hlhlp-102


<<kembali | lanjut >>

KARENA ITU, maka keduanya justru hanya berdiam diri saja tanpa berkata apapun juga. Bahkan keduanya terkejut ketika tiba-tiba saja Lembu Atak bertanya kepada mereka, “Bukankah begitu?”

Dengan gagap Kuda Semedi dan Kuda Semeni menjawab hampir berbareng, “Ya. Begitulah.”

“Baiklah,” berkata seorang kawannya, “kita akan membuat perhitungan. Sebaiknya Kuda Semedi dan Kuda Semeni tidak ikut campur agar Sasi tidak mengalami kesulitan. Jika kedua anak muda itu kemudian justru menjadi gila, maka Sasi lah yang akan menjadi sasaran dendamnya.”

“Aku akan mencegatnya saat mereka pulang,” berkata Lembu Atak dengan garangnya.

“Aku sependapat. Tetapi apakah mereka hanya berdua saja?” bertanya seorang kawannya.

“Aku tidak peduli, dengan siapa saja mereka berjalan pulang menjelang fajar nanti. Aku akan menantangnya sebagai seorang laki-laki,” berkata Lembu Atak kemudian.

“Seorang lawan seorang?” bertanya kawannya.

“Biarlah mereka berdua. Tetapi jika ternyata mereka membawa banyak kawan, maka aku memerlukan bantuan kalian,” geram Lembu Atak itu sambil menghentakkan tangannya. Katanya pula, “Aku akan menghancurkan mereka berdua sehingga mereka tidak akan dapat mengganggu Sasi lagi dengan cara apapun juga.”

Ternyata kawan-kawannya sependapat. Namun mereka telah minta agar Kuda Semedi dan Kuda Semeni tidak ikut bersama mereka.

Kuda Semedi dan Kuda Semeni memang merasa beruntung bahwa mereka tidak akan dilibatkan dalam perkelahian itu. Namun lembu Atak itu telah minta kepadanya untuk mendapatkan keterangan jalan manakah yang akan mereka lalui jika mereka pulang.

Sebenarnyalah Lembu Atak telah pulang mendahului ayahnya yang masih duduk di pendapa sambil mendengarkan suara gamelan dan menikmati hidangan panas yang telah disuguhkan untuk melawan udara yang mulai terasa dingin. Namun ayah Lembu Atak itu tidak tahu bahwa anaknya tengah merencanakan satu langkah awal yang salah bagi seorang prajurit muda yang baru saja diwisuda. Ia hanya melihat anaknya itu meninggalkan pendapa untuk kedua kalinya bersama beberapa orang kawannya.

Sementara itu Kuda Semedi dan Kuda Semeni menjadi bingung, apa yang sebaiknya dilakukannya.

Dengan nada cemas, Kuda Semedi berkata, “Kedua anak muda itu sama sekali tidak bersalah. Apakah kita akan membiarkan Lembu Atak mengambil tindakan atas mereka, sementara kedua anak muda itu tidak tahu sama sekali persoalannya.”

“Kita akan memberitahukan kepada mereka, agar mereka mengambil jalan lain,” sahut Kuda Semeni.

Kakaknya mengangguk-angguk. Katanya, “Satu-satunya jalan. Marilah kita berbicara dengan anak itu. Mereka baru saja membantu menghidangkan suguhan bersama Sasi.”

Keduanya pun, kemudian pergi ke pringgitan. Namun mereka menjadi ragu-ragu untuk mengatakannya. Jika Sasi mendengarnya maka ia tentu akan menjadi sangat marah karean ia akan merasa malu sekali bahwa telah terjadi keributan karena dirinya yang sehari-hari jarang keluar rumah sebagaimana diminta oleh ibunya. Bahkan ibu dan ayah mereka pun tentu akan merasa tersentuh pula akibat peristiwa itu. Bahkan jika terjadi salah paham, maka ibu dan ayah mereka akan dapat menyalahkan Sasi.

Karena itu maka Kuda Semedi pun berkata, “Nanti saja. Kita memperhatikan kapan mereka pulang.”

“Kita lihat dahulu ke gadri sebelah kanan,” ajak Kuda Semeni.

Keduanya pun kemudian bergeser lagi langsung masuk melalui pintu pringgitan dan menyelinap ke gadri sebelah kanan.

Ternyata Sasi tidak sedang berada di gadri. Agaknya Sasi masih sibuk di dapur menghidangkan minuman dan makanan bagi mereka yang ikut membantu di dapur.

“Kebetulan sekali,” desis Kuda Semedi.

“Kita bicara kepadanya,” sahut Kuda Semeni.

“Panggil mereka kemari. Cepat. Tetapi jangan menarik perhatian orang lain,” berkata Kuda Semedi kemudian.

Kuda Semeni pun segera mendekati Mahisa Murti yang telah kembali duduk bersama anak-anak muda dan gadis-gadis di gladri. Sambil tersenyum ia berbisik, “Ada sedikit persoalan yang ingin kami bicarakan.”

“Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun Kuda Semeni segera berkata lebih lanjut, “Tentang hidangan yang terlampaui.”

“O,” Mahisa Murti tersenyum. Namun Kuda Semeni berkata lebih lanjut, “Kita pergi ke dapur.”

“Mahisa Murti pun segera bangkit dan mengikut Kuda Semeni. Mahisa Pukat hanya termangu-mangu saja. Sementara itu seorang anak muda bertanya, “Apakah perlu dibantu?”

“Tidak,” jawab Kuda Semeni, “hanya untuk beberapa orang yang sibuk di belakang. Tetapi biarlah saudaramu ikut pula.”

Mahisa Murti memang memberikan isyarat kepada Mahisa Pukat untuk mengikutinya.

Ketika mereka sudah berada di luar pintu gladri, maka Kuda Semedi pun berkata, “Di sini saja. Kami memang tidak akan ke dapur. Juga tidak berbicara tentang hidangan yang kurang.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Namun Kuda Semedi pun kemudian telah berkata berterus-terang bahwa Lembu Atak akan menunggu mereka di perjalanan pulang.

“Sebaiknya kalia ambil jalan lain. Kemana kalian akan pulang? Apakah benar kalian akan pulang ke istana?” bertanya Kuda Semedi.

“Ya,” jawab Mahisa Murti, “kami sedang mengunjungi ayah kami yang tinggal di bagian belakang istana.”

“Siapakah ayahmu? Apakah benar ayahmu salah seorang Penasehat Sri Maharaja di Singasari?”

“Bukan,” jawab Mahisa Murti, “pamankulah yang dahulu pernah menjadi Penasehat Sri Maharaja. Tetapi pamanku telah meninggal beberapa saat yang lalu. Ayahku memang diminta oleh Sri Maharaja untuk tinggal di istana. Jika sekali-sekali ayahku diperintahkan untuk menghadapi dan berbincang dengan Sri Maharaja belum berarti bahwa ayahku adalah Penasehat Sri Maharaja.”

“Siapakah nama pamanmu?” bertanya Kuda Semedi.

“Mahisa Agni,” jawab Mahisa Murti.

“Mahisa Agni yang pernah mendapat tugas mewakili Sri Baginda di Kediri?” bertanya Kuda Semedi.

“Ya. Kemudian pamanku yang kedua adalah Witantra,” jawab Mahisa Pukat.

“Juga pernah mendapat jabatan yang sama di Kediri,” desis Kuda Semeni.

“Darimana kau tahu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ayah pernah berbicara tentang kedua orang itu. Ketika kami menjadi calon prajurit, kami mendapat sedikit pengetahuan tentang orang-orang penting di Singasari,” jawab KudaSemedi.

“Baiklah,” berkata Mahisa Murti kemudian, “nanti, aku akan mengambil jalan lain menuju keistana. Mudah-mudahan kami tidak berjumpa.”

Kuda Semedi dan Kuda Semeni pun mengangguk-angguk. Katanya, “Hati- hatilah. Kawanku itu adalah anak Senapati yang memimpin kesatuanku. Aku memang menjadi segan kepadanya.”

“Terima kasih. Kami akan berhati-hati,” jawab Mahisa Murti, “Kami memang tidak memiliki kemampuan untuk berkelahi.”

“Apakah kau bersama ayahmu?” bertanya Kuda Semeni.

“Ya,” jawab Mahisa Murti.

“Jika ia adik Mahisa Agni dan Witantra, maka ia adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.”

Tetapi Mahisa Murti menggeleng. Katanya, “Ayahku memang tidak sebagaimana kedua pamanku. Ayahku bukan seorang yang berilmu. Ayahku termasuk seorang yang malas di masa mudanya.”

“Tetapi bahwa ayahmu telah dipanggil dan tinggal pula di istana tentu ada kelebihan apapun pada ayahmu itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun Mahisa Murti pun berkata, “Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih. Aku nanti akan mengajak ayah untuk beralih jalan, agar kami tidak bertemu dengan Lembu Atak.”

“Baiklah. Kembalilah ke tempatmu,” berkata Kuda Semedi, “tetapi ingat, Sasi jangan sampai mendengarnya agar ia tidak tersinggung karenanya. Anak itu tidak tahu apa-apa, sebagaimana kalian berdua juga tidak tahu apa-apa.”

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah kembali ke tempat duduknya. Namun bagaimanapun juga niat Lembu Atak dan beberapa kawannya itu telah membuat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar.

Pertemuan yang meskipun sederhana namun meriah itu pun masih berlangsung. Gamelan masih juga melagukan tembang ngerangin. Semakin jauh malam menjelang dini, maka suara gamelan itu menjadi semakin ngelangut.

Namun ketika tengah malam telah lama lewat, maka para tamupun menjadi letih. Minuman hangat dan makanan menjelang dini mampu menahan mereka beberapa saat. Tetapi kemudian, seorang demi seorang telah minta diri meninggalkan pertemuan itu.

Mahendra pun tidak ketinggalan. Ia pun kemudian telah minta diri pula.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah dipanggil pula karena keduanya masih berada di gadri. Sementara itu Kuda Semedi masih sempat mengingatkannya, “Ambil jalan lain. Karena sebenarnyalah, demikian marahnya Lembu Atak kepada kalian.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih sempat minta diri kepada Sasi dan anak-anak muda serta gadis-gadis yang ada di gadri itu. Namun sejenak kemudian, ia pun telah meninggalkan rumah Arya Kuda Cemani bersama ayahnya.

Di perjalanan kembali ke istana itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menceriterakan pesan Kuda Semedi dan Kuda Semeni. Dengan nada rendah Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Sebaiknya kita memang memilih jalan lain ayah. Bukan jalan yang biasa dilewati menuju ke istana.”

“Baiklah,” berkata Mahendra, “kita memang harus mengambil jalan lain. Kita harus menghindari benturan kekerasan dalam persoalan seperti yang kalian hadapi itu. Untunglah Kuda Semedi dan Kuda Semeni sempat memberitahukan kepada kalian.”

Seperti yang mereka sepakati maka Mahendra dan kedua orang anaknya telah memilih jalan yang melingkar. Memang agak jauh, tetapi dengan demikian maka mereka memperhitungkan tidak akan bertemu dengan Lembu Atak.

Namun dugaan mereka keliru. Ternyata Lembu Atak tidak menunggu mereka lewat. Tetapi mereka menunggu di ujung jalan padukuhan sehingga ketika mereka berbelok lewat jalan yang diperhitungkan tidak akan diamati oleh Lembu Atak dan kawan-kawannya, ternyata mereka keliru.

Ternyata Lembu Atak yang bersembunyi di ujung jalan, telah mengikuti mereka yang memilih jalan melingkar.

“Mereka memang bodoh,” desis Lembu Atak kepada seorang kawannya, “mereka memilih jalan yang sepi. Bahkan lewat bulak meskipun tidak terlalu panjang. Tetapi kita mendapat kesempatan lebih luas untuk membuat mereka jera di bulak itu tanpa diganggu oleh orang lain.”

“Mereka akan menyesal. Tetapi kenapa mereka memilih jalan itu,” bertanya seorang kawannya, “apakah mereka mengetahui bahwa kita akan menunggu mereka?”

Lembu Atak mengerutkan keningnya. Katanya, “Tentu Sasi telah menceriterakan apa yang aku lakukan kepada kedua orang anak muda itu. Sehingga mereka menjadi ketakutan dan memilih jalan yang tidak seharusnya dilalui. Mereka tentu sudah mengira bahwa aku menjadi marah karena sikap Sasi. Dan itu membuat mereka menjadi ketakutan, sehingga mereka telah memilih jalan lain.”

Kawan-kawannya tertawa. Sementara itu Mahendra, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah hampir memasuki bulak yang sepi dan jarang dilalui orang dimalam hari.

Karena itulah, maka Lembu Atak pun telah mempercepat langkah mereka, sehingga jarak di antara mereka dengan Mahendra dan kedua orang anaknya menjadi semakin pendek.

Namun dalam pada itu, baik Mahendra maupun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengetahui bahwa beberapa orang tengah mengikutinya meskipun jaraknya masih belum terlampau dekat. Ketajaman pendengaran dan penglihatan mereka telah memungkinkan mereka mendengar dan melihat dalam keremangan dini hari, beberapa orang mengendap-endap mengikuti mereka.

“Kita sudah mencoba untuk menghindari pertengkaran,” berkata Mahendra, “tetapi ternyata kita tidak berhasil. Mereka ternyata cerdik juga, sehingga mereka sempat mengikuti jalan yang kita anggap aman.”

“Apa boleh buat,” desis Mahisa Pukat.

“Kita masih akan mencoba menghindari kekerasan,” desis Mahendra, “perkelahian tidak akan menguntungkan kita.”

“Bukan kita yang mendahuluinya,” jawab Mahisa Pukat.

“Jadi, apakah anak seorang Senapati dapat berbuat sekehendak hatinya? Senapati itu sendiri tidak boleh berbuat sekehendak hatinya serta menyalah gunakan jabatannya. Apalagi anaknya,” sahut Mahisa Pukat pula.

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Anaknya pun masih muda sehingga darahnya masih hangat sebagaimana anak-anak muda yang mengikuti mereka itu.

Dalam pada itu, ketika mereka sudah berada di tengah-tengah bulak yang sepi, maka Lembu Atak pun segera menyusul Mahendra dan kedua orang anaknya. Dengan keras Lembu Atak berkata, “berhenti kau anak-anak yang tidak tahu diri.”

Yang pertama berhenti dan berbalik menghadap ke arah anak-anak muda yang mengikutinya itu adalah Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Pukat masih saja berdiam diri.

Lembu Atak lah yang paling dahulu mendekati ketiga orang yang menunggunya dengan termangu-mangu.

“Apakah kau bernama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat?” bertanya Lembu Atak sambil bertolak pinggang.

“Ya,” Mahisa Pukat lah yang menjawab sambil melangkah selangkah maju, “untuk apa kau menyusul kami?”

“Ternyata kau seorang yang sangat sombong,” geram Lembu Atak, “Agaknya kau belum mengenal aku atau Sasi telah mengatakan kepadamu siapa aku?”

“Ya. Aku tahu siapa kau. Tidak ada yang memberitahukan kepadaku, siapakah kau. Tetapi aku tahu bahwa kau adalah anak seorang Senapati yang memimpin kesatuanmu yang juga kesatuan Kuda Semedi dan Kuda Semeni, kakak Sasi,” jawab Mahisa Pukat.

