ISTANA YANG SURAM 10


ISTANA YANG SURAM

Jilid 10

Karya: SH Mintardja

kembali | lanjut

Istana Yang Suram-10NAMUN bagaimanapun juga Ki Mina tidak dapat melepaskan kecurigaannya, bahkan kemudian ia mencoba untuk memperingatkan dirinya sendiri, agar ia tidak tenggelam dalam kekagumannya kepada gadis itu, dan harapan yang mungkin akan dapat menenggelamkannya ke dalam kelengahan, bahwa pada suatu saat akan ada hubungan yang lebih rapat antara Pinten dan Panon.

“Terserahlah kepada mereka yang menghayatinya” katanya di dalam hati.

Ki Mina pun kemudian kembali ke dalam biliknya didapatkannya Panji Sura Wilaga berbaring di pembaringan, ia tidak lagi diikat kakinya, tetapi mereka yang menangkapnya masih merasa perlu mengikat tangannya dan kemudian meskipun agak longgar menyangkutkannya kepada tiang di bilik itu, sepanjang ikat pinggang Pinten yang memang cukup panjang.

Panji Sura Wilaga sama sekali tidak mengacuhkan ketika Ki Mina memasuki biliknya, bahkan seseolah-olah tidak mengetahuinya sedangkan Ki Minapun tidak menegurnya sama sekali.

Namun demikian sepercik kegelisahan mambayang di wajah Ki Mina karena ia sadar, bahwa persediaan makanan tidak akan lagi memungkinkan untuk mempertahankan keadaan seperti itu, bebeberapa lama lagi, namun ia sama sekali belum melihat jalan pemecahan yang dapat ditempuhnya.

Dalam pada itu, Pinten yang meninggalkan Ki Mina dengan tergesa-gesa langsung menuju ke dapur, ia sudah melihat biyungnya meskipun perapian sedang menyala. Agaknya Nyi Upih sedang merebus air.

Pinten pun kemudian duduk di muka perapian, wajahnya menjadi buram dan tatapan matanya yang bening itu pun menjadi redup. Dipandangingya api yang menjilat-jilat itu. seseolah-olah-seolah-olah di dalam jilatan lidah api itu ia melihat kehidupan yang membara diantara kegembiraan anak-anak muda sebayanya. Sedangkan ia sendiri kini berada di dalam lingkungan yang sepi dan terpencil, penuh dengan bahaya yang setiap saat dapat mengancamnya.

“Tetapi aku sudah memilih jalan hidup ini” berkata Pinten kepada diri sendiri, meskipun ia tidak dapat ingkar dari tuntutan manusiawi.

Pinten berpaling ketika ia mendengar desir langkah kaki mendekati pintu dapur, ia melihat Nyi Upih berjalan sambil menjinjing seikat daun ketela pohon yang baru dipetiknya di kebun.

Karena itu, maka Pinten pun segera berusaha menghilangkan air yang terasa membasahi pelupuknya, ia tidak ingin dilihat oleh orang lain, betapa perasaannya yang wajar kadang-kadang masih juga melonjak menyentuh hati.

Ternyata Nyi Upih tidak menghiraukannya, ia pun langsung mengambil belanga dan mengisinya dengan air gentong untuk mencuci seikat daun yang dibawanya.

Tetapi ketika Nyi Upih akan memasukkan daun ketela yang sudah dicuci dan diremasnya itu ke dalam belanga diatas perapian, ia melihat Pinten yang masih sibuk mengeringkan air yang membasah di matanya, bahkan rasa-rasanya air itu tidak juga mau kering.

“Pinten?” Nyi Upih mengerutkan keningnya.

“Mataku terkena asap biyung, ketika api itu mati, aku meniupnya dengan semprung bambu, tetapi agaknya asapnya telah masuk ke mataku, pedih sekali” jawab Pinten.

Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam, ia memang melihat mata Pinten menjadi merah.

Sejenak Nyi Upih termangu, namun kemudian katanya, “Pergilah keluar sejenak, atau cuculah mukamu dengan air bersih, nanti perasaan pedih itu akan segera hilang, jika perasaan pedih itu timbul karena asap api”

“Ya, pasti karena asap api biyung”

“Mudah-mudahan perasaan pedih yang disebabkan oleh asap api akan cepat hilang”

Pinten menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia pun kemudian meninggalkan dapur itu ke pakiwan untuk memcuci wajahnya.

Ketika ia menjengukkan kepalanya ke dalam jambangan yang terisi oleh air bening, tiba-tiba ia tertegun, dipandanginya wajah seorang gadis yang manis di dasar jambangan itu. mata yang tajam hampir bulat, segores alis yang lengkung panjang diatasnya.

Hidung yang tidak terlalu mancung tetapi serasi diantara pipinya yang kemerah-merahan oleh terik panas matahari, mulut yang kecil diantara bibirnya yang tipis meskipun ia agak banyak berbicara.

Pinten menarik nafas dalam-dalam, namun bagaikan seorang yang terbangun dari mimpinya, ia cepat-cepat mengambil air dengan tempurung yang sudah di gosok halus dan membasahi wajahnya yang kemerah-merahan itu.

Sejenak ia masih sempat melihat wajah yang mengabur di dasar jambangan itu karena bulatan-bulatan getar air yang tersentuh tempurungnya, semakin lama semakin hilang, apalagi ketika ia pun kemudian melemparkan tempurung itu ke dalam air di belakang.

Pinten perlahan-lahan berdiri dan melangkah meninggalkan pakiwan, tiba-tiba ia menjadi gelisah, apakah, seseolah-olah-seolah-olah ia baru mengenal dirinya sendiri sebagai seorang gadis.

Diluar sadarnya tangannya bergerak meraba sanggulnya yang kusut. Dicobanya untuk memperbaikinya dan mengusap rambutnya yang berurai diatas telinganya.

Pinten terkejut ketika ia mendengar langkah tergesa-gesa menuju ke pakiwan, ketika ia berpaling dilihatnya Panon melangkah cepat kearahnya, namun langkah itu terhenti ketika Panon melihat gadis berdiri di muka pakiwan,

“O…” desisnya.

“Kenapa kau nampak tergesa-gesa” bertanya Pinten, “Apakah ada sesuatu?”

Panon menggeleng, jawabnya, “Aku akan mencuci tanganku yang tergores welat pering wulung”

“He!!, apakah tanganmu dapat terluka karena welat pering wulung?”

“Ya, kenapa?”

“Dan luka itu sudah membuatmu demikian tergesa-gesa dan gelisah.”

“Luka ini mengeluarkan darah, aku akan mencucinya daripada mengotori pakaianku”

Pinten tertawa, katanya, “Jika oleh luka itu kau sudah menjadi gugup, bagiamana dengan dengan luka pedang jika kau bertempur dengan Kidang Alit?”

“Aku bukan orang-orang kebal, Pinten” jawab Panon

“Dan agaknya welat adalah senjata yang paling tajam jauh lebih tajam dari pedang Kidang Alit, jika seseorang berilmu kebal dan tidak dapat dilukai dengan pedang, maka ia akan terbunuh oleh peting wulung yang ditajamkan ujungnya, dengan geranggang pering wulung yang diusapkan pada tanah tempat kita berpijak, maka semua ilmu kebal dari dasar kekebalan yang manapun akan cair dan tidak berarti sama sekali”

“Kau salah” jawab Pinten, “Apakah kau pernah mendengar ilmu Sangga Bumi?”

“Mempunyai kekuatan yang mirip dengan aji Panca Sona“

Pinten tertawa, katanya, “Kau benar, tetapi Sangga Bumi mempunyai akibat kekebalan, bukan kekuatan untuk memperoleh dan menguasai hidupnya kembali jika tubuhnya menyentuh tanah”

Dan Panon memotongnya, “Tetapi ia menjadi kebal selama tubuhnya masih menyentuh tanah, meskipun demikian, jika kematian telah menjemputnya dalam keadaan yang khusus, terpisah dari tanah tempatnya berpijak, maka ia tidak akan memperoleh dan menguasai hidupnya kembali”

Pinten tertawa, katanya, “Kau memahaminya. He, apakah kau pernah belajar ilmu yang disebut aji Sangga Bumi?”

“Jika demikian, tanganku tidak akan terluka”

Pinten tertawa semakin keras, lalu katanya, “sekarang apakah kau akan mencuci lukamu?”

“Ya”

“Jangan, menurut orang-orang tua, luka kecil seperti itu akan lebih cepat sembuh jika tanganmu diobati sebelum tersentuh air, aku mempunyai obat untuk segala macam luka”

“Ah, obatmu terlalu berharga untuk mengobati luka kecil seperti ini, jika lukaku sobek karena ujung pedang, maka obatmu akan sangat bermanfaat”

“Kalau begitu, marilah, aku akan mengobati dengan daun metir, kau percaya bahwa daun metir dapat menyembuhkan luka kecil seperti lukamu itu”

“Ya”

“Sebelum kau basahi, tunggulah disini, aku akan memetik bebeberapa tangkai dun metir di belakang pakiwan ini”

Seperti kena pesona, Panon kemudian berdiri diam di tempatnya, dipandanginya Pinten yang berlari-lari ke belakang pakiwan. ketika tangannya meraih daun metir tetapi tidak sampai karena letaknya yang terlalu tinggi, maka dengan lincahnya gadis itu melenting seperti saat ia melenting menghindari ujung senjata yang akan menyentuh tubuhnya.

Panon menarik nafas dalam-dalam, jari-jari gadis itu jauh berbeda dengan jari-jari Nyi Upih yang bulat pendek, tetapi jari-jari Pinten yang meskipun dapat dipergunakan menggenggam senjata, tetapi jari-jari itu tetap jari-jari seorang gadis yang cantik.

Panon terkejut menyadari angan-angannya sendiri, di padukuhannya ia bergaul dengan banyak gadis-gadis yang disebut canti oleh kawan-kawannya, tetapi Pinten mempunyai kelainan dari gadis-gadis di padukuhannnya itu.

Ketika kemudian Pinten datang dambil membawa daun metir dan kemudian meremasnya dan menempelkan di jarinya yang terluka, jantung Panon tiba-tiba menjadi berdebar kencang dan tangannya ikut gemetar,

“He” deis Pinten, “Apakah welat itu beracun?”

“Kenapa?” Panon terkejut.

“Tanganmu bergetar, mungkin pengaruh racun atau semacam gragas ular yang mati di tempat itu”

Panon ragu-ragu sejenak, namun kemudian katanya, “Tidak, aku tidak merasakan pengaruh racun itu, jika aku gemetar itu tentu ada sebab yang lain”

Pinten tertegun sejenak baru kemudian ia menyadari keadaannya.

Wajah Pinten menjadi merah, ialah yang kemudian menjadi gemetar, namun karena ia baru mulai melekatkan daun metir itu, maka ia pun berusaha menyelesaikan pekerjaan itu secepatnya.

Sebelum Panon berkata sesuatu, Pinten telah melepaskan tangannya dan berjalan tergesa-gesa meninggalkannya, tetapi ketika ia sampai di serambi belakang, seseolah-olah-seolah-olah ada yang menghambatnya, sehingga diluar sadarnya ia pun berhenti dan berpaling.

Panon masih berdiri mematung di tempatnya, ia tidak ingat lagi jari-jarinya yang terluka, ia tidak mengetahui bahwa daun metir yang ditempelkan di jari-jarinya itu telah terjatuh diatas tanah.

Sekilas tatapan mata mereka bertemu, namun hanya sekejap, karena Pinten pun kemudian berlari masuk kelongkangan belakang.

Ketika Pinten hilang di balik pintu, barulah Panon menyadari dirinya sendiri, sambil menarik nafas dalam-dalam ia pun kemudian memperhatikan tangannya yang terluka, segores kecil, tetapi ia tidak menghiraukanya lagi, karena luka itu memang sudah tidak terasa sakit lagi. Ia pun tidak pergi ke pakiwan untuk mencuci darah yang mengotori tangannya, karena seakan-akan ia tidak ingin membershkan jari-jari dari sisa daun metir yang melekat.

Sejenak kemudian, maka Panon melangkahkan kakinya meninggalkan pakiwan, tetapi langkahnya tertegun ketika ia mendengar suara tertawa di sudut istana itu.

Ketika ia berpaling dilihatnya Sangkan berdiri membelakanginya, tetapi suara tertawanya terdengar berkepanjangan.

“Gila” Panon pun mengumpat, perlahan-lahan ia melangkah mendekatinya sambil berkata, “Apa yang kau tertawakan?”

Sangkan tidak segera menjawab, bahkan ia pun kemudian berlari-lari kecil meninggalkan Panon.

Panon adalah anak muda yang mempunyai sifat yang berbeda dengan Sangkan, ia nampak lebih tenang dan bersungguh-sungguh, namun melihat sikap Sangkan itu, tiba-tiba Panon sudah kejangkitan sikap itu pula, hampir diluar sadarnya Panon berlari mengejarnya.

Tetapi langkah Panon terhenti ketika Sangkan kemudian berlari masuk pintu butulan, bagaimanapun juga Panon masih harus menjaga dirinya, karena ia merasa kehadirannya di tempat itu hanyalah sebagai dua orang pengembara bersama Ki Mina yang memohon perlindungan dan belas kasihan.

“Anak gila” ia masih mengumpat, tetapi ia pun kemudian melangkah kembali ke dalam biliknya lewat halaman belakang.

Ketika Panon melangkah di dekat pakiwan, maka dilihatnya daun metir yang sudah diremas lembut oleh Pinten terjatuh di tanah. Ada kesan yang aneh di hati Panon terhadap gadis yang bernama Pinten itu. Sudah sejak ia mengetahui bahwa Pinten memiliki ilmu kanuragan yang tinggi, ia sudah meragukan ia adalah anak Nyi Upih, semakin ia membayangkan wajah dan sifat-sifatnya, ia menjadi semakin yakin, bahwa Nyi Upih dan gadis itu tidak mempunyai hubungan darah, apalagi sebagai anak dan ibu.

Namun dengan demikian, maka kecurigaannya pun menjadi semakin besar, bahwa terkandung niat yang kurang baik pada gadis itu serta kakanya terhadap pusaka yang sedang diperebutkan, seperti juga Raden Kuda Rupaka dan Kidang Alit.

“Aku tidak boleh lengah, jika aku tenggelam ke dalam arus perasaanku, mungkin aku akan hanyut kelaut penyesalan, aku harus tetap berpegangan pada nalar yang bening” berkata Panon di dalam hatinya.

Selangkah demi selangkah ia pun kembali ke biliknya, ketika ia memasuki bilik itu, dilihatnya Sangkan sudah ada di dalam bilik itu dan duduk di sisi Ki Mina yang juga sedang duduk di pembaringannya.

Sekilas Panon memandang Panji Sura Wilaga, namun kemudian ia melangkah mendekati Sangkan, tetapi karena Sangkan sama sekali tidak memperhatikannya, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu di halaman belakang, maka Panon pun tidak menanyakan lagi kepadanya kenapa ia tertawa ketika ia berada di sudut istana itu.

Panon pun kemudian duduk pula di sebelah Ki Mina yang bergeser setapak.

Untuk bebeberapa saat lamanya mereka saling berdiam diri, tenggelam dalam angan-angan masing-masing, hanya sekali-sekali mereka berpaling memandang Panji Sura Wilaga yang wajahnya menjadi gelap bagaikan malam yang mendung.

Dalam pada itu, selagi istana kecil itu dicengkam oleh ketegangan yang rasa-rasanyanya setiap saat semakin berbertambah-tambah, maka di rumah Ki Buyut di Karang Maja, Kidang Alit duduk di pendapa bersama Raden Kuda Rupaka, sementara itu Ki Buyut sendiri berada di bagian belakang rumahnya dengan hati yang kecut.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi” desisnya diantara keluarganya, “Adalah aneh sekali jika tiba-tiba Raden Kuda Rupaka telah berada di rumah ini”

Tidak seorang pun yang dapat menjawab, bahkan bukan saja Ki Buyut, tetapi setiap orang menjadi heran, bahwa Raden Kuda Rupaka telah meninggalkan istana bibinya bersama Kidang Alit dan tinggal di rumah Ki Buyut, tetapi tidak ada yang berani bertanya kepadanya.

Di pendapa, Raden Kuda Rupaka sendiri selalu dicengkam oleh kegelisahan, ia masih belum menemukan suatu jalan yang dapat dipergunakannya untuk memecahkan persoalannya.

Dalam kesulitan yang seolah-olah tidak teratasi itulah, maka ia pun kemudian mulai mempertimbangkan campur tangan perguruannya.

“Sebenarnya aku ingin menyelesaikan sendiri” katanya di dalam hati, “setiap usaha yang mengikut sertakan banyak orang berarti mempersulit penyelesaian.

Selebihnya, aku bukan lagi seorang pahlawan dari perguruanku”

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, kedatangannya ke istana kecil itu benar-benar berada di luar dugaan, semula ia mengira bahwa perjalannya tidak lebih dari perjalan tamasya, karena semuanya akan berjalan lancar tanpa kesulitan apapun juga, namun yang dijumpainya ternyata bagaikan seisi rimba raya yang penuh dengan binatang buas yang saling menerkam, siapakah yang kuat, ialah yang akan memiliki mangsa yang paling berharga.

Tiba-tiba Raden Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, dengan ragu-ragu ia pun bertanya kepada Kidang Alit, “dimanakah orangmu itu Kidang Alit?”

Kidang Alit tidak segera menjawab, dipandanginya wajah Raden Kuda Rupaka sejenak.

“He, kenapa kau diam saja?”

Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Apaboleh buat Raden, aku telah mengirimkan orangku itu kembali kepada bebeberapa orang kawan-kawannya. Terus terang, aku tidak dapat menyelesaikan tugasku dengan cara ini, aku sedang memanggil beberapa orang dari perguruanku, bahkan mungkin, mengingat persoalan yang semakin gawat, orang-orang terpentinglah yang akan datang kemari”

Wajah Raden Kuda Rupaka segera menegang, bahkan sejengkal ia bergeser maju, dengan suara yang berat ia berkata, “Jadi kau mulai dengan bantuan perguruan?”

Kidang Alit tersenyum, katanya, “Apaboleh buat, aku memang sudah memperhitungkan, bahwa yang terakhir akan terjadi demikian”

Raden Kuda Rupaka memandang Kidang Alit dengan tajamnya, katanya kemudian, “Perguruan kita masing-masing akan terlibat disaat-saat terakhir, aku tahu bahwa tidak ada perguruan lain yang memiliki kekuatan sebesar perguruan kita”

“Apaboleh buat, apaboleh buat, pusaka yang diperebutkan memang mempunyai nilai yang wajar untuk diperebutan antara perguruan-perguruan terbesar di negeri ini”

“Bukan hanya oleh perguruan terbesar, tetapi agaknya Demak pun akan segera melibatkan dirinya.

