AM_MS-02


Serial ARYA MANGGADA

Episode V: MATAHARI SENJA

JILID 2

kembali | lanjut

AMMS-02LAKSANA termangu-mangu sejenak. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Manggada. Tetapi wajah Manggada tidak memberikan kesan apapun sehingga Laksana tidak segera dapat menjawab.

Namun Ki Pandi lah yang kemudian menjawab, “Tentu Laksana akan mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Bukankah dengan demikian ia akan mendapatkan suatu pengalaman baru sebagaimana diinginkannya?”

Hampir diluar sadarnya laksana berdesis, “Ya. Demikianlah agaknya. Tentu jika kakang Manggada tidak berkeberatan.”

Manggada tersenyum. Katanya, “Aku akan sangat berterima kasih jika kami mendapat kesempatan itu. Bukan saja pengalaman baru. Tetapi juga kesempatan untuk ikut menghapus warna-warna hitam diwajah kehidupan ini.”

“Bagus” berkata Ki Ajar Pangukan, “jika demikian, aku akan mempersilahkan kalian tinggal disini lagi, bersama Ki Bongkok.” Ki Ajar berhenti sejenak. Baru kemudian berdesis, “Maaf, aku sudah terbiasa memanggil demikian.”

Ki Pandi tertawa mendengar sebutan atas dirinya justru menjadi persoalan. Katanya kemudian, “Apapun tetenger itu bagiku, asal jelas, bahwa akulah yang dimaksud.”

Orang-orang tua tertawa. Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun mereka pun tertawa pula.

Demikianlah, maka saat itu, Ki Pandi, Manggada dan Laksana berada dirumah Ki Ajar Pangukan bersama Ki Jagaprana yang terluka dibagian dalam tubuhnya. Namun dari hari kenari keadaannya menjadi berangsur baik sehingga akhirnya menjadi sembuh sama sekali.

Sementara itu, Ki Ajar Pangukan telah beberapa kali membawa Manggada dan Laksana berjalan-jalan menyusuri daerah yang pernah menjadi daerah pengaruh orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati.

Kehidupan di daerah itu memang sudah nampak berubah. Nampaknya jalan yang menembus hutan Jatimalang itu memberikan banyak arti bagi daerah itu. Perdagangan hasil bumi yang terjadi dengan wajar, kemudi an kebutuhan alat-alat pertanian yang didatangkan dari balik hutan, serta kebutuhan-kebutuhan yang lain seperti garam dan barang kerajinan, membuat daerah di lereng Gunung Lawu itu berkembang menjadi satu lingkungan yang wajar sebagaimana lingkungan-lingkungan yang lain.

Hilangnya kekuatan hitam yang selalu memaksakan kehendaknya kepada para penghuni lingkungan yang sebelumnya terpisah itu mempunyai pengarah yang sangat besar. Para penghuninya tidak lagi dibayangi oleh perasaan takut serta tidak lagi dibebani oleh berbagai macam keharusan. Bukan saja upeti yang harus mereka serahkan kepada Panembahan Lebdagati dan para pengikutnya, tetapi juga berbagai jenis upacara yang mereka lakukan sejalan dengan kepercayaan sesat yang dianut oleh Panembahan itu.

Namun semakin jauh Manggada dan laksana melihat keadaan yang berkembang dilereng Gunung Lawu itu, mereka justru mulai, mengenali warna-warna yang kusam.

“Kita mulai melihat perkembangan tatahan kehidupan yang berputar balik” berkata Ki Ajar Pangukan, “semula lingkungan kehidupan disini telah mengalami perubahan dan perkembangan sebagaimana tatanan kehidupan dilingkungan kehidupan.yang lain. Maksudku padukuhan-padukuhan yang mulai diwarnai oleh tatanan kehidupan yang wajar setelah penghuninya banyak berhubungan dengan lingkungan disebelah hutan Jatimalang dan bahkan lingkungan yang lebih jauh yang melakukan hubungan perdagangan. Tetapi pada saat terakhir, perkembangan tatanan kehidupan mulai bergeser lagi. Meskipun hubungan perdagangan masih juga berlangsung sehingga pengaruh tatanan kehidupan dari seberang hutan Jatimalang masih nampak mewarnai tatanan kehidupan disini, tetapi upacara-upacara yang aneh mulai mewarnai kehidupan disini.”

Manggada dan Laksana mendengarkan keterangan Ki Ajar itu dengan sungguh-sungguh. Meskipun kehidupan yang kusam itu belum nampak jelas dalam kehidupan sehari-hari, tetapi lambat-laun, perubahan-perubahan yang mendasar akan dapat terjadi.

Dengan ragu-ragu Manggada bertanya, “Ki Ajar. Selagi keadaan itu belum berkembang, apakah tidak sebaiknya mulai diluruskan kembali?”

“Itulah yang akan kami usahakan. Tetapi tentu bukan satu pekerjaan yang mudah. Sudah aku katakan, bahwa telah lahir satu padepokan baru yang agaknya memuat satu jenis perguruan yang berpijak pada atau setidak-tidaknya dipengaruhi oleh ilmu yang sesat sebagaimana dianut atau sejenis yang dianut oleh Panembahan Lebdagati”

“Dimanakah letak padepokan itu?”

“Kini tidak dapat dengan serta-merta mendekati tempat itu. Kita harus berhati-hati, karena didalam padepokan itu tentu tersimpan orang-orang berilmu tinggi dari aliran yang sesat itu.” jawab Ki Ajar Pangukan.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Keduanya mencoba untuk melihat kelainan yang mulai tumbuh di beberapa padukuhan. Mereka melihat ditempat-tempat tertentu terdapat bangunan yang khusus. Dihalamannya yang luas terdapat batu tersusun rapi dengan permukaan yang datar setinggi orang dewasa dengan tangga batu pula di keempat sisinya.”

“Untuk apa , Ki Ajar?” bertanya laksana.

“Sampai saat ini, yang kami lihat, diatas landasan batu itu diserahkan korban seekor anak binatang yang dilahirkan dibulan purnama. Jika tidak diketemukan maka yang akan dikorbankan adalah seekor anak binatang jenis apapun yang lahir terdekat dengan bulan purnama.”

“Caranya?” bertanya Laksana pula.

“Dengan sepotong bambu yang ditajamkan, jantung anak binatang yang dikorbankan itu ditikam.” jawab Ki Ajar Pangukan.

“Ah” desis Laksana diluar sadarnya.

“Yang menarik” berkata Ki Ajar Pangukan, “sebelum anak binatang itu dikorbankan, anak binatang itu dimandikan, kemudian dibalut dengan kain yang berwarna putih. Kemudian sesudah binatang itu mati, maka beberapa orang yang nampaknya merupakan rangkaian dari upacara itu, menangisinya. Kemudian anak binatang itu dikubur dengan upacara yang khusus pula.”

“Satu upacara yang aneh” berkata Manggada.

“Ya. Upacara yang aneh. Tetapi lebih dari itu, aku membayangkan apa yang akan terjadi kemudian. Maksudku, waktu-waktu mendatang. Jika kepercayaan yang aneh itu menjadi semakin menggigit, maka aku cemas bahwa korban itu tidak hanya sekedar seekor binatang dari jenis apapun.”

“Maksud Ki Ajar?” bertanya Laksana.

Ki Ajar tidak menjawab. Tetapi keningnya berkerut semakin dalam

Laksana tidak mendesaknya. Ia sendiri tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi kemudian.

Manggada lah yang kemudian justru bertanya, “jenis binatang apa sajakah yang dapat dipakai sebagai korban?”

“Segala macam binatang peliharaan. Dari anak lembu, anak kambing sampai anak ayam yang menetas pada atau disekitar bulan purnama.” jawab Ki Ajar Pangukan.

Manggada mengangguk-angguk. Tetapi ia pun tidak ingin mendesak dan mendengarkan jawaban tentang kecemasan Ki Ajar di hari kemudian itu.

Di rumah Ki Ajar, Manggada dan Laksana telah membicara-kannya dengan Ki Pandi yang sibuk menyiapkan minum dan makan seisi rumah itu sebagaiman pernah dilakukannya dahulu.

Memang ada perbedaan dengan upacara yang dilakukan oleh Panembahan Lebdagati. Tetapi bayangan dikemudian hari iiu, akan sama-sama mengerikannya.

“Bagaimana mungkin masih saja ada orang yang mempergunakan cara-cara seperti itu untuk pemenuhan kepuasan batinnya.” desis Manggada.

“Kita tidak akan dapat tinggal diam atau sekedar sebagai penonton yang menutup wajah kita dan melihat peristiwa itu itu dari sela-sela jari tangan kita.” berkata Ki Pandi.

Ternyata bahwa kemudian Ki Jagaprana pun telah tertarik pula kepada tata kehidupan yang tidak sewajarnya itu.

Dengan demikian, maka orang-orang yang tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan itu telah menyusun rencana untuk melihat dan mengenali sebuah padepokan yang memancarkan kepercayaan yang berlandaskan pada ilmu hitam itu yang pengaruhnya sudah terasa dipadukuhan-padukuhan di lereng Gunung Lawu. Penghuni padukuhan-padukuhan itu,yang sejak, semula memang sudah tersentuh oleh kepercayaan hitam itu agaknya tidak terlalu sulit untuk menerima kembali tatanan kehidupan yang pernah dikenali sebelumnya. Meskipun mereka sudah dipengaruhi oleh tatanan kehidupan yang lain, tetapi ketika pengenalan mereka itu tersentuh kembali, maka merekapun seakan-akan telah hanyut kedalam dunia lama yang telah mereka kenal itu.

Namun dalam pada itu, selagi Ki Ajar Pangukan, Ki Jagaprana dan Ki Pandi bersama Manggada dan Laksana akan mulai melangkahkan kaki, tiba-tiba saja telah datang dua orang yang pernah mereka kenal sebelumnya.

Ki Ajar Pangukan terkejut atas kehadiran kedua orang yang tiba-tiba saja sudah berada di plataran rumah Ki Ajar Pangukan yang terasing itu.

“Aku mencari Ki Jagaprana dan Ki Bongkok” teriak seorang di antara mereka.

Bukan hanya Ki Ajar Pangukan sajalah yang kemudian keluar dan berdiri diserambi. Tetapi seisi rumah itu telah menyongsong kedua orang itu didepan rumah.

“Selamat datang digubuk kecil ini, Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu.” sapa Ki Ajar Pangukan.

“Ki Ajar” berkata Ki Lemah Teles, “sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Aku mempunyai persoalan dengan keduanya. Aku memang menunggu Ki Jagaprana sembuh. Aku akan menantangnya untuk berperang tanding. Kemudian aku juga akan menantang orang bongkok yang telah mengganggu perang tandingku dengan Sambi Pitu.”

Dalam pada itu, Ki Sambi Pitu telah menyahut, “Ki Lemah Teles masih saja gila.”

”Persetan kau” geram Ki Lemah Teles, “kau akan mendapat giliran terakhir setelah aku menyelesaikan Jagaprana dan orang bongkok itu. Kecuali jika Ki Ajar ingin mencampuri persoalan ini. Maka ia akan aku selesaikan sebelum kau.”

Tetapi Ki Pandi justru tertawa. Katanya, “Atas nama Ki Ajar, aku persilahkan kau duduk Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu. Ki Ajar menjadi heran melihat sikapmu yang gila itu sehingga ia tidak segera mempersilahkan kalian duduk.”

“Ya, ya” sahut Ki Ajar., “sikapmu aneh Ki Lemah Teles, sehingga aku kehilangan unggah-ungguh tanpa mempersilahkan kalian duduk, meskipun hanya disebuah amben tua di serambi gubug kecil ini.”

“Aku tidak memerlukan sejenis basa-basi seperti itu” geram . Ki Lemah Teles.

“Bukan sekedar basa-basi. Aku benar-benar mempersilahkan kalian duduk” sahut Ki Ajar Pangukan.

Ki Lemah Teles masih saja ragu-ragu. Namun Ki Sambi Pitu lah yang kemudian melangkah ke serambi. Ia justru duduk mendahului Ki Ajar Pangukan sendiri.

Namun akhirnya semuanya pun duduk di amben bambu tua diserambi rumah itu, kecuali Manggada dan Laksana.

Ketika amben itu berguncang, maka Ki Lemah Teles pun berkata, “Kau jebak aku dengan amben reotmu ini.”

Ki Ajar tertawa. Katanya, “Hatimu yang goyah itu selalu dibayangi oleh kecurigaan. Kami sama sekali tidak bermaksud buruk terhadapmu.”

“Tetapi kenapa dengan amben ini?”

“Amben tua ini agaknya mengeluh karena bebannya yang terlalu berat. Tetapi tidak apa-apa. Aku jamin bahwa amben tua ini tidak akan roboh.”

Ki Lemah Teles tidak menjawab. Tetapi beberapa kali ia justru mengguncang amben bambu yang sudah tua itu.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksana telah pergi kedapur untuk menyiapkan minuman bagi tamu-tamu Ki Ajar Pangukan.

Sementara itu, Ki Lemah Teles masih saja dengan nada marah berkata, “Aku tidak mau diganggu lagi oleh siapapun juga. Aku harus membunuh mereka yang telah mengganggu perasaanku. Di umurku yang menjadi semakin tua, maka aku harus dapat hidup tenang, tenteram dan damai”

Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandii tertawa bersamaan, sehingga Ki Lemah Teles itu membentak, “Apa yang kalian tertawakan?”

“Begitukah caramu untuk mendapat ketenangan dan ketenteraman hidup? Membasahi tanganmu dengan darah sahabat-sahabatmu?” sahut Ki Ajar Pangukan.

“Ya.” jawab Ki Lemah Teles tegas, “tanpa membunuh orang-orang yang telah menyakiti hatiku, menjerumuskan aku kedalam sepi serta mereka yang menghalangiku, maka hidupku tidak akan tenang.”

“Tetapi sisa-sisa hidupmu akan selalu dibayangi oleh wajah-wajah yang sendu dari sahabat-sahabatmu yang telah kau bunuh itu. Mereka akan selalu datang dalam mimpi-mimpimu. Manggapai-gapai tanganmu, mohon pertolongan dan perlindungan dari seorang sahabatnya yang baik.”

“Mereka tidak akan datang kepadaku. Mereka tidak akan minta pertolongan dan perlindungan kepadaku, justru karena aku yang membunuh mereka.”

“Jika demikian mereka akan datang sambil merengek untuk mohon kau ampuni dan kau hidupkan kembali. Karena merasa bahwa mereka belum sampai pada saatnya untuk mati” berkata Ki Ajar Pangukan kemudian.

“Setan kau” geram Ki Lemah Teles, “aku tidak perduli.”

Tetapi tiba-tiba saja Ki Pandi berkata, “Bagaimana jika kau yang mati?”

“Tidak. Aku tidak akan mati. Ilmuku lebih tinggi dari ilmu kalian.” geram Ki Lemah Teles.

“Jangan membohongi dirimu sendiri” berkata Ki Pandi, “tentu ada orang lain yang ilmunya lebih tinggi dari ilmu yang ada padamu.”

Ki Lemah Teles mengerutkan dahinya. Tiba-tiba saja ia menantang, “Ayo. Siapa yang merasa ilmunya lebih tinggi dari ilmuku. Kita berperang tanding sampai mati.”

Pembicaraan itupun tiba-tiba terputus. Manggada dan laksana telah datang menghidangkan minuman panas. Wedang jahe dengan gula kelapa.

“Pembicaraan kita akan kita lanjutkan nanti. Sekarang, aku persilahkan kalian minum lebih dahulu..”.

Ki Lemah Tetes termangu-mangu sejenak. Namun ketika Ki Sambi Pitu dan yang lain telah menggapai mangkuk mereka, maka Ki Lemah Teles pun telah mengangkat mangkuknya pula.

“Tetapi Ki Ajar jangan mencoba untuk mengekang sikapku dengan minuman ini” berkata Ki Lemah Teles.

“Tidak” jawab Ki Ajar, “Jika aku ingin mengekang sikapmu, aku tidak hanya sekedar mempergunakan semangkuk minuman. Tetapi aku akan mempergunakan ilmuku yang sangat tinggi”

“Gila. Seberapa tinggi ilmumu?” bertanya Ki Lemah Teles. Orang-orang yang mendengar pertanyaan itu tertawa. Ki Ajar justru tertawa berkepanjangan. Katanya, “Ki Lemah Teles. Kenapa kau menjadi kehilangan akal disaat-saat kau merasa dicekik oleh kesepian. Kenapa kau harus menantang untuk berperang tanding dengan Ki Jagaprana, Ki Sambi Pitu dan kemudian Ki Pandi dan barangkali juga aku.”

“Mereka adalah orang-orang yang dengki atas kebahagiaan hidupku dan kemudian mendorong aku kedalam satu kehidupan yang kosong dan hampa seperti sekarang ini.”

“Tidak, Ki Lemah Teles” berkata Ki Ajar Pangukan, “bukan karena itu. Tetapi kau merasa bahwa dihari-hari tua, kau dan barangkali juga aku, Ki Jagaprana, Ki Sambi Pitu dan Ki Bongkok mulai kehilangan kebanggaan yang pernah kau miliki. Kau menjadi cemas, bahwa orang-orang yang mengenalmu tidak lagi menganggap bahwa kau adalah orang yang penting dan diperlukan oleh lingkunganmu. Karena itu, kau telah berbuat sesuatu untuk menarik perhatian orang untuk memaksa orang lain tetap menganggapmu, bahwa kau adalah orang penting. Orang berilmu dan orang yang dibutuhkan sekali. Kau paksa orang lain bertempur untuk mengingatkan mereka akan kemampuan yang tinggi. Tetapi kau lupa bahwa orang lain juga memiliki kemampuan yang tinggi pula. Jika Ki Jagaprana terluka bagian dalam tubuhnya itu, karena ia menyangka bahwa kau tidak bersungguh-sungguh. Sementara Ki Sambi Pitu juga tidak dapat kau kalahkan. Seandainya Ki Bongkok tidak menghentikan perang tanding antara kau dan Ki Sambi Pitu, maka kalian berdua tidak akan pernah sampai dirumah ini.”

