PdLS-55


<<kembali | lanjut >>

TERNYATA usaha Sri Rajasa untuk mempengaruhi perasaan yang paling dalam dari prajurit-prajurit Kediri itu sedikit banyak dapat berhasil. Kekecewaan yang melanda dada mereka karena pertengkaran di antara para pemimpin, kini kekecewaan mereka melihat orang-orang Kediri sendiri datang di dalam pasukan lawan, membuat hati mereka terguncang-guncang.

Dalam keadaan yang demikian itulah pasukan Kediri harus melawan serangan yang sangat dahsyat itu.

Apalagi pasukan lawan yang terdiri dari orang-orang Kediri itu sendiri dipimpin oleh seorang Senapati yang luar biasa. Seorang Senapati yang tangguh tanggon. Dan Senapati itu adalah Mahisa Agni.

Dengan pedang di tangan Mahisa Agni maju di ujung pasukannya. Seperti kilat yang menyambar di langit, kilauan daun pedangnya menyilaukan mata. Namun kemudian ujung pedang itu bagaikan mulut berribu-ibu ekor ular yang mematuk ke segala penjuru.

Senapati yang bertempur di pasukan induk di belakang paruh pasukan Singasari itu-pun ternyata tidak terkatakan lagi. Tidak seorang-pun yang dapat mendekatinya, apalagi mengenainya dengan ujung senjata. Senapati itu adalah pimpinan tertinggi pasukan Singasari. Dan Senapati itu adalah Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi sendiri.

Dengan demikian maka di dalam benturan itu, pasukan Kediri tidak dapat tetap mempertahankan garis pertahanannya. Setapak demi setapak mereka terdesak mundur.

Tetapi seluruh prajurit yang terlibat di dalam peperangan itu terkejut ketika tiba-tiba mereka mendengar sorak yang seakan-akan membelah langit justru di bagian belakang pasukan Kediri yang sedang terdesak itu. Hampir setiap orang mencoba untuk mengerti, apakah sebabnya maka mereka bersorak-sorak seperti sepasukan prajurit yang menang perang. Padahal pasukan Kediri justru terdesak beberapa puluh langkah mundur.

Akhirnya seluruh pasukan Kediri mengetahui, apakah sebabnya maka kawan-kawan mereka bersorak riuh. Dan bahkan dengan serta-merta mereka-pun ikut meneriakkan nama-nama yang telah membuat hati mereka berdebar-debar.

“Mahisa Walungan dan Gubar Baleman telah datang,” dan suara teriakan itu disambut oleh yang lain, “Mahisa Walungan datang, Gubar Baleman telah ada di tengah-tengah kita.”

Pasukan Kediri seakan-akan mendapat nafas baru di dalam kesulitan itu. Mahisa Walungan langsung maju ke ujung pasukannya yang justru masih ada di belakang paruh pasukan Singasari, sedang Gubar Baleman berada di tengah-tengah pasukannya untuk menghentikan ujung pasukan lawan yang mencoba masuk semakin dalam kegelar pasukannya.

Dengan demikian, maka pertempuran itu menjadi semakin lama semakin dahsyat. Kini pasukan Kediri telah bangkit. Mereka merasa mendapatkan kekuatan untuk mengimbangi banjir bandang yang melanda dari perbatasan.

Gubar Baleman yang bertempur dengan garangnya, segera berhasil maju ketengah-tengah barisan. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika dilihatnya korban telah terlampau banyak berjatuhan.

Ketika tampak olehnya prajurit lawan yang dengan garang mendesak terus, hatinya tiba-tiba berdesir tajam. Sejenak ia mencoba mengamati mereka, seolah-olah ia tidak segera mempercayai penglihatannya sendiri.

“Kau lihat prajurit Singasari itu,” desisnya kepada seorang prajurit di sampingnya.

Prajurit itu mengerutkan keningnya, “Bukankah mereka orang-orang Kediri?”

“Ya,” jawab prajurit itu. “aku melihat beberapa orang di antara mereka yang justru sudah aku kenal.”

“Kenapa mereka berada di pihak Singasari?”

Prajurit itu menggelengkan kepalanya.

Sejenak Gubar Baleman merenung. Kini disadarinya semua kesalahan yang pernah dilakukan oleh para pemimpin Kediri. Ketidak tentuan yang berlarut-larut, sikap Sri Baginda yang terlampau keras, apalagi terhadap golongan agama yang tidak mau menganggapnya sebagai Dewa tertinggi yang menjelma di bumi.

Sekelompok demi sekelompok mereka telah meninggalkan Kediri dan memasuki daerah Singasari. Adalah menyakitkan hati sekali, ketika tanpa diketahuinya, para pemimpin prajurit di perbatasan memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingan diri sendiri. Dalam kekeruhan itu, muncullah Pujang Warit yang menambah suasana bertambah kalut.

“Dan inilah akibat dari semuanya itu,” katanya di dalam hati.

Gubar Baleman tersadar ketika ia mendengar dentang senjata dekat di sampingnya. Ketika ia mengangkat wajahnya, tampaklah prajurit Singasari yang sebagian terbesar terdiri dari orang-orang Kediri itu-pun mendesak maju.

“Apakah aku harus membunuh mereka?” Gubar Baleman menjadi ragu-ragu.

“Tetapi sudah tentu bahwa pasukan ini hanya sebagian kecil saja dari seluruh pasukan Singasari,” katanya kemudian. “mungkin aku harus menemukan lawanku di sana.” Gubar Baleman menjadi bimbang. Namun tumbuhlah niatnya untuk berkisar dari tempat itu. Mungkin ia akan mendapatkan lawan yang seimbang di tengah-tengah pasukan lawan yang terdiri dari orang-orang Singasari.

Tetapi tiba-tiba ia tertegun sejenak. Dilihatnya kini Senapati yang menjadi ujung pasukan lawan itu, bertempur bagaikan seekor banteng yang terluka.

“Bukan main,” desis Gubar Baleman, “orang itu pasti bukan sekedar seorang Senapati prajurit yang diketemukan di antara para pengungsi dari Kediri.”

“Aku ternyata tidak dapat meninggalkan lingkungan ini,” desis Gubar Baleman di dalam hatinya, “betapapun beratnya bertempur di antara keluarga sendiri.” Dan sekilas terbayang pasukan Pujang Warit yang sedang mengintai. Sehingga dengan demikian kekuatan Kediri akan terpecah menjadi tiga pihak yang saling bertentangan.

“Menyedihkan sekali,” keluh Gubar Baleman.

Tetapi ia tidak dapat hanya sekedar mengeluh dan menyesali apa yang sudah terjadi. Kini pasukan Singasari, siapapun mereka itu, telah berdiri di hadapannya.

Karena itu, maka segera ia-pun meloncat sambil mengacukan pedangnya menyongsong Senapati Singasari yang mendebarkan jantungnya.

Gubar Baleman langsung berusaha untuk dapat bertemu dengan Senapati Singasari itu. Ia tidak dapat menyaksikan prajuritnya terdesak terus-menerus. Sehingga dengan demikian, maka terjadilah perang tanding antara kedua Senapati yang memiliki kemampuan melampaui kemampuan manusia kebanyakan.

Ternyata Gubar Baleman menemukan lawannya yang benar-benar tangguh. Dan lawan yang tangguh itu adalah Mahisa Agni.

Dengan demikian maka pertempuran di antara keduanya-pun benar-benar merupakan pertempuran yang terlampau dahsyat. Dengan senjata di tangan masing-masing mereka sambar-menyambar, desak-mendesak silih berganti. Keduanya memiliki kemampuan bergerak terlampau cepat dibandingkan para prajurit yang bertempur di sekitarnya.

Tanpa sesadarnya seorang prajurit Singasari yang berasal dari Kediri tiba-tiba berdesis, “Gubar Baleman.”

Mahisa Agni mendengar desis itu. Dan ia-pun mendengar Gubar Baleman mejawab, “Ya, akulah Gubar Baleman. Pemimpin tertinggi pasukan Kediri. Kau mengenal aku.”

Prajurit itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi terasa dadanya berdesir. Gubar Baleman adalah seorang Menteri yang bijaksana. Ia adalah orang yang paling banyak berbuat untuk rakyat Kediri di dalam keadaan yang kalut. Tetapi prajurit Singasari itu tidak sempat merenung terlampau lama. Perang berkecamuk semakin kisruh. Ternyata kini bukan saja orang Kediri yang berperang di pihak Singasari, tetapi orang-orang Tumapel-pun telah mengalir ke ujung barisan itu pula dalam jumlah yang hampir tidak terhitung lagi.

Gubar Baleman yang bertempur mati-matian itu masih mendengar lawannya berdesis, “Jadi kaukah yang bernama Gubar Baleman?”

Sambil bertempur Gubar Baleman menjawab, “Ya, dan apakah kau Panglima tertinggi Singasari?”

Mahisa Agni meloncat surut ketika ujung pedang Gubar Baleman hampir menyentuh pundaknya. “Tidak,” jawabnya, “Senapati tertinggi di dalam pasukan kami adalah Sri Rajasa sendiri.”

Gubar Baleman mengerutkan keningnya.

“Aku adalah Mahisa Agni.”

Gubar Baleman tidak menyahut. Ia belum pernah mendengar nama itu di dalam deretan nama para pemimpin Tumapel sampai saat negeri itu menamakan dirinya Singasari.

Tetapi menilik kemampuannya, maka ia pasti tidak akan kalah dari pemimpin Singasari yang mana-pun juga.

Dengan demikian maka Gubar Baleman harus sangat berhati-hati menghadapinya. Menurut pendengarannya. Akuwu Tunggul Ametung pada masa hidupnya adalah seseorang yang pilih tanding, yang selalu didampingi oleh Panglima pasukan pengawalnya yang bernama Witantra. Tetapi kini yang datang ke Kediri adalah orang yang tidak dikenal sebelumnya, Mahisa Agni dan Sri Rajasa sendiri.

“Baik orang ini maupun Sri Rajasa pasti orang-orang pilihan. Ternyata Sri Rajasa telah berhasil menyingkirkan segala orang yang mungkin dapat menggantikan kedudukan Akuwu yang terbunuh itu,” berkata Gubar Baleman di dalam hatinya. “Sedang apakah orang ini termasuk tangan kanannya pada saat ia mulai membangun Singasari?”

Angan-angannya itu telah mengingatkannya kepada Mahisa Walungan. Kalau Mahisa Walungan berhasil memecah pasukan Singasari. maka ia mungkin sekali akan bertemu dengan Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Demikianlah perang yang terjadi di sebelah Utara Ganter itu-pun menjadi semakin lama semakin seru. Masing-masing pasukan telah berusaha untuk dapat menembus pertahanan lawan.

Di tengah-tengah berkecamuknya perang itu. Senapati tertinggi Singasari. Sri Rajasa telah berhasil membakar gairah perjuangan pasukannya. Dengan dahsyatnya ia menerjang lawan-lawannya tanpa ampun.

Namun ia tertegun sejenak, ketika senjatanya tiba-tiba saja tersentuh oleh sehelai pedang yang telah menggetarkan tangannya.

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Di hadapannya telah berdiri seorang yang bertubuh kekar, meskipun tidak terlampau tinggi. Tatapan matanya yang tajam telah memancarkan kebesaran jiwa dan kemampuan yang tersimpan di dalam diri orang itu.

“Siapa kau?” tiba-tiba Sri Rajasa berdesis.

“Apakah aku berhadapan dengan Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi?”

“Ya. Akulah Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa.”

“Aku mengenal dari tanda-tanda kebesaran pada pakaianmu.”

“Siapa kau? Agaknya kau-pun pemimpin tertinggi kerajaan Kediri.”

“Aku Mahisa Walungan.”

“Adinda Sri Baginda Kertajaya?”

“Ya.” Ken Arok mengerutkan keningnya. Sejenak ia melangkah surut, seakan-akan ingin melihat lawannya lebih jelas lagi dari jarak yang tidak terlampau dekat.

“Kita akan menentukan akhir dari peperangan ini,” berkata Mahisa Walungan.

“Kau salah. Bukan hanya kita berdua. Tetapi seluruh kekuatan di dalam pasukan kita masing-masing. Kau harus mengakui, bahwa kekuatan pasukan Singasari jauh lebih besar dari pasukan Kediri. Agaknya para pemimpin di Kediri merasa dirinya terlampau kuat, sehingga kurang berhati-hati menghadapi Singasari. Karena Singasari sekarang sama sekali berbeda dengan Tumapel pada waktu itu.”

“Ya, kau benar,” jawab Mahisa Walungan, “kita dan pasukan kitalah yang akan menentukan akhir dari peperangan ini.”

Ken Arok tidak menjawab. Tetapi segera ia mulai lagi dengan pertempuran yang dahsyat di antara keduanya.

Tetapi Mahisa Walungan telah siap untuk melayaninya. Sebagai seorang yang bertanggung jawab atas tegaknya Kediri, maka ia-pun segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan Sri Rajasa.

Ternyata bahwa Mahisa Walungan benar-benar seorang yang pilih tanding. Ia mampu melubangi papan yang sangat tebal hanya dengan jarinya. Kemudian tanpa sesadarnya ketukan ujung jarinya itu pula telah membuat lekuk pada sebuah batu hitam yang keras. Dengan demikian, maka ayunan tangannya itu benar-benar merupakan sambaran angin, maut yang mengerikan.

Namun Sri Rajasa memang memiliki sesuatu yang tidak dipunyai oleh orang-orang kebanyakan. Geraknya terlampau cepat, dan kekuatannya-pun mampu mengimbangi lawannya. Sejak ia mengabdikan diri di istana Tumapel, ia adalah seorang yang aneh. Dengan jarinya pula ia mampu memijit sebuah kerikil sehingga pecah, pada saat ia terganggu oleh sikap seorang Pelayan dalam ketika mereka sedang menyaksikan perang tanding antara Kuda Sempana dan Witantra. Apalagi pada saat-saat setelah itu. Kelebihannya berkembang terus tanpa disadarinya sendiri.

Dengan demikian perkelahian di antara kedua orang itu menjadi semakin lama semakin mengagumkan. Keduanya seolah-olah berterbangan tanpa menyentuh tanah. Berputaran sambil memutar senjata masing-masing sehingga tidak dapat diikuti lagi dengan mata yang wantah.

Dengan demikian, selagi keduanya menumpahkan segenap kemampuan mereka, para prajurit yang bertempur di sekitar mereka-pun seolah-olah telah terdorong menjauh. Mereka menjadi ngeri tersentuh sambaran angin yang dilontarkan oleh ayunan senjata-senjata di tangan kedua orang yang sedang berkelahi mati-matian itu.

Orang-orang Kediri menjadi heran, bahwa di Singasari ada seorang yang mampu bertempur melawan Mahisa Walungan. Namun orang-orang Singasari-pun menjadi tercengang. Adinda Sri Baginda Kertajaya ternyata adalah seorang yang luar biasa.

“Apa sajakah yang mampu dilakukan oleh Sri Kertajaya sendiri,” mereka bertanya-tanya di dalam hati.

Dengan demikian, keduanya seakan-akan memang mendapat kesempatan yang luas untuk saling mempertunjukkan kemampuan mereka, meskipun mereka sendiri tidak bermaksud demikian. Mereka masing-masing sudah berusaha dengan sekuat tenaga dan kemampuan, sambil memeras segenap ilmu yang ada pada mereka.

Dalam pada itu dari ujung sampai ke ujung pasukan, pertempuran masih berkecamuk, justru semakin sengit. Kedua belah pihak saling menyerang dengan segenap kemampuan dan keberanian yang mengagumkan. Namun dengan demikian maka jumlah prajurit dari keduanya terasa berpengaruh dalam peperangan itu.

Meskipun ke dua belah pihak sama-sama berani dan sama-sama tangguh, tetapi pasukan Singasari masih sempat mencari waktu untuk bernafas sejenak, karena jumlah mereka yang lebih banyak.

Namun demikian, para prajurit Kediri sama sekali tidak berniat menghindarkan diri. Kediri harus dipertahankan mati-matian, Singasari semula adalah daerah kecil yang diperintah hanya oleh seorang Akuwu, sehingga tidak sepantasnya Singasari akan menguasai Kediri.

Tetapi prajurit Singasari-pun mempunyai suatu keyakinan yang teguh, bahwa Kediri harus dirubah bentuknya. Selama ini Kediri telah melakukan banyak sekali kesalahan terhadap rakyatnya dan daerah-daerah yang dikuasainya. Kekuasaan Sri Baginda Kertajaya yang berlebih-lebihan, dan bahkan yang merasa dirinya bukan lagi manusia sewajarnya.

Puncak dari kelalaian Sri Baginda Kertajaya, adalah pada saat ia merasa dirinya seorang Dewa tertinggi yang menguasai seluruh permukaan bumi.

Dengan demikian, maka peperangan itu menjadi bertambah seru. Ketika matahari sudah melampaui puncak langit, serta tangkai-tangkai senjata sudah basah oleh keringat, maka ke dua belah pihak seakan-akan telah dimabukkan oleh nafas peperangan dan maut.

Dalam pada itu, jumlah korban seakan-akan sudah tidak terhitung lagi. Mayat bergelimpangan membujur-lintang di dalam genangan darah dan debu. Rintih dan erang tenggelam dalam dentang senjata beradu.

Namun bagaimana-pun juga, di hari yang pertama pasukan Singasari tidak berhasil memecahkan pertahanan Kediri. Mahisa Walungan dan Gubar Baleman masih bertahan sekuat-kuat kemampuan mereka. Dengan demikian maka pasukannya-pun sama sekali tidak menjadi gentar menghadapi angin prahara yang datang dari Singasari.

Meskipun demikian garis peperangan itu telah bergeser beberapa tonggak, mendekati kota. Sekuat-kuat pertahanan pasukan Kediri, namun mereka terpaksa surut beberapa langkah. Tetapi tekad yang bulat di dalam dada mereka sama sekali tidak tergoyahkan.

Ketika matahari kemudian terbenam, terdengarlah suara tanda-tanda dari ke dua belah pihak, seakan-akan telah berjanji untuk menghentikan peperangan. Betapa darah menggelegak sampai ke ujung rambut, tetapi para prajurit jantan di kedua pihak saling menghormati tengara itu, bahwa perang harus dihentikan di saat matahari tenggelam di ujung langit sebelah Barat.

Pasukan ke dua belah pihak yang lelah itu-pun tersuruk-suruk mengundurkan diri. Karena pasukan Singasari tidak sempat membuat pesanggrahan, mereka bertebaran di padukuhan-padukuhan di sekitar tempat peperangan itu. Padukuhan yang telah kosong ditinggalkan mengungsi oleh para penghuninya.

“Kita harus menyelesaikannya tidak lebih dari sepekan,” geram Sri Rajasa, “Kita pada hari kelima harus sudah berada di kota.”

Mahisa Agni dan para panglima tidak menyahut.