“Jika Demak mengetahui bahwa pusaka itu ada disini”

Raden Kuda Rupaka berdesah sambil bergeser surut, katanya, “Kau memang bodoh sekali, apakah kau kira Demak tidak memiliki petugas-petugas sandi yang dapat mencium kekisruhan yang terjadi disini”

“Tentu aku mengerti” berkata Kidang Alit, “tetapi demikian, mereka tidak akan bertindak dengan tergesa-gesa, apalagi mereka tidak lagi berhubungan dengan Pangeran Kuda Narpada untuk waktu yang lama, sehingga seolah-olah mereka memang sudah melupakan seluruh persoalan”

Kidang Alit yang kemudian tertawa, katanya, “Jangan berkata begitu Raden, jika kau mengatakan bahwa tentu ada orang lain di Demak yang mengetahui bahwa tentang pusaka yang hilang itu aku masih percaya, tetapi jika kau mengatakan bahwa kau datang atas nama mahkota seperti yang kau ucapkan di hadapan Raden Ayu itu, aku tentu akan tertawa berkepanjangan seperti ini”

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, sedang Kidang Alit meneruskan, “Baru saja Raden mempersoalkan benturan antara perguruan dan agaknya perguruanku sudah siap”

Raden Kuda Rupaka menjadi tegang sejenak, dan tiba-tiba ia berkata, “He, siapa saja yang berada di belakang perguruanmu?, mereka tentu tidak berdiri sendiri, bukan”

“Tidak ada orang lain”

“Paman Sendang Prapat dan paman Cemara Kuning, jangan ingkar” dan suara Raden Kuda Rupaka semakin menghentak, “Siapa kau sebenarnya Kidang Alit, sebut namamu yang sebenarnya”

Kidang Alit memandang Raden Kuda Rupaka dengan heran, lalu, “Kenapa kau bertanya begitu? Sapakah aku?, pertanyaanmu aneh Raden, aku adalah Kidang Alit, memangnya siapa?”

“Jangan mengelabui aku, seperti mengelabui anak-anak, kau tentu bukan bernama Kidang Alit, seperti juga Sangkan dan Pinten”

Kidang Alit tertawa, jawabnya, “Terserahlah kepadamu, mungkin aku memang bukan bernama Kidang Alit, tetapi apakah bedanya bagi Raden, siapapun aku, kita telah bersama-sama menginginkan pusaka itu untuk sementara kita dapat bekerja sama, tetapi pada suatu saat, perguruan kita akan berbenturan, tetapi sementara ini, seandainya kita tidak saling membantu, maka kita bersama-sama akan akan tidak berdaya sama sekali menghadapi anak-anak muda yang ada di halaman istana itu”

“Mereka harus disingkirkan” geram Raden Kuda Rupaka.

“Tentu, tetapi karena kita masing-masing tidak mampu melakukannya, maka aku akan menunggu hasil perjalanan kawanku menghubungi perguruanku”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, namun kemudian katanya, “Baiklah, aku juga akan menunggu, jika satu dua orang dari perguruanmu mulai bergerak, apalagi dalam jumlah yang cukup banyak, maka orang-orang di perguruanku tentu akan mengetahuinya seperti juga sebaliknya, sehingga saudara-saudara seperguruanku pun akan datang pula ke daerah ini”

“Kita akan menunggu” berkata Kidang Alit seterusnya, “Dan kita akan melihat, apakah yang akan terjadi, apalagi jika orang-orang dari perguruan Guntur Geni itu datang kembali dengan pasukan segelar sepapan, maka padukuhan ini tentu akan menjadi ramai”

“Ramai, tetapi juga berarti bencana, baru kau sendiri disini sudah menimbulkan bencana bagi gadis-gadisnya, apalagi lebih dari satu orang dari perguruanmu”

“Ah, jangan begitu Raden, yang terjadi bukannya ciri dari perguruanku, mungkin itu karena kelengahanku saja, barangkali semacam ketidak sengajaan”

“Omong kosong”

Kidang Alit tertawa, katanya, “Ah, aku tidak peduli apakah yang dikatakan orang tentang diriku, yang penting sekarang , kapan orang-orang perguruanku itu datang. Itu berarti istana kecil itu akan dibongkar seluruhnya, Sangkan, Panon, Ki Mina dan siapapun yang akan merintangi usaha itu akan dihancurkan”

“Lalu, bagaimana dengan gadisnya?”

Sekali lagi Kidang Alit tertawa, katanya, “Apakah perlu aku menjelaskannya?, apalagi setelah istana itu akan aku duduki dengan pasukanku”

“Persetan, kau kira perguruanmu sudah menerima pengakuan sebagai perguruan terbesar?”

Suara tertawa Kidang Alit meninggi, katanya, “Tidak, aku tidak mengatakan demikian, dan sekarang pun aku tidak ingin mempersoalkannya lagi, aku hanya akan menunggu sampai kapan pun, mudah-mudahan dengan cepat dapat aku selesaikan dengan orang-orangku yang bakal datang sebelum prajurit-prajurit demikian mengetahui lebih banyak dan mengambil sikap tertentu”

Raden Kuda Rupaka menggeram, namun ia pun berkata, “Agaknya memang demikian, akupun harus menunggu, dan pekerjaan menunggu adalah pekerjaan yang paling menjemukan”

Kidang Alit memandang Raden Kuda Rupaka sejenak, sekilas terbayang perasaan aneh di wajahnya, namun sejenak kemudian kesan itu pun telah terhapus tanpa bekas.

Dalam pada itu, pergolakan di istana kecil itu ternyata terlalu merambat kepada batang perguruan yang lebih besar, kegagalan orang-orang Guntur Geni, Kidang Alit dan Raden Kuda Rupaka untuk mendapatkan pusaka yang mereka anggap tersimpan di istana kecil itu, telah menggerakkan orang-orang terpenting dari perguruan masing-masing untuk mengambil sikap”

Sambi Timur yang meninggalkan Padukuhan Karangmaja dengan tergesa-gesa berpacu keperguruannya, perjalanan yang tidak dapat diselesaikan dalam waktu satu hari, bahkan tidak cukup sehari semalam.

“Mudah-mudahan mereka sudah berada di seberang bengawan” berkata Sambi Timur kepada diri sendiri, lalu “Jika mereka tidak berada disana, dan aku harus kembali keperguruan, maka aku akan memerlukan waktu lebih dari sepekan”

Namun Sambi Timur yakin bahwa orang-orang terpenting di perguruannya sudah berada di padepokan Lemah Putih di seberang bengawan. Sambi Timur pun memacu kudanya semakin cepat, tetapi ia sadar bahwa pada suatu kali kudanya tentu merasa lelah, dan memerlukan waktu untuk beristirahat, makan dan minum. sehingga perjalannya tidak dapat dipaksakannya lebih cepat lagi.

Ternyata seperti yang diduganya, bahwa sekelompok orang-orang terpenting dari perguruannya telah berada di padepokan Lemah Putih, padepokan yang dihuni oleh seorang tua yang memang menjadi keluarga dari perguruan Kumbang Kuning.

Dengan gelisah mereka menunggu kedatangan anak muda yang mereka percaya untuk pergi ke Karangmaja mencari pusaka Maja Pahit yang hilang, yang menurut keyakinan mereka pasti berada di tangan Pangeran Kuda Narpada.

“Seorang Senapati melihat Sang Maha Prabu telah menyerahkan sebuah pusaka kepada Pangeran Kuda Narpada saat-saat terakhir dari perlawanan pangeran itu untuk memberi kesempatan bagi Sang Maha Prabu untuk meninggalkan Kota Raja, tetapi senapati itu tidak dapat mengatakan pusaka yang manakah yang diserahkannya itu, tetapi sudah tentu diantara pusaka-pusaka yang kini tidak ada di istana, mungkin Kiai Sangkelat, tetapi mungkin Kiai Nagasasta” desis salah seorang dari mereka.

“Siapakah yang sekarang ini mulai mengungkit persoalan itu kembali, sehingga mungkin bukan saja orang-orang dari Kumbang Kuning, tetapi juga dari perguruan-perguruan lain berdatangan ke Karangmaja” desis yang lain lagi.

Dugaan-dugaan mereka itu pun kemudian ditegaskan oleh kedatangan Sambi Timur yang menceritakan apa yang telah terjadi di padukuhan Karangmaja, tempat persinggahan Pangeran Kuda Narpada yang bahkan telah menetap di sana pula.

Beberapa orang dari perguruan Kumbang Kuning itu pun menjadi termangu-mangu. Sambi Timur telah menyebut pula perguruan Guntur Geni dan Cengkir Pitu.

“Perguruan-perguruan terbesar telah berada didalamnya” desis salah seorang dari mereka.

“Seorang anak muda bernama Panon yang memiliki ciri dari perguruan tersendiri telah berada di dalam istana itu pula” berkata Sambi Timur.

“Dari perguruan mana?”

“Tidak seorangpun yang dapat mengetahuinya, ia sendiri tidak pernah menyebutnya” Sambi Timur berhenti sejenak, lalu, “Selain Panon ada seorang anak muda yang mengaku dirinya anak pelayan di istana itu pun membawa ciri-cirinya sendiri pula yang tidak dapat dikenal”

“Siapa anak muda itu?”

“Namanya Sangkan, tetapi seperti juga Kidang Alit, namanya tentu bukan namanya sendiri”

Orang-orang itu pun mengangguk-angguk, salah seorang dari mereka berkata, “Kita harus mempersoalkannya dengan pimpinan tertinggi dari perguruan Kumbang Kuning”

“Apakah kita tidak akan terlambat?” sahut yang lain.

“Persoalannya mengangkut hubungan dengan perguruan-perguruan terbesar, Guntur Geni tidak memiliki orang-orang terkuat sekarang ini, tetapi jumlah mereka jauh lebih besar dari jumlah perguruan-perguruan lain, karena sifat geraknya yang berbeda, sedangkan Cengkir Pitu pantas sekali diperhitungkan, beberapa orang bangsawan yang terasing dari pergaulan mereka, berada di lingkungan itu, mereka bukannya orang-orang yang lemah”

“Tetapi Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat tidak berada di lingkungan Cengkir Pitu”

“Keduanya orang-orang dari perguruan itu, tetapi juga bukan dari perguruan kita, mereka dapat berada dimana saja yang mereka kehendaki, kegagalam mereka mendapatkan pusaka itu langsung dari Pangeran Kuda Narpada membuat mereka mendendam sampai sekarang”

“Itulah sebabnya ia sekarang berada diantara kita dan justru seakan-akan mendapat kepercayaan dari Ajar Sukaniti?”

Yang lain menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Aku tidak tahu apakah sebenarnya yang mendorong orang-orang itu saling berebutan, tidak seorangpun yang dapat menyebutkan dengan pasti, pusaka apakah yang berada di istana itu, Kiai Cangkring? Kiai Mendarang atau justru Kiai Sangkelat?”

“Mungkin pula Kiai Nagasasra” desis yang lain.

“Apakah arti dari pusaka-pusaka itu sebenarnya?

Pusaka yang ada di istana itu adalah satu unsur saja dari suatu kemungkinan untuk menerima wahyu, satu unsur dari banyak unsur yang ada”

Seorang yang bertubuh tinggi, berjanggut lebar dan bermata tajam hampir saja menjawab, tetapi kata-kata yang sudah hampir terlontar dari mulutnya itu pun ditelannya kembali.

Sejenak mereka terdiam, terbayang di dalam angan-angan masing-masing pertentangan yang akan berkobar semakin besar antara perguruan terpenting yang sudah dikenal namanya, tetapi ternyata di istana itu ada pula nama-nama dari orang-orang yang tidak diketahui asalnya yang hadir dalam penyamaran.

Baru sejenak kemudian orang bertubuh tinggi, berjanggut lebat itu berkata, “Dalam waktu dekat, Ajar Sukaniti sudah akan berada di tempat ini, besok atau lusa, kita akan segera membicarakannya”

“Apakah kita tidak perlu mengambil sikap lebih dahulu?” desis seorang yang bertubuh agak kecil, “Sehari dua hari akan sangat berarti bagi kita, mungkin di hari-hari itu orang Cengkir Pitu telah berhasil mengambil pusaka itu, atau dalam waktu yang sehari itu Raden Waruju sudah menemui kesulitan yang tidak teratasi”

“Raden Waruju bukan anak-anak yang masih merengek, ia memiliki ketajaman indera yang lengkap”

“Tetapi Raden Kuda Rupaka dari Cengkir Pitu itu juga memiliki apa yang dipunyai oleh Kidang Alit” desis Sambi Timur.

Yang lain menarik nafas dalam-dalam, namun yang tinggi dan berjanggut lebat akhirnya berkata, “tidak ada yang dapat kita lakukan sekarang, kita harus menunggu agar kita tidak salah langkah, persoalannya sudah menjadi semakin gawat”

“Kita tidak dapat mendahuluinya” desis yang lain pula, “Kau benar, kita harus memperhitungkan, bahwa orang-orang Cengkir Pitu tidak akan melepaskan pengamatannya terhadap kita dalam keadaan serupa ini, sejak kita tidak melihat lagi beberapa orang yang kita kenal dari perguruan Cengkir Pitu, kita sudah mulai memperhitungkannya”

“Semula kita tidak menyangka bahwa Raden Kuda Rupaka ternyata salah seorang dari murid Cengkir Pitu, aku kira kepergiannya mewakili ikut campurnya pihak istana demikian dalam persoalan ini” desis yang lain, “tetapi agaknya ia berada dipihak lain yang barangkali justru tidak diketahui oleh ayahandanya”

“Bagaimana sikap Raden Waruju?”

“Mereka belum saling mengenal, tetapi keduanya menyadari bahwa mereka berdiri berseberangan, meskipun untuk suatu saat mereka saling memerlukan”

“Kau sekarang sudah mengenal Raden Kuda Rupaka justru di Karangmaja, mungkin Ajar Sukaniti akan mengambil sikap yang lain terhadap anak muda dari Cengkir Pitu itu”

Mereka kemudian hanya dapat mengangguk-angguk, karena mereka lakukan seolah-olah Ajar Sukaniti sendiri berada di lingkungan mereka, karena persoalannya akan menjadi sangat gawat dan berbahaya.

“Mudah-mudahan Ajar Sukaniti segera datang untuk memberikan perintah” desis Sambi Timur, “Jika orang Cengkir Pitu menyadari kehadiranku disini, mereka tentu akan segera bertindak”

Orang-orang Kumbang Kuning itu termangu-mangu sejenak, mereka sadar bahwa dalam waktu yang singkat, kemungkinan yang tidak mereka harapkan sudah akan terjadi, tetapi merekapun tidak akan berani melakukan sesuatu sebelum Ajar Sukaniti datang menjumpai mereka, karena Ajar Sukaniti yang muda ini pun memiliki sikap dan keputusan yang didasari ketajaman penglihatan lahir dan batin seperti Ajar Sukaniti yang tua, bahkan Ajar Sukaniti yang kini memimpin perguruan Kumbang Kuning itu memiliki jangkauan cita-cita yang agaknya lebih jauh dari Ajar Sukaniti yang telah direnggut oleh waktu.

“Ayah terlampau baik hati” berkata Ajar Sukaniti yang muda, “Ayah tidak pernah berusaha untuk meningkatkan diri dalam tataran kehidupan lahiriah”

Kecenderungan untuk meningkat ke tataran yang lebih tinggi dalam gelar lahiriah itulah yang telah membuatnya agak berbeda dari sikap dan tindakan ayahnya yang tenang dan lebih banyak dalam olah kejiwaan.

Tetapi dengan demikian, perubahan yang terjadi dalam sikap dan pandangan hidup itu telah menimbulkan gairah bagi pengikutnya yang muda-muda. Bahkan dengan harapan yang cerah di masa datang, orang-orang yang telah menjadi semakin tuapun tidak mempunyai alasan yang kuat untuk menentang usaha Ajar Sukaniti.

“Pusaka itu harus jatuh ke tangan kita” berkata Ajar Sukaniti, “Jika pusaka itu telah kita kuasai, maka setidak-tidaknya kita tentu sudah membuat kejutan jiwani, sehingga usaha-usaha yang akan datang, akan terbuka, mereka yang gagal pada perjuangan yang pertama, tentu akan kehilangan gairah untuk mendapatkan pusaka yang lain yang masih belum ada di gedung perbendaharaan istana Demak sekarang, justru pusaka-pusaka terpenting, jika Sultan Demak sekarang ini berhasil menguasai tahta, semata-mata hanyalah oleh kemampuan lahiriahnya saja, tanpa sipat kandel dan pegangan wahyu, sehingga karena itu, maka kekuasaannya tidak akan kekal”

Terlebih-lebih lagi ketika perguruan Kumbang Kuning itu hadir, dua orang pangeran yang gagal mendapatkan pusaka itu dari tangan Pangeran Kuda Narpada, maka gairah perjuangan Ajar Sukaniti itu pun bertambahtambah.

“Keduanya banyak memberikan petunjuk-petunjuk” berkata Ajar Sukaniti kepada pembantunya yang paling setia, seorang yang berjanggut putih, “untuk sementara keduanya akan dapat aku pergunakan, beberapa orang yang masih berdarah bangsawan dari pecahan keturunan Brawijaya yang tersebar akan semakin mantap berjuang bersama Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat, tetapi pada saatnya aku tidak memerlukannya lagi”

Namun dalam pada itu, Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat pun bukannya dua orang pangeran yang dungu, mereka pun telah mempunyai rencananya sendiri, jika pusaka yang berada di tangan Pangeran Kuda Narpada itu dapat dikuasainya.

“Kumbang Kuning bukannya tempat yang mapan bagi wahyu kerajaan, Ajar Sukaniti bernafsu untuk mencari kesempatan menduduki tahta itu bagaikan mimpi buruk yang akan selalu mengganggunnya” berkata Pangeran Cemara Kuning.

Pangeran Sendang Prapat mengangguk-angguk, namun mereka berdua dengan cerdiknya telah menempatkan dirinya diantara orang Kumbang Kuning.

Di saat terakhir, orang-orang Kumbang Kuning sudah memperhitungkan bahwa mencari pusaka itu bukannya tugas yang mudah, jika Raden Waruju berhasil mengambilnya, maka adalah terlalu berbahaya jika ia harus menempuh jarak yang terlalu panjang. Itulah sebabnya mereka sudah bersiap di tepi bengawan untuk menjemput Raden Waruju yang melaksanakan tugasnya di Padukuhan Karangmaja di punggung Bukit Seribu yang membujur panjang disisi selatan pulai Jawa bagian tengah.

