JDBK-08


<<kembali | lanjut >>

PAKSI mengerutkan dahinya. Tentu ada sesuatu yang dianggap sangat penting oleh Wijang. Karena itu, maka ia tidak bertanya lebih jauh. Diusahakannya mendekati orang yang berbaju lurik hitam dan berikat kepala wulung.

Dengan kemampuannya, Paksi berusaha untuk dapat mengetahui tentang orang itu sebanyak-banyaknya. Namun Paksi pun juga memperhitungkan seandainya orang itu juga berilmu tinggi.

Namun Paksi pun kemudian melihat orang itu berhenti di depan penjual dawet. Sambil duduk ia telah memesan semangkuk dawet cendol. Namun sejenak kemudian orang lain  pun telah mendekat dan duduk pula di sebelahnya.

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian berjalan saja di depan penjual dawet itu.

“He, Ngger. Kau tidak haus?”

Paksi sudah mengira bahwa penjual dawet itu akan menyapanya. Karena itu, maka tanpa menghiraukan kedua orang itu, Paksi telah duduk justru di sebelah penjual dawet itu.

“Kau sendiri? Di mana kakakmu?” bertanya penjual dawet itu.

“Kakak sedang sibuk, Paman. Tolong dawetnya semangkuk saja,” minta Paksi. Sekilas ia memandang kedua orang yang duduk di depan penjual dawet itu. Agaknya keduanya memang sudah saling mengenal. Bahkan kemudian keduanya terlibat dalam sebuah pembicaraan.

“Aku sudah menerima undangan itu,” berkata seorang di antara mereka.

“Menarik sekali. Tamu-tamunya tentu orang-orang terhormat,” jawab yang lain.

“Ya. Justru para demang. Mungkin ada satu dua orang bekel yang akan ikut bersama demangnya menghadiri perhelatan itu.”

“Kita akan mengajak anak-anak kita.”

“Tetapi mereka tentu orang-orang kaya. Kita tidak akan mampu menyaingi mereka.”

Paksi sama sekali tidak menghiraukan itu. Bahkan penjual dawet itulah yang bertanya, “Di mana akan ada perhelatan yang nampaknya besar-besaran itu, Ki Sanak?”

Salah seorang di antara mereka tersenyum sambil menjawab,

“Ki Lurah Pancaniti. Seorang lurah prajurit yang kaya raya.”

Tetapi agaknya penjual dawet itu belum mengenal Lurah

Pancaniti. Meskipun dahinya nampak berkerut, tetapi ia tidak bertanya lagi.

Sementara itu seorang di antara keduanya bertanya, “Kau akan kemana sekarang?”

“Pulang. Anakku sudah menunggu. Kau?”

“Aku juga akan pulang.”

“Aku harus mempersiapkan sumbangan yang pantas.”

“Jangan memaksakan diri. Jika kau memang tidak punya uang, apaboleh buat.”

Penjual dawet itu tertawa. Katanya, “Hal seperti itu memang banyak terjadi. Untuk menjaga harga diri seseorang kadang-kadang harus mencari pinjaman kemana-mana sekedar untuk memberikan sumbangan. Apalagi jika yang mengadakan perhelatan seorang yang berpengaruh.”

Kedua orang yang sedang membeli dawet itu tersenyum. Seorang di antara mereka kemudian berkata, “Marilah. Aku akan pulang. Jika sempat suruh anakmu bermain ke rumahku.”

“Baiklah. Aku juga akan segera pulang.” Orang yang pertama itu pun segera membayar harga dawet sambil berkata, “Kebetulan ada uang. Aku bayar dawetmu.”

Kawannya tertawa. Katanya, “Terima kasih.”

Namun tiba-tiba saja Paksi berkata, “Untukku sekalian, Paman.”

Orang itu memandang Paksi sejenak. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Baiklah, anak muda. Tetapi sekali ini saja.”

“Terima kasih, terima kasih,” desis Paksi.

Orang itu pun tertawa. Namun kemudian ia pun melangkah pergi meninggalkan kawannya yang masih duduk di tempatnya. Namun ia pun kemudian bangkit pula sambil berkata, “Kawanku itu tentu baru saja menjual hasil panennya yang melimpah di musim ini, sehingga ia mempunyai uang berlebihan.”

Paksi pun menyahut, “Paman itu nampaknya murah hati.”

“Kadang-kadang,” jawab kawannya itu. “Tetapi jika ia kehabisan uang, maka ia pun tidak segan-segan datang untuk meminjam uang, tetapi tidak akan dikembalikan.”

Paksi tertawa. Penjual dawet itu pun tertawa pula.

Demikianlah, maka orang itu pun telah minta diri pula. Kepada Paksi, ia justru bertanya, “Kau sering datang kemari, anak muda?”

“Ya, Paman,” jawab Paksi. “Hampir tiap hari.”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Sebaiknya kau pergunakan waktumu dengan baik. Mumpung kau masih muda. Jangan banyak kau buang tanpa arti. Atau kau mempunyai kegiatan dagang di pasar ini sehingga kau setiap hari harus datang kemari?”

“Tidak, Paman,” jawab Paksi.

“Nah, jika demikian,  manfaatkan  masa mudamu  sebaik-baiknya. Meskipun semua kebutuhanmu dicukupi oleh orang tuamu, tetapi pada suatu ketika kau harus berdiri sendiri.”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab, “Baik, Paman.”

“Ah. Hanya sekedar pesan, anak muda. Jika tidak sesuai dengan perasaanmu, lupakan saja. Tetapi menurut pendapatku, anak-anak muda lebih baik mempergunakan waktunya bagi kegiatan yang berarti.”

“Terima kasih atas peringatan ini, Paman.”

Orang itu mengangguk kecil. Namun kemudian ia pun melangkah meninggalkan penjual dawet dan Paksi yang termangu-mangu.

Sepeninggal orang itu, maka Paksi pun telah berdiri pula sambil berkata, “Aku akan pulang.”

Penjual dawet itu tertawa. Katanya, “Apakah benar kau sia-siakan hari-harimu, anak muda.”

Paksi mengangguk sambil menjawab, “Sebagian memang. Tetapi sebagian tidak.”

Penjual dawet itu tertawa berkepanjangan. Paksi pun akhirnya tertawa pula. Namun kemudian ia pun melangkah pergi meninggalkan penjual dawet itu.

Sejenak kemudian, maka Paksi pun telah keluar dari pintu gerbang pasar. Ia harus segera memberitahukan kepada Wijang, karena Paksi mengetahui pembicaraan kedua orang itu tentu merupakan pembicaraan sandi. Mungkin Wijang akan dapat mengurai maksud dari pembicaraan itu, sehingga Wijang dapat mengambil kesimpulannya.

Tetapi Paksi tidak tahu, dimana Wijang menunggunya. Karena itu, maka Paksi pun kemudian melangkah perlahan-lahan meninggalkan pasar itu. Ia berharap bahwa Wijang melihatnya dan menemuinya sambil berjalan pulang.

Sebenarnya, setelah beberapa puluh patok dari pasar, ia melihat Wijang duduk di bawah sebatang pohon lamtara yang tumbuh di atas tanggul parit di pinggir jalan.

“Kenapa kau menunggu aku disini?”

“Jadi aku harus menunggu di mana?”

“Jika orang itu lewat jalan ini?”

“Dari kejauhan aku sudah melihatnya. Aku dapat menghindarinya dengan meniti pematang itu.”

Paksi mengangguk-angguk. Sementara Wijang pun segera bangkit dan berjalan di sebelah Paksi.

Sambil berjalan Paksi pun telah berceritera tentang kedua orang yang sedang membeli dawet cendol. Seorang di antaranya adalah orang yang berbaju lurik hitam dan mengenakan ikat kepala wulung itu.

Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi mereka juga sudah tahu bahwa para pemimpin perguruan itu akan mengadakan pertemuan di tempat itu.”

“Apakah mereka sedang membicarakan hal itu?”

“Agaknya memang demikian.”

Paksi mengangguk-angguk. Dengan sedikit merenung, maka Paksi pun menemukan hubungan antara pembicaraan kedua orang itu dengan rencana pertemuan para pemimpin perguruan sebagaimana mereka ketahui pula dari isyarat yang terpahat pada batang gayam yang tumbuh di pinggir jalan menuju ke Panjatan.

“Tetapi siapakah mereka itu? Apakah kau mengenal mereka dan mereka mengenalmu?”

Wijang mengangguk. Katanya, “Mereka adalah para petugas sandi dari Pajang. Yang berbaju hitam dengan ikat kepala wulung itu adalah seorang rangga. Namanya Rangga Suraniti. Ia adalah seorang rangga yang berilmu tinggi. Bahkan melampaui sesamanya. Ia termasuk salah seorang kepercayaan para pemimpin prajurit dari Pajang.”

“Yang seorang lagi?” bertanya Paksi.

“Aku tidak melihat orang itu,” jawab Wijang. “Bagaimana aku dapat mengenalinya. Jika saja kau mempunyai ilmu yang dapat memantulkan bayangan yang pernah kau tangkap lewat penglihatanmu, aku tentu akan dapat menyebutnya.”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab, “Aku akan mempelajari ilmu itu. Pangeran Benawa tentu menguasainya. Aku akan mohon untuk diajarinya.”

“Kau kira ia memiliki ilmu itu? Ia pun tidak memilikinya. Aku pernah bertanya kepadanya.”

Paksi mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun tertawa. Katanya, “Seandainya Pangeran Benawa mempunyainya, ia tentu tidak akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu.”

Wijang pun tertawa pula. Katanya, “Kau memang keras kepala.”

Keduanya pun   melangkah   terus   memanjat   kaki   Gunung

Merapi. Di langit yang bersih nampak asap putih mengepul tinggi, menyatu dengan selembar awan tipis yang mengalir lambat.

“Nah,” berkata Wijang selanjutnya, “kita akan melanjutkan rencana kita untuk mengenali medan sebaik-baiknya.”

“Sekarang saja. Kita akan mengulanginya malam nanti. Mungkin besok siang dan besok malam lagi.”

Paksi mengangguk kecil. Namun ia tidak membantah.

Keduanya pun kemudian telah pergi ke lapangan rumput yang agaknya akan dipergunakan sebagai tempat untuk sebuah pertemuan yang penting. Pertemuan dari para pemimpin perguruan yang bersama-sama ingin memiliki sebuah cincin yang mereka percaya dapat mempengaruhi perjalanan hidup mereka, atau keturunan mereka.

Namun mereka sadar, bahwa mereka harus berhati-hati. Apalagi di siang hari. Mereka harus memperhitungkan kemungkinan bahwa ada di antara orang-orang perguruan yang berkeliaran di tempat itu pula.

Keduanya pun kemudian telah menyusup di antara gerumbul-gerumbul perdu di lereng Gunung Merapi. Semakin lama semakin dekat dengan lapangan rumput itu.

Ketika keduanya sampai di tempat itu, ternyata tidak seorang pun berada di sekitar tempat itu. Wijang dan Paksi telah mengelilingi tempat itu pula sehingga mereka yakin, bahwa memang tidak ada orang yang berada disana.

Dengan demikian, maka keduanya pun telah memasuki lapangan rumput itu. Mereka memperhatikan batu persegi yang ada di tengah-tengahnya. Batu besar persegi ampat itu agaknya memang telah dibuat oleh seseorang untuk kepentingan tertentu.

Wijang dan Paksi tidak dapat menduga untuk apa batu itu dibentuk menjadi seperti itu.

Beberapa saat kemudian, mereka pun telah memperhatikan lingkungan di sekitar lapangan rumput itu. Mereka memperhatikan sebatang pohon preh yang besar tumbuh di salah satu sudutnya.

Di sekitar pohon itu, tumbuh semak-semak yang rimbun, sehingga akan dapat menjadi tempat bersembunyi yang baik.

“Tetapi tempat ini terlalu dekat, sehingga orang-orang berilmu tinggi itu akan dapat mendengar desir yang lembut sekalipun,” berkata Paksi.

“Jika kita memiliki kemampuan menyerap bunyi karena sentuhan tubuh kita, maka mereka tidak akan mendengarnya betapa pun tajam pendengaran mereka,” jawab Wijang.

Paksi mengangguk. Ia pun sudah terlatih dengan baik, serta telah menguasai kemampuan untuk menyerap bunyi sebagaimana dimaksud oleh Wijang. Tetapi bagaimanapun juga, mereka harus menjadi sangat berhati-hati jika mereka ingin berada di sekitar pohon preh itu saat mereka akan menyaksikan pertemuan orang-orang dari berbagai perguruan itu.

Tetapi Wijang pun kemudian berkata, “Kita akan melihat keadaan di sekitar tempat ini. Mungkin kita akan menemukan tempat yang lain. Tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh.”

Paksi mengangguk-angguk, sementara Wijang berkata pula, “Ingat. Mereka memilih malam yang paling gelap. Tetapi bukankah kau telah memiliki ilmu Sapta Pandulu?”

“Ya. Aku menerima ilmu itu dari Ki Marta Brewok.”

“Sapta Pangrungu?”

“Ya.”

“Bagus. Dengan demikian, kita tidak perlu berada di tempat yang terlalu dekat. Kita akan dapat menyadap pembicaraan mereka dari jarak yang agak jauh.”

Demikianlah, maka keduanya pun telah melihat semua sisi lapangan rumput itu serta sekitarnya. Mereka telah melihat dan mempelajari lingkungan itu sebaik-baiknya. Mereka sudah mengetahui, sisi manakah yang paling baik mereka pilih. Bukan saja tempatnya yang mapan, tetapi jika terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan, mereka akan dapat segera menemukan jalan untuk menyingkir. Bahkan seandainya mereka dikejar oleh beberapa orang berilmu tinggi, memungkinkan mereka untuk melepaskan diri.

“Apakah kita masih akan kembali nanti malam atau besok atau kapan lagi,” bertanya Paksi.

“Nanti  malam   kita  akan   melihat  tempat  ini   dan meyakinkannya sekali lagi,” jawab Wijang.

Paksi mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berkata, “Sekarang, kita akan pulang.”

Keduanya pun kemudian meninggalkan tempat itu.

Tetapi seperti yang mereka katakan, maka ketika malam turun, keduanya pun sekali lagi telah datang ke tempat itu. Mereka ingin melihat keadaan tempat itu dan sekitarnya dalam suasana malam yang gelap, karena pertemuan itu sendiri akan dilangsungkan di malam yang paling gelap.

Beberapa saat lamanya mereka berkeliling tempat itu. Mereka berusaha untuk mengenali lingkungan itu sebaik-baiknya.

“Tidak seorang pun akan dapat menangkap kita,” berkata Wijang. “Kita tahu medannya dengan sangat baik.”

“Bagaimana jika mereka juga sudah mengenali medan ini justru lebih baik dari kita.”

“Tetapi kita akan mempunyai kesempatan lebih dahulu,” jawab Wijang.

Paksi tidak menyahut lagi. Tetapi ia pun sependapat dengan Wijang.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah kembali ke dalam gubuk kecil yang terlindung oleh gumuk-gumuk padas. Seperti biasanya, maka Paksi membuat perapian di malam hari untuk menanak nasi. Malam itu Paksi telah membuat sayur jantung pisang kepok kuning.

Sambil menunggui nasi dan sayur mereka masak, keduanya pun masih saja berbincang tentang pertemuan itu. Pertemuan yang tentu akan sangat menarik perhatian. Namun yang tidak kalah menariknya bagi Wijang adalah kehadiran para petugas sandi dari Pajang. Meskipun seorang di antara mereka mengisyaratkan, agar mereka tidak memaksa diri jika keadaannya memang sangat berbahaya karena kekuatan mereka sangat kecil.

“Tetapi aku kira mereka tentu akan datang. Aku percaya akan kemampuan Ki Rangga Suraniti. Tetapi entahlah, apakah kawannya itu mampu mengimbanginya. Jika keadaan berkembang menjadi sangat buruk bagi mereka, Ki Rangga Suraniti tentu memerlukan kawan yang pantas untuk berhadapan dengan para pemimpin padepokan itu,” berkata Wijang seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri.

Sedikit lewat tengah malam, semuanya sudah selesai. Paksi membiarkan nasinya tetap berada di atas api yang sudah disusut menjadi sangat kecil. Sementara itu, setelah mencuci kaki dan tangan mereka, maka Paksi dan Wijang itu pun segera beristirahat di dalam gubuk mereka.

