itu.

Ketika malam turun, Paksi dan Wijang baru saja meninggalkan lorong di pinggir hutan itu. Ternyata keduanya tidak berniat untuk melanjutkan perjalanan. Mereka ingin berhenti dan beristirahat.

Karena itu, maka mereka pun telah mencari tempat untuk beristirahat dan bermalam.

Bergantian mereka tidur malam itu di atas rerumputan kering di padang perdu. Binatang-binatang malam terdengar saling bersahutan. Ketika dari hutan itu terdengar aum seekor harimau lapar, Wijang yang mendapat giliran untuk berjaga-jaga tidak menghiraukannya. Tetapi ketika kemudian ia mendengar anjing hutan menyalak bersahutan, maka Wijang menarik nafas dalam-dalam.

“Mudah-mudahan anjing itu tidak berkeliaran di padang perdu ini,” berkata Wijang dalam hatinya. Wijang lebih senang menghadapi seekor harimau loreng yang besar dari pada sekelompok anjing hutan yang licik.

Tetapi ketika Wijang melihat beberapa batang pohon yang cukup besar, hatinya menjadi tenang. Ia dapat memanjat pohon itu, sehingga anjing-anjing liar itu tidak dapat memburunya.

Ketika kemudian giliran Paksi untuk berjaga-jaga, maka Wijang pun berpesan, “Hati-hati dengan anjing-anjing yang licik itu. Mereka datang dalam kelompok yang besar.”

Paksi mengangguk sambil mengusap matanya yang merah.

“Hati-hati. Kau tidak boleh tidur lagi sampai menjelang fajar.”

Paksi mengangguk.

Wijang pun kemudian telah membaringkan dirinya di atas rerumputan kering. Sekali ia menguap. Namun kemudian Wijang itu pun telah tidur. Seakan-akan sama sekali tidak ada beban di kepalanya, sehingga dengan cepat ia menjadi lelap.

Paksi lah yang setiap kali mengusap matanya. Embun terasa mulai menitik dari dedaunan.

Namun tidak ada persoalan yang timbul malam itu. Menjelang fajar Wijang pun sudah terbangun. Berbenah diri dan kemudian melanjutkan perjalanan.

Kembang Arum bagi keduanya sudah tidak jauh lagi. Sebelum panas matahari terasa menggigit kulit menjelang tengah hari, mereka sudah akan berada Padukuhan Kembang Arum.

Tetapi pagi itu keduanya menyempatkan diri untuk singgah di sebuah kedai kecil. Penjual nasi yang sudah tua itu melayani mereka dengan lamban, sehingga rasa-rasanya untuk menunggu minuman dan makanan mereka harus duduk sampai punggungnya menjadi penat.

Karena itu, maka perjalanan mereka terlambat beberapa saat.

“Aku tidak telaten,” desis Paksi.

Wijang tertawa pendek. Katanya, “Kenapa tergesa-gesa. Bukankah kita tidak dibatasi oleh waktu?”

Paksi mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun tersenyum pula.

Panas matahari mulai terasa menggatalkan kulit. Semakin lama semakin terasa. Keringat pun mulai mengembun di kening.

“Padukuhan itu sudah tidak terlalu jauh lagi.”

“Masih berapa lama kita berjalan?”

“Jika kita tidak terhambat di kedai itu, kita sudah tinggal sebulak lagi.”

“Sudahlah.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam.

Ketika mereka mendekati Padukuhan Kembang Arum, maka matahari pun hampir sampai ke puncak langit. Panasnya sudah menjadi semakin terasa menggigit kulit. Beberapa orang yang bekerja di sawah telah meletakkan cangkul mereka, yang sedang membajak  pun telah menyandarkan bajak mereka di pematang. Beberapa orang perempuan dengan menggendong bakul berjalan di bulak-bulak panjang membawa kiriman makan dan minuman bagi mereka yang bekerja di sawah.

Wijang dan Paksi melangkah terus menyusuri jalan bulak yang panjang.

Beberapa puluh langkah di hadapan mereka, seorang perempuan berjalan seorang diri ke arah yang berlawanan.

Namun kemudian perempuan itu telah berbelok melalui jalan sempit yang di sebelah-menyebelah ditumbuhi pohon jarak dan gerumbul-gerumbul perdu. Perempuan itu pun menggendong bakul dan membawa gendi. Nampaknya ia membawa kiriman bagi mereka yang bekerja di sawah yang letaknya tidak di pinggir jalan panjang itu.

Wijang dan Paksi pun tidak menghiraukan lagi. Mereka berjalan terus di panasnya sinar matahari.

Ketika mereka sampai di simpangan, di luar sadarnya mereka berpaling memandang ke arah perempuan yang membawa kiriman itu berbelok.

Namun keduanya terkejut. Wijang dengan cepat mendorong Paksi surut sehingga terlindung gerumbul perdu yang tumbuh di pinggir jalan itu.

“Apa yang terjadi?” desis Paksi.

“Marilah kita lihat,” sahut Wijang.

