JDBK-04


<<kembali | lanjut >>

PAKSI yang menyadari keadaannya, tidak akan mengelak. Mulai hari itu, ia akan membuat sebuah gubuk yang akan ditempatinya selama ia menjalani laku, meningkatkan ilmunya sebagai bekal untuk mencari cincin bermata tiga butir batu akik. Ia pun sudah yakin bahwa orang yang menyebut dirinya Marta Brewok adalah salah satu dari orang-orang aneh yang sama sekali tidak berniat buruk terhadapnya.

Paksi itu pun kemudian mengucap syukur di dalam hatinya. Ia yang merasa terbuang dari keluarganya, telah menemukan keluarga baru meskipun kurang dapat dimengertinya, apakah yang sebenarnya mereka kehendaki.

Mulai hari itu, Paksi sudah bertekad untuk membuat gubuk untuk berteduh dan untuk melindungi dirinya dari binatang buas di malam hari, jika ia sedang tidur.

Tetapi pagi itu, setelah mandi dan berbenah diri, maka Paksi telah turun dari lereng Gunung Merapi untuk membeli alat-alat untuk dapur di pasar terdekat. Ia yakin bahwa di beberapa padukuhan itu tentu terdapat sebuah pasar yang menjual alat-alat dapur.

Paksi berniat untuk tidak mondar-mandir membeli makan jika ia lapar. Ia ingin menyediakan makannya dengan membuatnya sendiri.

Tetapi Paksi pun tidak ingin menarik perhatian, sehingga ada satu dua orang yang ingin tahu, dimana ia tinggal. Ia ingin merahasiakan tempat tinggalnya selama ia menjalani laku. Menurut pendapatnya, gumuk kecil itu memang jarang sekali disentuh kaki, meskipun ada sebuah jalan setapak yang melintas di dekatnya.

Karena itu, maka Paksi harus berhati-hati. Ia tidak dapat membeli semua keperluannya sekaligus meskipun ia mempunyai uang. Ia harus membeli sedikit demi sedikit. Bahkan jika mungkin di tempat yang berbeda.

Di hari pertama, Paksi telah membeli kebutuhan-kebutuhan terpentingnya. Bahkan beras, gula kelapa dan garam telah dibelinya pula.

Lewat tengah hari, Paksi mulai membabat batang ilalang. Batang ilalang itu akan dikeringkannya. Kemudian ilalang kering itu akan dibuatnya sebagai atap gubuknya kelak.

“Mudah-mudahan hujan tidak segera turun,” berkata Paksi di dalam hatinya. Tetapi apa pun yang terjadi, Paksi sudah siap untuk menghadapinya. Bahkan seandainya ia harus kehujanan sehari semalam.

Tetapi sebelum Paksi menyelesaikan gubuknya, ia telah menemukan sebuah lekuk yang agak dalam di dinding batu padas yang agak tinggi. Jika hujan turun, ia dapat berteduh di dalam lekuk yang agak dalam itu, meskipun mungkin tiris air akan menggapainya.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Marta Brewok, maka di tempat itu memang banyak terdapat ular. Ketika Paksi sedang menebas batang ilalang, maka kakinya telah menginjak seekor ular berleher merah seperti bara. Dengan marah ular itu mematuk tumit Paksi yang terkejut sambil meloncat.

Tetapi untunglah bahwa Paksi telah menelan obat penawar racun, sehingga ular yang terhitung berbisa itu tidak membunuhnya.

Di sore hari Paksi beristirahat. Ia sudah menyediakan berbagai macam alat dapur. Tetapi ketika ia akan menanak nasi, ia menjadi ragu-ragu. Asapnya akan dapat mengundang perhatian.

Karena itu, Paksi telah menunda niatnya. Ia menunggu malam menjadi gelap. Asapnya akan tersamar di dalam gelapnya malam, sedang api yang dinyalakannya akan terlindung oleh gumuk kecil dan batu-batu padas yang terdapat di sekitarnya.

Untunglah bahwa ketika ia turun ke pasar dan membeli barang-barang terpenting yang diperlukan, ia juga membeli beberapa potong makanan.

Hari itu, Paksi telah menggelar tebasan batang ilalang cukup banyak. Paksi memperkirakan batang ilalang itu cukup untuk dibuat atap gubuknya.

Ketika matahari kemudian turun menyusup di balik punggung gunung, Paksi telah berendam di aliran air yang tidak begitu deras. Sambil mandi Paksi telah mencuci pakaiannya yang penuh dengan gelugut alang-alang. Tetapi Paksi sudah membeli sepengadeg pakaian baru ketika ia turun ke pasar, sehingga Paksi sudah mempunyai ganti jika sepengadeg pakaian yang melekat di badannya itu dicuci dan dijemur.

Ketika kemudian malam turun, Paksi mulai menyalakan api. Dengan batu titikan dan sejumput ampul gelugul aren, Paksi membuat api.

Tetapi asap yang mengepul memang tidak lagi menarik perhatian. Selain untuk menanak nasi dan merebus air, api itu juga menghangatkan tubuh Paksi.

Sambil duduk di depan perapian, Paksi menunggu Ki Marta Brewok yang belum juga nampak batang hidungnya. Orang itu ternyata tidak sekedar pergi ke parit di sebelah. Tetapi ia telah pergi sehari penuh.

Namun ketika air mulai mendidih, Paksi terkejut. Ia mendengar langkah seseorang mendekat. Kemudian ia mendengar orang itu terbatuk-batuk kecil.

“Ki Marta Brewok,” berkata Paksi di dalam hatinya. Sebenarnyalah  orang yang datang itu  Ki Marta Brewok. Demikian ia berdiri beberapa langkah dari perapian itu, maka terdengar suaranya, “Apa yang sudah kau lakukan sehari ini?”

“Turun ke pasar.  Membeli beberapa peralatan terpenting. Persediaan bahan pangan dan lewat tengah hari membabat batang ilalang untuk dikeringkan.”

Ki Marta Brewok yang kemudian duduk di samping Paksi di depan perapian itu berkata, “Sesudah kau selesai, kita akan mulai berlatih.”

Paksi mengangguk kecil sambil menjawab, “Baik, Ki Marta.”

“Aku akan menunggu sampai nasimu masak. Setelah makan dan beristirahat sebentar, aku akan datang lagi.”

“Ki Marta akan pergi ke mana?”

“Aku akan melihat, apakah buah pisang di rum pun pisang di pinggir sungai itu sudah masak.”

Ki Marta Brewok tidak menunggu jawaban Paksi. Sejenak kemudian Ki Marta Brewok itu sudah hilang di dalam gelap.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia masih harus menunggu beberapa saat.

Ternyata Paksi juga dapat menanak nasi. Meskipun nasinya terlalu lemas karena Paksi memberi air terlalu banyak. Meskipun demikian, ketika nasi itu disenduk, asapnya membuat perut Paksi menjadi terasa lapar.

Sambil menunggu Ki Marta Brewok, Paksi pun kemudian makan nasi lemas dengan garam. Di dinginnya udara lereng gunung, nasi hangat dan garam itu terasa betapa nikmatnya.

Apalagi perut Paksi yang memang sedang lapar. Sehingga karena itu, maka Paksi pun makan agak terlalu banyak.

Tetapi sebelum Paksi selesai makan, Ki Marta Brewok pun telah datang sambil memanggul setandan pisang koja yang sebagian telah masak.

“Aku juga lapar,” berkata Ki Marta Brewok. Namun kemudian ia pun bertanya, “Kau makan dengan apa?”

“Garam,” jawab Paksi.

“Nasi dan garam kurang memenuhi kebutuhan tubuhmu. Kau akan berlatih dan mengerahkan tenaga cukup banyak. Lain kali kau dapat mencari ikan di sungai itu atau berburu ayam hutan atau berburu kijang di hutan itu.”

Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera dapat membayangkan dengan apa ia berburu ayam hutan atau bahkan kijang.

Ki Marta Brewok agaknya melihat kebimbangan di wajah Paksi. Karena itu, maka ia pun berkata, “Paksi. Di sisi padang perdu ini terdapat serum pun besar pring cendani. Kau dapat memilih batang-batang bambu yang lurus untuk membuat lembing. Kau dapat berlatih melontarkan lembing dengan baik. Berlatih membidik sasaran dan berlatih merunduk dengan diam-diam di saat kijang minum di tepian.”

Paksi mengangguk-angguk. Ternyata ia mempunyai banyak kegiatan yang dapat dilakukannya di siang hari di samping menyiapkan gubuknya.

Dalam pada itu, Ki Marta Brewok pun telah makan pula. Seperti Paksi ia pun makan nasi hanya dengan garam. Namun kemudian ia berkata, “Makanlah pisang itu. Buah-buahan seperti juga sayuran, sangat baik bagi perkembangan tubuhmu yang sedang tumbuh. Apalagi jika kita sudah mulai berlatih. Di pinggir hutan itu terdapat pepohonan yang daunnya dapat kau petik. Aku melihat beberapa batang pohon kates gerandel dan kates jingga. Aku juga melihat pohon melinjo yang dapat kau petik buahnya dan daunnya. Di tepian terhampar tanaman kangkung tanpa ada yang menanam. Kau dapat memetik seberapa kau butuhkan.”

Paksi mengangguk-angguk. Ternyata di sekitarnya banyak bahan yang dapat dimakannya serta memenuhi kebutuhan tubuhnya.

Demikianlah, setelah mereka beristirahat sesudah makan, maka Ki Marta Brewok pun berkata, “Marilah. Kita bersiap-siap untuk berlatih. Kita baru akan memanaskan tubuh kita dan mencoba untuk mencari jalan terbaik agar tidak terjadi pertentangan di dalam tubuhmu, karena pada dasarnya kau sudah mempunyai kemampuan olah kanuragan.”

Paksi mengangguk kecil. Katanya, “Aku sudah siap, Ki Marta.”

“Simpanlah nasimu yang tersisa. Mungkin besok pagi-pagi kau merasa lapar.”

“Besok di dini hari aku akan menanak lagi untuk makan di siang hari,” jawab Paksi.

Ki Marta Brewok tersenyum. Katanya, “Kau tidak mau membuat perapian di siang hari?”

Paksi pun mengangguk kecil.

“Jangan pernah melupakan menelan obat yang aku berikan untuk menawarkan racun,” berkata Ki Marta Brewok.

“Ya, Ki Marta. Aku memang sudah dipatuk ular hari ini.”

“Nah, karena itu berhati-hatilah.”

Demikianlah, beberapa saat kemudian, Ki Marta Brewok telah mengajak Paksi untuk berlatih. Mereka berdiri di tempat terbuka. Di bawah silirnya angin pegunungan di malam hari, serta dinginnya udara yang basah.

Beberapa saat lamanya, keduanya memanaskan tubuh mereka dengan gerakan-gerakan yang ringan. Semakin lama semakin cepat, sehingga terasa darah mereka menjadi hangat.

Seperti yang dikatakan, maka Ki Marta Brewok tidak langsung menuntun Paksi mengikuti ajaran-ajaran baru menurut cara Ki Marta Brewok. Ki Marta Brewok masih ingin melihat landasan yang sudah terbentuk di dalam diri Paksi, sehingga tidak akan terjadi saling menarik atau saling mendesak di dalam tubuh anak muda itu, jika Ki Marta Brewok kemudian memberikan tuntunan olah kanuragan.

Nampaknya Ki Marta Brewok cukup berhati-hati. Paksi yang akan mengemban tugas yang penting itu, agaknya benar-benar dipersiapkannya dengan sungguh-sungguh.

Malam itu belum banyak yang dilakukan oleh Paksi. Ki Marta Brewok minta agar Paksi menunjukkan unsur-unsur gerak yang dikuasainya. Sejauh diingatnya, Paksi diminta untuk menunjukkan urut-urutan latihan-latihan yang pernah dilakukan, dari unsur gerak yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.

“Baiklah,” berkala Ki Marta Brewok. “Aku sudah melihat apa yang sudah kau kuasai. Aku juga sudah melihat bagaimana kau sendiri mengetrapkan dalam benturan kekuatan, kemampuan dan ilmu karena kita pernah bertempur. Perkembangan ilmumu nampaknya berlangsung dengan cepat. Ada semacam pengaruh yang tidak kau sadari nampak dalam kemampuan olah kanuragan yang kau kuasai.”

Paksi tidak menjawab. Tetapi sekilas terbayang kembali orang yang mengaku pengikut Kebo Lorog yang tiba-tiba saja telah menyerangnya dan bertempur beberapa lama, sehingga akhirnya orang itu melarikan diri.

“Orang itu memberikan kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas bagi perkembangan ilmuku,” berkata Paksi di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, Ki Marta Brewok pun berkata, “Baiklah anak muda. Malam ini kita masih belum berbuat banyak. Aku kira apa yang kita lakukan malam ini sudah cukup. Beristirahatlah dengan baik. Kau tentu letih. Nampaknya pagi tadi kau harus hilir-mudik membeli kebutuhan terpenting. Kemudian membuat perapian dan menebas ilalang, menggelarnya di panas matahari. Kemudian kau mulai berlatih.”

Paksi mengangguk kecil. Ia memang merasa letih. Tetapi seandainya Ki Marta Brewok masih menghendakinya untuk berlatih terus, maka Paksi pun tidak berkeberatan.

Namun Paksi pun kemudian menghentikan kegiatannya pada malam itu.

Paksi pun kemudian beristirahat beberapa lama untuk mengeringkan keringatnya. Namun dalam pada itu, sambil menunggu keringatnya kering, maka Ki Marta Brewok telah memberikan beberapa petunjuk bagi masa depan Paksi yang masih sangat muda itu.

“Umurnya telah menginjak tujuh belas,” terngiang suara ayahnya memerintahkannya keluar dari rumah untuk mencari cincin bermata tiga butir batu akik.

Waktu itu ibunya berkata, “Kau sengaja mengusirnya.”

Paksi menarik nafas panjang. Waktu itu Paksi sendiri memang meragukan. Apakah yang dikatakan oleh ayahnya itu bukan sekedar cerita ngaya-wara sebagai alasan untuk mengusirnya sebagaimana dikatakan oleh ibunya.

Ternyata yang sedang memburu cincin bermata tiga butir batu akik itu bukan hanya ayahnya saja. Beberapa orang telah menyebut-nyebutnya pula.

Dalam pada itu, Ki Marta Brewok pun berkata, “Paksi. Ternyata bahwa berita tentang hilangnya cincin dari istana itu sudah didengar oleh banyak orang. Ketika kau mengatakan bahwa kau akan mengembalikan cincin itu kepada orang yang lebih berhak, maka aku menduga, bahwa kau termasuk salah seorang dari mereka yang memburu cincin itu. Mungkin bukan terdorong oleh kemauanmu sendiri, karena aku tidak yakin, bahwa kau sudah memerlukannya. Tetapi atas dasar alasan apapun, kau termasuk di antara orang-orang yang mencarinya.”

Paksi menundukkan kepalanya. Semilir angin malam di pegunungan membuat kulitnya meremang. Dinginnya malam bagaikan menusuk sampai ke tulang.

Ki Marta Brewok itu pun kemudian berkata selanjutnya, “Paksi. Sebenarnya kau masih terlalu muda untuk terjun dalam arena perburuan cincin itu. Tetapi bukan berarti bahwa kau harus mengundurkan diri. Lakukan jika kau memang sudah mantap untuk melakukan. Tetapi kerja itu bukan sekedar main-main.”

“Bukankah Ki Marta Brewok juga membutuhkan cincin itu meskipun hanya untuk tiga hari?” Paksi sengaja meyakinkan dirinya bahwa Ki Marta Brewok sebenarnya tidak bermaksud jahat terhadapnya. Justru sebaliknya.

Ki Marta Brewok mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun tertawa. Katanya, “Kau memang cerdik. Tetapi biarlah aku menjawab, bahwa aku membutuhkan cincin itu selama tiga hari agar aku tidak perlu menanam tubuhmu di bawah bangunan utama padepokan yang akan didirikan itu.”

Paksi menarik nafas panjang.

“Sudahlah,” berkata Ki Marta Brewok. “Tidurlah. Kau masih mempunyai banyak kerja besok. Siang dan malam. Karena besok malam kita akan benar-benar mulai agar waktumu tidak banyak terbuang. Mudah-mudahan cincin itu belum jatuh ke tangan orang-orang yang berniat buruk, sehingga akan dapat mempunyai nilai yang lain.”

Paksi mengangguk-angguk pula. Paksi mengerti, bahwa di tangan orang-orang yang berniat jahat, maka cincin itu akan dapat diperjual-belikan dengan harga yang sangat mahal. Tetapi juga akan dapat menjadi rebutan dan menimbulkan banyak korban. Sementara itu, dari istana Pajang pun telah menyebar beberapa orang yang mencari cincin itu termasuk dirinya.

