JDBK-28


<<kembali | lanjut >>

NYI TUMENGGUNG menarik nafas dalam-dalam. Suaranya menjadi bergetar, “Apakah aku akan sanggup melakukannya, Kakang?”

“Tentu. Kau tentu dapat melakukannya. Kau pun harus yakin, bahwa yang kau lakukan itu bukan ketidak-setiaan. Justru karena kau setia kepada suamimu, maka kau telah memilih jalan terbaik”

“Apakah benar itu jalan terbaik yang dapat aku tempuh?”

“Ya. Bukan saja kau kembalikan suamimu ke jalan yang benar bagi seorang tumenggung Pajang, tetapi akibatnya pun akan menjadi lebih baik baginya. Ia tentu akan mendapat pengampunan meskipun bukan berarti bahwa seluruh hukumannya akan dihapuskan”

Nyi Tumenggung termangu-mangu sejenak. Wajahnya nampak semakin muram. Sekali-sekali diusapnya matanya yang basah dengan lengan bajunya. Namun akhirnya Nyi Tumenggung itu pun berkata, “Baiklah, Kakang. Aku akan mencobanya”

“Terima kasih, Nyi. Jika kau lakukan itu, maka kau sudah ikut membantu meredakan gejolak yang terjadi di Pajang. Jika kau berhasil, dan Harya Wisaka dapat diketahui persembunyiannya, maka kau sudah ikut meredakan pertumpahan darah yang telah terjadi selama ini”

“Tetapi apakah Harya Wisaka tidak akan bergerak dari persembunyiannya setelah ia mendengar Kakang Tumenggung tertangkap hidup-hidup dan kemudian menjadi seorang tawanan?”

“Tentu, Nyi. Tetapi keterangan Ki Tumenggung itu sangat perlu untuk menelusurinya. Ki Tumenggung, jika ia mau, tentu akan dapat menunjukkan beberapa kemungkinan yang dapat membawa pasukan Pajang kepada Harya Wisaka”

Nyi Tumenggung menarik nafas dalam-dalam.

“Nyi” berkata Ki Waskita, “jangan cemas. Aku tetap menghormati kedudukanmu sebagai seorang isteri. Jika aku datang kepadamu kapan-kapan, jangan salah mengerti. Semuanya itu tentu dalam hubungannya mencari penyelesaian terbaik dari gejolak yang terjadi di Pajang”

Nyi Tumenggung mengangguk.

“Aku tidak ingin membuat hatimu kecil, Nyi. Tetapi jika kau berhasil mendorong agar Ki Tumenggung bersedia bekerja sama dengan Ki Gede Pemanahan, itu juga berarti menyelamatkan Ki Tumenggung dari perlakuan yang akan dapat menyulitkannya”

“Aku mengerti, Kakang. Aku tahu penderitaan yang akan dialami Ki Tumenggung jika ia tidak mau berbicara. Tetapi semula aku menganggap bahwa itu adalah tanggung jawab seorang laki-laki yang menggenggam keyakinan. Tetapi kau selalu dapat meyakinkan aku, sehingga aku telah berubah sikap. Kali ini aku akan berusaha melakukannya, Kakang. Aku akan mencobanya dengan satu harapan bagi kehidupan baru mendatang. Aku juga berharap bahwa jalan yang akan aku tempuh itu benar adanya”

“Yakinlah, Nyi. Jalan yang kau tempuh adalah jalan terbaik bagimu dan bagi Ki Tumenggung. Kau boleh benar-benar berharap bagi satu kehidupan yang terang di hari-hari mendatang”

Nyi Tumenggung menundukkan kepalanya. Matanya masih basah, sehingga sekali-sekali Nyi Tumenggung masih harus mengusap dengan lengan bajunya.

“Terima kasih, Kakang. Sejak Kakang Tumenggung pergi, aku tidak mempunyai kawan berbincang. Tidak ada yang memberi aku petunjuk-petunjuk, bahkan pertimbangan pertimbangan menghadapi kehidupan yang terasa semakin sulit”

“Jika kau tidak berkeberatan, aku akan bersedia membantumu tanpa mengusik harga dirimu sebagai seorang isteri”

“Terima kasih, Kakang”

“Sekarang, aku minta diri, Nyi. Mudah-mudahan kau mendapatkan kesempatan itu”

“Kesempatan apa, Kakang?”

“Kesempatan bertemu dengan suamimu”

“Ya, Kakang”

“Hati-hatilah menjaga anak perempuanmu itu. Ia anak yang manis. Nampaknya ia sudah mengerti, bahwa ia harus ikut menanggung beban perasaanmu, meskipun barangkali ia tidak tahu kenapa hal itu harus terjadi atas dirimu”

“Tetapi, masih ada yang ingin aku tanyakan, Kakang”

“Apa?”

“Bagaimana dengan Paksi?”

“Ia sudah cukup dewasa. Sudah waktunya ia mengerti siapa dirinya. Mungkin ia akan marah kepadaku, tetapi ia harus menghadapi kenyataan tentang dirinya. Suka atau tidak suka”

“Terserah kepadamu, Kakang. Aku titipkan Paksi kepadamu”

“Aku akan menjaganya”

Ki Waskita pun kemudian meninggalkan rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada yang harus menjalani masa pahitnya sebagai seorang tawanan. Ketika Ki Waskita kembali ke rumah Ki Panengah yang pernah menjadi padepokan untuk sementara sebelum membangun padepokan di pinggir Hutan Jabung, maka angan-angannya pun mulai melingkar-lingkar ke masa lampau. Sekali-sekali mendahului waktu, menuju ke masa mendatang.

Sebuah kenangan yang manis melintas di kepalanya. Pada masa mudanya, selaku seorang prajurit, ia berkenalan dengan seorang gadis yang cantik. Menurut penglihatan matanya, tidak ada gadis yang lebih cantik dari gadis itu. Tetapi malapetaka itu datang. Hati Ki Waskita muda itu telah disusupi iblis, sehingga ia telah berbuat laknat. Hatinya terguncang ketika gadis itu mengaku bahwa ia sudah mulai hamil.

Namun sama sekali tidak terlintas di kepalanya, bahwa ia akan ingkar, apalagi berkhianat. Ia sudah siap menghadapi tanggung jawab. Bahkan mungkin ia akan dapat dipecat dari tugas keprajuritannya. Tetapi perintah itu datang begitu cepat. Ia harus pergi menjalankan tugas. Ki Waskita muda itu bersama dengan sekelompok prajurit harus membasmi sekelompok penjahat yang sangat ditakuti karena kebengisannya.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Terbayang kembali, bagaimana ia berdua dengan seorang prajurit yang lain, terkapar di dalam jurang. Seorang petani yang baik hati telah menolong mereka berdua. Bahkan merawatnya sampai sembuh.

Tetapi di samping petani itu telah hadir pula seorang yang lain. Seorang yang berilmu sangat tinggi. Seorang yang menguasai bukan saja ilmu pengobatan, tetapi juga ilmu kanuragan.

Ketika Ki Waskita muda dan kawannya itu kembali ke kesatuannya, mereka justru dianggap telah melarikan diri dari tugas, sehingga keduanya telah dihukum dan tersingkir dari kedudukannya.

Sementara itu, gadis cantik yang ditinggalkannya dalam keadaan hamil itu telah menjadi isteri seorang prajurit muda yang lain. Anak di dalam kandungan gadis itu telah lahir pula, laki-laki, dan dinamai Paksi Pamekas.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Hidupnya pun kemudian terombang-ambing seperti sabut yang dipermainkan gelombang. Dalam kegetiran yang menyayat, bersama kawannya yang tersingkir itu, Ki Waskita sempat memperdalam ilmunya, sehingga mencapai tataran yang sangat tinggi. Justru setelah ia tersisih dari lingkungan keprajuritan, Ki Waskita dan kawannya, yang kemudian menyebut dirinya Ki Panengah, sempat berhubungan lebih akrab dengan Ki Gede Pemanahan. Mereka sempat setiap kali membuat perbandingan ilmu mereka dengan Ki Gede Pemanahan itu.

Namun Ki Waskita dan Ki Panengah tidak menyembunyikan kenyataan tentang diri mereka. Mereka berterus terang, bahwa mereka tidak lebih dari seorang prajurit yang terusir.

Kejujuran merekalah yang semakin mendekatkan mereka dengan Ki Gede Pemanahan.

Namun pada saat-saat terakhir, keduanya telah membebani diri dengan sebuah tugas yang khusus. Membayangi dan sekaligus menempa Paksi Pamekas, agar menjadi seorang anak muda yang berilmu tinggi. Justru pada saat Paksi harus melaksanakan tugas yang tidak masuk akal, yang dibebankan oleh ayah tirinya kepadanya, mencari cincin kerajaan yang hilang.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Kini Ki Waskita dihadapkan pada satu keadaan yang rumit. Berterus terang kepada Paksi, siapakah Paksi itu sebenarnya.