Ternyata Ki Lemah Teles sempat mendengarkan kata-kata Ki Ajar Pangukan. Semula hatinya memang bergejolak Tetapi kemudian ia mulai merenungi kata-kata itu.

Bahkan kemudian Ki Pandi pun berkata, “Ki Lemah Teles. Jika Ki Lemah Teles tetap berniat untuk berperang tanding dengan siapa saja yang kenal dan dapat kau hubungi sekarang ini, maka aku akan minta agar Ki Lemah Teles menundanya. Tetapi kalau hatimu sudah benar-benar menjadi gelap, segala sesuatunya terserah kepadamu.”

“Kenapa harus ditunda?” bertanya Ki Lemah Tetes.

“Kita sedang mengamati sebuah padepokan yang mungkin berisi satu perguruan yang berlandaskan pada ilmu hitam. Kami terpanggil untuk membayanginya, karena perguruan itu mempunyai pengaruh yang kurang baik bagi lingkungannya.” jawab Ki Pandi. Lalu katanya kemudian, “Kecuali jika Ki Lemah Teles telah kehilangan suara nuraninya yang jernih.”

“Setan kau bongkok” sahut Ki Lemah Teles. Namun katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan berusaha menahan diri. Aku akan memberi kesempatan kepada kalian untuk melakukan niat kalian membayangi perguruan yang berlandaskan ilmu hitam itu.”

“Satu kesempatan bagimu, Ki Lemah Teles” berkata Ki Jagaparana yang lebih banyak berdiam diri saja.

“Kau akan menjerumuskan aku kedalam jebakan dan membunuhku dengan cara yang licik?”

“Tentu tidak. Aku masih berharap kita dapat berperang tanding setelah kita menyelesaikan perguruan yang berlandaskan ilmu hitam itu” jawab Ki Jagaprana. Bahkan katanya pula, “Aku berharap bahwa aku dapat membalas luka bagian dalam tubuhku dengan melukai bagian dalam tubuhmu pula.”

“Setan kau. Aku akan benar-benar membunuhmu” geram Ki Lemah Teles

“Sudahlah” berkata Ki Ajar Pangukan, “kenapa kita hanya berbicara tentang bunuh membunuh? Kenapa kita tidak berbicara tentang satu rencana yang mungkin dapat kita lakukan untuk membayangi padepokan orang-orang berilmu hitam itu?”

Ki Lemah Teles termangu-mangu. Namun kemudian ia pun bertanya, “seandainya aku bergabung dengan kalian, apakah aku juga harus tinggal disini.”

“Itu terserah kepadamu” jawab Ki Ajar Pangukan, “tetapi aku akan sangat senang jika kalian bersedia untuk tinggal bersama kami disini.”

“Tetapi bagaimana dengan kuda-kuda kami?” bertanya Ki Lemah Teles.

“Kau membawa kuda?” bertanya Ki Ajar Pangukan.

“Ya.”

Ki Ajar pun kemudian berkata kepada Ki Pandi, “Nah, kau adalah salah seorang di antara mereka yang tahu, bagaimana membawa seekor kuda ke tempat ini.”

Ki Pandi pun mengangguk-angguk. Katanya, “marilah, aku tunjukkan kepada kalian jalan yang dapat kalian lewati.”

Setelah minum beberapa teguk, maka Ki Pandi bersama kedua orang tamunya itu pun meninggalkan tempat itu untuk mengambil kuda-kuda mereka yang terhalang oleh sulitnya jalan yang harus mereka tempuh sampai ke rumah Ki Ajar Pangukan itu.

Rumah Ki Ajar Pangukan adalah rumah yang kecil saja. Tetapi tamu-tamunya bukan orang-orang manja yang memerlukan tempat yang baik untuk bermalam. Mereka dapat tidur dimana saja. Diserambi, diruang tengah atau bilik yang sempit. Sedangkan mereka bukan pula orang yang memilih makanan tertentu menurut selera yang sulit. Mereka dapat makan apa saja yang pantas dimakan.

Karena itu, kehadiran orang-orang itu dirumah Ki Ajar tidak terlalu menyulitkannya. Mereka dapat makan ketela pohon, ketela rambat, jagung, apalagi nasi putih. Sementara itu, sayur-sayuran terdapat dihalaman dan di kebun rumah yang luas, bahkan seakan-akan tanpa batas.

Kemudian kolam yang direnangi oleh berbagai jenis ikan. Di halaman belakang juga berkeliaran berpuluh ekor ayam, itik yang menebarkan telur dimalam hari dan bahkan angsa.

Di hari-hari berikutnya, rumah kecil itu memang menjadi ramai. Beberapa orang yang usianya telah merambat melampaui pertengahan abad dan dua orang anak muda, Manggada dan Laksana.

Namun dengan demikian, Manggada dan Laksana telah mendapatkan pengalaman yang cukup banyak. Orang-orang tua itu kadang-kadang mengisi waktunya dengan latihan-latihan sesuai dengan aliran ilmu mereka masing-masing untuk mempertahankan kemampuan ilmu dan daya tahan tubuh mereka. Ki Lemah Teles yang sebelumnya merasa hidup kesepian, mulai merasa bahwa ia masih mempunyai beberapa orang kawan yang memperhatikannya.

Dalam pada itu, orang-orang yang tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan itu mulai membagi diri untuk mengamati sebuah padepokan yang mereka duga, mempunyai landasan ilmu hitam sebagaimana padepokan Panembahan Lebdagati.

Mereka tidak saja bergerak disiang hari, tetapi kadang-kadang juga malam hari. Bahkan Ki Ajar Pangukan telah mulai berusaha untuk dapat berada dipadukuhan-padukuhan di sekitar padepok-an itu.

Dalam pada itu, Ki Pandi yang berjalan-jalan bersama Manggada dan Laksana disebuah padukuhan sempat melihat bangunan khusus yang agak lain dari bangunan-bangunan khusus yang pernah mereka lihat. Disekitar bangunan itu terdapat halaman yang cukup luas dipagari dengan potongan batang kelapa yang berjajar rapat Pagar itu cukup tinggi dengan sebuah pintu gerbang saja.

“Apa yang ada didalam?” desis Laksana.

Lingkungan disekitar bangunan yang memang terletak menjorok diluar padukuhan itu memang sepi. Karena itu, maka Manggada pun berkata, “Apakah kita akan memasuki dinding bangunan yang khusus itu?”

Ki Pandi masih saja temangu-mangu. Namun kemudian mereka melihat dua orang bocah yang menggiring beberapa ekor kambing untuk digembalakan. Anak-anak itu tertegun sejenak melihat orang yang mereka anggap asing berada di sekitar bangunan khusus

“Kita dapat berbicara dengan anak-anak itu. Tetapi jangan takut-takuti mereka.” berkata Ki Pandi.

Manggada mengangguk-angguk. Karena itu, maka ia pun berkata, “Biarlah aku sendiri datang kepada mereka.”

“Sebentar lagi” desis Ki Pandi.

Baru ketika kedua orang anak itu duduk di rerumputan sambi! melepas kambing mereka di tempat terbuka yang ditumbuhi rerumputan yang hijau subur itu, Manggada telah melangkah mendekati mereka.

Ia berjalan dengan langkah yang wajar saja. Tidak tergesa-gesa dan tidak menarik perhatian. Sedangkan Laksana dan Ki Pandi justru berdiri saja ditempat mereka, dekat dengan bangunan khusus itu.

Kedua orang anak itu memang menjadi berdebar-debar. Tetapi sambil melangkah mendekati kedua anak itu, Manggada menunjukkan wajah yang terang dengan senyum dibibirnya.

Kedua anak itu beringsut menjauh ketika Manggada kemudian duduk direrumputan itu pula.

“Jangan takut” berkata Manggada, “aku memang orang asing bagi kalian dan barangkali bagi padukuhan ini. Aku ingin membuka perdagangan dengan para penghuni padukuhan itu.”

Kedua orang anak itu termangu-mangu. Namun tidak seorang pun diantara mereka yang menyahut.

“Aku dengar di padukuhan ini terdapat beberapa orang yang membuat gerabah” desis Manggada.

Kedua orang anak itu saring berpandangan, sementara Manggada bertanya pula, “Apakah benar?”

Seorang dintara kedua orang anak itu menggeleng. Jawabnya singkat, “Tidak.”

“O” Manggada mengangguk-angguk. Tetapi ia bertanya lagi, “Dimana kami dapat membeli gerabah dalam jumlah yang cukup banyak untuk aku jual lagi diseberang hutan Jatimalang?”

Kedua anak itu menggeleng. Seorang diantara mereka menjawab, “Aku tidak tahu.”

Manggada mengangguk-angguk lagi. Namun ia bertanya, “he, bangunan apakah yang dikelilingi dinding potongan batang kelapa utuh itu?”

Kedua orang anak itu saling berpandangan lagi. Wajah mereka menunjukkan keragu-raguan.

“Untuk menyelenggarakan upacara barangkali?” Kedua orang anak itu mengangguk berbareng.

“Upacara apa?” bertanya Manggada lagi.

“Tempat itu belum pernah dipakai” jawab salah seorang dari kedua orang anak itu.

“O” Manggada mengangguk-angguk. Dengan dahi berkerut ia bertanya, “Apakah bangunan itu baru selesai dibuat?”

“Sudah beberapa bulan yang lalu.” jawab anak itu.

Manggada masih saja mengangguk-angguk. Sambil memandang dinding yang mengelilingi bangunan khusus itu ia bertanya, “Kenapa tempat upacara itu tidak segera dipergunakan?”

Kedua orang anak itu menggeleng. Manggada sadar, bahwa ia tidak akan mungkin mendapat keterangan yang cukup dari anak-anak itu.

Tetapi apa yang telah didengar sedikit banyak dapat memberikan gambaran tentang bangunan yang masih belum pernah dipergunakan itu.

Sementara itu, Ki Pandi dan Laksana sempat melihat dari sela-sela potongan batang kelapa yang berjajar utuh itu, sesusunan batu yang ditata rapi. Dipahat seperti candi kecil bersusun agak tinggi mendatar dibagian atasnya yang agaknya untuk meletakkan benda-benda upacara atau bahkan sesaji atau korban yang diserahkan.

Sejenak kemudian, Manggada telah berada diantara mereka kembali. Yang dapat disampaikan kepada Ki Pandi adalah sekedar apa yang telah didengarnya dari kedua orang anak yang sedang menggembala itu.

Namun nampaknya mereka bertiga mendapat perhatian khusus dari seorang yang melihat mereka dari kejauhan. Orang yang sudah terhitung tua. Bahkan lebih tua dari Ki Pandi.

Dengan tongkat kayu yang panjang orang itu melangkah mendekati Ki Pandi, Manggada dan Laksana yang masih berada dide-kat bangunan yang khusus itu.

“Selamat datang dipadukuhan kami Ki Sanak” sapa orang tua itu.

“Terima kasih” jawab Ki Pandi sambil membungkuk hormat, “kami mohon maaf, bahwa kami telah mengganggu ketenangan padukuhan ini.”

Orang tua itu tersenyum. Kemudian iapun bertanya, “Apa yang sebenarnya kalian kehendaki, Ki Sanak.”

Yang menyahut adalah Manggada, “Kami mendengar disini banyak dibuat gerabah, kek. Mungkin kami dapat membelinya dan membawanya keseberang hutan Jatimalang.”

Orang tua itu termangu sejenak. Namun kemudian ia pun menggeleng, “tidak anak muda. Disini tidak ada orang yang membuat gerabah. Kami justru membeli dari padukuhan-padukuhan yang terletak agak kebawah. Jika kalian datang dari seberang hutan Jatimalang, maka kalian tentu sudah melewati padukuhan kecil yang semua penghuninya membuat gerabah.”

Namun Manggada dengan tangkas menjawab, “sayang kek. Buatannya kurang baik menurut pendapat kami. Bahkan mudah pecah, sehingga kemungkinan rusak diperjalanan menjadi sangat tinggi.”

Orang tua itu tersenyum. Katanya, “Gerabah dari Mungkid adalah gerabah yang terbaik yang pernah aku lihat.”

Manggada termangu-mangu sejenak. Tetapi ia masih dapat menjawab, “Ternyata yang terbaik itu masih belum memenuhi syarat yang kami tentukan bagi perdagangan gerabah.”

Orang itu tertawa. Namun kemudian ia bertanya.”Apakah kalian tertarik kepada bangunan yang belum pernah dipergunakan ini?”

“Ya, Ki Sanak” yang menjawab adalah Ki Pandi, “Kami belum pernah melihat bangunan seperti ini sebelumnya?”

“Bangunan ini dibuat untuk keperluan upacara. Tetapi upacara itu belum pernah diselenggarakan dipadukuhan ini. Dahulu, ketika tempat ini berada dibawah pengaruh Panembahan Lebdagati, juga sering dilakukan upacara-upacara khusus disetiap bulan purnama. Tetapi upacara itu dilakukan disatu tempat saja. Tetapi sekarang tidak. Upacara itu dilakukan dibeberapa tempat. Dipadukuhan ini telah dibuat tempat upacara yang besar. Lebih besar atau lebih lengkap dari padukuhan-padukuhan kecil yang lain. Tetapi upacara itu sendiri tidak pernah dilakukan dipadukuhan ini.”

“Kenapa kek?” bertanya Laksana.

Orang tua itu memandang bangunan itu dengan mata yang redup. Katanya kemudian, “Sebagai seorang yang pernah mengalami pengaruh Panembahan Lebdagali, serta kemudian setelah daerah ini seolah-olah terbuka, sehingga hubungan dengan lingkungan seberang hutan Jatimalang berlangsung, maka upacara-upacara seperti itu rasanya sangat mengerikan. Aku sendiri sejak Panembahan Lebdgati menyelenggarakan upacara-upacara khusus didaerah ini, aku tidak pernah mengikutinya. Tetapi karena aku tidak mempunyai kekuatan apapun dan bahkan tidak mempunyai keberanian yang cukup, maka aku tidak berani berbuat apap-apa selain berharap.”

“Apakah upacara yang berlangsung waktu itu dan sekarang sama?” bertanya laksana.

“Tidak anak muda. Dahulu korban yang diserahkan adalah gadis-gadis.” jawab orang tua itu.

“Sekarang?” desak Laksana.

“Seekor anak binatang apapun. Ditusuk dadanya sampai mati. Bukankah itu mengerikan meskipun hanya seekor anak binatang? Seekor anak kambing berteriak melengking tinggi ketika sepotong bambu yang ditajamkan menusuk jantungnya, seperti tangis seorang bayi yang kesakitan.”

Laksana tidak bertanya lebih jauh. Sekilas melintas di angan-angannya sesuatu yang sangat mengerikan.

Tetapi orang tua itu masih berkata, “Bangunan ini dibuat oleh beberapa orang yang sejak semula melandasi kepercayaannya dalam pengaruh ilmu hitam. Mereka menganggap bahwa upacara seperti ini akan dapat memberikan keselamatan dan kesejahtera-an bagi hidupnya” Orang itu berhenti sejenak. Namun kemudian ia meneruskannya, “tetapi niat itu ditentang oleh banyak orang yang menyadarinya, bahwa upacara seperti itu hanya menimbulkan kengerian saja. Bahkan di hari mendatang akan menimbulkan malapetaka bagi penghuni padukuhan itu sendiri. Dan yang lebih buruk lagi jika malapetaka itu menyebar ke padukuhan-padukuhan di sekitarnya, apalagi sampai ke seberang hutan Jatimalang.”

“Apakah hal seperti itu akan mungkin terjadi?” Laksana justru bertanya lagi.

“Mungkin sekali. Jika di satu padukuhan tidak lagi terdapat seekor anak binatang pun, maka tentu akan dicari dari padukuhan-padukuhan yang lain, sementara padukuhan-padukuhan yang lain juga membutuhkan bagi upacara yang mereka selenggarakan sendiri. Jika demikian bukankah harus dicari ditempai yang semakin jauh yang justru tidak mempunyai kepercayaan pada upacara seperti itu. Sekali lagi aku ingatkan, bahwa yang dilakukan sekarang dalam upacara itu barulah semacam pendahuluan. Pada kesempatan lain upacara itu akan menjadi upacara yang sesungguhnya menurut kepercayaan sesat itu.”

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Pandi bertanya, “Apakah upacara itu tidak akan pernah dilakukan di padukuhan ini selama masih ada yang menentangnya?”

“Hanya untuk sementara” jawab orang itu, “pada satu saat nanti, orang-orang dari padepokan dibelakang gumuk itu akan datang lagi. Mencoba untuk mempengaruhi orang-orang padukuhan itu serta mengungkit lagi kepercayaan hitam dari penghuni padepokan ini yang sebenarnya sudah mulai berubah. Jika mereka tidak berhasil, maka mereka tentu akan mulai dengan cara yang lebih kasar. Menakut-nakuti, mengancam dan mengganggu ketenangan. Jika cara itu masih belum berhasil, maka mereka akan mempergunakan kekerasan. Mereka akan memaksa para penghuni padukuhan ini untuk melakukan upacara-upacara terkutuk itu.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Sementara orang itu berkata selanjutnya, “Para pemimpin padepokan itu agaknya tidak berjantuhg lagi. Mereka melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan tanpa mengingat lagi nilai-nilai dalam tatanan kehidupan yang berlaku bagi orang banyak.”

“Apakah Ki Sanak akan bertahan hidup dalam suasana yang demikian?” bertanya Ki Pandi.

“Aku tidak mempunyai pilihan lain. Orang tuaku tinggal disini. Aku mendapat warisan tanah berserta rumahnya. Sementara anak-anak pun tinggal disini pula. Bahkan cucu-cucuku.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Baiklah Ki Sanak. Untuk sementara kami merasa sudah banyak mendengar tentang bangunan khusus itu. Mungkin pada kesempatan lain, kami akan singgah dirumah Ki Sanak. Namun apakah kami boleh mengetahui ancar-ancar tempat tinggal Ki Sanak?” bertanya Ki Pandi.

