JDBK-39


<<kembali | lanjut >>

KI PANANGGUNGAN tersenyum. Sedangkan Repak Rembulung itu pun menjawab, “Terus terang, aku menjadi berdebar-debar ketika aku melihat Kakang Pananggungan datang kemari, sehingga aku ingin segera mengetahui jika Kakang membawa persoalan yang penting”

Namun Ki Pananggungan itu kemudian tertawa sambil menjawab, “Tidak ada yang penting. Sebenarnyalah mbokayumu sangat rindu kepada Kemuning. Setelah sekian bulan berlalu, tidak terdengar kabar beritanya sama sekali”

“Akulah yang minta maaf” sahut Nyi Permati. “Seharusnya aku datang mengunjungi Kakang bersama Kemuning”

“Kau?” bertanya Ki Pananggungan. “Seharusnya kau menjadi jera. Kau pernah tersesat dan bahkan jatuh ke tangan Bahu Langlang”

“Sayang, aku terlambat mengetahuinya, Kakang” sahut Repak Rembulung.

“Tetapi syukurlah, bahwa Yang Maha Agung masih melindungi anakmu”

“Jika aku dapat menemukan orang itu” geram Pupus Rembulung.

“Sekarang tidak perlu lagi. Seandainya kalian menemukannya, segala sesuatunya sudah berubah. Kau tidak perlu lagi mendendamnya. Syukuri perlindungan Yang Maha Agung itu”

Repak Rembulung menarik nafas dalam-dalam, sementara Pupus Rembulung pun menyahut, “Ya, Kakang”

“Tetapi di manakah Kemuning sekarang?” bertanya Ki Pananggungan.

“Ada Kakang. Ada di belakang”

Ketika Nyi Permati beringsut, Pupus Rembulung pun berkata, “Sudah, duduk sajalah, Nyi. Biarlah aku memanggil Kemuning”

Nyi Permati menarik nafas panjang. Namun nampak bahwa ada sesuatu yang membuat perasaannya menjadi muram.

“Mungkin sikap dan tingkah laku Kemuning” berkata Ki Pananggungan di dalam hatinya.

Ki Pananggungan itu pun telah teringat lagi kepada Paksi yang ada di rumahnya bersama Pangeran Benawa. Namun Ki Pananggungan tidak ingin mengatakan, bahwa di rumahnya ada Paksi dan Wijang.

Sejenak kemudian, Nyi Pupus Rembulung telah keluar dari ruang dalam sambil menggandeng tangan Kemuning.

“Inilah anak itu, Kakang”

“Kemuning” desis Ki Pananggungan.

Kemuning itu pun kemudian berlari-lari kecil. Duduk bersimpuh di hadapan Ki Pananggungan. Kemuning itu  pun membungkuk dalam-dalam sambil mencium tangan Ki Pananggungan.

“Paman” desisnya. Terasa tangan Ki Pananggungan menjadi basah.

“Kau baik-baik saja, Kemuning?” bertanya Ki Pananggungan.

“Ya, Paman. Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Paman dan Bibi?”

“Semuanya baik-baik saja, Kemuning. Bibimu sangat rindu kepadamu”

“Aku minta maaf, Paman. Sebenarnya bahwa aku ingin sekali pergi menemui Paman dan Bibi. Tetapi Ayah dan Ibu terlalu sibuk, sehingga belum dapat mengantarku. Sementara itu, aku takut untuk pergi berdua saja dengan Bibi Permati”

“Jangan pergi berdua saja, Kemuning” berkata Ki Pananggungan. “Kau akan dapat jatuh ke tangan seseorang yang berniat jahat seperti yang pernah terjadi. Karena itu, biarlah Paman saja yang datang kemari. Mungkin pada kesempatan lain, Paman dapat datang bersama Bibi”

“Kecuali jika kau akan pergi menengok bibimu bersama pamanmu Pananggungan” berkata Nyi Permati.

“Jika kau ingin, biarlah Kemuning pergi bersamaku. Nanti, dua atau tiga hari, aku akan mengantarnya pulang”

Ki Repak Rembulung lah yang menyahut sambil tertawa, “Kami tidak ingin merepotkan Kakang. Biarlah pada kesempatan lain aku mengantarnya menengok Mbokayu”

“Tidak apa-apa. bukankah aku tidak mempunyai pekerjaan lagi? Sawahku sudah digarap oleh tetangga. Kebunku sudah ada yang memelihara. Apa lagi?”

Pupus Rembulung pun tersenyum pula sambil berkata, “Jangan, Kakang. Biarlah kami yang mengantar Kemuning menengok bibinya. Syukurlah bila kami dapat bertemu dengan orang yang bernama Bahu Langlang itu”

“Kau masih mendendam?” bertanya Ki Pananggungan.

Pupus Rembulung justru tertawa. Jawabnya dengan serta-merta, “Tidak, Kakang. Tidak lagi”

“Tetapi bukankah kau bakar rumah Bahu Langlang itu?”

Pupus Rembulung memandang Repak Rembulung sejenak. Namun ia pun kemudian tertawa pula, meskipun terasa tertawanya asam sekali.

“Waktu kami mendengar ceritera Kemuning, maka jantungku serasa meledak. Kami tidak dapat menahan diri. Karena orang yang bernama Bahu Langlang itu sudah lama pergi, maka kami tumpahkan kemarahan kami kepada bekas rumahnya. Tetapi rumah itu kosong, Kakang. Kami tidak mencelakai siapa-siapa”

“Untunglah bagi Bahu Langlang bahwa kalian terlambat mengetahui persoalan itu”

“Kami memang belum lama mengetahuinya”

“Kami pun sempat kebingungan bahwa Kemuning dan Nyi Permati pergi dari rumah. Untunglah seorang tetangga mengatakan bahwa mereka mencari seorang Paman, sehingga kami menduga, bahwa mereka pergi ke Kembang Arum”

“Kau tinggalkan anakmu terlalu lama. Anak itu menjadi kesepian meskipun ada Nyi Permati. Lain kali jangan kau tinggalkan anakmu terlalu lama”

Repak Rembulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya, Kakang”

Dalam pada itu, maka Pupus Rembulung berdesis kepada Kemuning, “Minuman itu tentu sudah siap. Bawa kemari, Kemuning”

Kemuning pun kemudian bergeser dan kemudian bangkit untuk mengambil minuman di ruang dalam. Demikian Kemuning masuk ke ruang dalam, Ki Pananggungan melihat dua orang lewat menyilang di halaman depan. Sambil mengerutkan dahinya, ia pun bertanya, “Siapakah mereka itu, Rembulung?”

“Itulah tamu yang aku katakan itu, Kakang. Tamu dari sebuah padukuhan di pinggir Kali Praga”

“Mereka adalah sanak kadangku, Kakang” sahut Pupus Rembulung.

Ki Pananggungan mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi mereka masih berada di sini?”

“Ya, Kakang. Agaknya mereka tidak segera ingin pulang. Padukuhan mereka adalah padukuhan yang sangat miskin. Meskipun letaknya di dekat Kali Praga, tetapi tanahnya bukan tanah yang baik untuk ditanami. Pada musim hujan, tanah itu tergenang oleh luapan air dari Kali Praga. Sedangkan di musim kering, tanah itu seakan-akan tertutup oleh pasir. Karena itu, maka mereka merasa kerasan di sini. Tanah ini dahulu adalah tanah pategalan, Kakang. Namun tanah ini masih lebih baik dari tanah mereka di pinggir Kali Praga itu”

“Mereka akan berada di sini untuk seterusnya?”

“Aku kira tidak, Kakang. Meskipun mungkin mereka akan berada di sini agak lama”

“Berapa orangkah mereka semuanya?”

“Ada beberapa orang, Kakang. Nanti Kakang dapat aku perkenalkan dengan mereka”

Sejenak kemudian pembicaraan mereka pun terhenti. Kemuning telah keluar lagi sambil membawa minuman. Seorang perempuan separo baya yang mengikut di belakang Kemuning membawa beberapa potong makanan.

“Silahkan, Paman” berkata Kemuning kemudian sambil duduk pula di sebelah ibunya. Sementara itu, perempuan yang sudah separo baya itu  pun telah masuk kembali ke ruang dalam.

Ki Pananggungan kemudian menghirup minuman hangat serta memungut sepotong makanan. Terasa minuman itu telah menyegarkan tubuhnya.

Sambil makan dan minum, mereka pun kemudian berbincang tentang berbagai macam hal. Tentang sawah dan ladang. Tentang air dan tentang musim.

