SUNdSS-04


<<kembali | lanjut >>

TOHJAYA hanya mempergunakan sebuah sudut kecil dari taman yang dipergunakan oleh Ibunda Ken Umang,” sahut Anusapati.

“Tetapi apakah Kakanda pernah membayangkan, bahwa yang datang di arena itu adalah sembarang orang. Aku tidak berkeberatan jika yang datang itu rakyat jelata yang paling rendah martabatnya sekalipun. Tetapi aku berkeratan jika arena itu menjadi ajang percaturan rencana penghambatan tugas Kakanda.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Sekilas teringat olehnya pesan dan laporan yang pernah diberikan oleh Kuda Sempana yang kadang-kadang masih juga datang ke arena sabungan ayam itu.

Tetapi Anusapati tidak berkuasa untuk mencegahnya. Bukan karena ia sama sekali tidak mempunyai kewibawaan lagi. Tetapi justru kelemahannyalah yang telah menahannya untuk berbuat sesuatu. Perasaan bersalah dan dikejar-kejar oleh dosanya.

Namun dengan demikian Anusapati telah membiarkan benalu tumbuh semakin subur di dalam istana Singasari itu, sehingga pada suatu saat akan mencapai puncaknya.

Namun sejalan dengan itu, ternyata Anusapati juga telah menempa putranya, Ranggawuni dan sekaligus kemenakannya, putra Mahisa Wonga Teleng, yang bernama Mahisa Campaka.

Dalam hidup yang rasa-rasanya terlampau tergesa-gesa itu, Anusapati telah berusaha menghabiskan waktunya dengan membentuk kedua anak yang masih terlalu muda itu menjadi dua orang yang perkasa. Ilmu yang diterima dari pamandanya Mahisa Agni, rasa-rasanya dituangkannya kepada kedua anak yang masih sangat muda itu sampai tuntas. Hanya puncak dari ilmunya sajalah yang belum dapat diberikannya karena dalam umurnya yang masih muda itu, keduanya masih belum akan mampu menampung kedahsyatan ilmu yang tiada taranya. Namun apabila keduanya meningkat sedikit lagi, maka mereka akan dengan mudah dapat membajakan diri mereka dengan puncak ilmu itu.

Mahisa Wonga Teleng yang setiap kali masih mencoba memberikan peringatan kepada kakaknya, rasa-rasanya melihat sesuatu yang mencemaskan pada kakaknya. Baru setahun ia memerintah Singasari. Namun rasa-rasanya Anusapati sudah kehilangan segala gairah perjuangannya untuk membuat Singasari semakin berkembang. Memang agak berbeda dengan ayahandanya Sri Rajasa, yang bagaikan api yang menyala-nyala semakin lama semakin besar. Tetapi wajah Singasari di bawah pemerintahan Anusapati rasa-rasanya bagaikan wajah gadis yang ditinggalkan kekasih.

Kadang-kadang sepercik kecurigaan tumbuh juga di hati Mahisa Wonga Teleng bahwa berita yang didengarnya itu benar. Namun kematangan jiwanya kemudian telah membuatnya berpikir dengan tenang, tanpa dikendalikan oleh perasaan melulu.

“Seandainya benar, maka berita itu harus dilengkapi dengan segala macam alasan, kenapa Kakanda Anusapati melakukannya,” katanya di dalam hati. Karena itulah maka akhirnya Mahisa Wonga Teleng yang selalu dicengkam oleh teka-teki itu pun berusaha dengan jalannya sendiri, untuk mencari kebenaran tentang hubungan antara kakandanya Anusapati dan ayahanda Sri Rajasa.

“Tuanku,” berkata seorang tua yang menjadi pemomongnya di masa kanak-kanak, “kenapa Tuanku bertanya tentang Kakanda Anusapati? Tuanku adalah saudara terkasih dari Tuanku Anusapati. Karena itu, sebaiknya Tuanku tidak usah berusaha mencari persoalan yang dapat menimbulkan kegelisahan-kegelisahan apalagi ketegangan-ketegangan baru di dalam istana ini. Ibunda menjadi semakin tua dan lemah. Jika terjadi tuntutan-tuntutan baru di dalam hidupnya yang tersisa, maka itu akan berarti mempercepat akhir dari hidupnya. Cobalah Tuanku bandingkan. Ibunda permaisuri usianya tidak banyak terpaut dari Ibunda Ken Umang. Namun jika Tuanku membandingkan ujudnya, maka seakan-akan Ibunda Ken Umang adalah anak Ibunda Tuanku Ken Dedes. Apakah Tuanku pernah memperhatikannya?”

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku mengerti. Tetapi aku tidak akan berbuat apa-apa atas Ibunda yang memang sudah sakit-sakitan itu. Seandainya aku mengerti persoalan yang sebenarnya, aku tidak akan memandangnya lebih dari kebenaran itu sendiri.”

Pemomongnya yang memang sudah tua itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi akhirnya ia berkata, “Baiklah Tuanku. Aku kira Tuanku tentu sudah mendengar desas-desus tentang kakanda Tuanku. Jika tidak demikian, Tuanku tentu tidak akan bertanya kepada hamba tentang kakanda Tuanku.”

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Demikianlah. Karena itu aku ingin mendengar kebenaran dari peristiwa yang telah terjadi jika kau mengetahuinya.”

“Tuanku,” berkata pemomong yang tua itu, “daripada Tuanku mendengarnya dari orang lain, baiklah hamba akan mengatakannya. Jika Tuanku mendengar dari orang lain, maka selera orang itu akan ikut berbicara.”

Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Baiklah Tuanku. Sebenarnyalah bahwa Tuanku dan Tuanku Anusapati hanyalah saudara seibu. Tuanku dan Tuanku Anusapati bersama-sama dilahirkan oleh seorang perempuan yang bernama Ken Dedes. Karena ketika Tuanku Ken Dedes kawin dengan ayahanda Tuanku, sebenarnya bahwa Tuanku Ken Dedes sudah mengandung.”

Mahisa Wonga Teleng yang sudah pernah mendengar cerita itu menahan nafasnya. Sejenak ia mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak. Bukan karena cerita itu sendiri, tetapi justru karena ia pernah mendengar, kakaknya Anusapati pernah mengingkarinya.

“Jadi, dengan demikian maka sebenarnya tidak ada hubungan apapun antara Kakanda Anusapati dan Ayahanda Sri Rajasa?”

“Demikianlah Tuanku. Tetapi agaknya Tuanku Anusapati tidak mengetahui bahwa Tuanku Anusapati itu sebenarnya adalah bukan putra Sri Rajasa. Jika seandainya Tuanku Anusapati itu akhirnya mengerti juga, maka hal itu tentu baru terjadi beberapa waktu yang lampau.”

“Jadi Kakanda Anusapati juga tidak mengerti keadaan dirinya sendiri?”

“Aku tidak tahu, apakah demikian keadaannya sekarang. Tetapi hamba pernah mendengar dari emban pemomong Tuanku Anusapati, seorang perempuan tua yang sekarang selalu mendampingi Ibunda Tuanku Ken Dedes, bahwa setiap kali Tuanku Anusapati mengeluh, bahwa rasa-rasanya ia selalu dikesampingkan sebagai anak tiri. Saat itu, Tuanku Anusapati masih belum mengetahui tentang dirinya sendiri. Mungkin kini hal itu sudah diketahuinya. Tetapi jika demikian, apakah yang akan Tuanku lakukan? Hamba sudah memperingatkan, bahwa Ibunda Ken Dedes berada dalam keadaan yang lemah sekarang ini. Tuanku seharusnya mengerti akan keadaan itu.”

Mahisa Wonga Teleng tidak segera menyahut. Berbagai macam perasaan bercampur baur di dalam dadanya, sehingga karena itu rasa-rasanya nafasnya menjadi sesak.

“Tuanku Mahisa Wonga Teleng,” berkata pemomongnya, “memang Tuanku kini berdiri di jenjang tangga yang sulit. Seandainya Tuanku merasa tersinggung karena kematian Ayahanda Sri Rajasa, yang masih belum pasti apakah yang sebenarnya, dan Tuanku akan menuntut balas seperti yang dilakukan oleh beberapa orang yang sebenarnya sudah dapat dibayangkan akan melakukannya, maka Tuanku akan semakin menyiksa hati Ibunda. Karena sebenarnyalah bahwa Ibunda pun merasa dirinya tersisih dari sisi Tuanku Sri Rajasa karena kehadiran Ken Umang yang kemudian melahirkan Tuanku Tohjaya.”

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun rasa-rasanya masih ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya. Bahkan rasa-rasanya seseorang yang tidak dikenalnya pernah berbisik di telinganya, “Tuanku Mahisa Wonga Teleng. Sebenarnya Tuankulah yang paling berhak atas tahta Singasari. Tuanku Anusapati sama sekali bukan putra Tuanku Sri Rajasa karena ia sudah berada di dalam kandungan ketika Ibunda Tuanku Ken Dedes kawin dengan ayahanda Tuanku, sedangkan Tuanku Tohjaya pun tidak berhak atas tahta karena ia tidak lahir dari seorang permaisuri.”

Tetapi Mahisa Wonga Teleng menggeram. Ia sadar bahwa ia sudah didorong ke dalam adu domba yang keji. Di dalam kekalutan itulah sebenarnya orang yang bermaksud buruk dapat mengambil keuntungan.

Namun seakan-akan ia memang terlempar kepada pilihan yang sangat sulit. Apakah ia harus berdiri di sisi ayahandanya, atau di sini ibundanya, karena menurut perhitungannya, sebenarnyalah bahwa ayahandanya telah menyia-nyiakan ibundanya setelah ibundanya meningkat semakin tua, sedang Ken Umang rasa-rasanya masih saja tetap muda.

“Jika aku melepaskan Kakanda Anusapati, karena aku anggap Kakanda Anusapati tidak berhak atas tahta, maka aku akan jatuh di bawah pengaruh Kakanda Tohjaya anak Ken Umang yang telah membuat ibundanya sakit hati,” berkata Mahisa Wonga Teleng selanjutnya.

Karena itu, didorong oleh perasaan tanggung jawabnya, dan sifat-sifat kesatria di dalam dirinya, ia tidak mau berteka-teki. Maka sekali lagi ia bertekad menghadap Kakandanya Anusapati, apapun yang akan dikatakannya. Bahkan kenyataan yang paling pahit pun, jika itu merupakan kebenaran, ia tidak akan lari.

Demikianlah maka sekali lagi Mahisa Wonga Teleng menghadap Kakandanya Anusapati. Ia tidak lagi bertanya tentang sebab-sebab kematian ayahandanya Sri Rajasa, karena siapa pun dapat menyusun cerita yang berbeda-beda menurut seleranya. Jika yang dikatakan oleh Anusapati tidak benar, maka biarlah ia mengatakannya atas kehendaknya sendiri. Yang penting baginya, siapakah sebenarnya kakandanya Anusapati di dalam hubungan darah dengan dirinya.

Anusapati yang mendengar pertanyaan adindanya menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia berkata, “Baiklah Mahisa Wonga Teleng. Memang sudah waktunya aku mengatakan yang aku ketahui tentang diriku.”

Anusapati berhenti sejenak, lalu, “Tentu kau sudah mendengar dari siapa pun siapakah sebenarnya aku dan siapakah sebenarnya kau.”

Dan seperti dapat melihat ke dalam hati Mahisa Wonga Teleng, Anusapati berkata, “Bahkan mungkin Adinda, seseorang dapat meniup-niupkan cerita atau pendapat, bahwa seharusnya kaulah yang paling tepat menggantikan Ayahanda Sri Rajasa, karena sebenarnyalah aku memang bukan putranya. Aku memang agak cemas mengakuinya di hadapanmu, karena dengan demikian akan mungkin sekali terjadi salah paham. Tetapi kau kini memang bukan kanak-kanak lagi. Dan aku harus menyadarinya, sehingga aku tidak pantas untuk berahasia lagi. Sedangkan Tohjaya memang tidak sepantasnya menggantikan kedudukan Ayahanda karena ia tidak dilahirkan dari permaisuri.”

Anusapati berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bukannya aku ingin mempertahankan hakku atas tahta ini Adinda, karena sebenarnya kau dan aku tidak ada bedanya. Ketahuilah, bahwa yang sebenarnya berhak atas tahta ini sama sekali bukannya Ayahanda Sri Rajasa. Meskipun yang berhasil mengembangkan Tumapel menjadi Singasari yang besar adalah Ayahanda Sri Rajasa, namun sumber dari kekuasaan itu adalah kekuasaan atas Tumapel yang berada di tangan Ibunda Ken Dedes. Kekuasaan yang diterimanya dari Akuwu Tunggul Ametung sebagai bukti penyesalan bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah mengambil Ibunda Ken Dedes dengan paksa dari Panawijen.”

Mahisa Wonga Teleng mendengarkan cerita kakaknya dengan seksama. Dan ternyata Anusapati tidak menceritakan bagian-bagian saja dari peristiwa yang telah terjadi, tetapi Anusapati telah menceritakan seluruhnya. Juga kematian yang dialami oleh Akuwu Tunggul Ametung, Empu Gandring dan Kebo Ijo. Dan Anusapati tidak menyembunyikan sama sekali kebenaran yang terjadi atas dirinya dan atas Sri Rajasa, dan Anusapati pun tidak lagi menyembunyikan nama Pangalasan dari Batil.

“Nah, Adinda, engkau sudah dewasa. Kau dapat menentukan apa saja yang baik bagimu. Ambillah sikap dan katakanlah kepadaku. Apa yang kau kehendaki dariku, aku akan memenuhinya, karena seperti yang sudah aku katakan, bahwa kau dan aku memang tidak ada bedanya, karena di dalam tubuh kita mengalir darah Ibunda Ken Dedes yang sebenarnya berhak atas tahta Singasari.”

Mahisa Wonga Teleng mendengarkan ketegangan kakandanya dengan kepala tunduk. Kini ia tahu apakah yang sebenarnya telah terjadi. Namun dengan demikian ia dapat mengambil kesimpulan dengan hati yang jernih.

Meskipun Anusapati telah membunuh dengan tangannya, ayahandanya Sri Rajasa, namun Mahisa Wonga Teleng tidak dapat mendendamnya, karena perbuatan Anusapati itu tidak berdiri sendiri. Di dalam angan-angannya ia dapat membayangkan, apakah yang sudah terjadi jauh sebelum ia menghadap kakandanya dan mendengar segala cerita tentang pertumbuhan dan perkembangan Singasari.

Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku tidak dapat bersikap lagi dari sikapmu yang sekarang, Kakanda.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Dengan berdebar-debar ia bertanya, “Apakah maksudmu Adinda.”

“Aku tidak akan mengubah sikapku kepada Kakanda. Kakanda adalah seorang maharaja bagiku dan seorang saudara tua.”

Mahisa Wonga Teleng berhenti sejenak, lalu, “Yang sudah terjadi adalah urutan peristiwa yang tidak terpisahkan. Dan agaknya putaran roda itu masih belum berhenti, karena menurut penilaianku, Kakanda Tohjaya tidak akan tinggal diam.”

“Tetapi kau sendiri Adinda?”

“Kakanda, memang aku dan Kakanda ternyata tidak lahir dari keturunan ayah yang sama. Tetapi kita adalah seibu, dan terutama Kakanda memang berhak mewarisi tahta. Yang telah terjadi, biarlah terjadi. Aku tidak akan menambah sedih hati Ibunda. Sejak remaja ternyata Ibunda selalu mengalami kepahitan yang tidak terhenti sampai saat tuanya. Apalagi jika aku menambah luka di hati Ibunda karena aku bernafsu untuk berbuat sesuatu oleh kematian Ayahandaku. Karena itu Kakanda, aku berjanji, bahwa aku tidak akan mengubah sikapku. Bukan karena aku melupakan kecintaan seorang anak kepada ayahandanya, tetapi aku memandang persoalannya dari waktu yang panjang sebelum dan sesudahnya.”

“Terima kasih Adinda. Aku yakin bahwa Adinda Mahisa Wonga Teleng memang tidak akan menambah mendung yang kini sedang meliputi langit di atas Singasari. Meskipun dengan demikian bukan berarti bahwa aku tidak menyembunyikan dosa di dalam diriku karena kematian Ayahanda Sri Rajasa.”

“Kakanda. Bagiku, Kakanda Anusapati dan Kakanda Tohjaya mempunyai kedudukan yang sama. Kakanda Anusapati adalah saudaraku seibu, sedang Kakanda Tohjaya saudaraku seayah. Tetapi biarlah aku menimbang beratnya, di dalam keadaan yang sekarang dan berdasarkan hak yang memang ada, aku memilih Kakanda Anusapati. Selain kewenangan Kakanda atas Singasari, maka sebenarnyalah bahwa Ibunda merasa tersisih dari sisi Ayahanda Sri Rajasa. Dan itu sangat menyakitkan hati. Bukan saja bagi Ibunda, tetapi juga bagi kita berdua.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya hatinya kini menjadi bertambah lapang setelah ia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Mahisa Wonga Teleng. Seakan-akan beban yang memberati hatinya, kini sudah tertumpahkan. Apalagi ketika Anusapati mengerti, bahwa Mahisa Wonga Teleng menerima yang terjadi itu sebagai suatu keharusan yang wajar, karena hukum putaran.

Demikianlah, maka Mahisa Wonga Teleng pun tidak ragu-ragu lagi menentukan sikap. Namun demikian, ia masih juga berkata kepada Anusapati, “Kakanda. Mungkin masih akan datang kepadaku, orang-orang yang ingin mengeruhkan hubunganku dengan Kakanda. Jika kemudian aku menunjukkan sikap yang lain dari yang aku katakan, maafkanlah aku Kakanda, karena aku tidak sebenarnya bermaksud demikian. Mungkin dengan sikap itu aku akan dapat menemukan sesuatu.”

“Terserahlah kepadamu Adinda. Aku percaya kepada Adinda, karena pada dasarnya aku akan pasrah, apakah yang Adinda kehendaki sebenarnya, itulah yang berlaku, karena aku merasa bahwa aku telah melakukan kesalahan yang maha besar.”

