AM_MS-04


Serial ARYA MANGGADA

Episode V: MATAHARI SENJA

JILID 4

kembali | lanjut

AMMS-04KI PANDI menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kebimbangan di mata Ki Warana.

“Kau harus mengambil sikap Ki Warana. Kau tidak boleh mengorbankan dirimu untuk sesuatu yang tidak kau yakini kebenarannya. Dengan demikian maka pengorbananmu akan sia-sia.”

“Aku menjadi bingung,” desis Ki Warana.

“Jika kau dengar pendapatku. Ki Warana. Kau jangan hilang tanpa arti. Jika kau harus terlibat dalam pertempuran sekedar untuk menunjukkan kesetia-kawanan meskipun tidak didukung oleh keyakinan apapun, maka kau sebaiknya menentukan takaran, sampai dibatas manakah kau pantas menunjukkan kesetia-kawananmu itu.”

“Maksud Ki Pandi?”-

“Kau tidak perlu mati dalam benturan kekerasan itu. Bukankah dengan demikian kau akan mati tidak untuk apa-apa?”

Ki Warana mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi berkata selanjutnya, “Jika kau hidup, maka kau masih mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu yang lebih berarti. Berarti bagi dirimu sendiri dan berarti bagi orang lain.”

Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Dan aku akan berusaha untuk melakukannya. Jika aku tidak melihat kemungkinan apapun kalau Panembahan Lebdagati benar-benar datang, maka aku akan mempergunakan kesempatan terakhir untuk berusaha tetap hidup.”

“Kau dapat menularkan sikap ini kepada beberapa orang lain. Jika kau berhasil, maka yang tersisa dari padepokan Ki Banyu Bening, masih akan memberikan arti bagi kehidupan di lingkungan ini.”

Ki Warana mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi berkata selanjutnya, “Kami akan mengamati perkembangan di padepokanmu.”

“Terima kasih” desis Ki Warana yang kemudian minta diri, “aku harus segera kembali ke padepokan.”

“Silahkan Ki Warana. Jika Ki Warana menganggap perlu, Ki Warana dapat berpesan kepada Delima.”

“Tetapi kadang-kadang aku merasa cemas melihat Delima berada ditepian. Mungkin orang-orang padepokan sendiri yang berkeliaran seperti yang pernah terjadi. Tetapi mungkin orang-orang Panembahan Lebdagati, justru akhir-akhir ini tepian menjadi sepi.”

“Kami akan mengawasinya. Setidak-tidaknya salah seorang diantara kami bertiga atau kawan-kawan kami yang lain.”

Ki Warana mengangguk kecil. Tetapi ia masih bertanya, “Berapa orang kawan kalian?”

Ki Pandi tersenyum. Katanya, “Tidak tentu. Kali ini ada beberapa orang tua bersamaku. Orang-orang tua yang ingin merasa dirinya masih berarti. Termasuk aku sendiri.”

Ki Warana menarik nafas panjang. Namun kemudian iapun minta diri, “Terima kasih. Aku akan kembali ke barak.”

Sepeninggal Ki Warana, ketiga orang itu memang tidak segera meninggalkan tepian. Mereka duduk-duduk diatas batu sambil berbincang. Tetapi beberapa kali Laksana membelokkan pembicaraan mereka yang berkisar sekitar kemungkinan kedatangan Panembahan Lebdagati. Kadang-kadang seperti orang yang tidak menyadari apa yang dikatakannya. Laksana berbicara tentang gadis yang bernama Delima itu.

“Kenapa Delima harus dalang ke tepian? Seharusnya kita justru memperingatkannya, agar ia tidak lagi pergi ketepian ini. Seperti yang dikatakan oleh Ki Warana, kemungkinan buruk itu dapat terjadi pada Delima sebagaimana yang pernah terjadi. Seandainya kita mengawasi tepian ini, namun bahaya itu dapat menyergap Delima sepanjang jalan menuju ke tepian ini.”

“Jadi menurut pendapatmu?” bertanya Manggada.

“Aku tidak berkeberatan datang ke rumahnya setiap hari untuk menanyakan, apakah ada pesan dari Ki Warana atau tidak.”

“Apakah kau ingin Ki Warana atau keluarga Delima digantung di padepokan?” bertanya Manggada, “orang-orang padepokan yang saling mencurigai tentu akan saling mengawasi. Dengan perintah atau tidak.”

“Kesetia-kawanan mereka cukup tinggi, sebagaimana sikap Ki Warana.”

“Untuk menghadapi bahaya dari luar. Tetapi kedalam mereka akan berebut kedudukan. Seperti juga terjadi dimana-mana, kadang-kadang seseorang yang saling menolong dalam keterkaitan dengan orang lain, akan sampai hati saling memfitnah justru diantara keluarga sendiri karena mereka berebut kedudukan.”

Laksana menarik nafas panjang. Namun agaknya ia dapat mengerti alasan itu.

Ki Pandi hanya tersenyum-senyum saja mendengarkan pembicaraan kedua orang anak muda itu.

Namun akhirnya, Ki Pandi itu berdesis, “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini. Kita dapat berbicara dengan saudara-saudara kita. Bahwa Panembahan Lebdagati siap untuk mengambil alih padepokan Ki Banyu Bening akan merupakan berita yang menarik bagi mereka.”

Sebenarnyalah, ketika hal itu disampaikan kepada mereka yang berada di rumah Ki Ajar Pangukan, ternyata bahwa mereka menjadi sangat tertarik.

“Jadi Panembahan iiu benar-benar akan mengusir Ki Banyu Bening?” bertanya Ki Ajar Pangukan.

“Menurut Ki Warana memang demikian. Dua orang utusannya telah bertemu dengan Ki Banyu Bening. Namun Ki Banyu Bening nampaknya berkeras untuk bertahan. Bahkan menurut Ki Warana, Ki Banyu Bening tidak percaya bahwa Panembahan Lebdagati itu masih ada.”

“Kita akan mengambil kesempatan,” berkata Ki Ajar Pangukan.

“Kesempatan apa?, “bertanya Ki Jagaprana.

“Kita tidak menghendaki kehadiran kedua-duanya di lingkungan ini. Bahkan dimana pun juga. Karena itu, kita akan memanfaatkan benturan kekuatan mereka. Bukankah dengan demikian kedua-duanya menjadi lemah?”

Ki Pandipun kemudian menyahut, “Aku sependapat. Tetapi aku sedang berusaha untuk selalu berhubungan dengan Ki Warana. Aku berharap bahwa pada suatu saat, kita dapat bekerja bersamanya.”

“Bekerja bersama bagaimana?” bertanya Ki Lemah Teles.

“Kalau Ki Warana menyadari kedudukannya serta panggilan nuraninya, maka aku kira aku akan berhasil.”

Dengan singkat, Ki Pandi menceriterakan hubungan yang dibuatnya dengan Ki Warana. Kemudian katanya, “Aku menaruh harapan pada sikapnya.”

Ki Lemah Telespun berkata, “Jika demikian, teruskan hubunganmu dengan orang itu. Setidak-tidaknya kita dapat mengikuti perkembangan persoalan yang menyangkut hubungan antara padepokan Kiai Banyu Bening dan Panembahan Lebdagati.”

“Baiklah,” berkata Ki Pandi, “namun nampaknya segala sesuatunya sudah menjadi semakin mendesak. Kitapun harus mempersiapkan diri untuk terlibat kedalam persoalan ini. Tentu saja dengan sudut pandang kita terhadap persoalan yang terjadi.”

Yang lain pun mengangguk-angguk. Mereka memang sudah meletakkan niat mereka untuk melawan kegiatan Kiai Banyu Bening dan apalagi Panembahan Lebdagati.”

Demikianlah dari hari ke hari, Ki Pandi dapat tetap berhubungan dengan Ki Warana lewat Delima. Sehingga pada suatu hari, Ki Warana itu berkata, “Panembahan Lebdagati telah menyampaikan ancamannya.”

“Ancaman apa?” bertanya Ki Pandi.

“Dua orang utusannya telah datang lagi. Panembahan Lebdagati minta dalam waktu sepuluh hari, padepokan itu harus sudah menjadi kosong. Semua kegiatan dihentikan, dan menyerahkan segala-galanya kepada Panembahan Lebdagati.”

Ki Pandipun mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Apakah padepokan itu masih tetap melakukan kegiatan di sanggar-sanggar dibeberapa padukuhan?”

“Sejak peristiwa di sanggar itu, maka beberapa kegiatan telah disusut. Tetapi menurut Kiai Banyu Bening, semuanya itu sekedar ancang-ancang untuk langkah-langkah panjang berikutnya. Tetapi kehadiran utusan-utusan orang yang menyebut dirinya kemenakan Lebdagati itu agaknya sangat berpengaruh terhadap kegiatan Kiai Banyu Bening. Apalagi setelah Panembahan Lebdagati mengancam dan memberikan waktu sepuluh hari. Maka kegiatan seisi padepokan terutama adalah mempersiapkan diri menyambut kedatangan Panembahan Lebdagati itu.

Ki Pandi mendengarkan keterangan Ki Warana itu dengan sungguh-sungguh. Dengan nada berat, Ki Pandi itu menyahut, “Panembahan Lebdagati tentu tidak sekedar mengancam. Aku mengenal waktunya dengan baik. Ia tentu akan bersungguh-sungguh datang dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan Kiai Banyu Bening. Bukan sekedar mengusirnya. Seperti yang pernah aku katakan, kekuatan Panembahan Lebdagati tentu sulit untuk dilawan oleh Kiai Banyu Bening.”

“Tetapi Kiai Banyu Bening tetap pada pendiriannya. Ia tidak akan beranjak dari padepokan itu.”

“Ki Warana,” berkata Ki Pandi, “jika para pengikut Kiai Banyu Bening akan bertahan, silahkan. Tetapi aku ingin memperingatkan, bahwa Ki Warana tidak perlu membunuh diri. Jika Ki Warana mempunyai beberapa orang yang dapat sungguh-sungguh dipercaya, maka Ki Warana dapat mempersiapkan diri untuk membuat garis pertahanan kedua, justru diluar padepokan.”

“Maksud Ki Pandi?” bertanya Ki Warana.

”Jika keadaan memaksa, maksudku jika pertahanan Kiai Banyu Bening benar-benar pecah dan tidak mungkin bertahan lagi, sebaiknya Ki Warana menyingkir dari padepokan. Ki Warana harus mempersiapkan tempat untuk mengumpulkan sisa-sisa kekuatan dari padepokan itu.”

“Lalu, apa artinya? Jika bersama Kiai Banyu Bening kami sudah tidak mampu bertahan, apa yang kemudian dapat kita lakukan jika Panembahan Lebdagati memburu kami?”

“Ki Warana” berkata Ki Pandi, “kami berjanji untuk berada ditempat itu. Kami akan bersama membantu sejauh dapat kami lakukan untuk melawan kekuatan Panembahan Lebdagati. Tetapi sudah tentu dengan janji.”

“Janji apa?” bertanya Ki Warana.

Ki Pandi termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata, “Semua ajaran Kiai Banyu Bening yang tidak lebih dari sekedar memanjakan nafsu dan dendam itu harus dihentikan. Padepokan itu harus menjadi tempat yang berani bagi kehidupan lahir dan batin bagi orang-orang di lingkungan ini. Padepokan itu harus menjadi tempat orang-orang mencari pengetahuan yang berarti bagi kesejahteraan hidup lahiriyahnya, tetapi juga tempat orang menemukan dirinya dihadapan penciptanya menurut ajaran yang benar.”

Ki Warana memandang Ki Pandi dengan tajamnya. Namun kemudian Ki Warana itupun bertanya, “Tetapi siapakah yang akan dapat melakukannya? Maksudku, siapakah yang akan memimpin padepokan itu, karena tidak seorang pun diantara kami yang mampu melakukannya? Kami adalah orang-orang yang selama ini hanyut dalam arus yang liar dan bermuara pada genangan yang keruh.”

“Jalan telah dibuat menembus hutan yang menyekat lingkungan ini dengan dunia yang lebih cerah. Karena itu, jika segalanya telah dapat diselesaikan, maka pergilah ke Pajang. Kalian akan dapai memecahkan persoalan yang kalian hadapi.”

“Haruskah kami menempuh perjalanan yang jauh itu?”

“Kau pernah ke Pajang? Pajang tidak terlalu jauh dari tempat ini. Apalagi setelah hutan Jatimalang terbuka.”

Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Pandi. Aku akan berusaha sejauh dapat aku lakukan. Tetapi aku pun harus berhati-hati, agar aku tidak dicurigai oleh Kiai Banyu Bening dan para pengikutnya yang paling setia. Yang menurut penglihatan Kiai Banyu Bening termasuk aku sendiri.”

“Mudah-mudahan Ki Warana berhasil. Usaha Ki Warana ini juga merupakan usaha untuk melestarikan keberadaan padepokan itu, meskipun isinya akan berubah.”

Namun Ki Warana tidak dapat berbincang terlalu panjang, ia harus segera berada di padepokannya kembali.

Meskipun demikian, Ki Warana telah membawa bekal yang akan sangat berarti bagi padepokannya.

“Ki Warana” pesan Ki Pandi, “beritahukan kami, kemana Ki Warana akan menyusun pertahanan kedua sebelum Ki Warana akan kembali memasuki padepokan.”

“Baiklah Ki Pandi. Aku akan menyampaikannya dalam dua hari sebelum batas waktu yang sepuluh hari itu sampai. Jika aku tidak sempat menunggu Ki Pandi karena waktuku yang sempit, aku akan berpesan kepada Delima.”

Sepeninggal Ki Warana, Ki Pandi yang diikuti oleh Manggada dan Laksana telah menyusuri tepian. Ketika mereka sampai di tempat yang hampir tidak pernah di kunjungi orang, Ki Pandi berkata, “Sepuluh hari lagi, Lebdagati akan datang ke padepokan. Kalian pun harus bersiap.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun mereka tanggap bahwa Ki Pandi telah menemukan tempat yang baik untuk berlatih.

“Kita manfaatkan waktu yang pendek ini,” berkata Ki Pandi.

Untuk beberapa lama, maka mereka bertiga telah berlatih di tepian. Ki Pandi sengaja mengajak Manggada dan Laksana berlatih diatas pasir yang tebal, agar menambah hambatan pada langkah kaki mereka.

Sejak hari itu, maka orang-orang yang berada di rumah Ki Ajar Pangukan telah benar-benar mempersiapkan diri. Karena Manggada dan Laksana adalah orang-orang yang paling muda diantara mereka, bukan saja umurnya, tetapi juga ilmunya, maka seakan-akan orang-orang tua yang ada dirumah itu telah berusaha membantu mereka meningkatkan ilmunya. Bahkan tanpa diminta oleh siapapun, masing-masing berusaha menyesuaikan kemungkinan-kemungkinan yang tidak justru mengganggu bagi perkembangan ilmu dan tubuh Manggada dan Laksana.

Diantara mereka berusaha membantu perkembangan ilmu Manggada dan Laksana melengkapi unsur-unsur geraknya. Tetapi Ki Lemah Teles lebih senang mengajak kedua anak muda itu berkelahi.

“Aku tidak akan merusak dasar ilmu mereka. Dengan berkelahi, anak-anak itu akan mendapat pengalaman-pengalaman baru sehingga dasar kemampuan mereka akan berkembang dengan sendirinya. Karena didunia olah kanuragan, mereka pun akan menghadapi kekerasan dari orang-orang yang semula ilmunya tidak dikenalnya sama sekali.”

Manggada dan Laksana memang memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Beberapa pintu yang rasa-rasanya masih tertutup baginya, telah menjadi terbuka, sehingga Manggada dan Laksana menemukan kemungkinan-kemungkinan baru didalam tatanan kemampuannya. Dengan demikian maka ilmu Manggada dan Laksana dengan pesatnya telah meningkat.

“Kalian tidak boleh menjadi beban,” berkata Ki Pandi, “jika benar kita akan terlibat, maka kalian akan dapat mandiri menghadapi para pengikut Panembahan Lebdagati.”

“Jika Kiai Banyu Bening diluar dugaan menang atas Panembahan Lebdagati dan dapat mengusirnya atau bahkan menghancurkannya sama sekali?” bertanya Manggada.

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang mungkin sekali. Selama ini kita selalu menganggap bahwa Kiai Banyu Bening akan dikalahkan oleh Panembahan Lebdagati.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” bertanya Laksana.

“Kita harus mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Sebelum Kiai Banyu Bening sempat bernafas, kita akan datang dan menghancurkannya sama sekali. Terutama bangunan-bangunan yang ada hubungannya dengan nafsu dan dendamnya karena ia telah kehilangan anak bayinya. Sedangkan kita tidak tahu, siapakah yang telah bersalah, sehingga anak bayinya itu ditelan api.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka mengerti sepenuhnya, apa yang harus mereka lakukan jika Panembahan Lebdagati berhasil. Tetapi merekapun tahu apa yang harus mereka lakukan jika Kiai Banyu Bening berhasil mengusir Panembahan Lebdagati dan bahkan menghancurkan para pengikutnya.

