NSSI-02


kembali | lanjut >>

I

Mendengar jawaban itu, mendadak tangis Nyi Wirasaba terputus karena terkejut. Ia tidak begitu mengerti maksud jawaban suaminya, dan karena itu ia bertanya kepada Ki Wirasaba, “Apakah maksudmu, Kakang?”

“Nyai,” Ki Wirasaba menjelaskan, “kalau kau dibebaskan oleh Samparan dan kawan-kawannya setelah kau menyerahkan dirimu, maka kau tidak berhak lagi kembali kepadaku. Tetapi kalau ada orang lain yang membebaskan engkau, Nyai, maka akulah yang tidak berhak lagi menerima aku.”

Mendengar penjelasan itu, Nyai Wirasaba terkejut bukan kepalang, maka kembali meledaklah tangisnya. “Kakang,” katanya di antara sedu-sedannya, “aku masih bersih seperti kemarin, Kakang. Bukankah dengan demikian aku masih berhak kembali kepadamu? Kalau aku tidak lagi merasa berhak kembali kepadamu, kau hanya akan tinggal dapat mengenang namaku, sebab aku telah bertekad untuk bunuh diri. Tetapi kalau orang lain yang membebaskan aku, kenapa kau merasa tidak berhak lagi menerima aku?” kata Nyi Wirasaba diantara sedu-sedannya.

“Nyai,” jawab Ki Wirasaba, “laki-laki yang tahu diri, hanya dapat memetik buah dari pohon yang ditanamnya sendiri,”.

Mendengar jawaban itu, Ki Asem Gede tidak kalah terkejutnya. Maka segera ia melompati pintu dan cepat-cepat menemui menantunya. Mahesa Jenar dan Mantingan yang merasa berkepentingan pula, segera mengikuti Ki Asem Gede. Barangkali mereka dapat menolong memberikan beberapa keterangan yang diperlukan.

Mendengar kata-kata Wirasaba, Mahesa Jenar dan Mantingan dapat menduga, kalau orang itu mempunyai harga diri yang cukup tinggi. Tetapi yang masih merupakan pertanyaan, mengapa Wirasaba sendiri tak berbuat sesuatu untuk membebaskan istrinya?

Melihat kedatangan Ki Asem Gede dan dua orang yang tak dikenalnya, Wirasaba menjadi agak terkejut. Tetapi segera ia membungkuk hormat dengan tetap masih duduk bersila di atas pembaringannya.

“Selamat datang Bapak Asem Gede.”

Ki Asem Gede membalas hormat, jawabnya, “Selamat Wirasaba, aku datang mengantarkan istrimu. Mudah-mudahan kau mau menerimanya dengan baik. Kau tidak usah mempersoalkan siapakah yang membebaskannya. Yang penting, ia pulang dengan selamat, dan masih tetap seperti saat ia diambil darimu.”

Wirasaba diam sejenak. Ia tundukkan kepalanya sambil berpikir. Sebenarnya ia adalah seorang jantan yang memang agak tinggi hati. Ia tidak mau menerima pertolongan orang lain berdasarkan belas kasihan. Apalagi dalam persoalan ini, persoalan seorang istri.

“Siapakah yang telah membebaskan istriku?” tanya Wirasaba.

Ki Asem Gede tertegun sejenak. Ingin ia mengaku telah membebaskan anaknya untuk menjaga perasaan menantunya, tetapi ia takut kalau dengan demikian ia dikira orang yang tak mengenal budi. Sebaliknya Mahesa Jenar pun sebenarnya ingin mengatakan bahwa Ki Asem Gede telah membebaskan anaknya, tetapi ia pun takut kalau-kalau hal ini dianggap merendahkan orang tua itu.

 Melihat gelagat yang demikian, Ki Wirasaba dapat menebak bahwa seseorang telah membebaskan istrinya. Bahkan tidak mustahil kalau orang itu adalah salah seorang yang sekarang berada di hadapannya, atau kedua-duanya. Maka segera muncullah sifat tinggi hatinya, katanya, “Bapak Asem Gede, aku mempunyai dugaan bahwa orang itu telah membebaskan istriku. Aku juga mempunyai dugaan bahwa orang itu telah berhasil membebaskan istriku dengan kekerasan. Sebab mustahil Samparan dan Watu Gunung akan melepaskan korbannya begitu saja sebelum nyawanya dapat dicabut. Adakah orang yang menyabung nyawa tanpa pamrih?”

Mendengar sindiran itu, hati Mahesa Jenar tergoncang hebat. Tidak kalah pula terperanjatnya Mantingan dan Ki Asem Gede, sehingga wajah mereka menjadi semburat merah. Nyi Wirasaba melihat gelagat yang kurang baik itu. Dan kembali sebuah goresan tajam melukai hatinya yang sudah hampir sembuh. Cepat ia menjatuhkan diri di samping pembaringan suaminya, berlutut sambil menangis, katanya, “Kakang, aku telah kembali kepadamu. Jangan lepaskan aku lagi.”

Mendengar ratap istrinya, sebenarnya hati Wirasaba terobek-robek karenanya. Ia pun sebenarnya sangat mencintai istrinya, sebagaimana istrinya mencintainya. Tetapi perasaan harga diri yang berlebih-lebihan telah melibat hati Wirasaba, sehingga sedikit pun ia tidak menunjukkan getaran perasaannya.

Mata Wirasaba yang sayu memandang keluar lewat jendela di samping pembaringannya. Memandang daun-daun yang bergoyang-goyang digerakkan angin, serta kilatan-kilatan matahari yang jatuh bertebaran di atas tanah pegunungan yang kemerah-merahan.

Suasana kemudian dikuasai oleh kesepian yang tegang. Mahesa Jenar mengeluh dalam hati. Kutuk apakah yang ditimpakan Tuhan atas dirinya, sehingga ia mengalami suatu kejadian yang demikian rumitnya? Haruskah pada suatu saat ia berhadapan dengan Wirasaba sebagai lawan? Kalau demikian, maka menang atau kalah ia akan tetap sama saja. Sama-sama mengalami penderitaan batin. Kalau Mahesa Jenar kalah, maka kekalahan itu tak akan dapat dilupakannya seumur hidupnya. Sebaliknya kalau ia menang, bagaimanakah nasib Nyai Wirasaba? Sebab dengan demikian Ki Wirasaba pasti tidak akan mau menerimanya kembali. Bahkan mungkin ia akan membunuh dirinya.

Belum lagi Mahesa Jenar menemukan jalan keluar, tiba-tiba didengarnya Wirasaba berkata,  “Nyai, aku akan menerima kau kembali sebagaimana kau terlepas dari tangan Samparan.”

Suara Wirasaba itu terdengar sebagai gemuruhnya seribu guntur yang menggelegar bersama-sama.

Suasana menjadi bertambah tegang. Peluh dingin telah mengalir di seluruh tubuh Mahesa Jenar. Apa yang diduganya ternyata benar-benar terjadi.

Sampai saat itu pun ia masih belum dapat menemukan suatu pilihan. Bagaimanapun, sebagai seorang laki-laki ia tidak bisa menelan tantangan itu begitu saja. Sehingga dengan demikian tubuhnya menjadi gemetar menahan perasaannya yang melonjak lonjak. Hampir saja ia melangkah maju dan menerima tantangan itu. Tetapi ketika dilihatnya Nyai Wirasaba masih menangis, bahkan makin menjadi-jadi, ia kembali ragu-ragu.

Akhirnya setelah perasaannya berjuang beberapa lama, Mahesa Jenar mengambil suatu keputusan yang sangat berat. Sebagai seorang laki-laki, apalagi sebagai seorang yang berjiwa prajurit, ia belum pernah menghindari suatu tantangan. Tetapi kali ini bertekad, berkorban buat kedua kalinya, untuk ketentraman hidup putri Ki Asem Gede. Karena itu ia berdiam diri, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ki Asem Gede menjadi kebingungan, dan tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Ia pun mempunyai pikiran yang sama dengan Mahesa Jenar. Kalau saja Mahesa Jenar menerima tantangan itu, Mahesa Jenar bukanlah tandingan Wirasaba. Bagaimanapun hebatnya menantunya, tetapi setinggi-tingginya yang dapat dicapainya adalah tingkat Dalang Mantingan. Apalagi dalam keadaan seperti sekarang ini.

Belum lagi suasana yang tegang itu terpecahkan, mendadak mereka dikejutkan oleh suatu bayangan yang melayang, meloncat masuk lewat jendela yang terbuka di samping pembaringan Wirasaba. Geraknya cepat dan lincah sekali. Mereka menjadi semakin terperanjat ketika mereka melihat siapakah orang itu. Ternyata orang yang telah berdiri tegak diantara mereka adalah Samparan.

“Pengecut tua,” teriaknya sambil menuding wajah Ki Asem Gede,  ”kau curi anakmu dengan laku seorang perempuan. Aku telah merampasnya dengan kejantanan. Aku telah melukai dua orang murid Wirasaba yang menghalangi maksudku. Seharusnya kau ambil perempuan itu dengan laku seorang jantan pula. Nah, sekarang aku datang untuk mengambilnya kembali”

Melihat tingkah laku, sikap dan kata-kata Samparan, Ki Asem Gede terkejut bukan kepalang. Apalagi yang mau diperbuat oleh setan kecil ini?

Sedangkan Mantingan mempunyai tanggapan lain. Mungkin kawanan Lawa Ijo telah datang untuk menuntut balas atas kematian Watu Gunung dengan mempergunakan Samparan sebagai umpan.

Lain pula dengan Ki Wirasaba. Melihat kedatangan Samparan dan mendengar kata-katanya, matanya menjadi berkilat-kilat. Seakan-akan suatu cahaya terang memancar di dalam jiwanya.

“Samparan,” sahut Wirasaba, ”kau pun tidak berlaku jantan. Kau tidak mengambil istriku dari tanganku. Kau hanya berani melayani anak-anak yang baru dapat meloncat-loncat tak berarti. Kalau benar katamu, Bapak Ki Asem Gede mengambil istriku, Bapak Asem Gede ingin mengembalikan keadaan seperti semula. Nah, sekarang, kalau kau inginkan istriku, ambillah ia dari tanganku dengan laku seorang jantan”.

Samparan tertawa dingin, jawabnya, “Kau bermaksud demikian?”

Ki Wirasaba tertawa nyaring. Wajahnya kini menjadi cerah seperti cerahnya matahari.

Mahesa Jenar yang berotak cerdas segera menangkap arah persoalannya. Diam-diam ia memuji kelincahan otak Samparan. Tetapi lebih dari itu, ia kagum maksud baik Samparan, meskipun dengan tindakannya itu ia menghadapi kemungkinan yang berat sekali.

“Kau telah mengundang orang-orang ini untuk melindungi istrimu?” tanya Samparan dengan nada menghina.

Wirasaba yang tinggi hati, segera merasa tersinggung. Dengan marahnya ia menjawab, “Samparan, mulutmu terlalu lancang. Aku belum kenal mereka keduanya. Mereka datang bersama-sama Bapak Asem Gede. Urusan ini adalah urusanku dengan kau. Jadi kau dan akulah yang harus menyelesaikan.”

Kembali Samparan tertawa dingin.”Wirasaba, jangan kau mimpi akan masa lampau. Memang beberapa tahun yang lalu kau merupakan seorang tokoh yang mempunyai nama cemerlang. Sebutanmu cukup menggetarkan. Tetapi dengan kakimu yang lumpuh sekarang ini, kau menjadi sebatang seruling gading yang telah retak”.

Mahesa Jenar dan Mantingan terperanjat dua kali lipat. Ternyata Wirasaba adalah orang yang terkenal dengan sebutan Seruling Gading. Seorang tokoh penggembala yang tak ada tandingannya diantara mereka. Kekuatan tubuhnya dan kepandaiannya meniup seruling merupakan suatu paduan yang sudah ditemukan. Tetapi Seruling Gading itu kini sudah lumpuh. Dan kata-kata Samparan itu juga merupakan jawaban atas teka-teki yang selama ini selalu membelit pikiran Mahesa Jenar dan Mantingan. Karena kelumpuhannya itu pulalah agaknya, maka Wirasaba tak berbuat sesuatu untuk membebaskan istrinya.

Mendengar ejekan Samparan itu, hati Wirasaba menjadi terbakar. Ia sudah hampir tak dapat menguasai kemarahannya. Cepat tangannya meraih senjatanya dari bawah bantalnya. Sebuah kapak bertangkai yang panjangnya kira-kira hampir sedepa.

“Kalau kau tidak membawa senjata, Samparan …, kau boleh meminjam senjata-senjata ku. Manakah yang kau sukai?” kata Wirasaba sambil menunjuk ke sudut ruang. Pada dinding yang ditunjuk itu bergayutan bermacam-macam senjata. Kapak, tombak, pedang, keris dan sebagainya.

Perlahan-lahan Samparan berjalan ke sudut ruang tempat senjata itu tergantung. Dengan tenangnya ia mulai menimang-nimang senjata itu satu demi satu.

“Wirasaba,” katanya, ”alangkah banyaknya jenis senjatamu sebagai pertanda kebesaran namamu. Hanya saja tak satu pun sebenarnya yang cukup berharga kau pergunakan. Tetapi baiklah aku mencoba tombak pendekmu ini untuk melayani kapakmu yang terkenal itu.”

Wirasaba menjadi bertambah marah mendengar celaan itu, sehingga kemudian ia tidak sabar lagi. Ia telah bersiap dan menggeser tubuhnya ke tepi pembaringan. Samparan yang telah mendapatkan pilihan senjata diantara sekian banyak macam senjata yang tergantung di sudut ruang itu pun segera mempersiapkan diri.

Ki Asem Gede dan Mantingan segera mengetahui pula maksud Samparan. Itulah sebabnya mereka berdiri termangu-mangu penuh kekhawatiran akan keselamatan Samparan. Tetapi Samparan berdiri tenang-tenang saja, meskipun ia tahu pasti tingkat ketinggian ilmu Wirasaba.

“Samparan, mulailah!” Wirasaba menggeram tidak sabar lagi.

Samparan memperdengarkan suara tertawa yang hambar dan dingin. Sebentar ia memandang wajah Mahesa Jenar yang dikagumi. Sorot matanya memancar aneh, sebagai sorot mata anak-anak yang dilepas dari pelukan bapaknya yang akan pergi berperang.

Tetapi sekejap kemudian Samparan segera meloncat dengan lincahnya, sambil memutar tombaknya menyerang Wirasaba.

Mahesa Jenar melihat segala gerak Samparan dengan terharu. Ia memandang Samparan sebagai seorang anak yang telah hilang, dan kini sedang berusaha untuk kembali ke pangkuan kebenaran. Samparan sedang berjuang untuk menebus segala dosa yang pernah dilakukan.

Samparan mulai dengan sebuah tusukan ke arah dada Wirasaba. Sebenarnya gerak Samparan cukup lincah dan mantap. Hanya sayang bahwa ia tidak dapat menyelaraskan gerakan-gerakan kaki dengan tangannya. Sedangkan Wirasaba ternyata memang seorang yang berilmu cukup tinggi. Meskipun ia tidak dapat mempergunakan kakinya, tetapi dengan gerak tangannya yang tampaknya tidak banyak membuang tenaga, ia dapat menangkis serangan-serangan Samparan, sehingga tusukannya meleset ke samping. Bahkan sekaligus ia siap menghantam lengan Samparan dengan tangkai kapaknya. Cepat Samparan menarik serangannya, dan selangkah meloncat ke kiri. Kembali mata tombak Samparan akan mematuk lambung lawannya. Namun Wirasaba cukup cekatan. Dengan tenaganya, ia memutar kapaknya untuk menangkis serangan tombak Samparan itu.

Demikianlah, pertarungan itu semakin lama semakin bertambah sengit. Samparan telah mengeluarkan hampir segenap ilmunya untuk menundukkan lawannya. Sedangkan Wirasaba, bagaimanapun hebatnya, namun karena ia hanya mampu menangkis serangan lawannya dan hanya mampu menyerang dalam jarak yang sangat terbatas, maka tampaklah ia mulai terdesak. Untunglah bahwa ia memiliki sepasang tangan yang kuat dan cekatan, sehingga pada saat-saat yang sangat berbahaya ia masih berhasil membebaskan dirinya dari ujung tombak Samparan.

Mahesa Jenar, Mantingan dan Ki Asem Gede, yang menyaksikan pertarungan itu, mengikuti dengan perasaan yang tegang. Berbagai macam gambaran membayang di kepala masing-masing. Kali ini pun mereka diliputi oleh kecemasan-kecemasan yang sangat tak menyenangkan.

Apalagi Nyai Wirasaba yang tak dapat mengerti persoalan yang dihadapi saat itu. Hatinya menjadi bergolak sedemikian hebatnya, sehingga ia tidak berani lagi menyaksikan pertempuran itu.

Maka, semakin lama semakin jelaslah bahwa Samparan akan berhasil menguasai keadaan. Ia mempergunakan suatu cara yang sangat menguntungkan. Sesaat ia meloncat maju sambil menyerang, tetapi sesaat apabila serangannya gagal, ia segera meloncat surut menjauhi Wirasaba untuk menghindari serangan-serangannya yang sangat berbahaya.

Melihat cara Samparan bertempur, Wirasaba menjadi semakin kalap, disamping rasa penyesalan yang meluap-luap atas cacat kaki yang dideritanya. Karena itulah maka cara bertempurnya pun semakin lama menjadi semakin kabur. Sehingga pada suatu saat, dengan gerak tipu yang cepat sekali, tombak Samparan mengarah ke leher Wirasaba. Wirasaba segera mengangkat tombaknya untuk menangkis serangan itu. Tetapi selagi kapak Wirasaba bergerak, Samparan mengubah serangannya. Dengan satu putaran yang cepat tombaknya mengarah ke perut Wirasaba. Melihat perubahan yang cepat sekali itu Wirasaba terkejut, secepat kilat ia mengayunkan kapaknya memukul tombak Samparan. Pada saat yang demikian, kedudukan Wirasaba menjadi lemah sekali. Kalau Samparan menghindari bentrokan itu, kemudian dengan perubahan sedikit ia memukul kapak Wirasaba dengan arah yang sama, maka mungkin sekali kapak itu akan terlempar jatuh. Tetapi pada saat ia akan melakukannya, tiba-tiba terlintaslah di dalam benaknya, suatu ingatan, bahwa ia tidak benar-benar berhasrat untuk mengalahkan Wirasaba. Samparan datang sekadar untuk membebaskan Mahesa Jenar dari syak wasangka. Kalau ia betul-betul memenangkan pertarungan itu, maka maksudnya untuk menebus kesalahannya, tidak akan berhasil. Ia tidak akan dapat mengembalikan suasana ketenteraman rumah tangga Wirasaba yang telah dirusaknya. Malahan mungkin ia akan menyaksikan Wirasaba yang akan merasa sangat tersinggung kehormatannya itu, bunuh diri, bahkan akan disusul pula oleh istrinya. Karena pikiran yang demikian, maka sesaat Samparan kehilangan pemusatan pikiran.

Sementara itu, waktu yang sesaat itu dapat dipergunakan oleh Wirasaba sebaik-baiknya. Segera ia dapat memperbaiki keadaan. Dengan suatu gerakan yang dahsyat, kapaknya mengayun ke arah kepala Samparan. Samparan tersadar tepat pada saatnya. Tetapi ia tidak lagi dapat menghindar. Segera disilangkannya tombak pendeknya untuk menangkis kapak Wirasaba. Maka terjadilah suatu benturan yang hebat. Ternyata tenaga Wirasaba luar biasa kuatnya. Juga tombak Wirasaba yang dipergunakan Samparan adalah tombak pilihan yang tak terpatahkan oleh kekuatan Wirasaba sendiri. Tetapi tenaga Samparan lah yang tak dapat menandingi kekuatan-kekuatan itu, sehingga tangan yang memegang tombak itu tergetar hebat, dan tombak itu meleset lepas dari pegangannya.

Mereka yang menyaksikan kejadian itu darahnya serasa terhenti. Sebab kelanjutannya tentu akan mengerikan sekali. Mahesa Jenar yang sudah dapat meramalkan apa yang akan terjadi, hampir saja meloncat maju untuk mencegahnya. Untunglah segera ia sadar, bahwa kalau ia berbuat demikian, akibatnya akan sangat tidak menyenangkan bagi dirinya maupun bagi ketenteraman hati Wirasaba. Maka yang dapat dilakukannya hanyalah mengharap suatu keajaiban sehingga apa yang ditakutkan itu tidak terjadi. Tetapi rupanya tidak demikianlah yang terjadi.

Tombak Samparan yang disilangkan itu berhasil menyelamatkan kepalanya, tetapi kapak Wirasaba yang terayun demikian derasnya dan digerakkan oleh kekuatan yang luar biasa itu, tidak seberapa mengalami perubahan arah. Maka terjadilah suatu goresan panjang merobek dada Samparan.

Terdengarlah suatu keluhan yang tertahan. Samparan terhuyung-huyung surut beberapa langkah. Dari lukanya menyembur darah yang merah segar. Mahesa Jenar, Mantingan dan Ki Asem Gede tergoncang hatinya melihat peristiwa itu. Telah berapa puluh kali mereka melihat darah yang mengucur dari luka, tetapi jarang mereka mengalami kejadian seperti ini.

Wirasaba yang tidak mengetahui latar belakang dari peristiwa itu, memandang Samparan dengan tak berkedip. Dari wajahnya memancar perasaan puas dan dendam sedalam lautan. Ia merasa bahwa dengan demikian telah terbalaslah sebagian rasa sakit hatinya, dan ia merasa bahwa tak ada hutang budi kepada siapapun juga.

———-oOo———-

II

Samparan, yang dadanya terbelah, masih berusaha sekuat sisa tenaganya untuk keluar dari ruangan itu. Kedua tangannya ditekankan pada dadanya yang terluka itu.

Mahesa Jenar memandangnya dengan penuh haru. Cepat ia menyusul, diikuti oleh Mantingan dan Ki Asem Gede. Tepat sampai di luar pintu, rupanya Samparan sudah tidak dapat lagi menguasai keseimbangan badannya. Untunglah bahwa Mahesa Jenar cepat menangkapnya, ketika ia hampir saja terjatuh. Dan dengan perlahan-lahan Samparan diletakkan di atas tanah.

Meskipun lukanya sangat membahayakan, tetapi wajah Samparan sama sekali tak menunjukkan rasa sakit. Bahkan dengan tenangnya ia memandang Mahesa Jenar, Matingan dan Ki Asem Gede berganti-ganti. Kemudian dengan tersenyum ia berkata, “Ki Asem Gede. Ki Dalang Mantingan dan Ki Sanak Mahesa Jenar, aku sudah berusaha untuk mengurangi kesalahanku.”

Ki Asem Gede mengangguk-angguk, jawabnya,“Puaskanlah hatimu. Nah sekarang biarlah aku mencoba menyembuhkan luka-lukamu”

Tak ada gunanya, Ki Asem Gede,” jawab Samparan sambil menggelengkan kepalanya, dengan suara sangat pelan.

“Biarlah aku coba,” desak Ki Asem Gede, meskipun ia sendiri sudah melihat, bahwa hampir tak ada kemungkinan untuk mengobati luka Samparan itu.

Kembali Samparan memaksa dirinya tersenyum dan menggeleng perlahan-lahan.

“Ki Sanak Mahesa Jenar,” desahnya kemudian,” sebelum aku mati, baiklah aku katakan kepadamu suatu rahasia yang ingin kau ketahui. Bukankah sekarang aku tidak perlu takut kepada Lawa Ijo dan kepada siapapun? Kau mau mendengar?”

Mahesa Jenar segera merapatkan dirinya. Lalu jawabnya, “Aku ingin mendengar, Samparan. Tetapi sekarang bukan waktunya. Kau terlalu banyak mengeluarkan darah, karena itu kau harus beristirahat.”

Samparan menarik nafas dalam-dalam. “Waktuku tinggal sedikit. Dengarlah. Menurut Watu Gunung, Lawa Ijo sekarang berada di Pasiraman. Sebuah telaga kecil di seberang hutan Mentaok. Desa tempat tinggalnya itu pun bernama Desa Pasiraman pula. Desa itu terletak tepat di tepi hutan. Agak ke barat sedikit terdapatlah hutan yang hampir dipenuhi oleh pohon pucang, sehingga hutan itu disebut Alas Pucang Kerep,” kata Samparan. Samparan berhenti sebentar. Terdengar arus nafasnya semakih cepat.

“Beristirahatlah Samparan,” desak Mahesa Jenar,  ”Keterangan itu sudah cukup bagiku,”

Samparan berusaha untuk menggeleng. ”Belum cukup. Di sana Lawa Ijo sedang menggembleng diri. Ia sedang berusaha untuk memulihkan luka-lukanya yang dideritanya ketika ia sedang berusaha mencuri pusaka-pusaka di Kraton Demak” lanjut Samparan sangat lemah.

Mahesa Jenar agak terkejut mendengar keterangan itu. “Kalau demikian, Lawa Ijo inilah yang pernah dilukainya dahulu,” pikir Mahesa Jenar.

“Usaha Lawa Ijo untuk memulihkan diri, ternyata sekarang sudah berhasil,” sambung Samparan hampir berbisik-bisik, ”Ia selalu berada dalam pengawasan gurunya. Aku belum pernah bertemu dengan gurunya itu, tetapi seperti apa yang digambarkan oleh Watu Gunung, aku dapat membayangkan bahwa gurunya itu adalah seorang iblis yang jarang ada duanya”.

