AM_MS-03


Serial ARYA MANGGADA

Episode V: MATAHARI SENJA

JILID 3

kembali | lanjut

AMMS-03KI PANDI memang tidak dapat mengelak. Ia pun berjalan di antara dua orang yang memegangi kedua lengannya.

Semua mata memandang kearahnya. Seorang bongkok yang berjalan tertatih-tatih. Namun di wajahnya, betapa orang bongkok itu menjadi sangat cemas.

Delima menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Rasa-rasanya, ia ingin berteriak, bahwa orang bongkok itu adalah sahabatnya. Ia bukan orang jahat Tetapi jangankan berteriak, berbisik pun mereka dilarang.

Sejenak kemudian, diapit oleh dua orang laki-laki bertubuh tegap. Ki Pandi berdiri di hadapan kakak Ki Krawangan yang masih berada ditangga.

“Siapa kau he?” bertanya kakak Ki Krawangan itu. Ki Pandi menjadi bimbang. Ia tahu bahwa tidak seorang pun boleh berbicara. Karena itu, ia menduga bahwa pertanyaan itu memang merupakan satu pancingan agar ia melanggar ketentuan yang berlaku didalam sanggar itu.

“Kau siapa orang bongkok?” kakak Ki Krawangan itu mulai membentak.

Tetapi Ki Pandi masih belum menjawab, sehingga kakak Ki Krawangan itu berteriak, “He, apakah kau tuli?”

Ki Pandi mengerutkan dahinya. Tetapi kemudian Ki Pandi memberi isyarat dengan gerak tangannya, apakah ia dapat membuka mulutnya.

Kakak Krawangan itu termangu-mangu sejenak. Ia memang agak ragu. Namun kemudian iapun berkata, “Jawablah. Kau telah mendapat ijin untuk berbicara.”

Ki Pandi menarik nafas panjang. Dengan gagap ia pun berkata, “Aku ingin mendengarkan sesorah di sanggar ini. Selama ini aku tidak mempunyai pegangan hidup menghadapi hari-hari tua yang tidak dapat aku elakkan. Aku ingin mendapatkan ketenangan di hari-hariku yang terakhir. Karena itu, aku datang kemari. Jika di-sini aku menemukan ketenangan, maka aku akan menyatakan diri dengan saudara-saudaraku disini.”

“Omong kosong” geram kakak Ki Krawangan, “di hari-hari terakhir daerah ini telah didatangi oleh orang-orang asing yang mengganggu ketenangan hidup kami. Di padepokan, dua orang yang mengaku pedagang telah merusak suasana kehidupan damai di padepokan. Sekarang kau datang kemari dengan cara yang lain. Tetapi kami yakin bahwa kedatanganmu ada hubungannya dengan kedatangan kedua pedagang, itu”

“Aku tidak mengerti yang Ki Sanak katakan itu, “desis Ki Pandi, “Aku adalah pengembara yang mengembara tanpa tujuan. Jika disini aku mendapatkan kedamaian hati, maka pengembaraanku akan berakhir disini. Aku akan tinggal disini meskipun aku harus menjadi budak dan bekerja apa saja”

“Kau tidak dapat membohongi kami sebagaimana kedua orang yang mengaku pedagang itu. Ketika aku mendengar bahwa ada orang asing yang ingin ikut serta dalam keperpayaan kami, aku segera menjadi curiga justru baru saja dua orang yang mengaku pedagang telah datang di padepokan.”

“Tetapi aku bukan pedagang”

“Baik” berkata kakak Ki Krawangan, “karena kau orang asing disini, maka untuk menerimamu sebagai anggota dari kehidupan yang damai dan tentang disini, maka kau harus diuji. Besok malam kita akan berkumpul disini seperti sekarang ini. Kau harus menunjukkan kejujuranmu, bahwa kau benar-benar akan menjadi satu dengan lingkungan hidup di padukuhan ini dengan setia.”

“Apa yang harus aku lakukan?” bertanya Ki Pandi.

“Meskipun besok malam bulan belum penuh, tetapi kita akan menyerahkan korban. Kau yang harus mengumpulkan dahan-dahan kering besok siang. Kau yang harus mencari bahan persembahan. Kau pula yang harus membakarnya hidup-hidup diatas batu rias persembahan ini.”

Kerut kening Ki Pandi menjadi semakin dalam. Dengan suara yang bergetar ia bertanya, “Kemana aku harus mencari bahan persembahan? Aku hanya seorang pengembara.”

“Terserah kepadamu. Jika kau tidak mendapatkan seekor binatang, maka kau akan dianggap sebagai anggauta yang paling terhormat jika kau dapat mempersembahkan yang lain.”

“Maksud Ki Sanak?” bertanya Ki Pandi.

“Itu tergantung pada tingkat kesungguhanmu untuk bergabung dengan kami” jawab kakak Ki Krawangan.

“Barangkali padi, jagung atau buah-buahan?” bertanya Ki Pandi

Wajah kakak Ki Krawangan menjadi tegang. Namun kemudian ia menjawab, “Sudah aku katakan. Nilai persembahanmu akan berbanding lurus dengan nilai kesetiaanmu kepada kepercayaan ini. Kami akan menentukan, apakah kau akan dapat diterima, dikukuhkan menjadi yang terbaik atau justru kau akan kami lemparkan menjadi-korban diatas batu alas persembahan kami itu.”

Sepercik cahaya memancar dari mata Ki Pandi. Namun kemudian iapun menunduk dalam-dalam.

Sementara itu, kakak Ki Krawangar pun berkata, “Hari ini tidak ada sesorah. Besok, kita akan berkumpul lagi disini. Kita akan menyaksikan, persembahan apakah yang akan diserahkan oleh orang bongkok ini. Kita bersama-sama menilainya dan kita akan memutuskan, apakah ia dapat diterima atari tidak.”

Suasana didalam sanggar itu menjadi tegang. Kakak Ki Krawangan masih berdiri tegak di tangga. Dipandanginya orang-orang yang berdiri disekitarnya. Cahaya mata kakak Ki Krawangan itu bagaikan memancarkan pengaruh yang mencengkam semua jantung.

Demikianlah maka sejenak kemudian orang itupun berkata.

“Sekarang kalian dapat meninggalkan sanggar ini. Besok kita aaan bertemu lagi.”

Orang-orang yang berada di sanggar itu mulai bergerak. Mereka mengalir keluar dari sangar itu. Anak-anak dan remaja segera mencari orang tua masing-masing dan pulang dalam kelompok-kelompok kecil.

Ki Pandi pun pulang bersama keluarga Ki Krawangan. Dengan nada berat Ki Krawangan berkata, “Aku tidak tahu bahwa masih harus ada syaratnya bagi Ki Pandi untuk diterima menjadi keluarga didalam lingkungan kepercayaan kami.”

“Tetapi apa yang harus aku korbankan?” bertanya Ki Pandi.

“Aku juga tidak tahu, Ki Pandi.” jawab Ki Krawangan.

Delima berjalan disebelah Ki Pandi sambil berdesis, “Tinggalkan saja padukuhan ini, kek.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba ia berkata, “Aku akan memberikan korban buah-buahan. Jika korbanku diterima, maka akan menjadi kebiasaan yang lebih baik daripada mengorbankan seekor anak binatang.”

“Ya” sahut Delima, “kakek dapat mencobanya.”

Tetapi Ki Krawangan memotong, “Ki Pandi. Apakah jenis korban itu dapat ditawar-tawar seperti itu? Jika tadi kakang mengatakan terserah kepada Ki Pandi, itu tentu semacam pendadaran bagi Ki Pandi. Jika Ki Pandi mengorbankan buah-buahan, maka aku kira Ki Pandi tidak akan dapat diterima.”

“Tetapi darimana aku mendapat seekor anak binatang.”

Ki Krawangan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab dengan nada berat, “Ki Pandi. Aku masih mempunyai seekor anak kambing. Jika Ki Pandi memerlukan, biarlah anak kambing itu kita korbankan. Semakin banyak korban yang kita berikan, maka janji kesejahteraan tentu akan menjadi semakin dekat bagi kita sekeluarga. Tentu juga bagi Ki Pandi.”

“Kesejahteraan apa yang Ki Krawangan maksudkan?” bertanya Ki Pandi.

“Kesejahteraan lahir dan batin. Sawah kita akan menjadi subur. Dijauhkan dari segala macam hama. Sementara hidup kita akan tenang dan damai sepanjang jaman, lebih dari itu, kita akan mendapatkan tataran tertinggi di alam kematian.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Sementara Ki Krawangan berkata selanjutnya, “Karena itu, maka sejak sekarang sudah mulai dianjurkan, meskipun masih belum terjadi, untuk memberikan korban yang derajadnya lebih tinggi.”

“Apakah yang derajadnya lebih tinggi dari seekor binatang?” bertanya Ki Pandi.

Ki Krawangan terdiam sejenak. Sementara itu kaki mereka melangkah terus mendekati rumah Ki Krawangan. Beberapa orang berjalan lebih cepat dan mendahului Ki Krawangan sekeluarga yang berjalan perlahan-lahan sambil berbincang.

“Ki Pandi” berkata Ki Krawangan kemudian, “maksudku, bahwa korban seekor anak kambing mempunyai derajad lebih tinggi daripada korban seekor anak kucing misalnya atau anak ayam atau anak itik yang menetas dari sebutir telur.”

Ki Pandi tidak segera menjawab. Tetapi bulu-bulu tengkuk Delima meremang. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya Delima menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.

“Delima. Kau kenapa?” bertanya ibuanya.

Delima tidak segera menjawab. Namun ketika ibunya memegangi pundaknya, gadis itu menjawab dengan suara parau, “Malam ini terasa dingin ibu.”

“O, “ ibunya berdesis. Tetapi Kenanga tiba-tiba berkata, “Aku justru berkeringat kak Delima. Aku kira udara terasa panas.”

“Tentu tidak. Angin yang basah membuat udara malam ini dingin sekali.”

“Sudahlah” berkata ibunya, “jangan bertengkar.”

Namun dalam pada itu, Ki Pandi itu pun kemudian berkata, “Biarlah aku mencoba untuk menyerahkan korban buah-buahan. Mudah-mudahan justru akan membuka kebiasaan baru yang lebih baik dari kepercayaan ini.”

Ki Krawangan masih saja ragu-ragu. Katanya, “Sebaiknya Ki Pandi jangan mencoba-coba. Besok merupakan hari pendadaran bagi Ki Pandi. Jika Ki Pandi dianggap melakukan kesalahan, maka akibatnya dapat menyulitkan Ki Pandi sendiri.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi aku akan berdoa semalam suntuk, agar yang aku lakukan itu justru dapat diterima dengan baik.”

Ki Krawangan memang tidak menjawab lagi. Segala sesuatunya memang terserah kepada Ki Pandi. Tetapi ia sudah menawarkan sesuatu yang terbaik bagi Ki Pandi. Seekor anak kambing.

Malam itu, Ki Pandi ternyata tidak bermalam dirumah Ki Krawangan meskipun Ki Krawangan mempersilahkan. Ki Pandi ternyata telah minta diri untuk memenuhi kewajibannya. menyediakan korban yang akan dibakar esok malam.

Tetapi malam itu, Ki Pandi telah menghubungi Ki Ajar Pangukan dan orang-orang yang ada dirumah terpencil itu. Diberitahukannya, apa yang telah terjadi.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” bertanya Ki Ajar Pangukan dengan dahi yang berkerut.

“Aku akan membawa pisang setandan. Aku akan mengorbankan pisang itu jika diterima.”

“Jika tidak?” bertanya Ki Ajar.

“Nasibku akan menjadi sangat buruk” jawab Ki Pandi.

Ki Ajar dan orang-orang lain yang mendengarnya tertawa. Ki Jagaprana pun berdesis, “Jangan merajuk begitu Ki Pandi.”

Ki Pandi pun tertawa pula. Sementara Manggada dengan ragu-ragu berkata, “Ki Pandi. Malam nanti aku akan berada didekat sanggar itu. Aku akan mengikuti, apa yang akan terjadi.”

Ki Sambi Pitu tersenyum sambil menepuk bahu Manggada, “jangan cemas anak muda. Kami semua juga akan berada di tempat itu. Kami tentu tidak akan sampai hati mendengar Ki Pandi merajuk dengan nada sedih, bahwa nasibnya menjadi sangat buruk.”

Suara tertawa orang-orang tua itu menjadi semakin berkepanjangan. Bahkan Ki Pandi pun tidak dapat menahan tertawanya pula.

Dihari berikutnya, menjelang tengah hari, Ki Pandi sudah berada di sanggar sambil membawa setandan pisang raja yang besar. Dengan ragu-ragu ia memasuki sanggar yang kosong itu. Diletakkannya pisang itu diatas alas penyerahan korban.

Namun Ki Pandi masih harus mencari kayu kering untuk menyalakan api saat korban diserahkan.

Selagi Ki Pandi menyusun dahan dan ranting kayu kering yang dikumpulkannya, maka iapun mendengar lembut mendekatinya.

“Kek” terdengar suara Delima. Ki Pandi berpaling. Dilihatnya Delima yang ragu-ragu berdiri beberapa langkah dibelakangnya.

“Nah, Delima” berkata Ki Pandi, “korbanku sudah siap.” Tetapi wajah Delima masih saja suram. Bahkan dengan nada dalam ia berkata, “Pamanku tadi menemui ayah, kek.”

“O” Ki Pandi mengangguk-angguk, “apa ada hubungannya dengan aku?”.

“Ya, kek. Paman memperingatkan ayah, agar ayah tidak berhubungan dengan kakek.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Sementara Delima berkata selanjutnya, “Ketika ayah mengatakan bahwa kakek akan ikut ke sanggar, paman tidak berkeberatan. Tetapi ternyata bahwa semalam paman tidak sendiri. Mereka bersikap kasar kepada kakek. Menurut pendengaranku, orang-orang padepokan itu telah mencurigai semua orang yang dianggap asing, karena dua orang yang datang ke padepokan telah mengacaukan ketenangan padepokan itu.”

Ki Pandi termangu-mangu, sementara Delima berkata selanjutnya, “Paman baru tahu tentang dua orang asing yang mengacaukan padepokan itu kemudian. Bahkan kemudian padepokan itu telah meng-ambil sikap khusus kepada kakek”

”Apa hubungannya kedua orang yang mengacaukan padepokan itu dengan aku, Delima?”

“Aku tidak tahu, kek. Tetapi orang-orang padepokan itu menjadi semakin berhati-hati. Kedua orang asing yang datang di padepokan itu telah melukai beberapa orang padepokan. Bahkan ada yang parah.”

“Kemudian aku menjadi sasaran dendam mereka?”

“Entahlah, kek. Tetapi sebaiknya kakek meninggalkan tempat ini. Nanti malam kakek tidak usah datang, karena kedatangan kakek akan dapat mencelakakan diri kakek sendiri.”

Ki Pandi tersenyum sambil melangkah mendekati Delima. Ditepuknya pundak Delima sambil berkata, “Terima kasih atas peringatanmu Delima. Tetapi biarlah aku lebih banyak mengetahui tentang kepercayaan yang aneh ini. Jangan cemaskan aku.”

“Tetapi…….” wajah Delima menjadi muram. Sementara Ki Pandi berkata, “Aku akan berusaha menjaga diriku sendiri, Delima. Pulanglah dengan tenang.”

Delima termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Delima itu telah meninggalkan sanggar. Di pintu ia berpaling dan berhenti sejenak. Namun kemudian ia pun telah melangkah lagi meninggalkan Ki Pandi yang menyiapkan korban yang akan diserahkannya.

Hari itu Ki Pandi tidak pergi ke rumah Ki Krawangan. Bukan karena ia mencurigainya. Tetapi Ki Pandi justru menjaga agar Ki Krawangan tidak mengalami kesulitan justru karena sikapnya.

Sebenarnyalah bahwa dirumah Ki Krawangan telah hadir dua orang cantrik dari padepokan untuk mengawasi hubungan antara Ki Pandi dan Ki Krawangan. Kakak Ki Krawangan sendiri mencurigai seakan-akan ada hubungan khusus antara orang bongkok itu dengan Ki Krawangan. Namun justru karena Ki Pandi tidak datang ke rumah Ki Krawangan, maka kecurigaan itu pun menjadi berkurang. Mereka mempercayai ceritera Ki Krawangan, bahwa orang bongkok itu datang kerumahnya dalam keadaan kelaparan dan kehausan. Sesudah minum dan makan, orang itu pun telah pergi. Ia datang untuk bersama-sama pergi ke sanggar. Sesudah itu, ia telah pergi lagi.

“Baiklah” berkata salah seorang cantrik yang bertugas di rumah Ki Krawangan itu., “Namun karena itu, maka Ki Krawangan jangan berusaha membantunya jika padepokan mengambil sikap tertentu kepada orang bongkok itu.”

Ketika kemudian senja turun, maka seperti yang dikatakan oleh kakak Ki Krawangan di sanggar semalam, bahwa malam itu, orang-orang padukuhan itu harus berkumpul kembali di sanggar.

Ki Krawangan dan keluarganya, memenuhi perintah itu, malam itu juga pergi ke sanggar. Namun di sepanjang jalan, Ki Krawangan dengan nada ragu berbicara pula tentang Ki Pandi.

“Apakah orang bongkok itu meninggalkan padukuhan?” desis Ki Krawangan.

Tidak seorang pun yang menjawab. Namun kemudian dengan ragu-ragu pula isteri Ki Krawangan berkata hampir kepada diri sendiri, “Sebaiknya ia memang meninggalkan padukuhan ini.”

Ki Krawangan terkejut mendengar kata-kata isterinya. Bahkan Nyi Krawangan sendiri juga terkejut mendengar kata-katanya itu. Sedangkan Delima menjadi tegang. Hanya Kenanga yang tidak begitu memahami perasaan kedua orang tuanya dan kakaknya.