Ketika kemudian Mahisa Wonga Teleng meninggalkan kakandanya, maka rasa-rasanya tidak ada persoalan lagi di dalam dirinya. Semuanya sudah jelas, dan ia tidak perlu lagi selalu meraba-raba di dalam kegelapan.

Namun seperti yang diduganya, maka masih saja ada usaha untuk mencoba mempengaruhinya. Tidak seorang pun yang menyangka bahwa Anusapati sudah menceritakan semuanya yang telah terjadi kepada adiknya.

Seseorang yang tidak dikenal, telah mengunjungi Mahisa Wonga Teleng, seperti yang pernah terjadi. Diceritakannya bahwa sebenarnya yang telah membunuh Sri Rajasa adalah Pangalasan Batil atas perintah Anusapati. Kemudian pangalasan itu sendiri telah dibunuhnya.

“Siapakah yang mengatakannya?” bertanya Mahisa Wonga Teleng, “bukankah yang mengetahui peristiwa itu hanya Ayahanda, Pangalasan Batil dan Kakanda Anusapati? Padahal baik Ayahanda dan Pangalasan itu sudah tidak ada lagi, sehingga satu-satunya saksi adalah Kakanda Anusapati.”

“Tentu Tuanku Anusapati akan ingkar. Tetapi sebenarnyalah ada saksi yang melihatnya. Seorang pelayan dalam yang malam itu bertugas di bangsal Tuanku Sri Rajasa.”

“Apakah kau menjamin bahwa bukan dandang disebutnya kontul dan sebaliknya kontul disebutnya dandang?”

“Tidak Tuanku, tidak.”

“Kenapa ia tidak memberikan kesaksian di muka sidang dan berbicara di bawah wajah dewata, sehingga apabila kata-katanya tidak benar ia akan kena kutuk seribu keturunan.”

“Oh, ya, hamba tidak tahu Tuanku. Tetapi demikianlah kenyataannya.”

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya kepada orang itu, “Apakah kau dapat membawa pelayan dalam itu kepadaku?”

“Tentu Tuanku. Hamba akan membawanya menghadap Tuanku, meskipun sampai saat ini pelayan dalam itu selalu bersembunyi. Pelayan dalam itu selalu dikejar oleh perasaan takut, bahwa pada suatu saat ia akan dibunuh oleh Tuanku Anusapati untuk melenyapkan sama sekali jejak pembunuhan itu.”

Mahisa Wonga Teleng masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kini wajahnya tampak berkerut merut. Agaknya ia sedang di cengkam oleh perasaan yang bergejolak di dalam dirinya.

“Bawalah pelayan dalam itu kemari. Aku ingin mendengar pengakuannya.”

“Tetapi apakah Tuanku bersedia melindunginya dari kemurkaan Tuanku Anusapati. Jika Tuanku Anusapati mengetahui bahwa pelayan dalam itu merupakan saksi yang akan dapat berbicara tentang sebab-sebab kematian Tuanku Sri Rajasa dan Pangalasan dari Batil, maka sudah barang tentu, Tuanku Anusapati akan menghilangkan jejak pembunuhan yang pernah dilakukan itu. Meskipun untuk sementara ia berhasil mengelabui rakyat Singasari, tetapi pada akhirnya ia harus memikul akibat dari dosanya itu.”

“Baiklah, aku akan mengusutnya. Tetapi apakah Kakanda Tohjaya sudah mengetahui tentang hal ini?”

Orang itu tergagap sejenak, lalu, “Ampun Tuanku. Hamba sama sekali tidak menghubungi Tuanku Tohjaya, karena Tuanku Tohjaya tentu tidak akan mempunyai kedudukan sekuat Tuanku. Tuanku adalah seorang putra yang lahir dari permaisuri seperti juga Tuanku Anusapati. Sedang Tuanku adalah benar-benar putra Tuanku Sri Rajasa. Tidak seperti Tuanku Anusapati, yang sebenarnya sama sekali tidak mempunyai sangkut paut dengan kekuasaan atas Singasari ini.”

“Baiklah. Aku ingin mendengarnya. Apakah yang sebenarnya terjadi. Tetapi apakah orang itu dapat dipercaya?”

“Tentu Tuanku. Orang itu dapat dipercaya. Aku tahu pasti.”

“Baiklah. Bawalah ia menghadap. Setiap saat, aku akan menerimanya. Dan aku akan melindunginya sejauh dapat aku lakukan.”

Sepeninggal orang itu, maka Mahisa Wonga Teleng pun duduk merenungi keadaan yang berkembang di Singasari. Hari depannya yang panjang tetapi suram dan kemungkinan-kemungkinan lain yang memang dapat terjadi.

Tiba-tiba saja ia mengambil lontar dan menulisnya beberapa baris. Seorang hambanya disuruhnya menyampaikannya kepada Anusapati. Namun dengan pesan, hanya Anusapati sajalah yang dapat menerima lontar itu.

Anusapati menerima lontar itu dengan dada yang berdebar-debar. Namun setelah ia membaca isinya, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia tidak dapat ingkar lagi dari kejaran sebab dan akibat yang melingkar tanpa ujung dan pangkal.

Anusapati menjadi termangu-mangu ketika seseorang berusaha untuk menghadapnya. Namun didorong oleh keinginannya untuk mengetahui, bahwa orang itu mempunyai sangkut paut dengan lontar Mahisa Wonga Teleng, maka orang itu pun diperkenankan untuk menghadap,

“Tuanku,” sembah orang itu, “ampunkan hamba, bahwa hamba telah menghadap Tuanku tanpa Tuanku kehendaki. Hamba merasa bahwa hamba sama sekali tidak pantas untuk memohon waktu menghadap seperti sekarang ini.”

“Katakanlah, apa keperluanmu?”

“Ampun Tuanku. Sebenarnyalah hamba menjadi cemas bahwa di dalam masa-masa seperti ini, seseorang telah berusaha mengeruhkan keadaan. Hamba mendengar bahwa seorang pelayan dalam telah menghadap Tuanku Mahisa Wonga Teleng. Menurut pendengaran hamba, maka pelayan dalam itu mengaku bahwa ia melihat sendiri peristiwa yang telah terjadi atas terbunuhnya Tuanku Sri Rajasa.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Apa katanya tentang kematian Ayahanda Sri Rajasa?”

“Ampun Tuanku. Bukannya hamba yang mengatakannya, tetapi pelayan dalam itu. Hamba hanya sekedar menirukan saja, karena hamba memang tidak percaya. Bahwa sebenarnyalah Tuanku yang memerintahkan Pangalasan Batil membunuh Tuanku Sri Rajasa, dan Pangalasan itu telah Tuanku bunuh pula.”

Anusapati memandang orang itu dengan tajamnya. Namun kemudian katanya, “Bawalah orang itu menghadap.”

“Ampun Tuanku, tentu hamba tidak berani, karena orang itu berada di dalam perlindungan Tuanku Mahisa Wonga Teleng. Kecuali jika Tuanku sendirilah yang memerintahkan para senapati untuk mengambilnya.”

Anusapati memandang orang itu dengan tajamnya. Lalu, “Apakah orang itu ada di bangsal Mahisa Wonga Teleng?”

“Mungkin sekali Tuanku. Jika tidak, tentu Tuanku Mahisa Wonga Teleng mengetahui di manakah orang itu bersembunyi.”

“Kenapa orang itu bersembunyi?”

“Hamba tidak tahu pasti Tuanku. Tetapi barangkali ia merasa bersalah dengan ceritanya itu, atau agar ia masih dapat bercerita terus dan menyebarkan kebohongan itu kepada orang lain lagi.”

“Baiklah,” berkata Anusapati, “aku akan mengambilnya dari Adinda Mahisa Wonga Teleng. Jika ia berusaha melindunginya, maka aku akan memaksanya, karena akulah Maharaja dari Singasari. Bukan Mahisa Wonga Teleng.”

Dalam pada itu, seperti yang sudah disanggupkan, maka datanglah orang yang pernah mengunjungi Mahisa Wonga Teleng dan mengatakan tentang pelayan dalam yang dapat menjadi saksi dari kematian Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

“Ampun Tuanku, hamba telah membawanya menghadap,” berkata orang itu, lalu, “tetapi hamba mohon ampun bahwa pelayan dalam ini mengenakan pakaian sebagai seorang pendeta, karena dengan demikian ia dapat selamat menyusup sampai ke bangsal ini. Jika ia memakai pakaian pelayan dalam, atau memakai pakaian sehari-hari, maka ia akan segera dikenal. Dan itu sangat berbahaya baginya. Jika yang mengenalinya adalah orang yang berpihak dan katakanlah, abdi-abdi setia dan Tuanku Anusapati, maka akibatnya akan parah baginya.”

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Kemarilah. Mendekatlah. Kita akan mengadakan pembicaraan penting.”

Orang yang disebut sebagai pelayan dalam itu bergeser maju.

“Siapa namamu?” bertanya Mahisa Wonga Teleng.

“Deksa,” jawab orang itu.

“Kau seorang pelayan dalam?”

“Hamba, Tuanku.”

“Nah, sekarang katakan, apakah kau benar- melihat apa yang telah terjadi. Dan apakah kau bersedia menjadi saksi jika persoalan ini kelak akan dihadapkan pada sidang agung di paseban.”

“Ampun Tuanku. Sebenarnyalah hamba mengetahui apa yang sudah terjadi. Tetapi hamba pun mengetahui, bahwa tidak ada kekuasaan yang lain kecuali kekuasaan Tuanku Maharaja di Singasari. Seandainya hamba harus memberikan kesaksian di paseban, maka suara hamba bagaikan garam yang dilemparkan di lautan. Apalagi hal itu akan dapat membahayakan hidup hamba. Karena itu Tuanku, sebaiknya hamba akan mempergunakannya di mana perlu.”

“Tetapi bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan keteranganku di muka sidang agung di paseban. Jangan takut. Aku akan melindungimu. Aku akan mempergunakan pengaruhku sebagai putra Ibunda Permaisuri. Mudah-mudahan Kakanda Tohjaya dapat mengerti.”

Pelayan dalam yang bernama Deksa itu berpaling sejenak memandang kawannya yang membawanya menghadap. Lalu katanya, “Kenapa dengan Tuanku Tohjaya, Tuanku Mahisa Wonga Teleng. Sebenarnyalah bahwa Tuanku Tohjaya tidak mengerti sama sekali apa yang telah terjadi ini.”

“Aku akan menghubunginya. Aku akan mengatakan kepadanya seperti yang kau katakan. Ayahandaku adalah ayahanda Kakanda Tohjaya. Jika demikian kita bersama-sama akan mendendam di dalam hati. Apabila dendam ini telah membara, maka akan meledaklah istana Singasari.”

Orang yang membawa pelayan dalam, dalam pakaian seorang pendeta itu, berkata, “Tetapi Tuanku, Tuanku harus mengingat rakyat Singasari. Sebenarnyalah bahwa Kakanda Tuanku bersalah. Tetapi jika Tuanku menuntut balas, apakah itu akan bermanfaat bagi rakyat?”

Tetapi jawab Mahisa Wonga Teleng justru merupakan pertanyaan pula yang sulit untuk dijawab, “Bagaimana menurut pendapatmu?”

Orang itu terdiam sejenak. Ia tidak segera menemukan jawaban sehingga Mahisa Wonga Teleng mendesaknya, “Bagaimana pendapatmu? Menilik kesediaanmu membawa pelayan dalam itu kemari, maka aku kira kau bukannya sekedar ingin membakar hatiku. Tetapi agaknya kau sudah mempunyai gambaran apa yang sebaiknya terjadi di Singasari.”

Orang itu menjadi berdebar-debar. Namun akhirnya ia menjawab, “Semuanya terserah kepada Tuanku.”

“Jadi apa maksudmu mengatakan kepadaku, bahwa Kakanda Anusapati bukan saudaraku seayah, dan bukan pula putra Ayahanda Sri Rajasa sehingga tidak berhak atas tahta? Dan bahwa dengan demikian Kakanda Anusapati sama sekali tidak mempunyai hubungan darah apapun dengan Kakanda Tohjaya?”

Orang itu tergagap sejenak. Namun kemudian, “Tuanku. Sebenarnyalah hamba adalah seorang yang setia kepada ayahanda Tuanku, Sri Rajasa. Hamba ingin melihat tahta Singasari akan jatuh ke dalam kekuasaan salah seorang putranya. Itulah yang mendorong hamba menghadap untuk mengatakan kebenaran, bahkan membawa seorang saksi kepada Tuanku. Namun selain itu, hamba adalah seorang Singasari yang mencemaskan pergolakan yang dapat terjadi, sehingga menimbulkan persoalan yang panjang dan tidak berkeputusan. Namun jika pergolakan itu kelak akan membawa kebahagiaan bagi Singasari, maka terserahlah kepada pertimbangan Tuanku.”

“Maksudmu, jika aku bertanggung jawab akan akibat yang timbul, maka kau tidak menentang jika aku memberontak?”

“Ah, tentu bukan begitu Tuanku. Bukan maksud hamba Tuanku harus memberontak.”

“Aku bukan seorang yang suka berbicara melingkar-lingkar. Aku lebih senang berbicara langsung pada pokok persoalannya. Mungkin aku dapat memilih kata-kata yang lebih lunak, misalnya, aku dapat mengadakan perbaikan atas keadaan ini. Aku dapat memohon kepada Kakanda Anusapati, agar Kakanda Anusapati, menyingkir dan memberi kesempatan kepada orang yang memang berhak, atau kata-kata lain. Tetapi aku tidak ingin berbicara seperti itu. Jika aku menghadapi Kakanda Tohjaya, maka aku akan berkata terus terang, aku akan merebut kekuasaan. Begitu. Tidak ada tedeng aling-aling. Nah, sekarang apa yang akan kau ceritakan selengkapnya, pelayan dalam yang bernama Deksa?”

Pelayan dalam itu menarik nafas. Sejenak ia memandang orang yang membawanya. Ketika orang itu mengangguk, maka pelayan dalam itu pun mulai menceritakan kesaksiannya. Seperti cerita-cerita yang pernah didengarnya tentang Pangalasan Batil yang membunuh Sri Rajasa, kemudian dibunuh oleh Anusapati. Bagi Mahisa Wonga Teleng cerita itu bahkan telah membuatnya menjadi jemu mendengar. Tetapi ia menahan diri dan membiarkan orang itu berbicara seakan-akan benar-benar suatu kesaksian.

“Demikian Tuanku,” berkata orang yang mengaku sebagai pelayan dalam itu, “hamba melihatnya, tetapi hamba tidak dapat berbuat apa-apa.”

“Kau melihat bagaimana cara pangalasan itu membunuh Ayahanda Sri Rajasa?” bertanya Mahisa Wonga Teleng.

“Hamba Tuanku. Ayahanda Tuanku baru habis bersantap, lalu duduk di serambi bangsal untuk menghirup hawa yang sejuk. Pada saat itulah Pangalasan Batil menyerang tuamku Sri Rajasa dengan keris yang bertuah itu.”

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Jika demikian, aku akan berbuat sesuatu. Itu adalah suatu perbuatan yang licik. Terima kasih. Pada suatu saat aku akan memanggilmu. Bagaimana aku dapat menghubungimu. Mungkin aku memerlukan kesaksian ini di hadapan beberapa orang. Mungkin di hadapan Kakanda Tohjaya, atau di hadapan orang-orang yang dapat kita bawa berbicara tentang masalah ini.”

“Hamba akan selalu menghadap Tuanku,” berkata orang yang membawa pelayan dalam itu.

“Baiklah, bagaimana aku memanggilmu dan di mana kau tinggal di dalam istana ini?”

“Hamba tinggal di luar istana Tuanku. Panggil saja hamba Abi.”

“Abi. Ya, tetapi di mana aku harus mencarimu jika kau tidak datang, padahal keadaan memaksa?”

“Hamba sering berada di tempat sabungan ayam di taman sebelah, di hadapan Tuanku Tohjaya.”

“Oh, baiklah. Aku akan mencarimu jika aku perlukan.”

Demikianlah maka kedua orang itu mohon diri. Namun masih sekali lagi orang yang menyebut dirinya Abi itu berkata, “Ampun Tuanku. Hamba berdua benar-benar mohon perlindungan dari tangan Kakanda Tuanku Anusapati yang apabila mengetahui maka hamba berdua tentu akan dihukum gantung. Kakanda Tuanku itu tidak pernah mengampuni orang yang dianggapnya bersalah.”

“Jangan takut. Aku selalu melindungimu.”

“Terima kasih, Tuanku.”

Dengan dada yang berdebar-debar Mahisa Wonga Teleng memandang kedua orang yang meninggalkan bangsalnya itu. Menurut penilaiannya yang berpakaian pendeta memang seorang prajurit. Atau jika bukan, ia tentu menguasai ilmu olah kanuragan yang baik. Langkahnya yang mantap dan dadanya yang tengadah adalah pertanda bahwa ia memiliki kemampuan jasmaniah yang baik. Sedang yang seorang, yang membawanya itu pun tentu mempunyai sangkut paut. Bahkan mungkin orang itu adalah gurunya atau orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, tetapi tidak dalam lingkungan keprajuritan di Singasari.

Dalam pada itu, Anusapati rasa-rasanya menjadi semakin jauh dari ketenangan. Ia merasa bahwa sehari-hari ia selalu dilingkungi oleh ketidakpuasan, dendam dan kebencian. Orang-orang yang ada di sekelilingnya seakan-akan telah menuduhnya membunuh ayahanda Sri Rajasa karena ketamakannya, karena ia ingin segera menguasai tahta di Singasari. Dan yang lebih memberatkan perasaannya adalah hatinya sendiri yang tidak dapat menahan penyesalan atas peristiwa yang sudah terjadi. Kadang-kadang ia juga berusaha melupakannya seperti yang pernah dilakukan oleh Ken Arok. Ken Arok tidak pernah menghiraukan apa yang sudah dilakukannya. Bahkan seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu setelah kematian Empu Gandring, Kebo Ijo dan Akuwu Tunggul Ametung.