“Setan kau,” Lembu Atak semakin marah melihat sikap Mahisa Pukat.

Namun Mahendra segera melangkah maju sambil berkata, “Keduanya adalah anak-anakku ngger. Apakah ada persoalan yang perlu dibicarakan sehingga angger telah menyusul kami bertiga? Atau barangkali ada sesuatu yang dapat kami bantu?”

“Kaukah yang bernama Mahendra dan mengaku penasehat Sri Maharaja di Singasari?” bertanya Lembu Atak.

“Sama sekali bukan ngger. Aku bukan penasehat Sri Maharaja di Singasari. Aku tidak lebih dari seorang Pelayan Dalam.”

“Aku sudah menduga bahwa kau tentu seorang Pelayan Dalam,” geram Lembu Atak. Lalu katanya, “Nah, sekarang aku minta kedua orang anakmu jangan berani mengganggu Sasi lagi. Gadis itu merasa selalu dibayangi oleh ketakutan karena tingkah kedua orang anakmu itu,” berkata Lembu Atak pula.

“Apa yang mereka lakukan?” bertanya Mahendra.

Wajah Lembu Atak menjadi tegang. Katanya, “Tanyakan kepada anak-anakmu, bagaimana ia menakut-nakuti Sasi.”

“Anakku baru saja mengenal gadis itu, jika yang kau maksud adalah anak perempuan Arya Kuda Cemani.” jawab Mahendra, “adalah mustahil bahwa anak-anakku telah sempat menakut-nakuti gadis itu.”

Lembu Atak memang menjadi agak bingung. Namun kemudian katanya, “Aku tidak peduli. Yang penting, kedua anakmu tidak boleh lagi mendekati Sasi.”

“Apakah hakmu melarang?” tiba-tiba saja Mahisa Pukat yang hampir tidak dapat menahan kemarahannya bertanya.

“Persetan kau,” geram Lembu Atak, “jika kau berani bertanya lagi, apalagi dengan kasar seperti itu, maka aku pilin lehermu sampai patah.”

“Sudahlah anak muda,” Mahendra berusaha untuk menengahi, “kau tidak usah memikirkan anak-anakku. Besok atau lusa, mereka sudah akan meninggalkan Kotaraja.”

“Kemana?” bertanya Lembu Atak.

“Mereka selama ini tinggal di sebuah Padepokan yang jauh. Jika mereka kembali ke padepokan, maka untuk waktu yang agak lama mereka tidak akan muncul lagi di Kotaraja ini. Karena itu, lupakan saja mereka. Mereka tidak akan melihat dan apalagi bercakap-cakap dengan gadis yang kau sebut Sasi itu. Lebih-lebih menakut-nakutinya,” bertanya Mahendra.

Lembu Atak termangu-mangu sejenak. Namun nampaknya sikap Mahisa Pukat sangat menjengkelkannya. Anak muda itu sama sekali tidak menunjukkan perasaan takut.

Sebenarnyalah Mahisa Pukat biasanya tidak terlalu mudah tersinggung. Darahnya memang lebih panas dari Mahisa Murti. Tetapi ia lebih banyak menyadari bahwa pertengkaran sebaiknya dihindarinya. Apalagi perkelahian, justru karena ilmunya telah menjadi semakin matang.

Namun ketika tiba-tiba saja ia di hadapan pada persoalan seorang gadis yang telah mengetarkan jantungnya, maka rasa-rasanya kemarahannya begitu mudah tergugah.

Karena itu, maka tidak sebagaimana biasanya ia merendah, maka saat itu, darah pun terasa cepat menjadi panas. Seperti Lembu Atak, maka timbul pula niat Mahisa Pukat untuk membuat anak muda itu menjadi jera.

Karena itu, ketika ayahnya mengajaknya meninggalkan tempat itu, hampir di luar sadarnya Mahisa Pukat berkata, “Sasi mempunyai hak untuk berbuat sesuai dengan nuraninya. Juga dalam hal memilih kawan. Tetapi jika tadi kau sebut aku menakut-nakutinya maka aku menganggap bahwa kau telah mencoba memfitnah.”

Wajah Lembu Atak menjadi merah. Ia hampir melepaskan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk pergi bersama ayahnya. Tetapi kata Mahisa Pukat itu telah membuat telinganya menjadi panas. Karena itu maka ia pun berkata kasar, “Kau ingin mulutmu aku koyakkan? Kau harus menyadari dengan siapa kau berhadapan. Aku telah mengalami latihan-latihan yang berat sebagai calon prajurit. Kemudian mengalami pendadaran yang hampir tidak masuk akal. Tetapi aku dapat melampauinya sehingga aku dapat diwisuda menjadi soerang prajurit. Nah, jika kau seorang anak yang sombong, maka kau akan sangat menyesal.”

Tetapi Mahisa Pukat masih menyahut, “Bukan karena kau seorang prajurit yang memiliki ilmu yang tinggi yang membuatmu besar kepala. Tetapi kau sadar sesadar-sadarnya bahwa ayahmu adalah seorang Senapati. Kau akan selalu bersandar kepadanya jika kau mengalami kesulitan. Tetapi nampaknya kau akan kecewa. Jika ayahmu benar-benar seorang Senapati, maka kau justru akan ditangkapnya sendiri karena tingkahmu ini.”

“Sudahlah,” berkata Mahendra memotong, “marilah. Kita tinggalkan tempat ini.”

Namun Lembu Atak lah yang kemudian tidak mau melepaskannya. Katanya, “Anak itu harus mendapat pelajaran agar ia menjadi jera. Kecuali jika ia bersedia minta maaf kepadaku.”

Tetapi sebelum Mahendra memerintahkan kepadanya untuk melakukannya, maka Mahisa Pukat telah mendahului, “Aku tidak merasa bersalah. Kalianlah yang menyusul kami dan membuat perkara ini. Karena itu, aku tidak akan minta maaf.”

“Sudahlah Pukat, sudahlah,” potong Mahendra, “apa salahnya kau minta maaf dan kita pulang dengan tenang.”

“Aku dan Mahisa Murti tidak bersalah ayah. Kenapa aku harus minta maaf,” Mahisa Pukat masih mengelak.

“Murti. Kenapa kau hanya berdiam diri saja?” bertanya ayahnya.

Sementara Mahisa Murti justru menjadi bingung. Ia tidak dapat menyalahkan Mahisa Pukat meskipun dengan demikian akan dapat menghindar benturan kekerasan. Tetapi harga diri Mahisa Pukat sebagai seorang laki-laki akan direndahkan. Apalagi landasan persoalannya adalah tentang seorang gadis.

“Apakah kau dapat membantu aku, Murti?” desak ayahnya.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebaiknya kita saling memaafkan saja. Tidak ada yang salah di antara kita semuanya. Mungkin hanya sekedar salah paham. Bagaimanapun juga Sasi adalah seorang pribadi yang mandiri. Biarlah ia menentukan sikapnya. Sudah tentu tidak dilandasi ketakutan atau semacam terpaksa untuk menentukan satu sikap. Karena sebenarnyalah satu kemungkinan bahwa mulai besuk Sasi tidak akan mau bertemu kita lagi karena yang kita lakukan ini telah menyinggung perasaannya sebagai seorang gadis.”

Sebenarnyalah bahwa Lembu Atak tersentuh juga oleh kata-kata Mahisa Murti. Mereka yang bertengkar itu sama sekali tidak mengetahui sikap Sasi yang sebenarnya. Namun menurut penglihatan Lembu Atak, hubungan Sasi dengan kedua orang anak muda itu terlalu akrab sehingga ia tidak mau meninggalkan mereka dan duduk bersamanya saat Lembu Atak itu minta dihidangkan makan khusus baginya.

Bahkan hatinya yang sudah mulai mendingin itu tiba-tiba telah menjadi panas kembali. Katanya dengan nada tinggi, “Kau jangan mencoba membekukan persoalan ini. Persoalan yang akan aku selesaikan dengan caraku. Cara seorang laki-laki.”

Dalam pada itu, Mahendra mencoba menengahinya lagi, “Sudahlah ngger. Seperti yang sudah aku katakan, besok atau lusa anak-anakku itu akan kembali ke padepokannya. Karena itu, biarlah persoalan yang kalian bicarakan ini dianggap selesai.”

“Tidak,” bentak Lembu Atak, “persoalan baru aku anggap selesai jika anak-anakmu minta maaf kepadaku.”

Mahisa Pukat lah yang menyahut dengan serta-merta, “Kami tidak bersalah. Karena itu, kami tidak akan minta maaf.”

“Kau menantang aku?” geram Lembu Atak.

“Tidak. Tetapi jika terpaksa, aku akan melayani,” jawab Mahisa Pukat yang darahnya mulai menjadi panas pula.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Persoalan anak-anak muda itu tidak segera dapat di atasinya. Sementara Mahisa Murti tidak mencegahnya dengan tegas.

Karena itu, maka katanya, “Aku sudah mencoba melerai persoalan yang timbul di antara kalian. Tetapi ternyata bahwa kalian tidak mau mendengarkan. Karena itu, terserah kepada kalian. Aku tidak akan ikut campur. Persoalan anak-anak muda yang ingin kalian selesaikan dengan cara anak muda pula meskipun sebenarnya persoalannya sama sekali tidak jelas dan tidak pantas.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyadari bahwa ayahnya tidak sependapat dengan cara yang mereka tempuh. Tetapi ia juga memaklumi bahwa kedua anaknya sedang mempertahankan harga dirinya. Meskipun tidak ada Sasi, tetapi seakan-akan mereka ingin menunjukkan kepada gadis itu, bahwa harga diri mereka tidak mau direndahkan oleh siapapun juga.

Mahendra yang tidak sependapat dengan apa yang terjadi itu benar-benar akan meninggalkan tempat itu kembali ke istana. Dibiarkannya kedua orang anak laki-lakinya menyelesaikan persoalan mereka. Apalagi Mahendra sudah terlalu biasa membiarkan anak-anaknya menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Bahkan termasuk persoalan yang rumit sekalipun dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Apalagi persoalan yang dihadapinya itu sekedar persoalan antara anak-anak muda. Itu pun tidak jelas ujung pangkalnya. Meskipun Mahendra sadar, bahwa persoalan kecil itu akan dapat membengkak jika Lembu Atak menyeret ayahnya kedalam persoalan itu. Apalagi jika ia menanggapinya tanpa menilai kebenarannya lebih dahulu.

Lembu Atak sejenak termangu-mangu. Bahkan ia mengira bahwa Mahendra tentu akan melaporkan peristiwa itu kepada para prajurit yang bertugas. Karena itu, maka ia pun segera berkata kepada kawan-kawannya, “Cegah orang itu meninggalkan tempat ini.”

Mahendra yang baru melangkah satu dua langkah memang terkejut. Sebelum ada orang yang mencegahnya ia sudah melangkah kembali sambil bertanya, “Kenapa aku tidak boleh pergi?”

“Kau akan melaporkan peristiwa ini sehingga para prajurit akan mencegahnya,” jawab Lembu Atak.

“Tidak. Aku akan membiarkan kalian menyelesaikan persoalan kalian sendiri. Sudah aku katakan, aku tidak akan turut campur. Apapun yang terjadi,” berkata Mahendra.

Tetapi Lembu Atak menyahut dengan kasar, “Persetan. Kau harus melihat bagaimana anakmu akan menuai tanamannya sendiri.”

Mahendra yang sudah menjadi semakin tua itu menarik nafas dalam-dalam. Sikap anak muda itu menyinggung perasaannya. Tetapi ia masih menahan diri. Katanya, “Baiklah. Aku tidak akan pergi. Aku akan melihat, apa yang terjadi.”

“Bagus,” berkata Lembu Atak. Lalu katanya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Marilah. Aku persilahkan kalian berdua bersiap. Aku akan menyelesaikan kalian berdua bersama-sama.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Pukat berkata, “Biarlah aku sendiri yang akan turun ke arena melayanimu. Aku ingin tahu, apakah seorang prajurit muda yang baru saja diwisuda memiliki ilmu yang tinggi sehingga dengan sombongnya telah menantang kami berdua bersama-sama, karena sebenarnyalah aku sangat meragukannya.”

“Kau terlalu sombong untuk berani menghadapi aku seorang diri,” geram Lembu Atak.

Mahisa Pukat tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun segera maju mendekati Lembu Atak yang terheran-heran. Sikap Mahisa Pukat sangat menyakinkan. Tanpa ragu-ragu sama sekali meskipun anak muda itu mengetahui, bahwa yang dihadapinya adalah seorang prajurit yang baru saja diwisuda.

“Bersiaplah, aku akan segera mulai,” justru Mahisa Pukat lah yang berkata.

“Setan kau,” geram Lembu Atak sambil mempersiapkan diri.

Mahisa Pukat lah yang kemudian menyerang Lembu Atak itu lebih dahulu. Namun demikian serangannya terayun, maka timbullah kesadaran di dalam dirinya, bahwa tidak sepantasnya ia berbuat semena-mena terhadap anak muda itu. Karena itu, maka timbullah niat Mahisa Pukat untuk menjajagi kemampuan lawannya lebih dahulu, serta timbul pula niatnya untuk sekedar menyesuaikan diri.

Dengan demikian maka perkelahian antara Mahisa Pukat dan Lembu Atak itu pun telah mulai. Keduanya masih berusaha untuk saling menjajagi. Lembu Atak sebagai seorang prajurit yang baru diwisuda setelah menempuh pendadaran yang berat, merasa bahwa dirinya memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Sementara Mahisa Pukat adalah seorang yang memang telah yakin akan dirinya.

Namun demikian, pada saat-saat perkelahian itu dimulai, Mahisa Pukat justru mulai dapat menguasai dirinya. Meskipun ia tidak pernah merendahkan lawan yang bagai manapun juga, namun Mahisa Pukat juga berniat untuk mengendalikan dirinya apabila lawannya bukan seorang yang berilmu tinggi.

Sebenarnyalah lawannya adalah seorang anak muda yang baru saja menempuh pendadaran dan dianggap mampu menyelesaikannya dengan baik. Namun tidak lebih dari itu.

Karena itu, maka Lembu Atak sebenarnya sama sekali bukan lawan Mahisa Pukat.

Mahendra mula-mula menjadi cemas melihat keseimbangan ilmu kedua orang anak muda yang sedang berkelahi itu. Meskipun Mahisa Pukat belum menunjukkan kelebihannya, tetapi Mahendra sudah mengetahui tingkat kemajuan ilmu anaknya.

Namun Mahendra itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia mulai yakin, bahwa Mahisa Pukat bukannya tidak mampu mengendalikan dirinya, sehingga anak muda itu tidak bertempur dengan sungguh-sungguh dan tidak pula mempergunakan ilmunya yang tinggi.

Namun bagi para prajurit muda itu, yang nampak oleh mata mereka dalam keremangan malam adalah dua orang yang bertempur dengan sengitnya. Keduanya saling mendesak dan saling menghindar sehingga keduanya berloncatan dengan tangkasnya.

Para prajurit muda itu mengira bahwa kedua anak muda itu telah bertempur dalam keseimbangan kemampuan, karena ternyata untuk beberapa lama masih belum nampak, siapakah yang mulai terdesak dan kehilangan kesempatan.

Ketika keringat Lembu Atak telah membasahi pakaiannya, maka anak muda yang baru saja diwisuda menjadi seorang prajurit itu menjadi semakin gelisah. Kemarahannya seakan-akan telah menjalar sampai kekepalanya. Namun lawannya itu masih belum mampu dikuasainya. Bahkan semakin lama rasa-rasanya justru menjadi semakin tangkas.