Dalam pada itu, Paksi yang berada di padepokan, telah mendengar, bahwa ayahnya, Ki Tumenggung Sarpa Biwada telah tertangkap. Ia pun mendengar, bagaimana Ki Waskita memancing Ki Tumenggung Sarpa Biwada untuk pulang.

Cara yang ditempuh oleh Ki Waskita, ternyata telah menggetarkan jantung Paksi. Sebagai seorang anak muda yang sudah dewasa penuh, maka Paksi dapat menangkap arti dari peristiwa yang telah terjadi itu.

“Tentu bukan dengan serta-merta ayah terpancing oleh kehadiran Ki Waskita” berkata Paksi di dalam hatinya.

Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya dapat membaca gejolak di dalam hati Paksi. Bahkan Paksi pun sempat menduga-duga, bahwa ibunya telah terlibat jauh di dalam usaha memancing ayahnya pulang.

Paksi yang menyadari, bahwa dirinya bukan anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada, telah berusaha menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Mempertautkan satu langkah dengan langkah yang lain.

Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya tidak dapat membiarkan Paksi didera oleh perasaannya sendiri. Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya tidak dapat berdiam diri melihat Paksi semakin menjadi murung.

Karena itu, maka keduanya pun telah menyampaikannya kepada Ki Panengah, bahwa Paksi nampaknya telah dikungkung oleh gejolak perasaannya.

Ki Panengah menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, Ki Waskita masih berada di kotaraja. Untuk mencegah agar tekanan jiwani yang disandang Paksi itu tidak menjadi semakin terasa menghimpit, maka Ki Panengah telah pergi ke kotaraja untuk menemui Ki Waskita.

“Memang sudah waktunya untuk berterus-terang” berkata Ki Waskita.

“Apakah Ki Waskita akan menyampaikannya sendiri kepada Paksi?”

Ki Waskita ternyata merasa ragu. Apakah ia akan dapat berbicara langsung kepada Paksi tentang hubungannya dengan ibu Paksi itu semasa gadisnya.

“Aku takut, Ki Panengah” berkata Ki Waskita. “Bukan aku akan mengingkari kesalahan yang telah aku lakukan, tetapi Paksi tentu juga mempertimbangkan apa yang aku lakukan untuk memancing Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Mungkin ia membayangkan terlalu jauh apa yang sudah aku lakukan. Mungkin Paksi juga kecewa terhadap ibunya yang sengaja memancing perasaan cemburu Ki Tumenggung Sarpa Biwada dengan cara yang rendah”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam.

“Di sepanjang hidupku aku tidak pernah merasa ketakutan seperti sekarang ini. Justru terhadap anakku sendiri”

“Baiklah, Ki Waskita. Jika Ki Waskita tidak berkeberatan, biarlah aku saja yang menyampaikannya kepada Paksi. Ia memang sudah waktunya untuk mengetahuinya. Barangkali lebih baik Paksi mendengar dari Ki Waskita sendiri atau aku, orang yang terdekat, daripada mendengar dari orang lain yang sudah dibumbui dengan kepentingan orang-orang itu sendiri”

Ki Waskita mengangguk angguk. Katanya, “Baiklah, Ki Panengah. Aku minta pertolonganmu. Ki Panengah pulalah yang telah bersama-sama dengan aku membayangi pengembaraan anak itu”

Ki Panengah mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih atas kepercayaan itu. Nanti malam aku akan berbicara dengan anak itu”

Ki Panengah pun kemudian telah minta diri kembali ke barak, sementara Ki Waskita masih tetap berada di kotaraja untuk mengikuti perkembangan perburuan Harya Wisaka selanjutnya.

Seperti yang telah disepakati oleh Ki Waskita, maka ketika malam turun, Ki Panengah di padepokannya telah memanggil Paksi. Menurut pendapat Ki Panengah, anak itu harus segera mendengar langsung dari sumber yang boleh dipercaya daripada mendengar dari orang lain, yang mungkin akan dapat menyesatkannya.

“Paksi” berkata Ki Panengah, “ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Tetapi pembicaraan kita adalah pembicaraan antara laki-laki dewasa yang dapat menilai, betapa kita harus menerima kenyataan yang sudah terjadi. Mungkin menurut penilaian kita kenyataan itu baik, tetapi sebaliknya, dapat terjadi kenyataan itu buruk. Tetapi baik atau buruk, kita harus menerima kenyataan itu”

Paksi menundukkan kepalanya. Ia tahu, bahwa ada yang penting yang akan dikatakan oleh Ki Panengah. Tetapi ia pun tahu bahwa ada yang pahit yang harus didengarnya.

Dengan hati-hati Ki Panengah mulai berceritera tentang Paksi.

Tetapi bahwa Paksi telah mengetahui bahwa dirinya bukan anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada, telah mempermudah Ki Panengah darimana ia harus mulai berbicara.

“Paksi” berkata Ki Panengah dengan nada berat, “Ki Waskita tidak dapat mengatakannya langsung kepadamu. Bukan apa-apa. Tetapi ia sekarang masih berada di dalam tugas yang bersama-sama dilakukan dengan Ki Gede Pemanahan. Sementara itu, menurut pendapatku dan ketika hal ini aku sampaikan kepada Ki Waskita, telah disepakatinya, bahwa kau harus segera mendengarnya. Kau harus mendengar dari sumber yang langsung dan dapat dipercaya. Jika terlambat, mungkin kau akan mendengar dari sumber lain yang justru akan dapat menyesatkan”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kepalanya justru tertunduk.

Ketika dengan terbuka dan berterus terang Ki Panengah menceriterakan tentang dirinya, Paksi sudah tidak terkejut lagi. Sebagian dari ceritera itu sudah didengarnya langsung dari ibunya. Sementara ketajaman penalarannya, telah membimbingnya untuk mengetahui ceritera tentang dirinya yang tersisa. Meskipun demikian masih terasa betapa pahitnya menghadapi kenyataan itu. Kepalanya yang tertunduk menjadi semakin tunduk.

“Paksi” berkata Ki Panengah kemudian, “aku yakin, bahwa kau mempunyai ketahanan jiwani yang cukup untuk menghadapi kenyataan itu”

Paksi sama sekali tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil. Namun debar jantungnya serasa menjadi semakin cepat.

“Guru” desis Paksi kemudian, “apakah yang sudah dilakukan Ki Waskita untuk memancing kehadiran Ki Tumenggung Sarpa Biwada di rumahnya?”

Ki Panengah menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah menduga, bahwa Paksi akan mengajukan pertanyaan itu.

“Paksi, bagaimanapun juga Ki Waskita tetap menghormati kedudukan ibumu sebagai seorang isteri. Ibumu pun tetap bersikap sebagai seorang isteri yang setia kepada suaminya, apa pun yang terjadi dengan suaminya itu”

Paksi menarik nafas dalam-dalam.

Untuk meyakinkan Paksi, maka ki Panengah pun telah berceritera, bagaimana Ki Waskita setiap malam tidur di kandang atau di serambi lumbung padi, di dekat lesung dan lumpang batu.

“Yang diperlukan oleh Ki Waskita, hanyalah kesan bahwa Ki Waskita ada di rumah itu”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Panengah pun berkata, “Jangan hubungkan kehadiran Ki Waskita di rumah Ki Tumenggung itu dengan peristiwa hampir duapuluh tahun yang lalu, Paksi. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai harga diri yang tinggi. Yakinlah, bahwa ibumu dan ayahmu yang sebenarnya masih berhak untuk kau hormati meskipun mereka sudah cacat. Sebenarnya kau pun pantas menghormati Ki Tumenggung Sarpa Biwada sebagaimana pernah kau lakukan kepadanya. Bagaimanapun juga kesediaannya menerima ibumu apa adanya, adalah satu pengorbanan tersendiri lepas dari pamrih pribadinya. Tetapi sayang, bahwa Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu sudah mengambil langkah yang salah. Baik sebagai seorang ayah di lingkungan keluarganya, maupun sebagai seorang tumenggung yang mengabdikan dirinya kepada Pajang”

Paksi mengangguk-angguk kecil. Tetapi wajahnya masih saja tertunduk.

Dengan nada berat menekan Ki Panengah pun bertanya, “Kau dapat mengerti, Paksi?”

“Ya, Guru” suara Paksi rendah dan datar.

“Mudah-mudahan setelah kau mengetahui dengan jelas segala-galanya, kau tidak perlu lagi merenungi dirimu sendiri. Semuanya sudah jelas, pasti dan tidak dapat berubah lagi, karena sudah terjadi”

“Ya, Guru”

“Nah, supaya beban perasaanmu berkurang, tidak ada keberatannya jika kau berbagi rasa dengan orang-orang yang paling kau percaya. Misalnya Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya. Kau tidak usah malu kepada mereka. Mereka bukan kanak-kanak lagi. Pangeran Benawa justru lebih banyak mengalami tekanan perasaan karena sifat-sifat ayahandanya. Terakhir, Harya Wisaka dapat terlepas dari bilik tahanannya, justru karena kelengahan Kangjeng Sultan Hadiwijaya sendiri”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, Guru”

“Mereka akan mengerti”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Panengah pun berkata, “Paksi, mumpung kita sedang berbicara tentang dirimu, mungkin kau mempunyai pertanyaan?”