Keduanya tidak memerlukan waktu yang panjang. Beberapa saat saja mereka berbaring, maka mereka pun segera tertidur dengan nyenyaknya.

Di hari berikutnya, maka keduanya tidak turun ke pasar. Keduanya  benar-benar  telah  mempersiapkan  diri  untuk menyongsong   pertemuan   para   pemimpin   perguruan   yang nampaknya akan menjadi sangat menarik. Justru karena mereka mempunyai kepentingan mereka masing-masing.

Waktu pun telah meloncat dari hari ke hari. Paksi dan Wijang mengisi hari-harinya di dalam goa di belakang air terjun. Dalam waktu sempit yang tersisa mereka berusaha untuk semakin mematangkan ilmu mereka. Paksi menjadi semakin mengenal tongkatnya, sedangkan Wijang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi itu membiasakan diri menguasai ruang yang rumpil. Wijang berlatih di antara batu-batu yang menjorok seakan-akan mencuat dari dalam tanah, namun juga yang menggantung di langit-langit goa. Dengan tangkasnya, Wijang bergerak-gerak di antara ujung-ujung batu yang runcing, seakan-akan ia sedang bertempur di antara beberapa orang lawannya.

Bahkan Wijang pun kemudian telah minta Paksi juga melakukannya. Bukan saja di siang hari saat matahari menembus masuk lewat lubang di atas goa itu, tetapi Wijang pun telah mengajak Paksi berlatih bersama di malam hari. Mereka berlatih bertempur di dalam kegelapan di sela-sela ujung-ujung batu yang runcing.

“Hati-hati,” pesan Wijang. “Jika dahimu membentur ujung batu runcing yang bergayut di langit-langit goa ini, maka kau akan terluka. Kau juga tidak boleh terjatuh menimpa ujung-ujung batu yang mencuat dari lantai goa ini.”

Paksi mengangguk. Ia menyadari bahaya yang dapat mencengkamnya. Tetapi berlatih di tempat yang berbahaya itu menjadi sangat menarik bagi Paksi. Ia rasa-rasanya memang sudah jenuh berlatih di ruang yang terhitung luas di dalam goa itu, yang pada dindingnya terdapat lukisan unsur-unsur gerak yang dapat menuntunnya untuk mencapai tataran tertinggi dari ilmunya.

Dengan demikian, maka ketrampilan Paksi pun menjadi semakin meningkat. Berlandaskan ilmunya yang tinggi, maka

Paksi benar-benar menjadi anak muda yang mumpuni. Seperti yang dikatakan Wijang, maka latihan di tempat yang rumpil itu merupakan latihan yang baik baginya jika pada suatu saat ia harus bertempur menghadapi lawan yang tidak hanya seorang.

Ujung-ujung batu yang runcing, yang mencuat dari lantai goa serta yang bergayut di langit-langit seakan-akan merupakan ujung-ujung senjata dari beberapa orang lawannya yang bertempur bersama-sama.

Namun demikian Wijang masih juga memperingatkan, “Ujung bebatuan itu tetap di tempatnya Paksi, sedangkan senjata lawan dapat bergerak dengan cepat. Mungkin memburumu, tetapi mungkin menghadang gerakmu sendiri.”

Paksi mengangguk-angguk. Ia juga menyadari akan hal itu.

Dalam pada itu, maka hari pun telah merambat sampai ke akhir bulan. Paksi dan Wijang yang di malam itu tidak berlatih, duduk di depan gubuk kecil mereka. Sinar lampu minyak yang menyala di dalam gubuk, menembus melalui pintu yang terbuka, menusuk kegelapan malam. Angin lembut yang berhembus menggoyang lidah api lampu minyak itu sehingga kadang-kadang sinarnya menjadi redup.

Sambil makan jagung bakar, Paksi dan Wijang telah membicarakan rencana yang akan mereka lakukan esok malam.

“Besok hari pertama bulan mendatang,” desis Wijang.

“Kita sudah mengenal semuanya dengan baik,” desis Paksi.

“Kita akan melihat-lihat tempat itu pula malam ini. Mungkin ada sesuatu yang menarik.”

“Mungkin sudah ada di antara orang-orang dari perguruan yang terlibat dalam pertemuan itu mengawasi tempat itu.”

“Tentu sudah ada. Kita akan mencoba, apakah kita mampu menempatkan diri kita di luar tangkapan pengamatan mereka. Jika malam ini saja kita tidak mampu melakukannya, apalagi besok malam.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan melihat-lihat keadaan.”

“Kita akan mendekati tempat itu di tengah malam.”

Sebenarnyalah kedua orang anak muda itu menjelang tengah malam telah meninggalkan gubuk kecil mereka. Paksi telah membawa tongkatnya pula, karena sesuatu akan mungkin terjadi. Sementara itu, Wijang telah mengenakan lembaran kulit yang cukup lebar di atas pergelangan kedua tangannya di bawah lengan bajunya.

Di luar sadarnya, Paksi memandangi pelindung pergelangan tangan Wijang itu dengan kerut di dahi. Ia tidak pernah melihat benda itu sebelumnya.

“Kau ingin tahu, dimana aku menyembunyikan mainanku ini?” bertanya Wijang.

Paksi tidak menyahut. Tetapi ia mengangguk kecil.

Wijang tertawa. Katanya, “Lebarnya sama dengan lebar ikat pinggangku.”

Paksi mengangguk-angguk. Agaknya pelindung pergelangan tangan Wijang itu melekat pada ikat pinggangnya. Karena lebarnya sama, maka ikat pinggang Wijang itulah yang nampak lebih tebal dari ikat pinggang kulit kebanyakan.

Namun Paksi tahu bahwa pelindung bagian atas pergelangan tangan Wijang itu tentu merupakan bagian dari kelengkapan Wijang menghadapi senjata jenis apa pun juga. Sebuah perisai kecil, namun yang dapat dipercayainya.

Beberapa saat kemudian, maka keduanya telah mendekati sasaran. Karena itu keduanya menjadi sangat berhati-hati.

Seperti yang telah mereka duga, maka tempat itu benar-benar sudah diamankan. Beberapa orang berkeliaran di lapangan rumput itu. Agaknya mereka berdatangan dari beberapa perguruan yang bersama-sama mengawasi tempat yang esok malam akan dipergunakan untuk menyelenggarakan pertemuan dari beberapa orang pemimpin perguruan.

Wijang dan Paksi pun kemudian telah berada di tempat yang mereka pilih untuk mengamati keadaan. Dari tempatnya, ia mampu mengamati lapangan rumput itu dengan jelas. Dengan ketajaman pendengaran mereka, apalagi dengan kemampuan Aji Sapta Pangrungu, mereka akan dapat mendengar pembicaraan orang-orang yang berada di lapangan rumput itu.

“Ternyata kita tidak salah hitung. Karena tidak ada isyarat apa-apa, maka pertemuan itu memang diselenggarakan disini,” desis Wijang.

Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Sementara itu, beberapa orang yang berada di lapangan rumput itu telah melihat-lihat keadaan di sekitarnya. Mereka telah menguak gerumbul-gerumbul perdu. Mereka telah mengelilingi pohon preh yang besar itu. Mereka telah menyibak semak-semak sampai beberapa langkah di sekitar lapangan itu.

Agaknya mereka mengamati tempat-tempat yang mungkin untuk bersembunyi orang-orang yang tidak berhak mengikuti pembicaraan yang akan diselenggarakan itu.

Tetapi tidak seorang  pun di antara mereka yang menemukan Wijang dan Paksi. Selain mereka mampu menyerap bunyi yang timbul dari geseran tubuh mereka, mereka pun berada di tempat yang tidak terlalu dekat.

Agaknya orang-orang yang mengamati tempat akan dilangsungkannya pertemuan itu mengira bahwa dari jarak yang tidak terlalu dekat itu, seseorang tidak akan dapat melihat dan mendengar dengan jelas pembicaraan yang akan berlangsung.

Namun tiba-tiba di sisi lain dari lapangan itu telah terjadi keributan. Wijang dan Paksi melihat beberapa orang berlari-larian. Mereka dengan cepat membuat sebuah lingkaran yang rapat di sela-sela gerumbul-gerumbul perdu.

“Apa yang terjadi disana?” desis Wijang.

Paksi tidak menyahut. Tetapi dengan wajah yang tegang ia memperhatikan apa yang terjadi di sisi lain dari lapangan rumput itu.

“Mereka mengepung semak-semak itu,” gumam Wijang dengan nada cemas. “Tentu ada seseorang atau lebih disana.”

“Nampaknya memang begitu,” sahut Paksi. “Tentu bukan Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung.”

Wijang mengangguk. Katanya, “Aku mencemaskan Ki Rangga Suraniti atau kawannya itu. Ki Rangga memang berilmu tinggi. Tetapi aku tidak tahu tataran yang sebenarnya dari kemampuannya.”

Paksi mengangguk-angguk kecil. Wajahnya menjadi semakin tegang ketika ia mendengar seseorang berteriak, “Keluarlah. Kau sudah dikepung. Kau tidak akan dapat melepaskan diri dan tangan kami.”

Tidak ada jawaban. Namun sementara itu, Wijang pun berkata lirih, “Samarkan wajahmu.”

“Maksudmu?”

“Mungkin kita harus berbuat sesuatu jika orang yang berada dalam kepungan itu mengalami kesulitan.”

“Maksudmu, mungkin kita akan melibatkan diri namun wajah kita tidak dikenal oleh orang-orang dari beberapa perguruan yang berada di lapangan itu?”

“Yang terpenting bagiku adalah justru agar tidak dikenal oleh Ki Rangga Suraniti, seandainya ia ada disana. Aku tidak ingin keberadaanku disini diketahui oleh orang-orang istana,” jawab Wijang

“Tetapi bagaimana aku dapat menyamarkan wajahku?”

Wijang tidak menjawab. Tetapi tangannya segera memungut tanah yang basah oleh embun. Tanah yang basah itu pun kemudian telah diusapkan di wajahnya.

Paksi mengerutkan dahinya. Namun dengan demikian, maka wajah Wijang itu pun menjadi sulit untuk dikenali.

“Cepat lakukan,” berkata Wijang. “Apalagi Ki Rangga telah pernah bersamamu membeli dawet cendol.”

Paksi pun kemudian telah melakukan sebagaimana dilakukan oleh Wijang. Dengan tanah yang basah oleh embun, maka Paksi pun telah menyamarkan wajahnya.

“Apakah kau sudah tidak mengenal aku?” bertanya Paksi.

Wijang tertawa, “Kau menjadi tampan sekarang.”

Paksi tidak menjawab. Tetapi segores lagi ia mengusapkan tanah basah itu di dahi.

Dalam pada itu keadaan menjadi semakin gawat. Orang-orang dari beberapa perguruan yang sedang mempersiapkan tempat bagi para pemimpin mereka yang akan mengadakan pertemuan itu semakin rapat mengepung gerumbul perdu di sisi seberang lapangan rumput itu.

Sementara itu, terdengar lagi seseorang berteriak, “Cepat keluar, atau kami akan merajammu dengan senjata.”

Namun orang-orang yang mengepung tempat itu terkejut. Di luar perhitungan mereka, tiba-tiba seseorang telah meloncat, justru dari sebuah gerumbul lain yang tidak mereka kepung.

Dengan pedang di tangan orang itu langsung menyerang orang-orang yang berdiri melingkari itu.

Pertempuran pun segera terjadi. Orang itu dengan tangkasnya berloncatan menyambar-nyambar. Seorang di antara mereka yang mengepung gerumbul itu telah terlempar dengan luka menyilang di dadanya.

“Setan kau,” terdengar seseorang berteriak. “Tangkap hidup-hidup orang ini. Kita ingin tahu siapakah orang yang sombong ini.”

Wijang tercenung sejenak. Ia telah memusatkan nalar budinya untuk mengetrapkan puncak Aji Sapta Pandulu.

“Ki Rangga Suraniti,” desis Wijang. “Ternyata orang yang dikepung itu orang lain. Mungkin kawan Ki Rangga atau prajurit yang menyertainya atau siapa pun juga. Tetapi orang-orang itu ternyata tidak mampu mengetahui kehadiran Ki Rangga itu sendiri.”

Paksi mengangguk-angguk. Ia pun mengamati pertempuran itu dengan saksama. Seperti Wijang, Paksi pun telah mengetrapkan Aji Sapta Pandulu.

Ketika pertempuran itu menjadi semakin sengit, beberapa orang telah meloncat dari gerumbul yang telah dikepung itu, justru pada saat perhatian orang-orang yang mengepungnya tertuju kepada Ki Rangga Suraniti.

Kedua orang itu telah mengejutkan beberapa orang yang telah bersiap-siap untuk bergeser dan mengepung Ki Rangga Suraniti.

Dengan demikian, maka pertempuran pun menjadi semakin sengit. Tetapi orang-orang yang datang dari beberapa perguruan itu jumlahnya jauh lebih banyak dari para petugas sandi itu.

Meskipun demikian, Ki Rangga Suraniti sempat membuat lawan-lawannya menjadi cemas. Kakinya berloncatan bagaikan tidak menyentuh tanah. Sementara itu, pedangnya berputaran dengan cepat, sehingga yang nampak adalah segumpal awan putih di sekitar tubuhnya yang berloncatan.

Dalam pada itu, dua orang kawannya yang semula telah dikepung itu pun bertempur dengan garangnya pula. Seorang di antara mereka bersenjata sebilah pedang. Namun yang lain membawa dua buah bindi kecil di kedua tangannya.

“Ki Nukilan,” desis Wijang.

“Yang mana?” bertanya Paksi.

“Yang membawa sepasang bindi,” sahut Wijang. “Ia juga seorang berilmu tinggi. Tetapi nampaknya ia tidak memiliki kemampuan untuk menyerap bunyi dari geseran tubuhnya, sehingga kehadirannya segera diketahui.”

“Yang seorang lagi?” bertanya Paksi.

“Aku belum begitu mengenalnya. Tetapi nampaknya ia adalah orang yang paling lemah di antara ketiga petugas sandi itu.”

Paksi tidak bertanya lagi. Ia memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Setiap kali jantungnya menjadi berdebar-debar. Ketiga orang itu harus bertempur melawan terlalu banyak orang.

Ki Rangga Suraniti segera menunjukkan betapa ia memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun demikian, karena jumlah lawannya terlalu banyak, maka ia harus bekerja sangat keras untuk melindungi dirinya sendiri.

Sementara itu Ki Nukilan pun telah bertempur melawan beberapa orang pula. Demikian pula kawannya yang seorang lagi.

Ternyata di antara orang-orang yang datang dari perguruan itu pun terdapat orang-orang yang memiliki bekal yang cukup.

Orang-orang itulah yang membuat Ki Rangga Suraniti dan kawan-kawannya harus menjadi sangat berhati-hati. Bahkan mereka pun kemudian mulai berloncatan mengambil jarak serta menghindari serangan-serangan yang datang dari segala arah.

Meskipun satu dua orang lawan Ki Rangga Suraniti dan Ki Nukilan sudah terlempar dari arena, tetapi yang lain pun segera menggantikannya.

Bahkan seorang yang bertubuh pendek dengan otot-otot yang mencuat dari permukaan kulitnya, berkumis kecil dan berkepala botak segera berteriak, “Beri aku kesempatan. Aku ingin tahu, seberapa tinggi ilmu orang ini.”

Orang-orang yang bertempur melawan Ki Rangga Suraniti memang menyibak. Orang pendek berkepala botak itu segera melangkah   mendekatinya.   Tetapi   ternyata   ia   tidak  sendiri.

Bersama lima orang yang tubuhnya juga terhitung pendek telah mengepungnya.

Tiba-tiba saja Wijang pun berdesis, “Satu pasang lengkap dari anak-anak Perguruan Sad.”

“Enam orang,” sahut Paksi.

“Dalam pasangannya yang lengkap, mereka menjadi sangat berbahaya. Jika mereka sudah sampai tataran yang mapan, maka dengan saling mengisi, kemampuan mereka akan dapat hampir menyamai kemampuan pemimpin tertinggi mereka.”

“Apakah Ki Rangga Suraniti akan dapat melawan mereka?” bertanya Paksi.

“Aku belum tahu. Tetapi aku tidak dapat membiarkan para petugas sandi itu mengalami malapetaka disini.”

“Maksudmu?”

“Jika perlu kita akan melibatkan diri.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Terserah kepadamu. Aku sudah siap.”

