JDBK-31


<<kembali | lanjut >>

TETAPI sebagian dari mereka bukanlah orang-orang yang siap untuk bertempur. Ada di antara mereka yang justru menjadi gemetar meskipun di tangannya menggenggam pedang. Bahkan ada yang bukan menunggu lawan sambil berjongkok di balik dinding yang rendah, tetapi justru bersembunyi di pakiwan. Sebilah parang di tangannya nampak bergetar. Bukan karena kemarahan yang mencengkam jantung, tetapi karena ketakutan oleh bayangan maut.

Wijang dan Paksi pun kemudian telah duduk bersandar dinding di halaman samping, di bawah segerumbul pohon soka merah yang sedang berbunga. Cahaya oncor di regol halaman tidak lagi berdaya menembus bayangan-bayangan gerumbul yang rimbun itu.

Beberapa langkah dari mereka, Ki Sudagar yang kaya itu duduk menunggu bersama para pengawalnya yang sudah menghunus senjata mereka.

“Perampok-perampok gila itu ternyata menjadi semakin ganas” geram Ki Sudagar.

“Jika setiap laki-laki yang ada di halaman ini mempunyai keberanian yang tinggi meskipun kemampuan mereka tidak menyamai kemampuan para perampok, agaknya kita akan dapat mengusir mereka. Bahkan mungkin menghancurkan mereka”

“Jangan berharap” sahut Ki Sudagar. “Jika saja mereka seperti kita, maka kita akan dapat mengusir mereka. Tetapi sebagian dari mereka adalah cecurut-cecurut kecil yang justru menjadi ketakutan”

“Tetapi kita dapat berharap, tiga bersaudara itu akan sangat membantu”

“Ya”

“Bekas jagal dari Srumbung yang sekarang menjadi blantik sapi itu?”

“Ya. Dua orang penjual bebatuan itu juga dapat diharapkan”

“Para pedagang yang pagi tadi menjual dagangannya tentu juga akan mempertahankan uangnya. Menilik ujudnya ada dua tiga orang yang dapat diharap”

“Selebihnya harapan kita ada pada pemilik penginapan ini serta orang-orangnya yang sudah siapkan untuk mengantar kita esok”

Keduanya pun terdiam. Seorang di antaranya telah menjenguk keluar dinding. Tetapi mereka belum melihat apa-apa.

“Mereka belum datang” berkata salah seorang pengawal.

“Persetan dengan mereka” geram Ki Sudagar.

Wijang dan Paksi masih saja duduk bersandar dinding. Dengan nada berat Wijang pun berkata, “Aku mengantuk sekali. Rasa rasanya aku akan tidur di sini”

“Nyamuknya banyak sekali” desis Paksi.

“Di mana-mana banyak nyamuk”

Paksi tidak menjawab. Ia mendengar derap kaki sekelompok orang yang mendatangi tempat itu.

“Mereka datang seperti orang yang sedang berbaris. Mereka tidak datang sambil mengendap-endap dan berloncatan memasuki halaman penginapan ini”

“Sesuatu yang luar biasa dan perlu mendapat perhatian sepenuhnya”

“Ya. Bukankah kita tidak menduga, bahwa mereka akan datang berkelompok seperti itu?”

Sekelompok orang yang datang seolah-olah dalam sebuah barisan itu berhenti di muka pintu gerbang yang ditutup. Seorang di antara mereka, yang agaknya pemimpinnya, melangkah maju sambil mengetuk pintu gerbang.

“Atas nama perjuangan kita yang sampai pada tataran yang paling sulit, buka pintunya”

Tidak seorang  pun yang menyahut. Apalagi membuka. Pemilik penginapan, orang-orang upahannya, para pedagang dan orang-orang yang menunggu di halaman itu saling berdiam diri. Tidak seorang  pun yang berbuat sesuatu, apalagi membuka pintu gerbang.

“Ki Sanak” berkata pemimpin dari sekelompok orang yang datang itu, “dinding halamanmu terlalu rendah. Kau buka atau tidak bagi kami sama saja. Tetapi sebenarnya kami ingin berbicara dan melakukan tugas kami dengan baik-baik”

“Apa tugasmu?” terdengar suara seseorang dari kegelapan.

“Kami adalah bagian dari perjuangan yang bercakrawala sangat luas. Kawan-kawan kami di kotaraja sedang mengalami kesulitan. Kita yang ada di sini harus mampu mengimbanginya, sehingga perjuangan kita tidak terhenti sampai di sini. Tertangkapnya Harya Wisaka bukan pertanda berakhirnya perjuangan kita”

“Lalu, apa yang akan kalian lakukan?”

“Kami sedang mengumpulkan dana. Kami menyiapkan angkatan mendatang untuk melanjutkan perjuangan. Beberapa orang anak muda sedang ditempa di sebuah perguruan yang asing. Mereka memerlukan dukungan pembiayaan yang besar sampai saatnya mereka cukup kuat untuk terjun ke medan dan memimpin perjuangan yang untuk sementara seakan-akan terhenti”

“Apa yang kalian kehendaki dari kami?”

“Kami tidak akan menyakiti kalian. Berikan sebagian dari uang kalian, dari harta benda kalian, dan apa saja yang ada pada kalian sekarang ini. Karena aku yakin yang ada pada kalian sekarang ini hanyalah sebagian kecil dari kekayaan kalian”

Wijang dan Paksi mendengarkan pembicaraan itu dengan seksama. Namun tiba-tiba saja Wijang berteriak, “Kau bohong. Tidak ada angkatan mendatang yang dipersiapkan. Jika kalian ingin merampok, kalian tidak usah mencari-cari alasan”

“Siapa yang berteriak itu?” bertanya pemimpin sekelompok orang yang datang itu.

“Aku. Bagian dari orang-orang yang bersiap untuk mempertahankan hak milik kami. Kecuali jika kalian dapat mengatakan dengan terperinci tentang angkatan mendatang”

Pemimpin sekelompok orang itu terdiam. Dengan demikian maka suasana  pun menjadi hening. Tidak seorang  pun yang berbicara, sehingga desah angin terdengar jelas mengusik dedaunan.

Namun tiba-tiba saja pemimpin dari sekelompok orang itu  pun berkata, “Kami mempunyai sebuah perguruan di lambung Gunung Merapi. Dari arah ini kami memanjat naik untuk sampai di padepokan kami tempat kami menempa angkatan mendatang. Nah, jangan berusaha menentang kami, karena kami akan menghancurkan kalian”

“Kekuatan kalian sudah tidak berarti lagi sekarang” teriak Wijang. “Setelah Harya Wisaka ditangkap, maka semua pengikutnya menjadi bercerai-berai dengan membuat rencananya masing-masing. Tetapi tidak sekelompok  pun yang mampu mengumpulkan pengikut yang cukup kuat untuk berbuat sesuatu kecuali merampok kecil-kecilan. Sekarang, kalian datang untuk merampok. Tetapi sayang, bahwa kami sudah siap untuk menghancurkan kalian”

Tetapi ternyata bahwa pemimpin dari sekelompok orang itu bersikap agak tenang. Karena itu maka ia pun menjawab, “Seharusnya kalian menyambut baik kesempatan untuk ikut menjunjung perjuangan ini. Kelak, pada saatnya anak-anak muda itu memegang pemerintahan, maka kalian akan mendapat peluang-peluang yang sangat menguntungkan”

“Peluang itu tidak akan pernah ada. Kalian akan binasa sebelum mimpi kalian sampai ke batas tidur kalian yang nyenyak”

“Cukup” teriak orang yang berdiri di depan pintu gerbang. “Aku tidak ingin berbicara terlalu panjang. Sekarang buka pintu dan serahkan semua uang, harta benda dan apa saja yang ada pada kalian, yang tentu hanya merupakan sebagian kecil dari kekayaan kalian seluruhnya”

“Aku bawa apa yang aku punya sekarang ini. Jika ini kau minta, maka habislah semuanya” teriak Paksi.