Anusapati menjadi semakin bimbang, ketika pada suatu saat Tohjaya datang menghadapnya, hatinya menjadi terguncang. Meskipun adindanya itu menghadap sambil menundukkan kepalanya, namun rasa-rasanya bara api memancar dari ke-duabelah matanya.

“Kakanda,” berkata Tohjaya sambil menunduk dalam-dalam, “Ampun Kakanda, bahwa Adinda memberanikan diri menghadap Kakanda tanpa Kakanda panggil.”

“Kau bebas berada di istana ini Tohjaya. Bukankah kita bersama-sama telah menghuni istana ini sejak kita masih kanak-kanak?”

“Terima kasih Kakanda. Kakanda memang berhati selapang lautan, yang dapat memuat segala arus air dari seribu sungai yang betapapun keruh airnya.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Pujian itu justru bagaikan duri yang menyentuh jantungnya.

“Kakanda,” berkata Tohjaya kemudian, “sudah setahun lebih Ayahanda Sri Rajasa terbunuh oleh keris Empu Gandring. Tetapi Ibunda Ken Umang dan bahkan aku sendiri, masih belum pernah melihat dengan jelas, bagaimanakah bentuk keris Empu Gandring yang terkenal itu. Karena itu Kakanda, jika Kakanda tidak berkeberatan, apakah aku dapat meminjamnya barang satu dua hari. Aku dan Ibunda Ken Umang, yang kini bernaung di bawah belas kasihan Kakanda, ingin melihat, pusaka yang pernah menghabisi jiwa Ayahanda itu.”

Dada Anusapati serasa berdesir. Tetapi ia berusaha untuk menghapuskan kesan apapun dari wajahnya.

Selintas terbayang wajah Sri Rajasa yang pernah tersentuh keris itu sehingga menyebabkannya meninggal. Bahkan kemudian terbayang pula tubuh-tubuh yang berlumuran darah yang mendahului Sri Rajasa, Meskipun Anusapati belum pernah melihat wajah-wajah itu, tetapi rasa-rasanya Anusapati dapat membayangkan betapa mereka didera oleh perasaan sakit hati dan dendam di saat-saat terakhir dari hidup mereka. Seperti juga Sri Rajasa yang dicengkam oleh perasaan ganda. Di satu pihak ia mengutuk Anusapati, tetapi kadang-kadang terucapkan dari mulutnya di saat nyawanya sudah berada di ujung ubun-ubun, pujian dan harapan kepada anak tirinya itu.

Karena itu untuk beberapa saat Anusapati ragu-ragu, sehingga karena ia tidak segera menjawab, maka Tohjaya mendesaknya, “Kakanda. Aku dan Ibunda Ken Umang memang ingin melihatnya. Aku mengharap bahwa Kakanda tidak berkeberatan aku membawanya untuk beberapa saat saja kepada Ibunda Ken Umang.”

“Adinda Tohjaya. Keris itu bukan keris kebanyakan. Aku pun tidak pernah melihatnya lagi setelah aku menyimpannya. Ada kengerian yang amat sangat jika aku melihat darah yang membeku pada daun keris itu. Darah dari beberapa orang yang terdahulu dari Ayahanda Sri Rajasa, dan kemudian darah Ayahanda Sri Rajasa sendiri.”

Tohjaya menundukkan kepalanya. Sejenak kemudian kepala itu terangguk-angguk kecil. Katanya, “Keinginan itu memang tidak berhingga besarnya. Demikian juga Ibunda Ken Umang. Tetapi jika Kakanda memang berkeberatan, apa boleh buat. Agaknya aku memang tidak akan dapat melihat senjata pembunuh Ayahanda itu.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Sesuatu bergejolak di dalam hatinya. Seakan-akan ia berdiri di simpang jalan. Jika ia memilih jalan yang satu, ia akan tersesat masuk ke dalam jurang yang dalam. Sedang jika ia memilih jalan yang lain maka ia akan jatuh ke dalam sungai yang banjir bandang.

Anusapati menjadi gelisah, ia dapat menolak permintaan itu. Tetapi dengan demikian akan dengan mudah dipergunakan oleh orang-orang yang sengaja ingin mengacaukan kedudukannya.

Tentu orang-orang itu akan mengatakan, bahwa ia memang bersalah. Ia tentu telah memerintahkan seseorang membunuh Sri Rajasa dengan keris itu, yang kemudian telah dibunuhnya pula. Kini ia menjadi ketakutan untuk menyerahkan keris itu, meskipun hanya sekedar dilihat saja, kepada adiknya, putra yang sebenarnya dari Sri Rajasa.

Tetapi jika ia memberikan keris itu, maka Anusapati merasa bahwa hidupnya memang terancam. Ia tidak dapat menjamin bahwa sebenarnya Tohjaya tidak akan mendendam lagi atas kematian ayahanda. Apalagi akhir-akhir ini selalu dibisikkan berita, bahwa Anusapati telah membunuh Sri Rajasa dengan meminjam tangan orang lain.

Selagi Anusapati merenungi kesulitannya, maka Tohjaya pun kemudian berkata, “Ampun Kakanda. Biarlah aku mohon diri. Aku akan mengatakannya kepada Ibunda Ken Umang, bahwa Kakanda berkeberatan menunjukkan keris itu. Keris yang menurut beberapa orang, terlalu bagus buatannya, tetapi masih belum selesai seluruhnya. Masih ada yang kurang, dan karena itulah maka keris itu mempunyai bentuknya yang khusus.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam.

“Sudahlah Kakanda. Aku mohon maaf, bahwa aku sudah memberanikan diri memohon kepada Kakanda untuk meminjam keris itu.”

Anusapati masih tetap dicengkam keragu-raguan. Jika ia tidak memberikannya, maka seakan-akan Tohjaya itu memandangnya dengan tatapan mata yang memancarkan tuduhan yang pasti, bahwa ia memang telah membunuh ayahandanya.

Dalam keragu-raguan yang mencengkam itu, maka Tohjaya pun mulai bergeser sambil berkata, “Kakanda, hamba mohon diri.”

“Tunggulah,” berkata Anusapati kemudian, “aku tidak ingin kau salah paham.”

“Maksud Kakanda?” bertanya Tohjaya.

“Jika aku tidak memberikan keris itu, berarti bahwa aku menghormati kematian ayahanda dan orang-orang sebelumnya, yang mengalami nasib serupa.”

Dada Anusapati tergetar ketika ia melihat Tohjaya tersenyum sambil menjawab, “Aku mengerti Kakanda. Memang keris itu terlampau keramat untuk aku bawa menghadap Ibunda Ken Umang.”

“Tidak, bukan begitu,” cepat-cepat Anusapati memotong, “tetapi keris itu mempunyai ceritanya tersendiri. Eh, maksudku, memang keris itu terlalu keramat. Sebaiknya keris itu disimpan untuk tidak disentuh lagi. Bahkan sebaiknya keris yang rasa-rasanya seperti selalu haus darah itu dimusnahkan saja.”

“Aku sependapat Kakanda.”

“Maksudmu?”

“Aku sependapat jika keris itu dimusnahkan. Jika tidak maka ia akan menusuk sekali lagi orang yang sebenarnya bersalah atas Ayahanda Sri Rajasa. Tetapi jika orang itu bernama Pangalasan Batil dan sudah dibunuh oleh Kakanda, maka orang yang menyuruh pangalasan itulah yang akan menjadi sasaran. Karena itu, sebaiknya keris itu memang dimusnahkan.”

Sekali lagi dada Anusapati tergetar. Seakan-akan Tohjaya sudah memastikan bahwa sebenarnya ia sendirilah yang telah membunuh ayahandanya itu. Karena itu, maka rasa-rasanya darahnya telah bergejolak karena kegelisahan yang menghentak-hentak jantungnya.

Untuk beberapa saat lamanya Anusapati justru merenung. Merenungi dirinya sendiri dan merenungi masa depan Singasari.

Namun yang akan terjadi akan terjadilah.

Karena itu, maka Anusapati pun berkata kepada dirinya sendiri, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengelakkan diri dari sentuhan maut apabila memang sudah waktunya.”

Dengan demikian maka akhirnya Anusapati pun mengambil keputusan untuk memberikan keris itu kepada Tohjaya. Ia tidak dapat lagi menentang perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya. Dan tidak seperti Sri Rajasa, yang pernah tinggal di padang Karautan dan pernah menjadi pembunuhan besar, perampok dan pemerkosa, Anusapati tidak dapat ingkar dan melupakan bahwa sebenarnya ia telah membunuh Sri Rajasa.

“Tohjaya,” berkata Anusapati kemudian, “baiklah, jika kau dan Ibunda Ken Umang ingin melihat keris yang telah merampas hidup Ayahanda. Tetapi jangan disimpan keris itu terlampau lama. Segera serahkan kembali keris itu kepada Kakanda. Aku akan memusnahkannya agar keris itu tidak lagi menuntut kematian demi kematian, sebagai akibat noda darah yang sudah terlanjur melekat pada keris itu.”

“Baiklah Kakanda. Hamba akan segera mengembalikannya.”

Dengan hati yang berdebar-debar, maka Anusapati pun bangkit dari tempatnya. Dengan ragu-ragu ia melangkah ke dalam biliknya dan mengambil keris yang disimpannya baik-baik.

Ketika Anusapati meraba keris itu, terasa tangannya menjadi gemetar. Ada sesuatu yang menahannya untuk memberikan keris itu kepada Tohjaya. Tetapi ia tidak dapat melakukannya, karena desakan kegelisahan perasaannya, seakan-akan ia tidak memberikan keris itu karena ia merasa bersalah.

Karena itu, betapa hatinya dicengkam oleh keragu-raguan, namun keris itu diambilnya juga dan diberikannya kepada adiknya.

“Inilah keris itu Tohjaya,” berkata Anusapati sambil memberikan keris itu kepada Tohjaya.

Tohjaya tiba-tiba saja menjadi gemetar menerima keris itu. Keris yang selama ini tersimpan rapat. Keris yang telah mengambil jiwa ayahandanya. Apapun yang dikatakan oleh orang lain, namun Tohjaya tetap berpendapat bahwa Anusapati telah membunuh Sri Rajasa dengan keris Empu Gandring itu. Apalagi setelah Tohjaya mendengar, siapakah sebenarnya Anusapati dan cerita tentang tahta Tumapel yang jatuh kepada Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa, karena perkawinannya dengan Ken Dedes.

“Keris itu adalah keris yang sakti,” berkata Anusapati.

Tohjaya mengerutkan keningnya. Tentu tidak ada orang yang dapat menyentuh keris itu selain Anusapati atau orang-orang lain yang sangat dekat padanya. Seandainya tidak demikian, maka ceritanya tentu akan bermula lain sama sekali dengan yang pernah didengarnya.

Tetapi Tohjaya tidak dapat bertanya lebih jauh tentang semuanya itu. Ia hanya dapat menduga-duga saja apa yang telah terjadi sebenarnya. Dan Anusapati pun tidak pernah membantah, bahwa kematian Sri Rajasa disebabkan oleh jenis senjata yang lain. Bukan oleh keris itu, justru karena Anusapati tidak dapat melakukan kebohongan yang sempurna seperti Ken Arok.

Ketika keris Empu Gandring itu sudah berada di tangannya, maka rasa-rasanya Tohjaya tidak dapat menahan diri lagi. Ingin rasa-rasanya ia berbuat sesuatu dengan keris itu. Ia sadar bahwa ia berkewajiban untuk menuntut balas atas kematian ayahandanya itu. Kematian yang seakan-akan masih saja disaput dengan kabut rahasia, tetapi yang bagi Tohjaya sudah merupakan suatu kepastian dan keyakinan bahwa Anusapatilah yang melakukannya, meskipun ia harus meminjam tangan orang lain. Dan keris ini pulalah yang telah dipergunakannya untuk membunuh ayahanda Sri Rajasa.

Tetapi Tohjaya tidak dapat langsung meloncat dan menikam Anusapati. Ia pun menyadari bahwa Anusapati memiliki kemampuan jauh lebih besar daripadanya. Sehingga karena itu, maka ia harus mencari kesempatan lain untuk melakukan rencananya itu.

“Jika Kakanda Anusapati terbunuh,” katanya di dalam hati, “maka harus diyakini lebih dahulu, bahwa pasukan pengawal terutama di istana ini akan dapat dikuasai.”

Dan Tohjaya sudah berbuat sesuatu untuk menuju kepada rencananya yang besar itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Tohjaya pun segera minta diri Dengan keris Empu Gandring di tangannya, Tohjaya merasa seakan-akan rencananya pasti akan dapat berjalan sesuai dengan kehendaknya.

Sepeninggal Tohjaya, Anusapati mulai merenung lagi. Kadang-kadang ia heran, kenapa ia tidak dapat menahan diri untuk tidak menyerahkan keris itu. Dan ia tidak dapat ingat lagi siapakah sebenarnya yang mula-mula mengatakan bahwa Sri Rajasa telah terbunuh dengan keris Empu Gandring. Siapakah yang saat itu melihat dan siapakah yang mengatakan kepada Tohjaya bahwa keris itu masih ada padanya.

Tetapi Anusapati tidak mau menelusuri teka-teki itu lagi. Ia kini sedang menghadapi teka-teki yang jauh lebih besar. Teka-teki tentang dirinya sendiri.

Dalam pada itu, Tohjaya yang menghadap Ken Umang dengan keris yang sakti itu, menganggap bahwa waktunya memang sudah masak untuk berbuat sesuatu. Yang penting baginya adalah meyakinkan sekali lagi, bahwa semua rencana itu dapat berjalan seperti yang diharapkannya.

Ken Umang adalah seorang perempuan yang cukup cerdas untuk merencanakannya. Seperti usahanya untuk dapat duduk di sisi Ken Arok di dalam kebesaran istana Singasari adalah akal yang licik pula. Namun ia tidak menghiraukan cara apapun yang diambilnya, asalkan cita-citanya dapat dicapainya. Demikian pula keinginannya untuk menyingkirkan Anusapati dan menempatkan Tohjaya di dalam tahta tertinggi.

Apalagi kini keris Empu Gandring telah ada di tangan anaknya. Keris yang seakan-akan menentukan siapakah yang akan menjadi korban berikutnya.

“Yang penting Tohjaya,” berkata Ken Umang, “kau harus sudah menguasai seluruh pasukan pengawal dan pelayan dalam di dalam istana ini. Kedua panglimanya sudah berada di pihakmu. Sebagian dari pasukan yang lain pun telah dapat dipengaruhi pula. Jika kau sudah yakin, barulah kau melakukannya.”

“Tentu Ibunda. Tetapi usahaku untuk memisahkan Adinda Mahisa Wong Teleng dan Kakanda Anusapati masih belum dapat aku yakini hasilnya. Meskipun agaknya Adinda Mahisa Wonga Teleng menjadi kecewa setelah mendengar kepastian bahwa Kakanda Anusapatilah yang telah membunuh Ayahanda Sri Rajasa.”

“Apa ia percaya?”

“Aku belum tahu pasti. Tetapi menurut orang yang datang kepadanya, agaknya Adinda Mahisa Wonga Teleng sedang mempertimbangkan sikapnya.”

“Mudah-mudahan kau berhasil. Sudah sewajarnya Anusapati disingkirkan dari tempatnya, karena ia memang tidak berhak menduduki tahta saat ini, karena jika benar kekuasaan Tumapel seharusnya ada padanya, maka Tumapel adalah sebagian kecil saja dari kebesaran Singasari sekarang. Dan bagi Singasari yang besar, kau adalah orang yang paling tepat untuk mendapatkan tempat yang tertinggi, karena kau adalah putra Sri Rajasa yang paling dikasihinya.”

Dalam pada itu, setiap kali masih juga datang menghadap Mahisa Wonga Teleng orang yang mengaku dirinya pelayan dalam yang mempunyai kesaksian kematian Sri Rajasa untuk mempengaruhi Mahisa Wonga Teleng.

“Apakah Tuanku Mahisa Wonga Teleng mempunyai sikap tertentu menghadapi keadaan ini?” bertanya orang tua yang membawa pelayan dalam itu menghadap.

“Aku belum tahu pasti. Tetapi jika kau benar, maka aku akan menentukan sikap. Apakah kau bersedia menghubungi Kakanda Tohjaya di dalam persoalan ini?”

“Hamba masih belum mengenal Tuanku Tohjaya dari dekat. Karena itu sebenarnya hamba tidak berani untuk menyatakan diri menyampaikan pesan kepada Tuanku Tohjaya itu.”

“Baiklah. Jika kau berkeberatan, biarlah aku tidak menghubunginya saja.”

Orang itu justru menjadi ragu-ragu.

“Memang tidak ada gunanya untuk menghubungi Kakanda Tohjaya,” berkata Mahisa Wonga Teleng, “mungkin yang terjadi justru akan sebaliknya. Jika Kakanda Tohjaya menyampaikan persoalannya kepada Kakanda Anusapati, akulah yang akan menanggung semua kesulitannya.”

“Tetapi,” tiba-tiba saja orang itu menyahut, “tidak Tuanku. Kakanda Tuanku tentu tidak akan berbuat demikian.”

“Dari mana kau tahu?”

Orang itu menjadi ragu-ragu sejenak, lalu, “Tuanku. Biarlah hamba mencobanya. Tentu saja dengan sangat hati-hati untuk menjajaki pendapat Kakanda Tuanku.”

“Bagaimana kau akan mengatakannya. Begitu saja seperti saat kau datang kepadaku? Tentu akan sangat berbahaya sekali. Adalah kebetulan saja bahwa aku akhirnya mempercayaimu. Jika tidak, kau tentu akan dicincang di perapatan.”

“Aku akan berhati-hati, Tuanku.”

“Terserahlah kepadamu. Tetapi kau jangan mengorbankan aku.”

