AM_SKH-05


Serial ARYA MANGGADA

Episode IV: SEJUKNYA KAMPUNG HALAMAN

JILID 5

kembali | lanjut

AMSKH-05TIBA-TIBA tangan orang itu telah mencengkam pundak Manggada, sehingga Manggada telah menyeringai kesakitan, “Kalian memang anak-anak muda yang perkasa”

Manggada tidak menjawab. Tetapi wajahnya membayangkan ketakutan. Sinar obor di sudut barak membuat wajah Manggada semakin nampak pucat.

Orang itu tertawa. Sementara yang seorang lagi telah menepuk pipi Laksana sambil berkata, “Kalian masih terlalu kanak-kanak untuk mengenal liku-liku kehidupan seutuhnya. Karena itu, kalian tidak tahu apa yang kalian lakukan dengan pameran keberanian dan sikap seorang pahlawan. Namun akhirnya kalian sekarang berada disini. Jangan menyesal”

Manggada dan Laksana tidak menjawab sama sekali. Sementara Pideksa berkata, “Paman Sura Gentong telah menyerahkan keduanya kepadaku, paman”

Kedua orang itu mengangguk. Seorang di antara mereka berkata, “Apakah mereka akan ditugaskan mengurusi kuda-kuda ini?”

“Ya, paman. Karena mereka senang berkuda, maka mereka tentu senang pula mengurusi kuda-kuda” jawab Pideksa.

Kedua orang itu pun kemudian telah meninggalkan kandang kuda itu.

Pideksa menarik nafas panjang. Demikian kedua orang itu hilang di balik bangunan dalam barak itu, maka Pideksa pun berkata, “Marilah. Kalian harus kembali ke tempat tahanan itu”

Manggada dan Laksana pun mengikuti Pideksa yang melangkah meninggalkan kandang itu dan membawanya kembali ke bilik mereka yang dijaga kuat.

Watang yang bertanggung jawab atas mereka yang ditahan, memandang kedua anak muda itu dengan mata yang merah. Seperti hantu yang haus menghisap darah korbannya, Watang menatap kedua tawanan itu dengan tajamnya. Tangannya sudah menjadi gatal untuk memilin tangan-tangan kedua orang tawanan itu dan mematahkannya.

Tetapi setiap kali Pideksa memperingatkan, bahwa Watang tidak boleh mengusik kedua orang tawanan muda itu.

Malam pun kemudian turun. Manggada dan Laksana memandang mangkuk yang berisi minum dan makan bagi mereka. Nasi dan sepotong ikan kering.

Tetapi makanan yang sangat sederhana itu bukan masalah bagi mereka. Di hutan selama sebulan mereka makan apa saja. Bahkan pucuk dedaunan, meskipun kadang-kadang mereka makan daging panggang dan buah-buahan jika mereka menemukan.

Malam itu, Manggada dan Laksana tidak segera dapat tidur. Mereka mencoba mereka-reka apa yang akan mereka alami esok. Namun Manggada sempat berbisik, “Masih terasa sisa hubungan masa kanak-kanakku dengan Pideksa. Ia masih juga berusaha melindungi kita”

“Paman Wira Sabet ternyata juga baik” berkata Laksana.

“Yang benar-benar bersifat permusuhan adalah paman Sura Gentong dan tentunya juga orang yang bernama Ki Sapa Aruh itu. Sementara saudara-saudara seperguruan paman Sura Gentong itu nampaknya hanya ingin menumpang saja untuk ikut menikmati hari-hari mendatang”

Manggada mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berdesis, “Kita berharap bahwa ada orang yang mengikuti jejak kita”

Laksana termangu-mangu sejenak. Dengan nada rendah ia pun berdesis, “Yang kita harapkan adalah Ki Pandi itu sendiri. Jika orang lain yang mencobanya, mungkin sekali mereka akan terperosok ke dalam bahaya”

Manggada mengangguk pula. Tetapi ia tidak menjawab. Laksana pun kemudian terdiam. Keduanya berusaha untuk dapat tidur. Mungkin besok mereka harus bekerja keras sebagai budak di barak itu.

Namun keduanya justru bangkit dan duduk di pembaringan. Di kejauhan mereka mendengar aum harimau. Tidak hanya seekor. Tetapi dua ekor harimau yang mengaum bersentuhan dari sisi yang berbeda.

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Mereka mengenal suara harimau itu. Meskipun aumnya sama dengan aum harimau yang lain, tetapi ada sesuatu yang dapat mereka kenali.

“Ki Pandi nampaknya sudah berada di sekitar barak ini” desis Manggada.

Laksana tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan kita dapat berbuat sesuatu di dalam barak ini”

“Tetapi kita tidak boleh tergesa-gesa”

Namun justru karena aum harimau itu, maka keduanya kemudian dapat tidur nyenyak hampir sepanjang malam yang tersisa.

Tetapi pagi-pagi mereka harus sudah bangun. Watang yang garang itu telah membangunkan mereka. Raksasa itu membuka selarak pintu dari luar dan langsung melangkah ke pembaringan. Tanpa mengatakan sepatah katapun, kedua tangan orang itu telah mencengkeram baju Manggada dan Laksana. Dengan garangnya orang itu menariknya dan melemparkan kedua anak muda itu ke pintu.

Manggada dan Laksana jatuh berguling. Dengan susah payah keduanya berusaha untuk bangkit berdiri. Dengan ketakutan keduanya kemudian berdiri di pintu.

“Pemalas” geram Watang sambil melangkah mendekat. Sementara Manggada dan Laksana itu melangkah surut.

“Kau harus sudah berada di tempat kerjamu” bentak orang itu, “tetapi kau masih belum bangun”

“Maaf. Kami belum terbiasa” jawab Manggada.

Namun tangan orang itu segera terayun ke wajah Manggada. Ketika Manggada melihat tangan orang itu bergerak, maka ia harus meningkatkan daya tahannya, agar rahangnya tidak terlepas.

Tetapi Manggada harus terhuyung-huyung dan jatuh tersandar dinding. Kedua tangannya memegangi wajahnya yang kesakitan. Bahkan Manggada itu harus berjongkok menahan sakit sambil mengaduh tertahan.

“Ingat” berkata Watang, “kalian tidak boleh membantah apa yang aku katakan. Jika saja Pideksa tidak menginginkan kalian, maka kalian telah aku hancurkan disini”

Laksana sama sekali tidak menjawab, sementara Manggada masih berjongkok sambil berdesah.

“Cepat, pergi ke tempat kerjamu. Dua orang pengawal di luar akan mengantarkanmu”

“Baiklah” sahut Laksana, “biarlah kami mandi dahulu”

Jawaban itu membuat Watang menjadi marah. Tiba-tiba tangannya terayun menghantam perut Laksana.

Seperti Manggada ia pun harus mengerahkan daya tahannya, sehingga serangan orang itu tidak merontokkan isi perutnya. Namun juga seperti Manggada, Laksana bahkan terlempar keluar dari biliknya dan jatuh berguling di tanah.

Dua orang pengawal yang berdiri di luar terkejut. Keduanya adalah justru orang-orang yang telah membawanya ke barak itu. Namun yang seorang lagi tidak ada di antara mereka.

Adalah di luar sadar ketika kedua pengawal itu kemudian membantu Laksana berdiri.

Watang yang berdiri di muka pintu berkata, “Kenapa anak itu harus kalian tolong?”

Tetapi salah seorang pengawal itu menjawab, “Siapa yang menolongnya? Aku hanya ingin mereka cepat sampai di tempat kerja mereka. Setiap saat kuda-kuda itu akan dipakai. Jika saatnya datang dan kuda-kuda itu belum dibersihkan, maka kau akan bertanggung jawab”

“Kenapa aku?” bertanya Watang.

“Anak-anak ini menjadi kesakitan dan tidak segera dapat melakukan pekerjaan mereka”

Watang tidak menjawab. Namun dengan kakinya ia mendorong Manggada yang berjongkok sambil berkata, “Cepat. Jika kau tidak cepat bangkit, aku hancurkan tengkukmu”

Manggada pun berusaha untuk segera bangkit. Demikian pula laksana. Tertatih-tatih keduanya pun kemudian digiring oleh kedua orang pengawal ke kandang.

“Bukankah kalian dipekerjakan di kandang kuda?” bertanya seorang di antara kedua pengawal itu.

“Ya” jawab Manggada sambil berpaling. Ketika ia sadar, bahwa Watang tidak melihat mereka lagi, maka Manggada pun segera berjalan dengan wajar.

Kedua orang pengawal itu mengerutkan dahinya. Ketika mereka melihat Laksana juga berjalan dengan tegak dan tidak lagi terbungkuk-bungkuk memegangi perutnya, maka salah seorang pengawai itu bertanya, “Kalian tidak apa-apa?”

Laksana lah yang menjawab, “Raksasa dungu itu hanya mengandalkan tenaga wadagnya saja. Tidak lebih”

Kedua pengawal itu mengangguk-angguk. Mereka sudah tahu pasti kemampuan anak muda yang bernama Laksana itu. Bertiga mereka tidak mampu mengalahkannya.

Namun Manggada pun kemudian bertanya, “Apakah kami tidak boleh mandi dahulu. Bukankah matahari belum terbit?”

Pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kalian mandi bergantian setelah kalian berada di kandang. Jika seseorang di antara para pemimpin barak ini melihat ke kandang, nampaknya kalian sudah berada disana dan sudah mulai bekerja”

“Apakah terbiasa disini pekerjaan dimulai sebelum matahari terbit?” bertanya Manggada.

“Ya. Bagi budak-budak” jawab pengawal itu.

Manggada dan Laksana tidak bertanya lagi. Mereka pun berjalan terus menuju ke kandang.

Sementara itu, telah terdengar pula bunyi orang menumbuk padi. Di dekat lumbung padi beberapa orang telah mulai menumbuk padi dengan lesung dan lumpang kayu. Sementara beberapa orang yang lain mulai membelah kayu dan mengangkut barang-barang dari satu tempat ke tempat lain.

“Apakah mereka juga budak-budak?” bertanya Manggada.

“Ya” jawab salah seorang pengawal.

“Darimana paman Wira Sabet dan Sura Gentong mendapatkan budak-budak itu?” bertanya Manggada pula.

“Aku tidak tahu darimana mereka bawa” jawab pengawal itu.

“Tetapi bukankah sasaran paman Wira Sabet dan Sura Gentong adalah padukuhan kami dilandasi dendam yang menyala sejak keduanya meninggalkan padukuhan?”

“Mungkin. Tetapi yang terjadi sekarang, keduanya bekerja bersama dengan Ki Sapa Aruh. Nampaknya Ki Sapa Aruh mempunyai sasaran yang lebih luas dari sekedar padukuhan Gemawang”

“Kita berada di sebuah gerombolan perampok” desis Laksana.

Kedua pengawal itu saling berpandangan. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata, “Ya. Ki Sapa Aruh mempunyai sebuah jaringan yang luas”

“Dan kalian adalah bagian dari mereka?” bertanya Manggada kemudian.

“Ya. Kami terperosok ke tempat ini. Kami tidak mempunyai pilihan lain pada waktu itu”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun mereka mengerti, meskipun keduanya termasuk di dalam lingkungan itu, tetapi di dasar hati mereka masih terdapat sepeletik api penalaran yang jernih.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, Manggada dan Laksana telah berada di kandang. Orang tua yang sudah lebih dahulu menjadi budak dan dipekerjakan di kandang itu telah berada di kandang itu pula.

Kedua pengawal itu pun kemudian menyerahkan kedua orang anak muda itu sambil berkata, “Kakek tua. Awasi kedua anak muda ini. Jika mereka berusaha melarikan diri, maka kau harus membunyikan isyarat. Jika keduanya sampai berhasil menghilang dari barak ini, maka lehermu akan dijeret di tiang gantungan”

“Tetapi, kenapa harus aku yang bertanggung jawab?” bertanya orang tua itu dengan suara gemetar.

“Kau tidak berhak bertanya. Sekali lagi membuka mulutmu, gigimu yang tersisa itu akan aku patahkan semuanya”

Orang tua itu memang terdiam. Kepalanya terangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Demikianlah, kedua orang pengawal itu pun segera meninggalkan Manggada dan Laksana di kandang kuda itu.

Sepeninggal kedua pengawal itu, maka orang tua itu pun berkata, “Anak-anak muda. Jangan mencoba untuk melarikan diri. Ternyata leherku menjadi taruhan. Aku sudah tua. Aku tidak mau mati di tiang gantungan”

“Kami tidak akan melarikan diri, kek” jawab Manggada, “jika kami berani mencoba dan gagal, maka nasib kami akan menjadi sangat buruk. Bukankah kemarin Pideksa itu mengatakannya disini ketika ia membawa kami kemari?”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Apakah angger semalam dapat tidur?”

“Ya, kenapa?” bertanya Manggada.

“Jika demikian angger tidak mengalami goncangan perasaan seperti kami dan budak-budak yang lain. Demikian kami sampai di tempat ini” berkata orang tua itu.

“Maksud kakek, mengalami ketakutan dan kecemasan?“ bertanya Laksana.

“Ya. Begitulah”

“Tentu kek. Kami mengalami ketakutan yang amat sangat, sehingga jantung kami berdebaran”

Orang tua itu memandang Laksana sejenak. Namun kemudian orang tua itupun tersenyum, “Kalian berdua hanya main-main”

“Maksud kakek?” bertanya Manggada dengan wajah menegang.

“Aku mendengar aum harimau semalam” berkata orang itu.

“Kenapa? Bukankah barak ini terletak di hutan yang lebat? Tentu banyak binatang buas yang ada di hutan itu. Termasuk harimau. Harimau kumbang, harimau loreng dan barangkali juga harimau tutul”

“Suara harimau itu aneh. Sebelum kalian bermalam disini, tidak pernah ada aum harimau seperti itu”

“Apa sebenarnya yang kakek maksud?” desak Manggada.

Orang tua itu tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Sejak aku melihat kalian kemarin, aku sudah mengira bahwa kalian bukan orang kebanyakan. Maksudku, di dalam diri kalian tersimpan sesuatu. Mungkin kalian dapat mengelabui Wira Sabet, Sura Gentong dan saudara-saudara seperguruannya. Tetapi kau tidak dapat mengelabui mata tuaku”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Baru kemudian Matiggada bertanya, “Kakek mengenal aum harimau itu?”

Orang itu tertawa lagi. Katanya, “Harimau itu tentu harimau orang bongkok itu. Isyarat itu tentu diberikan kepada kalian berdua, karena sebelumnya, isyarat seperi itu tidak pernah aku dengar”

“Jika demikian, maka kakek tentu juga bukan orang kebanyakan. Mungkin kakek saudara seperguruan Ki Pandi”

“Bukan. Aku bukan saudara seperguruan Ki Pandi yang bongkok itu. Tetapi aku mengenalnya dengan baik. Ia pun mengenal aku dengan baik. Tetapi sudah agak lama kami tidak bertemu”

“Aku yakin, bahwa kakek juga memiliki ilmu yang sangat tinggi seperti Ki Pandi” berkata Laksana.

“Jarang ada orang yang memiliki ilmu setinggi orang bongkok itu” jawab orang tua itu. Namun kemudian katanya, “hati-hatilah dengan Ki Sapa Aruh. Mungkin kalian sulit menyembunyikan kelebihan kalian terhadap orang itu. Namun untungnya, Ki Sapa Aruh jarang datang kemari. Jika ia datang, maka ia tidak pernah memperhatikan kami, budak-budak yang baginya tidak berarti sama sekali ini”

“Tetapi kenapa kakek ada disini?” bertanya Laksana.

“Jawabnya sama jika ada orang yang bertanya kepada kalian, kenapa kalian berada disini?”

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggadapun berkata, “Apakah kami boleh mengetahui nama atau sebutan kakek?”

“Disini aku dipanggil Sampar. Tetapi orang bongkok itu mengenali aku dengan sebutan, Carang Aking”

“Bagaimana kami memanggil kakek?” bertanya Manggada.

“Disini sudah tentu kalian memanggil aku kakek Sampar”

“Baiklah kek. Tetapi justru sekarang aku berani minta ijin untuk mandi bergantian” berkata Manggada.

“Di sudut itu ada sumur. Tetapi jangan menimbulkan banyak suara. Hari masih sangat pagi. Sumur itu memang diperuntukkan bagi orang-orang yang mereka sebut budakbudak”

Sejenak kemudian, Manggada dan Laksana sudah mandi bergantian. Namun mereka sudah mulai berkeringat lagi ketika matahari terbit, karena keduanya sibuk membersihkan kandang, menyediakan makan bagi kuda-kuda sekandang, kemudian juga membersihkan kuda-kuda itu.