Namun kemudian Nyi Pupus Rembulung itu  pun berkata kepada Kemuning, “Siapkan sentong sebelah kanan itu bagi pamanmu, Kemuning. Mungkin pamanmu ingin beristirahat setelah menempuh perjalanan yang panjang”

Kemuning pun kemudian beranjak pula dari tempatnya untuk membersihkan dan membenahi sentong sebelah kanan yang disediakan bagi Ki Pananggungan.

Tetapi Ki Pananggungan sendiri masih duduk di pendapa bersama Repak Rembulung, Pupus Rembulung dan Nyi Permati.

Nampaknya bahan pembicaraan tidak akan segera habis. Ada saja yang mereka bicarakan setelah beberapa lama mereka tidak bertemu.

Kemuning yang telah selesai membersihkan sentong sebelah kanan itu pun segera kembali ke pendapa. “Paman” berkata Kemuning kemudian, “jika Paman ingin beristirahat, sentong sebelah kanan telah aku siapkan”

“Aku tidak letih, Kemuning. Aku ingin duduk saja di sini, berbincang dan Ayah, Ibu dan pemomongmu. Sudah lama kami tidak berbicara tentang apa saja. Meskipun barangkali kami hanya saling membual”

Repak Rembulung tertawa. Katanya, “Jadi Kakang masih juga sering membual?”

Ki Pananggungan  pun tertawa pula. Namun Ki Pananggungan itu pun kemudian berkata, “Repak Rembulung, karena baru kali ini aku melihat rumahmu, maka aku ingin dapat melihat-lihat isi halaman dan kebunmu.

Nampaknya halaman rumah dan kebunmu sangat luas”

“Aku membeli pategalan milik beberapa orang, Kakang. Pategalan yang tidak banyak menghasilkan, karena tanahnya memang kurang baik untuk ditanami”

“Apa saja yang ada di kebun belakang rumahmu sekarang?”

“Kami telah membuat belumbang, Kakang” sahut Pupus Rembulung. “Kami memelihara berbagai jenis ikan di belumbang kami”

“Dari mana kau dapat air untuk mengisi belumbangmu itu?”

“Kami membuat parit, Kakang. Parit yang khusus untuk mengairi belumbang kami”

“Kami sudah minta ijin, Kakang. Kami memberikan sekedar uang bagi keperluan padukuhan sebagai imbalan. Tetapi ternyata para petani di padukuhan itu tidak dirugikan. Airnya cukup deras meskipun dikurangi sedikit untuk mengaliri belumbang kami. Ketika kami baru mulai mengairi untuk mengisi belumbang yang kami buat itu, kami memang menghisap air cukup banyak. Tetapi setelah belumbang itu penuh, maka untuk selanjutnya, kami hanya memerlukan air sedikit saja. Para petani sama sekali tidak merasa berkeberatan. Apalagi karena kami tidak pernah melarang anak-anak para petani itu mengail di belumbang kami. Tetapi tentu saja tidak di belumbang induk. Tetapi belumbang yang khusus kami sediakan bagi mereka. Namun sekali-sekali, pada saat-saat tertentu, kami beri kesempatan mereka memancing di belumbang induk. Sedangkan para petani yang memberikan kesempatan kepada kami, kami beri sekedar uang sebagai ganti rugi”

Ki Pananggungan mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa Repak Rembulung dan Pupus Rembulung bersikap baik kepada para tetangganya.

“Kau mau mengantarkan melihat-lihat halaman rumahmu?”

“Tentu, Kakang” berkata Repak Rembulung. “Tetapi apakah Kakang tidak ingin beristirahat dahulu. Nanti, setelah Kakang sempat makan, kita melihat-lihat kebun belakang”

“Kita melihat-lihat saja dahulu. Aku tahu, di dapur, pembantumu tentu baru sibuk menanak nasi dan membuat lauknya. Sambil menunggu, kita berjalan-jalan di kebun belakang”

Repak Rembulung berpaling kepada Pupus Rembulung sambil bertanya, “Apakah nasi masih belum masak?”

“Belum, Kakang. Kami sedang mempersiapkannya” jawab Pupus Rembulung sambil tertawa

“Baiklah” berkata Repak Rembulung. “Marilah, aku antar Kakang melihat-lihat halaman dan kebun rumahku. Tetapi Kakang jangan kecewa, halaman dan kebun kami tidak sebersih halaman dan kebun rumah Kakang”

“Tetapi luas halaman dan kebun rumahmu ini ada beberapa kali lipat luas halaman rumahku. Mungkin sepuluh kali. Bahkan mungkin lebih”

“Baru setelah aku membuat belumbang, tanah bekas pategalan ini mulai nampak hijau, Kakang. Pepohonan yang semula daunnya kekuning-kuningan, memang telah berusaha menjadi hijau”

Ki Pananggungan mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun segera bangkit berdiri sambil berkata, “Marilah. Supaya kita tidak merasa terlalu lama menunggu nasi masak”

Repak Rembulung, Pupus Rembulung dan Nyi Permati tertawa.
Sejenak kemudian, Repak Rembulung telah mengantarkan Ki Pananggungan turun ke halaman. Lewat di samping kanan mereka pergi ke halaman belakang.

Ketika mereka melewati gandok, anak muda yang bergurau dengan Kemuning di seketeng, berdiri di pintu salah satu bilik gandok sambil memandang Ki Pananggungan dengan tajamnya. Namun kemudian anak muda itu pun bergeser dan hilang di balik dinding.

Ki Pananggungan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak bertanya tentang anak muda itu. Repak Rembulung tentu akan menjawab, bahwa anak muda itu adalah salah seorang dari mereka yang datang dari pinggir Kali Praga itu.

Halaman dan kebun rumah Repak Rembulung memang luas sekali. Di halaman samping rumah itu terdapat sebuah kandang kuda. Kemudian terdapat pula kandang lembu dan kerbau. Bahkan kandang kambing. Sedangkan di sekitarnya berkeliaran berpuluh ekor ayam.

“Apa saja yang tidak kau pelihara, Repak Rembulung?”

“Aku juga ingin memelihara harimau” berkata Repak Rembulung sambil tertawa.

Ki Pananggungan  pun tertawa pula. Hampir saja ia berkata, bahwa sekarang Repak Rembulung sudah memelihara harimau yang pada suatu saat akan mengaum dan bahkan mungkin menerkam Repak Rembulung itu sendiri.

Namun Ki Pananggungan itu pun berkata, “Apakah kau tidak pernah mendengar ceritera tentang saudagar dari Batikan yang memelihara harimau?”

“Ceritera yang mana, Kakang?”

“Harimau itu sudah menjadi jinak. Tetapi ketika saudagar itu duduk terkantuk-kantuk, tidak disadarinya harimau itu menjilati kakinya. Karena lidah harimau itu kasar, maka kulit kaki saudagar itu sedikit terkelupas. Nah, bau darah yang mengembun dari luka itu membuat harimau itu menjadi liar. Untung saja saudagar itu sempat memberi isyarat kepada pembantu-pembantunya. Tiga orang bersenjata tombak telah mengakhiri hidup harimau yang telah jinak itu. Meskipun demikian, saudagar itu menangisinya juga”

Repak Rembulung tertawa sambil berkata, “Saudagar itu ternyata kurang berhati-hati, Kakang. Jika aku memelihara harimau, maka aku tidak akan membiarkan harimau itu mencium bau darah di tubuhku”

“Ya. Tetapi sebaiknya kau memelihara kucing saja”

Ki Repak Rembulung tertawa berkepanjangan. Dalam pada itu, selagi Repak Rembulung mengantar Ki Pananggungan melihat-lihat halaman dan kebun di belakang, seorang laki-laki yang berwajah garang masuk ke ruang dalam rumah Repak Rembulung itu lewat pintu butulan.

“Siapa orang itu, Nyi?” bertanya orang itu.

“Ki Pananggungan” jawab Pupus Rembulung.

“Ki Pananggungan” ulang orang itu.

“Kakak Ki Repak Rembulung”

“Kakang kandungnya?”

“Ya, kakang kandungnya”

Orang itu mengangguk-angguk. Namun ia masih juga bertanya, “Untuk apa ia datang kemari?”

“Sudah lama mereka tidak bertemu. Kakang Pananggungan juga merasa rindu kepada Kemuning yang untuk beberapa lama pernah tinggal bersamanya”

“Kenapa Ki Repak Rembulung tidak mengajak Kemuning saja yang pergi menemui uwaknya”

“Apa salahnya Kakang Repak Rembulung datang menemui kami?”