Dengan hati-hati dilambari kemampuan mereka yang tinggi, Paksi dan Wijang bergerak di balik gerumbul-gerumbul perdu yang tumbuh di kiri kanan jalan kecil itu mendekati perempuan yang membawa kiriman itu.

Perempuan itu berdiri termangu-mangu. Tiga orang laki-laki muda berdiri di hadapannya.

Paksi semakin terkejut ketika seorang di antara laki-laki itu berkata, “Kau Kemuning, kan?”

Paksi kemudian bergeser semakin mendekat. Dari sela-sela pohon perdu Paksi sempat melihat perempuan yang membawa bakul itu. Perempuan itu memang Kemuning.

Wijang pun telah bersungut pula. Dengan isyarat Paksi memberitahukan, bahwa perempuan itu adalah Kemuning.

Wijang mengangguk-angguk. Tetapi keduanya masih tetap bersembunyi di balik gerumbul-gerumbul yang tumbuh di sebelah-menyebelah jalan sempit itu.

“Siapakah kalian?” bertanya Kemuning.

“Kau orang baru di Padukuhan Kembang Arum?” Kemuning mengangguk.

“Nah, karena itu, aku memerlukan datang menemuimu?” berkata salah seorang dari mereka.

“Kau bukan anak Kembang Arum,” berkata Kemuning.

“Memang. Kami memang bukan anak muda dari Kembang Arum. Kami tinggal di Sawahan.”

“Sawahan? Bukankah Padukuhan Sawahan itu agak jauh dari sini?”

“Ya.”

“Jadi untuk apa kalian menemuiku?”

“Aku ingin memperkenalkan diri.”

“Ah,” Kemuning termangu-mangu sejenak. “Kau datang jauh-jauh hanya untuk memperkenalkan diri?”

“Ya. Selain itu, kami memang mempunyai sedikit keperluan.”

“Apa?”

“Seorang gadis dari Sawahan telah dilarikan oleh anak muda dari Kembang Arum.”

“O. Apa hubungannya dengan aku?”

“Aku ingin minta kau pergi ke Sawahan. Kau segera akan kami antar pulang setelah gadis Sawahan itu pulang.”

“Kenapa aku?” bertanya Kemuning.

Laki-laki itu tertawa. Katanya, “Aku memilih gadis yang paling cantik dari Kembang Arum.”

“Tetapi aku orang baru disini. Aku tidak tahu-menahu tentang gadis Sawahan yang dilarikan itu.”

“Sudahlah. Nanti kau akan mengetahui persoalannya. Sekarang aku minta dengan baik-baik kau ikut kami ke Sawahan.”

Kemuning tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia meletakkan gendinya di tepi jalan. Kemudian bakul yang digendongnya itu pun diletakannya pula.

Ketiga orang laki-laki muda yang menghentikan Kemuning itu menjadi heran. Bahkan Paksi dan Wijang pun menjadi tegang pula.

“Ki Sanak,” berkata Kemuning, “aku mengatakan bahwa aku tidak tahu-menahu tentang gadis yang dilarikan itu. Karena itu, pergilah.”

Ketiga orang itu menjadi heran, bahwa Kemuning nampaknya tetap tenang. Bahkan kemudian dengan nada berat ia berkata, “Pergilah. Jangan mengganggu aku.”

Seorang di antara ketiga orang yang menghentikan itu berkata, “Jangan banyak bicara. Sekarang ikut kami ke Sawahan atau kami akan memaksamu.”

“Sudah aku katakan, pergilah.”

“Kami akan memaksamu,” geram salah seorang dari ketiga orang itu.

Kemuning memandang ketiga orang itu berganti-ganti, seorang berwajah persegi. Giginya yang besar-besar tersembul dari sela-sela bibirnya yang tebal. Alisnya yang tebal hampir bertemu di atas hidungnya. Seorang lagi berwajah licin. Senyumnya selalu nampak di sela-sela bibirnya. Namun dari pandangan matanya yang liar. Kemuning menjadi ngeri. Sedangkan kawannya berwajah kasar. Sebuah bekas luka menggores di keningnya. Rambutnya tergerai dari bawah ikat kepalanya yang dipakainya sekenanya saja.

Orang yang berwajah licin dengan senyum di bibirnya itu pun berkata, “Jangan takut, Kemuning. Kau tidak akan disakiti. Kau hanya akan disimpan di Sawahan sampai gadis yang dilarikan itu pulang. Aku akan menjagamu jika ada orang yang ingin mengganggumu. Percayalah kepadaku.”

“Jangan ganggu aku,” berkata Kemuning lantang. “Sekarang pergilah. Atau aku akan memaksa kalian pergi.”

Ketiga orang laki-laki muda itu saling berpandangan sejenak. Yang berwajah kasar itulah yang bertanya, “Kau mau apa?”

Tetapi Kemuning tidak menjawab. Tangannyalah yang menyambar mulut orang itu.

Orang yang berwajah kasar itu benar-benar terkejut. Selangkah ia bergerak mundur.

“Kaulah yang telah menyakiti aku,” geram orang itu.

“Sekali lagi aku minta, pergilah.”

