HLHLP-051


<<kembali | lanjut >>

SEJENAK mereka memikirkan cara yang paling baik untuk melaksanakan rencana mereka. Meskipun sebelumnya mereka telah membuat perhitungan-perhitungan, namun di saat terakhir mereka harus menilai kembali apakah perhitungan mereka itu dapat diterapkannya.

Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yakin bahwa mereka akan berhasil.

“Patung itu harus terletak di tempatnya sekarang. Kita akan bekerja terus sampai patung itu berada di tempatnya meskipun hari menjadi gelap. Kita akan mempergunakan obor-obor. Demikian patung itu berada di tempatnya, kita akan beristirahat. Besok kita tinggal mengerjakan penyelesaiannya.

Semakin tinggi matahari, maka ara-ara itu pun menjadi semakin riuh. Prajurit berkuda telah berada pula di dalam ara-ara itu. Mereka berada di sebelah menyebelah gardu yang bersayap di belakang patung. Di muka serambi depan gardu yang dihiasi dengan janur kuning itu, ditempatkan sebuah alas yang agak tinggi, tempat Sri Maharaja dan Ratu Angabaya akan berdiri.

Ketika saatnya tiba, maka dua orang penunggang kuda telah memasuki pintu gerbang ara-ara itu. Kepada pemimpin pasukan yang ada di ara-ara itu, diberitahukan bahwa Sri Maharaja dan Ratu Angabaya akan segera datang.

Laporan itu pun diteruskan kepada Panglima prajurit Singasari yang langsung memberikan perintah-perintah kepada para Senopati untuk menyiapkan diri.

“Sri Maharaja dan Ratu Angabaya sudah berada di perjalanan menuju ke tempat upacara ini,” perintah Panglima itu, “karena itu segala sesuatunya supaya disiapkan.”

Sejenak kemudian, telah terdengar pula suara sangkakala meskipun masih agak jauh. Pertanda, bahwa iring-iringan Sri Maharaja sudah menghampiri tempat upacara.

Bende pun kemudian dibunyikan. Semua unsur yang ada di ara-ara itu benar-benar telah siap menyambut kedatangan Sri Maharaja dan Ratu Angabaya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar pula. Di sebelah menyebelah pintu gerbang nampak umbul-umbul yang tinggi bagaikan menggapai awan. Sementara itu, rontek dan kelebet telah dipasang di beberapa tempat di seputar ara-ara itu.

Beberapa saat lamanya mereka menunggu. Ketika mereka mendengar suara sangkakala menjadi semakin dekat, para prajurit pun benar-benar telah bersiap.

Sebentar kemudian, maka iring-iringan pun mulai mendekati pintu gerbang. Namun tunggul kebesaran, rontek dan kelebet telah pula menyemarakkan iring-iringan itu.

Beberapa orang yang menjadi paruh perjalanan telah memasuki pintu gerbang. Kemudian Sri Maharaja dan Ratu Angabaya yang masing-masing berada di punggung kuda. Di belakang mereka, beberapa kelompok pasukan pengawal telah memasuki pintu pula dengan pertanda kebesaran masing-masing. Tunggui pertanda kesatuan dan kelebet ciri dari pasukan mereka.

Pada saat Sri Maharaja memasuki ara-ara, maka sorak pun meledak bagaikan hendak meruntuhkan langit. Rakyat Kota Raja menyambut Maharaja yang diagungkan dengan gelora yang melonjak-lonjak.

Demikianlah, maka setelah Sri Maharaja dan Ratu Angabaya hadir dan berdiri diatas panggungan kecil di depan serambi gardu di ara-ara itu, maka upacara pun segera dimulai. Tekanan upacara itu lebih banyak diarahkan pada upacara keprajuritan. Sehingga Sri Maharaja dan Ratu Angabaya bertindak dan bersikap sebagai Panglima Agung dari seluruh kekuatan yang ada di Singasari.

Sesaat kemudian, maka upacara pun dimulai. Yang tampil dalam upacara itu sebagian besar adalah para Panglima dan Senapati. Beberapa orang pemimpin pemerintahan dan para keluarga istana.

Upacara yang megah pun kemudian berlangsung. Diwarnai oleh gelora gejolak jiwa para prajurit Singasari. Dalam kesempatan itu, Sri Maharaja telah menyampaikan sesorah pendek. Sedikit saja, namun menyentuh hati setiap prajurit Singasari dari pasukan yang manapun.

Dengan singkat Sri Maharaja menyebut patung yang terselubung itu. Satu perlambang yang justru merupakan beban tanggung jawab baginya.

“Satu ikatan yang harus kami pertahankan sampai akhir hayat kami. Semoga dapat menjadi perlambang kekebalan ikatan jiwa kami yang menjadi tuntunan kesatuan seluruh Singasari,” berkata Sri Maharaja kepada para Panglima, Senapati, pemimpin pemerintahan dan mereka yang hadir di ara-ara itu.

Akhirnya sampailah saatnya, Sri Maharaja dan Ratu Angabaya membuka selubung dari patung yang besar itu.

Ketika sorak membahana bagaikan memecahkan langit, dua orang yang berdiri di antara mereka yang menyaksikan upacara itu di luar dinding ara-ara, memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Perlahan-lahan selubung patung itu tersingkap. Perlahan-lahan pula patung yang besar yang terbuat dari batu yang berwarna kehijauan itu muncul.

Ara-ara itu bagaikan diguncang gempa ketika akhirnya selubung itu terbuka seluruhnya. Sebuah patung yang melukiskan sepasang ular naga dalam satu sarang. Demikian rumitnya, namun memancarkan gelora yang memuat pancaran kesatuan dan sifat kesatria dari kedua orang yang memegang pimpinan tertinggi di Singasari.

Kedua orang yang memperhatikan saat-saat yang penting itu, mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Bukan main. Bukan saja pahatannya yang menyentuh, tetapi bahannya adalah batu yang sangat mahal.”

“Dari mana mereka mendapatkan batu itu? “ desis yang lain.

“Itulah yang aku cari. Aku mendengar ceritera tentang batu yang jatuh dari langit di satu tempat yang tidak aku ketahui. Sekarang batu itu sudah berada disini dalam ujud sebuah patung yang sangat baik,” berkata orang yang pertama.

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian batu itu tentu sangat berharga. Kenapa mereka menempatkannya di ara-ara terbuka seperti ini?”

“Itulah sebabnya maka dibuat pula bangunan itu. Didalam bangunan itu tentu akan ditempatkan sekelompok prajurit yang bertugas bergantian menjaga batu itu,” jawab yang pertama.

“Untuk selama-lamanya?” bertanya yang lain.

“Agaknya memang demikian,” jawab orang yang pertama, “namun akhirnya mereka akan menjadi lengah juga.”

Kawannya mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga ketatnya pengawasan atas batu itu, namun pada satu saat, para prajurit Singasari tentu akan lengah juga. Apalagi jika tidak seorang pun yang pernah mengusiknya, sehingga para prajurit Singasari menganggap bahwa tidak akan pernah ada orang yang berniat buruk atas batu itu.

Untuk beberapa saat lamanya kedua orang itu menyaksikan upacara yang berlangsung. Dalam upacara selanjutnya, maka diperkenalkan pula dua orang prajurit Singasari yang menjadi pemahat patung itu bersama dua orang padepokan Suriantal yang membantunya. Kemudian diperkenalkan pula dua orang anak muda yang mempunyai gagasan serta yang memiliki batu itu.

Tepuk tangan yang gemuruh menyambut kehadiran mereka didekat patung batu yang sudah terbuka itu.

“Bagaimana anak-anak itu mendapatkan batu yang sangat berharga itu.? Agaknya mereka tidak mengerti bahwa batu itu termasuk batu berharga. Jika mereka tahu, maka mereka tidak akan membuatnya menjadi patung dan mempersembahkannya kepada Sri Maharaja,” berkata seorang di antara keduanya.

“Alangkah bodohnya,” sahut yang lain, “Jika mereka tahu, maka mereka tentu akan sangat kecewa.”

Kawannya tertawa. Katanya, “Ada juga baiknya kedua anak-anak itu tahu, betapa tinggi nilai batu itu.”

Namun kedua orang itu terkejut, ketika diberitahukan, bahwa kedua anak muda itu adalah adik Mahisa Bungalan yang telah diangkat dan diwisuda menjadi Akuwu di Sangling.

“Adik Mahisa Bungalan,” desis salah seorang dari keduanya.

“Kenapa?” bertanya yang lain.

“Kau tahu, bahwa Mahisa Bungalan adalah anak Mahendra,” jawab orang itu.

“Kenapa dengan Mahendra?” bertanya yang lain.

“Ia adalah seorang pedagang wesi aji dan batu-batu berharga. Selain permata juga batu akik dan sebangsanya. Mustahil bahwa ia tidak mengetahui nilai dari batu itu,” jawab orang itu dengan nada tinggi, “selebihnya Mahendra adalah orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Mahisa Bungalan pun memiliki ilmu yang tinggi pula sehingga ia mampu menempuh pendadaran untuk menjadi Akuwu di Sangling.”

Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, “Adalah kebetulan bahwa Mahisa Bungalan itu sudah berada di tempat yang jauh. Bahkan mungkin kedua anak muda itu pun tidak akan menunggui patungnya. Seandainya mereka menungguinya, maka mereka tentu tidak memiliki kemampuan ilmu sebagaimana ayahnya.”

“Aku kira memang tidak,” jawab orang itu.

Sejenak keduanya saling berdiam diri. Mereka melihat upacara itu sampai ke taraf terakhir ketika doa telah dipanjatkan kepada Yang Maha Agung.

Sebenarnyalah bahwa sejenak kemudian, upacara pun telah berakhir. Sri Maharaja dan Ratu Angabaya telah meninggalkan panggungan dan naik keatas punggung kuda. Pasukan pengawal telah mendahului meninggalkan tempat itu. Tetapi mereka berhenti di pintu gerbang, menunggu Sri Maharaja.

Segala macam pertanda kebesaran sebagian mendahului Sri Maharaja, namun sebagian berada di belakang mereka.

Perlahan-lahan iring-iringan itu meninggalkan ara-ara diantar oleh sorak rakyat yang berada diluar dinding rendah yang mengelilingi ara-ara itu.

Namun ketika iring-iringan itu menjadi semakin jauh, maka orang-orang yang berada diluar dinding itu pun berangsur berkurang. Satu dua di antara mereka meninggalkan tempat itu.

Namun berurutan semakin lama semakin banyak. Sehingga jumlah mereka berdesakkan itu pun menjadi cepat susut.

Para prajurit dan mereka yang mengikuti upacara pun telah berangsur meninggalkan tempat itu pula. Kesatuan-kesatuan yang ikut dalam upacara pun telah kembali ke kesatuan masing-masing. Prajurit berkuda pun telah keluar pula dari ara-ara itu.

Beberapa saat kemudian, maka ara-ara itu pun telah ditinggalkan oleh sebagian besar dari mereka yang baru saja meramaikan upacara itu. Namun sekelompok kecil prajurit masih tetap tinggal. Mereka adalah orang-orang yang mendapat giliran pertama menjaga patung itu. Di samping kelompok itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun masih tetap tinggal pula di tempat itu. Demikian pula orang-orang Suriantal yang datang bersamanya.

Ketika ara-ara itu benar-benar telah menjadi lengang, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berbicara dengan perwira yang memimpin para prajurit yang bertugas itu.

“Kami bertugas disini selama tiga hari,” berkata perwira itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk, sementara perwira itu berkata lebih lanjut, “Tetapi rasa-rasanya menyenangkan mendapat tugas yang baru ini. Kami dapat tinggal di gardu yang besar dengan halaman yang sekian luasnya. Kami dapat memanfaatkan ara-ara ini untuk mengadakan latihan perang watang berkuda.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Bahkan katanya kemudian, “Hari ini kami, sekelompok orang dari Suriantal akan ikut menunggui patung ini. Bahkan jika diijinkan selama kami masih akan tinggal di Singasari ini untuk beberapa hari.”

“Ah, bukankah kalian mendapat tempat yang baik di istana?” sahut perwira itu.

“Tetapi rasa-rasanya kami akan merasa lebih senang disini, dekat dengan patung itu. Beberapa hari lagi kami akan meninggalkan patung itu disini, sementara kami kembali ke padepokan.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Sementara kedua orang prajurit yang telah memahat patung itu pun berkata, “Hari ini aku juga masih belum akan kembali ke kesatuanku.”

Ternyata tidak ada yang berkeberatan dengan permohonan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk berada di ara-ara bersama sekelompok orang-orang padukuhan Suriantal. Namun mereka tidak dapat menempatkan pedati dan lembu-lembu mereka di ara-ara itu, sehingga pedati dan lembu-lembu itu masih tetap berada di belakang istana. Dua orang yang bertugas memelihara lembu-lembu itu setiap hari hilir mudik ke kandang yang disediakan bagi lembu-lembu itu, sementara rumput bagi makanan lembu itu telah sekaligus disediakan oleh para pemelihara kuda dan lembu di istana Singasari.

Beberapa hari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berada di Singasari. Ternyata mereka bukan saja sekedar memenuhi keinginan para pemimpin di Singasari, termasuk Panglima Prajurit Singasari, namun keduanya mempergunakan saat-saat itu untuk menunaikan pewarisan ilmu mereka dari ayahnya yang khusus datang ke Singasari. Atas tuntunan ayahnya pula maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meramu segala macam ilmu yang ada di dalam dirinya, sehingga mereka benar-benar telah menjadi anak-anak muda yang perkasa. Dalam hal ilmu yang semakin mapan, maka Mahisa Agni dan Witantra pun telah berusaha untuk membantu pula. Hanya karena keduanya sudah menjadi semakin tua, maka yang dapat diberikan oleh keduanya pun menjadi semakin terbatas, sebagaimana keterbatasan kemampuan manusia. Betapa tinggi ilmunya, namun pada saatnya mereka memang harus mengakui satu kenyataan tentang dirinya. Bahkan mereka yang dapat mengetrapkan ilmu yang sudah jarang dimiliki, bahwa seseorang dapat mempertahankan ujud kemudaannya, namun pada akhirnya mereka tidak juga dapat menghindar dari batas.

Dengan demikian, maka kehadiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bukan saja sekedar menyerahkan patung yang sangat berharga itu, tetapi juga berarti bagi mereka berdua.

