JDBK-17


<<kembali | lanjut >>

DEMIKIANLAH, maka kekancingan yang diterima oleh Ki Panengah itu telah membuka lembaran baru bagi perguruan yang dipimpinnya. Di dalam kekancingan itu juga disebutkan, bahwa Ki Panengah telah mendapat wewenang untuk membuka Hutan Jabung menjadi sebuah padepokan beserta lingkungan pendukungnya. Ki Panengah dapat membuka sebidang tanah persawahan, petegalan dan padang rumput untuk membuka peternakan. Sebuah sungai kecil akan dapat mengairi sawah dan pategalannya. Bahkan dapat pula dibuat sebuah belumbang untuk memelihara ikan dan memlihara itik dan angsa.

Namun Ki Panengah telah ditantang untuk bekerja keras. Yang mula-mula dilakukan oleh Ki Panengah adalah mengumpulkan kembali murid-muridnya yang kehilangan gairah setelah Ki Panengah meninggalkan padepokannya unluk waktu yang cukup lama.

Sebenarnyalah para muridnya merasa segan untuk berkumpul dan berguru lagi. Mereka lebih senang mengisi waktu mereka dengan bermain, bergerombol hilir mudik, bahkan kadang-kadang tingkah laku mereka menimbulkan gangguan bagi banyak orang.

Meskipun demikian, mereka datang pula ke rumah Ki Panengah untuk mengetahui, apakah ada perkembangan baru pada perguruannya yang sudah lama menjadi sepi.

Ketika mereka memasuki halaman rumah Ki Panengah, mereka sama sekali tidak menunjukkan sikap seorang murid yang baik yang memasuki perguruannya. Mereka merasa diri mereka adalah anak-anak para pemimpin di Pajang, para perwira dan orang-orang yang berpengaruh.

Karena itu, maka sebagian diantara mereka yang datang berkuda, tidak mau turun dari kudanya ketika kuda itu memasuki halaman rumah Ki Panengah.

Namun keringat mereka segera membasahi pakaian mereka ketika mereka melihat Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya duduk diatas sehelai tikar pandan yang dibentangkan di pendapa.

“Apakah benar Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya yang duduk di pendapa itu?”

“Ya” jawab seorang kawannya yang juga menjadi sangat gelisah.

Namun agaknya Pengeran Benawa dan Raden Sutawijaya tidak menghiraukan mereka. Keduanya duduk dengan tertib dihadapan Ki Panengah. Di belakang mereka, Paksi pun duduk dengan kepala tunduk.

Dengan jantung yang berdebaran, anak-anak muda murid perguruan Ki Panengah itu pun naik ke pendapa pula. Mereka pun kemudian duduk dengan tertib pula. Seorang diantara mereka berdiri di regol halaman memperingatkan kawan-kawan mereka yang baru datang, agar mereka memasuki regol dengan tertib.

Tetapi dua orang anak muda yang bengal tidak mau turun dari kuda mereka. Ketika kawan mereka yang berdiri dipintu mencoba memperingatkan mereka, maka keduanya justru tertawa keras-keras sehingga tubuhnya terguncang-guncang.

“Untuk apa Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya berada di rumah kakek tua ini”

“Aku tidak tahu, tetapi mereka ada disini”

“Kau akan mempermainkan aku, he?” bertanya seorang yang bertubuh tinggi besar.

“Tidak tetapi aku berkata yang sebenarnya”

“Minggir kau, atau tubuhmu akan dikoyak oleh kaki-kaki kudaku he?”

Anak muda yang berdiri diregol itu tidak mencegahnya lagi. Ia justru berharap agar keduanya tetap saja berkuda sampai ketangga pendapa.

Ketika keduanya memasuki halaman rumah, maka dilihatnya beberapa orang kawannya telah duduk pula dengan tertib dipendapa. Tetapi mereka tidak segera melihat Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya diantara mereka.

Seperti yang diharapkan kawannya yang berdiri diregol, maka keduanya memang masih tetap berada dipunggung kuda mereka sampai kuda-kuda mereka mendekati tangga pendapa.

Tetapi wajah mereka menjadi pucat ketika mereka melihat, Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya memang ada di pendapa rumah gurunya itu pula. Bahkan Pangeran Benawa telah bangkit berdiri sambil berkata, “Ampun guru. Aku perlu berbicara dengan kedua anak muda yang tidak tahu adat itu. Aku masih memaafkan mereka yang datang terdahulu. Tetapi kedua anak muda ini sama sekali tidak mendengarkan meskipun kawannya yang berdiri diregol itu sudah memperingatkan mereka. Bukan karena aku dan kakangmas Sutawijaya ada disini tetapi berkuda di halaman, apalagi halaman rumah orang tua, adalah satu perbuatan yang tidak pantas. Bahkan mereka telah menyebut guru dengan sebutan kakek tua. Aku mendengar dengan jelas pembicaraan mereka karena aku mempunyai kemampuan untuk mendengarnya”

Kedua orang anak muda itu menjadi gemetar. Pangeran Benawa benar-benar bangkit berdiri. Melangkah ke tangga pendapa dan bahkan turun ke halaman.

“Kemarilah” suara Pangeran Benawa terasa menghentak isi dada kedua orang anak muda itu,

“Bersiaplah. Kita akan berkelahi”

“Ampun Pangeran” kedua orang anak muda itu berjongkok sambil menyembah, “kami mohon ampun”

“Bangkit” Pangeran Benawa membentak, “kita akan berkelahi”

“Hamba tidak berani Pangeran” jawab keduanya hampir berbareng.

Tetapi Pengeran Benawa telah melangkah mendekat. Menarik lengan mereka dengan tangan kiri dan kanan. Demikian kerasnya sehingga kedua orang anak muda itu terangkat.

Dengan keras Pengeran Benawa menghentakkan mereka sehingga keduanya terbanting jatuh.

Anak-anak muda yang berada di pendapa itu menjadi sangat tegang. Sementara itu Raden Sutawijaya masih saja duduk di tempatnya tanpa bergeser sama sekali.

Paksi pun masih saja duduk ditempatnya. Tetapi ia nampak menjadi gelisah. Sementara itu Ki Panengah sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ia mengerti maksud Pangeran Benawa. Sejak semula, suasana perguruan itu memang harus berubah.

“Bangkit. Jika kalian tidak mau bangkit, aku akan membunuh kalian berdua disini. Tidak ada orang yang dapat mencegahnya. Tidak ada pula orang yang dapat menyalahkan aku. Aku sudah memberi waktu kepada kalian untuk mempersiapkan diri. Apalagi aku hanya seorang diri, sedangkan kalian berdua”
Kedua orang anak muda itu memang bangkit. Tetapi mereka hanya berjongkok saja sambil menyembah pula.

“Hamba mohon ampun”

“Tidak” suara Pangeran Benawa lantang, “bangkit dan berkelahi”

Keduanya masih telap berjongkok sehingga tiba-tiba saja tangan Pangeran Benawa menyambar wajah salah seorang dari mereka sehingga terdengar anak muda itu mengaduh kesakitan. Tubuhnya terguncang dan jatuh berguling di tanah. Sementara itu kaki Pangeran Benawa terayun menghantam kening anak muda yang seorang lagi.

Untuk beberapa saat lamanya keduanya tidak mampu bangkit, sementara Pangeran Benawa berteriak, “Bangkit anak-anak cengeng”

Dengan susah payah keduanya pun bangkit. Di wajah mereka terdapat noda kebiru-biruan. Seorang diantaranya bibirnya menjadi pecah dan berdarah. Seorang lagi matanya menjadi merah seperti bara.

“Jika sekali lagi hal seperti ini kalian lakukan, maka aku akan membunuh kalian. Aku dan kakangmas Sutawijaya sejak sekarang adalah murid dari perguruan ini seperti kalian”

Kedua anak muda itu sama sekali tidak menjawab. Tubuh mereka yang gemetar, serta ketakutan yang mencekam, membuat mereka seakan-akan tidak dapat berdiri tegak.

Namun Pengeran Benawa pun kemudian berkata, “Naiklah”

Kedua orang anak muda itu pun kemudian telah naik ke pendapa dan duduk diantara kawan-kawan mereka.

Sikap Pengeran Benawa itu benar-benar membuat kejutan bagi anak-anak muda yang berguru kepada Ki Panengah. Mereka tidak lagi dapat bersikap seenaknya. Bukan karena mereka menjadi semakin hormat kepada Ki Panengah. Tetapi karena ditempat ini duduk pula Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya.

Ki Panengah memang belum berbuat api-apa. Ia masih belum menunjukkan perubahan sikap. Ki Panengah masih saja duduk diam. Disebelahnya duduk seorang yang dikenal dengan nama Ki Waskita.