“Anak ini tidak dapat diajak berbicara dengan baik-baik,” berkata orang yang berwajah persegi. “Karena itu, maka kita harus memaksanya.”

Senyum bibir orang yang berwajah licin itu tiba-tiba telah lenyap. Dengan nada tinggi ia berkata, “Lakukan apa yang kami katakan.”

Tetapi Kemuning menjawab, “Kau yang harus melakukan apa yang aku katakan.”

Ketiga laki-laki itu telah kehilangan kesabaran. Ketiganya pun segera meloncat mengepung Kemuning.

Paksi hampir saja meloncat dari persembunyiannya. Namun Wijang telah menggamitnya, ia pun memberi isyarat agar Paksi menunggu.

Yang terjadi memang mendebarkan jantung Paksi. Ketika ketiga orang itu berusaha menangkap Kemuning, maka tiba-tiba saja gadis itu melenting. Tangannya yang cepat menyambar dada seorang di antara mereka sehingga orang itu terhuyung-huyung beberapa langkah surut.

Kemuning tiba-tiba saja telah menyingsingkan kain panjangnya. Di bawah kain panjangnya, ternyata Kemuning mengenakan pakaian khusus. Celana berwarna gelap sampai sedikit di bawah lutut.

Paksi memang menjadi berdebar-debar. Ternyata Kemuning adalah seorang gadis yang juga memiliki kemampuan olah kanuragan. Tetapi Paksi tidak tahu, apakah gadis itu memiliki kemampuan olah kanuragan sebelum ia berada di tangan Bahu Langlang atau sesudahnya. Apakah Ki Pananggungan yang kemudian telah melatih Kemuning dalam olah kanuragan. Jika demikian, maka Kemuning itu tentu masih berada pada tataran pemula.

Dengan tegang Paksi ingin menyaksikan apa yang telah terjadi. Apakah Kemuning mampu melindungi dirinya atau tidak. Sementara itu, lorong kecil itu memang terkesan sepi.

Sejenak kemudian Paksi menahan nafasnya. Ketiga orang laki-laki itu mulai mencoba menangkap Kemuning.

Namun Kemuning itu pun segera meloncat dengan tangkasnya. Sambil memutar tubuhnya, kakinya terayun dengan cepat, mendatar menyambar dada salah seorang dari anak muda itu.

Orang itu terdorong beberapa langkah surut. Ia tidak mengira bahwa Kemuning mampu bergerak setangkas itu. Namun kemudian orang itu pun telah menggeretakkan giginya. Kemarahannya telah membakar ubun-ubunnya. Sambil menggeram ia meloncat menerkam Kemuning dengan jari-jari tangannya yang mengembang.

Tetapi Kemuning cukup tangkas. Ia bergeser ke samping. Ketika seorang yang lain mengayunkan tinjunya ke arah wajahnya, Kemuning merendahkan dirinya.

Tangannya terjulur lurus, justru menyongsong tubuh lawannya. Dengan derasnya tangannya telah mengenai dada lawannya.

Terdengar keluhan tertahan. Sementara Kemuning pun berkata, “Jika kalian tidak mau pergi, aku akan berteriak. Orang-orang yang bekerja di sawah dan mendengar teriakanku, akan segera berdatangan.”

“Kau tidak akan sempat berteriak,” geram orang yang berwajah licin.

“Kenapa tidak? Bukankah aku sempat berbicara panjang sekarang?”

Ketika orang yang berwajah persegi menyerang dengan ayunan kakinya yang mendatar, Kemuning sempat menangkisnya. Dikibaskannya kaki itu menyamping, sehingga sama sekali tidak menyentuh tubuhnya.

Ternyata ancaman Kemuning itu membuat orang berwajah kasar menjadi ragu-ragu. Ia tidak mengira bahwa kemuning sempat memberi perlawanan. Karena itu maka ia tidak menyerang lagi.

“Aku memberi kesempatan pada kalian untuk yang terakhir kalinya. Kalian akan pergi atau tidak?”

Orang yang berwajah kasar itu menggeram. Namun ia pun kemudian telah memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk meninggalkan tempat itu.

Perhitungan orang-orang itu ternyata keliru. Kemuning sempat memberikan perlawanan. Ancamannya untuk berteriak memang membuat ketiga orang itu menjadi cemas. Mereka menduga, bahwa dengan serta-merta mereka dapat menangkap Kemuning sebelum ada orang yang mengetahuinya. Menyeretnya ke dalam semak-semak dan kemudian dengan ancaman membawanya pergi tanpa banyak kesulitan.

Tetapi yang terjadi ternyata lain.

Ketika ketiga orang itu kemudian bergeser menjauh, seorang di antara mereka sempat berkata, “Pada kesempatan lain kita akan bertemu lagi, Kemuning.”

Kemuning tidak menjawab. Dipandanginya saja ketiga orang itu dengan tajamnya.

Sejenak Kemuning berdiri termangu-mangu. Kemudian ia pun segera membenahi pakaiannya. Namun sebelum Kemuning memungut gendi dan bakulnya, ia mendengar semak-semak yang tersibak. Dua orang muncul dari balik gerumbul perdu di pinggir jalan.