Seperti yang diharapkan oleh para murid dan pengikutnya, Ajar Sukaniti yang didampingi oleh Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat itu pun telah berada di perjalanan menuju ke tepi bengawan.

Namun sementara itu, ada seorang pengemis tua dengan tergesa-gesa meninggalkan daerah pengembaraannya di sekitar padepokan Lemah Putih.

Tetapi ketika ia sudah mencapai jarak beberapa ratus tonggak, maka ia pun dengan tergesa-gesa memasuki sebuah halaman yang cukup luas dan hilang di butulan.

“Kemarilah Kiai” penghuni rumah itu dengan tergesa-gesa mempersilahkannya masuk melalui pintu butulan.

“Aku harus segera menghubungi perguruan Cengkir Pitu”

“Apakah ada berita dari Karangmaja?”

“Salah seorang diantara mereka datang dari seberang barat bengawan, aku kira orang itu adalah utusan dari para petugas perguruan Kumbang Kuning yang ada di Karangmaja”

Penghuni rumah itu termangu-mangu sejenak, lalu, “apakah maksud Kiai selanjutnya”

“Awasilah padepokan Lemah Putih itu, aku akan pergi menemui orang Cengkir Pitu”

“Ah” desis orang itu, “Aku tidak berani, aku bukan orang yang memiliki kemampuan berbuat apapun juga, bahwa Kiai berada di rumahku ini telah membuat aku setiap malam tidak dapat tidur nyenyak”

“Pengecut”

“Aku mempunyai isteri dan anak yang masih kecilkecil, Kiai. Hanya karena aku sudah kenal baik secara pribadi dengan Kiai sajalah aku dapat menerima Kiai tinggal disini dan menutup mulut bagi siapapun seperti yang Kiai pesankan, tetapi untuk ikut langsung dalam kegiatan ini, aku sama sekali tidak berani karena aku tidak memiliki kemampuan seperti Kiai”

Pengemis tua itu mengerutkan keningnya, dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Kau jangan membohongi aku, kau pernah mempelajari ilmu kanuragan, bahkan kau sudah mencapai tataran yang dapat dibanggakan”

“Tetapi tentu tidak bararti apa-apa di hadapan orang-orang Kumbang Kuning, apalagi bagi Ajar Sukaniti yang manapun juga”

Pengemis tua itu termangu-mangu sejenak, namun kemudian katanya, “Baiklah jika kau tidak berani mengamat-amati padepokan Lemah Putih, kehadiran orang-orang dari seberang bengawan itu tentu mempunyai arti yang gawat” ia berhenti sejenak, lalu, “Jika demikian aku akan menghubungi Cengkir Pitu segera, mungkin aku tidak akan terlambat”

“Jadi Kiai akan pergi?”

“Ya, aku akan pergi dengan kudaku”

“Di siang hari begini? tentu tindakan Kiai akan menarik perhatian, seorang pengemis tua dengan pakaian kumal berpacu diatas kuda?”

“Kau bodoh sekali, tentu aku tidak akan berpakaian seperti seorang pengemis”

Pemilik rumah itu mengangguk-angguk, katanya, “Terserahlah kepada Kiai, tetapi jangan biarkan aku dengan persoalan yang tidak akan mengerti ujung pangkalnya”

Pengemis tua itu mengerutkan keningnya, namun kemudian katanya, “Baiklah, aku berjanji tidak akan melibatkan kau langsung atau tidak langsung, tetapi kaupun jangan mencampuri persoalanku”

“Tentu Kiai, jika aku mencampuri persoalan Kiai, berarti aku sudah melibatkan diriku sendiri ke dalam kesulitan”

Pengemis tua itu mengangguk-angguk, desisnya, “Terima kasih, aku cuma minta maaf, bahwa pertemuan kita kali ini mempunyai suasana yang khusus, tetapi aku tidak dapat ingkar pada kewajiban ini”

“Aku mengerti Kiai”

“Baiklah, aku minta diri, seperti saat aku datang, aku akan pergi sebagai seorang saudagar kaya dengan kuda yang merah tegar”

Pengemis tua itu pun kemudian berganti pakaian, ia tidak lagi seorang pengemis tua, tetapi ia kemudian telah berubah menjadi seorang saudagar yang meskipun rambutnya yang satu dua helai terjurai ke bawah ikat kepalanya telah nampak memutih, namun ia masih tetap nampak segar dan gagah duduk di punggung kuda dengan keris di lambung.

Sejenak kemudian maka kuda itu pun telah berderap meninggalkan halaman rumah itu, tidak seorangpun yang menaruh curiga apalagi menghubungkan saudagar berkuda itu dengan seorang pengemis tua yang berkeliaran di padepokan Lemah Putih, mereka yang melihat seekor kuda yang tegar berlari meninggalkan rumah itu, sama sekali tidak menghiraukannya, sekilas mereka melihat debu mengepul dan menutup hidung mereka jika debu itu menyentuh wajah mereka, namun kemudian mereka tidak menghiraukannya lagi, kemanakah orang berkuda itu pergi.

Dalam pada itu, maka orang berkuda itu pun memacu kudanya semakin kama semakin cepat, tetapi karena perjalannya ke perguruan Cengkir Pitu bukannya perjalan yang pendek, maka perjalan itu pun akan memerlukan waktu yang panjangg pula.

Sementara orang berkuda itu berpacu, maka diantara orang-orang yang menutup hidungnya karena debu itu adalah seorang tua yang kebetulan lewat di hadapan rumah berhalaman agak luas itu.

Sejenak orang ini termangu-mangu, setelah memperhatikan debu yang semakin tipis dan ketika tidak ada orang yang memperhatikannya lagi, maka ia pun kemudian menyelinap masuk ke halaman itu dan hilang pula di halaman samping.

Beberapa saat ia termangu-mangu, namun ia pun kemudian mendekati pintu butulan dan menyapa seorang yang melintas di halaman itu.

 

“Siapakah yang kau cari, Ki Sanak?” bertanya orang itu.

“Kakang Reksabahu”

Orang yang bertanya itu termangu-mangu, dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapakah kau?”

“Aku saudara sepupunya dari kaki pegunungan Sewu”

“He, jadi kau datang dari Pegunungan Sewu?”

“Ya”

“Berjalan kaki?”

Orang yang mencari Reksabahu itu tersenyum, katanya, “Tidak, tetapi aku sudah singgah di tempat saudaraku yang lain, dan aku meninggalkan kudaku padanya”

Orang itu masih ragu-ragu, namun sebelum ia mempersilahkan, terdengar dari pintu butulan suara Reksabahu, “He, siapakah yang mencari aku?”

Orang yang datang itu berpaling, dipandanginya Reksabahu sejenak, kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kau sudah lupa kepadaku?”

“O, kau” orang itu mengerutkan keningnya, “Mari, marilah masuklah”

Orang yang dipersilahkan itu pun segera mengikuti Reksabahu masuk ke ruang dalam.

“Kau berada disini?” bertanya Reksabahu

“Ya, aku berada disini untuk melihat-lihat keadaan yang berbeda dengan keadaan di padepokanku”

“Aku mendengar kata-katamu, kau menyebut Pegunungan Sewu, saudaraku yang ada di Pegunungan Sewu sudah tidak ada lagi sekarang, tetapi jika yang dimaksud Pegunungan Sewu dalam arti yang luas, maka alu langsung teringat kepada Rancangbandang”

“Bukankah kedatanganku sama artinya dengan kedatangan Rancangbandang karena aku adalah kakaknya”

Ki Reksabahu tertawa, katanya mempersilahkan “Marilah, masuklah, adalah tidak biasa seorang tamu langsung masuk lewat butulan”

Tamunyapun tertawa pula, jawabnya, “Sekali ini tamumu adalah tamu yang aneh”

Ki Reksabahu pun kemudian membawa tamunya ke pringgitan dan dipersilahkannya duduk diatas tikar yang sudah terbentang.

“Marilah Ki Ajar, kedatanganmu sebenarnya agak mengejutkanku, justru dalam keadaan seperti ini”

Ki Ajar Respati itu pun tersenyum, jawabnya, “Aku memang sudah menduga, tetapi aku tidak dapat menahan hati untuk melihat justru saat keadaan di daerah ini tidak menentu, aku sudah melihat padepokan Lemah Putih, melihat orang-orang yang berkumpul disana, dan melihat orang yang baru saja memasuki halaman rumahmu dengan pakaian seorang pengemis, dan meninggalkan rumah ini sebagai seorang saudagar diatas punggung kuda yang tegar”

Ki Reksabahu menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Aku tidak ingin terlibat, biar sajalah semua orang dengan persoalan yang tidak aku ketahui ujung pangkalnya, tetapi aku ingin hidup tenang disini”

Ki Ajar Respati tersenyum sambil mengangguk-angguk, katanya, “Hampir setiap orang menginginkan hidup tenang, aku juga. Tetapi pada suatu saat ada keinginan lain yang tersembul di permukaan hati, melihat persoalan orang lain seperti sekarang ini”

“Kau masih saja sempat melakukannya”

Ki Ajar Respati terdiam sejenak, karena seorang perempuan yang keluar dari ruang dalam menghidangkan semangkuk minuman.

Ki Ajar Respati kemudian menceritakan tentang perjalanannya, ia sudah kehilangan anaknya, tetapi ia harus menerimanya dengan tabah.

“Aku sudah gagal dalam tugasku sebagai seorang ayah, aku tidak mampu mengasuh anakku sebagaimana dikehendaki oleh Yang Maha Kuasa yang telah mempercayakannya kepadaku, sehingga pada suatu saat Yang Maha Kuasa mengambil keputusan untuk memungut anak itu kembali kepadanya”

“O” Ki Reksabahu mengangguk-angguk, “Aku ikut berprihatin”

“Semuanya aku terima dengan lapang dada, tetapi agaknya itu sudah mendorongku untuk melakukan hal yang aneh-aneh yang sudah tidak aku lakukan sebelumnya”

“Apakah yang sudah kau lakukan?”

“Diantaranya adalah mencampuri persoalan orang lain seperti sekarang ini”

Ki Reksabahu menarik nafas dalam-dalam, lalu dengan nada datar ia bertanya, “apakah sebenar yang sedang kau lakukan sekarang?”

“Aku berani bertaruh bahwa yang berada di Lemah Putih adalah orang-orang dari perguruan Kumbang Kuning”

Ki Reksabahu mengerutkan keningnya, lalu katanya, “Ya, banyak orang yang sudah mengetahuinya bahwa yang berada di Lemah Putih adalah orang-orang perguruan Kumbang Kuning”

“O” Ki Ajar Respati termangu-mangu, tetapi ia pun kemudian tertawa, “Ah, ternyata aku adalah orang yang paling dungu, aku kira aku adalah orang yang memiliki pengamatan yang sangat tajam, sehingga aku adalah orang yang pertama-tama mengetahui bahwa orang-orang yang berkumpul di Lemah Putih adalah orang-orang Kumbang Kuning”

Ki Reksabahupun tersenyum.

“Nah, jika demikian, maka pengamatanku atas orang yang baru saja keluar dari halaman rumahmu ini pun tentu bukannya karena ketajaman pengamatanmu”

“Katakan siapakah orang itu?”

Ki Ajar Respati menggeleng, katanya, “Aku tidak mengetahuinya, aku hanya mencurigainya bahwa ia sudah dengan seksama mengamati padepokan Lemah Putih, ketika seseorang dari Pegunungan Sewu yang menyeberangi bengawan itu datang, maka ia pun melakukan yang lebih seksama, tetapi tidak terlalu lama karena ia pun segera meninggalkan tempatnya dan seterusnya seperti yang sudah kita ketahui bersama”

Ki Reksabahu menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Aku tidak tahu, dan seandainya aku mengetahuinya, aku tidak akan berani mengatannya kepada orang lain”

“Kau tidak berani?, he, sejak kapan kau menjadi seorang pengecut?, atau barangkali aku sudah terjebak ke dalam lingkungan yang salah, mungkin kau salah seorang dari mereka yang sedang melakukan pengamatan atas orang-orang Kumbang Kuning”

“Kau jangan mengigau” desis Ki Reksabahu, “Aku sama sekali tidak tahu menahu persoalannya”

Ki Ajar Respati tertawa, katanya, “Kumbang Kuning sedang berusaha untuk menemukan sesuatu di Pegunungan Sewu, menurut pengamatanku bukan saja perguruan Kumbang Kuning, tetapi tentu dari banyak pihak, agaknya kegelisahankulah yang mendorong aku untuk mengikuti seorang yang aku duga adalah orang dari perguruan Kumbang Kuning”

“Darimana kau tahu bahwa orang itu adalah orang Kumbang Kuning?”

“Semula aku tidak tahu pasti, tetapi kehadirannya di padepokan Lemah Putih telah memastikan aku, bahwa orang itu adalah orang Kumbang Kuning”

“Tetapi kenapa kau menjadi gelisah seandainya ada persoalan yang terjadi itu?”

“Adikku Rancangbandang ada di punggung Pegunungan Sewu itu”

“He, jadi Rancangbandang juga telah dihinggapi ketamakan untuk mendapatkan pusaka yang belum pasti ada itu?”

“Jangan salah mengerti, ia sama sekali tidak menginginkan apapun juga”

Ki Reksabahu memandang Ki Ajar Respati dengan heran, kemudian ia pun bertanya, “jadi apakah kerja Rancangbandang diatas Pegunungan Sewu?”

Ki Ajar Respati tersenyum, jawabnya, “Ada sesuatu yang menarik perhatiannya, juga karena adanya pusaka itu, tetapi sama sekali bukan ia didesak oleh keinginan untuk memiliki pusaka yang masih kabur itu”

Ki Ajar Respati pun mulai bercerita tentang dirinya sendiri dan tentang adiknya tentang anak muda yang ada hubungannya dengan kematian anaknya, tetapi justru karena itu, anak muda itu sangat menarik perhatiannya, bahkan Rancangbandang telah menyediakan dirinya mengikuti anak muda itu naik ke gunung yang mempunyai seribu puncak itu.

Ki Reksabahu mengangguk-angguk, kemudian desisnya, “Menarik sekali, dan kau yang berada di bawah bukit itu mulai memperhatikan setiap gerak-gerik orang yang kebetulan kau lihat naik atau turun dari pegunungan itu”

“Ya, diantaranya adalah orang yang pergi padepokan Lemah Putih itu”

“Langsung atau tidak langsung, itu berarti bahwa kau sudah melibatkan dirimu dengan persoalan-persoalan yang tidak kau ketahui itu?”

Ki Ajar Respati tersenyum, “sudah aku katakan” jawabnya, “Aku sekarang dihinggapi penyakit untuk mencampuri persoalan orang lain, mungkin karena aku kesepian sepeninggal anakku”

Ki Reksabahu menggeleng, katanya, “Urungkanlah niatmu, biarlah Rancangbandang melibatkan dirinya, tetapi sebaiknya kita tidak perlu terjun ke dalam arus air yang kita tidak tahu betapa dalamnya”

“Aku sedang menjajaginya, tetapi apakah aku dapat tinggal diam melihat adikku sudah terlanjur basah dalam penyeberangannya”

“Adikmulah yang bodoh”

“Bukan adikku saja, kami berdua memang boboh, tetapi dengan demikian kami ingin mendapatkan keputusan tersendiri yang barangkali tidak dapat dinikmati orang lain”

“Kalau begitu, lakukanlah sendiri, jangan memaksa aku terlibat pula ke dalamnya”

Ki Ajar Respati memandang Ki Reksabahu sejenak, namun kemudian gumamnya, “Agaknya aku telah salah memilih kawan kali ini, kawan baik yang selama ini aku anggap sebagai saudara kandungku sendiri, telah melepaskan aku, sehingga aku merasa telah kehilangan sekali, anakku, dan kemudian saudaraku, tetapi dengan demikian aku menjadi pasti, bahwa aku harus berusaha membantu kesulitan Rancangbandang, aku tidak mau kehilangan lagi”

Ki Reksabahu menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Kau masih suka merajuk seperti dahulu”

“Aku tidak merajuk kali ini, tetapi aku benar-benar kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu disini”

Ki Reksabahu termenung sejenak, tetapi ia tidak segera menjawab.

“Jika aku tidak mendapatkan keterangan apapun disini, maka aku harus segera kembali ke kaki Pegunungan Sewu, bahkan agaknya aku harus naik untuk mencari adikku yang mungkin terlibat dalam kesulitan bersama Panon Suka”

“Tunggulah” desis Ki Reksabahu, “Sejak dahulu aku selalu tersudut ke dalam keharusan seperti ini”

Ki Ajar Respati tidak menjawab.

“Apakah sebenar yang ingin kau ketahui?”

“Aku sudah mengucapkan pertanyaan itu” jawab Ki Ajar Respati, “Tentang pengemis yang telah berubah menjadi saudagar kaya berkuda merah gelap itu”

“Ia pun seorang kenalan baikku, namanya Kiai Sasak Angin”

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, namun ia masih bertanya, “Tentu dari perguruan yang lain dari mereka yang berada di padepokan Lemah Putih”

“Kau mendesak aku, tetapi baiklah, ia memang datang dari perguruan lain”

“Yang lain itulah yang ingin aku ketahui”

“Jangan mendesak lagi, jika aku melibatkan diri, mungkin kau tidak akan melihat aku lagi”

“Kenapa?”

“Aku akan dikubur oleh sanak kadang dan para tetangga, kau tahu bahwa Kiai Sasak Angin tidak akan dapat terlawan oleh siapapun”

Ki Ajar Respati tertawa, katanya, “Jika aku tidak mengenalmu, mungkin aku percaya, tetapi ceritamu tentang maut itu sangat menggelikan, siapapun orang yang bernama Kiai Sasak Angin itu”

Ki Reksabahu menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Ajar Respati, dalam keadaan seperti ini, kita sebenarnya lebih baik tidak ikut campur, mereka adalah orang-orang dari perguruan yang besar, sedangkan kita adalah orang-orang yang karena ketekunan dan sedikit bekal sajalah maka kita berhasil memiliki ilmu yang mungkin justru aneh bagi orang lain, tetapi kita masing-masing adalah sendiri, bukan dari perguruan besar. Sejauh-jauhnya kau menyatukan diri dengan adikmu dan satu dua muridmu yang baru dapat meloncat itu.

“Tidak, aku mempunyai kawan-kawan lain, diantaranya adalah Panon Suka, dan sekarang aku berada bersamamu, tentu kau mempunyai satu dua orang yang kau tugaskan untuk mewarisi ilmumu yang kau cari bertahun-tahun itu”

Ki Reksabahu termenung sejenak, namun katanya kemudian, “Baiklah, aku akan menyebutkannya, tetapi tidak lebih dari itu” ia berhenti sejenak. Tetapi justru Ki Ajar Respati yang langsung menebak, “Orang itu datang dari perguruan Cengkir Pitu, bukan?”