Baru sejenak kemudian, Ki Panengah itu pun berkata, “Selamat datang diperguruan ini anak-anakku. Aku tahu, untuk beberapa lama perguruan ini tidak berjalan sebagaimana seharusnya karena aku pergi meninggalkan kalian untuk kira-kira setahun. Tetapi aku menunjuk seorang saudaraku untuk menggantikan aku. Tetapi agaknya saudaraku itu tidak mendapat sambutan sebagaimana seharusnya”

Anak-anak muda yang duduk di pendapa itu pun mendengarkan dengan jantung yang berdebaran. Jika saja Ki Panengah menjadi marah dan menghukum mereka. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya ada diantara mereka.

Tetapi Ki Panengah itu kemudian justru berkata, “Aku minta maaf kepada kalian. Sekarang, setelah aku kembali, maka aku telah diadili oleh orang tua kalian. Aku diwajibkan untuk mengembalikan citra perguruan ini. Perguruan ini harus pulih kembali. Bahkan harus menjadi sebuah perguruan yang benar-benar memiliki bobot yang tinggi. Karena itu, maka akan dilakukan beberapa pembenahan. Untuk itu maka aku harap kalian sampaikan kepada ayah kalian, bahwa besok mereka aku minta datang kemari. Aku akan berbicara dengan mereka”

Beberapa orang anak muda yang duduk di pendapa itu merasa aneh mendengar perintah gurunya. Orang tua mereka harus datang. Apa hak Ki Panengah untuk memanggil orang tua mereka. Ayah mereka adalah para pemimpin, para Senapati dan orang-orang yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pemerintahan di Pajang.

Namun ternyata Ki Panengah itu berkala selanjutnya, “Yang berhalangan datang, aku minta diwakili oleh orang yang dapat mengambil keputusan bagi kalian”

Pendapa itu menjadi hening. Anak-anak muda itu merasa tidak senang dengan sikap. Ki Panengah. Tetapi tidak seorang pun berani mengucapkannya, karena di pendapa itu terdapat Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya.

Bahkan terdengar Pangeran Benawa itu berkata, “Akan aku sampaikan kepada ayahanda, guru”

Sementara itu Raden Sutawijaya pun menyahut, “Aku harap bahwa ayahanda Sultan akan dapat datang. Jika tidak, maka ayah Ki Gede Pemanahanlah yang akan datang esok”

“Terima-kasih” sahut Ki Panengah, “mudah-mudahan ayah anak-anak muda yang lain juga dapat datang esok”

Tidak ada yang menyahut. Semuanya terdiam meskipun merasa ketegangan di jantung anak-anak muda yang ada di pendapa itu.

Dalam pada itu, Ki Panengah masih memberikan beberapa penjelasan bagi anak-anak muda itu. Bahwa selanjutnya, hanya mereka yang bersungguh-sungguh sajalah yang akan diterima berguru di perguruan Ki Panengah itu.

Ketika kemudian pertemuan itu dibubarkan, maka anak-anak muda itu masih tidak beranjak dari tempat mereka. Mereka menunggu Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya meninggalkan tempat itu.

Baru kemudian setelah Pengeran Benawa dan Raden Sutawijaya minta diri, maka anak-anak muda itu pun turun pula dari pendapa. Tetapi mereka tidak berani langsung meloncat ke punggung kuda, karena Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya pun menuntun kuda mereka di halaman. Baru setelah mereka berada di luar regol, mereka naik keatas punggung kuda mereka.

Paksi pun kemudian telah meninggalkan pendapa itu pula bersama beberapa orang kawannya yang berjalan kaki. Paksi sengaja berjalan kaki, karena ia tidak mau dianggap terlalu sombong dengan kuda ganjaran yang telah diterimanya dari Pangeran Benawa.
Di jalan pulang, Paksi mendengar beberapa orang kawannya yang menganggap sikap Ki Panengah itu aneh.

“Kenapa Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya berguru pula kepada Ki Panengah?” bertanya salah seorang kawannya.

“Entahlah” sahut yang lain, “kehadiran mereka membuat kami merasa kecil”

“Aku tidak tahu, apakah ayahku mau datang esok. Mungkin ayah justru akan memanggil Ki Panengah”

“Tetapi Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya tidak merasa tersinggung atas sikap Ki Panengah itu”

“Biarlah esok ayah datang. Biarlah ayah melihat apa yang akan terjadi esok. Apakah Ki Gede Pemanahan benar-benar datang. Apalagi Kangjeng Sultan sendiri”

Paksi pun merasa gelisah pula. Seperti kawan-kawannya, ia pun harus menyampaikan kepada ayahnya, bahwa esok ayahnya diminta datang ke rumah Ki Panengah.

“Bagaimanapun juga sikap ayah, aku harus menyampaikannya. Mudah-mudahan ayah dapat datang dan mengetahui wewenang Ki Panengah sekarang ini”

Namun bagaimanapun juga, Paksi menjadi berdebar-debar ketika ia ingin menyampaikan undangan Ki Panengah itu kepada ayahnya. Menjelang senja, ketika ayahnya duduk di pringgitan menghadapi minuman hangat dan beberapa potong makanan, Paksi telah menemuinya. Dengan dada yang berdebaran, Paksi duduk dihadapan ayahnya.

“Ada yang ingin aku sampaikan, ayah”

Ayahnya memandang dengan dahi yang berkerut. Dengan singkat ayahnya bertanya, “Apa?”

“Aku ingin menyampaikan pesan Ki Panengah”

“Pesan buatku?”

“Ya, ayah”

“Pesan apa?”

Paksi menarik nafas panjang. Katanya kemudian, “Ki Panengah minta orang tua murid-muridnya datang ke perguruan”

Tiba-liba saja wajah Ki Tumenggung menegang, “Gurumu memanggil aku?”

“Bukan hanya ayah. Tetapi semua orang tua yang mengirimkan anak-anaknya berguru kepada Ki Panengah. Ki Panengah merasa bersalah karena meninggalkan perguruan untuk waktu yang terlalu lama. Ki Panengah berusaha untuk memenuhi perintah para orang tua, agar Ki Panengah berusaha memperbaiki dan menertibkan kembali perguruannya”

“Aku yang seharusnya memanggil gurumu. Juga orang-orang tua muridnyalah yang seharusnya memanggilnya. Jika perlu ia harus mendatangi kami seeorang demi seorang. Bukan sepatutnya ia memanggil kami”

“Ayah” suara Paksi menjadi berat, “dua orang murid dari perguran kami adalah Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya. Raden Sutawijaya sudah menyatakan, bahwa Ki Gede Pemanahan akan datang jika Kangjeng Sultan berhalangan besok”

“Ki Gede Pemanahan? Bahkan Kangjeng Sultan? Apakah gurumu sudah gila?”

“Tetapi begitulah keadaannya, ayah. Ki Gede Pemanahan besok akan datang”

Wajah Ki Tumenggung menjadi sangat tegang. Bahkan terdengar giginya gemeretak. Ia tidak dapat menerima sikap Ki Panengah itu. Tetapi bagaimana mungkin Ki Gede Pemanahan sendiri akan bersedia memenuhi undangan Ki Panengah. Bahkan Ki Tumenggung itu tidak dapat mengerti kenapa Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya harus dikirim ke perguruan itu. Kenapa Kangjeng Sultan tidak memanggilnya saja di hari hari tertentu jika Ki Panengah itu memang diperlukan.

Namun bagaimanapun juga. Ki Tumenggung merasa mendapat semacam tekanan bahwa ia harus hadir esok memenuhi panggilan Ki Panengah. Satu langkah yang tidak akan pernah dilakukan sebelumnya.

“Ki Panengah akan sangat menyesal seandainya besok Ki Gede Pemanahan tidak hadir” geram Ki Tumenggung, “kami, orang tua para muridnya tentu akan mengambil langkah tertentu untuk membuatnya jera”

Paksi pun menjadi berdebar-debar. Ia pun tidak yakin, bahwa Ki Gede Pemanahan akan hadir, namun jika saja Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya besok datang ke rumah Ki Panengah, tentu tidak seorang pun yang akan berani berbuat sesuatu.

Sore itu, Paksi telah pergi ke kesatrian untuk menghadap Pangeran Benawa. Ia telah menceriterakan sikap ayahnya ketika ia menyampaikan undangan dari Ki Panengah.

“Hamba kira, banyak orang tua yang bersikap seperti ayah hamba itu”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Namun katanya, “Kakangmas Sutawijaya sudah berbicara dengan paman Pemanahan. Paman Pemanahan akan benar-benar datang esok”

“Syukurlah” Paksi mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian bertanya, “Apakah Pangeran dan Raden Sutawijaya akan hadir?”

“Ya. aku besok akan datang”

“Jika ayah hamba tidak berkeberatan, besok hamba juga akan datang, Pangeran”

“Kenapa ayahmu berkeberatan?”