“Setan alas. Jika demikian, kami akan memaksa kalian”

Yang memiliki penginapan itu pun kemudian berteriak, “Kami akan mempertahankan harta benda milik kami. Kalian tentu tahu bahwa kami  pun telah mempersiapkan diri menghadapi keadaan seperti ini. Karena itu, jika kalian masih sempat berpikir bening, urungkan niatmu”

Saudagar kaya yang disertai pengawalnya itu pun tiba-tiba berteriak, “Kembalilah selagi kalian masih utuh. Jumlah kami terlalu banyak untuk kau lawan”

Tetapi orang yang berdiri di depan pintu itu berkata, “Jumlah bukan jaminan untuk menang. Meskipun jumlah kami tidak banyak, tetapi kami adalah orang-orang yang terlatih dengan baik”

Namun seorang di dalam kegelapan  pun berteriak pula, “Jangan dikira bahwa kami tidak pernah berguru kepada seorang guru yang sakti. Renungkan ini”

“Sudahlah. Aku sudah jemu untuk berbicara. Buka regol ini dan kalian harus berkumpul di halaman itu. Kemudian seorang demi seorang datang menyerahkan harta benda atau uang atau perhiasan atau apa saja yang kalian bawa. Ingat, kami sama sekali tidak ingin merampok kalian. Jika hal ini kami lakukan, semata-mata karena kami bertanggung jawab pada perjuangan kami yang masih harus kami selesaikan”

“Tidak” teriak seorang yang baru saja menjual beberapa ekor ternak dan belum sempat membawa pulang uangnya. “Kami mencari uang dengan susah payah. Kami akan mempertahankannya”

Pemimpin dari sekelompok orang itu benar-benar tidak sabar lagi. Dengan lantang ia pun kemudian berkata, “Jika kalian tidak mau menyerahkannya, kami akan mengambilnya sendiri”

Namun tiba-tiba saja Wijang  pun berteriak, “Jadi masih adakah di antara kalian yang tertipu oleh janji-janji para pengikut Harya Wisaka? Harya Wisaka sudah tertangkap. Lalu siapa yang akan menjadi sandaran kalian jika benar kalian berjuang bagi tujuan yang sudah dirintis oleh Harya Wisaka?”

“Persetan. Ternyata mulutmulah yang paling berbahaya. He, siapa kau?” bertanya pemimpin sekelompok orang itu.

Pemilik rumah itu  pun menjadi berdebar-debar. Ia tahu, bahwa yang berbicara itu adalah salah seorang dari kedua orang anak muda yang dituduhnya sengaja disusupkan oleh para perampok ke dalam penginapan itu.

Namun ternyata mereka adalah anak-anak muda yang memiliki pandangan tertentu terhadap sikap Harya Wisaka. Biasanya orang-orang yang bermalam di penginapan itu tidak begitu banyak mempersoalkan pemberontakan Harya Wisaka.

Mereka merasa menjadi lebih aman ketika Harya Wisaka sudah tertangkap. Namun ternyata bahwa perampok-perampok itu telah menyebut perjuangan Harya Wisaka itu pula.

Dalam pada itu, Paksi lah yang menyahut, “Untuk apa kau tahu siapa kami? Kami adalah pengembara yang malam ini terdampar di penginapan ini. Jika bekal yang ada pada kami harus kami serahkan kepada kalian semuanya, kami tentu akan berkeberatan”

“Kami tidak akan menyerahkan apa  pun milik kami” teriak seorang laki-laki yang suaranya menggelegar seperti guntur.

Pemimpin sekelompok orang itu pun kemudian yakin, bahwa orang-orang yang bermalam di penginapan itu tidak akan mau menyerah begitu saja. Karena itu, maka pemimpin dari sekelompok orang itu pun kemudian berkata kepada orang-orangnya, “Kalian sudah mendengar, bahwa orang-orang bodoh itu tidak bersedia membantu perjuangan kita. Adalah akibat dari kesediaan kita menjadi pilar dari perjuangan ini, maka kita harus bertindak tegas. Kita tidak boleh ragu-ragu. Siapa yang menghalangi kalian, harus disingkirkan”

Tetapi sebelum perintah itu selesai, Wijang telah berteriak, “He, orang-orang dungu, apa yang kalian dapat dengan apa yang disebutnya perjuangan? Itu hanya satu alasan yang dibuat-buat untuk perampokan ini. Karena itu, lebih baik kalian merampok saja. Hasilnya dibagi rata. Tidak untuk sesuatu yang disebutnya perjuangan itu. Itu hanya cara pemimpinmu mengelabuhimu”

“Diam” teriak pemimpin sekelompok orang itu.

Wijang tertawa. Suaranya menggetarkan udara yang dingin di atas halaman penginapan itu. “Kalian harus mempertaruhkan nyawa kalian untuk sesuatu yang tidak kalian mengerti. Mimpi yang semu atau bius yang melampaui tajamnya tuak segoci penuh”

“Cukup” teriak pemimpin sekelompok orang-orang itu. Lalu ia pun berteriak nyaring, “Loncati pagar yang rendah itu, bunuh saja yang mencoba menghalangi kalian. Jangan ragu-ragu”

“Hati-hati” Paksi lah yang berteriak, “kau akan dapat menginjak ujung pedang”

“Cepat, meloncat masuk” teriak pemimpin kelompok itu.

Sekelompok orang itu pun segera memencar. Mereka berusaha untuk meloncati dinding yang rendah. Tetapi peringatan Paksi membuat mereka menjadi ragu-ragu. Ketika seorang di antara mereka dengan serta-merta meloncat, maka hampir saja ia menginjak seorang dari tiga orang yang menginap bersama-sama, yang menurut katanya, hanya membawa kain dan baju yang sudah lusuh.

Yang terdengar adalah teriakan kesakitan. Ketiga orang yang bertiarap di balik dinding yang rendah itu dengan serta-merta menyerangnya.

Sejenak kemudian, pertempuran pun segera terjadi. Pemilik penginapan dan orang-orangnya  pun segera menyongsong mereka. Mereka merasa bertanggung jawab terhadap orang-orang yang menginap di penginapan mereka. Jika mereka tidak berusaha membantu mereka, maka usahanya tentu akan semakin menyusut. Orang-orang tidak lagi menginap di penginapan itu.

Karena itu, maka dengan sungguh-sungguh pemilik penginapan itu pun berusaha menghalau orang-orang yang datang untuk merampok itu.

Selain pemilik penginapan dan orang-orangnya, maka orang-orang yang memiliki uang maupun harta benda yang berharga atau perhiasan emas dan berlian yang mahal harganya, berusaha untuk melindungi milik mereka pula. Saudagar kaya bersama pengawalnya itu pun telah siap menyambut orang-orang yang datang menyerang.

Pertempuran pun segera menebar di mana-mana di halaman penginapan itu. Ternyata bahwa jumlah orang yang mempertahankan milik mereka bersama orang-orang yang diupah oleh pemilik penginapan itu jumlahnya cukup banyak untuk mengimbangi jumlah sekelompok orang yang datang untuk merampas milik mereka itu. Itu pun masih ada beberapa orang laki-laki yang bahkan bersembunyi di pakiwan atau di sudut-sudut yang gelap karena ketakutan.

Ternyata bahwa sekelompok orang yang datang untuk merampas itu tidak dengan mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang-orang yang mempertahankan miliknya itu ternyata ada juga yang memiliki ilmu yang memadai, sehingga menyulitkan usaha orang-orang yang ingin merampas harta miliknya.

Pemimpin sekelompok orang yang datang itu menjadi sangat marah ketika ia menyadari, bahwa orang-orangnya mendapat perlawanan yang berat. Karena itu, maka dengan mengerahkan kemampuannya orang itu langsung terjun ke medan.

Wijang melihat kehadiran orang itu di arena. Ia pun segera menjadi cemas, bahwa orang itu akan membunuh tanpa kekang.

Karena itu, maka Wijang lah yang kemudian berusaha untuk menghadapinya.

“Kau mau membunuh diri, anak muda?” geram orang itu.

“Kaukah pemimpin dari sekelompok orang yang mengaku sedang mempersiapkan angkatan mendatang untuk melanjutkan cita-cita perjuangan Harya Wisaka?”

“Kaukah orang yang telah merendahkan cita-cita perjuangan kami?”

“Ya. Cita-cita perjuanganmu memang pantas untuk direndahkan, karena tidak akan ada gunanya sama sekali. Bahkan aku yakin, bahwa kau tidak tahu apa-apa tentang sesuatu yang menurut pengakuanmu sedang kau perjuangkan”

“Aku koyak mulutmu”

“Jika kau memang tahu apa yang kau perjuangkan, coba katakan, apakah tujuan akhir dari perjuanganmu? Mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya? Atau apa?”

Orang itu tidak menjawab. Dengan serta-merta ia menyerang Wijang yang berdiri tegak di hadapannya.

Tetapi Wijang  pun telah siap menghadapinya. Ketika senjata orang itu berputar, maka Wijang pun telah bergeser pula.