Dengan cepat Kemuning memutar tubuhnya dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Namun Kemuning itu pun mengerutkan dahinya. Diamatinya kedua orang itu dengan seksama. Dari sela-sela bibirnya kemudian terdengar Kemuning itu berdesis, “Kakang Paksi.”

Paksi tersenyum. Katanya, “Kau masih mengenal aku Kemuning.”

“Tentu, Kakang.”

“Aku lihat bagaimana kau menakut-nakuti ketiga orang laki-laki itu.”

“Ah.”

“Ternyata kau memiliki kemampuan dalam olah kanuragan.”

“Aku hanya mengancam mereka untuk berteriak jika mereka tidak mau pergi.”

“Tetapi kau sudah mempunyai bekal untuk melindungi dirimu sekarang.”

“Paman Pananggungan mengajari aku bagaimana aku harus membela diri.”

“Bagus,” desis Paksi, “ternyata kemampuan itu berarti juga bagimu.”

“Baru itu yang dapat aku lakukan. Sedikit meloncat dan bergeser.”

“Tetapi peningkatan kemampuanmu terhitung cepat, Kemuning.”

“Ah,” Kemuning tertunduk.

Namun Paksi pun kemudian telah memperkenalkan Wijang. Dengan ragu Paksi itu pun berkata, “Aku datang kali ini bersama kakakku, Kemuning.”

Kemuning mengangkat wajahnya.

“Namanya Wijang.”

Kemuning itu pun mengangguk hormat, sementara Wijang pun berkata, “Mudah-mudahan aku tidak terlalu menjemukan.”

“Ah,” Kemuning justru tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Paksi lah yang kemudian bertanya, “Apakah kau akan pergi ke sawah?”

“Ya, Kakang.”

“Jika demikian, marilah. Kami ikut pergi ke sawah untuk menemui Paman Pananggungan.”

Demikianlah, Paksi dan Wijang menemui Kemuning yang berjalan cepat ke kotak-kotak sawah yang terletak di pinggir parit induk, sehingga sawah itu tidak pernah kekurangan air di segala musim.

“Paman tentu akan senang sekali,” berkata Kemuning sambil berjalan di depan.

Di sepanjang jalan, Paksi ternyata lebih banyak berbicara dengan Kemuning, sehingga Wijang lebih banyak berdiam diri sambil berjalan di belakang.

Sambil berjalan Paksi pun kemudian bertanya, “Apakah ayah dan ibumu sudah menyusulmu kemari?”

“Ayah dan ibu tidak tahu bahwa aku ada disini.”

“Tetapi jika mereka pulang dan mengetahui bahwa kau tidak ada di rumah, mereka tentu akan menyusul kemari.”

“Belum tentu. Mungkin ayah dan ibu mencariku di tempat sanak kadang yang lain.”

“O,” Paksi mengangguk-angguk, “kau masih mempunyai sanak kadang yang lain kecuali Paman Pananggungan.”

“Menurut ayah dan ibu, masih ada beberapa orang sanak saudara kami. Ayah dan ibu pernah mengajak aku mengunjungi mereka. Pada umumnya mereka baik padaku.”

“Tetapi kenapa kau justru datang kemari?”

“Nampaknya Bibi merasa lebih dekat dengan Paman Pananggungan dari sanak kadang kami yang lain.”

“Jika demikian, bukankah pada saat nanti ayah dan ibumu akan mencarimu kemari?”

“Ya. Ayah dan ibu pada suatu saat tentu akan kemari.”

Paksi mengangguk-angguk. Namun bahwa keduanya masih belum datang ke Kembang Arum adalah satu kebetulan bagi mereka berdua.

Sambil menunjuk sebuah gubuk kecil yang didirikan di tepi parit induk di bawah sepasang pohon turi yang sedang berbunga, Kemuning berkata, “Di gubuk itu biasanya Paman beristirahat.”

“Apakah Paman Pananggungan bekerja sendiri di sawah?”

“Paman bekerja bersama dua orang pembantunya. Paman sendiri jarang pergi ke sawah ini. Paman justru lebih sering pergi ke pategalan.”

“Kenapa?”

“Bukankah di pategalan udaranya lebih sejuk. Terik matahari  pun banyak yang tertahan oleh pepohonan yang tumbuh semakin besar. Paman menanam beberapa batang pohon buah-buahan di pategalan.”

Paksi mengangguk-angguk. Namun ia pun berpaling ketika ia mendengar Wijang terbatuk-batuk.

“Marilah. Kenapa kau berjalan lambat sekali?”

Wijang pun mempercepat langkahnya. Katanya, “Seekor binatang kecil masuk ke kerongkongan.”

“Apakah kau tidak dapat mengatupkan mulutmu?”

“Aku sedang menguap.”

“Marilah, jangan berjalan di belakang.”

Wijang tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Sejenak kemudian, maka mereka pun telah mengambil jalan pintas meniti pematang langsung menuju ke gubuk kecil di bawah sepasang pohon turi itu.