“Kalau di hari kelima kita belum memasuki kota,” Sri Rajasa melanjutkan, “berarti kita dalam keadaan yang gawat. Perbekalan kita tidak akan membantu lagi, sedang para prajurit pasti sudah menjadi terlampau lelah.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Meskipun ia seorang Senapati namun terpengaruh oleh hubungan pribadinya, maka kadang-kadang ia lupa bahwa ia berhadapan dengan Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, bukan lagi dengan Ken Arok, hantu padang Karautan. Karena itu, hampir tidak sesadarnya ia berkata, “Tidak seluruhnya kita akan gagal. Kita setidak-tidaknya sudah menguasai suatu daerah yang tidak akan kita lepaskan lagi, meskipun seandainya kita tidak segera dapat menembus dan merebut Kota Raja. Tetapi pasukan kita akan tetap berada di ambang pintu. Dan kita akan mempertahankan setiap jengkal tanah yang sudah kita satukan dengan Singasari setelah kita membebaskannya dari tangan Sri Baginda Kertajaya yang merasa dirinya Penguasa Bumi.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia mengerti maksud Mahisa Agni. Tetapi ia tidak ingin mengendorkan peperangan itu. Maka katanya, “Tidak. Aku tetap pada pendirianku. Kediri harus kita kuasai tidak lebih dari sepekan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terbayang di wajahnya suatu kecemasan yang dalam. Dan di dalam hatinya ia memang berkata, “Ken Arok tidak memperhitungkan, berapa banyak korban akan berjatuhan.”

Tetapi Mahisa Agni tidak menjawab lagi. Apalagi ketika ia sadar, bahwa yang mengatakan rencana itu adalah Sri Baginda Singasari dan sekaligus pimpinan tertinggi segenap pasukan yang maju ke medan perang ini.

Meskipun demikian, Mahisa Agni masih mencoba membayangkan cara lain yang lebih baik. Bukan membenturkan seluruh kekuatan seperti yang terjadi saat ini.

“Kami dapat menempuh beberapa jalan,” katanya di dalam hati, “dengan pasukan yang lebih kecil, kami dapat memasuki kota lewat beberapa jurusan. Dengan melepaskan pasukan cadangan lewat jurusan lain, kami akan dapat memecah perhatian para prajurit Kediri.”

Tetapi Mahisa Agni tidak mengatakannya. Dan Mahisa Agni itu-pun tidak mengerti bahwa sebenarnya Kediri juga menyimpan pasukan cadangan yang cukup kuat. Pasukan Pujang Warit.

Di bagian lain. Mahisa Walungan duduk terpekur sambil membelai hulu pedangnya. Di sampingnya Gubar Baleman duduk bersandar sebatang pohon manggis.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Mereka sedang sibuk dengan angan-angan masing-masing. Meskipun sekali-sekali mereka berpaling melihat beberapa orang prajurit yang sedang mengusung kawan-kawan mereka yang terluka.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Sepercik kecemasan melonjak di dalam hatinya. Mau tidak mau ia melihat kenyataan, bahwa jumlah prajuritnya tidak sebanyak prajurit Singasari. Apalagi pasukannya tidak mempunyai kelebihan yang dapat dibanggakan dari pasukan lawan. Hampir setiap prajurit, baik dari Kediri maupun dari Singasari memiliki kemampuan dan tekad yang sama. Itulah sebabnya maka Mahisa Walungan memandang akhir dari peperangan ini dengan wajah yang suram.

“Kalau saja Pujang Warit dapat mengerti,” katanya di dalam hati.

Meskipun demikian Mahisa Walungan tidak menjadi berkecil hati. Ia merasa, bahwa pasukannya masih cukup kuat untuk bertahan, selagi beberapa orang Senapati masih berusaha untuk menyusun kekuatan yang akan dapat digabungkannya di dalam peperangan itu.

“Singasari memusatkan seluruh kekuatannya di sini,” tanpa sesadarnya Mahisa Walungan bergumam.

Gubar Baleman berpaling. Sejenak ia merenung. Kemudian terdengar ia menyahut, “Ya. Agaknya Singasari ingin memecah gerbang Kota Raja dari satu arah.”

“Kami masih mendapat kesempatan untuk menarik pasukan-pasukan pengawal dari dalam kota dan pasukan-pasukan keamanan dari segala penjuru.”

“Ya,” desis Gubar Baleman. “tetapi Pujang Warit benar-benar seorang yang mementingkan dirinya sendiri melampaui kepentingan Kediri.”

“Aku berprihatin karenanya. Tetapi bukan saatnya sekarang kita berselisih.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Besok kita mendapat beberapa tenaga yang masih segar. Sepasukan keamanan telah datang. Masih ada beberapa kelompok yang akan menyusul.”

Sri Rajasa ternyata seorang Panglima yang ulung. Ia-pun menyimpan tenaga cadangan untuk memberikan pukulan terakhir kepada lawannya.”

Mahisa Walungan tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam.

Kembali keduanya terdiam. Masing-masing telah dicengkam oleh angan-angan yang meskipun tanpa berjanji, namun gambaran-gambaran yang melintas, mempunyai banyak kesamaan.

Keduanya menyesal, bahwa Kediri telah diterkam oleh arus perpecahan di saat-saat yang menentukan ini. Keduanya menyesal bahwa Pujang Warit seakan-akan telah menjadi gila. Dan keduanya menyesal pula, bahwa Singasari berhasil menyusun sekelompok pasukan yang justru terdiri dari orang-orang Kediri dipimpin oleh seorang Senapati yang luar biasa, yang setelah bertempur sehari penuh, namun Gubar Baleman tidak berhasil menundukkannya.

“Agaknya kami belum bersungguh-sungguh,” desis Gubar Baleman di dalam hatinya, “kami masih terganggu oleh pertempuran di sekitar kami. Kami masih terganggu oleh tugas-tugas kami sebagai seorang Senapati. Pada saatnya, aku ingin menimbang, betapa beratnya Senapati Singasari yang bernama Mahis Agni itu.”

Meskipun demikian dengan jujur Gubar Baleman mengakui, bahwa kemampuan lawannya itu telah membuatnya berdebar-debar.

Sebenarnya tidak sia-sialah Mahisa Agni mempelajari dengan tekun ilmu dari perguruan mPu Purwa, yang diramu dengan ilmu mPu Sada dalam masa-masa pembajaan diri di sarang Kebo Sindet, sehingga ia memiliki kemampuan untuk berhadapan langsung dengan Senapati Kediri yang ngedab-edabi ini.

Para Senapati dari kedua pasukan yang sedang beristirahat itu, hampir semalam suntuk tidak dapat memejamkan mata mereka. Setiap saat mereka harus melihat kesiap siagaan pasukan masing-masing. Namun baik para Senapati Kediri maupun Senapati Singasari menganjurkan kepada para prajurit, agar mereka beristirahat sebaik-baiknya, selain yang mendapat giliran bertugas.

Sedang para Senapati itu-pun telah membagi diri untuk dapat meskipun hanya sekejap, beristirahat pula. Besok mereka harus memeras tenaga menyabung nyawa di bawah bahaya dan maut.

Seorang prajurit muda yang tidak dapat tidur meskipun telah lewat tengah malam menggeliat sambil berdesah. Diusapnya tangkai tombaknya dengan tangannya yang dingin. Sejenak terbayang keluarga yang ditinggalkannya di rumah, ayah yang sudah tua, ibu yang duka dan dua orang adik perempuannya.

“Aku satu-satunya anak laki-laki,” desisnya.

Prajurit muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menggeretakkan giginya sambil menggeram, “Aku bertempur untuk mereka. Untuk hari depan anak-anak mereka meskipun seandainya aku tidak pulang. Anak-anak adik-adikku itu kelak akan tetap menjadi anak negeri yang besar, Kediri.”

Di sampingnya seorang yang telah hampir berumur setengah abad tidur mendekur. Sekali-sekali tangannya menepuk nyamuk yang menggigit pundaknya yang telanjang. Tetapi ia tidak terbangun sama sekali.

Prajurit muda itu berpaling ketika seorang Senapati mendekatinya sambil bertanya, “He, kau tidak tidur?”

Prajurit muda itu menggeleng, “Aku tidak dapat tidur.”

“Tidurlah. Besok kau akan mendapat kekuatan baru untuk menghadapi pasukan Singasari itu.”

“Aku memang ingin tidur. Tetapi tidak dapat.”

“Apakah kau gelisah?”

Prajurit muda itu menggeleng, “Tidak.”

Senapati itu-pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Cobalah untuk tidur. Sebentar lagi fajar akan menyingsing, dan kau akan segera mendengar suara tengara. Sejenak kemudian kau sudah akan berdiri di dalam gelar perang.”

Tetapi prajurit itu justru tersenyum, “Aku akan mencoba,” katanya.

Maka ditinggalkannya Prajurit muda itu di dalam keadaannya.

Mahisa Walungan sendiri telah membagi waktunya dengan Gubar Baleman. Lawan-lawan mereka adalah lawan-lawan yang luar biasa, sehingga mereka memerlukan tenaga yang segar untuk menghadapinya.

Berbeda dengan mereka itu, Sri Rajasa sama sekali tidak berhasrat untuk tidur, meskipun para Panglima pasukannya menganjurkannya. Hanya Mahisa Agni sajalah yang membiarkannya berjalan hilir mudik di antara pasukannya, sedang Mahisa Agni sendiri, meskipun hanya sebentar, dapat tidur dengan nyenyaknya.

“Hantu Karautan itu sanggup berkeliaran sepekan tanpa tidur sama sekali,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “bahkan badannya akan menjadi sakit-sakitan kalau ia terlampau banyak tidur meskipun badannya itu lelah. Tetapi lelah itu-pun hampir tidak dikenalnya.”

Sebenarnyalah bahwa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu seakan-akan tidak merasakan apapun setelah bertempur sehari penuh melawan seorang Senapati yang pilih tanding dari Kediri. Bahkan bukan saja ia bertempur dalam perang tanding, namun ia masih harus memperhatikan seluruh pasukannya. Dari ujung sampai ke ujung gelarnya.

Dan itulah kelebihan Ken Arok dari orang-orang lain. Tubuhnya yang terlatih mengalami segala macam keadaan sejak kecilnya, telah membuatnya seorang manusia yang aneh.

Demikianlah ketika malam menjadi semakin dalam, kemudian menjelang saat fajar, pasukan di ke dua belah pihak sudah mulai bangun. Mereka yang bertugas untuk menyiapkan makan para prajurit, telah bekerja dengan cekatan sesaat setelah tengah malam dilampaui.

Ketika langit di Timur telah membayang warna-warna merah, maka para prajurit di ke dua belah pihak telah mempersiapkan diri. Mereka membekali diri mereka dengan selengkap-lengkap dapat mereka lakukan. Di antaranya. mereka telah makan sekenyang-kenyangnya, agar mereka tidak kehabisan tenaga sebelum senja.

Demikianlah, semakin cerah warna langit, maka semakin sibuklah para prajurit dan Senapati di ke dua belah pihak itu. Mereka mengemasi pakaian mereka, senjata dan perlengkapan-perlengkapan yang mereka perlukan.

Rajasa yang sama sekali tidak tidur sekejap-pun itu telah berada di atas sebuah gundukan batu memandang ke arah nasukan lawan yang masih disaput oleh kabut pagi.

Perlahan-lahan penongsongnya datang mendekatinya sambil membawa payung kebesaran Raja Singasari, “Apakah hamba hari ini juga tidak diperkenankan ikut Sri Baginda?” bertanya orang itu.

Sri Baginda berpaling. Dilihatnya juru penongsong itu berdiri sambil menundukkan kepalanya. Kedua tangannya menggenggam tangkai payung kebesaran Sri Rajasa.

Namun Sri Rajasa kemudian menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tinggallah kau di sini. Kau berada bersama-sama dengan para pengawal panji-panji yang hari ini juga tidak akan ikut ke medan. Menurut perhitunganku, hari ini kita belum dapat memecahkan pasukan lawan. Di hari ketiga aku akan memasang gelar lengkap dengan segala macam tanda kebesaran Singasari.”

Penongsong itu tidak menjawab. Tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk.

“Nah, bawalah payung itu kembali. Dan panggil Mahisa Agni.”

Penongsong itu menunduk dalam-dalam. Tetapi ia merasa kecewa, bahwa ia tidak dapat berada di peperangan bersama Rajanya.

Sejenak kemudian Mahisa Agni-pun telah datang. Ia-pun kemudian meloncat pula keatas gundukan batu di belakang Sri Rajasa.

“Apakah Tuanku memanggil hamba?” bertanya Mahisa Agni.

Sri Rajasa berpaling. Sambil menganggukkan kepalanya ia menjawab, “Ya. Kemarilah.”

Mahisa Agni-pun kemudian datang mendekat.

“Kita akan segera mulai,” gumam Sri Rajasa.

“Ya Baginda.”

“Kau mendengar laporan petugas sandi itu?”

“Hamba Baginda.”

“Bagaimana pikiranmu?”

“Petugas sandi itu tidak dapat mengatakan, bahwa pasukan di padukuhan itu adalah pasukan cadangan. Tidak ada seorang penghubung-pun yang tampak datang atau pergi dari tempat itu ke medan ini atau sebaliknya, selama di dalam pengawasannya.”

“Ya, petugas kami yang terdahulu pernah melaporkan tentang perpecahan ini.”

“Hamba Baginda. Seorang Kediri yang ada di dalam lingkungan kami berhasil mendapat keterangan tentang hal itu, meskipun tidak jelas dan pasti.”

“Bagaimana menurut pendapatmu?”

“Kami menghubungkan laporan yang samar-samar itu dengan pengamatan petugas sandi yang semalam mengawasi pasukan itu. Mungkin memang benar tidak ada hubungan apapun di antara kedua pasukan ini.”

Tetapi Sri Baginda kemudian berkata, “Kita tidak dapat menduga-duga saja di dalam hal ini. Kita harus meyakinkan. Menurut perhitunganku ada atau tidak ada hubungan, pasukan itu dapat merupakan bahaya yang datang setiap saat. Di kala kita lengah, pasukan itu akan menghancurkan kita. Mungkin mereka menunggu kita dan pasukan Kediri yang lain itu bersama-sama menjadi letih. Pada saatnya mereka datang membawa panji-panji kemenangan.”

“Jadi apakah maksud Sri Baginda?”

“Kita pancing mereka ke dalam peperangan.”

“Di medan ini juga?”

Sri Baginda menggeleng, “Tidak. Kita membuka dua medan, selagi tenaga kita masih cukup segar. Aku kira puncak pimpinan Kediri baik Gubar Baleman maupun Mahisa Walungan ada di sini. Kau tetap berusaha menemukan Gubar Baleman, dan aku akan menahan harimau dari Kediri yang bernama Mahisa Walungan itu. Biarlah Panglima pasukan tempur Singasari yang memimpin sebagian pasukan cadangan dan beberapa kelompok dari pasukan ini untuk menariknya ke dalam sebuah pertempuran. Kita akan segera mengetahui kekuatannya. Kalau perlu Senapati itu dapat memanggil pasukan cadangan yang lain, apabila ternyata pasukan lawan terlampau besar.”

“Kita membuka dua garis perang?”

“Mau tidak mau, selagi kita masih cukup segar. Aku yakin bahwa pada akhirnya kita juga harus melawan mereka. Meskipun mereka tidak mau menempatkan diri mereka di bawah pimpinan Mahisa Walungan misalnya, tetapi mereka tetap prajurit Kediri.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, kita segera memecah pasukan, sebelum tengara itu terdengar.”

Mahisa Agni tidak sempat menjawab. Karena Sri Rajasa segera meloncat turun sambil berkata, “Bukankah kau sependapat?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Ia menyadari, bahwa Sri Baginda itu memang tidak menunggu jawabannya. Ia sudah mengambil suatu keputusan yang akan segera dilakukannya.

Dengan cepatnya Ken Arok telah berhasil menentukan seorang Senapati bersama sepasukan prajurit untuk menghadapi pasukan Kediri yang belum terlibat dalam perang di sebelah Utara Ganter itu.

Setelah mendapat petunjuk-petunjuk seperlunya, maka dilepaslah pasukan itu melingkari medan, mendekati pasukan yang dipimpin oleh Pujang Warit.

Demikianlah ketika langit menjadi semakin cerah, pasukan di ke dua belah pihak telah menyusun diri di dalam gelar masing-masing. Mereka berbaris dalam suatu tebaran yang melebar. Sepasukan yang paling terpercaya berada di paruh pasukan, yang kemudian diikuti oleh induk pasukan bersama Senapati tertinggi.

Kali ini yang berada di paruh pasukan Singasari adalah pasukan yang dipimpin oleh Mahisa Agni pula. Tetapi pasukan itu kini diperlengkapi dengan prajurit-prajurit yang paling terpercaya dari Singasari sendiri, setelah di hari pertama pasukan itu menggoncangkan perasaan para Senapati Kediri, karena mereka ternyata terdiri dari orang-orang Kediri pula.

Dengan demikian maka susunan kedua pasukan itu hampir tidak banyak berubah. Beberapa orang prajurit yang masih segar menggabungkan dirinya pada pasukan Kediri. Sedang pasukan Singasari masih juga belum menurunkan pasukan cadangan, kecuali sebagian dari mereka yang telah dikirim untuk memancing pertempuran prajurit-prajurit Kediri yang dipimpin oleh Pujang Warit.

Sejenak kemudian para prajurit di ke dua belah pihak menjadi tegang. Sebentar lagi pasti akan terdengar tengara. Apabila langit menjadi terang, kedua pasukan itu pasti akan segera terlibat di dalam peperangan.

Agaknya pasukan Kediri sudah menjadi lebih teratur. Mereka telah sempat menyusun gelar dengan tanda-tanda kebesaran mereka. Sebuah payung kebesaran bagi Adinda Sri Baginda yang mewakili Sri Kertajaya memimpin perlawanan, karena Sri Baginda sendiri sedang diamuk oleh keprihatinan yang bercampur baur dengan keangkuhan. Kemudian beberapa jenis umbul dan tunggul panji-panji.

Dalam pada itu Sri Rajasa yang menyaksikan gelar pasukan Kediri dari kejauhan, walau-pun sama-sama, mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya lantang, “Jangan hiraukan tanda-tanda kebesaran pasukan Kediri. Mereka berusaha untuk menutupi kekecilan hati mereka karena kekalahan yang nereka derita pada hari pertama. Di hari ini kalian harus berhasil menghancurkan sebagian dari pasukan itu. Sebagian terbesar. Di hari ketiga kita akan memecahkan barisan itu langsung memasuki kota.”

Para prajurit Singasari serasa tersentuh oleh kata-kata itu, dan telah memacu mereka untuk bertempur lebih gigih lagi.

“Kita merindukan Singasari yang besar dan satu. Satu lingkungan yang besar di dalam segala tata kehidupan.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian terdengarlah tengara telah berbunyi. Semula hanya pada satu pihak. Singasari. Tetapi kemudian Kediri-pun memperdengarkan tengara pula bagi para prajuritnya untuk maju ke medan perang.

“Kita pertahankan negeri ini,” teriak Mahisa Walungan.

Para prajurit Kediri-pun menyambutnya dengan sorak yang gemuruh. Panji-panji dan umbul-umbul, rontek serta segala macam tanda-tanda kebesaran pasukan Kediri terangkat tinggi-tinggi bersamaan dengan jatuhnya sinar Matahari yang pertama kali pada ujung payung yang kuning gemerlapan.

