NSSI-16


<< kembali | lanjut >>

I.

SETELAH berhenti sejenak, Panembahan Ismaya meneruskan, “Karena itulah Mahesa Jenar, aku tidak dapat mencegah Arya Salaka untuk mengambil haknya kembali. Untuk mengambil kekuasaan yang ada di Banyubiru dari tangan adik atau pamannya. Sedang kekuasaan itu sendiri bukanlah hal yang selalu baik atau tidak baik. Hampir semua orang di dunia ini menginginkan kekuasaan. Dalam bentuk yang besar atau dalam ujud yang lebih kecil serta dalam lingkungan yang kecil pula. Namun yang harus dinilai kemudian adalah bagaimana kekuasaan itu dipergunakan.

Akhirnya, bahwa manusia yang mempunyai kekuasaan itulah, yang menentukan bentuk dari kekuasaan yang berada di dalam tangannya. Apakah ia mengabdikan kekuasaan itu untuk nilai-nilai kemanusiaan ataukah dengan kekuasaannya ia justru menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan itu.”

Mahesa Jenar, aku harap kau dapat memahaminya. Selanjutnya aku mengharap, bahwa Arya Salaka akan dapat mendengarnya pula darimu. Karena kau adalah gurunya, maka aku kira kaulah orang paling dekat di hatinya. Kaulah yang akan dapat memberitahukan kepadanya, bahwa kekuasaan yang berada kembali di tangannya nanti harus menemukan titik sasaran yang benar. Seperti tombak lambang kebesaran Banyubiru yang dibawanya itu. Tombak itu dapat dipergunakannya untuk melindungi diri serta orang lain. Namun tombak itu di tangan orang yang tidak bertanggungjawab dapat dipergunakan untuk membunuh kawan seiring. Nah Mahesa Jenar, pergilah. Ingat, pengabdianmu harus kau tujukan kepada manusia. Tidak kepada kedudukan, harta benda dan nafsu. Dan pengabdianmu itu merupakan unsure terpenting dari kebaktianmu yang tertinggi. Bakti dengan tulus ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Esa.”

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menundukkan wajahnya semakin dalam. Tak ada satu patah kata pun yang sisip dari hatinya, dari pendiriannya. Memang demikianlah tujuan pengabdian yang selama ditempuhnya. Karena itu, setiap kata yang diucapkan oleh Panembahan Ismaya itu telah mempertebal keyakinannya. Di dalam hati ia berjanji untuk menuangkan pengertiannya itu sejauh-jauhnya kepada Arya Salaka. Sebab di tangan Arya Salaka lah letak kekuasaan Banyubiru di masa datang.

Rombongan itu mula-mula singgah di Gedangan untuk mendapat pinjaman kuda, disamping mereka memenuhi undangan Wiradapa untuk mengunjungi upacara bersih desa. Upacara yang diselenggarakan setiap para penduduk Gedangan selesai dengan musim menuai padi. Demikian pula kali ini. Mereka bersuka ria karena panenan mereka berhasil. Pada malam itu, ketika rombongan Mahesa Jenar bermalam di Gedangan, suasana desa itu benar-benar meriah. Mereka menyelenggarakan peralatan bersama di sebuah tanah lapang kecil di tengah-tengah desa mereka. Setiap keluarga datang dengan membawa ancak berisi berbagai macam makanan. Nasi beserta lauk-pauknya dan bermacam-macam jenis masakan yang lain. Bahkan ada yang membawa jodhang penuh dengan masakan yang enak. Makanan jadah, jenang alot, tasikan, sagon, lapis dan sebagainya. Maka apabila upacara-upacara adat telah selesai, maka segera makanan mereka itu dibagi bersama-sama dan dimakan bersama-sama pula. Demikianlah, peralatan itu benar-benar merupakan peralatan yang meriah.

Sedangkan hampir seluruh desa mereka dihiasi dengan janur-janur kuning yang mereka sangkutkan di setiap regol halaman. Dan di hadapan regol desa mereka letakkan hiasan yang termeriah, dengan janur-janur kuning, daun topengan dan daun-daun yang berwarna-warni. Merah, kuning, hijau dan berbelang-belang. Demikian pula dinding yang melingkari desa mereka serta sepanjang dinding halaman rumah-rumah, terpancang berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus oncor yang menjadikan desa mereka terang-benderang seolah-olah siang.

Anak-anak Gedangan pun mendapat bagian pula. Semalam suntuk mereka tidak tidur. Setelah mereka lelah berlari-larian kesana kemari, mereka dapat menikmati pertunjukan wayang beber. Pertunjukan yang mengisahkan kepahlawanan, yang dipetik dari ceritera Mahabarata.

Demikianlah rombongan kecil Mahesa Jenar dapat ikut pula menikmati kemeriahan malam bersih desa di Gedangan itu. Mereka ikut serta bergembira bersama-sama penduduk Gedangan dan kemudian ikut serta dengan mereka mengunjungi pertemuan di pendapa Kelurahan serta menikmati upacara tari-tarian sebagai pernyataan terima kasih pula atas panenan mereka yang berhasil.

