JDBK-16


<<kembali | lanjut >>

NAMUN Paksi memang harus pulang. Dengan demikian ibunya akan menjadi tenang. Ia pun harus memberikan laporan kepada ayahnya, apa yang telah terjadi di paseban meskipun ayahnya itu melihatnya langsung.

Sejenak kemudian, Paksi pun berjalan menuntun kudanya di halaman rumahnya. Kuda berwarna kelabu yang besar dan tegar. Kuda-kuda ayahnya tidak ada yang sebaik kuda yang diterimanya dari Pangeran Benawa itu.

Jantung Paksi menjadi semakin berdebar ketika ia melihat ayahnya berdiri di pendapa sambil beitolak pinggang. Dengan lantang ayahnya itu bertanya, “Dari mana kau curi kuda itu?”

Paksi berhenti di halaman. Kemudian ia pun menjawab, “Hadiah dari Pangeran Benawa, ayah”

“Bukankah kau sudah menerima ganjaran dari Kangjeng Sultan sendiri?”

“Ya, ayah”

“Kenapa kau menerimina hadiah juga dari Pangeran Benawa?”

“Entahlah. Aku tidak tahu, ayah”

Ayahnya itu pun kemudian turun dari pendapa sambil bertanya, “Apakah kau dan Pangeran Benawa sengaja mempermainkan aku?”

“Tidak, ayah. Sama sekali tidak”

“Jika suatu saat aku tahu, bahwa kau dan Pangeran Benawa telah mempermainkan aku, maka kau akan sangat menyesal. Pangeran Benawa pun akan menyesal karena aku akan memberitahukan kepada Kangjeng Sultan. Kangjeng Sultan tentu juga merasa sudah dipermainkan pula. Kangjeng Sultan tentu akan bertanya, kenapa cincin itu dapat terlepas dari Pangeran Benawa dan jatuh ketanganmu, apa pun yang kau ceriterakannya”

“Tetapi aku sama sekali tidak mempermainkan ayah. Aku telah melakukan apa yang harus aku lakukan sesuai dengan perintah ayah”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian dengan serta merta telah berbalik dan kembali naik ke pendapa. Dan bahkan langsung masuk keruang dalam.

Paksi pun kemudian membawa kudanya ke belakang. Masih ada tempat di kandang kuda.

Seorang pekathik, laki-laki yang rambutnya sudah mulai memutih, datang mendekatinya. Sambil mengamati kuda berwarna kelabu itu ia pun berkata, “Kuda yang sangat bagus. Raden”

“Pemberian Pangeran Benawa, paman”

“Pangeran Benawa?”

“Ya, paman”

“Pantas sekali, Pangeran Benawa adalah seorang penggemar kuda. Ia mempunyai beberapa ekor kuda. Tentu semuanya kuda yang sangat bagus seperti kuda ini. Beruntung raden mendapat hadiah seekor kuda dari Pangeran Benawa”

Paksi tersenyum. Katanya, “Aku titipkan kuda itu kepada paman”

“Aku memang pekathik disini. Jangan cemas. Aku akan memelihara kuda ini sebaik-baiknya seperti aku memelihara kuda-kuda Ki Tumenggung. Kuda ini akan menjadi kuda terbaik di rumah ini”

Paksi masih tersenyum. Katanya, “Aku memang beruntung, paman”

Paksi pun kemudian telah menyerahkan kudanya kepada pekatik itu. Sekilas ia mengamati kuda-kuda lain yang sudah ada di kandang. Agaknya kudanya memang menjadi kuda terbaik”

Ketika kemudian Paksi masuk keruang dalam lewat serambi samping, maka ibunya telah mendapatkannya. Dipeluknya anaknya itu sambil berkata, “Bukankah kau tidak dihukum, Paksi?”

“Tidak, ibu. Ternyata Kangjeng Sultan tidak menghukum aku. Aku justru mendapat beberapa macam ganjaran”

“Ganjaran? Ah, berkatalah sebenarnya”

“Ya ibu. Aku memang mendapat ganjaran”

Paksi pun kemudian telah menceriterakan hadiah-hadiah yang diterimanya. Sebilah keris. Uang dan Pangeran Benawa memberinya pula seekor kuda yang sangat baik.

“Benar begitu?”

“Ya. Ayah juga menyaksikannya, kecuali kuda itu”

“Ayahmu tidak bercerita kepadaku”

“Mungkin belum”

Wajah Nyi Tumenggung itu nampak berkrut. Namun kemudian Nyi Tumenggung itu pun telah mencoba tersenyum sambil berkata, “Kau harus bersyukur, Paksi”

“Ya, ibu. Aku memang harus bersyukur”

“Sang Pencipta akan selalu melindungimu” desis ibunya. Namun didalami hatinya ibunya itu pun berkata bukan salahmu, Paksi. Tetapi ayahmu itu telah membencimu”

Dalam pada itu, maka Paksi pun kemudian telah berkata, “Ibu, aku mohon ibu bersedia menyimpan uang ganjaran yang aku terima. Ketika aku pergi, ibu telah membelikan banyak sekali bekal kepadaku”

“Tetapi bekal itu telah kau kembalikan, Paksi. Perhiasan-perhiasan itu masih utuh. Bahkan bekal uang yang kau bawa pun masih tersisa”

“Tetapi aku mohon ibu bersedia menerima dan menyimpannya. Pada suatu saat kita akan memerlukannya”

Ibunya mengangguk. Diterimanya sekampil uang yang berat yang diterimanya dari Kangjeng Sultan.

“Keris ini akan aku simpan sendiri, ibu”

Ibunya mengangguk-angguk. Diamatinya keris yang diterima sebagai ganjaran oleh Paksi itu. Keris yang terselip didalam wrangkanya yang terbuat dari emas. Pada hulu keris itu terdapat beberapa butir permata yang berkilat-kilat.

“Keris yang sangat mahal” desis ibunya.

“Ya, ibu”

“Tetapi keris itu tentu bukan sekedar ganjaran, Paksi”

“Maksud ibu?”

“Bahwa kau menerima ganjaran sebilah keris itu adalah lambang, bahwa kau telah dibebani pula tanggung-jawab”

Wajah Paksi menegang. Dengan dahi berkerut ia pun bertanya, “Maksud ibu?”

“Bukankah kau menerima keris itu karena kau dianggap sebagai seorang kesatria sejati?”

“Ya, ibu”

“Nah, kewajiban seorang kesatria sejali tidak berhenti sampai saatnya ia menerima ganjaran. Bahwa Kangjeng Sultan menganugerahkan sebilah keris itu, tentu dengan maksud untuk melestarikan sifat-sifat kesatria didalam dirimu beserta sebuah tanggung-jawab yang berat. Setelah kau menerima ganjaran keris itu, kau tidak dapat membelakangi sifat-sifat kesatria itu”

Paksi mengangguk-angguk. Ia baru menyadari, bahwa ganjaran itu bukan ganjaran yang diterimanya karena perbuatannya dan jasa yang telah lewat itu saja. Tetapi ternyata ibunya benar. Keris itu adalah beban yang terletak di pundaknya.

“Kenapa Ki Marta Brewok tidak mengatakannya?” bertanya Paksi didalam hatinya. Untunglah bahwa ibunya sempat menterjemahkan maksud Kangjeng Sultan dengan ganjarannya.

“Karena itu, Paksi” berkata ibunya selanjutnya, “kau justru harus menjaga agar sifat-sifat itu tetap ada padamu dan yang lebih penting kau amalkan”

Paksi mengangguk sambil berdesis, “Semoga ibu. Aku mohon restu”

Ibunya menepuk bahu anak laki lakinya. Katanya, “Aku akan berdoa untukmu, Paksi”

lbunya pun kemudian lelah masuk kedalam biliknya. Disimpannya uang Paksi dengan baik bersama perhiasan-perhiasannya yang telah dikembalikan oleh Paksi. Bahkan Ki Tumenggung pun tidak akan mudah menemukannya.

Dalam pada itu, ketika hal itu didengar oleh kedua adiknya, maka keduanya menjadi bangga Keduanya telah menemui Paksi untuk mendengar langsung, bagaimana Paksi menerima ganjaran itu langsung dari Kangjeng Sultan.

“Kau tentu berdebar-debar, kakang?” bertanya adiknya perempuan.

Paksi tertawa. Katanya, “Tentu. Sedangkan untuk berada di paseban aku sudah menjadi gemetar”

“Untung, keris dan kampil uang itu tidak terjatuh pada saal kakang menerimanya. Jika kampil uang itu terjatuh dan uangnya bertaburan, maka Kangjeng Sultan akan menjadi ikut sibuk memungut dan mengumpulkan uang itu” sahut adiknya laki-laki.