Ara-ara yang luas itu merupakan tempat latihan yang sangat baik bagi mereka di malam hari, sehingga hampir tidak ada yang sempat memperhatikannya. Para prajurit Singasari yang mendapat giliran bertugas, tidak pula mampu menangkap apakah sebenarnya yang dilakukan oleh kedua anak muda di belakang gardu bersayap yang besar itu. Sehingga karena itu mereka tidak terlalu banyak mengikutinya.

Sebenarnyalah bahwa yang dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat di belakang gardu itu, dibawah tuntunan ayahnya Mahendra dan kedua pamannya Mahisa Agni dan Witantra, sekedar mengurai, meramu dan menilai kembali segala sesuatunya yang telah menjadi kekayaan ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun jika mereka ingin melihat hasil ramuan itu, serta usaha mereka untuk membuat ilmu yang ada didalam diri mereka dapat saling mengisi dan mengangkat, maka mereka telah pergi ke tempat yang terasing dari sentuhan kaki manusia.

Tetapi mereka tidak dapat terlalu lama berada di Singasari. Meskipun para pemimpin di Singasari masih mempersilahkan mereka tinggal, namun setelah lebih dari dua pekan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun merasa telah terlalu lama meninggalkan padepokannya.

Apalagi ketika mereka merasa bahwa ilmunya telah menjadi semakin utuh. Maka mereka pun merasa bahwa sudah waktunya untuk kembali ke padepokan. Mereka masih memerlukan waktu beberapa lama untuk membuat ilmu mereka yang hampir utuh itu menjadi mapan dan apalagi benar-benar menjadi utuh bulat.

Karena itu, maka mereka pun telah bersiap-siap untuk meninggalkan Singasari.

Malam itu juga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berbicara dengan Mahendra, Mahisa Agni dan Witantra, bahwa keduanya akan segera minta diri kembali ke padepokan Suriantal.

“Kami sudah merasa bahwa bekal kami sudah semakin lengkap. Ilmu yang kami sadap dari beberapa sumber telah menjadi luluh di dalam diri kami. Mudah-mudahan kami akan dapat membuatnya semakin mapan dan kami benar-benar memiliki yang terbaik dari setiap kemungkinan bagi kami,” berkata Mahisa Murti.

Ketiga orang tua itu mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Pukat pun berkata, “Untuk itu agaknya akan dapat kami lakukan di padepokan.”

“Ya,” jawab Mahendra, “aku pun yakin bahwa kalian akan dapat menyelesaikannya tataran terakhir itu tanpa orang lain. Dengan demikian, maka kalian berdua akan menjadi orang yang memiliki bekal yang lengkap. Selanjutnya segala sesuatunya terserah kepada kalian. Apakah kalian akan mengarahkan ilmu kalian bagi kebaikan atau sebaliknya. Apakah ilmu kalian akan menjadi alat untuk menyatakan kasih sayang dengan melindungi kelemahan atau sebaliknya menjadi pancaran kebencian dan nafsu ketamakan.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menundukkan kepalanya. Sementara itu ayahnya berkata pula, “Mungkin hal seperti itu sudah aku ucapkan berpuluh kali. Tetapi aku tidak akan jemu-jemunya mengucapkannya, agar kalian selalu ingat, di mana kalian berpijak.”

Kedua anak muda itu tidak menjawab. Mereka memang sudah beberapa kali mendengar pesan ayahnya. Namun mereka pun sama sekali tidak merasa jemu. Setiap kali mereka mendengar, maka rasa-rasanya ketahanan jiwa mereka pun telah dikuatkan. Kesadaran mereka tentang diri mereka dihadapan Yang Maha Agung pun menjadi semakin tebal karenanya.

Mahisa Agni dan Witantra pun telah memberikan beberapa pesan pula, sehingga rasa-rasanya jiwa kedua anak muda itu telah dipenuhi oleh pengertian tentang baik dan buruk. Namun demikian segala sesuatunya memang tergantung kepada mereka berdua.

Demikianlah, maka kedua anak muda itu pun berniat untuk meninggalkan Singasari di dini hari dua hari mendatang. Mereka masih mempunyai satu hari untuk membenahi diri.

Sebenarnya Sri Maharaja di Singasari dan Ratu Angabaya, bahkan beberapa orang pemimpin yang lain masih menahan agar mereka dapat tinggal di Singasari lebih lama lagi. Bahkan beberapa orang Senapati telah menawarkan agar keduanya bersedia untuk menjadi prajurit Singasari dalam kesatuan Senapati itu.

Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih belum dapat menerimanya.

“Apakah kalian ingin menjadi prajurit di Sangling?” bertanya seorang Senapati yang mengetahui bahwa keduanya adalah adik Mahisa Bungalan, Akuwu Sangling.

Namun kedua anak muda itu pun menggeleng. Mahisa Murti pun kemudian menjawab, “Juga tidak. Kami masih ingin mengumpulkan bekal yang lebih baik bagi masa depan kami. Kami masih ingin mendapat pengalaman-pengalaman yang lebih berarti sebelum kami memasuki satu lingkungan yang mapan.”

Para Senapati yang ingin menarik kedua anak muda itu ke dalam kesatuan masing-masing tidak dapat memaksa mereka. Agaknya kedua anak muda itu masih ingin melanjutkan pengembaraannya atau justru menetap beberapa lama di padepokan Suriantal yang sudah berubah isinya.

Bahkan tawaran Panglima prajurit Singasari pun terpaksa tidak dapat pula diterima oleh kedua anak muda.

“Kami mohon maaf,” berkata Mahisa Murti, “kami tidak tahu apakah di masa-masa datang kami akan menghadap untuk menyatakan diri memasuki dunia keprajuritan di Singasari.”

Dengan demikian, maka kedua anak muda itu, benar-benar akan meninggalkan Singasari pada hari yang sudah direncanakan.

Malam menjelang keberangkatan mereka, Panglima prajurit Singasari masih menjamu keduanya bersama para pengikutnya dari padepokan Suriantal. Hadir pula dalam perjamuan itu Mahendra, Mahisa Agni dan Witantra.

Demikianlah, menjelang fajar, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bersiap. Sekali lagi mereka minta diri kepada para pemimpin yang memerlukan hadir mengantar keberangkatan mereka, termasuk Panglima prajurit di Singasari, di samping Mahendra, Mahisa Agni dan Witantra.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berangkat meninggalkan Singasari dari ara-ara, tempat patung batu yang berwarna kehijauan itu diletakkan.

Sebelum matahari terbit, maka iring-iringan itu pun telah berangkat. Prajurit Singasari kakak beradik, yang telah memahat patung itu pun hadir pula di ara-ara. Memang terasa berat bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meninggalkan patung serta pemahatnya itu, tetapi bagi mereka hal itu merupakan satu keharusan.

“Kami titipkan pemeliharaan patung itu kepada kalian,” berkata Mahisa Murti.

“Tentu,” jawab pemahat itu. “kami akan memelihara patung itu sebaik-baiknya.”

“Kaulah yang memahatnya,” desis Mahisa Pukat, “maka kau tidak akan sampai hati melihat patung itu tidak terpelihara.”

Pemahat itu tersenyum. Katanya, “Aku akan memohon agar aku mendapat tugas terus menerus untuk memelihara patung itu. Di samping pangkatku yang baru, mudah-mudahan aku mendapat tugas yang baru pula.”

Dalam pada itu, iring-iringan yang membawa kembali sebuah pedati yang besar itu pun semakin lama menjadi semakin jauh. Pedati yang besar itu ternyata tidak kosong. Sri Maharaja di Singasari telah memberikan beberapa hadiah kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta orang-orangnya. Beberapa bungkus bahan pakaian, peralatan pertanian dan bahkan beberapa jenis senjata yang dapat dipergunakan bagi para penghuni padepokan Suriantal.

Perjalanan kembali ke padepokan Suriantal tidak seberat saat mereka berangkat. Mereka tidak lagi membawa patung yang diselubungi yang justru telah menarik banyak perhatian. Meskipun yang kemudian mereka bawa juga terbungkus rapi, tetapi tidak terlalu nampak dari luar pedati yang besar itu.

Ketika iring-iringan itu sampai ke Kabuyutan yang bergejolak di saat mereka berangkat, maka seperti yang dikatakan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa mereka akan singgah barang sebentar.

Ternyata bahwa Ki Bekel yang terluka itu sudah berangsur baik. Nampaknya Ki Bekel tidak lagi merasa dirinya orang yang paling berkuasa. Sementara Ki Jagabaya pun telah mengakui segala kekeliruan langkahnya. Apalagi ia bukan orang yang berasal dari Kademangan itu sendiri.

Di Kademangan itu, iring-iringan itu pun bermalam satu malam. Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya yang masih panjang. Sebuah pedati, meski kosong sekalipun, tidak akan dapat berjalan lebih cepat lagi dari kecepatan seekor lembu yang berjalan.

Beberapa orang yang melihat iring-iringan itu saat berangkat, ada yang menanyakan kepada para pengiring pedati: “Di mana benda yang berkerudung diatas pedati itu?”

“Sudah laku,” jawab seorang di antara para pengiring itu sambil tertawa.

Yang bertanya ikut pula tertawa. Mereka mengerti bahwa benda yang berkerudung itu tentu bukan benda yang diperdagangkan.

Demikianlah, maka perjalanan mereka kembali ke padepokan Suriantal tidak mengalami hambatan sebagaimana saat mereka berangkat. Iring-iringan itu telah mendekati padepokan Suriantal dengan selamat.

Namun demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang menjadi berdebar-debar, jangan-jangan sesuatu telah terjadi di padepokan yang telah mereka tinggalkan untuk waktu yang agak lama.

Tetapi ternyata bahwa padepokan Suriantal itu masih seperti saat ditinggalkannya. Tidak ada perubahan yang terjadi. Orang-orang yang ada didalamnya adalah orang-orang yang ditinggalkannya beberapa saat yang lalu.

Ketika orang-orang Suriantal itu mengetahui bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta para pengiringnya datang, maka mereka pun telah beramai-ramai menyongsong di pintu gerbang.

Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu pun telah memasuki pintu gerbang padepokan. Pedati yang besar, hampir memenuhi selebar pintu gerbang itu sendiri.

Kegembiraan telah meliputi padepokan itu. Seperti anak-anak yang telah lama menunggu ayah ibunya yang pergi ke pasar. Mereka bukan saja gembira karena yang ditunggu telah datang. Tetapi mereka melihat, ada sesuatu yang menarik diatas pedati itu.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak segera membuka kerudung diatas pedati itu. Ia telah memberikan waktu kepada para pengiringnya untuk beristirahat. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga dengan sengaja mengganggu para penghuni padepokan itu yang terlalu ingin tahu, apa yang telah dibawanya.

Sebenarnyalah beberapa orang penghuni padepokan itu telah mengelilingi pedati itu dan memperbincangkan apa yang ada di atasnya.

Tetapi baru sehari kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengumpulkan seluruh isi padepokan Suriantal.

“Kita akan membuka bersama-sama, apa yang terbungkus diatas pedati itu,” berkata Mahisa Murti.

Semua orang memang ingin segera mengetahui, apa yang ada di dalam pedati itu.

Sebelum Mahisa Murti mulai membukanya, maka Mahisa Pukat telah berkata kepada penghuni padepokan itu, “Yang kami bawa adalah hadiah dari Sri Maharaja di Singasari. Kami juga tidak tahu dengan pasti, apa saja yang ada di dalam pedati itu, karena yang kami ketahui, tiba-tiba saja barang-barang itu sudah berada di sana.”

“Kita akan segera melihat,” berkata seorang yang tidak sabar.

Mahisa Pukat tersenyum, sementara Mahisa Murti sudah ada diatas pedati.

Tetapi Mahisa Murti justru membuat orang-orang itu semakin ingin tahu. Beberapa kali ia meraba kerudung benda-benda yang ada diatas pedati itu.

“Apa isinya?” seorang yang benar-benar tidak sabar berteriak.

“Ular,” jawab Mahisa Murti.

“Ah,” orang itu berdesah, sementara yang lain telah berkeringat pula.

Baru kemudian sambil tertawa Mahisa Murti berkata, “Baiklah. Aku akan membukanya.”

Orang-orang itu menjadi tegang.

Yang pertama-tama dibuka oleh Mahisa Murti adalah sebuah bungkusan yang besar yang berisi bahan-bahan pakaian. Bukan saja bahan pakaian yang pantas dipakai oleh orang-orang padepokan tetapi bahan pakaian yang terlalu bagus bagi mereka.

Beberapa orang menjadi tercengang-cengang melihat bahan-bahan pakaian itu. Namun mereka justru menjadi kurang berminat.

Seorang yang berpakaian sederhana, bahkan kainnya telah nampak lusuh berkata kepada kawannya, “Apakah aku pantas memakai pakaian dengan bahan seperti itu?”

“Ah kau,” sahut kawannya, “katak pun akan mentertawakanmu.”

Orang yang pertama itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia berkata dengan dahi berkerut, “jangan menghina. Jika aku berpakaian dengan bahan seperti itu, maka aku tidak akan ada ubahnya seperti seorang bangsawan di Singasari, setidak-tidaknya bangsawan di Kediri, atau paling buruk seperti bangsawan di Pakuwon Lemah Warah atau Sangling.”

“Dan yang lebih buruk lagi seperti seorang kesatria dari padepokan Suriantal,” sahut kawannya sambil tertawa.

Beberapa orang yang mendengar pun tertawa pula, sementara Mahisa Murti berkata, “Hanya mereka yang memiliki darah kesatria yang pantas memakai pakaian dengan bahan seperti ini. Sedangkan menurut penilaianku, kalian adalah kesatria-kesatria sejati dari padepokan Suriantal.”

Beberapa orang saling berpandangan. Namun mereka justru menarik keningnya sambil berkata didalam hati, “Tentu aku tidak pantas memakainya.”

Karena orang-orang padepokan itu nampaknya tidak tertarik maka Mahisa Murti pun berkata, “Baiklah. Aku akan membuka kerudung yang kedua.”

Orang-orang itu menjadi tegang. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyibakkan bahan-bahan pakaian yang bagi orang-orang padepokan itu terlalu mahal.

Ketika mereka membuka kerudung yang kedua, maka tiba-tiba orang-orang padepokan itu bersorak. Mereka melihat alat-alat pertanian yang lebih baik dari yang mereka miliki.