“Sekarang kau dapat berkata begitu”

Ki Ajar Respati tersenyum, katanya, “Jadi kau tidak percaya bahwa aku mempunyai perhitungan yang tajam”

Ki Reksabahu tertawa, katanya, “Aku percaya kau memang mengetahui banyak hal”

Sejenak keduanya melupakan ketegangan yang terjadi di sekitar padepokan Lemah Putih itu.

Namun kemudian Ki Ajar Respati itu berkata, “Jika demikian, apakah kau mash dapat berkata bahwa kau tidak akan melibatkan diri dalam persoalan ini”

“Tentu, aku memang tidak akan melibatkan diri dalam persoalan ini, diantara raksasa dari perguruan-perguruan yang disegani itu, aku tidak lebih dari debu yang tidak berarti”

Ki Ajar Respati tertawa, jawabnya, “Kau masih berkata begitu, apakah kau kira aku tidak tahu bahwa dengan jari-jarimu kau dapat meremas batu menjadi tepung?”

“Itu berlebih-lebihan”

“Meskipun demikian, kau harus membuat pertimbangan-pertimbangan selanjutnnya, tetapi baiklah” berkata Ki Ajar Respati kemudian, “Aku masih akan berada disini untuk tiga hari, aku akan melihat perkembangan padepokan Lemah Putih, mungkin aku masih akan singgah lagi kerumahmu untuk mendengarkan keputusanmu”

“Aku sudah memutuskan, bahwa aku tidak akan melibatkan diri”

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, katanya, “Baiklah, terserah kepadamu, jika kau memang mengambil keputusan itu, lakukanlah, tetapi bahwa kau sudah mengatakan kepadaku, bahwa orang itu adalah orang Cengkir Pitu, maka kau tentu sudah meletakkan satu kakimu kedalam persoalan.”

Ki Reksabahu menyahut, “Tergantung kepadamu, jika kau memang ingin menyeretku, kau dapat mengatakan kepada setiap orang, bahwa kepada orang Cengkir Pitu itu kelak jika kau menemuinya disini, bahwa aku sudah mengatakannya kepadamu. Nah, dengan demikian berarti bahwa kau sudah menyudutkan aku untuk melibatkan diri lebih jauh lagi”

“Tidak, aku tidak akan melakukannya, aku masih mempunyai kesadaran, seperti kau juga kau. Kau sudah memojokkan aku dengan petunjukmu, karena itu, aku tidak akan memojokkan kau ke dalam kesulitan, meskipun sebaiknya hal itu sama sekali tidak akan menyulitkan kau”

“Ah, kau memang tidak mau melihat kenyataan”

“Bailkah, aku akan minta diri, aku masih mempunyai kewajiban yang sengaja aku bebankan kepundakku, aku ingin mengetahui serba sedikit tentang Lemah Putih, Kumbang Kuning dan Ki Ajar Sokaniti yang namanya tersebar di seluruh bumi Majapahit”

“Mudah-mudahan, kau tidak terjebak ke dalam mulut serigala”

“Bagaimanapun juga, aku masih mengharapkan kau singgah kemari, bahkan akupun senang sekali kau bermalam di rumahku ini”

“Sampai saatnya orang Cengkir Pitu itu datang dan mencekikku? sedangkan kau sama sekali tidak ingin terlibat, sehingga kau tentu akan membiarkan aku mati tersengal-sengal”

“Rupa-rupanya kau juga tidak ingin terlibat dengan gelarmu ketika kau masih muda, Burung Elang Dari Telaga Kembar, He, bukankah kau senang bermain-main di telaga kembar itu? dan bukankah kau menemukan isterimu di telaga kembar itu pula?”

“Ah, sudahlah, isteri dan anak-anakku hanyalah kenangan yang pahit”

“Maaf, bukan maksudku, aku hanya ingin mengatakan tentang burung elang itu”

Ki Ajar Respati tidak menjawab, tetapi ia pun kemudian minta diri sambil berkata, “Saat kita masih muda, kita memang sering berbuat aneh-aneh, kita membuat nama-nama yang dapat memberikan kebanggan kepada diri kita sendiri, Elang Dari Telaga Kembar memang nama yang bagus, tetapi aku kini tidak lebih dari elang yang tidak bersayap lagi”

“Sudahlah, aku minta maaf” lalu katanya, “Sekali lagi aku mengharapkan kau datang ke rumahku dan tinggal disini”

“Aku membawa seekor kuda yang aku sembunyikan, apakah kudaku dapat aku bawa kemari pula?”

“Di belakang ada kandang kuda, kudamu tidak akan menumbuhkan kecurigaan kepada orang lain”

“Malam nanti aku akan datang”

“Ki Ajar Respati pun kemudian meninggalkan rumah Ki Reksabahu, Dialah yang kemudian mengamat-amati padepokan Lemah Putih dengan hati-hati, tetapi Ki Ajar Respati tidak membuat dirinya menjadi sekali pengemis seperti orang Cengkir Pitu itu, tetapi ia berjalan melintasi jalan yang melingkar, kemudian berhenti di belakang batang-batang perdu di tempat yang terasing.

Tetapi dihari itu, Ki Ajar Respati tidak melihat apapun juga yang menarik, meskipun demikian ia masih saja ingin melihat-melihat padepokan orang-orang Kumbang Kuning itu.

Ketika malam menyelimuti padukuhan-padukuhan disekitar padepokan Lemah Putih, maka Ki Ajar Respati pun telah membawa kudanya ke rumah Ki Reksabahu.

“Kau dapat melihat-lihat padepokan itu dengan cara yang lebih baik” berkata Ki Reksabahu.

“Bagaimana?”

“Sawahku ada yang menjorok sampai kedekat padepokan itu, jika kau mau menjadi pelayanku dan bekerja di sawah itu, kau akan mendapat kesempatan, dan kau akan mendapat upah serta makan sehari tiga kali disini”

Ki Ajar Respati tertawa, katanya, “Agaknya kau sudah mengambil keputusan untuk melibatkan diri”

Ki Reksabahu mengerutkan keningnya, dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa kau mendapat kesimpulan yang demikian?”

“Kau sudah melindungi aku dan memberikan jalan yang lebih baik untuk melakukan pekerjaanku, mencampuri persoalan orang lain”

“Ah, tentu tidak, aku hanya memberikan tempat bermalam kepada sahabatku apapun yang ia lakukan”

Ki Ajar Respati masih tertawa, jawabnya, “terima kasih, terima kasih, mudah-mudahan kau tidak berlaku seperti itu pula kepada sahabatmu dari Cengkir Pitu itu”

“Aku akan memperlakukan semua sahabatku dengan cara yang sama”

“Ooo, agaknya kau ingin melihat perang tanding?”

Ki Reksabahu tertawa, katanya, “Aku tidak peduli, apa yang akan terjadi, tinggallah disini, jadilah pelayanku, aku memerlukan seorang yang dapat mengerjakan sawahku”

Ki Ajar Respati menerima pekerjaan itu dengan senang hati, ia sadar bahwa Ki Reksabahu tidak akan dapat menghidarkan diri dari keterlibatannya yang lebih jauh, dan agaknya Ki Reksabahu itu pun tidak akan ingar lagi.

“Aku percaya kepadanya, ia tidak akan berkhianat seandainya orang Cengkir Pitu itu datang lagi kemari” berkata Ki Ajar Respati di dalam hatinya.

Di hari berikutnya Ki Ajar Respati sudah berada di sawah Ki Reksabahu, dengan rajin ia mengerjakan sawah itu, seperti mengerjakan sawahnya sendiri, apalagi ternyata bahwa Ki Reksabahu pun ikut turun ke dalam lumpur.

Keduanya tidak meninggalkan sawah itu, meskipun matahari yang terik telah membakar punggung mereka, bahkan kemudian matahari itu mulai condong ke barat.

“Hari ini kau benar-benar beruntung” berkata Ki Ajar Respati.

“Kenapa?”

“Aku bekerja sehari penuh, jika tidak terjadi perubahan apapun yang menarik perhatian di padepokan itu, maka aku masih akan bekerja lagi disini satu atau dua hari lagi”

“Tetapi sudah aku katakan, aku akan memberimu makan tiga kali, pagi tadi kau sudah makan di rumah sebelum berangkat ke sawah, siang, tadi kau makan nasi kiriman, dan nanti malam kau boleh makan lagi”

Ki Ajar Respati tertawa berkepanjangan.

Namun tiba-tiba suara tertawanya terhenti, dari kejauhan ia melihat debu yang mengepul.

“Kau lihat debu itu?”

Ki Reksabahu mengangguk-angguk. wajahnya tiba-tiba menjadi tegang dan sungguh-sungguh, bahkan hampir di luar sadarnya ia berkata, “Tentu orang-orang Kumbang Kuning”

“Ya, mereka menuju ke regol padepokan Lemah Putih”

“Kita menunggu disini, mereka akan melalui jalan sebelah sehingga kita dapat melihatnya agak jelas”

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, katanya, “Mudah-mudahan kita dapat mengenal mereka, atau salah seorang dari mereka”

Ki Reksabahu mulai mengayunkan cangkulnya lagi sambil berkata, “Aku tidak banyak mengenal orang-orang Kumbang Kuning, mungkin aku belum mengenal seorangpun, juga yang baru datang itu”

Ki Ajar Respati mulai bekerja pula seperti Ki Reksabahu, namun dalam pada itu, perhatiannya sebagian terbesar ditujukannya kepada orang-orang berkuda yang sedang mendekati padepokan Lemah Putih lewat jalan bulak di sebelah sawah yang sedang digarap itu.

Semakin dekat iring-iringan kecil itu, mereka yang berada di sawah menjadi semakin berdebar-debar, sekali-sekali mereka mencoba memandang wajah orang-orang yang menjadi semakin dekat itu, tetapi bagi mereka masih terlalu sulit untuk mengenalnya.

“Yang dua orang itu nampaknya agak lain” desis Ki Ajar Respati.

“Ya, dan yang seorang itu lagi, pakaiannya memiliki ciri tersendiri”

“Apakah maksudmu warna putih yang melingkar lambungnya itu?”

“Ya”

“Ia tentu orang yang disebut Ki Ajar Sokaniti”

“Kali ini aku tidak dapat memberikan tanggapan atas tebakanmu itu, karena aku memang belum pernah melihat orang yang bernama Ki Ajar Sokaniti itu” gumam Ki Reksabahu.

Ki Ajar Respati tersenyum, katanya, “Kau memang benar-benar berhasil menjadikan dirimu seorang yang bodoh dan dungu, kau dapat dengan serta merta berlaku seperti orang yang tidak berpengetahuan apapun juga”

“Ah” desis Ki Reksabahu, “Bukankah aku memang bodoh dan dungu”

“Jangan memaksa aku untuk berteriak dan memancing perkelahian dengan orang-orang itu, sekedar untuk membuktikan bahwa kau bukan orang bodoh dan dungu”

“Dan kita bersama-sama mati disini”

“Tetapi aku akan puas, bahwa aku sudah berhasil membuktikan bahwa kau mampu bertempur melawan empat atau lima orang dari perguruan Kumbang Kuning sekaligus”

“Ah, itu berlebih-lebihan, berlebih-lebihan sekali”

Ki Ajar Respati yang berbicara sambil bekerja itu pun kemudian terdiam, iring-iringan itu benar-benar telah menjadi semakin dekat.

Ketika iring-iringan itu lewat di jalan bulak sebelah kedua orang yang bekerja di sawah itu, beberapa orang diantara mereka berpaling, tetapi mereka sama sekali tidak memperhatikan lagi.

Ki Ajar Respati yang berhenti bekerja berdiri memandangi iring-iringan itu tanpa ragu-ragu, seolah-olah ia tidak mempunyai prasangka apapun juga terhadap orang-orang yang sedang berkuda melalui jalan bulak itu, namun dengan demikian, maka orang di dalam iring-iringan itu pun tidak mencurigainya sama sekali.

Ketika iring-iringan itu lewat, maka. Ki Reksabahu berkata, “Kaupun ternyata memiliki kemampuan memperbodoh diri lebih dari aku”

“He!” desis Ki Ajar Respati, “Kau lihat orang yang di belakang itu?”

Ki Reksabahu menarik nafas dalam-dalam, katanya, “mereka sangat berhati-hati, ternyata iring-iringan yang terdiri dari lima orang itu masih belum cukup”

“Mereka adalah pengawal-pengawalnya, tetapi cara yang mereka lakukan nampaknya cukup berhati-hati”

“Tetapi justru orang-orang yang di belakang itulah yang berbahaya, mereka hanya bertiga”

Kedua orang itu pun kemudian melanjutkan pekerjaan mereka seperti tidak terjadi apapun juga, mereka sama sekali tidak menarih perhatian kepada orang-orang yang berkuda lewat jalan bulak itu.

Tetapi seperti yang mereka duga, orang-orang itu nampaknya jauh lebih berhati-hati dari kelima orang yang terdahulu. Ketiganya telah berhenti sejenak untuk mengamati kedua orang yang sedang bekerja di sawah itu.

Namun kedua orang itu sudah melanjutkan pekerjaan mereka, selain kedua orang itu, di sepanjang bulak memang terdapat beberapa orang yang sedang bekerja di sawah mereka, sehingga kehadiran kedua orang itu memang tidak mencurigakan.

Sepeninggal ketiga orang itu, barulah Ki Reksabahu berkata, “Nah, sekarang marilah kita mencoba untuk membicarakan iring-iringan yang pertama”

“Ya, sebab yang kedua tidak akan ada artinya sama sekali” sahut Ki Ajar Respati.

“Benar” jawab Ki Reksabahu, “Nah sebutkan, siapakah kedua orang yang berpakaian lain dari kawan-kawannya dan seorang yang memakai tanda kain putih”

“Yang berciri kain putih tentu Ki Ajar Sokaniti sendiri, ia nampak agung meskipun masih agak muda, yang dua orang itu tentu dua orang bangsawan yang berada di dalam lingkungan perguruan Kumbang Kuning” sahut Ki Ajar Respati.

“Aku sependapat, tetapi biarlah orang-orang Cengkir Pitu kelak memberikan tanggapan, mereka tentu lebih banyak mengetahuinya, karena merekapun telah menempatkan orang-orangnya di sekitar Kumbang Kuning sendiri”.

“Kapan orang itu akan datang”

“Aku tidak tahu, tetapi tentu segera, dan aku berharap agar kau juga ikut menunggu, meskipun dengan demikian kau harus tinggal di belakang di rumah kecil yang berada di belakang longkangan bersama pemelihara kudaku”

“Uh, kau benar-benar ingin memanfaatkan tenagaku disini”

Ki Reksabahu tersenyum, namun ia mengerutkan keningnya ketika Ki Ajar Respati berkata, “Baiklah, tetapi apakah kau masih tidak ingin terlibat ke dalam persoalan ini?”

Ki Reksabahu menegang sejenak, namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, dan berkata, “Aku akan melibatkan diri ke dalam persoalan ini, tetapi aku belum memutuskan kepada siapa aku akan berpihak, kepadamu,kepada orang-orang Cengkir Pitu atau kepada orang-orang Kumbang Kuning”

Ki Ajar Respati tertawa, sekilas dipandanginya orang-orang berkuda yang menjadi semakin jauh, lalu katanya, “Baiklah, mungkin kau akan berpihak kepada orang-orang Guntur Geni yang sudah tidak lagi berpijak pada ajaran yang sebenarnya”

“Mungkin, mungkin sekali”

Keduanya pun kemudian terdiam, mereka melanjutkan pekerjaan mereka, meskipun hanya sekedar untuk mencegah kecurigaan orang. karena sejenak kemudian keduanya pun meninggalkan sawah mereka dan kembali ke rumah Ki Reksabahu.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Reksabahu, maka Ki Ajar Respati ditempatkan di bagian belakang rumahnya, dalam satu bilik yang cukup luas bersama pekatiknya. Diantara bilik itu dan rumah induk, terdapat sebuah longkangan yang cukup luas untuk menjemur padi dan kayu bakar.

Tempat itu adalah tempat yang lebih baik bagi Ki Ajar Respati dari pada ia harus berada di rumah induk, setiap saat orang Cengkir Pitu itu akan datang, agar ia tidak langsung terlibat dalam persoalan dengan orang-orang Cengkir Pitu, maka lebih baik jika ia berada di bilik yang tersembunyi meskipun harus tinggal bersama seorang pekatik.

Dalam pada itu, pada hari-hari yang terasa amat panjang itu, istana kecil Pangeran Kuda Narpada yang terletak di punggung Pegunungan Seribu itu terasa menjadi semakin suram, mereka sudah tidak mempunyai persediaan makan yang cukup. Yang dapat mereka pergunakan untuk mengisi kekurangan makan mereka sehari-hari hasil kebun yang tidak seberapa banyak.

Tetapi seisi istana itu mulai menjadi cemas, bahwa mereka akan segera kehabisan makan sebelum masalah mereka dapat diselesaikan.

“Aku akan ke padukuhan” berkata Nyi Upih.

“Jangan Nyai” cegah Inten, “nanti terjadi malapetaka atas nyai”

“Aku sudah tua puteri, aku kira, tidak akan ada gangguan apapun juga.”

“Soalnya bukan tua atau muda, tetapi mungkin ada orang-orang yang mendendam, mendendam seisi istana ini, aku tidak tahu bagaimanakah perkembangan yang telah terjadi, sehingga akhir-akhirnya justru kakangmas Kuda Rupaka yang telah terusir dari istana ini”

“Puteri, bukankah puteri mengetahuinya, bahwa pada akhirnya Raden Kuda Rupaka sudah mulai mempergunakkan kekerasan untuk mendapatkan pusaka yang dicarinya, apapun alasannya, atas ibunda puteri”

Inten Prawesti mengangguk-angguk, namun kemudian katanya, “Tetapi nyai, apakah orang-orang yang masih ada di dalam halaman istana sekarang ini tidak patut dicurigai juga?, sedangkan kakangmas Kuda Rupaka saja sampai hati memaksa ibunda untuk menunjukkan pusaka yang tidak diketahuinya itu, apalagi orang-orang yang tidak kami kenal itu”

Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam, namun jawabnya kemudian, “Puteri, sampai saat ini mereka sama sekali tidak pernah mengganggu kita, mereka adalah orang-orang sederhana yang tidak mempunyai keinginan yang melambung, sehingga mereka tidak memerlukan pusaka apapun juga”

Inten termangu-mangu, dipandanginyanya Nyi Upih dengan sorot mata kecurigaan, seolah-olah ia ingin bertanya, siapakah sebenarnya kedua orang yang mengaku anaknya, tetapi agaknya lidahnya tidak mampu untuk mengucapkannya.