Paksi tertawa. Kedua adiknya pun tertawa.

“Kak” bisik adiknya, “belikan aku cincin, ya kak”

“Cincin mas bermata tiga. Tidak usah seperti cincin kerajaan. Cincin dengan mata apa pun aku mau”

“Ah, kau” potong adik laki-laki Paksi, “cincin itu tidak penting. Kakang Paksi akan membelikan aku sebuah busur yang bagus. Aku akan ikut lomba panahan yang diselenggarakan di alun-alun setiap permulaa mangsa ketiga, saat gareng-pung mulai berbunyi di pepohonan”

“Terserah saja kau minta busur. Tetapi aku minta cincin”

“Baik. Baik” sahut Paksi, “aku akan menyampaikannya kepada ibu”

“Kenapa ibu?”

“Uang itu aku titipkan kepada ibu. Bukankah kalian tahu?”

“Ya. Tetapi aku minta kakang Paksi. Tidak minta ibu” desis adiknya perempuan.

Paksi tertawa pula. Katanya, “Baik. Baik. Akulah yang akan membelikan kalian”

Bagi Paksi, sikap kedua adiknya itu bagaikan titik-titik embun di tanah yang gersang. Jika saja ibunya tidak bersikap lembut dan kedua orang adiknya tidak bersikap manis kepadanya, maka rumah itu bagaikan neraka. Paksi benar-benar tidak tahu, kenapa ayahnya bersikap keras dan balikan kasar kepadanya. Meskipun ayahnya juga bersikap keras terhadap kedua adiknya, tetapi ayahnya itu tidak berbuat kasar kepada mereka.

“Aku adalah anak yang sulung” berkata Paksi didalam hatinya, “karena itu, agaknya ayah ingin membentuk aku menjadi laki-laki sebagaimana dikehendaki. Aku akan menjadi contoh bagi adikku, sehingga adikku pun akan menjadi laki-laki pula”

Paksi manarik nafas. Namun ia tetap tidak dapat mengerti sikap ayahnya itu. Setelah ia mendapatkan ganjaran keris serta sebutan kesatria dari Kangjeng Sultan, ayahnya sama sekali tidak menjadi bangga karenanya.

“Laki-laki seperti apa yang dikehendaki oleh ayah jika bukan seorang laki-laki dengan sifat dan watak seorang kesatria?”

Ternyata kemudian Paksi tidak ingkar. Ia telah minta uang kepada ibunya untuk membelikan sebentuk cincin bermata intan tiga butir bagi adik perempuannya serta sebuah busur yang baik serta anak panahnya bagi adiknya laki-laki”

“Kau sendiri akan membeli apa Paksi?”

Paksi menggeleng. Katanya, “Aku tidak akan membeli apa-apa ibu. Kebutuhanku sudah tercukupi. Bahkan aku sudah mempunyai sebilah keris dalam pendok emas tretes permata. Bukankah itu sudah berlebihan bagiku?”

“Tetapi keris itu kau terima langsung dari Kangjeng Sultan sendiri?”

“Bukankah itu sudah cukup?”

“Apakah kau tidak melengkapinya dengan kamus beludru dengan timang emas tretes permata?”

“Ah”

“Uangmu sangat banyak Paksi. Sangat banyak sekali”

Paksi tertawa katanya, “Aku justru ingin membeli sebuah kalung susun buat ibu”

Ibunya tertawa. Katanya, “Kau minta aku mengenakan kalung susun?”

Paksi tertawa.

“Ora nyebut” desis ibu Paksi sambil tertawa semakin panjang, “aku akan ditertawakan gadis-gadis kecil. Orang yang umbulnya ubanan masih mengenakan kalung susun”

“Apakah kalung susun hanyan boleh digunakan gadis-gadis muda?”

“Memang tidak. Tetapi tentu tidak pantas orang setua ibu mengenakan kalung susun”

“Jika demikian, peniti renteng”

Ibunya menepuk bahu Paksi, katanya, “Kau tahu, aku sudah mempunyai perhiasan cukup banyak. Bahkan yang kau bawa pun masih utuh”

Paksi tersenyum sambil mengangguk, la tahu, ibunya me ang sudah mempunyai perhiasan cukup banyak dan lengkap. Dalam pada itu, Paksi yang tinggal di rumahnya itu memang kadang-kadang merasa terganggu oleh sikap ayahnya. Namun Paksi berusaha untuk selalu menahan dirinya. Ia hanya menundukkan kepalanya saja jika ayahnya tiba-tiba saja marah kepadanya tanpa sebab. Seperti dahulu, ayahnya selalu menyebutnya sebagai pemalas yang tidak mempunyai gairah hidup sama sekali.

“Kau anakku yang sulung, Paksi. Kau harus memberi contoh yang baik bagi adik-adikmu. Selebihnya, anak mereka yang berada dibawah perintahku di Pajang ini tentu akan berkiblat kepadamu”

Paksi hanya dapat menunduk saja. Jika kadang-kadang lidahnya menjadi gemetar untuk menjawab, maka dengan susah payah, Paksi mengekangnya. Apa pun yang dilakukan, tetapi ia adalah ayahnya. Karena itu, maka Paksi wajib menghormatinya.

Dihari-hari berikutnya, Paksi sudah mulai menemui kawan-kawannya kembali. Seorang saja diantara mereka mendengar dari ayahnya, bahwa anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada menerima ganjaran dari Kangjeng Sultan, maka kawan-kawannya telah mendengarnya pula.

“Siapakah yang mengatakan kepadamu?” bertanya Paksi kepada kawannya yang bertanya langsung kepadanya.

“Ayah” jawab kawannya.

“Dari mana ayahmu mengetahui?”

“Ayah hadir di paseban”

Paksi mensarik nafas dalam-dalam. Ayah kawannya itu adalah seorang Rangga.

“Hanya satu kebetulan” jawab Paksi.

“Jadi selama ini kau telah mengembara?” bertanya kawannya yang lain.

“Ya sekedar untuk menambah pengalaman serta pengenalan atas hijaunya tanah ini”

“Bukan main” desis kawannya. Bahkan seorang kawannya berkata “Kalau saja kau mengajak aku. Aku akan ikut bersamamu”

“Lebih banyak membuang waktu”

“Akhirnya kau mendapat anugerah itu”

“Sudah aku katakan. Hanya karena kebetulan saja. Semakin kita tidak akan dapat berharap bahwa kebetulan itu akan datang beberapa kali kepada kita”

“Berapa lama kau mengembara, Paksi?” bertanya kawannya yang lain.

“Setahun lebih sedikit” awab Paksi.

“Dalam setahun kau banyak sekali berubah. Kulitmu menjadi semakin hitam. Tetapi tubuhmu menjadi semakin kekar. Kau nampak lebih tua dari umurmu yang sebenarnya. Bukankah kita sebaya?”

“Ya. Kita sebaya umurku delapan belas sekarang”

“Umurku juga delapan, Tetapi kau nampak jauh lebih matang dari kawan kawan sebaya kita”

“Aku lebih terbakar oleh pengembaraanku yang berat”

“Kau harus mencertitakan apa yang kau alami dalam pengembaraanmu”

Paksi tertawa, katanya, “Lain kali aku akan menceriterakan pengalaman pengembaraanku, tentu tidak akan menarik. Ceriteraku tentu tidak ada ubahnya seperti sebuah keluhan panjang”

Kawan-kawannya tidak mendesaknya, agaknya Paksi masih sangat letih, jika bukan badannya tentu batinnya. sehingga ia masih belum sempat berceritera kepada mereka.

Dalam pada itu, selama menemui kawan-kawannya, Paksi  pun tidak melupakan gurunya Ketika ia berangkat mengembara ia datang menemuinya dan minta diri kepadanya. Karena itu setelah ia pulang, maka ia berniat untuk segera menemuinya.

Gurunya nampak sangat gembira menerima kedatangan Paksi. Dengan sifat kebapaan Paksi pun dibimbingnya masuk ke ruang dalam.

“Aku senang melihat kau pulang, Paksi” berkata gurunya, “bukakah kau baik-baik saja selama kau mengembara?”

