ISTANA YANG SURAM 01


ISTANA YANG SURAM

Jilid 1

Karya: SH Mintardja

lanjut

Istana Yang Suram-01KETIKA matahari terbenam dibalik ujung bukit di sebelah barat, beberapa ekor kelelawar bangkit dari persembunyiannya di atap sebuah istana kecil yang sudah tua, beterbangan menyusuri gelapnya malam.

Sebuah lampu yang suram menyala dipendapa yang terbuka, terguncang oleh Istana itu kian hari kian bertambah sepi. Halamannya masih tetap bersih seperti saat-saat lampau, tetapi tidak seorang pun yang pernah menjamah kerusakan yang terjadi pada bagian atap rumah itu. Didalam istana itu sama sekali tidak terdapat seorang laki-laki pun yang tinggal.

Mula-mula angin kencang telah menggeser bagian atap istana itu. Hanya sedikit sekali, tetapi ketika hujan turun, maka beberapa titik air menyusup lewat lubang atap yang tergeser itu, telah mengotori langit-langit. Semakin lama semakin banyak, bahkan kemudian lubang-lubang pada atap itu pun bertambah-tambah.

Meskipun demikian, titik air hujan yang jatuh di lantai selalu ditampung dengan jambangan kecil, sehingga tidak merusakkan lantai dan mengalir kemana-mana, tidak membasahi perabot istana yang masih lengkap dan terpelihara.

Jika senja lewat, maka penghuni istana kecil itu pun segera pergi ke bilik masing-masing, seorang perempuan menjelang hari-hari tuanya, seorang gadis remaja yang menginjak masa dewasa. Sedang di bagian belakang istana itu tinggal seorang pelayan perempuan setua perempuan yang tinggal di istana kecil itu.

Demikianlah hari-hari yang lewat, tidak menumbuhkan banyak perubahan dalam tata kehidupan istana kecil yang terpencil di kakí bukit yang gersang. Meskipun di halaman istana kecil itu nampak tumbuh-tumbuhan yang berwarna hijau.

Beberapa orang peronda dari pedukuhan kecil yang terletak beberapa puluh tonggak saja dari istana itu, selalu meronda berkeliling istana kecil itu. Seolah-olah mereka merasa wajib untuk ikut menjaga ketenangannya, meskipun hubungan antara padukuhan kecil itu sudah hampir terputus sama sekali dengan istana terpencil itu.

Namun setiap kali, perempuan tua penghuni itu pun pergi juga ke padukuhan kecil itu, untuk membeli kebutuhan mereka sehari-hari.

Kehadiran perempuan penghuni istana kecil itu selalu disambut dengan ramah dan dengan hati terbuka oleh penghuni padukuhan kecil itu. Mereka memberikan apa saja yang diperlukan oleh perempuan tua itu. Jika perempuan tua itu bertanya tentang harga barang-barang yang diperlukan, maka penghuni padukuhan kecil itu selalu menyebut kurang dari separuh harga yang sebenarnya.

Perempuan tua itu pun mengerti, bahwa yang dibelinya itu harganya terlampau murah, tetapi ia tidak mempersoalkannya, apalagi uang yang ada padanya pun semakin lama semakin tipis. Bahkan sekali-kali ia terpaksa menjual barang-barangnya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka seisi istana kecil itu.

Setiap orang yang tinggal di padukuhan kecil itu pun mengetahui, apa yang pernah terjadi di istana itu. Sejak istana itu didirikan, sehingga istana itu menjadi sangat sepi seperti saat-saat terakhir.

Beberapa orang pernah memberanikan diri datang menghadap perempuan tua penghuni istana dan menawarkan diri untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi pada atap istana itu. Tetapi sambil tersenyum perempuan tua itu menjawab, “Terima kasih Ki Sanak, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan hati kalian, tetapi biarlah, apabila aku memerlukan, aku akan katakan kepada kalian, agaknya sekarang aku belum berniat untuk memperbaiki atap rumahku yang rusak”

“Kami tidak memerlukan imbalan apapun” berkata salah seorang dari mereka yang datang menghadap perempuan tua itu, “kami akan melakukan semata-mata karena kami merasa berhutang budi kepada Pangeran Kuda Narpada”

Perempuan tua itu tersenyum, senyum yang amat pahit, katanya, “Terima kasih Ki Sanak, terima kasih, jika ada kebaikan hati Pangeran Kuda Narpada, lupakan sajalah. Itu sudah menjadi kewajibannya”

Dan orang-orang itu pun kemudian meninggalkan istana itu dengan hati yang penuh dengan berbagai macam pertanyaan.

“Apakah artinya pengasingan diri itu?” kata salah satu orang dari mereka.

Yang lain menggelengkan kepalanya, tetapi seorang yang sudah ubanan menyahut, “Hati Raden Ayu Kuda Narpada tidak melihat lagi hari depan yang sebenarnya masih panjang, setidak-tidaknya bagi puterinya. Bukankah dengan sikapnya itu, ia telah mematahkan kuntum bunga yang hampir mekar?”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, seorang anak muda berkata, “Gadis itu cantik sekali…”

“Jika gadis itu cantik sekali, apa maumu?”

“Tentu tidak apa-apa, aku hanya sekedar memuji, Raden Ajeng Inten Prawesti adalah gadis tidak ada duanya dimuka bumi”

“Bumi yang mana?” bertanya seorang kawannya,

“Yang kau lihat tidak lebih jauh dari daerah pegunungan yang sempit ini”

“Jadi apakah masih ada daerah yang lebih luas dari daerah pegunungan ini?”

“Kau memang anak muda yang terkungkung oleh lingkunganmu, yang kau ketahui tidak lebih dari dinding-dinding pedukuhanmu”

Anak muda itu tersenyum, katanya, “Baiklah, jika demikian, maka gadis itu adalah gadis yang paling cantik di daerah ini”

Kawan-kawannya pun tersenyum pula, meskipun ada diantara mereka tersenyum masam, bahkan seorang yang bertubuh gemuk berkata, “Sudahlah, kehidupan yang suram di istana itu bukan sekedar bahan untuk berkelakar, kita sebenarnya merasa kasihan melihat cara hidup mereka yang tidak sewajarnya itu”

Yang lain pun terdiam, mereka tidak lagi membicarakan hal istana itu, tetapi angan-angan mereka berkecamuk mengulang masa-masa lampau.

Istana itu pernah menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya, terlebih-lebih penghuni padukuhan kecil pegunungan itu.

Terbayang kembali saat-saat istana itu bagaikan pelita yang menerangi daerah disekitarnya. Sesaat istana itu didirikan, maka mulailah nampak bahwa penghuni istana itu adalah orang-orang yang baik dan rendah diri, meskipun sebenarnya ia adalah seorang pangeran, Pangeran Kuda Narpada.

Pangeran Kuda Narpada lah yang memberikan beberapa petunjuk yang sangat berarti bagi padukuhan itu, bagaimana mereka bercocok tanam, Pangeran Kuda Narpada lah yang mengajak para penghuni padukuhan kecil itu membuat parit-parit yang akan dapat mengairi daerah mereka yang gersang. Bukan saja memberikan petunjuk dan perintah, tetapi Pangeran Kuda Narpada sendiri menyingsingkan kain panjangnya, melepas bajunya dan turun ke tanah berlumpur.

Orang bertubuh gemuk yang berjalan diantara beberapa orang kawannya itu menarik nafas dalam-dalam sehingga orang-orang yang berjalan disisinya berpaling kepadanya meskipun mereka tidak bertanya sesuatu.

Dalam pada itu, peristiwa itu seolah-olah membayang kembali di rongga mata orang bertubuh gemuk itu. Saat-saat penghuni istana itu datang untuk yang pertama kalinya di padukuhannya, sebelum istana itu didirikan.

Kedatangan seorang Pangeran dan keluarganya di padukuhan terpencil itu sangat megejutkan penghuninya. Bahkan beberapa orang lari bersembunyi didalam rumahnya. Tetapi yang lain berkumpul di rumah Ki Buyut dengan senjata di tangan masing-masing.

“Jangan bingung” berkata Ki Buyut Karangmaja, “Aku akan menjumpainya dan bertanya apakah keperluannya datang ke padukuhan ini”

Ketika Ki Buyut menghadap Pangeran yang baru datang itu, nampaklah olehnya bahwa Pangeran dan keluarganya itu sedang dicengkam oleh kegelisahan, tetapi agaknya Pangeran itu menyadari bahwa ia berada didalam lingkungan yang berbeda dengan lingkungan yang ditinggalkannya.

Karena itu, kepada Ki Buyut Karangmaja yang nampak dengan jujur menyongsongnya, tanpa niat yang mencurigakan, Pangeran Kuda Narpada tidak menyembunyikan lagi maksud kedatangannya itu.

“Aku menghindarkan diri dari perang yang sedang berkecamuk di Majapahit” berkata Pangeran Kuda Narpada.

“Tetapi siapakah tuan?” bertanya Ki Buyut.

“Aku adalah Pangeran Kuda Narpada, adinda dari Maharaja di Majapahit”

“Apakah yang terjadi di Majapahit?”

“Perang, pasukan Harya Udara sudah menduduki pusat kerajaan beberapa saat yang lalu, Kakanda telah meninggalkan istana dengan beberapa pengiringnya. Pasukan bantuan yang diminta oleh kakanda dari ananda Raden Patah masih belum sampai ke pusat kerajaan ketika pasukan musuh sudah tidak tertahan lagi memasuki pusat pemerintahan”.

“Jadi pusat kerajaan Majapahit sudah direbut?”

“Ya, aku meninggalkan pusat pemerintahan yang terakhir, ketika pasukanku parah dan hampir tumpas. Aku tidak dapat mengingkari kenyataan dan mengorbankan jiwa tanpa arti lebih banyak lagi. Karena itu, maka aku terpaksa menarik pasukanku yang tersisa, kemudian aku menyusul kakanda Prabu setelah mengambil keluargaku di pengungsian, menurut pendengaranku, kakanda Prabu pergi ke barat, kemudian menyusuri daerah Pegunungan Seribu, tetapi aku tidak berhasil menemukannya”.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam.

“Aku mendengar berita terakhir, bahwa kakanda telah turun dari daerah pegunungan dan mendekati kedudukan ananda Raden Patah”

“Dan Pangeran akan menyusulnya juga?”

Pangeran Kuda Narpada menggeleng, katanya, “Aku tidak akan menyusulnya, disini aku merasa seolah-olah aku berada di tempat yang paling damai, karena itu, apabila kedatanganku, dirasa tidak mengganggu ketenangan padukuhan ini, aku akan tinggal di daerah ini”

Ki Buyut tidak dapat menolak meskipun ia sebenarnya ia sebenarnya masih ragu-ragu, ia tidak sampai hati untuk mempersilahkan pangeran itu meninggalkan padukuhannya, setelah ia melihat seorang perempuan Raden Ayu Kuda Narpada yang pucat dan lemah, seorang gadis yang kurus dan bermata cekung, meskipun gadis itu adalah seorang yang cantik sekali.

“Tetapi apakah Pangeran akan dapat tinggal bersama kami orang-orang kasar yang tidak mengenal adat dan dungu”.

“Apakah bedanya?, kalian adalah orang-orang yang masih lebih beruntung daripadaku, aku sekarang lebih tidak berarti lagi daripada kalian, aku tidak mempunyai tempat tinggal, tidak mempunyai apapun juga selain yang dapat kami bawa”.

Ki Buyut memandang tubuh-tubuh yang lemah dan pucat. Memang tidak ada yang mereka bawa selain sebungkus pakaian kusut, sedikit perhiasan yang nampak pada jari-jari Raden Ayu Kuda Narpada dan puterinya. Sekilas permata yang nampak dibalik kain Pangeran Kuda Narpada yang disingsingkan dibalik lambung, yang melekat pada timang ikat pinggang, kemudian sebilah keris dengan pendok mas di pinggang, selebihnya tidak ada apa-apa lagi.

Tetapi yang nampak itu seolah-olah telah meyakinkan kepada Ki Buyut Karangmaja bahwa yang dihadapannya itu benar-benar seorang pangeran. Dan ia mengaku bernama Pangeran Kuda Narpada.

“Pangeran” berkata Ki Buyut kemudian, “Tentu kami tidak akan dapat menolak jika pangeran ingin tinggal bersama kami, tetapi kenapa pangeran tidak berusaha menyusul Prabu Majapahit?”.

Pangeran Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Jika aku hendak menyusul Kakanda Prabu, maka yang terkilas didalam angan-anganku hanyalah keselamatannya, bukan kepentinganku sendiri. Dan kini, menurut pendengaranku, kakanda telah mendekati tempat kedudukan ananda Adipati di Demak, maka aku tidak mencemaskannya lagi”.

“Tetapi pangeran sendiri?, apakah pangeran tidak ingin berada di Demak pula?”

Pangeran Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Aku tidak mengharapkan apa-apa lagi selain kedamaian hati. Aku tidak akan melibatkan diri lagi kedalam lingkungan yang riuh seperti Demak”.

Ki Buyut mengangguk-angguk, katanya, “Pangeran, memang tidak ada yang lebih nikmat dari pada kedamaian hati, akhirnya setiap orang akan merindukan damai didalam dirinya sendiri. Apalagi apabila umur kita menjadi semakin tua, meskipun ada saja pengecualiannya pada satu dua orang” Ki Buyut itu berhenti sejenak, “Tetapi pangeran. Dalam usia pangeran sekarang ini, apakah pangeran akan terhenti di padukuhan kecil dan terpencil diatas Pegunungan Seribu ini? Pangeran adalah kesatria, tugas pangeran adalah luas sekali dalam kehidupan yang terbentang di depan tatapan mata kita. Bukankah seorang ksatria menurut pendengaranku dituntut untuk memberikan dermanya bagi sesama? Melindungi yang lemah, menegakkan yang layu dan menuntun yang buta?”

“Apakah aku tidak dapat melakukannya disini?” jawab Pangeran itu, “Jika ternyata bahwa disini akulah yang lemah, yang layu dan yang buta, maka adalah kewajiban kalian untuk memberikan derma ksatria”

“Kami adalah sudra”

Pangeran tersenyum, senyum yang sangat pahit. Kemudian katanya, “Aku pernah mendengar diantara desir angin yang lembut, yang mengalir dari istana Kadipaten Demak. Apakah ada bedanya antara Sudra dan Ksatria?, yang Paria dan yang Brahmana? Tidak. Dihadapan Yang Maha Agung, kami dan kalian, kita semua adalah hambanya yang terkasih, yang berbeda adalah tugas kita masing-masing, tugas ksatria berbeda dengan tugas Brahmana, berbeda dengan tugas orang-orang yang disebut sudra dan Waisa. Tetapi tidak ada bedanya bagi kita semuanya untuk menempuh jalan mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta, karena perbedaan yang ada semata-mata perbedaan duniawi, bukan perbedaan hakiki dari hamba-hamba Yang Maha Agung itu”.

Ki Buyut Karangmaja masih saja mengangguk-angguk, tetapi ia masih belum mengerti seluruhnya makna dari kata-kata Pangeran Kuda Narpada.

“Meskipun demikian Ki Buyut” berkata Pangeran Kuda Narpada, “Semuanya terserah kepada Ki Buyut, jika Ki Buyut mempunyai pertimbangan lain, maka aku akan meneruskan perjalanan”.

“Tidak, tidak pangeran” Ki Buyut menyahut dengan serta merta, “Kami memang dapat mencurigai setiap orang baru di daerah kami, tetapi terhadap pangeran yang datang bersama dengan keluarga, kami akan mencoba memberikan tempat yang ada pada kami”

Pangeran Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian ia pun berkata, “Aku memang merasa bahwa kedatangan kami dapat menumbuhkan salah paham, keragu-raguan dan ketidak-pastian sikap, aku melihat Ki Buyut dengan ikhlas menemui kami. Tetapi kami juga mengetahui, bahwa ada diantara kalian yang menjadi curiga”

“Maafkan pangeran, kami memang sedang dipengaruhi oleh kecurigaan sejak saat-saat terakhir. Kami memang mendengar bahwa disebelah timur dari padukuhan ini, serombongan bangsawan sedang melintas. Agaknya merekalah yang pangeran maksudkan dengan Prabu Brawijaya dengan pengiringnya” Ki Buyut berhenti sejenak, kemudian, “Namun setelah itu, kerusuhan sering terjadi. Beberapa orang yang mendapat hadiah pada saat iring-iringan itu lewat dan memberikan pelayanan seperlunya, telah didatangi oleh penjahat-penjahat yang merampok barang-barang itu. Tetapi agaknya yang mereka cari bukanlah semata-mata harta benda”

“Apakah yang mereka cari?”

“Kami juga tidak tahu pasti, mereka pun tidak tahu pasti, Tetapi agaknya sejenis pusaka atau semacamnya….”

Wajah Pangeran Kuda Narpada menegang sejenak, namun kemudian wajahnya itu menjadi tenang kembali, seolah-olah tidak ada kesan apapun dari ceritera Ki Buyut itu.

“Mungkin karena kerusuhan-kerusuhan yang terjadi itulah maka kalian mencurigai setiap orang baru di daerah ini”

“Ya, Pangeran, tetapi justru karena pangeran datang bersama dengan Raden Ayu dan seorang puteri yang nampaknya sudah terlampau letih oleh perjalanan yang lama, maka kami seharusnya tidak mencurigai pangeran lagi”.

Demikianlah sejak saat itu, Pangeran Kuda Narpada berada di padukuhan Karangmaja. Sesuai dengan keinginannya sendiri, maka dengan bantuan penduduk Karangmaja, Pangeran Kuda Narpada membuat istana kecil di luar padukuhan Karangmaja, meskipun hanya berjarak beberapa tonggak saja. Sebuah jalur jalan sempit menghubungkan istana kecil itu dengan sebuah lorong padukuhan.

Istana kecil itu adalah Istana Pangeran Kuda Narpada, istana yang kemudian menjadi semakin sepi. Istana yang seakan-akan telah kehilangan rambatannya.

Pada masa-masa yang lewat, istana itu seolah-olah menjadi pusat perhatian setiap orang di Karangmaja. Ki Buyut sendiri sering berkunjung ke istana itu. Pendapanya yang mungil hampir setiap hari menjadi tempat berkumpul. Orang-orang tua maupun anak-anak muda. Meskipun istana itu adalah istana seorang Pangeran, tetapi rasa-rasanya tidak ada bedanya dengan rumah-rumah yang bertebaran di padukuhan kecil.

Pangeran Kuda Narpada dengan senang hati menerima mereka setiap saat dan berbicara dengan mereka tentang berbagai bermacam persoalan. Dari lingkungan permainan anak-anak kecil, anak-anak meningkat dewasa, sampai dengan kepada menggali parit dan membangun bendungan.

Hubungan antara orang-orang Karangmaja dan Pangeran Kuda Narpada menjadi semakin rapat. Ketika Pangeran Kuda Narpada menyatakan dirinya, tidak lagi mempergunakan sebutan kebangsawanannya.

“Panggil aku Ki Narpada” berkata Pangeran yang rendah hati itu.

Untuk beberapa lamanya orang-orang Karangmaja masih saja merasa segan, namun akhirnya, lambat laun, sebagian kecil dari mereka berhasil juga membiasakan diri memanggil Ki Narpada.