Tetapi agaknya Nyi Upihlah yang mengatakannya tanpa ditanya, “Puteri, mungkin puteri pun menaruh kecurigaan terhadap kedua anakku, aku sadar puteri, keduanya memang telah melakukan sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan martabat serta kedudukanku, mungkin memang ada sesuatu yang pantas diketahui, atau yang pantas dicurigai, namun, aku akan menjadi jaminan bahwa mereka tidak akan mengganggu puteri dan ibunda puteri, apalagi tentang pusaka yang sedang menjadi rebutan itu”

Inten menarik nafas dalam-dalam, sebenar kepercayaannya kepada pemomongnya yang setia itu sama sekali tidak susut, namun ia merasa seolah-olah dihadapkan pada suatu teka-teki yang tidak dapat dipecahkannya.

Sementara itu Pinten yang berada di dapur sedang berbincang pula tentang keadaan yang semakin sulit di istana itu, dengan wajah yang gelap Pinten berkata, “Nah, bagaimana usaha kalian untuk mencukupi makan kita disini”

Sangkan dan Panon duduk diatas dingklik kayu yang rendah, mereka memandang bayangan matahari yang jauh diatas tanah yang kering.

“Pada suatu saat kita harus pergi ke padukuhan” desis Sangkan.

“Tetapi itu berbahaya, mungkin kau akan bertemu dengan orang-orang yang kecewa itu, aku yakin mereka masih ada di padukuhan dan bahkan mereka sedang menunggu bantuan yang akan datang”

“Tetapi pada suatu saat, tindakan yang mengandung kemungkinan yang paling pahitpun harus dilakukan, jika tidak, maka kita akan kelaparan semuanya disini, tanaman di halaman ini semakin lama menjadi semakin tipis dan kita sudah mulai makan dedaunan bukan saja sebagai sayur, tetapi justru menjadi makanan pokok”

Sejenak mereka termangu-mangu, namun tiba-tiba terdengar suara Pinten tertawa, perlahan-lahan dan serasa tertahan dikerongkongan. Sangkan memandang Pinten dengan tegang, dengan termangu-mangu ia bertanya, “Kenapa kau tertawa Pinten?”

“Tidak apa-apa”jawab Pinten, “Aku ingin sekedar mengelabui kegelisahanku, sebenarnyalah aku menjadi gelisah, justru bukan karena aku sendiri, aku masih memikirkan apakah yang akan terjadi dengan Raden Ayu Kuda Narpada dan puteri Inten Prawesti”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, ketika ia memandang wajah Panon nampaknya wajah itu pun menegang pula.

Dalam pada itu Ki Mina yang berada di dalam bilik bersama Panji Sura Wilaga yang terikat pun sebenar telah dicengkam oleh kegelisahan, berapa hari lagi mereka yang ada di dalam halaman istana kecil itu dapat bertahan, dan masih berapa hari lagi Panji Sura Wilaga akan terikat pada tiang kayu di bilik belakang itu”

Semuanya itu membuat hatinya menjadi gelisah, namun hampir setiap orang menjadi gelisah justru karena nasib puteri Inten Prawesti dan ibundanya, bukan karena diri mereka sendiri.

Sementara itu, mereka yang berada di halaman istana itu masih belum menemukan cara yang paling baik untuk memecahkan kesulitan mereka. Satu-satunya jalan yang mereka ketahui adalah, bahwa salah seorang atau dua dari mereka harus pergi ke padukuhan.

“Tidak ada jalan lain” desis Sangkan yang masih duduk di dapur, “Apapun akibatnya aku akan mencobanya”

“Panon memandang Sangkan sejenak katanya

“Apakah itu ketetapan hatimu?”

“Ya”

“Jika demikian, marilah kita pergi, biarlah Pinten dan Paman Mina berada di halaman, jika keadaan memaksa, maka biarlah mereka menyediakan alat yang kita setujui bersama-sama untuk memberikan isyarat”

“Kentongan?” desis Sangkan.

“Dapat juga dipergunakan, jika datang ke istana ini beberapa orang yang sulit untuk di lawan berdua saja, dan bahkan berbahaya juga bagi tawanan kita itu, maka Pinten atau Ki Mina harus memukul kentongan keras-keras, jika mereka tidak sempat, biarlah mereka menyuruh Nyi Upih melakukannya”

Akhirnya mereka pun sepakat melakukannya meskipun masing-masing saja dibebani oleh kecurigaan, tetapi dengan membagi tugas, rasa-rasanya mereka akan mencapai keseimbangan.

“Tetapi hati-hatilah” berkata Pinten.

“Aku akan berhati-hati” berkata Sangkan, tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, “He, siapakah yang kau pesan itu?, aku atau Panon”

Pinten tidak menjawab, tetapi tiba-tiba saja tangannya menarik sepotong kayu dari perapian yang ujungnya sudah membara.

Namun Sangkan dengan cepat meloncat ke pintu sambil berdesis, “jangan Pinten, jangan terlalu garang”

Pinten tidak menjawab lagi, tetapi wajahnya menjadi gelap seperti mendung yang mulai nampak memenuhi langit, bahkan kemudian terdengar suara guntur yang menggelegar meninggal-kan gema yang berkepanjangan.

“Musim basah akan segera datang, jalan-jalan tidak akan debu lagi, dan dedaunan yang mulai menguning di lereng-lereng pegunungan, akan segera menjadi hijau lagi” berkata Sangkan, “Tetapi kita tidak dapat menunggu terlalu lama karena persediaan memang sudah habis”

Keduanya kemudian menentukan, bahwa mereka harus segera berangkat, karena bagi mereka, hari-hari tidak ada bedanya, apakah mereka akan menunda sampai besok atau saat itu juga”

Mereka pun kemudian menyampaikan keputusan itu kepada Ki Mina, tetapi Ki Mina pun tidak dapat menunjukkan jalan lain, sehingga karena itu, maka ia pun berkata, “Berhati-hati, mungkin ada persoalan yang tidak kalian duga sama sekali akan terjadi, mungkin kalian akan menghadapi sikap yang berbeda dari orang-orang Karangmaja, karena mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari perasaan takut terhadap ancaman seseorang, jika kalian juga mempergunakan kekerasan dan ancaman, maka celakalah nasib orang-orang Karangmaja”

“Aku akan berhati-hati, paman” jawab Panon, “Dan akupun akan berusaha untuk melakukan kekerasan dan ancaman”

 

“Kalian akan dimusnahkan oleh perguruan Cengkir Pitu” geram Panji Sura Wilaga, “Kalian tidak akan dapat melawan mereka”

Ki Mina mengerutkan keningnya, namun Sangkan yang mnejawab, “Kau sangka bahwa perguruan Cengkir Pitu akan dengan leluasa berkeliaran di padukuhan Karangmaja? Apakah kau sengaja berpura-pura tidak tahu atau kau terlalu bodoh untuk memperhitungkan, bahwa perguruan Cengkir Pitu akan mengalami benturan yang dahsyat dengan perguruan Kumbang Kuning. Nah sadari, Raden Kuda Rupaka dan Kidang Alit itu pun akan segera menentukan siapakah diantara mereka yang berhak untuk hidup terus”

“Persetan” geram Panji Sura Wilaga, “Sebelum mereka memutuskan untuk saling bertempur, maka mereka tentu akan membunuh kalian semuanya lebih dahulu”

Sangkan tertawa, jawabnya, “Maaf, agaknya otakmu memang tumpul, sehingga kau tidak dapat menilai keadaan yang sebenar kau hadapi sekarang ini”

“Gila. Jika pada suatu saat aku mendapat kesempatan, aku akan memecahkan kepalamu”

Sangkan tertawa pendek, tetapi ia tidak mengacuhkannya lagi, karena ia pun segera berdiri dan berkata, “Marilah Panon, agar kita segera mengetahui nasib apakah yang akan kita alami nanti, kita akan pergi berkuda dengan membawa senjata yang paling pantas bagi kita untuk menghadapi segala kemungkinan, aku tahu, kau akan memenuhi ikat pinggangmu dengan pisau-pisau karatan itu”

Panon memandang wajah Sangkan sejenak, namun kemudian katanya, “Kau akan membawa sumbat kelapa dari kayu wregi itu”

Sangkan tertawa, katanya, “Aku sekarang membuat senjata yang cukup bernilai, sebuah pedang yang besar”

“Itu senjataku” geram Panji Sura Wilaga yang terikat.

Tetapi Sangkan justru tertawa sambil menjawab, “Maaf Raden Panji, aku ingin meminjam senjata ini untuk satu dua hari, selagi senjata ini masih belum kau pakai, bukankah kau kini sedang beristirahat?”

“Gila, kau anak setan” Panji Sura Wilaga menjadi marah, tetapi ia tidak berdaya, selain tubuhnya yang terikat, di ruang itu ada tiga orang yang tidak akan mungkin dilawannya.

Dalam pada itu, maka Sangkan kemudian berkata, “Marilah, jangan kau hiraukan Panji Sura Wilaga, pedang itu kini sudah menjadi milikku”

“Jika kau bertemu dengan Raden Kuda Rupaka, maka ia akan segera mengenal pedang itu, kau tentu akan dibunuhnya dan mayatmu akan di lemparkan ke jurang menjadi makanan anjing-anjing liar” geram Panji Sura Wilaga.

Sangkan hanya memandang sebentar, namun kemudian ia pun segera meninggalkan bilik itu diikuti oleh Panon yang telah siap untuk pergi menuju ke padukuhan Karangmaja.

Sejenak kemudian terdengar derap kaki kuda meninggalkan halaman. Pinten yang berada di dapur sempat melangkah keluar pintu longkangan dan melihat debu yang putih mengepul di halaman.

“Siapakah yang pergi Pinten?” terdengar suara dari pintu butulan.

Ketika Pinten berpaling, dilihatnya, puteri Inten Prawesti berdiri termangu-mangu dimuka pintu.

“Kakang Sangkan puteri”

“Sendiri?”

“Tidak, kakang Sangkan pergi bersama Panon ke padukuhan”

“Kenapa mereka pergi ke padukuhan?”

Pinten termangu-mangu sejenak, namun kemudian jawabnya, “Mereka ingin meyakinkan diri tentang suasana yang sebenar mereka hadapi sekarang”

Inten menarik nafas dalam-dalam, sejenak ia masih berdiri di muka pintu, kegelisahan yang sangat agaknya telah mencengkam hatinya, keadaan yang tidak menentu selalu menghantui istana kecil yang terpencil itu.

Sementara itu, Panon dam Sangkan tidak memerlukan waktu yang lama untuk mencapai padukuhan, demikian mereka memasuki gerbang padukuhan, maka merekapun telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. apalagi ketika mereka menjadi semakin dekat dengan rumah Ki Buyut di Karangmaja.

Tetapi untunglah, bahwa ketika mereka memasuki halaman Ki Buyut, mereka tidak menjumpai Kidang Alit dan Raden Kuda Rupaka, karena itulah merekapun dapat mengemukakan persoalan mereka kepada Ki Buyut dengan leluasa.

“Ooo, kami sama sekali tidak berkebaratan untuk menyerahkan bantuan itu, tetapi sebenarnyalah bahwa kami selalu ditakuti oleh Kidang Alit dan Raden Kuda Rupaka” berkata Ki Buyut.

“Demikianlah mereka berdua sekarang?”

“Mereka agaknya sedang keluar padukuhan, biasanya mereka juga berada disini atau di banjar, tetapi hampir setiap saat mereka selalu bertengkar, meskipun pertengkaran itu hanya terbatas pada pertengkaran mulut saja”

Panon mengangguk-angguk, namun tiba-tiba ia bertanya, “Tetapi bukankah mereka bertiga?”

“Mula-mula mereka memang bertiga, tetapi seorang dari mereka telah pergi meninggalkan padukuhan ini dengan berkuda”

“Apakah Ki Buyut tahu, kemana yang seorang itu pergi?” bertanya Sangkan.

“Aku tidak tahu”

Sangkan dan Panon saling berpandangan sejenak, tetapi agaknya tanggpan mereka tentang kepergian saling seorang ketiga orang itu meskipun tanpa mereka bicarakan, mempunyai banyak persamaan.

Untuk beberapa saat mereka tidak perlu lagi cemas, jika terpaksa mereka berdua harus berhadapan dengan Kidang Alit dan Raden Kuda Rupaka, maka keseimbangannya akan dapat dipertahankan, juga jika kedua orang itu memasuki.

Tetapi disamping itu keduanya mulai memperhitungkan kemungkinan berikutnya, kepergian saling seorang dari perguruan Kumbang Kuning itu tidak sekedar pergi tanpa maksud.

Tetapi untuk beberapa saat apalagi mereka mereka masih berada di rumah Ki Buyut, mereka sama sekali tidak membicarakannya, yang mereka bicarakan adalah usaha mereka untuk mendapatkan bahan pangan.

“Aku akan membeli sesuai dengan harga yang sebenarnya” berkata Sangkan.

Ki Buyut termangu-mangu, sementara Panon menjadi heran, dari manakah Sangkan mendapatkan uang itu.

“Apakah ia menemukannya di dalam bilik Raden Kuda Rupaka yang dengan tergesa-gesa meninggalkan istana kecil itu” berkata Panon di dalam hatinya, tetapi ia tidak bertanya tentang hal itu, karena dengan demikian mungkin sekali Sangkan akan tersinggung.

Mula-mula Ki Buyut menolak uang yang diberikan oleh Sangkan, tetapi Sangkan berkata, “Ki Buyut, seisi istana itu sudah terlalu banyak mengganggu ketenangan padukuhan ini, karena itu kami tidak ingin membebani Ki Buyut dengan persoalan makan kami, terima kasih Ki Buyut, aku hanya sekedar menyampaikan pesan Raden Ayu Kuda Narpada”

Meskipun agak berat, tetapi uang itu akhirnya diterima oleh Ki Buyut, katanya, “Baiklah anak muda, tetapi uang ini akan aku simpan dalam ujud bahan makanan, kau dapat mengambil setiap saat, karena kami tidak berani menyampaikannya ke istana itu”

“Terima kasih Ki Buyut, kami seisi istana mengetahui, bahwa sebenarnyalah penduduk Karangmaja telah berbaik hati kepada kami, karena itu, kami tidak akan dapat melupakannya”

Sejenak kemudian, maka keduanya pun meninggalkan rumah Ki Buyut, sambil membawa bahan seperlunya diatas punggung kuda masing-masing.

“Aku tidak tahu, akibat apa yang dapat timbul, jika Sangkan mengetahui serba sedikit tentang guru” berkata Panon di dalam hatinya.

Karena itulah maka niatnya untuk singgah di tempat yang sudah ditentukan itu pun diurungkannya, meskipun demikian ia masih akan selalu berusaha mendapatkan kesempatan melakukannya.

Bahan makanan yang dibawa oleh Sangkan dan Panon itu menumbuhkan harapan-harapan baru dihati para penghuni istana, dengan demikian mereka akan dapat bertahan lebih lama lagi, sehingga keadaan yang lebih baik mungkin akan datang sebelum mereka menjadi kelaparan.

Namun bahan makanan itu bukannya pemecahan dari masalah yang mereka dapatkan itu barulah sekedar penundaan dari seribu kemungkinan yang dapat terjadi, kelaparan, bencana yang ditimbulkan oleh orang-orang yang berkeliaran di sekitar istana itu atau kesulitankesulitan yang lain.

“Tetapi untuk sementara puteri bernafas dengan tenang, bukan hanya karena ada persediaan bahan makanan untuk beberapa hari disamping hasil kebun sendiri, tetapi juga karena saat ini di Karangmaja hanya ada dua orang yang berbahaya bagi puteri, Kidang Alit dan Raden Kuda Rupaka” berkata Nyi Upih.

Raden Ayu Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, bahkan diluar sadarnya ia berkata, “Aku tidak mengerti, kenapa Kuda Rupaka harus juga menjadi hantu bagi kami, semula kami berharap terlalu banyak dari padanya, tetapi ternyata bahwa harapan-harapan itu hanyalah harapan yang semu saja”

“Sudahlah puteri, mudah-mudahan terjadi perkembangan yang menguntungkan bagi kita semua” kata Nyi Upih kemudian.

Tetapi harapan yang nampak di wajah Raden Ayu Kuda Narpada nampaknya hanya berkilat sesaat, semakin banyak ia memikirkan nasibnya, maka wajahnya menjadi semakin suram.

Dalam pada itu, Panon pun menjadi semakin gelisah, rasa-rasanya ia dikungkung oleh suatu lingkungan yang tidak tertembus, sebenarnya ia ingin menjumpai gurunya secepatnya, tetapi ia terikat oleh keadaan, ia sadar bahwa bahaya dapat mengancamnya setiap saat, tetapi jika ia membawa Ki Mina serta, maka ia harus memikirkan istana kecil itu, apakah istana itu akan disergap oleh bahaya.

Panon tidak tahu, apakah sebenarnya keberatannya yang paling dalam jika istana itu, dihancurkan oleh sekelompok orang-orang yang menginginkan pusaka yang tersimpan di dalamnya. apakah ia berkeberatan jika pusaka itu jatuh ke tangan seseorang, atau ia berkeberatan jika istana itu rusak?, atau barangkali ia tidak mau kehilangan Raden Ayu Kuda Narpada dan puterinya Inten Prawesti atau yang lain.

Panon menarik nafas dalam-dalam, tiba-tiba saja perhatiannya telah terampas oleh seseorang yang lewat di serambi istana, Pinten.

“Siapakah sebenarnya gadis itu?” bertanya Panon kepada diri sendiri, ia pun tidak percaya bahwa Pinten adalah anak Nyi Upih, seandainya demikian, maka Pinten dam Sangkan tentu sudah lama terpisah daripadanya dan hidup di dalam perguruan yang menempanya menjadi dua orang kakak beradik yang memiliki ilmu yang tinggi.

“Persetan” geram Panon yang tiba-tiba saja menyadari bahwa keadaan di luar Padukuhan itu justru tidak membahayakan karena seorang kawan Kidang Alit sedang pergi.

“Jika aku pergi bersama Ki Mina, maka kami akan dapat menjaga diri di sepanjang jalan menuju ke tempat guru menunggu” berkata Panon di dalam hati, lalu, “Sedangkan di halaman ini ada Sangkan dan Pinten yang akan dapat bertahan pula, jika Kidang Alit dan Raden Kuda Rupaka mencoba memasuki halaman ini”

Pertimbangan itu ternyata telah mengganggunya, sehingga akhirnya ia mendapatkan Ki Mina dan menyatakan kepadanya.

“Apakah kau ingin menjumpai gurumu?” bertanya Ki Mina.