Selama itu, tidak ada orang padukuhan yang bersikap lain dari sikap orang-orang padepokan, termasuk kakak Ki Krawangan. Jika orang-orang padepokan menghendaki orang bongkok itu datang dengan persembahan korban, maka yang lain harus bersikap demikian pula. Karena itu, sikap Nyi Krawangan terasa menjadi asing. Seakan-akan Nyi Krawangan itu berusaha untuk melindungi orang bongkok yang justru sedang dicurigai itu.

Namun kemudian Ki Krawangan sendiri berdesis, “Ya. Memang sebaiknya orang bongkok itu meninggalkan padukuhan ini. Betapapun ia ingin mencari kedamaian hati, tetapi pada saat kakinya mulai melangkah masuk, ia sudah terantuk batu.”

Delima menarik nafas dalam-dalam. Ternyata sikap batinnya tidak berbeda dengan sikap batin ayah dan ibunya, meskipun dengan demikian menjadi berbeda dengan sikap orang-orang padukuhan itu yang tentu ingin melihat apa yang akan dibawa Ki Pandi ke sanggar. Bagaimana puia keputusan orang-orang padepokan tentang korban yang akan dipersembahkan oleh orang bongkok itu.

Namun demikian orang-orang padukuhan itu memasuki sanggar, maka mereka pun segera dicengkam oleh suasana yang tegang. Demikian mereka melihat setandan pisang yang diletakkan diatas seonggok kayu kering di atas batu persembahan, maka mereka pun segera menduga, bahwa sesuatu akan terjadi di sanggar itu.

Ketika Ki Krawangan dan keluarganya memasuki sanggar, mereka melihat Ki Pandi berdiri diapit oleh dua orang cantrik dari padepokan. Sedangkan kakak Ki Krawangan rasa-rasanya tidak sabar menunggu orang-orang padukuhan itu berkumpul.

Namun akhirnya, orang-orang padukuhan itu sudah berdiri pada deret-deret sebagaimana biasanya.

Delima benar-benar gelisah melihat Ki Pandi yang nampaknya sudah tidak berdaya lagi untuk menyelamatkan diri.

Beberapa saat kemudian, maka suasanapun menjadi semakin tegang. Kakak Ki Krawangan sudah berdiri di tangga bangunan batu alas meletakkan korban itu.

Orang-orang padukuhan yang berdiri dalam deretan-deretan, itu pun menjadi semakin tegang. Tidak seorang pun yang bergerak. Bahkan mata mereka pun seakan-akan tidak berkedip lagi.

Kakak Ki Krawangan yang berdiri ditangga itu pun kemudian berkata, “Saudara-saudaraku. Disini sekarang ada orang yang lebih tua dari aku dalam tataran kedudukan kami di padepokan. Karena itu, biarlah saudaraku yang lebih tua itu mengambil keputusan tentang orang bongkok itu.”

Orang-orang padukuhan itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka tidak tahu, perasaan apakah yang sebenarnya bergejolak didalam hati mereka. Sepercik kegelisahan menyala di dada orang-orang itu. Mereka merasa iba melihat orang bongkok yang berdiri diapit oleh dua orang cantrik yang masih muda serta bertubuh tegap kekar. Mereka yakin bahwa orang bongkok itu akan mendapatkan hukuman, karena ia telah berani membawa persembahan yang tidak memadai. Namun sementara itu, orang-orang itu juga merasa tersinggung. Orang bongkok itu seakan-akan dengan sengaja merendahkan derajat kepercayaan mereka. Seakan-akan orang bongkok itu dengan sengaja menjajagi tatanan yang berlaku di antara mereka.”

Sementara itu, kakak Ki Krawangan itu pun bergeser menepi. Sedangkan seorang yang lain, seorang yang bertubuh raksasa telah naik dan berdiri disebelah kakak Ki Krawangan.

Ki Pandi mengeratkan dahinya. Ia teringat ceritera Ki Sambi Pita dan Ki Lemah Teles tentang orang yang mula-mula melihat keduanya dari lubang di pintu gerbang padepokan. Tetapi Ki Pandi, bahwa orang itu bukan yang dimaksud oleh Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles.

Orang yang bertubuh raksasa dan berdiri di tangga itu pun kemudian berkata, “Aku akan mengambil alih tugas saudaraku. Persoalannya memang tidak sederhana. Bukan sekedar seseorang yang ingin mencari kesejahteraan hidup lahir dan batin. Serta bukan orang yang mencari ketentraman sejati dibawah naungan kuasa api yang menghembuskan kehidupan serta memancarkan kesejukan dan kedamaian hati di malam hari.”

Orang-orang yang mendengarkan sesorah itu menjadi semakin tegang. Mereka semakin yakin bahwa sesuatu yang tidak diharapkan akan terjadi malam itu di sanggar mereka.

Dalam pada itu, orang bertubuh raksasa itu pun berkata, “Ternyata orang bongkok yang datang ke sanggar ini tidak berbeda dengan kedua orang asing yang telah mendatangi padepokan. Mereka bukan saja telah menghina kepercayaan yang kita junjung tinggi, tetapi mereka telah menyerang dan melukai saudara-saudara kita yang justru ingin menolong mereka, menunjukkan jalan keluar dari lingkungan ini. Saudara-saudara kita yang sama sekali tidak menduga itu tidak sempat membela diri.”

Ki Pandi yang telah mendengar ceritera Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles, segera menghubungkan dengan ceritera orang bertubuh raksasa itu, meskipun ceritera itu sudah diputar-balikkannya.

Namun Ki Pandi sama sekali tidak mengatakan sesuatu.

Orang bertubuh raksasa itu pun berkata selanjutnya, “Nah, bukankah orang bongkok ini juga telah menghina kita semuanya. Lihat, apa yang dipersiapkannya diatas alas persembahan kita. Selama ini kita selalu mempersembahkan korban yang bernyawa. Tetapi orang bongkok itu telah membawa setandan pisang kemari”

Orang itu terdiam sejanak. Ketika ia memandang Ki Pandi yang berdiri termangu-inangu, maka semua orang telah memandang Ki Pandi pula.

“Apakah kita akan membiarkan pengalaman ini terjadi atas kita? Kita tentu akan memaafkan orang-orang yang menghina kita sendiri. Tetapi tidak menghina penguasa Maha Api di langit yang memancarkan nafas kehidupan atas bumi ini.”

Suara orang bertubuh raksasa itu semakin menggelegar. Lalu katanya pula, “Nah, siapakah diantara kita yang membiarkan penghinaan ini terjadi? Siapa?”

Semua orang yang ada di sanggar itu tetap terdiam diri. Dalam keadaan yang biasa, jika mereka datang untuk mendengarkan sesorah, mereka sudah harus berdiam diri. Apalagi dalam keadaan yang sangat tegang itu.

Dalam pada itu, orang itu pun kemudian berteriak, “Kita akan membunuh orang yang telah menghina penguasa kehidupan ini dan membebankan tanggung jawab di pundaknya. Jika tidak, maka kemarahan yang akan menimpa kita semua akan berakibat sangat buruk bagi kita dan bagi kehidupan di bumi.”

Orang-orang yang ada di sanggar itu menjadi semakin tegang. Jantung mereka serasa berdetak semakin cepat. Rasa-rasanya mereka sudah dijalari kekecewaan dan kemarahan pula terhadap orang bongkok yang hanya membawa setandan pisang itu.

Delima juga menjadi semakin tegang. Bukan karena merasa terhina oleh korban yang terletak diatas seonggok kayu itu. Tetapi Delima mencemaskan nasib Ki Pandi yang terasa menjadi semakin dekat dan akrab itu.

Tetapi Ki Pandi masih saja berdiri diam. Bahkan nampaknya justru menjadi semakin tenang, meskipun kepalanya masih tetap menunduk.

Namun dalam pada itu, orang bertubuh raksasa itu pun berkata dengan lantang, “Nah, kita tentu tidak akan membiarkan penguasa Maha Api itu akan murka kepada kita. Kita tidak mau menerima akibat buruk karena orang bongkok itu telah menghina Maha Api di langit. Karena itu, maka kita harus menyerahkan penebusan dari penghinaan ini sekarang. Meskipun saat ini bukan saatnya menyerahkan persembahan sebagaimana biasanya. Tetapi kita harus membersihkan noda yang telah terpercik di sanggar ini.”

Orang itu berhenti sejenak. Wajah-wajah menjadi bertambah tegang. Lebih-lebih Delima dan bahkan juga ayah dan ibunya. Kenanga yang berdiri di antara gadis-gadis remaja yang lain, tidak begitu mengerti, apa yang akan terjadi.

“Nah” berkata orang bertubuh raksasa itu, “sekarang juga kita harus mendapatkan persembahan dari mahluk yang bernyawa untuk menebus penghinaan itu. Jika tidak, maka mungkin besok, bahkan mungkin nanti atau kapan pun dapat terjadi, kemarahan iti akan menimpa kita.”

Suara orang itu terputus ketika tiba-tiba saja mereka melihat cahaya merah dilangit. Mereka melihat asap yang membubung, kemudian mereka juga melihat lidah api yang menjilat. Tidak terlalu jauh.

“Ampun kami ya Maha Api” teriak orang bertubuh raksasa itu, “murkamu telah datang menimpa kami.”

Orang-orang yang ada di sanggar itu menjadi gelisah. Mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa telah terjadi kebakaran di padukuhan mereka. Sementara itu, semua orang tidak ada di padukuhan, tetapi mereka berada di sanggar, sehingga tidak seorang pun yang akan dapat memendamkan api itu. Yang tinggal di padukuhan hanyalah orang-orang tua, orang-orang sakit dan bayi-bayi”

Namun.orang bertubuh raksasa itu berteriak, “Kita tidak akan mampu melawan kemurkaan itu. Agaknya telah terjadi kebakaran. Tetapi tentu bukan kebakaran biasa. Disini seseoràng telah menghina Sang Maha Api. Dan dengan serta merta murkanya telah menimpa kita. Jika penghinaan ini tidak segera ditebus, murka itu tentu akan semakin menjalar. Mungkin akibatnya akan menimpa, seluruh padukuhan dan mungkin seluruh negeri dan bahkan mungkin seluruh bumi.”

Kegelisaan semakin mencengkam. Tetapi orang itu berkata, “Jangan tinggalkan tempat ini. Orang yang telah menghina itu harus mempertanggungjawabkan kesalahannya. Diatas alas tempat kita menyerahkan korban itu harus ada korban mahluk bernyawa sekarang juga.”

Dalam pada itu selagi suasana di sanggar itu menjadi semakin tegang maka seseorang berjalan tertatih-tatih ke pintu, gerbang sanggar. Tetapi orang itu berhenti sebelum ia melangkah masuk. Ia sadar, bahwa ia tidak boleh berbicara jika ia berada didalam sanggar. Karena itu, selagi ia masih berada diluar, maka ia pun telah berteriak, “Banjar padukuhan kita terbakar.”

Semua orang berpaling dan memandang ke pintu gerbang. Mereka melihat seorang tua yang berdiri gemetar laki tua yang sedang sakit.

Orang-orang yang berada di dalam sanggar itu menjadi semakin tegang. Dua orang cantrik telah berlari kearah orang tua itu. Ketika orang tua itu hampir saja terjatuh karena tubuhnya yang sakit itu menjadi lemah serta letih, maka kedua orang cantrik itu sempat menolongnya.

“Banjar padukuhan itu terbakar” orang itu berdesis lagi.

Seorang dari kedua cantrik itu telah melangkah masuk kedalam sanggar. Dengan lantang ia berkata, “Banjar padukuhan itu telah terbakar. Murka Sang Maha Api telah menimpa kita.”

Orang bertubuh raksasa yang berdiri ditangga bangunan batu sebagai alas persembahan itu berkata, “Kita harus cepat-cepat menyerahkan korban agar kemarahan itu mereda.”

Orang-orang yang berdiri di sanggar itu telah dicengkam oleh suasana yang tidak menentu. Mereka menjadi sangat ketakutan melihat bahwa api telah mulai menelan korban dipadukuhan mereka. Banjar padukuhan mereka tiba-tiba saja telah terbakar.

Dalam ketegangan itu, maka orang bertubuh raksasa itu pun berteriak nyaring, “Ya, Sang Maha Api. Hentikan murkamu atas kami. Sekarang kami akan menyerahkan korban untuk menebus kesalahan kami, karena kami teiah berani menghina kuasa Sang Maha Api. Meskipun korban yang kami serahkan kali ini, bukan korban dibawah wajah purnama yang lembut, serta bukan pula korban yang kehadirannya diatas bumi ini berada dibawah percikan cahaya api damaimu, namun kami mohon, korban yang kami serahkan ini dapat menebus kesalahan yang pernah dilakukannya sendiri karena ia telah menghina kuasamu yang tidak terbatas.”

Semua orang terkejut mendengarnya. Seorang laki-laki kurus menjadi gemetar. Sementara Ki Krawangan menjadi gelisah. Delima berusaha untuk tidak menjadi pingsan, karena ia tahu maksud orang bertubuh raksasa itu.

Ki Pandilah yang akan dikorbankan.

Sebenarnyalah sesaat kemudian orang-orang padepokan yang berada di sanggar itu telah mengerumuni Ki Pandi. termasuk kakak Ki Krawangan dan orang bertubuh raksasa itu.

Dengan paksa maka Ki Pandi pun telah dibawa naik keatas alas tempat penyerahan korban itu. Diatas tempat itu telah tersedia seonggok kayu untuk membakar setandan pisang yang diletakkan oleh Ki Pandi.

Namun kayu itu tidak cukup banyak.

Karena itu, maka orang bertubuh raksasa itu pun berkata, “Agar korban yang kita serahkan sempurna, maka semua orang laki-laki harus keluar dari sanggar dengan cepat untuk mencari kayu bakar. Siapa yang tidak melakukannya, maka ia akan dikutuk oleh Sang Maha Api itu.”

Demikian, maka setiap orang laki-laki telah menghambur keluar untuk mencari kayu bakar.

Laki-laki tua yang sedang sakit dan kelelahan itu duduk bersandar dinding sanggar. Tetapi ia terada diluar sanggar. Para cantrik yang menolongnya telah masuk kedalam sanggar pula, dan membiarkannya duduk sendiri.”

Namun orang’ itu menjadi heran ketika dua orang anak muda mendekatinya sementara orang-orang disanggar itu sedang ribut untuk mencari kayu bakar.

“Duduk sajalah kek” desis seorang diantar a mereka.

“Siapakah kalian anak-anak muda?” bertanya orang itu.

“Kami bukan siapa-siapa kek. Kami hanya ingin melihat apa yang terjadi.”

Orang tua itu tidak berdaya lagi, sementara kedua orang anak muda itu masih berjongkok disebelah-menyebelahnya.

Orang-orang laki-laki yang mencari kayu bakar sambil berlari itu tidak menghiraukan kedua orang anak muda iiu. Mereka mengira bahwa keduanya adalah saudara-saudara mereka yang sedang menolong orang tua yang sakit itu.

Namun beberapa saat kemudian, suasana mulai meniadi sepi. Orang-orang padukuhan itu telah berdiri ditempatnya di sanggar, sementara seonggok kayu bakar telah tertimbun di alas tempat menyerahkan kurban itu.

Dalam pada itu, maka cahaya merah dilangitpun sudah mereda. Nampaknya Banjar padukuhan itu telah hampir seluruhnya menjadi abu. Untunglah bahwa halaman banjar itu cukup luas sehingga diharapkan api tidak menjalar kemana-mana. Apalagi malam itu angin tidak begitu kencang bertiup. Tidak pula pepohonan disekitar banjar padukuhan itu.

Dalam pada itu, Ki Pandi telah berada di tangan orang-orang padepokan. Orang yang bertubuh raksasa itu telah berada di tangga pula sambil berkata, “Nah, nampaknya persembahan kami berkenan dihati Sang Maha Api. Sebelum persembahan kami ini kami serahkan, api yang membakar Banjar padukuhan kami telah mereda. Satu pertanda yang baik bagi kita. Karena itu, maka persembahan kami ini akan segera kami serahkan dengan perantaraan api pula.”

Darah Delima bagaikan mengalir. Namun Delima tidak pingsan. Ia melihat orang bongkok itu didorong untuk naik keatas bangunan batu sebagai alas persembahan itu.

Delima dan orang-orang yang. hadir di sanggar itu menjadi heran. Ia tidak melihat orang bongkok itu menjadi gelisah, ketakutan atau bahkan meronta. Ia sama sekali tidak melawan.

Namun ketika orang-orang padepokan itu akan mengikatnya, orang bongkok itu berkata, “Aku tak perlu diikat. Aku akan berbaring diatas api.”

Orang-orang padepokan itu termangu-mangu sejenak. Namun orang bertubuh raksasa itu berkata, “Ikat orang itu. Jika api menjilat tubuhnya, ia akan meronta atau bahkan berusaha melarikan diri.”

Tetapi orang bongkok itu menyahut, “Sudah aku katakan, aku tidak mau diikat.

“Persetan” geram orang bertubuh raksasa itu, “ikat orang itu. Cepat.”

Para cantrik mulai memegangi tangan Ki Pandi. Seorang yang membawa tali yang dibuat dari sabut telah mulai melingkarkan tali itu di tubuh Ki Pandi.

Namun yang tidak diduga telah terjadi. Cantrik yang membawa tali itu telah terlempar. Kepalanya membentur bangunan batu yang dipergunakan sebagai alas penyerahan persembahan itu. Demikian kerasnya, sehingga cantrik itu langsung menjadi pingsan.