Meskipun di padepokan itu ada juga alat-alat pertanian yang baik, tetapi jumlahnya terlalu sedikit, sehingga tidak mencukupi untuk mengolah sawah padepokan yang semakin luas.

“Nah, kita akan dapat bekerja lebih baik,” berkata salah seorang di antara mereka.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun seorang di antara mereka berdesis, “Apalagi menurut dugaanmu yang satu lagi?”

“Bahan makanan,” jawab kawannya.

Orang yang bertanya itu pun mengangguk-angguk. Tetapi bahan makanan bukan merupakan hal yang menarik buat mereka.

Karena itu, maka beberapa orang di antara penghuni padepokan itu justru tidak tertarik lagi dengan kerudung yang masih tersisa. Mereka memang menduga, bahwa yang dibawa itu selain bahan pakaian tentu juga bahan makanan. Sementara itu Suriantal tidak lagi merasa kekurangan bahan makanan. Sawah yang mereka kerjakan cukup luas, sehingga hasilnya mencukupi bagi seisi padepokan.

Meskipun demikian, orang-orang padepokan Suriantal itu masih juga mengerumuni pedati itu.

Seorang di antara mereka yang masih juga ingin tahu telah mendekati kawannya yang mendapat kesempatan untuk ikut ke Singasari dan bertanya, “He, apa yang terbungkus itu?”

Kawannya tersenyum sambil menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak tahu.”

“Bohong. Kau tentu tahu,” geramnya.

Kawannya justru tertawa. Katanya, “Aku memang tahu, tetapi aku tidak mau memberitahukan kepadamu.”

“Anak iblis,” orang itu mengumpat.

Kawannya tertawa semakin panjang. Tetapi ia memang tidak mau memberitahukan, apa yang berada di bawah selubung itu. Sehingga dengan demikian seisi padepokan itu memang harus menunggu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat membuka kerudung itu.

Ketika orang-orang padepokan itu menjadi semakin tegang, meskipun ada juga yang bahkan kurang tertarik perhatiannya karena mereka menduga bahwa isinya adalah bahan makanan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai menarik tali-tali pengikatnya dan kemudian membuka selubungnya.

Orang-orang yang menyaksikan itu pun terbelalak. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun mereka pun kemudian telah bersorak lebih keras dari saat mereka melihat, bahwa di antara yang dibawa di dalam pedati itu adalah alat-alat pertanian.

Yang kemudian mereka lihat adalah justru alat-alat senjata yang bermacam-macam yang buatannya jauh lebih baik dari senjata-senjata yang dimiliki oleh orang-orang Suriantal. Apalagi orang-orang yang memang berasal dari perguruan Suriantal, yang biasanya hanya bersenjatakan tongkat kayu. Mereka melihat senjata-senjata itu dengan jantung yang berdebar-debar.

“Senjata apa saja yang ada di pedati itu? “ desis salah seorang yang berasal dari perguruan Suriantal.

“Bukan main,” sahut kawannya, “ternyata senjata-senjata itu sangat baik, bahkan terlalu baik bagi kita. Kita terbiasa mempergunakan parang yang dibuat oleh pande besi di pasar sebelah. Kini kita dihadapi senjata yang dibuat khusus oleh ahli-ahli.”

“Memang bukan main. Tetapi akibatnya sama saja,” berkata yang lain, “meskipun parang kita dibuat pande besi di pasar padukuhan sebelah, namun jika tajamnya tergores di leher, maka yang terkena itu pun akan mati.”

“Tetapi dalam benturan-benturan senjata, tentu tidak sama,” sahut yang lain lagi.

Sebenarnyalah bahwa orang-orang padepokan itu bagaikan terhentak melihat berbagai jenis senjata. Bagaimanapun Juga mereka adalah orang-orang yang akrab dengan senjata. Setiap hari mereka membawa senjata di lambung. Orang-orang dari perguruan Suriantal membawa tongkat-tongkatnya. Meskipun setelah mereka menempa diri bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, mereka telah membiasakan mempergunakan tongkat yang lebih pendek dari sebelumnya, namun yang kegunaannya justru lebih baik dari yang panjang itu.

Senjata yang ada di pedati itu ternyata cukup banyak, meskipun tidak akan dapat terbagi untuk seluruh penghuni padepokan itu.

“Nah,” berkata Mahisa Murti kemudian, “aku telah membawa senjata dari Singasari. Senjata ini adalah pemberian dari Sri Maharaja di Singasari. Kita diperkenankan untuk mempergunakannya. Aku tahu, bahwa ada di antara kalian yang telah memiliki senjata khusus yang kalian anggap paling sesuai dengan diri kalian masing-masing. Tetapi banyak di antara kalian yang masih mempergunakan senjata yang kurang mantap. Karena itu, bagi mereka yang merasa belum memiliki senjata yang dapat dianggap berarti, maka kami akan mempersilahkan untuk mengambil satu di antara senjata-senjata yang tersedia. Namun sudah tentu, bahwa kalian akan mengambil senjata yang paling baik untuk dipergunakan.”

Para penghuni padepokan itu mengangguk-angguk. Sebenarnyalah beberapa orang di antara mereka telah memiliki senjata yang mantap. Yang mereka terima dari orang tua mereka, atau dari perguruan mereka atau dari orang-orang yang mereka anggap penting.

Orang-orang perguruan Suriantal, ternyata lebih senang mempergunakan senjata mereka sendiri. Tongkat yang tidak lagi terlalu panjang. Meskipun demikian ada juga di antara mereka yang ingin memiliki pisau-pisau belati yang akan dapat menjadi senjata rangkapan tongkat yang mereka miliki.

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mau menunda-nunda lagi. Ia pun kemudian memerintahkan para penghuni padepokan itu yang merasa perlu untuk memiliki senjata baru, agar memilih senjata-senjata yang ada di pedati itu.

Memang tidak semuanya, karena seperti yang dikatakan oleh Mahisa Murti bahwa di antara mereka terdapat orang-orang yang sudah memiliki senjata yang mantap.

Dalam pada itu, maka beberapa puluh orang telah berdiri berjajar ke belakang. Ditunggui oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, satu-satu mereka memilih senjata yang paling baik menurut anggapan mereka, terutama mereka yang hanya memiliki senjata sederhana yang didapat dari pande besi kebanyakan, yang terbiasa membuat alat-alat untuk bertani.

Satu-satu orang-orang Suriantal itu telah memilih. Namun ada juga yang merasa bahwa senjata-senjata itu masih juga kurang berarti dibanding senjata-senjata pusaka yang mereka terima dari orang-orang yang mereka hormati.

Namun beberapa orang yang lain menjadi sangat gembira dengan senjata-senjata mereka yang baru. Di antara senjata-senjata itu yang paling banyak adalah pedang. Bukan saja pedang itu terbuat dari besi baja pilihan, tetapi pedang-pedang itu mempunyai wrangka yang jauh lebih bagus dari pedang-pedang mereka.

Yang ragu-ragu adalah orang-orang dari perguruan Suriantal. Namun mereka diberi kesempatan pula oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sebagaimana mereka menginginkan memiliki pisau-pisau belati atau pedang pendek sebagai rangkapan senjata mereka sejak mereka berada di perguruan yang sudah tidak berjalan dengan wajar lagi. Namun mereka masih juga menaruh hormat kepada tongkat-tongkat mereka, karena sejak mereka pertama kali berguru, maka mereka sudah mempelajari cara mempergunakan tongkat-tongkat itu.

Namun demikian, ada juga satu dua orang yang ingin mencoba mempergunakan senjata sejenis, tetapi yang berujung runcing. Dua orang dari perguruan Suriantal telah memungut tombak-tombak pendek. Meskipun mereka kurang terbiasa, tetapi mereka berharap untuk segera dapat menyesuaikan diri.

Demikianlah, senjata yang dibawa dari Singasari itu ternyata masih juga tersisa. Ada jenis-jenis senjata yang tidak banyak disukai. Orang-orang padepokan itu tidak terbiasa mempergunakan canggah bertangkai, atau kapak bertangkai panjang. Bahkan kapak bertangkai yang bermata rangkap. Rasa-rasanya mereka harus berlatih kembali untuk mempergunakan senjata-senjata seperti itu, justru dari permulaan.

Ketika sudah tidak ada lagi yang ingin memiliki senjata-senjata yang dibawa dari Singasari itu, maka Mahisa Murti telah memerintahkan beberapa orang untuk menyimpannya.

“Nah,” berkata Mahisa Murti kemudian, “kita sudah mendapatkan hadiah dari Sri Maharaja. Meskipun agaknya kalian tidak tertarik, tetapi bahan pakaian ini adalah milik kita semuanya. Kita dapat memakainya jika kita inginkan. Karena itu, bahan pakaian itu akan aku simpan. Siapa yang memerlukan supaya datang kepadaku.”

Tiba-tiba saja seorang di antara orang-orang padepokan itu berkata, “Bagaimana jika bahan-bahan itu kita jual saja atau kita tukarkan dengan bahan yang lebih sesuai dengan kita? Maka agaknya kita akan mendapat bahan lipat dua atau tiga kali lebih banyak.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun Mahisa Murti pun sambil tersenyum menjawab, “Bahan-bahan pakaian itu adalah hadiah dari Sri Maharaja. Kita akan merasa segan untuk tidak mempergunakannya. Apalagi dijual meskipun untuk mendapatkan yang lebih banyak lagi.”

Beberapa orang yang sebenarnya sependapat dan hampir saja berteriak pula, telah menelan kembali suaranya yang sudah berada di tenggorokan. Bahkan mereka pun telah menundukkan wajah-wajah mereka sambil menyembunyikan senyum yang asam.

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyimpan sisa senjata dan bahan-bahan pakaian, serta menyerahkan alat-alat pertanian kepada para penghuni padepokan itu.

“Pergunakan dengan sebaik-baiknya,” berkata Mahisa Pukat kepada orang yang dibebani tanggung jawab atas alat-alat itu, “jika kita tidak mendapat hadiah dari Sri Maharaja, sampai kapan pun kita tidak akan dapat membeli alat-alat pertanian sebaik dan sebanyak itu.”

Dengan alat-alat itu, maka kemudian orang-orang padepokan Suriantal itu telah bekerja lebih baik dan bersungguh-sungguh. Selain mereka menghormati hadiah yang diberikan oleh Sri Maharaja, maka dengan alat-alat yang lebih lengkap dan lebih baik, rasa-rasanya kerja pun akan semakin cepat selesai.

Karena itulah, maka sawah dan pategalan yang digarap oleh orang-orang padepokan itu pun menjadi semakin hijau dan batang pun tumbuh semakin subur.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru telah tertarik kepada senjata-senjata yang tersisa. Memang senjata yang tidak terlalu lazim dipergunakan. Namun justru karena itu rasa-rasanya keduanya ingin mengetahui kekuatan dan kelemahannya.

Karena itu, maka di hari-hari berikutnya, kedua anak muda itu selain memantapkan ilmu mereka yang dengan tuntas telah diwarisinya dari ayahnya, juga beberapa unsur yang dapat melengkapinya yang diberikan oleh Mahisa Agni dan Witantra, serta segala macam ilmu yang diterimanya atas kebaikan hati beberapa orang yang berilmu tinggi, mereka pun ingin bermain-main dengan senjata-senjata yang tidak terlalu sering dipergunakan orang itu.

Di malam hari, jika orang-orang padepokan yang tidak bertugas telah tidur nyenyak, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berada di dalam sanggar dengan berjenis-jenis senjata.

Mereka mula-mula mencoba kemampuan dan mencari kelemahan sebuah kapak yang tajamnya menghadap kedua arah yang bertolak belakang, kemudian masih ditambah lagi dengan mata tombak yang runcing yang mencuat di antara punggung kedua kapak itu.

Dengan hati-hati Mahisa Murti menggerakkan senjata itu, sementara Mahisa Pukat dengan mempergunakan pedang sekali-sekali menahan, menangkis dan menghindar. Dengan gerak yang lambat, Mahisa Murti menilai setiap sentuhan, kaitan dan benturan dengan senjata lawan.

Untuk melengkapinya, maka bergantian mereka mencoba mengurai nilai yang terkandung pada kedua tajamnya dan ujung tombak yang runcing itu. Namun mereka pun menilai kelemahannya justru karena lawannya akan dapat mengait senjata itu dan menghentakkannya.

Dengan mengetahui kelemahan dan kekuatannya, maka mereka berdua pun akan dapat mengenali watak senjata itu dengan baik.

Ternyata bahwa pekerjaan mengenali watak-watak berjenis-jenis senjata itu sangat menarik. Mahisa Pukat yang pernah mengenali sebelumnya penggunaan dan watak trisula bertangkai pendek, telah mencoba mempergunakan trisula bertangkai panjang, sepanjang tangkai tombak pendek. Dengan cermat Mahisa Pukat berusaha untuk memanfaatkan ketiga mata trisula yang panjangnya tidak sama. Namun ternyata bahwa trisula itu dapat memberikan kemungkinan yang besar untuk melemparkan senjata lawan. Jika mata trisula itu berhasil menjebak senjata lawan menyisip di antaranya, maka putaran yang menghentak akan dapat merenggut senjata lawan itu.

Bukan hanya Mahisa Pukat, tetapi Mahisa Murti pun ternyata sangat tertarik pula kepada senjata yang bermata tiga itu.

Selain trisula, maka jenis nenggala pun sangat menarik keduanya. Senjata yang tidak terlalu panjang, lebih pendek dari tombak bertangkai pendek, tetapi mempunyai mata tombak di kedua belah ujungnya.

“Aku akan mencoba dengan orang-orang dari perguruan Suriantal,” berkata Mahisa Pukat.

“Tetapi agak sulit membawa senjata jenis ini,” berkata Mahisa Murti.

“Bukankah mereka terbiasa membawa tongkat panjang ke mana-mana?” bertanya Mahisa Pukat.

“Tetapi justru runcing di kedua ujungnya. Ujung-ujung nenggala itu akan dapat mengenai kaki mereka sendiri,” berkata Mahisa Murti kemudian.

Mahisa Pukat tertawa. Jawabnya, “Itu namanya kecelakaan.”

