JDBK-13


<<kembali | lanjut >>

WIJANG termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kali ini aku mempercayaimu. Kami akan mencarinya di tempat lain. Waktu yang diberikan oleh Eyang Resi Sapu Geni tidak terlalu panjang.”

“Resi Sapu Geni?” ulang Repak Rembulung. “Aku belum pernah mendengar nama itu.”

“Tentu,” potong Wijang, “kau hanya tahu nama-nama Perguruan Tegal Arang, Goa Lampin, Umbul Telu, dan perguruan-perguruan kecik lainnya.”

Repak Rembulung mengerutkan dahinya. Katanya, “Apakah maksudmu dengan perguruan kecik?”

“Perguruan sebesar kecik. Kecik memang terlalu kecil dibandingkan dengan kentos salak.”

“Ternyata kalian terlalu sombong, anak-anak muda.”

“Jika kami tidak sombong, maka kami tidak akan melibatkan diri dalam pertempuran ini.”

“Baik, baik,” Repak Rembulung mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Tetapi sebenarnya aku merasa sayang sekali melihat sikap dan kelakuan kalian.”

“Kenapa?”

“Kalian masih terlalu muda untuk terdampar dalam kehidupan seperti ini.”

“Maksudmu?”

“Kau mempunyai masa depan yang cerah dengan ilmu yang tinggi.”

“Ya. Aku yakin itu,” jawab Wijang.

Repak Rembulung tertawa. Katanya, “Kau memang terlalu yakin akan dirimu. Tetapi kau benar. Jika kalian berdua tidak sombong, maka kalian tidak akan terjun ke dalam pertempuran ini.”

“Ya.”

“Tetapi justru itulah yang kami maksudkan. Kenapa kalian yang muda, yang yakin akan kemampuan diri dan mendambakan hari depan yang cerah, tersekap dalam kehidupan seperti ini.”

“Kehidupan seperti apa?”

“Menurut kalian sendiri, kalian berasal dari Perguruan Goa Lampin. Namun kemudian kalian menganggap bahwa kami, dari perguruan kecik hanya mengenal perguruan-perguruan kecik lainnya, antara lain kau sebut pula Goa Lampin.”

Wijang mengerutkan dahinya. Sementara Pupus Rembulung berkata, “Anak-anak muda, siapa pun kalian, tetapi kalian adalah anak-anak muda yang aneh bagi kami. Meskipun sejak semula kami yakin, bahwa kalian bukan orang-orang dari Goa Lampin, bahkan bukan pula pengikut orang yang bernama Ki Sapu Geni, namun sikap kalian mencemaskan kami.”

“Kenapa?” bertanya Wijang.

“Mudah-mudahan kalian tidak bersungguh-sungguh dan berusaha mengelabuhi dengan kekasaran kalian yang berlebih-lebihan itu. Tetapi seandainya kalian benar-benar larut dalam dunia seperti ini, maka kami sangat menyayangkannya.”

“Lalu, apa yang sebaiknya harus kami lakukan?”

“Kalian dapat memanfaatkan kemampuan kalian untuk kepentingan yang lebih berarti. Maksudku, seandainya kalian ada di dalam satu lingkungan, apakah itu Goa Lampin, atau pengikut Resi Sapu Geni, atau dari perguruan-perguruan gelap lainnya, maka hidup kalian tidak akan berarti apa-apa.”

Wijang tertawa. Katanya, “Kalian dapat berkata seperti itu, tetapi apa yang kalian lakukan? Apakah kalian menginjak jalan kebenaran dengan sikap kalian?”

“Aku sudah mengira, bahwa kau akan mengikuti keberadaan kami dalam dunia kami sekarang ini,” jawab Pupus Rembulung. “Kami memang tidak akan dapat ingkar bahwa kami telah tenggelam dalam dunia yang pekat ini. Justru karena itu aku dapat mengatakan bahwa sebaiknya kalian mencoba melihat kepada diri kalian sendiri, apa yang sekarang sedang terjadi atas diri kalian. Seandainya kami masih semuda kalian, maka kami akan berpikir ulang untuk menerjuni dunia seperti yang kami rambah sekarang. Tetapi kesadaran kami datang terlambat. Karena itulah, aku ingin memperingatkan kalian, agar kesadaran kalian tidak datang terlambat.”

Wijang dan Paksi saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Wijang pun tertawa. Katanya, “Kalian berdualah yang aneh. Kalian sebaiknya menasehati diri kalian sendiri.”

Tetapi Pupus Rembulung itu tertawa pendek. Katanya, “Baiklah, anak muda. Segala sesuatunya memang terserah kepada kalian sendiri. Apakah kalian juga akan menjadi seorang petualang seperti kami, seperti orang-orang Tegal Arang, Umbul Telu dan barangkali aku juga dapat menyebut Goa Lampin atau Resi Sapu Geni, atau seorang lurah prajurit. Hari depan kalian adalah milik kalian sendiri. Bentuklah menurut selera kalian.”

Wijang termangu-mangu sejenak, sementara Paksi justru diam membeku.

“Sekarang, biarlah aku melanjutkan perjalanan. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih atas dua hal. Pertama, kalian telah membantu kami, karena kalian tidak mau melihat pertempuran yang tidak adil. Kedua, kalian percaya bahwa Pangeran Benawa tidak berada di tangan kami,” berkata Pupus Rembulung.

Wijang tidak menyahut. Sementara Repak Rembulung berkata, “Semoga kalian tidak bertemu dengan Pangeran Benawa.”

“Kenapa?”

“Akibatnya tidak akan baik bagi kalian berdua.”

“Kenapa?”

“Berhasil atau tidak berhasil, pengaruhnya akan sangat buruk bagi kalian berdua.”

“Kalian takut aku berhasil menangkapnya lebih dahulu?”

“Aku takut bahwa segala-galanya akan berhasil bagi kalian,” jawab Repak Rembulung.

“Omong kosong. Seberapa pun tinggi ilmu Pangeran Benawa, tetapi ia manusia juga seperti kami. Kami berdua akan dapat melumpuhkannya.”

“Jika kalian berhasil, maka pengaruhnya  pun tidak akan kalah buruknya.”

“Maksudmu?”

“Kalian tidak akan pernah hidup tenang. Kalian akan diburu oleh orang-orang yang menginginkan cincin itu. Apakah cincin itu masih tetap ada pada kalian atau tidak. Termasuk Harya Wisaka. Di samping itu, keluarga istana yang kehilangan pangerannya akan memburu kalian seperti memburu tupai.”

“Apakah hal seperti itu tidak terjadi pada orang lain? Pada kalian berdua misalnya, seandainya kalian berhasil menangkap Pangeran Benawa.”

“Hidup kami sudah kami pertaruhkan. Nama kami sudah terlanjur dilengkapi lumpur. Tetapi kalian belum. Kalian masih muda dan berhari depan panjang, jika kalian sendiri tidak menjerumuskan diri ke dalam kesulitan sehingga umur kalian menjadi pendek. Kalian masih mempunyai banyak kesempatan untuk membentuk diri sendiri. Apakah kalian benar-benar akan menjadi budak di Goa Lampin atau pengikut Sapu Geni atau kalian akan memilih menjadi seorang lurah prajurit atau seorang bebahu sebuah padukuhan. Dengan kemampuan yang tinggi, kalian akan dapat melindungi rakyat padukuhan kalian dari tindak kejahatan.”

Wajah Wijang menjadi tegang. Namun kemudian katanya,

“Cukup. Sekali lagi aku katakan, nasehati diri kalian sendiri.”

“Baik, anak-anak muda. Kami juga akan menasehati diri kami sendiri. Selamat.”

Repak Rembulung dan Pupus Rembulung kemudian meninggalkan Wijang dan Paksi yang berdiri termangu-mangu. Mereka berjalan dengan tanpa menaruh kecurigaan kepada Wijang dan Paksi jika saja mereka akan berbuat licik.

“Orang-orang   aneh,”   desis   Wijang   kemudian.   Paksi pun menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun berkata, “Marilah kita tinggalkan tempat ini. Mungkin sesuatu akan dapat terjadi jika kita masih berada disini. Orang-orang yang baru saja mencegat Repak Rembulung dan Pupus Rembulung itu tentu akan datang kembali.”

Paksi memandang orang-orang yang terluka itu. Namun ia tidak berkata apa-apa kepada mereka. Segala sesuatu memang terserah kepada kawan-kawan mereka.

Sambil melangkah, Paksi pun berdesis, “Nampaknya orang-orang yang ingin merampok uang itu telah menggiring kita untuk menyaksikan keanehan sifat Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.”