Seperti yang sudah direncanakan, maka dua hari sebelum hari-hari yang menegangkan itu, Ki Warana ternyata masih sempat menemui Ki Pandi di tepian seperti biasanya. Bahkan Ki Warana sudah menunggu bersama Delima yang sedang mencuci.

Ki Warana menemui Ki Pandi dan Manggada ditempat yang terpisah, sementara Laksana lebih senang menunggui Delima yang sedang sibuk dengan cuciannya.

“Kau tidak ikut dalam pembicaraan itu?” bertanya Delima. Laksana menggeleng. Katanya, “Seandainya aku ikut duduk bersama mereka, akupun hanya mendengarkan saja.”

“Bukankah dengan demikian kau akan mengetahui rancangan yang seharusnya kalian lakukan?”

“Bukankah aku dapat bertanya kepada kakang Manggada atau langsung kepada Ki Pandi?”

“Tetapi tentu lebih puas jika dapat langsung mendengar urut-urutan pembicaraan itu.”

“Hasil pembicaraan itu akan dapat aku dengar dari orang lain. Tetapi apa yang akan kau katakan hanya dapat aku dengar langsung dari kau sendiri.”

“Apa yang akan kau katakan?” Delima justru terkejut.

“Tidak tahu. Tentu kau yang lebih tahu,” jawab Laksana.

“Ah, kau,” desis Delima yang kemudian telah tenggelam dalam kesibukannya, mencuci pakaian sebagaimana selalu dilakukannya. Biasanya bahkan Delima datang dengan beberapa orang kawan-kawan Delima masih belum berani turun ke sungai.

Dalam pada itu, Ki Warana telah memberikan ancar-ancar kepada Ki Pandi tentang garis pertahanan keduanya.

“Beberapa orang yang benar-benar dapat aku percaya telah sepakat,” berkata Ki Warana, “jika keadaan memaksa kami akan menyusun pertahanan di sebuah padukuhan yang tidak terlalu jauh dari padepokan. Sebanyak kawan-kawan kami yang dapat melarikan diri, maka kami akan mencoba menyusun kekuatan kami kembali. Tentu saja dengan harapan, bahwa Ki Pandi akan membantu kami. Terutama untuk menghadapi Panembahan Lebdagati itu sendiri.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Kalanya, “Baiklah. Tetapi aku mempunyai syarat lagi.”

“Syarat apa Ki Pandi?”

“Jika padepokan kalian memenangkan pertempuran melawan Panembahan Lebdagati, maka Kiai Banyu Bening akan berhadapan dengan kami. Kami memang ingin menghapus nafsu dan dendam Kiai Banyu Bening. Jika Kiai Banyu Bening menang atas Panembahan Lebdagati, maka kepercayaan terhadap dirinya menjadi semakin tebal. Dengan demikian, maka kegiatan yang selama ini agak mengendor karena berbagai macam sebab, akan semakin meningkat. Kiai Banyu Bening tentu akan benar-benar memerintahkan mengorbankan bayi-bayi yang tidak berdosa sekedar untuk didengar tangisnya saat api mulai menjilat tubuhnya.”

Ki Warana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Lalu, apa yang sebaiknya kami lakukan?”

“Bukankah Ki Warana juga ingin membebaskan diri dari cengkeraman kepercayaan yang pura-pura itu?”

“Ya.”“jawab Ki Warana.

“Nah, jika demikian, perintahkan orang-orang yang sejalan dengan pikiran Ki Warana untuk mengenakan tanda. Jika kalian mampu mengalahkan Panembahan Lebdagati, sementara kemu dan kami memasuki padepokan itu sebelum Kiai Banyu Bening sempat bernafas, agar kami dapat membedakan, siapakah yang berniat mempertahankan kehadiran Kiai Banyu Bening dan siapa yang tidak, kalian harus mengenakan sesuatu.”

“Apa menurut pendapat Ki Pandi?”

“Apa yang paling mudah kalian dapatkan di dalam padepokan Kiai Banyu Bening? Janur atau bulu ayam, bulu itik atau apa?

“Memang ada beberapa batang pohon kelapa yang terkurung oleh dinding padepokan.”

“Nah, pastilah janur kuning. Sebelum kalian perlukan, ikatkan janur kuning itu dibawah baju kalian. Baru kemudian janur kuning itu diperlihatkan dan dipergunakan sebagai pertanda setelah diperlukan,” berkata Ki Pandi.

Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, Ki Pandi. Kami akan mencobanya. Kami akan bertahan terhadap Panembahan Lebdagati, tetapi disisi lain kami ingin bebas dari belenggu Kiai Banyu Bening tanpa menumbuhkan kecuriagaan.”

“Terima kasih Ki Warana. Mudah-mudahan kita berhasil,” jawab Ki Pandi.

“Jika Panembahan Lebdagati bersungguh-sungguh, maka waktu kita tinggal dua hari.”

“Aku kira Panembahan Lebdagati bersungguh-sungguh. Berhati-hatilah. Kau tidak boleh hancur dalam permainan ini, karena kau akan membawa perubahan sikap dari beberapa orang yang terbelenggu didalam cengkeraman lingkungan yang kau benci.”

“Baiklah, “ berkata Ki Warana, “aku akan berusaha.” Seperti biasanya maka Ki Warana tidak dapat terlalu lama berada di pinggir sungai itu. Apalagi disaat padepokannya sedang mempersiapkan kesiagaan tertinggi menghadapi tantangan Panembahan Lebdagati. Karena sebenarnyalah Kiai Banyu Bening sendiri menjadi berdebar-debar menghadapi ancaman itu. Tetapi sebagai seorang yang berilmu tinggi dan berkeyakinan atas kemampuannya, maka Kiai Banyu Bening tidak akan begitu saja menyerah terhadap ancaman Panembahan Lebdagati.

Pada malam-malam terkhir, mendekati saat yang ditentukan oleh Panembahan Lebdagati, maka Kiai Banyu Bening sendiri memang lebih banyak berada didalam sanggarnya. Beberapa orang kepercayaannya memang diperintahkan untuk meningkatkan kemampuan mereka. Memantapkan pengabdian mereka kepada Sang Maha Api dan menyediakan senjata secukupnya.

Kiai Banyu Bening telah memerintahkan pula membuat panggungan dibelakang dinding padepokannya. Para cantrik sudah diperintahkan untuk menghancurkan lawan sebelum mereka memasuki dinding padepokan.

“Sediakan anak panah sebanyak-banyaknya. Juga sediakan lembing dan senjata lontar yang lain.

Sedangkan para cantrik juga diperintahkan untuk melihat din-ding, pintu gerbang dan pintu butulan. Yang nampak lemah harus segera diperkuat. Selarak pintu pun dibuat rangkap pula.

Menjelang hari-hari yang ditentukan, maka segala sesuatunya telah siap. Kiai Banyu Bening menjadi semakin yakin, bahwa orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu tidak akan dapat memasuki padepokannya.

Namun dihari-hari terakhir itu pula sepasang burung elang nampak berputaran di langit. Sekali-sekali menukik rendah. Namun kemudian membubung tinggi menyentuh mega-mega di langit. Dengan matanya yang tajam sepasang burung elang itu memperhatikan apa yang ada didalam dinding padepokan. Kemudian dengan gerak isyarat sepasang burung elang itu memberikan laporan tentang penglihatannya sesuai dengan kemampuannya.

Sementara itu orang-orang yang mampu mengendalikan burung-burung elang itu mencoba untuk menangkap arti dari isyarat-isyarat yang diberikan oleh sepasang burung elang itu.

Namun bukan hanya orang-orang yang mengendalikan burung-burung elang itu saja yang memperhatikan sepasang burung itu dari kejauhan. Tetapi Ki Pandi, Manggada dan Laksana pun ikut memperhatikan pula dari kejauhan.

“Menurut Ki Warana, besok adalah batas terakhir yang diberikan oleh Panembahan Lebdagati,” berkata Ki Pandi.

“Besok akan terjadi pertempuran yang sengit antara dua aliran hitam yang garang.” desis Manggada.

“Bukan besok,” sahut Ki Pandi, “besok adalah batas terakhir. Aku kira baru besok lusa Panembahan Lebdagati akan dalang ke padepokan.”

“Kita harus siap di tempat yang sudah disebut Ki Warana itu Ki Pandi. Ki Warana menganggap tempat itu sebagai garis pertahanannya yang kedua. Jika Ki Pandi dan orang-orang tua yang tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan itu tidak ikut campur, maka mereka tentu akan dimusnakan oleh Panembahan Lebdagati,” berkata Manggada.

“Ya” desis Laksana, “namun Panembahan Lebdagati tentu bersungguh-sungguh. Sepasang burung elang itu merupakan salah satu isyarat kesungguhan Panembehan Labdagati.”

“Baiklah,” Ki Pandi mengangguk-angguk, “kitapun harus bersiap. Besok malam kita harus bergerak ke tempat yang sudah ditentukan itu. Sebuah padukuhan kecil yang tidak terlalu jauh dari padepokan sebagaimana telah diancar-ancarkan oleh Ki Warana.

“Marilah kita kembali” desis Manggada.

Tetapi Laksanapun berdesis, “Kita singgah sebentar di tepian itu.”

“Untuk apa?” bertanya Manggada.

“Melihat apakah Delima ada di tepian,” jawab Laksana.

“Bukankah kau yang mengatakan sendiri? Delima mengatakan kepadamu, bahwa ia tidak akan datang ke tepian lagi untuk beberapa hari sampai keadaan menjadi tenang?”

“Mungkin hari ini ia masih datang.”

“Tentu tidak,” jawab Manggada, “apakah kau masih belum puas menunggui gadis itu mencuci kemarin?”

Laksana hanya tersenyum saja. Dengan nada dalam ia berkata, “Baiklah. Kita pulang saja.”

Bertiga merekapun kemudian menyusuri jalan setapak dan sekali-sekali naik dan turun tebing yang curam untuk mencapai sebuah rumah yang terpencil yang dihuni oleh Ki Ajar Pangukan.

Kepada orang-orang tua yang berada di rumah Ki Ajar Pangukan, Ki Pandi telah memberikan keterangan terperinci, apakah yang harus mereka lakukan menjelang terjadinya benturan kekuatan antara isi padepokan Kiai Banyu Bening dengan Panembahan Lebdagati serta para pengikutnya.

“Waktu kita tinggal besok siang. Besok malam kita harus sudah berada di padukuhan kecil itu.

Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita yang sudah berjanji, terutama kepada diri sendiri untuk menghancurkan ilmu hitam siapapun yang menjadi pemimpinnya, akan melakukan kewajiban yang kita letakkan diatas pundak kita sendiri ini dengan sebaik-baiknya. Besok kita semuanya akan pergi ke padukuhan sebagaimana dikatakan oleh Ki Warana itu.”

“Tetapi bagaimana dengan orang-orang padukuhan itu sendiri? Apakah mereka sudah mengerti tentang apa yang bakal terjadi?, “ bertanya Ki Sambi Pitu.

Ki Pandi menggeleng. Katanya, “Belum. Jika mereka mengetahuinya, mungkin rencana itu akan menjalar dan didengar oleh Kiai Banyu Bening atau oleh Panembahan Lebdagati. Kedua-duanya tidak menguntungkan bagi rencana Ki Warana.”

“Ya,” Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk, “jika demikian, besok kita harus dapat menempatkan diri. Kita sudah tahu, bahwa kehadiran kita besok masih belum diketahui oleh orang-orang padukuhan itu, sehingga kita tidak dengan serta-merta datang ke banjar.”

Demikianlah, maka orang-orang tua itu telah merencanakan untuk berada di sekitar sanggar yang agaknya juga sudah dibuat di-padukuhan itu.

Dalam pada itu, maka Ki Pandi pun telah minta waktu untuk mengambil dua ekor harimaunya. Dengan tegas ia berkata, “Besok, sebelum matahari terbenam, aku sudah berada di tempat ini kembali. Kita akan bersama-sama pergi ke padukuhan itu. Kita akan mencoba mengikuti perkembangan keadaan dikeesokan harinya. Apa yang akan terjadi di padepokan Kiai Banyu Bening.”

“Jadi, Ki Pandi akan pergi?” bertanya Manggada.

“Ya,” jawab Ki Pandi, “kalian tidak usah ikut. Usahakan untuk melihat apakah besok burung-burung elang itu akan berputaran lagi diatas padepokan.”

Demikianlah, maka Ki Pandi pun telah minta diri setelah menitipkan Manggada dan Laksana kepada orang-orang yang berada dirumah Ki Ajar Pangukan itu.

“Tetapi apakah Ki Pandi dapat menempuh perjalanan itu semalam dan sehari besok?” bertanya Manggada, “seandainya dapat Ki Pandi lakukan, Ki Pandi tentu letih sekali.”

Ki Pandi tersenyum. Katanya, “Aku akan mencobanya untuk kembali pada saatnya. Jika aku merasa letih, bukanah masih ada waktu semalam untuk beristirahat?”

Manggada mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya, Ki Pandi.”

Ternyata Ki Pandi memang seorang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Agar tidak terlambat maka Ki Pandi telah menempuh perjalanannya dengan cepat. Secepat orang berlari.

Ki Pandi pun tidak menempuh perjalanan lewat jalur jalan yang berkelok-kelok. Tetapi ia lebih banyak memotong arah. Bukan saja melintasi pematang, tanggul, meloncati parit dan menyeberang sungai, tetapi Ki Pandi juga berjalan dengan cepat menembus hutan seperti seekor kijang. Pengalamannya Tapa Ngidang yang sudah dilakukan tidak hanya sekali, sangat membantunya menerobos gerumbul-gerumbul liar dan eri bebondotan.

Dengan caranya itu, maka Ki Pandi memang akan dapat kembali pada waktunya sebagaimana di janjikannya.

Bukan hal yang sulit bagi Ki Pandi untuk menemukan kedua ekor harimaunya. Hanya tanpa istirahat, maka Ki Pandi pun segera mengajak kedua ekor harimaunya ke kaki Gunung Lawu.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksana yang ditinggalkan oleh Ki Pandi di rumah Ki Ajar Pangukan, telah mendapat kesempatan sebagaimana yang sering dilakukannya, mengadakan latihan dengan orang-orang tua yang berilmu tinggi. Kesempatan yang sangat berarti bagi Manggada dan Laksana.

Dengan latihan-latihan yang berat itu, maka ilmu kedua anak muda itu memang selalu meningkat dan menjadi matang.

Pada kesempatan di hari terakhir yang diberikan oleh Panembahan Lebdagati kepada Kiai Banyu Bening, maka Manggada dan Laksana telah mengamati padepokan itu dari kejauhan. Mereka memang melihat dua ekor burung elang yang berputar-putar. Sekali-sekali menukik rendah, kemudian terbang naik tinggi tinggi.

Melihat sikap kedua ekor burung itu, maka nampaknya memang terjadi sesuatu di padepokan Kiai Banyu Bening.

“Burung-burung itu tentu mengamati utusan Panembahan Lebdagati yang datang ke padepokan itu” desis Manggada.

Laksana mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan dugaan Ki Pandi benar, bahwa hari ini masih belum terjadi sesuatu di padepokan itu.”

“Kita akan mengamati padepokan itu dari jarak yang lebih dekat. Tetapi hati-hati. Jika mereka, apakah orang-orang Kiai Banyu Bening, lebih-lebih lagi orang-orang Panembahan Lebdagati, rencana Ki Warana akan dapat terganggu seandainya salah seorang atau bahkan mereka berdua mengadakan perubahan sikap,” berkata Manggada selanjutnya.

Demikianlah, maka dengan sangat berhati-hati kedua orang anak muda itu telah berusaha mendekti padepokan. Tetapi mereka tetap berada pada jarak tertentu agar kehadiran mereka tidak diketahui oleh kedua belah pihak yang sedang bersengketa itu. Kedua-nyapun berusaha untuk menghindari penglihatan burung-burung elang yang terbang berputaran diatas padepokan Kiai Banyu Bening.

Dua orang anak muda itu telah tersembunyi dibelakang gcrumbul perdu yang rimbun. Dan tempat mereka bersembunyi, mereka dapat melihat meskipun tidak begitu jelas, wajah depan padepokan Kiai Banyu Bening.

Untuk beberapa lamanya mereka menunggu. Burung-burung elang yang berterbangan itu masih saja berputar-putar dan sekali-sekali menukik rendah. Manggada dan Laksana menduga, bahwa utusan Kiai Banyu Bening masih berada di padepokan.

Keduanya telah menyabarkan dirinya, untuk melihat utusan Panembahan Lebdagati itu keluar dari regol padepokan Kiai Banyu Bening yang masih tertutup.

Ketika kesabaran kedua orang anak muda itu hampir habis, maka mereka melihat dari kejauhan, pintu gerbang padepokan itu bergerak. Perlahan-lahan pintu itu pun terbuka.