Namun Paksi pun kemudian dapat mengambil kesan pula, bahwa perintah ayahnya kepadanya untuk mencari cincin itu memang mempunyai arti yang rangkap. Ayahnya memang sengaja mengusirnya sebagaimana dikatakan oleh ibunya, tetapi ayahnya juga masih dapat berharap, Paksi akan dapat menemukan, setidak-tidaknya memberikan keterangan tentang cincin itu. Tetapi seandainya tidak, maka maksudnya yang pertama sudah terlaksana.

Paksi sendiri tidak mengetahui, kenapa bagi ayahnya, kehadirannya di rumah tidak sebagaimana kehadiran adik-adiknya.

Tetapi Paksi tidak ingin merenunginya terlalu lama. Ki Marta Brewok telah berkata pula, “Tidurlah. Aku akan tidur pula. Tetapi aku tidak akan tidur disini.”

Ki Marta Brewok tidak menunggu jawaban Paksi. Sejenak kemudian orang itu telah hilang di dalam kegelapan.

Paksi yang memang merasa letih itu pun kemudian telah berbaring pula. Malam memang terasa dingin. Tetapi Paksi tidak ingin membuat perapian lagi. Diselimutinya tubuhnya dengan kain panjangnya sampai ke telinga.

Pagi-pagi sekali Paksi sudah bangun. Ketika gelap malam masih tersisa, Paksi menyalakan api dan menanak nasi.

Kemudian, dibenahinya dirinya menjelang matahari yang mulai membayangkan cahayanya di langit.

Sejak Paksi bangun dari tidurnya, ia sudah tidak lagi melihat Ki Marta Brewok. Nampaknya Ki Marta Brewok tidak singgah lagi di tempat. Paksi akan membuat gubuknya. Paksi mulai mengerti bahwa Ki Marta Brewok tidak mau menemuinya di siang hari.

“Tentu ada sebabnya,” berkata Paksi di dalam hatinya.

Pagi itu Paksi harus turun lagi untuk membeli kebutuhan-kebutuhannya, terutama untuk melengkapi alat dapurnya serta bahan pangan. Tetapi seperti hari sebelumnya, Paksi berusaha untuk tidak menarik perhatian orang lain. Karena itu, maka ia tidak membeli semua kebutuhannya sekaligus, dan bahkan di tempat yang berbeda-beda.

Hari itu, Paksi mulai menebang beberapa batang pohon yang diperlukan. Paksi tidak menebang pohon-pohon besar. Tetapi ia memilih pohon-pohon kecil yang batangnya lurus untuk membuat tiang-tiang gubuknya. Sementara itu, dahan dan ranting-rantingnya dapat dikeringkan untuk dijadikan kayu bakar.

Ternyata Paksi merasa lebih mantap membuat gubuk dengan tiang-tiang kayu daripada bambu. Meskipun demikian, Paksi kemudian juga telah memotong beberapa puluh batang bambu. Dibelahnya batang-batang bambu itu untuk membuat dinding gubuknya. Belahan-belahan bambu itu kelak akan ditatanya berjajar tegak pada tulang-tulang gubuknya.

Paksi tidak tergesa-gesa mendirikan gubuknya. Ia menunggu kayu dan bambu-bambu itu agak kering. Sementara itu, Paksi menyiapkan tali-tali bambu untuk mengikat tulang-tulang gubuknya itu.

Demikianlah, dari hari ke hari, Paksi telah bekerja keras. Sementara itu, di malam hari, Ki Merta Brewok tiba-tiba saja telah muncul. Ikut makan nasi hangat dan kemudian melakukan latihan-latihan yang semakin lama menjadi semakin berat.

Tetapi Paksi sama sekali tidak merasa akan kekuatan yang saling mendesak dan mendorong di dalam dirinya. Yang dipelajarinya dari Ki Marta Brewok justru dapat mengangkat dan mengembangkan ilmu yang pernah diwarisinya dari gurunya. Bahkan beberapa landasan ilmunya menunjukkan sumber yang senafas dengan ilmu yang telah dikuasainya.

Kecurigaan Paksi pun menjadi semakin meningkat, bahwa sebenarnya Ki Marta Brewok itu juga orang yang pernah menyerangnya dan mengaku anak buah Kebo Lorog itu.

Namun Paksi memang tidak ingin memaksakan pendapatnya itu untuk mendapatkan pengakuan Ki Marta Brewok. Baginya hal itu tidak akan ada gunanya. Bahkan jika Ki Marta Brewok menjadi kecewa, maka hal itu akan dapat merugikannya.

Dari hari ke hari maka latihan-latihan pun menjadi semakin rumit. Sementara itu di siang hari, Paksi sudah mulai mendirikan gubuknya. Ia harus menanam tiang-tiang kayunya. Kemudian memasang belandar dan pengeretnya. Diikatnya itu dengan tali bambu.

Tetapi ketika kemudian Paksi menemukan beberapa batang pohon kelapa yang tumbuh di pinggir sungai tanpa ada pemiliknya, maka Paksi mulai membuat tali-tali serabut kelapa. Sedangkan kelapanya telah dipergunakannya untuk memasak sayur-sayuran sejauh dapat dilakukan. Bahkan Paksi pun telah membuat santan untuk membuat minuman sebagaimana dawet yang pernah dibelinya di pasar, meskipun tanpa cendol. Namun pada kesempatan lain, Paksi telah membeli cendol dan membuat dawet sendiri.

Ketika Ki Marta Brewok yang berkeringat setelah latihan yang keras di malam hari disuguhi dawet cendol, maka Ki Marta Brewok itu pun berteriak, “He, darimana kau dapatkan dawet cendol seperti ini?”

“Aku membuat sendiri, Ki Marta.”

“Ah bohong. Bagaimana mungkin kau dapat membuat dawet cendol?”

“Aku hanya membeli cendolnya dan gula kelapa. Kemudian aku buat sendiri juruh gula kelapa. Aku buat santan dan aku panasi sampai mendidih. Kemudian aku masukkan cendol ke dalamnya.”

“Dari siapa kau belajar?” desak Ki Marta Brewok.

“Jika aku membeli kebutuhan sehari-hari di pasar, aku memperhatikan bagaimana orang membuat dawet cendol. Tetapi aku tidak tahu bagaimana membuat cendol itu.”

Ki Marta Brewok tertawa. Katanya, “Bagus. Dawet itu membuat tubuhku menjadi segar.”

Sebenarnyalah bahwa banyak hal yang membuat nalar Paksi berkembang. Ia pun ingin membuat gula kelapa sendiri karena ia pernah mendengar serba sedikit tentang orang membuat gula kelapa, mulai dan nderes dengan bumbung bambu hingga memanasi legen yang disadapnya dari mayang pohon kelapa itu.

Ternyata Ki Marta Brewok mendorongnya untuk melakukannya. Bahkan ia memberikan beberapa petunjuk kepada Paksi, bagaimana ia menyadap legen, dan bagaimana ia memanasinya hingga menjadi gula kelapa dan kemudian dicetak dengan tempurung kelapa pula.

Sebenarnyalah bahwa Paksi menjadi seorang yang memiliki berbagai macam kepandaian selain peningkatan kemampuan olah kanuragan.

Demikianlah maka kerja Paksi pun menjadi semakin berat. Ketika gubuknya sudah berdiri, ia merasa bahwa kerja akan berkurang. Di siang hari ia dapat beristirahat untuk memusatkan tenaganya dalam latihan-latihan di malam hari.

Namun ternyata tidak. Di siang hari ada saja kesibukannya. Ki Marta Brewok menuntut agar Paksi memiliki kemampuan mempergunakan senjata lontar, sehingga Paksi pun harus berlatih sendiri mempergunakan anak panah dengan busurnya, serta lembing.

Dengan sedikit pengetahuan dasar serta petunjuk-petunjuk Ki Marta Brewok, Paksi mempertajam kemampuan bidiknya. Ia membuat orang-orangan yang dipergunakan sebagai sasaran anak panahnya. Namun kemudian ia mulai membidik apa saja.

Pangkal ranting-ranting pepohonan. Batang perdu dan lekuk-lekuk batu padas.

Ketika kemampuan bidiknya menjadi semakin meningkat, maka Paksi mulai membidik sasaran yang bergerak. Bukan saja dengan anak panah, tetapi juga dengan lembing yang dibuatnya dari pring cendani.

Busur, anak panah dan lembing Paksi sangat sederhana karena dibuatnya sendiri. Tetapi dengan alat-alat yang sederhana itu Paksi benar-benar telah meningkatkan kemampuannya. Dengan anak panah dan busurnya, Paksi telah mampu mengenai sasaran yang bergerak.

Untuk membuat anak panah dan lembing, Paksi memang harus membeli bedor besi pada pande-pande besi. Tetapi untuk tidak menarik perhatian, maka Paksi tidak membelinya di satu tempat, sebagaimana ia membeli alat-alat dapur serta bahan-bahan pangannya. Setiap kali ia berpindah tempat meskipun pada suatu saat ia kembali lagi kepada orang yang pertama. Tetapi waktu putaran itu membuat para penjualnya tidak lagi mengingatnya.

Dengan demikian, maka di lereng gunung itu Paksi benar-benar telah menempa diri. Ki Marta Brewok yang datang hanya setiap malam itu, tidak lagi menjadi persoalan baginya. Kapan pun ia datang, bagi Paksi tidak ada lagi bedanya.

Dengan laku yang berat, Paksi memang telah meningkatkan ilmunya. Tidak hanya beberapa hari, tetapi ternyata ia memerlukan waktu beberapa bulan. Meskipun semula Ki Marta Brewok itu memberinya ancar-ancar waktu enam bulan untuk mencari cincin bermata tiga butir batu akik itu, ternyata waktu yang enam bulan itu telah dihabiskannya di lereng gunung itu.

Paksi yang kemudian seakan-akan hidup sendiri itu, justru telah memiliki berbagai macam kemampuan sehingga ia benar-benar mampu untuk mandiri. Di hutan perdu, Paksi telah membuat semacam ladang yang tidak terlalu luas. Ia telah menanam ketela pohon dan jagung. Setiap pagi, Paksi memanjat beberapa batang pohon kelapa yang tumbuh di pinggir sungai untuk menyadap legennya dan membuatnya menjadi gula. Ternyata gula itu dapat mencukupi kebutuhannya sendiri. Kangkung yang semula tumbuh liar di pinggir sungai telah dirawatnya dengan baik. Sedangkan pada pagar kebun jagungnya, Paksi menanam kacang panjang yang batangnya merambat pada pagar itu sebagai lanjaran.

Bulan keenam pun akhirnya telah dilampauinya. Sementara itu, dengan laku yang berat, ilmu Paksi pun telah meningkat dengan cepat. Selain mengembangkan ilmu yang pernah diwarisinya dari gurunya, ternyata Paksi juga mampu membuat wawasan yang lebih luas tentang olah kanuragan. Ia tidak lagi mengandalkan kekuatan wadag wantahnya. Tetapi Paksi pun telah merambah ke tenaga dalamnya. Dengan latihan-latihan yang bersungguh-sungguh dan teratur, Paksi benar-benar menguasai bagian-bagian dari tubuhnya dengan baik, serta menguasai pula kekuatan-kekuatan yang tersimpan di dalamnya. Dengan mengatur pernafasan serta pemusatan nalar budi dan keweningan hati, maka Paksi dapat mencapai keseimbangan pengendalian lahir dan batinnya pada saat-saat yang dikehendaki meskipun Paksi sedang dalam keadaan apapun.

Ki Marta Brewok telah memperkenalkan Paksi dengan getar kekuatan bumi, air, api dan angin yang ada di dalam dirinya, yang dapat diungkapkannya dengan laku yang khusus.

Untuk itu diperlukan latihan-latihan yang berat dan pengenalan yang lebih mendalam.

Dalam waktu yang terhitung singkat, menjelang bulan ke sepuluh, maka Paksi sudah menjadi seorang anak muda yang lain. Ia menjadi jauh lebih dewasa. Bukan saja dalam ilmu kanuragan, tetapi Paksi benar benar telah mampu hidup mandiri.

Kegiatan Paksi sehari-hari semakin berkembang. Ia sudah memetik hasil tanamannya beberapa kali. Beberapa batang pohon kelapa di pinggir sungai dipeliharanya baik-baik. Setiap kali Paksi telah membersihkan batang-batang kelapa itu dari tapas dan pangkal daun yang sudah mengering. Dengan demikian, maka pohon kelapa yang berjajar di pinggir sungai itu buahnya menjadi semakin lebat. Sedangkan beberapa batang yang diambil legennya, memberikan legen yang lebih banyak pula.

Tubuh Paksi pun berkembang dengan baik. Kaki dan tangannya menjadi kokoh dan kuat. Latihan-latihan yang teratur siang dan malam, membuat Paksi menjadi seorang yang jarang ada bandingnya.

Namun perkembangan itu tidak terlepas dari usaha yang sungguh-sungguh yang dilakukan oleh Ki Marta Brewok. Dengan keras Ki Marta Brewok berusaha menempa agar Paksi benar-benar menjadi seorang anak muda pilihan.

Meskipun Ki Marta Brewok hanya hadir di malam hari, tetapi Paksi tidak pernah mempersoalkannya lagi. Ia tahu benar, bahwa Ki Marta Brewok telah berbuat yang terbaik baginya.

“Jika sampai saatnya, rahasia itu tentu akan terungkap dengan sendirinya,” berkata paksi di dalam hatinya.

Paksi memang tidak ingin rahasia kehadiran Ki Marta Brewok yang hanya pada malam hari itu menjadi hambatan. Setiap kali petunjuk-petunjuk dan nasehat-nasehat Ki Marta Brewok tidak menyangsikannya, bahwa tersembunyi niat buruk di balik sikap Ki Marta Brewok.

Dengan demikian, maka peningkatan ilmu Paksi itu pun berjalan dengan cepat, teratur dan sesuai dengan rencana yang dibuat oleh Ki Marta Brewok, justru karena tidak terasa ada hambatan di kedua belah pihak. Paksi dan Ki Marta Brewok nampaknya telah mencurahkan kepercayaan masing-masing sesuai dengan kedudukan mereka, sehingga dengan kepercayaan yang penuh itu, maka segala pintu pun telah terbuka. Masing-masing dapat melihat ke luar dan ke dalam tanpa tirai betapa pun tipisnya.

Meskipun demikian, sekali-sekali jantung Paksi masih juga digelitik oleh tugas yang dibebankan kepadanya oleh ayahnya untuk menemukan cincin bermata tiga butir batu akik itu. Bahkan Ki Marta Brewok juga pernah mengatakan kepadanya, agar ia mencari cincin itu. Apakah benar-benar Ki Marta Brewok memerlukan cincin itu atau sekedar sebagai cambuk terhadap usahanya, namun Ki Marta Brewok pernah mendorongnya untuk menemukan cincin itu.

Tetapi Paksi tidak pernah mengatakannya kepada Ki Marta Brewok. Paksi yakin, bahwa Ki Marta Brewok tidak melupakan tugas yang dipikulnya. Karena itu, jika Ki Marta Brewok masih belum mengatakan kepadanya tentang cincin itu, Paksi berniat untuk tetap berdiam diri.

“Seandainya Ki Marta Brewok sengaja menahan aku disini agar aku tidak terlibat dalam perburuan cincin itu, aku tidak akan menyesal,” berkata Paksi di dalam hatinya. “Disini aku sudah mendapatkan sesuatu yang sangat berharga.”

Namun seakan-akan Ki Marta Brewok mengetahui isi hati Paksi tentang cincin itu. Karena itu, ketika pedut yang tebal menyelimuti lereng gunung itu di malam hari, Ki Marta Brewok yang sedang beristirahat sambil meneguk wedang sere yang hangat berkata, “Kita hentikan latihan malam ini. Kita sudah cukup banyak memeras keringat. Sementara itu kabut menjadi semakin tebal. Sebenarnya saat-saat seperti ini merupakan saat yang baik untuk melatih ketajaman penglihatan dan panggraita, tetapi kau sudah sering melakukannya dan kesempatan untuk melakukannya masih banyak. Besok atau lusa, ampak-ampak akan turun lagi, sehingga dengan penglihatan mata kewadagan, kita tidak dapat melihat telapak tangan di depan hidung kita sendiri.”

Paksi mengangguk kecil. Segala sesuatunya memang terserah kepada Ki Marta Brewok.

Sambil duduk dan menghirup minuman hangatnya, tiba-tiba saja Ki Marta Brewok itu berkata, “Menurut perhitunganmu, kau sudah tinggal berapa lama disini, Paksi?”

Paksi mengerutkan dahinya. Kemudian jawabnya, “Sampai saat ini sudah memasuki bulan ke sebelas, Ki Marta.”

Ki Marta Brewok mengangguk-angguk. Katanya, “Kau sudah tertahan lebih dari sebelas bulan. Tetapi menurut pendapatku, tidak akan banyak mengganggu. Sampai saat ini, cincin itu masih belum diketemukan. Sementara itu, kau sudah menambah bekal bagi tugas beratmu itu. Bahkan aku minta kau bersabar untuk satu dua bulan lagi, sehingga kau genap setahun berada disini. Apakah kau berkeberatan?”