Wijang pun memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Ki Rangga Suraniti berusaha untuk melawan enam orang yang ternyata menjadi sangat berbahaya. Mereka mampu saling mengisi dengan baik, sehingga seakan-akan mereka digerakkan oleh satu kehendak.

Sementara itu, Ki Nukilan harus bertempur melawan beberapa orang dari perguruan yang lain. Di antara mereka adalah orang-orang dari Tegal Arang. Sementara itu, tiga orang dari Perguruan

Goa Lampin tengah bertempur dengan kawan Ki Nukilan yang seorang lagi. Bersama ketiga orang dari Goa Lampin itu masih ada tiga orang dari perguruan yang lain.

Selain mereka yang sedang bertempur itu, masih ada beberapa orang yang belum melibatkan diri. Di antaranya dua orang perempuan yang nampaknya dari Goa Lampin. Sedangkan dua orang yang tidak diketahui oleh Wijang dan Paksi sedang menolong kawan mereka yang terluka. Kedua orang itu tentu akan menjadi sangat berbahaya jika kawannya yang terluka itu tidak tertolong jiwanya. Sementara itu seorang lagi juga sedang membantu kawannya yang terluka bergeser menjauh.

Dalam pada itu, seorang yang masih belum memasuki arena berteriak, “Kami memberikan kesempatan kepada kalian untuk menyerah.   Kalian  tidak  akan  dibunuh.   Apalagi jika  kalian bersedia bekerja bersama kami.”

Tidak ada jawaban. Sementara Ki Rangga Suraniti bertempur semakin garang. Tetapi keenam lawannya pun menjadi semakin garang pula. Serangan-serangan mereka datang beruntun dari arah yang berbeda-beda. Bahkan kadang-kadang keenam orang dari Perguruan Sad itu bertempur sambil berputaran. Mereka melonjak-lonjak seperti anak-anak yang sedang kegirangan. Mereka mengacu-acukan senjata mereka. Namun tiba-tiba saja mereka menyuruk dengan pedang terjulur ke arah tubuh Ki Rangga Suraniti.

Yang kemudian menjadi semakin terdesak adalah kawan Ki Rangga Suraniti yang bersenjata pedang. Keadaannya menjadi sangat berbahaya. Sehingga ia benar-benar berada di ujung bencana.

Wijang tidak dapat tinggal diam. Sekali lagi ia menggoreskan tanah yang basah oleh embun menyilang di wajahnya sehingga wajah yang kotor itu memang sulit untuk dikenali. Sementara itu, Wijang sama sekali tidak mempergunakan senjata yang dapat menjadi ciri tentang dirinya. Kulit yang melindungi bagian atas pergelangannya, yang juga akan dapat menjadi perisai yang kuat, berada di bawah lengan bajunya.

Sambil menggamit Paksi ia pun berkata, “Marilah. Bawa tongkatmu. Mereka cukup berbahaya.”

Sekejap kemudian keduanya pun telah merunduk mendekati lapangan rumput. Mereka melingkari lapangan itu dan dengan serta-merta muncul tidak terlalu jauh dari pohon preh yang besar itu.

Kehadiran mereka berdua telah membuat orang-orang yang berada di lapangan itu terkejut pula. Ketika Wijang dan Paksi berlari mendekati arena pertempuran, maka orang-orang yang masih belum terlibat, segera memburu mereka.

Namun Wijang berlari dengan cepat dan menempatkan diri di dekat petugas sandi yang bersenjata pedang, yang bertempur tidak terlalu jauh dari Ki Nukilan.

“Bertahanlah, aku berdiri di pihakmu.”

“Kau siapa?” bertanya orang itu.

Pertanyaan itu membuat Wijang berlega hati. Orang itu ternyata tidak mengenalinya setelah wajahnya dikotorinya dengan tanah yang basah oleh embun.

Namun Wijang itu pun kemudian menjawab, “Namaku Gendon. Itu adikku. Namanya Sempon.”

“Kenapa kau melibatkan diri,” Ki Nukilan yang bertempur dengan sepasang bindi di kedua tangannya, yang mendengar pengakuan Wijang itu, bertanya pula sambil berloncatan menghindari serangan-serangan lawannya.

“Aku senang,” jawab Wijang seenaknya. “Sudah sepekan aku tidak berkelahi. Rasa-rasanya tubuhku menjadi pegal-pegal.”

“Kenapa kau berpihak kami,” bertanya Ki Nukilan pula.

“Jumlah mereka sudah terlalu banyak. Aku berpihak pada yang jumlahnya lebih sedikit.”

“Jangan main-main,” teriak Nukilan pula, “mereka adalah orang-orang yang berbahaya.”

“Itulah yang menyenangkan,” teriak Wijang yang sudah mulai terlibat dalam pertempuran.

Wijang yang semula tidak bersenjata itu telah menggenggam sepasang pisau. Bentuknya memang mirip sepasang pisau belati yang sederhana. Tetapi bilah dari sepasang pisau itulah yang tidak sederhana. Bilah yang berwarna kehitam-hitaman ini bagaikan memercikkan bunga api yang memancar di gelapnya malam.

Tetapi Wijang sudah memperhitungkan dengan baik. Sepasang senjatanya itu bukan ciri senjata Pangeran Benawa, sehingga para petugas sandi itu tidak menghubungkannya dengan seorang pangeran yang menghilang dari istana.

Sementara itu, Paksi pun telah terlibat pula dalam pertempuran melawan beberapa orang. Tongkatnya berputaran dengan cepat melindungi tubuhnya. Namun kemudian tiba-tiba terjulur mematuk perut seorang di antara lawan-lawannya.

Orang itu pun terdorong beberapa langkah surut. Namun kemudian kedua tangannya memegangi perutnya yang berdarah.

Sejenak kemudian ia pun jatuh pada lututnya sambil terbungkuk-bungkuk kesakitan.

Di putaran pertempuran yang lain, dua orang di antara lawan Wijang pun telah terlempar pula. Seorang terluka di lambungnya, seorang terluka di pundaknya.

Dengan demikian, pertempuran pun menjadi sengit. Beberapa orang yang sebelumnya masih belum melibatkan diri telah bertempur dengan garangnya melawan kedua orang anak muda itu. Namun karena wajah mereka disamarkan, maka orang-orang dari beberapa perguruan yang ada di tempat itu, tidak segera mengenalinya.

Dalam pertempuran itu, Paksi mendapat kesempatan untuk menguji kemampuannya. Dihadapinya beberapa orang lawan. Namun Paksi berhasil melindungi dirinya dengan sebaik-baiknya. Serangan beberapa orang lawannya tidak sempat menyentuh tubuhnya. Sementara itu, seorang lagi telah tersingkir dari pertempuran ketika tongkat Paksi memukul bahunya dengan kerasnya, sehingga rasa-rasanya tulang-tulangnya menjadi pecah karenanya.

Sementara itu, Wijang dengan sengaja telah bertempur semakin dekat dengan petugas sandi yang bersenjata pedang itu. Wijang memang berusaha untuk membantunya. Satu dua orang yang semula bertempur bersama melawan petugas sandi itu, kemudian seakan-akan telah terhisap untuk bertempur bersama-sama melawan Wijang.

Keseimbangan pertempuran pun segera berubah. Orang-orang dari beberapa perguruan itu tidak lagi meyakini bahwa mereka akan dapat menangkap lawan-lawan mereka. Karena itu, tidak ada lagi di antara mereka yang tidak ikut melibatkan diri dalam pertempuran itu.

Ki Rangga Suraniti yang bertempur melawan enam orang lawan dari Perguruan Sad itu harus mengerahkan kemampuannya. Tetapi Ki Rangga memang seorang yang berilmu tinggi, yang memiliki kelebihan dari para prajurit dan para perwira yang lain. Karena itu, maka keenam orang murid Perguruan Sad itu tidak segera dapat menguasainya. Bahkan semakin lama mereka pun menjadi semakin sulit menghadapinya.

Orang-orang yang bertubuh rata-rata agak pendek itu telah mengerahkan kemampuan mereka. Berenam mereka memang menjadi sangat berbahaya. Tetapi lawan mereka pun sangat berbahaya pula. Keenam orang dari Perguruan Sad yang juga bersenjata pedang itu berusaha untuk mengacaukan pemusatan perhatian Ki Suraniti. Tetapi Ki Rangga sama sekali tidak menjadi bingung. Meskipun keenam orang itu kadang-kadang berloncatan, berlari-lari mengelilinginya, kemudian menyerang bersama-sama atau beruntun seperti gelombang, namun pertahanan Ki Rangga Suraniti tidak dapat mereka tembus. Bahkan sekali-sekali Ki Rangga menghentakkan kemampuannya dan mengacaukan kepungan lawan-lawannya. Namun beberapa saat kemudian, maka orang-orang yang bertubuh agak pendek itu telah berputaran kembali di sekelilingnya.

Sementara itu, Ki Nukilan pun bertempur dengan garangnya pula. Seorang lagi jatuh terlentang dan tidak lagi mampu bangkit berdiri. Dengan susah payah orang itu merangkak menjauh, agar tidak terinjak kaki orang-orang yang sedang bertempur itu.

Lawan Wijang dan Paksi pun telah berkurang seorang demi seorang. Kedua orang anak muda itu telah menunjukkan kemampuan mereka yang tinggi. Ki Nukilan dan Ki Rangga Suraniti yang sekali-sekali sempat melihat betapa keduanya berloncatan dengan garang, merasa heran, bahwa dua orang yang tidak mereka kenal tiba-tiba saja telah melibatkan diri.

Namun ketiga orang petugas sandi itu mengakui, tanpa kehadiran kedua orang itu, maka mereka tidak akan mampu keluar dari lingkungan itu. Betapa pun tinggi kemampuan mereka, tetapi lawan terlalu banyak. Tetapi berlima mereka ternyata mampu mengatasi lawan-lawan mereka.

Orang-orang dari beberapa perguruan itu akhirnya menyadari, bahwa sulit bagi mereka untuk dapat mengatasi kemampuan kelima orang itu. Apalagi ketika Ki Rangga Suraniti berhasil melukai dua orang dari Perguruan Sad itu. Ketika keutuhan mereka mulai goyah, maka mereka pun segera menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat mengalahkan orang yang berada di dalam kepungan itu.

Seorang di antara keenam orang dari Perguruan Sad itu tiba-tiba saja berteriak nyaring sambil mengumpat kasar. Menyusul seorang lagi terpelanting jatuh. Dari dada mereka mengalir darah yang hangat.

Dalam keadaan yang sulit itu, selagi mereka masih mempunyai kekuatan, maka tiba-tiba saja terdengar seseorang berteriak, “Kita akan menghindar. Tinggalkan mereka.”

Beberapa orang menjadi ragu-ragu. Namun sekali lagi terdengar suara itu, “Kita akan bergabung dan meninggalkan tempat ini. Lemparkan isyarat panah sendaren.”

Tiba-tiba saja orang-orang yang sedang bertempur itu telah berloncatan meninggalkan lawan-lawan mereka. Mereka kemudian berada di dalam satu kelompok sambil bergerak mundur. Seorang di antara mereka benar-benar telah melontarkan panah sendaren.

Ketiga petugas sandi itu menjadi ragu-ragu untuk mengejar mereka. Apalagi ketika salah seorang di antara mereka telah melemparkan panah sendaren.

Ki Rangga Suraniti lah yang kemudian berkata, “Kita tinggalkan tempat ini.”

“Baik,” desis Wijang, “aku juga sudah lelah.”

“Tetapi, katakan kau siapa, Ki Sanak?”

“Kita akan meninggalkan tempat ini.”

“Jawab dulu pertanyaanku.”

Wijang tertawa sambil menjawab, “Sudah aku katakan. Namaku Gendon dan itu adikku, Sempon.”

“Jangan main-main, Ki Sanak.”

Tetapi Wijang justru bertanya, “Siapakah kalian?”

Ki Rangga Suraniti menggeram. Katanya, “Aku bertanya, siapakah kalian.”

Wijang pun kemudian menggamit Paksi sambil berkata, “Marilah, sebelum orang-orang yang menerima isyarat panah sendaren itu datang. Jika jumlah mereka terlalu banyak, maka kita tidak akan mampu melawan.”

Paksi tidak menjawab. Tanpa menghiraukan ketiga orang petugas sandi itu, maka Wijang dan Paksi pun melangkah meninggalkan lapangan rumput itu.

Ki Rangga Suraniti tidak mau terjebak dalam pertempuran yang tidak seimbang. Jika kedua orang yang telah membantunya itu pergi, maka mereka bertiga akan mengalami kesulitan untuk bertempur melawan jumlah yang terlalu banyak, apalagi jika panah sendaren itu benar-benar telah memanggil beberapa orang lainnya.

Karena itu, maka Ki Rangga Suraniti pun telah mengajak kedua orang petugas sandi yang lain untuk meninggalkan tempat itu.

Namun sebenarnyalah, bahwa Wijang dan Paksi tidak benar-benar meninggalkan tempat itu. Mereka masih ingin melihat, apakah ada tanggapan terhadap panah sendaren yang telah dilemparkan ke udara itu.

Dengan sangat berhati-hati keduanya telah melingkar, menyusup di antara semak-semak perdu yang rimbun di sebelah lapangan rumput itu.

Untuk beberapa lama mereka tidak melihat sesuatu. Orang-orang yang semula berkumpul di tempat terbuka itu pun sudah bergerak menjauh. Namun beberapa orang yang terluka dan bahkan mungkin ada yang sudah terbunuh, masih berada di tempat terbuka itu.

“Kawan-kawannya tentu masih akan kembali,” desis Wijang.

Sebenarnyalah beberapa orang bersenjata telah muncul. Dua orang yang lain menyongsong mereka sambil berkata lantang, “Tidak ada yang berbuat curang.”

“Jadi untuk apa isyarat panah sendaren itu?”

“Justru ada orang lain yang mencoba mengintip persiapan bagi pertemuan esok.”

“Siapa?”

“Kami belum tahu.”

“Dimana mereka sekarang?”

“Mereka berhasil melarikan diri.”

“Berapa orang?”

“Kami tidak menghitung.”

Wijang dan Paksi tersenyum. Nampaknya mereka merasa malu untuk menyebutkan, bahwa mereka bertempur melawan hanya lima orang.

Orang-orang yang baru datang itu termangu-mangu. Namun kemudian orang-orang yang semula menghindar dari tempat terbuka itu pun telah berada di tempat itu lagi.

“Rawat orang-orang yang terluka dan kita singkirkan yang terbunuh. Besok tempat ini harus benar-benar bersih.”

“Tetapi tempat ini sudah diketahui oleh orang lain. Kami tidak tahu siapakah mereka itu.”

“Kalian tidak mengenal sama sekali unsur-unsur gerak dari ilmu mereka?”

“Tidak. Tetapi seorang di antara mereka bersenjata tongkat.

Yang lain wajar saja. Pedang dan seorang di antara mereka, sepasang bindi. Tetapi agaknya mereka terdiri dari dua kelompok yang berbeda.”

“Baiklah. Kita akan melaporkan kepada pemimpin kita masing-masing. Masih ada waktu sehari untuk saling berhubungan.”

“Terserah kepada mereka, apakah mereka besok masih akan berbicara di antara mereka disini.”

“Jika besok pertemuan itu dibatalkan, maka Repak Rembulung dan Pupus Rembulung akan marah.”

“Bukankah besok masih ada waktu untuk memberitahukan kepada mereka bahwa pertemuan dibatalkan?”

“Tidak seorang  pun tahu dimana mereka tinggal sekarang.”

Tetapi seorang yang berambut panjang terurai menjulur dari bawah ikat kepalanya berkata, “Lurahku tahu dimana Repak Rembulung tinggal. Setidak-tidaknya lingkungannya atau orang-orang yang berhubungan dengan kedua orang suami isteri itu.”

“Jadi?”

“Jika para pemimpin perguruan kita memutuskan untuk menunda atau memindahkan pertemuan ini, biarlah aku yang mencari hubungan dengan Ki Repak Rembulung.”

“Baiklah. Besok kita akan saling berhubungan. Ada tiga tempat yang sudah kita tentukan untuk saling mendapatkan keterangan.”

Demikianlah, maka orang-orang yang ada di tempat terbuka itu pun segera meninggalkan tempat itu. Yang terluka telah dirawat oleh kawan-kawan mereka. Wijang dan Paksi tidak dapat mengetahui, apakah di antara mereka ada yang terbunuh.