Tetapi dalam pada itu, Arya Salaka menjadi semakin trenyuh di dalam hati. Teringatlah segala kemeriahan upacara di Tanah Perdikan Banyubiru pada masa kecilnya. Pada masa ayahnya masih memimpin tanah itu. Dan karena itulah tekadnya menjadi semakin bulat. Ia harus mendapatkan kembali tanah itu. Ia berjanji di dalam hatinya, apabila ia harus mewakili ayahnya dalam pemerintahan tanah perdikan itu, yang dilakukannya harus menguntungkan rakyatnya. Membina kembali Banyubiru dalam segala seginya. Dan ia harus dapat menjadikan Banyubiru sebagai idaman ayahnya. Menjadikan Banyubiru gemah ripah lohjinawi kertaraharja. Dimana setiap orang dapat menikmati kesuburan tanah kampung halamannya, dimana setiap orang dapat menikmati cerahnya matahari dan bulatnya bulan di malam hari. Menikmati ketenteraman hidup dan tanpa kegelisahan menjelang hari tuanya. Cukup sandang, cukup pangan. Sejahtera lahir dan batin.

Maka, setelah mereka bermalam dua malam di Gedangan, rombongan kecil itu melanjutkan perjalanan. Mereka diantar oleh hampir segenap penduduk Gedangan sampai ke regol desa mereka. Dengan penuh kebanggaan mereka memandang debu yang mengepul dilemparkan oleh derap kaki-kaki kuda yang berlari seenaknya. Seolah-olah mereka melihat rombongan pasukan berkuda yang tak terkalahkan menuju ke medan pertempuran.

Tak adalah yang penting yang terjadi di dalam perjalanan itu. Setelah mereka bermalam satu malam, maka pada hari berikutnya ketika matahari telah condong ke barat, sampailah mereka di daerah pegunungan Sumawana. Suatu daerah pegunungan yang menurut dongeng rakyat, adalah pegunungan dimana Prabu Dasamuka ditimbun dengan tanah oleh Pahlawan Kera yang berbulu putih, Hanoman. Karena kepercayaan itulah maka di daerah pegunungan itu, tidak diperkenankan membawa tuak atau semacam minuman keras yang lain. Sebab apabila ada orang yang melanggar pantangan itu, Prabu Dasamuka, yang tidak dapat mati, akan menggeram dan mengguncang-guncang gunung yang menimbuninya, sebab tuak adalah jenis minuman yang sangat digemarinya. Rakyat yang hidup di daerah itu, meskipun sangat jarang, tidak pernah takut seandainya Prabu Dasamuka itu dapat menjebol tanah yang menimbuninya. Sebab di dekatnya adalah bukit yang terkenal bernama Kendalisada. Di bukit itulah Hanoman bertapa dan sekaligus menunggui gunung yang dipakainya untuk menimbun tubuh Prabu Dasamuka.

Ketika rombongan kecil itu sampai di sekitar bukit Sumawana, mereka menghentikan perjalanan mereka. Daerah ini sudah dekat benar dengan daerah Candi Gedong Sanga. Karena itu mereka harus berhati-hati. Sebab apabila ada salah paham, mungkin akan menimbulkan hal-hal yang tidak mereka kehendaki. Karena itu mereka tidak maju lagi, tetapi mereka bermaksud bermalam di daerah itu.

Pada malam itulah Mahesa Jenar berhasrat memancing orang-orang Banyubiru yang bersembunyi di sekitar daerah itu dibawah pimpinan Bantaran dan Penjawi. Karena itu, maka ketika malam telah turun dengan kelamnya, segera Mahesa Jenar menyalakan api sebesar-besarnya. Ia yakin bahwa laskar Pamingit tidak akan sampai berkeliaran sedemikian jauhnya, apalagi mereka mengerti bahwa sebagian laskar Bantaran dan Penjawi ada di sekitar daerah Banyubiru.

Dan apa yang diharapkan terjadilah.

Ketika mereka sedang menikmati jadah sisa bekal mereka dari Gedangan yang mereka panggang di atas api, tiba-tiba terdengarlah gemersik daun-daun di sekitarnya. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan hampir semua orang dalam rombongan itu mengetahuinya, namun mereka masih berpura-pura tidak mendengarnya.

Sebentar kemudian terdengarlah beberapa orang berloncatan dengan senjata di tangan. Dengan lantangnya seorang yang memimpin laskar itu berkata, “Ki Sanak, aku harap Ki Sanak tidak melawan. Kami tidak ingin berbuat jahat, tetapi kami ingin mengetahui siapakah kalian.”

Mahesa Jenar mengangkat mukanya. Ia sama sekali tidak berkata apa-apa. Sambil tersenyum ia mengangkat tangannya menunjuk Wanamerta yang duduk di sudut perapian sambil membenamkan dirinya di dalam kainnya.

Ketika orang itu melihat Wanamerta, tiba-tiba wajahnya jadi tegang. Untuk beberapa saat ia bahkan berdiam diri seperti patung, tetapi tiba-tiba ia meloncat dan berjongkok di hadapannya sambil berteriak, “Kiai, adakah benar ini Kiai Wanamerta.”

Orang tua itu tersenyum. Tersenyum lucu sekali.

Tetapi semua orang yang menyaksikannya menjadi ikut terharu ketika di sela-sela senyumnya tampak diantara pelupuk mata orang tua itu membayang butiran-butiran air mata. Serta dengan suara parau ia menjawab, “Ya, inilah Wanamerta yang tua. Bukankah kau Jaladri?”

Ya,” sahut pemimpin laskar itu. “Bagaimanakah Kiai dapat sampai di tempat ini?

Hemm….” desis Wanamerta, lalu katanya, “Kenalkah kau dengan Anakmas Mahesa Jenar?

Mahesa Jenar…?” ulang Jaladri, “Ya tentu aku mengenalnya. Lima tahun yang lalu, ia pernah tinggal di Banyubiru untuk beberapa lama.”

Itulah dia,” potong Wanamerta sambil menunjuk Mahesa Jenar.