Sementara itu, Paksi  pun telah bertempur sendiri. Ia bahkan berada di mana-mana. Tongkatnya berputaran dengan cepat di seputar tubuhnya. Namun kemudian terayun menghantam punggung lawannya sehingga lawannya itu jatuh terjerembab.

Ternyata Paksi berloncatan di halaman dari satu lingkaran pertempuran ke lingkaran pertempuran yang lain. Jika ia melihat seseorang yang berada dalam keadaan bahaya, maka ia pun segera datang menolongnya. Namun demikian lawannya terpelanting jatuh, maka Paksi pun telah beranjak pula dari tempatnya.

Orang-orang yang jatuh oleh pukulan tongkat Paksi itu memang dapat segera bangkit kembali. Namun biasanya mereka tidak lagi dapat bertempur dengan tangkas. Jika bukan tulang belakangnya, maka dadanya atau lambung atau bagian-bagian tubuhnya yang lain yang menjadi kesakitan.

Dengan demikian, maka anak muda yang bersenjata tongkat itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang datang menyerang penginapan itu. Empat orang di antara mereka yang merasa memiliki kemampuan melampaui kawan-kawannya telah sepakat untuk menghancurkan anak muda yang bersenjata tongkat itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Paksi pun telah bertempur di tengah-tengah halaman melawan empat orang lawan. Empat orang yang terhitung memiliki kelebihan dari kawan-kawan mereka.

Namun dengan demikian, lima orang terkuat dari mereka yang datang untuk merampas harta milik orang-orang di penginapan itu telah terikat dalam pertempuran tersendiri. Karena itulah, maka kekuatan mereka yang lain harus terbagi menghadapi pemilik penginapan itu bersama orang-orang upahannya, serta orang-orang lain yang berusaha mempertahankan milik mereka.

Dengan demikian, maka beban tugas mereka pun menjadi berat. Perlawanan yang diberikan oleh pemilik penginapan dan orang-orang upahannya serta orang-orang yang menginap adalah di luar dugaan mereka.

Sementara itu, keempat orang yang garang itu pun tidak mampu untuk segera menundukkan Paksi. Meskipun mereka bersenjata golok, parang dan bindi, namun tongkat baja Paksi sulit sekali untuk dapat mereka kuasai.

“Kita bunuh kelinci ini secepatnya” geram orang yang bertubuh tinggi dan berdada bidang, penuh ditumbuhi rambut yang lebat.

Kawan-kawannya tidak menyahut. Namun mereka bertempur semakin garang. Mereka meningkatkan kemampuan mereka sampai ke puncak.

Ternyata keempat orang itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi pula. Mereka mampu menekan Paksi sehingga Paksi harus mengerahkan kemampuannya pula. Anak muda itu harus berloncatan dengan cepatnya menghindari serangan-serangan yang datang beruntun dari keempat orang lawannya. Namun latihan-latihan Paksi yang berat, membuatnya masih mungkin melindungi dirinya sendiri.

Dengan berbagai usaha, keempat orang lawan Paksi berusaha dengan cepat menghentikan perlawanannya, sehingga dengan demikian mereka segera dapat membantu kawan-kawan mereka yang lain, yang semakin terdesak oleh orang-orang yang bermalam di penginapan itu, yang tidak mau kehilangan milik mereka.

Tetapi memang tidak mudah untuk dapat menundukkan Paksi. Tongkatnya berputaran semakin lama semakin cepat. Benturan-benturan dengan senjata lawan-lawan mereka  pun semakin sering terjadi.

Namun Paksi masih tetap bertahan.

“Bunuh anak itu. Cepat” teriak pemimpin sekelompok orang yang datang ke penginapan itu.

Tidak seorang  pun dari keempat orang itu yang menjawab. Tetapi betapapun mereka memaksakan diri untuk segera mengakhiri pertempuran, namun anak muda itu masih saja memberikan perlawanan dengan tangkasnya.

Kemarahan pemimpin kelompok itu rasa-rasanya mulai membakar ubun-ubunnya. Dikerahkannya ilmunya untuk mengakhiri perlawanan Wijang. Tetapi Wijang ternyata mampu mengimbangi ilmunya. Bahkan semakin lama semakin ternyata, bahwa Wijang memiliki beberapa kelebihan dari lawannya itu.

Dalam pada itu, pertempuran di halaman itu semakin lama menjadi semakin sengit. Orang-orang yang menginap di penginapan itu semakin lama semakin mempunyai kepercayaan diri. Apalagi jumlah mereka cukup banyak, sehingga mereka dapat bertempur berpasangan dengan kawan-kawan terdekat mereka untuk melawan seorang di antara mereka yang datang untuk merampas milik mereka itu.

Perlawanan yang kuat itu sama sekali tidak diduga oleh pemimpin kelompok itu. Seandainya saja tidak ada anak muda yang menghadapinya itu, serta tidak ada anak muda yang mampu bertahan melawan empat orang kawan-kawannya yang terbaik, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka akan dapat menundukkan orang-orang yang berusaha mempertahankan harta bendanya itu bersama pemilik penginapan dan orang-orang upahannya.

Namun ternyata bahwa kedua orang anak muda itu ada di antara mereka. Bukan saja pemimpin sekelompok orang yang datang itu saja yang menyadari peran Wijang dan Paksi. Tetapi pemilik penginapan itu pun melihat, bahwa kedua anak muda itu telah berhasil menahan orang-orang yang berilmu tinggi yang akan dapat mengacaukan pertahanannya.

Sementara itu, Wijang yang bertempur melawan pemimpin sekelompok orang yang ingin merampas semua milik orang-orang yang menginap itu pun telah meningkatkan ilmunya pula.

Kebenciannya kepada Harya Wisaka karena gerakannya yang telah banyak menelan korban, waktu dan harta benda itu, telah membuat Wijang tidak berpikir panjang. Semua tunas yang memungkinkan tumbuhnya apa yang mereka sebut perjuangan itu harus dipatahkan. Juga usaha untuk membentuk angkatan mendatang itu  pun harus dihancurkannya pula.

Karena itu, maka setelah bertempur beberapa saat, maka Wijang pun telah memutuskan untuk mengakhiri perlawanan pemimpin sekelompok orang yang akan merampok itu.

“Menyerahlah” geram Wijang, “ini adalah kesempatanmu yang terakhir. Kau akan dibawa ke Pajang dan dipenjara sebagai seorang pemberontak. Bukan sebagai seorang perampok”

“Persetan kau, anak muda. Aku akan membunuhmu”

“Jika kau berkeras, maka akan berlaku pula di sini hukuman
bagi seorang pemberontak”

“Tutup mulutmu” geram orang itu.

Wijang tidak berbicara lagi. Tetapi ia pun melihat Paksi yang harus bekerja keras untuk mempertahankan diri dari keempat orang lawannya yang berilmu tinggi.

Karena itu, maka Wijang pun berniat mengakhiri perlawanan orang itu sebelum Paksi semakin mengalami kesulitan. Dengan demikian, maka Wijang pun segera meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Sepasang pisau belatinya menyambar-nyambar dengan garangnya, sehingga tidak ada kesempatan bagi lawannya untuk mempertahankan diri. Ia berteriak marah ketika pisau belati Wijang menyambar dadanya. Namun kemudian justru menyentuh bahunya dan lengannya.

Kemarahan pemimpin kelompok itu benar-benar menggetarkan halaman penginapan itu. Teriakan-teriakan dan umpatan-umpatan yang keras dan kasar. Perintah-perintah yang bengis meluncur dari mulutnya, justru karena ia sendiri menjadi putus asa.

Sementara itu, empat orang yang berilmu tinggi yang berusaha menekan Paksi, menyaksikan kesulitan yang dialami oleh pimpinannya. Karena itu seorang di antara mereka telah meloncat meninggalkan Paksi dan berusaha untuk membantu pemimpinnya.

Namun usahanya itu sia-sia. Yang dilawannya adalah Pangeran Benawa yang memiliki ilmu jauh di luar perhitungan mereka.

Karena itu, kehadiran seorang kawannya tidak banyak membantu pemimpin kelompok itu. Apalagi darah semakin lama semakin banyak mengalir dari luka-lukanya.

Meskipun demikian, kehadiran seorang yang membantunya itu terasa mengganggu bagi Wijang, meskipun menurut perhitungannya ada baiknya pula, karena itu berarti mengurangi beban Paksi.

Ketika keringat semakin membasahi punggung Wijang, maka Wijang pun benar-benar telah berniat mengakhiri pertempuran itu. Pemimpin kelompok yang semakin lama menjadi semakin lemah itu tidak berhasil menghindari sergapan pisau belati Wijang yang mengarah ke lambungnya. Sementara itu, kawannya yang berusaha membantunya dengan menyerang Wijang, tidak berhasil mengenainya. Bahkan sambi berputar, pisau belati Wijang telah menyambar dadanya.