“Jika mungkin paman”

Ki Mina mengangguk-angguk, lalu katanya, “barangkali kesempatan ini adalah kesempatan yang baik, aku tidak berkeberatan jika kau menghendaki, aku mengawanimu di sepanjang jalan”

“Apakah tidak ada bahayanya misalnya diluar sadar Kidang Alit dan Kuda Rupaka mengintai perjalanan kita?”

“Kau harus menyampaikan kemungkinan itu kepada gurumu, dengan demikian gurumu akan mengambil kebijaksanaan lain, mungkin gurumu akan berpindah tempat atau pertimbangan lain yang akan dilakukannya”

Panon mengangguk-angguk, lalu katanya, “Baiklah paman, aku akan minta diri kepada Sangkan dan Pinten, mudah-mudahan mereka beradua tidak melakukan sesuatu yang dapat menghambat perjalananku”

“Kau memang harus minta diri, tetapi kau tidak perlu menyebut keperluanmu yang sebenarnya, kita masih belum tahu pasti, siapakah sebenarnya kedua anak-anak muda itu”

Panon menarik nafas dalam-dalam, diluar sadarnya ia berkata, “Tetapi agaknya keduanya benar-benar kakak beradik”

Ki Mina mengerutkan keningnya, sejenak ia memandang sorot mata Panon, namun kemudian ia bertanya, “Tetapi mungkin keduanya bukan kakak beradik dalam arti saudara sekandung, mungkin sekedar saudara seperguruan, atau barangkali justru suami isteri dalam perjalanan penyamaran”

“Tidak, tentu bukan suami isteri” bantah Panon dengan serta merta, tetapi agaknya mereka akan terkejut bila mendengarnya.

Tetapi Ki Mina yang sudah menyimpan pengalaman yang luas tidak menyahut lagi, ia menangkap sepercik perasaan yang tulus dari dasar hati Panon betapapunpun anak muda itu mencoba menyembunyikan, tetapi ia pun sadar, bahwa Panon masih belum menerima kehadiran sentuhan-sentuhan perasaannya itu, sehingga apabila seseorang menunjuknya ia justru akan ingkar.

Mereka Panon menyampaikan maksudnya untuk meninggalkan istana itu barang sehari, nampak wajah Sangkan menjadi berkerut menegang, sejenak ia memandang Panon dan Ki Mina berganti-ganti. Dengan nada yang ragu-ragu ia bertanya, “Apakah keperluan kalian meninggalkan halaman ini?, kalian datang minta tempat untuk berteduh karena kalian adalah perantau yang tidak mempunyai sanak kadang, jadi apakah arti kepergian kalian ini?”

Panon dan Ki Mina merasakan nada kecurigaan dari pertanyaan Sangkan, tetapi itu adalah wajar sekali,. Maka jawab Ki Mina, “Sangkan, kami adalah orang-orang yang tidak mempunyai sanak kadang didaerah ini, tetapi kami telah terlibat dalam pertengkaran tanpa ujung pangkal diluar kepentingan kami secara pribadi, kami sadar, bahwa kami tidak akan mungkin melepaskan diri lagi dari belitan persoalan pusaka dan istana kecil itu, yang kami lakukan adalah sekedar usaha untuk menyelamatkan istana ini dan terutama adalah diri kami sendiri, tetapi karena persoalan yang sedang kami pertimbangkan sekarang masih merupakan suatu usaha yang belum pasti akan berhasil maka kami tidak dapat mengatakan apakah yang akan kami lakukan itu”

Sangkan memandang wajah adiknya yang buram, sejenak Pinten justru memandang wajah Panon, namun kemudian dilemparkan tatapan matanya jauh-jauh, namun bibirnya kemudian bergerak perlahan-lahan, “kenapa kau akan pergi Panon?”

“Sudah aku katakan”

“Apakah kau akan kembali?”

“Aku akan kembali”

Namun wajah Pinten menjadi semakin tunduk, seakan-akan ada kata-katanya yang memberati hatinya dan tidak terucapkan.

“Panon” berkata Sangkan kemudian, “Yang paling berat bagi kami adalah beban kecurigaan kami terhadap kalian, aku tidak akan ingkar, karena aku tidak mengenal kalian sebaik-baiknya, tetapi kesulitan kami yang lain adalah Panji Sura Wilaga, jika ia perlu pergi ke pakiwan atau kepentingan-kepentingan lain, tentu Pinten tidak akan dapat mengawasinya, sehingga semua beban akan terletak padaku sendiri”

Panon mengerutkan keningnya, namun mereka ia memandang wajah Sangkan, ternyata, ia sedang memandang adiknya sambil tersenyum.

“Itu bukan urusanku” geram Pinten, “Biar saja ia tidak pergi ke pakiwan tiga hari atau empat hari”

“Ia akan membuat bilik itu menjadi bau”

“Terserahlah”

Sangkan akan tertawa, tetapi mereka Pinten bergeser mendekat ia pun bergeser pula menjauh.

“Sangkan” berkata Ki Mina kemudian, sebaiknya kali ini kau melepaskan kecurigaanmu. Kami akan berusaha untuk mencari jalan keluar dari kesulitan ini, mumpung di Karangmaja sedang tidak ada orang lain kecuali Raden Kuda Rupaka dan Kidang Alit, sehingga bahaya bagi kami dan bagi istana ini, tidak begitu besar seperti jika pada suatu saat akan kedatangan orang-orang lain yang tidak kita ketahui”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, ia pun menyadari, bahwa pada suatu nanti akan datang orang-orang lain ke Karangmaja karena mereka saling berebut pusaka itu.

Namun demikian rasa-rasanya ia tidak dapat meleaskan kecurigaannya sama sekali, bahkan ia pun kemudian berkata, “Ki Mina, akupun sebenarnya menduga, bahwa kaupun akan berusaha menghubungi kawan-kawanmu yang tentu sudah mendekati istana ini pula”

“Aku tidak mempunyai kawan yang lain kecuali paman Mina” jawab Panon dengan serta merta, “Tetapi yang akan kami usahakan adalah jalan yang mungkin dapat kita tembus, memang sulit untuk meyakinkanmu, tetapi demikianlahlah yang sebenarnya akan kami lakukan, kami tidak mempunyai kesempatan lain kecuali saat ini. Mumpung seperti yang dikatakan oleh Ki Mina, bahwa yang ada di Karangmaja hanyalah ada dua orang, mereka tidak akan mengganggu aku dan paman Mina, tetapi mereka juga tidak akan mengganggumu dan Pinten disini”

Sangkan merenung sejenak, sekilas dipandanginyanya wajah adiknya yang tunduk.

“Baiklah” berkata Sangkan kemudian, “Tetapi cepatlah kembali, aku tidak akan mengatakannya kepada Raden Ayu dan puteri Inten, agar mereka tidak menjadi gelisah”

Ki Mina dan Panon saling berpandangan sejenak, lalu “Baiklah, aku memang tidak akan lama” jawab Panon kemudian.

Pinten tidak menyahut pembicaraan itu lagi, nampaknya ada yang sedang dipkirkannya, tetapi tidak dapat diucapkannya. Menurut pertimbangan terakhir, maka Panon dan Ki Mina akan meninggalkan istana itu stelah hari menjadi gelap, dengan demikian ia mengharap bahwa tidak ada orang yang sempat melihatnya.

“Mudah-mudahan aku dapat kembali sebelum pagi, tetapi jika tidak, kepergianku tidak akan lebih semalam dan sehari besok” berkata Panon mereka ia siap untuk berangkat.

Dengan senjata yang dipersiapkan baik-baik, Panon dan Ki Minapun kemudian meninggalkan istana itu menuju ketempat yang pernah ditunjuk oleh gurunya, dengan ciri-ciri yang dapat dikenalnya tanpa banyak kesulitan meskipun mereka berjalan di malam yang cukup gelap.

Tetapi tiba-tiba saja langkah mereka terhenti mereka mereka melihat sesosok tubuh berdiri tegak di tepi tebing, seolah-olah dengan sengaja sedang menghalangi perjalanan mereka berdua.

Panon mengerutkan keningnya, mereka ia berpaling, ia melihat dalam keremangan malam, Ki Mina sedang memandang orang itu dengan tegang pula.

Sejenak keduanya berdiri mematung, mereka memandang orang itu dengan tatapan mata yang tidak berkedip.

Tetapi agaknya orang itu pun masih saja berdiri justru sambil memandang ke lembah yang gelap terlindung oleh bayangan pepohonan yang seolah-olah membeku.

Untuk beberapa saat lamanya mereka saling berdiam diri dengan tegangnya, namun sesaat kemudian Panon merasa, bahwa ia tidak akan dapat berdiri saja terus disitu, siapapun orang itu, maka ia harus berjalan terus.

Karena itu, maka ia pun memberi isyarat kepada Ki Mina untuk melangkah maju dengan hati-hati, apapun yang akan terjadi, keduanya sudah siap untuk menanggapinya.

Tetapi meskipun kedua orang itu menjadi semakin dekat, ternyata orang yang berdiri di tepi tebing itu masih saja berdiri tegak seolah-olah ia masih belum mengetahui, bahwa ada orang yang datang mendekatinya.

Namun dalam pada itu, semakin dekat Panon dan Ki Mina dengan orang yang berdiri itu, langkahnya semakin menjadi semakin lamban, bahkan Panon kemudian nampak gelisah dan belakang terdengar ia berdesis meskipun suaranya tidak jelas terdengar.

Ki Mina menggamit Panon dengan ragu-ragu, dengan isyarat ia bertanya, apakah yang sedang dipikirkannya.

Sejenak Panon dicengkam oleh keragu-raguan, namun kemudian terdengar suaranya perlahan-lahan dalam kebimbangan

“Guru”

“He..?” Ki Mina bertanya.

Tetapi Panon tidak menyahut, ia pun kemudian dengan tergesa-gesa melangkah maju semakin dekat. Ia masih ingin menyakinkan dalam keremangan malam, apakah benar-benar yang dilihatnya itu gurunya.

Ki Mina mengikut di belakangnya, tetapi ia tidak kehilangan kewaspadaan.

Beberapa langkah dari orang yang berdiri itu, sekali lagi Panon berdesis lebih keras,

“Guru”

Orang memutar tubuhnya, sesaat Panon berdiri tegak, namun mereka ia yakin bahwa orang itu memang gurunya, maka ia pun segera berlari dan berlutut dihadapannya.

Tetapi orang itu menarik lengan Panon sambil berkata, “Berdiri sajalah, aku memang sedang menunggumu, dan agaknya kau telah membawa seorang kawan”

Panon pun kemudian berdiri, sambil mengangguk dalam-dalam, ia berkata, “Ampun guru, aku tidak dapat menghadap tepat pada waktunya, karena aku telah terlibat dalam persoalan yang sama sekali tidak aku duga sebelumnya”

Gurunya tersenyum, katanya, “Aku sudah menyangkanya, tetapi siapakah kawanmu itu?”

Panon berpaling, lalu katanya, “Perkenankan aku memperkenalkan orang yang sudah banyak melindungi aku, inilah Kiai Rancangbandang”

Guru Panon itu mengangguk-angguk dalam-dalam, tetapi Ki Mina segera menyahut, “Panon memang selalu merendahkan dirinya, aku hanyalah sekedar mengawaninya, tetapi aku tidak pernah berbuat apa-apa”

“Terima kasih Kiai” berkata guru Panon itu, “Muridku memang masih jauh dari pengetahuan dan pengalaman, meskipun menurut istilah Kiai sendiri, Kiai hanya mengawaninya, tetapi itu akan sangat berati baginya”

Ki Mina hanya tersenyum saja, dipandanginya Panon sejenak, namun kemudian ia hanya mengangguk-angguk kecil saja.

“Kita dapat duduk diatas batu itu” berkata guru Panon

“Kau tidak usah mencariku di tempat yang sudah aku tentukan sebelumnya, aku tidak lagi berada di sana, tetapi aku berada di sekitar istana kecil itu”

Panon termangu-mangu sejenak, namun mereka gurunya yang cacat kaki itu melangkah dan duduk di sebuah batu, maka Panon dan Ki Minapun segera duduk pula”

“Panon” berkata gurunya, “Sebenarnya aku hampir tidak sabar lagi menunggu, aku ingin kau dapat menceritakan apakah yang sudah terjadi, aku memang sudah mendengar serba sedikit tentang istana kecil itu dan kesibukan yang terjadi di padukuhan Karangmaja, tetapi sudah tentu yang aku dengar itu tidak akan selengkap yang kau ketahui”

Panon memandang Ki Mina sejenak, baru kemudian ia mulai menceritakan apa yang diketahuinya tentang istana kecil itu, tentang perguruan-perguruan yang mengelilingi istana kecil itu dengan ancaman-ancaman yang menggelisahkan.

Ki Mina kadang-kadang ikut pula membantu Panon mengisi yang terlampau dalam cerita Panon tentang keadaan dalam keseluruhan di istana dan di padukuhan Karangmaja”

Guru Panon mengangguk-angguk dengan nada datar ia berkata, “Jadi Guntur Geni, Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu telah terlibat pula dalam perebutan pusaka itu?. Menggelisahkan, perguruan-perguruan itu kini sudah dicengkam oleh ketamakan yang dapat menyuramkan nama sumbernya.”

“Masih ada yang harus diperhitungkan guru” berkata Panon

“Siapa lagi?”

“Dalam istana itu terdapat dua orang kakak beradik, mereka mengaku anak-anak Nyi Upih, pelayan yang menurut pendengaran kami adalah pelayan yang setia, yang mengikuti perjalan Pangeran Kuda Narpada sejak dari Maja Pahit. Kedua adak-anaknya itu bernama Sangkan dan Pinten. kedua-duanya memiliki ilmu yang tinggi, yang menurut perhitungan kami, adalah agak aneh, bahwa kedua anak-anak itu adalah anak-anak Nyi Upih”

Gurunya mengangguk-angguk, tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, “Kenapa kau menganggap aneh dan mengherankan?”

“Nyi Upih nampaknya adalah seorang pelayan yang tidak mempunyai lingkungan hidup yang lain, tetapi kedua anak-anaknya ternyata memiliki ilmu yang mengagumkan”

“Kau salah Panon, jangan mengukur sesuatu dari darah keturunan saja”

Panon terkejut mendengar jawaban gurunya, bahkan kemudian ia merasa seolah-olah gurunya telah menghadapkan cermin kepadanya, agar ia mlihat kepada dirinya sendiri, apakah ia juga seorang yang memiliki darah keturunan yang luhur.

Panon menundukkan kepalanya, dengan suara datar ia berkata, “Ampun guru, agaknya aku memang sudah salah menilai, aku hampir lupa bahwa akupun sama sekali tidak dapat menyebut sesuatu tentang diriku”

Gurunya tersenyum, katanya, “Sudahlah, siapapun orang yang kau sebut, tetapi ia kini berada di dalam istana kecil itu yang suram itu”

“Ya, guru” jawab Panon.

Gurunya termangu-mangu sejenak, namun kemudian kepalanya mengangguk-angguk kecil, dan terdengar suaranya bergumam, “Baiklah Panon, aku sekarang sudah mendapat gambaran yang lebih banyak tentang istana kecil itu”

“Ya, guru, sebenarnyalah bahwa istana kecil itu sekarang dikelilingi oleh kemungkinan-kemungkinan yang menyeramkan, terutama bagi Raden Ayu Kuda Narpada dan puteri Inten Prawesti.

“Ya, ya, aku membayangkannya, apalagi jika orang-orang terpenting dari perguruan-perguruan yang terlibat itu berdatangan, terutama dari perguruan Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu”

“Ya, guru, dan menurut perhitungan kami, mereka tentu akan datang”

Gurunya termenung sejenak, dipandanginyanya kegelapan malam yang menyelubungi puncak-puncak pegunungan Sewu, seolah-olah ingin melihat, apakah yang tersimpan di balik kegelapan itu”

“Panon” berkata gurunya kemudian, “Berbeda dengan perguruan yang kau sebut Cengkir Pitu, Kumbang Kuning atau Guntur Geni, maka kita hanyalah berdua saja, aku mengucapkan terima kasih kepada Kiai Rancangbandang yang sudah dengan tulus berada diantara kita, sehingga kita menjadi bertiga, tetapi dengan sadar, kita akan berada diantara kekuatan-kekuatan yang jumlahnya jauh lebih banyak dari tiga orang saja”

Panon mengangguk-angguk kecil, jawabnya, “Ya, guru, dan mereka pasti akan datang dalam waktu yang dekat”

“Baiklah, tetapi ingat, bahwa kita tidak melakukan sesuatu karena didorong oleh ketamakan dan pamrih, itu adalah dasar dari kerja kita sekarang ini, sehingga kita akan dapat memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa, jika kita yakin berada di jalan kebenaran, maka kita akan berjalan terus, karena kebenaran akan tetap merupakan kebenaran, meskipun kita akan gagal”

Panon menarik nafas dalam-dalam, sekilas dipandanginya Kiai Rancangbandang seolah-olah ia ingin bertanya, apakah Kiai Rancangbandang akan berjalan terus atau berhenti sampai sekian.

Agaknya Kiai Rancangbandang dapat menangkap pertanyaan yang tersirat itu, karena itu, maka katanya kemudian kepada guru Panon itu, “Kiai, aku sudah terlanjur berada disisi Panon sejak ia memanjat kaki pegunungan Sewu itu, aku menyatakan kesediaanku untuk bersamanya apapun yang akan terjadi”

Guru Panon itu menarik nafas dalam-dalam, katanya di sela-sela desah nafasnya, “Terima kasih Kiai, agaknya Kiai benar-benar telah melakukan sesuatu yang mengandung banyak kemungkinan, bagaimanakah jika ternyata Panon dan aku bukannya orang-orang yang berbuat tanpa pamrih seperti yang Kiai duga?”

“Aku meyakininya, seperti kalian berdua meyakini apa yang kalian lakukan”

“Terima kasih Kiai” jawab guru Panon, “Namun masih ada yang ingin aku tanyakan, aku melihat sesuatu yang menarik sekali di kantung ikat pinggang Panon, agaknya ia telah mendapatkan sesuatu yang sangat berharga baginya, apakah benda itu di dapatkan dari Kiai?”

Kiai Rancangbandang memandang guru Panon dengan heran, karena selama ini Panon menyembunyikan di dalam kantung ikat pinggangnya, tetapi ternyata gurunya dapat mengetahuinya.

Sejenak Kiai Rancangbandang termangu-mangu, namun kemudian ia bertanya kepada Panon, “Apakah yang kau bawa di ikat pinggagmu Panon?, apakah batu yang yang kau dapat dari kakang Ajar Respati?”