Pertempuran di hari kedua ini-pun tidak kalah dahsyatnya. Seperti di hari pertama Mahisa Agni berusaha untuk selalu membayangi Gubar Baleman. sedang Mahisa Walungan langsung bertempur melawan Sri Rajasa.

Namun perhatian mereka kini justru lebih besar terarah kepada para prajurit yang sedang bertempur. Mereka menyadari bahwa baik Gubar Baleman, maupun Mahisa Agni tidak akan dapat dengan cepat menundukkan lawan mereka, sementara perang masih berkecamuk.

Pada hari yang kedua ini Kediri telah mengerahkan segenap pasukan yang ada. Mereka percaya bahwa di hari ketiga dan di hari-hari berikutnya, mereka masih akan sempat mengumpulkan tenaga cadangan yang dapat mereka tarik dari segenap penjuru. Bahkan betapapun keras hati Pujang Warit, selagi ia masih menyebut dirinya prajurit Kediri, pasukannya masih dapat diharapkannya.

Tetapi ternyata pasukan Singasari telah mendahuluinya, memukul pasukan Pujang Warit yang sama sekali tidak menyangka.

Pujang Warit yang ada di perkemahannya terkejut ketika ia mendengar laporan dari beberapa orang pengawas bahwa sepasukan prajurit Singasari telah menuju ke arah perkemahan itu.

“Gila,” geram Pujang Warit, “apakah kau mimpi?”

“Sebenarnya kami telah melihat,” sahut prajurit pengawas itu.

Pujang Warit menggeretakkan giginya. Tetapi sebagai seorang prajurit, maka ia-pun segera berteriak. Dipanggilnya beberapa orang Senapati yang ada padanya, kemudian dengan tergesa-gesa diperintahkannya untuk menyiapkan gelar.

“Apakah mereka benar-benar akan menyerang kita?” bertanya seorang Senapati.

“Mungkin sekali. Cepat, masuk ke dalam gelar.”

Tetapi para Senapati itu menjadi agak cemas. Prajurit-prajurit mereka belum siap mengadakan perang beradu gelar. Namun demikian, mereka tidak mendapat kesempatan untuk menimbang-nimbang. Dengan tanda-tanda yang ada, Pujang Warit telah mempersiapkan pasukannya.

“Yang belum sempat makan, usahakan, agar kalian tidak kelaparan,” teriak beberapa orang Senapati.

Para prajurit yang berdiri di dalam gelar itu masih ada juga yang sempat membawa sebungkus nasi. Dengan tangkai tombak yang dijepit dengan lengannya, ia menyuapi mulutnya dengan nasi yang dibawanya.

“Aku tidak akan sempat makan di peperangan,” katanya.

Kawannya yang berdiri di sampingnya memandanginya dengan tegang. Kemudian sahutnya, “Cepat. Kau lihat pasukan lawan itu semakin dekat. Lambungmu justru akan sakit kalau kau terlampau banyak makan.”

Tetapi prajurit itu tidak makan sendiri. Beberapa orang yang lain ternyata ada juga yang sedang makan meskipun agak tergesa-gesa. Pujang Warit yang berdiri di ujung pasukannya menjadi tegang. Ia tidak memperhitungkan, bahwa pasukan Singasari akan membelah diri di dalam saat-saat yang berat itu.

“Agaknya jumlah orang-orang Singasari memang terlampau banyak,” katanya kepada Senapati pengapitnya.

Senapati pengapit itu menganggukkan kepalanya, “Ya. Di hari pertama mereka berhasil mendesak pasukan Kediri yang dipimpin oleh Mahisa Walungan.”

Wajah Pujang Warit menjadi merah padam. Katanya, “Setan itu sempat juga terlepas dari tiang gantungan. Tetapi aku tidak mau berada di bawah pimpinannya. Aku tidak tahu kenapa Sri Baginda masih dapat mempercayainya. Mungkin Sri Baginda menjadi bingung ketika mendengar pasukan Singasari telah datang melanda pasukan Kediri di perbatasan.”

Senapati pengapitnya tidak menjawab. Tetapi wajah-wajah mereka yang tegang menatap pasukan Singasari yang semakin lama menjadi semakin dekat.

“Kita harus bertahan,” desis Pujang Warit, “kita harus tetap utuh sampai pasukan Mahisa Walungan hancur sama sekali. Kita akan berdiri di atas bangkai kedua pasukan yang bodoh ini.”

Senapati pengapitnya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kita harus mempertahankan diri dan mempertahankan Kediri.”

Sejenak kemudian maka Pujang Warit memerintahkan membunyikan tanda bagi pasukannya. Dengan serta-merta, gelarnya-pun maju menyongsong lawan yang mendatang.

Pimpinan pasukan Singasari mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam, “Prajurit Kediri memang prajurit yang telah matang. Dalam keadaan apapun mereka segera dapat menempatkan diri mereka untuk menghadapi segala kemungkinan.”

Tetapi pasukan Singasari telah mendapat penempaan yang matang pula, dekat menjelang peperangan ini, sehingga tubuh dan ilmu mereka masih segar di dalam diri masing-masing.

Sejenak kemudian kedua pasukan itu-pun telah saling berhadapan. Kaki-kaki mereka berderap di atas tanah persawahan yang ditumbuhi oleh tanaman palawija yang hijau. Namun kaki-kaki prajurit itu sama sekali tidak berusaha untuk menghindari bunga kacang dan kedelai yang akan segera menjadi buah.

Demikianlah maka sesaat kemudian kedua pasukan itu telah terlibat dalam peperangan. Keduanya terdiri dari prajurit-prajurit yang memang sudah siap, untuk turun kegelanggang, pertempuran.

Namun di dalam benturan yang pertama sudah terasa, bahwa pasukan Singasari agak lebih kecil jumlahnya dari pasukan Kediri. Kalau pasukan Kediri itu dapat menghancurkan pasukan Singasari. maka hal itu pasti akan mempengaruhi keadaan medan yang lain. Karena itu maka seorang penghubung segera melaporkannya kepada Senapati yang bertanggung jawab atas laskar cadangan.

Sekelompok laskar cadangan Singasari segera dikirim untuk menyelamatkan pasukan Singasari yang bertempur melawan pasukan Pujang Warit. Ternyata tinjauan mereka terhadap kekuatan pasukan lawan kurang cermat, sehingga para pemimpin Singasari salah menilai. Untunglah bahwa di belakang mereka masih ada pasukan cadangan yang memang dipersiapkan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang tiba-tiba saja menimpa pasukan Singasari yang sedang bertempur itu.

Dengan kedatangan pasukan cadangan itu, maka pasukan Singasari segera dapat bernafas lagi. Kini mereka tidak lagi terdesak mundur. Dengan tekad yang menyala-nyala di dalam dada. maka pasukan Singasari bertempur dengan gigihnya.

Demikianlah maka pertempuran itu-pun menjadi semakin seru pula, seperti pertempuran di sebelah Utara Ganter, tidak begitu jauh dari pasukan Pujang Warit yang sedang bertahan dengan sekuat-kuat tenaga.

Namun tanda-tanda yang terdengar dari pasukan Pujang Warit telah menumbuhkan pertanyaan di hati Mahisa Walungan dan prajuritnya. Namun sebagai seorang prajurit Mahisa Walungan, Gubar Baleman dan sebagian terbesar dari pasukannya, segera menduga, bahwa pasukan Pujang Warit-pun telah terlibat pula di dalam pertempuran.

“Sri Rajasa benar-benar seorang Panglima yang baik,” desis Mahisa Walungan di dalam hatinya, “ia ingin mempercepat penyelesaian. Kalah atau menang. Tetapi ia tidak mau membiarkan dirinya ditunggu sampai kehabisan tenaga. Mumpung masih segar, agaknya ia telah menyeret seluruh pasukan Kediri untuk terjun ke dalam pertempuran ini. Termasuk pasukan Pujang Warit itu.”

Sambil bertempur Mahisa Walungan meneruskan kata-kata di hatinya itu. “Tetapi itu lebih baik juga bagi kami. Pujang Warit tidak sempat menunggu sampai kami hancur, kemudian turun ke peperangan sebagai seorang pahlawan yang menyelamatkan Kediri. Tetapi dengan pertempuran itu, kekuatan Singasari sudah terbagi.”

Ternyata bahwa di dalam pertempuran pada hari kedua ini, Kediri tidak terdesak lagi seperti di hari pertama. Meskipun pasukan Kediri tidak dapat maju lagi sampai kegaris pertahanannya yang pertama, tetapi di hari kedua, baik Mahisa Walungan maupun Gubar Baleman dapat bertempur dengan lebih tenang, karena pasukannya tidak harus mundur setiap saat.

“Mudah-mudahan Pujang Warit bertahan di tempatnya pula,” berkata Gubar Baleman di dalam hatinya, “dengan demikian Singosari tidak dapat memusatkan kekuatannya di pertempuran ini.” Menteri itu mengerutkan keningnya, lalu “persoalan di antara kami, di antara pasukan-pasukan Kediri sendiri, dapat kami perhitungkan kemudian.”

Semakin tinggi matahari, maka pertempuran itu-pun berjalan semakin seru. Tetapi ketika panas telah membakar punggung mereka yang berkeringat, maka lambat laun, tenaga para prajurit di ke dua belah pihak itu-pun menjadi susut.

Pasukan Pujang Warit yang tidak bersiap menghadapi serangan dalam gelar itu, ternyata semakin lama menjadi semakin terdesak. Tenaga yang mereka persiapkan dengan tergesa-gesa, di saat matahari mulai turun, menjadi terlalu banyak susut. Meskipun demikian tekad untuk mempertahankan diri, sama sekali tidak berkurang seujung rambut pun. sehingga bagaimana-pun juga, mereka sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan gelanggang.

Meskipun demikian, meskipun seluruh kekuatan yang ada sudah dikerahkannya, namun pertahanan Pujang Warit harus beringsut setapak demi setapak.

Tetapi pasukan itu tetap utuh. Mereka tetap bertempur dalam satu kesatuan, sehingga meskipun mundur setapak sama sekali tidak berpengaruh atas pertahanan itu.

Pujang Warit berusaha dengan memeras tenaga, bertahan untuk hari ini. Besok mereka akan siap menghadapi segala kemungkinan. Mereka tidak akan turun ke dalam gelar dengan tergesa-gesa, tanpa persiapan lahir dan apalagi batin. Serangan yang mengejutkan itu mau tidak mau mempunyai pengaruh yang tidak dapat diabaikan para prajuritnya.

Sampai matahari condong ke Barat, pasukan Pujang Warit masih tetap dapat bertahan meskipun dengan susah payah. Mereka tidak terlampau banyak terdesak mundur. Namun demikian, tenaga prajuritnya sudah menjadi jauh berkurang.

Rasa-rasanya matahari berjalan semakin lambat, seakan-akan dengan sengaja memberi kesempatan kepada pasukan Singasari untuk mendesak lawannya terus.

Tetapi akhirnya matahari itu-pun menjadi semakin rendah. Cahaya yang kemerah-merahan mulai tersangkut di ujung pepohonan. Bersamaan dengan senja yang semakin suram, harapan di dada Pujang Warit menjadi semakin mekar, bahwa pasukannya akan dapat bertahan sampai gelap. Besok mereka akan mendapat kesempatan untuk mengatur pasukannya jauh lebih baik dari ini. Persiapan-persiapan lainnya, penempatan pasukan menurut tingkat kemampuan setiap prajurit di dalam gelar dan senjata-senjata yang lebih baik akan dapat banyak membantu.

Dan harapan itu-pun ternyata terpenuhi. Sebentar kemudian mereka mendengar tanda di kejauhan, meskipun lamat-lamat. Tanda-tanda yang terdengar di sebelah Utara Ganter. bahwa pertempuran untuk hari itu diakhiri.

Pasukan Singasari-pun kemudian mengendorkan tekanannya. Tanda-tanda di pasukan itu-pun terdengar pula. Demikian juga pada pasukan Kediri, sehingga perang-pun terhenti. Sebagai prajurit-prajurit yang jantan tidak satu pihak-pun yang berbuat curang, pada saat lawan menarik diri.

Betapa sibuknya pasukan di ke dua belah pihak dengan prajurit-prajuritnya yang terluka. Mereka berusaha untuk menemukan di seluruh medan. Yang terluka bagi ke dua belah pihak mempunyai kesempatan pertama untuk mendapat perawatan. Yang sudah gugur, namanyalah yang akan tetap dikenang. Tetapi yang masih dalam penderitaan harus segera mendapat pertolongan.

Seorang prajurit tua yang duduk bersandar sebatang pohon kelapa menarik nafas dalam-dalam. Umurnya telah mencapai setengah abad. Tetapi ia masih tetap berada di lingkungan keprajuritan. Telah sekian kali ia mengalami peperangan sedahsyat ini. Dan telah sekian kali pula ia melihat mayat berserakan dan orang-orang yang terluka mengerang kesakitan.

“Manusia memang aneh,” desisnya, “mereka saling melukai dan membunuh. Kemudian mereka dengan susah-payah mengobatinya. Apakah sebenarnya yang mereka kehendaki? Mereka saling membunuh untuk ditangisi kembali.”

Prajurit tua itu menarik nafas dalam-dalam, sekali lagi dan sekali lagi. Kemudian karena kelelahan, tanpa disadarinya ia-pun jatuh tertidur.

Dikemahnya, Pujang Warit mengumpat habis-habisan. Ternyata korban telah banyak yang jatuh.

“Kita tidak sempat mengatur gelar lebih baik dari yang dapat kita susun dengan tergesa-gesa itu,” geramnya, “besok kita dapat memilih. Prajurit-prajurit yang berpengalaman dan memiliki kemampuan yang lebih baik harus tersebar dari ujung gelar sampai ke ujung yang lain, agar tidak ada bagi dari gelar yang terlampau lemah, sehingga memungkinkan jatuhnya korban terlampau banyak.”

Para pemimpin kelompok mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Sekarang beristirahatlah. Kita harus menghemat tenaga. Besok kita akan bertempur lagi. Jangan sampai terlambat, penyediaan makan para prajurit sebelum fajar.”

Para pemimpin kelompok itu-pun segera meninggalkan Pujang Warit yang masih duduk dengan beberapa orang Senapati yang terpercaya.

“Apakah pertahanan ini menguntungkan?” ia bertanya di dalam hatinya.

Sejenak ia termenung. Dicobanya membayangkan apa yang terjadi di sebelah Utara Ganter. Apakah Mahisa Walungan dan Gubar Baleman yang ternyata mendapat kesempatan lagi dari Sri Baginda itu mampu bertahan?

“Memang keparat orang-orang Singasari,” desisnya, “kalau mereka tidak tergesa-gesa menyerang, Mahisa Walungan dan Gubar Baleman pasti sudah digantung. Sehari saja mereka menunda serangannya, maka mereka tidak akan bersusah payah membunuh harimau-harimau yang garang itu.”

Para Senapati yang lain berpaling ke arahnya, tetapi mereka tidak mendengar kata-kata itu dengan jelas.

“Apakah ada di antara kalian yang mempunyai pendapat tentang garis pertahanan kita?” tiba-tiba Pujang Warit bertanya.

Kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Terasa dari pertanyaan itu, bahwa agaknya telah tumbuh sesuatu di hati Pujang Warit. Tetapi agaknya masih belum cukup masak untuk diutarakan, sehingga ia berusaha untuk memancing masalah yang dapat dipakainya sebagai pancadan pembicaraan.

Namun kawan-kawannya tidak mengerti, ke mana arah jalan pikiran Senapati yang masih muda itu.

Sejenak Pujang Warit-pun terdiam. Kepalanya sekali-sekali mengangguk-angguk, namun kemudian keningnya berkerut-merut.

“Bagaimana bunyi laporan petugas sandi itu? “ tiba-tiba bertanya.

“Tentang apa?” bertanya salah seorang Senapatinya.

“Panglima pasukan Singasari.”

“Sri Rajasa sendiri.”

Pujang Warit mengerutkan keningnya. Katanya, “Betapapun saktinya orang Tumapel. mereka tidak akan melampaui orang-orang Kediri.”

Para Senapati lawannya berbicara tidak ada yang menyahut. Namun terasa, bahwa di dalam kata-kata Pujang Warit itu tersimpan keragu-raguan hatinya. Baik Pujang Warit maupun para Senapati lainnya, tidak dapat menutup mata, bahwa orang Singasari itu mampu bertempur dua hari penuh. Mereka tetap pada garis perang yang terjadi sejak benturan pertama. Bahkan mereka telah mendesak beberapa tonggak maju.

Dengan demikian maka untuk sejenak mereka saling berdiam diri. Berbagai pertanyaan telah menyentuh setiap hati. Apakah yang akan terjadi besok dengan pasukan ini?

Sementara itu, di perkemahannya, Mahisa Walungan duduk menghadapi semangkuk air panas. Wajahnya yang murung merenungi lampu minyak yang terombang-ambing oleh angin yang menyusup keperkemahan.

Di sebelahnya Gubar Baleman memandang kekejauhan, menembus gelapnya malam lewat pintu yang terbuka. Seolah-olah ingin mengetahui, rahasia apakah yang bersembunyi di balik kekelaman itu.

“Kakang Gubar Baleman,” berkata Mahisa Walungan. “hari ini kita sudah menambah prajurit yang dapat kita kumpulkan, tetapi kita tidak dapat mendesak mereka sama sekali. Beberapa petugas kita yang mengumpulkan pasukan dari beberapa tempat yang dapat dicapainya, telah terganggu oleh orang-orang Pujang Warit yang berbuat serupa, bahkan mereka masih selalu mempergunakan nama Sri Baginda Kertajaya.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Keadaan Kediri sama sekali tidak menguntungkan pada saat pertempuran ini mulai berkobar.”

“Tetapi apaboleh buat,” berkata Mahisa Walungan, “kita harus mengerahkan segenap tenaga yang mungkin kita tarik kepertempuran ini. Kalau Pujang Warit tidak mengadakan garis pertahanan tersendiri, mungkin keadaan kita akan menjadi semakin baik. Kekuatan Kediri dapat di pusatkan menjadi satu di sini. Penarikan tenaga-tenaga yang segar tidak saling mengganggu.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku sependapat. Jadi, apakah kita akan mencari jalan untuk itu?”

“Demikianlah kakang. Sebenarnya aku tidak begitu mementingkan harga diri sendiri dalam keadaan seperti ini. Aku lebih mementingkan Kediri. Karena itu, apakah salahnya kalau aku mengirimkan seorang utusan untuk menghubungi Pujang Warit, agar kita bersama-sama menyusun satu garis perang yang kuat, ditambah dengan prajurit-prajurit yang kini masih belum datang. Ketidak tentuan yang tersebar di seluruh Kediri agaknya belum dapat dibersihkan dengan serangan Singasari ini.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku sependapat Adinda Mahisa Walungan. Apakah salahnya kalau kita, orang-orang tua ini sedikit mengorbankan harga diri kita untuk kepentingan Kediri.”

“Baiklah kakang. Nanti, setelah para prajurit cukup beristirahat, serta Pujang Warit sendiri sudah agak menjadi tenang, aku akan mengirimkan seorang utusan.”

“Aku akan mencari orangnya yang akan menemui Pujang Warit nanti,” berkata Gubar Baleman.

