JDBK-30


<<kembali | lanjut >>

RADEN SUTAWIJAYA menarik nafas dalam-dalam. Begitu dalam kesetiaan para pengikut Harya Wisaka, sehingga seorang yang berilmu tinggi seperti Ki Santen Ireng itu tidak dapat membuat pertimbangan-pertimbangan lain kecuali berjuang untuk menempatkan Harya Wisaka pada kedudukan yang tertinggi, apa pun yang harus dikorbankannya.

“Tetapi jika hal itu dilakukan oleh Ki Santen Ireng, tentu bukannya tanpa pamrih apa-apa” berkata Raden Sutawijaya di dalam hatinya.

Namun Raden Sutawijaya tidak menjawab lagi. Sambil bergeser ke samping, Raden Sutawijaya telah bersiap sepenuhnya untuk bertempur melawan Ki Santen Ireng.

Ki Santen Ireng  pun tidak berbicara lagi. Ia pun segera meloncat menerkam Raden Sutawijaya. Jari-jari pada kedua tangannya yang mengembang menyambar ke arah wajahnya.

Raden Sutawijaya dengan cepat menghindar. Hampir di luar sadarnya ia pun berdesis, “Kau mengenakan kuku-kuku baja itu, Ki Santen Ireng. Juga kau lapisi telapak tanganmu”

“Kau dapat melihatnya?”

“Tentu. Anak-anak  pun dapat membedakan antara kuku aslimu dan kuku-kuku baja itu. Bahkan telapak tanganmu”

Ki Santen Ireng tidak menjawab. Tetapi serangan-serangannya menjadi semakin cepat. Tangannya dengan jari-jari yang mengembang menyambar-nyambar menggapai tubuh Raden Sutawijaya.

Tetapi di tangan Raden Sutawijaya telah tergenggam tombak pendek. Meskipun senjata itu bukan senjata khusus, tetapi tombak itu menjadi sangat berbahaya di tangan Sutawijaya.

“Raden” desis Ki Santen Ireng kemudian, “aku tahu, bahwa kau bunuh Harya Penangsang dengan ujung tombak. Tetapi tentu bukan tombak mainan seperti yang kau pakai sekarang ini. Yang kau pakai untuk membunuh Harya Penangsang adalah tombak berlandean panjang. Tombak pusaka terbaik di Pajang, Kangjeng Kiai Pleret”

Tetapi Raden Sutawijaya itu menjawab, “Meskipun tombakku sekarang tombak mainan, Ki Santen Ireng, tetapi ujungnya akan dapat mengoyak dadamu, menembus sampai ke jantung. Di tanganku, mainan kanak-kanak  pun akan dapat menjadi sangat berbahaya bagimu dan bagi semua lawan-lawanku”

Ki Santen Ireng tertawa berkepanjangan. Namun tiba-tiba saja suara tertawanya terhenti. Dengan tangkasnya ia meloncat mengambil jarak. Hampir saja ujung tombak pendek Raden Sutawijaya menyentuh lengannya.

“Kau memang tangkas bermain tombak, Raden”

Raden Sutawijaya tidak menjawab. Tombaknya terjulur lagi mengarah ke dada, sehingga Ki Santen Ireng harus meloncat mundur lagi beberapa langkah. Namun Raden Sutawijaya tetap memburunya. Ujung tombaknya semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin dekat dengan kulit Ki Santen Ireng.

Dengan telapak tangan yang dilapisi baja hitam serta kukunya yang tajam kehitam-hitaman, Ki Santen Ireng berusaha melawan tombak pendek Raden Sutawijaya. Ditepisnya tombak yang terjulur itu. Bahkan dengan baja hitam di telapak tangannya, Ki Santen Ireng telah menangkis ujung tombak yang mematuknya.

Tetapi ternyata bahwa Raden Sutawijaya memiliki kemampuan yang tinggi, sebagaimana namanya yang mendebarkan. Semakin lama maka Ki Santen Ireng itu harus mengakui kenyataan, bahwa Raden Sutawijaya yang masih terhitung muda itu benar-benar seorang berilmu tinggi.

Dengan demikian, maka Ki Santen Ireng itu pun menjadi semakin terdesak. Ia tidak lagi dapat mengandalkan lapisan baja hitam di telapak tangannya, serta kuku-kuku bajanya.

Karena itu, untuk melawan ujung tombak pendek yang seakan-akan mempunyai mata dan memburunya kemana saja ia berloncatan, Ki Santen Ireng harus mempergunakan senjatanya yang lain.

Dengan demikian, maka Ki Santen Ireng telah meloncat mengambil jarak. Dilepasnya lapisan baja di telapak tangan serta kuku-kuku baja di jari-jari tangan kanannya. Kemudian dicabutnya sebuah luwuk yang besar dan panjang.

Raden Sutawijaya yang melangkah satu-satu mendekatinya sambil merundukkan ujung tombaknya tertegun.

“Aku tidak lagi main-main, Raden” geram Ki Santen Ireng.

“Jadi selama ini kau hanya main-main?”

“Ya. Sekarang aku bersungguh-sungguh dengan luwuk peninggalan guruku ini”

Raden Sutawijaya memandangi luwuk di tangan Ki Santen Ireng. Nampaknya pamornya berkeredipan ditimpa cahaya matahari. Luwuk itu memang luwuk yang sangat baik.

“Tetapi segala sesuatu akan tergantung pada orang yang mempergunakannya” berkata Raden Sutawijaya di dalam hatinya. “Bukan sebaliknya”

Sejenak kemudian, maka keduanya telah terlibat lagi dalam pertempuran yang sengit. Disamping harus memperhatikan luwuk di tangan Ki Santen Ireng, Raden Sutawijaya masih juga harus memperhatikan tangan kirinya, yang masih mengenakan lapisan baja hitam di telapak tangannya, serta kuku-kuku baja di ujung jari-jarinya.

Sementara itu, pertempuran pun menjadi semakin sengit. Pasukan Ki Tumenggung Yudatama telah mendesak para pengikut Harya Wisaka. Apalagi setelah Ki Santen Ireng terikat dalam pertempuran melawan Raden Sutawijaya.

Sementara itu, Pangeran Benawa dan Paksi telah memasuki padukuhan dari sisi yang lain, bersama para prajurit yang ada di arah lain dari Padukuhan Pandean itu.

Meskipun mereka mendapat perlawanan dari para pengikut Harya Wisaka, tetapi para pengikut Harya Wisaka itu tidak mampu menghentikan gerak maju Pangeran Benawa, Paksi dan para prajurit.

Di dalam Padukuhan Pandean, Pangeran Benawa dan Paksi pun segera berusaha menemukan Harya Wisaka yang mereka yakini masih berada di padukuhan itu.

Sementara itu, Harya Wisaka sendiri, bersama para pengawalnya yang kuat telah siap untuk keluar dari padukuhan di arah selatan. Mereka siap untuk menembus kepungan yang tidak terlalu kuat di sisi selatan. Bahkan mereka  pun telah bersiap menghalau prajurit Pajang yang berusaha menyumbat pintu gerbang di arah selatan itu.

Raden Suminar dengan orang-orang terpilih telah merintis jalan, menyibak pasukan Pajang yang berusaha menyumbat pintu gerbang. Dengan kemampuannya yang tinggi, Raden Suminar bersama para pengikut Harya Wisaka telah berhasil mendesak pasukan Pajang yang berusaha menahan mereka untuk tetap berada di dalam padukuhan.

Tetapi para pengikut Harya Wisaka itu terkejut. Selagi mereka berusaha membuka jalan serta siap untuk keluar dari padukuhan, maka mereka telah mendapat serangan dari belakang.

Pangeran Benawa dan Paksi yang berhasil menyusup memasuki padukuhan itu telah berhasil mengguncang para pengikut Harya Wisaka yang akan menyertainya keluar dari padukuhan dan menembus kepungan yang lemah di sisi selatan.

“Gila” geram Gadungbawuk, “siapakah mereka itu?”

“Prajurit Pajang” berkata salah seorang penghubung yang memberikan laporan kepada Harya Wisaka.

“Siapakah pemimpinnya?” bertanya Harya Wisaka.

“Pangeran Benawa”

“Pangeran Benawa?” suara Harya Wisaka meninggi.

“Jangan cemas, Ngger” desis Kiai Gadungbawuk. “Aku akan menghentikannya”

Tetapi penghubung itu berkata pula, “Bersama Pangeran Benawa adalah seorang anak muda yang berilmu tinggi”

“Siapa?” bertanya Harya Wisaka.

“Aku tidak tahu namanya” jawab penghubung itu.

“Raden Sutawijaya?” bertanya Harya Wisaka.