“Tentang diriku sendiri tidak, Guru. Mungkin pada kesempatan lain”

“Baiklah. Kita dapat mengakhiri pembicaraan kita sekarang. Mungkin dalam waktu dua tiga hari Ki Waskita masih berada di dalam kota”

“Aku justru ingin bertanya tentang adik laki-lakiku yang oleh Ki Tumenggung diberitahu bahwa aku bukan kakaknya”

“Setidak-tidaknya kalian saudara seibu”

“Ya, Guru”

“Adikmu itu luput dari tangan prajurit Pajang. Ia dapat lolos dengan seorang pengawalnya yang bernama Ki Lulud”

“Ki Lulud” Paksi mengulang. Kemudian Katanya, “Aku justru menjadi sangat cemas karena anak itu lolos dari tangan prajurit Pajang”

“Kenapa?” bertanya Ki Panengah.

“Anak itu tentu sudah dibekali perasaan dendam di dalam hatinya. Ayah yang membenciku, bahkan akan membunuhku itu tentu sudah menaburkan bibit permusuhan di hati anak itu. Bahkan mungkin anak itu akan dibentuk secara khusus untuk melaksanakan keinginan ayah yang masih belum berhasil dilakukan. Membunuh aku”

“Dalam usaha untuk dapat menangkap Harya Wisaka, mudah-mudahan anak itu dapat tertangkap”

“Jika anak itu tertangkap, mungkin aku masih akan dapat melunakkan hatinya. Mungkin ibu, mungkin adikku perempuan”

“Mudah-mudahan, Paksi”

“Namun jika anak itu sudah keluar dari pintu gerbang kotaraja, maka akan sangat sulit untuk mencarinya di seluas bumi Pajang dan lingkungannya”

Ki Panengah mengangguk-angguk.

“Selebihnya, mungkin anak itu justru berada di tangan orang yang mengajarinya berjalan di atas jalan yang sesat. Kegagalan Harya Wisaka akan membuat para pengikutnya menjadi orang-orang yang tidak lagi mempunyai pegangan dan tujuan hidup. Mereka akan dapat menjadi orang-orang yang kehilangan landasan, sehingga apa yang dilakukannya adalah semata-mata untuk menentang kemapanan kehidupan orang banyak”

“Anak itu memang harus dicari”

“Mungkin Ki Waskita tidak memperhitungkannya sampai sedemikian jauh, karena Ki Waskita tidak banyak berkepentingan dengan anak itu”

“Tetapi bukan berarti bahwa sikap Ki Waskita kepada anak itu seperti sikap Ki Tumenggung Sarpa Biwada kepadamu, Paksi”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku percaya, Guru. Sikap Ki Waskita memang berbeda dengan sikap Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Tetapi justru karena itu, maka anak itu mungkin sekali akan luput dari perhatian Ki Waskita”

Ki Panengah mengangguk-angguk.

Sementara itu, Paksi pun berkata, “Guru, jika guru mengijinkan, apakah aku diperkenankan mencari anak itu”

“Nanti dulu, Paksi” jawab Ki Panengah. “Aku dapat memberimu ijin meninggalkan padepokan. Tetapi jika kau akan melibatkan diri dalam tugas perburuan itu, maka kau harus mendapat ijin dari Ki Tumenggung Yudatama yang kini sedang mendapat beban tanggung jawab untuk memburu Harya Wisaka langsung dari Ki Gede Pemanahan”

Paksi mengangguk kecil. Katanya, “Aku akan menghadap Ki Gede Pemanahan untuk mendapatkan ijin itu”

“Paksi” suara Ki Panengah merendah, “jika kau memang akan pergi ke Pajang, pergilah. Kau dapat berbicara dengan Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya. Tetapi aku berpesan kepadamu, sebelum kau menghadap Ki Gede Pemanahan, temuilah dahulu gurumu, Ki Waskita. Katakan, bahwa kau sudah berbicara dengan aku tentang dirimu”

Paksi mengangguk. Katanya, “Baiklah, Guru. Aku akan berbicara dengan Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya. Kemudian aku akan menemui Ki Waskita sebelum aku menghadap Ki Gede Pemanahan”

“Jika demikian, kapan kau akan pergi ke Pajang?”

“Jika Guru mengijinkan, aku akan pergi besok pagi”

“Sebaiknya kau tunda sehari, Paksi. Kau perlu mengendapkan perasaanmu. Besok kau tetap berada di padepokan bersama para cantrik yang lain”

Paksi tidak membantah. Sebagai seorang murid, ia harus tunduk kepada perintah gurunya.

Sejenak kemudian, maka Paksi pun meninggalkan gurunya yang masih duduk seorang diri di dalam biliknya. Ketika ia pergi ke barak, yang ditemuinya hanyalah Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya, yang nampaknya memang menunggunya.

Sementara para cantrik yang lain berada di dalam sanggar. Ada yang di sanggar terbuka ada yang di sanggar tertutup.

“Marilah, Paksi” Pangeran Benawa mempersilahkan. Seperti juga Raden Sutawijaya, ia pun dapat membaca wajah Paksi yang muram.

Paksi pun kemudian duduk bersama Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya.

“Dimana saudara-saudara kita yang lain?”

“Mereka berada di dalam sanggar”

“Mereka berlatih sendiri?”

“Ya. Mereka harus mempelajari dan mendalami unsur-unsur gerak yang baru saja diberikan oleh guru langsung”

Paksi mengangguk-angguk.

“Apakah kita tidak pergi ke sanggar?”

“Nanti sajalah” berkata Raden Sutawijaya.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun seperti yang dikatakan oleh gurunya, Paksi memang memerlukan orang-orang yang dapat dipercayainya untuk ikut mengurangi beban yang memberati perasaannya. Karena itu, maka dengan suara yang bergetar ia pun berkata, “Guru sudah berterus-terang kepadaku tentang diriku sendiri. Tentang ayahku dan tentang usaha Ki Waskita memancing Ki Tumenggung Sarpa Biwada”

Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya tidak menyahut. Mereka hanya mengangguk-angguk kecil. Namun mereka pun kemudian mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika kemudian Paksi pun menceriterakan kembali apa yang sudah diceriterakan oleh Ki Panengah kepadanya dengan suara yang bergetar.

Baru setelah Paksi selesai berceritera, Pangeran Benawa pun berkata, “Dengan demikian kau tidak perlu menduga-duga lagi, Paksi. Semuanya sudah jelas bagimu. Mungkin ada yang tidak sesuai dengan keinginanmu. Tetapi kehidupan ini kadang-kadang tidak menghiraukan keinginan seseorang. Yang terjadi kadang-kadang justru yang tidak diinginkannya. Tetapi jika hal itu harus terjadi, maka terjadilah”

Paksi mengangguk kecil. Katanya, “Ya, Pangeran”,

“Terimalah dengan jiwa yang besar” berkata Raden Sutawijaya, “di tempatmu berpijak sekarang kau renungkan apa yang berada di hadapanmu”

“Aku sudah mengatakan kepada guru, bahwa aku ingin mencari adikku. Tetapi karena di Pajang sedang diadakan perburuan untuk menangkap Harya Wisaka, maka aku harus mendapat ijin dari Ki Gede Pemanahan agar tidak terjadi salah paham dengan Ki Tumenggung Yudatama, senapati yang memimpin pencaharian Harya Wisaka sekarang, langsung di bawah perintah Ki Gede Pemanahan”

“Aku akan membantumu, Paksi. Jika kau berniat pergi ke Pajang, maka aku akan pergi bersamamu jika guru mengijinkan”

“Aku juga akan pergi bersamamu, Paksi” berkata Pangeran Benawa pula.

“Terima kasih” sahut paksi, “tetapi guru baru mengijinkan aku pergi besok lusa. Besok aku masih harus berada di padepokan. Agaknya guru ingin aku sempat mengendapkan perasaanku”

“Baiklah” berkata Pangeran Benawa, “besok lusa kita pergi ke Pajang”

“Tetapi sebelum aku menghadap Ki Gede, aku harus menemui Ki Waskita lebih dahulu. Ki Waskita berada di rumah Ki Panengah yang pernah kita jadikan padepokan sebelum kita membuka padepokan di pinggir Hutan Jabung ini”

“Aku mengerti” desis Pangeran Benawa.

Ketiganya masih berbincang beberapa saat lagi. Namun kemudian mereka pun berkemas untuk pergi ke sanggar.

Di hari berikutnya, ketiganya masih tetap berada di padepokan. Dari sanggar mereka masih ikut membantu penyelesaian pembangunan padepokan di pinggir Hutan Jabung itu sebelum masuk kembali ke dalam sanggar. Demikian pula para cantrik yang lain. Mereka menempa diri sambil membangun padepokan mereka bersama para prajurit yang masih ditugaskan di padepokan itu. Dengan demikian, maka para cantrik itu justru memiliki juga ketrampilan mengerjakan pekerjaan kayu, bambu dan pekerjaan-pekerjaan lainnya.

