PdLS-46


<<kembali | lanjut >>

KETIKA Ken Arok berpaling, ia masih melihat Bango Samparan sekeluarga berdiri di regol halaman Ki Buyut. Ia melihat Puranti yang kecil itu melambaikan tangannya.

Betapa terasa berat, Ken Arok mengangkat tangannya pula. Kemudian setelah ia berbelok di tingkungan, maka langkahnya pun menjadi kian cepat. Ia tidak mau berpaling lagi. Ditatapnya jalan berdebu yang membujur panjang dihadapan kakinya. Sementara matahari telah menjadi kian tinggi di langit.

Ketika Ken Arok telah lepas dari padukuhan Karuman, barulah ia menyadari dirinya, kemana ia akan pergi.

“Hem.“ Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, “aku masih mempunyai waktu beberapa hari lagi. Kalau aku segera kembali ke Tumapel, maka aku akan tenggelam ke dalam angan-angan karena tidak ada sesuatu yang aku kerjakan. Jika demikian, maka aku akan dapat terbakar karenanya.“ Ken Arok berhenti sejenak. Dipandanginya langit yang bersih terhampar di atas kepalanya. “Tetapi aku akan pergi kemana?”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ketika tangannya meyentuh hulu pedangnya, maka tiba-tiba ia teringat kepada seseorang. Seorang yang dikenalnya dengan baik. Seorang ahli keris yang termashur, Empu Gandring dari Lulumbang.

“Aku akan pergi ke Lulumbang.” Desisnya, “Mungkin aku memerlukan pusaka sebagai sipat kandel.”

Pikiran yang tiba-tiba saja muncul itu agaknya sangat menarik bagi Ken Arok, sehingga tanpa sesadarnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mempercepat langkahnya.

Matahari masih belum sampai kepuncak langit. Burung-burung liar masih berkeliaran di atas rerumputan mencari bilalang. Kemudian meloncat ke atas dahan-dahan pohon yang rindang. Bertengger sambil bersiul riang, seolah-olah mengucapkan, “selamat jalan” kepada Ken Arok yang tampak menjadi tergesa-gesa.

“Aku harus bermalam semalam di perjalanan.” Katanya di dalam hati. “Besok sebelum senja aku akan sampai ke Lulumbang apabila perjalananku tidak terhalang apapun.”

Maka Ken Arok pun mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin mengkaitkan diri dengan persoalan apapun sepanjang perjalanannya, supaya ia dapat sampai ke tempat tujuan tepat pada waktunya. Sebab ia harus segera kembali ke Tumapel, karena waktu istirahatnya habis.

Namun Ken Arok tidak dapat menutup matanya di sepanjang perjalanan. Dilihatnya tanaman-tanaman yang kurus dan kering di sawah-sawah yang kurang mendapat saluran air. Meskipun hujan sudah sering turun, tetapi tanah yang mengandung pasir itu tidak cukup baik untuk ditanami.

Di seputar sawah yang tandus itu, Ken Arok menjumpai beberapa padukuhan yang miskin. Satu dua ia melihat rumah yang pantas, tetapi selebihnya adalah rumah-rumah kecil yang miring.

“Daerah ini terlampau miskin.” desisnya. Dan tanpa, disadarinya ia bergumam, “Tanah Tumapel sama sekali tidak memberikan banyak harapan kepada orang-orang Ini. Sebagian dari tanah ini adalah tanah yang subur dan berlimpah-limpah, tetapi sebagian merupakan tanah yang kering kerontang semacam ini.”

Tiba-tiba terbayang di kepala Ken Arok, Panawijen lama yang mati. Panawijen lama yang menjadi kuning seolah-olah terbakar oleh teriknya matahari karena tidak ada air. Dengan demikian maka rakyatnya harus berbuat sesuatu dipimpin oleh Mahisa Agni, membuat bendungan dan membuka Padang Karautan.

“Tanpa bantuan prajurit Tumapel pekerjaan itu terlampau berat bagi rakyat Panawijen. Mereka pasti kekurangan perbekalan dan peralatan.“ Ken Arok itu mengangguki sendiri. Tetapi tiba-tiba keningnya berkerut.

“Tetapi Akuwu benar-benar tidak jujur.“ katanya kemudian kepada diri sendiri, “karena Panawijen telah melahirkan Ken Dedes, maka Akuwu menaruh minat kepada padukuhan itu. Tatapi kenapa Akuwu tidak pernah tertarik untuk memperhatikan tanah di daerah ini?”

Namun ternyata kata-kata itu telah mengejutkannya. Yang terbayang kemudian bukan padukuhan Panawijen lama, tetapi menyempit kepadepokan Empu Purwa. Ketika ia ikut bersama Akuwu Tunggul Ametung mengantar Kuda Sempana mengambil Ken Dedes.

“Gila.“ Ken Arok itu bergumam semakin keras, “semua memang telah gila. Kuda Sempana, Akuwu Tunggul Ametung …” suara Ken Arok terputus oleh telapak tangannya yang membungkam mulutnya sendiri. Tetapi ia tidak dapat membungkam suara hatinya yang berkata seterusnya, “dan yang terakhir adalah kau, kau sendiri telah menjadi gila pula Ken Arok.”

“Ah.“ Ken Arok berdesah. Kata-kata hatinya itu telah mendebarkan jantungnya sehingga langkahnya tertegun karenanya.

Dengan susah payah ia berusaha untuk menenangkan debar di dadanya. Ketika ia melihat seseorang berjalan di pematang, maka ia pun bertanya sekedar untuk mengurangi ketegangan denyut nadinya, “He, kakek, apakah yang kau kerjakan?”

Laki-laki tua yang berjalan di pematang itu menjadi heran. Meskipun demikian ia menjawab, “Menyiangi tanaman ini anak muda.”

“Tanahmu terlampau kering.”

Laki-laki tua itu mengangguk, “Ya, tanah ini memang terlampau kering.”

“Apakah tidak ada sungai yang melampaui daerah ini?”

Orang itu semakin heran, “Ya, ada.”

“Apakah sungai itu kering juga?”

Laki1 itu menggeleng, “Tidak. Sungai itu cukup deras.”

“Kenapa kau tidak mengambil air dari sungai itu?”

Laki-laki itu menjadi semakin heran, “Maksudmu, kami harus menyirami tanaman sekian luasnya dengan mengambil air dari sungai itu?”

“Ya.“ sahut Ken Arok.

Tiba-tiba laki-laki itu melangkah mendekati Ken Arok sambil berkata lirih, “Kau aneh anak muda. Aku kira sepanjang sisa hidupku, aku tidak akan pernah melihat tanaman-tanamanku menjadi basah.”

“Maksudmu mengambil air dengan bumbung sepasang? Oh, kakek tua, kenapa kau tidak berpikir untuk membuat bendungan dan menaikkan air ke sawahmu?”

“Bendungan?“ orang, tua itu menjadi semakin heran, kemudian tersenyum betapapun wajahnya membayang kesuraman hidupnya, “kau bermimpi anak muda.”

“Tidak kakek. Aku tidak bermimpi. Mulailah membuat bendungan. Kemudian mintalah kepada Akuwu Tunggul Ametung agar mengirimkan sepasukan, prajurit untuk membantu kalian seperti yang pernah berlaku atas padukuhan Panawijen. Orang-orang Panawijen telah membuka padukuhan baru di tengah-tengah Padang Karautan, menaikkan air dan membuat sebuah telaga buatan.”

Laki-laki tua itu menjadi semakin terheran-heran. Perlahan-lahan ia berdesis, “Maksudmu Akuwu Tunggul Ametung dari Tumapel?”

“Tentu, bukankah daerah ini termasuk dalam wilayah Tumapel.”

“Ya, ya ngger.” jawab laki-laki tua itu, “tetapi hubungan antara daerah ini dan Tumapel hampir tidak ada sama sekali. Padukuhan kami tidak pernah mendapat perhatian apapun selain keharusan untuk menyampaikan bulu-bekti sekadarnya. Hanya itu. Orang-orang daerah kami hampir tidak mengenal Akuwu Tunggul Ametung. Satu dua di antara kami yang tua-tua memang pernah mendengar namanya. Hanya namanya.”

Jawaban itu ternyata membuat Ken Arok menjadi semakin berdebar-debar.

Ternyata kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung di daerah terpencil ini tidak begitu terasa. Dan itu pula agaknya yang menyebabkan orang-orang Karuman bertindak sendiri atas Bango Samparan. Mereka tidak dapat mengharap bantuan dari orang-orang lain, dari prajurit-prajurit Tumapel atau petugas-petugas yang lain.

“Tetapi.“ berkata Ken Arok tiba-tiba, “kalian dapat mencoba. Seperti orang-orang Panawijen.”

Orang tua itu menggeleng, “Kami tidak melihat manfaatnya.”

“Jadi kalian akan hidup dengan cara ini sepanjang umur kalian bahkan anak cucu kalian?”

Orang tua itu termenung sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Aku tidak tahu, apakah anak cucu kami kelak akan melanjutkan cara hidup kami, atau mereka dapat berbuat lebih baik lagi.”

“Tetapi anak cucumu akan mengutukmu kelak.”

“Kenapa?” orang tua itu heran.

“Karena kalian tidak berbuat apapun untuk kepentingan hari-hari mendatang. Untuk kepentingan anak cucumu.”

Orang tua itu menjadi semakin heran, “Kami bekerja siang dan malam untuk mendapatkan sesuap nasi bagi anak-anak kami.”

“Hidupmu adalah hidup hari ini. Makan untuk sehari. Tetapi kalian tidak berjuang untuk hidup yang layak dikemudian, bagi anak cucu. Kalau kau bangun bendungan itu, maka hari depan kalian bersama anak cucu kalian akan menjadi baik.”

Orang tua itu menarik nafas panjang. Sekilat dilihatnya pedang yang tergantung di lambung Ken Arok. Kemudian laki-laki tua itu berdesis, “Aku akan melanjutkan kerjaku.”

Ken Arok menganggukkan kepalanya. “Silahkan kakek.”

Dengan pandangan matanya Ken Arok mengikuti orang tua itu turun kembali ke sawahnya yang kering, menyiangi tanaman palawija yang kurus.

Sejenak kemudian Ken Arok pun melangkah pergi melanjutkan perjalananya. Dilewatinya padukuhan kecil di sebelah sawah yang sedang kering. Agaknya orang-orang padukuhan inilah yang memiliki sawah yang kurang memberikan hasil bagi mereka. Tetapi mereka tidak berbuat sesuatu. Mereka menerima nasib mereka dengan tawakal. Namun sayang bahwa mereka tidak berusaha apapun.

”Nasib mereka akan menjadi semakin jelek.” desis Ken Arok. Namun ternyata kalimat yang diucapkan diluar sadarnya itu telah mengejutkannya. Tiba-tiba tumbuhlah pertanyaan di dalam hatinya, “Bagaimana dengan nasibku sendiri? Kalau aku tidak berbuat sesuatu, maka nasibku pun akan tetap seperti sekarang. Seorang Pelayan Dalam. Mungkin aku akan mendapat penghargaan dan kenaikan pangkat. Namun itu akan sangat perlahan-lahan sekali, seperti seekor siput yang merayap di atas pasir yang kering.”

Dan terngianglah ditelinganya kata-kata Bango Samparan, “Nasibmu memang terlampau baik, Ken Arok.”

Ken Arok menggelengkan kepalanya. Tetapi justru di telinganya terdengar bukan saja suara Bango Samparan. Tetapi suara ibu angkatnya, suara Panji Bawuk, melingkar-lingkar mengetuk dinding hatinya, “Nasibmu memang terlampau baik Ken Arok.”

Ken Arok menggeram. Tetapi suara di hatinya justru menyahut, “Ya, nasibmu memang terlampau baik. Karena itu berbuatlah sesuatu untuk merubah keadaanmu.”

“Tidak, tidak.” Ken Arok menggeram pula.

Namun kini yang terngiang adalah suara yang lain, suara seorang pendeta yang baik, bahkan terlampau baik baginya, Lohgawe. “Perempuan yang memancarkan cahaya dari tubuhnya adalah perempuan yang menyimpan derajat yang tiada berbatas. Siapa yang memperisterikannya, akan menjadi seorang yang berpangkat setinggi-tingginya.”

“Ah.” Ken Arok mengeluh. Tetapi justru terdengar kembali suara Bango Samparan ketika ia berkunjung ke Padang Karautan. “Aku bermimpi Ken Arok, bahwa kau menjadi seorang Akuwu, ah tidak, kau menjadi seorang Maharaja.”

“Tidak. Tidak.” Ken Arok terkejut sendiri mendengar suaranya. Dengan demikian, maka ia pun segera berpaling menebarkan pandangan matanya ke sekelilingnya. “Syukurlah, tidak ada orang.” desisnya, “kalau seseorang melihat, mungkin aku disangkanya telah gila. Tetapi agaknya aku memang telah menjadi gila.” Ken Arok berhenti sejenak, namun kemudian kembali ia bergumam, “Iblis Kerutinan yang telah melepaskan Bango Samparan sekeluarga, kini menerkam dan menguasai perasaanku.”

Tiba-tiba Ken Arok itu terhenyak di bawah sebatang pohon rindang dipinggir jalan. Panas matahari yang semakin tinggi, terasa menggatalkan kulitnya.

Sambil memandangi ujung dedaunan yang bergerak-gerak disentuh angin, Ken Arok bersandar pada pokok kayu yang melindunginya dari terik matahari. Namun dengan demikian angan-angannya telah membubung tinggi ke langit. Terbayang di kelopak matanya berturut-turut ayah angkatnya, ibu angkatnya, Lohgawe, Akuwu Tunggul Ametung dan dirinya sendiri di masa ia meningkat dewasa. Ken Arok sebagai seorang gembala yang jahat, kemudian terusir dari pergaulan dan bersembunyi di Padang Karautan sebagai hantu Karautan yang ditakuti orang. Akhirnya ia terdampar keistana Tumapel sebagai Pelayan Dalam.

“Nasib telah mempertemukan aku dengan Ken Dedes.“ tiba-tiba ia berseru di dalam hatinya, “kalau itu bukan kehendak nasib, maka mustahillah aku akan sampai ke istana pada saat Kuda Sempana ingin mengambil gadis itu dari Panawijen, kemudian memisahkannya dari Kuda Sempana dan meninggalkannya di istana bersama Akuwu. Itu pun agaknya hanya sekedar sarana untuk mempertemukan gadis itu dengan aku. Kalau kemudian Akuwu Tunggul Ametung itu tidak ada, maka aku akan dapat merebut kedudukannya, karena kekuasaan atas istana Tumapel telah berada di tangan Ken Dedes.”

Tiba-tiba Ken Arok itu meloncat, bangkit berdiri dengan tegapnya di atas kakinya yang renggang. Dengan suara bergetar ia berkata lirih kepada diri sendiri, “Aku harus mengubah nasibku. Aku tidak boleh menghindari korban yang akan jatuh, seperti matinya ibu angkatku, meskipun ibu sama sekali tidak bersalah.”

Meskipun kata-kata itu hanya didengar oleh Ken Arok sendiri, namun terasa seakan-akan telah menumbuhkan prahara di dalam dirinya lendiri. Seakan-akan hanyutlah segala sifatnya yang selama ini telah berhasil ditanamkannya kedalam dirinya. Hantu Karautan dan iblis Karuman telah menerkamnya dan membuat Ken Arok itu menjadi setan yang paling mengerikan.

“Ibu angkatku juga telah menjadi korban tanpa berbuat kesalahan. Namun akibat dari pengorbaaannya adalah keselamatan keluarga Bango Samparan, dan hubungan yang baik kembali dengan orang-orang Karuman.” Ken Arok itu menggeram, “Demikian pula hendaknya Tumapel. Tanah ini harus menelan korban, meskipun seandainya tidak bersalah. Hubungan antara pimpinan pemerintahan, perbaikan nasib rakyatnya, kemauan untuk maju dan ikatan yang lebih erat bagi rakyat Tumapel dari ujung sampai ke ujung yang lain.“ Ken Arok berhenti sejenak, lalu, “Tumapel harus menemukan dirinya. Tumapel harus berwajah baru. Semuanya itu tidak akan dapat dilakukan tanpa pengorbanan. Dan korban itu adalah orang terpenting di Tumapel.”

Kata-kata itu pun menggelegar di antara suara prahara di dalam dada Ken Arok. Namun yang terbayang paling kuat di dalam kelopak matanya sama sekali bukan Tumapel yang besar, bukan Tumapel yang hijau dari ujung ke ujung, bukan rakyat Tumapel yang makmur merata, tetapi yang terbayang di kelopak mata Ken Arok adalah seorang perempuan yang tubuhnya bercahaya, seorang perempuan yang cantik seperti wajah bulan purnama, bermata cemerlang, seperti bintang senja dan berkulit kuning teperti kulit langiat.

Namun dalam kegilaannya Ken Arok mendengar suara lamat-lamat di dasar hatinya, suara Lohgawe, “Ken Arok, jika demikian, maka itu berarti bahwa seorang pemimpin Tumapel yang mempunyai harapan di hari depan telah mati. Ken Arok yang selama ini telah berbuat sebagai seorang kesatria telah mati. Lahirlah Ken Arok yang baru, yang serakah dan tamak.”

Tiba-tiba terasa tubuh Ken Arok itu menjadi gemetar. Pandangan matanya menjadi berkunang-kunang. Sesaat ia mencoba bertahan, namun seperti orang yang ditimpa oleh kesakitan yang dahsyat Ken Arok tidak dapat bertahan berdiri di atas kedua kakinya. Perlahan-lahan ia menggerakkan kakinya dan membanting dirinya di bawah pohon yang rindang sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Tidak. Tidak.” terdengar ia berdesis, “yang baik tidak boleh mati. Aku tidak mau. Aku tidak mau.” dan Ken Arok itu berteriak keras-keras, “aku tidak mau. Aku tidak mau mati.”

Tubuh Ken Arok menjadi lemas. Ia pun kemudian tersandar pada pohon tempatnya berlindung. Perlahan-lahan dicobanya untuk menenangkan dirinya. Ketika ia menyadari keadaannya, maka ditariknya nafas dalam-dalam.

“Setan-setan itu mencoba mengerumuni dan mencengkam jantungku.” Desisnya, “aku harus segera sampai ke Lulumbang, supaya Empu Gandring membantu aku menegakkan kebenaran di hati yang lemah ini.”

Perlahan-lahan Ken Arok itu pun berdiri. Dengan langkah yang berat ia melanjutkan perjalanannya ke Lulumbang. Ia mengharap bahwa Empu Gandring akan dapat membantunya, menegakkan perasaannya yang lemah, yang diombang-ambingkan oleh nafsu.

Beberapa langkah kemudian ia terhenti, dan tanpa sesadarnya ia berpaling. Ketika ia memandangi pohon rindang tempatnya berteduh maka dilihatnya beberapa ekor burung bertengger pada rantingnya yang jarang.

Matahari kini telah semakin tinggi, melampaui puncak langit. Awan yang putih terbang perlahan-lahan dilanjutkan oleh angin yang silir.

Maka Ken Arok pun kemudian mempercepat langkahnya, supaya ia segera sampai ke rumah Empu Gandring.

Namun bagaimanapun juga ia berusaha, ia tidak dapat melepaskan diri dari kejaran bayangan di dalam dadanya sendiri. Setiap kali terbayang mayat ibu angkatnya yang terbujur di tangannya dengan tubuh yang hampir hangus. Kemudian wajah orang-orang Karuman, ayah angkatnya dan kekek tua ditengah sawah yang kering.

“Persetan.“ ia menggeram, “semuanya itu bukan tanggung jawabku.”

Terdengar Ken Arok itu mengeretakkan giginya. Kemudian untuk melupakan semuanya, dan untuk melupakan panas yang menyengat kulit anak muda itu menghentak-hentakkan kakinya. Kemudian meloncatlah dari mulutnya suara lagu yang sumbang. Semakin lama semakin keras. Tetapi lagunya sama sekali tidak menyegarkan telingannya sendiri. Bahkan burung-burung kecil yang hinggap pada pepohonan ditepi jalan pun berterbangan dengan hati yang kecut.