“Bukan”

“Tentu Paksi” geram Harya Wisaka.

Ki Madujae lah yang menyahut, “Jadi ada gunanya pula aku pergi bersama Harya Wisaka. Biarlah aku menghentikan anak itu. Sebaiknya Harya Wisaka melanjutkan rencana memecah kepungan di sisi yang paling lemah. Apalagi sebagian dari mereka sudah berada di sisi. Biarlah Raden Suminar menjadi ujung tombak kelompok yang akan mengantar Harya Wisaka”

“Baiklah, Ki Madujae” sahut Raden Suminar. “Percayalah, bahwa aku dapat menghancurkan pasukan yang akan menahan gerak kami”

Demikianlah, maka Raden Suminar dan beberapa orang kepercayaannya telah menembus perlawanan para prajurit Pajang. Mereka berhasil keluar dari pintu gerbang padukuhan. Dengan garangnya Raden Suminar yang berilmu tinggi itu menyibak jalan dengan ujung pedangnya. Sementara itu beberapa orang yang menyertainya bertempur dengan garangnya seperti sekelompok serigala yang sedang lapar.

Dalam pada itu, Pangeran Benawa dan Paksi yang berusaha untuk dapat menangkap Harya Wisaka di dalam padukuhan telah bertempur dengan sengitnya. Mereka berusaha untuk dapat menembus pertahanan para pengikut Harya Wisaka yang bertempur tanpa mengenal surut. Mereka benar-benar siap untuk mengorbankan apa saja yang mereka miliki, termasuk tubuh dan nyawa mereka.

“Orang-orang itu benar-benar kehilangan pribadi mereka” berkata Paksi di dalam hatinya. “Jika aku tidak berhasil menemukan adikku, maka ia akan menjadi seperti orang-orang itu”

Gerak maju Pangeran Benawa pun terhambat ketika seorang tiba-tiba menghadangnya.

“Bukankah aku berhadapan dengan Pangeran Benawa?” berkata Ki Gadungbawuk.

Pangeran Benawa memandang orang itu dengan tajamnya. Dengan nada datar ia pun menjawab, “Ya. Aku adalah Benawa”

“Apakah Pangeran sedang memburu Harya Wisaka?”

“Ya. Aku memang sedang memburu Paman Harya Wisaka. Paman adalah buruan yang harus ditangkap”

“Kenapa Harya Wisaka harus ditangkap?”

“Aku tidak mempunyai waktu untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Minggirlah. Jangan korbanku dirimu untuk melindungi Paman Harya Wisaka”

Tetapi Ki Gadungbawuk tertawa. Katanya, “Siapakah yang akan mengorbankan dirinya? Aku akan bertempur dengan sungguh-sungguh. Siapa yang menghalangi aku, akan aku singkirkan”

Ki Gadungbawuk masih akan mengulur waktu untuk memberi kesempatan Harya Wisaka meninggalkan padukuhan. Karena itu, maka ia pun berkata selanjutnya, “Karena itu, aku mohon Pangeran mengurungkan niat Pangeran untuk menangkap Harya Wisaka”

Pangeran Benawa sadar, bahwa orang itu sengaja mengulur waktu. Karena itu, maka Pangeran Benawa tidak berbicara lagi. Dengan tombak pendeknya Pangeran Benawa pun segera menyerang Ki Gadungbawuk.

Tetapi Ki Gadungbawuk sudah bersiap sepenuhnya. Karena itu, ketika ujung tombak Pangeran Benawa mematuknya, Ki Gadungbawuk pun bergeser ke samping.

Namun ujung tombak Pangeran Benawa itu pun berputar. Seperti menggeliat, ujung tombak itu menyambar mendatar ke arah dada Ki Gadungbawuk.

Tetapi Ki Gadungbawuk masih sempat meloncat surut, sehingga dadanya tidak tersentuh.

Pangeran Benawa yang marah itu pun memburunya. Ia harus segera menyelesaikan pertempuran itu, agar ia tidak kehilangan Harya Wisaka.

Tetapi Ki Gadungbawuk bukan orang kebanyakan. Ia pun memiliki ilmu yang tinggi, sehingga perlawanannya pun benar-benar harus diperhitungkan oleh Pangeran Benawa.

Sementara itu, langkah Paksi pun telah tertahan pula. Ki Madujae berusaha untuk menghalanginya.

“Namamu siapa, anak muda?” bertanya Ki Madujae.

Paksi tidak menghiraukan pertanyaan itu. Ia tidak mau kehilangan waktu sekejap pun. Karena itu, demikian seseorang berdiri di hadapannya sambil bertolak pinggang, maka Paksi yang telah mendapatkan sebatang tombak pendek itu langsung menyerangnya.

“Jangan terlalu garang, anak muda” berkata Ki Madujae sambil tersenyum. “Kau akan menjadi terlalu cepat tua”

Paksi tidak menghiraukannya. Serangannya pun kemudian justru semakin garang.

Ki Madujae berusaha untuk melawannya dengan mengerahkan segenap tenaganya. Ia pun seorang yang berilmu tinggi dan terlatih untuk terjun di segala medan. Meskipun demikian, Ki Madujae harus mengakui kelebihan Paksi yang bergerak dengan tangkasnya. Tombaknya berputaran dengan cepat, menyambar mendatar, kemudian terjulur mematuk dengan cepat.

Ki Madujae harus mengerahkan kemampuannya untuk mengimbangi ketangkasan anak muda itu. Ia tidak boleh terlalu cepat tersinggung jika anak muda itu mendesaknya dan bahkan ujung tombaknya mulai menyentuhnya.

Ia tidak boleh kehilangan akal sehingga penalarannya menjadi kabur. Dengan demikian, maka perlawanannya akan menjadi semakin lemah.

Seperti Pangeran Benawa, maka Paksi pun ingin segera menyelesaikan lawannya agar ia sempat memburu Harya Wisaka. Tetapi Ki Madujae ternyata tidak mudah ditundukkannya. Dengan tangkasnya Ki Madujae berusaha mengimbangi kemampuan Paksi yang masih sangat muda itu.

Dengan demikian, bagi Pangeran Benawa dan Paksi tidak terlalu mudah untuk menyelesaikan lawan-lawan mereka. Ki Gadungbawuk telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menahan Pangeran Benawa. Setidak-tidaknya untuk mengulur waktu. Meskipun ujung tombak Pangeran Benawa sempat menyentuh tubuh Ki Gadungbawuk, namun perlawanan Ki Gadungbawuk sama sekali tidak menyusut.

Demikian pula Ki Madujae. Ia tidak memikirkan dirinya sendiri. Tetapi ia lebih banyak memikirkan keselamatan Harya Wisaka.

Sementara itu Harya Wisaka telah bergerak keluar dari padukuhan. Raden Suminar dan para pengawal terpilihnya telah berhasil menyibak para prajurit Pajang yang berusaha menahan mereka untuk tetap berada di padukuhan. Sementara itu, Pangeran Benawa dan Paksi masih belum berhasil menghentikan perlawanan lawan-lawan mereka.

Demikian pula Raden Sutawijaya. Lawannya tidak lagi hanya seorang Ki Santen Ireng. Tetapi dua orang murid Ki Santen Ireng telah membantunya melawan Raden Sutawijaya. Baru kemudian, setelah pasukan Ki Yudatama berhasil menghancurkan sebagian dari lawan-lawannya, maka Ki Yudatama pun telah bergabung dengan Raden Sutawijaya menghentikan perlawanan Ki Santen Ireng dan murid-muridnya.

Dengan demikian, maka Raden Sutawijaya dan Ki Tumenggung Yudatama bersama pasukannya telah memasuki Padukuhan Pandean. Di dalam padukuhan mereka masih tertahan oleh beberapa orang pengikut Harya Wisaka. Namun mereka pun segera dapat diatasi.

Dengan cepat maka Raden Sutawijaya pun bergerak ke pintu gerbang di sisi selatan. Ternyata Pangeran Benawa dan Paksi masih bertempur melawan Ki Gadungbawuk dan Ki Madujae.

“Biarlah aku ikut bermain, Adimas” berkata Raden Sutawijaya ketika ia berada di belakang Pangeran Benawa yang masih bertempur.

Namun Pangeran Benawa pun menjawab, “Susul Paman Harya Wisaka. Ia berada di pintu gerbang padukuhan di sebelah selatan”

Dengan cepat Raden Sutawijaya pun segera meninggalkan Pangeran Benawa dan Paksi. Menurut pengamatannya, Pangeran Benawa dan Paksi akan dapat menguasai lawan-lawan mereka, meskipun masih memerlukan waktu.