Dari dalam regol, Manggada dan Laksana melihat lima orang berkuda meninggalkan padepokan itu. Sementara itu, beberapa orang penghuni padepokan itu melepas orang-orang berkuda itu pergi. Namun nampak bahwa sikap mereka, baik kelima orang berkuda itu, maupun orang-orang yang melepas mereka pergi, tidak cukup ramah.

Ketika kelima orang berkuda itu menjauh, maka orang-orang yang melepas mereka pergi itu pun segera kembali masuk ke dalam dan pintu regol pun perlahan-lahan ditutup. Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Manggada mengusap keringatnya yang mengembun di keningnya berkata, “Mereka tentu tidak menemukan persetujuan. Besok akan terjadi keributan itu.”

“Tetapi mungkin juga Panembahan Lebdagati menunggu persiapan yang lebih matang.”

“Menurut perhitunganku, Panembahan Lebdagati akan berperan dengan cepat. Jika dia sudah memberikan waktu sepuluh hari, itu berarti bahwa dalam sepuluh hari itu, Panembahan Lebdagati mematangkan persiapannya.”

Laksana mengangguk-angguk sambil berdesis, “Jika demikian, besok akan terjadi pertempuran yang sengit di regol itu., “

“Kita harus sudah berada di padukuhan kecil itu. Mudah-mudahan Ki Pandi datang tepat pada waktunya,” sahut Manggada.

Laksana tidak menjawab. Sementara itu, burung-burung elang itupun masih nampak terbang berputaran. Tetapi tidak lagi diatas padepokan Kiai Banyu Bening. Burung-burung elang itu berputaran sambil mengikuti kelima orang utusan Panembahan Lebdagati itu.

“Apakah kita akan mengikuti arah terbang burung-burung itu agar kita mendapat ancar-ancar dimana sarang Panembahan Lebdagati selama ia mempersiapkan diri untuk menyerang padepokan Kiai Banyu Bening?” bertanya Laksana.

“Sudahlah. Kita kembali saja ke rumah Ki Ajar Pangukan. Jika para pengikut Panembahan Lebdagati atau burung-burung elang mereka melihat kita, maka kita akan berada dalam kesulitan. Bahkan mungkin bukan hanya kita berdua.”

Laksana mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan memberikan laporan kepada Ki Ajar Pangukan.”

Demikianlah, maka mereka berduapun segera kembali kerumah Ki Ajar Pangukan. Namun ketika mereka menyusup sebuah gerumbul dan kemudian memanjat naik sebuah tebing rendah, mereka terkejut. Ki Ajar Pangukan duduk diatas sebuah batu padas sambil tersenyum.

“Ki Ajar,” desis Manggada dan Laksana hampir berbareng.

“Aku memang menunggu kalian,” berkata Kj Ajar.

“Ki Ajar disini sejak tadi?” bertanya Laksana.

“Tidak. Aku menunggu kalian yang bersembunyi di belakang gerumbul sambil melihat kepergian kelima orang utusan Panembahan Lebdagati.

“Jadi?”

Ki Ajar Pangukan tertawa. Katanya, “Ya. Aku juga ingin mengetahui apa yang terjadi di padepokan Kiai Banyu Bening.”

Manggada dan Laksana pun tersenyum pula. Sementara Ki Ajar berkata, “Marilah. Kita pulang. Kecuali aku dan kalian, maka yang lain pun ikut pula melihat apa yang terjadi di padepokan justru pada saat yang genting.”

Sebenarnyalah ketika mereka sampai dirumah Ki Ajar Pangukan, maka ternyata seisi rumah itu telah mendekati padepokan dari arah yang berbeda-beda. Mereka semuanya melihat kelima orang utusan Panembahan Lebdagati meninggalkan padepokan. Mereka semuanya melihat burung-burung elang itu berputaran mengamati kelima orang yang meninggalkan padepokan itu.

Dalam pada itu, maka seisi rumah itu pun kemudian telah mempersiapkan diri. Malam nanti mereka akan pergi ke padukuhan yang telah disebutkan oleh Ki Pandi. Namun mereka akan menunggu sampai Ki Pandi datang bersama kedua ekor harimaunya.

“Sampai kapan kita menunggu?” bertanya Ki Lemah Teles.

“Jika menjelang tengah malam Ki Pandi tidak datang, maka kita akan meninggalkannya.” Ki Sambi Pitulah yang menjawab.

“Baiklah,” berkata Ki Ajar Pangukan, “kita akan menunggu sampai menjelang tengah malam.”

“Tetapi bukankah Ki Pandi berjanji untuk datang sebelum senja,” bertanya Manggada.

“Kita tidak tahu, apakah Ki Pandi mengalami hambatan yang sulit diatasi,” berkata Ki Lemah Teles.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Memang segala sesuatu mungkin terjadi. Tetapi jika tidak ada hambatan apapun, Ki Pandi agaknya tidak akan mengingkari janjinya.

Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka cahayanya yang kemerahan memancar ke puncak pepohonan. Selembar-selembar awan yang didorong angin mengambang ke utara.

Manggada dan Laksana masih duduk diserambi depan rumah Ki Ajar Pangukan. Setelah mereka membuat minuman dan menghidangkannya kepada penghuni rumah itu, maka kedua anak muda itu telah membawa mangkuk minuman hangat bagi mereka sendiri di serambi.

“Senja sudah turun,” berkata Manggada.

“Mungkin terjadi sesuatu di perjalanan,” sahut Laksana yang mulai menjadi gelisah. Meskipun di rumah itu ada beberapa orang tua yang berilmu tinggi, namun rasa-rasanya orang yang paling dekat dengan mereka adalah Ki Pandi. Ki Pandi pula lah yang membawa mereka ke rumah Ki Ajar Pangukan. Ki Pandi pulalah yang telah menuntun mereka memanjat ketataran ilmu mereka yang semakin tinggi. Karena itu, maka baik Manggada maupun Laksana telah menganggap bahwa Ki Pandi adalah guru mereka.

Manggada dan Laksana itupun tiba-tiba meloncat bangkit ketika mereka melihat di antara gerumbul-gcrumbul perdu dua ekor harimau yang berjalan perlahan-lahan sambil memandang kedua orang anak muda yang kemudian berdiri di halaman itu. Dua pasang mata yang berkilat-kilat seperti sorot permata yang kehijau-hijauan memancar di ketemaraman senja.

“Ki Pandi” desis Manggada.

Dari balik pohon perdu yang tumbuh memagari halaman rumah itu, Ki Pandi melangkah terbungkuk-bungkuk.

“Aku memenuhi janjiku,” berkata Ki Pandi sambil tersenyum. Namun katanya pula, “Tetapi aku terlambat sedikit”

Pintu rumah yang masih terbuka itu terbuka semakin lebar. Ki Ajar Pangukan yang mendengar nama Ki Pandi disebut, segera melangkah keluar.

“Kau datang pada waktunya,” berkata Ki Ajar.

“Aku berusaha untuk memenuhi janjiku, meskipun aku harus berjalan tanpa berhenti,” jawab Ki Pandi.

“Sejak kemarin?”

“Tidak. Aku sempat tidur, mandi dan makan.”

“Marilah, masuklah. Kedua cucumu itu menunggumu di serambi sejak tadi,” berkala Ki Lemah Teles.

Ki Pandi tertawa, sementara Manggada berkata, “Semua kerja sudah selesai, sehingga kami sempat duduk menunggu disini.”

Demikianlah, maka Ki Pandi pun telah duduk bersama dengan seisi rumah itu. Laksana telah menghidangkan minuman hangat bagi Ki Pandi, sementara ketela pohon yang direbus Manggada pun telah masak pula.

Ketika ketela rebus itu dihidangkan, maka Ki Ajar Pangukan pun berkata, “Marilah. Silahkan makan sebanyak-banyaknya. Belum tentu besok kita akan sempat makan. Seandainya sempat, kita belum tahu apakah ada orang yang memberi kita makan.”

Demikianlah setelah mereka makan ketela pohon yang direbus dengan santan dan garam secukupnya, maka mereka pun segera bersiap-siap untuk pergi.

Sementara itu langit telah menjadi hitam. Lampu minyak telah dipasang. Tetapi karena semuanya akan pergi, maka lampu-lampu itupun segera dipadamkannya.

Beberapa saat kemudian, seisi rumah Ki Ajar Pangukan itu telah berada dalam perjalanan. Mereka merayap maju dalam kegelapan melalui jalan yang kadang-kadang turun dengan terjal, kadang-kadang menyusup diantara gerumbul perdu. Sekali meloncat dan memanjat.

Tetapi mereka tidak tergesa-gesa. Karena itu, maka mereka berjalan perlahan-lahan, sehingga karena itu, maka mereka maju dengan lambat.

Dua ekor harimau berjalan bersama dengan mereka. Namun kadang-kadang kedua ekor harimau itu menghilang. Baru beberapa saat kemudian, muncul kembali dan ikut berjalan beriring pada jalan setapak yang berbatu padas.

Baru beberapa saat kemudian, mereka sampai di tempat terbuka. Mereka berada di sebuah jalan kecil yang dapat mereka lalui menuju ke padepokan yang mereka tuju.

Tetapi mereka tidak pergi ke padukuhan itu. Mereka akan berada di sekitar sanggar untuk melihat suasana.

Dalam kegelapan mereka pun merayap semakin dekat dengan padukuhan yang mereka tuju. Seperti yang mereka duga, bahwa di padukuhan itu juga terdapat sebuah sanggar yang dibatasi dengan dinding kayu batang kelapa utuh yang dipotong rampak dan ditanam berkeliling.

Seperti yang terdapat di padukuhan tempat tinggal Ki Krawangan, maka didalam sanggar itu terdapat bangunan khusus untuk menyerahkan korban.

“Kita bermalam disini” berkata Ki Ajar Pangukan. Lalu katanya pula, “tentu tidak ada orang yang akan memasuki sanggar ini.”

Yang lain pun sepakat. Mereka akan bermalam di sanggar yang terbuka itu. Tetapi sudah tentu bahwa mereka harus membagi waktu bergantian berjaga-jaga.

Menjelang fajar, yang bertugas berjaga-jaga adalah Manggada dan Laksana. Perhatian mereka tertarik pada sikap dua ekor harimau milik Ki Pandi yang menyusul ke sanggar itu. Kedua ekor harimau itu seakan-akan ingin berbicara kepada Manggada dan Laksana. Mereka memberikan isyarat yang agaknya ingin memberitahukan sesuatu.

“Kita bangunkan saja Ki Pandi,” desis Manggada.

Laksana mengangguk kecil sambil beringsut dan mendekati Ki Pandi yang tertidur. Agaknya Ki Pandi memang letih setelah menempuh perjalanan panjang mengambil kedua ekor harimaunya.

Tetapi Ki Pandi segera bangkit ketika kedua anak muda itu membangunkannya.

”Ada apa?” bertanya Ki Pandi., “Harimau itu,” jawab Laksana.

Ki Pandipun kemudian mendekati kedua ekor harimau yang seakan-akan berbicara kepadanya.

“Tentu ada sesuatu yang menarik perhatian kedua ekor harimau itu,” berkata Ki Pandi.

“Apa Ki Pandi?” bertanya Laksana.

“Marilah kita lihat,” jawab Ki Pandi.

Namun sebelum pergi Ki Pandi telah membangunkan kawan-kawannya yang masih tidur nyenyak diatas rerumputan. Tetapi Ki Lemah Teles tidur mendekur saja diatas tempat orang-orang padukuhan itu menyerahkan korban.

Ki Pandi pun memberitahukan kepada mereka, bahwa ia ingin mengikuti kedua ekor harimau yang telah memberikan isyarat kepadanya untuk mengikutinya.

Ki Pandi pun segera berbenah diri. Manggada dan Laksana telah dibawanya mengikuti kedua ekor harimaunya yang berjalan keluar dari sanggar yang kosong itu.

Beberapa saat mereka berjalan di keremangan dini hari. Dengan sangat berhati-hati mereka berusaha mendekati padepokan yang masih disaput oleh embun yang tipis.

Ki Pandi mengikuti saja kedua ekor harimaunya yang menyusup diantara gerumbul-gerumbul liar yang tumbuh di kaki Gunung.

Namun kemudian kedua ekor harimau Ki Pandi itu pun berhenti. Dengan isyarat yang hanya diketahui oleh Ki Pandi kedua ekor harimau itu nampaknya telah memberitahukan sesuatu.

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Kepada Manggada dan Laksana ia berbisik, “Kalian tinggal disini saja. Aku akan bergeser mendekat.”

Keduanya mengangguk. Jika Ki Pandi sudah mengisyaratkan agar mereka tinggal, maka tentu ada sesuatu yang akan dapat membahayakan mereka. Karena itu, maka keduanya tidak memaksa untuk mengikutinya.

Dalam pada itu, dengan sangat berhati-hati Ki Pandi bergerak lebih dekat lagi. Dua ekor harimaunya berjalan mengendap-endap, seakan-akan sedang merunduk mangsanya.

Ketika kedua ekor harimau itu kemudian berhenti dan mendekam dibelakang sebuah gerumbul, maka Ki Pandi pun menjadi semakin berhati-hati.

Dengan jantung yang berdebaran, Ki Pandi kemudian melihat beberapa kelompok orang yang sudah bersiap-siap dengan senjata datangan menghadap kearah pintu gerbang padepokan.

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Panembahan Lebdagati ternyata tidak tanggung-tanggung mempersiapkan diri menghadapi padepokan Kiai Banyu Bening. Agaknya ia telah mengerahkan pengikut-pengikutnya untuk menyerang padepokan yang tidak tunduk pada perintahnya itu.

“Ternyata Panembahan Lebdagati benar-benar tidak menunggu besok atau lusa. Demikian ancamannya tidak dipatuhi, maka ia pun segera datang dengan kekuatan yang besar.” berkata Ki Pandi didalam hatinya.

Sejenak Ki Pandi termangu-mangu. Agaknya Panembahan Lebdagati menunggu matahari terbit.

Tetapi Ki Pandi tidak ingin melihat peristiwa yang penting itu sendiri. Maka iapun segera memberi isyarat kepada kedua ekor harimaunya agar tetap tinggal disitu.

Ki Pandi sendiri telah beringsut disela-sela gerumbul-gerumbul perdu mendekati Manggada dan Laksana.

“Berhati-hatilah. Beritahu Ki Ajar Pangukan dan orang-orang yang ada di sanggar. Biarlah mereka melihat apa yang akan terjadi disini. Tetapi mereka pun harus berhati-hati. Aku menunggu mereka disini.”

Manggada dan Laksana pun kemudian dengan sangat berhati-hati meninggalkan tempatnya menuju ke sanggar padukuhan untuk menjemput Ki Ajar Pangukan dan mereka yang berada di sanggar itu.

Ketika mereka sampai ditempat Ki Pandi menunggu, langit sudah menjadi semakin merah. Kabut justru nampak menjadi lebih tebal menebar di kaki Gunung.

“Kita akan menebar” berkata Ki Pandi, “kita akan melihat apa yang terjadi dari beberapa arah.”

Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Kabut yang putih buram mampu melindungi gerak mereka yang memencar itu. Namun Manggada dan Laksana tetap bersama Ki Pandi dan kedua ekor harimaunya.

Ketika kemudian langit menjadi semakin cerah, maka Panembahan Lebdagati telah memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk mulai bergerak. Dengan isyarat bunyi seperti suara burung kedasih, maka para pengikut Panembahan Lebdagati itupun mulai bergerak.

Ketika kemudian langit menjadi semakin cerah, maka Panembahan Lebdagati telah memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk mulai bergerak. Dengan isyarat bunyi seperti suara burung kedasih, maka para pengikut Panembahan Lebdagati itupun mulai bergerak.

Ki Pandi yang bersembunyi didalam semak-semak bersama Manggada, Laksana dan kedua ekor harimaunya, meskipun tidak terlalu dekat, dapat melihat gerak para pengikut Panembahan Lebdagati mendekati padepokan Kiai Banyu Bening. Namun dalam pada itu, para cantrik Kiai Banyu Bening pun telah bersiap menunggu kedatangan lawan-lawan mereka dari balik dinding padepokan. Mereka berdiri diatas panggungan yang memanjang di belakang dinding padepokan.

Tetapi hal itu sudah diperhitungkan oleh para pengikut Panembahan Lebdagati, sehingga sebagian dari mereka telah membawa perisai untuk melindungi diri. Tetapi yang lain yakin akan dapat menepis serangan anak panah dengan pedangnya. Sementara yang lain lagi membalut lengan kirinya dengan kain panjang yang akan dapat dipergunakan sebagaimana sebuah perisai.

Sementara itu, Ki Ajar Pangukan dan orang-orang tua yang lain yang tinggal dirumahnya, telah berpencar. Mereka mencoba mengamati keadaan yang terjadi di padepokan itu sebaik-baiknya.