Panon mengangguk penuh ragu, jawabnya, “Ya paman. Aku memang membawa akik Jalu Naga Sisik Sasra, yang aku pinjam dari Ki Ajar Respati”

Kiai Rancangbandang menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Ya, Kiai, Panon memang membawa batu Jalur Sisik Sasra yang di dapatkannya dari kakakku” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bagaimana Kiai dapat mengetahuinya?”

Guru Panon itu mengangguk-angguk, lalu, “Itu adalah benda yang sangat berguna untuk menghadapi orang-orang Guntur Geni yang senang bermain racun, tetapi juga orang-orang Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu menguasai masalah racun dan bisa dengan sempurna, karena itu sekali lagi aku mengucapkan terima kasih” ia termangu-mangu sejenak kemudian ia bertanya, “Tetapi siapakah Ki Ajar Respati itu?”

“Ia adalah kakakku, kakak kandungku”

Guru Panon itu pun mengangguk-angguk pula, katanya kemudian, “Pertolongan Kiai kakak beradik sangat aku hargai, sekarang aku ingin mempersilahkan Kiai dan Panon kembali ke istana kecil itu, aku akan selalu berada di dekat istana itu. jika kalian memerlukan aku, berilah aku isyarat dengan api atau panah sendaren, bukankah Panon dapat membuat permainan itu?”

Panon mengangguk, jawabnya, “Ya, guru, aku dapat membuat panah sendaren”

“Baiklah kita akan menghadapi persoalan yang sangat rumit, sebelumnya aku memang belum pernah membayangkannya, tetapi jika kini harus dihadapi, apaboleh buat” lalu katanya kepada Kiai Rancangbandang, “Terima kasih Kiai, juga kepada Ki Ajar Respati, mudah-mudahan aku pada suatu saat dapat bertemu”

Dalam pada itu, Ki Ajar Respati yang berada di tempat yang jauh dari Pegunungan Sewu, sedang dicengkam oleh ketegangan, karena usahanya untuk mengetahui serta sedikit tentang Kumbang Kuning”

Apalagi ia sadar bahwa dalam waktu yang tidak lama, orang-orang dari Cengkir Pitu akan datang pula mengimbangi kesiagaan orang-orang Kumbang Kuning.

Tetapi ternyata bahwa dihari berikutnya orang-orang Cengkir Pitu itu tidak datang lagi ke rumah Ki Reksabahu. Di pagi hari mereka Ki Reksabahu berangkat ke sawah bersama Ki Ajar Respati yang telah menjadi pembantu rumahnya, ia berpesan agar jika datang tamu yang pernah bermalam di rumahnya, ia disusul di sawah, tetapi sampai matahari mencapai puncaknya, tidak seorang pun yang menyusulnya ke sawah.

“Apakah orang itu tidak kembali?” bertanya Ki Reksabahu, “Tetapi menurut pesannya, ia mengatakan bahwa ia akan datang lagi ke rumahku”

“Mungkin nanti, mungkin besok, bukankah ia tidak memberikan batasan waktu?”

“Tetapi mereka tentu menyadari bahwa kelambanan ini akan dapat merugikan mereka”

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, namun kemudian wajahnya menegang, mereka ia memandang kekejauhan, ia melihat beberapa orang berkuda sedang menyusur jalan persawahan dari arah padepokan Lemah Putih.

“He, kau lihat?” justru Ki Reksabahu yang bertanya.

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, katanya, “Mereka sudah meninggalkan Lemah Putih”

“Nah, kita akan bertaruh” berkata Ki Reksabahu

“Kemanakah kira-kira mereka akan pergi”

“Menurut perhitunganku, mereka akan pergi ke Pegunungan Sewu”

“Ah, seharusnya kau menebak lain, karena aku akan menebak seperti itu pula” desis Ki Reksabahu.

Namun keduanyapun kemudian kembali kepada kerja mereka, seolah-olah tanpa menghiraukan beberapa orang berkuda di jalan bulak itu, diantara mereka terdapat dua orang yang berpakaian kebangsawanan meskipun tidak terlalu jelas, sedang seorang diantara mereka mengenakan ciri-ciri seorang pemimpin yang disegani dengan warna putih yang melilit pada pinggangnya.

Sambil mencangkul Ki Ajar Respati berdesis, “Bagiku mereka adalah jelas, agar aku mengatakan pendapatku lebih dahulu sebelum kau nanti akan mengatakan, bahwa aku hanya sekedar menirukanmu, yang seorang itu adalah Ajar Sokaniti, sedangkan kedua orang bangsawan itu tentu adalah bangsawan yang datang dari Demak, yang telah terlibat ke dalam persoalan pusaka yang sedang mereka cari-cari”

“Siapakah yang mencari pusaka?” bertanya Ki Ajar Respati sambil mencangkul terus.

Ki Reksabahu tidak menjawab, iring-iringan yang menyusuri bulak persawahan itu menjadi semakin dekat.

Seperti saat mereka datang, mereka sama sekali tidak menghiraukan kedua orang yang sedang bekerja di sawah itu, apalagi Ki Ajar Respati dan Ki Reksabahu seolah-olah tidak menunjukkan sikap yang khusus menanggapi mereka, kedua-duanya mengangkat wajah sejak memandang memandang iring-iringan itu sambil bersandar pada tangkai cangkul mereka, kemudian mereka pun bekerja kembali, mereka iring-iringan itu telah berada di hadapan mereka, seolah-olah tanpa mengacuhkannya.

Pemimpin iring-iringan kecil itu pun tidak menghiraukan kekdua orang yang berada di sawah itu, hanya para pengawalnya sajalah yang agaknya dengan tajam memandang keduanya, tetapi mereka tidak berhenti dan tidak berbuat apa-apa.

Iring-iringan itu semakin lama menjadi jauh, sementara itu Ki Ajar Respati dan Ki Reksabahu masih tetapi bekerja terus, meskipun mereka mulai berbicara, “Apakah yang sebaiknya kita lakukan?” justru Ki Reksabahu yang bertanya.

“Maksudmu, apakah kita akan mengikutinya atau menunggu orang Cengkir Pitu itu?” bertanya Ki Ajar Respati.

“Ya, jika kita menunggu, apakah kita tidak akan terlambat?”

“Tetapi apakah orang Cengkir Pitu itu memang lamban?”

Ki Reksabahu termangu-mangu sejenak, diletakkannya cangkulnya sambil bertolak pinggang, ia memandang iring-iringan yang sudah menjadi semakin jauh.

“Kita tidak dapat menunggu” berkata Ki Ajar Respati kemudian, “Tetapi harus juga dipikirkan, bagaimanakah jika orang Cengkir Pitu itu datang, sedang kau tidak berada di rumah?”

“Itulah yang membuat aku pusing, tetapi aku dapat berpesan bahwa aku pergi ke tempat saling seorang saudaraku yang mengalami musibah”

“Apakah mereka akan percaya?”

“Percaya atau tidak percaya , aku akan menyingkirkan keluargaku, agar tidak menjadi sasaran kemarahan orang-orang Cengkir Pitu, bukankah wajar sekali, bahwa aku pergi dengan seluruh keluargaku untuk kepentingan yang mendesak sekali karena sanak kadangku meninggal”

“Apakah mereka tidak akan mencari?”

“Tidak sempat, apalagi setelah mereka mengetahui bahwa Lemah Putih telah kosong”

Keduanya mengangguk-angguk, lalu terdengar Ki Reksabahu berkata, “Kita akan kembali sekarang, kita bersiap-siap”

“Apakah kau akan melibatkan diri?” bertanya Ki Ajar Respati.

“Ya, aku akan menyusul orang-orang Kumbang Kuning dan berpihak kepada mereka”

Ki Ajar Respati tersenyum, ia mengenal kawannya yang seorang ini dengan baik, karena itu, ia justru tidak mencurigainya sama sekali”

Keduanya pun kemudian dengan tergesa-gesa kembali untuk mempersiapkan diri.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Reksabahu, maka mereka mereka sampai di rumah, maka mereka pun segera mempersiapkan diri, Ki Reksabahu tidak saja mempersiapkan kepergiannya sendiri, tetapi ia telah mempersiapkan seluruh keluarganya.

“Untunglah, bahwa anak-anakku memang tidak berada disini” berkata Ki Reksabahu.

“Dimana?” bertanya Ki Ajar Respati.

“Mereka ada di padepokan tempat aku mempelajari olah kanuragan, padepokan kecil yang tidak punya nama di lereng Gunung Lawu”

Ki Ajar Respati mengerutkan keningnya, lalu “Padepokan Panjer Bumi”

“He, darimana kau tahu nama itu?” bertanya Ki Reksabahu.

“Kau sudah pikun ya, aku-kan pernah kau ajak mengunjungi gurumu di padepokan itu dahulu”

Ki Reksabahu menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Ya, anak-anakku berada di padepokan itu, tetapi sekarang padepokan itu berada di bawah pimpinan Putu Sangga Bumi”

“Gurumu?”

“Sudah meninggal, umurnya sudah sangat tua, betapapun tinggi ilmunya, tetapi ia tidak akan dapat ingkar dari panggilan Illahi, bahwa seorang pada suatu saat akan kembali kehadapan Tuhannya dengan seluruh tanggung jawabnya”

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kau akan mengungsikan isterimu?”

“Ya, ia harus meninggalkan rumah ini, tetapi sebaiknya ia menyadari apakah yang sedang dihadapinya sehingga ia dapat mempersiapkan diri”

“Jika demikian, kita akan mengantarkannya lebih dahulu, sebelum kita pergi ke Pegunungan Sewu”

“Tidak perlu, ia akan pergi sendiri”

Ki Ajar Respati mengerutkan keningnya, tetapi sebelum ia bertanya, Ki Reksabahu berkata sambil tersenyum, “Ia akan pergi ke padepokan Panjer Bumi menyusul anak-anaknya, ia pun termasuk salah seorang murid pada masa lampau”

Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Kau tidak pernah mengatakannya, aku mengenal keluargamu, sejak lama meskipun tidak terlampau dekat kecuali kau sendiri”

“Dalam keadaan yang biasa, aku tidak perlu menyebutnya, tetapi dalam keadaan seperti sekarang, kadang-kadang aku perlu juga sedikit menyombongkan diri, sekedar untuk menenteram-kan hati sendiri”

Ki Reksabahu kemudian mengatur segala-galanya, memang sama sekali tidak disangka, bahwa isterinya yang tingkah laku dan kerjanya sehari-hari tidak ubahnya dengan perempuan-perempuan padesan lainnya, adalah seorang murid dari padepokan terpencil di kaki Gunung Lawu.

“Tetapi ia tidak penting” berkata Ki Ajar Respati

“Isteriku tidak akan terlibat sama sekali, karena itu, biarlah ia berada di lingkungannya, sehingga apabila orang lain akan menyeretnya ke dalam kesulitan, ia akan mendapat perlindungan dari perguruannya, apabila anak-anaknya berada disana pula”

“Dan rumahmu akan kosong sama sekali?”

“Ada beberapa orang pelayan, orang-orang yang berakal tidak akan menumpukkan kecurigaan kepada mereka, karena mereka adalah pelayan-pelayan yang memang tidak tahu menahu persoalannya”

Ki Ajar Respati hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka ia melihat Nyai Reksabahu mempersiapkan diri, maka ia pun kemudian yakin, bahwa Nyai Reksabahu bukannya orang kebanyakan.

“Ia sudah terlalu sering hilir mudik ke padepokan itu menengok anak-anaknya, karena itu, baginya bukannya persoalan baru lagi, tetapi seperti yang aku katakan, ia tidak akan terlibat, dan perguruan Panjer Bumipun tidak akan terlibat, karena mereka sama sekali tidak menghiraukan peristiwa yang terjadi di Pegunungan Sewu itu”

Ternyata kemudian, justru Nyai Reksabahu yang barangkali lebih dahulu meninggalkan rumahnya, seperti kebiasaannya saja seolah-olah ia hanya sekedar hendak pergi menengok sanak keluarga yang tidak begitu jauh, dengan selendang lurik berwarna gelap ia membawa sebungkus kecil pakaian yang tidak menumbuhkan kecurigaan, tetapi yang tidak diketahui oleh seorangpun, di balik ikat pinggang dan ambennya, terselib sebuah keris yang khusus, selendang luriknya itu, karena selendang itu dapat diberinya bandul beberapa bola besi sebesar kentos salak.

Untuk beberapa lama Ki Reksabahu masih tinggal di rumahnya, ia mengharap isterinya tidak akan dapat diketahui lagi arahnya, jika tiba-tiba saja orang-orang Cengkir Pitu itu berdatangan.

Setelah memberikan beberapa pesan, bahwa ia akan pergi menyusul isterinya karena keperluan keluarga yang mendesak, seperti cerita yang direncakan, bahwa ada keluarganya yang kehilangan salah seorang anaknya, maka Ki Reksabahu segera mempersiapkan diri.

“Kiai akan pergi berkuda” bertanya seorang pelayannya.

“Ya”

“Bagaimana dengan Nyai, bukankah ia hanya berjalan kaki?”

Ia akan langsung pergi ke rumah saudaraku itu, sedang aku masih akan singgah memberitahukan kepada beberapa orang keluarga yang jauh”

Pelayannya tidak bertanya lagi, mereka mengantar Ki Reksabahu yang diikuti oleh Ki Ajar Respati sampai ke regol halaman

Demikianlah, maka Ki Reksabahu itu pun kemudian meninggalkan rumahnya diikuti oleh Ki Ajar Respati, beberapa orang pelayannya memang menjadi heran, bahwa orang yang baru itulah yang dibawanya, namun demikian mereka tidak bertanya terlalu banyak, meskipun mereka tidak terlalu banyak mengetahui tentang kedudukan lurahnya, namun terasa bagi mereka, bahwa memang ada sesuatu yang tidak mereka ketahui pada lurahnya itu.

Demikianlah Ki Reksabahu dan Ki Ajar Respati pun segera menuju ke barat, tetapi mereka tidak akan mengikuti jalan yang biasa ditempuh menuju ke arah Pegunungan Sewu, tetapi mereka akan mengambil jalan memintas, melalui daera selatan yang berbukit-bukit, justru bukit-bukit yang kemudian merupakan kepanjangan dari Gunung Sewu itu sendiri”

Meskipun jalan melalui daerah selatan itu masih agak gelap, karena mereka harus melintasi hutan-hutan yang cukup lebat, meskipun tidak terlalu besar, tetapi di beberapa bagian mereka akan melintasi padukuhan-padukuhan yang sudah cukup tamai. Di lembah-lembah yang subur di sela-sela bukit. Telah banyak dihuni orang yang ingin bekerja di tempat yang tenang dan tidak terganggu oleh pergolakan yang sering terjadi diantara manusia.

“Kita akan bermalam semalam diperjalanan” berkata Ki Reksabahu, “Tetapi aku kira kita tidak akan terlambat, jarak waktu antara kita dengan orang-orang Kumbang Kuning itu tidak terlalu jauh”

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, namun kemudian katanya, “Kita akan mendekati Karangmaja dari arah timur”

“Ya, dan mungkin ada pihak lain yang melakukannya pula seperti kita”

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, katanya, “Memang mungkin, karena itu kita memang harus berhati-hati”

Keduanyapun kemudian memasuki jalur jalan yang semakin sempit, mereka mereka sampai diujung daerah persawahan, maka jalanpun menjadi semakin sulit, tetapi agaknya Ki Reksabahu telah mengenal jalan itu dengan baik, sehingga ia tidak usah mencari-cari arah.

Sejenak kemudian mereka, sampai ke hutan alang-alang yang lebat, jalan setapak diantara batang alang-alang itu membawa mereka memasuki sebuah hutan yang cukup lebat, meskipun ditengah-tengah hutan itu menyusup lorong sempit yang panjang.

“Hutan ini merupakan daerah yang kadang-kadang gawat” berkata Ki Reksabahu, “Tetapi perampok-perampok kecil itu hanya sekali-sekali saja singgah di daerah ini, karena daerah ini memang tidak banyak dilalui orang”

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, memang jalan ditengah-tengah hutan itu memberikan banyak kesempatan bagi orang jahat untuk melakukan kejatahan, tetapi agaknya jalan itu bukannya sawah yang subur bagi mereka, karena memang jarang sekali ada orang yang mengetahuinya.

Tetapi bagi Ki Reksabahu dan Ki Ajar Respati, penjahat-penjahat dan perampok-perampok kecil di hutan itu, sama sekali tidak akan dapat mengganggu perjalanan mereka.

Semakin lama mereka berjalan, semakin dalam pula mereka menyusup ke dalam hutan yang lebat itu, mereka tidak menghiraukan auman harimau atau pekik kera yang saling berkejaran diatas pepohonan.

Namun dalam pada itu, perhatian Ki Reksabahu yang berkuda di depan mulai tertarik pada jejak-jejak di bawah kaki kudanya, ranting yang patah dan rerumputan yang terinjak.

“Ki Ajar” desisnya, “Aku melihat jejak”

Ki Ajar Respatipun kemudian memperhatkan lorong sempit yang dilaluinya, kuda merekapun semakin lama menjadi semakin lembat, bahkan akhirnya terhenti sama sekali.

Kedua orang itu pun segera meloncat dan memperhatikan jejak yang terdapat di sepanjang lorong sempit itu pula”

“Sekelompok orang-orang berkuda” desis Ki Ajar Respati.

“Ya, sekelompok kecil orang-orang berkuda, hanya empat orang” sahut Ki Reksabahu.

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, menurut pengamatannya memang hanya sekitar empat orang berkuda”

“Siapakah mereka kira-kira?” bertanya Ki Ajar Respati

“Apakah orang-orang Kumbang Kuning?”

“Menurut perhitunganku, orang-orang Kumbang Kuning jumlahnya lebih banyak dari empat orang”

“Jadi, siapa?”

Ki Reksabahu tidak menjawab, namun katanya kemudian, “Marilah kita akan mengikutinya”

Keduanyapun kemudian melanjutkan perjalanan mereka, jejak itu masih termasuk jejak yang baru, orang-orang yang berkuda itu tentu belum melampaui sehari sebelumnya.

Tidak banyak yang mereka persoalkan di perjalanan, semakin lama mereka pun menjadi semakin cepat, meskipun kadang-kadang mereka harus terhenti dan dengan hati-hati melangkah satu-satu karena rintangan di perjalanan itu, batang yang roboh melintang, atau sulur-sulur bergayutan diatas jalan sempit itu dipermainkan oleh sekelompok kera.

Namun sekali lagi perjalanan itu terhambat, Ki Reksabahu yang berada di depan memberikan isyarat kepada Ki Ajar Respati agar mereka berhenti sejenak.

“Ki Ajar, apakah kau melihat sesuatu di hadapan kita?”