“Atas doa dan restu guru, aku dalam keadaan baik selama pengembaraanku. Tuhan Yang Maha Penyayang selalu melindungiku. Beberapa kali aku mengalami kesulitan selama aku mengembara. Namun aku selalu mendapat kemampuan untuk mengatasinya”

“Kau harus mengucap syukur, Paksi”

“Ya, guru. Aku bersyukur bahwa aku dapat menghadap guru lagi”

Gurunya menepuk bahu Paksi. Katanya, “Kau telah berubah setelah setahun mengembara. Tubuhmu menjadi sangat kuat. Sementara itu, pengalamanmu tentu sudah mengasah otakmu sehingga menjadi lebih tajam”

“Mudah-mudahan, guru. Tetapi pada dasarnya otakku memang tumpul”

Gurunya tertawa. Katanya, “Kau ingat ketika kau akan berangkat, kau minta diri kepadaku”

“Ya, guru”

“Saat itu aku katakan kepadamu, bahwa kau adalah muridku yang terbaik. Aku berharap bahwa kelak kau akan dapat menggantikan kedudukanku setelah aku menjadi tua dan rapuh”

“Aku tidak pantas menerima kepercayaan seperti itu, guru”

“Kenapa tidak? Jika muridku yang terbaik saja tidak pantas menerima kepercayaan seperti itu, lalu siapakah lagi yang akan pantas menerimanya? Sedangkan jika tidak ada orang yang dapat menggantikan kedudukanku, maka perguruan ini akan berakhir”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tentu ia juga tidak ingin perguruan itu lenyap begitu saja. Tetapi sebenarnyalah, bahwa perguruan itu tidak sepenuhnya sesuai dengan ujud perguruan yang terbaik menurut angan-angan Paksi. Murid-murid dari perguruan itu, tidak sepenuhnya anak-anak muda yang memang ingin berguru. Tetapi seolah-olah sekedar memenuhi kewajiban yang dibebankan oleh orang tua mereka

Paksi itu tersadar ketika gurunya kemudian berkata, “Hal itu jangan kau pikirkan sekarang, Paksi. Masih banyak waktu. Aku masih dapat memimpin perguruan ini untuk beberapa waktu mendatang sambil mempersiapkan segala sesuatunya menghadapi masa depan perguruan ini”

Paksi menarik nafas panjang. Ternyata yang dimaksud gurunya bukan angan-angannya tentang perguruannya, tetapi tentang kepemimpinannya.

“Paksi” berkata gurunya kemudian, “Setelah lebih setahun kau meninggalkan perguruan ini, aku ingin melihat apakaih pengalamanmu telah mematangkan ilmumu. Jika kau tidak keberatan, aku ingin membawamu ke sanggar”

Paksi menjadi berdebar-debar. Ilmunya tentu sudah tidak murni lagi. la telah menyadap ilmu dari seorang guru yang lain, Ki Marta Brewok. Selebihnya seseorang yang tidak dikenalnya telah memberikan pengaruh pula kepada ilmunya. Bahkan ia telah mendapatkan sebuah tongkat yang kemudian dipergunakannya sebagai senjata yang justru menjadi mapan baginya.

Paksi tidak mau mengecewakan gurunya selelah berada di sanggar, karena itu, maka sebelum mereka memasuki sanggar, Paksi telah menceritakan perjalanannya yang panjang, ia bercerita tentang tongkatnya, tentang Ki Marta Brewok dan tengtang Pangeran Benawa yang saat terakhir mengembara bersamanya. Dalam latihan-latihan bersama, mungkin sekali pengaruh ilmu Pangeran Benawa nampak pada ilmunya.

Gurunya tersenyum mendengar cerita Paksi, katanya “Kau telah mendapat anugerah yang besar Paksi, kau telah mendapat kesempatan untuk memperdalam ilmumu, tentu aku sama sekali tidak merasa kecewa. Dengan demikian, maka kau telah mendapat kekayaan baru. Kekayaan baru itu akan berarti pula bagi perguruan kita ini”

“Ya, guru” Paksi mengangguk.

“Dengan demikian aku menjadi semakin yakin, bahwa kau akan dapat menjadi pemimpin bagi perguruan ini kelak. Karena itu, kita wajib mempersiapkannya. Aku dan terutama kau”

Paksi tidak menjawab bahkan kepalanya tertunduk. Dalam pada itu gurunya pun berkata, “Paksi, marilah. Kita akan berada didalam sanggar”

Sejenak kemudian, maka Paksi pun telah berada didalam sanggar. Sanggar yang kebetulan sedang sepi. Saat tidak seorang pun sedang berada didalamnya.

“Paksi” berkata gurunya, “aku sebenarnya menjadi jemu dengan isi dari perguruan kita ini”

Paksi mengerutkan dahinya. Dengan ragu ia bertanya, “Maksud guru?”

“Perguruan ini bukan perguruan yang memenuhi syarat. Baik tatanan yang ditrapkan didalamnya maupun isinya. Mereka yang datang di perguruan ini, bukanlah orang-orang yang diharapkan. Mereka datang untuk sekedar datang tanpa dorongan niat yang mantap”

Jantung Paksi terasa berdenyut lebih cepat. Sementara itu gurunya berkata selanjutnya, “Anak-anak para perwira prajurit Pajang itu datang karena keinginan orang tua mereka. Memang ada satu dua orang yang berguru dengan bersungguh-sungguh seperti kau sebelum pergi mengembara. Tetapi yang lain datang untuk sekedar agar tidak dimarahi oleh ayah-ayah mereka. Namun dengan demikian, maka tidak ada kesungguhan yang dapat mendorong mereka untuk menggapai ilmu yang lebih tinggi dari sekedar pantas bagi anak seorang perwira prajurit”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ternyata apa yang dipikirkannya itu telah menggelitik jantung gurunya pula. Memang terbersit suatu kebanggaan dihati Paksi, bahwa pikirannya ternyata sejalan dengan pikiran gurunya, sehingga apabila kelak terjadi perubahan tatanan, gurunya akan mempertanggung-jawabkannya.

“Paksi” berkata gurunya selanjutnya, “setidak-tidaknya diperguruan ini akan dipisahkan. Siapakah yang bersungguh-sungguh dan siapakah yang sekedar ikut-ikutan. Aku, sebagai seorang hamba yang ditunjuk untuk memberikan ilmu dasar bagi anak-anak muda dari lingkungan kepemimpinan prajurit Pajang, akan dapat memberikan laporan lebih terperinci dari anak-anak para perwira itu”

Paksi hanya mengangguk-angguk saja. Ia sependapat sepenuhnya dengan gagasan gurunya itu. Tetapi gurunya tentu tidak akan dapat merubah tatanan perguruan itu dengan serta merta, karena perguruan itu didirikan bagi kepentingan para perwira yang ingin melihat anak-anaknya berilmu.

Dalam pada itu, maka guru Paksi itu pun kemudian berkata “Nah, sekarang bersiaplah. Aku ingin melihat sejauh manakah peningkatan ilmumu selama setahun lebih ini”

Paksi pun kemudian telah mempersiapkan dirinya. Dilepasnya bajunya dan disingsingkannya kain panjangnya.

“Kau tidak membawa tongkatmu?” bertanya gurunya

“Tidak guru” jawab Paksi.

“Baiklah. Aku akan menjadi pasanganmu berlatih sekarang, agar dengan demikian aku dapat mengerti sedalam-dalamnya, tetaran ilmumu sekarang. Ingat, agar aku benar-benar dapat menjajaginya, kau harus bersungguh-sungguh.

Sejenak kemudian, maka keduanya telah berada di tengah-tengah sanggar sementara gurunya berkata pula, “Kau dapat mempergunakan apa saja yang ada didalam sanggar ini Paksi. Disini ada beberapa jenis senjata. Disini juga ada beberapa jenis alat-alat yang lain yang dapat kau manfaatkan. Yang penting aku dapat melihat segi-segi kemampuanmu. Kemampuanmu mempergunakan senjata, kesigapanmu memanfaatkan apa saja yang ada di sekelilingmu serta kecepatan penalaranmu menanggapi keadaan yang tiba-tiba”

“Aku akan mencoba, guru”

Demikianlah, maka keduanya pun segera bersiap. Gurunya itulah yang lebih dahulu memancing agar Paksi mulai bergerak.

Demikianlah keduanya pun segera terlibat dalam latihan yang semakin lama menjadi semakin cepat. Gurunya tidak sekedar menangkis dan menghindar, tetapi sekali-sekali ia pun bahkan menyerang. Sekali-sekali bahkan serangan gurunya mengenai tubuhnya, sehingga Paksi menyeringai menahan sakit.

Namun dengan demikian, Paksi telah terpancing untuk menegeluarkan kemampuannya.

Latihan itu pun kemudian berlangsung semakin sengit. Serangan Guru Paksi itu menjadi semakin sering mengenai tubuh Paksi. Kemudian di tempat-tempat yang berbahaya, sehingga Paksi menjadi benar-benar kesakitan.

Beberapa kali Paksi berloncatan surut untuk menghidari seranga-serangan yang datang beruntun. Bahkan akhirnya Paksi menjadi terkurung dan tersudut diujung sanggar.

Namun serangan-serangan gurunya itu tidak mereda. Dalam keadaa tersudut Paksi menjadi semakin sulit untuk menghindari serangan-serangan gurunya.