Alenia ini tertukar tempat di buku aslinya (dewi KZ)

“Rumahku mudah dicari. Aku tinggal ditepi jalan induk padukuhan ini. Hampir berhadapan dengan banjar padukuhan. Jika kalian mengalami kesulitan, kalian dapat bertanya dirumah Ki Carang Ampel.”

“Baik, Kiai. Sekarang aku mohon diri.”

“Ki Sanak” desis Ki Carang Ampel, “apakah Ki Sanak mempunyai pendapat khusus mengenai upacara yang sering dilakukan dipadukuhan-padukuhan yang lain.”

“Tidak Ki Carang Ampel. Kami hanya sekedar ingin tahu saja” jawab Ki Pandi.

Orang tua itu mengangguk-angguk. Dengan nada berat orang itu bertanya, “Dimanakah Ki Sanak tinggal?”

“Kami orang-orang Pajang” jawab Ki Pandi. Orang tua itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya apapun lagi.

Ketika kemudian Ki Pandi, Manggada dan Laksana duduk berkumpul bersama orang-orang lain penghuni rumah Ki Ajar yang kecil itu disore hari, maka Ki Pandi pun telah menceriterakan pertemuannya dengan Ki Carang Ampel.

Ki Jagaprana dengan serta-merta menyahut, “Sulit bagi kita untuk mempercayai sikap dan pendapat orang disini. Mereka nampaknya berbicara apa saja tanpa dipikirkannya masak-masak.”

Tetapi Ki Pandi menyahut, “Tetapi nampaknya Ki Carang Ampel telah mencoba untuk mengatakannya sesuai dengan tanggapannya” atas bangunan khusus di padukuhannya.”

“Memang mungkin” sahut Ki Ajar Pangukan, “aku masih juga percaya bahwa orang penalarannya mulai terbuka sejak hutan Jatimalang itu ditembus. Beberapa orang mencoba membuka jalur perdagangan didaerah ini dapat membuka hati orang-orang yang semula dibayangi oleh ilmu hitam. Bahkan ada diantara para pedagang justru dengan sengaja berusaha membuka nalar budi orang-orang itu agar mereka mengenali hubungan antara mereka dengan penciptanya.”

Ki Jagaprana mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Lemah Teles berkata, “Nampaknya para pemimpin di padepokan itu telah mempelajari dengan baik lingkungan ini, sehingga mereka telah memilih tempat ini untuk mendirikan padepokan yang bukan sekedar sebuah perguruan tertutup. Tetapi para pemimpin padepokan itu berusaha menyebarkan pengaruhnya disatu lingkungan yang luas, menurut pendapat mereka, merupakan lahan yang subur bagi kepercayaan hitam, karena lingkungan ini memang pernah dibayangi oleh ilmu hitam ketika Panembahan Lebdagati ada disini.”

“Ya.” Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Karena itulah, maka kita merasa mendapat beban tugas yang berat meskipun kita sendiri yang meletakkan beban itu dipundak kita.

“Yang dapat kita lakukan adalah mencegah menjalarnya pengaruh ilmu hitam itu. Tetapi kita tidak boleh melupakan, bahwa kita akan berhasil dengan baik, jika kita dapat mematikan sumbernya. Tetapi kita tahu, bahwa hal itu tidak akan mudah kita lakukan. Kita belum tahu kekuatan yang sebenarnya yang ada di padepokan itu.”

Sementara itu Ki Sambi Pitu pun berkata, “Agaknya para pemimpin di padepokan itu menyebarkan pengaruhnya dengan bertahap. Satu hal yang menarik perhatian. Nampaknya para pemimpin di padepokan itu benar-benar mematangkan rencananya sebelum mereka bertindak.”

“Maksud Ki Sambi Pitu?” bertanya Ki Jagaprana.

“Mula-mula korban yang diserahkan oleh orang-orang yang sudah mulai terpengaruh lagi oleh ilmu hitam itu adalah anak-anak binatang jenis apapun dengan menusuk jantungnya sampat mati. Tetapi disatu padukuhan yang terhitung dekat dengan padepokan itu, upacara mulai berubah. Adalah kebetulan bahwa aku dapat berbicara dengan seorang anak muda yang tidak menyadari dengan siapa ia berbicara.”

“Perubahan apakah yang terjadi?” bertanya Ki Ajar.

“Di padukuhan itu, korban tidak lagi ditusuk. Tetapi dibakar hidup-hidup. Anak binatang itu diletakkan diatas seonggok kayu kering. Kemudian kayu itu dinyalakan.”

Orang-orang yang mendengar penjelasan Ki Sambi Pitu itu menjadi berdebar-debar. Mereka merasa ngeri membayangkan peristiwa itu terjadi. Apalagi ketika angan-angan mereka berkembang lebih jauh.

Dengan demikian, maka orang-orang yang tinggal dirumah Ki Ajar itu sepakat untuk melihat keadaan lebih jauh lagi.

Namun Ki Lemah Teles pun berkata, “Jika kita terlalu sering berkeliaran, maka kita tentu akan sangat menarik perhatian. Suatu ketika, maka kehadiran kita akan didengar oleh orang-orang padukuhan itu.”

“Ya” Ki Ajar mengangguk-angguk, “kita memang harus berhati-hati. Jika orang-orang padepokan itu mencium kehadiran kita, maka kita akan langsung berhadapan dengan mereka.”

Dengan demikian, maka orang-orang dirumah kecil itu sepakat untuk meningkatkan kewaspadaan mereka.

Ki Pandi agaknya sangat tertarik dengan keterangan Ki Sambi Pitu tentang perubahan upacara yang mengerikan itu. Karena itu, maka tanpa Manggada dan Laksana orang bongkok itu telah menyusuri jalan ke padukuhan itu.

Sebuah padukuhan yang letaknya agak tinggi di kaki Gunung Lawu itu bukan sebuah padukuhan yang besar.

Para penghuninya juga bukan orang-orang yang termasuk orang-orang berada. Meskipun demikian, ternyata bahwa mereka telah berusaha dengan susah payah yang membuat satu bangunan khusus untuk menyelenggarakan upacara yang aneh itu.

Ki Pandi telah memilih saat yang tepat. Ketika bulan purnama naik, maka dengan diam-diam ia telah berada di padukuhan itu.

Apa yang disaksikan, benar-benar mengerikan. Meskipun yang dikorbankan sekedar seekor anak kambing.

Ki Pandi melihat orang-orang padukuhan itu memasuki halaman bangunan khusus itu menjelang tengah malam. Mereka berjalan dengan kedua tangannya bersilang dimuka dada. Laki-laki dan perempuan. Kepala menunduk dan mereka tidak saling berbicara.

Suasananya memang terasa mencekam. Yang dilihat oleh Ki Pandi seakan-akan bukan orang-orang yang berjalan. Tetapi seperti sebuah golek kayu besar, yang bergerak dengan sendirinya menuju ke tempat upacara.

Tetapi setelah upacara selesai dan orang-orang padukuhan itu sudah kembali kerumah masing-masing dengan cara yang sama sebagaimana mereka datang, Ki Pandi tidak segera meninggalkan tempat itu.

Di pagi hari berikutnya, Ki Pandi masih berada disekitar padukuhan itu. Ketika Ki Pandi sedang mencuci kakinya di sebuah sungai kecil, maka dilihatnya seorang gadis yang sedang mencuci. Namun setiap kali gadis itu mengkerutkan lehernya sambil menggelengkan kepalanya.

Menurut penglihatan Ki Pandi, gadis itu agaknya sedang dibayangi oleh perasaan takut dan ngeri.

Ketika Ki Pandi mendekatinya, gadis itu menjadi cemas. Orang bongkok itu membuatnya gelisah. Apalagi ujud Ki Pandi yang lain dari kebanyakan orang..

Tetapi Ki Pandi yang menyadari perasaan gadis itu pun segera berkata, “Jangan takut ngger. Aku hanya ingin bertanya?”

Gadis itu tidak menjawab. Dipandanginya Ki Pandi dengan wajah gelisah.

“Ngger” berkata Ki Pandi yang kemudian duduk diatas sebongkah batu tidak jauh dari gadis yang sedang mencuci itu, “apakah angger tadi malam juga mengikuti upacara itu?”

“Ah” gadis itu tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Diluar sadarnya ia berdesis, “Mengerikan sekali. Aku masih selalu dibayangi oleh peristiwa itu. Aku sedang berusaha mengusirnya dari bayangan angan-anganku. Tiba-tiba saja kakek justru bertanya tentang hal itu.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Maaf ngger. Bukan maksudku untuk mengelitik perasaanmu dengan kengerian itu. Tetapi aku masih ingin bertanya serba sedikit tentang upacara yang aneh itu.”

“Jangan sebut-sebut lagi kek” minta gadis itu.

“Tetapi bukankah sebelumnya daerah ini juga pernah dipengaruhi oleh upacara-upacara yang pernah dilakukan oleh orang yang bernama Panembahan Lebdagati. Jika korban kali ini yang diserahkan hanyalah seekor anak binatang, beberapa waktu lalu korbannya justru seorang gadis. Sehingga keresahan telah tersebar bukan saja dikaki Gunung Lawu ini, tetapi sampai keseberang hutan Jatimalang.”

“Tetapi aku belum pernah hadir pada upacara itu, kek. Sanggar pemujaannya pun terletak agak jauh dari padukuhan ini. Tetapi sekarang hampir disetiap padukuhan yang mempunyai banyak pendukung dari aliran yang mengerikan itu telah membangun sendiri sanggar seperti itu.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia-pun bertanya, “Apakah dipadukuhanmu banyak orang yang menjadi pengikut aliran itu ngger?”

Gadis itu nampak ragu-ragu sejenak. Sekilas Ki Pandi melihat sinar matanya yang berkilat.

Gadis itu hanyalah seorang gadis desa yang sederhana. Tetapi nampaknya ia seorang gadis yang cerdas. Ia sadar, bahwa jawaban yang diberikan akan dapat menjeratnya dalam kesulitan jika ia salah ucap.

Namun gadis itu kemudian berdesis, “Semua orang dipadukuhanku menjadi pengikut aliran itu.”

Ki Pandi mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Baiklah ngger. Terima kasih atas keterangan angger. Mungkin pada kesempatan lain kita akan bertemu lagi.”

“Tetapi jangan bicarakan tentang upacara itu lagi, kek.”

Ki Pandi tersenyum. Dengan nada ringan ia menjawab, “Tidak ngger. Aku tidak akan bertanya lagi.”

Namun tiba-tiba sekali gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Suaranya yang serak terdengar dari balik telapak tangannya, “Tidak. Tidak akan lebih dari itu?”

“Kenapa ngger?” bertanya Ki Pandi, “bukankah aku tidak menyinggung lagi tentang upacara itu?”

“Bayangan itu selalu melintas di kepalaku kek. Semalam aku tidak dapat tidur setelah aku pulang dari upacara itu. Bayangan yang nampak dikepalaku, korban itu bukan sekedar seekor anak binatang.”

“Sudahlah ngger. Jika kau membayangkan yang, bukan-bukan, kau akan menjadi semakin ngeri. Sebaiknya kau lupakan saja. Lihat pakaian yang kau cuci itu agar tidak hanyut. Kau perhatikan apakah cucianmu sudah bersih atau belum. Yang penting kau palingkah ingatanmu kepada apa saja yang baik kau kenang. Mungkin seorang jejaka yang tampan atau barangkali ayah dan ibumu pernah berbicara tentang jodoh bagimu atau bahkan kau sudah berkeluarga?”

“Aku memang belum berkeluarga kek. Ayah dan ibu juga belum pernah berbicara tentang jodohku. Ah, semuanya masih jauh bagiku.” jawab gadis itu sambil duduk.

“Waktunya tentu akan datang” desis Ki Pandi. Namun kemudian katanya, “Sudahlah ngger. Aku akan pulang..”

“Dimana kakek tinggal?” bertanya gadis itu.

“Dekat hutan Jatimalang.” jawab Ki Pandi.

Gadis itu memandang Ki Pandi yang melangkah meninggalkan gadis yang sedang mencuci itu. Meskipun orang tua itu bongkok dan buruk, tetapi gadis itu tidak lagi merasa takut. Suaranya terdengar lembut seperti wajahnya yang banyak tersenyum.

Bayangan yang mengerikan sebagaimana dikatakan oleh gadis itu, justru telah semakin mencemaskan pula orang-orang yang tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan. Mereka semakin sering melihat perkembangan aliran sesat itu dipadukuhan-padukuhan yang dekat dan yang lebih jauh lagi dari padepokan. Namun ternyata bahwa aliran itu tidak dapat berkembang meliputi daerah dibelakang hutan Jatimalang sebagaiman sebelumnya, justru karena pengaruh hubungan yang lebih luas dengan orang orang seberang hutan.

Namun yang tidak diperhitungkan oleh orang-orang dirumah Ki Ajar Pangukan itu telah terjadi. Ketika Ki Pandi, Manggada dan Laksana sedang berada tidak terlalu jauh dari padepokan itu, mereka telah melihat dua ekor burung elang yang terbang berputar-putar diatas padepokan yang dilingkari dinding kayu yang kuat dan cukup dnggi.

“Elang itu” desis Ki Pandi.

“Apakah memang ada hubungan antara Panembahan Lebdagati dengan padepokan itu?” bertanya Manggada.

“Atau bahkan padepokan itu telah dibuat oleh para pengikut Panembahan Lebdagati dan memang dipersiapkan bagi kembalinya Panembahan itu di lereng Gunung Lawu ini?” desis Laksana.

“Perkembangan yang menarik” berkata Ki Pandi, “jika benar padepokan itu dipersiapkan bagi Panembahan Lebdagati yang ingin kembali menguasai daerah ini, maka persoalannya justru akan menjadi jelas.”

Namun Laksana itu pun bertanya, “Apakah tidak ada orang lain yang mampu mengendalikan elang seperti Panembahan Lebdagati?”

“Ada. Tentu ada” jawab Ki Pandi, “salah seorang pengikutnya atau bahkan orang lain yang mempunyai kegemaran yang sama. Tetapi menilik sikap dan ujud burung elang itu, nampaknya burung itu dikendalikan oleh para pengikut Panembahan Lebdagati yang tersisa.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian mereka telah diajak oleh Ki Pandi berlindung dibawah sebatang pohon yang rimbun.

“Jika saja burung itu mengenali kita bertiga” desis Ki Pandi.

Tetapi Laksana pun menyahut, “Seandainya mereka mengenali kita, apakah burung-burung itu mempunyai cara untuk memberitahukan kepada Panembahan Lebdagati atau pengikutnya? Bagaimana burung elang itu dapaf menyebut; bahwa burung elang itu sudah melihat Ki Pandi, Manggada dan Laksana?”

Ki Pandi tertawa. Katanya, “Tentu burung elang itu tidak dapat menyebut namamu, Laksana. Tetapi burung itu tentu dapat memberi isyarat bahwa ia melihat orang-orang yang pernah dikenalnya sebelumnya.”

Laksana mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi pemilik burung itu akan dapat salah menangkap artinya. Mungkin pemilik burung itu mengira bahwa eläng-elangnya melihat Kiai Gumrah atau melihat Ki Prawara atau orang lain lagi.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Mungkin saja. Tetapi dengan demikian, maka Panembahan Lebdagati atau pengikutnya akan mengirimkan orang itu untuk melihat langsung sesuai dengan isyarat burung-burung elang itu. Nah, orang-orang itu akan dapat berbicara tentang penglihatannya. Apalagi tentang orang-orang yang mempunyai ciri khusus seperti aku ini.”

Laksana mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Sementara kita tidak tahu, orang yang dikirim oleh Panembahan Lebdagati atau pengikutnya untuk mengamati kita.”

Dengan demikian, maka ketiga orang itupun kemudian telah duduk dibawah sebatang pohon yang rindang. Dari jarak yang agak jauh mereka melihat kedua burung elang itu masih saja berputar-putar. Namun kemudian menghilang kearah Utara.

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita dapat memperkirakan bahwa sarang kedua ekor burung elang itu ada di-sisi Utara Gunung ini, meskipun mungkin dapat juga salah, karena kedua ekor burung itu dapat juga mengelabuhi orang. Meskipun mereka menghilang ke Utara, namun kemudian mereka akan terbang kearah yang lain.”

Manggada dan Laksana yang memandang kedua ekor burung itu sampai hilang dikejauhan, mengangguk-angguk. Burung-burung elang yang terlatih baik itu seakan-akan memang mampu memperhitungkan sikap yang diambilnya.

Demikian kedua ekor burung elang itu hilang, maka Ki Pandi-pun telah mengajak Manggada dan Laksana melihat sebuah padukuhan yaag pernah dikunjunginya, justru ketika sedang berlangsung upacara disaat bulan sedang purnama.

“Tetapi tentu tidak ada upacara disiang hari, Ki Pandi” berkata Manggada.

“Memang tidak” berkata Ki Pandi, “di malam haripun tidak, karena upacara itu resminya hanya dilakukan setiap purnama. Beberapa hari yang lalu, di padukuhan itu baru saja dilakukan sebuah upacara sebagaimana di katakan Ki Sambi Pitu yang mendapat keterangan dari seorang anak muda.”

“Jadi, apa yang akan kita lakukan?” bertanya Ki Pandi.

“Kita akan dapat berbincang dengan penghuni padukuhan itu. Mumpung masih agak pagi.” jawab Ki Pandi.

Bertiga mereka menuju ke sebuah padukuhan yang pernah dikunjungi oleh Ki Pandi. Mereka tidak langsung menuju ke padukuhan. Tetapi mereka pergi kesebuah sungai diluar padukuhan itu.