Sejenak kemudian, tempat itu pun menjadi sepi. Orang-orang yang semula berkumpul untuk mempersiapkan pertemuan para pemimpin mereka harus memberikan pertimbangan-pertimbangan baru bagi pemimpin-pemimpin mereka itu.

Wijang dan Paksi pun kemudian keluar pula dari persembunyian mereka. Dengan hati-hati mereka melangkah mendekati lapangan rumput itu. Tidak seorang  pun yang tinggal.

Tetapi mereka pun kemudian tertegun. Ketajaman telinga mereka yang masih mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu itu mendengar desir lembut langkah kaki di antara semak-semak. Tidak hanya seorang, tetapi dua orang. Agaknya kedua orang itu memang tidak berhati-hati, sehingga suara semak-semak yang tersibak semakin lama menjadi semakin jelas terdengar.

Wijang dan Paksi pun segera bersembunyi di antara semak-semak. Mereka berusaha untuk menahan nafas mereka ketika mereka melihat dua orang berjalan tidak terlalu jauh dari mereka.

Ternyata keduanya adalah Repak Rembulung dan Pupus Rembulung. Keduanya langsung melangkah mengelilingi tempat terbuka itu.

“Besok pertemuan itu akan diselenggarakan disini,” berkata Repak Rembulung.

“Terlalu sepi di malam menjelang sebuah pertemuan besar yang sudah sejak lima tahun terakhir tidak diselenggarakan.”

“Tidak ada kelompok-kelompok yang melihat-lihat suasana tempat ini.”

“Atau mungkin pertemuan itu tidak dilakukan disini?”

“Tidak ada isyarat tentang hal itu.”

Pupus Rembulung mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kakang, kemarilah. Kau lihat lingkungan ini.”

Repak Rembulung pun melangkah mendekati isterinya. Keduanya pun kemudian mengamati semak-semak yang tersibak. Ranting-ranting yang berpatahan dan bahkan ketajaman penglihatan mereka telah melihat darah yang berceceran.

Wijang dan Paksi melihat keduanya berjongkok. Meraba ujung rerumputan dan daun pohon perdu. Nampaknya mereka memperhatikan percikan darah dimana-mana.

Sambil bangkit berdiri Repak Rembulung berkata, “Darah itu masih baru. Nampaknya di tempat ini baru saja terjadi pertempuran yang sengit.”

“Apakah ada di antara mereka yang curang atau perselisihan yang timbul?”

“Kita terlambat datang,” berkata Repak Rembulung.

“Aku tidak mengira bahwa terjadi pertempuran. Jika tidak terjadi sesuatu, aku kira disini masih banyak orang. Tentu setiap perguruan mengirimkan orang-orangnya untuk melihat suasana dan menjajagi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.”

“Tentu orang-orang bodoh yang sombong itu yang telah menyalakan api perselisihan disini.”

“Siapa?”

Repak Rembulung menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu yang mana, karena pada dasarnya mereka semuanya adalah orang-orang sombong dan besar kepala.”

Pupus Rembulung termangu-mangu sambil memandang berkeliling. Tetapi penglihatannya membentur kesepian. Angin pun berhenti bertiup, sehingga dedaunan pun seakan-akan sedang tertidur nyenyak.

Wijang dan Paksi harus bertahan untuk tidak bergerak. Bahkan bernafas  pun mereka lakukan dengan sangat berhati-hati. Mereka sadari bahwa jika mereka bergerak dan menyentuh daun-daun perdu sehingga bergetar, maka gerak daun-daun perdu itu akan dapat mengundang perhatian, justru karena angin berhenti bertiup.

Namun kedua orang anak muda itu mampu bertahan. Meskipun nyamuk dan semut merah menggigit kulit.

Untuk beberapa lama Repak Rembulung dan Pupus Rembulung mengamati tempat itu. Mereka pun kemudian telah berhenti di bawah pohon preh yang besar di sudut tempat yang terbuka itu. Pupus Rembulung bahkan kemudian telah duduk bersandar batangnya yang besar berlekuk-lekuk.

Tetapi Repak Rembulung kemudian berkata, “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini. Kita masih harus mendapat keterangan, apakah pertemuan esok akan tetap berlangsung.”

“Kepada siapa kita akan bertanya?”

“Kita akan mendapatkan keterangan itu esok.”

Tetapi ketika Pupus Rembulung kemudian bangkit berdiri, mereka pun telah tertegun pula. Dari arah lain, seseorang tengah melangkah ke lapangan rumput yang terbuka itu. Di belakangnya, dua orang berjalan mengiringinya.

Demikian orang itu melihat Repak dan Pupus Rembulung, mereka telah tertegun.

“Kalian telah berada disini?” bertanya orang itu.

“Gedhag Panunggul.”

Orang yang datang itu tertawa. Katanya, “Kaukah yang mengirimkan orang untuk mengacaukan persiapan pertemuan esok?”

“Buat apa aku melakukannya?” jawab Repak Rembulung.

“Mungkin kau ingin terjadi sesuatu. Mungkin tanpa alasan. Asal saja terjadi keributan. Namun lebih dari itu, dengan keributan itu, kau dapat menjajagi kemampuan orang-orang dari beberapa perguruan.”

“Untuk apa aku menjajagi kemampuan tikus-tikus itu. Aku sudah dapat mengetahui tataran kemampuan mereka. Mereka baru dapat berteriak-teriak dan mewarisi kesombongan guru-gurunya. Bahkan tataran kemampuan guru-guru mereka pun tidak perlu kami jajagi lagi.”

“Repak Rembulung,” berkata Gedhag Panunggul, “kaulah orang yang paling sombong yang pernah aku kenal. Di antara orang-orang berilmu tinggi, maka kau akan dapat terjebak oleh sikap dan kata-katamu sendiri.”

“Aku bertanggung jawab atas segala sikap dan kata-kataku,” jawab Repak Rembulung.

“Lidahmu akan dapat dipotong di hadapan banyak orang.”

Repak Rembulung itu tertawa. Namun Pupus Rembulung pun kemudian menyela, “Apa yang akan kau lakukan disini malam ini, Gedhag Panunggul?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku telah mendapat laporan bahwa disini telah terjadi pertempuran.”

“Kami terlambat datang,” sahut Pupus Rembulung. “Apakah orang-orangmu ada yang menyaksikan pertempuran itu?”

“Ya. Seorang di antara orang-orangku terluka.”

“Lalu, apakah kau datang untuk mencari orang yang melukai salah seorang pengikutmu itu?”

“Ya. Mungkin mereka sudah pergi. Tetapi mungkin pula dengan sombong mereka masih tetap berada disini sambil menunggu orang yang mungkin akan dapat mereka ajak bermain dengan lebih baik.”

Repak Rembulung mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Bagaimana dengan rencana pertemuan esok malam?”

“Menurut pendapatku, pertemuan itu harus berlangsung. Jika ada orang gila yang merunduk dan mencoba mengacaukan pertemuan kita esok, maka itu akan berarti orang itu akan menyurukkan kepalanya ke mulut seekor buaya.”

“Bagus,” berkata Repak Rembulung. “Orang itu harus ditangkap hidup-hidup. Kita harus tahu, siapakah mereka dan untuk apa mereka mengamati kita.”

Gedhag Panunggul itu pun kemudian mengamati semak-semak yang berserakan. Darah yang berceceran dan keterangan dari kedua orang pengikutnya yang menyaksikan pertempuran itu.

“Mereka hanya lima orang yang terdiri dari dua kelompok yang berbeda. Bahkan tidak saling mengenal,” desis Gedhag Panunggul.

“Gila,” geram Pupus Rembulung. “Apa kerja orang-orang kalian jika menghadapi lima orang saja mereka tidak mampu? Berapa banyak orang yang sedang berada disini ketika pertempuran itu terjadi? Lima orang, enam orang atau berapa?”

Gedhag Panunggul tertawa. Katanya, “Buat apa kita harus malu. Menurut laporan orang-orangku, disini berkumpul lebih dari duapuluh lima orang saat pertempuran itu terjadi.”

“Lebih dari duapuluh lima orang?” ulang Pupus Rembulung. “Tentu bukan karena kelima orang itu berilmu sangat tinggi. Tetapi orang-orangmu dan orang-orang dari perguruan-perguruan kerdil itulah yang tidak mampu berbuat apa-apa meskipun di antara mereka terdapat murid-murid utama dan murid-murid tertua.”

“Jangan berkata begitu. Bagaimana dengan murid-muridmu? Kenapa tidak seorang  pun di antara mereka datang untuk bersama-sama mempersiapkan tempat ini?”

“Tidak perlu bagiku,” jawab Repak Rembulung. “Lebih dari itu kau tentu tahu bahwa susunan perguruanku tidak sama dengan susunan   perguruanmu   dan   perguruan-perguruan   lain   pada umumnya.”

“Aku tahu. Tetapi apa pun namanya, kenapa tidak seorang  pun kau kirim untuk datang dalam persiapan pertemuan tadi?”

“Kami ingin datang sendiri. Tetapi sayang, kami datang terlambat.”

Gedhag Panunggul tidak bertanya lagi. Tetapi ia masih saja mengamati keadaan di sekitar tempat itu.

Wijang dan Paksi menjadi berdebar-debar. Nampaknya orang yang disebut Gedhag Panunggul itu cukup teliti. Ia mengamati semak-semak sampai jarak beberapa langkah dari lapangan rumput yang terbuka itu.

Tetapi keduanya memang tidak berada di tempat yang terlalu dekat. Jarak yang terlalu jauh bagi kebanyakan orang. Hanya karena keduanya memiliki kemampuan untuk melihat dan mendengar dari jarak yang jauh dengan Aji Sapta Pandulu dan Sapta Pangrungu, maka keduanya dapat mengerti apa yang telah terjadi.

Sebenarnyalah Gedhag Panunggul tidak menyibak semak-semak di sekitar tempat terbuka itu sampai ke tempat Wijang dan Paksi bersembunyi. Seandainya orang itu sampai juga ke tempat Wijang dan Paksi bersembunyi, maka keduanya masih mempunyai kesempatan untuk menyingkir.

Namun kemudian Gedhag Panunggul itu pun telah kembali ke tengah-tengah tempat terbuka itu.

“Aku besok akan datang kemari,” berkata Gedhag Panunggul. “Aku ingin bertemu dengan orang-orang yang tadi sempat mencerai-beraikan beberapa kelompok orang-orang dari berbagai perguruan.”

“Bagus,” sahut Repak Rembulung, “kami besok juga akan datang.”

“Kami berharap orang-orang yang tadi sempat mengacaukan orang-orang dari beberapa perguruan itu datang,” sambung Pupus Rembulung.

Namun dalam pada itu, maka Repak Rembulung dan Pupus Rembulung itu pun melangkah meninggalkan tempat itu.

“Kami akan pergi,” berkata Repak Rembulung.

Gedhag Panunggul tidak menyahut. Dipandanginya saja kedua orang itu melangkah meninggalkan tempat terbuka itu memasuki semak-semak dan hilang di dalam kegelapan.

Yang tinggal adalah Gedhag Panunggul dan para pengikutnya. Namun mereka pun kemudian telah bersiap untuk pergi.

Sementara Gedhag Panunggul masih berkata, “Hubungi yang lain-lain. Besok aku akan datang ke tempat ini. Pertemuan itu harus berlangsung. Bahkan aku berharap orang-orang gila yang tadi mengacau disini itu bersedia datang lagi.”

Sejenak kemudian maka lapangan rumput itu menjadi sepi kembali. Malam yang gelap menukik semakin dalam. Angin masih belum berhembus.

Paksi sempat menggaruk lehernya yang gatal. Sementara Wijang bangkit berdiri dan menggeliat.

“Besok akan ada tontonan yang menarik,” berkata Wijang.

“Ya. Beberapa orang berilmu tinggi akan berkumpul. Mereka akan berbicara tentang cincin yang kau bawa.”

“Bukan hanya karena itu. Tetapi mereka tentu ingin menjadi orang terpenting di antara mereka. Cincin itu dapat menjadi alat untuk melakukan pendadaran.”

“Ya,” Paksi mengangguk-angguk, “perguruan yang menemukan cincin itu adalah perguruan yang terbaik menurut penilaian mereka, sehingga pantas untuk menjadi pimpinan di antara mereka.”

“Tetapi perburuan itu belum akan berakhir. Setiap orang ingin memilikinya sehingga akan terjadi perebutan di antara mereka. Mereka akan menempuh segala cara, bahkan yang paling kasar dan yang paling licik sekalipun, karena mereka percaya bahwa siapa yang mengenakan cincin di jari-jari tangannya, ia akan memiliki kekuasaan di masa depan. Anak atau cucunya akan memegang kekuasaan tertinggi di tanah ini.”

“Perburuan itu tentu akan menimbulkan keresahan. Bagaimanapun juga benturan-benturan kekuatan di antara mereka tentu akan menepis kehidupan di sekitarnya.”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia pun berkata, “Paksi. Besok sebaiknya kau pergi ke pasar. Mungkin Ki Rangga Suraniti ada di pasar itu pula. Jika saja kau dapat menangkap apa yang dikatakannya.”

“Baiklah,” jawab Paksi. “Besok pagi-pagi aku akan pergi ke pasar.”

Demikianlah, keduanya pun segera meninggalkan tempat itu. Ketika mereka sampai di gubuk kecil mereka, maka malam pun telah mendekati ujungnya. Meskipun demikian, keduanya masih sempat berbaring sejenak. Tetapi mereka tidak dapat tidur sama sekali, karena sebelum fajar mereka harus sudah bangun untuk melakukan kewajiban mereka sehari-hari. Apalagi Paksi pagi itu akan pergi ke pasar.

Ketika matahari terbit, maka Paksi pun telah meninggalkan gubuk kecilnya. Wijang lah yang mencuci tempayan dan kemudian melepas gula kelapa yang dicetak dengan tempurung kelapa menjelang pagi.   Legen yang sudah  ditampung sejak kemarin baru sempat dipanasi pagi itu. Tetapi Paksi tidak akan kekurangan kayu bakar untuk membuat gula kelapa.

Paksi telah berada di pasar saat matahari mulai memanjat naik. Kecuali melihat apakah Ki Rangga Suraniti ada di pasar,

Paksi juga membeli beberapa kebutuhan sehari-hari. Terutama garam dan rempah-rempah. Bawang merah, bawang putih dan seikat daun salam dan petai. Meskipun Paksi tidak begitu senang makan petai, tetapi seperti ibunya, Paksi memberi beberapa buah petai di masakannya.

Setelah keperluannya selesai, maka Paksi mulai mengelilingi pasar itu. Tetapi ia tidak melihat Ki Rangga Suraniti. Bahkan ia melihat dua orang perempuan dari Perguruan Goa Lampin juga sedang berbelanja. Namun seperti biasa, mereka membayar sekehendak hati mereka tanpa menghiraukan keluhan para penjualnya.

Ketika matahari memanjat semakin tinggi, maka Paksi pun menganggap bahwa Ki Rangga Suraniti memang tidak pergi ke pasar hari itu. Karena itu, maka Paksi pun segera berniat kembali ke gubuknya dan memberitahukannya kepada Wijang.

Tetapi ketika ia berjalan di depan penjual dawet, maka Paksi tertegun. Ia melihat dua orang yang pernah dijumpainya membeli dawet, orang itu juga sudah duduk di depan penjual dawet itu.

Paksi berharap bahwa penjual dawet itu akan menyapanya, sehingga kedua orang itu tidak mencurigainya bahwa ia sengaja duduk bersama mereka.

Sebenarnyalah seperti yang diharapkan, maka penjual dawet itu memang menyapanya seperti biasanya, “He, singgah dahulu, anak muda.”

Paksi berhenti melangkah. Dipandanginya kedua orang yang sudah duduk lebih dahulu itu sambil tersenyum-senyum. Katanya, “Tetapi aku jadi malu kepada kedua paman ini. Bukankah Paman yang pernah membayar ketika aku minum disini?”

“Kenapa malu?” sahut orang yang dikenal Paksi bernama Ki Rangga Suraniti.

“Paman, kali ini Paman tidak usah membayar. Aku datang untuk berbelanja. Ibu sedang berhalangan. Karena itu, aku mendapat uang jajan dari Ibu.”

“Kau berbelanja apa saja?” bertanya Ki Rangga Suraniti.