“Ya. Jika mereka tidak memaksa kita untuk berbelok, kita tidak akan sampai ke tempat ini. Kita tidak akan mempunyai kesan yang membingungkan tentang Repak Rembulung dan Pupus Rembulung. Kita melihat satu sisi yang keras dan kasar dari kedua orang itu, tetapi di sisi lain, kita masih bisa melihat kelembutan tingkah laku mereka. Mereka mengobati orang yang dilukainya, mereka mengucapkan terima kasih kepada kita dan yang aneh, mereka menasehati kita.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Di antara orang-orang dari perguruan yang hitam itu, Repak Rembulung dan Pupus Rembulung tampak semakin hitam. Tetapi disini kita melihat ia dalam ujud dan sifat yang lain.”

“Aku tidak mengerti,” desis Wijang.

Namun Paksi pun berdesis, “Apakah keduanya mengetahui bahwa mereka telah berhadapan dengan Pangeran Benawa sendiri, sehingga mereka menunjukkan sikap yang telah disaputnya menjadi menjadi lembut dan bijak?”

“Agaknya tidak. Mereka tidak tahu dengan siapa mereka berbicara. Jika mereka menyadari bahwa mereka berhadapan dengan Pangeran Benawa tanpa sisi yang lain dari sifat-sifat mereka, maka mereka akan berusaha menangkapnya.”

“Tetapi mereka menyadari, bahwa orang yang dianggapnya Pangeran Benawa itu mempunyai ilmu yang tinggi.”

“Tetapi mereka tentu tidak akan dengan mudah melepaskan kesempatan itu. Apalagi mereka belum meyakini bahwa kemampuan kita tidak akan dapat mereka kalahkan. Mereka hanya sempat melihat bagaimana kita bertempur tanpa mengenali ilmu kita yang sebenarnya.”

Paksi mengangguk-angguk.

Keduanya pun berjalan semakin menjauhi medan. Tetapi mereka tidak berniat untuk mengikuti Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.

Namun sambil berjalan di antara gerumbul-gerumbul perdu mereka masih saja membicarakan kedua orang suami istri yang aneh itu.

Dalam pada itu, terik matahari semakin menyengat. Di hadapan mereka membentang hutan yang membujur panjang. Sedang di arah lain, sawah yang bersusun nampak hijau ditumbuhi batang padi yang subur. Nampaknya itu bukan sekedar sawah tadah hujan. Air yang jernih mengalir di parit-parit yang terjadi secara alami, menuruni kaki Gunung Merapi, sehingga sawah yang tersusun itu tidak akan kekurangan air di segala musim.

Dalam pada itu, Wijang dan Paksi pun merasa bahwa mereka harus menjadi semakin berhati-hati. Mereka sudah mulai bersinggungan dengan orang-orang yang memburu mereka, terutama Pangeran Benawa. Meskipun ia masih belum dapat dikenali oleh orang-orang yang dikenalinya, namun keduanya mencemaskan bahwa pada suatu saat mereka tidak akan dapat menghindar lagi.

Ketika hal itu mereka bicarakan, maka Wijang pun berkata, “Apa boleh buat. Aku sudah mengambil keputusan untuk mengambil pengembaraan ini meskipun tujuanku semula masih belum dapat aku lakukan dengan baik.”

“Apakah keadaan istana Pajang itu sedemikian menjemukan bagi Pangeran, sehingga Pangeran segan untuk pulang?”

“Pertanyaanmu aneh, Paksi. Bukankah sudah aku katakan, jika aku pulang membawa cincin ini, maka cincin ini akan hilang. Selebihnya darimana aku dapat melihat kehidupan yang sebenarnya dari masyarakat Pajang jika aku tetap berada di istana?”

“Tetapi apakah kejemuan Pangeran di istana itu bukan satu dorongan yang kuat bagi Pangeran untuk meninggalkan istana?”

“Ya. Bukankah hal itu juga sudah pernah aku katakan kepadamu? Tetapi sudahlah, kita akan meneruskan pengembaraan kita.”

Paksi pun kemudian tidak bertanya lagi tentang niat Pangeran Benawa untuk melanjutkan pengembaraan. Bahkan sebenarnya Paksi memang berharap agar Pangeran Benawa itu mengambil keputusan yang demikian, sehingga ia akan mendapatkan kawan dalam pengembaraan itu.

Namun yang kemudian justru bertanya adalah Pangeran Benawa, “Paksi, bagaimana dengan kau sendiri? Apakah kau tidak berniat untuk pulang? Jika kau ingin membawa cincin bermata tiga itu, bawalah. Berikan kepada ayahmu. Apakah benar ayahmu akan menyerahkan kepada Ayahanda Sultan atau tidak.”

“Aku tidak mau bermain-main dengan benda yang sangat berharga itu. Jika permainan itu berakibat buruk, maka aku akan menyesal sepanjang hidupku.”

Wijang tersenyum. Namun ia pun bertanya, “Berakibat buruk apa maksudmu?”

“Jika ayah tidak mau menyerahkan cincin itu ke istana, maka akibatnya akan sangat buruk baginya.”

Wijang justru tertawa. Katanya, “Kau teringat kepada kedua orang yang menginginkan cincin itu?”

“Ya. Pangeran telah membuat aku berdebar-debar ketika Pangeran menyerahkan cincin itu kepada mereka.”

“Dan kau cemas bahwa aku akan memperlakukan ayahmu seperti mereka? Tentu tidak mungkin, Paksi. Kau tentu akan marah. Dan kau tentu akan membunuh aku.”

“Mungkin aku dapat membunuh Pangeran, jika tangan dan kaki Pangeran diikat lebih dahulu dengan Janget Kinatelon.”

Wijang tertawa. Suaranya lepas menghambur menggetarkan udara lereng Gunung Merapi itu.

Tetapi lingkungan itu ternyata sepi. Tidak ada seorang  pun yang mendengar suara tertawa Pangeran Benawa.

Keduanya pun kemudian berjalan terus. Namun mereka mulai menggeser arah untuk menemukan jalan yang lebih baik dari sebuah padang yang banyak ditumbuhi gerumbul-gerumbul perdu yang bahkan kadang-kadang semak-semak berduri.

Ketika mereka menemukan sebuah jalan, maka matahari telah condong ke barat. Cahayanya masih terasa menyengat kulit.

Namun keduanya berjalan terus meskipun tidak terlalu cepat.

Namun tiba-tiba Wijang pun berkata, “Nampaknya di depan itu sebuah padukuhan yang cukup besar.”

“Ya,” Paksi mengangguk-angguk.

“Kita akan singgah. Apakah kau tidak lapar?”

Paksi tersenyum. Namun Wijang itu pun berkata dengan nada tinggi, “Kau tentu tidak lapar.”

“Aku juga sudah lapar,” jawab Paksi.

“Kenapa kau tidak pucat?”

“Apakah kau juga pucat?”

“Aku tidak dapat melihat wajahku sendiri.”

“Apakah kita harus mencari blumbang dan melihat kita di dalamnya?”

“Pokoknya kita lihat, apakah di padukuhan di depan ada kedai atau tidak.”

Paksi tertawa. Katanya, “Nampaknya kau kelaparan.”

Wijang mengangguk sambil menjawab, “Aku tidak pernah merasa kelaparan seperti sekarang. Aku tidak tahu kenapa.”

Keduanya pun kemudian mempercepat langkah mereka memasuki padukuhan di depan mereka. Padukuhan yang memang agak besar.

Demikian mereka memasuki regol padukuhan, maka keduanya pun yakin, bahwa di dalam padukuhan itu tentu terdapat kedai yang memadai.

Sebenarnyalah, ketika mereka sampai di sebuah simpang empat di dalam padukuhan itu, mereka mendapatkan sebuah kedai nasi yang masih dibuka. Di sebelahnya sebuah kedai yang lain, yang menjual kebutuhan sehari-hari serta keperluan dapur.

Ternyata tidak jauh dari tempat itu terdapat sebuah pasar hewan yang sudah sepi. Nampaknya hari itu memang bukan hari pasaran. Meskipun demikian, di sebelah pasar itu justru masih nampak kesibukan perdagangan. Agaknya padukuhan itu adalah penghasil kelapa dan gula kelapa yang cukup besar, sehingga di sebelah pasar hewan itu terdapat tiga empat pedati yang sedang memuat kelapa dan gula kelapa.

Dengan demikian, maka tempat itu masih terhitung ramai meskipun matahari sudah menjadi semakin condong.

Kedai yang masih dibuka itu masih juga dikunjungi beberapa orang. Sementara itu, kedua kedai yang lain agaknya sudah lebih dahulu ditutup.

Wijang dan Paksi pun kemudian memasuki kedai yang masih dibuka itu. Mereka segera mencari tempat di sudut, sehingga mereka tidak akan merasa terganggu oleh mereka yang keluar masuk kedai itu.

“Hati-hatilah dengan kampilmu,” desis Wijang. “Nanti ada orang yang menginginkannya lagi.”