Namun pertempuran itu sendiri memang tidak segera selesai. Mahisa Pukat ternyata dengan sengaja tidak segera mengalahkan Lembu Atak meskipun hal itu dapat saja dilakukan.

Perkelahian yang nampaknya seimbang itu memang telah membuat Lembu Atak menjadi letih. Dengan demikian kemampuannyapun justru mulai menyusut.

Betapapun ia mengerahkan kemampuannya, namun lawannya masih saja mampu mengimbanginya.

Mahisa Murti dan Mahendra masih saja berdiri termangu-mangu menyaksikan bagaimana Mahisa Pukat membiarkan lawannya masih tetap berkelahi meskipun sebenarnya ia akan dapat dengan cepat menyelesaikannya. Bahkan menghancurkan sama sekali.

Lembu Atak semakin lama menjadi semakin gelisah. Meskipun sekali dua kali ia berhasil mengenainya, tetapi lawannya itu telah lebih dari lima belas kali dikenai serangan Mahisa Pukat. Namun tidak dengan sepenuh tenaga.

Meskipun demikian serangan-serangan Mahisa Pukat itu telah menyakitinya. Sedangkan serangan-serangan Lembu Atak yang mengenai Mahisa Pukat seakan-akan tidak terasa olehnya.

Kawan-kawan Lembu Atak mula-mula masih saja menganggap keduanya berkelahi dalam keadaan seimbang. Namun semakin lama mereka pun mengetahui, bahwa Lembu Atak berada dalam kesulitan. Mereka juga melihat bahwa serangan-serangan Lembu Atak yang mengenai lawannya tidak seimbang denan serangan-serangan lawannya yang mengenainya.

Apalagi ketika kekuatan Lembu Atak mulai menyusut. Beberapa kali Lembu Atak terdorong surut.

Lembu Atak semakin gelisah pula mengalami kesulitan yang nampaknya sulit untuk di atasi. Karena itu, maka selagi ia masih belum kehabisan tenaga, maka ia harus menyelamatkan harga dirinya. Karena itu, maka di luar dugaan, tiba-tiba Lembu Atak itu berkata, “Jangan biarkan anak iblis ini melarikan diri. Ia sudah berusaha mencari kesempatan itu. Karena itu, maka kalian harus turun untuk ikut menjaga agar anak itu tidak sempat lari. Awasi juga yang seorang lagi serta ayahnya sama sekali.”

Kawan Lembu Atak itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sekali lagi Lembu Atak berteriak, “Cepat. Jangan terlambat. Masuklah ke arena.”

Beberapa orang kawannya tidak menunggu lagi. Mereka pun dengan serta merta turun ke arena. Lima orang bersama-sama, sementara itu empat orang yang lain menjaga Mahisa Murti dan Mahendra agar tidak melarikan diri.

Mahisa Pukat memang meloncat surut. Tetapi ia tidak melarikan diri. Tetapi ia bergeser ketempat yang lebih luas.

Mahisa Murti dan ayahnya bergeser menepi. Tetapi mereka masih tetap berdiam diri menghadapi segala kemungkinan. Namun sebelum keempat orang itu berbuat sesuatu, keduanya sama sekali tidak berniat untuk mencampuri perkelahian antara Mahisa Pukat melawan enam orang prajurit muda yang baru saja diwisuda.

Meskipun demikian Mahisa Murti telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Ia tahu bahwa ilmu Mahisa Pukat terlalu tinggi bagi para prajurit itu seorang demi seorang. Namun menghadapi enam orang prajurit muda yang baru lepas dari pendadaran tentu akan memaksa Mahisa Pukat untuk merambah ke ilmu simpanannya. Apalagi seorang diri mengalahkan enam orang prajurit muda sekaligus, tentu akan sangat menarik perhatian. Terutama bagi para prajurit itu sendiri, sehingga akan dapat menumbuhkan ceritera yang bukan-bukan. Jika ceritera yang bukan-bukan itu sampai ke telinga ayah Lembu Atak, maka persoalannya pun akan berkembang ke arah yang bukan-bukan.

Karena itu, maka Mahisa Murti tidak akan membiarkan Mahisa Pukat menyelesaikan pertempuran itu seorang diri. Ia harus turun ke arena. Namun Mahisa Murti masih menunggu, apakah yang akan akan terjadi.

Sebenarnyalah Mahisa Pukat menjadi semakin marah ketika enam orang prajurit bertempur bersama melawannya. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun telah bergerak semakin cepat. Seperti yang diduga oleh Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat telah mempergunakan tenaga cadangan di dalam dirinya. Dengan tenaga dalam itu, maka ia menjadi semakin garang. Geraknya bertambah cepat dan kekuatannya justru meningkat.

Dalam keadaan yang demikian, maka Mahisa Murti telah melangkah maju sambil berkata, “Nah, biarlah aku ikut serta dalam permainan ini.”

“Aku dapat menyelesaikannya sendiri,” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Murti tidak segera menyahut. Tetapi ia berusaha untuk menembus kepungan para prajurit muda itu atas Mahisa Pukat. Baru Kemudian ia pun berkata, “Kau bukan seorang Senapati prajurit yang memiliki ilmu sangat tinggi. Kau tidak boleh bertempur seorang diri.”

Namun kemudian Mahisa Murti berdesis lemah, “Kita tidak sedang menunjukkan bahwa kita memiliki kelebihan.”

Mahisa Pukat sebenarnya justru menjadi kecewa karena ia tidak menyelesaikan keenam orang itu seorang diri. Namun ia mulai tanggap maksud Mahisa Murti. Sehingga karena itu maka ia pun tidak menolak.

Mahendra yang berdiri di luar arena menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melihat Mahisa Murti memasuki arena, maka ia pun segera tanggap pula. Bahkan ia merasa bersyukur, bahwa Mahisa Murti tidak membiarkan Mahisa Pukat, tetapi pikirannyapun sejalan dengan pikiran Mahisa Murti sekalipun mereka tidak saling membicarakannya.

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bertempur melawan keenam orang prajurit muda yang baru saja diwisuda. Sementara itu empat orang yang lain justru hanya termangu saja menyaksikan kawan-kawannya bertempur. Bahkan mereka pun seakan-akan tidak teringat lagi, bahwa mereka harus mengawasi ayah kedua orang anak muda yang sedang bertempur itu.

Lembu Atak yang menjadi sangat marah itu pun kemudian berkata lantang, “Kita tidak usah menaruh belas kasihan kepada anak-anak yang sombong itu. Kita akan menyelesaikannya dan membuat mereka menjadi jera. Bahkan mereka tidak akan berani lagi menampakkan dirinya di Kotaraja ini, karena Kotaraja ini tidak sama seperti hutan belukar sekitar padepokannya.”

Namun Lembu Atak ternyata harus melihat kenyataan. Meskipun mereka berenam harus berkelahi melawan hanya dua orang, tetapi Lembu Atak dan kawan-kawannya sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk mengenai tubuh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Lembu Atak sendiri bersama kedua orang kawannya berkelahi melawan Mahisa Pukat, sementara tiga orang yang lain melawan Mahisa Murti.

Beberapa kali Lembu Atak melihat kesempatan untuk menyerang Mahisa Pukat. Namun serangannya ternyata tidak pernah dapat mengenainya, karena Mahisa Pukat mampu mengelak lebih cepat dari serangan Lembu Atak. Demikian pula kedua orang kawannya. Bahkan ketika ketiga orang itu menyerang bersama-sama dari arah yang berbeda, mereka dapat kehilangan lawan mereka, karena Mahisa Pukat telah meloncat tinggi-tinggi, sekali berputar di udara, kemudian jatuh tegak pada kedua kakinya di belakang Lembu Atak.

Ketiga orang lawan Mahisa Pukat memang terkejut. Namun demikian Lembu Atak berputar, maka Mahisa Pukat telah mempergunakan kesempatan itu. Dengan tangkasnya Mahisa Pukat melenting. Satu kakinya telah melayang dan hinggap di dada Lembu Atak.

Lembu Atak terdorong beberapa langkah surut. Jika saja kedua kawannya tidak membantunya menahan tubuhnya, maka Lembu Atak tentu sudah jatuh.

Lembu Atak itu menggeram. Kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun. Namun ia tidak dapat mengelak dari kenyataan, bahwa anak muda yang dihadapinya itu ternyata anak muda yang memiliki ilmu yang lebih baik dari para prajurit muda yang baru saja diwisuda setelah mereka menjalani pendadaran yang cukup berat.

Namun bertiga mereka ternyata tidak dapat dengan segera mengalahkan anak muda dari padepokan itu.

Meskipun demikian Lembu Atak yang dadanya menjadi sesak itu masih belum mau tunduk kepada kenyataan yang dihadapinya itu. Dengan lantang ia justru berteriak, “Jangan segan-segan bertindak. Bukanlah ayahku seorang Senapati? Jika terjadi sesuatu karena kita melumpuhkan anak-anak itu, biarlah ayahku bertanggung jawab.”

Sebelum kawan-kawannya bergerak lagi, maka terdengar suara Mahisa Pukat, “Nah, bukankah benar kata-kataku, bahwa Lembu Atak itu telah bersandar pada jabatan ayahnya? Bukan bersandar pada kepercayaannya kepada diri sendiri?”

“Persetan kau. Kau tidak usah mencoba untuk meringankan bebanmu yang telah kau letakkan dipundakmu sendiri,” geram Lembu Atak yang menjadi semakin marah.

Tetapi Mahisa Pukat justru tertawa berkepanjangan.

Demikianlah perkelahian itu berlangsung semakin lama semakin sengit. Lembu Atak dan kawan-kawannya telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Tetapi setiap kali seorang di antara mereka telah terlempar keluar dari arena. Bahkan salah seorang di antara para prajurit muda yang bertempur melawan Mahisa Murti telah terdorong dan terlempar kedalam parit yang sedang mengalir di pinggir jalan di tengah bulak itu. Namun kemudian disusul oleh Lembu Atak yang bertempur melawan Mahisa Pukat. Bukan saja jatuh ke dalam parit yang mengalir, tetapi ia telah terlempar kedalam lumpur di kotak sawah yang baru saja diairi.

Dengan demikian maka Lembu Atak benar-benar menjadi seperti orang mabuk tuak. Sekali lagi ia berteriak kepada kawan-kawannya yang masih menjagai Mahendra meskipun perhatian mereka sepenuhnya tertuju kepada mereka yang sedang berkelahi. “Marilah kalian berempat. Biarkan orang tua bangka itu melarikan diri. Jika dua orang anaknya dapat kita tangkap dan kita seret ke barak, maka kita akan dengan mudah dapat menangkap orang tua itu dan membawanya sama sekali ke barak. Kita dapat mengerahkan anak-anak itu kepada kawan-kawan kita untuk diadili.”

“Apakah kau dan kawan-kawanmu berhak mengadili seseorang? Apalagi seseorang yang tidak bersalah sama sekali?” bertanya Mahisa Murti sambil berkelahi.

Yang menyahut adalah Mahisa Pukat, “Ayahnya pun tidak berhak karena ada petugas tersendiri untuk mengadili seseorang.”

“Koyakkan mulut mereka,” teriak Lembu Atak.

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti tidak menyahut lagi. Tetapi mereka telah mempersiapkan diri untuk melawan masing-masing tidak hanya tiga orang. Tetapi lima orang.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin lama semakin seru.

Para prajurit muda itu pun telah mengerahkan kemampuan mereka tanpa ragu-ragu lagi. Dengan keras mereka menyerang dari segala jurusan. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar licin bagaikan belut. Mereka sama sekali tidak mampu menyentuh, apalagi menyakiti dan menangkap keduanya.

Meskipun sebenarnya keduanya tidak ingin memamerkan kelebihan merleka, tetapi mereka tidak dapat mengelak lagi, karena mereka harus mempertahankan diri mereka dari serangan masing-masing lima orang.

Dengan demikian, maka dengan sendirinya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus menunjukkan kelebihan mereka agar mereka dapat melindungi diri mereka dari serangan-serangan kelima orang lawan mereka.

Betapapun kemarahan membakar jantung para prajurit muda itu, namun mereka benar-benar tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa mereka berlima tidak mampu melawan mereka seorang-seorang.

Semakin lama mereka bertempur, maka semakin sering Mahisa Murti dan Mahisa Pulkat mampu mengenai lawannya. Namun sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sudah harus merambah ke dalam ilmunya.

Betapapun juga melawan lima orang prajurit muda yang baru saja mengalami pendadaran adalah satu perlawanan yang sangat berat.

Namun dengan mempergunakan tenaga dalam serta memasuki kedalaman ilmunya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih mampu mengatasi masing-masing lima orang lawan.

Bahkan beberapa saat kemudian, kelima orang lawan Mahisa Murti dan kelima orang lawan Mahisa Pukat telah mulai kehilangan sebagian dari kekuatannya. Ketika tubuh mereka telah basah oleh keringat, serta wajah mereka telah menjadi biru pengab, maka mereka benar-benar harus melihat kenyataan.

Beberapa kali Lembu Atak sendiri terpelanting jatuh. Demikian pula kawan-kawannya. Bahkan seorang di antara mereka yang berkelahi bersama Lembu Atak telah hampir menjadi pingsan. Matanya berkunang-kunang dan dunia pun rasa-rasanya telah berputar dan berporos pada dirinya. Sehingga karena itu, ia harus menyingkir dari arena perkelahian dan duduk di pinggir, jalan sambil memijit-mijit keningnya.

Sementara itu seorang yang bertempur melawan Mahisa Murti, telah mengaduh tertahan ketika tumit Mahisa Murti itu mengenai bibirnya sehingga dari bibir itu telah mengalir darah.

Dengan demikian, maka para prajurit itu mulai menjadi gelisah, justru karena keseimbangan perkelahian itu.

Betapapun mereka berusaha dengan mengerahkan kemampuan mereka, namun para prajurit itulah yang selalu dikenai oleh serangan-serangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Sementara itu Mahendra menyaksikan perkelahian itu dengan jantung yang berdebaran. Bagaimanapun juga segalanya telah terjadi. Bahwa para prajurit muda itu menjadi pengab di wajahnya bahkan bibir yang pecah dan berdarah, akan berarti bahwa persoalan itu tentu akan berkepanjangan. Para pemimpin kelompok atau para perwira atasan para prajurit muda yang baru saja diwisuda itu tentu akan bertanya, kenapa wajah mereka menjadi merah biru.

Namun apa boleh buat. Mahendra tentu tidak, akan dapat berdiam diri jika ayah Lembu Atak itu akan ikut campur.

Seperti yang diperhitungkan oleh Mahendra dan kedua orang anaknya, maka para prajurit itu mulai menjadi ragu-ragu untuk berkelahi terus. Bahkan Lembu Atak pun mulai mengambil jarak dari Mahisa Pukat.

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti pun mulai menahan diri. Ketika para prajurit muda itu mulai menjauh, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak lagi memburu mereka.

Dengan suara yang bergetar oleh kemarahan yang membakar jantungnya Lembu Atak pun berkata, “Sayang, langit mulai menjadi merah, sehingga kami harus segera kembali ke barak. Jika saja ada kesempatan, maka kalian bertiga akan kami seret ke barak.”