“Kadang-kadang hamba tidak dapat menebak, apa yang sebenarnya ayah kehendaki”

Pangeran Benawa mengangguk kecil. Katanya, “Baiklah. Tetapi usahakan untuk datang”

Paksi pun kemudian mohon diri dari kasatrian. Meskipun Pangeran Benawa sudah dapat meyakinkannya, bahwa Ki Gede pemanahan akan datang besok, namun Paksi masih saja merasa gelisah.

Karena itu, maka di malam harinya, Paksi tidak segera dapat tidur. Baru setelah lewat tengah malam. Paksi pun terlelap.

Dihari berikutnya, sebelum Paksi mohon kepada ayahnya uniuk ikut pergi ke rumah Ki Panengah, justru ayahnyalah yang memerintahkannya bersiap.

“Kita pergi ke rumah Ki Panengah. Kau akan dapat melihat, apakah Ki Gede Pemanahan akan dalang atau tidak. Ki Gede Pemanahan bukan seorang tua yang kerjanya hanya mendengarkan suara perkutut. Tetapi Ki Gede mempunyai banyak kesibukan”

Paksi tidak menjawab. Tetapi ia memang menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika ayahnya berkata, “Aku bahkan menduga, bahwa kaulah yang membual seolah-olah Ki Gede akan datang untuk memaksaku datang di rumah Ki Panengah”

Paksi hanya dapat menundukkan kepalanya. Tetapi jika Ki Gede Pemanahan tidak datang, maka ayahnya tentu akan menjadi sangat marah kepadanya.

Meskipun demikian, jika Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya dapat datang ke rumah Ki Panengah, maka seluruh tanggung-jawab atas tidak kehadiran Ki Gede Pemanahan tidak akan dapat dibebankan kepadanya oleh ayahnya.

“Aku sudah mengorbankan waktuku. Aku tentu akan sangat terlambat datang ke tempat tugasku karena aku menunaikan permintaanmu untuk datang ke rumah gurumu” berkata Ki Tumenggung.

“Terima-kasih ayah” jawab Paksi.

“Tetapi aku tidak mau keterlambatanku di tempat tugasku Itu hanya karena bualanmu”

Beberapa saat kemudian, maka Ki Tumenggung itu telah siap untuk berangkat. Seorang pembantunya telah menyiapkan kudanya di halaman.

“Kenapa kau masih belum bersiap?” bertanya Ki Tumenggung.

“Aku sudah siap, ayah” jawab Paksi.

“Aku akan pergi berkuda” berkata ayahnya pula.

“Maksud ayah, aku juga harus berkuda?”

“Apakah kau akan berlari dibelakang kudaku?”

Paksi pun dengan tergesa-gesa telah menyiapkan kudanya pula. Sebenarnyalah Paksi merasa agak segan, karena kudanya akan nampak lebih baik dari kuda ayahnya.

Tetapi Paksi tidak dapat berbuat lain, karena ia memang hanya mempunyai seekor kuda saja.

Sejenak kemudian, Paksi pun telah minta diri kepada ibunya dan kedua adiknya yang berdiri di tangga pendapa.

Demikianlah, Paksi dan ayahnya segera turun ke jalan. Ki Tumenggung berkuda didepan, sedangkan Paksi mengikutinya di belakang.

Semakin dekat dengan regol halaman rumah Ki Panengah, Paksi menjadi semakin berdebar-debar. Jika saja Ki Gede Pemanahan tidak datang. Apalagi jika Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya juga tidak datang.

Namun akhirnya keduanya pun sudah berhenti di depan regol halaman rumah Ki Panengah. Ternyata di halaman beberapa ekor kuda sudah terikat di patok-patok yang tersedia serta di pepohonan yang tumbuh di halaman.

Paksi pun segera meloncat turun dari kudanya, sementara Ki Tumenggung masih duduk di punggung kudanya itu. Paksi menjadi tegang ketika ayahnya akan memasuki halaman tanpa turun dari punggung kudanya. Ia tidak berani menegur ayahnya, tetapi ia pun tidak ingin ayahnya ditegur oleh orang lain. Bahkan mungkin oleh Pangeran Benawa atau Raden Sutawijaya.

Namun akhirnya Paksi itu pun berdesis, “Mudah-mudahan Ki Gede Pemanahan sudah hadir, ayah”

Ki Tumenggung mengerutkan dahinya. Ia melihat beberapa ekor kuda yang besar dan tegar seperti kuda yang dipakai oleh Paksi. Karena iiu, maka Ki Tumenggung pun menduga, bahwa di pendapa itu sudah hadir orang-orang yang sepatutnya dihormati.

“Tetapi apakah Ki Gede Pemanahan juga benar-benar hadir, bahkan telah hadir di pendapa?” bertanya Ki Tumenggung di dalam hatinya.

Ketika Ki Tumenggung dan Paksi menuntun kudanya memasuki halaman, maka dua orang telah menyambut mereka dan mempersilahkan mereka naik ke pendapa.

Salah seorang dari mereka pun kemudian berdesis, “Ki Gede Pemanahan telah hadir pula di pendapa”

“Ki Gede Pemanahan?” Ki Tumenggung tersentak.

“Ya. Ki Gede sudah datang bersama Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya. Menurut Ki Gede Pemanahan, Kangjeng Sultan tidak dapat datang karena kesibukannya. Karena itu, maka Ki Gede sekaligus mewakili Kangjeng Sultan”

Ki Tumenggung menjadi berdebar-debar. Ternyata pertemuan itu merupakan pertemuan yang sungguh-sungguh. Bukan sekedar pertemuan sebagaimana pernah dilakukan sebelumnya.

Sejenak kemudian, maka Ki Tumenggung pun telah duduk di pendapa. Disampingnya, Paksi duduk sambil menunduk.

Ketika Ki Tumenggung sempat melihat disekelilingnya, maka dilihatnya beberapa orang pejabat istana, para Senopati dan para pemimpin duduk tepekur. Rasa-rasanya pendapa itu menjadi beku sebagaimana mereka berada di paseban. Sementara itu, di depan mereka yang hadir, Ki Gede duduk disebelah Ki Panengah. Disebelahnya lagi duduk Ki Waskita. Sedangkan Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya duduk berbaur dengan beberapa orang anak muda yang ikut bersama ayah mereka datang memenuhi undangan Ki Panengah.

Ketika kemudian Ki Gede berbincang dengan Ki Panengah, barulah kemudian beberapa orang yang hadir di pendapa itu sempat berbicara pula yang satu dengan yang lain, meskipun dengan berbisik-bisik.

Seorang Rangga yang duduk disebelah ayah Paksi itu pun berdesis, “Ki Tumenggung, apakah sebenarnya yang akan dilakukan oleh Ki Panengah sehingga ia berani mengundang Ki Gede Pemanahan. Bahkan Kangjeng Sultan?”

“Entahlah. Aku tidak tahu. Tetapi ternyata bahwa Ki Gede Pemanahan juga bersedia datang”

Seorang Tumenggung yang duduk didepan ayah Paksi sempat berpaling dan berdesis, “Raden Sutawijaya ternyata juga dikirim untuk berguru di perguruan ini, sehingga Ki Gede sebagai orang tua Raden Sutawijaya merasa wajib pula memenuhi undangan Ki Panengah”

Ayah Paksi itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya-tanya lagi.

Ternyata sejenak kemudian, pertemuan itu pun dimulai. Ki Panengahlah yang membuka pertemuan itu dengan kata kata pengantarnya. Kemudian Ki Panengah itu pun menjelaskan maksudnya mengundang orang tua para murid yang dikirim berguru kepadanya.

“Ki Gede Pemanahan, para pejabat di istana, para perwira prajurit dan para pemimpin pemerintahan serta Ki Sanak semuanya yang telah mempercayakan anak anaknya berguru di perguruan ini, perkenankanlah aku dengan sangat bersyukur menyatakan, bahwa aku telah menerima surat kekancingan yang baru dari Kangjeng Sultan tentang keberadaan perguruan ini serta wewenang yang dilimpahkan kepadaku”

Para pemimpin yang hadir di pendapa itu pun menjadi berdebar-debar. Selama ini merekalah yang menentukan kebijaksanaan serta tugas dan wewenang Ki Panengah. Namun tiba-tiba Ki Panengah menyebut Surat Kekancingan dari Kangjeng Sultan di Pajang.

Meskipun sebelumnya perguruan Ki Panengah itu juga ditetapkan dengan Surat Kekancingan dari Kangjeng Sultan, tetapi wewenang Ki Panengah sangat terbatas. Segala sesuatunya terserah kepada para pemimpin di Pajang yang mengirimkan anak:anak mereka berguru kepadanya.

Karena itu, maka para pemimpin yang hadir di pendapa itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika kekancingan itu dibacakan. Bahkan Ki Panengah mohon kepada Ki Gede Pemanahan untuk membacakan Surat Kekancingan itu.