Beberapa kali Paksi terdorong dan tersandar disudut dinding. Betapapun Paksi berusaha, namun ia tidak dapat melepaskan diri dari sudut sanggar.

Namun tiba-tiba terngiang-ngiang kata-kata gurunya, bahwa ia dapat mempergunakan segalanya yang ada di sanggar itu.
Ketika serangan gurunya datang lagi membadai, maka tiba-tiba saja Paksi pun meloncat, menggapai palang bambu yang menyilang. Kaki Paksi pun segera terayun sementara tubuhnya terlempar beberapa langkah dari sudut sanggar.

Gurunya dengan cepat menanggapi sikap Paksi. Ia pun segera berputar dan siap meloncat memburu Paksi. Namun demikian ia berputar, maka serangan Paksi pun datang dengan derasnya. Kaki Paksi terjulur dengan sepenuh kekuatannya menyerang kearah dada.

Gurunya terkejut mendapat serangan yang demikian cepatnya. Namun dengan sigap gurunya menyilangkan tangannya di-dadanya. Ketika terjadi benturan, gurunya surut setapak. Namun ternyata hanya merupakan ancang-ancang untuk mengerahkan tenaganya, mendorong kaki Paksi yang mengenai tangannya yang bersilang itu.

Paksi lah yang kemudian terdorong. Kakinya yang membentur tangan gurunya yang bersilang itu seakan-akan telah terpantul dengan kuatnya.

Paksi berputar sekali diudara. Kemudian ia jatuh pada kedua kakinya. Demikian kakinya menyentuh tanah, maka Paksi pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sebenarnyalah, gurunya telah menyerangnya pula. Semakin lama serangan-serangannya menjadi semakin sengit.

Karena itu, maka Paksi pun harus berloncatan menghindar dan sibuk menangkis. Benturan-benturan telah terjadi. Semakin lama semakin sering. Hampir seluruh tubuh Paksi rasa-rasanya telah tersentuh serangan gurunya yang semakin cepat dan keras. Tulang-tulangnya menjadi nyeri sedangkan persendiannya rasa-rasanya menjadi lemah.

Namun Paksi tidak dapat berhenti. Gurunya masih menyerangnya terus. Bahkan gurunya semakin lama semakin meningkatkan ilmunya pula. Dengan demikian Paksi pun harus mengerahkan kemampuannya, sehingga akhirnya sampai ke kemampuan puncaknya.

Dengan demikian, maka latihan itu menjadi semakin seru. Dalam puncak kemampuannya, Paksi mampu memberikan perlawanan yang berarti. Bahkan sekali-kali serangan Paksi mampu menyentuh tubuh gurunya.

Namun tekanan yang berat membuat Paksi sekali-kali meloncat keatas balok-balok gelugu yang ditanam berdiri tegak dengan ketinggian yang tidak sama, sekali-kali meloncati palang-palang bambu, berayun dan bahkan bergayut pada kerangka atap sanggar itu.

Tetapi dengan mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya, maka keringat Paksi seakan terperas dari tubuhnya.

Latihan itu masih berlangsung beberapa lama, keduanya berloncatan di dalam sanggar dari satu sudut ke sudut yang lain. Dari patok-patok yang ditanam tegak ke palang-palang bambu yang terbujur mendatar. Bergayut dan berayun, melenting dan berputaran di udara.

Ketika tenaga Paksi mulai menyusut, maka serangan-serangan gurunya pun mulai mereda, bahkan kemudian menjadi semakin lamban, sehingga berhenti sama sekali.

Paksi berdiri dengan nafas terengah-engah, namun ternyata bahwa penjajagan itu masih belum selesai, dengan nada berat gurunya pun berkata, “Paksi, ambil senjata apa saja yang kau inginkan”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun agaknya gurunya pun bersungguh-sungguh.

Bahkan ketika Paksi masih berdiri termangu-mangu, maka gurunyalah yang lebih dahulu mengambil senjata. Sebuah pedang yang tidak terlalu panjang.

“Cepat. Aku akan segera mulai. Jika kau terlambat, bukan tanggung jawabku”

Untuk beberapa saat Paksi masih termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja gurunya meloncat sambil menjulurkan pedangnya langsung kearah dada.

Paksi memang agak terkejut. Namun dengan tangkasnya ia pun meloncat kesamping. Sebelum gurunya menyerang lagi, maka Paksi pun segera meloncat memungut senjata yang berada disudut sanggar. Sebuah tongkat.

Agaknya karena kebiasaannya ia bersenjata tongkat, maka diluar sadarnya, ia pun telah memungut tongkat pula dari antara kumpulan senjata itu.

Beberapa saat kemudian, maka keduanya telah terlibat lagi dalam latihan yang berat, sementara tenaga Paksi sudah mulai menyusut. Sedangkan serangan-serangan gurunya justru datang membadai.

Dengan mengerahkan daya tahannya, Paksi memberikan perlawanan sejauh dapat dilakukan. Bahkan sekali-sekali Paksi sempat juga menyerang. Seperti kata gurunya, ia memang harus bersungguh-sungguh.

Namun akhirnya, gurunya telah meloncat mengambil jarak. Dengan tangannya gurunya memberikan isyarat untuk menghentikan latihan yang berat itu.

Nafas Paksi menjadi semakin deras mengalir. Namun guru-nya pun kemudian memberikan isyarat pula kepadanya, untuk mengatur pernafasannya sebagaimana dilakukan oleh gurunya.

Baru beberapa saat kemudian, gurunya itu pun berdesis, “Luar biasa, Paksi. Dalam waktu setahun, ilmumu sudah maju demikian pesatnya. Seandainya kau hanya berguru kepadaku, aku tidak akan sanggup mendorongmu untuk melakukan loncatan sepanjang yang lelah kau lakukan”

Paksi tidak menjawab. Kepalanya menunduk. Dengan nada berat Paksi berkata, “Aku mohon guru menunjukkan kepadaku, apakah yang sebaiknya aku lakuan”

Gurunya menepuk bahu Paksi sambil berkata, “Kau akan sering datang di sanggar ini lagi, Paksi. Karena itu, aku tidak tergesa-gesa untuk berbicara tentang langkah-langkah yang harus kau lakukan. Tetapi kau telah membuat aku semakin yakin, bahwa kau harus dipersiapkan untuk memimpin perguruan ini di masa mendatang. Tetapi seperti aku katakan, perguruan ini harus berubah.

Paksi tidak segera menyahut. Tetapi kepalanya justru menunduk semakin dalam.

“Nah, beristirahatlah Paksi. Aku justru menjadi kagum kepadamu. Bukan saja kemampuanmu dalam olah kanuragan sudah menjadi mapan, kau pun sudah mendalami laku untuk menguasai yang tinggi. Kau tentu tidak akan mempergunakan dalam latihan penjajagan ini. Tetapi aku dapat menangkapnya, karena kau memerlukan waktu untuk mematangkan ilmu itu. Kau tentu dapat melakukannya meskipun orang yang kau anggap salah seorang gurumu itu tidak berada disini sekarang. Namun mungkin aku dapat membantumu”

“Guru” berkata Paksi selanjutnya, “Orang yang aku sebut bernama Ki Marta Brewok itu berada di istana”

“Di istana?”

“Ya, di kesatriaan”

Dengan demikian kau masih dapat menghubunginya, aku akan menyediakan sanggarku bagimu untuk menyempurnakan ilmumu bersama Ki Marta Brewok, aku akan dapat membantumu sampai ke tempat yang tertinggi”

Paksi mengangguk-angguk hormat sambil berkata, “Terima kasih guru, aku memang masih dapat menghubungi Ki Marta Brewok. Tetapi apakah aku masih akan dapat selalu datang ke sanggar, inilah yang merisaukan aku”

“Kenapa?”