Ketika Mahisa Pukat akan menjawab, maka Mahendra telah mendahuluinya, “Kenapa kita tidak melupakan saja apa yang terjadi?”

“Bagaimanapun juga persoalan ini tidak dapat kami lupakan,” sahut Lembu Atak, “aku akan menyelesaikan kapan saja.”

Mahendra hanya dapat menarik nafas ketika Lembu Atak itu berkata kepada kawan-kawannya, “Kita maafkan mereka kali ini. Kita harus segera kembali ke barak.”

Sekali lagi Mahendra harus berusaha meredakan gejolak perasaan Mahisa Pukat. Karena itu, ketika Mahisa Pukat masih akan menjawab, Mahendra berdesis, “Sudahlah. Diamlah.”

Mahisa Pukat memang harus menahan diri. Tetapi ia tidak berbicara lagi.

Sementara itu Lembu Atak telah mengajak kawan-kawannya meninggalkan tempat itu. Namun suaranya masih terasa menyakiti telinga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meskipun mereka tidak menanggapinya karena Mahendra selalu mencegahnya.

Namun, demikian para prajurit muda itu pergi, Mahendra berkata, “Kau kira bahwa persoalan ini akan mudah terselesaikan?”

Tetapi Mahisa Pukat menjawab, “Persoalan ini bukan persoalan antara para prajurit muda dengan kita ayah, tetapi persoalan ini adalah persoalan anak-anak muda.”

“Aku tahu,” jawab Mahendra, “apakah kau dapat membedakan antara Mahisa Pukat dan Mahisa Pukat sebagai pemimpin Padepokan Bajra Seta.”

“Orangnya memang tidak ayah. Tetapi persoalannya dapat. Aku yakin bahwa persoalan ini bukan persoalan padepokan Bajra Seta,” jawab Mahisa Pukat.

“Tetapi apakah Lembu Atak akan dapat berbuat sebagaimana kau lakukan?” bertanya ayahnya.

“Bukankah seharusnya Lembu Atak dapat menempatkan dirinya dan tidak menyangkut kedudukannya?” desis Mahisa Pukat pula.

“Seandainya kau mendapat kesulitan dengan alasan apapun juga, apakah para cantrik dari Padepokan Bajra Seta tidak merasa tersentuh pula? Meskipun katakan, bahwa persoalan yang kau hadapi bukan persoalan Padepokanmu?” sahut ayahnya.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia masih akan mengelak, karena ia mempunyai sikap tersendiri. Tetapi ia tidak mau berbantah dengan ayahnya. Jika ayahnya menjadi marah, maka persoalannya akan menjadi lain.

Dalam pada itu, maka Mahendra pun kemudian berkata, “Marilah. Kita pulang.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Mereka mengikuti saja ayahnya yang melangkah dengan cepat menuju ke Istana.

Mahisa Murti dan lebih-lebih Mahisa Pukat memang menyesal. Tingkah laku mereka telah membuat ayahnya yang sudah tua itu menjadi kesal. Karena itu, maka keduanya sehari-harian hampir tidak berbuat apa-apa selain duduk-duduk di serambi sambil sekali-sekali masih berbincang tentang sikap mereka.

Namun Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Sudahlah. Mudah-mudahan tidak ada kelanjutan dari peristiwa ini.”

“Tetapi ayah yakin, bahwa masih akan ada persoalan berikutnya,” desis Mahisa Pukat.

Ketika mereka kemudian makan bersama ayah mereka, meskipun ayahnya nampaknya sudah tidak kesal lagi, namun masih ada juga bekas-bekas persoalan yang terjadi di antara kedua anaknya dengan para prajurit muda itu.

“Kita harus siap-siap menghadapi setiap kemungkinan,” berkata ayahnya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menyahut. Mereka justru menunduk dalam-dalam. Tetapi mereka berharap bahwa persoalannya tidak lagi berkepanjangan.

Namun ternyata bahwa dugaan Mahendra itu benar-benar terjadi menjelang senja.

….. Sepertinya ada bagian cerita yang hilang di sini …..

Wajah Mahendra menegang. Sambil mengusap keningnya yang basah oleh keringat, maka ia pun berkata, “Raden. Kenapa persoalannya menjadi berlarut-larut. Sudah tentu kami tidak akan berani melawan Raden. Apalagi Raden adalah seorang prajurit. Meskipun Raden tidak bertindak atas nama kedudukan Raden, namun Raden tetap seorang Senapati.”

“Sudah aku katakan, jangan hiraukan siapa aku,” jawab Raden Sawungtuwuh.

“Tetapi Raden, ada dua hal yang ingin aku sampaikan kepada Raden. Pertama, Raden telah bertindak dengan tergesa-gesa setelah mendengar laporan anak laki-laki Raden sehingga dengan demikian Raden tidak berusaha melihat kebenaran dari laporan itu. Kedua, aku mohon Raden menilai kembali keputusan Raden itu dalam hubungannya dengan nama baik kesatuan Raden sendiri.”

Wajah Raden Sawungtuwuh itu menjadi tegang. Namun katanya, “Kau jangan terlalu banyak bicara. Aku sudah menentukan satu sikap sehingga apapun yang terjadi, aku akan bertanggung jawab.”

“Apa artinya tanggung jawab, Raden? Jika Raden telah ikut merusak nama baik kesatuan Raden sendiri, justru Raden adalah seorang Senapati? Ketika anak laki-laki Raden melakukan satu kesalahan yang dapat merusak citra kesatuannya, maka aku masih berpengharapan bahwa Raden akan dapat meluruskannya sebagai pimpinan kesatuan itu. Tetapi ketika Raden juga melakukannya, maka aku menjadi semakin cemas.”

“Cukup,” potong Raden Sawungtuwuh, “sekarang katakan, aku akan menghukum anak-anakmu. Apakah kau akan melindungi mereka atau tidak?”

“Aku akan memberikan laporan kepada Tumenggung Wreda yang mungkin akan dapat memberikan jalan keluar dari persoalan ini,” berkata Mahendra.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tidak sabar terhadap sikap ayahnya. Namun mereka harus menahan diri. Mereka telah membuat ayahnya kecewa dan mereka menyesal karenanya. Karena itu maka mereka lebih baik berdiam diri menunggu apa yang hendak dilakukan oleh ayahnya itu.

Raden Sawungtuwuh memang harus berpikir ulang mendengar bahwa Mahendra akan memberikan laporan kepada Tumenggung Wreda, Panglima prajurit yang berada di Kotaraja, termasuk kesatuan Raden Sawungtuwuh.

Namun kemudian Raden Sawungtuwuh itu berkata, “Dalam hal ini aku tidak berurusan dengan Tumenggung Wreda, karena persoalannya adalah persoalan pribadi.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Raden Sawungtuwuh berkata selanjutnya, “Sudahlah. Kita selesaikan persoalan ini di antara kita. Aku dengar kau mempunyai kedudukan yang penting di dalam istana meskipun belum terlalu lama. Jika kau seorang Pelayan Dalam, maka kaupun termasuk seorang Pelayan Dalam yang sudah berkedudukan tinggi karena menurut pengakuan anak-anakmu kau sering dibawa berbincang oleh Sri Maharaja sendiri. Jika kau tidak membual tentang hal itu, maka aku anggap bahwa kau pun tentu memiliki tataran keperwiraan seorang prajurit. Karena itu, aku berharap bahwa kau dapat bersikap jantan. Kita masing-masing tidak perlu membawa orang lain maupun kedudukan mereka dalam hal ini.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Sementara ia masih termangu-mangu, Raden Sawungtuwuh itu pun berkata, “Sudahlah. Aku minta diri. Lewat wayah sepi bocah, aku tunggu kau dibulak yang semalam kau pergunakan untuk beramai-ramai menyamun anakku meskipun bukan berupa harta benda, tetapi harga dirinya.”

Mahendra memang tidak mempunyai kesempatan untuk menjawab. Raden Sawungtuwuh dan seorang pengawalnya telah bangkit dan meninggalkan tempat tinggal Mahendra di bagian belakang istana itu.

Mahendra termangu-mangu sejenak. Ia tidak diberi kesempatan untuk memilih menghadapi Raden Sawungtuwuh. Dengan nada dalam ia berkata kepada kedua orang anaknya, “Kita harus hadir. Tetapi aku akan mencoba untuk melunakkan hatinya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab meskipun sebenarnya ia tidak sependapat dengan sikap ayahnya yang terlalu lunak itu.

Namun ketiga orang itu terkejut, karena demikian mereka duduk kembali, mereka melihat seseorang yang mendekati serambi. Ketika Mahendra kemudian menyongsongnya, ternyata orang itu adalah Raden Kuda Wereng.

“Raden,” desis Mahendra.

“Aku sudah tahu segala-galanya,” desis Arya Kuda Cemani yang juga disebut Raden Kuda Wereng itu.

Mahendra tertawa kecil. Katanya, “Aku percaya, karena Raden adalah seorang Senapati dari prajurit sandi Singasari.”

“Ah, kau,” desis Arya Kuda Cemani.

“Marilah, silahkan Raden.” Mahendra mempersilahkan.

Arya Kuda Cemani itu pun kemudian duduk bersama Mahendra dan kedua anaknya. Katanya kemudian, “Anak-anakku telah memberi tahukan kepadaku apa yang telah terjadi di rumahku. Aku memang sangat menyesal. Aku terlambat melerai perkelahian di bulak itu. Nampaknya Ki Mahendra juga tidak berhasil mencegahnya. Namun jsutru karena itu, maka aku telah menyaksikan seluruhnya apa yang terjadi kemudian.”

Mahendra menarik nafas panjang. Katanya, “Aku memang tidak berhasil mencegahnya, Raden. Kedua orang anakku ternyata juga keras kepala.”

“Mereka juga anak-anak muda,” desis Raden Kuda Wereng.

“Aku memang menjadi bingung. Apakah yang sebaiknya aku lakukan. Raden Sawungtuwuh juga tidak mau mendengarkan keteranganku tentang anaknya,” sahut Mahendra.

“Menurut pendapatku, sebaiknya kalian datang ke tempat yang disebut oleh Raden Sawungtuwuh. Aku akan menjadi saksi apa yang terjadi. Menurut pendapatku, Raden Sawungtuwuh adalah seorang yang berpegang teguh pada harga dirinya. Karena itu, maka demikian harga dirinya tersinggung menurut dongeng anaknya, maka ia langsung menanggapinya tanpa diteliti lebih dahulu.”

“Tetapi apakah Raden Sawungtuwuh tidak akan mendendam jika kami berusaha untuk mempertahankan diri?” bertanya Mahendra.

“Aku kira justru tidak.” Jawab Arya Kuda Cemani, “jika Raden Sawungtuwuh itu kalah, maka ia akan mengaku kalah.”

“Mudah-mudahan ia masih tetap pada sikapnya itu.” desis Mahendra sambil memandang kedua anaknya berganti-ganti.

Kedua orang anaknya itu tidak berkata apapun juga. Mereka telah menyerahkan segala sesuatunya kepada ayahnya. Jika datang perintah bagi mereka, maka mereka akan melakukannya.

Dalam pada itu maka Arya Kuda Cemani itu pun berkata, “Baiklah. Aku minta diri. Aku akan hadir di tempat itu justru setelah kalian mulai dengan permainan yang mengasikkan itu.”

Demikianlah, maka sepeninggal Arya Kuda Cemani, maka Mahendra itu pun kemudian berkata, “Marilah. Kita bersiap-siap. Sebentar lagi kita akan pergi ke bulak itu. Bukankah Raden Sawungtuwuh minta agar saat sepi bocah kita sudah ada di bulak itu?”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk. Dengan nada rendah Mahisa Murti berkata, “Apakah ayah benar-benar akan melayani Raden Sawungtuwuh?”

“Maksudmu?” bertanya Mahendra.

“Ayah sudah terlalu tua untuk melayani Senapati itu,” desis Mahisa Pukat pula.

“Apakah kalian merasa mampu untuk melayaninya?” bertanya ayahnya dengan ragu-ragu.

“Persoalan ini adalah persoalan kami,” jawab Mahisa Pukat, “karena itu serahkan saja kepada kami.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Senapati itu tentu akan merasa tersinggung.”

Mahendra termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Tetapi aku minta kalian melakukannya bersama-sama. Maksudku, apapun yang terjadi, kalian akan melayaninya berdua. Dengan demikian, maka kita sudah mencoba untuk menghormatinya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Murti lah yang mengangguk sambil menjawab, “Baik ayah. Kami akan melakukannya berdua. Mudah-mudahan dengan demikian Raden Sawungtuwuh itu tidak tersinggung karenanya.”

Mahendra mengangguk kecil sambil menjawab, “Bagus. Jika demikian, marilah. Kita akan pergi ke bulak itu. Kita akan sampai ke bulak itu sesaat sebelum wayah sepi bocah. Biarlah kita menunggu kedatangan Raden Sawungtuwuh itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun segera berkemas. Sejenak kemudian, maka mereka bertigapun telah meninggalkan tempat tinggal Mahendra di bagian belakang istana itu.

Kepada petugas di regol belakang istana Mahendra mengatakan, bahwa mereka akan pergi kesebuah peralatan kecil di rumah seorang sahabatnya.

Sebenarnyalah, ketika mereka sampai di bulak, saatnya memang sudah mendekati wayah sepi bocah. Karena itu, maka mereka tidak menunggu terlalu lama. Beberapa saat kemudian, maka Raden Sawungtuwuh dan Lembu Atak telah berada di tempat itu pula.

“Ternyata kalian cukup jantan,” desis Raden Sawungtuwuh.

“Tidak Raden,” jawab Mahendra, “aku hanya ingin menjelaskan karena tadi ketika Raden datang ke tempat tinggalku, ada yang masih belum sempat aku jelaskan.”

“Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi,” jawab Raden Sawungtuwuh dengan nada datar.

“Sekarang di sini ada angger Lembu Atak. Raden dapat bertanya kepada angger Lembu Atak, apakah yang telah terjadi sebenarnya di sini,” berkata Mahendra.

Namun dengan serta merta Lembu Atak berkata, “Keteranganku tidak berubah meskipun aku harus mengulanginya seribu kali. Apakah kau mengira bahwa aku telah berbohong? Bukankah kalian menyaksikan apa yang terjadi bahkan mengalaminya sendiri? Yang aku sampaikan kepada ayah adalah sebagaimana terjadi. Sebagaimana kalian alami itu.”

Mahendra menarik nafas panjang. Agaknya memang tidak ada pilihan lain baginya dan bagi kedua orang anaknya.

Namun ia masih mencoba bertanya, “Tetapi, apakah yang kami saksikan dan bahkan yang kami alami menurut laporanmu kepada Raden Sawungtuwuh sama dengan apa yang kami saksikan dan kami alami? Seandainya kau bersedia mengulangi apa yang pernah kau laporkan itu dan sama benar seperti yang kami saksikan dan kami alami, maka kami benar-benar akan minta maaf.”

Namun sikap Lembu Atak benar-benar licik, “Ayah. Orang-orang ini agaknya ingin memutar balikkan kenyataan yang terjadi di bulak ini semalam.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam ketika Raden Sawungtuwuh berkata, “Sudahlah. Jangan banyak berbicara lagi. Aku akan menghukum kedua orang anakmu. Terserah kepadamu, apakah kau akan melindunginya atau tidak. Jika kau akan melindunginya, biarlah anakmu menyingkir dan kau akan turun ke arena. Tetapi jika kau merasa terlalu tua, maka kau dapat minta kedua anakmu membantumu. Bukankah hal itu sudah aku katakan kepadamu?”