“Baiklah kakang. Siapa yang akan pergi itu-pun tidak kalah pentingnya, supaya tidak justru menumbuhkan salah paham, sehingga jarak antara kita dan Pujang Warit menjadi semakin jauh.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika ia baru akan berdiri, ia-pun tertegun di tempatnya. Dilihatnya seseorang dengan tergesa-gesa memasuki kemah itu.

“O kau,” desis Mahisa Walungan kepada orang itu, seorang prajurit penghubung.

“Duduklah.”

Orang itu-pun kemudian duduk di hadapan Mahisa Walungan. Wajahnya kemerah-merahan dan keringat telah membasahi seluruh tubuhnya.

“Apakah kau baru datang?” bertanya Mahisa Walungan.

“Ya tuan. Aku baru datang dari daerah Selatan.”

“Bagaimana dengan usahamu menarik prajurit dan pasukan keamanan?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Menyesal sekali tuan, bahwa telah terjadi salah paham di antara kami sendiri.”

“Kenapa he?” Mahisa Walungan mengerutkan keningnya.

“Pujang Warit melakukan usaha yang serupa,” jawab penghubung itu, “sehingga justru terjadi bentrokan yang sama sekali tidak kita ingini. Para prajurit yang tidak mengalami sendiri perang seperti ini, masih saja membelah diri. Ada yang berpihak kepada tuan, tetapi ada juga yang berpihak kepada Pujang Warit.”

“O,” Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam, sedang Gubar Baleman mengusap dadanya dengan telapak tangannya.

“Aku sudah berusaha menjelaskan apa yang sudah terjadi,” berkata penghubung itu kemudian, “tetapi sulit untuk memberikan kesadaran kepada mereka. Apalagi orang-orang Pujang Warit agaknya terlampau yakin, bahwa pada akhir dari segala-galanya merekalah yang akan berkuasa. Pendirian itu agaknya sudah menghambat segala usaha.”

Mahisa Walungan mengeluh di dalam hati. “Apakah Kediri memang sudah tidak akan dapat tertolong lagi?”

“Kami sudah berusaha untuk menghindari bentrokan-bentrokan itu tuan,” penghubung itu meneruskan, “tetapi sia-sia.”

“Lalu, apakah yang dapat kalian lakukan?”

“Aku gagal membawa seluruh pasukan yang kita kehendaki. Mereka harus bertahan di tempat masing-masing, karena orang-orang Pujang Warit agaknya berbuat di segala tempat dan keadaan tanpa pertimbangan apapun lagi selain nafsu yang nyala-nyala di dalam diri mereka untuk menguasai seluruh Kediri.”

“Jadi kau tidak membawa pasukan itu.”

“Hanya sebagian kecil. Yang lain masih tetap mengamankan wilayah masing-masing.”

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kapalanya. Namun hatinya menjerit, “Ya, apakah Yang Maha Agung benar-benar telah melepaskan Kediri karena ketamakannya sendiri?”

Meskipun demikian Mahisa Walungan berkata kepada Gubar Baleman, “Kita tetap berusaha untuk berbicara dengan Pujang Warit. Kita benar-benar berada di ujung bahaya yang sebenarnya. Bahaya keruntuhan bagi Kediri yang besar ini.”

Ketika malam menjadi semakin malam, serta pasukan di pihak-pihak yang sedang berperang itu sudah mulai agak tepung, maka dua orang utusan yang dikirim oleh Mahisa Walungan, berderap di atas punggung kuda pergi keperkemahan Pujang Warit.

Mereka membawa tugas yang penting bagi keselamatan Kediri yang mulai tampak laju dibakar oleh panasnya api pertentangan di antara mereka sendiri, ditimpa pula oleh serangan yang dahsyat dari Singasari.

Kedatangan kedua orang itu telah mengejutkan Pujang Warit. Dengan wajah yang tegang ia bertanya dengan serta-merta, “Kenapa kalian kemari?”

“Kami adalah utusan Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan dan Menteri, pemimpin tertinggi pasukan Kediri Gubar Baleman,” jawab utusan itu.

“Kenapa mereka tidak datang menghadap kepercayaan Sri Baginda Kertajaya sendiri?” bertanya Pujang Warit.

Kedua utusan itu saling berpandangan sejenak. Salah seorang dari mereka kemudian menjawab, “Keduanya tidak berani meninggalkan medan yang sedang gawat. Karena itu aku berdua telah diutus untuk menemui Senapati Pujang Warit.”

“Aku adalah kepercayaan Sri Baginda. Bukan sekedar seorang Senapati Pandega.”

“Ya, begitulah.”

“Begitulah bukan istilah yang tepat.”

“Maksud kami, kami memang ingin menemui kepercayaan Sri Baginda Kertajaya.”

“Nah, kalau kau mengakui, maka kau pasti harus mengakui kekuasaan yang ada padaku.”

“Ya. Kami berdua mengakui.”

Pujang Warit mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Katakan, pesan apakah yang akan disampaikan oleh kedua Senapati yang sudah memberontak itu.”

Terasa dada kedua utusan itu berdesir. Tetapi mereka sadar, bahwa mereka harus menahan diri mereka agar masalah yang ada di antara dua kekuatan Kediri itu tidak menjadi semakin parah.”

“Cepat,” desak Pujang Warit, “aku-pun bukan penganggur yang sedang duduk merenungi bintang-bintang yang bergayutan di langit.”

“Baiklah,” berkata salah seorang dari kedua utusan itu. Setelah menarik nafas dalam-dalam, maka ia-pun melanjutkannya, “Kami mendapat tugas untuk menyampaikan pesan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Seandainya pimpinan pasukan di sini tidak berkeberatan, Adinda Sri Baginda dan Menteri Gubar Baleman ingin membicarakan kemungkinan, kedua pasukan Kediri berada di dalam satu gerak yang berada di bawah suatu perencanaan yang matang. Misalnya, menyatukan garis perang yang kini terpecah menjadi dua. Menyatukan penarikan pasukan dari wilayah-wilayah yang dapat dicapai untuk menambah kekuatan bagi medan ini.”

Pujang Warit mengerutkan keningnya. Katanya, “Kenapa kita harus menyatukan diri. Bukankah dengan cara ini, kita masing-masing sudah berjuang untuk mempertahankan negeri kita?”

“Ya, demikianlah. Tetapi di bawah satu panji-panji yang sama kita akan menjadi semakin kuat. Mungkin di medan ini, kita tidak banyak melihat manfaat itu. Tetapi di tempat lain justru akan terasa sekali. Dengan penyatuan itu tidak akan ada lagi salah paham bagi pasukan-pasukan yang memang sedang kalut ini. Ada yang berpihak kepada Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan dan ada yang berpihak kepada Senapati Pujang Warit.”

“Bodoh sekali. Kalau setiap prajurit menyadari tata keprajuritan hal itu tidak akan terjadi. Di Kediri tidak ada dua atau tiga sumber kekuasaan. Semuanya berpusar pada Sri Baginda Kertajaya. Akulah yang mendapat wewenang untuk melakukan kekuasaan Sri Baginda atas setiap pasukan yang ada di Kediri. Kalau saat ini Gubar Baleman dan Mahisa Walungan, karena diperlukan tenaganya, berada di medan, pasti mereka bukan pimpinan dari pasukan Kediri. Kalau Gubar Baleman dan Mahisa Walungan tidak keluar dari garis tata keprajuritan, sudah pasti tidak akan ada persoalan lagi di Kediri. Semuanya akan berjalan lancar. Sehingga seandainya nanti kita gagal mempertahankan garis pertahanan ini, maka tanggung jawab kegagalan itu ada pada Gubar Baleman dan Mahisa Walungan.”

Kedua utusan itu mengangguk-anggukkan kepalanya, namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Mungkin hal itu benar. Tetapi apakah kita masih sempat di dalam keadaan serupa ini mempersoalkan siapakah yang pantas memimpin pasukan Kediri.”

“Bukan mungkin lagi. Aku memang benar. Dan pada saat serupa ini memang tidak ada waktu lagi mempersoalkan siapakah yang pantas menjadi Senapati Agung, karena Sri baginda sudah melimpahkan kekuasaan itu kepadaku.”

Kedua utusan itu terpaku sejenak. Pujang Warit agaknya benar-benar telah dimabukkan oleh kekuasaan, sehingga matanya sudah menjadi kabur. Ia tidak dapat melihat Kediri yang memelas ini sudah berada di pinggir jurang kehancuran.

“Nah. kalau Gubar Baleman dan Mahisa Walungan ikut bertanggung jawab atas keselamatan Kediri, serahkan pasukannya itu kepadaku. Akulah yang akan memimpin perlawanan di seluruh Kediri. Aku akan memanggil semua pasukan yang dapat menjadi pasukan cadangan di peperangan ini tanpa gangguan lagi.”

“Tetapi,” utusan yang seorang berkata, meskipun ragu-ragu, “Senapati Agung pasukan Singasari di tangani langsung oleh Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

“Gila kau. Kau menghinaku. Kenapa kau sebutkan nama itu? Kau sangka aku akan menjadi ketakutan, atau aku akan menganggukkan kepala, karena aku-pun menganggap bahwa hanya Mahisa Walungan saja yang pantas melawan Sri Rajasa? O, kalau aku tidak menyadari bahwa kau-pun orang Kediri, meskipun kau berdiri di pihak pemberontak itu, aku sudah menyobek mulutmu.”

Terasa jantung kedua utusan itu berdesir. Darahnya seakan-akan mengalir semakin cepat naik ke kepala. Tetapi keduanya tetap pada sikap hormatnya, seperti pesan Gubar Baleman dan Mahisa Walungan.

“Nah. kembalilah kepada pemimpinmu sebelum darahku mendidih,” berkata Pujang Warit, “katakan semua jawabku kepada mereka.”

Hampir bersamaan keduanya menarik nafas dalam-dalam. Agaknya kedatangan mereka sama sekali tidak mendekatkan hubungan antara kedua pasukan yang tengah bertempur melawan pasukan Singasari itu.

“Jadi, apakah usaha Adinda Sri Baginda untuk menemukan titik pertemuan di antara kedua pasukan ini tidak berhasil?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Kalau Mahisa Walungan bersedia mematuhi perintah Sri Baginda, maka kesatuan itu akan terwujud dengan sendirinya.”

“Baiklah, aku akan mengatakannya,” berkata salah seorang utusan itu, “mudah-mudahan ada pendekatan yang dapat menumbuhkan harapan bagi Kediri untuk tetap bertahan.”

“Kau sudah menjadi putus-asa,” potong Pujang Warit, “kenapa kau tiba-tiba menjadi cengeng? Prajurit Kediri bukan prajurit yang cengeng seperti kau.”

“Aku tidak cengeng,” jawab utusan itu, “tetapi aku menjadi prihatin, bahwa justru para pemimpin tertinggi pasukan Kedirilah yang membuat kami, bawahan, terpecah-belah.”

“Diam. Diam kau. Tidak sepantasnya bawahan menilai atasannya. Kau hanya bertugas menyampaikan pesan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman, kemudian menyampaikan jawabanku kepada mereka.”

“Baik, baik,” desis utusan itu.

Mereka-pun kemudian minta diri dengan hati yang pedih. Pujang Warit sendiri tidak bersedia membuka pintu bagi pembicaraan berikutnya. Dengan demikian, maka keadaan pasukan Kediri pasti masih akan selalu dibayangi oleh perpecahan di antara mereka. Suasana yang tidak menentu masih akan berkepanjangan, meskipun lawan telah berada di ujung hidung.

Demikianlah maka kedua utusan itu-pun segera memacu kuda mereka kembali keperkemahan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Dengan tanpa melampaui pengertian yang dikatakan oleh Pujang Warit, maka disampaikannya jawabannya dengan singkat kepada Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam, sedang Gubar Baleman mengelus dadanya dengan telapak tangannya. Kekecewaan yang mendalam telah merasuk sampai ke pusat jantungnya.

“Bagaimana hal ini dapat terjadi atas Kediri?” desis Mahisa Walungan. Tetapi di dalam hati ia seakan-akan melihat dengan jelas, bahwa kesalahan dari para pemimpin Kediri sudah mulai tumbuh sejak Kediri menjadi besar, terutama Sri Baginda Kertajaya sendiri, yang lambat laun telah menumbuhkan keadaan yang pahit seperti saat itu.

“Tetapi kita harus tetap berusaha, agar Kediri tetap mampu berdiri tegak, meskipun luka-parah,” berkata Mahisa Walungan. Namun kekecewaan yang dalam, yang mencengkam jantungnya itu, tidak dapat disingkirkannya.

“Apakah sebaiknya aku datang sendiri kepadanya?” berkata Gubar Baleman, “mungkin aku dapat menemukan kemungkinan-kemungkinan untuk mencari persesuaian meskipun hanya bersifat sementara. Sebenarnya bagi kita, persoalan siapakah yang memegang pimpinan tertinggi itu sama sekali bukan masalah lagi. Yang penting bagi kita, bagaimana kita dapat menyusun kekuatan sepenuhnya untuk melawan Singasari saat ini.”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam. Kemudiannya ia-pun tidak berkeberatan, seandainya Pujang Warit tidak menuntut hal-hal yang tidak mungkin terpenuhi.

“Bagaimana pendapat Adinda Mahisa Walungan?” bertanya Gubar Baleman.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Baiklah. Kalau kakang Menteri Gubar Baleman berpendapat demikian. Tetapi menilik sifat dan watak anak itu, ia pasti akan menjadi besar kepala. Mungkin ia akan menuntut aku dan kakang Gubar Baleman untuk menyerahkan leher kita sebelum ia bersedia menyatukan diri.”

“Aku akan mencoba menjajaginya.”

“Baiklah. Tetapi hati-hatilah. Pujang Warit adalah orang yang paling licik yang pernah aku temui di Kediri.”

Gubar Baleman-pun kemudian membawa sepasukan kecil pengawal berkuda, menuju keperkemahan Pudjang Warit untuk mendapatkan penyelesaian dari masalah yang paling mengganggu di saat-saat Kediri berada di pintu bahaya.

Gubar Baleman sendiri menyangsikan hasil dari kunjungannya itu, meskipun ia sudah mengorbankan segala-galanya, harga diri dan kadudukannya sebagai pemimpin pasukan Kediri.

“Aku tidak akan berarti apa-apa, asal Kediri dapat diselamatkan. Meskipun kelak aku harus menyembah di bawah kaki Pujang Warit sekali-pun, namun Kediri tidak tenggelam dalam arus banjir bandang yang datang dari Singasari.”

Demikianlah Menteri yang memimpin segenap kesatuan prajurit Kediri itu sudah melupakan kepentingan diri sendiri. Seluruh hidupnya memang sudah diserahkannya kepada Tanah kelahirannya yang pernah mencapai puncak kebesarannya itu.

Semakin dekat Gubar Baleman dengan perkemahan Pujang Warit hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Sekali-sekali ia menengadahkan wajahnya. Malam telah jauh.

“Aku masih sempat menemuinya. Masih ada sedikit waktu sebelum fajar menyingsing,” desisnya.

Dengan demikian maka Gubar Baleman-pun segera memacu kudanya mendekati perkemahan pasukan yang dipimpin oleh Pujang Warit. Dari kejauhan mereka sudah melihat nyala api di sela-sela dedaunan. Agaknya para prajurit fang bertugas sedang memanaskan diri di tepi perapian, atau para petugas yang menyediakan makan dan minum bagi patukan itu telah mulai melakukan kewajibannya.

Tetapi ketika mereka memasuki daerah perkemahan itu, hati Gubar Baleman menjadi semakin berdebar-debar. Di regol padukuhan itu sama sekali tidak ada seorang-pun yang berjaga-aga. Sedang di seputar api itu-pun tidak tampak seorang prajurit-pun yang memanaskan diri. Sepi. Sepi sekali.

Sejenak Gubar Baleman menjadi termangu-mangu. Permainan apakah yang kini sedang dilakukan oleh Pujang Warit. Apakah terpikir olehnya untuk menjebak sekelompok praurit ini?

“Apakah anak itu sudah benar-benar kehilangan nalar, sehingga ia sampai hati berbuat demikian? “ pertanyaan itu tumbuh di hati Gubar Baleman.

Tetapi sebagai seorang prajurit yang berpengalaman, Gubar Baleman sama sekali tidak melihat kemungkinan itu.

“Marilah kita masuk lebih ke dalam,” katanya kepada para pngawalnya.

Karena pengawalnya menjadi ragu-ragu, Gubar Baleman berkata, “Tidak akan terjadi sesuatu.”

Tidak seorang-pun yang menjawab. Sekelompok prajurit itu-pun kemudian memasuki padukuhan yang dipergunakan sebagai tempat perkemahan oleh Pujang Warit.

Namun padukuhan itu benar-benar telah sepi. Sama sekali tidak dijumpainya seorang-pun juga. Penduduk telah pergi mengungsi, meninggalkan rumah mereka yang kemudian dipergunakan oleh Pujang Warit dan pasukannya. Namun pasukan itu-pun kini sudah tidak ada di tempat lagi.

Ketika Gubar Baleman menyentuh mangkuk yang berisi air. ia berdesis, “Mereka pasti belum lama meninggalkan tempat ini. Mereka masih meninggalkan minuman hangat di dalam mangkuk ini.”

Pengawalnya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Memang tampaklah bahwa Pujang Warit dengan tergesa-gesa telah meninggalkan perkemahannya.

“Ke manakah mereka? “ tanpa sesadarnya Gubar Baleman bertanya.

Para pengawalnya hanya dapat saling berpandangan. “Marilah kita lihat seluruh perkemahan ini,” berkata Gubar Baleman.

Kesan para prajurit itu kemudian menguatkan, bahwa Pujang Warit belum lama meninggalkan padukuhan itu. Di beberapa tempat masih terdapat perapian yang menyala. Beberapa onggok bahan makanan, yang mentah dan yang sudah masak, tertinggal di dalam perkemahan itu pula. Bahkan beberapa pucuk senjata dan peralatan tertinggal pula di gardu, di ujung padukuhan.

Gubar Baleman menjadi bingung. Ia tidak dapat menduga sama sekali, ke mana pasukan Pujang Warit pergi.

Memang terlintas beberapa kemungkinan yang dapat dilakukan oleh Pujang Warit. Tetapi Gubar Baleman menggelengkan kepalanya sambil berdesah lirih, “Tidak. Tidak mungkin Pujang Warit terjerumus ke dalam pengkhianatan yang lebih dalam.”

Sejenak kemudian, setelah Gubar Baleman meyakini bahwa perkemahan itu memang sudah kosong, maka katanya kepada para pengawalnya, “Marilah, kita tinggalkan tempat ini. Aku tidak mempunyai cukup bahan untuk menduga, ke mana Pujang Warit pergi.”

Sekelompok kecil prajurit itu-pun kemudian meninggalkan perkemahan itu kembali kesebelan Utara Ganter. Di sepanjang jalan Gubar Baleman mencoba untuk memecahkan teka-teki yang baru saja ditemuinya. Tetapi yang terlintas di kepalanya adalah beberapa jawaban yang tidak meyakinkan.

Hal itulah yang kemudian disampaikannya kepada Mahisa Walungan. Perkemahan itu telah kosong.