Tetapi bukan berarti bahwa peningkatan kemampuan para cantrik itu di berbagai macam ilmu terhambat. Juga dalam ilmu kanuragan.

Baru di hari berikutnya, Paksi bersama Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya pergi ke Pajang untuk menemui Ki Waskita.

Dalam pada itu, di Pajang, atas pembicaraan antara Ki Waskita, Ki Tumenggung Yudatama serta Ki Gede Pemanahan, maka Nyi Tumenggung Sarpa Biwada diperkenankan untuk menemui Ki Tumenggung di bilik tahanannya, dibiarkan prajurit yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Yudatama itu.

Ternyata kedatangan Nyi Tumenggung tidak menyejukkan hati Ki Tumenggung. Demikian Nyi Tumenggung duduk bersama Ki Tumenggung, Ki Tumenggung itu sudah berkata dengan kata-kata tajam, “Kau masih akan menjadi alat untuk menjebakku”

Nyi Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia pun berkata, “Sudah terlalu lama kita tidak bertemu, Kakang”

“Untuk apa? Apakah kau datang sengaja untuk menyakiti hatiku yang sudah parah ini?”

“Kakang, kau salah paham”

“Apa yang salah? Kau dan laki-laki jahanam itu bersepakat untuk menjebakku. Kalian telah berhasil. Apa lagi? Bukankah cara itu adalah cara yang terbaik untuk menyingkirkan aku dari keluargaku yang telah aku bangun selama hampir duapuluh tahun? Sejak aku mengorbankan diriku untuk melindungi kehormatanmu?”

“Kakang, aku tidak akan pernah melupakannya”

“Omong kosong. Ketika laki-laki itu datang kepadamu, kau terima ia dengan senang hati. Setiap hari, siang atau malam atau kapan saja ia datang, kau terima laki-laki itu dengan tangan terbuka”

“Sudah aku katakan kepadamu, bahwa aku tidak kuasa untuk menolak agar ia tidak datang ke rumah. Ia datang dengan mengatas-namakan dirinya petugas dari Pajang”

Ki Tumenggung Sarpa Biwada tertawa. Tetapi betapa pahitnya. Katanya, “Kalian telah memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya”

“Kakang, aku bukan perempuan seperti yang kau bayangkan. Aku masih mempunyai harga diri sebagai seorang isteri. Apa pun yang terjadi, aku tidak mengkhianati suamiku. Laki-laki itu memang datang setiap hari. Kadang-kadang siang dan kadang-kadang malam. Tetapi ia tidak menyentuh pintu rumah kita. Laki-laki itu selalu berada di serambi kandang atau di serambi lumbung”

Ki Tumenggung memandang mata isterinya yang basah. Ia melihat kesungguhan di mata isterinya yang redup itu. Tetapi perasaannya masih saja selalu digoyahkan oleh peristiwa yang terjadi sebelum ia menikah dengan isterinya yang pada waktu itu sudah mengandung.

“Kakang, betapapun rendahnya nilai kelakuanku, tetapi aku masih tetap menjunjung tinggi ikatan pernikahan kita”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Selama perempuan itu menjadi isterinya, ia memang belum pernah menyimpang dari sikap seorang isteri yang setia. Persoalan yang sering timbul di dalam keluarganya, hanyalah persoalan Paksi. Apalagi sejak ia memerintahkan Paksi mencari cincin kerajaan yang hilang, maka isterinya kadang-kadang memang menentang sikapnya. Tetapi tidak pernah terjadi pengkhianatan atas hubungannya sebagai suami isteri.

“Tetapi laki-laki jahanam itu mempunyai hubungan khusus dengan isteriku” berkata Ki Tumenggung Sarpa Biwada di dalam hatinya.

Dalam kebimbangan itu, Ki Tumenggung pun kemudian bertanya, “Kau datang kemari atas kehendakmu sendiri atau ada orang lain yang mendorongmu datang kemari dengan maksud tertentu?”

Nyi Tumenggung justru termangu-mangu sejenak. Ia memang datang memenuhi petunjuk yang diberikan oleh Ki Waskita, agar ia membujuk suaminya untuk bersedia bekerja sama dengan Ki Gede Pemanahan memburu Harya Wisaka. Namun rasa-rasanya sulit sekali untuk mengatakannya.

“Kau datang karena laki-laki jahanam itu?” desak Ki Tumenggung.

“Tidak, Kakang” jawab Nyi Tumenggung kemudian. “Aku datang atas kehendakku sendiri. Sudah aku katakan, kita sudah terlalu lama berpisah. Kita hanya bertemu pada saat-saat yang tidak menguntungkan. Saat kau mengambil anak kita dan saat kau dijebak oleh laki-laki yang mengaku petugas dari Pajang itu”

Ki Tumenggung menarik nafas dalam-dalam.

“Kakang. Aku ingin kau segera terlepas dari kungkungan bilik tahanan itu”

“Itu tidak mungkin, Nyi. Besok atau lusa aku akan segera digantung”

“Apakah tidak ada jalan lain, Kakang. Apakah tidak ada cara untuk mengurangi hukumanmu. Setidak-tidaknya bukan hukuman mati, apalagi digantung”

“Buat apa aku mencari kemungkinan lain? Bukankah sudah sepantasnya, jika seorang yang dianggap berkhianat itu digantung di alun-alun”

“Kakang” suara Nyi Tumenggung melemah, “aku ingin pada suatu saat Kakang pulang”

Dahi Ki Tumenggung berkerut. Ternyata jantungnya tersentuh juga. Apalagi ketika ia melihat mata Nyi Tumenggung menjadi basah.

“Nyi” berkata Ki Tumenggung, “kau adalah isteri seorang prajurit. Kau harus tabah menghadapi apa pun yang terjadi atas diri suamimu. Kau harus tegar meskipun kau harus melihat suamimu digantung di alun-alun”

“Tetapi bukankah kita wajib berusaha? Seandainya ada jalan yang dapat menyelamatkanmu, bukankah jalan itu dapat ditempuh?”

“Tentu, Nyi. Jika aku dapat melarikan diri, aku akan melarikan diri agar aku tidak digantung di alun-alun”

“Bukan itu maksudku, Kakang. Aku masih bermimpi untuk dapat hidup tenang dalam satu lingkaran keluarga yang tenang dan tidak diburu oleh siapa pun juga”

“Tidak dapat, Nyi. Tidak ada jalan kembali dalam perjalanan waktu. Aku sudah sampai pada suatu keadaan seperti sekarang ini. Karena itu, maka langkah-langkah selanjutnya adalah kelanjutan dari perjalananku yang sudah aku tempuh sampai sekarang. Sampai saat aku ditahan karena aku memberontak terhadap kekuasaan yang gila dari anak Tingkir itu”

“Kakang”

“Sudahlah. Biarlah aku pergi dengan tenang. Biarlah aku menghadapi maut dengan wajah tengadah. Jika kau hambat perjalananku menjelang maut, maka aku akan dapat menjadi seorang pengecut. Nah, kau tidak boleh mempunyai seorang suami pengecut. Kau tidak boleh menjadi sasaran sindiran dan hinaan banyak orang karena mempunyai suami seorang pengecut yang merengek minta ampun di bawah tiang gantungan. Sementara itu, akhirnya tali gantung itu menjerat lehernya juga”

“Kakang” Nyi Tumenggung hanya dapat menangis. Mulutnya tidak dapat terbuka ketika ia berniat untuk mengatakan sebagai dipesankan oleh Ki Waskita, agar suaminya bersedia bekerja bersama dengan Ki Gede Pemanahan.

“Jika aku mengatakannya juga” berkata Nyi Tumenggung di dalam hatinya, “Kakang Tumenggung tentu akan dapat menangkapnya, bahwa aku datang untuk membujuknya. Jika demikian, maka hubungan untuk seterusnya tentu akan terputus”

Karena itu, maka Nyi Tumenggung memilih untuk tidak mengatakannya. Ia masih berpengharapan, bahwa ia masih akan mempunyai kesempatan lagi.

Beberapa saat Nyi Tumenggung terisak. Seorang prajurit kemudian datang kepadanya sambil berkata, “Maaf, Nyi. Sudah waktunya Nyi Tumenggung meninggalkan tempat ini”

Nyi Tumenggung mengusap matanya. Katanya, “Aku akan datang lagi, Kakang. Aku harap Kakang menemukan jalan terbaik untuk menghindarkan diri dari tiang gantungan”

“Tiang gantungan tidak menakutkan bagiku, Nyi. Justru di sanalah aku akan mendapat tempat terhormat. Mungkin pada waktu dekat, namaku akan direndahkan. Mungkin disurukkan ke dalam lumpur oleh Ki Gede Pemanahan. Tetapi tunggu sampai saatnya Pajang runtuh. Setiap orang akan menyebut namaku. Jika Harya Wisaka pada suatu ketika berkuasa, maka namaku akan dicantumkan dalam jajaran nama-nama pahlawan yang menjadi salah satu pilar penyangga kejayaannya”

Ketika Nyi Tumenggung memandang wajah suaminya, dilihatnya senyum yang menghiasi bibirnya. Karena itu, maka Nyi Tumenggung pun mencoba untuk tersenyum pula, “Aku minta diri, Kakang”

“Hati-hatilah dengan anak perempuanmu itu, Nyi”

“Ya, Kakang”

Sejenak kemudian, maka Nyi Tumenggung pun telah meninggalkan Ki Tumenggung di dalam bilik tahanannya. Ia tidak sampai hati untuk mengusik mimpi suaminya bahwa ia akan menjadi seorang pahlawan.