Sepeninggal orang itu, Mahisa Wonga Teleng menjadi semakin yakin, bahwa persoalannya akan segera meledak. Agaknya Tohjaya sudah mengatur semuanya dengan baik. Dan ia harus ikut serta bermain, agar ia dapat menempatkan dirinya sebaik-baiknya.

Dalam pada itu, persiapan yang dilakukan Tohjaya pun menjadi semakin lengkap. Kedua panglima yang sudah berada di bawah pengaruhnya pun bekerja sebaik-baiknya. Keduanya akhirnya yakin bahwa Tohjaya akan menang. Karena itu mereka tidak mau kehilangan kedudukan. Jika mereka jauh-jauh sebelumnya sudah berpihak kepada Tohjaya, maka mereka akan dapat mempertahankan diri di dalam jabatannya yang penting itu, bahkan mungkin mereka akan mendapat keuntungan lebih banyak lagi.

Laporan terakhir yang didengar Tohjaya tentang Mahisa Wonga Teleng sangat menarik perhatiannya. Baginya Mahisa Wonga Teleng setidak-tidaknya tidak akan merintanginya jika ia berbuat sesuatu.

Untuk menghindarkan diri dari kecurigaan Tohjaya dan orang-orangnya yang menurut Mahisa Wonga Teleng tentu sudah tersebar di seluruh halaman istana, maka ia pun jarang sekali berhubungan dengan Anusapati. Namun semakin lama ia berhasil semakin dalam memancing keterangan tentang kegiatan yang dilakukan oleh Tohjaya justru dari orang yang harus memisahkannya dari Anusapati.

“Agaknya Tuanku Tohjaya tidak terlampau banyak menaruh perhatian, Tuanku,” berkata orang yang sering datang kepadanya, “Tuanku Tohjaya lebih tertarik kepada sabung ayam daripada pemerintahan.”

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sejenak ia berdiam diri merenungi persoalan yang sedang dihadapinya.

“Tuanku,” berkata orang itu, “sebaiknya Tuankulah yang menentukan sikap. Tuanku mempunyai kesempatan yang baik karena nama Tuanku sampai saat ini masih belum ternoda sama sekali. Selama ini Tuanku tidak pernah berbuat sesuatu, sehingga jika Tuanku berbuat sesuatu, maka yang Tuanku lakukan tentu berdasarkan atas pertimbangan yang masak dan tujuan yang bersih.”

Mahisa Wonga Teleng memandang orang itu sejenak, lalu, “Aku bukan pemimpin. Kekuatan apakah yang dapat aku pergunakan untuk melakukannya jika aku tertarik pada ceritamu itu?”

“Seperti hamba katakan. Namun Tuanku sama sekali belum ternoda. Sehingga apabila Tuanku menyatakan diri di dalam lingkungan kecil, maka pendukung Tuanku tentu akan berdatangan.”

Mahisa Wonga Teleng tidak segera menjawab. Agaknya ia masih diliputi oleh kebimbangan. Namun kemudian katanya, “Aku bukan seorang yang berani berdiri tegak di atas kedua kakiku sendiri. Aku adalah orang yang sampai saat ini masih selalu menggantungkan diri kepada orang lain. Demikian juga agaknya kali ini. Jika Kakanda Tohjaya tidak bersedia, dan lebih tertarik kepada sabung ayam, maka aku sama sekali tidak peduli, apa saja yang akan terjadi atas Singasari. Aku lebih suka bermain-main dengan anakku dan berjalan-jalan bersama istriku. Itu lebih baik dari berbuat sesuatu tanpa keyakinan sama sekali.”

“Tuanku,” berkata orang itu, “baiklah hamba akan bertanya sekali lagi kepada Tuanku Tohjaya. Tetapi yang ingin hamba ketahui sebagai bahan pembicaraan hamba dengan Tuanku Tohjaya, bagaimanakah sebenarnya pendapat Tuanku. Tersalur atau tidak, itu bukanlah soal yang penting. Tetapi bagaimanakah sebenarnya tanggapan Tuanku atas Kakanda Tuanku Anusapati yang sekarang bertahta di Singasari?”

“Maksudmu?”

“Maksud hamba, apakah sebaiknya Kakanda Tuanku itu biar saja duduk di atas tahta, atau ada orang lain yang lebih baik daripadanya, misalnya Tuanku. Atau orang lain lagi yang Tuanku anggap baik jika Tuanku tidak bersedia.”

Mahisa Wonga Teleng termangu-mangu sejenak. Pertanyaan itu memang sukar untuk dijawab.

“Tuanku,” desak orang itu, “keterangan Tuanku sangat penting bagi hamba.”

Mahisa Wonga Teleng menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Aku tidak dapat mengatakan apa-apa. Aku lebih senang tidur, atau berjalan-jalan atau bermain-main dengan anakku.”

“Tentu Tuanku tidak dapat berbuat demikian dalam keadaan seperti ini. Tuanku tidak dapat mementingkan diri sendiri, tanpa menghiraukan keadaan Singasari.”

“Itu lebih baik seperti Kakanda Tohjaya yang lebih senang berada di kalangan sabung ayam. Bukankah itu juga merupakan salah satu bentuk dari kekecewaan yang mencengkam hatinya.?”

Orang itulah yang kemudian menjadi termangu-mangu. Agaknya Mahisa Wonga Teleng memang tidak dapat berdiri sendiri. Karena itu katanya kemudian, “Bagaimanakah jika Tuanku Tohjaya bersedia berada di pihak Tuanku?”

“Nah, jika demikian, biarlah Kakanda Tohjaya saja yang melakukannya. Aku yang tidak memiliki kemampuan apapun tentu tidak akan dapat berbuat sejauh Kakanda Tohjaya.”

“Ah,” orang itu berdesah, “tetapi baiklah. Apakah dengan demikian Tuanku sudah menentukan sikap? Maksud hamba Tuanku akan berada di pihak kakanda Tuanku, jika kakanda Tuanku bersedia?”

“Aku ingin berbicara.”

“Tentu sangat mencurigakan Tuanku. Biarlah hamba menjadi penghubung.”

“Kakanda Tohjaya tidak akan dengan mudah mempercayai orang lain. Termasuk kau.”

“Tetapi Tuanku Tohjaya percaya kepada hamba.”

Mahisa Wonga Teleng tidak menjawab. Ketika ia memandang orang itu, tampak kegelisahan yang sangat melanda dinding jantungnya. Agaknya ia menyesal bahwa ia sudah mengatakan bahwa Tohjaya percaya kepadanya. Tetapi kata-kata itu sudah terucapkan. Karena itu, maka dengan terbata-bata ia mencoba mengurangi kesalahannya, “Maksud hamba, jika hamba dapat dengan baik mengatakannya, maka Tuanku Tohjaya akan percaya kepada hamba.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Wonga Teleng, “tetapi harus ada keputusan dari Kakanda Tohjaya. Aku ingin bertemu. Jika tidak, maka aku lebih baik tidak usah membicarakan masalah Singasari.”

Orang itu pun kemudian meninggalkan bangsal itu dengan penuh keragu-raguan. Tetapi ia melihat kebimbangan yang besar pada Mahisa Wonga Teleng, sehingga akhirnya ia berkata kepada Tohjaya pada saat ia menghadap, “Agaknya jika Tuanku datang kepada Tuanku Mahisa Wonga Teleng, ia akan berpihak kepada Tuanku. Hatinya memang sedang goyah. Dan di dalam keadaan seperti ini, Tuanku Mahisa Wonga Teleng akan mempunyai peranan penting.”

“Apakah begitu menurut pertimbanganmu?”

“Hamba Tuanku. Sebaiknya Tuanku datang kepadanya. Tetapi Tuanku harus tetap berhati-hati.”

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia akhirnya yakin bahwa semuanya akan dapat berjalan menurut rencana. Kekuatan yang dihimpunnya semakin lama sudah menjadi semakin besar. Sementara Anusapati masih saja merenungi dirinya sendiri dikelilingi oleh kolam yang indah di istananya.

Seperti yang disarankan oleh pembantu-pembantunya, Tohjaya akhirnya datang juga kepada Mahisa Wonga Teleng dengan diam-diam. Bahkan ia berusaha untuk tidak dikenal oleh seorang pun, juga oleh prajurit-prajurit yang sedang bertugas. Karena itu, maka ia pun mengenakan pakaian seorang hamba biasa dan menyamarkan wajahnya.

Mahisa Wonga Teleng terkejut menerima seseorang yang belum pernah dikenalnya datang bersama orang yang sering datang kepadanya dan bercerita tentang Anusapati itu,

“Abi, siapakah yang kau bawa?”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Baiklah Tuanku sendiri bertanya kepadanya.”

Sebelum Mahisa Wonga Teleng bertanya, maka orang itu telah mendahului berkata, “Apakah kau tidak dapat mengenal aku lagi, Adinda?”

Mahisa Wonga Teleng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku memang pernah mengenalmu.”

“Pandanglah aku dengan baik.”

Akhirnya Mahisa Wonga Teleng tersenyum. Desisnya, “Kakanda Tohjaya.”

“Ya. Aku adalah Tohjaya.”

“Silakan Kakanda, “Mahisa Wonga Teleng mempersilakannya duduk di atas sebuah batu hitam yang beralaskan kulit kijang hasil buruan Mahisa Wonga Teleng sendiri, “kedatangan Kakanda dengan cara ini sangat mengejutkan aku.”

Tohjaya tertawa. Katanya, “Aku hanya ingin bergurau Adinda. Sebenarnya tidak ada alasan apapun juga yang memaksa aku berbuat seperti ini.”

Tetapi Mahisa Wonga Teleng pun tertawa sambil berkata, “Kakanda benar-benar bergurau. Tetapi bukan karena Kakanda datang dengan cara yang aneh, namun justru karena Kakanda mengatakan bahwa tidak ada alasan apapun bagi Kakanda untuk mempergunakan penyamaran seperti itu.”

Tohjaya mengerutkan keningnya mendengar jawaban Mahisa Wonga Teleng. Apalagi ketika Mahisa Wonga Teleng meneruskan, “Aku sudah tahu semuanya yang akan Kakanda katakan. Abi sudah beberapa kali datang kepadaku.”

Meskipun ia tidak berterus terang, dan bahkan kadang-kadang melingkar-lingkar seakan-akan ia masih belum begitu mengenal Kakanda, tetapi sebenarnya aku sudah mengetahuinya bahwa ia adalah penghubung yang baik bagi Kakanda.”

“Ah,” Tohjaya berdesah. Dipandanginya Abi sejenak tetapi sambil tersenyum ia berkata, “Baiklah. Agaknya aku tidak akan dapat ingkar lagi.”

“Semuanya sudah aku ketahui Kakanda. Dan aku pun sudah meyakini, bahwa aku memang bukan saudara seayah dan seibu dengan Kakanda Anusapati.”

“Kau adalah saudara seibu dengan Kakanda Anusapati.”

“Ya. Hanya seibu.”

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Di antara keragu-raguan ia berdesis, “Jika kau memang sudah mengetahui, apakah kau sudah bersikap?”

Mahisa Wonga Teleng tertawa sambil berkata, “Sikap yang manakah yang Kakanda maksud? Aku tidak mempunya sikap apapun juga selain menjalani hidupku ini dengan aman dan damai. Aku hanya ingin berjalan-jalan di taman-taman dengan anak istriku, seperti juga Kakanda sekedar ingin berada di arena sabung ayam seperti yang dikatakan oleh Abi.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Ia tidak segera mengerti maksud Mahisa Wonga Teleng. Dan dibiarkannya Mahisa Wonga Teleng berkata seterusnya, “Tetapi jika ada usaha Kakanda yang lain daripada menyabung ayam di arena, maka agaknya hal itu memang sangat menarik perhatian.”

Akhirnya Tohjaya tersenyum. Ia mendengar kata-kata Mahisa Wonga Teleng sebagai isyarat-isyarat yang samar-samar. Namun dengan demikian Tohjaya pun masih juga harus berhati-hati.

“Baiklah Adinda,” berkata Tohjaya kemudian, “jika pada saatnya aku tidak hanya sekedar menyabung ayam, maka kau pun sebaiknya tidak hanya selalu berjalan-jalan di taman dengan anak istrimu.”

“Jika Kakanda menghendaki.”

“Bersiaplah untuk masa yang tidak dapat aku katakan, ada suatu saat, aku akan mengundang orang-orang yang memang sepantasnya berada di arena sabung ayam.”

Tohjaya tidak mengatakan apapun lagi. Sejenak kemudian ia minta diri, dan meninggalkan bilik itu masih dalam penyamaran. Namun Tohjaya bukan seorang yang tidak berhati-hati sehingga di muka pintu ia masih berdesis, “Adinda, aku akan meninggalkan beberapa orang pengawalku untuk melindungi Adinda.”

“Maksud Kakanda?”

Tohjaya tersenyum. Tetapi dibalik senyumnya tersirat ancaman yang menegakkan bulu roma. Seakan-akan kini Mahisa Wonga Teleng selalu berada di bawah pengawasan Tohjaya untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat menumbuhkan kecurigaan.

Namun Mahisa Wonga Teleng pun menyadari, bahwa ia memang sedang bermain api. Dan sejak semula ia sadar, bahwa Tohjaya tentu akan selalu mengawasinya. Jika tidak, maka ia tidak akan berbicara dan bersikap sampai sejauh itu.

Karena itu, maka ia tidak boleh kehilangan akal. Ia pun memiliki kemampuan berpikir seperti Tohjaya, sehingga ia akan selalu dapat berusaha, meskipun ia tidak tahu, apakah usahanya akan berhasil.

Meskipun demikian Mahisa Wonga Teleng tidak dapat ingkar bahwa ada perbedaan antara dirinya dan Tohjaya di dalam kedudukannya di istana Singasari. Tohjaya agaknya telah berhasil menghimpun beberapa orang pengikut. Sedang ia sendiri sama sekali tidak melalukan usaha untuk kepentingan seperti yang dilakukan oleh Tohjaya. Karena itu, di dalam keadaan seperti yang sedang dialaminya, ia memang mengalami kesulitan.

Karena itu, maka Mahisa Wonga Teleng pun telah membatasi geraknya sendiri. Ia menjadi curiga kepada setiap prajurit yang bertugas di regol bangsalnya. Bahkan ia menjadi curiga kepada setiap prajurit yang ada di dalam halaman istana.

Tetapi masih ada suatu jalur yang dapat ditempuhnya. Dan ia berusaha untuk mempertahankan jalur itu, agar tidak terputus oleh tindakan Tohjaya yang agaknya sudah tersusun rapi.

Setiap kali Mahisa Wonga Teleng keluar dari bangsalnya, maka para prajurit yang bertugas di regol bangsalnya selalu menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil bertanya, “Apakah Tuanku akan pergi?”

“Ya. Aku akan berjalan-jalan.”

Maka prajurit itu pun langsung memanggil satu atau dua orang anak buahnya dan perintahnya, “Jagalah Tuanku Mahisa Wonga Teleng baik-baik.”

Mahisa Wonga Teleng tidak dapat mengingkari kenyataan itu, sehingga dengan demikian maka ia harus berbuat tepat dalam keadaan yang tepat pula.

Tohjaya yang sudah terlanjur menghubungi Mahisa Wonga Teleng dan belum mendapat jawaban yang pasti daripadanya, tidak dapat membiarkan rahasianya sampai kepada Anusapati. Karena itulah, maka ia berusaha menjaga Mahisa Wonga Teleng sebaik-baiknya.

Namun sekali waktu, Mahisa Wonga Teleng ingin mencoba juga, apakah yang akan dilakukan oleh pengawal-pengawal bangsalnya itu seandainya ia berterus terang mengatakan, bahwa ia akan menghadap Kakanda Anusapati.

Ketika pemimpin pengawal mengangguk di depan regol sambil bertanya, maka ia pun menjawab, “Aku akan menghadap Kakanda Anusapati.”

“Apakah ada sesuatu yang sangat penting, Tuanku.”

“Ya. Sudah agak lama aku tidak menghadap.”

“Baiklah Tuanku. Di paseban ada juga pengawal dan pelayan dalam yang akan melindungi Tuanku jika diperlukan meskipun Tuanku tidak mengenalnya, karena tentu para pengawal yang akan mengawal Tuanku sampai ke paseban tidak boleh ikut masuk ke dalam. Tetapi jangan takut, bahwa pembicaraan Tuanku tidak dapat kami dengar. Kami akan tetap mengikuti pembicaraan Tuanku, dan di mana Tuanku perlukan, kami akan membantu dan melindungi Tuanku.”

Mahisa Wonga Teleng memandang prajurit itu dengan tajamnya. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Terima kasih. Aku akan selalu berhati-hati.”

“Silakan Tuanku. Setiap saat panggil saja nama Abi, di manapun dalam keadaan apapun. Jika Tuanku memerlukan maka orang yang bernama Abi itu akan datang menghadap, siapa pun orang itu.”

“Maksudmu Abi adalah panggilan rahasia?”

Prajurit itu tersenyum, lalu, “Ya Tuanku. Namun setia. Abi tahu pasti, apakah Tuanku memerlukan benar atau tidak. Jika Tuanku hanya sekedar ingin tahu, yang manakah Abi itu maka Tuanku akan gagal.”

Mahisa Wonga Teleng tertawa pendek. Katanya, “Setidak-tidaknya aku sudah mengenal satu. Kau.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa pula, “Ya, hamba salah seorang dari mereka.”

“Baiklah. Aku akan pergi dan segera akan kembali.”

“Silakan Tuanku. Dan Tuanku tidak usah cemas memikirkan putra Tuanku dan Tuan Putri. Kami akan menjaga baik-baik sehingga setiap saat, tidak akan ada bencana yang dapat menyentuhnya.”

Dada Mahisa Wonga Teleng berdesir. Ia sadar, bahwa jika ia berbuat sesuatu yang tidak menguntungkan Tohjaya, maka anak dan istrinya akan dapat menjadi korban karenanya.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Mahisa Wonga Teleng meninggalkan regol itu. Kini ia tahu benar, betapa licinnya Tohjaya Apalagi agaknya ia sudah berhasil menyusun jaringan yang luas. Bahkan ada di sekitar Anusapati pula.