Jaladri menoleh kepada Mahesa Jenar. Memang ia pernah mengenalnya. Lima tahun yang lalu. Karena itu ia agak pangling. Baru ketika ia telah memperhatikan beberapa lama, ia menjadi jelas, bahwa memang orang itulah yang pernah dikenalnya bernama Mahesa Jenar. Karena itu segera ia menggeser diri duduk sambil membungkuk hormat kepada Mahesa Jenar, sambil berkata, “Maafkan kami, Tuan. Kami hampir tidak dapat mengenal Tuan setelah sekian lama berpisah. Apalagi sebelumnyapun aku tidak begitu dekat dengan Tuan.”

Mahesa Jenar menjawab dengan hormatnya pula. “Adalah hal yang wajar kalau kau tidak mengenal aku lagi. Waktu itu aku tidak mempunyai waktu banyak untuk tinggal lebih lama lagi di Banyubiru. Apalagi kita sudah terlalu lama tidak bertemu. Tetapi untunglah bahwa kau mengenal Paman Wanamerta.”

Kepada Kiai Wanamerta, berapa puluh tahun aku terpisah, namun aku masih akan dapat mengenalnya. Dan bahkan semua orang Banyubirupun akan tetap mengenalnya,” jawab Jaladri.

Bagus,” sahut Mahesa Jenar. “Sebab ia adalah tetua Banyubiru. Kalau kau lupa kepadanya, berarti kau telah lupa kepada kampung halaman itu”.

Benar Tuan,” jawab Jaladri, kemudian dengan agak ragu-ragu ia bertanya, “Tetapi, menurut Kakang Bantaran, bukankah Tuan berjanji untuk membawa Arya Salaka kepada kami?”

Mahesa Jenar tersenyum. Agaknya Bantaran telah mengumumkan kesanggupannya itu kepada anak buahnya. Kemudian dengan tertawa lirih ia berkata. “Cobalah Jaladri, carilah diantara kami, adakah Arya Salaka serta?”

Jaladri menjadi ragu. Ia memandang satu persatu kawan-kawan seperjalanan Mahesa jenar. Mahesa Jenar sendiri, lalu seorang yang berumur agak lebih tua sedikit dari Mahesa Jenar, disampingnya duduk bersimpuh seorang gadis kecil. Di dekatnya duduk bersila seorang gadis yang berpakaian laki-laki, dan di ujung duduk bersilah pula seorang pemuda yang gagah, kuat sentosa. Di pinggangnya terselip sehelai tombak yang bertangkai pendek. Jaladri masih tetap ragu-ragu. Ia tidak berani menebak satu diantaranya. Meskipun apabila Arya Salaka ada diantaranya, yang paling mungkin adalah pemuda yang gagah itu. Setelah beberapa lama ia menimbang-nimbang, akhirnya ia menjawab, “Aku tidak tahu Tuan Arya Salaka. Pada saat meninggalkan Banyubiru masih terlalu kecil bagi yang ada sekarang.”

Meskipun demikian mata Jaladri tidak lepas dari pemuda tegap yang duduk bersila sambil menundukkan mukanya.

Mahesa Jenar tertawa pendek, demikian pula Kebo Kanigara. Tetapi dengan demikian, Rara Wilis, Widuri, Wanamerta, dan bahkan Arya Salaka sendiri. Jaladri mempunyai dugaan yang benar. Meskipun demikian Mahesa Jenar tidak segera membenarkan dugaan itu. Dengan tegak berdiri ia berkata, “Jaladri… antarkanlah kami sekarang kepada Bantaran.”

“Baik Tuan,” jawab Jaladri cepat, seperti demikian saja meloncat dari mulutnya.

Kemudian Mahesa Jenar berkata kepada Wanamerta, Kebo Kanigara dan kawan-kawan seperjalanannya. “Marilah, kita selesaikan perjalanan kita yang tinggal beberapa langkah saja.”

Semuanya segera mempersiapkan diri mereka pula. Dan sesaat kemudian mereka meneruskan perjalanan yang sudah tidak jauh lagi.

Jaladri lebih dahulu telah mengirimkan dua orangnya untuk mendahului dan memberitahukan kedatangan Mahesa Jenar, agar Bantaran dapat mempersiapkan sambutan sekadarnya.

Demikianlah, tidak terlalu lama, mereka telah sampai ke daerah Candi Gedong Sanga, di lereng Gunung Ungaran. Oleh Jaladri, mereka dibawa menyusup ke sebuah hutan yang tidak terlalu lebat. Di dalam hutan yang tipis itu terdapatlah sebuah barak besar dikelilingi beberapa barak kecil. Itulah perkemahan laskar Banyubiru yang dipimpin oleh Bantaran dan Penjawi.

Ketika Mahesa Jenar sampai ke tempat itu, sibuklah mereka mengadakan penyambutan. Berdesak-desakan mereka berebut muka, sehingga Mahesa Jenar dan kawan-kawan tidak dapat bergerak maju lagi. Sampai Bantaran berdiri dan berteriak, “Berilah jalan supaya mereka dapat masuk ke dalam pondok ini.”

Demikianlah akhirnya Mahesa Jenar dan kawan-kawannya dipersilakan masuk ke dalam pondok yang terbesar itu. Di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang cukup luas. Dan di sanalah pemimpin-pemimpin laskar itu telah siap menanti. Mahesa jenar dan kawan-kawannya dipersilakan duduk di ujung pertemuan itu. Tetapi demikian ia mulai memperhatikan satu demi satu dari setiap wajah di dalam ruangan itu, tiba-tiba ia terkejut ketika melihat yang duduk berjajar di samping Penjawi. Karena itu segera Bantaran memperkenalkan kedua orang itu kepada Mahesa Jenar. “Tuan, barangkali Tuan belum mengenalnya. Mereka adalah orang baru di sini. Tetapi mereka melihat kebenaran perjuangan kami. Karena itu mereka di pihak kami.”