Sejalan dengan suaranya yang semakin keras, maka langkah Ken Arok pun menjadi semakin cepat. Kini ia telah berada di antara pepohonan yang semakin rapat, pada hutan yang tidak terlampau lebat. Pada musim kering, daun-daunnya menjadi kuning dan berguguran di tanah. Tetapi pada permulaan musim basah, tampak daun-daunnya telah mulai semi. Hijau kekuning-kuningan.

“Hujan tidak terlampau banyak.” Desisnya, “bahkan amat sedikit dibandingkan dengan musim hujan tahun yang lewat.“ Ken Arok itu mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Suatu pertanda bagi kemunduran bagi Tumapel. Mungkin akan segera datang musim yang paling buruk bagi Tanah ini. Musim basah yang kering, angin pusaran dan hujan yang jarang tetapi membawa prahara. Prahara yang akan menumbangkan kekuasaan Tunggul Ametung yang ternyata hanya mementingkan dirinya sendiri. Perhatiannya sebagian terbesar hanya tercurah kepada perempuan Panawijen itu dengan segala kepentingannya. Bendungan di Karautan, kemudian soal kakak dari perempuan itu, Mahisa Agni, dan persoalan-persoalan yang tidak berarti sama sekali bagi Tumapel. Apakah artinya sendang buatan yang menelan tenaga dan biaya yang tidak sedikit itu?”

Ken Arok menghentakkan tangannya ketika tangannya itu tersentuh duri. Tiba-tiba saja ia merasa terganggu karenanya, sehingga dengan marahnya ia menarik pedang dan monebas pohon yang telah menyetuhnya dengan durinya.

Kemudian sambil bersungut-sungut ditinggalkannya batang berduri itu terbujur diam di tanah, tanpa dapat berbuat apapun. Dan Ken Arok pun kemudian tidak berpaling lagi. Cepat ia melangkah menyusup kedalam hutan yang semakin lama menjadi bertambah lebat.

Batang-batang yang kering, yang telah roboh, melintang di depan kakinya, di antara semak-semak dan gerumbul-gerumbul liar. Sekali-sekali Ken Arok harus menyusup di bawah pohon-pohon merambat yang berkepanjangan, seolah-olah merangkai pohon yang satu dengan yang lain.

Tiba-tiba dada Ken Arok menjadi berdebar-debar. Pengenalannya yang tajam segera melihat, bahwa tempat ini adalah tempat yang terlampau sering dikunjunginya semasa kanak-kanak. Semasa ia masih menjadi seorang anak yang liar, terlampau liar.

Karena itu, maka langkah Ken Arok pun menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian ia berlari menyusup rimbunnya dedaunan, seolah-olah dikejar-kejar oleh hantu yang membayanginya dengan kenangan masa muda yang hitam itu.

Langkahnya terhenti ketika ia menginjak jalur-jalur jalan sempit yang membelah hutan yang tidak terlampau lebat itu. Bahkan kemudian ia menjadi heran. Jalan ini belum pernah dilihatnya.

“Kemanakah tujuan jalan.“ ia bardesis, “jalan ini pasti terlampau jarang dilalui orang. Tetapi jelas, bahwa ada kesengajaan untuk membuat jalan di tengah-tengah hutan ini.”

Namun tiba-tiba ia menggeram, “Persetan dengan jalan ini.”

Meskipun demikian tanpa sesadarnya Ken Arok melangkahkan kakinya menyelusur jalan itu. “Kalau aku menuju ke arah ini, aku pasti akan sampai juga ke Lulumbang.“ desisnya. Dan Ken Arok itu pun berjalan terus. Ia tidak memilih jalan tertentu. Ia berjalan saja ke arah Lulumbang, meskipun ia harus menerobos hutan dan kini menjusur jalan yang tidak dikenalnya.

Namun langkah Ken Arok itu tiba-tiba tertegun. Meskipun ia belum pernah melihat jalan itu, tetapi ia mengenal daerah di sekitarnya. Agaknya hutan itu benar-benar telah pernah dijalajahi sehingga seakan-akan tidak ada sebatang pohon pun yang tidak dikenalnya.

“Jalan ini menuju kegoa itu.“ tiba-tiba ia berdesis. Sejenak ia berdiri tegang. Hatinya menjadi berdebar-debar.

Goa itu pernah menjadi tempat persembunyiannya ketika ia harus melarikan diri dari kejaran orang-orang yang membencinya saat itu, tetapi jalan yang dilaluinya itu belum ada.

“Aneh, apakah goa itu kini dipergunakan oleh seseorang.“ kata-kata itu meluncur tanpa disadarinya, “kalau benar, maka orang-orang yang tinggal di sana pasti bukan orang baik-baik.”

Kesimpulan itu telah menumbuhkan keinginan di hati Ken Arok untuk mengetahui lebih banyak tentang goa itu. “Aku tidak memerlukan waktu banyak.“ desisnya.

Ken Arok pun kemudian mempercepat langkahnya menyusur jalan sempit itu menuju kesebuah goa. Goa yang pernah dikenalnya, bahkan pernah dihuninya.

Semakin dekat, maka hatinya pun menjadi semakin berdebar-debar. Menurut tanda-tanda yang dilihatnya, maka meskipun jarang, namun goa itu pernah dikunjungi orang. Bahkan mungkin merupakan tempat persembunyian.

Karena itu, maka Ken Arok pun menjadi semakin berhati-hati. Beberapa puluh langkah di muka goa itu, ia meninggalkan jalur jalan sempit itu, berbelok melalui semak-semak dan pohon-pohon perdu liar, supaya ia tidak langsung sampai kegoa itu dari arah depan.

Dengan penuh kewaspadaan Ken Arok mendekati lambung goa itu. Sebuah goa yang tidak begitu dalam pada lereng sebuah puntuk kecil. Namun goa itu kemudian menghunjam masuk ke dalam tanah, dan merupakan tempat persembunyian yang cukup baik.

Tetapi goa itu terlampau sepi. Ken Arok tidak melihat dan mendengar bahwa ada seseorang di dalamnya. Karena itu Ken Arok melangkah semakin dekat, meskipun ia masih tetap sangat berhati-hati. Bahkan kemudian Ken Arok itu telah berdiri di depan mulut goa. Dipasangnya telinganya tajam-tajam, kalau-kalau ia dapat mendengar teriakan nafas seseorang. Tetapi ia tidak mendengar apapun.

Kini ia didorong oleh keinginannya untuk mengetahui, apakah ada sesuatu di dalam goa itu. Maka perlahan-lahan ia membungkuk, kemudian menyusup masuk ke dalamnya.

Seperti dahulu, goa itu lembah dan gelap. Bahkan di beberapa bagian sisinya terasa basah oleh titik-titik air yang mengembun dari akar pepohonan. Goa itu tidak pernah menjadi kering menurut pengalamannya dahulu, betapa panjang musim kering membakar hutan itu. Bahkan selagi hutan itu serasa hangus, namun goa itu masih juga tetap basah.

Karena Ken Arok tidak menjumpai sesuatu, maka ia melangkah semakin dalam. Dengan hati-hati ia menuruni semacam tangga yang licin di dalam goa yang gelap itu. Semakin lama semakin dalam. Ia telah mengenal bahwa di bawah ada sebuah ruangan yang agak lebar. Ruangan yang terlampau gelap. Namun mata Ken Arok adalah setajam mata burung malam.

Ketika ia sampai di ruang bawah, maka segera ia meraba-raba keadaan di sekelilingnya. Dinding yang basah, batu karang yang runcing. Namun tiba-tiba ia terkejut. Ia merasakan sesuatu yang lain. Agaknya tangannya meraba bagian dinding goa yang menjorok masuk. Tetapi lubang itu agaknya dibuat oleh seseorang.

Ken Arok menjadi semakin berhati-hati. Dicobanya untuk melihat menembus di dalam gelap. Tetapi semuanya hanyalah bayangan yang hitam. Memang terbayang di dalam kehitaman itu berbagai bentuk. Namun bentuk-bentuk itu sama sekali tidak jelas.

Ken Arok menjadi semakin terperanjat ketika tangannya kemudian menyentuh sesuatu di dalam relung itu. Bukan sebuah batu karang, tetapi sebuah kotak yang agak besar.

Sejenak Ken Arok berdiri termangu-mangu. Kotak di dalam goa itu sudah tentu sangat mencurigakan. Dengan demikian, ia menjadi kian terjerat oleh rasa ingin tahunya.

“Aku akan membawanya keluar.“ desisnya, “meskipun agak berat dan sulit. Di luar aku dapat melihat dengan jelas, apakah isi kotak kayu ini.”

Maka dengan susah payah Ken Arok mencoba menarik kotak kayu itu. Ternyata bahwa kekuatan Ken Arok benar-benar bukan sekedar kekuatan orang kebanyakan. Betapa beratnya maka akhirnya peti itu setapak demi setapak beringsut dari tempatnya.

Dengan sepenuh tenaga Ken Arok menarik peti itu, melalui tangga yang licin naik ke mulut goa.

Ketika peti itu sudah berada di luar goa yang gelap, maka Ken Arok itu pun menarik nafas dalam-dalam. Meskipun hanya beberapa saat saja ia bekerja, tetapi peluhnya serasa terperas tuntas dari tubuhnya.

Sambil memegangi kedua belah lambungnya dengan sepasang tangannya ia menggeliat.

“Berat sekali.” desisnya.

Kemudian ditariknya pedangnya untuk mengungkit tutup peti itu, sehingga perlahan-lahan terbuka.

Dengan berdebar-debar Ken Arok menarik tutup peti yang sudah mulai terbuka itu. Beberapa keping besi tipis terkait dengan erat, sehingga Ken Arok harus mengerahkan segenap tenaganya kembali. Namun agaknya kayu penutup kotak itulah yang kemudian pecah, sehingga hentakan yang tiba-tiba itu telah membuat Ken Arok terhuyung-huyung ke belakang. Hampir saja ia jatuh terlentang. Untunglah bahwa dengan tangkasnya ia memperoleh keseimbangannya kembali. Namun dengan demikian peti itu sudah terbuka.

Perlahan-lahan Ken Arok melangkah maju. Dari sela-sela pecahan tutup kotak itu ia melihat ke dalamnya. Hampir saja ia terlonjak ketika sekilas ia melihat sesuatu yang gemerlapan di dalamnya.

“He, apakah benar aku melihat permata?” pertanyaan itu tiba-tiba saja melonjak di dalam hatinya. Dengan demikian maka segera ia meloncat maju dan menghentakkan sisa-sisa kayu penutup kotak itu.

Ken Arok kemudian tertegun seperti orang kebingungan. Ia berdiri tegak seperti patung dengan mata terbelalak. Nafasnya seolah-olah terhenti dan darahnya pun tidak mengalir lagi keseluruh urat nadi.

“Apakah aku tidak bermimpi?” desisnya perlahan-lahan pula tangannya bergerak meraba benda-benda yang berkilat di dalam peti itu.

“Tidak, aku memang tidak bermimpi.”

Dan tiba-tiba saja Ken Arok menjurukkan kedua belah tangannya ke dalam onggokan permata di dalam peti itu.

“Ya, semuanya barang-barang berharga. Emas, intan dan berlian. Perhiasan-perhiasan yang sangat mahal dan jarang-jarang terdapat.“ Ken Arok berkata kepada diri sendiri.

Namun sejenak kemudian ia menyadari keadaannya. Perlahan-lahan ia melangkah surut sambil bergumam, “Siapakah yang memiliki perhiasan ini?”

Kini Ken Arok mulai berusaha untuk menguasai perasaannya yang untuk sesaat terguncang melihat kilauan permata di dalam peti itu. Perlahan-lahan ia maju lagi, namun kini dengan sepenuh kesadaran ia melihat satu demi satu barang-barang berharga yang ada di dalam peti yang telah menganga.

Ken Arok itu kemudian mendapat kesimpulan bahwa isi peti itu pasti bukan berasal dari seseorang yang menyimpan atau menyembunyikan kakayaannya. Berbagai macam barang bercampur baur di dalamnya. Dari barang-barang yang paling berharga, sampai barang-barang yang tidak begitu mahal.

“Orang-orang jahat agaknya telah menyimpannya di dalam goa itu,“ detis Ken Arok.

Namun dengan demikian dada Ken Arok menjadi semakin pepat. Kini ia melihat suatu kenyataan yang tidak dapat diingkari lagi. Dengan suara, yang berat ia bergumam, “Ini adalah gambaran Tumapel di bawah pemerintahan Tunggul Ametung. Pasti bukan sekedar satu dua, bahkan sepuluh dua puluh orang yang telah dirampok oleh penjahat ini. Ternyata Tumapel sama sekali tidak aman tenteram seperti yang dibayangkan dikota Tumapel. Agaknya di luar kota Tumapel keadaan menjadi semakin lama semakin parah. Sedang Tunggul Ametung hanya sibuk melayani kesenangan dirinya sendiri. Perempuan Panawijen itu dan kalau ia keluar istana, maka ia langsung masuk ke dalam hutan perburuan.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. “Keadaan ini harus berubah. Tunggul Ametung tidak boleh sekedar hidup untuk Permaisurinya dan sebaliknya. Ia adalah pemimpin tertinggi untuk daerah Tumapel.”

Terasa guratan kebenciannya kepada Akuwu Tunggul Ametung menjadi semakin dalam di dinding jantungnya. Namun sejalan dengan itu, wajah Ken Dedes semakin terukir di dalam angan-angannya. Ken Dedes membuatnya silau seperti permata di dalam kotak itu. Dengan Ken Dedes, maka setiap laki-laki akan dapat mengusai Tanah Tumapel dan bahkan akan menjadi seorang Maharaja yang besar.

“Aku sama sekali tidak bernafsu untuk menuruti kata hati dan nafsuku sendiri.“ Ken Arok tiba-tiba berkata kepada diri sendiri, seolah-olah sedang mengingkari suatu tuduhan, “kalau aku ingin tampil kedepan, semata-mata untuk kepentingan Tumapel. Kilau Ken Dedes aku perlukan itu pun bukan karena nafsuku yang melonjak kekepala, tetapi aku memerlukan bantuannya untuk menjadi orang terpenting yang dapat membuat tanah ini menjadi baik, tenteram dan memberi harapan bagi penghuninya. Tidak lagi dibayangi oleh ketakutan, keputus asaan seperti kakek tua yang mati di dalam hidupnya, tidak teperti orang-orang Karuman yang menjadi liar dan tidak seperti orang-orang yang telah menjadi korban perampokan di sini.”

Ken Arok berhenti sejenak. Sekali lagi ditatapnya permata yang berkilauan di dalam peti itu. Cahaya matahari yang telah condong ke barat, telah membuat permata-permata itu seakan-akan membara.
“Hem.“ ia berdesah, “aku harus menguasai permata ini. Kalau aku tahu siapa pemiliknya, maka aku harus meyerahkannya kembali. Tetapi aku tidak tahu, siapakah orang-orang itu. Meskipun demikian, barang-barang itu tidak boleh tetap di dalam penguasaan para penjahat itu. Aku harus menyembunyikannya.”

Namun kemudian terpercik pertanyaannya, “Apakah barang-barang itu tidak dapat dimanfaatkan?”

Ternyata pertanyaan itu telah mengguncang dada Ken Arok. Sejenak ia tegak ditempatnya dengan tegarnya. Ditatapnya perhiasan-perhiasan berharga yang berkilau-kilauan di dalam peti itu.

Perlahan-lahan Ken Arok menggelengkan kepalanya. Desisnya, “Perhiasan itu harus kembali kepada pemiliknya.” Namun kemudian ia bertanya kepada diri sendiri, “Tetapi siapakah pemiliknya?”

Yang terjadi kemudian di dalam dada anak muda itu adalah benturan perasaan yang semakin lama semakin dahsyat. Namun cahaya matahari yang terpantul pada permata-permata di dalam peti itu berkeredipan seakan-akan mengejeknya.

“Apakah salahnya.“ kemudian ia menggeram, “kalau memang tidak seorang pun yang dapat membuktikan bahwa permata itu adalah miliknya, maka barang-barang ini akan menjadi milik negara. Aku harus menyerahkannya kepada pimpinan pemerintahan.“ Ken Arok berhenti sejenak, kemudian, “tetapi tidak kepada Tunggul Ametung. Penemuan ini harus bermanfaat bagi Tumapel, tidak untuk seseorang. Apabila barang ini jatuh ketangan Tunggul Ametung, maka sudah pasti bahwa barang-barang ini akan menjadi milik pribadi raja. Menjadi milik Permaisurinya.”

Ken Arok berhenti tejenak. Tiba-tiba ia menjadi terlampau gelisah. Dengan nanar dipandanginya keadaan di sekitarnya. Terlalu sepi.

“Barang-barang itu harus disembunyikan. Pada saatnya baru dapat aku manfaatkan untuk kepentingan Tumapel.”

Tiba-tiba terbayang dirongga mata Ken Arok, Permaisuri Tumapel yang memancarkan cahaya yang kemilau dari tubuhnya pada keadaan-keadaan tertentu. Cahaya itu adalah pertanda bahwa ia memancarkan derajat yang setinggi-tingginya, bahkan akan berpengaruh pula kepada suaminya. Dan sesaat kemudian ditatapnya permata di dalam peti yang bercahaya karena pantulan sinar matahari itu.

“Perpaduan dari keduanya, adalah alat yang sebaik-baiknya untuk menemukan tempat yang setinggi-tingginya.“ Ken Arok itu berdesis, “Perempuan Panawijen itu dan permata-permata ini. Aku akan dapat memanfaatkannya, membiayai segala macam usaha untuk membuat Tumapel menjadi semaki besar. Melampaui kebesaran Kediri.“ ia berhenti sejenak, “tetapi akulah yang harus mengemudikannya. Bukan Tunggul Ametung. Dan akulah orang yang harus dapat menjadikan Tumapel besar sekaligus memegang pimpinan. Tidak seorang yang berjiwa kerdil seperti Tunggul Ametung.” Tubuh Ken Arok tiba-tiba menjadi gemetar. Terngiang kembali kata-kata Bango Samparan, “Nasibmu terlampau baik Ken Arok, kemudian aku bermimpi kau menjadi seorang Maharaja yang besar.”

Ken Arok menggeram. Tanpa disadarinya ia berkata, “Nasibku memang terlampau baik. Tidak ada seorang pun yang memberi aku petunjuk, bahwa di sini ada seonggok permata yang dapat bermanfaat bagiku. Bagi perjuanganku untuk mencapai kedudukan yang setinggi-tingginya, untuk mendapat kesempatan mengatur tanah ini.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian sekali lagi ia berdesis, “Aku harus menyembunyikannya.”

Ken Arok itu pun kemudian memungut kepingan-kepingan papan tutup kotak yang telah pecah itu. Dipasangnya lagi tutup itu sekeping demi sekeping. Kemudian ditariknya peti itu ke samping goa. Namun sejenak kemudian Ken Arok berhenti. Perlahan-lahan ia bergumam, “Dimana aku akan menyembunyikannya. Sudah tentu tidak dalam goa itu lagi.”

Sambil memandang berkeliling kemudian la bergumam, “Aku akan menanamnya. Tetapi sebaiknya agak jauh dari goa ini.”

Ken Arok pun segera menarik peti itu semakin jauh, ke balik gerumbul-gerumbul yang agak lebat. Di bawah sebatang pohon yang akan dapat dipakainya sebagai tanda pengenal, maka Ken Arok mulai menggali sebuah lubang yang dalam. Dengan sepotong kayu yang diruncingkan dengan pedangnya, Ken Arok bekerja secepat dapat dilakukannya.

Tetapi tiba-tiba Ken Arok tertegun sejenak. Lamat-lamat didengarnya suara tertawa. Tidak hanya satu orang, tetapi dua tiga orang.