Dalam pada itu, bagaimanapun juga orang tua Manggada dan Laksana menjadi sangat gelisah. Kedua anak muda itu telah mengambil satu langkah yang sangat berbahaya.

Namun hati mereka menjadi agak tenang ketika Ki Pandi mengatakan kepada mereka, bahwa Ki Pandi sudah dapat mengetahui dimana kedua orang anak muda itu berada.

“Mereka sengaja memberikan petunjuk kepadaku” berkata Ki Pandi.

“Jika demikian, apakah kita akan mengambilnya?” berkata Ki Citrabawa.

“Jika keduanya tidak dapat keluar dari tempat itu, kita memang akan mengambilnya” berkata Ki Pandi, “tetapi tentu kita tidak akan tergesa-gesa. Aku sedang mencari jalan untuk dapat memasuki barak itu nanti malam. Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan berhubungan dengan keduanya”

“Tetapi itu sangat berbahaya pula” berkata Ki Kertasana.

“Mudah-mudahan aku dapat menghindarinya” sahut Ki Pandi. Namun wajahnya menampakkan kesungguhannya untuk melakukan sebagaimana dikatakannya”

Ki Kertasana dan Ki Citrabawa yang memang meyakini kemampuan Ki Pandi itu hanya mengangguk-angguk saja. Keduanya percaya bahwa Ki Pandi tidak akan membiarkan Manggala dan Laksana mengalami kesulitan dan apalagi mengalami bencana.

Dalam pada itu, Ki Kertasana dan Ki Citrabawa yang sebelumnya seolah-olah tidak melibatkan diri dengan keadaan yang mencengkam padukuhan Gemawang, bahkan orang-orang Gemawang menganggap bahwa keduanya bersikap sebagaimana para penghuni yang lain, memutuskan untuk mulai berbuat sesuatu. Justru karena anak-anak mereka sudah terlibat semakin jauh.

Karena itu, maka keduanya bersepakat untuk menghubungi Ki Jagabaya untuk menentukan langkah-langkah lebih jauh.

Namun setelah Manggada dan Laksana dibawa ke barak Wira Sabet dan Sura Gentong, untuk beberapa hari tidak nampak lagi para pengikut keduanya itu berkeliaran di padukuhan Gemawang. Mungkin mereka menganggap bahwa setelah Manggada dan Laksana berhasil mereka tangkap, maka tidak akan ada lagi orang-orang Gemawang yang akan berani menentang mereka kecuali Ki Jagabaya yang ternyata tidak berhasil membangkitkan keberanian orang-orang Gemawang.

Dalam pada itu, Ki Jagabaya pun untuk sementara telah mengekang tingkah laku Sampurna agar anaknya itu tidak terperangkap ke dalam kesulitan.

“Aku tidak mengira, bahwa Laksana memiliki kemampuan yang sangat tinggi, ayah” berkata Sampurna.

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu Manggada juga memiliki kemampuan setingkat dengan adik sepupunya”

“Ya” sahut Sampurna, “aku menjadi merasa kecil di hadapan mereka”

“Adalah satu keberuntungan bagi kita, bahwa kedua orang anak muda itu memahami sikap kita. Bahkan keduanya dengan ikhlas telah membantu kita”

“Itulah agaknya mereka dengan berani menemui Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong. Agaknya jika terpaksa mereka tidak akan menjadi ketakutan untuk memberikan perlawanan”

“Banyak yang dapat kita harapkan dari mereka” berkata Ki Jagabaya.

Ketika Ki Kertasana dan Ki Citrabawa menemuinya, maka Ki Jagabaya menyambutnya dengan gembira. Ternyata niatnya untuk mempertahankan padukuhan Gemawang bukan sekedar mimpi buruk, beberapa orang yang memiliki kemampuan yang meyakinkan, telah menyatakan dukungan mereka terhadap sikapnya yang teguh.

“Jika aku sempat berhubungan dengan Wira Sabet dan Sura Gentong, aku akan menegaskan sikapku lagi” berkata Ki Jagabaya.

“Sudah sampai saatnya kita berbuat tegas” berkata Ki Kertasana, “Ki Pandi, orang tua yang sekarang tinggal di rumah kami, telah berhasil menemukan barak Wira Sabet dan Sura Gentong”

“Tetapi apakah mungkin kita memasuki barak mereka?” desis Ki Citrabawa, “bukankah menurut Ki Pandi, barak itu dihuni oleh banyak orang. Selain saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong, di barak itu juga tinggal Ki Sapa Aruh dan para pengikutnya. Sementara Ki Pandi masih belum dapat mengetahui lebih banyak daripada penglihatannya sekilas dari kejauhan”

Ki Kertasana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita memang tidak dapat berbuat dengan tergesa-gesa. Tetapi kita juga tidak dapat membiarkan keadaan seperti ini berlangsung terlalu lama”

“Baiklah” Ki Jagabaya berkata dengan sungguh-sungguh, ““kita akan berbuat lebih banyak lagi”

Tetapi sementara itu, orang-orang Gemawang sendiri sama sekali tidak membantu. Bahkan mereka masih saja mengusulkan agar Ki Jagabaya mengurungkan niatnya untuk melawan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Tetapi diam-diam ceritera tentang perkelahian antara Laksana melawan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu menjalar dari mulut ke mulut. Bagi mereka, apa yang terjadi itu merupakan satu rahasia yang sulit mereka pecahkan. Laksana telah memenangkan perkelahian itu. Tetapi berdua dengan Manggada, mereka justru telah menyerahkan diri dan dibawa ke sarang Wira Sabet dan Sura Gentong.

Kenyataan itu ternyata telah menimbulkan tanggapan yang berbeda di antara orang-orang padukuhan Gemawang. Sebagian dari mereka menjadi semakin ketakutan, karena mereka memperhitungkan, akan timbul persoalan-persoalan baru yang akan menambah kesulitan para penghuni padukuhan Gemawang. Tetapi sebagian yang lain mulai mempertimbangkan kemungkinan yang lain pula.

Bahwa Manggada dan Laksana telah menyerahkan diri setelah memenangkan satu pertempuran, sangat membingungkan orang-orang Gemawang. Beberapa orang anak muda menganggap bahwa yang dilakukan oleh Manggada dan Laksana adalah satu usaha dengan mempertaruhkan jiwa mereka untuk kepentingan padukuhan Gemawang.

“Apakah kita akan membiarkannya?” desis seorang anak muda.

“Kita kenal Manggada di masa menjelang remaja. Apakah kini kita akan membiarkannya berjuang sendiri bagi padukuhan ini? Kita harus mencari jawaban, kenapa Manggada dan Laksana justru menyerahkan diri” sahut yang lain.

“Kita akan menghubungi Sampurna. Ia tentu tahu pasti, apa yang sedang dilakukan oleh Manggada dan Laksana. Saat itu Manggada dan Laksana mencegah agar Sampurna tidak ikut menyerahkan dirinya”

”Tetapi bagaimana dengan ketiga orang yang sudah dikalahkan itu?” bertanya anak muda yang lain lagi.

Akhirnya mereka memutuskan untuk berbicara dengan Sampurna. Dua di antara mereka akan mewakili kawan-kawan mereka menemui Sampurna di rumahnya, karena sejak Manggada dan Laksana ditangkap, Sampurna jarang nampak di jalan-jalan padukuhan

Ketika kedua orang itu pergi ke rumah Sampurna, maka mereka telah bertemu dengan Wisesa yang juga akan pergi menemui Tantri.

“Kalian akan pergi ke mana?” bertanya Wisesa.

“Kami akan menemui Sampurna” jawab salah seorang anak muda itu.

“Benar?” bertanya Wisesa pula.

“Benar, kenapa?” bertanya anak muda itu.

“Kau tidak akan menemui Tantri?” desak Wisesa.

“Untuk apa? Kami memerlukan Sampurna” sahut anak muda yang seorang. Anak muda itu tahu bahwa Wisesa nampaknya sangat tertarik kepada Tantri, sehingga setiap anak muda yang datang ke rumah Ki Jagabaya dianggap akan menemui Tantri.

Wisesa menarik nafas panjang. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Untuk apa kalian akan berbicara dengan Sampurna?”

“Kami ingin menanyakan, kenapa Manggada dan Laksana yang telah memenangkan perkelahian itu justru harus menyerahkan diri untuk dibawa ke tempat Wira Sabet dan Sura Gentong?” jawab anak muda itu.

“Itu hanya omong kosong saja” desis Wisesa

“Manggada dan Laksana, dan ternyata juga Sampurna, hanya anak-anak muda yang pandai membual”

“Sumber ceritera ini tidak dari Manggada dan Laksana” jawab anak muda itu, “juga tidak dari Sampurna. Tetapi dari beberapa orang yang melihat perkelahian itu”

Tetapi Wisesa tetap menggeleng. Katanya, “Ceritera itu tidak dapat dipercaya. Aku juga sudah mendengar dongeng itu. Katanya Laksana mampu mengalahkan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, Bukankah itu tidak masuk akal? Seorang lawan seorangpun Laksana tidak akan dapat berbuat apa-apa. Apalagi melawan tiga orang”

“Kita akan bertanya kepada Sampurna” jawab anak muda itu.

“Sampurna adalah kawan dekatnya. Tentu ia akan mengiakannya. Bahkan membumbuinya, sehingga ceriteranya akan menjadi semakin sedap” berkata Wisesa kemudian.

Mereka tidak meneruskan pembicaraan itu, karena mereka sudah berdiri di regol halaman Ki Jagabaya. Karena itu, maka mereka pun kemudian melangkah masuk sambil berdiam diri. Seorang dari antara anak-anak muda itu telah menutup pintu regol. Tetapi tidak diselarak dari dalam.

Wisesalah yang mengetuk pintu seketheng. Karena itu, maka Sampurna yang sudah terbiasa mendengar ketukan itu, segera mengetahui bahwa Wisesa telah datang berkunjung.

“Ada tamu, Tantri” desis Sampurna.

“Kenapa anak itu masih juga datang kemari? Bukankah ayah pernah marah kepadanya?”

“Kau kira anak itu punya perasaan?” sahut Sampurna.

“Kakang tidak usah membuka pintunya” geram Tantri.

“Ah, kasihan. Nanti ia akan menunggu sampai senja. Tetapi kemudian Wisesa tidak berani pulang sendiri, sehingga aku harus mengantarkannya” berkata Sampurna sambil tertawa.

“Kenapa harus bersusah-susah mengurusinya?” wajah Tantri menjadi semakin gelap.

“Kenapa kau justru marah kepadaku?” bertanya Sampurna.

Sebelum Tantri menjawab, pintu itu sudah diketuk pula dengan gaya ketukan Wisesa.

Sampurna menarik nafas dalam-dalam, sementara Tantri telah melangkah masuk ke ruang dalam.

Sampurna lah yang kemudian membuka pintu seketheng betapapun segannya.

Tetapi Sampurna terkejut ketika ia melihat Wisesa tidak sendiri. Dua orang anak muda menyertainya masuk ke halaman samping rumahnya.

Tetapi Sampurna mengenal keduanya dengan baik, karena keduanya adalah kawan bermainnya pula.

Ketiganyapun kemudian dipersilahkan duduk di serambi. Sementara Sampurna memberitahukan kepada Tantri bahwa tamu tidak hanya seorang, tetapi tiga orang.

“Kenapa kalau tiga?” bertanya Tantri dengan wajah gelap.

Sampurna tertawa. Katanya, “Jika kau menghidangkan minuman, jangan hanya semangkuk buat Wisesa”

Tantri tiba-tiba bangkit. Sampurna tahu apa yang akan dilakukan adiknya. Karena itu, maka ia pun segera berlari keluar dari dapur. Tetapi suara tertawanya masih tertinggal, sehingga Tantri itupun berkata, “Awas kau nanti”

Di serambi Sampurna kemudian duduk menemui ketiga orang anak muda itu. Baru kemudian ia mengetahui bahwa dua orang anak muda itu tidak dengan sengaja datang bersama-sama dengan Wisesa.

“Kami bertemu di jalan” berkata salah seorang dari kedua orang anak muda itu.

“Jadi, apakah kalian mempunyai keperluan lain atau sekedar singgah?” bertanya Sampurna. Karena tidak terbiasa ada orang yang datang menemuinya sejak keadaan padukuhan itu menjadi buram.

Seorang dari anak muda itupun menjawab, “Sampurna. Kami mengikuti perkembangan terakhir dari perkembangan padukuhan kita ini. Kami telah mendengar bahwa Manggada dan Laksana telah ditangkap dan dibawa oleh para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Sementara itu, ada orang yang melihat bahwa sebenarnya Laksana sendiri telah dapat mengalahkan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu.”

Sampurna menarik nafas panjang. Perhatian anak muda terhadap peristiwa itu justru memberikan harapan kepadanya.

Tetapi Wisesalah yang menyahut, “Kenapa kau terpancing oleh berita yang menyesatkan itu. Adalah tidak masuk akal bahwa setelah memenangkan perkelahian itu, Manggada dan Laksana kemudian menjadi tahanan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Apa yang terjadi adalah karena kesombongan keduanya, sehingga keduanya harus menanggung akibat yang mungkin sangat buruk”

“Wisesa” berkata Sampurna kemudian, “ketika peristiwa itu terjadi, aku berada di antara mereka. Bahkan semula aku telah menyediakan diri untuk ditangkap bersama Manggada dan Laksana. Tetapi Manggada dan Laksana memperingatkan aku, agar aku tidak ikut bersama mereka. Mereka menganggap bahwa tumpuan dendam terutama tertuju kepada ayah, sehingga aku akan dapat menjadi sasaran dendam mereka atau aku akan dapat dijadikan taruhan. Karena itu, maka akupun telah mengurungkan niatku untuk menyerahkan diri sebagaimana Manggada dan Laksana”

“Bukankah itu tidak masuk akal?” sahut Wisesa.

“Masuk akal atau tidak, tetapi itulah yang terjadi“ jawab Sampurna.

“Aku percaya” jawab salah seorang dari kedua orang anak muda itu, “aku sudah bertemu pula dengan orang yang telah melihat langsung apa yang terjadi”

“Terima kasih” sahut Sampurna.

”Tetapi kami menjadi bingung, kenapa keduanya justru menyerahkan diri mereka?” bertanya salah seorang dari kedua orang anak muda itu.

“Manggada dan Laksana menganggap bahwa cara itu adalah cara yang terbaik untuk mengetahui dimana Wira Sabet dan Sura Gentong itu tinggal” jawab Sampurna.

“Lalu, apa hasilnya?” Wisesa memotong, “meskipun mereka mengetahui tempat tinggal Wira Sabet dan Sura Gentong, namun keduanya kemudian menjadi tawanan, apakah itu berarti bagi kita disini?”

“Sekarang memang belum. Tetapi kita berharap bahwa pada suatu saat, pengorbanan mereka akan sangat berarti”

“Kami mengerti” sahut salah seorang dari kedua orang anak muda itu, “yang ingin kami tanyakan, apakah yang sebaiknya kami lakukan justru setelah Manggada dan Laksana mengorbankan diri mereka. Kami sebenarnya juga merasa cemas, bahwa Manggada dan Laksana akan mengalami nasib buruk”

Wajah Sampurna menjadi cerah. Ia melihat perubahan sikap anak-anak muda itu, justru setelah Manggada dan Laksana menyerahkan dirinya meskipun dalam perkelahian yang terjadi, Laksana sendiri dapat mengalahkan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong.

Dengan nada tinggi Sampurna berkata Satu pertanda yang bagus. “Aku minta kalian dapat mempertimbangkan kemungkinan yang dapat kalian lakukan. Ingat, ayah akan tetap mempertahankan sikapnya. Melawan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong. Ayah memang tidak mempunyai pilihan lain. Ada atau tidak ada yang memberikan bantuan kekuatan, maka ayah akan tetap berusaha membebaskan padukuhan ini dari bayangan Wira Sabet dan Sura Gentong yang menakutkan itu. Ayah sama sekali tidak sedang berjuang untuk mempertahankan kedudukannya. Tetapi lebih daripada itu. Ayah ingin padukuhan kita bebas dari bayangan kelam Wira Sabet dan Sura Gentong. Manggada dan Laksana serta keluarganya mengerti maksud ayah. Karena itu, maka mereka telah menyatakan diri untuk membantu ayah. Bahkan manggada dan Laksana telah mengambil sikap yang sangat berbahaya bagi keselamatan mereka”

Kedua orang anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara Wisesa berkata, “Aku ingin memperingatkan kalian. Jangan main-main dengan Wira Sabet dan Sura Gentong”

“Tidak. Kami tidak sedang bermain-main. Bagaimana jika kami menawarkan kesediaanmu melindungi Tantri dari dendam Sura Gentong yang garang itu?”

