HLHLP-043


<<kembali | lanjut >>

MAHISA Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Tetapi aku hanya sekedar menyesali bahwa hal ini harus terjadi.”

“Sudahlah,” potong Akuwu Lemah Warah, “kita memang sudah menentukan sikap. Kita tidak akan dapat melangkah surut. Apapun yang terjadi.”

“Lalu bagaimanakah dengan pasukan yang berada di padukuhan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Memang sulit untuk menghubungi atau memberikan isyarat,” berkata Akuwu Lemah Warah, “tetapi kami berharap jika pertempuran terjadi, mereka sempat mengetahui. Seharusnya mereka selalu mengirimkan beberapa orang untuk selalu mengawasi keadaan padepokan ini.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Desisnya, “Jarak padukuhan itu tidak terlalu jauh. Agaknya mereka akan mengikuti perkembangan yang terjadi di padepokan ini.”

“Jika pertempuran telah terjadi, maka kita akan dapat melepaskan isyarat dengan panah sendaren,” berkata Akuwu Lemah Warah.

Mahisa Pukat mengangguk kecil. Lalu katanya, “Tetapi bagaimanapun juga, kita harus benar-benar bersiap menghadapi kemungkinan yang bakal datang.”

“Sudah tentu,” sahut Akuwu, “apalagi menurut pengetahuanku Akuwu Sangling adalah seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa. Rasa-rasanya ilmu yang ada di dalam dirinya sulit untuk dicari bandingnya.”

Demikianlah pada hari itu Akuwu Lemah Warah telah mempersiapkan segala-galanya. Ia harus berbuat sesuatu untuk mengurangi dan bahkan melenyapkan setiap kemungkinan, bahwa pasukan Akuwu Sangling akan memasuki padepokan.

Seperti yang sudah terjadi, maka sepasukan yang sudah ditentukan memang akan berada di panggungan seperti yang dikatakan oleh Mahisa Murti. Mereka sudah mempersiapkan anak panah dan lembing dalam jumlah yang tidak terhitung. Mereka akan melontarkannya ke arah pasukan Sangling yang mendekat. Tetapi sudah tentu seperti yang pernah terjadi juga pasukan Sangling yang berada di depan adalah pasukan yang bersenjata pedang dan perisai di tangan kiri.

Tetapi itu memang harus terjadi.

Bersama Akuwu Lemah Warah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengelilingi padepokan itu sambil melihat-lihat persiapan yang dilakukan oleh para penghuni padepokan serta para prajurit Lemah Warah yang sudah ada di padepokan itu.

Jumlah mereka memang kurang memadai jika hanya mereka sajalah yang harus bertempur melawan pasukan Sangling yang kuat. Tetapi Akuwu yakin, bahwa pasukannya yang berada di padepokan akan dapat ikut menentukan akhir dari pertempuran itu.

Akuwu Lemah Warah dan Mahisa Murti serta Mahisa Pukat setelah menyaksikan persiapan yang dilakukan oleh para penghuni padepokan itu serta para prajurit Lemah Warah, merasa bahwa persiapan yang mereka lakukan itu adalah kemungkinan yang tertinggi. Karena itu ia berharap bahwa mereka akan dapat mengatasi kesulitan sampai saatnya para prajurit di padukuhan itu datang membantu.

Menjelang senja Akuwu telah memanggil semua pemimpin kelompok. Baik pimpinan kelompok dari para penghuni padepokan itu maupun pemimpin kelompok dari para prajurit Lemah Warah. Dengan singkat Akuwu telah memberikan beberapa petunjuk dan pesan. Menurut Akuwu, tidak seorang pun di antara orang-orang Sangling yang akan mendapat kesempatan untuk memasuki padepokan.

“Kita harus bertahan. Berapa pun korban di antara mereka akan jatuh,” berkata Akuwu, “tanggungjawab tidak terletak pada kita, tetapi pada Akuwu Sangling.”

Para pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Namun Mahisa Murti lah yang kemudian berkata, “Akuwu. Kita memang harus bertahan sejauh dapat kita lakukan. Tetapi sulit bagi kita untuk tetap mempertahankan pintu gerbang. Pada saat Ki Buyut dan Empu Sepada menyerang padepokan ini, maka dengan kemampuan ilmu mereka, maka mereka telah memecahkan pintu gerbang tanpa dapat dicegah lagi.”

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Katanya, “Memang sulit untuk mencegahnya. Tetapi kita akan bertahan di depan pintu gerbang, jika pintu gerbang itu dipecahkannya. Kita akan bertahan agar tidak seorang pun yang dapat masuk ke dalam padepokan ini. Apalagi Akuwu Sangling sendiri. Aku akan menahannya agar ia tetap berada di pintu. Baru jika ia sudah kehilangan kemampuan untuk melawan, ia akan aku bawa masuk, atau akulah yang telah terkapar mati di regol ini. Sehingga biarlah Akuwu Sangling itu masuk ke dalam padepokan ini setelah melangkahi mayatku.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam agaknya Akuwu Lemah Warah benar-benar marah menghadapi sikap Akuwu Sangling. Akuwu Lemah Warah merasa umurnya dan kedudukannya lebih tua dari Akuwu Sangling. Namun agaknya Akuwu Sangling dengan sengaja sudah menandinginya. Sementara Akuwu Lemah Warah sedang berusaha untuk mencari jalan yang baik bagi penyelesaian yang tuntas, terutama atas Ki Buyut Bapang.

Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mengatakan sesuatu. Mereka tidak ingin menyinggung perasaan Akuwu Lemah Warah yang sedang marah itu.

“Nah,” berkata Akuwu Lemah Warah itu selanjutnya, “kembalilah kepada kelompok kalian masing-masing. Bersiaplah. Besok kila akan bertempur mempertahankan padepokan ini.”

Para pemimpin kelompok itu pun menyadari, apa yang bergejolak di dada Akuwu Lemah Warah. Karena itu, maka mereka pun segera kembali ke kelompok masing-masing. Mereka pun telah menyampaikan perintah Akuwu itu kepada setiap penghuni padepokan itu dan para prajurit Lemah Warah.

“Akuwu benar-benar marah,” berkata para pemimpin kelompok itu, “karena itu maka sikapnya menjadi keras. Tetapi marah atau tidak marah, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mempertahankan padepokan ini.”

Para pemimpin kelompok pun telah menguraikan sebagaimana dikatakan oleh Akuwu, kenapa mereka harus bertahan dengan segenap kemampuan mereka.

Para penghuni padepokan itu rasa-rasanya darahnya menjadi semakin bergelora. Perintah Akuwu tegas. Mereka harus mempertahankan padepokan itu dengan tanpa mengenal surut. Mereka harus bertahan sampai kemungkinan terakhir. Tidak seorang pun dari para prajurit Sangling yang boleh masuk tanpa meloncati mayat-mayat penghuni padepokan itu serta para prajurit Lemah Warah.

Dengan demikian, maka para penghuni padepokan itu serta prajurit Lemah Warah yang ada di padepokan itu telah benar-benar bersiap lahir dan batin.

Namun dalam pada itu, waktu yang tersisa itu masih dapat dipergunakan sebaik-baiknya. Mereka harus cukup beristirahat agar besok, menghadapi perang yang tidak mengenal surut, tenaga mereka dapat mereka pergunakan sepenuhnya.

Hanya mereka yang bertugas sajalah yang masih tetap terbangun dan tetap berada di panggungan untuk mengawasi setiap gerak dari mereka yang mengepung padepokan itu.

Menjelang dini hari, maka di dapur dari kedua belah pihak telah mengepul asap. Mereka harus mempersiapkan makan bagi mereka yang akan bertempur setelah fajar.

Dalam pada itu, baik Akuwu Lemah Warah, maupun Akuwu Sangling sendiri hanya sempat tidur beberapa saat. Bagaimanapun juga, perasaan mereka selalu menggelitik sehingga mereka tidak dapat tidur nyenyak dan cukup lama.

Menjelang dini. Akuwu Sangling maupun Akuwu Lemah Warah telah bersiap, sementara pasukannya pun telah bersiap-siap pula. Para pemimpin kelompok tengah mengatur kelompok masing-masing.

Pasukan Sangling pun telah menyusun barisan untuk memasuki Padepokan itu yang disangkanya tidak akan terlalu sulit. Pasukan Sangling akan menggempur padepokan itu dari segala arah. Yang dari depan harus memecahkan pintu gerbang. Bahkan Akuwu pun berkata, “Aku sendiri akan menggempur pintu gerbang itu. Tidak ada yang dapat menghalangi aku untuk memasuki padepokan itu. Aku tidak akan berbuat banyak. Aku hanya akan mengambil Ki Buyut Bapang. Tetapi jika orang-orang Lemah Warah benar-benar ingin mempertahankan, maka aku akan menyapu mereka sampai debu yang terakhir. Bahkan Akuwu Lemah Warah sendiri jika ia berkeras, maka aku akan menghancurkannya, meskipun sebenarnya aku lebih muda kedudukanku daripadanya.”

Demikianlah ketika semua persiapan sudah selesai, maka terdengar suara bende yang menggema di seputar padepokan.

Akuwu Lemah Warah yang mendengar suara bende itu dengan tergesa-gesa telah memanjat panggungan. Dilihatnya dari sebelah regol padepokan, bahwa pasukan Sangling telah mulai bergerak. Pertanda kebesaran telah mulai menggeletar. Tunggul, panji-panji dan kelebet.

Ketika suara bende terdengar untuk kedua kalinya, maka pasukan-pasukan itu benar-benar telah maju dengan cepat. Dengan cepat pula kepungan atas padepokan itu semakin menyempit.

Akuwu Lemah Warah menggeretakkan giginya. Kemarahannya benar-benar telah membakar jantungnya. Namun demikian Akuwu Lemah Warah tidak mau kehilangan penalaran, ia berusaha untuk tetap berpikir jernih menghadapi pasukan Sangling yang kuat.

Karena itu, maka ia pun telah menjatuhkan perintah kepada semua pasukan yang ada di dalam padepokan itu bersiap menyongsong pasukan yang datang.

Tetapi Akuwu Lemah Warah tidak terlalu banyak mempercayakan hambatan pasukan Sangling oleh lontaran anak panah dan lembing meskipun hal itu dilakukan juga. Tetapi Akuwu lebih percaya kepada ketrampilan pasukan di padepokan itu untuk memutar pedang atau tombak di tangannya. Setiap orang yang berusaha untuk memanjat dan meloncat dinding padepokan harus didorong kembali keluar dengan ujung tombak.

Demikianlah, maka pasukan Sangling itu memang menjadi semakin mendekati dinding padepokan. Seperti yang sudah diperhitungkan, maka yang paling depan tentu pasukan yang bersenjata pedang dan perisai untuk melindungi kawan-kawan mereka dari tusukan anak panah dan lembing. Kemudian di belakang mereka adalah para prajurit yang bersenjata anak panah pula untuk melindungi kawan-kawannya dan mengurangi derasnya anak panah yang meluncur dari atas dinding.

Tetapi Akuwu Lemah Warah tidak terlalu terikat oleh benturan pertama. Yang penting bagi Akuwu adalah bagaimana para penghuni padepokan itu dan para prajurit Lemah Warah menahan arus orang-orang Sangling yang akan masuk ke padepokan.

Dalam pada itu, pasukan Sangling pun semakin lama sudah menjadi semakin dekat. Karena itu, maka mereka pun mulai menyiapkan perisai di tangan kiri dan pedang di tangan kanan.

Namun orang-orang Lemah Warah dan isi padepokan itu tidak seperti biasanya, dengan serta menghujani mereka dengan anak panah. Pasukan Sangling itu dibiarkannya berjalan semakin dekat. Bukan saja yang berada di depan pintu gerbang. Tetapi di seluruh lingkaran pasukan Sangling.

Akuwu Sangling memang agak heran, bahwa pasukan Lemah Warah dan orang-orang padepokan itu tidak melakukan sebagaimana diperhitungkan. Meskipun demikian Akuwu Sangling tidak menghiraukannya. Ia sudah yakin bahwa ia akan berhasil menghancurkan pasukan Lemah Warah dan mengambil Ki Buyut Bapang. Bahkan jika kemudian dapat dilakukannya, maka ia pun akan mengambil batu itu pula.

Demikianlah, maka Akuwu Sangling pun langsung menuju ke pintu gerbang. Sementara itu, Akuwu Lemah Warah tidak merasa perlu ikut memanjat panggungan. Ia telah bersiap di belakang pintu gerbang. Demikian Akuwu Sangling memecahkan pintu, maka ia harus segera bersiap di depan pintu.

Yang memimpin pasukan di panggungan sebelah menyebelah pintu gerbang itu adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Untuk beberapa saat, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang hanya menunggu. Namun ketika pasukan Akuwu Sangling menjadi semakin dekat, maka barulah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memberi isyarat untuk menyerang.

Serangan yang datang itu memang mengejutkan. Seakan-akan orang-orang padepokan itu terlambat bertindak, justru karena lawan telah terlalu dekat.

Namun serangan orang-orang Lemah Warah dan isi padepokan itu memang tidak ditujukan kepada orang-orang yang berperisai yang telah terlalu dekat dengan dinding padepokan. Tetapi justru kepada para prajurit di belakangnya.

Pertempuran pun segera telah berkobar. Orang-orang padepokan itu memang menyerang para prajurit Sangling dengan anak panah. Tetapi tidak dengan cara yang biasa dilakukan, sehingga serangan itu agak mengejutkan juga.

Sementara itu, pasukan Sangling pun segera membalas. Tetapi mereka agaknya lebih mengarahkan sasaran mereka untuk memanjat dinding. Karena itu, maka sebagian dari para prajurit itu telah berusaha untuk melekat pada dinding padepokan.

Tetapi agaknya memang tidak mudah untuk memanjat. Dinding itu cukup tinggi. Karena itu, untuk meloncati dinding mereka memerlukan persiapan yang baik.

Hal itu memang sudah mereka perhitungkan. Karena itu maka di antara para prajurit itu memang telah membawa beberapa batang bambu. Dengan menyandarkan bambu pada dinding, maka mereka akan mendapatkan alas untuk meloncat. Sementara itu, kawan-kawan mereka akan melindungi mereka dengan lontaran anak panah.

Namun seperti yang diperintahkan oleh Akuwu Lemah Warah, tidak seorang pun yang boleh memasuki padepokan tanpa melangkahi mayat-mayat mereka yang mempertahan-kannya.

Ternyata bahwa setiap orang di dalam padepokan itu benar-benar menjunjung perintah itu. Karena itu, apapun yang akan terjadi, maka tidak seorang pun boleh memasuki halaman padepokan.

Dalam pada itu, para prajurit Sangling pun telah berusaha untuk memperlemah pertahanan orang-orang yang berada di dalam dinding padepokan. Merekalah yang justru melontarkan anak panah dengan derasnya. Namun para penghuni padepokan itu pun tidak tinggal diam. Mereka pun membalas setiap anak panah dengan anak panah.

Namun yang paling menegangkan adalah pintu gerbang padepokan itu. Akuwu Sangling benar-benar tidak mau mengekang diri lagi. Ia ingin memecahkan pintu gerbang itu dan masuk ke dalamnya. Mengambil Ki Buyut Bapang dan menghancurkan isi padepokan itu jika mereka berusaha untuk mencegahnya.

Karena itu, maka Akuwu Sangling itu pun telah memerintahkan para pengawalnya untuk melindunginya. Ia akan meloncat dan memecahkan pintu gerbang itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat sikap Akuwu. Mereka pun segera teringat, serangan yang pernah dilakukan oleh Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang.

Namun bedanya, sekarang di belakang pintu gerbang itu berdiri Akuwu Lemah Warah. Meskipun pintu gerbang itu akan pecah, tetapi Akuwu Lemah Warah akan berada di belakang pintu itu dan menahan Akuwu Sangling untuk memasuki padepokan.