“Aku mohon, Ki Gede” berkata Ki Panengah sambil mengangguk hormat.

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Namun diterimanya Surat Kekancingan itu dari tangan Ki Panengah sambil berkata, “Baiklah Ki Panengah. Biarlah aku membaca Surat Kekancingan ini”

Ki Gede pun bekisar sejengkal. Namun sebelum membaca Surat Kekancingan itu, Ki Gede itu pun berkata, “Tetapi sebelumnya aku ingin menyampaikan penyesalan Kangjeng Sultan, bahwa Kangjeng Sultan tidak dapat hadir sekarang ini. Sebenarnya Kangjeng Sultan juga ingin menetapi kewajibannya sebagai seorang ayah yang mengirimkan anaknya ke perguruan ini. Tetapi karena kesibukan yang tidak dapat ditinggalkan, maka Kangjeng Sultan terpaksa tidak dapat hadir”

Para pemimpin yang hadir di pendapa rumah Ki Panengah itu menjadi berdebar-debar. Agaknya Ki Panengah tidak main-main dengan rencananya yang agaknya langsung diajukannya kepada Kangjeng Sultan dan bahkan telah mendapat persetujuannya.

Sejenak kemudian, maka Ki Gede Pemanahan pun telah membacakan Surat Kekancingan tentang perguruan yang dipimpin oleh Ki Panengah itu. Hak, wewenang dan kewajibannya. Di Surat Kekancingan itu juga disebutkan, bahwa Ki Panengah mendapat hak untuk membuka hutan Jabung untuk membangun padepokannya serta tanah pendukungnya yang cukup luas.

Demikian Ki Gede Pemanahan selesai membacakan Surat Kekancingan itu, maka ketegangan pun mencengkam jantung tiap orang yang hadir dalam pertemuan itu. Dalam Surat Kekancingan itu disebutkan bahwa Ki Panengah mendapat hak dan wewenang sepenuhnya untuk mengatur perguruannya tanpa dapat dicampuri orang lain. Sedangkan pengawasan atas perguruan itu langsung berada di tangan Ki Gede Pemanahan.

“Mungkin ada beberapa perubahan hak dan wewenang bagi Ki Panengah atas perguruannya. Tetapi Surat Kekancingan ini adalah wajar sekali. Seperti yang disebut dalam Surat Kekancingan itu, bahwa Ki Panengah akan mendengarkan dan mempertimbangkan setiap pendapat dan saran yang baik dan bermanfaat yang diberikan oleh semua pihak bagi kebaikan dan kemajuan perguruan ini. Tetapi kebijaksanaan terakhir ada pada Ki Panengah” berkata Ki Gede Pemanahan selanjutnya.

Ki Panengah pun kemudian mengucapkan terima kasih atas kesediaan Ki Gede. Ki Panengah sendiri kemudian menyehatkan beberapa syarat bagi mereka yang akan meneruskan berguru kepadanya.

“Kita akan bekerja keras. Kita akan membuka hutan dan tidak lagi menggantungkan hidup perguruan kita kepada orang lain. Setiap orang yang berguru kepadaku, akan tinggal di padepokan dan terikat pada ketentuan dan paugeran yang sangat mengikat. Karena itu, aku mohon kepada mereka yang akan mengirimkan putera-puteranya ke perguruanku, untuk mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh. Kangjeng Sultan menghendaki agar perguruanku menjadi seperti kebanyakan perguruan yang lain. Yang mengirimkan putera-puteranya untuk berguru, dengan sungguh-sungguh ingin putera-puteranya memiliki kemampuan. Bukan sekedar pernyataan bahwa pernah berguru di sebuah perguruan yang diakui kehadirannya oleh Kangjeng Sultan tetapi tidak mampu mandiri”

Pernyataan Ki Panengah itu memang menimbulkan berbagai tanggapan dihati beberapa orang yang ada di pendapa rumahnya.

Sebagian dari mereka menjadi kecewa, tetapi sebagian justru menjadi mantap. Mereka berharap bahwa anak-anak mereka benar-benar akan menjadi orang-orang yang berilmu. Bukan sekedar hilir mudik, bergerombol di simpang-simpang empat, bahkan menganggu orang-orang lewat, karena mereka merasa memiliki kemampuan yang tinggi karena mereka sudah berguru, selain sandaran yang kokoh karena orang tua mereka adalah pemimpin.

Dibagian terakhir dari pertemuan itu adalah beberapa pesan singkat yang disampaikan oleh Ki Gede Pemanahan.

Ki Panengah pun memberikan kesempatan kepada yang hadir untuk menyatakan pendapat mereka. Namun tidak seorang pun yang mempergunakan kesempatan itu untuk berbicara.

“Baiklah” berkata Ki Panengah, “aku akan segera memulai membuka hutan Jabung. Karena itu, maka dalam dua pekan ini aku harus sudah mendapat kepastian, siapakah yang akan tetap berguru di perguruan ini seijin orang tua mereka masing-masing. Tetapi seperti yang sudah aku katakan, mereka yang berguru kepadaku akan tinggal dipadepokan dengan ketentuan dan paugeran yang sangat mengikat”

Demikainlah, maka sejenak kemudian, pertemuan itu pun sudah ditutup. Ki Gede Pemanahan pun kemudian telah minta diri. Selanjutnya para tamu yang lain pun berurutan meninggalkan rumah Ki Panengah.

Seorang Senapati berkata kepada kawannya di perjalanan pulang, “Buat apa aku mengirimkan anakku. Aku seorang Senapati yang mumpuni dalam olah kanuragaan. Biarlah aku ajari sendiri anakku itu. Aku yakin, bahwa hasilnya akan jauh lebih baik daripada ia harus berguru kepada Panengah. Panengah tentu akan memanfaatkan kesempatan ini untuk kepentingannya sendiri. Ia akan memaksa para cantrik untuk bekerja keras seperti budak-budak belian dengan senjata hak dan wewenang yang dilimpahkan kepadanya. Tetapi hasilnya tentu sebagian hesar bagi keuntungan dirinya sendiri”

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Bagaimana mungkin Ki Panengah dapat membujuk Kangjeng Sultan untuk membuat Surat Kekancingan seperti itu. Bagaimana pula ia dapat membujuk Ki Gede Pemanahan untuk hadir di rumahnya, sehingga dapat diperalatnya untuk kepentingannya”

“Itulah kelebihan Panengah. Bukan dalam olah kanuragaan, tetapi kemampuannya membujuk orang yang paling berkuasa di Pajang”

Namun beberapa orang yang lain justru menanggapi perubahan tatanan dalam perguruan Ki Panengah itu dengan harapan. Jika perguruan itu menjadi lebih baik, maka anaknya pun akan mendapat tuntunan berbagai macam ilmu dengan lebih baik pula.

“Aku akan melihat perkembangannya, berkata seorang Tumenggung kepada kawannya, “mudah-mudahan menjadi semakin baik. Jika justru menjadi semakin buruk, aku akan memanggil anakku keluar dari perguruan ini”

“Aku justru berpengharapan” sahut seorang Rangga, “mudah-mudahan perguruan Ki Panengah akan menjadi perguruan yang diperhitungkan. Hasilnya pun akan memuaskan pula”

Demikianlah, Ki Panengah memberikan waktu dua pekan untuk membuat kepastian, siapakah yang akan tetap menjadi muridnya. Yang akan bersama-sama membangun sebuah padepokan dengan mempersiapkan lingkungan pendukungnya.

Dalam pada itu, Ki Tumenggung Sarpa Biwada menjadi bimbang. Apakah ia akan menyerahkan Paksi ke perguruan itu atau tidak. Tetapi jika Paksi diserahkan kepada perguruan itu, maka tanpa diusirnya, Paksi sudah tidak akan berada dirumahnya lagi.

“Tetapi itu tidak menyelesaikan persoalan” berkata Ki Tumenggung didalam hatinya, “pada suatu saat ia tentu akan pulang. Segala-galanya akan menjadi kacau”

Ketika Ki Sarpa Biwada itu meninggalkan rumah Ki Panengah, ia pun telah memerintahkan Paksi langsung pulang. Ki Tumenggung sendiri akan pergi ke tempat tugasnya.

“Apakah kau akan tetap berguru kepada Ki Panengah atau tidak, akan aku pikirkan lagi” berkata Ki Tumenggung kepada Paksi ketika mereka berpisah.

Paksi tidak menjawab. Ia berharap bahwa ayahnya akan menyerahkannya kepada Ki Panengah untuk memasuki padepokan yang akan dibangunnya.

“Aku tidak pernah membantah perintah ayah” berkata Paksi didalam hatinya, “tetapi jika ayah tidak menyerahkan aku kembali ke perguruan, maka untuk pertama kalinya aku menolak sikap ayah”
Ketika Paksi itu kemudian sampai dirumah, maka ibunya pun segera bertanya, “Dimana ayahmu?”