Sebelum orang-orang padepokan itu menyadari apa yang telah terjadi, seorang lagi cantrik yang memegangi tangan Ki Pandi itu pingsan pula. Pukulan yang keras mengenai ulu hatinya, sehingga cantrik itu terbongkok kesakitan. Namun kemudian sisi telapak tangan Ki Pandi telah mengenai tengkuk cantrik itu sehingga ia jatuh tersungkur. Giliran berikutnya adalah cantrik seorang lagi yang memegangi tangan Ki Pandi yang lain. Ayunan tangan yang keras telah menampar keningnya. Nyala api oncor di sanggar itu pun menjadi semakin kuning dan akhirnya menjadi semakin kabur. Ketika sebuah pukulan lagi mengenai pangkal lehernya, maka semuanya menjadi gelap.

Yang terjadi demikian cepatnya, sehingga orang-orang padepokan yang lain, yang kedudukannya lebih tua dari para cantrik itu tidak sempat menolongnya.

Namun kakak Ki Krawangan, orang bertubuh raksasa dan orang-orang padepokan yang lain dengan cepat menyadari keadaan. Karena itu, maka mereka pun segera mempersiapkan diri

Orang bertubuh raksasa itu sempat berteriak, “Orang bongkok itu menjadi gila. Tangkap orang itu agar kita tak kehilangan bahan korban yang akan kita serahkan, yang justru sudah berkenan dihati Sang Maha Api.”

Tetapi orang-orang padukuhan itu tidak segera berbuat sesuatu jantung mereka justru terasa terguncang. Apalagi ketika kemudian Ki Pandi meloncat naik keatas bangunan batu sebagai alas untuk menyerahkan persembahan itu.

“Saudara-saudaraku” berkata Ki Pandi, “kalian harus segera menyadari, bahwa aliran hitam ini akan merusak tata kehidupan kalian. Orang-orang ini telah membawa kalian dan bahkan kewadagan kalian. Orang-orang ini telah membawa kalian ke jalan sesat, mengingkari kuasa Yang Maha Agung yang telah mencipta-kan langit dan bumi. Termasuk matahari dan bulan. Karena itu, tidak sewajarnya kalian menyembah matahari dan bulan yang disebut dengan nama apapun juga.”

Ki Pandi tidak sempat berbicara lebih panjang. Orang yang bertubuh raksasa itu meloncat menyusulnya dan langsung menyerangnya. Bahkan dua orang yang lainpun Kini datang membantunya pula.

Keributan pun tidak dapat dihindari lagi. Orang-orang padepokan telah berkerumun di sekitar bangunan batu untuk menyerahkan persembahan itu.

Mereka berusaha untuk menangkap orang bongkok yang akan dijadikan bahan persembahan bagi Sang Maha Api.

Namun dalam pada itu, keributan itu pun telah menjalar. Tiba-tiba saja dua orang anak muda telah melibatkan diri, menyerang orang-orang yang berkerumun mengepung orang bongkok itu.

Delima tiba-tiba saja melonjak kegirangan. Dua orang anak muda itu dikenalnya pula. Mereka adalah anak-anak muda yang sering datang bersama orang bongkok itu.

Perkelahian pun segera terpecah. Manggada dan Laksana telah mengambil tempatnya sendiri. Mereka telah bersiap menghadapi orang-orang padepokan yang ada di sanggar itu.

Orang-orang padukuhan yang berada di sanggar itu menjadi ketakutan. Tetapi mereka tidak berani meninggalkan sanggar itu. Mereka hanya bergeser menjauh dan berdiri berdesakan melekat dinding sanggar.

Ternyata yang kemudian bertempur melawan orang-orang padepokan itu tidak hanya orang bongkok dan dua orang anak muda saja. Tetapi ada orang lain yang telah melibatkan diri pula diantara mereka.

Beberapa saat kemudian, sanggar itu benar-benar menjadi kacau ketika oncor-oncor yang menerangi sanggar itu padam satu demi satu.

Keributan itu pun tidak tertahankan lagi. Orang-orang padukuhan telah berlari-larian tidak tentu arah. Mereka menjadi kebingungan. Sementara itu agaknya ada orang yang dengan sengaja telah mengacaukan mereka. Orang yang berlari-larian menyusup diantara orang-orang padukuhan itu.

Dalam kekacauan itu tiba-tiba mereka melihat dua oncor yang menyala. Dua oncor yang berada disebelah menyebelah pintu gerbang sanggar terbuka itu.

Arus orang-orang yang kebingungan itu tidak tertahankan lagi. Mereka berlari-larian keluar dari sanggar melalui pintu gerbang yang tiba-tiba telah terbuka selebar-lebarnya.

Terdengar anak-anak berteriak-teriak ketakutan. Bahkan kemudian suara tangis pun melengking dimana-mana.

Namun beberapa saat kemudian beberapa buah oncor telah menyala kembali di sekitar pintu gerbang. Dua, tiga kemudian empat buah.

Dalam kekisruhan itu terdengar seseorang berteriak.

“Jangan berdesakan. He, hati-hati. Berjalanlah dengan tertib. Sebaiknya orang laki-laki tidak ikut berdesakan dipintu gerbang. Biarlah perempuan dan anak-anak berjalan lebih dahulu. Orang-orang laki-laki sebaiknya justru ikut mengatur agar tidak terjadi kecelakaan.”

Tidak seorang pun diantara orang-orang padukuhan yang mengetahui, siapakah yang telah berteriak itu. Namun beberapa orang laki-laki telah tergugah hatinya. Mereka segera menepi dan mulai ikut mengatur arus keluar orang-orang padukuhan itu.

Empat orang laki-laki yang memegang oncor justru bingung sendiri. Mereka tidak tahu siapakah yang telah meletakkan oncor di tangan mereka. Tiba-tiba saja mereka merasa bahwa mereka telah memegang oncor.

Beberapa saat kemudian, maka sanggar itu telah menjadi kosong. Orang-orang padukuhan sudah berada diluarnya. Namun masih ada satu dua orang anak-anak yang menangis karena mereka belum menemukan orang tua mereka.

Tetapi dalam waktu singkat, karena orang-orang padukuhan itu sudah saling mengenal, anak-anak itu pun telah berada ditangan ayah dan ibunya.

Namun dalam pada itu, didalam sanggar, pertempuran masih berlangsung. Orang-orang padepokan yang berada di sanggar itu telah bertempur dengan orang-orang yang tidak mereka kenal selain orang bongkok itu.

Delima juga sudah berada diluar, masih saja berdebar-debar, Ia tidak tahu apa yang terjadi didalam sanggar itu. tetapi Delima dan orang-orang padukuhan masih mendengar keributan di dalam sanggar.

Sementara itu, keempat orang yang memegang obor telah berada diluar sanggar pula.

Namun orang-orang padukuhan itu tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Karena itu, maka mereka hanya berkumpul saja di sekitar sanggar mereka. Sementara di dalam sanggar itu masih terjadi pertempuran.

Di dalam sanggar itu, Ki Pandi bersama Manggada, Laksana dan beberapa orang tua yang lain telah bertempur melawan orang-orang padepokan. Ternyata mereka tidak memerlukan waktu yang terlalu lama. Beberapa saat kemudian, maka pertempuran itu pun segera berakhir.

Tetapi orang-orang yang berada diluar sanggar tidak segera mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi di sanggar itu. Ketika kemudian tidak lagi terdengar suara apapun di dalam sanggar, mereka justru semakin ragu-ragu.

Delima yang gelisah berdiri didepan pintu gerbang.

Ki Krawangan yang melihat Delima berdiri didepan pintu segera menariknya sambil berkata, “Delima, apa yang kau cari? Kau tahu bahwa telah terjadi sesuatu yang, tidak kita mengerti.”

Delima tidak membantah. Ia pun kemudian bergeser menjauhi pintu gerbang.

Namun suasana didalam sanggar itu masih sepi.

Angin malam berhembus semakin dingin. Sekali-sekali masih terdengar anak-anak merengek. Namun dengan susah payah ibunya telah menenangkannya.

Empat orang laki-laki masih tetap memegang obor dan berdiri tidak jauh dari pintu gerbang yang masih terbuka lebar. Namun orang-orang yang berada diluar tidak segera dapat melihat, apa yang telah terjadi dalam kegelapan.”

Akhirnya, orang-orang yang memegang oncor itu sepakat untuk melihat, apa yang terjadi didalam sanggar.

Dengan hati-hati keempat orang itu melangkah masuk. Ketika mereka melihat sebuah oncor yang masih terpancang ditempatnya. maka oncor itu pun telah dinyalakannya pula. Demikian pula beberapa buah oncor yang lain.

Namun keempat orang itu terkejut bukan buatan. Orang-orang padepokan yang ada disanggar itu telah terbaring diam diantara mereka nampak terluka. Darah mengalir dari luka yang menganga itu.

Ketika keempat orang itu mendekat, maka mereka menyadari bahwa ada diantara mereka masih bernafas.

Karena itu, maka, dua diantara keempat orang itu pun segera berlari keluar memanggil kawan-kawannya.

“Kita harus menolong mereka” berkata orang itu diluar sanggar.

“Kenapa?” bertanya-beberapa orang bersama-sama

“Mereka terluka.” jawab orang yang bertubuh-tinggi.

“Kenapa?” bertanya Orang-orang yang menjadi semakin kebingungan.

“Entahlah, kita bawa saja mereka keluar. Kita akan mencoba menolong mereka.”

Beberapa orang laki-laki segera berlari memasuki sanggar. Tanpa mengatakan sesuatu lagi, mereka pun telah membawa orang-orang padepokan yang terbaring diam. Ada diantara mereka yang terluka. Tetapi ada yang ditubuhnya sama sekali tidak terdapat segores kecil luka pun, namun orang itu telah pingsan atau bahkan mati.

Demikianlah, maka orang-orang yang terbaring diam itu telah dibawa keluar dari sanggar. Diluar sanggar orang-orang padukuhan itu berbicara dengan leluasa. Sedangkan didalam sanggar, meskipun bukan saatnya upacara atau mendengarkan sesorah, namun rasa-rasanya segan juga untuk berbicara.

Beberapa orang telah mencari air, sedangkan yang lain sibuk mengusap kening dan dahi.

Orang bertubuh raksasa itu, terluka dilambungnya. Tidak oleh goresan senjata. Tetapi luka itu cukup dalam. Tiga goresan nampak menyilang, seakan-akan goresan tiga buah jari tangan tangan berkuku tajam.

Kakak Ki Krawangan justru sama sekali tidak terluka. Namun ia juga telah menjadi pingsan.

Beberapa saat kemudian, setelah orang-orang padukuhan itu menjadi sibuk satu dua orang mulai sadar. Kakak Ki Krawangan itu pun menggeliat, sementara orang bertubuh raksasa itu mulai mengerang kesakitan.

Ketika orang bertubuh raksasa itu mulai bergerak, maka darah yang mengalir sernakin banyak mengalir dari lukanya.

Tetapi orang itu ternyata membawa obat untuk mengurangi arus darahnya. Ia minta seseorang menaburkan semacam serbuk dari sebuah bumbung kecil dialas lukanya itu. .

Terasa luka itu menjadi pedih sekali. Tetapi darahnya pun menjadi semakin sedikit mengalir dari luka itu.

Beberapa orang lain yang terluka juga telah mendapat pengobatan yang sama, sementara kakak Ki Krawangan setelah diberi air beberapa tetes di bibirhya pun telah menjadi sadar pula.

“Iblis bongkok” geram kakak Ki Krawangan

“Apa yang telah terjadi, kakang?” bertanya Ki Krawangan yang berjongkok disebelah kakaknya.

“Orang yang pernah kau tolong itu ternyata tidak kurang dari sosok iblis yang paling jahat.”

“Aku tidak mengira kakang. Ia tampak lemah dan sakit pada waktu itu.” jawab Ki Krawangan.

“Ia datang bersama beberapa orang kawannya untuk mengacaukan upacara persembahan itu.” berkata kakak Ki Krawangan itu pula.

“Tetapi apa maksud orang bongkok itu?” bertanya Ki Krawangan.

“Ia berniat mengacaukan upacara ini. Bahkan mengacaukan akal kita sehingga kepercayaan kita menjadi menipis, ia datang dengan membawa kepercayaan baru untuk menyesatkan jalan hidup kita menuju ke kesejahteraan lahir dan batin.”

Delima yang mendengar keterangan pamannya itu hampir saja tidak dapat menahan hati. Menurut pendapatnya, kepercayaan yang diajarkan oleh pamannya itulah yang sesat.

Sebenarnyalah Ki Krawangan juga ragu. Setelah hutan lebat yang seakan-akan memagari lingkungan yang luas dibawah kaki Gunung Lawu itu terbuka, maka para penghuninya mempunyai hubungan yang lebih luas dengan orang-orang dari seberang hutan.

Tetapi Ki Krawangan tidak menjawab. Demikian pula Delima yang merasa lebih baik diam saja daripada membuka persoalan ,baru dengan orang-orang padepokan.

Dalam pada itu, selagi ketegangan mencengkam orang-orang yang berada di sekitar sanggar itu, telah terdengar suara dari dalam kegelapan. Suara yang tidak jelas sumbernya. Seakan-akan melingkar-lingkar di udara yang kelam. Suara tertawa yang berkepanjangan. Disela-sela suara tertawa itu terdengar kata-kata, “He, kalian orang-orang sesat Apa sebenarnya yang kalian cari dengan cara yang tidak pantas itu? Kalian telah digiring oleh seorang yang menjadi gila karena kehilangan anak bayinya. Orang yang gila karena keluarganya yang pecah dan menjadi berkeping-keping. Mungkin juga karena salahnya sendiri. Namun kemudian, ia telah mencari sasaran untuk menimpakan kesalahan itu. Ia membenci semua bayi. Ia ingin semua bayi mati seperti anaknya. Dalam api…”

Suara itu berhenti sejenak. Sementara kakak Ki Krawangan yang telah sadar sepenuhnya itu berteriak pula, “He, pengecut. Nampakkan dirimu. Jangan memfitnah sambil bersembunyi.”

“Aku telah mengalahkan kau” terdengar lagi suara dari kegelapan, “sekarang sadarilah. Jika sementara ini kalian harus mengorbankan seekor anak binatang di bawah purnama, maka beberapa saat lagi kalian akan digiring untuk mengorbankan anak manusia. Bayangkan, setiap bulan seorang bayi akan mati. Gila. Bahkan tidak hanya di padukuhan ini saja. Apakah kalian akan melakukan upacara yang gila itu? Hari ini orang-orang padepokan itu sudah berniat mengorbankan seseorang sebagai langkah awal niat mereka menggiring kalian untuk mengorbankan bayi disetiap bulan purnama, karena orang yang kalian anggap pemimpin padepokan itu telah terganggu penalarannya.”

“Cukup, fitnah itu sama sekali tidak benat.” Teriak kakak Ki Krawangan.

Tetapi suara tertawa itu masih berkepanjangan. Kata-kata di sela-sela derai tertawa itu masih terdengar., “Nah, kalian yang waras, yang masih mempunyai daya penalaran yang utuh, apakah kalian justru akan jatuh di bawah pengaruh orang gila? Orang yang terganggu kesadarannya oleh dendam kebencian?”

“Cukup, cukup” bukan hanya kakak Ki Krawangan saja yang berteriak, tetapi seorang cantrik yang telah sadar sepenuhnya berteriak pula, sementara orang yang bertubuh raksasa itu menggeram. Ia tidak berani berteriak, agar darah di lukanya tidak memancar lagi.

Namun suara itu masih terdengar, “Selamat malam saudara-saudaraku. Selama padepokan itu masih ada, maka kita masih akan sering berjumpa dimanapun.

“Gila. He orang-orang gila. Aku bunuh kalian pada saatnya.”

Tetapi suara itu menjawab, “Jika kami ingin membunuhmu, maka kami tentu sudah melakukannya. Tetapi kami bukan orang-orang yang menjadi mata gelap, kehilangan pegangan dan membunuh sasaran yang tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan yang sebenarnya terjadi. Nah, tolong, sampaikan kepada Kiai Banyu Bening, jika ia masih tidak menghentikan perbuatan gilanya, maka kami benar-benar akan memperlaku-kannya seperti orang gila.

“Diam, diam, diam,” teriak kakak Ki Krawangan. Suara tertawa itu masih bergema. Semakin lama terdengar semakin jauh, sehingga akhirnya hilang sama sekali.

Malam kembali menjadi sepi. Ketegangan masih mencengkam setiap jantung. Orang-orang padepokan yang masih lemah itu dicengkam oleh kemarahan, kebencian, dendam tetapi juga kekhawatiran.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka tidak dapat mem-buru orang-orang yang telah menghinakan mereka dan bahkan menyebut nama Kiai Banyu Bening.

Namun sejenak kemudian, maka orang yang bertubuh raksasa itu berkata, “Biarlah orang-orang padukuhan itu pergi. Kita akan membuat perhitungan dengan mereka kelak, karena mereka tidak mau membantu kita, disaat kita dalam kesulitan.”

Kakak Ki Krawangan tidak menyahut. Tetapi bagaimanapun juga ia merasa cemas tentang adiknya. Orang-orang padepokan dapat menyangka, bahwa adiknya benar-benar telah berhubungan dengan orang bongkok itu.

“Besok aku harus berbicara dengan Krawangan,” berkata orang itu di dalam hatinya.

Dalam pada itu, maka orang-orang padukuhan itu pun segera pulang ke rumah mereka masing-masing ketika mereka sudah mendapat ijin dari orang-orang padepokan.

Namun ancaman orang bertubuh raksasa itu didengar oleh salah seorang padukuhan itu, sehingga ia menjadi ketakutan. Ternyata perasaan takut itu kemudian telah menjalar pula ke setiap orang yang mendapat berita tentang ancaman itu.

Namun sebelum orang-orang itu memasuki gerbang padukuhan, maka seseorang telah berlari-lari keluar dari regol padukuhan. Justru orang yang belum mereka kenal.