Dada Ken Arok menjadi berdebar-debar. “Siapakah orang-orang yang terperosok masuk ke dalam hutan yang sepi ini? Mungkin beberapa orang pemburu.“ desisnya. Namun dengan demikian ia menjadi semakin berdebar-debar. Apakah yang akan dikatakannya, apabila orang-orang itu melihat ia menanam peti perhiasan itu.

“Aku harus segera menimbunnya sebelum mereka sampai kemari.” desisnya. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa Ken Arok memasukkan peti itu ke dalam lubang dan menutupnya rapat-rapat dengan cabang kayu silang menyilang, untuk melindungi tutupnya yang telah pecah. Kemudian lubang itu pun segera ditimbunnya dengan tanah.

Ketika pekerjaan itu masih belum selesai, Ken Arok terpaksa berhenti sejenak. Ternyata suara tertawa itu telah menjadi semakin dekat, dan kemudian berhenti dimuka mulut goa.

“Siapakah mereka itu?” desisnya.

Sejenak tidak terdengar sesuatu. Namun sejenak kemudian Ken Arok mendengar salah seorang dari mereka berkata, “He, lihat. Bekas sesuatu diseret di atas tanah dan rerumputan liar.”

Ken Arok menjadi semakin berdebar-debar. Baru kini ia menyadari bahwa ia masih belum sempat menghapus bekas peti yang diseretnya saja di atas tanah.

“Hem.“ ia berdesah, “suatu kebodohan. Mereka pasti akan menyelusur bekas peti itu dan akan menemukannya di sini. Tetapi siapakah mereka?”

Kemudian timbullah keinginan Ken Arok untuk mengetahui orang-orang itu. Karena itu, maka ditinggalkannya pekerjaannya sejenak, untuk mengintip orang-orang yang kini berdiri di depan mulut goa.

“Tidak ada gunanya aku menyelesaikannya dengan tergesa-gesa. Mereka pasti akan menemukannya. Aku harus tahu siapakah mereka itu, supaya aku dapat segera mengambil sikap. Apakah aku akan bersembunyi terus, atau aku harus menyelamatkan peti itu.”

Ken Arok pun kemudian dengan hati-hati merangkak disela-sela rerumputan dan gerumbul-gerumbul liar. Semakin lama semakin dekat dengan suara orang-orang yang agaknya menjadi ribut di muka goa itu.

“Cepat, lihat ke dalam.“ berkata salah seorang dari mereka dengan lantangnya, “apakah peti itu masih di tempatnya.”

Ketika Ken Arok sempat mengintip mereka dari balik dedaunan, ia masih melihat seseorang menyusup masuk ke dalam goa yang gelap itu.

Dada Ken Arok pun menjadi semakin berdebar-debar karenanya. Sebentar lagi orang-orang itu pasti akan segera tahu, bahwa pasti simpanannya telah hilang. Dan sebentar kemudian mereka pasti akan segera mencarinya, menyelusur bekas peti yang diseretnya itu.

“Mereka pasti akan menemukan tempat itu.” desis Ken Arok. Dan tiba-tiba saja tanpa sesadarnya ia mulai menghitung. “Kalau yang masuk ke dalam goa itu hanya seorang, maka semuanya hanya berjumlah empat orang. Empat orang perampok yang bukan perampok kebanyakan, ternyata dari simpanannya yang sudah begitu banyak. Mereka pasti orang-orang yang pilih tanding, sehingga mereka sempat mengumpulkan hasil rampokannya sekian banyak.”

Dalam pada itu Ken Arok mendengar salah seorang dari orang-orang yang berdiri dimulut goa itu berteriak, “He, bagaimana dengan peti itu.”

Sejenak tidak ada jawaban. Namun sejenak kemudian orang yang masuk ke dalam goa, yang ternyata memang hanya seorang itu pun maloncat keluar sambil menggeram, “Peti itu telah hilang.”

“He.“ hampir berbareng ketika orang yang menunggu di luar itu berteriak, “setan alas. Setan manakah yang dapat menemukan persembunyian kita ini?”

“Bekas ini. Pasti belum lama.”

“Ya.“ sahut yang lain, “marilah kita cari.”

Ken Arok menahan nafasnya. Namun dadanya menjadi semakin tegang. Sejenak ia dicengkam oleh keragu-raguan. Apakah ia akan berbuat sesuatu, atau dibiarkannya saja orang-orang itu menemukan perhiasan yang sudah ditanamnya.

“Mereka adalah perampok-perampok yang tidak berhak atas barang-barang itu.“ desisnya di dalam hati, “karena itu tidaklah sewajarnya kalau mereka memilikinya.“ Namun kemudian terdengar suara yang lain, “Jangan cari perkara, kau pun tidak berhak atas barang-barang itu.”

Tetapi suara itu dibantahnya sendiri, “Tetapi aku tidak ingin memiliki untuk diriku sendiri. Aku akan memanfaatkannya untuk kepentingan Tumapel. Tumapel yang besar dan kuat. Tidak seperti Tumapel yang kerdil kini, sekerdil Akuwu yang sedang berkuasa.”

Benturan yang dahsyat telah membuat Ken Arok menjadi semakin ragu-ragu. Sejenak ia duduk di belakang gerumbul-gerumbul yang rimbun sambil bergulat di dalam dirinya sendiri. Sementara itu, ia melihat dari sela-sela rimbunnya dedaunan, keempat orang yang kehilangan petinya itu sedang membungkuk-bungkuk mencari jejak.

Ternyata pekerjaan itu tidak terlampau sukar. Jejak peti yang diseret itu masin terlampau jelas, sehingga selangkah mereka berjalan kearah yang benar.

“Persetan.“ Ken Arok tiba-tiba menggeram, “aku harus menyelamatkan lebih dahulu peti itu. Apakah yang akan aku lakukan kemudian, adalah soal nanti. Tetapi peti itu tidak boleh jatuh ketangan para perampok itu. Sudah tentu bahwa mereka bukanlah orang-orang sekeluarga yang kaya raya yang manyimpan harta kekayaan sendiri, atau harta warisan untuk mereka.”

Keputusan itulah yang kemudian diambil oleh Ken Arok. Sehingga karena itu, maka Ken Arok pun dengan hati-hati mengikuti orang-orang yang sedang mencari jejak hilangnya peti mereka.

“Ini, di sini.” berkata salah seorang dari mereka sambil menunjuk rerumputan liar yang seakan-akan terlindas oleh roda yang amat lebar.

Keempatnya kemudian berjalan menjusur jejak itu. Dan mereka memang tidak memerlukan waktu terlampau lama. Akhirnya mereka sampai ke bawah sebatang pohon, tempat Ken Arok menanam peti itu.

“Inilah.” teriak mereka hampir berbareng.

Salah seorang dari mereka berdiri bertolak pinggang sambil menggeram, “Pasti baru saja terjadi. Pencuri itu masih belum selesai sama sekali.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang yang lain berkata, “Mungkin masih ada di sekitar tempat ini.”

“Nanti kita akan mencarinya. Sekarang, kita selamatkan dahulu peti ini.”

“Cepat gali.“ teriak yang paling besar diantara mereka. Agaknya orang itu adalah pemimpin atau setidak-tidaknya orang yang paling kuat diantara mereka.

Dua orang diantara mereka segera menggali lubang yang masih belum selesai ditimbun oleh Ken Arok dengan tangan mereka. Tetapi agaknya seorang yang lain menemukan potongan kayu runcing yang dipergunakan oleh Ken Arok, sehingga kayu itu dapat mereka pergunakan pula.

Dengan susah payah, akhirnya mereka berhasil menemukan peti mereka kembali. Meskipun tutupnya sudah pecah namun agaknya mereka menjadi cukup puas.

“Mungkin ada satu dua yang telah hilang.“ desis yang paling besar diantara mereka, “tetapi tidak apa. Sebagian terbesar telah kita ketemukan kembali.”

“Kita akan mencari setan yang telah mencuri peti itu.“ berkata yang lain, “kalau kita dapat menemukannya maka kita tidak perlu berpikir lagi untuk mencari persembunyian yang lain karena goa kita sudah dikenal orang.”

“Ya, kita harus mencarinya.” sahut yang besar, “kalau kita tidak menemukaanya dan membunuhnya sama sekali, orang itu akan kembali lain kali.”

“Kita berpencar. Seorang menunggui peti itu di sini yang lain mencari sampai ketemu.”

“Baik.” hampir bersamaan yang lain menyahut. Kemudian, salah seorang dari mereka ditunjuk untuk menunggui peti itu, sedangkan yang lain telah siap untuk pergi mencari Ken Arok.

Tetapi mereka terkejut bukan buatan ketika tiba-tiba saja mereka mendengar suara tertawa perlahan-lahan. Dekat sekali, di belakang sebatang pohon yang besar.

“Jangan pergi berpencaran.“ berkata suara dari balik pohon itu, “supaya aku tidak bersusah payah mencari kalian satu demi satu.”

Kata-kata itu ternyata telah menggetarkan jantung keempat orang yang merasa memiliki peti berisi perhiasan dan permata itu, seolah-olah isi dadanya meledak berserakan. Serentak mereka berloncat menghadap kearah suara di belakang pohon. Yang paling besar diantara mereka tiba-tiba bertanya, “He, siapakah kau?”

“Aku adalah pemilik perhiasan yang telah kau sembunyikan itu.“ jawab suara itu.

“Setan alas.“ teriak orang yang paling besar, “jawab pertanyaanku. Siapa kau. Jangan mencoba bergurau.”

“Aku tidak bergurau. Aku berkata sebenarnya.”

“Sebut namamu.“ teriak orang yang paling besar itu tidak sabar lagi.

Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa. Suara tertawa yang sangat menyakitkan hati.

“Sudah aku katakan.“ berkata suara itu, “aku adalah pemilik peti itu. Karena itu, maka cepat tinggalkanlah peti itu di tempatnya. Jangan mencoba menyentuh lagi.”

Keempat orang itu tidak dapat menahan kemarahan mereka lagi, sehingga dengan berteriak-teriak mereka bertanya kasar, “Sebut namamu he, cepat sebelum kau aku kubur di lubang itu.”

“Nama itu tidak penting bagi kalian seperti aku tidak memerlukan nama kalian. Yang penting bagiku adalah peti itu. Cepat, tinggalkan. Aku akan mengambilnya.”

Tiba-tiba orang yang paling besar di antara mereka itu mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya in berkata, “Baik, baiklah. Ambillah petimu. Aku tidak memerlukannya lagi.”

Ketigakawan-kawannya terkejut. Serentak mereka berpaling. Namun sejenak kemudian mereka mengerti maksud orang yang paling besar diantara mereka itu.

Tetapi terdengar jawaban, “Aku tidak akan mengambilnya. Yang aku ingini adalah, kalian pergi meninggalkan peti itu.”

Hampir bersamaan keempat orang itu menggeram. Dan tiba-tiba saja orang yang paling besar itu berteriak kepada seorang kawannya. “He, kau tunggui peti itu. Kami bertiga akan menangkap kelinci itu.”

Serentak, maka ketiga orang di antara mereka meloncat berlari kearah suara di balik pohon. Dengan kemarahan yang hampir meledakkan dada mereka, mereka mengepung arah suara yang telah mengganggu mereka itu.

“Kau tidak akan dapat lari lagi.“ geram orang yang paling besar di antara mereka.

Orang yang berdiri di belakang pokon itu, yang tidak lain adalah Ken Arok, mengerutkan keningnya. Ternyata keempat orang itu bukanlah orang-orang kebanyakan. Gerak mereka yang begitu cepat dan lincah, telah memperingatkan kepada Ken Arok, bahwa ia harus berhati-hati. Dalam waktu sekejap ketiganya telah berhasil mengepung rapat-rapat tempat persembunyiannya dengan tepat.

“Kau tidak akan dapat bersembunyi dan main hantu-hantuan lagi.“ salah seorang dari mereka berkata dalam nada datar tetapi berat.

Ken Arok tidak segera menjawab. Ternyata ia tidak berhadapan dengan sekelompok pencuri ternak, tetapi ia benar-benar berhadapan dengan sekawanan perampok yang tangguh.

“Aku tidak akan bersembunyi.“ jawab Ken Arok kemudian sambil melangkah perlahan-lahan dari balik sebatang pohon, “kalau aku sengaja bersembunyi, aku tidak akan bersuara.”

“Sebut namamu.“ sekali lagi orang yang paling besar diantara mereka itu mendesaknya.

“Aku tidak akan menyebut siapa aku. Tetapi kalian harus mengembalikan permata itu.”

“Kami bukan orang-orang gila yang dapat kau takut-takuti dengan ceritera semacam itu. Baiklah aku yang berterus terang lebih dahulu.” berkata orang yang paling besar itu. Kemudian, “kami telah mengumpulkannya dalam waktu yang cukup lama. Lebih dari tujuh kali kami berpindah tempat untuk menyembunyikan barang-barang kami yang sangat berharga itu. Setiap kali ada orang yang menemukannya, maka orang itu tidak akan lagi dapat melihat matahari. Kini nasibmulah yang sedang malang. Agaknya kau tidak sengaja telah menemukan barang-barang itu. Dengan demikian, maka kau pun akan kami bunuh dan kami tanam di dalam lubang yang telah kau gali itu sendiri.”

“Aku tidak dengan kebetulan menemukan barang-barang itu.” jawab Ken Arok, “aku memang mencarinya. Dan nasibku memang terlampau baik, sehingga aku berhasil menemukannya di sini.”

“Jangan mengigau tentang perhiasan itu. Itu sama sekali bukan milik seseorang. Aku kira sudah lebih dari seratus orang yang kami bunuh atau kami lumpuhkan. Mereka yang melawan kami penggal lehernya, sedang yang dengan suka rela menyerahkannya kepada kami, kami memang menaruh belas kasihan.”

Kata-kata itu telah membuat dada Ken Arok menjadi berdebar-debar. Ternyata orang-orang itu telah melakukan pembunuhan besar-besaran untuk mendapatkan kekayaan sebanyak itu, sehingga Ken Arok menjadi muak karenanya. Tiba-tiba saja ia menggeram, “Nah, aku akan berbuat serupa seperti yang pernah kau lakukan. Kalau kalian melawan, maka aku terpaksa memenggal leher kalian. Tetapi apabila kalian menyerahkannya dengan suka rela, maka aku akan menaruh belas kasian kepada kalian.”

“Setan.“ hampir berbareng ketiganya bertetiak, “ayo, berlutut kami ingin membunuhmu dengan cara kami.”

“Akulah yang akan membunuh kalian.“ sahut Ken Arok, “atau cepat tinggalkan tempat ini.”

Orang yang paling besar itu pun tidak dapat menahan dirinya lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat menerkam Ken Arok dengan kedua belah tangannya.

Ternyata orang itu memang luar biasa. Geraknya sangat cepat apalagi tidak terduga-duga. Namun meskipun demikian, Ken Arok masih sempat menghindarinya. Bahkan ia masih sempat tertawa sambil berkata datar, “Kau sudah mulai lebih dahulu. Jangan menyesal. Aku tidak akan sekedar bermain-main. Kalau kalian bersungguh-sungguh, maka aku pun akan bersungguh-sungguh pula.”

Tetapi kata-kata Ken Arok itu terputus, ketika tiba-tiba saja serangan berikutnya hampir saja menetak dadanya. Untuk menghindarinya Ken Arok harus menggeser tubuhnya selangkah kesamping. Namun agaknya kedua orang lainnya tidak membiarkannya. Belum lagi Ken Arok sempat meletakkan sebelah kakinya yang lain, maka serangan-serangan berikutnya datang beruntun. Ketiganya bergerak dalam saat-saat yang seolah-olah telah diatur dengan rapihnya.

“Bukan main.“ berkata Ken Arok di dalam hatinya sambil menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali “ternyata mereka bukan perampok jalanan.”

Dan tepat pada saat Ken Arok melenting berdiri, maka serangan-serangan mereka pun telah mengalir seperti banjir bandang.

“Hem.“ Ken Arok menggeram. Ternyata mereka adalah saudara seperguruan. Mereka mempunyai kerja sama yang hampir sempurna. Tidak ada kelemahan yang dapat dilihat oleh Ken Arok untuk memulai dengan serangan pembalasannya.

Ketiga orang itu pun menyerang dengan garangnya. Berturut-berturut, satu demi satu, namun terus menerus tidak putus-putusnya.
Ken Arok hampir tidak mendapat kesempatan untuk bernafas. Setiap kali kakinya menyentuh tanah, maka segera ia harus meloncat dan menghindar. Tidak henti-hentinya.

Namun kecepatan bergerak Ken Arok, menghindari serangan ketiga lawannya yang datang beruntun seperti badai itu ternyata telah menumbuhkan kekaguman pada lawan-lawannya. Tidak pernah seorang pun yang dapat lolos dari serangan yang demikian. Seorang lawan seorangpun, hampir tidak pernah ada orang yang dapat mengimbangi salah seorang dari ketiganya. Kini tiba-tiba ketiganya menyerang bersama-sama. Namun Ken Arok masih tetap hidup dan mampu menghindar, betapapun sulitnya.

“Ternyata kau benar-benar anak iblis.” teriak orang yang terbesar dari ketiga lawan Ken Arok itu, “seharusnya kau sudah mati. Tetapi kau masih juga hidup.”

Ken Arok tidak sempat menjawab. Ia harus meloncat kian kemari, seakan-akan tidak berjejak lagi di atas tanah.

“Tak ada ampun lagi.” teriak lawannya yang terbesar. Sesaat kemudian maka Ken Arok pun melihat, setiap orang dari ketiganya telah menggenggam sepasang pedang pendek. Pendek tetapi cukup besar.

“Senjata macam apa itu.” desis Ken Arok di dalam hatinya, “apakah manfaatnya senjata sependek dan sebesar itu.”

Namun Ken Arok ternyata tidak berteka-teki terlampau lama. Segera ia menyadari, betapa berbahayanya ketiga pasang senjata itu dalam lingkaran perkelahian bersama. Agaknya mereka sengaja mempergunakan senjata yang pendek, agar mereka dapat mengurung lawan mereka dalam jarak yang tidak terlampau jauh karena ayunan senjata mereka sendiri. Tetapi sepasang senjata yang pendek pada setiap orang, akan memberi kesempatan mereka berkelahi rapat berpasangan.

“Tetapi senjataku cukup panjang.“ desis Ken Arok kemudian. Dan sebelum tubuhnya tersentuh oleh pedang-pedang pendek itu, maka pedangnya sendiri telah berputar melindungi dirinya.

Perkelahian itu pun kemudian menjadi semakin dahsyat. Kini tiga pasang pedang pendek dan sehelai pedang panjang berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari yang semakin condong ke barat. Agaknya ketiga orang yang berkelahi bersama-sama melawan Ken Arok itu, terlampau percaya akan kekuatan tubuh mereka, sehingga setiap kali mereka mencoba membenturkan senjata mereka. Mereka berusaha untuk menjepit pedang Ken Arok dengan setiap pasang pedang, sedang yang lain berusaha menyerang lambung dan punggung.

Namun ternyata Ken Arok cukup cepat bergerak melayani mereka, meskipun setiap kali ia harus berusaha, memecahkan kepungan lawan-lawannya dan meloncat menjauh. Meskipun demikian, setiap kali ia sudah berada di tengah-tengah lingkaran pedang lawan-lawannya kembali.

Ken Arok itu pun kemudian menggeram. Ia hampir tidak mendapat kesempatan sama sekali, Lawan-lawannya itu bukanlah orang-orang Karuman yang ketakutan melihat Ken Arok melontarkan sepotong cabang beserta ranting-rantingnya dan daunnya yang rimbun.

Tiba-tiba Ken Arok menjadi lelah dan kesal menghadapi ketiganya. Meskipun ia sudah memutar pedangnya, seakan-akan menjadi tabir gumpalan asap yang melindungi tubuhnya, namun setiap kali bahaya hampir-hampir menyentuhnya. Apalagi ketika tiba-tiba terasa sebuah sengatan di pundaknya. Ketika tangan kirinya meraba, maka dadanya berdesir. Setitik warna merah telah melapisi telapak tangannya. Darah.

“Kau sudah terluka.“ teriak orang yang paling besar.