“Kau akan mengadu aku dengan Sura Gentong seperti mengadu jengkerik?” bertanya Wisesa.

Sampurna tertawa. Katanya, “Sudahlah Wisesa. Sebaiknya kau tinggal di dapur saja. Menjerang air, menanak nasi dan mengukur kelapa”

Wajah Wisesa menjadi merah, tetapi ia tidak segera dapat mengatakan sesuatu, justru karena gejolak jantungnya yang semakin cepat.

Dalam pada itu, maka Tantri pun muncul dari balik pintu membawa hidangan bagi ketiga orang tamunya dan bagi kakaknya. Sekilas ia memandang wajah kakaknya. Ternyata Sampurna tersenyum kepadanya. Hampir saja Tantri menggapai kakaknya di lengannya dan mencubitnya keras-keras. Tetapi sebelum hal itu terjadi, Sampurna sudah bergeser menjauh.

Tetapi Tantri tidak duduk di serambi itu. Setelah meletakkan minuman dan makanan, ia pun segera masuk kembali ke ruang dalam.

Wisesa hampir saja memanggilnya. Tetapi ketika ia teringat bahwa di serambi itu ada dua orang anak muda yang lain, maka niatnya itu pun diurungkannya.

Dalam pada itu, maka Sampurna pun berkata kepada anak-anak muda, “Nah, jika kalian memang benar-benar mulai terpanggil untuk menegakkan ketenangan di padukuhan kita ini, marilah. Ayah akan menyambut dengan gembira. Selebihnya, aku ingin mempersilahkan kalian menghimpun kawan-kawan kita yang memiliki keberanian untuk berbuat sesuatu. Aku tahu, bahwa para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong bukan sekedar orang kebanyakan seperti kita. Tetapi dengan lambaran keberanian dan tekad maka kita tentu akan dapat berbuat banyak. Sementara itu di antara kita terdapat anak-anak muda seperti Manggada dan Laksana”

Kedua orang anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara Sampurna berkata pula, “Aku akan menghubungi keluarga Manggada dan Laksana. Mungkin mereka sudah mendengar berita tentang kedua orang anak muda itu”

Kedua anak muda itu memang belum menyatakan kesanggupan mereka. Nampaknya mereka masih harus mempertimbangkan beberapa hal. Namun bahwa sepeletik api kepedulian anak-anak muda itu atas keadaan padukuhannya, telah menggembirakan Sampurna.

Sejenak kemudian, maka kedua orang anak muda itu pun telah minta diri, sementara Wisesa masih ingin tinggal di rumah itu. Apalagi Tantri masih belum menemuinya karena ada kedua orang tamu anak muda yang lain.

Sepeninggal kedua anak muda itu, maka Wisesa pun berkata, “Kau telah memberikan gambaran yang salah kepada anak-anak muda itu. Apakah kau kelak tidak akan menyesal menyaksikan mereka mengalami nasib buruk? Seandainya kau berhasil membakar keberanian mereka dan dengan membabi buta melawan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong yang sudah berpengalaman dan memiliki kemampuan yang tinggi, namun kemudian jatuh korban yang tidak terhitung, kau harus bertanggung jawab”

Sampurna termangu-mangu sejenak. Meskipun ia menganggap Wisesa tidak lebih dari seorang anak muda yang cengeng, tetapi pendapatnya itu memang perlu mendapat perhatian. Bukan untuk mengurungkan kesediaan mereka menyelamatkan padukuhan Gemawang, tetapi satu cara untuk tidak membiarkan anak-anak muda itu menjadi korban.

Karena Sampurna tidak segera menjawab, maka Wisesa itu berkata selanjutnya, “Nah, bukankah kau menjadi ragu-ragu?

“Tidak” jawab Sampurna, “aku tidak menjadi ragu-ragu. Tetapi pendapatmu memang harus mendapat perhatian. Kami akan tetap melakukan perlawanan, tetapi dengan usaha agar korban tidak terlalu banyak jatuh”

“Jika ada satu orang saja yang menjadi korban, maka kaulah yang bertanggung jawab”

“Kita semuanya bertanggung jawab” jawab Sampurna.

“Tidak. Aku tentu tidak akan bersedia untuk ikut bertanggung jawab, karena aku mempunyai gagasan lain”

“Kecuali kau” jawab Sampurna pendek.

Sekali lagi wajah Wisesa menjadi merah. Sementara itu Sampurna pun kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan ruang itu.

Sampurna yang kemudian pergi ke dapur berkata kepada adiknya, “Temuilah anak itu. Jika aku terlalu lama berbicara dengan Wisesa. mungkin aku akan kehilangan kesabaran”

“Kenapa tidak kau usir saja?” bertanya Tantri.

”Aku masih mencoba mengendalikan diri dan mengingat unggah-unggah. Sebagai tuan rumah, aku masih harus berusaha menghormati seorang tamu betapapun perasaan kita bergejolak”

Tantri menggeleng. Katanya, “Biar saja ia duduk di serambi”

“Jangan begitu Tantri. Temuilah anak itu. Kau dapat saja berusaha untuk menjauhinya. Tetapi dengan baik-baik”

“Dengan baik-baik bagaimana? Ia tidak mempunyai perasaan sehingga tidak mungkin aku menolaknya dengan cara baik-baik itu. Kepada Wisesa aku harus berterus terang”

“Jangan. Orang-orang cengeng seperti itu akan dapat berbuat licik untuk mencapai maksudnya. Justru karena ia pengecut”

Tantri termangu-mangu sejenak. Dengan nada tinggi ia bergumam, “Jika ia marah, apa yang akan dilakukannya?”

“Justru yang tidak terduga-duga” jawab Sampurna yang kemudian masih membujuk adiknya, “Sudahlah. Pergi ke serambi sejenak”

Tantri akhirnya pergi juga ke serambi untuk menemui Wisesa.

“Tantri” berkata Wisesa setelah Tantri duduk di pendapa, “Aku minta kau bantu aku. Cobalah menjelaskan kepada kakakmu, bahwa menyeret anak-anak muda Gemawang untuk melawan Wira Sabet dan Sura Gentong adalah langkah yang sangat berbahaya bagi keselamatan anak-anak muda Gemawang. Mungkin Sampurna sendiri dapat disebut pahlawan kelak. Tetapi ia harus berdiri di atas alas tubuh kawan-kawan kita yang menjadi korban”

Telinga Tantri serasa menjadi panas. Tetapi ia justru tidak menjawabnya. Tantri justru berkata tentang persoalan yang lain sama sekali. Dengan nada datar ia berkata, “Aku telah membuang bibit pohon kemuning yang kau berikan”

“Kenapa?” bertanya Wisesa.

“Jadi untuk apa? Kau tidak memperbolehkan pohon itu aku tanam di depan. Padahal aku ingin menanamnya di halaman depan rumah ini”

“Tetapi kau tidak perlu membuangnya Tantri. Aku sudah berusaha dengan susah payah”

“Aku tidak tahu lagi, buat apa bibit pohon kemuning itu bagiku. Tidak ada tempat lagi untuk menanamnya selain di halaman depan. Sedangkan kau tidak memperbolehkannya”

Wisesa menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian Wisesa itupun berkata, “Sudahlah. Lupakan saja bibit pohon kemuning itu. Tetapi yang aku minta kemudian, bantu aku, agar kakakmu tidak menjerumuskan kawan-kawan kita ke dalam kesulitan”

“Aku sependapat dengan kakang Sampurna. Aku juga mendorong agar ia melakukannya” sahut Tantri.

“Tantri, kau jangan sekedar menuruti perasaan. Aku tahu bahwa perempuan memang lebih condong kepada perasaannya dari pada penalarannya. Tetapi yang akan terjadi adalah jatuhnya korban. Tidak hanya satu atau dua orang. Mungkin lima, tujuh atau bahkan sepuluh orang anak muda Gemawang”

“Wisesa” jawab Tantri, “dengar baik-baik. Untuk mencapai sesuatu perlu pengorbanan. Jika kau sudah pernah mendengar sukurlah. Jika belum, sebaiknya kau sekarang mendengarnya”

“Tantri” sahut Wisesa, “kau mulai meremehkan aku”

“Itu tergantung kepada sikapmu sendiri. Apakah kau pantas dijunjung tinggi atau diremehkan. Bahkan kau selalu saja menghambat segala usaha untuk memulihkan keadaan padukuhan ini”

“Tantri, kau jangan asal menuduh. Aku sudah melahirkan gagasan-gagasan besar yang sangat berharga bagi padukuhan kita ini. Tetapi ayahmu dan kedua anak muda yang tertangkap itu tidak mampu melaksanakannya. Itu bukan salahku. Jika gugasanku itu mampu mereka laksanakan, maka tidak akan ada korban yang bakal jatuh”

“Ada Wisesa” jawab Tantri.

“Tidak. Tidak ada benturan kekerasan”

“Korbannya setidak-tidaknya aku. Kemudian keluargaku dan jika kau mempunyai kesadaran yang tinggi dan merasa ikut memiliki, adalah padukuhan Gemawang. Aku akan diambil oleh Sura Gentong, karena ia merasa kehilangan bakal isterinya, perempuan yang akan dilarikannya itu disini. Kemudian dendamnya kepada ayah dan keluarga ini. Selanjutnya, seisi padukuhan akan dimilikinya. Sementara kau bermimpi dengan gagasan-gagasanmu itu”

Wisesa mengerutkan dahinya. Sementara Tantri berkata selanjutnya, “Sebaiknya kau tidak usah datang lagi kemari, Wisesa”

“Tantri“ keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

“Aku lebih menghormati anak-anak muda seperti Manggada dan Laksana. Atau justru mereka yang mengungsi meninggalkan padukuhan ini daripada kau”

“Jangan begitu Tantri. Jika kau tidak sependapat dengan aku, itu tidak apa-apa. Tetapi kau jangan bersikap seperti itu”

“Setidak-tidaknya untuk sementara Wisesa. Aku minta maaf, bahwa dalam keadaan yang kemelut ini, jalan pikiran kita tidak sejalan. Entahlah kelak jika segala sesuatunya telah teratasi”

Wajah Wisesa menjadi pucat. Ketika sekilas ia memandang wajah Tantri, maka Tantri juga sedang memandanginya dengan tajamnya, sehingga Wisesa itu menundukkan kepalanya.

Karena Wisesa tidak menjawab, maka Tantri berkata, “Aku tidak bermaksud mengusirmu Wisesa. Tetapi jika kita berbicara lebih banyak lagi, maka perbedaan sikap kita akan menjadi semakin jelas. Karena itu, sebaiknya kita hentikan pembicaraan ini. Mudah-mudahan kau sempat merenunginya dan bangkit bersama anak-anak muda yang lain”

Jantung Wisesa memang bergejolak. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Nampaknya Tantri sudah mengambil keputusan yang pahit baginya.

“Jika kau akan pulang, maka aku akan mengantarkanmu sampai ke pintu seketheng. Aku harap jalan pikiranmu segera berubah”

Meskipun Tantri mengang-gap Wisesa tidak berperasaan, namun anak muda itu masih dapat mengerti, bahwa sebaik-nya ia pulang saja.

Tetapi apa yang diharapkan oleh Tantri, bahwa Wisesa akan berubah pendapatnya, yang terjadi justru sebaliknya. Wisesa merasa bahwa sebab dari sikap Tantri itu adalah kedua orang anak muda yang kini berada di tangan Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Jika benar Laksana dapat mengalahkan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, namun kemudian keduanya telah dibawa kesarang mereka, tentu ada maksud-maksud tertentu pada Manggada dan Laksana. Bahkan mungkin mereka bekerja sama dengan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu sendiri” berkata Wisesa kepada diri sendiri.

Ternyata pikiran buruk telah tumbuh di dalam jantungnya. Wisesa tidak ingin bahwa Tantri mengagumi Manggada atau Laksana. Atau bahkan kedua-duanya. Karena itu, maka Wisesa berniat untuk bertemu dan berbicara dengan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong jika mereka datang ke padukuhan itu. Menurut kata beberapa orang, maka para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong memang sudah mulai berkeliaran lagi di padukuhan Gemawang.

Sementara itu, Ki Pandi yang mengikuti perkembangan keadaan barak Wira Sabet dan Sura Gentong, telah berhasil berhubungan dengan Manggada dan Laksana. Karena keduanya dinilai tidak berbahaya lagi, serta atas usaha Pideksa yang masih dipengaruhi sisa-sisa kenangan masa kanak-kanaknya, maka Manggada dan Laksana telah diperkenankan tidur di sebuah barak kecil bersama Sampar atau yang dikenal oleh Ki Pandi. Ki Carang Aking.

Kesempatan itu telah dipergunakan oleh keduanya dengan sebaik-baiknya. Menjelang malam, maka Manggada yang sedang menimba air disumur tidak terlalu jauh dari dinding barak, telah bersenandung dengan lagu yang dikenal benar oleh Ki Pandi. Isyarat itulah yang memungkinkan Ki Pandi dapat bertemu dengan Manggada dan Laksana tanpa diketahui oleh para penjaga barak itu. Bahkan Ki Pandi berhasil masuk bukan saja ke dalam lingkungan dinding barak, tetapi masuk ke dalam barak kecil, yang dipergunakan bagi Sampar, Manggada dan Laksana.

Pertemuan Ki Pandi dengan Ki Carang Aking adalah pertemuan dari dua orang yang sudah saling mengenal dengan baik, namun yang sudah cukup lama tidak bertemu.

“Ki Sapa Aruh memang jarang berada di barak ini” berkata Sampar yang sehari-hari nampak tua dan lemah. Tetapi di dalam baraknya meskipun wajahnya tetap membayangkan umurnya yang tua, tetapi ia nampak tegar dan kuat.

“Apakah tidak dapat diketahui, kapan ia berada disini?” bertanya Ki Pandi.

“Tidak. Jika Ki Sapa Aruh datang ke barak ini, ia tidak akan terlalu lama disini. Untungnya, Ki Sapa Aruh tidak begitu menghiraukan kami yang disebut budak-budak. Jika saja ia tertarik untuk bertemu dan berbicara dengan kami sekali dua kali, agaknya memang sulit untuk menyembunyikan diri lagi” jawab Sampar yang dikenal oleh Ki Pandi dengan sebutan Ki Carang Aking.

Ki Pandi itu pun mengangguk-angguk. Kepada Manggada dan Laksana iapun berpesan, “Jika demikian, maka kalian berdua harus berhati-hati. Jika orang itu berada di barak ini, kalian berdua harus berusaha untuk menghindarinya. Aku yakin jika Ki Carang Aking masih mempunyai kemampuan untuk menghindari penglihatan Ki Sapa Aruh. Tetapi kalian berdua tentu akan mengalami kesulitan”

Manggada dan Laksana itu pun mengangguk kecil, sementara Ki Pandi pun berkata, “Karena kemungkinan itu, maka sebaiknya kalian tidak terlalu lama berada disini”

“Jika mereka pergi, akupun harus pergi” berkata Ki Carang Aking, “jika tidak, maka aku akan menjadi sasaran kemarahan Sura Gentongdan saudara-saudara seperguruannya”

“Bagaimana dengan Wira Sabet?” bertanya Ki Pandi.

”Meskipun termasuk orang yang garang, tetapi Wira Sabet dan anaknya tidak segarang Sura Gentong dan saudara-saudara seperguruannya”

“Baiklah, Ki Carang Aking. Mudah-mudahan Ki Jagabaya dan Sampurna berhasil membangunkan orang-orang Gemawang yang masih tertidur nyenyak” berkata Ki Pandi kemudian.

Demikianlah, maka lewat tengah malam, Ki Pandi pun dengan hali-hati meninggalkan bilik Ki Carang Aking. Sebagaimana ia masuk, maka iapun berhasil keluar dari barak itu tanpa diketahui oleh para penjaga barak itu.