“Tetapi bagaimana aku dapat menyampaikannya kepada Kakanda Anusapati?” bertanya Mahisa Wonga Teleng di dalam hatinya, “setiap gerakannya selalu diawasinya.”

Tetapi Mahisa Wonga Teleng tetap bertekad untuk menyampaikannya kepada Anusapati, apa yang sebenarnya telah terjadi di istana Singasari itu. Namun ia harus mendapatkan cara yang sebaik-baiknya tanpa mengancam keselamatannya dan lebih-lebih lagi adalah keselamatan istri dan anaknya.

Dengan kepala tunduk Mahisa Wonga Teleng berjalan terus diikuti oleh dua orang pengawal bersenjata. Sekali-kali Mahisa Wonga Teleng sempat memandang kedua orang pengawalnya. Tetapi ia tidak mendapat kesan apapun pada wajah kedua orang itu.

Di bangsal kakandanya Anusapati, Mahisa Wonga Teleng tidak mengatakan apapun juga selain sekedar berkunjung karena mereka sudah lama tidak bertemu.

“Jadi kau tidak membawa kabar apapun juga Adinda?” bertanya Anusapati.

“Tidak Kakanda. Aku hanya sekedar menengok keselamatan Kakanda sekeluarga.”

Anusapati memandang Mahisa Wonga Teleng sejenak, lalu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat sesuatu terbayang di wajah Adindanya. Tetapi agaknya Mahisa Wonga Teleng tidak dapat mengatakannya.

Namun bagi Anusapati, setiap persoalan yang akan disampaikan kepadanya, seakan-akan telah dapat dibacanya. Tentu sebuah peringatan agar ia berhati-hati. Apalagi kini keris Empu Gandring sudah tidak di tangannya lagi. Dan ia seakan-akan sudah tidak mampu lagi menolak tuduhan Tohjaya yang meskipun tidak dikatakan, bahwa Anusapatilah yang sebenarnya telah membunuh Sri Rajasa, dengan tangan sendiri atau meminjam tangan orang lain, dengan keris Empu Gandring. Dan Anusapati pun sadar, bahwa sebenarnya ada nyala di dalam dada Tohjaya untuk membalas dendam betapapun ia menyamar niatnya. Dan yang paling pahit bagi Anusapati, bahwa ia merasa tidak berhak lagi menyembunyikan atau menjaga dirinya sendiri.

Demikianlah maka pertemuan itu hampir tidak berarti sama sekali bagi Mahisa Wonga Teleng yang ingin menyampaikan sesuatu kepada kakandanya, karena ia tidak mempunyai kesempatan sama sekali. Mungkin ia dapat begitu saja menyebut semua kecurigaan dan bahkan persoalan yang pernah didengarnya dari orang-orang Tohjaya atau Tohjaya sendiri tanpa menghiraukan keselamatannya. Tetapi Mahisa Wonga Teleng tidak akan dapat mengorbankan anak dan istrinya. Sehingga karena itu maka ia pun lebih baik diam untuk sementara daripada harus menanggung kepedihan dalam waktu yang panjang.

Ketika kemudian Mahisa Wonga Teleng telah bermohon diri dan turun ke halaman, maka hatinya menjadi semakin berdebar melihat beberapa orang prajurit yang berjalan-jalan tergesa-gesa. Tanpa disadarinya ia pun menjadi tergesa-gesa pula kembali ke bangsalnya.

Tetapi Mahisa Wonga Teleng menarik nafas dalam-dalam ketika dijumpainya anaknya bermain-main di halaman meskipun ada juga semacam kecemasan yang mencengkam jantungnya. Agaknya anaknya telah bermain-main dengan pemimpin prajurit yang sedang bertugas di regol halamannya. Permainannya pun cukup mendebarkan. Seekor ular.

“Kenapa kau bermain-main dengan seekor ular?” bertanya Mahisa Wonga Teleng.

“Paman itulah yang memberinya,” jawab anaknya.

“Kau memberikan permainan yang berbahaya itu?”

“Tidak berbahaya Tuanku. Ular itu tidak berbisa. Aku sudah mengurutnya dari ekor sampai ke kepalanya. Baru setelah lima pekan bisanya akan tumbuh kembali,” pemimpin prajurit itu terdiam sejenak, lalu, “Tuanku, aku adalah orang yang kebal atas bisa. Aku tidak tahu kenapa Hamba memiliki kekebalan itu. Sejak lahir hamba memang sudah mempunyai kelebihan itu. Jadi Tuanku tidak usah mencemaskan hamba jika hamba bermain-main dengan ular.”

“Aku tidak mencemaskan kau, tetapi anakku.”

“Putra Tuanku pun tidak usah Tuanku cemaskan, karena hamba dapat menjaganya sebaik-baiknya. Tetapi jika diperlukan hamba pun membawa ular yang masih lengkap bisanya. Hanya kecil.”

Dada Mahisa Wonga Teleng menjadi berdentingan ketika ia melihat prajurit itu membuka kantong ikat pinggangnya yang lebar. Dari kantong itu dikeluarkannya seekor ular yang kecil saja Tetapi ular itu bergelang hitam dan putih di seluruh tubuhnya.

“Ular weling,” desis Mahisa Wonga Teleng.

“Ya. Ular weling. Hampir sama dengan ketajaman bisa ular bandotan hitam, dan sedikit lebih tajam dari ular bandotan coklat.”

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya. Tetapi masih belum setajam bisa lidah seseorang.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Ditatapnya Mahisa Wonga Teleng dengan tajamnya. Namun Mahisa Wonga Teleng memandang langsung ke bintik hitam mata prajurit itu, sehingga prajurit itu justru menundukkan kepalanya.

“Hamba tidak tahu maksud Tuanku.”

“Baiklah. Aku memang tidak bermaksud apa-apa. Sudahlah, simpanlah permainanmu yang mengerikan. Jika istriku melihat bahwa anaknya telah bermain-main dengan ular, maka ia akan berteriak-teriak sepanjang hari, dan bahkan di malam hari ia akan dikejar oleh mimpi buruknya.”

Mahisa Wonga Teleng pun kemudian membimbing anaknya meninggalkan halaman itu setelah ular yang sudah tidak berbisa itu dikembalikan kepada prajurit yang menjaga regol halamannya.

Namun dengan demikian Mahisa Wonga Teleng menjadi lebih ngeri lagi daripada bermain-main sendiri dengan ular. Ia sadar, bahwa jika keadaan memaksa, maka anaknya akan disentuh oleh bisa ular weling yang disimpannya. Dan tidak seorang pun yang akan menuduh kepada orang lain bahwa yang terjadi adalah kejahatan, karena anaknya ternyata telah digigit ular.

“Setan!” desis Mahisa Wonga Teleng.

“Apa ayah?” bertanya anaknya.

“Oh. Tidak apa-apa. Sebaiknya kau mencuci tangan dan kakimu. Lain kali kau lebih baik bermain-main dengan pemomongmu daripada dengan prajurit-prajurit itu.”

“Mereka baik hati Ayahanda.”

“Para pemomong itu pun baik hati pula.”

Anaknya memandang ayahnya dengan heran. Ia tidak melihat tanda-tanda yang kurang baik pada para prajurit, selain tangan dan kakinya yang menjadi kotor. Karena itu maka ia pun berkata, “Jika saat bermain telah lampau, aku dapat mencuci kaki dan tangan. Bermain dengan para pemomong pun kadang-kadang kakiku menjadi kotor dan harus dicuci. Bahkan Kakanda Ranggawuni pun jika bermain tangan dan kakinya menjadi kotor pula.”

Mahisa Wonga Teleng tertegun sejenak. Dipandanginya wajah anaknya yang sama sekali tidak membayangkan prasangka apapun juga.

Mahisa Wonga Teleng pun kemudian berjongkok di hadapan anaknya sambil berkata, “Dengar. Para pemomong itu tugasnya memang menjagamu. Mengawani kau bermain. Tetapi para prajurit mempunyai tugas-tugas lain. Ia harus berjaga-jaga di depan regol. Jika tangan dan kakimu kotor, mereka tidak dapat membantu mencuci tangan dan kaki itu, karena itu memang bukan tugasnya.”

Anaknya memandang wajah Mahisa Wonga Teleng dengan tanpa berkedip. Namun akhirnya ia pun tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya, Ayahanda. Besok aku akan bermain dengan pemomongku saja, atau barangkali aku akan pergi saja kepada Kakanda Ranggawuni.”

“Jangan besok,” sahut ayahnya, “lain kali saja. Sekarang Kakandamu Ranggawuni sedang sibuk.”

“Apakah yang dilakukannya? Atau barangkali aku dapat membantunya? Atau barangkali Kakanda Ranggawuni sedang sibuk berlatih dengan pelatih-pelatihnya atau kakek Mahisa Agni? Jika demikian aku pun akan ikut berlatih. Sudah agak lama aku berlatih sendiri dengan Ayahanda di sini. Biasanya aku sering berlatih bersama Kakanda Ranggawuni di hari tertentu.”

“Tidak anakku. Kakekmu Mahisa Agni berada di Kediri. Sudah agak lama tidak datang berkunjung. Mungkin kesibukannya tidak memberinya waktu. Jika kakek datang, kau tentu akan dipanggilnya juga.”

Anaknya hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya saja Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Maka Mahisa Wonga Teleng pun kemudian menyerahkan anaknya kepada pemomongnya, agar dibersihkan kaki dan tangannya, kemudian menyerahkannya kepada ibundanya yang akan membawanya ke pembaringan.

Dengan hati-hati Mahisa Wonga Teleng pun kemudian berpesan kepada istrinya, agar menjaga anaknya tidak lagi bermain-main dengan prajurit-prajurit di halaman.

“Merekalah yang kadang-kadang memanggil, Kakanda,” sahut istrinya.

“Tetapi jagalah agar anak kita tidak berada di antara mereka.”

“Kenapa Kakanda?” bertanya istrinya, “apakah memang ada pantangan?”

“Tidak. Tidak Adinda. Tetapi biarlah anak kita tidak mengganggu tugas mereka.”

Istrinya mengangguk-anggukkan kepalanya meskipun masih ada sesuatu yang agaknya menyangkut di hati. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Sedang Mahisa Wonga Teleng pun tidak sampai hati mengatakan persoalan yang sebenarnya. Sebab jika demikian, maka istrinya tentu akan menjadi cemas dan ketakutan.

Karena itu yang dapat dilakukan oleh Mahisa Wonga Teleng kemudian adalah menunggu perkembangan keadaan sambil mencoba mencari jalan untuk memecahkan dinding yang agaknya sudah dipasang di sekelilingnya. Namun Mahisa Wonga Teleng tidak berputus asa. Ia masih mengharap bahwa ia akan menemukan cara yang sebaik-baiknya.

Namun rasa-rasanya hatinya menjadi semakin pepat karena hampir setiap hari orang yang menyebut dirinya Abi, yang tua kadang-kadang yang muda, datang kepadanya dengan berbagai macam persoalan. Hampir setiap hari ia mendengar tawaran yang semakin lama menjadi semakin terbuka. Sejalan dengan kekuatan Tohjaya yang semakin nyata.

“Adinda,” berkata Tohjaya dalam lontarnya, “tidak ada pilihan lain bagi Adinda selain mendapat kedudukan yang wajar di dalam istana Singasari, peninggalan Ayahanda kita berdua dengan menyingkirkan Kakanda Anusapati. Agaknya sudah sampai saatnya kita melakukannya.”

Dada Mahisa Wonga Teleng menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi penjagaan di luar bangsalnya rasa-rasanya menjadi semakin rapat, sehingga ia tidak akan mempunyai kesempatan untuk keluar dari halamannya tanpa diketahui orang.

“Tuanku,” berkata Abi yang menghadapnya pada suatu saat, “sebaiknya Tuanku tidak mengurung diri.”

“Ah,” desis Mahisa Wonga Teleng. Ia tahu, bahwa kata-kata itu sekedar kata-kata sindiran.

“Tuanku sebaiknya sering datang ke tempat sabung ayam. Besok Kakanda Tuanku Tohjaya akan mohon kepada Kakanda Tuanku Anusapati untuk datang ke gelanggang menyambung ayam. Meskipun Tuanku Anusapati tidak pernah melakukannya, namun sekali-kali ada juga baiknya untuk mencobanya. Apakah Tuanku tidak akan datang melihatnya?”

“Kapan?” bertanya Mahisa Wonga Teleng dengan dada yang berdebar-debar, “besok pagi maksudmu?”

“Hamba Tuanku. Besok akan diadu dua ekor ayam jantan pilihan, yang barangkali paling baik di seluruh Singasari.”

Dada Mahisa Wonga Teleng menjadi semakin berdebar-debar karenanya.

Dipandanginya saja orang yang menghadapnya itu dengan tajamnya. Dan sambil tersenyum orang itu berkata lebih lanjut, “Tuanku, apakah Tuanku ingin datang juga besok?”

“Aku belum dapat memastikan Abi. Jika aku sempat, biarlah aku coba besok datang.”

“Tetapi jika tidak, Tuanku memang tidak perlu datang. Agaknya Tuanku bukan orangnya yang berada di lingkungan sabung ayam. Di arena sabung ayam, seseorang harus tabah melihat darah. Jika ayam jantan sudah wuru, maka mereka akan bertarung matran. Dan darah akan meleleh dari kepala dan tubuh mereka.”

Mahisa Wonga Teleng tidak menyahut.

“Sebaiknya Tuanku tidak melihatnya besok. Ayam yang akan diadu adalah ayam jantan yang baik. Justru karena itu, tentu diperlukan waktu dan ketabahan yang lebih besar dari biasanya.”

Namun justru karena itu, Mahisa Wonga Teleng menjadi tertarik. Meskipun ia tidak tertarik untuk melihat ayam beradu di arena, namun firasatnya mengatakan, bahwa sesuatu akan terjadi di arena itu besok.

Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Aku akan datang besok.”

Orang yang juga menyebut dirinya bernama Abi itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Kenapa Tuanku tiba-tiba saja memastikan diri untuk datang?”

“Ayam jantan yang paling baik di seluruh Singasari itulah yang menarik perhatianku. Aku pernah melihat ayam bersabung di halaman. Hanya ayam jantan peliharaan biasa. Alangkah sengitnya. Apalagi jika kedua ayam jantan itu ayam jantan yang paling baik di seluruh Singasari.”

Tetapi Abi itu tertawa. Katanya, “Baiklah hamba akan menyampaikannya kepada Tuanku Tohjaya, apakah Tuanku diperkenankan hadir.”

“Kenapa Kakanda Tohjaya? Aku dapat hadir di manapun juga aku kehendaki.”

“Tetapi arena sabung ayam itu merupakan arena tertutup Tuanku. Hanya mereka yang bertaruh sajalah yang dapat memasukinya.”

“Aku akan bertaruh.”

“Apakah Tuanku tahu caranya?”

“Aku akan belajar.”

“Baiklah. Hamba akan menyampaikannya kepada kakanda Tuanku. Mungkin kakanda Tuanku tidak berkeberatan jika Tuanku memang akan bertaruh. Tetapi sebelumnya Tuanku harus mempelajari caranya dan menyatakan sikap Tuanku atas kedua ayam aduan itu.”

“Aku tidak mengerti. Tetapi baiklah, aku akan mempelajarinya.”

Mahisa Wonga Teleng memandang orang itu sejenak, lalu tiba-tiba katanya, “Aku akan menghadap Kakanda Tohjaya.”

“Jangan sekarang Tuanku. Sebaiknya Tuanku berada di bangsal saja.”

“Atau barangkali Kakanda Anusapati.”

“Tuanku tidak dapat menemui kakanda Tuanku. Sampai lewat besok pagi sesudah taruhan itu selesai. Tuanku Anusapati sedang memusatkan perhitungannya atas kedua ayam jantan yang akan bertarung itu. Yang manakah kira-kira yang akan menang.”

Mahisa Wonga Teleng sadar, bahwa sebenarnyalah ia tidak akan dapat memaksa. Ia sadar, bahwa bangsal itu tentu sudah dikepung. Dan ia tidak akan dapat dengan kekerasan keluar dari kepungan itu.

Karena itu, maka ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Silakan Tuanku hari ini beristirahat. Tidak akan ada paseban dan tidak akan ada pembicaraan apapun di bangsal agung.”

Mahisa Wonga Teleng hanya dapat menganggukkan kepalanya saja. Ia tahu benar, bahwa ia tidak mempunyai kesempatan lain hari itu. Sedang besok, adalah hari yang sangat mendebarkan jantung. Di dalam keterangan Abi itu tersirat pengertian yang sangat mencemaskannya. Tetapi Mahisa Wonga Teleng tidak mempunyai banyak kesempatan.

Demikianlah sepeninggal orang yang menyebut dirinya Abi itu, maka Mahisa Wonga Teleng harus berpikir, apakah yang dapat dilakukannya. Ia tidak akan dapat membiarkan Anusapati besok memenuhi undangan Tohjaya untuk menghadiri sabung ayam di arena itu.

“Paman Mahisa Agni merasa bahwa Kakanda Anusapati sudah terlampau aman dengan kolamnya. Tetapi Pamanda Mahisa Agni tidak mengetahui apa yang sekarang terjadi,” berkata Mahisa Wonga Teleng di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat menyuruh seseorang untuk menjemputnya. Kini setiap orang harus dicurigainya, karena hampir setiap orang di dalam istana kini berdiri di dua tumpuan.

Namun ketika matahari semakin rendah di barat, tiba-tiba dengan bergegas Mahisa Wonga Teleng membenahi dirinya. Kepada istrinya ia minta diri untuk menengok ibundanya yang sudah semakin lemah dan sakit-sakitan.

“Anakku,” berkata Mahisa Wonga Teleng kepada anak laki-lakinya, “kau harus menolong Ayahanda saat ini.”

