HLHLP-000


<<kembali | lanjut >>

MAHENDRA ternyata tidak sempat beristirahat untuk menikmati satu ketenangan di hari tuanya. Semula Mahendra menduga, bahwa apabila Mahisa Bungalan telah menemukan hari-hari yang mapan setelah perkawinannya dengan gadis yang dipilihnya sendiri, ia akan dapat tidur nyenyak tanpa kegelisahan.

Tetapi persoalan baru ternyata telah timbul.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin meningkat. Bukan saja umurnya, tetapi juga wawasannya tentang hidup dan kehidupan. Apa yang diketahuinya sehari-hari di sekelilingnya terasa sangat sempit dan terbatas. Keinginan yang tidak tertahankan telah mendorong mereka untuk melihat dunia yang lebih luas.

“Kalian tidak memberi kesempatan aku hidup tenang.” berkata ayahnya.

“Kenapa?” bertanya Mahisa Murti.

“Kau sudah mulai merengek untuk melakukan perjalanan yang membuat ayah tidak dapat tidur di malam hari, dan tidak makan dengan tenang di siang hari.” berkata ayahnya.

Mahisa Pukat tertawa. Katanya, “Kakang Mahisa Bungalan juga pernah bahkan terlalu sering melakukan pengembaraan.”

”Karena itulah, aku ingin beristirahat dari kegelisahan semacam itu.” jawab Mahendra.

“Aku tidak pernah melihat ayah tidak dapat tidur di malam hari dan tidak dapat makan dengan tenang di siang hari. Selama kakang Mahisa Bungalan pergi, ayah juga selalu tidur nyenyak. Bahkan tidak saja di malam hari. Juga di siang hari. Demikian juga ayah dapat makan dengan sedapnya di siang hari, bahkan kadang-kadang juga di malam hari.” sahut Mahisa Pukat.

“Tentu saja tidak dalam arti sebenarnya,” jawab ayahnya, “tetapi dalam arti kiasan. Meskipun aku dapat tidur nyenyak, tetapi setiap saat aku teringat kepergian kakakmu, aku menjadi gelisah.”

“Sebaliknya ayah tidak memikirkan kami berdua,” berkata Mahisa Murti, “kami akan menempuh perjalanan yang paling aman bagi kami. Kami hanya ingin melihat-lihat. Tidak lebih dan tidak kurang.”

“Demikian juga yang dikatakan oleh kakakmu pada waktu itu. Tetapi bertualang seolah-olah tidak dapat terpisahkan lagi dari jalan hidupnya kemudian. Ia sudah menunda beberapa kali kesediaannya memasuki lingkungan keprajuritan sebagaimana sudah disangupkan.” berkata ayahnya.

Kedua adik Mahisa Bungalan itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ternyata keduanya benar-benar sudah bertekad bulat. Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Aku mohon ayah bersikap adil. Jika kakang Mahisa Bungalan pernah mendapat kesempatan, kami pun mohon untuk mendapat kesempatan.”

Mahendra tidak segera menjawab. Tetapi ia merasa bahwa ia tidak akan dapat menolak permintaan anak-anaknya itu. Bahkan seandainya ia berkeras untuk melarang, maka mungkin sekali akan dapat timbul persoalan baru yang justru akan lebih membuatnya berprihatin.

“Asal permintaan mereka itu dilambari dengan tujuan yang baik dan bermanfaat,” berkata ayahnya di dalam hatinya, “sehingga dengan demikian mereka justru memerlukan bekal yang lebih lengkap.”

Akhirnya Mahendra telah mengambil satu keputusan, bahwa ia tidak akan melarang anak-anaknya menempuh satu perjalanan, tetapi keduanya harus menurut segala petunjuknya.

“Apakah aku pernah menentang petunjuk-petunjuk yang pernah ayah berikan?” bertanya Mahisa Murti.

“Tidak,” jawab ayahnya, “aku tahu, kalian adalah anak yang baik. Meskipun demikian aku masih merasa perlu mengatakan hal itu kepadamu, karena aku melihat gejala-gejala bahwa kalian akan menentukan sikap yang sebelumnya belum pernah kalian ambil jika aku salah menanggapi permintaan kalian.”

Kedua anaknya terdiam. Sementara Mahendra berkata selanjutnya, “Karena itu aku ingin melakukan satu perbuatan yang tepat bagi kalian pada saat seperti ini.”

Kedua anaknya masih berdiam diri.

“Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,” berkata ayahnya, “kalian memang sudah menjadi semakin dewasa. Karena itu, kalian harus sudah dapat menanggapi kata-kata ayah dengan sikap dewasa.”

Kedua anaknya itu mengangguk.

“Karena itu, maka dengarlah.” Mahendra terdiam sejenak.

Lalu, “Aku dapat melihat akibat petualangan kakakmu. Pada suatu saat, kakakmu terperosok ke dalam satu padepokan kecil. Di padepokan itu kakakmu bertemu dengan seorang gadis. Nah, kau tahu apa yang terjadi kemudian. Hidupnya seakan-akan telah dibakar oleh pertemuannya itu. Meskipun dalam beberapa hal terjadi peristiwa yang tidak langsung nampak bersangkut paut dengan pertemuannya itu. Tetapi kalau kau sempat melihat ke dalam dasar persoalannya, maka kau akan melihat semuanya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk.

“Untunglah, bahwa segalanya berakhir dengan baik. Kakakmu Mahisa Bungalan akhirnya menyelesaikan petualangannya dan bahkan ia telah kawin dengan Ken Padmi  menurut tata cara yang sewajarnya. Dengan demikian, kita dapat bersyukur kepada Yang Maha Agung atas tuntunan Nya.” berkata Mahendra. Tetapi kemudian, “Namun demikian, aku minta kau dapat menilai apa yang telah terjadi. Aku tidak melarang anak-anakku berhubungan dengan seorang gadis, karena pada saatnya kalian akan hidup bersama dengan seorang perempuan. Tetapi dalam pengembaraan kalian nanti, hendaknya kalian dapat dapat menjaga diri. Bukankah kalian mengembara tidak untuk mendapatkan seorang jodoh?”

Kedua anak muda itu mendengar nasehat ayahnya dengan saksama. Hampir di luar sadar, mereka menilai apa yang telah dilakukan oleh kakaknya, Mahisa Bungalan.

Kedua anak muda itu kemudian telah mendengar apa yang terjadi setelah kakaknya bertemu dengan seorang gadis yang bernama Ken Padmi. Peristiwa demi peristiwa saling menyusul. Tidak jarang kakaknya dihadapkan pada bahaya yang mengancam jiwanya. Bahkan dalam perkembangan persoalannya, maka terpaksa ayahnya, kedua pamannya, Witantra dan Mahisa Agni, harus terlibat pula ke dalamnya.

Hanya karena kemurahan Yang Maha Agung sajalah maka akhirnya segalanya dapat diatasi. Ken Padmi yang sudah hampir terlepas dari hati Mahisa Bungalan itu pun akhirnya dapat bertaut kembali. Bahkan akhirnya ayahnya telah datang untuk melamar gadis itu, sehingga perkawinannya dapat berlangsung pada saat Mahisa Bungalan telah menerima wisuda sebagai seorang prajurit.

“Sebenarnyalah hanya karena kemurahan Yang Maha Agung persoalan-persoalan yang susul menyusul itu dapat diatasi.” berkata anak-anak muda itu di dalam hatinya.

Karena itu, maka mereka pun telah berjanji di dalam hati, untuk mematuhi pesan ayahnya, bahwa di dalam pengembaraan mereka, maka mereka akan berbuat lebih hati-hati dalam hubungan mereka dengan gadis-gadis di sepanjang perjalanan.

“Bagaimana pendapat kalian berdua?” anak-anak muda itu terkejut ketika mereka mendengar ayahnya bertanya.

Sekilas mereka saling berpandangan. Kemudian Mahisa Pukat menjawab dengan nada dalam, “Kami akan mematuhi pesan ayah. Kami menyadari, apa yang pernah terjadi dengan kakang Mahisa Bungalan.”

Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Aku percaya kepada kalian. Dengan demikian kalian telah mengurangi satu segi kegelisahanku.” Mahendra berhenti sejenak, lalu, “Tetapi aku masih mempunyai syarat yang lain.”

Kedua anak muda itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu Mahisa Murti bertanya, “Syarat apa lagi, ayah?”

“Kalian harus melengkapi bekal perjalanan kalian,” berkata ayahnya, “aku masih ingin mengurangi beban perasaanku lagi, meskipun satu segi telah dapat aku kesampingkan.”

Kedua anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara ayahnya berkata, “Kalian masih memerlukan waktu beberapa bulan lagi, sebelum kalian meninggalkan rumah ini.”

”Beberapa bulan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ya. Apakah artinya beberapa bulan dengan rencana pengembaraanmu? Kalian harus menyadari, bahwa dalam pengembaraan itu kadang-kadang kalian harus berusaha menyelamatkan diri sendiri dari bahaya yang tidak kalian perhitungkan sebelumnya. Meskipun sebenarnyalah bahwa pengembaraan kalian bukanlah berniat untuk mencari lawan. Justru kalian harus sejauh mungkin menghindarkan diri dari sikap dan tindak kekerasan. Kalian harus berusaha menyelesaikan semua persoalan yang timbul dengan sikap yang baik tanpa mempergunakan ilmu yang manapun juga dari olah kanuragan. Hanya dalam keadaan tertentu, di mana kalian harus melindungi hidup kalian, maka kalian terpaksa mempergunakan ilmu yang telah kalian pelajari.”

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Agaknya mereka memang tidak dapat menolak maksud ayahnya untuk menunda perjalanan mereka dengan beberapa bulan. Karena yang beberapa bulan itu akan dapat menentukan akibat yang jauh dalam pengembangan mereka.

“Jika kalian bersedia, maka yang beberapa bulan itu harus kalian isi dengan kerja keras. Kalian harus mencapai satu tingkatan sebagaimana dicapai oleh kakakmu sebelum melakukan pengembaraan. Ternyata kakakmu berhasil mengembangkan ilmunya, sehingga pada saat pengembaraannya berakhir, Mahisa Bungalan telah memiliki tataran ilmu yang tinggi.” berkata Mahendra kemudian.

Kedua anaknya itu mengangguk. Mereka memang tidak dapat mengelak. Bahkan mereka merasa tertarik kepada tawaran ayahnya itu. Karena dengan memperdalam ilmu, maka mereka akan mendapat bekal yang lebih banyak dalam pengembaraan mereka, meskipun sebagaimana dikatakan oleh ayahnya, bahwa olah kanuragan adalah bekal yang boleh dipergunakan hanya dalam keadaan yang memaksa.

“Jika demikian,” berkata Mahendra, “mulai besok kalian harus mempergunakan waktu kalian sebagian besar di dalam sanggar untuk menempa diri.”

Kedua anak muda itu tidak mengelak. Mereka memang sudah mengerti, bahwa mereka harus bekerja keras sebelum mereka meninggalkan rumah mereka.

Demikianlah sejak berikutnya, kedua anak muda itu telah menempa diri. Mahendra memang telah memberikan semua dasar ilmu yang ada padanya. Namun sebelum kedua anaknya meninggalkan rumah mereka, maka Mahendra ingin membuka pintu bagi kedua anaknya untuk memperkembangkan ilmunya lebih luas lagi. Bahkan dalam waktu yang sudah direncanakan, ayahnya ingin memberikan ilmu pamungkas yang merupakan puncak kekuatan ilmunya kepada kedua anaknya itu.

Bahkan dalam saat-saat yang demikian, Mahendra telah berhubungan pula dengan Witantra dan Mahisa Agni, sehingga orang-orang tua itu pun telah ikut pula menempa kedua anak muda itu agar mereka benar-benar siap menghadapi sebuah pengembaraan.

“Kalian tidak tahu apa akan terjadi di perjalanan,” berkata Mahisa Agni ketika ia sudah berada di rumah Mahendra, “karena itu, kalian harus benar-benar bersiap menghadapi segala kemungkinan. Namun demikian, perjalanan kalian memang tidak untuk memamerkan kemampuan kalian.”