“Guru, ayahku kadang-kadang bersikap aneh. Aku tidak mengerti apakah yang sebenarnya dikehendaki atas diriku. Kadang-kadang aku merasa bahwa ayah tidak senang aku berada dirumah”

“Mungkin memang ada sesuatu yang tidak kau pahami. Tetapi sendainya kau harus pergi, maka kau akan dapat tinggal disini”

Paksi menarik nafas panjang. Sekali lagi ia berkata, “Terima-kasih guru. Tetapi jika ayah memerintahkan kepadaku untuk melakukan satu tugas tertentu, maka aku tentu tidak akan dapat tinggal disini”

“Jangan berprasangka, Paksi. Mudah-mudahan kau tidak harus pergi lagi. Jika cincin itu pernah menjadi alasan ayahmu mengusirmu, sekarang tentu tidak lagi. Cincin itu sudah berada di istana. Ayahmu tentu tidak akan berani memerintahkan kepadamu dan kepada siapa pun untuk mengambil cincin itu”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan guru. Aku akan merasa sangat senang jika aku mendapat kesempatan cukup luas untuk sering berada di sanggar ini”

“Jika kau sempat, Paksi. Temuilah Ki Marta Brewok. Aku mempersilahkannya singgah di sanggarku yang buruk ini. Kehadirannya akan sangat berarti bagiku. Tentu juga bagimu”

“Ya, guru. Aku akan menemui Ki Marta Brewok di kasatrian”

“Nah, sekarang kita akan beristirahat. Setelah keringatmu kering, barangkali kau akan mandi lebih dahulu. Bukankah dahulu kau terbiasa mandi disini? Pakiwan itu masih berada di tempatnya. Sumur itu airnya masih jernih seperti dahulu”

Paksi tertawa. Katanya, “Ya, guru. Aku akan mandi” Sejenak kemudian Paksi sudah berada di belakang sanggar. Terdengar senggot timba berderit ketika Paksi kemudian mengisi jambangan di pakiwan.

Namun sambil menimba, Paksi sempat merenungi latihan penjajagan yang baru saja dilakukan. Ia adalah murid yang sudah lama berguru kepada gurunya itu. Namun setelah ia pulang dan pengembaraan, rasa-rasanya ia mengenali sesuatu yang baru pada gurunya. Unsur-unsur dari ilmunya yang dahulu belum pernah dikenalinya.

Mungkin dahulu, setahun yang lalu, guru masih menganggap aku belum waktunya untuk diperkenalkan dengan unsur-unsur gerak itu. Namun sekarang, setelah guru menganggap ilmuku semakin maju, maka unsur-unsur gerak itu mulai muncul” berkata Paksi didalam hatinya selagi tangannya sibuk menarik senggot timba.

Tetapi bukan hanya pengenalannya yang baru itu saja yang telah direnunginya. Apa yang dikenalinya pada gurunya itu. Rasa-rasanya telah pernah dikenalinya pula disepanjang pengembaraanya selama setahun lebih sedikit itu.

“Ah, tenlu saja sebuah kemiripan sifat dan watak dari unsur-unsur gerak itu” berkata Paksi didalam hatinya, “Tetapi mungkin unsur-unsur gerak itu bersumber dari mata air yang sama tetapi sudah mengalami perkembangan yang berbeda setelah menempuh alur perjalanan panjang”

Paksi pun kemudian tidak memikirkannya lagi. Tangannya masih sibuk dengan senggot timbanya.

Namun beberapa saat kemudian, jambangan di pakiwan itu pun sudah menjadi penuh.

Kelika Paksi akan memasuki pakiwan, ia pun tertegun. Seorang yang pernah dikenalnya sebelum ia pergi, datang mendatanginya, seseorang yang telah lama berada di perguruan itu.

“Paksi” desis orang itu, “bukankah kau Paksi Pamekas?”

“Ya, paman” jawab Paksi.

Orang itu mendekatinya sambil menepuk bahunya. Katanya, “Sudah lama sekali kau tidak nampak Paksi. Apakah kau sedang bepergian jauh?”

“Ya, paman. Aku baru saja pulang dari pengembaraanku”

“Gurumu juga mengatakan kepadaku, bahwa kau baru saja menjalankan tugas yang dibebankan oleh ayahmu kepadamu” berkata orang itu, “syukurlah bahwa kau sudah pulang dengan selamat”

“Yang Maha Penyayang melindungku, paman”

“Gurumu sangat mengharapkan bahwa pada suatu saat kau datang kembali ke perguruan ini.Ternyata kau sekarang sudah kembali, Paksi”

“Ya, paman. Tetapi nampaknya perguruan ini menjadi semakin sepi”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Ya. Perguruan ini menjadi semakin sepi. Jarang ada seorang cantrik yang bersungguh-sungguh sebagaimana kau. Yang lain datang keperguruan ini hanya sekedar untuk menyenangkan hati orang tuanya”

“Tetapi bukankah kawan-kawan itu masih juga datang?”

“Ya, kadang-kadang”

“Aku sudah bertemu dengan beberapa orang kawan. Tetapi kami tidak berbicara tentang perguruan ini”

“Tentu mereka lebih tertarik untuk mendengarkan pangalamanmu selama mengembara”

“Ya. Mereka juga lebih tertarik berbicara tentang kemurahan hati Kangjeng Sultan”

“Tentu. Mereka tentu mempertanyakan ganjaran yang telah kau terima”

“Ya, paman. Sehingga kami lupa berbicara tentang perguruan ini”

“Mereka sudah kehilangan gairah mereka. Apalagi selama gurumu pergi”

“Guru pergi kemana?” bertanya Paksi dengan wajah yang berkerut.

“Gurumu pergi ke kaki Gunung Lawu, Paksi. Ada sesuatu yang penting harus dijalaninya. Menurut gurumu ada laku yang masih terhutang, sehingga ia harus melunasinya di kaki Gunung Lawu”

“Sejak kapan guru pergi?”

Tidak lama setelah kau meninggalkan perguruan ini”

“Kapan guru kembali?”

“Belum terlalu lama, Paksi”

Jantung Paksi menjadi berdebar-debar. Tetapi Paksi berusaha untuk tidak memberikan kesan apa pun di wajahnya Bahkan kemudian Paksi pun bertanya, “Jadi bagaimana dengan perguruan ini selama guru pergi?”

“Akulah yang dibebani tugas untuk menggantikannya selama gurumu pergi. Tetapi kau tahu, aku bukan apa-apa. Meskipun demikian untuk sekedar mendasari ilmu kawan-kawanmu disini, aku masih mampu. Setidak-tidaknya menurut penilaian gurumu, tetapi wibawaku sama sekali tidak memadai sehingga kawan-kawanmu itu tidak lagi merasa terikat oleh perguruan ini”

“Tetapi bagaimana dengan orang tua mereka?”

“Mereka menjadi sangat kecewa. Sebagian dari mereka menjadi acuh tak acuh. Tetapi sebagian yang lain masih mengirimkan anak-anak mereka kemari. Mereka masih berharap guru datang kembali, sementara mereka juga menganggap aku dapat mengisi kekosongan selama gurumu pergi”

Paksi mengangguk-angguk.

“Tetapi akulah yang hampir melarikan diri”

“Kenapa?”

Orang-orang tua kawanmu itu sebagian besar adalah perwira prajurit itu telah menunjuk beberapa orang untuk mengujiku, apakah aku pantas mewakili gurumu untuk sementara”

“O”

“Akulah yang hampir mati kehabisan nafas, aku harus mengalami penjajagan dari tiga orang yang mewakili mereka”

“Tetapi, bukankah paman dianggap memadai?”

“Ya, akhirnya memang demikian, tetapi sejak aku mewakili gurumu, ikatan perguruan ini semakin longgar. Meskipun aku dianggap mampu dari sisi kemampuanku, tetapi dari sisi lain, aku telah gagal. Mudah-mudahan setelah gurumu kembali, perguruan ini dapat pulih kembali”

“Mudah-mudahan, paman”

“Tetapi gurumulah yang menjadi kecewa”

“Kenapa?”

“Demikian gurumu pulang, maka ia sekan-akan dihadapkan pada sebuah pengadilan yang dibuat oleh para perwira ilu. Gurumu dianggap meninggalkan tugasnya dengan tidak bertanggung-jawab”

“Jadi?”

“Gurumu dituntut untuk memulihkan citra perguruan ini sehingga anak-anak mereka kembali lagi berguru dengan tertib”

“Tetapi apakah sejak semula perguruan ini tertib?”

“Aku mengerti maksudmu”

“Bukan maksudku menyalahkan guru”

“Ya. Kau tidak menyalahkan guru, karena hak dan wewenang gurumu tidak jelas di perguruan ini. Gurumu seakan-akan dipungut begitu saja dan ditempatkan disini. Gurumu tidak dapat menolak, karena kekancingan yang diterimanya langsung, dari Kangjeng Sultan. Perintah raja adalah keharusan untuk dijalankan. Namun perintah itu tidak dilengkapi dengan tertib pelaksanaannya, termasuk kewajiban mereka yang mengirimkan anaknya berguru di perguruan ini”

“Apakah hal seperti itu tidak sebaiknya mengalami perubahan sehingga segala sesuatunya dapat berjalan lebih wajar”

“Tentu. Cepat atau lambat. Gurumu sudah mulai memikirkan jalan terbaik untuk melakukannya”

Paksi mengangguk kecil. Namun orang itu pun kemudian berkata, “Sudahlah Paksi, bukankah kau ingin mandi? Sesudah mandi, kita dapat berbincang panjang”

“Baik, paman” jawab Paksi.