Tiba-tiba meloncatlah dari mulut Mahesa Jenar sapaan yang akrab, “Kakang Mantingan dan Wirasaba, adakah kalian telah lama berada di tempat ini?”

Dalang Mantingan dan Wirasaba menganggukkan kepalanya. Terdengarlah Mantingan menjawab, “Sudah… Adi. Aku sudah beberapa bulan bergaul dengan anak-anak Banyubiru, meskipun kadang-kadang aku juga memerlukan kembali ke Wanakerta atau Prambanan bersama-sama dengan Adi Wirasaba.”

Teringatlah Mahesa Jenar pada saat mereka baru saja menyaksikan bahkan terlibat dalam suatu bentrokan melawan golongan hitam yang sedang mempersiapkan sebuah pertemuan di daerah Rawa Pening. Pada saat itu Mahesa Jenar dengan empat orang teman, yaitu Mantingan, Wirasaba, Gajah Alit dan Paningron, harus bertempur melawan seluruh kalangan hitam dari angkatan sebayanya, yang kemudian mendapat bantuan dari Sima Rodra tua dan Pasingsingan. Untunglah pada saat itu muncul Radite dan Anggara yang menyelamatkan mereka berlima. Pada saat itu ia memang berpesan kepada Mantingan untuk berusaha melihat-lihat keadaan Banyubiru. Agaknya Mantingan benar-benar melaksanakan pesan Radite dan Anggara, bahkan akhirnya mengambil keputusan untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.

Kemudian sibuklah pertemuan itu dengan pernyataan keselamatan masing-masing. Wanamerta yang menjadi semakin terharu melihat anak-anak Banyubiru yang masih setia kepada pimpinannya itu, malahan menjadi seperti patung. Ia hanya dapat mendengarkan percakapan-percakapan yang semakin ramai dan gembira, dan sesekali menoleh kesana kemari, tanpa tujuan.

Tiba-tiba dari sela-sela keriuhan percakapan itu terdengarlah Bantaran bertanya, “Tuan. bukankah Tuan telah menyanggupkan kepada kami untuk membawa Arya Salaka…?”

Mahesa Jenar tertawa. Memang, ia menanti pertanyaan itu, sehingga dengan sengaja tidak memperkenalkan kawan-kawan seperjalanannya. Karena itu baru kemudian ia menjawab untuk memperkenalkan mereka. “Saudara-saudaraku dari Banyubiru… Baiklah aku memperkenalkan kawan seperjalananku satu persatu.” Kemudian sambil menunjuk, Mahesa Jenar meneruskan, “Ini, yang duduk di sebelahku adalah Rara Wilis, seorang gadis yang lebih senang menamakan dirinya Pudak Wangi, cucu seorang sakti bernama Pandan Alas. Di sampingnya adalah Endang Widuri, putri Kakang Kebo Kanigara yang duduk di sebelahnya. Dan yang seorang lagi adalah Bagus Handaka.”

Semua mata mengikuti jari Mahesa Jenar. Namun ketika sampai orang yang terakhir, ia tidak menyebut nama Arya Salaka, anak-anak Banyubiru menjadi bertanya-tanya dalam hati. Bahkan kemudian terdengar suara Penjawi, “Lalu bagaimanakah dengan Arya Salaka…?” Tetapi seperti juga Jaladri, Penjawi memandang Arya Salaka yang disebut bernama Bagus Handaka itu tanpa berkedip. Sebab pada masa kanak-kanaknya, dengan Penjawi-lah Arya Salaka paling banyak bergaul. Karena itu sedikit banyak ia masih dapat mengenal wajah itu, meskipun sudah jauh berbeda.

 Mahesa Jenar tidak menjawab, ia hanya tertawa kecil. Dan karena itulah maka Penjawi tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan cepatnya ia berjalan jongkok ke arah Arya Salaka dan dengan suara parau ia berkata hampir berteriak sambil memukul-mukul lengan Arya yang sudah menjadi sekeras baja itu. “Arya, alangkah mengagumkan kau. Benar-benar kau telah menjadi seekor banteng muda yang luar biasa kuatnya. Ah, alangkah malunya aku, yang semakin lama menjadi semakin kering.”

Bersamaan dengan itu tiba-tiba, hampir meledaklah suara membahana, “Arya Salaka telah datang, Arya Salaka telah datang.”

Kemudian tampaklah laskar Banyubiru itu berdesak-desakan di pintu pondok sehingga pintu itu seolah-olah akan mereka tumbangkan karena menghalang-halangi mereka yang ingin melihat kehadiran Arya Salaka diantara mereka.

Semua yang menyaksikan peristiwa itu menjadi sangat terharu. Bahkan Rara Wilis sampai menekan dadanya karena tiba-tiba terasa sesuatu menyumbat kerongkongannya. Sedang Endang Widuri tiba-tiba menjadi sangat bangga. Ia tidak tahu kenapa perasaan itu begitu saja tumbuh di dalam dadanya, seolah-olah dirinyalah yang mendapat sambutan sedemikian hangatnya. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, meskipun tidak kalah terharu, namun mereka berdua telah dapat mengendalikan perasaan mereka, sehingga mereka tetap duduk dengan tenang. Yang paling tidak dapat mengendalikan perasaannya adalah Wanamerta. Dalam kesempatan itu, ia merasa bahwa seolah-olah ia telah sampai pada puncak kebahagiaan. Bahkan dengan serta merta terlontar kata-kata dari mulutnya, “Aku tidak keberatan seandainya sekarang juga aku mati, sebab aku telah menyaksikan angger Arya Salaka kembali kepada anak-anak Banyubiru yang setia kepada kebenaran atas hak pada tanah mereka.”