Paksi memandang ke sekitarnya. Kedua orang duduk di sudut yang lain. Tiga orang di dekat pintu dan dua orang lagi justru duduk menghadap ke tempat pemilik kedai itu menyiapkan pesanan-pesanan para pembelinya.

Sejenak kemudian, maka Wijang pun telah memesan minuman dan makanan bagi dirinya sendiri dan bagi Paksi. “He, kau pesan apa untukku?”

“Pokoknya kita memesan minuman dan makanan yang sama. Nasi pecel, telur rebus dan ikan goreng.”

“Ikan apa?”

“Apa saja yang ada. Gurameh, lele, sepat atau bahkan wader.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menolak. Ia juga senang makan nasi pecel asal tidak terlalu pedas.

Ketika kemudian Paksi menikmati pesanan itu, maka tiba-tiba saja Wijang menggamitnya. Katanya, “Berhati-hatilah. Nampaknya ada orang yang memperhatikan kedatangan kita.”

“Darimana kau tahu?”

“Dua orang berhenti di depan pintu. Nampaknya mereka memperhatikan kita berdua. Berbisik-bisik dan kemudian pergi.”

“Kita nikmati saja minuman dan makanan ini lebih dahulu,” jawab Paksi.

“Aku setuju,” sahut Wijang.

Namun ketika Paksi menghabiskan satu mangkuk nasi, ia merasa cukup kenyang. Karena itu, ketika Wijang menambah lagi, Paksi menggeleng. Katanya, “Aku belum lapar sekali. Bukankah tadi kita sudah makan?”

“Aku tidak ingat lagi. Yang penting aku harus makan karena aku lapar.”

Paksi tersenyum. Sebuah pertanyaan timbul di dalam hatinya, apakah di istana Pangeran Benawa dapat makan senikmat itu.

Beberapa saat kemudian, keduanya pun sudah selesai. Wijang mengelus perutnya sambil berkata, “Kau benar, Paksi. Ternyata aku merasa terlalu kenyang.”

“Belum lagi jika kau habiskan wedang sere serta beberapa potong makanan yang disediakan itu.”

Wijang menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kau ingin perutku meledak?”

Paksi tertawa. Namun suara tertawanya pun patah ketika ia juga melihat dua orang yang bergeser ketika ia mengangkat kepalanya.

“Aku melihat mereka,” desis Paksi tiba-tiba. “Mereka siapa?”

“Dua orang yang tadi kau lihat,” jawab Paksi. Namun tiba-tiba saja wajahnya nampak tegang. Katanya, “Rasa-rasanya aku mengenal mereka.”

“Kau mengenal mereka?” bertanya Wijang dengan dahi yang berkerut.

“Setidak-tidaknya salah seorang dari mereka.” Wijang menarik nafas dalam-dalam. “Sekarang giliranmu. Aku kira mereka memperhatikan aku.”

Paksi pun kemudian bertanya, “Apakah kau tidak akan memesan apa-apa lagi?”

“Kau kira perutku tidak akan pernah kenyang?” Paksi masih sempat senyum. Kemudian bertanya, “Marilah, kita tinggalkan tempat ini. Mungkin di luar beberapa orang sudah menunggu kita.”

“Kita harus mempersiapkan diri.”

Paksi pun kemudian membayar harga makan dan minum mereka sambil minta diri kepada pemilik kedai itu.

Ketika keduanya keluar dari kedai, maka mereka pun memperhatikan keadaan di sekitar kedai itu. Beberapa orang memang nampak berjalan lewat jalan di depan dan di sebelah kedai itu. Namun Paksi tidak melihat orang yang rasa-rasanya sudah dikenalnya itu.

“Orang-orang itu sudah pergi,” desis Wijang.

“Ya. Tetapi tentu tidak jauh dari kita.”

Keduanya pun kemudian melangkah meninggalkan kedai itu, sementara Paksi bertanya, “Kita akan pergi kemana?”

“Ke selatan. Pokoknya ke selatan,” jawab Wijang.

Paksi menarik nafas panjang. Katanya, “Ya. Pokoknya kita pergi ke selatan.”

Demikianlah keduanya pun melangkah semakin jauh dari kedai itu.

Namun sebelum mereka terlalu jauh, maka mereka pun mendengar keributan di belakang rumpun bambu yang tumbuh di sebuah halaman yang agak kosong. Pendengaran mereka yang tajam segera mengetahui, bahwa telah terjadi pertempuran di belakang rumpun bambu yang lebat itu.

Keduanya pun dengan serta-merta telah meloncat melingkari rumpun bambu itu. Keduanya tertegun ketika mereka melihat pertempuran yang sengit. Dua orang melawan seorang yang berilmu sangat tinggi.

Tetapi ternyata bukan hanya mereka berdua sajalah yang telah mendengar suara ribut di belakang rumpun bambu itu. Beberapa orang yang lain  pun telah berdatangan, seorang demi seorang.

Tetapi tidak seorang  pun segera berani melerai pertempuran yang sengit itu.

Paksi yang menyaksikan pertempuran itu menjadi berdebar-debar. Salah seorang yang bertempur berpasangan itu pernah dikenalnya. Tetapi seorang yang lain belum.

Namun pertempuran itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja seorang dari mereka yang bertempur berpasangan itu terlempar dari arena. Sebuah luka yang panjang menganga di dadanya.

Yang seorang lagi masih berusaha untuk bertahan. Tetapi sebelum Paksi dan Wijang sempat berbuat sesuatu, maka orang itu pun telah terpelanting pula. selain luka di lehernya, maka kepala orang itu telah membentur sebuah batu yang cukup besar, sehingga orang itu langsung terbunuh.

Dengan cepat Paksi berjongkok di sebelah orang yang pernah dikenalnya. Sambil mengguncang orang itu, Paksi berdesis, “Paman, Paman Derpa.”

Orang yang terluka itu pun berusaha untuk memperhatikan anak muda yang menyebut namanya. Dengan suara yang lemah orang itu pun kemudian berdesis, “Angger Paksi.”

“Ya, Paman.”

“Menyingkirlah. Orang itu sangat berbahaya bagimu.”

“Kenapa? Dan kenapa Paman sekarang berada disini?”

“Aku mendapat perintah dari ibumu untuk mencari Angger. Sudah setahun lebih kau meninggalkannya. Ibu ingin kau segera pulang. Berhasil atau tidak berhasil.”

Paksi tidak segera menjawab. Sementara orang itu berkata, “Tetapi agaknya ayahmu berkeberatan, Ngger. Kau baru boleh pulang jika kau bawa apa yang dipesankan oleh ayahmu.”

Paksi mengangguk-angguk. Namun ia pun bertanya, “Apa hubungannya dengan orang itu, Paman?”

“Orang itu adalah seorang dari mereka yang mendapat perintah dari ayahmu. Mereka juga harus mencari benda yang diinginkan oleh ayahmu itu. Tetapi mereka juga mendapat tugas untuk mencarimu.”

“Apakah yang dikehendaki oleh ayah?”

Sebelum Derpa menjawab, orang yang telah melukainya itulah yang menjawab sambil tertawa, “Kau harus menemukan benda itu. Jika tidak, lebih baik aku habisi sama sekali.”

“Itukah pesan ayahku, atau kehendakmu sendiri.”

“Aku berhak menentukan.”

Namun Derpa yang terluka parah itu berdesis, “Ayahmu memang tidak menghendaki kau segera pulang.”

“Kenapa, Paman? Kenapa?”

“Aku tidak tahu, Ngger.”

“Paman. Paman,” Paksi mengguncang orang itu. Tetapi Derpa sudah menutup matanya untuk selama-lamanya.

Jantung Paksi bagaikan tersulut api. Ia pun segera bangkit berdiri, memandang orang yang membunuh Derpa itu dengan mata yang menyala.

“Kau telah membunuh Paman Derpa.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Kedua orang itu sangat menjengkelkan. Ia adalah budak-budak ibumu yang setia, kesetiaan mereka adalah kesetiaan yang buta. Aku sudah memperingatkan mereka mengurungkan niatnya mencarimu. Tetapi mereka tidak mau mendengarkannya.”

“Apakah sebabnya kau melarangnya? Apakah mereka merugikanmu sehingga kau bunuh mereka.”

“Tentu. Aku mendapat tugas dari ayahmu, agar kau tidak pulang sebelum kau berhasil. Bukankah tugas kedua orang tuamu bertentangan dengan tugasku.”

“Aku tidak peduli. Aku akan pulang.”

Orang itu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Semua akan sia-sia. Jika kau memaksa pulang, maka kau akan mati. Tetapi seandainya kau tidak pulang pun, aku memang akan membunuhmu.”

“Kenapa?”

“Seorang sainganku akan berkurang. Bukankah kau juga akan mencari cincin itu.”