Seperti juga orang-orang Karangmaja, Ki Narpada bekerja di sawah dan di ladang. Turut serta menggali parit seperti yang dianjurkannya sendiri. Membuat belumbang-belumbang untuk berternak ikan dan rumpon-rumpon di sungai. Menanam pohon buah-buahan dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Ternyata kehadiran Pangeran Kuda Narpada telah merubah tata kehidupan di Karangmaja. Mereka mulai mengenal cara menanam yang jauh lebih baik dari cara yang selama ini mereka pergunakan. Ki Narpada mulai menganjurkan agar orang-orang Karangmaja mempergunakan pupuk bagi tanah yang tandus.

“Apakah gunanya kotoran kandang ternak bagi tanaman?” bertanya Ki Buyut.

“Tanah yang setiap kali dihisap sari makanannya oleh pepohonan memerlukan sari makanan baru” jawab Ki Narpada. Dengan cara yang sederhana. Yang ternyata pada panen yang berikutnya memberikan pengaruh yang baik bagi hasil sawah mereka.

Dengan demikian maka Karangmaja rasa-rasanya menjadi semakin cerah, sawah-sawah yang kekuning-kuningan menjadi hijau dan pategalan yang kering dapat dibasahi oleh air yang mengalir lewat parit-parit dan bendungan yang mereka buat.

Tetapi mereka belum berhasil mengatasi kegersangan tanah di lereng perbukitan.

“Kita akan menghijaukannya” berkata Ki Narpada.

“Bagaimana Mungkin?” bertanya orang-orang Karangmaja.

“Kita sebarkan biji metir. Jika pohon metir dapat tumbuh dengan baik, meskipun tidak terlampau subur, maka keadaan tanah yang membatu itu akan berubah. Kita dapat berharap beberapa tahun kemudian, sebagian dari tanah yang gersang itu akan dapat kita tanami dengan pepohonan yang sesuai”

Orang-orang Karangmaja tidak segera mengerti, apakah pengaruhnya batang-batang metir atas tanah yang membatu. Meskipun Ki Narpada memberikan sedikit penjelasan tentang sifat akar pohon metir, namun mereka masih juga ragu-ragu.

Tetapi kini sudah ternyata bagi mereka, bahwa lereng bukit-bukit yang tandus itu dapat juga ditumbuhi beberapa jenis pepohonan. Sementara itu pohon metir menjadi semakin rimbun, tumbuh dimana-mana, yang seakan-akan akarnya dapat meremas batu-batu karang manjadi tanah yang dapat ditanami. Pohon-pohon yang lain sudah mulai dicoba diantara batu-batu pada pegunungan.

Namun dalam pada itu batang-batang kayu metir sendiri telah memberikan penghasilan dan khusus bagi orang-orang di padukuhan Karangmaja. Selain daunnya yang dapat dipergunakan untuk membantu memberi makanan ternak, biji-bijinya dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tetapi Pangeran Kuda Narpada tidak dapat melihat gunung yang semula kering itu sedikit demi sedikit menjadi hijau, meskipun di beberapa bagian masih belum berhasil. Hujan yang jatuh di musim basah memberikan banyak pengaruh atas pohon-pohon metir yang tersebar diatas perbukitan yang keras.

Dan setiap kali orang-orang Karangmaja memandang bukit yang mulai hidup itu, mereka selalu teringat kepada Pangeran Kuda Narpada. Seorang pangeran yang pernah hidup didalam lingkungan mereka dan yang pernah memberikan banyak sekali petunjuk bagi penduduk yang semula terlampau sedikit pengalamannya itu.

Tetapi kini Pangeran Kuda Narpada tidak ada lagi didalam istananya. Tidak seorang pun dapat mengatakan, kemana ia pergi. Yang mereka ketahui, pada suatu musim beberapa ekor kuda memasuki halaman istana itu. Tidak terlampau lama, sejenak kemudian penunggang-penunggang kuda itu pun pergi bersama dengan Pangeran Kuda Narpada.

“Mereka adalah saudara-saudara seayah Kamas Kuda Narpada”

Ki Buyut Karangmaja telah berusaha untuk menanyakan hal itu kepada isteri Ki Narpada. Tetapi isterinya itu pun hanya dapat menggelengkan kepala kepalanya dengan mata yang basah.

“Aku tidak mengerti, kemana Kamas Kuda Narpada itu pergi”

“Tetapi siapakah mereka yang datang itu?”

“Adimas Cemara Kuning dan Adimas Sendang Prapat bersama pengiringnya”

“Siapakah mereka itu?”.

Beberapa orang peronda hanya dapat memandang dari kejauhan. Semula mereka menyangka yang datang itu adalah beberapa orang tamu. Kemudian Pangeran Kuda Narpada ikut mengantarkan tamu itu ke tempat tertentu. Tetapi ternyata, sejak saat itu Pangeran Kuda Narpada tidak pernah kembali lagi.

“Apakah Pangeran tidak mengatakan, kemana ia akan pergi?”

Raden Ayu Kuda Narpada tidak dapat menjawab. Ia hanya dapat menggelengkan kepalanya dengan lemah.

Sejak kepergian Pangeran Kuda Narpada ke tempat yang tidak diketahui itulah, istana itu menjadi semakin sepi. Orang-orang Karangmaja yang semula sering datang dan duduk-duduk mendengarkan cerita Pangeran Kuda Narpada di pendapa kecil itu pun makin lama menjadi semakin jarang berkunjung.

Raden Ayu Kuda Narpada sendiri tidak pernah menolak setiap kunjungan, tetapi orang-orang itu sendirilah yang menjadi semakin segan. Apalagi mereka tahu, bahwa tidak ada seorang laki-laki pun yang tinggal didalam istana itu.

Dihari-hari berikutnya, jika Raden Ayu Kuda Narpada keluar dari batas halamannya, maka berdatanganlah perempuan Karangmaja menyambutnya dan menawarkan apa saja yang ada pada mereka. Pada umumnya perempuan-perempuan itu pernah mendengar dari suami mereka, bahwa Karangmaja menjadi hijau karena jasa Pangeran Kuda Narpada.

Di istana itu sendiri, suasananya pun terasa semakin sepi. Puteri Pangeran Kuda Narpada yang meningkat dewasa, rasa-rasanya telah kehilangan satu masa didalam garis hidupnya, justru masa yang paling cerah.

Tetapi ia tidak pernah mengeluh. Apalagi apabila ia melihat ibunya duduk termenung di tangga pendapa. Maka hatinya pun bagai tersayat.

Namun sebaliknya, demikian juga perasaan yang selalu membebani Raden Ayu Kuda Narpada, kadang-kadang ia menangis seorang diri didalam biliknya apabila ia membayangkan masa depan puterinya yang semakin dewasa.

“Apakah yang akan ditemukan didalam hidupnya kelak di tempat yang terpencil ini” katanya dalam hati.

Betapa rendah hati Pangeran Kuda Narpada sekeluarga, namun Raden Ayu Kuda Narpada tidak pernah membayangkan, dari mana anaknya akan mendapatkan jodohnya. Sama sekali tidak terkilas didalam angan-angannya, bahwa ada anak muda dari Karangmaja yang pantas untuk menjadi sisihan gadisnya.

Jika malam mulai menyentuh ujung pendapa istana kecil itu, dan kelepak kelelawar mulai mendengar diatas atap rumah yang tiris. Maka Raden Ayu Kuda Narpada mengantarkan gadisnya masuk kedalam biliknya. Kemudian ia sendiri duduk di bilik itu pula dengan hati yang resah.

Kadang-kadang masih juga tumbuh harapannya, pada suatu saat Pangeran Kuda Narpada akan datang kembali. Tetapi harapan itu pun semakin lama menjadi semakin susut. Sehingga akhirnya hanyalah sebuah gambaran yang samar-samar. Yang tidak nampak jelas, tetapi yang tidak dapat dihapuskannya.

“Adimas Cemara Kuning dan adimas Sendang Prapat mengatakan bahwa mereka hanya memerlukan kamas Kuda Narpada beberapa saat saja. Secepatnya kamas Kuda Narpada akan dikembalikan. Tetapi beberapa bulan telah lampau, dan kamas Kuda Narpada tidak pernah datang kembali” keluh Raden Ayu Kuda Narpada setiap kali dalam hatinya.

Demikian pula terjadi pada putrinya Inten Prawesti. Rasa-rasanya ia ingin terbang menyusul ayahandanya yang pergi bersama pamannya.

“Tetapi kemana ayah dibawa oleh pamanda Cemara Kuning dan pamanda Sendang Prapat?”

Menurut pengakuan kedua pangeran yang mengambil Pangeran Kuda Narpada itu, mereka mendapat perintah dari Raden Patah untuk memanggil Pangeran Kuda Narpada, tetapi ternyata Pangeran Kuda Narpada tidak pernah pulang kembali ke istananya yang terpencil.

“Apakah ayahanda mendapat tugas baru diistana Demak?”

Pertanyaan itu timbul pula didalam hati anak gadis itu, “Tetapi jika demikian, ayahanda tentu akan menjemput ibunda dan aku” ia melanjutkannya.

Namun seribu macam teka-teki itu pun tidak dapat diketemukan jawabannya. Yang diketahui dengan pasti adalah, ayahandanya pergi tidak pernah kembali.

Sementara kedua penghuni istana itu tenggelam didalam angan sendiri, maka dibelakang, Nyi Upih, seorang abdi yang setia satu-satunya orang masih mengikuti Pangeran Kuda Narpada sampai ke Karangmaja, tidak henti-hentinya berdoa didalam hati agar Pangeran yang diikutinya itu pun segera kembali.

Kadang-kadang masih juga terbayang didalam angan-angannya Nyi Upih, betapa beratnya perjalanan yang pernah ditempuh Pangeran Kuda Narpada memberikan kebebasan kepada para pengiringnya untuk memilih jalan masing-masing. Bahkan sebagian mendapat perintahnya untuk berpencar mencari Prabu Brawijaya di sepanjang Gunung Sewu, sehingga akhirnya Pangeran Kuda Narpada tidak lagi diikuti oleh seorang pengiring pun.

“Agaknya Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat telah menemukan Prabu Brawijaya. Mungkin sudah berada di Demak, mungkin ditempat lain. Kemudian mereka mendapat perintah untuk mencari Pangeran Kuda Narpada” berkata Nyi Upih didalam hati. “Tetapi jika demikian, kenapa Pangeran Kuda Narpada tidak mengambil anak isterinya. Padahal anak isterinya adalah anak isteri yang dibawanya sejak dari Majapahit. Bukan selir yang diketemukan di tengah jalan yang dapat ditinggalkan ditengah jalan pula.”

Namun seperti Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten Prawesti maka pertanyaan-pertanyaan itu akan tetap menjadi pertanyaan yang tidak terjawab. Pangeran Kuda Narpada yang melambaikan tangannya saat meninggalkan tangga pendapa itu ternyata hilang seperti kapas ditiup angin kencang, melambung tinggi dan tidak tahu dimana akan hinggap.

Tetapi diantara pertanyaan yang terselip di hatinya, Nyi Upih menjadi berdebar-debar apabila ia mengenangkan tanggapan beberapa orang atas Pangeran Cemara Kuning. Ia tidak tahu sama sekali tentang Pangeran Cemara Kuning, ia tidak tahu sama sekali tentang Pangeran Sendang Prapat, karena ia baru melihat beberapa kali selama ia menghambakan diri kepada Pangeran Kuda Narpada. Tetapi tentang Pangeran Cemara Kuning, ia sering mendengar ceritera beberapa orang pelayan kawan-kawannya.

“Si Sampir sudah diusirnya” berkata seorang kawannya. “Justru ketika Pangeran Cemara Kuning mengetahui perempuan itu mulai mengandung”

“Diusir?” bertanya Nyi Upih.

“Maksudku, pekatiknya lah yang harus mengawininya”

“Alangkah senangnya pekatik itu mendapat triman” Nyi Upih berhenti sejenak, “He…Bukankah Werdi juga diberikan kepada juru tamannya ketika ia mulai mengandung?”

“Mungkin, dan itu menjadi watak Pangeran Cemara Kuning”.

“Kau juga akan menjadi triman?” Nyi Upih bergurau.

Dan kawannya mencubitnya sambil berkata, “Aku tidak sudi, tetapi jika terpaksa apa boleh buat”

Nyi Upih tertawa, namun ia menjadi sedih juga. Memang ada satu dua orang dengan senang hati menerima nasib seperti itu. Mengandung dalam hubungannya dengan seorang bangsawan kemudian menjadi triman dengan pesangon yang banyak bagi dirinya sendiri dan bagi bakal suami yang harus dengan ikhlas menerimanya dalam keadaan apapun.

Tetapi Nyi Upih tidak terlampau dalam menyesali tingkah laku seorang bangsawan yang demikian. Yang paling sakit baginya justru Pangeran Cemara Kuning yang memang berwajah tampan itu tidak saja mengorbankan pelayan-pelayan perempuannya yang masih gadis saja, tetapi kadang-kadang mereka yang sudah bersuami pun diambilnya dengan segala pengaruh yang ada padanya. Pengaruh derajat dan pangkat, tetapi juga pengaruh kekayaan yang dimilikinya.

“Untuk berapa lama, ia dapat memenuhi segala keinginannya” berkata Nyi Upih didalam hatinya.

Peristiwa-peristiwa itu, ternyata telah mempengaruhi perasaannya. Pada saat terakhir. Pangeran Kuda Narpada pergi bersama Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat yang tidak begitu dikenalnya, membuatnya semakin lama semakin gelisah. Tetapi ia tidak mengatakan semuanya itu kepada Raden Ayu Kuda Narpada dan puterinya, Inten Prawesti. Ia tidak sampai hati menambah parah luka di hati keduanya.

Tetapi justru karena itu, maka beban perasaan itu harus dipikul diatas pundaknya sendiri, tidak ada orang lain yang dapat membantu membawa beban itu. Dan ia memang tidak ingin membaginya dengan orang lain.

Namun ternyata bahwa beban itu semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin berat, sehingga hampir tidak tertahankan lagi olehnya.

Sejalan dengan itu, maka istana kecil itu pun menjadi semakin suram pula. Raden Ayu Kuda Narpada semakin jarang keluar dari istananya. Apalagi puterinya Inten Prawesti. Yang kemudian harus pergi kepadukuhan Karangmaja untuk mendapatkan keperluan sehari-hari adalah Nyi Upih. Dan agaknya orang-orang Karangmaja pun menganggap pelayan yang setia itu seperti saudara mereka sendiri.

Justru apabila Nyi Upih pergi kepadukuhan Karangmaja, rasa-rasanya ia sempat bernafas. Sehari-hari ia merasa terkurung didalam halaman istana kecil itu. Jarang sekali ia bercakap-cakap dengan Raden Ayu yang menjadi semakin pendiam dan momongannya Inten Prawesti pun nampaknya semakin murung. Sehingga dengan demikian, jika ia mendapat kesempatan untuk keluar dari istana itu, rasa-rasanya dadanya agak menjadi lapang, meskipun tidak ada tempat untuk mengadukan semua beban didalam hati.

Dalam kemurungan itu, kadang-kadang Inten Prawesti masih juga sempat mengajak Nyi Upih berjalan-jalan dibelakang istana kecilnya. Naik ke lereng bukit yang sepi. Memandang lereng yang mulai hijau dan celah-celah bukit yang memberikan kesan tersendiri.

“Apakah ayahanda pergi lewat jalan itu?” bertanya Inten Prawesti kepada momongannya.

Nyi Upih memandang jalur jalan dibawah bukit kecil itu, sambil mengangguk kecil ia menjawab, “Demikianlah agaknya, jalur jalan itu menuju ke tempat yang sangat jauh”.

“Dan ayahanda pun pergi ke tempat yang sangat jauh. Sudah lebih dari setahun ayahanda tidak pulang kembali”.

Nyi Upih tidak menyahut, kepergian Pangeran Kuda Narpada memang sudah lebih dari bukan saja setahun, tetapi sudah lebih dari dua tahun.

Setiap kali Inten Prawesti mengajak Nyi Upih memanjat bukit kecil dan memandang jalur yang panjang berliku-liku dan yang ujungnya seolah-olah hilang menyusup kebawah bukit, gadis itu pun menjadi semakin nampak suram, ada kerinduan yang menekan didalam dadanya. Kerinduan kepada ayahandanya yang diikutinya sejak dari pusat kerajaan agung Majapahit.

Kadang-kadang Nyi Upih mencoba untuk mengajak Inten Prawesti berjalan-jalan ke tempat lain, tetapi gadis itu selalu menolak, dan mengajak pemomongnya naik ke lereng bukit kecil dan memandang jalan yang berliku-liku itu.

“Kenapa tidak pergi ke padukuhan itu saja puteri” bertanya Nyi Upih

Inten Prawesti menggelengkan kepalanya.

“Disini terlampau sepi. Kita tidak bertemu dengan seorang pun, tetapi di padukuhan kita dapat berbicara dengan orang-orang Karangmaja. Kadang-kadang yang mereka katakan memberikan pengalaman baru bagi kita. Kadang-kadang aneh, kadang-kadang tidak masuk akal dan kadang-kadang menggelikan sekali. Meskipun demikian bukan berarti bahwa mereka tidak mempunyai sikap hidup. Dan sikap hidup mereka, yang bertahun-tahun hidup didalam perjuangan melawan alam yang keras ini, dapat memberikan banyak petunjuk bagi kita”.

Tetapi Inten Prawesti menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Aku lebih suka senang berada ditempat yang sepi”

“Puteri” berkata Nyi Upih, “Bukankah dengan demikian kita akan menjadi semakin terasing dari pergaulan. Padahal pergaulan yang betapapun sederhananya, akan memberikan pengaruh bagi kita, manusia adalah makhluk yang hidup dalam lingkungannya, bukan seharusnya hidup menyendiri”.

Tetapi Inten Prawesti mengerutkan keningnya, namun kemudian ia berkata, “Aku mengerti Nyai, tetapi rasa-rasanya kini aku lebih senang hidup dalam ketenangan. Rasa-rasanya tidak ada lagi gairah untuk hidup dalam lingkungan yang luas, meskipun hanya seluas padukuhan Karangmaja. Disini aku mendapatkan kedamaian hati. Tidak ada persoalan-persoalan yang menambah hidupku menjadi semakin suram”.

“Tetapi yang puteri dapatkan bukanlah kedamaian yang sejati, tetapi sekedar kesunyian, karena hati yang damai seharusnya memancar seperti pelita yang menerangi keadaan sekitarnya, bukan seperti pelita yang berada dibawah kerudung yang rapat, sehingga sinarnya tidak memberikan arti apapun bagi kehidupan si lingkungannya”.

Inten Prawesti menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Nyai, bagaimana hati ini dapat menjadi pelita yang menerangi lingkungannya, jika hati ini rasa-rasanya menjadi semakin suram dan bahkan padam. Itulah yang mungkin benar, kesuraman yang sepi, bukan kedamaian, karena didalam hati ini tersimpan kegelisahan yang menggelora”.