Dari kejauhan Ki Pandi melihat beberapa orang perempuan sedang mencuci pakaian. Karena itu, maka katanya, “Nanti saja. Jika yang lain telah pergi.”

“Maksud Ki Pandi?” bertanya Manggada, “apakah kita harus mengintip orang mandi dan mencuci pakaian itu?”

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Pandi bertanya, “Apakah upacara itu tidak akan pernah dilakukan di padukuhan ini selama masih ada yang menentangnya?”

“Ah” Ki Pandi mengerutkan dahinya, “tentu tidak. Tetapi duduk sajalah disitu. Aku akan memperlihatkan diri. Bukankah di-sebelah itu jalan penyeberangan yang banyak dilalui orang? Aku akan lewat jalan itu. Nanti, aku beri kalian isyarat.”

Manggada dan Laksana tidak tahu maksud orang tua bongkok itu. Tetapi mereka menurut saja. Keduanya pun kemudian duduk di belakang gerumbul perdu yang tumbuh dibawah sebatang pohon nvamplung yang cukup besar.

“Tentu banyak ular disini” jawab Laksana. Manggada tertawa. Katanya, “Ki Pandi lah yang bertanggung jawab jika kita dipatuk ular.”

Sementara itu, Ki Pandi telah turun ke jalan penyeberangan yang memang banyak dilalui orang yang lewat dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Apalagi setelah hutan Jatimalang ditembus oleh jalan perdagangan yang sengaja dibuat oleh Pajang, agar lingkungan dibelakang hutan Jatimalang itu tidak menjadi terpisah dari lingkungan lainnya.

Seperti yang diharapkan, seorang gadis yang sedang mencuci pakaian di antara beberapa perempuan yang lain telah melihatnya. Beberapa orang perempuan yang lain juga melihat orang bongkok yang lewat itu. Tetapi mereka tidak memperhatikannya. Orang bongkok itu hanyalah salah seorang saja diantara orang-orang lain yang lewat.

Berbeda dengan perempuan-perempuan yang lain, gadis yang pernah ditemui Ki Pandi itu justru memperhatikannya. Orang bongkok itu tiba-tiba saja terasa sebagai seorang kawan yang akrab. Berbeda dengan orang-orang di padukuhannya, orang bongkok itu rasa-rasanya dapat mengerti gejolak perasaannya menanggapi upacara-upacara yang diselenggarakan di padukuhannya. Orang-orang di padukuhannya, bahkan ayah ibunya, tidak lagi mau mengerti, betapa hatinya menjadi ngeri dan ketakutan melihat upacara yang dilakukan di bulan purnama itu.

Ketika perempuan-perempuan dan gadis-gadis yang lain selesai mandi dan mencuci pakaian, maka mereka pun segera bersiap untuk kembali ke padukuhan. Tetapi gadis itu ternyata masih belum selesai. Bahkan iapun berkata kepada perempuan-perempuan yang lain, “Silahkan. Aku masih kurang sedikit. Nanti aku segera menyusul.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, sungai itu menjadi sepi. Hanya tinggal seorang gadis sajalah yang masih mencuci pakaiannya yang sebenarnya sudah bersih.

Seperti yang diharapkan oleh gadis itu, maka orang bongkok itu telah datang mendekatinya. Wajahnya yang kusam itu nampak lunak karena senyumnya.

“Kawan-kawanmu sudah selesai” berkata Ki Pandi.

“Aku belum, kek. Cucianku banyak sekali,” jawab gadis itu.

Ki Pandi tertawa pendek. Katanya, “Aku tahu, kau sudah selesai mencuci. Karena itu, berpakaianlah lebih rapi.”

“Kenapa?” wajah gadis itu tiba-tiba menjadi merah.

“Aku tidak datang sendiri. Aku datang bersama kedua orang, cucuku yang ingin melihat-lihat daerah ini.”

“O” gadis itu memang merapikan pakaiannya yang belum mapan.

“Jangan takut. Kedua cucuku dan aku sendiri ingin berbicara tentang kepercayaan yang berkembang di padukuhanmu. Tetapi jangan cemas. Kami tidak akan berbicara tentang korban-korban yang diserahkan.”

Gadis itu mengerutkan dahinya. Namun, laki-laki bongkok itu rasa-rasanya mengerti perasaannya yang sebenarnya ingin menolak upacara yang sering diselenggarakan di padukuhannya.

Karena itu, maka gadis itu mengangguk. Tetapi iapun kemudian berkata, “tetapi aku tidak dapat berlama-lama disini. Kawan-kawanku sudah pulang. Ibu akan bertanya kepada mereka, kenapa aku tinggal.”

“Baiklah. Aku akan memanggil kedua orang cucuku”

Gadis itu menunduk dalam-dalam. Wajahnya terasa panas ketika Manggada dan Laksana berdiri beberapa langkah disebelahnya. Di padukuhannya juga ada beberapa orang anak muda. Ketika gadis itu masih remaja, maka ia pun sering bermain-main dengan anak-anak laki-laki yang sebaya. Tetapi setelah ia menginjak dewasa, maka pergaulannya dengan anak-anak muda menjadi semakin terbatas.

Ketika kepercayaan hitam yang terdahulu berkembang, ia masih dapat bermain bersama di halaman jika bulan terang. Hanya saat buian purnama penuh, beberapa orang tua pergi ke upacara. Sedangkan sehari-hari, masa remajanya tidak begitu terpengaruh oleh kepercayaan yang sedang berkembang itu.

Namun ketika ia sudah mulai disebut seorang gadis, maka ia mulai mendapat batasan-batasan bergerak. Bukan saja karena ia dijauhkan dari anak-anak muda. Tetapi dalam keadaan yang memaksa, tiba-tiba saja seorang gadis dapat hilang dari lingkungannya.

Gadis itu tidak banyak mengetahui, apa yang telah terjadi. Namun baru kemudian ia menyadari, bahwa ilmu hitam dibawah pengaruh Panembahan Lebdagati, didalam upacara-upacara besarnya telah mengorbankan gadis-gadis. Gadis-gadis yang diambil dan dibeli dari seberang hutan Jatimalang. Tetapi jika gadis itu tidak didapatkannya, maka gadis dari lereng Gunung Lawu dibelakang hutan Jatimalang itu dapat saja tiba-tiba hilang.

Memang mengerikan, tetapi ia tidak pernah mengetahui apa yang terjadi.

Sedang apa yang dialaminya sekarang, membuat jiwanya tersiksa. Bersama orang-orang sepadukuhan, gadis itu harus pergi ke upacara. Ia harus menyaksikan, bagaimana seekor anak binatang diletakkan diatas seonggok kayu kering dan kemudian dinyalakan. Anak binatang itu berteriak-teriak kesakitan. Tetapi api itu sama sekali tidak mengenal belas kasihan. Bahkan orang-orang yang melakukan upacara itu juga tidak mengenal belas kasihan. Semua orang yang ada di lingkungan upacara itu seakan-akan telah kehilangan perasaannya.

Untuk beberapa saat lamanya Manggada, Laksana dan Ki Pandi bercakap-cakap dengan gadis itu. Tetapi sikap gadis itu menjadi jauh berbeda dengan sikapnya terhadap Ki Pandi. Wajahnya selalu menunduk dan kata-katanya hampir tidak dapat didengar.

Tetapi gadis itu sempat berkata, “Didalam lingkungan upacara, maka segala keterbatasan pergaulan itu dilupakan.”

“Maksudmu?” bertanya Ki Pandi.

Gadis itu bdak menjawab. Tetapi ia berusaha untuk menyembunyikan wajahnya. Gadis itu berpaling. Dipandanginya air sungai yang mengalir gemericik dibawah kakinya yang berpijak pada bebatuan. Beberapa lembar daun kering hanyut mengikuti aliran sungai.

“Sudahlah, kek” berkata gadis itu kemudian, “aku sudah terlalu lama ditinggalkan kawan-kawanku.”

Ki Pandi tidak menahannya. Namun ketika gadis itu beranjak dari tempatnya, Ki Pandi bertanya, “Siapa namamu, ngger?”

Gadis itu berpaling. Tetapi ia ragu. Apalagi ketika tatapan mata Laksana yang tajam seakan-akan menusuk sampai ke jantung.

Namun gadis itu kemudian berkata, “Namaku Delima, kek.”

Ki Pandi tersenyum. Katanya, “Nama yang bagus, ngger.”

“Ketika ibu mengandung aku, ibu memang mengidam buah delima. Kemudian selain membeli delima, ayah juga menanam pohon delima di halaman rumahku. Sekarang pohon itu sudah berbuah.”

“Manis sekali” desis Laksana. Namun kemudian tergesa-gesa ia menyambung, “Maksudku, buah delima yang benar-benar masak itu rasanya manis sekali.”

Wajah gadis itu terasa panas sesaat. Namun kemudian ia pun meninggalkan tepian itu.

Beberapa langkah kemudian Ki Pandi menyusul ketika Laksana berbisik, “Dimana rumahnya, Ki Pandi.”

“Ngger, apakah angger tidak berkeberatan jika aku datang menemui orang tuamu untuk berbicara tentang upacara-upacara yang mengerikan itu?”

“Ayah merupakan salah seorang pendukung kuatnya, kek. Juga paman-pamanku. Bahkan seorang diantara kakak ayahku berada di padepokan itu.”

“Apakah ia sering pulang ke padukuhan?” bertanya Ki Pandi.

“Sering, kek. Tetapi waktunya tidak tentu,”-jawab gadis itu.

“Baiklah. Aku akan mengunjungi rumahmu. Tetapi dimana rumahmu itu?”

“Rumahku berseberangan dengan banjar padukuhan, kek. Tetapi jika kakek pergi kesana. jangan katakan, bahwa kita pernah berbicara tentang kepercayaan itu.”

“Baiklah” Ki Pandi mengangguk-angguk, “aku akan menjaga, agar kau tidak mengalami kesulitan karena pembicaraan ini.

Delimapun segera melangkah pergi. Manggada sambil menggamit Laksana berkata, “Nah, rumahnya didepan banjar. Kapan kau akan kesana?”

“Ah, kau. Bukankah wajar bertanya rumah seseorang yang baru dikenalnya?” jawab Laksana.

“Tentu. Apakah aku tadi mengatakan tidak wajar?”

“Kau selalu begitu” desis Laksana.

Manggada tertawa. Namun kemudian ia bertanya, “Laksana, yang manakah yang lebih cantik. Winih atau Delima.”

Laksanapun tetawa. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah, Ki Pandi telah mengajak Manggada dan Laksana meninggalkan tempat itu. Dari kejauhan mereka melihat bangunan khusus yang dipergunakan untuk upacara menyerahkan torban. Tetapi mereka tidak mendekat.

Malam itu, dirumah Ki Ajar Anggara, beberapa orang sedang berbincang. Pada umumnya, mereka ingin berhubungan dengan isi padepokan itu.

“Jika kita berhasil berhubungan dengan mereka, maka kita akan mengetahui, siapakah mereka itu. Dengan demikian, maka kita akan dapat menentukan langkah lebih jauh.”

“Tetapi kita jangan bersikap bermusuhan” berkata Ki Ajar, “jika kita bersikap bermusuhan, maka segala-galanya leniu sudah tetutup.”

“Ya” desis Ki Lemah Teles, “kita harus bersikap bersahabat.

“Kita tidak boleh dengan serta-merta menantang perang tanding dengan pemimpin padepokan itu.” berkata Ki Sambi Pitu.

Ki Jagaprana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun tertawa. Ki Ajar memang terlambat pula tertawa. Namun Ki Lemah Teles berkata, “Apa pedulimu? Semua orang akan aku tantang sampai pada satu saat ada orang yang mampu membunuhku.”

“Ada banyak orang yang dapat membunuhmu. Tetapi orang-orang itu menaruh belas kasihan kepadamu, justru karena kau kehilangan akal seperti itu.”

“He?” wajah KiLemah Teles berkerut. Dengan nada dalam ia justru bertanya, “Apakah aku memang pantas dikasihani?”

“Tidak. Memang tidak” sahut Ki Ajar Pangukan.

Ki Lemah Teles bersungut-sungut. Tetapi kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam.

Dalam pada itu, orang-orang tua itu pun kemudian telah memutuskan untuk mulai berhubungan dengan orang-orang padepokan itu dengan cara apapun. Dengan demikian, maka mereka akan dapat mengetahui, apakah isi dari padepokan itu.

Yang paling baik dipergunakan sebagai alasan adalah, bahwa mereka ingin mendapatkan hasil bumi atau hasil kerajinan tangan di daerah ini untuk dibawa ke Pajang. Mereka harus menganggap bahwa di daerah yang semula tertutup ini tentu terdapat banyak sekali jenis pekerjaan tangan.

Sebenarnyalah, Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles kemudian mempersiapkan kuda-kuda mereka. Meskipun letak padepokan itu tidak jauh sekali dari tempat tinggal Ki Ajar yang tersembunyi, tetapi berkuda mereka akan nampak lebih mapan.

Di keesokan harinya dua orang berkuda telah meninggalkan halaman rumah Ki Ajar Pangukan. Mereka harus menyusup melalui jalan yang khusus. Sedikit melingkar-lingkar untuk dapat keluar dari tempat yang tersembunyi itu.

Baru kemudian mereka turun ke jalan dan melarikan kuda mereka memanjat kaki Gunung Lawu.

Keduanya telah sepakat untuk mengaku sebagai pedagang yang mencari barang dagangan di daerah yang semula dipisahkan oleh hutan Jatimalang itu.

Keduanya dengan tekad bulat menuju ke sebuah padepokan yang tidak mereka kenal sebelumnya, padepokan yang seakan-akan berdin dibelakang kabut sehingga yang nampak hanyalah bayangannya saja.

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles memang sudah bertekad untuk melihat apa yang ada didalam padepokan itu. Mereka dengan tabah akan menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.

“Mungkin kita akan ditangkap dan dibantai didalam padepokan yang berisi orang-orang dari aliran hitam itu.” berkata Ki Lemah Teles.

“Atau kita akan diserahkan sebagai korban kepada iblis sebagaimana anak binatang yang diletakkan diatas seonggok kayu kering dan kemudian mereka nyalakan, sehingga kita akan terbakar hidup-hidup.” sahut Ki Sambi Pitu.

Ki Lemah Teles tertawa. Katanya, “Tetapi sebelumnya kita tentu akan dipelihara sebaik-baiknya sampai saatnya purnama naik. Bukankah korban itu hanya diberikan setiap bulan purnama penuh.”

Ki Sambi Pitu pun tertawa. Katanya, “Bukankah itu lebih baik daripada kita saling membunuh diantara kita sendiri? Jika kita mati dipadepokan orang berilmu hitam itu, rasa-rasanya kematian kita ada juga gunanya, meskipun hanya sedikit”“

Ki Lemah Teles segera memotongnya, “Cukup. Cukup. Kau hanya akan mengatakan bahwa aku telah melakukan kesalahan dan bahkan pantas dikasihani. Tetapi jangan mengira bahwa kelak aku mengurungkan tantanganku untuk berperang tanding. Bukan hanya kau, tetapi orang-orang yang telah membuat hidupku kesepian.”

Tetapi Ki Sambi Pitu tertawa pula. Katanya, “Apakah kita masih akan dapat keluar dari padepokan itu?”

Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Aku akan menantang pemimpin padepokan itu untuk berperang tanding. Orang itu harus tahu, siapakah Ki Lemah Teles.”

“Bukankah kita tidak akan menunjukkan sikap permusuhan?”

“Kita memang tidak. Tetapi jika mereka memaksakan permusuhan itu, apa boleh buat.”

Ki Sambi Pitu tidak menjawab. Sementara itu, keduanya menjadi semakin dekat dengan padepokan yang belum mereka kenal itu.

Sejak hutan Jatimalang dibuka, maka orang-orang yang belum dikenal, memang sering melintasi jalan-jalan di kaki Gunung Lawu itu. Hubungan antara dua lingkungan sebelah menyebelah hutan Jatimalang itu berjalan semakin lama semakin ramai. Namun perkembangan ilmu hitam itu membuat beberapa daerah yang terpengaruh, menjadi agak tertutup kembali.

Tetapi ketika dua orang berkuda lewat di jalan-jalan pedu-kuhan, orang-orang yang melihat mereka tidak terlalu banyak memperhatikan. Mereka memang sudah mengira bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang ingin melihat-lihat lingkungan dibelakang hutan Jatimalang sebagaimana sering terjadi sebelumnya.

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles pun memanjat terus menuju ke padepokan dari sebuah perguruan yang melandasi ajarannya dengan ilmu hitam.

Beberapa saat kemudian, maka Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itupun menjadi semakin dekat dengan padepokan yarig mereka tuju. Mereka telah berada di jalan yang langsung menuju ke pintu gerbang padepokan yang berdinding kayu-kayu utuh bulat yang dirangkai berjajar rapat.

“Sebuah padepokan yang terhitung besar” desis Ki Sambi Pitu.

“Bukan besar. Yang jelas kita lihat, padepokan ini cukup luas. Agaknya didalamnya terdapat bangunan-bangunan besar dan kecil bagi para.penghuninya” sahut Ki Lemah Teles.

Ki Sambi Pitu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, “Marilah. Kita sudah bertekad untuk masuk kedalamnya.”

Demikianlah, kedua orang itu pun langsung melarikan kudanya ke pintu regol padepokan yang tertutup.

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles menghentikan kuda mereka didepan regol. Mereka melihat pada pintu regol, sebuah lubang yang kemudian telah dibuka dari dalam.

Dari lubang itu, Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles melihat wajah seseorang yang nampaknya memang garang sekali. Seorang yang bermata tajam dan berkumis tebal.

Ki Sambi Pitu yang tepat berada di muka lubang itu pun mengangguk sambil tersenyum. Katanya, “Selamat pagi Ki Sanak.”

Orang yang berada dibelakang pintu itu bertanya dengan nada berat, “Siapakah kalian dan untuk apa kalian kemari?”