Mahisa Walungan-pun menjadi sangat heran karenanya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Apakah mungkin Pujang Warit membuat hubungan dengan orang-orang Singasari?”

Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia menjawab, “Menurut dugaanku, tentu tidak. Bagaimana-pun juga Pujang Warit adalah seorang yang bernafsu untuk menguasai pimpinan Keprajuritan Kediri, sehingga ia pasti masih akan tetap bertahan dalam keadaan apapun juga.”

“Kalau begitu,” berkata Mahisa Walungan, “apakah anak itu dengan sengaja menghindarkan diri dari medan ini, agar pasukan Singasari sempat mendesak kami?”

“Itulah kemungkinan yang paling dekat menurut perhitunganku,” sahut Gubar Baleman.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Perhitungan Pujang Warit sudah menjadi kabur. Sebenarnya ia bukan seorang Senapati yang bodoh. Seharusnya ia mengerti, dengan demikian Singasari akan dengan mudahnya menggilas pasukan-pasukan yang terpecah belah ini.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Nafsu dan angkara murka orang-orang Kediri sendirilah yang telah menjerumuskan negeri ini kelembah kehancuran.”

Mahisa Walungan tidak menyahut. Namun tampaklah kepahitan yang tajam membayang di wajahnya. Meskipun matanya tetap memancarkan tekad seorang Senapati besar, tetapi hatinyalah yang menangis. Menangisi ketamakan, nafsu dan pamrih yang berlebih-lebihan dari orang Kediri sendiri.”

Selagi kedua Senapati Agung itu merenungi nasib Kediri yang malang, dengan tergesa-gesa seorang petugas sandi memasuki perkemahan itu, diantar oleh seorang Senapati.

Mahisa Walungan dan Gubar Baleman mengerutkan kening mereka.

“Duduklah,” berkata Mahisa Walungan.

Petugas sandi itu-pun kemudian duduk dengan nafas terengah-engah.

“Apakah yang kau lihat?” bertanya Gubar Baleman, “apakah kau petugas di depan pasukan Singasari?”

Petugas sandi itu menggelengkan kepalanya, “Bukan. Aku tidak bertugas di hadapan pasukan Singasari.”

Kedua Senapati Agung itu saling berpandangan sejenak. Lalu, “Di mana kau bertugas?”

“Aku bertugas mengawasi pasukan Pujang Warit.”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Kekeruhan di hatinya telah membuatnya khilaf, bahwa beberapa petugas sandi akan dapat memberikan sedikit keterangan tentang pasukan Pujang Warit itu.

“Mereka telah meninggalkan perkemahan,” desis Gubar Baleman.

“Tuan sudah mengetahuinya?” bertanya prajurit itu.

Ketika Gubar Baleman menganggukkan kepalanya, petugas sandi itu memandangnya dengan heran. Sekali-sekali ditatapnya wajah Mahisa Walungan, namun kemudian ia memandang Gubar Baleman dengan sepercik pertanyaan di dalam hatinya.

“Aku baru datang dari perkemahan Pujang Warit,” berkata Gubar Baleman kemudian, “tetapi perkemahan itu sudah kosong.”

Petugas itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi aku tidak dapat menduga, ke mana mereka pergi.” Gubar Baleman berhenti sejenak, lalu ia-pun bertanya, “Apakah kau melihat arah mereka?”

Sekali lagi petugas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Ya. Aku melihat mereka. Mereka, agaknya telah menarik pasukan itu masuk kota.”

“He.” Gubar Baleman terkejut. Mahisa Walungan-pun terkejut pula sehingga ia tersentak maju setapak.

“Jadi,” berkata Mahisa Walungan, “Pujang Warit membawa pasukannya masuk kota?”

Petugas itu mengangguk, “Ya. Menurut pengamatanku.”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Anak itu benar-benar sudah menjadi gila. Apakah ia sama sekali tidak menyadari bahwa ia sudah tidak mengacuhkan Kediri lagi karena nafsunya itu? Aku tidak tahu, bagaimana mungkin seorang Senapati seperti Pujang Warit dapat membuat kesalahan yang menentukan ini.”

Gubar Baleman menggeleng-gelengkan kepalanya. Mulutnya sudah bergerak-gerak untuk berbicara, tetapi niatnya dibatalkannya.

“Baiklah,” berkata Mahisa Walungan kemudian, “beristirahatlah.”

Petugas itu-pun kemudian minta diri bersama pengantarnya, kembali ke dalam pasukannya. Berita tentang Pujang Warit yang meninggalkan perkemahannya itu-pun segera tersebar keseluruh telinga di perkemahan itu.

Berita itu benar-benar telah mendebarkan jantung. Hampir setiap prajurit mempunyai penilaian yang sama, seperti penilaian Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.

“Kakang,” berkata Mahisa Walungan, “Pujang Warit benar-benar ingin menjerumuskan kita ke dalam jurang kehancuran. Mungkin ia yakin, bahwa ia akan dapat menghancurkan sisa-sisa pasukan Singasari setelah bertempur mati-matian melawan pasukan Kediri di perkemahan ini.”

“Ya,” jawab Gubar Baleman, “aku kira Pujang Warit berharap bahwa ialah yang akan mendapat nama karenanya. Bahwa Pujang Waritlah yang telah menahan arus pasukan Singasari setelah Mahisa Walungan dan Gubar Baleman mengalami kegagalan.”

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berdesis seolah-olah kepada diri sendiri, “Pujang Warit telah salah menilai pasukan Singasari. Ia tidak menyadari bahwa Sri Rajasa bukan anak kemarin sore di medan yang ganas mi. Ternyata ia masih cukup menyimpan pasukan cadangan, sedang dengan demikian kita tidak akan dapat mengharap apa-apa lagi dari pasukan yang terpencar, karena pokal Pujang Warit.”

Gubar Baleman tidak menyahut. Tetapi ia merasa bahwa tugas mereka besok pagi akan terlampau berat. Berat sekali. “Dan apakah aku akan dapat memikulnya?” pertanyaan itu bergema tidak saja di hati Gubar Baleman, tetapi juga di hati Mahisa Walungan.”

“Sudahlah,” terdengar suara Mahisa Walungan, “apakah masih ada kesempatan untuk sekedar beristirahat?”

Gubar Baleman mengerutkan keningnya. Ketika ia menjenguk keluar perkemahan ia melihat para petugas yang akan menyediakan makan bagi para prajurit telah sibuk dengan pekerjaannya.

“Sudah hampir pagi,” desis Gubar Baleman.

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia-pun menyilangkan tangannya di muka dadanya sambil bergumam, “Aku akan beristirahat sebentar.”

Gubar Baleman tidak menyahut. Ketika Mahisa Walungan menyandarkan dirinya pada dinding bambu, maka Gubar Baleman-pun berbuat serupa pula.

Sekejap mereka masih sempat memejamkan mata. Namun yang sekejap itu benar-benar telah berpengaruh bagi tubuh mereka. Mereka merasa bahwa tubuh mereka telah menjadi segar kembali.

Tetapi, bagi Gubar Baleman. yang sekejap itu selain membuatnya menjadi segar, juga membuatnya menjadi gelisah. Di antara sadar dan tidak sadar, ia melihat hujan dan angin yang besar melanda rumahnya. Tanpa dapat berbuat apa-apa ia melihat rumahnya menjadi miring. Semakin lama semakin miring.

Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam. Diusapnya matanya yang menjadi kemerah-merahan.

“Apakah aku bermimpi?” ia berdesis.

Sambil menarik nafas dalam-dalam dipandanginya Mahisa Walungan yang masih bersandar dinding sambil memejamkan matanya. Namun wajah itu-pun tampaknya terlampau suram.

Gubar Baleman mengusap keningnya yang berkeringat, kesuraman wajah Mahisa Walungan membayangkan kesuraman wajah Kediri.

“Apapun yang akan terjadi,” desis Menteri yang setia kepada tanah kelahirannya itu, “aku harus bertahan.”

Dengan hati-hati Gubar Baleman-pun kemudian bangkit perlahan-lahan ia melangkah keluar. Tetapi ia tidak meninggalkan pintu yang terbuka, meskipun di muka pintu itu terdapat sekelompok prajurit yang berjaga-jaga. Sekali-sekali ia berpaling memandang Mahisa Walungan yang masih saja bersandar dinding sambil menyilangkan tangannya di dadanya.

“Aneh,” desis Gubar Baleman, “wajah itu menjadi kian suram. Bukan saja suram, tetapi pucat.”

Gubar Baleman berdesah. Diusapnya matanya. “Mudah-mudahan matakulah yang salah.”

Menteri, pemimpin pasukan Kediri itu-pun kemudian duduk di antara para prajurit yang bertugas. Dicobanya untuk menenangkan perasaannya dengan kelakar. Namun agaknya setiap prajurit-pun dibayangi oleh perasaan serupa.

Dengan demikian, bagaimana-pun juga, suasananya selalu menjadi beku. Setiap kali terkilas di dalam angan-angan mereka, bahwa pasukan Singasari akan membanjiri pasukan Kediri yang seakan-akan menjadi semakin kecil jumlahnya.

Ketika Gubar Baleman berpaling, dilihatnya Mahisa Walungan telah duduk merenungi mangkuknya. Sejenak kemudian ia bangkit lalu melangkah keluar.

Ketika ia memandang langit yang hitam, segera ia berata “Kita harus segera siap. Sebentar lagi fajar akan menyingsing.”

Sebentar kemudian, maka para petugas-pun sudah mulai membagikan ransum para prajurit, sekelompok demi sekelompok. Mereka yang masih segan untuk bangun, menggeliat sambil mengusap matanya. Tetapi ketika kawannya meletakkan sebungkus nasi di tangannya, maka ia-pun segera bangkit, “He, nasi hangat.”

“Suapi mulutmu. Sudah hampir pagi. Kalau tengara itu berbunyi sebelum kau makan, maka kau akan kelaparan di lapangan pertempuran.”

“Aku belum mencuci muka.”

“Di rumah-pun kau tidak mencuci muka dahulu sebelum makan. Apalagi di medan.”

Prajurit itu tertawa. Tetapi ia tidak segera menyuapi mulutnya. Perlahan-lahan ia berdiri untuk mencari minum lebih dahulu.

Belum lagi mulut-mulut berhenti mengunyah, maka di kejauhan telah terdengar suara tengara. Hampir bersamaan setiap mulut-mulut itu-pun berdesis, “Singasari sudah mempersiapkan dirinya.”

Para prajurit Kediri-pun kemudian segera mengemasi diri masing-masing. Mereka meneguk beberapa tetes air untuk menggusur nasi di leher mereka.

Sejenak kemudian, para prajurit Kediri itu sudah mulai bersiap-siap. sementara langit menjadi semakin merah. Salah seorang yang masih mengunyah makannya berdesis, “He, apakah kau benar-benar menikmati makanmu pagi ini?”

“Kenapa?” bertanya kawannya yang berdiri di sampingnya.

“Siapa tahu, makanan itu adalah makananmu yang terakhir.”

Kawannya tersenyum. Namun di balik senyum itu, membayang keragu-raguan yang dalam. Meskipun kawannya itu sekedar berkelakar, namun, hampir di setiap dada, membersitlah perasaan yang demikian.

Seorang prajurit muda menimang-nimang pedangnya. Digosok-gosoknya hulu pedangnya yang dibuat dari gading. Kepada kawannya yang berdiri di sampingnya ia berkata, “Kau lihat, bahwa aku mempunyai pedang berhulu gading.”

Kawannya berpaling.

“Aku tidak mempergunakan pedang yang aku terima dari pimpinan keprajuritan. Di saat-saat yang gawat aku mempergunakan pedangku sendiri, yang berhulu gading.”

Kawannya mengamat-amati hulu pedang itu. Tetapi kesuraman fajar masih menyaput warna putih kekuning-kuningan itu.

“Kau tidak percaya?” bertanya prajurit yang masih muda itu.

“Aku percaya.”

“Terima kasih. Pedang ini aku terima dari ayahku.” prajurit muda itu berhenti sejenak, lalu, “kau tahu rumahku?”

Kawannya mengerutkan keningnya, “Ya, kenapa?”

“Nah, terima kasih.”

Kawannya menjadi heran. Dipandanginya wajah prajurit muda itu dengan saksama. Sedang prajurit muda itu melontarkan tatapan matanya jauh keseberang medan yang akan mereka pergunakan.

“Sebentar lagi kita akan bertempur,” desis prajurit muda itu, “kita masing-masing tidak tahu pasti, apakah yang akan terjadi atas diri kita.” ia berhenti sebentar. Lalu, “kalau terjadi sesuatu atasku, tolong, bawa pedang ini kembali kepada ayahku.”

“Hus,” desis kawannya, “jangan mengigau.”

Prajurit muda itu berpaling. Tetapi kemudian ia-pun tersenyum. Katanya, “Pujang Warit memang gila. Ia sampai hati mengorbankan kawan-kawannya sendiri untuk alas kakinya, dalam usahanya memanjat ke tingkat tertinggi dari susunan keprajuritan Kediri.”

“Ia akan memetik buah dari kelicikannya itu.”

Prajurit muda itu kini tertawa, “Kediri-pun akan memetik buah dari ketamakannya.”

Kawannya menepuk bahunya sambil berdesis, “Jangan berputus asa.”

“He, apakah aku berputus-asa? Kau salah terka. Aku tidak berputus-asa,” namun suaranya kemudian merendah, “tetapi apakah kita tidak seharusnya menilai keadaan?”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, ya. Kita memang harus menilai keadaan.”

Prajurit-prajurit Kediri itu-pun kemudian mengatur diri mereka masing-masing ketika mereka mendengar tengara bagi pasukan itu. Masing-masing telah berada di dalam kelompoknya, dan kelompok-kelompok sudah menempatkan diri di dalam gelar.

Tanda-tanda kebesaran-pun telah dipasang. Umbul-umbul dan panji-panji yang melekat pada tunggul-tunggul yang mempunyai kesan tersendiri. Tunggul-tunggul yang berwarna kekuning-kuningan, bertangkai sepanjang tombak larakan.

Sejenak kemudian Mahisa Walungan yang memegang pimpinan tertinggi atas nama Sri Baginda Kertajaya, turun ke dalam gelar yang sudah mulai dipasang. Di belakangnya sebuah songsong yang kuning gemerlap dikawal oleh lima orang prajurit pilihan.

“Seharusnya Pujang Warit menyadari dirinya,” berkata Gubar Baleman di dalam hatinya, “songsong kebesaran itu adalah pertanda bahwa Mahisa Walungan telah mewakili Sri Baginda.”

Sejenak kemudian pasukan di ke dua belah pihak-pun sudah siap. Ketika matahari menjadi semakin merayap naik, menghampiri cakrawala, maka langit-pun menjadi semakin-cerah.

Perlahan-lahan pasukan Kediri itu-pun bergerak maju. Angin pagi yang basah menyentuh panji-panji dan umbul-umbul yang beraneka warna.

Di seberang yang lain pasukan Singasari-pun telah siap pula. Seperti yang direncanakan oleh Sri Rajasa, pasukan Singasari telah memasang gelar dengan segala macam tanda-tanda kebesaran Kerajaan Singasari.

Panji-panji yang dipasang pada tunggul-tunggul yang megah, umbul-umbul dan payung yang berwarna kuning emas.

Sesaat sebelum pasukannya bergerak Sri Rajasa masih menerima beberapa laporan tentang lawangnya. Beberapa saat ia masih merenungi medan yang terbentang di hadapannya.

“Mahisa Agni,” desis Sri Rajasa, “kita telah menumpahkan semua kekuatan kita di medan hari ini. Kalau hari ini kita gagal, maka harapan untuk maju di hari-hari berikutnya-pun menjadi semakin kecil.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dan apakah kau yakin kepada laporan petugas sandi, bahwa sepasukan prajurit Kediri, justru yang terasing itu sudah ditarik dari medan?”

“Demikianlah laporan yang hamba terima Tuanku. Tetapi hamba percaya kepada petugas sandi itu. Petugas itu bahkan berhasil memasuki bekas perkemahan prajurit Kediri itu. Pada saat yang bersamaan, sekelompok kecil pasukan yang diduga datang dari pasukan induk telah datang keperkemahan itu pula. Tetapi menurut petugas sandi itu, agaknya yang datang itu tidak tahu, bahwa pasukan yang ada di perkemahan itu telah meninggalkan padukuhannya.”

“Kita menjadi semakin yakin, bahwa memang telah terjadi perpecahan di Kediri.”

“Dan sekarang, apakah Tuanku tetap akan menurunkan seluruh pasukan di satu medan?”

“Ya. Kalau di perkemahan yang lain memang sudah tidak ada pasukan lawan, kita pusatkan kekuatan kita di sini. Kita harus dapat memecahkan pertahanan pasukan Kediri. Hari ini aku akan membawa dua orang Senapati pengapit. Panglima pasukan pengawal dan panglima pasukan keamanan ada padaku. Kau-pun akan di sampingi oleh panglima pasukan tempur yang kemarin memimpin pasukan pecahan itu dan Pimpinan Pelayan Dalam.”

“Tetapi, apakah kita tidak memerlukan sebuah pasukan cadangan Tuanku. Kalau semua kekuatan hari ini turun kegelanggang kita akan kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu, apabila tiba-tiba saja timbul masalah-masalah yang tidak dapat kita perhitungkan lebih dahulu.”

“Semua orang yang ikut ke medan ini adalah prajurit. Para pengawal perkemahan, juru masak, para pekatik dan orang-orang yang tinggal di perkemahan harus dapat menjaga diri mereka sendiri. Dalam keadaan darurat mereka merupakan sekelompok pasukan yang cukup untuk menolong diri mereka, sementara mereka mengirimkan penghubung ke medan.”

“Apakah dengan demikian, hal itu tidak akan justru mengganggu?”

“Tidak. Dan pada dasarnya, aku memang akan mengerahkan segenap kemampuan. Itulah sebabnya aku katakan, hari ini adalah hari yang menentukan. Kalau kita gagal, maka hari-hari yang berikutnya adalah hari-hari yang tidak dapat diharapkan lagi.”

Mahisa Agni tidak menyahut. Ia mengerti maksud Sri Rajasa. Dan ia-pun mengerti, bahwa sifat-sifat itu tidak akan dapat dihalau dari padanya. Sikap yang menentukan. Menang atau kalah sama sekali, seperti kebiasaan yang dibawanya dari padang Karautan.

Sejenak kemudian jarak gelar yang dipasang oleh ke dua belah pihak telah menjadi semakin mendekat. Pasukan Singasari-pun kemudian bergerak pula menyongsong pasukan Kediri yang telah mendahului memasuki medan.

Ketika Mahisa Walungan melihat gelar pasukan lawannya, hatinya menjadi berdebar-debar. Ia melihat perbedaan pada pasukan itu. Hari ini pasukan Singasari telah turun ke medan dengan segala macam tanda-tanda kebesaran.

“Agaknya Singasari telah meyakini keadaan,” berkata Mahisa Walungan di dalam hatinya.