Ketika Mahisa Bungalan mendengar rencana kedua adiknya untuk pergi meninggalkan rumahnya, maka ia pun hanya dapat mengelus dadanya. Ia tidak dapat mencegahnya, karena ia sendiri pernah melakukannya.

Namun justru karena itu, maka Mahisa Bungalan pun telah menemui kedua adiknya untuk memberikan beberapa pesan berdasarkan atas pengalamannya selama mengembara.

“Hindarkan diri dari persoalan-persoalan yang akan dapat menyeratmu ke dalam kesulitan. Karena jika kalian terjerat ke dalam persoalan yang tidak dapat lagi kalian lepaskan, maka kalian akan sampai pada suatu keputusan untuk mempergunakan kekerasan.” berkata Mahisa Bungalan.

Kedua adiknya mengangguk-angguk. Mereka percaya bahwa kakaknya mempunyai pengalaman yang luas dalam pengembaraan yang pernah dilakukan. Namun yang menurut ayahnya, justru kakaknya itu telah terjerat oleh persoalan yang justru menjadi sangat gawat. Karena kakaknya itu telah menyentuh bunga yang sedang mekar di sebuah padepokan kecil.

Tetapi kedua adiknya tidak menyentuh hal itu, karena keduanya tidak ingin membuat kakaknya itu tersinggung.

Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun ternyata sependapat pula dengan ayahnya, bahwa meskipun bukan bekal yang paling baik, namun anak muda itu harus menempa diri, meningkatkan ilmu kanuragan, sehingga jika diperlukan akan dapat melindungi mereka dari kesulitan yang tidak dikehendakinya.

Demikianlah, pada hari-hari berikutnya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk meningkatkan ilmunya di bawah bimbingan ayahnya sendiri, Witantra dan dilengkapi oleh Mahisa Agni yang mempunyai sumber ilmu yang berbeda, namun yang dengan kemampuannya yang tinggi, dapat membantu Mahisa Pukat dan Mahisa Murti mengisi kekurangan yang terdapat pada ilmu yang telah diterimanya.

Ternyata kedua anak anak muda itu tidak kalah cerdas dari kakaknya. Ketika keduanya dengan sungguh-sungguh menempa diri, maka kemampuan mereka pun telah meningkat dengan cepat. Dasar-dasar ilmu yang telah mereka kuasai itu pun mekar dengan kelengkapan yang lebih luas justru karena hadirnya Mahisa Agni.

“Kau memiliki dasar yang baik,” berkata Mahisa Agni kepada kedua anak muda itu, “namun demikian, bukan berarti bahwa kalian telah berada di puncak kemampuan tanpa dapat di kalahkan oleh siapa pun juga. Jangan merasa bahwa ilmu yang kalian miliki adalah ilmu yang sempurna. Di atas ilmu yang bagaimanapun tinggi, tentu masih ada kekuatan yang akan dapat menghancurkannya. Kalian harus menyadarinya.”

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk.

Namun dalam pada itu, dengan tanpa mengenal lelah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah melatih diri di dalam sanggar siang dan malam. Hanya dalam waktu-waktu yang pendek di siang hari dan apabila malam telah larut, keduanya beristirahat. Dengan atau tidak dengan ayah serta paman-paman mereka, mereka mempergunakan seluruh kesempatan yang ada.

Dengan demikian, maka terasa waktu perjalanan dengan cepat.

Sebulan telah dilalui. Dan kedua anak muda itu pun menjadi semakin tangkas dalam olah kanuragan.

Pada hari-hari berikutnya, mereka meningkatkan kemampuan mereka mempergunakan senjata. Segala jenis senjata. Senjata yang sebenarnya, maupun apa saja yang akan dapat mereka ketemukan di sembarang tempat. Potongan kayu turus pagar atau sulur pepohonan. Bahkan batu sekalipun.

Dengan sungguh-sungguh keduanya mengikuti segala petunjuk dan tuntutan yang diberikan kepadanya. Pada saat-saat tertentu mereka menyempurnakan ilmu pedang mereka. Namun pada saat lain mereka bermain-main dengan tombak pendek dan panjang.

Namun mereka masih harus mempertajam kemampuan bidik mereka.

Keduanya dengan tekun berlatih mempergunakan busur dan anak panah. Kemudian keduanya berlatih mempergunakan paser dan bahkan kemudian lemparan-lemparan dengan batu yang akan mereka dapatkan di sembarang tempat.

Pada kesempatan lain mereka berlatih mempergunakan senjata lentur. Mulai dari ujung rotan, sampai kepada cemeti pendek dan cambuk yang berjuntai panjang. Bahkan mereka mempelajari kemungkinan yang dapat mereka lakukan dengan mempergunakan tali dan sulur-sulur pepohonan.

Dengan tekad yang membara di dalam dada mereka, maka kedua anak muda itu dapat menyelesaikan bulan kedua dengan hasil yang dapat mereka banggakan. Namun, seperti yang dipesankan oleh ayah mereka, oleh Witantra dan Mahisa Agni, bahwa mereka jangan terlalu berbangga dengan ilmu kanuragan yang telah mereka kuasai.

Sementara itu, maka di bulan ketiga, Mahendra telah menyiapkan kedua anak-anaknya untuk menerima ilmu pamungkas yang jarang ada bandingnya. Bersama Witantra yang memiliki ilmu yang sejalan, kedua anak muda itu telah menempa lahir dan batinnya, agar mereka siap untuk menerima ilmu tertinggi dari jalur ilmu mereka.

Dalam pada itu, Mahisa Agni tidak lagi banyak dapat membantu, meskipun pada saat yang lain, jika diperlukan, ia pun akan dapat memberikan tuntunan untuk mencari kemungkinan agar puncak ilmu dari jalur perguruannya pun akan dapat di terima oleh anak-anak itu. Tetapi sudah barang tentu hal itu akan diperlukan waktu untuk dapat mencapai tujuan yang sebaik-baiknya.

Namun jika puncak ilmu dari jalur perguruan Mahendra dan Witantra itu dikuasai dengan baik oleh Mahisa Pukat dan Mahisa Murti meskipun masih belum dalam tataran tertinggi, karena masih akan dapat diperkembangkan lagi oleh pengalaman dan kematangan daya serap dari daya ungkapnya.

Dengan tekad yang membara di hati, maka waktu yang ditentukan oleh Mahendra itu pun akhirnya dapat diselesaikan sebagaimana seharusnya. Tiga bulan telah lewat. Dan saat-saat yang paling menegangkan dalam usaha menempa diri itu pun telah dilakukan.

Kedua anak muda itu mengurung diri di dalam sanggar tiga hari tiga malam menjelang saat-saat ayahnya dan Witantra sampai kepada satu keputusan untuk memberikan kemampuan dasar dari puncak ilmunya.

Sehari semalam setelah mereka mengurung diri tiga hari tiga malam, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyediakan dirinya untuk menyadap, selanjutnya menguasai puncak ilmu yang dimiliki oleh jalur ayahnya dan Witantra, dilambari laku pati geni.

Dalam tahap-tahap terakhir keduanya harus berjuang melawan hambatan di dalam dirinya sendiri. Mereka harus menyingkirkan perasaan ragu, cemas, dan kebimbangan. Mereka harus memusatkan segenap daya rasa dan pikir serta kewadagannya untuk sampai kepada penguasaan ilmu yang dahsyat itu.

Namun akhirnya segalanya dapat dilalui dengan selamat. Meskipun pada saat-saat terakhir, kedua anak muda itu bagaikan kehilangan segenap tulang-tulangnya. Kelelahan lahir dan batin membuat keduanya seolah-olah tidak mampu lagi menguasai diri, sehingga keduanya itu pun akhirnya menjadi pingsan.

Tetapi baik Mahendra, Witantra maupun Mahisa Agni tidak menjadi cemas karenanya. Mereka mengerti, apa yang telah terjadi atas kedua anak muda itu. Dengan titik-titik air di bibir mereka, maka sejenak kemudian mereka pun menjadi sadar kembali, meskipun kelelahan lahir dan batin itu masih mencengkam mereka.

“Beristirahatlah.” berkata Mahendra.

Tertatih-tatih keduanya berusaha untuk berjalan ke sebuah amben di dalam sanggar. Ketika keduanya berhasil mencapai amben bambu itu, maka keduanya kemudian membaringkan diri dengan lemahnya.

Mahendra tersenyum. Namun ia yakin, bahwa kedua anaknya telah memiliki kemampuan yang akan dapat melindungi diri mereka dalam pengembaraan yang akan mereka lakukan.

Setelah minum beberapa teguk, maka keduanya merasa menjadi semakin segar. Karena itu, maka ketika ayahnya memintanya, keduanya pun kemudian berusaha keluar dari sanggar dan pergi ke ruang dalam.

Ternyata keduanya dapat berjalan tanpa bantuan siapa pun juga betapapun lemahnya. Demikian mereka memasuki ruang dalam, maka mereka pun dihadapkan kepada makanan yang paling lunak.

Cairan yang mengandung gelepung beras yang lembut.

“Kalian telah berhasil.” berkata ayahnya.

“Terima kasih, ayah.” hampir berbareng keduanya menyahut.

“Kau telah menempuh jalan yang paling dekat, meskipun berat. Ada laku lain yang lebih ringan, tetapi memerlukan waktu yang lebih panjang.” berkata ayahnya pula.

“Tetapi laku yang berat ini telah dapat kalian selesaikan.” sela Witantra.

“Ya, paman,” jawab Mahisa Murti, “ternyata kami mampu melakukannya.”

“Bersukurlah kepada Yang Kuasa Agung.” berkata Mahisa Agni.

“Ya. Kami merasa sukur, bahwa kami telah dikurniai kekuatan untuk menyelesaikan laku yang berat ini.” sahut Mahisa Pukat.

“Untuk selanjutnya,” berkata Witantra, “setiap penggunaan dari ilmu puncakmu ini, harus selalu kau lambari dengan satu kesadaran, dari mana kau menerima ilmu itu. Orang-orang tua ini hanyalah merupakan lantaran saja. Dengan demikian, maka kau berdua tidak akan mempergunakan dengan semena-mena. Nilai penggunaan yang terkandung di dalamnya sejalan dengan nilai kalian berdua sebagai titah tertinggi dari Yang Maha Agung.”

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa mereka tidak hanya boleh menyadap ilmu kanuragan saja, tetapi juga serba sedikit tentang kajiwan.

Hari-hari yang pendek telah dipergunakan oleh kedua anak muda itu untuk memulihkan keadaan tubuh mereka. Sekali-sekali mereka masih juga harus mengenang, apa yang telah mereka lakukan di dalam sanggar pada laku terakhir. Mereka harus memusatkan segenap rasa dan pikir, merenungi satu lambang gerak yang akan menuntun mereka kepada satu sikap untuk menerima ilmu puncak itu. Hampir di luar kesadaran, maka tubuh mereka pun telah bergerak dalam sikap itu. Kemudian satu loncatan yang dahsyat dengan ayunan tangan pada sasaran yang telah dipersiapkan.

Adalah satu pertanda bahwa mereka berhasil, ketika sasaran itu hancur berkeping-keping tersentuh oleh tangan mereka. Meskipun mengerahkan kekuatan lahir dan batin, menguras segenap tenaga cadangan mereka pada satu saat, sehingga tubuh mereka pun menjadi lemah dan bahkan keduanya menjadi pingsan.

“Semuanya telah lampau,” berkata Mahisa Murti, “rasa-rasanya ngeri juga untuk mengulanginya.”

“Ayah, paman Witantra dan paman Mahisa Agni tentu telah membuat perhitungan yang masak. Aku yakin, bahwa akan dapat melakukannya.” berkata Mahisa Pukat.

“Aku juga. Tetapi bukan karena kemampuan di dalam diriku untuk menyadap ilmu itu, tetapi semata-mata karena aku juga yakin, bahwa ayah telah memperhitungkan sebaik-baiknya.” sahut Mahisa Murti.

Namun ternyata bahwa keduanya tidak saja berpegang kepada kesadaran betapa mereka telah memiliki ilmu yang dahsyat, tetapi mereka juga berpegang kepada setiap pesan ayahnya, pamannya Witantra dan Mahisa Agni.