Demikian Nyi Tumenggung itu sampai di rumah, maka ia tidak dapat lagi menahan tangisnya. Anak perempuannya  pun mendekatinya sambil berdesis, “Ibu”

Nyi Tumenggung menjatuhkan dirinya duduk di ruang dalam. Dipeluknya anak perempuannya erat-erat.

“Ayah kenapa, Ibu?” bertanya anak itu, karena itu tahu bahwa ibunya pergi mengunjungi ayahnya.

“Ayahmu tidak apa-apa, Ngger”

“Kenapa Ibu menangis?”

“Ayah belum boleh pulang”

“Kenapa para prajurit Pajang itu tidak membiarkan ayah pulang?”

“Pada saatnya ayahmu akan pulang”

Anak perempuan itu tidak bertanya lagi. Tetapi matanya  pun ikut menjadi basah karenanya.

Sementara itu, Paksi, Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya tengah menemui Ki Waskita di rumah Ki Panengah.

Di hadapan Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya, Paksi ternyata bersikap terbuka kepada Ki Waskita. Sebaliknya Ki Waskita pun bersikap terbuka pula. Ki Waskita tahu, bahwa keduanya, terutama Pangeran Benawa, mempunyai ikatan yang lebih dalam dari sekedar hubungan persahabatan. Keduanya pernah melakukan pengembaraan bersama. Mengalami kegembiraan dan kegetiran di perantauan. Menempa diri bersama serta menempuh bahaya bersama-sama pula. Sedangkan Raden Sutawijaya telah menyatukan diri pula bersama mereka berdua dalam pengalaman yang berat pada saat-saat terakhir.

Karena itu, di antara Paksi, Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya, seakan-akan sudah tidak ada lagi dinding pembatas. Bukan saja dalam hubungan mereka dengan Pajang, tetapi juga masalah-masalah pribadi mereka.

“Waktu seperti inilah yang sangat aku takutkan. Tetapi aku yakin bahwa pada suatu saat, saat-saat seperti ini pasti akan datang” berkata Ki Waskita.

Paksi menundukkan kepalanya. Dengan nada berat ia pun berdesis, “Aku menyesalinya, bahwa kehadiranku di bumi ini terjadi semata-mata karena malapetaka. Tetapi aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa. Pada tingkat kepasrahan tertinggi, aku mempunyai keyakinan bahwa aku memang harus hadir di dunia ini sebagai mahluk ciptaan dari Yang Maha Agung”

“Aku mengerti perasaanmu, Paksi” berkata Ki Waskita. “Jika kau masih dapat menghargai keberadaanku pada perjalanan hidupmu, aku ingin menasehatkan kepadamu, agar kau menempatkan diri pada peredaran waktu menyongsong masa depanmu. Bukan berarti bahwa kau tidak boleh berpaling untuk melihat masa lampau atau bercermin di wajah air bening untuk melihat kekinian, tetapi mau tidak mau kau akan berkisar bersama waktu ke masa depanmu”

Paksi masih menundukkan kepalanya. Sedangkan Ki Waskita berkata selanjutnya, “Aku tahu, bahwa sejak masa kanak-kanakmu kau harus mengalami perlakuan yang tidak sewajarnya dari seorang yang kau kenal sebagai ayahmu. Bahkan puncak dari perlakuan yang tidak wajar itu adalah perintahnya kepadamu untuk mencari cincin kerajaan yang hilang pada saat kau berumur tujuh belas tahun. Tetapi kau sekarang tidak lagi berada pada masa seperti berumur tujuh belas tahun lagi”

Paksi menarik nafas dalam-dalam.

“Namun satu hal yang sejak lebih dari tujuh belas tahun tersimpan di dalam hatiku adalah keinginanku untuk minta maaf kepadamu” berkata Ki Waskita dengan nada berat dan dalam.

Paksi mengangkat wajahnya sejenak. Dipandanginya wajah Ki Waskita sekilas. Ia sempat melihat wajah yang sayu itu seakan-akan menjadi jauh lebih tua dari kemarin saat terakhir ia melihatnya.

Mulut Paksi bergerak-gerak. Tetapi tidak sepatah kata  pun yang keluar dari mulutnya.

Ki Waskita lah yang kemudian berkata, “Sudahlah. Marilah kita jalani kehidupan kita selanjutnya sebagaimana adanya. Bukankah kau akan menghadap Ki Gede Pemanahan, Paksi?”

“Ya, Guru” suara Paksi merendah. Bahkan ia pun bertanya, “Apakah aku masih diperkenankan memanggil guru?”

“Aku tidak akan berkeberatan, Paksi. Aku tahu, bahwa hubungan di antara kita tidak akan dapat berubah dengan serta-merta”

Paksi terdiam. Sementara Pangeran Benawa yang sama sekali tidak mencampuri pembicaraan antara Paksi dengan Ki Waskita sebagaimana Raden Sutawijaya itu pun berkata, “Kami ingin minta ijin kepada Paman Pemanahan, apakah kami dapat mencari adik laki-laki Paksi menurut cara kami sendiri”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Dengan nada berat Paksi pun bertanya kepada Ki Waskita, “Bukankah Guru tidak berkeberatan?”

“Tidak, sama sekali tidak, Paksi. Aku tahu, bahwa kau tidak mau menghadapi persoalan yang rumit kelak dengan adikmu. Bagiku, anak itu adalah tetap adikmu”

Paksi mengangguk kecil. Sementara itu Raden Sutawijaya pun berkata, “Mudah-mudahan ayah tidak berkeberatan asal kami tidak mengacaukan rancangan yang sudah disusun oleh ayah”

“Aku kira Ki Gede tidak akan berkeberatan, Raden”

Ketiganya pun kemudian minta diri. Sebelum mereka meninggalkan Ki Waskita, Pangeran Benawa pun berpesan, “Kami akan selalu menghubungi Ki Waskita di tempat ini. Jika Ki Waskita mendapat keterangan tentang anak itu, kami minta Ki Waskita memberitahukan kepada kami”

“Baik, Pangeran. Hampir setiap malam aku ada disini. Kecuali jika Ki Gede Pemanahan memanggil karena ada petunjuk-petunjuk penting”

Demikianlah, mereka bertiga pun segera pergi ke rumah Ki Gede Pemanahan untuk menghadap. Baru kemudian mereka akan bertemu dan berbicara dengan Ki Tumenggung Yudatama sebagai senapati yang memimpin perburuan untuk menangkap Harya Wisaka.

Meskipun Harya Wisaka sendiri belum tertangkap, tetapi bahwa salah seorang kepercayaannya, Ki Tumenggung Sarpa Biwada dapat tertangkap, sudah merupakan hasil yang selalu dibicarakan oleh rakyat Pajang. Mereka menganggap bahwa Ki Tumenggung Yudatama memiliki kelebihan dari para pemimpin dari pasukan yang memburu Harya Wisaka, karena tidak seorang  pun di antara para pemimpin pengikut Harya Wisaka yang tertangkap.

Ketika Paksi mengajukan permohonan kepada Ki Gede Pemanahan untuk mencari adiknya di sela-sela usaha Ki Tumenggung Yudatama memburu Harya Wisaka, Ki Gede sama sekali tidak berkeberatan. Apalagi kedatangan Paksi disertai oleh anak Ki Gede itu sendiri, Raden Sutawijaya serta Pangeran Benawa. Namun Ki Gede juga memerintahkan kepada mereka untuk menghadap Ki Tumenggung Yudatama.

Ketika mereka menemui Ki Tumenggung Yudatama di baraknya, Ki Tumenggung sedang berbincang dengan beberapa orang perwira di dalam pasukannya. Mereka masih selalu berusaha menemukan cara untuk dapat menangkap Harya Wisaka, sehingga Paksi harus menunggu.

“Para pengikutnya yang dapat kita tangkap bersama-sama dengan Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidak dapat memberikan petunjuk, Ki Tumenggung” berkata seorang lurah prajurit.

“Kenapa kita tidak memeras keterangan dari Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu sendiri?” bertanya seorang rangga.

Ki Tumenggung Yudatama menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Gede tidak memperkenankan kita memaksa Ki Tumenggung Sarpa Biwada untuk berbicara dengan cara yang tidak sepantasnya itu”

“Manakah cara yang pantas untuk mencari keterangan dari seorang pemberontak?” bertanya seorang lurah yang lain.