Mahesa Jenar menjadi tertarik pada cerita Samparan, sehingga ia lupa bahwa ia berhadapan dengan seorang yang luka berat. Maka desaknya tidak sabar, “Siapakah nama gurunya itu?”

“Ia adalah seorang yang mempunyai kesaktian luar biasa. Namanya Pasingsingan.”

“Pasingsingan?” ulang Mahesa Jenar. Terkejutnya bukan alang kepalang. Ia pernah mendengar nama itu dari gurunya, baik Syeh Siti Djenar maupun Ki Ageng Pengging Sepuh. Tetapi tokoh ini sama sekali tak digambarkan sebagai seorang tokoh yang aneh dan sakti. Tetapi yang didengarnya, Pasingsingan adalah seorang yang luhur budi. Seorang penolong yang tak pernah memperkenalkan wajah aslinya, karena ia selalu memakai topeng. Hanya karena topeng itu dibuat sedemikian kasar dan jelek, maka Pasingsingan digambarkan sebagai seorang yang berwajah menakutkan.

Adakah sesuatu peristiwa yang terjadi sehingga tokoh itu berbalik diri dari lingkungan putih ke lingkungan hitam? Tetapi sementara itu Samparan telah mulai berbisik lagi. “Beberapa waktu yang lalu …, Lawa Ijo pernah dilukai oleh seorang senapati Demak, waktu ia sedang berusaha untuk mendapatkan pusaka.”

Mendengar cerita ini Mahesa Jenar semakin tertarik.

“Ki Sanak, dalam lingkungan golongan hitam terdapat suatu kepercayaan, bahwa barang siapa memiliki sepasang pusaka yang mereka perebutkan, adalah suatu pertanda bahwa orang itu akan dapat merajai seluruh golongan hitam. Dengan demikian akan cukup kekuatan dan dukungan bila pada suatu saat mendirikan suatu pemerintahan tandingan yang kekuasaannya akan dapat menyaingi kekuasaan Demak.” Suara Samparan menjadi semakin perlahan-lahan, tetapi masih cukup jelas.

“Sedangkan Lawa Ijo, atas petunjuk Pasingsingan, akan mencuri langsung pusaka asli, yang menurunkan sepasang pusaka yang diperebutkan itu,” lanjut Samparan.

“Apakah ujud dan nama pusaka-pusaka itu?” Tiba-tiba Ki Asem Gede menyela.

Samparan menarik nafas untuk mengatasi denyut jantungnya yang semakin memburu. “Pusaka-pusaka itu berupa keris. Seekor naga bersisik seribu dan sebuah keris lain berlekuk sebelas dengan pamor yang memancarkan cahaya kebiru biruan.”

“Naga Sasra dan Sabuk Inten,” potong Dalang Mantingan mengejutkan.

“Ya,” jawab Samparan, ”demikian mereka menyebut namanya. Nagasasra dan Sabuk Inten. Tetapi yang sepasang, yang mereka perebutkan itu masih meragukan. Pasingsingan mengira bahwa keris itu hanyalah keturunannya saja, sedang yang asli masih berada di keraton. Untunglah bahwa pada saat Lawa Ijo akan mencuri pusaka-pusaka itu, ada dua orang prajurit terlepas dari pengaruh sirepnya yang terkenal. Empat orang anak buah Lawa Ijo terbunuh, sedangkan Lawa Ijo sendiri terluka di bagian dalam dadanya”.

Sekarang Mahesa Jenar semakin bertambah jelas bahwa Lawa Ijo yang berusaha memasuki gedung perbendaharaan itulah yang dimaksud oleh Samparan.

“Untunglah bahwa ada orang-orang seperti kedua prajurit itu.” Samparan meneruskan, ”Alangkah gagahnya. Kemudian Lawa Ijo dapat mendengar bahwa kedua prajurit itu bernama Rangga Tohjaya dan Gajah Alit,”

Sekarang Ki Asem Gede dan Mantingan yang terperanjat. Rangga Tohjaja adalah Mahesa Jenar. Jadi kalau demikian Mahesa Jenar pernah bertempur, bahkan melukai Lawa Ijo. Dengan tak mereka sadari terloncatlah sebuah pertanyaan dari mulut Ki Asem Gede, “Jadi Anakmas pernah melukai Lawa Ijo?”

Mendengar pertanyaan ini Mahesa Jenar menjadi bimbang sebentar. Samparan, yang meskipun dalam keadaan parah, tampak wajahnya berubah hebat mendengar pertanyaan Ki Asem Gede itu. Ia menyebutkan bahwa yang melukai Lawa Ijo adalah Rangga Tohjaja dan Gajah Alit, tetapi kenapa Ki Asem Gede bertanya kepada Mahesa Jenar?

Mahesa Jenar menangkap perubahan wajah Samparan. Pikirannya mengatakan, tak baik orang yang pada saat-saat terakhir masih menyimpan teka-teki. Karena itu ia menjawab pertanyaan Ki Asem Gede. Tetapi jawaban ini ditujukan kepada Samparan. “Samparan, barangkali kau heran, bahkan mungkin tak percaya. Tetapi biarlah aku beritahukan kepadamu supaya kau percaya. Supaya kau menjadi jelas. Akulah Rangga Tohjaja yang kau maksudkan tadi. Memang aku pernah bertempur dan melukai Lawa Ijo di halaman dalam Istana Demak. Karena itulah aku akan selalu mencarinya.”

Belum lagi Mahesa Jenar selesai berkata, tiba-tiba dilihatnya mata Samparan yang tenang itu, membasah. Lalu kata-katanya terputus-putus. “Jadi … inikah pahlawan itu? Berbahagialah aku dapat bertemu dengan Tuan. Nah, Tuan Rangga Tohdjaja, mudah-mudahan usahaku yang kecil ini dapat mengurangi dosaku. Akhirnya hendaklah tuanku ketahui, bahwa Pasingsingan berpendirian, apabila keturunan dari kedua pusaka itu saja mempunyai kasiat yang demikian, apalagi pusaka-pusaka aslinya.”

Sejenak kemudian wajah Samparan menjadi semakin tegang. Beberapa kali ia berusaha menguasai jalan pernafasannya. Tetapi bagaimanapun, keadaannya bertambah parah. Darah masih mengalir dari lukanya. Tiba-tiba sebagai seorang tabib, tersadarlah Ki Asem Gede bahwa ia harus bertindak secepatnya untuk menyelamatkan jiwa Samparan, sampai kemungkinan yang terakhir.

“Adi Mantingan,”  katanya, ”marilah kita angkat Samparan ini ke Gandok Wetan. Barangkali ada suatu cara untuk mengobatinya”.

Mendengar kata-kata itu, segera Mantingan bangkit dan siap bersama-sama Ki Asem Gede mengangkat Samparan. Tetapi, dengan senyuman yang sayu, Samparan berbisik perlahan. “Terimakasih Ki Asem Gede. Tetapi masih ada suatu rahasia lagi yang perlu Tuan ketahui, Rangga Tohjaja. Besok pada bulan terakhir tahun ini, akan ada suatu pertemuan para sakti dari aliran hitam untuk menilai ilmu masing-masing, dan sekaligus mencari seorang tokoh sebagai pemimpin mereka. Kecuali kalau sebelum itu seseorang diantara mereka dapat membuktikan bahwa ia telah memiliki pusaka-pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten. Dalam hal ini maka mereka hanya akan menentukan urutan hak saudara tua dari setiap gerombolan.”

Kemudian denyut jantung Samparan turun dengan cepatnya. Wajahnyapun menjadi semakin pucat. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk berkata, “Bulan terakhir tahun ini, tepat pada saat purnama naik, di lembah Tanah Rawa-rawa, akan hadir dalam pertemuan itu antara lain Lawa Ijo dari Mentaok. Sepasang Uling dari Rawa Pening sebagai tuan rumah, yaitu Uling Kuning dan Uling Putih. Suami-istri Sima Rodra dari Gunung Tidar, Djaka Soka, Bajak Laut yang berwajah tampan dari Nusakambangan, yang mendapat julukan Ular Laut.” Sebenarnya Samparan masih akan berkata menyebut beberapa nama lagi, tetapi ia sudah terlalu lemah.

“Sudahlah Samparan,” potong Ki Asem Gede, ”Jangan pikirkan semua itu. Tenangkanlah dan beristirahatlah,”.

Samparan tersenyum buat terakhir kalinya. Ia menarik nafas panjang, dan sesudah itu terhentilah denyut jantungnya. Mereka yang menyaksikannya, untuk sesaat menundukkan kepala masing-masing dengan rasa haru.

Perlahan-lahan tubuh itu kemudian diangkat dan diletakkan di atas bale-bale di Gandok Wetan. Tetapi wajahnya sekarang tidak lagi membayangkan kejahatan seperti yang pernah dilakukan semasa hidupnya. Wajah itu kini bagaikan kotak kaca yang sudah dibersihkan isinya dari kotoran-kotoran yang semula memenuhinya.

Kemudian Ki Asem Gede segera memanggil beberapa orang pelayan dan murid-murid Wirasaba. Mereka diminta merawat mayat Samparan. Mayat seorang yang pernah menggemparkan Pucangan dengan kejahatan-kejahatan. Selain itu, kepada murid-murid Wirasaba bahkan kepada Nyi Wirasaba, Ki Asem Gede minta supaya tidak mengatakan suatu apapun tentang peristiwa Samparan dan kawan-kawannya kepada Ki Wirasaba.

Maka, Samparan adalah satu-satunya diantara kelima orang gerombolannya yang mendapat penghormatan terakhir pada saat penguburannya. Pengorbanan Samparan sebagai penebus dosa tidaklah sia-sia. Untuk beberapa lama Ki Wirasaba dapat menikmati ketenteraman hidupnya kembali di samping istrinya yang setia.

———-oOo———-

III

Pada malam setelah semua peristiwa itu terjadi, Mantingan dan Mahesa Jenar diminta untuk tinggal di rumah Ki Wirasaba bersama-sama Ki Asem Gede. Tetapi untuk menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan salah faham, maka sengaja Mantingan dan Mahesa Jenar tidak banyak bercakap-cakap dengan Ki Wirasaba. Hanya dalam kesempatan itu, ketika mereka duduk-duduk bertiga, Mahesa Jenar, Ki Dalang Mantingan dan Ki Asem Gede, berceriteralah orang itu, tentang sebab-sebabnya Ki Wirasaba menjadi lumpuh.

“Wirasaba adalah seorang pilihan dalam kalangannya,” ceritera ki Asem Gede,.” Yaitu para penggembala. Ia mendapat gelar Seruling Gading karena kepandaiannya meniup seruling. Pada usia yang masih sangat muda, ia mulai dengan perantauannya dari satu daerah ke daerah yang lain untuk menuruti keinginannya yang melonjak-lonjak di dalam dadanya. Ia sebenarnya berasal dari Karang Pandan, di kaki Gunung Lawu. Sehingga pada suatu saat sampailah ia ke Prambanan. Kedatangannya bagiku sangat menguntungkan. Sebab pada saat itu aku sedang dibingungkan oleh sebuah lamaran yang mengerikan. Anakku, istri Wirasaba itu, pada saat itu sedang menerima lamaran dari seorang yang sangat ditakuti di daerah kami. Tetapi orang itu bukanlah orang baik-baik. Adatnya sangat kasar dan angkuh. Sehingga anakku bersumpah di hadapanku, kalau terpaksa ia harus menjalani perkawinan itu, berarti bahwa hidupnya harus diakhiri

Kehadiran Wirasaba merupakan angin baru bagi anakku. Perkenalan mereka semakin lama menjadi semakin erat. Sebagai orang tua aku segera mengetahui bahwa hati mereka terjalin.

Pradangsa, orang yang ingin mengawini anakku itu, melihat hubungan yang semakin erat itu. Ia menjadi marah bukan kepalang. Sebagai seorang yang merasa dirinya tak terkalahkan, ia berusaha menyelesaikan persoalan itu dengan caranya. Ditantangnya Wirasaba untuk berkelahi. Aku yang belum mengetahui tingkat ilmu yang dimiliki oleh Wirasaba, menjadi cemas. Tetapi Wirasaba sendiri menerima tantangan itu dengan senang hati,” lanjut Ki Asem Gede.

Maka, pada suatu hari yang telah ditentukan, dilangsungkanlah pertemuan itu di atas sebuah gundukan pasir di pinggir sungai Opak. Aku yang selalu kecemasan, memerlukan dengan diam-diam berusaha untuk dapat mengikuti pertemuan yang tidak menyenangkan itu.

Yang mula-mula datang ke tempat itu adalah Wirasaba, tepat pada saat warna merah di langit yang terakhir terbenam ke dalam warna kelam. Rupanya sengaja ia datang lebih awal untuk mengetahui keadaan tempat itu.

Setelah beberapa saat ia mengamati tempat itu sejengkal demi sejengkal, maka duduklah Wirasaba di atas sebuah batu di tepi sungai yang mengalirkan airnya yang jernih. Dari dalam bajunya dikeluarkannya sebuah seruling yang terbuat dari pring gadhing. Sambil menunggu kedatangan lawannya, ia mulai berlagu dengan serulingnya itu. “Baru sekali itu aku mendengar Wirasaba meniup serulingnya. Dan memang sudah sewajarnyalah kalau ia mendapat sebutan Seruling Gading.

Mula-mula serulingnya itu membawakan lagu yang sejuk menyongsong datangnya bulan. Nadanya seperti silirnya angin senja. Kemudian lagu itu menurun makin dalam, tetapi sesaat kemudian melonjak riang, seriang wajah gadis yang menyongsong datangnya kekasih. Sesaat kemudian berubahlah lagu Wirasaba mendendangkan kisah cinta. Sambil menatap wajah bulan, ia berlagu dengan lembutnya. Tetapi sebentar kemudian ia meloncat berdiri. Sedang serulingnya masih saja berlagu. Dipandangnya tenang-tenang Candi Jonggrang sebagai lambang keagungan cinta yang tiada taranya. Kesanggupan Yang Maha Besar, yang dilahirkan karena cinta. Candi Jonggrang yang mengagumkan itu dapat diciptakan hanya dalam waktu satu malam, sebagai suatu usaha raksasa untuk memenuhi tuntutan cinta.

Maka beralunlah seruling Wirasaba dengan lembut dan mesra. Seakan-akan ia mengungkapkan suatu ceritera rakyat tentang cinta abadi antara Bapa Angkasa dan Ibu Pertiwi. Dan karena itulah maka lahir segala isi bumi ini.

Wirasaba sebagai lazimnya penggembala, tiada dapat terpisah dari serulingnya. Sahabat pada saat-saat sepi, pada saat-saat binatang gembalanya asyik bermain di padang rumput. Karena itulah maka setiap lagu yang dipancarkan dari serulingnya, selalu melukiskan kisah yang terjalin di hatinya.

Sebagai seorang yang hidup bebas di padang-padang terbuka, dalam berlagu pun Wirasaba ternyata tidak mau terikat pada gending-gending yang sudah ada. Lagunya menjangkau jauh melampaui batas gending-gending yang dirasanya terlalu miskin untuk mengungkapkan seluruh perasaannya. Karena itu lagunya bebas terlontar tanpa ikatan. Namun demikian dapat melukiskan segenap warna dalam jiwanya.

Tetapi, ketika ia sedang asyik tenggelam dalam lagunya, tiba-tiba terdengarlah suara tertawa yang merobek-robek kekhusukan lagu yang hampir sampai ke puncak keindahannya.

Aku segera mengenal suara itu. Suara Pradangsa. Kali ini rupanya ia ingin memperlihatkan kesaktiannya dengan menyalurkannya lewat suara tertawanya yang mengerikan. Cepat-cepat aku berusaha untuk tidak hanyut ke dalam pengaruhnya. Tetapi disamping itu aku pun menjadi cemas kembali. Wirasaba memang seorang ahli meniup seruling. Tetapi Pradangsa bukanlah seorang penggemar lagu. Ia adalah seorang yang kasar dan hanya dapat menghargai kekuatan tenaga. Bukan kemesraan dan kelembutan.”

“Apalagi ternyata suara tertawa itu tidak segera berhenti. Tetapi gelombang demi gelombang terdengar seperti susul-menyusul. Seperti datangnya ombak lautan segulung demi segulung menghantam tebing.”

“Dalam kecemasanku itu, tiba-tiba aku dikejutkan lagi oleh suara seruling Wirasaba. Tetapi setelah itu aku menjadi bersyukur. Bahkan aku menjadi berbangga hati. Suara seruling yang mesra lembut itu segera berubah melengking tajam. Kemudian Wirasaba berteriak penuh kemarahan karena cintanya terganggu. Yang sama sekali tak aku duga, adalah bahwa kemarahan Wirasaba yang dilontarkan lewat nada-nada serulingnya itu pun ternyata mengandung pengaruh yang luar biasa pula. Maka kemudian seakan-akan terjadilah benturan dahsyat antara suara tertawa Pradangsa dengan nada-nada seruling. Wirasaba yang sebentar melonjak, naik tajam, dan kemudian turun menukik kembali, lalu menggelegar seperti guruh yang dengan penuh kemarahan menghantam gunung. Karena benturan itulah maka seolah-olah tercapailah suatu keseimbangan, sehingga kedua suara itu semakin lama semakin lirih … semakin lirih. Bahkan akhirnya keduanya berhenti dengan sendirinya.

Tepat pada saat suara itu berhenti, meloncatlah sebuah bayangan dari seberang, dengan tangkasnya dari batu ke batu menyeberangi sungai Opak. Dari geraknya yang cepat dan tangkas, sudah dapat dikira sampai dimana kekuatan tenaganya.

Belum lagi Pradangsa menjejakkan kakinya di tepian, mulutnya sudah mendahului berteriak dengan suara gunturnya. “Hai anak cengeng. Rupanya kau hanya mampu menjadi seorang penipu seruling. Itu saja kau hanya bisa membawakan lagu-lagu cengeng seperti apa yang baru saja kau lagukan.”

Wirasaba adalah seorang yang tinggi hati. Mendengar dirinya disebut anak cengeng, segera bangkitlah kesombongannya. “Memang, aku hanya mampu melagukan lagu-lagu cengeng. Lagu-lagu cinta dan kasih. Tetapi aku adalah orang yang tahu diri. Sekali dua kali aku pernah bercermin, meskipun hanya di permukaan air. Maka sadarlah aku bahwa wajahku jauh lebih tampan daripada wajahmu yang kasar itu. Karena itulah aku berhak melagukan lagu cinta dan kasih. Tidak saja lagu maut seperti yang kau miliki satu-satunya.”

Pradangsa adalah seorang yang kasar dan sombong. Ia tidak pernah menerima hinaan yang sampai sedemikian. Karena itu segera darahnya naik ke kepala.

“Setan!” makinya semakin kasar, ”Aku tidak pernah menyesal bahwa wajahku kasar dan jelek. Tetapi dengan tenaga yang aku miliki, aku mampu berbuat apapun. Aku mampu memperistri setiap perempuan yang aku kehendaki. Nah, kau sekarang mencoba mengganggu kebiasaanku itu. Karena itu bersediakah untuk mati?”

Wirasaba tidak mau banyak bicara lagi. Diselipkannya seruling pring gadingnya ke dalam bajunya.

“Kau hanya mau berbicara saja?” potongnya.

Pradangsa bergumam di dalam mulutnya, dan kemudian kembali ia tertawa nyaring. Tetapi suara tertawanya terputus ketika Wirasaba membentak. “Aku tidak banyak waktu, bersiaplah.”

Pradangsa pun rupanya juga menganggap bahwa waktunya telah tiba. Karena itu ia pun segera bersiap. Dengan tidak banyak lagi persoalan, segera mereka terlibat dalam sebuah perkelahian. Dalam bagian permulaan nampak bahwa Wirasaba dapat melayani Pradangsa dengan baik, seperti suara serulingnya yang mengimbangi suara tertawa lawannya. Geraknya cukup cekatan. Tetapi yang masih meragukan, apakah ia dapat mengimbangi tenaga raksasa yang dimiliki oleh Pradangsa. Dalam setiap perkelahian, Pradangsa hampir tidak pernah menghindarkan diri dari setiap serangan. Tetapi, setiap serangan itu selalu dibenturnya dengan serangan pula, sebab ia sangat percaya pada kekuatannya.

Demikian pula agaknya pada saat itu. Pradangsa sama sekali tidak menghindarkan diri ketika Wirasaba menyerangnya dengan dahsyat. Rupanya Pradangsa mengira bahwa Wirasaba hanya mampu meniup serulingnya saja. Memang bentuk tubuh Wirasaba tidaklah sebesar Pradangsa. Tetapi apa yang telah terjadi? Pada saat itu, ketika Pradangsa membalas serangan Wirasaba yang dahsyat, ternyata dalam tubuh Wirasaba yang tidak sebesar lawannya itu tersimpan suatu tenaga yang hebat sekali, yang sama sekali tak diduga oleh Pradangsa. Sedangkan Pradangsa sendiri adalah seorang yang memiliki tenaga raksasa pula.

Tetapi ternyata, Wirasaba yang telah sekian kali merantau, menjelajahi beberapa daerah, memiliki pengalaman yang lebih banyak. Sedangkan Pradangsa hanyalah seorang tokoh lokal yang telah mencapai puncak kekuatannya. Ia sudah merasa tak terkalahkan. Memang Pradangsa adalah seorang kuat atas pemberian alam.

Maka ketika terjadi benturan itu, tampaklah betapa picik pengetahuan Pradangsa. Ia hanya memusatkan tenaga serta perhatiannya pada kedua belah tangannya. Dengan sepenuh tenaga yang ada padanya menghantam tangan Wirasaba yang menyerang dadanya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa pada sekejap sebelum benturan itu terjadi, Wirasaba mengubah serangannya dengan menarik tangan kirinya. Ketika tangan kanannya membentur tangan Pradangsa, ibu jari tangan kirinya sempat mengetuk leher Pradangsa itu.

Akibat benturan itu pun sangat hebat sekali. Bagaimanapun uletnya Wirasaba, ia tergetar surut. Demikian juga Pradangsa, terdorong mundur. Karena ketukan jari pada lehernya, Pradangsa merasa bahwa nafasnya menjadi sesak. Inilah sumber kekalahan Pradangsa. Sebab dalam perkelahian seterusnya, Pradangsa selalu diganggu oleh peredaran nafasnya yang semakin lama terasa semakin sesak dan sakit. Meskipun demikian, pertempuran itu masih juga berlangsung lama. Mereka tampaknya seperti dua ekor ular yang saling berlilitan dan timbul-tenggelam diantara lawannya.

Tetapi sampai sekian, kepastian dari akhir pertempuran itu sudah jelas. Sebab Wirasaba jauh berpengalaman. Apalagi ia bertempur tidak saja dengan tenaganya, tetapi juga dengan otaknya. Sedangkan Pradangsa hanyalah mirip seekor babi yang terlalu percaya pada kekuatannya. Meskipun ia memiliki kelincahan, namun dalam beberapa saat kemudian ia sudah benar-benar dikuasai oleh serangan-serangan Wirasaba yang menjadi semakin keras. Akhirnya Pradangsa menjadi semakin terdesak. Dan tampaklah bahwa pertempuran itu sudah hampir selesai.

Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu hal yang sangat mengejutkan. Ketika Pradangsa merasa bahwa ia tidak mampu mengalahkan lawannya, dilakukannya suatu kelicikan. Tangannya tiba-tiba menggenggam potongan-potongan besi lembut dari kantongnya, yang kemudian dilemparkan ke arah Wirasaba. Tampaklah betapa terkejutnya Wirasaba. Potongan-potongan besi itu bertebaran mengarah hampir ke segenap bagian tubuhnya.

Untunglah bahwa Wirasaba berpikir cepat. Dengan tangkasnya ia meloncat tinggi-tinggi. Namun tindakannya itu tidak dapat menyelamatkan seluruh tubuhnya. Beberapa potong besi itu masih juga mengenai kakinya. Akibatnya hebat sekali. Waktu ia terjun kembali, ternyata ia sudah tidak dapat tegak lagi di atas kedua kakinya yang luka-luka. Mengalami peristiwa itu, Wirasaba menjadi marah sekali. Ia menjerit nyaring. Tiba-tiba saja tangannya sudah menggenggam sebuah kapak kecil, suatu jenis senjata yang digemari. Dengan penuh kemarahan kapak kecil itu dilemparkannya ke arah lawannya. Demikian kerasnya lemparan itu, sehingga yang tampak hanyalah seleretan sinar yang menyambar dada Pradangsa, yang kemudian disusul sebuah jerit ngeri dan suara tubuh Pradangsa yang terbanting jatuh, untuk tidak bangun kembali.

Ki Asem Gede berhenti. Beberapa kali ia menelan ludah. Agaknya ia menjadi haus setelah berceritera demikian panjangnya. Meskipun demikian ia masih meneruskan pula, “Pada saat itulah aku berlari-lari kepada Wirasaba yang masih terduduk di tanah. Wirasaba terkejut melihat kedatanganku. Ia mengangguk hormat meskipun sambil menyeringai kesakitan. Tetapi aku tidak sempat membalasnya. Perhatianku hanya terpusat pada kakinya. Aku mempunyai dugaan bahwa potongan-potongan besi itu berbisa. Sebab seorang seperti Pradangsa itu tidak mustahil berbuat demikian. Dan dugaanku itu benar. Ketika luka-luka itu aku teliti, ternyata tak mengeluarkan darah setetes pun. Maka cepat-cepat aku suruh Wirasaba menelan ramuan-ramuan obat pelawan bisa. Tetapi hasilnya tidak seperti yang aku harapkan.”