Orang itu terdorong beberapa langkah surut. Bersamaan dengan itu, pemimpin kelompok yang datang untuk merampok itu pun tidak lagi berdaya untuk melawan. Lambungnya telah terkoyak oleh pisau belati Wijang, sehingga orang itu pun jatuh terduduk. Tangannya berusaha memegangi lambungnya yang terkoyak. Namun darah sudah mengalir dari luka-luka yang lain di tubuhnya. Maka akhirnya orang itu tidak mampu lagi bertahan. Ia pun kemudian jatuh terguling di tanah.

Sementara itu, kawannya yang terdorong surut, masih berusaha untuk meloncat menyerang. Namun serangannya itu pun gagal, karena senjatanya sama sekali tidak menyentuh lawannya. Bahkan pisau belati Wijang telah menghunjam di dadanya tembus ke arah jantung.

Sementara itu, Paksi yang kehilangan seorang lawan mendapat kesempatan lebih banyak untuk menyerang lawan-lawannya.

Tongkatnya pun berputar semakin cepat. Ketika seorang lawannya luput menusuk perutnya, Paksi telah memukul tengkuk lawannya itu dengan tongkatnya. Demikian kerasnya sehingga orang itu pun jatuh tersungkur dan tidak akan pernah bangkit untuk selamanya.

Pertempuran itu benar-benar merupakan neraka bagi orang-orang yang datang untuk merampok. Kehadiran dua orang anak muda di luar perhitungan mereka, benar-benar telah mengacaukan segala-galanya. Sementara itu, pemilik penginapan itu serta orang-orang upahannya pun ternyata telah bertempur dengan gigihnya.

Orang-orang yang mempertahankan harta milik mereka  pun telah bertempur dengan berani. Saudagar kaya dengan para pengawalnya itu mati-matian berusaha mengusir para perampok yang akan merampas kekayaannya.

Ternyata Wijang dan Paksi tidak menghadapi orang-orang itu sebagai perampok. Tetapi mereka menganggap mereka adalah bagian dari satu pemberontakan. Meskipun pemberontakan itu sendiri telah gagal, tetapi beberapa orang pengikutnya ternyata masih bermimpi untuk menyiapkan apa yang disebutnya angkatan mendatang itu.

Ternyata tanpa pemimpin mereka, serta orang-orang yang berilmu tinggi, perampok-perampok yang nampaknya garang itu tidak banyak berdaya. Apalagi jumlah mereka lebih kecil dari lawan mereka yang berusaha mempertahankan hak serta milik mereka dibantu oleh pemilik penginapan serta orang-orang upahannya.

Ketika kedua orang lawan Paksi yang lain  pun sudah tidak berdaya pula, maka habislah sandaran kekuatan orang-orang yang datang untuk merampok itu. Beberapa orang di antara mereka telah terluka parah dan bahkan ada pula yang terbunuh.

Orang-orang yang marah itu tidak lagi mampu mengendalikan diri. Apalagi mereka yang kawannya atau sanak kadangnya telah terluka pula.

Orang-orang upahan yang akan mengawal iring-iringan esok pagi itu telah menjadi marah pula. Seorang di antara mereka ternyata telah terbunuh di pertempuran itu. Seorang lagi terluka parah. Beberapa yang lain terluka ringan. Namun darah telah mengalir dari tubuh mereka pula.

Dalam keadaan yang kalut itu, maka beberapa orang di antara mereka yang datang untuk merampas harta milik orang-orang yang menginap di penginapan itu telah berusaha untuk melarikan diri. Tidak ada lagi pemimpin yang mengatur mereka, sehingga mereka pun berlari saja cerai-berai.

Namun sebagian dari mereka benar-benar telah kehilangan kesempatan. Orang-orang yang marah itu tidak mau membiarkan mereka melarikan diri.

Bahkan seorang berteriak dengan suara menggelegar, “Kita hancurkan mereka sampai orang yang terakhir, agar tidak ada lagi yang akan mendendam”

Namun ternyata ada juga satu dua orang yang berhasil melarikan diri dari halaman penginapan yang telah menjadi
neraka itu.

Sejenak kemudian, maka pertempuran itu pun telah berakhir.

Beberapa sosok mayat tergolek di halaman. Sebagian besar dari mereka justru adalah para perampok.

Pemilik penginapan bersama orang-orangnya segera mengumpulkan orang-orang yang malam itu menginap di penginapannya untuk mengetahui, apakah ada di antara mereka yang cedera.

Ternyata bahwa seorang pengawal saudagar kaya itu tidak tertolong lagi jiwanya. Dengan sedih saudagar itu duduk merenungi pengawalnya yang setia.

“Sudah bertahun-tahun ia bekerja padaku” desis saudagar itu. “Aku tidak mengira, bahwa hidupnya akan berakhir di sini”

Kawan-kawannya  pun menundukkan wajahnya pula. Pengawal yang terbunuh itu adalah orang yang baik.

Hubungannya dengan kawan-kawannya  pun baik pula.

“Kita batalkan perjalanan kita” berkata saudagar itu. “Besok
kita pulang dengan membawa sosok tubuh ini”

Para pengawalnya yang lain  pun mengangguk.

Selain pengawal itu, seorang yang diupah pemilik penginapan itu juga terbunuh. Seorang yang lain terluka parah. Pamannya yang sulit menerima kenyataan tentang kemenakannya yang terbunuh itu, masih saja mengguncang-guncang tubuhnya beberapa saat setelah pertempuran selesai.

“Kau masih terlalu muda untuk mati, Ngger” desah pamannya. Pamannya itulah yang mengajak kemenakannya itu bekerja pada pemilik penginapan itu untuk mengawal orang-orang yang akan menyeberang sungai lewat sasak bambu itu. Tetapi pamannya tidak mengira, bahwa pada suatu saat kemenakannya itu akan terbunuh.

Dalam pada itu, selagi orang-orang masih sibuk mengurusi orang-orang yang terbunuh dan terluka, pemilik penginapan itu sempat mencari dua orang anak muda yang dianggapnya menjadi penyelamat bagi penginapannya itu. Tanpa kehadiran kedua orang itu, maka orang-orang yang menginap di penginapan itu tidak akan mampu mempertahankan harta benda mereka.

Bahkan mungkin orang-orangnya akan lebih banyak lagi yang menjadi korban. Demikian pula orang-orang yang menginap yang bertahan untuk tidak mau menyerahkan milik mereka.

Namun karena kehadiran kedua orang anak muda yang mampu menahan pemimpin sekelompok orang yang akan merampok penginapannya itu, sedangkan yang lain mengikat empat orang berilmu tinggi di antara para perampok itu, maka perampok itu sama sekali tidak berhasil.

Bahkan sekelompok perampok itu nampaknya benar-benar telah dihancurkan, sehingga sulit untuk dapat bangkit kembali. Setidak-tidaknya mereka memerlukan waktu yang panjang untuk dapat menghimpun kekuatan sebesar kekuatan yang hancur itu.

Sementara itu, pemilik penginapan itu justru telah menuduh kedua orang anak muda itu sengaja disusupkan oleh para perampok untuk mengetahui, apakah di antara mereka yang
menginap itu terdapat orang-orang kaya yang membawa barang-barang berharga atau mengenakan perhiasan.

Tetapi pemilik penginapan itu tidak berhasil menemukannya. Wijang dan Paksi sudah tidak ada di halaman penginapan itu.

Sebenarnyalah Wijang dan Paksi berusaha untuk dapat mengikuti sisa-sisa perampok yang berhasil meloloskan diri.
Mereka berharap bahwa para perampok yang masih hidup itu dapat membawa mereka berdua ke padepokan yang telah mereka sebutkan.

Dengan sigapnya keduanya mengikuti seorang di antara para perampok yang nampaknya sudah terluka. Namun ia masih berhasil melepaskan diri dari tangan para pengawal penginapan yang marah itu.

Ternyata orang itu mengikuti lorong yang masih saja semakin naik. Semakin lama semakin tinggi di kaki Gunung Merapi. Lorong yang mereka lalui  pun semakin lama menjadi semakin sulit. Bahkan akhirnya mereka memasuki jalan setapak yang sempit. Memanjat lereng yang kadang-kadang terjal, di antara gerumbul-gerumbul perdu yang tumbuh di sela-sela bongkah-bongkah batu padas yang basah.