“Sama sekali tidak,” jawab Paksi. “Sampai kapan  pun aku tidak berkeberatan. Apalagi jika cincin itu memang belum diketemukan oleh siapapun, sehingga aku masih berkesempatan untuk meneruskan tugas itu.”

“Baiklah. Jika demikian, kita akan berlatih terus di malam-malam mendatang. Di saat langit terang, di saat hujan lebat dan di saat lereng ini disaput oleh kabut yang tebal.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku siap melakukan apa saja, Ki Marta.”

“Bagus. Aku memang yakin, bahwa kau akan bersedia melakukannya.”

Paksi mengangguk-angguk kecil. Sementara itu, Ki Marta Brewok berkata, “Tetapi Paksi, sebaiknya kau tidak terlalu mengurung diri di gubukmu ini. Di siang hari kau dapat turun dan melihat-lihat padukuhan dan kademangan di kaki gunung ini, sehingga kau tidak sangat jauh terpisah dari kehidupan orang banyak, meskipun kau harus tetap menjaga rahasia tempat tinggalmu.”

“Aku juga sering turun ke padukuhan Ki Marta.”

“Tetapi kau tentu langsung pergi ke pasar, membeli kebutuhan-kebutuhanmu, lalu kembali naik.”

Paksi mengangguk.

“Namun dengan landasan sikap jiwani yang telah mapan, kau tanggapi kehidupan yang lebih luas. Kau jangan menjadi kecewa bahwa ternyata di dalam kehidupan yang luas, tidak semuanya berjalan sebagaimana kau inginkan. Kau pun tidak usah kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri, jika pada satu saat kau temui perilaku dan sikap orang-orang yang tidak sejalan dengan pola pikiranmu, sementara kau tidak kuasa untuk merubahnya. Dalam keadaan apa pun kau harus tetap berpegang pada landasan pola pikir yang dewasa, sehingga kau tidak terombang-ambing oleh pusaran kehidupan di sekelilingmu.”

Paksi mengangguk-angguk.

“Kesempatan untuk mengabdi masih cukup panjang. Landasi pengabdianmu dengan penuh kesadaran atas Sumber Hidupmu.”

Paksi meresapkan pesan Ki Marta Brewok itu di dalam hatinya, ia bukan saja sekedar menganggukkan kepalanya. Tetapi kata-kata itu bagaikan terpahat di dalam hatinya.

Itulah sebabnya, maka Paksi menjadi semakin dekat dengan Ki Marta Brewok. Bahkan Paksi seakan-akan telah melupakan bahwa di rumah ia mempunyai seorang ayah.

“Nah, sekarang tidurlah. Besok pagi-pagi kau sempat bangun dan menanak nasi sebelum terang, agar asap perapianmu tidak menarik perhatian orang,” berkata Ki Marta Brewok. Namun katanya kemudian, “Tetapi Paksi, sekarang kedudukanmu sudah lain dari kedudukanmu saat kau datang. Seandainya ada orang yang mengetahui bahwa kau tinggal disini, kau tidak usah terlalu cemas. Aku dapat mengatakan kepada mereka, bahwa kau sudah lama tinggal di tempat ini. Untuk itu kau dapat membuktikannya. Kau dapat menunjukkan ladang jagungmu, ladang ketela pohonmu, kebun pisangmu dan beberapa pohon kelapa yang berderet di pinggir sungai itu. Tidak seorang pun dapat mengatakan bahwa gubukmu ini baru kemarin kau buat. Sehingga dengan demikian, maka orang-orang yang pada suatu saat menemukan kau disini, akan mengakui bahwa kau memang berhak tinggal disini.”

Paksi mengangguk-angguk. Ia mengerti hubungan keterangan Ki Marta Brewok itu dengan anjurannya untuk memasuki kembali pergaulan yang luas. Meskipun demikian, sejauh mungkin Paksi masih akan merahasiakan tempat tinggalnya.

Malam itu, Paksi tidak lagi turun ke sanggar terbukanya. Paksi tidak lagi melanjutkan latihan-latihannya. Nampaknya Ki

Marta Brewok ingin menyempatkan diri berbicara dengan Paksi.

Namun setelah menghabiskan minumannya semangkuk penuh, Ki Marta Brewok itu pun berkata, “Sudahlah. Aku ada pekerjaan lain. Besok malam aku akan datang lagi. Besok, jika masih ada kabut, kau dapat mengasah ketajaman penglihatan dan panggraitamu meskipun menurut pendapatku, bekalmu sudah cukup memadai.”

Paksi mengangguk sambil menjawab, “Baik, Ki Marta. Besok aku menunggu kehadiran Ki Marta. Sementara itu, mulai besok aku akan mencoba untuk memasuki pergaulan yang lebih luas, meskipun rasa-rasanya tentu akan canggung.”

“Mula-mula tentu Paksi. Tetapi kemudian kau akan berada di dalam satu suasana yang wajar. Tetapi sekali lagi aku peringatkan bahwa yang terjadi di sebuah pergaulan yang luas, tidak semuanya berlangsung sebagaimana kau inginkan. Betapa pun jantungmu bergejolak, namun kau harus menerima kenyataan itu. Meskipun demikian, kau bukan sampah yang akan hanyut dilanda arus yang keruh itu. Tetapi kau harus menjadi pilar yang dapat menjadi tempat bertaut dari yang hanyut itu.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Pesan Ki Marta Brewok itu akan menjadi beban baginya. Tetapi ia sudah berjanji di dalam dirinya untuk melakukannya sejauh kemampuannya.

Sejenak kemudian, maka Ki Marta Brewok pun telah meninggalkan gubuk Paksi yang berada di tepi hutan di lereng gunung, dilingkungi batu-batu padas.

Sepeninggal Ki Marta Brewok, Paksi masih duduk merenung di dalam gubuknya yang hangat karena perapiannya. Namun kemudian, Paksi pun menyelarak pintu gubuknya dan membaringkan dirinya di atas ketepe, anyaman daun kelapa.

Diselubunginya tubuhnya dengan kain panjangnya. Udara mulai terasa dingin ketika apinya kemudian padam.

Dari gubuknya Paksi mendengar aum harimau di hutan yang lebat di lereng gunung itu. Tetapi harimau itu tidak pernah datang ke gubuknya.

“Tetapi jika harimau itu kelaparan karena gagal memburu mangsanya, entahlah,” berkata Paksi di dalam dirinya.

Tetapi Paksi percaya bahwa gubuknya cukup kuat untuk menahan agar seekor harimau tidak dengan mudah dapat masuk ke dalamnya. Setidak-tidaknya jika seekor harimau berusaha untuk masuk ke dalamnya, Paksi tentu sudah terbangun karenanya.

Di luar sadarnya, Paksi memandang lembingnya yang disandarkannya di dinding gubuknya itu. Kemudian busur dan anak panahnya. Semuanya sederhana karena dibuatnya sendiri dari bambu dan bedor besi yang dibelinya pada pande-pande besi. Tetapi baginya sudah cukup memadai.

Beberapa saat kemudian, maka Paksi pun telah tertidur nyenyak. Ia bermimpi bertemu dengan ibunya yang tersenyum kepadanya sambil berkata, “Kau harus menjadi anak yang baik, Paksi. Kau adalah anak sulung. Kau akan menjadi panutan adik-adikmu.”

Paksi tersenyum di dalam mimpinya. Ia mencium tangan ibunya sambil berkata, “Aku mohon restu, Ibu. Perjalananku masih jauh.”

“Berjalanlah anakku. Ibu selalu menunggumu.”

Ketika Paksi terbangun, maka ia pun kemudian duduk memeluk lututnya, tetapi ia tidak menjadi cemas akan ibunya. Ia melihat wajah ibunya yang cerah.

“Mudah-mudahan hati Ibu secerah wajahnya yang aku lihat di dalam mimpi,” desis Paksi yang kembali membaringkan dirinya.

Sebelum matahari terbit, Paksi sudah bangun. Seperti biasanya ia membenahi dirinya. Bukan hanya kewadagannya.

Baru kemudian ia mulai menyalakan api selagi sisa-sisa malam masih gelap. Merebus air dan menanak nasi. Paksi masih mempunyai sisa lauk yang dimasaknya kemarin ketika ia berhasil mendapatkan seekor kijang dalam sebuah perburuan yang melelahkan.

Demikian matahari terbit, maka dengan membawa beberapa buah bumbung, Paksi telah memanjat beberapa batang pohon kelapa. Bukan saja untuk mendapatkan legen, tetapi dengan memanjat beberapa batang pohon kelapa, ia sudah menggerakkan tangan dan kakinya. Sehingga peluhnya mengembun di punggungnya.

Setelah selesai mengambil bumbung dan memasangnya yang baru pada mayang pohon kelapa, maka Paksi pun segera membersihkan halaman gubuknya. Baru kemudian Paksi pergi untuk mandi di sungai sekaligus mencuci pakaiannya yang kotor. Paksi tidak lagi harus berendam di dalam air sambil menunggu pakaiannya kering. Tetapi ia sudah mempunyai pakaian rangkap, sehingga ia dapat membawa pakaiannya yang basah itu pulang dan menjemurnya di sebelah gubuknya.

Seperti biasanya dilakukan, maka Paksi pun kemudian telah melakukan latihan-latihan kecil penguasaan tubuhnya. Tidak terlalu lama.

Ketika matahari naik semakin tinggi, maka Paksi tidak segera pergi ke sanggar terbukanya untuk melakukan latihan-latihan yang lebih berat. Tetapi Paksi berniat untuk turun dan memenuhi pesan Ki Marta Brewok. Ia harus mengenali kehidupan dari banyak sisi meskipun ia akan menemui dan melihat banyak hal yang akan dapat mengecewakannya.

Karena itu, maka Paksi pun justru telah merapikan pakaiannya.

Sebelumnya Paksi juga sudah sering turun untuk pergi ke pasar. Tetapi yang dilakukan tidak lebih dari sekedar membeli kebutuhan-kebutuhannya. Ia tidak pernah memperhatikan sisi yang lain daripada sekedar membeli dari para penjualnya. Bahkan sedikit menyembunyikan wajahnya dengan setiap kali menunduk.

Orang-orang di pasar itu memang tidak pernah tertarik untuk memperhatikannya sebagaimana ia juga tidak pernah memperhatikan secara khusus orang-orang yang ada di pasar itu.

Tetapi hari itu, Paksi akan berbuat lain. Ia akan memperhatikan satu kehidupan yang terjadi di pasar dan sekitarnya. Mungkin hari itu ia tidak melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Tetapi itu tidak apa-apa. Ia memang tidak dipesan untuk mencari-cari sisi kehidupan yang dianggapnya tidak wajar, tetapi ia justru akan melihat kehidupan seutuhnya sebagaimana yang terjadi sehari-hari.

Paksi pun berjalan menuruni lereng pegunungan. Langkahnya ringan di bawah sinar matahari pagi yang cerah. Masih terdengar burung-burung berkicau di pepohonan sebagaimana selalu didengarnya setiap pagi.

Jalan yang dilewati Paksi adalah jalan setapak yang menurun. Setelah beberapa lama ia berjalan, Paksi masih belum berpapasan dengan seorangpun. Namun ia sudah berada di bulak persawahan. Sawah yang ditata seperti sebuah tangga raksasa membentang di lereng gunung.

Baru beberapa saat kemudian, Paksi melihat seseorang yang berada di sawahnya untuk membersihkan tanaman padinya dari rerumputan yang tumbuh dengan liar. Orang itu sama sekali tidak menghiraukan Paksi yang berjalan menurun sambil memandanginya.

Namun di kotak sawah yang lain, Paksi juga melihat seorang yang rambutnya sudah putih, membuka pematang sawahnya untuk mengalirkan air yang mengalir di parit.

Namun nampaknya di lereng gunung itu, para petani tidak pernah kekurangan air, bahkan di musim kemarau sekalipun.

Beberapa saat kemudian, Paksi sudah memasuki sebuah padukuhan. Sudah beberapa kali ia berjalan melalui jalan yang membelah padukuhan itu. Tetapi sebelumnya ia tidak pernah menghiraukan apa yang terdapat di padukuhan itu.

Meskipun padukuhan itu terletak di kaki gunung, tetapi nampaknya kesejahteraan penduduknya tidak terbelakang dibanding padukuhan-padukuhan yang pernah dilihatnya sebelumnya. Nampaknya sawah yang subur di sekitar padukuhan itu memberikan hasil yang cukup, sehingga sebagian dapat ditukar dengan kebutuhan-kebutuhan yang lain. Pakaian, ternak dan bahkan lembu atau kerbau yang kemudian dapat membantu para petani untuk meningkatkan penghasilan mereka. Putaran yang demikian itu membuat sisi kehidupan para penghuni padukuhan itu menjadi semakin baik.

Dengan demikian, maka para pedagang pun mendapat lapangan yang semakin subur pula di lingkungan itu. Pasar menjadi semakin ramai.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Matahari memanjat langit semakin tinggi. Panasnya terasa mulai menggatalkan kulit. Anak-anak yang menggembala kambing telah berada di padang rumput yang hijau. Seorang gembala yang duduk di sebuah batu yang besar meniup serulingnya. Suaranya menggetarkan udara pagi yang cerah.

Paksi jarang sekali menikmati suasana pagi seperti yang dilakukannya pada waktu itu. Biasanya ia sudah berada di sanggar terbukanya sibuk dengan latihan-latihan penguasaan tubuh dan pendalaman unsur-unsur gerak yang pernah dikuasainya.

Ketika ia memasuki padukuhan berikutnya setelah melewati sebuah bulak pendek, maka disana-sini terdengar orang yang sedang menumbuk padi. Sekali-sekali terdengar lenguh lembu yang diikat di luar kandang. Tangis kanak-kanak yang minta susu ibunya terdengar di sela-sela tembang yang ngelangut.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Hampir di setiap rumah nampak asap mengepul. Sebentar lagi, perempuan dan gadis-gadis akan pergi ke sawah membawa kiriman makan bagi suami atau ayah mereka yang bekerja dalam panasnya sinar matahari sambil berendam air berlumpur di sawah.

Ketika kemudian Paksi sampai di pasar, ternyata matahari telah terlalu tinggi. Meskipun demikian, pasar masih banyak orang yang berjual-beli. Suara pande besi menempa alat-alat pertanian yang dibuatnya, masih terdengar melengking-lengking.

Hari itu Paksi tidak tergesa-gesa masuk ke dalam pasar, membeli keperluannya di beberapa tempat dan dengan segera meninggalkan pasar itu.

Untuk beberapa lama Paksi justru berada di luar pasar. Sambil berjongkok di pinggir jalan, di antara beberapa orang lain yang membeli rujak pace, Paksi memperhatikan orang yang lalu-lalang dan hilir-mudik di pintu gerbang.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Marta Brewok, bahwa tidak semua tingkah laku orang yang berada di pasar itu sesuai dengan pola yang tergambar di dalam angan-angannya.

Di regol pasar itu, Paksi melihat orang yang berjalan dengan kepala tunduk. Tetapi ia pun melihat orang-orang yang berjalan dengan kepala yang tengadah.

Ia melihat orang-orang yang bergeser memberi jalan kepada orang lain, tetapi ada yang dengan sengaja mendesak orang yang berpapasan dengan sikunya. Paksi pun melihat orang yang berdiri tidak jauh dari tempatnya yang terinjak kakinya oleh orang yang berdiri di sampingnya berkata sambil tersenyum,  “Maaf,  Ki Sanak. Kakiku terinjak.”

Orang yang menginjak kakinya itu pun dengan tergesa-gesa bergeser sambil berkat, “Maaf, maaf Ki Sanak. Aku tidak tahu.”

Tetapi ketika seorang muda yang berwajah garang terinjak kakinya, maka dengan mata terbelalak ia membentak, “Dimana kau letakkan matamu, he?”

Orang yang menginjak kaki orang muda itu pun membelalakkan matanya pula, “Persetan kau. Aku kan tidak sengaja.”

Kedua orang itu pun kemudian saling berpandangan dengan penuh kebencian. Untunglah bahwa seorang yang berambut putih datang melerai mereka.

Paksi menarik nafas dalam-dalam.

Peristiwa semacam itu tidak pernah diperhatikannya sebelumnya. Ternyata bahwa banyak hal terjadi di sekitarnya di pasar itu, di tempat banyak orang bertemu.

Sebelumnya Paksi juga pernah terlibat dalam sebuah keributan di pasar karena seorang laki-laki berbuat sewenang-wenang terhadap seorang perempuan untuk membela isterinya yang keras hati. Namun setelah Paksi tinggal di lereng gunung, maka Paksi justru selalu menghindari perhatian orang lain setiap ia pergi ke pasar. Akibatnya ia sendiri tidak sempat memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

Baru kemudian setelah hampir setahun ia seakan-akan hidup terpisah, meskipun tidak mutlak, maka ia harus mulai kembali menempatkan dirinya di antara pergaulan sesama.