“Ayah langsung pergi ketempat tugasnya, ibu” jawab Paksi.

Ibunya mengangguk-angguk. Tetapi ia pun bertanya pula, “Apakah Ki Gede Pemanahan benar-benar datang ke rumah Ki Panengah?”

“Ya, ibu. Ki Gede benar-benar datang bersama Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya”

“Lalu, apa saja yang dibicarakan dalam pertemuan itu?”

Paksi pun kemudian menceriterakan rencana pembangunan kembali perguruan yang sudah hampir kehilangan wibawanya itu.

“Bagaimana dengan kau? Apakah kau akan kembali ke perguruan itu?”

“Maksudku demikian, ibu. Tetapi aku masih menunggu keputusan ayah”

Ibunya mengangguk-angguk. Tetapi seperti kata Paksi, ibunya tidak dapat membayangkan, keputusan apa yang akan diambil oleh Ki Tumenggung.

Namun disiang hari, ketika Ki Tumenggung pulang, maka ia pun langsung mencari Paksi. Dipanggilnya Paksi untuk duduk diserambi samping.

“Aku perlu berbicara dengan kau, Paksi” berkata ayahnya.

Paksi menjadi berdebar-debar. Dengan kepala tunduk ia duduk disebelah ayahnya, disebuah lincak yang panjang. Lincak yang dibuat dari pring tutul yang manis.

“Paksi” berkata ayahnya, “aku sudah mengambil keputlusan. Kau dapat melanjutkan berguru kepada Ki Panengah”

Paksi mengangkat wajahnya yang menjadi cerah. Dengan nada dalam Paksi pun menyahut, “Terima kasih ayah”

Aku berharap kau akan mendapat manfaat yang besar dari perguruan yang akan mempunyai tatanan yang baru itu. Aku berharap bahwa kau akan dapat menjadi seorang yang berguna”

“Terima-kasih ayah. Aku akan berusaha sebaik-baiknya untuk memenuhi keinginan ayah”

“Kau harus bersungguh-sungguh, Paksi. Kau harus menyadap ilmu dari perguruan itu sampai tuntas”

Paksi merasa gembira sekali akan keputusan ayahnya. Ia pun merasakan sikap ayahnya yang berbeda. Agaknya ayahnya pun menjadi sangat mantap dan bersungguh-sungguh. Bahkan ayahnya itu menepuk bahunya dan berkata dengan lembut, “Kau adalah harapan keluarga di masa depan, Paksi”

“Ayah” suara Paksi menjadi sendat, “aku akan berusaha untuk dapat memenuhi harapan ayah dan keluarga ini. Mudah-mudahan Yang Maha Penyayang memberikan jalan kepadaku”

“Mohonlah. Maka kau akan mendapatkannya”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa mendapat suatu anugerah yang besar, bahwa justru ayahnya telah menyatakan persetujuannya sebelum Paksi memohonnya. Bahkan sikap ayahnya pun demikain baik kepadanya, sehingga rasa-rasanya ayahnya belum pernah bersikap demikian lembut sebelumnya.

“Nah, pergilah kepada gurumu. Katakan, bahwa atas ijinku, kau akan tetap berguru kepada Ki Panengah”

“Terima-kasih ayah. Aku akan pergi ke rumah guru”

“Pergilah”

Paksi pun kemudian segera bangkit. Demikian ia masuk keluang dalam, ibunya pun bertanya, “Apa yang dikatakan ayahmu, Paksi”

“Ayah mengijinkan aku melanjutkan berguru kepada Ki Panengah, ibu”

lbunya menarik nafas panjang. Ia sudah mendengar dari Paksi, bahwa tatanan perguruannya akan berubah. Jika Paksi melanjutkan berguru kepada Ki Panengah, maka ia harus tinggal di padepokan.

“Jadi kau akan pergi lagi, Paksi”

“Bukankah hanya di seberang pintu gerbang kota itu, ibu. Padepokan itu akan didirikan di hutan Jabung. Hanya beberapa ribu tonggak saja. Setiap saat aku kehendaki, aku dapat pulang sepanjang tidak melanggar paugeran perguruan itu”

Ibunya mengangguk. Katanya, “Mudah-mudahan kau mampu menguasai ilmu yang diturunkan oleh gurumu”

“Doakan ibu”

Ibunya mengangguk. Namun sebelum ia mengatakan sesuatu, adik laki-laki Paksi pun mendekat sambil berkata, “Ibu. Aku juga akan mohon ijin kepada ayah untuk ikut berguru kepada Ki Panengah seperti kakang Paksi”

Ibunya memandang anaknya itu sambil tersenyum. Katanya “Kau harus minta ijin kepada ayahmu”

Adik laki-laki Paksi itu mengangguk. Tiba-tiba saja ia bertari mencari ayahnya.

Tetapi ketika hal itu diutarakan kepada ayahnya, maka ayahnya itu pun berkata, “Jangan sekarang”

“Kenapa ayah. Mumpung segala-galanya baru dimulai dari permulaan”

“Aku akan melihat lebih dahulu, apakah perguruan itu akan bertambah menjadi semakin baik atau justru sebaliknya. Karena itu, biarlah kakakmu yang memang sudah berguru sebelumnya kepada Ki Panengah untuk melanjutkannya. Jika ternyata perguruan itu menjadi semakin baik, maka kau akan aku kirim pula ke perguruan itu. Kita akan menunggu perkembangannya pada tahun pertama dan kedua dari perguruan itu”

“Begitu lama aku harus menunggu?

“Jika kita segera meyakini bahwa perguruan itu akan menjadi baik, maka kau akan segera masuk pula kedalamnya”

Adik Paksi itu memang menjadi keeewa. Ia ingin pergi bersama kakaknya. Tetapi ia pun dapat mengerti sikap ayahnya yang berhati-hati.

Karena itu, ia tidak berusaha memaksakan kehendaknya meskipun benar-benar merasa kecewa.

Menjelang senja Paksi pergi ke rumah gurunya. Ia ingin segera menyampaikan kepada gurunya, bahwa dengan senang hati ayahnya mengijinkannya untuk berguru terus. Meskipun Paksi sudah memutuskan, seandainya ayahnya melarangnya, ia akan tetap melangkah terus, namun ia merasa sangat gembira, bahwa ayannya justru sangat mendukungnya.

Ketika hal itu disampaikan kepada gurunya, maka gurunya pun mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya, “Bukankah tidak ada masalah lagi, Paksi?”

“Ya, guru”

“Syukurlah” sahut Ki Waskita yang kebetulan berada di rumah Ki Panengah.

“Bahkan ayah mengatakan kepadaku, bahwa aku harus bersungguh-sungguh, karena aku adalah harapan keluargaku dimasa depan”

“Ayahmu benar, Paksi. Mungkin penjelasan Ki Panengah setia sesorah Ki Gede Pemanahan lelah membuka hati ayahmu sehingga dengan serta merta ayahmu menginginkan kau tetap berguru pada perguruan yang diharapkan menjadi semakin baik ini”

“Tidak dengan serta-merta, Ki Mana” jawab Paksi, “ketika kami pulang tadi dari rumah ini, ayah masih nampak ragu Tetapi demikian ayah pulang dari tempat tugasnya, maka sikap ayah sudah berubah. Ayah dengan pasti dan bahkan dengan penuh harapan, mengatakan bahwa aku diijinkan untuk berguru di perguruan ini untuk selanjutnya dengan segala macam ketentuan dan paugeran yang berlaku”

Ki Marta Brewok mengerutkan dahinya, sementara itu Ki Panengah mengangguk-angguk kecil. Dengan nada berat, Ki Panengah pun berkata, “Baiklah Paksi. Kami pun berpendapat bahwa kau harus tetap berada di perguruan ini. Apalagi kini Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya juga berguru di perguruan ini, meskipun aku yakin bahwa ilmu mereka lebih tinggi dari ilmuku. Tetapi keduanya berniat untuk mengangkat derajad perguruan ini. Jika pada suatu saat perguruan ini sudah berjalan dengan baik, keduanya akan dengan puas mengundurkan diri, meskipun kita berharap bahwa keduanya masih akan tetap memelihara keterikatan dengan perguruan kita”

Paksi berada dirumah gurunya untuk beberapa lama. Ketika malam menjadi semakin malam, maka Paksi pun telah minta diri.

Disepanjang jalan, Paksi sempat menilai sikap gurunya dan Ki Marta Brcwok yang juga disebut Ki Waskita itu. Ketika ia menceriterakan sikap ayahnya, nampak keduanya memperhatikan dengan sungguh-sungguh.

