SUNdSS-09


<<kembali | lanjut >>

LEMBU AMPAL menarik nafas dalam-dalam Katanya, “Kemulia¬an di hati tuanku adalah perlambang kasih Yang Maha Agung yang ada di dalam diri tuanku. Aku merasa menjadi terlampau kecil di hadapan tuanku sekarang ini. Meskipun umurku jauh lebih tua dari tuanku, namun ternyata bahwa sifat asli tuanku jauh lebih dewasa dari aku.”

“Jangan berpikir terlampau jauh. Jika paman Mahendra dan paman Witantra dan bergelar Panji Pati-pati tidak berke¬beratan, biarlah paman Lembu Ampal ada di sini. Kita sama-sama orang buruan. Dan marilah kita menikmati kedamaian di tem¬pat terpencil ini.”

“Tetapi tuanku, seperti kedatanganku ke tempat ini, yang seakan-akan hanyut saja dibawa angin, maka tidak mustahil bahwa pada suatu saat, seorang petugas sandi akan menemu¬kan tempat ini.”

“Tempat ini terlampau jauh paman. Jika paman sampai di sini, sama sekali bukan karena paman mencari aku berdua.”

“Darimana tuanku mengetahuinya?”

“Tidak, aku hanya menduga. Aku tidak tahu, apakah dugaanku itu benar.”

“Tuanku memang bijaksana. Dugaan tuanku benar. Se¬benarnyalah bahwa aku tidak mencari tuanku berdua.”

“Aku mendengar paman mengatakan, bahwa kedatang¬an paman seakan-akan hanyut saja dibawa angin. Karena itu keda¬tangan paman di sini adalah karena pengembaraan paman.”

“Ya tuanku.”

“Kenapa paman pergi mengembara? Apakah memang sambil menyelam minum air?”

Lembu Ampal termangu-mangu sejenak. Namun kemudian diceriterakannya semua yang terjadi atas dirinya. Kegelisahan dan kesetiaan berbenturan di dalam diri, sehingga akhirnya ia lari kepada pendeta istana. Pendeta istana itulah yang sebenar¬nya telah membebaskan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dengan mempergunakan tangan-tangan Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra.

“Yang pertama-tama adalah karena keragu-raguan itulah.“ berkata Mahendra kemudian.

Lembu Ampal tidak menjawab. Tetapi rasa-rasanya ia telah terlepas dari bencana yang dahsyat yang siap menerkamnya.

“Baiklah Ki Sanak.“ berkata Mahendra kemudian, “Ternyata bahwa yang terjadi itu adalah angin prahara yang bertiup di atas Singasari, jika angin itu telah lampau maka keadaan akan menjadi tenang kembali, meskipun kadang-kadang sempat meninggalkan bekas-bekas dan kerusakan. Tetapi yang kemudian harus memperbaikinya dan membangun kembali.“ Mahendra berhenti sejenak lalu, “Sekarang, baiklah aku mempersilahkan Ki Sanak singgah di padepokan kami. Padepokan yang tenang dan damai. Padepokan yang jauh dari sikap dan tingkah laku yang kasar dan kekerasan. Itulah sebabnya kami harus bersem¬bunyi di tengah hutan apabila kami berlatih diri, mendalami ilmu kekerasan yang sebenarnya sangat kasar bagi sifat kasih Yang Maha Agung.”

Lembu Ampal hanya dapat menundukkan kepalanya.

“Namun agaknya kami pun seorang yang lemah hati di antara isi dunia yang memang kotor ini. Itulah agaknya yang masih saja mempengaruhi hati kami untuk mempelajari olah kanuragan.”

Lembu Ampal masih tetap berdiam diri. Tetapi kepalanya nampak terangguk-angguk kecil.

“Nah marilah Ki Sanak.“ ajak Mahendra kemudian, “Jangan berprasangka pula terhadapmu.”

Lembu Ampal merasakan sesuatu yang menyangkut di kerongkonganya. Perlahan-lahan kepalanya terangguk lemah, “Aku sangat berterima kasih.”

Demikianlah, maka mereka pun segera meninggalkan tem¬pat itu. Beriringan mereka pergi ke padepokan. Namun di ja¬lan sempit di luar hutan itu, Mahendra sempat memperingat¬kan Lembu Ampal. “Taruhlah senjatamu di bawah kain pan¬jangmu. Atau bawalah pedang itu seperti para orang-orang padepok¬an kami membawa parang pembelah kayu.”

Lembu Ampal termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia sadar bahwa kesan senjata yang ada pada pedangnya harus disembunyikan di hadapan rakyat padepokan yang damai itu.

Ketika sekilas ia melihat senjata yang tergantung di lam¬bung Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, maka tahulah Lembu Ampal, karena hal itulah maka sarung senjata kedua anak muda itu mirip dengan sarung parang pembelah kayu seperti yang terselip di lambung para pekerja di padepokan terpencil itu, karena itulah maka Lembu Ampal pun kemudian me-nyembunyikan senjatanya di balik kain panjangnya.

Ketika mereka memasuki padepokan itu, terasa oleh Lem¬bu Ampal, bahwa padepokan itu memang padepokan yang damai. Meskipun orang-orang di padepokan itu pernah juga me¬ngalami dan menyaksikan kekerasan, tetapi mereka kini lebih senang hidup damai dan tenang. Agaknya cara hidup itulah yang paling sesuai dengan mereka. Kekerasan dan kekasaran membuat hati seseorang selalu dibayangi oleh kekawatiran dan bahkan ketakutan. Tetapi hidup tanpa kekerasan benar-benar telah memberikan kedamaian hati.

Di padepokan Lembu Ampal mendapat sambutan yang sewa¬jarnya. Tidak ada kesan kecurigaan dan prasangka dari setiap orang yang dijumpainya. Sekilas mereka memperhatikan kedatangannya. Mengangguk sambil tersenyum, kemudian membi-arkannya berlalu menuju ke rumah Witantra.

“Sebuah padepokan yang tenang sekali.“ desisnya.

“Ya, karena itu maka kami tidak sampai hati menggang¬gunya.”

“Bagaimana tanggapan mereka pada saat tuanku Rang¬gawuni dan Mahisa Cempaka datang?”

“Biasa saja. Tidak ada persoalan apa-apa.”

“Para pengawal? Apakah senjata di tangan para penga¬wal itu tidak mengejutkan orang-orang padepokan ini?”

“Sebagian dari mereka tidak memasuki padepokan ini. Hanya dalam jumlah yang sangat kecil mereka mengantar ke¬duanya sampai ke rumah ini bersama aku dan kakang Witantra. Tetapi para pengawal itu sudah meninggalkan senjata mereka pada kawannya yang mengawasi keadaan di luar padepokan.”

Lembu Ampal mengangguk-angguk kecil.

“Meskipun demikian, di sini ada beberapa orang cantrik yang memiliki ilmu kanuragan. Mereka dahulu juga berlatih dengan tekun. Tetapi kehidupan yang damai itu akhirnya te¬lah menjadi pilihan mereka.”

“Tentu bukan dengan tiba-tiba saja.“ sahut Lembu Ampal.

Mahendra tersenyum. Katanya, “Kakang Witantra men¬coba mengarahkannya. Tetapi jusru kakang Witantra lah orang yang jiwanya paling lemah, sehingga sampai saat ini ia masih saja mempergunakan kekerasan untuk melaksanakan sikap ba¬tinnya.”

“Tetapi itu masih diperlukan dalam keadaan seperti sekarang.”

“Tentu bagi kita.”

“Tanpa kekerasan tuanku Ranggawuni dan tuanku Ma¬hisa Cempaka mungkin sudah tidak dapat melihat padepokan ini lagi.”

“Itu adalah salah satu cara untuk membela diri, kenapa kita harus mempergunakan kekerasan. Aku juga berpendirian demikian. Tetapi itu adalah pertanda kelemahan jiwa. Kita masih kurang percaya akan perlindungan Yang Maha Agung.”

“Manusia wajib berusaha. Tanpa usaha, kita akan di¬telan oleh keadaan. Tanpa kekerasan aku tidak dapat dipaksa untuk mengurungkan niatku membunuh tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”

“Itu adalah pendirian kesatria, bukan pendirian seorang yang benar-benar telah pasrah diri kepada Yang Maha Agung dalam pengabdiannya yang hakiki. Dalam sengsara dan derita itulah seseorang akan merasa dirinya semakin dekat dengan penciptanya.”

Lembu Ampal tidak menyahut. Ia mengerti, bahwa sikap seorang pendeta dan mereka yang pasrah diri dalam pengab¬dian kasih akan berbeda dengan sikap seorang kesatria yang masih harus melindungi dunia ini dari angkara murka, yang bagi seorang kesatria kadang-kadang masih harus mempergunakan kekerasan untuk melawan kekerasan yang sewenang-wenang. Tetapi Lembu Ampal pun menyadari, bahwa setiap kekerasan akan sangat sulit untuk membatasi dengan pasti, daerah pengabdian dan pamrih.

Sejak saat itu, Lembu Ampal mulai dengan kehidupan barunya di padepokan terpencil itu. Ia pun kemudian mengeta¬hui bahwa para pengawal Ranggawuni dan Mahisa Cempaka sebagian kecil berada agak jauh dari padepokan itu dan hidup sebagai petani. Sedang yang lain telah kembali ke Kediri bergabung dengan induk pasukan masing-masing. Mereka tidak perlu cemas bahwa Tohjaya atau para panglimanya akan mengusut dan mengambil tindakan terhadap mereka, karena keadaan yang agaknya masih belum mapan sama sekali.

Di padepokan itu, Lembu Ampal berusaha menyesuaikan dirinya. Ia hidup seperti Mahendra dan kedua anak-anak muda yang sedang bersembunyi. Lembu Ampal mulai belajar bertani dan melakukan pekerjaan-pekerjaan lain di padepokan.

Bahkan kemudian oleh Mahendra, Lembu Ampal dibawa menemui para pengawal yang sedang menyamar dan menga¬wasi keselamatan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dari ke¬jauhan.

Ternyata bahwa satu dua orang dari mereka sudah dikenal oleh Lembu Ampal sebagai prajurit Singasari pilihan yang berada di Kediri.

“Kalian tidak usah mencurigainya.“ berkata Mahen¬dra kepada para pangawal yang bertani itu. “Lembu Ampal sudah merubah keputusannya untuk tidak mengganggu Rang-gawuni dan Mahisa Cempaka.”

Para pengawal itu mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi masih nampak kecurigaan di sorot mata mereka.

“Ki Sanak.“ berkata Lembu Ampal kemudian, “Bukan saja aku sudah merubah keputusan, tetapi bahwa aku gagal membunuh keduanya itu ternyata merupakan kurnia yang tidak terhingga bagiku. Aku tidak perlu lagi menyesali perbuatan¬ku, dan aku sudah terhindar dari penyesalan yang berkepanjangan. Sekarang aku merasa bahwa tanganku tidak dicemari oleh noda darah anak-anak muda yang tidak bersalah sama sekali.“ Lembu Ampal berhenti sejenak, lalu, “Terlebih dari pada itu aku merasa berhutang budi tiada taranya. Jika kedua anak-anak muda yang ingin aku bunuh itu mendendam di dalam hati maka aku pun sudah terbunuh, bukan membunuh. Tetapi ter¬nyata kesalahanku itu sudah dimaafkan, dan aku boleh tetap hidup di padepokan ini.”

Para pengawal mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya mereka mulai percaya bahwa Lembu Ampal memang tidak akan berbahaya lagi bagi Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.

Di hari-hari kemudian, Lembu Ampal menjadi semakin dekat dengan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Semula Mahendra masih selalu mengawasinya. Namun kemudian Mahendra tidak lagi terlampau banyak memperhatikannya lagi, karena ia yakin bahwa Lembu Ampal benar sudah menyesal. Bukan sekedar karena kalah di dalam perkelahian, tetapi benar-benar menyadari bahwa yang akan dilakukannya itu sesat.

Apalagi ketika Witantra datang pula dari Kediri seperti yang sering dilakukan. Maka Lembu Ampal menjadi semakin mantap untuk tetap berada di padepokan itu.

“Apakah kau tidak merindukan jabatanmu Lembu Ampal?“ bertanya Witantra.

Lembu Ampal menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ternyata aku menemukan yang nilainya jauh lebih tinggi dari pangkat dan kedudukan di sini. Dan aku mendapat kepuasan karenanya.”

“Itu hanya sekedar pemupus. Karena kau tidak dapat mengharapkan pangkat dan kedudukanmu kembali, maka kau berkata seperti itu.”

“Witantra.“ jawab Lembu Ampal, “Kukira setiap insan menginginkan semua hasrat, cita-cita dan gegayuhannya tercapai. Dengan demikian maka mereka akan mendapatkan kepuasan. Yang penting ternyata bukan sekedar pencapaian itu, tetapi bila kemudian menimbulkan kepuasan. Kepuasan itulah yang mahal harganya.“ ia berhenti sejenak, lalu, “Dan aku sudah mendapatkan kepuasan itu di sini.”

Witantra tidak menjawab. Kepalanya sajalah yang ter¬angguk-angguk kecil.

Dengan demikian maka Lembu Ampal tidak lagi berha¬srat untuk meninggalkan tempat itu. Ia tidak ingin kembali ke¬pada pangkat dan jabatannya, tetapi juga tidak ingin menerus-kan pengembaraannya yang tanpa arti. Di padepokan itu ia merasa dapat hidup tenang di dekat kedua anak muda itu yang seharusnya dibunuhnya.

“Aku harus ikut mengawasi keselamatan mereka.“ berkata Lembu Ampal di dalam hati, “Jika terjadi sesuatu atas keduanya, maka akulah yang pertama-tama harus mempertanggung jawabkannya, karena akulah yang pernah mengancam hidup mereka.”

Untuk beberapa lamanya mereka hidup damai dan tenang. Tidak banyak persoalan yang timbul di daerah terpencil. Mere¬ka hanya memerlukan air untuk bertani. Alat-alat dapat mereka buat sendiri betapapun sederhananya. Binatang-binatang peliharaan dapat membantu mereka untuk menggarap sawah.

Meskipun demikian, dalam waktu-waktu tertentu setiap hari mereka pergi ketengah-tengah hutan yang tidak begitu lebat untuk menyempurnakan ilmu mereka. Ilmu yang sebenarnya bertentangan dengan sifat-sifat damai dari padukuhan itu.

Tetapi mereka sadar, kekerdilan jiwa merekalah yang mendorong mereka untuk tetap mempelajari ilmu kekerasan.

Dalam pada itu, Witantra dan Mahendra bergantian me¬nunggui dan menggurui Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Jika Witantra pergi ke Kediri, maka Mahendra menetap di padepokan itu beberapa lama. Jika kemudian Witantra datang, untuk beberapa hari Mahendra pulang ke rumahnya sendiri. Untunglah keluarga Mahendra sudah mengenal dengan baik sifat dan tabiatnya, sehingga kepergiannya yang kadang-kadang sampai berpekan-pekan tidak menimbulkan banyak persoalan. Apalagi Mahendra sendiri adalah seorang pedagang keliling yang memerlukan banyak waktu meninggalkan kampung halamannya. Namun kehidupan keluarganya bukannya tergantung atas usahanya itu. Mahendra memiliki sawah dan ternak yang cukup. Sedang perdagangan yang dilakukan, yang kadang-kadang memang dapat memberikan penghasilan yang baik juga didorong oleh jiwa pengembaraannya, meskipun dengan agak terselubung oleh kerja itu.

Dari hari kehari Ranggawuni dan Mahisa Cempaka men¬jadi semakin maju. Bahkan Lembu Ampal pun kemudian telah pasrah diri untuk ikut menyadap beberapa bagian dari ilmu yang tidak ada taranya itu, selain ilmu di dalam diri Mahisa Agni.

Demikianlah maka Lembu Ampal benar-benar telah menyatu¬kan diri dengan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Semakin banyak ia mendapatkan ilmu dari padepokan terpencil itu, maka ia pun merasa semakin dekat dengan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.

Bahkan hatinya pun menjadi semakin terbuka atas segala peristiwa yang pernah terjadi di istana Singasari. Dari Mahen¬dra dan Witantra ia mendengar urut-urutan ceritera tentang pim¬pinan pemerintahan sejak jaman Akuwu Tunggung Ametung. Kematian Akuwu Tunggul Ametung, dan siapakah sebenarnya Anusapati dan Tohjaya. Dengan demikian maka Lembu Ampal tahu pasti, bahwa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang hampir saja dibunuhnya itu benar-benar memiliki hak atas tahta di Singasari. Ranggawuni dan Mahisa Cempaka adalah keturunan dari seorang ibu tetapi berlainan ayah, namun rasa-rasanya kedua¬nya adalah orang yang paling pantas untuk memegang pim¬pinan di Singasari.

“Tohjaya adalah jalur yang lain dari tahta Singasari.“ berkata Witantra kepada Lembu Ampal. “Meskipun Ken Umang sebenarnya lebih dekat dengan keluargaku daripada Ken Dedes tetapi aku tidak dapat membenarkan keinginan yang telah membakar hati anaknya untuk menguasai tahta. Pembunuhan yang dilakukan bukan semakin memantapkan pemerintahan, tetapi justru sebaliknya. Jika berhasil membunuh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, maka adik-adik Anusapati yang lain tentu akan menjadi hantu yang menakutkan juga bagi Tohjaya. Mereka pun tentu akan dibunuhnya seorang de¬mi seorang sehingga ia merasa aman. Tetapi Tohjaya untuk sepanjang hidupnya tidak akan pernah merasa tenang dan damai.”

Lembu Ampal mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi semakin jelas menanggapi peristiwa yang hampir saja membu¬atnya tidak dapat tidur sepanjang umurnya.

“Jika demikian.“ bahkan Lembu Ampal pun kemudian berkata, “Apakah yang sebaiknya kita lakukan? Tentu kita tidak akan dapat membiarkan Tohjaya menguasai tahta sete¬rusnya.”

“Kita akan menunggu sampai saatnya kita akan bertin¬dak.“ jawab Witantra, “Kita harus menunggu isyarat. Sampai saat ini Mahisa Agni masih tetap berada di lingkungan istana Singasari.”

“Apakah ia mengetahui bahwa Ranggawuni dan Ma¬hisa Cempaka masih tetap hidup?”

“Setiap saat aku dapat menemuinya tanpa kesulitan. Ia mengetahui semuanya yang telah terjadi. Ia mengetahui bahwa kau berada di sini sekarang ini.”

“O”

”Lembu Ampal.“ berkata Witantra kemudian, “Pada suatu saat kau harus mengenal jalan untuk menemui Mahisa Agni itu. Dengan demikian maka kau pun akan dapat berbuat banyak bagi tegaknya kebenaran di Singasari.”