“Kita harus mengikuti perintah Ki Gede”

Para perwira itu pun terdiam. Tetapi mereka cenderung untuk memaksa agar Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu berbicara.

Dalam pada itu, Ki Tumenggung Yudatama pun berkata, “Kita telah minta tolong Nyi Tumenggung untuk membujuk agar Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu bersedia berbicara”

“Tetapi bukankah Nyi Tumenggung itu tidak berhasil?” sahut seorang lurah prajurit. “Ternyata Ki Tumenggung itu juga belum berbicara”

“Kita tidak dapat tergesa-gesa. Diperlukan waktu untuk melunakkan hati Ki Tumenggung Sarpa Biwada yang keras itu” jawab Ki Tumenggung Yudatama

“Sementara itu, Harya Wisaka telah sampai di tlatah Jipang atau Demak” desis seorang rangga seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri.

Namun Ki Tumenggung Yudatama menjawab, “Aku yakin bahwa Harya Wisaka masih berada di dalam kota. Penjagaan di perbatasan kota cukup ketat. Bukan hanya di pintu-pintu gerbang. Tetapi kota ini seakan-akan telah dilingkari prajurit hingga temu gelang”

Para perwira itu memang merasa kecewa, bahwa mereka masih sangat dibatasi untuk menyadap keterangan dari Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Tetapi mereka tidak dapat memaksa.

Mereka tahu, bahwa Ki Tumenggung Yudatama pun dibatasi pula oleh perintah Ki Gede Pemanahan.

Dengan demikian, maka mereka memusatkan usaha pencaharian mereka dengan mengurai keterangan para pengikut Harya Wisaka yang lain. Tetapi keterangan mereka masih saja simpang siur. Ada di antara mereka yang memang tidak tahu sama sekali. Ada yang karena terpaksa mengaku mengetahui tempat persembunyian Harya Wisaka, namun tidak pernah dapat dibuktikan. Sedangkan yang lain sengaja berusaha menyesatkan pencaharian yang sulit itu.

Namun akhirnya pertemuan itu pun berakhir dengan kesimpulan yang masih tetap mengambang. Namun Ki Yudatama memberitahukan, bahwa waktu yang akan diberikan kepada Nyi Tumenggung pun akan dibatasi.

“Aku akan berbicara dengan Ki Gede Pemanahan”

Demikian pertemuan itu selesai, maka seorang prajurit telah menghadap Ki Tumenggung untuk memberitahukan bahwa Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi akan menghadap.

“Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi, anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada?”

“Ya, Ki Tumenggung”

“Persilahkan mereka masuk”

Prajurit itu pun kemudian mempersilahkan Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi masuk ke dalam bilik khusus Ki Tumenggung Yudatama.

“Silahkan Pangeran. Marilah Raden. Duduklah Paksi”

“Terima kasih, Ki Tumenggung” Pangeran Benawa lah yang menjawab.

Ketiganya pun kemudian duduk ditemui Ki Tumenggung Yudatama dengan seorang rangga kepercayaan Ki Tumenggung.

“Barangkali Pangeran, Raden Sutawijaya dan Paksi mempunyai keperluan khusus sehingga bertiga telah datang ke barak kami ini?” bertanya Ki Tumenggung Yudatama.

“Ya, Ki Tumenggung” Pangeran Benawa lah yang menjawab, “kami bertiga datang untuk minta ijin kepada Ki Tumenggung”

“Minta ijin?” Ki Tumenggung justru mengerutkan dahinya. “Atau barangkali Pangeran menyampaikan perintah kepada kami dari Ki Gede atau bahkan Kangjeng Sultan sendiri?”

“Tidak, Ki Tumenggung. Kami benar benar ingin minta ijin”

“Ijin untuk apa, Pangeran?”

“Kami bertiga ingin mencari adik Paksi. Anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Kami tahu bahwa Ki Tumenggung masih dibebani tugas untuk menemukan Harya Wisaka. Kami tidak ingin terjadi salah paham dengan usaha kami mencari adik Paksi. Namun bukan berarti bahwa kami akan mencuci tangan dalam usaha pencaharian Paman Harya Wisaka”

Ki Tumenggung Yudatama itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan dahi yang berkerut ia pun bertanya, “Kenapa Pangeran, Raden Sutawijaya dan Paksi harus turun sendiri? Bukankah para prajurit tentu juga akan menangkapnya jika mereka bertemu atau melihat Paksi itu”

“Kami mengerti, Ki Tumenggung. Tetapi apa salahnya kami ikut mencarinya? Kami berjanji tidak akan mengganggu tugas para prajurit. Bahkan seperti yang aku katakan tadi, kami akan membantu mencari tempat persembunyian Harya Wisaka pula”

“Apakah Pangeran sudah membicarakannya dengan Ki Gede Pemanahan?”

“Sudah, Ki Tumenggung. Paman Pemanahan tidak berkeberatan. Tetapi aku harus mendapat ijin dari Ki Tumenggung Yudatama”

“Baiklah, Pangeran. Tetapi aku mohon, agar usaha Pangeran tidak justru menghalau Harya Wisaka dari satu persembunyian ke persembunyian lainnya, sehingga semakin menyulitkan pencaharian kami”

“Kami berjanji, Ki Tumenggung”

“Baiklah, Jika Ki Gede sudah mengijinkan dan jika Pangeran, Raden Sutawijaya dan Paksi berjanji untuk tidak mengganggu tugas-tugas kami tetapi justru akan membantu, aku tidak berkeberatan”

“Terima kasih, Ki Tumenggung. Besok kami akan mulai dengan usaha kami”

“Tetapi, jika Paksi tidak berkeberatan, aku ingin bertanya, jika adik Paksi itu dapat tertangkap, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

“Aku ingin menyelamatkannya, Ki Tumenggung” jawab Paksi.

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Aku dukung niatmu, tetapi pekerjaan itu bukan pekerjaan yang ringan”

“Aku sadar itu, Ki Tumenggung. Terus-terang, kami ingin menemukan adikku itu lebih dahulu dari para prajurit. Aku tidak yakin bahwa para prajurit itu akan memperlakukan adikku sebagaimana akan kami lakukan. Jika anak itu disurukkan ke dalam bilik tahanan bersama-sama para pemberontak itu, maka jiwanya seakan-akan justru ditempa oleh lingkungannya untuk menjadi seorang pemberontak yang gigih. Tetapi di tangan kami, kami masih berharap, bahwa adikku akan berpaling dari pemberontakan itu dan dapat hidup wajar sebagai kawula Pajang yang baik”

Ki Tumenggung Yudatama mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku ijinkan kau membawa adikmu itu. Tetapi orang lain yang dapat kau tangkap bersamanya, harus kau serahkan kepadaku”

“Baik, Ki Tumenggung”

“Jika dalam usahamu menemukan adikmu kau bertemu dengan pasukan yang kuat, sebagaimana pada saat kami menangkap Ki Tumenggung Sarpa Biwada, jangan segan-segan menghubungi kami. Kami akan segera datang membantu”

“Ya, Ki Tumenggung. Kami akan mengingatnya”

“Mudah-mudahan kau berhasil, Paksi” berkata Ki Tumenggung kemudian. Lalu katanya kepada Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya, “Aku mohon Pangeran dan Raden Sutawijaya tidak terlalu dalam memasuki lingkungan yang berbahaya”

“Baik, Ki Tumenggung” jawab Raden Sutawijaya.

Namun kemudian Ki Tumenggung Yudatama itu pun berkata, “Sebelum Paksi mulai bersama-sama dengan Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya, adalah kebetulan sekali Paksi telah datang kemari. Seandainya kau tidak datang kemari, Paksi, aku mungkin yang akan mencarimu”

“Ada apa, Ki Tumenggung?” bertanya Paksi.

“Sudah sejak kemarin Ki Tumenggung Sarpa Biwada mengatakan ingin bertemu dengan kau”

“Ingin bertemu dengan aku?” bertanya Paksi.

“Ya. Keinginannya itu dikatakannya kepada para prajurit yang bertugas menjaganya”

“Jika diperkenankan, aku ingin menemuinya” berkata Paksi kemudian.

“Aku tidak berkeberatan, Paksi. Marilah, aku antar kau menemui ayahmu itu”

“Terima kasih, Ki Tumenggung”

“Terserah kepada Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya, apakah Pangeran dan Raden Sutawijaya akan pergi bersama Paksi menemui Ki Tumenggung atau tidak?”

“Aku akan pergi bersamanya” berkata Pangeran Benawa.

“Aku juga” sahut Raden Sutawijaya.

“Baiklah. Marilah, kita temui Ki Tumenggung Sarpa Biwada di dalam bilik tahanannya”

Berempat Paksi pergi ke sebuah bangunan khusus di dalam lingkungan barak pasukannya. Di dalam bangunan itulah Ki Tumenggung Sarpa Biwada ditahan, dijaga kuat oleh beberapa orang prajurit pilihan.