“Kau sudah di ambang pintu maut.“ teriak yang lain.

“Menyerahlah, supaya kau mati dengan tenang.“ berkata yang lain.

Namun bagi Ken Arok, darah adalah pertanda bahwa ia harus mulai benar-benar berkelahi. Kemarahan, kebencian dan bahkan kemudian dendam yang terpendam di dalam dadanya, tiba-tiba terungkat kembali. Sekilas terbayang luka yang semakin banyak melubangi tubuhnya. Namun yang paling mendebarkan jantungnya adalah bayangan tubuh ibu angkatnya yang terluka bakar, sehingga meninggal di tangannya. Selama itu ia berusaha menekan dendam itu dalam-dalam di dasar dadanya. Tetapi tiba-tiba dadanya itu serasa meledak. Dan dendam itu ikut meledak pula bersamanya.

Ketika sebuah luka tergores lagi di lengan kirinya, maka Ken Arok sudah tidak mampu lagi menahan kemarahannya. Tiba-tiba ia meloncat menembus kepungan ketiga orang yang berkelahi bersama-sama itu. Tetapi agaknya mereka tidak ingin melepaskan korban yang telah terluka itu. Segera mereka memburunya sambil berteriak keras-keras. Darah di tubuh Ken Arok membuat ketiganya semakin buas dan bahkan seolah-olah menjadi liar, seperti serigala mencium bau bangkai. Tendang mereka kian kasar dan keras.

Namun lawan mereka kini telah kehilangan pertimbangannya. Meskipun ditangannya tergenggam pedang istana Tumapel, namun tandangnya sama sekali bukan tandang seorang prajurit lagi. Kebuasan dan kekasaran ketiga lawannya yang telah berhasil melukainya, telah membuat Ken Arok lupa diri.

Dengan demikian, maka Ken Arok yang telah terluka itu pun menjadi semakin kasar pula. Darahnya telah membuatnya mata gelap, sehingga mereka yang berkelahi melawannya menjadi heran. Seolah-olah tiba-tiba saja Ken Arok telah berubah.

Ketiga orang perampok yang berkelahi melawan Ken Arok itu adalah orang-orang yang liar dan buas. Senjata-senjata mereka pun bergerak-gerak dengan liarnya. Namun tanpa mereka sangka-sangka, kini mereka mendapat lawan yang tidak kalah liar dan buas. Ken Arok itu, dalam kemarahan, dendam dan kebenciannya telah berubah menjadi Hantu Karautan.

Karena itulah, maka seandainya ada seseorang yang cukup waskita dan mempunyai ilmu yang lengkap, tidak saja dalam olah kanuragan, tetapi juga mempunyai mata batin yang tajam, maka akan tampaklah bayangan warna mereka di atas ubun-ubun Ken Arok. Suatu pertanda bahwa Ken Arok telah berada dalam taraf tertinggi dari ilmunya. Ilmu yang pada dasarnya tidak pernah dipelajarinya dari siapa pun. Yang karena pengaruh cara hidupnya di masa kanak-kanak dan masa mudanya, ilmu itu telah mendapat bentuk yang terlampau kasar dan buas.

Maka perkelahian yang terjadi kemudian adalah perkelahian yang dahsyat, seperti bertempurnya empat ekor hari mau liar dalam satu arena. Pergulatan yang mengerikan telah menaburkan debu yang putih mengepul tinggi. Kulit mereka yang basah oleh keringat menjadi keputih-putihan dilekati oleh debu yang kotor.

Namun mereka bertempur terus, semakin lama semakin dahsyat.

Tiga pasang pedang pendek ketiga perampok itu bagaikan sekumpulan ular yang sedang mengepung seekor burung rajawali yang sangat buas dan kuat.

Dentangan senjata-senjata mereka pun menjadi semakin sering. Kini Ken Arok tidak membiarkan dirinya selalu berada di dalam kepungan. Kakinya membawa dirinya melontar-lontar tidak berkeputusan. Sekali pedangnya terajua menyambar lawannya, kemudian bergulung-gulung melindungi dirinya. Sambil berteriak-teriak mengerikan ia menyerang lawannya beruntun seperti angin ribut, namun lawannya itu mampu melawannya sambil berputaran seperti angin pusaran. Benturan senjata-senjata mereka meledak-meledak seperti guntur di langit, memencarkan bunga-bunga api yang kemerahaan.

Ternyata ketiga orang perampok itu pun memiliki ilmu yang tangguh. Apalagi mereka bergabung dalam satu gerakan yang isi-mengisi, seolah-olah ketiga pasang tangan dan kaki mereka bersumber gerak pada satu otak.

Tetapi kekuatan Ken Arok dalam keadaannya, seolah-olah sudah bukan kekuatan manusia wajar lagi. Ketika kemarahannya menjadi semakin memuncak, maka tenaganya semakin terperas pula. Itulah sebabnya ayunan pedang Ken Arok menjadi semakin mengerikan. Sehingga dalam benturan-benturan selanjutnya, lawan-lawannya menjadi terperanjat. Setiap sentuhan telah membuat tangan lawannya menjadi nyeri seperti tergores sembilu. Setiap kali pedang-pedang pendek itu nyaris terlempar dari genggaman. Bahkan semakin lama, kekuatan Ken Arok seolah-olah menjadi semakin berlipat-lipat.

“Iblis manakah yang telah merasuk ke dalam anak ini.“ desis salah seorang dari ketiga perampok itu. Tangannya terasa kini seolah-olah menggenggam bara api. Setiap kali menjadi semakin panas, sehingga benturan yang menentukan, pedangnya telah terlepas dari tangannya.

“Setan alas.“ ia menggeram. Kini ia tinggal membawa satu pedang pendek.

Untunglah bahwa kedua kawannya yang lain berbuat cepat untuk menolong jiwanya. Mereka berbareng melakukan serangan beruntun, sehingga memberi kesempatan kepadanya untuk memungut sebelah pedangnya kembali. Namun perkelahian yang berikutnya ketiga kawanan perampok itu terpaksa bergeser semakin surut, karena serangan-serargan Ken Arok semakin membadai.

Tetapi orang yang paling besar di antara ketiga orang itu bukan orang yang bodoh. Mereka bergeser semakin lama semakin mendekati peti yang telah mereka pertahankan mati-matian. Ketika mereka telah berada beberapa langkah dari padanya, maka orang yang paling besar itu berteriak kepada seorang kawannya yang menunggui pati itu, “He, kemarilah. Kelinci ini terlampau liar.”

Dada Ken Arok berdesir. Lawannya akan berarti bertambah dengan satu orang lagi.

Orang yang menunggui peti itu menjadi heran sesaat. Tiga orang kawannya tidak segera dapat mengalahkan lawannya yang hanya seorang itu. Namun ketika ia melihat cara Ken Arok mempertahankan diri dan menyerang, tiba-tiba orang yang termasuk orang yang kasar dan buas itu mengerutkan keningnya. Terasa bulu-bulu kuduknya meremang. Tanpa disadarinya ia berdesis, “Iblis manakah yang berkelahi dengan cara yang demikian buas dan kasar itu?”

Dengan demikian, maka ia dapat menempatkan dirinya. Sebelum ia meloncat masuk ke dalam arena, kedua tangannya telah menggenggam pula sepasang pedang pendek.

Sejenak kemudian lawan Ken Arok telah bertambah dengan satu orang yang masih segar. Geraknya terlampau cepat di antara gerak ujung senjata kawan-kawannya. Dengan tenaganya yang baru, ia berusaha mengisi kelemahan dari ketiga kawan-kawannya yang telah menjadi kelelahan.

Kemarahan Ken Arok menjadi semakin memuncak. Ketika tangan kirinya tersentuh ujung pedang pendek orang baru itu, dan menitikkan darahnya pula, maka geraknya sudah tidak terkekang lagi. Nalarnya pun telah tidak dapat dikendalikan lagi. Sejalan dengan itu, maka tenaganya yang seolah-olah tidak akan kering-keringnya itu bahkan menjadi semakin dahsyat pula.

Dengan teriakan nyaring, Ken Arok memutar ujung pedangnya semakin cepat dan kuat. Menyambar-nyambar, seolah-olah berdesingan di setiap telinga. Semakin lama semakin cepat dan semakin dekat.

Dan debu yang kering pun semakin banyak mengepul di udara.

Keempat lawan-lawannya menjadi semakin tidak mengerti, dengan siapa mereka itu berkelahi. Menilik pedang dan pakaiannya, maka ia adalah orang biasa. Mungkin seorang pengawal padukuhan atau seorang pemburu atau seorang prajurit. Tetapi tandangnya benar-benar melampaui setan yang baru bangkit dari kuburan.

Para perampok itu tidak mempunyai kesempatan terlampau banyak untuk berteka-teki. Sejenak kemudian terdengar Ken Arok itu berteriak nyaring. Pedangnya terayun deras sekali, seperti sambaran petir di langit. Ketika dua pasang pedang pendek mencoba menangkisnya, maka terdengar suara keluhan pendek. Empat buah pedang pendek terlempar dari tangan dua orang dari keempat lawan-lawannya. Dan sebelum kedua orang itu menyadari keadaannya, maka mereka pun terpekik. Sebuah sabetan pedang telah menyobek dada mereka memanjang dalam satu ayunan.

Kedua kawannya yang lain terbelalak melihat dua buah luka di dada kedua kawannya itu menganga. Darah yang merah memancar, membasahi tangan-tangan mereka yang meraba luka itu. Hanya sejenak, karena sejenak kemudian keduanya roboh tidak berdaya. Mati.

Kematian kedua orang itu telah menggoncangkan dada kedua orang yang lain. Mereka sudah mengalami perkelahian yang dahsyat bersama empat orang sekaligus. Tetapi mereka sama sekali tidak berdaya melumpuhkan. Apalagi ketiga kedua orang dari antara mereka sudah terbunuh. Maka sudahlah pasti bahwa mereka tidak akan dapat membela diri lebih lanjut. Karena itu, menyadari keadaan mereka, tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan diri, dari pada lari. Lari menjauhi lawannya yang bertempur seperti iblis itu.

Keduanya memang bukan dua orang jantan yang mempertaruhkan nyawa di atas kehormatannya. Mereka adalah perampok yang memiliki kekuatan dan kemampuan yang luar biasa. Tetapi tidak memiliki keteguhan hati seorang jantan. Bahkan kalau perlu mereka dapat berbuat licik dan pengecut.

Karena itu, maka seperti berjanji keduanya meloncat mundur. Lari adalah jalan yang paling baik. Kalau mereka masih hidup, maka mereka masih mempunyai harapan untuk menemukan harta yang mereka kumpulkan bertahun-tahun itu. Mungkin mereka dapat menghubungi orang-orang yang dapat mereka percaya, atau saudara-saudara seperguruan yang lain.

Melihat kedua lawannya melangkah turut Ken Arok menggeram. Dugaannya memang tepat. Orang-orang itu akan melarikan diri.

Ketika benar-benar ia melihat keduanya meloncat berlari ke arah yang berbeda, Ken Arok menjadi ragu-ragu sejenak. Sesaat ia tertahan oleh kata hatinya, “Biarlah mereka berlari.“ Tetapi tiba-tiba terngiang kata-kata Bango Samparan, “Selesaikan setiap pekerjaan sampai tuntas, supaya tidak ada persoalan lagi dikemudian.”

Kata-kata itu seakan-akan mempunyai kekuatan yang tak terlawan yang telah menggerakkan tangan Ken Arok yang seolah-olah menyimpan tenaga yang ajaib. Tiba-tiba saja Ken Arok membungkuk memungut sebilah pedang pendek. Dengan sepenuh tenaga, pedang itu dilontarkannya kepada salah seorang yang sedang berlari menyelamatkan diri itu. Akibatnya adalah terlampau mengerikan. Orang itu sama sekali tidak sempat menyerit, ketika dari punggungnya tembus ke dadanya dilubangi oleh pedang pendek yang dilontarkan Ken Arok, sampai kepangkalnya.

Sejenak kemudian orang itu pun roboh tertelungkup. Mati.

Ken Arok tidak sempat melihat darah orang itu mengalir membasahi tanah yang berdebu. Sekejap kemudian ia telah meloncat mengejar seorang lagi yang berlari ke arah lain.

Hati orang itu telah benar-benar berkeriput sekecil biji kemangi. Kegarangannya sebagai seorang perampok yang telah membunuh beberapa orang korbannya, telah lenyap sama sekali. Ken Arok baginya bukanlah orang biasa. Tetapi seolah-olah ia benar-benar berhadapan dengan hantu maut yang paling mengerikan.

Apalagi ketika ia sadar, bahwa Ken Arok mengejarnya setelah membunuh seorang kawannya yang sempat melarikan diri. Serasa punggungnya sendiri telah tembus pula oleh lemparan pedang pendek kawannya yang telah mati. Karena itu, maka setiap kali ia berpaling sambil berlari sekencang dapat dilakukan.

Tetapi langkah Ken Arok jauh lebih cepat dari langkahnya. Kaki Ken Arok tampaknya tidak berjejak lagi di atai tanah. Benar-benar seperti sesosok hantu yang sedang terbang menyambarnya.

Ketakutan yang dahsyat telah menerkam jantungnya, mendahului tangan Ken Arok yang sudah mengembang, dengan pedang terayun-ayun. Itulah sebabnya, maka ia kehilangan segala macam nalar dan perhitungan. Sekali-sekali ia berpaling, kemudian mencoba berlari lebih cepat lagi. Seperti orang gila ia berteriak-teriak tidak menentu. Tetapi suaranya hilang ditelan oleh hutan yang semakin dalam semakin lebat.

Tiba-tiba suaranya hilang seperti tertahan di kerongkongan. Pada saat ia berpaling sambil meloncat, tiba-tiba kepalanya telah membentur sebatang pohon yang berdiri dengan kukuhnya. Yang terdengar adalah tubuhnya yang terbanting jatuh di atas tanah.

Ketika Ken Arok sampai ditempat itu, maka yang ditemuinya adalah sesosok tubuh yang terbaring menelentang. Dahinya pecah oleh benturan yang tidak dapat dihindarinya lagi, sehingga darahnya mengalir membasahi wajahnya.

Ken Arok sejenak berdiri tegang ditempatnya. Tiba-tiba ia menunduk dan meraba dahi yang pecah itu. Kemudian dipandangnya warna merah yang memulas jari-jarinya.

Wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang. Bahkan kemudian wajah itu menjadi kian mengerikan. Wajah itu adalah wajah hantu Karautan yang telah menyentuh darah korbannya.

Tiba-tiba terdengar Ken Arok itu menggeram, “Tangan ini sudah dikotori dengan darah. Aku sudah mulai. Aku sudah mulai.“ Dan suaranya kemudian meninggi melengking diantara dedaunan rimba yang menjadi semakin suram, “Aku sudah mulai. Aku sudah mulai melangkahkan kakiku menuju ke Singgasana Tumapel. Aku sudah mulai dan akan menyelesaikan pekerjaan ini hingga tuntas, hingga rampung. Aku akan membunuh semua orang yang mencoba menghalangi jalanku menuju ke singgasana yang paling tinggi di seluruh negeri di muka bumi, di bawah bentangan langit yang dibatasi oleh cakrawala.”

Mata Ken Arok menjadi temakin liar. Dipandanginya mayat yang terbaring dihadapannya. Kemudian ditatapnya darah yang telah menodai tangannya. Sejenak kemudian maka disarungkannya pedangnya. Sambil menggeram diseretnya mayat itu, kemudian dikumpulkannya keempat-empatnya dan dilemparkannya ke dalam goa.

Dengan mata yang menjadi merah Ken Arok memandang berkeliling, seolah-olah takut kalau semua perbuatannya itu diintip oleh seseorang. Ketika ia jakin bahwa tidak seorang pun yang melihatnya, maka ia pun segera berlari ke peti permata yang masih teronggok di samping lubang yang sudah tergali.

“Persetan.“ ia menggeram. Sekali lagi ia memasukkan peti itu, dan menimbunnya rapat-rapat.

“Tidak ada orang lain yang berhak atas harta kekayaan ini selain Ken Arok. Aku akan mempergunakannya untuk membuat jalan ke singgasana seorang Maharaja.”

Tiba-tiba Ken Arok itu tertawa. Semakin lama semakin keras. Suaranya meninggi, seperti luara iblis yang kepuasan setelah menghisap darah korbannya. Ken Arok telah benar-benar menjelma kembali menjadi hantu Karautan. Namun hantu Karautan yang sekarang adalah hantu yang telah cukup dewasa menghadapi dunia yang terbentang di bawah kakinya.

“Aku harus segera sampai ke tempat Empu Gandring.“ ia berdesis, “aku harus mempunyai sebilah keris pusaka yang maha sakti. Yang tidak akan dapat dilawan oleh senjata macam apapun dan yang akan mampu membunuh setiap orang yang aku kehendaki.”

Suara Ken Arok menjadi semakin meninggi, sehingga dedaunan bergetar karenanya. Yang sudah menguning, dan tidak mampu lagi berpegangan ranting-rantingnya, maka daun-daun itu berguguran satu demi satu.

“Aku harus segera sampai kerumah Empu Gandring.“ tiba-tiba suara tertawanya berhenti. Sekali lagi ia mencoba memandang berkeliling. Cahaya matahari yang sudah terlampau lemah, tidak lagi mampu menembus daun-daun rimba yang meskipun tidak terlampau padat. Sehingga dalam keremangan senja, Ken Arok yang berdiri dengan tangan bertolak pinggang di atas timbunan petinya, bagaikan iblis yang tertawa di atas onggokan tanah pekuburan.

Tiba-tiba Ken Arok itu merendah. Dan satu hentakkan telah melemparkannya ke dalam kegelapan. Dengan meninggalkan getar tertawanya yang mengerikan Ken Arok itu berlari menembus hutan yang semakin gelap, semakin lama semakin cepat, seperti bayangan yang terbang tidak menyentuh tanah.

Binatang-binatang hutan terperanjat mendengar suara yang asing di telinga mereka. Burung-burung yang telah hinggap disarang masing-masing beterbangan menghindari suara yang menggetarkan dada mereka. Binatang-binatang buas mengangkat wajah-wajah mereka, mencoba mencium bau apakah yang telah dilontarkan oleh mahluk yang memperdengarkan suara yang mengerikan itu.

Ketika seekor harimau loreng mengaum mengimbangi suara Ken Arok, maka suara tertawa itu berhenti. Tiba-tiba terdengar ia menggeram, “Setan manakah yang berani mentertawakan Ken Arok?”

Tetapi suara aum harimau itu sudah tidak didengarnya lagi, sehingga Ken Arok berteriak, “He, siapakah yang berani mencoba melawan Ken Arok?”

Tidak ada jawaban, dan hutan menjadi kian sepi.

Ken Arok mengumpat-umpat. Kemudian diteruskannya langkahnya, memintas memotong arah, langsung ke Lulumbang, kerumah Empu Gandring.

Tetapi kemudian gelap malam telah mengganggunya. Langkahnya menjadi semakin lambat, karena gelap malam di tengah hutan itu bagaikan tabir hitam yang menghalangi jalannya.

“Hem.” Ken Arok berdesah, “gelap malam ini benar-benar mengganggu.“ Tetapi sebenarnya bukan gelap malam itu saja. Terasa juga otot-ototnya menjadi lelah. Karena itu maka ia pun menggeram, “Aku harus beristirahat. Aku akan tidur di cabang pohon itu, dan besok sebelum fajar aku harus meneruskan perjalanan ini.”

Maka Ken Arok pun segera memanjat sebatang pohon yang tidak terlampau besar. Mencari tempat yang sebaik-baiknya untuk beristirahat. Di atas sebatang cabang ia duduk bersandar, untuk melepaskan lelahnya. Tetapi ia sama sekali tidak dapat tidur barang sekejappun. Pikirannya selalu hilir mudik tidak menentu. Sekilat dikenangnya segala peristiwa yang pernah dialaminya, dan kemudian terbang tinggi ke langit tingkat ketujuh.