Namun bagaimanapun juga, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus memperhitungkan segala kemungkinan. Pasukan Sangling yang datang itu jauh lebih banyak dari pasukan Lemah Warah dan penghuni padepokan itu.

“Banyak kemungkinan dapat terjadi,” berkata Mahisa Murti, “kita tidak dapat mengabaikan jumlah prajurit Sangling yang banyak itu.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja ia memandang ke kejauhan menembus hutan perdu di sekeliling padepokan itu. Seolah-olah ia ingin memandang ke sebuah padukuhan yang tidak terlalu jauh dari padepokan itu.

“Kita tidak sempat memberitahukan kepada mereka,” berkata Mahisa Murti.

“Tetapi akan sia-siakah kehadiran mereka di sini?” desis Mahisa Pukat.

“Mudah-mudahan tidak,” jawab Mahisa Murti, “tetapi kita akan bertumpu kepada kekuatan yang ada di padepokan ini.”

“Kita tidak boleh berpura-pura. Jika kita sudah tahu, bahwa kekuatan padepokan ini tidak akan dapat menahan arus serangan para prajurit Sangling, maka kita tidak perlu menunggu berpuluh korban jatuh lebih dahulu.”

“Ya. Tetapi bagaimana? Apa yang harus kita lakukan,” sahut Mahisa Pukat.

“Mungkin pada saatnya kita akan menemukan cara. Jika gerbang itu telah terbuka, maka perhatian akan terpusat pada pintu gerbang itu. Akan terjadi perang yang dahsyat sekali antara ilmu Akuwu Sangling dan Akuwu Lemah Warah,” berkata Mahisa Murti.

“Tetapi dalam pada itu, maka pasukan Sangling akan mengalir memasuki padepokan ini dan melakukan pembunuhan yang tidak terhitung jumlahnya,” berkata Mahisa Pukat. “Mungkin kita akan dapat melepaskan diri dari kematian dengan cara apapun juga. Bahkan mungkin dengan membunuh lawan tanpa dihitung lagi. Tetapi bagaimana dengan yang lain.”

Mahisa Murti termangu-mangu. Namun ia memang tidak segera menemukan cara untuk berbuat sesuatu.

Tetapi sementara itu, perhatian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat segera tertarik kepada para prajurit Sangling yang telah melontarkan anak panah ke arah para prajurit Lemah Warah dan penghuni padepokan yang ada di sebelah-menyebelah pintu gerbang. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat segera mengetahui, bahwa Akuwu Sangling telah siap untuk meloncat dan memasuki padepokan setelah memecahkan pintu regol.

Namun, kedua orang anak muda itu tidak begitu saja membiarkan semuanya itu terjadi. Mereka harus menghambat usaha Akuwu Sangling untuk memecahkan regol.

Namun dalam pada itu, arus serangan para prajurit Sangling memang sulit untuk dibendung. Di seputar padepokan itu, para penghuni padepokan harus berjuang mati-matian untuk menahan arus serangan yang datang bergelombang. Orang-orang Sangling berusaha memanjat bambu-bambu yang mereka sandarkan pada dinding. Mereka mencoba untuk memakainya sebagai landasan untuk meloncat. Namun ternyata bahwa di seputar dinding itu telah dipagari dengan ujung senjata.

Meskipun demikian, maka serangan yang datang bergelombang tanpa henti-hentinya itu sedikit demi sedikit telah meretakkan pertahanan orang-orang Lemah Warah dan penghuni padepokan itu.

Tetapi para penghuni padepokan itu, lebih-lebih para prajurit Lemah warah benar-benar berpegang pada pesan Akuwu, bahwa orang-orang Sangling hanya akan dapat memasuki padepokan itu dengan melangkahi mayat-mayat.

Di regol padepokan Akuwu telah siap untuk melangkah menuju ke regol. Dengan sedikit ancang-ancang maka Akuwu akan memecahkan regol itu dengan kemampuan ilmunya.

Namun selagi Akuwu sudah siap untuk meloncat, tiba-tiba saja Mahisa Murti telah menjulurkan tangannya. Ia tidak menyerang Akuwu langsung ke tubuhnya, tetapi loncatan sinar yang meluncur dari tangannya telah menghantam tanah di depan kakinya. Sehingga telah terjadi ledakan yang menghamburkan tanah dan debu.

Akuwu Sangling telah meloncat surut. Namun wajahnya menjadi merah. Dengan garangnya ia menggeram, “Kaukah yang telah menunjukkan permainan yang buruk itu?”

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Akuwu. Sebaiknya kau tidak berbuat seperti seorang perampok yang ingin memecah pintu korbannya. Sebaiknya kau berpikir ulang, apakah yang akan kau lakukan itu berarti?”

“Gila,” geram Akuwu Sangling, “apakah kau kira dengan permainanmu itu kau akan dapat menahan aku?”

Mahisa Murti masih belum menjawab. Namun yang terdengar adalah suara Akuwu Lemah Warah, “Jangan tahan orang itu. Biarlah ia memecahkan regol. Aku akan melihat, apakah Akuwu Sangling benar-benar memiliki kemampuan sebagaimana disebut-sebut orang.”

“Aku dan Mahisa Pukat akan menahannya, Akuwu,” jawab Mahisa Murti, “Akuwu Sangling tidak akan sempat mendekati regol itu.”

Namun Akuwu Lemah Warah itu pun berteriak, “Tinggalkan tempat itu. Cepat, sampai pintu regol itu terbuka.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi bingung. Tetapi mereka tidak berani menahan sekali lagi. Agaknya Akuwu Lemah Warah benar-benar ingin menghadapi Akuwu Sangling untuk bertempur berhadapan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian mengurungkan niatnya untuk menahan Akuwu Sangling.

Namun ternyata suara Akuwu Lemah Warah itu terdengar oleh Akuwu Sangling, sehingga dari luar regol ia berkata, “Sayang Akuwu. Kau kekang orang-orangmu yang gila itu. Jika kau biarkan ia menggangguku, maka mereka adalah orang-orang pertama yang akan mati.”

“Sudahlah,” berkata Akuwu Lemah Warah, “sekarang bukalah pintu itu. Aku sudah siap.”

Akuwu Sangling memandang pintu gerbang itu dengan sorot mata yang bagaikan menyala. Namun seperti Akuwu Lemah Warah, maka Akuwu Sangling pun telah sampai pada puncak kemarahannya. Karena itu, maka tiba-tiba Akuwu Sangling itu telah berdiri tegak. Satu kakinya ditarik kedepan, kemudian kedua kakinya sedikit merendah pada lututnya. Dengan segenap kekuatan dan kemampuan ilmunya, maka Akuwu Sangling pun telah mendorong pintu gerbang yang tertutup itu dengan hembusan angin prahara yang luar biasa besarnya.

Akuwu sendiri tetap berada di tempatnya. Namun kemudian dari kedua tangannya yang seakan-akan mendorong pintu itu dari jarak yang cukup panjang, telah memancar kekuatan yang telah mengguncang pintu itu dengan dahsyatnya. Semakin lama semakin keras.

Beberapa orang yang melihat peristiwa itu pun menjadi berdebar-debar. Pintu itu benar-benar telah menggelepar, terguncang-guncang dan kemudian berderak-derak.

“Gila,” geram Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berdiri di sebelah pintu gerbang diatas panggungan. Sebenarnyalah mereka hampir tidak dapat menahan diri untuk menyerang Akuwu itu dengan ilmu mereka pula. Tetapi Akuwu Lemah Warah telah menahannya.

Dalam pada itu, pancaran kekuatan Akuwu Sangling itu menjadi semakin keras mengguncang pintu gerbang itu. Kayu-kayunya mulai retak dan berpatahan.

Sementara itu, para prajurit Sangling pun telah siap untuk menyerbu demikian pintu itu terbuka.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah memberi isyarat kepada para prajurit Lemah Warah untuk bersiap. Demikian para prajurit Sangling menyerbu masuk, mereka akan menahan dengan anak panah dan lembing. Para prajurit Sangling tentu akan kehilangan pertimbangan, terdesak oleh dorongan perasaan mereka.

Namun dalam pada itu, terdengar di beberapa tempat di luar dinding sorak gemuruh para prajurit Sangling. Sorak yang bukan sekedar mengguncang pintu gerbang, tetapi telah mengguncang jantung para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan itu.

Semakin lama serangan-serangan yang datang bergelombang itu rasa-rasanya menjadi semakin deras, dilindungi oleh lontaran anak panah dan lembing. Meskipun dari dalam dinding itu telah diluncurkan serangan-serangan balasan, namun keadaan memang menjadi semakin gawat.

Sementara itu, papan-papan kayu pintu gerbang pun telah berpatahan sehingga sebentar lagi dapat dipastikan, bahwa pintu gerbang itu akan pecah.

Akuwu Lemah Warah yang marah itu menunggu dengan tangan gemetar. Ia pun telah siap melawan, ilmu apapun yang akan dipergunakan oleh Akuwu Sangling.

Namun pemusatan nalar budinya kadang-kadang memang terganggu ketika ia mendengar sorak yang mengguntur diluar dinding di seputar padepokan itu. Bagaimanapun juga Akuwu Lemah Warah tidak dapat melepaskan sama sekali perhatiannya kepada seluruh pasukan di padepokan itu.

Tetapi ketika pintu gerbang itu mulai runtuh, maka segenap perhatian Akuwu ditujukan kepada pintu yang akan terbuka itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Ia tidak dapat tinggal diam. Apalagi ketika ia melihat seorang yang selalu dekat dengan Akuwu, yang nampaknya memiliki wibawa yang sama meskipun ia tidak mengenakan pakaian keprajuritan sebagaimana Akuwu.

“Orang itu harus mendapat perhatian,” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun dalam keseluruhan, padepokan itu memang mencemaskannya.

Namun, pada saat pintu gerbang itu pecah, pada saat ketegangan sampai kepuncak, maka tiba-tiba saja Mahisa Pukat memandang kekejauhan sambil berbisik, “Mahisa Murti. Lihatlah.”

“Apa?” desis Mahisa Murti yang perhatiannya sepenuhnya tertuju kepada Akuwu Sangling dan orang yang berdiri di sebelahnya, yang agaknya siap membantu jika Akuwu gagal memecahkan pintu itu dari kejauhan.

“Lihatlah dibelakang gerumbul-gerumbul perdu itu,” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun ia pun sempat melihat beberapa orang yang bergerak-gerak.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun perhatiannya segera tertuju kembali kearah pasukan Sangling. Demikian pintu itu pecah, maka seperti yang diduganya, maka pasukan Sangling pun telah siap untuk menyerbu.

Namun langkah mereka justru tertahan. Tiba-tiba saja terdengar keluh tertahan. Beberapa orang yang berusaha mendekati pintu gerbang yang sudah terbuka itu bagaikan membentur batas yang tidak kasat mata. Dengan serta merta mereka berdesakan surut.

“Bodoh kalian,” teriak Akuwu Sangling, “minggir. Biarlah aku yang pertama-tama memasuki pintu gerbang itu.”

Beberapa orang pun bergerak surut. Sementara itu Akuwu Sangling diikuti oleh orang yang selalu menjadi perhatian Mahisa Murti melangkah ke arah pintu gerbang.

“Panas,” desis seorang prajurit.

Akuwu sangling tidak menghiraukannya. Namun ia pun kemudian telah berdiri di depan gerbang beralaskan pecahan kayu pintu gerbang yang pecah berserakan itu.

Kedua Akuwu itu sudah saling berhadapan. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengambil kesempatan. Mereka memerintahkan para penghuni itu serta para prajurit Lemah Warah untuk menyerang para prajurit Sangling, dengan anak panah.

Serangan itu datang begitu tiba-tiba dan di luar dugaan. Karena untuk pada mulanya, para prajurit Sangling harus mengorbankan beberapa orang diantara mereka.

Akuwu Sangling sendiri tidak menghiraukannya. Ia sudah berdiri berhadapan dengan Akuwu Lemah Warah. Keduanya telah menjadi marah dan seakan-akan tidak lagi mempunyai kesempatan untuk berpikir lebih jauh.

Sebagaimana Akuwu Sangling tidak menghiraukan lagi para prajuritnya yang dianggapnya sudah cukup dewasa untuk menempatkan diri mereka sendiri, maka Akuwu Lemah Warah-pun tidak menghiraukan lagi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas padepokan itu. Seperti Akuwu Sangling maka Akuwu Lemah Warah mempercayakan sepenuhnya kepada para prajuritnya dan para penghuni padepokan itu yang sudah memiliki pengalaman yang luas untuk mempertahankan padepokannya, karena serangan yang demikian telah berulang kali terjadi.

Namun yang tertarik atas serangan orang-orang yang berada di panggungan, sebelah menyebelah regol itu adalah justru yang berada semula di dekat Akuwu Sangling. Namun karena Akuwu Sangling siap berhadapan dengan Akuwu Lemah Warah, maka orang itu telah berdiri diantara para prajurit Sangling.

“Setan,” geram orang itu, “kalian agaknya ingin dibinasakan. Bukan salahku jika kalian akan runtuh bersama dinding padepokan di sebelah regol itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tiba-tiba telah melihat orang itu bersiap. Sikapnya tidak bedanya dengan sikap Akuwu Sangling di saat melontarkan serangannya untuk mengguncang pintu gerbang.

Dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat keadaan yang gawat. Karena itu, maka mereka pun segera bersiap. Mereka tidak dapat meloncat meninggalkan tempat itu dan membiarkan orang-orang-lain menjadi korban. Karena itu, maka apapun yang terjadi, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus menghadapinya.

“Anak-anak,” orang itu menggeram, “kau kira permainanmu itu dapat mengguncangkan kepercayaan kami atas kemampuan kami. Jika kau mampu menghamburkan debu di tanah, maka bukan berarti bahwa ilmumu itu cukup berarti.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun Mahisa Murti sempat memberi peringatan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya untuk berlindung di belakang dinding padepokan.

Sebenarnyalah, maka sejenak kemudian orang itu telah melontarkan serangan langsung mengarah kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Kekuatannya bagaikan arus angin prahara yang dahsyat telah melanda ke arah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu.

Pada saat yang hampir bersamaan, maka atas isyarat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah siap. Demikian serangan itu terlontar ke arah mereka, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah melontarkan kekuatan ilmu mereka pula. Ilmu yang mereka pelajari dan kemudian mereka warisi dari Akuwu Lemah Warah, namun yang berisi bukan saja kekuatan kewadagan, tetapi kedua anak muda itu memiliki ilmu yang dahsyat yang mereka warisi dari ayah dan paman mereka. Kedahsyatan ilmu itulah yang telah terlontar membentur kekuatan ilmu orang yang berada di antara prajurit Sangling itu, yang memiliki kedahsyatan ilmu sebagaimana Akuwu Sangling.

Sejenak kemudian telah terjadi ledakan yang dahsyat sekali. Dua kekuatan telah berbenturan. Kekuatan saudara seperguruan Akuwu Sangling itu telah berbenturan dengan kekuatan bersama dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Demikian dahsyatnya benturan ilmu itu sehingga kedua belah pihak telah terguncang.

Namun betapapun dahsyatnya kekuatan ilmu saudara seperguruan Akuwu Sangling, namun menghadapi benturan kekuatan yang tersusun dari dua kekuatan raksasa anak-anak muda anak Mahendra itu, terasa dadanya bagaikan terguncang.

Kekuatan yang terlontar itu telah membentur kekuatan lawannya dan menghantam kembali ke dalam dirinya.

Saudara seperguruan Akuwu Sangling itu terdorong beberapa langkah surut. Sesaat rasa-rasanya matanya menjadi gelap dan ia pun telah kehilangan keseimbangan. Untunglah seorang prajurit cepat menangkapnya sehingga orang itu tidak terjatuh.

Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengalami goncangan yang gemuruh di dalam dadanya. Namun ternyata mereka masih mampu bertahan dengan kekuatan mereka sendiri, sehingga mereka tidak terdorong jatuh.

Benturan yang dahsyat itu benar-benar telah mempengaruhi sikap kedua belah pihak. Akuwu Sangling yang berdiri tegak di pintu gerbang terkejut bukan buatan ketika ia sempat berpaling dan melihat saudara seperguruannya terhuyung-huyung.

Sementara itu Akuwu Lemah Warah pun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa kedua anak muda itu telah memiliki ilmu yang sangat tinggi meskipun umur mereka masih muda. Meskipun mereka berhadapan dengan ilmu yang dahsyat, namun keduanya mampu mengimbanginya dengan kekuatan yang justru lebih besar, meskipun harus bekerja bersama.

Dalam keadaan yang demikian maka Akuwu Lemah Warah pun berkata, “Nah, apa katamu?”

“Persetan,” geram Akuwu Sangling, “kau kira anak-anak itu tidak mengalami luka parah di dalam dirinya? Marilah, kita akan menyelesaikan persoalan ini dengan tuntas.”

Namun sebelum Akuwu Lemah Warah menjawab, Akuwu Sangling telah memberikan isyarat kepada prajurit-prajuritnya untuk bergerak, sementara ia akan mencegah Akuwu Lemah Warah untuk mengetrapkan ilmunya yang seakan-akan mampu menutup gerbang yang sudah terbuka itu dengan udara panas.

Akuwu Lemah Warah pun menyadari apa yang akan dilakukan oleh Akuwu Sangling dengan para prajuritnya. Namun Akuwu Lemah Warah sama sekali tidak gentar. Ia mempercayakan segala sesuatunya kepada para prajuritnya untuk mengatasinya. Sementara itu, Akuwu Lemah Warah menjadi semakin tenang karena ia tahu pasti, bahwa orang yang terkuat sesudah Akuwu Sangling sendiri, akan dapat dihadapi oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mengalami goncangan yang keras di dalam dadanya memang harus berusaha untuk memperbaiki keadaannya. Mereka terpaksa menyingkir sejenak, mencari tempat yang paling baik untuk dapat memusatkan nalar budinya. Mengatur pernafasannya untuk memulihkan keadaannya.

Beberapa orang prajurit Lemah Warah menyadari keadaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Karena itu maka beberapa orang prajurit telah berusaha untuk melindunginya.

Sementara itu, prajurit yang lain serta orang-orang padepokan itu, masih saja menyerang para prajurit Sangling dengan derasnya. Mereka tidak lagi merasa cemas, bahwa mereka akan mendapat serangan dari jarak jauh, karena menurut pengamatan mereka, tidak ada lagi orang yang bersikap sebagaimana Akuwu Sangling dan orang yang ternyata telah membentur kekuatan bersama antara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu.

Namun pada saat itu, para prajurit Sangling telah merayap mendekat. Bukan saja di pintu gerbang itu yang menjadi gawat. Tetapi di seputar padepokan itu pun keadaan menjadi gawat pula. Kekuatan Sangling yang lebih besar telah semakin menekan sehingga sejenak lagi mereka tidak akan tertahankan lagi. Mereka akan segera meloncat masuk dan melangkahi mayat-mayat yang berserakan di dalam dinding padepokan.

Tetapi pada saat yang demikian, maka bayangan yang dilihat oleh Mahisa Pukat dan Mahisa Murti dibalik gerumbul-gerumbul perdu itu nampak bergerak-gerak lagi. Mereka merayap nenyebar dan bahkan kemudian hampir mengitari seluruh lingkaran di sekeliling padepokan meskipun hanya sebaris tipis. Namun dengan demikian, maka mereka akan segera membuat perubahan yang penting pada keseimbangan yang hampir terguncang itu.

Namun dengan demikian mereka tidak lagi dapat menyembunyikan diri dalam keseluruhan. Ketika di luar sengaja di beberapa bagian prajurit Sangling memandang keadaan di sekeliling mereka, maka mereka pun telah melihat bayangan yang berloncatan dari balik gerumbul ke balik gerumbul yang lain.

Dengan demikian, maka tiba-tiba saja prajurit itu berteriak, “Awas. Ada sesuatu di belakang kita.”

Ketika seorang pemimpin kelompok memandang ke gerumbul-gerumbul itu, maka perintah pun diteriakkannya. “Hati-hati. Bagi kekuatan. Sebagian dari kalian harus menghadapi cara yang licik yang ditempuh oleh orang-orang Lemah Warah atau isi padepokan ini yang lain.”

Teriakan itu pun telah menjalar. Setiap pemimpin kelompok telah memerintahkan orang-orangnya untuk berhati-hati menghadapi sergapan yang akan datang dari arah belakang.

Teriakan-teriakan itu akhirnya didengar oleh Akuwu Sangling. Sejenak ia pun berpaling. Dan Akuwu Sangling itu pun telah melihat pula orang-orang yang bergerak di belakang gerumbul. Namun karena orang-orang itu pun menyadari bahwa mereka telah dilihat oleh para prajurit Sangling, maka mereka pun tidak lagi menganggap perlu untuk tetap berada di balik gerumbul, apalagi menurut perhitungan mereka, maka tebaran pasukan Lemah Warah itu telah mengelilingi padepokan itu. Sehingga dengan demikian, maka telah terdengar isyarat dari panglima pasukan Lemah Warah itu. Juga suara bende yang melengking susul-menyusul.

“Gila,” geram Akuwu Sangling, “itukah caramu, Sang Akuwu Lemah Warah?”

“Kenapa?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Satu gelar yang licik,” geram Akuwu Sangling.

“Mereka baru datang dari Lemah Warah. Nampaknya mereka lebih senang berada di luar padepokan karena padepokan ini telah kalian kepung sejak beberapa hari,” jawab Akuwu Lemah Warah.

“Ketakutanmu telah memaksamu memanggil prajuritmu,” desis Akuwu Sangling.

“Kau juga membawa prajurit dari Sangling. Apa salahnya? Atau kita berdua akan mengambil jalan lain?” tantang Akuwu Lemah Warah. “Jika kau menghendaki, maka aku bersedia menyelesaikan persoalan ini tanpa mengorbankan seorang prajuritpun. Kita berdua adalah laki-laki. Kita berdua adalah prajurit dan kita berdua adalah orang yang dianggap panutan di Pakuwon kita masing-masing.”

“Satu usaha untuk menutupi kelemahan pasukan Lemah Warah,” geram Akuwu Sangling. Lalu, “Aku tidak mau kehilangan waktu. Aku akan menghancurkan padepokan ini, sekarang.”

Sekali lagi Akuwu Sangling memberikan isyarat. Pasukan Sangling pun kemudian telah menghambur menyerbu ke pintu gerbang. Mereka telah melindungi diri dengan perisai, sementara yang lain dengan tangkas telah menangkis serangan-serangan anak panah dan lembing. Namun diantara mereka ada juga yang jatuh terjerembab karena tidak mampu menghindar dan tidak trampil menangkis serangan yang menghujan itu.

Tetapi prajurit-prajurit Sangling itu pun menyadari, bahwa sebagian dari mereka harus menghadapi prajurit Lemah Warah yang ternyata telah menyergap dari belakang.

Kehadiran prajurit Lemah Warah itu benar-benar telah merubah keadaan. Para prajurit Sangling yang hampir saja dapat memecahkan pertahanan dan penghuni padepokan itu bersama prajurit Lemah Warah, harus membagi kekuatannya, sehingga dengan demikian maka untuk saat-saat berikutnya, prajurit Sangling harus menghadapi lawan dari dua arah yang berlawanan.

Kehadiran pasukan Lemah Warah itu telah disambut dengan sorak sorai para prajurit yang sudah berada di dalam padepokan serta para penghuni padepokan itu. Mereka merasa seakan-akan telah hidup lagi setelah kematian mulai membayang. Kedatangan pasukan Lemah Warah itu merupakan satu harapan baru untuk menyelesaikan persoalan mereka dengan para prajurit Sangling.

Demikianlah, maka pasukan Lemah Warah yang datang itu telah membentur pasukan Sangling yang harus membagi diri. Sebagian dari mereka meneruskan usaha mereka untuk memasuki padepokan, sementara yang lain harus bertahan dari serangan para prajurit Lemah Warah yang baru datang itu.

Pertempuran di seputar padepokan itu pun menjadi semakin gemuruh. Kedua belah pihak telah bersorak-sorak dengan gempitanya jika mereka mendapatkan kemenangan-kemenangan kecil. Bahkan kadang-kadang mereka bersorak tanpa sebab, sekedar untuk meledakkan perasaan yang bergetar di dalam diri mereka.

Di pintu gerbang, Akuwu Lemah Warah telah bersiap sepenuhnya untuk melawan Akuwu Sangling.

Namun bagaimanapun juga, Akuwu Sangling telah terhambat oleh kehadiran pasukan Lemah Warah. Mereka memang menempatkan pasukan mereka yang terbesar di depan regol padepokan Suriantal itu. Sementara itu dari sebelah menyebelah regol, para penghuni padepokan itu serta para prajurit Lemah Warah telah menghujankan anak panah dan lembing. Meskipun para prajurit Sangling juga berusaha membalas, namun kedudukan para prajurit Lemah Warah ternyata menjadi lebih baik.

Akuwu Sangling yang memerintahkan para prajuritnya untuk memasuki pintu gerbang itu pun harus berpikir pula dua kali. Sementara pasukan Lemah Warah yang datang di belakang pasukannya telah mulai menyergap prajurit-prajuritnya. Sedangkan prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan yang lain, yang ada di dalam gerbang pun telah bersiap menyambut mereka.

“Omong kosong,” geram Akuwu Sangling, “aku telah memutuskan untuk menyapu orang-orangmu yang licik, yang menyerang dari belakang. Baru aku akan menyelesaikan orang-orangmu yang bersembunyi di balik dinding padepokan itu.”

Namun akhirnya Akuwu Sangling tidak mau terjebak dalam medan yang terlalu luas. Karena itu, maka ia tidak segera mengulang perintahnya agar pasukannya menyerang masuk regol padepokan.

Dengan demikian, maka sebagian besar dari pasukannya justru telah berbalik melawan prajurit Lemah Warah yang menyerang mereka dari belakang. Sementara itu, Akuwu Lemah Warah pun berkata dengan suara datar, “Nah, bukankah kau menjadi kebingungan? Nampaknya kau tidak tahu lagi, apa yang seharusnya kau lakukan lebih dahulu.”

“Jangan membual. Katakanlah sebagaimana kenyataan yang kau hadapi. Nampaknya saudara seperguruanmu, yang memiliki ciri ilmu seperti yang pernah kau tunjukkan saat kau memecahkan pintu gerbang itu sudah kehilangan arti di pertempuran ini.”

“Kau salah,” geram Akuwu Sangling, “sebentar lagi, orang itu akan merupakan orang sangat berbahaya. Ia sedang menempa kekuatannya agar menjadi lebih besar dari yang pernah kau lihat.”

Tetapi Akuwu Lemah Warah justru tertawa. Katanya, “Bukan saatnya untuk membual. Tetapi kita berhadapan dalam satu medan pertempuran yang keras sekarang ini. Marilah kita tunjukkan kemampuan kita bertempur, bukan kemampuan kita membual.”

Akuwu Sangling tidak menyahut. Namun ia pun segera mempersiapkan diri.

Namun dalam pada itu, Akuwu Lemah Warah pun dengan cepat memberi isyarat, agar para prajuritnya dan para penghuni padepokan itu yang ada di sekitarnya agar menyingkir dengan cepat.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian Akuwu Sangling itu pun telah menghempaskan kekuatannya. Seperti ketika ia menerpa pintu gerbang dengan kekuatannya. Maka ia telah melontarkan serangan angin prahara menyerang Akuwu Lemah Warah.

Tetapi Akuwu Lemah Warah telah bersiap. Dengan cepat ia meloncat menghindar. Serangan itu tidak mengenai sasarannya. Untunglah bahwa para prajurit dan para penghuni padepokan itu telah berloncatan menghindar, sehingga mereka pun luput dari sentuhan serangan Akuwu Sangling.

Namun seorang yang terlambat meloncat, ternyata masih juga tersentuh kekuatan itu, sehingga ia pun telah terlempar beberapa langkah dan terbanting jatuh.

Ternyata orang yang malang itu telah mengalami nasib yang sangat buruk. Ia adalah korban yang pertama dari kegarangan ilmu Akuwu Sangling.

Sekali lagi Akuwu Lemah Warah memberi isyarat agar para prajurit dan para penghuni padepokan itu menjauh. Serangan-serangan itu sangat berbahaya bagi para prajurit dan penghuni padepokan itu.

Akuwu Lemah Warah menjadi tegang ketika ia melihat Akuwu Sangling memandangi para prajuritnya dan para penghuni padepokan yang telah menyingkir itu. Ketika kecurigaannya memuncak maka ia pun berkata, “Jika kau tujukan seranganmu kepada mereka, maka aku pun akan melakukan hal yang sama atas prajurit-prajuritmu.”

Akuwu Sangling menggeram. Sementara itu, hampir di luar sadarnya ia berpaling ke arah saudaranya seperguruannya.

Sebenarnyalah seperti Mahisa Murti dan Mahisa Pukat maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu pun sedang berusaha untuk memperbaiki keadaan tubuhnya yang mengalami kesulitan setelah berbenturan ilmu dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Beberapa orang prajurit Sangling telah melindungi saudara seperguruan Akuwu Sangling itu sampai saatnya ia akan dapat mengatasi kesulitan didalam dirinya.

Namun dalam pada itu, pertempuran telah terjadi dengan serunya dimana-mana di sekitar padepokan. Setiap orang di dalam padepokan telah berpegang pada perintah Akuwu. Tidak seorang pun boleh memasuki padepokan itu tanpa melangkahi mayat-mayat para penghuni itu lebih dahulu.

Apalagi ketika prajurit Lemah Warah telah menyergap mereka. Maka kemungkinan pasukan Sangling meloncati dinding padepokan itu pun menjadi semakin sulit.

Sementara itu Akuwu Sangling telah berhadapan dengan Akuwu Lemah Warah. Selangkah demi selangkah Akuwu Sangling bergerak memasuki padepokan. Namun langkahnya itu terhenti, ketika Akuwu Lemah Warah telah melontarkan serangan pula. Bukan angin prahara yang melontarkan kekuatan yang luar biasa, tetapi panasnya api telah meluncur dari telapak tangan Akuwu Sangling.

Seperti yang dilakukan oleh Akuwu Lemah Warah, maka Akuwu Sangling pun telah meloncat pula. Namun serangan Akuwu Lemah Warah telah meluncur nratas mengarah ke belakang Akuwu Sangling semula berdiri.

Beberapa orang prajurit sejak semula memang telah berloncatan minggir. Karena itu, maka serangan itu sama sekali tidak mengenai seorangpun. Namun ketika serangan itu kemudian menyentuh tanah, maka serangan yang seolah-olah gumpalan api itu telah meledak dengan kerasnya menghamburkan pasir dan debu.

Demikianlah, maka kedua orang itu telah saling menyerang dengan kekuatan mereka yang luar biasa. Namun tidak seorang pun menghindar namun dengan cepat mereka dapat membalas menyerang.

Bahkan pada satu saat, keduanya tiba-tiba saja ingin membenturkan kekuatan ilmu mereka. Karena itu, maka ketika Akuwu Sangling menyerang dengan praharanya, Akuwu Lemah Warah tidak dengan serta merta meloncat. Tetapi ia pun telah membentur serangan itu dengan ilmunya pula.