“Bekas sebuah arena pertempuran” desis Ki Ajar Respati.

Ki Reksabahu mengangguk-angguk, katanya, “Marilah kita lihat, tetapi kita harus berhati-hati, pertempuran di tempat ini merupakan sesuatu yang mencurigakan”

Keduanya pun kemudian meloncat turun dari kuda mereka dan perlahan-lahan maju mendekati tempat yang diduga baru saja menjadi arena pertempuran menilik pepohonan perdu yang berpatahan, tanah yang berhamburan dan dedaunan yang rontok ditanah.

Keduanya termangu-mangu sejenak, perlahan-lahan mereka mendekati gerumbul yang berserakan.

Keduanya terkejut mereka mereka melihat kaki yang terjulur di bawah dahan-dahan perdu yang berpatahan, perlahan-lahan mereka meraba kaki yang telah membeku.

“Mayat” desis Ki Ajar Respati.

Ki Reksabahu pun kemudian menyibakkan gerumbul itu, dan dengan dahi yang berkerut, mereka melihat tubuh yang terbujur kaku Ki Reksabahu menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Mungkin seorang perampok di hutan ini”

Ki Ajar Respati termangu-mangu, apalagi mereka sekali lagi ia meloncat mendekati sesosok tubuh yang terbujur, katanya, “Sesosok lagi”

Ki Reksabahu mengangguk, jawabnya, “Ya, aku kira dua orang perampok atau lebih, mungkin semuanya terbunuh, mungkin pula yang lain sempat melarikan diri”

Ki Ajar mengerutkan keningnya, desisnya, “Jika benar mereka adalah perampok-perampok di hutan ini, agaknya mereka telah salah memilih sasaran, sehingga justru merekalah yang terbunuh”

“Aku kira memang demikian, perkelahian ini pun tidak menunjukkan perkelahian yang terlalu sengit, mungkin perkelahian itu juga terjadi beberapa lama dan berakhir dengan kematian para perampok itu”

“Kitalah yang mendapat pekerjaan sekarang, ternyata kita tidak akan dapat membiarkan mayat ini berserakan begitu saja tanpa menguburnya”

Ki Reksabahu mengerutkan keningnya, katanya, “Jika saja kita tidak melihatnya”

Keduanya pun kemudian membuat lubang diatas tanah yang gembur di hutan itu dengan pisau-pisau belati untuk menguburkan dua sosok mayat itu, meskipun lubang yang mereka buat tidak begitu dalam, namun kedua sosok mayat itu tidak akan menjadi mangsa binatang buas.

“Jarak kita dengan orang-orang yang kita ikuti menjadi semakin jauh” berkata Ki Reksabahu.

“Ya, mungkin perkelahian yang terjadi itu hanya sebentar, lebih pendek dari waktu yang kita perlukan untuk membuat lubang kubur itu”

Keduanya pun kemudian meloncat ke punggung kuda dan melanjutkan perjalanan.

Jejak beberapa ekor kuda yang mereka ikuti itu pun masih nampak jelas, sehingga dengan demikian maka mereka tidak akan kehilangan, menilik arah yang ditempuh, maka orang-orang berkuda itu pun menuju ke Pegunungan Sewu.

“Jika bukan orang-orang Kumbang Kuning, tentu orang-orang Cengkir Pitu” berkata Ki Reksabahu kemudian, “Agaknya orang-orang Cengkir Pitu yang kita anggap lamban itu justru telah mendahului orang-orang Kumbang Kuning melalui jalan melintas ini”

“Jika demikian, maka jumlah orang-orang Cengkir Pitu akan lebih sedikit dari orang-orang Kumbang Kuning, apakah itu bukan berarti bahwa kedatangan orang-orang Cengkir Pitu itu tidak akan berarti, karena jika terjadi pertengkaran dan kekerasan, maka mereka tidak seimbang”

“Tetapi kita belum tahu kemampuan seorang demi seorang, mungkin orang-orang Cengkir Pitu jumlahnya hanya sedikit, tetapi mereka adalah orang-orang yang memiliki puncak kemampuan pada masa sekarang sehingga yang sedikit itu tidak akan kalah jika terjadi benturan kekuatan”

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk dan Ki Reksabahu berkata lebih lanjut, “Bahkan mungkin orang-orang Cengkir Pitu mengambil dua jalan menuju ke Pegunungan Sewu, yang satu lewat jalan ini, yang lain mengikuti jejak orang-orang Kumbang Kuning”

“Memang mungkin” desis Ki Ajar Respati, “Jika benar-benar seperti yang kita bayangkan, maka angger Panon dan Rancangbandang benar-benar akan menjumpai kesulitan, mereka hanya berdua, sedangkan orang-orang yang dengan tamak menghendaki pusaka yang ada di Pegunungan Sewu itu jumlahnya kian bertambah”

Mudah-mudahan tidak semakin bertambah, cerita tentang pusaka itu telah tersebar sampai ke segenap penjuru, perguruan Panjer Bumipun telah mendengar dan pernah mempertimbang-kan kemungkinan untuk memiliki pusaka itu, tetapi Putut Sangga Bumi ternyata tidak sependapat, ia merasa perguruannya adalah sebuah perguruan kecil, dan wahyu yang ada pada pusaka-pusaka itu bukannya harus dicari, tetapi wahyu yang mencari tempat-tempat yang di kehendakki oleh wahyu itu sendiri”

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, katanya, “Putu Sangga Bumi agaknya memang benar, dengan saling memperebutkan pusaka, dan justru melupakan sumber segalanya, maka yang akan di dapatkan justru malapetaka, tetapi sayang, bahwa pada masa kini jarang orang yang berpikir bening, mereka menganggap bahwa dengan memperebuntukan pusaka-pusaka yang menjadi sarang wahyu keraton itu dengan cara apapun juga akan mendapatkan wahyu itu sendiri dan dapat memegang kekuasaan tertinggi di tanah ini”

Ki Reksabahu mengangguk-angguk, namun kemudian ia bertanya dengan ragu-ragu, “Tetapi bagaimana dengan anak muda yang bernama Panon dan Rancangbandang terlibat dalam persoalan pusaka itu?”

“Aku pernah menceritakannya kepadamu, mereka sama sekali tidak menginginkan pusaka itu, tetapi mereka mempunyai tugas khusus di dalam istana kecil itu di Pegunungan Sewu itu”

Ki Reksabahu mengerutkan keningnya, dan Ki Ajar Respati bertanya, “Apakah kau ragu-ragu?”

“Tidak, aku tahu bahwa kau tidak pernah berkata sisip, kau selalu mengatakan yang benar menurut pengertianmu”

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, namun kemudian keningnya kemudian berkerut mereka Ki Reksabahu berkata, “Tetapi yang aku ragukan adalah kebenaran pengertianmu”

“Apa maksudmu?”

“Kau memang selalu mengatakan dengan jujur apa yang kau ketahui, tetapi jika yang kau ketahui itu salah, maka yang kau katakanpun salah”

“Ooo” Ki Ajar Respati menyahut dengan nada datar, “Jadi yang kau ragukan, apakah tangkapanku tentang mereka itu seperti apa yang benar-benar ingin mereka lakukan?”

Ki Reksabahu ragu-ragu sejenak, namun kemudian ia pun mengangguk-angguk menjawab, “Ya”

Tetapi Ki Ajar Respati menggeleng, “Aku yakin, mereka tidak akan dengan tamak ingin memiliki pusaka yang sedang diperebuntukan itu”

Ki Reksabahu ragu-ragu sejenak, namun kemudian ia pun berkata, “Mudah-mudahan, tetapi karena kau pernah bertemu dan berbicara dengan anak muda yang bernama Panon dan karena Kiai Rancangbandang adalah adikmu, jika kau lebih tahu daripada aku”

Beberapa saat keduanya saling berdiam diri, mereka menyusur jalan sempit mengikuti jejak kaki kuda yang masih nampak jelas, tetapi mereka tidak dapat menduga siapakah yang telah berkuda mendahului mereka itu.

Seperti yang telah mereka perhitungkan, maka mereka matahari menjadi semakin rendah, maka mereka harus mencari tempat bermalam di perjalanan, tetapi bagi keduanya, mencari tempat untuk sekedar tidur bukannya hal yang sulit.

Mereka malam tiba, maka mereka pun mengikat kuda pada batang perdu, demikian mereka keluar dari, mereka mencari tempat yang terlindung oleh gerumbul-gerumbul perdu, tidak jauh dari jalur jalan yang sedang mereka lewati menuju ke arah Pegunungan Sewu.

“Kiai” berkata Ki Ajar, “Aku ingin mengusulkan sesuatu”

Ki Reksabahu mengerutkan keningnya, lalu, “Kau sudah terlalu banyak mengusulkan sesuatu kepadaku sehingga aku yang semula tidak ingin terlibat dalam persoalan pusaka ini, tetapi kau telah berhasil memancing aku sampai ke tempat ini dan sekarang kau masih akan mengusulkan sesuatu”

Ki Ajar tersenyum, sambil duduk memeluk lututnya di dalam kegelapan malam ia berkata, “Jangan merajuk begitu, tetapi usulku kali ini adalah usul yang baik sekali”

“Apa yang kau usulkan itu?”

“Marilah, singgah saja di rumah adikku, mungkin kita akan mendapatkan beberapa keterangan dari beberapa orang tetangga. Rumah adikku terletak di kaki Pegunungan Sewu pula”

Ki Reksabahu termangu-mangu sejenak.

“Tetapi kita tidak akan mengikuti jejak kaki kuda itu untuk selanjutnya” sambung Ki Ajar Respati.

Ki Reksabahu masih termangu-mangu, katanya, “Ada pertimbangan tersendiri, dengan demikian kita akan kehilangan jejak itu, dan kita tidak akan mengetahui siapakah yang telah mendahului naik ke Pegunungan Sewu, tetapi imbangannya, mungkin kita akan mendapat keterangan dari beberapa orang yang mungkin melihat sekelompok atau lebih orang-orang yang naik ke Pegunungan Sewu”

“Tetapi jalan naik adalah banyak sekali”

“Itulah” desis Ki Reksabahu kemudian, namun, “Aku lebih senang singgah ke rumah adikmu”

“Kita dapat melanjutkan perjalanan sekarang, kuda kita telah beristirahat cukup”

“Sebentar lagi, biarlah mereka makan rerumputan dahulu”

Sejenak kemudian, merekapun mulai berkemas lagi, mereka tidak lagi ingin bermalam di pinggir hutan itu, setelah kuda mereka mendapat cukup makan dan beristirahat, maka perjalananpun dilanjutkan.

Tetapi mereka tidak berkuda semalam suntuk, menjelang fajar mereka berhenti, membiarkan kuda mereka minum di sebuah parit yang mengalirkan air yang bening.

“Kita sampai ke sebuah bulak” desis Ki Reksabahu

“Kita sudah mendekati padukuhan adikku”

Keduanya kemudian duduk untuk beristirahat sejenak sambil bersandar pohon yang ditanam berderet-deret di pinggir parit, tetapi mereka sama sekali tidak memejamkan matanya, karena langitpun segera membayangkan warna mereka.

Mereka fajar menyingsing mereka telah berpacu kembali di jalan bulak ya panjang menuju ke padukuhan Kiai Rancangbandang.

Mereka keduanya sempai di rumah itu, maka mereka mendapatkan rumah itu masih kosong, seorang pelayan yang melihat Ki Ajar Respati datang mempersilahkannya naik ke pendapa, kemudian menerima kendali kuda kedua tamunya dan membawanya ke belakang.

“Apakah Kiai Rancangbandang belum pernah kembali?” bertanya Ki Ajar Respati mereka pelayan itu kemudian datang lagi membawa dua mangkuk munuman panas.

“Belum Ki Ajar, sejak Kiai Rancangbandang meninggalkan padukuhan ini bersama anak muda itu, ia belum pernah kembali lagi”

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk.

“Tetapi Ki Ajar” berkata pelayan itu kemudian “Kemarin malam, telah datang seorang yang belum pernah aku kenal menanyakan Ki Ajar”

“Siapakah namanya?”

“Orang itu tidak mau mengatakan namanya, tetapi ia dapat menyebut nama Ki Ajar Respati, kakak dari Kiai Rancangbandang”

Ki Ajar Respati termangu-mangu sejenak, lalu, “Apakah ia akan kembali lagi?”

“Ya, ia akan kembali lagi segera, ia perlu bertemu dengan Ki Ajar dalam waktu singkat”

Ki Ajar Respati menjadi tegang, tentu ada sesuatu yang penting.

Dalam pada itu, Ki Reksabahu pun menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam, “Aku akan langsung terlibat, agaknya hari ini juga”

Ki Ajar Respati memandang kawannya sejenak, namun ia pun tersenyum sambil berkata, “Kau masih saja mengeluh”

“Biarlah jika aku terlibat, jangan sebut perguruan Panjer Bumi, perguruanku tentu tidak akan memperdulikan aku seperti yang aku minta, agar jika terjadi sesuatu, biarlah menjadi tanggung jawabku sendiri”

Ki Ajar tertawa, katanya, “Tentu, tentu Kiai, tetapi kau tidak akan terlibat terlalu jauh”

Keduanya kemudian terdiam sejenak, pelayan yang menghidangkan minuman dan kemudian juga makanan itu telah meninggalkan pendapa dam membuka pintu pringgitan dari bagian dalam rumah itu.

“Silahkan beristirahat di ruang dalam” berkata pelayan itu.

“Baiklah, terima kasih. Tetapi udara masih terasa sangat panas”

Pelayan itu tidak menyahut meskipun ia sendiri sama sekali tidak merasakan udara yang panas di pagi hari itu.

Setelah minum beberapa teguk dan makan makanan beberapa potong, maka keduanyapun kemudian masuk ke ruang dalam. Mandi di pakiwan dan berganti pakaian.

“Jika Kiai ingin tidur, karena semalam suntuk Kiai tidak tidur, aku persilahkan”

Ki Reksabahu mengangguk-angguk, tetapi ia kemudian bertanya, “Lalu, apa yang akan kau lakukan?”

“Belum tahu, mungkin juga tidur”

Keduanya pun kemudian masih duduk beberapa lamanya, pembicaraan mereka masih saja berkisar tentang Pegunungan Sewu dan orang yang sedang mencari Ki Ajar Respati.

Namun kemudian keduanya pun berbaring di dalam bilik yang terpisah untuk sekedar beristirahat.

Tetapi keduanya ternyata tidak dapat memejamkan matanya, berbagai macam bayangan telah bermain di dalam angan-angan mereka. Apalagi pada Ki Ajar Respati, bukan saja tentang Kiai Rancangbandang, Panon dan orang yang mencarinya, tetapi ia mulai beranganangan pula tentang murid-murid dan anaknya yang muda.

“Mudah-mudahan mereka tidak sia-sia dalam pengasingan diri selama aku disibukkan oleh persoalan yang sebenarnya tidak banyak aku ketahui ujung pangkalnya ini” katanya kepada diri sendiri.

Namun ia percaya, bahwa kedua muridnya yang pernah menempuh jalan sesat bersama anaknya yang tua, yang terbunuh justru oleh Panon Suka itu, benar-benar menyadari betapapun buruknya tingkah laku mereka di masa lampau dan kini mereka sedang menempa diri dengan tujuan hidup yang lain dari yang pernah mereka lakukan itu bersama dengan anaknya yang muda.

“Jika aku sudah selesai dengan persoalan yang tidak aku mengerti ini, aku akan segera berada kembali diantara mereka dalam ketenangan” desisnya.

Hari itu, tidak banyak yang dilakukan oleh kedua orang itu, Ki Ajar Respati yang sudah dikenal oleh beberapa orang di sekitar padepokan Kiai Rancangbandang itu berusaha untuk memancing keterangan dari beberapa orang, tetapi tidak seorang yang dapat menceritakan tentang kelompok-kelompok yang memanjat naik Pegunungan Sewu.

“Mereka tidak melalui jalan ini” desis Ki Ajar Respati kepada Ki Reksabahu.

Ki Reksabahu mengangguk-angguk, katanya, “Jika aku tahu seperti ini, aku kira lebih baik mengikuti jejak kaki-kaki kuda itu”

“Jika saja aku tahu, untunglah bahwa aku tidak tahu sebelumnya”

Ki Reksabahu tidak menyahut, ia pun menyadari, jika seseorang mengerti apa yang akan terjadi, maka akan jarang sekali seseorang menyesali perbuatannya yang keliru.

Sementara itu, kedua orang itu pun mulai menjadi berdebar-debar mereka langit menjadi semakin buram, perlahan-lahan malam mulai turun, keduanya memperhitungkan bahwa orang yang mencari Ki Ajar Respati itu akan datang lagi untuk suatu persoalan yang penting.

Diam-diam keduanya telah mempersiakan diri menghadapi segala kemungkinan, bahkan seandainya mereka harus menghadapi kekerasan.

Karena itulah, maka keduanya pun justru tidak berada di dalam rumah, mereka berdua duduk di pendapa menghadapi kemungkinan yang bakal terjadi.

Semilirnya angin malam terasa dingin sampai ke tulang, dedaunan bergerak-gerak saling bersentuhan seolah-olah ingin saling menghangatkan diri.

Gelap malam semakin lama menjadi semakin pekat, namun Ki Reksabahu masih duduk di pendapa bersama Ki Ajar Respati.

Di halaman dua orang pekerja di padepokan itu melintas dan hilang di longkangan samping.

Terasa malam menjadi semakin sepi, namun hati kedua orang itu rasa-rasanya menjadi semakin bergelora, mereka mulai merasakan sentuhan firasat, bahwa memang ada seseorang yang mendekati pendapa itu.

Kedua orang itu pun seperti bersepakat, bergeser setapak, kemudian bersama-sama bangkit dan bergerak saling menjauhi, keduanyapun kemudian turun tangga pendapa di tempat yang berseberangan dan berdiri tegak di halaman.

Sejenak kemudian keduanya melihat pintu tegol halaman bergeser perlahan-lahan, dengan tegang keduanyapun melihat sesosok bayangan yang bergeser patah-patah memasuki regol itu.

Tetapi bayangan itu pun segera berhenti, agaknya ia pun segera melihat bahwa di halaman itu telah menunggu dua orang yang berdiri tegak dengan penuh kesiagaan menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak mereka hanya saling berpandangan meskipun mereka tidak segera dapat melihat wajah masing-masing dengan jelas.

-oo0 dw-arema 0oo-

Bersambung ke jilid 11

Sumber djvu : Koleksi Ismoyo

http://cersilindonesia.wordpress.com

Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://ebook-dewikz.com/

http://kang-zusi.info http://dewikz.byethost22.com/

diedit ulang oleh Ki Arema

Karya: SH Mintardja

kembali | lanjut

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s