Lembu Ampal sama sekali tidak berkeberatan. Apalagi ia pun merasa mendapat kepercayaan dari Witantra dan Mahen¬dra. Karena ia mengikuti petunjuk-petunjuk keduanya dengan baik dan latihan-latihan yang teratur, maka ilmu Lembu Ampal itu pun dengan cepatnya meningkat, karena ia pun memiliki bekal yang kuat sebelumnya.

Pada saatnya, ketika ilmu Lembu Ampal sudah meningkat cukup banyak, sehingga Witantra menganggap bahwa ia sudah dapat dipercaya untuk ikut bersamanya, maka dibawanya Lem¬bu Ampal memasuki halaman istana Singasari untuk menemui Mahisa Agni di bangsalnya.

“Jadi kau sering melakukan hal itu?“ bertanya Lembu Ampal.

Witantra tersenyum. “Kenapa?” ia bertanya.

”Kau memang luar biasa.“ berkata Lembu Ampal pula.

“Kau pun akan dapat melakukannya. Tidak ada kesuli¬tan apa-apa.”

”Mudah-mudahan aku tidak mengganggumu, jika aku memili¬ki ilmu setinggi ilmumu, aku tidak akan menjadi berdebar-debar.”

“Ilmumu sudah meningkat cukup jauh. Dan kau seka¬rang sudah meninggalkan Senapati-Senapati kawan-kawanmu dahulu. Mung¬kin para Panglima yang sekarang, harus berlatih dua tiga ta¬hun lagi untuk dapat dengan mudah menangkapmu.”

“Ah.“ desah Lembu Ampal sambil tersenyum pula.

Demikianlah dengan hati-hati keduanya meloncati dinding halaman. Tidak seorang prajurit pun yang dapat melihat mere¬ka. Karena itu, maka mereka pun dapat memasuki halaman tan¬pa gangguan apapun juga.
Lembu Ampal menjadi heran terhadap dirinya sendiri. Dinding yang dahulu disangkanya kokoh kuat dan rapat itu, ternyata tidak begitu sulit ditembus.
“Dinding halaman itu cukup panjang.” berkata Wi¬tantra, “Sehingga sudah barang tentu ada bagian-bagian yang tidak terawasi sepanjang malam. Bahkan jika tidak ada peristiwa yang penting seperti hilangnya Ranggawuni dan Mahisa Cem¬paka, para prajurit menjadi semakin lengah. Disiang hari punkita akan dapat memasuki halaman ini dengan aman.”
Lembu Ampal kini tidak dapat membantah lagi. Ia sendiri sudah berhasil memasuki halaman istana dengan mudah. Bah¬kan tanpa Witantra punia merasa, bahwa ia akan dapat mela¬kukan tugas sebaik-baiknya jika ia harus menjumpai Mahisa Agni.
Ternyata Mahisa Agni punkemudian menerima Lembu Ampal tanpa berprasangka apapun. Sambil tersenyum Mahisa Agoi berkata, “Aku sudah mendengar semuanya tentang kau.”
Lembu Ampal menundukkan kepalanya.
“Aku punbersyukur, bahwa kau tidak terjemurus ke dalam kesalahan yang tidak termaafkan itu. Jika kau berhasil membunuh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, maka kau akan segera berhadapan dengan kami. Aku, Witantra dan Mahendra. Tetapi lebih dari itu, kau akan berhadapan dengan kebenaran.”
Lembu Ampal masih tetap berdiam diri. Namun kata-kata Ma¬hisa Agni itu rasa-rasanya menusuk langsung kepusat jantungnya. Bahkan terasa tengkuknya meremang karenanya. Betapa ia akan hidup dalam ketegangan dan ketakutan jika pembunuh¬an itu dapat dilaksanakan.
Untunglah bahwa kini ia justru dapat hidup dalam kete¬nangan dan kedamaian.
Namun sebagai seorang kesatria, maka ia tidak akan da¬pat tinggal diam di padepokan, seperti juga Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Itulah bedanya kesatria dan orang-orang yang hi¬dup utuh dalam pendekatan diri dengan Yang Maha Agung.
Hubungannya dengan Mahisa Agni, telah membuka per¬soalan baru di dalam hati Lembu Ampal. Darah kesatria yang ada di dalam dirinya telah mendidih kembali. Dalam persem¬bunyiannya di halaman istana setiap kali ia masuk, ia selalu me¬lihat prajurit-prajurit Singasari yang resah dan nampaknya kehilangan pegangan. Mereka berjaga-jaga dengan senjata telanjang. Namun mereka tidak lagi menyadari, apakah yang sebenarnya sedang mereka lakukan itu.
Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa istana Singasari menjadi semakin suram. Tohjaya yang kecewa tidak dapat me¬nemukan ketenangan lagi di dalam hidupnya. Bahkan rasa¬nya ia dapat melihat semakin jelas tentang dirinya sendiri. Tentang noda-noda yang melekat di dalam dirinya terpercik oleh noda-noda yang mengotori ibunya.
Sedangkan Ken Umang rasa-rasanya menjadi hampir gila ka¬rena orang-orang yang telah dihubunginya masih belum berhasil membunuh Mahisa Agni. Bahkan sama sekali belum didengar usaha yang telah dilakukan untuk membunuhnya dan dengan demikian maka rahasianya tidak akan tersebar luas.
Tetapi Ken Umang yang dicengkam oleh kebingungan yang sangat menghadapi sikap Tohjaya itu, tidak pernah da¬pat berpikir bening lagi. Seandainya Mahisa Agni dengan se-ngaja menyebarkan lukisan tentang dirinya di antara para pe¬mimpin Singasari, maka kabar itu tentu sudah merambat keseluruh isi istana, bahkan seluruh Singasari.
“Orang gila itu harus mati, harus, harus.“ kadang-kadang ia menggeram. Tetapi tidak seorang punyang dapat melakukan¬nya. Apalagi Tohjaya sama sekali kehilangan segala gairah dan minat di dalam pemerintahan.
Dalam keadaan yang demikian itulah, maka Lembu Am¬pul dengan bulat telah mengabdikan dirinya kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Ia sadar, bahwa Tohjaya tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi duduk di atas tahta. Jika tidak segera ada perubahan terjadi di pemerintahan Singasari, maka Singasari akan benar-benar menjadi beku, atau sebaliknya akan koyak sama sekali. Beberapa orang pemimpin pemerinta¬han, para Panglima atau Akuwu yang merasa dirinya kuat dapa saja menghimpun kekuatan untuk mendukungnya me¬ngangkat diri menjadi Maharaja di Singasari, seperti Ken Arok yang saat itu menggantikan kedudukan Akuwu Tunggul Ame¬tung di Tumapel, yang memisahkan diri dari Kediri.
“Semua peristiwa itu tidak boleh terulang kembali.“ berkata Lembu Ampal di dalam hatinya.
Karena itu, maka Lembu Ampal punmulai mengambil sikap. Ia memberanikan diri mengatakannya kepada Mahisa Agni niatnya untuk mengembalikan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka ke istana Singasari dengan aman.
“Aku dapat membunuh Tohjaya dengan cara apapun juga.“ berkata Lembu Ampal.
“Tohjaya dikelilingi oleh para Panglima dan Senapati.“ jawab Mahisa Agni, “Sekarang dalam keadaan yang bu¬ram ini, Tohjaya rasa-rasanya sudah tidak berbuat apa-apa lagi kecu¬ali menyesali dirinya sendiri. Beberapa orang Panglima dan pemimpin pemerintahan mencoba untuk menyelamatkan Si¬ngasari dari kehancuran. Mereka mencoba melakukan tugas Tohjaya sebaik-baiknya. Mereka merasa wajib karena merekalah yang pernah mendukung Tohjaya sehingga Tohjaya berani mengambil tindakan untuk membunuh Anusapati.”
“Tetapi aku akan dapat menembus mereka.“ sahut Lembu Ampal.
Namun Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Kata¬nya, “Jangan kau keruhkan lagi Singasari dengan pembunuh¬an.”
“Jadi?”
“Kau boleh berusaha mengembalikan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Aku akan membantunya. Tetapi mereka ha¬rus kembali sebagai kesatria, tidak seperti pencuri yang mema¬suki rumah orang lain diwaktu malam. Tidak dengan ber¬sembunyi-¬sembunyi dan dengan licik membunuh lawannya. Jika Rangga¬wuni dan Mahisa Cempaka masih melakukannya seperti yang pernah dilakukan oleh Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa, oleh Anusapati dan kemudian oleh Tohjaya, maka akan terja¬di yang serupa pula atas mereka.”
Lembu Ampal mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya ke¬mudian, “Aku mengerti. Tetapi aku belum menemukan jalan yang paling baik untuk melakukannya.”
“Kau tidak sendiri. Ada Witantra ada Mahendra dan ada aku di sini. Kita akan dapat berbicara untuk menentukan sikap. Namun sementara itu, kita tidak boleh melupakan Ken Umang yang tentu tidak akan tinggal diam. Ia tentu tidak akan mau kehilangan anak lakinya, meskipun ia tidak mati,
karena anak lakinya itu tidak lagi berbuat sesuatu. Dan ia tentu tidak akan mau kehilangan kedudukannya sebagai ibunda Maharaja di Singasari, sebagai perempuan yang paling terhormat. Dan karena itupula ia tidak pernah memikirkan apakah anak lakinya akan mengawini seorang permaisuri. Sebab ia akan segera terdesak oleh kedudukan menantunya itu.”
Lembu Ampal mengangguk-anggukkan kepalanya, la memang sudah mendapat gambaran tentang keluarga Tohjaya. Ibunda¬nya yang tamak dan dicengkam oleh nafsu yang berlebihan. Tohjaya yang manja dan perajuk. Yang mula-mula merasa dirinya adalah orang yang paling kuat dimuka bumi. Namun yang ke¬mudian bagaikan terlempar ke dalam lembah kehinaan setelah ia mengetahui tentang dirinya sendiri.
Dengan demikian maka ia punmenjadi seorang yang ren¬dah diri dan merasa tidak berharga. Namun untuk menyembu¬nyikan perasaan itu, maka Tohjaya adalah seorang yang ham¬pir gila. Ia adalah pemarah tiada taranya, yang dengan berlebihan minta dihormati dan dijunjung tinggi sebagai seorang Maharaja Singasari. Namun dalam pada itu, ia sudah tidak da¬pat berbuat apapun lagi dalam pemerintahannya.
Karena itulah maka seisi istana dan para Panglima serta pemimpin pemerintahan menjadi kebingungan. Mereka sebagi¬an telah menyesal bahwa mereka mendukung Tohjaya mendu¬duki pemerintahan dan jabatan tertinggi di Singasari. Meski¬pun Tohjaya tidak ingkar dan memberikan kedudukan, pang¬kat dan harta benda seperti yang pernah ia janjikan apabila ia berhasil menduduki tahta Singasari, namun Tohjaya sendiri ke¬mudian sama sekali telah kehilangan dirinya sendiri.
“Ia terpukul oleh kenyataan tentang dirinya sendiri.“ para pemimpin itu punsaling berbisik. Yang disembunyikan itu justru bagaikan terungkapkan karena sikap Tohjaya sendi¬ri, sehingga memancing orang tua-tua untuk mulai berbicara ber¬bisik tentang dirinya.
Dalam keadaan yang kalut itulah Lembu Ampal mulai mencoba berbuat sesuatu untuk mengembalikan hak atas tahta Singasari kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Kenya¬taan yang dihadapinya adalah bagaikan hitam dan putih jika ia memperbandingkan sifat dan watak Tohjaya dengan Rang¬gawuni dan Mahisa Cempaka. Tohjaya yang dicengkam oleh nafsu dan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang bijaksana.
Atas petunjuk Mahisa Agni, maka Lembu Ampal punmu¬lai mempersiapkan segala sesuatunya tidak di halaman istana, tetapi di padukuhan terpencil di luar kota, dan justru di garis yang menghubungkan Singasari dengan Kediri.
“Pasukan Singasari di Kediri akan dapat dipergunakan sebaik-baiknya.“ berkata Mahisa Agni.
“Tetapi apakah tuan akan keluar dari halaman istana dan langsung berada di tengah-tengah kami?”
“Tidak. Aku akan tetap berada di halaman istana. Aku sudah memperkuat kedudukanku. Pengawal-pengawal cukup kuat un¬tuk melindungi aku, keluarga Anusapati terdekat dan orang tua Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Beberapa orang praju¬rit Singasari telah aku hubungi dan mereka adalah kawan-kawan yang setia.”
“Apakah kedudukan mereka mirip dengan kedudukan¬ku?”
“Maksudmu?”
“Mula-mula berpihak kepada tuanku Tohjaya, namun kemu¬dian menyadari kekeliruan diri?”
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Mungkin. Tetapi ada diantaranya yang sejak semula tidak berpihak kepadanya. Ha¬nya karena kedudukannya sebagai prajurit sajalah yang mem¬buat mereka untuk sementara berdiam diri.”
Lembu Ampal merenung sejenak. Kemudian sambil meng¬angguk-angguk kecil ia berkata, “Barangkali aku akan dapat segera memulainya. Aku akan keluar dari kota ini dan mencoba mem¬buat kedudukan yang mantap bagi tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dijalur lurus antara kota Singasari dan Ke¬diri.”
“Biarlah Ranggawuni dan Mahisa Cempaka untuk se¬mentara tetap di padepokan tersembunyi itu.”
“O, baiklah. Semuanya akan aku coba sebaik-baiknya.”

“Mudah-mudahan kau akan berhasil. di sini aku tidak akan dapat melepaskan tanggung jawabku atas Ken Dedes yang semakin tua dan sakitan, ibu Ranggawuni dan kedua orang tua Mahisa Cempaka. Kemudian adik-adik Anusapati yang lain, yang lahir dari Ken Dedes dan Sri Rajasa.”

Demikianlah mereka telah membagi pekerjaan. Tugas Mahisa Agni bukanlah tugas yang ringan. Tetapi Mahisa Wonga Teleng dan adik-adiknya tidak tinggal diam. Betapapun kecilnya mereka masih juga mempunyai pengaruh. Bahkan pengikut Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa, ada yang menganggap bahwa Mahisa Wonga Teleng mempunyai hak yang lebih banyak dari Tohjaya yang hanya karena dukungan yang kuat tiba-tiba saja telah merampas hak atas tahta Singasari.

Sementara itu Ken Umang masih tetap bernafsu untuk membunuh Mahisa Agni. Beberapa orang yang setia kepadanya telah memberikan keterangan, bahwa berbahaya sekali untuk bertindak dalam keadaan seperti itu. Tetapi agaknya Ken Umang yang telah kehilangan pikiran beningnya itu tidak mau mengerti. Ia tetap bertekad, untuk membinasakan Mahis Agni secepat-cepatnya.

“Sukar untuk melaksanakan saat ini.“ berkata Pranaraja.

“Aku tidak peduli. Tetapi jika kau tidak berhasil, aku justru berkata kepada Mahisa Agni, bahwa kaulah yang mula berpendapat bahwa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka harus dibunuh. Kau akan ingkar Tohjaya adalah anakku. Ia mengatakan apa saja yang diketahuinya dan dihayatinya selama ia memegang pemerintahan dengan bijaksana seperti ini.”

Ancaman itu memang membuat Pranaraja menjadi bingung. Jika demikian maka nyawanya tentu terancam. Keadaan di istana Singasari agaknya lambat laun sudah berubah. Kesetiaan kepada Tohjaya sudah mulai goyah. Bukan karena Tohjaya tidak memenuhi janjinya kepada orang-orang yang membantunya, tetapi ternyata hati Tohjaya sangat lemah.

Disaat terakhir yang dapat dilakukan tidak ada lain kecuali hanya marah-marah saja. Ia sama sekali tidak lagi menghiraukan perkembangan Singasari, apalagi meningkatkan hidup rakyat¬nya.

Usaha beberapa orang perwira yang merasi sudah terlanjur mendukung Tohjaya, agaknya tidak begitu banyak memba¬wa hasil. Bahkan, kadang-kadang Tohjaya sendiri menolak setiap pen¬dapat yang diajukan oleh para Panglima dan Senapati untuk mengatasi keadaan.

Perlahan-lahan para prajurit mulai berpaling kepada Mahisa Agni. Ia adalah saudara tua Ken Dedes. Meskipun umurnya sudah menjadi semakin tua, tetapi ia masih tetap seorang yang tidak ada duanya di dalam istana Singasari.

Arah pandangan yang lain adalah Mahisa Wonga Teleng, yang masih tetap berada di halaman istana itu pula. Ia sama sekali tidak gentar jika pada suatu saat Tohjaya akan mengam¬bil tindakan apapun terhadapnya seperti yang telah direncana¬kan untuk dilakukan atas anak lakinya. Mahisa Cempaka.

Namun demikian belum ada seorang punyang berani me¬nyatakannya dengan berterus terang. Mereka pada umumnya masih diliputi oleh keraguan yang satu dengan yang lain, ka¬rena ternyata bahwa Tohjaya masih tetap seorang Maharaja.

Dalam pada itu, Ken Umang yang tidak sabar lagi masih saja selalu mendesak. Ia dihantui oleh tingkah lakunya sendiri yang diketahui dengan pasti oleh Mahisa Agni. Bagi ken Umang, Mahisa Agni adalah ular yang sangat berbisa. Dalam keadaannya, Ken Umang masih mengharap Tohjaya melupakan apa yang sudah didengarnya. Tetapi jika Mahisa Agni ma¬sih hidup, maka ia justru dapat menambah lagi kecemaran tingkah laku dimasa mudanya, bahkan sampai ia sudah berada di istana Singasari itu pula.

Tetapi tidak mudah untuk mendapatkan cara bagaimana menyingkirkan Mahisa Agni.

Sementara itu, di padepokan terpencil, Mahendra dan Lembu Ampal masih saja selalu menemani Ranggawuni dan Mahisa Cempaka melatih diri. Dengan pesatnya keduanya ma¬ju dibidang kanuragan. Bahkan Lembu Ampal kadang-kadang berta¬nya kepada diri sendiri, cara yang manakah yang diperguna¬kan oleh Witantra dan Mahendra, sehingga mereka dengan mudah sekali dapat membentuk Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menjadi dua orang anak muda yang luar biasa.

Atas pembicaraan antara Mahisa Agni, Witantra, Mahen¬dra dan Lembu Ampal, maka mereka punmulai menyusun ren¬cana untuk memulihkan kembali kekuasaan Singasari yang se¬benarnya. Usaha untuk memerintah Singasari sebaik-baiknya se¬suai dengan kepentingan rakyatnya. Bukan semata-mata kekuasa¬an yang ada ditangan Tohjaya tanpa arti apa-apa bagi Singasari sendiri.