“Kau telah memperoleh ilmu itu dengan laku yang berat. Tetapi laku yang lebih berat, bagaimana kau mengamalkannya atas dasar perasaan kasih kepada sesama.” berkata Mahendra kepada kedua anaknya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendengarkan pesan ayahnya dengan sungguh-sungguh. Dalam usianya yang menjelang dewasa penuh, mereka tahu makna dari pesan ayahnya itu. Sebenarnyalah bahwa ia akan menghadapi banyak tantangan dari mereka sendiri. Kesombongan, ketamakan, dengki dan iri hati akan dapat mewarnai hidupnya jika mereka tidak mampu menguasai diri, sehingga dengan demikian maka ilmu dan kemampuan yang ada di dalam diri, akan merupakan bencana bagi orang lain.

Tetapi dengan lambaran pesan ayahnya, paman-pamannya dan kakaknya, maka kedua anak muda itu akan mulai dengan satu pengembaraan bukan saja dengan wadagnya, tetapi juga untuk mematangkan jiwa mereka.

Demikianlah, setelah keadaan tubuh mereka pulih kembali setelah mesu diri di dalam sanggar pada laku terakhir, maka mereka pun telah bersiap-siap untuk menempuh satu perjalanan.

“Kau akan pergi ke tempat yang tidak kau ketahui,” berkata ayahnya, “karena itu kau berdua harus berusaha untuk mengenali lingkunganmu sebaik-baiknya. Dengan demikian maka kau akan mengenal daerah yang pernah kau ketahui, sehingga pada suatu saat dengan mudah kau akan menemukan jalan kembali.”

“Kami mohon restu dan doa.” berkata Mahisa Murti pada saat ia meninggalkan rumahnya.

“Ingatlah pesan-pesan kami.” berkata ayahnya.

“Kami akan selalu berusaha, ayah.” jawab Mahisa Pukat.

Seluruh keluarga melepaskan kedua anak muda itu dengan berat hati. Tetapi mereka tidak dapat menahan keduanya. Sebagaimana mereka melepaskan Mahisa Bungalan, maka mereka pun seakan-akan harus melepaskan kedua adiknya untuk mengenal lingkungan yang lebih luas.

Agar pengembaraan itu tidak berkesan bahwa keduanya ingin pergi berperang, maka keduanya tidak membawa senjata yang dapat segera dilihat oleh orang lain. Namun untuk kepentingan yang paling mendesak, keduanya membawa pisau belati di bawah kain panjang mereka. Mungkin mereka harus memotong sulur-sulur kayu atau akar yang diperlukan. Dalam kekeringan mereka mungkin akan memotong batang rotan untuk mendapatkan air atau jenis pepohonan merambat yang lain.

Demikianlah dengan tekad yang bulat keduanya telah meninggalkan rumah mereka. Ketika mereka keluar dari regol, sementara beberapa orang kawannya yang berpapasan bertanya, maka mereka selalu menjawab, bahwa mereka akan mengunjungi saudara mereka di Kota Raja.

Sepeninggal kedua anak-anak muda itu, rumah Mahendra memang terasa sepi. Mahisa Bungalan yang sudah kawin dan kemudian sebagaimana dijanjikannya, telah memasuki lingkungan keprajuritan telah tidak ada di rumah. Sementara itu Mahisa Pukat dan Mahisa Murti telah meninggalkan rumah itu pula. Apalagi jika kemudian Mahisa Agni dan Witantra meninggalkan rumah itu.

Tetapi ternyata Witantra dan Mahisa Agni mengerti perasaan Mahendra. Karena itu, untuk beberapa lama mereka telah menyanggupi untuk tetap tinggal di rumah itu.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Bungalan telah menyusuri jalan menuju ke Kota Raja. Namun mereka tidak memasuki gerbang. Mereka berbelok melalui jalan yang lebih kecil menuju ke arah yang berbeda.

Namun, tidak ada lagi orang yang mengenal mereka. Sehingga dengan demikian, maka keduanya benar-benar mulai berada di dalam pengembaraan mereka yang tidak dapat mereka batasi dalam waktu dan tempat. Mereka akan menjelajahi lembah dan lereng pegunungan sesuai dengan keinginan mereka. Dan mereka pun akan mengembara untuk waktu yang tidak terbatas.

“Rasa-rasanya memang asing di perjalanan.” berkata Mahisa Pukat.

“Ya. Meskipun kita sudah sering melakukan perjalanan bersama ayah dan kadang-kadang kakang Mahisa Bungalan, tetapi rasa-rasanya memang lain dengan perjalanan kita kali ini.” sahut Mahisa Murti.

Keduanya memperhatikan keadaan di sekelilingnya mereka dengan saksama, sebagaimana dipesankan oleh orang-orang tua yang mereka tinggalkan. Mereka memperhatikan pepohonan yang besar, bebatuan, sungai dan tanda-tanda alam yang lain. Sehingga mereka berharap bahwa jika mereka ke tempat itu lagi, mereka akan dapat mengenalinya kembali sebagai tempat yang pernah mereka lalui.

Dalam pada itu, sebagaimana pernah dilakukan oleh Mahisa Bungalan, maka mereka pun tidak menyatakan dari sebagai seorang anak saudagar besi aji dan dalam ujud yang lebih kecukupan. Tetapi mereka menyatakan diri dalam ujud yang lebih sederhana. Benar-benar sebagai dua orang perantau muda yang tidak mempunyai sandaran penghidupan yang tetap.

Namun keduanya masih juga membawa bekal uang yang akan dapat mereka pergunakan apabila diperlukan, di samping beberapa lembar pakaian yang juga sederhana seperti yang mereka pakai.

Tetapi seperti pesan ayahnya, mereka harus berhemat dengan uang yang mereka bawa. Uang itu tidak terlalu banyak, sementara mereka akan mengembara untuk waktu yang tidak ditentukan.

“Ayah mencemaskannya.” berkata Mahisa Murti.

“Tentang apa?” bertanya Mahisa Pukat.

“Uang yang kita bawa akan habis sebelum kita sampai ke rumah kita kembali.” jawab Mahisa Murti, “Pengembara sama sekali tidak memerlukan uang.”

“Tetapi apa salahnya jika kita bersedia jika sangat mendesak, sebagaimana dalam persoalan yang lain.” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Memang mungkin pada suatu saat mereka sangat memerlukan uang. Tetapi sudah barang tentu bekal uang tidaklah mutlak bagi mereka.

Ketika malam turun, keduanya masih belum terlalu jauh dari kota raja. Seperti pengembara yang lain, yang kemalaman di perjalanan maka mereka pun telah bermalam di banjar padukuhan yang kebetulan mereka lalui.

Ternyata malam itu selain kedua anak muda itu, masih ada seorang pengembara tua yang tidur di banjar itu pula. Mereka dipersilahkan tidur di serambi samping. Di sebuah amben yang besar dengan bentangan tikar pandan di atasnya.

Nampaknya orang tua itu benar-benar kelelahan. Demikian orang itu terbaring, maka ia pun segera tertidur dengan nyenyaknya.

”Siapa orang itu?” bertanya Mahisa Murti.

”Tentu aku tidak tahu.” jawab Mahisa Pukat.

”Nampaknya ia lelah sekali.” berkata Mahisa Murti.

”Mungkin ia lelah sekali. Tetapi mungkin ia berpura-pura lelah sekali.” sahut Mahisa Pukat hampir berbisik.

”Sst,” desis Mahisa Murti, ”jangan terlalu cepat mencurigai seseorang. Mungkin ia justru memerlukan pertolongan.”

Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti apa yang dikatakan oleh saudara laki-lakinya itu.

Dalam pada itu, hampir tengah malam seseorang telah membangunkan orang itu. Karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih belum tidur, maka orang itu tidak perlu membangunkannya.

”Marilah,” berkata orang itu, ”anak-anak yang sedang meronda mendapat makan malam. Jika kalian belum makan, marilah makan bersama kami.”

Orang tua yang terbangun dari tidurnya itu pun kemudian bangkit dengan cepat. Hampir tergesa-gesa ia pergi ke gardu di depan banjar itu. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melangkah juga menuju ke gardu itu.

”Marilah.” berkata anak-anak muda yang meronda itu. Ketika pengembara itu sudah duduk di bibir gardu, maka ia pun telah menyenduk nasi ke dalam mangkuknya tanpa ragu-ragu.

Mahisa Pukat menyentuh lengan Mahisa Murti. Sementara Mahisa Murti berkata, ”Bukankah orang itu memang memerlukan pertolongan. Nampaknya ia memang lapar sekali.”

Agak berbeda dengan orang itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih juga merasa segan untuk makan terlalu banyak. Karena itu, maka mereka pun mengambil nasi sekedarnya. Apalagi keduanya memang tidak merasa terlalu lapar, karena mereka terbiasa mesu diri dan mengurangi makan dan minum.

Setelah makan, mereka bertiga pun dipersilahkan untuk kembali ke tempat mereka semula. Namun mereka tidak dapat segera berbaring karena perut mereka yang kenyang.

Tetapi agaknya orang tua itu tidak terlalu tertarik untuk berbicara. Ketika Mahisa Murti bertanya kepadanya, ke mana orang tua itu akan pergi, maka ia hanya menjawab pendek, ”Aku seorang pengembara, anak muda.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa dengan demikian, orang tua itu tidak mempunyai tujuan yang pasti.

Sejenak mereka bertiga duduk tanpa berbicara apapun juga. Sejenak kemudian, maka orang tua itu pun telah berbaring lagi dan tidak ada sepenginang, ia sudah tidur mendekur.

”Nampaknya tidak ada persoalan apapun di dalam hidupnya.” berkata Mahisa Murti.

”Ya. Segalanya disandang dengan pasrah.” berkata Mahisa Pukat. Namun kemudian, ”Dengan pasrah, putus asa atau seorang pemalas?”

Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “kita memang tidak dapat menilainya hanya dengan sekedar berpapasan di banjar ini.”

Mahisa Pukat pun tersenyum pula. Namun ia masih belum ingin berbaring. Sambil menjelujurkan kakinya, ia bersandar dinding. Namun Mahisa Murti lah yang kemudian berbaring sambil berdesis, “Aku pun telah mengantuk.”

”Tidurlah. Nanti saatnya kau harus bangun.” jawab Mahisa Pukat.

Barulah Mahisa Murti sadar, bahwa Mahisa Pukat memang menaruh kecurigaan terhadap orang tua yang tidur nyenyak itu.

Menjelang dini hari, Mahisa Pukat telah menggamit Mahisa Murti yang tidur pulas oleh sejuknya udara pagi.

Sambil mengusap matanya ia pun kemudian bangkit sambil bertanya, ”Ada apa?”

”Aku mengantuk.” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia pun masih ingin tidur. Tetapi ia ingin memberi kesempatan kepada Mahisa Murti, sehingga ia pun kemudian bersandar dinding sambil berkata, ”Tidurlah.”

Mahisa Pukatlah yang kemudian tidur menjelang fajar. Namun ia memang masih mendapat waktu sesaat untuk beristirahat. Sementara Mahisa Murti duduk bersandar dinding sambil menahan kantuknya yang belum juga beranjak pergi.

Tetapi Mahisa Murti mampu bertahan sampai wajah langit menjadi cerah. Ia pun kemudian membangunkan Mahisa Pukat yang telah mendapat kesempatan lelap barang sesaat.

”Sudah pagi. Kita harus melanjutkan perjalanan. Jika kita masih mengantuk, kita akan dapat melanjutkan tidur di belukar perdu siang nanti tanpa ada yang mengganggu.” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat pun kemudian bangkit. Diamatinya orang tua yang ternyata masih tidur dengan nyenyaknya.

”Bukankah ia tidak berbuat apa-apa?” berkata Mahisa Murti kemudian.

”Ya. Ternyata ia memang seorang yang memerlukan pertolongan. Makan semalam tentu sangat berarti baginya.” jawab Mahisa Pukat.

Kedua anak muda itu pun kemudian pergi ke pakiwan untuk membersihkan diri. Baru kemudian keduanya ingin minta diri kepada penunggu banjar itu, setelah mereka membenahi pakaian, karena anak-anak muda yang meronda telah pulang ke rumah masing-masing.

Tetapi ketika mereka kembali ke serambi, ternyata orang tua yang semalam tidur nyenyak itu telah pergi. Agaknya orang itu tidak perlu pergi ke pakiwan untuk mandi dan membenahi diri.