Mahisa Murti pun tertawa juga. Tetapi ia pun sependapat, bahwa mereka akan berusaha memperkenalkan senjata-senjata itu kepada para penghuni padepokan. Jika mereka tidak juga senang mempergunakannya, setidak-tidaknya satu pengalaman bagi mereka menghadapi jenis senjata seperti itu. Apalagi orang-orang yang tinggal di pesisir. Jika datang orang asing menginjakkan kakinya di bumi ini, mereka membawa senjata yang belum banyak dikenal di sini. Jika kedatangan orang-orang itu tidak dengan maksud baik dan sikap yang damai, maka benturan-benturan kekerasan memang akan dapat terjadi. Karena itu mengenalkan atas jenis-jenis senjata yang tidak, banyak dipergunakan itu pun tentu ada gunanya.

Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berusaha untuk memilahkan jenis-jenis senjata yang baik dipergunakan oleh orang yang mempunyai kekuatan yang besar dan senjata yang paling sesuai dengan mereka yang kekuatannya tidak terlalu besar, sehingga diperlukan kecekatan dan kecepatan yang lebih tinggi.

Ternyata keduanya memerlukan waktu untuk melakukan penelitian itu. Apalagi ketika mereka ketemukan di antara berjenis-jenis senjata itu senjata yang memang dibuat di negeri asing, sebagaimana ciri-ciri dan huruf-huruf yang tercantum pada landean atau pada wrangkanya.

“Sri Maharaja dengan sengaja memberikan senjata-senjata itu,” berkata Mahisa Murti.

“Ya. Kita tidak terbiasa membuat pedang yang lengkung, seperti ini. Tipis, tetapi tajamnya luar biasa,” sahut Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia pun sedang mengamati sebuah pedang yang tidak terlalu besar, pendek, tetapi bertangkai seperti tombak.

“Tentu bukannya tanpa maksud jika Sri Maharaja memberikan senjata-senjata seperti itu,” berkata Mahisa Murti pula.

“Satu kemurahan Sri Maharaja berkenan mendorong kita, agar kita menyempatkan diri mempelajari dan meneliti berjenis-jenis senjata yang sebelumnya kurang kita kenal,” berkata Mahisa Pukat.

“Karena itu tergantung kepada kita,” jawab Mahisa Murti, “apakah kita akan melakukannya atau tidak.”

“Kita sudah melakukannya, meskipun baru sebagian,” desis Mahisa Pukat.

Dengan demikian, maka kedua anak muda itu pun menjadi semakin tekun. Namun sambil melanjutkan pengamatannya atas berjenis-jenis senjata, mereka telah mulai memperkenalkan jenis-jenis senjata itu kepada seisi padepokan.

“Kita akan mulai dengan tahap-tahap menurut kelompok-kelompok asal perguruan mereka. Terutama orang-orang dari perguruan Suriantal,” berkata Mahisa Murti.

“Yang lain memang sudah semakin kabur,” jawab Mahisa Pukat. “Agaknya memang hanya orang-orang Suriantal yang masih nampak berpegang pada sumbernya, meskipun sudah menjadi semakin meningkat.”

Dengan demikian, maka yang pertama-tama dikumpulkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah orang-orang Suriantal.

Mereka mulai diperkenalkan dengan jenis-jenis senjata yang ada di padepokan itu, yang telah dihadiahkan oleh Sri Maharaja di Singasari.

“Jika kalian tidak berminat untuk mempelajarinya, setidak-tidaknya kalian tahu bagaimana melawan orang-orang yang mempergunakan senjata seperti itu,” berkata Mahisa Murti.

Dengan demikian maka orang-orang dari perguruan Suriantal itu pun telah bermain pula untuk mengetahui serba sedikit tentang berbagai macam senjata itu.

“Kami juga bukan seorang yang benar-benar menguasai senjata-senjata itu,” berkata Mahisa Pukat, “namun kami sudah berusaha untuk mencoba, menilai dan mengurai kegunaannya. Mudah-mudahan yang telah kami lakukan itu bermanfaat.”

Orang-orang Suriantal itu mengangguk-angguk. Bagi mereka kedua anak muda itu mempunyai ilmu yang jauh lebih tinggi dari mereka. Karena itu, maka apa yang dilakukan tentu akan memberikan arti yang baik bagi mereka.

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mencoba beberapa jenis senjata panjang. Orang-orang Suriantal yang telah terbiasa mempergunakan tongkat panjang, berusaha untuk menyesuaikan diri dengan beberapa jenis senjata itu. Antara lain tombak biasa, namun juga tombak bermata dua di kedua ujungnya, karena ada jenis tombak lain yang bermata dua di satu ujungnya, sejenis dengan trisula, yang mereka sebut canggah.

Perlahan-lahan, orang-orang Suriantal memang menemukan satu wawasan baru terhadap senjatanya. Selama ini mereka menganggap bahwa mereka mutlak harus mempergunakan tongkat panjang. Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menganjurkan agar tongkat-tongkat mereka agak diperpendek, mereka tidak yakin bahwa tongkat yang demikian akan lebih berarti. Namun setelah mereka menyesuaikan diri dengan tongkat mereka yang lebih pendek, ternyata mereka justru dapat mempergunakan dengan lebih baik. Kemudian mereka dihadapkan pada berjenis-jenis tongkat yang di ujungnya terdapat beberapa macam bentuk yang mempunyai watak yang berbeda-beda.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memberi kesempatan kepada setiap orang untuk mencoba mempergunakan berjenis-jenis senjata itu. Sekali-sekali mencoba mempergunakannya untuk melawan Mahisa Murti atau Mahisa Pukat.

Ternyata mereka tidak mengalami perkembangan wawasan yang sama tentang jenis-jenis senjata baru. Ada yang tetap pada sikapnya. Bahwa senjata yang paling sesuai bagi mereka adalah tongkat panjangnya, meskipun sudah agak diperpendek.

Tetapi ada yang bersikap lain. Tiba-tiba saja ia tertarik kepada tongkat sebagaimana yang dipergunakannya, namun sentuhan ujung senjatanya akan berakibat lebih buruk daripada jika tongkatnya tidak mempunyai ujung yang runcing. Meskipun diakuinya, bahwa dengan ujung trisula keseimbangannya memang agak berbeda. Tetapi dengan membiasakannya, maka akhirnya akan dikuasainya pula.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memberikan beberapa petunjuk dan tuntunan. Kemudian dibiarkan mereka melakukannya. Tidak hanya satu kali, tetapi beberapa kali.

Sementara itu, kelompok yang lain pun telah mendapat giliran pula. Mereka yang memang tidak terbiasa mempergunakan senjata panjang, memang tidak banyak tertarik kepada senjata-senjata bertangkai itu. Tetapi kepada mereka pun oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ditunjukkan watak serta sifat senjata-senjata itu.

Demikianlah, maka di hari-hari berikutnya, sekelompok demi sekelompok orang-orang padepokan itu telah mengadakan latihan-latihan khusus. Di samping mereka yang menemukan jenis-jenis senjata baru yang lebih sesuai bagi dirinya, maka yang lain pun telah mengenali jenis-jenis senjata yang tidak banyak dipergunakan. Dengan demikian, maka jika mereka pada suatu saat harus berhadapan dengan senjata jenis tersebut, mereka tidak akan menjadi terkejut dan bingung. Meskipun mungkin ada gerakan-gerakan yang belum dikenal oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, tetapi secara umum mereka telah mengetahuinya.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sendiri masih memerlukan waktu untuk berlatih terus. Mereka berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengenali watak senjata-senjata itu.

Ternyata keduanya memang benar-benar orang berilmu tinggi. Perlahan-lahan namun mereka selalu merangkak maju. Keduanya berhasil menguasai segala jenis senjata yang sebelumnya tidak mereka kenal atau tidak pernah mereka pergunakan meskipun pernah melihat ujudnya. Bahkan keduanya pun telah memahami watak bindi yang berbentuk belimbing dengan lingkar-lingkar yang tajam. Dalam pergumulan yang seru jenis senjata ini memang akan dapat melukai dirinya sendiri, jika pemakainya kurang menguasainya. Keduanya pun telah mampu mempergunakan canggah, trisula dan nenggala dengan baik, sehingga beberapa orang Suriantal yang berminat telah pula dapat mempergunakannya, sebagaimana mereka mempergunakan tongkatnya. Bahkan mereka pun telah mampu memanfaatkan kelebihan-kelebihan yang terdapat pada senjata mereka yang baru dan menimbangnya dengan keseimbangan yang mapan.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat-pun kemudian telah berniat untuk menyesuaikan kemampuan orang-orang padepokan itu dan memberikan ciri-ciri yang dapat merangkum keseluruhan penghuni. Dengan demikian maka akan terdapat ujud kesatuan yang lebih utuh di antara para penghuni padepokan itu.

Tetapi dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berusaha untuk meluluhkan setiap penghuni padepokan itu sehingga mereka tidak akan terpisah-pisahkan lagi.

“Kita akan berbicara dengan mereka,” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat sependapat. Memang lebih baik dilakukan secara terbuka daripada mereka berdua harus melakukannya dengan diam-diam, sehingga orang-orang padepokan itu melakukannya dengan tanpa kesadaran.

Seperti yang mereka rencanakan maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengumpulkan semua orang yang menghuni padepokan itu. Dengan terbuka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memberikan penjelasan kepada mereka, niat keduanya untuk menjadikan isi padepokan itu menjadi satu.

“Selama ini kita masih dibayangi oleh alas berpijak kita masing-masing,” berkata Mahisa Murti, “tetapi satu kenyataan yang tidak dapat diingkari bahwa kita sudah berada di sini. Kita merasa menjadi satu keluarga, senang atau tidak senang. Kita harus memikul suka dan duka atas padepokan ini bersama-sama. Bahkan jika ada di antara kita yang semula bermusuhan, maka kini kita harus memikul beban bersama pula. Karena itu, alangkah baiknya jika kita dapat melebur diri dan menamakan diri kita satu keluarga.”

Beberapa orang saling berpandangan. Tiba-tiba saja bagaikan merayap di hati mereka masing-masing, satu kesadaran, bahwa mereka memang satu keluarga.

Karena itu, maka tidak seorang pun yang menyatakan keberatan mereka. Untuk beberapa lamanya, mereka memang sudah merasakan satu penanggungan. Pergolakan yang terjadi beberapa kali, membuat mereka merasa diri menjadi satu.

Namun dengan demikian, tanpa disadari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat seakan-akan telah mendirikan satu perguruan baru di padepokan yang semula bernama padepokan Suriantal, karena dihuni khusus bagi perguruan Suriantal yang sudah larut.

“Kita akan segera mulai mengambil langkah-langkah,” berkata Mahisa Murti, “jika kita memang sudah merasa satu, maka bukan saja kesediaan batin, tetapi kita akan mewujudkannya dalam sikap dan tingkah laku. Bahkan ilmu.”

Orang-orang padepokan itu mengangguk-angguk. Meskipun bagi mereka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih terlalu muda, namun keduanya benar-benar telah menunjukkan kemampuan yang sangat tinggi, sehingga sudah sepantasnya, bahwa kedua anak muda itu mereka anggap guru didalam ilmu kanuragan.

“Jika kalian sudah bulat, maka kita akan menentukan ciri buat diri kita. Kita akan membentuk satu pribadi yang utuh yang memberikan warna yang berbeda dengan pribadi yang lain. Kita adalah kita,” berkata Mahisa Murti, “karena itu, untuk menghapuskan kesan kesendirian, maka aku ingin mengusulkan, terutama yang semula berasal dari perguruan Suriantal, untuk mengesampingkan nama itu. Kita tidak akan mempergunakan nama Suriantal lagi. Tetapi kita akan mempergunakan nama baru yang lebih mencakup dan sesuai dengan kepribadian yang akan kita tegakkan kemudian.”

Sesaat suasana menjadi hening. Beberapa orang yang semula berasal dari perguruan Suriantal pun saling berpandangan. Namun dari sorot mata mereka, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat, bahwa mereka tidak berkeberatan.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Jika ada yang berkeberatan, katakanlah. Jika tidak, maka itu berarti bahwa kalian telah sependapat dengan kami.”

Ternyata tidak seorang pun yang menyatakan keberatannya. Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata selanjutnya, “Baiklah. Jika demikian, maka kita akan segera bersiap-siap. Kita juga harus memikirkan nama dari padepokan kita yang akan tersusun kemudian.”

“Bukan hanya sebuah padepokan, tetapi sebuah perguruan,” tiba-tiba seorang di antara penghuni padepokan itu berteriak.

Ternyata beberapa orang telah menyahut, “Ya. Sebuah perguruan. Kita harus membuat diri kita baru sama sekali, dalam satu lingkungan yang baru pula.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun Mahisa Pukat pun kemudian berkata, “Sebuah perguruan diperlukan seorang yang mempunyai pengetahuan yang luas dan ilmu yang tinggi. Bukan saja dalam olah kanuragan, tetapi juga olah kajiwan.”

“Orang-orang itu sudah ada di antara kita,” sahut seseorang.

“Ya,” beberapa orang bersama-sama menyahut, “kita sudah memiliki.”

Beberapa orang pun kemudian telah berteriak-teriak pula.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerti maksud mereka. Untuk sementara mereka tidak ingin memberikan jawaban. Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian berkata lantang, “Kita akan beristirahat dahulu sekarang kecuali yang bertugas. Kita akan sempat berpikir apa yang paling baik kita lakukan. Besok kita akan berbicara lagi tentang nama padepokan ini. Kemudian kita akan berbicara pula tentang perguruan.”

Orang-orang padepokan itu termangu-mangu sejenak. Namun mereka pun kemudian meninggalkan tempatnya, kembali ke barak masing-masing.

Ternyata bahwa rencana untuk memberikan nama bagi padepokan itu untuk menggantikan nama Suriantal telah mendapat sambutan yang sangat baik. Mereka masih juga membicarakan rencana itu. Dan bahkan satu dua orang telah mereka-reka nama yang paling baik untuk padepokan itu.

Namun seorang yang lain pun berkata, “Agaknya memang kurang pantas jika anak-anak muda memimpin sebuah perguruan. Apalagi disebut guru. Masih pantas jika mereka sekedar menjadi pemimpin padepokan.”

Kawannya mengangguk. Tetapi katanya, “Menilik ujud dan umurnya memang belum pantas. Tetapi menilik sikap, kata-kata dan apalagi ilmu mereka, maka mereka memang sudah pantas untuk menjadi pemimpin sebuah perguruan dan sekaligus menjadi seorang guru. Kita mendapat kehormatan menjadi murid-muridnya yang pertama.”