Namun akhirnya mereka sampai ke sebuah dataran yang agak luas. Mereka melihat sawah terbentang, bertingkat-tingkat seperti sebuah tangga raksasa menuju ke lambung Gunung Merapi.

Nampaknya tanah  pun cukup subur dengan tanaman padi yang nampak hijau segar. Air  pun tidak kekurangan. Parit-parit yang ada di sela-sela kotak-kotak sawah itu  pun mengalir cukup deras.

Namun dalam pada itu, langit  pun mulai menjadi terang. Wijang dan Paksi melihat orang yang mereka ikuti sudah menjadi sangat lemah. Bahkan orang itu seakan-akan tinggal dapat merangkak untuk bergerak naik lewat jalan yang justru menjadi lebih lebar dan rata dari jalan setapak yang sulit dilalui di sela-sela batu-batu padas.

“Satu daerah yang nampaknya terpisah” desis Paksi.

“Ya. Kita tentu sudah berada di lingkungan padepokan yang kita cari. Agaknya padukuhan yang nampak itu adalah padepokan yang disebut-sebut”

“Apakah kita akan mengikuti terus?”

“Mudah-mudahan orang itu tidak melihat kita”

“Kita akan menjaga jarak. Tetapi seandainya tanpa orang itu  pun kita akan dapat sampai ke padepokan mereka”

Namun Wijang dan Paksi pun kemudian tertegun. Mereka melihat dua orang yang datang dari arah lambung Gunung Merapi. Dengan tergesa-gesa mereka menyongsong orang yang sudah tidak berdaya itu.

“Kau sendiri?” seorang di antara mereka bertanya.

Wijang dan Paksi pun telah mengetrapkan ilmunya, Aji Sapta Pangrungu, sehingga mereka dapat mendengarkan pembicaraan orang-orang itu.

Orang yang merangkak itu terduduk sambil berdesis, “Ya. Aku sendiri”

“Sudah ada tiga orang yang aku jumpai. Keadaan mereka lebih baik dari keadaanmu. Marilah. Aku bantu kau. Tetapi apakah masih ada orang lain di belakangmu?”

“Aku tidak tahu. Tetapi agaknya aku adalah orang yang mendapat kesempatan terakhir untuk melarikan diri dari neraka itu”

Kedua orang yang datang itu pun membantu memapah kawannya yang terluka parah itu.

“Agaknya pengawasan mereka cukup ketat” berkata Wijang.

“Kita tidak usah pergi sekarang. Kita tahu, bahwa padepokan mereka terletak di padukuhan itu. Sawah dan pategalan itu adalah tanah garapan mereka”

“Daerah ini seperti daerah yang terpisah dari Pajang”

Wijang mengangguk-angguk. Daerah itu memang disekat oleh bongkah-bongkah batu padas, gumuk-gumuk kecil, lereng yang terjal dan lorong yang rumit dilalui. Namun daerah itu sendiri agaknya merupakan daerah yang subur. Semuanya nampak hijau. Air  pun tergenang di mana-mana. Wijang dan Paksi tidak melanjutkan perjalanan mereka mengikuti orang yang dipapah oleh kedua kawannya itu. Mereka memandanginya sampai hilang di balik gerumbul-gerumbul perdu.

Namun jalan di hadapan mereka adalah jalan yang termasuk rata dan lebar meskipun memanjat naik. Agaknya jalan itu cukup terpelihara sebagaimana parit-parit yang membawa air ke kotak-kotak sawah.

“Kita menunggu sampai sore” desis Wijang.

“Kita menunggu di sini sehari penuh tanpa berbuat sesuatu?”

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”

“Kita pergi ke pategalan. Kita mencuri buah-buahan yang dapat membantu menyegarkan tubuh kita sehari ini”

Wijang tertawa. Katanya, “Bagus. Kita tidak dapat berburu binatang, karena jika kita membuat perapian, maka kehadiran kita akan segera dapat dilihat”

Namun Paksi pun kemudian bertanya, “Di mana letak pategalan mereka?”

“Kita akan mencarinya. Tetapi kita tidak tahu, buah-buahan apakah yang mereka tanam. Sementara itu, aku kira di lingkungan ini tidak ada orang berjualan makanan dan minuman, karena lingkungan ini seolah-olah merupakan lingkungan terpisah. Jauh dari padukuhan-padukuhan yang dihuni. Sedangkan di seberang daerah persawahan itu agaknya hutan lereng pegunungan yang lebat. Kau dapat membuka satu lingkungan kecil seperti ketika kau mengembara sebelumnya?” bertanya Wijang.

“Agaknya lingkungannya berbeda. Dahulu aku dapat turun ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Nampaknya di sini tidak mungkin aku lakukan. Kecuali itu, akan memerlukan waktu yang cukup panjang untuk mulai dari permulaan”

“Apakah kita tidak akan lama di sini?” tiba-tiba saja Wijang bertanya.

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menjawab, “Mungkin kita akan lama di sini. Tetapi mungkin pula tidak. Tetapi seandainya kita harus membuka lahan kecil, dari mana kita mendapat benih? Dahulu aku dapat membeli di pasar.

Apakah kita juga akan melakukannya di sini, di daerah yang
terpisah ini?”

“Jika perlu kita akan turun. Membeli benih dan bekal untuk waktu yang agak panjang. Kita membuka lahan kecil di hutan itu. Aku senang dengan cara yang kau lakukan di sisi selatan kaki Gunung Merapi itu”

Paksi menarik nafas panjang. Memang mereka berdua dapat saja turun untuk membeli bekal dan benih tanaman yang dapat mereka tanam sebagaimana dilakukan Paksi sebelumnya. Tetapi mereka tidak dapat setiap saat pergi ke pasar, karena daerah itu seakan-akan telah disekat oleh kerasnya alam di kaki gunung.

Namun Paksi pun kemudian berkata, “Kita akan melihat-lihat, apakah yang sebaiknya kita lakukan kemudian”

Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Yang penting, kita akan mencoba mendekati lingkungan pategalan mereka” Paksi tertawa. “Aku sependapat”

Namun keduanya tidak segera meninggalkan tempat itu. Bahkan mereka telah mencari tempat yang lebih baik untuk dapat mengatasi jalan yang memanjat itu.

Beberapa saat lamanya mereka duduk bersandar batu-batu padas. Sementara itu, matahari pun memanjat semakin tinggi, memanasi kaki Gunung Merapi.

Jalan membujur di antara tanah persawahan itu memang jalan yang sepi. Jalan itu agaknya semata-mata dipergunakan untuk penghuni di lingkungan itu. Lingkungan sebuah padepokan yang terpencil.

Mungkin jalan itu dibuat agar hasil panenan dapat diangkut dengan pedati ke padepokan. Mungkin juga pedati itu dipergunakan untuk mengangkut pupuk atau keperluan-keperluan yang lain.

Untuk beberapa lama Wijang dan Paksi menunggu. Tetapi mereka tidak melihat seorang  pun lewat atau seorang yang lain yang bekerja di sawah.

“Marilah kita tinggalkan tempat ini” berkata Wijang. “Kita akan berada di hutan itu. Nampaknya kita akan lebih aman berada di sana. Sambil melintasi bulak yang luas ini, kita akan melihat-lihat pategalan yang nampaknya berada di sebelah padepokan itu”

Mereka berdua pun kemudian bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan tempat mereka. Tetapi mereka sengaja tidak berjalan melewati jalan yang sepi itu, karena dengan demikian mereka akan lebih mudah dilihat dari kejauhan.

Dengan Aji Sapta Pandulu mereka memandang bulak yang luas itu. Pematang yang bertingkat-tingkat serta padepokan di kejauhan. Ternyata mereka tidak melihat seorang pun. Sehingga karena itu, maka mereka berdua menyusuri padang perdu mengitari bulak yang luas itu untuk mencapai hutan lereng gunung di seberang bulak.

Wijang dan Paksi  pun tidak menemui kesulitan apa-apa. Mereka memasuki hutan yang lebat yang agaknya dihuni oleh berbagai macam binatang buas.

“Kau harus mempersiapkan diri menghadapi binatang berbisa” berkata Wijang.

Paksi mengangguk.

“Kau masih mempunyai obat penawar racun itu?”

“Masih” jawab Paksi. Diambilnya reramuan obat penawar racun yang dikemas dalam butiran-butiran kecil, disimpan dalam sebuah kantong kain putih yang diselipkan pada kantong ikat pinggangnya.

Ternyata peringatan Wijang itu berarti sekali. Di hutan itu banyak dijumpai berbagai jenis ular dan binatang berbisa lainnya. Termasuk ketonggeng, berbagai jenis kala serta laba-laba bersabuk perak.