Namun kedua anak muda itu segera melupakannya. Orang tua yang nampaknya agak malas itu tidak banyak menarik perhatian mereka.

Demikianlah setelah minta diri dan mengucapkan terima kasih kepada penunggu banjar itu, maka kedua anak muda itu pun melanjutkan perjalanan mereka. Seperti saat mereka meninggalkan rumahnya, maka mereka pun sama sekali tidak menentukan tujuan.

Mereka berjalan mengikuti langkah kaki mereka. Tetapi seperti pesan orang-orang yang ditinggalkannya, mereka memperhatikan setiap pertanda yang dapat mereka kenali dengan mudah. Apalagi mereka belum terlalu jauh berjalan.

Dalam pada itu, udara pagi tetap terasa segar di tubuh mereka. Matahari yang belum terlalu tinggi memancarkan cahayanya yang cerah memantul di dedaunan yang basah oleh embun.

Tetapi suasana pagi yang cerah itu rasa-rasanya telah menjadi hambar, ketika kedua anak muda itu merasa, seolah-olah mereka telah diikuti oleh empat orang di belakang mereka. Namun demikian Mahisa Murti masih berkata, “Mungkin mereka memang menuju ke arah yang sama.”

Namun agaknya Mahisa Pukat memiliki sifat yang lebih berhati-hati. Katanya, “Mungkin. Tetapi mungkin iuga mereka memang mengikuti kita.”

Mahisa Murti berpaling. Jarak antara keduanya dengan keempat orang itu menjadi semakin dekat.

“Marilah, kita berbelok di tengah bulak itu.” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Murti sependapat. Ketika mereka sampai ke simpang empat di jalan bulak, maka mereka pun telah berbelok ke kanan, mengikuti jalan yang menuju ke arah yang tidak banyak dilalui orang, karena agaknya jalan itu telah menuju ke padang perdu yang gersang.

Mahisa Pukat menggamit Mahisa Murti ketika ternyata keempat orang itu pun berbelok pula mengikuti mereka. Bahkan semakin lama menjadi semakin dekat.

“Aku tidak peduli,” berkata Mahisa Murti, “marilah kita memasuki padang perdu itu. Apakah mereka masih tetap akan mengikuti kita. Jika mereka juga memasuki padang perdu itu, maka sebaiknya kita menunggu.”

Mahisa Pukat mengangguk. Ia pun sependapat bahwa mereka akan memasuki padang perdu untuk melihat, apakah orang-orang itu benar-benar mengikuti mereka.

Namun ternyata orang-orang itu membuat kedua anak muda itu menjadi berdebar-debar. Ketika kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memasuki padang perdu yang jarang sekali diinjak kaki orang itu, selain orang-orang yang mencari kayu bakar, maka keempat orang itu pun masuk pula ke padang perdu itu.

“Sekarang kita pasti.” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baru beberapa langkah dari rumah. Kita sudah menghadapi persoalan yang tidak menarik sama sekali.”

“Apakah kita akan menunggu seperti yang kau katakan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Bukankah sebaiknya demikian, agar kita segera mendapatkan kepastian?” sahut Mahisa Murti.

“Baiklah. Kita berhenti di sini.” jawab Mahisa Pukat.

Kedua anak muda itu pun kemudian justru berhenti. Mereka pun kemudian duduk di atas rerumputan kering di bawah sebatang pohon perdu yang agak besar dibanding dengan pepohonan di sekitarnya.

Sambil bersandar batangnya, Mahisa Murti berkata, ”Mudah-mudahan mereka orang-orang yang sedang mencari kayu.”

Tetapi Mahisa Murti sendiri tidak yakin akan kata-katanya. Apalagi ketika kemudian ia melihat keempat orang itu menuju ke arahnya.

Sejenak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tertegun. Ternyata salah seorang dari empat orang itu adalah orang tua yang tidur semalam suntuk di serambi.

“Orang itu lagi.” desis Mahisa Murti.

“Ya,” jawab Mahisa Pukat, “aku justru menjadi semakin curiga.”

Untuk sesaat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tidak menghiraukan keempat orang itu. Tetapi ketika keempat orang itu sudah berdiri di hadapan mereka, maka kedua anak muda itu tidak dapat berpura-pura tidak menghiraukan mereka lagi.

“Anak muda.” berkata orang yang semalam suntuk tidur dengan nyenyak. Lalu, “Siapakah sebenarnya kalian berdua?”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tetap duduk di atas rerumputan kering. Dengan sikap yang nampaknya tidak berprasangka Mahisa Murti bertanya, “Apakah yang menarik pada kami? Kami adalah dua orang pengembara yang tidak berarti apa-apa.”

“Bukankah kalian berdua semalam berada di banjar?” bertanya orang yang tidur nyenyak itu.

“Ya. Aku berada di banjar, seperti juga kau.” jawab Mahisa Murti.

”Apakah kau telah dengan sengaja mengganggu rencanaku, he?” bertanya orang itu.

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Dengan heran ia bertanya, “Aku tidak mengerti yang kau maksudkan. Apakah kiranya kami berdua sudah mengganggu?”

Orang yang semalam tidur nyenyak itu melangkah maju sambil menggeram, “Ya. Kalian telah mengganggu kami.”

“Kami tidak berbuat apa-apa.” jawab Mahisa Pukat.

“Apa yang kau lakukan semalam?” bertanya orang itu.

“Tidak apa-apa. Aku hanya duduk saja.” jawab Mahisa Pukat.

“Kau tidak tidur semalam.” geram orang itu.

“Aku tidak dapat tidur semalam. Baru menjelang pagi aku tertidur.” jawab Mahisa Pukat.

“Tetapi kawanmu itulah yang kemudian bangun.” bentak orang itu.

“Ya,” jawab Mahisa Murti, “aku memang terbangun dan tidak dapat tidur lagi.”

“Itulah sebabnya kalian telah mengganggu aku.” bentak orang itu pula.

Kedua orang saudara itu termangu-mangu. Namun mereka sudah dapat merasa, apa maksud orang itu. Agaknya mereka memang ingin melakukan sesuatu. Tetapi karena salah seorang dari kedua orang anak muda itu berganti-ganti duduk berjaga-jaga, maka orang itu merasa terganggu.

“Anak muda,” berkata orang itu, “apakah kau sengaja telah menggangguku semalam?”

“Tidak. Sama sekali tidak.” jawab Mahisa Murti.

”Baiklah. Aku masih mempercayaimu. Tetapi jika malam nanti kalian berada lagi di banjar itu atau di sekitar padukuhan, maka kau akan mengalami nasib yang sangat buruk. Ketahuilah, bahwa kami tidak segan-segan membunuh seseorang yang mengganggu pekerjaan kami.” geram orang itu.

“Tidak. Jangan bunuh kami,” minta Mahisa Murti, “kami tidak akan berbuat apa-apa. Kami akan pergi jauh meninggalkan padukuhan itu.”

“Aku tidak yakin,” tiba-tiba salah seorang di antara mereka yang mengikuti kedua bersaudara itu berdesis, “nampaknya kedua anak itu licik sekali. Mungkin ia justru ingin mendapat pujian orang-orang padukuhan.”

“Kami tidak akan ikut campur.” sahut Mahisa Murti. Tetapi ketika ia berpaling kepada Mahisa Pukat, dilihatnya kening anak muda itu berkerut. Agaknya Mahisa Pukat sedang menahan diri agar ia tidak bersikap sendiri.

Orang yang dikira semalam tidur nyenyak semalam suntuk itu kemudian bertanya, “He, apakah benar kau akan mencari pujian? Apakah kau justru akan pergi ke padukuhan itu dan melaporkan kepada Ki Buyut?”

“Tidak. Tidak.” jawab Mahisa Murti.

“Ingat. Aku dapat membunuhmu dengan cara yang paling buruk. Jika aku melihat kau berada di sekitar padukuhan itu maka kau akan mengalaminya.”

“ Kami akan pergi sangat jauh.” suara Mahisa Murti menjadi gemetar.

Orang yang disangka tidur nyenyak semalam suntuk itu pun berkata, “Aku masih mempercayaimu sekarang. Tetapi kau jangan mencari kesulitan. Sebab seandainya kau melaporkan hal ini kepada orang-orang padukuhan itu, akibatnya akan terjadi tidak seperti yang kau harapkan. Sebenarnya kami sama sekali tidak takut kepada orang-orang padukuhan itu. Jika kami masih mempergunakan pertimbangan, adalah justru karena kami tidak ingin membunuh seorang pun di antara mereka. Tetapi jika mereka berusaha menggagalkan niat kami, maka kami akan berbuat sesuatu yang akan dapat menimbulkan korban di antara orang-orang padukuhan itu. Sehingga yang kami lakukan, justru untuk keselamatan orang-orang padukuhan itu sendiri. Karena tidak seorang pun yang akan dapat menahan keinginan kami.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk, sementara Mahisa Pukat duduk dengan gelisah.

“Kau tahu maksud kami?” bertanya orang itu.

“Ya. Ya. Kami tahu.” jawab Mahisa Murti. Orang-orang itu masih berdiri tegang untuk beberapa saat. Namun kemudian, orang yang disangka tidur semalam suntuk itu berkata, “Ingatlah pesan kami, agar kaliar tidak mengalami kematian yang paling parah.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Sementara orang itu berkata kepada kawan-kawannya, “Marilah. Kita tinggalkan mereka.”

Kawan-kawannya masih nampak ragu-ragu. Tetapi ketika orang itu melangkah pergi, maka yang lain pun mengikutinya. Seorang yang paling muda di antara mereka masih berpaling dengan tatapan mata penuh kebencian.

Ketika mereka sudah menjadi semakin jauh, maka Mahisa Pukat pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Untunglah aku masih dapat menahan diri.”

“Kita tidak akan mencari perkara.” jawab Mahisa Murti.

“Tetapi apakah yang akan mereka lakukan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Itulah yang agak membingungkan. Sebenarnya kita dapat saja melupakan mereka. Tetapi pertanyaan seperti yang kau ucapkan itu tentu akan selalu mengganggu kita.” jawab Mahisa Murti.

“Bagaimana jika mereka bermaksud buruk?” bertanya Mahisa Pukat pula.

“Ya. Itulah soalnya.” jawab Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Sikap mereka memang sangat mencurigakan. Dan sudah barang tentu, kita ikut bertanggung jawab jika terjadi sesuatu, karena kita sudah mengetahuinya lebih dahulu.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata bahwa terlalu sulit bagi kita untuk menghindarkan diri dari persoalan seperti ini. Kita sudah dihadapkan kepada teka-teki yang harus kita jawab, belum begitu jauh dari rumah kita.”

Mahisa Pukat menundukkan kepalanya. Ia mulai merenungi segala macam pesan orang-orang tua yang ditinggalkannya di rumah. Namun agaknya menghadapi sikap yang sangat mencurigakan itu, ia tidak melihat satu keberatan apapun dari pesan-pesan itu apabila ia berusaha untuk mengetahui dan apabila mungkin menghindarkan persoalan yang akan dapat berakibat buruk bagi banyak orang yang tidak bersalah.

Dalam pada itu, agaknya Mahisa Murti pun melihat kembali ke dalam persoalan yang sama, kepada pesan-pesan yang pernah diberikan sebelum ia meninggalkan rumahnya.

Karena itulah, maka akhirnya Mahisa Murti pun berkata, “Bagaimana jika kita nanti malam melihat apa yang terjadi di padukuhan itu?”

“Aku sependapat.” jawab Mahisa Pukat

Keduanya pun kemudian telah membulatkan tekad mereka untuk mengamati padukuhan yang baru saja mereka tinggalkan, justru karena orang yang semalam mereka anggap tidur mendekur itu telah mengancam mereka.

Karena itulah, maka sehari itu keduanya tidak beranjak dari tempat itu. Mereka hanya beringsut saat mereka mencari air. Sementara keduanya sempat membeli makanan sekedar untuk melawan lapar.

Rasa-rasanya mereka terlalu lama menunggu matahari yang dengan malasnya bergeser ke Barat. Meskipun mereka sudah mengisi waktu mereka dengan berbaring di bawah sebatang pohon yang agak rimbun di tempat yang jarang disentuh kaki manusia itu, namun waktu terasa maju dengan sangat lamban.