“Ya,” sahut yang lain, “tetapi kita harus menyadari, bahwa kita adalah murid mereka dalam arti yang umum sekali. Mereka pada saatnya tentu akan mengambil satu atau dua orang murid saja yang benar-benar akan ditempa menjadi seorang yang berilmu tinggi sebagaimana mereka berdua.”

“Apa pun yang diwariskan kepada kita, itu sudah cukup,” berkata kawannya.

Beberapa orang yang terlihat ke dalam pembicaraan itu mengangguk-angguk. Mereka memang sulit untuk menentukan satu sikap yang sesuai antara penalaran dan perasaan mereka. Menurut nalar, kedua anak muda itu sudah sepantasnya mereka sebut guru dan pemimpin sebuah perguruan. Tetapi menurut perasaan mereka, maka keduanya masih sangat muda. Bahkan keduanya belum pernah berkeluarga.

“Terserah kepada mereka,” tiba-tiba seorang yang bertubuh gemuk berkata, “Apa pun namanya, yang mereka lakukan tidak akan banyak berbeda. Menempa kita, membongkar kemampuan dan ilmu yang sudah kita miliki kemudian membentuk kita sesuai dengan pola pikirannya sebagaimana yang sudah kita sepakati. Kita harus mempunyai satu kepribadian tersendiri.”

Ternyata kawan-kawannya sependapat. Mereka memang tidak perlu bersusah payah memberikan penilaian terhadap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Yang penting bagi mereka, bahwa mereka telah sepakat untuk, membentuk satu lingkungan yang utuh.

Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bertekad untuk merubah warna padepokan itu dengan nama yang lain dan watak yang lain.

Beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih membicarakan langkah-langkah yang akan mereka ambil. Mereka telah mencoba melihat berulang balik. Manakah yang paling baik dilakukan.

Kedua anak muda itu pun kemudian memang sampai pada satu kesimpulan bahwa yang mereka lakukan itu mengarah pada satu perguruan baru.

“Apakah kita akan dapat mempertanggung jawabkan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Kita dapat menentukan lain,” bertanya Mahisa Murti, “kita bukan berniat untuk mendapatkan satu kedudukan yang dihormati. Tetapi yang penting bagi kita, padepokan ini mendapat ujud yang baru dan utuh.”

“Tetapi kelanjutan dari hidup padepokan itu terletak atas pundak kita,” berkata Mahisa Pukat.

“Ya. Sekarang kita memang harus bertanya kepada diri kita, apakah kita akan dapat dengan bulat menyerahkan hidup kita untuk padepokan ini,” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun kemudian ia-pun bertanya, “Apakah masih ada yang akan kita cari?”

Mahisa Murti menggeleng. Katanya, “Kita sudah mendapatkan semuanya. Segalanya terserah kepada kita sendiri. Tidak ada orang lain yang kita harapkan untuk membantu meningkatkan ilmu kita, kecuali datang orang-orang justru di luar segala harapan kita. Karena itu, maka kita akan dapat mengisi masa depan kita berlandaskan setidak-tidaknya apa yang telah kita miliki.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk, “Jika demikian aku rasa, kita akan dapat melakukannya, bahkan seandainya disebut mendirikan perguruan sekalipun.”

“Ya,” sahut Mahisa Murti, “tetapi jika kita sudah melangkah, maka kita tidak akan dapat surut lagi.”

“Kita memang harus meyakini itu,” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun mereka berdua telah membulatkan tekad untuk menyusun satu perguruan. Meskipun kemudian mereka pun mencoba menilai diri mereka sendiri.

“Apakah kita tidak terlalu muda untuk melakukannya?” bertanya Mahisa Pukat.

“Kita menempuh cara yang agak berbeda dengan orang lain,” jawab Mahisa Murti, “kita tidak harus berdiri sebagai seorang guru yang mumpuni ilmu kewadagan dan kejiwaan. Tetapi kita dapat menyebut diri kita apa saja. Tetapi kita sudah berniat untuk melakukannya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akhirnya menemukan sebutan yang paling baik bagi mereka berdua. Mereka tidak akan disebut guru oleh siapa pun juga. Tetapi mereka akan menyebut diri mereka dengan Putut. Putut Mahisa Murti dan Putut Mahisa Pukat.

“Jika mereka ingin lebih singkat, mereka dapat menyebut kita masing-masing Putut Murti dan Putut Pukat,” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Ya. Agaknya sebutan itu lebih baik dari sebutan bagi seorang guru yang tuntas dalam berbagai macam ilmu. Kecuali jika ayah Mahendra atau paman Mahisa Agni dan paman Witantra bersedia tinggal di sini.”

“Mereka sudah menjadi semakin tua,” desis Mahisa Pukat, “biarlah mereka tetap berada di istana.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar.”

“Nah,” berkata Mahisa Pukat kemudian, “besok kita akan berbicara lagi dengan orang-orang padepokan ini. Tetapi kita memang perlu menyiapkan sebuah nama bagi padepokan ini.”

“Kita akan mendengarkan beberapa pendapat. Mungkin orang-orang yang lebih tua dari kita akan mendapatkan nama yang lebih baik dari yang dapat kita ketemukan,” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka memang tidak perlu tergesa-gesa. Karena itu maka Mahisa Pukat pun berkata, “Sebaiknya kita memang menunggu.”

Demikianlah, seperti yang mereka bicarakan, maka di hari berikutnya pun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengundang orang-orang yang menghuni padepokan itu.

Mahisa Murti lah yang berbicara dihadapan mereka, “Marilah saudara-saudaraku. Kita berbicara lagi tentang diri kita sendiri. Kita lanjutkan pembicaraan kita kemarin. Kita akan menyusun satu bentuk baru dari padepokan ini. Kami berdua telah memutuskan, disetujui atau tidak disetujui, bahwa kami berdualah yang akan memimpin padepokan ini.”

Di luar dugaan, orang-orang itu menjawab hampir serentak, “Kami setuju.”

“Terima kasih,” berkata Mahisa Murti, “kami akan menentukan sebutan yang paling pantas untuk kami berdua.”

“Guru,” teriak seseorang, “kami bersedia untuk menjadi murid-murid pertama.”

“Ya. Kami akan memanggil, guru,” sahut yang lain disusul oleh beberapa orang bersahutan.

Tetapi Mahisa Murti menggeleng. Katanya, “Tidak. Kalian tidak akan menyebut kami, guru. Tetapi panggil kami berdua dengan sebutan Putut. Putut Mahisa Murti dan Putut Mahisa Pukat.”

“Putut?” beberapa orang bertanya.

“Putut adalah saudara tua bagi cantrik-cantrik di satu padepokan,” jawab Mahisa Murti.

Orang-orang padepokan itu mengangguk-angguk. Namun seorang yang sudah menjelang usia tuanya berkata, “Meskipun demikian, jika Putut itu dapat disebut saudara tua, maka harus ada pula ayah ibunya. Atau katakanlah ayahnya saja jika sudah menjadi piatu.”

“Ya. Itulah yang kami perlukan di sini,” berkata beberapa orang kemudian.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Namun kemudian Mahisa Pukat lah yang menjawab, “Kita adalah anak-anak yatim piatu. Kami yang tertua di antara kalian, meskipun bukan umurnya, mempunyai kewajiban menggantikan kedudukan ayah bunda, meskipun kedudukan kami tetap sebagai saudara tua.”

Orang-orang padepokan itu sebagian masih juga belum puas. Namun Mahisa Murti berkata selanjutnya, “Ingat. Hanya sekedar sebutan. Yang akan kami lakukan sama saja, apa pun bunyi sebutan itu.”

Beberapa orang mengangguk-angguk. Mereka memang sudah bersikap sebagaimana dikatakan oleh Mahisa Murti itu. Karena itu maka tidak ada lagi yang mencoba untuk merubah sebutan yang diusulkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

“Kedudukan itu agak memperingan tanggung jawabku,” berkata Mahisa Murti kemudian, “berbeda jika kami berdua disebut guru, atau Ki Ajar, apalagi Panembahan dan sebutan-sebutan yang lain. Karena itu, biarlah kita yang yatim piatu di sini mencoba menentukan hari depan kita bersama-sama.”

Orang-orang padepokan itu pun mengangguk-angguk.

Dalam pada itu, Mahisa Murti pun kemudian bertanya, “Nah, siapakah di antara kita yang sudah menemukan nama yang paling sesuai bagi padepokan kita ini?”

“Terserah kepada Putut berdua,” jawab orang yang sudah menjelang umur tuanya.

“Mungkin ada di antara kalian yang mempunyai nama yang mapan?” bertanya Mahisa Pukat.

Tidak ada yang menjawab.

Dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat-pun kemudian memutuskan bahwa mereka akan mencari nama yang sebaik-baiknya bagi padepokan dan bahkan perguruan mereka.

“Baiklah,” berkata Mahisa Murti,” besok aku akan mengumumkan nama itu. Jika di antara kalian ada yang tidak sependapat, maka masih banyak kemungkinan untuk merubahnya.”

Dengan demikian maka pertemuan itu pun telah selesai dan para penghuni padepokan itu pun tinggal menunggu nama yang akan ditentukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Namun dalam pada itu, ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat lagi sibuk membicarakan nama padepokan itu dilewat senja, orang yang sudah menjelang usia tuanya itu pun telah datang menemuinya. Katanya, “Apakah aku diperkenankan berbicara dengan Putut berdua? “
Orang itu nampak ragu-ragu. Namun kemudian katanya, “Putut berdua. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Memang sekedar pikiran orang tua yang selalu ketakutan. Tetapi mungkin dapat dianggap berhati-hati.”

“Katakanlah,” sahut Mahisa Murti, “sikap hati-hati agaknya memang bermanfaat bagi kita yang akan melakukan langkah-langkah yang penting ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang belum terbiasa disebut Putut. Meskipun demikian mereka pun segera mengerti, bahwa orang itu tentu mempunyai persoalan yang dianggapnya penting untuk dibicarakan.

“Marilah, silahkan,” berkata Mahisa Murti kemudian sambil mempersilahkan orang itu duduk di amben dibiliknya.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun Mahisa Pukat yang agaknya segera ingin tahu mendesak, “Katakanlah. Kami akan berterima kasih atas pendapatmu. Mungkin pendapatmu itu akan sangat berarti bagi bukan saja kami berdua, tetapi bagi kita semua.”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah anak-anak muda. Sebenarnya yang akan aku sampaikan ini mungkin sudah kalian pikirkan. Bahwa dalam dunia kanuragan itu terdapat beberapa warna yang barangkali saling bertentangan. Sebagaimana sifat manusia pendukungnya, maka dunia kanuragan diwarnai dengan hati yang bersih, putih dan hati yang kotor, hitam. Jika kita di sini mendirikan, atau katakanlah memperbaharui milik kita di sini, maka tentu akan ada tanggapan dari beberapa pihak. Ada tanggapan yang baik dengan uluran tangan persahabatan, tetapi ada juga yang berniat ingin menjajagi kemampuan padepokan dan perguruan baru itu. Penjajagan itu pun ada dua kemungkinan. Ada yang sekedar ingin menjajagi tanpa niat buruk, tetapi ada yang memang sengaja ingin menghancurkan, sebagaimana mereka yang memang tidak ingin melihat kehadiran satu perguruan baru.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Terima kasih atas peringatanmu. Kita memang harus selalu waspada. Terutama menghadapi mereka yang memang berniat buruk.”

“Putut-putut muda,” berkata orang itu, “aku yakin akan kemampuan kalian. Tetapi aku ingin menyampaikan pendapatku, bahwa sebaiknya jangan tergesa-gesa menyatakan berdirinya padepokan baru untuk menggantikan padepokan Suriantal. Aku tahu pula, bahwa penghuni padepokan ini telah ditempa dengan sungguh-sungguh sehingga kemampuan mereka telah meningkat. Tetapi jika benar-benar isi padepokan ini akan dilahirkan kembali dalam kesatuan ilmu, maka untuk beberapa saat, kita semua tentu akan mengalami kemunduran meskipun hanya sementara. Nah, aku mengusulkan, agar pernyataan berdirinya padepokan baru sebagai pengganti yang lama dilakukan setelah kita berhasil mengatasi kemunduran sementara itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Mahisa Murti berkata, “Terima kasih. Aku mengerti maksudmu.”

Orang tua itu mengangguk-angguk pula. Katanya, “Aku pun mengucapkan terima kasih. Aku sudah ragu-ragu untuk menyampaikan pertimbangan ini, karena menurut dugaanku, anak-anak muda kurang menghargai pendapat orang-orang tua. Apalagi anak-anak muda yang memang sudah memiliki kelebihan dari orang-orang tua seperti kalian berdua.”

“Bagi kami, semua pendapat akan kami dengarkan. Kami akan merenungkannya. Yang baik akan kami pergunakan sedang yang kurang sesuai akan kami tinggalkan,” jawab Mahisa Murti.

Orang tua itu mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian telah minta diri untuk kembali ke baraknya.

Sepeninggal orang tua itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membicarakannya pula. Ternyata keduanya memang sependapat. Karena itu, keduanya pun berniat untuk melakukannya. Mereka harus membentuk isi padepokan itu lebih dahulu. Baru kemudian menyatakannya keluar lingkungan. Namun padepokan itu sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mau menunggu lebih lama lagi. Mereka berniat untuk segera mulai dengan rencana mereka. Melebur isi padepokan itu untuk menemukan satu kesatuan ilmu, meskipun keduanya yakin, bahwa betapapun kecilnya tentu masih akan dapat diketemukan perbedaan-perbedaan. Tetapi tentu bukan yang paling penting untuk menentukan watak dari ilmu itu.

Di hari-hari berikutnya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mulai dengan usahanya untuk mewujudkan keinginannya untuk membuat isi padepokan itu benar-benar menjadi satu keluarga dalam kesatuan ilmu.

Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang harus bergerak mundur. Mereka harus mencari batas kesamaan dalam landasan ilmu kanuragan yang paling sederhana dan mendasar. Beberapa hari ia harus melihat gerak-gerak dasar dari para penghuni padepokan itu yang terdiri dari beberapa sumber ilmu. Namun akhirnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berhasil menemukan landasan dasar dari ilmu mereka yang mempunyai unsur-unsur yang bersamaan, sebagaimana dipelajari sendiri pada permulaannya.

Dengan landasan itulah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan mulai dengan memberikan tuntunan kepada para penghuni padepokan itu.