Untuk memulihkannya, maka Mahisa Agni telah menye¬rahkan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka kepada Witantra yang mempunyai pengalaman yang cukup di dalam pemerintahan pada masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung di Tumapel.

“Pada suatu saat, aku akan berada diamara mereka pula.“ berkata Mahisa Agni kemudian, “Aku juga merasa perlu untuk memberikan sedikit tuntunan bagi mereka apabila me¬reka berhasil mendapatkan haknya kembali di Singasari.”

Demikianlah maka atas usaha Lembu Ampal, maka ia mendapatkan tempat yang tersembunyi di pinggir kota. De¬ngan menanggung kemungkiran yang berat, sehingga dengan demikian setiap saat Mahisa Agni dapat dengan diam-diam mening¬galkan halaman istana dan berada diantara kedua anak-anak muda itu untuk memberikan banyak petunjuk-petunjuk tentang pemerintah¬an Singasari.

Sementara itu, bukan saja kedua anak-anak muda itulah yang dipersiapkan. Tetapi pada suatu saat, apabila diperlukan akan dapat timbul pertempuran antara para pengikut Tohjaya de¬ngan mereka yang setia kepada hak yang sebenarnya atas tahta Singasari. Dengan demikian tidak mustahil bahwa perang yang besar akan pecah di Singasari.

“Mudah-mudahan jika terpaksa timbul perang, Singasari tidak terkoyak karenanya. Jika terpaksa Singasari terbakar ujung¬nya, adalah korban yang harus diberikan untuk kelak memba¬ngun Singasari yang jauh lebih besar dari Singasari yang seka¬rang.“ berkata Mahisa Agni.

Meskipun tidak nampak sama sekali, tetapi sebenarnya¬lah bahwa persiapan-persiapan yang matang telah disusun. Ranggawuni dan Mahisa Cempaka telah diberitahu apa yang akan dilaku¬kan bagi kepentingan mereka. Dengan demikian maka mereka punharus berusaha menyesuaikan diri.

“Tetapi bagaimana kemudian dengan pamanda Tohjaya.“ bertanya Ranggawuni.

“Sudah barang tentu pamanda Tohjaya harus meninggal¬kan tahta.“ jawab Mahisa Agni.

“Apakah tidak ada jalan lain? Aku tidak sampai hati melihat pamanda Tohjaya terusir dari kedudukannya.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Aku tahu bahwa pamanda Tohjaya telah berbuat cu¬rang atas ayahanda. Tetapi pamanda Tohjaya belum cukup la¬ma menikmati basil perjuangannya.”

Mahisa Agni memandang kedua anak-anak muda itu dengan saksama. Ia melihat perasaan Mahisa Cempaka yang tidak ba¬nyak bedanya dengan perasaan Ranggawuni atas pamandanya Tohjaya.

“Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.“ berkata Mahisa Agni, “Perjuangan yang pantas dinikmati hasilnya, meskipun bukan oleh dirinya sendiri, tetapi oleh mereka yang diperjuang¬kan, adalah perjuangan yang dilandasi atas hak dan kebenar¬an. Sedang perjuangan yang pernah dilakukan oleh pamandamu Tohjaya adalah perjuangan yang semata-mata dilandasi oleh nafsu dan ketamakan. Karena itu, maka sekarang yang telah dicapainya sama sekali tidak bermanfaat bagi Singasari. Bahkan akhirnya tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri.”

“Tetapi paman.“ Ranggawuni masih menjawab, “Pamanda Tohjaya tentu tidak akan begitu saja melepaskan tahta Singasari, sehingga apakah dengan demikian tidak akan ber¬arti peperangan yang sukar dikendalikan lagi?”

“Memang mungkin peperangan itu dapat terjadi Rang¬gawuni. Tetapi pengorbanan itu harus diberikan untuk kepen¬tingan Singasari sekarang. Karena jika kita membiarkannya le¬bih lama lagi, maka keadaan akan menjadi semakin parah ba¬gi Singasari.”

“Apakah tidak ada harapan pamanda Tohjaya memper¬baik keadaan ini?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Ti¬dak. Tidak akan ada kesempatan lagi bagi Tohjaya selain me¬manjakan nafsu. Apalagi dibelakang Tohjaya berdiri Ken Umang. Seorang yang benar-benar dikendalikan oleh ketamakannya. Karena itu, kau berdua harus segera mulai. Jika kau berdua terlambat, mungkin keadaannya akan menjadi jauh berbeda. Rakyat dan prajurit yang sudah jemu melihat cara Tohjaya memerintah akan mudah sekali terpengaruh oleh harapan-harapan baru bagi mereka. Jika pada suatu saat seorang Senapati atau seorang Akuwu bangkit mendahuluimu, maka semua kejemu¬an akan segera tertumpah pada harapan yang belum pasti da¬pat menumbuhkan kecerahan bagi Singasari. Bahkan mungkin budi yang luhur akan ditelan oleh nafsu ketamakan yang lain.”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Mahisa Cempaka berkata, “Paman. Apakah paman yakin, bahwa keadaan sekarang ini sudah ada pada puncak kesuraman bagi Singasari, sehingga perlu ada kejutan un¬tuk menjernihkannya?”

“Ya.“ jawab Mahisa Agni, “Apalagi Tohjaya sekarang sedang dicengkam oleh gejolak perasaannya sendiri, sehingga sifat-sifatnya tidak lagi dapat diselami. Bahkan oleh orang-orang yang dekat padanya.”

Ranggawuni menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ditatapnya wa¬jah Mahisa Cempaka yang menegang. Ia sadar, bahwa latar belakang hubungan keluarganya agak berbeda dengan hubu¬ngan keluarga antara Mahisa Cempaka dengan Tohjaya.

Dalam hal itu, Mahisa Agni sudah berterus terang kepada keduanya. la tidak mau melihat kekecewaan, kejutan dan kete¬gangan perasaan terjadi kelak apabila mereka tidak melihat di¬ri mereka sejak semula. Anusapati bergejolak ketika ia menya¬dari keturunannya, bahwa ia bukan putera Sri Rajasa. Dan Tohjaya punkemudian membunuh Anusapati karena baginya Anusapati sama sekali bukan apa-apa. Apalagi karena Anusapati telah membunuh Sri Rajasa pula.

“Anak-anak muda itu kelak tidak boleh dijangkiti penyesalan atau kekecewaan kelak. Mereka harus menyadari sejak semu¬la.“ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Demikianlah mereka berada dalam kediaman sejenak. Se¬muanya menunggu pendapat Mahisa Cempaka, karena sebenar¬nyalah bahwa Tohjaya adalah pamannya. Tohjaya adalah saudara seayah dengan ayahandanya, Mahisa Wonga Teleng.

“Paman.“ berkata Mahisa Cempaka kemudian sambil menundukkan kepalanya, “Aku mengerti, bahwa Singasari memerlukan tangan yang kuat untuk merubah keadaan yang lesu seperti ini. Tetapi aku tidak ingin melihat pamanda Toh¬jaya harus mengalami nasib seperti Maharaja yang pernah memerintah Singasari sebelumnya. Pembunuhan itu harus dihen¬tikan.”

“Maksudmu?“ bertanya Mahisa Agni, “Apakah kita harus menunggu, atau kita harus berbuat sesuatu?”

Mahisa Cempaka terdiam.

“Mahisa Cempaka.“ berkata Mahisa Agni, “Sudah ba¬rang tentu bahwa akan terjadi sedikit benturan dengan pamandamu. Aku yakin, bagaimanapun juga pamanmu tidak akan dengan suka rela menyerahkan tahta. Tetapi ia tentu ti¬dak akan menerima seandainya kau berdua datang kepadanya untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran. Betapapun kalian berbuat dengan jujur dan bersungguh-sungguh, tetapi kalian akan te-tap menjadi arah ujung pedang. Jika bukan Lembu Ampal, maka tentu akan ada orang lain yang mendapat perintah mem¬bunuh kau berdua.”

Mahisa Cempaka merenung sejenak. Kepalanya menjadi semakin tunduk.

“Mahisa Cempaka. Memang kau berada disimpang ja¬lan yang sulit. Kau harus memilih arah yang sama-sama berat ba¬gimu. Jika kau memilih Singasari, kau harus melepaskan pamandamu. Tetapi jika kau memilih pamandamu Tohjaya, maka keadaan Singasari tidak akan tertolong lagi.”

Perlahan-lahan Mahisa Cempaka mengangkat kepalanya Ke¬mudian perlahan-lahan pula kepala terangguk lemah. Katanya da¬lam nada yang dalam, “Aku mengerti paman. Memang aku tidak akan dapat memilih selain bagi Singasari.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang sangat berat untuk memilih. Tetapi dengan jiwa besar kau sudah menyebutnya.”

Mahisa Cempaka menundukkan kepalanya lagi. Seakan-akan ia sedang mencari diantara kedua kakinya. Ia sadar bahwa ia memang harus memilih Singasari yang dengan demikian harus mengorbankan pamannya, Tohjaya.

Tetapi korban yang akan jatuh bukan hanya sekedar pa¬mannya seorang diri. Tetapi tentu ada orang lain. Prajurit-prajurit dan bahkan rakyat Singasari sendiri.

Meskipun demikian, jalan itu harus ditempuh, karena ti¬dak ada jalan lain bagi keselamatan dan keutuhan Singasari.

Demikianlah maka Ranggawuni dan Mahisa Cempaka su¬dah bertekad untuk menegakkan Singasari, meskipun korban yang diserahkan adalah cukup besar bagi mereka. Yaitu pa¬manda Tohjaya.

Persiapan punsegera disusun semakin matang. Pasukan Singasari yang berada di Kediri sudah siap berada dijalan yang menuju kepintu gerbang. Mereka dengan diam-diam memasuki da¬erah di seputar kota Singasari. Sedang sementara itu prajurit-prajurit yang di Singasari telah pula terpecah. Beberapa orang Senapa¬ti yang berhasil dihubungi oleh kawan-kawannya yang berpihak kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka punkemudian menyatakan kesediaan mereka untuk membantu, apalagi sete¬lah mereka mengerti persoalan yang sebenarnya telah terjadi di istana Singasari itu.

Dalam pada itu, Witantra, Mahendra, Mahisa Agni dan Lembu Ampal punsegera membagi tugas. Mahisa Agni tetap berada di halaman istana. Jika perlu langsung memberikan per¬lindungan kepada orang-orang yang sudah menjadi tua dan sakit-sakitan. Ken Dedes yang sudah hampir kehilangan seluruh kese¬hatannya karena tekanan lahir dan batin. Mahisa Wonga Te¬leng yang tetap berada di tempatnya bersama isteri Anusapati dan adik-adiknya yang lain. Serta orang-orang yang dapat terancam jiwanya apabila pergolakan benar terjadi.

Tetapi Mahisa Agni sudah tidak seorang diri. Diantara para Senapati telah berhasil dihubunginya dan dengan teliti menyiapkan diri bersama beberapa orang prajurit-prajurit yang dapat dipercaya. Kecuali mereka, para pengawal Mahisa Agni masih tetap berada di bangsalnya pula. Mereka masih tetap mengena¬kan secarik kain putih di lehernya sebagai pertanda bahwa me¬reka benar-benar sudah berada di puncak penyerahan diri pada tu-gasnya, tanpa menghiraukan nyawa mereka sendiri. Dan ternyata bahwa kain putih di leher para pengawal Mahisa Agni itu mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi orang-orang yang tidak menyukainya.

Selain Mahisa Agni maka Witanira pun mendapat tugasnya pula. Ia harus menyiapkan dan memimpin pasukan yang teratur, yang sudah dengan diam-diam bergeser dari Kediri mende¬kati kota Singasari. Hanya sebagian kecil sajalah yang masih tetap berada di Kediri bersama pasukan keamanan yang disu¬sun oleh Kediri sendiri dibawah pengawasan Singasari.

Sedang Mahendra mendapat tugas untuk selalu berada di dekat kedua anak muda itu, agar ia selalu dapat memberikan nasehat dan perlindungan. Karena tidak mustahil bahwa masih akan terjadi percobaan untuk langsung membunuh keduanya apabila Tohjaya dapat menemukan mereka.

Dalam pada itu Lembu Ampal mempunyai tugasnya ter¬sendiri. Sebelum sampai saatnya, mereka mulai dengan tinda¬kan sesungguhnya, Lembu Ampal bertugas untuk membuat hubungan dengan orang-orang yang disangkanya dapat memberi¬kan bantuan kepada mereka.

Sementara itu, Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak bendanya melatih diri untuk bekal dimasa mendatang yang akan menjadi semakin berat membebani mereka dengan tang¬gung jawab. Apalagi mereka harus sudah mulai de¬ngan langkah-langkah tertentu.

Di dalam ketegangan yang memuncak itu, maka Lembu Ampal mencoba untuk mengambil langkah yang dapat mem¬pengaruhi keadaan yang nampaknya tenang meskipun hanya dipermukaan saja.

“Aku akan memberikan kejutan pada para Panglima dan Senapati.“ berkata Lembu Ampal kepada Mahisa Agni ketika mereka sampat bertemu.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Sekedar menarik perhatian. Agar memberikan kesan bahwa keadaan sekarang ini adalah keadaan yang diselubungi oleh kabut yang gelap.”

“Tetapi jangan mengorbankan nyawa seseorang dengan sia-sia. Baik kawan maupun lawan. Kita harus tetap menghargai sesama seperti kita menghargai diri kita sendiri. Hanya dalam keadaan tertentu saja kita dapat mengorbankan jiwa seseorang, apabila kita benar-benar tidak menemukan jalan lain.”

Lembu Ampal menganggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan selalu ingat pesan-pesan tuan. Tetapi aku pun menyadari, bahwa lebih mudah mengerti dari pada melakukannya.”

“Dan kau tentu tidak akan berkeberatan melakukan be¬tapapun sulitnya.”

Lembu Ampal menganggukkan kepalanya.

Demikianlah Lembu Ampal mulai dengan usahanya untuk memberikan kejutan kepada Singasari, agar para pemimpin Singasari terbangun dari kesibukan mereka sendiri.

Tetapi yang dilakukan oleh Lembu Ampal sebenarnya juga suatu tantangan. Ternyata bahwa di Singasari masih ada orang yang dapat berpikir bening, bahwa pemerintahan yang dipegang Tohjaya sama sekali tidak akan menguntungkan Si¬ngasari dan sebenarnyalah bahwa ia tidak berhak sama sekali untuk tetap berada di atas tahta.

Yang menjadi sasaran Lembu Ampal adalah pendukung-pendukung Tohjaya. Meskipun Tohjaya bukannya orang yang berhak atas tahta, terapi pendukungnya menganggap bahwa kehadiran Tohjaya di atas tahta sangat menguntungkan mereka. Karena itulah maka mereka berusaha untuk tetap mempertahankannya.

Untuk mengurangi korban yang bakal jatuh, Lembu Ampal harus berusaha memisahkan mereka dari Tohjaya. Tetapi tentu tidak dapat dengan berterus terang kepada mereka. Kare¬na mereka masih tetap banyak mengharapkan keuntungan dari Tohjaya itu.

Karena itu, untuk beberapa lamanya Lembu Ampal mem¬perhatikan setiap orang yang dianggapnya berpihak kepada Tohjaya dengan setia. Terutama beberapa orang pasukan pe-ngawal yang oleh beberapa orang pemimpinnya disebut golo¬ngan Rajasa. Sedang golongan yang lain, adalah pasukan Pela¬yan Dalam yang sebagian terdiri dari orang-orang Sinelir.

Tetapi Lembu Ampal tidak segera mendapat kesempatan. Karena itu ia masih harus menunggu dengan sabar sambil ber¬sembunyi agar mereka tidak lebih dahulu mempersiapkan diri untuk menangkapnya apabila ia dapat terlihat oleh prajurit yang manapun juga.

Sementara masih harus menunggu kesempatan. Lembu Ampal sengaja ingin menimbulkan sedikit keributan di kota Si¬ngasari, agar dengan demikian para prajurit dan rakyat Singa¬sari menjadi saling mencurigai. Dengan demikian rencananya akan dapat berjalan sebaik-baiknya.

Demikianlah, maka pada suatu malam Singasari telah di¬kejutkan oleh api yang menjilat sampai kelangit. Tidak ba¬nyak orang yang mengetahui, bagaimana asal mulanya. Tetapi tiba-tiba saja kota Singasari telah dibakar oleh cahaya kemerah-merahan.

Ternyata api itu telah membakar sebuah rumah yang besar dan berhalaman luas. Rumah seorang Senapati yang sudah la¬ma tidak nampak di istana, bahkan tidak dapat diketemukan di sudut-sudut kota Singasari. Rumah itu adalah rumah Lembu Ampal sendiri.

Setelah rumahnya dikosongkan dengan menyembunyikan penghuni-penghuni yang lain, maka Lembu Ampal telah mengorbankan rumahnya sendiri. Ia meletakkan beberapa batang tulang lem¬bu di sudut-sudut rumahnya yang terbakar itu, sehingga bekas-bekasnya masih nampak. Tetapi ketika kemudian api padam, tidak seorang pun yang dapat membedakan, sisa-sisa tulang itu dengaa sisa-sisa tulang manusia.

Ternyata bahwa kebakaran itu telah menimbulkan kegem¬paran. Bukan saja penduduk di sekitarnya yang berusaha me¬madamkan api yang menjilat sampai kelangit itu, tetapi juga beberapa orang Senapati dan Panglima memerlukan datang, justru karena rumah itu adalah rumah Lembu Ampal, seorang Senapati yang telah hilang bersama hilangnya dua orang anak-anak muda dari lingkungan keluarga istana.

“Siapakah yang telah melakukannya?“ bertanya seo¬rang Senapati kepada kawan-kawannya.

Tetapi yang lain hanya dapat menggelengkan kepalanya. Tidak seorang pun yang dapat mengatakannya.

“Apakah kebakaran ini disengaja atau karena kelalaian saja?“ desis yang lain.

Kawannya pun hanya dapat menggelengkan kepalanya, pula.

Namun mereka mencoba untuk mencari sebab dari keba¬karan itu. Mereka mencoba meneliti bekas-bekas api. Tetapi mereka tidak menemukan sesuatu yang dapat mereka jadikan petun¬juk. Yang mereka ketemukan hanyalah sisa-sisa alat-alat rumah tang¬ga dan beberapa potong tulang yang telah hangus.

Kebakaran itu ternyata benar-benar telah menimbulkan kejutan bagi para pemimpin di Singasari. Mereka untuk beberapa hari diliputi oleh teka teki. Justru karena rumah Lembu Ampal yang terbakar, dan diketemukannya sisa-sisa tulang yang sudah hangus sama sekali.