Seperti yang dikatakannya kepada Ki Marta Brewok, bahwa Paksi akan merasa canggung untuk beberapa saat. Tetapi perlahan-lahan ia akan menjadi terbiasa kembali. Ia akan mengenal satu dua orang yang sering dijumpainya di pasar itu, sehingga dengan mereka Paksi akan dapat berbincang dan mendengar ceritera tentang beberapa hal yang terjadi di luar lingkungannya yang sempit.

Perhatian Paksi pun kemudian tertarik kepada seorang anak yang membawa sebuah keranjang mengikuti seorang perempuan yang sedang berbelanja. Nampaknya anak itu diupah untuk membawa barang-barang yang dibeli oleh perempuan itu. Karena itu dengan telaten anak itu mengikuti kemana perempuan itu pergi.

Di luar sadarnya, Paksi pun telah mengikutinya pula. Jika perempuan yang berbelanja itu berhenti, maka anak yang membawa keranjang itu pun berhenti pula.

Semakin lama keranjang yang dibawanya itu menjadi semakin penuh dan semakin berat. Karena itu, maka anak itu pun kemudian telah meletakkan keranjang itu di atas kepalanya.

Perempuan yang berbelanja itu tidak sempat menghiraukan, bahwa anak itu kemudian menjadi gemetar karena beban yang terlalu berat di kepalanya.

Paksi menjadi gelisah. Jika ia berusaha membantu anak itu, apakah tidak akan dapat timbul salah paham? Perempuan itu dapat marah kepadanya, atau justru anak itu merasa terganggu sumber penghasilannya.

Untunglah, bahwa beberapa saat kemudian, perempuan yang nampaknya cukup berada itu selesai berbelanja. Karena itu, maka perempuan itu telah mengajak anak yang membawa keranjang di atas kepalanya itu keluar.

Ternyata perempuan itu berbelanja cukup banyak. Agaknya keluarganya akan mengadakan perhelatan. Karena itu, maka di luar pasar itu sudah menunggu sebuah pedati yang di dalamnya sudah terisi beberapa bakul yang berisi bermacam-macam bahan makan. Ada beras, telur, gula kelapa dan beberapa ekor ayam.

Paksi berdiri agak jauh dari pedati itu. Ia melihat anak itu meletakkan keranjangnya di bibir belakang pedati yang berhenti di pinggir jalan. Nampak di wajah anak itu betapa beratnya beban yang diusung di atas kepalanya itu, sehingga mulutnya menyeringai.

Di luar sadarnya, bibir Paksi ikut bergerak-gerak. Rasa-rasanya ia ingin meloncat membantu anak itu. Tetapi ia masih menahan diri agar tidak menimbulkan persoalan karena terjadi salah paham.

Ternyata perempuan yang berbelanja itu tidak sendiri. Seorang perempuan lain kemudian datang pula bersama perempuan yang menggendong bakul yang juga sudah penuh, yang kemudian diletakkan ke dalam pedati itu pula.

Paksi tersenyum ketika ia melihat perempuan yang menggendong bakul yang penuh itu serta anak yang mengusung keranjang di kepalanya, menerima upahnya. Anak itu nampak gembira, sementara perempuan itu pun tersenyum pula. Mereka telah menerima hasil jerih payah mereka.

Baru kemudian Paksi mengetahui, bahwa anak yang mengusung keranjang itu adalah anak laki-laki perempuan yang menggendong beban di punggungnya. Ketika keduanya lewat di depan Paksi, Paksi mendengar sekilas mereka bercakap-cakap.

Perempuan yang menggendong beban itu kemudian telah mengusap kepala anak itu sambil berkata, “Jika kau lapar, makanlah. Kau dapat membeli nasi tumpang di sudut pasar itu, Le.”

“Simbok makan apa tidak?” bertanya anak itu. Perempuan itu tersenyum. Katanya, “Aku nanti gampang, Le.”

“Aku akan membeli nasi sekeping saja, Mbok. Ini yang dua keping.”

“Bawa saja, Ngger. Jika simbok yang membawa, nanti diminta ayahmu.”

Anak itu memandang ibunya dengan tatapan mata yang suram. Kecerahan wajahnya telah larut dalam keragu-raguan.

Tetapi ibunya masih tersenyum. Katanya, “Sudahlah. Sekarang kau beli nasi tumpang. Jangan hanya sekeping. Belilah dua keping biar perutmu kenyang. Belum tentu siang nanti kau dapat makan lagi. Jika kau kenyang, maka kau dapat bekerja lebih baik seandainya masih ada orang yang minta kau membawa barang-barangnya.”

Anak itu mengangguk-angguk. Ketika ibunya kemudian melangkah kembali ke pintu gerbang pasar, maka anak itu pun menghambur berlari.

Di luar sadar pula Paksi pun melangkah ke arah anak itu berlari. Ternyata kemudian anak itu berjongkok di depan penjual nasi tumpang yang berjualan sebelah luar pasar itu.

Paksi pun telah ikut berjongkok pula. Ketika anak itu membeli nasi tumpang, maka Paksi pun membeli pula.

Anak itu pun kemudian menyuapi mulutnya yang kecil itu. Nasi tumpang itu terasa nikmat sekali, sehingga di mulut Paksi pun nasi itu pun rasa-rasanya menjadi jauh lebih enak daripada nasi tumpang yang pernah dimakannya sebelumnya.

Anak itu nampak kecewa ketika nasi tumpangnya itu habis. Ia masih memegang pincuk tempat nasi itu. Nampak di wajahnya keragu-raguan untuk membuang pincuk nasi itu. Nampaknya anak itu ingin membeli nasi lagi. Tetapi ia mempertimbangkan sisa uangnya yang mungkin dapat dipergunakan untuk keperluan yang lain.

Selagi anak itu termangu-mangu, maka Paksi pun bertanya, “Kau masih lapar?”

Anak itu memandang Paksi dengan kerut di keningnya.

“Jika kau masih lapar, mintalah sepincuk lagi.”

Anak itu termangu-mangu sejenak. Namun dengan jujur ia berkata, “Aku akan memberikan sisa uangku kepada Simbok.”

Paksi tersenyum. Katanya, “Biarlah aku yang membayarnya. Semuanya.”

Anak itu nampak ragu-ragu. Namun Paksi pun kemudian mengambil beberapa keping uang dari kantong ikat pinggangnya. Sambil menunjukkan uang itu ia berkata, “Benar. Aku akan membayar semuanya. Dua atau tiga pincuk nasi tumpang.”

Anak itu masih ragu-ragu. Namun Paksi telah mengambil pincuk dari tangan anak itu dan memberikannya kepada penjual nasi itu, “Berilah satu lagi. Aku yang akan membayar berapa pun yang akan dihabiskannya.”

Penjual nasi tumpang itu pun menjadi ragu-ragu pula. Namun Paksi pun segera memberikan lima keping uang. Katanya, “Terimalah. Nanti kita perhitungkan, berapa yang harus aku bayar. Kurang atau lebih.”

Penjual nasi itu menerima uang itu dengan wajah yang masih saja nampak ragu. Namun kemudian disimpannya uang itu di bawah lambaran daun di atas tampahnya. Kemudian ia pun mengisi pincuk anak itu dengan nasi tumpang lagi.

Anak itu menjadi keheranan. Ia belum pernah bertemu dengan orang yang tiba-tiba saja membayar nasi yang dibelinya. Namun sambil tersenyum Paksi berkata, “Terimalah nasi itu. Makanlah. Jangan ragu-ragu.”

Anak itu menerima pincuk yang telah diisi dengan nasi tumpang. Kemudian sambil sekali-sekali memandang Paksi, ia mulai menyuapi mulutnya lagi.

Ketika Paksi menawarinya lagi setelah nasi yang sepincuk itu habis, anak itu menggeleng. Katanya, “Aku sudah kenyang.”

Paksi tersenyum. Katanya, “Uang itu masih tersisa. Kau baru makan dua pincuk, aku satu. Jika harganya masing-masing sekeping, maka masih tersisa uang dua keping.”

Tetapi anak itu menggeleng lagi sambil berkata, “Aku sudah kenyang.”

“Nah, jika demikian, ambil kembalinya. Dua keping.”

Anak itu menjadi semakin heran. Bahkan penjual nasi itu pun menjadi heran pula.

Tetapi akhirnya anak itu mau menerima dua keping yang diberikan dengan ragu oleh penjual nasi tumpang itu.

Beberapa saat kemudian, Paksi duduk di bawah sebatang pohon waru dengan anak yang masih saja membawa keranjangnya.

“Siapa namamu?” bertanya Paksi.

“Kinong,” jawab anak itu.

Paksi tersenyum. Katanya, “Tentu karena dahimu yang sedikit menonjol itu.”

Anak itu memandang Paksi sejenak. Namun kemudian sambil tersenyum ia pun mengangguk.

“Apakah setiap hari kau berada di pasar ini?”

“Ya, Kakang,” jawab Kinong.

“Namaku Paksi,” berkata Paksi kemudian.

Anak itu mengerutkan dahinya. Tetapi anak itu mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya, Kakang Paksi.”

“Aku sering pergi ke pasar ini. Tetapi baru sekali ini aku melihat kau dengan keranjangmu.”

“Sudah beberapa bulan aku membantu simbok,” jawab Kinong.

“Dimana ayahmu?” bertanya Paksi.

Anak itu memandang Paksi sejenak. Namun kemudian wajahnya menunduk sambil berdesis, “Ayah tidak mau mencari uang.”

“Ayah bekerja di sawah?” bertanya Paksi pula.

“Ayah sudah tidak mempunyai sawah lagi.”

“Kenapa?”

“Sawah ayah sudah digadai orang. Ayah kalah berjudi. Sekarang ayah hanya di rumah saja jika tidak sedang berjudi. Simboklah yang harus mencari makan di pasar ini.”

“Dan kau selama ini berusaha membantu ibumu?”

Kinong mengangguk.

“Berapa orang jumlah saudaramu?”

“Seorang. Aku mempunyai kakak perempuan yang harus tinggal di rumah untuk menanak nasi jika kebetulan simbok mempunyai beras.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Keluarga Kinong memerlukan pertolongan. Tetapi Paksi tidak tahu, bagaimana caranya.

Tentu ia tidak dapat ke rumah Kinong, kemudian memberi uang kepada keluarga itu. Jika demikian, maka uang itu tentu akan diambil oleh ayah Kinong dan dipergunakannya untuk berjudi. Paksi pun tidak sebaiknya memberi uang Kinong setiap pagi. Dengan demikian, maka jika saatnya nanti ia harus meninggalkan tempat itu, maka Kinong akan menjadi sangat kecewa. Selain itu, pemberiannya itu akan dapat membuat Kinong menjadi malas.

Paksi menarik nafas dalam-dalam.

Sementara itu, Paksi melihat ibu Kinong itu mengikuti seorang yang sedang berbelanja dengan menggendong sebuah bakul yang penuh dengan berbagai macam barang. Nampaknya ibu Kinong sudah diupah lagi untuk membawa barang-barang dari seorang perempuan yang sudah agak tua yang sedang berbelanja.

“Kakang, aku akan membantu simbok,” berkata Kinong sambil bangkit berdiri.

Anak itu tidak menunggu jawab. Ia pun segera berlari-lari mendapatkan ibunya untuk membantu sebagian dari bebannya di dalam keranjang kecilnya.

Perempuan tua yang sedang berbelanja itu berpaling. Tetapi nampaknya ia tidak berkeberatan, seorang anak laki-laki membantu membawa barang-barang itu. Bahkan nampaknya perempuan itu sudah saling mengenal dengan ibu Kinong.

Ketika mereka berhenti sejenak untuk memindahkan beberapa jenis bawaan ibunya ke dalam keranjang Kinong, Paksi melangkah mendekati. Dari pembicaraan mereka Paksi mengetahui bahwa ibu Kinong itu justru sudah menjadi langganan perempuan tua itu. Setiap kali perempuan tua itu berbelanja, ia tentu mencari ibu Kinong untuk membantu membawa barang-barangnya. Bukan hanya sampai di luar pasar, tetapi sampai ke rumahnya yang berantara dua bulak yang tidak terlalu panjang dari pasar itu.

Paksi memperhatikan ketiga orang yang berjalan menjauhi pasar itu. Kinong justru berjalan di depan sambil membawa keranjang kecil itu di atas kepalanya.

Ketika ketiga orang itu menjauh, maka Paksi pun kembali duduk di bawah pohon waru yang rindang itu.

Namun tidak ada lagi yang menarik perhatian Paksi. Orang yang lalu-lalang di depan pasar itu adalah hal yang setiap hari terjadi. Anak-anak yang ikut berbelanja dengan orang tuanya merengek minta dibelikan mainan yang dijual di sebelah pintu gerbang. Seorang gadis kecil menjadi gembira, ketika ibunya membeli sebuah golek kayu, bahkan dengan selendang kecilnya sekaligus.  Golek kecil itu pun kemudian diembannya dengan sayang. Diusapnya dahinya dengan jari-jarinya yang kecil sambil berdendang.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia ikut bergembira bersama gadis kecil yang menggendong anak-anakannya yang terbuat dari kayu itu.

Paksi terkejut ketika seorang anak muda tiba-tiba saja duduk di sampingnya. Sambil berdesah ia berkata, “Udaranya panas sekali, Ki Sanak.”

“Ya,” jawab Paksi. “Tetapi di bawah pohon ini terasa amat sejuk, sehingga aku menjadi mengantuk karenanya.”

Anak muda itu tersenyum. Katanya, “Ya. Beberapa saat aku duduk disini, aku tentu akan mengantuk pula.”

Paksi yang kemudian beringsut sempat memandang anak muda itu sejenak. Tetapi ia tidak melihat sesuatu yang menarik pada anak muda itu. Seperti anak-anak muda yang lain, maka wajahnya nampak terang.

Dengan ramah anak muda itu bertanya, “Kau sering datang ke pasar ini, Ki Sanak?”

“Hanya sekali-sekali,” jawab Paksi.

“O,” anak muda itu mengangguk-angguk.

“Bagaimana dengan kau?” bertanya Paksi.

“Aku sering sekali pergi ke pasar ini. Ibuku berjualan disini. Pagi-pagi aku mengantar ibu ke pasar ini dan di siang hari begini aku menjemputnya.”

Paksi mengangguk-angguk. Hampir di luar sadarnya Paksi bertanya, “Ibumu berjualan apa?”

“Kain lurik,” jawab anak muda itu.

Paksi masih saja mengangguk-angguk. Ketika ia berniat menanyakan rumah anak muda itu, maka niatnya diurungkannya. Jika hal itu dilakukannya, anak muda itu tentu akan bertanya kepadanya pula, dimana ia tinggal.

Ternyata anak muda itu juga tidak bertanya, dimana Paksi tinggal, sehingga Paksi tidak harus membuat ceritera tentang tempat tinggalnya.

Karena itu, maka untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang belum siap dijawabnya, maka Paksi pun kemudian justru bangkit dan berkata, “Aku sudah cukup lama beristirahat. Aku akan mencari bibiku di pasar itu.”

Anak muda itu berpaling. Dengan tanpa banyak ingin tahu tentang anak muda itu, ia pun menjawab, “Silahkan.”

Paksi pun kemudian telah melangkah pergi menuju ke pintu gerbang pasar. Tetapi ia tidak masuk ke dalamnya. Bahkan kemudian ia pun telah melangkah menjauh.

Paksi pun kemudian telah menyusuri jalan kembali ke gubuknya di lereng gunung. Hari itu Paksi tidak melakukan latihan-latihan berat. Ketika ia berada di sanggar terbukanya, maka ia hanya melakukan latihan-latihan ringan, agar urat-uratnya tidak serasa membeku.

Demikian tubuhnya basah oleh keringat, maka Paksi pun menyudahi latihannya.

Setelah mandi dan mencuci, maka Paksi pun lebih banyak duduk merenungi apa yang telah dilihatnya di pasar.

Paksi tidak dapat segera melupakan dua orang ibu dan anak yang harus bekerja keras untuk dapat mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari, karena laki-laki yang seharusnya bertanggung jawab atas kehidupan mereka, justru telah menjadi benalu.

Tetapi Paksi tidak dapat berbuat banyak. Di keesokan harinya, Paksi tidak turun dari tempatnya. Ia lebih banyak tenggelam di sanggarnya. Paksi memang berniat untuk tiga atau ampat hari sekali saja turun untuk mengamati kehidupan agar kehadirannya tidak menarik perhatian orang. Sementara Paksi masih terikat pada latihan-latihan yang harus dilakukannya sendiri tanpa Ki Marta Brewok di siang hari.

Dengan latihan yang tekun dan teratur, maka kemampuan bidik Paksi pun telah berkembang dengan cepat. Bahkan Ki Marta Brewok pun merasa heran dengan kemampuan bidik Paksi. Bukan saja sasaran yang diam, tetapi sasaran yang bergerak pun mampu dikenainya dengan tepat.