Hubungan itu telah menenangkan keluarga Manggada dan Laksana. Meskipun kecemasan masih tetap ada di antara mereka, karena setiap saat orang yang bernama Ki Sapa Aruh itu akan datang.

Ketika Sampurna kemudian datang menghubungi keluarga Manggada dan Laksana, maka Sampurna pun mendapat keterangan tentang kedua orang anak muda yang berada di dalam barak Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Sasaran mereka kemudian bukan sekedar dendam atas padukuhan Gemawang dan Kademangan Kalegen. Tetapi nampaknya bagi Ki Sapa Aruh dan para pemimpin yang lain, sasaran akan lebih jauh lagi. Sebagaimana sekarang ternyata bahwa barak itu telah menjadi sarang sekelompok perampok dan penyamun yang ganas” berkata Ki Pandi. Namun Ki Pandi itu pun berkata selanjutnya, “Tetapi untuk beberapa hari, agaknya masih cukup aman bagi Manggada dan Laksana berada di barak itu”

Sampurna mengangguk-angguk kecil. Katanya kemudian, “Aku melihat, ada perubahan sikap dari anak-anak muda di padukuhan ini selelah Manggada dan Laksana menyerahkan diri. Meskipun ada juga sikap yang justru sebaliknya, yang menganggap bahwa sikap Manggada dan Laksana itu justru akan dapat menimbulkan persoalan-persoalan baru”

“Pendapat di padukuhan ini untuk sementara memang akan dapat terpecah. Tetapi jika kita dapat mengatasi bayangan hitam Wira Sabet dan Sura Gentong, maka keadaannya tentu akan segera menjadi baik” berkata Ki Kertasana.

“Mudah-mudahan kita dapat segera mengatasinya“ berkata Sampurna kemudian pagi ini ayah masih menghubungi Ki Bekel. Bagaimanapun juga ayah masih berharap, bahwa Ki Bekel dapat bangkit. Pengaruhnya akan menjadi cukup besar”

“Mudah-mudahan usaha Ki Jagabaya itu juga akan berhasil, ngger” berkata Ki Kertasana kemudian.

Dengan keterangan itu, maka Sampurna menjadi semakin mantap. Ia berharap bahwa segala usaha tidak akan menjadi sia-sia. Namun dengan nada dalam Sampurna pun menyatakan kecemasannya, bahwa korban akan banyak yang berjatuhan. Anak-anak muda Gemawang akan menjadi gampang jika mereka benar-benar harus berkelahi melawan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong yang sudah berpengalaman serta memiliki dasar-dasar kemampuan olah kanuragan.

“Kita memang tidak dapat membentuk mereka menjadi anak-anak muda yang berilmu dalam waktu yang sangat singkat, ngger. Tetapi setidak-tidaknya kita dapat memberikan petunjuk-petunjuk, apa yang sebaiknya harus mereka lakukan jika hal seperti itu benar-benar akan terjadi”

“Bagaimana mungkin kita dapat memberikan petunjuk kepada mereka? Akhir-akhir ini, orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong sudah mulai nampak lagi berkeliaran meskipun mereka belum mengambil tindakan-tindakan baru yang dapat membuat orang-orang Gemawang semakin ketakutan”

“Kita akan memikirkan satu cara yang paling baik” berkata Ki Kertasana, “jika perlu, kita membagi diri. Kitalah yang akan datang kepada anak-anak muda yang menyatakan kesediaan mereka untuk berjuang membebaskan padukuhan ini dari ketakutan dan kecemasan. Kita minta dua atau tiga orang anak muda untuk berkumpul di salah satu rumah di antara mereka. Kemudian salah seorang dari kita akan datang. Kita dapat memberikan petunjuk-petunjuk yang penting. Setidak-tidaknya bagaimana cara mereka berlindung di antara orang-orang yang memiliki kemampuan olah kanuragan disaat-saat yang paling gawat dalam pertempuran. Namun dalam keadaan yang memungkinkan mereka dapat membantu mengurangi tekanan lawan. Tetapi memang tidak mungkin untuk menghindari korban yang bakal jatuh”

Sampurna sependapat dengan jalan pikiran Ki Kertasana meskipun dengan demikian mereka akan menjadi sangat sibuk. Tetapi kesibukan itu masih akan mungkin disembunyikan dari penglihatan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Ya. Memang berbeda dengan apabila kita mengumpulkan anak-anak muda itu di satu tempat. Apalagi lebih dari sepuluh orang” berkata Sampurna.

Demikianlah, maka atas persetujuan Ki Jagabaya, Sampurna telah mulai dengan langkah-langkah yang nyata. Kedua orang anak muda yang pernah datang kepadanya, telah membantunya.

Akhirnya Sampurna mendapat dukungan dari beberapa orang anak muda padukuhan Gemawang. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, tetapi justru keberanian mereka menentang pendapat sebagian besar orang-orang Gemawang, bahwa usaha untuk melawan Wira Sabet dan Sura Gentong hanya akan menimbulkan malapetaka, telah menyatakan kesungguhan dan kemantapan niat mereka.

Dengan sangat berhati-hati mereka telah menetapkan tempat-tempat berkumpul kelompok-kelompok yang sangat kecil, yang terdiri hanya oleh dua atau tiga orang.

Sementara itu, sebagaimana direncanakan, maka beberapa orang yang dianggap memiliki ilmu, justru datang kepada mereka untuk memberikan petunjuk-petunjuk apa yang harus mereka lakukan, jika mereka harus bertempur melawan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong.

Tugas itu memang melelahkan. Ki Jagabaya sendiri, Sampurna, Ki Kertasana, Ki Citrabawa dan bahkan Ki Pandi telah ikut pula membantu mereka, mendatangi rumah-rumah yang telah ditentukan. Mereka juga menuntun bagaimana sebaiknya mereka memegang senjata, mengayunkannya, menangkis dan menghindar. Mereka juga memberi tahukan, bahwa jika keadaan memaksa, jangan merasa malu untuk bergeser mundur, bahkan berlari-lari untuk mencuri perlindungan di antara pertempuran yang sedang berlangsung. Namun mereka pun memberitahukan pula, bahwa mereka akan mendapat kesempatan menyerang mereka yang sedang usik mengejar lawannya.

Namun yang lebih penting lagi bagi mereka yang datang kepada kelompok-kelompok kecil itu adalah justru mendorong keberanian mereka untuk berbuat sesuatu bagi kampung halaman.

Memang tidak banyak yang dapat diharapkan dalam waktu yang singkat itu. Meskipun setiap hari, orang-orang yang memiliki bekal ilmu itu harus berkunjung dua tiga kali di tempat-tempat yang ditentukan, namun mereka tidak dapat dengan serta merta membuat anak-anak muda itu berkemampuan tinggi.

Namun demikian, maka mereka memperkenalkan jenis-jenis senjata dan penggunaannya, maka mereka berharap untuk dapat mengurangi korban yang jatuh dari antara anak-anak muda itu.

Sementara itu, orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong telah mulai menakut-nakuti orang padukuhan Gemawang lagi. Dua orang di antara mereka telah berkeliaran di padukuhan tanpa ada orang yang mengganggu.

Dalam pada itu, Wisesa yang otaknya dicengkam oleh niat buruk terhadap Manggada dan Laksana, karena setiap kali Tantri memuji mereka, benar-benar ingin menemui kedua orang itu. Betapapun ia dicengkam ketakutan, tetapi ia telah memaksa dirinya untuk melakukannya. Perasaan dengki yang membakar jantungnya itu tidak dapat lagi disingkirkannya.

Demikianlah, ketika Wisesa melihat seseorang berjalan tergesa-gesa dan memberitahukan bahwa dua orang pengikut Wira Sabet datang lagi ke padukuhan mereka, maka Wisesa pun telah memaksa dirinya untuk menemui keduanya.

Kedua orang itu terkejut melihat seorang anak muda dengan sengaja menemuinya. Karena itu, maka kedua orang itu pun segera mempersiapkan diri.

Tetapi Wisesa sama sekali tidak menunjukkan niatnya untuk melakukan perlawanan. Bahkan masih berjarak beberapa langkah, Wisesa berhenti sambil membungkuk hormat.

“Ampun Ki Sanak” berkata Wisesa, “aku tidak bermaksud apa-apa”

Kedua orang itu telah mengambil jarak. Seorang di antara mereka bertanya dengan suara serak, “Kau mau apa?”

“Ampun Ki Sanak. Aku ingin memberikan keterangan yang mungkin berarti bagi Ki Sanak”

“Keterangan apa?” bertanya orang itu lagi. Wisesa pun memandang keadaan di sekelilingnya. Sepi. Tidak ada orang yang turun ke jalan.

“Ki Sanak” berkata Wisesa, “aku ingin memberitahukan, bahwa ada yang tidak wajar pada Manggada dan Laksana”

Kedua orang itu nampak terkejut. Bahkan seorang di antara mereka telah melangkah maju mendekati Wisesa.

Sikap orang itu membuat Wisesa kelakuan. Karena itu, maka sambil terbungkuk-bungkuk hormat ia berkata, “Ampun, Ki Sanak. Ampun. Aku bermaksud baik”

“Katakan, apa yang tidak wajar itu” bentak orang itu.

“Menurut ceritera orang, ketika Mangada, Laksana dan Sampurna berkuda berkeliling padukuhan itu dan bertemu dengan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, mereka telah berselisih dan berkelahi”

“Kau hanya menyebut namanya saja Wira Sabet dan Sura Gentong?” geram orang itu.

“Maksudku, paman Wira Sabet dan paman Wira Gentong” Wisesa menjadi gagap.

“Teruskan” desak orang itu.

“Dalam perkelahian itu, Laksana sendiri dapat mengalahkan ketiga orang penakut paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong” Wisesa meneruskan.

“Apa? Laksana mampu mengalahkan tiga orang kawan kami?” bertanya orang itu dengan nada tinggi.

Wisesa menjadi ragu-ragu. Ia melihat seakan-akan ada nyala api di mata kedua orang itu.

“Hanya menurut kata orang” jawab Wisesa dengan kaki gemetar.

“Setan kau geram yang seorang lagi” berani benar kau mengatakan bahwa tiga orang kawan kami kalah oleh seorang anak muda. He, jika kau belum tahu, dengarlah, Laksana dan Manggada sekarang menjadi tawanan kami”

“Itulah yang ingin aku katakan” suara Wisesa menjadi terputus-putus. Namun ia berkata selanjutnya, “justru karena Laksana memenangkan perkelahian itu, namun keduanya menjadi tawanan. Jika benar hal itu terjadi, bukankah berarti ada semacam permainan yang harus diperhatikan?”

Kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu termangu-mangu. Sementara Wisesa yang merasa sedikit mendapat angin meneruskan, “Bukankah hal itu sangat tidak wajar, jika benar-benar telah terjadi?”

“Kau lihat sendiri perkelahian itu?” bertanya salah seorang dari keduanya.

“Tidak, Ki Sanak, tetapi demikian kata orang. Aku mohon Ki Sanak berhati-hati dengan kedua orang itu. Mereka benar-benar licik. Mungkin mereka mempergunakan uang atau benda-benda berharga lainnya untuk melakukan rencananya”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Sementara Wisesa berkata pula, “Selain daripada itu, ternyata Sampurna di padukuhan ini berhasil mempengaruhi beberapa orang anak muda. Meskipun sampai saat ini jumlahnya belum begitu banyak, tetapi semakin lama tentu akan menjadi semakin banyak. Karena itu, sebaiknya paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong menjadi lebih berhati-hati”

“Anak muda” salah seorang dari kedua orang itu menggeram sambil melangkah mendekat. Ketika orang itu kemudian memegangi baju Wisesa, maka rasa-rasanya jantung Wisesa terlepas dari tangkainya, “Kau jangan mengigau. Apakah kau bermaksud menakut-nakuti kami?”

“Tidak, Ki Sanak. Tidak” bukan saja suara Wisesa yang gemetar, tetapi juga tubuhnya, “sudah aku katakan. Aku bermaksud baik. Aku berkata sebenarnya”

“Kenapa kau sampai hati memberi tahukan kepada kami tentang hal seperti itu? Bukankah itu berarti satu pengkhianatan bagi kawan-kawanmu sendiri?”

Pertanyaan itu sama sekali tidak diduganya. Wajah Wisesa menjadi pucat dan darahnya serasa berhenti mengalir.

“Kenapa?” orang itu mengguncang tubuh Wisesa, “apa yang kau kehendaki sebenarnya?”

Wisesa tidak dapat berpikir lagi. Yang kemudian terlontar dari mulutnya adalah, “Ampun. Aku tidak berkhianat. Tetapi aku tidak tahan mendengar gadis yang aku inginkan selalu mengagumi Manggada dan Laksana”

“O. Jadi kau dengan licik ingin memenangkan persainganmu untuk memperebutkan seorang gadis? Kau telah memfitnah kawan-kawanmu itu, agar kami menghukumnya” berkata orang yang memegangi baju Wisesa itu. Sementara orang yang lain berkata, “Kita bawa anak itu. Biar ia berbicara di hadapan Manggada dan Laksana.”

Wisesa menjadi semakin ketakutan. Kakinya serasa menjadi lemah, sehingga ia pun telah jatuh berlutut sambil merengek, “Ampun. Jangan bawa aku. Aku mohon ampun. Aku bermaksud baik”

“Baik buat siapa?” bentak orang itu.

Wisesa benar-benar telah menangis.

Orang yang tinggal di sebelah jalan, telah mendengar tangis Wisesa. Merekapun mendengar dua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong membentak-bentak meskipun mereka tidak dapat mendengar dengan jelas kata-kata yang diucapkan. Namun mereka mendengar orang-orang itu menyebut nama Manggada dan Laksana.

Namun, apapun yang terjadi, orang-orang itu tidak dapat berbuat apa-apa.

Tetapi akhirnya pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu melepaskan baju Wisesa. Ketika orang itu mendorong Wisesa, maka anak itu pun telah jatuh terlentang.

“Bangun anak cengeng” bentak orang itu.

Dengan susah payah Wisesa berusaha untuk bangkit dan duduk di tanah. Kepalanya tunduk, sementara ia masih saja menangis ketakutan.

“Baiklah anak cengeng” berkata orang itu, “kami akan kembali ke tempat tinggal kami. Kami akan melihat kebenaran kata-katamu. Jika kau berkata sebenarnya, kami akan mengucapkan terima kasih kepadamu. Tetapi jika kau berbohong, maka kaulah yang akan dihukum”

Seberkas harapan telah tumbuh lagi dihati Wisesa. Ia berharap bahwa orang itu berhasil mengetahui rahasia Manggada dan Laksana, sehingga keduanya akan mendapat hukuman sehingga mereka kelak tidak akan lagi dikagumi oleh Tantri.

Sejenak kemudian, maka kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu pun meninggalkan padukuhan Gemawang kembali ke barak mereka.

Sementara itu, salah seorang yang tinggal di sebelah jalan ternyata telah memberanikan diri, merayap mendekati dinding rumahnya yang menghadap ke jalan. Ia berusaha untuk mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu dengan Wisesa.

Meskipun tidak begitu jelas, tetapi keduanya dapat meraba, bahwa Wisesa telah mengadukan Manggada dan Laksana.

“Gila anak itu” desis orang di sebelah jalan, “ia tidak memikirkan akibatnya. Manggada dan Laksana yang telah melakukan tindakan yang aneh itu akan dapat mengalami perlakuan yang sangat buruk, karena mereka sengaja menyerahkan diri justru setelah Laksana memenangkan perkelahian melawan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong”

Orang itu justru menjadi gelisah. Tetapi ketakutan yang mencengkam jantungnya, membuatnya kebingungan. Apa yang harus dilakukannya.

“Kenapa Wisesa itu memberitahukan hal itu kepada para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong?” pertanyaan itu telah membuat orang itu semakin gelisah.

Dalam kegelisahan orang itu telah pergi ke rumah tetangganya dan menceriterakan apa yang didengarnya.

Tetapi seperti dirinya sendiri, tetangganya itu juga tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.

Bahkan tetangganya itu berkata, “Manggada dan Laksana juga gila. Kenapa ia menyerahkan dirinya jika Laksana telah memenangkan perkelahian melawan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong”

Akhirnya keduanya memang tidak dapat berbuat apa-apa.

Sementara itu, kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu langsung kembali ke baraknya. Pemberitahuan Wisesa itu telah menjadi bahan pembicaraan keduanya di sepanjang jalan kembali ke barak mereka itu.