“Apakah ada saling mendendam diantara para Senapa¬ti?“ pertanyaan itulah yang kemudian timbul, “Karena den¬dam itu tidak dapat ditumpahkan kepada Lembu Ampal, maka keluarganyalah yang menjadi korban Mereka terbakar hidup-hidup dirumah yang musna ditelan api itu.”

Seperti yang dimaksud Lembu Ampal, maka mulai timbul¬lah kecurigaan diantara para Senapati. Apalagi mereka yang sejak semula dibayangi oleh kecemasan karena Mahisa Agni dan pengawalnya tetap berada diistana.

“Apakah Mahisa Agni yang telah melakukannya?“ bertanya salah seorang dari para Senapati.

“Ia tidak meninggalkan bangsalnya malam itu.“ sahut yang lain, “Jika ia yang merencanakannya, maka tentu ia telah meminjam tangan orang lain.”

“Tentu ada diantara kita yang berpendirian lain.”

Tetapi mereka tidak dapat menemukan, bahkan menduga pun mereka tidak berani, siapakah yang telah melakukannya. Namun demikian, rasa-rasanya mereka saling memandang yang satu dengan yang lain, seakan-akan ingin melihat dasar hati masing-masing apakah diantara mereka ada yang dilekati oleh sikap yang berbeda. Dalam pada itu, para pemimpin pemerintahan dan para panglima telah memerintahkan untuk menyelidiki kebakaran yang telah menelan habis rumah Lembu Ampal seisinya. Bah¬kan diantara abu yang berserakan diketemukan beberapa potong tulang yang telah hangus menjadi arang.

Diantara para pemimpin itu, Pranarajalah yang menjadi sangat gelisah. Ia tahu pasti, bahwa Lembu Ampal adalah seo¬rang Senapati yang mendapat perintah untuk membunuh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, namun yang hilang pula hampir bersamaan waktunya dengan kedua anak-anak muda yang hilang itu.

“Apakah Mahisa Agni mulai melakukan balas dendam.” bertanya Pranaraja di dalam hatinya. Tetapi itu pun ia masih dibingungkan oleh pertimbangan-pertimbangan lain. “Agaknya Mahisa Agni tahu pasti apa yang akan terjadi atas kedua anak-anak muda itu, sehingga ialah yang telah menyembunyikannya dan kemu¬dian melepaskan dendamnya kepada Lembu Ampal.“ Bah¬kan kemudian Pranaraja berdesis dengan dada yang berdebar-debar.

“Bahkan mungkin Lembu Ampal sendiri telah dibunuhnya dan kemudian seluruh keluarganya pula.”

Pranaraja menjadi ngeri. Dengan jantung yang berden¬tang-den¬tang ia bertanya kepada diri sendiri. “Apakah akan datang saatnya Mahisa Agni melepaskan dendam kepada orang-orang lain yang tersangkut pada usaha pembunuhan kedua anak muda itu sehingga aku pun akan mendapat giliran?”

Pranaraja menjadi sangat gelisah. Tetapi ia masih belum menemukan jawaban yang pasti terhadap kekalutan keadaan. Namun demikian ia selalu berlindung dibalik pengawal yang sangat kuat. Beberapa orang Senapati terperecaya yang dapat dibujuknya selalu dekat padanya.

Bukan saja Pranaraja tetapi atas perintahnya pula, pengawalan terhadap Tohjaya pun diperketat pula, karena Pranaraja pun khawatir bahwa akan ada usaha balas dendam terha¬dap Tohjaya dengan cara yang curang.

Demikianlah, maka belum lagi peristiwa kebakaran rumah Lembu Ampal itu menjadi tenang, maka Singasari telah digemparkan oleh peristiwa yang lain. Peristiwa yang meskipun ti¬dak menimbulkan kerusakan apapun juga, tetapi benar-benar telah mengguncangkan hati setiap orang yang melihatnya.

Pada malam itu, para peronda yang berjaga-jaga di depan gerbang istana telah melihat seekor kuda putih dengan penung¬gangnya yang berpakaian putih, berlari menyusur jalan kota. Sejenak para peronda itu bagaikan mematung. Rasa-rasanya mere¬ka melihat seseorang yang pernah mendapat gelar Kesatria Pu¬tih. Tetapi Kesatria Putih itu sudah tidak ada lagi, karena Anusapati sudah terbunuh di arena sabung ayam.

Ternyata malam itu bukan saja para prajurit di pintu ger¬bang yang melihatnya, tetapi beberapa tempat yang lain pun agaknya dilalui pula Kesatria Putih itu.

Kehadiran Kesatria Putih yang tiba-tiba saja itu, ternyata ti¬dak kalah menggemparkan dari rumah Lembu Ampal yang terbakar. Seakan-akan rakyat Singasari yang mulai merasakan kebeku¬an pemerintahan itu melihat Anusapati kembali diantara me¬reka. Anusapati yang telah hilang dari tahta pada saat ia se¬dang mulai dengan usaha yang besar bagi kesejahteraan Singa¬sari.

Tetapi tidak seorang pun yang dapat menuduh, bahwa yang telah berbuat itu adalah Mahisa Agni. Pada malam itu Mahisa Agni yang merasa terlampau panas, duduk diantara para prajurit yang bertugas di depan bangsalnya. Bahkan be¬berapa orang pengawalnya duduk di serambi depan menghirup udara malam yang sejuk.

“Jika bukan Mahisa Agni, maka kita akan dapat dengan mudah menangkapnya.“ berkata salah seorang Senapati. “Orang yang berpakaian serba putih di atas kuda yang putih itu tentu sekedar ingin menumbuhkan pertentangan di hati rakyat Singasari.”

Agaknya pendapat itu disetujui oleh para Senapati yang lain, bahkan oleh para pemimpin pemerintahan. Ketika para Panglima kemudian mengadakan pembicaraan tentang orang berkuda itu, maka mereka memutuskan untuk menangkap orang itu hidup-hidup.

“Mungkin ada sangkut pautnya dengan kebakaran ru¬mah Lembu Ampal itu.“ berkata salah seorang Panglima.

“Ya. Kita harus berusaha menangkapnya hidup.“ sa¬hut yang lain. “Karena itu, lengkapi setiap penjagaan dengan beberapa orang prajurit berkuda, jika benar orang itu bukan Mahisa Agni, maka orang berpakaian putih itu tentu tidak akan terlampau sulit untuk ditangkap.”

Dengan demikian, maka jatuhlah perintah kepada setiap gardu penjagaan terpenting di Singasari untuk melengkapi dengan beberapa orang dari pasukan berkuda yang setiap saat siap untuk mengejar orang yang berpakaian putih di atas kuda putih itu.

Dan perintah selanjutnya berbunyi. “Tangkap orang itu hidup. Hanya jika keadaan memaksa kalian boleh membunuh¬nya.”

Dengan jatuhnya perintah itu, maka setiap prajurit yang meronda di malam hari menjadi semakin waspada. Setiap saat mereka dapat bertemu dengan orang yang mengenakan pakai¬an serba putih itu.

Karena hal itu dianggapnya penting, maka para Panglima pun memberitahukannya kepada Tohjaya. Tetapi ternyata Toh¬jaya justru menjadi sangat marah.

“Anusapati sudah mati. Aku sendiri yang membunuh¬nya.“ teriaknya.

“Bukan tuanku Anusapai.“ sahut salah seorang Pang¬lima, “Karena itulah kami sedang mencoba menyelidikinya.”

Tohjaya memandang para Panglima itu dengan sorot mata yang seolah-olah langsung menusuk kepusat jantung. Dan sejenak kemudian ia berteriak pula. “Kalian sudah menjadi gila. Ti¬dak ada orang mati yang dapat hidup kembali. Tidak ada lagi Kesatria Putih.”

“Tuanku.“ seorang Panglima mencoba menjelaskan de¬ngan hati-hati, “Bukan maksud kami mengatakan bahwa tuanku Anusapati yang telah mati itu hidup kembali dan mulai lagi dengan pengembaraannya sebagai Kesatria Putih. Tetapi tentu ada orang lain yang mencoba untuk memancing kekeruhan. Apakah Tuanku dapat mengerti maksud kami.”

“Kalian terlalu bodoh untuk mengatasi persoalan yang paling mudah sekalipun. Jika kalian tahu, kenapa kalian me¬laporkannya kepadaku. Persoalan yang tidak berarti itu harus dapat kalian selesaikan sendiri. Jika semua persoalan diserah¬kan kepadaku, apakah artinya kalian semua? Apakah arti¬nya aku mengangkat kalian menjadi Panglima?”

Para Panglima itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, Toh¬jaya benar-benar telah kehilangan dirinya sebagai seorang Maha¬raja dari Singasari yang besar.

Tetapi tidak seorang Panglima pun yang mengetahui latar belakang dari goncangan perasaan Tohjaya. Mereka tidak me¬ngerti bahwa Tohjaya mencari keseimbangan dari kejutan yang telah membantingnya kedalam jurang yang paling da¬lam dengan sikapnya yang aneh. Ia ingin mengingkari ketaku¬tannya melihat dirinya sendiri, melihat kehinaannya sendiri dengan tindakan- tindakan yang seolah-olah menunjukkan kebesaran, kekuasaan yang kelebihan-kelebihan yang lain.

Sementara itu, maka para Panglima itu pun kemudian mo¬hon diri meninggalkan Tohjaya sendiri, seperti yang sering dilakukannya. Bahkan ibundanya pun menjadi sangat jarang berada di dalam bangsalnya.

Demikianlah selagi Singasari digoncang oleh keadaan yang hampir tidak dapat diduga-duga itu, Tohjaya masih acuh ti¬dak acuh saja. Ia seakan-akan bersembunyi di dalam bangsal yang dikelilingi oleh kolam yang dalam, yang dibuat oleh Anusapati.

Para Panglima yang kecewa itu terpaksa melakukan kuwajiban atas keputusan mereka sendiri. Dan mereka pun harus me¬ngambil sikap sendiri atas peristiwa-peristiwa yang akan dapat menjadi akibat dari tindakan mereka.

Betapapun para Panglima, para Senapati dan prajurit ser¬ta pemimpin pemerintahan mencoba menjabarkan diri, karena sikap Tohjaya, namun perlahan-lahan kekecewaan itu mulai tertim¬bun di dalam dada mereka. Hanya karena mereka merasa bah¬wa mereka adalah pendukung Tohjaya pada saat Tohjaya me¬ngambil sikap yang berbahaya dengan membunuh Anusapati sajalah maka mereka tetap berusaha untuk memperbaiki kea¬daan yang rasanya menjadi semakin parah. Para Panglima, Senapati dan pemimpin pemerintahan itu tidak mau membiarkan Tohjaya runtuh karena perubahan yang terjadi atas dirinya,. Jika demikian, maka akan timbul kekuatan baru di dalam pim¬pinan pemerintahan Singasari. Jika pimpinan yang baru itu ti¬dak sejalan dengan Tohjaya, maka mereka pun akan ikut serta menanggung akibatnya, karena mereka adalah pendukung-pendukung Tohjaya.

Itulah sebabnya, maka mereka harus menyelamatkan Toh¬jaya meskipun Tohjaya bagi mereka tidak lebih dari seorang yang sudah menjadi orang yang kehilangan pengamatan diri.

Demikianlah para prajurit di Singasari bersiaga sepenuh¬nya untuk menangkap orang yang berpakaian serba putih diatas kuda putih pula seperti yang pernah disaksikan pada masa Anusapati masih menjadi Pangeran Pati. Dan perintah yang harus mereka lakukan adalah menangkap orang itu hidup-hidup untuk diperas keterangannya tentang bermacam-macam hal yang mu¬lai menyuramkan ketenangan Singasari.

Tetapi ternyata untuk beberapa malam, tidak seorang pun yang melihat kuda putih dengan penunggangnya yang berpa¬kaian putih pula. Meskipun demikian, para prajurit sama seka¬li tidak lengah. Setiap saat kuda putih itu akan dapat muncul.

Ternyata seperti yang mereka duga, maka pada malam yang gelap, para peronda di ujung jalan kota melihat seekor kuda putih yang berderap di muka gerbang. Tetapi kuda itu tidak masuk ke dalam kota. Kuda itu hanya melintas dan kemu¬dian menyusur jalan di luar gerbang dan menghilang di dalam gelap.

Namun kehadirannya itu telah membangunkan para pen¬jaga yang memang sedang menunggu dengan terkantuk-kantuk. Be¬berapa orang prajurit berkuda segera bersiaga disamping kuda mereka. Namun kuda putih yang muncul dengan tiba-tiba dan menghilang itu tidak lewat di jalan itu lagi.

“Beritahukan kepada setiap gardu disegala penjuru.“ perintah pemimpin penjaga gerbang itu.

Dengan demikian, maka beberapa ekor kuda pun kemudi¬an berderap di jalan-jalan kota. Mereka memencar kesegala penjuru kota. Kepada setiap prajurit di gardu-gardu peronda, penunggang kuda itu memberitahukan, bahwa mereka telah melihat kuda putih dengan penunggangnya yang serba putih.

Para prajurit berkuda diseluruh gardu peronda pun kemu¬dian mempersiapkan diri dan kuda mereka. Setiap saat mereka harus meloncat kepunggung kuda masing-masing untuk mengejar orang yang mencoba menghidupkan kembali Kesatria Putih yang sudah tidak ada lagi itu.

Tetapi sampai lewat tengah malam, tidak seorang pun yang melihat kuda putih itu lagi. Meskipun demikian para prajurit masih tetap bersiaga sepenuhnya.

Namun para prajurit telah dikejutkan oleh suara tengara, yang mulai terdengar justru dari tengah-tengah kota Tengara yang sudah mereka sepakati bersama untuk memberikan tanda apa¬bila ada diantara mereka yang melihat orang berpakaian putih diatas kuda putih.

Suara tengara itu pun segera menjalar dari gardu yang sampai ke gardu yang lain, sehingga dalam waktu yang pendek, se¬luruh kota telah terbangun oleh suara tengara yang merobek sepinya malam.

Tetapi sebelum para prajurit yang berada di regol menya¬dari sepenuhnya, apa yang harus mereka lakukan menghadapi orang yang hampir serupa dengan Kesatria Putih itu, maka pa¬ra prajurit itu terkejut bukan buatan. Tiba-tiba saja seperti loncat¬an lidah api dilangit, seekor kuda putih berderap dengan laju¬nya. Dua orang yang meloncat ketengah jalan sambil menyi¬langkan tombak mereka, terpaksa meloncat kembali menepi, karena kuda itu berlari justru semakin kencang.

Namun pasukan berkuda yang sudah siap itu tidak mem¬biarkan orang yang memang mereka tunggu-tunggu itu lewat begitu saja. Apalagi mereka pun sebenarnya memang sudah siap menghadapi kemungkinan itu. Karena itu, maka beberapa orang diantara mereka pun segera berloncatan ke atas punggung kuda dan berderap dengan lajunya menyusul orang yang berpakaian serba putih di atas kuda putih itu.

Di dalam malam yang kelam, lima orang dari pasukan ber¬kuda telah mengejar seorang yang melarikan kudanya di tengah-tengah bulak yang panjang sekali. Suara kaki-kaki kuda itu geme¬retak memecah sepinya malam.

Ternyata bukan hanya lima orang prajurit itu saja yang mengejar orang yang berpakaian putih itu. Tetapi beberapa orang yang lain dari gardu yang lain pun segera menyusul pula. Meskipun mereka tidak dapat melihat lagi orang yang mereka kejar, namun mereka dapat menyusuri jejak kaki-kaki kuda yang sedang berkejaran itu.

Dalam pada itu, orang yang berpakaian putih itu pun me¬larikan kudanya dengan sekencang-kencangnya. Agaknya baik orang yang berpakaian putih maupun kuda putih yang dinaikinya su¬dah mengenal jalan itu dengan baik, sehingga kuda itu dapat berlari seperti angin.

Tetapi prajurit berkuda itu pun telah mengenal jalan itu dengan sebaik-baiknya pula. Kuda-kuda mereka pun tidak kalah tegar¬nya dengan kuda putih yang dikejarnya. Sehingga karena itu, maka kuda putih itu tidak berhasil memperpanjang jarak dian¬tara mereka yang sedang saling berkejaran itu.

Bahkan kemudian ternyata, bahwa prajurit berkuda itu berhasil memperpendek jarak diantara mereka. Dengan ge¬ram, prajurit-prajurit itu sekali-sekali melecut kudanya yang rasa-rasanya berlari terlalu lambat.

Orang berpakaian putih itu tidak dapat mempercepat lari kudanya, la terpaksa menerima kenyataan, bahwa kuda para pra¬jurit yang memang dipilih dari puluhan kuda yang tegar dan kuat itu, ternyata berlari lebih cepat dari kudanya.

“Berhenti.“ seorang prajurit yang berlari dipaling de¬pan kemudian berteriak sekuatnya ketika jarak mereka tidak terlampau jauh.

Tetapi orang berpakaian putih itu sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan ia berusaha mempercepat lari ku¬danya. Tetapi ia tidak berhasil.

Lima orang prajurit berkuda itu menjadi semakin dekat Mereka sudah hampir pasti, bahwa mereka akan dapat me¬nangkap orang berpakaian putih itu.

“Asal bukan tuanku Mahisa Agni.“ berkata para praju¬rit itu di dalam hatinya, “Jika orang itu tuanku Mahisa Agni, maka satu atau dua orang dari antara kami harus segera kem¬bali melaporkan kepada para Panglima, agar mereka dapat se¬gera mengambil tindakan.”

Para prajurit itu pun menjadi semakin dekat. Sekali lagi yang berpacu paling depan berteriak pula “Berhenti. Kami akan berbicara jika kau berhenti.”

Tetapi kuda putih itu berlari terus meskipun jaraknya justru menjadi semakin pendek.

“Ki Sanak.“ teriak prajurit berkuda itu, “Berhenti¬lah. Kau belum berbuat apa-apa, sehingga karena itu kau belum dapat dinyatakan bersalah. Karena itu berhentilah dan kita akan berbicara.”

Agaknya teriakan itu didengar oleh orang berpakaian putih diatas kuda putih itu. Ternyata ia beiteriak. “Apakah jiminanmu?”

“Kami berjanji tidak akan berbuat apa. Kami hanya ingin mendapatkan keterangan saja.”

Orang berkuda putih itu tidak menjawab. Namun kuda¬nya yang sudah diperlambat sedikit itu, tiba-tiba telah dilecutnya sehingga kuda itu bagaikan meloncat terbang di dalam gelapnya malam.