“Siapa yang terikat di halaman banjar? Siapa?” teriak orang itu

“Siapa? Siapa?” setiap onng pun telah bertanya pula. Namun karena itu, maka orang-orang itu tidak jadi langsung pulang ke rumah. Tetapi mereka berduyun-duyun pergi ke banjar.

Sebenarnyalah dua orang terikat pada dua batang pohon yang tumbuh di halaman banjar. Orang yang juga belum mereka kenal. Kedua orang itu agaknya telah pingsan meskipun keduanya masih hidup.

Agaknya keduanya telah menjadi kepanasan oleh lidah api yang menelan banjar padukuhan mereka. Banjar yang mereka dirikan dengan susah payah itu telah menjadi abu diterpa oleh kemarahan Sang Maha Api karena pokal orang bongkok itu.

Kedua orang itu tubuhnya basah oleh keringat. Sementara udara di halaman banjar itu masih terasa panas, meskipun api sebagian besar sudah padam.

Seorang penghuni padukuhan yang sudah separo baya berkata, “Ambil air. Kita harus segera mendinginkan mereka.”

Seseorang pun telah berlari-lari ke sumur. Dengan upih orang itu membawa air yang kemudian telah disiramkan ke wajah kedua orang yang pingsan itu.

Kedua orang itu mulai menggeliat. Bahkan kemudian keduanya mulai menggelengkan kepalanya serta membuka matanya.

Namun adalah diluar dugaan ketika tiba-tiba sesosok tubuh yang hanya nampak hitam di kelamnya malam muncul dari antara sisa kayu dan pecahan genting yang berserakan di bekas banjar itu berdiri, sementara malam seakan-akan menjadi semakin hitam.

Orang-orang yang berada di halaman padukuhan itu termangu-mangu. Oncor di regol halaman banjar masih menyala, meskipun cahayanya tidak dapat menggapai seluruh halaman, juga tidak dapat menerangi sosok tubuh yang muncul dan dalam sisa-sisa kebakaran itu, meskipun disana-sini masih nampak lidah api menyala meskipun hanya sejengkal. Juga masih ada kayu yang membara dan kerangka bambu yang meledak.

Orang-orang yang ada di halaman tiu merasa bulu-bulu tengkuk mereka meremang ketika mereka mendengar sosok yang hitam itu tertawa berkepanjangan.

“He, orang-orang padukuhan yang dungu? Kenapa kalian percaya bahwa banjar kalian telah ditelan oleh murka Sang Maha api karena terhina oleh persembahan orang bongkok itu? Kalian mengira bahwa kuasa Sang Maha Api itu mengatasi segala-galanya, sehingga mampu menghukum kalian dengan menelan banjar itu? Semua itu omong kosong. Lihatlah dua orang yang terikat itu. Merekalah yang telah membakar banjar kalian atas perintah orang-orang dari padepokan. Mereka ingin meyakinkan kalian, betapa besar kuasa Sang Maha Api, sementara orang-orang itu sendiri tidak percaya akan kuasa Sang Maha Api itu sendiri. Lihat kedua orang itu. Apa yang telah mereka lakukan? Tanyakan kepada mereka, mereka tentu tidak dapat menjawab, karena mereka juga tidak tahu, tidak pernah merasa bersentuhan, apalagi bahwa Sang Maha Api itu manunggal didalam dirinya. Yang mereka tahu adalah, bahwa api itu panas. Sedangkan sinar matahari juga panas dan bersumber dari Maha Sumbernya di langit. Yang mereka tahu bahwa api itu memancarkan sinar sebagaimana bulan di langit.”

Halaman itu telah dicengkam oleh ketegangan Sementara itu, kedua orang yang terikat itu menggeretakkan gigi mereka. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena mereka masih terikat pada batang pepohonan.

Dalam pada itu, sosok yang kehitam-hitaman itu masih berkata, “Sekarang kalian berhadapan dengan kenyataan. Tidak ada kuasa Sang Maha Api yang dapat murka karena orang bongkok itu telah menghinanya. Yang terjadi adalah dua orang itulah yang telah membakar banjar ini.”

Orang-orang padukuhan itu semuanya telah memandang kedua orang yang terikat itu dengan penuh kebencian. Namun sosok yang hitam itu berkata pula, “Tetapi kalian jangan bertindak apa-apa. Kita justru harus melaporkannya. Jika kalian berbuat sesuatu atas kedua orang itu, maka seisi padepokan itu akan marah dan mendatangi kalian untuk membalas dendam. Karena itu, jangan kecewa bahwa orang yang membakar banjar padukuhanmu aku lepaskan. Keduanya telah melakukan tugas mereka dengan baik, membakar banjar padukuhan.

Orang-orang padukuhan itu memang menjadi bimbang. Ia tidak tahu pasti maksud sosok yang tiba-tiba saja muncul dari reruntuhan banjar yang terbakar itu.

Namun sosok itu pun kemudian telah melangkah kearah kedua orang yang terikat itu sambil berkata, “Biarlah keduanya kembali ke padepokannya. Biarlah keduanya melaporkan kepada orang yang menyebut dirinya Banyu Bening tetapi tidak tahu artinya, bahwa orang-orang padukuhan itu sudah tahu, merekalah yang membakar banjar padukuhan. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan setandan pisang yang disiapkan untuk persembahan dari orang bongkok itu.”

Tidak seorang pun yang berbicara di antara orang-orang yang ada di halaman banjar itu. Mereka merasa seakan-akan mereka berada didalam sanggar. Suasananya justru lebih mencekam ketika bayangan itu melangkah mendekati kedua orang yang terikat di batang pepohonan itu.

Sejenak kemudian orang itu mencabut sebuah pisau kecil. Kemudian dengan pisau itu, ia telah memutuskan tali pengikat kedua orang itu.

Adalah diluar dugaan, bahwa tiba-tiba seorang yang bertubuh gemuk telah menyerang orang yang melepaskan talinya itu. Dengan cepat ia mengayunkan tangannya menghantam kearah kening.

Tetapi orang itu sendirilah yang kemudian menjerit sambil meloncat surut. Ternyata tangannya sama sekali tidak menyentuh kening. Tetapi tangan itu telah menyambar tajamnya pisau di tangan orang yang telah memotong tali pengikatnya.

Orang itu tertawa. Katanya, “Bukan salahku. Jika kalian masih saja keras kepala, maka pisau ini akan menggorok leher kalian berdua.”

Orang itu memegangi tangannya yang berdarah. Tetapi ia tidak menjawab.

“Nah, sekarang pergilah. Katakan kepada Banyu Bening yang tidak bening itu, bahwa kami akan tetap menentangnya sampai ia menyadari, bahwa yang dilakukan itu sama sekali tidak pantas. Ia merasa terpukul karena anaknya terbakar. Tetapi pada suatu saat ia akan merasa terhibur melihat bayi-bayi yang terbakar seperti anaknya. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan matahari dan bulan.”

Kedua orang itu termangu-mangu, sehingga orang yang semula muncul dari antara reruntuhan itu membentak mereka, “Cepat, pergi atau aku akan mengambil keputusan lain.”

Keduanya pun kemudian dengan tergesa-gesa melangkah menjauhi orang yang melepaskan mereka itu. Sementara orang-orang padukuhan telah melihatnya.

Namun ketika keduanya sampai di regol, seorang diantara keduanya berteriah, “Awas. Pada suatu saat aku akan kembali untuk membunuhmu. Kau akan mati di atas api persembahan. Tubuhmu akan hancur menjadi debu. Ingat besok jika purnama naik, maka kami benar-benar akan mengorbankan kau. Jika kau bersembunyi, maka salah seorang penghuni padukuhan ini akan kami korbankan. Demikian berturut-turut setiap purnama. Kecuali jika ada seorang bayi yang diserahkan.”

Tetapi demikian ia selesai berbicara dan melangkah untuk meninggalkan halaman banjar itu, sebuah pukulan yang keras telah mengenai mulutnya. Sambil meloncat surut dan bahkan hampir kehilangan keseimbangannya, orang itu mengaduh. Ternyata dua giginya telah tanggal dan darah mengalir dari sela-sela bibirnya.

“Kau sudah dibebaskan. Tetapi mulutnya masih saja meneriakkan kegilaanmu.”

Kedua orang yang akan meninggalkan halaman itu tersentak. Dipandanginya orang yang berdiri di hadapannya. Karena orang itu membelakangi oncor di regol halaman, maka wajah orang itu tidak nampak jelas.

“Kau sudah dibebaskan dan dapat kembali ke padepokan. Tetapi suaramu menyengat telinga. Sebenarnya aku ingin membunuhmu sekarang. Tetapi biarlah kau kembali kepada Kiai Banyu Bening untuk memberikan laporan lengkap tentang peristiwa yang terjadi disini. Juga tentang keberhasilanmu membakar banjar tepat pada waktu yang sudah diperhitungkan oleh kawan-kawanmu.”

Kedua urang itu tidak menyahut. Ketika mereka berpaling, mereka masih melihat orang yang melepaskannya itu berdiri di sebelah batang pohon itu.

Ternyata ada beberapa orang-berilmu tinggi yang membayangi kekuatan padepokan mereka.

“Nah,” berkata orang yang telah memukul mulut salah seorang dari kedua orang itu hingga berdarah, “sekarang pergilah. Beritahukan kepada Banyu Bening, bahwa kami akan tetap membayanginya sampai ia menyadari, bahwa ia tidak dapat melontarkan dendamnya kepada bayi diseluruh permukaan bumi ini.”

Kedua orang itu masih berdiri mematung. Namun orang yang telah memukulnya itu berkata lagi, “pergilah. Kesempatan bagi kalian masih terbuka.”

Kedua orang itu pun kemudian telah beringsut perlahan-lahan. Namun kemudian keduanya seakan-akan telah meloncat dan berjalan dengan cepat meninggalkan regol banjar padukuhan itu.

Dalam pada itu, orang yang telah memutus tali yang mengikat kedua orang yang membakar banjar itu berkata kepada orang-orang yang berada di halaman, “Sekarang, pulanglah. Pesanku, jangan dengan serta-merta menentang orang-orang dari padepokan itu. Tetapi kalian sudah mengetahui, bahwa mereka telah berusaha memperbodoh kalian. Orang yang bernama Kiai Banyu Bening itu telah kehilangan anak bayinya yang terbakar. Ia merasa terpukul oleh peristiwa itu. Tetapi kami belum tahu pasti, siapakah yang telah bersalah atas kematian bayi itu. Mungkin justru Kiai Banyu Bening sendiri. Dan ia berusaha menimpakan kesalahannya kepada orang lain.”

Orang-orang yang berada di halaman itu memang telah tersentuh hatinya. Tetapi mereka menyadari, bahwa menentang orang-orang padepokan akan berarti hancurnya padukuhan mereka.

Demikianlah, maka satu-satu mereka telah keluar dari regol halaman banjar padukuhan yang telah menjadi abu. Di beberapa bagian api masih nampak menyala. Tetapi sudah menjadi semakin kecil. Masih ada pula bara yang merah diantara setumpuk reruntuhan. Namun sudah tidak banyak berarti lagi.

Sebuah kentungan yang menjadi kebanggaan padukuhan itu, karena besarnya dan bunyinya yang mendengung seperti gema yang menyusuri lembah di antara bukit-bukit, telah ikut menjadi abu pula.

Malam itu setiap keluarga telah membicarakan banjar mereka yang terbakar. Satu dua diantara mereka telah membicarakan pula orang-orang yang disebut membakar banjar itu.

“Siapakah sebenarnya orang bongkok itu?” desis Ki Krawangan yang duduk bersama keluarganya, “ternyata kedatangannya di padukuhan ini bukan sekedar kelaparan dan kehausan.”

Delima mengangguk-angguk. Tetapi ia sama sekali tidak menyahut. Yang kemudian berbicara adalah Nyi Krawangan, “Orang bongkok itu agaknya membawa pesan yang lebih berarti bagi para penghuni padukuhan ini.”

Ki Krawangan mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Aku tidak tahu, bagaimana sikap kakang terhadap peristiwa yang baru saja terjadi di sanggar dan di banjar. Dua peristiwa yang memang saling berhubungan. Jika benar kedua orang itu membakar banjar, maka segala sesorah orang-orang padepokan itu adalah omong kosong.”

“Apalagi menilik keterangan orang yang tidak dikenal itu. Kiai Banyu Bening, eh, jabang bayi, aku telah menyebut namanya, orang yang dibayangi oleh dendam karena kematian bayinya itu, ingin melihat orang lain juga mengalami sebagaimana dialaminya.

“Jika demikian, ia adalah orang yang perlu dikasihaninya,” desis Ki Krawangan.

Nyi Krawangan termangu-mangu sejenak. Dipandanginya anak perempuannya. Delima memang menjadi gelisah, tetapi ia tetap berdiam diri.

Namun peristiwa yang terjadi di sanggar itu nampaknya akan menjauhkan orang bongkok dan dua orang cucunya itu dari padukuhannya, karena orang-orang padukuhan ini telah mengenalnya.

Delima tidak dapat membayangkan tanggapan orang-orang di padukuhannya terhadap Ki Pandi. Apakah mereka menjadi marah, merasa terhina, atau justru seperti ayah dan ibunya, yang nampaknya mempunyai sikap tersendiri terhadap orang bongkok itu.

Dalam pada itu, maka Ki Krawangan pun kemudian berkata, “Sudahlah. Kita akan tidur. Kita akan melihat perkembangan keadaan esok pagi.”

Tetapi Nyi Krawangan agaknya justru merasa cemas. Karena itu, ia pun bertanya kepada suaminya, “Apakah orang-orang padepokan itu dapat menuduh kita terlibat dalam persoalan ini? Maksudku, apakah orang-orang padepokan menganggap bahwa kita telah menjadi jembatan kehadiran orang bongkok dan kawan-kawannya di padukuhan ini karena orang bongkok itu pernah berada di rumah ini?”

Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Entahlah Nyi. Tetapi mudah-mudahan tidak. Karena itu, aku berharap besok kakang datang kemari. Aku ingin berbicara dengan kakang.”

Nyi Krawangan pun mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian berkata kepada Delima dan Kenanga, “Sudahlah. Hari telah larut. Sebaiknya kita pergi tidur saja.”

Ketika kemudian Nyi Krawangan, Delima dan Kenanga sudah berbaring didalam biliknya, Ki Krawangan masih duduk di ruang tengah. Sebuah mangkuk berisi wedang jahe telah dihirupnya beberapa kali.

Bagaimanapun juga Ki Krawangan juga menjadi gelisah. Orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening itu memang dapat menuduhnya bahwa ia telah berhubungan sebelumnya dengan orang bongkok itu. Kakaknya memang pernah memberitahukannya dan bahkan para cantrik pernah datang pula kepadanya.

Baru menjelang dini, Ki Krawangan itu sempat tidur beberapa saat.

Ketika fajar menyingsing, Ki Krawangan telah terbangun. Ia minta agar isterinya tidak pergi ke pasar atau ke mana-mana.

“Ada apa kakang?” bertanya Nyi Krawangan.

“Apapun yang terjadi, kita ada dirumah.”

Nyi Krawangan mengangguk. Katanya, “Baiklah. Biarlah Delima mencuci di sumur saja nanti.”

Tetapi ketika kemudian matahari terbit, Delima telah mengumpulkan cuciannya di dalam bakul yang selalu dibawanya mencuci ke sungai.

“Delima,” berkata ibunya, “kau nanti tidak usah pergi ke sungai. Kau cuci saja pakaian kotor itu di sumur.”

“Kenapa?” bertanya Delima.

“Kau tahu bahwa baru semalam terjadi keributan. Banjar kita masih berasap. Kita tidak tahu apakah orang-orang dari padepokan semalam ada yang menjadi korban. Maksudku, terbunuh. Karena itu, maka sebaiknya kita berkumpul saja dirumah. Mungkin pamanmu akan datang memberikan penjelasan, apakah keluarga kita dianggap terlibat atau tidak.”

Delima termangu-mangu sejenak. Tetapi rasa-rasanya ia ingin pergi ke sungai, justru karena semalam terjadi keributan. Apakah orang bongkok itu masih datang atau benar-benar menjauhkan dirinya dari padukuhan ini.

Karena itu, maka Delima itu pun berkata, “Tetapi mencuci di sungai lebih bersih ibu. Lagi pula aku tidak usah menimba air.”

“Tetapi suasananya tidak menguntungkan Delima. Sebaiknya kau tetap di rumah. Jika terjadi sesuatu di padukuhan ini karena peristiwa yang terjadi semalam, kita sudah berkumpul di rumah.”

Delima menjadi kecewa. Tetapi ia memang menjadi cemas bahwa sesuatu akan terjadi di padukuhan itu sebagaimana dikatakan oleh ibunya. Bahkan mungkin sesuatu akan terjadi pada keluarganya, karena kecurigaan orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening terhadap keluarganya. Orang-orang dari padepokan itu dapat menganggap bahwa keluarganya merupakan jembatan kehadiran orang bongkok itu di padukuhan.

Karena itu, maka Delima pun memutuskan untuk tidak pergi ke sungai hari iiu. Ia akan mencuci di sumur. Tetapi Delima itu pun kemudian berkata kepada adiknya, “Kau harus membantu aku menimba air.”

“Aku membantu menggosok dengan lerak saja,” jawab Kenanga.

“Kau tidak boleh malas.”

“Aku sudah mencuci mangkuk.”

“Sudahlah,” ibunya memotong, “bukankah ayahmu sudah mengisi jambangan sampai penuh. Nanti ayahmu akan mengisinya lagi.”

“Bukan karena jambangan penuh ibu. Tetapi Kenanga tidak boleh bermalas-malasan saja. Ia menjadi semakin tumbuh dan menjadi besar. Ia tidak boleh selalu bermanja-manja.”