“Aku tidak senang ada orang lain datang ke rumah ini”

Wajah Nyi Pupus Rembulung menjadi tegang. Katanya, “Kenapa kau merasa tidak senang? Rumah ini rumah kami. Kami dapat menerima siapa saja sekehendak kami. Justru kau orang asing di sini”

“Tetapi kita sudah membuat kesepakatan untuk membentuk masa depan”

“Tetapi tidak ada kesepakatan bahwa kami harus menolak saudara-saudara kami yang datang berkunjung ke rumah ini”

“Waktumu tidak akan panjang lagi. Menurut kesepakatan kita, setelah dua tahun maka akulah yang akan memimpin tempat ini, yang akan menjadi semacam sebuah padepokan. Kalian akan kembali atas tempat ini. Nah, sejak anak-anak itu berada di sini, kita sudah melewati tengah tahun pertama”

“Tidak ada yang mengatakan bahwa aku akan memimpin tempat ini”

“Bukankah kita sepakat bahwa aku akan menentukan seseorang yang akan memimpin anak-anak itu?”

“Apakah itu berarti bahwa kau akan menjadi pemimpin di sini dan mengusir kami pergi?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku tidak senang jika orang itu akan menimbulkan gangguan bagi anak-anakku yang ada di sini”

“Orang itu adalah saudara kami. Tidak ada orang yang dapat mencegah kehadirannya di sini”

Orang itu memandang Nyi Pupus Rembulung dengan tajamnya. Namun kemudian ia pun berkata, “Aku akan memantau terus, apakah yang dilakukannya di sini”

“Justru kaulah yang jangan mencoba-coba mengganggu Kakang Pananggungan jika kau tidak ingin mendapatkan kesulitan”

Orang itu tidak menyahut. Namun ia pun segera meninggalkan ruang dalam.

Pupus Rembulung menarik nafas panjang. Namun ia pun kemudian telah pergi ke dapur untuk melihat, apakah segala sesuatunya sudah siap dihidangkan. Sambil menunggu, Nyi Pupus Rembulung duduk merenung di amben panjang yang terletak di sudut dapur. Sejak orang itu datang, beberapa pekan yang lalu, kehidupan di rumahnya menjadi gelisah. Meskipun beberapa anak muda sudah berada di rumah itu sejak beberapa bulan, namun tidak pernah timbul persoalan yang rumit. Anak-anak muda itu patuh kepada Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung dan bahkan mereka telah menganggap keduanya sebagai guru mereka.

Namun kedatangan orang yang garang itu telah merusak segala-galanya.

Orang itu memang berniat untuk mengambil alih hak yang ada pada Repak Rembulung dan Pupus Rembulung di rumah mereka sendiri.

Orang itu sudah merebut pengaruh Repak Rembulung dan Pupus Rembulung atas anak-anak muda yang dititipkan kepadanya. Meskipun orang itu yang menitipkan anak-anak muda itu kepadanya, tetapi hak dan wewenang Repak Rembulung dan Pupus Rembulung di rumah itu tidak seharusnya diganggu gugat.

Pupus Rembulung menarik nafas dalam-dalam. Jika orang itu mengganggu Ki Pananggungan, maka ia akan menyesal.

Meskipun Pupus Rembulung tahu bahwa orang itu juga berilmu tinggi, namun menurut perhitungan Pupus Rembulung, ilmunya masih belum dapat melampaui ilmu Ki Pananggungan. Bahkan Nyi Pupus Rembulung sendiri masih merasa mampu untuk mengimbangi ilmunya.

Dalam pada itu, Ki Pananggungan masih berada di kebun belakang rumah Repak Rembulung. Beberapa lama ia berada di tepi belumbang kecil yang dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun. Di dalam belumbang itu terdapat beberapa jenis ikan yang berenang hilir-mudik dengan nyamannya.

Di sebelah dari belumbang itu terdapat sebuah belumbang yang lebih kecil. Belumbang yang menurut Repak Rembulung diperuntukkan bagi anak-anak yang ingin mengail ikan.

“Dari mana mereka masuk?” bertanya Ki Pananggungan sambil memandang berkeliling. Ia melihat halaman rumah Repak Rembulung itu dikelilingi oleh dinding yang agak tinggi.

“Mereka masuk lewat regol di depan” jawab Repak Rembulung. “Aku lebih senang mereka keluar masuk lewat regol daripada lewat jalan lain atau bersembunyi-sembunyi. Kami, penghuni rumah ini, tidak pernah menegur anak-anak yang keluar masuk regol halaman sambil membawa pancing”

Ki Pananggungan mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Nampaknya kalian tidak pernah kekurangan lauk. Kau dapat menangkap ikan di belumbang, menangkap seekor ayam atau mengambil telurnya. Atau bahkan sekali-sekali kambing muda”

“Kami makan seadanya, Kakang. Sayur-sayuran dan sekali-sekali kami memang menangkap ikan atau ayam. Jumlah keluargaku sekarang cukup banyak. Jika kami harus makan dengan daging, apakah itu daging ikan air atau daging ayam atau daging kambing, kami akan menjadi cepat melarat”

Ki Pananggungan tertawa. Katanya, “Kau mempunyai berpuluh-puluh ekor ayam dan kambing. Ikan sebelumbang”

Repak Rembulung tertawa pula. Namun dalam pada itu, Ki Pananggungan  pun tiba-tiba saja bertanya, “Berapa orang saudara istrimu yang ada di sini?”

“Sepuluh orang”

“Di antaranya masih muda-muda”

“Ya. Kemenakan Pupus Rembulung. Ada lima orang anak muda di sini”

“Lima orang?”

“Mereka adalah kemenakan Pupus Rembulung. Tiga orang anak sepupu Pupus Rembulung. Sedangkan yang dua orang adalah anak bibinya”

Ki Pananggungan mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya lagi, “Lima orang lainnya?”

“Mereka adalah sepupu dan paman Pupus Rembulung”

“Semua laki-laki?”

Repak Rembulung mengerutkan dahinya. Dipandanginya Ki Pananggungan sekilas. Namun kemudian dialihkannya pandangan matanya ke sekelompok ikan yang sedang berenang.

“Ya, Kakang” suara Repak Rembulung terdengar dalam sekali. Ki Pananggungan merasakan getar suara Repak Rembulung.

Agaknya Repak Rembulung akan mengalami kesulitan jika ia bertanya lebih jauh tentang orang-orang yang diakui sebagai sanak kadang dari Pupus Rembulung.

Keduanya pun kemudian melangkah meninggalkan belumbang yang sejuk itu. Ketika mereka mendekati dua bangunan yang terpisah dari rumah induk, Ki Pananggungan itu pun bertanya, “Bangunan apa lagi ini, Repak Rembulung?”

Repak Rembulung nampak ragu-ragu. Namun ia pun kemudian menjawab, “Sanggar, Kakang. Keduanya adalah sanggar”

“Sanggar? Jadi kau dan Pupus Rembulung mempunyai sanggar sendiri-sendiri?”

Repak Rembulung masih saja nampak ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian mengangguk sambil menjawab, “Ya, Kakang”

“Luar biasa. Apakah aku boleh masuk?”

“Apa yang akan Kakang lihat di dalam sanggar kami? Sanggar kami amat memalukan. Tidak ada yang berarti apa-apa”

“Apa pun isinya, aku ingin melihat jika kau tidak berkeberatan”

Repak Rembulung tidak dapat menolak. Karena itu, maka dibawanya Ki Pananggungan memasuki salah satu dari kedua sanggar itu.

Namun ternyata Ki Pananggungan terkejut. Isi sanggar itu sangat lengkap. Dari segala jenis peralatan untuk latihan, serta segala macam senjata, ada di dalam sanggar itu. Tiang-tiang bambu. Palang kayu dan bambu. Tali temali yang bergayutan. Rajut dari ijuk, pasir dan kerikil dalam kotak-kotak yang besar. Perapian dan berbagai macam alat yang lain. Sementara itu di dinding sanggar bergayutan berbagai macam senjata. Bahkan jenis-jenis senjata dari negeri asing.

“Inikah yang kau katakan memalukan?”

“Hanya seadanya, Kakang”

“Jarang sekali aku melihat sanggar yang lengkap seperti ini. Tetapi bagaimana dengan yang satunya lagi?”