Demikian pula dengan kemampuannya melempar lembing. Sambil berlari kencang Paksi sanggup mengenai sebatang pisang yang ditanam beberapa langkah dari jalur larinya. Atau dengan lemparan dari jarak yang cukup jauh, dapat mengenai sebuah kelapa yang digantungkan dengan tali pada dahan pepohonan.

Di samping panah dan lembing, Paksi pun berlatih untuk mempergunakan senjata yang lebih kecil. Pisau, belati dan paser yang dapat dibuatnya sendiri. Bahkan Paksi pun memiliki kemampuan melempar sasarannya dengan kapak-kapak kecil yang dibelinya di pasar yang sering dipergunakan untuk membuat perabot rumah. Bukan untuk membelah kayu-kayu gelondong.

Dengan demikian, maka kemampuan Paksi pun menjadi lengkap. Di malam hari, Paksi masih tetap berlatih bersama Ki Marta Brewok di sanggar terbukanya. Namun sekali-sekali Ki Marta Brewok juga ingin melihat kemampuan bidik Paksi yang dilatihnya di siang hari.

“Nah, kau juga harus mengembangkan kemampuan bidikmu di malam hari, dimana kau berada di dalam lingkungan kegelapan,” berkata Ki Marta Brewok.

Ternyata Ki Marta Brewok tidak hanya sekedar memberikan perintah-perintah dan aba-aba saja. Mencela atau mengejek kegagalan-kegagalan Paksi. Tetapi Ki Marta Brewok telah memberikan petunjuk-petunjuk langsung serta contoh-contoh, apa yang harus dilakukan oleh Paksi.

Ternyata Ki Marta Brewok sendiri mampu membidik sasaran yang berada di dalam gelap. Dengan ketajaman penglihatan serta kemampuan bidik yang sangat tinggi, Ki Marta Brewok dapat mengenai sebongkah batu padas yang dilemparkan oleh Paksi di udara.

“Di siang hari kau mungkin dapat melakukannya, Paksi. Tetapi kau juga harus dapat melakukannya di malam hari, karena pada suatu saat kau memerlukan untuk melakukannya di malam hari.”

Paksi mengangguk kecil sambil menjawab, “Baik, Ki Marta. Aku akan berlatih juga di malam hari.”

Tetapi di malam hari Paksi tidak berlatih sendiri. Ia langsung berada di bawah bimbingan Ki Marta Brewok, sehingga penglihatan Paksi menjadi semakin tajam di malam hari.

Bahkan kemudian Ki Marta Brewok telah membawa Paksi di dalam laku yang khusus untuk mempertajam penglihatannya.

“Bukan hanya penglihatanmu, Paksi. Tetapi segenap inderamu akan dapat kau pertajam dengan laku itu.”

Paksi yang sudah menjalani laku apa pun tidak menolak. Laku itu dimulai dari jenis makanan yang boleh dimakannya dalam jangka waktu tertentu. Selama ampat puluh hari, Paksi harus menyusut jenis makanan yang dimakannya setiap hari.

“Kau hanya boleh makan tiga jenis makanan setiap hari, Paksi,” berkata Ki Marta Brewok.

“Maksud Ki Marta?” bertanya Paksi.

“Jika kau makan nasi dan minum air, maka kau tinggal boleh makan satu jenis lagi. Jika yang satu jenis itu garam, maka kau tidak dapat makan jenis yang lain. Kau tidak boleh makan gula atau daging untuk lauk atau sayur atau apapun. Jika kau makan gula dan minum air, maka kau dapat makan nasi saja, atau ketela saja atau sayuran saja, itu pun hanya satu jenis pula.”

Paksi mengangguk-angguk. Ia tahu maksud Ki Marta Brewok. Namun kemudian Ki Marta Brewok berkata, “Tetapi ada jenis lain yang dapat kau makan di luar ketiga jenis makanan itu. Yaitu kunyit dan kencur. Tentu saja tidak terlalu banyak.”

Paksi masih saja mengangguk-angguk. Tetapi ia berjanji di dalam hatinya, bahwa ia akan menjalani laku sejauh kemampuannya.

Paksi sudah tidak memikirkan lagi, apakah ia tidak akan terlambat untuk mencari cincin bermata tiga butir batu akik itu. Karena apa yang dihadapinya itu akan dapat langsung memberikan arti bagi hidupnya.

Dalam pada itu, maka sehari kemudian Paksi sudah mulai menjalani laku. Namun ternyata laku yang lain pun harus ditempuhnya pula. Menjelang saat-saat terakhir dari laku yang dijalani dengan hanya makan tiga jenis makanan itu nanti, ia harus menjalani laku pati-geni.

“Laku itu tidak akan kau jalani disini, Paksi. Aku akan membawamu ke satu tempat yang sesuai bagimu untuk menjalani laku itu.”

Paksi mengangguk sambil menjawab, “Baik, Ki Marta. Aku akan menjalaninya.”

“Baiklah. Mulailah sejak besok hingga genap ampat puluh hari ampat puluh malam,” berkata Ki Marta Brewok. Lalu katanya lebih lanjut, “Tetapi selama itu, kau harus tetap berlatih.”

Demikianlah, seperti yang dikatakan oleh Ki Marta Brewok, maka ketika matahari terbit Paksi sudah berada di dalam laku yang dimaksud Ki Marta Brewok. Namun bagi Paksi laku itu tidak terlalu banyak mempengaruhi ketegaran wadagnya. Ki Marta Brewok hanya menyebut jenis makanan yang boleh di makan. Tetapi tidak jumlahnya.

Karena itu, maka Paksi tetap dapat melakukan kewajibannya dengan baik,  karena Paksi makan cukup banyak.  Ia dapat memberikan warna makanannya yang berbeda-beda setiap hari, meskipun tidak lebih dari tiga jenis. Di samping itu Paksi pun sedikit-sedikit makan pula kunyit dan kencur yang membuat tubuhnya menjadi hangat.

Dalam pada itu, seperti direncanakan, Paksi dalam waktu tiga atau ampat hari sekali memang turun untuk pergi ke pasar. Namun Paksi sudah mulai mengenali nama beberapa padukuhan. Kadang-kadang ia bertanya kepada anak-anak yang sedang menggembalakan kambing. Tetapi kadang-kadang Paksi juga berjalan bersama dengan orang lewat yang dapat memberikan jawaban atas beberapa pertanyaannya.

Ketika sudah dua tiga kali Paksi berada di pasar dan dengan sengaja berusaha membuat hubungan dengan beberapa orang, maka Paksi mulai berkenalan dengan beberapa orang yang sering berada di pasar itu. Setiap kali Paksi tentu bertemu dengan Kinong yang masih saja menerima upah dari orang-orang yang berbelanja yang memerlukan tenaganya. Demikian pula ibunya.

Jika Kinong sempat duduk beristirahat dan berbincang, maka Paksi mengetahui bahwa ayah Kinong masih saja gila berjudi dan tidak segan-segan merampas uang ibunya yang didapatkannya dengan bekerja keras bersama Kinong di pasar.

“Setiap kali kakak perempuanku hanya dapat menangis. Sebenarnya ia ingin juga bekerja seperti kami di pasar. Tetapi ibu melarangnya.”

“Kakakmu seorang perempuan, Kinong. Ibumu agaknya tidak rela melihat anaknya perempuan bekerja keras di pasar sebagaimana dilakukan oleh ibunya dan anaknya laki-laki.” Kinong mengangguk-angguk.

Anak itu tiba-tiba saja bangkit berdiri ketika ia melihat ibunya datang kepadanya. Sambil tersenyum ibunya berkata, “Sudah cukup untuk hari ini Kinong. Kita dapat pulang agak awal. Aku sudah membeli beras seberuk. Cukup untuk hari ini. Jika kau besok akan beristirahat, aku kira tidak ada masalah. Aku masih ada uang.”

“Simbok dapat uang banyak?” bertanya Kinong.

“Tidak banyak, Kinong, Tetapi cukup buat kita.”

“Aku juga masih mempunyai uang,” berkata Kinong.

“Kau bawa saja. Masukkan ke dalam bumbung tabunganmu.” Kinong mengangguk-angguk. Sementara ibunya berkata hampir berbisik, “Bukankah kau ingin segera supit seperti kawan-kawanmu itu? Nah, kau sudah merasa terlambat. Jika uangmu nanti terkumpul dan ada sisa uang Simbok serba sedikit, kau dapat supit sebelum tahun depan.”

Wajah Kinong menjadi cerah. Katanya, “Baik, Mbok. Aku akan menabung.”

Ibunya tertawa. Diusapnya kepala anak itu sambil berdesis, “Nah, marilah kita pulang.”

Tetapi keduanya tertegun ketika mereka melihat seorang laki-laki berwajah kasar. Matanya kemerah-merahan, sementara pakaiannya nampak kusut.

Kinong tiba-tiba menjadi ketakutan. Hampir di luar sadarnya,

Kinong berdesis, “Mbok, itu Ayah.”

Ibu Kinong pun melangkah surut. Didekapnya anaknya yang ketakutan. Sementara itu, laki-laki yang matanya kemerah-merahan itu melangkah mendekati ibu Kinong sambil membelalakkan matanya. “Sampai siang begini kau masih belum pulang?”

“Aku baru selesai, Pak,” jawab perempuan itu.

“Kau tentu dapat uang banyak. Berikan kepadaku.”

“Sudah aku belikan beras, Pak. Kita sudah kehabisan beras. Uangku hanya cukup untuk membeli beras seberuk.”

“Bohong. Berikan uangmu kepadaku.”

“Pak,” ibu Kinong berusaha untuk menjawab dengan sareh, “marilah kita pulang. Mungkin aku masih mempunyai sisa uang sedikit. Tetapi jangan disini. Disini banyak orang.”

Tetapi laki-laki itu tidak peduli. “Cepat, berikan uang itu kepadaku, atau aku tampar wajahmu. Aku tidak peduli apakah disini banyak orang atau tidak. Aku perlu uang itu.”

“Baik, baik. Tetapi marilah, kita pergi ke tikungan itu.”

“Tidak,” teriak laki-laki itu.

Ibu Kinong menjadi sangat gelisah. Tetapi suaminya tidak menghiraukannya. Bahkan sekali lagi ia membentak, “Berikan uang itu sekarang. Apakah kau tuli?”

Beberapa orang telah mengerumuninya. Seorang laki-laki mendekat sambil bertanya, “Apa yang terjadi?”

“Jangan ikut campur,” bentak laki-laki itu pula. “Ini adalah persoalan suami isteri.”

Paksi pun sudah berdiri di antara orang-orang yang berkerumun. Tetapi ia benar-benar dicengkam oleh keraguan, persoalan itu adalah persoalan seorang suami dengan isterinya. Jika ia mencampurinya, apakah itu bukan berarti bahwa ia telah memperburuk hubungan itu. Jika suaminya mendendam, bukankah keadaan isterinya akan menjadi semakin sulit.

Selagi Paksi merenung, ia pun terkejut. Beberapa orang perempuan menjerit. Laki-laki itu telah menampar wajah isterinya.

Kinong pun menangis sambil berpegangan baju ibunya.

“Simbok, Simbok,” suaranya melengking berkepanjangan.

“Diam kau monyet,” bentak ayahnya.

Tetapi ibu Kinong itu tidak menangis. Ia pun menarik ujung kain ikat pinggangnya. Dengan tangan gemetar ia melepas ikatan uang di ujung kain ikat pinggangnya itu.

Namun tiba-tiba kerumunan orang itu menyibak. Dari antara mereka muncul seorang perempuan yang terasa asing bagi orang-orang yang ada di pasar itu. Seorang perempuan dengan pakaian yang khusus. Di bawah kainnya yang disingsingkannya, ia mengenakan celana hitam yang longgar. Sebilah pedang terselip di pinggangnya. Di kepalanya dikenakan ikat kepala hitam pula. Namun rambutnya dibiarkan terurai di punggungnya.

“Apa yang terjadi?” suaranya melengking tinggi.

Semua orang memandang kepadanya. Sementara itu, ayah Kinong pun nampak menjadi cemas. Dengan suara gemetar ia berkata, “Isteriku inilah. Ia telah mengambil uangku.”

“Apakah ia tidak kau beri belanja untuk keperluannya sehari-hari?”

“Sudah. Aku memberinya belanja secukupnya. Ia memang pemboros. Ia suka membeli barang-barang yang tidak berguna. Ia suka pula makan di warung-warung di antara banyak laki-laki.”

Perempuan dalam pakaian asing itu memandang ibu Kinong dengan seksama. Ia melihat setitik darah di sudut bibir ibu Kinong itu. Namun Paksi terkejut sekali ketika ia mendengar perempuan asing itu berkata, “Seorang isteri yang suka mencuri uang suaminya memang harus dihajar habis-habisan. He, kau curi uang suamimu untuk diboroskan?”

Jawaban Ibu Kinong juga mengejutkan Paksi. Dengan suara yang hampir tidak terdengar ibu Kinong itu menjawab, “Aku mengambilnya ketika ia sedang tidur.”

“Huh. Kau berbakat menjadi pengkhianat. Kembalikan uang itu. Kau nodai nama perempuan. Aku juga perempuan. Aku tidak pernah mencuri uang suamiku. Aku justru memberikan apa saja yang ia minta dariku.”

Ibu Kinong membuka ikatan pada ujung kain ikat pinggangnya. Diserahkannya beberapa keping uang yang tersisa kepada suaminya.

Sambil menerima uang itu, suaminya berkata, “Aku ampuni kau kali ini. Tetapi jika sekali lagi terjadi, aku mungkin tidak dapat mengekang diriku lagi.”

Laki-laki itu pun kemudian melangkah pergi meninggalkan Kinong yang menangis. Tetapi ibunya tetap tidak menangis.

Paksi memandang wajah perempuan itu dengan jantung yang berdegup semakin cepat. Rasa-rasanya ibu Kinong itu sudah tidak mempunyai air mata yang tersisa.

Namun perempuan asing itu mencibirkan bibirnya sambil berkata, “Untunglah suamimu seorang penyabar. Jika tidak, maka rahangmu akan dihancurkannya.”

Ibu Kinong tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja Kinonglah yang berteriak, “Simbok tidak bersalah. Ayah yang penjudi. Ia selalu merampas uang Simbok.”

“Kinong,” potong ibunya sambil mendekap anaknya. “Sudahlah. Jangan dipersoalkan lagi.”

Tetapi Kinong masih tetap menangis. Sementara itu perempuan dengan pakaian yang asing itu berkata, “Ini anakmu, he?”

Ibu Kinong mengangguk.

“Ternyata anakmu yang masih kecil itu sudah kau ajari berbohong. Kau ajari ia menghina ayahnya yang meneteskan benih di dalam perutmu.”

“Tidak. Bukan maksudku.”

Kinong masih akan berteriak lagi. Tetapi ibunya segera menutup mulutnya.

Namun orang-orang yang berkerumun itu terkejut sekali lagi. Seorang laki-laki yang masih terhitung muda, tiba-tiba saja menyibak kerumunan orang itu. Dipandanginya perempuan dalam pakaian asing itu sambil berkata, “Apa sebenarnya maksudmu? Aku tahu, kau tentu murid dari Goa Lampin. Murid seorang iblis perempuan yang membenci sesama perempuan. Kau, muridnya, agaknya mempunyai tabiat yang sama.”

“Darimana kau tahu tentang aku?” perempuan itu menjadi tegang.

“Kenapa kau bertanya? Kau pakai dengan bangga ciri perguruanmu. Kau pakai pada ikat kepalamu yang hitam itu, lambang lingkaran yang dibelah dengan garis tegak berwarna merah. Lambang dari sekelompok perempuan berilmu tinggi yang merendahkan derajat sesama perempuan.”

“Iblis kau. Kau murid dari padepokan Sad.”

“Aku tidak ingkar. Kau tentu mengenal ciri-ciri perguruan Sad. Aku memang salah seorang murid perguruan itu.”

“Kenapa kau campuri urusanku?”

“Kenapa kau mencampuri urusan suami isteri itu? Kau kira dugaanmu benar, bahwa perempuan itu mencuri uang suaminya?”

“Ia mengaku sendiri.”

“Perempuan itu adalah contoh perempuan yang ingin menjunjung tinggi martabat suaminya. Ia tidak mau membuat suaminya malu di hadapan orang banyak. Tetapi anak laki-laki itu berkata dengan jujur. Nah, aku cenderung percaya kepada anak itu daripada pengakuan ibunya.”

“Sudah. Sudahlah, Ki Sanak,” berkata ibu Kinong itu kemudian. “Biarlah terjadi sebagaimana yang terjadi. Aku mohon diri. Aku akan pulang. Aku tidak mau menjadi tontonan terlalu lama disini. Aku berterima kasih kepada semuanya yang menaruh perhatian terhadap persoalan yang aku hadapi.”