“Ah…” Nyi Upih menjadi semakin menyesal akan kata-katanya sendiri. Sehingga karena itu ia pun segera menyahut, “Sudahlah Puteri, bukankah puteri ingin mendapatkan kesegaran dengan berjalan-jalan diatas bukit ini?. Nah puteri dapat melihat lereng-lereng bukit yang menjadi hijau meskipun baru ditumbuhi batang metir. Tetapi kelak lereng itu akan dapat ditanami pepohonan yang mempunyai arti yang lebih besar lagi. Pohon aren, jambu kelutuk, bahkan mungkin sebuah ladang jagung”.

Inten Prawesti mengangguk-angguk, tetapi hatinya seolah-olah tidak melekat pada pemomongnya yang sedang mencoba untuk menggeser perhatian gadis itu.

Nyi Upih hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, sedang momongannya masih saja memandang jalur jalan yang berliku-liku seperti tubuh seekor ular raksasa yang membelit perbukitan.

Namun selagi mereka termenung diatas bukit kecil itu, tiba-tiba pendengaran mereka tertarik oleh suara seruling dikejauhan, suara seruling yang melengking menyusup celah-celah perbukitan.

Inten Prawesti yang selama itu rasa-rasanya tidak mempunyai perhatian terhadap apapun juga, agaknya sentuhan suara seruling itu dapat menggetarkan dinding hatinya pula.

“Nyai…” berkata Inten Prawesti, “Kau mendengar suara seruling itu?”

“Ya..Puteri” jawab Nyi Upih, lalu, “Suara seruling itu mengingatkan kita kepada kidung tentang cinta”

“Ah…” desah Inten Prawesti.

“Ooo…” Nyi Upih menutup mulutnya, ia sudah terlanjur lagi menyebutkan sesuatu yang hampir tidak dikenal oleh momongannya. Karena itu maka cepat-cepat ia menyambung, “Seperti cinta Maha Pencipta atas kita yang telah memberikan banyak sekali kenikmatan. Meskipun kadang-kadang kita merasa sesuatu yang agak mengganggu, tetapi kurnia yang paling berharga bagi kita adalah kemampuan untuk mengatasi setiap kesulitan dan gangguan didalam hidup kita.”

Inten Prawesti tidak menjawab.

“Puteri, cobalah dengar, lagu itu seperti mengalun dari langit”.

Untuk sejenak Intern Prawesti masih berdiam diri, agaknya suara seruling itu benar-benar dapat menyentuh hatinya.

Ternyata bahwa di hari berikutnya, Inten Prawesti mengajak Nyi Upih untuk pergi lagi ke bukit itu, rasa-rasanya ia ingin mendengar suara seruling yang pernah didengarnya itu.

“Seruling seorang gembala puteri, jika puteri ingin mendengar, maka puteri dapat memanggil gembala itu dan menyuruhnya bersenandung di halaman istana.”

“Ah, tentu tidak akan merdu suara seruling yang diiringi oleh gemanya di lereng-lereng bukit seperti itu Nyai”

Nyai Upih tidak menjawab, ia pun mengerti bahwa apabila gembala itu dibawa masuk halaman, kemudian duduk dipendapa dan meniup sulingnya, kesan getarannya akan jauh berbeda. Karena itu maka ia pun tidak lagi mengganggu Inten Prawesti yang sedang asyik mendengar lagu yang melontar dari seruling dikejauhan tanpa mengetahui siapakah yang membunyikannya. Lagu yang rasa-rasanya sengaja disesuaikan dengan gejolak yang sedang melanda dinding-dinding jantung Inten Prawesti, gejolak kerinduan kepada ayahandanya yang pergi bertahun-tahun yang lalu.

Tetapi sebenarnyalah ada perasaan rindu yang lain yang terselip didalam di dalam hati gadis yang meningkat dewasa itu. Inten Prawesti sendiri tidak mengetahuinya. Apalagi orang lain. Sebagai seorang gadis yang sudah dewasa, maka hatinya pun menjadi peka sekali terhadap sentuhan yang sendu. Suara seruling itu agaknya telah membelainya, bukan saja sebagai curahan perasaan rindu kepada ayahandanya, tetapi sentuhan-sentuhan yang lain didalam kalbunya, karena seperti yang dikatakan oleh Nyi Upih, lagu itu adalah kidung cinta, Asmaradana, tembang yang melontarkan gairah cinta yang menyala didalam kalbu.

Karena itu, maka rasa-rasanya suara seruling itu terdengar manis ditelinganya dan mendapat tempat di hatinya, seolah-olah suara seruling itu sengaja disiulkan untuknya.

“Nyai…, siapakah yang meniup seruling itu?” tiba-tiba Inten Prawesti bertanya.

“Seorang gembala, puteri. Seperti yang sudah aku katakan

“Apakah ia anak Karangmaja….?”

“Tentu, padukuhan yang lain terletak ditempat yang agak jauh, agaknya hanya anak-anak Karangmaja sajalah yang menggembalakan ternak-ternaknya sampai ke lereng bukit itu”

Inten Prawesti merenung sejenak, tetapi ia menjadi kecewa jika suara itu pun kemudian terhenti.

“Disaat-saat begini, gembala-gembala biasanya mulai mengumpulkan ternaknya, sebentar lagi mereka akan menggiringnya kembali ke kandang”.

Inten Prawesti hanya mengangguk-angguk saja.

“Matahari menjadi semakin rendah, sebentar lagi senja akan turun, sehingga ternak harus sudah berada di kandangnya, bukankah di lembah yang curam itu, kadang-kadang masih terdapat harimau yang berkeliaran?, karena itu menjelang senja para gembala harus sudah pulang”.

“Apakah di siang hari harimau itu tidak mau mencuri ternak?”

“Kadang-kadang puteri, tetapi di siang hari gembala-gembala itu mempunyai banyak kawan, juga orang-orang yang di ladang. Jika ada seekor atau dua ekor harimau yang berani mengganggu ternak, maka beramai-ramai gembala itu melawannya, karena itu, mereka membawa senjata ke ladang”

Inten Prawesti menganguk-angguk pula.

“Sekarang, kita pun pulang puteri”

“Sebentar Nyai, Aku ingin melihat matahari menjadi semakin rendah dan turun ke punggung bukit”

“Ah…” wajah Nyai Upih menegang, “Sudah aku katakan, disela-sela perbukitan itu masih berkeliaran harimau kumbang, mungkin macan tutul”

“Tetapi harimau-harimau itu tidak akan datang kemari, disini tidak ada ternak.”

Inten Prawesti tersenyum, senyum yang sudah jarang sekali nampak dibibirnya.

“Apakah suara seruling itu tidak akan terdengar lagi?”

“Besok lagi kita datang kemari untuk mendengarkan, mereka sekarang sudah pulang”

Inten Prawesti menarik nafas dalam-dalam, ia pun tiba-tiba menjadi ngeri jika ada seekor harimau yang tersesat sampai keatas bukit kecil itu. Karena itu, maka katanya, “Baiklah, kita akan pulang, besok kita akan mendengarkan seruling itu lagi” ia berhenti sejenak, lalu, “Bagaimana jika kita pergi mendekat?”

“Ah, tidak mungkin, puteri. Jalan terlampau sulit, anak-anak gembala dapat berlari-lari di lereng yang terjal sambil menggiring ternak, tetapi kita tidak akan dapat merangkak sekalipun.”

Inten Prawesti mengangguk-angguk, ia mengerti, bahwa jalan di lereng bukit itu terlampau sulit dilalui sampai ke ladang tempat anak-anak menggembalakan ternaknya.

“Puteri” berkata Nyi Upih pula. “Matahari menjadi semakin terlampau rendah, apakah kita tidak sebaiknya pulang sekarang”

Inten Prawesti mengangguk, sekali ia masih memandang ke lereng bukit, kearah seruling itu melontarkan tembang, namun kemudian ia pun bergeser dan melangkah meninggalkan tempatnya.

Tetapi tiba-tiba saja ia langkahnya terhenti, ketika dengan tiba-tiba pula ia mendengar suara seruling itu pula, tidak sejauh yang didengarnya sebelumnya.

“Nyai…” desis Inten Prawesti.

Nyi Upih pun tertegun, suara seruling itu terdengar dekat sekali. Hanya dibalik gerumbul dibawah ujung bukit kecil itu

“Kau dengar suara seruling itu?” bertanya Inten Prawesti

“Tentu, puteri”

“Dekat sekali”

“Ya…dekat sekali”

Inten Prawesti memandang Nyi Upih yang menjadi pucat.

“He…! Kenapa Kau”

“Suara seruling itu…?

“Kenapa…”

“Lain puteri, agak lain. Apakah puteri tidak merasakan perbedaannya.

Inten Prawesti bukan seorang yang mengerti tentang kidung dan tembang, tetapi ia merasakan ia memang merasakan sesuatu yang lain. Suara seruling yang didengarnya itu justru lebih menyentuh perasaannya, halus dan menggelayut.

“Nyai…, apakah hanya pendengaranku dan ketidak tahuanku tentang suara seruling?, lagunya bertambah indah”.

“Ya..ya.. puteri, lebih syahdu, tetapi…..” Ia berhenti sejenak.

“Tetapi apa Nyai…”

Nyi Upih memandang ke sekelilingnya, ia tidak melihat seorang pun, sehingga kemudian ia berkata, “Apakah aku hanya mendengar suaranya saja?”

“Oooh…” Inten Prawesti menepuk bahu pemomongnya, “Aku mengerti Nyai, Kau takut? Kau anggap suara seruling itu suara hantu yang sedang bermain seruling?”

“Puteri, tempat ini jarang sekali disentuh kaki manusia”

“Jika sekiranya ada hantu yang pandai bermain seruling apa salahnya?”

Nyi Upih mengerutkan lehernya, katanya, “Marilah kita pulang”.

“Sebelum Inten Prawesti menjawab, maka suara seruling itu pun tiba-tiba telah lenyap, seperti tiba-tiba saja suara itu melengking, sehingga Nyi Upih menjadi semakin gemetar. Bulu-bulu tubuhnya serasa berdiri. Sambil mendekati momongannya ia berkata, “Puteri… marilah kita cepat-cepat pulang”

Inten Prawesti mengangguk, tetapi ia sama sekali tidak menjadi ketakutan, ia yakin bahwa seorang gembala dengan sengaja telah mengganggunya, mungkin seorang ingin bergurau, seperti orang-orang Karangmaja sering bergurau dengan ayahandanya sebelum ayahandanya pergi.

Keduanya kemudian melangkah meninggalkan bukit itu dan kembali ke istana kecil yang terpencil itu.

“Puteri telah mengganggu pekerjaanku” berkata Nyi Upih sambil mencubit Inten Prawesti.

“Kenapa Nyai…?”

“Aku belum merebus air, ibunda biasanya mandi dengan air hangat. Karena aku ikut mendengarkan suara seruling itu, maka aku terlambat.

“Belum terlambat Nyai, dan biarlah aku yang mengatakannya kepada ibunda”

Tetapi ternyata Inten Prawesti tidak mengatakan tentang suara seruling itu, ia hanya mengatakan bahwa Nyi Upih telah dibawanya berjalan-jalan.

“Jangan terlalu jauh Inten” berkata ibundanya, “Kita masih belum mengenal seluruh keadaan padukuhan itu, meskipun kita sudah beberapa tahun berada disini. Berbeda dengan ayahandamu, mengenal Karangmaja lebih baik dari orang-orang Karangmaja itu sendiri, tetapi kau belum”.

“Ya…ibunda”

“Apalagi menurut ceritera orang, di daerah perbukitan itu masih ada berkeliaran beberapa ekor harimau. Karena itu, sebaiknya jika kau ingin berjalan-jalan, pergi sajalah ke padukuhan. Orang-orang Karangmaja masih tetap baik kepada kita”

Inten Prawesti mengangguk saja, tetapi ia rasa-rasanya sudah sangat dipengaruhi oleh suara seruling, dan berlebih-lebih lagi suara yang tiba-tiba ada dibalik gerumbul yang tidak terlampau jauh daripadanya.

“Gembala-gembala itu pandai memandang meniup suling” katanya kepada Nyi Upih.

“Hanya seruling sajalah permainan mereka, mereka tidak dapat bermain-main dengan cara yang lain, apalagi bermain sembunyi-sembunyi atau semacamnya. Dengan demikian mereka akan meninggalkan ternak mereka, jika ternak mereka itu hilang, maka mereka akan menyesal.”

“Jadi mereka duduk-duduk saja sambil meniup seruling?”

“Ya… satu dua, yang lain bermain dengan kayu, membuat ukiran dan patung-patung kecil seperti yang terdapat di ruang depan, anak-anak lah yang memberikan patung-patung kecil itu kepada pangeran waktu itu”.

Inten Prawesti mengangguk-angguk, ia memang melihat ukiran dan patung-patung kecil itu di ruang depan. Agaknya ayah dari anak-anak yang membuatnya telah memberikannya kepada ayahandanya sebelum ayahandanya pergi. Dan ternyata bahwa patung-patung kecil itu sampai saat itu masih disimpannya baik-baik.

Tetapi di hari berikutnya terjadilah sesuatu yang agak lain dan tidak disangka-sangka sama sekali. Sebelum Inten Prawesti pergi ke bukit kecil, tempat ia biasa mendengarkan suara seruling dan memandang jalan kecil yang berliku-liku disela-sela bukit, tiba-tiba saja terdengar suara seruling dari pendapa rumahnya. Suara itu memang agak jauh, tetapi jelas terdengar.

“Nyi Upih” ia memanggil pemomongnya yang masih ada di dapur, “Kau mendengar suara seruling itu?”

Nyi Upih mencoba mendengarkannya, tetapi ia menggeleng, “Aku tidak mendengar , puteri”.

“Aku telah mendengarkannya”.

“Tetapi aku tidak”

Inten Prawesti pun kemudian mencoba mendengarkan suara itu, tetapi agaknya suara seruling itu memang tidak terdengar dari dapur, karena suara air yang mendidih didalam belanga.

Inten Prawesti pun menarik tangan Nyi Upih dan mengajaknya ke pendapa.

“Ada apa Inten?” bertanya ibunya yang melihat anaknya menarik tangan pemomongnya.

Inten Prawesti tidak menjawab, tetapi Nyi Upih lah yang menyahut. Suara seruling Gusti, suara itu terdengar jelas dari pendapa”.

“Ah hanya suara seruling”

Inten Prawesti sama sekali tidak menjawab, tetapi ia menarik Nyi Upih melintasi ruang dalam, langsung ke pendapa.

Ketika mereka berdiri di pendapa, maka Nyi Upih pun mencoba mempertajam pendengarannya, tetapi ia tidak mendengar apa-apa.

“Apa puteri masih mendengarnya?”

“Inten mengerutkan keningnya, dengan kecewa, ia menggeleng lemah, “Suara itu sudah tidak terdengar lagi Nyai;

“Aku kira puteri terlampau memikirkan suara seruling itu, sehingga ketika angin berhembus dan mengguncang dedaunan, suaranya seperti suara seruling yang merdu”

“Ah…, tentu lain” jawab Inten, “Apakah kau kira aku sudah tidak dapat membedakan lagi suara seruling dan suara gemerisik dedaunan?”

“Bukan maksudku puteri. Tetapi karena perasaan puteri terlampau dicengkam oleh suara seruling cinta itu, maka rasa-rasanya semua suara seperti suara seruling. Demikian juga dengan tingkahku sewaktu tigapuluh tahun yang lampau, pada saat aku masih remaja seperti puteri”.

“Ah… aku yakin aku mendengar suara itu”

“Baiklah puteri, nanti aku akan ikut mendengarkan.

Tetapi airku sudah mendidih, aku akan menanak nasi sebelum airnya kering”

“Kau akan menanak nasi?”

“Ya, puteri, bukankah sehari-hari aku juga menanak nasi?”

“Bukankah kita akan berjalan-jalan?”

“Ya, biasanya aku menjerang nasi sebelum berangkat, kemudian aku akan menyenduknya setelah kita kembali”

“Jika nasi itu sangit?”

“Biasanya, jika ibunda mengetahui aku mengantar puteri berjalan-jalan, maka ibunda tidak berkeberatan turun ke dapur? Bukankah hal itu sering dilakukannya pula?”

Inten Prawesti mengangguk-angguk. Ibundanya bukan lagi Gusti Raden Ayu yang hanya duduk diatas tempat duduk yang dialasi dengan beludru atau bercengkerama di taman yang ditumbuhi oleh seribu macam pohon bunga, ibunya adalah seorang yang harus menyesuaikan diri dari keadaan. Meskipun selagi ibundanya berada di Majapahit, bukan pula seorang yang tinggi hati, namun jarang sekali ibundanya menjenguk kebagian belakang istananya.

“Jika demikian” berkata Inten kemudian, “Cepatlah kita akan berangkat”.

Nyi Upih pun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke belakang, menurunkan belanga berisi air yang sudah mendidih, kemudian menjerang nasi, baru ia membuat minuman panas bagi Raden Ayu Kuda Narpada. Sebelum ia pergi mengantarkan Inten Prawesti berjalan-jalan.

Setelah semuanya selesai, maka Inten dan Nyi Upih pun mohon diri kepada Raden Ayu Kuda Narpada untuk berjalan-jalan sebentar keatas bukit seperti hari-hari yang lewat.

Tetapi mereka tertegun ketika beberapa langkah mereka mulai menyusuri jalan setapak, mereka melihat seorang anak muda yang berjalan perlahan-lahan di lereng bukit kecil. Ditangannya tergenggam sebuah seruling bambu yang panjang berwarna gading.

“Nyai…” desis Inten Prawesti, “Apakah anak muda itu juga seorang gembala?”

Nyi Upih termangu-mangu sejenak, dipandangnya seorang anak muda yang mempunyai ciri agak lain dari anak-anak muda dari Karangmaja. Meskipun ia mengenakan pakaian yang sederhana, tetapi kesederhanaannya adalah berbeda sekali dengan pakaian anak-anak muda di Karangmaja. Anak muda yang berjalan di lereng bukit itu memakai pakaian lengkap dan dengan cara yang baik pula, rambutnya disanggul tinggi keatas kepalanya dan sebuah anyaman rotan yang tipis membelit di dahinya.

“Agaknya bukan anak Karangmaja, puteri” berkata Nyi Upih.

Inten Prawesti tiba-tiba saja menjadi berdebar-debar, anak muda itu berjalan langsung menuju ke arahnya.

“Nyai…, kenapa ia berjalan kemari?”

Nyi Upih pun menjadi berdebar-debar, tetapi ia justru menjadi ketakutan seperti ketika ia membayangkan hantu yang berterbangan disekitar bukit kecil itu.

Karena itu, maka ia pun kemudian berdiri disisi Inten Prawesti yang justru termangu-mangu ditempatnya.

Beberapa langkah dihadapan Inten Prawesti, anak muda itu pun berhenti, dengan hormatnya ia membungkukkan kepalanya sambil berkata, “Hormat bagi tuan puteri Inten Prawesti”

Inten terkejut, dengan suara bergetar ia bertanya, “Kau sudah mengenal namaku?”

“Setiap orang di Karangmaja telah mengenal tuan puteri”

“Kau juga anak muda Karangmaja…? Bertanya Nyi Upih.

“Bukan Nyai, aku adalah seorang perantau” jawab anak muda itu.