Paksi pun kemudian duduk di dekat mereka sambil menunjukkan beberapa bungkus kebutuhan dapur yang dibelinya.

“Ternyata kau pintar juga,” berkata yang seorang lagi, yang menurut pengenalan Paksi adalah Ki Nukilan.

Paksi tertawa. Namun kemudian ia pun berkata, “Dawetnya, Paman.”

Ketika Paksi kemudian menghirup dawetnya, maka ia mendengar Ki Rangga itu berkata, “Baiklah. Jika kau panggil kemenakan-kemenakanmu, silahkan datang.”

“Tetapi apakah tontonan itu jadi dipergelarkan?” bertanya Ki Nukilan.

“Mudah-mudahan. Tetapi undangan itu telah aku terima belum sepenginang ini.”

“Sudah pasti?”

“Ya.”

Keduanya terdiam. Hampir bergumam Ki Nukilan berkata, “Begitu cepat kau menerima undangan.”

“Aku adalah sahabat terdekat.”

Penjual dawet itu memandangi keduanya dengan terheran-heran. Di luar sadarnya ia bertanya, “Ternyata kalian mempunyai banyak sahabat. Ketika kalian singgah kalian juga berbicara tentang undangan. Sekarang juga membicarakan undangan dan tontonan.”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun Ki Rangga menyahut, “Jangan mengatakan kepada isteriku. Aku adalah jagoan. Dimana ada perhelatan, kami selalu ada.”

“Jagoan apa?” bertanya penjual dawet itu.

Ki Rangga tertawa semakin panjang. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kau pernah melihat orang bermain dadu?”

Penjual dawet itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pantas kau selalu berbicara tentang undangan dan perhelatan.”

“Ah, kau telah membuka rahasia,” desis Ki Nukilan.

“Tetapi ia tidak akan mengatakan kepada isteri kita.”

“Aku tidak mengenal isteri kalian,” sahut penjual dawet itu.

Ki Rangga Suraniti dan Ki Nukilan itu pun tertawa.

Namun beberapa saat kemudian, Ki Rangga Suraniti itu pun berkata, “Marilah. Aku akan pulang. Kau akan pergi kemana?”

“Pulang,” jawab Ki Nukilan.

“Marilah kita bersama-sama.”

Ki Nukilan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sambil bangkit ia pun berkata, “Sekarang aku yang membayar.”

Ki Rangga Suraniti tertawa. Katanya, “Terima kasih.”

Namun kemudian Ki Nukilan itu pun berpaling kepada Paksi sambil berkata pula, “Aku bayar dawetmu.”

“Ah, aku sudah mendapat uang jajan hari ini.”

“Kau dapat membelikannya makanan.”

“Terima kasih,” jawab Paksi sambil bangkit berdiri ketika kedua orang itu meninggalkan penjual dawet itu.

“Kau beruntung,” berkata penjual dawet itu sambil tertawa.

“Kapan lagi mereka akan datang?” bertanya Paksi.

“Bagaimana aku tahu,” jawab penjual dawet itu. Tertawanya telah mengguncang-guncang perutnya.

Namun Paksi pun kemudian telah minta diri pula. Ia ingin segera bertemu dengan Wijang untuk memberitahukan pembicaraan yang baru saja didengar. Tetapi karena Paksi sudah mengerti persoalan yang sedang dihadapi oleh Ki Rangga Suraniti dan Ki Nukilan, maka Paksi dapat menduga, apa yang sedang mereka bicarakan itu.

Demikian keluar dari pasar, maka Paksi pun berjalan dengan cepat pulang ke gubuk kecilnya. Berita yang dibawanya itu tentu akan menarik bagi Wijang.

Ketika Paksi sampai di gubuk kecilnya, Wijang sedang mengambil air, mengisi gentong kecil persediaan air bersih yang diletakkan di teritisan gubuk kecil itu.

“Apakah kau melihat Ki Rangga Suraniti?” bertanya Wijang.

“Ya,” jawab Paksi.

“Sendiri atau bersama satu dua orang?”

“Aku menjumpai Ki Rangga Suraniti sedang membeli dawet bersama Ki Nukilan.”

“Kau dengar sepatah dua patah kata pembicaraan mereka?”

Paksi mengangguk. Ia pun kemudian mengatakan apa yang dibicarakan oleh Ki Rangga Suraniti dan Ki Nukilan itu.

Wajah Wijang menjadi tegang. Katanya, “Jadi mereka akan mengerahkan prajurit untuk menangkap atau menghancurkan beberapa perguruan yang akan bertemu di tempat terbuka itu?” “Apakah mereka akan melakukannya?”

“Menurut pembicaraan itu demikian, jika tidak ada perubahan. Tetapi Ki Rangga Suraniti tentu sudah memperhitungkan sebaik-baiknya.”

“Ki Nukilan yang agaknya mengambil keputusan.”

“Tetapi bukankah Ki Rangga sudah menyetujuinya?”

Paksi mengangguk-angguk. Sementara Wijang berkata, “Satu tugas yang sangat berat dan berbahaya. Di lapangan rumput itu akan berkumpul beberapa orang berilmu tinggi. Para pengikut mereka tentu akan mengawasi dan melindungi para pemimpin mereka, apalagi setelah terjadi peristiwa semalam.”

“Tetapi begitu cepat, Ki Rangga mengetahui bahwa pertemuan itu tidak tertunda dan tidak berpindah tempat.”

“Petugas sandi Pajang termasuk petugas sandi yang baik. Tentu ada satu atau dua orang di antara mereka yang berhasil menyusup di antara perguruan-perguruan itu.”

“Tetapi apakah Pajang menganggap perguruan-perguruan itu berbahaya?”

“Tentu,” jawab Wijang. “Mereka sudah mengikuti perkembangan setiap perguruan itu untuk waktu yang cukup.”

Paksi menarik nafas panjang. Ia dapat membayangkan, jika Pajang mengambil sikap keras, tentu akan terjadi pertempuran yang sengit. Namun Paksi pun kemudian bertanya, “Apakah ada waktu bagi Ki Nukilan untuk mengirimkan penghubung ke Pajang kemudian membawa sepasukan prajurit Pajang sampai kemari di hari ini?”

“Ki Nukilan tentu tidak menunggu prajurit yang langsung datang dari Pajang. Tetapi Ki Nukilan tentu mempersiapkan prajurit Pajang yang berada di Jati Anom dan sudah dipersiapkan di sebelah timur Prambanan, di pinggir Kali Dengkeng.”

“Jadi sudah ada prajurit Pajang yang dipersiapkan di sekitar tempat ini?”

“Tidak terlalu dekat. Tetapi dengan penghubung berkuda yang berangkat malam tadi, maka malam nanti prajurit Pajang yang dipersiapkan di Jati Anom sudah akan mencapai tempat ini. Tetapi aku tidak tahu, apakah jumlah prajurit Pajang itu cukup memadai. Apakah para pemimpin mereka memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuan para pemimpin perguruan-perguruan yang bakal berbicara di antara mereka itu.”

“Tetapi para petugas sandi Pajang itu tentu sudah membuat laporan terperinci.”

“Para pemimpin prajurit kadang-kadang kehilangan kecermatan mereka jika mereka mulai dikuasai oleh hasrat mereka menghancurkan kelompok-kelompok yang dianggap melawan kekuasaan Pajang. Meskipun demikian, aku masih berharap bahwa para prajurit itu akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik.”

Paksi termangu-mangu sejenak. Ia mulai membayangkan pertempuran yang sengit antara para prajurit Pajang dengan beberapa perguruan yang sedang berkumpul di lereng Gunung Merapi ini.

Namun Wijang pun kemudian berdesis, “Tetapi jika orang-orang dari beberapa perguruan itu menyadari, bahwa yang mengintai persiapan semalam adalah prajurit Pajang, maka mereka tentu akan berpikir dua kali untuk melangsungkan pertemuan sebagaimana mereka rencanakan.”

“Agaknya mereka tidak menghubungkan kehadiran orang-orang yang mengintainya semalam dengan prajurit Pajang.”

“Nampaknya Ki Nukilan dengan sengaja mempergunakan sepasang bindi sebagai senjatanya. Kehadiranmu dengan tongkat juga menyesatkan orang-orang dari beberapa perguruan itu, karena menurut perhitungan mereka, para prajurit tidak akan mempergunakan senjata seperti itu. Para prajurit tentu akan mempergunakan senjata yang umum dipergunakan. Misalnya pedang atau tombak pendek.”

Paksi mengangguk sambil berdesis, “Mudah-mudahan para prajurit tidak justru terjebak.”

Wijang menarik nafas panjang. Sambil duduk di atas sebongkah batu padas ia memandang ke kejauhan. Hutan lereng pegunungan yang lebat memagari satu lingkungan yang terbuka di antara gumuk-gumuk kecil di kaki gunung, nampak hijau kegelapan. Cahaya matahari yang semakin terik terpantul di wajah daun-daun yang berdesakan.

Tiba-tiba saja Paksi bertanya, “Apakah Ki Nukilan benar-benar sudah siap?”

“Mudah-mudahan, “desis Wijang. “Aku juga sedang memikirkannya.”

“Jumlah orang yang akan berkumpul tentu akan cukup banyak. Setiap pemimpin perguruan akan mempersiapkan para pengikutnya di sekitar tempat itu. Seandainya mereka tidak merasa terganggu, agaknya mereka juga akan menyiapkan orang-orangnya. Apalagi setelah mereka mempunyai alasan yang kuat.”

“Ya. Mereka sebenarnya juga saling mencurigai,” Wijang bergumam seakan ditujukan kepada diri sendiri.

“Tetapi apakah Ki Nukilan dan Ki Rangga Suraniti tidak tinggal bersama-sama di satu tempat sehingga mereka perlu bertemu dan berbicara di pasar?”

“Tentu tidak. Untuk tidak menarik perhatian. Banyak orang-orang dari berbagai perguruan yang berkeliaran. Tetapi juga pantas diperhatikan orang-orang padukuhan yang sudah dipengaruhi oleh orang-orang dari berbagai perguruan yang dibayangi oleh keinginan untuk menatap masa depan itu. Menurut dugaanku, selain beberapa perguruan, tentu masih ada orang yang berusaha untuk memiliki cincin itu yang datang tidak dalam kelompok-kelompok yang besar. Tetapi seorang-seorang atau dua orang yang juga merasa melihat cahaya langit yang jatuh di sekitar tempat ini atau melihat semacam teja yang bercahaya mencuat menusuk langit atau melihat isyarat apapun.”

Paksi mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Apa sebenarnya yang telah mereka lihat?”

“Aku tidak tahu. Tetapi aku percaya bahwa memang ada benda langit yang pernah jatuh di bumi. Mungkin semacam batu bintang atau apa pun namanya.”

“Jadi bukan cincin itu?”

“Bukankah cincin itu masih tetap ada padaku?”

Paksi mengangguk-angguk. Cincin itu memang masih tetap berada di tangan Wijang.

Demikianlah, keduanya pun kemudian duduk merenung. Bagaimanapun juga mereka merasa cemas. Jika sekelompok prajurit Pajang itu jumlahnya tidak memadai, maka mereka justru akan mengalami kesulitan. Apalagi di tempat itu akan berkumpul orang-orang berilmu tinggi. Para pemimpin dari beberapa perguruan itu merupakan lawan yang sangat berat bagi para pemimpin kelompok-kelompok prajurit yang akan berusaha menguasai mereka.

Wijang yang kemudian bangkit sambil menggeliat berdesis, “Aku percaya kepada para petugas sandi Pajang, sehingga para prajurit itu tidak akan terjebak dalam kesulitan.”

“Tetapi kita akan berada dimana? Jika para prajurit itu akan datang dan mengepung tempat itu, maka pertempuran akan terjadi di luar tempat terbuka itu. Di semak-semak atau di pinggir hutan atau di lembah di sebelah bukit kecil itu.”

“Ya, pertempuran akan dapat terjadi dimana-mana. Tetapi kita sebaiknya tetap berada di tempat yang sudah kita pilih. Para prajurit itu tentu baru akan datang dan mengepung tempat itu setelah pertemuan itu berlangsung. Lewat tengah malam.”

Paksi mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Wijang. Mereka berdua harus sudah berada di tempat persembunyian mereka sebelum segalanya itu terjadi.

Meskipun demikian, Paksi itu pun berkata, “Aku menduga bahwa tempat itu tentu sudah diawasi oleh para murid dari berbagai perguruan itu sejak malam turun.”

“Ya. Aku juga memperkirakan demikian. Karena itu, kita harus sudah berada disana. Kita tidak boleh terlalu dekat dengan tempat terbuka itu. Kita akan berada di tempat pilihan kedua. Menurut perhitungan, tempat itu cukup jauh. Tetapi para prajurit yang mengepung tempat itu, akan berada pada jarak yang lebih jauh lagi dari sasaran.”

Paksi termangu-mangu sejenak. Ia membayangkan satu lingkungan yang rumit, yang setiap jengkal mendapat pengawasan yang teliti. Namun yang kemudian akan berada di dalam lingkaran kepungan para prajurit Pajang.

Wijang seakan-akan dapat membaca perasaan Paksi. Karena itu, maka ia pun berkata, “Kita akan melakukan satu pekerjaan yang berat dan rumit. Tetapi bukankah tantangan seperti itu yang membuat kita menjadi semakin dewasa?”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Dan kita ingin menjadi dewasa.”

Namun Wijang tersenyum sambil berkata, “Kita akan bertambah dewasa, atau kita tidak akan pernah menjadi dewasa.”

Paksi pun tertawa. Katanya, “Pajang tidak akan kehilangan seorang pangeran.”

“Ah, kau,” sahut Wijang. “Sejak beberapa waktu yang lalu, Pajang telah kehilangan seorang pangeran. Tetapi pangeran yang tidak berarti apa-apa bagi Pajang.”

“Kenapa tidak? Tentu sekarang istana Pajang menjadi muram karena Pangeran Benawa tidak berada di istana dan tidak diketahui kemana perginya.”

“Bukan hanya seorang pangeran. Orang yang kehilangan anaknya tentu akan mencarinya.”

“Tetapi aku justru dihalau untuk meninggalkan rumahku.”

“Sudahlah,” potong Wijang. “Seandainya kau tidak pergi meninggalkan rumahmu apa pun alasannya, maka kau tidak akan menjadi seorang yang berilmu seperti sekarang ini.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Ternyata aku telah menemukan sesuatu di dalam pengembaraan ini.”

Wijang tidak mengatakan sesuatu lagi. Sementara itu, Paksi pun berkata, “Apakah kita akan makan sekarang?”

“Aku juga sudah lapar.”

Demikianlah, maka keduanya pun telah duduk menghadapi mangkuk mereka masing-masing. Nasi yang dingin dan sayur serta lauk yang sudah dingin pula.

Hari itu keduanya telah memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Berbaring di bawah pepohonan yang rindang di luar gubuk mereka. Menikmati silirnya angin lereng gunung yang lembut, yang mengusap tubuh mereka. Baik Paksi mau pun Wijang membiarkan dada mereka terbuka.

Ketika matahari turun di sisi barat, maka keduanya pun telah mempersiapkan diri. Mereka pergi ke gerojogan untuk mandi. Mengenakan pakaian yang berwarna gelap dan mempersiapkan nalar dan budi untuk melakukan satu kerja yang penuh dengan bahaya. Bahkan kemungkinan yang terburuk akan dapat terjadi atas mereka. Mereka akan dapat berhadapan dengan orang-orang dari beberapa perguruan itu, tetapi jika terjadi salah paham, maka mereka pun akan dapat berhadapan dengan para prajurit Pajang.

Demikian langit menjadi merah, maka kedua orang anak muda itu sudah siap. Paksi telah mempersiapkan tongkatnya, sementara Wijang telah mengamati pelindung pergelangan tangannya serta sepasang pisaunya yang ujudnya sederhana. Tetapi besi bajanya bukan besi yang sederhana. Pamornya bagaikan berkeredipan di bawah cahaya senja.

Demikianlah, maka keduanya pun meninggalkan gubuk kecil mereka untuk melakukan beban tugas yang mereka letakkan di pundak mereka sendiri.

Ketika keduanya sampai di tempat yang akan menjadi tempat pertemuan para pemimpin perguruan itu, langit sudah menjadi hitam. Tempat itu masih sepi. Belum nampak seorang pun yang berada di tempat itu.