“Kau gila. Kau berada di dalam satu lingkungan yang pekat. Disini ada seribu orang yang sedang mencari cincin itu.”

“Aku akan bunuh mereka satu demi satu.”

“Siapa kau sebenarnya?”

Orang itu memandang Paksi dengan tajamnya. Dengan nada tinggi ia pun berkata, “Siapa pun aku, akibatnya akan sama saja bagimu. Kau akan mati. Itu saja yang perlu kau ketahui.”

“Persetan. Kau telah membunuh Paman Derpa dan seorang kawannya. Kau  pun harus mati disini.”

“He? Aku harus mati? Apakah kau harus membunuh diri?”

“Aku akan membuatmu,” geram Paksi.

Suara tertawa orang itu bagaikan mengguncang rumpun bambu di sebelahnya. Di sela-sela tertawanya orang itu berkata,

“Kau memang lucu, anak manis. Tetapi sangat menjengkelkan karena kesombonganmu. Tetapi pengaruhnya sangat bagus bagiku. Dengan demikian nafsuku membunuh menjadi semakin besar. Sekarang, sebutlah nama ibumu untuk yang terakhir kalinya.”

Paksi bergeser menjauhi tubuh Derpa yang terbaring diam. Beberapa orang di sekitar tempat itu menjadi tegang. Mereka berharap anak muda itu menyingkir saja. Tetapi Paksi justru mendekati orang yang memegang sebilah pedang itu.

“Apa yang akan kau lakukan, anak muda?” bertanya orang itu.

Paksi pun menjawab dengan nada tinggi, “Sudah aku katakan, aku akan membantumu untuk membunuh diri.”

Orang itu tertawa semakin keras. Katanya, “Kau bukan saja sombong. Tetapi kau sudah gila. Bukankah kau lihat, bahwa aku dapat membunuh dua orang yang diutus oleh ibumu mencarimu?”

“Ya,” jawab Paksi.

“Lalu apa yang dapat kau lakukan?”

Paksi justru melangkah mendekat. Katanya, “Bukankah kepalamu masih belum sekeras batu hitam? Tongkatku ini akan memecahkan tulang kepalamu.”

“Kesombonganmu sudah berlebihan, anak muda. Sudah waktunya aku membungkam mulutmu.”

Paksi sama sekali tidak menjadi gentar. Ia justru semakin mendekati orang yang telah membunuh Derpa.

Sementara itu, Wijang sama sekali tidak berusaha untuk mencampurinya. Ia berdiri saja beberapa langkah dari Paksi. Meskipun demikian, ia siap berbuat sesuatu jika diperlukan. Bahkan Wijang sedang memperhatikan seseorang yang berdiri tidak terlalu jauh dari arena pertempuran itu. Agaknya orang itu mempunyai hubungan dengan orang yang telah membunuh Derpa, langsung atau tidak langsung.

Karena itu, kecuali mempersiapkan diri jika ia diperlukan untuk membantu Paksi, maka Wijang pun mengawasi orang yang dicurigainya itu.

Dalam pada itu, Paksi yang marah itu pun telah bersiap untuk bertempur. Tongkatnya mulai menggelepar di tangannya. Namun orang yang telah membunuh Derpa itu masih saja tertawa. Dengan golok yang besar, yang telah melukai dan bahkan membunuh Derpa, orang itu menuding Paksi sambil berkata, “Kau memang lucu, anak muda. Tetapi orang-orang yang akan mati kadang-kadang memang berbuat aneh-aneh.”

Paksi tidak menjawab. Tetapi dengan kecepatan yang tinggi, Paksi yang marah itu telah memukul golok di tangan orang yang menertawakannya itu.

Orang itu benar-benar terkejut. Tenaga Paksi ternyata sangat besar, sehingga orang itu tidak dapat mempertahankan goloknya, sehingga golok itu terpelanting jatuh beberapa langkah dari kakinya.

Dengan serta-merta orang itu pun bergerak untuk memungut goloknya. Namun tiba-tiba pula ujung tongkat Paksi telah melekat di lehernya.

Sekali lagi orang itu terkejut. Ia tidak mengira sama sekali bahwa anak muda itu mampu bergerak demikian cepatnya. Karena itu, maka orang itu pun mengurungkan niatnya untuk mengambil goloknya, karena ujung tongkat yang menekan lehernya itu akan dapat melukainya. Bahkan luka yang parah.

“Aku dapat membunuhmu sekarang. Tetapi aku bukan pengecut yang licik. Kau tentu beralasan bahwa aku belum bersiap karena seranganku datang tiba-tiba. Sekarang, ambil golokmu. Kita akan bertempur dengan jujur.”

Jantung orang itu bergetar ketika Paksi menarik tongkatnya. Justru karena itu, maka untuk beberapa saat ia berdiri termangu-mangu.

Wijang pun mengerutkan dahinya melihat sikap orang yang dicurigainya. Ia tidak melihat bahwa orang itu akan mencoba membantu   orang  yang   telah   membunuh   Derpa.   Meskipun nampak ketegangan di wajahnya, namun ia berdiri saja di tempatnya. Sementara itu, beberapa orang yang lain pun masih juga berkerumun menyaksikan apa yang telah terjadi di belakang rumpun bambu yang lebat di halaman yang kosong itu.

“Ambil golokmu,” bentak Paksi. “Kita akan bertempur. Aku tidak peduli apa kau bersenjata atau tidak.”

Ketika Paksi mundur beberapa langkah, maka orang itu pun dengan cepat meraih goloknya. Demikian ia berdiri tegak dengan golok di tangannya, maka ia pun menggeram, “Satu penghinaan yang pahit. Tetapi kau akan menyesal dengan kesombongan yang tidak ada taranya ini, anak muda.”

“Kita akan bertempur. Aku tidak yakin bahwa ayah menghendaki agar kau membunuhku. Mungkin benar jika ayah ingin aku pulang dengan membawa benda yang dikehendaki. Tetapi niat untuk membunuh itu tentu timbul dari jantungmu yang berbulu itu.”

“Bukankah kau dengar, Derpa juga mengatakan bahwa ayahmu tidak ingin kau pulang.”

“Ayah tidak ingin aku pulang tanpa membawa benda itu.”

“Persetan,” geram orang itu. “Kesombonganmu serta penghinaan ini tidak akan dapat dimaafkan lagi.”

“Cukup,” potong Paksi. “Bersiaplah.”

Orang itu kemudian bersiap. Sekilas ia memandang Wijang yang berdiri termangu-mangu. Orang itu merasa semakin direndahkan bahwa anak muda yang seorang lagi sama sekali tidak akan berusaha membantu Paksi.

“Apakah anak muda ini merasa dirinya sudah memiliki ilmu yang mumpuni?” bertanya orang itu di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, Paksi dan Wijang pun mengerti, bahwa orang yang membunuh Derpa itu belum pernah mengenal orang yang bernama Pangeran Benawa.

Meskipun orang itu sekali-sekali memperhatikan Wijang, namun perhatiannya yang sekilas itu sekedar untuk meyakinkan, apakah anak muda itu akan melibatkan diri atau tidak.

Sejenak kemudian, orang yang bersenjata golok itu telah mulai menyerang. Tetapi orang itu menjadi sangat berhati-hati. Yang dilakukan Paksi adalah isyarat, bahwa anak muda itu adalah anak muda yang berilmu dan mempunyai tenaga dan kekuatan yang besar.

Namun bagaimanapun juga orang itu tetap yakin, bahwa ia akan dapat membunuh anak muda itu dalam waktu singkat. Jika goloknya sempat lepas, itu karena ia benar-benar lengah dan tidak menduga bahwa anak muda itu akan menyerang demikian tiba-tiba.

Paksi pun kemudian telah memutar tongkatnya pula. Sekali-sekali tongkatnya itu terjulur. Ketika orang yang bersenjata golok itu mencoba dengan tiba-tiba membentur tongkat Paksi, ternyata tongkat itu tidak terlepas dari tangan anak muda itu. Bahkan telapak tangan orang itulah yang menjadi panas.

Semakin lama keduanya bergerak semakin cepat. Mereka mulai saling menyerang. Golok di tangan orang itu mulai berputaran, kemudian terayun mendatar mengarah ke leher Paksi. Namun tongkat Paksi pun bergerak mengimbangi kecepatan gerak golok kawannya. Setiap kali golok itu membentur tongkat Paksi, sehingga golok itu tidak pernah dapat menyerang kulit anak muda itu.

Semakin lama pertempuran itu menjadi semakin sengit.

Wijang yang memperhatikan pertempuran itu sekali-sekali mengerutkan  dahinya.   Namun  Wijang pun  tidak  melepaskan perhatiannya kepada orang yang dicurigainya itu. Mungkin saja orang itu menyerang dengan senjata rahasia atau berbuat sesuatu dengan licik.