“Ooo…” Nyi Upih mengangguk-angguk, “Aku sudah menduga, kau tentu bukan anak muda dari Karangmaja. Tatapan matamu membayangkan tingkat kecerdasan yang lain dari anak-anak muda Karangmaja yang berpikir dengan sederhana”.

“Ah, aku pun hanya anak padukuhan, tetapi aku mempunyai kegemaran mengembara. Menjelajahi padukuhan, mendaki perbukitan dan menuruni lembah”.

Nyi Upih mengangguk-angguk, wajah anak muda itu memang menunjukkan hatinya yang keras, tatapan matanya bagaikan ujung tombak yang langsung menusuk ke pusat jantung.

“Aku sekarang untuk sementara tinggal di Karangmaja puteri” berkata anak muda itu.

“Kaukah yang bermain seruling?” tiba-tiba Inten Prawesti bertanya.

“Ya…, tetapi bukan yang tuan puteri dengar di lembah, disela-sela bukit. Suara seruling itu adalah suara seruling gembala dari Karangmaja”

“Jadi yang mana..?”

“Aku sering melihat tuan puteri pergi ke bukit kecil itu dan tertarik kepada suara seruling yang berlagu tanpa irama, seperti gemuruhnya suara pasar sedang temawon”

“Dan kau…?”

“Aku mencoba untuk memperkenalkan puteri dengan suara seruling yang baik dan irama yang benar dari tembang asmaradana, aku membunyikan seruling dibalik gerumbul dibawah bukit itu.”

“Oo..Kaukah itu?” Inten Prawesti tersenyum, tetapi ketika kakinya akan melangkah mendekat, Nyi Upih telah menggamitnya.

“Tetapi sebenarnya, aku pun bukan peniup seruling yang baik, meskipun demikian, aku tentu dapat melakukannya lebih baik dari gembala-gembala Karangmaja”

“Tentu, suara serulingmu lebih bak, lebih halus dan berirama”

“Aku mempunyai pengalaman yang jauh lebih luas dari anak-anak Karangmaja, dan karena itulah, aku mencoba untuk memberikan yang lebih baik dari yang dapat mereka berikan”

Inten Prawesti mengangguk-angguk, dan kemudian ia pun bertanya, “Aku belum bertanya, siapakah namamu dan dari manakah asalmu?”

Anak muda itu tersenyum, jawabnya, “Namaku Kidang Alit puteri, asalku? …entahlah, aku sendiri tidak mengetahuinya dengan pasti, aku adalah anak kabur kanginan, berselimut langit dan beralaskan bumi, aku tidak tahu, siapakah yang menurunkan aku sebenarnya”

“Ah…, apakah begitu…?”

“Benar Puteri, dan sekarang aku mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain, kali ini aku tersangkut di padukuhan Karangmaja”

Inten Prawesti tidak segera bertanya lagi, nampak keragu-raguan membayang wajahnya yang bening, tetapi ia tidak mempersoalkannya.

“Aku akan mencoba bermain lebih baik lagi puteri” berkata anak muda yang mengaku Kidang Alit itu.

“Aku senang sekali mendengarnya” jawab Inten Prawesti.

“Aku akan dengan senang hati menghadap puteri di istana, dan bermain seruling siang dan malam”

“Ah…, Inten berdesah, “Tetapi apa salahnya jika kau datang mengunjungi istanaku, eh…maksudku rumahku”.

“Puteri…” Nyi Upih memotong, “Tentu puteri harus mengatakannya lebih dulu kepada ibunda, bahwa akan ada seorang datang menghadap”.

“Ah, bukankah sejak ayahanda masih ada, siapapun boleh masuk dan naik keatas pendapa?”

“Justru kini ayahanda puteri sudah tidak ada di istana”

Inten Prawesti mengerutkan keningnya, dipandangnya wajah anak muda itu sejenak lalu, “Ya, aku akan mengatakannya kepada ibunda. Tetapi jika tidak berkenan di hati ibunda, kau dapat meniup serulingmu dimana saja kau suka. Aku akan mendengarkannya dari pintu butulan, atau dari pendapa”.

Kidang Alit tertawa, katanya, “Itu bukan persoalan lagi puteri, setiap saat aku akan meniup seruling, didengarkan atau tidak.

Inten mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, Nyi Upih menggamitnya dan berkata “Aku meninggalkan nasi diatas api puteri”

“Ah. Bukankah ibunda ada..?”

“Tentu ibunda tidak akan turun ke dapur”

“Bukankah kau juga mengatakan, biarlah ibunda nanti yang mengangkat belanga itu, sebelum kita pulang”

“Tetapi, bagaimana kalau ibunda tertidur…?!”

Inten masih akan menjawab, tetapi Kidang Alit segera memotong. “Silahkan puteri, agaknya pemomong puteri masih mempunyai tugas di istana”.

Inten menjadi kecewa, tetapi ia mengikutinya ketika Nyi Upih melangkah pulang.

Tetapi Inten masih berpaling dan berkata kepada Kidang Alit, “Aku akan mendengarkan suara serulingmu”

Kidang Alit tersenyum, tetapi ia tidak menjawab. Nyi Upih pun kemudian menyanding Inten Prawesti mereka berjalan semakin cepat, seolah-olah mereka begitu tergesa-gesa.

“Nyai, kenapa kau berlari-lari?.”

“Nasi itu”

“Tetapi kakiku sakit, dan ibunda tentu akan turun ke dapur, bukankah biasanya ibunda berbuat demikian jika kita pergi”

Nyi Upih berpaling sejenak, ia masih melihat Kidang Alit berdiri tegak ditengah lorong sempit itu, sekilas Nyi Upih melihat tubuh tegap dengan dada yang bidang, meskipun wajahnya tidak begitu tampan, namun kecerdikan memancar dari sepasang mata anak muda itu.

Ketika Nyi Upih dan Inten memasuki regol halaman istananya, barulah Nyi Upih berhenti dengan nafas terengah-engah, dan keringat dikeningnya.

“Nyai berlari-lari seperti dikejar hantu, cepatlah jika kau ingin pergi ke dapur” berkata Inten dengan jengkel.

“Ampun puteri, sebenarnya aku tidak tergesa-gesa karena nasi itu”

“Jadi kenapa?”

“Bukankah kita belum mengenal anak muda itu…?”

“Ya.. anak muda itu nampaknya agak lain dengan anak-anak Karangmaja, Ia baik dan ramah”

“Ya…puteri, Anak muda itu baik dan ramah, justru karena ia terlalu baik dan ramah, aku menjadi curiga”

“Kau terlampau cepat berprasangka Nyai”

“Puteri masih terlampau hijau, puteri tidak pernah bergaul dengan anak-anak muda, aku tidak senang melihat tatapan matanya yang gelisah memandang puteri, dan aku tidak senang mendengar kesombongannya”.

“Ah, apakah anak muda itu sombong..?”

“Ia adalah anak muda yang sombong, keramahan yang dibuat-buat itulah yang menyembunyikan kesombongannya” Nyi Upih berhenti sejenak. Lalu, “Puteri, Nyai ini sudah tua, sudah banyak bergaul dengan anak-anak muda dimasa Nyai masih muda dahulu, sehingga Nyai dapat membedakan sifat-sifat yang jujur dan dibuat-buat”

Inten mengerutkan keningnya, namun katanya, “Tetapi anak itu baik Nyai, setidak-tidaknya ia tidak mempunyai maksud buruk”.

“Mungkin, mungkin tidak ada niat buruk padanya, tetapi puteri harus hati-hati.

“Kenapa Nyai…?”

“Salah satu sebab bahwa puteri harus berhati-hati adalah karena puteri sudah meningkat dewasa, dan berlebih-lebih lagi adalah karena puteri tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik”.

“Ah…” Inten mencubit Nyi di lengannya, sehingga pemomongnya itu mengaduh kesakitan.

“Sudahlah Puteri” berkata Nyi Upih kemudian, “Sebaiknya puteri masuk kedalam, anak muda itu tentu akan lewat didepan istana ini, dan puteri tidak boleh berada diluar, apalagi seakan-akan puteri sedang menunggunya”

“Kenapa?, aku ingin mendengar ia bermain dengan serulingnya”

“Mungkin puteri hanya ingin sekedar mendengarkan ia bermain dengan serulingnya dalam kidung cinta. Tetapi hal itu akan menimbulkan salah paham bagi anak muda, apalagi menilik tatapan matanya. Kidang Alit adalah seorang anak muda yang cepat mengagumi kecantikan seorang gadis”

Inten memandang sejenak wajah Nyi Upih dengan tajamnya, sepercik keragu-raguan memancar pada sorot matanya. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu.

Nyi Upih mengerti bahwa Inten Prawesti masih belum mengenal sifat anak-anak muda, sehingga ia tidak akan muda mengerti keterangannya.

Karena itu Nyi Upih pun kemudian mengajak Inten untuk pergi saja ke dapur. Ia dapat melupakan serulingya itu sejenak dengan beberapa kesibukan. Inten Prawesti bukannya seorang gadis yang malas. Meskipun ia seorang puteri Pangeran. Tetapi seperti ibundanya, ia pun sudah berusaha menyesuaikan diri dengan keadaannya. Hidup terpencil di padukuhan kecil, segala sesuatu harus dilakukannya sendiri, karena Nyi Upih sudah terlampau banyak pekerjaan. Inten sudah biasa mencuci pakaiannya sendiri, membantu memasak dan membersihkan perabot rumahnya.

Dalam pada itu, ternyata dugaan Nyi Upih tidak meleset, Kidang Alit tidak puas menatap langkah Inten yang hilang ditikungan. Ia pun berjalan mengikutinya meskipun dengan jarak yang jauh, anak muda itu tidak dapat menahan keinginannya untuk lewat didepan istana kecil yang lengang itu.

Namun ternyata bahwa halaman istana itu benar-benar telah sepi.

“Gadis itu tidak ada di pendapa” desisnya. Tentu pemomongnya itulah yang mengajaknya masuk kedalam”

Tetapi Kidang Alit tidak memasuki halaman rumah itu, ia pun kemudian duduk dibawah sebatang pohon wuni di seberang jalan yang melintasi didepan istana itu.

Sejenak kemudian terdengar suara seruling memecah sepi, mengalun bersama angin yang berhembus perlahan-lahan mengumandang di seluruh halaman istana kecil itu

Inten yang sedang berada di dapur terkejut mendengar suara seruling itu. tanpa sadarnya ia pun segera bangkit berdiri. Hampir saja ia meloncat berlari, jika Nyi Upih tidak menangkap lengannya dan berkata, “Tinggalah disini saja puteri”

Inten termangu-mangu sejenak

“Sebaiknya puteri tidak menjenguknya”

“Kenapa Nyai…?”

“Tidak apa, tetapi duduk sajalah disini membantu Nyai menyiapkan makan. Aku juga harus menjerang air bagi ibunda jika ibunda akan mandi”.

Inten Prawesti menjadi ragu-ragu, ada keinginannya untuk ke pendapa, bukan saja untuk mendengarkan suara seruling itu. tetapi ada sesuatu yang seolah-olah telah mendorongnya untuk melihat anak muda yang bernama Kidang Alit itu.

Tetapi agaknya Nyi Upih mengerti perasaan Inten sepenuhnya, karena ia pun pernah menjadi muda. Sudah lama Inten Prawesti terpisah dari pergaulan justru menjelang usia dewasanya. Adalah wajar sekali, jika ada sebuah sentuhan di hatinya pada saat ia memandang meskipun baru untuk pertama kali, seorang anak muda yang memiliki beberapa kelebihan dari anak-anak muda yang kadang-kadang dilihatnya di Karangmaja.

Namun Nyi Upih berkata pula, “Duduklah puteri, nanti Nyai akan bercerita”

Inten menjadi sangat kecewa, tetapi seperti biasanya, ia mendengarkan kata-kata pemomongnya, karena itulah maka ia pun kemudian duduk disamping Nyi Upih yang sedang menyenduk sayur ke pinggan.

Demikiankah setiap kali Nyi Upih berusaha menahan Inten agar tidak keluar rumahnya, bukan saja sehari itu, tetapi di hari-hari berikutnya.

“Kenapa kau menahan aku keluar rumah?, beberapa hari yang lalu kau selalu menemani aku pergi ke bukit kecil itu, sekarang kau sama sekali memperlakukan aku sebagai tawanan”

Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Ampun puteri, sebenarnyalah aku cemas bahwa puteri akan tersentuh oleh pergaulan yang kurang sewajarnya”

“Maksudmu, aku harus menjadi seekor burung yang kau simpan didalam sangkar?, betapapun banyaknya kau memberi aku makan, tetapi aku akan menjadi semakin kurus dan sakit-sakitan.

“Tidak puteri” jawab Nyi Upih, “Bukan maksudku, tetapi bukankah selama ini puteri memang jarang sekali keluar halaman, baru beberapa lama puteri sering pergi melihat bukit kecil itu?, Ketika kemudian puteri tertarik kepada suara seruling, puteri memang sering pergi keluar halaman, aku tidak keberatan putri pergi keatas bukit mendengarkan suara seruling anak-anak gembala dari Karangmaja meskipun iramanya kurang baik. Tetapi suara seruling yang sengaja diperdengarkan bagi puteri oleh seorang anak muda yang belum kita kenal dan dengan sengaja menyembunyikan asal-usulnya, masih harus kita nilai lebih jauh puteri.”

“Tetapi sikapnya baik padaku”

“Sikap yang baik belum tentu menjadi bayangan yang utuh dari sikap batinnya” jawab Nyi Upih, “Puteri, biarlah Nyai mencoba mengerti serba sedikit tentang anak muda itu. besok jika Nyai pergi ke padukuhan, Nyai akan bertanya kepada orang-orang Karangmaja, apakah mereka mengenal seorang anak muda yang bernama Kidang Alit. Baru jika yakin anak muda itu tidak berbahaya, tentu bagi puteri, bukan bagiku, kita dapat bebas menerimanya atau menjumpainya dimana saja”.

Inten Prawesti mengerutkan keningya.

“Jika aku menyampaikan kepada ibunda, aku kira pendapat ibunda puteri pun akan sama dengan pendapat Nyai”

Inten tidak menyahut, betapa perasaan kecewa mencekamnya, namun ia memaksa dirinya untuk sama sekali tidak keluar dari rumahnya.

Untuk mengatasi keinginannya mendengarkan suara seruling dan melihat jalan yang membelit perbukitan, seolah-olah sambil menunggu ayahandanya kembali dari perantauannya yang panjang. Inten mengisi waktu dengan berbagai macam kesibukan yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya. Namun diluar sadarnya, kadang-kadang Inten mulai meraba wajahnya. Menjelang saat-saat mandi di jambangan, Inten sering menatap wajahnya itu di permukaan air yang bening, perlahan-lahan namun pasti, ia mulai percaya, bahwa ia memang seorang gadis yang cantik, secantik ibundanya.

Ketika pada suatu saat, Nyi Upih harus pergi ke padukuhan Karangmaja untuk membeli kebutuhan mereka sehari-hari, maka ia pun mempergunakan kesempatan itu pula untuk bertanya kepada orang-orang Karangmaja, apakah mereka mengenal anak muda bernama Kidang Alit.

“Ooo….” Seorang perempuan gemuk mengangguk-angguk, “Ya seorang anak muda yang tampan, bertubuh tegap kekar dan berwajah seperti bangsawan?”

“Ya…”

“Tidak seorang pun yang tahu tentang dirinya. Tiba-tiba saja ia berada di padukuhan ini dan menumpang di rumah seorang janda yang sudah tua di sudut desa”

“Siapakah janda itu?”

“Nyai Windu”

“Oo.. jadi anak muda itu tinggal di rumah Nyai Windu”

“Ya…, anak muda itu ternyata seorang yang kaya, ia memberi banyak uang kepada Nyai Windu”

“Anak yang baik..”

Tetapi Nyi Upih terkejut ketika ia melihat wanita gemuk itu menggelengkan kepalanya, katanya, “Tidak terlalu baik, banyak sekali imbalan yang harus diberikan kepadanya”

“Ooo…apa saja”

“Makan yang enak, yang kadang-kadang tidak dapat disiapkan oleh janda itu, karena ia tidak biasa menyediakan makan seperti yang dimintanya, dan setiap saat anak muda itu memerlukan sesuatu, Nyai Windu yang harus pergi mencarinya”

“Tetapi Nyai Windu membiarkan anak muda itu tinggal dirumahnya?”

“Nyai Windu tidak mempunyai anak, dan anak muda itu kadang-kadang bersikap baik juga kepadanya, selebihnya, semua kebutuhan Nyai Windu dipenuhi oleh anak muda itu. Bahkan Nyai Windu mulai mengenakan pakaian yang selamanya belum pernah disentuhnya, bahkan dilihatnya.”

Nyai Upih mengangguk-angguk, dan wanita gemuk itu meneruskan, “Anak itu memang sulit dimengerti, tetapi jika aku menjadi Nyai Windu, aku biarkan anak itu tinggal, karena keuntungan yang didapat oleh janda itu, agaknya masih lebih banyak dari kesulitan yang dihadapinya”.

“Apakah kau tahu, darimana asal-usul anak itu?”

“Tidak seorang pun yang mengetahuinya, Nyai Windu juga tidak, karena anak itu tidak pernah mengatakannya, setiap kali ia menyebut dirinya seperti selembar daun yang diterbangkan angin, tanpa sangkan tanpa paran”

Nyi Upih tidak dapat memaksa wanita yang gemuk itu untuk bercerita lebih banyak, namun dari orang-orang lain pun Nyi Upih tidak mendapat keterangan lebih banyak dari yang didengarnya dari wanita yang gemuk itu.

Dengan demikian, maka Nyi Upih pun mengambil kesimpulan bahwa Inten Prawesti untuk sementara tidak boleh berhubungan lagi dengan anak muda itu.

“Jika perlu, aku mendapat mengatakannya kepada gusti, sehingga Gusti Raden Ayu akan langsung memberikan nasehat kepada puterinya yang sedang meningkat dewasa itu.”

Tetapi ternyata Nyi Upih tidak perlu mengatakannya kepada ibunda Inten Prawesti, karena Inten masih mendengarkan nasehat pemomongnya, betapapun ia menjadi kecewa.

Sebenarnyalah, sejak saat itu, Inten Prawesti tidak pernah keluar dari rumahnya, jika suara seruling itu terdengar dekat sekali dari istananya, ia mendengarkannya dengan penuh minat, tetapi jika suara itu menjauh, Inten dapat menarik nafas dalam-dalam.

Setiap kali terbayang ketakutan-ketakutan yang dilukiskan oleh Nyi Upih menghadapi peristiwa yang dapat terjadi atas seorang yang meningkat dewasa seperti Inten Prawesti. Apalagi seorang gadis yang sangat cantik.

Dalam pada itu, bukan saja Inten Prawesti yang menjadi gelisah, tetapi anak muda yang menyebut dirinya Kidang Alit itu pun hatinya menjadi tidak tenang. Setiap kali ia mencoba memancing gadis cantik yang sedang meningkat dewasa itu, tetapi Inten Prawesti tidak pernah keluar lagi dari rumahnya. Apalagi pergi ke bukit kecil itu, sedangkan turun ke halaman pun seakan-akan tidak pernah dilakukannya lagi.