“Gila.“ geram para prajurit itu. Namun kuda mereka adalah tetap kuda yang lebih baik, sehingga jarak itu pun be¬nar-be¬nar telah menjadi semakin pendek.

Beberapa ekor kuda yang berkejaran itu masih menyusuri bulak yang sangat panjang. Tetapi sebentar lagi mereka akan memasuki sebuah padukuhan yang kecil. Padukuhan yang tidak begitu banyak dihuni orang meskipun dikelilingi oleh sebuah bulak yang subur.

“Jangan sampai kuda putih itu mencapai padukuhan dihadapan kita.“ geram prajurit berkuda dipaling depan, “Agar ia tidak mendapat kesempatan untuk melarikan diri de-ngan melepaskan kudanya dan bersembunyi.”

Prajurit-prajurit berkuda yang lain pun mempunyai pendapat yang sama pula. Sebaiknya mereka mencegah kuda putih itu memasuki padukuhan dihadapan mereka. Namun salah seorang mereka berdesis kepada diri sendiri. “Tetapi kuda pu¬tih itu mempunyai kaki seperti kudaku ini. Dan penunggang¬nya tentu mempunyai pendirian yang berlawanan.”

Karena itu, kuda-kuda ku masih tetap berkejaran. Rasa-rasanya para prajurit itu ingin terbang mengejar kuda putih itu sebe¬lum mencapai padukuhan.

Tetapi mereka ternyata tidak berhasil. Kuda putih itu seakan-akan mampu berlari lebih cepat. Sehingga karena itu, ma¬ka prajurit dipaling depan mengumpat, “Gila. Berhenti, atau kami akan membunuhmu.”

Tidak ada jawaban. Namun kuda putih itu bagaikan hi¬lang ditelan oleh mulut lorong yang gelap di hadapan mereka.

Tetapi jarak antara kuda perajurit yang mengejarnya itu sudah tidak begitu jauh lagi. Agaknya tidak ada kesempatan bagi orang berkuda putih itu untuk meloncat turun dan ber-lari bersembunyi di padukuhan kecil itu.

Karena itu maka para prajurit itu memacu kudanya se¬makin cepat.

Namun di dalam padukuhan, gelap malam rasa-rasanya sema¬kin mencekam. Itulah sebabnya, maka kuda-kuda itu tidak dapat berlari terlampau cepat, agar kakinya tidak terantuk dinding batu di sebelah menyebelah jalan. Tikungan yang tajam di dalam padukuhan itu kadang-kadang terasa sangat mengganggu, se¬hingga kadang-kadang kuda mereka harus berlari sangat lamban.

Tetapi padukuhan itu memang tidak begitu besar. Seben¬tar lagi mereka akan segera lewat dan kuda putih itu harus muncul di bulak panjang di seberang padukuhan kecil itu.

Kuda putih itu memang tidak dapat ingkar. Sejenak kemudian maka seekor kuda putih berlari keluar dari paduku¬han itu dengan penunggangnya yang berpakaian serba putih.

Tetapi darah para prajurit yang mengejarnya itu bagai¬kan berhenti mengalir Ketika mereka telah muncul dari lo¬rong gelap di padukuhan itu, maka mereka melihat dihadapan mereka, bukan hanya seekor kuda putih berlari kencang seka¬li, tetapi kini ada dua ekor kuda putih yang berlari berurutan di hadapan mereka.

“He.“ geram prajurit di paling depan, “Apakah mata¬ku sudah kabur?”

“Apakah yang kau lihat?“ bertanya prajurit yang berpacu di belakangnya.

“Dua ekor kuda putih.”

“Ya. Aku juga melihat dua ekor kuda putih.”

“Apakah kita sedang mengejar hantu?”

Tidak ada jawaban. Tetapi prajurit-prajurit itu bukannya menja¬di takut. Bahkan mereka sempat menilai keadaan yang sedang mereka hadapi.

Untuk meyakinkan kawan-kawannya prajurit yang ada di paling depan sempat berteriak, “Jangan bermain-main seperti kanak-anak. Aku tahu bahwa semuanya ternyata telah kalian rencanakan sebaik-baiknya. Orang berkuda pulih yang pertama sengaja me-mancing kami kepadukuhan kecil ini sedang yang lain telah siap lebih dahulu. Demikian kawanmu masuk maka kalian berdua segera berpacu beriringan.”

Tidak ada jawaban. Terapi kedua kuda putih di hadapan para prajurit itu berpacu semakin kencang.

“Cegah mereka, jangan sampai memasuki padukuhan berikutnya.“ berkata prajurit yang paling depan. “Mung¬kin seorang kawannya telah siap menunggu di sana dengan kuda dan pakaian yang serupa.”

Demikianlah maka para prajurit benar-benar berusaha untuk menyusul kedua orang berkuda putih dihadapan mereka.

Agaknya kedua orang berkuda putih itu pun menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat lagi melepaskan diri dari para prajurit itu. Kuda putih itu tidak setegar kuda pengejarnya.

Akhrinya orang-orang yang berkuda putih itu mengambil sikap yang lain. Mereka tidak akan berlari terus, karena bagi mere¬ka sudah tidak akan ada gunanya lagi. Mereka akhirnya tentu akan dapat disusul oleh pengejarnya.

Karena itu, maka ketika mereka sampai disimpang tiga di tengah-tengah bulak, terdengar orang berkuda putih yang di depan memberikan isyarat. Dengan isyarat itu, maka penung¬gang kuda yang dibelakang tidak lagi mengikuti derap kuda-kuda putih di hadapannya.

Kedua kuda putih itu pun berpisah di simpang tiga. Yang seekor berbelok kekiri dan yang lain berbelok kekanan. Na¬mun mereka tidak untuk selanjutnya berusaha melarikan diri. Kedua penunggangnya segera menarik kekang kuda mereka, sehingga keduanya segera berputar menghadapi pengejarnya.

Disimpang tiga kelima orang prajurit yang sedang me¬ngejar itu pun termangu-termangu. Namun seorang yang pemimpin me¬reka segera memberikan isyarat. Dua diantara mereka harus berbelok kekiri dan tiga yang lain kekanan.

Benturan senjata pun kemudian tidak dapat dihindari lagi. Kelima orang prajurit yang mengejar itu pun segera menyerang. Meskipun mereka tidak ingin membunuh seperti yang diperin¬tahkan kepada mereka, namun karena kedua orang berpakaian putih di atas kuda putih itu agaknya siap untuk melawan maka mereka pun siap mempergunakan senjata pula.

Sambil bertempur, salah seorang prajurit itu berkata, “Kalian tidak akan dapat menghindar lagi. Sejenak lagi akan datang beberapa orang prajurit berkuda menyusul kami. Ka¬mi akan menangkap kalian dan memperlakukannya dengan ba¬ik jika kalian menyerah.”

Kedua orang berpakaian putih di atas kuda itu sama seka¬li tidak menjawab. Mereka masih tetap bertahan. Keduanya sa¬ma sekali tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menyerah.

Demikianlah ketika pertempuran itu sedang berlangsung, maka beberapa orang prajurit yang lain sedang berada di perjalanan untuk menyusul kawannya yang sudah terlebih dahulu berpacu memburu orang berkuda putih itu.

Namun sebagian dari para prajurit dengan tergesa-gesa masuk kehalaman istana, dan langsung pergi ke bangsal Mahisa Agni. Mereka ingin membuktikan apakah yang sedang berpacu di atas kuda putih dan berlari dikejar oleh para prajurit itu orang lain atau Mahisa Agni sendiri. Jika Mahisa Agni tidak berada dibanggailnya, dan sedang memancing beberapa orang prajurit berkuda keluar kota maka prajurit-prajurit yang sedang mengejarnya itu tentu tidak akan pernah kembali.

Seorang Senapati yang memimpin prajurit-prajurit yang masuk kehalaman istana dan langsung pergi kebangsal Mahisa Agni itu pun telah siap dengan rencana yang apabila terpaksa akan mereka lakukan.

“Jika Mahisa Agni sendiri yang berada di atas kuda putih itu, maka kita akan menangkap tuan puteri Ken Dedes. Kita akan membawanya dan memaksa Mahisa Agni menyerah.“ berkata Senapati itu.

Namun seorang prajurit yang sudah agak lanjut usia me¬ngerutkan keningnya sambil berkata, “Bukankah tuanku Ken Dedes sudah menjadi semakin tua dan sakitkan. Umurnya tentu sudah tidak akan terlalu panjang lagi. Adalah kurang bijaksa¬na jika melibatkan orang yang sedang sakit dan sudah terlalu lemah di dalam hal ini.”

“Aku tidak peduli. Tetapi Singasari harus diselamatkan. Jika Mahisa Agni mencoba untuk memaksakan kehendaknya dengan cara yang gila kenapa kita tidak berbuat seperti itu juga.”

“Tetapi orang berkuda putih itu berbuat dengan jantan. Maksudku, ia dengan berani menengadahkan dadanya untuk melawan para prajurit.”

“Persetan.“ bentak Senapati itu.

Prajurit itu tidak berani membantah lagi. la adalah seorang prajurit yang hanya dapat tunduk kepada perintah pim¬pinannya.

Demikianlah dengan dada yang berdebar-debar. Senapati itu pergi langsung kepintu depan. Kepada para penjaga ia mena¬nyakan apakah mereka melihat Mahisa Agni dalam hubungan¬nya dengan orang berkuda putih itu.

“Pintu itu tertutup sejak senja mulai gelap.“ jawab para penjaga.

Senapati itu menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia harus meyakini, apakah Mahisa Agni ada atau tidak di dalam bang¬salnya.

Perlahan-lahan ia mengetuk pintu bangsal itu. Ketika seseo¬rang menyahut, maka Senapati itu menjadi semakin berdebar-debar.

Ketika pintu itu terbuka, ternyata yang berdiri di muka pin¬tu bukan Mahisa Agni. Tetapi seorang pengawalnya yang ma¬sih saja mengalungkan secarik kain putih dilehernya.

“Apakah tuanku Mahisa Agni ada?“ bertanya Senapati itu.

“Kenapa dengan tuanku Mahisa Agni.“ bertanya orang yang membuka pintu itu.

“Ada pesan yang harus aku sampaikan.”

“Baru saja tuanku Mahisa Agni dapat tidur. Aku tidak berani membangunkannya.”

Senapati itu menjadi semakin berdebar-debar. la sudah mulai berangan-angan. Jika Mahisa Agni benar-benar berkuda putih dan ber¬pacu keluar kota maka pasti sudah mulai terjadi pembunuhan yang mengerikan. Seorang demi seorang prajurit yang me¬ngejarnya akan terlempar dari kuda dan untuk selamanya tidak akan terbangun lagi.

“Tetapi.“ berkata Senapati itu seterusnya, “Aku perlu sekali bertemu. Aku mendapat pesan langsung dari tuanku Tohjaya. Aku harus menyampaikannya sekarang.”

Orang yang berkain putih dilehernya itu termangu-mangu se¬jenak, lalu, “Tetapi aku tidak berani membangunkannya. Semalam suntuk tuanku Mahisa Agni tidak dapat tidur. Baru menjelang dini hari, ia dapat memejamkan matanya.”

“Tetapi aku membawa pesan Maharaja Singasari.”

Ketika Senapati itu melihat orang berkain putih dilehernya itu masih belum beranjak, ia menjadi semakin cemas. Tetapi ia masih belum pasti, sehingga katanya, “Ki Sanak. Jika kau tidak berani membangunkan, biarlah aku yang membangun¬kannya.”

Orang itu nampak ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Apakah ada bedanya? Jika kau yang membangunkannya, ia pun pasti merasa terganggu.”

“Tetapi aku mengemban perintah.“ jawab Senapati yang mulia kehilangan kesabarannya itu.

Sementara orang yang berdiri di muka pintu dengan kain putih di lehernya itu masih ragu-ragu, terdengarlah suara dari dalam. “Siapakah orang itu?”

Tiba-tiba Senapati yang berdiri diluar pintu itu menarik na¬fas dalam-dalam. Di dalam keremangan cahaya lampu minyak di dalam bangsa itu, ia melihat Mahisa Agni yang agaknya memang terbangun dari tidurnya yang nyenyak.

“Apakah pesan itu?“ bertanya Mahisa Agni, “Dan si¬apakah kau?”

Senapati itu memandang Mahisa Agni dengan saksama, seolah-olah ia ingin meyakinkan bahwa yang dilihatnya itu benar-benar Mahisa Agni.

“He, siapakah kau?“ Mahisa Agni mengulangi.

“Aku adalah Senapati yang sedang bertugas atas penga¬manan kota pada malam ini.“ berkata Senapati itu.

“Apa maksudmu mencari aku?”

Senapati itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Tuan. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Kare¬na tuan mengetahui dengan pasti rentang Kesatria Putih pada masa Tuanku Anusapati masih menjadi Pangeran Pati, maka apakah tuan tidak berkeberatan jika aku bercerita tentang orang yang mirip dengan Kesatria Putih itu pada saat ini.”

“O.“ Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Ceriterakan dan kemudian sebut, apakah yang kau tanyakan kepadaku itu.”

Senapati itu pun kemudian menceriterakan penglihatan be¬berapa orang prajurit tentang Kesatria Putih yang sudah pasti bukan tuanku Anusapati yang sudah meninggal itu.

“Apakah taun dapat menduga, siapakah yang kini me¬nyamarkan diri menjadi Kesatria Putih itu dan apakah maksudnya? Apakah hal ini ada hubungannya dengan hilangnya tu¬anku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka beberapa waktu yang lalu dan kemudian kerusuhan yang timbul akhir-akhir ini?”

Mahisa Agni merenung sejenak. Namun kemudian ia pun menggeleng sambil berkata, “Sayang. Aku belum dapat mengatakan sesuatu tentang hal itu. Aku harus sempat melihat¬nya dahulu. Apakah orang yang berpakaian serba putih itu ki¬ni ada di dalam kota?”

“Tidak tuan.“ jawab Senapati itu, yang kemudian menceriterakan tentang orang berkuda putih yang berpacu me¬nembus para penjaga di regol dan seperti angin menuju keluar kota.

“Aku tidak mengetahuinya. Apakah aku perlu menge¬jarnya dan mencarinya?“ bertanya Mahisa Agni.

“Tidak tuan. Bukan maksud kami. Kecuali jika para prajurit dan Senapati sudah tidak sanggup lagi menangkap, maka segala sesuatu akan kami serahkan kembali kepada tuan dan tuanku Tohjaya. Namun selama masih ada kemungkinan para prajurit dan Senapati melakukannya, maka biarlah kami akan melakukannya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Beritaukan kepadaku jika kalian memerlukan aku.”

Senapati itu pun kemudian minta diri. Ditinggalkannya bangsal itu dengan dada yang berdebar-debar.

“Sudah pasti bukan Mahisa Agni.“ desis Senapati itu, “Dengan demikian maka orang berkuda putih itu pasti akan dapat ditangkap. Ia akan dapat diperas untuk memberikan ba¬nyak keterangan tentang keadaan terakhir.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk mengiakan, jika orang berkuda putih itu bukan Mahisa Agni, maka ia tidak akan dapat mele¬paskan diri dari tangan prajurit-prajurit berkuda yang terpilih, yang sudah dipersiapkan untuk menangkapnya.

Namun dalam pada itu, prajurit berkuda yang sudah ber¬hadapan dengan orang yang berpakaian serba putih itu ternya¬ta mendapat kesan yang lain. Orang berkuda putih itu tidak segera dapat ditundukkannya. Bahkan perlawanannya semakin lama menjadi semakin gigih.

“Gila.“ teriak pemimpin kelompok kecil prajurit ber¬kuda yang sedang bertempur melawan dua orang berkuda pu¬tih yang berada di jalan yang berlainan arah di simpang tiga, “Agaknya kalian benar-benar ingin mati.”

Tidak seorang pun dari kedua orang berkuda putih itu yang menjawab. Tetapi mereka tetap bertempur melawan pra¬jurit yang akan menangkapnya.

“Cepat.“ teriak pemimpin prajurit itu, “Jika kami ke¬hilangan kesabaran, maka kalian akan kami cincang di simpang tiga ini. Tubuh kalian yang tersayat-sayat akan menjadi tontonan orang yang sebentar lagi akan lewat di jalan ini setelah fajar agaknya sudah mulai nampak memerah.”

Tiba-tiba saja salah seorang berkuda putih itu berkata, “Ja¬ngan mengigau. Kalian tidak akan dapat menangkap kami. Ka¬mi adalah Kesatria Pulih, penjelmaan dari tuntutan kebenaran dari Kesatria Putih yang pernah kalian saksikan beberapa saat yang lalu.”

“Omong kosong. Menyerahlah, atau mati. Kalian ja¬ngan menganggap kami anak-anak yang takut melihat mayat yang hidup kembali. Karena itu apa pun yang kau katakan tentang Kesatria Putih itu sebenarnyalah tidak ada hubungan apa pun dengan kalian, kecuali suatu usaha yang gagal untuk mempe¬ngaruhi kami dengan mempergunakan nama seseorang yang te¬lah tidak ada lagi di Singasari, bahkan di dunia ini.”

“Kami akan membuktikan.“ sahut salah seorang yang berpakaian putih itu.

“Jika kalian berkeras, apa boleh buat jika kalian terpak¬sa mati di peperangan ini dan tubuh kalian akan aku seret di belakang kaki kuda kami sebagai pengewan-ewan di Singasari.”

“Manapun yang akan kau lakukan sama sekali tidak me¬narik. Dicincang di simpang tiga ini untuk menjadi tontonan orang-orang lewat, atau diseret di belakang kaki kuda untuk menjadi pengewan-ewan di kota, sama-sama tidak kami ingini. Kami adalah Ke-satria Putih yang akan menuntut kematian Kesatria Putih yang pernah menyelamatkan Singasari dari kejahatan.”

“Persetan.“ pemimpin prajurit berkuda itu menggeram.

Sejenak kemudian, maka pertempuran itu pun menjadi se¬makin seru. Prajurit-prajurit berkuda itu menjadi semakin garang. Bahkan mereka hampir melupakan perintah untuk apabila mungkin menangkap Kesatria Putih itu hidup-hidup.

Namun agaknya kedua orang berpakaian putih itu benar-benar mampu menjaga dirinya. Kelima orang prajurit berkuda yang pilihan itu tidak banyak dapat berbuat sesuatu atas mereka. Serangan-angan prajurit berkuda itu tidak pernah berhasil menyen¬tuh lawannya.