Tetapi   nampaknya   orang   itu   benar-benar   tidak   akan melibatkan diri.

Pertempuran antara orang yang telah membunuh Derpa melawan Paksi itu semakin lama menjadi semakin sengit. Ujung tongkat Paksi lah yang kemudian telah berhasil menembus pertahanan lawannya. Ketika golok itu dengan derasnya menyambar ke arah bahu kanan Paksi, maka Paksi pun sempat memiringkan tubuhnya. Demikian golok itu terayun tanpa menyentuhnya, maka dengan cepat Paksi menjulurkan tongkatnya.

Ujung tongkat Paksi itulah yang justru mematuk lambung lawannya sehingga lawannya terdorong beberapa langkah surut.

Namun ketika sekali lagi Paksi menyerang ke arah dada, orang itu menangkis dengan goloknya. Bahkan sambil berputar, orang itu menyerang dengan ayunan goloknya yang besar itu.

Paksi lah yang meloncat surut. Tetapi demikian cepatnya ia bergerak, sehingga dengan satu loncatan panjang, Paksi menjulurkan tongkatnya mematuk dadanya.

Sekali lagi orang itu terdorong surut. Namun ia tidak sempat memperbaiki keadaannya. Paksi yang memburunya mengayunkan tongkatnya dengan derasnya memukul ke arah dahi.

Orang yang telah membunuh Derpa itu tidak menyerah. Ia mencoba menggeliat menghindari ayunan tongkat lawannya.

Orang itu memang berhasil menyelamatkan kepalanya. Tetapi tongkat Paksi telah mengenai pundak kirinya. Demikian kerasnya, sehingga orang itu mengaduh kesakitan.

Dengan cepat ia berusaha mengambil jarak. Namun Paksi tidak memberinya kesempatan. Anak muda yang marah itu memburunya terus. Tongkatnya menebas dengan cepatnya. Orang yang masih kesakitan itu tidak sempat mengelak.

Lambungnya telah disambar oleh tongkat Paksi. Orang itu gagal menangkis serangan itu dengan goloknya. Ia pun gagal untuk mengelak.

Pada saat yang gawat itu, ujung tongkat Paksi telah menukik mengenai perutnya, sehingga orang itu membungkuk kesakitan.

Pada saat itulah, tongkat Paksi terayun mengenai tengkuknya.

Terdengar orang itu berteriak. Kemudian mengumpat kasar. Namun kemudian orang itu terjatuh berguling di tanah sambil mengerang kesakitan.

Paksi pun berdiri termangu-mangu. Orang itu masih menggeliat. Namun jari-jarinya tidak lagi dapat menggenggam goloknya, sehingga goloknya itu pun tergolek sejengkal dari tangannya itu.

Perlahan-lahan Paksi melangkah mendekatinya. Bahkan kemudian berjongkok di sampingnya.

“Anak iblis,” orang itu mencoba mengangkat kepalanya. Tetapi kepala itu pun terkulai kembali dengan lemahnya.

Paksi tidak menyahut. Dipandanginya saja orang yang sudah tidak berdaya itu. Betapapun kemarahan membakar jantungnya, tetapi Paksi tidak dapat sekali lagi mengayunkan tongkatnya mengakhiri hidup orang itu.

Meskipun demikian, orang itu keadaannya sudah sedemikian parahnya meskipun ia masih berusaha untuk mengancam, “Aku akan membunuhmu.”

“Apa sebenarnya pesan ayahku?” tiba-tiba Paksi bertanya.

“Persetan dengan ayahmu,” geram orang itu. “Aku tidak peduli dengan ayahmu. Aku ingin membunuhmu, karena kau akan dapat mengganggu usahaku.”

Paksi menggertakkan giginya. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa.

Dipandanginya saja orang yang terbaring sambil mengerang kesakitan itu, namun sambil mengumpat-umpat.

Tetapi suaranya semakin lama menjadi semakin lambat. Akhirnya suaranya terdiam. Ternyata bahwa orang yang telah membunuh Derpa dan kawannya itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Nafasnya pun kemudian telah terhenti.

Paksi   menarik   nafas   dalam-dalam.   Orang   yang   telah membunuh Derpa dan kawannya itu pun telah dibunuhnya pula.

Namun dalam pada itu, ketika Paksi mengangkat wajahnya, ia melihat Wijang dengan cepat melangkah pergi. Paksi tidak tahu, apa yang akan dilakukannya. Karena itu, maka dengan serta-merta ia pun telah mengikutinya. Untuk sesaat ia melupakan tubuh-tubuh yang terbaring diam itu.

Orang-orang yang berkerumun pun termangu-mangu. Mereka melihat seorang yang dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu. Kemudian disusul oleh anak muda yang datang bersama-sama anak muda yang baru saja bertempur dengan membunuh lawannya.

Demikian orang itu turun ke jalan, maka Wijang pun menghentikannya.

“Tunggulah, Ki Sanak.”

Orang itu memang berhenti. Ketika ia memandang berkeliling, maka dilihatnya banyak orang yang berkerumun pula di jalan itu. Sementara itu, Wijang telah berdiri di belakangnya sambil berkata,   “Tunggu,   Ki  Sanak.   Ada  sesuatu yang  ingin  aku tanyakan.”

Orang itu kemudian memutar tubuhnya dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

“Kenapa kau tidak membantu kawanmu yang terbunuh itu?”

“Ia bukan kawanku,” jawab orang itu.

“Jadi untuk apa kau mengawasinya?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ketika ia melihat Paksi datang pula menyusulnya, maka orang itu pun menjadi semakin gelisah.

“Siapakah orang ini?” bertanya Paksi.

“Aku curiga kepadanya. Ia mengamati pertempuran itu. Kemudian dengan tergesa-gesa pergi ketika lawanmu terbunuh.”

Paksi melangkah mendekat. Dengan nada berat ia bertanya,

“Kau juga diupah oleh ayahku?”

Orang itu menjadi tegang. Dipandanginya Paksi dan Wijang berganti-ganti. Namun agaknya orang itu juga tidak mengenal bahwa yang dihadapinya itu adalah seorang pangeran.

“Kenapa kau diam saja?” bentak Paksi.

Orang itu terkejut. Ia memang sedang membuat pertimbangan. Namun kemudian ia pun menjawab, “Aku bukan kawan orang yang terbunuh itu. Tetapi memang aku sedang mengawasinya.”

“Kenapa dan untuk siapa kau melakukan pengawasan terhadap orang yang terbunuh itu?” bertanya Paksi.

“Aku adalah kepercayaan ayahmu.”

“Nah, bukankah orang itu juga bekerja untuk ayahku?”

“Ya. Tetapi ia seorang yang tidak dapat dipercaya. Karena itu, aku harus mengawasinya. Aku tahu bahwa orang itu berusaha untuk mengikuti Derpa yang mendapat perintah dari ibumu mencarimu. Sebenarnya ia bertugas untuk mengetahui, hanya mengetahui, apakah kau sudah berhasil mendapatkan benda yang dikehendaki oleh ayahmu itu atau belum?”

“Kalau belum?”

“Kau harus mencari terus sampai kau dapat menemukannya.”

“Jika untuk selamanya aku tidak menemukannya?”

“Kau tidak dapat kembali pulang.”

“Kalau aku sudah mendapatkannya?”

“Kau harus pulang dan menyerahkan benda itu kepada ayahmu.”

“Kenapa ia akan membunuhku?”

“Ia ingin mendapatkan cincin itu bagi dirinya sendiri.”

“Ketika ia mencoba membunuhku, kenapa kau tidak berusaha untuk mencegahnya?”

Wajah orang itu menjadi tegang. Dipandanginya kedua orang anak muda itu berganti-ganti. Namun akhirnya ia berkata, “Aku tidak mendapat tugas untuk mencegahnya. Ayahmu tidak akan kehilangan jika kau dibunuh oleh orang itu. Tanpa memikul dosanya, ayahmu akan merasa beruntung atas kematianmu.”

“Kenapa? Kenapa ayahku menginginkan kematianku?”

“Ayahmu tidak pernah mengupah orang untuk membunuhmu. Tetapi ia sama sekali tidak berkeberatan jika hal itu terjadi.”

“Ya, tetapi kenapa?”

“Aku tidak tahu.”

Wajah Paksi menjadi sangat tegang. Tongkatnya pun kemudian teracu ke dada orang itu. Katanya, “Dengar. Aku dapat melobangi dadamu dengan tongkat ini.”

“Aku percaya.”

“Jadi, jawab pertanyaanku.”

“Aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak dapat mencampuri persoalan-persoalan yang menyangkut keluargamu.”

“Kau jangan berbohong. Aku dapat membunuhmu,” geram Paksi.

“Kau dapat membunuhku. Tetapi aku tidak akan pernah dapat menjawab pertanyaanmu itu.”