Namun akhirnya matahari pun telah turun. Perlahan-lahan langit pun menjadi kelabu dan akhirnya senja yang suram turun menyelubungi padang perdu yang sepi itu.

“Waktunya telah tiba.” berkata Mahisa Pukat.

”Baiklah. Tetapi kita harus berhati-hati. Kita harus menghindarkan diri dari persoalan-persoalan yang tidak perlu. Lebih baik kehadiran kita tidak diketahui sama sekali, agar bukan kitalah yang memancing keributan. Kecuali jika ternyata bahwa seseorang akan berbuat jahat di padukuhan itu.” berkata Mahisa Murti kemudian.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk sambil membenahi diri. Namun bagaimanapun terasa juga jantungnya berdebar-debar. Yang akan mereka lakukan akan merupakan pengalaman yang menarik. Tetapi jika justru karena itu mereka akan mengalami bencana, maka pengembaraan mereka akan berakhir pada hari ketiga saja.

Setelah malam menjadi semakin gelap, maka kedua orang anak muda itu pun dengan sangat hati-hati telah mendekati padukuhan yang mereka tinggalkan malam sebelumnya. Dengan sangat berhati-hati mereka mengendap mendekati dinding padukuhan. Ketika ternyata mereka berada di bagian yang tidak diawasi, maka keduanya pun segera meloncati dinding padukuhan memasuki sebuah halaman yang gelap.

“Kita tidak tahu, di manakah arah banjar itu.” desis Mahisa Pukat.

“Rasa-rasanya banjar itu berada di tengah-tengah padukuhan,” jawab Mahisa Murti, “kita akan dapat menduga arahnya.”

Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian bergeser dengan sangat hati-hati bersama Mahisa Murti.

Ternyata dengan tidak menimbulkan keributan, keduanya berhasil mendekati bajar. Mereka dengan sabar menunggu di belakang banjar. Meskipun gelap malam menjadi semakin pekat serta nyamuk yang berterbangan di sekitar mereka, namun keduanya masih harus menunggu.

“Apakah orang itu bermalam lagi di banjar?” bertanya Mahisa Murti.

“Kita akan melihat menjelang tengah malam. Agaknya orang-orang yang bermalam akan mendapat bagian jika para pemuda itu makan.” desis Mahisa Pukat.

“Ya. Kita akan dapat melihat dari seberang jika pintu regol tidak ditutup.” desis Mahisa Murti.

“Semalam pintu itu tidak tertutup.” jawab Mahisa Pukat.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti pun mengusap dahinya sambil berdesis, “He, bukankah menurut penglihatan kita, peronda di banjar ini terlalu kuat? Apakah memang kebiasaan padukuhan ini berbuat demikian, atau justru karena sesuatu sebab?”

“Tetapi nampaknya di gardu-gardu lain, anak-anak muda pun meronda pula.” jawab Mahisa Pukat.

“Ya, justru karena itu. Seolah-olah padukuhan ini memang sedang berjaga-jaga.” desis Mahisa Murti kemudian.

Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk. Kemudian ia bergumam, “Ya. Ya. Padukuhan ini nampaknya memang sedang berjaga-jaga.”

Sambil mengangguk-angguk Mahisa Pukat merenungi beberapa kemungkinan yang dapat dilakukannya. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kita berpindah di halaman di depan banjar. Kita akan melihat apakah orang itu akan ikut makan para peronda seperti semalam. Sementara itu, jika kita mendapat kesempatan mendekati regol, mungkin kita dapat mendengar serba sedikit tentang keadaan padukuhan ini.”

“Bagus,” sahut Mahisa Murti, “kita akan pergi ke halaman di depan banjar ini.”

Kedua anak muda itu pun kemudian beringsut mengelilingi banjar itu. Dengan sangat berhati-hati mereka berhasil mendekati regol dan melihat lewat pintu gerbang yang terbuka. Tetapi ternyata dua orang tengah berjaga-jaga di depan regol sebagaimana dilakukan malam sebelumnya.

Ternyata kedua orang di pintu regol itu tidak banyak berbicara. Namun salah seorang di antara mereka bertanya, “Sampai kapan kita harus berjaga-jaga seperti ini?”

“Sampai upacara selesai. Dua hari lagi. Semua persiapan sudah diatur. Benda-benda yang diperlukan sudah berkumpul.”

Sejenak kedua orang anak muda yang berjaga-jaga di pintu gerbang itu terdiam sejenak. Namun kemudian yang seorang berkata lagi, “Apakah benda yang tersimpan itu mutlak harus ada dalam upacara seperti yang akan berlangsung ini?”

“Sudah beberapa kali hal itu dilakukan,” jawab kawannya, “tidak hanya di padukuhan kita. Di tempat-tempat lain pun dalam upacara wisuda seorang Buyut, topeng emas itu harus ada. Akuwu sendiri menetapkan hal itu. Karena itu, maka topeng itu diserahkan kepada padukuhan yang memerlukan. Karena benda itu sangat berharga, maka empat orang pengawal telah di tempatkan di banjar ini, di samping kita semuanya.”

Mahisa Murti pun menggamit Mahisa Pukat yang nampaknya juga sedang mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Pembicaraan yang tidak terlalu panjang itu agaknya telah memberikan keterangan yang jelas kepada kedua orang anak muda yang sedang bersembunyi itu. Ternyata bahwa di banjar itu sedang disimpan sebuah benda yang sangat berharga. Sebuah topeng yang terbuat dari emas, yang merupakan benda keramat bagi Pakuwon yang memerintah sampai ke padukuhan itu.

“Sudah ada empat orang pengawal.” bisik Mahisa Murti.

“Tetapi orang yang berniat jahat itu tentu sudah memperhitungkannya.” jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Nampaknya benda itulah yang telah menarik perhatian orang-orang yang berniat jahat itu.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih harus menunggu apa yang akan terjadi. Nampaknya di banjar itu masih belum ada tanda-tanda yang mencurigakan.

Ketika menjelang tengah malam, serta para peronda itu pun dipersilahkan makan, kecuali dua orang yang berada di regol yang harus menunggu penggantinya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun berusaha untuk dapat melihat, apakah orang yang semalam bermalam di banjar nampak masih berada di banjar itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus menunggu semua peronda itu selesai makan. Bahkan kemudian dua orang yang berada di regol setelah dua orang kawannya yang lain menggantikannya.

Hampir saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat gagal untuk melihat gardu di bagian depan banjar itu, karena pintu regol telah ditutup sebagian. Namun mereka masih dapat menembus di celah-celah daun pintu yang terbuka.

“Justru kita akan dapat mendekat.” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dua orang penjaga gerbang yang menutup gerbang itu sebagian ternyata berjaga-jaga di bagian dalam pintu gerbang itu.

Sejenak kemudian, ketika para peronda telah selesai, maka seperti kebiasaan di malam-malam sebelumnya, maka orang-orang yang kemalaman dan bermalam di banjar itu pun dipersilahkan untuk makan pula.

“Tidak seterusnya.” berkata seorang peronda yang membangunkan orang yang bermalam di banjar itu. Lalu, “Kebetulan beberapa malam ini ada persediaan. Marilah. Mungkin di kesempatan lain kami tidak dapat menjamu kalian.”

Dalam pada itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk bergeser mendekat. Tetapi mereka tidak pergi ke pintu yang terbuka. Mereka lebih senang melihat apa yang terjadi di dalam dinding halaman itu dari sebatang pohon di halaman di seberang jalan.

Dari pohon itu mereka dapat melihat dua orang pengembara yang ikut makan di dalam gardu setelah para peronda selesai. Seorang di antaranya adalah orang yang semalam juga bermalam di banjar itu.

“Orang itu ada di gardu.” desis Mahisa Murti.

“Ya. Tentu akan terjadi sesuatu.” jawab Mahisa Pukat.

Keduanya pun kemudian turun dari pohon itu dan duduk di tempat yang terlindung. Dengan sabar mereka menunggu, apa yang akan terjadi di banjar itu lewat tengah malam.

Beberapa saat kemudian, maka orang-orang yang ikut makan setelah para peronda itu pun telah kembali ditem-patnya. Sejenak mereka duduk tanpa berbicara. Namun sejenak kemudian keduanya telah berbaring lagi, seolah-olah mereka telah tidur dengan nyenyak.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun duduk dengan menahan kantuk yang mulai menjamah mereka. Perasaan itu semakin lama terasa semakin menekan, sehingga hampir-hampir saja keduanya tidak dapat bertahan lagi.

“Kita bergantian tidur.” berkata Mahisa Pukat.

“Tidurlah,” jawab Mahisa Murti, “jika terjadi sesuatu, aku akan membangunkanmu.”

Mahisa Pukat tidak menjawab. Ia pun kemudian bersandar sebatang pohon sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Sejenak kemudian matanya pun telah terpejam, meskipun ia masih belum benar-benar nyenyak.

Semula Mahisa Murti pun tidak merasa curiga bahwa matanya hampir tidak dapat dibukanya lagi. Bahkan hampir saja ia juga tertidur. Namun justru karena itu, maka ia pun segera memaksa diri untuk bangkit berdiri sambil mengamati keadaan.

Ternyata menurut tanggapan Mahisa Murti, ada sesuatu yang tidak wajar. Karena itu, maka ia pun segera membangunkan Mahisa Pukat yang tidur sambil duduk bersandar sebatang pohon.

Ternyata sulit juga membangunkan Mahisa Pukat yang nyenyak. Sesuatu yang tidak seperti kebiasaannya. Anak muda itu akan segera bangkit jika tubuhnya disentuh. Tetapi ia memerlukan waktu yang cukup lama untuk membuat Mahisa Pukat benar-benar terbangun dari tidurnya.

“Ada yang tidak wajar.” berkata Mahisa Murti.

“Apa?” bertanya Mahisa Pukat.

“Perasaan kantuk ini,” jawab Mahisa Murti, “cobalah kau melihat suasana malam ini dengan ketajaman inderamu.”

 

Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia pun menyadari, bahwa memang sesuatu telah terjadi di luar kewajaran.

Karena itu, maka Mahisa Pukat pun telah berusaha untuk mengetrapkan daya tahannya, sehingga akhirnya ia benar-benar dengan mantap menghadapi suasana yang terasa asing.

“Sirep.” tiba-tiba ia berdesis.

”Ya,” sahut Mahisa Murti, ”semuanya sudah hampir jelas. Kita berhadapan dengan usaha yang gawat bagi keselamatan barang-barang berharga bagi kelengkapan wisuda yang akan diselenggarakan di Kabuyutan ini.”

“Apa yang harus kita lakukan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Di dalam lingkungan banjar itu ada beberapa orang pengawal. Mudah-mudahan mereka mengerti apa yang sedang mereka hadapi.” sahut Mahisa Murti.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih belum melihat sesuatu bakal terjadi. Banjar itu memang nampak sepi sekali.

“Bagaimana dengan para peronda itu?” desis Mahisa Pukat.

“Aku akan melihat.” sahut Mahisa Murti, ”Berjaga-jagalah di bawah. Aku akan memanjat.”

Mahisa Pukat mengangguk. Ia pun bergeser mendekati sebatang pohon yang pernah dipanjatnya pula untuk melihat keadaan di dalam dinding halaman banjar itu.

Mahisa Murtilah yang kemudian memanjat naik. Ketika ia sudah sampai ketinggian yang cukup, maka ia pun menjadi semakin berdebar-debar. Ia melihat orang-orang yang berada di dalam gardu itu pun telah tertidur dengan nyenyaknya.

Dengan tergesa-gesa Mahisa Murti pun meluncur turun. Dengan sungguh-sungguh ia berkata, ”Mereka telah tertidur. Mungkin dua orang penjaga regol itu pun telah tertidur.”

“Bukankah semakin jelas bagi kita,” berkata Mahisa Pukat kemudian, ”agaknya semalam orang yang berpura-pura tidur nyenyak itu akan mengetrapkan ilmu sirepnya. Tetapi karena salah seorang dari kita berjaga-jaga maka ia justru merasa terganggu karenanya. Sekarang, ia mendapat kesempatan itu.”