Ketika kemudian matahari terbit, maka para pengikut Panembahan Lebdagati telah mendekati pintu gerbang padepokan. Beberapa orang membawa sebatang kayu yang cukup besar dan panjang yang akan mereka pergunakan untuk memecahkan pintu. Sementara beberapa orang yang lain membawa tali ijuk dengan jangkar besi yang diikat diujungnya.

Dalam pada itu, para cantrik dan putut di padepokan Kiai Banyu Bening telah bersiap. Anak panah telah melekat dibusurnya. Pada saat yang tepat, anak panah itu akan meluncur kearah para pengikut Panembahan Lebdagati diluar dinding.

Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Meskipun mereka tidak berada terlalu dekat dengan padepokan, namun mereka dapat melihat dengan jelas, apa yang terjadi kemudian.

Ketika terdengar aba-aba dari para pemimpin dari padepokan Kiai Banyu Bening, maka anak panah pun segera meluncur dari busurnya seperti hujan yang tercurah dari langit. Namun para pengikut Panembahan Lebdagati telah bersiap untuk menangkis serangan itu dengan perisai mereka. Sedangkan yang lain menepis dengan pedang atau tombak atau senjata yang lain. Sedangkan yang lain lagi menepis anak panah itu dengan kain panjang yang mereka ikatkan pada lengan kirinya.

Perlahan-lahan para pengikut Panembahan Lebdagati itu bergerak maju. Mereka terhenti sejenak, ketika mereka sampai pada jarak jangkau anak panah lawannya, seolah-olah mereka sedang menguji kemampuan mereka menangkis, menepis dan menghindari serangan anak panah itu.

Sementara itu, orang-orang yang membawa sepotong kayu yang besar dan cukup panjang telah bersiap pula mengambil ancang-ancang, sedangkan yang lain bersiap untuk melindungi mereka dari serangan anak panah dan lembing yang tentu akan dilontarkan dari panggungan disebelah menyebelah regol.

Beberapa saat gerak para pengikut Panembahan Lebdagati memang terhenti, seolah-olah anak panah dan lembing yang dilontarkan dari belakang dinding padepokan itu mampu menghentikan serangan mereka.

Namun tiba-tiba saja terdengar teriakan nyaring. Peringatan untuk dengan cepat menyerang. Teriakan itu bersambut dan diteriakkan sambung menyambung.

Sejenak kemudian, maka serangan itu pun datang seperti arus banjir bandang. Para pengikut Panembahan Labdagati itupun berlari-lari sambil berteriak-teriak memekakkan telinga. Mereka menghambur dengan cepat mendekati dinding padepokan.

Dengan demikian, maka pertempuran antara kedua kelompok yang besar dari dua lingkungan hitam telah terjadi dengan sengitnya.

Ternyata para pengikut Panembahan Lebdagati tidak sekedar membiarkan mereka menjadi sasaran. Tetapi sebagian dari para pengikut Panembahan Lebdagati juga mempergunakan busur dan anak panah untuk melindungi kawan-kawan mereka, terutama mereka yang berusaha memecahkan pintu gerbang.

Sekelompok orang yang memanggul sebatang kayu yang besar dan panjang itu pun kemudian telah berlari-lari dengan cepat mengarah ke pintu. Sementara itu, sekelompok yang lain juga berlari-lari melindungi mereka dengan perisai serta senjata mereka masing-masing agar anak panah yang meluncur dari panggungan di sebelah menyebelah pintu gerbang itu tidak mengenai sasaran.

Betapa kuatnya selarak pintu gerbang padepokan itu, namun dengan hentakan-hentakan yang tidak ada henti-hentinya, maka se-larak pintu gerbang itupun mulai menjadi retak.

Kiai Banyu Bening yang menyaksikan keadaan selarak itu pun segera memberikan aba-aba, bahva pertahanan terkuat harus diletakkan disekitar pintu gerbang. Demikian pintu gerbang terbuka, serta orang-orang yang berada diluar menyerbu masuk, maka para cantrik itu harus berusaha menyerang mereka dengan anak panah dan lembing sebelum mereka terlibat dalam pertempuran seorang melawan seorang.

“Kita harus berusaha mengurangi jumlah lawan sebanyak-banyaknya.”

Perintah itu telah menjalar dari seorang cantrik ke cantrik yang lain, sehingga ketika retak selarak pintu gerbang itu menjadi semakin parah, sekelompok cantrik telah siap dengan busur dan anak panah. Sementara itu, yang lain pun telah siap untuk melemparkan lcmbing-lembing bambu dengan bedor besi yang tajam.

Demikianlah seperti yang telah diperhitungkan, maka selarak pintu yang rangkap itu masih tidak mampu menahan hentakan-hentakan yang berulang kali tanpa hitungan itu.

Akhirnya satu diantara kedua selarak pintu itu pun telah patah, sementara selarak yang satu lagi tidak dapat bertahan terhadap dua hentakan berikutnya.

Sejenak kemudian, maka pintu gerbang itu telah terdorong dan terbuka.

Seperti air yang melimpah, para pengikut Panembahan Lebdagati mengalir memasuki pintu gerbang yang terbuka itu. Berdesakan berebut dahulu.

Teriakan-teriakan nyaring terdengar bagaikan meruntuhkan langit.

Namun dengan tangkasnya para cantrik dari padepokan Kiai Banyu Bening telah melepaskan anak panah yang sudah siap terpasang dibusurnya. Terdengar teriakan kesakitan dan kemarahan sekaligus melengking diantara sorak para pengikut Panembahan Lebdagati itu.

Beberapa orang pun roboh. Terinjak oleh kaki kawan-kawannya sendiri.

Sementara itu, para cantrik tidak sempat lagi memasang anak panah pada busurnya ketika orang-orang yang menyerbu masuk itu berlari-larian menyerang mereka dengan garangnya. Senjata mereka terayun-ayun mengerikan, seperti tangan-tangan maut yang sedang menggapai nyawa para cantrik yang sedang bertahan itu.

Pertempuran yang sengit pun tidak terelakkan lagi. Sementara itu, beberapa orang yang berusaha memanjat tali-tali yang diikat pada jangkar bumi yang dilontarkan ke bibir dinding padepokan, mulai berhasil pula. Para cantrik yang berusaha memotong tali-tali itu, harus menjaga diri mereka dari sengatan anak panah yang dilontarkan dari luar dinding, sehingga ada diantara mereka yang terlambat menahan gerak orang-orang yang sedang memanjat itu.

Dalam waktu yang singkat, maka pertempuran pun telah menjalar menyusup diantara bangunan-bangunan di padepokan itu. Para cantrik yang berada di panggungan dibelakang dinding itupun telah berloncatan turun. Mereka tidak lagi harus bertahan agar orang-orang yang menyerang padepokan itu tidak dapat memasuki dinding. Tetapi justru karena pintu gerbang telah terbuka, maka arus serangan itu tidak tertahankan lagi. Para pengikut Panembahan Lebdagati pun tidak mau mempersulit diri dengan memanjat tali serta melemparkan jangkar yang dapat mengait bibir dinding padepokan. Tetapi mereka berlari-lari menuju ke pintu gerbang dan masuk kedalamnya tanpa banyak kesulitan.

Para cantrik dari padepokan Kiai Banyu Bening itu berusaha untuk bertahan sekuat-kuatnya. Dengan pengenalan mereka yang lebih baik terhadap medan, maka mereka mempunyai kesempatan lebih baik dari lawan-lawan mereka. Tiba-tiba saja para cantrik itu seakan-akan menghilang. Namun dengan tiba-tiba pula mereka datang menyerang dengan garangnya tanpa diketahui dari mana mereka datang.

Setiap pintu bangunan yang ada di padepokan itu dapat menjadi sumber malapetaka. Pintu yang tertutup itu tiba-tiba saja terbuka. Ujung-ujung senjata terjulur dengan cepat menyambar tubuh mereka. Bahkan sudut-sudut rumah yang ada dapat menjadi tempat para cantrik menunggu korban mereka.

Meskipun demikian, namun para putut dan cantrik dari padepokan Kiai Banyu Bening itu mulai merasakan tekanan yang kuat dari para pengikut Panembahan Lebdagati. Beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagati tidak dapat dilawan oleh hanya dua orang saja. Bahkan ketika para pemimpin dari kedua belah pihak mulai saling bertemu, maka mulai terasa bahwa orang-orang Panembahan Lebdagati memiliki beberapa kelebihan dari pada putut dan cantrik di padepokan itu.

Dalam pada itu, Kiai Banyu Bening yang masih mencoba unik melihat ketahanan para pengikutnya mulai menjadi gelisah. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan, ternyata beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagati memiliki ilmu yang tinggi.

Kiai Banyu Bening memang harus menyadari, bahwa padepokannya adalah padepokan yang jauh lebih muda dari para pengikut Panembahan Lebdagati, sehingga karena itu, maka para pengikut Kiai Banyu Bening pun masih belum akan dapat mengimbangi kemampuan para pengikut Panembahan Lebdagati yang meskipun sebagian bukan pengikut-pengikuinya sejak awal ia mulai. Tetapi nama Panembahan Lebdagati memiliki wibawa tersendiri, sehingga tidak sulit bagi Panembahan Lebdagati untuk mencari pengikut dan bahkan kawan-kawan baru dari lingkungan orag-orang berilmu tinggi.

Karena itu, maka Kiai Banyu Bening tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus segera dapat mengatasi kesulitan itu.

“Aku harus bertemu langsung dengan orang yang mengaku bernama Panembahan Lebdagati itu” berkata Kiai Banyu Bening didalam hatinya, “Jika aku dapat segera menyelesaikannya, maka aku akan segera dapat mengusir dan bahkan menghancurkan para pengikutnya.”

Dengan beberapa orang terpilih diantara para pemimpin padepokan itu, maka Kiai Banyu Bening siap menghadapi orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu.

Namun dalam pada itu, Kiai Banyu Bening sempat bertanya kepada seorang yang bertubuh raksasa yang pernah berada di sanggar saat Ki Pandi memberikan korban setandan pisang, sehingga Ki Pandi sendiri akhirnya akan dikorbankan, “Dimana Warana?”

Orang bertubuh raksasa itu menggeleng sambil menjawab, “Sejak tadi aku tidak melihatnya, Kiai.”

Namun seorang yang lain menjawab, “Bersama sekelompok cantrik Ki Warana berusaha mempertahankan pintu gerbang butulan disisi barat. Agaknya sekelompok pengikut Panembahan Lebdagati berusaha untuk memecahkan pintu butulan itu.”

Kiai Banyu Bening mengangguk-angguk. Ia tidak bertanya lagi. Dibawanya beberapa orang terpilih itu untuk langsung menghadapi Panembahan Lebdagati.

Dalam pada itu, Panembahan Lebdagati ternyata bersama-sama dengan beberapa orang tengah mencerai-beraikan sekelompok cantrik yang semula mengepungnya. Tetapi para cantrik itu tidak mampu bertahan. Sebagian dari mereka justru tidak mampu melindungi diri mereka sendiri.

Para cantrik yang memang hampir saja melarikan diri menghindari itu telah terhimpun kembali ketika mereka melihat Kiai Banyu Bening sendiri datang untuk menghadapi Panembahan Lebdagati.

Panembahan Lebdagati yang melihat kehadiran Kiai Banyu Bening telah menyongsongnya sambil tersenyum. Katanya dengan nada berat, “Selamat bertemu Kiai Banyu Bening. Kita belum terlalu akrab berkenalan. Tetapi aku tahu pasti bahwa kau adalah Kiai Banyu Bening.”

“Kau siapa?” bertanya Kiai Banyu Bening.

“Kau tidak mengenal aku?” bertanya Panembahan Lebdagati sambil tersenyum.

“Tidak. Aku tidak mengenalmu.” jawab Kiai Banyu Bening.

“Kenapa kita harus berpura-pura. Sebelum kita bertemu, kau dapat saja tidak percaya bahwa aku adalah Panembahan Lebdagati. Kau dapat menduga bahwa orang lain memanfaatkan kebenaran nama Panembahan Lebdagati bagi kepentingannya sendiri. Tetapi setelah kita bertemu dan berhadapan seperti sekarang ini, seharusnya kau dapat mengenali aku. Aku adalah Panembahan Lebdagati yang sebenarnya.”

“Persetan dengan pengakuanmu. Tetapi kau salah jika kau menganggap bahwa dengan berlandaskan nama Panembahan Lebdagati kau dapat menakut-nakuti aku.”

Panembahan Lebdagati termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun tertawa, “Kau mencoba untuk membesarkan hatimu sendiri dengan menganggap bahwa aku bukan Panembahan Lebdagati yang sebenarnya.”

“Kau kira aku menjadi ketakutan seandainya Panembahan Lebdagati itu sekarang datang kemari?”

Panembahan Lebdagati tertawa semakin keras. Katanya kemudian, “Baiklah. Siapa pun aku, tetapi aku tetap pada tuntutanku. Daerah ini akan aku ambil kembali. Aku sudah memberimu waktu sepuluh hari. Aku kira waktu itu sudah terlalu cukup. Karena sampai batas terakhir kau tetap berkeras, maka aku datang untuk menghukummu.”

“Tetapi kau harus melihat kenyataan, bahwa kau datang untuk mengantarkan nyawamu. Meskipun setelah kau mati, tentu ada orang lain yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati.”

“Baik. Baik” jawab Panembahan Lebdagati, “apapun katamu, tetapi bersiaplah untuk mati.”

Kiai Banyu Bening itupun kemudian telah memberi isyarat kepada putut dan cantrik yang datang bersamanya untuk memencar menghadapi para pengikut Panembahan Lebdagati yang ada di sekitarnya.

Dalam pada itu, pertempuran masih berlangsung dimana-mana. Para cantrik memiliki kemungkinan lebih baik dengan memanfaatkan medan. Tetapi secara pribadi para pengikut Panembahan Lebdagati memiliki ilmu yang lebih tinggi.

Dalam pada itu, maka pertempuran yang terjadi antara Panembahan Lebdagati dan Kiai Banyu Bening telah menjadi semakin sengit. Keduanya mulai meningkatkan ilmu mereka. Dengan cepat mereka berloncatan menyerang dan menghindar. Keduanya memiliki kelebihannya masing-masing, sehingga pertempuran itu tidak segera dapat dibayangkan, siapakah yang akan menang dan siapakah yang bakal kalah.

Panembahan Lebdagati yang bertempur dengan mantap, tidak terlalu banyak bergerak. Tetapi setiap ayunan tangannya, seakan-akan tetap menghamburkan angin yang tajam menusuk kulit. Sementara itu, Kiai Banyu Bening bertempur dengan tangkasnya. Ia bergerak cepat, sehingga sekali-sekali serangannya mampu menyusup pertahanan Panembahan Lebdagati.

“Dengan demikian, baik Panembahan Lebdagati maupun Kiai Banyu Bening menjadi semakin berhati-hati. Mereka harus mengakui bahwa lawan mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi.

Panembahan Lebdagati yang semula meragukan tingkat kemampuan Kiai Banyu Bening sebagaimana Kiai Banyu Bening yang menganggap bahwa lawannya bukan Panembahan Lebdagati yang sebenarnya, sehingga tataran ilmunya juga tidak akan terlalu tinggi, harus mengakui bahwa mereka telah salah hitung. Panembahan Lebdagati harus mengakui kelebihan Kiai Banyu Bening, sedangkan Kiai Banyu Bening harus mengakui kelebihan lawannya, apakah ia Panembahan Lebdagati yang sebenarnya atau bukan.

Dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan serta orang-orang yang tinggal dirumahnya, ternyata tidak mampu melihat apa yang terjadi didalam lingkungan dinding padepokan. Mereka pun tidak dapat lebih mendekat lagi, jika mereka tidak ingin terlibat dalam pertempuran itu.

Karena itu, maka yang dapat mereka lakukan adalah menunggu, apa yang akan terjadi dalam pertempuran yang melibatkan banyak orang itu.

Manggada dan Laksana yang bersembunyi didalam gerumbul perdu bersama Ki Pandi dan kedua ekor harimaunya, mengamati burung-burung elang yang berterbangan diatas padepokan. Dari gerak burung-burung elang itu, mereka rasa-rasanya dapat menduga, apa yang telah terjadi di padepokan. Burung-burung yang semula berterbangan berputar-putar itu, kemudian telah nampak menjadi gelisah. Burung-burung itu terbang semakin rendah. Sekali-sekali burung-burung itu menukik dalam sekali, bahkan seakan-akan hilang di belakang dinding padepokan. Namun kemudian muncul kembali dan terbang semakin tinggi.

“Burung-burung itu tentu telah melibatkan diri.” berkata Manggada hampir berbisik.

“Ya,” sahut Laksana, “agaknya pertempuran pun menjadi semakin sengit.

“Burung-burung elang itu cukup berbahaya,” desis Manggada kemudian.