Repak Rembulung terpaksa membawa Ki Pananggungan memasuki sanggar yang satu lagi. Berbeda dengan sanggar yang pertama, maka sanggar ini tidak terlalu banyak isinya. Bahkan hampir-hampir kosong. Yang ada hanyalah patok-patok rendah yang tidak sama tingginya. Beberapa utas tali yang bergayut pada belandar bangunan sanggar.

Ki Pananggungan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Di sini mereka berlatih menguasai tubuh sebaik-baiknya. Pemantapan unsur-unsur gerak dan tatanan patrap dari ilmu yang kau ajarkan. Mereka yang berlatih di sanggar seperti ini akan dapat bertempur seperti seekor burung alap-alap”

“Aku tidak melatih siapa-siapa, Kakang. Aku berlatih bagi diriku sendiri bersama Pupus Rembulung”

“Kau dan Pupus Rembulung akan menjadi sepasang suami istri yang jarang ada duanya”

“Tetapi kami bukan apa-apa bagi Kakang. Ilmu Kakang benar-benar hampir sempurna”

“Apa yang dapat aku lakukan, Repak Rembulung? Aku berdoa, mudah-mudahan kau akan dapat menguasai ilmu kanuragan yang sangat tinggi. Kemudian kau dapat memanfaatkan ilmumu bagi kebajikan. Kau amalkan ilmumu bagi sesama yang memerlukan pertolonganmu dalam jalan kebenaran”

Repak Rembulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kakang mengetahui apa yang pernah aku lakukan? Seandainya aku ingin, namun aku sudah berdiri di sini sekarang”

Ki Pananggungan tersenyum. Sambil menepuk bahu adiknya ia pun berkata, “Masih ada sedikit waktu sebelum maut menjemput kita”

“Maksud Kakang?”

Ki Pananggungan memandang Repak Rembulung sejenak. Namun kemudian sambil tersenyum ia pun berkata, “Marilah, kita melihat bagian lain dari halaman dan kebunmu ini”

Namun ketika keduanya keluar, maka mereka dapati Kemuning berlari-lari ke arah mereka.

“Aku mencari Ayah dan Paman” berkata Kemuning.

“Ada apa, Kemuning?” bertanya Repak Rembulung.

“Makan bagi Ayah dan Paman sudah disediakan. Mumpung masih hangat”

“Nah, yang kita tunggu-tunggu itu sudah siap. Sebenarnya aku sudah sangat lapar” sahut Ki Pananggungan.

“Marilah, Paman”

Keduanya pun kemudian melangkah ke bangunan induk rumah Ki Repak Rembulung.

“Gandokmu panjang sekali, Repak Rembulung” berkata Ki Pananggungan.

“Ternyata sekarang semuanya terisi, Kakang”

“Kau belum memperkenalkan aku dengan saudara-saudara Pupus Rembulung itu”

“Nanti kami akan memperkenalkan Kakang dengan mereka”

“Siapakah yang tertua di antara mereka?”

“Pamannya. Seorang yang keras hati”

“Namanya?”

Repak Rembulung memandang Ki Pananggungan dengan tajamnya. Bahkan ia pun berhenti melangkah.

Ki Pananggungan pun berhenti pula.

“Kakang adalah seorang yang memiliki pengalaman yang luas. Meskipun pada saat terakhir Kakang telah memilih untuk tetap tinggal di rumah, tetapi pengalaman Kakang sebelumnya tentu tidak akan terhapus begitu saja”

“Maksudmu?”

“Kakang. Apakah Kakang mengenal seorang yang berilmu tinggi yang sudah agak lama tidak terdengar lagi namanya. Namun tiba-tiba saja ia muncul kembali sebagai seorang pemimpin padepokan di kaki sebelah timur Gunung Merapi?”

Jantung Ki Pananggungan berdesis. Namun Ki Pananggungan itu menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak, Repak Rembulung. Aku tidak tahu siapakah yang kau maksud?”

Repak Rembulung itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah, Kakang. Biarlah nanti aku perkenalkan Kakang dengan mereka”

Ki Pananggungan tidak menjawab. Tetapi bahwa Repak Rembulung bersedia memperkenalkannya dengan orang yang tinggal bersamanya itu, akan memberi kesempatan kepadanya untuk mengetahui, siapakah yang dimaksud oleh Repak Rembulung itu.

Demikianlah, maka keduanya pun kemudian telah kembali ke pendapa. Tetapi Nyi Pupus Rembulung telah mempersilahkan mereka memasuki ruang dalam. Nyi Pupus Rembulung dan Nyi Permati telah menyiapkan nasi dan kelengkapannya bagi tamunya.

“Marilah, Kakang” Pupus Rembulung pun mempersilahkan Ki Pananggungan untuk duduk di ruang tengah. Namun baru saja Ki Pananggungan duduk bersama Ki Repak Rembulung, Nyi Pupus Rembulung dan Nyi Permati, laki-laki yang berwajah garang itu pun masuk ke ruang dalam itu pula.

“Aku juga lapar” katanya. “Apakah aku boleh ikut makan?”

“Bukankah kau sudah makan?” sahut Ki Repak Rembulung.

Namun ia pun kemudian berkata selanjutnya, “Tetapi jika kau akan makan bersama kami, silahkan”

“Kau juga sudah makan tadi” jawab orang itu. “Tetapi kau akan makan juga sekarang”

“Aku akan menemani Kakang makan. Tentu terasa lebih enak jika Kakang tidak makan sendiri”

“Semakin banyak kawannya tentu semakin terasa enak. Nah, aku akan ikut serta bersama kalian”

Pupus Rembulung mengerutkan dahinya. Namun ia tidak berkata apa-apa. Sementara itu, Nyi Permati nampak gelisah. Agaknya ia merasa tidak senang dengan sikap orang itu. Tetapi Nyi Permati tidak pernah dapat ikut berbicara tentang orang itu, yang menurut Repak Rembulung dan Pupus Rembulung, orang itu adalah paman Pupus Rembulung yang datang dari pinggir Kali Praga.

Sejenak kemudian, maka orang itu telah duduk di sebelah Ki Repak Rembulung. dipandanginya Ki Pananggungan dengan tajamnya. Sambil memungut sepotong paha ayam yang digoreng tanpa menghiraukan orang lain yang duduk di sebelah-menyebelahnya, orang itu bertanya kepada Ki Pananggungan, “Namamu siapa, Ki Sanak? Dan di mana rumahmu?”

Ki Pananggungan mencoba bersikap ramah betapapun jantungnya tergetar. Katanya, “Namaku Pananggungan, Ki Sanak. Aku tinggal di Kembang Arum. Aku adalah kakak Repak Rembulung. Jika aku boleh tahu, siapakah nama Ki Sanak?”

“Apakah kau belum pernah mendengar nama Lenglengan? Namaku Ki Gede Lenglengan”

Dada Ki Pananggungan bergetar. Sementara itu Ki Gede Lenglengan itu pun berkata, “Jika kau bukan kakak kandung Repak Rembulung, aku tidak akan mengaku, bahwa aku adalah Lenglengan. Terus terang, aku adalah buruan orang-orang Pajang. Karena itu, aku minta mulutmu jangan asal saja menganga menyebut namaku. Jika didengar oleh orang Pajang, atau oleh penjilat-penjilat yang berjiwa budak, maka Pajang tentu akan mengirimkan pasukan segelar-sepapan dipimpin oleh orang-orang terbaiknya, karena Pajang tahu, bahwa aku berilmu sangat tinggi. Jika itu terjadi, bukan hanya aku yang akan mengalami kesulitan. Mungkin aku sendiri, secara pribadi, akan dapat dengan mudah meloloskan diri. Tetapi Repak Rembulung, Pupus Rembulung dan anak-anakku akan menjadi korban. Karena itu, jika kau sayang kepada adikmu, kau akan merahasiakan kehadiranku di sini bersama anak-anakku”

Ki Pananggungan mengangguk-angguk. Sementara Repak Rembulung pun berkata, “Bukankah aku tidak perlu memperkenalkan lagi? Ki Gede Lenglengan telah memperkenalkan dirinya. Ia di sini bersama dengan sembilan orang kawan-kawannya”

“Lima orang adalah anak-anakku” sahut Ki Gede Lenglengan.

Ki Pananggungan masih saja mengangguk-angguk.

“Jadi hanya ada lima orang anak muda yang berada di sini” berkata Ki Pananggungan di dalam hatinya. Namun ia pun sadar, bahwa empat orang yang lain, tentu orang-orang berilmu tinggi pula.