“Kami datang dari seberang hutan Jatimalang, Ki Sanak. Kami ingin berkenalan dengan penghuni padepokan ini.” jawab Ki Sambi Pitu.

Wajah orang itu nampak berkerut. Dipandanginya Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles berganti-ganti. Namun kemudian katanya, “Pergilah. Kami tidak memerlukan kalian.”

“Mungkin kalian memang tidak memerlukan kami, Ki sanak. Mungkin kamilah yang memerlukan kalian.” jawab Ki Sambi Pitu.

“Itu urusan kalian.” sahut orang itu, “tetapi pergilah.”

“Maaf Ki Sanak. Kami ingin berbicara serba sedikit. Mungkin kita dapat membuat hubungan yang saling menguntungkan” berkata Ki Sambi Pitu.

“Tidak” jawab orang itu., “Kami tidak membuat hubungan dengan siapapun yang belum kami kenal.”

“Kita dapat memperkenalkan diri” jawab Ki Sambi Pitu.

Tetapi orang itu justru membentak, “Cukup. Pergilah, atau kami akan mengusir kalian.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles saling berpandangan sejenak. Namun Ki Lemah Teleslah yang kemudian berkata, “Bagaimana kalau kita mencoba untuk berbicara dan menjajagi segala kemungkinan?”

“Sudahlah. Pergilah. Aku menjadi muak melihat wajah kalian berdua.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles menjadi kehilangan harapan. Meskipun demikian, keduanya tidak segera pergi sehingga orang dibelakang pintu gerbang itu memoantak, “Cepat, pergi, apalagi yang kalian tunggu?”

Ketika keduanya benar-benar akan meninggalkan tempat itu, maka tiba-tiba saja terdengar suara didalam, “Ada apa?”

“Dua orang yang ingin masuk ke padepokan ini, Kiai.”

“Untuk apa?” bertanaya suara itu.

“Tidak jelas. Mereka hanya menyebutkan, ingin membuat hubungan dengan kita disini.”

“Hubungan apa?” bertanya suara itu.

“Juga tidak jelas” jawab orang yang berkumis tebal itu.

Namun Ki Sambi Pitu mempergunakan kesempatan itu. Katanya hampir berteriak, “Kami ingin membuat hubungan yang saling menguntungkan kedua belah pihak.”

Sejenak suasana menjadi hening. Namun tiba-tiba terdengar suara, “Buka pintu gerbangnya. Biarlah dua orang itu masuk.”

Orang yang wajahnya nampak dari lubang pintu gerbang yang masih terbuka itu nampak ragu-ragu. Tetapi suara didalam itu berkata sekali lagi, “Buka pintu gerbang. Aku ingin bertemu dengan mereka.”

Tidak terdengar jawaban. Namun sejenak kemudian, terdengar selarak pintu yang berat itu terangkat. Kemudian, perlahan-lahan pintu itupun terbuka.

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles terkejut. Ternyata dibelakang pintu itu berdiri beberapa orang yang bersenjata telanjang. Kemudian seorang lagi yang berdiri terpisah. Pakaiannya nampaknya agak berbeda dengan yang iain. Warna pakaiannya lebih cerah dan penampilannya pun nampak lebih rapi dan bersih. Meskipun demikian laki-laki itu nampak tidak muda lagi meskipun belum setua Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles.

“Marilah Ki Sanak” berkata orang itu sambil tersenyum, “aku merasa mendapat kehormatan, karena Ki Sanak bersedia singgah di padepokan yang tidak berarti ini.”

“Terima kasih atas perkenan Ki Sanak, menerima kami berdua” jawab Ki Sambi Pitu.

Orang yang berpakaian rapi itupun kemudian telah mempersilahkan Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles untuk naik ke-pendapa.

Dengan ramah orang berpakaian rapi itu pun kemudian telah mengucapkan selamat datang kepada kedua orang tamunya.

“Kami jarang sekali mendapat kunjungan orang lain” berkata orang berpakaian rapi itu, “sehingga karena itu, maka orang-orangku menjadi sulit untuk bergaul. Tetapi kunjungan kalian berdua akan membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi padepokan kami.”

”Kami mengucapkan terima kasih atas penerimaan yang sangat baik ini” berkata Ki Lemah teles kemudian.

“Tetapi, jika aku boleh mengetahui, apakah keperlu-an Ki Sanak berdua ini sebenarnya?” bertanya orang itu.

“Sudah aku katakan, kami sebenarnya sedang mencari hubungan dagang dengan penghuni dibelakang hutan Jatimalang ini.”

“Di belakang? Kemana sebenarnya hutan itu menghadap?” bertanya orang berpakaian rapi itu.

“Maksudku, mereka yang tinggal di kaki Gunung Lawu yang dibatasi oleh hutan Jatimalang. Maaf, orang-orang diseberang hutan itu menyebut daerah ini, dibelakang hutan Jatimalang.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Sebenarnya bagi kami memang tidak ada bedanya. Sebutan apapun dapat kami terima asal sebutan itu menunjuk dengan jelas.” orang itu berhenti sejenak, lalu, “dagang apakah yang Ki Sanak jalankan sekarang?”

“Apa saja” jawab Ki Sambi Pitu, “tetapi yang terutama adalah hasil bumi dan kerajinan tangan. Aku dengar didaerah ini terdapat kelebihan bahar, pangan padi, jagung dan ketan. Tetapi kami juga ingin membeli gerabah dalam jumlah yang besar.”

Orang itu tertawa pendek. Katanya, “Jika demikian, kenapa kalian pergi ke sebuah padepokan?”

“Biasanya padepokan mempunyai tanah yang luas digarap oleh para cantrik, sehingga kadang-kadang hasilnya cukup melimpah dan berlebihan. Demikian pula para cantrik sering membuat benda-benda lain yang menjadi kebutuhan sehari-hari apapun ujudnya Mungkin oarang-barang kerajinan dari bambu atau dari kayu atau gerabah atau apapun.”

Orang yang berpakaian rapi itu ternyata seorang yang berhati terbuka. Ia banyak tertawa dan mengatakan apa yang dipikirkan.

“Ki Sanak berdua” berkata orang itu kemudian, “aku tidak yakin kalian benar-benar seorang pedagang. Mungkin kalian berdua sedang bertualang, tetapi mungkin pula kalian memang ingin melihat apakah yang ada dibelakang dinding padepokan ini. Tetapi itu bukan soal bagi kami, selama kalian tidak mengganggu semua kegiatan yang kami lakukan.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Ki Lemah Teles itupun berkata, “Ki Sanak. Kami benar-benar pedagang yang sedang mencari lubang-lubang kemungkinan untuk membuka jalur perdagangan. Kami sedang menjajagi, apa yang dapat kami bawa dari daerah ini ke seberang hutan Jatimalang dan sebaliknya apa yang dapat kami bawa dari seberang hutan itu kedaerah ini.”

Orang itu masih saja tertawa. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Siapakah nama kalian berdua?.”

“Namaku Sambi Pitu dan saudaraku ini dipanggil Ki Lemah Teles.”

“Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles, “orang itu mengulang, “nama yang baik.”

“Tetapi kami juga belum mengetahui nama Ki Sanak” desis Ki Sambi Pitu.

“Namaku Gandawira. Tetapi orang lebih senang memanggilku Kiai Banyu Bening”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba Ki Lemah Teles bertanya, “Jadi, menurut Kiai, bagaimana sebaiknya kami memanggil? Kiai Gandawira atau Kiai Banyu Bening?”

Orang itu tertawa pula. Katanya, “Terserah Ki Sanak. Tetapi murid-muirdku di padepokan ini memanggilku Kiai Banyu Bening. Bahkan orang-orang disekitar padepokan ini juga memanggilku Kiai Banyu Bening.”

“Maksud Kiai, orang-orang disekitar padepokan ini juga berguru kepada Kiai?”

“Ya. Tetapi itu terjadi begitu saja. Maksudku, bukan akulah yang memaksa mereka untuk mengikut aku, tetapi mereka sendiri berniat demikian.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itupun mengangguk-angguk pula. Sementara Kiai Banyu Bening itupun berkata, “Nah Ki Sanak. Kalian telah melihat isi padepokan kami. Tetapi jika kalian benar-benar berdagang, tidak ada yang dapat kami perdagangan disini.”

“Maksudku, jika kami tidak dapat membeli hasil bumi atau hasil kerajinan, kami dapat menawarkan barang-barang yang dibutuhkan oleh padepokan ini? Misalnya alat-alat pertanian atau barang-barang yang terbuat dari besi dan baja lainnya. Senjata misalnya.”

Kiai Banyu Bening mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia menggeleng. Katanya, “Sampai sekarang, kami dapat mencukupi kebutuhan kami sendiri. Tetapi aku tidak tahu kelak, jika padepokan kami ini berkembang. Mungkin kami memerlukan beberapa jenis senjata. Meskipun demikian, kami tidak akan membeli dari kalian. Kami dapat mengirim orang langsung ke seberang hutan Jatimalang untuk menghubungi beberapa orang pande besi yang cakap. Dengan demikian, kami akan dapat membeli senjata dengan harga yang lebih murah. Jika kalian benar-benar pedagang, kalian tentu akan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya.”

“Tetapi Kiai Banyu Bening, sebaiknya kalian tidak membeli senjata kepada pande besi. Kiai Banyu Bening harus berhubungan dengan seorang Empu yang mampu membuat pusaka yang pantas bagi Kiai Banyu Bening dan murid-murid Kiai.”

Kiai Banyu Bening tertawa berkepanjangan. Katanya, “Jangan ajari aku Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles. Aku memimpin padepokan bukannya baru sejak kemarin pagi. Tetapi sudah berpuluh tahun. Karena itu, aku tahu apa yang sebaiknya aku lakukan.”

Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk. Sementara Ki Lemah Teles berkala, “Maafkan Kiai. Kami hanya bermaksud agar dagangan kami dapat laku.”

“Nah, aku sudah memberi kesempatan kepada Ki Sanak berdua untuk memasuki padepokan kami. Nampaknya tidak ada lagi yang akan kita bicarakan kemudian. Kami akan memper-silahkan Ki Sanak untuk meninggalkan padepokan ini.”

“Baiklah Kiai” jawab Ki Sambi Pitu, “kami mohon diri.”

“Kesempatan seperti ini jarang sekali kami berikan kepada orang lain. Karena itu, kalian berdua tentu merasa beruntung dapat memasuki padepokan kami.”

“Ya, ya” jawab Ki Lemah Teles, “Kami memang merasa sangat beruntung”

“Nah, sekarang kami persilahkan kalian meninggalkan padepokan kami.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itu pun kemudian telah turun dari pendapa. Namun ketika mereka berada di halaman, mereka terhenti sejenak. Mereka tertarik pada sebuah bangunan yang menarik. Seperti yang pernah mereka lihat di padukuhan, sebuah bangunan batu yang ditata dengan baik. Lebih baik dan lebih besar dari bangunan serupa yang terdapat di padukuhan-padukuhan itu. Dibagian atasnya datar, sedangkan di ampat sisinya terdapat tangga untuk naik. Disebelah bangunan itu terdapat bangunan lain yang lebih tinggi. Namun yang menarik, diatas bangunan batu yang lebih tinggi itu terdapat batu nisan kecil.

Kiai Banyu Bening yang mengetahui bahwa kedua tamunya tertarik kepada kedua bangunan yang terbuat dari batu itu bertanya, “Apakah kalian belum pernah melihat bangunan kecil seperti itu?

“Belum Kiai” jawab Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles hampir berbareng.

Tetapi Kiai Banyu Bening itu menyahut, “Kalian tentu sudah pernah melihat di sebuah padukuhan. Bangunan seperti itu, tetapi lebih kecil, terdapat di beberapa padukuhan. Biasanya ditempatkan diluar dinding padukuhan, dipagari cukup rapat, sehingga jika diselenggarakan upacara didalamnya, tidak akan terganggu oleh lingkungan diluarnya.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Ki Lemah Teles bertanya, “Lalu apa yang dilakukan oleh orang-orang padukuhan itu dalam upacara tertutup itu?”

Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian sebagaimana sejak semula, orang itu tertawa lagi. Katanya, “Kau tidak akan mengetahui makna dari upacara yang kami lakukan karena kau tidak berpegang pada ilmu yang kami yakini.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles masih mengangguk-angguk. Tetapi Ki Lemah Teles itu bertanya lagi, “Lalu, apa artinya batu nisan kecil diatas bangunan yang agak tinggi itu?”

Wajah orang itu tiba-tiba menjadi suram. Katanya dengan nada rendah, “Itu adalah bangunan khusus yang sangat berarti bagiku pribadi. Yang dikuburkan dibawah bangunan itu adalah anakku. Anakku mati dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Pada umur satu tahun, anakku mati terbakar.”

“O” Ki Sambi Pitu berdesis, “Aku ikut berduka cita atas peristiwa itu. Tetapi bagaimana hal itu dapat terjadi?”

“Serangan itu datang demikian tiba-tiba. Ketika aku sedang bertempur, musuh-musuhku yang licik itu telah membakar rumahku Rumahku terbakar seisinya termasuk anakku,”

“Bagaimana dengan ibunya?” bertanya Ki Lemah Tcles.

Kesuraman diwajah Kiai Banyu Bening itu tiba-tiba larut. Yang kemudian nampak diwajahnya adalah senyumnya. Katanya, “Isteriku adalah perempuan gila. Yang datang membakar rumahku itu adalah laki-laki yang membuatnya gila. Ia lari dengan laki-laki itu dengan meninggalkan bayinya yang belum genap setahun. Bahkan kemudian dengan tidak langsung, ia telah membunuh bayi itu dengan tangan laki-laki yang buas itu. Bayiku mati dalam nyala api. Aku masih sempat mendengar bayi itu menangis meraung-raung. Namun kemudian aku sendiri menjadi pingsan. Lukaku arang kranjang. Bahkan laki-laki itu dan kawan-kawannya menyangka bahwa aku telah mati.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles mengangguk-angguk kecil. Sementara Kiai Banyu Bening itu berkata selanjutnya, “Waktu itu suara tangis bayiku itu bagaikan menarik nyawaku iewat ubun-ubunnya. Mengerikan sekali.” orang itu berhenti sejenak, namun kemudian katanya sambil tertawa berkepanjangan, semakin lama semakin keras, “tetapi sekarang suara tangis bayi yang terbakar itu bagiku bagaikan lagu yang sangat merdu yang terdengar bergema dilangit yang didendangkan oleh peri-peri yang sangat cantik sambil melambai-lambaikan tangannya turun kebumi untuk mengusap seluruh tubuhku yang dihangatkan oleh api yang berbau mayat itu.”

Wajah Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles menjadi tegang. Kengerian yang pernah dibayangkan sebelumnya itu rasa-rasanya semakin nampak menerawang di kepala mereka.

Namun Kiai Banyu Bening itu masih saja tertawa berkepanjangan. Bahkan kemudian katanya, “Laki-laki yang telah membawa isteriku itu dan bahkan isteriku itu sendiri harus mati didalam nyala api. Mereka telah membunuh anakku. Anakku bagiku adalah segala-galanya.”

Suara tertawa laki-laki itu terdiam. Ketika Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles memandang wajahnya, mereka terkejut. Di wajah itu tidak lagi membayang tawa dan senyum. Tetapi yang nampak adalah nyala api neraka disorot matanya.

Tiba-tiba saja orang itu menggeram, “pergilah. Kau sudah terlalu banyak mengetahui tentang isi padepokan ini, yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh orang lain. Jangan kembali lagi. Kau telah melanggar paugeran padepokan kami.”

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles tidak menjawab. Keduanya telah melangkah ke kuda mereka. Kemudian keduanya telah menuntun kuda mereka ke pintu gerbang

Pintu gerbang itupun terbuka. Orang yang berwajah garang, bermata tajam dan berkumis tebal itu berdiri dengan tegang di sebelah pintu. Beberapa orang dengan senjata telanjang tegak mematung memandangi Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles yang lewat sambi! menuntun kudanya.

Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya telah berpacu meninggalkan padepokan yang menyimpan seribu macam pertanyaan itu.

Sambil melarikan kuda mereka, untuk keduanya menjauhi padepokan itu, Ki Sambi Pitu itupun berkata, “Ternyata kita masih beruntung dapat keluar dari padepokan itu.”

“Yang kita cemaskan itu ternyata tinggal menunggu waktu saja.” berkata Ki Lemah Teles.

“Mengerikan sekali” sahut Ki Sambi Pitu., “Kita memang harus menghentikannya” desis Ki Sambi Pitu kemudian.

“Nampaknya Kiai Banyu Bening itu menderita semacam penyakit yang sangat berbahaya” berkata Ki Lemah Teles kemudian.

“Penyakit apa?”“bertanya Ki Sambi Pitu.

“Hatinya telah dicengkam oleh dendam yang membara. Kematian anaknya tidak pernah diikhlaskannya, sehingga hidupnya menjadi sangat gersang. Ia ingin menuntut kematian anaknya dengan kematian dan kematian.”

“Itulah yang membayangi upacara hitam yang dilakukan oleh para pengikutnya” berkata Ki Sambi Pitu, “apa yang terjadi sekarang, adalah semacam pemanasan. Pada saatnya, maka bayi-bayilah yang akan menjadi korban. Orang gila itu akan merasa sangat berbahagia mendengar jerit tangis bayi yang dikorbankannya, sebagaimana dikatakannya, seperti kidung yang didendangkan oleh peri-peri yang cantik, tetapi tidak dilangit. Peri-peri itu bangkit dari pusat bumi yang kelam yang membawakan lagu-lagu kematian.” Ki Sambi Pitu berhenti sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Tetapi sayang, bahwa Kiai Banyu Bening tidak menantang orang-orang yang terlibat kematian bayinya dengan perang tanding.”

“Aku bungkam mulutmu jika kau masih saja mengigau tentang perang tanding.” geram Ki Lemah Teles.

Ki Sambi Pitu tertawa. Namun ia menjauhkan kudanya dari kuda Ki Lemah Teles yang menggeram.