“Delima, kau kenapa sebenarnya? Bukankah kau tidak pernah berkata demikian?”

Delima termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak menjawab lagi. Dipungutnya bakul yang berisi pakaian-pakaian kotor itu dan dibawanya ke sumur.

Sambil berjalan ia melihat adiknya mengusap matanya yang basah. Sambil melangkah Delima berdesis perlahan yang hanya dapat didengarnya sendiri, “Anak manja yang cengeng.”

Tetapi ketika ia mulai duduk di atas dingklik kayu setelah merendam pakaian-pakaian yang kotor itu, hatinya menjadi luluh melihat Kenanga melangkah mendekatinya sambil berusaha menghapus air matanya.

“Biar aku menimba air kak?” suaranya agak serak.

Delima memandang adiknya yang berdiri termangu-mangu.

Namun katanya, ”Sudahlah Kenanga. Jambangan itu sudah penuh. Ayah sudah mengisinya.”

“Tetapi kak Delima marah” berkata adiknya.

“Tidak. Aku tidak marah Kenanga.”

Kenanga masih ragu. Selangkah ia mendekat, sementara Delima berkata, “marilah. Bantu aku menggosok dengan lerak!”

Kenanga pun kemudian berjongkok di sebelah Delima. Dicobanya untuk membantu mencuci pakaian-pakaian yang kotor itu.

Dalam pada itu, Delima sempat merenungi dirinya sendiri. Kenapa tiba-tiba saja ia menjadi kesal. Namun akhirnya Delima menyadari bahwa ia menjadi kecewa karena ia tidak dapat pergi ke sungai untuk bertemu dan berbicara dengan orang bongkok itu.

Tetapi ia telah menimpakan kekesalannya itu kepada adiknya.

Dalam pada itu, Ki Krawangan yang duduk di ruang dalam masih saja merasa gelisah. Nyi Krawangan yang sibuk di dapur, sempat melupakan kegelisahannya sejenak, justru karena kesibukannya.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka Ki Krawangan bergegas menyongsong kakaknya yang benar-benar telah datang ke rumahnya.

Dipersilahkannya kakaknya itu duduk didalam. Rasa-rasanya Ki Krawangan tidak sabar menunggu, apa yang akan dikatakan oleh kakaknya itu.

“Krawangan,” berkata kakaknya, “beberapa orang kawanku memang mempertanyakan hubunganmu dengan orang bongkok itu.”

“Tetapi kakang tahu, bahwa aku tidak mempunyai hubungan apa-apa.”

“Ya. Para cantrik yang kemarin ada disini itu juga mengatakan bahwa kau tidak mempunyai hubungan apa-apa.” kakaknya itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi sekarang yang ada hanya aku, Krawangan. Aku ingin kau berkata dengan jujur. Apakah sebenarnya kau mempunyai hubungan atau tidak.”

Sementara itu Delima yang diberitahu oleh ibunya, bahwa pamannya telah datang, berkata kepada adiknya, “Kau tunggu cucian ini Kenanga. Jika kau dapat membantu, lakukanlah. Tetapi jika kau merasa lelah, tunggui sajalah disini.”

Kenanga yang masih dibayangi oleh kemarahan kakaknya tidak berani membantah. Sambil mengangguk Kenanga menyahut, “Baik, kak. Tetapi jangan lama-lama.”

“Tidak. Aku tidak akan menunggui pembicaraan ayah dan paman sampai selesai.”

Bersama ibunya, maka Delima pun kemudian masuk ke dalam. Tetapi keduanya tidak menemui pamannya. Keduanya berusaha mendengarkan pembicaraan Ki Krawangan dengan kakaknya yang menjadi salah seorang penghuni padepokan Kiai Banyu Bening dari balik dinding.

Dalam pada itu, Krawangan berusaha menjelaskan sekali lagi, kenapa orang bongkok itu pernah berada dirumahnya sebelum terjadi peristiwa yang mengguncang tatanan yang dibuat oleh orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening itu.

Kakak Ki Krawangan itu mengangguk-angguk. Dengan nada berat ia berkata, “Ternyata segala sesuatunya telah disusun dengan rapi oleh orang bongkok itu. Tetapi kenapa ia telah memilih rumah ini? Apakah orang bongkok itu mengetahui, bahwa kau adalah adik dari salah seorang penghuni padepokan itu?”

“Aku tidak tahu, kakang. Yang aku ketahui, orang bongkok itu ada di depan rumahku. Sementara itu, ia mengaku kelaparan dan kehausan.”

Kakak Ki Krawangan itu kemudian berdesis, “Ternyata kelompok mereka terdiri dari beberapa orang berilmu tinggi. Semalam, tiga orang kawanku terluka cukup berat. Seorang diantaranya jiwanya sangat terancam. Sedangkan yang lain. semuanya terluka dan pingsan. Aku juga tiba-tiba saja tidak ingat apa-apa lagi.”

Ki Krawangan mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian justru bercerita tentang dua orang yang diikat di banjar, “Dua orang-orang yang tidak dikenal ini dikatakan telah membakar banjar dengan sengaja untuk memberikan kesan kemurkaan Sang Maha api.”

Wajah kakak Ki Krawangan itu menjadi tegang. Sementara kepada kakaknya, Ki Krawangan itu berkata, “Aku hanya berani mengatakan kepadamu kakang. Aku tidak berani mengatakan kepada siapapun juga, karena akan dapat menimbulkan salah paham. Bahkan aku tidak berani membicarakannya dengan orang-orang yang juga mendengar langsung keterangan orang yang tiba-tiba saja muncul dari reruntuhan banjar itu.”

“Mereka akan dapat menghancurkan padepokan Kiai Banyu Bening itu.”

Ki Krawangan melihat kecemasan di wajah kakaknya. Namun kemudian diberanikan dirinya untuk bertanya, “Kakang, kakang minta agar aku berkata dengan jujur. Aku pun telah menjawab semua pertanyaan kakang dengan jujur. Sekarang, apakah aku juga dapat minta kakang menjawab pertanyaanku dengan jujur dan tidak menimbulkan salah paham. Jika kakang bersedia menjawab dan tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka aku akan mengajukan beberapa pertanyaan. Tetapi jika kakang berkeberatan, maka aku pun akan mengurungkannya.”

Wajah kakak Ki Krawangan itu menjadi tegang. Tetapi ia seakan-akan mempunyai hutang kepada adiknya. Ketika adiknya itu menagihnya, maka sulit baginya untuk mengelak.

“Apa yang akan kau tanyakan?” desis kakaknya.

Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian barulah ia bertanya, “Apakah yang dikatakan oleh orang yang tiba-tiba saja muncul dari rerumputan itu benar?”

“Yang mana yang kau maksudkan?” kakak Ki Krawangan memang menjadi agak bingung.

“Maksudku, aku ingin mendapat jawaban tentang apakah benar bahwa banjar itu memang sengaja dibakar? Kemudian apakah benar, bahwa sebenarnya upacara yang dilakukan setiap bulan purnama yang mengarah kepada penyerahan korban seorang bayi itu semata-mata karena dendam yang membakar jantung Kiai Banyu Bening dan sama sekali tidak ada hubungan dengan kepercayaan tentang kesejahteraan lahir dan batin?”

Wajah kakak Ki Krawangan menjadi sangat tegang. Dengan nada berat ia berkata, “Jangan bertanya kepada siapapun tentang kebenaran ceritera itu. Jika terdengar orang-orang dari padepokan, maka kau akan dapat dibunuh.”

“Sudah aku katakan, kakang. bahwa aku tidak berani berbicara tentang keterangan orang-arang yang tidak dikenal itu dengan siapapun juga. Bahkan dengan orang-orang yang langsung mendengarnya.”

Kakak Ki Krawangan itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Krawangan. Jika semula aku hanya ingin tahu tentang isi padepokan Kiai Banyu Bening, maka akhirnya aku terjerat didalamnya. Sulit bagiku dan bagi orang-orang yang sudah terikat dapat melepaskan diri. Kami, orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening itu, satu dengan yang lain selalu saling mencurigai, saling mengawasi dan jika perlu saling membunuh di antara kami.”

“Jadi bagaimana menurut pendapat kakang tentang ceritera orang yang tidak dikenal itu?”

Kakak Ki Krawangan itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebagian besar dari yang dikatakannya itu benar, Krawangan. Banjar ini memang sengaja dibakar. Aku sebagai penghuni padukuhan ini sebenarnya merasa berkeberatan. Tetapi aku tidak berani mencegahnya, agar tidak menimbulkan masalah baru. Sedangkan dendam yang menyala dihati Kiai Banyu Bening tentang bayinya yang terbakar itu juga benar.”

“Jika demikian, apa artinya sebuah padepokan dengan para pengikutnya yang besar dan bahkan semakin besar? Mungkin Kiai Banyu Bening mendapat kepuasan kelak, jika korban bayi itu sudah dimulai. Ia akan merasa bahwa ia tidak sendiri kehilangan anak bayinya yang ditelan api. Ia akan tertawa mendengar jerit bayi yang kepanasan dan kemudian membakarnya menjadi abu. Tetapi apa yang didapatkan oleh para pengikutnya, seperti kakang, misalnya. Atau orang bertubuh raksasa yang terluka itu. Atau yang lain lagi. Bahkan yang hampir mati terbunuh oleh orang- orang yang tidak dikenal itu.

“Krawangan, isi padepokan itu bukan sekedar orang-orang yang sesorah mengelabuhi banyak orang dengan ceritera Sang Maha Api. Tetapi dipimpin oleh Kiai Banyu Bening sendiri sekelompok orang telah berkeliaran dengan alasan untuk mendapatkan dana bagi perkembangan padepokannya serta menyebarkan kepercayaan untuk mendapatkan kesejahteraan lahir dan batin.”

“Bagaimana cara mereka untuk mendapatkan dana itu?”

“Kau sengaja bertanya untuk memancing agar aku menyebutnya? Baiklah. Kami memang sering melakukan perampokan. Tentu tidak atas nama padepokan Kiai Banyu Bening. Selanjutnya, di kemudian hari, jika kami sudah berhasil mengikat orang-orang yang sudah terlanjur percaya, maka kami akan dapat memeras mereka. Uang dan barang-barang itu akan mengalir dengan sendirinya ke padepokan kami.”

“Dan kakang menjadi salah seorang diantara mereka?” bertanya Ki Krawangan.

“Aku sudah terlanjur terlibat didalamnya. Sulit bagiku untuk melepaskan diri. Jika aku hilang dari lingkungan mereka, maka semua keluargaku tentu akan ditumpas habis. Termasuk kau dan anak isterimu. Apalagi sekarang, setelah orang bongkok itu hadir di padukuhan ini,” kakaknya berhenti sejenak. Namun kemudian dengan kerut yang semakin dalam di keningnya ia berkata, “Selama ini aku adalah salah seorang diantara mereka yang mendapat kepercayaan itu untuk tetap dapat berbuat banyak. Tetapi aku sebenarnya sedang mencari jalan untuk keluar dari neraka itu. Apalagi Kiai Banyu Bening sudah mengatakan niatnya, untuk benar-benar mengorbankan seorang bayi meskipun baru akan dilakukan di padepokan itu saja.”

Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam. Semula ia tidak mengira bahwa kakaknya itu justru merasa tersiksa. Ia mengira bahwa kakaknya benar-benar merasa terpanggil untuk bekerja keras menyebarkan kepercayaan yang sekedar menjadi selubung dari satu gerakan yang kotor. Dendam dan pemerasan.

Tetapi Krawangan sendiri tidak berdaya untuk membantu kakaknya melepaskan diri dari lingkungan yang terkutuk itu.

Kakaknya yang melihat wajah Ki Krawangan menjadi muram, berkata, “Sudahlah. Jangan hiraukan aku. Aku akan dapat menjaga diriku sendiri.”

Ki Krawangan mengangguk-angguk. Katanya, “Maaf kakang. Aku tidak dapat membantu apapun juga.”

“Aku mengerti” jawab kakaknya, jika kau melibatkan diri, maka kaulah yang lebih terancam daripada aku sendiri. Bahkan dengan anak dan isterimu. Karena itu, kau justru harus berdiri pada jarak tertentu. Sementara ini aku masih orang yang dipercaya sehingga sikapku masih harus tidak berubah.”

Ki Krawangan mengangguk-angguk sambil berdesis, “Baik kakang.”

Demikianlah, maka kakak Ki Krawangan itu pun segera minta diri. Sebelum ia meninggalkan tempat itu ia berkata, “Kau harus berhati-hati Krawangan. Meskipun sampai, saat ini kau masih di-anggap bersih tetapi kau termasuk salah seorang yang pernah dibicarakan oleh para pemimpin padepokan Kiai Banyu Bening itu.”

“Ya, kakang. Tetapi sebenarnyalah aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan orang bongkok itu.”

Sejenak kemudian, maka kakak Ki Krawangan itu telah meninggalkan rumah adiknya. Sementara Ki Krawangan mengantarnya sampai ke luar regol halaman rumahnya.

Ketika seseorang lewat didepan regol itu, maka ia pun telah mengangguk dalam-dalam. Mereka menganggap bahwa kakak Ki Krawangan itu adalah salah satu dari antara orang-orang yang dihormati di padepokan Kiai Banyu Bening, karena kakak Ki Krawangan itu sudah mendapat wewenang untuk memberikan sesorah di sanggar diluar padukuhan itu.

Karena kakaknya itu pula, maka Ki Krawangan sendiri termasuk orang yang dihormati pula di padukuhan itu.

Delima dan ibunya mendengar semua pembicaraan itu. Ibunya, seperti juga ayahnya, sama sekali tidak melihat jalan yang dapat ditetapkan oleh kakak Ki Krawangan itu. Namun Delima agak sungkan untuk menyampaikannya kepada orang bongkok itu apabila mendapat kesempatan.

“Besok aku akan mencuci di kali. Mudah-mudahan orang bongkok itu masih mau datang lagi.” berkata Delima didalam hatinya.

Sebenarnyalah di keesokan harinya, Delima telah minta ijin ayah dan ibunya untuk mencuci di kali.

“Suasananya masih belum menentu, Delima,” berkata ibunya.

“Jika terjadi sesuatu, tentu telah terjadi kemarin, ibu,” jawab Delima, “agaknya memang tidak terjadi sesuatu. Apakah paman mengatakan bahwa crang-orang dari padepokan itu akan berbuat sesuatu atas orang-orang padukuhan ini?”

“Tidak” jawab ayahnya, “tetapi kita harus tetap berhati-hati.”

“Bukankah aku tidak akan berbuat apa-apa, ayah. Hanya mencuci pakaian. Tidak lebih.”

Ki Krawangan menarik nafas panjang. Namun akhirnya ia berkata, “Tetapi jangan terlalu lama. Kau pun harus berhati-hati. Jika bukan orang dari padepokan, mungkin orang-orang yang tidak kita kenal itu masih berkeliaran disini. Terutama orang bongkok itu.”

“Bukankah orang bongkok itu tidak berniat jahat? Ia justru mencoba untuk mengingatkan kita, bahwa jalan yang selama ini kita tempuh harus kita pertimbangkan lagi.”

“Delima, “potong ayahnya, “kau jangan berkata begitu. Hati-hatilah dengan setiap kata yang kau lontarkan. Jika lidahmu tergelincir maka kau akan dapat terjerumus kedalam kesulitan”

Delima memandang ayahnya dengan tajamnya. Namun kemudian ia mengangguk kecil sambil menjawab, “Ya, ayah.”

“Untuk selanjutnya, kau jangan mengatakan apa saja tentang hubungan kita dengan orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening, Mereka adalah orang-orang tanpa hati tanpa jantung.”

Delima mengangguk pula. Katanya, “Ya, ayah.”

“Nah, berhati-hatilah. Jangan terlalu lama.”

Delima pun kemudian membawa bakul berisi pakaian yang kotor itu ke sungai. Seperti biasanya ia pun merendam cuciannya. Satu-satu ia mulai mencuci dengan lerak.

Beberapa saat lamanya Delima mencuci. Ternyata memang belum ada orang lain yang keluar dan mencuci pakaiannya di kali sebagaimana dilakukan oleh Delima, sehingga karena itu, maka Delima itu pun berada di tepian itu sendiri.

Setiap kali Delima selalu memandang gerumbul-gerumbul di-seberang. Orang bongkok dan kedua orang cucunya, atau kadang-kadang sendiri, sering keluar dari gerumbul di seberang. Namun setelah ia menunggu beberapa lama, namun orang bongkok itu belum juga keluar dari dalam gerumbul.

“Agaknya kakek bongkok itu tidak mau lagi datang,” berkata Delima di dalam hatinya.

Sebenarnya, ingin menceriterakan sikap pamannya yang sangat menarik baginya. Pamannya yang harus berada di tempat yang dibencinya, sehingga karena itu, maka ia merasa selalu tersiksa.

Tetapi Delima masih menunggu. Ia masih tetap mencuci meskipun sebenarnya cuciannya sudah bersih. Sekali-sekali Delima meletakkan cuciannya. Bangkit terdiri dan menggeliat karena pinggulnya terasa menjadi pegal.

Namun orang bongkok itu tidak juga datang.

Akhirnya Delima menjadi kesal. Dimasukkannya cuciannya yang sudah bersih itu kedalam bakulnya. Dibenahinya pakaiannya, kemudian Delima pun siap untuk meninggalkan tepian.

Namun langkah Delima berhenti. Dua orang laki-laki berjalan kearahnya. Dua orang laki-laki yang agaknya belum dikenalnya.

Tetapi ketika kedua orang itu menjadi semakin dekat, maka Delima pun merasa pernah melihat wajah kedua orang itu.

Namun Delima tidak menghiraukannya. Ia tidak tahu pasti, apakahia pernah melihat atau belum.