“Pulanglah, Nyi. Mudah-mudahan kemarahan suamimu tidak berkepanjangan. Kau memang harus bersabar menghadapi sikapnya. Tetapi yakinkan dirimu, kau perempuan yang baik.”

“Huh,” desah perempuan yang berpakaian asing itu. “Orang-orang dari perguruan Sad memang pemuja perempuan.”

“Tidak semua perempuan,” jawab laki-laki yang masih terhitung muda itu. “Kami menghargai perempuan sewajarnya. Tetapi kami tidak dapat menghargai perempuan dari Goa Lampin.”

“Kau telah menghina kami,” geram perempuan itu.

Namun laki-laki yang masih terhitung muda itu tidak menghiraukannya. Sekali lagi ia berkata kepada ibu Kinong, “Pulanglah. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa denganmu setelah kau berikan uangmu kepada suamimu.”

Ibu Kinong pun kemudian telah menggandeng anaknya. Tetapi ketika mereka melangkah, Kinong sempat berlari mengambil keranjang kecilnya. Sekilas ia memandang Paksi yang berdiri termangu-mangu. Namun kemudian ia pun berlari kepada ibunya.

Sejenak kemudian ibu dan anak itu pun meninggalkan tempat itu, menembus kerumunan orang-orang yang masih terpancang di tempatnya. Namun perhatian mereka kemudian telah berpindah kepada dua orang perempuan dan laki-laki yang kemudian saling berhadapan.

Ketika ketegangan terasa semakin mencengkam, maka orang-orang yang berkerumun itu pun telah bergeser surut. Lingkaran itu pun melebar. Beberapa orang justru telah membenahi barang-barang dagangan mereka.

“Jika kawan mereka berdatangan, maka perkelahian akan meluas,” berkata salah seorang pedagang nasi tumpang yang dagangannya tinggal tersisa sedikit. Lalu katanya, “Lebih baik aku pulang.”

Beberapa orang telah berbuat serupa. Seorang penjual dawet telah memanggul sisa dawetnya menjauh.

Dalam pada itu, maka perempuan yang berpakaian asing itu agaknya benar-benar menjadi marah. Karena itu, maka katanya,

“Aku tidak akan pergi sebelum aku membuat perhitungan dengan kau yang telah menghina perguruan kami.”

“Itu terserah kepadamu. Aku tidak peduli. Tetapi aku akan meninggalkan tempat ini.”

“Kau juga tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum kau berlutut di hadapanku dan mohon maaf atas kelancanganmu, mengucapkan kata-kata penghinaan atas perguruan kami.”

“Jangan aneh-aneh. Jangan bermimpi tentang sesuatu yang tidak akan pernah terjadi.”

“Kau tahu watak orang-orang Goa Lampin?”

“Tahu. Mereka adalah perempuan-perempuan yang membenci perempuan. Di perguruan Goa Lampin memang terdapat beberapa orang laki-laki. Mereka hidup dalam dunia mimpi, karena laki-laki di perguruan Goa Lampin diperlakukan seperti anak-anak emas yang manja.”

“Apakah kau merasa iri, bahwa kau bukan salah seorang di antara mereka yang menjadi pilihan penghuni Goa Lampin?”

Laki-laki yang terhitung muda itu tertawa berkepanjangan. Di sela-sela derai tertawanya ia berkata, “Kau kira aku merasa berbahagia hidup dalam sangkar seperti mereka yang kehilangan harga dirinya sebagai seorang laki-laki? Aku terbiasa hidup dalam pengembaraan yang kadang-kadang penuh dengan bahaya. Tetapi dunia laki-laki memang keras.”

“Kami, perempuan-perempuan dari Goa Lampin tidak akan menghindari kekerasan.”

“Terutama untuk melindungi laki-laki betina yang kalian simpan di Goa Lampin itu.”

Perempuan itu benar-benar menjadi marah. Dengan garang ia berkata, “Bersiaplah. Aku akan menundukkanmu dan memaksamu tinggal di dalam sangkar di Goa Lampin. Guru akan dapat membuatmu menjadi jinak, karena kau akan kehilangan segala kebanggaan sebagai seorang yang terbiasa mengembara di dunia olah kanuragan. Tetapi guru akan dapat memberikan kebanggaan baru kepadamu sebagai seorang laki-laki sejati.”

“Gila,” geram laki-laki yang masih terhitung muda itu. Katanya dengan wajah yang menjadi merah, “Penghinaan yang kau lontarkan tidak dapat dimaafkan lagi.”

Perempuan yang berpakaian asing itu tidak menjawab. Ketika laki-laki yang masih terhitung muda itu melangkah maju, maka perempuan itu pun segera bersiap.

Sejenak kemudian, maka keduanya telah terlibat dalam perkelahian yang semakin lama menjadi semakin sengit. Orang-orang yang menyaksikannya telah menjadi semakin jauh. Paksi yang tidak ingin menarik perhatian, ikut pula bergeser menjauh. Namun dengan seksama ia memperhatikan kedua orang yang sedang bertempur itu. Bukan saja untuk melihat siapakah yang kalah dan siapakah yang menang, namun Paksi pun ingin melihat dan mengenali mereka meskipun mereka tidak mempergunakan ciri-ciri perguruan mereka.

Ternyata kedua orang itu memiliki landasan ilmu yang sudah mapan. Namun keduanya masih belum sampai pada tataran tertinggi dari ilmu kanuragan.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia berbangga terhadap dirinya sendiri. Ketika kedua orang yang bertempur itu nampaknya  sudah  sampai  pada  tataran  tertinggi  dari kemampuan yang telah mereka warisi, kemampuan mereka masih jauh berada di bawah kemampuan Paksi sendiri.

Karena itu, hampir di luar sadarnya Paksi pun berdesis, “Aku harus berterima kasih kepada guru, kepada orang yang mengaku pengikut Kebo Lorog dan terutama kepada Ki Marta Brewok. Karena dengan bimbingan mereka aku telah memiliki ilmu yang cukup mapan. Sementara itu, di bawah bimbingan Ki Marta Brewok ilmuku masih terus berkembang.”

Dalam pada itu, pertempuran pun menjadi semakin sengit.

Beberapa kali kedua belah pihak telah berhasil menyusupkan serangan mereka di sela-sela pertahanan lawannya. Ketika laki-laki yang masih terhitung muda itu terlambat menangkis serangan lawannya, maka kaki lawannya itu telah menghantam dadanya, sehingga laki-laki itu terdorong beberapa langkah surut. Namun ketika perempuan yang berpakaian asing itu memburunya, maka dengan sigapnya laki-laki itu meloncat ke samping. Satu putaran yang cepat telah mengayunkan kakinya ke arah kening lawannya.

Perempuan itu sempat melihat serangan lawannya. Dengan cepat kedua lengannya telah melindungi kepalanya. Tetapi ayunan kaki itu demikian kerasnya sehingga perempuan itu hampir saja kehilangan keseimbangannya. Untunglah bahwa dengan sigap ia menggeliat dan sesaat kemudian, perempuan itu sudah tegak berdiri dengan kokohnya.

Namun lawannya justru bergerak cepat. Serangan-serangannya kemudian datang beruntun seperti banjir bandang.

Perempuan yang berpakaian asing itu mulai terdesak. Betapa pun ia mencoba mengimbangi kecepatan gerak lawannya, namun beberapa kali ia harus berloncatan menghindar serta mengambil jarak.

Tetapi lawannya selalu saja mendesaknya. Serangan-serangannya seakan-akan menjadi semakin cepat memburunya.

Dalam keadaan yang sulit, maka perempuan yang berpakaian asing itu telah menarik pedangnya dengan cepat. Satu ayunan yang deras hampir saja memenggal kepala laki-laki yang masih terhitung muda itu. Namun laki laki itu sempat meloncat jauh-jauh untuk mengambil jarak.

Namun perempuan itu pun memburunya. Ia tidak ingin kehilangan saat-saat berharga ketika laki-laki itu masih terkejut mendapat serangannya itu.

Namun ketika perempuan itu mengayunkan pedangnya sekali lagi menyerang ke dahi lawannya, maka laki-laki itu menangkisnya dengan pedangnya pula.

Benturan senjata itu pun tidak dapat dielakkan. Bunga api memercik dari benturan dua bilah pedang yang terbuat dari baja pilihan.

Perempuan itu menggeram. Sekali pedangnya berputar, kemudian dengan loncatan kecil pedang itu terjulur ke arah dada.

Tetapi lawannya cukup tangkas. Pedang itu mengenainya. Laki-laki itu meloncat surut, sementara pedangnya menebas serangan lawannya.

Yang terjadi kemudian adalah benturan antara dua jenis ilmu pedang yang mempunyai landasan dasar yang berbeda. Namun keduanya menunjukkan kemampuan mereka sehingga pertempuran itu pun menjadi semakin menegangkan.

Paksi menyaksikan pertempuran itu dengan dahi yang berkerut. Kedua orang yang bertempur itu masih harus lebih banyak berlatih agar ilmu mereka menjadi semakin berkembang. Bagi Paksi, keduanya masih terhitung pada tataran yang belum dapat dibanggakan.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia juga mempunyai sebuah senjata yang tidak kalah garangnya dari pedang di gubuknya. Ia mempunyai sebatang tongkat yang di tangannya akan dapat menjadi lebih berbahaya daripada pedang di tangan kedua orang itu.

Namun Paksi masih saja tetap berada di pinggir arena, di antara beberapa orang yang menyaksikan pertempuran itu dari jarak yang semakin jauh.

Namun Paksi pun kemudian menjadi berdebar-debar. Nampaknya keduanya benar-benar telah dicengkam oleh kemarahan yang membuat darah mereka mendidih, sehingga mereka tidak lagi mengekang diri. Mereka benar-benar telah tenggelam dalam nafsu untuk membinasakan lawan masing-masing.

Tetapi semakin lama perempuan dalam pakaian asing itu menjadi semakin terdesak. Betapa pun ia berusaha untuk bertahan, namun senjata lawannya seakan-akan selalu memburunya.

Paksi menjadi berdebar-debar ketika perempuan yang berpakaian asing itu menjadi semakin terdesak. Ujung pedang lawannya bahkan telah mulai menyentuh kulitnya, sehingga sebuah goresan kecil menyilang di lengannya, mengoyak bajunya.

Perempuan itu mengumpat. Bajunya yang koyak dan kulitnya yang berdarah, membuatnya sangat marah.

Tetapi lawannya, seorang laki-laki yang merasa terhina oleh sikap perempuan itu, nampaknya benar-benar telah tersinggung. Ia ingin benar-benar merendahkan lawannya di hadapan banyak orang yang menyaksikan pertempuran itu meskipun dari kejauhan.

Karena itu, maka ketika lawannya menjadi semakin terdesak, laki-laki itu berkata, “Aku memberi kesempatan kepadamu untuk menyerah, berlutut dan mohon maaf. Aku akan memaafkanmu, karena perguruan Sad memang tidak ingin bermusuhan dengan perguruan Goa Lampin. Meskipun ada perbedaan-perbedaan yang mendasar, tetapi kita dapat berjalan sendiri-sendiri tanpa saling mengganggu.”

“Setan kau,” geram perempuan itu. “Kau jangan mencoba menghina perguruan Goa Lampin.”

“Tetapi satu kenyataan harus kau hadapi. Kau sudah terluka. Bajumu sudah koyak. Jika kita bertempur terus, maka bajumu akan terkoyak dimana-mana, sedangkan luka di tubuhmu akan menganga semakin lebar.”

Wajah perempuan itu menjadi merah. Ia memang tidak dapat mengelakkan diri dari kenyataan, bahwa bajunya memang sudah terkoyak. Tetapi harga dirinya sebagai murid dari Goa Lampin tidak memungkinkannya untuk menyerah.

Namun dalam keragu-raguan itu, terdengar suara seorang perempuan lain dengan lantangnya, “Kau anak dari perguruan Sad. Apakah kau memang sengaja memulai permusuhan dengan kami?”

Laki-laki yang masih terhitung muda, yang datang dari perguruan Sad itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian wajahnya menjadi tegang. Ia melihat seorang perempuan lain yang melangkah mendekati perempuan yang hampir dikalahkannya itu. Perempuan yang muncul berjalan dari antara banyak orang yang menyaksikan pertempuran itu dari jarak yang agak jauh.

Murid perguruan Sad itu tidak segera menjawab. Yang dilihatnya adalah seorang perempuan dalam pakaian yang wajar, seperti  perempuan-perempuan lain yang pergi ke pasar. Ia mengenakan kain lurik berwarna coklat. Bajunya pun berwarna coklat pula. Selembar selendang lurik yang juga berwarna coklat, tetapi sedikit lebih tua dari bajunya, tergantung di pundaknya. Langkah perempuan itu pun tidak menunjukkan langkah yang berbeda dengan kebanyakan perempuan. Langkah-langkah kecil meskipun cepat.

Perempuan yang berpakaian asing, yang lengannya terluka itu memandang perempuan yang datang itu dengan penuh harap. Bahkan ketika perempuan dalam pakaian lurik coklat itu mendekat, perempuan yang terluka pundaknya itu mengangguk sambil merendahkan tubuhnya pada lututnya.

“Aku sudah melihat apa yang terjadi,” berkata perempuan berpakaian coklat itu.

“Ya, Guru,” jawab perempuan yang terluka lengannya. “Anak dari perguruan Sad itu mencampuri urusanku.”

Perempuan berpakaian coklat itu memandang laki-laki yang disebutnya dari perguruan Sad itu dengan tajamnya. Sekali lagi ia berkata, “Kau sengaja membuat persoalan dengan kami, perguruan Goa Lampin?”

“Bukan maksudku,” jawab laki-laki itu.

“Jadi kenapa kau campuri urusan muridku?”

“Ialah yang mula-mula mencampuri urusan orang dengan sikap yang tidak adil.”

“Apa pun yang dilakukan, biarlah dilakukan.”

“Tetapi perempuan itu telah merendahkan harga diri, justru seorang perempuan seperti dirinya.”

“Sudah aku katakan, apa pun yang dilakukan, jangan mencampurinya. Aku tidak senang melihat kelakuanmu seperti itu. Ingat.”

“Tetapi selama orang-orang dari perguruan Goa Lampin masih tetap mencampuri persoalan orang lain dengan sikap yang tidak adil, maka kami tidak akan tinggal diam.”

“Sejak kapan gurumu mengajarimu berlaku seperti itu? Kau tentu bukan orang baru di perguruan Sad, menilik kemampuanmu. Justru karena itu kau tentu tahu, apa saja yang dilakukan oleh gurumu. Iblis yang licik dan curang.”

“Aku menduga bahwa kau adalah guru dari perguruan Goa Lampin sesuai dengan sikap perempuan yang terluka itu. Tetapi itu bukan berarti bahwa kau dapat menghina guruku.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan, he? Apa? Kau tidak perlu membunuh diri disini untuk sekedar membela nama baik gurumu. Aku sudah mengenal gurumu dengan baik. Kau pun tentu juga sudah mengenalnya. Apalagi?”

Laki-laki yang masih terhitung muda dari perguruan Sad itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba orang dari Goa Lampin itu berkata, “Aku ulangi tawaran muridku. Kami mengundangmu untuk datang ke Goa Lampin. Kau pantas tinggal bersama kami.”

“Cukup,” wajah laki-laki dari perguruan Sad itu menjadi merah.

Tetapi perempuan yang berpakaian coklat itu tersenyum.

Katanya, “Jangan marah. Hanya sebuah tawaran.”

“Aku masih mempunyai harga diri sebagai seorang laki-laki. Aku bukan sebangsa laki-laki yang kau kumpulkan di perguruanmu.”

Tetapi perempuan yang berpakaian coklat itu tersenyum.

Orang-orang yang berkerumun dari jarak yang agak jauh itu menjadi berdebar-debar. Perempuan itu memang cantik. Apalagi ketika ia tersenyum sambil melangkah mendekati laki-laki dari perguruan Sad itu.

Orang-orang yang menyaksikan sikap perempuan itu menjadi tegang. Paksi pun mengerutkan dahinya. Laki-laki dari perguruan Sad itu masih menggenggam senjatanya. Tetapi perempuan cantik itu masih saja tersenyum sambil melangkah lebih dekat lagi.

Laki-laki itu tiba-tiba saja telah mengacukan pedangnya. Dengan lantang ia berkata, “Jangan mendekat lagi. Aku dapat membunuhmu.”

Tetapi perempuan itu menjawab dengan tenang, “Kau tidak akan melakukannya, anak manis.”

Ketika perempuan cantik dengan pakaian coklat itu menjadi semakin dekat dengan senyumnya yang masih saja mengembang, tiba-tiba saja ujung pedang laki-laki itu menunduk. Semakin dekat perempuan itu daripadanya, maka pedang itu pun menjadi semakin merunduk pula.