Namun kedua orang itu terkejut ketika mendengar derap kaki kuda. Ketika mereka berpaling, mereka melihat ampat ekor kuda yang berpacu seperti di kejar hantu.

“Siapa mereka?” bertanya Ki Lemah Teles.

“Berhati-hatilah. Kiai Banyu Bening menganggap kita terlalu banyak tahu.”

“Setan itu melepaskan kita dari padepokan, tetapi kemudian memerintahkan orang-orangnya memburu kita.”

Keduanya justru memperlambat derap kaki kuda mereka, seakan-akan mereka justru sengaja menunggu keempat orang berkuda itu.

“Kita belum tahu siapa mereka dan untuk apa mereka memburu kita. Tetapi sebaiknya kita tidak berprasangka buruk lebih dahulu. Mungkin mereka bukan dari padepokan Kiai Banyu Bening.” berkata Ki Sambi Pitu kemudian.

Dalam pada itu, keempat orang berkuda itu memacu kudanya . semakin cepat. Ketika mereka berhasil menyusul Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles yang memang memperlambat derap lari kudanya, maka dua orang diantara mereka justru mendahului. Kemudian setelah keduanya berada di depan, maka mereka memberi isyarat, agar Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itu berhenti.

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles yang sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan itupun menarik kendali kuda mereka sehingga sejenak kemudian, merekapun telah berhenti.

“Turunlah” perintah salah seorang diantara kedua orang yang mendahului Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles.

Ternyata orang itu adalah orang yang berwajah garang, bermata tajam dan berkumis tebal, yang berada dipintu gerbang padepokan Kiai Banyu Bening itu.

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itupun kemudian meloncat turun dari kuda mereka. Dengan tenang keduanya telah mengikat kuda mereka pada sebatang pohon perdu.

Demikian pula keempat orang yang memburu mereka. Keempat-empatnyapun telah meloncat turun serta mengikat kuda-kuda mereka pula.

“Ki Sanak” berkata orang berkumis tebal itu. Suaranya mengguntur menggetarkan selaput telinga, “ternyata kalian terlalu banyak bertanya, sehingga kalian pun mengetahui banyak tentang padepokan kami.”

‘“Tetapi bukankah Kiai Banyu Bening menjawab pertanyaan-pertanyaanku” sahut Ki Sambi JPitu.

“Kiai Banjar Bening kadang-kadang memang kehilangan kendali. Jika seseorang memancing dengan pertanyaan-pertanyaan, maka diluar sadarnya, iapun selalu menjawabnya.”

“Jadi?” bertanya Ki Lemah Teles.

“Pengertianmu yang banyak tentang padepokan kami akan sangat membahayakan kami. Karena itu, maka kalian tidak boleh menyebarkan apa yang telah kalian ketahui itu kepada orang lain.” berkata orang berkumis tebal itu.

Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kami berjanji untuk tidak menyebar-luaskan pengertian kami tentang padepokan Kiai Banyu Bening.”

“Sekedar janji sebagaimana kau katakan itu, tidak cukup Ki Sanak.” berkata orang berkumis tebal itu pula.

“Jadi apa yang harus aku lakukan?”

“Kau harus diam untuk selama-lamanya” jawab orang itu.

“Maksudmu?” desak Ki Lemah Teles.

“Kalian harus dibunuh.”

Kedua orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian Ki Lemah Telespun berkata, “Jika kau akan membunuhku, maka kau akan aku bunuh lebih dahulu.”

Wajah orang itu menjadi tegang. Tetapi kemudian ia pun tertawa. Suaranya meledak-ledak seperti petir yang menyambar-nyambar dilangit.

“He” bentak Ki Lemah Teles, “kenapa kau tiba-tiba menjadi gila?”

Orang itu tiba-tiba saja terdiam. Matanya menyala seakan-akan memancarkan api.

“Kaulah yang benar-benar gila. Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan”

“Tentu saja aku tahu. Kau adalah budak-budak kecil di padepokan orang yang berbangga dengan sebutan Kiai Banyu Bening. He, apakah kau tahu artinya Banyu Bening?”

“Cukup” orang itu berteriak, “sebaiknya kau sebut nama ayah dan ibumu. Sebentar lagi kau akan mati.”

“Sudah aku katakan, kau yang akan mati. Apakah kau tuli” Ki Lemah Telespun berteriak pula.

Namun Ki Sambi Pitu berkata dengan nada yang lebih rendah, “Apa sebenarnya yang terjadi dengan Kiai Banyu Bening? Apakah yang aku ketahui tentang padepokan itu cukup menjadi alasan baginya untuk membunuh?”

“Setiap orang yang tidak dikehendki oleh Kiai Banyu Bening akan mati.” jawab orang itu.

“Ki Sanak” berkata Ki Sambi Pitu, “agaknya peristiwa yang terjadi atas bayi Kiai Banyu Bening itu telah menghantuinya sepanjang hidupnya, sehingga nalar budinya tidak lagi dapat menilai baik dan buruk. Jangankan kehilangan bayinya dengan cara yang sangat mengerikan, sedangkan orang yang merasa kesepian dihari-hari tuanya dapat kehilangan akal pula.”

“Gila kau Sambi Pitu” geram Ki Lemah Telcs. Namun Ki Sambi Pitu itu tidak menghiraukannya.Dengan nada rendah ia berkata selanjutnya, “Apakah Kiai Banyu Bening tidak dapat menemukan isteri serta laki-laki yang mengajaknya pergi itu?”

“Kiai Banyu Bening tidak membutuhkannya lagi.”

“Mereka yang harus bertanggung jawab atas kematian bayi itu. Kiai Banyu Bening tidak seharusnya mencari korban untuk melepaskan kemarahan dan kekecewaannya.”

“Kau tidak usah mengguruinya. Jika keduanya dapat diketemukan, maka ia tentu sudah menuntut tanggung jawab itu. Tetapi keduanya telah menghilang setelah mereka mengetahui bahwa Kiai Banyu Bening masih tetap hidup. Apalagi peristiwa itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu sebelum perguruan Kiai Banyu Bening berdiri.”

“Kau tahu, siapakah nama laki-laki itu?” bertanya Ki Sambi Pitu.

Orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Seandainya aku tahu, tidak ada perlunya aku menyebut dihadapanmu.”

“Baiklah, Ki Sanak. Kau telah melengkapi pengenalanku atas Kiai Banyu Bening. Sekarang perkenankan aku melanjutkan perjalanan” berkata Ki Sambi Bitu.

“Tidak” tiba-tiba orang itu membentak, “kalian berdua tidak akan pernah keluar dari lingkungan dan kuasa kami. Kalian berdua akan mati.”

“Aku bunuh kau” geram Ki Lemah Teles, “kemudian aku tantang Kiai Banyu Bening untuk berperang tanding.”

“Agaknya kau benar-benar gila. Kau kira siapa Kiai Banyu Bening itu, he. Sehingga kau berani menantangnya untuk berperang tanding?” geram orang berkumis tebal itu, “menyebut namanya saja kau harus mendapat ijin dan palilahnya.”

Ki Lemah Teles tertawa. Suaranya meledak-ledak tidak kalah dari suara tertawa orang berkumis tebal itu. Katanya, “Apakah kau kira Kiai Banyu Bening itu memiliki kelebihan? Jika ia benar-benar memerintahkan membunuhku, aku benar-benar akan datang kepadanya dan menantangnya berperang tanding seperti yang aku katakan itu.”

“Kau tidak akan sempat melakukannya. Kau akan mati sekarang juga.”

“Jangan membantah. Kau yang akan mati sekarang. Sayang, kau tidak sempat melihat aku membantai Kiai Banyu Keruh itu besok atau lusa karena kau akan mati. Karena itu, pergilah. Kembalilah kepada Kiaimu itu. Katakan bahwa kau masih ingin hidup untuk melihat bagaimana aku membunuh Banyu Bening yang gila itu.” Ki Lemah Teles berteriak semakin keras.

Wajah orang berkumis tebal itu bagaikan tersentuh api. Karena itu tanpa menjawab lagi, ia pun segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya.

Ketika keempat orang itu bergerak mengepung Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles, maka Ki Lemah Teles itu masih berteriak, “kalian benar-benar gila. Jika kalian mati, jangan salahkan aku.”

Orang berkumis tebal dan berwajah garang itu tidak menjawab lagi. Dengan serta merta, maka ia mulai menyerang Ki Lemah Teles. Sedangkan kawan-kawannyapun mulai bergerak pula mendekati salah seorang dari kedua orang yang telah datang ke padepokan mereka itu.

Sejenak kemudian, pertempuran pun telah berlangsung dengan sengitnya. Orang berkumis tebal yang marah itu segera mengerahkan kemampuannya. Ia benar-benar ingin segera membunuh Ki Lemah Teles yang telah berani menghina pemimpin padepokannya yang sangat dihormatinya.

Agaknya orang berwajah garang dan berkumis tebal itu termasuk salah seorang kepercayaan Kiai Banyu Bening. Karena itu, maka dengan hentakan-hentakan ilmunya ia mampu mengejutkan Ki Lemah Teles. Apalagi seorang kawannya telah membantunya. Seorang yang juga bukan orang kebanyakan.

Sementara itu, dua orang yang lain telah bertempur melawan Ki Sambi Pitu. Keduanya berusaha memecah perhatian Ki Sambi Pitu dengan menyerang dari arah yang berlawanan.

Tetapi Ki Sambi Pitu adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu, maka ia tidak menjadi bingung meskipun dua orang lawannya itu justru berdiri diarah yang bertentangan.

Orang berkumis tebal itu tidak menduga bahwa orang yang mengaku pedagang yang mencari barang-barang dagangan itu untuk beberapa lama mampu mengimbangi ilmunya. Bahkan Ki Lemah Teies itu sekali-sekali justru telah mendesak lawannya meskipun mereka berdua.

Bahkan dengan lantang Ki Lemah Teles itupun berkata, “Nah, sekarang kita akan bertaruh, siapa yang akan terbunuh di pertempuran ini.”

Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Namun Ki Lemah Teles itupun berkata, “Marilah kita letakkan taruhan kita lebih dahulu. Uang, pendok keris atau timang, tetapi harus dari emas seperti timang yang aku pakai ini. Siapa yang tetap hidup boleh memiliki taruhan itu.”

“Setan kau” geram yang berwajah garang dan berkumis tebal itu. Matanya yang tajam bagaikan menyala memandang Ki Lemah Teles yang menantangnya bertaruh itu.

“Baiklah jika kau menolak” berkata Ki Lemah Teles., “nampaknya kau menyadari bahwa kau tidak akan dapat menang meskipun kau dibantu oleh seorang kawanmu.”

Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Tetapi serangan-serangannya datang semakin cepat. Seorang kawannya pun berusaha untuk mengimbangi kecepatan gerak orang berkumis tebal itu. Namun pertahanan Ki Lemah Teles sama sekali tidak terguncang karenanya. Bahkan Ki Lemah Teles yang berilmu tinggi itu semakin lama justru semakin mendesak lawan-lawannya.

Dengan tangkasnya Ki Lemah Teles telah meloncat meng-hindar ketika orang berkumis tebal itu melenting dengan cepat sambil menjulurkan kakinya menyamping. Namun dalam pada itu, lawannya yang lain telah memutar tubuhnya sambil mengayunkan kakinya mengarah kening.

Ki Lemah Teles dengan cepat bergeser kesamping. Tetapi demikian kaki lawannya yang berputar itu hampir menyambar keningnya, maka ia pun segera menjatuhkan diri. Tetapi justru kakinya dengan cepat serta dilambari dengan tenaganya yang besar, menyapu menebas kaki lawannya yang dipergunakannya sebagai tempat bertumpu.

Dengan derasnya, kaki itu bergeser. Justru karena itu, maka orang itu benar benar lelah kehilangan keseimbangannya. Karena itu, maka dengan keras ia telah terbanting jatuh di tanah. Namun dengan cepat pula orang itu melenting berdiri.

Tetapi Ki Lemah Teles bergerak lebih cepat. Ki Lemah Teles justru telah bersiap sepenuhnya. Demikian orang itu bangkit, maka kakinya telah menyambar dada.

Orang itu terdorong beberapa langkah surut. Namun ketika Ki Lemah Teles siap memburunya, maka lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya. Sambil meloncat maju, maka tangannya yang kuat telah terayun kearah pelipisnya.

Namun Ki Lemah Teles bergerak lebih cepat. Dengan loncatan ke samping, maka pukulan tangan itu tidak menyinggung tubuhnya sama sekali.

Dengan demikian, maka kedua orang lawan Ki Lemah Teles itu telah semakin meningkatkan ilmu mereka sampai ke puncak.

Tetapi memang tidak mudah bagi mereka untuk mengalahkan dan kemudian membunuh orang itu.

Dalam pada itu, Ki Sambi Pitu pun telah bertempur melawan dua orang lawannya pula. Dua orang yang memiliki kemampuan untuk bertempur cukup tinggi. Namun keduanya telah benar-benar berada didalam genggaman tangan Ki Banyu Bening. Jadi apa yang dikatakan oleh Ki Banyu Bening bagi mereka adalah paugeran.

Karena itu, mereka sama sekali tidak sempat mempergunakan akal mereka. Ketika Kiai Banyu Bening memerintahkan mereka untuk membunuh, maka mereka pun telah menjalankan perintah itu dengan sebaik-baiknya.

Tetapi lawan yang mereka hadapi adalah Ki Sambi Pitu. Seorang yang benar-benar berilmu tinggi.

Karena itu, maka kedua orang itu pun segera mengalami kesulitan. Betapapun mereka berusaha, tetapi serangan-serangan mereka tidak pernah menyentuh sasaran.

Bahkan kemudian ternyata bahwa serangan Ki Sambi Pitu pun yang justru lebih dahulu mengenai tubuh lawannya.

Seorang dari kedua lawannya itu telah terpelanting ketika tangan Ki Sambi Pitu terayun tepat mengenai tengkuknya.

Orang itu jatuh tersungkur dengan kerasnya. Wajahnya yang terjerembab telah terluka oleh goresan-goresan kerikil yang terserak di jalan. Debu.dan tanah yang melekat membuat wajahnya menjadi kotor dan berdarah.

Tetapi orang itu masih bangkit sambil menggeram. Diusapnya wajahnya dengan tangannya. Sementara mulutnya yang juga berdarah itu mengumpat-umpat.

Ki Sambi Pitu sempat tertawa melihat wajah orang itu. Bahkan sambil bergeser menghindari serangan lawannya yang seorang lagi, ia berkata, “He, darimana kau mendapatkan topeng yang menarik itu?”

“Aku koyak mulutmu” geram orang itu. Ki Sambi Pitu tertawa semakin keras. Katanya, “Jangan terlalu garang. Jagalah agar luka-lukamu tidak terlalu mengeluarkan darah.”

Kemarahan orang itu serasa membakar ubun-ubunnya. Karena itu, maka ia pun telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Sementara kawannya yang seorang lagi telah meloncat menyerang pula.

Pertempuran pun menjadi semakin sengit. Tetapi kedua lawan Ki Sambi Pitu semakin lama menjadi semakin tidak berdaya.

Tetapi keduanya tidak segera menyerah. Hampir berbareng keduanya telah menarik keris mereka dari wrangkanya yang terselip dipunggung.

Ki Sambi Pitu melihat kedua ujung keris itu dengan dada yang berdebar-debar. Setapak ia melangkah surut, sementara lawannya yang wajah tersuruk kedalam tanah itu menggeram, “Kau harus menebus kesombonganmu dengan nyawamu.”

“Kalian telah mendahului mempergunakan senjata” berkata Ki Sambi Pitu.

“Kau mulai menyesali tingkah lakumu.” geram lawannya yang lain.

Ki Sambi Pitu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika kalian tergores ujung kerisku, itu bukan salahku.”

Kedua orang itu justru tertegun melihat Ki Sambi Pitu juga menarik kerisnya. Sebuah keris luk sebelas yang manis buatannya. Pamornya nampak berkeredipan seakan-akan menyalakan cahaya yang kehijau-hijauan.

Tetapi kedua orang itu tidak sempat merenungi senjata lawannya. Ketika keris itu mulai berputar, maka mereka pun segera menyadari, bahwa mereka benar-benar akan bertempur habis-habisan.

Dalam pada itu, Ki Lemah Teles pun telah bertempur dengan garangnya. Kedua lawannya memang tidak banyak mempunyai kesempatan. Beberapa kali serangannya telah mengenai tubuh lawan-lawannya. Meskipun sekali-sekali tubuhnya juga tersentuh serangan lawannya, tetapi serangan itu tidak menggoyahkan pertahanannya.

Orang yang berkumis tebal itu setiap kali harus berdesis menahan sakit. Wajahnya seakan-akan telah menjadi lembab. Beberapa kali tangan Ki Lemah Teles telah mengenai wajahnya, seakan-akan Ki Lemah Teles sengaja menampar mulutnya sehingga berdarah.

Ketika orang berkumis lebat itu melihat kawan-kawannya yang bertempur melawan Ki Sambi Pitu telah menggenggam kerisnya, maka ia pun telah menarik senjatanya pula. Bukan sebilah keris seperti yang lain, tetapi sebilah parang yang besar, sedangkan kawannya memang bersenjata keris sebagaimana yang lain.

Ki Lemah Teles yang melihat lawan-lawannya bersenjata, maka ia pun telah menggenggam senjatanya pula. Seperti senjata Ki Sambi Pitu, maka Ki Lemah Teles telah menggenggam sebilah keris, tetapi lurus dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari kebanyakan keris.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun telah benar-benar sampai kepuncaknya. Serangan-serangan yang akan berhasil menyentuh lawan tidak lagi sekedar membuat tubuh menjadi biru lembab. Tetapi goresan-goresan luka itu akan dapat menitikkan darah. Bahkan jika senjata itu menukik di dada dan menyentuh jantung, maka senjata-senjata itu akan dapat membunuh.