Ki Pananggungan memang sudah menunggu di dalam gubuknya bersama dua orang yang membantunya bekerja di sawah. Ketika ia melihat Kemuning berjalan bersama dua orang laki-laki, dahinya telah berkerut.

Namun semakin dekat, Ki Pananggungan  pun mulai mengenali salah seorang dari kedua orang laki-laki itu. Karena itu, maka ia pun segera meloncat turun dari gubuknya, menyongsong Kemuning bersama kedua orang yang datang bersamanya.

“Kau, Ngger,” sapa Ki Pananggungan.

“Ya, Paman.”

“Marilah, duduk berdesakan di dalam gubuk kecil ini.”

Kedua orang yang membantu Ki Pananggungan itulah yang mengalah. Mereka turun dari gubuk itu dan melangkah beberapa langkah menjauh. Mereka pun kemudian duduk di bawah pohon turi yang berdaun rimbun itu.

Dalam pada itu, Paksi dan Wijang pun telah duduk di gubuk itu pula. Ketika Kemuning meletakkan bakulnya, maka pamannya itu pun berkata, “Biarlah kedua orang itu minum dan makan lebih dahulu. Matahari telah sampai ke puncak. Agaknya mereka telah merasa haus dan lapar. Mereka sudah bekerja sejak matahari terbit.”

Kemuning pun kemudian beringsut turun. Tetapi ia masih berceritera tentang tiga orang yang mencoba mengganggunya di jalan.

“Siapakah mereka itu?” bertanya Ki Pananggungan. “Apakah kau belum pernah melihat mereka? Agaknya mereka bukan anak muda dari Kembang Arum.”

“Memang bukan, Paman. Menurut keterangan mereka sendiri, mereka adalah orang Sawahan.”

“Tentu juga bukan orang Sawahan. Mereka hanya ingin menyembunyikan jejak mereka.”

“Aku juga menduga begitu, Paman.”

“Untunglah bahwa Angger Paksi telah menolongmu lagi.”

Paksi lah yang menyahut, “Bukan aku, Paman. Kali ini Kemuning telah membebaskan dirinya sendiri. Ternyata ia sudah memiliki kemampuan untuk menghadapi anak-anak muda yang tidak bertanggung jawab itu.”

“Ah, apa yang dapat ia lakukan?”

“Aku mengancam mereka untuk berteriak jika mereka tidak pergi,” berkata Kemuning.

Ki Pananggungan tertawa. Katanya, “Satu jenis ilmu yang ternyata mampu mengusir anak-anak muda itu.”

Yang lain pun tertawa pula. Kemuning juga tersenyum sambil melangkah mendekati kedua orang yang duduk di bawah pohon turi itu.

“Biarlah aku menunggu, Ki Pananggungan,” berkata salah seorang dari mereka.

“Makanlah dahulu,” sahut Ki Pananggungan. “Aku baru menemui tamu-tamuku.”

Kedua orang itu tidak menjawab. Bahkan Kemuning telah meletakkan bakulnya di atas pematang.

Sementara itu, Paksi pun telah memperkenalkan Wijang kepada Ki Pananggungan. Dengan nada rendah Paksi berkata, “Kakakku ini bernama Wijang, Paman.”

Tetapi baik Paksi mau pun Wijang terkejut bukan buatan. Ki Pananggungan itu pun membungkuk hormat sambil berdesis, “Ampun, Pangeran. Aku tidak dapat menyambut kedatangan Pangeran dengan sepantasnya.”

Paksi dan Wijang itu menjadi tegang. Lebih-lebih lagi Paksi merasa bertanggung-jawab. Ialah yang mengajak Wijang pergi ke Padukuhan Kembang Arum. Tetapi ia tidak menduga sama sekali, bahwa Ki Pananggungan itu dapat mengenali Pangeran Benawa.

“Paman,” berkata Paksi dengan gagap, “dari mana Paman mengenali bahwa yang datang bersamaku ini adalah seorang pangeran?”

“Aku pernah berada di istana Pajang, Ngger,” jawab Ki Pananggungan. “Aku pernah melihat Pangeran beberapa kali. Dan siapakah yang belum pernah mengenal Pangeran Benawa?”

“Baiklah, Paman,” berkata Pangeran Benawa kemudian. “Aku tidak akan ingkar. Tetapi sebaiknya aku mohon Paman melindungi keberadaanku di tempat ini.”

“Aku mengerti, Pangeran. Itulah sebabnya aku minta Kemuning membawa kirimannya kepada kedua orang yang membantuku bekerja di sawah ini. Aku berharap bahwa mereka tidak mendengar pembicaraan kita disini.”

Paksi pun kemudian berkata, “Paman. Sebaiknya kami berterus-terang. Pangeran Benawa sedang berada dalam penyamaran. Ia ingin mengembara untuk dapat menyaksikan kehidupan yang nyata dari rakyatnya. Bukan sekedar laporan dari para pemegang pemerintahan di segala tataran, bahwa semuanya berjalan dengan baik.”

“Aku berjanji untuk tidak membuka rahasia ini.”

“Apalagi para pemimpin dari beberapa perguruan sedang memburunya. Bahkan mungkin juga termasuk Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung.”