“Biasanya, setiap luka yang mengandung bisa, setelah menelan ramuan obatku itu segera mengeluarkan darah yang berwarna kebiru-biruan. Ramuan itu juga menghanyutkan segala racun yang telah menyusup ke dalam darah daging. Tetapi tidak demikianlah kaki Wirasaba itu. Luka-luka di kakinya tetap tidak mengalirkan darah. Bahkan di sekitar luka itu tumbuhlah bengkak-bengkak. Maka dapatlah aku mengambil kesimpulan bahwa bisa yang dipergunakan oleh Pradangsa adalah bisa yang keras sekali. Karena itu aku tidak berani memperpanjang waktu. Ramuan obat yang aku berikan hanya sekadar menahan bisa itu saja. Tetapi karena kaki Wirasaba kedua-duanya hampir tak dapat lagi dipergunakan, terpaksa aku memapahnya.

Baru ketika sampai di rumah, di bawah cahaya lampu, aku dapat mengetahui dengan pasti bahwa potongan-potongan besi itu direndam dalam ramuan warangan yang kuat sekali. Aku mempunyai dugaan bahwa warangan itu dicampur dengan bisa sejenis laba-laba hijau yang terdapat di hutan Tambak Baya.

Meskipun aku sudah berusaha keras sebagai seorang tabib, tetapi sama sekali tak berhasil melawan bisa itu. Yang dapat dilakukan hanyalah membatasi menjalarnya racun itu ke bagian tubuh yang lain.

“Itulah Anakmas Mahesa Jenar dan Adi Mantingan, sebab-sebab yang menimbulkan cacat pada Wirasaba. Tetapi hal yang membesarkan hatiku adalah, bahwa anakku tetap setia pada janjinya, meskipun laki-laki yang dikaguminya itu telah cacat. Sehingga perkawinan mereka pun dapat dilangsungkan”.

Ki Asem Gede mengakhiri ceriteranya dengan suatu tarikan nafas yang dalam. Seolah-olah sesuatu yang menyumbat hatinya kini telah terlontar keluar. Meskipun demikian nampak juga suatu perasaan kecewa yang tersirat di wajahnya. Sebagai seorang tabib kenamaan, Ki Asem Gede merasa mendapat suatu peringatan langsung dari Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa bagaimanapun usaha anak manusia, namun keputusan terakhir berada di tangan-Nya. Sudah beratus-ratus bahkan beribu-ribu orang yang ditolongnya, diobati dan disembuhkan. Namun terhadap sakit menantunya sendiri, yang bergaul hampir setiap hari, ia tak mampu berbuat apa-apa.

“Tak adakah obat yang dapat menyembuhkannya?” tanya Mahesa Jenar.

“Tidak ada,” jawab Ki Asem Gede. Mata Ki Asem Gede jadi suram dan gelisah. “Bahkan obat yang aku berikan itu pun tak dapat menanggulangi sepenuh-penuhnya. Mungkin bisa itu tak menjalar ke bagian tubuh yang lain, tetapi pada bagian yang terluka bisa itu seperti api yang tersimpan di dalam sekam. Sedikit demi sedikit membunuh setiap bagian tubuh di sekitar luka itu,” lanjutnya. Ki Asem Gede terdiam sebentar. Seperti orang yang terbangun dari tidur, dan tiba-tiba ia berkata, “Ada Anakmas …, ada.

“Ada?” ulang Mahesa Jenar dan Mantingan berbareng.

Namun kemudian tampaknya Ki Asem Gede menjadi kendor kembali, katanya, “Ada Anakmas, tetapi aku kira obat itu tidak dapat diketemukan.”

“Sudahkah Bapak berusaha?” tanya Mahesa Jenar lebih lanjut.

Ki Asem Gede menggelengkan kepalanya. “Mustahil …, mustahil,” desisnya.

“Katakanlah Ki Asem Gede,“ desak Mahesa Jenar, „mungkin di antara kami ada yang pernah mendengar atau melihatnya,”.

Ki Asem Gede tampak ragu-ragu sebentar, tetapi akhirnya ia berkata, “Anakmas, memang ada obat untuk melawan bisa yang bagaimanapun kerasnya. Tetapi obat itu hampir hanyalah merupakan dongeng belaka.”

Mahesa Jenar dan Mantingan mengerutkan keningnya bersama-sama seperti berjanji. Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar bertanya, “Kenapa Ki Asem Gede? Apakah obat itu terlalu sulit untuk didapatkan?”

“Anakmas benar,“  sahut Ki Asem Gede sambil mengangguk, „Sebab obat yang dapat melawan segala bisa itu, sepengetahuanku adalah bisa Ular Gundala,”

“Ular Gundala?” ulang Mahesa Jenar, sedang Mantingan menyela, “Aku pernah mendengar nama ular itu”.

Ya, ular Gundala,” Ki Asem Gede menegaskan. “Ada dua macam ular Gundala. Yaitu ular Gundala Seta dan Ular Gundala Wereng. Kedua-duanya mempunyai jenis bisa yang tak terlawan. Tetapi kedua-duanya mempunyai sifat yang berlawanan. Bisa ular Gundala Wereng, bekerja seperti pada umumnya bisa, meskipun ketajamannya berlipat-lipat. Tetapi bisa ular Gundala Putih bekerja sebaliknya. Kalau kedua jenis ular bisa itu berbenturan maka akhirnya akan menjadi tawar. Karena itulah maka bisa ular Gundala Putih-lah yang dapat menjadi obat yang sangat mujarab untuk menawarkan segala macam bisa, meskipun kalau bisa itu berdiri sendiri akan mempunyai akibat yang berbeda.

Ini adalah pengertian secara umum saja. Sebab disamping itu masih ada sebab-sebab lain, kenapa bisa ular Gundala itu sedemikian ampuhnya. Menurut ceritera, ular Gundala adalah semacam senjata dari para Dewa. Ular Gundala Wereng adalah senjata dari Sang Batara Kala, sedangkan ular Gundala Seta adalah senjata Batara Wisnu. Kalau senjata-senjata itu sedang dipergunakan, maka memancarlah bunga-bunga api di udara. Kalau sinarnya putih kebiru-biruan, itulah pancaran dari ular Gundala Seta, senjata Wisnu. Sedangkan ular Gundala Wereng memancarkan cahaya merah membara agak kehitam-hitaman”.

Wajah Ki Asem Gede masih membayangkan kekecewaan. Bahkan mendekati putus asa.

Tetapi ketika Mahesa Jenar mendengar ceritera ini, ia menjadi teringat kepada sahabat karibnya semasa mereka masih muda. Pada saat mereka baru menginjak ambang pintu kedewasaan. Yaitu seorang yang kemudian terkenal bergelar Ki Ageng Sela, yang pada masa anak-anaknya bernama Anis atau beberapa orang memanggilnya Nis dari Sela. Sela adalah seorang yang luar biasa. Geraknya cepat melampaui kilat. Bahkan sampai beberapa orang mengatakan bahwa ia mewarisi kecepatan bergerak ayahnya yang juga bergelar Ki Ageng Sela, yang menurut ceritera dapat menangkap petir.

Pada suatu kali, ketika Ki Ageng Sela sedang menyepi di tepi sendang Jalatunda, tiba-tiba ia disambar oleh semacam sinar putih kebiru-biruan. Untunglah bahwa ia dapat bergerak cepat luar biasa, sehingga ia dapat menghindari sambaran sinar itu. Bahkan ia masih juga sempat menangkapnya. Tetapi demikian tangannya menyentuh benda itu, terkejutlah ia bukan kepalang. Sebab pada saat itu tangannya terasa telah menangkap seekor binatang yang bulat panjang. Untunglah bahwa sebelumnya ia pernah mendengar ceritera tentang seekor ular yang pandai terbang dan bercahaya. Ular yang diceriterakan menjadi penggembala hujan. Maka secepat kilat benda yang ditangkapnya itu sebelum sempat menggigitnya, dibantingnya ke tanah.
Adalah suatu keuntungan bahwa binatang itu tidak dihantamkan pada sebatang pohon atau batu. Sebab kalau demikian, binatang itu pasti akan remuk. Saat itu, ia dapatkan binatang itu masih utuh, meskipun terbenam lebih dari sejengkal ke dalam tanah.

Kemudian bangkai ular itu diambilnya. Ternyata ular itu adalah seekor ular yang aneh. Panjangnya dibanding dengan besarnya dapat dikatakan terlalu pendek. Sisiknya berwarna putih mengkilap agak kebiru-biruan. Pada bagian kepalanya tergoreslah semacam lukisan jamang, sedangkan pada ujung ekornya melingkarlah warna kuning keemasan.

Maka, ketika ular aneh itu dibawa pulang, terlihatlah binatang itu oleh Ki Ageng Warana. Melihat bangkai ular itu, Ki Ageng Warana terperanjat, apalagi ketika ia mendapat keterangan dari Sela. Maka segera orang tua itu minta izin kepada Sela untuk mengambil bisanya. Sela yang menganggap binatang itu hanya sebagai barang yang aneh, sama sekali tidak keberatan. Ia tidak mengira kalau karena itu ia mendapat semacam obat yang tak ada bandingnya. Obat penawar segala macam bisa yang bagaimanapun tajamnya. Racun dari bisa binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Oleh Ki Ageng Warana, binatang itu diperas bisanya. Dengan mempergunakan keahliannya, ia dapat menampung bisa itu. Kemudian dengan berbagai ramuan, bisa itu berhasil dipadatkan. Tetapi hanya tinggal kecil sekali, hanya kira-kira sebesar biji kacang tanah. Biji sari bisa ular ajaib itu dihadiahkan kepada Ki Ageng Sela. Meskipun Ki Ageng Warana minta sebagian kecil, Ki Ageng Sela pun sama sekali tidak keberatan. Dengan biji bisa itu, Ki Ageng Warana telah membebaskan dirinya sendiri dari berbagai macam bisa. Juga Ki Ageng Sela dan bahkan Mahesa Jenar sebagai seorang sahabat karib Nis dari Sela, mendapat kesempatan untuk menikmati kasiatnya pula.

Oleh Ki Ageng Warana, biji bisa ular itu direndamnya dalam air, yang kemudian dengan mempergunakan duri yang telah direndam di dalam air itu, untuk menusuk simpul-simpul jalan darah. Dengan demikian, mereka tawar dari segala macam bisa.

Mahesa Jenar sebagai sahabat paling dekat Ki Ageng Sela, tidak hanya mendapat kesempatan membebaskan diri dari segala pengaruh bisa dan racun, tetapi ia juga mendapat hadiah dari sahabatnya, sebagian dari biji bisa itu.

Dengan biji bisa itu Ki Ageng Warana telah membebaskan dirinya sendiri dari berbagai macam bisa. Juga Ki Ageng Sela dan bahkan Mahesa Jenar sebagai seorang sahabat karib Nis dari Sela, mendapat kesempatan untuk menikmati kasiatnya pula.

Oleh Ki Ageng Warana, biji bisa ular itu direndam dalam air, yang kemudian dengan mempergunakan duri yang telah direndam didalam air itu, untuk menusuk simpul-simpul jalan darah. Dengan demikian, mereka tawar dari segala macam bisa.

Mahesa Jenar, sebagai sahabat paling dekat Ki Ageng Sela, tidak saja mendapat kesempatan membebaskan diri dari segala pengaruh bisa dan racun, tetapi ia mendapat hadiah dari sahabatnya sebagian dari biji bisa itu.

Maka, diceriterakannya semua itu kepada Ki Asem Gede. Tentang ular yang bersinar putih kebiru-biruan serta tentang biji bisa Ular itu. Barangkali biji bisa itu dapat dipergunakan untuk mengobati kaki Wirasaba sebagaimana bisa ular Gundala Seta.

Ki Asem Gede dan Mantingan mendengar ceritera itu dengan penuh perhatian. Wajah Ki Asem Gede sebentar tampak berkerut, sebentar terkejut, kemudian sebentar menjadi cerah, untuk seterusnya muram kembali. Tetapi kemudian tiba-tiba jadi bersinar terang.

Anakmas,” kata Ki Asem Gede kemudian setelah Mahesa Jenar selesai berceritera, “ Ki Ageng Warana adalah raja dari segala tabib. Sayang aku sampai sekarang belum pernah berkesempatan bertemu dengan beliau. Sebab beliau adalah seorang yang aneh. Sebentar nampak, sebentar menghilang. Berbahagialah anakmas Nis dari Sela dapat bertemu dengan orang tua yang aneh itu. Dan berbahagia pulalah Anakmas Mahesa Jenar bersahabat dengan Anakmas Sela. Sebab menurut ciri-ciri yang Anakmas ceriterakan itu, ular yang menyambar demikianlah yang bernama ular Gundala.”

Tetapi Ki Ageng Warana tidak menamakan ular itu ular Gundala,” Mahesa Jenar menjelaskan, tetapi disebutnya ular Candrasa.

Tiba-tiba cahaya mata Ki Asem Gede menjadi cerah secerah matahari pagi yang memercik diatas rumput-rumput hijau.

“Ya itulah Anakmas,” katanya hampir berteriak, ”Candrasa Seta.  Memang terdapat beberapa dongeng mengenai ular ajaib itu.Sebagai senjata dewa-dewa, ia disebut Ular Gundala. Tetapi sebagai penggembala air dilangit ia disebut ular Candrasa”.

Kemudian Mahesa Jenar mengambil sebuah tabung bambu kecil yang diikatkan di bagian dalam pakaiannya. Tetapi meskipun obat itu tak pernah terpisah dari tubuhnya, bahkan ia pernah mendapat tusukan di simpul jalan darahnya oleh Ki Ageng Warana, namun ia masih belum pernah melihat bukti kasiatnya.

Ki Asem Gede menerima benda itu dengan dada berdebar. Diamat-amatinya benda itu dengan saksama.

“Anakmas Mahesa Jenar, marilah kita lihat kasiat benda ini”

Kemudian Ki Asem Gedepun segera mengambil sebuah cawan tembikar dan bumbung berisi bisa. Segera biji bisa ular itu direndamnya di dalam air, lalu diteteskannya bisa dari dalam bumbungnya ke dalam air rendaman itu, setelah biji bisanya disisihkan kedalam tempat yang lain.

Apa yang terjadi sangatlah mengejutkan. Air di dalam cawan itu menjadi seakan-akan menggelegak dan mendidih. Maka setelah timbul beberapa gumpal asap, air di dalam cawan itu menjadi surut. Akhirnya sesaat kemudian air itu menjadi tenang kembali.

Semuanya memandang peristiwa itu tanpa berkedip. Kemudian berkatalah Ki Asem Gede. “Ini adalah suatu benturan langsung antara dua jenis bisa tanpa perantara. Maksudnya adalah, bahwa kedua jenis bisa itu tidak bekerja atas sesuatu zat, misalnya yang satu membekukan sedang yang lain mencairkan darah. Dan anakmas dapat menyaksikan sendiri betapa hebatnya bisa Ular Gundala atau Candrasa itu.”

Mahesa jenar termenung sejenak. Lalu katanya, “Kalau begitu, dapatkah Ki Asem Gede mengobati kaki kakang Wirasaba?”

“Akan aku coba,” jawab Ki Asem Gede, ”tetapi harus perlahan-lahan. Sebab bisa di dalam tubuh Wirasaba telah bekerja terlalu lama. Kalau tubuhnya itu tidak mempunyai daya tahan yang luar biasa, ia telah lama binasa. Karena itu aku tidak berani mengobatinya sekaligus. Benturan yang berlebihan di dalam tubuhnya antara dua jenis bisa itu akan dapat membunuhnya. Dan untuk itu akan memerlukan waktu”.

Akhirnya Ki Asem Gede minta kepada Mahesa Jenar untuk diizinkan meminjam biji bisa itu. Ia akan mencoba sedikit demi sedikit mengobati kaki Wirasaba yang bertahun-tahun tak dapat dipergunakan.

Sementara itu malam menjadi semakin dalam. Bunyi jangkrik terdengar saling bersahutan dengan kemersik daun yang digerakkan oleh angin malam sejuk.

Maka, Ki Asem Gede atas nama anak menantunya mempersilahkan kedua tamunya itu untuk beristirahat.

———-oOo———-

IV.

Tetapi, malam itu Mahesa Jenar sama sekali tidak berhasrat untuk tidur. Ketika ia sudah membaringkan dirinya, teringatlah kembali semua peristiwa yang dialaminya pada hari-hari terakhir. Maka barulah terasa penat-penat di bagian-bagian anggota badannya.

Selain itu terngianglah kembali semua ceritera Samparan pada saat terakhir sebelum menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Tentang Lawa Ijo, tentang pertemuan yang akan diadakan oleh golongan hitam, tentang pusaka-pusaka Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten, dan tentang seorang yang disebut oleh Samparan bernama Pasingsingan. Semuanya itu masing-masing bagi Mahesa Jenar memerlukan perhatian-perhatian khusus.

Sebenarnya kalau Lawa Ijo atas petunjuk Pasingsingan ingin mendapat pusaka Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten dengan memasuki Gedung Perbendaharaan Istana, ia pasti akan kecewa. Sebab kedua pusaka itu sedang jengkar meninggalkan tempat penyimpanannya. Tak seorang pun yang mengetahui, kemana perginya dan siapa yang membawanya.

Sedangkan kepada Pasingsingan sendiri, Mahesa Jenar tak habis-habis heran. Bahkan hampir tak masuk akal, kalau sampai Pasingsingan mempunyai seorang murid semacam Lawa Ijo.

Mengenai pertemuan golongan hitam itu pun akan merupakan suatu peristiwa yang cukup menarik.

Kecuali itu, bila Lawa Ijo telah menyatakan diri untuk mengambil bagian dalam pertemuan itu, pastilah bahwa pagi-pagi ia telah mempersiapkan diri. Ini berarti bahwa Lawa Ijo selalu berusaha untuk memperdalam segala ilmunya sampai sedalam-dalamnya. Apalagi di bawah asuhan seorang sakti yang bernama Pasingsingan.

Lalu bagaimanakah dengan dirinya? Dengan terbunuhnya salah seorang anggota gerombolan Lawa Ijo, bahkan saudara muda seperguruannya, berarti Mahesa Jenar sudah berhadapan langsung dengan golongan itu. Golongan Lawa Ijo yang bersarang di hutan Mentaok.

Karena itulah maka Mahesa Jenar mulai menilai dirinya kembali. Sebenarnya ia tidak ingin lagi mempergunakan tenaganya dan ilmu tata berkelahi yang pernah dipelajarinya untuk memecahkan soal. Tetapi berhadapan dengan gerombolan Lawa Ijo, soalnya menjadi lain. Terhadap gerombolan itu, dan gerombolan hitam umumnya, ia tak dapat berbuat lain, kecuali harus mempersiapkan diri dalam keadaan siaga tempur.

Maka, dengan tak sesadarnya Mahesa Jenar mengamat-amati tangannya dengan jari-jarinya yang kokoh kuat. Telah berapa jiwa melayang karenanya, selama ia berusaha menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Dan sekarang, tangan ini harus siap membunuh pula, juga untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan.

Bahkan alangkah menariknya untuk mengetahui pula kejadian-kejadian dalam pertemuan yang akan diselenggarakan oleh golongan hitam itu, pada saat purnama naik, bulan terakhir tahun ini.

Maka dengan tidak sengaja pula, Mahesa Jenar bangkit dan berjalan mondar-mandir di dalam ruangan itu.

Malam sudah begitu dalam dan sepi. Kecuali suara-suara binatang malam yang sekali-kali memecah sunyi. Pada saat yang demikian tiba-tiba saja timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk mencoba kembali kekuatan tenaganya. Mungkin akan berguna nanti. Kalau ada kesempatan, bukankah suatu hal yang baik sekali untuk membinasakan segala tokoh-tokoh hitam pada saat mereka berkumpul?

Tetapi mereka pun bukanlah kumpulan anak-anak kecil yang dapat ditakut-takuti oleh seekor anjing yang sedang menggonggong.

Belum lagi Mahesa Jenar mendapat sasaran untuk memulai, tiba-tiba didengarnya sayup-sayup suara yang bergetar panjang, mendirikan bulu roma. Suara itu menggetarkan udara seperti getaran gelombang pantai. Bagi penduduk Pucangan, suara itu memang sering terdengar. Bahkan hampir setiap malam, apabila kademangan itu telah terbenam dalam sunyi malam. Setiap penduduk kademangan yang mendengar suara mengerikan itu tubuhnya tentu akan menggigil karenanya.

Tetapi sebaliknya adalah Mahesa Jenar. Mendengar suara itu tiba-tiba timbullah kegembiraannya. Dengan lincahnya ia segera meloncat turun ke halaman. Untuk beberapa saat ia berdiri mendengarkan dari mana arah suara yang menggeletar itu. Mahesa Jenar merasa bahwa ia akan mendapat kawan berlatih yang baik. Maka kemudian dengan tidak berpikir panjang lagi. Segera ia meloncat dan seperti kilat berlari ke arah suara yang menarik hati itu, agak jauh di luar pedesaan.

Ketika sekali lagi suara itu terdengar semakin panjang, Mahesa Jenar menjadi bertambah gembira, sehingga ia semakin mempercepat langkahnya. Tampaklah ia kemudian seperti bayangan yang terbang dalam kegelapan.

Setelah beberapa lama berlari, Mahesa Jenar menghentikan langkahnya. Dari sinilah arah suara tadi terdengar. Dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan, ia mengamat-amati keadaan di sekitarnya, yang penuh semak-semak dan rumput-rumput ilalang yang tumbuh liar.

Tiba-tiba telinga Mahesa Jenar yang tajam menangkap suara berdesir dari dalam semak-semak itu. Cepat ia membalikkan diri ke arah suara itu, dan bersiaga. Apa yang dicari, kini telah muncul dari balik batang-batang ilalang.

Mahesa Jenar tersenyum, ketika dilihatnya seekor harimau loreng sangat besar, hampir sebesar kerbau, memandangnya dengan keheran-heranan. Matanya yang kehijau-hijauan memancar seperti lentera yang menyorot kepadanya. Untuk beberapa saat harimau itu berdiri mematung. Agaknya harimau itu heran, manusia manakah yang telah mengantarkan dirinya sendiri untuk menjadi santapan malamnya.

Ketika harimau itu perlahan-lahan maju ke depan, darah Mahesa Jenar berdesir juga. Alangkah besar dan garangnya. Dan dengan tidak sesadarnya, kembali Mahesa Jenar mengawasi tangannya serta jari-jarinya yang kokoh kuat.

Dan pada telapak tangan Mahesa Jenar, seolah-olah terbayang apa yang pernah terjadi pada saat terakhir, sebelum gurunya melenyapkan diri dan kemudian ternyata wafat. Pada saat ia mendapat warisan ilmu yang sebenarnya sangat hebat. Suatu ilmu yang dapat dikatakan tersimpan di tangan Mahesa Jenar. Sebab kalau ia ingin menerapkan ilmu itu, haruslah dipergunakan sisi telapak tangannya. Meskipun pada dasarnya ilmu itu mempergunakan kekuatan jasmaniah, tetapi tidaklah demikian seluruhnya. Bertahun-tahun Mahesa Jenar melatih diri meyakinkan ilmu itu, yang mempergunakan unsur-unsur gerak pendahuluan 10 macam. Sebelum itu ia masih harus membiasakan keadaan jasmaniahnya. Setiap pagi dan sore menghantamkan sisi telapak tangannya pada bermacam-macam benda. Dari pasir, kayu, sampai ke batu.

Sepuluh unsur gerak pendahuluan itu hanyalah sekadar patokan untuk menekan lawannya sampai sedemikian rupa sehingga pada saat yang terakhir dimana keadaan sudah memungkinkan, dilontarkanlah pukulan dengan sisi telapak tangan.

Tetapi pukulan itu tidak akan memenuhi harapan, bila saat itu tidak dibarengi dengan suatu kekuatan batin yang luar biasa besarnya, serta pemusatan tenaga. Inilah sebenarnya yang sulit dilaksanakan. Untuk dapat melakukan ini semua, Mahesa Jenar harus bekerja keras beberapa tahun lamanya.

Latihan-Latihan itulah yang sangat terasa berat. Pada taraf permulaan Mahesa Jenar harus melatih mengatur pernafasan, kemudian pemusatan pikiran dan terakhir menggabungkan segenap kekuatan lahir batin. Semua itu untuk disalurkan lewat sisi telapak tangannya.

Dalam pelaksanaannya tidaklah mesti 10 unsur gerak itu dilakukan berurutan. Tetapi unsur yang hanya sekadar merupakan patokan yang dapat dibolak-balik, diambil beberapa bagiannya saja menurut kebutuhan. Bahkan dapat dimasuki dan digabungkan dengan unsur-unsur gerak yang lain.

Setelah Mahesa Jenar menjalani semua latihan-latihan itu, hasilnya sangat hebat. Tangan Mahesa Jenar, bila dikehendaki seolah-olah dapat berubah menjadi palu besi yang sangat berat.