Ketika keduanya sampai di barak, maka keduanya pun segera melaporkan hasil pengamatan mereka atas padukuhan Gemawang. Namun keduanya masih belum melaporkan pengaduan Wisesa tentang Manggada dan Laksana.

”Nampaknya segala sesuatunya masih tidak berubah” berkata salah seorang dari mereka.

Wira Sabet dan Sura Gentong yang mendengarkan laporan itu mengangguk-angguk. Dengan nada keras Sura Gentong berkata, ”Setiap hari kita harus melihat perkembangan keadaan di padukuhan Gemawang. Aku sudah tidak sabar lagi. Kita tinggal menunggu Ki Sapa Aruh. Demikian ia datang, maka kita akan segera bertindak. Semakin banyak kita memberi kesempatan, maka Ki Jagabaya akan menjadi semakin berani. Ia tentu mengira bahwa kita hanya banyak berbicara saja tanpa berbuat apa-apa”

Wira Sabet mengangguk-angguk. Katanya, “Sebaiknya kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya lebih dahulu. Demikian Ki Sapa Aruh datang, maka kita sudah siap. Pagi, siang atau malam kita dapat segera berangkat”

Kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu tidak lagi berkepentingan dengan pembicaraan tentang persiapan para penghuni barak itu. Mereka akan berbicara dengan saudara-saudara seperguruan mereka.

Karena itu, maka keduanya pun segera minta diri, meninggalkan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Ternyata keduanya pun segera mencari Manggada dan Laksana, yang dipekerjakan di kandang kuda. Namun sebelumnya keduanya telah mengajak seorang kawannya lagi.

Bertiga mereka menemui Manggada dan Laksana di kandang kuda. Namun sebelum mereka berbicara, orang tua yang disebut Sampar telah diminta oleh salah seorang di antara mereka mengambil air sambil membentak, “Beginikah caranya kalian memberi makan kuda? Jika kalian memberinya rendeng dan dedak padi, maka airnya harus lebih banyak lagi agar kuda-kuda itu tidak terlalu sulit menelannya. Kecuali jika kalian memberi makan rumput segar, maka kalian tidak perlu air”

Tetapi ketika Manggada memungut kelenting untuk mengambil air, maka orang itu membentak pula, “Biar orang tua yang malas itu. Kalian akan mendapat tugas lain”

Manggada dan Laksana termangu-mangu. Namun orang tua itulah yang kemudian mengambil kelenting itu dan membawanya ke sumur.

Demikian orang tua itu pergi, maka salah seorang dari kedua orang yang kembali dari padukuhan Gemawang itu berkata, “Manggada dan Laksana. Aku baru saja kembali dari Gemawang untuk melakukan tugas-tugasku sebagaimana biasa. Di Gemawang kami bertemu dengan seorang anak muda yang memberitahukan kepadaku, apa yang telah terjadi dengan kalian berdua. Anak muda itu tahu benar, bahwa kalian hanya berpura-pura saja menyerah dan kami bawa ke barak ini”

“Siapa namanya?” bertanya Manggada.

“Kami tidak menanyakannya. Tetapi ia anak cengeng. Ia mengatakan bahwa ia tidak tahan mendengar seorang gadis yang ia inginkan mengagumi kalian berdua”

“He?” Laksana dengan serta-merta bertanya, “gadis yang mana yang kau maksud?”

“Kami tidak tahu”

Namun Laksana pun tertawa. Katanya, “Tentu Wisesa”

“Ia juga mengatakan bahwa Sampurna telah berhasil meyakinkan beberapa orang anak muda untuk membantunya”

“Setan anak itu. Jadi apa yang akan kalian lakukan?” bertanya Manggada.

“Aku akan membungkamnya. Untung ia melaporkannya kepadaku. Jika pada suatu saat ada kawan kami yang lain mendapat laporan pula, maka itu akan sangat berbahaya. Bukan saja bagi kami, tetapi juga bagi kalian”

Manggada masih akan menjawab. Tetapi orang itu berdesis, “Orang tua itu lelah kembali”

Manggada menarik nafas. Katanya, “Kau dapat menakut-nakutinya agar ia tidak berbicara lagi dengan siapapun. Tetapi kau tidak usah menyakitinya”

“Besok aku masih akan pergi ke padukuhan. Tetapi pada suatu saat, tentu orang lain yang akan pergi” berkata orang itu, orang yang pernah dikalahkan oleh Laksana, namun yang kemudian membawa Laksana dan Manggada ke dalam barak itu.

Orang itu mengangguk-angguk. Namun ketika orang tua itu mendekat, orang itu mulai membentak lagi, “Cepat. Sebelum Pideksa melihat, kandang ini harus sudah bersih”

Manggada dan Laksana tidak menjawab. Tetapi keduanya pun kemudian telah mengambil sapu lidi untuk membersihkan kandang yang sebenarnya sudah bersih.

Beberapa saat kemudian, maka ketiga orang itu pun segera meninggalkan kandang kuda itu, sementara Sampar tengah menuang air bersih pada kotak makanan kuda.

“Aku sudah terbiasa memberi makan kuda dengan rendeng yang dipotong lembut dengan dedak. Aku sudah terbiasa dengan takaran air yang seharusnya. Tetapi tiba-tiba saja orang-orang dungu itu mencoba mengajariku” berkata orang tua itu.

“Ki Carang Aking” desis Manggada, “ternyata ada sesuatu yang dikatakan orang-orang itu kepada kami”

“Apa?” bertanya orang tua yang di barak itu dipanggil Sampar.

Manggada dan Laksanapun kemudian berceritera kepada orang tua itu, sebagaimana dikatakan oleh ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu.

Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kalian memang harus berhati-hati terhadap anak itu. Sebaiknya kalian beritahukan kepada Ki Pandi, agar ia berhubungan dengan Sampurna”

“Mudah-mudahan Ki Pandi datang malam nanti”

Ketiganya kemudian berhenti berbicara ketika seorang saudara seperguruan Wira Sabet datang. Seorang yang berwajah tampan dengan senyum yang banyak nampak menghiasi bibirnya.

Sambil menepuk bahu Manggada ia berkata, “Kalian telah bekerja dengan rajin disini. Kau juga telah memelihara kudanya dengan baik. Terima kasih anak muda”

Manggada mengangguk hormat sambil menjawab, “Itu sudah kewajiban kami”

Orang itu tertawa. Katanya, “Aku akan pergi sebentar. Sediakan kudaku. Pasang pula pelananya”

Manggada dan Laksanapun kemudian menjadi sibuk. Mereka segera mengeluarkan kuda orang ilu serta memasang pelananya pula.

Namun demikian Laksana menuntun kuda itu mendekat, maka orang itu sambil tersenyum dan sekali lagi menepuk bahu Manggada berkata, “Membungkuklah anak muda”

Manggada menjadi bingung. Ia tidak tahu maksud orang itu. Sekali lagi orang itu berkata, “Membungkuklah disini”

Manggada tidak bertanya. Tanpa diketahui maksudnya, Manggada pun telah membungkuk di sebelah orang itu.

Tetapi orang itu menekan punggung Manggada sambil berkata, “Terlalu tinggi. Membungkuklah seperti orang yang merangkak”

Manggada telah melakukannya pula meskipun dengan jantung yang berdebar-debar.

Namun demikian Manggada melakukannya, maka ia merasa kaki orang itu menapak di punggungnya.

Ternyata Manggada telah dipergunakannya alas untuk naik kepunggung kudanya.

Manggada mengumpat di dalam hati. Hampir saja ia kehilangan kesabarannya. Namun ketika ia memandang wajah Ki Carang Aking serta kedip matanya, Manggada berusaha menahan hatinya.

Namun ia masih terkejut lagi ketika orang itu tertawa sambil menggerakkan kendali kuda. Demikian kudanya mulai berlari, tangan orang itu telah mendorong kepala Manggada sehingga Manggada terhuyung-huyung beberapa langkah. Tetapi Manggada tidak jatuh terguling.

Suara tertawa orang itu masih terdengar, sementara kudanya berlari di antara bangunan bambu di barak itu dan kemudian hilang di belakang sudutnya.

“Orang gila” geram Manggada, “hampir saja aku patahkan lehernya”

“Kau masih harus menahan diri” berkata Ki Carang Aking.

Manggada mengangguk-angguk. Sementara, Laksana bertanya kepada orang tua itu, “Apakah benar bahwa yang nampaknya selalu tersenyum itu adalah orang yang paling garang di antara saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong?”

Orang tua itu mengangguk. Katanya, “Ya. Ia adalah orang yang paling kasar dan paling garang. Ujud lahiriahnya ternyata tidak menunjukkan sikap hatinya. Kita memang harus berhati-hati terhadapnya”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka mulai merasakan sikap yang kasar dan sama sekali tidak menghargai orang lain itu.

Namun mereka tidak dapat berbicara lebih banyak. Seorang lagi saudara seperguruan Wira Sabet telah datang ke kandang. Orang yang wajahnya nampak bengis dan kasar.

Manggada dan Laksanapun kemudian telah sibuk mempersiapkan kuda orang itu. Sementara orang itu berdiri saja tanpa berkata sepatah katapun. Tetapi ia pun tidak berbuat apa-apa ketika Laksana menyerahkan kendali kudanya.

Demikian orang itu menerima kendali kudanya, maka ia pun segera meloncat naik dan meninggalkan kandang kuda itu.

“Ia tidak banyak berbicara” berkata Sampar.

“Seperti sebuah kedung yang airnya nampak diam. Tetapi tentu kedung yang dalam dan barangkali terdapat beberapa ekor buaya di dalamnya” berkata Laksana.

Sampar tertawa. Katanya, “Ya. Agaknya memang demikian”

Sepeninggal orang itu, maka ketiganyapun lelah kembali ke dalam kerja. Membersihkan kandang dan sekitarnya. Mengisi kotak-kotak tempat makanan dan menyimpan rumput segar sebagai persediaan.

Namun setelah beberapa hari di tempat itu, maka Manggada dan Laksanapun mengetahui pula, bahwa segerombolan orang yang dipimpin oleh Wira Sabet dan Sura Gentong itu memang segerombolan perampok yang bergerak di daerah yang luas. Sementara itu Ki Sapa Aruh agaknya telah menghubungkan kelompok itu dengan kelompok-kelompok lain yang memiliki kegiatan yang sama.

“Kita memang harus menghentikannya” berkata Ki Carang Aking yang sehari-harinya nampak tua dan lemah itu.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun Laksana pun berkata, “Tetapi apakah kita mempunyai cukup kekuatan untuk melakukannya?”

“Nanti malam, mudah-mudahan Ki Pandi benar datang. Kita akan menghitung kekuatan kita agar kita tidak terjebak dalam kesulitan” berkata Ki Carang Aking.

Manggada dan Laksana memang menanti datangnya malam dengan gelisah. Rasa-rasanya waktu berjalan sangat lamban. Apa saja sudah mereka kerjakan untuk melupakan kegelisahan mereka. Tetapi rasa-rasanya masih saja tersisa waktu yang panjang.

Ketika senja turun, keduanya masih belum dapat beristirahat dengan tenang. Masih ada beberapa ekor kuda yang belum kembali ke kandangnya.

Bahkan Pideksa dan pamannya, Sura Gentong yang pergi sejak fajar, masih juga belum kembali.

Tetapi ternyata Ki Pandi tidak menunggu sampai semua kuda terkumpul. Ia memasuki barak tidak lama setelah malam turun. Menurut Ki Pandi, justru saat-saat yang paling aman, karena para peronda menganggap bahwa saat-saat seperti itu masih belum perlu diawasi dengan ketat.

Tetapi baik Ki Pandi maupun Ki Carang Aking tidak menjadi cemas tentang orang-orang yang belum kembali. Mereka akan mendengar derap kaki kuda mendekati kandang sehingga mereka sempat keluar dari bilik mereka sementara Ki Pandi sempat bersembunyi di kolong amben jika perlu.

Sebenarnyalah bahwa Ki Pandi dan Ki Carang Aking telah membuat perhitungan, apakah mereka akan dapat menghentikan segerombolan orang yang dipimpin oleh Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Di padukuhan ada beberapa orang yang dapat diperhitungkan” berkata Ki Pandi.

“Berapa orang?” bertanya Ki Carang Aking.

“Ki Kertasana, ayah Manggada. Ki Citrabawa, ayah Laksana dan sekaligus gurunya serta guru Manggada. Ki Jagabaya dan anak-anaknya, Sampurna. Menurut beberapa keterangan sebenarnya juga Ki Bekel. Tetapi Ki Bekel telah dibayangi oleh seribu satu macam keraguan dan kecemasan. Kemudian Manggada dan Laksana sendiri”

“Selain itu ada Ki Pandi” desis Ki Carang Aking.

“Dan Ki Carang Aking” sahut Ki Pandi.

“Bagaimana dengan harimau-harimaumu itu?” bertanya Ki Carang Aking.

“Bukankah keduanya dapat membantu menakut-nakuti para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong?” Sambung Ki Carang Aking dan yang kemudian berkata pula, “Ada dua orang kemanakanku disini”

“Kemanakan?” bertanya Ki Pandi.

“Mereka juga menjadi budak disini sebagaimana kami” jawab Ki Pandi, “tetapi aku berharap bahwa keduanya akan dapat membantu menghentikan kegiatan gerombolan ini”

“Sejak kapan mereka ada disini?” bertanya Manggada.

“Bersama dengan aku. Kami bertiga bersama-sama disekap di barak ini” jawab Ki Carang Aking.

“Apakah aku pernah melihat mereka berdua?” bertanya Laksana ragu.

“Tentunya sudah. Mereka adalah anak-anak yang mendapat tugas untuk menyabit rumput bagi kuda-kuda ini”

“Yang mana?” bertanya Laksana sambil mengerutkan dahinya.

Ki Carang Aking tersenyum. Katanya, “Kalian memang jarang berhubungan langsung. Keduanya adalah anak-anak cacat. Seorang nampaknya seperti kehilangan kekuatan di separuh tubuhnya, sedang yang lain nampaknya memang agak kurang lengkap penalarannya”

“O” Manggada dan Laksana hampir berbareng menyahut.

Sementara itu Laksanapun berkata, “Ternyata anak-anak muda itu. Kami memang jarang berhubungan langsung. Tetapi mereka nampak meyakinkan sekali”

“Sebagaimana angger berdua” berkata Ki Carang Aking sambil tersenyum.

Ki Pandipun tertawa pendek. Katanya, “Jika demikian, kita mempunyai harapan”

“Ya” jawab Ki Carang Aking, “disini kekuatan yang kami ketahui adalah Wira Sabet dan Sura Gentong bersama empat orang saudara seperguruannya. Ki Sapa Aruh yang mudah-mudahan tidak menyeret orang lain lagi di dalam barak ini”

“Mudah-mudahan tidak. Aku kira ia juga tidak mau disaingi oleh orang lain yang memiliki kemampuan sejajar dengan kemampuannya” berkata Ki Pandi.

Namun pembicaraan merekapun terhenti. Mereka mendengar derap kaki kuda. Lebih dari satu.

“Tentu Sura Gentong dan Pideksa” berkata Ki Carang Aking.

Orang tua itu pun kemudian keluar dari biliknya bersama Manggada dan Laksana, sementara Ki Pandi tetap berada di biliknya. Tetapi ia sudah siap untuk bersembunyi, apabila perlu.

Namun agaknya Sura Gentong dan Pideksa itu tidak sempat berlama-lama di kandang. Nampaknya keduanya sangat letih, sehingga keduanya ingin segera beristirahat.

Demikian Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana selesai menyimpan kedua ekor kuda itu serta memberinya minum dan makan, maka keduanya pun segera kembali ke dalam bilik mereka untuk meneruskan pembicaraan mereka dengan Ki Pandi.

Sebelum Ki Pandi kemudian meninggalkan bilik itu, Manggada dan Laksana sempat memberitahukan sebagaimana dikatakan oleh orang-orang yang bertemu Wisesa di padukuhan Gemawang.