Laksana mengangguk kecil. Namun kemudian dahinya berkerut ketika ia melihat kegelisahan burung-burung itu menjadi semakin meningkat. Burung-burung itu menyambar-nyambar dengan cepatnya. Bahkan burung-burung itu pun telah memberikan isyarat tidak saja dengan geraknya, tetapi burung-burung itu mulai berteriak-teriak dengan suaranya yang nyaring. Kuku-kukunya yang dipertajam dengan baja menjadi semakin berbahaya.

“Sayang,” berkata Manggada, “kita tidak dapat melihat apa yang terjadi didalam padepokan itu.”

“Kita akan mendengar dari Ki Warana,” sahut Ki Pandi.

“Bagaimana jika Ki Warana terbunuh dalam pertempuran itu?”

“Mudah-mudahan ada orang lain yang mengambil alih tugasnya.” jawab Ki Pandi.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun keduanya nampak menjadi tegang. Sementara itu, burung-burung elang itu pun menjadi semakin sibuk pula.

Sebenarnyalah pertempuran didalam padepokan itu menjadi semakin sengit. Para cantrik padepokan Kiai Banyu Bening benar-benar memanfaatkan medan untuk mengimbangi kelebihan kemampuan lawan-lawan mereka. Sambil bertempur mereka berlari-larian diantara bangunan yang ada di padepokan. Namun kemudian kelompok-kelompok yang lain menyerang dengan tiba-tiba muncul dari balik pintu.

Dengan demikian, maka para pengikut Panembahan Lebdagati menjadi sangat sibuk menghadapi mereka. Karena itu, pawang burung-burung elang itu telah melibatkan burung-burungnya dalam pertempuran.

Bagaimanapun juga, burung-burung elang itu berpengaruh pula. Kukunya yang dipertajam dengan ujung-ujung baja yang runcing, sangat berbahaya bagi para cantrik. Kuku-kuku itu dapat menghunjam ke kulit daging para cantrik jika mereka gagal menghindar.

Dalam pertempuran yang semakin sengit itu, Panembahan Lebdagati masih saja bertempur melawan Kiai Banyu Bening. Keduanya bukan saja meningkatkan kemampuan mereka, tetapi mereka sudah mulai merambah ke tataran ilmu yang lebih tingi.

Kiai Banyu Bening sambil meloncat-loncat di sekitar bangunan yang dikeramatkannya. Sebuah nisan kecil yang berada diatas lembaran bangunan dari yang agak tinggi. Bahkan Kiai Banyu Bening seakan-akan selalu menjaga jarak dengan bangunan itu. Bangunan yang menurut Kiai Banyu Bening adalah kuburan anak bayinya yang terbunuh didalam nyala api.

Dalam pada itu, Panembahan Lebdagati telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Dengan ilmunya Panerabahan Lebdagati berusaha untuk segera menghentikan perlawanan Kiai Banyu Bening. Tetapi Kiai Banyu Bening ternyata masih mampu mengimbanginya, sehingga dengan demikian maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin sengit.

Sementara itu pertempuran di padepokan itu masih berlangsung terus. Korban berjatuhan semakin lama menjadi semakin banyak. Tubuh yang berbujur lintang bertebaran dimana-mana.

Sebagian masih mengerang kesakitan. Bahkan mereka masih mencoba merangkak mencari perlindungan dari teriknya matahari. Namun yang lain sama sekali sudah tidak bergerak lagi.

Panembahan Lebdagati yang berilmu sangat tinggi itu telah mengambil keputusan, untuk segera mengakhiri perlawanan Kiai Banyu Bening.

Karena itu, maka ilmunya pun menjadi semakin meningkat sejalan dengan kemarahan yang semakin menghentak didadanya.

Tetapi Kiai Banyu Bening yang menyadari bahwa para pengikutnya semakin banyak yang menjadi korban, telah mengerahkan segenap kemampuannya pula.

Dengan demikian, maka benturan-benturan yang terjadi diantara keduanya pun menjadi semakin sengit.

Kekuatan dan kemampuan Panembahan Lebdagati yang memanjat sampai kepuncak, telah mendesak Kiai Banyu Bening beberapa langkah surut. Namun Kiai Banyu Bening yang bertempur didekat alas nisan bayinya itu, mampu menunjukkan kelebihannya pula.

Dalam keadaan yang memuncak itu, maka Panembahan Lebdagati pun telah merambah ke ilmunya yang jarang ada duanya. Dengan mengerahkan ilmunya, Panembahan Lebdagati telah menghentakkan kedua tangannya dengan telapak tangan menghadap kearah Kiai Banyu Bening.

Tetapi Kiai Banyu Bening tanggap akan serangan itu. Dengan cepatnya Kiai Banyu Bening meloncat berlindung dibalik nisan kecilnya.

Serangan Panembahan Lebdagati itu telah membentur bangunan alas nisan kecil. Tetapi bangunan itu sama sekali tidak menjadi goyah. Bahkan dari balik bangunan itu, Kiai Banyu Bening telah membalas menyerang. Dari tangannya seakan-akan telah memancar segenggam pasir yang membara.

Panembahan Lebdagati yang melihat serangan itu, meloncat menghindar. Ia harus menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali. Ia sadar, bahwa serangan itu merupakan serangan yang sangat berbahaya. Sebutir saja pasir yang membara itu mengenai kulitnya, maka pasir itu seakan-akan mampu melubangi kulitnya dan membuat liang pada dagingnya.

“Iblis kau, Banyu Bening,” desis Panembahan Lebdagati.

“Menyerahlah. Kau akan menjadi korban yang pertama dari padepokan ini bagi bayiku.”

Panembahan Lebdagati tidak menjawab. Namun serangannya telah meluncur kembali dari kedua telapak tangannya.

Sekali lagi Kiai Banyu Bening bersembunyi dibalik bangunan alas nisan bayinya itu.

Namun Panembahan Lebdagati dengan cepat meloncat mendekat. Ia berusaha untuk tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk menyerang, karena demikian ia melihat kemungkinan Kiai Banyu Bening itu menyerang dengan menaburkan bubuk pasir yang bagaikan membara itu, Panembahan Lebdagati telah mendahuluinya.

Dengan demikian pertempuran antara kedua orang itu menjadi semakin seru. Kiai Banyu Bening masih saja melingkar-lingkar disekitar bangunan alas nisan anaknya. Namun setiap kali ia menyerang, serangannya pun selalu gagal.

Dalam keadaan yang demikian, maka Panembahan Lebdagati itu telah mempergunakan kemampuannya yang lain. Tiba-tiba saja maka Panembahan Lebdagati itu melenting bangkit pada jarak kurang dari selangkah dihadapan Kiai Banyu Bening.

Kiai Banyu Bening tidak mempunyai kesempatan lagi. Dengan cepat keris Panembahan Lebdagati telah terhunjam di dada Kiai Banyu Bening.

Kiai Banyu Bening tidak lagi dapat menghindari kenyataan itu. Ia sempat memandang wajah Panembahan Lebdagati dengan sorot mata bagaikan membara. Tetapi ketika Panembahan Lebdagati menarik kerisnya, maka Kiai Banyu Bening itu pun jatuh terkulai ditanah.

Panembahan Lebdagati termangu-mangu sejenak. Dipandanginya tubuh Kiai Banyu Bening yang terbaring ditanah.

“Setan kau,” geram Panembahan Lebdagati, “kau terlalu cepat mati, sehingga kau tidak sempat mengagumi kemampuanku yang tidak ada duanya.”

Sementara itu orang-orang yang bertempur di sekitarnya melihat, bahwa Panembahan Lebdagati telah berhasil mengakhiri perlawanan Kiai Banyu Bening. Beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagatipun telah bersorak meneriakkan kemampuannya. Sementara itu, para cantrik dan pengikut Kiai Banyu Bening menjadi kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Tanpa pimpinan Kiai Banyu Bening, maka para cantrik itu bagaikan lidi tanpa ikatan.

Namun dalam pada itu, beberapa orang yang telah mengikatkan diri dengan Ki Warana berusaha untuk menghindar dari pertempuran. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan.

Berlindung di belakang keadaan medan yang kurang dipahami oleh para pengikut Panembahan Lebdagati, mereka berusaha melepaskan diri.

Seorang diantara para cantrik dengan cepat berusaha menemui Ki Warana yang bertempur justru di bagian belakang padepokan itu. Ki Warana yang pernah mendapat peringatan dari Ki Pandi tentang kelebihan Panembahan Lebdagati dan para pengikutnya, sehingga Ki Warana telah mempersiapkan diri untuk mengambil langkah-langkah tertentu.

Karena itu, demikian seseorang memberitahukan kepadanya, bahwa Kiai Banyu Bening telah terbunuh, maka hilanglah beban yang menggantung di pundak Ki Warana untuk membela padepokan yang pernah dihuninya itu. Karena itu, maka ia mulai melaksanakan rencananya untuk meninggalkan padepokan yang sudah tidak mungkin dipertahankannya lagi itu.

Karena itu, maka Ki Warana itu harus bergerak dengan cepat sebelum Panembahan Lebdagati mengambil langkah-langkah sepeninggal Kiai Banyu Bening.

Dengan beberapa orang yang telah mengadakan persetujuan sebelumnya, maka Ki Warana berusaha untuk mengacaukan medan. Mereka bertempur sambil berlari-lari seakan-akan tidak menentu. Mereka menyerang dan menghilang diantara bangunan yang ada.

Irama pertempuran memang terasa meningkat. Justru setelah Kiai Banyu Bening terbunuh.

Tetapi pada saat itu pula, beberapa orang cantrik telah membuka pintu gerbang butulan di sisi Timur. Di sisi yang justru nampak sepi, karena pertempuran yang terjadi di padepokan itu seakan-akan menghindari tempat ini. Ki Warana lah yang sengaja mengatur, agar para pengikut Kiai Banyu Bening itu memancing lawan mereka menjauhi tempat itu.

Irama pertempuran yang menjadi semakin cepat itu ternyata menjadi isyarat bagi para pengikut Kiai Banyu Bening yang sependapat dengan Ki Warana. Dengan cepat mereka telah menuju ke-pintu gerbang butulan disisi Timur itu.

Pada saat itu, terdengar beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagati meneriakkan peringatan kepada para penghuni padepokan itu agar mereka menyerah.

“Yang menyerah akan mendapat pengampunan serta kesempatan untuk mengabdi kepada Panembahan Lebdagati” teriak beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagati.

Beberapa orang yang putus-asa memang telah menyerah. Tetapi mereka yang sependapat dengan Ki Warana telah berusaha melarikan diri lewat pintu butulan yang telah terbuka.

Para pengikut Panembahan Lebdagati ternyata tidak mengejar mereka yang melarikan diri bercerai berai. Para pemimpinnya menganggap hal itu tidak perlu dilakukan. Seorang diantara para pemimpin itu berkata, “Biarlah mereka lari. Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Kita sudah banyak kehilangan. Jangan ditambah lagi dengan melakukan hal-hal yang tidak berarti.”

Meskipun demikian, beberapa ekor burung elang yang melayang-layang diudara telah mengamati orang-orang yang melarikan diri itu. Burung-burung itu pun telah memencar pula sebagaimana orang-orang padepokan yang melarikan diri itu memencar.

Tetapi burung-burung elang itu pun akhirnya melepaskan pengawasan mereka dan kembali ke padepokan.

Ki Ajar Pangukan dan orang-orang yang tinggal bersamanya itu mengamati pertempuran itu dengan tegang. Mereka melihat burung-burung elang itu menghambur berterbangan. Karena itu, maka mereka pun telah menduga, bahwa Ki Warana dan orang-orang yang sependapat dengannya telah melarikan diri dari padepokan itu.

”Mudah-mudahan Ki Warana berhasil,” berkata K i Pandi yang juga dicengkam oleh ketegangan.

Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ingin mengurai ketegangan yang mencengkam jantungnya.

“Agaknya Ki Warana sudah keluar dari padepokan lewat pintu regol butulan.” desis Manggada.

“Tetapi apakah Ki Warana selamat?” desis Laksana.

“Mudah-mudahan. Ia adalah orang yang akan meniupkan udara yang jernih kepada para pengikut Kiai Banyu Bening yang sesat itu. Karena itu, aku berdoa untuk keselamatannya.” berkata Ki Pandi.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk.

Sementara ini, mereka melihat beberapa ekor burung elang itu telah menukik dan tidak nampak naik ke udara lagi. Bahkan akhirnya burung-burung elang itu telah tidak nampak lagi berterbangan diatas padepokan itu.

“Pertempuran telah selesai,” berkata Ki Pandi.

“Ya,” suara Manggada merendah, “kita tidak tahu apa yang telah terjadi didalam padepokan itu.”

Dalam pada itu, sebenarnyalah Panembahan Lebdagati telah memerintahkan para pengikutnya untuk memberi kesempatan kepada para pengikut Kiai Banyu Bening untuk menyerah. Mereka termasuk dalam rencana Panembahan Lebdagati untuk memperkuat diri. Pada saat-saat mendatang, Panembahan Lebdagati tentu akan melakukan kegiatan-kegiatan dan kerja keras untuk membangun kembali pengaruhnya di kaki Gunung Lawu itu.

“Tetapi siapa yang mencoba menentang dan berkhianat, mereka akan dihabisi dengan cara kita,” berkata Panembahan Lebdagati kepada para pengikutnya.

Dalam pada itu, untuk beberapa saat, Ki Ajar Pangukan dan orang-orang yang tinggal di rumahnya masih menunggu. Namun kemudian ketika mereka melihat pintu gerbang padepokan itu ditutup, maka mereka pun mulai beringsut untuk meninggalkan tempat itu.

Sementara itu dengan tidak terasa, matahari telah turun disisi Barat langit. Rasa-rasanya hari demikian cepatnya beredar. Ketegangan yang mencengkam agaknya membuat mereka lupa akan waktu.

Seperti yang sudah disepakati, maka merekapun mengendap-endap meninggalkan tempat mereka mengamati pertempuran yang terjadi di padepokan ini, menuju ke padukuhan kecil yang tidak terlalu jauh dari padepokan itu, yang direncanakan akan menjadi landasan pertahanan kedua Ki Warana.

Ketika Ki Pandi, Manggada dan Laksana sampai ke sanggar di padukuhan kecil itu, ternyata Ki Lemah Teles telah berada di tempat itu dan berbaring diatas alas yang sering dipergunakan untuk mengorbankan persembahan.

“Kau sudah ada disini?” bertanya Ki Pandi.

“Malas untuk meneruskan melihat tontonan yang tidak menarik,” berkata Ki Lemah Teles. Lalu katanya pula, “aku tidak melihat apa-apa selain dinding padepokan dan burung-burung elang. Dari antara daun pintu yang terbuka, aku hanya melihat orang-orang berlari-larian kacau balau tidak menentu.”

“Kau tidak melihat pertunjukan terakhir?” bertanya Ki Pandi.

“Apa? Pembantaian di depanpintu gerbang?”

“Tidak.” jawab Ki Pandi.

“Jadi apa?” bertanya Ki Lemah Teles pula.

“Burung-burung itu mempertunjukkan permainan yang menarik. Mereka seakan-akan menari diudara mengamati orang-orang padepokan yang melarikan diri dari, udara.”

“Aku sudah sering melihat burung elang memburu anak ayam. Nah, bukankah kira-kira juga hanya seperti itu?”

“Tidak,” jawab Ki Pandi, “tidak sekedar menukik menyambar dan terbang kedahan sebatang pohon yang tinggi.”

“Biar saja. Aku akan tidur,” jawab Ki Lemah Teles.

Ki Pandi tidak menyahut lagi. Iapun kemudian duduk diatas rerumputan bersama Manggada dan Laksana.

Sejenak kemudian, maka satu demi satu orang-orang tua yang tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan itu telah datang. Mereka pun kemudian telah duduk berbincang untuk menyesuaikan pengamatan mreka atas padepokan yang dalam waktu kurang dari sehari telah dihancurkan oleh Panembahan Lebdagati.

Mereka sepakat untuk mengambil kesimpulan bahwa Kiai Banyu Bening tentu sudah terbunuh.

“Orang seperti Kiai Banyu Bening itu tentu tidak akan menyerah,” berkata Ki Sambi Pitu.

“Ya” Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk, “seandainya ia menyerah, maka ia tentu akan dihabisi pula oleh Panembahan Lebdagati.”

“Kami menunggu Ki Warana” berkata Ki Pandi kemudian.

Ki Lemah Teles yang masih saja berbaring ditempatnya menyahut, “Orang itu sudah mati.”

“Dari mana kau tahu?” bertanya Ki Pandi.

“Perang antara orang-orang berilmu hitam biasanya tidak ada yang tersisa. Yang kalah akan ditumpas sampai habis.”

“Tetapi Ki Warana dan orang-orang yang sependapat dengan pendiriannya akan melarikan diri.”

“Tetapi semua akan mati.”

Belum lagi bibir Li Lemah Teles terkatub, dari regol sanggar itu telah muncul tiga orang yang melangkah dengan hati-hati memasuki sanggar itu.

“Ki Warana” berkata Manggada dengan serta merta.