Ketika para prajurit yang bertugas itu melihat Ki Tumenggung Yudatama diikuti oleh Paksi, Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya, mereka pun mengangguk hormat.

“Aku akan menemui Ki Tumenggung Sarpa Biwada” berkata Ki Tumenggung Yudatama.

Pemimpin prajurit yang bertugas itu pun menyahut, “Silahkan, Ki Tumenggung”

Pemimpin prajurit itu pun membuka pintu pertama bilik tahanan Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Bersama-sama dengan Paksi, Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya, Ki Tumenggung Yudatama pun memasuki pintu yang kedua. Dibukanya selarak pintu itu. Demikian pintu itu terbuka maka mereka melihat Ki Tumenggung Sarpa Biwada duduk di sebuah amben panjang di sudut bilik yang terhitung cukup luas bagi seorang tawanan.

Ki Tumenggung Sarpa Biwada berpaling. Namun ia pun kemudian tidak menghiraukan keempat orang yang memasuki biliknya itu.

“Ki Tumenggung Sarpa Biwada” berkata Ki Tumenggung Yudatama, “bukankah kau ingin bertemu dan berbicara dengan Paksi. Sekarang, aku mengajak Paksi menemuimu. Mungkin kau mempunyai pesan baginya”

“Aku ingin berbicara dengan anak itu sendiri”

Ki Tumenggung Yudatama menggeleng. Katanya, “Aku tidak mengijinkan kalian berbicara berdua di luar pengawasan. Aku bertanggung jawab akan keberadaan Ki Tumenggung Sarpa Biwada disini”

“Kau kira aku akan melarikan diri?”

“Bukan hanya soal melarikan diri. Tetapi seorang tawanan penting sebagaimana Ki Tumenggung Sarpa Biwada, harus selalu di bawah pengawasan. Banyak sekali dapat terjadi pada pertemuan seorang tawanan dengan seseorang di luar bilik tahanan”

“Jika demikian, ajak anak itu pergi. Kehadirannya hanya membuat mataku sakit”

“Kau sendiri yang minta agar anak ini datang menemuimu”

“Aku tidak memerlukannya lagi”

“Baik” berkata Ki Tumenggung Yudatama, “aku akan membawa Paksi pergi. Bukan salahku. Permintaanmu sudah aku penuhi”

“Kenapa isteriku diijinkan menemui aku sendiri tanpa pengawasan? Jika memang ada paugeran bahwa seorang tawanan tidak boleh bertemu dan berbicara tanpa pengawasan dengan orang luar dinding tahanan ini?”

“Nyi Tumenggung mendapat ijin khusus dari Ki Gede Pemanahan yang menaruh iba kepadanya”

“Aku tidak perlu dikasihani”

“Bukan kau. Tetapi istrimu. Ia seorang istri yang setia dan baik. Karena itu, maka diijinkannya secara khusus untuk menemuimu tanpa pengawasan”

“Cukup. Bawa anak itu pergi. Aku tidak ingin melihat wajahnya yang licik itu”

“Kau sendirilah yang memintanya untuk membawanya kemari”

“Baik. Baik. Biarlah anak itu mendengarnya, bahwa anakku laki-laki pada suatu saat akan mencarinya. Jika aku gagal membunuhnya, maka anakku itulah yang akan melakukannya. Karena itu, aku tidak akan merengek minta ampun. Aku akan menghadapi tiang gantung dengan wajah tengadah”

“Apakah kau sedang mengigau, Ki Tumenggung Sarpa Biwada? Siapakah yang kau maksud dengan anak laki-lakimu itu? Bukankah Paksi ini juga anak laki-lakimu?”

“Lihat wajahnya, Ki Tumenggung Yudatama. Jika kau mempunyai sedikit pengetahuan tentang ujud dan sifat manusia, kau akan segera mengetahui, bahwa anak itu bukan anakku. Lihat wajahnya, apakah mempunyai kemiripan sedikit saja dengan wajahku?”

“Ki Tumenggung, apa yang kau katakan itu?”

“Dengarlah jika kau mau mendengar. Anak itu bukan anakku”

“Biarlah ia mengatakan apa yang ingin dikatakannya, Ki Tumenggung Yudatama. Biarlah ia menumpahkan segala kebenciannya kepadaku. Biarlah ia mencerca, menghina dan bahkan merendahkan namaku. Aku tidak akan menjadi sakit hati” sahut Paksi.

“Pergi. Pergi kau anak jahanam. Pergi sebelum aku mengambil keputusan untuk membunuhmu sekarang”

Paksi berdiri termangu-mangu. Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu pun telah bangkit berdiri pula sambil berteriak, “Pergi. Pergi. Aku tidak akan membunuhmu sekarang. Anakkulah yang akan membunuhmu. Ia akan menuntut balas pengkhianatanmu. Kau yang tidak mengenal kebaikan budi seseorang kepadamu”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun Ki Tumenggung Yudatama lah yang kemudian mengajaknya meninggalkan bilik itu.

“Marilah. Tidak ada pembicaraan apa  pun dalam suasana seperti ini”

Demikianlah, mereka berempat pun segera meninggalkan bilik itu. Ki Tumenggung pun telah menutup pintu dan menyilangkan selaraknya. Kemudian pada pintu yang kedua, pemimpin prajurit yang bertugaslah yang menutup dan menyelarak pintu itu.

“Jaga Ki Tumenggung itu baik-baik” pesan Ki Tumenggung Yudatama.

“Ya, Ki Tumenggung” jawab pemimpin prajurit itu.

Sejenak kemudian, Ki Tumenggung itu pun telah mempersilahkan Paksi, Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya duduk kembali di bilik khususnya. Sambil mengangguk-angguk kecil, Ki Tumenggung itu pun berkata, “Aku mengerti, kenapa kau berkeras untuk mencari adikmu, Paksi”

“Ya, Ki Tumenggung”

“Nampaknya jarak yang menganga di antara kau dan ayahmu sulit untuk diloncati”

“Ya, Ki Tumenggung. Aku tidak ingin terjadi benturan antara aku dan adikku itu. Nampaknya ayah ingin menyalurkan kemarahan dan dendamnya lewat adikku yang sebenarnya dapat disisihkan dari persoalan yang kami hadapi. Tetapi ayah menjadi kehilangan akal, sehingga telah mengadu anak-anaknya untuk bertarung antara hidup dan mati”

“Baik. Baik, Paksi. Aku akan memerintahkan para prajurit yang dapat menangkap adikmu untuk menyerahkannya langsung kepadaku. Kemudian aku akan memberitahukan hal itu kepadamu. Syukurlah jika kau sendiri dapat menemukan adikmu itu, sehingga kelak tidak akan terjadi benturan di antara saudara sendiri”

“Terima kasih, Ki Tumenggung”

“Nah, baiklah. Kami akan membantumu sebagaimana Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya. Sudah tentu dengan cara yang dapat aku tempuh”

Demikianlah, Paksi, Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya pun minta diri. Ki Tumenggung pun mengantar mereka sampai ke pintu gerbang baraknya. Di pintu gerbang Ki Tumenggung masih berkata, “Aku akan memerintahkan para perwira prajurit di pasukanku untuk siap membantumu jika kau perlukan, Paksi”

“Terima kasih, Ki Tumenggung Mudah-mudahan anak itu dapat diketemukan sehingga tidak akan terjadi bencana kelak. Bencana itu dapat terjadi atas diriku atau atas adikku itu”

Ki Tumenggung menepuk bahu Paksi. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Demikianlah, mereka bertiga pun kemudian meninggalkan barak Ki Tumenggung Yudatama. Tetapi mereka bertiga tidak pergi ke rumah Ki Gede Pemanahan dan apabila ke istana. Mereka akan tinggal di mana saja menurut kebutuhan. Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa mempunyai beberapa orang kepercayaan yang akan dapat mencari adik laki-laki Paksi yang terselip di antara para pengikut Harya Wisaka. Bahkan mungkin mereka pun akan berpindah-pindah tempat dan bahkan mereka pun dapat berada di bekas padepokan mereka bersama Ki Waskita.

Dalam pada itu, Ki Waskita sendiri sedang berada di rumah Nyi Tumenggung Sarpa Biwada. Ki Waskita yang mengetahui bahwa Nyi Tumenggung sudah sempat bertemu Ki Tumenggung Sarpa Biwada ingin mengetahui hasil pembicaraan mereka.

Namun Nyi Tumenggung itu pun menggeleng. Katanya, “Aku tidak berhasil, Kakang. Mulutku tidak dapat mengucapkannya”

“Kenapa, Nyi. Bukankah satu-satunya harapan bagi Ki Tumenggung adalah kesediaannya bekerja sama dengan Ki Gede Pemanahan untuk menemukan Harya Wisaka?”

“Aku mengerti, Kakang. Tetapi Ki Tumenggung masih saja bermimpi untuk menjadi pahlawan. Jika Harya Wisaka berhasil, maka namanya akan berada pada deretan nama-nama pahlawan yang menjadi pilar penyangga kejayaan Harya Wisaka”

Ki Waskita mengangguk-angguk kecil.