“Tetapi aku tidak tahu, apakah tanggapan mereka sebenarnya terhadap sikap ayah”

Namun Paksi pun kemudian telah menilai sikap ayahnya pula. Seperti yang dikatakannya kepada gurunya, sikap ayahnya seakan-akan berubah dengan tiba-tiba

“Mungkin ayah sempal berbicara dengan kawan-kawan ayah di tempat tugasnya” berkata Paksi didalam hatinya.

Dalam pada itu, ketika batas waktu yang ditentukan oleh Ki Panengah itu sudah habis, maka Ki Panengah telah memanggil anak-anak muda yang menyatakan dirinya untuk terus berguru diperguruan itu bersama orang tua mereka. Memang tidak terlalu banyak. Tidak lebih dari lima belas orang anak muda. Tetapi nampak pada wajah mereka, kesungguhan pada anak-anak muda itu untuk berguru. Demikian pula pada orang tua mereka. Mereka nampaknya menyerahkan anak-anak mereka dengan penuh kepercayaan. Diantara orang tua yang hadir mengantar anaknya adalah Ki Gede Pemanahan.

“Kita akan segera memulai” berkala Ki Panengah.

Sebenarnyalah Ki Panengah telah memutuskan, bahwa anak-anak muda yang telah mantap untuk berguru kepadanya itu, untuk datang dihari berikutnya. Katanya, “Sejak besok, kalian tidak akan pulang lagi. Kalian akan berada di padepokan yang untuk sementara akan berada di rumah ini. Sementara itu, kita akan mulai membuka hutan Jabung. Membangun sebuah padepokan dan kemudian menempatinya. Kita tidak perlu tergesa-gesa, karena untuk sementara kita sudah mempunyai tempat meskipun kurang memenuhi syarat”

Dalam pertemuan itu, Ki Gede Pemanahan telah menawarkan bantuan bagi Ki Panengah. Dengan sungguh-sungguh Ki Gede berkata, “Ki Panengah. Jika Ki Panengah memerlukan bantuan untuk membuka hutan, maka aku akan dapat mengerahkan beberapa kelompok prajurit. Dengan bantuan mereka, rencana Ki Panengah untuk membangun sebuah padepokan dengan tanah pendukungnya dengan membuka hutan Jabung akan dapat dengan segera terwujud”

“Terima-kasih Ki Gede. Kami akan sangat berterima-kasih atas bantuan yang Ki Gede tawarkan kepada kami. Tetapi, untuk sementara, biarlah anak-anak kami yang melakukannya. Mereka sebaiknya merasakan betapa mereka harus bekerja keras untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Mereka pun harus menempa diri, wadag dan jiwanya. Tetapi pada suatu saat, mungkin sekali kami memang memerlukan bantuan itu”

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Katanya, “Aku setuju dengan sikap Ki Panengah. Anak-anak itu harus diperkenalkan dengan kerja. Mereka tidak seharusnya begitu saja memasuki sebuah bangunan yang sudah siap mereka tempati. Tetapi mereka akan ikut merasakan, betapa mereka harus bekerja keras untuk mewujudkannya. Dengan demikian mereka akan merasa ikut memiliki dan akan memelihara bangunan ilu. Ujud dan roh dari bangunan itu”

“Terima-kasih atas pengertian Ki Gede Pemanahan”

“Tetapi jika pada suatu saat Ki Panengah memerlukannya, aku akan menyediakannya. Mungkin ada sesuatu yang tidak teratasi oleh anak-anak serta persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan, aku akan Berusaha membantunya”

“Pada saatnya aku akan menghadap, Ki Pemanahan. Sekali lagi aku mengucapkan terima-kasih”

Pertemuan itu memang tidak berlangsung terlalu lama. Ki Gede Pemanahan pun kemudian minta diri pula.

“Besok Pangeran Benawa dan Sutawijaya akan datang untuk tinggal di padepokan ini”

Demikianlah Ki Gede Pemanahan meninggalkan padepokan itu, maka yang lain pun telah minta diri pula. Ki Tumenggung Sarwa Biwada juga minta diri. Tetapi ketika Paksi minta ijin untuk tinggal sebentar di rumah gurunya, Ki Tumenggung tidak berkeberatan.

“Aku akan langsung ketempat tugasku. Sebaiknya kau harus segera pulang mempersiapkan segala sesuatunya yang akan kau bawa esok”

“Baik, ayah” jawab Paksi.

Sepeninggal ayahnya, maka Paksi pun telah ikut membantu gurunya, Ki Waskita dan beberapa orang pembantu dirumah itu untuk mempersiapkan segala-galanya. Ruangan-ruangan untuk tidur. Untuk makan, untuk mendengarkan uraian-uraian serta sesorah serta menyiapkan sanggar tertutup dan terbuka.

Lewat tengah hari, maka Paksi pun telah minta diri pula,

“Pulanglah” berkata gurunya, “bukankah ayahmu tadi berpesan agar kau segera pulang. Biarlah persiapan ini tidak di selesaikan sampai tuntas. Anak-anak besok harus ikut mengatur pula, ruangan-ruangan yang akan mereka pergunakan sendiri”

Ketika Paksi sampai dirumah, ayahnya memang belum pulang. Ibunyalah yang menyambutnya dipintu pringgilan.

Karena itu, ketika Paksi melangkah menuju ke seketeng, ia pun segera berbelok naik ke pendapa dan mendapatkan ibunya yang agaknya memang telah menunggunya.

“Apakah ayahmu langsung pergi ketempat tugasnya, Paksi?” bertanya ibunya demikian Paksi naik ke pendapa.

“Ya, ibu”

“Dan kau?”

“Aku tinggal untuk beberapa lama di rumah guru”

“Persoalan apa yang dibicarakan dalam pertemuan itu?”

“Besok aku mulai masuk ke padepokan. Tatanan perguran Ki Panengah sekarang berbeda dengan tatanan sebelumnya. Setiap murid dari perguruan Ki Panengah harus tinggal di padepokan”

“Sejak kapan kau akan tinggal di padepokan itu, Paksi?”

“Sejak besok, ibu”

“Besok? Begitu tiba-tiba?”

“Sebenarnya juga tidak begitu tiba-tiba, ibu. Bukankah guru lelah memberitahukan sejak dua pekan lalu?”

“Tetapi aku tidak mengira bahwa pelaksanaannya begitu cepat. Sementara itu, aku belum mempersiapkan apa-apa bagimu”

“Apa yang harus dipersiapkan? Satu dua lembar pakaian sudah cukup, ibu. Bukankah aku mempunyai lebih dari itu?”

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Paksi yang pemah mengembara sampai lebih dari setahun, tentu mempunyai pengalaman yang cukup. Tinggal di sebuah padepokan dimana pun tempatnya adalah jauh lebih baik dari sebuah pengembaraan.

Meskipun demikian ibunya itu pun berkata, “Siapkanlah. Pakaianmu yang manakah yang akan kau bawa. Mungkin kau memerlukan bekal yang lain”

“Aku hanya akan membawa sepengadeg pakaian saja, ibu”

“Akan kau bawa uangmu?”

“Tidak, ibu. Aku tidak akan dapat mempergunakannya Karena itu, sebaiknya ibu saja yang mempergunakannya jika ibu memerlukannya”

Ibunya tersenyum. Katanya, “Semua kebutuhanku sudah tercukupi, Paksi. Ibu juga sedikit-sedikit mempunyai tabungan selain perhiasan”

“Mungkin adik-adikku memerlukannya, ibu”

Ibunya masih tersenyum. Tetapi Paksi menjadi heran bahwa mata ibunya menjadi basah.

“Ibu?” desis Paksi.

Ibunya mengusap matanya. Katanya, “Aku terlalu berharap padamu, Paksi”

“Apa yang ibu harapkan?”

“Hari depanmu yang baik”

“Menurut ayah, aku harus memohon ibu, maka aku akan mendapatkannya”

“Ya, anakku. Memohon dalam doa sambil berusaha sekuat tenaga. Dengan mempergunakan nalar budi yang telah dikurniakan kepadamu dengan dukungan ujud kewadaganmu”

Paksi mengangguk sambil berdesis, “Ya, ibu”

Ibunya masih mengusap matanya yang basah. Namun kemudian ibunya itu pun berkata, “Marilah anakku. Bersiap-siaplah”

Didalam biliknya Paksi masih sempat merenungi sikap ayahnya, ibunya, gurunya dan Ki Waskita.

Paksi itu pun kemudian menarik nafas panjang. Memang mungkin ayahnya justru menjadi gembira bahwa ia akan dapat menjadi sandaran keluarga dimasa datang. Tetapi mungkin ayahnya menjadi gembira justru karena ia akan pergi dari rumah itu.

Tetapi Paksi pun kemudian menarik nafas panjang. Gumamnya, “Apa pun alasannya, tetapi ayah tidak mmenghalangi aku berguru kepada Ki Panengah”

Menjelang sore hari, ayah Paksi itu pulang dari tempat tugasnya. Adalah tidak terbiasa ia begitu memperhatikan Paksi. Demikian ayahnya pulang, maka ia langsung mencari Paksi untuk menanyakan, apakah persiapan Paksi sudah lengkap.