Tetapi diluar pengetahuan Kidang Alit, setiap kali sepasang mata selalu mengintip dari balik dinding istana, jika ia berada di depan regol, atau di seberang jalan dibawah pohon wuni sambil meniup seruling. Namun tatapan mata itu selalu memancarkan kecurigaan dan prasangka.

Demikianlah Nyi Upih selalu berusaha mengetahui tingkah laku anak muda itu, jika ia berkeliaran di sekitar istana, tetapi ia tidak pernah mengatakannya kepada siapapun juga. Semuanya seolah-olah hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri.

Bahkan ternyata kemudian Nyi Upih tidak hanya sekedar mengawasi tingkah laku yang dapat diintipnya dari celah-celah dinding, tetapi ia pun selalu bertanya kepada orang-orang Karangmaja tentang anak muda yang bernama Kidang Alit itu.

Tetapi Nyi Upih kemudian menjadi kecewa, bahwa sebenarnya tingkah laku Kidang Alit tidak mencerminkan tingkah laku anak muda yang memiliki sifat-sifat seperti yang dikehendaki. Kidang Alit kadang-kadang bersikap aneh dan dapat menumbuhkan kecurigaan.

“Aku tidak dapat membiarkan momonganku tergelincir” berkata Nyi Upih.

Sebenarnya bahwa Nyi Upih semua mempunyai harapan, bahwa pada suatu saat momongannya akan bertemu dengan anak muda yang pantas baginya. Bukan sekedar anak-anak muda Karangmaja yang sangat sederhana. Bukan karena baginya anak-anak Karangmaja berderajat rendah, tetapi sebagai seorang menganggap Inten seperti anaknya sendiri, ia menghendaki seorang laki-laki yang mempunyai beberapa kelebihan, sesuai engan kedudukan Inten Prawesti.

“Tidak berlebih-lebihan” katanya didalam hati, “Tetapi Kidang Alit agaknya terlalu banyak menyimpan teka-teki sehingga justru akan dapat menumbuhkan kekaburan bagi masa depan puteri itu sendiri”

Itulah sebabnya, Nyi Upih kemudian selalu berusaha menghalangi setiap kemungkinan hubungan Inten Prawesti dengan Kidang Alit.

Akhirnya Kidang Alit pun merasa bahwa sulitlah baginya untuk dapat menembus dinding istana kecil itu. suara serulingnya tidak mampu lagi memancing puteri cantik itu untuk keluar dari halaman, bahkan ke halaman pun tidak.

“Pemomongnya itulah yang mendengkinya” geram Kidang Alit.

Dan ternyata kemudian Nyi Upih merasa, bahwa sikapnya itu adalah sikap yang benar, ketika pada suatu saat ia pergi ke padukuhan Karangmaja dan mendengar orang-orang Karangmaja membicarakan anak muda yang bertubuh tegap dan mempunyai kelebihan dari anak muda yang lain itu.

“Sunti kehilangan kegadisannya” berkata seorang perempuan yang sudah separuh baya.

“Ah… darimana kau tahu?” bertanya Nyi Upih.

“Beberapa anak muda menemukannya”

“Atas tingkah laku Kidang Alit…?”

“Tetapi salah Sunti sendiri, ia merasa bangga berkawan dengan seorang anak muda yang memiliki kelebihan dari kawan-kawannya yang lain”

“Dan akhirnya ia mengalami perlakuan kasar?”

Perempuan separuh baya itu menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Tidak, Sunti sendiri menyerahkan kehormatannya kepada anak muda yang tampan itu”

“Dan mereka akan kawin?”

“Itulah yang menjadi persoalan, agaknya anak muda itu menyesal bahwa ia sudah tenggelam dalam hubungan yang terlampau dalam, ia tidak pernah berfikir untuk kawin dengan gadis desa seperti Sunti”

“Jadi…?”

“Akhirnya diketemukan penyesalan itu. anak muda yang bernama Kidang Alit itu memberikan biaya perkawinan Sunti dengan anak muda Karangmaja”

“Gila…!”

“Itu sudah saling disetujui. Selain biaya perkawinan, Kidang Alit memberikan sepasang kerbau kepada anak muda yang manjadi suami Sunti itu, sebagai bekal untuk menempuh hidup kekeluargaan. Dengan sepasang kerbau, maka suami Sunti akan dapat bekerja sebaik-baiknya di sawah”

Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam, tetapi hal itu sudah terjadi.

Diluar sadarnya, kenangan Nyi Upih meloncat ke masa lampau, saat ia masih mengikuti Pangeran Kuda Narpada dipusat kerajaan Majapahit. Terbayang sekilas tingkah laku beberapa orang bangsawan tertinggi. Yang diketahuinya dengan pasti, adalah Pangeran Cemara Kuning.

“Diluar lingkungan kebangsawanan ada juga orang-orang yang berlaku demikian, orang-orang yang memiliki kekayaan yang dapat dipergunakannya untuk menjadi apa saja. Bahkan kehormatan orang lain sekalipun” berkata Nyi Upih didalam hati.

Namun tiba-tiba ia berdesah, “Apakah dapat disebut dengan pasti bahwa Kidang Alit tidak mempunyai darah kebangsawanan. Ia seorang anak muda yang menyimpan rahasia tentang pribadinya. Apalagi kebangsawanan ini bukan hanya bersumber dari Majapahit, mungkin dari Kediri, mungkin dari Demak” ia berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi apakah maksud kunjungannya kemari…?”

Pertanyaan-pertanyaan itu telah membuat Nyi Upih menjadi semakin berhati-hati menghadapi anak muda yang bernama Kidang Alit itu. meskipun anak muda itu tidak berkesempatan bertemu dengan Inten Prawesti secara terbuka, mungkin ia akan apat menempuh jalan lain”

“Jika ia seorang perantau yang sebenarnya, ia tidak dapat tinggal terlampau lama di suatu tempat” berkata Nyi Upih kepada dirinya sendiri pula, “Apalagi membawa bekal uang sebanyak-banyaknya”

Tetapi Kidang Alit tidak berbuat lebih jauh lagi, bahkan semakin lama, Kidang Alit menjadi seolah-olah putus asa. Suara serulingnya tidak terdengar lagi, disekitar istana kecil itu. dan anak-anak muda itu pun jarang sekali nampak berlalu di jalan yang terjulur di depan istana itu.

Dengan demikian, maka lambat laun Inten pun telah melupakannya, ia tidak pernah lagi bertanya-tanya tentang seruling Kidang Alit dan akhirnya ia sama sekali tidak pernah menyebut namanya lagi.

Untuk beberapa lamanya Kidang Alit itu pun menjadi bahan pembicaraan lagi bagi rakyat Karangmaja. Kehadirannya sudah merupakan kebiasaan yang tidak menimbulkan persoalan lagi. Persoalan Sunti pun seolah-olah telah dilupakan orang, Jika seseorang bertemu dengan Kidang Alit, maka mereka sekedar menundukkan kepala sambil tersenyum, seperti yang dilakukan Kidang Alit. Selebihnya, mereka tidak memperdulikan lagi.

Namun ketenangan padukuhan Karangmaja tiba-tiba saja terganggu pula. Selagi orang-orang Karangmaja telah menjadi terbiasa dengan keadaannya setelah diguncang untuk beberapa saat oleh Kidang Alit, maka datanglah persoalan-persoalan baru di padukuhan kecil itu.

Dengan tidak terduga-duga, tiga orang yang berkuda telah memasuki padukuhan itu dari arah yang tidak diketahui. Wajah menunjukkan sikap mereka yang keras dan bahkan agak kasar.

Demikian mereka sampai di regol padukuhan kecil itu, maka salah seorang dari mereka segera meloncat turun dan mendatangi seorang laki-laki tua yang berdiri di regol halaman rumahnya dan bertanya, “Kau kenal Buyut Karangmaja…?!”

“Tetapi siapakah Ki Sanak ini?” bertanya orang tua itu.

“Aku bertanya rumah Ki Buyut Karangmaja!!” tiba-tiba saja orang itu membentak sehingga orang tua yang bertanya itu pun terkejut bukan buatan”

“Kau tunjukkan saja, kemana aku harus pergi, kesana…atau kesana!!, desak orang itu dengan kasarnya.

Orang tua yang ketakutan itu pun menjadi gemetar, ia tidak dapat berpikir apapun lagi. Dengan suara tergagap ia menunjuk ke satu arah sambil berkata, “Kesana… pergilah kesana…”

Ketiga orang itu tidak berbicara lebih banyak, mereka pun segera meneruskan perjalanan mereka kearah yang ditunjuk oleh orang tua itu.

Di sepanjang jalan orang-orang itu masih bertanya dengan kasarnya, membentak-bentak dan menakut-nakuti, sehingga akhirnya ia pun mendekati rumah Ki Buyut di Karangmaja.

Dalam waktu sekejap, berita kedatangan orang-orang yang kasar itu segera tersebar, jauh lebih cepat dari saat-saat kedatangan Kidang Alit, karena Kidang Alit datang tanpa memberikan kejutan apapun bagi padukuhan Karangmaja, meskipun tingkah lakunya kemudian menjadi perhatian, tetapi saat kedatangannya sendiri tidak banyak diketahui orang.

Orang-orang Karangmaja adalah orang-orang yang sederhana dan tidak segera mudah dicengkam prasangka. Tetapi mereka pun adalah orang-orang yang menyadari haknya. Karena itu, ketika anak-anak muda Karangmaja mendengar kehadiran ketiga orang asing yang mencurigakan, dan bersikap kasar, mereka pun segera saling mendekatkan diri dengan kawan-kawannya, sehingga tanpa mereka sadari mereka pun telah berkumpul di depan regol padukuhan mereka.

Seorang anak muda yang memiliki pengaruh atas kawan-kawannya mulai bertanya, “Apakah yang dapat kita lakukan sekarang?” orang-orang itu agaknya telah sampai di rumah Ki Buyut”

“Marilah kit pergi ke rumah Ki Buyut, kita melihat apa yang mereka lakukan”

“Beberapa tahun yang lalu, kita pernah juga dicengkam oleh kecurigaan karena terjadi peristiwa-peristiwa yang terjadi di padukuhan-padukuhan yang kebetulan menjadi tempat persinggahan para bangsawan dari Majapahit. Banyak penjahat-penjahat yang kemudian mencari sisa-sisa kekayaan para bangsawan itu. Karena mereka tidak berani melawan para bangsawan yang pada umumnya adalah prajurit-prajurit pilihan, maka mereka pun mulai merampok penduduk yang mereka sangka mendapat imbalan atau pemberian berupa apapun juga”

“Dan sekarang mereka memasuki padukuhan kita, karena di padukuhan kita ada sebuah istana kecil” berkata seorang yang bertubuh gemuk.

“Tidak…,” tiba-tiba seorang anak muda yang lain membantah, “Jika istana kecil itulah yang menyebabkannya, maka hal ini tentu sudah terjadi beberapa waktu yang lalu”.

“Bagaimana jika penjahat-penjahat itu baru saja mendengar bahwa di tempat ini ada istana kecil itu?, jika demikian, maka istana kecil itu akan menjadi penyebab kesulitan di padukuhan ini”

“Tidak” hampir berbareng empat orang anak muda menyahut sekaligus, salah seorang dari mereka meneruskan, “Istana itu sudah membuat padukuhan ini menjadi hidup, lereng-lereng yang tandus manjadi semakin hijau dan dapat ditanami meskipun hanya pepohonan yang khusus. Sebelumnya kita hampir tidak mengenal jalur-jalur air untuk membasahi sawah di musim kering, sehingga seolah-olah sawah kami hanya dapat ditanami di musim basah. Sekarang parit-parit yang selalu dialiri air yang naik dari bendungan seolah-olah telah menjalar ke seluruh tanah persawahan” ia berhenti sejenak, lalu, “Bahkan jika terjadi sesuatu atas istana itu, adalah menjadi tanggung jawab kita untuk menjaganya, kita tahu, bahwa di dalam istana itu tidak ada seorang laki-laki pun yang akan dapat melindunginya”.

“Ya…, kita harus membalas kebaikan yang sampai saat ini dan bahkan untuk seterusnya selalu akan kita hayati. Sawah yang subur, lereng yang hijau dan pemeliharaan ternak yang baik, kita tidak akan dapat berbuat demikian tanpa kehadiran Pangeran Kuda Narpada, yang tinggal di istana kecil itu”.

Anak muda yang cemas dengan kehadiran istana kecil itu tidak menjawab lagi, ia sadar, bahwa tidak ada seorang pun yang akan berada di pihaknya, karena itu, maka lebih baginya untuk berdiam diri.

Jadi sekarang kita pergi ke rumah Ki Buyut” tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata.

“Ya, sekarang kita lihat, apa yang telah terjadi”

“Tetapi bagaimana dengan Kidang Alit?, apakah orang-orang itu kawan-kawan Kidang Alit?”.

“Mereka tidak bertanya tentang Kidang Alit”

“Tetapi siapa tahu…”

Namun anak-anak muda itu pun tiba-tiba terkejut, ketika mereka mendengar suara dari balik dinding batu.

“Aku tidak mengenal mereka”.

Ketika anak-anak itu berpaling, mereka melihat Kidang Alit meloncat dinding itu dan berdiri tegak dengan wajah tengadah.

“Aku akan ikut bersama kalian ke rumah Ki Buyut, aku juga ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh ketiga orang itu. dengan demikian, maka tidak akan ada prasangka lagi terhadapku bahwa akulah yang menyebabkan padukuhan ini menjadi terganggu. Aku menyesal bahwa aku telah berbuat sesuatu yang terlampau jauh dan menyinggung ketenangan padukuhan ini. Untunglah bahwa persoalan Sunti itu cepat mendapat jalan keluar, karena itu, maka aku tidak mau lagi dilibatkan dalam peristiwa yang dapat merusak nama baikku”.

Anak-anak muda Karangmaja itu pun berdiri termangu-mangu sejenak, baru sesaat kemudian seorang yang paling berpengaruh diantara mereka berkata, “Baiklah Kidang Alit, kau pergi bersama kami dan melihat apa yang telah terjadi”

“Aku akan menyesuaikan diriku seperti kalian, agar aku tidak menarik perhatian orang itu”

“Anak-anak muda Karangmaja tidak menghiraukannya lagi. Merekapun kemudian pergi bersama-sama ke rumah Ki Buyut untuk melihat apa yang sudah terjadi di rumah tetua padukuhan mereka.

Ketika anak-anak muda itu sampai ke regol halaman, mereka melihat ketiga orang itu masih berdiri di tangga pendapa, mereka mengikat kuda mereka pada batang-batang perdu di halaman.

“Kau harus menyediakan sebuah rumah buat kami disini” seorang diantara mereka berkata lantang.

Ki Buyut nampak sangat gelisah, beberapa orang bebahu dan pembantunya pun berdiri termangu-mangu, tidak seorang pun dapat berbuat sesuatu.

“Tidak ada alasan apapun yang dapat kau pergunakan untuk menolak kehadiran kami disini.” Yang lain berkata lantang.

Ki Buyut tidak segera dapat menjawab, rasa-rasanya ia tidak lagi dapat berbuat sesuatu dan memutuskan apapun juga, karena kegelisahan didalam dadanya.

Ketika Ki Buyut melihat anak-anak muda berdatangan, maka wajahnya menjadi agak cerah. Meskipun suaranya masih bergetar namun ia berhasil menguasai perasaannya. “Silahkan duduk Ki Sanak, kita akan berbicara sebaik-baiknya.”

“Kau harus menyanggupi permintaanku lebih dahulu” berkata salah seorang dari mereka, seorang laki-laki berkumis tebal, setebal ibu jari.

Ki Buyut bukan seorang penakut, ia memiliki sedikit kelebihan dari orang lain, namun justru karena itu, maka ia melihat bahwa ketiga orang itu adalah orang-orang yang sangat berbahaya.

Dalam pada itu, anak-anak muda yang sudah memasuki regol halaman rumah Ki Buyut di Karangmaja menjadi ragu-ragu sejenak, mereka menjadi ngeri melihat wajah-wajah yang keras seperti batu-batu padas di tebing pegunungan, bahkan rasa-rasanya orang-orang itu sama sekali tidak mengacuhkan kedatangan anak-anak muda itu.

Ki Buyut yang melihat mereka mendekat itu pun kemudian berkata kepada anak-anak muda yang memiliki pengaruh atas kawan-kawannya itu, “Kasdu, kemarilah”

Anak muda yang bernama Kasdu itu pun melangkah mendekat, tetapi nampak ia ragu-ragu.

“Mereka memerlukan tempat tinggal” berkata Ki Buyut.

Kasdu memandang ketiga orang itu yang sama sekali tidak mengacuhkannya, namun betapapun juga ia bertanya, “Apakah kalian akan tinggal di padukuhan ini?”

Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Bahkan malah seorang membentak kepada Ki Buyut, “Ki Buyut..!!!, jawab pertanyaanku…!!!, jangan membawa anak-anak ingusan ini dalam pembicaraan…!”

“Ki Sanak, mereka adalah anak-anak muda Karangmaja, setiap kali aku mengajak mereka berbincang, apalagi dalam keadaan seperti ini”.

“Kau tidak usah berbincang dengan siapapun, yang perlu kau kerjakan adalah menyediakan tempat tinggal bagi kami, kami tidak akan selamanya tinggal di padukuhan ini”

“Ya… itulah yang akan aku katakan kepada Kasdu”

“Aku tidak memerlukan anak-anak itu…!!” salah seorang dari ketiga orang itu hampir berteriak.

Kasdu, betapa ia menjadi ngeri melihat sikap dari tingkah laku ketiga orang itu, namun ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan padukuhannya. Karena itu, maka ia pun segera melangkah maju sambil berkata, “Jangan teriak-teriak disini Ki Sanak, kau orang asing bagi kami, jika kau menginginkan sesuatu, kau harus bersikap baik, karena keputusan terakhir akan berada ditangan kami”

Tetapi Kasdu tidak dapat meneruskan kata-katanya, tiba-tiba saja tangan salah seorang dari ketiga orang itu terayun menampar wajah Kasdu.

Akibatnya benar-benar tidak terduga, Kasdu terlempar dari tempatnya, dan jatuh berguling di tanah, …pingsan.

Beberapa anak muda dengan gerak naluriah memburu dan berjongkok disisinya. Mereka terkejut ketika mereka melihat wajah Kasdu bernoda biru.

Tubuh Ki Buyut menjadi gemetar, gemetar oleh kemarahan yang tertahan, tetapi ia pun sadar, bahwa ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Orang-orang itu bukan orang-orang kebanyakan.

Karena itu, ia tidak memberikan aba-aba apapun kepada anak muda yang berada di halaman. Jika terjadi benturan kekerasan maka Karangmaja akan menyesali anak-anaknya yang akan menjadi korban keganasan orang-orang asing yang tidak mereka kenal itu.

Dalam pada itu, maka anak-anak muda Karangmaja yang berada di halaman pun menjadi ngeri, sentuhan tangan orang-orang itu bagaikan sentuhan bara api yang membakar wajah Kasdu.