Karena itu, maka Raden Sutawijaya pun tidak merasa perlu untuk membantu mereka. Namun ketika Raden Sutawijaya sampai di pintu gerbang, maka yang ditemuinya adalah pertempuran antara prajurit Pajang dan para pengikut Harya Wisaka yang berusaha menahan mereka yang berusaha untuk memburu Harya Wisaka itu. Tetapi Harya Wisaka sendiri sudah tidak ada di arena pertempuran itu.

Raden Sutawijaya pun kemudian bertanya kepada seorang prajurit, “Di mana Paman Harya Wisaka?”

“Harya Wisaka berhasil melarikan diri keluar pintu gerbang selatan”

“Apakah tidak ada yang memburunya?”

“Kami tertahan dalam pertempuran ini” jawab prajurit itu.

Raden Sutawijaya menggeram. Bersama Ki Tumenggung Yudatama dan beberapa orang prajurit terpilih, mereka berusaha menyibak medan pertempuran yang menjadi semakin tipis itu. Sejenak kemudian mereka telah berhasil menerobos pintu gerbang dan keluar dari padukuhan.

Masih belum terlalu jauh dari pintu gerbang, Raden Sutawijaya melihat arena pertempuran yang tidak begitu besar. Hanya kelompok-kelompok kecil sajalah yang terlibat di dalamnya.

“Agaknya Paman Harya Wisaka ada di sana” berkata Raden Sutawijaya.

Dengan cepat Raden Sutawijaya bergerak diikuti Ki Tumenggung Yudatama. Mereka berlari ke arah arena pertempuran di tengah-tengah bulak persawahan yang kering itu.

Namun langkah Raden Sutawijaya tertegun. Pertempuran itu tidak berlangsung lama. Ketika Raden Sutawijaya mendekat, maka rasa-rasanya semuanya telah selesai Harya Wisaka itu berdiri dengan kepala tunduk. Raden Suminar ternyata telah mengorbankan segala-galanya bagi Harya Wisaka. Tubuhnya terkapar di tanah. Nafasnya  pun telah terhenti sama sekali.

Di hadapan Harya Wisaka itu berdiri Ki Gede Pemanahan. Beberapa orang pengiringnya, bertebaran di sekitarnya bergabung dengan beberapa orang prajurit Pajang yang datang bersama Ki Tumenggung Yudatama, mengepung padukuhan itu.

“Ayah” desis Raden Sutawijaya.

“Di mana Pangeran Benawa dan Paksi?”

“Mereka masih bertempur di padukuhan itu, Ayah. Padukuhan itu adalah salah satu sarang Paman Harya Wisaka”

“Apakah mereka tidak memerlukanmu?”

“Tidak, Ayah. Aku baru saja menemui Adimas Pangeran Benawa. Adimas Pangeran Benawa minta aku menyusul Paman Harya Wisaka. Ternyata Ayah sudah ada disini”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk. Kemudian dipandanginya Harya Wisaka yang menunduk. Dengan nada dalam Ki Gede Pemanahan pun berkata, “Harya Wisaka, kau lihat korban yang masih saja berjatuhan. Kematian demi kematian mengiringi jejak langkahmu, kemana  pun kau pergi. Sekarang, Raden Suminar yang baru tumbuh itu sudah kau korbankan pula”

Harya Wisaka memandang tubuh yang terbujur itu. Perlahan Harya Wisaka melangkah mendekatinya dan berjongkok di sampingnya.

“Suminar” desisnya sambil meraba dahi tubuh yang terbujur diam itu. Ditengadahkannya wajahnya sambil berdesis, “Kau telah membunuhnya meskipun tidak dengan tanganmu sendiri. Tetapi prajurit-prajuritmu yang licik telah mengeroyoknya dan membunuhnya dengan kejam”

“Suminar tidak mau mendengarkan peringatan-peringatan yang diberikan kepadanya. Jika ia mau meletakkan senjatanya, maka ia tidak akan terbunuh”

“Suminar adalah seorang laki-laki sejati. Ia pantang menyerah meskipun harus mengorbankan nyawanya”

“Untuk apa? Apakah kau bangga bahwa Suminar bersedia mati untukmu? Jika kau memerintahkannya menyerah, ia tentu akan menyerah. Tetapi kau biarkan Suminar berbuat sebagaimana kau sebut sebagai laki-laki sejati. Apakah ukuranmu bagi seorang laki-laki sejati? Orang yang mau mati untukmu, sementara kau hanya memburu keinginanmu sendiri yang kau dasari nafsu ketamakan semata-mata?”

“Kau salah, Ki Gede” jawab Harya Wisaka. “Jika itu yang terjadi, maka hanya orang-orang dungu saja yang mau mendukung perjuanganku. Tetapi lihat, orang-orang berilmu tinggi dan bernalar tajam bersedia berjuang bersamaku karena mereka melihat kebenaran di dalamnya”

“Kebenaran yang dilihat dari satu sisi, tidak mungkin dipaksakan bagi segala pihak di Pajang, Harya Wisaka. Kau melihat kebenaran itu dari tempatmu berpijak tanpa menghiraukan sisi-sisi lain. Sementara itu, orang-orang yang mendukungmu, kau sangka mempunyai pandangan yang sama dengan kau sendiri? Mereka mempunyai kepentingan mereka sendiri, sementara yang lain terbius oleh harapan-harapan yang kau taburkan meskipun kau sendiri tahu, bahwa harapan-harapan itu kosong semata-mata”

“Itu dugaanmu, Ki Gede. Tetapi bagi aku dan kawan-kawanku, dugaanmu itu salah. Kami berjuang bersama-sama untuk menegakkan satu cita-cita yang luhur”

“Harya Wisaka. Apakah kau tidak melihat, betapa banyaknya korban yang telah jatuh dalam perselisihan ini? Kematian bertebaran di mana-mana. Sementara itu tujuanmu sangat kabur. Jika Kangjeng Sultan Hadiwijaya itu kemudian duduk di atas tahta, bukankah itu sudah merupakan hasil satu permufakatan. Mungkin tidak memuaskan segala pihak. Mungkin Sultan Hadiwijaya sendiri bukanlah orang yang tidak bercacat. Tetapi itu adalah yang terbaik bagi Pajang. Terbaik dari kemungkinan-kemungkinan yang lain. Katakan, bahwa aku  pun tidak merasa puas sepenuhnya atas kepemimpinan Sultan Hadiwijaya. Bahkan anaknya sendiri, Pangeran Benawa juga melihat cacat-cacat ayahandanya. Tetapi apakah kita harus menghancurkan Pajang? Menebarkan kematian di mana-mana?”

Harya Wisaka menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun berkata, “Adakah perjuangan tanpa pengorbanan?”

“Sesuaikah pengorbanan yang kau berikan dengan tujuan perjuanganmu yang kabur dan tidak mendasar? Yang kau berikan hanya berlandasan dendam dan kebencian? Dendam karena kematian Harya Penangsang dan kebencianmu kepada Sultan Hadiwijaya. Tetapi kau tidak mengingat orang-orang yang terbunuh karenanya. Termasuk Raden Suminar. Seorang anak muda yang akan dapat tumbuh menjadi pilar masa mendatang. Tetapi tunas itu harus dipatahkan sekarang, karena merambat di lanjaran yang salah”

Harya Wisaka memandang wajah Raden Suminar. Darah membasahi tubuhnya, mengalir dari luka di dadanya, di lambungnya, di bahunya dan di perutnya. Tetapi wajahnya masih saja menunjukkan gereget perjuangannya yang diyakininya.

“Suminar” Harya Wisaka itu berdesis.

Tetapi Raden Suminar tidak mendengarnya.

Harya Wisaka itu pun kemudian bangkit berdiri. Dijulurkannya kedua tangannya sambil berdesis, “Jika Ki Gede akan mengikat tanganku, ikatlah dengan apa saja”

“Tidak” berkata Ki Gede. “Kita akan bersama-sama pergi ke istana menghadap Kangjeng Sultan Hadiwijaya. Kangjeng Sultan bukan seorang pendendam. Ia akan berusaha untuk tegak di atas paugeran”

Dalam pada itu, sebelum Ki Gede beranjak dari tempatnya membawa Harya Wisaka langsung ke istana, maka Pangeran Benawa pun telah datang pula. Ketika ia melihat Ki Gede, maka ia pun berdesis, “Paman sudah disini?”

“Ki Tumenggung Yudatama telah memberikan laporan kepadaku” berkata Ki Gede Pemanahan.