Tetapi ketika ia melangkah sambil menjinjing bakulnya, salah seorang dari kedua orang itu memanggilnya, “nDuk. Tunggu.”

Karena tidak ada orang lain, maka Delima pun merasa bahwa orang itu telah memanggilnya.

Karena itu, maka Delima pun telah berhenti.

“Tunggu,” berkata orang itu pula., “Kenapa kau tergesa-gesa pergi? Bukankah hari masih pagi?”

Delima merasakan nada yang tidak wajar pada suara laki-laki itu. Karena itu, maka ia pun justru telah melangkah pula naik ke tanggul.

Tetapi laki-laki itu berkata lebih keras lagi., “Tunggu, he nduk. Jangan pergi. Ada yang ingin aku katakan kepadamu.”

Delima tidak menghiraukannya. Justru ia menjadi semakin ketakutan. Karena itu, maka ia berusaha untuk. semakin cepat meninggalkan tempat itu.

Tetapi kedua orang laki-laki itu juga melangkah semakin cepat. Ketika Delima hampir mencapai ujung tanggul, kedua orang itu sudah berada dibawahnya. Bahkah seorang diantara mereka telah memegang kaki Delima dan menariknya dengan kasar.

Delima terseret turun. Bakulnya terlepas dari tangannya dan. bahkan ia sendiri bergulir, beberapa kali dan kemudian terbaring kembali di tepian.

Delima dengan tergesa-gesa berusaha bangkit. Sementara kedua orang laki-laki itu tertawa berkepanjangan.

“Kau akan lari kemana nduk?” bertanya salah seorang dari keduanya.

Wajah Delima menjadi pucat. Ia menyesal, bahwa ia telah pergi ke kali untuk mencuci. Kenapa ia tidak mendengarkan nasehat ayah dan ibunya, agar tidak pergi dalam suasana yang masih tidak menentu.

Tiba-tiba saja Delima mulai mengenali kedua orang itu. Keduanya tentu orang dari padepokan Kiai Banyu Bening.

Dengan gagap Delima pun bertanya, “Siapakah kalian berdua?”

Kedua orang itu masih tertawa. Seorang dari mereka pun kemudian menyahut, “Tidak ada gunanya kau mengetahui siapa kami.”

“Kenapa kalian menggangguku?” bertanya Delima pula.

“Kami tidak mengganggumu. Kami hanya ingin duduk-duduk bersamamu disini. Kenapa kau lari?”

“Aku harus segera pulang. Aku harus masak bagi keluargaku.”

“Itu tidak perlu” jawab salah seorang dari kedua orang itu, ”lebih baik bersama kami disini.”

Delima benar-benar menjadi ketakutan. Mata kedua orang laki-laki itu menjadi semakin liar.

Tepian itu memang sepi. Biasanya banyak kawan-kawannya yang mencuci pakaian. Sekali-sekali ada orang yang memandikan kerbau atau sapinya. Sering juga anak-anak yang menggembala-kan kambingnya bermain-main di tepian. Atau seorang pencari ikan yang menyusuri arus sungai itu.

Tetapi hari itu tepian itu sama sekali tidak disentuh kaki seorang pun kecuali Delima.

Ternyata kedua orang ini benar-benar menjadi liar. Seorang diantara mereka berkata, “Marilah. Kita bawa anak ini ke seberang.

“Jangan” Delima mulai menangis.

“Diam kau,” bentak salah seorang dari kedua orang itu.

“Aku akan berteriak, “ tangis Delima.

“Tidak akan ada orang yang mendengar. Tetapi jika kau lakukan juga, aku akan membunuhmu.”

Ternyata Delima tidak menghiraukannya. Ia benar-benar berteriak nyaring.

Tetapi dengan cepat, kedua orang laki-laki itu menyergapnya dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.

“Iblis betina,” geram yang seorang.

Tetapi yang seorang berkata, “Aku senang kepada perempuan yang tidak mudah menyerah. Marilah, kita bawa anak ini keseberang. Cepat.”

Namun sebelum kedua orang laki-laki itu menyeret Delima keseberang, maka tiba-tiba seseorang telah berdiri diatas tanggul memandangi mereka dengan dahi yang berkerut.

Kedua orang laki-laki yang menyeret Delima itu terkejut. Tetapi keduanya menarik nafas lega. Seorang diantara mereka berdesis, “Ki Warana. Aku kira siapa?”

“Apa yang kalian lakukan?” bertanya orang itu.

Kedua orang laki-laki itu tertawa. Katanya, “Biasa, Ki Warana. Kami sudah terlalu lama tenggelam didalam tugas yang tidak berkeputusan. Tiba-tiba saja kami melihat perempuan yang kesepian ini. Kami memang merasa kasihan, sehingga kami perlu menemaninya.”

Delima memandang orang yang berdiri di atas tanggul itu dengan mata yang tanpa berkedip. Tetapi mulutnya justru bagaikan membeku. Delima tidak tahu, apa yang akan terjadi kemudian atas dirinya meskipun orang itu hadir diatas tanggul.

Namun dengan nada berat orang itu berkata, “Lepaskan anak, itu.”

“He?” kedua orang laki-laki ini terkejut.

“Lepaskan,” suara orang yang berdiri di atas tanggul itu menjadi semakin keras.

Delima mendengar kata-kata itu. Tiba-tiba saja ketegangan yang mencengkamnya sehingga membuat mulutnya bagaikan membeku itu, larut dalam satu pengharapan. Karena ini, maka tiba-tiba saja Delima berteriak, “Paman.”

Kedua orang laki-laki itu terkejut. Sejenak mereka termangu-mangu, tetapi mereka belum melepaskan Delima.

“Lepaskan,” berkata orang yang berdiri diatas tanggul itu semakin lantang., “Anak itu kemanakanku, kalian dengar?”

“Tetapi, tetapi …….” salah seorang laki-laki itu berdesis.

“Biarlah anak itu pulang kepada orang tuanya.”

Namun tiba-tiba seorang dari kedua orang itu berkata, “Ki Warana, hal itu tidak biasa. Biasanya tidak ada orang yang mencampuri persoalan orang lain di padepokan.”

“Ini bukan persoalan orang lain. Aku sudah mengatakan, anak itu kemanakanku, apakah kalian tuli?”

Tetapi kedua orang itu tidak mau kehilangan korbannya. Karena itu, maka seorang diantara mereka berkata, “Kami tidak akan melepaskan anak ini. Kami memerlukannya.”

Orang yang berdiri diatas tanggul itu melangkah turun. Demikian ia berdiri di tepian, maka suaranya yang berat terdengar lagi, “Lepaskan, biarlah aku membawanya pulang. Gadis itu anak adikku.”

“Aku tidak peduli,” jawab salah seorang dari kedua orang itu.

“Aku memberi peringatan terakhir kepada kalian. Jika kalian tidak melepaskannya, maka kita akan membuat perhitungan menurut kebiasaan kita, orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening.

“Bagus,” sahut seorang diantara kedua orang yang menangkap Delima itu, “kami akan membunuhmu. Kaulah yang mencari persoalan. Karena itu, jika kau mati, adalah karena salahmu sendiri.

Wajah Ki Warana, kakak Ki Krawangan itu menjadi merah. Dengan geram ia berkata, “Jadi kau berdua sudah berani menentang aku, he? Berapa lama kalian berada di padepokan. Kalian sudah berani menentang orang-orang tua di padepokan itu. Karena itu, maka kalian tidak pantas lagi berada di padepokan Kiai Banyu Bening, karena kau tentu hanya akan membuat air yang mengalir dari padepokan menjadi keruh.”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Tetapi benak mereka telah dicengkam oleh nafsu iblis yang menyuruk kedalamnya. Karena itu seorang diantara mereka berkata, “Ki Warana. Kami berani menentangmu, karena kau memiliki kelainan dari orang-orang tua yang lain. Mereka tidak akan pernah menghalangi apapun yang kami lakukan. Tetapi kau telah mencoba merampas sesuap nasi yang sudah berada di mulutku. Karena itu, siapa pun orangnya, akan kami lawan dengan segenap kemampuan kami. Tetapi melawan orang-orang tua yang tidak berarti seperti kau, tidak boleh setengah-setengah. Jika kakiku menginjak ular, maka sebaiknya aku injak kepalanya sampai mati, agar ular itu tidak akan mematuk aku dikemudian hari.”

Ki Warana tidak dapat menahan diri lagi. Iapun segera bergeser mendekati kedua orang itu.

Kedua orang itu pun segera bersiap pula. Seorang di antara mereka masih memegangi Delima.

Dengan geram Ki Warana pun telah menyerang salah seorang diantara mereka, sedangkan yang lain justru telah menyeret Delima agak menjauh.

Sejenak kemudian, terjadi perkelahian antara salah seorang diantara kedua orang itu dengan Ki Warana.

Namun Ki Warana memang memiliki banyak kelebihan. Dalam waktu singkat, lawannya telah terdesak. Beberapa kali serangan Ki Warana sempat mendorong lawannya, sehingga kadang-kadang keseimbangannya pun telah terguncang.

Namun dalam keadaan yang paling gawat bagi orang itu, terdengar kawannya berteriak, “Cukup. Hentikan perkelahian atau gadis itu akan mati.”

Ki Warana terkejut. Ia pun kemudian melihat tangan orang yang memegangi Delima itu mencengkam lehernya.

“Setan licik,” geram Ki Warana, “jika kalian laki-laki sebagaimana penghuni padepokan Kiai Banyu Bening, lepaskan gadis itu. Kita bertempur sampai tuntas disini. Aku tidak berkeberatan jika kalian bertempur berdua.

“Persetan dengan igauanmu itu. Sekarang kau harus memilih, kau atau gadis ini yang mati.”

Wajah Ki Warana menjadi sangat tegang. Tetapi Delima seakan-akan tidak lagi dapat bernafas. Tangan orang itu benar-benar telah mulai mencekik leher Delima.

“Cepat, katakan. Kau atau gadis ini yang akan mati.” Ki Warana menjadi semakin tegang. Namun kemudian iapun berdesis, “Jika kau bunuh aku, apa jaminanmu, bahwa gadis itu akan tetap hidup tanpa kau sakiti?”

“Kau tidak dapat menuntut jaminan apapun. Sekarang, berbaringlah menelungkup. Kami akan menghancurkan kepalamu dengan batu. Jika kau mati ditepian, maka anak ini akan tetap hidup.”

Namun tiba-tiba Delima berteriak, “Jangan hiraukan aku paman.”

Tetapi suaranya pun segera tertelan. Tangan yang kuat telah menutup mulutnya. Tetapi nampaknya Delima memang sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ketika tangan itu menutup mulutnya, Delima justru telah membuka mulutnya itu. Demikian tangan itu berada diantara giginya, maka Delima telah menggigit tangan itu keras-keras.

Orang itu berteriak kesakitan. Justru pada saat itu, Delima merenggut dirinya dari tangan orang itu dan berusaha berlari meninggalkan tepian.

Ki Warana tanggap akan keadaan itu. Dengan cepat ia meloncat memburu ketika orang yang kesakitan tangannya yang berusaha menggapai Delima lagi.

Orang itu memang mengurungkan niatnya mengejar Delima. Ia harus dengan cepat mempersiapkan diri melawan Ki Warana yang menyerangnya seperti badai.

Tetapi pada saat itu, orang yang hampir dikalahkan oleh Ki Warana itulah yang kemudian berlari memburu Delima yang naik keatas tanggul.

Delima memang mempunyai sedikit waktu berlebih. Tetapi ia memang tidak setangkas lawannya. Ketika ia hampir sampai diatas tanggul, maka orang yang mengejarnya itu hampir saja dapat menggapainya.

Tetapi tiba-tiba saja orang ku menjerit kesakitan. Tubuhnya meluncur dan berguling jatuh ke tepian. Sementara itu Delima telah berdiri di atas tanggul.

Namun yang sangat mengejutkan orang-orang yang berada di tepian itu adalah, seorang yang bertubuh bongkok duduk diatas tanggul itu.

Ki Warana pun berdiri termangu-mangu. Ia tahu, bahwa orang bongkok itu telah memusuhi seisi padepokan Kiai Banyu Bening.

Tetapi orang bongkok itupun kemudian berkata, “Delima, beruntunglah bahwa kau telah ditolong oleh pamanmu. Tetapi persoalan pamanmu dengan kedua orang itu belum selesai.”

“Setan, kau bengkok.” geram salah seorang dari kedua orang yang akan menyeret Delima, “jangan lari. Kami akan membunuhmu.”

Orang bongkok itu tertawa. Katanya, “Kalian tidak usah mengurusi aku. Aku berjanji tidak akan mencampuri persoalan kalian sendiri. Akupun tidak akan mengganggu Delima. Ia anak baik. Sudah sepantasnya ia kembali kepada orang tuanya.”

Ki Warana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan nada rendah ia berkata, “Kau ingin mengambil keuntungan dari keadaan kami sekarang ini bongkok?”

“Tidak Ki sanak., “jawab Ki Pandi, “tetapi baiklah. Jika kalian menganggap aku mengganggu. Biarlah aku pergi.”

“Dan kau akan mempergunakan kesempatan itu untuk mengganggu Delima?” bertanya Ki Warana.

Ki Warana justru terkejut ketika Delima menjawab, “Tidak paman. Kakek bongkok itu tidak akan mengganggu Delima.”

Ternyata yang terkejut bukan hanya Ki Warana. Tetapi Delima sendiri ternyata juga terkejut. Tetapi ia sudah terlanjur mengucapkannya.

Tetapi kedua orang yang mengganggu Delima itu lah yang agaknya tidak ingin melepaskan Delima. Karena itu, maka seorang diantara mereka berkata kepada Ki Warana, ”Kita tunda persoalan kita. Kita selesaikan dahulu orang bongkok itu.”

“Kemudian kau akan mengulanginya. Menangkap Delima dan mengancamku?”

“Pengkhianat kau,” geram orang itu.

Ki Warana sendiri tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja ia mempercayai orang bongkok itu, bahwa ia tidak akan mengganggu Delima. Karena itu, maka ia menganggap bahwa Delima telah aman ditangan orang bongkok itu. Ki Warana menganggap bahwa kedua orang itu justru lebih berbahaya dari orang bongkok itu. Yang terjadi di sanggar itu juga menunjukkan bahwa orang bongkok dan kawan-kawannya bukan orang jahat. Ternyata mereka tidak membunuh kawan-kawannya yang sudah tidak berdaya. Mereka justru meninggalkan kawan-kawannya dari padepokan meskipun mereka dapat membunuhnya dengan mudah jika mereka inginkan.

Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Biarlah Delima dibawa oleh orang bongkok itu. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku justru lebih percaya kepada orang bongkok itu daripada kepada kawan-kawanku sendiri.”

“Bagus,” geram salah seorang dari kedua orang yang merasa kehilangan Delima itu, “satu pihak diantara kita memang harus mati. Jika kau masih hidup, maka kau tentu akan melaporkan tingkah laku kami. Sebaliknya kami pun akan melaporkan pengkhianatanmu, karena kau lebih mempercayai orang bongkok yang sudah jelas ingin menghancurkan padepokan kita daripada kawan sendiri.”

“Persoalannya bukan persoalan padepokan atau yang bersangkut paut dengan padepokan. Tetapi persoalannya menyangkut kemanakanku, anak adikku. Nah, karena kita masing-masing mempunyai mulut, sehingga kami masing-masing dapat memberikan laporan, maka terserah kepada Kiai Banyu Bening, siapakah yang akan dipercaya.”

“Itu sama sekali tidak perlu” jawab orang iiu, “karena kau akan mati disini. Mayatmu akan dibawa hanyut oleh arus sungai itu meskipun tidak terlalu kuat. Saudara-saudara kita di padepokan akan mengira bahwa kau telah dibunuh oleh orang bongkok itu dengan kejam karena mayatmu akan kulumatkan. Jika mayatmu kemudian hilang sampai ke muara, maka saudara-saudara kita di padepokan akan mengira bahwa telah melarikan diri.”

“Bagus” Ki Warana mengangguk-angguk, “jika demikian, biar kalian sajalah yang mati.”

Kedua orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja keduanya menyerang hampir bersamaan. Jika seorang melawan seorang, mereka tidak dapat mengalahkan Ki Warana, maka berdua mereka tentu akan dapat menang.

Tetapi sebenarnyalah bahwa Ki Warana memang seorang yang berilmu tinggi. Meskipun kedua orang lawannya menyerangnya seperti banjir bandang, namun tidak mudah bagi mereka untuk dapat mengalahkan Ki Warana.

Sementara itu Ki Warana pun tidak lagi mengekang diri. Dengan kelebihannya, maka Ki Warana segera mampu mendesak kedua orang lawannya.

Tetapi kedua orang itu agaknya tidak mau melihat kenyataan. Karena itu, maka keduanya masih berusaha untuk dapat memenangkan perkelahian itu.

Kedua orang itu berusaha untuk memecah perhatian Ki Warana, Mereka menyerang dari dua jurusan yang berbeda. Namun mereka berusaha untuk dapat melakukannya berganti-ganti, susul menyusul tidak henti-hentinya.

Tetapi Ki Warana sama sekali tidak menjadi bingung, meskipun kadang-kadang ia juga terkejut mengalami serangan yang datang tidak terduga.

Tetapi Warana masih saja mampu mengatasi keduanya, sehingga kedua lawannya itu semakin terdesak.

Namun justru karena keduanya tidak lagi mampu menguasai Ki Warana, maka keduanya pun telah menggenggam senjata di tangan mereka. Keduanya telah menarik pedang yang tergantung di lambung mereka.

Ki Warana yang melihat kedua orang lawannya telah menggenggam senjata, meloncat beberapa langkah surut. Dengan wajah yang tegang iapun kemudian berkata, “Senjata kalian akan mempercepat kematian kalian. Bersiaplah untuk mati.”