“Jadi mereka bukan paman dari Nyi Pupus Rembulung yang datang dari pinggir Kali Praga?” bertanya Ki Pananggungan kepada Pupus Rembulung.

Pupus Rembulung menggelengkan kepalanya. Katanya dengan suara yang berat, “Bukan, Kakang. Mereka sebenarnya bukan sanak saudaraku dari pinggir Kali Praga. Tetapi mereka adalah kawan lamaku, kawan yang sudah agak lama tidak bertemu.

Namun tiba-tiba saja kami berhubungan lagi. Ki Gede Lenglengan telah menitipkan lima orang anaknya di sini sejak hatinya merasa tidak tenteram karena gangguan orang-orang Pajang atas padepokannya”

“Orang-orang Pajang adalah orang-orang gila” berkata Ki Gede Lenglengan. “Mereka merampok pajak yang dipungutnya dengan paksa pada rakyatnya. Hadiwijaya adalah laki-laki selingkuh. Pemanahan adalah orang yang tamak seperti Panjawi yang kini berada di Pati. Patih Pramancanegara sama sekali tidak mempunyai wibawa, sehingga hampir-hampir tidak pernah berperan dalam persoalan apa pun, kecuali melayani Hadiwijaya sebagaimana seorang budak melayani tuannya”

Ki Pananggungan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku orang yang tinggal jauh dari kotaraja. Yang aku tahu, di musim basah aku menanam padi. Di musim kering aku menanam palawija”

“Itu adalah kehidupan bagi kita, Kakang”

“Ya. Aku sudah merasa berbahagia jika hasil panenku melimpah. Lumbungku menjadi penuh hingga keluargaku tidak akan kelaparan sampai masa panen mendatang”

“Urusan kalian, orang-orang padesan, memang hanya urusan perut. Asal perut sudah kenyang, tidak peduli apa yang terjadi di pusat pemerintahan. Tetapi jika prajurit Pajang kapan-kapan sampai ke Kembang Arum dan memaksa kalian menyediakan pajak yang tinggi, baru kalian sadari, bahwa kalian tidak dapat hanya tinggal diam”

“Kami juga membayar pajak, Ki Gede” jawab Ki Pananggungan. “Tetapi sampai sekarang, pajak yang kami bayar adalah wajar-wajar saja”

“Mungkin bagi Kembang Arum. Tetapi bagi beberapa daerah yang lain rakyat diperas sampai darahnya menetes dan kering”

Ki Pananggungan hanya mengangguk-angguk saja.

“Nah, sekali lagi aku peringatkan, jangan membuka mulut di sembarang tempat kepada sembarang orang kalau kau tidak ingin adikmu dipenggal kepalanya”

Sebelum Ki Pananggungan menjawab, Ki Gede Lenglengan itu sudah bangkit sambil menggigit daging ayam yang masih dipegangnya. Ia pun kemudian pergi meninggalkan orang-orang yang masih duduk dan bersiap untuk makan.

“Kau tidak jadi makan?” bertanya Ki Repak Rembulung.

“Tidak. Nanti saja” jawab orang itu sambil mengunyah.

Ki Pananggungan menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Nyi Pupus Rembulung pun berkata, “Aku minta maaf, Kakang, bahwa di rumahku tinggal orang edan itu”

Ki Pananggungan mengangguk-angguk. Bahkan ia pun tersenyum sambil berkata, “Bagaimana ceriteranya, bahwa orang itu dapat sampai di sini?”

“Ceriteranya panjang, Kakang” jawab Repak Rembulung.

“Bahkan Nyi Permati  pun tidak tahu, siapakah mereka sebenarnya”

Ki Pananggungan memandang wajah Nyi Permati sekilas. Namun wajah perempuan itu menunduk dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba saja Pupus Rembulung berkata, “Kakang, silahkan makan dahulu. Nanti nasinya dingin”

“O. Baiklah. Aku juga sudah lapar”

Sejenak kemudian, maka mereka pun mulai makan. Ki Pananggungan berharap, bahwa Repak Rembulung akan berceritera tentang Ki Gede Lenglengan. Tetapi ternyata Repak Rembulung justru makan sambil merenung.

Ki Pananggungan itu mengangkat wajahnya ketika ia mendengar suara Kemuning tertawa. Kemudian terdengar suara seorang anak muda tertawa pula. Namun kemudian keduanya itu  pun melangkah menjauh.

Tiba-tiba saja terdengar Nyi Permati berdesis perlahan, “Kemuning sekarang sudah berubah”

Ki Pananggungan memandang wajah Nyi Permati sekilas. Namun kemudian ia berpaling ketika Pupus Rembulung berkata, “Kemuning mempunyai beberapa orang kawan sekarang, meskipun bukan gadis-gadis sebayanya”

“Anak-anak muda itu maksudmu?” bertanya Ki Pananggungan.

“Ya, Kakang. Pada gadis itu nampak wajahnya sedikit berseri. Ia tidak lagi pendiam seperti saat Kemuning pergi mencari Kakang. Ia mendapatkan sedikit kegembiraan. Ia mempunyai kawan berlatih untuk meningkatkan ilmunya. Nampaknya Kemuning  pun menjadi semakin bergairah untuk memperdalam ilmu kanuragan”

“Syukurlah, Nyi” sahut Ki Pananggungan. “Tetapi kau sebagai seorang ibu harus berhati-hati mengawasi anakmu yang sudah meningkat dewasa. Di rumah ini ada beberapa orang anak muda. Bagaimanapun juga, kau harus membatasi hubungan mereka dengan anakmu yang sudah gadis dewasa itu”

Repak Rembulung tiba-tiba menyahut, “Aku juga sudah sering berpesan, Kakang. Aku juga sudah langsung berbicara dengan Kemuning. Sementara itu Nyi Permati juga selalu mengawasinya”

“Tetapi Kemuning sekarang tidak lagi mendengarkan kata-kataku”

“Itu tidak boleh terjadi” sahut Nyi Pupus Rembulung. “Kemuning harus selalu mendengarkan petunjuk Nyi Permati. Aku memang agak longgar akhir-akhir ini. Tetapi peringatan Kakang Pananggungan akan aku perhatikan. Agaknya anak-anak Lenglengan itu mulai berubah pula sejak Lenglengan ada di sini. Mereka lebih memperhatikan Lenglengan daripada kami. Bahkan nampaknya wibawa kami terhadap mereka pun mulai memudar. Agaknya terhadap Kemuning pun mereka lebih berani pula menggoda”

“Kau harus memperhatikan semua gejala yang timbul dalam pergaulan anakmu itu dengan anak-anak muda yang ada di rumahmu ini. Bukankah kau belum yakin akan latar belakang keluarga mereka serta jatidiri mereka yang sebenarnya. Jika anakmu nampak lebih cerah, kau harus tahu sebabnya. Jika ia semakin bergairah, apakah gairah itu murni karena Kemuning ingin meningkatkan kemampuannya atau karena ia akan dapat berlatih bersama anak-anak muda itu”

Nyi Pupus Rembulung mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia pun menjawab, “Ya, Kakang”

“Sementara itu, terus terang, aku agak tersinggung dengan sikap dan kata-kata orang yang menyebut dirinya Ki Gede Lenglengan”

“Namanya memang Lenglengan, Kakang. Sejak masa mudanya, ia memang seorang yang aneh. Yang tidak mau terikat oleh tatanan apa pun. Ia merasa bahwa dirinya adalah tatanan itu”

“Hati-hatilah menghadapi orang seperti itu” desis Ki Pananggungan.

Repak Rembulung dan Pupus Rembulung mengangguk-angguk kecil. Bagaimanapun juga Ki Pananggungan adalah saudara tua mereka. Apalagi keduanya menyadari, bahwa Ki Pananggungan adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.

Namun Ki Pananggungan merasa lebih baik hidup tenang di rumahnya sebagai seorang petani. Namun Repak Rembulung dan Pupus Rembulung  pun menyadari, bahwa saudara tuanya itu telah mengetahui banyak tentang diri mereka, petualangan mereka dan sisi-sisi yang gelap dari kehidupan mereka. Karena itu pulalah Ki Pananggungan tidak bertanya kepada mereka, dari mana Repak Rembulung dan Pupus Rembulung mendapatkan uang cukup banyak untuk membeli tanah dan membangun rumah yang besar itu.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Nyi Pupus Rembulunglah yang memecah kediaman itu, “Marilah, Kakang. Silahkan makan sebaik-baiknya. Hanya inilah yang dapat kami sajikan”

“Ternyata perutku tidak seberapa banyak isinya” sahut Ki Pananggungan.