“Agaknya Paman datang tepat pada waktunya”

“Ya. Dan perhitungan para penghubung pun benar, bahwa Harya Wisaka akan keluar dari padukuhan lewat arah selatan, karena induk pasukan Pajang berada di sisi utara”

“Ya, Paman. Jika saja Paman datang beberapa saat kemudian, maka semuanya tentu sudah lewat”

“Di mana Paksi, Pangeran?” bertanya Ki Gede kemudian.

“Paksi masih berada di padukuhan itu, Paman. Paksi sedang mencari adiknya”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Anak-anak muda yang sedang tumbuh itu akan kehilangan pribadinya. Mudah-mudahan Paksi dapat menemukannya”

Harya Wisaka menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja dari sela-sela bibirnya terdengar ia berdesis, “Anak itu telah dibawa pergi. Ada tiga orang anak muda pergi bersamanya”

“Ke mana, Paman?” bertanya Pangeran Benawa. “Jika Paman bersedia membebaskan mereka, Paksi tentu akan sangat berterima kasih. Jika mereka tidak dapat dibebaskan dari cengkeraman keyakinan Paman Harya Wisaka, maka mereka akan kehilangan dirinya dan masa depannya”

“Anak itu akan dapat menjadi korban tanpa arti seperti Suminar, Paman” berkata Raden Sutawijaya pula.

Harya Wisaka menarik nafas panjang. Sementara itu Ki Gede pun berkata, “Apalagi setelah kau berada di tangan kami. Perjuangan yang diyakininya pada dasarnya sudah terhenti. Yang mereka lakukan kemudian tidak lagi bertujuan sama sekali. Bahkan tujuan yang kabur  pun tidak. Karena itu, mereka akan dapat melakukan apa saja untuk mendapatkan kepuasan batin, sementara itu batinnya dilandasi oleh perasaan dendam dan kebencian, sehingga yang lahir dari ungkapan batinnya adalah nafsu menghancurkan apa saja tanpa tujuan”

Harya Wisaka termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Aku tidak tahu pasti, ke mana mereka dibawa pergi. Tetapi ada niat untuk membawa mereka kepada seorang guru yang akan dapat menempa mereka menjadi orang-orang yang berilmu tinggi”

“Siapakah guru yang dimaksud?”

Harya Wisaka nampak ragu-ragu. Namun kemudian ia pun berkata, “Ki Gede Lenglengan”

“Ki Gede Lenglengan? Aku belum pernah mendengar nama itu” desis Ki Gede Pemanahan.

“Paman Harya, jika saja Paman Harya sudi menunjukkan, ke mana Paksi harus pergi mencarinya?”

Harya Wisaka termangu-mangu sejenak. Ada dorongan di dalam hatinya untuk mengatakan sesuatu.

“Tolonglah Paksi, Paman, agar adiknya, anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidak mengalami nasib seperti Suminar. Bahkan Suminar masih dapat berbangga karena ia mati untuk satu keyakinan. Apalagi ia mati di hadapan Paman Harya Wisaka. Tetapi apa jadinya adik Paksi itu kelak jika jiwanya tidak segera dapat diselamatkan. Apakah memang tujuan Paman untuk membiarkan Paksi dan adik laki-lakinya kelak saling mendendam dan seorang di antaranya membunuh yang lain?”

Tiba-tiba saja terasa kaki Harya Wisaka itu bergetar. Dengan sendat ia pun berkata, “Aku akan berkata dengan jujur, Pangeran. Aku belum tahu letak padepokan Ki Gede Lenglengan. Aku  pun tidak tahu nama perguruannya, yang aku dengar, padepokan itu berada di arah Gunung Merapi”

Pangeran Benawa memandang wajah Harya Wisaka dengan tajamnya. Sebelum ia mengatakan sesuatu, Ki Gede Pemanahan pun berkata, “Aku percaya kepadamu, Harya Wisaka. Agaknya kau benar-benar belum tahu letak padepokan yang dipimpin oleh orang yang menyebut dirinya Ki Gede Lenglengan itu. Tetapi jika saja kau bersedia mengatakan, siapakah di antara orang-orangmu yang mengenal dan mengetahui letak padepokan itu?”

“Suminar adalah murid Ki Gede Lenglengan”

“Jika demikian, perguruan itu tentu sebuah perguruan yang mempunyai tataran yang tinggi. Suminar adalah anak muda yang berilmu tinggi”

“Apakah ada orang lain yang seperguruan dengan Suminar, Paman?” bertanya Pangeran Benawa.

Harya Wisaka mengerutkan dahinya. Dipandanginya orang-orangnya yang ada di sekitarnya. Namun kemudian ia pun menggeleng, “Aku tidak melihatnya sekarang, Pangeran. Tetapi aku berjanji, jika aku dapat mengenali seseorang di antara saudara seperguruan Suminar, aku akan mengatakannya”

“Terima kasih” Ki Gede Pemanahanlah yang menyahut, “sekarang kita akan kembali ke kota, bahkan langsung ke istana”

Ki Gede pun kemudian memerintahkan untuk menyediakan kudanya dan seekor kuda bagi Harya Wisaka.

“Apakah Pangeran akan kembali bersama kami?” bertanya Ki Gede.

“Tidak, Paman. Aku akan menunggu Paksi. Kami akan kembali bersama-sama”

Dengan demikian, maka Ki Gede Pemanahan segera meninggalkan tempat itu sambil membawa Harya Wisaka. Sekelompok prajurit pengawal yang kuat menyertainya. Bagaimanapun juga mereka masih memperhitungkan kemungkinan buruk dapat terjadi, karena para pengikut Harya Wisaka yang mungkin masih berkeliaran.

Sementara itu, Raden Sutawijaya pun sempat berceritera kepada Ki Gede, apa yang terjadi di pintu gerbang kota ketika ia membawa Harya Wisaka memasuki pintu gerbang itu.

Dalam pada itu, Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Ki Tumenggung Yudatama masih tetap tinggal. Bukan saja menunggu Paksi. Tetapi mereka harus merawat para prajurit yang terluka dan mengumpulkan mereka yang gugur di pertempuran. Bahkan juga para pengikut Harya Wisaka.

Sementara yang menyerah telah dikumpulkan di banjar padukuhan dengan tangan terikat di bawah pengawasan yang kuat.

Di banjar itu pula Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi mengamati para tawanan. Sebagian dari mereka adalah anak-anak muda yang sedang tumbuh. Namun ternyata mereka telah terperangkap ke dalam lingkungan yang salah.

“Aku menjadi sangat cemas akan nasib adikku” berkata Paksi kemudian.

“Kesempatanmu untuk menemukan adikmu memang kecil sekali, Paksi. Tetapi tidak tertutup sama sekali. Harya Wisaka pada saat-saat terakhir memberikan sedikit petunjuk yang barangkali dapat dipakai sebagai alas usaha pencaharian itu” berkata Pangeran Benawa.

Paksi memandang Pangeran Benawa dengan karut di kening.

Dengan singkat Pangeran Benawa pun kemudian telah memberitahukan kepada Paksi, bahwa ada kemungkinan adiknya berada di sebuah padepokan yang dipimpin oleh Ki Gede Lenglengan. Padepokan yang berada di arah Gunung Merapi. Tetapi Harya Wisaka tidak dapat memberikan keterangan lebih banyak lagi, sementara itu, Suminar, salah seorang pengikut setia Paman Harya Wisaka yang berasal dari perguruan itu sudah terbunuh.

Paksi menarik nafas panjang. Ia menjadi semakin cemas, bahwa adiknya akan berada di bawah bimbingan seorang guru yang telah membentuk seseorang yang seakan-akan tidak lagi sempat mempergunakan penalarannya meskipun ia berilmu tinggi sebagaimana Raden Suminar.

“Anak itu harus diselamatkan” berkata Paksi seakan-akan kepada diri sendiri.

“Ya. Kau memang tidak akan dapat membiarkan anak itu tenggelam di dalam dendam”

“Hamba tidak dapat menunda-nunda lagi, Pangeran. Hamba harus segera pergi”

“Aku tahu, Paksi. Tetapi sebaiknya kita berbicara lebih mendalam. Mungkin kita perlu berbicara dengan Guru, dengan Paman Pemanahan dan mungkin dengan Ayahanda sendiri”

Paksi mengangguk hormat. Hampir tidak terdengar ia berdesis, “Hamba, Pangeran”

Dalam pada itu, para prajurit Pajang pun telah sibuk dengan kawan-kawan mereka yang terluka dan yang gugur. Lewat tengah hari, telah datang pasukan baru yang akan menggantikan pasukan yang letih itu. Pasukan yang baru itu harus menyelesaikan tugas-tugas pasukan yang terdahulu, yang akan segera kembali ke barak mereka.