Telah terjadi lagi benturan yang dahsyat antara dua kekuatan ilmu. Ternyata seperti yang telah terjadi dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta lawannya.

Kedua orang Akuwu itu telah terguncang. Betatapun tinggi daya tahan mereka, tetapi kemampuan ilmu mereka pun sangat tinggi pula. Karena itu, maka keduanya bagaikan telah terhempas tanpa dapat bertahan untuk tegak.

Para prajurit pun dengan serta merta telah menyerbu ke arah para pemimpin mereka masing-masing. Dengan cepat mereka berusaha untuk menyingkirkan pemimpin mereka menyisih untuk menyembuhkan kesulitan yang dideritanya.

Pada saat yang demikian, maka para prajurit Sangling pun telah berlari-lari dan berusaha memasuki pintu gerbang. Namun para prajurit dan penghuni padepokan itu pun dengan cepat telah berusaha untuk menutup pintu itu dengan tebaran prajurit yang bersenjata telanjang ditangan.

Sejenak kemudian pertempuran yang sengit pun telah terjadi pula dipintu gerbang. Para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan itu telah bertahan dengan segenap kemampuan yang ada pada mereka. Akuwu Lemah Warah memang telah memerintahkan yang ada pada mereka. Akuwu Lemah Warah memang telah memerintahkan agar tidak seorang-puri dapat memasuki padepokan itu lewat mana pun juga.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih berada di tempatnya. Namun mereka sudah tidak terlalu gelisah lagi. Dimana-mana keseimbangan prajurit masih belum menyulitkan kedudukan padepokan Suriantal yang dibantu oleh para prajurit Lemah Warah. Baik yang telah berada di dalam padepokan itu, mau pun yang berada di sekelilingnya, yang bertempur melawan pasukan yang mengepung padepokan itu.

Sementara itu, baik Akuwu Lemah Warah, maupun Akuwu Sangling yang telah membenturkan ilmu mereka, ternyata memerlukan waktu beberapa saat untuk memulihkan keadaan mereka seperti sebelumnya. Benturan itu benar-benar bagaikan telah meremukkan isi dada. Namun karena keduanya adalah orang-orang berilmu tinggi, maka keduanya pun mampu mengatasi kesulitan yang terjadi pada diri mereka masing-masing.

Dengan memusatkan nalar budi, maka keduanya telah mengatur pernafasan mereka. Sambil duduk bersila dan tangan bersilang didada mereka dengan perlahan-lahan berhasil mengusir kesulitan dari diri mereka masing-masing.

Perlahan-lahan keadaan mereka pun mulai membaik. Baik Akuwu Sangling maupun Akuwu Lemah Warah. Namun untuk sementara keduanya masih harus mendapat perlindungan dari para perwira mereka yang terbaik.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang telah berhasil mengatasi kesulitan didalam dirinya, telah berada di antara para penghuni padepokan itu. Dari panggungan ia pun telah melihat bahwa saudara seperguruan Akuwu Sangling itu pun telah berhasil mengatasi kesulitan didalam dirinya pula. Bahkan ia pun telah mulai bergerak ke arah regol padepokan yang seakan-akan telah tertutup oleh pertempuran yang sengit.

“Apa yang akan dilakukannya,” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kita tidak dapat tinggal diam.”

Keduanya pun segera turun dari panggungan. Mereka telah menyibak para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan itu yang sedang mempertahankan regol padepokan, agar seperti perintah Akuwu tidak seorang pun boleh masuk.

Sesaat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tertegun melihat keadaan Akuwu Lemah Warah. Namun tiba-tiba Mahisa Murti berdesis, “orang itu tentu ingin menghancurkan Akuwu selagi Akuwu belum sempat memperbaiki keadaannya sebagaimana Akuwu Sangling.”

“Marilah,” desis Mahisa Pukat, “kita tidak boleh terlambat.”

Kedua anak muda itu pun dengan tergesa-gesa telah menyusup langsung menuju ke garis benturan antara kedua pasukan itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar ketika mereka mendengar seseorang berteriak, “Minggir. Biar aku hancurkan mereka yang menyumbat regol itu.”

Beberapa orang prajurit Sangling yang mendengar suara itu pun telah meneriakkannya pula. Hampir berbareng, “Minggir, minggir.”

Para prajurit Sangling pun dengan cepat menyibak. Mereka harus dapat memberi kesempatan kepada saudara seperguruan Akuwu itu. Jika mereka dengan cepat menyingkir dari medan, maka saudara seperguruan Akuwu itu, sebagaimana Akuwu Sangling sendiri, akan dapat melontarkan serangan ilmunya dan menghancurkan selapis pasukan lawan.

Namun demikian pasukan Sangling menyibak, sementara para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan itu masih belum tahu pasti apa yang akan terjadi, maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu telah meloncat ke depan siap melontarkan kekuatan ilmunya yang nggegirisi.

Barulah para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan itu sadar, apa yang akan terjadi. Namun mereka sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menyingkir.

Karena itu, maka merupakan harus merelakan dirinya dihancurkan oleh angin prahara sebagaimana pintu gerbang padepokan itu.

Namun dalam pada itu, selagi medan itu dicengkam oleh ketegangan, telah muncul pula Mahisa Murti dan Mahisa Pukat! Demikian mereka melewati lapisan terdepan, maka mereka pun segera mempersiapkan diri pula.

“Ki Sanak,” geram Mahisa Murti, “apakah kau akan mengarahkan ilmumu kepada para penghuni padepokan ini? Apakah dengan demikian kau akan merasa dirimu menjadi pahlawan? Namun demikian, baiklah. Kita berada di medan perang. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Dan aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan.”

“Anak iblis,” geram orang itu, “baiklah. Kita akan berhadapan. Tetapi kita tidak akan membenturkan ilmu kita. Tidak ada gunanya. Yang terjadi tentu hanya seperti yang pernah terjadi.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan berlomba untuk membunuh? Siapakah di antara kita yang lebih banyak membunuh orang-orang yang tidak berdaya?” bertanya Mahisa Pukat.

“Tidak anak-anak,” jawab saudara seperguruan Akuwu Sangling itu, “kita akan bermain-main. Aku sendiri, dan kalian berdua karena kalian masih anak-anak.”

“Kita akan bermain-main apa? “ pertanyaan Mahisa Pukat memang tidak diduga oleh saudara seperguruan Akuwu itu. Namun ia masih juga menjawab, “Apa saja yang kau kehendaki?”

“Baik,” jawab Mahisa Pukat, “tetapi kita harus berlaku jujur. Kita tidak boleh dengan licik mencuri kesempatan melepaskan ilmu kita. Kita akan berkelahi dengan kemampuan wadag kita.”

“Bersiaplah,” berkata saudara seperguruan Akuwu itu.

Demikianlah maka mereka pun segera bersiap. Saudara seperguruan Akuwu itu disatu pihak, sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dilain pihak.

Sejenak kemudian, maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu telah meloncat menyerang. Meskipun tubuhnya yang meluncur itu menimbulkan hempasan angin, tetapi ia benar-benar mempergunakan tenaga wajarnya.

Mahisa Murti yang menjadi sasaran serangan itu pun dengan cepat pula melenting, sehingga serangan lawannya sama sekali tidak menyentuhnya. Namun sementara itu Mahisa Pukat lah yang telah bergerak selangkah maju dengan tangan terjulur lurus. Telapak tangannya terbuka dengan jari-jari merapat menusuk ke arah lambung.

Tetapi lawannya menggeliat. Serangan itu pun tidak mengenainya. Bahkan saudara seperguruan Akuwu Sangling itu sempat mengangkat kakinya dan berputar pada tumit kakinya yang lain. Dengan demikian maka putaran kakinya yang mendatar itu telah menyambar perut.

Mahisa Pukat yang mendapat serangan itu meloncat selangkah mundur. Namun demikian kaki lawannya yang berputar itu menyentuh tanah, maka ia pun telah melenting dengan kaki mendatar mengarah ke dada Mahisa Murti.

Mahisa Murti meloncat kesamping sambil merendah. Kakinyalah yang kemudian menyapu kaki lawannya, sementara kakinya yang lain telah diangkatnya pula.

Demikianlah maka pertempuran antara kedua saudara anak Mahendra melawan saudara seperguruan Akuwu Sangling itu berlangsung dengan dahsyatnya. Kedua belah pihak telah mengerahkan segenap kekuatan tenaganya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mematuhi perjanjian sebagaimana laku seorang kesatria.

Lawannya pun sama sekali tidak merambah ke ilmunya. Dengan segenap kekuatan tenaganya dan tenaga cadangannya ia telah berusaha menjatuhkan kedua lawannya yang masih muda itu.

Tetapi, ternyata bahwa kedua anak muda itu memiliki ilmu yang luar biasa. Bahkan ketrampilan menggerakkan tangan dan kakinya, didorong oleh tenaga cadangannya pula.

Dengan demikian maka pertempuran antara mereka semakin lama menjadi semakin seru. Tenaga cadangan yang telah mereka lepaskan, telah membuat mereka seakan-akan menjadi semakin kuat. Gerak mereka pun menjadi semakin cepat, dan tangkas.

Sementara itu, maka para prajurit Sangling dan Lemah Warah telah bergerak pula. Ketika mereka menyadari, bahwa kedua belah pihak ternyata tidak mempergunakan kedahsyatan ilmu mereka, maka mereka pun telah memasuki arena pula. Demikian pula para penghuni padepokan itu.

Sehingga sejenak kemudian, maka pertempuran di depan regol itu pun telah menyala kembali. Sementara paja prajurit Lemah Warah yang datang dari belakang pasukan Sangling pun telah semakin mendesak, sehingga dengan demikian, maka para prajurit Sangling harus bekerja keras agar mereka tidak terdesak dari dua arah dan terhimpit di dalamnya, terutama di sekitar regol padepokan.

Di bagian lain dari pertempuran yang semakin seru itu, pasukan Lemah Warah mulai merebut kedudukan setapak demi setapak. Sementara itu, dari atas dinding padepokan, para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan itu masih juga menyerang dengan derasnya. Anak panah dan lembing.

Karena itulah, maka di beberapa bagian, para prajurit Sangling memang mengalami kesulitan. Mereka didesak dari luar kepungan mereka. Namun mereka pun tertahan oleh dinding padepokan dan orang-orang yang berada di panggungan di dalam dinding itu.

Tetapi para prajurit Sangling ingin menunjukkan kepada pimpinannya, bahwa mereka adalah prajurit-prajurit yang baik. Dengan demikian, maka mereka telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk menghancurkan pasukan Lemah Warah.

Namun agaknya mereka telah membentur sikap yang sama. Para prajurit Lemah Warah pun telah ditempa oleh Akuwu Lemah Warah untuk menjadi prajurit yang baik. Apalagi mereka yang berada di dalam padepokan itu telah mendapat pesan, bahwa tidak seorang pun yang boleh memasuki padepokan itu tanpa melangkahi mayat mereka.

Karena itu, maka pertempuran antara prajurit Sangling melawan prajurit Lemah Warah merupakan pertempuran yang sangat sengit. Kedua belah pihak sama sekali tidak ingin terdesak surut.

Dalam saat-saat yang demikian, maka Akuwu Sangling dan Akuwu Lemah Warah telah mencapai tataran yang lebih baik bagi keadaan diri mereka. Namun mereka masih harus memusatkan nalar budi mereka, mengatur pernafasan dan berusaha mencapai keadaan wajar sehingga kekuatan dan kemampuan mereka akan pulih kembali.

Sementara itu, saudara seperguruan Akuwu Sangling masih bertempur dengan sengitnya melawan dua orang anak muda anak Mahendra yang memiliki bekal yang lengkap untuk memasuki arena yang berat seperti itu.

Kedua belah pihak masih saling menyerang dan mendesak. Betapapun tingginya kemampuan dan ketrampilan saudara seperguruan Akuwu Sangling, namun melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, ia pun akhirnya harus mengerahkan segenap tenaga dan tenaga cadangannya.

Kedua anak muda itu telah bertempur berpasangan dengan tangkasnya. Saling mengisi dengan cepatnya, sehingga serangan-serangan mereka pun telah datang beruntun bagaikan gelombang yang berurutan menyentuh batu karang di pinggir lautan.

Tetapi saudara seperguruan Akuwu Sangling itu memang seperti batu karang yang berdiri tegak menentang sergapan gelombang dan badai. Kekuatannya bagaikan tidak tergoyahkan.

Tetapi sebenarnyalah tidak ada kemampuan yang tidak berbatas. Jika untuk beberapa saat lamanya, saudara seperguruan Akuwu Sangling itu mampu bertahan, namun kemudian tenaga dan tenaga cadangannya pun mulai menjadi susut.

Pada saat yang demikian, maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu mulai menjadi gelisah. Ia tidak mengira sama sekali, bahwa kedua orang anak muda itu ternyata memiliki kekuatan yang demikian besarnya. Bahkan jika terpaksa terjadi benturan kekuatan, maka kekuatan saudara seperguruan Akuwu Sangling itu tidak terpaut banyak dengan kekuatan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Dalam benturan yang terjadi, pada saat Mahisa Murti tidak sempat lagi menghindari serangan lawannya yang mengarah ke dadanya, sehingga Mahisa Murti harus menangkisnya, ternyata bahwa Mahisa Murti terdesak dua langkah surut. Namun tidak terjadi kesulitan di dalam diri Mahisa Murti.

Namun ketika lawannya siap untuk memburunya, dan menyerangnya sekali lagi, maka yang datang adalah serangan Mahisa Pukat. Demikian cepatnya kaki Mahisa Pukat terjulur menyamping mengarah lambung. Karena itu, maka lawannya terpaksa memiringkan tubuhnya, sedikit merendah dan menangkis serangan itu dengan lengannya.

Dalam benturan itu pun Mahisa Pukat terdorong pula surut dua langkah. Namun dengan cepat ia siap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi lawannya tidak sempat memburunya pula, karena Mahisa Murti telah bergeser mendekat.

Saudara seperguruan Akuwu Sangling itu harus memperhatikan Mahisa Murti pula. Karena itu, ia harus melepaskan Mahisa Pukat yang berdiri beberapa langkah dari padanya.

Sejenak kemudian, maka pertempuran pun telah menjadi semakin cepat. Namun terasa oleh saudara seperguruan Akuwu Sangling, bahwa ia tidak akan dapat bertahan dalam keadaannya. Ia merasa bahwa perlahan-lahan namun pasti, kecepatannya akan susut, dan kemampuannya akan mengendor.

“Anak-anak iblis,” geramnya di dalam hati, “aku harus menghancurkannya tanpa mengganggu pertempuran ini dalam keseluruhan.”

Itulah sebabnya, maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu mulai menilai keadaan di seputarnya.

Sebenarnyalah bahwa pertempuran yang terjadi di sekitarnya merupakan pertempuran yang sengit. Kedua belah pihak sama sekali tidak terikat pada gelar apapun, sehingga yang terjadi adalah perang brubuh yang ribut.

Setiap kesempatan telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh kedua belah pihak untuk mengurangi jumlah lawan. Namun karena mereka masing-masing memiliki kemampuan prajurit, maka tidak terlalu mudah bagi kedua belah pihak untuk menghunjamkan ujung senjata masing-masing.

Dalam pertempuran yang seakan-akan berdesakan itu, apalagi menghadap kedua arah bagi prajurit Sangling, maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu tidak dapat mempergunakan ilmu praharanya. Ia tidak dapat menghentakkan kemampuannya itu untuk menghantam kedua anak muda yang ternyata mampu mengimbangi kecepatan gerak dan kekuatan tenaga dan tenaga cadangannya. Bahkan ternyata karena mereka berdua masih muda, maka mereka memiliki daya tahan yang lebih besar. Pada saat saudara seperguruan Akuwu Sangling merasa bahwa tenaganya telah susut, maka kedua anak muda itu sama sekali belum nampak dipengaruhi oleh kelelahan, sehingga tenaga cadangan mereka masih tetap utuh.