“Kau sudah bertemu dengan mereka?” bertanya Ki Pananggungan.

“Tidak secara langsung, Paman.”

Ki Pananggungan menarik nafas panjang. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kau belum mengatakan kepada Kemuning?”

“Tidak, Paman. Kami tidak mengatakannya.”

Ki Pananggungan menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Paksi pun berceritera tentang kedua orang tua angkat Kemuning itu, namun yang dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri.

“Nyi Melaya Werdi dan Nyi Megar Permati sedang mencari Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung. Mereka menduga bahwa Pangeran Benawa ada di tangan Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung.”

Ki Pananggungan itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Siapa yang dapat menahan Pangeran Benawa yang memiliki ilmu tidak terbatas itu.”

“Ah, Paman terlalu berlebihan.”

“Aku berkata sebenarnya, Pangeran. Hanya Kangjeng Sultan dan Raden Sutawijaya sajalah yang dapat menyamai tataran ilmunya. Mungkin Ki Gede Pemanahan dan Ki Panjawi.”

“Tentu tidak, Paman. Ilmuku belum seberapa. Masih belum lebih tinggi dari ilmu Paksi.”

“Pangeran tentu merendah. Maksudku, hanya beberapa orang sajalah yang mampu mengimbangi kemampuan Pangeran. Memang mungkin ada orang-orang berilmu tinggi yang tersembunyi. Tetapi sebenarnyalah bahwa ilmu Pangeran Benawa hampir tidak bercela.”

“Paman akan kecewa jika Paman melihat kenyataanku yang tidak lebih baik dari Paksi. Tetapi sudahlah, kita akan berbicara tentang sawah Paman yang subur ini,” berkata Pangeran Benawa kemudian.

“Ya, Pangeran. Namun satu hal yang ingin aku katakan, bahwa keberadaan Pangeran di luar istana, serta kabar tentang hilangnya cincin kerajaan yang bermata tiga butir itu, menjadi jelas bagiku sekarang. Sebenarnyalah Pangeran harus berhati-hati membawakan diri. Apalagi beberapa orang telah mencari Pangeran, yang tentu dihubungkan dengan cincin yang tidak ada di bangsal pusaka itu.”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang begitu, Paman. Terima kasih atas peringatan Paman.”

Sementara itu, Paksi pun berkata, “Dalam pengembaraan ini, silahkan Paman memanggilnya Wijang.”

“Wijang.” Ki Pananggungan mengangguk-angguk. “Baiklah. Aku akan memanggil Pangeran, Angger Wijang.”

Pembicaraan mereka pun terhenti sejenak. Kemuning telah membenahi mangkuk yang dipergunakan oleh kedua orang yang membantu Ki Pananggungan bekerja di sawah. Kemuning itu pun kemudian bangkit berdiri dan melangkah mendekati gubuk itu sambil bertanya, “Bagaimana dengan Paman?”

“Aku akan pulang saja Kemuning. Aku akan makan di rumah bersama Angger Wijang dan Angger Paksi.”

Dengan demikian, maka Kemuning pun segera memasukkan isi bakulnya kembali. Tetapi salah seorang dari kedua orang yang membantu bekerja di sawah pamannya itu berkata, “Tinggalkan saja gendinya, Nduk.”

“Baik, Paman,” jawab Kemuning, “tetapi jangan lupa, nanti bawa gendinya pulang.”

Kedua orang itu tersenyum. Salah seorang dari mereka menjawab, “Jika aku lupa, besok kau tidak usah mengirim minuman kemari.”

“Jika bukan aku yang pergi ke sawah?”

“Siapa pun yang pergi.”

“Tanpa gendi dan tanpa bakul?”

“Ah. Nanti kami tidak kuat mengangkat cangkul setelah matahari sampai di puncak.”

Kemuning pun tertawa pula. Namun kemudian ia minta diri, “Sudah, Paman. Aku akan pulang bersama Paman Pananggungan serta kedua orang tamu itu.”

“He, siapakah tamunya, Nduk? Tamu Ki Pananggungan atau tamumu?”

Kemuning mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun menjawab, “Tentu tamu Paman Pananggungan.”

Kedua orang itu tertawa. Tetapi mereka tidak bertanya lagi.

Demikianlah, maka Ki Pananggungan bersama Kemuning dan kedua orang tamunya telah meninggalkan gubuk kecil itu menuju ke Padukuhan Kembang Arum.

Ketika mereka sampai di rumah Ki Pananggungan, maka

Paksi pun telah disambut dengan gembira oleh Nyi Pananggungan dan Nyi Permati. Bersama Wijang, maka Paksi pun telah dipersilahkan untuk duduk di pringgitan.

Namun kepada Nyi Pananggungan, suaminya menyebut tamunya yang seorang lagi sebagai kakak Paksi yang bernama Wijang.

Kemuning yang kemudian pergi ke dapur telah memberitahukan kepada Nyi Pananggungan bahwa Ki Pananggungan masih belum makan di sawah. Pamannya itu ingin makan di rumah bersama kedua orang tamunya.