Karena itulah maka kelima orang prajurit berkuda itu menjadi semakin lama semakin marah. Rasa-rasanya kedua orang berpakaian putih diatas kuda putih itu dengan sengaja mem¬permainkan mereka. Meskipun jalan tidak begitu luas tetapi mereka berhasil hilir mudik diantara lawannya. Demikian tinggi kemampuan mereka bermain pedang, sehingga mereka bagaikan dengan mudahnya mampu menyusup diantara pe¬dang lawan-lawannya.

Dalam pada itu, beberapa orang prajurit berkuda yang menyusul di belakang mereka, semakin lama menjadi semakin dekat pula. Mereka dengan mudah dapat mengenali jejak prajurit yang mendahuluinya. Meskipun demikian, mereka tidak dapat berpacu secepat kuda yang saling mengejar di jalan itu pula, beberapa saat yang lampau, dan yang kemudian berhenti dan bertempur dengan sengitnya.

Tetapi jalan lurus terbentang di hadapan mereka. Tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh sebelum mereka mencapai simpang tiga di seberang sebuah padukuhan kecil.

Dengan demikian kuda para prajurit yang menyusul itu pun dapat berpacu lebih cepat. Mereka menyusup sebuah padukuhan kecil dan kemudian muncul lagi disebuah bulak panjang.

Malam semakin lama menjadi semakin menipis. Cahaya yang kemerah-merahan menyala di langit sebelah timur, sehingga, bulak itu pun rasanya menjadi semakin terang pula.

Karena itulah maka dari kejauhan mereka sudah dapat melihat bayangan yang remang-remang bergerak-gerak di dalam kelamnya pagi seperti bayangan yang bergerak-gerak di atas layar yang kehitaman.

“Itulah mereka.“ desis pemimpin kelompok itu, “Agak¬nya mereka sedang bertempur di tengah- tengah bulak.“

“Ya, Marilah. Kita harus menangkap mereka.”

Demikianlah maka prajurit berkuda itu berpacu semakin cepat. Debu yang putih terhambur di belakang kaki kuda mere¬ka. Sementara warna langit semakin lama menjadi semakin merah.

Dalam pada itu kedua orang berpakaian putih diatas kuda putih itu pun semakin lama semakin garang. Ia melihat warna langit yang semakin merah. Karena itu maka mereka pun menya¬dari, bahwa waktu mereka akan menjadi semakin sempit.

Apalagi ketika mereka sempat melihat di dalam samar-samar, beberapa orang berkuda mendekati arena pertempuran itu, ma¬ka mereka pun menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat ber¬main-main lebih lama lagi.

Namun dalam pada itu, para prajurit berkuda yang beru¬saha menangkap kedua orang itu pun merasa bahwa mereka akan segera dapat menyelesaikan tugas mereka apabila kawan-kawan mereka itu telah terjun pula di dalam pertempuran. Karena itu, mereka berusaha agar kedua orang tidak dapat lepas dari ika¬tan pertempuran. Bahkan pemimpin kelompok prajurit berku¬da yang sudah bertempur itu berkata, “Nah, apakah kalian berdua masih dapat menyombongkan diri?”

Salah seorang dari kedua orang berkuda putih itu menya¬hut, “Kami tidak pernah menyombongkan diri kami.”

“Kenapa kalian tidak menyerah?”

“Itu bukan suatu kesombongan. Boleh saja kau sebut se¬bagai suatu bentuk ketakutan, karena sebenarnya kami takut dicincang atau diseret dibelakang kudamu.”

“Persetan.“ pemimpin kelompok itu menggeram.

Namun kedua orang berkuda putih itu semakin menyada¬ri bahwa waktu memang sudah terlampau sempit. Karena lagi maka salah seorang dari keduanya berkata, “Sebentar lagi ma¬tahari akan terbit. Kami adalah penghuni daerah malam hari. Karena itu, kami harus segera menyingkir bersama turunnya pagi.”

“Kalian tidak akan dapat lepas dari tangan kami.“ Tidak ada jawaban. Tetapi salah seorang dari kedua orang berkuda putih itu tiba-tiba mengangkat pedangnya dan diputar-nya beberapa kali.

Setiap orang yang melihatnya, menyadari, bahwa itu tentu suatu isyarat. Karena itu, maka mereka pun menjadi semakin berhati-hati dan bertempur semakin sengit. Apalagi sementara itu kawan-kawan mereka telah menjadi semakin dekat.

Tetapi adalah diluar dugaan mereka, ketika tiba-tiba saja ke¬dua orang berpakaian putih itu bagaikan menyerbu langsung ke tengah-tengah mereka. Begitu cepatnya sehingga hampir diluar kemampuan gerak mereka.

Yang terjadi kemudian benar-benar telah menggetarkan dada para prajurit berkuda yang pilihan itu.

Dalam gerakan yang tidak terduga-duga tiba-tiba saja pedang kedua orang berkuda putih itu bagaikan kilat yang menyambar dilangit. Tiba-tiba saja terdengar senjata mereka berdentangan. Bukan benturan yang menimbulkan buga api. Tetapi senjata para prajurit berkuda itu tiba-tiba saja terlepas satu demi satu. Se¬tiap kali terdengar senjata gemerincing, maka sebilah pedang telah terlempar dan jatuh di tanah.

“Gila.“ teriak pemimpin kelompok prajurit berkuda itu. Tetapi ia tidak sempat meneruskan kata-katanya karena terasa pundaknya disengat oleh perasaan sakit, dan tanpa dapat bertambahan lagi ia terlempar dari, ia telah terlempar dari pung¬gung kudanya.

Keempat kawatrnya benar-benar terkejut mengalami peristiwa itu. Mereka bahkan bagaikan dicengkam oleh kebingunan se¬hingga untuk beberapa saat mereka justru diam mematung.

Prajurit yang terjatuh dari kudanya itu menyeringai me¬nahan sakit. Ketika ia meraba pundaknya, terasa pundaknya sakit sekali. Namun ia tidak menyentuh darah dipundaknya itu, sehingga ia pun kemudian menyadari, bahwa orang berpa¬kaian putih itu tidak menusuk pundaknya dengan senjata, te¬tapi pundak itu telah dipukulnya dengan tangannya.

Dalam pada itu, selagi pemimpin kelompok itu menahan sakit, dan yang lain termangu-mangu tiba-tiba saja sekali lagi mereka dikejutkan oleh serangan orang-orang berpakaian putih itu.

Yang kemudian terlempar bukan saya hanya satu atau dua orang dari para prajurit itu, tetapi mereka berempat hampir bersamaan waktunya telah terjatuh di atas tanggul parit di pinggir jalan. Bahkan seorang diantaranya telah terjebur kedalam parit yang sedang mengalir.

Selagi mereka mengumpat-umpat, mereka telah dikejutkan se¬kali oleh sesuatu yang hampir tidak mereka perhitungkan se¬belumnya. Ternyata orang-orang berpakaian putih berkuda putih itu telah mengejutkan kuda-kuda mereka dengan sengaja, sehingga kuda-kuda itu melonjak dan berlarian cerai berai.

“Kalian tidak akan dapat mengejar aku lagi.“ berkata salah seorang dari orang berkuda putih itu.

“Gila.“ teriak pemimpin kelompok yang masih meme¬gangi pundaknya yang sakit, yang rasanya menjadi retak dan patah.

Tetapi kedua penunggang kuda putih itu tidak menghi¬raukannya. Mereka pun kemudian meninggalkan orang-orang yang berteriak-teriak sambil mengacukan tinju mereka. Tetapi mereka sadar, bahwa tanpa kuda, mereka tidak akan dapat mengejar penunggang kuda putih itu.

Prajurit-prajurit itu menjadi semakin marah ketika dua orang berkuda putih itu melambaikan tangan mereka sambil berpa¬cu meninggalkan prajurit-prajurit yang marah itu.

Sejenak kemudian, belum lagi derap kedua kuda putih itu hilang dari telingan, mereka telah mendengar derap kaki kuda yang lain. Mereka pun kemudian menyadari, bahwa kawan-kawan mereka sebenarnya telah menjadi semakin dekat dan melihat apa yang telah terjadi.

Demikianlah, maka kelima orang itu hanya dapat berlon¬catan menepi ketika kuda-kuda kawan-kawannya berpacu dengan cepat¬nya. Para prajurit yang menyusul kemudian itu pun melihat kedua orang berkuda patih itu melarikan diri. Karena itu mereka tidak mau kehilangan. Tanpa berhenti sama sekali maka mere¬ka pun berusaha untuk mengejar kedua orang penunggang ku¬da putih itu.

Sekali lagi mereka saling bekejaran. Dua orang berpakai¬an putih dan berkuda putih dikejar oleh sekelompok prajurit yang sedang marah.

Tetapi ternyata jarak mereka sudah terlampau jauh. Para prajurit itu ternyata tidak segera dapat mendekati buruannya. Apalagi ketika mereka melihat sebuah padukuhan yang besar dihadapan mereka. Maka kedua penunggang kuda itu akan dengan mudah dapat menyembunyikan dirinya dipadukuhan itu, atau berusaha melenyapkan jejak kuda-kuda mereka di atas ta¬nah berbatu-batu.

Meskipun demikian tetapi para prajurit itu tidak segera menjadi berputus asa. Mereka berusaha untuk memacu kuda mereka lebih cepat lagi. Tetapi semakin dekat mereka lebih cepat lagi. Tetapi semakin dekat mereka dengan padukuhan hadapan mereka, maka harapan prajurit itu pun menjadi se¬makin tipis.

Dalam pada itu, kelima prajurit yang ditinggalkan di tengah-tengah bulak hanya dapat menghentak-hentakkan tinju mere¬ka. Sejenak mereka memandang kuda kawannya yang berusa¬ha mengejar kedua orang berpakaian putih itu. Namun kemudian mereka pun menarik nafas sambil berkata, “Orang gila. Mereka berhasil melepaskan diri dari tangan kami.”

Pemimpin kelompok kecil itu pun kemudian berjalan ter¬suruk-¬suruk mencari senjatanya. Demikian pula kawannya yang lain.

Sambil menyarungkan senjata yang mereka ketemukan kembali itu, salah seorang dari mereka berkata, “Orang gila. Apakah salah seorang dari mereka itu Mahisa Agni?”

Pemimpin kelompok itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Tetapi kedua orang itu memiliki kemampuan yang hampir sama dan ternyata jauh melampaui ke¬mampuan setiap prajurit Singasari.”

Prajurit-prajurit itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja salah se¬orang dari mereka bertanya, “Kenapa mereka tidak membu¬nuh kita?”

“Mereka tidak akan sempat melakukannya. Kawan-kawan kita telah datang menyusul.”

“Kenapa tidak.“ sahut yang lain, “Mereka sempat melemparkan kita dari atas punggung kuda dengan tangan mereka. Jika mereka ingin membunuh kita, maka mereka dapat mendorong kita dengan pedang. Kita benar-benar sudah kehilangan kesempatan untuk melawan. Bahkan kita tidak dapat melihat, apa yang mereka lakukan. Baru kita sadar, ketika kita terlem¬par ke dalam parit.”

Prajurit-prajurit itu mengangguk-angguk. Kini mereka mendapat kesempatan untuk menilai lawan-lawan mereka. Bukan saja dalam olah kanuragan. Tetapi ternyata orang-orang berkuda putih itu tidak berusaha membunuh mereka.

“Aneh.“ kesan itulah yang membekas di hati kelima orang prajurit yang masih saja termangu-mangu di tengah bulak.

Tetapi mereka tidak segera beranjak pergi. Mereka ma¬sih menunggu kawan-kawan mereka yang mngejar kedua orang pe¬nunggang kuda putih itu.

Memang tidak ada yang dapat mereka lakukan selain me¬nunggu. Mereka tidak akan dapat berlari mengejar penunggang kuda putih dan kawan-kawan mereka yang sedang memburu kedua orang berkuda putih itu.

Namun sambil menunggu itulah kelima orang itu sempat berbicara tentang diri mereka sendiri.

“Kenapa kedua orang itu tidak membunuh kami dengan pedangnya.“ seorang dari mereka mengulang lagi, “Tentu bu¬kan karena tidak sempat. Tentu bukan suatu kesalahan, dan tentu bukan karena tidak mampu. Tetapi mereka memang membiarkan kita hidup.”

“Demikianlah agaknya. Jika salah seorang dari kedua¬nya itu Mahisa Agni, siapakah yang seorang lagi, yang mampu bertempur dengan ilmu yang setingkat dengan Mahisa Agni itu?”

Kawannya tidak ada yang dapat menjawab. Peristiwa yang baru saja mereka alami adalah peristiwa yang benar-benar tidak dapat mereka mengerti. Di dalam pertempuran itu, lawannya sengaja membiarkan mereka hidup.

“Apakah mereka mengetahui bahwa kita pun tidak ingin membunuh kedua orang penunggang kuda putih itu?“ ber¬tanya salah seorang dari mereka.

“Tentu tidak. Dan bukankah kita sendiri sudah kehilang¬an niat untuk menangkapnya hidup-hidup? Apalagi sejenak setelah kita merasa tidak mampu lagi melakukannya. Aku sendiri rasa-rasanya tidak ingat lagi bahwa aku akan menangkapnya, bukan membunuhnya.”

Yang lain pun mengangguk-anggukkan kepala. Mereka dengan jujur melihat kepada diri masing-masing, bahwa sebenarnyalah mere¬ka telah berusaha untuk membunuh orang-orang berkuda putih itu, karena mereka merasa bahwa tidak akan ada kesempatan sama sekali untuk menangkap mereka hidup-hidup.

Sementara itu, beberapa orang prajurit yang lain sedang berpacu mengejar kedua orang berkuda putih itu. Tetapi jarak mereka agaknya terlalu jauh, sehingga mereka tidak dapat men¬capai kedua orang itu sebelum keduanya memasuki padukuhan yang besar di hadapan mereka.

“Mereka akan hilang di padukuhan itu.“ desis seorang prajurit yang mengejar mereka.

“Jika tidak sekalipun, kita akan sulit menangkap mereka. Jarak kita terlalu jauh.”

Prajurit-prajurit itu sebelumnya merasa bahwa mereka pun tidak akan mampu menangkap keduanya. Lima orang kawan mereka sama sekali tidak berdaya. Apalagi jika kemudian kedua orang itu menjebak mereka diantara sekelompok kawan-kawan oorang ber¬kuda putih itu.

Karena itu, maka akhirnya pemimpin kelompok itu memu¬tuskan untuk menghentikan pengejaran. Dengan isyarat maka ia pun menghentikan pasukannya setelah kedua orang berkuda putih itu hilang di balik gerbang padukuhan.

“Kita tidak tahu apa yang ada dibalik padukuhan itu.“ berkata pemimpin kelompok itu.

Kawannya pun mengangguk-anggukkan kepala. Salah seorang menjawab, “Apakah kita tidak mencoba memasukinya?”

“Dengan hati-hati.“ berkata yang lain.

Pemimpin kelompok itu pun mempertimbangkannya seje¬nak, lalu, “Baiklah. Marilah kita mendekat.”

Tetapi sekelompok prajurit itu menjadi sangat berhati-hati. Mereka tidak berani memasuki padukuhan itu dengan kuda me¬reka yang berpacu. Jika kedua orang yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi itu menjebak mereka maka akibatnya akan menjadi sangat parah.

Yang mula-mula memasuki regol itu adalah pemimpin kelom¬pok prajurit itu dengan seorang kawannya. Baru kemudian pra¬jurit yang lain dalam jarak beberapa langkah.

Namun ternyata mereka tidak menjumpai kedua orang ber¬kuda itu. Jalan di hadapan mereka adalah jalan yang lengang. Apalagi hari masih gelap dan lampu masih tetap menyala di setiap rumah.

Prajurit-prajurit berkuda itu pun memasuki padukuhan itu sema¬kin dalam. Tetapi kuda mereka tidak berpacu lagi. Dengan hati-hati pula mereka pun mendekati sebuah gardu perondan. Ketika masih ada tiga orang di dalam gardu itu, maka mereka pun mendekatinya.

Kedatangan mereka membuat ketiga orang itu menjadi ge¬metar. Sehingga karena itu maka ketiganya hampir tidak dapat beranjak dari tempatnya.

“He.“ bertanya pemimpin kelompok prajurit itu.

“Ya, ya tuan.”

“Apakah kalian melihat dua ekor kuda putih lewat ja¬lan ini?”

“Ya tuan.“ jawab salah seorang dari mereka, “Baru saja.”

“Hanya dua?”

“Ya tuan. Hanya dua. Mereka berpacu seperti dikejar hantu sehingga kami menjadi kebingungan.”

Pemimpin prajurit berkuda itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Keduanya adalah buruan prajurit Singasari. Sayang kalian tidak berbuat apa-apa.”

“O. Tetapi kami tidak mengetahuinya. Dan seandainya kami mengetahuinya sekalipun, apakah yang dapat kami laku¬kan tuan. Kami hanyalah peronda-peronda yang tidak dapat berbuat apa-apa selain atas pencuri-pencuri kecil.”

Prajurit-prajurit Singasari itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari bahwa yang ada di gardu itu adalah peronda-peronda. Mereka tentu ti¬dak akan dapat berbuat apa-apa. Jangankan para peronda. Lima orang prajurit berkuda itu pun tidak berhasil menahan dan apalagi menangkap kedua orang berkuda putih itu.

Pemimpin prajurit Singasari itu pun kemudian telah me¬ngambil keputusan dengan pasti. Mereka tidak akan dapat me¬nangkap kedua orang berkuda putih itu.

“Jika prajurit yang terdahulu dapat menahan keduanya untuk waktu yang lebih panjang lagi, mungkin kita tidak akan kehilangan mereka sama sekali.“ berkata pemimpin prajurit berkuda itu.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka pun menye¬sali kegagalan itu. Jika mereka lebih cepat sedikit, maka per¬soalannya akan berbeda.

Sambil berkuda kembali, tiba-tiba saja pemimpin prajurit itu bertanya, “He, kenapa yang kita hadapi dua orang berkuda putih?”

“Ya, dua orang. Laporan yang kita terima menyebutkan hanya seorang. Dan bukankah Kesatria Putih itu hanya se¬orang?”

“Tetapi kita tidak berhadapan dengan Kesatria Putih. Kita berhadapan dengan orang lain. Kita tidak tahu apakah salah seorang dari mereka adalah Mahisa Agni.”

Prajurit-prajurit itu pun kemudian terdiam. Mereka tenggelam di dalam angan-angan masing-masing. Mereka mencoba untuk mencari-mencari jawa-ban, siapakah yang berkuda putih dan bahkan dua orang itu.

Ketika prajurit berkuda itu sampai di bulak panjang, ma¬ka mereka masih melihat kelima orang prajurit yang kehila¬ngan kuda mereka masih berada ditempatnya. Agaknya mereka sedang menunggu. Namun ternyata diantara mereka kemudian terdapat dua orang penunggang kuda yang lain.