Ketika seekor burung hantu berbunyi dikejauhan, Ken Arok pun menggeram. Suara burung yang ngelangut itu terasa mengganggu telinganya.

Kini semua kekangan di dalam dirinya seolah-olah menjadi semakin kendor. Bahkan seolah-olah sudah tidak berarti lagi. Kendali yang selama ini berhasil dipasangnya sendiri, tiba-tiba telah diputuskannya.

“Aku bukan orang gila yang membiarkan diriku dikekang oleh kendali yang dicocokkan ke dalam hidungku. Aku barus melepaskan diri. Selama aku masih merasa berhutang budi kepada pihak, maka aku benar-benar telah menjadi budak yang tidak akan dapat menemukan keadaan yang lebih baik dari keadaanku kini.”

Sekali lagi Ken Arok menggeram sambil mengepalkan tinjunya. Seolah-olah ia dapat bersabar lagi menunggu cahaya merah yang membayang di langit.

Tetapi akhirnya, cahaya fajar mewarnai langit di ujung Timur, betapapun lambatnya.

Dengan demikian, maka Ken Arok pun segera meloncat turun. Meskipun masih gelap, namun mata Ken Arok yang tajam, telah dapat melihat jalan yang harus dilaluinya, di sela-sela pepohonan dan gerumbul-gerumbul liar.

Sebenarnyalah bahwa pada pagi itu Ken Arok telah mulai dengan perjalanannya. Perjalanan yang jauh. Tidak saja menuju ke Lulumbang, kerumah Empu Gandring, tetapi ia menuju kedaerah mimpi yang pernah dikatakan oleh Bango Samparan kepadanya. Semua kekangan, hambatan dan keragu-raguan, berangsur-angsur telah terpatahkan oleh nafsunya yang bergolak kembali, setelah beberapa lama dapat di endapkannya.

Meskipun kadang-kadang masih juga terdengar suara Lohgawe di dalam lubuk hatinya, namun suara itu semakin lama menjadi semakin lemah dan hampir tidak berarti sama sekali.

Ia menggeram ketika seolah-olah terdengar Lohgawe berbisik di telinganya, “Kini matilah seorang pemimpin yang baik. Berbarerg dengan lahirnya seorang yang membiarkan nafsunya menggelepar di dalam dadanya.”

“Persetan, persetan.“ Ken Arok menggeram, “seorang yang telah berputus asa seperti Lohgawe, dan sudah tidak mempunyai cita-cita lagi buat hari depannya, memang sebaiknya mengasingkan dirinya. Orang macam Lohgawe lah yang sebenarnya sudah mati di dalam hidupnya. Hari-harinya sebenarnya telah berhenti. Dan sebaiknya ia telah mempersiapkan api pembakaran buat dirinya sendiri.”

Ken Arok pun berjalan semakin lama semakin cepat. Sebelum tengah hari ia telah keluar dari hutan yang tidak terlampau lebat, kemudian memasuki daerah gerumbul-gerumbul liar dan padang rumput yang kuning. Sejenak kemudian ia telah melewati pategalan yang gersang dengan tanaman-tanaman palawija yang kurus meskipun sebenarnya musim hujan telah datang. Namun musim hujan yang terlampau kering.

Ternyata hasrat yang tidak tertahan-tahan lagi telah mendorong Ken Arok berjalan semakin cepat. Ia tidak mengacuhkan lagi apapun yang dijumpainya di jalan. Ia tidak mengacuhkan dirinya sendiri pula. Pakaian yang kusut, rambut yang tidak teratur dan jari-jari yang bernoda darah.

Ken Arok tidak memperdulikan, berpuluh-puluh pasang mata yang memandanginya di sepanjang jalan ke Lulumbang. Yang terpateri dihatinya adalah, “segera sampai ke Lulumbang, dan segera mendapat sebuah pusaka yang maha sakti dari Empu Gandring.”

Namun tiba-tiba terbersit pertanyaan, “Apakah aku akan berterus terang, ataukah aku harus merahasiakan maksud sebenarnya?”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi langkahnya sama sekali tidak terganggu.

“Lebih baik aku berterus terang.“ katanya, “dengan demikian tidak akan ada persoalan dikemudian hari. Empu Gandring tidak akan terkejut lagi apabila aku mempergunakan kerisnya kelak.“ Namun Ken Arok kemudian menjadi ragu-ragu. Dibantahnya sendiri, “Empu Gandring adalah seorang yang tidak lebih baik dari Lohgawe. Seorang yang lemah hati dan tidak bercita-cita. Ia memiliki keahlian yang hampir tidak ada duanya di Tumapel bahkan di seluruh Kediri. Tetapi ia tetap mengasingkan diri di padepokannya. Dan selamanya sampai matinya ia hanya sekedar seorang Empu yang tidak berarti bagi Tumapel, apalagi bagi Kediri. Akuwu Tumapel dan apabila Maharaja di Kediri tidak akan pernah menyebut namanya, apabila mendengarkan pendapatnya.”

Dan tiba-tiba ia menggeram, “Orang-orang yang demikian pada saatnya tidak akan berarti lagi. Baik bagi Tumapel, bagi Kediri maupun bagi kelurusan jalanku untuk mencapai cita-cita. Orang-orang yang lemah hati dan tidak berpendirian atas cita-cita yang gemilang dihari depan hanya akan menambah jumlah rintangan bagi kemajuan tanah ini. Pada suatu ketika mereka memang harus disingkirkan.”

Ken Arok menghentakkan lakinya ketika tumbuh berbagai masalah yang saling berbenturan di dalam dirinya. Tetapi ia berusaha untuk menegakkan pendiriannya. Ia mencoba untuk berpijak pada alasan yang dapat dipertanggung jawabkan. “Untuk kepentingan Tumapel dan seluruh tanah Kediri. Untuk kepentingan kebesaran yang sungguh-sungguh. Bukan sekedar kebesaran beberapa orang yang kebetulan berada di sekitar singgasana. Tetapi mereka membiarkan tanah-tanah menjadi kering dan perampokan merajalela.”

Seolah-olah Ken Arok telah mendapat keputusan yang mantap. Dan karena itu maka langkahnya pun menjadi semakin mantap pula. Lulumbang.

Ternyata Ken Arok tidak sulit untuk sampai ke padepokan Empu Gandring. Dari jarak beratus-ratus patok, orang sudah mengenal, bahwa seorang Empu Tua bernama Gandring, tinggal dalam sebuah padepokan yang sepi dan menyendiri, bersama keluarga kecilnya yang hidup damai.

Kedatangan Ken Arok telah mengejutkan Empu Tua itu. Dengan tergopoh-gopoh ia berlari-lari menyongsongnya.

“Siapa?“ bertanya orang tua itu kepada seorang cantrik yang menyampaikan kedatangan Ken Arok.

“Ken Arok, namanya Ken Arok.”

“O, ia benar-benar datang.“ Lalu kepada para cantrik ia berkata, “nyalakan lampu.”

Memang tepat pada saat lampu dinyalakan Ken Arok memasuki halaman rumah Empu Gandring. Halaman yang luas dan tenang, ditumbuhi oleh pepohonan yang tampak hijau segar. Beberapa batang kelapa gading tampak menghiasi petak-petak yang ditanami pohon-pohon bunga yang rimbun.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Halaman yang terbentang di depan matanya, tiba-tiba terasa menyentuh perasaannya. Bukankah kedamaian yang sejuk ini dapat memberikan ketenteraman hidup. Hidup yang tenteram damai itu pun merupakan cita-cita. Cita-cita bagi sebagian besar manusia di dunia ini.

Tiba-tiba Ken Arok menggeram, “Itu terlampau mementingkan diri sendiri. Damai dan ketentraman hidup tidak akan mendorong perbaikan yang menyeluruh bagi Tumapel. Hidup memang harus bergerak. Seperti perahu yang tenang di sebuah teluk yang damai. Tetapi ia tidak akan sampai ke pulau-pulau impian di seberang lautan yang penuh dengan gelombang yang dahsyat. Aku tidak boleh menghindar. Aku harus menempuh kedahsyatan gelombang dan arus lautan. Yang akan tetap tinggal di teluk yang tenang damai, akan tertinggal jauh di belakang.”

Ken Arok terperanjat ketika ia mendengar suara terbata-bata menyapanya, “Marilah Ngger, marilah. Akhirnya kau datang juga. Marilah.”

Ternyata sapa yang ramah itu telah menghentak dada Ken Arok yang sedang dipenuhi oleh gejolak yang dahsyat. Sejenak ia berdiri tegang dengan jantung yang berdebar-debar.

Dengan demikian maka Ken Arok tidak segera menjawab sapa Empu Gandring. Seperti bermimpi ia melihat bayangan seseorang yang berjalan tertatih-tatih mendekatinya. Seandainya Ken Arok belum pernah mengenal Empu Gandring maka sama sekali tidak akan terlintas di dalam kepalanya, bahwa orang itu mampu mengimbangi keganasan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

“Marilah ngger.“ Empu Gandrirg mengulangi.

“Terima kasih Empu.“ jawab Ken Arok gemetar, seperti jantungnya yang semakin cepat berdebaran.

Orang tua itu kini menjadi semakin dekat. Dalam keremangan senja Ken Arok masih melihat orang tua itu tersenyum. Kemudian melangkah semakin dekat lagi. Dengan keramahan yang tulus Empu Gandring mengembangkan tangannya dan menangkap kedua lengan Ken Arok yang kokoh seperti baja.

Sentuhan tangan Empu Gandring itu membuat dada Ken Arok berdesir. Tanpa sesadarnya ia melangkah surut.

Sikap Ken Arok itu benar-benar telah mengejutkan Empu tua itu. Apalagi telapak tangannya yang telah menyentuh tubuh Ken Arok merasakan bahwa tubuh anak muda itu menjadi gemetar.

Sejenak Empu Gandring pun terdiam. Dipandanginya saja wajah Ken Arok yang tegang.

“Maaf Empu.“ tiba-tiba Ken Arok berkata dengan suara terputus-putus. Ketika ia menyadari keadaannya, maka dicobanya untuk menekan perasaannya kuat-kuat. Dicobanya untuk mengerti sepenuhnya, keadaan yang kini sedang dihadapi. “Aku terlampau kotor setelah aku menempuh perjalanan dua hari penuh.”

Tiba-tiba Empu Gandring yang keheranan itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengarlah suara tertawanya yang lunak. Katanya, “Oh, aku mula-mula heran melihat sikapmu Ngger. Ternyata kau merasa dirimu terlampau kotor.”

Dada Ken Arok tergetar mendengar kata-kata Empu Gandring itu. Tanpa disadarinya dipandanginya tangannya. Hampir-hampir saja ia berteriak, bahwa ia sama sekali tidak kotor. Apa yang dilakukannya adalah untuk kepentingan tanah ini.

Namun tiba-tiba diingatnya kata-katanya sendiri. Ia sendirilah yang mengatakan bahwa dirinya terlampau kotor setelah dua hari dalam perjalanan. Tubuhnyalah yang terlampau kotor Badaniah, dan sama sekali Empu Gandring tidak akan menuduhnya, bahwa batinyalah yang kotor.

Ken Arok pun mencoba untuk dapat tertawa. Tetapi suaranya terlampau sumbang dan bergetar.

Empu Gandring adalah seorang yang bijaksana. Karena itu, maka segera ia menangkap ketidak wajaran pada sikap Ken Arok. Tetapi ia sama sekali tidak menunjukkan, betapa hatinya talah dililit oleh berbagai macam pertanyaan.

“Marilah Ngger, silahkan masuk. Bukankah Angger tidak hanya akan berdiri di regol halaman saja?”

“Oh.“ Ken Arok tergagap, “terima kasih Empu, terima kasih.“ Namun ketika ia melangkah semakin dekat dengan pendapa, semakin dekat dengan lampu minyak, Ken Arok menyadari bahwa sebenarnyalah tubuhnya terlampau kotor. Bahkan jari-jarinya telah dilekati oleh noda-noda darah yang kering.

“Maaf, Empu.“ berkata Ken Arok tiba-tiba, “aku lebih baik pergi ke perigi lebih dahulu. Aku akan mandi dan membersihkan diri. Aku memang terlampau kotor oleh debu.”

“Ah.“ desah Empu Gandring, “aku pun selalu dikotori oleh debu dan tanah becek apabila aku bekerja di sawah. Marilah, beristirahatlah dahulu. Tidak baik mandi selagi peluhmu belum kering.”

“Tidak Empu, aku lebih baik mandi saja dahulu, supaya aku dapat duduk tenteram dan tidak gelisah.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Pertanyaan di dalam dadanya semakin tajam tergores di dinding jantung. Tetapi sebagai seorang tua yang mapan akan kedudukannya, ia berkata, “Baiklah Ngger. Kalau kau ingin mandi lebih dahulu.”

“Terima kasih Empu.”

Kemudian Empu Gandring memanggil seorang cantrik untuk mengantarkan Ken Arok ke pakiwan.

“Bawalah lampu, Ngger.“ berkata Empu Gandring.

“Terima kasih Empu.”

Ken Arok pun kemudian mandi di pakiwan di belakang rumah Empu Gandring. Sebuah lampu minyak yang redup di letakkannya di atas sebuah batu. Dalam keremangan cahayanya yang kemerah-merahan Ken Arok melihat noda-noda yang melekat pada dirinya. Karena itu, maka segera ia menimba air. Diguyurnya seluruh tubuhnya. Tidak hanya satu dua timba air, tetapi sepuluh bahkan dua puluh. Namun setiap kali ia merasa bahwa tubuhnya masih saja dilekati oleh kotoran yang tidak dapat dibersihkannya.

“Noda ini seperti meresap ke dalam kulit.“ ia menggeram sambil menggosok-gosokkan tangannya pada sebuah batu. Tetapi setiap kali ia memandanginya pada cahaya lampu, seolah-olah ia masih melihat noda darah itu melekat ditangannya.

“Setan.“ desisnya sambil menggosokkan tangannya. Sekali legi ia melihat telapak tangan itu pada nyala lampu pelita. Dan noda itu masih juga dilihatnya.

Sekali lagi Ken Arok menggosokkan tangannya sambil menggeretakkan giginya. Kini semakin keras. Tetapi ia bahkan terkejut ketika kemudian dilihatnya noda darah itu menjadi semakin merah, bahkan kini seolah-olah mengalir.

Sebuah desir yang tajam tergores dihatinya. Cepat-cepat digujurnya tangannya dengan air. Sesaat terasa pedih menyengat tangannya.

Ken Arok mengumpat sejadi-jadinya. Ternyata darah itu mengalir dari tangannya sendiri, karena ia terlampau keras menggosokkan pada batu, sehingga kulitnya terkelupas.

“Untunglah, bahwa luka ini baru sedikit.“ gumamnya, “agaknya aku benar-benar telah menjadi gila.“ Namun kemudian dihentakkannya tangannya di atas batu itu sambil menggeram, “Tidak. Aku tidak gila.”

Ken Arok itu pun kemudian menyambar pakaiannya. Ia tidak mempunyai pakaian lain kecuali yang dipakainya itu, karena bungkusan yang dibawanya dari Tumapel ikut pula terbakar di rumah Bango Samparan. Karena itu, ia harus memakai pakaiannya yang telah kotor itu kembali.

Namun ternyata, meskipun ia telah berusaha membersihkan dirinya, dengan mengguyur air sebanyak-banyaknya, tetapi ia masih juga merasa dirinya masih dilumuri oleh debu yang bahkan menjadi semakin tebal.

Dengan nanar ia mengamat-amati dirinya. Mengkibas-kibaskan tangannya yang pedih, meskipun sudah tidak mengalirkan darah lagi.

“Persetan.” tiba-tiba ia menggeram, “bersih atau tidak bersih, aku tidak peduli.”

Ken Arok itu pun kemudian menggeretakkan giginya. Ia tidak mau dibayangi lagi oleh kecemasan dan kegelisahan tentang dirinya. Karena itu, maka kemudian dicobanya untuk menengadahkan dadanya sambil berjalan menuju ke pendapa.

Empu Gandring menunggunya dengan teka-teki yang mengganggu pikiranya. Apa sajakah yang telah terjadi dengan Ken Arok di sepanjang perjalanannya, sehingga ia menjadi gemetar, gelisah dan bahkan seolah- olah kebingungan.

Ketika Empu Gandring melihat anak muda itu melangkah mendekati pendapa, segera ia bangkit. Suaranya yang ramah telah memecah kesepian, “Marilah Ngger.”

“Terima kasih Empu.” jawab Ken Arok. Tetapi langkahnya justru menjadi semakin lambat. Bahkan kemudian berhenti di bawah tangga.

“Marilah, kenapa Angger ragu-ragu.”

Ken Arok mencoba menekan perasaannya sedalam-dalamnya. Didalam hatinya ia mencoba menenteramkan dirinya. “Kenapa aku takut melihat wajah hantu tua itu?“ ia menggeram di dalam hatinya, “seandainya ia tahu apa yang akan aku lakukanpun, aku tidak akan mundur.”

Ken Arok terkejut ketika sekali lagi suara yang ramah itu terdengar, “Marilah, marilah Ngger.”

“Terima kasih Empu.“ jawab Ken Arok.

Dengan ragu-ragu ia melangkah naik ke pendapa, sementara Empu Gandring menyongsongnya. “Silahkan duduk. Tetapi lebih baik kita masuk ke pringgitan. Angin malam di Lulumbang kadang-kadang membuat tubuh menjadi terlampau dingin.”

“Terima kasih Empu, aku lebih baik duduk diluar, di pendapa saja.” jawab Ken Arok, “udara terlampau panas. Apalagi di dalam pringgitan.”

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Sikap Ken Arok benar telah membuatnya bertanya-tanya di dalam hati. Tetapi pertanyaan itu tidak diucapkannya. Namun sebagai seorang tua yang bijaksana ia tidak memaksa Ken Arok untuk masuk ke pringgitan, sehingga diterimanya anak muda itu diatas tikar pandan yang terbentang di sudut pendapa, di bawah remang-remang pelita minyak yang kemerah-merahan.

“Sudah cukup lama aku menunggu kedatanganmu Ngger, akhirnya kau telah memerlukan datang mengunjungi aku.” berkata Empu Gandring, “kemana saja kau selama ini?”

“Aku tetap berada di Tumapel Empu. Setelah pekerjaanku di Padang Karautan selesai.”

Empu Gandring meng-angguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ditanyakannya keselamatan Ken Arok selama itu, Mahisa Agni dan orang-orang lain di Padang Karautan.

“Baik Empu, semuanya baik.”

“Agni pernah juga datang kemari Ngger, setelah ia lepas dari tangan iblis itu.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi pembicaraan itu sebenarnya sama sekali tidak menarik baginya. Karena itu, ia menanggapinya sepatah-sepatah saja. Yang ada di kepalanya adalah sebuah pusaka yang tidak ada duanya di muka bumi ini.

Sekali lagi Empu Gandring dapat menangkap ketidak wajaran pada anak muda itu. Selama ia mengenal Ken Arok, maka sikap dan tanggapannya terhadap orang lain terlalu baik. Anak itu segera menarik hati dan perhatian bagi mereka yang baru mengenalnya. Tetapi agaknya Ken Arok itu kini telah berubah.

Meskipun demikian Empu Gandring mencoba menyesuaikan dirinya dengan keadaan tamunya. Ia mencari kemungkinan yang paling baik, untuk membuat tamunya merasa senang di rumahnya.

Sebentar kemudian beberapa orang cantrik menghidangkan makanan dan makan malam. Nasi putih yang masih berasap, daging ayam panggang dan sayur bening.

“Marilah Ngger. Bukankah Angger terlampau lama berada di perjalanan?”

Dengan kaku Ken Arok mengangguk, “Terima kasih Kiai.”