Namun sebagaimana mereka bersepakat untuk melakukannya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah minta kepada mereka agar mereka mengikhlaskan apa yang mereka miliki.

“Lupakan. Tanpa melupakannya, kalian tidak akan dapat menemukan yang baru,” berkata Mahisa Murti.

“Kami sedang berusaha,” sahut seseorang.

“Kalian harus melakukannya dengan sungguh-sungguh. Kalian harus menempuh laku yang hanya dapat kalian tentukan sendiri. Dengan niat, bahwa kalian akan mengosongkan diri dari ilmu yang pernah kalian miliki. Jika kalian benar-benar melakukannya dengan tekad yang bulat, maka kalian tentu akan berhasil,” berkata Mahisa Murti kemudian.

Dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memberikan kesempatan kepada mereka tiga hari tiga malam. Agar dalam waktu itu, setidak-tidaknya orang-orang padepokan itu sama sekali tidak lagi berniat kembali ke dalam kemampuan ilmu mereka dan merasa diri mereka benar-benar telah kosong.

Tiga hari tiga malam bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terasa memang terlalu lama. Tetapi dibandingkan dengan masa-masa yang akan mereka tempuh, maka waktu itu memang dapat diabaikan.

Demikianlah ketika hari-hari itu telah dilampaui, maka mulailah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memberikan latihan-latihan bagi mereka. Tataran yang menjadi jangkauan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pada langkah pertama adalah tataran seorang prajurit. Mereka tidak ingin langsung menuntun orang-orang padepokan itu menjadi orang-orang berilmu tinggi. Selain mereka membutuhkan waktu yang lama, keduanya juga merasa bahwa dengan demikian mereka telah mengembalikan tataran ilmu orang-orang padepokan itu dalam bentuk dan watak yang berbeda. Bahkan seandainya datang bahaya yang mengancam, maka padepokan itu akan mampu mempertahankan dirinya.

Baru kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan memilih di antara mereka untuk benar-benar mendapat tuntunan khusus, sehingga mereka akan dapat membantunya memimpin padepokan itu untuk selanjutnya. Padepokan yang masih akan diberi nama yang baru.

Ternyata bahwa para penghuni padepokan itu dengan bersungguh-sungguh telah melakukan perintah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Bagaimanapun juga mereka telah menganggap kedua anak muda itu sebagai pemimpin mereka dan bahkan kemudian guru mereka. Tidak seorang pun yang mengeluh karena latihan-latihan yang berat.

Bahkan orang-orang yang telah memasuki pertengahan abad pun masih juga menunjukkan kesungguhan mereka untuk berlatih dengan keras.

Memang berbeda dengan langkah-langkah kecil bagi mereka yang benar-benar baru mulai. Bagi orang-orang padepokan yang telah melampaui tataran permulaan dan bahkan pernah menguasai ilmu yang lebih tinggi itu, ternyata lebih cepat untuk menyadap ilmu yang diberikan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, sehingga dengan demikian, maka rasa-rasanya kemajuan yang dicapai oleh para penghuni padepokan itu menjadi dua kali lebih cepat dari mereka yang memang benar-benar baru mulai.

Namun dengan demikian, untuk melahirkan sebuah padepokan baru, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus menunda sampai sedikitnya enam bulan. Jika enam bulan telah lewat, maka kekuatan padepokan itu telah hampir pulih kembali, sehingga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan dapat menyatakan lahirnya satu padepokan dan perguruan baru.

Dalam waktu enam bulan seisi padepokan itu harus bekerja keras. Mereka telah menempa diri tanpa mengeluh. Siang malam. Mereka telah berlatih untuk bertempur secara pribadi, tetapi juga berada dalam gelar besar atau kecil. Juga bertempur dalam kelompok-kelompok.

Namun yang mendapat tekanan adalah kemampuan secara pribadi. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memberikan ciri-ciri khusus pada tata gerak dan olah kanuragan bagi seisi padepokan itu. Mereka mempelajari satu jenis dasar ilmu yang sama.

Dengan teliti Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menilik setiap orang didalam padepokan itu. Mereka seorang-seorang secara khusus telah mendapat pendadaran dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pada tingkat-tingkat kemampuan ilmu.

Sehingga akhirnya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendapatkan satu kepastian bahwa para penghuni padepokan itu telah mencapai satu tataran ilmu yang setingkat dengan kemampuan seorang prajurit di dalam perang gelar, perang dalam kelompok-kelompok tertentu besar maupun kecil. Namun tanpa meninggalkan ilmu dasar dari perguruan yang akan berdiri.

Dengan dasar itulah maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menganggap bahwa kedudukan padepokannya sudah cukup kuat untuk menghadapi setiap kemungkinan yang bakal timbul.

Bersamaan dengan persiapan untuk menentukan berdirinya satu padepokan dan perguruan baru, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mulai dengan memberikan tuntunan perluasan dan pengembangan ilmu yang dimiliki oleh setiap orang.

“Jangan terpancang pada satu jenis senjata,” berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kepada orang-orang yang menyadap ilmu mereka. “Dalam ilmu senjata, kita harus menguasai beberapa jenis senjata. Kemudian kita harus berlatih untuk dapat mempergunakan segala macam senjata yang dapat kita pergunakan. Tetapi mungkin kita hanya menemukan sebuah batu, atau sepotong kayu atau seutas tali. Bahkan kita harus mampu mempergunakan apa yang ada dalam diri kita. Ikat kepala, ikat pinggang atau kain panjang kita.”

Dengan demikian maka latihan-latihan pun menjadi berkembang. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memberikan wewenang kepada masing-masing untuk mengembangkan ilmunya. Mereka masing-masing berusaha untuk mencari pasangan-pasangan yang dapat berlatih mempergunakan berjenis-jenis senjata.

Namun di samping mempergunakan senjata, maka mereka-pun telah berusaha untuk memperluas ilmunya dan mengembangkannya dalam bentuk kekerasan tanpa senjata.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menolak kemungkinan bahwa setiap orang akan mengembangkan unsur-unsur gerak mereka masing-masing dengan atau tanpa sadar, yang dipengaruhi oleh pengetahuan mereka tentang ilmu yang mereka bawa dari perguruan mereka semula.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang tidak berkeberatan, karena setelah mereka menempa diri dan menemukan satu ujud kepribadian dalam olah kanuragan, maka yang kemudian mempengaruhi perluasan dan perkembangan ilmunya itu tidak akan dapat mengguncang kepribadiannya.

Meskipun unsur-unsur ilmu yang mereka bawa dari perguruan mereka masing-masing akan menyusup didalam ilmu yang mereka sadap dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, namun yang nampak akan tetap tata gerak dari perguruan mereka yang baru.

Dengan demikian, memang mulai nampak beberapa perbedaan di antara para penghuni padepokan itu dalam perwujudan ilmu yang sama-sama mereka sadap. Namun wataknya akan tetap dikenal bahwa mereka memiliki sumber ilmu yang sama di perguruan yang sama, namun yang masih belum mempunyai nama itu.

Dalam pada itu, ketika waktunya dianggap sudah masak, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memanggil orang yang dianggapnya telah cukup tua di antara para penghuni padepokan itu.

“Bagaimanakah pendapatmu sekarang?” bertanya Mahisa Murti.

“Putut-Putut muda berdua,” berkata orang itu, “ternyata semuanya terjadi jauh melampaui perhitunganku. Padepokan ini benar-benar merupakan padepokan yang sangat kuat dibanding padepokan-padepokan yang sudah kita kenal. Seperti yang sudah kita duga semula bahwa kekuatan padepokan ini akan mundur sesaat dengan usaha untuk menyatukan ilmu. Kemudian perlahan-lahan ilmu kami telah meningkat. Bahkan pada satu saat ternyata telah melampaui tataran ilmu semula meskipun dengan ujud dan watak yang berbeda.”

“Begitukah menurut penilaianmu?” bertanya Mahisa Pukat, “Tetapi apakah hal itu kau katakan dengan jujur, atau sekedar ingin menyenangkan kami berdua?”

“Aku berkata sebenarnya menurut kemampuan jangkauan nalarku,” berkata orang tua itu.

“Terima kasih,” berkata Mahisa Murti, “jika demikian, maka sudah waktunya pula kita menyebut padepokan ini dengan nama lain dari yang kita pergunakan sampai saat ini.”

“Jika hal itu akan dilakukan, maka sekarang aku tidak akan berkeberatan lagi,” berkata orang tua itu.

“Tetapi aku belum mempunyai nama yang pantas,” desis Mahisa Murti.

“Tentu pada satu hari Putut Muda berdua akan menemukannya,” berkata orang tua itu, “bukankah kita tidak tergesa-gesa? Besok, lusa atau bahkan pekan yang akan datang tidak akan banyak berarti bagi kita.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Mahisa Pukat berkata, “Baiklah. Kita akan memikirkannya dengan sungguh-sungguh.”

Namun orang tua itu pun kemudian berkata kepada kedua anak muda itu, “Putut-putut muda. Aku kira kalian akan mendapatkan kebijaksanaan dalam menyusun sebuah perguruan baru. Kau sudah memiliki murid yang cukup banyak dan cukup kuat. Mudah-mudahan segala sesuatunya akan dapat berlangsung sebagaimana kalian inginkan.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tertawa. Dengan nada berat Mahisa Pukat berkata, “Kita akan berusaha bersama-sama. Tetapi kita memang tidak tergesa-gesa. Ternyata yang terpenting justru sudah kita lakukan. Sekarang kita sudah menemukan satu ujud bagi padepokan ini dengan mantap. Apa pun namanya, isi padepokan ini tidak akan berubah.”

“Ya.” orang tua itu mengangguk-angguk, “kami akan menunggu. Tetapi seperti yang kalian katakan, yang terpenting sudah kita dapatkan.”

Orang tua itu pun kemudian meninggalkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sementara itu, kedua anak muda itu masih juga belum menemukan nama yang sesuai bagi sebuah perguruan.

Tetapi yang dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kemudian adalah mencari orang-orang terbaik dari penghuni padepokan itu untuk mendapat latihan-latihan khusus. Mereka adalah orang-orang yang akan dibebani tugas-tugas yang dapat membantu tugas-tugas kedua anak muda itu.

Namun pada umumnya yang diambil oleh keduanya adalah orang-orang yang sejak sebelumnya memang telah memimpin kelompok-kelompok yang ada di padepokan itu. Sedang orang yang dalam beberapa hal diserahi tugas-tugas terpenting sebelumnya, telah ditunjuk pula untuk memimpin kawan-kawannya langsung dibawah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Dengan demikian maka tidak terjadi hambatan-hambatan perasaan pada para penghuni padepokan itu. Mereka menerima susunan itu tanpa persoalan, karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, seakan-akan hanya sekedar mengesahkan saja apa yang memang sudah ada sebelumnya.

Namun di samping itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menunjuk beberapa orang anak muda di antara mereka. Kelompok anak-anak muda yang pada umumnya masih mampu berkembang jauh itu, telah ditempa secara khusus untuk calon-calon pemimpin di masa datang. Mereka telah dipersiapkan lahir dan batin. Namun tidak untuk waktu yang singkat. Mereka dipersiapkan untuk tahun-tahun yang masih panjang menggantikan para pemimpin yang kelak akan menjadi tua. Anak-anak muda itu akan mendapat latihan-latihan bukan saja secara khusus didalam sanggar, latihan-latihan secara pribadi, kelompok dan bahkan gelar perang yang besar, tetapi juga latihan-latihan memegang pimpinan meskipun pimpinan dari tataran yang paling rendah sekalipun.

Dengan demikian, maka susunan kedudukan di padepokan itu sudah diatur oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, sehingga bukan saja mapan untuk saat mereka dipersiapkan, tetapi juga dalam jangkauan masa depan yang panjang.

Di samping itu, dengan latihan-latihan khusus bagi para pemimpin yang akan membantu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, serta anak-anak muda yang dipersiapkan untuk masa datang, maka kekuatan padepokan itu pun telah bertambah.

Namun ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bukan saja membangun padepokannya. Ia berusaha agar padepokannya tidak menjadi asing dari pergaulan sesama. Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat membuat hubungan dengan padukuhan-padukuhan terdekat menjadi lebih akrab. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pernah minta bantuan kepada padukuhan-padukuhan itu. Sehingga keduanya tinggal meningkatkan saja keakraban hubungan dengan para tetangga.

Jika orang-orang padukuhan sebelumnya menganggap bahwa padepokan itu sebagai sarang hantu, lambat laun anggapan itu menjadi semakin kabur. Orang-orang padepokan itu yang mereka kenal, ternyata memiliki sikap yang tidak berbeda dengan mereka. Orang-orang padepokan itu juga mengenal adat dan unggah-ungguh. Mereka pun mempergunakan cara yang sama dengan orang-orang padukuhan itu untuk memiliki beberapa jenis barang. Mereka juga membeli atau menukarnya dengan apa yang ada di padepokan. Bahkan setiap kali orang-orang padepokan itu telah menjual hasil tanaman mereka di sawah dan pategalan ke pasar, sehingga di padepokan itu akan didapati uang yang sama sebagaimana dipergunakan oleh orang-orang padukuhan sebagai rakyat tlatah Singasari.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak jemu-jemunya memberikan sesuluh tentang sikap dan tingkah laku bagi orang-orangnya, terutama menghadapi orang-orang di luar padepokan.

“Kita tidak boleh terlepas dari pergaulan hidup di Singasari ini. Kita bukan sekelompok perampok yang bersembunyi di satu sarang yang dirahasiakan. Kita bukan pelarian yang takut diikuti jejaknya oleh para prajurit. Karena itu, maka hubungan kita harus terbuka dengan padukuhan-padukuhan di sekitar kita,” berkata Mahisa Murti kepada orang-orangnya.

Sebagian dari para penghuni padepokan itu memang harus berusaha menyesuaikan diri. Namun karena pada dasarnya seseorang itu ingin hidup di tengah-tengah pergaulan sesamanya, maka mereka tidak banyak mengalami kesulitan untuk melakukannya. Bahkan orang-orang padukuhanlah yang semula merasa ragu-ragu untuk menerima sikap yang terbuka itu. Namun akhirnya semua dapat berlangsung dengan baik.