“Nah,” berkata perempuan berpakaian coklat itu, “bukankah lebih baik begitu? Kau memang bukan seorang laki-laki yang jahat. Kau adalah laki-laki yang lembut, yang pantas untuk tinggal bersama kami.”

Laki-laki itu menunduk.

“Jangan malu, pandang wajahku,” berkata perempuan cantik itu.

Laki-laki itu memang mengangkat wajahnya, memandang wajah perempuan cantik itu. Sementara perempuan cantik itu juga memandang mata laki-laki itu seakan-akan tembus sampai ke pusat jantungnya.

Paksi menjadi berdebar-debar. Laki-laki dari perguruan Sad itu adalah laki-laki yang tegar. Namun tiba-tiba saja kepalanya menunduk. Pedangnya terkulai di tangannya yang lemah. Laki-laki itu seakan-akan menjadi tidak berdaya sama sekali.

Perempuan cantik berpakaian coklat itu tertawa. Ia benar-benar telah menguasai laki-laki yang masih terhitung muda itu.

“Sarungkan senjatamu. Kau tidak akan pernah mempergunakannya lagi.”

Laki-laki itu seakan-akan telah kehilangan penalarannya. Disarungkannya senjatanya tanpa disadarinya.

Paksi lah yang benar-benar menjadi tegang. Ia tidak dapat membiarkan laki-laki itu begitu saja jatuh ke tangan perempuan berpakaian coklat itu. Paksi pun tahu bahwa perempuan itu adalah perempuan yang cantik. Tetapi Paksi pun menyadari bahwa kecantikan itu hanya nampak pada ujud lahiriahnya saja. Sikapnya terhadap laki-laki dari perguruan Sad itu telah menunjukkan wataknya yang sebenarnya. Apalagi sikap itu dilakukannya di hadapan banyak orang tanpa malu.

Namun Paksi masih harus memperhitungkan banyak hal tentang perempuan itu. Paksi mulai membayangkan, apa jadinya jika dirinya yang kemudian berdiri dengan kepala tunduk tanpa dapat memberikan perlawanan sama sekali.

“Tentu ada kekuatan yang tidak terlawan oleh laki-laki itu,” berkata Paksi di dalam dirinya.

Namun dalam pada itu, ketika laki-laki dari perguruan Sad itu benar-benar telah kehilangan kesadarannya, sehingga seakan-akan telah menjadi seekor lembu yang telah dicocok hidungnya, tiba-tiba saja terasa angin berhembus perlahan-lahan. Tidak terlalu kencang.

Namun angin yang tidak terlalu kencang itu pun kemudian telah berputar, seperti sebuah angin pusaran kecil. Hanya debu-debu kecil yang terangkat oleh angin pusaran yang lemah itu. Namun angin pusaran yang lemah itu telah bergerak dengan cepat. Tiba-tiba saja angin pusaran itu seakan-akan telah membelit laki-laki dari perguruan Sad yang telah kehilangan kesadarannya itu.

Perempuan cantik dari Goa Lampin itu terkejut. Tiba-tiba ia menengadahkan wajahnya. Beberapa langkah ia bergerak surut menjauhi laki-laki dari perguruan Sad itu.

“Setan tua. Kenapa kau selalu menggangguku? Marilah, kita selesaikan persoalan kita sampai tuntas.”

Tidak terdengar jawaban. Tetapi yang terjadi kemudian adalah, bahwa laki-laki yang kehilangan kesadaran itu tiba-tiba mengangkat wajahnya. Seperti orang terbangun dari tidurnya ia memandang berkeliling.

Namun tiba-tiba saja laki-laki itu meloncat mundur sambil menarik senjatanya dari sarungnya. Dengan garang ia pun berkata, “Apa yang sudah kau lakukan?”

Perempuan yang semula nampak cantik dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya itu mengerutkan dahinya. Wajahnya tidak lagi nampak ramah seperti sebelumnya.

“Baik,” tiba-tiba perempuan itu melangkah mundur, “aku bebaskan muridmu yang satu ini sekarang. Tetapi jika sekali lagi ia mencampuri urusan muridku tentang apa saja, maka ia akan hanyut ke dalam dunia mimpinya yang indah. Sayang, kau sudah terlalu tua untuk itu.”

“Cukup,” laki-laki yang memegang senjatanya itulah yang membentak.

Tetapi perempuan itu tertawa berkepanjangan sambil berkata, “Jangan menyalak begitu garang serigala kecil. Kau dapat melakukannya jika gurumu ada di dekatmu.”

Laki-laki itu tidak menjawab. Sementara perempuan cantik yang berpakaian coklat itu pun melangkah meninggalkan laki-laki itu sambil berkata kepada muridnya, perempuan yang lengannya tergores senjata itu, “Marilah. Biarlah anak itu kita lepaskan kali ini.”

Laki-laki dari perguruan Sad itu tidak memburunya. Tetapi ketika ia memandang berkeliling, maka wajahnya serasa menjadi panas. Laki-laki itu merasa sangat malu, setelah ia sadari apa yang terjadi atas dirinya.

Karena itu, maka dengan serta-merta laki-laki itu pun segera melangkah pergi, meninggalkan lingkungan pasar yang dicengkam oleh ketegangan itu.

Demikian laki-laki itu pergi, sementara kedua orang perempuan yang aneh itu tidak nampak lagi, maka orang-orang pun menjadi sibuk. Mereka pun segera membenahi barang dagangan mereka.

Paksi sendiri masih berdiri termangu-mangu. Bahkan kemudian Paksi itu telah berdiri bersandar sebatang pohon di depan pasar yang menjadi semakin sepi.

Ketika Paksi melihat seorang penjual makanan yang duduk dengan wajah sendu menunggui dagangannya, ia pun melangkah mendekat. Sambil duduk di sebelahnya, Paksi bertanya, “Kau tidak pulang, Bibi?”

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau lihat, Ngger. Daganganku masih banyak. Jika tidak ada orang yang membeli lagi serba sedikit, aku tidak akan dapat berjualan lagi besok, karena aku tidak mempunyai uang cukup untuk membeli bahan-bahannya. Hari ini daganganku hampir masih utuh.”

“Apakah karena ketegangan tadi, maka makanan yang Bibi jajakan ini tidak laku?”

“Siapa yang akan sempat berpaling pada makanan yang aku jajakan?” jawab perempuan itu.

Paksi menarik nafas panjang. Sementara perempuan itu berkata, “Aku tidak tahu, apa yang dapat aku lakukan besok.”

Sejenak Paksi merenungi makanan itu. Ia sendiri sedang menjalani laku. Ia hanya dapat makan tiga jenis bahan pangan setiap hari. Satu jenis makanan itu tentu sudah mengandung tiga atau bahkan lebih jenis bahan pangan. Sepotong wajik terbuat dari ketan, gula, garam dan santan kelapa. Bahkan kadang-kadang dengan penyedap manis jangan..

Tetapi Paksi tidak sampai hati melihat kegelisahan perempuan tua itu. Karena itu, maka Paksi pun kemudian berkata, “Bibi, di rumahku akan ada tamu, kebetulan bahwa Bibi masih mempunyai makanan yang cukup. Karena itu, aku akan membeli beberapa potong.”

“Kau akan membeli makananku?” wajah perempuan itu menjadi cerah.

“Tetapi tidak terlalu banyak, Bibi.”

Ternyata Paksi membeli lebih dari separo sisa makanan yang dijajakan itu, sehingga perempuan itu mengucapkan terima kasih berkali-kali sambil tersenyum berulang kali.

Sejenak kemudian, maka Paksi pun telah membawa makanan yang dibungkus dengan daun pisang itu. Tetapi Paksi tidak tahu untuk apa makanan sebanyak itu, karena ia sendiri tidak dapat memakannya.

Sementara itu, pasar memang menjadi semakin sepi. Perempuan yang menjual makanan itu pun telah membenahi dagangannya pula. Nampaknya dengan uang yang didapatnya dari Paksi, ia akan dapat berjualan lagi esok pagi.

Sementara itu Paksi masih kebingungan dengan makanannya. Namun akhirnya Paksi berkesimpulan untuk membawa makanan itu pulang.

Ketika di jalan pulang ia melihat sekelompok gembala sedang beristirahat di bawah sebatang pohon yang rindang, sementara kambing-kambing mereka pun berkeliaran di padang rumput yang hijau, maka Paksi tertegun. Beberapa orang anak di antaranya sudah dikenalnya, karena Paksi  pernah berbincang-bincang dengan mereka.

Karena itu, maka Paksi pun telah mendatanginya. Sambil duduk bersama mereka, Paksi berkata, “He, aku membawa makanan buat kalian.”

“Makanan apa, Kang?” bertanya seorang anak yang kuncung di ubun-ubunnya memanjang sampai ke dahi.

Paksi membuka bungkusan makanannya. Di antaranya beberapa potong wajik, jadah, beberapa bungkus hawug-hawug dan cemplon.

Anak-anak gembala itu nampak ragu-ragu. Sementara Paksi berkata, “Jangan malu. Aku sengaja membelinya untuk orang yang sedang berkumpul seperti ini. Hari ini hari ulang tahun kelahiranku. Tumbuk.”

Tetapi dengan tidak terduga seorang dari anak-anak itu bertanya, “Tumbuk berapa? Dua atau tiga. Kalau dua, Kakang nampaknya terlalu tua. Kalau tumbuk tiga, Kakang nampaknya terlalu muda. Ayahku baru saja memperingati ulang tahunnya, pada tumbuk tiga.”

Paksi tersenyum. Katanya, “Umurku sudah duapuluh ampat, sama dengan umur ayahmu.”

“Tetapi ayah sudah nampak tua.”

“Sekarang berapa umurmu?” bertanya Paksi.

“Tujuh tahun,” jawab anak itu.

“Hitung, berapa tahun umur ayahmu ketika ibumu melahirkan, jika sekarang umurnya baru duapuluh ampat.”

Anak itu termangu-mangu. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan Paksi. Namun Paksi pun bertanya pula, “Siapa yang mengatakan bahwa ayahmu baru saja ulang tahun pada tumbuk tiga? Tentu keliru. Mungkin tumbuk ampat.”

Anak itu masih saja termangu-mangu.

Tetapi Paksi pun kemudian berkata, “Nah, lupakan saja umur ayahmu dan umurku. Sekarang, marilah kita makan bersama-sama.”

Anak-anak itu tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka segera memungut makanan sesuai dengan selera masing-masing. “Ini masih ada,” berkata Paksi.

Anak-anak itu hanya saling berpandangan. Masih seonggok makanan yang tersisa. Tetapi anak-anak itu nampaknya enggan untuk mengambil lagi.

Paksi tersenyum. Namun ia pun segera bangkit sambil berkata,

“Aku akan pulang. Terserah kepada kalian, apakah kalian akan menghabiskan makanan itu atau tidak.”

Tidak  ada yang  menyahut.   Karena  itu,   maka  Paksipun kemudian berkata, “Sudahlah. Aku minta diri.”

Diusapnya kepala beberapa orang anak yang sedang menggembalakan kambing itu. Kemudian Paksi itu pun segera melangkah pergi.

Ketika Paksi sudah meloncati parit dan berdiri di jalan, maka ia pun berpaling. Dilihatnya anak-anak itu sedang sibuk berebut makanan yang ditinggalkan oleh Paksi.

Paksi tersenyum. Seorang anak yang melihat Paksi berpaling, menggamit kawan-kawannya. Tetapi ketika mereka melihat Paksi mengangkat tangannya, maka mereka pun bersorak sambil melambaikan tangan mereka yang masih menggenggam sepotong makanan.

Paksi pun menjadi gembira melihat anak-anak itu menjadi gembira. Sekilas memang terbayang kembali masa kanak-kanaknya. Ia juga sering berada di dalam satu lingkungan permainan  dengan kawan-kawannya. Ia sempat bergembira.

Tertawa lepas tanpa kekangan. Bahkan sampai umurnya menginjak tujuh belas. Namun jika ia sudah menginjak ambang pintu rumahnya, maka rasa-rasanya hidupnya menjadi sepi dalam kesendiriannya. Kedua adiknya dapat bergaul rapat dengan ayahnya. Tetapi Paksi sendiri merasa, hubungannya dengan ayahnya terasa renggang.

Paksi menarik nafas dalam-dalam.

Namun masa-masa itu sudah lewat. Ia tidak lagi harus bertanya-tanya tentang dirinya. Di gubuk kecil di kaki gunung itu ia telah berjuang di bawah bimbingan Ki Marta Brewok untuk bukan saja menjadi dirinya, tetapi membentuk dirinya sendiri.

Paksi berjalan terus. Panas matahari tidak dihiraukannya. Ia sudah terbiasa terpanggang sinar matahari saat-saat ia berlatih di sanggarnya yang terbuka.

Ketika Paksi kemudian sampai di gubuknya, maka ia pun segera berbenah diri, sehingga sejenak kemudian ia sudah siap untuk melakukan latihan-latihan ringan, menggerakkan urat-urat darahnya serta melemaskan otot-ototnya.

Paksi tidak terlalu lama berlatih. Ia pun kemudian pergi ke sungai untuk membersihkan badannya dan mencuci pakaiannya.

Ketika matahari menjadi semakin rendah, Paksi sempat beristirahat, duduk di belakang gubuk kecilnya. Ia melihat seekor ular yang merayap dengan cepat melintas menuju ke semak-semak belukar.

Seperti dikatakan oleh Ki Marta Brewok, di sekitar tempat itu memang terdapat banyak sekali ular dari berbagai macam jenis, sehingga karena itu, maka Paksi tidak pernah lupa setiap hari menelan obat yang diberikan oleh Ki Marta Brewok untuk menawarkan racun.

Sambil beristirahat, Paksi sempat merenungi apa yang dilihatnya di pasar itu. Ia memang merasa pengalamannya, bahkan pengalaman jiwanya, menjadi semakin kaya. Ia melihat seorang ayah yang ingkar akan kewajibannya, dan bahkan telah menjadi benalu bagi isteri dan anak-anaknya. Ia pun melihat dua orang dari dua perguruan yang berbeda. Ia sempat mengenali gaya dan ciri ilmu dua perguruan. Namun ia pun sempat mengenali watak dari dua perguruan itu. Terutama perguruan

Goa Lampin. Ketika Paksi sempat mengenang apa yang terjadi atas laki-laki yang sempat dihisap ke dalam lingkungan perguruan Goa Lampin, maka rasa-rasanya bulu-bulu tengkuknya meremang.

“Laki laki yang terkurung di dalam goa itu akan menjadi apa saja nantinya?” pertanyaan itu telah membuat Paksi merasa ngeri. Sementara itu, ia harus mengakui bahwa perempuan cantik yang berpakaian coklat itu tentu perempuan yang berilmu tinggi.

Dalam keadaan yang demikian, rasa-rasanya ia ingin segera bertemu dan berbicara dengan Ki Marta Brewok. Ia ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan laki-laki dari perguruan Sad itu.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian bangkit berdiri. Diraihnya kapaknya yang terselip pada dinding rumahnya.

Namun sambil melangkah ke halaman, Paksi teringat pada perempuan tua yang berjualan makanan. Nampaknya hidupnya dan barangkali juga dengan keluarganya, tergantung dari setampah makanan yang dijajakannya itu.

Namun sejenak kemudian Paksi pun telah tenggelam dalam kerjanya. Dengan kapaknya ia membelah gelondong-gelondong kayu bakar. Kemudian kayu yang sudah terbelah itu dijemurnya di sisa panasnya matahari.

Tetapi kayu-kayu itu tidak perlu ditempatkan di tempat yang terlindung, karena nampaknya hujan masih belum segera turun.

Paksi pun kemudian telah mengisi waktunya dengan berlatih pula. Sambil duduk di atas sebongkah batu, Paksi mempertajam kemampuan bidiknya dengan sasaran yang lebih kecil yang pernah dilakukan. Seikat jerami yang digantung di tempat yang lebih jauh dari latihan-latihannya terdahulu.

Paksi mengakhiri latihannya ketika senja turun. Tiba-tiba saja ia telah mengharapkan Ki Marta Brewok datang secepatnya.

Ternyata Ki Marta Brewok seolah-olah mengetahui keinginan Paksi itu. Demikian gelap turun, Ki Marta Brewok telah berada di tempat itu.

“Aku memang mengharap Ki Marta Brewok datang lebih awal,” desis Paksi.

“Aku juga tahu,” jawab Ki Marta Brewok. “Kau tentu melihat peristiwa yang terjadi di pasar itu. Kau tentu melihat murid dari perguruan Goa Lampin dan murid dari perguruan Sad bertempur. Kau juga tahu kedatangan iblis betina, maha guru dari perguruan Goa Lampin itu.”

“Apakah Ki Marta Brewok juga melihatnya?”

“Aku tidak sengaja melihatnya. Tetapi aku mengikuti perkembangan keadaan sejak semula. Aku melihat laki-laki yang memukul isterinya itu. Aku melihat bagaimana perempuan Goa Lampin itu mencampuri persoalan suami isteri itu dan bagaimana anak dari perguruan Sad itu ikut pula melibatkan diri.”