Orang itu pun kemudian meninggal Paksi yang langsung iur uk ke pakiwan.

“Paksi termangu-mangu sejenak. Ceritera orang itu sangat menarik perhatiannya. Orang itu memang pembantu dekat gurunya. Tetapi menurut pendapat Paksi, orang itu masih belum cukup untuk menggantikan gurunya, melatih kawan-kawannya yang berguru di peguruan itu. Tetapi sekedar untuk mengisi kekosongan, mungkin orang itu dapat melakukannya.

Guru telah meninggalkan perguruan ini selama setahun, tetapi tidak lama setelah aku meninggalkan perguruan ini. Dan baru kembali beberapa saat sebelum aku kembali”

Namun Paksi itu pun kemudian berdesis, “Tetapi guru pergi ke kaki Gunung Lawu”

Meskipun demikian, hal itu merupakan satu pertanyaan yang ingin dicari jawabnya, “Aku akan menemui Ki Marta Brewok di kasatrian sebelum Ki Marta Brewok itu pergi”

Demikianlah setelah Paksi selesai mandi dan membenahi pakaiannya, maka kemudian ia pun duduk di serambi samping bersama gurunya dan pembantunya. Mereka berbicara panjang tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat mereka lakukan untuk menyempurnakan perguruan itu.

“Aku akan mohon Pangeran Benawa untuk membantu guru” berkata Paksi, “Pangeran Benawa akan dapat mohon ayahandanya untuk memberikan wewenang lebih banyak kepada guru untuk mengatur perguruan ini, sehingga perguruan ini akan benar-benar menjadi sebuah perguruan yang diatur dari dalam Perguruan itu sendiri”

“Apakah Pangeran Benawa akan mendengarkan pendapatmu itu, Paksi? Seberapa jauh perkenalanmu dengan Pangeran itu?”

“Pangeran Benawa adalah seorang Pangeran yang sangat baik, guru. Mungkin karena aku secara kebetulan dapat mengembalikan cincin yang hilang itu”

“Aku berharap” berkata gurunya, “mudah-mudahan kita mendapat jalan”

Meskipun demikian, Paksi masih saja ragu-ragu tentang dirinya sendiri. Jika saja ayahnya berniat untuk menyingkirkannya, maka ia harus pergi. Jika ayahnya sekedar mengusirnya, maka ia justru akan dapat menetap bersama gurunya. Tetapi jika ayahnya memberikan tugas yang mengharuskannya pergi, maka ia memang harus pergi”

Beberapa saat kemudian, maka Paksi pun mohon diri. Ia berjanji untuk datang kembali di keesokan harinya.

“Mudah-mudahan aku benar-benar dapat datang”

“Kenapa kau ragu?” bertanya gurunya.

“Aku tidak meragukan diriku sendiri, guru. Tetapi aku kadang-kadang tidak dapat membagi waktuku sendiri. Jika ayah memerintahkan kepadaku untuk melakukan sesuatu, maka aku tidak akan dapat menolak”

Gurunya tersenyum. Katanya, “Kau sudah menjadi semakin dewasa, Paksi. Pada suatu saat, sikap ayahmu akan berubah”

“Tetapi ayah masih memperlakukan aku seperti kanak-kanak. Bahkan di mata ayahku, adikku nampaknya lebih dewasa dari aku. Karena itu, pekerjaan yang dilakukan oleh kanak-kanak pun kadang-kadang harus aku lakukan”

“Kau harus bersabar, Paksi. Semuanya itu akan dapat menjadi laku bagimu untuk mencapai cita-citamu di masa depan”

Paksi mengangguk kecil sambil menjawab “Mudah-mudahan, guru. Tetapi aku sendiri tidak pernah meyakini satu cita-cita di masa depanku. Hidupku seakan-akan begitu saja bergulir tanpa tujuan”

“Paksi. Bagaimanapun juga kau mempunyai pegangan. Jika bukan satu keinginan dimasa depan, kau tentu mempunyai pegangan bagi sikap dan tingkah lakumu”

Paksi mengangguk kecil. Katanya, “Ya, guru”

“Nah, pegang itu. Jangan sampai lepas”

“Ya, guru”

Demikianlah, sejenak kemudian, maka Paksi pun telah meninggalkan rumah gurunya. Tetapi selagi ia sudah berada diluar rumah, maka Paksi tidak segera pulang. Tetapi ia telah pergi ke istana lewat regol belakang menuju ke kasatrian.

Ketika seorang prajurit menghentikannya dan bertanya kepadanya. maka Paksi pun menjawab, “Aku ingin menghadap Pangeran Benawa. Ada sesuatu yang penting harus aku sampaikan”

Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Ada semacam keragu-raguan dalam hatinya untuk membiarkan Paksi masuk ke gerbang kesatrian.

“Apakah kau sudah membuat janji dengan Pangeran Benawa?” bertanya prajurit itu.

Paksi menjadi bimbang juga. Namun akhirnya ia berkata dengan jujur, “Belum”

“Jika demikian, tunggulah disini. Aku akan menghadap dan memberitahukan kepada Pangeran Benawa, bahwa seseorang mohon waktu untuk bertemu”

“Baik” jawab Paksi.

“Siapa namamu?”

“Paksi Pamekas” Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Ia mendengar dari beberapa orang tentang seorang anak muda yang bernama Paksi Pamekas yang telah menerima beberapa ganjaran dari Kangjeng Sultan.

Tetapi prajurit itu tidak bertanya lebih lanjut. Ia pun segera memasuki gerbang paseban untuk menyampaikan niat Paksi, sementara seorang prajurit lain yang bertugas berkata, “Silahkan duduk di gardu itu, Ki Sanak”

Paksi pun kemudian duduk diatas selembar tikar didalam sebuah gardu yang rendah.

Beberapa saat kemudian, maka prajurit yang menyampaikan maksudnya untuk menemuui Pangeran Benawa itu telah keluar lagi dari gerbang kesatrian, ia pun kemudian menemui Paksi sambil berkata, “Silahkan Ki Sanak, Pangeran Benawa tidak berkeberatan menerima Ki Sanak di kesatrian”

“Terima kasih” sahut paksi sambil bangkit berdiri.

Di kesatrian Paksi telah diterima langsung oleh Pangeran Benawa, bukan hanya Pangeran Benawa, tetapi juga oleh Ki Marta Brewok.

“Ada sesuatu yang penting Paksi?” bertanya Pangeran Benawa.

“Hamba hanya ingin menyampaikan sebuah cerita yang barangkali menarik bagi Pangeran Benawa”

“Cerita tentang apa?”

“Tentang sebuah perguruan yang didirikan khusus bagi anak para perwira prajurit Pajang”

“Maksudmu?”

“Paksi kemudian telah bercerita tentang sebuah perguruan yang keadaannya memprihatinkan.

Pangeran Benawa mendengarkan dengan sungguh-sungguh, bahkan kemudian Pangeran Benawa itu pun mengangguk-angguk, katanya, “Perguruan ini memang memerlukan perhatian”

“Hamba mohon Pangeran melihat sendiri keadaan perguruan itu” berkata paksi selanjutnya

“Bukankah perguruan itu dipimpin oleh Ki Panengah?”

“Ya Pangeran, perguruan itu memang dipimpin oleh Ki Panengah”

“Baik Paksi, aku akan menemui Ki Panengah, aku tahu bahwa Ki Panengah adalah salah seorang yang berilmu tinggi, aku akan mohon agar perguruan mendapat perhatian yang lebih besar

“Juga mengenai tatanan yang berlaku, jika perguruan itu tidak mempunyai tatanan yang tegas, maka untuk selanjutnya perguruan itu tidak akan menjadi besar”

“Aku mengerti, Paksi”

“Soalnya, bagaimana mengatasi sikap para perwira yang mengirimkan anak-anaknya ke perguruan itu”

“Maksudmu?”

“Pada umumnya murid-murid dari perguruan itu adalah anak para perwira prajurit Pajang. Para perwira itulah yang seakan-akan berwenang mengatur tatanan didalam perguruan itu. Tanpa menghiraukan kemampuan dan kesungguhan anak-anak mereka yang mereka kirimkan ke perguruan itu”

“Jadi harus ada tangan yang lebih kuat yang menentukan tatanan di perguruan itu. Begitu maksudmu?”

“Hamba Pangeran”

“Baik. Setelah aku melihat perguruanmu, aku akan menghadap ayahanda. Bukankah begitu maksudmu?”

Paksi menarik nafas dalam-dalam.

Pangeran Benawa tersenyum. Katanya kemudian, “Bagaimana jika kita pergi menemui Ki Panengah sekarang?”