Sedang Arya Salaka sendiri malah menjadi bingung. Ia biasa hidup seperti seekor burung yang bebas lepas di udara, yang seolah-olah tidak mempunyai suatu ikatan apapun. Ia tidak biasa menerima pujian dan sanjungan. Apalagi sikap memanjakan diri. Dan sekarang tiba-tiba terdengarlah teriakan-teriakan nyaring di dalam maupun di luar ruangan itu menyebut namanya. Memuji-mujinya dan bahkan ada diantaranya yang mengaguminya, seolah-olah dirinya menjadi seorang pahlawan yang baru memenangkan perang. Karena itulah maka tubuhnya menjadi gemetar. Wajahnya bertambah lama bertambah pucat, dan keringat dingin telah memenuhi seluruh tubuhnya. Mahesa Jenar yang bijaksana dapat merasakan keadaan itu. Karena itu segera ia berkata keras-keras, untuk mengatasi segenap keriuhan itu. “Saudara-saudara rakyat Banyubiru yang setia…. Atas nama Arya Salaka, aku ucapkan terima kasih atas sambutan kalian. Tetapi aku minta janganlah kalian menyambut kedatangannya dengan berlebih-lebihan. Sebab sikap yang demikian akan besar pengaruhnya, meskipun aku yakin akan keteguhan hati Arya Salaka, namun bersikaplah sewajarnya. Dengan demikian, segala sesuatu akan berlangsung dengan wajar pula. Tanpa berlebih-lebihan, tanpa pengaburan atas nilai yang sebenarnya. Dengan demikian saudara-saudara tidak akan mudah menjadi kecewa apabila ada hal-hal yang tidak seperti saudara harapkan.”

Suara Mahesa Jenar itu ternyata dapat menenangkan suasana di dalam ruangan itu, namun di luar ruangan masih saja terjadi keributan dan teriakan-teriakan. Mereka agaknya tidak puas sebelum dapat memandang wajah anak kepala daerah mereka yang telah mereka anggap hilang itu. Karena itu mereka masih saja berusaha untuk dapat berdiri di pintu. Dengan demikian akhirnya Mahesa Jenar merasa perlu untuk menenangkan mereka dengan membawa Arya Salaka keluar. Maka berkatalah ia kepada Bantaran dan Penjawi, “Biarlah Arya Salaka berdiri di depan pintu sebentar, agar mereka menjadi puas.”

Bantaran dan Penjawi menyetujui, serta mempersilakan Arya Salaka untuk berdiri sebentar, menerima sambutan dari rakyat.

Maka berkatalah Mahesa Jenar kepada Arya Salaka, “Marilah kita berdiri di muka pintu itu sebentar Arya Salaka, dan berkatalah sepatah dua patah kata kepada rakyatmu.”

Arya Salaka menjadi semakin gelisah. Ia lebih tenang pada saat ia berhadapan dengan Uling Kuning dan Uling Putih daripada waktu itu. Dengan tergagap ia menjawab, “Paman sajalah yang berbicara kepada mereka, atau Kakang Penjawi.”

Mahesa Jenar tersenyum, katanya, “Mereka tidak akan mau mendengarkan siapa saja yang akan berbicara selain kau.”

Keringat Arya Salaka semakin banyak mengalir. Tetapi ia tidak dapat membantah lagi ketika Mahesa Jenar kemudian berdiri dan menarik tangannya. Dengan jantung yang berdegupan Arya Salaka digandeng oleh Mahesa Jenar berjalan ke arah pintu diikuti oleh Penjawi, Bantaran, Kebo Kanigara, Rara Wilis dan Widuri.

Ketika Arya muncul di muka pintu, meledaklah tepuk tangan riuh, dibarengi dengan teriakan-teriakan yang menyebut-nyebut nama anak kepala daerah perdikan Banyubiru itu. Sedang Arya Salaka sendiri berdiri terpaku tanpa bergerak. Terdengarlah kemudian Mahesa Jenar berbisik di telinganya, “Berbicaralah, Arya….

Arya menjadi semakin bingung. Maka bisiknya pula, “Apakah yang harus aku bicarakan?”

Ucapkanlah pernyataan terima kasih kepada mereka dan katakan bahwa kau masih lelah sehingga kau perlu segera beristirahat. Karenanya pembicaraan yang agak panjang kau tunda sampai besok,” jawab Mahesa Jenar berbisik-bisik.

Mula-mula Arya Salaka masih tetap gelisah menghadapi keadaan yang tidak disangka-sangkanya itu. Tetapi tiba-tiba dari jantungnya meledaklah perasaan tanggungjawabnya, didorong pula oleh darah kepemimpinan yang mengalir dalam tubuhnya. Arya Salaka kemudian berhasil menguasai dirinya dan memperoleh keseimbangan. Sehingga dengan demikian ia menjadi agak tenang. Maka dicobanya untuk menyampaikan pernyataan terima kasih kepada rakyat yang menyambutnya itu. Namun bagaimanapun juga, suaranya masih terdengar gemetar. “Saudara-saudaraku dari Banyubiru. Yang pertama-tama akan aku sampaikan kepada kalian, adalah pernyataan terima kasih yang sebesar-besarnya atas sambutan kalian yang sama sekali tidak aku duga. Seterusnya, karena aku masih sangat lelah perkenankanlah aku beristirahat dahulu. Besok pembicaraanku akan aku perpanjang lagi.”