Kedua orang lawannya sama sekali tidak mendengarkannya. Jantung mereka telah membeku. Bahwa Delima lepas dari tangan mereka, membuat kedua orang itu seakan-akan menjadi gila.

Demikianlah, maka pertempuran itu menjadi semakin sengit. Ki Warana juga sudah memegang senjata ditangannya.

Kedua orang yang kehilangan buruannya itu menyerang berganti-ganti dari arah yang berbeda. Namun kadang-kadang keduanya justru mengambil kesempatan untuk bersama-sama meloncat maju dengan senjata teracu.

Dalam pertempuran bersenjata, Ki Warana memang harus mengerahkan kemampuannya untuk melawan kedua orang itu. Ia harus mengerahkan tenaganya. Perhatiannya yang terpecah membuatnya kadang-kadang harus meloncat mengambil jarak.

Namun ternyata bahwa Ki Warana yang bertempur dengan tangkas itu sempat membuat kedua lawannya, terkejut ketika Ki Warana itu seakan-akan terbang menyerang keduanya berganti-ganti. Demikian cepatnya senjatanya menyambar lawannya yang seorang kemudian yang lainnya,

Dalam puncak kemarahannya, maka Ki Warana telah melenting dengan senjata terjulur lurus menyusup pertahanan salah seorang lawannya.

Terdengar teriakan nyaring. Ujung pedang Ki Warana sempat menembus dada orang itu sehingga meraba jantung.

Ketika Ki Warana menarik senjatanya, maka darah pun telah memancar dari dadanya, menghambur di tepian.

Sementara itu, kawannya tidak berhasil menyelamatkannya. Ketika ia menyerang Ki Warana, ujung pedang Ki Warana sudah terlanjur menikam jantung.

Melihat kawannya sudah tidak berdaya, maka lawan Ki Warana yang seorang lagi menjadi gentar. Berdua mereka tidak mampu mengimbangi kemampuannya. Apalagi seorang diri.

Karena itu, maka orang itu berusaha untuk melarikan diri dari arena pertempuran.

Namun orang itu gagal memanfaatkan kesempatan. Ketika ia melangkah meninggalkan arena, senjata Ki Warana justru telah mencapai punggungnya.

Orang itupun menjerit kesakitan. Ujung senjata Ki Warana telah menembus pula punggung lawannya yang seorang lagi.

Ki Warana pun kemudian berdiri termangu-mangu memandang dua sosok tubuh yang terbaring diam di tepian. Darah yang mengalir dari luka mereka membasahi pasir dan kerikil yang terserak.

Beberapa saat Ki Warana berdiri mematung. Ternyata ia sudah membunuh kawannya sendiri. Namun Ki Warana akan dapat mempertanggung jawabkan tindakannya, karena kedua orang kawannya itu telah mengganggu seorang gadis yang justru adalah kemanakannya.

Selagi Ki Warana masih berdiri termangu-mangu, maka terdengar suara Delima dari atas tanggul, “Paman.”

Ki Warana tersentak. Ketika ia berpaling, dilihatnya Delima berdiri di sebelah orang bongkok itu.

Bagaimanapun juga, Ki Warana menjadi berdebar-debar. Orang bongkok itu tentu orang yang berilmu sangat tinggi. Ia tidak tahu apa yang telah dilakukan ketika tiba-tiba saja salah seorang diantara kedua orang yang mengganggu Delima, yang hampir berhasil menangkap gadis itu selagi ia memanjat tanggul, telah menjadi kesakitan dan berguling dari lereng tanggul itu.

Orang bongkok itu pula bersama-sama dengan beberapa orang kawannya telah mengacaukan pertemuan di sanggar. Bahkan orang bongkok yang hampir saja dikorbankan diatas api itu bersama-sama dengan kawan-kawannya, telah mengalahkan beberapa orang kawan-kawannya dari padepokan Kiai Banyu Beriing.

Karena itu, jika ia harus berhadapan seorang melawan seorang dengan orang bongkok itu, maka ia harus sangat berhati-hati.

“Atau segala sesuatunya memang harus berakhir disini” berkata Ki Warana itu didalam hatinya.

Tetapi ia. menjadi heran ketika Delima justru menggandeng tangan orang bongkok itu turun ketepian. Kepada orang bongkok itu. Delima berkata, “Ini adalah pamanku, kek. Kakak ayahku.”

Ki Pandi tersenyum. Katanya, “Bukankah kita sudah berkenalan, Ki Warana?”

”Ya,” jawab Ki Warana.

“Paman” berkata Delima, “sambil mengamati paman bertempur melawan kedua orang itu, aku sempat berceritera tentang paman.”

“Tentang apa? Wajah Ki Warana menjadi tegang.

“Tentang niat paman keluar dari padepokan Banyu Bening” jawab Delima.

“Siapa yang mengatakan-nya?” Ki Warana rhenjadi tegang, “ayahmu?”

“Tidak, paman. Aku telah mendengar sendiri ayah berbicara dengan paman dirumah.” jawab Delima.

“Delima, kau telah melanggar unggah-ungguh. Kau tidak boleh mendengar-kan orang-orang tua ber-bincang.”

“Maaf, paman. Aku tidak sengaja mendengarkan paman dan ayah berbincang. Tetapi aku kebetulan duduk di belakang dinding dan mendengarnya. Aku mencoba untuk melupakan pembicaraan itu, tetapi aku membayangkan betapa paman setiap hari merasa tersiksa, karena apa yang paman lakukan, sama sekali tidak sesuai dengan nurani paman sendiri, karena itu, ketika hari ini kebetulan aku bertemu dengan kakek bongkok, yang pernah aku kenal di rumahku dan kemudian aku lihat kehadirannya di sanggar, maka aku ingin mempertemukan paman dengan kakek bongkok ini.”

“Delima” berkata pamannya, ”apakah sebelumnya orang bongkok itu sering datang kerumahmu?”

“Sekali paman. Ketika kakek bongkok itu mengaku kelaparan dan kehausan. Ayah dan ibu merasa iba melihatnya dan kemudian menolongnya. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba saja kakek bongkok ini mengatakan kepada ayah, berniat untuk ikut mendengarkan sesorah didalam sanggar, sehingga kita lihat, apa yang terjadi kemudian.”

Ki Warana itu berdiri termangu-mangu. Sementara itu, Ki Pandi pun melangkah mendekat sambil berkata, “Ki Warana. Aku memang sudah mendengar dari Delima, apa yang Ki Warana katakan kepada Ki Krawangan. Jika aku menemui Ki Warana sekarang, aku berniat untuk membantu agar Ki Warana tidak selalu dibelenggu oleh keadaan.”

Ki Warana menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Untuk waktu yang pendek ini, belum ada yang dapat aku lakukan, Ki Sanak. Aku berterima kasih atas sikapmu. Aku kira kau mendendamku. Tetapi temyata dugaanku keliru.”

“Baiklah, Ki Warama. Aku akan selalu menghubungi anak ini. Justru karena ia seorang gadis maka ia akan luput dari pengawasan kawan-kawanmu.”

Ki Warana mengangguk-angguk.

“Nah, sekarang, bagaimana dengan kedua orang kawanmu itu?”

Ki Warana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya kepada Delima, “Menyingkirlah Delima. Aku akan menguburkan kedua orang kawahku ini di tepian. Aku tidak dapat berbuat lain.”

“Duduklah diatas batu itu,” berkata Ki Pandi, “aku akan membantu pamanmu.. Kau tidak perlu melihat apa yang terjadi dengan kedua orang itu.”

Delima pun kemudian menurut. Ia duduk diatas sebuah batu yang besar sambil mengulangi membersihkan pakaian yang kotor lagi oleh debu dan pasir ketika bakulnya tertumpah.

Ki Pandi memang telah membantu Ki Warana membuat lubang di tepian yang memang agak lunak. Kemudian memasukkan tubuh itu kedalamnya dan menimbuninya dengan batu-batu kali. Agar tidak menarik perhatian, maka di sekitarnya telah ditaburkan batu kerikil dan pasir sebagaimana semula.

Dirumah, Ki Krawangan dan Nyi Krawangan menjadi gelisah. Delima sudah terlalu lama pergi. Beberapa kali Kenanga sudah menanyakan, kenapa Delima masih belum pulang.

“Aku akan pergi ke tepian” berkata Ki Krawangan, “mungkin terjadi sesuatu dengan anak itu.”

“Anak ini memang keras kepala” desis ibunya, “seharusnya ia tidak pergi ke sungai.”

Ki Krawangan pun kemudian bersiap-siap untuk pergi ke sungai. Tetapi justru karena suasana yang masih belum menentu, maka Ki Krawangan pun telah menyelipkan pedang di lambungnya.

Tetapi demikian Ki Krawangan keluar dari regol halaman, maka dilihatnya Delima melangkah sambil menjinjing bakul berisi cuciannya.

Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika ia melihat wajah Delima yang tidak memberikan kesan sesuatu yang menggelisahkan.

“Ayah akan kemana?” bertanya Delima ketika ia melihat ayahnya berdiri termangu-mangu di depan regol halaman rumahnya.

“Kemana saja kau Delima?” ayahnya ganti bertanya, “kami menjadi gelisah. Adikmu mulai merengek karena kau tidak segera pulang. Justru dalam suasana yang tidak menentu ini.”

“Sekarang ayah akan mencari aku?”

“Ya. Aku akan menyusulmu ketepian.”

Delima tersenyum. Katanya, “Aku sudah pulang, ayah. Bukankah aku tidak apa-apa?”

“Kau memang tidak apa-apa. Tetapi jantung kamilah yang apa-apa.”

Delima justru tertawa. Katanya, “Sebenarnya aku sudah selesai beberapa waktu yang lalu.”

“Jadi kenapa kau baru pulang sekarang?”

“Ketika aku naik tebing, aku tergelincir. Pakaian yang sudah bersih itu tumpah dan menjadi kotor kembali. Nah, aku terpaksa mencucinya lagi ayah.”

“Bukankah ibumu sudah mengatakan, bahwa sebaiknya kau mencuci dirumah saja.”

Delima memandang ayahnya sekilas. Ia memang melihat kecemasan membayang di mata ayahnya. Karena itu, maka Delimapun berkata, “Marilah ayah. Mungkin ibu juga gelisah.”

“Tidak sekedar mungkin. Bukankah aku sudah mengatakan, seisi rumah menjadi gelisah. Kenanga sudah ribut saja menanyakan kenapa kau tidak segera pulang.”

Keduanya pun kemudian masuk kembali ke regol halaman rumah menyeberangi halaman. Kenanga yang melihat Delima datang diiringi oleh ayahnya, segera berlari-lari mendapatkan-nya.

“Lama sekali kau di tepian kak?” bertanya adiknya. Delima mengusap pipi adiknya sambil berkata, “Aku harus mencucinya dua kali, karena cucian yang sudah bersih itu tumpah karena aku tergelincir ketika aku naik tanggul”

“Ah, lain kali hati-hati ya kak. Kau tidak terluka?” Pertanyaan adiknya tiba-tiba membuat Delima merasa pedih di kakinya. Teringat olehnya betapa ngerinya ketika kawan pamannya itu menarik kakinya ketika ia hampir sampai keatas tanggul.

Ketika ia kemudian mengamati kakinya, baru ia melihat bahwa kakinya memang tergores kerikil.

“Sakit kak?” bertanya adiknya.

Tetapi Delima tersenyum. Katanya, “Tidak. Hanya sedikit pedih. Tetapi segera akan baik.”

“Aku carikan daun metir, kak.”

“Ah. tidak seberapa,” jawab Delima.

Ketika ia masuk ke dapur, ibunya pun menyatakan kegelisahannya karena Delima tidak segera pulang.

Ketika kemudian Delima menjemur cuciannya di belakang rumahnya, matahari telah menjadi agak tinggi. Ia memang terlambat pulang. Namun yang terjadi di tepian membuatnya sedikit berpengharapan, bukan saja tentang pamannya, tetapi justru seisi padukuhannva akan dapat menyadari jalan sesat yang telah mereka tempuh, bahwa selama ini mereka sekedar menjadi alas berpijak oleh seorang yang membenci kenyataan yang dialaminya. Kemudian dendamnya menebar ke lingkungan luas yang dapat dijangkaunya.

Tetapi jalan tentu masih agak jauh.

Dalam pada itu, ketika Delima mendapat kesempatan untuk berbicara dengan ayahnya seorang diri, maka Delima pun telah menceriterakan apa yang telah terjadi di tepian. Hampir saja ia menjadi korban kebiadaban orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening. Untunglah bahwa pamannya melihatnya. Bahkan kemudian ternyata bahwa orang bongkok itu juga berada di tempat itu.

“Paman telah membunuh dua orang kawannya, ayah.”

Ayahnya mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Dengan demikian, pamanmu ada dalam bahaya.”

“Paman telah berbicara langsung dengan kakek bongkok itu, ayah. Tetapi nampaknya paman masih belum siap untuk mengambil langkah-langkah penting untuk meninggalkan padepokan.”

“Ya. Tentu tidak dapat dilakukan dengan serta-merta. Bukan karena pamanmu mencemaskan dirinya sendiri. Tetapi pamanmu justru memikirkan nasib kita sekeluarga.”

Delima mengangguk-angguk. Dugaannya tentang pamannya ternyata keliru. Pamannya bukannya orang yang tidak berjantung. Tetapi pamannya masih mempunyai perasaan wajar dan bahkan selalu memikirkan keselamalan adiknya.

Namun aknirnya Delima tidak dapat menyimpan rahasianya lagi. Ketika orang bongkok itu tidak lagi merupakan iblis yang dianggap menggoda untuk melemahkan kepercayaan keluarganya, Delima merasa aman untuk mengatakan kepada ayahnya, bahwa sejak sebelum peristiwa di sanggar itu terjadi, dan bahkan sejak sebelum orang bongkok itu datang sebagai orang yang kelaparan dan kehausan, Delima memang sudah mengenalnya.

“Jadi, kau sudah berhubungan dengan orang itu?” bertanya ayahnya.

“Ya ayah,” jawab Delima, “tetapi aku takut mengatakannya kepada ayah.”

Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata, “Untunglah, bahwa keadaan berkembang ke arah yang menguntungkan bagi kita. Sikap kakang yang tidak kita duga sebelumnya, serta perkembangan padepokan Kiai Banyu Bening itu sendiri. Seandainya yang terjadi sebaliknya, apa jadinya kita semuanya?”

“Jika perkembangannya tidak seperti ini, tentu aku tidak akan mengatakannya kepada ayah,”’ jawab Delima.

“Baiklah Delima. Tetapi kau harus tetap berhati-hati. Kita tidak tahu, apa yang terjadi sebenarnya di sekitar kita. Kita tidak tahu, apakah orang-orang lain di padukuhan ini mempunyai perasaan yang sama seperti kita.”

“Aku kira demikian, ayah. Aku kira sebagian besar orang-orang padukuhan kita mempertanyakan kebenaran sesorah-sesorah yang sering kita dengar di sanggar. Apalagi setelah peristiwa yang terjadi di sanggar itu, serta banjar padukuhan kita terbakar. Orang yang tiba-tiba muncul dari reruntuhan itu tentu kawan kakek bongkok itu pula. Demikian pula yang tiba-tiba saja sudah berada di pintu gerbang halaman banjar.”

“Nampaknya mereka mempunyai kekuatan yang cukup,” berkata Ki Krawangan. Namun kemudian katanya, “Meskipun demikian, sekali lagi aku peringatkan Delima, kita harus berhati-hati. Banyak kemungkinan masih daput terjadi. Demikian juga hubungan kita dengan padepokan Kiai Banyu Bening itu.”

Delima mengangguk kecil. Namun iapun menyadari, bahwa banyak hal yang tidak dapat diperhitungkan dahulu mungkin akan terjadi.

Peristiwa di pinggir kali itu, membuat Ki Krawangan sehari-harian merenung. Ia mulai menyadari, banwa anaknya memang sudah menginjak usia dewasanya. Sementara itu, orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening sering berkeliaran kemana-mana. Mereka melakukan tindakan-tindakan yang tidak terkendali.

Agaknya, peristiwa yang hampir saja menimpa Delima itu juga pernah menimpa gadis yang lain. Tetapi gadis itu, atau mungkin orang tuanya, sama sekali tidak berani mengatakan kepada siapapun juga, karena orang-orang dari padepokan itu tentu mengancamnya untuk membunuh atau tindak kekerasan yang lain.

Bersukurlah Ki Krawangan, bahwa anaknya ternyata masih selamat.

Tetapi tiba-tiba terbersit pertanyaan, “Mengucap sukur kepada siapa? Sang Maha Api? Matahari atau rembulan?”

Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam.

“Tidak. Tentu bukan Sang Maha Api yang telah menelan banjar padukuhan itu. Karena ternyata banjar padukuhan itu telah dibakar oleh orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening.”

Dalam pada itu, dari hari ke hari, orang-orang padukuhan itu masih tetap merasa tegang. Mereka masih belum yakin, bahwa padukuhan mereka akan benar-benar menjadi tenang. Apalagi ketika kepada orang-orang padukuhan itu diberitahukan bahwa untuk sementara tidak ada kegiatan apa-apa didalam sanggar.

“Orang bongkok dan kawan-kawannya akan dapat mengacaukan suasana yang seharusnya hening itu” berkata orang dari padepokan yang ditugaskan menemui orang-orang padukuhan.

“Sementara itu. orang-orang tua yang berada dirumah Ki Ajar Pangukan pun tidak dengan tergesa-gesa mengambil tindakan. Mereka menunggu perkembangan keadaan. Namun mereka tidak henti-hentinya mengamati padepokan Kiai Banyu Bening, serta padukuhan yang pernah mereka rambah untuk menyatakan, bahwa ada pihak yang menentang perbuatan Kiai Banyu Bening, yang tidak lebih dari ungkapan gejolak perasaan pribadinya yang penuh dengan dendam dan nafsu.