Setelah serah terima tugas, maka Ki Yudatama dan pasukan berkudanya segera kembali ke barak mereka. Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi pun berkuda bersama mereka pula. Di pintu gerbang kota mereka berhenti. Ki Yudatama bertanya kepada pemimpin prajurit yang bertugas, siapakah yang memimpin tugas para prajurit di pintu gerbang semalam.

Dalam pada itu, Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi pun telah ikut pula memasuki barak Ki Tumenggung Yudatama. Mereka merencanakan, menjelang malam mereka akan mohon menghadap Kangjeng Sultan untuk melengkapi laporan tentang tertangkapnya Harya Wisaka.

Sementara itu, pemimpin prajurit yang bertugas di pintu gerbang semalam yang dipanggil oleh Ki Tumenggung Yudatama telah menghadap pula.

“Kau kenal dengan ketiga orang ini?” bertanya Ki Tumenggung Yudatama.

“Ampun, Ki Tumenggung. Semalam aku tidak dapat mengenal ketiganya”

“Seandainya bukan mereka, kau telah menyebabkan Harya Wisaka terlepas”

“Ampun, Ki Tumenggung. Aku sama sekali tidak tahu, bahwa orang itu adalah Harya Wisaka”

“Bukankah Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi sudah memberitahukan bahwa yang ditangkap itu adalah Harya Wisaka?”

“Ya, Ki Tumenggung”

“Kau terlalu bernafsu untuk memiliki hadiah bagi siapa yang dapat menangkap Harya Wisaka. Bahkan kemudian kau telah terjebak oleh daging seekor kambing yang akan disembelih, jadi kau tukar Harya Wisaka dengan seekor kambing”

“Ampun, Ki Tumenggung”

“Bukan itu saja. Tiga orang prajuritmu mati sia-sia di pintu gerbang Padukuhan Pandean. Mereka terjebak karena kebodohan dan ketamakanmu”

Pemimpin prajurit yang bertugas di pintu gerbang semalam itu menundukkan kepalanya. Ia sangat menyesal. Tetapi semuanya sudah terlanjur. Tiga orang kawannya meninggal tanpa arti terjebak di sarang para pengikut Harya Wisaka.

“Sekarang pulanglah” berkata Ki Tumenggung. “Tetapi setiap saat kau akan dipanggil untuk mempertanggung-jawabkan kebodohanmu itu”

“Aku pasrah, karena aku memang telah melakukan kesalahan yang besar”

“Kau dapat membayangkan, karena kesalahanmu itu, maka Harya Wisaka harus ditangkap setelah terjadi pertempuran yang menelan banyak korban di kedua pihak. Jika kau tidak melakukan kesalahan itu, maka Harya Wisaka sudah berada di tangan kami tanpa harus menambah korban”

Wajah pemimpin kelompok prajurit itu menunduk dalam-dalam. Waktu sudah berlalu, sehingga ia tidak akan dapat mengulanginya lagi. Kematian itu sudah menerkam beberapa orang dan menelannya, sehingga tidak akan dapat dimuntahkan kembali. Yang kemudian harus dihadapinya adalah pengadilan yang akan menentukan, hukuman apakah yang harus disandangnya.

Dalam pada itu, ketika malam turun, Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya, Paksi, diantar Ki Tumenggung Yudatama telah pergi menemui Ki Gede Pemanahan. Bersama-sama mereka akan menghadap Kangjeng Sultan Hadiwijaya.

Berlima mereka diterima oleh Kangjeng Sultan Hadiwijaya yang nampak letih. Kangjeng Sultan sendiri bersama Ki Gede Pemanahan menjelang senja telah berbicara langsung dengan Harya Wisaka. Namun Ki Gede Pemanahan telah memberitahukan, jika diperkenankan, Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi akan mohon waktu untuk menghadap.

Meskipun Kangjeng Sultan merasa letih, tetapi Kangjeng Sultan tidak menolak. Apalagi di antara mereka terdapat Pangeran Benawa. Sebenarnya Pangeran Benawa sendiri mempunyai kesempatan yang luas untuk menghadap ayahandanya. Namun karena ia akan datang bersama Paksi, maka ia memerlukan perkenan ayahandanya untuk menerimanya.

Pada dasarnya Kangjeng Sultan sendiri juga ingin mendengar laporan langsung dari Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi yang telah berhasil menangkap Harya Wisaka, dan yang kemudian harus dilepaskannya kembali. Namun dengan demikian, mereka justru dapat menemukan salah satu sarang dari para pengikut Harya Wisaka. Bahkan beberapa orang terpenting di antara mereka telah menyerah dan yang lain terbunuh di pertempuran.

Berganti-ganti Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya menceriterakan apa yang sudah terjadi sejak mereka bertemu dengan adik laki-laki Paksi di rumahnya sehingga pertempuran yang terjadi di Padukuhan Pandean serta kedatangan Ki Gede Pemanahan serta tertangkapnya kembali Harya Wisaka.

Terakhir Paksi telah melaporkan, bahwa ia benar-benar telah kehilangan adiknya.

Kangjeng Sultan Hadiwijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku telah berbicara dengan Harya Wisaka yang dibawa menghadap oleh Kakang Pemanahan. Kakang Pemanahan juga sudah menyinggung tentang adik Paksi yang sudah terlanjur dibawa pergi”

“Jika hamba tidak segera dapat menemukannya, maka nasib adik hamba itu tidak akan menjadi lebih baik dari nasib Raden Suminar”

“Nampaknya Harya Wisaka menyesali kematian Suminar” berkata Kangjeng Sultan kemudian. “Agaknya ada sesuatu yang tumbuh di hati Harya Wisaka. Ia berusaha memberikan petunjuk sejauh yang diketahui tentang sebuah padepokan yang mungkin akan menjadi tempat berguru adikmu, Paksi. Mungkin Harya Wisaka juga sudah mengatakan kepadamu serba sedikit tentang Ki Gede Lenglengan”

“Hamba, Sinuhun”

“Aku mengenal Ki Gede Lenglengan meskipun Kakang Pemanahan nampaknya belum. Ki Gede Lenglengan di masa kecilnya adalah seorang anak muda yang binal. Anak muda yang tidak mau terikat oleh paugeran yang berlaku dalam tatanan kehidupan. Aku pernah mengembara bersamanya. Tetapi kami berselisih dan berkelahi. Aku hampir saja membunuhnya.

Nampaknya Lenglengan itulah yang kini mendirikan sebuah padepokan di kaki Gunung Merapi itu”

Paksi mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Hamba ingin mencari adik hamba”

“Tetapi kau harus sangat berhati-hati berhubungan dengan Lenglengan. Menilik kelebihannya di masa muda, Lenglengan sekarang tentu memiliki ilmu yang sangat tinggi”

“Tetapi hamba tidak dapat membiarkan adik hamba berada di tangannya. Hamba tidak dapat membiarkan adik hamba mengalami nasib seperti Raden Suminar”

“Aku mengerti akan kecemasanmu itu, Paksi. Tetapi sebaiknya
kau berbicara lebih dahulu dengan guru-gurumu”

“Hamba, Sinuhun”

“Kau harus mendengarkan nasehat dan petunjuk-petunjuknya. Tugas yang akan kau sandang mungkin akan memerlukan waktu yang agak panjang”

“Hamba, Sinuhun”

“Meskipun demikian, aku ingin berpesan kepadamu, Paksi.
Jika kau sudah mendapatkan kepastian bahwa kau akan mencari
adikmu, aku minta kau datang kepadaku”

“Hamba, Sinuhun”

“Kau juga harus minta diri kepada Ki Gede Pemanahan”

“Hamba, Sinuhun”

Demikianlah, maka Ki Gede Pemanahan pun minta diri.

Ternyata atas permohonan Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi malam itu diperkenankan bermalam di istana.

Karena itu, maka Ki Gede Pemanahan dan Ki Tumenggung Yudatama pun segera minta diri.

“Mudah-mudahan dengan tertangkapnya Harya Wisaka, keadaan akan dapat menjadi semakin tenang. Apalagi beberapa orang pemimpinnya telah tidak berdaya pula. Bahkan sebagian dari mereka telah terbunuh” berkata Kangjeng Sultan.

“Tetapi kita masih akan membersihkan Pajang dari sisa-sisa pengikutnya, Sinuhun” sahut Ki Tumenggung Yudatama.

“Tentu, Ki Tumenggung. Semisal sapu lidi, mereka telah kehilangan ikatannya. Tetapi bukan berarti bahwa semuanya sudah selesai. Jika pada suatu saat tampil seorang kuat yang sanggup mengikat mereka, maka mereka akan timbul lagi. Bahkan mungkin yang timbul itu akan menjadi lebih keras dan buas” berkata Kangjeng Sultan selanjutnya.