Karena itu, maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu berniat untuk mempergunakan ilmunya yang lain. Ia tidak akan melepaskan ilmu praharanya.

Untuk beberapa saat kedua belah pihak masih bertempur dengan tenaga cadangannya. Mereka masih mengadu kemampuan dan kecepatan gerak serta ketrampilan mereka.

Namun setiap kali saudara seperguruan Akuwu Sangling itu telah berusaha untuk mengambil jarak.

Meskipun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih muda namun ternyata bahwa mereka telah memiliki perbendaharaan pengalaman yang luas. Karena itu, maka mereka pun menjadi curiga melihat sikap saudara seperguruan Akuwu Sangling.

Tetapi ternyata bahwa saudara seperguruan Akuwu Sangling itu juga seorang laki-laki jantan. Ia tidak ingin berbuat licik, apalagi terhadap dua orang yang masih dianggapnya terlalu kanak-kanak.

Karena itu, maka ia pun segera berteriak, “Anak-anak. Aku sudah jemu bermain-main. Siapkan ilmumu, kita akan membenturkan kemampuan ilmu kita tanpa melukai orang lain di seputar kita.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi berdebar-debar. Mereka tidak dapat dengan serta merta melepaskan kemampuannya lewat telapak tangannya yang terbuka. Jika mereka tidak dapat mengenai sasaran karena sasarannya sempat menghindar, maka yang akan menjadi korban adalah orang yang ada di belakang sasaran itu.

Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih belum tahu, kemampuan apakah yang akan ditampilkan oleh lawan mereka.

Ketika saudara seperguruan Akuwu itu bergeser surut serta menggosokkan kedua telapak tangannya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memperhatikan dengan tegang.

Tiba-tiba saja saudara seperguruan Akuwu itu berteriak nyaring. Dengan loncatan kecil maka ia pun telah berdiri dengan kaki yang bagaikan menghunjam bumi. Lututnya sedikit merendah sementara kedua tangannya sejajar dan tegak pada sikunya, mendatar ke depan. Telapak tangannya terbuka dengan kelima jari-jarinya lurus merapat.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang menjadi tegang. Namun mereka pun dengan serta merta telah mengerahkan segenap kemampuannya. Tetapi mereka memang tidak ingin melepaskan lontaran ilmu lewat telapak tangannya. Tetapi mereka akan mempergunakan kekuatan ilmunya lantaran wadagnya sebagaimana pernah diajarkan oleh ayahnya.

Meskipun keduanya tidak memiliki kemampuan ilmu Gundala Sasra, sebagaimana kakak mereka Mahisa Bungalan, namun mereka mewarisi ilmu Bajra Geni.

Karena itu, maka kedua anak muda itu pun segera bersiap. Mereka ingin melawan saudara seperguruan Akuwu Sangling itu dalam puncak ilmu yang akan mereka lontarkan dengan perantaraan ujud kewadagan mereka.

Sesaat kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah bersiap. Mereka harus beradu kecepatan gerak dan ketrampilan mengetrapkan unsur-unsur gerak dari kemampuan olah kanuragan mereka, didukung oleh kekuatan ilmu mereka yang sulit ada bandingnya.

Dalam pada itu, para prajurit di segala medan di seputar padepokan itu telah bertempur semakin seru. Ketika tubuh mereka telah dibasahi oleh keringat, maka darah mereka pun rasa-rasanya menjadi semakin deras mengalir.

Dentang senjata menjadi semakin keras terdengar, sedangkan sorak dan teriakan-teriakan pun menjadi semakin gemuruh.

Kedua belah pihak bukan saja memiliki kemampuan bermain senjata yang mantap, namun tekad mereka pun seakan-akan telah menyala di dalam dada mereka untuk memenangkan setiap benturan.

Namun agaknya kehadiran pasukan Lemah Warah telah menjadikan jumlah para prajurit Lemah Warah dan penghuni padepokan itu berganti menjadi lebih banyak. Namun demikian, para prajurit Sangling pun sama sekali tidak menjadi berkecil hati.

Di regol, sejenak kemudian, maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu pun telah bertempur dengan dahsyatnya melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Meskipun mereka tidak melontarkan serangan mereka, namun pertempuran yang terjadi diantara mereka telah membuat arena itu bagaikan menyibak.

Pukulan tangan saudara seperguruan Akuwu Sangling dengan jari-jari mengembang dan saling merapat itu telah mendebarkan jantung lawannya. Setiap pukulan mendatar, ayunan menyilang dan hentakkan yang datang mematuk, rasa-rasanya tidak kalah dengan tajamnya ujung pedang.

Pukulan-pukulan yang sempat dihindari oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, telah membuat darah mereka tersirap. Meskipun tangan lawan mereka itu tidak menyentuh tubuh mereka, tetapi terasa angin yang keras berdesing menampar kulit tubuh mereka.

Namun sebaliknya kedua anak muda itu pun tidak kurang garangnya. Pukulan mereka pun bagaikan telah mengguncang udara di sekitar lawannya. Aji Bajra Geni ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa, sehingga jantung saudara seperguruan Akuwu Sangling itu pun tergetar.

“Anak-anak iblis,” geramnya.

“Jangan bergeramang,” desis Mahisa Pukat, “kita sedang bertempur.”

“Gila,” geram orang itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Mereka bertempur semakin lama semakin sengit. Gerak mereka menjadi semakin cepat, sementara kekuatan mereka yang telah merambah pada kemampuan ilmu mereka pun menjadi semakin besar.

Ternyata bahwa bukan saja kekuatan saudara seperguruan Akuwu Sangling sajalah yang telah menggetarkan lawan-lawannya. Tetapi kekuatan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun ternyata sulit untuk dicari bandingnya. Lawan mereka itu pun menjadi heran, bahwa anak-anak muda itu ternyata telah memiliki kekuatan ilmu yang demikian dahsyatnya.

Bahkan ketika mereka bergerak semakin cepat, maka benturan-benturan kekuatan ilmu pun tidak dapat dihindari lagi.

Namun kedua belah pihak masih selalu berusaha untuk menghindari benturan langsung yang akan dapat berakibat buruk bagi bagian dalam tubuh mereka masing-masing.

Namun karena untuk beberapa lama saudara seperguruan Akuwu Sangling itu ternyata masih belum mampu mengalahkan kedua lawannya yang masih muda itu, maka ia pun semakin meningkatkan kemampuan ilmunya sehingga sampai ke puncak.

Dengan demikian, tangannya tidak saja merupakan senjata yang sangat berbahaya bagi lawan-lawannya, yang mampu mengoyak seperti tajamnya senjata, namun jari-jarinya yang merapat itu kemudian bagaikan telah dipanasi dengan arus darah yang mendidih. Setiap sentuhan, terasa bagaikan membakar kulit lawan-lawannya yang masih muda itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang merasakan, bahwa telah terjadi perubahan pada lawannya. Tangan lawannya itu tidak saja sangat berbahaya karena kekuatannya yang mampu mengoyak lambungnya, tetapi sentuhan-sentuhannya pun semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin panas.

Sementara itu, keadaan Akuwu Sangling dan Akuwu Lemah Warah pun menjadi berangsur baik. Pemusatan nalar budi dan pengaturan pernafasan, telah membuat mereka menemukan kembali kekuatan dan keseimbangan di dalam diri mereka. Darah dan nafas mereka mengalir semakin teratur dan mencapai tataran kewajaran.

Namun mereka masih harus benar-benar mencapai ke-siagaan tertinggi karena masing-masing menyadari bahwa lawannya adalah orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Karena itu, untuk beberapa saat keduanya masih tetap pada sikap mereka. Beberapa orang pengawal yang paling terpercaya masih saja berada di sekitar mereka.

Akuwu Lemah Warah yang masih dalam sikap samadi, telah memerintahkan seorang pengawalnya untuk mengamati keadaan. Apakah keadaan medan menuntutnya untuk segera hadir.

Namun sejenak kemudian pengawal itu telah menghadap lagi untuk memberikan laporan, “Sang Akuwu. Hamba telah melihat keadaan medan. Akuwu Sangling masih belum nampak berada di antara pasukannya. Namun yang tampil adalah seorang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Namun orang itu telah dihadapi oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Kedua belah pihak tengah bertempur pada tataran ilmu yang sangat tinggi, sehingga pertempuran di sekitarnya pun seakan-akan telah menyibak. Sementara itu keseimbangan antara kekuatan Sangling dan Lemah Warah serta isi padepokan ini agaknya lehih menguntungkan pasukan Lemah Warah dan padepokan ini. Pasukan Sangling yang harus bertempur dengan dua garis benturan itu agaknya berpengaruh juga pada ketahanan jiwa mereka. Sorak yang gemuruh dari dua sisi itu membuat orang-orang Sangling cepat menjadi marah dan kehilangan pengamatan diri.”

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Seseorang harus tetap bergantian mengamati keadaan dengan saksama. Laporan-laporannya sangat aku perlukan pada setiap saat. Apalagi jika Akuwu Sangling telah hadir di medan, maka aku pun akan berada di medan pula.”

Demikianlah, maka para pengawal Akuwu itu telah bergantian, hilir mudik mengamati medan. Bahkan kemudian seorang di antara mereka telah melihat bukan saja medan di pintu gerbang, tetapi di sekitar dinding padepokan.

Namun menurut pengamatan mereka, maka keadaan pasukan Lemah Warah agaknya menjadi semakin baik. Kedudukan mereka menjadi semakin mantap dan landasan mereka pun menjadi semakin kuat. Pasukan Sangling benar-benar hampir terhimpit dinding padepokan, meskipun dalam perang brubuh pasukan Lemah Warah dan orang-orang padepokan itu tidak lagi dapat dengan leluasa membantu meluncurkan anak panah dan lembing. Agaknya orang-orang Sangling sengaja membuat pertempuran itu semakin berbaur. Karena dengan demikian maka orang-orang yang berada di dalam dinding itu harus berpikir lagi untuk begitu saja melontarkan anak panah dan lembing mereka ke arena. Jika mereka melakukan juga, maka akan ada kemungkinan bahwa senjata itu dapat mengenai kawan-kawan mereka sendiri.

Dengan demikian maka untuk beberapa saat, orang-orang yang berada di dalam dinding padepokan menjadi termangu-mangu. Mereka tidak segera dapat berbuat sesuatu. Namun mereka telah bersiap untuk berbuat apa saja untuk mempertahankan padepokan itu.

Namun dalam pada itu, ternyata Akuwu Sangling lah yang telah lebih dahulu bersiap. Ia tidak menunggu Akuwu Lemah Warah hadir di medan. Tetapi ia telah bangkit dan kepada para pengawal yang menjaganya ia berkata, “Aku sudah siap untuk bertempur.”

Para pengawalnya pun kemudian mengantar Akuwu melangkah mendekati medan. Bahkan ketika Akuwu melihat kedudukan prajuritnya yang berada dalam kesulitan, maka Akuwu pun menggeram, “Aku akan menghancurkan Akuwu Lemah Warah. Kemudian membakar seisi padepokan itu seperti membakar batang-batang ilalang kering.”

Namun kehadirannya ke medan, ternyata telah terlihat oleh pengamat dari Lemah Warah. Karena itu, maka ia pun telah dengan tergesa-gesa memberikan laporan kepada Akuwu Lemah Warah.

“Jadi Akuwu Sangling telah tampil ke medan?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Ya Akuwu,” jawab pengamat itu, “nampaknya ia tergesa-gesa.”

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku juga akan turun ke medan. Tetapi bagaimana dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat?”

“Mereka bertempur pada jarak pendek. Mereka agaknya mempergunakan tubuh mereka untuk lantaran lontaran ilmu masing-masing,” jawab pengamat itu, “Mereka sama sekali tidak mempergunakan lontaran-lontaran ilmu dari jarak jauh.”

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Namun ia yakin bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak akan mudah dikalahkan oleh saudara seperguruan Akuwu Sangling itu.

Akuwu Sangling pun kemudian melihat bagaimana saudara seperguruannya telah membentur kekuatan anak-anak muda itu. Karena itu, maka ia pun menjadi marah. Sejenak ia berdiri tegak memandang tata gerak dari kedua belah pihak. Akuwu mengerti, bahwa saudara seperguruannya telah berusaha untuk melepaskan ilmunya. Kekuatannya bukan saja pada ayunan tangannya, tetapi juga kekuatan jari-jari tangannya yang akan dapat mengkoyak lambung. Bahkan agaknya saudara seperguruannya itu juga melepaskan kekuatan panas dari dalam dirinya lewat sentuhan wadagnya.

Tetapi agaknya kedua anak muda itu masih saja bertahan.

Karena itu, tiba-tiba saja timbul niatnya untuk menghancurkan anak-anak muda itu. Karena itu, ia pun telah siap turun mendampingi saudara seperguruannya itu.

Tetapi sebelum ia turun ke arena, tiba-tiba terdengar suara, “Apakah kau akan ikut bermain-main dengan anak-anak?”

Akuwu Sangling berpaling. Dilihatnya Akuwu Lemah Warah berdiri bertolak pinggang.

“Kau,” desis Akuwu Sangling, “jadi dadamu belum hancur?”

Akuwu Lemah Warah tersenyum. Jawabnya, “Aku menunggu kesempatan untuk bertempur lebih lama. He, kau lihat, bagaimana kedua kemenakanku itu bertempur melawan saudara seperguruanmu?”

Akuwu Sangling itu termangu-mangu. Ternyata mereka telah bertempur dengan cara tersendiri. Mereka tidak saling melontarkan serangan ilmu dari jarak jauh.

“Mereka ternyata lebih jantan daripada kita,” berkata Akuwu Lemah Warah yang selangkah mendekat, “mereka tidak mau mengganggu orang lain. Mereka tidak ingin salah sasaran jika mereka mempergunakan serangan dari jarak yang jauh.”

“Maksudmu?” bertanya Akuwu Sangling.

“Kita bertempur seperti anak-anak dungu itu?” bertanya Akuwu Sangling.

“Kita akan mencoba. Kita tidak akan melepaskan serangan seperti yang telah kita lakukan di antara para prajurit yang bertempur dalam medan seperti ini. Dalam perang brubuh mungkin kita akan melukai orang yang bukan sasaran yang sebenarnya,” berkata Akuwu Lemah Warah.

“Kau tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Aku sudah tahu maksudmu,” sahut Akuwu Sangling. Lalu, “Nah, bersiaplah. Kita akan bertempur dengan cara yang kau ingini. Tetapi kita bukan orang-orang dungu yang tidak berilmu. Kita akan mempergunakan kekuatan ilmu apapun juga yang akan kita lontarkan dengan lantaran wadag kita.”

Akuwu Lemah Warah pun telah bersiap. Selangkah demi selangkah ia bergeser mendekat. Beberapa orang pengawalnya mengikutinya. Mereka akan segera bertindak, jika ada lawan yang menyerang Akuwu Lemah Warah selain Akuwu Sangling sendiri.

Sejenak kemudian, keduanya telah saling berhadapan. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Namun keduanya akan bertempur dengan cara yang telah ditempuh oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melawan saudara seperguruan Akuwu Sangling.

Akuwu Sangling lah yang telah mendahului menyerang Akuwu Lemah Warah. Ternyata telapak tangannya bagaikan berdesing mengayunkan kekuatan yang luar biasa.

Akuwu Lemah Warah menyadari, bahwa jika ia tersentuh jari-jari Akuwu Sangling yang terbuka dan lurus merapat itu, maka kulitnya akan dapat terkoyak. Pada jari-jari yang rapat itu tersalur kekuatan ilmu yang luar biasa, sebagaimana dilakukan oleh saudara seperguruannya.