Namun jawaban Mahendra memang mengejutkan. Katanya, “Baiklah Raden. Jika kedua anakku memang bersalah, hukumlah. Aku tidak akan melindunginya karena apapun yang akan aku lakukan tidak akan berarti apa-apa.”

“Jadi kau akan membiarkan anakmu menerima hukuman itu tanpa berbuat sesuatu?” bertanya Raden Sawungtuwuh.

“Aku memang tidak dapat berbuat sesuatu,” jawab Mahendra.

“Baiklah,” geram Raden Sawungtuwuh, “jika demikian, aku benar-benar akan menghukum anak-anakmu. Jika keduanya laki-laki, maka mereka tentu akan mengakui kesalahan dan menerima hukuman itu.”

“Jadi apa yang harus kami lakukan?” bertanya Mahisa Pukat tiba-tiba.

“Masih terbuka kesempatan baik. Minta maaf kepada Lembu Atak,” jawab Sawungtuwuh.

“Kami tidak mau. Dan karena kami tidak bersalah, maka kami pun tidak mau dihukum,” jawab Mahisa Pukat tegas.

“Mahendra,” berkata Raden Sawungtuwuh, “apa katamu tentang anak-anakmu itu.”

“Sudah aku katakan. Aku tidak akan melindunginya. Lakukan apa yang Raden ingin lakukan atas mereka,” jawab Mahendra.

“Bagus,” geram Raden Sawungtuwuh, “nampaknya kalian telah sepakat untuk mempermainkan aku. Bersiaplah. Aku akan membuat kalian menjadi jera.”

Namun Mahisa Pukat masih menjawab, “Tetapi ingat Raden. Sudah aku katakan bahwa aku tidak mau dihukum dan tidak pula bersedia untuk minta maaf.”

Raden Sawungtuwuh tidak menjawab. Namun ia pun segera bergeser dan bersiap untuk menyerang.

Lembu Atak memang menjadi tegang. Tetapi ia terlalu yakin akan kemampuan ayahnya, seorang Tumenggung dan menjabat sebagai seorang Senopati prajurit yang disegani di Singasari.

Seperti juga dugaan ayahnya, maka Lembu Atak pun menganggap bahwa pekerjaan ayahnya itu akan dengan segera selesai. Seperti direncanakan oleh ayahnya, maka ayahnya akan menguasai kedua orang anak Mahendra itu dan memaksanya untuk mohon maaf kepada Lembu Atak. Dengan paksa dan jika perlu menyakitinya, maka keduanya tentu akan melakukannya meskipun dengan terpaksa. Bahkan jika ayahnya juga ikut campur, maka ayahnya pun akan dipaksanya minta maaf pula bukan saja kepada Lembu Atak, tetapi juga kepada Raden Sawungtuwuh itu sendiri.

Dengan gerak sederhana Senapati yang berpengaruh itu mulai memancing bertempuran. Meskipun sebenarnya Raden Sawungtuwuh sendiri merasa bahwa tidak sepantasnya ia bertempur dengan anak- anak yang masih ingusan itu karena ia seorang Senapati prajurit Singasari. Namun anak-anak itu sangat menjengkelkan, bahkan juga ayahnya. Karena itu, maka mereka memang perlu mendapat sedikit hukuman agar menjadi jera.

Tetapi Raden Sawungtuwuh ikut terkejut melihat bagaimana kedua orang anak muda itu bergeser. Mereka tidak segera terpancing dalam satu perkelahian. Namun keduanya justru bergeser menyamping. Mahisa Murti yang tidak banyak berbicara itulah yang kemudian telah menjulurkan tangannya ke arah Raden Sawungtuwuh. Nampaknya anak muda itu pun tidak bersungguh-sungguh, sebagaimana dilakukan oleh Raden Sawungtuwuh.

“Anak-anak ini memang keras kepala,” geram Raden Sawungtuwuh. Lalu katanya, “Kalian memang harus mendapat hukuman yang lebih berat dari yang aku rencanakan.”

Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat seakan-akan tidak mempedulikannya sama sekali. Sikap keduanya bahkan nampak meyakinkan dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Raden Sawungtuwuh memang tidak sabar lagi. Jantungnya telah berdetak semakin cepat. Sebagai seorang Senapati, maka ia tidak mau menjadi bahan permainan anak-anak.

“Mereka benar-benar tidak menyadari, dengan siapa mereka sedang berhadapan,” berkata Senapati itu kepada diri sendiri.

Meskipun demikian, melihat sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, Raden Sawungtuwuh memang sudah menduga, bahwa serba sedikit keduanya tentu memiliki kemampuan.

Namun justru karena itu, maka Raden Sawung tuwuh seorang Senapati prajurit Singasari yang sudah mempunyai nama di kalangannya ingin segera menghentikan perlawanan kedua orang anak itu. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya Raden Sawungtuwuh ingin menguasai dan memaksa keduanya untuk minta maaf. Jika perlu dengan menyakitinya.

Karena itu, maka tiba-tiba saja Raden Sawungtuwuh itu telah bersiap untuk sekali loncat, kedua anak muda itu akan terbanting jatuh.

Sayang bahwa sebelumnya Raden Sawungtuwuh belum pernah mendengar nama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Berbeda dengan Raden Sawungtuwuh, Arya Kuda Cemani tahu pasti, seberapa tingkat kemampuan kedua orang anak muda itu.

Dengan pengamatannya yang tajam, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat, bahwa Raden Sawung tuwuh telah bersiap untuk menghentakkan kemampuannya dan sekali gerak, menghentikan perkelahian itu.

Karena itu, keduanya pun segera bersiap. Mereka tidak ingin dengan serta merta ditundukkan oleh Senapati itu betapapun tinggi ilmunya.

Mahendra memperhatikan kedua anaknya dan Raden Sawungtuwuh itu berganti-ganti. Namun orang tua itu menarik nafas dalam-dalam, karena ia tahu, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tanggap akan sikap lawannya.

Dengan demikian ketika Raden Sawungtuwuh itu meloncat sambil mengayunkan tangannya dengan kecepatan yang hampir tidak kasat mata, maka ia terkejut bukan buatan. Ia berniat untuk dengan ayunan tangannya itu menghentikan perlawanan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi ternyata tangannya tidak menyentuh sasaran sama sekali. Satupun dari keduanya tidak sempat dijangkaunya dengan ayunan tangannya itu.

Ketika kemudian Raden Sawungtuwuh itu berdiri tegak memandang kedua lawannya, maka dilihatnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih berdiri tegak dan bersiap sepenuhnya untuk menghadapi segala kemungkinan.

Raden Sawungtuwuh mengangguk-angguk kecil. Dengan nada geram ia berkata, “Jadi dengan modal kecepatan gerak itukah kalian sudah berani menghina anakku? Anak seorang Senapati?”

“Ternyata Raden telah melupakan kesediaan Raden melepas baju Senapati Raden,” desis Mahisa Murti.

“Bagus anak yang sombong. Tetapi jangan menyesal, bahwa karena ini maka aku akan meningkatkan kemampuan ilmuku, sehingga sentuhan tanganku akan menjadi semakin berbahaya bagi kalian,” geram Raden Sawung tuwuh.

Mahisa Pukat justru menjadi tidak telaten. Dengan nada rendah ia berkata, “Marilah Raden. Kami sudah siap melayani Raden. Meskipun seandainya Raden tidak sekedar meningkatkan ilmu Raden. Tetapi seandainya sampai kepuncak ilmu sekalipun.”

“Kau jangan mengigau. Seandainya kau sadar akan kata-katamu itu, maka kau tentu akan menyesal sepanjang hidupmu,” geram Raden Sawungtuwuh.

“Aku sadar sesadar-sadarnya. Karena itu kami sudah siap untuk menghadapi Raden apapun akibatnya. Kami berpegang pada satu pendirian, bahwa kami tidak pernah melakukan kesalahan,” jawab Mahisa Pukat.

Raden Sawungtuwuh tidak dapat menahan kemarahannya. Tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang. Tidak lagi sekedar bermain-main. Tetapi Raden Sawungtuwuh telah bersungguh-sungguh.

Namun sekali lagi ia terkejut. Kedua anak muda itu dengan tangkas telah menghindari serangan-serangannya. Keduanya berloncat dengan kecepatan yang mampu mengimbangi kecepatan gerak Raden Sawungtuwuh.

Namun dengan demikian kedua anak muda itu justru telah membakar jantung Raden Sawungtuwuh yang tidak menduga bahwa ia telah berhadapan dengan anak muda yang ternyata memiliki kemampuan yang jauh di atas dugaannya.

Karena itu, maka Raden Sawungtuwuh pun telah melupakan dengan siapa ia berhadapan. Jika semula ia hanya ingin sekedar menghukum anak-anak muda yang dianggap telah menghina anaknya, namun kemudian ternyata ia telah mendapatkan lawan yang mampu mengimbangi ilmunya yang justru telah semakin ditingkatkan. Bahkan akhirnya Raden Sawungtuwuh pun lupa, untuk apa dan dengan siapa ia bertempur. Sehingga karena itu, maka ilmunya menjadi semakin lama semakin meningkat pula.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja, ia pun telah bersiap dan bergeser selangkah. Namun kemudian ia menarik nafas panjang ketika ia melihat orang yang tiba-tiba saja berada di sampingnya.

“Kau membuat aku terkejut Raden,” desis Mahendra.

Raden Kuda Wereng tersenyum. Katanya, “Ternyata Ki Mahendra memiliki pendengaran yang sangat tajam. Ki Mahendra mengetahui bahwa aku dengan sangat berhati-hati melangkah mendekat.”

“Hanya kebetulan,” desis Mahendra.

Arya Kuda Cemani yang juga disebut Raden Kuda Wereng itu menarik nafas dalam-dalam. Senapati yang hampir selalu berpakaian hitam itu memperhatikan pertempuran itu sambil berdesis, “Aku sudah menduga.”

“Menduga apa?” bertanya Mahendra.

Arya Kuda Cemani tersenyum. Katanya, “Aku sudah menduga, bahwa Raden Sawungtuwuh akan mengalami kesulitan jika ia berniat untuk menghukum kedua orang anak Ki Mahendra. Tetapi ini akan merupakan satu pelajaran bagi Raden Sawungtuwuh, seorang Senopati yang memiliki pengaruh yang cukup besar di Singasari.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab.

Sementara itu pertempuran antara Raden Sawungtuwuh melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak lagi mengesankan pertempuran antara seorang yang ingin menghukum yang lain, karena pertempuran itu nampaknya masih saja seimbang.

Bahkan Raden Sawungtuwuh telah meningkatkan pula ilmunya sehingga hampir sampai ke puncak kemampuannya.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja mampu mengimbanginya. Justru keduanya nampak menjadi semakin tangkas dan sigap. Keduanya berloncatan seperti anak-anak kijang direrumputan hijau.

Sementara Raden Sawungtuwuh bertempur, Lembu Atak berdiri termangu-mangu. Namun ia pun melihat, bahwa ayahnya tidak segera dapat menguasai kedua orang anak muda itu. Sehingga karena itu, maka jantungnya justru menjadi semakin berdebaran.

Raden Sawungtuwuh sendiri menjadi gelisah. Ia mulai meragukan laporan anaknya, bahwa ia telah berkelahi melawan kedua orang anak muda itu dan bahkan dibantu oleh ayahnya pula.

Menurut perhitungannya, jangankan melawan kedua orang anak muda itu. Kemampuan anaknya masih jauh lebih rendah dari kemampuan salah seorang dari mereka.

Tetapi Raden Sawungtuwuh itu sudah terlanjur bertempur melawan kedua orang anak muda itu. Bahkan ia telah meningkatkan ilmunya hampir sampai ke puncak. Namun kedua orang anak muda itu masih saja mampu mengimbanginya.

Kegelisahannya semakin berubah ketika ia melihat Arya Kuda Cemani ada di tempat itu pula. Seakan-akan Senapati dari pasukan sandi itu sengaja datang untuk melihat, bagaimana ia telah dipermainkan oleh dua orang anak muda.

Namun kehadiran Arya Kuda Cemani itu ternyata mempunyai akibat tersendiri. Raden Sawungtuwuh tidak mau kehilangan harga dirinya di hadapan Arya Kuda Cemani. Apalagi lawannya tidak lebih dari dua orang anak muda yang semula hanya berselisih dengan anaknya.

Karena itulah maka Raden Sawungtuwuh telah bertekad untuk mengalahkan kedua lawannya itu meskipun ia bukan saja meningkatkan ilmunya sampai ke puncak, tetapi jika perlu justru merambah sampai keilmu andalannya.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak benar-benar telah bertempur dengan sungguh-sungguh.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menyadari, bahwa Raden Sawungtuwuh tidak mau begitu saja mereka kalahkan. Namun kedua anak muda yang telah menguasai berbagai ilmu serta memiliki pengalaman yang luas itu tidak berniat untuk kalah atau bahkan harus dihukum tanpa melakukan kesalahan.

Namun yang terjadi kemudian, adalah pertempuran antara dua pihak yang berilmu tinggi.

Raden Sawungtuwuh yang gelisah itu kemudian masih sempat memperingatkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Diangan lantang ia berkata, “Anak-anak muda. Kali ini aku memberikan kesempatan terakhir. Selanjutnya, aku tidak tahu apakah akibatnya jika aku terpaksa benar-benar bertempur sebagaimana aku ingin menundukkan lawan tanpa banyak pertimbangan. Karena menurut penilaianku kalian benar-benar telah menempatkan diri sebagai lawan yang sebenarnya.”

“Maaf Raden,” jawab Mahisa Murti, “sebenarnyalah hal ini kami lakukan, karena kami tidak mau diperlakukan tidak adil. Kami ingin mempertahankan kebenaran yang kami yakini. Bahkan aku ingin memperingatkan, bahwa seharusnya Raden juga berbuat sebagaimana kami lakukan.”

Terasa telinga Raden Sawungtuwuh menjadi panas.

Karena itu katanya, “Aku tidak mau mendengar sesorah kanak-kanak.”

Tetapi Mahisa Pukat masih juga menyahut, “sayang Raden. Kedudukan Raden justru telah dikaburkan oleh kenakalan anak Raden. Sementara Raden sama sekali tidak meneliti lebih jauh apakah ia berkata benar atau tidak.”

Raden Sawungtuwuh tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terkejut. Ia melihat Raden Sawungtuwuh itu telah menelangkupkan kedua telapak tangannya. Baru kemudian kedua tangannya itu menyambar-nyambar. Namun yang terasa adalah udara panas yang bagaikan dihampurkan dari kedua telapak tangan itu. Yang terkejut bukan hanya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mahendra dan Raden Kuda Werengpun terkejut.

“Kenapa dengan Raden Sawungtuwuh itu,” desis Raden Kuda Wereng dengan dahi yang berkerut, “ia tidak pernah kehilangan pengendalian dirinya. Tetapi menghadapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat rasa-rasanya ia tidak lagi sempat menilai langkah-langkah yang diambilnya.”

“Mudah-mudahan sikap yang diambilnya tidak membuat kedua orang anakku juga kehilangan kendali,” desis Mahendra.