“Kita mencari tempat yang paling baik” berkata Wijang, “sebelum kita nanti mencari di mana letak pategalan dari padepokan itu”

Keduanya menyusuri hutan itu beberapa lama. Telinga mereka yang tajampun mendengar suara gerojogan kecil serta aliran air yang tidak begitu deras.

“Sebuah sungai kecil” desis Wijang.

Keduanya pun segera menuju ke sungai kecil itu. Mereka berhenti di atas lereng yang agak curam. Di bawah lereng itu mereka melihat aliran air yang tidak begitu deras. Sebuah gerojogan kecil meluncur dari seberang, menimpa batu padas di bawahnya.

“Seperti sungaimu” berkata Wijang.

“Sungaiku?”

“Ya, sungaimu yang banyak ikannya itu. Sebuah gerojogan yang di belakangnya ada lubang goanya”

“Tetapi gerojogan itu cukup besar untuk menutup lubang goa.

Gerojogan sungai ini hanyalah sebuah gerojogan kecil”

“Ya” Wijang tertawa, “tetapi di genangan air di bawahnya tentu banyak ikannya”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah kita turun”

Keduanya pun segera menuruni tebing yang curam. Tetapi tidak terlalu dalam.

Demikian mereka sampai di tepian, maka Paksi pun berdesis, “Kau benar. Di situ  pun banyak ikannya”

“Tempat ini belum pernah dijamah oleh seseorang. Bahkan para cantrik dari padepokan itu  pun tentu belum pernah sampai ke tempat ini”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin sekali. Tetapi lihat, ada sebuah kebun pisang”

“Ya. Seperti kebun pisangmu”

“Tidak hanya pisang. Di seberang juga banyak pohon nanas dan nampaknya pohon salak”

“Pohon-pohon liar. Marilah kita naik ke seberang”

Keduanya pun segera memanjat pula sampai ke atas lereng yang berseberangan.

“Apakah benar bahwa tempat ini belum pernah dijamah orang?” bertanya Paksi tiba-tiba.

“Kenapa?”

“Apakah tangga batu padas ini tidak dibuat oleh tangan seseorang?”

Wijang mengerutkan dahinya. Memang agak aneh. Ada tiga atau empat mata tangga di tempat yang paling terjal. Nampaknya tangga pada batu padas itu bukan kebetulan saja ada di situ.

Namun seandainya tangga itu dibuat oleh seseorang, maka tentu sudah lama sekali, karena permukaannya sudah kabur.

Di seberang sungai kecil itu memang terdapat beberapa gerumbul pohon pisang. Namun keduanya menjadi ragu, bahwa nanas dan salak itu benar-benar liar sejak jenis tanaman itu tumbuh di sana.

Meskipun saat itu tanaman itu nampaknya benar-benar liar, tetapi rasa-rasanya keduanya tumbuh di tempatnya masing-masing, sebagaimana beberapa gerombol pohon pisang. Di sebelah lain, terdapat hutan bambu yang lebat. Kemudian hutan lereng gunung yang ditumbuhi pepohonan raksasa yang sudah tua, sehingga batangnya  pun menjadi sangat besar.

“Kita tidak usah mencari pategalan para cantrik untuk mencuri buah-buahan. Di sini kita menemukan banyak pisang nanas dan salak yang jumlahnya tidak terhitung. Di air itu kita dapat menangkap ikan seberapa kita mau. Jika kita terpaksa membuat perapian, kita akan membuatnya malam hari” berkata Wijang.

“Ya” sahut Paksi, “kita sudah mendapatkan yang kita perlukan di sini. Besok kita dapat turun untuk membeli bekal kebutuhan kita beberapa hari. Kita akan berada di sini dengan aman, karena para cantrik itu tidak pernah datang kemari”

Wijang mengangguk-angguk. Namun nampaknya Wijang sedang memperhatikan sesuatu. Dengan dahi yang berkerut ia pun bertanya, “Kau melihat pohon-pohon kelapa itu?”

“Ya”

“Apakah pohon kelapa itu dapat tumbuh sendiri di situ? Mungkin di bagian atas sungai ini tumbuh sebatang pohon kelapa. Buahnya yang tua dan kering jatuh dan hanyut dibawa air. Mungkin sampai di sini dan tumbuh beberapa batang di sebelah menyebelah sungai. Namun dari mana pohon kelapa yang tumbuh di bagian atas dari sungai ini?”

“Besok kita akan melihat-lihat lebih jauh”

“Ya. Sekarang kita mencari tempat terbaik untuk beristirahat. Ada beberapa pohon kelapa yang dapat kita ambil daunnya. Kita akan menganyamnya dan membuat atap sebuah gubuk kecil”

Wijang tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun segera melangkah menuju sebatang pohon kelapa.

“Apa yang akan kau lakukan, Wijang?” bertanya Paksi.

“Memotong beberapa pelepah”

“Biarlah aku yang memanjat?”

“Apa bedanya?”

“Kau dapat memanjat pohon kelapa?”

Wijang tertawa. Katanya, “Jika aku tidak dapat memanjat, kau akan melihatnya bahwa aku tidak akan sampai ke atas”

Ternyata Wijang adalah seorang yang pandai memanjat. Dalam waktu pendek ia sudah berada di atas pelepah kelapa dengan beberapa jenjang buahnya yang sudah tua. Sejenak kemudian, dengan pisau belatinya, Wijang telah memotong beberapa pelepahnya dan mengambil dua kelapa yang masih muda. Tetapi Wijang justru tidak mengusik kelapa yang sudah tua.

“Biarlah yang tua itu jatuh dengan sendiri dan dibawa aliran sungai turun ke bawah. Buah itu tentu akan tumbuh di sebelah-menyebelah sungai ini pula. Atau bahkan hanya sampai di dataran dan tumbuh di sana memagari sebuah sungai yang menjadi semakin besar” berkata Wijang kepada diri sendiri.

Demikianlah, pada hari itu Wijang dan Paksi telah menyiapkan sebuah gubuk bambu kecil di atas tanah yang luang di pinggir sungai yang airnya tidak begitu deras itu. Tetapi yang di lekuk-lekuknya tempat air menggenang itu terdapat banyak sekali ikannya.

Setelah gubuk sederhananya siap, maka kedua orang itu pun telah mandi dan membersihkan diri. Kemudian, mereka  pun telah menelusuri jalan yang telah mereka tempuh, keluar dari lingkungan hutan yang lebat itu.

“Sebentar lagi malam gelap. Jangan kehilangan arah jika kita nanti kembali ke gubuk kita itu” berkata Wijang.

“Tidak. Aku sudah menandai beberapa batang pohon” jawab Paksi.

“Hampir tiba waktunya untuk mendekati padepokan itu” Paksi mengangguk-angguk. Waktu ia menengadahkan wajahnya ke langit, maka senja pun telah mulai turun.

Dengan sangat berhati-hati, kedua orang itu pun menyusuri padang perdu melingkari bulak-bulak sawah yang luas. Mereka kemudian menyusuri pematang sambil terbungkuk-bungkuk, merayap mendekati padepokan.

Dengan ketajaman penglihat mereka serta ketajaman pendengaran mereka, keduanya yakin bahwa tidak ada orang yang berada di dekat mereka.

Dengan demikian, maka semakin lama mereka pun menjadi semakin mendekati padepokan yang menurut dugaan Wijang dan Paksi adalah padepokan yang dipimpin oleh orang yang bernama Lenglengan.

Namun keduanya tertegun ketika ketajaman penglihatan mereka menangkap bayangan empat orang yang berjalan sambil membawa tombak pendek. Mereka berjalan menyusuri jalan yang sepi di sekitar padukuhan mereka.

“Ternyata mereka cukup berhati-hati” berkata Wijang.

“Apakah mereka sedang meronda?” desis Paksi.

“Nampaknya memang begitu. Agaknya mereka tidak yakin bahwa padepokan mereka telah tersekat dari dunia luar, sehingga tidak ada orang yang akan pernah datang mengunjunginya”

“Ternyata kita sampai juga di sini”

“Ya” Wijang tertawa tertahan. Sebelah telapak tangannya menutup mulutnya.

“Tetapi mungkin maksud mereka tidak begitu. Bukannya karena mereka tidak yakin bahwa tidak akan ada orang lain yang datang ke padepokan mereka. Tetapi mereka justru menjaga agar orang-orang yang ada di padepokan itu tidak melarikan diri”

Wijang menarik nafas panjang. Katanya, “Jika demikian, aku harus menertawakan diriku sendiri. Tetapi bagaimana jika yang melarikan diri itu justru yang sedang meronda?”