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Kau harus memaksa Ayahanda untuk menengok Neneknda Permaisuri.”

“Kenapa?”

“Kau tidak tahu sebabnya. Tetapi kau harus berbuat begitu. Kau dapat berteriak-teriak dan marah.”

Anak laki-laki Mahisa Wonga Teleng yang bernama Mahisa Campaka itu memandang ayahandanya dengan termangu-mangu. Sekali-kali dipandanginya ibundanya yang menjadi heran pula melihat sikap suaminya.

“Lakukanlah Mahisa Campaka. Mulailah menangis dan berteriak-teriak. Aku akan mengantarkanmu menghadap Neneknda di bangsalnya.”

“Kakanda,” bertanya istrinya, “aku tidak mengerti. Kenapa hal itu harus dilakukan oleh Mahisa Campaka?”

Mahisa Wonga Teleng menarik nafas dalam-dalam. Tetapi katanya kemudian, “Nanti aku akan memberitahukan kepadamu. Tetapi sebaiknya sekarang Mahisa Campaka membantu aku.”

Sejenak istrinya termangu-mangu. Tetapi ia dapat menangkap bahwa ada sesuatu yang menyulitkan suaminya. Karena itu, maka ia pun kemudian berjongkok di sisi anaknya sambil berkata, “Kau dapat melakukannya Mahisa Campaka. Tentu kau tidak tahu maksudnya. Tetapi nanti Ayahanda akan menjelaskan.”

Mahisa Campaka memandang ayahnya dan ibundanya berganti. Dan tiba-tiba saja ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bagus, nah mulailah. Ayah akan berada di bilik depan. Kau memaksa ayah untuk pergi menengok Neneknda. Kau mengerti?”

Sekali lagi anaknya menganggukkan kepalanya.

Mahisa Wonga Teleng pun kemudian meninggalkan ruangan itu dan pergi ke ruang depan. Bahkan ia pun kemudian berdiri di muka pintu menghadap keluar, seolah-olah sedang memandangi langit yang sedang menjadi semakin suram.

Tiba-tiba terdengar Mahisa Campaka menangis berteriak-teriak memanggil ayahandanya. Sekali-kali terdengar ia meneriakkan nama neneknya, Ken Dedes.

Mahisa Wonga Teleng masih berdiri diam. Diamatinya para prajurit yang bertugas di regol depan. Ia mengharap prajurit-prajurit itu mendengarnya.

Ternyata bahwa satu dua orang dari mereka berpaling. Sahkan pemimpin prajurit yang memberi Mahisa Campaka mainan ular, ternyata ada pula di antara mereka.

“Kenapa dengan Tuanku Mahisa Campaka?” bertanya pemimpin prajurit itu, “apakah yang dimintanya?”

Mahisa Wonga Teleng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau dengar sendiri. Ia rindu kepada nenekndanya.”

“Oh.”

“Ia mendengar aku berbicara dengan ibundanya, bahwa Ibunda Permaisuri sudah menjadi semakin lemah. Dan tiba-tiba saja ia berteriak-teriak minta diantar menengoknya.”

Pemimpin prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Dan didengarnya Mahisa Campaka masih saja berteriak-teriak.

“Apakah hamba dapat mengantarkannya?” bertanya pemimpin prajurit itu.

“Mahisa Campaka tidak mau diantar oleh siapa pun. Ia memaksa aku untuk pergi.”

Pemimpin prajurit yang sering bermain-main dengan Mahisa Campaka itu mengerutkan keningnya. Meskipun ia mempunyai tugas yang mendirikan bulu roma jika terpaksa dilakukan, namun karena dengan demikian ia justru sering bermain-main dengan anak itu, sehingga betapa keras hatinya, timbullah pula ibanya.

“Apakah Tuanku akan pergi?” bertanya pemimpin prajurit itu.

“Kenapa kau bertanya begitu?” Mahisa Wonga Teleng berganti bertanya, “aku menyadari kedudukanku. Dan aku mengerti apa yang sedang terjadi di istana ini. Karena itu aku tidak dapat memenuhi permintaan Mahisa Campaka.”

“Ampun Tuanku, jangan bertanya seperti itu. Hamba itu benar. Dan hamba hanya seorang perwira rendahan yang tidak dapat bersikap lain daripada menurut perintah.”

“Aku tidak menyalahkan kau. Aku sadar, bahwa aku tidak mempunyai pengaruh apapun di Singasari. Baik di dalam. pemerintahan maupun di bidang keprajuritan. Kakanda Anusapati selama ini menganggap aku sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Sedang Kakanda Tohjaya menganggap aku orang yang cukup berbahaya. Itulah sebabnya akhirnya aku terjepit di sini.”

“Ampun Tuanku. Tetapi jika Tuanku sekedar ingin mengantarkan putranda sebentar, hamba akan mengantarkan Tuanku langsung ke bangsal Tuan Putri Ken Dedes.”

“Kau akan mengawal aku sebagai seorang Adinda Maharaja di Singasari atau sebagai seorang tawanan?”

“Ampun Tuanku. Sebenarnyalah yang Tuanku katakan menjadi bingung. Sebenarnyalah hamba sedang mengemban tugas yang maha berat. Bukan karena tugas itu terlampau sulit, tetapi tugas itu benar-benar merupakan beban yang hampir tidak tertanggungkan pada perasaan hamba.”

“Dan kau sudah menyiapkan seekor ular weling.”

“Ampun Tuanku. Hamba mohon ampun. Sebenarnyalah hamba sedang menjalankan tugas.”

“Dan tugas itu sekarang hampir mencapai puncaknya.”

“Jangan bertanya kepada hamba,” sahut perwira itu, “hamba tidak akan dapat mengatakan apa-apa. Tuanku tentu tahu akan hal itu. Dan jika sekarang Tuanku ingin pergi, masih ada waktu sebentar.”

“Baiklah. Aku akan membawa Mahisa Campaka.”

“Baiklah, Tuan Putri tinggal di bangsal ini.”

“Sebagai tanggungan?”

“Ah. Bukan maksud hamba mengatakannya.”

Mahisa Wonga Teleng tersenyum masam. Katanya, “Aku mengerti.”

Prajurit itu menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merasa tugas yang dibebankan kepadanya adalah tugas yang sangat memberati hatinya. Bahkan ia mengeluh di dalam hatinya, “Jika aku bertugas semacam ini untuk waktu sebulan, aku tentu sudah menjadi gila karenanya.”

Dalam pada itu, maka Mahisa Wonga Teleng pun kemudian masuk ke dalam bangsalnya dan mengambil Mahisa Campaka sambil berbisik kepada istrinya, “Hati-hatilah di rumah. Jangan keluar sebelum aku datang.”

“Ada apa sebenarnya Kakanda?” bertanya istrinya.

“Tidak ada apa-apa. Nanti aku akan mengatakannya,” Mahisa Wonga Teleng berkata, “Aku akan segera kembali. Aku harap Ibunda sehat-sehat saja.”

Istrinya menganggukkan kepalanya. Namun tampak kecemasan merayap di wajahnya.

Mahisa Wonga Teleng pun kemudian membimbing Mahisa Campaka keluar bangsalnya. Pemimpin prajurit yang sudah siap menunggunya itu pun kemudian mengantarkannya bersama dua orang prajurit bawahannya.

Kedatangan Mahisa Wonga Teleng telah mengejutkan Ken Dedes yang tampak semakin tua dan kurus. Meskipun anaknya kini telah menjadi raja di Singasari, namun rasa-rasanya ada sesuatu yang selalu mengejarnya. Ia merasa bersalah sejak permulaan. Dan kadang-kadang ia merasa bahwa garis hidupnya dipenuhi oleh kemalangan dan kepahitan hati. Sejak kematian Wiraprana, sampai saat menjelang akhir hayatnya, Ken Dedes selalu dibayangi oleh kegelisahan. Di saat-saat Ken Arok mencapai puncak kejayaannya, Ken Umang merupakan bayangan yang paling buram di dalam hatinya. Kemudian disusul oleh peristiwa-peristiwa yang menyayat.

Sejenak Mahisa Wonga Teleng duduk bersama ibundanya. Tetapi tidak banyak yang dapat dikatakan selain tentang keselamatan ibundanya, karena prajurit yang mengawalnya rasa-rasanya berdiri di muka pintu bilik itu.

Ketika di luar langit menjadi gelap, maka Mahisa Wonga Teleng pun segera mohon diri untuk kembali ke bangsalnya.

Ken Dedes menjadi termangu-mangu. Ia melihat di wajah anaknya ada sesuatu yang akan dikatakannya. Tetapi agaknya tersangkut di kerongkongan. Karena itu, maka dengan ragu-ragu ia bertanya, “Mahisa Wonga Teleng, apakah ada sesuatu yang akan kau katakan? Apakah kau memang sekedar ingin menengokku?”

“Ampun Ibunda. Hamba sekedar ingin menengok Ibunda. Hamba berharap bahwa Ibunda menjadi semakin sehat.”

“Aku sehat Wonga Teleng. Tetapi aku memang menjadi semakin tua, sehingga aku hampir tidak pernah keluar dari bangsal. Dibanding dengan perempuan sebayaku, aku memang tampak terlalu tua.”

Mahisa Wonga Teleng tersenyum. Katanya, “Ibunda masih tetap muda seperti saat Ibunda melahirkan hamba.”

“Ah,” ibunya pun tersenyum, lalu, “jadi tidak ada persoalan yang akan kau sampaikan kepadaku?”

“Tidak Ibunda. Hamba memang sekedar ingin menengok Ibunda. Mahisa Campaka agaknya sudah rindu sekali dengan Ibunda.”

Ken Dedes mencium cucunya sambil berbisik, “Kau sekarang sudah hampir sebesar ayahandamu. Karena itu, kau tidak boleh nakal lagi Campaka.”

Mahisa Campaka menggeliat sambil menjawab, “Hamba Neneknda. Hamba sekarang sudah tidak nakal.”

“Bagus. Kau kelak akan menjadi seorang kesatria utama di Singasari bersama dengan Kakanda Ranggawuni.”

Mahisa Campaka tidak menjawab. Tetapi sambil bergayutan ayahandanya ia tersenyum.

Demikianlah Mahisa Wonga Teleng meninggalkan bangsal itu. Ibundanya menjadi heran. Ia melihat sesuatu yang terselip di hati putranya. Tetapi putranya tidak mengatakannya.

“Mungkin ia tidak sampai hati melihat aku yang sudah menjadi semakin tua,” berkata Ken Dedes di dalam hatinya.

Sepeninggal Mahisa Wonga Teleng, maka Ken Dedes pun duduk tepekur di tepi pembaringannya. Rasa-rasanya ada sesuatu yang ikut pergi bersama Mahisa Wonga Teleng, sehingga semakin lama ia justru menjadi semakin gelisah.

Di sepanjang langkahnya, Mahisa Wonga Teleng pun menjadi gelisah. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Prajurit-prajurit itu selalu mengawasinya apapun yang dikatakan oleh mereka. Betapa mereka merasa tersiksa oleh tugas mereka, namun mereka pasti akan tetap menjalankan tugas itu sebaik-baiknya. Jika mereka harus membunuh, apakah yang dibunuhnya Mahisa Wonga Teleng, atau istrinya atau anaknya, maka tugas itu tentu dilaksanakannya jika ia sendiri tidak ingin mati digantung oleh Tohjaya.

Dalam pada itu, ketika nyala lampu menjadi semakin terang di dalam setiap bilik, rasanya Ken Dedes melihat sesuatu di lantai biliknya. Semula ia tidak menghiraukannya. Tetapi akhirnya dipungutnya juga selembar lontar yang terletak di sebelah kaki pembaringannya.

Hampir di luar sadarnya ia membaca lontar itu. Namun bunyinya pun tidak menarik perhatian. Sekali lagi ia mengulang membaca, “Hulu cangkring itu akan disarungkan pada pokok pohon hidup di halaman istana besok ketika ayam jantan mulai bersabung.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ia menggelengkan kepalanya. Namun diletakkannya lontar itu di pembaringannya. Ia ingin bertanya kepada anak-anaknya yang mungkin datang kepadanya besok.

Selama itu Ken Dedes tidak lagi menghiraukan lontar yang berada di bawah alas pembaringannya. Ia menganggap bahwa lontar itu bagian dari kidung yang pernah dibaca oleh seseorang dan kemudian dituliskannya kembali, karena kalimat itu sangat menarik pada bagian ke seluruhan dari kidung itu, tetapi tidak berarti apa-apa baginya.

Demikian pula ketika matahari terbit di timur, Ken Dedes tidak segera teringat kepada lontar itu.

Yang diingatnya adalah sinar matahari yang cerah. Putra-putranya yang bermain di halaman dan burung-burung yang berkicau di pepohonan.

Sekali-kali teringat pula olehnya cucu-cucunya yang menjadi semakin besar mendekati usia remajanya. Ranggawuni dan Mahisa Campaka.

Ken Dedes yang duduk di muka bangsalnya berjemur di panasnya matahari pagi itu terkejut ketika seorang putranya berlari-lari mendekatinya.

“Ada apa Agnibhaya?” bertanya Ken Dedes.

“Ibunda, apakah hamba diperkenankan pergi ke taman Kakanda Tohjaya.”

“Kenapa?”

“Hari ini Kakanda Tohjaya menyelenggarakan sabung ayam besar-besaran. Ayam yang paling baik di Singasari akan bersabung. Hamba dan Kakanda Saprang akan pergi melihat sabung ayam itu.”

“Ah, jangan Agni. Kau di bangsal ini saja bersama Ibunda.”

“Bukankah hamba tidak akan pergi ke mana-mana, Ibunda. Masih di halaman istana. Hamba dengar Kakanda Anusapati juga akan datang ke arena sabung ayam.”

“Tetapi kau masih terlampau muda untuk melihat ayam jantan bersabung sehingga menitikkan darah.”

Agnibhaya bersungut-sungut. Ketika ia berpaling dilihatnya kakandanya di regol halaman sambil memberi isyarat agar adiknya segera turun.

Tetapi Angibhaya justru menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dengan siapa kau berbicara?” bertanya Ibundanya.

“Kakanda Saprang.”

“Katakan kepada Kakandamu, bahwa Ibunda tidak mengizinkan kalian pergi ke arena sabung ayam itu.”

Kedua putranya itu menjadi kecewa. Tetapi mereka adalah anak-anak yang patuh, sehingga karena itu, mereka tidak juga meninggalkan halaman. Dengan permainan yang ada mereka menghibur diri di halaman belakang. Bahkan kemudian mereka pun segera berlatih olah kanuragan untuk mengisi waktu.

Namun ternyata sabung ayam itu telah mengingatkan Ken Dedes kepada lontar yang dibacanya. Karena itu, ketika emban pemomong Anusapati yang kini selalu ada di sampingnya, datang kepadanya, maka katanya, “Ambillah lontar di bawah alas pembaringanku.”

“Lontar apa Tuanku? Hamba belum pernah melihat lontar di bawah alas pembaringan Tuan Putri,” jawab embannya.

“Baru kemarin sore aku meletakkannya. Hanya selembar.”

“Oh, bukan lontar berisi kidung, Tuanku?”

Ken Dedes menggelengkan kepalanya.

Emban itu pun kemudian masuk ke dalam bilik Ken Dedes. Emban itu memang menemukan selembar lontar di bawah alas pembaringan Ken Dedes.

Meskipun ia hanya seorang emban, tetapi sebenarnya ia adalah orang yang mula dipercaya oleh Ken Umang untuk membentuk Anusapati menjadi seorang yang lemah. Lahir dan batinnya. Tetapi ternyata emban itu telah gagal. Ada sesuatu yang menghalanginya untuk berbuat demikian. Bahkan Anusapati kemudian dirawatnya seperti anaknya sendiri.

Tanpa sesadarnya, emban itu pun membawa lontar yang ditemukan. Sebagai seorang yang mendapat kepercayaan dari Ken Umang, maka ia dapat juga membaca dan mengguratkan huruf pada lontar.

Namun tiba-tiba saja terasa keringatnya mengalir. Ia memiliki firasat yang justru lebih tajam dari Ken Dedes. Permaisuri itu sama sekali tidak mudah menjadi berprasangka meskipun ia mengalami beberapa kali bencana karena akal madunya. Namun ia tidak berpikir terlampau jauh tentang anak-anak keturunannya.

Emban itu dengan tergesa-gesa mendapatkan Ken Dedes yang masih duduk di serambi bangsalnya memandang dedaunan yang seakan-akan menjadi semakin cerah disentuh oleh cahaya matahari pagi.

“Tuan Putri,” berkata emban itu dengan nafas terengah-engah, “dari siapa Tuanku mendapat lontar ini?”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak tahu. Yang aku ketahui lontar itu tiba-tiba saja ada di bawah pembaringanku.”

“Tetapi siapakah yang masuk ke dalam bilik Tuanku.”

Ken Dedes merenung sejenak, lalu, “Mahisa Wonga Teleng. Ia datang bersama Mahisa Campaka.”

“Ampun Tuanku,” tiba-tiba saja emban itu bersimpuh di bawah kaki Ken Dedes, “Tuanku Anusapati harus segera mendengar berita lontar ini.”

“Apa maksudmu?”

“Menurut dugaan hamba lontar ini merupakan peringatan bagi Tuanku Anusapati, agar tidak datang ke arena sabung ayam.”

“Kenapa?”

“Agaknya Tuanku Mahisa Wonga Teleng telah mendengar sesuatu yang akan terjadi di arena. Tetapi Tuanku Mahisa Wonga Teleng tidak sempat menyampaikannya sendiri.”

Wajah Ken Dedes menjadi pucat. Demikian juga emban yang menganggap bahwa Anusapati sebagai anaknya sendiri. Yang diasuhnya sejak kanak-kanak, sehingga ia menjadi seorang maharaja di negara yang besar.

“Emban,” bertanya Ken Dedes, “kenapa kau menganggap bahwa lontar itu sebagai suatu peringatan bagi Ananda Anusapati?”