Namun mereka yang ada di luar arena itu pun ikut merasakan sentuhan udara panas yang berhamburan di sekitar Raden Sawungtuwuh yang marah itu.

Ternyata sikap Raden Sawungtuwuh itu telah menimbulkan kesan tersendiri bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, sebagaimana kesan pada Mahendra yang berdiri di luar arena. Bahkan Arya Kuda Cemanipun berdesis perlahan sekali, “Raden Sawungtuwuh memang seorang Senapati yang bersikap jantan menghadapi kenyataan seperti kali ini.”

“Mudah-mudahan anak-anakku tanggap,” desis Mahendra.

….. Sepertinya ada bagian secita yang hilang di sini …..

Dalam pada itu, maka Lembu Atak itu pun telah mendekati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Meskipun sendat terdengar anak muda itu berkata, “Aku minta maaf kepada kalian. Aku memang berbohong kepada ayah.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian terdengar Mahisa Murti menjawab, “Baiklah. Kami memaafkan kalian. Mudah-mudahan hal seperti ini tidak akan terulang lagi.”

Lembu Atak hanya menunduk saja. Sementara Mahisa Pukat menyambung, “Katakan kepada kawan-kawanmu, bahwa tindakan mereka kurang bertanggung jawab sebagaimana kau lakukan. Apalagi kau dan kawan-kawanmu adalah prajurit.”

“Aku mengerti,” jawab Lembu Atak.

Raden Sawungtuwuh yang mendengarnya berkata, “berapa orang kawanmu yang bersamamu semalam?”

Lembu Atak masih saja ragu-ragu. Tetapi ayahnya mendesak, “berapa orang?”

“Sepuluh orang ayah,” jawab Lembu Atak yang tidak dapat mengelak lagi.

Raden Sawungtuwuh mengangguk-angguk. Katanya, “Nah, agaknya aku baru percaya. Setelah aku mengalaminya langsung bertempur melawan keduanya, maka kemampuan mereka tidak dapat diperbandingkan dengan kemampuan kalian. Nanti, demikian kita sampai di barak, aku akan berbicara dengan kau dan mereka.”

Lembu Atak tidak berani membantah. Kepalanya justru menunduk dalam-dalam. Namun ia sudah membayangkan hukuman yang akan diterimanya di barak nanti. Meskipun sepuluh orang akan mengalaminya, namun karena ia yang bertanggung jawab, maka beban terberat tentu akan dipikulnya.

Sementara itu Raden Sawungtuwuh berkata, “Baiklah anak-anak muda. Aku akan membawa anakku kembali ke barak. Kalian ternyata memang tidak bersalah.”

Namun Mahisa Murti masih menjawab, “Kami juga mohon maaf Raden, karena kami telah mempergunakan ilmu yang kami kuasai untuk mencoba meredam kemarahan Raden.”

“Aku mengerti anak-anak muda. Tetapi kalian memang berhak mempergunakannya karena aku juga sudah merambah ke ilmu andalanku,” jawab Raden Sawungtuwuh. Lalu katanya pula, “Aku pun merasa bahwa kekuatan dan kemampuanku telah menyusut. Untunglah bahwa aku segera menyadari bahwa aku tidak akan mampu melawan ilmu kalian berdua, sehingga aku segera membebaskan diri dari pertempuran itu.”

“Kami tidak mempunyai pilihan lain,” desis Mahisa Murti.

“Tetapi aku kira, dalam satu dua hari, segala-galanya akan menjadi baik lagi. Bukankah begitu?” bertanya Raden Sawungtuwuh dengan tanpa ragu-ragu.

“Ya Raden. Besok semuanya akan pulih kembali,” jawab Mahisa Murti.

“Mudah-mudahan sebelum itu aku tidak dikirim ke medan perang dimanapun juga,” berkata Raden Sawungtuwuh pula.

Yang menjawab adalah Arya Kuda Cemani, “Kebetulan Singasari tidak sedang berperang melawan negeri manapun juga Raden.”

“Tetapi bukankah kita sedang diprihatinkan oleh sebagian prajurit Kediri yang tidak patuh kepada Sri Baginda di Kediri? Sehingga kelompok-kelompok prajurit itu sering membuat kita sibuk mengatasinya,” sahut Raden Sawungtuwuh.

Arya Kuda Cemani mengangguk kecil. Katanya, “Ya. Tetapi saat ini tidak ada rencana untuk melakukan langkah keprajuritan. Baru saja sepasukan prajurit Singasari ikut mengatasi pemberontakan prajurit Kediri yang jumlahnya cukup besar. Namun dengan bantuan Padepokan Bajra Seta yang dipimpin oleh angger Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, pasukan Kediri itu dapat dijinakkan.”

“Siapakah pemimpin Padepokan Bajra Seta itu?” bertanya Raden Sawungtuwuh.

“Kedua orang anak muda ini,” jawab Arya Kuda Cemani.

Raden Sawungtuwuh mengangguk-angguk. Katanya. “Aku pernah mendengar nama Padepokan Bajra Seta. Bukankah padepokan yang telah mendapat anugerah pengetahuan tentang pembuatan senjata itu sehingga orang-orang padepokan itu mampu melakukannya?”

“Ya. Kedua orang anak muda inilah pemimpinnya,” jawab Arya Kuda Cemani.

Raden Sawungtuwuh mengangguk-angguk. Katanya, “Pantas keduanya memiliki ilmu yang sangat tinggi. Namun aku tidak mengira bahwa pimpinan Padepokan Bajra Seta itu masih demikian muda. Apakah bukan Ki Mahendra yang pantas memegang kendali kepemimpinan Padepokan itu?”

Mahendra menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Merekalah yang mendirikan, mengurus dan memeliharanya sehingga keberadaannya diakui oleh Sri Maharaja.”

Raden Sawungtuwuh mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Sekali lagi aku minta maaf. Aku akan menyelesaikan persoalan kedalam atas prajurit-prajuritku.”

Demikianlah maka Raden Sawungtuwuh telah mengajak anaknya untuk kembali ke barak. Namun Lembu Atak yang terpaksa mengakui bahwa ia telah berbohong, semakin dekat dengan barak pasukannya menjadi semakin berdebar-debar. Ia sadar, bahwa ayahnya tentu akan menghukumnya lebih dari kawan-kawannya yang terlibat dalam perkelahian itu.

Sementara itu, Arya Kuda Cemani yang masih berdiri termangu-mangu di tempatnya bersama Mahendra, kemudian telah berkata, “Ia memang seorang Senapati yang jujur. Namun sifat dan watak anaknya justru jauh berbeda.”

“Kenapa dapat terjadi seperti itu?” bertanya Mahendra.

Arya Kuda Cemani menggeleng. Katanya, “Entahlah. Tetapi anak-anakku pun kadang-kadang mempunyai tingkah laku yang tidak aku mengerti. Mereka tidak mampu dengan cepat menangkap ilmu yang diberikan kepadanya. Bahwa keduanya dapat diwisuda menjadi seorang prajurit benar-benar telah membesarkan hatiku. Namun niatku semula mereka akan aku beri bekal yang cukup dari sebuah perguruan sebelum mereka memasuki lingkungan keprajuritan.”

“Tetapi di lingkungan keprajuritan ilmu mereka akan meningkat pula,” berkata Mahendra.

“Ya. Meningkat secara umum dan khususnya untuk kepentingan gelar perang bagi satu pasukan. Tetapi secara pribadi akan lebih baik jika mereka mempunyai bekal yang cukup,” jawab Arya Kuda Cemani.

“Tetapi apakah setelah mereka menjadi prajurit, mereka tidak dapat berlatih secara khusus dibawah tuntunan seorang guru?” bertanya Mahendra pula.

“Memang mungkin, dengan ijin khusus,” jawab Arya Kuda Cemani. Lalu katanya pula, “Aku terpaksa menempuh cara itu. Aku sendiri yang akan membimbing mereka untuk beberapa lama. Baru kemudian akan aku serahkan kepada orang lain.”

Mahendra mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Aku mengucapkan terima kasih atas kesediaan Raden menyaksikan peristiwa yang baru saja terjadi. Mudah-mudahan tidak akan terulang lagi. Apalagi anak-anakku akan segera kembali ke Padepokan Bajra Seta.”

“Kapan mereka akan kembali?” bertanya Arya Kuda Cemani.

Mahendra tidak dapat segera menjawab. Namun ia pun bertanya kepada kedua anaknya, “Kapan kalian akan kembali ke Padepokan?”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Namun kemudian Mahisa Murti menjawab, “Kami memang berdua …>

He he he …., paragraf ini tampaknya tidak nyambung

<… justru karena kedua orang anakku sendiri tidak dapat berbuat sebagaimana dapat kalian lakukan.”

Dengan hormat kedua orang anak muda itu mengangguk. Yang menjawab adalah justru Mahisa Pukat, “Ya Raden. Kami tentu tidak akan berkeberatan berkunjung ke rumah Raden. Kami justru berbangga terhadap Kuda Semedi dan Kuda Semeni yang dengan jujur telah memberitahukan rencana Lembu Atak. Kami pun telah memenuhi pesannya untuk mengambil jalan lain. Namun ternyata bahwa Lembu Atak sempat mengikuti langkah kami dan mencegat kami di tempat ini.”

“Ya. Aku tidak menghukum mereka karena mereka berkata terus terang kepadaku, sehingga aku sempat menyusul kemari demikian para tamu pergi. Tetapi aku terlambat meskipun aku masih sempat melihat sebagian dari peristiwa itu sendiri.”

“Baiklah,” berkata Mahendra, “malam telah sampai ke dini. Sebaiknya kita pulang. Kapan-kapan aku akan berkunjung ke rumah Raden.”

“Terima kasih,” jawab Arya Kuda Cemani, “aku selalu mengharap kesediaan kalian untuk datang ke rumahku.”

Demikianlah, maka Mahendra dan kedua anaknya pun segera beranjak dari tempatnya. Sementara itu Arya Kuda Cemani pun melangkah pula ke arah yang berbeda. Namun ketika Mahendra berpaling, maka ia pun menggamit kedua orang anaknya, “Orang itu telah hilang. Kita tidak tahu kemana orang itu pergi.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun mereka tidak mengatakan apa-apa karena mereka takut jika kata-kata mereka didengar oleh orang yang dianggap dapat melenyapkan diri itu. Namun ketika mereka sudah memasuki lingkungan istana barulah Mahisa Murti berkata, “Pakaian Arya Kuda Cemani membantunya untuk melenyapkan diri di dalam gelapnya malam.”

“Tetapi seseorang memang pernah memiliki Aji Panglimunan,” berkata Mahendra.

Kedua orang anaknya mengangguk-angguk, sementara Mahendra berkata selanjutnya, “Sayang, bahwa kedua anaknya ternyata terlalu lamban. Atau ayahnyalah yang tidak sabar melihat berkembangan kemampuan anak-anaknya sehingga ia menganggap bahwa kedua anaknya tidak memiliki ketajaman dan kecerdasan nalar budi sebagaimana ayahnya.”

“Memang mungkin ayah,” sahut Mahisa Murti, “ayahnya terlalu cepat ingin melihat anaknya berhasil, sehingga tidak mau mengingat kemampuan nalar budinya. Akibatnya memang dapat sebagaimana ayah katakan itu.”

Mahendra mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian demikian mereka sampai di rumah dan telah mencuci tangan dan kaki, “beristirahatlah disisa malam ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Keduanya pun telah pergi ke pembaringan mereka meskipun keduanya ternyata tidak dapat segera tertidur. Namun keduanya saling berdiam diri karena keduanya asyik dengan angan-angannya masing-masing.

Ternyata di hari berikutnya, baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat sama sekali tidak menyinggung lagi tentang rencana mereka untuk kembali ke Padepokan. Seakan-akan mereka telah melupakannya, sementara Mahendra pun tidak menanyakannya pula.

Di hari-hari selanjutnya, keduanya memang sering berkunjungan ke rumah Arya Kuda Cemani. Kadang-kadang dengan Mahendra. Namun jika hari-hari Kuda Semedi dan Kuda Semeni ada di rumah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah datang berdua saja untuk mengunjungi kedua orang prajurit muda itu.

Namun dengan demikian hubungan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan Sasi menjadi semakin dekat. Sasi yang terbiasa tinggal di rumah saja, merasa bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menghilangkan kesepiannya jika kedua anak muda itu berkunjung ke rumahnya ada atau tidak ada kedua orang kakaknya.

Ternyata Arya Kuda Cemani dan isterinya sama sekali tidak berkeberatan melihat pergaulan anak-anaknya dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Bukan saja Kuda Semedi dan Kuda Semeni, tetapi juga Sasi yang terbiasa tinggal di dalam rumah saja.

Bahkan, ketika hubungan Sasi dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin akrab.

Namun dalam pada itu, Mahendra lah yang justru menjadi gelisah. Sebagai seorang ayah ia dapat merasakan denyut jantung kedua anak laki-lakinya.

Tetapi rasa-rasanya sudah terlambat. Mahendra melihat betapa kedua anak laki-lakinya sangat memperhatikan gadis sahabatnya itu. Jika keduanya berdalih mencari Kuda Semedi dan Kuda Semeni di rumahnya, maka Mahendra pun tahu, bahwa sebenarnya mereka ingin bertemu dengan Sasi, karena Kuda Semedi dan Kuda Semeni lebih banyak berada di baraknya daripada di rumahnya.

Tetapi untuk sementara Mahendra memang tidak dapat berbuat sesuatu. Ia harus meyakinkan dugaannya. Baru kemudian ia akan memanggil kedua orang anaknya untuk membicarakan hubungan mereka dengan anak Arya Kuda Cemani itu.

Bahkan di dalam hati Mahendra juga menyesalkan kesempatan yang seakan-akan sengaja diberikan oleh Arya Kuda Cemani.

“Mudah-mudahan hanya sekedar kecemasan seorang tua yang tidak mendasar,” berkata Mahendra kepada diri sendiri.

Tetapi jantung Mahendra menjadi berdebar-debar ketika pada suatu senja, Arya Kuda Cemani itu datang menemuinya.

Nampaknya memang ada persoalan yang penting yang ingin dikatakannya kepada Mahendra, karena Arya Kuda Cemani itu sama sekali tidak menanyakan kedua anak Mahendra. Biasanya keduanya dipanggilnya untuk bersama-sama berbincang.

Ketika Arya Kuda Cemani mulai berbicara dengan sungguh-sungguh, maka Mahendra pun mendengarkannya dengan sungguh-sungguh pula.

“Ki Mahendra,” berkata Arya Kuda Cemani, “aku tidak tahu, apakah pantas atau tidak, bahwa hal ini aku katakan kepada Ki Mahendra. Namun aku berniat baik, sehingga karena itu, aku telah mengesampingkan apakah hal itu pantas atau tidak.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mulai meraba, bahwa yang akan dibicarakan oleh Arya Kuda Cemani adalah persoalan kedua anaknya dalam hubungannya dengan anak perempuan Arya Kuda Cemani itu.

“Ki Mahendra,” berkata Arya Kuda Cemani, “aku sebenarnyalah merasa senang, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sering datang ke rumahku. Kadang-kadang mereka dapat bertemu dengan Kuda Semedi dan Kuda Semeni, tetapi kadang-kadang tidak. Namun karena di rumah ada Sasi, maka tentu ada orang yang dapat menemui mereka. Aku pun sama sekali tidak berkeberatan bahwa keduanya sering datang ke rumah di saat-saat yang pantas sebagaimana kunjungan kedua anak Ki Mahendra ke rumahku.”