“Ya,” jawab Mahisa Murti, ”karena itu kita wajib untuk berbuat sesuatu. Tetapi aku belum tahu pasti, apakah yang sebaiknya kita lakukan sekarang.”

“Kita akan menunggu sejenak. Bukankah orang itu mempunyai beberapa orang kawan?” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi ia sadar, jika sesuatu terjadi di dalam lingkungan banjar itu, maka ia akan dapat terlambat.

Karena itu, akhirnya ia berkata, ”Marilah. Kita memasuki halaman banjar.”

Mahisa Pukat termangu-mangu, sementara Mahisa Murti menjelaskan, ”Di sini kita tidak melihat apa yang terjadi. Mungkin orang itu telah memasuki ruang penyimpanan barang-barang berharga dan mencurinya.”

Mahisa Pukat berpikir sejenak. Kemudian katanya, ”Baiklah. Tetapi apakah kita akan memasuki regol itu?”

“Sangat berbahaya. Sebaiknya kita meloncat saja di arah belakang banjar itu.” jawab Mahisa Murti.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah merayap dengan hati-hati. Ketika mereka yakin, bahwa di bagian belakang banjar itu tidak terdapat seseorang yang akan dapat melihat mereka, maka Mahisa Murti pun mulai meloncat naik. Dengan kedua tangannya ia menggapai bibir dinding halaman itu. Kemudian dengan hati-hati ia pun mengangkat tubuhnya dan berbaring di atas dinding.

 

Sejenak ia memperhatikan keadaan. Ternyata bahwa di bagian belakang banjar itu memang sepi.

Dengan isyarat ia memanggil Mahisa Pukat agar mengikutinya meloncati dinding itu.

Sesaat kemudian, keduanya telah berada di dalam lingkungan dinding banjar. Dengan sangat hati-hati keduanya merayap mendekati banjar yang sepi itu.

Ternyata bahwa keduanya sama sekali tidak mendengar suara apapun juga. Bahkan suara desah nafas sekalipun.

Dengan sangat hati-hati keduanya bergeser melingkari banjar itu. Ketika mereka sampai di sebelah serambi, maka mereka pun berhenti. Dengan penuh kesungguhan mereka mendengarkan setiap bunyi yang dapat mereka tangkap. Namun mereka tidak mendengar suara apapun juga yang memberikan isyarat bahwa di serambi ada seseorang.

Selangkah lagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat maju. Mahisa Murti memberanikan diri untuk menjenguk serambi yang diterangi dengan lampu minyak yang redup. Namun ternyata serambi itu sudah kosong.

“Di sini semalam kita tidur bersama orang itu.” desis Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk. Namun nampaknya ia masih tetap ragu untuk bergerak maju.

Namun dalam pada itu, selagi keduanya termangu-mangu, tiba-tiba saja mereka telah mendengar lengking panah sendaren yang meluncur dari halaman depan banjar itu.

“Panah sendaren.” desis Mahisa Pukat.

“Ya. Orang itu tentu berada di halaman.” desis Mahisa Murti, ”Marilah. Kita masuk ke dalam lewat pintu butulan. Orang itu tentu memanggil kawan-kawannya setelah ia yakin bahwa orang-orang yang meronda telah tertidur. Agaknya mereka akan mengambil barang-barang berharga itu dalam jumlah yang cukup banyak.”

“Mungkin ada benda lain selain topeng seperti yang dikatakan peronda itu.” sahut Mahisa Pukat. Lalu, ”Marilah. Kita masuk ke dalam.”

Kedua anak muda itu pun kemudian dengan sangat berhati-hati mendekati pintu butulan banjar itu.

Dengan tidak menimbulkan bunyi, mereka perlahan-lahan mendorong pintu butulan yang ternyata tidak diselarak dari dalam. Namun hampir saja mereka melonjak ketika mereka melihat sepasang kaki yang menjelujur di balik pintu itu.

”Pintu ini dijaga meskipun tidak diselarak,” bisik Mahisa Murti, ”tetapi lihat, penjaga itu tidur dengan nyenyaknya.”

Ketika keduanya memasuki ruang dalam banjar itu, ternyata di ruang itu ada tiga orang yang tertidur. Seorang di pintu butulan, dua orang lainnya di pintu utama yang masih tertutup. Tetapi pintu itu juga tidak diselarak dari dalam.

“Marilah pintu-pintu itu kita selarak.” ajar Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, ”Bagus. Kita akan menyelarak pintu-pintu itu.”

Kedua anak muda itu pun segera menyelarak pintu butulan dan pintu utama dari dalam. Kemudian mereka pun memasuki ruang penyimpanan benda-benda berharga di sebuah sentong yang tidak berpintu.

Mereka tertegun ketika mereka berada di dalam ruang itu. Mereka melihat dua orang pengawal tidur dengan nyenyaknya di depan pintu, sedangkan dua orang lainnya tidur di amben, di dekat dua buah peti yang cukup besar.

“Para pengawal ini pun ternyata tidak sempat melawan sirep yang tajam ini.” berkata Mahisa Murti.

“Ya. Nampaknya mereka tidak curiga sebelumnya, sehingga mereka tidak bersikap untuk melawannya.” desis Mahisa Pukat.

“Apakah mereka akan kita bangunkan?” bertanya Mahisa Murti. Mahisa Pukat merenung sejenak. Katanya kemudian, ”Bukankah sebaiknya demikian?”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. ”Marilah. Sebentar lagi orang-orang itu tentu akan datang.” jawabnya.

Kedua anak muda itu pun kemudian berusaha membangunkan para pengawal. Namun dalam pada itu, selagi mereka mengguncang tubuh yang terbujur di lantai dan di amben itu, mereka mendengar suara pintu diguncang.

“Mereka berusaha membuka pintu.” desis Mahisa Pukat.

“Cepat, bangunan para pengawal.” sahut Mahisa Murti sambil mengguncang pengawal yang tertidur di lantai, sementara Mahisa Pukat berusaha membangunkan pengawal yang tertidur di amben.

Sejenak kemudian, pengawal-pengawal itu mulai menggeliat. Dengan hati-hati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berbisik di telinga mereka, ”Bangun. Bangunlah, Ki Sanak. Kau telah diracuni dengan ilmu sirep yang tajam. Bukankah kau bertugas menjaga peti-peti itu?”

Beberapa kali mereka berusaha dengan sungguh-sungguh. Sementara itu, pintu butulan pun telah mulai diguncang pula.

“Setan!” geram orang yang di luar, “Pintu ini biasanya tidak pernah diselarak. Orang-orang dungu itu terlalu percaya kepada kemampuan mereka yang tidak berarti apa-apa itu.”

“Tetapi ternyata kali ini mereka telah menyelarak pintu.” sahut yang lain.

“Kita akan memecahkannya,” berkata suara yang besar dan berat, ”orang-orang yang tertidur oleh ilmu sirep itu tentu tidak akan terbangun.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi gelisah. Pengawal-pengawal itu masih belum menyadari keadaannya sepenuhnya. Sementara itu, keadaan menjadi semakin gawat.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian berusaha mempergunakan segenap kemampuan yang ada pada mereka. Mereka berusaha untuk mempengaruhi orang-orang yang sedang tertidur itu dengan kata-kata yang mereka lontarkan dengan dorongan kemampuan di dalam diri mereka.

“Bangun. Kalian berada dalam bahaya. Bangun jika kalian tidak ingin mati.”

Ternyata kedua anak muda itu berhasil. Kata-kata itu dapat mempengaruhi para pengawal yang memang sudah mulai terbangun.

Karena itu, maka oleh dorongan dan pengaruh kata-kata kedua anak muda itu di telinga mereka, maka mereka pun mulai menyadari diri mereka. Perlahan-lahan mereka pun bangkit dan duduk dengan lesu.

“Cepat, kuasai diri kalian,” kedua anak muda itu masih terus berbisik, ”jika tidak, kalian akan mati di banjar ini.”

Lambat laun, para pengawal itu pun terbangun sepenuhnya. Sorang di antara mereka justru telah meloncat bangkit. Hampir saja ia berteriak menyapa anak-anak muda yang belum dikenalnya itu. Tetapi Mahisa Murti memberi isyarat, agar orang itu terdiam.

”Kalian telah tertidur oleh pengaruh sirep.” bisik Mahisa Murti.

Pengawal itu termangu-mangu. Ketika ia melihat kedua peti itu masih ada, maka dengan tergesa-gesa ia pun menggapai tutup peti itu dan membukanya. Sementara kawan-kawannya pun telah beringsut mendekat.

“Masih ada.” desis pengawal yang pertama.

“Tetapi lihat, apakah benda-benda itu masih ada di dalam peti-peti kecil itu.” sahut yang lain.

”Tetapi cepat.” berkata Mahisa Murti, “Sebentar lagi orang yang mengingini benda-benda itu akan segera masuk. Dengarlah, mereka sedang berusaha memecahkan pintu.”

“Pintu itu tidak diselarak.” sahut pengawal yang seorang.

”Aku yang telah menyelarak.” sahut Mahisa Pukat.

Keempat pengawal itu ternyata ingin melihat, apakah benda-benda berharga itu masih berada di dalam peti-peti kecil di dalam kedua peti yang besar itu. Ketika mereka melihat beberapa peti tanpa berubah letak dan isinya, maka mereka pun mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, ”Aku percaya kepada kalian berdua. Tetapi siapakah kalian ini?”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Mereka ternyata ragu-ragu untuk menyatakan diri.

Namun dalam pada itu, selagi kedua anak muda itu masih ragu-ragu, terdengar pintu didorong dengan kekerasaan sehingga suaranya berderak-derak, meskipun ada usaha agar gemeretak palang selarak yang patah tidak membangunkan orang-orang yang tertidur nyenyak.

“Jangan takut,” geram seseorang di luar, ”mereka tidak akan terbangun meskipun seandainya banjar ini roboh.”

Namun sebenarnyalah empat orang pengawal itu telah benar-benar bangun dan menguasai diri sepenuhnya.

“Kita harus berbuat sesuatu untuk mengatasi kehadiran mereka,” berkata Mahisa Murti kemudian, ”nanti sajalah aku berceritera tentang diri kami berdua.”

Para pengawal itu memang tidak sempat bertanya lagi. Pintu butulan sudah mulai terdorong setapak. Palang selarak telah menjadi patah dan suaranya berderak ketika yang patah itu jatuh di lantai.

Dua di antara para pengawal itu memencar, sementara yang dua berdiri tegak di depan pintu ruang tempat barang-barang itu diletakkan.

“Masuklah ke dalam ruang penyimpanan itu,” desis salah seorang pengawal kepada kedua orang anak muda itu, ”mereka akan bertindak kasar. Agar kau tidak disakitinya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun seorang pengawal telah mendorongnya sambil berdesis, ”Cepat. Mungkin kau tidak hanya disakitinya, tetapi kepalamu dapat dipenggalnya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang belum sempat memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan, telah masuk ke dalam ruang penyimpanan benda-benda berharga itu. Mereka mengerti, bahwa para pengawal itu memang ingin melindungi mereka.

Sejenak kemudian, maka pintu butulan pun terbuka. Beberapa orang telah meloncat memasuki ruang dalam banjar itu.

Namun mereka terperanjat ketika mereka melihat empat orang pengawal berdiri tegak dengan pedang di tangan mereka.

“Anak setan!” geram seorang yang bertubuh tinggi besar dan berkumis lebat. ”Kenapa kalian tidak tertidur he?”

Seorang di antara para pengawal, yang nampaknya penanggung jawab dari pusaka-pusaka di dalam peti itu berkata, ”Permainan yang tidak berarti. Kau sangka ilmu sirepmu itu berharga bagi kami?”

“Persetan,” geram orang bertubuh tinggi besar itu, ”meskipun kau tidak dapat terpengaruh oleh ilmu sirep ini, tetapi kalian akan mengalami nasib yang lebih buruk. Jika kalian tertidur, maka kalian tidak akan aku sentuh dalam tidur. Besok kau akan bangun dalam keadaan segar bugar.”

“Aku bertanggung jawab atas benda-benda itu. Kau kira aku akan memilih besok pagi bangun dengan segar bugar, tetapi barang-barang itu jatuh ke dalam tanganmu daripada mati mempertahankannya.” sahut pengawal itu.