Namun sebelum lawannya menarik serangannya, maka kaki Akuwu pun telah berputar melingkar menyambar lambung lawannya. Namun lawannya itu pun sempat meloncat menghindar.

Dengan demikian maka kedua orang Akuwu itu telah saling melontarkan kekuatan mereka masing-masing. Kekuatan ilmu yang jarang ada bandingnya. Namun karena masing-masing mampu bergerak cepat, maka serangan-serangan mereka tidak segera dapat mengenai lawannya.

Seperti yang terjadi pada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta lawan mereka yang bertempur dengan garangnya. Maka para prajurit yang bertempur di sekitar mereka pun seakan-akan telah menyibak.

Kedua Akuwu itu meskipun tidak melepaskan serangan jarak jauh, namun dengan ilmu yang mereka miliki maka serangan-serangan mereka telah mengungkapkan tingkat tataran ilmu mereka.

Baik Akuwu Sangling maupun Akuwu Lemah Warah ternyata memiliki kemampuan untuk membangkitkan kekuatan panasnya api dari diri mereka. Getaran ilmu mereka membuat darah mereka bagaikan mendidih. Sehingga setiap sentuhan dari wadag mereka bagaikan membakar kulit lawan.

Tetapi karena keduanya memiliki ilmu yang sama-sama mampu menyadap kekuatan api, maka setiap sentuhan memang memiliki akibat yang hampir sama pula bagi kedua belah pihak. Keduanya bagaikan menyentuh bara, sehingga mereka harus membangunkan kekuatan daya tahan tubuh mereka untuk mengatasinya.

Namun yang agak berbeda adalah akibat hentakan dari pukulan itu. Jika serangan salah seorang diantara mereka mengenai sasaran, maka selain panasnya bara api, sasaran itu pun merasakan seakan-akan tulang belulangnya menjadi berpatahan.

Tetapi keduanya memang memiliki daya tahan yang sangat tinggi sehingga mereka mampu mengatasi rasa sakit dan panas itu meskipun terasa juga pedihnya pada saat benturan terjadi.

Demikianlah pertempuran diantara mereka pun berlangsung semakin lama semakin sengit. Mereka telah meningkatkan kemampuan ilmu mereka, sehingga pada keadaan terakhir, keduanya benar-benar mengalami kesulitan. Kulit mereka menjadi seakan-akan tersentuh bara. Kemerah-merahan dan bahkan menjadi kehitam-hitaman. Bukan hanya di satu dua tempat. Tetapi di beberapa tempat. Di punggung, di lengan, di pundak dan di beberapa tempat yang lain.

Namun keduanya tidak akan surut selangkah. Keduanya telah dibakar oleh kemarahan yang memuncak, sehingga apapun yang terjadi, mereka akan tetap bertempur. Sementara itu mereka pun telah berpegang pada janji seorang kesatria. Mereka tidak akan mempergunakan ilmu yang akan mampu menyerang mereka dari jarak yang jauh. Karena jika mereka tidak mengenai sasaran, akan terjadi bencana pada para prajurit yang memang bukan lawan mereka.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun masih bertempur dengan keras dan bahkan kasar. Seperti Akuwu Sangling, maka saudara seperguruannya itu pun memiliki ilmu yang sama. Tubuhnya semakin lama menjadi semakin panas. Jika Mahisa Murti atau Mahisa Pukat mampu menembus kecepatan gerak lawannya dan mengenainya, maka kulitnya sendiri menjadi kesakitan sebagaimana mereka menyentuh api, meskipun dengan demikian mereka dapat menyakiti lawannya pula dengan pukulan mereka.

Namun dengan demikian, kedudukan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin terasa lemah. Jika mereka menyakiti lawannya, maka mereka sendiri mengalami kesakitan.

Untuk beberapa saat keduanya bertahan terus. Namun kemudian keadaan mereka pun menjadi semakin terdesak. Meskipun mereka mampu mengatasi kecepatan gerak lawannya, tetapi bagi keduanya panasnya tubuh lawan itu tetap menjadi persoalan bagi mereka.

Ketika seorang perwira Lemah Warah yang mencoba ikut serta menyerang saudara seperguruan Akuwu Sangling itu, maka malapetaka telah terjadi atas dirinya. Telapak tangan saudara seperguruan Akuwu Sangling itu telah membekas di lengannya ketika lawannya sempat mencengkam lengan itu.

Untunglah bahwa Mahisa Murti dengan tangkasnya menyerang saudara seperguruan Akuwu Sangling. Demikian kerasnya tumit Mahisa Murti mengenai lambung lawannya, sehingga lawannya itu terdorong surut. Lambungnya memang merasa sakit dan perutnya menjadi mual.

Di luar sadarnya, maka pegangannya pun telah terlepas, sehingga perwira itu sempat menghindarkan diri dari kesulitan. Namun demikian, pada lengannya telah membekas luka bakar. Sedangkan tumit Mahisa Murti pun seakan-akan telah menginjak api pula.

“Minggir,” teriak Mahisa Pukat, “jangan campuri pertempuran ini.”

Perwira itu berdiri termangu-mangu. Ketika ia sempat memandangi tubuh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka pada mereka terdapat juga luka-luka bakar itu, meskipun tidak separah luka di lengannya.

Sebenarnyalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang mengalami kesulitan menghadapi lawannya. Sementara itu mereka terikat pada janji jantan untuk tidak mempergunakan serangan jarak jauh. Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tetap tidak menyerang lawannya pada jarak tertentu.

Untuk beberapa saat, dengan pukulan ilmunya yang luar biasa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengguncang lawannya. Tetapi lawannya pun memiliki ilmu yang luar biasa. Bahkan agaknya saudara seperguruan Akuwu Sangling itu memiliki pengalaman dan pengembangan ilmu yang lebih luas dari kedua anak muda itu. Sehingga dengan demikian, maka pantaslah bahwa orang itu telah dipercaya untuk mendampingi Akuwu Sangling dalam tugas yang berat ini.

Dalam pada itu, dalam keadaan yang sulit, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang tidak mempunyai pilihan lain. Dengan isyarat Mahisa Murti mengajak Mahisa Pukat untuk mempergunakan ilmunya yang lain, yang tidak melanggar janji mereka menghadapi lawan mereka, meskipun mereka akan mengalami akibat yang pahit. Setiap sentuhan akan meninggalkan bekas luka bakar pada kulit mereka, sementara itu, keduanya akan memerlukan kesempatan untuk selalu menyentuh atau disentuh lawannya.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang tidak mempunyai pilihan lain. Lawannya adalah seorang yang memang memiliki kematangan ilmu sehingga sulit bagi keduanya untuk dapat menundukkannya.

Karena itulah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun segera telah mengetrapkan ilmu mereka yang telah mereka warisi dari Pangeran Singa Narpada.

Namun sementara itu, kemajuan prajurit Lemah Warah tidak dapat disangkal lagi. Perlahan-lahan mereka telah mendesak prajurit Sangling. Yang bertahan ditempatnya tanpa mengenal surut, terpaksa disingkirkan dengan ujung pedang, meskipun korban di antara prajurit Lemah Warah pun telah berjatuhan.

Baik Akuwu Sangling maupun saudara seperguruannya melihat keadaan itu. Karena itulah maka mereka telah terdorong untuk mempercepat pekerjaan mereka, menyelesaikan lawan-lawan mereka. Terutama saudara seperguruan Akuwu Sangling itu. Ia merasa bahwa dengan menghentakkan ilmunya, maka keadaan kedua lawannya yang masih sangat muda itu akan segera dapat dikalahkannya.

Sebenarnyalah, saudara seperguruan Akuwu itu telah berusaha menghentakkan ilmu mereka pada saat-saat terakhir. Orang itu masih ingin memaksakan diri untuk meningkatkan pengaruh panasnya kepada kedua lawannya itu. Jika kedua anak muda itu sudah diselesaikan, maka ia pun akan mendapat kesempatan untuk menghancurkan pasukan Lemah Warah. Dengan kekuatannya atau dengan kemampuannya bergerak cepat, maka ia akan dapat membunuh seberapa dikehendaki.

Bahkan jika ia sempat menyusup memasuki padepokan, maka ia akan membunuh semua orang yang ada di padepokan itu.

Tetapi kedua anak muda itu benar-benar liat. Betapapun saudara seperguruan Akuwu Sangling itu mengerahkan kemampuannya, namun kedua anak muda itu masih saja mampu melawannya.

Pada saat-saat terakhir dari pertempuran itu, maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu benar-benar telah menghentakkan semua yang ada pada dirinya. Panas yang memancar dari tubuhnya pun semakin meningkat, sehingga sentuhan tangannya akan mampu mengelupas kulit.

Namun ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bersiap sepenuhnya. Bukan saja untuk melawan, tetapi mereka pun telah siap untuk menghancurkan lawannya pula, sebagaimana sebaliknya.

Pertempuran yang terjadi pun menjadi semakin cepat. Serangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin cepat.

Mereka semakin sering berhasil mengenai tubuh lawannya dengan serangan-serangan yang cepat dan kuat, dan bahkan hampir tidak masuk akal bahwa lawannya mampu bertahan atas kekuatan ilmunya yang luar biasa yang diwarisinya dari ayahnya.

Meskipun setiap sentuhan, kulit Mahisa Murti dan Mahisa Pukat seakan-akan telah terbakar, namun kedua anak muda itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.

Bahkan pertempuran pun menjadi semakin lama semakin cepat. Serangan disusul dengan serangan dan dibalas pula dengan serangan. Keduanya menjadi semakin sering berbenturan, sehingga luka di tubuh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun seakan-akan telah menjadi merata di seluruh tubuh mereka. Lengan, kening, punggung dan bahkan betis mereka pun telah terbakar oleh panasnya ilmu lawannya. Bahkan di beberapa bagian kulit mereka telah mulai terkelupas.

Kedua anak muda itu merasakan betapa sakitnya tubuh mereka. Bahkan sekali-sekali terdengar kedua anak muda itu mengaduh. Sekali-sekali Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kehilangan keseimbangannya dan memerlukan waktu beberapa saat untuk memperbaiki keadaannya.

Tetapi keduanya masih saja tetap membenturkan ilmu mereka melawan saudara seperguruan Akuwu Sangling itu. Sehingga pada satu saat, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai terhuyung-huyung apabila benturan itu terjadi. Perasaan sakit telah benar-benar terasa menggigit seluruh tubuhnya. Apalagi jika keringat mereka menyentuh luka-luka bakar di tubuhnya.

Namun pada saat tubuh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terasa menjadi semakin lemah, serta perasaan sakitnya hampir tidak dapat diatasinya lagi, maka lawannya pun menjadi agak kebingungan. Tenaganya yang memang mulai susut itu dengan cepat sekali bagaikan larut. Semakin ia berusaha menghentakkan ilmunya untuk menghancurkan lawannya, sehingga terjadi benturan ilmu, maka rasa-rasanya kelelahan itu tidak tertahankan lagi. Bahkan kemampuannya menjadi semakin surut dengan cepat pula sebagaimana susutnya kemampuannya.

“Apa yang terjadi?” orang itu berdesis.

Namun ia masih tetap bertempur terus. Mula-mula saudara seperguruan Akuwu itu merasapan keadaannya dirinya sebagai satu kewajaran setelah ia menghentakkan seluruh kekuatan dan kemampuannya. Tetapi ketika hal itu terjadi terlalu cepat, maka rasa-rasanya ada sesuatu yang tidak wajar di dalam dirinya.

Mahisa Murti dan Miaisa Pukat yang masih harus berjuang mengatasi rasa sakit itu melihat keadaan lawan. Karena itu, maka mereka berusaha semakin sering menyerang dan menyentuh tubuh lawannya betapapun mereka sendiri mengalami kesakitan.

Pada saat-saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat seakan-akan tidak mampu lagi untuk bertahan, maka mereka melihat lawan mereka pun bagaikan telah kehilangan tempat untuk bertumpu. Ayunan tangan dan kakinya tidak lagi garang mengena.

Tetapi sentuhan-sentuhan kecil itu pun telah memberikan arti tersendiri bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Dalam pada itu, sejalan dengan tingkat kemunduran keadaan lawannya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyadari, bahwa permainan mereka yang mengasyikan, yang hampir saja mengelupas seluruh kulit kedua anak muda itu, akan segera sampai ke puncaknya.

Sebenarnyalah maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu telah kehilangan sebagian besar dari kekuatannya. Karena itu pulalah maka pemusatan nalar budinya telah menjadi semakin terkoyak pula. Orang itu tidak lagi mampu mempertahankan pancaran ilmunya, sehingga panasnya pun telah memudar.

Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin sering menyentuh orang itu. Bukan sekedar menyakiti dengan pukulan-pukulan, tetapi keduanya telah mengetrapkan ilmunya. Setiap sentuhan berarti susutnya kekuatan dan kemampuan ilmu lawannya.

Tidak ada orang yang mampu melawan hisapan kekuatan ilmu itu. Jika seseorang tersentuh oleh ilmu itu, maka tidak akan dapat menghindarkan diri dari susutnya kekuatan dari ilmunya.

Saudara seperguruan Akuwu Sangling itu adalah seorang yang memiliki ilmu yang mapan. Jarang sekali bandingnya. Namun ia pun tidak mampu bertahan atas hisapan kekuatan ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Demikianlah, maka akhirnya saudara seperguruan Akuwu Sangling itu benar-benar telah kehilangan seluruh tenaganya. Ketika ia masih berusaha menyerang, maka ia pun telah terhuyung-huyung. Karena serangannya tidak menyentuh lawannya, maka ia pun justru telah terdorong oleh tarikan tenaganya sendiri. Betapapun kecilnya tenaganya yang tersisa, namun keseimbangan orang itu memang sudah tidak mapan lagi, sehingga akhirnya orang itu telah jatuh terjerembab.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri selangkah daripadanya. Sesaat mereka menunggu. Namun lawannya hanya mampu menggeliat. Dengan wajah yang geram orang itu memandanginya sambil berdesis, “Iblis yang licik.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Mereka masih mendengar sorak yang mengguntur bagaikan menggapai langit. Namun Mahisa Pukat tidak lagi dapat mendengarnya lebih lama lagi. Ia pun terhuyung-huyung pula. Seluruh kulitnya telah luka terbakar, sehingga akhirnya ia pun terjatuh pula.

Beberapa orang prajurit Lemah Warah segera mendekatinya. Mahisa Murti pun kemudian berjongkok di sampingnya. Tetapi pandangan matanya sudah menjadi kabur pula, sehingga akhirnya ia pun telah terbaring pingsan sebagaimana Mahisa Pukat.

Tiga orang terbaring. Namun keadaan mereka berbeda. Saudara seperguruan Akuwu Sangling bukan saja kehilangan kekuatan dan kemampuan ilmunya, tetapi setiap tarikan nafasnya bagaikan tusukan di jantungnya. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pingsan karena perasaan sakit oleh luka-luka bakar di tubuhnya serta kelelahan setelah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya.

Para prajurit Lemah Warah sempat memindahkan ketiga tubuh yang lemah itu. Sementara itu, para prajurit Lemah Warah yang lain telah menekan prajurit Sangling semakin kuat, sehingga prajurit Sangling itu akhirnya benar-benar terhimpit oleh kekuatan yang datang dari dua sisi, sementara di tempat lain, prajurit Lemah Warah telah menekan prajurit Sangling sehingga mereka menjadi semakin melekat dinding.

Dalam pada itu, Akuwu Sangling dan Akuwu Lemah Warah masih bertempur dengan dahsyatnya. Apalagi ketika mereka kemudian mengetahui bahwa saudara seperguruan Akuwu Sangling telah kehilangan kemampuannya untuk bertempur. Mereka justru telah jatuh ke tangan para prajurit Lemah Warah.