“Tetapi aku belum berputus-asa, Kakang. Jika diijinkan aku masih akan menemuinya dan berbicara tentang satu-satunya harapan itu, meskipun Ki Tumenggung sendiri nampaknya tidak lagi mempunyai gairah untuk hidup. Nampaknya satu-satunya keinginannya adalah justru mati sebagai pahlawan”

“Kau harus meyakinkan, Nyi. Harya Wisaka tidak akan berhasil. Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidak akan pernah menjadi pahlawan sebagaimana yang diimpikannya itu”

“Tetapi aku belum berani membangunkannya sekarang, Kakang. Ia akan menjadi sangat kecewa”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Aku mengerti, Nyi. Memang mungkin diperlukan waktu untuk mengatakannya. Biarlah aku berbicara dengan Ki Gede Pemanahan dan Ki Tumenggung Yudatama, agar Ki Tumenggung Sarpa Biwada masih diberi waktu. Jika mereka menjadi tidak sabar lagi, maka mereka akan mencoba memaksa Ki Tumenggung Sarpa Biwada untuk berbicara. Mungkin Ki Gede Pemanahan dan Ki Tumenggung Yudatama sendiri dapat menahan diri. Tetapi beberapa orang perwira di dalam barak itu akan dapat bersikap lain”

Nyi Tumenggung memandang Ki Waskita dengan tajamnya. Dengan suara yang hampir tidak terdengar Nyi Tumenggung itu berkata, “Tolong, Kakang. Jangan perlakukan Ki Tumenggung dengan kasar”

“Aku akan berusaha, Nyi. Setidak-tidaknya mengulur waktu. Tetapi Nyi Tumenggung juga harus membantu”

“Aku juga akan berusaha, Kakang. Aku akan mengunjunginya lagi. Aku akan menghadap Ki Tumenggung Yudatama untuk minta waktu”

“Besok pergilah menemui Ki Tumenggung. Hari ini aku akan berbicara dengan Ki Tumenggung itu lebih dahulu”

“Terima kasih, Kakang. Mudah-mudahan Kakang berhasil dan
aku pun dapat berhasil pula”

“Ya, Nyi. Kita akan berusaha”

Ki Waskita pun kemudian minta diri. Sekali lagi ia berpesan, agar besok Nyi Tumenggung benar-benar menemui Ki Tumenggung Yudatama untuk minta ijin bertemu lagi dengan Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

Nyi Tumenggung mengangguk sambil berdesis, “Ya, Kakang”

Sepeninggal Ki Waskita, Nyi Tumenggung masih duduk beberapa saat di pendapa. Dipandanginya pintu regol yang masih terbuka. Angan-angannya pun menerawang menembus batasan waktu dan ruang.

“Mudah-mudahan Ki Waskita bersikap jujur” berkata Nyi Tumenggung itu di dalam hatinya.

Sebenarnyalah Nyi Tumenggung Sarpa Biwada itu masih saja ragu. Apakah Ki Waskita itu benar-benar ingin melihat masa depannya yang utuh kembali atau bagi Ki Waskita yang terpenting, Ki Tumenggung Sarpa Biwada dapat segera tertangkap.

“Apa pun yang terjadi dengan Ki Tumenggung, keluarga ini tidak akan pernah utuh kembali. Paksi dan Ki Tumenggung akan sulit sekali dapat bertaut kembali. Mereka telah dipisahkan oleh berbagai macam kepentingan dan bahkan dendam dan kebencian. Kalau saja Ki Waskita masih seperti dahulu” berkata Nyi Tumenggung di dalam hatinya.

Dalam pada itu, Ki Waskita pun langsung pergi menemui Ki Tumenggung Yudatama di dalam baraknya.

“Baiklah” Ki Tumenggung Yudatama mengangguk-angguk setelah ia mendengar penjelasan Ki Waskita.

“Nyi Tumenggung memerlukan waktu untuk melunakkan hati Ki Tumenggung Sarpa Biwada”

“Aku sendiri tidak berkeberatan, Ki Waskita. Tetapi aku tidak dapat menunggu berlama-lama. Para perwira di barak ini memperhitungkan, jika kita harus menunggu terlalu lama, maka kemungkinan Harya Wisaka lepas dari kota semakin besar”

“Aku mengerti, Ki Tumenggung”

“Aku harus menyabarkan para perwira yang dadanya bergejolak itu. Mereka merasa dipermainkan oleh Harya Wisaka. Beratus-ratus prajurit sudah digelar di kotaraja, tetapi mereka tidak dapat menemukannya. Bukankah para prajurit itu merasa ditertawakan oleh Harya Wisaka?”

“Menurut perhitunganku, Harya Wisaka tidak akan segera pergi. Aku kira luka-lukanya masih akan menghambatnya. Mungkin luka-luka di kulitnya sudah kering, tetapi luka di bagian dalam tubuhnya memerlukan waktu yang lama untuk menyembuhkannya”

“Tetapi jika Harya Wisaka mendapatkan seorang tabib yang sangat baik, keadaannya akan berbeda. Tetapi mudah-mudahan Harya Wisaka memang masih belum pergi keluar. Namun demikian, jika para prajurit kehilangan orang itu, mereka akan dapat menjadi sangat marah dan mencari sasaran untuk melepaskan kemarahannya”

“Aku mengerti, Ki Tumenggung. Mudah-mudahan hal seperti itu tidak terjadi”

“Kapan Nyi Tumenggung akan bertemu dengan suaminya?”

“Nyi Tumenggung Sarpa Biwada akan menghadap Ki Tumenggung Yudatama esok pagi. Kemudian terserah kepada Ki Tumenggung, kapan Ki Tumenggung Yudatama akan memberi waktu”

“Baiklah. Besok aku akan berbicara dengan Nyi Tumenggung. Jika ia sudah siap, biarlah besok ia bertemu dan berbicara dengan suaminya”

Ki Waskita mengangguk sambil berkata, “Terima kasih. Mudah-mudahan hati Ki Tumenggung Sarpa Biwada dapat dilunakkan, sehingga tidak perlu memaksanya untuk berbicara”

Ki Waskita pun kemudian minta diri. Tetapi hari itu ia masih memerlukan menemui Nyi Tumenggung Sarpa Biwada untuk memberikan beberapa pesan jika besok ia benar-benar mendapat kesempatan untuk bertemu dengan suaminya.

“Kau memang tidak usah mengatakan, apa yang harus dilakukan oleh Ki Tumenggung. Tetapi Nyi Tumenggung harus meyakinkannya, bahwa Nyi Tumenggung sangat mengharapkannya pulang pada satu saat. Pulang dengan tenang dan bukan lagi menjadi buruan”

Nyi Tumenggung menundukkan wajahnya. Katanya hampir tidak terdengar, “Apakah Kakang benar-benar menginginkan Ki Tumenggung pulang?”

“Tentu, Nyi. Bukankah aku mencoba untuk memberikan jalan kepada Ki Tumenggung agar ia dapat pengampunan?”

“Manakah yang lebih penting bagi Kakang? Suamiku pulang dan tidak lagi menjadi buruan, atau pengakuan Ki Tumenggung agar Kakang dan Ki Gede Pemanahan segera dapat menangkap Harya Wisaka?”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian Katanya, “Kedua-duanya, Nyi”

“Apakah Kakang tidak mencemaskan nasib Paksi jika Ki Tumenggung pulang?”

“Kenapa dengan Paksi?”

“Kau kira Ki Tumenggung dapat melupakan niatnya untuk membunuh Paksi?”

Ki Waskita mengerutkan dahinya. Dengan ragu ia pun menjawab, “Paksi akan dapat melindungi dirinya sendiri”

“Kau yakin, Kakang?”

“Aku yakin”

“Tetapi Kakang rasa-rasanya sangat mencemaskan nasib Paksi pada saat Kakang berusaha menjebak Ki Tumenggung Sarpa Biwada”

“Sebenarnya aku tidak mencemaskan Paksi, Nyi. Aku yakin bahwa Paksi mempunyai ilmu yang lebih tinggi dari Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Yang aku cemaskan adalah, bahwa Paksi dan Ki Tumenggung itu harus berhadapan dalam pertempuran yang menentukan hidup dan mati”

Bersambung ke bagian 2

4 Tanggapan

  1. Tampaknya hambatan komunikasi yang terjadi dalam kisah ini, sehingga proses penyelesaian masalah menjadi lamban….
    Mengapa sih tokoh bertiga ini, Benawa, Sutawijaya dan Paksi tidak membawa HP atau walky talky he he…
    Didepan regol pedukuhan kan ada Cellular phone….bisa beli pulsa di disitu..

  2. Iya…ya…he he, dari pada mumet mikir capres mending baca baca diRuang Baca Karya S.H Mintarja…salud , terimakasih Ruang Baca…saya banyak mendapatkan kawruh di sini.

  3. cerita yang bagus….pinginnya juga baca saat raden Sutawijaya melawan Haryo Penangsang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s