“Hamba, Sinuhun” Ki Tumenggung Yudatama mengangguk dalam-dalam.

Demikianlah, maka Ki Tumenggung Yudatama dan Ki Gede Pemanahan pun segera meninggalkan istana. Mereka sepakat untuk tidak mengendorkan usaha untuk menumpas sisa-sisa para pengikut Harya Wisaka. Justru pada satu saat yang sangat menentukan. Saat mereka kehilangan harapan dan kehilangan tempat bergantung karena Harya Wisaka sudah tertangkap.

Malam itu, Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi bermalam di istana. Pangeran Benawa telah membawa mereka ke kasatrian. Namun Pangeran Benawa tidak tidur di dalam biliknya. Biliknya sebagai seorang putra terpenting dari Kangjeng Sultan Hadiwijaya. Tetapi Pangeran Benawa tidur bersama Raden Sutawijaya dan Paksi di serambi samping bangsal kasatrian Pajang.

Esok pagi-pagi mereka bertiga sudah bersiap untuk meninggalkan istana kembali ke padepokan mereka di Hutan Jabung.

“Pergilah” berkata Kangjeng Sultan kepada mereka bertiga ketika mereka minta diri. Lalu kepada Paksi Kangjeng Sultan itu pun berkata, “Aku ingin mengingatkan, jika kau pergi mencari adikmu, jangan lupa, datanglah kepadaku dan kepada Ki Gede Pemanahan”

“Hamba, Sinuhun”

Sejenak kemudian, maka ketiga orang itu pun telah meninggalkan istana. Mereka masih saja mengenakan pakaian orang kebanyakan dan berjalan kaki keluar pintu gerbang kota.

Para prajurit yang bertugas tidak memperhatikan mereka bertiga. Mereka pun tidak menghentikan mereka bertiga, apalagi setelah Harya Wisaka tertangkap.

Namun seorang lurah prajurit yang bertugas memimpin para prajurit yang bertugas itu sempat mengenali mereka. Terutama Pangeran Benawa.

Karena itu, maka lurah prajurit itu pun mengangguk hormat sambil berkata, “Ampun, Pangeran. Kemana Pangeran ini hendak pergi sepagi ini?”

“Kau kenal aku?” bertanya Pangeran Benawa.

“Hamba, Pangeran” jawab Lurah prajurit itu.

“Sudahlah. Kau simpan saja sendiri”

“Hamba, Pangeran”

Tetapi ketika Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi itu melanjutkan perjalanan, prajurit-prajuritnya pun bertanya, “Siapakah mereka, Ki Lurah?”

“Orang-orang dungu. Seorang di antara mereka adalah Pangeran Benawa”

“Jika demikian, yang seorang lagi itu tentu Raden Sutawijaya dan yang satu lagi Paksi, anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada yang sudah tertangkap itu”

“Ya. Ya”

Para prajurit itu hanya dapat memandang mereka dari kejauhan. Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi pun sudah menjadi semakin jauh.

“Kenapa mereka berpakaian seperti orang kebanyakan?” bertanya seorang prajurit.

Lurahnya menggeleng sambil berkata, “Entahlah. Namun justru karena itu, pemimpin prajurit yang bertugas kemarin malam telah melakukan kesalahan yang besar sekali”

“Mereka tentu sedang menyamar” berkata prajurit yang lain.

“Sebelum Harya Wisaka tertangkap, mereka tentu sedang menyamar. Tetapi setelah Harya Wisaka tertangkap, mereka masih saja mengenakan pakaian seperti itu”

“Mereka menyatakan dirinya sebagai cantrik padepokan di Hutan Jabung”

“Ya, kau benar” berkata lurah prajurit itu.

“Pakaian seperti itulah mungkin yang dianggap paling pantas bagi seorang cantrik padepokan Hutan Jabung”

Ki Lurah tersenyum. Kawan-kawannya pun mengangguk-angguk. Sementara itu, Pangeran Benawa Raden Sutawijaya dan Paksi pun melangkah terus menuju ke Hutan Jabung.

Namun ketika mereka sampai di Hutan Jabung, yang ada hanyalah Ki Panengah. Ki Waskita sendiri masih berada di kota.

“Sayang sekali. Ketika kami meninggalkan kota, kami tidak berusaha menemui Ki Waskita lebih dahulu” desis Pangeran Benawa.

“Tidak apa-apa” sahut Ki Panengah. “Ki Waskita tentu akan segera kembali”

Dalam pada itu, Paksi masih belum menyatakan keinginannya untuk pergi mencari adiknya. Ia menunggu Ki Waskita datang di padepokan. Baru kemudian ia akan mengatakan kepada kedua orang gurunya itu, bahwa ia akan pergi mencari adiknya.

Di sore hari, Ki Waskita ternyata sudah datang pula. Pada hari itu Ki Waskita bertemu dengan Ki Gede Pemanahan untuk mendapatkan penjelasan tentang tertangkapnya Harya Wisaka.

“Ki Gede mengatakan bahwa hari ini kalian bertiga merencanakan untuk kembali ke Hutan Jabung. Karena itu, maka aku  pun segera menyusul kalian”

Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi mengangguk-angguk mengiakan. Sementara itu, Ki Waskita pun berkata, “Selain itu, Ki Gede mengatakan, bahwa ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan oleh Paksi kepadaku dan kepada Ki Panengah”

“Ya, Guru” sahut Paksi.

“Apakah kau sudah mengatakannya kepada Ki Panengah?”

“Belum, Guru. Aku memang menunggu Guru, agar aku dapat menyampaikannya sekaligus kepada kedua orang guruku”

“Sekarang kami sudah lengkap” berkata Ki Panengah. “Apa yang ingin kau sampaikan kepada kami, Paksi?”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Guru, aku tidak
berhasil menemukan adikku. Ketika aku ikut memburu Harya
Wisaka ke Padukuhan Pandean, ternyata adikku sudah dibawa pergi. Karena itu, aku mohon ijin untuk pergi mencari adikku itu”

Ki Panengah menarik nafas panjang. Katanya, “Kemana kau
akan mencari, Paksi? Bukankah tidak seorang  pun tahu, kemana adikmu dibawa pergi”

“Ada beberapa petunjuk yang diberikan oleh Harya Wisaka,
Guru”

“Harya Wisaka?”

“Ya. Agaknya ada sentuhan-sentuhan halus di dalam dadanya ketika ia melihat tubuh Raden Suminar yang terbunuh di pertempuran”

“Raden Suminar?” desis Ki Panengah.

“Ya. Tubuhnya yang terbaring dipenuhi oleh luka-luka, sehingga seluruh pakaiannya menjadi merah”

“Apa petunjuk Harya Wisaka?” bertanya Ki Waskita.

“Harya Wisaka menyebut sebuah perguruan yang mungkin akan menjadi tempat persinggahan adikku, dan bahkan mungkin ia akan berguru di perguruan itu”

“Perguruan apa, Paksi?” bertanya Ki Waskita pula.

“Harya Wisaka tidak dapat menyebut nama perguruan itu. Ia hanya mengatakan bahwa letak perguruan itu di arah Gunung Merapi. Sedangkan pemimpinnya bernama Ki Gede Lenglengan.

Tetapi Harya Wisaka tidak dapat memberikan keterangan lebih jelas. Sedangkan Raden Suminar adalah salah seorang murid dari perguruan itu”

“Ki Gede Lenglengan” Ki Waskita mengulang. “Aku belum pernah mendengar nama itu” Sambil berpaling kepada Ki Panengah, Ki Waskita itu pun bertanya, “Apakah Ki Panengah
pernah mendengarnya?”

Ki Panengah menggeleng, “Belum, Ki Waskita”

“Kangjeng Sultan Hadiwijaya justru sudah mengenalnya” Paksi menyela. “Keduanya justru bertengkar dan bahkan Kangjeng Sultan selagi masih mudanya, hampir saja membunuhnya. Tetapi Kangjeng Sultan berhasil mengekang diri.

Namun setelah itu, mereka tidak pernah bertemu lagi. Kangjeng Sultan menduga, bahwa Ki Gede Lenglengan itu adalah kawannya mengembara yang bernama Lenglengan pula”

Ki Panengah dan Ki Waskita mengangguk-angguk. Dengan nada datar Ki Waskita bertanya, “Memang mungkin sekali. Nama itu jarang sekali dipakai orang, sehingga kemungkinannya di Pajang, Demak dan sekitarnya hanya ada satu orang yang bernama Lenglengan. Sejak dahulu sampai sekarang. Meskipun tidak tertutup kemungkinan bahwa ada orang lain yang bernama sama. Tetapi kemungkinannya kecil sekali”

“Ya, Guru” sahut Paksi.