“Sampaikan kepada Sampurna, agar ia menjadi lebih berhati-hati” berkata Ki Carang Aking yang mengikuti pembicaraan itu.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Untunglah bahwa orang yang mendapat pengaduan Wisesa adalah orang-orang yang pernah berhubungan dengan Manggada dan Laksana, sehingga pengaduan itu tidak langsung didengar oleh Wira Sabet dan Sura Gentong” meskipun demikian ia pun berkata pula, “tetapi bagaimanapun juga hal itu akan menjadi ancaman bagi persiapan yang dilakukan oleh orang-orang padukuhan Gemawang. Jika pengaduannya itu tidak segera mendapat tanggapan, mungkin Wisesa akan mengadu lagi. Kemungkinan buruk dapat terjadi karena Wisesa mungkin akan bertemu dan berbicara dengan orang lain”

“Aku sudah berpesan, agar kedua orang itu besok menemui Wisesa dan mengancamnya untuk tidak berbicara lagi tentang hal itu. Mudah-mudahan mereka berhasil menakut-nakuti Wisesa yang hatinya memang tidak lebih besar dari biji sawi itu”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun Sampurna memang harus mendapat peringatan agar menjadi lebih berhati-hati. Ki Pandi juga harus mengingat anak-anak muda yang sedang bersiap-siap untuk membantu Ki Jagabaya menenangkan padukuhan mereka dari kegelisahan yang berkepanjangan.

Ki Pandi pun kemudian telah minta diri. Namun Manggada pun berpesan, “Besok kami berharap Ki Pandi untuk datang lagi. Mungkin ada sesuatu yang dapat kami ceriterakan tentang barak ini”

“Baiklah” berkata Ki Pandi, “besok pada saat seperti ini aku akan datang lagi. Jika berbahaya, beri aku isyarat. Jika besok saat seperti ini pintu bilikmu ini terbuka lebar, berarti aku harus menunda beberapa saat”

“Jadi kami harus menutup pintu bilik ini jika kami menganggap keadaan aman?” bertanya Ki Carang Aking.

“Ya” jawab Ki Pandi.

“Tetapi bagaimana kami dapat memberitahukan kepadamu, jika kebetulan seseorang ada di dalam bilikku dan minta agar bilik ini ditutup?”

“Berbicaralah agak keras sehingga aku dapat mendengar apa yang kalian bicarakan. Kecuali jika kalian bertiga dicekik hantu disini” berkata Ki Pandi.

Mereka yang ada di bilik itu pun tertawa tertahan.

Namun dalam pada itu, maka Ki Pandi pun telah minta diri. Dengan sangat berhati-hati ia telah meninggalkan barak itu.

Sepeninggal Ki Pandi, Manggada dan Laksana masih berbincang tentang berbagai kemungkinan sambil menunggu kedatangan beberapa orang penghuni barak itu dengan kuda kuda mereka. Sementara Ki Carang Aking berbaring sambil membayangkan apa yang dapat terjadi di kemudian. Apabila kegiatan Wira Sabet dan Sura Gentong itu tidak dihentikan, maka akibatnya akan parah bagi banyak pihak. Apalagi jika mereka berhasil menguasai padukuhan Gemawang dengan alasan yang telah direka-rekanya, dihubungkan dengan dendam mereka atas orang-orang padukuhan Gemawang. Seolah-olah mereka memang mempunyai hak yang sah untuk melepaskan dendam mereka.

Namun mereka telah memperhitungkan kemungkinan yang lebih jauh dari sekedar menguasai padukuhan Gemawang dan bahkan kemudian Kademangan Kalegen. Dengan menguasai Kademangan itu, maka mereka mempunyai landasan yang sangat mapan bagi pekerjaan mereka yang kotor itu.

Namun dalam pada itu, telah terdengar pula derap kaki kuda, sehingga mereka bertiga harus bangkit dan menerima kuda yang baru datang itu. Sedangkan untuk menunggu kuda berikutnya, maka bertiga mereka telah membagi waktu. Seorang dari mereka harus tetap terjaga. Jika seorang di antara saudara seperguruan Wira Sabet datang tanpa ada yang mengetahuinya, maka kemarahan mereka akan dapat berakibat sangat buruk bagi Sampar dan kemudian kedua orang anak muda yang membantunya itu.

Baru setelah kuda terakhir datang, maka mereka dapat tidur dengan nyenyak sampai dini hari.

Namun Manggada, Laksana dan Sampar telah mendapat kesan, bahwa barak itu menjadi sibuk. Sebelum matahari naik dua orang sudah meninggalkan barak itu dengan kudanya. Kemudian Wira Sabet dan Pideksa. Demikian matahari naik lebih tinggi, Sura Gentong dan saudara seperguruannya yang berwajah tampan itu telah pergi pula.

Sampar yang tua, yang telah lebih lama berada di tempat itu, berdesis, “Kesibukan ini memang mendebarkan”

“Kenapa?” bertanya Manggada.

“Kesibukan seperti ini adalah pertanda, bahwa mereka menemukan sasaran. Mereka nampaknya sedang meyakinkan, apakah malam nanti mereka dapat melakukannya”

“Melakukan apa?” bertanya Laksana.

“Perampokan” jawab orang tua itu.

Manggada dan Laksana berpandangan sejenak. Namun keduanya tidak berbicara lagi. Mereka sudah mengerti, apa yang kira-kira akan terjadi malam nanti.

Hari itu Sampar nampak gelisah. Menjelang tengah hari, maka kedua orang yang menyabit rumput telah datang ke kandang sambil membawa masing-masing sekeranjang rumput segar. Seorang di antara keduanya berjalan dengan sebelah kaki yang timpang. Bahkan tangan dan separuh tubuhnya nampak lemah. Sedangkan yang lain memandang dunia dengan penuh keheranan, meskipun umurnya sudah sepertiga abad. Sekali-kali ia nampak tersenyum-senyum melihat sekelilingnya. Namun kemudian wajahnya menjadi murung.

“Inilah kedua kemanakanku itu” berkata Ki Carang Aking.

Manggada dan Laksana tersenyum. Mereka yakin bahwa keduanya adalah murid Ki Carang Aking.

Karena itu, maka Laksana pun telah mendekati orang yang nampaknya akan terganggu syarafnya itu sambil bertanya, “Kau dapat juga menyabit rumput sekeranjang penuh?”

Orang itu tertawa. Namun sebelum ia mengucapkan sepatah katapun, Ki Carang Aking pun berkata, “Mereka sudah tahu, siapakah kalian”

Orang yang tertawa itu tiba-tiba mengerutkan dahinya, sementara Ki Carang Aking berkata, “Ia berada di tempat ini dengan tujuan yang sama sebagaimana kita disini. Mereka adalah anak-anak muda Gemawang. Bukankah kalian sudah mendengar nama mereka berdua?”

Orang yang sehari-hari nampak seperti terganggu syarafnya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika aku harus melakukan peranan ini sebulan lagi, maka aku benar-benar dapat menjadi gila”

Manggada dan Laksana tertawa. Sementara Ki Carang Aking pun tersenyum sambil berkata, “Kita sedang berusaha untuk secepatnya menyelesaikan tugas kita disini”

Orang yang timpang itupun telah menjadi tegak pula sambil berkata, “Aku sudah lelah. Setiap malam aku harus memijit kakiku yang timpang ini”

“Kita semua berpura-pura disini” berkata Ki Carang Aking.

“Tetapi kedua anak muda ini lain, guru. Mereka tidak perlu menjadi cacat. Mungkin mereka hanya berpura-pura tunduk kepada segala perintah” berkata orang yang pura-pura cacad itu.

“Semuanya akan segera kita selesaikan” jawab gurunya.

Namun pembicaraan itupun segera terhenti. Mereka mendengar derap kaki kuda yang mendekat.

Demikianlah, maka kedua orang yang cacat itupun segera meletakkan keranjang yang penuh rumput itu dan mengambil keranjang yang kosong. Mereka harus pergi lagi ke bagian belakang barak itu untuk menyabit rumput. Mereka harus melakukan pekerjaan itu sehari penuh. Mereka hanya berhenti di siang hari untuk makan.

Hari itu memang terasa sibuk. Satu-satu para penghuni barak itupun kembali. Namun agaknya mereka masih harus berbicara panjang di antara mereka.

Di sore hari, ketika Manggada dan Laksana baru saja selesai membersihkan kuda-kuda yang baru saja dipakai, tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong telah datang menemui Manggada dan Laksana. Keduanya dipanggil ke sudut kandang untuk diberi keterangan tentang pertemuan mereka dengan Wisesa hari itu di padukuhan Gemawang.

“Kami sudah menakut-nakutinya” berkata salah seorang dari mereka, “kami mengatakan bahwa ia telah memfitnah. Bukan saja Manggada dan Laksana, tetapi terutama kawan-kawan kami yang dikatakan telah kalian kalahkan itu”

“O” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sambil tersenyum Laksana bertanya, “Apa katanya?”

“Anak itu memang menjadi ketakutan. Bahkan hampir pingsan. Kami memaksanya berjanji untuk tidak memfitnah lagi. Jika sekali lagi ia berbicara tentang kekalahan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, maka kami akan mengoyakkan mulutnya.

“Aku kira ia benar-benar akan diam” berkata Manggada kemudian, sementara Laksana menyambung, “ia tidak akan mempunyai keberanian untuk memperbandingkan sikap kalian dengan kawan-kawan kalian yang lain”

“Baiklah” berkata salah seorang dari ketiga orang itu, “kami harus segera bersiap-siap untuk tugas khusus malam ini”

“Tugas khusus apa?” bertanya Manggada.

“Kami mempunyai sasaran yang sangat baik malam ini”

Manggada dan Laksana pun segera mengetahui maksud orang itu. Dengan nada datar Manggada bertanya, “Dimana?”

“Saudagar emas dan permata serta wesi aji. Tiga orang pedagang yang membawa dagangan cukup banyak. Mereka akan berada di rumah saudagar emas dan permata pula. Esok pagi mereka akan bersama-sama pergi ke pesisir Utara dengan membawa dagangannya itu. Ki Sapa Aruh telah memerintahkan kami untuk bergerak. Kami tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang jarang ada. Empat orang pedagang dengan dagangannya telah berkumpul. Seakan-akan mereka memang menyediakan emas, permata dan yang tidak kalah nilainya adalah wesi aji itu”

“Dimana rumah saudagar itu?” bertanya Manggada sambil lalu.

Orang-orang itu sama sekali tidak mencemaskan keduanya, bahwa keduanya akan membocorkan rahasia itu, karena keduanya tidak akan dapat keluar dari tempat itu. Karena itu seorang di antara mereka berkata, “Tidak terlalu jauh dari tempat ini. Saudagar itu tinggal di padukuhan Rejandani Kulon. Saudagar emas yang tinggal di Rejandani itu kebetulan anak Ki Demang Rejandani itu sendiri”

“Kapan kalian akan berangkat?” bertanya Manggada.

“Biasanya kami lakukan tugas itu pada tengah malam” jawab orang itu.

Manggada dan Laksana tidak bertanya lebih banyak lagi. Sementara itu, ketiga orang itu pun segera meninggalkan mereka sebelum orang lain memperhatikannya.

Sepeninggal ketiga orang itu, maka Manggada dan Laksana segera menghubungi Ki Carang Aking dan menceriterakan apa yang mereka dengar dari ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu.

“Menarik sekali” desis Ki Carang Aking, “tetapi apa yang dapat kita lakukan karena kita berada disini?”

“Kita akan menceriterakan kepada Ki Pandi jika ia benar-benar datang” desis Manggada.

Ki Carang Aking mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Mudah-mudahan ada satu cara untuk membantu saudagar-saudagar itu”

Dengan demikian, maka yang dapat mereka lakukan hanyalah menunggu. Namun mereka menyadari, bahwa tugas mereka akan menjadi berat. Mereka tentu akan mendapat perintah untuk menyiapkan tidak hanya lima atau enam ekor kuda. Tetapi tentu lebih dari itu.

“Menjelang tengah malam, kuda-kuda itu tentu harus siap” berkata-Ki Carang Aking.

“Apakah kita dapat menyiapkan mulai sekarang?” bertanya Laksana.

“Bagaimana mungkin” jawab Manggada, “bukankah kita tidak tahu bahwa kuda-kuda itu akan dipergunakan malam nanti?”

Laksana mengerutkan dahinya. Namun ia pun kemudian tertawa kecil sambil berdesis, “Ya. Alangkah bodohnya”

Karena itu, tidak ada yang dapat mereka kerjakan mendahului perintah, karena hal itu akan dapat membuat para pemimpin barak itu menjadi curiga.

Ketika kemudian senja lewat dan malam turun, mereka benar-benar menanti kedatangan Ki Pandi.

“Sebagaimana pesan Ki Pandi, kita harus menutup pintu” berkata Laksana.

Ki Carang Aking mengangguk-angguk. Sementara itu mereka pun duduk di dalam bilik itu sambil berbicara di antara mereka agar jika Ki Pandi berada di luar, ia dapat mendengar bahwa tidak ada orang lain di dalam bilik itu.

Ki Pandi memang benar datang. Dari jauh ia sudah melihat pintu tertutup. Karena itu, maka ia pun dengan sangat berhati-hati mendekati pintu yang tertutup itu.

Beberapa saat Ki Pandi memang berdiri di luar. Ia mendengarkan pembicaraan orang-orang yang ada di dalam. Baru ketika ia yakin bahwa tidak ada orang lain, maka ia pun telah mengetuk pintu. Tidak terlalu keras, tetapi segera didengar oleh mereka yang ada di dalam bilik itu.

Ketika kemudian Ki Pandi duduk di dalam bilik itu, serta pintu telah ditutup kembali, Manggada dan Laksana pun segera menceriterakan rencana para penghuni barak itu untuk merampok beberapa orang saudagar emas, permata serta wesi aji yang akan berkumpul di rumah anak Ki Demang Rejandani dan tinggal di Rejandani Kulon.

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Sebaiknya rencana itu kita gagalkan. Kita harus membantu para saudagar itu. Kita memang tidak bersangkut-paut dengan mereka. Jika kita tidak mendengar rencana ini, maka kita tidak akan merasa dibebani penyesalan jika esok kita mendengar berita tentang perampokan itu. Dan mungkin tindak kekerasan yang lain, karena aku yakin keempat orang saudagar itu tidak akan menyerahkan barang dagangan mereka yang nilainya sangat tinggi begitu saja. Kitapun tahu bahwa saudagar keliling yang sering menempuh perjalanan jauh biasanya memiliki kepercayaan diri serta bekal kemampuan olah kanuragan”

“Jadi bagaimana menurut Ki Pandi?” bertanya Ki Carang Aking.

“Aku akan pergi ke Rejandani itu” berkata Ki Pandi. Lalu katanya, “Aku menduga bahwa kekuatan yang dibawa oleh orang-orang dari barak ini cukup besar, sehingga keempat orang itu tidak akan mampu melawan”

“Aku sependapat Ki Pandi. Tetapi sayang, bahwa aku tidak dapat membantu, justru sebentar lagi, aku tentu akan mendapat tugas untuk menyiapkan kuda-kuda ini”

“Baiklah. Jika demikian aku minta diri. Aku akan pergi ke Rejandani”

Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana tidak menahannya lebih lama. Kesempatannya tidak terlalu panjang, karena tengah malam nanti, Wira Sabet, Sura Gentong dan saudara-saudara seperguruannya, bahkan beberapa orang pengikutnya yang terpercaya akan merampok saudagar-saudagar itu.

Dengan sedikit petunjuk dari Manggada yang sedikit banyak tahu arah Kademangan Rejandani, maka Ki Pandi pun telah langsung menuju ke Kademangan itu.

Tidak terlalu sulit menemukan rumah Ki Demang. Tetapi waktu menjadi semakin sempit Ketika Ki Pandi memasuki halaman Kademangan, maka Kademangan itu nampaknya sudah menjadi sepi. Tidak ada peronda di rumah itu. Tetapi ada gardu disimpang tiga, hanya beberapa puluh langkah saja dari rumah Ki Demang.

Ki Pandi memang menjadi ragu-ragu. Ia berjalan dengan hati-hati mengelilingi rumah itu. Dari jarak yang agak jauh, Ki Pandi melihat beberapa ekor kuda berada di dalam kandang, sehingga ia percaya, bahwa di rumah itu memang sedang ada tamu, sehingga kandang kuda yang cukup besar itu terasa agak sempit bagi beberapa ekor kuda yang ada di dalamnya.

Tetapi Ki Pandi sudah bertekad untuk memberitahukan rencana para perampok itu.

Karena itulah, maka Ki Pandi pun kemudian kembali ke halaman depan. Ia pun naik ke pendapa dan melangkah ke pringgitan. Perlahan-lahan ia mengetuk pintu rumah Ki Demang.

Sekali dua kali ketukan pintu itu tidak dijawab. Karena itu, maka Ki Pandi pun mengetuk lebih keras lagi.