Mahesa jenar tersenyum mendengar uraian Arya Salaka yang masih terasa bongkah-bongkah itu. Meskipun demikian kata-kata itu cukup untuk dapat menenangkan rakyatnya. Namun masih juga terdengar teriakan-teriakan yang meminta Arya untuk berbicara lebih banyak lagi. Kemudian tampillah Bantaran, yang meminta kepada rakyat Banyubiru yang tetap teguh pada pendiriannya itu, untuk memberi kesempatan kepada Arya Salaka beristirahat.

Nah saudara-saudaraku…” katanya, “Sekarang berilah kesempatan tamu-tamu kita beristirahat. Juga kalian dapat beristirahat sekarang, kecuali mereka yang bertugas. Sebab di hadapan kalian terbentanglah lautan yang penuh dengan badai dan taufan yang harus kalian renangi. Siapa tahu, besok atau bahkan nanti, kalian harus sudah menerjuninya.”

Dengan demikian maka anak-anak Banyubiru itu kemudian perlahan-lahan meninggalkan pintu barak dimana Arya Salaka masih berdiri bersama dengan kawan-kawan seperjalanannya. Namun kemudian Bantaran tidak mempersilakannya masuk kembali, tetapi mereka dipersilakan untuk pergi ke pondok yang lebih kecil, yang telah dipersiapkan untuk mereka. Meskipun demikian, karena mereka sama sekali tidak menduga bahwa di dalam rombongan itu akan terdapat dua orang gadis, maka dengan tergesa-gesa mereka terpaksa menyiapkan tempat lain untuk keperluan itu.

Demikianlah mereka kemudian dipersilakan beristirahat di tempat masing-masing. Mantingan dan Wirasaba memerlukan mengunjungi Mahesa Jenar, meskipun hanya sebentar, untuk berkenalan lebih dekat lagi dengan Arya Salaka dan Kebo Kanigara. Setelah itu maka ditinggalkannya mereka bertiga, setelah dipersilakan mereka makan sekadarnya.

Sedang Wanamerta segera terjun ke dalam lingkungan anak-anak Banyubiru yang sudah lama terpisah dengannya, dan kemudian tidur bersama mereka.

Malam itu rasanya berjalan demikian cepat. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka segera tenggelam ke dalam mimpi. Demikian juga di dalam pondok yang lain. Rara Wilis dan Endang Widuri yang dikawani oleh Nyi Penjawi, segera tertidur pula. Di luar pondok itu, tampaklah beberapa orang berjaga-jaga dengan cermatnya. Sebab dalam tanggapan mereka, keselamatan gadis-gadis itu sangat tergantung kepada penjagaan yang mereka lakukan.

Ketika mereka terbangun pada pagi harinya, dan kemudian keluar dari pondok masing-masing, tampaklah betapa cerahnya matahari pagi. Sinar-sinarnya yang menembus daun-daun pepohonan terpercik di atas tanah lembab, membuat gambaran-gambaran yang menyenangkan. Seolah-olah gambaran anak-anak yang dengan lincahnya berloncat-loncatan dengan penuh kegembiraan menyambut hari yang bakal datang. Sedang angin pagi mengalir lambat membawa udara sejuk segar.

Pada hari itu Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka diantar oleh Bantaran, Penjawi, Mantingan, Wirasaba dan Wanamerta melihat-lihat keadaan di sekitar barak-barak itu. Melihat persiapan-persiapan yang mereka lakukan. Dari mereka itulah Mahesa Jenar mengetahui bahwa sebagian besar rakyat Banyubiru tetap menanti kedatangan kepala daerah perdikan mereka. ternyata dengan bantuan yang mengalir tak henti-hentinya. Meskipun dengan bersembunyi-sembunyi mereka dapat mengirimkan makanan, pakaian dan senjata. Bahkan anak-anak Banyubiru telah mendapat perkakas yang cukup untuk membuka hutan. Karena itulah rombongan itu bukan saja rombongan orang-orang yang menyingkirkan diri, namun mereka termasuk perintis-perintis pula dalam perluasan daerah pertanian Banyubiru. Sebab disamping mempersiapkan diri mereka untuk datang kembali ke Banyubiru, mereka ternyata telah membuka hutan dan membuat tanah pertanian.

Pada hari-hari berikutnya, Mahesa Jenar, Arya Salaka dan kawan-kawannya sempat melihat kesiapsiagaan anak-anak Banyubiru itu. Mereka mendapat kesempatan untuk melihat anak-anak Banyubiru itu berlatih. Mula-mula Mahesa Jenar menjadi heran melihat kemajuan yang pesat dibandingkan masa-masa Banyubiru beberapa tahun yang lalu. Justru setelah mereka didorong ke tengah-tengah hutan. Tetapi keheranan itu kemudian lenyap ketika ia melihat Mantingan dan Wirasaba berada diantara mereka. Agaknya kedua orang itu, disamping Penjawi dan Bantaran, yang telah bekerja mati-matian untuk melatih anak-anak Banyubiru itu.

Melihat tingkat pengetahuan laskar Banyubiru itu, Arya Salaka pun berbangga pula. Ternyata bahwa mereka lebih maju daripada laskar Gedangan. Sebaliknya, apa yang diduga Bantaran sebelumnya ternyata benar-benar terjadi. Dengan kehadiran Arya Salaka, laskar Banyubiru merasa mendapat suatu karunia yang tiada taranya. Mereka menjadi semakin teguh pada tekadnya. Kembali ke Banyubiru.