Ki Lemah Teles yang berbaring itu tiba-tiba telah bangkit. Dilihatnya tiga orang melangkah memasuki sanggar itu dalam keadaan yang letih. Ki Warana sendiri nampaknya telah terluka meskipun tidak terlalu parah.

“Inikah orang yang kita tunggu?” bertanya Ki Lemah Teles.

“Ya” jawab Ki Pandi, “ternyata Ki Warana selamat”

“Satu kelainan,” desis Ki Lemah Teles yang kemudian telah berbaring lagi ditempatnya sambil berdesis, “aku akan tidur.”

Ki Warana memandang orang yang berbaring itu dengan tajamnya. Bagaimanapun juga, ia menganggap bahwa alas penyerahan korban itu merupakan tempat yang dihormatinya selama ini. Karena itu, ketika ia melihat orang yang berbaring diatasnya, maka terasa jantungnya berdegup lebih cepat.

Ki Pandi yang melihat sikap Ki Warana itupun berkata, “Bukankah tempat itu tidak berguna lagi bagimu dan bagi orang-orang yang telah meninggalkan padepokan?”

Ki Warana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Ia sadar, bahwa kedudukannya dalam keadaan goncang. Ia memerlukan orang-orang yang berilmu tinggi untuk menolongnya.

Pada saat Ki Warana sedang termangu-mangu, maka terdengar Ki Pandi itupun berkata, “Ki Warana, silahkan duduk. Aku akan memperkenalkan kawan-kawanku ini.”

Ki Warana pun kemudian duduk diantara orang-orang tua itu. Dua orang yang datang bersamanya dengan ragu-ragu duduk pula bersama mereka.

Ki Pandi pun kemudian telah memperkenalkan kawan-kawannya kepada Ki Warana, termasuk Ki Lemah Teles yang berbaring di alas penyerahan korban itu.

Ki Warana mengangguk hormat kepada mereka sambil berkata, “Terima kasih atas perhatian Ki Sanak terhadap padepokan kami.”

“Kami ingin melihat padepokan itu berubah,” berkata Ki Ajar Pangukan, “hendaknya yang memancar dari padepokan itu bukan awan yang hitam, tetapi cahaya yang bening dalam arti yang sebenarnya. Bukan beningnya Kiai Banyu Bening.”

Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kami pun sempat mendapatkan cahaya yang bening itu.”

“Kenapa tidak?” bertanya Ki Ajar Pangukan.

“Kami terusir dari padepokan itu. Perjuangan untuk mendapatkan kembali tentu akan menelan korban. Jika korban itu aku sendiri, maka aku tidak akan pernah mendapatkan apa yang Ki Ajar katakan cahaya yang bening itu.”

“Tetapi bahwa kau mendambakannya, itu adalah satu langkah awal yang diperhitungkan. Jangan cemas. Kami akan bersamamu.”

Ki Warana mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Pandi pun bertanya, “Ki Warana hanya bertiga?”

“Tidak. Yang lain nanti akan menyusul. Kami melarikan diri dari padepokan dengan arah yang berbeda-beda untuk menghindari kemungkinan yang paling buruk.” jawab Ki Warana.

“Apakah mereka juga akan datang ke sanggar ini?”

“Ya. Mereka akan datang ke sanggar ini sebelum kita berbicara dengan orang-orang padukuhan.”

Sebenarnyalah, bahwa beberapa saat kemudian, beberapa orang telah berdatangan. Mereka nampak letih dan kotor. Beberapa orang diantara mereka terluka. Bahkan ada yang terluka selama mereka berlari meninggalkan padepokan, karena kuku-kuku baja burung-burung elang yang menyerang mereka dari udara.

Ternyata orang-orang yang sependapat dengan Ki Warana itu terhitung cukup banyak. Menjelang senja, disanggar yang tidak terlalu luas itu telah bertebaran orang-orang yang telah melarikan diri dari padepokan. Ada diantara mereka yang berbaring diatas rerumputan. Ada yang sedang merawat luka-lukanya dan ada yang duduk-duduk saja sambil tepekur.

Ki Warana lah yang kemudian memberitahukan kepada orang-orang yang sejalan dengan sikapnya itu siapakah orang-orang yang sebelumnya tidak mereka kenal itu.

“Mereka akan berjuang bersama kita untuk melawan Panembahan Lebdagati.”

Tetapi seorang di antara mereka ada yang berkata, “Apa yang dapat mereka lakukan? Sedangkan Kiai Banyu Bening saja tidak mampu melawan Panembahan Lebdagati.”

Ki Lemah Teles yang berbaring itu telah bangkit sambil berkata, “He, aku akan menantangnya berperang tanding.”

“He, kau pembual,” geram orang yang meragukan kemampuan orang-orang tua itu, “kau akan diremas menjadi abu oleh Panembahan Lebdagati.”

“Iblis kau,” Ki Lemah Teles itu segera meloncat turun, “aku pilin lehermu jika kau menghina kami lagi.”

“Sudahlah” Ki Ajar Pangukan menengahi, “kita belum saling mengenal, sehingga kita masih belum mengetahui tataran ilmu kita masing-masing.”

Orang itu masih akan menjawab. Tetapi Ki Warana membentaknya, “Cukup. Kita harus mengucapkan terima kasih, bahwa ada orang yang memperhatikan kita sekarang ini.”

Orang itu terdiam. Sementara Ki Lemah Teles pun kemudian telah duduk disebelah Ki Sambi Pitu.

Ki Warana lah yang kemudian berdiri menghadap kepada orang-orang padepokan yang mengikutinya ke sanggar itu, “Kita akan beristirahat disini. Aku minta kalian bersikap baik. Kita akan bersama-sama menghadapi Panembahan Lebdagati dengan para pengikutnya. Kita memang masih ragu, apakah kita dapat melakukannya. Tetapi lepas dari segalanya, kita tidak boleh kehilangan akal dan menjadi putus-asa.”

Orang-orang padepokan itu terdiam. Meskipun ada diantara mereka yang meragukan kemungkinan itu, tetapi mereka masih berusaha menahan diri.”

Dalam pada itu, Ki Warana pun kemudian berkata, “Sebaiknya kalian tinggal disini. Aku akan pergi menemui Ki Bekel untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan lebih jauh. Aku juga ingin mengusahakan makan bagi kita semuanya.”

Orang-orang padepokan itu mengangguk-angguk. Bahkan beberapa orang berdesis, “Kami sudah sangat lapar.”

Bersama dengan dua orang, Ki Warana telah meninggalkan sanggar itu menuju ke rumah Ki Bekel.

Ki Bekel memang terkejut melihat kehadiran Ki Warana dengan dua orang kawannya yang nampaknya sangat letih itu.

“Ada apa?” bertanya Ki Bekel.

Ki Warana memang sudah dikenal dengan baik oleh Ki Bekel. Ia sudah sering datang untuk memberikan sesorah kepada penghuni padukuhan itu dihari-hari tertentu. Juga sudah sering datang dalam upacara penyerahan korban binatang di’ malam purnama.

Ki Warana pun kemudian menceriterakan apa yang terdjadi di padepokan. Dengan nada geram ia Berkata, “Kami sekarang terusir dari padepokan. Jumlah lawan terlalu banyak. Terakhir, Kiai Banyu Bening telah terbunuh di medan.”

“Kiai Banyu Bening terbunuh?” Ki Bekel terkejut. Baginya Kiai Banyu Bening adalah orang yang memiliki tataran lebih tinggi dari orang kebanyakan. Ia adalah kekasih Sang Maha Api dan mendapat tugas untuk menggelarkan kuasa Sang Maha Api itu diatas bumi.

Ki Warana mengangguk sambil menjawab, “Ya Ki Bekel. Kiai Banyu Bening berusaha melindungi para pengikutnya. Ia bertempur seperti seekor harimau yang terluka. Ia mengorbankan dirinya bagi keselamatan para pengikutnya.”

“Lalu, apa yang terjadi sekarang?” bertanya Ki Bekel.

“Ada beberapa kelompok yang berhasil menyelamatkan diri. Sekarang kami berada di sanggar.”

“Kenapa tidak dibanjar saja?”

“Kami belum mendapat ijin Ki Bekel. Jika Ki Bekel tidak berkeberatan, kami akan pergi ke banjar dan tinggal untuk sementara dibanjar dan beberapa rumah yang kosong lainnya, sebelum kami merebut kembali padepokan kami.”

“Bagaimana Ki Warana dapat melakukannya tanpa Kiai Banyu Bening.”

“Kami akan berusaha sejauh dapat kami lakukan.” jawab Ki Warana.

“Baiklah Ki Warana. Aku persilahkan Ki Warana dan kawan-kawan dari padepokan tinggal di banjar. Kami akan mengatur, dimana saja kalian akan dapat bermalam.”

“Tetapi sementara ini Ki Bekel. Sehari-harian kami bertempur sehingga kami belum sempat makan meskipun di padepokan kami mempunyai bahan makanan yang melimpah. Tetapi yang sekarang tentu Derada di tangan Panembahan Lebdagati.”

“Baiklah Ki Warana. Jangan cemas. Berapapun jumlahnya kami akan dapat menjamunya. Tetapi sudah tentu kami mohon waktu untuk memasaknya.”

“Tentu Ki Bekel. Kami tidak akan dapat makan serba mentah. Sementara itu, kami akan memindahkan kawan-kawan kami ke banjar padukuhan ini.”

Demikianlah, maka Ki Warana pun segera kembali ke sanggar untuk mengajak kawan-kawannya pergi ke banjar, sementara Ki Bekel telah memanggil beberapa orang untuk menyiapkan makan bagi orang-orang padepokan yang untuk sementara akan berada di banjar padukuhan.

Dalam pada itu ternyata pengaruh Ki Warana di padukuhan itu cukup besar. Ketika para penghuni padukuhan itu mengetahui, bahwa padepokan Kiai Banyu Bening sudah diduduki oleh Panembahan Lebdagati, maka orang-orang padukuhan itu menjadi sangat kecewa meskipun mereka tidak tahu kenapa sebenarnya mereka kecewa.

Ketika malam menjadi kelam, orang-orang padepokan telah berada di banjar. Mereka merasa mendapat tempat yang lebih baik, sehingga sebagian dari mereka telah tertidur nyenyak di lantai banjar dengan alas tikar pandan. Jauh lebih baik daripada mereka berbaring di rerumputan di sanggar.

Namun Ki Pandi sempat memperingatkan Ki Warana, agar mereka tidak menjadi lengah.

“Panembahan Lebdagati dapat berbuat apa saja. Karena itu, maka sebaiknya orang-orangmu bergantian mengawasi keadaan. Mungkin sekali Panembahan Lebdagati menyusul kalian malam ini.”

Seperti orang yang baru sadar dari tidur yang nyenyak, Ki Warana berkata, “Terima kasih, Ki Pandi. Aku akan membagi tugas bagi orang-orangku.”

Ki Pandi mengangguk sambil menyahut, “Bagus. Hati-hatilah. Kau sudah melihat sendiri, bahwa para pengikut Panembahan Lebdagati secara pribadi mempunyai kelebihan dari orang-orangmu.”

Ki Warana memang menyadari akan kelebihan para pengikut Panembahan Lebdagati dari orang-orang yang berada di padepokan.

Karena itu, maka ketika Ki Warana memerintahkan orang-orangnya berjaga-jaga di sudut-sudut padukuhan, ia pun berpesan, agar mereka berhati-hati sekali.

“Kalian sekali-sekali harus meronda berkeliling. Tetapi jangan seorang diri.”

Namun ternyata hanya pada malam itu tidak terjadi sesuatu. Nampaknya Panembahan Lebdagati tidak tergesa-gesa. Orang-orang yang melarikan diri bercerai berai itu dianggapnya tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi.

Ketika matahari mulai melemparkan cahaya fajar, maka Ki Ajar Pangukan minta orang-orang dari padepokan yang berada di padukuhan itu untuk mulai dengan gerakannya, memburu orang-orang padepokan yang melarikan diri.

Tetapi ternyata tidak terjadi sesuatu. Tidak nampak ada gerakan yang mendatangi padukuhan itu dari arah manapun juga.

“Meskipun demikian, jangan lengah” pesan Ki Ajar Pangukan kepada Ki Warana.

Hari itu, Ki Warana, Ki Bekel dan Ki Ajar Pangukan serta orang-orang tua yang tinggal bersamanya telah mengadakan pembicaraan khusus. Ki Warana telah menyampaikan kepada Ki Bekel kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di padukuhan itu.

“Pada suatu saat, mungkin Panembahan Lebdagati akan datang ke padukuhan ini dengan pengikutnya.” berkata Ki Warana.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Apakah yang dapat kami lakukan? Seisi padepokan ini akan bersedia melakukan apa saja. Bahkan mungkin bukan hanya seisi padepokan ini.”

“Aku tidak dapat minta bantuan kepada padukuhan yang lain. Jika hal itu diketahui oleh Panembahan Lebdagati, maka padukuhan yang memberikan bantuan itu akan dapat dihancurkan. Sedangkan kami tidak dapat memberikan bantuan apapun juga. Berbeda dengan padukuhan ini. Kami memang ada disini. Jika Panembahan Lebdagati datang kemari, maka kami akan dapat berbuat sesuatu betapapun lemahnya kami. Sementara itu, saudara-saudara kami ini akan bersedia membantu.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Biarlah kami, para penghuni dari padukuhan ini bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Kami temu tidak akan tinggal diam seandainya Panembahan Lebdagati itu benar-benar datang menyerang kalian yang saat kalian berada di padukuhan kami. Meskipun padukuhan kami bukan padukuhan yang besar, tetapi kami mempunyai laki-laki dan anak-anak muda cukup banyak. Meskipun kami tidak terbiasa mempergunakan kekerasan, tetapi kami bukanlah laki-laki dan anak-anak muda yang lemah.”

“Terima kasih Ki Bekel. Mudah-mudahan kami tidak menyebabkan padukuhan ini mengalami bencana.”

Namun dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan, dan kawan-kawannya dan Ki Warana telah pula membicarakan kemungkinan yang dapat terjadi. Mereka mempertimbangkan, manakah yang lebih menguntungkan. Apakah mereka menyerang padepokan itu atau memancing Panembahan Lebdagati untuk datang menyerang.

Namun Ki Pandi berpendapat, bahwa lebih baik mereka memancing agar Panembahan Lebdagati menyerang padukuhan itu.

“Kita akan mengalami kesulitan untuk memasuki padepokan itu,” berkata Ki Pandi, “pintu gerbang itu tentu sudah semakin diperkuat. Sementara itu, serangan senjata lontar dari atas dinding akan dapat mengurangi jumlah kita yang memang tidak begitu banyak.”

Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat jika Ki Bekel tidak berkeberatan.”

“Tidak Ki Warana. Kami sama sekali tidak berkeberatan. Kami dapat menyiapkan pertahanan sebaik-baiknya.” jawab Ki Bekel.

“Baiklah. Jika demikian, maka kita akan memancing agar Panembahan Lebdagati itu datang kemari.” berkata Ki Ajar.

Dengan demikian, maka sejak hari itu, padukuhan itu pun segera mempersiapkan diri. Ki Bekel telah memerintahkan kepada semua laki-laki dan anak-anak muda yang mampu turun ke medan pertempuran untuk mempersiapkan senjata apa saja yang mereka miliki.

“Apakah disini banyak terdapat busur dan anak panah?” bertanya Ki Ajar Pangukan.

“Ada beberapa,” jawab Ki Bekel, “ada beberapa orang penghuni padukuhan ini yang mempunyai kegemaran berburu.”

“Kita harus menghimpunnya.” berkata Ki Pandi.

“Aku akan melakukannya.” jawab Ki Bekel.

Hari itu juga Ki Bekel telah memanggil para bebahu. Mereka harus mempersiapkan padukuhan itu untuk menghadapi segala kemungkinan. Mereka harus menghubungi semua laki-laki dan anak-anak muda di padukuhan itu untuk mempersiapkan diri membantu para cantrik dari padepokan Kiai Banyu Bening yang terdorong keluar dari padepokannya.

Hari itu juga laki-laki sepadukuhan itu telah menyatakan diri untuk ikut serta berperang jika hal itu benar-benar akan terjadi.”

“Bersiap sajalah sebaik-baiknya. Siapkan senjata yang terbaik yang kalian miliki. Jika Panembahan Lebdagati itu benar-benar datang, maka kalian tidak lagi sekedar bermain-main. Tetapi kalian akan berperang. Taruhannya adalah nyawa kalian.”

Dengan demikian, maka telah tersusun kekuatan di padukuhan itu. Ditataran teratas adalah Ki Ajar Pangukan dan orang-orang yang tinggal bersamanya. Kemudian Ki Warana dan para penghuni padepokan yang menyingkir ke padukuhan itu. Tataran yang terakhir adalah para penghuni padukuhan itu.