Tetapi meskipun demikian, sampai saat itu Mahesa Jenar belum pernah mempergunakan ilmunya itu untuk melawan sesama manusia. Ia baru mencoba menghantam-hancurkan kayu dan bahkan batu. Tetapi terhadap sesama manusia, Mahesa Jenar masih belum sampai hati mempergunakannya. Sebab, akibatnya dapat dibayangkan.

Namun sekarang Mahesa Jenar merasa berhadapan dengan lawan yang tak dapat diabaikan. Apalagi Lawa Ijo adalah murid Pasingsingan. Lebih-lebih kalau Pasingsingan sendiri ikut campur dalam urusan ini.

Karena itu, Mahesa Jenar memutuskan, bahwa ia harus mempersiapkan ilmunya itu. Ilmu yang pernah dipelajarinya dengan sungguh-sungguh dan bersusah payah.

Dan sekarang, ia mendapat sasaran yang tepat. Seekor harimau loreng yang sangat besar sekali, yang pasti sangat mengganggu penduduk di sekitar daerah ini. Sebab seekor harimau yang hampir sebesar kerbau ini tentu akan senang menangkap ternak para petani.

Meskipun kekuatan jasmaniah harimau sebesar itu, jauh berlipat dari kekuatan jasmaniah manusia biasa, Mahesa Jenar yakin bahwa ia akan dapat mengatasinya, dengan ilmunya yang oleh gurunya disebut Sasra Birawa.

Sementara itu, Mahesa Jenar segera tersadar oleh suara gemersik kaki harimau yang berdiri tidak jauh di hadapannya. Harimau itu telah merunduk sangat rendah, dan siap menerkam.

Dengan mengaum keras, harimau itu dengan garangnya meloncat akan menerkam Mahesa Jenar. Kedua kaki depannya menjulur hampir lurus dengan tubuhnya. Kuku-kukunya yang tajam siap merobek-robek mangsanya. Sedang taring-taringnya yang tajam-runcing, menyeringai. Mengerikan sekali.

Tetapi Mahesa Jenar adalah seorang yang telah terlatih baik untuk menghadapi setiap kemungkinan dan segala macam bahaya. Maka ketika dilihatnya harimau itu meluncur menerkamnya, dengan cekatan Mahesa Jenar merendahkan diri dan meloncat ke samping. Harimau itu kembali mengaum dengan hebatnya. Rupanya ia sangat marah ketika mangsanya terlepas dari terkamannya. Tetapi selama harimau itu masih mengapung di udara, ia sama sekali tak dapat mengubah geraknya.

Ketika harimau itu mendarat di tanah, ia menjadi terkejut sekali. Tidak saja karena sasarannya telah menghindarkan diri, tetapi juga karena tiba-tiba saja terasakan sesuatu yang menghantam punggungnya, dan bahkan seperti melekat dengan eratnya.

Mahesa Jenar ketika telah berhasil menghindarkan diri, maka tepat pada saat harimau itu menjejakkan kakinya di atas tanah, dengan kecepatan luar biasa Mahesa Jenar meloncat ke atas punggung harimau itu, dan menghantamnya sekali. Seterusnya kedua tangannya dengan eratnya berpegangan pada leher harimau itu.

Tetapi harimau adalah binatang yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Pantaslah kalau disebut raja hutan. Apalagi seekor harimau yang sedang marah, seperti yang sedang dihadapi oleh Mahesa Jenar.

Harimau itu menggeliat dengan sepenuh tenaga untuk melepaskan pegangan Mahesa Jenar. Tetapi Mahesa Jenar dengan eratnya mencengkeram leher harimau itu, sehingga tangan itu tidak terlepas. Akhirnya harimau yang sudah mencapai puncak kemarahannya itu meloncat tinggi. Setelah terjun kembali, segera menjatuhkan diri dan bergulingan di tanah. Bagaimanapun eratnya pegangan Mahesa Jenar, tetapi mengalami hal yang demikian tak urung tangannya terlepas juga. Bahkan ia terlempar ke samping, sampai beberapa langkah dan jatuh berguling-guling. Untunglah bahwa Mahesa Jenar memiliki keuletan yang luar biasa. Demikian Mahesa Jenar jatuh terguling beberapa kali, segera ia meloncat dan tegak kembali tepat pada saatnya. Sebab pada saat itu, harimau yang marah itu telah siap kembali menerkam. Tetapi setelah mengalami kegagalan, rupanya harimau itu mendapat suatu pengalaman, bahwa dengan suatu terkaman dari jarak yang jauh, ia tak berhasil menguasai mangsanya. Maka kali ini harimau itu tidak lagi merunduk lalu meloncat. Perlahan-lahan tetapi pasti, harimau itu mendekati lawannya.

Mahesa Jenar bertambah berhati-hati melihat perubahan sikap harimau itu. Untuk melawan langsung seekor harimau sangatlah berbahaya. Kuku-kukunya serta gigi-gigi yang tajam itu dapat merobek kulitnya. Maka diputuskannya untuk segera mengakhiri perkelahian.

Maka, segera ia bersikap. Tanpa mempergunakan unsur-unsur pendahuluan untuk menekan lawannya. Ia berdiri di atas satu kakinya, menghadap langsung pada harimau itu. Satu kaki lainnya diangkat dan ditekuk ke depan. Sebelah tangannya menyilang dada, sedangkan tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Cepat-cepat ia mengatur peredaran nafasnya, memusatkan pikiran dan menyalurkan segala kekuatan lahir dan batin ke sisi telapak tangannya. Maka ketika harimau itu mengaum dahsyat, serta dengan garangnya menerkamnya, Mahesa Jenar pun telah siap dan terdengar ia berteriak nyaring. Ia memutar kaki yang diangkatnya itu setengah lingkaran dan membuat satu loncatan kecil kesamping. Berbareng dengan itu, tangan kanannya terayun deras sekali menghantam tengkuk harimau itu. Akibatnya adalah dahsyat sekali. Harimau itu mengaum lebih keras lagi dibarengi dengan gemeretak tulang patah. Sekejap kemudian harimau itu melenting tinggi, dan sesaat lagi terdengarlah gemuruh tubuhnya jatuh ke tanah, tidak bergerak lagi selama-lamanya. Harimau itu mati karena patah tulang lehernya oleh kekuatan tangan Mahesa Jenar yang telah mempergunakan ilmu Sasra Birawa.

Sesaat kemudian malam menjadi sunyi kembali. Yang terdengar, kecuali tarikan nafas Mahesa Jenar, adalah suara-suara binatang malam dan belalang bersahutan.

Di langit, bintang-bintang gemerlapan, seperti permata yang ditaburkan di atas selembar permadani biru kelam.

Dengan tajamnya Mahesa Jenar mengawasi lawannya yang sudah tidak bernyawa lagi itu. Ia dapat sedikit berbangga hati, bahwa sampai sekarang ia mendapat kebahagiaan untuk memiliki ilmu gurunya yang dahsyat itu. Seandainya yang dikenai itu manusia biasa, maka dapatlah dibayangkan, bahwa manusia itu akan hancur lebur tanpa sisa.

Belum lagi Mahesa Jenar puas menikmati kemenangannya, tiba-tiba terdengarlah suara gemersik ilalang di belakangnya. Cepat-cepat ia memutar tubuhnya dan segera bersiaga.

Tetapi ketika ia melihat siapakah yang berdiri di belakangnya, ia menjadi terkejut bukan kepalang. Kalau misalnya Lawa Ijo yang berada di situ, ia tidak akan seterkejut pada saat itu.

Ternyata yang berdiri di belakangnya, dengan wajah cerah, secerah bintang yang gemerlapan di langit, adalah Nyai Wirasaba.

Dalam beberapa saat Mahesa Jenar tidak dapat mengucapkan sepatah katapun, sedang Nyai Wirasaba tertunduk malu. Tetapi kemudian, Mahesa Jenar berhasil menguasai perasaannya, dan dengan sedikit tergagap ia bertanya. “Nyai Wirasaba, kedatangan Nyai sangat mengejutkan aku.”

Nyai Wirasaba masih diam tertunduk. Sampai Mahesa Jenar meneruskan, “Apakah yang Nyai maksudkan, sehingga Nyai memerlukan datang kemari?”

Akhirnya Nyai Wirasaba menjadi seperti tersadar dari sebuah mimpi. Memang kedatangannya pun adalah seperti peristiwa dalam mimpi.

Nyai Wirasaba, pada saat sebelum perkawinannya, sangat mengagumi suaminya karena ketangguhan, kejantanan serta keberaniannya. Tetapi kemudian suaminya menjadi lumpuh, sehingga tak ada lagi yang dapat dikaguminya. Meskipun demikian ia tetap mencintainya.

Tiba-tiba muncullah seorang yang menurut anggapannya sangat mengagumkan pula, berani dan bersifat jantan. Ketika Mahesa Jenar keluar dari ruang tidurnya dan berdiri di halaman, sebenarnya Nyai Wirasaba sudah berada di halaman pula, untuk membeningkan pikirannya yang kusut. Mendadak pada saat itu terdengarlah aum harimau di kejauhan. Dan ketika dilihatnya Mahesa Jenar, menjadi gembira dan berlari ke arah suara itu, tanpa sadar ia segera mengikutinya untuk sekadar dapat menyaksikan sikap jantan Mahesa Jenar. Meskipun ia tidak berlari secepat Mahesa Jenar, arah suara harimau yang mengaum berkali-kali itu telah menuntunnya sampai ke tempat pertarungan itu. Apalagi ketika ia menyaksikan bagaimana Mahesa Jenar membunuh lawannya. Hatinya menjadi melonjak dan tak dapat dikuasainya lagi.

Karena itulah, ketika ia mendengar pertanyaan Mahesa Jenar, ia menjadi agak bingung. Tetapi kemudian dijawabnya juga dengan penuh kejujuran. “Aku tidak tahu, kenapa aku kemari.”

“Tidak tahu?” sahut Mahesa Jenar heran.

“Ya, aku tidak tahu. Mungkin hanyalah terdorong oleh keinginanku menyaksikan suatu peristiwa yang dapat mengungkat kembali suatu kenang kenangan yang indah pada masa muda.”

“Apa yang Nyai Wirasaba lakukan adalah sangat berbahaya.” berkata Mahesa Jenar kemudian, ”Bagaimana kalau aku tidak dapat memenangkan pertandingan ini? Barangkali Nyai Wirasaba pun akan menjadi santapan macan loreng itu”.

“Tidak mungkin.” jawab Nyai Wirasaba, ”Aku yakin kalau harimau itu akan terbunuh”.

“Nyai Wirasaba yakin?” tanya Mahesa Jenar. Matanya memancarkan berbagai pertanyaan.

Kembali Nyai Wirasaba tertunduk diam. Dia sendiri tidak tahu kenapa ia mempunyai perasaan demikian.

“Nah, sebaiknya Nyai Wirasaba sekarang pulang. Adalah berbahaya sekali bagi Nyai untuk tetap berada disini.” Mahesa Jenar menasehati seperti anak kecil yang kemalaman bermain.

Tetapi Nyai Wirasaba tetap tak bergerak. Bahkan tiba-tiba saja perasaannya terbang ke alam angan-angan yang pahit. Tiba-tiba saja ia rindukan kembali masa gadisnya beberapa tahun lampau. Saat-saat pertemuan dan perkenalannya dengan Ki Wirasaba, serta cita-citanya untuk dapat menimang seorang anak laki-laki yang segagah, seberani dan sejantan ayahnya. Tetapi sekarang, selama Wirasaba lumpuh, hampir seluruh bagian bawah tubuhnya, selama itu pula ia tak dapat mengharap menimang seorang anak laki-laki seperti yang dirindukannya.

Kembali perasaan Nyai Wirasaba melonjak dan tak dapat dikendalikan, sehingga tiba-tiba ia tersedan.

Mahesa Jenar adalah seorang laki-laki yang mempunyai perbendaharaan pengalaman yang luas sekali. Tetapi meskipun ia pernah berkenalan dengan banyak sekali wanita, ia sendiri belum pernah bergaul terlalu rapat. Sehingga wanita baginya adalah makhluk yang asing, yang mempunyai perasaan di luar kemampuannya untuk menjajaginya. Apalagi ia sendiri belum beristri. Maka ketika dilihatnya Nyai Wirasaba menangis, hatinya menjadi bingung kalang kabut. Ia menjadi semakin tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia sendiri tidak merasakan adanya suatu kesalahan yang dapat menusuk perasaan. Karena itu untuk beberapa saat ia hanya dapat berdiri diam seperti patung, sedangkan perasaannya bergolak menebak-nebak, apakah sebabnya Nyai Wirasaba menangis. Akhirnya ia sampai pada suatu kesimpulan yang sangat ditakutinya. Karena pengetahuan Mahesa jenar tentang perasaan seorang wanita sangat sempit, maka ia telah mempunyai tanggapan yang salah terhadap Nyai Wirasaba.

Karena itulah ia bertambah cemas. Katanya dengan suara gemetar “Nyai, aku telah mengorbankan harga diriku dengan tidak menerima tantangan Ki Wirasaba, sekedar untuk mengembalikan suasana ketenteraman rumah tangga kalian. Dan sekarang, ketenteraman yang sudah hampir pulih kembali itu akan terganggu pula, apabila kita berdua pada malam begini berada di tempat ini. Karena itu pulanglah dan lupakanlah segala angan angan itu”.

Nyai Wirasaba adalah seorang wanita yang berperasaan halus, sehalus rambut dibelah tujuh. Ditambah pula sudah beberapa tahun ia meladeni suaminya yang cacat kaki, sehingga ia menjadi semakin perasa.

Maka ketika ia mendengar perkataan Mahesa Jenar, ia terperanjat. Meskipun Mahesa Jenar sama sekali tak bermaksud jahat, dan perkataannya itu diucapkan dengan jujur menurut perasaannya, tetapi akibatnya seperti sembilu yang langsung membelah ulu hati Nyai Wirasaba. Sebagai seorang wanita yang dididik oleh seorang saleh seperti Ki Asem Gede, maka sudah tentu ia mementingkan sifat-sifat keutamaan seorang wanita. Diantaranya sifat setia dan bakti kepada suaminya.

Dengan demikian, maka perkataan Mahesa Jenar telah menggelorakan darahnya. Ia merasa tersinggung dengan anggapan itu. Meskipun ia sangat mengagumi keperwiraan seseorang, namun ia menjadi gusar juga karena tuduhan itu.

Maka dijawabnya kata-kata Mahesa Jenar itu dengan suara yang bergetar. “Tuan, aku telah mengagumi keperwiraan Tuan, keberanian dan kejantanan Tuan. Dan dengan tidak sadar pula aku telah mengikuti Tuan sampai ke tempat ini untuk menyaksikan keperwiraan Tuan. Hal ini mungkin disebabkan aku terlalu mengagumi kejantanan suamiku pada masa muda kami berdua. Dengan menyaksikan kejantanan Tuan, aku mendapat suatu jembatan yang dapat menghubungkan kembali kepada kenangan masa silam. Suatu masa yang penuh dengan harapan dan cita-cita. Tetapi Tuan telah menuduh aku dengan tuduhan yang menyakitkan hatiku.” Suara Nyai Wirasaba tersekat di kerongkongan oleh air matanya yang mendesak.

Mendengar jawaban itu Mahesa Jenar tidak kurang terperanjatnya. Tetapi ia tetap tidak dapat mengerti, Kalau demikian halnya, mengapa seorang wanita seperti Nyai Wirasaba sampai bersusah payah mengikutinya. Karena Mahesa Jenar adalah seorang yang berdada terbuka serta tidak suka menyembunyikan perasaannya, maka berkatalah ia, “Tetapi sampai demikian perlukah Nyai Wirasaba pergi ke tempat ini pada malam begini?

Sekali lagi dada Nyai Wirasaba yang penuh itu terguncang. Ia menjadi bertambah gusar mendengar kata-kata Mahesar Jenar itu. Tetapi seperti halnya Mahesa Jenar yang tak dapat menjajagi perasaannya, Nyi Wirasaba pun tidak tahu sama sekali akan ketulusan hati Mahesa Jenar. Bahkan ia menyangka bahwa dalam kesempatan itu Mahesa Jenar ingin memancing-mancing untuk meraba-raba perasaannya. Karena itu dengan marahnya ia berkata, “Tuan, aku tidak menyangka bahwa hati Tuan ternyata palsu. Maka baru sekarang aku mengerti kenapa suamiku berkata, bahwa tak mungkin seseorang menyabung nyawanya tanpa pamrih. Tetapi Tuan jangan mimpikan air mengalir ke udik.”

Sekarang Mahesa Jenar yang merasa dadanya terguncang. Ia tidak dapat membayangkan bahwa wanita cantik seperti Nyai Wirasaba itu dapat sedemikian marahnya sehingga mengeluarkan kata-kata yang menusuk perasaan demikian pedihnya. Karena itu, seluruh tubuh Mahesa Jenar menggigil karena ia berusaha menahan diri. Disamping itu ia mulai merasa bahwa mungkin perkataan-perkataannya telah menyinggung perasaan Nyai Wirasaba. Maka dalam kebingungan itu, ia hanya dapat berdiri terpaku seperti patung.  Tak ada sepatah kata pun yang diucapkan. Sampai Nyai Wirasaba menyambung pula, “Tuan, barangkali Tuan menyangka bahwa suamiku hanya dapat bermain main dengan suatu permainan yang jelek dengan Samparan. Tetapi ketahuilah Tuan, bahwa aku mengharap ia lekas sembuh. Dan sesudah itu aku tidak tahu apakah aku masih dapat mengagumi ketangkasan Tuan di hadapan suamiku.”

Sekali lagi dada Mahesa Jenar terguncang. Ia adalah seorang laki laki yang mengutamakan keperwiraan seorang ksatria. Ia sudah menahan dirinya sekian lama sejak ia menerima sindiran-sindiran Wirasaba di hadapan Mantingan dan Ki Asem Gede. Seandainya Nyai Wirasaba tidak langsung menyinggung harga dirinya sebagai seorang laki-laki, mungkin ia masih dapat menahan dirinya, meskipun dadanya akan menjadi sesak. Tetapi sekarang, Nyai Wirasaba yang karena marahnya, telah langsung merendahkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki dengan memperbandingkannya dengan Wirasaba. Karena itulah maka Mahesa Jenar tidak dapat lagi membendung aliran perasaannya yang semakin deras mendesak dan telah cukup lama tertahan. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk menyambut tantangan itu dengan sebaik mungkin, meskipun nafasnya menjadi berdesakan. “Mudah-mudahan Ki Wirasaba lekas sembuh. Dan aku akan mencoba melayaninya, meskipun barangkali aku tidak akan dapat memberi kepuasan… dan ….” masih banyak yang akan diucapkan Mahesa Jenar, tetapi ia tidak tahu bagaimana melakukannya. Sedangkan yang keluar dari mulutnya adalah, “Nyai, kalau ada kesalahanku maafkanlah, tak ada gunanya aku lebih lama tinggal di sini. Perkenankanlah aku pergi. Tolong pamitkan kepada mereka berdua, dan lain kali aku mengharap dapat bertemu kembali. Juga kepada Ki Wirasaba, sampaikan salamku, sampai bertemu apabila ia telah sembuh kembali.”

Belum lagi Mahesa Jenar mengucapkan seluruh kata-katanya, terdengar suara Nyai Wirasaba hampir berteriak, “Salahkulah kalau aku sampai datang kemari, apapun sebabnya, karena aku seorang wanita.”

Kemudian diluar dugaan Mahesa Jenar, Nyai Wirasaba segera berlari meninggalkan tempat itu.

Mahesa Jenar terpaku di tempatnya. “Alangkah tumpulnya perasaanku. Sungguh aku tidak mengerti, apa yang baru saja terjadi”.

Belum lagi Mahesa Jenar menemukan jawaban, didengarnya dari arah samping suara gemersik rumput kering. Cepat ia memutar tubuhnya menghadap ke arah suara itu. Ternyata apa yang dijumpainya mengejutkannya pula. Orang yang datang itu adalah Ki Dalang Mantingan. Sesaat darah Mahesa Jenar jadi berdegupan. Kalau ada orang ketiga yang menyaksikan hadirnya Nyai Wirasaba di tempat itu, dapatlah menimbulkan bermacam-macam kemungkinan. Tetapi karena ia percaya bahwa sahabatnya itu tidak akan menjelekkan namanya, maka segera ia pun dapat menguasai dirinya kembali.

Sementara itu terdengar Mantingan berkata, “Adimas, maafkanlah kalau kedatanganku sangat mengejutkan Adimas.”

“Tidak.” jawab Mahesa Jenar sambil menggeleng lemah, ”Tidak seberapa Kakang Mantingan. Tetapi sudah lamakah kakang berada di sini?”.

“Sudah…” sahut Mantingan, ”Sudah lama. Aku menyaksikan semua yang terjadi. Sejak Adimas membunuh harimau itu dengan tangan, sampai perselisihan paham yang terjadi antara Adimas dan Nyai Wirasaba”.

Mahesa Jenar menundukkan kepalanya sambil kembali menggeleng lemah. Kemudian katanya, “Aku tidak mengerti kenapa hal-hal serupa itu bisa terjadi. Kau dengar seluruh pembicaraan kami Kakang?”

“Seluruhnya.” jawab Mantingan, ”Aku datang ke tempat ini bersamaan waktunya dengan Nyai Wirasaba,”.

“Kau tahu bahwa aku di sini?” tanya Mahesa Jenar lebih lanjut.

“Ya, sebab ketika aku mendengar aum harimau dan terbangun dari tidurku, aku tidak melihat Adimas di pembaringan. Segera aku pergi mencarinya. Ketika aku turun ke halaman, aku melihat Nyai Wirasaba sedang berlari dengan kencangnya ke arah suara harimau itu. Tentu saja aku tidak dapat membiarkan hal semacam itu. Segera aku pun pergi menyusulnya. Dan seterusnya seperti apa yang terjadi di sini.”

Mendengar keterangan Mantingan, Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian untuk beberapa saat mereka berdiam diri, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sampai kembali Mantingan berkata, “Adimas, sebenarnya apa yang terjadi hanyalah karena kesalah-pahaman belaka.”

“Apa pendapat Kakang tentang hal itu?” sela Mahesa Jenar.

“Maafkanlah kalau aku katakan, bahwa tidak banyak yang Adimas ketahui tentang perasaan seorang wanita.” Mantingan meneruskan, ”Sebaliknya Nyai Wirasaba menerima keterbukaan dada Adimas itu dengan kemasgulan dan kegusaran. Sebenarnya tak ada persoalan apa-apa antara Adimas dan Nyai Wirasaba. Karena itu tak ada alasan bagi Adimas untuk tergesa-gesa pergi.”

Mahesa Jenar diam sejenak. Ia mencoba mencerna keterangan Ki Dalang Mantingan. Tetapi akhirnya kembali ia menggeleng lemah. Katanya, “Kakang Mantingan, aku kira lebih baik aku pergi. Banyak hal yang tidak menguntungkan apabila aku tetap tinggal di sini. Kakang tahu bahwa aku bukanlah seorang yang sabar dan pradah untuk menerima perangsang perangsang yang dapat membakar perasaanku. Aku juga masih belum tahu apakah Wirasaba sudah puas dengan kematian Samparan.”

Kembali mereka berdiam diri. Udara malam yang lembab di daerah pegunungan mengalir dibawa arus angin perlahan-lahan. Dan dalam keheningan itu kembali suara-suara malam bertambah jelas.

Sebenarnya sangatlah berat perasaan Mantingan untuk melepas Mahesa Jenar pergi. Meskipun baru beberapa hari ia mengenalnya, namun seolah-olah hatinya telah tergenggam erat dalam tali persahabatan. Karena itu ia berusaha keras untuk menahan Mahesa Jenar.

Adimas,” katanya sejenak kemudian mengusik sepi malam, “kalau Adimas berkeras untuk meninggalkan tempat ini, bukankah lebih baik Adimas pergi ke Prambanan? Kakang Demang Penanggalan akan merasa berbahagia kalau Adimas sudi tinggal beberapa hari di rumahnya.”

Mahesa Jenar tidak segera menjawab ajakan itu. Memang pernyataan yang demikian itu mungkin sekali. Tetapi mengingat kemungkinan-kemungkinan lain, dimana Ki Asem Gede turut berkepentingan, adalah kurang pada tempatnya. Sedangkan ia sama sekali tidak mengerti persoalannya. Tidaklah enak perasaan Mahesa Jenar untuk meninggalkan keluarga Ki Asem Gede dan kemudian tinggal pada keluarga Mantingan.

Dengan demikian suasana menjadi kaku, seperti garis-garis karang di tebing-tebing pegunungan yang merupakan lukisan-lukisan hitam di atas dasar kebiruan langit yang ditaburi bintang-bintang.

Akhirnya Mahesa Jenar mengambil suatu ketetapan. Ia harus pergi meninggalkan daerah itu. Katanya, “Kakang Mantingan, terpaksa aku tidak dapat mengubah keputusanku. Banyak hal yang dapat aku lakukan kalau aku melanjutkan perjalananku. Mungkin aku dapat menemukan sarang Lawa Ijo di hutan Mentaok atau gerombolan orang-orang berkuda yang membuat upacara-upacara aneh dengan mengorbankan gadis-gadis itu.”

Sampai sekian Mantingan sudah menduga bahwa sulitlah baginya untuk tetap menahan Mahesa Jenar.