Paksi termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Ki Marta Brewok sambil berkata, “Guru juga ingin bertemu dengan Ki Marta Brewok”

“Aku?” bertanya Ki Marta Brewok, “kenapa Ki Panengah itu ingin bertemu dengan aku?”

Paksi pun kemudian melengkapi ceriteranya dengan latihan penjajagan yang dilakukan oleh gurunya. Lalu katanya, “Guru melihat bahwa aku telah mewarisi ilmu dari Ki Marta Brewok”

“Gurumu marah?”

“Tidak. Sama sekali tidak. Guru justru menganggap bahwa aku telah beruntung dapat menyadap ilmu dari orang lain kecuali guru. Menurut guru, ilmuku akan menjadi semakin lengkap”

“Jadi, apa maksud gurumu ingin bertemu dengan aku?”

“Ki Marta Brewok akan mendapat keterangan dari guru sendiri nanti, setelah Ki Marta Brewok menemuinya”

Ki Marta Brewok mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, aku akan menemui gurumu. Jika Pangeran Benawa akan pergi ke rumah Ki Panengah itu sekarang, aku akan menyertainya”

“Ya” sahut Pangeran Benawa, “bukankah waktu kita luang”

“Hamba Pangeran” jawab Ki Marta Brewok yang di istana itu bernama Ki Waskita.

”Bagaimana dengan kau Paksi? Apakah kau masih mempunyai kesempatan sekarang?”

“Marilah Pangeran. Hamba akan mengantar Pangeran pergi ke rumah guru”

Ternyata Pangeran Benawa tidak menunda-nunda waktu, saat itu juga Paneran Benawa, Paksi dan Ki Marta Brewok telah meninggalkan kasatrian dengan naik kuda. Paksi dan Ki Marta Brewok diperkenankan mempergunakan kuda Pangeran Benawa pula.

Kedatangan mereka disambut ramah dengan guru Paksi, mereka dipersilahkan naik ke pendapa dan kemudian duduk di pringgitan.

“Hamba tidak mengira, begitu cepat Pangeran datang ke pondok hamba” berkata Ki Panengah sambil membungkuk hormat.

Pangeran Benawa tersenyum, katanya, “Paksi telah datang kepadaku, ia telah menceritakan segala segala sesuatu tentang perguruan ini serta latihan penjajagan yang dilakukan oleh Ki Panengah”

“Hanya sekedarnya, Pangeran”

“Karena itu aku telah datang kemari bersama dengan Ki Waskita yang juga kebetulan berada di Kesatrian”

Ki Panengah mengerutkan dahinya, dengan ragu ia pun bertanya, “Menurut Paksi, yang berada di Kesatrian adalah Ki Marta Brewok?”

Pangeran Benawa tertawa, Katanya, “Paksi memang mengenal Ki Waskita dengan Ki Marta Brewok”

“Hamba mohon maaf Pangeran” desis Ki Panengah. Kepada Ki Marta Brewok, Ki Panengah pun berkata, “Aku mohon maaf, Ki Waskita. Aku tidak mengerti bagaimana aku harus menyebut”

“Terserah saja, Ki Panengah. Bagiku tidak ada bedanya, apakah aku dipanggil Ki Waskita atau Ki Marta Brewok”

“Baiklah aku memanggil sebutan yang sebenarnya, Ki Waskita. Aku mohon maaf, bahwa Paksi selama ini telah menyebut dengan Ki Marta Brewok.

“Bukan salahnya. Aku memang memperkenalkan diriku dengan nama Ki Marta Brewok”

Ki Panengah tersenyum sambil berkata kepada Paksi, “Sebaiknya kau sekarang tidak menyebutnya dengan Ki Marta Brewok, Paksi. Sebaiknya kau juga memanggil dengan nama Ki Waskita. Bukankah itu lebih pantas?”

Ki Waskita justru tertawa. Katanya, “Ia sudah terbiasa memanggilku Ki Marta Brewok. Biarlah ia tetap menyebutku dengan nama itu. Aku juga merasa lebih mapan dipanggil Paksi dengan sebutan Ki Marta Brewok”

Ki Panengah dan Ki Marta Brewok pun tertawa pula.

Paksi juga tertawa pendek. Tetapi rasa-rasanya ada sesuatu yang aneh pada kedua orang gurunya. Apalagi ketika kemudian Ki Panengah itu pun berkata, “Paksi, duduklah kau disini. Aku yang telah menjajagi ilmumu, akan berbicara langsung dengan Ki Waskita. Mungkin akan terdapat satu kesimpulan yang akan sangat berarti bagimu”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun Pangeran Benawa- pun kemudian berkata, “Aku akan menemanimu duduk disini, Paksi. Biarlah kedua orang yang telah mewariskan ilmunya kepadamu itu membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang barangkali sangat berarti bagimu”

“Ampun, Pangeran” sahut Paksi, “yang hamba maksudkan pertama-tama adalah pembicaraan tentang perguruan ini. Tentang masa depannya serta tatanan yang terbaik. Bukan tentang diri hamba sendiri”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “Keduanya juga tentu akan membicarakan kemungkinan itu. Kita percayakan saja kepada mereka yang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara Pangeran Benawa itu pun kemudian berkata, “Silahkan Ki Panengah. Mudah-mudahan pembicaraan antara Ki Panengah dan Ki Waskita akan menghembuskan angin yang segar bagi perguruan serta bagi Paksi Pamekas.

Demikianlah, maka kedua orang guru Paksi itu pun segera masuk ke ruang dalam Paksi yang duduk di pringgitan bersama Pangeran Benawa itu. Seakan-akan tanpa sengaja telah mengtrapkan Aji Sapta Pangrungu.

Paksi masih mendengar suara tertawa di belakang pintu pringgitan, namun suara-suara berikutnya seakan-akan telah tertutup bagi telinganya walaupun ia mengetrapkan Aji Sapta Pangrungunya.

Tentu Ki Marta Brewok telah memberikan isyarat kepada gurunya, kedua-duanya mempunyai kemampuan menyerap bunyi, sehingga pembicaraan itu hanya mereka dengar berdua atau mereka telah pergi ke sanggar, sehingga telah melampaui jarak jangkau Aji Sapta Pangrungunya.

Yang kemudian didengar oleh Paksi adalah kata-kata Pangeran Benawa, “Kau tidak usah menjadi gelisah, Paksi kau harus percaya kepada kedua orang gurumu itu”

“Tentu Pangeran” jawab Paksi, “hamba percaya kepada keduanya. Tetapi yang kurang enak di hati hamba, justru bahwa kedua orang guru hamba itu lebih memikirkan hamba dari pada perguruan ini”

“Perguruan ini memang memerlukan pembenahan Paksi. Pembenahan itu tentu saja tidak sekedar pada tatanannya, pada tata tertibnya, tetapi juga pada orang-orang yang menangani perguruan ini”

“Maksud Pangeran? Bukankah yang menangani perguruan ini adalah guru. Ki Panengah?”

“Ya. Tentu Ki Panengah tidak dapat membenahinya sendiri”

“Di perguruan ini ada paman Windu, yang selama ini membantu menangani perguruan ini. Bahkan ketika guru pergi ke kaki Gunung Lawu, paman Windulah yang mewakilinya.

“Gurumu pergi ke kaki Gunung Lawu?”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menggeleng, “Hamba tidak tahu, Pangeran. Menurut paman Windu, guru telah pergi ke kaki Gunung Lawu. Waktunya hampir sama dengan waktu pengembaraanku”

Pangeran Benawa mengerutkan dahinya, sementara Paksi berkata selanjutnya, “Guru berangkat beberapa saat setelah hamba pergi mengembara. Guru kembali ke perguruan ini hampir bersamaan waktunya dengan kedatangan hamba kembali di rumah orang tuaku”

“Satu kebetulan” desis Pangeran Benawa.

“Tentu satu kebetulan” sahut Paksi.

Pangeran Benawa mengerutkan dahinya. Paksi memang lantip.

Agaknya Paksi menghubungkan kepergian gurunya dengan pengembaraannya.

Sementara kedua gurunya berbicara di ruang dalam, maka Pangeran Benawa berbincang dengan Paksi tentang kemungkinan-kemungkinan bagi perguruan yang dipimpin oleh Ki Panengah itu.