Ki Ajar dan Ki Pandi telah berpesan mawanti-wanti, agar laki-laki dari padukuhan itu tidak menghadapi lawan mereka seorang melawan seorang. Mereka harus selalu berada dalam kelompok-kelompok kecil untuk melawan para pengikut Panembahan Lebdagati yang memiliki ilmu yang tinggi.

Setelah susunan pertahanan di padukuhan itu mantap, maka Ki Warana sudah mendapat isyarat dari Ki Ajar, agar ia mulai memancing perhatian isi padepokan itu.”

“Kita tidak usah pergi jauh” berkata Ki Ajar, “kita manfaatkan burung-burung elang itu.”

“Maksud Ki Ajar?” bertanya Ki Bekel.

“Jika kita berkerumun atau berlatih berperang di tempat terbuka, maka menurut perhitunganku, burung-burung elang itu akan dapat melihatnya. Mereka akan menuntun petugas sandi Panembahan Lebdagati untuk mengamati kita disini.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita sudah siap. Kapan saja Panembahan Lebdagati itu akan datang, akan kami sambut mereka dengan sebaik-baiknya.”

Kepada Ki Warana, Ki Ajar bertanya, “Bagaimana dengan orang-orangmu Ki Warana?”

“Mereka juga sudah siap,” jawab Ki Warana.

“Jika demikian, sudah tidak ada lagi yang ditunggu. Kita akan segera melakukannya.” berkata Ki Ajar kemudian.

Dengan demikian, maka orang-orang yang berada di padukuhan itu justru akan memancing burung-burung elang itu agar melihat mereka dalam kelompok-kelompok yang langsung memberikan kesan kesiagaan untuk bertempur.

Ki Ajar Pangukan dan kawan-kawannyalah yang kemudian mengajak orang-orang padukuhan itu serta orang-orang padepokan untuk berlatih di tempat terbuka. Mereka benar-benar melakukan latihan sekedarnya untuk memperkenalkan laki-laki dan anak-anak muda padukuhan itu dengan senjata, agar mereka yang sama sekali belum pernah memegang senjata mengerti bagaimana mempergunakannya.

Namun dalam pada itu, ternyata Ki Lemah Teles yang pernah disebut pembual oleh salah seorang penghuni padepokan yang melarikan diri itu telah tersinggung lagi. Orang yang menyebutnya pembual itu lagi yang membuatnya marah. Ketika Ki Lemah Teles memberikan beberapa petunjuk kepada orang-orang padukuhan itu tentang mempergunakan tombak, maka orang itu berdesis, “Pembual itu lagi. Apa yang ia ketahui tentang tombak.”

Ki Lemah Teles berpaling. Namun orang itu sama sekali tidak menyingkir. Ia sengaja maju melangkah sambil tertawa. Katanya, “Kau marah?”

Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Ia ingin mendapat saksi, bahwa bukan ia yang mendahuluinya.

Karena itu, maka dipanggilnya Manggada dengan Laksana untuk datang kepadanya.

Manggada dan kemudian juga Laksana telah melangkah mendekat. Dengan dahi yang berkerut Manggada bertanya, “Ki Lemah Teles memanggil kami?”

“Ya”“jawab Ki Lemah Teles, “aku ingin kalian menjadi saksi, bahwa bukan aku yang mendahului jika aku bertengkar dengan orang ini.”

“Ya,” orang Itu dengan wajah tengadah menyahut, “Aku benci pada pembual ini. Ia berbaring diatas alas persembahan. Ia membual sesuka hatinya, menyombongkan diri dan tidak tahu malu.”

“Kau bersungguh-sungguh?” bertanya Manggada.

“Ya. Aku bersungguh-sungguh. Aku ingin ia minta maaf kepada kami. Terutama karena ia sudah menghina tempat persembahan itu. Aku akan menunjukkan kepadanya, bahwa ia tidak perlu membual dan menyombongkan dirinya seperti itu.”

“Nah, sudah cukup?” bertanya Ki Lemah Teles.

“Kau akan mengenal siapakah kami, para cantrik dari padepokan Kiai Banyu Bening.”

Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar, justru karena mereka mengenal Ki Lemah Teles. Tetapi saat itu, mereka menjadi heran. Ki Lemah Teles itu tidak menjadi sangat marah dan menantang orang itu perang tanding. Tetapi ia seakan-akan sekedar ingin melayaninya saja.

Dengan nada datar, Ki Lemah Teles itu berkata, “Marilah. Biarlah orang-orang yang sedang berlatih ini menjadi saksi pula, siapakah yang sebenarnya pembual dan sombong.”

Orang itupun segera mempersiapkan diri. Dengan wajah yang garang ia melangkah mendekati Ki Lemah Teles selangkah demi selangkah. Kemudian sambil tertawa ia berkata, “Kau akan berlutut dan mohon ampun kepadaku.”

Dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan dan kawan-kawannya yang berlatih menebar tidak tahu apa yang dilakukan oleh Ki Lemah Teles. Mereka menduga bahwa Ki Lemah Teles yang dikerumuni oleh banyak orang itu sedang memperagakan, bagaimana mereka harus mempergunakan senjata dengan cara yang benar dan baik.

Ketika orang itu mulai berloncatan, Ki Lemah Teles masih saja berdiri termangu-mangu. Ia memperhatikan lawannya yang menunjukkan kemampuannya bergerak cepat dalam unsur-unsur gerak yang mendebarkan. Dengan keyakinan yang tinggi didalam dirinya, maka orang itu berkata lantang sambil meloncat menyerang, “Kalau kau mati, bukan salahku.”

Orang-orang yang menyaksikan menjadi berdebar-debar. Serangan itu datang dengan cepat dan deras.

Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu tiba-tiba tersentak. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Namun yang mereka ketahui, tiba-tiba saja orang yang menyerang Ki Lemah Teles itu terbanting jatuh ditanah.

Wajah orang itu menjadi pucat. Punggungnya serasa akan patah, sementara itu nafasnya pun menjadi terengah-engah.

Jangankan orang yang menyaksikan, sedang orang yang terbanting jatuh itu pun tidak tahu apa yang dilakukan oleh Ki Lemah Teles.

Dalam pada itu, Ki Lemah Teles berdiri sambil tersenyum. Katanya sambil memberi isyarat dengan jari-jarinya, “Bangkitlah. Bukankah kita akan menjajagi kemampuan kita? Kenapa kau malah berbaring disitu? Apakah semalam kau tidak dapat tidur?”

Orang itu menyeringai menahan sakit. Ketika Ki Lemah Teles mendekat, ia berusaha beringsut sambil berkata, “Jangan, jangan.

“Ayo. Bangkitlah.”

Orang itu berusaha untuk duduk sambil berdesah kesakitan, sementara Ki Lemah Teles berkata, “Bukankah kau akan memaksa aku untuk berlutut dan mohon ampun?”

”Tidak. Akulah yang mohon ampun.” jawab orang itu. Ki Lemah Teles pun menyahut, “Jangan begitu. Bukankah kau laki-laki?”

“Cukup. Sudah cukup. Sekali lagi aku kau banting seperti ini, aku tidak akan dapat bangkit kembali. Aku mohon ampun.”

Ki Lemah Teles tertawa. Kalanya, “Baiklah. Minggirlah, aku akan menunjukkan kepada saudara-saudara kita ini, bagaimana kita mempergunakan sebatang tombak.”

Orang itu berdiri sambil memegangi pinggangnya. Kemudian berjalan tertatih-tatih menepi.

Dalam pada itu, maka Manggada dan Laksana yang berdiri termangu-mangu itupun tersenyum melihat orang itu bergeser menepi dan kemudian duduk diatas rerumputan sambil berkali-kali berdesah kesakitan.

“Apakah tugas kami sudah cukup, Ki Lemah Teles?” bertanya Manggada.

“ Apakah kalian juga ingin membuktikan, apakah aku pembual atau bukan?”

Laksana lah yang tersenyum sambil menjawab, “Lain kali Ki Lemah Teles.”

Ki Lemah Teles mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata, “Kembalilah ke tempat kalian.”

Manggada dan Laksana itu pun kemudian telah berlari-lari kembali ketempatnya. Merekapun sedang memberi petunjuk bagaimana mempergunakan senjata kepada sekelompok anak muda dari padukuhan itu.

Tiga ampat hari mereka berlatih, ternyata masih belum ada seekor burung elang pun yang terbang berputaran sampai ke padukuhan kecil itu. Agaknya Panembahan Lebdagati dan orang-orangnya terlalu yakin akan kemenangannya, sehingga mereka tidak merasa perlu untuk mengamati keadaan.

Tetapi justru karena itu, maka Ki Pandi telah mengajak Manggada dan Laksana untuk mendekati padepokan itu.

“Kita harus berhati-hati,” desis Ki Pandi.

Ketika mereka menjadi semakin jauh dari padukuhan, maka mereka melihat kedua ekor harimau Ki Pandi merangkak mendekatinya sambil menggosok-gosokkan kepala mereka ke kaki Ki Pandi.

Ki Pandi pun kemudian membelai kedua ekor harimaunya. Namun kemudian ia memberi isyarat agar kedua ekor harimaunya itu mendahuluia mereka.

Dalam pada itu, Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah bergerak kembali. Mereka semakin lama menjadi semakin dekat dengan padepokan yang telah ditinggalkan oleh Ki Warana.

Tetapi ketiga orang itu pun tertegun ketika dari kejauhan mereka melihat seekor burung elang yang terbang rendah mengelilingi padepokan.

“Ternyata mereka cukup berhati-hati,” berkata Ki Pandi.

“Jika elang itu terbang rendah seperti itu, maka elang itu tidak akan pernah melihat sisa-sisa orang padepokan yang sedang berlatih itu.” sahut Manggada.

“Kita akan menunggu sampai sepekan. Jika dalam sepekan tidak ada seekor burung elang yang terbang diatas padukuhan, maka kita yang akan memancingnya.” desis Ki Pandi.

Untuk beberapa saat mereka mengamati burung elang yang berterbangan itu. Namun beberapa saat kemudian, burung itu menukik dan hilang dibalik dinding padepokan.

“Biarlah kita pergunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk memberikan petunjuk-petunjuk kepada orang-orang padukuhan mempergunakan senjata. Biarlah mereka lebih mengenali senjata mereka, karena mereka akan terjun di arena pertempuran melawan orang-orang yang sudah berpengalaman.”

Ketiga orang itu tidak terlalu lama berada ditempat itu. Ketika kedua ekor harimau Ki Pandi kembali lagi menemuinya, maka Ki Pandi pun telah mengajak Manggada dan Laksana kembali ke padukuhan, sementara ia memberikan isyarat kepada kedua ekor harimaunya untuk tinggal di hutan perdu yang luas di lereng Gunung Lawu yang membatasi lingkungan persawahan dengan hutan lereng gunung.

Di padukuhan, Ki Pandi pun telah memberitahukan apa yang dilihatnya kepada Ki Ajar Pangukan, Ki Warana dan Ki Bekel. Untuk sementara burung elang itu tidak akan melihat kesiagaan mereka.

“Kita justru dapat memanfaatkan waktu,” berkata Ki Pandi, “dengan pengenalan yang lebih banyak tentang senjata mereka, maka orang-orangku akan dapat lebih banyak berbuat disamping mereka yang sudah berpengalaman.”

“Ya. Kita akan menunggu sampai sepekan.”

Tetapi meskipun tidak ada seekor pun burung elang yang sempat terbang diatas padukuhan itu, namun kabar tentang kesiagaan orang-orang padukuhan itu telah tersebar. Orang-orang dari padukuhan lain yang melihat apa yang dilakukan di padukuhan itu menjadi saling bertanya. Apalagi ketika padukuhan itu kemudian telah menutup diri.

Berita yang berkembang dari mulut ke mulut itu, menyusup sampai ke pasar. Bahkan kemudian sampai ke telinga pengikut Panembahan Lebdagati yang memang sering pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan mereka sehari-hari yang telah habis dalam persediaan mereka. Tetapi Panembahan Lebdagati memang sering mengirimkan orang untuk berada ditempat orang banyak agar mereka dapat mendengar jika ada berita yang berkembang menyangkut padepokannya.

Ternyata bahwa orang yang berada di pasar itu telah mendengar berita tentang kegiatan sebuah padukuhan yang kemudian justru telah menutup diri. Menutup jalan-jalan yang menuju ke padukuhan itu dari segala jurusan.

Dengan demikian, maka berita itu telah menjadi laporannya pula ketika ia kembali ke padepokan.

Panembahan Lebdagati ternyata tertarik pula oleh laporan itu. Karena itu, maka ia pun lelah memerintahkan orang yang merawat burung-burung elangnya untuk mengamati keadaan.

“Jika burung-burung itu gagal, maka aku akan mengirimkan beberapa orang langsung untuk melihat. Tetapi jika elang-elang itu berhasil, maka setidak-tidaknya burung-burung elang itu akan dapat menuntun orang-orang kita untuk melihat padukuhan itu.

Sebenarnyalah, hari itu juga dua ekor burung elang telah terbang tinggi. Keduanya berputaran sambil mengamati padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan yang telah diduduki oleh Panembahan Lebdagati itu.

Beberapa kali kedua ekor burung itu berputaran. Mereka tidak saja berputar-putar disekitar padepokan, tetapi kedua burung elang itu berputar pada garis lingkaran yang luas.

Sebenamyalah kedua ekor burung itu sempat melihat orang-orang padukuhan dan orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening yang berhasil melarikan diri itu. Mereka masih saja berlatih di tempat terbuka tanpa merasa cemas, bahwa Panembahan Lebdagati akan dapat melihat mereka.

Meskipun demikian, ketika mereka melihat dua ekor burung elang terbang berputaran di udara, maka mereka pun menjadi berdebar-debar.

“Akhirnya burung-burung itu datang juga,” desis Ki Pandi.

“Satu isyarat bahwa kita harus benar-benar siap menghadapi segala kemungkinan.” sahut Ki Ajar Pangukan.

“Kami akan melihat-lihat kegiatan di padepokan itu,” berkata Ki Pandi, “setelah mereka melihat kegiatan kita lewat mata burung elang itu, apakah mereka menunjukkan kegiatan tertentu.”

”Tetapi berhati-hatilah. Bahwa mereka telah mengirimkan burung elang itu berarti bahwa mereka telah mulai dengan satu pengamatan khusus terhadap kita disini,” pesan Ki Ajar Pangukan.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun ternyata ia minta agar Manggada dan Laksana tidak ikut bersamanya.

“Aku akan pergi sendiri. Jika keadaan memungkin-kan, kita akan pergi bersama besok.”

Manggada dan Laksana mengangguk mengiakan. Mereka selalu menganggap apa yang dikatakan Ki Pandi seharusnya mereka lakukan. Kecuali mereka menganggap bahwa orang bongkok itu adalah gurunya, kedua anak muda itu juga menyadari, bahwa apa yang dikatakan oleh Ki Pandi itu pada umumnya sangat berarti bagi mereka.

Demikianlah, maka Ki Pandi pun telah berangkat sendiri untuk melihat padepokan yang telah melepaskan dua ekor burung elang itu.

Seperti sebelumnya, ketika Ki Pandi memasuki padang perdu, maka kedua ekor harimaunya telah menyongsongnya, menjilat-jilat tangannya dan menggosok-gosokkan kepalanya pada kaki Ki Pandi.

“Berhati-hatilah,” desis Ki Pandi sambil mengusap kepala kedua ekor harimaunya itu.

Kedua ekor harimaunya itu seakan-akan mengerti kata-kata Ki Pandi sehingga keduanya berjalan merunduk-runduk disela-sela gerumbul-gerumbul perdu.

Beberapa saal kemudian, Ki Pandi dan kedua ekor harimaunya telah berada tidak terlalu jauh dari padepokan. Ki Pandi tidak melihat sesuatu selain pintu gerbang yang tertutup rapat.

Untuk beberapa lama Ki Pandi mengamati padepokan itu. Tetapi ia tidak melihat kegiatan apapun diluar padepokan. Sementara itu dinding padepokan itu berdiri tegak dengan angkuhnya. Membeku di panasnya sinar matahari.

Namun tiba-tiba saja kedua ekor harimaunya menjadi gelisah. Mereka memandang ke arah yang jauh.

Ki Pandi yang sudah mengenal sifat kedua ekor harimaunya selalu memperhatikan sikapnya. Ki Pandi pun kemudian ikut pula memandang kearah yang jauh itu.

Dengan ketajaman penglihatannya, maka Ki Pandi pun melihat titik-titik yang bergerak di kejauhan. Ternyata dua ekor burung elang yang melayang-layang. Tetapi tidak diatas padukuhan yang dipergunakan oleh Ki Warana menjadi pertahanan keduanya itu. Justru diarah yang berlawanan.

”Tentu bukan burung elang yang terbang diatas padukuhan itu,” berkata Ki Pandi kepada kedua ekor harimaunya.

Kedua ekor harimau itu memandanginya dengan tajamnya, seakan-akan mereka ingin mengetahui apa yang dikatakan itu.