“Jika demikian, apakah rencanamu?” bertanya Ki Waskita.

“Aku akan mohon diri, Guru. Aku ingin mencari adikku itu”

“Kau sadari jalan yang akan kau tempuh?”

“Aku sadari, Guru”

“Seandainya kau dapat menemukan padepokan itu, apakah kau akan dapat mengambil adikmu keluar? Kau harus memperhitungkan kemungkinan, bahwa orang-orang di padepokan itu akan memusuhimu, apalagi jika mereka mendengar bahwa salah seorang muridnya terbunuh di pertempuran melawan orang-orang Pajang di Pandean. Sedangkan kau berdiri di pihak Pajang, meskipun Ki Tumenggung Sarpa Biwada berdiri di pihak Harya Wisaka bersama-sama dengan Raden Suminar. Apalagi jika sikap adikmu tetap memusuhimu”

“Aku mengerti, Guru. Tetapi aku tidak dapat berdiam diri jika adikku akan mengalami nasib seperti Raden Suminar. Meskipun Harya Wisaka sudah tertangkap, tetapi akan dapat timbul orang lain untuk menggantikannya. Mungkin orang lain itu mengemban keyakinan sebagai pengikut Harya Wisaka, tetapi mungkin orang lain itu sekedar memanfaatkan keadaan. Orang lain itu berhasil memasang kendali dan mengarahkan gejolak yang sudah tersimpan sebelumnya untuk kepentingannya sendiri, meskipun orang itu juga menyebut-nyebut nama Harya Wisaka”

“Syukurlah jika hal itu kau sadari” berkata Ki Waskita.

“Dengan demikian kau  pun menyadari, bahwa beban tugasmu akan menjadi sangat berat”

“Ya, Guru”

“Lalu apa rencanamu?”

“Aku akan mohon diri”

“Sendiri?”

“Ya, Guru”

“Aku ikut bersamamu, Paksi” berkata Pangeran Benawa. “Kita pernah menjelajahi kaki Gunung Merapi meskipun di sisi selatan. Sekarang kita akan memanjat kaki Gunung Merapi di sisi timur dan mungkin utara”

“Pangeran” berkata Paksi, “Pangeran tentu mempunyai tugas-tugas tertentu di istana sebagai putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya yang kelak akan menggantikan kedudukan ayahanda Pangeran. Sebaiknya hamba pergi sendiri”

“Tidak” berkata Pangeran Benawa, “aku tidak mempunyai tugas apa-apa. Ketika masih muda, Ayah juga seorang pengembara. Dengan demikian pengalamanku akan menjadi
semakin luas. Pengenalanku atas bumi Pajang akan menjadi
semakin akrab”

“Tetapi jika terjadi sesuatu di perjalanan, taruhannya akan menjadi sangat mahal. Pangeran mempunyai nilai yang sangat tinggi bagi Pajang. Berbeda dengan hamba, Pangeran. Hamba adalah seorang yang tidak mempunyai arti apa-apa bagi Pajang. Persoalan yang hamba hadapi adalah persoalan keluarga hamba. Persoalan yang sangat pribadi, yang tidak selayaknya menyentuh ujung kain panjang Pangeran Benawa”

“Sudahlah, jangan berpikir terlalu jauh. Kita lanjutkan pengembaraan kita yang sangat menarik itu. Aku senang hidup di kaki Gunung Merapi yang sejuk itu”

Ki Waskita dan Ki Panengah mendengarkan pembicaraan itu dengan jantung yang berdebaran. Dengan ragu-ragu Ki Waskita pun kemudian menyela, “Pangeran, sebaiknya Pangeran tidak pergi. Paksi akan pergi untuk waktu yang tidak ditentukan. Perjalanannya  pun sangat berbahaya. Sementara itu persoalan yang dihadapinya adalah persoalan keluarganya. Persoalan yang sangat kecil untuk menyangkut Pangeran Benawa”

“Ki Waskita jangan memilah-milahkan kepentingan seseorang berdasarkan pada kedudukannya. Mungkin persoalan yang ingin ditangani oleh Paksi adalah persoalan keluarga dalam hubungannya dengan adik laki-lakinya. Tetapi persoalan ini menyangkut keselamatan seseorang. Mungkin tidak hanya seorang adik Paksi, tetapi ada beberapa orang anak muda yang harus diselamatkan jiwanya. Menurut Paman Harya Wisaka, adik laki-laki Paksi itu telah dibawa ke padepokan Ki Gede Lenglengan bersama-sama dengan tiga orang anak muda. Setidak-tidaknya bertiga dengan adik laki-laki Paksi itu. Dengan demikian aku mempunyai kesimpulan, bahwa selain mereka tentu sudah ada anak muda yang lain yang dibawa ke padepokan Ki Gede Lenglengan itu”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, Ki Panengah pun berkata, “Jika Pangeran sudah kukuh untuk pergi bersama Paksi, maka Pangeran harus minta ijin lebih dahulu kepada Ayahanda. Jika Pangeran pergi tanpa ijin Ayahanda, maka aku akan terbebani tanggung jawab, karena selama ini Pangeran dianggap menjadi seorang cantrik di padepokan ini”

“Baik, Ki Panengah. Aku akan minta ijin Ayahanda” Sambil berpaling kepada Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa berkata, “Tolong, bantu aku Kakangmas, agar aku diijinkan. Baik oleh Ayahanda Sultan maupun oleh Paman Pemanahan”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebenarnya aku juga ingin pergi, Adimas. Tetapi tidak mungkin. Ayah tentu tidak mengijinkan. Kami harus mulai memikirkan Tanah Mentaok yang dibuka. Ayahanda Sultan telah memberikan isyarat, jika persoalan Harya Wisaka selesai, maka Ayahanda Sultan akan mulai memikirkan Hutan Mentaok”

“Waktunya masih lama, Kakangmas. Ayah nampaknya terlalu lamban menangani Hutan Mentaok. Setelah persoalan Paman Harya Wisaka selesai, Ayahanda baru akan mulai menangani Hutan Mentaok. Akan mulai bagi Ayahanda dapat berarti setelah setahun tetapi juga dapat berarti setelah sepuluh tahun”

Raden Sutawijaya tersenyum. Katanya, “Tetapi jika akan mulai itu tiba-tiba datang? Sayang sekali, Adimas. Dalam keadaan seperti sekarang ini, aku tidak boleh pergi meninggalkan Pajang. Setiap saat aku dan Ayah Pemanahan dapat dipanggil oleh Ayahanda Sultan untuk membicarakan persoalan Hutan Mentaok”

“Baiklah, Kakangmas. Namun aku minta Kakangmas membantu aku agar aku dapat pergi bersama Paksi ke kaki Gunung Merapi”

“Sampai kapan, Dimas?”

“Tentu tidak dapat menyebut, berapa lama aku akan mengembara bersama Paksi”

Raden Sutawijaya menarik nafas panjang. Katanya kemudian, “Baiklah, Dimas. Aku akan membantu. Mudah-mudahan Ayahanda Sultan tidak berkeberatan sehingga Paksi tidak pergi seorang diri”

“Besok kita menghadap Ayahanda. Bukankah Ayahanda berpesan, jika Paksi jadi akan pergi mencari adiknya, ia harus minta diri kepada Ayahanda Sultan?”

“Ya. Kita besok menghadap Ayahanda. Bukankah begitu, Paksi? Sesuai dengan pesan Ayahanda”

“Hamba, Pangeran”

“Baiklah, Paksi. Jika kau memang berkeras untuk pergi mencari adikmu, demikian pula jika Pangeran Benawa berkeras untuk pergi bersama Paksi, maka kami tidak akan dapat mencegah kalian. Tetapi sebaiknya kalian jangan pergi esok pagi.

Esok pagi dapat saja kalian menghadap Kangjeng Sultan. Tetapi kami, aku dan Ki Waskita, minta kalian masih kembali ke padepokan ini. Besok malam kami akan memberikan beberapa pesan kepada kalian berdua sebagai murid-murid dari padepokan ini”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, Ki Panengah. Paksi tentu juga tidak akan berkeberatan”

Demikianlah, maka Ki Panengah dan Ki Waskita telah sepakat untuk melepaskan Paksi dan Pangeran Benawa pergi, meskipun mereka menyadari, bahwa perjalanan yang akan ditempuh oleh Pangeran Benawa dan Paksi itu adalah perjalanan yang sangat berbahaya.