Namun mereka yang bertempur tidak menghiraukannya. Mereka telah mengayun-ayunkan senjata mereka. Orang berkumis tebal itupun telah mengayun-ayunkan parangnya pula.

Tetapi Ki Lemah Teles adalah seorang yang tangkas. Ia mampu dengari cepat menghindari serangan-serangan lawannya. Namun tiba-tiba saja ia meloncat menyerang dengan ujung kerisnya.

Serangan yang datang beruntun dari kedua lawannya membuat Ki Lemah Teles berkeringat. Namun sejalan dengan itu, kemarahannya pun semakin menggigit jantung. Karena itu, maka kcrisnya pun menjadi semakin cepat menyambar-nyambar.

Ternyata orang yang berkumis lebat itu, mengalami banyak kesulitan menghadapi Ki Lemah Teles yang mampu bergerak dengan cepatnya. Sementara kerisnya bergerak melampaui kecepatan geraknya. Karena itu, maka sambil berteriak marah sekali, orang itu meloncat mundur mengambil jarak.

Namun ujung keris lawannya telah tergores dilambungnya.

Goresan itu memang tidak begitu dalam. Sementara itu ikat pinggang orang berkumis lebat yang terbuat dari kulit yang tebal dan lebar itu pun sempat ikut menahan ujung keris Ki Lemah Teles, sehingga goresan itu tidak terlalu panjang dan dalam.

Meskipun demikian, darah sudah mulai tertumpah. Titik-titik darah itu sudah membasahi lereng Gunung Lawu.

Namun pertempuran masih berlangsung terus. Orang berkumis tebal itu tidak berniat menghentikan pertempuran apapun yang terjadi. Sebagai murid kepercayaan Kiai Banyu Bening, maka orang itu tidak akan mundur setapak pun juga.

Ki Lemah Teles menyadari sepenuhnya akan hal itu. Karena itu ia tidak berniat untuk menawarkan kesempatan agar lawannya menyerahkan diri.

Karena itu, maka pertempuran pun segera mencapai puncaknya.

Orang berkumis tebal itu telah mengayun-ayunkan parangnya. Seorang kawannya yang bertempur bersamanya juga telah berusaha untuk menggapai tubuh Ki Lemah Teles dengan ujung kerisnya.

Tetapi bukan tubuh Ki Lemah Teles yang kemudian tergores senjata. Justru tubuh orang berkumis lebat dan kawannya itulah yang menjadi basah oleh darah.

Ki Lemah Teles telah menyelesaikan pertempurannya lebih dahulu. Orang berkumis tebal itu kehilangan kesempatan untuk melawannya ketika keris Ki Lemah Teles mengoyak pangkal paha kanannya. Orang itu seakan-akan tidak mempunyai kekuatan lagi untuk berdiri dan apalagi bertempur. Jika Ki Lemah Teles bergeser, maka orang berkumis tebal itu tidak lagi mampu berbuat sesuatu. Bahkan jika ia berusaha menapak dengan kaki kanannya, maka orang itu justru tidak dapat mempertahankan keseimbangannya.

Sedangkan yang seorang lagi telah terbaring sambil mengerang kesakitan. Keris Ki Lemah Teles telah menggores dadanya menyilang. Tetapi luka itu tidak menghunjam sampai ke jantung.

Ki Sambi Pitu masih bertempur untuk beberapa saat. Tetapi bahwa orang berkumis tebal itu sudah tidak mampu bertempur lagi, maka kedua orang lawan Ki Sambi Pitu pun kehilangan ketegarannya. Mereka pun kemudian telah terluka sebagaimana kedua kawannya yang lain, sehingga keduanya tidak lagi mampu untuk bertempur. Seorang tubuhnya terbaring diatas tanggul parit, sedang seorang lagi terkapar di pinggir jalan.

“Kenapa tidak kau bunuh aku?” teriak orang berwajah garang bermata tajam dan berkumis tebal itu.

“Apakah kematianmu ada artinya bagiku?” bertanya Ki Lemah Teles.

“Kau akan menyesal, karena pada kesempatan lain, akulah yang akan membunuhmu” geram orang itu.

“Kalau kau mampu membunuhku, tentu sudah kau lakukan sekarang ini, justru kau bertempur bersama dengan seorang kawanmu.”

“Lain kali aku akan membawa sepuluh orang kawan jika kau tidak membunuh aku sekarang?”

Ki Lemah Teles tertawa. Katanya, “Kau kira aku tidak mempunyai kawan? Di seberang hutan Jatimalang kawanku ada sepadang rumput yang luas menunggu aku. Jika pada kesempatan lain kau akan membawa sepuluh orang kawanmu, maka aku akan membawa pasukan segelar-sepapan.”

Orang berkumis tebal itu menggeram. Tetapi ia memang sudah tidak berdaya. Bahkan untuk berdiripun rasa-rasanya tidak lagi dapat tegak.

Namun Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu ternyata benar-benar tidak ingin membunuh lawannya. Bahkan Ki Sambi Pitu itu-pun kemudian berkata, “Aku akan memberi isyarat kepada kawan-kawanmu agar datang menjemputmu.”

“Setan kau. Kau sudah menghina aku dan padepokanku” geram orang berkumis lebat itu. Tetapi ia memang menjadi semakin lemah, sehingga ia tidak lagi bergerak terlalu banyak. Apalagi setiap gerakan seakan-akan telah menekan darahnya sehingga mengalir semakin banyak dari lukanya.

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itu pun kemudian telah melepaskan keempat ekor kuda yang semula dipergunakan oleh orang berkumis itu bersama kawan-kawannya. Kuda itu pun kemudian dihadapkan kearah padepokan Kiai Banyu Bening. Seekor demi seekor kuda itu dilecut sehingga berlari kencang menuju ke padepokan.

“Nah” berkata Ki Lemah Teles, “kawan-kawanmu, dan barangkali juga Kiai Banyu Bening akan melihat kedatangan keempat” ekor kuda tanpa penunggang itu, sehingga mereka akan segera mencarimu. Aku berharap bahwa mereka tidak datang terlambat, sehingga jiwa kalian dapat tertolong. Bukankah jarak ini masih belum terlalu jauh dari padepokanmu?”

Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Tetapi sorot matanya memancarkan dendam yang tidak ada taranya.

Demikianlah, sejenak kemudian Ki Sambi Pitu danKi Lemah Teles itu sudah meloncat ke punggung kuda mereka. Sejenak kemudian keduanya telah melarikan kuda mereka meninggalkan ampat orang yang terluka itu.

Jalan menuju ke padepokan itu memang jalan yang jarang dilewati orang. Sawah yang terbentang disebelah-menyebelah jalan itupun sebagian telah dikuasai oleh Kiai Banyu Bening pula. Sementara beberapa bagian yang lain masih terbentang padang ilalang dan padang perdu yang luas sampai kebatas hutan lereng gunung yang lebat.

Kedatangan Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles di rumah Ki Ajar Pangukan telah disambut dengan berbagai macam pertanyaan. Pakaian mereka yang terpercik darah telah menunjukkan, bahwa keduanya telah bertempur dan bahkan melukai lawan-lawan mereka.

“Aku tidak bermaksud menantang untuk berperang tanding” berkata Ki Lemah Teles mendahului Ki Sambi Pitu, sehingga Ki Sambi Pitu itu pun tertawa. Sementara Ki Lemah Teles pun kemudian berceritera tentang apa yang telah dialaminya.

Ki Ajar Pangukan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Dengan demikian, maka kita sudah membuka permusuhan dengan padepokan itu.”

“Tetapi bukan maksud kami” berkata Ki Lemah Teles, “kami dihadapkan pada satu keadaan tanpa pilihan. Orang berkumis lebat itu benar-benar akan membunuh kami atas perintah Kiai Ganda wira yang ternyata lebih senang disebut Kiai Banyu Bening meskipun kesannya seperti air yang sangat keruh.”

Ki Ajar Pangukan, Ki Jagaprana dan Ki Pandi mengangguk-angguk mendengar ceritera itu. Bahkan dengan nada berat Ki Ajar Pangukan itu berkata, “Orang-orang yang perlu dikasihani.”

“Siapa yang perlu dikasihani?” bertanya Ki Lemah Teles.

“Orang yang lebih senang disebut Kiai Banyu Bening itu.”

“Yang lain?” desak Ki Lemah Teles.

Ki Ajar Pangukan mengerutkan dahinya. Tetapi ia pun menjawab, “Maksudku, Kiai Banyu Bening itu saja.”

“Tetapi Ki Ajar menyebutnya seakan-akan lebih dari satu. Ki Ajar menyebutnya orang-orang. Bukankah itu lebih dari seorang.” berkata Ki Lemah Teles kemudian.

“Tidak. Ternyata aku salah ucap. Maksudku, Kiai Banyu Bening itu adalah orang yang pantas dikasihani. Bukankah ia telah kehilangan isterinya yang ternyata telah pergi bersama seorang laki-laki. Kemudian justru laki-laki yang membawa isterinya itu bersama kawari-kawannya telah menyerang dan berusaha membunuh Kiai Banyu Bening. Dan yang terjadi kemudian adalah, bahwa rumahnya telah terbakar dan yang paling parah adalah bayinya, satu-satunya miliknya yang tinggal, ikut terbakar pula.”

“Ya” Ki Sambi Pitu menyambung, “kesan yang terburuk yang terpahat di dinding hatinya adalah suara tangis bayi itu. Bayi itu menangis melengking-lengking disaat rumahnya terbakar. Namun Kiai Banyu Bening itu pun segera pingsan.”

Manggada dan Laksana juga mendengar keterangan itu. Rasa-rasanya mereka ingin menutup telinga mereka. Namun mereka pun ingin mendengar kelanjutan dari ceritera itu.

Tetapi Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles ternyata tidak jelas sejak kapan Kiai Banyu Bening itu mendirikan sebuah perguruan. Kapan pula ia membuat semacam tetenger bagi bayinya dihadapan sebuah tempat pemujaan untuk menyerahkan korban-korbannya.

Namun Ki Ajar Pangukan pun kemudian berkata, “Jadi yang kita hadapi sekarang berbeda dengan Panembahan Lebdagati. Panembahan Lebdagati adalah seorang yang benar-benar mengabdikan dirinya menurut satu keyakinan hitam. Panembahan Lebdagati ingin mempunyai sipat kandel yang paling baik di muka bumi, sehingga dengan demikian ia akan dapat menjadi orang yang tidak terkalahkan. Tetapi yang dilakukan oleh Kiai Banyu Bening adalah semata-mata pancaran dendam, kebencian dan kekecewaan yang membakar jantungnya.”

“Tetapi akibatnya juga sangat mengerikan. Ungkapan dari dendam, kebencian dan kekecewaan itu tidak kalah kejinya dengan upacara-upacara yang dilandasi dengan kepercayaan hitam Panembahan Lebdagati.” berkata Ki Pandi.

Yang lain mengangguk-angguk. Sementara itu hampir diluar sadarnya Manggada yang juga mendengarkan pembicaraan itu berkata, “Bahwa Kiai Banyu Bening memilih tempat di kaki Gunung Lawu ini pun nampaknya tidak sekedar kebetulan bahwa disini Panembahan Lebdagati pernah mendirikan sebuah padepokan pula.”

Orang-orang tua yang mendengar kata-kata Manggada yang seakan-akan meluncur begitu saja itupun mengangguk-angguk pula. Ki Jagapranapun segera menyahut, “Ya. Agaknya ada hubungannya, kenapa Kiai Banyu Bening memilih tempat ini untuk mendirikan padepokan dan perguruan di tempat ini.”

“Kita akan mencarinya” desis Ki Ajar Pangukan, “tetapi yang penting, kita harus menjadi lebih berhati-hati setelah Kiai Banyu Bening mengambil sikap yang kasar itu.”

“Tetapi, apakah di padepokan itu nampak banyak orang? Maksudku, apakah padepokan dan perguruan Kiai Banyu Bening itu termasuk perguruan yang mempunyai banyak murid dan pengikut?” bertanya Ki Pandi kemudian.

“Agaknya cukup banyak. Tetapi selain didalam padepokan itu, Kiai Banyu Bening telah menyebarkan pengaruhnya diluar dinding padepokannya. Perguruan Kiai Banyu Bening tentu menjanjikan sesuatu kepada para pengikut diluar padukuhan. Dengan menyerahkan korban-korban yang mengerikan itu, maka orang-orang yang berada dibawah pengaruh Kiai Banyu Bening itu tentu mengharapkan sesuatu. Tentu bukan sekedar kewadagan.” jawab Ki Sambi Pitu.

“Kita memang harus melengkapi bahan-bahan pengenalan kita atas padepokan itu.” desis Ki Pandi.

“Tetapi kita harus menjadi lebih berhati-hati” Ki Ajar Pangukan mengulangi.

Orang-orang yang sedang berkumpul itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi pun berkata, “Aku akan mulai dari sebuah padukuhan yang tidak terlalu jauh dari padepokan itu.”

Dengan demikian, maka sekelompok orang yang tinggal untuk sementara dirumah Ki Ajar Pangukan itu menjadi semakin tertarik untuk mengetahui, apa yang akan terjadi kemudian. Upacara-upacara yang dilakukan di beberapa padukuhan sudah berkembang. Anak-anak binatang yang dikorbankan itu tidak lagi ditusuk sampai mati. tetapi anak-anak binatang itu harus dibakar hidup-hidup.

Namun yang tidak kalah menariknya adalah burung-burung elang yang kadang-kadang nampak berterbangan diatas padepokan itu. Bahkan sekali-sekali burung-burung itu menyambar-nyambar seakan-akan ingin melihat dan meyakini apa yang ada didalam padepokan itu. Sebuah padepokan yang belum banyak diketahui bentuk dan isinya, yang berusaha menyebarkan pengaruhnya di bekas lingkungan pengaruh Panembahan Lebdagati. Sementara menurut penglihatan yang masih harus dikaji kebenarannya, padepokan itu isinya berbeda dan sama sekali bukan kelanjutan dari padepokan Panembahan Lebdagati.

Tetapi untuk mengetahui hubungan antara padepokan dan burung elang itu, masih diperlukan waktu dan pengamatan yang cermat dan berhati-hati.

Namun dalam pada itu. Ki Pandi masih saja sering bertemu dengan Delima. Untuk mencegah kemungkinan buruk serta prasangka yang tidak baik atas gadis itu jika kebetulan ada orang yang melihat, maka Ki Pandi tidak selalu datang bersama Manggada dan Laksana. Kadang-kadang Ki Pandi memang datang bersama kedua anak muda itu. Tetapi kadang-kadang anak-anak muda itu ditinggalkannya di seberang sungai.

Tetapi Ki Pandi sendiri kemudian menjadi semakin akrab dengan Delima. Delima tidak saja menunggu Ki Pandi di pinggir sungai, tetapi kadang-kadang juga di sawah atau pategalan.

Gadis itu senang mendengar ceritera Ki Pandi tentang daerah di seberang hutan Jatimalang. Tentang padukuhan-padukuhan yang ramai dan tidak dicengkam oleh kengerian. Ki Pandi juga bercerita tentang kota-kota yang pernah dikunjungi.

Namun sebenamyalah bahwa Delima menjadi gembira jika Manggada dan Laksana juga datang bersama Ki Pandi.

Namun pertemuan-pertemuannya dengan Ki Pandi serta Manggada dan Laksana, membuat gadis itu semakin jauh dari kepercayaan yang mulai mencengkam padukuhannya. Jika malam-malam yang ditentukan tiba, dua kali dalam sepekan, gadis itu harus ikut bersama kedua orang tuanya mendengarkan pamannya yang tinggal di padepokan itu menguraikan tentang jalan kehidupan sebagaimana dianutnya, maka hatinya menjadi terguncang-guncang. Tetapi gadis itu tidak berani berterus-terang menolak keyakinan pamannya itu. Setiap kali terbayang korban yang diserahkan hidup-hidup dengan perantaraan api itu. Apalagi jika bayangannya mengembara ke masa-masa mendatang serta kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Tetapi Ki Pandi sama sekali tidak mengatakan apa yang pernah didengar oleh Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles tentang Kiai Gandawira yang lebih senang disebut Kiai Banyu Bening, sehingga bayangan-bayangan yang mengerikan itu memang akan dapat terjadi.

Ketika Ki Pandi sempat berbicara dengan Delima di pategal-annya yang di tanami jagung diantara beberapa batang pohon buah-buahan dan batang pohon kelapa, maka Ki Pandi pun bertanya, “Bagaimana tanggapan kawan-kawanmu, Delima. Maksudku, gadis-gadis di padukuhanmu?”

“Entahlah, kek” jawab Delima, “kami tidak pernah memperbincangkan tentang upacara-upacara yang pernah diselenggarakan di padukuhan kami. Sejak korban yang diserahkan itu belum dibakar, tidak seorang pun yang berani menyebutnya. Apalagi mengatakan bahwa mereka menjadi ngeri melihatnya. Aku sendiri, yang menjadi sangat ngeri dan ketakutan tidak berani mengatakan kepada ayah dan ibu. Aku hanya dapat mengatakannya kepada kakek. Namun justru karena itu aku merasa beban perasaanku menjadi berkurang.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi kemudian iapun berkata, “Delima. Cobalah kau bertanya kepada kawan-kawanmu jika kau mendapat, kesempatan. Tentu saja dengan sangat berhati-hati. Sementara itu seperti yang aku katakan, aku ingin berbicara dengan ayah dan ibumu.”

“Tetapi jika kakek ingin berbicara tentang keyakinan yang mengerikan itu, maka kakek akan dapat menyinggung perasaan ayah dan ibuku.”

“Akupun akan berhati-hati ngger. Tetapi aku tentu harus mempunyai alasan untuk datang kepada ayah dan ibumu” berkata Ki Pandi kemudian.

Gadis itu mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Ayah dan ibu memang jarang sekali atau bahkan tidak pernah berhubungan dengan orang asing seperti kakek ini.”