Paksi lah yang tertawa pendek. Katanya, “Nasib buruk bagi padepokan itu”

Sejenak kemudian, setelah orang-orang yang meronda berkeliling itu lewat, maka Wijang dan Paksi pun merayap semakin dekat dengan padepokan itu.

Beberapa saat kemudian, mereka telah berada di luar dinding padepokan. Sebuah padepokan yang cukup luas. Hampir seluas sebuah padepokan kecil. Di seputar padepokan itu terdapat dinding yang terbuat dari batang kelapa utuh yang berderet dipotong rampak cukup tinggi.

Wijang dan Paksi dengan sangat berhati-hati mengelilingi padepokan itu. Ada beberapa pintu gerbang yang sudah tertutup rapat. Namun satu di antara pintu gerbang itu agaknya adalah pintu gerbang utama.

Agaknya tidak ada tempat yang baik untuk mencoba memanjat naik. Tidak ada dahan pepohonan yang mencuat ke atas dinding.

Meskipun demikian, Wijang dan Paksi masih juga berusaha meyakinkannya.

Untuk beberapa saat mereka duduk melekat dinding sambil mendengarkan suara yang mungkin dapat mereka tangkap dengan Aji Sapta Pangrungu.

“Ada sesorah” berkata Wijang hampir berbisik.

“Ya” Paksi berdesis.

Keduanya terdiam. Mereka mencoba mendengarkan apakah ada orang di balik dinding batang pohon kelapa utuh itu. Namun keduanya tidak dapat melihat tembus ke dalam, karena di bagian dalam jajaran batang pohon kelapa itu ditempelkan kepang bambu yang cukup rapat

“Aku akan meloncat naik” berkata Wijang.

Paksi termangu-mangu sejenak. Katanya kemudian, “Berhati-hatilah”

Sejenak kemudian, dengan sedikit ancang-ancang, Wijang meloncat menggapai bibir dinding batang pohon kelapa itu. Dengan tangkasnya ia pun menggeliat, sehingga sejenak kemudian, Wijang telah berada di atas dinding.

Wijang pun segera bertiarap dan melekatkan tubuhnya pada
dinding kayu itu. Untuk beberapa saat Wijang mengamati keadaan. Nampaknya di sekitar tempat itu memang sepi. Tidak ada seorang  pun yang bertugas berjaga-jaga. Tidak pula ada yang meronda berkeliling.

Wijang pun memberi isyarat kepada Paksi untuk segera naik pula ke atas dinding padepokan itu.

Beberapa saat kemudian, keduanya sudah berada di dalam lingkungan padepokan. Sementara itu malam menjadi semakin gelap. Di bangunan-bangunan yang terdapat di dalam padepokan itu, lampu minyak telah menyala.

Nampaknya penjagaan di dalam lingkungan dinding padepokan itu tidak terlalu ketat. Agaknya orang-orang di dalam padepokan itu sama sekali tidak pernah menduga, bahwa ada orang lain yang datang memasuki padepokan itu.

Dengan demikian, maka dugaan Wijang dan Paksi pun menjadi semakin kuat, bahwa orang-orang yang meronda di luar dinding padepokan justru lebih banyak mengawasi agar tidak ada orang yang keluar dari padepokan.

Beberapa saat kemudian, dengan menyusup di sela-sela gerumbul-gerumbul perdu dan tanaman-tanaman di sela-sela bangunan yang ada di padepokan itu, Wijang dan Paksi menjadi semakin dekat dengan bangunan utama padepokan itu.

“Kau dengar semacam sesorah?” desis Wijang.

Paksi mengangguk.

Namun mereka tidak perlu bertanya-tanya lebih panjang lagi. Sejenak kemudian, mereka melihat seisi padepokan itu berkumpul di depan pendapa bangunan induk padepokan itu. Beberapa buah oncor dipasang di seputar halaman yang cukup luas.

Dari tempat mereka bersembunyi, mereka sudah dapat mendengarkan dengan jelas kata demi kata yang diucapkan oleh seorang yang bertubuh tinggi tegap, berdada bidang dan berkumis tebal, yang berdiri di tangga pendapa bangunan induk itu. Orang itu tidak mengenakan bajunya, tetapi disangkutkan saja bajunya di pundaknya. Sebuah keris terselip tidak di punggung, tetapi di dadanya.

Namun Wijang pun kemudian menggamit Paksi ketika dilihatnya lima orang yang terikat pada patok-patok kayu di halaman itu di hadapan orang-orang yang berdiri di halaman bangunan induk padepokan itu.

“Siapakah mereka? Apakah ada orang yang mencoba mendekati padepokan ini dan berhasil ditangkap?” bertanya
Wijang dan Paksi di dalam hatinya.

Namun mereka pun kemudian mencoba untuk menangkap isi kata-kata orang yang berdiri di tangga itu. Tetapi karena mereka tidak mendengar jelas apa yang dikatakan sebelumnya, maka yang mereka dengar  pun tidak terlalu banyak dapat mereka mengerti.

“Laksanakan hukuman itu sekarang. Yang dapat bertahan hidup akan hidup terus. Yang akan mati, biarlah mati”

Kelima orang yang diikat itu nampak letih dan lemah. Bahkan ada di antara mereka yang luka-luka.

Sinar oncor di sekitarnya terayun dihembus angin. Wijang pun tiba-tiba menggamit Paksi sambil berbisik di telinganya, “Apakah mereka orang-orang yang berhasil melarikan diri saat mereka merampok di Manjung?”

Paksi mengangguk-angguk kecil sambil berdesis perlahan, “Nampaknya memang begitu”

Dalam pada itu, lima orang yang membawa sepotong rotan telah melangkah maju mendekati kelima orang yang akan menjalani hukuman itu. Lima orang yang rata-rata memiliki tubuh yang besar dan kuat.

Kelima orang yang terikat itu sama sekali tidak berdaya menghadapi nasibnya yang buruk. Mereka hanya dapat memandangi orang-orang yang berdiri di hadapan mereka dengan rotan di tangannya. Sorot mata merekalah yang seakan-akan memohon belas kasihan. Tetapi mulut mereka tetap terkatup rapat.

“Mereka adalah pengecut yang membiarkan kawan-kawannya mati atau tertangkap. Tetapi aku yakin, tidak seorang  pun di antara mereka yang tertangkap akan bersedia membuka mulutnya sampai akhir hayatnya” Orang yang berdiri di tangga itu pun terdiam sejenak. Kemudian katanya, “Atas nama Ki Gede Lenglengan, aku perintahkan untuk menghukum orang-orang itu sesuai dengan keputusan yang telah dijatuhkan kepada mereka”

Kelima orang yang membawa rotan itu pun melangkah maju. Mereka pun segera melaksanakan tugas yang dibebankan kepada mereka, mencambuk orang-orang yang dianggap pengecut dan membiarkan kawan-kawan mereka mati atau tertangkap.

Dengan demikian dugaan Wijang dan Paksi menjadi semakin kuat, bahwa kelima orang yang dipukul dengan rotan itu adalah para perampok yang telah gagal menjalankan tugas mereka.

Wijang dan Paksi hanya dapat menarik nafas panjang. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa menyaksikan kebengisan orang-orang dari padepokan itu. Padepokan yang memang mereka cari, karena padepokan itu agaknya dipimpin oleh seorang yang disebut Ki Gede Lenglengan.

Ternyata setiap orang harus mengalami sepuluh kali pukulan rotan oleh orang-orang yang memiliki tenaga dan kekuatan yang sangat besar. Sedangkan kelima orang itu pun sama sekali tidak berbelas kasihan terhadap kawan-kawannya sendiri.

Namun Wijang dan Paksi harus mengagumi kesetiaan kelima orang yang sedang dihukum dengan pukulan rotan itu. Tidak seorang  pun di antara mereka yang mengeluh. Mereka masih juga mengangkat wajah mereka dan memandang orang-orang yang mengayunkan rotan ke tubuh mereka itu.

Namun ketika kelima orang itu selesai memukul sampai sepuluh kali, maka tiga orang di antara kelima orang itu tidak mampu bertahan. Kepala mereka terkulai dengan lemahnya.

Sementara itu, tubuh mereka pun bergayut pada tali-tali yang mengikatnya.

Ketiga orang itu adalah orang-orang yang sebelumnya memang sudah terluka.