Sementara itu Mahesa Jenar meneruskan, “Kakang Mantingan, meskipun aku bukan lagi seorang prajurit, namun aku masih tetap ingin mengabdikan diriku. Sebab pengabdian yang sebenarnya tidak harus melulu ditujukan kepada raja, tetapi sebenarnyalah bahwa pengabdian harus ditujukan kepada rakyat. Karena itu aku akan merasa berbahagia sekali kalau aku dapat berbuat sesuatu untuk ketenteraman hati rakyat. Nah kakang Mantingan, sampai sekian saja pertemuan ini.”

Tak sepatah katapun yang dapat diucapkan Mantingan. Betapa kagumnya ia terhadap Mahesa Jenar yang telah menemukan garis tujuan bagi hidupnya. Meskipun ia sendiri juga selalu berusaha untuk melakukan hal-hal yang serupa, yaitu membasmi kejahatan, tetapi apa yang dilakukannya itu adalah diluar kesadaran bagi sesuatu tujuan yang besar. Karena itu apa yang dilakukannya adalah suatu perbuatan sepotong-sepotong tanpa suatu garis penghubung dari yang satu dengan yang lain.

Kemudian terdengar kembali Mahesa Jenar berkata, “Kakang Mantingan, sampai di sini kita berpisah. Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi. Kalau Kakang Mantingan tidak berkeberatan, di akhir tahun ini, dua hari sebelum purnama penuh, kita bertemu di sekitar Banyu Biru dan Rawa Pening. Bukankah pada saat itu akan terjadi sesuatu yang penting?”

Seperti diperingatkan akan kelalaiannya, Mantingan menjawab, “Baiklah Adimas. Baiklah kita menyaksikan pertemuan para tokoh-tokoh sakti dari aliran hitam itu. Sementara itu masih ada waktu bagiku untuk sedikit menambah pengetahuanku yang sangat picik ini. Sesudah itu aku juga akan segera kembali ke Wanakerta. Mudah-mudahan aku diizinkan oleh guruku, Ki Ageng Supit.”

“AKU kira Ki Ageng Supit tidak akan keberatan, selama apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan garis kebijaksanaan negara. Nah, Kakang Mantingan, selamat tinggal. Salamku buat Ki Asem Gede dan Demang Penanggalan.”

Dengan perasaan yang sangat berat Mantingan melepas Mahesa Jenar pergi. Sebenarnya Mahesa Jenar pun merasa betapa beratnya meninggalkan daerah ini, meskipun ia mengalami banyak hal yang tak menyenangkan. Tetapi justru karena itu ia akan tetap terkenang pada sahabat-sahabatnya, dimana ia sendiri sedang mengalami kesulitan.

———-oOo———-

V

Kini kembali Mahesa Jenar dengan pengembaraannya. Mula-mula ia berjalan menyusur jalan yang dilaluinya ketika ia mengikuti Ki Asem Gede. Tetapi ia tidak mau terus sampai ke Prambanan. Karena itu, ketika jalan ini akan memasuki belukar, ia mengambil jurusan lain. Ia memilih jalan yang membelok ke barat, menyeberangi Sungai Opak. Meskipun ia sama sekali belum mengenal daerah yang dilaluinya, tetapi sedikit banyak ia mengenal ilmu perbintangan yang diharapkan dapat menuntunnya ke arah yang dikehendaki.

Demikianlah Mahesa Jenar sebagai seorang perantau berjalan dari desa ke desa, dari kademangan yang satu ke kademangan yang lain. Dilewatinya desa-desa Semboyan, Kalimati, Temu Agal, terus ke selatan, lewat daerah Si Lempu dan Cupu Watu. Terus kembali membelok ke barat tanpa berhenti.

Maka pada saat fajar menyingsing sampailah Mahesa Jenar ke depan mulut hutan yang lebat, yang terkenal dengan nama Alas Tambak Baya.

Sampai daerah ini Mahesa Jenar berhenti sejenak. Dipandanginya hutan lebat yang terbentang di hadapannya. Meskipun hutan itu tidak begitu besar, tetapi sangat berbahaya. Di dalamnya bersarang banyak jenis binatang berbisa. Karena itu jarang orang yang lewat. Sebab kecuali binatang-binatang berbisa yang dengan sekali sengat dapat membunuh seseorang, juga di dalam hutan itu banyak bersarang penyamun-penyamun dan perampok-perampok.

Hanya rombongan yang agak besar dengan kawalan yang kuat sajalah yang berani menyeberangi hutan ini. Kebanyakan mereka adalah pedagang-pedagang dari pesisir utara yang membawa barang-barang untuk dipertukarkan dengan hasil-hasil hutan. Tetapi meskipun rombongan-rombongan itu telah menyewa beberapa orang pengawal yang dianggapnya kuat, namun tidak jarang diantara mereka yang tak berhasil keluar lagi dari hutan ini.

Pada saat nama Lawa Ijo sedang cemerlang beberapa saat yang lalu, daerah ini pun merupakan daerah pengaruhnya. Tetapi tiba-tiba ia seakan-akan menarik diri dan melepaskan semua hak-haknya atas beberapa daerah. Ternyata apa yang dilakukan oleh Lawa Ijo adalah memusatkan perhatian dan waktunya untuk memperebutkan dan menemukan pusaka-pusaka Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten, di samping persiapan-persiapan untuk menghadapi pertemuan puncak dari tokoh-tokoh sakti aliran hitam.

Karena itu timbullah kesan seakan-akan kekosongan pemerintahan di wilayah pengaruh Lawa Ijo. Penjahat-penjahat kecil yang semula harus tunduk pada setiap peraturan yang dibuat oleh Lawa Ijo, sekarang merasa bebas dan dapat berbuat sekehendak hati mereka. Tidak jarang terjadi bentrokan-bentrokan dan pertempuran-pertempuran antara satu golongan dengan golongan yang lain, untuk memperebutkan rezeki.

Demikianlah kira-kira isi hutan lebat yang bernama Tambak Baya, yang sebenarnya hanya merupakan anak dari induk hutan yang lebih besar dan dahsyat, yaitu Alas Mentaok.

Tetapi, meskipun seakan-akan Lawa Ijo telah menghentikan sebagian besar dari kegiatannya, namun tak segolongan pun dari para penjahat kecil yang berani melakukan pekerjaannya di hutan induk yang lebat ketat itu. Sebab bagaimanapun, mereka masih menghormati pusat kebesaran kerajaan Lawa Ijo.

Sementara itu Mahesa Jenar masih tegak memandang kehijauan hutan di hadapannya, yang berkilat-kilat terkena cahaya matahari, karena pantulan embun pagi yang sedang mulai menguap. Dalam keheningan udara pagi, hutan itu tampaknya seakan-akan tubuh raksasa yang sedang terbujur lelap. Mengerikan.

Untuk menyeberangi hutan itu Mahesa Jenar memerlukan waktu beberapa hari, sampai dijumpainya pedesaan kecil di daerah Pliridan. Sesudah itu ia akan sampai ke bagian hutan yang bernama Beringan dan di bagian selatan yang penuh dengan rawa-rawa, bernama Pecetokan. Untuk melampaui kedua daerah ini pun diperlukannya waktu beberapa hari pula. Kalau ia ingin menemui padukuhan, ia harus menyusup ke selatan, ke daerah Nglipura dan Mangir.

Mengingat itu semua, Mahesa Jenar merasa perlu untuk mendapat bekal makanan secukupnya. Maka sebelum memasuki hutan itu diperlukannya untuk singgah di pedukuhan yang terdekat untuk membeli bahan makanan sekadarnya. Disamping itu ia mengharap pula bahwa di dalam hutan itu pun akan tersedia bahan makanan, terutama daging.

Di sebuah gardu di tepi sebuah desa, dilihatnya banyak orang sedang berjualan. Rupanya gardu itu merupakan tempat berkumpul bagi mereka yang akan menyeberangi hutan. Mereka menunggu sampai jumlah yang cukup, kemudian bersama-sama mengupah beberapa orang yang kuat untuk mengawal mereka sampai ke Nglipura, Mangir atau daerah Begelen di seberang hutan Mentaok setelah melintasi pegunungan Manoreh.

Lalu lintas ini mulai ramai kembali sejak Lawa Ijo melepaskan beberapa daerah pengaruhnya. Sedangkan terhadap perampokan-perampokan kecil, para pengawal bersama-sama para pedagang dalam jumlah yang cukup besar, merasa mampu untuk menandingi perampok-perampok itu.

Diantara mereka yang berkumpul di situ terdapat beberapa orang saudagar, beberapa orang yang barangkali akan mengunjungi sanak saudara di tempat yang jauh. Mereka semua menyandang senjata. Ada yang membawa tombak, kapak, pedang yang berjuntai di pinggang, keris, dan sebagainya.

Yang menarik perhatian Mahesa Jenar, diantara mereka ada seorang gadis yang cantik. Menilik pakaiannya, ia pasti termasuk salah seorang dari keluarga yang cukup. Tetapi melihat wajahnya, tampaklah betapa suram dan sayu. Mungkin ada sesuatu masalah yang memaksanya untuk melawat demikian jauhnya sehingga terpaksa harus menyeberangi hutan Tambak Baya.

Selain gadis itu, Mahesa Jenar juga tertarik kepada seorang muda yang berwajah tampan dan bersih. Umurnya tak banyak terpaut dengan umurnya sendiri. Pemuda itu berpakaian rapi seperti seorang pedagang kaya. Kainnya lurik berwarna cerah, sedangkan bajunya agak gelap berkotak-kotak. Dari celah-celah bajunya tampaklah timang emasnya berteretes intan. Serasi benar dengan kulitnya yang kuning bersih. Namun agaknya ia terlalu berani dengan menonjolkan kekayaannya melewati daerah yang berbahaya itu.

Kedatangan Mahesa Jenar diantara mereka sama sekali tidak menarik perhatian. Baik bagi mereka yang akan mengadakan perjalanan maupun para pengawal yang tampaknya telah siap. Sebab, keadaan Mahesa Jenar dengan pakaiannya yang kusut serta janggut dan kumisnya yang serba tak teratur itu, tampak seperti seorang perantau yang biasanya memang mencari kesempatan untuk dapat berbareng dengan rombongan-rombongan yang demikian. Para pengawal sudah sering melihat hal yang serupa. Dan dari para perantau semacam ini sama sekali tak dapat diharap untuk menambah upah mereka. Tetapi karena biasanya para perantau itu tidak pernah mengganggu, maka para pengawal pun tak pernah merasa keberatan, malahan hampir tak peduli. Bahkan dari para perantau ini dapat pula diambil keuntungannya, dengan menambah jumlah orang dalam rombongan itu, yang juga berarti menambah satu tenaga apabila sesuatu terjadi.

Mula-mula Mahesa Jenar sama sekali tak menaruh perhatian atas rombongan itu, sebab ia tidak mempunyai kepentingan apa-apa. Tetapi karena diantara orang-orang itu agaknya ada yang menarik perhatiannya, maka ia pun mencoba untuk mendekati mereka dengan berpura-pura membeli beberapa macam makanan.

Semakin dekat semakin jelaslah kedukaan yang menggores di wajah gadis cantik itu. Menurut dugaan Mahesa Jenar, gadis itu umurnya berkisar diantara 20 tahun. Menilik sikap, kata-kata dan beberapa gerak-geriknya, gadis itu adalah gadis yang manja. Tetapi karena itu pulalah maka Mahesa Jenar menjadi bertambah heran. Mengapa gadis manja ini menempuh perjalanan yang berbahaya? Pada saat itu Mahesa Jenar masih belum tahu, apakah gadis itu mempunyai kawan seperjalanan diantara rombongan itu.

Sedangkan pemuda tampan itu pun semakin menarik perhatiannya pula. Meskipun pemuda itu berwajah tampan dan bersih serta bersikap sopan, tetapi ketika Mahesa Jenar sempat memandang matanya, ia menjadi curiga. Mata yang redup dan selalu bergerak-gerak bukanlah mata orang baik-baik. Bibirnya yang tipis dan selalu menyungging senyum yang aneh itu pun telah menyatakan bahwa ia mempunyai sifat yang tidak berterus terang dan meremehkan orang lain.

Karena itulah maka Mahesa Jenar kemudian membatalkan niatnya untuk mendahului rombongan itu. Ia merasa tertarik untuk mengikuti iring-iringan itu. Ketajaman perasaannya mengatakan bahwa ada hal yang tidak wajar pada pemuda tampan itu.

Ternyata Mahesa Jenar tidak perlu menunggu lama, sebab sebentar kemudian terdengarlah aba-aba dari pimpinan pengawal yang sudah setengah umur untuk menyiapkan kawan-kawannya yang terdiri dari kira-kira 10 orang, untuk segera berangkat, mumpung hari masih pagi.

Semakin curigalah Mahesa Jenar terhadap pemuda itu, karena kemudian tampak sikapnya yang semakin sopan berlebih-lebihan. Dengan sangat cekatan ia membantu kawan-kawan dalam rombongan itu, terutama gadis cantik yang juga menarik perhatian Mahesa Jenar itu.

Sebentar kemudian siaplah semuanya. Beberapa orang pengawal membawa beban masing-masing, disamping senjata mereka. Dan hampir setiap orang dalam rombongan itu membawa bungkusan besar dan kecil. Tetapi tidak demikianlah pemuda itu. Kecuali pakaian yang melekat di tubuhnya, tak sehelai benang pun dibawanya. Namun di tangannya tergenggam sebatang tongkat yang agak panjang, berwarna hitam mengkilap.

Kembali terdengar pemimpin rombongan itu memberikan aba-aba. Sesaat kemudian mulailah iring-iringan itu bergerak. Jumlah orang yang ikut serta dalam rombongan itu, kecuali para pengawal, kira-kira berjulmah 25 orang. Diantaranya hanya terdapat tiga orang wanita. Dua diantaranya berjalan dengan suami masing-masing. Sedangkan gadis cantik yang menarik perhatian Mahesa Jenar, ternyata hanya seorang diri.

Mahesa Jenar segera mengikuti rombongan itu. Dan dengan tidak diduganya sama sekali, seorang wanita yang berjalan dengan suaminya, memanggilnya. Mahesa Jenar ragu-ragu sebentar. Tetapi agar tidak mencurigakan, ia mendatangi wanita itu.

“Bapak, sukakah Bapak membawa beberapa bebanku ini? Nanti aku akan memberi sekadar upah,” kata wanita itu kepada Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar bimbang sebentar. Hatinya menjadi geli.

“Atau barangkali kau mau menentukan berapa besarnya upah yang kau minta?” sambung suaminya.

Cepat-cepat Mahesa Jenar membungkuk hormat. Lalu jawabnya, “Akh, terserahlah kepada Tuan. Berapa pun besarnya upah yang akan Tuan berikan, pasti akan sangat menyenangkan. Dengan demikian aku akan dapat membeli sekadar oleh-oleh buat anak-anakku.”

Suami-istri itu mengangguk-angguk. Lalu diserahkannya beberapa bebannya kepada Mahesa Jenar.

Hal ini sebenarnya menguntungkan Mahesa Jenar, sebab dengan demikian ia dapat mendekati rombongan itu tanpa suatu kecurigaan. Tetapi ia terpaksa mendongkol juga. Sebenarnya ia lebih senang jalan berlenggang daripada membawa beban yang cukup berat itu. Meskipun sebenarnya Mahesa Jenar bertubuh kuat, namun ia pun harus ber-pura-pura merasa berat pula.

Setelah beberapa saat mereka mengikuti jalan setapak di tengah-tengah rimba liar itu, mulailah perjalanan mereka agak sulit. Beberapa kali pemimpin rombongan itu memperingatkan supaya mereka berhati-hati terhadap segala jenis serangga, lebih-lebih ular. Rupanya pemimpin rombongan itu sudah amat berpengalaman menempuh perjalanan demikian. Karena itu tampaklah betapa bijaksana ia membawa orang-orang yang di bawah tanggung jawabnya itu. Apabila jalan amat sulit, tidak segan-segan ia menolong, bahkan menggendong para wanita dalam rombongan itu. Meskipun pemimpin rombongan itu rambutnya telah berwarna dua, tapi ia masih tampak sehat, tangkas dan kuat.

Demikianlah rombongan itu berjalan sangat pelan, sehingga kemajuan yang dicapainya amat lambat pula.

Pada hari itu, perjalanan tak menemui gangguan apapun. Ketika matahari hampir terbenam, segera pemimpin rombongan memerintahkan tiga orang pengawal berpencar untuk mendapatkan tempat berkemah yang aman. Sebentar kemudian tempat itu pun telah diketemukan, dan mulailah rombongan itu mengatur tempat peristirahatan buat malam harinya. Dengan senjata masing-masing mereka membersihkan rumput-rumput liar dan akar-akar pohon-pohon besar untuk kemudian dibentangkan tikar.

Sebenarnya Mahesa Jenar sangat merasa tidak sabar berjalan bersama dengan rombongan ini. Kalau ia berjalan sendiri, mungkin jarak yang ditempuhnya adalah 2 atau 3 kali lipat. Tetapi sekarang, setelah ia terikat dengan rombongan itu, maka ia tidak dapat berbuat lain daripada mengikuti dengan menahan diri.

Ketika malam telah gelap, para pengawal segera menyalakan api. Sebentar kemudian lidah api itu pun telah menjilat-jilat ke udara. Panas yang dipancarkan terasa nyaman sekali pada malam yang dingin itu. Dan sebentar kemudian, karena kelelahan, beberapa orang telah jatuh tertidur.

Tetapi Mahesa Jenar sama sekali tak tertarik untuk tidur. Meskipun ia juga merasakan lelah. Oleh pemilik barang yang dibawanya, Mahesa Jenar mendapat pinjaman sehelai tikar. Dan di atas tikar itu ia merebahkan dirinya.

Malam semakin lama menjadi semakin dalam. Binatang-binatang hutan mulai keluar dari sarangnya. Suaranya terdengar bersahut-sahutan. Ada yang aneh kedengarannya, tetapi ada pula yang mengerikan, seperti teriakan bayi yang kehausan air susu ibunya.

Dalam keremangan cahaya api, mata Mahesa Jenar yang tajam melihat betapa gadis cantik itu menjadi ketakutan. Sebentar-sebentar ia duduk, sebentar berbaring. Tetapi sebentar kemudian ia membenamkan kepalanya diantara bungkusan-bungkusan kecil yang dibawanya. Sebab tidak ada seorang pun di dalam rombongan itu yang dapat dimintai perlindungan seperti kedua wanita yang lain, kecuali bulat-bulat ia menggantungkan dirinya kepada para pengawal.

Tetapi yang terlebih menarik perhatian adalah si pemuda tampan. Tampak sekali betapa gelisahnya. Ia sama sekali tak membawa apapun, kecuali tongkatnya. Karena itu ia sama sekali tak berbaring.

Sebentar ia duduk, sebentar kemudian berdiri dan berjalan mondar-mandir. Baru setelah lewat tengah malam, tampaknya ia agak tenang. Ia duduk di atas sebuah batu dan bersandar pada sebatang kayu. Tidak lama kemudian tampaklah pernafasannya berjalan perlahan dan teratur. Rupanya ia tertidur.

Melihat pemuda yang aneh itu tertidur, Mahesa Jenar pun menjadi agak tenang. Dan tidak atas kehendaknya sendiri, Mahesa Jenar pun tertidur pulas.

Malam kemudian menjadi bertambah kelam. Setitik demi setitik embun mulai menggantung di dedaunan. Suara binatang hutan sudah mulai berkurang. Hanya kadang-kadang saja masih terdengar aum harimau yang kemudian disusul jerit ngeri beberapa ekor anjing hutan.

Tetapi dalam keadaan bagaimanapun, para pengawal itu tetap pada tugasnya. Mereka bergiliran tidur. Tiap-tiap kali tiga orang yang tetap bangun dan dengan penuh tanggung jawab melakukan tugasnya. Selain itu pemimpin rombongan itu pun kadang-kadang bangun menemani mereka yang kebetulan sedang mendapat giliran. Sedangkan mereka yang telah merasa mengupah orang untuk menjaga dirinya, merasa bahwa keadaan mereka telah aman. Karena itu mereka tidak lagi merasa perlu untuk tetap bangun semalam suntuk.

Ketika malam sudah menjadi semakin jauh, telinga Mahesa Jenar yang tajam sekali itu, mendengar suatu suara yang aneh. Meskipun pada saat itu ia sedang tertidur, tetapi suara itu dapat didengarnya, bahkan telah menyadarkannya.

Perlahan-lahan ia membuka matanya sedikit. Dan apa yang dilihatnya dari celah-celah kelopak matanya adalah sangat mengejutkan sekali. Tetapi meskipun demikian ia tidak segera bertindak.

Dilihatnya pada waktu itu, tiga orang yang bergiliran jaga dan duduk di dekat perapian, telah menggeletak tak bergerak. Sedangkan disampingnya berjongkok si pemuda tampan.

“Alangkah hebatnya pemuda ini,” pikir Mahesa Jenar. Ia dapat merobohkan ketiga-tiganya tanpa banyak ribut-ribut. Untunglah bahwa telinganya telah terlatih baik untuk menghadapi segala kemungkinan.

Melihat hal yang demikian, Mahesa Jenar menjadi semakin waspada. Apalagi ketika pemuda tampan itu kemudian berdiri dan memandang berkeliling. Dan apa yang diduganya adalah benar.

Perlahan-lahan pemuda itu berjalan berjingkat ke arah gadis cantik yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Maka tahulah Mahesa Jenar bahwa pemuda tampan itu akan melarikan gadis yang sedang lelap itu.

Melihat hal yang sedemikian, ia tidak dapat tinggal diam. Meskipun ia sendiri tidak akan bertindak langsung, tetapi seharusnyalah bahwa ia berusaha untuk mencegahnya.

Perlahan-lahan dan hati-hati sekali tangannya meraba-raba mencari sebuah kerikil kecil. Ketika sudah didapatnya, maka dengan hati-hati pula kerikil itu dijentikkan ke arah kaki pemimpin pengawal yang sedang tidur pula.

Rupa-rupanya pengawal itu mempunyai perasaan yang tajam pula. Ketika ia merasa tubuhnya tersentuh kerikil yang dilemparkan Mahesa Jenar, ia pun segera terbangun. Maka apa yang pertama-tama dilihatnya adalah ketiga orangnya yang sedang bertugas telah menggeletak. Sesudah itu lalu dilihatnya si pemuda tampan berjalan hati-hati ke arah gadis yang sedang tidur lelap.

Melihat hal itu, kepala pengawal itu segera dapat menghubungkan persoalannya. Maka marahlah ia bukan kepalang. Mukanya menjadi merah seperti darah. Dengan cekatan sekali ia bangun dan meloncat dengan garangnya. Tanpa bertanya lagi tangannya segera terayun ke arah tengkuk si pemuda tampan. Tetapi adalah di luar dugaan sama sekali, meskipun gerak pemimpin pengawal itu cukup cepat dan tanpa diduga-duga, namun dengan suatu gerakan miring yang sederhana, pemuda itu dapat menghindarinya.

“Hebat…” pikir Mahesa Jenar. Pemuda ini cekatan luar biasa. Siapakah ia sebenarnya?

Ketika pemimpin pengawal itu merasa bahwa pukulannya dapat dielakkan dengan mudah, ia menjadi semakin marah. Dengan geramnya ia melompat maju sekaligus tangannya menyambar leher. Tetapi kembali serangannya itu gagal. Dengan mencondongkan tubuhnya, pemuda tampan itu dapat menghindarkan diri, bahkan sekaligus kakinya mengait kaki lawannya. Untunglah bahwa orang tua itu masih lincah juga, sehingga dengan satu loncatan ia dapat melepaskan diri.

Melihat cara orang itu menghindari serangannya, si pemuda tampan menjadi tertawa kecil, katanya, “Bagus… Pak, kau masih juga pandai bermain bajing loncat”.

Sementara itu, para pengawal yang lain, serta orang-orang yang sedang tidur nyenyak itu pun terbangun mendengar keributan-keributan itu. Beberapa orang menjadi gugup dan bertanya-tanya. Tetapi para pengawal yang lain, yang melihat pemimpinnya bertempur, segera ikut serta melibatkan diri tanpa banyak berpikir.

Maka, sejenak kemudian terjadilah suatu pertempuran yang sengit. Pemuda itu seorang diri harus bertempur melawan tujuh orang. Tetapi ternyata pemuda itu benar-benar tangguh luar biasa. Melawan tujuh orang yang telah berani menyatakan dirinya menjadi pengawal perjalanan di daerah yang berbahaya, sama sekali ia tidak tampak mengalami kesulitan. Dengan tangkasnya ia berloncatan ke sana kemari diantara pepohonan hutan. Tongkat hitamnya berputar-putar melindungi tubuhnya. Meskipun para pengawal itu mempergunakan bermacam-macam senjata, ada yang memakai pedang, ada yang mempergunakan tombak, gada besi dan sebagainya, tetapi semuanya itu tampaknya tidak banyak berguna.

Beberapa orang lain pun kemudian dapat menerka apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu. Karena dalam keadaan demikian, mereka merasa senasib, maka merekapun menjadi marah.

Beberapa orang kemudian segera bangkit dan menyatakan kesetiakawanan mereka, untuk menangkap pemuda tampan itu.