Tetapi Mahisa Walungan sama sekali tidak terkecil hati meskipun kadang-kadang tumbuh juga kecemasan di dalam dadanya. Bukan tentang dirinya sendiri, tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa setelah Singasari menurunkan segenap kekuatannya maka pasukan Kediri nampaknya menjadi semakin kecil. Jumlah prajurit Singasari benar-benar tidak terhitung lagi. Jumlah yang sama sekali tidak diduga-duganya.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Di belakangnya penongsongnya berjalan dengan mantap, dikawal oleh sekelompok prajurit pilihan.

Sejenak Adinda Sri Baginda Kertajaya itu melayangkan pandangannya menebar ke ujung-ujung gelarnya. Ia masih sempat meraba dadanya oleh haru. Bagaimana-pun juga, ia melihat sorot mata yang memancar dari prajurit-prajuritnya, sebagai keteguhan hati mereka menghadapi segala kemungkinan.

“Tidak seorang-pun yang ragu-ragu,” desisnya di dalam hati.

Sejenak kemudian Mahisa Walungan memandang kegelar lawannya yang semakin jelas. Ia sadar, bahwa Sri Rajasa memang seorang prajurit yang tangguh. Ia mempunyai ilmu yang sangat asing bagi Mahisa Walungan. Sebagai seorang yang berilmu, Mahisa Walungan cukup memiliki bekal untuk menilai tata gerak lawan. Tetapi ia menggeleng-gelengkan kepalanya, memikirkan tata gerak Sri Rajasa. Bahkan kadang-kadang dalam keadaan yang genting, Sri Rajasa telah melakukan beberapa macam cara yang bagi Mahisa Walungan, agak terlampau kasar dilakukan oleh seorang Raja yang perkasa. Namun di saat-saat yang lain, Sri Rajasa telah bertempur bagaikan seorang yang kebal dari sekala macam senjata. Tenang dan meyakinkan.

“Tetapi Sri Rajasa tidak kebal,” desisnya, “ternyata ia selalu menghindari tajam senjataku.”

Namun yang menggetarkan bagi Mahisa Walungan, kemampuan Sri Rajasa sama sekali tidak berkurang setelah sehari penuh ia bertempur.

Di hari pertama dan bahkan di hari kedua Sri Rajasa sama sekali tidak terpengaruh oleh banyaknya keringat yang menitik dari tubuhnya. Di saat-saat matahari sudah condong ke Barat, ia masih mampu bertempur seperti pada saat pertempuran itu dimulai.

Dan kini ia harus menghadapi Sri Rajasa itu kembali dalam keadaan yang pahit, sepeninggal Pujang Warit dari perkemahannya.

Dalam pada itu, Pujang Warit memang berada di perjalanan ke kota. Dalam waktu yang pendek ia memutuskan untuk meninggalkan medan.

“Tetapi, keputusan yang demikian itu akan sangat berbahaya bagi pasukan Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan dan Menteri Gubar Baleman. Kita sudah merampas kemungkinan datangnya pasukan cadangan untuk membantu mereka, kini kita melepaskan mereka bertempur tanpa kita.”

“Bodoh kau,” geram Pujang Warit kepada Senapati pengapitnya yang mencoba memberinya peringatan, “Mahisa Walungan dan Gubar Baleman memang sudah tidak berhak untuk hidup. Sri Baginda melepaskan mereka, hanya karena Baginda terkejut atas berita tentang pasukan Singasari itu.”

“Bagaimana kalau Senapati muda yang menjemput Gubar Baleman ke perbatasan itu sampai ke istana?”

“Ia tidak akan memiliki nyawa rangkap.”

“Tetapi, masalahnya bukan Mahisa Walungan atau Gubar Baleman. Masalahnya adalah masalah Kediri.”

“Kau memang bodoh. Bersama kita atau tidak, Mahisa Walungan akan bertempur. Bertempur mati-matian. Kita tahu bahwa mereka adalah Senapati-senapati yang perkasa. Tetapi bagaimana perkasanya kedua orang itu, namun mereka tidak akan dapat menahan arus pasukan Singasari sehingga aku yakin, keduanya akan hancur di peperangan itu.”

“Bagaimana kalau mereka mengundurkan diri.”

Pujang Warit menggelengkan kepalanya, “Aku kira Mahisa Walungan dan Gubar Baleman tidak akan mengundurkan diri. Mereka yakin bahwa cara itu tidak akan ada gunanya bagi mereka, selama aku masih ada.”

Senapati pengapitnya mengerutkan keningnya.

“Jangan terlampau bodoh. Dalam pertempuran itu, pasukan Kediri akan pecah dan kocar-kacir. Tetapi pasukan Singasari-pun akan mengalami kehancuran yang parah. Sudah aku katakan berkali-kali. Kita akan berdiri di atas timbunan mayat ke dua belah pihak. Pujang Warit akan menjadi Senapati tertinggi. Siapa tahu, salah seorang adik Sri Baginda Kertajaya akan dihadiahkan kepadaku. Kemudian apa bedanya aku dengan Mahisa Walungan?”

Kawannya berbicara sudah tidak bernafsu lagi untuk membantah. Pujang Warit agaknya memang sudah tidak waras lagi. Tetapi Senapati itu sadar, bahwa ia tidak akan menumbuhkan perpecahan baru. sehingga sebelum mereka bertempur melawan Singasari. pasukan Kediri telah hancur dengan sendirinya.

Demikianlah maka pasukan Pujang Warit itu merayap mendekati kota. Beberapa ratus patok dari istana, Pujang Warit mengirimkan seorang penghubung untuk menghadap Sri Baginda, memberitahukan bahwa ia akan menghadap.

Kehadiran penghubung itu mengejutkan seisi istana yang selalu berjaga-jaga siang dan malam. Setiap saat mereka mendapat laporan dari medan di sebelah Utara Ganter. Karena itu, kedatangan utusan Pujang Warit telah menumbuhkan keheranan di hati Sri Baginda.

“Kenapa Pujang Warit akan menghadap?”

“Ampun Tuanku. Senapati Panggede Pujang Warit akan menyampaikan sesuatu yang dianggapnya penting bagi Tuanku.”

Sri Baginda Kertajaya berpikir sejenak. Meskipun ia tidak melihat medan, tetapi laporan yang diterimanya setiap kali telah memberikan gambaran yang jelas dari medan yang sedang diaduk oleh peperangan yang dahsyat di sebelah Utara Ganter.

Dalam pada itu, maka dua orang penasehat Baginda, tanpa berjanji, dan hampir bersamaan berkata, “Apakah hamba diperkenankan memanggilnya?”

“Aku belum memutuskan untuk menerima Pujang Warit,” jawab Sri Baginda.

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak, namun mereka tidak berkata apa-apa lagi.

Dalam pada itu Sri Baginda mencoba menilai apa yang telah terjadi di medan peperangan yang mencemaskan itu.

Belum lagi Sri Baginda memberi keputusan, utusan yang dikirim oleh Mahisa Walungan seperti yang selalu dilakukannya, telah datang menghadap.

Dengan tergesa-gesa Sri Baginda bertanya, “Bagaimana dengan medan hari ini?”

Penghubung itu-pun segera melaporkannya, bahwa medan menjadi semakin berat.

“Pujang Warit meninggalkan perkemahannya,” berkata penghubung itu, “justru pada saat Singasari mengerahkan segala kekuatan dan pasukan cadangan di hari ketiga. Gelar yang dipasang hari ini ditandai dengan ciri-ciri kebesaran Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

Dada Sri Baginda Kertajaya berdesir karenanya.

“Kenapa Pujang Warit justru meninggalkan medan di saat yang genting ini?” gumam Sri Baginda.

Namun tiba-tiba saja Sri Baginda itu berteriak kepada utusan Pujang Warit, “Kenapa ia pergi? Bahkan dengan segenap pasukannya yang ada di medan? Apakah Pujang Warit tidak sadar, bahwa dengan demikian ia sudah menjerumuskan pasukan Kediri yang lain ke dalam bencana?”

“Bahkan usaha Adinda Sri Baginda untuk memanggil pasukan cadangan yang tersebar-pun dihalang-halangi. Pujang Warit masih selalu menyebut dirinya, yang mendapat limpahan kekuasaan Sri Baginda Kertajaya.” Sela penghubung Mahisa Walungan.

Sri Baginda menjadi tegang sesaat. Dipandanginya kedua penasehatnya, kemudian utusan Pujang Warit yang menghadapnya.

Sejenak Sri Baginda itu merenung. memperbandingkan semua keterangan dan masalah-masalah yang pernah didengarnya dan disaksikannya. Karena itu paseban itu-pun menjadi sepi. Sepi yang tegang.

Dan tiba-tiba Sri Baginda berkata, “Aku masih tetap dalam pendirianku. Kalian tetap berada di paseban. Juga kau, tidak perlu kembali kepada Pujang Warit.”

“Ampun Tuanku. Saat ini Senapati Pujang Warit sedang menunggu.”

“Biarlah ia menunggu. Aku akan memanggilnya. Tetapi bukan kau.”

Utusan itu menjadi pucat. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain dari pada menundukkan kepalanya.

Sri Baginda-pun kemudian dengan tiba-tiba meninggalkan ruangan paseban. Di ruang yang lain dipanggilnya beberapa orang Senapati. Senapati pengawal istana.

“Nah, apakah kau masih tetap setia kepadaku?” bertanya Sri Baginda.

Para Senapati itu saling berpandangan sejenak. Lalu salah seorang dari mereka berkata, “Ampun Sri Baginda, apapun yang akan terjadi, hamba telah menyatakan diri hamba bersama-sama, selalu setia kepada Sri Baginda.”

“Ya,” berkata Sri Baginda, “terima kasih. Dan kita bersama-sama telah membuat suatu kesalahan. Kita telah menangkap Mahisa Walungan. Untunglah bahwa Gubar Baleman mempunyai bentuk kesetiaan yang lain, sehingga aku terpaksa berpikir lagi mengenai mereka. Kini mereka berdua masih mempunyai kesempatan untuk maju ke medan perang. Tetapi keadaan Kediri telah menjadi parah.” Sri Baginda berhenti sejenak. Lalu, “kalian masih tetap harus berjaga-jaga di sekitar istana. Tidak seorang-pun boleh keluar.”

Para Senapati itu menganggukan kepala mereka. Yang tertua di antara mereka menjawab, “Hamba Tuanku.”

“Pujang Warit dan pasukannya kini telah berada di dalam kota. Senapati itu minta waktu untuk menghadap.”

Para Senapati itu saling berpandangan sejenak.

“Aku akan memanggil Pujang Warit. Tetapi kalian tahu, bahwa Pujang Warit ternyata telah mengelabui aku. Aku telah membuat kesalahan karenanya. Karena itu. Pujang Warit tidak akan mendapat tempat lagi di Kediri.”

Para Senapati menarik nafas dalam-dalam.

“Kalian tahu, akibat apa yang mungkin dapat timbul? Tetapi aku akan berusaha untuk mengatasi semuanya itu.”

“Hamba bersama-sama para Senapati dan prajurit pengawal yang masih ada akan menghadapi setiap kemungkinan Tuanku.”

“Bukankah di dalam pasukan Pujang Warit itu terdapat beberapa kelompok dari kesatuan pengawal?” bertanya Sri Baginda.

“Hamba Tuanku.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Nah salah seorang dari kalian, pergilah. Panggil Pujang Warit. Kalau Pujang Warit menanyakan pesuruhnya, katakan, bahwa Sri Baginda masih memerlukannya untuk memberikan beberapa keterangan tentang medan dan pasukan Singasari.”

Demikianlah, maka salah seorang dari para Senapati itu-pun segera meninggalkan istana untuk menjemput Pujang Warit. Dari utusan Pujang Warit yang masih ada di paseban. Senapati itu tahu, di mana Pujang Warit dan pasukannya kini berada.

Kedatangan Senapati itu telah mengejutkan Pujang Warit. Yang pertama-tama ditanyakan adalah pesuruhnya.

“Sri Baginda masih memerlukan banyak sekali keterangan-keterangan tentang medan. Karena itu, maka aku diperintahkan oleh Sri Baginda untuk menjemputmu. Sri Baginda tidak berkeberatan untuk menerimamu. Bahkan semakin cepat semakin baik. karena Sri Baginda ingin lebih cepat dan lebih banyak mengetahui tentang medan.”

“Apakah Mahisa Walungan dan Gubar Baleman tidak pernah mengirimkan penghubungnya?”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpikir, tetapi ia harus segera menjawab, katanya, “Laporan mereka tidak meyakinkan. Yang ada hanyalah keluh kesah dan hampir menjadi putus-asa. Itulah yang akan didengar oleh Sri Baginda.” Senapati itu terdiam sejenak. Namun ia mengerti sepenuhnya maksud Sri Baginda, sehingga ia meneruskannya. “Sri Baginda tidak meletakkan harapannya pada pasukan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Pertahanan itu adalah pertahanan depan yang harus dirangkapi dengan pertahanan yang lain. Untuk sementara. Sri Baginda telah menjadikan dinding istana sebagai benteng terakhir.”

“Berbahaya sekali,” dengan serta-merta Pujang Warit menjawab.

“Untuk sementara. Tetapi sebaiknya kau menghadap sendiri.”

Pujang Warit mengerutkan keningnya. Ada sesuatu yang kurang mapan di hatinya. Namun ia yakin, bahwa dalam keadaan serupa ini, Sri Baginda tidak akan berbuat sesuatu yang akan dapat mengurangi kekuatan Singasari.

Karena itu maka katanya, “Baiklah, aku akan menghadap Sri Baginda.”

Tetapi ternyata Pujang Warit tidak pergi sendiri. Ia membawa beberapa orang prajurit yang dipercayanya, untuk mengawalnya ke istana.

Senapati yang menjemputnya menjadi termangu-mangu. Tetapi supaya Pujang Warit tidak mencurigainya, maka ia-pun sama sekali tidak berkeberatan, membawa Pujang Warit bersama beberapa orang pengawal.

Sejenak kemudian maka mereka-pun segera berpacu ke istana. Ketika mereka memasuki pintu gerbang, setiap prajurit pengawal istana, sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Meskipun demikian mereka tidak segera bertindak agar tidak menumbuhkan beberapa keributan.

“Cara yang dipergunakan oleh Menteri Gubar Baleman pantas ditiru,” desis salah seorang Senapati, “mereka menguasai keadaan tanpa terjadi sesuatu. Apakah dapat dilakukan tindakan serupa atas para pengawal yang tinggi di luar paseban itu.”

Kawannya menganggukkan kepalanya. “Mungkin sekali. Aku akan membawa pengawal itu kesamping bangsal.”

Senapati yang seorang itu-pun kemudian meninggalkan kawannya untuk membawa para pengawal Pujang Warit kesamping bangsal, sedang kawannya itu-pun segera mempersiapkan beberapa orang prajurit pengawal untuk menguasai para pengawal Pujang Warit itu.

Dalam pada itu, Pujang Warit yang telah sampai di luar regol halaman bangsal paseban dalam, segera turun dari kudanya. Tetapi ia tidak dapat masuk membawa pengawal-pengawalnya, sehingga karena itu, maka diantar oleh Senapati yang menjemputnya, ia melangkah di antara dua orang penjaga di bawah tangga bangsal paseban. Tetapi kedua penjaga itu, tidak memberikan kesan apapun pada Senapati muda itu.

Bahkan keduanya menganggukkan kepala mereka, memberikan hormat sebagai mana seharusnya dilakukan terhadap seorang Senapati.

Dengan demikian maka para pengawal Pujang Warit-pun tinggal di halaman bangsal paseban dalam, sedang kuda-kuda mereka harus mereka tinggalkan di luar regol. Tetapi hal itu sama sekali tidak menumbuhkan kecurigaan apapun pada Pujang Warit dan pengawalnya, karena memang demikianlah kebiasaan seseorang, siapapun dan betapapun pentingnya keperluannya, apabila menghadap Sri Baginda di paseban dalam.

Para pengawal itu berpaling ketika mereka mendengar seseorang menyapa mereka. Ternyata seorang Senapati datang menghampiri mereka dari sisi paseban itu. Sambil tertawa Senapati itu berkata, “Sri Baginda telah lama menunggu. Apakah kalian datang mengantarkan Pujang Warit?”

“Ya, kami datang mengawal Pujang Warit,” jawab seorang Senapati yang ada di dalam kelompok pengawal itu.

“Bagus. Agaknya keadaan sudah menjadi terlampau panas, sehingga Sri Baginda sendiri-pun menjadi agak bingung menghadapinya.”

“Kenapa bingung?” jawab Senapati pengawal Pujang Warit, “bukankah Sri Baginda sudah menyerahkan segala tanggung jawab kepada Pujang Warit?”

“Ya. tetapi karena Sri Baginda kekurangan bahan laporan itulah agaknya maka Sri Baginda menjadi bingung. Mudah-mudahan dengan kedatangan Pujang Warit, Sri Baginda mendapat banyak penjelasan.”

“Mudah-mudahan.”

“Tetapi,” berkata Senapati pengawal istana itu, “sebaiknya kalian berada di samping bangsal ini. Dilongkangan sebelah kalian dapat duduk sambil minum. Bukankah Pujang Warit memerlukan waktu untuk menyampaikan laporannya itu?”

Senapati pengawal Pujang Warit itu menjadi ragu-ragu sejenak. Sedang pengawal istana itu berkata, “Apakah kalian akan berdiri saja di sini?”

Sejenak Senapati pengawal Pujang Warit itu merenung. Kemudian dipandanginya anak buahnya seorang demi seorang. Nampaknya mereka mengharap untuk dapat duduk beristirahat dengan tenang sambil minum minuman hangat.

“Baiklah,” berkata pengawal itu kemudian, “di mana kami dapat duduk menunggu?”

“Di sebelah bangsal ini.”

Para pengawal itu-pun kemudian berjalan beriringan melingkari sudut paseban, menuruni sebuah tangga batu menuju kesebuah longkangan yang dirimbuni oleh daun-daun pohon sawo kecik.

Beberapa orang pengawal yang ada di tempat itu menganggukkan kepala mereka sambil tersenyum. Dengan ramahnya mereka mempersilahkan para pengawal Pujang Warit itu untuk duduk berjajar di halaman, pada sehelai tikar, pandan yang putih di bawah bayang-bayang pohon yang rimbun.

Namun belum lagi mereka mapan, tiba-tiba mereka terkejut. Seperti mimpi mereka melihat para pengawal itu bergeser setapak, kemudian muncul beberapa orang yang lain, yang dengan satu loncatan telah menekankan ujung-ujung pisau belati di lambung mereka.

“He, apa artinya ini?” bertanya Senapati pemimpin pengawal Pujang Warit.

“Tidak menjadi kebiasaan seorang Senapati yang dipanggil menghadap oleh Sri Baginda membawa sekian banyak pengawal.”

“Sama sekali bukan suatu keanehan,” jawab Senapati itu, “pengawal ini kami perlukan di sepanjang perjalanan, dalam suasana yang panas ini.”

“Tetapi lawan masih berada di sebelah Utara Ganter.”

“Siapa tahu ada pesuruh-pesuruh di dalam kota yang sengaja disebarkan oleh orang-orang Singasari, atau justru oleh orang-orang Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.”

“Mahisa Walungan dan Gubar Baleman sedang bertempur mempertahankan Kediri.”