Demikian kelima orang yang melaksanakan hukuman itu bergeser menjauh, seorang yang rambutnya putih melangkah maju. Disentuhnya tubuh-tubuh yang lemah itu di lehernya.

Kemudian diangkatnya wajah-wajah yang terkulai lemah. Akhirnya orang berambut putih itu pun berkata, “Dua di antara mereka tidak mampu bertahan lagi. Kedua-duanya meninggal dengan tubuh terikat di patok-patok itu. Seorang lagi pingsan dan dua yang lain masih mampu bertahan. Mudah-mudahan mereka bertiga masih dapat bertahan hidup untuk selanjutnya, sehingga dapat menebus kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya”

Wijang pun kemudian berdesis perlahan, “Itukah yang disebut Ki Gede Lenglengan?”

“Mungkin” sahut Paksi.

Namun ternyata dugaan mereka keliru. Orang berambut putih itu bukan Ki Gede Lenglengan. Karena demikian orang itu bergeser menjauh, seorang yang keluar dari ruang dalam bangunan induk padepokan berteriak, “Ki Gede Lenglengan akan menemui orang-orang yang mendapat hukuman itu”

Orang-orang yang berada di halaman pun nampak mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan pemimpin mereka yang menamakan dirinya Ki Gede Lenglengan itu.

Halaman itu menjadi sepi. Tidak seorang  pun yang bergerak. Bahkan ujung jari kakinya sekalipun. Angin pun rasa-rasanya ikut pula berhenti berdesir, sehingga tidak selembar daun pun yang bergetar. Nyala oncor-oncor yang ada di halaman itu pun menjadi tegak dan tidak lagi menggeliat disentuh angin.

Wijang pun menggamit Paksi untuk memberi isyarat bahwa mereka pun harus berhati-hati. Mereka tidak boleh menyentuh apa pun yang dapat menimbulkan gerak. Terutama dedaunan.

Mereka pun tidak boleh menimbulkan bunyi apapun, termasuk bunyi pernafasan mereka. Paksi pun menyadari, bahwa Ki Gede Lenglengan adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Gerak yang paling lembut pun akan dapat dilihatnya. Demikian pula bunyi yang sangat perlahan sekali, akan dapat didengarnya.

Namun Wijang dan Paksi adalah orang-orang yang terlatih pula, sehingga mereka dapat menempatkan diri mereka, agar kehadiran mereka tidak diketahui oleh Ki Gede Lenglengan.

Ternyata perhatian Ki Gede Lenglengan itu ditujukannya kepada lima orang yang baru saja mendapat hukuman. Tiba-tiba saja Ki Gede Lenglengan yang berdiri di pendapa itu turun. Ia langsung mendekati laki-laki yang mati terikat di patok kayu itu.

Wijang dan Paksi hampir saja tidak dapat menahan diri untuk saling berbicara. Mereka melihat Ki Gede Lenglengan itu memeluk seorang di antara mereka yang terbunuh oleh hukuman cambuk itu.

“Gana” suara Ki Gede Lenglengan bergetar, “kenapa kau harus mati dengan cara seperti ini? Selama ini kau telah mengabdikan dirimu bagi perjuangan panjang yang tidak berkesudahan ini. Namun tiba-tiba kau tergelincir dengan membuat kesalahan sehingga kau harus dihukum. Sebenarnya aku tidak akan sampai hati menghukummu. Tetapi keadilan harus ditegakkan di sini”

Ki Gede itu menangis. Benar-benar menangis. Bahkan terisak-isak. Ketika ia melepaskan orang yang disebutnya Gana itu, maka dipeluknya seorang lagi yang terbunuh pula.

“Kenapa kau mati, Sombro. Kau orang baik. Hukuman yang aku berikan adalah hukuman yang paling ringan. Aku tahu bahwa daya tahan tubuhmu sangat tinggi. Tetapi kenapa kau mati?”

Ki Gede Lenglengan itu pun mengguncang-guncang tubuh yang bergayut pada tali pengikatnya itu. Namun tubuh itu sudah tidak bergerak sama sekali.

Kemudian Ki Gede  pun mendekati orang yang sedang pingsan. Dengan lantang ia pun berkata, “Rawat orang ini baik-baik. Demikian pula kedua orang yang lain. Mereka harus segera sembuh. Tugas yang lain masih banyak menanti”

Ki Gede Lenglengan itu pun kemudian menyentuh kedua orang yang masih bertahan untuk tetap sadar sepenuhnya itu. Katanya, “Kalian akan segera sembuh. Tugas kalian akan menjadi semakin berat di masa-masa mendatang. Sadari itu”

Ki Gede Lenglengan itu pun meninggalkan orang-orang yang masih tetap terikat di patok-patok kayu itu. Sambil berdiri di atas tangga pendapa, Ki Gede Lenglengan itu berkata lantang, “Tidak ada tugas yang boleh gagal. Orang-orang yang gagal menjalankan tugas akan dihukum meskipun aku sendiri harus menangisinya. Perjuangan kita masih panjang. Angkatan mendatang sedang kita tempa di sini untuk menjadi angkatan yang terpercaya. Tertangkapnya Harya Wisaka bukan berarti bahwa perjuangan kita terhenti. Perjuangan kita tidak tergantung kepada seseorang. Tetapi kepada kita semuanya. Karena itu, siapa di antara kita yang meremehkan perjuangan ini, akan mendapat hukuman yang pantas. Siapa yang berkhianat kepada kawan-kawannya dan membiarkan mereka terjebak dalam kesulitan, akan mendapat hukuman yang seimbang dengan kesalahan yang dilakukan”

Semuanya mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Suasana di halaman itu terasa hening mencengkam. Namun sejenak kemudian terasa angin bertiup perlahan-lahan. Dedaunan nampak bergerak-gerak. Demikian pula nyala oncor-oncor di halaman itu mulai menggeliat.

Nampaknya Ki Gede Lenglengan tidak lagi ingin berbicara. Tiba-tiba ia pun memutar tubuhnya dan melangkah masuk ke ruang dalam.

Yang kemudian berbicara adalah orang yang bertubuh tinggi besar dan berdada bidang itu. Dengan suaranya yang mengguntur orang itu pun berkata, “Kembalilah ke dalam barak kalian masing-masing. Perintah-perintah berikutnya akan diberikan kemudian. Kecuali mereka yang bertugas merawat orang-orang yan mendapat hukuman ini”

Wijang pun kemudian telah menggamit Paksi. Dengan cepat mereka berdua meninggalkan tempatnya dan bergeser menyelinap di antara gerumbul-gerumbul perdu menuju ke bagian belakang dari padepokan itu. Di bagian belakang padepokan itu mereka menemukan halaman yang tidak terlalu luas. Di halaman itu terdapat kolam-kolam ikan. Di antara kolam-kolam itu tertanam beberapa jenis pohon buah-buahan.

“Inikah pategalan mereka?”

“Tentu tidak sesempit ini. Tentu ada di bagian lain. Halaman ini agaknya khusus tempat mereka memelihara ikan”

Di halaman bagian belakang dari padepokan itu Wijang dan Paksi merasa lebih aman. Agaknya tempat itu tidak pernah mendapat pengawasan di malam hari. Dan bahkan mungkin juga tidak di siang hari, karena seisi padepokan ini merasa bahwa dunianya terpisah dari dunia luar.

Dari bagian belakang padepokan itu, maka Wijang dan Paksi pun merasa aman pula untuk meloncat keluar dari padepokan.

Dengan hati-hati keduanya pun merayap menjauhi padepokan itu. Mereka telah memberikan tanda, di mana mereka sebaiknya masuk dan keluar dari padepokan itu.

Malam itu juga keduanya berusaha kembali ke gubuk mereka. Dalam gelapnya malam, mereka memerlukan waktu berlipat untuk sampai ke gubuk mereka. Di dini hari keduanya pun berbaring di atas dua helai ketepe yang dianyam dari daun kelapa. Namun keduanya tidak langsung dapat tidur. Keduanya masih juga berbincang beberapa lama.

“Aku belum melihat adikku” desis Paksi.

“Kita tidak tergesa-gesa. Kita harus sabar dan berhati-hati”

Paksi menarik nafas dalam-dalam.

“Tidurlah” berkata Wijang. “Biarlah aku berjaga-jaga agar kita tidak menjadi makanan harimau tanpa perlawanan”

“Kau sajalah yang tidur. Sulit bagiku untuk dapat tidur”

Wijang tertawa. Katanya, “Jika demikian, kita berdua tidak tidur malam ini”

“Tidak apa-apa. Besok kita tidak diburu oleh kerja apa pun”

—- > Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s