Tetapi meskipun demikian Bantaran, Penjawi dan beberapa orang pemimpin laskar Banyubiru itu masih tetap bimbang. Bukan karena meragukan kesetiaan laskarnya, yang menurut penilaiannya telah menyerahkan diri mereka bulat-bulat sampai tetes darah terakhir. Tetapi sebagai seorang pemimpin, mereka berkewajiban menilai kekuatan mereka sendiri untuk diperbandingkan dengan kekuatan lawan mereka. Mereka harus tidak menutup mata terhadap kenyataan yang ada. Mereka harus memperhitungkan bahwa laskar Pamingit yang bergabung dengan sebagian orang-orang Banyubiru yang tidak setia terdapatlah nama-nama besar seperti Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti. Disamping itu Bantaran dan kawan-kawannya selalu meragukan apakah kira-kira yang akan dilakukan Ki Ageng Sora Dipayana apabila benar-benar terjadi bentrokan antara dua kekuatan itu. Di pihaknya, ia yakin bahwa Kebo Kanigara dapat diketengahkan. Bantaran pernah melihat sendiri, paman guru Mahesa Jenar itu berhasil menyelamatkan diri setelah bertempur melawan sepuluh orang pengawal Lembu Sora. Tetapi bila Ki Ageng Sora Dipayana melibatkan diri dalam perselisihan itu, apakah Kebo Kanigara dapat mengimbanginya? Kemudian Bantaran harus menilai Mahesa Jenar pula. Dahulu, sepengetahuannya, Mahesa Jenar memiliki ilmu setingkat dengan Gajah Sora. Ki Ageng Gajah Sora sendiri pernah mengatakan. Tetapi sekarang Ki Ageng lembu Sora pesat sekali maju. Ia mendapat tuntunan yang tiada henti-hentinya dari Ki Ageng Sora Dipayana, sehingga Lembu Sora sekarang telah melampaui kakaknya, Gajah Sora. Sedang Mahesa Jenar, apakah yang diperolehnya selama ini, meskipun berada di lingkungan paman gurunya? Apalagi kemudian pimpinan laskar Banyubiru harus memperhitungkan pula Arya Salaka, yang mau tidak mau akan berhadapan kepentingan dengan Sawung Sariti. Apa yang mereka lihat sekarang, Sawung Sariti benar-benar telah menjadi seorang pemuda yang luar biasa. Ia dengan beraninya menghadapi lawan-lawannya sebagai seekor ayam jantan di arena pertarungan. Selain itu ia dapat bergerak dengan sangat lincahnya seperti seekor burung sariti di udara. Apalagi ia pun telah mendapat tempaan dari kakeknya. sehingga anak muda itu benar-benar memiliki ilmu yang menakutkan. Meskipun dari Wanamerta, Bantaran telah mendengar apa yang pernah terjadi antara Arya Salaka dan Sawung Sariti, namun ia menganggap bahwa Sawung Sariti kemudian telah lebih maju lagi dengan pesatnya, disamping dugaan-dugaan bahwa Wanamerta agak terlalu bangga terhadap Arya Salaka. Dalam pada itu pimpinan laskar Banyubiru itu tidak mengada-ada. Namun sebagai pemimpin ia harus bertindak hati-hati. Meskipun demikian ia tidak sampai hati untuk mengatakannya kepada Mahesa Jenar yang kemudian diharap akan dapat memimpin laskar Banyubiru itu.

Yang dapat mereka lakukan kemudian hanyalah sebuah pernyataan untuk meminta Mahesa Jenar memimpin laskar Banyubiru. Sebab mau tidak mau mereka harus mengakui bahwa Mahesa Jenar kecuali memiliki ilmu yang lebih tinggi daripada setiap orang yang ada, mereka juga mengetahui bahwa Mahesa Jenar adalah bekas seorang perwira prajurit Demak.

Tentu saja Mahesa Jenar tidak menolak. Bahkan ia merasa mendapat jalan untuk menentukan cara laskar Banyubiru berbuat. Ia ingin membuat laskar Banyubiru laskar yang kecuali baik dalam tata cara bertempur, juga harus merupakan laskar yang baik dalam bertindak. Di dalam atau di luar lingkaran pertempuran.

Maka sejak saat itulah Mahesa Jenar mengambil pimpinan dari tangan Bantaran dan Penjawi. Dan sejak itu pula Mahesa Jenar menyelenggarakan latihan yang lebih teratur untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

II

Demikianlah, akhirnya Mahesa Jenar sampai pada suatu saat dimana ia menganggap bahwa waktunya telah tiba untuk berbuat sesuatu ke arah penyelesaian masalah Banyubiru. Karena itulah maka segera mengadakan persiapan-persiapan terakhir.

Dalam pada itu adalah diluar dugaan sama sekali, ketika tiba-tiba datanglah seorang yang ditugaskan untuk tinggal di Banyubiru, yang mengabarkan bahwa Banyubiru, sebuah desas-desus yang tersebar luas mengatakan bahwa keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten kini berada di Banyubiru.

Mahesa Jenar terkejut mendengar khabar itu. Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten jelas berada di tangan Panembahan Ismaya. Tetapi kenapa tiba-tiba orang mendesas-desuskan bahwa keris itu berada di Banyubiru…? Mula-mula kepada orang yang membawa khabar itu Mahesa Jenar menanyakan, kira-kira dari manakah sumber berita itu. Tetapi orang itu pun sama sekali tidak mengetahui. Namun ia dapat mengatakan bahwa karena itulah maka di Banyubiru timbul kegelisahan. Sebab adanya desas-desus itu akan banyak akibat yang dapat terjadi.