Jantung Paksi bagaikan membara. Dengan lantang ia pun berkata, “Aku tantang kau bertempur.”

Wajah orang itu menjadi semakin tegang. Katanya kemudian, “Aku bukan pengecut. Bahkan aku merasa bahwa ilmuku tidak kalah dari ilmu orang yang telah kau bunuh itu. Tetapi aku juga merasa bahwa aku tidak akan dapat mengalahkanmu. Meskipun demikian, jika kau menghendaki untuk membunuhku dengan cara sebagaimana kau lakukan atas orang yang membunuh Derpa itu, aku tidak akan menolak.”

Wijang lah yang kemudian berkata, “Kau tidak usah bertempur lagi, Paksi. Biarlah orang ini menemui ayahmu. Biarlah ia mengatakan apa yang telah terjadi disini. Kematian Derpa dan kawan-kawannya, kematian orang yang telah membunuhnya dan pembicaraanmu dengan orang ini.”

“Aku tidak dapat mempercayainya. Ia dapat berbohong dan bahkan dapat memfitnah. Ia dapat mengadu domba antara aku dan ayahku. Aku  pun tidak percaya bahwa orang ini tidak mempunyai hubungan dengan orang yang telah terbunuh itu. Semua. Aku tidak percaya semua kata-katanya.”

“Aku mengerti,” sahut Wijang. “Tetapi menurut pendapatku, beri kesempatan ia menemui ayahmu. Apa pun yang akan dikatakannya. Pada saatnya kau akan dapat mengerti, apakah orang ini berkata sebenarnya atau tidak. Kita mempunyai banyak waktu untuk memburunya kemana pun ia bersembunyi. Ayahmu akan dapat memberikan petunjuk kemana kita harus mencarinya.”

“Anak-anak muda,” berkata orang itu, “kalian harus ingat, bahwa bukan hanya aku yang dapat berbohong. Ayahmu juga dapat berbohong.”

“Persetan kau,” geram Paksi.

Wijanglah yang kemudian berkata, “Pergilah. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Tetapi ingat,  akibat dari langkah-langkah yang akan kau ambil akan menentukan nasibmu kemudian.”

Orang itu tidak menjawab. Sementara Paksi pun berkata, “Baik. Kau mendapat kesempatan kali ini. Tetapi pada suatu saat, kau akan membuat perhitungan dengan aku.”

Orang itu masih saja tidak menjawab. Ketika kemudian ia memandang berkeliling, maka orang-orang yang ada di sekitarnya pun memandanginya dengan tegang pula.

“Aku akan pergi,” berkata orang itu kemudian. “Aku akan menemui ayahmu dan mengatakan apa yang telah terjadi disini.”

Paksi tidak menjawab. Tetapi Wijang pun berkata, “Pergilah. Kau juga harus mengatakan kepada ayahnya, bahwa ada seribu orang yang sedang mencari benda yang dicarinya. Sulit bagi Paksi untuk dapat menemukannya.”

Tiba-tiba saja Paksi memotong, “Tetapi aku akan pulang. Ibuku menginginkan aku pulang. Aku tidak peduli siapa pun juga.”

Orang itu tidak menyahut. Sementara Paksi membentak, “Cepat, pergilah.”

Orang itu pun menarik nafas dalam-dalam. Selangkah ia bergeser surut. Namun kemudian ia pun melangkah meninggalkan Paksi dan Wijang yang berdiri tegak mengawasinya.

“Ia akan bercerita kepada ayahmu,” berkata Wijang.

“Ya.”

“Ayahmu harus tahu, bahwa kau bukan lagi Paksi sebagaimana saat kau meninggalkan rumahmu.”

Paksi termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja ia berdesis, “Tetapi apakah benar ayah menghendaki kematianku?”

“Jangan percaya.”

“Setidak-tidaknya ayah tidak menghendaki aku pulang.”

“Tentu bukan itu maksudnya,” jawab Wijang. “Ayahmu ingin mendorong agar kau lebih bersungguh-sungguh mencari benda yang diinginkan.”

Paksi memandang Wijang sekilas. Namun kemudian katanya, “Kau hanya ingin menenangkan perasaanku. Tetapi kau menangkap ketidakwajaran itu. Aku, sekitar setahun yang lalu, dalam umurku yang baru tujuh belas, aku harus keluar dari rumah untuk mencari jejak cincin yang hilang tanpa bekal ilmu yang memadai. Bukankah itu keputusan gila yang pernah diambil oleh ayahku?”

“Sudahlah. Ada tiga sosok mayat yang terkapar di belakang rumpun bambu ini. Nanti kita berbicara lagi.”

Paksi pun tiba-tiba teringat kepada Derpa yang telah terbunuh. Ia mengenal orang itu. Derpa sempat berkata kepadanya, bahwa ibunya mengharapkannya pulang.

Bersama Wijang ia pun kemudian kembali ke balik rumpun bambu. Beberapa orang masih berkerumun. Empat orang di antara mereka berdiri di sebelah tubuh-tubuh yang terkapar itu.

Seorang di antara mereka kemudian memperkenalkan dirinya, “Aku bekel di padukuhan ini, anak muda.”

Wijang dan Paksi pun mengangguk hormat. Dengan nada dalam Paksi pun berkata, “Kami mohon maaf, Ki Bekel, bahwa peristiwa ini terjadi di padukuhan ini.”

“Beberapa orang saksi mengatakan, bahwa kalian tidak memancing keributan ini. Bahkan kalian merupakan salah satu sasaran dari orang yang ternyata terbunuh itu.”

“Ya, Ki Bekel. Aku juga tidak tahu pasti, kenapa tiba-tiba saja orang itu ingin membunuhku.”

“Baiklah,” berkata Ki Bekel, “nanti aku berharap, kalian berdua singgah di rumahku. Mungkin kita dapat berbicara tentang beberapa hal yang perlu.”

“Baik, Ki Bekel. Tetapi perkenankanlah kami berdua menyelenggarakan penguburan mereka yang terbunuh ini. Namun kami ingin mendapat keterangan, dimana kami dapat mengubur mereka.”

Ki Bekel tersenyum. Katanya, “Biarlah orang-orang padukuhan ini membantu kalian, anak-anak muda.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, Ki Bekel.”

Ki Bekel itu pun kemudian berkata kepada orang yang berdiri di sebelahnya, yang ternyata adalah jagabaya di padukuhan itu, “Perintahkan beberapa orang untuk mengubur mereka, Ki Jagabaya. Aku akan membawa kedua orang anak muda ini ke rumahku.”

“Baik, Ki Bekel,” jawab Ki Jagabaya.

Namun Paksi pun kemudian berkata, “Tolong, Ki Bekel, pisahkan yang seorang ini dari yang lain. Yang seorang ini justru memusuhi kedua orang yang lain. Aku pun mohon, seorang dari kedua orang ini dapat diberi ciri. Orang ini bernama Derpa.”

“Baik, anak muda. Ki Jagabaya akan melakukannya.”

“Pada suatu saat, kami akan kembali. Keluarga kedua orang itu tentu ingin melihat kuburan mereka.”

“Baik, baik, anak muda.”

Demikianlah, Ki Bekel justru membawa Paksi dan Wijang ke rumahnya. Setelah membersihkan diri di pakiwan, maka keduanya pun duduk di pringgitan bersama Ki Jagabaya.

“Siapakah kalian berdua itu, anak muda. Dan kenapa kalian sampai kemari? Beberapa orang yang berada di sekitar arena itu mendengar bahwa kalian sedang mencari sesuatu di lingkungan ini yang aku yakini tentu sebuah cincin yang sekarang sedang diburu oleh banyak orang.”

“Sebenarnya kami berdua tidak memerlukannya, Ki Bekel. Tetapi ayah kami yang memaksa untuk mencarinya.”

“Apakah kalian bersaudara?”

“Ya, Ki Bekel. Bukan saudara kandung. Tetapi saudara sepupu,” jawab Paksi.

“Nama kalian?”

“Namaku Paksi.”

“Namaku Wijang, Ki Bekel,” Wijang pun mengangguk hormat.

“Yang kalian maksud dengan ayah kalian itu, ayah Angger Paksi atau ayah Angger Wijang.”

Tiba-tiba saja Wijang menjawab, “Sebenarnya adalah ayahku, Ki Bekel. Tetapi Paksi juga menyebutnya ayah.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Itukah sebabnya, maka ayah kalian itu menginginkan Angger Paksi tidak pulang.”

“Kami masih harus menegaskan kebenaran pernyataan itu, Ki Bekel. Sebab sikap ayahku terhadap aku dan Paksi nampaknya tidak ada bedanya.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Mungkin ayah Angger Wijang telah memendam perasaannya sejak lama, sehingga pada suatu saat, perasaan itu terungkit. Sementara itu ayah Angger Wijang tidak mempunyai cara dan alasan yang pantas untuk menyingkirkan Angger Paksi.”