“Ki Marta,” desis Paksi, “ada yang ingin aku tanyakan. Apa yang sebenarnya terjadi ketika laki-laki dari perguruan Sad itu tiba-tiba kehilangan pribadinya. Ia menjadi seakan-akan pasrah serta melakukan segala perintah perempuan berpakaian coklat itu.”

“Perempuan itu mempunyai kekuatan semacam kekuatan sihir. Siapa yang dipandangi matanya serta orang yang dipandangi matanya itu memandang matanya pula, maka ia akan terpengaruh oleh kuasa ilmu perempuan itu. Orang yang demikian, tidak lagi tahu apa yang dilakukan. Ia berbuat apa saja sesuai dengan kehendak perempuan yang menyihirnya itu. Bahkan untuk membunuh diri sekalipun.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam.

Sementara itu Ki Marta Brewok berkata, “Ada baiknya kau melihatnya, Paksi. Dengan demikian kau mendapat satu pengalaman baru. Sehingga kau harus belajar, bagaimana menghadapi pengaruh sihir seperti itu.” Paksi mengangguk-angguk kecil.

“Di samping itu,” berkata Ki Marta Brewok, “kau harus mengenali kedua perguruan itu pula. Serba sedikit kau tentu sudah mendapat gambaran isi dari perguruan Goa Lampin. Goa Lampin sebenarnya adalah nama sebuah goa kecil.  Namun padepokan yang dibangun di sekitar goa itu kemudian disebut Padepokan Goa Lampin. Padepokan itu dibangun sedemikian rupa, sehingga goa itu berada di dalam padepokan itu.”

Paksi masih mengangguk-angguk, sementara Ki Marta Brewok pun berkata, “Sedangkan perguruan Sad adalah perguruan yang samar-samar. Aku tidak dapat mengetahui dengan pasti garis kebijaksanaan pemimpinnya. Tetapi untuk sementara kau harus berhati-hati. Aku melihat sifat-sifat yang agak licik pada perguruan itu.”

“Ki Marta,” berkata Paksi kemudian, “apakah ada cara-cara khusus untuk mengatasi kekuasaan sihir itu? Ilmu itu sangat mengerikan. Aku tidak pernah menjadi gelisah melihat berbagai macam ilmu. Tetapi aku benar-benar ngeri mengenang kekuatan ilmu sihir itu. Aku selalu dibayangi oleh angan-angan, apa yang terjadi dengan diriku jika aku jatuh ke tangan iblis betina itu. Lebih baik dadaku ditembus oleh ujung tombak daripada terpengaruh oleh ilmu itu.”

Ki Marta Brewok tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku akan berusaha membantumu. Kau harus melapisi kesadaranmu dengan ketahanan jiwani yang tinggi.”

“Aku akan menjalani laku apa pun untuk menemukan kekuatan yang dapat melawan ilmu sihir itu.”

“Kau harus menyelesaikan laku yang sedang kau jalani sekarang lebih dahulu, Paksi. Sementara itu, kau dapat mempersiapkan dirimu untuk menjalani laku berikutnya. Kau tidak usah berpikir, kapan kau harus berangkat untuk meneruskan pencarianmu atas cincin itu. Aku yakin bahwa dalam waktu satu dua tahun, cincin itu masih belum diketemukan. Seandainya cincin itu sudah diketemukan, maka masih dapat dipertanyakan, siapakah yang menemukan cincin itu.”

Paksi mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya ia menjadi semakin mantap.

Namun Ki Marta Brewok itu masih berkata pula, “Untuk sementara Paksi, kau dapat menghindarkan diri dari pengaruh sihir itu dengan lembaran ketabahan hati serta berusaha untuk tidak memandang orang yang kau curigai mempunyai ilmu sihir itu pada matanya. Namun menurut pengetahuanku, di perguruan Goa Lampin hanya perempuan iblis yang menjadi pemimpinnya itu sajalah yang memiliki kemampuan ilmu sihir. Sedangkan kau sudah pernah melihat orang itu, sehingga kau dapat berhati-hati seandainya kau karena sesuatu hal berhadapan dengan orang itu. Bukankah sebagaimana kau lihat, perempuan yang lengannya terluka itu sama sekali tidak mempunyai kemampuan ilmu semacam itu?”

Paksi mengangguk-angguk.

“Baiklah,” berkata Ki Marta Brewok. “Kau harus mempersiapkan diri. Kita akan berlatih lagi. Meskipun sebenarnya kau sudah sampai ke puncak, tetapi kau masih harus berusaha membuka pintu-pintu inderamu lebih lebar lagi, agar ilmumu dapat menjadi semakin berkembang.”

Sejenak kemudian Paksi pun telah tenggelam lagi dalam latihan-latihan yang berat. Ia harus mengasah penglihatan, pendengarannya dan bahkan panggraitanya.

Sedikit lewat tengah malam, Ki Marta Brewok mengakhiri latihan itu. Setelah beristirahat sejenak, Ki Marta Brewok sempat makan bersama Paksi. Namun Paksi masih terikat dengan laku yang sedang dijalaninya.

“Aku terpaksa harus ikut makan hanya dengan garam,” desis Ki Marta Brewok.

Paksi tersenyum. Meskipun hanya dengan garam, ternyata Ki Marta Brewok itu makan cukup banyak. Katanya, “Supaya tenaga di dalam tubuh ini tidak menyusut, maka kita harus makan banyak. Menurut pendapatku kau sudah memilih laku yang benar dengan cara yang benar. Setiap hari kau ganti jenis makanan yang tiga itu. Sekali-sekali kau makan bayam rebus saja di samping nasi. Lain kali, ikan air yang kau panggang dengan garam. Kemudian kau makan ketela yang kau rebus dengan gula kelapa.”

“Dengan demikian aku tidak merasa jenuh dengan satu dua jenis makanan, Ki Marta.”

“Otakmu cukup terang. Kau dapat melanjutkannya sampai pada suatu saat kau harus melakukan pati-geni.”

Demikianlah, seperti yang dikatakan oleh Ki Marta Brewok, Paksi melanjutkan laku yang dijalaninya. Di samping laku itu,

Paksi sekali-sekali juga turun untuk pergi ke pasar. Beberapa orang telah dikenalnya. Anak muda yang hampir setiap hari pergi mengantar dan menjemput ibunya yang berjualan kain lurik, telah dikenalnya dengan akrab pula.

Sementara itu, setiap kali Paksi berada di pasar, ia selalu mencari Kinong meskipun hanya untuk berbincang sebentar. Bahkan dengan diam-diam Paksi telah mengikuti dan melihat, dimana rumah Kinong itu.

Rumah Kinong sebenarnya termasuk rumah yang sedang.

Meskipun bukan joglo, tetapi di bagian depan rumahnya terdapat pendapa. Namun rumah itu menjadi tidak terpelihara. Sebuah kandang berdiri di sebelah rumah. Tetapi kandang itu juga sudah kosong. Tidak ada seekor lembu pun yang berada di dalam kandang itu. Yang masih nampak berkeliaran di halaman adalah beberapa ekor ayam.

Sementara itu, Paksi tidak lagi melihat murid-murid dari perguruan Goa Lampin berkeliaran di pasar. Kecuali jika mereka tidak mengenakan ciri-ciri perguruannya sehingga tidak dapat mengenalinya. Demikian pula para cantrik dari padepokan Sad.

Namun dengan demikian Paksi sendiri harus berhati-hati agar tidak menarik perhatian orang lain. Terutama orang-orang dari perguruan Goa Lampin. Apalagi jika perempuan yang disebut sebagai mahagurunya itu.

Dalam pada itu, laku yang dijalani Paksi sudah hampir sampai pada saatnya genap ampat puluh hari ampat puluh malam. Karena itu, maka Ki Marta Brewok pun kemudian berkata, “Paksi, bersiaplah. Kau akan segera sampai pada puncak laku yang harus kau jalani. Kau harus mengetahui apa yang harus kau lakukan saat kau menjalani pati-geni.”

“Apa yang harus aku lakukan, Ki Marta?”

“Kau akan aku bawa ke satu tempat yang tersembunyi, agar selama kau menjalani laku terakhir, kau tidak terganggu. Kau jangan membawa makanan apa pun kecuali pisang, kunyit dan kencur. Selama tiga hari tiga malam, sehingga selama kau menjalani laku itu, kau hanya boleh makan tiga buah pisang.”

Paksi menyadari, bahwa laku yang harus dijalaninya tentu sangat berat. Tetapi Paksi tidak akan ingkar. Apa pun yang harus dilakukan, akan dilakukan menurut kemampuannya.

Namun dalam pada itu Ki Marta Brewok pun berkata, “Tetapi apa pun yang kau lakukan, kau tidak boleh melupakan kewajibanmu terhadap Sumber Hidup-mu.”

Paksi mengangguk-angguk. Sejak kecil ibunya telah memperkenalkannya dengan Sumber Hidup-nya, sehingga Paksi tumbuh di dalam ikatan yang semakin lama semakin erat. Sikap ayahnya yang mendorong Paksi semakin dekat dengan ibunya, membuat Paksi semakin dekat pula dengan Yang Maha Agung sesuai dengan tuntunan yang diberikan oleh ibunya.

Ketika Paksi berada di gubuk kecil di kaki gunung itu, maka ia justru merasa hubungannya menjadi semakin erat dengan Sumber Hidup-nya itu.

Demikianlah, maka Ki Marta Brewok pun nampak menjadi semakin berhati-hati membimbing Paksi. Laku yang dijalaninya pun menjadi semakin berat. Ia tidak lagi harus melakukan latihan-latihan yang berat di sanggar terbukanya. Tetapi di setiap tengah malam, Paksi duduk di atas sebuah batu yang besar bersama Ki Marta Brewok. Tuntunan yang diberikan pun mulai berkisar. Ki Marta Brewok mulai memperkenalkan kekuatan-kekuatan yang tersimpan di dalam diri Paksi. Ki Marta Brewok mulai mengajarkan, bagaimana Paksi dapat mengungkapkan kekuatan-kekuatan itu. Latihan-latihan mengatur pernafasan sebagai landasan untuk melakukan sikap dan perbuatan selanjutnya dilakukan dengan bersungguh-sungguh. Ki Marta bahkan menilik setiap gerak yang terjadi di dalam tubuh Paksi.

Menjelang hari ke empat puluh maka latihan-latihan pun menjadi semakin khusus, latihan-latihan kewadagan  pun menjadi semakin sedikit. Ki Marta Brewok menganjurkan agar Paksi memanfaatkan waktu yang luang di siang hari untuk melakukan latihan-latihan kewadagan.

Dengan demikian, maka Paksi pun telah mengalami tempaan lahir dan batin. Dengan segenap kemampuan yang ada, Paksi melakukan segalanya dengan kesungguhan.

Akhirnya Paksi pun telah sampai pada hari ke empat puluh. Paksi menyadari, bahwa ia akan sampai pada puncak laku yang berat.

Tetapi Ki Marta Brewok telah mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya. Lahir dan batin.

Ketika senja turun, maka Paksi pun menjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan kemudian. Ia sudah menyediakan tiga buah pisang sebagaimana dipesankan oleh Ki Marta Brewok. Kemudian kunyit dan kencur serba sedikit.

Ketika kemudian Ki Marta Brewok itu datang, Paksi pun benar benar telah siap.

“Nampaknya kau telah mempersiapkan diri dengan baik, Paksi. Sudah waktunya kau menjalani puncak laku yang akan membuka kemungkinan bagimu untuk mengendalikan semua unsur kekuatan di dalam dirimu sesuai dengan kehendakmu. Kekuatan yang bagi banyak orang tersimpan dan tidak dapat dipergunakan karena mereka tidak mengenali diri mereka sendiri seutuhnya, akan dapat kau pergunakan sebaik-baiknya. Tetapi ingat Paksi. Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang baik, yang hidup di dalam lingkungan sesamanya. Karena itu, jika Yang Maha Agung memperkenankan kau memiliki kemampuan yang lebih dari orang lain, kau dapat mempergunakannya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan martabat kita. Kita tidak boleh mempergunakannya dengan semena-mena. Bukan saja atas sesama, tetapi juga atas lingkungan kita. Karena kita dan lingkungan kita adalah satu keutuhan yang saling bergantung dan saling mempengaruhi.”

Paksi mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Ya, Ki Marta. Aku mengerti.”

“Nah, baiklah. Sekarang, ikut aku.”

Paksi termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Marta Brewok berkata selanjutnya, “Tutup pintu rumahmu. Simpanlah barang-barang terpentingmu. Benahi alat-alat dapurmu. Kita akan pergi selama tiga hari tiga malam.”

Demikianlah, maka Paksi pun kemudian telah mengikuti Ki Marta Brewok meninggalkan gubuknya. Mereka berjalan di dalam kegelapan, melalui lereng dan tebing gunung yang rumit yang belum pernah dikenal oleh Paksi. Namun betapa pun gelapnya, maka Paksi yang sudah terlatih dengan baik, masih mampu melihat keadaan di sekelilingnya. Ia masih dapat mengenali beberapa ciri yang akan dapat diingatnya jika ia harus berjalan melalui tempat itu lagi.

Paksi menjadi berdebar-debar ketika ia harus menuruni sebuah tebing. Sebelum ia sampai ke tempat yang dituju, telinganya yang juga sudah menjadi semakin tajam telah mendengar gemuruhnya air terjun.

Beberapa saat kemudian, Paksi telah sampai ke sebuah aliran sungai. Dalam keremangan malam ia melihat air terjun dari ketinggian. Meskipun tidak terlalu besar, tetapi suaranya yang bergelora berkepanjangan terdengar seirama dengan hembusan angin di lereng gunung.

“Kita akan bersembunyi dalam goa di belakang air terjun itu. Dengan demikian, maka kau tidak akan terganggu selama tiga hari tiga malam penuh.”

Paksi mengangguk kecil.

Demikianlah, maka mereka pun kemudian menyusuri lereng berbatu-batu padas mendekati air terjun itu.

Tetapi Paksi tidak melihat sebuah goa di sekitar air terjun itu. Namun Paksi mengira, bahwa ketajaman penglihatannya saja yang masih belum dapat menangkap mulut goa yang dimaksud oleh Ki Marta Brewok.

Tetapi ternyata dugaan Paksi keliru. Ki Marta Brewok telah membawa Paksi menembus air terjun itu, karena mulut goa itu berada di belakangnya, tertutup oleh air yang meluncur dari ketinggian.

Dengan demikian, maka keduanya menjadi basah kuyup ketika mereka kemudian berdiri di sebuah mulut goa.

“Marilah,” berkata Ki Marta Brewok. Namun ia pun mengingatkan pula, “Juga di dalam goa ini terdapat banyak ular dari berbagai jenis. Tetapi jika kau sudah minum obat itu, maka kau tidak usah menjadi cemas.”

Paksi tidak menjawab. Ia melangkah dengan hati-hati di belakang Ki Marta Brewok.

Di dalam goa itu gelap terasa menjadi semakin pekat. Tetapi perlahan-lahan penglihatan Paksi yang tajam mulai membiasakan diri dengan kegelapan itu. Meskipun sangat samar, namun Paksi mulai dapat melihat isi goa itu.

Yang nampak tidak lebih dari bebatuan. Batu-batu yang tajam menggantung dan yang lain mencuat dari bawah.

Keduanya melangkah semakin lama menjadi semakin dalam. Titik-titik air menetes dimana-mana sehingga di bawah kaki mereka, air itu berkumpul dan mengalir keluar.

Beberapa saat kemudian, Ki Marta Brewok telah membelok memasuki cabang goa yang lebih kecil, memanjang menusuk perut bumi.

Di ujung cabang goa yang dalam itulah kemudian Ki Marta Brewok memerintahkan Paksi untuk mencari tempat duduk.

“Di sebelah ini ada sebuah ruang yang agak luas,” berkata Ki Marta Brewok. “Nanti kau dapat melihatnya sendiri. Tetapi itu tidak penting. Kau untuk sementara tidak memerlukan ruangan yang luas. Kau hanya memerlukan tempat duduk yang cukup memuat tubuhmu saja, karena selama tiga hari tiga malam, kau akan melakukan latihan-latihan dengan sifat halusmu serta pemahaman-pemahaman terpenting dari laku yang kau jalani.”

Paksi mengangguk kecil.

-ooo00dw00ooo-

Diedit dari

naskah yang dikirimkan oleh Nyi Dewi KZ (Website Tirai Kasih)

<<kembali | lanjut >>

2 Tanggapan


  1. https://polldaddy.com/js/rating/rating.jsberapa butirkah ki Marta Brewok sudah memberi obat anti racun/bisa ular selama menetap di gubug itu. Sepertinya sudah sekitar setahun , bahakan bisa lebih, tetapi setiap hari masih minum obat penawar bisa ular…..( satu jilid satu tahun ? )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s