Wijang dan Paksi pun segera menempatkan diri. Seperti seorang yang akan menonton wayang topeng yang datang lebih awal untuk mendapatkan tempat terbaik sebelum penonton yang lain berdatangan di tempat pertunjukan.

Namun seperti yang sudah mereka duga, beberapa saat kemudian, maka kelompok-kelompok kecil orang-orang dari berbagai perguruan telah berdatangan. Mereka mengamati tempat itu sebaik-baiknya. Mereka menyibak gerumbul-gerumbul perdu di sekitar tempat terbuka itu. Mereka mengamati setiap tempat yang mereka curigai dapat dipergunakan untuk bersembunyi.

Tetapi mereka menyibak semak-semak pada jarak tertentu. Di luar jarak itu, mereka anggap sudah terlalu jauh untuk mengintai pembicaraan orang-orang yang akan hadir di tempat yang terbuka itu.

Karena itu, maka tidak seorang  pun di antara mereka yang mengamati gerumbul perdu sampai ke tempat Wijang dan Paksi bersembunyi. Jarak itu terlalu panjang. Namun dengan Aji Sapta Pangrungu dan Aji Sapta Pandulu, Wijang dan Paksi akan dapat menyaksikan dan mendengarkan dengan jelas apa yang akan mereka bicarakan di lapangan rumput itu.

Namun Wijang dan Paksi pun yakin, bahwa tempat itu tentu sudah dilingkari kekuatan yang besar dari perguruan-perguruan yang terlibat dalam pertemuan itu. Kecuali mereka berusaha untuk mengamankan lingkungan, sebenarnyalah bahwa mereka saling curiga, sehingga mereka tidak ingin pemimpin mereka mengalami kesulitan dalam pertemuan itu.

Sedangkan di luar lingkaran pengamanan orang-orang dari berbagai macam perguruan itu, prajurit Pajang akan datang mengepung mereka dan berusaha menangkap para pemimpinnya.

Suasana di tempat itu pun menjadi sangat mencengkam. Orang-orang yang berkeliaran itu nampak tegang. Yang satu mengawasi yang lain dengan penuh kecurigaan.

Wijang dan Paksi pun menjadi tegang pula di tempat persembunyiannya. Mereka menyadari bahwa sebentar lagi akan terjadi pertempuran yang sengit jika Ki Rangga Suraniti tidak merubah rencananya.

Tetapi keduanya tidak dapat berbuat apa-apa selain berdiam diri di tempat mereka bersembunyi sambil menunggu.

Menjelang tengah malam, maka suasana pun telah berubah. Orang-orang dari berbagai perguruan yang berkeliaran itu pun mulai menyibak. Tidak ada pertanda bunyi apapun. Namun begitu saja Gedhag Panunggul telah berada di lapangan rumput itu.

Seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan telah mendekatinya sambil membungkuk hormat.

“Kau memang dungu,” bentak Gedhag Panunggul. “Sudah aku katakan, jangan ada yang berkeliaran disini. Biarlah orang-orang yang masih ingin mengintip pertemuan itu datang dan bersembunyi di sekitar tempat ini. Aku memerlukan mereka.”

Orang yang mengangguk hormat itu menjawab dengan ragu,

“Tetapi kawan-kawan dari perguruan lain menghendaki tempat ini diamankan. Meskipun kami tidak berbuat apa-apa disini, namun mereka telah menyibak gerumbul-gerumbul liar serta semak-semak perdu.”

“Mereka memang bodoh dan tidak berotak,” geram Gedhag Panunggul.

“Kami tidak dapat mencegah mereka.”

Gedhag Panunggul menggeram, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Semuanya sudah terlanjur. Katanya, “Jika orang-orang itu datang lagi, mereka tidak akan berani mendekat. Mereka akan bersembunyi di tempat yang jauh sehingga kita tidak akan dapat menangkapnya.”

Namun dalam pada itu, terdengar seseorang tertawa. Sambil melangkah mendekat, orang itu berkata, “Sudahlah, Gedhag Panunggul. Jangan disesali. Kita tidak memerlukan orang-orang gila itu. Bahkan aku yakin mereka tidak akan berani datang lagi. Jika mereka memang ingin datang, serta mereka berilmu tinggi, maka mereka akan dapat menghindar dari pengamatan murid-murid kita.”

“Sima Pracima,” geram Gedhag Panunggul, “ternyata kau juga sebodoh murid-muridmu.”

“Jangan berkata begitu di hadapan murid-muridku. Aku adalah orang yang mereka hormati. Aku pun tidak akan merendahkanmu di hadapan murid-muridmu meskipun aku tahu, bahwa otakmu adalah otak yang tumpul.”

“Setan kau,” sahut Gedhag Panunggul.

Namun sebelum ia berkata lebih lanjut, terdengar orang lain berkata, “Sima Pracima memang gila. Ia tidak ingin merendahkan Gedhag Panunggul di hadapan murid-muridnya. Tetapi ia sudah menyebut bahwa otak Gedhag Panunggul adalah otak yang tumpul.”

“Kau juga iblis,” geram Gedhag Panunggul.

Sementara itu Sima Pracima pun bergumam, “Wira Bangga.”

“Sebenarnya aku ingin pertemuan ini diselenggarakan di tempat lain. Aku curiga, bahwa orang-orang yang semalam datang kemari adalah orang-orang Pajang. Orang-orangku pernah melihat kesiagaan prajurit Pajang di Prambanan.”

“Mereka terdiri dari dua kelompok yang berbeda dan tidak saling mengenal,” berkata Sima Pracima. “Orang-orangku mendengar mereka saling mempertanyakan diri masing-masing. Tetapi mereka tidak mau menyebutkannya. Senjata mereka pun tidak menunjukkan jenis senjata yang dipakai oleh para prajurit. Ada di antara mereka yang mempergunakan sepasang bindi ada yang mempergunakan tongkat dan pisau-pisau belati.”

Gedhag Panunggul tertawa. Katanya, “Wira Bangga, kenapa tiba-tiba kau menjadi penakut? Seandainya mereka orang-orang Pajang, apa keberatanmu? Jika mereka datang dengan sekelompok prajurit sekalipun, kita akan melumatkan mereka. Permusuhan dengan Pajang memang sudah lama dicanangkan. Perang terbuka tidak akan menggetarkan kita. Kita pun tidak akan lama berada disini, sehingga jika datang pasukan yang lebih besar, lingkungan ini sudah sepi. Cahaya yang kita lihat turun dari langit memang belum tentu mengisyaratkan, bahwa benda itulah yang kita cari.”

“Tetapi apakah kita akan meyakinkannya lebih dahulu?” bertanya Wira Bangga.

“Setiap malam aku berada di tempat terbuka. Aku masih belum melihat isyarat apa pun yang dapat menunjukkan tempat cincin bermata tiga itu.”

“Jika demikian, malam ini kita akan bertahan,” berkata Sima Pracima. “Tetapi untuk selanjutnya, terserah kepada kita masing-masing. Apakah kita masih akan tetap berada di sekitar tempat yang semula kita yakini menjadi tempat persemayaman cincin itu, atau ada di antara kita yang akan mencari di tempat lain. Tetapi persetujuan yang nanti akan kita capai akan tetap mengikat.”

Tetapi seorang perempuan yang kemudian datang menyahut dengan suara melengking, “Apakah pembicaraan sudah dimulai sebelum aku datang?”

“Nyi Melaya Werdi,” ketiga orang itu hampir berbareng berdesis.

“Kenapa kalian tidak menunggu kita semua hadir?”

“Kau kira, kau dapat melarang kami berbicara? Apa hakmu Nyi Melaya Werdi?”

“Bukankah kita sepakat untuk berbicara dalam satu pertemuan yang akan mengikat kita semuanya?”

“Apakah kami telah menghambat pertemuan itu?” bertanya Sima Pracima.

“Tetapi pembicaraan yang sudah memasuki persoalan pokok dari permasalahan yang akan kita bicarakan, akan membuat pembicaraan kita tidak wajar lagi. Tidak menarik dan keputusan terakhir seakan-akan telah dipersiapkan lebih dahulu oleh beberapa orang di antara mereka.”

“Kau terlalu curiga,” berkata Wira Bangga. “Jangan berprasangka seperti itu. Marilah, kemarilah.”

Perempuan yang disebut Nyi Melaya Werdi itu pun melangkah mendekat.

Ki Wira Bangga tersenyum sambil berdesis, “Kau masih tetap cantik, Nyi. Sudah berapa lama kita tidak bertemu. Mungkin aku sudah menjadi bertambah tua, tetapi kau tidak.”

“Kau masih tetap buaya,” geram Nyi Melaya Werdi.

“Kau masih tetap seekor burung gelatik liar.”

“Sudah, sudah,” potong Nyi Melaya Werdi. “Aku datang untuk berbicara tentang kedudukan dan hubungan kita agar kita tidak saling membunuh.”

Ki Sima Pracima tertawa. Katanya, “Kedatanganmu membuat malam ini terasa segar, Nyi. Kegilaan Wira Bangga akan menyurukkan dirinya ke dalam kerangkeng-kerangkeng yang kau siapkan di padepokanmu.”

“Cukup,” teriak Nyi Melaya Werdi. “Kau tidak usah iri, Ki Sima Pracima. Aku tidak menyiapkan krangkeng untuk mengurung seekor harimau yang buas seperti kau.”

Sima Pracima tertawa semakin keras. Katanya, “Kau tidak usah menyiapkan kerangkeng itu. Aku akan membawa kerangkengku sendiri. Yang aku perlukan hanya tempat yang khusus di dalam goamu itu.”

“Apakah aku harus membungkam mulut kalian?” geram Nyi Melaya Werdi.

“Nyi,” berkata Gedhag Panunggul, “mungkin aku akan berbicara lebih sopan. Di mana adikmu, Megar Permati?”

“Ia tidak mau aku ajak kemari. Ia tahu benar sifat kalian. Tetapi malam ini ia ada disini.”

Gedhag Panunggul tersenyum. Katanya, “Ia mengira bahwa kami tidak tahu bahwa ia mempunyai kerangkeng khusus di padepokanmu.”

“Justru karena itu, ia tidak memerlukan kalian.”

Suara tertawa pun meledak. Namun tiba-tiba terdengar seorang perempuan membentak, “Cukup. Jangan sebut lagi namaku.”

“Ternyata kau mendekat juga, Megar.”

“Tidak. Aku lebih senang berada di luar lingkaran pembicaraan ini.”

Megar Permati tidak menunggu jawaban. Ia pun segera melangkah pergi meninggalkan beberapa orang yang memandanginya dengan kagum. Dua orang perempuan yang lain dengan pedang di lambung menunggunya dan kemudian bersama-sama menghilang di dalam gelap.

Namun tiba-tiba Melaya Werdi pun bertanya, “Siapa yang kita tunggu?”

“Kerbau tua itu,” jawab Wira Bangga.

“Masih ada lagi. Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.”

“Apa yang akan dilakukan kedua orang yang sudah mulai rapuh itu? Mereka menyangka bahwa mereka masih tetap orang yang disegani di antara kita.”

“Mungkin pikirannya masih berarti bagi kita,” desis Gedhag Panunggul. “Tetapi jika keduanya menuntut yang bukan-bukan, kita akan melemparkannya keluar dari pembicaraan ini.”

Sima Pracima pun menyahut, “Keduanya masih mampu memamerkan ilmu mereka dengan menakut-nakuti anak-anak beberapa hari yang lalu.”

“Aku juga mendengarnya,” desis Nyi Melaya Werdi. “Sepasang iblis itu tentu merasa berhasil karena kita segera menyelenggarakan pertemuan ini.”

“Biar saja apa pun yang mereka rasakan. Mungkin mereka merasa memiliki kelebihan dari kita semuanya,” desis Wira Bangga.

Mereka berhenti sejenak ketika mereka melihat seorang yang kumis dan janggutnya sudah memutih. Beberapa helai rambutnya yang tergerai mencuat dari bawah ikat kepalanya juga sudah nampak memutih.

“Ki Kebo Serut sudah datang,” desis Gedhag Panunggul.

Ternyata bahwa para pemimpin perguruan yang menyelenggarakan pertemuan itu masih juga menaruh hormat kepada orang tua. Karena itu, mereka pun serentak menyambut kedatangannya.   Nyi   Melaya   Werdilah   yang   kemudian mempersilahkan, “Marilah, Paman. Kita menunggu kedatangan Paman.”

“Terima kasih, terima kasih Melaya Werdi. Eh, kau masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Bibirmu yang tipis itu menjadi ciri keramahanmu.”

“Giginya miji timun, Paman,” desis Wira Bangga.

“Setan kau,” geram Nyi Melaya Werdi.

Ki Kebo Serut itu tertawa. Meskipun rambutnya sudah putih yang menjadi ciri ketuaannya, tetapi Kebo Serut tetap seorang yang bertubuh kekar dan tegar.

“Aku dengar Repak Rembulung dan Pupus Rembulung akan datang dalam pertemuan ini.”

“Ya, Paman,” jawab Nyi Melaya Werdi.

“Apakah mereka sudah datang?”

“Belum, Paman.”

“Keduanya adalah orang-orang yang terlalu sombong dan berbangga diri atas kelebihan mereka. Tetapi keduanya adalah orang yang baik. Mereka pernah menghadiahkan lima ekor lembu kepadaku.”

“Hanya lima ekor lembu? Bukankah kita masing-masing akan dapat mengambil lebih dari sepuluh ekor lembu semalam jika kita kehendaki.”

“Yang penting bukan lima ekor atau sepuluh ekor. Bahwa mereka memberikan hadiah kepadaku itulah yang aku hargai. Nampaknya mereka benar-benar ingin menghormati orang tua.” Kebo Serut itu berhenti sejenak, lalu katanya, “Siapa di antara kalian yang pernah memberikan hadiah kepadaku, dalam ujud apapun?”

Orang-orang yang ada di sekitarnya saling berpandangan sejenak. Namun Nyi Melaya Werdilah yang menjawab, “Sebenarnya ada juga niat mengirimkan sejodang nasi gurih dengan sepuluh ingkung ayam jantan yang masih muda. Tetapi aku tidak tahu dimana Paman berada. Paman jarang sekali berada di perguruan Paman.”

Ki Kebo Serut tertawa. Katanya, “Lain kali aku menunggu kau mengirimkan sejodang makanan, Melaya Werdi. Kau tentu masih tangkas memasak. Aku tidak akan takut bahwa kau akan memberi guna-guna di dalam makananmu. Bahkan aku tentu akan merasa beruntung.”

“Ah, Paman mengada-ada.”

Kebo Serut tertawa. Tetapi sekali lagi ia bertanya, “Apakah Repak Rembulung dan Pupus Rembulung belum datang?”

Sebelum ada yang menjawab, maka mereka telah melihat dua orang laki-laki dan perempuan memasuki lingkungan yang terbuka itu. Gedhag Panunggul pun berdesis, “Itulah mereka.”

Sebenarnyalah yang datang itu adalah Repak Rembulung dan Pupus Rembulung. Demikian mereka mendekat, maka Repak Rembulung pun bertanya dengan nada berat, “Apakah semua sudah berkumpul?”

Tidak seorang  pun yang menjawab. Karena itu, maka Repak Rembulung pun berkata, “Sudah tengah malam. Kita akan mulai pertemuan ini. Kita harus segera mengambil beberapa keputusan yang menguntungkan kita semua.”

Kebo Serut lah yang kemudian melangkah maju mendekati Repak Rembulung dan Pupus Rembulung. “Kau ini mabuk tuak atau mabuk kecubung. Kau datang terakhir. Tiba-tiba saja kau seakan-akan berhak memerintah kami.”

Repak Rembulung mengerutkan dahinya. Kemudian sambil mengangguk hormat ia berkata, “Maaf, Paman Kebo Serut. Aku tidak memerintah. Aku hanya ingin menepati perjanjian. Pertemuan ini akan diselenggarakan di tempat ini pada tengah malam.”

“Lewat tengah malam,” sahut Gedhag Panunggul.

“Bukankah itu tidak penting,” berkata Kebo Serut. “Kenapa kita harus mulai dengan ketegangan hanya karena soal-soal kecil saja?”

Repak Rembulung pun tidak menyahut. Sementara yang lain pun masih berdiam diri.