“Tetapi aku akan mencoba, ngger. Justru karena cacadku ini.” berkata Ki Pandi Kemudian.

“Apa yang akan kakek lakukan?”

“Aku akan menjual belas kasihan. He, aku akan menjadi orang yang kelaparan di depan rumahmu. Kau tahu maksudku?”

Delima mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tersenyum.

Sehari kemudian, Ki Pandi seorang diri pula datang ke padukuhan tempat Delima tinggal. Ia tahu dimana letak rumah Delima. Karena itu, maka ia tahu, dimana ia harus terduduk kelelahan dengan keringat yang membasahi seluruh pakaiannya. Nafas tersengal-sengal dan mata yang hampir terpejam.

Delima yang melihat orang bongkok itu dalam keadaan yang sulit, segera memanggil ayah dan ibunya.

“Ayah, bawa orang itu masuk ia memerlukan pertolongan” minta Delima.

“Tetapi orang ini orang asing” berkata ayahnya.

“Siapapun juga orang itu, tetapi bukankah kita wajib menolongnya?” berkata Delima kemudian.

Ternyata ibunya Juga tidak berkeberatan, sehingga mereka telah menuntun Ki Pandi.yang bongkok itu ke serambi depan rumahnya.

Rumah keluarga Delima memang bukan rumah yang baik dan tidak besar pula. Rumah berdinding bambu itu berdiri di tengah-tengah sebidang tanah yang memang agak luas. Dibagian depan hampir tidak terdapat tanaman apapun. Halaman itu nampak bersih. Sementara itu di halaman samping nampak beberapa batang pohon buah-buahan. Di kebun belakang nampak beberapa batang pohon pula dan rumpun bambu yang subur.

Ki Pandi duduk di sebuah amben bambu. Delima memberinya semangkuk minuman hangat. Ibunya telah memberikan beberapa potong ketela rebus.

Ketika keadaan Ki Pandi sudah menjadi semakin baik, maka ayah Delima yang kemudian duduk di sebelahnya, mulai bertanya, “Kau siapa, Ki Sanak. Dari mana dan akan pergi ke mana?”

Ki Pandi yang letih itu menjawab, “Aku seorang pengembara Ki Sanak Aku tidak datang dari mana-mana dan aku tidak menuju kemana-mana. Aku berjalan saja mengikuti langkah kakiku.”

“Apakah kau tidak tahu, kau berada dimana sekarang?”

“Ya, Ki Sanak. Aku tahu. Aku berada di kaki Gunung Lawu.”

Ayah Delima itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi berkata selanjutnya, “Aku semula tidak sengaja pergi ke tempat ini. Tetapi ketika aku melihat jalan menembus hutan Jatimalang yang nampaknya belum terlalu lama dibuat, maka aku pun telah menyuruh masuk sehingga aku sampai di tempat ini.”

Ayah Delima itu mengangguk-angguk. Sementara keadaan Ki Pandi sudah nampak menjadi lebih baik.

“Makanlah.” ayah Delima itu mempersilahkannya.

“Sudah cukup Ki Sanak. Terima kasih. Aku sudah makan cukup banyak” jawab Ki Pandi yang kemudian berkata, “sebaiknya aku akan meneruskan perjalanan.”

“Kenapa tergesa-gesa. Beristirahatlah disini sampai keadaanmu benar-benar menjadi baik, Ki Sanak He, siapa namamu?”

“Namaku Ki Pandi, Ki Sanak. Tetapi orang-orang yang mengenal aku memanggilku Bongkok Buruk. Tetapi itu tidak apa-apa. Aku memang bongkok dan buruk” Ki Pandi berhenti sejenak Namun ia pun kemudian bertanya, “Bagaimana aku memanggil Ki Sanak?”

“Namaku Krawangan” jawab ayah Delima itu.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh keluarga ini Ki Krawangan. Aku sekarang minta diri untuk melanjutkan perjalanan yang tidak menentu ini. Aku akan melihat-lihat lingkungan df kaki Gunung Lawu itu.”

“Kau perlu beristirahat Ki Pandi.”

“Terima kasih, Ki Krawangan. Aku sudah rukup beristirahat, Tetapi pada kesempatan lain, aku akan singgah dirumah Ki Krawangan ini.” berkata Ki Pandi kemudian. Tetapi tiba-tiba saja Ki Pandi itu bertanya, “tetapi bukankah aku dapat mohon untuk bermalam di banjar padukuhan ini?”

“Tentu” jawab Ki Krawangan, “siapapun boleh bermalam di banjar. Tentu saja mereka yang kemalaman dalam perjalanan.”

“Tetapi apakah padukuhan ini baru akan membuat banjar atau justru, membuat yang, baru?” bertanya Ki Pandi.

“Maksud Ki Sanak?” bertanya Ki Krawangan.

“Aku melihat bangaunan diluar dinding padukuhan” jawab Ki Pandi, “jika padukuhan ini sudah mempunyai banjar, apakah banjar itu sudah tidak memenuhi kebutuhan sehingga harus dibuat banjar yang baru lagi?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menggeleng, “Tidak Ki Pandi. Kami tidak membuat banjar yang baru. Bangunan diluar dinding padukuhan itu gunanya lain sama sekali. Bukan untuk kegiatan sehari-hari padukuhan ini. Tetapi bangunan itu adalah bangunan untuk pemujaan.”

“Pemujaan?”

“Kau tidak mengetahui apa-apa tentang pemujaan yang kami lakukan dengan menyerahkan korban kepada penguasa api.” jawab Ki Krawangan.

“Penguasa api?” bertanya Ki Pandi.

“Ya. Apakah kau tertarik? Api adalah segala-galanya. Panasnya api juga karena menyalanya maha api di langit. Hidup kita memang tergantung kepada api. Tetapi jika api itu murka, maka segala-galanya akan dimusnahkan.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Sementara orang itu berkata, “Jika kau tertarik, kau dapat datang esok lusa. Dua hari lagi kakakku akan datang ke padukuhan ini untuk memberikan petunjuk-petunjuk, bagaimana kita mengabdikan diri kepada api. Api yang perkasa yang memancar di siang hari serta api yang lembut penuh kedamaian yang memancar dimalam hari.”

“Maksud Ki Krawangan, matahari dan bulan?”

“Ya” jawab Ki Krawangan., “Di bulan purnama kami menyerahkan korban itu”

Ki Pandi mengangguk. Katanya, “Apakah aku boleh datang dua hari lagi?”

“Boleh Ki Pandi. Kau dapat ikut mendengarkan sesorah itu.”

“Dimana sesorah itu diselenggarakan?” bertanya Ki Pandi.

“Di sanggar pamujan itu, Ki Pandi. Di bangunan yang kau sangka untuk memperbaharui banjar itu.”

KiPandi mengangguk

“Ki Krawangan. Aku tentu merasa takut untuk memasuki banjar itu sendiri. Karena itu aku mohon, apakah aku diperkenankan datang kemari dan kemudian mengikuti Ki Krawangan masuk kedalam sanggar pamujan itu?”

“Baik Ki Pandi. Aku tentu tidak merasa berkeberatan. Datanglah kemari setelah senja turun. Kita akan pergi bersama-sama ke sanggar. Penguasa api itu tidak menolak siapapun yang datang untuk memohon perlindungan bagi kesejahteraan hidupnya.”

“Terima kasih, Ki Krawangan. Besok lusa aku akan datang” berkata Ki Pandi kemudian.

Demikianlah, maka Ki Pandi meninggalkan rumah   Krawangan. Ketika ia sampai dipintu regol dan berpaling, dilihatnya Delima dengan seorang gadis yang iebih kecil daripadanya. Agaknya gadis kecil itu adalah adiknya.

Dihari berikutnya, Ki Pandi sempat bertemu lagi dengan Delima di pategalan. Dari Delima Ki Pandi mengetahui, bahwa gadis kecil itu memang adiknya. Kenanga.

“Pamanlah yang memberikan sesorah di sanggar” berkata Delima.

“Aku ingin mendengar isi sesorah itu” berkata Ki Pandi.

“Hati-hatilah kek” pesan Delima, “paman adalah seorang yang keras hati. Bahkan tidak segan-segan menghukum orang yang dianggapnya bersalah.”

“Aku akan berhati-hati Delima.”

Ketika rencana itu disampaikan kepada Manggada dan Laksana, maka keduanya menyatakan ingin ikut serta. Tetapi Ki Pandi berkata, “Ingat. Aku hanya seorang pengembara yang sendiri. Aku tidak datang dari mana-mana dan tidak pergi ke mana-mana. Karena itu, maka aku tidak akan datang bersama siapa-siapa.”

Manggada dan Laksana dapat mengerti keterangan Ki Pandi itu, Karena itu, maka mereka tidak memaksanya untuk ikut bersamanya.

Hari melompat ke hari. Waktu yang ditentukan itu pun mendekat. Ki Pandi segera bersiap-siap untuk mengikuti pertemuan yang diselenggarakan setiap pekan dua kali itu untuk mendengarkan sesorah orang-orang yang dikirim dari padepokan.

“Hati-hatilah Ki Pandi” pesan Ki Ajar Pangukan.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan aku tidak terjebak dalam kesulitan seperti Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles.”

“Mudah-mudahan. Tetapi kemungkinan itu harus kau pikirkan.” berkata Ki Jagaprana, “orang-orang padepokan itu tentu akan menjadi curiga kepada semua orang yang tidak mereka kenal sebelumnya.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku mengerti. Apa yang terjadi karena kehadiran Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles di padepokan, serta kegagalan para pengikutnya akan membuat orang-orang padepokan itu menjadi semakin berhati-hati.”

Meskipun demikian, Ki Pandi itupun pergi juga kerumah Ki Krawangan menjelang senja turun. Tetapi Ki Pandi tidak datang dari arah bawah kaki Gunung Lawu, tetapi ia memberikan kesan, bahwa ia baru saja turun dari lereng yang lebih tinggi.

Senja itu, maka Ki Krawangan sekeluarga lelah bersiap untuk pergi ke tempat yang disebutnya sebagai sanggar pamujan. Satu bangunan khusus yang dipagari dengan batang pohon kelapa utuh yang ditanam berjajar rapat. Pagar itu cukup tinggi sehingga tidak mudah untuk melihat apa yang sedang berlangsung didalamnya.

Ki Krawangan, isteri dan kedua orang anak gadisnya di lepas senja telah berangkat bersama Ki Pandi ke tempat yang disebut sanggar itu. Beberapa orang tetangganya juga pergi bersama keluarga mereka untuk mendengarkan sesorah tentang penguasa api serta laku yang harus dijalani para pemujanya.

Ketika-orang-orang itu memasuki sanggar, maka langit pun sudah mulai menjadi gelap. Di regol sanggar itu telah dipasang dua buah oncor yang cukup terang.

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, orang-orang padukuhan itu melihat bukan saja kakak Ki Krawangan yang akan memberikan sesorah itu yang sudah ada di sanggar. Tetapi mereka telah melihat beberapa orang yang sebelumnya jarang kelihatan di sanggar itu. Mereka tentu orang-orang dari padepokan sebagaimana kakak Ki Krawangan itu.

Ki Pandi memang tidak mengetahui perbedaan itu, karena ia belum pernah menghadirinya sebelumnya. Ketika mereka berjalan memasuki regol sanggar itu, maka setiap orang tiba-tiba saja telah berubah. Mereka tidak lagi berbicara yang satu dengan yang lain. Tetapi mereka berjalan saja dengan wajah yang menatap ke depan. Matanya seakan-akan tidak berkedip sementara mulut mereka terkatub rapat-rapat.

Hanya orang-orang tertentu sajalah yang nampaknya dapat bebas bergerak tanpa batasan-batasan.

Dan ternyata orang itu bukan orang padukuhan. Delima lah yang berbisik lirih di telinga Ki Pandi, “Orang-orang itu belum pernah hadir sebelumnya. Tetapi agaknya mereka orang-orang padepokan. Kawan-kawan pamanku.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi jantungnya menjadi berdebar-debar.

Beberapa saat kemudian, orang-orang padukuhan itu telah berdiri dalam beberapa deret. Mereka tidak lagi berdiri diantara keluarga mereka masing-masing. Tetapi anak-anak muda dan gadis-gadis berdiri di depan, di belakang deretan anak-anak. Baru kemudian orang-orang yang lebih tua dan paling belakang adalah orang-orang tua.

Ki Pandi yang tidak tahu dimana ia harus berdiri, mengikut saja petunjuk Ki Krawangan Sambil menunduk Ki Pandi berdiri di belakang Ki Krawangan dan isterinya. Sementara itu Delima dan Kenanga berada didepan bersama anak-anak muda dan gadis-gadis yang lain.

Suasana pun masih tetap mencengkam. Tidak seorang pun yang berbicara. Mereka memandang kedepan dengan wajah yang kosong. Sementara itu, yang akan sesorah masih belum nampak di-hadapan orang-orang yang sudah bersiap-siap untuk mendengarkan itu, meskipun orang itu sudah ada diantara mereka.

Bahkan kakak Ki Krawangan itu masih sibuk berbicara dengan beberapa orang kawan-kawannya dan bahkan berjalan hilir-mudik tidak seperti biasanya.

Beberapa saat kemudian, orang-orang yang sudah ada didalam sanggar itu mulai menjadi gelisah. Meskipun mereka masih tetap tidak berbicara apapun, namun sikap mereka menunjukkan kegelisahan mereka. Beberapa orang mulai memandang berkeliling. Mencari dimana kakak Ki Krawangan itu berdiri.

Ki Pandi berdiri dengan jantung yang berdebar-debar. Justru pada saat ia memasuki sanggar itu, terjadi sesuatu yang tidak seperti biasanya. Delima sebelum memisahkan diri sempat berbisik ditelinganya sehingga Ki Pandi menduga-duga apakah yang terjadi.

Dadanya menjadi semakin berdebar ketika ia merasa, dua orang selalu mengawasinya.

“Apa yang akan terjadi?” pertanyaan itu semakin keras bergema didalam hatinya.

Tetapi Ki Pandi sudah terlanjur ada didalam sanggar itu. Apapun yang akan terjadi, harus dihadapinya.

Orang-orang yang gelisah itu menjadi semakin gelisah. Mereka mulai saling bertanya, apa yang telah terjadi.

Namun sejenak kemudian, kakak Ki Krawangan itu naik ke tangga bangunan batu yang ada didalam sanggar itu. Sambil berdiri di tangga, maka ia memberi isyarat agar orang-orang yang ada di sanggar itu memperhatikannya.

Suasananya memang terasa agak berbeda. Meskipun Ki Pandi masih belum pernah mengunjungi pertemuan serupa itu, namun ia merasakan, bahwa biasanya suasananya tentu tidak seperti saat itu.

Demikian kakak Ki Krawangan itu mengangkat tangannya, maka suasanapun menjadi semakin bening. Orang-orang yang ada di sanggar itu berdiri tegak tanpa bergerak sama sekali. Bahkan sampai keujung jari kakinya sekalipun.

Kakak Ki Krawangan itu pun kemudian memandang berkeliling. Dengan lantang iapun mulai berbicara, “Saudara-saudaraku, Aku agak terlambat mulai berbicara dihadapan saudara-saudaraku.”

Orang itu memandangi orang-orang yang ada di sanggar itu semakin tajam, seakan-akan ingin menilik langsung kedalam hati mereka masing-masing.

Baru kemudian ia berkata selanjutnya, “Keadaan ini terjadi karena ada sesuatu hal yang juga berbeda dari biasanya. Selama ini aku yakin bahwa saudara-saudaraku dengan sepenuh hati mengikuti upacara-upacara yang telah kami selenggarakan. Saudara-saudaraku juga selalu datang ke banjar jika ada sesorah dari salah seorang yang mewakili Ki Banyu Bening. Yang bertugas disini biasanya memang aku sendiri. Tetapi dalam keadaan khusus memang dapat terjadi orang lain.”

Orang itu berhenti sejenak. Sementara Ki Pandi menjadi semakin berdebar-debar. Ketaatan orang-orang padukuhan itu terhadap peraturan di sanggar itu sangat mengagumkan. Apalagi dalam upacara korban yang sebenarnya.

Dalam pada itu, kakak Ki Krawangan itu pun berkata pula, “Tetapi kali ini kita tidak saja menerima saudara-saudara kami dari padukuhan. Malam ini kita menerima seorang tamu yang ingin melihat dan mendengarkan sesorah yang diselenggarakan didalam .sanggar ini. Sebenarnya hal seperti itu bukan masalah jika kami yakin bahwa orang itu memiliki keyakinan dan kepercayaan yang mantap.”

Jika saja orang-orang yang ada di sanggar itu tidak dilarang berbicara, maka mereka tentu akan saling bertanya, siapakah yang telah disebut sebagai seorang yang meragukan itu?

Namun orang-orang yang telah melihat kehadiran orang bongkok itu pun segera menduga bahwa yang disebut itu adalah orang bongkok yang datang bersama Ki Krawangan itu.

Kakak Ki Krawangan yang berdiri ditangga bangunan tempat menyerahkan korban itu berkata selanjutnya, “Nah, aku persilahkan KiSanak yang baru datang itu bersedia untuk mendekat. Aku ingin berbicara dengan Ki Sanak.”

Ki Pandi menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia segera menyadari, bahwa memang dirinyalah yang dimaksud.

Sejenak Ki Pandi termangu-mangu. Namun kemudian dua orang datang mendekatinya. Sambil memegangi kedua lengannya dari dua sisi, maka orang itu telah menarik Ki Pandi maju kedepan menghadap kakak Ki Krawangan itu.

Ki Pandi sama sekali tidak berniat menolak. Ia pun menurut saja. melangkah di antara orang-orang padukuhan yang kemudian menyibak.

Delima yang melihat Ki Pandi dibawa oleh dua orang kawan pamannya itu kedepan menjadi gelisah. Jantung berdetak semakin cepat.

-ooO-dw-arema-Ooo-

Bersambung ke jilid 3

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 5 – Matahari Senja

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s