“Kau benar Paksi. Tidak ada ikatan apa-apa disini. Tetapi kau juga benar, bahwa ini bukan salah gurumu. Para perwira mengirimkan anak-anaknya berguru pada Ki Panengah terlalu banyak ikut campur. Mereka hanya mendengarkan pendapat anak-anak mereka yang ingin mendapat berbagai macam kemudahan. Anak-anak muda itu tidak dapat membedakan antara sekedar pergi berguru dengan usaha menguasai berbagai macam ilmu. Apakah itu ilmu pengetahuan atau kanuragan”

Karena itu hamba datang menghadap Pangeran”

“Baiklah. Kita menunggu kesimpulan pembicaraan antara kedua orang gurumu itu. Hasilnya akan aku sampaikan kepada ayahanda. Jika ayahanda yang menentukan tatanan di perguruan ini atau bahkan ayahanda memerintahkan melepaskan perguruan ini untuk mengatur dirinya sendiri, maka segala sesuatunya akan berjalan lebih baik”

“Hamba Pangeran. Hamba sangat mengharapkan, meskipun kata guru, segala sesuatunya tidak akan dapat dilakukan dengan serta merta”

“Ya. Setidak-tidaknya menunggu langkah yang akan diambil oleh ayahanda. Tetapi aku akan dapat mengusulkan arahnya”

Paksi mengangguk-angguk sambil bergumam, “Hamba dan seluruh murid perguruan ini akan sangat berterima kasih, Pangeran”

“Perguruan ini tentu tidak akan menjadi sesepi ini”

“Sejak guru pergi, perguruan ini diserahkan kepada paman Windu, kemudian perguruan ini menjadi sepi. Ketika kemudian guru pulang, maka guru pun telah diadili oleh para perwira yang mengirimkan anak-anaknya berguru disini”

“Karena gurumu pergi selama setahun?”

“Ya. Tetapi guru pun telah mengaku salah. Para perwira itu telah memerintahkan kepada guru untuk memperbaiki citra perguruan ini, agar anak-anak mereka bersedia untuk berguru lagi. Nampaknya mulai permulaan bulan, guru akan mulai lagi”

“Tetapi sebaiknya sekaligus perguruan ini mengetrapkan tatanan baru”

“Bukankah itu tergantung pada keputusan Kangjeng Sultan”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk.

Ternyata pembicaraan antara kedua orang yang dianggap guru oleh Paksi itu tidak terlalu lama. Selagi Paksi dan Pangeran Benawa masih berbincang tentang perguruan itu, keduanya pun kemudian telah keluar dari ruang dalam.

Demikian mereka duduk bersama Pangeran Benawa dan Paksi maka Pangeran Benawa pun bertanya, “Apakah sudah ditemukan satu kesimpulan?”

“Rencana Ki Panengah sudah baik, Pangeran” jawab Ki Waskita, “demikian aku mendengar rencananya, maka aku pun segera menyetujuinya. Karena itu, kami tidak memerlukan waktu yang panjang”

“Apakah Ki Waskita benar-benar sependapat, atau sekedar pembicaraan itu cepat selesai”

Ki Waskita tertawa berkepanjangan, sehingga tubuhnya terguncang-guncang. Katanya, “Pangeran memang aneh. Tetapi barangkali kedua-duanya”

Ki Panengah pun tersenyum. Katanya, “Bagaimanapun juga, kesimpulannya memang sangat memuaskan bagi kami. Entah bagi pihak yang lain”

Pangeran Benawa pun tertawa pula. Katanya, “Mudah-mudahan pihak lain juga menjadi puas karenanya. Setidak-tidaknya dengan bekal ini aku akan dapat menghadap ayahanda”

Paksi mengerutkan dahinya. Paksi pun ikut tertawa pula. Tetapi ada kesan yang lain dari pembicaraan itu. Rasa-rasanya, Ki Panengah dan Ki Waskita sudah bukan lagi orang yang baru saja berkenalan.

Tetapi Paksi tidak bertanya. Siapa pun mereka, tetapi mereka telah membimbingnya sehingga ia memiliki kemampuan yang tinggi. Bahkan keduanya juga memberikan pengetahuan bukan saja ilmu kanuragan. Tetapi juga ilmu yang lain.

Beberapa saat kemudian, maka Pangeran Benawa pun telah mohon diri. Demikian pula Ki Waskita dan Paksi.

“Kau harus pergi ke kasatrian dahulu, Paksi” berkata Pangeran Benawa.

“Ya, Pangeran. Hamba harus mengembalikan kuda Pangeran”

“Meskipun mungkin pulang ke rumahmu dan pergi ke kesatrian, justru lebih dekat pulang kerumahmu”

“Kita dapat lewat di depan rumah Paksi, Pangeran” berkata Ki Waskita, “biarlah hamba yang kemudian menuntun kuda itu kembali ke kasatrian”

“Tidak, tidak Ki Marta. Biarlah aku pergi ke kasatrian” sahut Paksi dengan serta merta.

Ki Waskita tersenyum Katanya, “Baiklah. Agaknya kau sangat menghormati orang setua aku ini”

Bertiga mereka pun kemudian meninggalkan rumah guru Paksi itu kembali ke kesatrian.

Paksi tidak terlalu lama berada di kesatrian, selelah mengembalikan kudanya di kandang dan menyerahkan kepada seorang pekathik, maka Paksi pun minta diri.

“Sering-sering datang kemari, Paksi” berkata Pangeran Benawa.

“Hamba Pangeran. Hamba ikan sering datang mengunjungi Pangeran”

Beberapa saat kemudian, Paksi pun telah meninggalkan kesatrian. Ia sudah terlalu lama pergi. Mungkin ayahnya akan bertanya-tanya kepadanya, kemana saja ia pergi. Ketika ia memasuki regol rumahnya, terasa dada Paksi menjadi berdebar-debar, Paksi sendiri merasa heran, bahwa setiap kali hal itu terjadi, meskipun Paksi sadar, bahwa ia masuk kedalam rumahnya sendiri. Rumah orang tuanya, dimana ibu, ayah dan adik-adiknya tinggal.

Sebenarnyalah ketika Paksi memasuki pintu seketeng, ayahnya kebetulan berada di longkangan. Demikian Paksi muncul, maka ayahnya segera membentaknya, “Paksi. Kemana saja kau selama ini? Kerjamu hanya berkeliaran saja kesana kemari. Kenapa kau tidak mempergunakan waktumu untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Kau sudah menjadi semakin besar. Semakin dewasa. Apakah kau masih saja bersikap seperti kanak-kanak yang kerjanya sekedar bermain di alun-alun atau pergi ke sungai mengganggu gadis-gadis yang sedang mandi? Kau tidak boleh membanggakan dirimu sebagai anak seorang Tumenggung, sehingga kau boleh berlaku apa saja dihadapan rakyat kecil”

Paksi tidak memotong kata-kata ayahnya. Dibiarkannya ayahnya membentak-bentak, baru kemudian setelah ayahnya selesai, Paksi menyahut, “Ayah. Aku baru saja pergi menemui guru. Aku ingin kembali keperguruan setelah hampir setahun aku meninggalkannya. Bermacam-macam pertanyaan harus aku jawab. Bahkan guru juga ingin mendengar kisah pengembaraanku”

“Meskipun selama lebih dari setahun kau pergi, tidak ada artinya sama sekali bagi peningkatan ilmumu. Gurumu juga pergi setahun. Ia begitu saja meninggalkan perguruan tanpa bertanggung-jawab sama sekali”

“Guru baru akan mulai lagi”

“Gurumu adalah jenis orang yang sangat mementingkan diri sendiri”

“Tetapi bukankah ayah yang mengirimkan aku untuk berguru kepadanya bersama beberapa orang kawanku”

“Kau ingin menyalahkan aku?”

“Tidak ayah”

“Tetapi sejak permulaan bulan depan, gurumu tidak akan dapat bermalas-malasan lagi. Ia harus benar-benar bekerja keras. Melatih cantrik-cantriknya sehingga menjadi anak-anak muda yang berilmu. Sebelumnya, gurumu bekerja sesuka hatinya. Berapa tahun kau berguru kepadanya. Dan apa yang sudah kau dapatkan selain kemalasan?” ayahnya berhenti sejenak. Lalu kalanya pula, “Kau anak seorang prajurit Paksi. Meskipun kau kelak tidak menjadi seorang prajurit, tetapi kau harus memiliki ilmu kanuragan seperti kawan-kawanmu. Jika kau tidak terlalu malas, maka dibawah asuhan gurumu yang sama, kau seharusnya memiliki ilmu yang seimbang dengan yang dimiliki oleh kawan-kawanmu”

Paksi tidak menjawab. Bahkan ia pun telah menundukkan kepalanya. Baru setelah ayahnya puas, maka Paksi pun melangkah masuk keserambi samping.

Paksi tertegun ketika ia melihat kedua orang adiknya berada di serambi.

“Kenapa ayah marah-marah saja?”

“Entahlah. Mungkin ada satu persoalan yang belum terpecahkan. Mungkin di tempat tugas ayah. Mungkin dengan kawan-kawannya atau mungkin ada persoalan-persoalan yang tidak teraba”

—- > Bersambung ke bagian 2