Prajurit Sangling memang sudah berusaha untuk merebutnya. Tetapi mereka tertahan oleh prajurit Lemah Warah yang ternyata jumlahnya menjadi lebih banyak.

Dalam pada itu, Akuwu Lemah Warah pun sempat berkata, “Nah, apakah katamu sekarang. Saudara seperguruanmu telah dihancurkan.”

“Tidak. Mereka justru saling menghancurkan. Kedua belah pihak menjadi tidak berdaya sama sekali,” berkata Akuwu Sangling.

Akuwu Lemah Warah tidak membantah. Ia pun mengetahui bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah jatuh pula. Karena itu, maka ia pun juga menjadi cemas. Namun bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih sempat melihat lawannya terjatuh dan tidak berdaya lagi, maka Akuwu Lemah Warah berharap bahwa keadaan mereka masih lebih baik dari keadaan lawannya.

Sementara itu Akuwu Sangling menjadi tidak sabar lagi. Karena itu, maka katanya, “Aku tidak mau melanggar janji seorang kesatria. Kita tidak mempergunakan ilmu yang dapat kita lontarkan dari jarak jauh. Tetapi dengan demikian persoalan kita tidak akan segera selesai. Karena itu, maka kita dapat merubah janji kita. Kita dapat mempergunakan ilmu kita apa saja.”

Akuwu Lemah Warah pun termangu-mangu sejenak. Namun Akuwu Sangling berkata, “Kita menyisih dari arena ini.”

“Bagus,” berkata Akuwu Lemah Warah, “apa pun yang kau kehendaki, aku tidak akan gentar.”

Demikianlah maka keduanya pun kemudian telah beringsut dari tempat mereka bertempur. Mereka telah keluar dari lingkaran pertempuran. Meskipun para prajurit dari kedua belah pihak telah menyibak, namun masih dalam garis yang berbahaya jika kedua Akuwu itu mempergunakan ilmu raksasa mereka.

Karena itu, maka keduanya telah beringsut.

Para prajurit melihat apa yang telah dikerjakan oleh kedua Akuwu itu. Mereka pun segera mengerti, apa yang akan terjadi. Saat-saat yang menentukan segera akan tiba, karena kedua orang Akuwu itu agaknya akan sampai kepada puncak dari kemampuan mereka. Mereka agaknya tidak lagi telaten bertempur dengan cara yang untuk beberapa lama telah mereka lakukan.

Dengan demikian maka para prajurit tidak mengikuti mereka yang telah beringsut menjauh itu.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang pingsan itu perlahan-lahan mulai menyadari keadaan diri mereka masing-masing. Namun rasa-rasanya tubuh mereka memang menjadi sakit seluruhnya. Luka-luka bakar di tubuh mereka masih terasa bagaikan dipanggang di atas api. Panas dan pedih.

Terdengar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengeluh tertahan. Sementara itu, beberapa orang prajurit Lemah Warah telah menjaga mereka dan menjaga agar tubuh saudara seperguruan Akuwu Sangling tidak diambil kembali oleh prajurit-prajurit Sangling, karena orang itu merupakan tawanan yang berharga bagi para prajurit Lemah Warah.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah sadar sepenuhnya. Namun mereka memang tidak dapat berbuat banyak. Karena itu yang mereka lakukan kemudian adalah memperbaiki keadaan tubuh mereka masing-masing.

Dengan obat yang ada pada mereka, maka keduanya telah mengobati luka mereka masing-masing sebagaimana jika mereka terkena api. Meskipun mereka semula ragu-ragu, apakah obat yang diperuntukkan bagi luka bakar biasa itu dapat dipergunakan untuk mengobati luka-lukanya.

Namun ternyata bahwa setelah luka-luka mereka, terutama di tempat tempat yang terpenting telah disentuh oleh obat itu, maka perasaan nyeri dan pedih pun mulai berkurang.

Karena itu, agar obat itu dapat merata, maka ia minta agar seorang prajurit menyempatkan diri untuk mencari air di padepokan itu.

Seorang prajurit telah berlari meninggalkan kedua anak muda yang terluka itu, sementara beberapa orang yang lain masih tetap bersiap disekitarnya.

Dengan air itu maka keduanya telah mencairkan obatnya dan dengan demikian maka cairan itu dapat diusapkan di seluruh tubuhnya.

Akibatnya memang cukup baik. Perasaan sakitnya telah menjadi berkurang. Sementara itu, maka keadaan dan kedudukan para prajurit Lemah Warah pun menjadi semakin baik.

Namun dalam pada itu, hampir seisi padepokan itu telah tertarik pada pertempuran yang dahsyat yang telah terjadi di halaman padepokan itu. Untunglah bahwa dinding padepokan itu cukup tinggi, sementara kekuatan prajurit Lemah Warah di luar cukup besar, sehingga ketika perhatian mereka sebagian besar tertuju kepada pertempuran yang dahsyat yang terjadi di dalam dinding padepokan, mereka tidak mengalami bencana.

Sebenarnyalah pertempuran yang terjadi benar-benar merupakan pertempuran yang luar biasa. Seakan-akan seisi bumi telah terguncang. Kedua belah pihak telah mengerahkan kemampuan mereka. Bukan sekedar lontaran ilmu dari jarak yang jauh, tetapi bumi rasa-rasanya memang bergetar. Angin prahara bertiup berputaran menghamburkan panas yang melampaui panasnya api.

Dedaunan di sekitar arena itu bagaikan diputar. Namun kemudian menjadi layu oleh panas yang tidak tertahankan.

Kedua orang Akuwu itu telah melepaskan dan membenturkan ilmu mereka yang nggegirisi. Angin, panas dan uap air yang mendidih telah berbaur di arena itu.

Namun keduanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang luar biasa, sehingga keduanya masih tetap bertempur dengan kemarahan yang menghentak-hentak jiwa mereka.

Namun dalam pada itu, pertempuran antara prajurit Sangling melawan prajurit Lemah Warah pun telah mendekati pada akhirnya. Para prajurit Sangling, bagaimanapun juga kuat dan garangnya, tetapi mereka telah benar-benar dihimpit oleh kekuatan prajurit Lemah Warah membentur dinding. Tidak ada yang dapat menolong mereka. Sementara itu pembidik-pembidik yang baik di atas dinding telah berusaha untuk semakin mengacaukan pertahanan orang-orang Sangling.

Orang-orang yang berada di panggungan di dalam dinding padepokan itu, tidak dapat melepaskan anak panah asal saja melepaskan, karena dibawahnya pertempuran seakan-akan telah membaurkan kedua kekuatan dari Lemah Warah dan Sangling.

Tetapi para pembidik yang baik masih mampu mengambil kesempatan. Setiap saat, mereka masih mendapat kesempatan untuk melepaskan anak panahnya. Bahkan setiap kali anak panah itu masih juga mampu melukai seseorang. Seorang prajurit Sangling berteriak sambil mengumpat-umpat ketika pundaknya telah dipatuk oleh anak panah dari atas dinding. Sementara yang lain telah dikenai punggungnya. Bahkan ada diantara mereka yang tepat mengenai dada dan tembus ke jantung.

Tetapi serangan yang demikian memang harus dilakukan dengan sangat hati-hati, sehingga kesempatan untuk melepaskan anak panah dengan keyakinan bahwa anak panah itu akan memungut korban adalah jarang sekali. Tetapi yang jarang itu satu dua memang benar-benar berhasil.

Dengan demikian maka prajurit Sangling itu pun telah menjadi semakin susut. Ada juga prajurit Lemah Warah \ang menjadi korban dari pertempuran itu. Tetapi keadaan mereka kemudian menjadi jauh lebih baik dari para prajurit Sangling.

Untuk beberapa saat prajurit Sangling itu masih bertahan.

Sebagian dari mereka memang berniat untuk tidak beringsut surut sama sekali. Namun kematian demi kematian telah mengurangi jumlah prajurit Sangling itu.

Sementara itu Akuwu Sangling tengah bertempur dengan dahsyatnya melawan Akuwu Lemah Warah. Segala macam ilmu telah mereka kerahkan untuk menundukkan lawan. Namun mereka agaknya tidak segera berhasil.

Tetapi keduanya tidak cepat kehilangan akal. Meskipun seolah-olah mereka tidak akan mungkin mengalahkan lawan, tetapi mereka masih tetap beradu ilmu. Jika seorang diantara mereka membuat kesalahan betapapun kecilnya, maka akan mungkin sekali menentukan akhir dari pertempuran itu.

Kedua orang itu tidak saja membenturkan ilmu mereka dalam bentuknya yang keras. Tetapi kadang-kadang serangan ilmu yang keras dan kasar telah dilawan dengan ilmu dalam ujudnya yang lunak, sehingga yang terjadi bukan benturan kekerasan, namun yang keras itu seakan-akan telah ditelan oleh ujud yang lunak.

Namun sebaliknya serangan ilmu dalam ujud yang lunak dapat tersapu oleh kekuatan ilmu yang keras meskipun ilmu yang keras itu pada satu titik tertentu telah kehabisan tenaga dan lenyap bersama hembusan angin yang mengalir.

Dengan demikian maka rasa-rasanya pertempuran itu tidak akan pernah berakhir sampai kapan pun juga.

Sementara pertempuran itu masih menyala, maka dibebe-rapa tempat pasukan Akuwu Sangling benar-benar sudah tidak mampu bertahan lagi. Pasukan Lemah Warah telah berhasil memisahkan beberapa bagian dari pasukan Sangling dengan memotong jalur perlawanan mereka. Dengan demikian maka pasukan Sangling telah terpecah men jadi kelompok-kelompok kecil yang bertahan melekat dinding, sementara dari atas dinding masih saja kadang-kadang meluncur anak panah yang sempat mengambil nyawa satu dua orang kawan mereka.

Dalam keadaan yang paling sulit, maka tidak ada pilihan lain bahwa mereka memang harus menghentikan perlawanan. Kematian dan kematian tidak akan banyak memberikan arti apa-apa lagi dalam keadaan yang demikian.

Karena itulah maka beberapa bagian dari pasukan Sangling itu telah menyerah. Mereka telah meletakkan senjata mereka dan mematuhi perintah para prajurit Lemah Warah.

Perlawanan yang paling sengit yang masih berlangsung adalah perlawanan prajurit Sangling yang berada di pintu gerbang. Mereka memang tidak melihat keadaan seluruh medan di seputar padepokan itu. Bahkan mereka sama sekali tidak menduga bahwa ada juga pasukan Sangling yang sempat menyerah.

Tetapi kenyataan itu memang terjadi. Sekelompok-sekelompok kecil pasukan Sangling yang terpisah karena pasukan Lemah Warah yang menusuk memotong arena pertempuran memang telah menyerah.

Dalam saat-saat yang demikian, maka sebagian prajurit Lemah Warah yang telah kehilangan lawan, mengalir ke pintu gerbang. Orang orang Sangling yang menyerah, telah diperintahkan untuk berdiri melekat dinding. Para prajurit Lemah Warah berdiri dihadapan mereka dengan ujung senjata yang siap menghunjam ke perut mereka jika orang-orang Sangling itu mencoba untuk mengingkari penyerahannya. Sementara sebagian dari para prajurit Lemah Warah telah bergeser untuk menekan orang-orang Sangling yang masih mengadakan perlawanan, terutama di pintu gerbang itu.

Karena itulah maka prajurit Sangling di pintu gerbang menjadi heran bahwa lawan mereka justru bertambah-tambah. Prajurit Lemah Warah itu seakan-akan telah berkembang sampai batas yang tidak terlawan lagi.

Sebenarnyalah dari segala bagian dari pertempuran itu, prajurit Lemah Warah telah mengalir ke arena yang menjadi semakin sempit. Bahkan para prajurit yang berada didalam padepokan pun telah bergeser ke pintu gerbang pula, karena prajurit Sangling di luar dinding telah menyerah. Hanya sekelompok kecil sajalah yang masih berjaga-jaga di dalam dinding padepokan itu.

Akuwu Sangling sendiri tidak sempat memperhatikan lagi pertempuran itu. Ia memang dibekali oleh satu keyakinan bahwa prajurit Sangling adalah prajurit yang terbaik di seluruh Singasari. Meskipun jumlah prajurit Lemah Warah lebih banyak dari prajurit-prajuritnya, namun Akuwu Sangling yakin bahwa prajurit-prajuritnya akan mampu mengatasi.

Namun ternyata keyakinan Akuwu itu tidak terbukti dalam keadaan yang menentukan itu. Bahkan hampir semua prajuritnya telah menyerah setelah jatuh korban yang tidak diduga sebelumnya.

Pertempuran di pintu gerbang pun kemudian menjadi tidak seimbang lagi. Prajurit Lemah Warah menjadi hampir berlipat ganda. Karena itu. maka ruang gerak prajurit Sangling pun menjadi semakin sempit.

Akhirnya setiap prajurit Sangling harus berhadapan dengan dua atau tiga orang lawan. Mereka yang berbangga diri bahwa kemampuan mereka melampaui kemampuan prajurit di manapun juga di seluruh Kediri bahkan Singasari itu, harus mengakui satu kenyataan, bahwa mereka tidak mampu berbuat apa-apa.

Karena itu, maka para prajurit Sangling di pintu gerbang itu pun tidak mempunyai pilihan lain. Jika semula tidak ada niat sama sekali menyerah, maka akhirnya mereka mendengar seorang Senapati Lemah Warah berteriak, “Kenapa kalian tidak menyerah saja? Bukan berarti bahwa kalian seorang pcngecut. Tetapi kalian tidak dapat ingkar akan kenyataan itu. Jika kita masih harus bertempur terus, maka berarti prajurit Lemah Warah akan melakukan pembunuhan yang tidak berarti lagi. Nyawa kalian pun menjadi tidak berarti pula, karena kematian kalian sudah tidak menentukan apa-apa lagi bagi pertempuran ini. Karena itu, prajurit Lemah Warah merasa berkeberatan untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan berikutnya.”

Para prajurit Sangling memang sudah tersudut ke dalam keadaan yang sulit. Mereka memang harus memilih antara menyerah atau mati. Tetapi kematian mereka memang tidak memberikan arti apa-apa bagi pertempuran itu. Sehingga dengan demikian maka kematian mereka tidak lebih dari usaha membunuh diri dengan sia-sia.

Karena itu, maka setiap prajurit Sangling pun harus mengakui bahwa memang tidak ada pilihan lain kecuali menyerah terhadap prajurit Lemah Warah dan isi padepokan Suriantal itu. Mereka tidak akan dapat mengingkari kenyataan bahwa ujung-ujung senjata telah siap menembus dada mereka, betapa pun mereka melakukan perlawanan.

Agaknya para prajurit Sangling itu telah memilih untuk menyerah daripada membunuh diri.

Itulah sebabnya, maka mereka pun kemudian telah melepaskan senjata mereka. Hampir dalam waktu yang bersamaan. Ketika seorang perwira Lemah Warah menjatuhkan perintah kepada prajurit-prajuritnya untuk memberikan kesempatan kepada lawan-lawan mereka menyerah.

Demikianlah, maka akhirnya para prajurit Sangling itu pun telah menyerah. Pertempuran pun kemudian telah hampir selesai seluruhnya. Jika satu dua kelompok kecil masih mengadakan perlawanan maka hal itu tidak banyak berpengaruh atas pertempuran itu dalam keseluruhan.

Dengan demikian, maka pertempuran yang tinggal adalah pertempuran antara Akuwu Sangling melawan Akuwu Lemah Warah. Setiap kali mereka mendengar teriakan nyaring, maka keduanya memang tersentuh untuk ingin mengetahui apa yang terjadi. Tetapi pertempuran antara keduanya sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukannya.