Tetapi adalah aneh sekali. Pemuda itu tampaknya licin seperti belut. Geraknya cepat dan lincah sekali, bahkan mirip dengan gerak seekor ular yang melilit-lilit diantara pepohonan, tetapi sejenak kemudian menjulur melakukan serangan yang berbahaya. Malahan setelah mereka bertempur beberapa lama, tampaklah bahwa pemuda itu tetap menguasai keadaan. Bahkan beberapa saat kemudian ia masih sempat tertawa-tawa dan berteriak nyaring. “Jangan kalian turut campur. Aku inginkan gadis itu.”

“Jahanam,” bentak kepala pengawal, “aku telah menyanggupkan diri melindungi semua yang menjadi tanggung jawabku. Bagaimanapun hebatnya kau, aku akan tetap melawan sampai kemungkinan terakhir.”

Kembali pemuda itu tertawa, katanya, “Aku akan menghitung sampai bilangan 10. Siapa yang tidak mau minggir, bukan salahku kalau ia binasa.”

Mendengar ancaman itu beberapa orang merasa ngeri juga sehingga bulu roma mereka berdiri.

“Satu … dua … tiga …..” Pemuda itu mulai menghitung bilangan.

Sampai bilangan ini, telah banyak diantara mereka yang meloncat keluar dari gelanggang. Bagaimanapun perasaan kesetiakawanan mereka namun karena mereka tidak langsung berkepentingan, maka mereka merasa lebih baik minggir daripada turut menjadi korban. Karena itu, setelah bertempur beberapa lama, terasalah bahwa pemuda itu adalah pemuda yang perkasa.

Sampai bilangan ketujuh, tak ada lagi seorang pun yang berani membantu ketujuh pengawal yang sedang bertempur mati-matian itu. Sehingga pertempuran itu semakin nampak berat sebelah. Tetapi dalam pada itu Mahesa Jenar merasa kagum dan hormat kepada ketujuh pengawal itu, yang tidak lagi menghiraukan keselamatan diri mereka dalam melakukan kewajiban.

Sejenak kemudian Mahesa Jenar merasa tak sampai hati melihat keadaan yang demikian, maka segera ia melompat dan masuk ke dalam arena pertempuran. Tetapi sampai sedemikian jauh ia sama sekali tidak merasa perlu memperlihatkan kepandaiannya. Ia berkelahi dengan cara yang nampaknya sama sekali tak teratur dan sekaligus untuk mengetahui sampai dimana keperkasaan lawannya.

Pemuda tampan itu, ketika melihat Mahesa Jenar masuk ke dalam kancah perkelahian, terpaksa menghentikan hitungannya dan berkata kepada Mahesa Jenar, “Hai orang tolol, kau jangan bermain-main di situ. Menyingkirlah.”

Mahesa Jenar pura-pura tak mendengar seruan itu. Dengan gerak yang bodoh ia menyerang terus bersama-sama ketujuh orang pengawal itu. Beberapa saat kemudian, kembali pemuda itu mengulangi seruannya, tetapi juga kali ini Mahesa Jenar tidak mempedulikannya. Ia berkelahi dengan gerak sekenanya saja. Bahkan ia menyerang pemuda itu dengan segenggam tanah yang dilemparkan ke mukanya, karena ia memang tidak bersenjata.

Akhirnya pemuda itu menjadi gusar, teriaknya, “Bagus, kalau kau tak mau berhenti, aku akan melanjutkan hitunganku, lalu sesudah itu kalian akan mampus semua. Dan gadis itu akan aku bawa pulang tanpa seorang pun dapat menghalangi”.

Mendengar teriakan pemuda tampan itu, gadis cantik yang menjadi sasarannya menjerit ngeri, tetapi suaranya hilang ditelan oleh kelebatan rimba.

Akhirnya, si pemuda sampai juga pada hitungan yang ke 10. Sesudah itu ternyata ia benar-benar akan melakukan apa yang dikatakan. Secepat kilat ia maju menggempur lawannya. Tongkatnya berputaran cepat bukan main, seolah-olah berubah menjadi segulung awan hitam yang menakutkan.

Mahesa Jenar melihat gelagat ini, tetapi ia masih saja bertempur tanpa aturan.

Pertempuran itu segera berubah menjadi semakin cepat dan dahsyat. Tongkat hitam itu melayang menyambar-nyambar tak henti-hentinya. Tetapi sampai sekian lama tak seorangpun yang dapat dikenainya. Si pemuda sendiri kemudian menjadi heran, kenapa tongkatnya tak menyelesaikan pertempuran sebelum fajar. Menilik kepandaian ketujuh orang yang mengeroyoknya, ia sudah dapat memastikan bahwa sedikitnya empat diantaranya harus sudah binasa, apalagi si perantau tolol itu.

Tetapi, karena sampai sedemikian jauh ia masih belum mampu menjatuhkan seorang pun, Mahesa Jenar, yang dalam mata si pemuda merupakan orang tolol yang berani, sangat mengganggu perkelahian itu. Sekali waktu ketika tongkatnya melayang ke arah tengkuk salah seorang lawannya, tiba-tiba perantau tolol itu melemparkan pasir ke arah mukanya, sehingga ia terpaksa memejamkan matanya. Dengan demikian maka calon korbannya itu sempat menghindarkan diri. Pada saat lain, ketika hampir saja tongkatnya berhasil menyodok leher, si pemuda tolol itu kakinya terantuk batu, sehingga jatuh tertelungkup menimpa lawan yang hampir binasa itu. Dengan demikian mereka jatuh bergulingan. Dan juga kali ini tongkatnya tak menemukan sasaran.

Si pemuda akhirnya marah kepada Mahesa Jenar, geramnya,  “Hai orang tolol. Jangan berbuat gila di sini. Kalau kau tak mau lekas minggir, kaupun akan kubinasakan. Bahkan kaulah yang pertama-tama akan mengalami nasib jelek”.

Mendengar seruan itu, sadarlah Mahesa Jenar bahwa pemuda itu sudah benar-benar marah. Maka tidak sepantasnya lagi kalau ia bermain-main saja. Maka segera ia pun mempersiapkan diri untuk menyambut setiap serangan yang benar-benar akan dilancarkan kepadanya.

———-oOo———-

VI

Tetapi, sementara itu, terjadilah suatu hal yang sangat mengejutkan mereka semua. Tidak saja para pengawal dan mereka yang melakukan perjalanan, tetapi juga pemuda itu dan Mahesa Jenar.

Tiba-tiba dalam suasana keributan pertempuran, di antara kesepian rimba itu, menggetarlah suara tertawa nyaring yang semakin lama terdengar semakin mengerikan.

Segera, semua yang mendengar suara itu mengenal, bahwa itulah suara maharaja yang kekuasaannya terbentang meliputi seluruh hutan Mentaok dan bagian-bagiannya. Ia adalah yang sangat ditakuti dengan namanya yang seram, Lawa Ijo.

Bahkan kali ini suara tertawa itu sedemikian mengerikan, seperti memenuhi seluruh rimba dan mengepung mereka dari segala penjuru. Demikian hebatnya pengaruh suara tertawa itu, seperti mengguncang-guncang dada. Sehingga arahnya pun tak dapat diketahui dari manakah sumber suara itu. Beberapa orang menjadi bingung dan ketakutan, bahkan ada yang menjadi lemas dan hampir pingsan. Tidak ketinggalan para pengawal pun segera nampak sangat cemas. Sebab munculnya Lawa Ijo setelah beberapa lama lenyap itu, adalah sangat tiba-tiba dan tak disangka-sangka.

Mahesa Jenar yang mempunyai telinga sangat tajam, dengan saksama memperhatikan suara itu. Meskipun perlahan-lahan, akhirnya dapat diketahui dari manakah asalnya.

Tetapi rupanya pemuda tampan itu pun bukan orang biasa. Pendengarannya ternyata sangat tajam. Untuk mengetahui arah suara itu, diangkatnya wajah. Meskipun tidak secepat Mahesa Jenar, ia pun akhirnya dapat mengetahui sumber suara itu. Maka segera ia pun bersiaga menghadap ke arah suara itu, sambil berteriak. “Hai Lawa Ijo, kau jangan main gila di hadapanku. Ayo keluarlah dari sarangmu. Apakah yang sebenarnya kau kehendaki dengan memperdengarkan suara tertawamu yang memuakkan itu?”

Mendengar seruan pemuda itu, semua orang, termasuk Mahesa Jenar, menjadi bertanya-tanya dalam hati. “Siapakah dia, yang telah berani menantang Lawa Ijo ini?”

Sementara itu suara tertawa Lawa Ijo pun semakin lama semakin surut, dan akhirnya mereka dikejutkan oleh sebuah bayangan yang melayang turun dari dahan yang cukup tinggi. Tetapi yang sama sekali tak diduga-duga, kecuali oleh Mahesa Jenar dan pemuda tampan itu, ternyata Lawa Ijo bertengger di atas dahan yang hanya berjarak tidak lebih dari 20 depa dengan mereka. Samar-samar oleh cahaya api yang masih menyala, tampaklah bahwa Lawa Ijo pun sebenarnya masih muda. Usianya tidak juga terpaut banyak dengan pemuda tampan itu maupun dengan Mahesa Jenar. Tubuhnya kekar kuat, matanya hitam mengkilat memancarkan sinar kekejaman dan kebengisan. Sedangkan di bawah hidungnya melekatlah kumis yang lebat hitam melintang menyeramkan. Meskipun pada saat itu Lawa Ijo tersenyum, tetapi senyumnya sama sekali tidak menambah manis wajahnya, bahkan beberapa orang yang melihatnya menjadi gemetar ketakutan, seakan-akan melihat senyuman malaikat pencabut nyawa yang berhasil melakukan tugasnya dengan baik.

Perlahan-lahan, setapak demi setapak, Lawa Ijo berjalan mendekati pemuda tampan itu. Di pinggangnya membelit kain berwarna putih dengan lukisan hijau di atasnya. Pastilah itu gambar yang menyeramkan. Kelelawar dengan kepala serigala. Sedangkan di tangan kanannya tergenggam sebilah pisau belati panjang.

Ternyata pemuda tampan itu sama sekali tidak gentar. Meskipun demikian ia tidak mau merendahkan Lawa Ijo. Tangannya segera memutar tongkat hitamnya, dan tiba-tiba dari dalamnya ia mencabut sebilah pedang kecil yang lentur.

Melihat hal itu Lawa Ijo tertawa, tetapi kali ini tertawanya pendek. Kataya, “Ular Laut gila, kau jangan main gagah-gagahan di daerah ini.”

Mendengar kata-kata Lawa Ijo, sekali lagi Mahesa Jenar terkejut. Pikirnya,“Inilah agaknya yang disebut Samparan dengan panggilan Ular Laut yang memiliki wajah tampan dan bernama Jaka Soka. Karena itulah maka dengan enaknya ia dapat melawan tujuh orang, bahkan lebih dari itu. Dan dengan beraninya pula ia menantang Lawa Ijo”.

Mendengar ucapan Lawa Ijo, Jaka Soka sama sekali tidak menjadi takut. Malahan kembali bibirnya yang tipis itu menyungging senyum aneh. Jawabnya, “Daerah inikah yang kau maksud?”.

Jaka Soka,” sambung Lawa Ijo, ”kau jangan mencari perkara. Kau tahu bahwa seluruh hutan Mentaok dan bagian-bagiannya serta segala isinya adalah daerah wewenangku”.

Hem…,” Jaka Soka bergumam, ”telah berapa bulan atau berapa tahun kau merendam diri di sarangmu? Dan tahu-tahu sekarang masih mengatakan daerah ini daerah wewenangmu. Lawa Ijo, menurut pikiranku daerah ini sekarang merupakan daerah tak bertuan”.

Kau jangan mengigau Soka. Aku belum pernah melepaskan hak yang pernah aku miliki. Kalau beberapa waktu terakhir aku tidak pernah berbuat sesuatu, itu bukannya aku tak lagi berwenang di daerah ini. Hanya saja, dalam waktu-waktu itu aku tak merasa perlu untuk berbuat apa-apa. Anggapanmu bahwa daerah ini daerah tak bertuan itu sama sekali salah, selama aku masih bernafas. Nah sekarang tinggalkan daerah ini”.

Jaka Soka sama sekali tak terpengaruh oleh kata-kata Lawa Ijo itu. Bahkan kemudian ia tertawa kecil. Jawabnya, “Lawa Ijo, kau jangan berlagak seperti seorang yang paling berkuasa. Apa dasarmu kau berani memerintah aku untuk meninggalkan daerah ini? Kau masih belum menunjukkan bahwa kau memiliki sepasang pusaka Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten. Juga belum pasti bahwa kau akan berhasil memenangkan semua pertandingan yang akan kami selenggarakan akhir tahun ini. Jadi pada saat ini kau dan aku masih belum mempunyai sangkut paut apapun juga”.

Lawa Ijo menarik alisnya yang tebal itu tinggi-tinggi sambil mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Lalu bagaimana seharusnya?”

Jawab Jaka Soka, “Seharusnya kau tak usah mengganggu aku. Tetapi kalau kau tetap tak menghendaki aku melakukan perbuatan-perbuatan di daerah ini, seharusnya kau paksa aku pergi”.

Kembali Lawa Ijo tertawa pendek. Katanya, “Kau masih seperti masa-masa lampau. Setelah kau capai tingkatmu yang hampir sempurna sekarang ini, seharusnya kau tak lagi banyak bernafsu untuk berkelahi. Dan apakah artinya pertempuran diantara kita. Beberapa waktu yang lampau kita pernah berkelahi sampai beberapa hari. Dan tidak seorangpun dari kita yang kalah. Kalau pada saat ini kami kembali bertempur, menurut pendapatku hasilnya akan sama saja. Karena itu baiklah kita hormati persetujuan yang pernah kita buat mengenai daerah kerja kita masing-masing”.

Jaka Soka menjadi berbimbang hati. Dahinya berkerut dan otaknya berputar cepat. Melihat Jaka Soka ragu, Lawa Ijo menambahkan, “Atau kalau kau merasa tidak perlu lagi dengan persetujuan itu, baiklah dihapus saja sama sekali. Aku tak keberatan kau melakukan kegiatan di wilayah ini, tetapi kau jangan menyalahkan aku kalau aku akan melakukan kegiatan di Nusa Kambangan dan di lautan. Sebab aku pun pernah menjadi bajak laut pada usia 14 tahun.”

Dahi Jaka Soka semakin berkerut. Dan akhirnya pecahlah tertawanya. Katanya, “Memang, kau penjahat tak tanggung-tanggung Lawa Ijo. Baiklah kalau demikian aku mengalah, Tetapi….” Jaka Soka berhenti berbicara, tetapi matanya merayap kepada gadis cantik yang duduk gemetar dan ketakutan.

Lawa Ijo pun mengerti maksud Jaka Soka. Sahutnya sambil tersenyum, “Soka, kemana kau pergi, selalu kau bawa pulang gadis-gadis. Apakah sarangmu masih belum penuh?”

Jaka Soka tertawa lirih, jawabnya, “Alangkah bodohnya kau. Nusa Kambangan cukup luas untuk menampung semua gadis dari pulau Jawa ini. Dan atas gadis ini kau tidak keberatan?”

Mendengar percakapan mereka, gadis itu menjadi semakin ketakutan. Tubuhnya menggigil dan keringat dingin telah membasahi tubuhnya. Sekarang di hadapan kedua penjahat terkenal itu, rombongan yang berjumlah 10 orang dengan mereka yang telah tersadar dari pingsannya pun tidak mungkin dapat menghalangi maksud Ular Laut yang gila itu. Meskipun orang-orang lain juga merasa ketakutan dan ngeri, tetapi sebesar-besarnya mereka hanya harus menyerahkan barang-barang mereka. Tetapi gadis itu harus menyerahkan dirinya. Satu-satunya harapan baginya adalah kalau Lawa Ijo tetap pada pendiriannya, melarang Jaka Soka berbuat sesuatu di daerah ini. Sebab Lawa Ijo sendiri, menurut berita yang tersiar, tak pernah menculik atau menghendaki seorang gadis.

Tetapi, alangkah kecewanya gadis itu, bahkan hampir saja ia jatuh pingsan ketika didengarnya Lawa Ijo berkata sambil tertawa pendek, “Jaka Soka, sebenarnya aku sama sekali tak mengubah pendirianku. Tetapi sebagai seorang sahabat, baiklah aku hadiahkan gadis itu kepadamu. Aku sama sekali tak berkepentingan dengannya, sebab aku mempunyai kepentingan lain.”

Mendengar jawaban Lawa Ijo, Jaka Soka menjadi gembira sekali. Katanya, “Lawa Ijo, memang hanya itulah yang sebenarnya aku kehendaki dari rombongan ini. Hanya barangkali kau anggap aku bersalah, bahwa aku tidak minta izinmu dahulu. Nah, sekarang kau telah mengizinkan”.

Sekali lagi Lawa Ijo tertawa. “Terserahlah kepadamu, Soka,” katanya.

Mendengar keputusan Lawa Ijo, gadis itu semakin putus asa. Tak ada lagi harapan baginya untuk melepaskan diri dari tangan penjahat itu.

Mahesa Jenar selalu memperhatikan perkembangan keadaan dengan cermat. Ia dihadapkan pada satu persoalan yang juga cukup rumit. Di sini, tanpa diduga-duga ia telah bertemu dengan Lawa Ijo yang sengaja akan dicarinya. Tetapi di sini juga, ada seorang yang dapat mengganggu pertemuan itu. Yaitu Jaka Soka yang ternyata mempunyai kekuatan seimbang dengan Lawa Ijo. Kalau pada saat itu Mahesa Jenar membuat perhitungan dengan Lawa Ijo, ia sendiri belum tahu pasti siapakah yang akan menang. Apalagi kalau kemudian Jaka Soka ikut campur, maka masalahnya akan merugikan. Menurut perhitungan Mahesa Jenar, melawan dua orang adalah pekerjaan yang berat sekali, bahkan mungkin diluar kuasanya.

Tetapi, diluar itu ia menghadapi soal baru. Jaka Soka menghendaki untuk membawa gadis itu pulang ke Nusa Kambangan. Apakah hal yang demikian dan berlangsung di bawah hidungnya akan dibiarkan saja? Andaikan ia bertindak, dalam hal ini pun ada kemungkinan ia terlibat dalam pertempuran melawan kedua orang itu. Sebagai seorang prajurit pilihan, Mahesa Jenar sama sekali tidak mengenal takut. Kalau ia sampai berpikir demikian, masalahnya adalah atas dasar perhitungan cara dan bagaimana untuk mencapai maksudnya.

Selagi Mahesa Jenar sibuk berpikir, Jaka Soka dengan matanya yang redup dan senyum aneh yang menghiasi bibirnya yang tipis, telah mulai bergerak dan berjalan perlahan-lahan ke arah gadis cantik itu. Sementara itu Lawa Ijo berteriak bergurau, “Jaka Soka, sebenarnya aku iri hati melihat ketampanan wajahmu. Tetapi kau rupanya adalah seorang tampan yang sial. Sebab gadis-gadis yang kau kehendaki menjadi pingsan kegirangan, karena akan mendapat pasangan yang setampan kau ini.”

Jaka Soka sama sekali tak mendengar perkataan Lawa Ijo itu. Ia sedang kegirangan akan mendapat gadis yang demikian cantiknya, melebihi semua gadis yang pernah dilihatnya.

Tetapi terjadilah suatu hal diluar perhitungannya. Dalam keputus-asaan, gadis itu memutuskan untuk lebih baik membunuh dirinya. Ia sama sekali tidak mau dinodai kehormatannya oleh iblis-iblis yang demikian itu. Maka secepat kilat ia mengambil keris dari dalam bungkusan yang dibawanya, dan segera ia menarik keris itu dari warangkanya.

Jaka Soka sama sekali tidak mengira bahwa hal yang demikian akan terjadi. Karena itu ia terkejut, sehingga langkahnya terhenti. Ia masih belum tahu, maksud yang sebenarnya gadis itu menarik keris. Karena itu ia harus berhati-hati. Tetapi tiba-tiba saja ia melihat keris itu melayang menuju ke arah dada gadis itu sendiri.

Jaka Soka tersadar. Karena itu harus dicegahnya. Tetapi sayang jaraknya masih terlalu jauh. Sehingga terloncatlah teriakan dari mulutnya yang berbibir tipis itu dengan noda yang cemas. Cemas akan kehilangan gadis itu. “Jangan …. Jangan lakukan itu.

Tetapi teriakannya itu menggetar tanpa sesuatu pengaruh apapun atas gadis yang sudah bertekad untuk mati daripada jatuh di tangan bajak laut yang berwajah tampan itu.

Tiba-tiba tampaklah sebuah bayangan melontar dengan cepatnya menyambar pergelangan tangan gadis itu, sehingga keris yang digenggamnya tidak sampai menembus dadanya. Gadis itu terkejut bukan kepalang. Demikian juga semua yang menyaksikan. Bahkan Jaka Soka dan Lawa Ijopun menjadi terkejut dan heran melihat orang dapat bergerak demikian cepatnya.

Itulah Mahesa Jenar yang telah mencoba untuk menyelamatkan jiwa gadis cantik itu. Dan sekaligus keris itupun telah berpindah ketangannya pula. Tetapi belum lagi debar jantung mereka berhenti, kembali mereka terkejut, terutama Mahesa Jenar sendiri, Jaka Soka dan Lawa Ijo, ketika mereka melihat keris yang sekarang sudah berada di tangannya.

Kiai Sigar Penjalin,” desis mereka hampir bersamaan.

Itulah nama keris yang dipegang oleh Mahesa Jenar. Keris yang berbentuk lurus. Satu sisinya melengkung hampir setengah lingkaran, sedangkan sisi yang lain datar seperti kebiasaan keris. Mirip seperti batang penjalin yang dibelah dua dan diruncingkan ujungnya. Yang mengejutkan mereka adalah, keris itu terkenal sebagai pusaka seorang sakti yang mempunyai nama sejajar dengan Pasingsingan. Yaitu Ki Ageng Pandan Alas dari Klurak Wanasaba. Demikian terkejutnya Mahesa Jenar sampai tangannya yang memegang keris itu gemetar.

Maka setelah agak reda sedikit dan nafasnya mulai teratur, Mahesa Jenar berdiri dengan teguhnya memandang tajam kepada Jaka Soka. “Apakah yang kau kehendaki dari gadis ini?” tanya Mahesa Jenar.

Getar hati Jaka Soka sementara itu telah turun. Tetapi sekarang otaknya dihinggapi oleh suatu pertanyaan. Perantau tolol itu, kenapa tiba-tiba saja dapat berbuat sedemikian cepatnya, sehingga jiwa gadis cantik itu tertolong. Selain itu, gadis itu ternyata memiliki keris Kiai Sigar Penjalin. Apakah hubungannya dengan Ki Ageng Pandan Alas?

Jaka Soka berpaling kepada Lawa Ijo untuk mendapat pertimbangan. Ternyata Lawa Ijo pun pada saat itu sedang berpikir keras. Ia memandang keris Sigar Penjalin yang berada di tangan Mahesa Jenar itu tanpa berkedip. Baru setelah beberapa saat kemudian ia berkata, “Jaka Soka, menurut pendapatku sebaiknya kita tidak membuka suatu persoalan dengan Ki Ageng Pandan Alas. Sebab dengan membawa keris Sigar Penjalin, gadis itu mempunyai hubungan dengan Ki Ageng Pandan Alas.”

Jaka Soka dalam hati kecilnya membenarkan juga keterangan Lawa Ijo itu. Sebab ia pun tahu bahwa Ki Ageng Pandan Alas termasuk orang yang aneh. Ia selalu berada di mana saja merantau dari satu tempat ke tempat lain.

Namun demikian, ia sayang juga melepaskan gadis cantik yang sudah sekian lama diikutinya. Sebab dalam pengamatannya, belum pernah ia menemukan gadis secantik itu. Kalau kali ini ia tak berhasil membawanya pulang, maka seumur hidupnya belum tentu ia akan menjumpainya lagi.

Sebaliknya, gadis cantik itu sama sekali tidak menduga bahwa keris yang dibawanya mempunyai pengaruh yang sedemikian hebatnya. Ia sendiri belum pernah mendengar nama Ki Ageng Pandan Alas dari Klurak. Keris yang dibawanya adalah keris peninggalan ibunya pada saat ibunya menghembuskan nafas terakhir. Menurut ibunya, keris itu adalah keris kakeknya, seorang petani miskin yang pada saat itu sedang merantau mencari daerah baru yang lebih subur, yang barangkali dapat dipakai sebagai tempat tinggal yang baru. Dan menurut ibunya, kakeknya sekarang berada di desa Pliridan. Daerah antara hutan Tambak Baya dan Beringan, bagian dari hutan Mentaok. Suatu daerah yang baru dibuka oleh beberapa orang, yang nampaknya subur untuk daerah pertanian.

“Lawa Ijo,” kata Jaka Soka kemudian setelah berpikir sejenak. “Memang aku sebenarnya segan terhadap orang tua itu. Tetapi menurut pikiranmu apakah ia mengetahui bahwa gadis itu aku bawa pulang ke Nusa Kambangan?”

“Soka,” jawab Lawa Ijo, “Pandan Alas itu tidak ubahnya seperti hantu yang berada di mana saja, pada saat apa saja. Ia seolah-olah memiliki seribu mata dan seribu telinga yang bertebaran di seluruh tanah ini.”