Perkembangan dari padepokan itu memang tidak terlepas dari pengamatan beberapa pihak. Terutama para pemimpin padepokan yang sejak semula mengetahui, bahwa di tempat itu memang ada sebuah padepokan yang disebut padepokan Suriantal yang dihuni oleh orang-orang dari perguruan Suriantal.

Namun agaknya telah terjadi perubahan-perubahan di padepokan itu. Perubahan bukan sekedar perubahan kecil. Tetapi justru perubahan yang sangat mendasar.

Hubungan yang terbuka antara padepokan yang dikenal bernama Suriantal itu dengan padukuhan-padukuhan di sekitarnya telah menarik perhatian pula. Namun keterbukaan itu telah mempermudah pula bagi orang-orang yang ingin mendapat keterangan tentang padepokan itu.

Namun ternyata bahwa tidak banyak yang dapat diketahui oleh orang-orang padukuhan di sekitar padepokan itu tentang keadaan di dalam dinding padepokan. Meskipun mereka dapat bergaul dengan wajar, sebagaimana seharusnya hubungan antara tetangga, namun persoalan yang bersifat ke dalam, ternyata dapat dipegang teguh kerahasiaannya oleh orang-orang padepokan. Tidak seorang pun yang pernah berceritera tentang usaha mempersatukan ilmu bagi para penghuni padepokan itu. Tidak ada ceritera tentang peningkatan kemampuan bagi beberapa orang yang bertugas untuk memimpin kelompok-kelompok serta membantu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tidak pula terdengar berita bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menunjuk pula sekelompok anak-anak muda terpilih untuk calon pemimpin di masa datang, yang mendapat tempaan ilmu dengan keras dan berat.

Yang diketahui oleh orang-orang padukuhan di sekitar padepokan itu adalah, bahwa orang-orang padukuhan Suriantal itu sering menjual hasil sawah dan pategalan mereka yang lebih ke pasar. Bahkan ternyata bahwa di dalam padepokan itu kemudian telah terdapat pula pande besi yang mampu membuat alat-alat pertanian dan pertukangan yang dapat dijual kepada orang-orang padukuhan yang membutuhkan. Namun kadang-kadang orang-orang padukuhan itu diminta untuk menyediakan beberapa ekor ayam yang akan dibeli oleh orang-orang padepokan.

Tetapi ternyata bahwa pada kesempatan terakhir, orang-orang padepokan itu telah beternak pula.

Orang-orang dari beberapa perguruan yang mencium perubahan-perubahan yang mendasar terjadi di padepokan Suriantal itu tidak berhasil mendapat keterangan lebih jauh. Orang-orang padukuhan hanya mengetahui, bahwa kini hubungan mereka dengan padepokan itu menjadi lebih terbuka.

“Yang belum dapat dilakukan oleh orang-orang padepokan itu adalah menenun bahan pakaian,” berkata salah seorang padukuhan yang ditemui oleh seorang yang tidak dikenal.

“Jadi mereka dapat membuat senjata sendiri?” bertanya orang itu.

“Yang kami tahu, mereka dapat membuat alat-alat pertanian. Seperti cangkul, sabit, parang, pisau dan beberapa macam alat yang lain. Bahkan ani-ani mereka telah membuat. Tetapi entahlah apa mereka dapat membuat senjata atau tidak,” jawab orang padukuhan itu.

“Kalau mereka dapat membuat parang dan barangkali kapak, maka mereka tentu dapat membuat senjata,” desis orang yang tidak dikenal itu.

Tetapi orang padukuhan yang diajak berbicara itu tidak juga mengerti. Karena itu ia tetap menggeleng sambil menjawab, “Aku tidak mengerti.”

“Aku tidak bertanya, dungu,” orang yang tidak dikenal itu menjadi jengkel, “tetapi aku justru memberitahukan kepadamu, bahwa jika mereka dapat membuat alat-alat pertanian dan pertukangan, maka mereka tentu dapat pula membuat senjata.”

Orang padukuhan itu mengangguk-angguk. Ia memang tersinggung, tetapi melihat bentuk tubuh dan kekerasan wajah orang yang tidak dikenal itu, maka orang padukuhan itu pun tidak berani berbuat apa-apa.

Namun ternyata bahwa sikap itu telah membekas di dalam hati orang padukuhan itu.

Pada saat yang lain, ketika ia bertemu dengan salah seorang penghuni padepokan itu, maka orang yang disakiti hatinya itu telah berbicara, bahwa ternyata ada orang yang memperhatikan perkembangan di padepokan itu.

“Mereka orang-orang kasar,” berkata orang padukuhan yang tersinggung itu. Lalu, “Maaf, sekasar orang-orang padepokan Suriantal dahulu. Aku katakan dahulu. Bukan sekarang. Sebenarnyalah memang telah terjadi perubahan sikap orang-orang padepokan Suriantal.”

Orang yang diberitahu tentang orang asing itu pun tersenyum. Katanya, “Sekarang pun kami masih sering berlaku kasar.” Ia berhenti sejenak, lalu “tetapi apa saja yang ingin diketahuinya?”

“Terutama tentang kemampuan orang-orang padepokan itu membuat senjata. He, apakah kalian dapat membuat senjata? Yang kami ketahui kalian dapat membuat alat-alat pertanian dengan baik. Tetapi senjata kami tidak tahu.”

Orang padepokan itu justru malah tertawa. Katanya, “Untuk apa kami membuat senjata?”

“Untuk membela diri. He, kau juga membawa pedang,” berkata orang padukuhan itu.

“Jika kami satu-satu sudah menyandang pedang, tentu kami tidak memerlukan senjata lagi,” jawab orang padepokan itu.

“Jika senjata kalian rusak?” bertanya orang padukuhan itu.

“Senjata jarang sekali rusak, karena memang jarang dipergunakan. Apalagi sekarang. Kami ingin berhubungan dengan baik dengan siapa pun juga. Kami tidak mimpi untuk berkelahi. Bukankah lebih baik kita bersahabat daripada bermusuhan?”

“Tetapi jika padepokan itu diserang?” desak orang padukuhan.

“Tentu kami membela diri. Bukankah keadaan yang demikian itu bagi kami sekarang jarang sekali terjadi?” jawab orang padepokan yang masih saja disebut Suriantal.

Orang padukuhan itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Aku akan menyampaikan tentang apa yang aku alami.”

Orang padepokan itu dengan serta merta menyahut, “Baiklah. Aku mengucapkan terima kasih atas keteranganmu. Mungkin akan berarti bagi kami, seisi padepokan.”

“Mudah-mudahan tidak ada niat buruk dari orang asing itu. Mudah-mudahan ia hanya sekedar ingin tahu,” berkata orang padukuhan itu pula.

Namun agaknya hal itu menjadi bahan laporan yang disampaikan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tertarik pada laporan itu. Karena itu, maka ia pun telah menugaskan beberapa orang padepokan untuk mengadakan pengamatan tandingan.

“Kita akan bekerja sama dengan para penghuni padukuhan di sekitar padepokan ini. Atas persetujuan mereka kita akan menempatkan orang-orang kita untuk mengawasi orang-orang asing yang berkeliaran di padukuhan itu,” berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berpesan agar mereka jangan menyakiti hati orang-orang padukuhan itu. “Selama ini mereka telah memberikan bantuan kepada kita. Kita harus memelihara hubungan baik itu.”

Dengan sungguh-sungguh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memberikan pesan kepada setiap orang yang ditugaskannya untuk berada di padukuhan, agar kehadiran mereka justru tidak merugikan padepokan mereka yang sedang mereka bina itu.

Ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendapat bantuan sepenuhnya dari padukuhan-padukuhan di sekitarnya. Orang asing yang mencari keterangan tentang padepokan itu, tidak hanya terbatas pada satu dua padukuhan. Tetapi beberapa padukuhan telah didatangi orang yang ingin tahu beberapa hal tentang padepokan itu.

Ketika hal itu dibicarakan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan para pemimpin padepokan, termasuk orang tua yang banyak berbincang dengan kedua Putut muda itu, maka para penghuni padepokan itu telah memutuskan untuk mempertinggi kesiagaan.

“Putut-putut muda,” berkata orang tua itu, “belum lagi lahir satu perguruan baru, maka sudah ada orang yang ingin menjajagi tingkat kemampuan ilmu padepokan ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Aku tidak tahu, untuk apa sebenarnya orang-orang perguruan itu demikian ingin tahu tentang kelahiran saudara-saudaranya. Jika kita dapat menganggap bahwa setiap kelahiran akan dapat memperbanyak sahabat, maka tentu tidak akan ada sikap seperti itu.”

“Tetapi banyak orang yang berpandangan justru kebalikannya. Kehadiran perguruan baru akan dapat menjadi saingan dari perguruan yang sudah ada,” jawab orang tua itu.

“Ini disebabkan oleh ketamakan kita,” berkata Mahisa Pukat, “sementara belum ada sesuatu yang dilakukan oleh orang lain, kita sudah merasa akan kehilangan.”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnyalah seperti yang kalian katakan. Tetapi kita tidak dapat meninggalkan kesiagaan. Kenyataan yang mungkin pahit itu, harus kita hadapi.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Mahisa Murti berkata, “Memang kita tidak mempunyai pilihan lain.”

Dalam pada itu, maka para petugas yang berada di padukuhan-padukuhan melihat orang-orang asing itu semakin sering. Dengan saksama mereka mengikuti perkembangan itu dan selalu melaporkannya kepada pimpinan padepokan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun semakin menyadari kedudukan padepokan yang semakin gawat.

Ketegangan yang semakin memuncak itu kemudian menjadi lebih tajam lagi ketika sekelompok orang ternyata telah mendekati pintu gerbang padepokan yang masih bernama Suriantal itu.

Dengan cepat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memerintahkan agar kesiagaan padepokan itu tidak boleh dapat segera dilihat oleh orang-orang yang akan datang ke padepokan itu.

“Jangan memancing ketegangan. Mungkin niat mereka baik. Tetapi kesiagaan kita membuat mereka menjadi curiga dan mengambil langkah-langkah yang mengarah pada permusuhan,” berkata Mahisa Murti.

Para pemimpin kelompok pun kemudian dengan cepat mengatur orang-orangnya sehingga sama sekali tidak menunjukkan, betapa padepokan itu sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Kegiatan sehari-hari yang semakin luas, nampak berjalan seperti biasa. Di salah satu sudut padepokan itu, nampak perapian pande besi masih menyala. Bahkan beberapa orang yang bekerja di tempat itu masih berkeringat meskipun nampaknya mereka sedang beristirahat. Sedangkan yang lain sibuk menjemur hasil sawah. Jagung dan kedele.

Petugas yang berada di regol padepokan itu telah menyapa sekelompok orang yang dengan ragu-ragu mendekati regol itu. Seorang yang agaknya pemimpin mereka telah menemui pemimpin petugas di regol itu.

“Ki Sanak,” berkata pemimpin petugas di regol, “apakah maksud Ki Sanak mendekati regol padepokan kami?”

“Maaf Ki Sanak. Padepokan apakah namanya padepokan ini sekarang? Atau mungkin nama sebuah perguruan?” bertanya pemimpin kelompok itu.

“Padepokan ini sejak semula bernama padepokan Suriantal. Di sini tidak ada sebuah perguruan yang utuh. Padepokan ini seakan-akan telah kehilangan ujudnya. Namun kami yang ada di padepokan ini telah menyatakan satu keinginan untuk menjadi satu keluarga besar yang bulat, meskipun kami berasal dari beberapa perguruan yang terpecah-pecah,” jawab pemimpin penjaga itu.

Orang-orang yang mendatangi padepokan itu mengangguk-angguk. Menurut dugaan mereka, isi padepokan itu memang pecahan-pecahan dari beberapa perguruan yang sudah surut.

Namun mereka ternyata sudah mendapat keterangan dari beberapa orang yang melihat perkembangan yang berbeda di padepokan itu meskipun tidak terlalu jelas bagi mereka. Namun agaknya telah tercium pula berita, bahwa ada usaha untuk menjadikan padepokan itu satu kesatuan ilmu yang baru, yang tentu akan disebut sebuah perguruan.

Karena itu, maka pemimpin dari sekelompok orang itu pun kemudian berkata, “Siapakah pemimpin dari padepokan ini sekarang? Mungkin seorang Ajar, seorang Panembahan atau gelar lain yang dipergunakan. Atau barangkali seorang mPu yang mumpuni atas segala macam ilmu lahir dan batin.”

“Tidak Ki Sanak,” jawab pemimpin petugas yang berada di regol, “tidak ada seorang mPu disini. Yang ada hanyalah dua orang Putut yang masih sangat muda, yang sekarang memimpin padepokan ini untuk sementara.”

“Dua orang Putut?” ulang pemimpin kelompok itu, “Putut dari perguruan mana? Ia berada di padepokan ini tentu atas nama gurunya.”

“Tidak,” jawab pemimpin dari petugas di regol, “keduanya memimpin padepokan ini atas nama mereka sendiri.”

Tetapi pemimpin kelompok itu tersenyum. Katanya, “Tentu tidak. Tetapi baiklah. Aku minta ijin untuk menemui kedua orang Putut itu.”

“Kami akan menyampaikannya,” jawab pemimpin dari para petugas di regol itu.

“Silahkan,” jawab pemimpin dari kelompok yang datang itu. Lalu, “katakan, bahwa kami datang atas nama tiga perguruan yang ingin berkenalan dengan perguruan yang kini tinggal di padepokan Suriantal atau barangkali telah diperbaharui namanya.”

Pemimpin dari para petugas di regol itu pun kemudian memerintahkan dua orang petugas untuk menyampaikan pesan dari sekelompok orang yang menyebut diri mereka atas nama tiga buah perguruan, untuk bertemu dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sudah mendapat laporan bahwa sekelompok orang telah mendekati padepokan sejak pintu regol masih belum dibuka. Karena itu, mereka pun sudah bersiap-siap untuk menerimanya.

Ketika dua orang petugas itu menyampaikan kepada mereka maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah memerintahkan agar mereka dipersilahkan menunggu di pendapa bangunan induk.

“Berapa orang yang memasuki padepokan ini?” bertanya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng.

“Sekitar sepuluh orang,” jawab petugas itu.

“Baiklah,” jawab Mahisa Murti, “kami segera datang.”

Ketika sekelompok orang itu telah berada di pendapa, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah pergi ke pendapa itu pula untuk menemui mereka.