“Siapakah yang telah menyusul kita?” bertanya pra¬jurit itu.

“Dua orang prajurit pengawal.“ desis yang lain.

Sebenarnyalah bahwa dua orang prajurit telah menyusul mereka yang mendahului untuk mengejar orang berpakaian putih dan berkuda putih itu.

Maka ketika para prajurit yang kembali dengan kegagal¬an itu sampai diantara kawan-kawan mereka, segera mereka bertanya, “Apakah ada pesan yang dibawa oleh kedua orang itu.”

“Kami hanya akan memberikan kepastian.“ jawab sa¬lah seorang dari keduanya, “Bahwa orang berpakaian putih itu bukan Mahisa Agni. Mahisa Agni masih tetap benda di bangsalnya bersama beberapa orang pengawalnya.”

“Keduanya bukan Mahisa Agni?“ bertanya pemimpin prajurit yang menghentikan pengejaran itu.

“Keduanya. Tetapi itulah yang aneh, bahwa ada dua orang penunggang kuda putih yang dalam pakaian putih. Ten¬tu keduanya adalah orang yang berlainan.”

“Tentu. Apakah kau sedang bermimpi?”

“Aku hanya ingin mengungkapkan keherananku bahwa ada dua orang yang memakai pakaian putih itu.”

“Tetapi dengan demikian kita dapat menduga, bahwa yang kita hadapi bukannya sekedar seorang yang mencoba un¬tuk membangunkan kembali kenangan atas Kesatria Putih. Te¬tapi benar-benar telah membentuk sekelompok orang dalam sikap yang pasti.”

“Dan itu adalah sangat berbahaya.”

“Kita akan melaporkan kepada para Panglima.“ Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi mereka di¬bayangi oleh keragu-raguan karena sikap Tohjaya yang tidak ber¬kepastian.

Demikianlah maka prajurit-prajurit itu pun segera kembali ke dalam kota. Yang kehilangan kudanya ikut di belakang kawan¬nya yang datang kemudian. Namun dengan demikian kuda itu tidak dapat berlari terlalu cepat.

Ternyata peristiwa itu menjadi bahan pembicaraan yang menarik bagi setiap prajurit. Apalagi para Senapati dan para Panglima. Mereka dihadapkan pada kenyataan, bahwa meski¬ pun orang berkuda putih itu bukan Mahisa Agni, namun me¬miliki kemampuan yang jauh lebih tinggi dari kemampuan para prajurit pilihan.

Seperti yang dilaporkan oleh kelima prajurit yang kehila¬ngan keduanya, bahwa kedua orang berpakaian putih itu de¬ngan sengaja tidak membunuh mereka yang sudah kehilangan kesempatan untuk melawan. Bahkan dengan tangan mereka dapat melemparkan prajurit-prajurit itu dari kudanya. Padahal mere¬ka adalah prajurit dan pasukan berkuda yang seakan-akan telah menjadi satu dengan kuda-kuda mereka di peperangan. Namun me¬reka tidak mampu berbuat apa-apa dan terlempar jatuh, sehingga mereka telah kehilangan kuda mereka.

Para Panglima pun tidak dapat memalingkan kenyataan itu. Mereka harus dengan sungguh-sungguh menghadapi keadaan yang menjadi gawat. Kebakaran yang membuat suasana kota menja¬di tegang itu masih belum terungkapkan, maka mereka sudah dagoncangkan oleh peristiwa berikutnya. Namun sebagian ter¬besar rakyat Singasari menarik garis hubungan antara kedua peristiwa itu meskipun ternyata tidak menemukan hubungan vang sebenarnya. Bahkan sebagian dari mereka justru meng¬anggap kebakaran di rumah Lembu Ampal adalah dendam atas hilangnya Ranggawuni dan Mahisa Cempaka disusul oleh le¬nyapnya Lembu Ampal.

Namun bahwa kelima prajurit yang dikalahkan oleh ke¬dua orang berpakaian putih itu sama sekali tidak mengalami cidera itu pun mendapat perhatian pula dari para Panglima dan Senapati.

“Orang itu memang ingin membangunkan ingatan kita kepada kesatria putih.“ berkata seorang Senapati, “Dan me¬reka sedang berusaha menarik perhatian dan pengaruh atas prajurit Singasari.”

Beberapa orang yang mendengarnya mengangguk-anggukkan ke¬palanya. Mereka pun sependapat bahwa tentu ada usaha yang lebih jauh dari pembakaran rumah dan sekedar mempertunjukkan kelebihan olah kanuragan.

“Satu hal yang menarik, bahwa Mahisa Agni tidak ter¬libat kedalamnya. Ternyata bahwa ia masih tetap berada di bangsalnya.“ berkata Senapati yang lain.

“Betapa pun tinggi ilmu kedua orang berkuda putih itu, tetapi aku kira mereka masih belum menyamai Mahisa Agni.“ sahut yang lain.

“Jadi, apa maksudmu?”

“Bagaimana jika kita pada suatu saat dapat mempergunakan Mahisa Agni?”

Pertanyaaan yang tiba-tiba saja timbul itu justru menegangkan setiap orang yang mendengarnya. Beberapa orang saling berpandangan sejenak. Lalu salah seorang Senapati berkata, “Mahisa Agni bagi kita adalah seseorang yang kini diselubungi oleh rahasia yang besar. Kita tidak tahu pasti sikapnya yang sebenarnya. la dengan mudah dapat dibawa kembali dari Kedi¬ri. Tetapi dibalik itu, ia dengan sengaja menunjukkan kekuat¬an pasukan Singasari yang ada di Kediri dan yang jelas berada dibawah pengaruhnya. Bahkan kemudian ia telah melanggar wewenang Maharaja Singasari dengan menunjuk seseorang menjadi penggantinya.”

“Tetapi seorang Panglima yang membawa tunggul kerajaan ada diantara mereka. Jika Panglima itu dengan kekua¬saan yang dilambangkan pada tunggul kerajaan menolaknya, maka semuanya itu tidak akan dapat terjadi.”

“Menurut nalar memang demikian. Tetapi berhadapan dengan pasukan segelar sepapan, keadaannya akan berbeda.”

Yang lain mengangguk-angguk kecil. Dan Senapati itu menerus¬kan, “Kini Mahisa Agni ada di halaman istana dengan bebe¬rapa pengawal yang seakan-akan telah siap untuk membunuh diri jika diperlukan. Sungguh suatu sikap yang tidak dapat dime¬ngerti. Tetapi tuanku Tohjaya tidak dapat berbuat apa-apa atas¬nya dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.“ Senapati itu berhenti sejenak, lalu, “Dan sekarang, keadaan Singasari rasa-rasanya men¬jadi semakin parah. Tuanku Tohjaya seperti orang yang kehi-langan dirinya sendiri. Hubungannya dengan ibunda Ken Umang menjadi jauh, seperti tiba-tiba saja diantara mereka teren¬tang jurang yang sangat dalam.”

“Agaknya memang terdapat perbedaan pendapat antara Tuanku Tohjaya dengan ibunda.“ potong yang lain.

“Itu wajar. Tetapi kali ini seolah-olah perbedaan pendapat itu tidak akan dapat bertemu sama sekali. Ibunda tuanku Toh¬jaya sudah sering berusaha mendekati puteranya. Tetapi tuan¬ku Tohjaya seperti orang yang sudah menjadi bingung terha¬dap dirinya sendiri.”

Dan tiba-tiba saja seorang Senapati berkata, “Dan itukah orangnya yang kini memegang kekuasaan atas Singasari?”

Semua orang memandang Senapati itu. Terasa dada mere¬ka bergetar. Namun seakan-akan kata-kata itu langsung menyusup ke dalam pusat jantung.

Namun bagaimanapun juga para Senapati itu tidak dapat mengambil sikap apapun. Mereka masih harus menilai keada¬an berikutnya. Setelah orang-orang berkuda putih, lalu apa lagi yang bakal mereka lihat di dalam kota Singasari itu.

“Apapun sikap kalian secara pribadi, tetapi kalian ada¬lah prajurit.“ berkata seorang Senapati yang sudah mulai be¬ruban ujung rambutnya, “Karena itu kalian harus tetap bersia¬ga menghadapi segala kemungkinan. Sekarang kita melihat tu¬anku Tohjaya dalam keadaan yang tidak dapat kita mengerti itu, tetapi mungkin besok lusa keadaannya akan berubah, dan ia akan dapat berdiri tegak di atas dampar yang telah tersedia untuknya itu.”

Kawannya mengangguk-angguk.

“Nah, sebaiknya kita tetap berada di dalam tugas kita masing-masing.”

Ternyata prajurit Singasari tidak kehilangan akal apapun yang baru saja terjadi. Mereka masih dapat menahan diri un¬tuk menunggu perkembangan keadaan selanjutnya. Namun mereka sependapat, bahwa orang berkuda putih itu tentu tidak akan menghentikan usaha mereka untuk menimbulkan kesan yang aneh pada prajurit-prajurit dan rakyat Singasari. Karena itulah maka setiap penjagaan justru telah diperkuat. Terutama regor yang memisahkan lingkungan kota Singasari.

Dalam pada itu, kedua orang berkuda putih itu pun sete¬lah berhasil melepaskan diri dari para prajurit, segera kembali ketempat persembunyian mereka. Dengan senyum yang meng¬hiasi bibirnya Mahendra, salah seorang dari kedua orang berkuda putih itu berkata, “Yang kita lakukan barulah langkah yang pertama.”

“Ya, agaknya memang demikian.“ sahut Witantra, se¬orang yang lain di atas kuda putih itu, “Selanjutnya, Lembu Ampallah yang akan mengambil bagian. Kita akan menunggu saat yang tepat untuk berbuat lebih banyak lagi. Prajurit Singa¬sari agaknya telah menjadi bingung menghadapi keadaan yang tidak segera dapat mereka mengerti ini.”

Disaat-saat berikutnya, Lembu Ampal telah mengambil ba¬gian pula untuk membuat Singasari menjadi semakin kisruh. Meskipun yang terjadi tidak pernah merenggut nyawa, tetapi kadang-kadang benar sangat mengganggu ketenangan. Sebuah jem¬batan kayu yang kuat telah roboh di malam hari. Suaranya ba¬gaikan menggnocangkan padukuhan-padukuhan disekitarnya.

Ketika pada pagi harinya para prajurit mengadakan pene¬litian, maka dilihatnya tali temali jembatan itu telah putus. Tetapi nampak dengan jelas bekas-bekasnya, bahwa tali-tali yang pu¬tus itu adalah akibat dari kesengajaan. Bekasnya nampak jelas, guratan pada tali temali itu, sehingga mengakibatkan jembat¬an itu roboh sama sekali.

Para Panglima menjadi gelisah pula. Setiap malam penja¬gaan menjadi semakin diperkuat. Para prajurit terpercaya ham¬pir tidak mendapat kesempatan untuk beristirahat sama sekali sehingga mereka nampak menjadi sangat letih.

“Kita tidak akan dapat tinggal diam.“ berkata Pangli¬ma pengawal.

“Tuanku Tohjaya tidak dapat dibawa berbicara dalam saat-saat terakhir.”

“Kita harus mencoba.”

Demikianlah para Panglima itu pun menghadap Tohjaya yang nampak kusut dan lemah. Ketika para Panglima mengha¬dap, ia pun menjadi tegang dan bertanya, “Kalian akan meng¬ganggu aku lagi?”

“Tuanku.“ berkata Panglima Pelayan Dalam, “Tuanku adalah seorang Maharaja dari sebuah negara yang besar, yang mempersatukan banyak telatah yang terbentang dari ujung Barat sampai keujung Timur. Sudah sewajarnyalah bahwa tu¬anku memperhatikan keadaan Singasari sebaik-baiknya.”

“Kau menggurui aku he?“ bentak Tohjaya.

“Ampun tuanku. Hamba tentu tidak akan berani berbuat demikian. Jika hamba menghadap tuanku, sebenarnyalah ham¬ba semuanya akan mohon perlindungan tuanku.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Lalu ia pun mulai berta¬nya, “Ada apa sebenarnya?”

Panglima Pelayan Dalam itu menarik nafas dalam-dalam. De¬ngan hati-hati ia berkata, “Tuanku, hamba sekalian yang meng¬hadap adalah pengemban perintah tuanku. Para Panglima dan Senapati. Seperti yang pernah tuanku dengar, bahwa Singasari telah diguncangkan oleh peristiwa-peristiwa yang kurang dapat ham¬ba mengerti. Karena itu, sebaiknya tuanku memanggil para pe¬mimpin pemerintahan dan para pemimpin keprajuritan. Apa¬kah yang sebaiknya kita lakukan bersama untuk mengatasi persoalan yang berlarut-larut ini.”

Tohjaya tidak segera menjawab. Kali ini agaknya ia mau mendengarkannya. Tetapi tiba-tiba saja ia membentak, “Itu ada¬lah persoalan kalian. Kalian adalah prajurit dari kesatuan manapun juga. Kalianlah yang berkuwajiban untuk menente¬ramkan kekisruhan semacam itu. Bukan orang lain. Apakah yang dapat kau ketemukan dari para pamimpin pemerintahan?”

“Tuanku, para pemimpin pemerintahan akan dapat mem¬berikan banyak petunjuk. Mungkin ada persoalan-persoalan yang lang¬sung atau tidak langsung menyangkut ketidak puasan beberapa golongan dari lingkungan. Menurut ceritera, kehancuran Kedi¬ri pada masa pemerintahan Tumapel dipegang oleh Sri Rajasa adalah karena Kediri tidak menghiraukan persoalan yang tim¬bul dikalangan rakyatnya. Pertentangan antara Sri Maharaja Kediri dengan para pemimpin agama.”

“Persetan dengan Kediri. Kediri adalah negara kecil yang lemah, yang tidak lagi dapat mempertahankan dirinya sendiri. Tentu kau tidak dapat memperbandingkannya dengan Singasari yang besar sekarang ini. Dan jika kau mengangkat kalian pada pimpinan keprajuritan, tentu dengan harapan bah¬wa kalian dapat mengatasi semua kesulitan.”

Para Panglima hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja seorang Panglima berkata, “Tuanku, apakah sudah cukup jika hamba sekalian ini berusaha untuk meredakan kea¬daan semata-mata dengan memperhatikan bidang kami. Maksud hamba sekalian, apakah sudah cukup dengan kekerasan saja. Jika kita hanya melakukan kekerasan, maka yang kita selesai¬kan adalah persoalan yang ada dipermukaan saja. Kita tidak menghentikan sebab dari kekisruhan itu.”

“Aku tidak peduli. Itu adalah urusanmu. Kau akan dapat berbuat apa saja. Tetapi jangan ganggu aku.”

“Tuanku.“ berkata Panglima pasukan tempur yang ma¬sih agak muda, “Apakah dengan demikian tuanku mernpercayakan segalanya kepada hamba sekalian ini?”

Tohjaya membelalakkan matanya. Katanya, “Kalian adalah orang-orang yang paling bodoh. Jika aku mengangkat kalian pada jabatan kalian sekarang ini tentu aku percaya kepada ka¬lian. Pergilah. Lakukanlah kuwajiban kalian dengan baik, agar aku tidak memaksa kalian untuk mengundurkan diri atau me¬maksa kalian untuk membunuh diri di hadapanku.”

Para Panglima itu berpandangan sejenak. Tohjaya benar-benar tidak dapat diajak berbicara lagi.

“Apakah dengan demikian berarti Singasari tidak lagi diperintah oleh seorang Maharaja?“ pertanyaan itu timbul disetiap hati. Baik para Panglima, Senapati maupun para pra¬jurit yang kemudian mendengar persoalan itu.

Tetapi para Panglima memang tidak dapat membiarkan keadaan semakin memburuk, yang dapat mereka lakukan un¬tuk sementara adalah memperkuat penjagaan disegala tempat. Di pintu-pintu gerbang dan di gardu-gardu parondan di dalam kota. Bah¬kan peronda yang berkeliling pun gelombangnya dipersingkat dan dengan demikian hampir setiap saat nampak beberapa orang prajurit di sepanjang jalan.

Namun dalam pada itu, diantara penjagaan yang ketat, telah timbul kecurigaan yang semakin mendalam diantara para prajurit. Bahkan para Panglima dan Senapati selalu bertanya di dalam hati, apakah salah seorang dari mereka beserta pengi¬kutnya telah membuat kekacauan itu. Selagi semua perhatian tertuju kepada pengamanan kota, maka orang itu telah mem¬persiapkan diri untuk merebut kedudukan Tohjaya yang sebe¬narnya memang sudah tidak dapat dianggap sebagai pelindung lagi.

Dan yang paling parah, setiap orang dapat disangka ber¬buat demikian. Setiap orang dapat dituduh ingin memanfaat¬kan keadaan yang goyah itu untuk kepentingan pribadi masing-masing.

Karena itu, maka setiap orang mencoba untuk mengingat pada saat dua orang berkuda putih itu dikejar-kejar oleh be¬berapa orang prajurit, siapakah yang tidak nampak pada pusat pimpinan bersama untuk mengemudikan perintah pengamanan di dalam kota.

Tetapi mereka tidak segera menemukan. Pada saat berita bahwa orang berkuda putih itu lewat regol kota, maka,setiap Panglima pun segera medapat pemberitahuan, dan mereka telah berkumpul untuk mengawasi langsung usaha penangka¬pan yang gagal itu. Bahkan ketika seorang Senapati melihat kebangsal Mahisa Agni, maka ia pun berada di bangsalnya pula.

Ketidak pastian sikap dan keragu-raguan telah menguasai ha¬ti setiap Panglima. Dipertajam lagi oleh kecurigaan dan keti¬dak percayaan yang satu dengan yang lain. Dengan demikian maka mereka pun tidak membicarakan setiap persoalan dengan terbuka.

Pada saat yang demikian itulah maka Lembu Ampal meng¬anggap bahwa saatnya memang sudah masak. Namun demikian ia masih minta kepada Witantra dan Mahendra untuk sekali-sekali mengganggu para prajurit dengan kuda dan pakaian putihnya. Bahkan pada suatu saat Mahendra telah menyerang sekelom¬pok peronda di dalam kota. Begitu tiba-tiba ia meloncat dari kege¬lapan. Meskipun ia tidak berkuda putih, tetapi pakaiannya ma¬sih menunjukkan ciri penunggang kuda putih.

“Kalian tentu mengenal Kesatria Putih.“ berkata Mahendra.

“Omong kosong. Kesatria Putih adalah tuanku Anusa¬pati.”

“Aku adalah Anusapati.“ berkata Mahendra yang me¬nutup sebagian wajahnya dengan kerudung putihnya.