Mahendra mengangguk-angguk. Sementara Arya Kuda Cemani nampak menjadi ragu-ragu untuk berkata selanjutnya.

Namun Mahendra dengan sengaja berdiam diri. Ia menunggu, apapun yang akan dikatakan oleh Arya Kuda Cemani.

Karena Mahendra berdiam diri saja, maka Arya Kuda Cemani itu pun berkata selanjutnya, “Namun ada satu hal yang ingin aku sampaikan kepada Ki Mahendra. Justru yang sering berkunjung ke rumahku itu anak Ki Mahendra berdua. Bagiku keduanya sama-sama baik, sama-sama berilmu tinggi dan katakan, keduanya hampir tidak dapat dibedakan. Namun justru karena itulah aku menjadi khawatir. Justru karena keduanya yang hampir tidak dapat dibedakan itu serta sikap mereka yang hampir tidak dapat dibedakan terhadap Sasi.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ternyata apa yang diduganya adalah benar. Bukan hanya dirinya sajalah yang menjadi cemas, tetapi ternyata Arya Kuda Cemani menjadi cemas pula.

Namun dalam pada itu Arya Kuda Cemani itu berkata, “Tetapi sebenarnyalah aku tidak tahu, perasaan apakah yang tersimpan di hati anak-anak muda itu. Mungkin yang aku cemaskan itu sama sekali tidak beralasan.”

Mahendra mengangguk-angguk kecil. Ia dapat mengerti sepenuhnya alasan Arya Kuda Cemani, bahwa ia telah datang menemuinya. Sebagai orang tua Arya Kuda Cemani ingin jalan yang dilewati anaknya dapat rancak dan tidak tersendat-sendat karena hambatan yang datang kemudian.

Tetapi Arya Kuda Cemani telah mengatakan bahwa ia tidak tahu pasti perasaan apakah yang sebenarnya tersimpan di dalam hati anak-anak muda itu.

Bahkan Arya Kuda Cemani pun kemudian berkata, “Aku justru cemas, bahwa perasaanku ini tidak lebih dari kesombongan yang tidak beralasan sama sekali, seolah-olah keluargaku adalah pusat dari segala perhatian.”

“Tidak Raden,” jawab Mahendra, “aku mengerti sepenuhnya kegelisahan Raden. Sikap hati-hati seorang ayah bukan sikap yang salah menurut pendapatku.”

“Aku mengucapkan terima kasih atas pengertian Ki Mahendra. Aku mohon maaf jika apa yang aku katakan itu menyinggung perasaan Ki Mahendra. Apalagi anak-anak Ki Mahendra,” berkata Arya Kuda Cemani kemudian.

“Baiklah Raden,” berkata Mahendra kemudian, “aku akan membantu Raden sejauh dapat aku lakukan atas anak-anakku.”

Arya Kuda Cemani mengangguk-angguk. Dengan hati-hati ia memberikan sedikit gambaran sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terhadap keluarganya. Bahkan serba sedikit anak-anaknya, Kuda Semedi dan Kuda Semeni juga pernah menyinggung hubungan adiknya dengan kedua anak Ki Mahendra itu.

“Sudahlah,” berkata Arya Kuda Cemani kemudian, “aku percaya kepada Ki Mahendra, namun perlu aku jelaskan bahwa aku sama sekali tidak berkeberatan untuk menerima kedua anak Ki Mahendra itu datang ke rumahku. Dan terus-terang aku pun tidak berkeberatan jika hubungan itu berlangsung terus. Yang justru aku sampaikan kepada Ki Mahendra adalah, bahwa keluargaku tidak dapat membedakan antara keduanya.”

“Aku mengerti sepenuhnya Raden,” sahut Mahendra.

Demikianlah, maka Arya Kuda Cemani itu pun kemudian telah minta diri. Sementara itu sepeninggal tamunya, maka Mahendra semakin dililit oleh persoalan kedua orang anak laki-lakinya.

Tetapi, ternyata bahwa Mahendra masih belum dapat berbicara langsung dengan kedua orang anaknya. Ia masih menunggu saat yang paling tepat, meskipun ia sadar, bahwa ia harus segera menyelesaikan persoalan itu. Bahkan Mahendra merasa bahwa ia sudah terlambat.

Namun dalam pada itu, ternyata Mahisa Murti yang lebih banyak mempergunakan penalarannya dari Mahisa Pukat, merasa bahwa hubungannya dengan Sasi memang agak janggal. Sikapnya terhadap gadis itu tidak berbeda dengan sikap Mahisa Pukat, sehingga akan dapat menimbulkan persoalan di kemudian hari. Sadar akan kemungkinan itu, maka Mahisa Murti mulai berpikir untuk mencari jalan keluar. Betapapun gejolak perasaannya, namun Mahisa Murti masih ingin tetap berdiri di atas nalarnya.

Karena itulah, maka justru sebelum ayahnya mempersoalkan hubungan mereka dengan Sasi, maka Mahisa Murti telah berbicara dengan Mahisa Pukat meskipun Mahisa Murti berusaha untuk mempergunakan bahasa yang lain dari persoalan yang sebenarnya.

Kedatangan Arya Kuda Cemani ke rumah ayahnya dan berbicara secara khusus telah memberikan tekanan kepada niatnya untuk keluar dari lingkaran yang akan dapat menjeratnya bersama Mahisa Pukat.

Ketika ia mendapat kesempatan, maka Mahisa Murti itu pun dengan sungguh-sungguh telah berkata kepada Mahisa Pukat, “Kita sudah terlalu lama berada di Singasari. Sebelum kita berangkat, kita sudah berjanji kepada seisi Padepokan, bahwa kita tidak akan terlalu lama meninggalkan mereka.”

Mahisa Pukat mengerutkan dahinya. Katanya, “Bukankah mereka sejak kita berangkat sudah menganggap bahwa kita tidak akan dapat segera kembali? Mereka sudah memperkirakan bahwa kita akan berada di Singasari agak lama.”

“Tidak,” jawab Mahisa Murti, “menurut perhitungan mereka, kita tidak akan terlalu lama di Singasari. Tetapi kita akan justru lama di perjalanan.”

“Bukankah akibatnya sama saja,” jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi sebaiknya kita segera kembali ke Padepokan. Bukankah sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai pimpinan Padepokan bahwa kita sebaiknya selalu ada ditengah-tengah mereka?”

“Ya. Kita akan selalu berada di tengah-tengah mereka. Tetapi apa salahnya bahwa sekali-sekali kita berhak untuk meninggalkan Padepokan?”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar alasan Mahisa Pukat kenapa ia tidak segera mau kembali. Menurut gejolak perasaannya, ia pun ingin lebih lama lagi berada di Singasari. Tetapi Mahisa Murti sadar, semakin lama mereka berada di Singasari, maka belitan persoalan dalam hubungannya dengan Sasi akan semakin kuat melilit mereka berdua sehingga sulit untuk mengurai kembali.

Namun ternyata bahwa Mahisa Pukat tidak ingin segera meningggalkan Singasari.

Mahendra menarik nafas panjang. Di dalam hati ia mengucapkan terima kasih kepada Mahisa Murti yang telah membantunya memecahkan persoalan yang baginya cukup sulit.

Namun dalam pada itu, Mahendra pun bertanya, “Kapan kau akan kembali ke Padepokan Bajra Seta?”

“Segera ayah. Dua atau tiga hari ini,” jawab Mahisa Murti.

Mahendra mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Pukat nampak gelisah. Ia seakan-akan berdiri di persimpangan jalan. Rasa-rasanya memang sulit untuk mengambil sikap. Apakah ia akan ikut Mahisa Murti kembali ke Padepokan atau ia akan tetap tinggal di Singasari.

Namun keputusan Mahisa Murti yang pasti bahwa ia akan kembali seorang diri ke Padepokan Bajra Seta atau bersama-sama dengan satu dua orang prajurit sebagai kawan berbincang telah membantu Mahisa Pukat untuk mengambil keputusan.

Demikianlah maka Mahisa Murti pun di hari berikutnya telah mulai berbenah diri. Sementara Mahendra yang mendapat kesempatan berbicara tanpa kehadiran Mahisa Pukat telah bertanya berterus terang, apakah alasan yang mendorongnya untuk meninggalkan Mahisa Pukat di Singasari.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Aku kira ayah dapat menangkap perasaanku. Aku dan Mahisa Pukat telah memasuki sebuah taman yang sama. Karena itu, maka salah seorang di antara kami memang harus menarik diri jika kami tidak ingin saling berbenturan.”

“Aku harus mengucapkan terima kasih atas sikapmu itu Murti. Ternyata bahwa kau benar-benar telah berpikir dewasa. Namun itu bukan berarti bahwa kau untuk selanjutnya akan jauh dari seorang perempuan. Karena telah menjadi garis kehidupan, bahwa seorang laki-laki akan menjadi sisihan dari seorang perempuan.”

“Aku mengerti ayah,” jawab Mahisa Murti, “pada suatu saat tentu akan datang waktunya. Aku harus berusaha menghapus bekas yang tergores dalam sekilas waktu di dalam hidupku ini.”

Mahendra telah menepuk bahu anaknya sambil berkata, “Aku yakin bahwa kebesaran jiwamu akan dapat mengatasi kesulitan perasaanmu.”

“Aku mohon restu ayah,” desis Mahisa Murti kemudian.

“Baiklah. Dalam tiga hari ini aku akan minta tiga orang prajurit yang akan menemanimu dalam perjalanan kembali ke padepokan Bajra Seta,” berkata ayahnya.

Mahisa Murti tidak menjawab lagi. Tetapi ia mengangguk kecil. Namun di wajahnya membayang perasaannya yang tertikam.

Mahendra tidak dapat berbuat sesuatu. Namun sebagai seorang ayah ia tahu, betapa Mahisa Murti telah berusaha untuk mengatasi gejolak perasaannya.

Ketika Mahendra kemudian meninggalkan Mahisa Murti untuk berbicara dengan Panglima Pasukan Pengawal agar menugaskan tiga orang prajurit yang dapat menemani Mahisa Murti di perjalanan, maka Mahisa Pukat telah berbicara dengan Mahisa Murti tentang gadis anak Arya Kuda Cemani itu.

Ternyata Mahisa Pukat terlalu sibuk memandang ke dirinya sendiri dalam hubungannya dengan Sasi, sehingga ia tidak dapat membaca gejolak perasaan Mahisa Murti.

Karena itu, maka Mahisa Pukat itu pun justru telah minta kepada Mahisa Murti, “Sebelum kau kembali ke Padepokan, tolong aku Murti.”

“Apa yang dapat aku bantu?” bertanya Mahisa Murti.

“Kau tentu tahu hubunganku dengan Sasi,” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. Aku tahu. Hubunganmu dengan Sasi telah mengarah pada satu hubungan yang akrab antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.”

“Kau benar,” jawab Mahisa Pukat, “namun seperti kau ketahui bahwa aku bukanlah seorang yang dapat mengemukakan perasaanku. Aku lebih berani memasuki lingkaran api pertempuran daripada harus berbicara kepada seorang gadis tentang persoalan yang rumit itu.”

“Tetapi bukankah kau sudah sering berbincang dengan Sasi? Atau katakan bahwa hubunganmu telah menjadi semakin akrab di saat-saat terakhir ini?” bertanya Mahisa Murti.

“Ya. Tetapi yang kami bicarakan adalah soal-soal yang tidak ada hubungannya dengan gejolak perasaanku. Bukan persoalan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan,” jawab MahisaPukat.

“Lalu apa maksudmu dengan pertolonganku?” bertanya Mahisa Murti kemudian.

Mahisa Pukat memang menjadi ragu-ragu. Namun betapapun berat lidahnya Mahisa Pukat berkata, “Mahisa Murti. Bukankah kau juga telah bersahabat dengan Sasi? Aku lihat, kau pun sering berbincang-bincang dan bahkan bergurau dengan gadis itu. Karena itu maka aku kira kau akan dapat menolongku, menyatakan perasaanku kepadanya. Aku kira kau tahu yang aku maksudkan.”

Jantung Mahisa Murti serasa semakin cepat dan semakin keras berdentang di dalam dadanya. Hatinya telah terasa pedih bahwa ia harus menekan perasaannya sendiri dan memberi kesempatan kepada Mahisa Pukat. Namun ternyata Mahisa Pukat justru minta kepadanya untuk menyampaikan perasaannya kepada gadis itu.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti bagaikan membeku meskipun terasa darahnya semakin cepat mengalir diseluruh jalur-jalur pembuluh darahnya.

Namun, dengan sekuat tenaga Mahisa Murti menahan gejolak perasaannya itu agar tidak ditangkap oleh adiknya. Dengan demikian maka kesan itu memang tidak nampak di wajahnya.

Dengan menahan hati ia pun kemudian menjawab, “Mahisa Pukat. Sebagaimana kau ketahui, sampai saat ini aku jarang berhubungan dengan seorang gadis. Seperti kau, aku pun tidak tahu, bagaimana harus mengatakan kepada Sasi. Selama ini aku berbicara dan bahkan bergurau sebagaimana aku berbicara dan bergurau dengan siapapun yang kita kenal. Tanpa menghiraukan apakah ia laki-laki atau perempuan. Sudah tentu dengan batas-batas kewajaran. Karena itu, aku ragu-ragu, apakah aku akan dapat melakukannya.”

Mahisa Pukat justru mendesaknya, “Tetapi tentu ada bedanya jika kau berbicara bagi orang lain. Seandainya aku memaksa diri untuk mengatakannya, mungkin akan terucapkan pula. Tetapi jika gadis itu menolak, maka aku akan kehilangan harga diriku di hadapannya. Tetapi, aku akan sempat mengatur perasaanku jika hal itu aku dengar dari orang lain, tidak langsung dari mulut Sasi.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia tidak dapat mengelak lagi. Jika ia tetap menolak, maka perasaan Mahisa Pukat tentu akan tersinggung.

Karena itu betapapun pahitnya, maka Mahisa Murti pun berkata, “Baiklah Pukat. Aku akan mencoba untuk mengatakannya kepada Sasi. Namun demikian aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau sudah berpikir masak-masak? Bukankah belum cukup lama kau berkenalan dengan gadis itu? Apakah perasaan yang tersangkut dihatimu itu sudah kau timbang baik dan buruknya? Kau bentangkan dan kau gulung kembali.”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian. “Sudah. Aku sudah memikirkannya masak-masak. Sudah tentu aku berharap bahwa kaupun akan segera mendapatkan pasangan bagi hidupmu, sehingga aku tidak harus mendahuluimu. Apa salahnya jika kita pada satu saat bersama-sama memasuki satu jenjang baru dalam tataran kehidupan kita.”

Mahisa Murti mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tetapi ia masih berusaha untuk menekan perasaannya yang bergejolak semakin cepat.

“Baiklah Pukat,” berkata Mahisa Murti kemudian, “sebelum aku kembali ke Padepokan Bajra Seta, aku akan menemui dan berbicara dengan Sasi.”

“Terima kasih,” desis Mahisa Pukat, “jika satu saat kau mengalami kesulitan seperti aku sekarang ini, maka aku tentu akan menolongmu sebagaimana kau menolong aku sekarang.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ingin mengendapkan perasaannya yang bergejolak.