“Nah,” berkata Kebo Serut, “jika semuanya sudah hadir, marilah kita mulai pertemuan kita ini. Tanpa ketegangan, tanpa kebanggaan diri dan kesombongan yang tidak berguna sama sekali. Kita tidak perlu mengangkat harga diri kita dengan tingkah laku yang aneh-aneh. Bukankah kita sudah saling mengenal? Sudah saling mengerti dan mengetahui pribadi kita masing-masing. Karena itu, marilah kita bersikap wajar saja.”

Para pemimpin perguruan yang berkumpul itu tidak ada yang menjawab. Repak Rembulung dan Pupus Rembulung pun hanya berdiam diri saja. Sementara Kebo serut itu berkata selanjutnya, “Marilah, kita duduk di sebelah batu besar itu. Tetapi aku harus mendapat tempat sehingga aku dapat bersandar. Punggungku sudah mulai terasa pegal-pegal. Aku memang sudah tua.”

Tiba-tiba saja Nyi Melaya Werdi menyela, “Sejak kapan Paman merasa menjadi tua?”

Kebo Serut itu tertawa. Katanya, “Hanya kadang-kadang saja aku merasa menjadi tua.”

Nyi Melaya Werdi pun tertawa pula. Namun Pupus Rembulung tiba-tiba saja berdesis, “Kau tidak pantas hadir dalam pertemuan seperti ini, Melaya Werdi. Pikiranmu yang kotor itu selalu saja kau bawa tanpa menghiraukan suasana.”

Wajah Nyi Melaya Werdi menjadi merah. Dengan nada tinggi ia pun menjawab, “Apa pedulimu? Kau kira hatimu bersih seputih kapas? Atau kau merasa iri karena tingkah lakumu selalu dibatasi oleh kehadiran suamimu?”

“Kenapa kau tidak mempunyai seorang suami?” sahut Pupus Rembulung.

Sebelum Nyi Melaya Werdi menjawab, terdengar Ki Kebo Serut tertawa pula. Katanya, “Dalam segala keadaan, dalam segala suasana, dimana pun mereka berada, perempuan tentu merasa saling bersaing. Sudahlah. Bukankah kita bertemu sekarang untuk berbicara justru menghindari benturan-benturan yang tidak berarti?”

Nyi Melaya Werdi pun berusaha menahan diri. Demikian pula Nyi Pupus Rembulung.

“Marilah. Sudah lewat tengah malam.”

Para pemimpin perguruan itu pun kemudian telah melangkah mendekati batu yang besar itu. Mereka pun segera duduk di atas rerumputan kering, membentuk sebuah lingkaran.

“Jangan terlalu tegang,” berkata Kebo Serut. “Nah, sekarang siapakah yang akan memimpin pertemuan ini. Bukan berarti bahwa untuk melanjutkan kita harus mengakuinya sebagai pemimpin kita semuanya.”

Semuanya terdiam. Nampaknya pengaruh ketuaan Ki Kebo Serut masih mengikat mereka semuanya.

Wira Bangga lah yang kemudian berkata, “Biarlah yang tertua di antara kita untuk sementara kita akui sebagai pemimpin kita, sehingga ia akan memimpin pertemuan ini.”

“Agaknya itulah yang terbaik,” sahut Gedhag Panunggul.

“Aku setuju. Siapa yang tidak?” berkata Repak Rembulung.

Ternyata tidak ada yang merasa berkeberatan. Mereka pun kemudian telah menetapkan, Ki Kebo Serut akan memimpin pertemuan itu.

Wijang dan Paksi mengikuti semua yang terjadi itu dengan jantung    yang    berdebaran.    Justru    karena    mereka memperhitungkan bahwa sebentar lagi, pasukan prajurit dari Pajang akan datang mengepung dan menyerang pertemuan itu.

Dalam pada itu, tempat yang terbuka itu pun telah menjadi hening. Para cantrik dari beberapa perguruan yang semula berkeliaran di sekitar tempat itu sudah bergeser menjauh. Mereka kemudian berada di luar lingkungan lapangan rumput itu. Mereka tahu, bahwa mereka tidak boleh mengganggu atau mendengarkan pembicaraan para pemimpin dan guru mereka.

Tetapi baru saja Ki Kebo Serut membuka pertemuan itu, maka mereka telah dikejutkan sebuah anak panah sendaren yang meluncur ke udara. Anak panah yang meluncur dari semak-semak yang agak jauh dari tempat terbuka itu.

Wijang dan Paksi pun terkejut pula. Begitu cepatnya isyarat itu diberikan.

“Siapakah yang telah melontarkan isyarat itu?” bertanya Paksi berbisik.

“Itulah kelebihan para petugas sandi Pajang. Tentu ada diantara mereka yang sempat menyusup di antara perguruan-perguruan yang sedang mengadakan pertemuan itu.”

“Apakah panah sendaren itu memberikan isyarat agar para prajurit itu menyerang?”

“Nampaknya begitu. Tetapi petugas sandi yang dengan kelebihannya  mampu   menyusup  di  antara  perguruan yang terlibat dalam pertemuan ini, agaknya terlalu tergesa-gesa. Kita belum mendengar persoalan apakah yang akan mereka bicarakan.”

“Tentang cincin itu?”

“Mereka akan mencari jalan agar tidak terjadi benturan-benturan di antara mereka. Justru dalam pencarian. Mungkin juga setelah cincin itu mereka ketemukan,” desis Wijang. Namun kemudian katanya, “Tetapi menilik sifat dan watak para pemimpin mereka itu, mereka tidak akan pernah menemukan kesepakatan yang berumur panjang. Meskipun demikian, sebenarnya aku ingin mendengar langkah apa yang dalam waktu dekat akan mereka ambil.”

Wijang berhenti berbicara. Mereka melihat para pemimpin perguruan itu telah bangkit berdiri. Dua orang yang nampaknya dari perguruan yang berbeda telah berlari-lari menghampiri para pemimpin yang sedang termangu-mangu itu.

“Tempat ini telah dikepung oleh sekelompok prajurit dan orang-orang yang tidak kita kenal.”

“Setan,” geram Wira Bangga. “Aku sudah menduga.”

“Lalu kenapa?” bertanya Gedhag Panunggul. Katanya kemudian, “Kita akan menghancurkan mereka.”

“Aku sudah lama tidak berkelahi,” berkata Sima Pracima. “Biarlah mereka datang. Aku ingin tahu, apakah ada di antara mereka yang berilmu tinggi.”

Kebo Serut tertawa. Katanya, “Prajurit-prajurit Pajang itu memang dungu. Ia telah meloncat ke dalam api yang akan dapat membakar diri mereka sendiri. Apa yang pernah dilihat oleh para cantrik Wira Bangga itu juga pernah dilihat oleh orang-orangku pula. Tetapi prajurit Pajang di Prambanan itu terlalu lemah untuk dapat menguasai kita malam ini.”

“Aku akan berburu malam ini,” desis Nyi Melaya Werdi.

“Kau memang perempuan gila yang tidak pantas berada di lingkungan kami,” geram Pupus Rembulung.

Nyi Melaya Werdi tertawa. Katanya, “Jangan menyesali nasibmu karena kau telah mengikat diri dengan seorang suami.”

“Iblis betina.”

Yang terdengar kemudian adalah suara Nyi Melaya Werdi yang melangkah ke dalam kegelapan, “Apakah kalian akan menunggu disitu? Aku akan mencari Megar Permati.”

Tidak seorang  pun yang menyahut. Tetapi tidak seorang  pun di antara mereka yang beranjak pergi. Agaknya mereka lebih senang menunggu laporan-laporan berikutnya.

Namun tiba-tiba saja Repak Rembulung pun berkata, “Marilah kita lihat, apa yang terjadi?”

Tetapi jawaban Pupus Rembulung mengurungkannya, “Kau akan ikut perempuan gila itu?”

“Bukan maksudku,” jawab Repak Rembulung dengan serta-merta.

Kebo Serut tertawa pula. Sambil menepuk bahu Pupus Rembulung, orang tua itu berkata, “Jangan cepat menjadi cemburu. Nyi Melaya Werdi memang cantik. Tetapi kau tidak kalah cantiknya. Hanya bedanya, Melaya Werdi selalu berhias diri seperti seorang pengantin. Kau tidak. Tetapi bukan berarti kewajaran ujud akan tenggelam dibandingkan dengan pulasan yang berlebihan.”

“Ah, Paman,” desis Pupus Rembulung, “aku tidak cemburu.”

Orang-orang yang mendengarnya tertawa. Wira Bangga pun berkata, “Tidak seorang  pun di antara kami yang berani memuji kecantikan Nyi Pupus Rembulung, kecuali Paman Kebo Serut.

Kami tidak ingin Ki Repak Rembulung menjadi salah paham.”

“Sudah. Kami bukan sekedar bahan kelakar disini,” sahut Repak Rembulung.

“Marilah, kita sudah menghadapi bahaya. Tetapi kita ingin menunggu disini, apa yang akan terjadi.”

Ternyata yang lain  pun tetap berada di tempatnya. Dua orang yang telah memberikan laporan itu pun masih menunggu pula.

Wijang dan Paksi masih berada di tempatnya. Mereka belum tahu apa yang akan terjadi. Tetapi ketajaman pendengaran mereka yang dilandasi Aji Sapta Pangrungu telah mendengar suara riuh. Bahkan kemudian terdengar sorak gemuruh di beberapa tempat di sekitar lingkungan pertemuan antara para pemimpin perguruan itu.

Para pemimpin perguruan yang berdiri tidak jauh dari batu hitam yang ada di tengah-tengah tempat terbuka itu pun agaknya telah mendengar pula. Kepada dua orang yang masih berdiri di tempatnya, Kebo Serut pun berkata, “Cari keterangan yang lebih terperinci.”

Kedua orang itu mengangguk hormat. Sejenak kemudian, maka kedua orang itu pun telah meninggalkan para pemimpin perguruan yang berdiri termangu-mangu itu.

Suara sorak dan teriakan-teriakan menjadi semakin jelas. Pertempuran agaknya benar-benar telah pecah.

Sebenarnyalah panah sendaren yang dilepaskan oleh salah seorang petugas sandi itu merupakan isyarat, bahwa saat yang paling tepat sudah tiba bagi para prajurit Pajang untuk menyerang orang-orang yang sedang berkumpul di kaki Gunung Merapi itu.

Beberapa saat kemudian, maka beberapa orang telah berlari-lari pula mendapatkan para pemimpin perguruan yang sedang mengadakan pembicaraan itu.

“Pertempuran terjadi di segala arah, Ki Wira Bangga,” salah seorang murid Wira Bangga itu pun memberikan laporan dengan nafas yang terengah-engah.

“Jumlah mereka cukup banyak,” berkata yang lain.

“Bukankah jumlah para prajurit Pajang di Prambanan tidak begitu banyak?”

“Yang sebagian bukan prajurit Pajang,” sahut yang lain lagi. “Siapakah mereka itu?” bertanya Ki Gedhag Panunggul.

“Kami belum tahu, Ki Lurah,” jawab salah seorang pengikut Gedhag Panunggul.

“Bagus,” geram Ki Kebo Serut, “kita akan segera mengetahui, siapakah lawan kita yang sebenarnya.”

“Kerahkan semua orang,” berkata Sima Pracima. Lalu ia pun bertanya kepada Repak Rembulung, “He, apakah kau bawa para pengikutmu.”

“Mereka ada disini,” jawab Repak Rembulung.

“Bagus. Kita akan melumatkan mereka. Aku tidak yakin, bahwa para prajurit itu bertempur atas perintah Panglima Prajurit Pajang.”

“Jadi untuk siapa mereka bertempur menurut pendapatmu?” bertanya Pupus Rembulung.

“Mereka bertempur untuk kepentingan sekelompok orang yang sebenarnya tidak beritikad lebih baik dari kita bagi Pajang,” jawab Ki Kebo Serut.

Dalam pada itu, Paksi pun berdesis, “Bagaimana menurut pendapatmu, Wijang?”

“Kita akan melihat, apa yang akan terjadi,” jawab Wijang.

Paksi tidak bertanya lagi. Pertempuran itu agaknya telah menjadi semakin sengit. Dimana-mana terdengar sorak gemuruh serta teriakan-teriakan yang bagaikan mengguncang Gunung Merapi.

Sebenarnyalah bahwa pertempuran telah berlangsung di sekitar tempat yang terbuka itu. Demikian anak panah sendaren itu dilepaskan, maka Ki Rangga Suraniti dan Ki Nukilan telah memerintahkan para prajurit untuk menyerang dari segala arah.

Untuk beberapa saat Wijang dan Paksi menunggu.  Jika pertempuran itu merambat sampai ke tempat mereka bersembunyi, maka mereka harus dengan cepat menyingkir.

Tetapi yang mereka lihat kemudian, beberapa orang justru telah menembus sampai ke lapangan rumput yang terbuka itu.

Para pemimpin dari beberapa perguruan yang sedang berkumpul itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka mulai berpencar. Para cantrik serta pengikut mereka pun telah mengikuti para pemimpin perguruan mereka. Sementara yang lain berusaha untuk menahan orang-orang yang datang menyerang itu memasuki lapangan rumput.

Dengan demikian, maka pertempuran pun menjadi semakin sengit. Dengan ketajaman penglihatannya yang dilandasi Aji Sapta Pandulu, maka Wijang pun melihat bahwa sebagian dari mereka yang menyerang tempat itu bukanlah prajurit. Wijang dapat mengenali mereka dari senjata mereka, cara mereka bertempur dan sikap mereka dalam kebersamaan. Para prajurit yang sudah terlatih dalam perang gelar, akan dapat saling mengaitkan diri yang satu dengan yang lain dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak saja mengandalkan kemampuan pribadi, tetapi mereka mampu saling mengisi dan saling mendukung dalam kesulitan yang timbul di medan.

Tetapi sekelompok orang di antara mereka bertempur benar-benar atas dasar keyakinan kemampuan pribadi mereka masing-masing. Meskipun bukan berarti tidak ada kerja sama sama sekali, tetapi kadarnya hanya kecil sekali dibandingkan dengan mengandalkan kemampuan pribadi mereka masing-masing.

“Sebagian dari mereka memang bukan prajurit,” desis Wijang. Ia termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kita akan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.”

Paksi pun terdiam. Diperhatikannya pertempuran yang terjadi di lapangan rumput itu, sementara di beberapa tempat yang lain, pertempuran pun berlangsung dengan serunya pula. Dentang senjata beradu berbaur dengan teriakan-teriakan mereka yang bertempur.  Hentakan kemarahan, aduh kesakitan dan sorak kemenangan-kemenangan kecil di berbagai sudut medan yang luas itu.

Gerumbul dan semak-semak pun tersibak. Ranting-ranting berpatahan dan daun-daun pun berguguran runtuh di tanah. Darah mulai mengalir membasahi lereng Gunung Merapi.

Ujung-ujung  senjata  mulai  merah  dan jantung pun  menjadi seakan-akan membara.

Wira Bangga tidak lagi dapat menahan diri. Tiba-tiba saja ia pun telah meloncat memasuki arena pertempuran. Goloknya yang besar dengan cepat telah mematuk korbannya.

Tetapi seorang yang bertubuh tinggi tegap telah menyongsongnya, sehingga keduanya pun telah terlibat dalam pertempuran yang sengit.

“Siapakah orang yang bertubuh raksasa itu, Wijang?” bertanya Paksi.

Wijang menggeleng. Katanya, “Aku belum mengenalnya. Tetapi nampaknya ia juga berilmu tinggi, sehingga mampu mengimbangi ilmu Wira Bangga.”

Paksi menjadi tegang. Ia melihat Ki Rangga Suraniti sudah terlibat dalam pertempuran melawan Ki Kebo Serut. Sementara Ki Nukilan bertempur melawan Sima Pracima.

Dua orang yang tidak dikenal oleh Wijang segera terlibat dalam pertempuran melawan Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.

Wijang dan Paksi memang menjadi tegang. Pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran yang sengit, keras dan bahkan kemudian menjadi kasar. Orang-orang berilmu tinggi itu telah meningkatkan ilmu mereka dengan cepat. Namun kedua belah pihak memiliki orang-orang yang dapat mereka andalkan.

Dalam pada itu, di luar lapangan rumput itu pertempuran menjadi semakin meluas. Namun Wijang dan Paksi tidak beranjak dari tempat mereka bersembunyi. Nampaknya pertempuran itu tidak akan merangkak sampai ke tempat mereka. Meskipun pertempuran itu seakan-akan melingkar di seputar lapangan rumput yang terbuka itu, namun tempat persembunyian kedua orang itu tidak tersentuh.