“Kakang Repak Rembulung kalau makan, dua kali lipat dari yang Kakang habiskan sekarang”

“Suamimu masih lebih muda. Lebih banyak pula kerja yang ia lakukan. Adalah wajar jika ia makan lebih banyak atau bahkan berlipat dari yang dapat aku makan”

Repak Rembulung tertawa. Katanya, “Kakang, aku belum lama baru saja makan. Jika aku lapar, maka aku dapat makan dua kali lipat dari yang aku makan tadi”

“Sudah seharusnya kau makan lebih banyak. Ujud lahiriahmu  pun sudah memberi isyarat, bahwa kau tentu dapat makan banyak sekali”

Mereka yang sedang makan itu  pun tertawa. Setelah mereka selesai makan, maka Ki Repak Rembulung pun mengajak Ki Pananggungan duduk di pringgitan.

Terasa angin yang sejuk mengusap kening mereka yang berkeringat. Nasi hangat serta sambal terasi dengan lalapan, membuat mereka berkeringat.

Beberapa saat mereka duduk di pringgitan, Ki Pananggungan melihat seorang perempuan sedang menyapu halaman depan yang luas. Sekali-sekali perempuan itu berhenti, berdiri tegak sambil menekan pinggangnya di sebelah tangannya. Kemudian dengan lengan bajunya menyeka keringat yang mengembun dari tubuhnya.

“Siapa yang menyapu halaman itu?” bertanya Ki Pananggungan,

“Seorang yang membantu Pupus Rembulung menyelenggarakan pekerjaan di rumah ini, Kakang. Perempuan itu tinggal tidak terlalu jauh dari rumahku ini. Ia seorang janda yang mempunyai tiga orang anak”

“Anak-anaknya juga membantu di rumahmu ini?”

“Tidak. Mereka menggarap sawah yang ditinggalkan oleh ayah mereka. Tetapi sawah itu tidak seberapa luas. Karena itu, maka perempuan itu bekerja di sini. Setidak-tidaknya bagi perempuan itu sendiri tidak akan kekurangan makan. Bahkan serba sedikit ia mendapat uang untuk membeli minyak kelapa buat mengisi lampu dlupak yang dapat menerangi rumahnya di malam hari”

Ki Pananggungan mengangguk-angguk.

“Di Kembang Arum, Kemuning sangat rajin bekerja. Menyapu halaman, menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan, membersihkan perabot rumah serta membantu bibinya di dapur”

Repak Rembulung menarik nafas panjang. Katanya, “Ibunya sangat sayang kepadanya. Pupus Rembulung tidak memberikan tugas-tugas tertentu baginya, kecuali jika kebetulan Kemuning sendiri berniat”

“Lalu kenapa ia harus pulang karena di sini kebetulan banyak tamu, jika ia tidak perlu membantu Pupus Rembulung?”

“Yang sangat kami butuhkan justru Nyi Permati. Nyi Permati sangat pandai memasak. Meskipun ada perempuan lain yang dapat membantu Pupus Rembulung, tetapi yang membuat adonan masakan biasanya adalah Nyi Permati. Yang lain tinggal menyelesaikannya saja”

Ki Pananggungan mengangguk-angguk pula. Namun ia pun kemudian berkata, “Kalian tidak boleh terlalu memanjakan Kemuning. Ia akan menjadi malas dan bodoh. Kalian tentu tidak berkeberatan untuk menempa Kemuning menjadi seorang gadis yang memiliki ilmu kanuragan yang cukup. Tetapi seharusnya kalian juga membentuk Kemuning menjadi seorang perempuan. Sehingga dalam kebulatannya, Kemuning adalah seorang perempuan yang berilmu tinggi”

Ki Repak Rembulung mengangguk-angguk. Sementara Ki Pananggungan pun berkata, “Kau harus ingat siapakah Nyi Permati itu. Jadi setiap kali kau atau Pupus Rembulung mengambil sikap terhadap Kemuning, sebaiknya kau bicarakan dengan Nyi Permati. Meskipun sekarang Kemuning adalah anakmu dan anak Pupus Rembulung, tetapi Nyi Permati tentu mempunyai harapan-harapan pula atas anak itu”

Repak Rembulung mengangguk-angguk.

Namun dalam pada itu, pembicaraan mereka pun terputus. Perhatian Ki Pananggungan tertarik kepada Kemuning yang melintas di halaman. Dari sebelah gandok seorang anak muda menyusulnya. Keduanya pun kemudian berjalan bersama-sama.

Anak muda yang dilihatnya bergurau dengan Kemuning di seketeng. Keduanya memang nampak begitu akrab.

Ki Pananggungan memperhatikan anak muda itu dengan seksama. Seorang anak muda yang nampak cerdas. Tubuhnya yang gagah dalam keseimbangan antara tinggi dan besar tubuhnya. Kulitnya agak kekuning-kuningan. Namun karena anak muda itu ditempa oleh latihan-latihan yang berat, yang kadang-kadang dilakukan di teriknya sinar matahari, maka nampaknya kulitnya menjadi agak gelap. Meskipun demikian anak muda itu nampak bersih dan memancarkan kecerdasan otaknya.

Melihat anak muda itu, Ki Pananggungan segera teringat kepada Paksi. Anak muda yang berilmu tinggi. Meskipun masih belum dapat menyamai Pangeran Benawa, tetapi jarang dapat dicari bandingnya.

“Siapakah anak muda itu? Apakah ia juga salah seorang dari lima orang anak muda yang dititipkan oleh Ki Gede Lenglengan?”

“Ya, Kakang. Menurut Ki Gede Lenglengan, anak muda itu adalah anak seorang tumenggung”

Jantung Ki Pananggungan tergetar. Jika anak itu anak seorang tumenggung, apakah ada hubungannya dengan ceritera Paksi tentang adiknya. Pada anak muda itu memang nampak ada yang mirip dengan Paksi. Mungkin mata dan alisnya. Juga tubuhnya yang nampak kuat serta seimbang. Pandangannya yang tajam serta caranya berjalan dengan dada tegap menengadah.

Tetapi Paksi tidak selalu mengangkat wajahnya. Paksi justru lebih banyak menunduk. Hanya sekali-sekali Paksi mengangkat wajah. Namun sekilas ia memandang seseorang, maka tatapan matanya itu serasa menusuk sampai ke jantung.

“Anak muda ini nampak lebih gembira dari Paksi. Agaknya hatinya  pun lebih terbuka dan kekanak-kanakan. Sementara itu, Paksi selalu nampak bersungguh-sungguh dan lebih banyak diam” berkata Ki Pananggungan di dalam hatinya.

Namun Ki Pananggungan tidak bertanya tentang latar belakang kehidupan anak muda itu. Bahkan Ki Pananggungan itu bertanya, “Apakah hubungannya dengan Kemuning sangat akrab?”

“Hubungan mereka memang menjadi perhatian kami, Kakang. Terutama Nyi Permati. Berkali-kali ia minta agar aku dan Pupus Rembulung mengambil langkah-langkah tertentu untuk membatasi hubungan antara Kemuning dan anak-anak muda itu. Khususnya anak muda yang satu itu. Aku tidak tahu, kenapa Nyi Permati agaknya tidak senang kepada anak muda itu. Sementara itu kami, aku dan Pupus Rembulung, masih belum melihat cacat-cacat yang menyolok dari anak muda itu”

“Repak Rembulung, cacat terbesar dari anak muda itu adalah, bahwa ia diserahkan kepadamu oleh Ki Gede Lenglengan. Sementara itu kau tahu, siapakah Lenglengan itu. Bahkan latar belakang kehidupannya dan masa mudanya. Kau seharusnya sudah tahu, atau kau seharusnya menjadi lebih peka dari Nyi Permati tentang hubungan anak gadismu dengan anak-anak muda yang dititipkan oleh Ki Gede Lenglengan kepadamu, siapa pun anak muda itu. Bahkan anak siapapun. Karena kau tentu tahu selera Ki Gede Lenglengan. Kau tentu dapat menilai, isi dari orang-orang yang terpilih oleh Ki Gede Lenglengan”

“Kakang benar”

“Nah, bagaimana ceriteranya, sehingga kau dapat bekerja sama dengan orang itu”

“Alasannya sederhana sekali, Kakang. Ki Gede Lenglengan menawarkan biaya yang besar kepada kami untuk mengasuh anak-anak muda yang akan dititipkan kepada kami”

“Dan kau menerimanya?”