Meskipun tidak ada jawaban, namun telinganya yang tajam mendengar langkah-langkah di ruang dalam rumah itu. Karena itu, maka ia pun kemudian menunggu pintu itu dibuka.

Tetapi Ki Pandi tidak mendengar langkah mendekati pintu. Beberapa saat kemudian, maka langkah-langkah itu pun seakan-akan justru menjauh dan kemudian hilang dari pendengarannya.

Tetapi tidak lama. Beberapa saat kemudian, ia justru mendengar pintu seketenglah yang terbuka.

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa pemilik rumah itu, atau bahkan mungkin tamu-tamunya, menjadi sangat berhati-hati.

Sebenarnyalah Ki Pandi pun kemudian melihat seorang yang muncul dari pintu seketeng. Sambil melangkah ke tangga pendapa orang itu bertanya, “Siapakah kau Ki Sanak. Dan apakah keperluanmu malam-malam begini datang kemari?”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menyadari, bahwa dari seketeng sebelah yang lain, dua orang telah keluar pula dan turun ke halaman.

Ki Pandi masih berdiri di muka pintu pringgitan. Katanya, “Ada sesuatu yang penting dan segera harus aku beri tahukan kepada kalian. Tetapi siapakah di antara kalian putera Ki Demang Rejandani yang menjadi saudagar emas dan permata?”

“Aku” jawab orang itu. Orang yang masih terhitung muda dengan kumis yang tebal di atas bibirnya.

“Baiklah. Aku mohon kesempatan untuk berbicara sejenak. Maaf, jika aku harus melakukannya dengan cepat, karena waktunya sangat sempit” berkata Ki Pandi.

“Siapa sebenarnya kau ini?” bertanya anak Ki Demang itu.

“Itu tidak penting. Tetapi aku minta kata-kataku didengar” berkata Ki Pandi.

“Apa yang ingin kau katakan?”

Ki Pandi melangkah mendekati orang itu. Tetapi orang itu berkata, “Berdiri sajalah disitu”

“Tetapi yang ingin aku katakan ini penting bagi Ki Sanak, karena bukan saja menyangkut barang-barang dagangan Ki Sanak dan kawan-kawan Ki Sanak, tetapi juga keselamatan Ki Sanak sendiri bersama dengan kawan-kawan Ki Sanak”

“Apa yang kau ketahui tentang kami? Kami tidak mempunyai barang-barang berharga. Aku memang mengaku anak Ki Demang. Tetapi bukan pedagang emas dan permata.”

“Kenapa harus kau ingkari, Ki Sanak. Tetapi siapapun Ki Sanak, aku mohon Ki Sanak menyadari bahwa sekelompok perampok tengah dalam perjalanan kemari. Sebaiknya Ki Sanak membawa barang-barang berharga itu menyingkir dari rumah ini. Sebaiknya rumah ini dikosongkan, sementara satu dua orang pembantu di rumah ini harus diberi pesan, bagaimana mereka menjawab pertanyaan para perampok itu”

“Ki Sanak. Jika kau sedang mengigau, sebaiknya kau tidak berada di rumahku. Pergilah”

“Aku berkata sebenarnya Ki Sanak. Pembantu itu harus mengatakan bahwa di rumah ini tidak ada tamu. Ki Demang dan Nyi Demang sebaiknya juga meninggalkan rumah ini dan berada di banjar saja bersama para peronda. Pembantu itu dapat mengatakan bahwa Ki Demang dan Nyi Demang sedang pergi”

“Ayah dan ibuku memang tidak sedang di rumah, Ki Sanak. Pamanku sedang menikahkan anaknya”

“Jika demikian, silahkan kalian pergi. Meskipun aku melihat ada gardu di sebelah, namun kekuatan para perampok itu terlalu besar untuk ditandingi”

Anak Ki Demang itu kemudian justru menggeram, “Apakah kau salah seorang dari mereka dan berusaha untuk menakut-nakuti kami, agar kami tidak memberikan perlawanan?”

“Bukan sekedar tidak memberikan perlawanan. Tetapi aku mohon kalian menyingkir”

“Pergilah, atau aku bahkan akan menangkapmu”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Bahkan seorang yang berdiri di sisi lain dari pendapa itu menggeram, “Orang bongkok. Kau jangan mencoba mengganggu ketenangan kami”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam Ternyata orang-orang itu tidak mempercayainya. Mungkin karena ujud lahiriahnya, maka ia dianggap orang yang kurang waras, yang tersesat di Kademangan Rejandani.

“Pergilah” berkata anak Ki Demang itu, “kami malam ini harus beristirahat sebaik-baiknya. Besok kami akan menempuh perjalanan panjang”

“Aku mohon kalian mendengarkan kata-kataku” berkata Ki Pandi sekali lagi.

“Kau orang aneh. Untuk apa sebenarnya permainan ini kau lakukan. Apakah kau memang sedang memancing persoalan, atau mencoba membuka kesempatan bagi gerombolanmu untuk masuk ke dalam rumahku? Dengar Ki Sanak, sekali lagi aku peringatkan kau agar pergi. Jika tidak, maka kami akan menangkapmu. Malam ini juga kami akan memerintahkan anak-anak muda untuk memanggil ayah dan mengadilimu”

Ki Pandi kehilangan harapannya untuk memberi peringatan kepada orang-orang itu. Sebenarnya ia memang mempunyai pamrih. Jika ia berhasil menyelamatkan emas dan permata dan bahkan wesi aji dari saudagar-saudagar itu, maka pada kesempatan lain, ia akan dapat minta bantuan mereka untuk menyelamatkan padukuhan Gemawang, karena Kademangan Kalegen nampaknya ragu-ragu menghadapi Ki Sapa Aruh. Tetapi nampaknya usaha itu sia-sia.

Dengan kecewa Ki Pandi pun kemudian melangkah turun dari pendapa. Demikian ia berdiri di halaman, maka ia melihat empat orang yang berada didekat pintu seketeng sebelah menyebelah.

“Wira Sabet dan Sura Gentong cukup teliti memperhitungkan sasarannya. Atau barangkali atas petunjuk Ki Sapa Aruh” berkata Ki Pandi di dalam hatinya.

Dengan hati yang berat Ki Pandi melangkah keluar dari halaman rumah itu. Namun sebelum ia keluar dari regol halaman, ia pun masih berkata, “Aku minta kalian mengingat peringatanku ini Ki Sanak. Jika terjadi sesuatu atas kalian, maka kalian jangan menyesal.”

Keempat orang itu tidak menjawab. Sementara itu, Ki Pandi yang kecewa itu pun melangkah keluar lewat pintu regol halaman.

“Ada juga orang gila datang malam-malam begini” berkata salah seorang dari mereka”

“Lupakan” berkata anak Ki Demang yang berkumis itu, “kita masih mempunyai waktu untuk tidur lagi”

Tetapi seorang di antara mereka itupun berkata, “Perasaanku menjadi tidak enak. Jika orang itu tidak mempunyai keterangan tentang yang dikatakannya itu, apakah sebenarnya tujuannya?”

“Mungkin ia memang orang gila” desis yang lain, “atau bahkan sedang menjajagi apakah kami menjadi ketakutan”

“Sudahlah” berkata anak Ki Demang, “Sudahlah. Kita tidur saja lagi”

Sementara itu waktu bergulir semakin jauh. Walaupun menjadi semakin malam. Keempat orang itu sudah berada di dalam rumah lagi.

Keempat orang itu memang sengaja tidur di ruang dalam bersama-sama. Ketiga orang tamu yang bermalam di rumah itu, tidak dipersilahkan tidur di gandok, karena mereka bersama-sama menjaga barang-barang mereka yang nilainya tinggi.

Sejenak kemudian, maka ketiga orang di antara mereka segera tertidur lagi. Yang seorang lagi masih saja merasa gelisah. Ia tidak menjadi ketakutan. Tetapi peringatan yang diberikan orang bongkok itu membuatnya berhati-hati. Ada perasaan tidak enak yang menggelitik jantungnya.

Beberapa saat orang itu berbaring tanpa dapat memejamkan matanya. Karena itu maka iapun justru bangkit dan duduk di ruang dalam. Suara-suara malam di luar dinding rumah itu membuat malam menjadi semakin mencengkamnya.

Sementara itu, ketiga orang kawannya, termasuk anak Ki Demang telah tertidur nyenyak. Seorang di antara mereka justru mendengkur seirama dengan tarikan nafasnya yang teratur.

Orang itu mengerutkan dahinya ketika ia mendengar jauh dalam keheningan malam suara derap kaki kuda. Semakin lama menjadi semakin jelas. Tidak hanya satu dua. Tetapi di telinganya terdengar banyak sekali.

Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Bahkan ia sempat bertanya kepada diri sendiri, “Apakah karena kegelisahanku, tiba-tiba saja telingaku seakan-akan mendengar derap kaki kuda sedemikian banyaknya?”

Tetapi suara derap kaki kuda itu tidak segera lenyap. Bahkan semakin lama menjadi semakin jelas.

Orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera membangunkan ketiga orang kawannya yang masih tidur nyenyak.

“Ada apa?” bertanya anak Ki Demang.

“Kau dengar derap kaki kuda itu?” bertanya orang yang membangunkannya.

“Kaki kuda apa?” anak Ki Demang itu memang bangkit dan bahkan duduk dibibir amben besar di ruang dalam

“Dengarlah baik-baik” berkata orang itu.

Kedua orang yang lainpun telah duduk pula. Seorang di antara mereka sempat berkata, “Kau dibayangi oleh ceritera orang bongkok itu”

Tetapi anak Ki Demang itu justru berdesis, “Ya. Aku sudah mendengarnya”

Akhirnya keempat orang itu menjadi yakin. Mereka mendengar derap kaki kuda.

Dengan cepat keempatnya berloncatan menggapai senjata mereka masing-masing. Anak Ki Demang mengambil tombak di plonconnya. Sementara seorang kawannya menjinjing pedang panjang. Seorang lagi bersenjata sepasang tongkat baja yang dihubungkan dengan seutas rantai yang agak panjang. Sedangkan seorang lagi menyelipkan kerisnya yang besar dan panjang melampaui ukuran keris kebanyakan di punggungnya.

“Apakah orang bongkok itu tidak berbohong?” desis orang yang sejak semula sudah ragu-ragu itu.

Ketiga orang kawannya hanya terdiam. Mereka menjadi tegang ketika suara derap kaki kuda itu menjadi semakin dekat.

Anak Ki Demang itu menggeretakkan giginya ketika ia mendengar derap kaki kuda itu memasuki halaman rumahnya.

“Setan. Orang bongkok itu tidak berbohong. Mungkin ia gila, tetapi ia berkata sebenarnya”

“Kita harus bersiap menghadapinya”

Sejenak kemudian maka merekapun mendengar orang-orang di halaman itu berloncatan turun. Mereka mendengar langkah beberapa orang ke halaman samping, sedangkan beberapa orang yang lain naik ke pendapa.

Sementara itu, tiga ekor kuda telah langsung berhenti di depan gardu. Ada lima anak muda yang sedang meronda. Namun ketika ketiga orang berkuda itu mengancam mereka, maka mereka tidak berani berbuat apa-apa.

“Jika kalian mencoba melibatkan diri, maka kalian akan menyesal” berkata salah seorang dari ketiga orang berkuda itu.

Kelima anak muda itu memang tidak akan dapat melawan mereka, sehingga mereka lebih baik berdiam diri saja di dalam gardu.

Sementara itu, orang-orang yang berada di halaman rumah Ki Demang, telah mengawasi segala pintu keluar rumah itu. Bahkan sampai ke pintu dapur sekalipun.

Empat orang kemudian telah berdiri di depan pintu pringgitan. Seorang di antara mereka adalah seorang yang umurnya sudah melampaui pertengahan abad. Namun badannya masih nampak, kuat, kekar dan tegar.

Orang itulah yang mengetuk pintu pringgitan

“Buka pintumu atau aku rusakkan. Kalian yang ada di dalam tidak mempunyai pilihan apapun kecuali mendengarkan dan melakukan segala perintah kami. Kami tahu, bahwa ada empat orang yang ada di dalam. Ki Demang dan Nyi Demang sedang pergi ke peralatan pernikahan kemanakannya”

Orang-orang yang berada di dalam rumah itu menjadi semakin tegang. Tetapi tidak seorang pun yang membuka pintunya.

Ternyata bukan hanya pintu pringgitan saja yang diketuk. Tetapi pintu butulan di gladri sebelah kanan juga diketuk. Justru lebih keras. Terdengar suara lantang, “Buka pintu. Cepat”

Tetapi keempat orang itu tidak membuka pintu.

Karena itu, maka orang-orang yang berdiri di depan pintu pringgitan itu tidak sabar lagi. Mereka mulai menghentak-hentak pintu itu semakin lama menjadi semakin keras.

Orang yang sudah berumur lebih setengah abad itu menjadi semakin tidak sabar. Karena itu, maka dengan kekuatannya yang melampaui takaran kekuatan wajarnya, orang itu telah menghentakkan pintu itu, sehingga pintu dari dinding gebyog itu pecah dan roboh ke dalam, sehingga pintu itu pun kemudian menjadi menganga.

Namun nampaknya tidak diduga sebelumnya, bahwa dengan tiba-tiba empat orang yang ada di ruang dalam itu pun telah meloncat menyerang, sehingga orang-orang yang berdiri di pintu itu berloncatan mundur.

Dengan kecepatan yang tinggi, keempat orang itu berloncatan melintasi pendapa dan turun ke halaman. Agaknya mereka memilih bertempur di halaman daripada di pendapa. Karena di halaman mereka tidak akan terganggu oleh tiang-tiang yang berdiri tegak membeku.

Tetapi demikian keempat orang itu berdiri di pendapa, maka beberapa orang telah menyusul mereka dan bahkan kemudian mengepung mereka.

Orang yang mengetuk dan kemudian merusakkan pintu itu pun telah melangkah dan kemudian berdiri di tangga pendapa sambil berkata, “Ki Sanak. Aku tahu, kau adalah orang-orang yang berilmu. Tetapi akupun tahu bahwa ilmu kalian masih belum apa-apa bagiku dan bagi orang-orangku. Karena itu, maka sebaiknya kalian menyerah saja. Jika kalian menyerah, maka kalian akan kami perlakukan dengan baik. Tetapi jika kalian melawan, maka nasib kalian akan menjadi lebih buruk lagi”

“Kau siapa?” bertanya anak Ki Demang.

“Orang memanggilku Ki Sapa Aruh” jawab orang itu.

Wajah anak Ki Demang itu menjadi tegang. Sementara itu Ki Sapa Aruh itupun berkata, “Kau pernah mendengar namaku? Mungkin namaku memang belum terlalu banyak dikenal disini”

Anak Ki Demang menggeram. Ternyata ia memang pernah mendengar nama Ki Sapa Aruh. Namun ketika tiba-tiba saja ia berhadapan, maka hatinya memang menjadi sangat berdebar-debar.

“Nah, Ki Sanak. Marilah kita menyelesaikan persoalan kita dengan baik. Kami bukan orang yang senang mempergunakan kekerasan untuk tujuan apapun. Kami juga bukan orang yang senang berselisih di antara sesama. Karena itu, marilah kita sama-sama mengekang diri agar tidak terjadi perselisihan” berkata Ki Sapa Aruh dengan nada yang lunak.

“Apa maksudmu?” bertanya anak Ki Demang.

“Aku datang dengan tujuan yang baik. Aku ingin meneruskan keinginan kawan-kawan kami yang sedang kekurangan untuk minta bantuan kalian untuk sedikit meringankan beban hidup mereka sehari-hari. Adalah tidak wajar jika mereka hidup dalam kekurangan dan bahkan hampir kelaparan, sementara kalian dapat hidup dengan berlebihan”

Wajah anak Ki Demang itu menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia menyahut, “Siapa yang hidup berlebihan?”

“Tentu saja yang kami maksudkan adalah kalian. Juga para bebahu Kademangan ini dan para saudagar kaya. Dengan memeras orang-orang yang justru sedang membutuhkan pertolongan, kalian mendapatkan untung yang berlebihan” jawab Ki Sapa Aruh.