“Aku tidak yakin, Ki Bekel,” sahut Wijang.

“Baiklah. Aku tidak ingin seakan-akan menyelidiki persoalan yang timbul di lingkungan keluarga kalian. Namun yang penting, yang akan aku beritahukan kepada kalian adalah, bahwa banyak orang yang sedang memburu cincin itu. Cincin yang aku dengar telah murca dari keraton. Cincin itu telah hilang dari bangsal pusaka bersama dengan hilangnya salah seorang pangeran di Pajang. Justru Pangeran Benawa.”

Wijang dan Paksi hanya mengangguk-angguk saja.

“Karena itu, Ngger, aku ingin memperingatkan, bahwa sebaiknya kalian tidak melibatkan diri dalam usaha penemuan cincin itu. Meskipun aku tahu, bahwa ternyata Angger Paksi berilmu tinggi, tetapi kalian hanya berdua. Sementara itu, menurut pendengaranku, beberapa orang sakti dari berbagai lingkungan sedang berkeliaran di sisi selatan Gunung Merapi.

Mereka menganggap bahwa sepercik cahaya yang sangat terang, yang turun dari langit, adalah cincin yang hilang itu, yang jatuh di lereng sebelah selatan Gunung Merapi ini. Namun di samping itu, maka mereka  pun telah beramai-ramai memburu Pangeran Benawa yang diduga membawa cincin itu pergi dari istana.”

“Jadi Pangeran Benawa sendiri telah mencuri cincin itu, Ki Bekel?” bertanya Wijang.

“Jangan berkata begitu, Ngger. Bagaimanapun juga Pangeran Benawa adalah seorang pangeran.”

“Jadi?”

“Tidak seorang  pun tahu, apa maksud Pangeran Benawa dengan membawa cincin itu pergi dari istana. Jika banyak orang menganggap bahwa siapa yang mengenakan cincin itu di jarinya, ia akan dapat menurunkan penguasa di tanah ini, maka sebenarnya Pangeran Benawa mempunyai kesempatan terbesar tanpa harus membawa cincin itu pergi.”

“Jika demikian, Pangeran Benawa telah memancing pergolakan yang dapat meresahkan banyak orang.”

“Sudahlah. Yang penting ingin aku sampaikan kepada kalian berdua, sebaiknya kalian tidak usah melibatkan diri ke dalam pusaran perburuan itu. Kalian dapat menjelaskan hal itu kepada ayah kalian, jika ayah kalian memang telah menugaskan kalian untuk mencarinya.”

Kedua orang anak muda itu mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Wijang berkata, “Baik, Ki Bekel. Kami akan meninggalkan tempat ini. Sejak semula memang kami merasa segan untuk melakukannya. Kami sama sekali tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Karena itu, kami berkeliaran saja di lereng selatan Gunung Merapi ini.”

“Aku senang kesediaan Angger untuk meninggalkan tempat ini. Aku tidak ingin melihat anak-anak yang masih muda seperti Angger berdua harus terlibat dalam persoalan yang rumit, yang akan merenggut jiwa Angger. Sedangkan sebenarnya masa depan Angger masih panjang dan masih penuh dengan harapan-harapan.”

“Ya, Ki Bekel,” jawab Paksi, “kami akan memperhatikan pesan Ki Bekel. Seperti yang dikatakan oleh saudaraku, kami akan segera meninggalkan tempat ini.”

“Bukan maksud kami mengusir Angger berdua. Jika Angger berdua masih ingin tinggal disini, aku sama sekali tidak berkeberatan.”

“Terima kasih, Ki Bekel. Agaknya kami ingin meneruskan perjalanan kami.”

“Angger berdua akan kemana?”

“Kami akan mengembara kemana saja, seakan-akan kami sedang mencari cincin itu. Pada suatu hari kami akan pulang dan melaporkan bahwa kami telah gagal.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun berkata, “Tetapi segala sesuatunya terserah kepada kalian, anak-anak muda. Aku hanya memberikan pertimbangan, karena aku merasa sayang, bahwa masa depan kalian akan patah karena keinginan orang tua kalian yang berlebihan itu”

“Ya, Ki Bekel. Kami mengerti,” sahut Wijang. “Kami mengucapkan terima kasih atas nasehat dan petunjuk Ki Bekel.”

“Aku juga mempunyai anak seumur kalian. Aku selalu membayangkan masa depan yang baik bagi anakku itu. Aku  pun berharap anakku itu berumur panjang.”

Namun ketika kemudian Wijang dan Paksi mohon diri, Ki Bekel menahannya. Katanya, “Kami sedang menyiapkan makan untuk kalian berdua.”

Wijang dan Paksi berpandangan sejenak. Mereka baru saja makan dan bahkan terlalu kenyang. Karena itu, maka Wijang pun berkata, “Kami mengucapkan terima kasih, Ki Bekel. Tetapi kami berdua baru saja makan menjelang peristiwa itu terjadi. Ketika kami sedang berada di kedai itulah, kedua orang yang sedang mencari kami itu melihat dan selanjutnya justru terlibat dalam pertengkaran dengan orang lain yang juga berkepentingan dengan kami.”

“Tetapi tidak baik menolak rejeki, anak-anak muda. Meskipun hanya sedikit, aku minta kalian makan lebih dahulu.”

“Sungguh, Ki Bekel. Kami mengucapkan terima kasih. Kami mohon maaf, bahwa kami terpaksa tidak dapat menerima uluran tangan Ki Bekel. Kami bukannya menolak, tetapi agaknya tidak ada tempat lagi di dalam perut kami.”

“Tetapi kalian baru saja bertempur. Kalian tentu letih dan seandainya kalian baru saja makan, maka kalian tentu telah menjadi lapar kembali.”

“Kami mohon maaf, Ki Bekel.”

Kerut dahi Ki Bekel nampak semakin dalam. Agaknya ia menjadi kecewa. Tetapi apaboleh buat. Keduanya masih merasa sangat kenyang.

Dengan demikian, maka Wijang dan Paksi pun segera minta diri. Berkali-kali mereka mengucapkan terima kasih dan mohon maaf kepada Ki Bekel yang menjadi kecewa.

Tetapi Ki Bekel pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Baiklah. Selamat jalan. Mudah-mudahan kalian tidak menjumpai persoalan yang dapat mengganggu perjalanan kalian. Sekali lagi aku ingin menasehatkan, jangan melibatkan diri dalam persoalan yang gawat ini.”

Wijang dan Paksi mengangguk-angguk.  Hampir berbareng keduanya menjawab, “Baik, baik, Ki Bekel.”

Demikianlah, keduanya pun segera meninggalkan rumah Ki Bekel dari padukuhan yang terhitung besar itu.

Demikian mereka meninggalkan halaman rumah itu, maka dua orang yang berwajah garang keluar dari ruang dalam. Dengan geram, seorang di antara mereka berkata, “Setan-setan kecil itu menolak untuk makan.”

Ki Bekel dengan wajah gelisah menyahut, “Aku sudah mencoba untuk memaksa mereka, tetapi mereka tidak mau.”

“Sikapmu tidak meyakinkan,” geram yang lain.

“Aku sudah berusaha. Tetapi keduanya memang menolak.”

Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi dan berkulit kuning berkata, “Jika saja mereka mau makan, maka racun itu akan membuat mereka menjadi lemah. Kita akan dengan mudah mengakhiri mereka di bulak sebelah.”

“Tanpa racun kita akan mengakhiri mereka di pategalan. Tidak di bulak. Itu tentu akan lebih baik. Kemungkinan kecil sekali akan dilihat orang, bagaimana kita membantai kedua anak muda itu.”

Namun dalam pada itu, Ki Bekel pun bertanya, “Apa sebenarnya salah mereka sehingga mereka harus dibantai? Bukankah mereka sudah bersedia untuk meninggalkan daerah ini serta tidak lagi ikut memburu cincin bermata tiga itu?”

“Mereka tentu berbohong. Aku tidak percaya kepada mereka. Aku menduga bahwa mereka adalah para pengikut Harya Wisaka. Keduanya agaknya sedang memburu Pangeran Benawa. Ilmu mereka nampaknya cukup meyakinkan, sehingga mereka, setidak-tidaknya yang membawa tongkat itu, akan dapat mengganggu tugas-tugas kami. Apalagi jika Harya Wisaka menurunkan orang-orangnya yang lain di daerah ini.”

“Mereka tentu bukan pengikut Harya Wisaka. Bukankah jelas bahwa mereka ditugaskan oleh ayah mereka. Bahkan agaknya ada persoalan yang rumit di dalam lingkungan keluarga mereka sendiri. Seorang di antara mereka dengan sengaja diusir dari rumahnya, sehingga perintah untuk mencari cincin itu adalah sekedar untuk menyingkirkannya.”