“Tetapi ternyata sekarang ia tak ada di tempat ini,” potong Jaka Soka

“Kau jangan berkeras membawa gadis itu, Soka. Meskipun seandainya Pandan Alas pada saat ini tidak melihat dan mengetahui, tetapi perbuatan itu kau lakukan di hadapan saksi-saksi yang pada suatu ketika pasti akan terdengar pula oleh hantu yang bertelinga seribu itu. Kalau sudah demikian halnya, kau tidak akan dapat lagi hidup tenteram dan berlindung di mana pun di dunia ini.”

Jaka Soka terdiam. Tampak alisnya berkerut-kerut. Tiba-tiba terdengarlah ia menjawab dengan jawaban yang sama sekali tidak terduga-duga. Semua yang mendengar menjadi terkejut, seperti tanah tempat mereka berpijak itu runtuh. Katanya dengan suara yang mantap, “Lawa Ijo, kau benar. Memang aku seharusnya tidak berbuat itu di hadapan saksi-saksi. Karena itu maka akan aku bunuh semua orang yang menyaksikan peristiwa ini, kecuali kau,”.

Baru mendengar kata-kata itu, dan belum lagi Jaka Soka berbuat sesuatu, orang-orang yang mendengarnya seolah-olah telah terbang nyawanya. Lawa Ijo yang matanya memancarkan sinar kebuasan dan kebengisan itu pun terkejut mendengar keputusan Jaka Soka untuk membunuh sekian banyak orang itu. Katanya memperingatkan, “Jaka Soka, sebaiknya kau pikir masak-masak apa yang akan kau lakukan itu. Apalagi hal itu terjadi di daerah kuasaku”.

“Lawa Ijo, kau tidak akan tersangkut dalam perkara ini. Dan percayalah, bahwa apabila tak seorang pun yang hidup diantara orang-orang ini, maka bagaimanapun tajamnya telinga Pandan Alas, ia tak mungkin dapat mendengarnya”.

Tampaklah dahi Lawa Ijo berkerut. Rupa-rupanya ia berpikir keras. Tetapi bagaimanapun, ia tetap tidak dapat mengerti jalan pikiran Jaka Soka. Mengorbankan sekian banyak orang hanya untuk mendapatkan seorang gadis. Seandainya taruhan itu untuk memperebutkan sebuah pusaka atau harta benda yang tak ternilai, agaknya Lawa Ijo masih dapat mengertinya.

Mereka yang mendengarkan percakapan itu, hatinya diliputi oleh suasana ketegangan yang hebat. Mereka mengharap Lawa Ijo tetap pada pendiriannya, tak mengizinkan Jaka Soka berbuat demikian kejamnya hanya untuk memanjakan nafsunya. Mereka rela andaikata kemudian Lawa Ijo merampas segala harta benda mereka, asal nyawa mereka diselamatkan. Bahkan ada diantaranya yang mulai menyesali gadis cantik itu di dalam hatinya. Sebab, karena gadis itulah maka nyawa mereka terancam untuk dikorbankan.

Sampai beberapa saat Lawa Ijo tidak berkata-kata. Ia menjadi bimbang. Sebenarnya lebih baik baginya untuk tidak menambah lawan. Apalagi seorang sakti seperti Ki Ageng Pandan Alas. Tetapi untuk menolak permintaan Jaka Soka pun akan mempunyai akibat yang tak menyenangkan. Sebab ia tahu betul tabiat kawannya ini. Semua kehendaknya harus dapat terlaksana. Apalagi kalau ia sedang tergila-gila kepada seorang gadis. Bagaimanapun kejamnya Lawa Ijo, namun tak akan terlintas dalam pikirannya untuk berbuat demikian, hanya untuk seorang gadis. Sebab ia sama sekali memang tidak pernah tertarik kepada gadis seperti itu. Baginya, gadis-gadis demikian hanyalah akan mempersulit diri saja.

“Lawa Ijo,” sambung Jaka Soka ketika Lawa Ijo lama tak menjawab, ”seharusnya kau tak usah takut kepada Pandan Alas. Sebab Paman Pasingsingan tentu tidak akan tinggal diam andaikata Pandan Alas salah duga terhadapmu mengenai masalah ini”.

Mendengar desakan terakhir ini, Lawa Ijo tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi bagi mereka yang menyaksikan, anggukan kepala Lawa Ijo itu bagaikan melihat jatuhnya palu keputusan hukuman mati bagi mereka semua.

Maka terjadilah kegemparan di antara mereka. Beberapa orang telah menangis merintih-rintih minta diampuni dan diselamatkan jiwanya. Mereka bersumpah untuk tidak membuka mulut tentang peristiwa ini kepada siapa pun. Beberapa orang lagi jatuh pingsan, dan yang lain menggigil ketakutan.

Dalam keadaan yang demikian, terasalah kesetiakawanan mereka hancur lumat demi keselamatan masing-masing. Bahkan ada diantara mereka yang sampai hati terang-terangan mengumpati gadis yang sama sekali tak bersalah itu.

Di dalam keributan itu, tiba-tiba gadis cantik itu berdiri tegak. Kepalanya terangkat dan dadanya menengadah. Lenyaplah kesan-kesan ketakutan dan kecemasan yang membayang di wajahnya. Dari mulutnya yang mungil itu terdengarlah suaranya yang gemetar. “Saudara-saudara seperjalanan… aku minta maaf kalau kehadiranku diantara saudara-saudara menyebabkan saudara-saudara menemui kesulitan. Tetapi ketahuilah bahwa orang ini tidak akan berguna membunuh saudara-saudara sekalian, sebab aku telah memutuskan untuk bunuh diri.” Kemudian gadis itu berpaling kepada Mahesa Jenar, katanya, “Ki Sanak, aku berterima kasih kepadamu, atas usahamu menyelamatkan jiwaku. Tetapi adalah lebih berharga jiwa dari sekian banyak orang termasuk ki sanak sendiri, daripada aku seorang. Karena itu berikanlah keris itu kembali kepadaku.”

Sudah tentu Mahesa Jenar tidak dapat berpangku tangan menyaksikan semua itu terjadi. Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri, mengabdikan diri bagi kedamaian hati rakyat dan kemanusiaan. Sebab dengan demikian ia telah mengabdikan dirinya pula kepada tanah tumpah darah dan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ia menjadi terharu mendengar ucapan gadis yang menyediakan diri sebagai tumbal keselamatan sekian banyak orang. Tetapi belum lagi ia sempat menjawab, terdengar suara Jaka Soka memerintah, “Perantau tolol. Jangan kau serahkan kepadanya, supaya aku selamatkan jiwamu. Berikan saja keris itu kepadaku.”

Tetapi Mahesa Jenar sudah mendapat suatu ketetapan. Apalagi ketika ia mendengar bahwa Jaka Soka akan membunuh semua orang yang ada, hanya untuk merampas seorang gadis. Sedangkan gadis itu sendiri sama sekali tidak menghendakinya.

Karena itu, dengan sikap seekor banteng, Mahesa Jenar melangkah, lalu berdiri diantara gadis yang pucat itu. Wajahnya memancarkan kebulatan tekadnya, apapun yang akan dihadapi. Meskipun ia harus melawan Jaka Soka dan Lawa Ijo sekaligus. Dengan tenangnya pula ia menjawab kata-kata Jaka Soka. “Jaka Soka yang dikenal sebagai seorang Bajak Laut yang menakutkan. Buat apa aku mengharap kau membebaskan jiwaku. Kalau aku terpaksa berkubur di tengah-tengah hutan Tambak Baya ini. Karena aku membela kebenaran, aku sama sekali tidak akan menyesal. Karena itu selagi aku masih bernafas, kau tak akan dapat menyentuh gadis yang belum aku kenal sebelumnya ini.”

Jawaban Mahesa Jenar ini hebat akibatnya. Muka Jaka Soka segera berubah menjadi merah membara, dibakar oleh kemarahannya. Kalau tadi ia melihat orang itu dapat bergerak begitu cepat, baginya bukanlah ukuran bahwa orang itu cukup berharga untuk dilawannya. Apalagi sebelum itu, perantau tolol itu telah melawannya bersama-sama dengan ketujuh orang pengawal, dan sama sekali tak menunjukkan keistimewaan apa-apa. Meskipun demikian, dalam hati Jaka Soka mengakui, bahwa orang itu benar-benar orang tolol yang berani.

Selain itu, kata-kata Mahesa Jenar ternyata mempunyai akibat yang mengejutkan pula terhadap para pengawal. Dengan tak terduga sama sekali, pemimpin pengawal yang telah agak lanjut usia itu tiba-tiba meloncat ke samping Mahesa Jenar. Dengan penuh tanggung jawab ia berkata, “Jaka Soka, aku pun pernah mendengar kebesaran namamu. Dan sekarang aku sempat menyaksikan pula. Bahkan sekaligus aku dapat mengetahui betapa biadabnya Bajak Laut dari Nusa Kambangan ini. Karena itu, bagaimana aku berani berlagak di hadapanmu. Tetapi karena kali ini aku sedang dibebani oleh suatu tanggung jawab, maka bersama-sama perantau yang belum aku kenal ini, aku bersedia menjadi banten. Apa artinya sisa umurku yang tinggal beberapa tahun lagi, kalau dilumuri oleh suatu pengkhianatan akan tugas yang dibebankan di pundakku….”

“Cukup!” potong Jaka Soka. Tetapi suaranya terputus sampai sekian, karena getaran kemarahannya. Wajahnya menjadi semakin merah. Giginya gemeretak, sedangkan matanya seolah-olah memancarkan api, seperti perapian yang masih menyala-nyala. Apalagi ketika dilihatnya kesembilan pengawal yang lain pun tiba-tiba serentak berdiri dengan teguhnya menggenggam senjata masing-masing demikian eratnya. Seakan-akan teguhnya ingin mengatakan, bahwa gugurlah mereka dalam tugasnya dengan senjata di tangan.

Tetapi kembali terjadi hal yang sama sekali tak diduga-duga. Orang yang dianggapnya sebagai perantau tolol yang menumpang berjalan, bahkan ada di antara mereka yang memberikan beban dengan menyanggupinya untuk memberi upah sekedarnya itu, berkata dengan lantangnya kepada pemimpin pengawal itu. “Bapak …, Bapak telah lanjut usia. Apalagi orang yang dilawan bukan sembarang orang. Karena itu minggirlah. Biarlah aku yang berumur sebaya melawannya, untuk mewakili mereka yang berhati kecil, sekecil hati kelinci, sehingga kehilangan rasa kesetiakawanan mereka. Bahkan ada yang sampai hati menyalahkan gadis ini pula. Tetapi karena aku tidak sepantasnya mempergunakan keris Sigar Penjalin milik seorang sakti ini, baiklah keris ini aku titipkan kepadamu. Janganlah gadis ini diberi kesempatan untuk bunuh diri sebelum kita semua binasa.”

Karena pengaruh perbawa kata-kata Mahesa Jenar itu, maka orang tua itu seolah-olah diluar sadarnya menerima keris Sigar Penjalin. Sementara itu Lawa Ijo rupanya benar-benar tak mau terlibat dalam persoalan ini. Karena itu ia bersikap sebagai seorang penonton saja, yang kemudian malahan perlahan-lahan duduk pada sebuah akar pohon.

Sedang Jaka Soka kini telah sampai pada puncak kemarahannya. Meskipun demikian ia masih ingat pada harga dirinya. Segera pedang kecilnya disarungkan ke dalam tongkat hitam manis, dan melemparkan tongkat itu kepada Lawa Ijo. Geramnya, “Lawa Ijo, tolong bawakan tongkatku ini,” kata Jaka. Lalu katanya kepada Mahesa Jenar, “Setan. Kau berani meremehkan aku. Aku harap kau maju bersama-sama, supaya cepat selesai pekerjaanku. Membunuh kalian. Semua. Tak seorang pun akan aku sisakan.”

Segera sesudah itu Jaka Soka bersiap untuk menghancur-lumatkan orang yang telah berani menghinanya. Sementara itu Mahesa Jenar pun telah bersiap pula. Sebab ia tahu benar bahwa lawannya itu adalah orang yang mendapat sebutan Ular Laut yang Ganas dari Nusa Kambangan.

Mereka yang menyaksikan adegan itu, hatinya berdegub, dipenuhi oleh bermacam-macam persoalan. Meskipun ada juga yang merasa tersentuh oleh sindiran Mahesa Jenar, bahwa tak seorang pun diantara mereka yang berani membela gadis yang sedang dalam kesulitan itu. Bahkan ada pula yang mengumpatinya, kecuali para pengawal yang merasa memikul tanggung jawab.

Tetapi tak seorang pun dari mereka yang menaruh setitik harapan kepada perantau yang tolol meskipun berani itu. Bahkan ada yang menganggap kelakuan Mahesa Jenar itu hanya akan menambah kemarahan Jaka Soka, sehingga akan mempercepat kematian mereka tanpa pertimbangan lagi.

Sedang gadis cantik itu sendiri memandang Mahesa Jenar sebagai orang yang aneh. Setelah menyaksikan Mahesa Jenar bersama-sama dengan para pengawal tak dapat memenangkan perkelahian melawan pemuda tampan yang ternyata bernama Jaka Soka itu, tiba-tiba sekarang ia, si perantau itu, ingin melawannya seorang diri. Tetapi, disamping perasaan itu, timbul pula suatu perasaan lain yang asing dalam diri gadis itu. Suatu perasaan dimana ia ingin mendapatkan perlindungan dari orang yang aneh itu lebih daripada yang lain-lain, juga lebih daripada para pengawal itu sendiri, meskipun ia tidak tahu apakah orang itu akan dapat melakukannya.

Sesaat kemudian, kembali terdengar Jaka Soka menggeram hebat. “Sebenarnya sayanglah tanganku ini dikotori oleh darah kelinci seperti tampangmu itu. Tetapi karena kau adalah kelinci yang paling tak tahu diri, maka terpaksa aku ingin menguliti tubuhmu.”

Kata-kata itu benar-benar menyeramkan. Tetapi lebih-lebih lagi ketika orang-orang itu melihat tangan Ular Laut itu menjulur dengan dahsyatnya ke arah tulang-tulang iga Mahesa Jenar. Rupanya Jaka Soka yang seakan sedang gila dibakar oleh kemarahannya itu, ingin membunuh lawannya dengan pukulan yang pertama.

Mereka yang menyaksikan gerak Jaka Soka itu tersirat darahnya. Beberapa orang memejamkan matanya, sebab menurut dugaan mereka tulang-tulang iga perantau tolol itu segera akan rontok seluruhnya. Bahkan beberapa orang segera memegangi dada masing-masing, se-olah-olah tulang iga merekalah yang akan lepas berderai-derai.

Untunglah bahwa pada saat itu Mahesa Jenar telah benar-benar siap dan waspada. Sebab ia tahu bahwa lawannya bukanlah lawan biasa, tetapi ia adalah seorang pemuda yang mempunyai nama di kalangan aliran hitam.

Meskipun demikian ia kagum juga melihat kegesitan Ular Laut itu. Melihat serangan yang datang dengan dahsyatnya, segera Mahesa Jenar dengan cepatnya pula mengelak ke samping. Seterusnya ia tidak mau membuang-buang waktu lagi. Karena itu, ketika ia berhasil membebaskan diri dari serangan pertama Jaka Soka, segera ia membuka serangan pula. Sebuah serangan dengan kakinya menyambar perut lawannya. Tetapi Jaka Soka bukan anak kemarin sore. Ketika ia merasa bahwa serangannya yang pertama gagal, segera ia mengubah sikapnya dan dengan satu gerakan melingkar ia berhasil mengelakkan serangan Mahesa Jenar. Sebaliknya Mahesa Jenar adalah seorang prajurit yang berpengalaman. Melihat lawannya menghindar, cepat-cepat ia memotong arah dan tahu-tahu ia sudah berada di muka Jaka Soka kembali, sekaligus menyerang dengan tangkasnya ke arah leher lawannya. Jaka Soka menjadi terperanjat bukan buatan. Apalagi sebelumnya ia memandang orang itu sebagai seorang yang tak berarti meskipun mempunyai cukup keberanian. Dengan demikian kewaspadaannya jadi berkurang. Karena itu, ketika dengan tak diduganya sama sekali lawannya itu dapat bergerak dengan lincahnya, ia tidak sempat mengelakkan diri. Mau tidak mau ia harus melawan serangan itu dengan sebuah pertahanan yang rapat, kalau ia tidak mau binasa.

Karena itu terjadilah suatu benturan yang dahsyat. Mahesa Jenar telah mempergunakan sebagian besar tenaganya, sedangkan Jaka Soka pun telah mengerahkan kekuatannya pula. Akibatnya adalah hebat sekali. Tubuh Mahesa Jenar bergetar hebat dan ia terdorong surut kebelakang. Jaka Soka pun terlempar beberapa depa, dan kemudian meski sudah berusaha, ia tak berhasil menguasai keseimbangan tubuhnya. Sehingga ia jatuh beberapa kali berguling, barulah ia berhasil meloncat tegak kembali.

Mengalami hal ini, dada Jaka Soka serasa akan pecah. Darahnya mendidih dan menggelagak sampai kepala. Ia sama sekali tidak mengira, bahwa lawannya, yang dalam pandangannya semula tidaklah lebih dari seekor kelinci yang tidak tahu diri itu, ternyata memiliki tenaga yang demikian dahsyatnya. Karena itu, matanya menjadi semakin menyala. Tahulah Jaka Soka sekarang, kenapa tadi ia sama sekali tidak berhasil membunuh seorang pun dari para pengawal yang mengeroyoknya. Rupanya orang ini tidak saja kebetulan menubruk kawan-kawannya, melemparnya dengan pasir pada saat tepat tongkatnya hampir menyambar korban, kemudian jatuh bergulingan menimpa beberapa orang yang dadanya hampir rontok oleh tongkatnya. Hal itu pastilah disengaja untuk menyelamatkan para pengawal itu. Sebab ternyata bahwa orang itu mempunyai kepandaian yang luar biasa.

Sedang Mahesa Jenar sendiripun terkejut pula mengalami benturan itu. Ternyata tenaga Jaka Soka pun dahsyat, sehingga ia tergetar surut. Dalam hal ini Mahesa Jenar sadar, bahwa Jaka Soka terlalu menganggapnya tak berarti, sehingga apabila Jaka Soka sungguh-sungguh menggempurnya dengan segenap kekuatan dan ilmunya, maka keadaannya pasti akan lain. Bahkan mungkin keadaannya akan berimbang.

Sesaat kemudian, baik Jaka Soka maupun Mahesa Jenar telah mempersiapkan diri kembali untuk memulai perkelahian. Mereka berdua sadar, bahwa kekuatan mereka tidak terpaut banyak. Maka kunci kemenangan dari pertempuran ini terletak dalam kepandaian serta keprigelan mereka membawakan diri dalam keadaan-keadaan yang genting.

Sebentar kemudian perkelahian itu segera mulai kembali dengan sengitnya. Cara berkelahi Jaka Soka itu benar-benar seperti ular. Melingkar, melilit lawannya dan mematuk dengan jari-jarinya demikian dahsyatnya. Geraknya cepat dan licin tak terduga-duga. Sedangkan Mahesa Jenar bersikap lebih tenang. Ia bertempur seperti seekor banteng yang teguh, kokoh dan tangguh. Ia tidak begitu banyak bergerak, tetapi demikian tubuhnya berkisar, menyambarlah udara maut ber-putar-putar.

Maka berlangsunglah perkelahian itu demikian dahsyatnya. Mereka bergerak sambar menyambar diantara pepohonan hutan, sehingga terdengarlah suara berderak batang-batang patah kena sambaran tangan mereka yang keras bagaikan besi.

Mereka yang menyaksikan pertempuran itu telah berlari-lari berpencaran. Sedang dalam otak mereka berkecamuk seribu satu pertanyaan mengenai diri perantau aneh itu. Setelah mereka menyaksikan betapa hebat tenaganya, serta betapa dahsyat caranya bertempur, mereka menjadi kebingungan.

Adanya Jaka Soka diantara mereka, serta munculnya Lawa Ijo dengan tiba-tiba itu saja, telah cukup memeningkan kepala mereka. Apalagi keputusan Jaka Soka untuk membunuh mereka semua, karena mereka menyaksikan perbuatannya, menculik seorang gadis. Dan sekarang, tiba-tiba di hadapan mereka muncul seorang lagi, yang semula mereka anggap sama sekali tak berarti, tetapi ternyata dapat mengimbangi ketangkasan Jaka Soka. Karena itu, pastilah akan muncul pula sebuah nama diantara mereka yang akan mengejutkan pula. Nama orang yang mereka sangka perantau tolol itu.

Di saat yang sedemikian tegangnya, dimana berputar-putar udara yang bernafaskan maut, pecahlah fajar di ujung Timur. Cahayanya yang kuning kemerah-merahan melimpah ke persada bumi yang dipenuhi oleh segala macam pertentangan. Pertentangan-pertentangan yang mudah diselesaikan, pertentangan-pertentangan yang sulit diselesaikan, bahkan kadang-kadang terdapat pertentangan-pertentangan yang tak mungkin dipecahkan.

Meskipun cahaya kemerahan itu masih begitu lemah untuk dapat menerangi pedalaman hutan yang lebat, tetapi berkas-berkas cahayanya yang menerobos dedaunan, sedikit banyak telah dapat pula menyibak gelapnya malam, dan mengurangi kepekatan rimba, menggantikan cahaya perapian yang telah terlalu lama padam.

Maka makin lama semakin tampak jelaslah dua bayangan yang sedang mati-matian mengadu tenaga itu.

Sementara itu Lawa Ijo telah mengikuti pertempuran itu dengan saksama. Di dalam hati ia memuji juga keuletan Jaka Soka yang pada akhir tahun ini akan bersama-sama mengadakan semacam pertandingan dengan beberapa orang lainnya, termasuk dirinya. Diam-diam ia merasa mendapat keuntungan dengan kejadian itu. Sebab dengan demikian ia dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan Jaka Soka, yang pada akhir tahun ini pasti akan menjadi salah seorang lawannya yang berat. Karena itu sejak pertempuran berkobar, perhatiannya terikat kepada setiap gerak Jaka Soka.

Tetapi, setelah pertempuran itu berlangsung agak lama, Lawa Ijo menangkap gerak-gerak yang menarik perhatiannya dari lawan Jaka Soka. Maka segera perhatiannya beralih. Gerak orang ini demikian tenang, kokoh dan tangguh. Pastilah ia bukan orang sembarangan. Sesaat kemudian mendadak Lawa Ijo terkejut sekali sampai ia meloncat selangkah ke depan. Matanya dengan tajamnya mengawasi setiap gerak Mahesa Jenar sampai matanya seolah-olah mau meloncat dari kepalanya.

Tiba-tiba saja ia melihat sesuatu pada gerak-gerak Mahesa Jenar. Gerakan-gerakan yang pernah dilihatnya, bahkan pernah dialami kedahsyatannya.

———-oOo———-

VII

Maka dengan suatu gerakan yang cepat sekali, secepat sambaran halilintar, ia meloncat maju ke tengah-tengah arena pertempuran. Sementara itu dengan nyaringnya mulutnya berteriak, “Jaka Soka, minggirlah!”

Baik Jaka Soka maupun Mahesa Jenar serentak terkejut mendengar seruan itu. Apalagi ketika mereka melihat bahwa Lawa Ijo telah meloncat ke tengah-tengah mereka. Maka sesaat pertempuran itu terhenti, dan tanpa berjanji lebih dahulu, mereka bersama-sama meloncat selangkah surut.

Wajah Jaka Soka masih merah membara sebagai ungkapan kemarahan yang menyala di dalam dadanya. Katanya, “Lawa Ijo, apalagi yang kau maui dariku sehingga kau hentikan perkelahian ini. Meskipun aku tidak segera dapat membunuh orang yang sombong ini, tetapi aku sudah bertekad untuk melayani sampai berapa hari pun, bahkan bertahun-tahun sampai salah seorang dari kami hancur”.

“Kau benar Soka,” sahut Lawa Ijo, ”tetapi sudah aku katakan, bahwa daerah ini adalah daerahku, sehingga kaupun harus menurut angger-anggerku,”.

Jaka Soka memandang Lawa Ijo dengan mata yang menyalakan api kemarahan katanya, “Apalagi yang kau kehendaki dariku?”.

“Aku tak menghendaki apa-apa lagi daripadamu, Soka,” jawab Lawa Ijo, ”kecuali serahkan orang ini kepadaku,”.

Mata Jaka Soka bertambah berapi-api lagi. Sahutnya,“Lawa Ijo, apakah kau sudah memandang aku sedemikian rendahnya sehingga kau perlu menolong aku?”.

Lawa Ijo mendengus pendek. Sambil menggeleng ia berkata, “Sama sekali tidak, kawan. Tetapi seperti yang kau katakan tadi, bahwa yang aku hadiahkan kepadamu hanyalah gadis itu saja. Dan sekehendakmulah kalau yang lain-lain akan kau bunuh. Tetapi orang ini tidak. Sebab aku sendirilah yang akan membereskannya.”

Mendengar ucapan Lawa Ijo itu, wajah Jaka Soka menjadi semakin menyala. Giginya gemeretak dan tubuhnya menggigil menahan marah. Dengan suara gemuruh ia menjawab, “Aku bukan perempuan yang perlu perlindungan laki-laki. Buat apa aku menerima hadiah dari seekor kelelawar busuk seperti tampangmu itu? Lawa Ijo… jangan coba merendahkan aku.”