Kedua ekor burung elang itu semakin lama menjadi semakin kelihatan jelas. Keduanya terbang langsung menuju ke padepokan keduanya berputaran beberapa kali.

Ki Pandi lermangu-mangu sejenak. Tetapi kedua ekor harimaunya nampak semakin gelisah.

Ternyata kemudian, Ki Pandi itu melihat debu yang mengepul. Beberapa orang penunggang kuda melarikan kuda mereka dijalan berdebu menuju ke padepokan.

“Siapakah mereka?” bertanya Ki Pandi kepada diri sendiri, karena ia tidak akan dapat bertanya kepada kedua ekor harimaunya.

Dengan sangat berhati-hati Ki Pandi beringsut mendekat. Tetapi pada jarak itu, Ki Pandi memang tidak dapat melihat wajah orang-orang berkuda itu dengan jelas.

Ki Pandi menjadi berdebar-debar ketika Ki Pandi melihat pintu gerbang itu terbuka perlahan-lahan.

Apalagi ketika ia melihat bahwa beberapa orang telah berdiri untuk menyambut orang-orang berkuda iiu. Seorang diantara mereka segera dapat dikenali oleh Ki Pandi meskipun dari jarak yang agak jauh, karena ia mengenal orang itu dengan sangat baik. Panembahan Lebdagati sendiri.

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Orang-orang berkuda itu tentu orang yang dihormati, sehingga Panembahan Lebdagati sendiri harus menyambutnya dipintu gerbang.

Untuk beberapa saat lamanya Ki Pandi menjadi tegang. Ia melihat Panembahan Lebdagati menyambut orang-orang berkuda itu. Menurut penilaian Ki Pandi, dua orang diantara orang-orang berkuda itu termasuk orang yang penting bagi Panembahan Lebdagati.

Dengan demikian, maka Ki Pandi pun mengerti, bahwa burung elang yang nampak sebagai titik-titik kecil itu adalah burung elang yang mendapat tugas untuk menjemput dan menuntun tamu-tamu Panembahan Lebdagati itu sampai ke padepokan.

Ketika kemudian pintu gerbang itu perlahan-lahan ditutup kembali, maka Ki Pandi pun menarik nafas dalam-dalam.

“Apakah mereka datang secara kebetulan, atau Panembahan Lebdagati memang memanggilnya untuk menyelesaikan orang-orang yang tersisa dari padepokan Kiai Banyu Bening yang sempat dilihat oleh burung elang itu?” bertanya Ki Pandi kepada diri sendiri.

Namun bagaimanapun juga, kehadiran beberapa orang berkuda itu harus menjadi perhatian mereka.

Dengan demikian, maka Ki Pandi berkesimpulan, bahwa setiap hari sebaiknya dilakukan pengamatan atas padepokan itu. Ia tidak dapat melakukannya sendiri. Tetapi bergantian dengan orang-orang tua yang memiliki ilmu yang tinggi untuk sementara dirumah Ki Ajar Pangukan itu.

Tetapi terasa hari-harinya tinggal besok atau lusa. Panembahan Lebdagati tentu akan segera datang untuk menghancurkan orang-orang yang telah berani membuat persiapan-persiapan yang tentu akan menentangnya.

Meskipun nemikian, ketika hal itu disampaikan kepada Ki Ajar Pangukan, maka Ki Ajar telah menyetujuinya. Bahkan Ki Ajar itu menganggap bahwa pengamatan itu harus dilakukan setiap saat.

Karena itu, maka orang-orang di padukuhan itu telah mengadakan pembicaraan khusus untuk mengatur pengamatan terhadap gerak orang-orang padukuhan.

“Waktunya tentu tidak akan lama lagi,” berkata Ki Pandi.

Demikianlah, sejak saat itu, maka bergantian orang-orang dari padukuhan itu mengadakan pengamatan atas padepokan yang telah dirampas oleh Panembahan Lebdagati. Ki Warana telah menunjuk orang-orangnya yang terbaik untuk membantu melakukannya. Terutama di malam hari. Sedangkan disiang hari pengawasan itu dilakukan oleh orang-orang tua yang berilmu tinggi, karena mereka harus sangat berhati-hati.

Dalam pada itu, ketika orang-orang padukuhan itu melihat beberapa ekor burung elang terbang berputar-putar diatas padukuhan itu, menjadi berdebar-debar. Tidak hanya dua ekor seperti biasanya. Tetapi lima ekor burung elang.

“Apa yang akan terjadi?,” desis Ki Ajar Pangukan.

“Nampaknya mereka menganggap bahwa waktunya sudah tiba,” sahut Ki Pandi.

“Tetapi tentu bukan hari ini,” berkata Ki Ajar.

“Sudah terlalu siang untuk memulai sebuah pertempuran. Agaknya malam nanti mereka akan bergerak.” sahut Ki Pandi.

“Ketika mereka menyerang padepokan itu, mereka lakukan disiang hari. Dengan satu keyakinan untuk menang, mereka datang dengan dada tengadah. Disiang hari, maka mereka akan dapat sedikit mengatasi kesulitan medan.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Medan di padukuhan ini tentu lebih sulit bagi mereka. Karena itu, menurut pendapatku, mereka akan datang esok menjelang matahari terbit.”

Ketika sekali lagi Ki Warana membuat perhitungan, manakah yang lebih baik antara bertahan dan menyerang, maka Ki Ajar berkata, “Kita lebih baik bertahan disini. Panembahan Lebdagati tidak akan menyerang dengan segala kekuatannya. Tentu masih ada yang akan ditinggalkan di padepokan. Jika kita yang datang ke padepokan, maka kita akan berhadapan dengan segenap kekuatan yang ada di padepokan, selain kita akan mengalami kesulitan untuk memasuki padepokan itu.”

Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, “Baik. Kita mantapkan sikap kita. Kita akan benahan di padukuhan ini. Tetapi Ki Bekel harus dapat memecahkan persoalan perempuan dan anak-anak.”

“Ada dua tempat pengungsian,” sahut Ki Bekel, “di banjar dan dirumahku. Menurut perhitunganku, kedua tempat itu akan dapat menampung semua perempuan dan anak-anak di padukuhan ini.”

“Pengungsian itu harus segera dilakukan,” berkata Ki Ajar, “burung elang itu merupakan isyarat, bahwa mereka akan segera bergerak. Jika terlambat, maka akibatnya sangat buruk bagi mereka.”

“Baiklah,” berkata Ki Bekel, “aku akan mulai hari ini juga. Mereka masih mempunyai kesempatan hari ini dan malam nanti seandainya benar besok menjelang matahari terbit, Panembahan Lebdagati akan menyerang padukuhan ini.”

Sebenarnyalah, Ki Bekel telah memerintahkan para bebahu untuk mengatur pengungsian perempuan dan anak-anak ke banjar dan ke rumah Ki Bekel, tetapi Ki Bekel masih berpesan, “Jangan membuat perempuan dan anak-anak menjadi sangat ketakutan. Mereka harus yakin, bahwa mereka akan mendapat perlindungan yang baik. Tidak seorang pun diantara para pengikut Panembahan Lebdagati yang akan dapat menginjakkan kakinya di halaman banjar dan halaman rumahku itu.

Demikianlah, maka pengungsian perempuan dan anak-anak pun segera berlangsung. Bagaimana pun juga para bebahu berusaha, namun perempuan dan anak-anak itu menjadi ketakutan.

Sementara itu, laki-laki dan anak-anak muda padukuhan itu nampak hilir mudik membantu perempuan dan anak-anak mengungsi. Hanya kemudian mereka pun telah dihimpun dalam kelompok-kelompok yang akan menyalurkan perintah-perintah sampai ke setiap telinga. Mereka pun telah membagi lingkungan tugas mereka. Kecuali dalam keadaan yang khusus.

Dalam pada itu, Ki Warana pun telah menentukan tugas orang-orang yang menyertainya sampai ke padukuhan itu. Mereka juga terbagi sebagaimana orang-orang padukuhan itu, sehingga di-setiap kelompok orang-orang padukuhan terdapat beberapa orang dari padepokan Kiai Banyu Bening.

Selain daripada itu, maka orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening itu pun telah berusaha mengenali medan dengan sebaik-baiknya. Seperti yang pernah mereka lakukan, maka mereka akan memanfaatkan medan itu untuk mengacaukan lawan mereka.

Namun dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan telah memperingatkan agar orang-orang tua yang tinggal bersamanya itu menjadi sangat berhati-hati.

“Ada orang baru di padepokan,” berkata Ki Ajar.

Ki Warana menarik nafas dalam-dalam. Panembahan Lebdagati sendiri bersama pengikutnya sudah merupakan kekuatan yang sangat besar. Apalagi dengan kekuatan baru meskipun hanya beberapa orang, maka kekuatan Panembahan Lebdagati akan menjadi sangat besar.

Meskipun demikian, Ki Warana sudah bertekad untuk melawannya, apapun yang terjadi. Iapun percaya kepada kemampuan orang-orang tua yang ada diantara mereka, karena Ki Warana sendiri pernah mengalami benturan kekuatan. Ki Warana itu merasa dirinya sama sekali tidak berarti dihadapan orang tua-tua itu.

Dalam pada itu, burung-burung elang yang berputaran di atas padukuhan itu, ternyata telah diamati oleh beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagati dari kejauhan. Mereka mendapat kesimpulan bahwa burung elang itu melihat kekuatan yang cukup besar tersimpan di padukuhan itu. Apalagi orang-orang padukuhan itu sengaja tidak menyembunyikan diri dari penglihatan burung-burung elang itu.

Namun para pengikut Panembahan Lebdagati itu masih juga belum dapat menterjemahkan pengertian kekuatan yang cukup besar itu dengan tepat.

“Berapa banyak orang yang sempat melarikan diri itu?” bertanya seseorang diantara mereka yang mengamati burung elang itu.

“Saat itu aku berniat untuk mengejar mereka. Tetapi aku dan kawan-kawanku telah dicegah. Waktu itu kita menganggap bahwa kekuatan yang melarikan diri itu tidak seberapa.”

“Sampai sekarang pun aku menganggap bahwa kekuatan mereka itu memang tidak seberapa.” sahut yang lain, “jika burung elang itu memberikan isyarat bahwa kekuatan di padukuhan itu cukup besar, maka mungkin burung elang itu juga melihat kesibukan orang-orang padukuhan itu sendiri.”

“Salah kita, bahwa kita belum pernah mengirimkan orang untuk melihat langsung apa yang mereka lakukan. Menurut kata orang di pasar itu setiap hari mereka mengadakan latihan di tempat terbuka.”

“Satu cara untuk menggertak kita.” jawab yang tahu, “kita tidak usah menghiraukan kata orang. Jika kita datang ke padukuhan itu, maka padukuhan itu akan kita hancurkan. Para penghuninya yang telah membantu, apakah itu berujud pangan atau alat apapun, akan kita anggap ikut bersalah. Mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan kesalahan mereka.”

“Hanya ada satu macam hukuman yang dapat Kita berikan. Hukuman mati dengan cara apapun juga.”

Sementara itu seorang diantara mereka berkata, “Jika saja di padukuhan itu ada sepuluh atau lima belas gadis yang bersih. Panembahan Lebdagati akan dapat menghemat kesibukannya selama limabelas bulan jika ia benar-benar ingin memulai lagi dengan menyerahkan korban bagi kerisnya.” Namun dengan nada rendah ia melanjutkan, “tetapi sudah berapa sebenarnya umur Panembahan.”

“Apakah kau kira umur dapat menjadi patokan berapa tahun lagi ia akah hidup didunia ini? Aku yakin, bahwa Panembahan Lebdagati masih akan dapat menyelesaikan tugasnya menyerahkan korban sepanjang seratus kali purnama. Umurnya tentu masih akan mencapai seperempat abad lagi”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi memang tidak mustahil bahwa seseorang akan mencapai umur lebih dari seratus tahun.

Beberapa saat kemudian, maka orang-orang itu pun segera meninggalkan tempatnya. Mereka melangkah kembali ke padepokan sambil mencoba menemukan kesimpulan yang akan menjadi laporan mereka kepada Panembahan Lebdagati.

Di padepokan, mereka langsung menyampaikah laporan pengamatan mereka kepada Panembahan Lebdagati. Sehingga Panembahan Lebdagati itupun mengambil kesimpulan, bahwa ia harus segera bertindak.

“Kenapa kau pelihara kecoak-kecoak itu, Panembahan?” bertanya seorang yang bertubuh tinggi tegap, berkumis melintang. Salah seorang dari orang-orang berkuda yang datang ke padepokan itu.

“Aku mengira bahwa mereka tidak akan berbuat apa-apa lagi. Tetapi ternyata mereka sudah siap untuk membunuh diri.”

“Mumpung aku ada disini” berkata orang berkumis tebal itu, “aku akan ikut bersamamu. Mungkin aku akan mendapatkan sesuatu yang menarik di padukuhan itu?”

“Apa yang kau inginkan?” bertanya Panembahan Lebdagati.

Orang itu tertawa. Katanya, “Apa saja yang menarik perhatian. Tetapi memang mungkin tidak ada apa-apa.”

“Kau masih saja liar” desis Panembahan Lebdagati.

“Kau kira watakku dapat berubah.”

“ Baiklah Ki Lembu Palang. Jika kau mau ikut bersama kami, marilah.”

“Kapan kau akan pergi ke padukuhan itu?”

“Kapan sebaiknya menurutmu?”

“Besok kita pergi.”

“Kenapa besok? Besok aku sudah berjanji untuk mengadu delapan ekor ayam jantan. Aku memerlukan yang terbaik dari delapan ekor ayam jantan itu.”

“Berjanji kepada siapa?” bertanya Ki Kebo Palang.

“Kepada orang-orangku. Mereka memerlukan hiburan. Hiburan yang terbaik bagi mereka adalah menonton adu ayam. Selain hiburan pertarungan itu akan dapat memberikan dorongan kejantanan mereka di medan pertempuran.”

“Kenapa kau menganggap adu ayam lebih penting dari menyelesaikan kecoak-kecoak yang mengotori pinggan nasimu?” bertanya Ki Kebo Palang.

Panembahan Lebdagati menarik nafas panjang. Katanya, “Baiklah, besok aku akan pergi ke padukuhan itu. Menurut orang-orang itu, mereka mempunyai kekuatan yang cukup besar.”

“Bukankah orang yang menyebut dirinya Banyu Bening itu sudah kau bunuh? Yang tersisa tinggallah para pengikutnya yang berhasil melarikan diri. Itupun jumlahnya tidak terlalu banyak. Bukankah kau mengatakan begitu?” bertanya Lembu Palang.

“Ya. Jumlah mereka yang melarikan diri memang tidak terlalu banyak.”

“Lalu siapa lagi?” bertanya Lembu Palang.

“Mungkin mereka mempengaruhi orang-orang padukuhan itu.”

“Apa artinya orang-orang padukuhan itu?”

Panembahan Lebdagati tersenyum. Katanya, “Besok kita pergi. Besok lusa aku akan mengadu ayam itu.”

Keputusan itu pun segera diberitahukan kepada para penglkutnya. Panembahan Lebdagati telah memerintahkan para pengikutnya untuk bersiap-siap. Bahkan Panembahan Lebdagati sempat berpesan, “jangan terlalu merendahkan lawan kita. Kita akan dapat terjebak dalam kesulitan. Karena itu, kita bawa kekuatan secukupnya.”

Lembu Palang yang mendengar pesan itu sempat tertawa. Katanya, “Kau cukup berhati-hati Panembahan. Tetapi tidak ada jeleknya orang berhati-hati. Dengan demikian, maka apa yang dilakukan akan dapat berhasil dengan sempurna.”

“Beberapa kali aku terjebak dalam kesulitan karena aku menganggap lawanku terlalu kecil. Aku kehilangan kesempatan pertama untuk menjadikan kerisku keris terbaik di bumi ini. Kemudian kegagalan yang lain telah merenggut setiap kesempatanku mendapatkan pusaka terbaik.”

Tetapi sekarang kau tidak sedang merebut pusaka apapun. Kau tidak lebih dari sekedar membersihkan gledeg bambumu dari kecoak-kecoak yang mengotori isinya. Karena itu, kau tidak perlu terlalupening memikirkan kesiagaan orang-orangmu yang aku nilai cukup banyak dan memiliki landasan ilmu yang cukup. Terus terang, tidak ada padepokan manapun yang akan dapat menandingi kekuatan padepokanmu ini nanti jika sudah mapan.”

Panembahan Lebdagati mengangguk kecil. Katanya “Terima kasih atas pujian itu. Tetapi aku merasa bahwa aku harus tetap berhati-hati.”

Lembu Palang tertawa sambil berkata, “Bagus. Aku menjadi semakin kagum melihat sikap dan pendirianmu. Besok aku dan kawan-kawanku akan ikut bersama kalian.”

(Oo-dwkz-mch-oO)

Bersambung ke jilid 5

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 5 – Matahari Senja

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s