“Siapa yang akan mencoba sekali lagi berdiri di hadapanku!” teriak orang yang memukul Kasdu itu, “Aku masih berbaik hati untuk memberi peringatan kepada kalian. Apalagi jika kalian mencoba menyesuaikan persoalan ini dengan senjata, maka sudah tentu kalian semuanya akan tumpas, karena kami pun akan mempergunakan senjata pula”.

Tidak seorang pun yang berani bergerak.

“Bawa anak itu pergi..!!” teriak orang yang memukul Kasdu, “Ia akan menyesali kelancangannya sepanjang hidupnya, ia tidak akan mati karena pukulan itu, tetapi ia akan cacat seumur hidup”.

Beberapa anak muda itu menjadi gemetar, tetapi beberapa orang yang lain dengan ragu-ragu saling berpandangan di sekitar Kasdu.

Kidang Alit turut berjongkok di sebelah Kasdu, dengan matanya ia memberi isyarat kepada anak-anak muda yang lain, untuk membawa Kasdu pergi.

Dengan ragu-ragu pula beberapa orang mengangkatnya dan membawanya menepi.

Tetapi Kidang Alit berbisik, “Kita bawa masuk ke rumah Ki Buyut, lewat pintu butulan”

Mereka pun kemudian membawa Kasdu melalui longkangan bagian belakang rumah Ki Buyut Karangmaja, sementara itu perempuan dan kanak-kanak di belakang, seakan-akan sama sekali tidak berani lagi bergerak dari tempatnya, mereka berkumpul di dapur dengan tubuh gemetar dan ketakutan.

Dengan hati-hati tubuh Kasdu itu pun segera dibaringkan diatas amben bambu di bilik dalam. Sejenak anak-anak muda yang membawanya masuk itu menjadi tegang melihat noda-noda yang seolah-olah tumbuh di bagian wajah Kasdu yang lain.

“Darahnya telah di kotori oleh semacam racun yang dengan ganas dapat membuatnya lumpuh” berkata Kidang Alit.

“Darimana kau tahu..?” bertanya salah seorang anak muda.

“Bukankah orang itu mengatakan, bahwa Kasdu akan menjadi cacat”

“Lumpuh…?”

“Lumpuh dan mungkin buta”

“Mengerikan sekali”

“Tentu cincin itu mengandung racun, mungkin pula akik pada cincinnya itu, atau alat-alat lain di jarinya” desis Kidang Alit.

“Dan Kasdu akan cacat sepanjang hidupnya…?, kasihan ia masih terlampau muda untuk mengakhiri hidup sewajarnya”

Kidang alit termenung sejenak, kemudian ia pun berkata dengan hati-hati, seolah-olah tidak ingin didengar oleh orang lain, “Aku akan berbuat sesuatu, tetapi berjanjilah, bahwa kalian yang melihat, tidak mengatakan kepada siapapun juga”

Anak-anak muda yang ada disekitar tubuh Kasdu itu pun termangu-mangu sejenak.

“Berjanjilah, cepat sebelum racun itu mencapai pusat sarap Kasdu.”

“Apa yang akan kau lakukan”

“Berjanjilah…!!” desis Kidang Alit.

Anak-anak muda itu pun termenung sejenak, namun kemudian salah seorang dari mereka mengangguk sambil berkata lirih, “Aku berjanji”

Dan yang lain pun berkata pula, “Ya… aku berjanji”

“Baiklah” berkata Kidang Alit, “Aku mempunyai obat penawar racun, mudah-mudahan akan dapat aku pergunakan, jika penawar racunku sesuai dengan diderita oleh Kasdu, maka ia akan sembuh, tetapi jika aku gagal, maka ia bukan saja akan cacat, tetapi mungkin mati”

Anak-anak muda itu saling berpandangan.

“Nah, apakah kita akan bersama-sama bertanggungjawab jika Kasdu mati?… Kita tidak akan mengatakan apa yang sudah terjadi disini, jika ia mati, biarlah kesalahannya kita timpakan saja kepada orang-orang itu, artinya, bahwa pukulan itulah yang menyebabkan kematiannya”.

Sejenak, ruangan itu menjadi hening, baru kemudian salah sorang berkata, “Berdosakah kita, jika kita mencobanya?, jika kita berhasil, maka Kasdu akan tertolong, tetapi jika kita gagal, apakah kita dapat dipersalahkan karena kita berusaha?, apalagi Kasdu pasti akan cacat sepanjang hidupnya jika kita tidak berbuat sesuatu”

“Maksudmu, daripada cacat, jika gagal, lebih baik jika ia tidak tersiksa sepanjang hidupnya” bertanya seorang kawannya.

“Bukan, bukan begitu, tetapi hampir seperti itu, bagiku, lebih baik kita berbuat sesuatu, jika perbuatan itu dapat menumbuhkan harapan”.

“Ya… aku setuju” desis yang lain berurutan. Kidang Alit menarik nafas, wajahnya menjadi tegang, di keningnya mengembun keringat dingin, dan bahkan menitik keatas tubuh Kasdu yang tergolek diam.

Perlahan-lahan Kidang Alit mengambil sebuah bumbung kecil dari kantong ikat pinggangnya, kemudian seorang anak muda yang lain disuruhnya mengambil semangkuk air.

Sepercik serbuk yang berwarna kekuning-kuningan dimasukkannya ke dalam air itu dan dimasukkan ke dalam mulut Kasdu yang seolah-olah membeku.

“Mudah-mudahan aku tidak terlambat, dan mudah-mudahan racun itu dapat bersentuhan dengan racun yang telah masuk ke dalam darahnya” berkata Kidang Alit sambil menitikkan air yang sudah berisi serbuk itu lalu katanya, “Tetapi itu belum cukup”

Tidak ada yang menjawab, semua telah dicengkam oleh ketegangan yang memuncak.

“Air itu akan menghentikan cengkaman racun itu lebih jauh” berkata Kidang Alit sambil meletakkan mangkuknya, kemudian sambil membuka sebuah bungkusan kecil ia berkata, “Obat ini harus diusapkan pada lukanya”

“Ia tidak terluka” desis seorang anak muda.

Kidang Alit tidak menjawab, tetapi dengan seksama ia mengamati wajah Kasdu yang menjadi semakin biru.

Beberapa orang memandanginya sambil menahan nafas, mereka tidak mengerti, apa yang dilakukan olah Kidang Alit, mereka sama sekali tidak melihat luka pada wajah Kasdu yang kebiru-biruan itu.

Namun kemudian Kidang Alit berkata, “Inilah lukanya, kecil sekali, tidak lebih dari gigitan serangga”

“Kau dapat melihatnya…?”

Kidang Alit tidak menjawab, ia pun kemudian mengusapkan obat penawar yang berwarna kehitam-hitaman, obat yang kental seperti bubur pati ketela pohung, hanya seusap kecil.

Dengan hati-hati Kidang Alit membungkusnya kembali dan menyimpannya bersama bumbung kecilnya pada kantong kuning ikat pinggangnya yang besar.

Sejenak anak-anak muda yang menunggui Kasdu itu menjadi semakin tegang, mereka tidak segera melihat perubahan yang terjadi pada anak muda yang terluka itu.

Sementara itu, dipendapa, Ki Buyut tidak dapat berbuat lain kecuali memenuhi permintaan ketiga orang yang tidak dikenalnya itu. untuk menjaga agar tidak ada seorang pun yang merasa dikorbankan, maka Ki Buyut berkata, “Ki Sanak, berkeras untuk tinggal di padukuhan ini, maka baiklah Ki Sanak bisa tinggal di Banjar desa padukuhan ini, meskipun Banjar itu tidak begitu besar, tetapi bagian belakang terdapat dua buah bilik yang cukup untuk tinggal sementara”

“Kau tempatkan aku di Banjar?, bagaimana aku makan sehari-hari?” bertanya salah satu dari ketiga orang itu.

“Jadi bagaimana maksud Ki Sanak?”

“Aku memerlukan makan dan minum….”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam katanya, “Baiklah, aku akan menyuruh pembantuku setiap hari mengirimkan makan dan minum, pagi, siang dan sore hari, cukup…?”

“Persetan…!,” orang itu menggeram, lalu, “Baiklah kami berbaik hati. Tetapi jika makananmu terlambat datang, aku akan mengambil apa saja yang dapat aku ambil dari siapapun juga!…”

Ki Buyut mengangguk kecil, jawabnya, “akulah yang akan tanggung jawab, karena aku adalah Buyut di Karangmaja”

Orang berwajah sekeras batu padas tu tertawa, katanya, “He…., kau mengenal tanggung jawab juga Ki Buyut. Terima kasih. Sayang, bahwa aku telah membuat seorang anak muda Karangmaja menjadi cacat. Tetapi itu adalah salahnya sendiri, tidak ada seorang pun yang akan dapat mengobatinya. Ia akan lumpuh, buta dan tuli sepanjang umurnya”

Wajah Ki Buyut menegang sejenak. Tetapi sebelum ia bertanya sesuatu, salah seorang dari ketiga orang asing itu berkata, “Jumlahnya tentu akan bertambah, jika orang-orang Karangmaja tidak bersikap baik kepadaku, aku adalah orang-orang yang harus kalian penuhi segala kebutuhanku, bukan sekedar makan dan minum”.

Jantung Ki Buyut berdentangan memukul dinding dadanya, ia telah dicengkam bayangan-bayangan yang mengerikan, bahkan kemudian ia berkata kepada diri sendiri, “Apakah jadinya jika orang-orang itu melihat seorang gadis cantik yang sedang tumbuh di istana kecil itu.?”

Tetapi Ki Buyut menahan perasaan itu dalam dadanya, ia tidak mengatakannya kepada siapapun juga sebelum ia menemukan jalan sebaik-baiknya.

Dalam pada itu, Ki Buyut pun kemudian memerintahkan dua orang anak muda untuk mengantarkan ketiga orang itu, dengan dada bergetar, kedua anak muda itu tidak dapat menolak, betapapun ketakutan melanda perasaannya, tetapi keduanya pun kemudian berangkat juga mengantarkan ketiga orang yang berwajah sekasar batu padas.

Tetapi diluar dugaannya, ketika mereka sampai di banjar padukuhan, ketiganya tersenyum kepada kedua anak muda itu. Dengan ramah salah seorang berkata, “Terima kasih Ki Sanak, kalian adalah anak muda yang baik. Nah, ingat-ingatlah. Aku elum memperkenalkan nama kami. Sampaikan kepada Ki Buyut, bahwa namaku adalah Kumbara, dan kedua kawanku yang lain adalah Gagak Wereng dan Naga Pasa”.

Orang yang disebut bernama Naga Pasa itu tertawa, katanya, “Ya… namaku Naga Pasa, seperti nama sebuah ilmu yang mempunyai kekuatan seperti racun ular. Setiap sentuhan akan berakibat mengerikan sekali, seperti kawanmu yang lancang itu”

Kedua anak muda Karangmaja itu sama sekali tidak berani berbuat apapun juga, bahkan bergerak pun hampir tidak dapat dilakukan.

“Pergilah, pesanku kepada Ki Buyut, makananku jangan terlambat, dan semua kebutuhanku harus dipenuhi. Aku dapat berbuat banyak di padukuhan ini, jika mereka menentang setiap kehendakku”

Kedua anak-anak muda itu pun kemudian dengan kaki gemetar pergi meninggalkan Banjar, kembali ke rumah Ki Buyut dan menyampaikan semua pesan ketiga orang itu.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, hatinya bagaikan pepat. Bahkan ia langsung menghubungkan kehadiran ketiga orang itu dengan istana kecil yang sepi itu.

Ki Buyut seperti terbangun dari mimpinya, ketika ia teringat kepada Kasdu, demikian hatinya dicengkam oleh kegelisahan sehingga ia hampir lupa, bahwa didalam rumahnya terdapat seorang yang sedang terluka parah.

Karena itu, maka ia pun kemudian berdiri dan mengajak dua orang bebahu yang masih berada di halaman rumahnya untuk menengok anak muda yang terluka parah itu.

“Tunggulah disini” berkata Ki Buyut kepada anak-anak muda yang masih berada di halaman rumahnya pula.

Anak-anak muda itu tidak menjawab, tetapi tatapan mereka membayangkan kecemasan yang luar biasa. Orang-orang yang menyebut dirinya bernama Kumbara, Gagak Wereng dan Naga Pasa itu, akan dapat berbuat apa saja seperti yang dikatakannya.

Seperti Ki Buyut, anak-anak itu pun menjadi cemas akan isi istana kecil. Gadis itu terlampau cantik dan apalagi tanpa pelindung sama sekali. Jika ketiga orang itu melihatnya, maka tidak seorang pun akan dapat mencegah jika mereka menghendakinya dengan cara yang paling buas.

“Pangeran Kuda Narpada sudah memberikan petunjuk dan bimbingan terlampau banyak kepada kami” berkata salah seorang anak muda itu kepada diri sendiri. “Apakah kami dapat membiarkan keluarganya menjadi korban…?”

Bahkan anak-anak muda itu menduga bahwa ketiga orang itu tentu menganggap bahwa didalam istana kecil itu terdapat benda yang tiada ternilai harganya.

“Istana itu sama sekali tidak menyimpan harta bernilai uang” berkata anak muda itu didalam hatinya. “Tetapi bernilai kebajikan, jika orang-orang itu mencari harta kekayaan bernilai uang, maka, mereka tidak akan mendapatkannya. Adalah mengerikan sekali jika orang-orang itu tidak percaya dan memaksa dengan kekerasan untuk memberikan apapun juga yang mereka anggap ada”

Tetapi semuanya itu hanya bergetar didalam angan-angan saja. Meskipun isi hati anak-anak muda itu hampir bersamaan, bahkan seperti yang tergetar didalam hati Ki Buyut di Karangmaja, namun tidak seorang pun yang berani mempersoalkannya, seakan-akan mereka cemas, bahwa kata-kata mereka akan dapat mendorong itu terjadi.

Dalam pada itu, dengan ragu-ragu, Ki Buyut masuk ke ruang dalam, hampir saja ia mengurungkan niatnya. Hatinya tentu akan menjadi sangat pedih melihat keadaan Kasdu yang akan menjadi cacat seumur hidupnya. Lumpuh, buta dan tuli. Ia kan menjadi beban keluarganya seperti bayi yang aneh, karena besar tubuhnya dan umurnya yang dewasa, tetapi tidak akan dapat berbuat apa-apa.

“Sesuatu siksaan yang mengerikan” berkata Ki Buyut didalam hati, “tetapi tidak seorang pun akan dapat menolongnya. Ia akan tergolek dipembaringan seperti orang yang sudah mati didalam hidupnya.”

Langkah Ki Buyut tertegun ketika ia melihat beberapa orang muda yang berjongkok disisi sebuah pembaringan. Namun kemudian ia memaksa kakinya untuk melangkah terus. Ia adalah orang yang mempunyai tanggung-jawab tertinggi di padukuhan Karangmaja. Apapun yang akan dilihatnya, ia tidak akan dapat ingkar.

Anak-anak muda yang ada didalam ruangan itu pun kemudian menyibak ketika mereka melihat Ki Buyut dan dua orang bebahu padukuhan mendekati Kasdu yang berbaring diam. Kidang Alit yang tegang mengikuti setiap perkembangan anak muda yang luka parah itu pun bergeser pula, sambil berkata, “Silahkan Ki Buyut”

Ki Buyut melangkah semakin mendekat, dengan dada yang berdebaran ia melihat Kasdu dengan perasaan yang penuh iba. Bahkan kedua bebahu yang lain, rasa-rasanya tidak dapat lagi bernafas didalam ruangan itu.

Tetapi betapa Ki Buyut dan kedua bebahu itu terkejut ketika mereka mendengar sebuah desah perlahan, “Apakah yang datang Ki Buyut?”

Ki Buyut seolah-olah tidak percaya kepada pendengarannya. Sehingga dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah aku mendengar seseorang bertanya..?”

Kidang Alit mengangguk, “Ya, Ki Buyut”

“Apakah aku mendengar dan melihat bibir Kasdu bergerak dan menyebut aku?”

“Ya…, Ki Buyut. Kasdu sudah mampu melihat dan berbicara”

Ki Buyut menjadi bingung, beberapa kali ia berpaling kepada kedua pembantunya dan memandang anak-anak muda yang ada di ruangan itu berganti berganti-ganti.

“Jadi Kasdu tidak menjadi buta, tuli dan lumpuh…?”

“Ia akan dapat menjadi demikian jika tidak segera mendapat pengobatan” jawab Kidang Alit.

“Siapa yang mengobatinya…?”

“Aku Ki Buyut…”

“Kau…., kau…”

Kidang Alit berdiri disisi pembaringan sambil tersenyum, katanya, “Aku sudah berhasil mengobati Kasdu, tidak seorang pun akan dapat melakukannya selain aku sekarang ini. Tetapi mungkin di daerah dan padepokan lain ada juga orang yang mampu menahan bisa seperti bisa yang telah menyentuh Kasdu”

Ki Buyut menjadi termangu-mangu, ia benar-benar menjadi bingung dan seolah-olah tidak yakin akan penglihatanya.

“Memang luka Kasdu sangat parah” berkata Kidang Alit, “Untunglah bahwa aku sedang berada di padukuhan ini pada saat ia mengalaminya, sehingga aku dapat menolongnya. Perlahan-lahan ia akan sembuh dan akan menjadi pulih kembali meskipun diperlukan waktu kira-kira tiga atau empat bulan, tetapi bukankah itu jauh lebih baik daripada ia harus menjadi lumpuh buta, tuli dan bisu..?”

“Ya, jauh, jauh lebih baik”, Ki Buyut menelan ludahnya, “Aku sangat berterima kasih kepadamu Kidang Alit”

Kidang Alit masih saja tersenyum, katanya kemudian, “Aku berharap tidak akan ada orang lain yang mengalami peristiwa seperti ini lagi Ki Buyut”

“Mudah-mudahan, tetapi kehadiran ketiga orang itu tentu akan membuat banyak kesulitan bagi padukuhan ini”

“Apa yang kira-kira akan mereka lakukan? Bertanya Kidang Alit.

“Akut tidak tahu, tetapi mereka sudah mengancam bahwa kita harus dapat menyediakan semua kebutuhan yang mereka kehendaki selama mereka berada di padukuhan ini”

Kidang Alit mengerutkan keningnya, kemudian katanya kepada Ki Buyut, “Ki Buyut, aku berharap bahwa apa yang sudah aku lakukan sekarang ini, dan tidak akan dapat dilakukan oleh orang lain, untuk sementara dirahasiakan, aku sudah minta kepada anak-anak muda yang melihat usaha penyembuhan ini, agar mereka tidak mengatakan bahwa Kasdu menjadi lumpuh, buta dan tuli. Racun itu benar-benar telah melumpuhkan bukan saja kekuatan jasmaniah, tetapi juga pusat syarafnya. Dengan demikian, ketiga orang itu tidak akan berusaha untuk mencari, siapakah yang telah berhasil mengobati luka yang sebenarnya tidak terobati itu” Kidang Alit berhenti sejenak, lalu, “Ki Buyut, ketahuilah, menilik ciri-cirinya ketiga orang itu adalah murid-murid dari perguruan yang dipimpin oleh Kiai Sekar Pucang”

“Kiai Sekar Pucang?” wajah Ki Buyut tiba-tiba menjadi semakin tegang.