Kebo Serut yang tua itu ternyata masih memiliki tenaga yang sangat besar. Ki Rangga Suraniti yang berilmu tinggi itu pun beberapa kali harus berloncatan surut. Setiap kali pedangnya membentur tongkat besi yang bercabang di ujungnya, seperti tanduk seekor kerbau jantan, meskipun jauh lebih kecil dari tanduk yang sebenarnya.

Pertempuran yang semakin sengit telah membakar lapangan rumput yang terbuka itu. Bahkan di gerumbul-gerumbul di sekitarnya pun terjadi pula pertempuran yang berkobar dengan serunya. Benturan senjata telah melontarkan bunga api yang memercik seperti ribuan kunang-kunang yang berterbangan, namun kemudian runtuh, jatuh di tanah.

Wijang dan Paksi menjadi tegang. Beberapa orang berilmu tinggi telah mendapat musuhnya masing-masing. Namun Wijang dan Paksi tidak melihat lagi Nyi Melaya Werdi dan Nyi Megar Permati. Tetapi keduanya yakin, bahwa kedua orang perempuan itu pun telah terlibat dalam pertempuran pula.

Ketika pertempuran menjadi semakin sengit, maka para cantrik dari setiap perguruan seakan-akan telah berkumpul di sekitar guru mereka masing-masing sambil bertempur melawan para prajurit dan orang-orang yang menyerang tempat pertemuan itu. Para pemimpin dari beberapa perguruan itu pun kemudian telah memencar. Mereka tidak lagi terikat untuk tetap berada di tempat yang terbuka itu.

Dalam pada itu, maka ternyata para prajurit Pajang yang bertempur bersama kelompok-kelompok orang yang tidak dikenal, mulai berhasil mendesak para cantrik dari perguruanperguruan yang tengah menyelenggarakan pertemuan itu. Jumlah prajurit Pajang yang berada di Prambanan itu sendiri memang tidak mencukupi untuk menguasai para cantrik dari beberapa perguruan itu. Namun di samping para prajurit masih ada kelompok-kelompok yang ikut bersama mereka.

Sejenak kemudian, maka pertempuran pun telah menebar di arena yang semakin luas. Seolah-olah akan memenuhi lereng Gunung Merapi di sisi selatan.

Di arena yang luas itu, korban telah jatuh berserakan. Ada yang terluka, tetapi ada pula yang terbunuh. Ki Kebo Serut ternyata masih cukup perkasa menghadapi Ki Rangga Suraniti. Betapa pun Ki Rangga Suraniti mengerahkan ilmunya, namun Ki Rangga tidak dapat menguasai dan apalagi menangkap lawannya hidup atau mati. Bahkan sekali-sekali Ki Rangga harus berloncatan mengambil jarak, memperbaiki kedudukannya dan mencoba melawan lagi.

Dalam pertempuran itu kadang-kadang masih juga terdengar teriakan Pupus Rembulung, melengking mengatasi riuhnya pertempuran. Perempuan itu benar-benar memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan, sehingga lawannya kadang-kadang terkejut karenanya.

Kemampuan Pupus Rembulung ternyata tidak kalah dengan ketangkasan para pemimpin perguruan yang lain.

Meskipun para prajurit dan kelompok-kelompok orang yang tidak dikenal itu berusaha mengepung tempat pertemuan itu, namun mereka tidak berhasil menguasai mereka sepenuhnya. Ternyata para cantrik dari beberapa perguruan itu berhasil menembus kepungan yang merapat. Bahkan yang terjadi kemudian adalah perang brubuh yang tidak lagi dibatasi garis pertempuran.

Semakin lama, maka Wijang pun menjadi semakin jelas melihat pertempuran yang memang menjadi semakin dekat dari tempat mereka bersembunyi. Wijang melihat para prajurit yang bertempur beberapa langkah di hadapannya memang mengenakan ciri-ciri keprajuritan mereka dengan lengkap. Pakaian yang mereka kenakan adalah pakaian keprajuritan pula.

Namun semakin lama Wijang dan Paksi tidak lagi mampu melihat pertempuran itu dalam keseluruhan. Mereka tidak tahu lagi dimana Kebo Serut bergeser. Kemana Repak dan Pupus Rembulung bersama para pengikutnya menyingkir dan kemana pula Sima Pracima dan Wira Bangga. Gedhag Panunggul masih nampak sekilas. Tetapi kemudian segala-galanya telah menjadi kacau.

“Satu usaha yang berhasil,” desis Wijang.

“Maksudmu?”

“Para pemimpin perguruan yang terlibat dalam pertemuan ini dengan sengaja membuat medan menjadi kacau seperti itu. Mereka akan mempunyai kesempatan yang baik untuk menyingkir dari tempat ini.”

Paksi mengangguk-angguk. Dalam pertempuran yang kacau di daerah yang bersemak-semak dan dilingkungi oleh pepohonan perdu, agaknya memang sulit untuk dapat menguasai medan dengan baik.

Sebenarnyalah kepungan prajurit Pajang dan sekelompok orang yang menyertai mereka tidak berhasil mengurung orang-orang dari beberapa perguruan yang sedang menyelenggarakan pertemuan itu. Para cantrik dari beberapa perguruan yang mempunyai pengalaman dalam benturan-benturan ilmu yang keras dan kasar, memang tidak mudah untuk dijinakkan.

Meskipun pertempuran itu menjadi semakin dekat dengan persembunyian Wijang dan Paksi, namun mereka sama sekali tidak beranjak dari tempat mereka.

“Sebaiknya kita tidak ikut campur,” desis Wijang.

Paksi mengangguk. Tetapi ia pun bertanya, “Nampaknya kau melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya.”

“Ya. Tetapi aku sendiri tidak tahu, apa sebenarnya yang tidak wajar itu. Mungkin kehadiran orang-orang yang tidak aku kenal di antara para prajurit itu.”

Paksi tidak menyahut. Tetapi ia mulai bersiap-siap. Pertempuran di lereng Gunung Merapi itu telah meluas sampai kemana-mana.

Tetapi ternyata yang terjadi kemudian telah menyelamatkan persembunyian Paksi dan Wijang. Gelombang yang bergejolak di lereng sebelah selatan Gunung Merapi itu seakan-akan menjadi semakin mereda. Pertempuran yang bagaikan air yang mendidih di tempat terbuka itu seakan-akan menjadi semakin dingin.

Dimana-mana terdengar isyarat-isyarat yang tidak dimengerti. Berbagai bunyi yang berbeda-beda menandai susutnya pertempuran yang kacau itu. Agaknya setiap perguruan dengan isyaratnya masing-masing telah memerintahkan orang-orangnya untuk menarik diri dari medan.

Demikianlah, maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin surut. Tidak lagi terdengar teriakan-teriakan kemarahan dan keluhan kesakitan. Tidak pula terdengar sorak-sorak kemenangan dan bentakan-bentakan serta umpatan-umpatan kasar. Lengking teriakan Pupus Rembulung pun sudah tidak terdengar lagi.

Yang kemudian dilihat oleh Wijang dan Paksi adalah beberapa orang prajurit di tempat yang terbuka itu. Namun seperti disengat lebah Wijang terkejut. Bahkan ia pun telah bergeser setapak maju.

“Paman Harya Wisaka.”

Paksi berpaling. Ia sempat melihat ketegangan mencengkam perasaan Wijang. Di luar sadarnya Paksi bertanya, “Siapakah yang kau maksud?”

“Yang berbicara dengan Ki Rangga Suraniti itu adalah Paman Harya Wisaka.”

“Siapakah Harya Wisaka itu?”

“Salah seorang bangsawan dari Demak.”

“Dari Demak?”

“Ya.”

“Jadi, apa salahnya? Bukankah mungkin saja seorang dari Demak kini berada di Pajang dan menjadi salah seorang pemimpin di Pajang? Bukankah ayahanda Pangeran juga menantu Kangjeng Sultan Demak?”

“Tetapi yang satu ini agak lain. Ia mempunyai jalurnya sendiri. Bahkan aku masih menghormati Paman Harya Penangsang daripada Paman Harya Wisaka. Paman Harya Penangsang masih mempunyai alasan yang masuk akal jika ia ingin mewarisi Kerajaan Demak. Tetapi agaknya Paman Harya Wisaka ingin menangkap masa depan dengan caranya.”

“Cincin itu?” bertanya Paksi.

“Ya. Agaknya ia sudah bekerja bersama dengan beberapa orang senapati Pajang. Antara lain adalah Ki Rangga Suraniti.”

Paksi mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, “Jadi mereka juga menganggap bahwa cincin itu ada disini?”

“Aku tidak tahu. Tetapi agaknya mereka ingin menghancurkan saingannya yang dirasanya semakin lama akan menjadi semakin kuat. Sehingga akan menjadi sangat berbahaya baginya.”

Paksi masih saja mengangguk-angguk. Namun keduanya menjadi tegang ketika mereka melihat seseorang telah diseret menghadap orang yang disebut Harya Wisaka itu.

Wijang dan Paksi pun kemudian mengikuti perkembangan keadaan dengan jantung yang berdebaran.

“Seorang perempuan,” desis Paksi.

“Agaknya dari Perguruan Goa Lampin,” sahut Wijang.

Paksi tidak menyahut. Perhatiannya sepenuhnya tertumpah kepada seorang perempuan yang telah tertangkap oleh para prajurit Pajang itu.

“Dimana Melaya Werdi, he?” bertanya Harya Wisaka.

“Ia mengenal pemimpin Perguruan Goa Lampin itu,” desis Paksi.

“Paman Harya Wisaka mengenali semua perguruan dan kelompok-kelompok yang ada di Pajang dan bahkan Demak, Jipang, Pati, dan daerah-daerah lain. Bahkan sampai ke daerah sebelah timur.”

Paksi terdiam. Yang kemudian tertangkap oleh pendengarannya yang dialasi dengan Aji Sapta Pangrungu adalah pertanyaan Harya Wisaka sekali lagi, “Dimana Melaya Werdi?”

“Aku tidak tahu,” jawab perempuan itu.

“Megar Permati?” bentak Harya Wisaka.

“Aku juga tidak tahu. Kami melarikan diri untuk mencari keselamatan kami masing-masing tanpa sempat menghiraukan yang lain.”

“Kau harus menunjukkan, dimana Melaya Werdi dan Megar Permati, kau harus menunjukkan persembunyian mereka.”

“Pekerjaan yang sia-sia. Guru tidak akan berada di tempatnya. Mungkin guru akan langsung kembali ke perguruan.”

Perempuan itu mengaduh tertahan. Tangan Harya Wisaka telah menyambar dagu perempuan itu sehingga wajahnya berpaling.

“Kau jangan mempermainkan kami,” teriak Harya Wisaka

“Jika kau memaksa aku menunjukkan perguruan kami, aku akan menunjukkannya.”

“Diam. Aku sudah tahu dimana letak perguruanmu. Yang aku tanyakan dimana Melaya Werdi dan Megar Permati bersembunyi di lingkungan ini.”

“Keduanya selalu berpindah-pindah. Kau tidak akan menemukannya.”

“Jaga mulutmu. Kau tahu dengan siapa kau berbicara?”

Perempuan itu menggeleng. Sementara itu dengan lantang Harya Wisaka itu berkata, “Perempuan iblis. Kau sekarang berhadapan dengan Harya Wisaka.”

“Harya Wisaka,” desis perempuan itu.

“Kau sudah dengar nama itu?”

Perempuan itu menggeleng sambil menjawab, “Belum. Aku belum pernah mendengar nama Harya Wisaka.”

Sekali lagi tangan Harya Wisaka menyambar mulut perempuan itu. Sekali lagi perempuan itu mengaduh.

“Kau tentu sudah mendengar namaku.  Orang di seluruh tanah ini sudah mendengar namaku. Harya Wisaka.” Perempuan itu terdiam.

“Katakan, bahwa kau pernah mendengar nama Harya Wisaka. Seorang prajurit yang tidak ada duanya di seluruh Demak, Kudus, Pati, Jipang dan bahkan Pajang.”

Ketika perempuan itu diam saja, maka tiba-tiba saja Harya Wisaka telah menggenggam rambut perempuan itu sambil berteriak, “Kau harus sudah mengenal namaku.”

Ketika kepala perempuan itu diguncang, maka perempuan itu pun segera berteriak pula, “Ya, ya. Sekarang aku ingat. Harya Wisaka. Prajurit terbaik dari Pajang.”

“Setan betina,” geram Harya Wisaka sambil melepaskan rambut perempuan itu. “Jika kau belum mengenal namaku, maka kau tidak pantas hidup di bumi Pajang.”

Perempuan itu menundukkan kepalanya.

“Nah, sekarang katakan bahwa Melaya Werdi atau Megar Permati telah menyembunyikan Pangeran Benawa. Mereka menangkap Pangeran Benawa dan menyimpan di dalam sarang mereka di dalam kerangkeng-kerangkeng besi itu.”

Perempuan itu mengangkat wajahnya. Dengan serta-merta ia menjawab, “Tidak. Kami tidak menangkap Pangeran Benawa.”

“Jangan bohong. Aku dapat memenggal lehermu.”

Perempuan itu termangu-mangu. Sementara Wijang pun berdesis, “Sangat menarik.”

“Ternyata Harya Wisaka itu berusaha membebaskan Pangeran Benawa,” gumam Paksi.

“Omong kosong. Paman Harya Wisaka tentu mengetahui, setidak-tidaknya menduga bahwa cincin itu memang dibawa oleh Pangeran Benawa. Yang penting bagi Paman Harya, bukannya kebebasan Pangeran Benawa, tetapi cincin itulah yang diburunya.”

Paksi terdiam. Sementara itu perempuan yang tertangkap itu pun berkata, “Apa pun yang akan terjadi padaku, tidak akan merubah keteranganku. Kami tidak menangkap Pangeran Benawa. Bahkan kami menganggap bahwa Pangeran Benawa itu berada di istana Pajang.”

“Tetapi orang dari perguruan lain mengatakan, bahwa orang-orang Goa Lampin telah menangkap Pangeran Benawa dan menyembunyikannya di dalam sarangnya atau di tempat lain.”

“Meskipun kau penggal leherku, jawabku akan sama, karena hal itu memang tidak terjadi,” jawab perempuan itu, yang nampaknya tidak menjadi ketakutan.

Harya Wisaka itu pun menjadi semakin marah. Tiba-tiba saja ia berteriak, “Bawa orang itu kemari.”

Sejenak kemudian, maka seorang prajurit telah mendorong seorang yang bertubuh tinggi besar ke hadapan Harya Wisaka. Dengan geramnya Harya Wisaka itu bertanya, “He, bukankah kau mengatakan bahwa Pangeran Benawa sekarang ada di tangan Melaya Werdi dan Megar Permati?”

Laki-laki itu memandang perempuan dari Goa Lampin itu dengan ragu-ragu. Namun tiba-tiba ia pun bertanya, “Bukankah Pangeran Benawa ada di tangan gurumu?”

“Kau tidak perlu memfitnah.”

“Tidak ada perguruan lain yang akan melakukannya. Ketika Harya Wisaka mempertanyakan, dimana Pangeran Benawa disembunyikan, maka aku memang mengatakan bahwa satu-satunya kemungkinan Pangeran Benawa disimpan dalam kerangkeng-kerangkeng besi oleh orang-orang Goa Lampin.”

Tiba-tiba saja Harya Wisaka menangkap baju orang itu dan mengguncangnya, “Kau hanya sekedar menduga-duga atau sudah pasti bahwa Pangeran Benawa berada di tangan orang-orang Goa Lampin?”

“Aku tidak tahu pasti. Aku hanya menduga-duga, karena sepengetahuanku, hanya orang-orang Goa Lampin sajalah yang sering menangkap dan menyimpan orang-orang tampan. Menurut pengertianku, Pangeran Benawa itu tentu seorang yang tampan.”

“Kau permainkan aku, he?”

“Bukan maksudku.”

Tetapi orang itu seakan-akan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena tiba-tiba saja Harya Wisaka itu telah menarik pedangnya dan menghunjamkan langsung ke dada orang itu.

Orang itu tidak sempat mengaduh. Demikian Harya Wisaka menarik pedangnya, maka orang itu pun segera jatuh terjerembab.

 -ooo00dw00ooo-

Diedit dari

naskah yang dikirimkan oleh Nyi Dewi KZ (Website Tirai Kasih)

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s