“Ya. Tetapi kami tentu mempunyai alasan, Kakang. Kami menerima tawaran itu, karena dengan demikian kami akan mendapatkan uang cukup tanpa harus menambah deretan dosa-dosa yang telah kami perbuat. Bukankah aku dapat menerima imbalan itu sebagai satu penghasilan yang bersih namun cukup banyak?”

“Tetapi bukankah kau tahu, dari mana Lenglengan mendapatkan uang itu? Apakah ada bedanya, jika uang itu kau pungut sendiri di rumah orang-orang kaya atau di jalan-jalan sepi?”

Ki Repak Rembulung menundukkan kepalanya.

Bagaimanapun garangnya Ki Repak Rembulung, namun ia berhadapan dengan kakaknya yang mempunyai wibawa yang besar serta diyakini memiliki ilmu yang sangat tinggi.

“Maaf Repak Rembulung, jika aku berbicara sebagai seorang saudara tua. Apalagi menyangkut Kemuning yang aku anggap sebagai anakku sendiri”

“Kakang benar. Aku memang harus memagari hubungan Kemuning dan anak-anak muda itu lebih rapat lagi. Jika terjadi sesuatu, wajahku yang hitam ini akan menjadi semakin kelam”

“Kau belum terlambat, Repak Rembulung”

“Aku akan meyakinkan Pupus Rembulung”

“Ia tentu akan sependapat. Betapapun warna getar kehidupan kalian di dalam petualangan kalian, namun kalian adalah orang tua yang baik di rumah”

Repak Rembulung menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, Ki Pananggungan melihat Kemuning berlari meninggalkan anak muda itu dan hilang di balik sudut gandok. Yang tertinggal hanyalah suara tertawanya saja yang berkepanjangan. Namun kemudian suara itu  pun menjadi semakin hilang pula.

“Mudah-mudahan kami tidak terlambat, Kakang” desis Repak Rembulung tiba-tiba.

“Belum. Kau belum terlambat”

“Maksudku, keakraban hubungan mereka. Seharusnya aku tahu sebagaimana Kakang katakan tadi. Aku harus mempunyai penilaian atas anak-anak muda yang menjadi pilihan Ki Gede Lenglengan”

“Masih ada waktu. Sementara itu nampaknya Ki Gede Lenglengan sendiri tidak pernah mengekang anak-anak asuhannya itu”

“Ya, Kakang”

“Bagi Ki Gede Lenglengan, hubungan antara anak asuhannya dengan anakmu akan dapat menimbulkan banyak keuntungan”

“Ya, Kakang”

“Kau beli tanah ini dari uang yang kau dapat dari Ki Gede Lenglengan?”

“Ya, Kakang. Sebagian besar memang”

“Kenapa tiba-tiba Ki Gede Lenglengan itu sekarang ikut bersama-sama anak-anak asuhannya itu di sini?”

“Ada yang mengkhianatinya, Kakang. Padepokannya yang terpencil dan seakan-akan terpisah diketahui oleh para prajurit Pajang”

“Kenapa Lenglengan dimusuhi oleh Pajang?”

Ki Repak Rembulung termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menjawab, “Ki Gede Lenglengan bekerja untuk Harya Wisaka”

Ki Pananggungan mengangguk-angguk. Dengan nada tinggi ia pun bertanya, “Nah, kau tahu artinya bagi dirimu sendiri?”

“Ya, Kakang. Kami  pun akan terlibat pula karena Harya Wisaka adalah seorang pemberontak”

“Repak Rembulung, kenapa tiba-tiba saja kau tersuruk ke dalam pengaruh Harya Wisaka? Bukankah kau dan beberapa kelompok yang gila dan bermimpi tentang cincin kerajaan itu seakan-akan bersaing dan saling bermusuhan dengan Harya Wisaka?”

“Ketika aku bertemu dengan Ki Gede Lenglengan, orang yang pernah aku kenal dengan baik sebelumnya, aku belum tahu hubungannya dengan Harya Wisaka. Aku tahu setelah kami membuat kesepakatan, serta anak-anak itu sudah berada di rumah ini”

“Dan kau tidak dapat lagi beringsut?”

“Ya. Sebagai seorang yang berpegang pada harga diri dan kebanggaan atas keberadaannya, maka aku harus berpegang pada janji dan kesepakatan”

“Bukan harga diri dan kebanggaan atas keberadaanmu di antara lingkunganmu, tetapi itu adalah keangkuhan semata-mata. Karena kau terbelenggu oleh sikapnya yang angkuh itu, maka kau tidak berani mengambil sikap atas kesepakatan yang telah kau buat, tetapi tidak kau sadari sepenuhnya latar belakang serta keadaan yang sebenarnya”

Repak Rembulung menarik nafas dalam-dalam.

Sementara itu Ki Pananggungan itu pun berkata, “Repak Rembulung, anggap saja pendapatku itu sebagai masukan. Segala sesuatunya terserah kepadamu. Aku tahu bahwa ada batasan-batasan yang tidak dapat kau langgar. Sehingga hanya kaulah yang dapat mengambil keputusan. Tetapi bagaimanapun juga, Kemuning harus kau pagari agar gadis itu selamat”

“Kakang” suara Ki Repak Rembulung merendah, “apakah aku boleh bertanya?”

“Tentang apa?”

“Anak muda yang pernah menyelamatkan Kemuning”

Ki Pananggungan mengerutkan dahinya. Dengan ragu-ragu ia pun bertanya, “Apa yang ingin kau tanyakan tentang anak muda itu?”

“Kakang, menurut Nyi Permati, nampaknya ada benang yang lembut yang pada waktu itu mulai membelit hati Kemuning”

“Ya” Ki Pananggungan mengangguk.

“Itukah sebabnya Kakang nampaknya sangat berkeberatan melihat Kemuning bebas bergaul dengan anak-anak muda itu?”

“Antara lain juga karena itu, Repak Rembulung” jawab Ki Pananggungan dengan jujur. Namun katanya kemudian, “Tetapi bukan hanya itu”

“Bukankah anak muda itu sudah pergi dan apakah dapat diharapkan akan kembali?”

Ki Pananggungan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Aku berharap anak itu akan kembali”

“Jika tidak?”

“Maksudmu, biarlah Kemuning memilih yang ada sekarang?”

Repak Rembulung menarik nafas panjang. Katanya, “Jangan menanggapi pertanyaanku sebagai satu usaha untuk membenarkan sikap kami yang lemah terhadap Kemuning. Kami tetap mengakui dan menghargai petunjuk-petunjuk Kakang. Kami akan berbuat lebih baik bagi Kemuning”

“Aku mengerti maksudmu, Repak Rembulung. Seandainya anak muda yang pernah menolong Kemuning, membebaskannya dari tangan Bahu Langlang itu tidak kembali, kau harus tetap membuat pagar yang rapat di antara Kemuning dan anak-anak muda itu. Jika terjadi sesuatu, maka kaulah yang akan menanggung beban paling berat, justru karena kaulah yang mempunyai anak perempuan. Ki Gede Lenglengan tidak akan menghiraukannya. Bahkan mungkin sekali, Lenglengan akan mengajak anak-anak asuhnya itu pergi”

Repak Rembulung mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti, Kakang. Aku akan berbicara dengan Pupus Rembulung”

Dalam pada itu, maka langit pun menjadi semakin buram. Senja telah turun. Di mana-mana lampu telah dinyalakan.

Ki Pananggungan pun kemudian telah pergi ke pakiwan untuk mandi. Kemudian ia pun membenahi dirinya di dalam bilik yang telah disediakan baginya.

Ketika malam kemudian turun, Pupus Rembulung telah menyiapkan makan malam bagi Ki Pananggungan.

“Bukankah belum lama kita makan?” bertanya Ki Pananggungan.

“Baiklah, kita makan agak lambat malam ini” berkata Repak Rembulung. “Kita akan duduk-duduk saja dahulu di pringgitan”

Ketika Ki Pananggungan duduk di pringgitan, maka Repak Rembulung dan Pupus Rembulung telah menemaninya. Tetapi Nyi Permati yang agak merasa letih, langsung pergi ke pembaringannya.