Sebenarnyalah Ken Arok memang sedang lapar. Karena itu, maka suguhan Empu Gandring itu terasa terlampau enak dan bahkan berlebih-lebihan. Namun demikian Ken Arok tidak dapat makan sebanyak yang dilakukannya sehari-hari. Kepalanya selalu saja dipenuhi oleh nafsunya untuk memiliki sebilah keris pusaka yang paling sakti. Karena itu, tidak ada masalah lain yang dapat menarik perhatiannya.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tetap seorang tuan rumah yang mencoba berbuat sebaik-baiknya. “Pasti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.“ berkata Empu Gandring di dalam hatinya, “sekian lama kami tidak bertemu. Tatapi sikapnya sama sekali tidak mencerminkan hubungan kami yang begitu baik disaat-saat yang lampau.”

Sementara itu Ken Arok menyuapi mulutnya dengan kepala tunduk. Ia sedang mereka-mereka, apakah alasan yang akan diberikannya untuk mendapatkan pusaka itu dari Empu Gandring.

“Bodoh sekali.” katanya di dalam hati, “aku dapat mengatakan, bahwa pusaka itu dapat aku pergunakan sebagai tanda mata dari padanya.” tetapi dibantahnya sendiri, “jika demikian, kenapa harus yang paling sakti di dunia.”

Sikap Ken Arok itu benar-benar membuat Empu Gandring kebingungan. Apakah yang sebaiknya dilakukan? Semua pembicaraan agaknya tidak menarik dan apalagi menyenangkan hati tamunya.

Akhirnya sebagai seorang tua, Empu Gandring tidak dapat menahan pertanyaannya lagi. “Apakah salahnya?“ katanya di dalam hati, “mungkin aku dapat membantunya.”

Karena itu, maka ketika mereka telah selesai makan, dengan hati-hati Empu Gandring mencoba bertanya, “Angger Ken Arok, sebelumnya aku minta maaf. Tetapi aku tidak dapat lagi menahan keinginanku untuk mengetahui, apakah sebabnya angger Ken Arok tampak begitu gelisah. Apakah ada sesuatu yang mengganggumu? Maksudku, mengganggu perasaanmu.”

Dada Ken Arok berdesir mendengar pertanyaan itu. Dengan serta merta ia menjawab lantang, “Aku tidak tahu apakah yang kau tanyakan, Empu. Aku tidak apa-apa. Ken Arok yang sekarang adalah Ken Arok yang dahulu, eh, maksud ku Ken Arok seorang Pelayan Dalam Tumapel. Apakah anehnya?”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Justru dengan demikian ia melihat ketidak wajaran pada anak muda itu menjadi semakin jelas.

“Aku orang tua ngger. Mungkin aku dapat membantu Angger apabila angger mempunyai sebuah teka-teki yang sulit.”

“Oh, aku bukan seorang penganggur yang malas, yang sempat berpikir tentang teka-teki. Aku tidak akan pernah punya waktu. Karena itu aku harus berbuat cepat tidak terlampau banyak pertimbangan-pertimbangan yang tidak akan berarti apapun.”

Jawaban itu membuat Empu Gandring menjadi semakin bingung. Ditatapnya wajah Ken Arok yang bersungguh-sungguh. Ketika terpandang olehnya kilatan mata Ken Arok, orang tua itu terperanjat. Mata itu bukan mata Ken Arok beberapa saat yang lampau.

Tiba-tiba Empu Gandring teringat saat-saat mereka berdua, Empu Sandring dan Ken Arok, harus berkelahi melawan Kebo Sidet dan Wong Sarimpat. Tandang anak muda itu sama sekali bukan sikap seorang Pelayan Dalam istana Tumapel. Dalam keadaan yang sulit melawan kekasaran sikap lawannya, Ken Arok pun mampu mengimbanginya dengan sikap yang kasar dan buas.

Sepercik kebimbangan telah melanda dada Empu Gandring. Tiba-tiba timbullah pertanyaan di hatiaya. “Siapakah sebenarnya anak muda ini?”

Meskipun demikian, Empu Gandring, masih juga mencoba bertanya, “Aku kira Angger sedang dilanda oleh persoalan anak-anak muda yang sudah dewasa ngger. Apakah begitu? Hal itu adalah wajar sekali. Seandainya bukan masalah itu, dan seandainya bukan suatu rahasia, aku ingin dapat membantu Angger memecahkan masalah yang agaknya sedang mengganggu perasaan Angger itu.”

“Sudah aku katakan, tidak ada apa-apa Empu. Tidak ada apa-apa.“ jawab Ken Arok cepat-cepat. Ia tidak mau mendengar pertanyaan serupa itu lagi. Pertanyaan yang membuat dadanya semakin berdebar-debar dan keringat dinginnya semakin banyak mengalir.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi niatnya untuk bertanya lebih lanjut ditundanya.

“Mungkin aku akan mendapat kesempatan yang lebih baik.“ katanya di dalam hati.

Namun sementara itu, Ken Arok pun agaknya sudah tidak dapat menahan nafsunya lagi untuk segera memiliki sebuah pusaka yang dahsyat. Meskipun ia belum tahu, apakah yang segera akan dilakukan dengan pusaka itu, namun sebuah bayangan yang hitam telah membersit di hatinya.

“Setiap orang yang menjadi penghalang, akan aku singkirkan. Karena itu, aku harus mempunyai sebuah pusaka yang sakti, yang dapat membinasakan orang-orang yang memiliki kelebihan dari orang-orang biasa dengan tidak usah mengulangi dengan beberapa tusukan lagi.“ geramnya di dalam hati.

Karena itu, maka ketika dadanya menjadi kian pepat, ia tidak dapat menjimpannya lebih lama lagi. Sejenak ia beringsut mendekat, kemudian dengan ter-bata-bata ia berkata, “Empu, sebenarnyalah aku memerlukan bantuan Empu.”

Empu Gandring mengerutkan keningnya, kemudian menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Nah, begitulah Ngger. Aku adalah orang tua. Meskipun aku tidak memiliki kepandaian apapun, namun barangkali aku dapat menyumbang ceritera-ceritera tentang pengalamanku yang panjang.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya meskipun ia sudah tidak mendengar kata-kata Empu Gandring itu, karena begitu besar nafsunya untuk segera menyampaikan hasratnya.

“Ya, Ya Empu.“ katanya, “sebelumnya aku mengucapkan terima kasih.“ Ken Arok berhenti sejenak menelam ludahnya. Keringatnya telah benar-benar membasahi seluruh tubuhnya. “Aku memerlukan sesuatu Empu.”

Empu Gandring tidak segera menjawab. Ditatapnya saja wajah Ken Arok yang kemudian menunduk.

“Apakah yang kau perlukan itu?”

“Sebuah pusaka. Pusaka yang maha sakti.”

“He.“ Empu Gandrirtg terperanjat, “pusaka yang maha sakti? Sebilah keris maksudmu?”

“Ya Empu. Aku ingin mempunyai sebilah keris.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi dada-dadanya kian berdebar-debar. Berbagai pertanyan dan pertimbangan mengambang di dadanya. Sedang sementara itu Ken Arok merasa telah meledakkan bisulnya yang paling sakit. Ketika, keinginannya itu sudah terucapkan, maka serasa dadanya menjadi lapang. Selapang padang Karautan. Namun demikian ia tidak dapat menghindari cengkaman kegelisahan, yang membuatnya cemas.

“Apakah Angger ingin memiliki sebilah keris?“ sekali lagi Empu Gandring bertanya, seolah-olah ia ingin meyakikan pendengarannya.

Ken Arok mengangguk kaku. “Ya Empu. Sebilah keris.”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Keinginan Ken Arok untuk memiliki sebuah keris dalam keadaan serupa itu, membuat Empu Gandring menjadi semakin berdebar-debar. Sehingga untuk sesaat orang tua itu terdiam mematung.

Ken Arok pun tidak segera berkata sesuatu. bahkan kemudian kepalanya itu pun menunduk dalam-dalam.

Dengan demikian maka pendapat itu pun ditelan oleh kesepian. Lampu minyak yang redup bergetar disentuh angin malam yang dingin.

Karena Empu Gandring tidak berkata sesuatu, maka Ken Arok yang gelisah itu pun menjadi semakin gelisah. Rasa-rasnya Empu Gandring sedang melihat, apakah yang tergores di dinding hatinya. Seakan-akan Empu Gandring sedang membuat pertimbangan, apakah ia akan memberinya keris itu atau tidak.

Dalam kegelisahan itu tiba-tiba ia memecah kesepian dengan suara parau, “Bagaimana Empu? Aku memerlukan sebilah keris.”

“Oh.“ Empu Gandring seakan-akan tersadar dari mimpinya, “ya, ya. Kau memerlukan sebilah keris anak muda?”

“Ya Empu.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bergumam seolah-olah kepada diri sendiri, “Baiklah.Aku akan membuat keris itu untukmu.”

“He.“ Ken Arok terkejut, “Empu Gandring masih akan membuat keris itu?”

“Ya ngger. Aku akan membuat untukmu.”

“Ah.” desah Ken Arok, “kenapa Empu membuat diri sendiri terlampau sulit? Aku tidak memerlukan keris yang baru Empu. Aku minta keris yang sudah ada. Tetapi yang paling sakti di dunia. Bukankah Empu memiliki selumbung keris yang sudah siap?”

Empu Gandring menjadi semakin heran melihat sikap itu. Sebenarnya ia memang mempunyai keris yang cukup banyak, cukup baik dan memenuhi keinginan Ken Arok. Tetapi justru karena sikap Ken Arok itu, maka ia menjadi ragu-ragu. Empu Gandring telah berjanji untuk memberikan kenang-kenangan kepada anak muda itu dahulu. Bahkan sudah ada beberapa keris yang disediakan, seandainya Ken Arok benar datang dan memerlukannya. Tetapi tidak dalam keadaan yang demikian. Itulah sebabnya, maka Empu Gandring tidak memberikannya. Bahkan ia berkata di dalam hatinya, “Pasti ada suatu yang tidak wajar telah terjadi. Adalah berbahaya sekali kalau aku memberikan keris itu sekarang. Biarlah aku menundanya untuk sesuatu waktu. Barangkali hatinya dapat mengendap, sehingga aku yakin bahwa keris itu tidak akan dipakainya untuk maksud-maksud yang kurang wajar.”

Karena Empu Gandring tidak segera menjawab, maka Ken Arok itu pun mendesaknya pula, “Empu, bukankah Empu pernah berjanji, apabila aku datang kemari, maka Empu akan memberi aku sebuah kenang-kenangan.”

“Tentu ngger, aku akan memberi kau sebuah kenang-kenangan.“ jawab Empu Gandring, “tetapi aku tidak pernah berpikir, bahwa yang angger inginkan adalah keris yang paling sakti di dunia.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia menyahut, “Jadi keris apakah yang Empu maksudkan? Sebuah keris mainan atau sebuah pisau dapur yang diberi wrangka ukiran?”

Empu Gandring tidak segera menyahut. Ditatapnya mata anak muda itu. Mata itu benar-benar lain dengan mata Ken Arok yang pernah dikenalnya. Dan tiba-tiba saja orang tua itu bertanya, “Untuk apakah sebenarnya keris yang paling sakti di dunia itu, ngger?”

Pertanyaan itu telah menghentak dada Ken Arok. Karena itu, maka dengan tanpa terkendali lagi ia menjawab lantang, “He, apakah Empu mengira bahwa aku akan berbuat jahat dengan keris itu? Apakah Empu mengira bahwa aku akan membunuh seseorang? Omong kosong. Tanpa keris yang betapapun saktinya, tanganku cukup kuat untuk mematahkan leher siapapun juga. Buat apa aku memerlukan sebilah keris yang paling sakti?”

“Tetapi dapatkah kau berbuat demikian terhadap setiap orang? Dapatkah kau mematahkan leher orang-orang yang katakanlah setingkat dengan Kebo Sindet?”

“Aku tidak memerlukan keris untuk membunuhnya. Aku mempunyai sebilah pedang.”

“Jadi untuk apa keris itu?”

“Hanya satu dua orang saja yang tidak terluka oleh senjata biasa.”

Dan Empu Gandring menyahut, “Terhadap orang-orang yang demikian itukah keris itu akan dipergunakan?”

Ken Arok terkejut. Empu Gandring seolah-olah telah menuduhnya, bahwa ia akan mempergunakan keris itu untuk membunuh. Karena itu maka tiba-tiba ia berkata lantang, “Apakah Empu menyangka aku akan berbuat jahat? Begitu?”

Empu Gandring tidak segera menjawab. Dan Ken Arok berkata selanjutnya, “Jadi apakah yang sebenarnya akan Empu berikan kepadaku?”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. “Sebilah keris Ngger. Tetapi aku menyediakan untukmu sebilah keris sebagai perhiasan. Bukan sebagai senjata. Aku yakin bahwa tanpa senjata semacam itu, Angger akan dapat mengatasi segala kesulitan.”

“Oh. Aku bukan anak-anak yang hanya memerlukan barang mainan Empu. Aku memerlukan sebilah keris yang paling sakti.”

“Itulah yang belum ada padaku ngger.”

“Bohong Bohong.“ Ken Arok berteriak. Namun tiba-tiba disadarinya dirinya, bahwa ia berhadapan dengan Empu Gandring. Tidak lagi berhadapan dengan Bango Samparan. Ia berhadapan dengan orang tua yang menyimpan ilmu tiada taranya di dalam dirinya. Karena itu maka kemudian ditundukannya kepalanya sambil berkata, “Maafkan aku Empu. Aku tidak berniat membuat Empu marah.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini semakin nyata baginya bahwa Ken Arok benar-benar sedang diliputi oleh sebuah kegelapan hati. Justru kanena itulah maka ia menjadi semakin hati-hati.

“Aku pun minta maaf Ngger. Senarnyalah bahwa aku belum mempunyai keris seperti yang kau maksudkan itu.”

Bagaimanapun juga, jawaban itu telah sangat mengecewakan Ken Arok. Ia ingin malam itu juga mendapat sebilah keris yang tidak ada duanya di dunia. Kemudian ia akan segera dapat berbuat apa saja yang dikehendakinya.

Kalau saja ia tidak berhadapan dengan Empu Gandring, maka ia akan mencari sendiri ke dalam rumah, Tetapi terhadap Empu Gandring ia tidak dapat berbuat demikian. Ia tahu benar, bahwa ia tidak akan dapat memaksa orang tua itu dengan cara apapun. Dengan cara yang halus maupun dengan kasar. Bahkan apabila ia mencoba memaksanya, maka harapannya untuk mendapat keris itu akan lenyap sama sekali.

Sejenak Ken Arok mencoba membuat pertimbangan yang sebaik-baiknya. Apakah yang harus dilakukannya. Dan sejenak kemudian, maka ia tidak dapat memilih jalan lain kecuali membungkukkan kepalanya sambil berkata, “Empu, jadi apakah yang harus aku lakukan supaya aku mendapatkan keris itu?”

“Aku dapat membuat keris yang kau inginkan itu Ngger.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Membuat keris memerlukan waktu yang tidak terlalu pendek.

“Berapa lama aku harus menunggu, Empu.”

Empu Gandring termenung sejenak. Waktu itu harus cukup panjang, supaya hati Ken Arok cukup waktu untuk mengendap. “Kalau anak itu mendapat kesempatan untuk menimbang-nimbang, aku kira ia akan menyadari apa yang akan dilakukannya. Karena itu, aku harus menundanya untuk waktu yang cukup lama.”

Ken Arok yang tidak sabar menunggu, mendesaknya, “Kapan aku dapat kembali mengambil keris itu Empu.”

Empu Gandring mengangguk-angguk sambil berkata lirih, “Ya, sebaiknya Angger kembali dalam waktu satu tahun.”

“Satu tahun.“ Ken Arok terperanjat. Hampir saja ia kehilangan akal dan berbuat diluar sadarnya. Untunglah, bahwa segera ia berhasil mengekang dirinya. Meskipun demikian ia tidak dapat menghilangkan kesan ketidak sabarannya. “O, Empu, dalam waktu setahun dunia sudah akan berganti wajah. Aku sudah bertambah tua dan Tumapel pun telah menjadi semakin pikun pula.”

“Tetapi aku tidak dapat membuat lebih cepat lagi Ngger. Dan bukankah waktu yang satu tahun itu tidak akan berarti apapun buat umur kita, dan apalagi buat Tumapel.”

“Orang-orang yang hidupnya telah berhenti sampai batas. Kini memang berpendirian demikian. Tetapi aku masih muda Empu. Aku harus berbuat sesuatu. Aku harus membuat hari depanku jauh lebih baik dari hari ini. Aku harus membuat Tumapel jauh lebih besar dari Tumapel yang seolah-olah terah tidur dalam pelukan Permaisuri yang cantik itu.”

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Sayang, aku sudah tua. Aku benar-benar hampir pikun Ngger. Karena itu aku memerlukan waktu untuk membuat sebilah keris yang baik yang teramat baik seperti yang kau kehendaki.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Kemudian ia berdesis “Bagaimana kalau sebulan Empu.”

Empu Gandring menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin Ngger. Tidak mungkin. Aku baru dapat menemukan bahannya dalam waktu sebulan itu. Bahkan mungkin belum. Aku harus mendapatkan baja yang paling baik untuk membuat keris yang paling baik pula.”

“Tetapi setelah bahan itu ada, maka tidak ada setengah hari Empu akan dapat menyelesaikannya.”

“Kalau aku membuat parang pembelah kayu, memang Ngger. Aku dapat membuatnya hampir secepat aku makan. Tetapi tidak demikian membuat sebilah keris.”

“Jadi berapa lama aku harus menunggu?”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. “Baiklah ngger. Aku akan berusaha untuk dapat menjelesaikannya dalam waktu sebelas bulan.”

“Ah, terlampau lama. Bagaimana kalau dua bulan?”

Empu Gandring menggeleng “Tidak mungkin. Cobalah lihat setelah sepuluh bulan.”

“Tiga bulan akan aku ambil keris itu.”

“Paling cepat Sembilan bulan. Itu pun aku belum pasti.“

“Empat bulan. Aku sudah kehilangan waktu sekian lamanya buat menunggu keris itu. Hati ini akan menjadi hambar dan aku akan kehilangan kesempatan dan gairah.”

“Maaf ngger. Itu tidak mungkin. Baiklah aku akan mengesampingkan semua pekerjaanku. Dalapan bulan lagi angger dapat mencoba menengoknya kemari.”

“O, aku dapat menjadi gila. Sepanjang waktu itu aku akan disiksa oleh penderitaan batin yang tiada taranya. Empu tolonglah aku. Bagaimanakah caranya, aku tidak mangerti. Bagaimanakah yang dapat Empu lakukan, agar keris itu dapat lebih cepat disiapkan.”

Sekali lagi Empu Gandring menarik nafas. Betapapun juga, namun ia menaruh iba juga melihat Ken Arok yang kebingungan itu. Karena itu maka jawabnya, “Aku akan mencoba untuk menjelesaikannya lebih cepat ngger. Tetapi aku tidak dapat dikejar oleh waktu. Membuat sebilah keris yang baik, jauh berbeda dengan membuat keris yang tampaknya baik. Kalau yang Angger maksud keris yang mempunyai kekuatan yang dapat diandalkan, maka aku memerlukan waktu. Aku tidak dapat membuatnya dengan tergesa-gesa.”

“Meskipun demikian tetapi bukankah Empu dapat memberikan batas waktu.”

“Sudah aku katakan, datanglah dalam waktu kira-kira delapan atau tujuh bulan lagi.”

“Lima bulan. Aku memberi waktu lima bulan.”

“Kenapa kau memberi waktu lima bulan? Kau tidak dapat memberi aku waktu. Akulah yang akan membuat keris itu. Bukan kau ngger. Karena itu, akulah yang dapat mengira-ngirakan waktu yang diperlukan.”

“Tidak.“ Ken Arok hampir kehilangan kesabaran, “aku tidak mau menunggu lebih dari lima bulan. Lima bulan, itu pun sebenarnya terlampau lama bagiku. Aku mengharap, bahwa sebelum waktu yang ditentukan aku sudah dapat mengambil keris itu.”

Kening Empu Gandring menjadi semakin berkerut merut. Ditatapnya wajah Ken Arok dengan seksama. Semakin lama menjadi semakin jelas, bahwa memang ada sesuatu yang tidak wajar pada anak muda itu.