“Cobalah Tuan Putri perhatikan. Pada lontar ini tergurat kalimat, ‘Hulu cangkring itu akan disarungkan pada pokok pohon hidup di halaman istana besok ketika ayam mulai bersabung’. Dan hari ini, Tuanku Tohjaya mengadakan sabung ayam yang terbesar yang pernah diselenggarakan.”

Emban itu berhenti sejenak, lalu, “Tuan Putri, bukankah keris Empu Gandring itu berhulu kayu cangkring. Dan siapakah sebenarnya pokok pohon hidup bagi Singasari yang besok akan mengunjungi arena sabung ayam. Maksudnya, hari ini.”

“Emban,” wajah Ken Dedes menjadi semakin pucat. Lalu, “Jadi maksudmu bahwa keris Empu Gandring itu akan disarungkan hari ini?”

Emban itu tidak segera menjawab.

“Jika demikian, sebaiknya Anusapati segera diberi tahu. Perintahkan kepada seorang pengawal untuk memanggil Anusapati menghadap aku sejenak, atau aku yang harus menghadapnya.”

“Tuan Putri,” berkata emban itu dengan ragu-ragu, “sebenarnyalah hamba ragu-ragu mengatakan, bahwa hamba menaruh curiga kepada setiap pengawal. Mereka selalu memandang ke pintu bangsal ini. Mereka berada di segala sudut rumah dan halaman. Jika seandainya Tuanku memerintahkan seorang pengawal, hamba sangsi apakah pesan Tuan Putri akan disampaikan.”

“Jadi bagaimana sebaiknya menurut pendapatmu, emban?”

“Biarlah hamba saja yang pergi Tuan Putri.”

Ken Dedes termangu-mangu sejenak, lalu, “Baiklah, pergilah. Dan bawalah lontar ini. Kau tahu apa yang harus kau kerjakan di bangsal putraku.”

“Hamba Tuan Putri. Perkenankanlah hamba pergi.”

Demikianlah maka emban itu pun segera keluar dari bangsal permaisuri. Agar tidak menumbuhkan kecurigaan apapun, maka emban itu berjalan dengan langkah yang wajar. Dibawanya seorang emban lain yang masih muda dan cantik.

“Apakah yang harus aku lakukan bibi?” bertanya emban yang masih muda itu.

“Tidak apa. Kau hanya berjalan saja mengawani aku. Dan sekali-kali kau boleh tersenyum kepada para pengawal. Tetapi hanya tersenyum saja. Tidak boleh lebih daripada itu.”

Emban yang masih muda itu tertawa sambil mencubit lengan emban tua yang mengajaknya.

“He, sakit,” emban pemomong Anusapati itu mengaduh. Keduanya pun kemudian meninggalkan halaman bangsal Ken Dedes. Seperti yang dikatakan oleh pemomong Anusapati, maka di regol emban itu pun tersenyum kepada para pengawal yang menghentikan langkah mereka.

“Mau ke mana?” bertanya pemimpin penjaga.

“He, apakah hakmu menghentikan aku? Aku adalah emban yang bertugas melayani Tuan Putri.”

“Aku tahu, sekarang kau akan pergi ke mana?”

“Kepada putranda Tuanku Ken Dedes, Tuanku Anusapati. Hamba mengemban pesan Tuan Putri, bahwa Tuan Putri sangat mengharap kedatangan Tuanku Anusapati di bangsalnya, karena tubuh Tuan Putri menjadi semakin lemah.”

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tuanku Anusapati tentu tidak berada di bangsalnya.”

“Jadi ke mana?”

“Tuanku Anusapati akan mengunjungi sabungan ayam di arena.”

Dada emban itu menjadi berdebar-debar. Tetapi dicobanya untuk tetap tenang dan berkata, “Ah, biarlah Tuanku Anusapati pergi. Aku dapat berpesan kepada para pengawal dan pelayan. Bahkan aku akan dapat menghadap Tuanku Permaisuri dan menyampaikan pesan Ibundanya.”

Pemimpin prajurit itu tidak menjawab lagi. Dibiarkannya saja emban itu lewat. Tetapi ia sempat tersenyum ketika emban muda yang cantik itu tersenyum pula kepadanya.

Sebenarnya emban tua itu tidak lagi dapat bersabar. Rasanya ia ingin meloncat dan berlari ke bangsal Anusapati untuk mencegah agar Anusapati tidak pergi ke arena sabung ayam.

“Mudah-mudahan Tuanku Anusapati masih belum berangkat.”

Tetapi emban itu tidak dapat benar-benar berlari. Jika demikian tentu akan segera timbul kecurigaan. Sehingga karena itu, betapa hatinya bergelora tetapi ia tetap saja berjalan seperti biasanya.

Apalagi ketika ia sudah melihat regol bangsal yang dipergunakan oleh Maharaja Singasari. Darahnya serasa menggelegak dan didorongnya untuk terbang ke dalam bangsal itu.

Tetapi emban itu masih harus berhenti di regol. Prajurit yang bertugas di regol itu pun menghentikannya sambil bertanya, “He, kau akan ke mana?”

“Aku adalah emban Tuanku Ken Dedes. Aku harus menghadap Tuanku Anusapati.”

Prajurit itu termangu-mangu sejenak, namun kemudian, “Tuanku Anusapati tidak berada di dalam bangsal.”

Jawaban itu benar-benar telah menggetarkan jantung emban pemomong Anusapati yang kemudian berada di bangsal Ken Dedes itu. Namun ia masih tetap sadar, bahwa ia tidak dapat menunjukkan gejolak perasaannya itu. Karena itu ia masih bertanya lagi, “Apakah kau berkata sebenarnya, atau sekedar berolok-olok.”

“Aku berkata sebenarnya. Tuanku Anusapati sedang melihat sabung ayam terbesar yang pernah diselenggarakan di halaman istana ini.”

“Tetapi, apakah Tuanku sudah lama pergi?”

“Belum terlalu lama.”

“Dengan siapa Tuanku Anusapati pergi?”

“Dengan siapa?”

“Kau ini seperti orang linglung. Tentu dengan beberapa orang pengawal.”

Emban itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Apakah aku dapat masuk?”

“Untuk apa. Sudah aku beri tahu bahwa Tuanku Anusapati tidak ada di bangsal.”

“Aku akan menghadap Tuanku Permaisuri.”

Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun emban itu bukan orang yang pantas dicurigai. Sehingga karena itu, maka akhirnya ia mengangguk sambil berkata, “Cepat. Kau harus segera pergi dari bangsal ini.”

“Kenapa tergesa-gesa?” emban yang masih muda itulah yang bertanya, “apa salahnya kalau aku berada di sini agak lama?”

Prajurit itu membelalakkan matanya. Tetapi karena emban yang cantik itu tersenyum, maka ia pun tersenyum pula, “Masuklah. Terserahlah kepada kalian.”

Keduanya pun kemudian masuk ke regol halaman bangsal induk istana Singasari. Setelah melalui longkangan sempit, maka mereka pun berada di serambi belakang dari bangsal itu.

Lewat emban dan seorang pelayan dalam, maka emban pemomong Anusapati itu pun berhasil menghadap Permaisuri Tetapi sebenarnyalah Anusapati sudah pergi.

“Apakah ada persoalan yang penting yang kau bawa dari Ibunda, emban?” bertanya Permaisuri itu.

Emban itu menjadi termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak dapat mengatakan kecemasan yang sedang disandang, karena ia tidak tahu pasti apa yang akan terjadi.

“Tuan Putri,” berkata emban itu kemudian, “tidak ada hal yang penting yang harus hamba sampaikan kepada Tuanku, selain kerinduan Ibunda Tuanku yang kesehatannya menjadi semakin mundur itu.”

“Oh, baiklah. Aku akan mengatakannya kepada Kakanda Anusapati jika Kakanda sudah kembali dari arena. Adinda Tohjaya pagi ini mohon agar Kakanda Anusapati tidak berkeberatan untuk menyabung ayam. Meskipun Kakanda Anusapati tidak pernah melakukannya, tetapi dipenuhinya juga permohonan Adinda Tohjaya itu.”

Emban itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi dalam pada itu, dengan segenap kemampuannya, ia berusaha untuk tidak mengesankan kegelisahan yang terasa semakin mengganggu jantungnya.

“Jika demikian Tuanku,” berkata emban itu, “perkenankanlah hamba kembali kepada Ibunda Tuanku, dan menyampaikan pesan Tuan Putri, bahwa Tuan Putri akan menyampaikan hal ini kepada Tuanku Anusapati.”

“Oh, baiklah. Sampaikan kepada Ibunda, bahwa Kakanda Anusapati, aku dan cucunda Ranggawuni menyampaikan baktinya dan tentu kami akan segera menghadap.”

Permaisuri itu tertegun sejenak, lalu, “Tetapi apakah kesehatan Ibunda menjadi sangat mundur akhir-akhir ini?”

Emban itu termangu-mangu, lalu, “Demikianlah Tuan Putri, tetapi juga tidak terlampau mencemaskan.”

“Baiklah. Jika Kakanda Anusapati tidak terlibat dalam kesibukan yang tidak dapat ditinggalkan, kami akan menghadap hari ini.”

Demikianlah emban itu pun kemudian mohon diri dan meninggalkan bangsal itu. Di regol ia terpaksa berhenti lagi betapa hatinya dicengkam oleh kegelisahan.

“Kenapa kau cepat pergi?” bertanya prajurit yang bertugas.

“Keperluanku sudah selesai.”

“Katanya kau akan tinggal di sini cukup lama.”

“Tidak.”

“Tadi, kawanmu itu yang mengatakannya.”

Emban yang masih muda dan cantik itu menyahut, “Semuanya sudah selesai. Keperluan kami sudah selesai. Kami sudah menghadap Tuanku Permaisuri.”

“Kau tidak tinggal di sini saja? Sebaiknya kau pindah saja dari bangsal Ibu Suri itu ke bangsal ini.”

“Baik.”

“Bagaimana?”

“Ya.”

“He, kenapa kau bilang baik dan kemudian ya.”

“Ya, baik juga pindah kemari.”

Prajurit itu tidak sempat bertanya lagi ketika emban itu kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan regol.

“Emban itu memang cantik,” desis prajurit yang lain ke telinga kawannya yang memandang langkah emban itu dengan tanpa berkedip.

“Ya, ya,” ia menjadi tergagap, “emban itu memang cantik dan muda.”

Dalam pada itu kedua emban yang baru saja meninggalkan bangsal Maharaja Singasari itu pun termangu-mangu sejenak. Emban pemomong itu ragu-ragu untuk kembali kepada Ken Dedes. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan apapun untuk berbuat sesuatu, karena ia tidak lebih dari emban pemomong.

“Ke mana lagi kita akan pergi?” bertanya emban yang masih muda.

Emban pemomong itu menarik nafas dalam-dalam sambil berdesah, “Aku menjadi bingung.”

“Kenapa?”

Sejenak ia terdiam, namun kemudian katanya, “Tidak apa-apa.”

“Lalu, ke mana kita sekarang?”

Sejenak emban pemomong itu merenung, lalu, “Kita pergi ke bagian sebelah dari istana ini.”

“Ke belahan Tuanku Ken Umang?”

“Ya.”

“Lebih baik tidak. Emban-emban di sana tinggi hati. Mereka menganggap kita yang berada di lingkungan Tuanku Ken Dedes adalah orang-orang yang bodoh atau barangkali tidak berharga.”

“Itu dahulu. Tetapi sejak Tuanku Anusapati menggantikan kedudukan Tuanku Sri Rajasa, keadaannya sudah berubah.”

“Tetapi sikap mereka tidak berubah. Ireng hampir saja berkelahi dengan emban Tuanku Ken Umang yang berwajah seperti keledai.”

“Kenapa?”

“Rasa-rasanya ia adalah orang yang paling cantik di muka bumi, dan mengolok-olok Ireng yang kulitnya memang hitam. Tetapi Ireng memang seorang yang berhati keras. Tanpa banyak bicara, emban itu diterkam sanggulnya. Jika tidak dipisah, emban itu akan digigit telinganya sampai putus.”

Betapapun hatinya dicengkam kegelisahan, tetapi emban pemomong itu tersenyum juga. Katanya, “Kita tidak akan berkelahi. Biarpun mereka bersikap buruk terhadap kita, kita tidak akan berbuat apa-apa.”

Emban yang cantik itu tidak menyahut lagi. Tetapi sebenarnya ia tidak senang pergi ke bagian istana yang dihuni oleh keluarga Sri Rajasa yang lain itu.

Sebenarnyalah bahwa suasananya agak berbeda. Sifat Ken Dedes dan Ken Umang, masing-masing telah mempengaruhi sikap para emban dan pelayan. Ken Umang yang merasa dirinya lebih awet muda, lebih cerdik dan banyak kelebihan-kelebihan yang lain, berpengaruh pula atas emban-embannya.

Tetapi emban pemomong Anusapati itu sama sekali tidak menghiraukan sikap mereka. Perlahan-lahan ia mendekati arena untuk melihat, apakah benar Anusapati ada di arena itu.

Dengan dada yang berdebar-dehar ia melihat beberapa orang mengerumuni arena. Begitu pepetnya, sehingga ia tidak dapat melihat, apakah Anusapati ada di antara mereka.

“Mereka tidak mengenal sopan santun lagi,” berkata emban itu di dalam hatinya, “mereka tidak lagi menghormati Maharaja Singasari.”

Tetapi emban itu hanya dapat menahan perasaannya. Dari kejauhan ia melihat ciri-ciri kebesaran Maharaja Singasari. Sebuah tombak pusaka yang berhiaskan sehelai kain berwarna kuning. Sebuah payung kebesaran dan dua batang tombak pengiring. Tetapi yang tampak pada emban itu hanyalah ujung-ujungnya saja.

Di arena sabung ayam, maka semua adat dan tata kesopanan seakan-akan sudah terlupakan. Setiap orang berbuat seperti yang terloncat di dalam hatinya. Berteriak, melonjak di dalam saat kegirangan dan mengaduh seperti orang tertusuk perutnya, di saat mereka kecewa melihat ayam yang dipertaruhkan mengecewakannya.

“Apakah kita akan mendekat?” bertanya emban yang cantik itu.

Tetapi sebelum emban pemomong Anusapati menjawab, seorang pelayan dalam yang tanpa mereka ketahui sudah ada di dekat mereka berkata, “He, bukankah kalian emban dari seberang.”

Emban pemomong Anusapati itu terkejut. Hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Maksudmu?”

“Maksudku dari seberang regol pemisah.”

“Aku adalah emban dari istana Singasari. Yang manapun juga.”

Pelayan dalam itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum, “Pelayan Tuan Putri Ken Dedes memang cantik-cantik meskipun Tuan Putri sendiri tidak cantik.”

“Diam!” emban yang cantik itu tiba-tiba saja membentak, “kau memang tidak sopan. Apakah semua pelayan dalam dan para emban di bagian ini sengaja diajari untuk berlaku tidak sopan?”

“Sst,” emban yang tua mencegahnya sambil berdesis, “sudahlah. Kita tidak usah menghiraukannya.”

Pelayan dalam itu masih saja tertawa. Katanya, “Kau galak sekali. Tetapi biasanya orang yang galak seperti kau itu sangat menarik perhatian. Kau tentu hangat juga di dalam bercinta.”

Hampir saja emban yang cantik itu menampar mulut pelayan dalam itu. Tetapi emban pemomong yang tua itu mencegahnya. Katanya, “Sudahlah. Kita tidak mempunyai sifat seperti sifat pelayan dalam itu. Marilah kita kembali.”

Emban itu tidak menunggu lagi. Dibimbingnya emban yang muda itu seperti membimbing anaknya yang nakal sedang marah.

Dengan tergesa-gesa keduanya bermaksud kembali ke bangsal Ken Dedes. Tetapi kini emban pemomong Anusapati itu sudah dapat menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi. Seakan ada firasat di dalam hatinya, bahwa prajurit-prajurit yang ada di bagian lain dari istana itu pun sebenarnya telah dikuasai oleh Tohjaya. Apalagi ketika terlihat olehnya, beberapa orang panglima ada di sekitar arena itu pula.

“Oh, agaknya bencana memang akan menimpa Singasari,” katanya di dalam hati, “dalam keadaan seperti ini, Tuanku Mahisa Agni harus hadir.”

Tetapi emban itu sama sekali tidak mempunyai cara yang dapat dipergunakannya untuk menyampaikan persoalan yang sedang dihadapi oleh Singasari ini kepada Mahisa Agni yang berada di Kediri.

Dengan ragu-ragu emban itu melintasi regol yang memisahkan bagian istana yang seakan-akan dihuni oleh keluarga Sri Rajasa yang dilahirkan oleh Ken Dedes, dengan keluarga yang berdarah Ken Umang. Namun mereka harus berhenti ketika seorang prajurit bertanya, “Akan ke mana kalian berdua?”

Emban itu menyahut, “Kembali. Kembali ke tugasku.”

“Kenapa kau kemari?”

“Mencari Tuanku Agnibhaya,” sahut emban itu asal saja.

“Tuanku Agnibhaya tidak berada di sini.”

“Karena itu aku akan kembali. Ibundanya, Tuanku Ken Dedes mencarinya. Pagi-pagi Tuanku Agnibhaya pergi ke gelanggang.”

“Tidak ada di gelanggang,” terdengar suara di belakang emban itu. Ketika ia berpaling, dilihatnya seorang anak laki-laki yang meningkat dewasa memandanginya dengan tajamnya.

“Oh, Tuanku Panji Sudhatu,” emban itu membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Yang berdiri di belakangnya itu adalah putra Sri Rajasa dari istrinya Ken Umang. Adik Tohjaya yang mulai berkuasa di Singasari meskipun belum dengan terbuka.

“Kau akan kembali ke bangsal Ibunda Ken Dedes?” bertanya Panji Sudhatu.

“Hamba Tuanku.”