Nyi Pananggungan pun kemudian menjadi sibuk mempersiapkan makan bagi suaminya dan kedua orang tamunya dibantu oleh Kemuning. Sementara itu Nyi Pananggungan minta agar Nyi Permati ikut menemui tamunya di pringgitan.

“Aku menyempatkan diri untuk singgah,” berkata Paksi kepada Nyi Permati yang menemuinya bersama Ki Pananggungan.

“Kami senang sekali menerima kunjungan Angger berdua,” berkata Nyi Permati.

“Aku kira, Bibi sudah tidak ada disini.”

“Kemana?”

“Aku kira ayah dan ibu Kemuning sudah menyusul kemari.”

“Mereka tidak tahu bahwa aku dan Kemuning berada disini.”

“Tetapi jika mereka mencari, pada suatu hari tentu akan datang kemari.”

Nyi Permati mengangguk. Namun kemudian ia berdesis, “Aku berdoa, mudah-mudahan keduanya tidak mencari Kemuning. Aku berharap agar keduanya mengembara saja tanpa pernah pulang.”

“Tetapi bukankah mereka mencintai Kemuning?”

Paksi tidak bertanya lagi. Sementara minuman pun telah dihidangkan. Minuman yang masih mengepulkan asap putih yang tipis.

“Marilah, Ngger. Silahkan minum mumpung masih hangat,” Ki Pananggungan pun mempersilahkan.

Paksi dan Wijang pun telah mengangkat mangkuknya dan menghirup minumannya yang membuat keringat mereka semakin banyak membasahi pakaian mereka.

Sementara itu, maka Kemuning pun telah menghidangkan nasi dan lauk-pauknya pula. Meskipun mereka mempersiapkan makan siang itu dengan sedikit tergesa-gesa, namun bagi Paksi dan Wijang, hidangan itu sudah lebih dari cukup.

Nyi Permati pun kemudian mempersilahkan mereka makan, sementara Nyi Permati telah meninggalkan mereka masuk ke ruang dalam.

Sambil makan Ki Pananggungan pun berkata, “Nyi Permati berharap bahwa kedua orang tua angkat Kemuning itu tidak datang untuk mengambil Kemuning.”

“Tetapi bukankah mereka bersikap baik di rumah? Mereka mengajari Kemuning melakukan hal-hal yang baik dan berarti?”

“Tetapi pada suatu saat, akhirnya Kemuning akan mengetahui juga.”

“Mengetahui bahwa ia bukan anak kandung kedua orang yang dianggap orang tua sendiri itu?”

“Bukan itu. Akhirnya Kemuning akan tahu, apa yang sering dikerjakan oleh kedua orang tua angkatnya. Dengan demikian, maka hati gadis itu pada suatu saat akan hancur.”

Paksi dan Wijang mengangguk-angguk. Tetapi agaknya sulit bagi Kemuning melepaskan diri dari kedua orang yang sudah dianggap orang tuanya sendiri itu. Nyi Permati agak terlambat menyadari keadaan Kemuning serta hari depannya.

“Bagaimana dengan Ki Pananggungan sendiri?” bertanya Paksi.

“Bagiku, aku sama sekali tidak berkeberatan jika Kemuning tetap berada disini. Tetapi agaknya keberadaannya disini juga menimbulkan persoalan seperti yang baru saja terjadi tadi ketika Kemuning pergi ke sawah.”

“Apakah itu akan menjadi persoalan yang berkepanjangan?”

“Mudah-mudahan tidak. Tetapi jarang gadis-gadis padukuhan mempunyai keberanian seperti Kemuning.”

“Apa salahnya,” desis Paksi.

“Ia akan dapat menarik perhatian banyak orang. Tetapi aku tidak akan berhenti. Aku ingin Kemuning memiliki kemampuan yang akan dapat menjadi pelindung bagi dirinya sendiri.”

Paksi mengangguk-angguk. Ketika ia memandang Wijang, maka Wijang masih sibuk menyuapi mulutnya. Sekali-sekali ia berdesis kepedasan. Tetapi ia masih saja mengambil sambal terasi.

Paksi tersenyum melihat bibir Wijang yang merah. Tetapi Wijang memang senang sekali makan sambal.

Sementara itu Ki Pananggungan pun berkata, “Aku berharap kau tidak tergesa-gesa meninggalkan tempat ini. Juga kepada Pangeran Benawa aku mohon untuk bersedia tinggal disini untuk beberapa hari.”

Wijang mengusap bibirnya yang terasa agak panas. Sekilas ia memandang Paksi yang sedang mengunyah makanannya. Paksi sengaja membiarkan Wijang menjawab lebih dahulu.

Setelah meneguk minumannya, maka Wijang itu pun berkata, “Sebenarnya aku tidak berkeberatan, Paman. Kami berdua memang pengembara yang tidak mempunyai tujuan tertentu, sehingga karena itu, kami sama sekali tidak terikat oleh waktu. Tetapi jika Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung datang ke tempat ini, maka suasananya akan dapat berubah.”

“Tetapi bukankah keduanya belum mengenal kalian?”

“Memang belum, Paman. Tetapi jika mereka mulai memperhatikan kami, maka kemungkinan buruk dapat terjadi.”