“Sudah ayah” jawab Paksi.

“Apa saja yang akan kau bawa?”

“Sepengadeg pakaian”

“Hanya itu?”

“Aku tidak memerlukan apa-apa lagi, ayah”

Ayahnya mengangguk-angguk. Sementara Paksi pun berkata, “Tetapi aku juga akan membawa keris ganjaran Kangjeng Sultan, kuda yang barangkali dapat dipergunakannya di padepokan untuk berbagai macam kepentingan serta tongkat yang aku bawa dari pengembaraan itu”

“Baiklah” berkata ayahnya, “mudah-mudahan kau berhasil. Rencana Ki Panengah untuk membuka hutan itu adalah gagasan yang gemilang dari seorang guru yang ingin menempa murid-muridnya lahir dan batin tanpa menyandarkan diri pada bantuan orang lain. Jika Ki Panengah berhasil, maka perguruannya akan dapat berbangga, karena mereka telah membangun padepokan itu dengan keringat para penghuninya itu sendiri”

“Ya, ayah” jawab Paksi, “kelak, jika pada waktunya Kami meninggalkan perguruan itu, maka kebanggaan itu akan selalu menyertai kami. Para murid perguruan itu yang kemudian akan mengenang kami yang telah menyiapkan tempat bagi mereka”

“Nah, segala sesuatunya kemudian terserah kepadamu, karena ayah tidak iagi dapat banyak membantumu salelah kau berada di padepokan”

Malam itu adalan malam terkahir Paksi tidur diiumahnya. Adik-adiknya, ibunya dan bahkan ayahnya seakan-akan telah membuat acara perpisahan. Mereka berbincang-bineang sampai jauh malam. Ibunya menyiapkan makan dan minum bagi seluruh keluarga.

“Tetapi bukankah kakang pada waktu-waktu tertentu dapat pulang?” bertanya adik perempuan Paksi.

“Tentu” jawab Paksi, “asal tidak terlalu sering”

“Bukankah kami juga boleh berkunjung?” bertanya adik laki-laki Paksi.

“Tentu” jawab Paksi pula, “tetapi juga tidak terlalu sering”

“Jika ayah mendapat kepastian bahwa perguruan kakang Paksi itu menjadi semakin baik, aku juga diperkenankan ikut berguru, kakang” berkata adik laki-laki Paksi. Sambil berpaling kepada ayahnya ia pun bertanya, “Bukankah begitu ayah?”

“Ya. kita akan melihat perkembangan perguruan itu. Jika perguruan itu tidak bertambah baik, justru bertambah buruk, maka kakang Paksi pun akan aku ambil pula dari perguruan itu” jawab ayahnya.

Seisi rumah itu berbincang sampai menjelang tengah malam. Adik perempuan Paksi yang berbaring sambil meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya sudah tertidur.

“Tidurlah, Paksi” berkata ayahnya.

“Baik, ayah”

“Bukankah kau besok berangkat pagi-pagi?”

“Tidak pagi sekali” jawab Paksi.

Ayah Paksi pun kemudian telah masuk kedalam biliknya pula, setelah mengangkat anak perempuannya yang tertidur dan membaringkannya di biliknya. Demikian pula ibunya pun telah masuk kedaiam biliknya pula.

Tetapi Nyi Tumenggung itu tidak segera berbaring di pembaringannya. Untuk beberapa lama ia masih duduk saja sambil merenungi anaknya yang besok akan memasuki sebuah padepokan.

“Kau tidak perlu menjadi gelisah, Nyi” berkata Ki Tumenggung, “Paksi memasuki perguruan bagi kepentingan. Aku sudah memperhitungkan, bahwa hidup di padepokan itu akan dapat menempanya, melengkapi pengalaman selama pengembaraannya. Bagi Paksi, hidup di padepokan itu tentu tidak akan terasa berat, karena hidup di padepokan itu tentu jauh lebih mapan dari sebuah pengembaraan”

Nyi Tumenggung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak dapat menyingkirkan kecurigaannya, bahwa bagi Ki Tumenggung, padepokan itu akan menelan Paksi untuk selamanya, karena Ki Tumenggung memang berniat untuk menyingkirkan Paksi. Tetapi Nyi Tumenggung masih dapat menghibur diri, bahwa padepokan yang akan dibangun di hutan Jabung itu letaknya tidak terlalu jauh.

Malam itu, Nyi Tumenggung hanya sempat tidur beberapa saat. Pagi-pagi sekali ia sudah bangun dan pergi ke dapur untuk Mempersiapkan makan dan minum bagi Paksi sebelum ia berminat kerumah gurunya yang untuk sementara akan menjadi sebuah padepokan meskipun kurang memenuhi syarat. Selangnya Paksi akan berada di padepokan itu untuk seterusnya.

Paksi pun ternyata telah bangun pula. Seperti biasanya Paksi telah menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan. kemudian mandi dan berbenah diri. Disiapkannya pakaian yang akan dibawanya. Tongkatnya dan keris yang telah dimintanya dari ibunya.

Ketika matahari mulai memanjat langit, maka Paksi pun telah siap untuk berangkat. Setelah makan pagi bersama seluruh keluarganya, maka Paksi pun telah minta diri.

“Hati-hatilah, Paksi. Kau harus dapat membawa dirimu sebaik-baiknya. Kau akan berkumpul dengan anak-anak muda sebayamu. Sentuhan-sentuhan perasaan akan dapat saja terjadi” pesan ibunya.

“Ya, ibu” jawab Paksi. Selanjutnya ia pun berkata, “Aku mohon doa restu ayah dan ibu”

Kepada adik-adiknya Paksi pun telah minta diri pula. Bahkan kepada pembantu-pembantu dirumah itu.

Sikap ayahnya ternyata jauh berbeda dengan sikap ayahnya ketika memerintahkannya pergi mencari cincin lebih dari setahun yang lalu. Ayahnya tidak lagi marah-marah, membentak-bentak dan mengancamnya. Tetapi sikap ayahnya nampak begitu baik dan ramah.

Demikianlah, maka ketika matahari memanjat naik, maka Paksi pun meninggalkan rumahnya. Ayah, ibu dan saudara-saudaranya mengantarnya sampai keregol halaman. Bahkan kedua adiknya telah turun kejalan sambil melambai-lambaikan tangannya.

Ibu Paksi mengusap matanya yang basah. Tetapi ia mencoba tersenyum ketika adik laki-laki Paksi itu berkata, “Kakang Paksi nampak sangat gagah di punggung kudanya yang besar dan tegar, ibu. Badannya yang tingi dan menjadi semakin besar itu membuatnya menjadi seorang yang banyak dikagumi orang dimasa datang”

Ibunya mengusap rambut anaknya itu sambil berkata, “Bukankah selisih tinggi badanmu dan kakakmu Paksi tidak terpaut banyak. Kau pun akan tumbuh menjadi setinggi dan sebesar kakakmu”

“Aku sudah pantas berada di padepokan itu, ayah” katanya kemudian.

“Sudah aku katakan, kita akan menunggu perkembangan dari padepokan itu” jawab ayahnya.

Adik Paksi itu mengangguk-angguk.

Namun tiba-tiba saja adik perempuan Paksi itu pun berkata, “Ibu, aku juga ingin berguru untuk mendapatkan ilmu kanuragan”
Ibunya tersenyum. Sambil membelai rambut anak perempuannya, ia pun berkata, “Padepokan hanya akan diisi oleh anak-anak muda seperti kakakmu itu”

“Tetapi bukankah anak perempuan juga boleh memiliki kemampuan olah kanuragaan”

Ibunya kemudian menggandengnya masuk keruang dalam. Katanya, “Marilah, bantu ibu menyingkirkan mangkuk-mangkuk yang kotor dan kemudian mencucinya”

“Apakah anak perempuan hanya dapat mencuci mangkuk atau mencuci pakaian?”

“Tentu tidak” jawab ibunya “tetapi jangan pikirkan sekarang”
“Jadi kapan, ibu?”

Ibunya mengusap matanya. Tetapi ia tertawa. Katanya, “Marilah. Bukankah kau belum membersihkan bilikmu?”

“Aku tadi tergesa-gesa mandi dan makan bersama kakang Paksi yang segera akan berangkat, ibu”

“Nah, sekarang kau harus membersihkan bilikmu”

Adik perempuan Paksi itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun segera berlari naik kependapa, melintas pringgitan dan ruang dalam langsung ke biliknya.