Dihari-hari berikutnya, ternyata Ki Pandi pun masih juga sering menemui Delima di pinggir kali, ketika Delima mencuci pakaian. Bahkan masih belum ada orang lain yang berani melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Delima. Namun bagi Delima, hal itu justru menguntungkan baginya.

Justru karena tepian itu selalu sepi, maka bukan saja Ki Pandi yang sering datang, tetapi juga Manggada dan Laksana.

Namun yang penting bagi Ki Pandi, ia justru dapat selalu berhubungan pula dengan Ki Warana.

Ceritera yang menarik yang dibawa oleh Ki Warana adalah ceritera tentang burung-burung elang yang sering berterbangan diatas padepokan Kiai Banyu Bening.

Ki Pandi selalu tertarik setiap kali ia mendengar ceritera tentang burung-hurung elang. Ia sendiri pernah melihat burung-burung elang itu terbang diatas padepokan Kiai Banyu Bening itu.

“Berhati-hatilah dengan burung elang itu” berkata Ki Pandi kepada Ki Warana ketika mereka bertemu di tepian, justru saat Delima sedang mencuci.

“Aku juga pernah mendengar ceritera tentang burung-burung elang itu,” berkata Ki Warana.

“Burung-burung itu selalu membawa perlambang buruk. Burung-burung elang berkuku timah itu adalah milik seorang yang menamakan diri Panembahan Lebdagati.”

“Kiai Banyu Bening telah mendengar nama itu,” desis Ki warana.

“Ia pernah membuat hal sama di daerah ini,” berkata Ki Pandi.

“Ya. Kiai Banyu Bening pernah mengatakan demikian. Karena itu, ia memilih tempat ini untuk mengembangkan kepercayaan yang disebarkannya, meskipun ia sendiri tidak pernah mempercayainya,” sahut Ki Warana, namun Panembahan Lebdagati itu sudah lebur bersama padepokannya ketika padepokannya dihancurkan disini oleh pasukan Pajang dan orang-orang berilmu tinggi yang menentang kepercayaannya.”

“Aku ada diantara mereka waktu itu,” berkata Ki Pandi.

Ki Warana mengangguk-angguk. Dengan demikian ia menjadi semakin yakin, bahwa orang bongkok itu tidak sekedar bermain-main jika ia berniat menghancurkan padepokan Kiai Banyu Baning.

“Berhati-hati sajalah,” pesan Ki Pandi, “jika elang itu sudah semakin sering nampak dan berputar-putar, maka itu merupakan isyarat bahwa Panembahan Lebdagati akan segera datang.”

Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, “Kiai Banyu Bening menganggap bahwa Panembahan Lebdagati sudah benar-benar tidak ada. Jika ada orang yang menamakan Panembahan Lebdagati, maka tentu bukan Panembahan Lebdagati yang sebenarnya.”

“Tidak. Kiai Banyu Bening salah. Panembahan Lebdagati yang sebenarnya itu masih ada. Masih hidup. Ia masih menunjukkan gejala-gejala kesalahan penalaran.”

Ki Warana masih saja mengangguk-angguk.

Sementara itu Ki Pandi berkata, “Namun apa yang dikembangkan Panembahan Lebdagati adalah benar-benar yang diyakini. Sedangkan Kiai Banyu Bening justru sekedar pelepasan dendamnya karena ia sudah kehilangan anak bayinya yang mati di dalam nyala api.”

Ki Warana mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya. Agaknya memang demikian.”

“Dengan demikian, maka dari sisi keyakinan, Panembahan Lebdagati masih lebih jujur dari Kiai Banyu Bening. Tetapi sayang, bahwa keyakinan Panembahan itu pun merupakan keyakinan yang sesat.” berkata Ki Pandi.

“Ya, “jawab Ki Warana, “tetapi aku tidak tahu, apakah aku dapat memberi peringatan kepada Ki Banyu Bening.”

“Kaulah yang mengetahui kemungkinan itu. Tetapi untuk melengkapi keteranganku tentang Panembahan Lebdagati, aku beritahukan bahwa aku telah bertemu dan bertempur melawannya dalam memperebutkan pusaka-pusaka yang berada di tangan Kiai Gumrah, dari sebuah perguruan yang murid-muridnya sebagian besar menjadi pembuat dan pedagang gula kelapa.”

Ki Warana mengerutkan dahinya sambil bertanya, “Kau telah bertempur melawan Panembahan Lebdagati?”

“Ya. Sudah beberapakali aku alami. Tetapi aku tidak pernah berhasil mengalahkannya. Apalagi menangkap atau membinasa-kannya. Karena itu, maka aku yakin, bahwa Panembahan Lebdagati itu masih ada sampai sekarang. Elang-elang itu adalah pertanda dari perhatiannya kepada padepokan Kiat Banyu Bening. Aku tidak tahu, apakah Kiai Banyu Bening memiliki kemampuan sebagaimana Panembahan Lebdagati.”

“Kiai Banyu Bening juga seorang yang berilmu sangat tinggi. Tetapi aku juga tidak tahu, apakah ia mampu mengimbangi Panembahan Lebdagati, karena aku belum pernah menyaksikan ilmunya.”

Ki Pandi pun kemudian berkata, ”Baiklah. Aku minta kau dapat memberi tabukan kepadanya, langsung atau lewat Delima setiap perkembangan yang terjadi di padepokanmu, juga dalam hubungannya dengan Panembahan Lebdagati.”

”Ki Warana meng-angguk-angguk. Namun kemudaan ia pun minta diri meninggalkan Ki Pandi dan Delima di tepian.

Dihari berikutnya, Ki Pandi bersama Manggada dan Laksana telah melihat lagi, dua ekor burung elang yang berputar-putar tinggi di udara. Burung itu tidak menukik dan tidak pula menyambar-nyambar. Nampaknya burung-burung itu dalam keadaan tenang, meskipun agaknya ada sesuatu yang sedang diawasinya.

Ternyata dikeesokan harinya, Delima telah berceritera kepada Ki Pandi yang datang bersama Manggada dan Laksana pula.

”Paman baru saja meninggalkan tempat ini,” berkata Delima, “ia harus segera berada di padepokan.”

“Apa ada sesuatu yang penting?” bertanya Ki Pandi.

Paman minta disampaikan kepada kakek, bahwa kemarin di padepokan telah datang dua orang utusan Panembahan Lebdagati.”

“O,” wajah Ki Pandi berkerut. Sementara Manggada bertanya, “Apa yang dibicarakan oleh utusan itu?”

“Paman tidak mengatakannya. Tetapi paman berpesan, bahwa paman ingin bertemu dengan Ki Pandi lewat tengah hari di sini.”

“Baiklah, nduk,” berkata Ki Pandi kemudian, “nanti kami akan datang kemari.”

“Apakah aku juga harus datang kemari, kek?” bertanya Delima.

”Ah, tentu tidak,” jawab Ki Pandi, “keadaan menjadi makin gawat, nduk. Persoalannya tidak lagi terbatas antara padepokan Kiai Banyu Bening dengan kakek yang bongkok ini, tetapi melihat Panembahan Lebdagati pula.”

Delima dapat mengerti keterangan Ki Pandi itu. Karena itu, maka iapun menjawab, “Baiklah kek. Tetapi besok pagi aku akan berada disini lagi.”

“Tetapi kau harus melihat suasana, Delima. Jika suasananya tidak memungkinkan, maka kau harus tetap tinggal dirumah. Yang perlu kau ketahui Delima, para pengikut Panembahan Lebdagati tidak kalah liarnya dengan orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening. Bahkan kemampuan orang-orangnya agak lebih tinggi dari orang-orang padepokan itu.”

Delima mcngangguak-angguk. Katanya, “Baik, kek.”

“Nah, sekarang, jika kau sudah selesai, pulanglah. Keadaan lingkungan ini benar-benar menjadi semakin gawat.” berkata Ki Pandi.

Ternyata Delima menuruti nasehat itu. Ia pun segera mengemasi cuciannya dan kemudian menjinjingnya. Ketika ia mulai naik tanggul, maka Laksana telah menyusulnya sambil berkata, “Marilah, aku bawakan bakul itu.”

“Aku sudah terbiasa membawa bakul sambil memanjat naik.”

“Tetapi jika ada yang membantumu, bukankah itu lebih baik?”

Delima tidak menolak ketika Laksana kemudian mengambil, bakul cucian itu dari tangannya.

Manggada hanya memandanginya saja sambil tersenyum. Tetapi ketika Delima sudah sampai diatas tanggul, maka ia pun berkata, “Sudahlah. Biar aku membawa bakul itu.”

“Aku antar kau sampai kerumahmu,” berkata Laksana. Tetapi Delima berkata, “Bukankah keadaan sekarang menjadi semakin gawat? Jika aku pulang bersama seseorang, maka tentu akan sangat menarik perhatian. Meskipun kita dapat mengabaikan perhatian tetangga-tetangga, tetapi tentu kita tidak dapat mengabaikan perhatian orang-orang padepokan dan mungkin para pengikut Panembahan Lebdagati itu.”

Laksana tersenyum masam. Tetapi ia sempat juga berkata, “Bagaimana jika kita juga mengabaikan perhatian orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening dan para pengikut Panembahan Lebdagati.”

“Mungkin akibatnya tidak terasa bagimu. Tetapi bagiku? Bagi keluargaku?”

Laksana tertawa. Katanya, “Ah, bukankah aku tidak bersungguh-sungguh?”

Wajah Delima berkerut. Tetapi ia pun kemudian tertawa pula, “Sampai besok,” desis Delima.

Ketika Delima kemudian menjadi semakin jauh dan mendekati padukuhannya, maka Laksana pun segera turun kembali ketepian.

Bertiga mereka meninggalkan tepian. Mereka akan kembali lagi sesuai dengan pesan Ki Warana lewat lengah hari.

Demikianlah, maka lewat lengah hari, Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah berada kembali di tepian. Mereka menunggu kedatangan Ki Warana untuk mendengarkan perkembangan terakhir padepokan Kiai Banyu Bening.

Ketiga orang itu tidak perlu menunggu terlalu lama. Beberapa saat kemudian, maka Ki Warana benar-benar datang sesuai dengan pesannya lewat Delima.

“Mereka adalah cucu-cucuku,” berkata Ki Pandi, ketika Ki Warana memandangi.Manggada dan Laksana.

“Mereka juga ada di sanggar malam itu” desis Ki Warana.

“Ya.” sahut Ki Pandi, “mereka berusaha menolong kakeknya.”

“Tidak Ki Sanak. Bukan mereka berusaha menolong kakeknya. Tetapi semuanya sudah terpencar. Sejak kau kelaparan dan kehausan di rumah Krawangan.”

Ki Pandi tertawa. Katanya, “Ya. Sekarang aku tidak akan ingkar. Kami memang telah membuat rencana itu, meskipun sebagian sedikit menyimpang. Tetapi untunglah bahwa kami dapat menyelesaikan bagian pertama dari permainan kami dengan baik meskipun ada unsur keberuntungan.”

“Kalian terdiri dari orang-orang berilmu tinggi” jawab Ki Warana.

“Nah, sekarang, apakah yang akan kau katakan kepada kami?”

“Di padepokan kami telah datang dua orang utusan Panembahan Lebdagati.”

Ki Pandi mengerutkan dahinya. Sambil mengangguk-angguk ia pun kemudian berkata, “Jadi mereka telah benar-benar datang?”

“Ya, Ki Pandi.”

“Apa yang mereka katakan?” bertanya Ki Pandi.

“Panembahan Lebdagati menuntut agar apa yang dianggapnya haknya, supaya dikembalikan.”

“Apa yang dimaksud?”

“Daerah ini. Panembahan Lebdagati menuntut agar Kiai Banyu Bening meninggalkan lingkungan ini dan menyerahkan padepokannya kepada Penambahan Lebdagati yang akan menanamkan kembali pengaruhnya di daerah ini. Panembahan Lebdagati merasa bahwa tanah ini adalah tanahnya.”

“Apa jawab Kiai.Banyu Bening?”

“Tentu saja Kiai Banyu Bening tidak ingin menyerahkannya. Ia pun tidak akan meninggalkan tempat itu. Ketika Kiai Banyu Bening membangun padepokannya, maka Panembahan Lebdagati sudah tidak ada di tempat itu.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berkata, “Jika Kiai Banyu Bening bersungguh-sungguh ingin mempertahankan padepokannya, ia harus benar-benar mempersiapkan dirinya. Panembahan Lebdagati masih mendapat kepercayaan dari beberapa orang pemimpin padepokan yang melandasi ilmunya dengan kepercayaan-kepercayaan hitam yang akan dapat diajaknya bergerak.”

“Kiai Banyu Bening memang telah mulai mempersiapkan dirinya. Tetapi Kiai Banyu Bening tetap menganggap bahwa Panembahan Lebdagati yang mengirimkan utusannya itu bukan Panembahan Lebdagati yang sebenarnya.”

“Kau benar-benar tidak dapat, memperingatkannya?” bertanya Ki Pandi.

“Dalam keadaan yang demikian, Kiai Banyu Bening tidak dapat mendengarkan pendapat orang lain.”

“Bagaimana pendapat pembantu-pembantu Kiai Banyu Bening?”

“Sebagian besar dari mereka juga tidak percaya bahwa yang mengirimkan utusan itu adalah Panembahan Lebgadati.”

“Apakah Kiai Banyu Bening pernah mengenal wajah Panembahan Lebdagati?”

Ki Warana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, Aku tidak tahu, Ki Pandi. Tetapi menilik setiap pembicaraan mengenai Panembahan itu, nampaknya Kiai Banyu Bening pernah bertemu dan berbicara dengan Panembahan Lebdagati. Namun yang terang, Kiai Banyu Bening mengakui bahwa Panembahan Banyu Bening adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Namun sebagaimana dikatakannya, bahwa Kiai Banyu Bening telah siap menghadapinya, meskipun orang yang mengaku Panembahan Lebdagati itu memiliki ilmu setinggi Panembahan Lebdagati sendiri.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Meskipun aku belum pernah menjajagi kemampuan Kiai Banyu Bening, namun rasa-rasanya sulit bagi Kiai Banyu Bening untuk mengimbangi kemampuan Panembahan Lebdagati.”

Ki Warana mengerutkan dahinya. Dengan ragu ia berkata, “Tetapi Kiai Banyu Bening juga memiliki ilmu yang sangat tinggi.”

“Mudah-mudahan,” jawab Ki Pandi. Namun kemudian ia berkata, “Tetapi sebaiknya kau berhati-hati Ki Warana. Bukan maksudku untuk menghasutmu agar kau berkhianat terhadap Kiai Banyu Bening, tetapi nurani Ki Warana sendiri sudah memanggil, agar Ki Warana meninggalkan padepokan yang diwarnai oleh kepalsuan sikap pemimpinnya. Kiai Banyu Bening sama sekali tidak jujur dengan kepercayaan yang disebarkannya. Disinilah letak kelebihan Panembahan Lebdagati. Ia bersikap jujur terhadap kepercayaannya, meskipun kepercayaan itu adalah kepercayaan hitam yang harus dihapuskan. Karena itu. jika terjadi perang antara kedua padepokan yang sama-sama harus dimusnahkan itu, sebaiknya Ki Warana berusaha untuk melepaskan diri. Jika Ki Warana tidak bersiap-siap sejak semula, maka Ki Warana akan terjebak kedalam satu pertempuran yang akan mengikat Ki Warana.”

Ki Warana termangu-mangu. Memang sulit untuk melakukannya. Meskipun ia sendiri merasa tersiksa hatinya selama ia berada di padepokan itu, namun untuk begitu saja meninggalkan justru di saat yang gawat, rasa-rasanya Ki Warana itu tidak akan sampai hati. Seandainya ia tidak membela Kiai Banyu Bening, namun apakah ia akan dapat membiarkan kawan-kawannya yang setiap hari selalu berhubungan, digilas oleh kekuatan lain tanpa melibatkan dirinya?.

Ki Pandi melihat keragu-raguan ini. Karena itu, maka iapun berkata, “Ki Warana. Kekuatan dan kemampuan Ki Warana seorang diri tidak banyak berpengaruh. Namun keselamatan Ki Warana sangat berarti bagi Ki Warana sendiri. Bukan keselamatan kewadagan saja, tetapi juga keselamatan jiwa Ki Warana. Jika Ki Warana bertempur dipihak Kiai Banyu Bening, itu akan berarti bahwa Ki Warana telah ikut serta mempertahankan sesuatu yang tidak sesuai dengan nurani Ki Warana sendiri.”

“Tetapi Ki Pandi, seandainya Kiai Banyu Bening dikalahkan oleh Panembahan Lebdagati, apakah bukan berani bahwa kepercayaan hitam Panembahan Lebdagati akan berkembang lagi di daerah ini? Betapa jujurnya Panembahan Lebdagati terhadap kepercayaannya, namun kepercayaan itu sendiri adalah kepercayaan yang sesat. Bagi orang lain, justru akan menjadi lebih berbahaya karena orang yang menerima keyakinan itupun akan menjadi yakin dan mengakar. Tidak seperti orang-orang yang menerima kepercayaan yang sekedar pura-pura, sehingga bagi para pengikutnya pun kepercayaan itu hanya sekedar mengambang saja?”

“Bukankah sudah aku katakan, bahwa kepercayaan yang ditebarkan oleh Panembahan Lebdagati itu pun harus dimusnahkan?”

Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Ki Pandi.”

-oo0o0dw0o0oo-

Bersambung ke jilid 4

 

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 5 – Matahari Senja

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s