Ki Pananggungan menarik nafas panjang. Katanya, “Tetapi bukankah keduanya belum pasti akan datang kemari? Seandainya mereka datang kemari, maka demikian mereka datang, kalian berdua dapat meninggalkan tempat ini sebelum terjadi benturan-benturan yang tidak kita kehendaki.”

Wijang memandang Paksi sejenak. Katanya, “Terserah kepada Paksi.”

Paksi mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun berkata, “Bagaimana pendapatmu, jika kita tinggal disini barang dua tiga hari?”

Wijang tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku tidak berkeberatan. Tetapi aku harap kau selalu ingat, bahwa banyak orang yang kemudian memburu Pangeran Benawa. Agaknya sikap Harya Wisaka itu menimbulkan gejolak baru bagi para pemimpin perguruan yang terlalu bernafsu untuk memiliki masa depan yang terbaik itu.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Maksudmu, tentu Repak Rembulung dan Pupus Rembulung juga sudah mendengar bahwa Harya Wisaka sedang memburu Pangeran Benawa.”

“Ya,” jawab Wijang.

“Baiklah. Aku tidak akan pernah melupakannya.” “Mudah-mudahan penyamaran Pangeran tidak akan dapat dikenal orang.”

“Beberapa orang yang mengenal aku dengan baik berada di pihak Paman Harya Wisaka.”

Ki Pananggungan mengangguk-angguk kecil. Sekilas Wijang telah menceriterakan sikap Harya Wisaka yang sedang memburu Pangeran Benawa.

“Tetapi apa artinya Harya Wisaka bagi Pangeran Benawa.”

“Paman Harya Wisaka tidak sendiri. Ia agaknya telah menguasai sekelompok prajurit pilihan serta prajurit sandi.”

“Siapakah yang telah membantu Harya Wisaka itu, Pangeran?”

Wijang memang menjadi ragu ragu. Namun kemudian ia pun berdesis, “Yang aku ketahui langsung adalah Ki Rangga Suraniti dan Ki Nukilan.”

Ki Pananggungan terkejut mendengar nama itu. Di luar sadarnya ia pun bertanya, “Apakah Pangeran tidak keliru?”

“Tidak, Paman. Aku dan Paksi melihat langsung. Tidak hanya sekali. Tetapi beberapa kali. Bahkan Paksi pernah dibelikan dawet cendol di pasar.”

Ki Pananggungan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mengenal Ki Rangga Suraniti. Sebenarnyalah Pangeran, aku pernah menjadi seorang prajurit di Pajang. Tetapi justru setelah Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar itu bersama ayahandanya, Ki Gede Pemanahan serta Ki Penjawi, menewaskan Harya Penangsang, aku mengundurkan diri. Meskipun demikian, aku masih sering pergi ke istana. Aku masih akrab dengan beberapa orang prajurit, termasuk Ki Rangga Suraniti. Meskipun aku sudah bukan prajurit, tetapi aku masih sering membantu tugas-tugas sandi. Baru pada saat-saat terakhir ini aku benar-benar ingin beristirahat dan berada di lingkungan keluargaku.” Ki Pananggungan berhenti sejenak. Namun kemudian ia pun melanjutkannya, “Menurut pendapatku, Ki Rangga Suraniti adalah seorang prajurit yang baik. Ia sudah menunjukkan pengabdian yang besar bagi Pajang.”

“Sikap seseorang dapat saja berubah, Paman. Tetapi semula aku juga tidak percaya, bahwa Ki Rangga Suraniti bekerja bersama dengan Paman Harya Wisaka memburu Pangeran Benawa.”

“Kenapa Pangeran tidak kembali saja ke istana? Bukankah pengembaraan Pangeran dapat dilanjutkan pada kesempatan lain, setelah Pangeran membuat penyelesaian dengan Harya Wisaka?”

“Aku tidak tahu, apakah jika hal itu aku sampaikan kepada ayahanda dan para pemimpin di Pajang, mereka dapat mempercayainya. Sementara itu, aku tahu benar, bahwa Paman Harya Wisaka adalah seorang yang licik.”

Ki Pananggungan termangu-mangu sejenak. Katanya, “Apakah Ki Rangga Suraniti tidak dapat mengenali Pangeran?”

“Aku selalu menghindar, Paman. Ki Rangga Suraniti belum pernah melihat aku berkeliaran di sisi selatan kaki Gunung Merapi ini.”

“Satu keterangan yang sangat menarik, bahwa Ki Rangga Suraniti terlibat dalam usaha Harya Wisaka. Aku sendiri belum mengenal Harya Wisaka dengan baik. Tetapi aku mengerti, bahwa Harya Wisaka memang seorang yang keras hati. Jika pada tempatnya, keras hati dapat berarti sikap yang baik. Tetapi jika mengetrapkannya keliru, akibatnya seperti tingkah-laku Harya Wisaka itu.”

-ooo00dw00ooo-

 

Diedit dari

naskah yang dikirimkan oleh Nyi Dewi KZ (Website Tirai Kasih)

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s