“Orang-orang dungu,” bentak orang bertubuh tinggi itu, ”jadi kalian memilih mati, he? Berapa gajimu mengabdi kepada Akuwu sehingga kau rela mengorbankan nyawamu?”

“Ukurannya bukan gaji atau upah. Tetapi bagiku mempertahankan benda-benda itu adalah pengabdian.” jawab pengawal itu.

Orang bertubuh tinggi itu mengumpat. Lalu katanya dengan kasar, “Kalian akan aku bunuh di banjar ini. Besok kalau para peronda dari padukuhan ini terbangun, mereka akan melihat mayat kailan yang sudah terpisah kepala dari badan kalian berserakkan di dalam banjar ini. He, apakah memang ingin terjadi seperti itu?”

“Persetan,” geram pengawal itu, ”aku akan mempertahankan benda-benda yang memang menjadi tanggung jawab kami.”

Orang bertubuh tinggi itupun kemudian memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk bersiap-siap. Ternyata mereka terdiri dari sekelompok yang cukup besar. Lebih dari sepuluh orang. Agaknya mereka memang akan membawa semua benda-benda yang berada di dalam peti-peti kecil yang tersimpan di dua peti yang besar itu.

Sejenak kemudian sepuluh orang yang memasuki ruang dalam itu pun memencar pula, sementara masih ada di antara mereka yang berdiri di luar pintu untuk mengamati keadaan di luar banjar itu.

Namun agaknya para peronda memang tertidur nyenyak. Tiga orang yang berada di ruang dalam itu pun sama sekali tidak menggeliat. Bahkan seorang yang tertidur di muka pintu butulan itu sama sekali tidak mereka ketika dengan kaki orang-orang yang memasuki banjar itu menggeser tubuh mereka ke tepi.

Para pengawal yang berjumlah hanya empat orang itu pun telah bersiap sepenuhnya. Meskipun mereka sadar, bahwa jumlah mereka jauh lebih sedikit, tetapi mereka merasa bertanggung jawab atas benda-benda berharga yang berada di dalam ruang penyimpanan. Namun di dalam ruang itu terdapat bukan hanya peti-peti yang berisi benda-benda berharga itu. tetapi juga terdapat dua orang anak muda. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Sejenak kemudian, maka orang-orang yang menginginkan benda-benda berharga itu telah mulai menggerakkan senjata mereka, sementara para pengawal pun telah bersiaga sepenuhnya.

Sejenak kemudian telah terjadi pertempuran di dalam ruang dalam banjar yang tidak terlalu luas itu. Namun dengan demikian, keadaan ruang itu agak menguntungkan keempat orang pengawal yang harus melawan orang lain dalam jumlah yang lebih banyak.

Dua orang pengawal yang berpencar telah bertempur di sudut agar mereka tidak dapat diserang dari belakang, sementara dua yang lain telah bersiap di depan pintu.

Orang yang bertubuh tinggi besar itulah yang pertama-tama mulai menjulurkan senjatanya. Meskipun ia belum benar-benar mulai menyerang, namun yang dilakukan itu merupakan isyarat bahwa pertempuran segera terjadi.

Demikianlah dalam waktu yang singkat, pertempuran itu pun telah menjadi semakin seru. Para pengawal yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan benda-benda berharga itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk bertahan.

Ternyata bahwa para pengawal itu adalah benar-benar pengawal yang terpilih dalam  tugas mereka. Mereka menguasai ilmu pedang dengan baik, sehingga untuk beberapa saat lamanya mereka mampu bertahan meskipun mereka harus menghadapi jumlah yang lebih banyak.

Namun demikian beberapa orang di antara mereka yang ingin merampas benda-benda keramat itu pun memiliki bekal yang cukup.

Orang yang bertubuh tinggi besar itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Bersama beberapa orang kawannya mereka berhasil mendesak dua orang yang berjaga-jaga di depan pintu itu sehingga keduanya benar-benar telah melekat pada lubang pintu.

“Jangan beri kesempatan,” teriak orang bertubuh tinggi besar itu, ”dan jangan ragu-ragu seandainya senjata kalian menusuk ke dada orang itu. Biarlah ia mati dengan luka arang kranjang dan biarlah kepalanya kita penggal sebagaimana sudah aku katakan.”

Kedua pengawal itu menggeram marah. Tiba-tiba saja seorang di antara mereka telah menghentakkan kemampuannya. Dengan kecepatan yang tidak diduga-duga, tiba-tiba saja padangnya telah terjulur lurus sehingga seorang yang berdiri di hapannya telah berteriak tertahan sambil meloncat surut.

“Orang gila,” teriaknya, ”kau sangka tingkah lakumu ini tidak akan membuat kau lebih menderita.”

“Kau dilukai?” bertanya orang yang bertubuh tinggi besar.

“Ya,” jawab orang itu, ”tetapi aku masih siap membunuhnya.”

“Kalau begitu jangan biarkan keduanya mati,” berkata orang bertubuh tinggi besar itu, ”aku akan membunuh mereka perlahan-lahan.”

Namun dalam pada itu, ternyata seseorang yang bertempur melawan pengawal yang berada di sudut pun telah mengeluh tertahan. Seorang di antara mereka telah terluka pula.

Namun luka-luka itu telah membuat orang-orang yang ingin merampas benda-benda berharga itu menjadi semakin gila. Mereka bertempur semakin garang, sehingga para pengawal pun menjadi semakin mengalami kesulitan.

Dalam pada itu, di ruang penyimpanan pusaka yang keramat itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri termangu-mangu. Mereka dapat melihat sepintas-sepintas bahwa orang-orang yang datang itu berhasil mendesak.

“Apa yang akan kita lakukan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Apa boleh buat,” desis Mahisa Murti, ”kita tidak dapat tinggal diam dengan keadaan seperti ini.”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun meraba pisau belatinya.

Tetapi Mahisa Murti berkata, ”Jika kita dapat mencapai para peronda yang tertidur itu, maka kita akan dapat meminjam senjatanya tanpa menunjukkan bahwa kita sendiri memang bersenjata.”

”Kalau mungkin,” jawab Mahisa Pukat, ”tetapi kalau tidak, apakah sebenarnya keberatannya jika mereka melihat kita bersenjata?”

Mahisa Murti menggeleng. Katanya, ”Tidak. Tidak ada keberatannya apa-apa.”

Mahisa Pukat menarik nafas panjang. Sementara itu pertempuran menjadi semakin sengit. Para pengawal menjadi semakin terdesak oleh kemarahan orang-orang yang merasa terhambat usahanya untuk memiliki benda-benda berharga di dalam peti-peti itu.

Mahisa Murti yang sudah bersiap pun telah memberi isyarat, agar mereka mulai menampakkan diri.

Demikianlah, maka tiba-tiba saja terdengar Mahisa Murti tertawa sambil berdiri di pintu ruang penyimpanan benda-benda berharga itu, disusul oleh Mahisa Pukat, tepat di belakang dua orang pengawal yang sedang mempertahankan benda-benda berharga itu.

Semua orang yang mendengar suara tertawa itu terkejut. Bahkan para pengawal pun terkejut. Sekilas timbul kecurigaan mereka, bahwa sebenarnya kedua orang anak muda itu adalah kawan dari orang-orang yang mengingini benda-benda berharga itu.

Namun tiba-tiba di antara suara tertawanya Mahisa Murti berkata, ”Inikah cara yang kalian pergunakan untuk merampok benda-benda berharga? Kenapa kalian tidak bersikap jantan dengan menantang para pengawal bertempur seorang melawan seorang. Siapa yang menang, ialah yang berhak atas pusaka keramat ini.”

Orang bertubuh tinggi besar yang dengan serta merta telah menghentikan serangan-serangannya itu pun memandanginya dengan wajah tegang.

“Siapa kau, he anak gila?” bertanya orang bertubuh tinggi besar itu.

“Kau tidak perlu tahu, siapakah kami berdua,” jawab Mahisa Pukat, ”tetapi tingkah laku kalian membuat aku muak.”

“Kau!” desis orang yang bermalam bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. “Kau kembali lagi ke banjar ini?”

“Siapakah mereka?” bertanya orang tinggi besar itu.

“Anak-anak gila. Jika tahu kau berbuat gila seperti ini, aku bunuh kau kemarin di padang perdu itu.” geram orang yang bermalam bersama keduanya itu.

Tetapi Mahisa Murti kemudian menjawab, ”Nanti aku akan memberitahukan kepada kalian, siapa aku. Tetapi kalian harus meletakkan senjata kalian lebih dahulu.”

“Anak ini benar-benar gila. Bunuh saja mereka seperti pengawal-pengawal.” perintah orang bertubuh tinggi besar.

“Tunggu,” berkata Mahisa Murti, ”aku tidak akan ingkar seandainya kalian akan membunuh kami. Tetapi jika ada sedikit keberanian pada kalian, biarlah kami berdua bersenjata.”

Kemarahan yang tidak tertahankan hampir meledakkan kepala orang yang bertubuh tinggi besar yang agaknya adalah pemimpin dari orang-orang yang ingin merampas benda-benda berharga itu.

Namun  dalam   pada   itu  Mahisa  Murti pun berkata, ”Tetapi seandainya kalian menjadi ketakutan, maka kami tidak akan surut meskipun kami tidak bersenjata.”

Orang bertubuh tinggi besar itu tidak dapat menahan diri lagi. Dengan lantang ia berteriak, ”Bunuh semuanya.”

Orang-orangnya pun telah mulai bergerak. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun bergeser ke luar pintu. Di antara kedua pengawal yang bertahan itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyusup menghadap orang-orang yang bersiap menyerang. Sementara Mahisa Pukat berkata, ”Aku akan bertempur di luar bilik yang sangat sempit itu.”

“Gila!” geram seorang berkumis panjang. Tingkah laku kedua anak muda itu benar-benar membuat mereka kehilangan kesabaran. Karena itu, maka mereka pun mulai bergeser sambil menggerakkan senjata mereka.

Dalam pada itu, Mahisa Murti melihat tiga orang peronda masih saja tertidur. Agaknya memang sulit untuk dapat membangunkan mereka karena pengaruh sirep. Namun demikian, agaknya senjata para peronda itu akan dapat dimanfaatkan meskipun sudah tentu bukan senjata yang baik.

Karena itulah, maka Mahisa Murti pun berdesis sambil menggamit Mahisa Pukat dengan sikapnya, ”Peronda yang tidur itu bersenjata. Kita dapat mengambilnya.”

Mahisa Pukat memandang mereka sejenak. Seorang berbaring di dekat pintu butulan. Yang seorang di sebelah pintu utama sedang yang lain telah terdorong menjauh ke sudut. Orang-orang yang ingin merampas benda-benda berharga itu dengan semena-mena menyingkirkan para peronda yang tertidur itu dengan kakinya. Namun demikian para peronda itu sama sekali tidak terbangun.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mendapat kesempatan lagi untuk berbicara lebih banyak.

Tiba-tiba saja orang-orang yang marah itu telah menyerangnya.

“Minggirlah!” desis kedua orang pengawal yang heran melihat tingkah laku Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Namun keduanya pun menjadi semakin heran, ketika mereka melihat, bagaimana kedua anak muda itu dengan cepat dan tangkasnya menyusup di antara mereka.

Memang satu langkah yang tidak terduga-duga, sehingga dengan demikian keduanya telah mengejutkan lawan-lawannya. Bahkan keduanya sempat mendorong beberapa orang menyibak tanpa berbuat apa-apa.

”Bunuh semuanya!” teriak orang bertubuh tinggi besar ketika ia menyadari apa yang terjadi.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berlari ke arah yang berbeda. Mahisa Murti dengan cepatnya telah memungut parang yang tergolek di dekat peronda yang tertidur di dekat pintu butulan, sementara Mahisa Pukat telah mengambil tombak pendek yang tersandar di uger-uger pintu. Agaknya salah seorang peronda itu tengah menyadarkan tombaknya di uger-uger pintu itu ketika tiba-tiba perasaan kantuk yang tidak dapat dilawannya telah mencengkamnya.