“Mereka sedang mencoba untuk memperbaiki kesalahan mereka. Tetapi seandainya mereka dapat mengusir pasukan Singasari, apakah mereka tidak memutar arah peperangan ini menghadap ke istana?”

“Suatu ceritera yang aneh. Kami di sini, bahkan Sri Baginda pernah mempercayai ceritera itu. Tetapi kini kami berpendapat lain dan Sri Baginda-pun berpendapat lain. Apalagi setelah Pujang Warit meninggalkan medan yang kini sedang dalam keadaan tidak menguntungkan.”

Para pengawal itu menjadi tegang. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Setiap orang telah dilekati dengan ujung-pisau belati di lambung atau punggungnya.

“Kini Sri Baginda sedang membuat perhitungan dengan Pujang Warit di paseban. di hadapan para pemimpin Kediri, para penasehat, para Menteri dan diawasi oleh beberapa orang Senapati yang telah mengerti persoalan yang sebenarnya. Dengan demikian, maka kami bertugas untuk membuat kalian tidak dapat ikut campur lagi dalam masalah ini.”

“Licik. Jadi beginikah cara yang selama ini ditempuh oleh pasukan pengawal yang terkenal itu? Menurut pendengaranku, pasukan pengawal istana adalah pasukan yang paling baik di Kediri. Tetapi ternyata kalian licik. Kenapa kalian tidak berusaha mengepung kami pada saat kami memasuki halaman istana?”

Para prajurit pengawal istana itu saling berpandangan sejenak. Tetapi terasa bahwa darah mereka menjadi panas mendengar kata-kata pimpinan prajurit pengawal Pujang Warit itu.

Salah seorang dari mereka berkata, “Kalau kami tidak sedang mengemban tugas, kami akan membuktikan bahwa kami bukan manusia yang licik.”

“He, masihkah kau ingkar? Kita bersama-sama melihat kenyataan ini.”

Senapati pengawal istana itu-pun menjawab, “Kami tidak dapat membiarkan darah kami menjadi panas dan mendidih bagaimana-pun juga dada kami bergelora. Cara ini kami tempuh untuk menghindari keributan yang tidak akan berarti apa-apa bagi kita semua. Justru apabila keributan ini merembes sampai keluar istana, akibatnya hanya akan membuat rakyat menjadi bertambah bingung. Mereka sedang dicemaskan oleh berita peperangan di sebelah Utara Ganter. Karena itu, maka kami berusaha untuk menyelesaikan tugas kami dengan cepat dan tanpa keributan.”

“Tetapi itu bukan perbuatan jantan.”

“Mungkin, menurut penilaian seorang prajurit di peperangan. Tetapi kami mempunyai pertimbangan lain. Mungkin kami memang harus mengorbankan kejantanan kami untuk kepentingan yang jauh lebih besar, Kediri.”

“Omong kosong. Setiap pengecut dapat mencari alasan apapun. Untung kepentingan yang lebih besar.”

“Kami tidak akan berbantah mengenai diri kami. Apakah kami orang-orang jantan, atau sekedar hanya segerombolan pengecut. Tetapi kami berhasrat melakukan tugas kami sebaik-baiknya. Karena itu maaf bahwa kami akan melucuti senjata kalian.”

“Gila,” teriak Senapati, pemimpin pasukan pengawal Pujang Warit itu, “tidak mungkin. Senjata kami sama nilainya dengan nyawa kami.”

“Jadi?”

“Kami tidak akan menyerahkan senjata kami.”

“Sekali lagi kami minta maaf, kalau kalian tidak menyerahkan senjata kalian, memang kami terpaksa mengambil yang lain, yang sama nilainya, yaitu nyawa kalian.”

“Gila, kalian sudah menjadi gila?”

“Mungkin kami sudah menjadi gila. Beberapa saat yang lampau kami berbuat serupa, menangkap Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan. Kemudian kami berusaha menangkap Gubar Baleman, tetapi gagal. Justru kamilah yang dikuasai oleh prajurit-prajurit topangan seperti kalian yang setia kepada Menteri Gubar Baleman. Tetapi agaknya Gubar Baleman tetap tunduk dan setia kepada Sri Baginda. Sekarang, tugas kami menguasai kalian dan melucuti senjata kalian. Kami tidak lagi sempat menilai diri kami. Apakah kami memang gila atau tidak. Tetapi kami adalah prajurit-prajurit pasukan pengawal Baginda Kertajaya yang hanya dapat diperintah langsung oleh pimpinan kami yang berada di bawah perintah Sri Baginda.”

“Gila. Kalian gila. Aku tidak perlu sesorahmu. Tetapi kalian bukan prajurit-prajurit Kediri yang sebenarnya, karena dengan tindakan kalian telah melanggar sifat kesatria.”

“Sayang, bahwa pemimpinmulah yang mendahuluinya.”

“Siapa?”

“Pujang Warit. Apakah sampai sekarang kau tidak sadar bahwa Pujang Warit telah memfitnah Adinda Sri Baginda dan Menteri Gubar Baleman sehingga hampir saja keduanya terbunuh kalau tidak ada banjir bandang dari Singasari? Kemudian pemimpinmu itu dengan licik membiarkan pasukan Kediri di sebelah Utara Ganter hari ini bertempur tanpa bantuan pasukan cadangan yang seharusnya dapat dikumpulkan?”

“Kalian mengigau?”

“Diamlah. Kalian harus menyerahkan senjata kalian. Di dalam keadaan yang gawat, kami tidak dapat bergurau lagi. Senjatamu atau nyawamu.”

Senapati itu tidak menjawab. Tetapi giginya gemeretak menahan kemarahan yang memuncak.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa, ketika mereka dipaksa untuk berdiri berjajar. Kemudian seorang prajurit pengawal telah melepas pedang dari lambung mereka, dengan wrangkanya sama sekali.

“Kalian menjadi tawanan pasukan pengawal istana hari ini.”

Senapati pemimpin pengawal Pujang Warit itu tidak menjawab. Wajahnya yang tegang menjadi kemerah-merahan oleh gejolak di dalam dadanya.

Sementara itu Pujang Warit yang berada di paseban-pun menjadi tegang pula. Meskipun mula-mula Sri Baginda Kertajaya menyambutnya sambil tertawa, “Ha. kau Pujang Warit. Sudah lama kami menunggumu. Marilah.”

Pujang Warit semula memang tidak menaruh kecurigaan apa-apa. Orang-orang di paseban adalah orang-orang yang sudah dikenalnya. Dilihatnya di belakang Sri Baginda, di antara para penasehat, dua orang yang dikenalinya baik-baik. Tetapi Pujang Warit tidak segera dapat membaca kesan yang terpancar dari wajah-wajah mereka yang pucat dan basah oleh keringat yang dingin.

“Bagaimana rencana selanjutnya Pujang Warit? Sebagian aku sudah mendengar dari pesuruhmu yang mendahului kau menghadap. Aku menahannya di sini. karena aku ingin banyak mendengar tentang daerah pertempuran itu. Sehingga aku memerintahkan kepada orang lain untuk menjemputmu.”

Pujang Warit membungkukkan kepalanya dalam-dalam, “Ampun Tuanku. Barangkali sebagian terbesar dari masalah yang akan hamba sampaikan telah Tuanku ketahui. Pertahanan yang sebenarnya akan hamba bangunkan di dalam lingkungan yang lebih kuat. Hamba akan menjadikan dinding kota sebagai benteng pertahanan untuk mematahkan serbuan pasukan Singasari.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah kau akan membangun benteng pertahanan itu hari ini?”

“Apabila Sri Baginda mengijinkan. Hamba memang merencanakan demikian.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya Pujang Warit dengan tatapan mata yang menyimpan teka-teki. Tetapi Sri Baginda masih berkata, “Apakah pasukan yang cukup kuat untuk bertahan? Aku mendengar laporan dari orangmu sendiri, kekuatan Singasari bagaikan banjir bandang yang seakan-akan tidak terbendung.”

“Hamba Tuanku. Memang kekuatan Singasari cukup mendebarkan jantung.”

“Apakah prajuritmu cukup banyak untuk mempertahankan kota ini.”

“Tentu Tuanku. Aku akan berusaha sekuat-kuat tenaga. Prajurit-prajuritku akan aku perlengkapi dengan senjata jarak jauh untuk menahan laju mereka. Dengan demikian, apabila mereka mencapai dinding kota, jumlah mereka-pun sudah berkurang.”

“Tidak seberapa jumlahnya. Mereka akan segera berlindung di balik perisai-perisai mereka.”

Pujang Warit mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba di luar sadarnya ia berkata, “Tetapi ketika mereka mencapai dinding kota, maka jumlah mereka-pun pasti sudah akan jauh berkurang.”

“Kenapa?”

“Mereka sedang bertempur di sebelah Utara Ganter.”

“Dengan pasukan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman maksudmu?”

“Hamba Tuanku.”

“Apakah Mahisa Walungan dan Gubar Baleman kira-kira tidak akan dapat menahan mereka?”

“Terlampau berat Tuanku.”

Dan sampailah Sri Baginda kepada pertanyaan yang mengejutkan Pujang Warit sehingga serasa jantungnya berhenti berdetak, “Kenapa kau tidak membantu Mahisa Walungan dan Gubar Baleman saja? Pasukan gabungan itu pasti setidak-tidaknya akan dapat menahan arus laju pasukan Tumapel. selagi kita mengumpulkan pasukan cadangan yang tersebar.”

Pujang Warit tidak segera menjawab pertanyaan Sri Baginda. Bahkan terasa keringat dinginnya mulai mengaliri punggungnya.

“Kenapa?” desak Sri Baginda.

Pujang Warit tergagap, “Tetapi, bukankah lebih baik bagi hamba untuk menyusun pertahanan tersendiri, sesuai dengan perintah Sri Baginda, bahwa hamba harus mengambil pimpinan seluruh pasukan Kediri.”

“Ya. aku memang memerintahkan kepadamu untuk mengambil pimpinan seluruh pasukan. Tetapi kenapa kau tidak berbuat demikian dan menyatukan pertahanan untuk melawan arus pasukan yang besar itu?”

“Ampun Tuanku. Hamba sudah mencoba, tetapi Mahisa Walungan dan Gubar Baleman tidak mau menyerahkan pimpinan. Justru mereka menganggap bahwa hamba harus tunduk kepada perintahnya.”

Terasa sesuatu bergetar di dada Baginda. Ia tidak dapat ingkar, bahwa ia-pun telah melakukan kesalahan. Ia telah menyerahkan pimpinan tertinggi kepada dua tangan. Ia sampai saat terakhir masih belum dengan tegas mencabut kekuasaan Pujang Warit, sehingga akhirnya, Kediri telah terbagi.

Namun demikian Sri Baginda melihat, niat yang kurang baik pada Pujang Warit. Kalau Gubar Baleman dan Mahisa Walungan dengan jujur telah berusaha untuk menggabungkan kekuatan mereka, seperti yang disampaikan oleh penghubungnya, maka Pujang Warit dengan sengaja menjerumuskan kedua orang yang menjadi saingannya itu ke dalam bencana.

Karena itu, maka Sri Baginda-pun bertanya, “Tetapi apakah kau tidak dapat membuat suatu cara, sehingga pasukanmu dapat bergabung dengan kekuatan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman? Misalnya, kau mengorbankan sedikit harga dirimu seperti yang telah dilakukan oleh Gubar Baleman, tetapi dengan demikian Kediri dapat diselamatkan.”

“Tuanku, bukankah Gubar Baleman dan Mahisa Walungan menurut Tuanku adalah pengkhianat-pengkhianat? Apakah hamba harus menyerahkan pimpinan pasukan ini kepada seorang pengkhianat? Kalau mereka bersedia berjuang di dalam lingkungan perintah hamba, sesuai dengan keputusan Sri Baginda, hamba tidak akan berkeberatan.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia melihat kesalahan pada dirinya sendiri.

Tetapi Sri Baginda tidak mau banyak kehilangan waktu, sehingga katanya kemudian, “Pujang Warit, aku tidak dapat mengingkari kesalahanku. Tetapi siapakah yang menyebabkan aku salah menilai kesetiaan adikku dan Menteriku Gubar Baleman?”

Pertanyaan yang langsung itu terasa menyengat jantungnya. Ternyata bahwa Sri Baginda benar-benar sudah mencium rencananya bersama kedua penasehat itu. Ternyata kehadiran Gubar Baleman dan Mahisa Walungan di peperangan itu bukan sekedar karena Sri Baginda menjadi bingung oleh arus pasukan Singasari, tetapi justru karena Sri Baginda menyadari kekeliruannya.

“Kenapa kau diam Pujang Warit?”

Pujang Warit tidak segera menjawab. Tubuhnya menjadi semakin basah oleh keringatnya yang mengalir semakin deras di seluruh tubuhnya.

“Jangan membisu Pujang Warit. Pada saat-saat terakhir aku mendengar semua rencanamu yang keji. Kau meninggalkan medan sama sekali bukan karena kau yakin bahwa kau dapat menyusun pertahanan yang kuat, tetapi karena kau sengaja menjerumuskan Gubar Baleman dan Mahisa Walungan ke dalam jurang kehancuran. Kau berharap bahwa pasukan Gubar Baleman dan Mahisa Walungan akan hancur, sedang kedua Senapati itu terbunuh. Kau berharap bahwa sisa-sisa pasukan Singasari tidak akan terlampau berbahaya lagi bagimu sehingga kau akan dapat menghancurkannya di tepi kota ini. Dengan demikian kau akan mendapat dua kemenangan sekaligus. Kemenangan atas Gubar Baleman dan Mahisa Walungan dan kemenangan atas Singasari. Kau akan mendapat pujian dan gelar pahlawan yang telah menyelamatkan Kediri dari kehancuran. Bukankah begitu? “

Mulut Pujang Warit masih juga serasa terbungkam. Bahkan kini tubuhnya menjadi gemetar menahan perasaannya.

Tidak seorang-pun yang ada di dalam paseban itu berani mengangkat wajahnya. Kini Sri Baginda Kertajaya sudah sampai pada puncak kemarahannya, meskipun tampaknya ia masih mencoba mengendalikan diri.

“Pujang Warit,” berkata Sri Baginda, “kenapa kau diam saja?”

“Ampun Tuanku,” berkata Pujang Warit kemudian, “hamba telah melakukan yang paling baik bagi Kediri menurut pendapat hamba.”

“Juga tentang usahamu menyingkirkan Gubar Baleman dan Mahisa Walungan itu termasuk usaha terbaik bagi Kediri?”

“Hamba Tuanku, karena menurut penilaian hamba, keduanya sudah tidak menurut perintah Tuanku. Keduanya dengan diam-diam telah membangun pertahanan di sebelah Utara Ganter tidak setahu Tuanku. Itu akan menjadi kebiasaan yang sangat tercela bagi seorang prajurit.”

“Tetapi apakah pelanggaran itu berarti pemberontakan seperti yang kau katakan? Dan apakah kau yakin bahwa keduanya telah melakukan pelanggaran itu? Aku melarang membawa pasukan ke perbatasan. Dan mereka mentaatinya. Mereka tidak membawa pasukan ke perbatasan, tetapi hanya ke sebelah Utara Ganter.”

“Tetapi membangun suatu pertahanan di luar pengetahuan Tuanku, apakah hal itu dapat dibenarkan?”

“Tentu tidak. Tetapi apakah dibenarkan untuk menyalah gunakan kepercayaanku, dengan memutar balikkan kenyataan? Apakah benar Gubar Baleman dan Mahisa Walungan tidak setia kepadaku?”

“Hal itu, kita sama-sama tidak tahu. Hamba tidak tahu apa yang tersirat di hatinya yang paling dalam, dan Tuanku-pun tidak mengetahui.”

Darah Sri Baginda berdesir mendengar jawaban itu. Ketika ditatapnya wajah Pujang Warit, ternyata wajah itu-pun menjadi merah.

Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Kini ia dapat membaca wajah Senapati muda itu. Agaknya Pujang Warit telah merasa bahwa ia terjebak. Karena itu, dalam keadaan yang tersudut itu, tidak ada pilihan lain baginya, dari pada mempertahankan harga diri sedapat-dapatnya. Ia yang mengetahui kelemahan dan kekeliruan Sri Baginda selalu berusaha menyandarkan tindakannya kepada kekeliruan itu. Meskipun akhirnya Sri Baginda dapat berbuat apa saja atasnya, tetapi ia akan dapat memberikan kepada orang-orang yang ada di paseban. bahwa kesalahan itu tidak dapat dibebankannya kepada dirinya sepenuhnya.

Para Senapati dan para Menteri yang ada di paseban itu-pun menjadi heran melihat sikap Pujang Warit. Sebagian dari mereka dapat mengerti seperti juga Sri Baginda, bahwa Pujang Warit sudah mendekati keputus-asaannya. Justru dengan demikian, darah mudanya telah menggelegak tanpa dapat dikendalikan lagi.

“Aku akan dihukum mati,” berkata Pujang Warit di dalam hatinya, “sebagai seorang prajurit, tidak pantas aku mati sambil menyembunyikan wajah. Aku harus menengadahkan kepalaku menghadap ketiang gantungan.”

Dengan demikian maka Pujang Warit-pun merasa tidak perlu lagi untuk menundukkan kepalanya sampai mencium lantai. Kini ia justru duduk dengan dada tengadah.

“Aku tidak akan dapat mengelak lagi,” katanya pula di dalam hati.

Sikap Pujang Warit itu memang mencengangkan mereka yang melihatnya. Namun mereka menjadi heran juga. bahwa Sri Baginda masih saja membiarkannya duduk di tempatnya.

“Pujang Warit,” Sri Baginda masih berkata wajar meskipun tampak betapa ia menahan hati, “aku tahu apa yang tersirat di hati Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Mahisa Walungan adalah adikku. Aku mengenalnya sejak kanak-kanak.”

“Tetapi kenapa Tuanku mempercayai hamba?”

“Ya. Kenapa aku mempercayaimu. Apakah karena kau terlampau cerdik, atau karena aku terlampau bodoh,” Sri Baginda berhenti sejenak. Lalu, “sedang Gubar Baleman telah membuktikan kesetiaannya di saat-saat terakhir. Meskipun ia telah menguasai seluruh isi istana ini, untuk sekedar dapat memberikan penjelasan kepadaku, karena aku sudah tidak memberi waktu lagi kepadanya untuk berbicara.” Sri Baginda berhenti sejenak untuk mengatur pernafasannya yang memburu, “tetapi ia tidak berbuat lebih lanjut. Ia tidak merampas kekuasaan dari tanganku meskipun itu dapat dilakukannya apabila ia mau.”

“Dan Tuanku justru membenarkan cara yang demikian?” jawab Pujang Warit, lalu, “ternyata Tuanku memang sudah tidak dapat memegang kekuasaan seperti seharusnya seorang Maharaja. Terbukti bahwa para Brahmana dan pemimpin agama telah meninggalkan Kediri. Kemudian terjadi kekisruhan di dalam pimpinan keprajuritan karena Tuan begitu cepat percaya. Tuanku yang di saat-saat terakhir merasa diri Tuanku sebagai titisan Dewa, akhirnya Tuanku harus mengakui, bahwa Tuanku tidak lebih dari manusia biasa.”