Hari itu, sekelompok anak muda telah berkumpul dirumah Ki Panengah. Tidak lebih dari lima belas orang ditambah dua orang murid yang khusus. Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya. Hari itu, para murid Ki Panengah harus mempersiapkan rumah Ki Panengah yang akan menjadi padepokan mereka untuk sementara. Meskipun sebelumnya tempat itu sudah diatur, tetapi mereka masih harus menyelesaikannya sendiri ruang yang akan mereka pergunakan sebagai ruang tidur, bangsal untuk menyelenggarakan pertemuan-pertemuan, pembicaraan dan tukar kawruh. Mempersiapkan sanggar terbuka dan sanggar tertutup serta menyediakan peralatan yang mereka perlukan.

Meskipun tempat itu masih belum memenuhi syarat, tetapi untuk sementara cukup memadai.

Baru di hari berikutnya, maka Ki Panengah mengadakan persiapan-persiapan yang diperlukan. Mengatur waktu dan membagi anak-anak muda yang berguru kepadanya dalam kelompok-kelompok kecil.

Karena semuanya sejak semula memang murid-murid Ki Panengah kecuali Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya, maka Ki Panengah mengerti tingkat kemampuan mereka masing-masing, sehingga dapat disusun tataran-tataran yang tepat bagi mereka.

Bagi Ki Panengah jumlah yang lima belas itu pada masa permulaan dianggapnya cukup memadai. Jika jumlah muridnya terlalu banyak, maka tempatnya akan sulit untuk menampung mereka, karena mereka akan berada di padepokan itu. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Anak-anak muda itu hilir mudik datang dan pergi pada saat-saat yang yang kurang tertib.

Di hari berikutnya, Ki Panengah mulai memperkenalkan murid-muridnya dengan suasana yang baru. Mereka mulai diperkenalkan dengan sanggar terbuka dan tertutup yang sudah dibenahi sehingga mendapatkan suasana yang baru.

Perkenalan dengan keadaan dan susana yang baru itu berlangsung sampai akhir pekan yang pertama. Baru kemudian, pada permulaan pekan kedua, Ki Panengah mulai menempa murid-muridnya berdasarkan atas penguasaan ilmu mereka masing-masing.

Namun yang diberikan Ki Panengah bukan hanya ilmu kanuragan. Tetapi juga pengetahuan yang lain. Ki Waskita ternyata telah menyatakan kesediaannya untuk membantu Ki Manengah untuk memberikan tuntunan bagi murid-muridnya.

Kepada murid-muridnya itu Ki Panengah berkata, “Jumlah ini sangat memadai. Kalian akan menjadi murid utama perguruan ini. Pada saatnya kami menerima cantrik-cantrik yang baru, maka kalian sudah siap membantuku. Aku pun berharap bahwa setelah setahun, padepokan kita sudah siap untuk menampung cantrik lebih banyak lagi di hutan Jabung”

Setelah sebulan lewat, maka perguruan Ki Panengah itu benar-benar mulai sudah mapan. Para cantrik di padepokan itu sudah mulai terbiasa dengan kewajiban mereka masing-masing di padepokan. Mereka tidak lagi harus diperingatkan untuk menemukan tugas mereka masing-masing. Bergantian dalam seperti mereka mengerjakan pekerjaan yang tidak terbiasa mereka lakukan di rumah mereka masing-masing kecuali Paksi. Mereka harus menimba air untuk mengisi jambangan pakiwan, untuk nimgisi gentong di dapur, untuk menyiram halaman agar tidak berdebu serta menyiram pohon-pohon bunga.

Sementara itu, yang lain harus membersihkan padepokan, yang menyapu halaman, membersihkan ruangan-ruangan termasuk sanggar terbuka dan tertutup.

Yang lain lagi harus bekerja di dapur, menyiapkan makan minuman bagi seluruh keluarga padepokan itu. Tetapi mereka dibantu oleh dua orang perempuan separo baya yang sejak sebelumnya memang bekerja pada perguruan itu.

Tetapi para cantrik itulah yang harus menyiapkan kayu bakar dan keperluan-keperluan yang lain. Bahkan mereka pula yang harus mencuci mangkuk. Kedua orang perempuan yang membantu mereka didapur pun berwenang untuk memberikan perintah-perintah kepada para cantrik yang sedang mendapat giliran bekerja di dapur.

Mula-mula semuanya dilakukan dengan canggung. Tetapi semakin lama para cantrik itu pun menjadi semakin terbiasa dengan tugas-tugas mereka.

Ki Panengah tidak berkeberatan jika ada orang tua dari para cantrik datang untuk menengok anaknya yang berada di padepokan itu. Ki Panengah juga tidak berkeberatan jika mereka melihat anak-anak mereka bekerja keras di padepokan itu. Bahkan beberapa orang tua justru menjadi semakin mantap melihat anak-anaknya mengenali pekerjaan sehari-hari. Mereka yang terbiasa bangun sampai menjelang matahari di puncak langit, di padepokan itu harus bangun pagi-pagi sekali sebelum fajar. Mereka harus menunaikan segala tugas mereka bagi kehidupan lahir dan batin mereka. Kemudian mereka harus mulai menyelesaikan pekerjaan mereka sampai saatnya matahari terbit. Baru mereka bergantian mandi setelah melakukan latihan-latihan ringan bagi ketahanan tubuh mereka, sebelum mereka memasuki ruang mereka masing-masing sesuai dengan ketentuan, sementara beberapa orang berada di sanggar.

Pembantu Ki Panengah yang mewakilinya selama Ki Panengah pergi telah mendapat tugas mengawasi para cantrik, sehingga pembagian tugas itu dapat berjalan lancar.

Demikianlah, maka para cantrik yang ada di padepokan itu menempuh kehidupan mereka dengan belajar dan bekerja tanpa melupakan ketakwaan mereka kepada Yang Maha Agung.

Ki Tumenggung Sarpa Biwada juga pernah menengok Paksi di padepokannya. Bahkan dalam waktu sebulan, Ki Tumenggung sudah dua kali mengunjungi padepokan itu. Nampaknya Ki Tumenggung sangat memperhatikan keadaan padepokan itu, sehingga dalam percakapannya dengan Ki Panengah Ki Tumenggung telah menanyakan, kapan Ki Panengah itu akan membuka hutan Jabung.

“Jika mereka telah memiliki padepokan sendiri, maka perkembangan mereka tentu akan menjadi semakin pesat” berkata Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

“Ya, Ki Tumenggung” jawab Ki Panengah, “doakan saja agar kami segera dapat membuka hutan itu. Namun aku masih harus melatih anak-anak agar mereka siap lahir dan batinnya untuk memulai pekerjaan besar ini”

“Jika Ki Panengah memerlukan bantuan, maka aku tidak berkeberatan untuk membantu membuka hutan itu menurut kemampuanku. Orang tua para cantrik yang lain, tentu sependapat dengan aku”

“Terima-kasih, Ki Tumenggung. Pada saatnya kami, seisi padepokan ini akan memerlukan bantuan dari segala pihak. Tetapi untuk sementara kami akan berusaha sendiri. Yang penting biarlah anak-anak berlatih mandiri”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Tetapi ia pun berkata, “Tentu ada batas-batas kemampuan mandiri itu. Seberapa besar tenaga seseorang, maka tentu ada tingkat-tingkat kekuatan. Sehinga pada suatu saat ia akan terbentur pada suatu hal yang tidak terangkat olehnya”

“Ya, Ki Tumenggung. Jika anak-anak sampai pada keadaan seperti itu, maka biarlah aku menyampaikan kepada orang tua mereka, termasuk Ki Tumenggung”

“Ki Panengah tidak seharusnya membebankan segala-galanya kepada kemurahan hati Ki Gede Pemanahan. Biarlah kami, orang tua para cantrik ikut memikul beban. Tentu akan memberikan kepuasan kepada kami”

“Aku mengerti, Ki Tumenggung. Pada saatnya kami akan menyampaikan kepada Ki Tumenggung”

“Baiklah Ki Panengah. Aku akan menunggu”

Ki Tumenggung itu pun kemudian telah minta diri. Ia pun minta diri pula kepada Paksi.

Perhatian Ki Tumenggung terhadap padepokan itu memang menarik perhatian. Jika ia sekedar ingin menyingkirkan Paksi dari rumahnya, maka ia tidak akan menaruh perhatian demikian besarnya. Bahkan seakan-akan mendorong agar Ki Panengah segera membuka hutan Jabung.

“Memang perlu mendapat perhatian” berkata Ki Waskita.

“Ya, Ki. Nampaknya ada maksud tertentu pada Ki Tumenggung. Tetapi semoga hati kamilah yang terlalu kotor, sehingga kami terlalu curiga kepadanya, padahal Ki Tumenggung benar-benar berniat baik”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Jarang seseorang mengharap bahwa dirinyalah yang bersalah. Biasanya orang yang jelas bersalah pun menganggap dirinya benar. Dan dirinyalah yang paling benar”

Ki Panengah pun tertawa sambil mengangguk-angguk.

—- > Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s