Yang terjadi itu demikian cepat, tiba-tiba dan tidak diduga lebih dahulu oleh orang-orang yang datang ingin merampas benda-benda berharga itu. Menurut dugaan mereka, anak-anak muda itu tidak akan dapat banyak berbuat, sehingga mereka kurang memperhatikannya. Mereka menganggap anak-anak muda itu sekedar berbuat aneh-aneh tanpa mereka sadari akibatnya.

Namun ternyata bahwa anak-anak muda itu kemudian telah bersenjata.

Karena itu, bagaimanapun juga anak-anak muda itu harus mendapat perhatian. Dengan kemarahan yang bergelora orang bertubuh tinggi besar itu menggeram, “Cepat. Kita tidak mempunyai banyak waktu.”

Orang-orangnya yang bagaikan telah terbangun dari sebuah mimpi yang aneh itu pun segera menempatkan diri. Yang menghadapi dua orang pengawal di pintu ruang penyimpanan itu telah mengacukan senjata mereka. Yang bertempur melawan pengawal yang lain, yang menempatkan diri di sudut ruang dalam itu pun telah bersiap pula. Namun dua di antara orang-orang itu telah bergeser menghadapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Demikianlah, sejenak kemudian pertempuran di ruang dalam yang tidak terlalu luas itu pun telah terjadi lagi. Namun sementara itu, ternyata Mahisa Pukat justru telah membuka pintu utama dan ia pun telah bergeser ke luar, sehingga dengan demikian maka ia pun telah berada di pringgitan.

“Mahisa Murti, di sini tempatnya lebih luas.” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Murti pun telah mengikuti Mahisa Pukat ke luar dari ruang dalam itu dan ia justru telah bergeser semakin jauh, sehingga ia pun telah bertempur di pendapa.

Namun dalam pada itu, meskipun orang-orang yang ingin merampas benda-benda berharga itu telah berkurang dengan dua orang yang harus menghadapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, namun keempat pengawal yang mempertahankan benda-benda berharga itu masih tetap dalam kesulitan. Lawan mereka yang marah telah menekan semakin berat, sementara ujung-ujung senjata seolah-olah telah menggapai-gapai tubuh mereka dan siap untuk mengoyaknya.

Tetapi dalam kesulitan yang memuncak, tiba-tiba saja terdengar keluh tertahan di luar pintu. Sementara itu lawan Mahisa Murti telah terdorong beberapa langkah surut. Ternyata senjata orang itu telah terlepas, sementara segores luka telah menyilang di dadanya.

Orang itu terhuyung-huyung melangkah ke ruang dalam untuk melaporkan keadaannya kepada kawan-kawannya, sementara itu Mahisa Murti sama sekali tidak berbuat apa-apa. Bahkan ia mengikuti orang itu di belakangnya sambil menimang-nimang senjatanya.

Keadaan orang itu ternyata sangat mengejutkan. Tidak seorang pun di antara orang-orang yang ingin merampas senjata itu yang menyangka bahwa anak muda yang tidak mereka kenal sebelumnya itu mampu mengalahkan salah seorang di antara mereka.

Karena itu, dengan kemarahan yang menghentak di dalam dadanya, orang yang bertubuh tinggi besar itu berteriak, ”Bunuh anak itu lebih dahulu.”

Tiga orang serentak meninggalkan tempatnya. Seorang dari antara kawan-kawannya yang bertempur di sudut, dua orang dari antara mereka yang bertempur di depan pintu ruang penyimpanan.

Mahisa Murti melihat tiga orang mendekatinya. Karena itu, maka Murti pun berkata, ”Baiklah, marilah kita bertempur di tempat yang lebih baik. Kita pergi ke pendapa.”

Tiga orang itu mengikutinya dengan hati-hati, sementara Mahisa Murti melangkah mundur menuju ke pendapa.

Namun Mahisa Murti itu pun terkejut ketika ia melihat dua orang yang meloncat naik ke pendapa langsung mendekati Mahisa Pukat. Agaknya mereka adalah kawan-kawan dari lawan Mahisa Pukat yang mendapat tugas berjaga-jaga di luar. Tetapi ketika mereka melihat keadaan lawan Mahisa Pukat itu dalam bahaya, maka merekapun bersama-sama telah naik untuk membantunya.

Tetapi sebelum kedua orang itu mencapai kawannya yang terdesak oleh Mahisa Pukat, mereka telah melihat lawan Mahisa Pukat itu terdorong surut dengan luka menganga di pundaknya.

Meskipun demikian orang yang terluka itu tidak mau menyingkir. Ternyata ia masih mampu menggenggam senjatanya, meskipun darahnya telah mengalir dari lukanya.

Dengan demikian, maka baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat harus bertempur masing-masing menghadapi tiga orang. Namun dengan demikian mereka telah mengurangi jumlah orang yang bertempur di ruang dalam.

Tiga orang yang kemudian menghadapi Mahisa Murti memang mempunyai pengaruh bagi mereka yang bertempur di dalam. Para pengawal itu merasa, bahwa tekanan lawan-lawan mereka menjadi agak susut karena jumlah yang susut pula.

Namun dalam pada itu, ternyata lawan-lawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat segera menguasai lawannya. Bahkan tiba-tiba seorang lawan Mahisa Pukat mengumpat dengan kasarnya. Ternyata tombak pendek Mahisa Pukat telah berhasil merobek lambung seorang lawannya yang lain, sehingga orang itu terdorong dan tidak mampu lagi untuk bertahan agar tetap berdiri.

Sambil memegangi lukanya yang memancarkan darah, maka orang itu telah terduduk lesu. Wajahnya menjadi pucat dan bibirnya nampak gemetar.

Seorang yang masih belum terluka di antara lawan-lawan Mahisa Pukat itu pun berteriak pula. Dengan garangnya ia berusaha menyerang. Tetapi ternyata ia tidak mampu berbuat banyak. Apalagi seorang kawannya yang telah terluka lebih dahulu semakin lama ternyata menjadi makin lemah pula.

Dalam pada itu, para pengawal yang masih harus bertempur dengan lawan lebih banyak itu pun masih harus mengerahkan segenap kemampuan mereka. Namun mereka pun adalah orang-orang yang terlatih dan terpilih di antara para pengawal. Karena itu, maka mereka telah menunjukkan kemampuan mereka dengan penuh tanggung jawab. Benda-benda berharga itu harus mereka pertahankan sampai batas kemampuan mereka yang terakhir.

Seorang di antara mereka yang ingin merampas benda-benda berharga itu pun berteriak nyaring, ketika ia merasa ujung senjatanya berhasil melukai lengan salah seorang dari para pengawal itu.

Ketika ia melihat darah memancar dari luka itu, maka ia pun berteriak, “Sekarang ajalmu telah sampai.”

“Aku tidak apa-apa,” jawab pengawal itu, “jantungku pernah dikoyak pedang lawan. Tetapi aku masih tetap hidup. Apalagi hanya segores luka kecil ini.”

“Jangan menyembunyikan kegelisahan.” jawab lawannya.

Namun dalam pada itu, di luar Mahisa Pukatlah yang berteriak nyaring, “He, apakah masih ada orang di dalam? Lawan-lawanku telah lumpuh semuanya. Jika tidak ada yang keluar lagi, maka akulah yang akan pergi ke dalam.”

Namun sementara itu, orang-orang yang berada di dalam sedang berusaha untuk menghabisi pengawal yang sudah terluka. Justru terhadap pengawal yang sudah terluka itulah, tekanan yang paling berat diberikan oleh lawan-lawannya. Dengan demikian, maka mereka akan dapat mengurangi lawan mereka dengan seorang.

Ketiga orang pengawal yang lain berusaha untuk mengerahkan kemampuan mereka. Pengawal yang terluka itu harus diselamatkan.

Meskipun nampaknya terlalu sulit untuk dilakukan. Orang-orang marah itu telah berusaha dengan sungguh-sungguh agar mereka segera dapat berhasil, sementara beberapa orang kawannya telah terluka. Bahkan kawan-kawannya yang bertugas berjaga-jaga di luar.

Sementara itu, Mahisa Pukat yang telah kehabisan lawan telah menjenguk keadaan di ruang dalam. Namun ia melihat bahwa keadaan para pengawal masih tetap gawat. Bahkan seorang di antara mereka justru telah terluka.

Ketika segores luka lagi menyilang di dadanya, maka lawannya berteriak sekali lagi, “Kau ternyata akan mati paling cepat.”

“Tidak,” terdengar suara Mahisa Pukat, “aku akan membantumu. Bertahanlah. Luka di dadamu itu tidak akan banyak berpengaruh. Luka itu hanyalah segores tipis pada kulitmu.”

Orang itu ternyata masih mampu menanggapi kata-kata Mahisa Pukat. Ia tetap bertahan meskipun menunggu lawan datang menyerang. Ia pun segera mendekati pengawal yang terluka itu dan langsung melibatkan diri ke dalamnya. Bahkan kemudian ia masih sempat berkata, “Minggirlah. Obati luka-lukamu. Aku akan menyelesaikan lawan-lawanmu.”

Tetapi pengawal itu masih tetap berdiri sambil menggenggam senjatanya, meskipun tubuhnya mulai terasa bergetar.

Tetapi anak muda yang telah langsung melibatkan diri itu benar-benar mengejutkan. Dengan tombak pendeknya Mahisa Pukat telah mengacaukan orang-orang yang berniat merampas benda-benda berharga itu. Bahkan orang yang bertubuh tinggi besar itu pun terpaksa meloncat mundur ketika ujung tombak Mahisa Pukat hampir menyinggung keningnya.

“Bocah tidak tahu diri!” geram orang tinggi besar itu.

Mahisa Pukat tertawa. Tetapi belum lagi ia berbuat sesuatu orang bertubuh tinggi besar itu berkata, “Bunuh dahulu bocah ini. Baru kita berbicara tentang orang-orang yang lain.”

Para pengikutnya ternyata mengerti benar apa yang dimaksudkannya. Orang-orang yang masih mampu bertempur itu pun segera bergeser. Mereka hanya menyisakan seorang untuk melawan setiap pengawal. Hanya tiga. Karena yang seorang telah dianggap tidak akan mampu berbuat apa-apa. Sementara yang lain telah siap menghadapi Mahisa Pukat.

Ternyata masih ada orang-orang lain yang semula berada di luar telah memasuki ruangan dalam dan membantu kawan-kawannya yang ternyata mengalami kesulitan.

“Ternyata kalian mempunyai kawan cukup banyak.” berkata Mahisa Pukat sambil memutar tombaknya.

“Kau akan mati dengan penuh penyesalan.” gumam orang bertubuh tinggi besar itu.

Mahisa Pukat pun bertempur dengan tangkasnya, sementara para pengawal yang masing-masing tinggal menghadapi seorang lawan itu pun justru telah mendesak lawan-lawan mereka. Sementara yang terluka mendapat kesempatan untuk duduk di tlundak pintu sambil mengobati luka-lukanya agar darah tidak terlalu banyak mengalir, meskipun ia tidak lagi akan mampu ikut bertempur.

Para pengawal menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat lawan Mahisa Pukat justru menjadi terlalu banyak. Karena itu, maka para pengawal itu telah bertempur dengan sepenuh kemampuan mereka, agar mereka segera berhasil menyelesaikan tugas mereka. Dengan demikian mereka akan dapat membantu Mahisa Pukat melawan sejumlah orang yang garang itu.

<<eof>>

Koleksi buku: Ki Ismoyo
Scanning: Ki Arema
Convert/Proofing: Ki Banuaji
Rechecking/Editing: Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

2 Tanggapan

  1. Lanjutkan kebaikan anda yang membuat para “PECANDU” karya SH. MINTARDJA bangkit untuk menjelajahi keindahan karyanya.
    Lanjutkan sobat. . . . .

    terima kasih
    mohon doa restunya agak tidak “kelelahan” di tengah jalan.

  2. termima kasih atas koleksinya cersil sh minatrdja, kalau ada mohon mendung diatas cakrawala untuk bisa di baca

    Kami mengkhususkan cersil karya SH Mintardja ki sanak, Kami belum tahu kalau ada yang berjudul “MENDUNG DIATAS CAKRAWALA”. Judul yang mirip adalah MENJENGUK CAKRAWALA yang merupakan episode pertama dari SERIAL ARYA MANGGADA. kalau itu yang dimaksud, sudah kami upload dan bisa dicari di blog ini (bilah kanan bagian bawah).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s