Beberapa orang yang datang ke padepokan itu memang tidak percaya bahwa yang memimpin padepokan itu tidak lebih dari kedua orang anak muda itu. Mereka yakin bahwa tentu ada orang lain yang mengendalikan kedua orang anak muda itu memimpin padepokan yang dapat dianggap sebuah padepokan yang besar dengan jumlah orang yang cukup banyak tinggal di dalamnya. Apalagi orang-orang itu terdiri dari orang-orang yang berasal dari banyak perguruan. Sehingga tentu agak sulit untuk dapat mengikat mereka dalam satu kesatuan.

Karena itu, ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memperkenalkan diri sebagai dua orang Putut yang memimpin padepokan itu, maka orang yang memimpin sekelompok orang yang datang ke padepokan itu tersenyum sambil berkata, “Anak-anak muda. Aku percaya bahwa kalian adalah dua orang Putut yang terpercaya. Tetapi siapakah yang menjadi pelindung kalian? Atau katakan, .siapakah guru kalian yang mengendalikan kalian memimpin padepokan ini?”

“Tidak ada orang lain Ki Sanak,” jawab Mahisa Murti, “kami berdualah yang memimpin padepokan ini. Tugas kami berdua ternyata sangat ringan. Mungkin kalian membayangkan, bahwa seorang pemimpin dari sebuah padepokan harus seorang yang sudah tua?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang tidak harus seorang yang sudah tua. Tetapi semakin tua seseorang, tentu pengalamannya akan menjadi semakin banyak dan mengendap. Karena itu maka agaknya lebih pantas jika seorang yang sudah cukup umurnya sajalah yang pantas memimpin sebuah padepokan. Jika kalian berada di sini dan dianggap sebagai pemimpin, maka kalian tentu bertindak atas nama guru kalian.”

“Guru kami adalah ayah kami sendiri,” jawab Mahisa Pukat, “sedangkan ayah sama sekali tidak tahu menahu tentang padepokan ini. Karena itu, maka kamilah yang dengan kemampuan kami sendiri memimpin padepokan ini.”

Tetapi orang itu tertawa. Bahkan orang-orang yang lain-pun tertawa pula. Dengan nada rendah orang itu berkata, “jadi masih juga orang itu kalian rahasiakan?”

“Kami tidak merahasiakan seseorang,” berkata Mahisa Murti, “tetapi jika kalian tetap tidak percaya dan menganggap bahwa ada orang lain di belakangku, terserah sajalah. Bagi kami berdua hal itu tidak akan menjadi masalah.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berhenti sejenak, lalu “Nah, apakah keinginan Ki Sanak datang ke padepokan ini?”

“Sebenarnya, kami atas nama tiga perguruan ingin memperkenalkan diri dengan pemimpin tertinggi padepokan ini. Atau setidak-tidaknya kami akan dapat kepastian, apakah pemimpin tertinggi dari padepokan ini dapat menyertai pertemuan para pemimpin tertinggi beberapa padepokan yang kami anggap besar dan pantas untuk diundang.”

“Pertemuan apa?” bertanya Mahisa Pukat.

Orang yang agaknya memimpin kelompok yang datang ke padepokan itu termangu-mangu. Sejenak ia berpaling kepada kawan-kawannya. Namun kemudian katanya, “Kami tidak dapat mengundang orang lain kecuali pemimpin tertinggi dari padepokan ini. Semua yang akan hadir dalam pertemuan itu adalah beberapa orang pemimpin tertinggi.”

“Kami tidak mempunyai pemimpin tertinggi di sini,” jawab Mahisa Murti, “beberapa kali sudah kami beritahukan.”

“Kalian merendahkan derajad kami. Kami mengundang orang-orang yang pantas duduk bersama para pemimpin padepokan. Tidak untuk beberapa orang Putut,” jawab orang itu.

“Terserahlah kepada kalian,” jawab Mahisa Murti, “diundang atau tidak diundang bukanlah masalah kami. Tetapi pemimpin padepokan ini adalah kami berdua. Jika kalian menganggap derajad kami belum setingkat dengan derajad kalian, maka jangan mengundang kami. Karena sebenarnyalah tegak dan condongnya padepokan ini tidak terletak di tangan kalian, atau pada pertemuan yang akan kalian selenggarakan.”

“Kata-katamu menyakitkan hati kami,” berkata salah seorang di antara mereka.

“Kalian telah menghina kami,” jawab Mahisa Pukat, “apakah kau kira sikapmu tidak menyakiti hati kami?”

“Jika pemimpin tertinggi padepokanmu ini tidak terlalu sombong dengan menolak berhubungan dan menerima kami, apakah itu bukan satu sikap yang sangat tercela di antara para pemimpin padepokan?” berkata salah seorang di antara mereka.

“Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti, “kalian ini sebenarnya pemimpin dari padepokan mana?”

Orang-orang itu tertegun. Pertanyaan itu memang telah menyudutkan mereka. Namun mereka memang tidak akan berani melanggar hak para pemimpin padepokan mereka. Karena itu, mau tidak mau maka pemimpin dari kelompok itu menjawab, “Kami bukan pemimpin tertinggi di padepokan kami. Tetapi kami mengakui bahwa ada orang yang berada di puncak kepemimpinan padepokan-padepokan kami. Dan kami datang atas nama mereka, sehingga pembicaraan yang kami sampaikan sama nilainya dengan ucapan para pemimpin padepokan-padepokan kami. Tetapi karena kau tidak mengakui kepemimpinan yang lebih tinggi dari padepokan ini, maka kata-katamu tidak sama nilainya dengan kata-kata yang sebenarnya akan diucapkan oleh pemimpinmu, karena barangkali pemimpinmu atau gurumu akan bersikap lain dari sikapmu ini.”

“Ki Sanak,” Mahisa Pukat hampir kehilangan kesabaran, “jika kalian datang sekedar untuk menghina kami, maka kami persilahkan kalian meninggalkan kami. Kami tidak memerlukan Ki Sanak. Ki Sanak datang atas kehendak Ki Sanak sendiri.”

Wajah orang-orang itu menjadi merah. Orang yang memimpin kelompok itu berkata, “Kalian benar-benar anak-anak yang sombong. Seharusnyalah kalian menyadari, bahwa langsung atau tidak langsung kalian berhadapan dengan tiga padepokan. Apakah kalian tidak menyadari, bahwa sikap kalian itu merupakan tantangan bagi kami?”

“Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti, “memang tidak ada cara untuk menyalahkan kalian. Tetapi apakah sikap kalian itu bukan satu sikap deksura? Kalian datang ke tempat kami, kemudian tidak mempercayai kami dan mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan kami. Nah, apakah yang pantas kami lakukan selain mempersilahkan kalian meninggalkan padepokan ini?”

“Baik,” berkata pemimpin dari sekelompok orang yang datang itu, “kami akan meninggalkan tempat ini tanpa memberikan undangan kepada kalian yang tidak sederajad dengan para pemimpin padepokan.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menyahut. Mereka telah berusaha untuk menahan diri sejauh dapat mereka lakukan.

Sejenak kemudian, maka sekelompok orang itu telah minta diri. Namun di regol padepokan seorang di antara mereka berkata, “Ingat. Kami mewakili tiga padepokan.”

Namun Mahisa Pukat menjawab, “Padepokan ini terdiri dari mereka yang berasal dari beberapa padepokan. Tidak hanya tiga, tetapi enam padepokan.”

Orang-orang itu mengerutkan keningnya, sementara Mahisa Pukat berkata selanjutnya, “Kami juga akan mengadakan pertemuan dari enam padepokan untuk menandingi pertemuan yang kalian lakukan.”

Orang-orang itu tidak menjawab. Namun mereka pun segera meninggalkan padepokan Suriantal itu.

Sepeninggal orang-orang itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memanggil para pemimpin kelompok di padepokan itu serta mereka yang mendapat tugas di padukuhan di sekitar padepokan itu. Dengan singkat kedua anak muda itu telah menjelaskan apa yang baru saja terjadi.

“Mereka sama sekali tidak akan mengundang siapapun,” berkata orang yang dianggap tertua di padepokan itu.

“Bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya Mahisa Murti.

“Mereka sekedar ingin melihat-lihat padepokan ini,” berkata orang tua itu, “untunglah bahwa yang kita lakukan di sini tidak sangat menarik perhatian mereka kecuali orang-orang yang berjalan hilir mudik.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Kita harus berhati-hati. Kita tidak boleh lengah menghadapi perguruan yang masih belum sempat berdiri ini. Aku kira pada suatu saat mereka akan kembali dengan kekuatan yang besar apa pun alasannya. Mungkin penghinaan, mungkin kesombongan atau mungkin apa pun yang mereka katakan.”

Para pemimpin kelompok di padepokan itu pun menyadari bahwa mereka memang harus berhati-hati. Belum lagi perguruan mereka lahir, agaknya telah ada sekelompok orang yang merasa disaingi.

Ternyata kenyataan yang dihadapi oleh sekelompok orang yang datang ke padepokan yang masih saja disebut Suriantal itu telah merupakan jawaban dari pertanyaan yang sebenarnya memang mereka bawa untuk diyakinkan jawabannya.

Dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mereka benar-benar telah mendapat jawaban, bahwa di padepokan itu tidak ada seorang pemimpin yang dianggap cukup memiliki ilmu yang mumpuni.

“Betapa tinggi ilmu anak-anak muda itu, namun seumur mereka tidak akan dapat mereka capai satu tataran yang perlu dicemaskan,” berkata orang yang memimpin sekelompok orang yang datang ke padepokan itu.

Sebenarnyalah bahwa sekelompok orang itu datang dari tiga buah padepokan. Mereka memang ingin mengetahui secara pasti, isi dari padepokan itu. Usaha mereka untuk meyakinkan dugaan mereka telah berhasil. Di padepokan itu hanya terdapat dua orang Putut muda.

Kepastian itulah yang kemudian akan mereka sampaikan kepada pemimpin padepokan mereka masing-masing yang telah berkumpul untuk menunggu utusan mereka itu.

Laporan yang disampaikan oleh sekelompok orang itu memang telah menggembirakan mereka. Dengan nada tinggi salah seorang dari para pemimpin kelompok itu berkata, “Kita hapus saja padepokan itu.”

“Maksudmu?” bertanya pemimpin padepokan yang lain.

“Buat apa kita membiarkan padepokan itu tetap berdiri, sementara kami tidak dapat mengharapkan apa pun dari padanya,” berkata pemimpin padepokan yang pertama, “lebih baik kita hancurkan saja padepokan itu, sementara tempat yang ditinggalkannya akan menjadi satu lingkungan baru buat kita. Selebihnya, kita tidak yakin bahwa pendapat mereka akan sesuai dengan pendapat kita tentang hubungan antara Kediri dan Singasari.”

“Menurut pendengaran kita dari mereka yang melakukan tugas sandi, dari beberapa pihak diketahui bahwa para pemimpin dari padepokan itu adalah adik dari Akuwu Sangling,” berkata pemimpin padepokan yang lain.

“Adik Akuwu Sangling,” bertanya pemimpin padepokan yang pertama.

“Ya,” jawab yang memberitahukan hal itu.

“Jika demikian tentu lebih baik,” berkata pemimpin padepokan yang pertama, “mereka tentu akan memilih Singasari daripada Kediri. Kegagalan demi kegagalan telah terjadi karena perlawanan dilakukan dari dalam lingkungan istana. Kita akan mencoba untuk memulainya dari padepokan-padepokan, namun kita juga harus berusaha untuk dapat menggerakkan orang-orang istana. Dahulu Akuwu Tumapel yang kemudian menjadi Sri Maharaja Singasari yang pertama memanfaatkan kekecewaan para pemimpin di bidang kerohanian untuk mengalahkan Kediri. Sekarang keadaannya sudah berbeda, sehingga kekuatan yang ada di Kediri akan dapat dimanfaatkan.”

“Ya,” jawab pemimpin padepokan yang lain, “kita manfaatkan untuk kepentingan yang sebaliknya. Kediri harus dapat menguasai Singasari. Dengan demikian, maka kedudukan dan martabat orang-orang Kediri akan meningkat di mata orang Singasari. Kita pun akan mendapat kesempatan untuk mendapatkan kedudukan dan tempat yang jauh lebih baik dari yang kita miliki sekarang. Mungkin sebuah padepokan dan Tanah Perdikan di sekitarnya meskipun di tlatah Singasari di luar Kediri sekarang.”

“Tanah Perdikan merupakan keinginan yang sampai sekarang belum terpenuhi dalam keadaan susunan pemerintahan seperti ini,” berkata pemimpin padepokan yang pertama.

Dengan demikian maka mereka pun telah sepakat untuk mematahkan sebatang bibit yang baru akan bersemi.

“Sebelum padepokan itu benar-benar tumbuh dan akan menjadi pendukung kekuatan kuasa Singasari di antara padepokan-padepokan yang ada, maka lebih baik kita hancurkan secepatnya,” sahut yang lain.

Demikianlah, maka para pemimpin padepokan itu telah memutuskan untuk segera mempersiapkan diri. Mereka setuju untuk bersama-sama menghancurkan padepokan Suriantal.

Sebenarnyalah bahwa ketiga padepokan itu bersumber dari padepokan yang satu. Tetapi tiga orang murid terpilih telah mendapat wewenang untuk mendirikan padepokan dan perguruan masing-masing dengan nama yang sama. Perguruan Windu Putih.

Karena itulah maka perguruan Windu Putih memang sebuah perguruan yang berpengaruh. Jika sekelompok orang yang datang ke padepokan Suriantal menyebut bahwa mereka datang dari perguruan Windu Putih, maka sebagian besar orang-orang Suriantal tentu sudah pernah mendengarnya.

Nampaknya perguruan itu tidak ingin membuang waktu terlalu banyak. Mereka memang tidak sekedar ingin memperluas pengaruh mereka dengan menduduki padepokan Suriantal, namun mereka juga memerlukan orang-orang yang cukup banyak untuk memperkuat barisan mereka. Jika padepokan Suriantal benar-benar dapat dihancurkan maka orang-orangnya mau tidak mau akan menjadi tawanan mereka. Dalam keadaan yang demikian, maka tawaran untuk menyatukan diri dengan kedudukan yang lebih baik dari seorang tawanan tentu akan diterima.

(Bersambung ke Jilid 52).

Koleksi buku: Ki Ismoyo
Scanning: Ki Ismoyo
Convert/Proofing: Ki Raharga
Rechecking/Editing: Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s