Tidak seorang-pun yang dapat menilai lain dari sikap Pujang Warit itu kecuali membunuh diri. Tetapi seperti yang diharapkan oleh Pujang Warit, bahwa kematiannya bukanlah kematian seekor tikus di tangan seekor kucing.

Namun sikap Pujang Warit itu telah membakar dada Sri Baginda Kertajaya sebagai seorang prajurit. Meskipun selama ini Sri Baginda yang merasa dirinya sebagai pengejawantahan Dewa dari langit, namun dalam keadaan yang panas, ia telah terlempar kembali ke dalam kenyataannya sebagai manusia, sebagai seorang prajurit. Itulah sebabnya maka dengan wajah yang merah Sri Baginda berkata, “Pujang Warit, kau benar. Aku tidak dapat membebankan kesalahan seluruhnya kepadamu. Kau dan aku telah membuat kesalahan yang serupa, karena itu. kau dan aku bersama-sama harus mendapat hukuman. Hukuman yang sama sebagai prajurit-prajurit Kediri. Sebagai kesatria Kediri yang jujur. Hukuman itu harus dijatuhkan kepada kita bersama-sama. Hukuman itu adalah perang tanding antara dua orang prajurit yang sama-sama bersalah.”

Kata-kata Sri Baginda Kertajaya itu ternyata telah mengguncangkan paseban. Beberapa orang Senapati tersentak, dan bahkan ada di antara mereka yang bergeser maju. Salah seorang dari mereka tiba-tiba saja berkata, “Ampun Tuanku, kenapa Tuanku menjatuhkan keputusan itu?”

“Ya, itu keputusanku.”

“Tuanku, sebelum terlambat. Tuanku dapat menunjuk salah seorang dari kami untuk mewakili Tuanku, melakukan perang tanding atas nama Tuanku.”

“Tidak. Aku berkata sepenuh kesadaranku.”

“Tetapi itu terlampau terhormat bagi Pujang Warit yang telah dengan jelas melakukan pengkhianatan terhadap Tuanku dan Kediri.”

“Tetapi sudah aku katakan, aku-pun telah bersalah.”

Senapati yang lain menyela, “Tetapi kami adalah prajuritnya yang setia kepada Sri Baginda. Adalah sepantasnya, salah seorang dari kami dapat mewakili Sri Baginda.”

Sri Baginda Kertajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sangat berterima kasih kepada kesetiaan kalian. Tetapi aku tahu. bahwa akulah yang harus mendapat hukuman. Aku sebagai manusia dan prajurit seperti yang dikatakan oleh Pujang Warit. sehingga dengan demikian maka aku adalah pribadi.” Sri Baginda berhenti sejenak. Lalu, “Aku sama sekali tidak merendahkan kemampuan kalian. Aku tahu, bahwa Senapati Kediri adalah prajurit-prajurit pilih tanding. Tetapi Pujang Warit memang mempunyai beberapa kelebihan, sehingga sepantasnyalah bahwa aku sebagai seorang prajurit harus melayaninya. Apalagi taruhannya aku tentukan pula, yaitu pimpinan tertinggi atas Kediri.”

“Tuanku,” hampir serentak mereka yang ada di paseban berseru dengan wajah yang tegang.

“Nah, sediakan gelanggang di halaman paseban ini. Cepat. Setelah perang tanding ini selesai, aku atau Pujang Warit masih harus menyelesaikan orang-orang Tumapel yang sedang berusaha menguasai seluruh daerah Kediri.”

Sejenak para Senapati dan Menteri yang ada di paseban tidak beranjak dari tempatnya. Mereka saling berpandangan dengan penuh keragu-raguan.

“Cepat,” teriak Sri Baginda, lalu katanya, “tetapi aku tidak akan berbuat serupa itu dengan kedua penasehatku ini. Penasehatku yang lain kuperkenankan menyaksikan perang tanding ini. Tetapi yang dua ini harus berada di bawah pengawasan. Kalau Pujang Warit menang di dalam perang tanding ini, kalian akan bebas, dan terserah apa yang akan diputuskan oleh Pujang Warit atas kalian.”

Maka setiap dada-pun menjadi berdebar-debar. Para pengawal di halaman-pun menjadi keheranan atas keputusan itu. Belum pernah Sri Baginda begitu merendahkan dirinya, melayani perang tanding melawan seorang Senapati.

“Aku adalah seorang prajurit,” geram Baginda berulang-ulang.

Tidak seorang-pun yang dapat mencegah keputusan Sri Baginda. Dengan demikian, maka para prajurit yang ada, beserta para Menteri-pun segera membuat sebuah lingkaran di halaman sebagai arena perang tanding.

Pujang Warit sendiri sebenarnya terkejut mendengar keputusan Sri Baginda. Namun karena ia yakin bahwa seandainya tidak demikian, maka ia-pun akan dihukum mati, maka tantangan itu adalah jalan yang paling baik yang tersedia baginya, meskipun ia tahu. bahwa Sri Baginda adalah maha prajurit yang tidak ada bandingnya.

“Tetapi aku belum pernah meyakinkan kemampuan Sri Baginda,” berkata Pujang Warit di dalam hatinya. “aku hanya pernah menyaksikan beberapa bentuk kelebihannya dari orang-lain. Tetapi bagi Pujang Warit yang pernah berguru bertahun-tahun, semuanya itu bukanlah hal yang mengecilkan hati.”

Sejenak kemudian maka arena-pun telah siap. Sri Baginda menuruni tangga paseban tanpa tanda-tanda kebesaran yang biasanya tidak pernah terpisah dari padanya. Bahkan bukan saja sekedar tanda kebesaran seorang Maharaja, tetapi Sri Baginda telah menganggap dirinya sebagai titisan dewa-dewa.

Tetapi kini ia menuruni tangga sebagai seorang prajurit. Sebagai pribadi yang sudah siap menyelesaikan masalah pribadinya. Kesalahannya terhadap Kediri harus ditebusnya dengan perang tanding.

Bagi Sri Baginda Kertajaya, hal itu merupakan suatu pengorbanan yang luar biasa. Tetapi hal itu kini dengan sadar telah dikehendakinya sendiri.

Setelah semuanya siap, dan kedua orang yang akan berperang tanding itu sudah berada di arena. maka bertanyalah Sri Baginda kepada Pujang Warit, “Senjata apakah yang kau kehendaki Pujang Warit?”

Bagaimana-pun juga, tatapan mata Sri Baginda telah membentur hati Pujang Warit, sehingga seisi dadanya serasa berguncang.

“Sebutkan senjata apa yang kau kehendaki. Aku akan menyesuaikan diri.”

Pujang Warit ragu-ragu sejenak, namun kemudian ia berkata, “Terserahlah kepada Sri Baginda.”

“Kau sudah membawa pedang di lambungmu. Apakah kau akan mempergunakan pedang?”

“Baiklah Tuanku. Hamba akan mempergunakan pedang.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada seorang prajurit yang berdiri di pinggir arena Sri Baginda berkata, “berikan pedangmu.”

“Tetapi, pedang ini adalah pedang seorang prajurit pengawal Tuanku.”

“Bukankah kau menerima pedang itu dari pimpinan, keprajuritan?”

Prajurit itu mengangguk, “Hamba Tuanku.”

“Nah, berikan pedangmu.”

Prajurit itu ragu-ragu sejenak, namun kemudian oleh pesona yang tidak dimengertinya, maka ditariknya pedangnya, dan kemudian dengan tangan gemetar diserahkannya pedang itu kepada Sri Baginda.

“Terima kasih,” berkata Sri Baginda. Kemudian sambil menghadap kepada Pujang Warit Sri Baginda berkata. “Nah Pujang Warit, aku sekarang sudah bersenjata pedang seperti senjatamu. Marilah, kita mulai dengan hukuman yang sama-sama dibebankan kepada kita. Siapa yang menang, ia berhak atas segala-galanya di Kediri. Siapa yang kalah, biarlah ia menanggung hukuman atas kesalahan yang telah terjadi, dan yang telah mengakibatkan Kediri terpecah belah.”

Pujang Warit masih juga ragu-ragu. Namun kemudian disentakkannya giginya sambil menggeram di dalam hati. “Aku bukan pengecut.”

“Nah bersiaplah,” berkata Sri Baginda kemudian.

Pujang Warit mengerahkan segenap keberanian yang ada di dalam dirinya. Maka jawabnya, “Baiklah Tuanku. Hamba hanya sekedar menjalani perintah Tuanku.”

“Ya, ya. Kalau kau sekarang melawan aku, ini sama sekali bukan suatu kesalahan. Justru kita sedang menentukan, siapakah yang masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung. Karena sekarang aku-pun sadar, bahwa aku bukannya titisan dewa-dewa seperti yang aku sangka sendiri, karena di dalam suatu ketika, aku telah dilepaskan oleh dewa-dewa tertinggi.”

Pujang Warit tidak menjawab, tetapi ia-pun kemudian dengan tangan bergetar mencabut pedangnya pula. Pedang seorang perwira yang memiliki kemampuan pilih tanding.

Sri Baginda mengerutkan keningnya. Ia melihat perbedaan jenis pedang yang dipergunakannya dan yang dipergunakan oleh Senapati muda itu.

Tetapi Sri Baginda tidak menghiraukannya karena Sri Baginda menyangka, bahwa pedang itu adalah pedang prajurit Kediri.

“Marilah, kita segera mulai,” berkata Sri Baginda, “nah, aku minta tiga orang Senapati yang akan menjadi saksi dari perkelahian ini. Ketiganya harus mengawasi, bahwa aku dan Pujang Warit harus berkelahi dengan jujur. Kalau ada di antara kami yang curang, maka ketiga Senapati itu dapat mengambil tindakan yang wajar. Tanpa pilih.

Sejenak para prajurit dan Senapati yang ada di seputar gelanggang itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian Sri Baginda telah menunjuk tiga di antaranya. Katanya, “Kau, kau dan kau. Jangan ragu-ragu. Majulah. Lihatlah, bagaimana kami akan berperang-tanding, kami adalah prajurit-prajurit Kediri.”

Tiga orang perwira yang ditunjuk itu sama sekali tidak dapat mengelak lagi. Mereka-pun kemudian melangkah maju. Mencabut pedang-pedang mereka dan berdiri berpencaran. Mereka harus mengawasi perang tanding itu sebaik-baiknya. Merekalah yang bertanggung jawab apabila terjadi kecurangan. Dan mereka dapat bertindak apabila perlu dengan kekerasan.

Semuanya-pun kemudian sudah siap. Para saksi-pun sudah siap. Sri Baginda dan Pujang Warit-pun sudah siap pula.

“Nah, semua sudah di tempatnya. Sekarang aku adalah prajurit yang sedang menjalani hukuman. Karena itu. terserahlah kepada para saksi. Kapan kita harus mulai,” berkata Sri Baginda kemudian.

Para saksi itu-pun saling berpandangan. Kemudian, meskipun tidak ditunjuk, maka Senapati yang tertua dari ketiganya-pun maju selangkah sambil berkata, “Ampun Tuanku, hambalah yang akan memimpin perang tanding ini.”

“Bagus. Pimpinlah sebaik-baiknya.”

“Hamba Tuanku.” perwira itu terdiam sejenak, lalu katanya, “tetapi yang pertama-tama hamba ingin memperingatkan bahwa, perang tanding ini harus adil. Kedua senjata pesertanya harus seimbang.”

“Bukankah senjata kami sudah seimbang?”

“Pedang yang Tuanku pergunakan adalah pedang prajurit biasa.”

“Lalu, bagaimana dengan pedang Pujang Warit.”

“Pedang itu adalah pedang yang khusus.”

“Jadi apakah ada perbedaan senjata antara seorang prajurit dan seorang Senapati? Bukankah semuanya itu adalah prajurit Kediri?”

“Pedang Pujang Warit bukannya pedang yang lazim dipergunakan oleh para prajurit dan bahkan para Senapati Kediri. Pedang itu, adalah pedang pusaka yang dibawanya sendiri meskipun bentuknya mirip dengan pedang prajurit Kediri.”

“Apakah bedanya? Aku dapat mempergunakan senjata apa saja.”

“Bahannya berbeda Tuanku. Pedang Pujang Warit terbuat dari bahan yang jauh lebih baik dari bahan pedang para prajurit yang dibuat oleh para juru pembuat senjata para pande besi. sekaligus dalam jumlah yang besar. Sedang pedang Pujang Warit adalah pedang yang hanya dibuat khusus untuknya oleh seorang empu yang terpilih.”

Sri Baginda merenung sejenak. Namun kemudian sambil tersenyum Sri Baginda berkata, “Aku akan mempergunakan pedang prajurit Kediri ini, sebagaimana aku seorang prajurit. Kalau pedang ini gagal bukan karena kesalahanku, maka alangkah malangnya nasib setiap prajurit Kediri.”

Senapati yang menjadi saksi itu mengerutkan keningnya. Tetapi tampak betapa hatinya dicengkam oleh kecemasan, karena kebetulan sekali ia mengerti betapa kuatnya pedang Pujang Warit itu. Bahkan ia pernah melihat Pujang Warit memamerkan senjatanya dan mematahkan beberapa helai pedang lainnya tanpa menjadi cacat seujung duri-pun.

“Tuanku,” berkata Senapati itu, “apakah Tuanku berkenan mempergunakan pedang hamba?”

Tetapi Sri Baginda menggelengkan kepalanya, “Tidak.”

Senapati yang akan menjadi saksi dari perang tanding itu tidak dapat memaksa, meskipun hatinya menjadi sanaat cemas. Tetapi hal itu agaknya memang sudah dihentikan oleh Baginda sehingga akhirnya, ia-pun harus membiarkannya mempergunakan pedang prajurit pengawal itu.

Dalam pada itu. di medan pertempuran di sebelah Utara Ganter, kedua pasukan telah terlibat di dalam perang yang semakin seru. Keduanya telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada. Pasukan Singasari telah turun seluruhnya ke medan perang dengan segala macam tanda-tanda kebesaran, sedang Mahisa Walungan telah membawa setiap orang yang ada di dalam perkemahannya.

Namun jumlah prajurit Singasari yang lebih besar ternyata benar-benar telah berpengaruh pada perang itu. Perlahan-lahan namun pasti pasukan Singasari telah berhasil mendesak pasukan Kediri, meskipun setiap prajurit dari Kediri telah bertempur tanpa mengenal arti menyerah. Tetapi seorang demi seorang prajurit Kediri berguguran seperti juga prajurit Singasari. Seorang demi seorang pasukan ke dua belah pihak selalu berkurang.

Meskipun pasukan Kediri sama sekali tidak berputus asa. namun garis perlawanan mereka-pun bergeser setapak demi setapak, karena arus prajurit Singasari yang tidak terbendung lagi.

Mahisa Walungan yang memegang pimpinan pasukan Kediri, bertempur dengan gigihnya. Ternyata bahwa Mahisa Walungan benar-benar seorang yang memiliki banyak kelebihan dari orang kebanyakan. Senjatanya, sebuah pedang panjang, menyambar-nyambar seperti paruh burung garuda. Suaranya berdesing-desing memutari lawannya.

Tetapi lawannya itu adalah Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Orang yang aneh dan banyak sekali menyimpan rahasia di dalam dirinya. Rahasia yang dirinya sendiri hampir tidak mengenalinya.

Dengan kekuatan dan kemampuan yang ada di dalam dirinya, Ken Arok bertempur dengan gigihnya. Serangan-serangan Mahisa Walungan yang betapapun berbahayanya, selalu dapat dihindarinya, atau ditangkisnya. Meskipun kadang-kadang ia kehilangan irama seorang raja, namun ia tidak dapat didesak oleh kelebihan yang ada di dalam diri Mahisa Walungan. karena Ken Arok-pun memilikinya pula.

Mahisa Walungan sebagai seorang kesatria yang sejak kecilnya berada di dalam lingkungan istana serta segala macam adat dan tata cara kadang-kadang menjadi heran melihat sikap dan gerak Sri Rajasa. Kadang-kadang Sri Rajasa bertempur sebagai seorang Raja yang besar, namun apabila serangan Mahisa Walungan semakin mendesaknya, tiba-tiba saja raja Singasari itu menjadi kasar dan garang. Senjatanya berputar-putar tanpa arah dan tampaknya seperti tidak ada pegangan. Tetapi gerak yang demikian, yang seharusnya dengan mudah dapat ditembusnya, namun pedang Sri Rajasa, justru menjadi sebaliknya. Gerak-gerak yang kasar dan tidak beraturan itu justru merupakan benteng yang sangat rapat, mengitari dirinya dari segenap serangan.

Sekali-sekali Mahisa Walungan memang terpaksa meloncat surut untuk mencoba menilai tata gerak lawannya. Namun setiap kali dengan tiba-tiba saja, Sri Rajasa sudah menyerangnya dengan kecepatan yang hampir tidak disangka-sangkanya.

Namun Mahisa Walungan adalah seseorang yang matang dalam ilmu olah senjata. Karena itu. maka betapapun dahsyatnya lawannya, ia tidak kehilangan akal. Bahkan semakin lama tata geraknya-pun menjadi semakin mapan. Kekuatan-kekuatan cadangan yang tersimpan di dalam dirinya-pun mulai tersalur ke tangannya, sehingga dengan demikian gerak pedangnya-pun menjadi semakin cepat dan kuat.

Kemampuan yang seolah-olah berkembang itu terasa juga oleh Sn Rajasa. Kekuatan Mahisa Walungan seakan-akan menjadi bertambah-tambah. Setiap benturan, terasa tangan Sri Rajasa menjadi nyeri, sehingga kadang-kadang senjatanya seolah-olah ingin meloncat dari genggaman.

“Hem,” ia menggeram di dalam hatinya, “agaknya di saat-saat terakhir Mahisa Walungan mengerahkan segenap kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya. Semua Aji dan kekuatan lahir dan batin.”

Sebenarnyalah, Mahisa Walungan yang melihat pasukannya semakin terdesak itu-pun tidak lagi dapat membiarkan peperangan itu berlangsung semakin lama. Dengan segenap kemampuan yang ada maka dibangunnya segenap kekuatan lahir dan batin yang ada di dalam dirinya. Dengan penuh tanggung jawab, Mahisa Walungan memusatkan segenap kekuatan yang ada di dalam dirinya, disusunnya dalam tata gerak yang sudah dikuasainya, menjadi suatu kekuatan yang tiada taranya. Seperti pada saat-saat ia membuat lubang pada papan yang tebal, maka kini tangannya yang seakan-akan bergetar itu, telah dialiri oleh kekuatan ilmu yang tiada taranya.

Sri Rajasa terkejut merasakan benturan-benturan berikutnya. Ia sadar bahwa ia berhadapan dengan seseorang yang menyimpan ilmu yang bukan saja ilmu yang kasat mata, tetapi latihan-latihan yang teratur, sehingga seluruh kekuatan yang ada di dalam dirinya, kekuatan cadangan yang tidak dimengerti oleh setiap orang, dapat dikuasainya dan dipergunakannya sebagai Aji Pamungkasnya.

Bersambung Jilid 56.

koleksi : Ki Arema
scanning : Ki Arema
Retype : Ki Raharga
Proofing : Ki Raharga
Cek ulang : Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s