Dalam pada itu, beberapa saat kemudian, Kemuning telah mengajak kelima anak muda yang berada di rumahnya untuk memperkenalkan diri kepada Ki Pananggungan.

“Pamanku” berkata Kemuning, “dari Kembang Arum”

“Pamanmu atau uwakmu?” bertanya anak muda yang akrab dengan Kemuning.

“Sebenarnya memang uwakku. Tetapi aku terbiasa memanggilnya paman”

Ki Pananggungan mengerutkan dahinya. Ia tidak mengira bahwa Kemuning dapat berbicara selancar itu untuk memperkenalkan dirinya. Seandainya itu terjadi beberapa waktu yang lalu di rumahnya, maka Kemuning tentu hanya dapat menundukkan kepalanya saja.

“Jadi kau saudara tua Ki Repak Rembulung?” bertanya anak muda itu.

Pertanyaan itu juga mengejutkan Ki Pananggungan. Bahkan Repak Rembulung pun menegurnya, “Kau berbicara dengan orang tua”

“Jadi?”

“Kau harus bersikap baik. Bukankah aku telah mengajarimu unggah-ungguh?”

“Ternyata menurut Ki Gede Lenglengan unggah-ungguh yang terlalu rumit itu tidak ada gunanya”

Ki Repak Rembulung memandang anak muda itu dengan tajamnya. Dengan nada tinggi Ki Repak Rembulung itu pun bertanya, “Unggah-ungguh yang terlalu rumit apa yang dimaksudkannya?”

“Pokoknya kita tidak usah mempersulit diri. Kita lakukan saja menurut keinginan kita, asal tidak lepas dari bingkai perjuangan kita. Bukankah sikap pada tingkah lakuku tidak keluar dari bingkai itu jika aku tidak mematuhi unggah-ungguh yang Ki Repak Rembulung ajarkan?”

“Kau tidak dapat berbuat seperti itu. Rumah ini rumahku. Akulah yang memiliki wewenang tertinggi di rumah ini. Siapa yang tidak menurut aturan yang aku tetapkan, sebaiknya orang itu pergi”

“Jika yang tidak mematuhi itu Ki Gede Lenglengan?”

“Kami akan minta ia pergi” sahut Nyi Pupus Rembulung.

“Tetapi Ki Repak Rembulung telah terikat dalam satu kesepakatan dengan Ki Gede Lenglengan”

“Ki Gede Lenglengan yang mengatakan kepadamu?”

“Ya”

“Jika demikian, aku juga akan mengatakan kepadamu, bahwa ikatan kesepakatan itu longgar”

“Maksud Ki Repak Rembulung?”

“Tidak ada keharusan untuk mentaatinya”

Wajah anak muda itulah yang menjadi tegang. Bahkan Ki Repak Rembulung  pun berkata, “Akibat dari kesepakatan itu akan ternyata pada keberanian kita menentukan sikap.

Sebagaimana Ki Gede Lenglengan berbuat sekehendak hatinya, justru di rumahku, maka aku tentu dapat berbuat lebih bebas daripadanya. Yang penting, apakah kita masing-masing berani menanggung akibatnya?”

Wajah anak muda itu menjadi tegang. Ternyata Ki Repak Rembulung tidak menjadi cemas mendengar nama Ki Gede Lenglengan. Semula anak muda itu mengira, bahwa Repak Rembulung dan Pupus Rembulung akan segera berada di bawah pengaruh Ki Gede Lenglengan. Tetapi ternyata dugaannya keliru.

Bahkan anak muda itu harus mengakui bahwa belum tentu kemampuan ilmu Ki Gede Lenglengan berada di atas kemampuan Repak Rembulung atau Pupus Rembulung. Selama ia berguru kepada Repak Rembulung dan Pupus Rembulung, setelan Ki Gede Lenglengan menyerahkannya bersama beberapa orang kawannya, ia telah mengagumi Repak Rembulung dan Pupus Rembulung karena ilmunya yang tinggi.

Tetapi kedatangan Ki Gede Lenglengan telah menghembuskan nafas baru ke dalam sikap dan kehidupan anak-anak muda itu, sehingga hubungan anak-anak muda itu dengan Repak Rembulung dan Pupus Rembulung telah bergeser menjadi semakin renggang.

Dalam ketegangan itu, terdengar suara Kemuning, “Kakang, apakah kau lupa bahwa Ki Repak Rembulung itu ayahku, sedangkan Nyi Repak Rembulung itu ibuku? Ada pun Ki Pananggungan adalah uwakku?”

Anak muda itu mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya, Kemuning”

“Nah, apa salahnya jika kau bersikap baik. Mematuhi pesanpesannya dan tidak meninggalkan unggah-ungguh yang telah diajarkannya?”

“Ya, Kemuning”

“Nah, baiklah. Sekarang, kalian dapat kembali ke gandok”

Anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian anak muda yang akrab dengan Kemuning itu berkata, “Kami minta diri”

Repak Rembulung dan Pupus Rembulung tidak menjawab. Dipandanginya anak-anak muda yang meninggalkan pringgitan itu dengan tajamnya, sementara Kemuning pergi ke ruang dalam.

Demikian mereka turun ke halaman, maka Ki Repak Rembulung itu  pun berdesis, “Semakin lama mereka menjadi semakin memuakkan. Lenglengan memang gila. Ia telah menghasut anak-anak itu sehingga mereka telah berubah. Ia rusak tatanan yang aku trapkan di rumah ini. Ia pun telah merusak gaya hidup anak-anak asuhnya yang dititipkan kepadaku, bahkan terhadap aku sendiri”

“Kau tidak dapat mempertahankan keberadaannya di sini” berkata Ki Pananggungan.

“Aku memang berpikir untuk mengusirnya. Tetapi bukan saja Lenglengan. Anak-anaknya itu pun harus pergi. Jika saja Lenglengan belum meracuninya, aku tidak berkeberatan mereka berada di sini”

“Jika Lenglengan pergi, sikap anak-anak itu akan berubah lagi”

“Tetap pada saat Lenglengan itu pergi, mereka tentu akan ikut bersamanya. Tetapi tidak mudah mengusir Lenglengan dari rumah ini. Ia tahu, bahwa aku membeli tanah dan membuat rumah ini sebagian dari uang yang diberikannya kepadaku”

“Tetapi uang itu sudah diberikannya kepadamu sebagai imbalan kesediaanmu mengasuh anak-anaknya sehingga uang itu sudah menjadi uangmu”

“Tetapi otaknya tidak sebening itu, Kakang. Ia masih saja merasa memiliki tanah dan rumah ini”

“Apakah kau harus memakai kekerasan?”

“Agaknya pada suatu saat, benturan seperti itu akan dapat saja terjadi. Tetapi aku tidak mencemaskannya”

“Kau hanya berdua”

Repak Rembulung menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun menggeleng, “Tidak, Kakang. Aku tidak ingin melibatkan Kakang dalam persoalanku dengan Ki Gede Lenglengan”

Ki Pananggungan menarik nafas dalam-dalam. Ia memang ingin menawarkan diri untuk membantu adiknya, namun agaknya Repak Rembulung yang tanggap itu tidak menyetujuinya.

“Kakang” berkata Nyi Pupus Rembulung kemudian, “biarlah kami mencoba menyelesaikan persoalan ini. Tetapi jika kami mengalami kesulitan, maka apa boleh buat. Kami akan menemui Kakang untuk memohon bantuan”

Ki Pananggungan mengangguk-angguk. Katanya, “Aku tidak akan mengelak. Aku akan membantu jika kalian berada di dalam kesulitan. Apalagi menghadapi orang yang telah mendukung apa yang disebut sebagai satu perjuangan oleh Harya Wisaka. Justru untuk menentang Pajang”

Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung saling berpandangan sejenak.

“Terima kasih, Kakang” berkata Ki Repak Rembulung. Untuk beberapa saat lamanya mereka masih duduk di pringgitan, sementara malam  pun menjadi semakin malam.

Halaman rumah itu pun menjadi sepi. Anak-anak muda yang tinggal di rumah itu agaknya telah berada di dalam bilik mereka masing-masing.

Namun ketika Ki Pananggungan dipersilahkan untuk beristirahat, mereka melihat Ki Gede Lenglengan naik ke pendapa.

“Agaknya anak-anak itu telah mengatakan kepadanya” desis Ki Repak Rembulung.

“Tidak apa-apa” berkata Ki Pananggungan. “Jika orang itu marah, biarlah ia marah sekarang. Selagi aku ada di sini”

—- > Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s