“Apakah Ki Buyut pernah mendengarnya?” bertanya Kidang Alit.

“Aku pernah mendengar nama itu, tetapi sudah lama sekali. Pada waktu itu aku masih remaja, jika orang yang menjadi semacam dongeng itu memang ada, ia sekarang sudah tua sekali”

“Mungkin Ki Buyut, tetapi mungkin pula murid yang sangat dipercayainya, akan dapat menggantikan kedudukannya”

Ki Buyut mengangguk-angguk, ia pun kemudian bergumam seperti kepada dirinya sendiri, “Menurut dongeng yang aku dengar, Kiai Sekar Pucang adalah orang yang tidak dapat mati, kebal dari segala macam senjata dan mampu melenyapkan diri dari tangkapan mata wadag, namun dibalik kemampuannya yang tidak terlawan itu, ia adalah orang yang paling bengis dimuka bumi.”

Tetapi Kidang Alit justru tertawa, katanya, “Hanya sebagian kecil saja dari ceritera itu yang benar Ki Buyut, Kiai Sekar Pucang memang seorang yang pilih tanding. Ia memang memiliki ilmu yang luar biasa, Lembu Sekilan, sehingga seolah-olah ia manjadi kebal. Tetapi tidak ada orang yang tidak dapat mati. Ia pada suatu saat tentu kehilangan kekuatannya dan mati seperti kebanyakan orang. Selebihnya, ia sama sekali tidak dapat melenyapkan diri seperti yang memang pernah aku dengar”

“Jadi kau mendengar dongeng itu pula…?”

“Dongeng itu tersebar ke seluruh tlatah Majapahit. Tatapi aku sama sekali tidak percaya bahwa seluruhnya itu benar. Apa lagi kemudian setelah Demak berhasil merebut kembali pusat pemerintahan Majapahit yang telah direbut oleh Kediri dari Prabu Brawijaya Pamungkas.”

“Apa hubungannya dengan Demak..?”

“Kiai Sekar Pucang adalah salah seorang yang ikut serta merebut Majapahit dari Prabu Brawijaya. Tetapi ternyata ia tidak mampu mempertahankan pusat pemerintahan yang sudah direbutnya bersama pasukan Kediri itu dari serangan balasan yang dilakukan oleh Demak, dibawah pimpinan langsung Raden Patah, pasukan yang telah berhasil menduduki pusat pemerintahan Majapahit itu pun segera terusir, dan Raden Patah berhasil menyelamatkan tanda-tanda kebesaran Majapahit dan dibawanya ke Demak”.

“Jadi siapakah Sekar Pucang yang sebenarnya?”

“Sekar Pucang, ia adalah Sekar Pucang”

“Ki Buyut termangu-mangu sejenak, namun tiba-tiba ia bertanya, “Dan siapakah kau sebenarnya?”

Kidang Alit mengerutkan keningnya. Kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Aku adalah Kidang Alit, seorang anak yang bertualang, tanpa asal usul dan tujuan”.

“Aku sudah mendengar seribu kali jawaban yang demikian”

“Ki Buyut meragukan…?”

“Ya….”

Kidang Alit tertawa, katanya kemudian, “Sudahlah Ki Buyut, jangan hiraukan aku. Aku adalah orang yang merantau dan kini telah berhasil menyelamatkan Kasdu disini. Tetapi ingat, hal ini adalah rahasia. Jika ternyata ketiga orang kelak mengetahui bahwa Kasdu tidak menjadi lumpuh, buta dan tuli, maka tentu ada salah seorang dari kita yang berada di ruangan ini yang berkhianat. Akibatnya dapat dibayangkan. Orang-orang beracun itu akan marah dan akan bertebaranlah anak-anak muda yang mengalami nasib serupa Kasdu sebelum aku sebelum aku sembuhkan. Dan aku akan segera lari dari padukuhan ini, karena aku tidak mau mengalami nasib yang lebih buruk lagi dari kalian, tanpa berusaha untuk mengobati siapapun juga diantara kalian yang mengalami bencana itu.”

Ki Buyut mengangguk-angguk, katanya, “Kami semuanya sudah mendengar keteranganmu Kidang Alit, kami akan berbuat seperti yang kau kehendaki, karena kami tidak mau melihat korban semakin banyak lagi”

“Terima kasih Ki Buyut, selama ini biarlah Kasdu berada disini, Ia harus dirawat seperti seorang yang lumpuh, buta tuli dan bisu.”

“Bagaimana dengan orang tuanya?”

“Orang tuanya tidak boleh mengetahui keadaan yang sebenarnya. Biarlah untuk sementara orang tuanya menganggap bahwa Kasdu memang lumpuh, buta, tuli dan bisu”

“Mereka akan menderita, dan apakah jawabku jika Kasdu diminta orang tuanya?”

“Biarlah ia disini, dan biarlah orang tuanya menderita untuk sementara waktu”

Ki Buyut termenung sejenak, namun kemudian ia mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah Kidang Alit, Kasdu akan kami rawat disini, ia akan kami anggap sebagai seorang yang lumpuh, buta, tuli dan bisu. Aku berharap bahwa Kasdu sendiri akan dapat membantu, sehingga pelayan dan keluargaku yang lain tidak mengetahui keadaannya yang sebenarnya.”

Kemudian katanya, “Kau mendengar sendiri Kasdu, He…! Bukankah kau sudah dapat mendengar??”

Kidang Alit berpaling kepada Kasdu yang terbaring diam, Kasdu mengangguk kecil, katanya, “Aku mendengar pembicaraan kalian”

“Bagus, terhadap orang lain kau harus berpura-pura buta, bisu, tuli dan lumpuh, kau mengerti?”

“Apakah aku harus memejamkan mataku?”

“Tidak perlu, mata itu dapat saja terbuka, tetapi kau tidak melihat apapun juga. Hati-hatilah, semuanya itu untuk kepentinganmu sendiri. Jika kau lengah, maka ketiga orang itu akan datang, dan barangkali mereka akan membunuhmu saat itu juga”

“Baiklah,” berkata Kasdu, lalu, “Aku mengucapkan terima kasih kepadamu Kidang Alit”

“Lupakan, tetapi kau harus menjaga dirimu baik-baik. Kau akan baik kembali dalam waktu yang agak lama. Tiga atau empat bulan. Dan aku berharap bahwa kau akan dapat pulih kembali”

Kasdu menarik nafas dalam-dalam, hingga masih saja dicengkam berbagai macam perasaan, cemas, ngeri, gelisah dan campur-baurnya perasaan takut. Namun bahwa ia mempunyai kemungkinan yang jauh lebih baik karena pertolongan Kidang Alit, telah membuatnya terhibur, meskipun ia masih harus berbaring tiga sampai empat bulan”.

Sejenak kemudian, maka anak-anak muda itu pun minta diri. Atas persetujuan Ki Buyut, maka anak-anak muda dianjurkan untuk tidak berbuat sesuatu, ketiga orang itu amat berbahaya.

“Jadi apakah kita harus membiarkan kesulitan itu terjadi untuk selanjutnya?” bertanya seorang bebahu padukuhan itu.

“Tentu saja hati kita tidak akan rela. Tetapi apa yang dapat kita lakukan ditempat yang terpencil ini?”

Bebahu itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Memang tidak ada yang dapat mereka lakukan kecuali pasrah diri kepada Yang Maha Agung agar rakyat padukuhan terpencil itu dibebaskan dari bencana yang lebih dahsyat lagi.

Sepeninggal kawan-kawannya, Kasdu dengan sadar, menjadikan dirinya seorang yang buta, tuli dan lumpuh. Hanya dengan Ki Buyut dan orang-orang tertentu saja ia kadang-kadang melepaskan kepepatan dan ketegangan perasaan selama ia memerankan dirinya dalam keadaan yang parah.

Namun sementara itu, orang-orang Karangmaja mulai merasa diri mereka sangat terganggu oleh kehadiran tiga orang yang sama sekali tidak mereka kehendaki. Tetapi tidak seorang pun yang dapat mencegah mereka melakukan apa saja yang mereka kehendaki. Bahkan di hari-hari terakhir mereka mulai menyebut beberapa ekor kambing yang gemuk, yang sering digembalakan oleh anak-anak Karangmaja di pinggir padukuhan.

“Sekali-sekali aku memerlukan kambing itu” berkata Kumbara kepada salah seorang anak yang sedang menggembalakan kambingnya.

Mula-mula anak tidak mengerti maksudnya, tetapi sehari kemudian, ia menangis sepanjang malam, karena ternyata yang dimaksud oleh Kumbara adalah, bahwa kambing itu harus disembelih.

Ki Buyut menjadi sangat berprihatin atas kehadiran ketiga orang itu. Yang mereka minta semakin hari menjadi semakin banyak, dan kadang-kadang gawat, karena itulah sudah mulai terbayang diangan-angan Ki Buyut, bahwa pada suatu saat mereka minta lebih dari seekor kambing, bahkan seekor lembu, karena di Karangmaja banyak terdapat gadis-gadis yang memang sedang tumbuh. Dan diantara gadis-gadis itu terdapat seorang gadis yang sangat mereka hormati, Inten Prawesti.

Berita kehadiran orang-orang itu, pada akhirnya sampai juga ke telinga penghuni istana kecil itu, Nyi Upih yang mendengar pertama kali, segera menjadi cemas. Seperti bisik-bisik orang-orang di Karangmaja, bahwa hampir setiap orang mencemaskan anak-anak gadisnya, dan terutama Inten Prawesti.

“Jadi apa pendapatmu Nyai…?” bertanya Raden Ayu Narpada ketika Nyi Upih menyampaikan berita itu kepadanya.

“Untuk sementara, puteri sama sekali tidak boleh menampakkan diri Gusti. Ternyata bahwa di Karangmaja kini sedang mengintai dua ujung bahaya yang hampir sama, di Karangmaja ada seorang anak muda bernama Kidang Alit. Nyai sudah mencemaskan kehadirannya, karena rasa-rasanya ia sangat tertarik kepada puteri”

“Dimana mereka dapat bertemu?”

“Kadang-kadang puteri keluar istana melihat-lihat bukit yang semakin hijau” Nyi Upih berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kemudian menyusul bahaya yang kedua, yang tidak kalah tajamnya dengan sikap anak muda yang bernama Kidang Alit itu. Keduanya dapat berbuat kasar jika niat mereka tidak dapat mereka penuhi dengan halus. Namun agaknya orang-orang kasar yang baru datang itu memang belum pernah melihat puteri”.

Raden Ayu Kuda Narpada menundukkan kepalanya. Dalam keadaan yang demikian, perasaanya bagaikan terbang menyusuri masa-masa lampaunya, selagi suaminya masih ada disampingnya. Suaminya adalah seorang senopati yang mumpuni, karena itu, jika suaminya ada, jangankan anak muda yang seorang, tiga atau empat orang sekaligus datang ke istana itu, mereka akan kehilangan kesempatan untuk keluar lagi dalam keadaan hidup.

Tetapi suaminya kini sudah tidak dapat diharapkannya lagi. Pangeran Kuda Narpada pergi untuk saat yang tidak dapat diperkirakan. Bahkan mungkin tidak akan dapat kembali lagi kepadanya dan kepada anak gadisnya.

Setitik air menggenang di pelupuk mata puteri bangsawan itu. Kepada siapa ia minta perlindungan agar anaknya tidak terlibat dalam kesulitan.

“Gusti” desis Nyi Upih yang melihat luka di hati Raden Ayu itu menjadi semakin pedih”, “Kita masih mempunyai pelindung yang paling berkuasa atas siapapun juga”

Raden ayu mengangkat wajahnya dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapa Nyai?”

“Nyai tidak begitu jelas, menurut tuntunan orang-orang yang pernah berhubungan dengan kekuasaan Demak sekarang. Mereka menyebutnya Yang Maha Kuasa”

Raden Ayu Kuda Narpada menarik nafas, katanya, “Dewa-Dewa yang agung”

“Ya… Yang Tunggal, Yang Esa, tidak lebih”

Raden Ayu itu menundukkan kepalanya lagi, tetapi ia pun mencoba untuk pasrah diri kepada kekuasaan Yang Maha Kuasa itu.

Namun dalam pada itu, kecemasan, orang-orang Karangmaja menjadi semakin memuncak. Seorang anak gembala melihat ketiga orang itu berkuda di lereng perbukitan. Tetapi kemudian mereka berhenti dan memandang istana yang kecil itu dari arah belakang untuk waktu yang lama.

“Apakah yang mereka lakukan?” bertanya seorang anak muda kepada gembala itu.

“Waktu itu mereka tidak berbuat apa-apa selain memandanginya sambil berbicara satu sama lain”.

“Apa yang mereka bicarakan?”

“Tentu aku tidak mendengarnya. Aku berada ditempat yang agak jauh. Aku tidak berani memandang mereka terlampau lama, jika tangannya itu menyentuh pipiku, aku akan menjadi lumpuh seperti Kasdu, lumpuh, buta, tuli dan bisu. Mengerikan sekali”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia merasa wajib menyampaikan kepada Ki Buyut.

Berita kecil itu cukup membuat Ki Buyut menjadi semakin bingung, karena itu, maka ia pun segera memanggil Kidang Alit, seorang anak muda, yang dianggapnya memiliki banyak kelebihan dari anak-anak muda Karangmaja sendiri.

“Mengerikan sekali” desis Ki Buyut, “Aku tidak tahu apakah kehadiran ketiga orang itu justru karena mereka tertarik kepada istana kecil itu. Mula-mula mereka tentu menyangka bahwa di istana kecil itu ada harta, kekayaan yang tidak ternilai. Tetapi pada suatu saat mereka tentu akan melihat daya tarik yang lain”

“Puteri itu” desis Kidang Alit.

“Ya… dan banyak kemungkinan dapat terjadi atas gadis itu” Kidang Alit mengerutkan keningnya. Terbayang wajah puteri yang cantik di halaman istana kecil itu. Gadis yang sudah agak lama tidak dilihatnya.

“Pemomongnya itulah yang gila” desis Kidang Alit, namun kemudian, “Tetapi ada juga baiknya untuk sementara gadis itu bersembunyi.”

“Kenapa dengan pemomongnya?” bertanya Ki Buyut.

“Tidak apa-apa, maksudku, pemomongnya harus lebih berhati-hati”

“Tetapi apakah daya mereka, Istana itu dihuni hanya oleh tiga orang dan semuanya perempuan”

“Apakah kalau ada seorang laki-laki di rumah itu, maka gadis itu akan dapat diselamatkan dari ketiga iblis yang gila itu?”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Kidang Alit, agaknya kau bukan sekedar perantau, tetapi kau tentu seorang petualang yang senang mengalami peristiwa-peristiwa yang dahsyat dan keras. Ternyata dengan persiapan yang kau bawa. Kau mempunyai obat yang dapat menghentikan kerja racun yang ganas itu. Dan tidak mustahil kau menyembunyikan senjata di rumah janda itu”

“Akut memang mempunyai senjata Ki Buyut. Tetapi dalam keadaan serupa ini, maka senjataku itu harus aku sembunyikan. Jika ketiga orang itu melihat aku mempunyai senjata, maka umurku akan menjadi sangat pendek”.

Ki Buyut mengangguk-angguk, Ia menyadari, bahwa Kidang Alit seorang diri tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Sedangkan anak-anak muda Karangmaja sama sekali tidak dapat diharapkan untuk membantunya menghadapi ketiga orang yang ganas itu.

“Jadi apa yang dapat kita lakukan?”

Kidang Alit mengangkat bahunya, namun kecemasan nampak membayangi wajahnya.

“Untuk sementara kita hanya dapat mengamatinya saja” desis Kidang Alit.

“Apakah pada saat lain kau melihat pemecahan?”

“Sekarang belum Ki Buyut, tetapi kita tidak boleh diam sampai disini, kita akan berusaha meskipun kita tidak tahu apakah yang harus kita lakukan”

Ki Buyut menggigit bibirnya, kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berucap, “Jika kita tidak berhutang budi kepada Raden Kuda Narpada dan seluruh keluarganya, beban kita tidak akan seberat sekarang. Maksudku, beban perasaan. Kita memang wajib menolong siapapun juga jika kita mampu. Tetapi terlebih-lebih karena seluruh penduduk Karangmaja pernah merasakan uluran tangan penghuni istana kecil itu”.

Kidang Alit mengangguk-angguk, katanya, “Aku belum pernah merasa berhutang budi, tetapi aku pun merasa wajib menolongnya. Ki Buyut, biarlah untuk sementara anak-anak mengawasinya”

“Kenapa anak-anak?”

“Mereka tidak akan mencurigai anak-anak kecil yang sedang menggembalakan ternak di pinggir padukuhan, atau di lereng-lereng bukit-bukit.”

“Tetapi apakah yang dapat dilakukan oleh anak-anak itu?”

“Mereka hanya melihat-lihat, apa yang dilakukan oleh ketiganya”

“Dan kita menyuruh anak-anak itu menggembalakan di lereng bukit di belakang istana kecil itu?”

“Jangan ada perubahan apapun yang dilakukan oleh anak-anak itu sehari-hari. Setiap perubahan keadaan tentu tidak akan lepas dari pengamatan ketiga iblis itu. biarlah anak-anak menggembalakan seperti biasanya. Yang bermain-main dengan seruling, meskipun iramanya tidak tepat, biarlah mereka bermain-main seperti biasanya. Kita tidak usah berpesan apa-apa kepada mereka”

“Lalu…”

“Setiap kali saja kita bertanya, apakah mereka melihat ketiga orang itu? bukankah tanpa kita pesan, anak-anak itu merasa bahwa wajib ikut mengawasi ketiga orang itu? Ternyata salah seorang dari mereka telah memberitahukan kepada kita bahwa tiga orang itu sedang mengamati istana kecil itu dari kejauhan”

Ki Buyut mengangguk-angguk, ia sadar, bahwa anak-anak masih belum mampu membuat pertimbanganpertimbangan sebaik-baiknya, sehingga jika mereka menyadari bahwa mereka harus mengawasi orang-orang itu, maka mereka akan melakukan perbuatan yang aneh-aneh yang justru akan dapat menimbulkan kecurigaan, atau sebaliknya, justru anak-anak itu akan menjadi ketakutan.

“Agaknya memang baru itulah yang dapat kita lakukan” berkata Ki Buyut kemudian.”

“Dan pesan kepada Nyi Upih, bahwa mereka yang tinggal di istana itu harus semakin berhati-hati” sambung Kidang Alit.

Namun ternyata bahwa pesan yang kemudian sampai ke telinga Nyi Upih saat-saat ia pergi ke padukuhan, membuat perempuan itu menjadi cemas, tetapi seperti biasanya, ia tidak mau membuat Gusti dan momongannya menjadi bertambah gelisah. Sehingga karena itu kecemasannya ditahankannya didalam hatinya sendiri.

Tetapi seperti peristiwa beruntun yang tidak dapat dimengerti, selagi istana kecil itu dicengkam oleh ketakutan, sekali lagi padukuhan Karangmaja dikejutkan oleh kehadiran dua orang berkuda yang tidak mereka kenal.