Meskipun wajah Lawa Ijo nampaknya jauh lebih buas dari wajah Jaka Soka yang tampan itu, namun ternyata kepala Lawa Ijo agak lebih dingin. Karena itu ia sama sekali tidak menunjukkan kegusarannya mendengar kata-kata Jaka Soka itu. Bahkan ia masih menjawab dengan tenang meskipun tampak pula kegarangannya. “Jaka Soka, aku tidak peduli atas tanggapanmu terhadap permintaanku. Serahkan orang itu kepadaku. Sebab aku mempunyai urusan yang lebih penting dari urusanmu. Urusanku menyangkut nama baik dan harga diri perguruanku, sedang urusanmu hanyalah urusan perempuan itu saja.”

Oleh keterangan Lawa Ijo yang terakhir itu, nyala kemarahan Jaka Soka menjadi surut. Sedang pancaran matanya yang berapi-api itu pun segera redup dan membayangkan keheranan. Tanyanya kemudian, “Kau katakan bahwa kau mempunyai urusan dengan orang ini perkara perguruanmu?”

Lawa Ijo mengangguk.

Jaka Soka menjadi bertambah heran. Dan tanpa disengaja ia memandang Mahesa Jenar. Baru sekarang ia memperhatikan lawannya itu dengan saksama. Tubuhnya tegap kekar. Dadanya bidang. Meskipun ia berwajah lunak, tetapi pandangan matanya memancarkan kecermelangan pribadinya. Pikirnya “Pantas bahwa aku tak dapat menjatuhkannya.”

Siapakah orang ini?” pertanyaan itu demikian saja meluncur dari mulut Jaka Soka.

Dan sekaligus semua telinga yang berada di sekitar arena itu segera memperhatikan. Sebab pertanyaan yang demikian itu timbul pula di setiap hati orang menyaksikan pertempuran itu. Bahkan diantara mereka telah timbul harapan baru, setelah mereka menyaksikan kridha orang yang mereka anggap tidak lebih dari seorang perantau. Lebih-lebih sepasang suami-istri yang telah merasa terlanjur menyuruh orang itu membawakan beban mereka.

Maka semua perhatian pada saat itu tertambat pada mulut Lawa Ijo yang akan menjawab pertanyaan Jaka Soka.

Sementara itu terdengarlah Lawa Ijo tertawa pendek. Kemudian barulah ia menjawab, “Jaka Soka… jangan kau terkejut kalau aku mengucapkan nama orang ini. Ia adalah orang yang telah membunuh adik seperguruanku kemarin lusa. Watu Gunung. Dan yang tidak akan pernah aku lupakan, orang ini pernah pula melukai bagian dalam dadaku.”

Berdebarlah setiap jantung mereka yang mendengar kata-kata ini. Pastilah orang ini bukan orang sembarangan. Tidak terkecuali Jaka Soka. Sudah sejak lama ia mengenal Lawa Ijo. Dan pernah pula ia berkelahi melawan orang ini. Tetapi tak pernah salah seorang dari mereka berdua dapat mengatasi yang lain. Kalau orang ini pernah melukai Lawa Ijo pastilah ia memiliki kesaktian yang tinggi.

Kemudian terdengarlah Lawa Ijo melanjutkan kata-katanya, “Sayang bahwa ia tidak bersikap perwira. Ia menyerang aku pada saat aku sedang meloncat turun dari atap gedung perbendaharaan istana Demak.”

Hati Mahesa Jenar melonjak mendengar sindiran Lawa Ijo. Ia sama sekali tak mau menerima keterangan itu. Sebab pada saat ia menyerang Lawa Ijo, ia sedang berusaha untuk melindungi Gadjah Alit yang justru diserang oleh Lawa Ijo dengan sikap yang tidak perwira. Kecuali Lawa Ijo tidak menyerang dari depan, juga pada saat itu Gadjah Alit sedang dikerubut oleh tiga orang. Tetapi meskipun demikian ia tidak merasa perlu melayani fitnah itu. Karena itu ia diam saja.

Dalam pada itu, Jaka Soka pun segera teringat bahwa memang Lawa Ijo pernah bercerita kepadanya, tentang luka yang dideritanya pada saat ia berusaha memasuki gedung perbendaharaan di Demak. Karena itu sebelum Lawa Ijo menyebut nama Mahesa Jenar, ia mendahului berteriak, “Lawa Ijo, kalau demikian inikah orangnya yang bernama Mahesa Jenar dan bergelar Rangga Tohjaya yang terkenal itu?”

Mendengar nama itu tergetarlah perasaan mereka yang pernah mengenal kebesarannya. Lebih-lebih para pengawal dan para pedagang yang datang dari pesisir utara. Tetapi dalam pada itu, dalam dada masing-masing terbersitlah semacam harapan baru yang menjadi semakin teguh, bahwa jiwa mereka akan tertolong. Karena itu menjadi semakin besarlah hati mereka. Selain itu para pengawal kemudian telah bersiap pula terjun ke dalam pertempuran seandainya Lawa Ijo dan Jaka Soka akan bersama-sama menyerang Rangga Tohjaya.

Tetapi rupanya Lawa Ijo tidak akan berbuat demikian.

“Jaka Soka,” Katanya, ”karena itulah aku minta kerelaanmu untuk membuat perhitungan dengan Rangga Tohjaya ini. Sebab aku mempunyai dugaan, bahwa ia pun sedang mencari aku. Maka sebaiknya kami tidak menyia-nyiakan pertemuan ini”.

Sekarang, setelah mengerti persoalannya, Jaka Soka tidak lagi merasa direndahkan oleh Lawa Ijo. Ia pun menganggap bahwa sikap Lawa Ijo yang demikian itu adalah wajar. Karena itu ia menjawab, “Sekehendakmulah Lawa Ijo. Sebab daerah ini adalah daerahmu. Tetapi urusan gadis itu akan tetap menjadi urusanku, meskipun aku akan menunggu sampai kau selesai. Kalau kau tak berhasil dalam usahamu untuk membalaskan dendam adikmu, aku akan juga membuat perhitungan dengan orang ini. Sebab ia dengan sengaja telah mempermainkan aku ketika ia bersama-sama dengan para pengawal yang mengerubut aku.”

“Bagus. Sekarang minggirlah,” desis Lawa Ijo.

Sesudah itu maka Lawa Ijo menghadap ke arah Mahesa Jenar. Matanya yang sudah memancarkan kekejaman serta kebengisan itu menjadi bertambah mengerikan.

“Tohjaya,” geram Lawa Ijo, ”bersiaplah. Aku akan membuat perhitungan,” .

Mahesa Jenar tak menjawab sepatah kata pun. Mulutnya terkatup rapat, tetapi ia maju beberapa langkah mendekati Lawa Ijo dengan sikap yang meyakinkan dan penuh kepercayaan pada diri sendiri.

Sementara itu, langit telah menjadi semakin cerah. Angin pagi yang bertiup lambat-lambat menggoyangkan daun-daun pepohonan dan membuat suara berdesir diantara cabang-cabangnya. Suaranya merintih, seolah-olah suara lagu yang mengiringi ratapan hati setiap orang yang menyaksikan permainan maut antara Mahesa Jenar yang bergelar Rangga Tohjaya dengan Lawa Ijo. Dua orang yang sama-sama terkenal dari aliran yang berlawanan, yang pada saat itu sedang mengadakan perhitungan hutang pihutang nyawa.

Namun betapa moleknya wajah pagi, tak seorang pun yang berada di sekitar arena pertempuran itu sempat memperhatikan. Bahkan tak seekor burung pun di tempat itu yang sempat berkicau menyambut datangnya matahari.

Seperti Jaka Soka, Lawa Ijo pun tak akan merendahkan dirinya melawan Mahesa Jenar dengan mempergunakan senjata. Tetapi setelah ia mengembalikan tongkat hitam Jaka Soka, ia tidak menitipkan belati panjangnya, melainkan dengan kekuatan jari-jarinya, belatinya itu dipatahkan, dan kemudian dilemparkan jauh-jauh. Mau tidak mau, mereka yang menyaksikan pertunjukan itu hatinya terguncang.

Segera setelah itu, maka dengan suatu suitan nyaring, Lawa Ijo mulai menyerang lawannya. Kedua tangannya direntangkan dan jari-jarinya siap merobek tubuh lawannya. Dengan suatu loncatan yang dahsyat, ia menyambar kepala Mahesa Jenar. Mahesa Jenar sadar bahwa apabila serangan ini mengenai sasarannya, maka ia yakin bahwa kepalanya akan dapat berlubang sedalam jari.

Sebelum ini, Mahesa Jenar pernah bertempur dengan Lawa Ijo, karena itu ia tidak dapat mengira-ngirakan kekuatannya, meskipun ia yakin bahwa selama ini pastilah Lawa Ijo telah mendapat tambahan yang tidak sedikit.

Melihat serangan Lawa Ijo yang dahsyat itu, segera Mahesa Jenar merendahkan dirinya, tetapi sekaligus dengan tangannya ia menyerang perut lawannya dengan empat jari. Sebenarnya Lawa Ijo sadar bahwa serangannya yang pertama pasti tak akan mengenai sasarannya. Karena itu ia selalu waspada, sehingga ketika ia melihat serangan Mahesa Jenar, dengan tangkasnya pula ia menghindarkan diri. Ia menarik sebelah kakinya ke belakang dan berputar sedikit. Kemudian sambil merendahkan diri ia menghantam tangan Mahesa Jenar dengan sikunya. Tetapi Mahesa Jenar tidak mau tangannya disakiti. Ia segera menarik serangannya dan mendadak ia meloncat setengah langkah surut, tetapi demikian kakinya menjejak tanah, demikian ia melontarkan dirinya ke samping Lawa Ijo, dan dengan tumitnya ia menghantam lambung. Lawa Ijo terkejut melihat gerakan ini. Kaki Mahesa Jenar bergerak demikian cepatnya. Tetapi Lawa Ijo pun mempunyai cukup pengalaman. Segera ia merendah hampir rata tanah. Tetapi demikian ia merendah, kakinya secepat kilat menyambar betis Mahesa Jenar. Sekarang Mahesa Jenar yang berada dalam keadaan yang sulit, selagi satu kakinya terangkat. Untunglah bahwa Mahesa Jenar cukup tenang, sehingga dalam keadaan yang nampaknya demikian sulitnya ia masih sempat mengelakkan diri. Dengan sebelah kakinya ia menjejak tanah dan meloncat tinggi. Dengan satu gerakan kakinya, Mahesa Jenar dapat mengubah arah, sehingga tubuhnya terjatuh kembali beberapa depa dari lawannya. Lawa Ijo menjadi marah melihat serangan-serangannya yang dilakukan dengan segenap tenaganya itu sama sekali tak berhasil. Karena itu segera ia pun menyerang kembali dengan dahsyatnya. Tangannya, dengan sepuluh jari yang kokoh bergerak menyambar-nyambar dari segala arah.

Mereka yang menyaksikan pertempuran itu berdiri terpaku seperti patung. Hati mereka terpukau oleh pertunjukan maut yang sedang berlangsung dengan dahsyatnya.

Sebentar-sebentar terdengar suara gemeretak batang-batang kayu yang patah terhantam, baik oleh Mahesa Jenar maupun oleh Lawa Ijo. Sedang tanah tempat mereka bertempur, seolah-olah telah berubah sedemikian rupa sehingga menjadi bersih dari segala tumbuh-tumbuhan.

Perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin hebat. Tampaklah betapa hebatnya mereka berdua. Sampai sekian lama tidak nampak siapakah diantara keduanya yang lebih unggul. Lawa Ijo bertempur dengan penuh dendam akan pembalasan, sedangkan Mahesa Jenar bertempur dengan suatu tekad yang telah bulat pula, melenyapkan kejahatan sampai ke akarnya.

Demikian dahsyatnya pertempuran itu, sehingga waktu berjalan cepat sekali. Dengan tak terasa, matahari telah miring rendah di ufuk barat. Seolah-olah sengaja mempercepat jalannya untuk menghindari kesaksian, bahwa di tengah-tengah hutan Tambak Baya telah terjadi suatu pergulatan maut yang mengerikan.

Daerah pedalaman hutan yang selamanya tak pernah menerima cahaya matahari sepenuhnya itu, kini telah kembali suram. Cahaya matahari yang sudah semakin lemah, tidak mampu lagi menembus sepenuhnya kelebatan daun-daun pepohonan rimba yang liar dan pekat itu.

Dua orang perkasa yang sedang bertempur mati-matian itu pun nampak tenaganya semakin lama menjadi semakin kendor. Mereka berdua adalah orang-orang yang memiliki ketahanan jasmaniah yang luar biasa. Baik Mahesa Jenar maupun Lawa Ijo memang pernah mengalami pertempuran sampai berhari-hari. Kali ini mereka telah mengerahkan segala tenaga mereka. Setelah hal itu berlangsung hampir sehari penuh, terasalah bahwa kemampuan mereka mulai menurun.

Dalam hal ini, yang lebih merasa gelisah adalah Lawa Ijo. Perasaannya dibebani oleh dendam yang tiada taranya. Sejak dirinya dilukai di halaman Kraton Demak, ia sudah berjanji di dalam hatinya, bahwa pada suatu saat ia harus membinasakan orang yang telah melukainya itu. Ditambah lagi, orang itu pula yang telah membunuh adik seperguruannya. Karena itu tidak ada pilihan lain kecuali menghancurlumatkan orang ini. Tetapi ternyata, setelah sekian lama ia merendam diri serta mencecap ilmu gurunya yang sakti, Pasingsingan, dengan penuh semangat, namun sudah sehari ia bertempur masih belum ada tanda-tandanya bahwa ia akan dapat mengalahkan lawannya, apalagi membinasakan. Karena itu ia menjadi tidak sabar lagi. Tujuannya hanyalah secepat mungkin membinasakan Rangga Tohjaya. Dengan demikian barulah ia merasa puas.

Untuk mencapai maksudnya itu, Lawa ijo meloncat mundur beberapa langkah dari lawannya. Secepat kilat tangannya mengambil sebuah kantong kecil di ikat pinggangnya. Segera cincin pemberian gurunya itu dikenakan di jari tangan kanannya. Tampaklah bahwa cincin itu bermata batu akik merah menyala. Itulah batu akik yang dinamai Kelabang Sayuta.

Bentuk akik Kelabang Sayuta tidaklah seperti kebiasaan batu-batu akik yang diasah halus, tetapi batu ini permukaannya kasar dan bahkan bergerigi tajam. Mahesa Jenar tertegun melihat lawannya mengenakan cincin. Pasti itu bukan sembarang cincin. Tetapi belum lagi ia sadar benar Lawa Ijo telah meloncat menyerangnya dengan garang.

Lawa Ijo telah mengerahkan segenap sisa tenaganya yang terakhir. Mahesa Jenar terkejut diserang secara demikian. Lawa Ijo ternyata tidak lagi mempergunakan perhitungan, melainkan asal saja ia membenturnya. Secepat kilat Mahesa Jenar menghindar ke samping, tetapi seperti orang gila Lawa Ijo menerjangnya kembali. Demikian terjadi beberapa kali. Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya banyaklah kesempatan bagi Mahesa Jenar untuk memukul Lawa Ijo. Meskipun demikian ia masih belum mempergunakan kesempatan itu, sebab ia masih ingin mengetahui latar belakang dari tindakan-tindakan Lawa Ijo yang aneh itu. Sebagai seorang yang telah banyak makan garam, seharusnya Lawa Ijo tidaklah kehilangan akal sampai sedemikian itu. Tetapi Mahesa Jenar tidak mempunyai kesempatan untuk banyak menduga-duga maksud lawannya. Sebab Lawa Ijo merangsang semakin hebat. Sehingga akhirnya terpaksa Mahesa Jenar melayani pula dengan segenap tenaganya. Maka pertempuran itu menjadi semakin seru dan aneh. Gerak Lawa Ijo menjadi semakin liar dan seolah-olah membabi buta namun tidak kurang pula berbahayanya.

Akhirnya Mahesa Jenar tak dapat lagi menahan dirinya mengalami tekanan yang gila, kasar dan liar itu. Karenanya, ketika ia melihat suatu kesempatan, maka segera ia meloncat maju, dan dengan gerakan yang dahsyat ia menghantam pelipis lawannya. Melihat serangan yang demikian hebatnya, Lawa Ijo sama sekali tak berusaha menghindarkan diri. Memang kesempatan yang demikianlah yang ditunggunya setelah sekian lama ia berusaha membentur tubuh lawannya, tetapi belum berhasil.

Dengan mengerahkan segala sisa tenaganya yang ada, Lawa Ijo melawan dengan sebuah pukulan yang dahsyat pula, menghantam tangan Mahesa Jenar. Maka terjadilah suatu benturan yang mengerikan. Mulutnya menyeringai menahan sakit, seolah-olah menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Sendi-sendi tulangnya seakan-akan copot dari sambungannya. Sesaat pandangannya jadi kabur berputar-putar.

Sementara itu mereka yang menyaksikan perkelahian dahsyat itu, darahnya serasa berhenti mengalir, ketika mereka melihat keadaan Mahesa Jenar. Mereka menyaksikan suatu keadaan yang tak terduga-duga. Pada saat terjadi benturan, tubuh Mahesa Jenar tergetar hebat, sehingga ia terlempar beberapa langkah dan jatuh terguling pula. Tetapi, ketika Mahesa Jenar berusaha untuk meloncat berdiri, tiba-tiba tangan kanannya terasa pedih tak terhingga. Ketika ia mengamati tangan itu, ternyata terdapat sebuah goresan kecil. Itulah luka akibat batu akik Kelabang Sayuta.!

Seterusnya, tidak hanya rasa pedih itu saja, tetapi tiba-tiba mengalirlah rasa dingin yang seakan-akan menjalar menurut peredaran darahnya ke seluruh tubuh, sehingga tubuhnya menjadi gemetar dan seakan-akan beku. Wajah Mahesa Jenar segera berubah menjadi pucat seputih mayat.

Jaka Soka yang selama itu, dengan enaknya melihat perkelahian itu, menjadi keheran-heranan juga menyaksikan akibat dari benturan itu. Lama sekali tidak menduga bahwa Mahesa Jenar yang sedemikian gagahnya, yang sudah bertempur hampir sehari penuh, dapat dirobohkan justru pada saat ia menyerang dan dibalas dengan sebuah serangan pula.

Para pengawal rombongan, yang merasa telah mendapat perlindungan dalam melakukan tugasnya, melihat kejadian itu dengan hati yang remuk. Pemimpin pengawal, dengan tidak menghiraukan keselamatan diri, segera meloncat mendekati Mahesa Jenar yang masih terduduk dan menggigil hebat.

Segera pemimpin pengawal itu berjongkok di samping Mahesa Jenar sambil meraba-raba tangannya. Tetapi ketika ia menyentuh tangan Mahesa Jenar itu, alangkah terperanjatnya. Tangan itu dingin seperti beku dan di beberapa tempat tampaklah semacam bisul-bisul yang baru tumbuh. Segera pemimpin pengawal yang tua dan berpengalaman itu mengetahui bahwa tubuh Mahesa Jenar telah terkena racun yang mengerikan. Maka segera ia dapat memastikan bahwa racun ini pasti berasal dari cincin yang dipakai oleh Lawa Ijo, yang bermata batu akik merah menyala, yang bernama Kelabang Sayuta.

Sejenak kemudian Lawa Ijo perlahan-lahan dapat menguasai dirinya kembali. Meskipun masih agak pening, ia sudah dapat berdiri tegak. Maka ketika ia melihat Mahesa Jenar terduduk di tanah dengan wajah yang pucat, ia menjadi bergembira. Dan tiba-tiba terdengarlah suara tertawanya yang menakutkan seperti suara hantu yang memanggil-manggil dari lubang kubur. Semua yang mendengar suara itu tegaklah bulu romanya. Kekalahan Mahesa Jenar berarti nyawa mereka akan lenyap. Sebab Jaka Soka telah mengambil keputusan untuk menghilangkan jejak penculiknya.

Demikian juga hati pengawal tua yang menahan tubuh Mahesa Jenar yang lemas itu. Ia menjadi sangat sedih. Bukan karena takut menghadapi kematian yang sudah membayang di matanya, tetapi hatinya menjadi pedih sekali bahwa kemungkinan besar jiwa Mahesa Jenar, seorang pahlawan yang tanpa menghiraukan dirinya sendiri telah berusaha menyelamatkan rombongan yang sebenarnya menjadi tanggung jawabnya, tak akan tertolong lagi. Lebih-lebih ketika diingatnya bahwa Lawa Ijo telah melakukan perbuatan yang curang dan keji, dengan mempergunakan racun yang keras sekali untuk menumbangkan lawannya.

Maka, hati pengawal tua itu serasa menyala dibakar oleh kemarahan. Ia sudah mengambil keputusan untuk melawan sampai mati. Seperti serangga menjelang api. Tetapi ketika ia akan bangkit dan melawan dengan mengamuk sejadi-jadinya, tiba-tiba terasa hawa yang hangat mengalir dalam tubuh Mahesa Jenar. Mahesa Jenar terkejut, tetapi ia tetap menahan dirinya. Hawa yang hangat itu ternyata mengalir semakin deras dan bahkan hampir mencapai titik panas tubuh yang wajar.

Timbullah berbagai pertanyaan dalam dirinya. Apakah yang akan terjadi dengan Mahesa Jenar ini? Sebentar kemudian bahkan panas itu dengan cepat naik melampaui batas panas tubuh yang biasa. Hal ini menjadikan pengawal tua itu semakin bingung. Apalagi sampai sekian lama Mahesa Jenar sendiri seolah-olah pingsan dan tidak bergerak sama sekali.

Memang Mahesa Jenar pada saat itu sedang kehilangan tenaga. Batu akik Kelabang Sayuta itu mempunyai kekuatan mirip dengan bekerjanya racun. Bahkan hampir sekuat racun bisa ular Gundala Wereng. Sehingga tubuh yang dikenainya, meskipun hanya segores kecil, akan menjadi bengkak-bengkak seperti ditumbuhi oleh beribu-ribu bisul. Kemudian tubuh itu akan lemas dan mengalami kelumpuhan menyeluruh, dan akhirnya disusul dengan kematian, dalam waktu yang singkat.

Tetapi, ketika kekuatan akik Kelabang Sayuta itu sedang bekerja didalam tubuh Mahesa Jenar dengan mengikuti peredaran darah, tiba-tiba terjadilah suatu benturan yang dahsyat di dalam tubuh itu. Sebab pada saat itu, ketika tersentuh rangsangan dari luar, bisa ular Gundala Seta yang ada dalam tubuhnya mulai bekerja pula. Dalam pergolakan itu timbullah panas, sehingga tubuh Mahesa Jenar menjadi melampaui titik panas yang wajar.

Bisa ular Gundala Seta mempunyai kasiat yang luar biasa. Lebih-lebih ular ini adalah senjata Wisnu untuk melawan Kala, lambang dari keangkaramurkaan. Maka sedikit demi sedikit bisa ular Gundala Seta yang memang sudah ada di dalam tubuh Mahesa Jenar itu mendesak lawannya, menawar racun akik Kelabang Sayuta. Dengan demikian tubuh Mahesa Jenar menjadi berangsur-angsur baik kembali.

Meskipun demikian Mahesa Jenar adalah orang yang cerdik. Ia tidak segera menunjukkan keadaan itu. Sebab apabila sampai diketahui bahwa ia berangsur-angsur baik, tidak mustahil Lawa Ijo akan segera bertindak. Membinasakannya sekaligus.

Dalam hal yang demikian ia masih saja berpura-pura tidak sadarkan diri dan membiarkan tubuhnya ditahan oleh pengawal tua itu.

Lawa Ijo, dengan dada menengadah, memandang tubuh Mahesa Jenar. Matanya memancarkan kepuasan hatinya. Ia tertawa berkepanjangan sampai Jaka Soka membentaknya, “Hai Kelelawar Hijau yang busuk. Jangan kau tertawa demikian. Aku bisa jadi pening mendengar suaramu yang memuakkan itu.”

Tetapi Lawa Ijo sama sekali tak mendengarnya. Ia sedang menikmati kemenangannya. Katanya, “Soka, lihatlah…. Orang ini yang diagung-agungkan oleh prajurit Demak. Di sini ia menjumpai kematian sedemikian nistanya. Dan tak seorang pun akan sempat menguburnya. Apalagi dengan suatu upacara keprajuritan, diiringi dengan tunggul-tunggul dan panji-panji. Sebab orang-orang lain pun segera akan mengalami nasib yang sama karena tanganmu”.

Jaka Soka merasa diperingatkan akan tugasnya. Segera ia pun tersenyum aneh, sedangkan matanya yang redup membayangkan tuntutan maut yang mengerikan. Katanya, “Bagus, Lawa Ijo. Kita akan sama-sama menikmati kemenangan. Dan tak seorang pun dapat menahan aku membawa gadis cantik itu pulang ke Nusa Kambangan,” jawab Jaka Soka.

———-oOo———-

kembali | lanjut >>

9 Tanggapan

  1. tak enteni tutug-e

  2. Lho wonten pundi ?????????

  3. mulai ke inti cerita……
    tapi koq cantrik’ne masik satitik….???

  4. ganDUK nssi-03 makCET……ra iso diBUKA,

    ayo dhE

  5. Kamsiaaaaaa
    Ikut tamasya di gerbong belakang

  6. matursuwun ki 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s