“Mereka hanya berpura-pura.”

“Bagaimana mungkin yang dilakukan itu sekedar pura-pura. Tiga orang mati dan sudah dikuburkan. Yang mati itu tidak sekedar pura-pura.”

“Kau memang dungu, Ki Bekel,” seorang di antara kedua orang itu membentak. “Orang-orang seperti Harya Wisaka tidak akan merasa sayang mengorbankan orang-orangnya untuk melakukan satu permainan yang rumit. Orang-orang yang saling membunuh itu sendiri tidak menyadari, bahwa mereka tidak lebih dari alat-alat permainan yang diatur oleh Harya Wisaka.”

“Permainan yang demikian tentu merupakan permainan yang berlebihan.”

“Cukup,” yang lain pun membentak pula. “Kau tidak tahu cara yang diambil oleh Harya Wisaka. Cara yang paling kasar  pun akan dilakukannya.”

Ki Bekel memang tidak menjawab. Ia sadar, dengan siapa ia berhadapan.

Sementara itu, salah seorang dari kedua orang itu pun berkata, “Ingat, Ki Bekel, jika kau tidak ingin padukuhanmu ini hancur, ikuti petunjuk-petunjukku. Aku mempunyai kekuatan yang cukup untuk berbuat apa saja atas padukuhan ini.”

Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Jantungnya terasa bergejolak. Tetapi ia tidak dapat melawan kehendak kedua orang itu, karena Ki Bekel menyadari bahwa di belakang kedua orang itu terdapat sebuah kelompok yang berlindung di belakang nama sebuah perguruan yang mempunyai banyak pengikut.

Tetapi wajah Ki Bekel itu menjadi pucat ketika salah seorang di antara kedua orang itu berkata, “Marilah, kita susul kedua anak itu.”

“Kita hanya berdua?” bertanya yang seorang.

“Ki Sampar Angin ada di banjar. Bersama Ki Sampar Angin kita akan dapat menyelesaikan siapa saja.”

Kawannya mengangguk-angguk, sementara itu yang lain itu berkata selanjutnya, “Kita berdua akan membunuh seorang di antara mereka. Sedangkan Ki Sampar Angin akan menyelesaikan yang seorang lagi.”

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Jangan terlalu lama.”

“Kita akan melakukannya malam nanti.”

“Tetapi kita jangan kehilangan jejak.”

Keduanya pun kemudian meninggalkan rumah Ki Bekel dengan tergesa-gesa. Namun seorang di antara mereka sempat berkata, “Jangan berbuat aneh-aneh, Ki Bekel. Kakang Wira Bangga akan merasa tidak senang jika kau tidak mau mengikuti petunjuk-petunjukku, apalagi pesan-pesan Kakang Wira Bangga sendiri.”

Ki Bekel itu tidak menjawab. Dadanya merasa menjadi sesak. Ia harus menelan kepahitan sikap kedua orang yang berwajah garang itu. Apalagi jika mereka menyebut nama Wira Bangga. Maka bulu-bulu kuduk Ki Bekel menjadi meremang.

Sejenak kemudian, kedua orang itu pun telah hilang dari halaman rumah Ki Bekel. Ki Bekel tahu pasti, bahwa keduanya akan pergi ke banjar menjemput orang yang bernama Ki Sampar Angin. Kemudian menyusul kedua orang anak muda yang harus mengalami nasib buruk. Meskipun anak-anak muda itu berbekal ilmu, tetapi apakah mereka mampu menghadapi kedua orang yang garang itu dan apalagi Ki Sampar Angin, kepercayaan Ki Wira Bangga.

Tetapi Ki Bekel tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan padukuhannya itu sendiri seakan-akan berada di bawah bayang-bayang Ki Wira Bangga yang setiap saat akan dapat menghancurkannya.

Satu-satunya harapan Ki Bekel adalah, kedua orang anak muda itu telah menempuh jalan yang jejaknya tidak dapat diikuti oleh kedua orang berwajah garang yang masih akan singgah di banjar untuk menjemput Ki Sampar Angin.

“Kalau saja kedua anak-anak muda itu tahu bahaya yang sedang mengancam mereka,” berkata Ki Bekel di dalam hatinya.

Tetapi Ki Bekel  pun mengetahui, bahwa jalan ke selatan itu membujur panjang melintasi beberapa padukuhan. Kecuali jika kedua orang anak muda itu berbelok mengambil jalan yang lebih kecil, bahkan lorong-lorong sempit atau jalan setapak.

“Jika mereka mengikuti jalan panjang itu, maka mereka tentu akan segera disusul oleh Ki Sampar Angin dengan kedua orang berwajah garang itu,” berkata Ki Bekel dalam hatinya pula.

Ada niat untuk menyusul dan memberitahu bahaya yang akan menyusul kedua anak muda itu. Jika ia menunggang kuda, maka dalam waktu singkat kedua orang anak muda itu akan dapat disusulnya. Tetapi Ki Bekel tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya. Taruhannya bukan sekedar Ki Bekel itu sendiri, tetapi seluruh padukuhannya. Para penghuni padukuhan yang tidak tahu-menahu persoalannya, akan ikut mengalami kesulitan.

Karena itu, maka Ki Bekel pun kemudian hanya duduk saja di pringgitan. Kepalanya terasa pening dan keringatnya pun membasahi pakaiannya. Kegelisahan yang sangat telah mencengkam jantungnya.

Tiba-tiba saja ia teringat kepada nasi yang telah disediakan bagi kedua orang anak muda yang akan diracunnya. Racun yang lemah, yang akan membuat tenaga kedua orang anak muda itu menjadi rapuh. Namun, yang gagal karena kedua orang anak muda itu menolaknya.

“Jika seseorang makan nasi itu, nasibnya akan menjadi sangat buruk,” berkata Ki Bekel yang kemudian tergesa-gesa pergi ke ruang dalam.

Nasi itu pun kemudian telah dibawanya ke kebun belakang. Dibuatnya lubang yang agak dalam. Ditaruhnya nasi itu ke dalamnya dan kemudian ditimbunnya rapat-rapat.

Dalam pada itu, Wijang dan Paksi telah meninggalkan padukuhan itu. Mereka memang menyusuri jalan yang panjang yang menuju ke selatan. Keduanya sama sekali tidak berniat untuk keluar dari jalur jalan itu dan mengambil jalan setapak atau lorong-lorong sempit.

“Sikap Ki Bekel itu agak aneh,” desis Wijang.

“Ya. Aku merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak wajar,” sahut Paksi.

“Mudah-mudahan hanya prasangka buruk,” gumam Wijang.

Paksi mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia pun bergumam, “Rasa-rasanya ia memang mengusir kita dari padukuhannya. Apakah Ki Bekel juga berkepentingan cincin itu?”

“Mungkin saja. Justru karena daerahnya pernah dilalui atau bahkan menjadi tempat persinggahan orang-orang yang sedang memburu cincin itu, maka ia  pun ikut-ikutan memburunya. Apalagi Ki Bekel merasa bahwa padukuhannya merupakan lingkungan perburuan, setidak-tidaknya lintasan perburuan itu,” sahut Wijang.

Paksi tidak segera menyahut. Dipandanginya jalan yang membujur panjang di hadapannya. Sementara itu, matahari pun menjadi semakin rendah. Cahayanya mulai memudar. Panas tidak lagi terasa memanggang tubuh kedua orang anak muda itu.

Ketika langit menjadi semakin suram, maka Paksi pun bertanya, “Dimana kita akan bermalam? Apakah kita akan bermalam di banjar padukuhan?”

Wijang termangu-mangu sejenak. Katanya, “Padukuhan-padukuhan di jalur ini, nampaknya sangat berhati-hati menanggapi kehadiran orang yang mereka anggap asing. Aku memperhatikan orang-orang di padukuhan-padukuhan yang telah kita lewati. Termasuk padukuhan yang telah menjeratmu dalam pertempuran itu.”

“Ya. Aku pun merasakan betapa orang-orang padukuhan memandang kita lewat. Itu tentu karena mereka mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan dari orang-orang yang lewat di padukuhan mereka.”

“Kita akan bermalam di tempat yang terbuka saja.”

“Di padang perdu.”

“Ya. Kita sudah sering bermalam di tempat terbuka.”

—- > Bersambung ke bagian 2

2 Tanggapan

  1. Ayo dilanjut Ki….he3…matur suwun

    pelan-pelan Ki, kemampuannya cuma wedar (unggah) 3 hari sekali.

  2. Semakin d baca malah semakin g terasa waktu cepat berlalu ternyata sdah berhari2 terhipnotis cerita yang seru ini, lanjut terus nganti entek, ha ha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s