Selagi orang-orang Karangmaja sibuk bekerja di sawah, tiba-tiba saja seorang anak muda berlari-lari mendapatkan kawannya sambil bertanya.

“Kau melihat debu yang mengepul itu?”

“Dua orang berkuda” desis kawannya.

Anak muda yang berlari-lari itu menganggukkan kepalanya. “Apalagi yang akan terjadi di padukuhan yang kecil ini?”

“Kita harus memberitahukan Ki Buyut”

“Terlambat, kuda-kuda itu akan segera memasuki padukuhan”.

Keduanya termangu-mangu, namun mereka sempat melihat dua orang penumpang kuda itu.

Ketika kuda itu mendekati padukuhan Karangmaja, maka keduanya mengurangi kecepatan. Bahkan kemudian mereka berhenti sejenak sambil mengamati gerbang padukuhan.

Ternyata bukan hanya kedua anak muda itu saja yang terpaku melihat kedua penumpang kuda itu. Beberapa orang yang lain, yang sedang bekerja di sawah pun telah terpaku pula. Dengan dada yang berdebar-debar mereka melihat dua orang berkuda diatas dua ekor kuda yang tegar. Yang seekor berwarna kelabu kehitam-hitaman, yang lain berwarna merah sawo.

Kedua nak muda yang memperhatikan kedua penunggang kuda berdesis, “He, lihat, pakaian mereka seperti pakaian Kuda Narpada, pada saat Pangeran datang”

“Ya…, jika demikian, agaknya keduanya adalah bangsawan-bangsawan yang lain”.

“Jauh berbeda dengan orang-orang kasar yang telah berada di padukuhan itu”.

Namun tiba-tiba yang seorang menyahut, “Tetapi apakah keduanya tidak akan masuk kedalam sarang tiga ekor serigala yang paling ganas”, ketiga orang itu tidak menghendaki kehadiran kedua bangsawan itu, maka tentu akan terjadi benturan-benturan diantara mereka”.

Yang lain tidak menyahut, ia memandang dengan tajamnya kepada kedua penunggang kuda yang sejenak kemudian telah memasuki padukuhan.

Seperti saat-saat kedatangan ketiga orang-orang kasar itu, maka kedua orang bangsawan itu pun berhenti di ujung padukuhan dan bertanya kepada orang tua, “Ki sanak, maaf, apakah Ki Sanak dapat menunjukkan rumah Ki Buyut?, maksudku Ki Buyut Karangmaja, bukankah ini padukuhan Karangmaja?”

“Ooo…, tentu Tuan-tuan, tetapi siapakah tuan-tuan ini?”

Kedua orang yang masih berada diatas punggung kudanya itu tersenyum. Yang seorang yang masih muda menyahut, “Kami adalah petualang-petualang yang tersesat sampai ke tempat ini”.

Tetapi orang tua itu menjawab, “Tuan tidak tersesat, ini memang padukuhan Karangmaja”

“Terima kasih Ki Sanak” penunggang kuda yang separuh baya itu menyahut.

Orang tua itu pun menunjukkan arah untuk sampai ke rumah Ki Buyut Karangmaja.

“Jalanlah terus tuan, jalan ini menuju ke rumah Ki Buyut” orang tua itu tertegun sejenak, lalu, “Tetapi, tetapi……..” ia menjadi ragu-ragu untuk meneruskan.

“Ada apa Ki Sanak?” bertanya penunggang kuda yang sudah separuh baya.

“Maaf tuan-tuan, aku tidak dapat mengatakannya”.

Kedua penunggang kuda itu termangu-mangu, nampak sesuatu bergejolak di hatinya.

“Sebaiknya katakan saja Ki Sanak” desis yang muda, “Kami akan sangat berterima kasih kepadamu”

Orang itu termangu-mangu sejenak, ada maksudnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi nampaknya ia menjadi ketakutan untuk menyebutnya.

Kedua orang berkuda itu saling berpandangan sejenak. Kemudian orang yang tua itu berkata sambil tersenyum, “Apakah ada suatu yang menakut-nakutimu Ki Sanak?”

“Tuan sebaiknya tuan-tuan pergi saja ke rumah Ki Buyut. Nanti tuan akan mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi di padukuhan ini”.

Kedua orang berkuda tersenyum. Mereka tidak dapat memaksa orang tua itu untuk berkata sesuatu, karena itu maka yang muda pun menyahut, “Baiklah Ki Sanak, Kami akan pergi ke rumah Ki Buyut”

“Berhati-hatilah tuan”

Penunggang kuda yang muda tertawa, katanya, “Aku sudah menempuh perjalanan beratus-ratus bahkan beribu tonggak, tetapi baiklah, aku akan sangat berhati-hati di sisa perjalanan ini hanya tinggal beberapa puluh langkah ini”

Orang tua itu tidak berkata apapun lagi, ia memandang saja kedua penunggang kuda yang meninggalkannya sambil melambaikan tangannya.

Namun sejenak kemudian penunggang kuda yang muda itu pun berkata, “Paman, agaknya memang ada sesuatu yang terjadi di padukuhan ini, mungkin kita memang harus berhati-hati”

“Ya, ngger, orang tua itu tentu berkata sebenarnya, mudah-mudahan kita akan dapat mengatasi semua kesulitan yang akan terjadi”.

Yang muda tersenyum, katanya, “Kita tidak boleh bimbang. Kita sudah mulai melangkahkan kaki, kita mendapat kepercayaan yang besar dari tugas ini”

Yang tua tersenyum, katanya, “Aku yakin akan kemampuan anakmas. Mudah-mudahan pula, aku dapat membantu sebaik-baiknya seperti yang diharapkan”.

Keduanya terdiam, dihadapan mereka nampak regol halaman yang agak lebih besar dari regol-regol yang lain.

“Itulah rumah Ki Buyut, regolnya nampak lebih besar dan halamannya cukup luas seperti yang dikatakan oleh orang tua itu” berkata yang tua.

“Agaknya memang regol itu regol halaman rumah Ki buyut paman. Kita sudah sampai dengan selamat. Tetapi bukan berarti kita tidak harus tetap waspada. Mungkin bahaya yang dimaksud berada didalam halaman itu, atau mungkin setiap saat setelah kita berada disini”.

Yang tua tidak menjawab, namun nampak wajahnya menjadi agak tegang, alisnya berkerut dan dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Semuanya mungkin terjadi, anakmas”

Keduanya pun terdiam ketika mereka berada di regol halaman. Untuk sesaat keduanya termangu-mangu. Mereka melihat beberapa anak-anak muda di halaman yang terkejut melihat kehadirannya.

“Apakah kita akan langsung masuk?” bertanya yang muda.

“Agaknya demikian anakmas, anak-anak muda itu tentu tidak berbahaya bagi kita asal kita bersikap baik kepada mereka”.

Keduanya kemudian memasuki halaman rumah Ki Buyut. Meskipun nampaknya keduanya tenang-tenang saja, namun keduanya tidak lepas dari kewaspadaan.

Ki Buyut yang sudah diberi tahu bahwa ada dua orang tamu memasuki regol halaman, dengan tergopoh-gopoh menyongsong-nya. Menurut ujud lahiriahnya, tamu-tamunya kali ini jauh berbeda dengan tiga orang yang berkuda yang telah masuk ke padukuhan itu dan bahkan telah menyakiti Kasdu.

Kedua penunggang kuda itu pun kemudian meloncat turun ketika mereka melihat beberapa orang menyongsong.

Ki Buyut yang berjalan paling depan, mendekati kedua orang itu sambil berkata, “Aku adalah buyut di Karangmaja. Maaf tuan-tuan, kami di padukuhan ini belum pernah melihat tuan berdua. Perkenankanlah sebelum kami mempersilahkan tuan-tuan naik ke pendapa, kami ingin bertanya, siapakah tuan berdua?”

Kedua penunggang kuda itu saling berpandangan sejenak, terasa adanya kecurigaan pada Ki buyut itu, sehingga dengan demikian keduanya menjadi semakin yakin bahwa pernah terjadi sesuatu di padukuhan ini.

Yang muda dari kedua orang berkuda itu pun kemudian mengangguk hormat sambil menjawab. “Maaf Ki buyut, mungkin kedatangan kami agak mengejutkan Ki buyut, jika Ki Buyut ingin mengetahui siapakah kami berdua maka kami akan memperkenalkan diri. Kami berdua datang dari jauh, kami adalah keluarga istana Demak.”

“Ooo…” Ki Buyut mengangguk hormat, menilik pakaiannya ia memang sudah menduga.

“Namaku Kuda Rupaka”.

“Kuda Rupaka” Ulang Ki Buyut, namun orang yang berkuda yang tua itu menyahut, “Raden Kuda Rupaka”

“Oh maaf Raden, jadi nama lengkap Raden adalah Raden Kuda Rupaka”

“Demikianlah” anak muda itu tersenyum, lalu, “Dan kawanku ini adalah paman Sura Wilaga”

“Raden Sura Wilaga” ulang Ki Buyut.

“Sebutlah Panji Sura Wilaga” sebut anak muda yang bernama Raden Kuda Rupaka itu.

“Panji Sura Wilaga…. Ki Buyut mengucapkannya lagi diluar sadarnya. Lalu seperti orang terbangun ia bertanya serta merta, “Jadi Raden keduanya adalah bangsawan dari Demak?”

“Raden Kuda Rupaka tersenyum pula, jawabnya, “Begitulah, aku adalah saudara sepupu Sultan di Demak sekarang”.

“Ooo maafkan kami Raden, kami sama sekali tidak mengetahui meskipun seharusnya menilik pakaian dan kelengkapan Raden kami harus sudah menduga bahwa Raden berdua datang dari pusat kerajaan.”

Raden Kuda Rupaka masih tersenyum saja, katanya, “Kau tidak bersalah sama sekali, meskipun kami dari istana Demak, tetapi bukan untuk menakut-nakuti orang-orang pedesaan, kami datang sebagai orang biasa. Disini, Ki Buyut adalah orang yang paling berkuasa. Kami adalah tamu-tamu Ki Buyut sehingga kami pun harus menyesuaikan diri, karena kami sadar bahwa padukuhan Karangmaja, kami berada dibawah kekuasaan Ki Buyut”.

“Ah…, Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam sejenak, ia memandang wajah kedua orang bangsawan itu. Katanya didalam hati, “Agaknya bangsawan-bangsawan ini rendah hati seperti Raden Kuda Narpada”

Selagi Ki Buyut termangu-mangu, maka Raden Kuda Rupaka bertanya, “Ki Buyut, apakah Ki Buyut dapat menerima kedatanganku setelah Ki Buyut tahu serba sedikit tentang aku dan paman Sura Wilaga?”

Sekali lagi Ki Buyut seperti tersentak dari tidurnya, “Tentu…tentu Raden. Marilah, aku persilahkan Raden berdua naik ke pendapa”

Tetapi Raden Kuda Rupaka menggelengkan kepalanya, katanya, “Terima kasih Ki Buyut, sebaiknya aku tidak usah naik, jika Ki Buyut tidak berkeberatan aku berada di padukuhan ini, maka aku pun tidak akan segera melanjutkan perjalananku”.

“Aku tidak mengerti Raden” Ki Buyut menjadi bingung.

“Maksudku, akhir dari perjalananku, berdua aku akan menghadap bibi Kuda Narpada”

“He…, jadi Raden masih keluarga Pangeran Kuda Narpada?”

“Aku masih saudara sepupunya”.

“Ooo…..” Ki Buyut mengusap dadanya, “Raden… kedatangan Raden seperti titiknya embun di panas yang terik. Adalah kebetulan sekali jika Raden berdua ingin mengunjungi Raden Ayu Kuda Narpada, agaknya sekarang waktunya memang tepat sekali”

“Kenapa…?” Kuda Rupaka mengerutkan keningnya. Lalu, “Apakah ada hubungannya dengan pesan orang tua di ujung padukuhan ini?”

“Apa pesannya…?”

“Aku tidak mengenal orang tua itu, orang tua itu pun belum mengetahui siapa aku. Tetapi ia sudah berpesan agar aku sangat berhati-hati”

“Mungkin Raden, mungkin sekali…” Ki Buyut mengangguk-angguk. “Karena itu, silahkan Raden duduk sejenak, mungkin kami dapat menceritakan apa yang sudah terjadi”.

Kuda Rupaka memandang Panji Sura Wilaga sejenak, lalu desisnya, “Apakah kita akan singgah..?”

“Sebentar saja ngger, kita harus segera sampai kepada bibi anakmas”

“Kuda Rupaka mengangguk-angguk, lalu, “Baiklah Ki Buyut, tetapi tidak terlalu lama, aku sudah sangat rindu kepada keluarga pamanda Kuda Narpada”

Kedua tamu Ki Buyut itu pun kemudian dipersilahkan naik ke pendapa, dan duduk diatas sebuah tikar pandan yang putih kekuning-kuningan.

Beberapa orang anak muda yang mendengar percakapan Ki Buyut dengan kedua bangsawan itu pun kemudian menyampai-kan kepada kawan-kawannya yang saling memperbincangkannya.

Dipendapa Ki Buyut menceritakan apa yang sudah terjadi di padukuhan kecilnya. Kedatangan orang-orang yang membuat seluruh penduduk padukuhan itu menjadi cemas, apabila agaknya mereka menaruh perhatian kepada istana kecil yang sejak kepergian Pangeran Kuda Narpada, istana itu seperti kehilangan gairah hidupnya.

“Jadi, orang-orang itu agaknya mulai tertarik kepada istana pamanda Kuda Narpada yang kosong itu?”

“Begitulah Raden” jawab Ki Buyut yang tidak lupa menceritakan Kasdu yang berbaring di ruang dalam.

“Jadi anak muda itu menjadi lumpuh, tuli, buta dan bisu?”

Ki Buyut ragu-ragu sejenak, Apakah ia akan mengatakan bahwa seorang anak muda bernama Kidang Alit telah dapat menyembuhkannya.

Namun akhirnya Ki Buyut memutuskan untuk tetap memegang rahasia itu, namun agaknya kedua bangsawan itu dapat dipercayai. Tetapi jika pengakuan itu didengar dan diketahui oleh orang lain, maka, hal itu akan membahayakan jiwa Kasdu.

Karena itu Ki Buyut yang termangu-mangu itu tidak segera menjawab, maka, Kuda Raden Rupaka pun berkata, “Apakah aku boleh melihat anak yang sakit itu Ki Buyut?”

Ki Buyut masih ragu-ragu.

“Ah… baiklah Ki Buyut” berkata Raden Kuda Rupaka

“Aku mengerti bahwa Ki Buyut tidak akan dapat langsung mempercayai seseorang yang baru saja dikenalnya. Tetapi menilik cerita Ki Buyut, aku dapat menduga. Bahwa ketiga orang itu tentu bukan orang-orang kebanyakan. Dan karenanya aku memang harus berhati-hati. Tetapi karena aku memang tidak mempunyai maksud apa-apa, selain menengok kesehatan bibi, maka aku kira, mereka tidak akan marah kepadaku. Tetapi apabila mereka akan marah juga, maka sudah barang tentu, kami akan memberikan banyak penjelasan tentang maksud kedatangan kami dengan segala macam cara. Mungkin cara-cara yang tidak biasa dipergunakan orang lain”.

Ki Buyut masih termangu-mangu sejenak, namun kemudian, “Baiklah Raden, tetapi sebaiknya Raden harus berhati-hati”.

“Terima kasih Ki Buyut, tetapi baiklah besok aku akan kembali kemari, jika sudah ada kepercayaan dari Ki Buyut tentang dan paman Panji Sura Wilaga, karena Ki Buyut benar-benar mengetahui bahwa aku berada di istana bibi Kuda Narpada. Maka, aku tidak berkeberatan jika aku diperkenankan melihat anak muda yang bernama Kasdu itu. mungkin aku mempunyai cara untuk mengobatinya, jika aku belum terlampau lambat”.

“Mengobati..?”

“Yaa… kenapa…?”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak, semula ia mendengar dari orang yang memukul Kasdu, bahwa kemungkinan yang paling buruk itu tidak akan ada orang yang dapat mengobatinya. Kemudian datang Kidang Alit, dengan obat-obatan yang ada. Ia berhasil menawarkan racun yang mencengkam tubuh Kasdu, dan yang akan membuatnya lumpuh, bisu, tuli dan buta itu. tetapi Kidang Alit mengatakan bahwa jarang sekali, bahkan hampir tidak ada orang yang dapat mengobatinya kecuali Kidang Alit Sendiri. Tetapi ternyata anak muda yang bernama Kuda Rupaka itu sanggup pula untuk mengobatinya.

Dalam kebimbangan itu, tiba-tiba telah timbul pikiran lain pada Ki Buyut, menurut pengamatannya, bangsawan-bangsawan itu tentu bukan orang yang bermaksud jahat. Sehingga apa salahnya jika mereka dapat juga melihat dan mengenal dan mengetahui keadaan Kasdu yang sebenarnya.

“Ki Buyut…” berkata Raden Rupaka kemudian, “kenapa Ki Buyut nampak ragu-ragu, ketika aku mengatakan bahwa aku akan berusaha mengobati luka-luka anak itu..?”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak, saat itu Kidang Alit tidak nampak berada di halaman, sehingga ia tidak dapat meminta pertimbangannya.

Namun akhirnya Ki Buyut berniat untuk memperlihatkan Kasdu kepada kedua bangsawan itu. kemudian, ia akan berbuat sesuatu dengan tanggapan kedua orang itu atas Kasdu.

“Raden…” berkata Ki Buyut kemudian, “Sebenarnyalah bahwa anak yang terluka itu ada disini. Terus terang aku memang ragu-ragu karena aku belum pernah mengenal Raden sebaik-baiknya. Tetapi agaknya Raden dapat dipercayai, sehingga aku akan memperlihatkan anak yang terluka itu kepada Raden”.

Kuda Rupaka tertawa pendek, katanya, “Terserahlah kepada Ki Buyut, jika Ki Buyut percaya kepada kami, baiklah kami akan melihatnya. Seperti aku katakan, jika aku masih belum terlambat, maka aku mencoba mengobatinya, karena menilik keterangan-mu, luka-luka itu disebabkan oleh sebangsa racun yang kuat”.

“Baiklah Raden, marilah, aku persilahkan Raden pergi ke ruang belakang.”

Demikianlah maka Ki Buyut itu pun membawa Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga ke ruang belakang, ke tempat Kasdu masih terbaring diam.

“Inilah anak muda itu”.

Kuda Rupaka mendekatinya, dipandanginya Kasdu dengan seksama. Beberapa kali ia menyentuh tubuh Kasdu dengan jari-jarinya, bahkan kemudian pada noda-noda di wajahnya.

“Apakah ia benar-benar lumpuh, bisu, tuli dan buta?” bertanya Kuda Rupaka.

“Benar Raden”

Sejenak Kuda Rupaka terdiam, lalu, “Apakah ia melihat atau mendengar kedatanganku?”

“Tentu tidak Raden…”

 -oo0 dw-arema 0oo-

Bersambung ke jilid 2

Sumber djvu : Koleksi Ismoyo

http://cersilindonesia.wordpress.com

Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://ebook-dewikz.com/

http://kang-zusi.info http://dewikz.byethost22.com/

diedit ulang oleh Ki Arema

lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s