Malam itu Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi tidur di barak mereka. Ketika mereka berada di tengah-tengah para cantrik maka berganti-ganti mereka bertanya, bagaimana mereka bertiga mampu menangkap Harya Wisaka yang disebut memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan Harya Wisaka itu tidak sendiri pada saat itu. Ia dikawal oleh beberapa orang pengawalnya yang setia.

Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi tidak mau mengecewakan kawan-kawannya para cantrik padepokan Hutan Jabung itu. Karena itu, maka berganti-ganti mereka berceritera untuk saling melengkapi.

Para cantrik itu pun menjadi sangat kagum kepada ketiga orang itu. Namun mereka berkata di dalam hati, “Tentu saja
putera Kangjeng Sultan dan putera Ki Gede Pemanahan itu mempunyai banyak kelebihan. Sedangkan Paksi telah mendapat tempaan khusus dari Ki Panengah dan Ki Waskita”

Baru sedikit lewat malam para cantrik itu pun pergi ke pembaringan mereka masing-masing.

Di hari berikutnya, Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi pergi menghadap Ki Gede Pemanahan dan Kangjeng Sultan untuk mohon diri. Sebagaimana diperintahkan oleh Kangjeng Sultan, jika Paksi benar-benar akan pergi mencari adiknya, supaya datang menghadap untuk mohon diri.

Ki Pemanahan memang menjadi terharu melihat kesediaan Paksi menempuh bahaya untuk menemukan adiknya. Dengan nada berat Ki Gede Pemanahan itu berkata, “Kau sadari sikap adikmu terhadapmu, Paksi?”

“Ya, Ki Gede. Selagi belum terlanjur, aku ingin membawanya kembali dari jalan sesat yang dipaksakan kepadanya itu, Ki Gede”

“Aku hormati ketetapan hatimu itu, Paksi. Kebesaran jiwamu dan cintamu kepada keluargamu. Tetapi kau  pun harus menghargai hidupmu sendiri”

“Ya, Ki Gede”

“Kau harus dapat menilai dengar wajar padepokan yang dipimpin oleh Ki Gede Lenglengan itu. Jika kau memasuki padepokan itu, maka kau akan sama saja dengan memasuki sarang ular naga yang siap menyambutnya dengan mulut menganga”

“Aku mengerti, Ki Gede”

“Pikirkan sepanjang perjalananmu cara terbaik untuk membawa adikmu pulang, Paksi”

“Ya, Ki Gede”

Setelah memberikan banyak pesan-pesan yang sangat berarti bagi Paksi, maka Ki Gede itu pun kemudian berkata, Kita pergi ke istana untuk menghadap Kangjeng Sultan sekarang, Paksi”

Demikianlah, bersama Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Ki Gede Pemanahan, Paksi pun pergi ke istana memenuhi perintah Kangjeng Sultan.

Seperti Ki Gede Pemanahan, Sultan Hadiwijaya merasa kagum akan kesetiaan Paksi terhadap keluarganya. Meskipun ia sadar, bahwa padepokan itu merupakan tempat yang sangat berbahaya, namun ia akan berusaha untuk menemukan adiknya yang sudah tersuruk ke dalamnya.

Seperti Ki Gede, maka Kangjeng Sultan yang juga sudah kenyang pengalaman pengembaraan di masa mudanya, memberikan banyak sekali pesan-pesan yang sangat berarti bagi Paksi.

Namun tiba-tiba saja Pangeran Benawa berkata, “Ayahanda,
hamba ingin mohon ijin untuk menemani Paksi” Kangjeng Sultan memang agak terkejut. Dipandanginya Ki Gede Pemanahan untuk mendapatkan pertimbangannya.

“Pangeran” berkata Ki Gede Pemanahan, “Pangeran harus mempersiapkan diri untuk tugas-tugas kerajaan mendatang”, “Apakah Ayahanda dahulu juga pernah mempersiapkan diri seperti itu di istana?” Pangeran Benawa itu justru bertanya.

“Tetapi sebagai menantu Kangjeng Sultan Trenggana di Demak, aku banyak belajar di lingkungan istana, Benawa” sahut Kangjeng Sultan.

“Baru setelah Ayah berada di istana. Tetapi sebelumnya? Sampai kapan waktu itu Ayah mengembara?”

Kangjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa darah pengembaranya telah mengalir di tubuh anaknya. Meskipun berbeda dengan dirinya yang lahir di padukuhan kecil yang bernama Tingkir, sedangkan Pangeran Benawa lahir di istana, namun ia tidak dapat mencegah mengalirnya darah pengembaranya ke tubuh anaknya.

Sementara itu Pangeran Benawa telah menggamit Raden Sutawijaya, agar ia membantunya mendesak ayahnya, Ki Gede Pemanahan dan ayahanda angkatnya, Kangjeng Sultan
Hadiwijaya, agar mereka mengijinkan Pangeran Benawa pergi bersama Paksi.

Namun ternyata Raden Sutawijaya tidak berkata apa-apa. Bahkan Raden Sutawijaya itu justru semakin menunduk. Karena itu, maka Pangeran Benawa itu berkata pula, “Hamba mohon, Ayahanda”

“Menurut ceriteramu, ketika kau mengembara bersama Paksi sebelumnya, kau dan Paksi telah menyamarkan diri. Tidak ada yang tahu bahwa kau adalah Pangeran Benawa. Namun sekarang kau tidak dapat melakukannya, karena adik Paksi itu akan dapat segera mengenalimu. Dengan demikian, maka seisi padepokan itu akan segera tahu, bahwa kau adalah anak Sultan Hadiwijaya yang memenjarakan Harya Wisaka. Apalagi jika Ki Gede Lenglengan itu benar-benar Lenglengan yang aku kenal. Ia sangat berhati-hati”

Kangjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam. Namun Kangjeng Sultan itu pun kemudian berkata, “Baiklah, Benawa. Kau boleh pergi bersama Paksi. Tetapi aku ingin menasehatkan kepada Paksi dan kau, Benawa. Sebaiknya yang kalian lakukan adalah sekedar mencari dan menemukan padepokan itu.

Kemudian setelah kalian menemukannya, maka kalian harus membawa sekelompok prajurit untuk memasuki padepokan itu”

“Maksud Ayahanda, jika kami menemukan padepokan yang dipimpin oleh Ki Gede Lenglengan, kami harus kembali ke Pajang untuk mengambil dan kemudian membawa sekelompok prajurit menyerang padepokan itu?”

“Ya”

Sementara itu Ki Gede Pemanahan pun berkata pula, “Itu adalah jalan yang paling baik untuk ditempuh, Pangeran”

“Tetapi kalau Ki Gede Lenglengan tidak berniat memusuhi kami?”

“Bukankah pasukan itu tidak menyerang padepokan itu dengan serta-merta. Kalian harus membuat hubungan dengan Ki Gede Lenglengan. Jika Ki Gede Lenglengan tidak ingin memusuhimu, maka dalam hubungan itu, ia tentu akan bersedia menyerahkan adik laki-laki Paksi. Tetapi jika tidak, maka persoalannya akan menjadi lain”

Pangeran Benawa termangu-mangu sejenak. Di luar sadarnya ia berpaling kepada Paksi.

“Kalian tidak mempunyai pilihan lain” berkata Kangjeng Sultan. “Jika kalian memaksa diri karena kemudaan kalian, sehingga darah kalian mudah mendidih, maka kalian akan mengalami kesulitan yang mungkin tidak teratasi”

“Bagaimana pendapatmu, Paksi?”

Paksi memang tidak dapat mengelak. Jika ia menolak petunjuk Kangjeng Sultan, maka mungkin Kangjeng Sultan justru tidak dapat mengijinkan Pangeran Benawa pergi. Pangeran Benawa tentu akan menjadi sangat kecewa.

Karena itu, maka Paksi pun kemudian berkata, “Segala sesuatunya terserah kepada Pangeran”

Pangeran Benawa memandang Raden Sutawijaya sekilas. Namun Raden Sutawijaya itu justru berkata, “Adimas, nampaknya jalan itu adalah jalan yang terbaik. Kita tidak dapat membanggakan diri melampaui keterbatasan kita masing-masing. Padepokan Ki Gede Lenglengan tentu berisi beberapa orang cantrik dan putut yang sudah mewarisi sebagian besar ilmu Ki Gede Lenglengan sebagaimana Raden Suminar. Karena itu, seberapa  pun tinggi ilmu Adimas Pangeran dan Paksi, namun adalah sangat berbahaya jika Pangeran dan Paksi ingin memaksakan kehendak kalian kepada Ki Gede Lenglengan di padepokannya sendiri yang dikerumuni oleh para cantrik, putut dan jejanggan”

Bersambung ke bagian 2