“Bagaimana Empu.“ desak Ken Arok, “aku tidah mau menunggu lebih dari lima bulan.”

Empu Gandring merenung sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Kalau angger tidak dapat menunggu waktu yang telah aku tetukan baiklah.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. “Maksud Empu.“ ia bartanya.

“Maksudku, apabila Angger terlampau tergesa-gesa maka aku persilahkan Angger berhubungan dengan orang lain.”

Sebuah desir yang tajam tergores di dinding jantung Ken Arok. Setapak ia teringsut maju. Dengan wajah merah membara ia berteriak, “Jadi Empu mau ingkar?”

“Apa yang aku ingkari?”

“Empu sendiri berjanji akan membuat keris itu untukku.”

“Ya, aku berjanji untuk waktu yang aku tentukan sendiri. Bukan oleh orang lain.”

“Aku bukan orang lain. Aku adalah orang yang berkepentingan dengan keris itu.”

“Aku yang akan memberimu. Terserah kepadaku, kapan aku sedia. Sebulan atau setahun atau bahkan sepuluh tahun lagi. Aku lagi sibuk dengan pesanan-pesanan keris yang terdahulu. Aku masih harus menyiapkan lima puluh keris yang baik. Aku akan mengerjakan yang lima puluh itu lebih dahulu, karena sebagian upahnya telah aku terima.”

“O, itukah yang menjadi sebab? Baik, aku akan membayar berapa saja Empu kehendaki. Aku dapat membayarnya dengan sepuluh atau dua puluh lima butir berlian sebesar biji jagung. Atau apa saja yang kau minta, asal keris itu cepat dapat aku ambil. Aku akan menukarnya dengan segenggam permata, kalau dalam waktu satu bulan aku dapat mengambilnya.”

Serasa sepercik bara api menyentuh telinga Empu tua itu. Tetapi ia tetap menyadari dirinya. Sebagai seorang tua yang menyimpan pengalaman yang terlampau banyak, maka ia pun cukup bijaksana menanggapi keadaan.

“Angger Ken Arok.” berkata orang tua itu, “aku adalah orang tua. Aku mempunyai pertimbangan yang cukup atas segala keputusan yang aku ambil. Termasuk waktu yang aku perlukan untuk menyiapkan keris itu. Kalau aku sekedar memerlukan segenggam permata, apapun caranya, seperti cara yang nista seperti yang kau katakan, maka aku akan segera menjadi kaya. Kalau kau bersedia memberi aku segenggam permata untuk sebilah keris yang maha sakti, dan bahkan jarang ada duanya, maka orang lain akan menukarnya dengan segerobag permata yang paling baik. Bahkan orang yang lain lagi akan menyediakan apa yang dimilikinya, seandainya ia mempunyai Tanah Tumapel ini, maka Tanah ini pasti akan diberikannya. Nah, apakah kau sanggup bersaing dengan mereka. Kalau mereka memesan seperti apa yang kau pesan ngger, maka aku akan membuat bagi mereka itu lebih dahulu karena mereka memberi lebih banyak dari yang angger sanggupkan.”

“O, Empu keliru.” sahut Ken Arok dengan serta merta. “Aku sanggup memberi jauh lebih banyak lagi. Aku mempunyai apa saja yang Empu inginkan. Seandainya Empu memerlukannya sekarang, aku akan mengambilnya.”

Empu Gandring tidak segera menjawab. Ditatapnya saja wajah anak muda itu. Ia menjadi semakin tidak mengerti, dengan siapa ia berhadapan. Karena itu maka kemudian ia bertanya dengan nada yang dalam namun penuh tekanan, “Angger Ken Arok, darimanakah angger mendapat semua yang angger sanggupkan itu?”

Pertanyaan itu ternyata telah mengejutkan hati Ken Arok. Sejenak ia terbungkam. Ia tiba-tiba saja telah terlempar dalam suatu kesadaran tentang dirinya. Permata yang dikatakannya itu sebenarnya sama sekali bukan haknya.

Tiba-tiba pula wajah Ken Arok itu pun tertunduk dalam-dalam. Dengan nada yang berat ia berkata terpatah-patah, “Maaf Empu. Maafkan aku. Sebenarnya aku sama sekali tidak mempunyai apapun. Sudah tentu aku tidak akan dapat memberi apapun kepada Empu seperti apa yang aku katakan itu. Agaknya aku telah terdorong oleh keinginanku yang hampir tidak terkekang lagi untuk mememiliki sebilah keris yang baik.”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya wajah Ken Arok yang tunduk itu. Semakin lama semakin tunduk. Akhirnya pandangan mata Ken Arok tidak beranjak dari ujung jari kakinya sendiri.

Sekali lagi Empu Gandring yang tua itu telah disentuh oleh perasaan iba. Ia tidak tahu apakah yang sebenarnya bergolak di dalam dada anak muda itu. Karena itu, maka ia pun tersudut ke dalam suatu kesulitan untuk mengambil suatu sikap.

“Kasihan anak itu.” katanya di dalam hati, “ia pasti sedang dibelit oleh goncangan perasaan. Tetapi aku tidak akan membiarkannya hanyut semakin jauh. Kalau aku memberinya keris yang sudah ada maka perasaan itu sama sekali tidak akan sempat mengendap. Namun biarlah aku mencoba melihatnya setelah lima bulan mendatang.”

Karena itu maka Empu Gandring itu pun kemudian menjawab, “Angger Ken Arok. Baiklah kita tidak mempersoalkan waktu lagi. Coba saja angger datang kemari setelah lima bulan mendatang. Meskipun aku belum dapat memastikan, apakah keris itu sudah jadi, namun apakah salahnya angger berkunjung kemari lagi?”

Wajah Ken Arok menjadi semakin tunduk. Kemudian dengan lemahnya ia menjawab, “Baiklah Empu Aku akan datang lima bulan lagi. Memang tidak ada salahnya, seandainya keris itu belum siap, aku berkunjung sekali lagi kerumah ini. Bukan sekali lagi, aku akan selalu datang Empu. Tetapi permohonanku, mudah-mudahan dalam wakta lima bulan keris itu benar-benar telah siap.”

“Aku tidak berjanji ngger, tetapi cobalah.”

“Terima kasih Empu.“ jawab Ken Arok, “aku yakin bahwa Empu akan selalu membantu aku.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi hatinya masih saja dibelit oleh berbagai macam pertanyaan tentang anak muda yang kini duduk tepekur dihadapannya. Kadang-kadang ia merasa iba, namun kadang-kadang ia merasa cemas dan kawatir.

Empu Gandring yang tua itu menjadi terkejut bukan buatan ketika ia mendengar Ken Arok tiba-tiba berkata, “Empu. Sekarang aku minta diri.”

Empu Gandring serasa tidak percaya kepada pendengarannya sehingga sejenak ia termenung diam memandangi wajah Ken Arok.

Ken Arok pun menjadi gelisah melibat pandangan mata Empu Gandring yang keheranan itu. Sehingga tanpa sesadarnya ia berkata, “Aku minta diri Empu.”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun berdesah. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berkata, “Aku tidak mengerti.”

“Apa yang tidak Empu mengerti?” bertanya Ken Arok.

“Kau membingungkan aku ngger.“ jawab Empu Gandring.

Ken Arok mengerutkan keningnya. “Kenapa Empu?“ Ken Aroklah yang kemudian bertanya, meskipun di dalam hatinya sendiri ia bergumam, “Aku pun menjadi bingung tentang diriku sendiri.”

“Angger Ken Arok.“ berkata Empu Gandring perlahan-lahan, “kedatanganmu kali ini telah menimbulkan teka-teki bagiku. Kau datang dengan sikap yang lain dari sikapmu yang pernah aku kenal. Kau kemudian menyatakan kinginanmu untuk mempunyai sebilah keris sebagai senjata yang paling baik dan jarang ada duanya. Begitu tergesa-gesa sehingga kau tidak sabar menunggu keris itu lebih dari lima bulan. Sekarang, seperti orang bermimpi kau minta diri.” orang tua itu berhenti sebentar memandang wajah Ken Arok yang tunduk, “Aku benar-benar tidak mengerti.”

Ken Arok tidak segera menjawab. Kepalanya masih saja menunduk.

“Aku mengharap kau bermalam di rumah ini ngger. Bahkan aku menyangka bahwa kau akan tinggal di sini dua atau tiga hari.”

“Sayang Empu.“ jawab Ken Arok dengan suara bergetar, “aku harus segera kembali ke Tumapel. Aku tidak mempunyai waktu lagi. Aku harus segera berada di dalam tugasku.”

“Tetapi kehadiranmu disini benar-benar seperti sebuah mimpi saja. Atau aku memang sedang bermimpi?”

“Tidak Empu. Empu tidak bermimpi. Aku benar-benar datang dan memerlukan keris itu.”

Empu Gandring mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kalau aku bermimpi maka aku tidak akan membuat apapun juga. Aku tidak akan membuat keris yang akan kau lihat setelah lima bulan lagi.”

“Dan aku sangat memerlukannya Empu.”

“Itulah yang membuat aku ragu-ragu.“ desis Empu Gandring.

Ken Arok terkejut mendengarnya meskipun Empu Gandring seolah-olah mengucapkannya dengan acuh tidak acuh. Anak muda itu mencoba melihat kesan apakah yang tersirat dari kata-kata Empu tua itu. Tetapi ia tidak menemukannya. Selain tangkapan menurut perasaannya sendiri yang sedang diliputi oleh suatu rahasia. Kecurigaan.

“Empu Gandring telah mencurigai aku.“ desisnya di dalam hati. Namun kemudian, “Persetan. Aku tidak boleh terpengaruh oleh sikap orang tua yang keras kepala ini.”

Satelah sejenak mereka berdiam diri, maka sekali lagi Ken Arok berkata, “Aku terpaksa minta diri Empu.”

“Aneh sekali.“ desis Empu Gandring.

Ken Arok mengumpat di dalam hatinya. Tetapi dipaksanya bibirnya tersenyum dan berkata, “Maaf Empu. Waktuku sangat terbatas. Aku adalah seorang hamba istana. Aku harus tunduk kepada setiap peraturan yang ada.”

“Apakah kau hanya mendapat waktu sehari ini?”

“Empat hari Empu. Aku harus memperhitungkan waktu di perjalanan, setelah aku kehilangan satu malam di rumah seorang kawan.”

Betapa lancarnya Ken Arok mengucapkan kata-kata itu, tetapi Empu Gandring menjadi sulit untuk mempercayainya. Kelainan sikap Ken Arok telah membuat pandangan orang tua itu terhadapnya menjadi berubah pula. Tetapi sudah tentu ia tidak akan dapat memaksa Ken Arok untuk tinggal lebih lama lagi dirumahnya. Sehingga kemudian orang tua itu pun berkata, “Baiklah ngger. Apabila aku sudah tidak dapat mencegahnya lagi. Hati-hatilah di jalan. Dimalam hari kadang-kadang kita dapat bertemu dengan bahaya. Mungkin bukan bahaya lahiriah yang akan mencelakai kita, tetapi justru sebaliknya. Kadang-kadang kita bertemu dengan suatu keadaan yang tidak disangka-sangka sehingga kita harus berbuat sesuatu yang tidak kita kehendaki. Bahaya yang demikian itulah yang akibatnya akan lebih besar bagi kita dari pada bahaya yang pada umumnya ditakuti oleh orang-orang lain.”

Sebuah desir yang tajam tergores di dada Ken Arok, sehingga sekali lagi ia mengumpat, “Orang tua ini terlampau banyak bicara.” Namun Ken Arok itu menundukkan kepalanya sambil berkata, “Terima kasih Empu. Aku akan berhati-hati.”

Empu Gandring itu pun kemudian melepas tamunya dengan berbagai macam pertanyaan tergores di dinding jantungnya. Diantarkannya Ken Arok sampai ke regol halaman. Kemudian anak muda itu melangkah masuk ke dalam gelapnya malam. Sinar lampu minyak yang redup bergetar disentuh angin malam ketika Ken Arok berpaling di dekat tikungan. Di bawah cahaya yang kemerah-merahan Ken Arok melihat wajah Empu Gandring yang dijaluri oleh kerut ketuaannya.

Terasa sesuatu bergetar di dada anak muda itu. Dan tanpa sesadarnya ia bertanya kepada diri sendiri, “Apakah sebenarnya yang telah aku lakukan ini?”

Tiba-tiba ia berdesis perlahan, “Aku telah benar-benar menjadi gila. Aku telah kehilangan kemampuan untuk mengamati tingkah lakuku sendiri.”

Ken Arok berhenti sejenak. Ia masih melihat Empu Gandring berdiri di regol halamannya di bawah lampu minyak yang redup. Secercah tumbuh penyesalan di dalam dirinya.

Seolah-olah ia telah didorong untuk melangkah kembali kepada orang tua itu.

Tetapi Ken Arok itu menghentakkan kakinya. Ia tidak mau menyerah. Ia sudah mulai memilih jalan, bahkan telah mulai melangkahkan kakinya, masuk ke dalam jalur jalan itu. Jalan yang akan dilaluinya. Dan ia tidak akan berputar kembali.

“Persetan dengan orang tua itu.“ katanya di dalam hati, “lima bulan lagi aku harus mendapatkan keris itu.”

Ken Arok pun kemudian menggeretakkan giginya Seolah-olah ia mencari sandaran kekuatan untuk meneruskan langkahnya. Dengan tangan mengepal ia melangkah cepat-cepat meninggalkan tempat itu tanpa berpaling lagi.

Ketika Ken Arok hilang ditikungan, Empu Gandring menutup pintu regolnya dan berjalan sambil menundukkan kepalanya melintasi halaman rumahnya yang gelap. Hanya sinar yang redup tergapai-gapai mengusap dedaunan yang hijau kehitaman.

“Aneh.” berkali-kali orang tu itu berdesis. “Lima bulan lagi ia akan datang.” Empu Gandring kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku akan menyiapkan sebilah keris yang baik. Tetapi lima bulan lagi aku akan meyakinkan diri, apakah Ken Arok telah menemukan kesadarannya atau justru menjadi semakin parah.”

Dalam pada itu Ken Arok berjalan semakin lama semakin cepat menembus gelapnya malam. Tetapi ia sendiri tidak tahu, kemana ia akan pergi. Sebenarnya tidak ada suatu keharusan baginya untuk segera kembali ke Tumapel. Ia masih mempunyai waktu beberapa hari lagi. Sebenarnya ia dapat tinggal sehari atau dua hari di rumah Empu Gandring. Tetapi rasa-rasanya tikar tempatnya duduk itu terlampau panas, sehingga ia tidak betah lagi tinggal lebih lama. Bukan saja pendapa Empu Gandring terasa terlampau panas, tetapi setiap kata yang diucapkan Empu Gandring, serasa ujung duri yang menyentuh jantungnya.

Karena itu, maka ia harus segera pergi. Pergi dari rumah itu. Entah, kemana saja ia akan pergi.

Ken Arok berjalan terus menyusur jalan padukuhan Lulumbang. Kemudian ditinggalkannya pedukuhan itu, dan dilaluinya sebuah bulak yang panjang. Bulak yang sepi, apa lagi di malam hari. Disisi jalan sebelah menyebelah, batang-batang padi sedang menghijau. Seolah-olah sebuah permadani sedang dibentangkan dari ujung cakrawala sampai ke ujung yang lain. Dari kaki langit sampai ke kaki langit. Hijau kehitaman, dihiasi dengan gemerlipnya kunang-kunang yang tidak dapat dihitung dengan bilangan, seperti bintang yang bergayutan di langit.

Ken Arok yang sedang berjalan itu berjalan terus. Secepat-cepatnya ia ingin menjauhi Lulumbang. Rasa-rasanya Empu Gandring selalu mengikutinya sambil bertanya, “Angger Ken Arok, untuk apakah sebenarnya keris itu? Untuk apa?”

“Itu urusanku.” Ken Arok menggeram sambil menghentakkan kakinya.

Tetapi pertanyaan itu terus mengikutinya. “Untuk apa? Untuk apa? Kenapa kau minta keris yang tidak ada duanya di muka bumi?”

“Itu urusanku.“ sekali lagi ia menggeram semakin keras.

“Tetapi akulah yang akan membuat keris itu. Aku harus tahu dengan pasti, untuk apa keris itu akan dipergunakan.“ suara itu mengejarnya.

“Jangan bertanya lagi. Jangan bertanya lagi.” Tetapi seolah-olah suara itu menjadi semakin keras pula.

“Kalau kau tidak berkata berterus terang, aku tidak akan membuat keris itu.”

Jantung Ken Arok menjadi semakin cepat berdentangan di dalam dadanya. Semakin lama semakin cepat. Sehingga akhirnya ia menggeram dengan sepenuh perasaannya. “Aku akan mempergunakannya. Aku akan membunuh Akuwu Tunggul Ametung dan memperisteri Ken Dedes. Perempuan yang paling cantik di seluruh Tumapel dan bahkan perempuan yang menyimpan derajat tertinggi bagi suaminya. Akulah orang yang melihat cahaya itu. Akulah yang akan menjadi suaminya dan memegang derajat tertinggi. Seperti mimpi Bango Samparan. Aku akan menjadi Maharaja Kediri.”

Suara itu seperti guntur yang menggelegar di dalam diri Ken Arok. Seolah-olah yang tertimbun di dadanya, kini telah meledak. Meledak, sedahsyat ledakan Gunung Berapi yang tersumbat kepundannya.

Namun ternyata suara itu telah menghentakkan perasaan Ken Arok. Sejenak ia tertegun ditempatnya. Kemudian terasa dadanya menjadi pepat.

Ken Arok benar-benar telah menjadi hampir gila. Direbahkannya dirinya di pinggir jalan, di atas rerumputan sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dengan suara gemetar ia berkata kepada dirinya sendiri, “Tidak. Tidak mungkin. Aku bukan pengkhianat.“ Kemudian seperti orang yang sedang merintih terdengar suaranya, “Maafkan hamba Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Maafkan hamba Tuan Puteri. Hamba telah menjadi gila dan tidak mengerti apa yang hamba perbuat.”

Ken Arok tidak tahu berapa lama ia duduk di tempatnya. Bahkan kemudian, tanpa sesadarnya ia berbaring sambil menekankan kedua tangannya di dadanya. Sehingga tanpa diketahuinya, maka ia pun terlena dalam belitan mimpi. Mimpi yang mengerikan, seolah-olah ia sedang membongkar sebuah gunung yang sedang terbakar.

Ken Arok terbangun karena ia dikejutkan oleh suara ledakan gunung yang sedang terbakar itu.

Ketika Ken Arok membuka matanya, maka dilihatnya langit masih hitam. Namun seleret cahaya merah telah membayang di kaki langit. Dengan mengusap matanya ia bangkit berdiri. Sama sekali tidak ada suara apapun. Sama sekali tidak ada gunung yang meledak dan sama sekali tidak ada apapun juga selain angin malam yang gemerisik disela-sela batang-batang padi.

“Aku telah tertidur.“ desisnya. Namun ia masih ingat dengan jelas, gangguan-gangguan yang mencengkam perasaannya.

Tertatih-tatih Ken Arok kemudian meneruskan langkahnya tanpa tujuan dengan beban yang terlampau berat di hati.

Dicobanya untuk melupakan apa yang telah membuatnya gila dengan memandangi batang-batang padi yang hijau. “Di sini agaknya air tidak terlampau sulit didapat.“ desisnya.

Namun setiap persoalan yang bergetar di dadanya, selalu bergeser masuk ke dalam lingkaran angan-angannya yang gila itu. Padi yang subur itu pun telah menggerakkan hatinya untuk mengumpat, “Ini adalah bukti ketidak mampuan Akuwu Tunggul Ametung.”

Wajah Ken Arok menjadi tegang kembali. Ia sudah lupa akan dirinya kembali. Penjesalan yang seakan-akan telah menyentuh perasannya itu, bagaikan selembar awan yang hanjut oleh angin yang kencang. Pecah berhamburan dan hilang ditelan langit.