Karena itu, maka pertempuran dengan benturan-benturan ilmu yang dahsyat itu telah terjadi. Semakin lama justru menjadi semakin dahsyat. Keduanya memiliki kemampuan ilmu yang sangat tinggi sehingga karena itu maka pertempuran yang terjadi agaknya sulit untuk diikuti.

Ketika para prajurit Sangling menyerah, maka beberapa orang Senapati telah bergeser mendekati arena yang menggetarkan jantung itu. Bahkan mereka telah membawa dua orang Senapati tertinggi pasukan Sangling.

“Akuwu Sangling,” berkata salah seorang Senapati Lemah Warah, “Tidak ada yang dapat kau lakukan selain menyerah. Semua prajuritmu telah menyerah, karena mereka tidak mempunyai pilihan lain. Jika mereka tidak menyerah, maka yang terjadi adalah bunuh diri bersama-sama tanpa arti sama sekali. Karena itu, Akuwu. Sebagai seorang kesatria, sebaiknya Akuwu mengakui kekalahan Akuwu.”

“Tutup mulutmu,” teriak Akuwu Sangling. “Prajurit Sangling pantang menyerah.”

“Dengarlah laporan Senapatimu,” berkata Senapati Lemah Warah itu.

Akuwu Sangling sempat melihat Senapatinya hadir bersama Senapati Lemah Warah. Ia pun segera mengerti, bahwa yang dikatakan oleh Senapati Lemah Warah itu benar.

Karena itu, maka kemarahannya pun menjadi semakin memuncak. Dengan lantang ia berkata, “He. apakah cucurut-cucurut itu memang menyerah?”

Senapati Lemah Warah itu pun telah menggamit Senapati Sangling sambil berdesis, “Katakanlah. Jika Akuwu Sangling sudi mendengarkan, maka persoalan ini akan cepat selesai.”

Senapati Lemah Warah mendesaknya, “Cepat. Sebelum kami bertindak atas Akuwu Sangling. Keduanya tidak terlibat dalam perang tanding, sehingga karena itu, maka kami pun akan dapat ikut serta melibatkan diri. Jika kami tidak berani mendekat, maka kami akan dapat menghujani Akuwu Sangling dan anak panah. Agaknya Akuwu Sangling bukan seorang yang kebal.”

Senapati Sangling itu termangu-mangu. Namun ketika Senapati Lemah Warah menggamitnya sekali lagi, maka katanya, “Ampun Akuwu. Kami tidak mempunyai pilihan lain.”

“Gila,” teriak Akuwu Sangling. Kemarahannya tidak dapat dibendungnya lagi. Karena itu, maka ia pun telah kehilangan perhitungan. Nalarnya tidak lagi dipergunakannya dengan sebaik-baiknya. Sehingga karena itu maka ia pun telah berusaha untuk melepaskan kemarahannya kepada Senapati-Senapati Sangling sekaligus para Senapati dari Lemah Warah.

Akuwu Sangling itu tidak ingat lagi, bahwa tidak sepatutnya ia berbuat sesuatu kepada mereka. Namun niatnya menghukum prajuritnya sendirilah yang telah mendorongnya untuk melakukannya.

Sejenak kemudian Akuwu Sangling telah meloncat surut beberapa langkah. Ia hanya memerlukan waktu sekilas untuk melepaskan ilmunya ke arah para Senapati dari kedua belah pihak yang berdiri tidak jauh dari arena.

Para Senapati itu memang melihat. Namun mereka tidak banyak mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu. Mereka tidak mengira bahwa Akuwu Sangling akan menjadi kehilangan akal dan kekasatriaannya sehingga ia akan menyerang para Senapati itu.

Yang dapat dilakukan oleh para Senapati itu kemudian hanyalah berusaha untuk menghindarkan diri. Mereka pun dengan serta merta telah berloncatan sambil menjatuhkan dirinya.

Namun Akuwu Lemah Warah tidak membiarkan semuanya itu terjadi. Dengan segala kemampuannya, maka ia telah berusaha untuk mencegahnya.

Pada saat yang hampir bersamaan maka Akuwu Lemah Warah telah menyerang Akuwu Sangling dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada dirinya.

Serangan Akuwu Sangling terhadap para Senapati itu memang dahsyat sekali. Lontaran angin prahara yang lepas dari dirinya telah melanda para Senapati itu.

Namun pada saat itu, kekuatan lain telah menghantam Akuwu Sangling, sehingga bagaimanapun juga, kedahsyatan ilmu Akuwu Lemah Warah itu telah mempengaruhi serangan Akuwu Sangling. Bahkan Akuwu Sangling sendiri seakan-akan telah dilanda oleh kekuatan yang sangat dahsyatnya itu.

Karena itulah maka angin prahara yang melanda para Senapati itu pun telah terguncang pula. Arahnya tidak lagi tepat sebagaimana dikehendaki oleh Akuwu Sangling, menghancurkan para Senapati dari Lemah Warah yang telah mengalahkan para Senapatinya dan para Senapati Sangling sendiri yang telah menyerah kepada lawan-lawannya.

Meskipun demikian, namun kibasan arus prahara itu masih merupakan sentuhan yang dahsyat bagi para Senapati itu. Beberapa orang diantara mereka yang telah berloncatan itu, ternyata telah diterpa oleh kekuatan yang tidak terlawan. Beberapa orang diantara mereka telah terlempar beberapa langkah ke samping. Dengan kerasnya mereka telah terbanting jatuh.

Bahkan beberapa orang diantara mereka merasa seakan-akan tulang-tulangnya telah berpatahan.

Namun dalam pada itu, akibat yang dahsyat sekali telah menimpa Akuwu Sangling. Serangan Akuwu Lemah Warah yang keras sekali telah menghantam Akuwu Sangling. Bukan saja arus kekuatan yang luar biasa. Tetapi serangan Akuwu Lemah Warah seakan-akan mengandung panasnya api di perut gunung.

Itulah sebabnya maka Akuwu Sangling telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di tanah. Ilmu yang dahsyat dari Akuwu Lemah Warah bulat-bulat telah mengenainya tanpa perlawanan. Justru pada saat Akuwu Lemah Warah terkejut melihat Akuwu Sangling melepaskan serangannya kepada beberapa orang perwira dari Lemah Warah dan Sangling sendiri.

Sehingga karena itu, maka agaknya Akuwu Lemah Warah sendiri tidak sempat memperhitungkan kekuatannya yang dilontarkan lewat ilmunya itu.

Beberapa saat keadaan menjadi hening. Para perwira yang terhempas oleh kekuatan Akuwu Sangling mulai berusaha untuk bangkit. Tetapi beberapa orang diantaranya, rasa-rasanya tidak mempunyai kekuatan lagi. Tulang-tulang mereka rasa-rasanya tidak mempunyai kekuatan lagi. Tulang-tulang mereka rasanya sudah berpatahan. Namun yang lain dengan susah payah telah bangkit.

Sementara itu, Akuwu Sangling sendiri terkapar diatas tanah. Beberapa saat Akuwu Lemah Warah termangu-mangu memandang tubuh yang diam itu. Namun kemudian ia pun melangkah perlahan-lahan. Wajahnya nampak muram.

Di seputar dinding padepokan, prajurit Lemah Warah dan orang-orang padepokan Suriantal itu berdiri bagaikan membeku. Perlahan-lahan mereka bergeser mendekat. Namun rasa-rasanya jantung mereka dicengkam oleh ketegangan yang sangat.

Diluar padepokan, para prajurit Lemah Warah tidak melihat apa yang terjadi. Tetapi dari mulut kemulut, akhirnya mereka pun mendengar juga bahwa pertempuran telah selesai seluruhnya. Sedangkan Akuwu Sangling terbaring diam ditanah. Tidak seorang pun yang dapat mengatakan, apakah yang telah terjadi atas dirinya.

Dalam pada itu, para prajurit Sangling bagaikan membeku ditempat mereka masing-masing. Mereka sudah tidak bersenjata lagi. Dihadapan mereka prajurit Lemah Warah masih menunggu perintah apakah yang harus mereka lakukan.

Akuwu Lemah Warah memang masih belum menjatuhkan perintah apa pun juga. Perlahan-lahan ia mendekati tubuh yang terbaring diam itu. Dengan jantung yang berdebaran. Akuwu Lemah Warah telah berjongkok disisi tubuh yang diam itu.

Dengan tangan gemetar Akuwu Lemah Warah telah meraba dada Akuwu Sangling. Wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang. Hampir diluar sadarnya, maka Akuwu Lemah Warah itu meletakkan telinganya di dada Akuwu Sangling.

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kekuatan ilmunya yang dahsyat dan tidak terkendali telah menghancurkan bagian dalam tubuh Akuwu Sangling. Dengan demikian maka Akuwu Sangling itu telah terluka parah.

Akuwu Lemah Warah telah memberikan isyarat agar para perwira yang masih mampu bergerak untuk mendekat. Kepada salah seorang diantara mereka Akuwu memerintahkan untuk memanggil seorang yang memiliki pengetahuan tentang pengobatan dari pasukan Lemah Warah.

Perwira itu pun kemudian telah berjalan tertatih-tatih mendekati sekelompok prajurit Lemah Warah yang ragu-ragu. Pemimpin kelompok prajurit itu telah menyongsongnya sambil bertanya, “Apakah ada perintah?”

Perwira itu pun kemudian menyampaikan perintah Akuwu untuk memanggil seorang yang memahami tentang pengobatan yang ada diantara pasukan Lemah Warah.

“Akuwu Sangling terluka parah,” desis Perwira itu.

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Namun ia-pun bertanya, “Tetapi bagaimana dengan pasukan ini? Semua prajurit Sangling telah menyerah.”

“Untuk sementara kalian agar tetap dalam kedudukan kalian,” berkata perwira itu, “masih belum ada perintah apa pun juga. Tetapi kalian dapat mulai mengatur para tawanan itu.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Namun ia-pun segera memerintahkan untuk memanggil seorang di antara beberapa orang tabib yang ada diantara para prajurit Lemah Warah. Tabib yang memang sudah terbiasa mengikuti pasukan di peperangan.

Ternyata yang datang menghadap Akuwu Lemah Warah tidak hanya seorang. Dua orang yang dianggap tabib yang paling baik telah datang menghadap untuk menerima perintah.

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Usahakan agar Akuwu Sangling dapat diselamatkan nyawanya. Agaknya lukanya terlalu parah.”

Yang kemudian masih berjaga-jaga di padepokan itu adalah mereka yang bertugas. Sebagian dari mereka adalah para prajurit Lemah Warah, sementara sebagian lagi adalah para penghuni padepokan itu. Sementara yang lain-lain telah tenggelam dalam istirahat karena kerja yang melelahkan. Setelah mereka bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuan, maka mereka masih harus mengusung kawan-kawan mereka yang terluka. Kemudian mereka masih menyelenggarakan kawan-kawan mereka yang gugur di pertempuran, sementara yang lain mengamati para prajurit Sangling yang menyerah yang mendapat tugas untuk merawat kawan-kawan mereka yang terluka dan mengurusi kawan-kawan mereka yang terbunuh di medan.

Dengan demikian maka padepokan itu pun kemudian telah menjadi lengang. Yang nampak adalah orang-orang yang berbaring di sana-sini. Sebagian besar dari mereka telah tertidur nyenyak.

Namun demikian mereka tidak kehilangan kewaspadaan. Yang bertugas telah melakukan tugas mereka dengan sebaik-baiknya. Bahkan para tabib pun seolah-olah tidak mendapat kesempatan untuk beristirahat, karena mereka harus merawat orang-orang yang terluka dari kedua belah pihak. Sementara itu, para tabib yang ikut dalam pasukan Sangling pun telah ikut pula membantu merawat kawan-kawannya yang mengalami cidera di peperangan.

Dua orang tabib yang merawat Akuwu Sangling ternyata mengalami banyak kesulitan. Lukanya memang sangat parah, sehingga kedua orang tabib itu harus berjuang dengan puncak kemampuan mereka untuk dapat menolong Akuwu Sangling itu.

Bahkan kedua orang itu telah berhubungan pula dengan tabib yang dibawa oleh pasukan Sangling. Apalagi diantara mereka terdapat seorang tabib yang sudah terbiasa melayani dan merawat Akuwu Sangling dalam keadaannya sehari-hari.

Namun tabib itu pun berharap-harap cemas melihat keadaan Akuwu Sangling. Meskipun keadaannya nampaknya berangsur baik, pernafasannya yang mulai teratur, tetapi segala kemungkinan masih saja dapat terjadi. Apalagi Akuwu Sangling itu masih belum membuka matanya meskipun ujung kaki dan tangannya telah mulai bergerak-gerak.

Tetapi kedua orang tabib dari Lemah Warah dan tabib pribadi Akuwu Sangling itu berusaha sejauh dapat mereka lakukan untuk mengobati Akuwu Sangling yang terluka parah di bagian dalam dadanya.

Tabib yang lain pun tengah berusaha untuk menolong saudara seperguruan Akuwu Sangling. Seorang tabib dari Sangling dibawah pengawasan seorang perwira dari Lemah Warah dengan tekun berusaha untuk mengobati luka-luka di dalam tubuh saudara seperguruan Akuwu Sangling itu. Bahkan bukan saja terluka, tetapi segenap kekuatan dan kemampuannya seakan-akan telah terhisap habis. Demikian pula daya tahan tubuhnya-pun sama sekali tidak lagi mampu berbuat sesuatu.

Tetapi sebenarnya keadaan di dalam tubuhnya tidak separah Akuwu Sangling sendiri. Meskipun kekuatan dan kemampuannya bagaikan larut, namun lambat laun keadaan itu akan pulih kembali.

Di tempat lain, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun berada dalam perawatan. Keduanya tidak mengalami luka-luka di dalam tubuh. Tetapi luka-luka mereka terdapat pada kulit dagingnya. Meskipun demikian, keduanya pun memerlukan perawatan yang baik.

Demikianlah, maka untuk beberapa hari padepokan itu masih saja diliputi suasana yang muram. Bahkan kadang-kadang masih terjadi seseorang yang tidak lagi dapat diselamatkan karena luka-lukanya telah meninggal. Mungkin seorang prajurit Lemah Warah, tetapi mungkin pula prajurit Sangling atau penghuni padepokan Suriantal itu.

Akuwu Lemah Warah masih juga berada di padepokan itu. Ia belum menentukan langkah-langkah berikutnya. Namun ia sudah berusaha untuk meyakinkan Akuwu Sangling dengan cara yang sangat keras sebagaimana dikehendaki oleh Akuwui Sangling sendiri.

Pada saat-saat yang demikian. maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kadang-kadang terpaksa merenungi batu berwarna kehijauan itu. Ternyata kehadiran batu itu mempunyai akibat yang pahit. Korban demi korban telah jatuh.

Kedua anak muda itu setiap kali melihat keadaan mereka yang terluka parah, merasakan tekanan pada jantung mereka. Rasa-rasanya jantung mereka berdetak semakin cepat. Keduanya selalu menghubungkan keadaan yang parah itu dengan batu kehijauan itu.

Tetapi ketika keduanya baru merenungi batu itu, Akuwu telah datang kepada mereka. Agaknya Akuwu dapat mengerti perasaan kedua anak muda itu. Namun demikian Akuwu Lemah Warah itu pun masih juga bertanya, “Kenapa kalian merenung?”

“Akuwu,” berkata Mahisa Murti dengan nada dalam, “apakah benar kata orang, bahwa batu itu memiliki tuah? Karena batu itu pulalah maka telah terjadi malapetaka di padepokan ini. Korban telah berjatuhan dan kini masih terdapat beberapa orang yang terluka parah. Bahkan baru saja seorang prajurit Sangling yang terluka parah meninggal pula.”

(Bersambung ke Jilid 44).

Koleksi buku: Ki Ismoyo
Scanning: Ki Arema
Convert/Proofing: Ki Raharga
Rechecking/Editing: Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s