“Bohong. Tuanku Anusapati sudah wafat.”

“Seperti kau lihat, aku masih hidup.”

“Tentu bukan tuanku Anusapati. Anusapati telah wafat di arena sabung ayam.”

“Kenapa?”

Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Meskipun ia tidak meli¬hat sendiri, tetapi setiap orang pernah mendengar, terutama para prajurit, bagaimana Anusapati terbunuh oleh Tohjaya. Meskipun demikian, setiap prajurit pendukung Tohjaya, se¬akan-akan mempunyai kuwajiban untuk tidak menyebutkannya.

Karena itu, maka prajurit itu pun kemudian menjawab, “Tuanku Anusapati terbunuh dalam kerusuhan yang terjadi. Para pengawal tidak dapat mengendalikan kebencian yang me¬luap kepada tuanku Anusapati saat itu.”

Orang berkerudung putih itu tertawa. Katanya, “Kau berbohong. Dari sorot matamu aku menangkap bahwa kau ti¬dak berkata sebenarnya.”

“Aku berkata sebenarnya.“ jawab prajurit itu.

Suara tertawa dari balik kerudung putih itu terdengar se¬makin keras. Katanya disela-sela suara tertawanya, “Tentu tidak. Akulah yang paling mengetahui persoalan yang menyangkut diriku sendiri.”

“Bohong.“ teriak seorang prajurit yang lain, “Kau bukan tuanku Anusapati.”

“Aku akan membuktikannya nanti.“ berkata orang ber¬kerudung putih, “Tetapi cobalah berkata dengan jujur.”

“Jangan memancing.“ sahut prajurit yang lain lagi.

“Aku tidak memancing. Tetapi jika kau tidak berkata dengan jujur, maka kau akan menyesal. Aku adalah Anusapati.”

Kata-kata itu merasa menusuk jantung para prajurit itu. Teta¬pi pemimpin mereka kemudian menjawab, “Jangan hiraukan. Ia adalah seorang yang menganggap kami terlampau dungu. Kami tahu pasti, bahwa orang berkerudung putih itu bukan tuanku Anusapati. Mereka telah melakukan kesalahan, karena pada suatu saat mereka muncul bersama-sama. Dua orang berkerudung putih dan menunggang kuda putih. Jika Kesatria Pu¬tih itu tuanku Anusapati maka ia tidak akan dapat menjadi dua.”

Suara tertawa orang berkerudung putih itu menjadi sema¬kin keras. Katanya, “Wadagku tidak lagi seperti wadagmu. Aku sudah mencapai kesempurnaan. Juga penguasaan atas wa¬dagku dan ujud halusku. Aku dapat nampak seperti dua, tiga atau lebih.”

“Omong kosong.”

“Nah, dengarlah. Aku tahu pasti tentang diriku. Aku telah dibunuh bukan oleh rakyat Singasari seperti yang aku ka¬takan. Tetapi oleh adinda Tohjaya dengan keris Empu Gandring. Nah, apakah kau juga mengetahui bahwa keris bertangkai da¬han cangkring itu akulah yang memberikannya kepada adinda Tohjaya itu? Selagi aku asyik memperhatikan ayam yang ber¬sabung tanpa taji, maka aku telah ditusuknya. Dan aku disangkanya mati. Tetapi aku tidak mati. Justru aku kini mencapai tingkat ilmu yang tidak akan terjangkau oleh siapa pun juga. Termasuk ujudku yang dapat kalian lihat menjadi dua atau tiga.”

Para prajurit itu menjadi termangu-mangu sejenak. Ada sedikit kebimbangan di dalam hati mereka. Namun akhirnya pemimpin prajurit itu pun berkata lantang, “Kau hampir berhasil me¬nakuti kami. Tetapi kami memang tidak sedungu yang kau sangka. Jika kau benar-benar tuanku Anusapati, maka bukti yang paling baik kau berikan adalah membuka wajahmu. Kami se¬muanya telah mengenal dengan baik wajah tuanku Anusapati, sehingga tentu tidak akan ada keragu-raguan lagi.”

Sejenak orang berkerudung putih itu tidak menjawab. Namun kemudian suara tertawanya terdengar lagi. Katanya, “Kalian memang benar-benar orang bodoh. Orang yang sudah mencapai kesempurnaan seperti aku, maka tidak ada lagi yang dapat dikenal dari batasan ujud. Aku dapat merubah ujudku menjadi apapun juga, seperti menjadi berapa pun juga.”

Tetapi pemimpin prajurit itu menggeram. Katanya, “Ki¬ta tidak ada waktu untuk berbicara seperti orang gila. Seka¬rang, jangan biarkan orang ini berbicara lagi. Tangkap orang itu dan kita akan mendapatkan keterangan daripadanya ten¬tang permainan-permainan gila pada saat terakhir yang terjadi di Singasari.”

Para prajurit itu pun tidak menunggu perintah lebih banyak lagi. Mereka pun segera bergerak mengepung orang ber¬pakaian serba putih itu.

“Menyerahlah.“ berkata pemimpin peronda itu.

“Kalian tidak dapat memaksa aku.“ sahut orang ber¬kerudung putih itu.

Tetapi prajurit-prajurit itu tidak menjawab lagi. Mereka pun segera mempersempit kepungan itu, dan senjata mereka pun sudah mulai teracu.

Orang berkerudung putih itu masih tetap diam ditempatnya. Sekali-sekali ia memandang ujung-ujung senjata itu dengan wajah yang kosong.

“Menyerahlah.“ pemimpin peronda itu berkata, “Jika kau menyerah, persoalannya akan menjadi lebih baik bagimu. Tetapi jika kau melawan, maka akibatnya akan kau sesali nanti.”

Orang itu tidak menyahut.

“Cepat, menyerahlah.”

Orang berkerudung putih itu kemudian menjawab perla¬han, “Apakah kalian memang ingin menangkap aku.”

“Ya. Kali ini kau tidak akan dapat lolos. Seandainya kau berhasil melepaskan diri dari tangan kami, kami akan segera membunyikan isyarat. Setiap gardu perondan dan peronda yang sedang hilir mudik pun akan segera bertindak sehingga kau tidak akan mempunyai kesempatan apapun lagi.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya ujung senja¬ta yang teracu kepadanya.

“Ayo cepatlah menyerah.“ perintah pemimpin peronda itu.

Orang berkerudung putih itu masih berdiam diri sejenak. Dengan tajamnya ia memandangi orang-orang yang mengepung¬nya dengan senjata terhunus itu.

“Cepat.“ teriak pemimpin peronda itu. “Atau kami akan beramai-ramai membunuhmu.”

“Apakah untungnya kalian membunuhku? Kalian tentu ingin menangkap aku hidup-hidup.”

“Ya, apabila mungkin. Tetapi jika tidak, maka kami akan membunuhmu. Dengan demikian maka kekacauan di daerah ini akan berkurang.”

“Tidak ada gunanya. Aku masih akan tetap berkeliaran untuk membebaskan rakyat Singasari dari kekuasaan orang yang telah membunuhku. Membunuh Kesatria Putih.”

Pemimpin peronda itu tidak bersabar lagi. Dengan lan¬tang ia berkata, “Tangkap orang itu. Jika ia melawan, maka tidak ada jalan lain kecuali melumpuhkannya dengan kekeras-an. Ia akan kita peras sampai menyebutkan keterangan ten¬tang dirinya. Atau kita hukum picis di simpang empat.”

Namun para peronda itu terkejut, la melihat orang itu bergetar. Kemudian diluar kemampuan pengamatan mereka, maka orang itu sudah berada di luar kepungan.

Pemimpin peronda itu termangu-mangu sejenak. Wajahnya men¬jadi tegang. Namun ia pun segera menyadari keadaannya dan berteriak, “Bunuh saja orang itu.”

Serentak para peronda itu menyerang. Tetapi orang ber¬kerudung putih itu sudah siap dengan senjata di tangannya. Se¬hingga dengan demikian maka mereka pun segera terlibat da¬lam pertempuran yang seru.

Namun ternyata menangkap atau membunuh orang ber¬kerudung putih itu memang tidak semudah yang mereka sang¬ka. Beberapa kali para peronda itu seolah-olah kehilangan jejak lawannya. Dengan tegang mereka mendengar orang berkeru¬dung putih itu tertawa di belakang mereka sambil berkata, “Aku ada di sini.”

Pemimpin peronda itu menjadi semakin marah. Tetapi ju¬ga sepercik keheranan bahwa kemudian mengarah kepada pera¬saan cemas, bahwa lawannya benar-benar Anusapati yang justru su¬dah mencapai kesempurnaan.

Namun demikian ia adalah seorang prajurit. Karena itu, maka ia pun bertempur terus dengan sekuat tenaganya.

Tetapi perkelahian itu sama sekali tidak menarik lagi. Para peronda lebih banyak menjadi bingung daripada bertem¬pur. Setiap kali mereka berdiri tegang jika mereka kehilangan lawannya yang mampu bergerak secepat tatit yang berloncatan di langit.

“Jangan bingung.“ berkata orang berkerudung putih itu, “Jika kalian dapat menangkap hantu, kalian akan dapat menangkap aku.”

Kata-kata itu benar-benar telah membuat bulu-bulu tengkuk mereka me¬remang. Lawan mereka itu benar-benar seperti hantu yang dapat bergerak tanpa menyentuh tanah.

Meskipun demikian, mereka masih mencoba untuk tetap bertabah hati. Mereka masih menyerang terus. Ketakutan dan kecemasan mereka semakin lama menjadi semakin tajam menu¬suk jantung. Tetapi karena sampai saat terakhir belum ada di antara mereka yang terluka apalagi terbunuh, mereka pun masih juga mencoba untuk bertempur.

“Kami tidak dapat menyentuhnya.“ berkata salah seo¬rang dari mereka di dalam hati, “Tetapi agaknya hantu putih itu pun tidak dapat menyentuh kami.”

Karena dugaan itu, maka beberapa orang diantara masih mencoba terus. Namun mereka bertanya juga di dalam hati, “Jika demikian, apakah gunanya kita bertempur. Tentu tidak akan ada akhirnya sampai kami pingsan kelelahan.”

Tetapi tiba-tiba saja orang-orang yang bertanya-tanya di dalam hati itu terkejut ketika salah seorang dari prajurit itu berdesis tertahan. Sepercik darah mereka memancar dari luka yang tergo¬res di bahunya. ”Luka.“ salah seorang dari mereka menggeram.

Sebenarnyalah bahwa orang berkerudung putih itu bukan sekedar bayangan hantu yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat menyentuh. Karena salah seorang dari mereka ternyata telah terluka di pundak. Meskipun luka itu agaknya tidak parah, tetapi darah telah mengalir dari luka itu.

Selagi para prajurit itu termangu-mangu, maka orang berkeru¬dung putih itu berkata di antara suara tertawanya. “Jangan terkejut. Aku dapat membuat luka lebih dalam lagi di pundak, bahu bahkan di perutmu. Tetapi aku kira itu tidak akan ada gunanya karena Kesatria Putih sama sekali tidak ingin memu¬suhi kalian. Yang aku lakukan sekarang adalah memberitakan kehadiranku. Sebentar lagi Anusapati akan kembali ke atas tah¬ta Singasari. Jika aku sendiri tidak lagi memerlukan keduduk¬an itu, maka anakku lah yang akan datang kepada kalian dan memerintah kalian seperti aku sendiri melakukannya.”

Para prajurit itu menjadi bingung sejenak. Tetapi ketika suara tertawa orang berkerudung putih itu mereda, maka pemimpin peronda itu pun menyadari keadaannya. Lawannya bu¬kan hantu, tetapi seseorang yang memiliki ilmu tiada taranya. Karena itu, maka ia pun segera meneriakkan aba-aba untuk membunyikan isyarat.

Sejenak kemudian terdengar suara kentongan memecah sepi yang menyelubungi kota. Dan suara itu pun kemudian menjalar dari kentongan yang satu ke kentongan yang lain, se¬hingga seluruh kota menjadi sibuk karenanya. Para prajurit segera bersiaga. Sebagian ada di gardu masing-masing, sedang yang lain dengan kesiagaan yang tertinggi, menyusuri jalan-jalan kota untuk menemukan orang yang selama itu telah mengganggu ketenangan kota Singasari. Mereka pasti bahwa orang berkerudung putih itu telah berada di dalam kota karena mereka sudah bersetuju untuk memberikan tanda yang khusus jika salah seo¬rang prajurit melihat orang berkerudnng putih itu ada di dalam kota.

Dalam pada itu, maka setiap regol pun seolah-olah telah tertu¬tup rapat. Tidak ada seekor kelinci pun yang dapat keluar me¬ninggalkan kota tanpa menembus penjagaan. Bahkan lorong-lorong sempit yang menghubungkan kota dengan daerah di luarnya pun mendapat pengawasan dengan saksama. Bukan saja pe¬ronda vang berjalan dari sebuah mulut lorong kemukit lorong yang Iain, tetapi beberapa orang prajurit dan para peronda disetiap padukuhan dengan berdebar-debar menunggui lorong- lorong itu tanpa mengedipkan mata.

Orang yang memakai kerudung putih itu pun mendegar bahwa diseluruh kota telan terdengar bunyi tanda yang khusus baginya. Namun ia masih sempat tertawa dan berkata, “Tidak ada gunanya. Tidak ada seorang pun dari isi Singasari yang da¬pat menangkap aku.”

“Kami akan menghubungi Mahisa Agni. Kau akan di¬tangkapnya dan di cincangnya.“ sahut seorang prajurit dengan tiba-tiba.

Sejenak orang berkerudung putih itu terdiam. Tetapi ke¬mudian ia menjawab, “Mahisa Agni seolah-olah sedang ditawan di dalam bangsalnya Setiap kali ia keluar, maka para prajurit selalu mengawasinya. Apalagi jika ia keluar dari halaman ista¬na. Karena itu, ia tidak akan dapat melakukan seperti yang kau katakan.”

“Untuk kepentingan seperti ini, ia tentu tidak akan ber¬keberatan.”

Orang berkerudung putih itu tertawa, katanya, “Tetapi ternyata bahwa ia tidak keluar dari bangsalnya meskipun ia mendengar suara tengara itu. Aku tidak akan cemas sama se¬kali. Tetapi aku harus pergi. Jika aku tidak pergi, dan para prajurit yang lain datang mengepungku, maka korban akan berjatuhan. Aku tidak akan sekedar menggores pundak atau punggung atau lengan. Tetapi aku akan menyobek lambung dan barangkali memenggal kepala sampai putus.”

“Kau tidak dapat pergi.“ bentak pemimpin prajurit itu. Dan berbareng dengan itu, maka yang lain pun telah me¬ngepungnya pula.

Tetapi seperti yang telah terjadi, orang itu dengan mudah¬nya dapat menembus kepungan itu sambil berkata, “Tunggu¬lah. Sebentar lagi kawan-kawanmu akan datang. Tetapi aku sudah pergi jauh sekali. Selamat tinggal kawan-kawan yang baik.”

Belum lagi gema suaranya lenyap, orang berkeru¬dung putih itu pun telah meloncat dan lenyap ke dalam lorong sempit.

Para prajurit itu mencoba untuk mengejarnya. Tetapi ka¬rena orang berkerudung putih itu menyusup ke dalam lorong dan seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, meluncur dengan cepat sekali, maka prajurit-prajurit itu tidak mengejarnya lagi. Adalah sangat berbahaya untuk menyusulnya dalam urutan se¬orang demi seorang. Karena seorang demi seorang itu akan dengan mudah dapat menjadi umpan senjatanya.

Karena itu, maka prajurit-prajurit itu pun kemudian berhenti ter¬mangu-ter¬mangu di mulut lorong. Mereka memandang ke dalam kekoso¬ngan karena orang berkerudung putih itu telah lenyap.

Sejenak kemudian maka kelompok yang pertama dari pra¬jurit peronda berkuda telah datang. Dengan serta-merta prajurit-prajurit yang baru saja bertempur itu pun menceriterakan apa yang telah terjadi.

“Orang itu masuk ke dalam lorong ini.“ berkata pemim¬pin kelompok peronda yang sudah bertempur itu.

“Kenapa kau biarkan saja?”

“Kami sudah bertempur. Seorang kawan kami terluka.”

Peronda yang berkuda itu pun kemudian berbicara di antara mereka sejenak, lalu mereka pun memutuskan untuk menge¬jarnya dan minta agar perajurit yang telah bertempur itu mem¬beritahukan kepada peronda-peronda berikutnya untuk mengepung tempat itu.

Demikianlah maka beberapa orang berkuda itu pun menyu¬sul menyusup ke dalam lorong sempit itu. Tetapi mereka pun sadar bahwa cara itu bukan cara yang sebaik-baiknya karena orang berkerudung itu akan dengan mudahnya bersembunyi di halaman sebelah menyebelah lorong itu.

Namun, sejenak kemudian prajurit-prajurit Singasari yang sigap te¬lah mengepung tempat itu. Setiap ujung lorong telah dijaga sebaik-baiknya.

“Tidak ada peronda yang bertemu dengan seorang pun di jalan-jalan kota.“ berkata seorang Senapati, “Jika benar orang itu memasuki padesan itu, maka ia tentu masih ada disana. Kita akan mengepungnya dan mencari dari rumah kerumah yang lain sampai pagi. Jika kita menemukan orang yang men¬curigakan, maka orang itu harus ditangkap dan dibawa ke¬padaku.”

Demikianlah desa itu bagaikan tertutup. Setiap jengkal dinding yang mengelilinginya mendapat mengawasan dengan saksama sehingga tidak akan ada seorang pun yang dapat kelu¬ar dari desa itu tanpa diketahui oleh para penjaga.

Selain penjagaan yang rapat di desa itu, maka di setiap pintu gerbang kota dan lorong-lorong pun masih tetap dijaga oleh para prajurit dan peronda-peronda dari padesan masing-masing.

Seperti yang dikatakan oleh Senapati itu, maka para prajurit pun mulai mencari orang berkerudung putih itu.

Tetapi agaknya memang tidak terlalu mudah melakukan¬nya. Meskipun setiap jengkal tanah di setiap halaman seolah-olah telah terinjak oleh para prajurit, namun mereka tidak mene¬mukan orang yang dicarinya.

“Tentu orang itu sudah melepaskan kerudung putihnya.“ berkata setiap prajurit. Namun kemudian timbul pertanya¬an, “Siapakah di antara laki-laki penghuni desa itu yang pantas di¬curigai?”

(Bersambung ke jilid 10)

Koleksi : Ki Ismoyo

Scanning: Ki Arema

Retype/Proofing: Ki Mahesa

Editing: Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s