“Baiklah. Katakan kepada Ibunda Ken Dedes, bahwa Kakanda Anusapati sedang bersabung ayam. Suatu kegemaran baru baginya. Jika ia menang, maka ia akan menjadi semakin kaya raya, karena yang hadir di arena saat ini adalah saudagar-saudagar yang paling kaya di Singasari.”

“Jika kalah?”

“Tidak ada pengaruhnya. Tidak seorang pun yang berani menuntut hak kemenangannya atas Kakanda Anusapati, karena Kakanda Anusapati adalah seorang Maharaja yang berkuasa.”

Sudhatu berhenti sejenak, lalu, “He, bukankah engkau emban pemomongnya semasa Kakanda Anusapati masih muda? Nah, agaknya kaulah yang mendidiknya sehingga Kakanda Anusapati dapat menjadi seorang besar seperti sekarang ini.”

“Ah,” emban itu menjadi berdebar-debar.

“Dan bukankah semuanya itu atas jasa Ibunda Ken Umang. Bukankah Ibunda Ken Umang yang meletakkan kau di bangsal Ibunda Ken Dedes saat Kakanda Anusapati kecil? Aku telah mendengar semuanya. Mendengar cerita tentang kau, tentang pengkhianatmu dan tentang seribu satu macam persoalan yang sebenarnya.”

Emban itu sama sekali tidak menjawab, selain menundukkan kepala.

“Dan sekarang agaknya kau akan menyesali pengkhianatanmu itu. Tetapi sudah terlambat. Kau tidak akan dapat berada di dalam lingkungan kami. Dan kami sama sekali tidak cemas, jika kau mengatakan persoalanmu yang sebenarnya kepada siapa pun juga.”

Emban itu masih tetap berdiam diri.

“Pergilah. Kakanda Agnibhaya tidak ada di sini.”

Emban itu menunduk dalam-dalam.

“Nah, pergilah!”

Dengan dada yang berdebar-debar emban itu meninggalkan regol pemisah itu. Ketika ia menginjak bagian yang lain dari halaman istana, rasa-rasanya hatinya menjadi dingin. Tetapi ketika dilihatnya dua orang prajurit pengawal lewat dan memandanginya dengan penuh curiga, maka terasalah, bahwa istana Singasari memang sudah dipanggang di atas bara.

“Terlambat,” desis emban itu kepada diri sendiri.

“Apa yang terlambat,” emban yang masih muda itu bertanya.

“Tidak. Tidak ada apa-apa.”

Keduanya pun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa ke bangsal Ken Dedes. Tetapi emban itu telah memutuskan di dalam hatinya, bahwa ia tidak akan mengatakan apapun juga kepadanya, agar permaisuri yang sudah menjadi semakin tua dan lemah itu tidak terguncang hatinya.

Dalam pada itu, di arena, suasananya menjadi semakin panas. Meskipun ayam jantan yang disebutnya paling baik itu masih belum diturunkan di arena, namun para penonton di sekitar arena sudah mulai berteriak-teriak melihat ayam-ayam jantan yang terdahulu bersabung dengan sengitnya.

Anusapati sendiri, yang tidak biasa melihat sabung ayam, menjadi berdebar-debar. Darah yang mengucur dari luka-luka di kepala membuatnya gelisah. Meskipun ia seorang senapati di peperangan, namun melihat darah di kepala dua ekor ayam itu rasa-rasanya hatinya tertekan.

Tetapi ia tetap duduk di tempat yang disediakan. Ia harus menunggu sampai ayam jantan yang paling baik di seluruh Singasari itu dilepaskan di gelanggang.

Betapapun ia merasa tidak senang berada di antara suara yang kisruh di dalam arena, maka Anusapati itu pun harus menahan diri.

Namun dalam pada itu, Anusapati merasakan pula sesuatu yang asing di dalam hatinya. Sebagai maharaja, ia selalu dihormati. Kata-katanya diterima tanpa persoalan dan semua perintahnya terlaksana. Tetapi di dalam suasana arena sabung ayam, seakan-akan semuanya itu tidak berlaku. Orang-orang yang ada di sekitar arena, di dalam gejolak arus perasaan mengikuti gerak dan sikap ayam yang sedang bersabung itu, mereka sama sekali tidak menghiraukan kehadiran seorang maharaja.

Tetapi Anusapati bukan seorang yang kasar. Yang membentak-bentak apabila ia tersinggung. Bahkan Anusapati mencoba untuk mengerti suasana di arena sabung ayam itu.

Meskipun kadang-kadang jantungnya serasa terhenti melihat ujung-ujung taji yang menyobek kulit ayam yang sedang bersabung, kemudian darah yang memancar dari luka itu, namun ada semacam dorongan di hatinya untuk setiap kali melihatnya. Jika dua ekor ayam jantan selesai bersabung karena salah seekor di antaranya sudah koyak oleh pisau yang dipasang di kaki ayam-ayam jantan itu, maka di arena diturunkan lagi dua ekor ayam jantan yang terpilih, setelah pada kakinya masing-masing dipasang taji yang tajam, keduanya pun dilepaskan di gelanggang untuk sebentar kemudian salah seekor di antaranya mati pula di arena.

Dalam pada itu, emban pemomong Anusapati pun kemudian dengan ragu-ragu memasuki bangsal. Di ruang depan, ketika dilihatnya, Ken Dedes masih menunggunya, hatinya menjadi semakin berdebar-debar.

“Di manakah Anusapati emban?” bertanya Ken Dedes dengan serta-merta.

Emban itu pun kemudian merayap maju dan duduk di sisi Ken Dedes. Dengan suara yang patah-patah, maka jawabnya, “Hamba melihat Tuanku berada di arena.”

“Kau tidak menyampaikan pesan agar ia segera datang kemari?”

Emban itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tuanku, suasana sabung ayam itu sama sekali tidak menyenangkan. Apalagi bagi seorang perempuan. Karena itu hamba tidak berani mendekat. Tetapi hamba melihat tanda kebesaran Tuanku Anusapati.”

“Tadi, bagaimana dengan lontar itu?”

“Hamba tidak tahu dengan pasti Tuanku. Tetapi jika ada cara lain, barangkali Tuan Putri dapat memanggil Tuanku Anusapati.”

“Jadi menurut pertimbanganmu, apakah ia harus dipanggil sekarang?”

“Itulah yang hamba tidak dapat mengatakannya. Tuanku adalah seorang Maharaja. Karena itu, maka yang dapat Tuan Putri lakukan sebenarnya hanyalah sekedar memberikan pesan.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya dengan nada datar, “Aku mengerti emban. Aku memang tidak berhak memanggilnya, karena ia seorang Maharaja. Tetapi aku adalah seorang ibu. Aku merasa bahwa sesuatu akan terjadi dengan anakku.”

Emban itu melihat setitik air mengambang di pelupuk mata Ken Dedes. Mata yang sudah terlampau sering menitikkan air mata.

“Tuan Putri,” berkata emban itu kemudian, “hamba memang tidak berani mendekati arena, apalagi masuk ke dalam lingkungan para penonton sabung ayam yang kasar itu. Juga karena hamba merasa, bahwa hamba telah mengkhianati Tuan Putri Ken Umang di saat-saat Tuanku Anusapati masih remaja. Karena itulah, maka hamba hanya dapat melihat dari kejauhan saja apa yang telah terjadi. Namun hamba mengerti bahwa Tuanku Anusapati sebaiknya diberitahukan tentang sesuatu agar Tuanku Anusapati meninggalkan arena. Mungkin Tuanku dapat menyampaikan pesan atau sekedar pemberitahuan bahwa Tuanku sakit keras.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Panggillah Agnibhaya.”

Emban itu termangu-mangu sejenak.

“Biarlah Agnibhaya menghadap Kakandanya dan menyampaikan pesan yang sekedar memberitahukan bahwa aku sakit keras. Tetapi aku akan berbaring dahulu di pembaringan, sehingga Agnibhaya benar-benar mendapat kesan, bahwa aku memang sakit, karena anak itu tidak akan dapat berbohong sama sekali.”

“Baiklah Tuan Putri. Marilah Tuanku berbaring, dan biarlah hamba memanggil Tuanku Agnibhaya.”

Ken Dedes pun kemudian berbaring di pembaringannya. Sejak ia membuat dirinya sendiri seperti orang sakit di saat Sri Rajasa masih hidup, rasa-rasanya badannya memang selalu sakit-sakitan. Karena itulah, maka kesan yang tampak pada Ken Dedes itu, seakan-akan Ken Dedes memang sedang sakit keras.

Agnibhaya yang kemudian dipanggil oleh emban itu pun terkejut melihat Ibundanya berbaring, berselimut rapat dengan mata yang agak redup.

“Ibunda,” desis Agnibhaya, “bukankah baru saja Ibunda duduk di ruang depan?”

“Ya Agnibhaya. Tetapi rasa-rasanya badanku kini lemah sekali. Sampaikan kepada Kakandamu di arena, bahwa Ibunda sakit keras. Terserah kepadanya, apakah ia dapat meninggalkan arena itu atau tidak.”

Agnibhaya menjadi termangu-mangu. Ia pun mengerti bahwa Ibundanya memang menjadi sakit-sakitan di saat-saat terakhir. Karena itu maka ia tidak bertanya lebih banyak lagi. Segera ia minta diri dan pergi ke arena sabung ayam itu.

Di halaman langkahnya terhenti ketika pemimpin prajurit yang mengawal bangsal itu bertanya, “Tuanku Agnibhaya. Apakah Tuanku akan pergi ke arena?”

“Ya,” jawab Agnibhaya singkat, “Ibunda sakit keras.”

“Biarlah kedua prajurit pengawal itu mengawal, Tuanku.”

“Aku tidak memerlukan pengawal. Bukankah aku tidak akan keluar dari istana?”

“Tetapi Tuanku adalah putra seorang maharaja besar di Singasari. Dan kini Tuanku adalah dinda seorang maharaja yang menggantikan ayahanda Tuanku. Jika Tuanku pergi ke arena, dan ada orang lain yang melihat bahwa Tuanku tidak berpengawal meskipun itu atas kehendak Tuanku sendiri, agaknya kurang baik bagi Singasari. Seolah-olah Singasari tidak menghormati kepada keluarga maharaja.”

Agnibhaya sama sekali tidak berprasangka. Karena itu maka ia tidak berkeberatan sama sekali seandainya kedua orang itu mengikutinya.

Demikianlah maka dengan tergesa-gesa Agnibhaya pun meninggalkan bangsalnya menuju ke arena. Di sepanjang langkahnya Agnibhaya hampir tidak berbicara sama sekali, sedang kedua prajurit yang mengawalnya pun mengikutinya saja dengan langkah-langkah panjang.

Sementara itu. di arena sabung ayam, semua orang seolah-olah terpukau oleh pertarungan setiap ayam jantan yang dilepaskan di arena. Sekali-kali terdengar teriakan para penonton yang meledak. Namun kemudian terdengar desah kekecewaan dan penyesalan jika ayam di arena itu membuat kesalahan.

Tetapi ayam-ayam yang bersabung di arena itu sama sekali tidak memedulikan penonton-penontonnya. Mereka turun ke gelanggang dengan satu di antara dua pilihan. Hidup atau mati. Dan kematian-kematian yang menjemput ayam-ayam jantan yang kalah itu agaknya memberikan kegembiraan kepada orang-orang yang berada di seputar arena yang semakin lama semakin banyak digenangi dengan darah.

Semakin lama Anusapati menjadi semakin pening melihat perkelahian berdarah itu. Ia sendiri adalah seorang prajurit. Tetapi agaknya hatinya lebih tenang mengalami pertempuran di arena peperangan daripada duduk melihat ayam bersabung di arena aduan itu.

Ketika keringatnya telah membasahi seluruh tubuhnya, maka barulah Tohjaya berdiri dan mengumumkan kepada setiap orang di arena, bahwa segera akan diturunkan ayam jantan yang paling baik di arena.

Anusapati yang sudah jemu berada di arena itu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya sabung ayam itu sudah mendekati akhirnya. Jika kedua ayam yang disebutnya ayam jantan yang paling baik itu sudah selesai bersabung, maka ia akan dapat meninggalkan arena itu, sehingga adiknya itu tidak akan menjadi kecewa.

Namun rasa-rasanya ada sesuatu yang bergetar di dadanya. Getaran yang aneh yang terasa sejak ia akan meninggalkan bangsalnya. Semacam firasat yang suram telah membayanginya.

Anusapati menjadi termangu-mangu. Ia tidak tahu kenapa ketika ia berangkat ke arena, istrinya menggenggam tangannya erat-erat. Dan ia juga tidak mengerti, kenapa ia melarang Ranggawuni untuk ikut bersamanya.

“Aku bermimpi buruk Kakanda,” desis istrinya di muka pintu.

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ada hubungannya antara mimpi buruk dan kegelisahan di dalam hatinya.

“Hanya sebuah prasangka, justru karena keris itu masih berada di tangan Adinda Tohjaya,” Anusapati mencoba untuk menenangkan hatinya sendiri.

Tetapi ia tidak dapat ingkar. Ada sesuatu yang lain di dalam hatinya saat ia melihat Tohjaya berdiri, dan kemudian berbicara dengan orang-orang yang berada di sekitar arena.

“Inilah ayam jantan yang paling baik yang ada di Singasari,” katanya sambil mengangkat seekor ayam jantan. Lalu, “Dan itulah keseimbangannya. Ayam yang tidak kalah baik dari ayam yang pertama. Di arena ini kita akan menentukan, yang manakah yang paling baik dari keduanya.”

Terdengar suara riuh di antara para penonton. Meskipun ada di antara mereka bangsawan, para senapati dan orang-orang kaya, tetapi seolah-olah tingkah mereka di arena sama sekali sudah berubah. Bahkan hanya apabila mereka ingat saja mereka menghormati kehadiran maharajanya. Tetapi jika ayam yang sedang bersabung itu hampir menentukan akhir dari setiap sabungan, maka mereka sudah melupakan, bahwa Anusapati ada di antara mereka.

Dalam kecemasan itu tanpa sesadarnya Anusapati memandang keris yang berada di punggung Tohjaya. Keris itu adalah keris yang bagus, wrangkanya berukiran lembut dan berlapis emas, sedang hulunya berwarna cokelat berbentuk kepala seekor ular berbulu di atas sepasang tanduk kecil.

“Sebilah keris yang sangat bagus,” desis Anusapati di dalam hatinya. Tetapi keris itu sama sekali tidak mencemaskannya seperti seandainya Tohjaya membawa sebilah keris yang hulunya sekedar terbuat dari kayu cangkring yang masih belum dibentuk sama sekali, karena keris itu adalah keris buatan Empu Gandring.

Demikian, maka sejenak kemudian ayam jantan yang paling baik dari Singasari itu pun diturunkannya ke arena. Berbeda dengan ayam jantan yang terdahulu, yang pada kakinya dipasang sebilah pisau kecil yang dengan cepat dapat mengakhiri setiap pertarungan, maka bagi kedua ayam jantan yang disebut oleh Tohjaya sebagai ayam yang paling baik itu, sama sekali tidak dipergunakan pisau itu.

“Ayam-ayam jantan itu adalah ayam jantan yang sudah memiliki taji yang baik, panjang dan setajam ujung pisau. Karena itu biarlah mereka berkelahi menurut kemampuan yang ada pada mereka tanpa mempergunakan apapun juga,” berkata Tohjaya sambil berdiri di tengah-tengah arena.

Semua orang yang berada di sekitar arena itu memandanginya dengan heran. Adalah tidak biasa mereka lakukan menyabung ayam tanpa pisau di kaki. Dengan demikian maka pertarungan itu akan memiliki bentuk yang berbeda, sehingga mereka yang biasa bertaruh dengan sejumlah uang yang besar pun menjadi ragu-ragu.

“Nah,” berkata Tohjaya, “kalian akan melihat sesuatu yang baru di arena sabung ayam. Lihatlah apa yang akan terjadi pada ayam-ayam itu nanti. Pertarungan akan berlangsung lebih lama dan itulah sebenarnya pertarungan jantan yang sebenarnya.”

Beberapa orang masih tetap ragu-ragu.

“Nah, yang akan bertaruh, bertaruhlah.”

Orang-orang yang biasa bertaruh itu pun mulai menilai kedua ekor ayam jantan yang sudah dibawa ke dalam gelanggang. Tetapi mereka tidak berani bertaruh seperti biasanya. Karena itulah maka beberapa orang menjadi kecewa. Mereka menunggu ayam jantan yang disebut paling baik dari Singasari itu, dan mereka pun telah bersedia bertaruh dengan taruhan yang besar. Tetapi karena pertarungan itu tidak berlangsung seperti biasanya, maka pertaruhan itu pun terasa dilambari oleh perasaan bimbang.

Tetapi Tohjaya tidak menghiraukannya lagi. Diperintahkannya melepaskan dua ekor ayam jantan yang akan bersabung tanpa mempergunakan pisau seperti kebiasaan di dalam arena sabung ayam.

Begitu kedua ekor ayam itu dilepaskan, maka keduanya bagaikan meloncat sambil menengadahkan kepalanya. Berganti-ganti mereka berkokok dengan garangnya. Beberapa saat keduanya berjalan berputar-putar, seakan-akan sedang menilai lawannya sambil menunjukkan kelebihan diri sendiri.

Sejenak kemudian maka kedua ayam itu pun saling merundukkan kepalanya. Mulailah bulu-bulu leher mereka berdiri tegak, dan mulailah keduanya menyentuh lawannya dengan ujung paruh mereka.

Demikianlah maka kedua ekor ayam jantan itu pun mulai bersabung. Mereka saling mematuk dan saling menghantam dengan sayap dan taji masing-masing. Semakin lama menjadi semakin sengit. Kadang-kadang leher mereka saling membelit, namun kemudian paruh mereka mematuk kulit kepala yang menjadi luka dan berdarah.

(bersambung ke jilid 5).

Koleksi: Ki Ismoyo
Scanning: Ki Arema
Retype: Ki Sunda
Proofing: Ki Sunda
Rechecking/Editing:

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s