“Itu tidak benar. Kami tidak hidup berlebihan. Kami memang mencari untung dengan pekerjaan kami. Tetapi bukankah itu wajar? Jika ada sedikit tersisa serta kesempatan untuk hidup kecukupan itu adalah hasil kerja keras kami. Juga para bebahu Kademangan. Sawah pelungguh yang mereka dapatkan di dasari oleh paugeran yang berlaku dan sah. Merekapun harus bekerja keras untuk dapat hidup dengan layak”

Tetapi Ki Sapa Aruh tertawa. Katanya, “Kau dapat berkata apa saja. Tetapi aku tahu, bahwa kalian telah mendatangi orang-orang yang terjepit oleh satu kebutuhan. Kalian memanfaatkan keterjepitan orang itu untuk dapat membeli perhiasan mereka, emas dan permata dengan harga murah. Kemudian kalian jual perhiasan itu dengan harga yang berlipat”

“Ki Sanak” jawab anak Ki Demang, “apa sebenarnya yang kalian maui. Kalian tidak perlu mengusik pekerjaan yang memang kami lakukan dengan wajar itu. Kami tidak pernah memaksakan kehendak kami untuk membeli atau menjual apapun kepada kami. Kamipun tidak pernah memaksakan harga kepada mereka yang menjual atau membeli barang-barang dagangan kami”

“Baiklah. Apapun alasan kalian, tetapi bagi kami, kalian adalah sama jahatnya dengan lintah yang selalu menghisap darah. Sekarang sudah saatnya kami minta kembali darah yang telah kau hisap dan kau simpan sebagai harta kekayaan yang sangat besar. Nah, berikan emas, permata dan wesi aji yang kalian siapkan dan yang akan kalian bawa besok”

“Tidak” jawab anak Ki Demang, “kalian tidak dapat merampas milik kami. Hak kami, apapun alasannya”

“Ki Sanak. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa kami adalah orang-orang yang tidak suka kekerasan? Apalagi aku yang sudah menjadi semakin tua. Aku ingin dapat hidup tenang dan tenteram. Karena itu, aku minta kalian tidak membuat persoalan yang akan dapat menimbulkan perselisihan.”

“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu itu Ki Sapa Aruh. Tegasnya, aku tidak akan memberikan sebutir permata pun kepada kalian” geram anak Ki Demang itu.

“Itulah yang tidak aku senangi. Ternyata kau adalah orang yang keras hati, yang mencoba memaksakan tindak kekerasan terjadi” nada suara Ki Sapa Aruh pun meninggi.

“Kau jangan berbicara dengan memutar balikkan penalaran orang waras. Sekarang pergilah sebelum kami kehabisan kesabaran” berkata anak Ki Demang yang mulai menjadi pening mendengarkan kata-kata Ki Sapa Aruh.

Tetapi Ki Sapa Aruh justru tertawa. Katanya, “Orang-orang yang di kepalanya selalu dipenuhi dengan nafsu kekerasan, tentu sulit dapat mengerti keinginanku. Tetapi baiklah, meskipun kami orang-orang yang tidak suka berselisih, namun kami juga tidak ingin melepaskan landasan hidup kami. Kami akan mewakili orang-orang miskin yang pernah kau cekik lehernya dan kau hisap darahnya sehingga kering. Berikan emas, permata dan wesi aji itu kepada kami”

“Tidak” jawab anak Ki Demang.

“Jika kau berkeras tidak mau memberikan emas, permata dan wesi aji itu kepada kami, maka dengan terpaksa sekali kami akan mengambilnya”

“Kami akan mempertahankan hak kami” jawab anak Ki Demang.

Ki Sapa Aruh itu mengerutkan dahinya. Ia sudah cukup panjang berbicara, sehingga kemudian iapun telah memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk bersiap.

Keempat orang pedagang emas, permata dan wesi aji itu pun bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Namun mereka harus melihat kenyataan, bahwa lawan yang berdiri di sekitarnya terlalu banyak. Sementara itu, keempat orang itu pun menyadari bahwa selain orang-orang yang ada di sekitarnya, masih ada yang lain di halaman samping bahkan di halaman belakang.

Tetapi keempat orang itu tidak membiarkan miliknya dirampok apapun alasannya. Bahkan yang tidak dapat diikuti dengan nalarnya. Apa yang mereka miliki itu, menurut pendapat mereka adalah hasil kerja keras mereka. Bukan karena memeras, merampas atau menipu orang lain.

Karena keempat orang itu tidak mau menyerahkan milik mereka, maka Ki Sapa Aruh pun kemudian telah memerintahkan orang-orangnya untuk segera menangkap keempat orang itu.

“Kita akan memaksa mereka melakukan sebagaimana aku katakan” berkata Ki Sapa Aruh, “mereka ternyata sama sekali tidak menghargai niat kita untuk menyelesaikan persoalan ini dengan baik-baik tanpa harus melakukan kekerasan”

Keempat orang pedagang emas dan permata itu sudah tidak mau mendengar lagi. Justru merekalah yang lebih dahulu menyerang, karena jumlah lawan mereka terlalu banyak, sehingga keempat orang itu tidak ingin mendapat tekanan lebih dahulu.

Dengan demikian, maka pertempuran pun segera terjadi. Dengan tangkasnya keempat orang pedagang emas dan permata itu berloncatan di halaman menghadapi lawan yang terlalu banyak.

Namun dengan berani keempat orang itu bertempur. Senjata mereka terayun-ayun dengan cepatnya menebas dan mematuk.

Ki Sapa Aruh sendiri tidak langsung turun ke arena. Bahkan Wira Sabet dan Sura Gentong yang ikut datang ke rumah itu masih berdiri di tangga pendapa, meskipun mereka sudah menggenggam senjata telanjang di tangan. Tetapi Pideksa sudah mulai terlibat dalam pertempuran itu bersama keempat orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong, disamping beberapa orang pengikutnya yang lain.

Dalam pada itu, di atas sebatang pohon nangka yang besar, di halaman sebelah, Ki Pandi duduk melekat pada sebatang dahan yang besar. Oleh ketajaman penglihatannya ia dapat menyaksi-kan pertempuran yang terjadi di halaman rumah Ki Demang itu. Nyala lampu minyak di pendapa dapat sedikit membantunya, sehingga dengan tegang Ki Pandi melihat bahwa keempat orang saudagar itu mulai terdesak.

Namun dengan demikian Ki Pandi sempat melihat kemampuan para penghuni barak Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Ki Pandi pun melihat seberapa jauh tataran ilmu saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Bahkan Ki Pandi juga dapat menilai kemampuan Pideksa, anak Wira Sabet itu.

Untuk beberapa saat pertempuran itu berlangsung. Keempat orang saudagar itu masih bertempur dengan berani. Meskipun mereka mulai mengalami kesulitan, tetapi mereka sama sekali tidak menjadi gentar.

Agaknya Ki Sapa Aruh menjadi tidak sabar Karena itu, maka ia pun memberi isyarat agar Wira Sabet dan Sura Gentong bersama dirinya sendiri segera memasuki arena.

“Kita tangkap keempat orang itu hidup-hidup. Kita memang bukan pembunuh-pembunuh yang tidak berjantung. Kita akan mengampuni mereka setelah kita mendapatkan apa yang kita cari” teriak Ki Sapa Aruh yang bersama Wira Sabet dan Sura Gentong telah menuruni arena pertempuran.

Pertempuranpun menjadi semakin sengit. Tetapi keempat orang saudagar itu benar-benar telah kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri.

Sementara seisi rumah Ki Demang itu sudah terbangun. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Beberapa orang membentak dengan kasar dan mengancam akan membunuh siapapun yang berniat membantu keempat orang saudagar itu.

Sebenarnyalah keempat orang saudagar itu menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat minta pertolongan kepada siapapun juga. Sehingga karena itu maka mereka harus menyadarkan diri kepada kemampuan mereka berempat.

Tetapi mereka memang tidak dapat mengingkari kenyataan. Semakin lama mereka menjadi semakin tidak berdaya. Apalagi setelah Ki Sapa Aruh sendiri, Wira Sabet dan Sura Gentong ikut dalam pertempuran. Dengan cepat kemampuan perlawanan keempat orang saudagar itu pun menyusut.

Ki Pandi yang duduk di atas dahan pohon nangka menyaksikan pertempuran itu dengan sungguh-sungguh. Ia melihat bagaimana Ki Sapa Aruh sendiri turun di gelanggang. Ia sempat melihat unsur-unsur gerak yang dipergunakannya, meskipun Ki Pandi tahu, bahwa Ki Sapa Aruh dalam pertempuran itu tidak merasa perlu untuk menumpahkan segala macam kemampuannya.

Namun dalam pada itu, Ki Pandi dapat menilai tataran kemampuan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Beberapa saat kemudian, maka keempat orang saudagar itu telah menjadi tidak berdaya. Senjata mereka tidak mampu lagi melindungi diri mereka dengan baik.

Dalam pertempuran yang tidak terlalu lama itu, maka keempat orang saudagar itu semuanya telah terluka. Sementara itu, Ki Sapa Aruh dengan kemampuannya yang tinggi benar-benar mampu menguasai keempat orang itu bersama-sama dengan Wira Sabet Sura Gentong dan saudarasaudara seperguruannya.

“Kita tidak akan membunuh mereka” berkata Ki Sapa Aruh.

Pertempuran itupun kemudian telah terhenti. Sura Gentong dengan garangnya telah mendorong anak Ki Demang dengan kakinya, sehingga anak Ki Demang itu jatuh tertelungkup di hadapanKi Sapa Aruh.

Tidak ada lagi yang dapat melawan. Senjata-senjata mereka pun telah dirampas.

Ki Pandi yang menyaksikan berakhirnya pertempuran itu menjadi tegang. Seorang yang bertubuh sedang, dengan wajah yang tampan serta penampilan yang bersih serta wajah yang cerah ternyata telah memperlakukan keempat orang saudagar itu dengan kasar sebagaimana Sura Gentong. Sementara itu, seorang yang berwajah bengis justru hanya berdiri saja termangu-mangu menyaksikan sikap kawannya itu.

“Ki Sanak” berkata Ki Sapa Aruh kemudian, “kami memang bukan orang-orang yang haus darah. Sudah aku katakan, bahwa kami ingin menghindari setiap pertengkaran, apalagi kekerasan. Tetapi kalian telah memancing persoalan, sehingga kekerasan telah terjadi. Nah, sekarang, agar pekerjaan kami segera selesai, tunjukkan barang-barang simpanan kalian”

Anak Ki Demang itu tidak segera menyahut. Meskipun tubuhnya telah menjadi lemah, namun mereka masih mencoba bertahan.

Tetapi Ki Pandi terkejut, sehingga debar jantungnya terasa menjadi semakin cepat, ketika ia melihat perlakuan orang yang berwajah tampan itu. Demikian kasarnya dan bahkan buas sekali. Jauh berbeda dengan kesan yang nampak pada ujud lahiriahnya.

Ki Sapa Aruh ternyata tidak mencegah perlakuan itu. Bahkan sambil tertawa ia berkata, “Nah, Ki Sanak. Aku tidak mempunyai banyak waktu. Jika kau tidak menunjukkan benda-benda berharga itu, maka kami dengan sangat menyesal akan berbuat lebih jauh lagi. Kami akan membakar rumah Ki Demang ini. Aku tidak tahu apakah nilai rumah dan isinya ini lebih besar atau lebih kecil dari benda-benda berharga yang kau pertahankan itu. Selebihnya, kalian akan mengalami perlakuan yang sangat buruk. Kami minta ampun atas kekhilafan kami memperlakukan Ki Sanak tidak sebagaimana seharusnya. Tetapi hal itu kami lakukan atas landasan kesetiaan kami kepada orang-orang yang telah kau peras selama ini”

Akhirnya keempat orang itu memang tidak mempunyai pilihan lain. Jika rumah itu benar-benar dibakar, maka Ki Demang akan ikut memikul beban.

Karena itu, maka seorang di antara keempat saudagar itu berkata kepada anak Ki Demang, “Jangan libatkan Ki Demang dalam persoalan ini”

“Maksudmu?” bertanya anak Ki Demang dengan suara parau.

“Kita terpaksa menyerahkan apa yang mereka kehendaki, tetapi dengan janji, bahwa rumah ini tidak akan dibakar”

“Satu pikiran yang bijaksana” desis Ki Sapa Aruh, “seperti berulang kali aku katakan, kami bukan orang-orang yang tidak berjantung. Jika apa yang kami inginkan sudah berada di tangan kami, maka kami tidak akan berbuat lebih jauh lagi”

Anak Ki Demang itu tidak dapat mengelak lagi. Ketiga orang kawannya memang sudah nampak terlalu letih dan kesakitan. Tubuh mereka telah terluka sebagaimana anak Ki Demang itu sendiri.

Karena itu, maka ia pun tidak dapat berbuat lain. Dengan suara yang bergetar ia berkata, “Aku akan menunjukkan dimana dagangan kami itu kami simpan”

“Katakan” berkata Ki Sapa Aruh.

Anak Ki Demang itu berusaha untuk bangkit berdiri sambil berkata, “Aku akan menunjukkan”

Tetapi di luar dugaan, bahwa sarung pedang orang yang berwajah tampan itu telah menghantam tengkuknya sehingga anak Ki Demang itu jatuh terduduk.

Ki Sapa Aruh tertawa. Namun ia berkata, “Biar ia mengatakannya. Sarung pedangmu dapat membuatnya pingsan”

Anak Ki demang itu berdesah kesakitan. Sementara Ki Sapa Aruh berkata, “Katakan saja. Kau tidak usah bersusah payah menunjukkan kepada kami. Aku tidak ingin merepotkan kau dan kawan-kawanmu. Kalian tentu letih dan perlu beristirahat”

Hati keempat orang itu menjadi sangat sakit sebagaimana tubuh mereka. Tetapi mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Karena anak Ki Demang itu tidak segera mengatakan sebagaimana dikehendaki oleh Ki Sapa Aruh, maka Ki Sapa Aruh itu pun melangkah mendekat sambil berdesis, “Apakah kau sengaja mengulur waktu? Kau tidak dapat mengharap bantuan dari siapapun. Seandainya ada juga beberapa orang anak muda yang mencoba membantu kalian, maka akibatnya akan menjadi buruk sekali. Korban akan jatuh. Anak-anak muda itu akan terbunuh disini tanpa mengerti kenapa mereka harus mati. Keluarga merekalah kelak yang akan menyadari, bahwa mereka telah menjadi tumbal kekayaan kalian. Keluarga mereka tidak akan pernah mendapatkan imbalan apapun dari kalian meskipun mereka mati karena mereka mempertahankan harta-benda kalian itu”

Anak Ki Demang itu menggeram. Tetapi ia memang tidak mempunyai pilihan.

Karena itu, maka anak Ki Demang itupun berkata, “Yang kalian cari ada di sentong sebelah kiri. Dibawah gledeg bambu tempat pakaianku”

Ki Sapa Aruh tertawa. Sambil menepuk wajah anak Ki Demang ia berkata, “Ternyata kau adalah seorang anak yang manis. Terima kasih. Aku akan melihatnya. Tetapi aku peringatkan, bahwa kau tidak boleh bohong. Jika kau berbohong, maka kau bukan lagi anak yang manis. Tetapi kau tentu anak yang nakal, yang pantas dicubit pantatnya”

Anak Ki Demang tidak menjawab. Ia memang sudah berkata sebenarnya karena ia sama sekali tidak melihat peluang lagi.

Ki Sapa Aruh pun kemudian telah mengajak Wira Sabet dan Sura Gentong untuk masuk ke dalam rumah itu. Sementara itu, saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu tiba-tiba saja telah menekan punggung anak Ki Demang itu sehingga anak Ki Demang itu hampir saja jatuh terjerembab.

Ki Pandi hanya dapat menyaksikan semua itu dari tempatnya bersembunyi. Ia tidak dapat berbuat sesuatu. Jika ia mencampuri persoalan itu, maka keadaannya akan menjadi semakin parah bagi keempat orang saudagar emas itu. Ia sendiri tentu akan terikat dalam pertempuran dengan Ki Sapa Aruh dan tentu beberapa orang akan membantu. Mungkin ia akan dapat meloloskan diri. Tetapi keempat orang itu justru akan menjadi sasaran kemarahan orang-orang itu.

Karena itu, maka Ki Pandi hanya dapat menahan gejolak jantung di dalam dadanya.

Sementara itu, Ki Sapa Aruh telah hilang di balik pintu pringgitan untuk melihat dan kemudian mengambil barang-barang yang nilainya tentu sangat tinggi.

 

0oO-dw-arema-Oo0

Bersambung ke jilid 6

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 4 – Sejuknya Kampung Halaman

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s