Yang ada di dalam dirinya kini adalah cita-citanya yang gila itu, yang dipacu oleh nafsu yang tidak terkendali lagi.

“Akuwu Tunggul Ametung memang tidak mampu memerintah Tanah Tumapel. Selamanya tanah ini tidak akan maju.“ Ken Arok itu pun menggeram. “Disini aku melihat sawah yang hijau, tetapi kemarin aku melihat tanah yang kering kerontang. Sekering padepokan Panawijen. Tetapi untuk Panawijen, Akuwu telah bersusah payah mengirimkan sepasukan prajurit, untuk membantu Mahisa Agni membuat bendungan. Namun ternyata semua itu bukan karena kecintaannya kepada rakyatnya, tetapi semua itu di dorong oleh kepentingan dirinya sendiri. Karena Ken Dedes berasal dari Panawijen itulah, maka Akuwu telah bersusah payah membuat bendungan itu, supaya Permaisurinya tidak selalu merengek-rengek. Persoalan Mahisa Agni pun sama sekali bukan usaha Akuwu untuk melindungi rakyatnya, tetapi justru karena Mahisa Agni itu adalah kakak Ken Dedes.”

Ken Arok itu menggeram tidak henti-hentinya. Dicarinya alasan sebanyak-banyaknya supaya ia dapat meyakinkan dirinya yang seolah-olah sedang mencari-cari di dalam kegelapan. Supaya dirinya dapat menemukan alas yang kuat, apalagi apabila dapat diyakinkannya bahwa apa yang dilakukan itu adalah benar.

Tanpa disadarinya, maka matahari pun kemudian menjenguk dari punggung bukit. Cahayanya yang kemerah-merahan mulai terlempar merata di atas batang-batang padi yang hijau.

Ketika Ken Arok memandang ujung kainnya, barulah ia sadar, bahwa pakaiannya itu telah terlampau kotor dan kusut. Tetapi ia sama sekali tidak mempunyai pakaian yang lain untuk menggantinya.

“Aku akan kembali ke Tumapel.“ desisnya, “aku harus mempersiapkan diri. Tak ada pilihan lain. Semuanya harus berjalan sebaik-baiknya. Aku sudah memutuskan.”

Maka tiba-tiba langkah Ken Arok itu pun menjadi mantap. Kini ia berjalan dengan pasti. Kembali ke Tumapel.

“Usaha yang besar ini memerlukan persiapan. Aku harus tahu benar, apakah aku mempunyai harapan. Seandainya Akuwu Tunggul Ametung terbunuh, apakah aku dapat mengharapkan Ken Dedes untuk membantuku?”

Sekali-kali masih tersisip keragu-raguan di dalam hatinya. Kadang-kadang ia masih merasa, bahwa apa yang dilakukan itu adalah suatu pengkhianatan. Tetapi sambil menggeretakkan giginya ia berkata, “Demi Tanah Tumapel.”

Perjalanan Ken Arok kemudian sama sekali tidak menarik lagi baginya, meskipun ia sendiri sangat menarik perhatian orang-orang yang bertemu di jalan. Rambut dan pakaiannya yang kusut, wajah yang suram dan mata yang kuyu. Sebuah pedang tergantung di lambungnya.

Tetapi Ken Arok tidak mempedulikan sama sekali. Langkahnya semakin lama semakin cepat. Tak ada niatnya untuk berhenti sama sekali meskipun matahari serasa membakar punggung. Bahkan ketika matahari itu kemudian terbenam di ujung Barat, Ken Arok masih juga berjalan terus.

“Aku harus masuk Tumapel di waktu gelap.” berkata Ken Arok di dalam hatinya.

Justru ketika ia menemukan kemantapan akan sikapnya di dalam perjalanan itu, maka perlahan-lahan ia berhasil mengatur perasaannya. Semuanya itu sudah benar-benar mantap baginya. Dengan sekuat tenaga ia mengusir setiap pcrcikan keragu-raguan, betapapun kecilnya.

Maka setelah di dalam dirinya tidak ada persoalan lagi, persoalan antara warna-warna di dalam dirinya sendiri, Ken Arok menjadi semakin tenang.

Perlahan-lahan pikirannya mulai bekerja di dalam kehitamannya. Dan dengan demikian, maka ia mulai dapat menilai dirinya sendiri dengan seluruh kedaannya.

“Pakaianku terlampau kusut.” katanya kemudian, “karena itu, tidak boleh seorang pun yang melihat keadaan ini. Aku harus sampai di barak sebelum pagi.”

Ken Arok itu pun segera mempercepat langkahnya, supaya ia dapat sampai seperti rencananya.

Ternyata kekerasan hati Ken Arok itu benar-benar dapat membantunya. Langkahnya menjadi semakin cepat seperti tidak lagi menginjak tanah meskipun ia tidak berlari. Dipilihnya jalan-jalan yang memintas, bahkan pematang-pematang sawah dan lorong-lorong sempit di tengah-tengah hutan-hutan yang rindang. Anak muda itu sama sekali tidak mengenal cemas. Apapun yang akan merintangi jalannya, harus disingkirkan.

Demikianlah, maka ketika Ken Arok itu mulai menginjakkan kakinya di kota Tumapel menjelang fajar, hatinya menjadi berdebar-debar. Sejenak ia berdiri tegak memandangi kota yang masih tidur dengan nyenyaknya itu.

Sebelum ia melangkah memasukinya, maka diaturnya perasaannya sebaik-baiknya. Dan secercah keragu-raguannya yang terakhir telah ditindasnya sama sekali.

Dengan demikian, maka kini ia harus menempatkan dirinya dalam jalur jalannya. Ia tidak boleh berlaku bodoh, dan tidak boleh berbuat seperti orang yang gila dicengkam oleh keragu-raguan. Ia harus mantap.

Demikianlah Ken Arok memasuki Tumapel dengan sebuah senyum di bibirnya. Dibenahinya pakaiannya yang melekat di tubuhnya supaya tidak terlampau menarik perhatian, terutama para penjaga di baraknya nanti. Sambil mengangguk-anggukkan kepala ia berkata kepada diri sendiri. “Tidak boleh seorang pun menaruh curiga kepadaku. Aku tidak boleh berubah. Ken Arok yang sekarang harus tetap bersikap seperti Ken Arok pada saat ia meninggalkan Tumapel beberapa hari yang lampau.”

Ken Arok pun kemudian melangkah dengan pasti. Wajahnya sudah tidak dibayangi oleh kemurungan dan kebimbangan. Seperti pada saat ia pergi, ia pun datang kembali di antara kawan-kawannya, Pelayan Dalam, para pengawal istana, para prajurit dan hamba-hamba istana yang lain. Ia tertawa ketika seorang penjaga di regol baraknya bertanya dengan heran, “He, Kakang Ken Arok, kenapa pakaianmu demikian kotor dan kusut?”

“Pakaianku hanyut ketika aku menyeberang sungai yang sedang banjir. Aku tidak mempunyai ganti pakaian lagi.”

Penjaga itu tidak menaruh curiga apapun. Dan ia tidak bertanya lagi, meskipun ia tidak mengerti kenapa Ken Arok datang pada pagi-pagi buta setelah beberapa hari ia pergi.

Seorang prajurit yang tinggal bersamanya dalam barak itu juga, yang kebetulan keluar dari biliknya untuk pergi ke belakang, bertanya, “He, Ken Arok. Kau datang di pagi-pagi begini?”

“Aku memang sengaja memasuki kota di pagi hari.“ jawab Ken Arok, “aku malu dilihat orang karena pakaianku yang kotor dan kumal ini?”

“Kenapa begitu?”

“Seluruh pakaianku yang aku bawa ketika aku berangkat hanyut ketika aku menyeberang sungai yang banjir.”

Tetapi prajurit itu mengerutkan keningnya. Ia melihat beberapa lubang dipakaian itu. Bekas jilatan api.

“Tetapi darimana kau dapatkan api ini?”

Pertanyaan itu membuat Ken Arok berdesir. Diamat-amatinya pakaiannya yang memang tersentuh api meskipun hanya sedikit.

Tetapi segera ia mendapat jawaban, “Aku tidur ditepi perapian di sebuah hutan kecil. Entahlah, apa sebabnya aku tidak mengerti, ketika aku tertidur agaknya kainku tersentuh bara.”

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Ia langsung masuk ke dalam biliknya dan kembali meletakkan dirinya di pembaringannya.

Ken Arok pun segera menyelinap pula ke dalam biliknya yang telah beberapa lama ditinggalkannya. Langsung diambilnya beberapa potong pakaian dari dalam geledeg bambu. Dengan tergesa-gesa ia pergi keperigi, dan dengan segarnya ia menyiram tubuhnya dengan air yang dingin.

“Alangkah segarnya air dari Tumapel. Dengan beberapa guyuran, aku telah merasa bersih.” katanya di dalam hati, “berbeda dengan air dari Lulumbang. Agaknya air di Lulumbang tercampur dengan lempung.”

Sejenak kemudian Ken Arok pun telah berpakaian. Pakaiannya yang kotor itu pun kemudian dilemparnya ketimbunan sampah di kebun belakang baraknya. la tidak mau diganggu lagi oleh bermacam-macam ingatan. Ia sudah memutuskan di dalam hatinya, bahwa ia akan berjalan terus menuju ketempat yang setinggi-tingginya.

Ketika dipagi hari, kawan-kawannya bangun dari tidur, mereka terkejut ketika mereka melihat Ken Arok telah ada di antara mereka.

Dengan lancar Ken Arok berceritera tentang perjalanannya. Tentang desa-desa yang dikunjunginya. Bahwa ia menyeberangi sungai yang sedang banjir, kemudian pakaiannya hanyut tanpa dapat diselamatkannya sama sekali. Adalah malang sekali baginya, karena ketika ia membuat api untuk mengurangi dinginnya malam setelah ia berendam dalam banjir, pakaiannya menyentuh api pula.

Seperti kawan-kawannya yang terdahulu, tidak seorang pun yang menaruh curiga. Mereka mendengar dengan penuh minat. Setelah selesai berceritera, maka mulai kawan-kawannya mengganggunya.

“Kenapa bukan rambutmu saja yang terbakar, he?” teriak salah seorang dari kawan-kawannya.

Ken Arok tertawa, “Bahkan jari-jarikulah yang terbakar.”

Yang lain pun tertawa. Tetapi tidak seorang pun yang membayangkan apakah yang sebenarnya telah terjadi dengan anak muda itu. Bahkan tidak seorang pun yang dapat melihat kepusat jantungnya, bahwa warna yang membayang di dalam dada itu, sama sekali sudah jauh berbeda. Bahkan sudah menjadi bertolak belakang. Tumapel kini bagi Ken Arok tidak ubahnya dengan Padang Karautan dimasa-masa lampau. Tempat ia memburu mangsanya tanpa belas kasihan. Tetapi Ken Arok kini telah bertambah masak. Ken Arok kini telah menyimpan pengalaman jauh lebih banyak dan beraneka ragam. Ia kini sudah dapat mengerti watak dan tabiat orang-orang yang hidup dilingkaran istana, tetapi ia juga mengerti, apakah yang ada diseputar Padang Karautan. Ia juga pernah melihat kehidupan di desa-desa, di sudut-sudut daerah Tumapel. Tanah yang subur, tetapi juga tanah yang kering.

Ken Arok yang masih juga tersenyum-senyum itu ternyata telah berubah sama sekali. Yang masih sama adalah bentuk lahiriahnya saja, justru karena Ken Arok telah matang dengan rencananya. Ia memang membuat dirinya tidak berubah. Dengan penuh kesadaran kini ia memaksa bibirnya tersenyum-senyum, wajahnya berseri dan sikapnya yang ramah.

Dengan demikian Ken Arok menjadi semakin banyak mendapat tempat di hati para prajurit, para pengawal dan Pelayan Dalam. Dimana-mana ia mendapat sambutan yang ramah dan menyenangkan tanpa prasangka apapun juga.

Demikianlah Ken Arok dihari-hari mendatang. Ketika saat istirahatnya telah habis, maka mulailah ia bekerja dengan tekun dan rajin. Dengan rendah hati ia melakukan segala macam tugasnya dengan baik. Kadang-kadang seolah-olah tidak disengaja, ia menunjukkan beberapa kelebihannya dari prajurit-prajurit yang lain. Sehingga Ken Arok menjadi semakin banyak dikenal oleh semua golongan di istana Tumapel.

Juga oleh Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung. Ken Dedes.

Suasana yang demikian agaknya telah memberikan banyak sekali bantuan kepada Ken Arok. Satu-satu ia menyusun langkah yang harus diambil. Satu-satu ia mulai memilih korban yang akan dijatuhkannya, bahkan yang akan dipakainya alas tempat berpijak.

Dengan tekun Ken Arok mengamati keadaan. Apakah yang dapat dilakukannya sebagai persiapan untuk menjalankan maksudnya.

Yang menjadi pilihannya adalah seorang prajurit yang memiliki sifat-sifat yang dapat dimanfaatkan. Dengan perhitungan yang masak Ken Arok harus dapat memakainya sebagai perisai yang baik.

Itulah sebabnya, maka selanjutnya pergaulan Ken Arok dengan Kebo Ijo menjadi sangat baik. Mereka berdua selalu tampak bersama-sama didalam waktu-waktu senggang mereka. Meskipun kadang-kadang beberapa orang heran melihat tabiat mereka satu demi satu. Ken Arok adalah seorang anak muda yang ramah, rendah hati dan sopan, sedangkan Kebo Ijo adalah seorang yang angkuh, sombong dan pembual.

Namun tidak banyak orang yang mempersoalkannya. Mereka menganggap bahwa hal itu adalah persoalan mereka berdua.

Dengan licin, Ken Arok pun berusaha untuk menjajagi hati Ken Dedes. Ia harus mematangkan waktu yang lima bulan itu. Apabila pada saatnya keris itu sudah siap, maka rencananya harus berjalan sebaik-baiknya.

Hati Ken Arok menjadi berdebar-debar ketika pada suatu kali, ketika ia sedang bertugas di dalam istana, ia melihat Akuwu Tunggul Ametung sedang berkemas. Tanpa sesadarnya ia berdiri saja memandang dari kejauhan, bagaimana Akuwu sedang menimang busurnya sambil tersenyum-senyum.

Namun tiba-tiba Ken Arok itu terkejut ketika ia mendengar Akuwu membentaknya, “He, Ken Arok apa kerjamu di situ?”

Dengan serta merta Ken Arok menjatuhkan dirinya, duduk bersimpuh. Kepalanya menunduk dalam-dalam sambil berkata lirih, “Ampun Tuanku. Hamba sedang bertugas hari ini.”

“Tetapi kenapa kau berdiri di situ, he?”

“Ammpun Tuanku. Hamba tidak sadar sama sekali. Hamba sedang memperhatikan betapa baiknya busur yang sedang Tuanku timang, sehingga hamba lupa suba sita.”

“Apakah busurku ini baik?” bertanya Akuwu itu kemudian.

“Sesungguhnya busur Tuanku teramat baik.”

“Kemarilah.” Akuwu itu memanggilnya. Dengan berjongkok Ken Arok maju, naik tangga keruang tengah. Kemudian ia duduk bersila sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam.

“Mendekatlah.” panggil Akuwu.

Ken Arok bergeser maju, Ia kini duduk di belakang Witantra.

“Lihat, apakah busurku ini cukup baik?”

“Hamba Tuanku, busur itu amat baik.” sabut Ken Arok.

“Bohong.” tiba-tiba Akuwu itu berteriak sehingga Ken Arok terperanjat, bahkan Witantra pun terkejut pula.

“Kau bohong ya. Kau menundukkan kepalamu. Dari mana kau tahu bahwa busurku ini baik.”

Ken Arok tergagap sejenak, namun kemudian ia menjawab, “Hamba sudah melihatnya tadi Tuanku, justru hamba terpaku sehingga hamba tetap saja berdiri membatu.”

Akuwu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Sekarang kau mendapat kesempatan untuk melihat dari dekat.”

Ken Arok mengangkat wajahnya. Dipandanginya busur Akuwu Tunggul Ametung yang dibuat dari kayu berlian, digosok dengan angkup nangka sehingga menjadi mengkilap. Di beberapa bagian, membelit benang-benang berwarna merah dan hijau, membuat garis-garis melingkar yang manis sekali.

“Bukan main.“ Ken Arok bergumam.

“Nah, peganglah. Bagaimana menurut pertimbanganmu, apakah busur itu terlampau berat, apakah terlampau ringan?”

Ken Arok ragu-ragu sejenak. Namun kemudian diterimanya busur itu dari tangan Akuwu Tunggul Ametung.

“Bukan main.“ desis Ken Arok, “hamba belum pernah melihat busur yang demikian bagusnya.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tidak terlampau berat dan tidak terlampau ringan. Rentangan talinya cukup keras dan tidak terlampau berat tarikannya.”

“Ternyata kau mengerti juga tentang busur dan agaknya juga tentang anak panah. Apakah kau pandai juga memanah?”

Ken Arok ragu-ragu sejenak.

“Kalau kau mampu juga memanah, kau akan aku perkenankan ikut serta berburu bersama kami. Maksudku, aku, Witantra dan beberapa orang pengawal.”

Ajakan itu membuat Ken Arok berbangga untuk sesaat. Ternyata ia mendapat kepercayaan untuk mengikuti Akuwu berburu. Jarang sekali para hamba istana mendapat kesempatan itu. Tetapi ketika mulutnya sudah hampir mengucapkan terima kasih atas kesempatan itu, tiba-tiba ia mendapat pikiran lain. Bukankah Akuwu akan pergi berburu?

“Bagaimana he?”

Akuwu Tunggul Ametung itu mengerutkan keningnya ketika ia kemudian melihat Ken Arok menundukkan kepalanya. Dengan penuh penyesalan Ken Arok berkata, “Sayang, hamba belum pernah mempelajari dengan sungguh-sungguh bagaimana caranya memanah. Sebenarnya hamba ingin sekali untuk dapat ikut serta, apabila Akuwu memperkenankan. Dengan busur ini mungkin hamba akan dapat belajar sebaik-baiknya.”

“Apa he, apa kau bilang?“ tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung berteriak sambil merebut busurnya dari tangan Ken Arok. “Busur ini adalah busur istana. Aku baru saja memesannya. Kau sangka kau anak cucuku, sehingga kau dapat memakai busur kerajaan? Gila. Kau sungguh gila.”

Ken Arok menjadi gemetar. Kepalanya kini ditundukkannya lagi. Lebih dalam.

“Pergi, pergi sebelum aku pukul kepalamu. Tidak pantas kau ikut berburu bersamaku.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sejenak dipandanginya saja Ken Arok yang gemetar.

“Pergi, cepat pergi.“ Akuwu berteriak-teriak.

Ken Arok menjadi semakin gemetar. Mulutnya berkumat kumit, tetapi tidak sepatah kata pun yang terucapkan.

“Pergi.“ sekakali lagi Akuwu berteriak sambil melangkah mendekati Ken Arok yang ketakutan.

Ken Arok pun kemudian beringsut surut. Kemudian hampir merangkak ia meninggalkan ruangan itu dan turun ke serambi belakang istana, ia masih mendengar beberapa patah kata, Akuwu mengumpat-umpat.

Ketika ia sudah sampai di serambi belakang, kemudian turun kehalaman tengah, maka Ken Arok itu pun berdiri tegak sambil menggeliat. Hilanglah segala kesan ketakutan dan kecemasannya. Bahkan kemudian ia tersenyum. “Aku tidak inzin ikut pergi. Aku ingin tinggal di istana yang sepi ini.”

Sorot yang aneh kemudian memancar dari sepasang matanya. Sekali ia berpaling, namun ia tidak melihat apa yang terjadi kemudian di ruang dalam.

(bersambungke jilid-47)

koleksi : Ki Ismoyo
scanning : Ki Ismoyo
Retype : Dewi KZ
Proofing : Ki Mahesa
Cek ulang : Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

Satu Tanggapan

  1. Antri menunggu jilid 48 ….
    Matur -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸mäτür•иüwüи•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ ™ ki arema ..

    monggo….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s