Namun ternyata kemudian Mahisa Murti tidak dapat membawa beban perasaannya itu seorang diri. Ketika ia mendapat kesempatan, maka Mahisa Murti pun telah menyatakannya kepada Mahendra, ayahnya.

Mahendra ternyata tersentuh pula hatinya. Tetapi ia tidak dapat mencegah Mahisa Pukat. Sehingga karena itu yang dilakukan oleh Mahendra kemudian adalah membesarkan hati Mahisa Murti.

“Aku percaya bahwa kau akan mampu melakukannya,” berkata Mahendra sambil menepuk pundak anaknya.

Mahisa Murti mengangguk kecil.

Sementara itu Mahendra berkata selanjutnya, “Asal semuanya itu kau lakukan dengan ikhlas, maka kau tentu akan dapat meletakkan, sekurang-kurangnya mengurangi beban perasaanmu itu.”

“Ya ayah,” jawab Mahisa Murti, “aku akan mencobanya.”

Dengan demikian, maka Mahisa Murti pun berusaha untuk menemui Sasi tanpa Mahisa Pukat sebelum ia meninggalkan Singasari dan kembali ke Padepokan Bajra Seta.

Ternyata ketika Mahisa Murti pergi ke rumah Arya Kuda Cemani seorang diri, maka keluarga Sasi merasakan kejanggalan itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat seakan-akan tidak pernah berpisah sama sekali. Bukan saja di rumah, mengunjungi kawan-kawannya, bertamu dan bahkan di medan-medan pertempuran.

Namun, sambil tersenyum Mahisa Murti berkata sebelum Sasi bertanya, “Mahisa Pukat sedang sakit. Tidak terlalu berat. Kepalanya sajalah yang sedang pening. Ayah sudah memberikan obat untuknya. Nanti sore ia tentu sudah sembuh.”

“Syukurlah,” sahut Sasi, yang kemudian mempersilahkan Mahisa Murti untuk duduk di serambi gandok.

“Ayah sedang tidak ada,” berkata Sasi, “kakang Kuda Semedi dan Kakang Kuda Semeni ada di baraknya.”

“Jadi hanya ibu dan para pembantu saja yang ada di rumah?” bertanya Mahisa Murti.

“Ya,” jawab Sasi, “atau barangkali kau mempunyai keperluan dengan ayah?”

“Tidak. Tidak. Aku hanya datang seperti biasa. Berkunjung,” jawab Mahisa Murti dengan serta merta.

Ketika Sasi masuk untuk mengambil minuman, ibunya memang bertanya kenapa Mahisa Murti hanya sendiri saja.

“Mahisa Pukat sedang sakit ibu?” jawab Sasi.

“Syukurlah,” desis ibunya.

“Kenapa syukur?” bertanya Sasi.

“Maksudku bukan karena sebab lain,” sahut ibunya. “Bukan justru karena Mahisa Pukat sakit.”

<…. Ada bagian verita yang hilang di sini …>

Sasi menjadi gelisah. Wajahnya nampak menjadi merah. Sementara sikapnya pun terasa kurang mapan.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Baiklah Sasi. Aku tidak dapat memaksamu untuk menjawab pertanyaanku atas nama Mahisa Pukat. Karena itu, biarlah aku minta diri. Kau dapat mengatur perasaanmu lebih dahulu. Apalagi persoalan ini bukan persoalan untuk sehari dua hari. Tetapi untuk selama-lamanya. Jika kau tergesa-gesa mengambil keputusan dan akhirnya keputusan itu ternyata salah, maka kau akan menyesal untuk waktu yang berkepanjangan. Karena itu, pikirkan masak-masak. Mungkin besok atau nanti malam aku datang lagi untuk minta diri kepada keluargamu bahwa aku akan segera meninggalkan Singasari. Kau tidak usah memberi jawaban kepadaku dengan kata-kata. Tetapi kau cukup memberikan isyarat. Jika isyarat itu cukup meyakinkan, maka ayah pun akan segera menyelesaikannya.”

Sasi mengusap keringat di keningnya. Kegelisahannya telah memeras keringatnya. Bukan saja keningnya menjadi basah, tetapi seluruh tubuhnya menjadi basah oleh keringat.

Mahisa Murti tidak menunggu terlalu lama. Ia pun segera minta diri sambil berkata, “Aku akan datang lagi untuk minta diri.”

Sepeninggal Mahisa Murti, maka Sasi benar-benar menjadi gelisah. Ia tidak tahu, apa yang harus dilakukannya. Ia tidak tahu, apakah ia mendengar pernyataan itu dari Mahisa Pukat atau Mahisa Murti sendiri. Baginya kedua-duanya memiliki banyak persamaan.

Ternyata orang tua Sasi membaca kegelisahan perasaan anak gadisnya. Tetapi mereka tidak dapat segera bertanya langsung tentang kegelisahan itu. Arya Kuda Cemani ketika pulang dari tugasnya, telah diberitahukan apa yang terjadi dengan Sasi.

Sambil menarik nafas dalam-dalam Arya Kuda Cemani itu berdesis, “Apakah justru terjadi salah paham, sehingga kedua anak muda itu telah saling mendahului untuk menyatakan perasaannya?”

Ketika ayahnya melihat anak gadisnya merenung sendiri di dekat sumur dan bersandar pada dinding pakiwan, Arya Cemani mendekatinya sambil bertanya, “Kenapa kau nampak gelisah, Sasi?”

Sasi hanya menunduk saja. Namun ayahnya mendesaknya, “Apakah tadi Mahisa Murti datang kemari?”

Sasi hanya menunduk saja. Namun ayahnya mendesaknya, “Apakah tadi Mahisa Murti datang kemari?”

Sasi tidak dapat berbohong. Karena itu, maka gadis itu pun menganggukkan kepalanya.

“Apa yang dikatakannya?” bertanya ayahnya.

Sasi termangu-mangu. Namun kemudian ia pun menjawab, “Ia akan datang lagi nanti ayah. Ia akan minta diri kembali ke Padepokannya.”

“Kenapa sendiri?” bertanya ayahnya pula.

Sasi tertegun sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab pula, “Hanya Mahisa Murti yang akan kembali ke Padepokannya. Mahisa Pukat masih akan tinggal beberapa lama lagi di Kotaraja.”

Arya Kuda Cemani menarik nafas dalam-dalam. Ia justru merasa cemas, bahwa apa yang dikatakannya kepada Mahendra akan dapat menimbulkan salah paham kepada kedua orang anaknya sehingga hubungan kedua orang bersaudara itu menjadi retak.

Tetapi Arya Kuda Cemani tidak bertanya lebih jauh. Ia justru bertanya kepada dirinya sendiri, apakah kata-katanya yang diucapkan kepada Mahendra waktu itu terlalu kasar? Atau ada sebab lain sehingga Mahisa Murti harus kembali ke padepokannya.

Yang dapat dilakukan oleh Arya Kuda Cemani hanya menunggu. Nanti, Mahisa Murti akan datang lagi.

Sebenarnyalah lewat senja Mahisa Murti telah datang lagi ke rumah Arya Kuda Cemani. Tidak sendiri, tetapi bersama ayahnya, Mahendra.

Kedatangannya telah disambut oleh Arya Kuda Cemani sendiri yang mempersilahkannya duduk di pringgitan.

Seperti telah dikatakan oleh Sasi, maka Mahendra juga mengatakan bahwa dalam waktu dekat Mahisa Murti akan kembali ke Padepokan Bajra Seta.

“Anak-anakku telah terlalu lama meninggalkan padepokan itu. Para cantrik akan dapat menjadi gelisah karenanya.”

“Tetapi Angger Mahisa Pukat tidak kembali bersamanya?” bertanya Arya Kuda Cemani.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ia masih ingin tetap berada di Kotaraja untuk beberapa saat.”

Arya Kuda Cemani mengangguk-angguk. Ia tidak dapat mendesak lebih jauh untuk mengetahui alasan sebenarnya, kenapa kedua orang bersaudara itu akan berpisah.

Sementara itu Sasi telah keluar dari pintu pringgitan sambil membawa minuman hangat dan beberapa jenis makanan. Adalah satu kesempatan bagi Mahisa Murti untuk mengetahui jawaban bagi Mahisa Pukat.

Ketika Sasi meletakkan mangkuk minuman di hadapan Mahisa Murti, maka Mahisa Murti sempat berdesis, “Bagaimana?”

Sasi memandangnya sejenak. Baru kemudian ia memenuhi permintaan Mahisa Murti. Dengan cepat sehingga tidak tertangkap oleh perhatian ayahnya, Sasipun mengangguk kecil.

Namun demikian ia mengangguk, maka ia pun dengan cepat meninggalkan pringgitan itu.

Jantung Mahisa Murti bagaikan meledak. Ia memang menunggu isyarat itu. Tetapi ketika ia benar-benar menerima isyarat sebagaimana diharapkan, maka rasa-rasanya lantai tempat ia duduk itu telah berguncang.

Karena itu maka Mahisa Murti benar-benar harus berjuang untuk bertahan agar ia tidak kehilangan akal.

Saat-saat berikutnya, Mahisa Murti memang bagaikan tersiksa. Ia seakan-akan tidak mendengar lagi pembicaraan antara ayahnya dan Arya Kuda Cemani.

Baru kemudian, ketika ayahnya minta diri, Mahisa Murti sempat menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia sudah akan terbebas dari penderitaan yang menghimpit jiwanya itu.

Namun ayahnya masih juga berkata, “Nah, bukankah kau datang untuk minta diri? Agaknya kau belum tentu mendapat kesempatan lagi datang kemari.”

Mahisa Murti yang sedang gelisah itu kemudian telah memaksa diri untuk minta diri kepada Arya Kuda Cemani. Namun sementara itu Arya Kuda Cemani telah memanggil Sasi dan ibunya untuk ikut menemui Mahisa Murti yang akan segera meninggalkan Kotaraja kembali ke Padepokan Bajra Seta.

“Mahisa Pukat masih akan tinggal. Ia ingin mengawani ayah untuk beberapa lama,” berkata Mahisa Murti.

Arya Kuda Cemani atas nama keluarganya tidak dapat mengatakan apa-apa kecuali ucapan selamat jalan.

“Semoga kau selamat sampai ke Padepokan ngger,” berkata Arya Kuda Cemani mewakili keluarganya.

“Terima kasih Raden,” jawab Mahisa Murti dengan suara yang bergetar oleh getar jantung di dadanya.

Sasi sendiri tidak mengucapkan kata-kata apapun juga. Tetapi pandangan matanya memang menjadi sayu.

Demikianlah, sejenak kemudian Mahendra dan Mahisa Murti pun meninggalkan rumah Arya Kuda Cemani. Mereka menyusuri jalan yang gelap yang hanya kadang-kadang disinari oleh oncor-oncor yang terpasang di regol-regol rumah orang-orang berada.

Namun ketika mereka keluar dari regol padukuhan, maka Mahisa Murti pun berkata, “Ayah, silahkan ayah mengambil jalan yang biasanya kita lalui. Aku akan mengambil jalan lain.”

“Kau akan lewat jalan yang mana?” bertanya Mahendra.

“Aku ingin berjalan sendiri,” jawab Mahisa Murti.

Mahendra hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Tetapi ia memahami perasaan Mahisa Murti. Sehingga karena itu maka ia pun berkata, “Baiklah. Tetapi jangan memaksa aku harus mencarimu. Kau harus segera berada di rumah pula.”

“Tentu tidak akan berselisih banyak ayah,” jawab Mahisa Murti yang ternyata memilih jalan melalui bulak yang pernah dilaluinya ketika ia dicegat oleh Lembu Atak.

Mahisa Murti pun kemudian telah hilang di dalam gelapnya malam di bulak yang tidak terlalu panjang. Selangkah demi selangkah kakinya terayun menusuk semakin dalam menghunjam ke kegelapan.

Ketika ia berdiri di tengah-tengah bulak, maka Mahisa Murti itu pun menghentikan langkahnya. Dipandanginya langit yang biru gelap digayuti oleh bintang gemintang dari cakrawala sampai ke cakrawala.

Mahisa Murti mencoba beberapa kali menarik nafas dalam-dalam untuk mengendapkan perasaannya. Namun setiap kali perasaannya yang telah bergejolak itu bagaikan menyala membakar isi dadanya.

Tiba-tiba saja Mahisa Murti berdiri tegak di atas kedua kakinya yang renggang. Kedua tangannya yang mengepal tinju diangkatnya setinggi bahunya.

Satu teriakan nyaring telah melengking memecahkan sepinya malam. Geterannya telah terlontar jauh membentur udara malam yang dingin. Gemanya pun telah bersahutan dari satu sisi dan sisi yang lain.

Namun suaranya ternyata tidak menyentuh telinga siapa pun sehingga teriakannya sama sekali tidak menarik perhatian seorang pun. Bulak itu memang sepi, sesepi hati Mahisa Murti itu sendiri.

Namun dengan demikian rasa-rasanya beban di dada Mahisa Murti berkurang. Meskipun masih terasa betapa pahitnya kenyataan yang harus dihadapi, namun Mahisa Murti telah menemukan kembali keseimbangan jiwanya.

Perlahan-lahan Mahisa Murti melangkah kembali menyusuri gelapnya malam di tengah-tengah bulak. Baru setelah jiwanya tenang, Mahisa Murti melihat kunang-kunang yang berkeredipan di daun-daun padi.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian mendengar gemericik air yang mengalir di parit di tepi jalan yang dilaluinya.

Selisih waktu yang diperlukan oleh Mahisa Murti dengan ayahnya memang tidak terlalu banyak. Ketika ia kemudian naik tangga tempat tinggal Mahendra di bagian belakang istana, maka hatinya tidak lagi terguncang-guncang.

Karena itu ketika kemudian ia berbicara dengan Mahisa Pukat, maka dengan hati yang tatag ia berkata, “Sasi telah memberikan isyarat itu.”

“Apa katanya?” bertanya Mahisa Pukat tidak sabar.

“Ia tidak berkata apa-apa. Tetapi ia menganggukkan kepalanya yang menurut tangkapanku, ia telah mengiakannya,” jawab Mahisa Murti dengan nada datar.

“Benar begitu?” desak Mahisa Pukat.

“Tentu kau harus mengulanginya. Kau harus meyakinkan dirimu bahwa Sasi tidak berkeberatan. Tetapi kau pun harus meyakinkan Sasi, bahwa kau benar-benar menghendakinya.”

< … Hadu….., ceritanya meloncat jauh ! …>

Sejenak kemudian Mahisa Murti itu pun telah berhadapan dengan orang yang menyebut dirinya Sardula Mapan. Orang-orang yang ingin menyaksikan perkelahian itu pun telah melingkar seakan-akan telah membentuk lingkaran arena perang tanding.

Ternyata Sardula Mapan benar-benar merasa tersinggung melihat sikap Mahisa Murti. Anak muda itu sama sekali tidak menjadi cemas atau gelisah. Ia tetap saja tenang meskipun ia sudah mendapat keterangan dari pemilik kedai itu tentang seorang yang bernama Sardula Mapan.

(Bersambung ke Jilid 103)

Koleksi buku: Ki Ismoyo
Scanning: Ki Ismoyo
Convert/Proofing: Ki Raharga
Rechecking/Editing: Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

Satu Tanggapan

  1. terlalu sering melompat ceritanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s