Karena itulah Mahesa Jenar merasa bahwa ia telah didesak oleh keadaan untuk bertindak lebih cepat. Ia masih teringat jelas bahwa golongan hitam pun sangat memerlukan keris-keris itu. Sebenarnya ia sama sekali tidak percaya, bahwa kedua keris itu dengan tiba-tiba saja berada di Banyubiru, sebab ia yakin bahwa tak seorang pun yang dikenalnya, dapat melampaui segala macam ilmu yang dimiliki Panembahan Ismaya. Seandainya dua-tiga orang sakti sekalipun yang datang ke Bukit Karang Tumaritis, pasti orang-orang itu tidak akan berhasil mendapatkan Kyai Nagasasra dan Kyai sabuk Inten, apalagi orang-orang Banyubiru. Biarpun mereka datang bersama-sama. Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng lembu Sora dan Sawung Sariti beserta seluruh laskarnya. Karena itu ia akhirnya sampai suatu kesimpulan bahwa di belakang desas-desus itu pasti tersembunyi suatu maksud.

Maka, setelah Mahesa Jenar berunding dengan Kebo Kanigara, ia memutuskan untuk segera membawa Arya Salaka ke Banyubiru. Sudah barang tentu Mahesa Jenar bertindak menurut caranya, yang merupakan pancaran dari wataknya. Ia tidak segera membawa pasukannya ke Banyubiru sekaligus dalam persiapan tempur dengan mempergunakan gelar perang, tetapi ia mengharap bahwa segala sesuatu dapat diselesaikan menurut cara yang baik. Mula-mula Bantaran, Penjawi, bahkan Wanamerta heran melihat kelunakan sikap Mahesa Jenar itu. Bahkan mereka menduga bahwa di dalam hati Mahesa Jenar meragukan kekuatan laskarnya. Karena itulah maka mereka mengajukan pertimbangan lain. Mereka mendesak agar Mahesa Jenar memaksa dengan kekuatan untuk mengusir Lembu Sora dari Banyubiru. Sebab mereka tidak melihat cara lain yang dapat dipergunakan selain cara itu.

Mahesa Jenar memahami sepenuhnya perasaan yang bergolak di dalam dada Bantaran, Penjawi dan anak-anak Banyubiru, yang terpaksa menyingkir dari kampung halaman mereka sendiri. Mereka telah mengalami tekanan lahir batin. Kepahitan yang selama ini harus mereka telan, telah menyebabkan mereka menjadi dendam. Apalagi mereka merasa bahwa mereka telah melakukan tindakan kebenaran. Mempertahankan hak atas tanah mereka. Mereka dikejar-kejar, dimusuhi, ditangkap dan segala macam usaha yang lain untuk menakut-nakuti agar mereka melepaskan kesetiaan mereka kepada tanah mereka. Tetapi ternyata lebih baik bagi mereka menyingkirkan diri, meninggalkan kampung halaman, untuk tetap mempertahankan pendirian mereka. Mempertahankan kesetiaan mereka terhadap tanah pusaka mereka, terhadap tanah tercinta.

Karena itu Mahesa Jenar harus bersikap hati-hati terhadap mereka. Ia tidak dapat demikian saja memaksa mereka untuk melepaskan dendam mereka. Tetapi ia harus berusaha menumbuhkan dari dalam diri mereka masing-masing, pengertian tentang apa yang akan mereka lakukan.

Dengan penuh kebijaksanaan berkatalah Mahesa Jenar kepada Bantaran, Penjawi beserta para pemimpin laskar Banyubiru, “Saudara-saudaraku… kalau kalian gagal untuk menginjakkan kaki kalian beserta Arya Salaka kembali ke Banyubiru, akulah orang yang pertama-tama akan menyatakan penyesalan yang sedalam-dalamnya. Dan akulah orangnya yang akan menerjunkan diri, mengorbankan segala yang ada padaku untuk kepentingan kalian. Sebab aku telah menerima penyerahan dari kakang Gajah Sora atas putranya, Arya Salaka, beserta segala kelengkapan atas dirinya. Diantaranya kedudukan kepala daerah perdikan Banyubiru. Karena itu percayalah bahwa aku akan bekerja keras untuk melaksanakan pekerjaan itu. Tetapi berilah aku kesempatan menyelesaikan menurut cara yang akan aku tempuh. Pertama-tama aku akan berusaha untuk menempuh jalan yang sebaik-baiknya. Lembu Sora adalah adik Gajah Sora. Aku masih ingin melihat bahwa masih ada hubungan dari mereka berdua. Hubungan yang sangat dekat. Mereka dialiri darah dari sumber yang sama. Apabila cara ini tidak berhasil, barulah aku akan mempergunakan cara lain. Membawa kalian serta. Tetapi ingat, bahwa apa yang kalian lakukan bukanlah pembalasan dendam. Yang akan kalian lakukan adalah mengambil hak kalian kembali. Hak atas tanah kalian dan hak atas pimpinan daerah kalian. Karena itu maka yang harus kalian lakukan adalah sesuai dengan tujuan itu. Jangan ada diantara kalian yang mempergunakan kesempatan ini untuk kepentingan diri sendiri. Melepaskan dendam pribadi kepada orang-orang yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan perjuangan kalian mengambil kembali kampung halaman kalian. Kesetiaan kalian.

Aku percaya bahwa kalian akan dapat menunjukkan kebesaran jiwa kalian, yang dengan demikian akan menunjukkan pula perbedaan antara kalian dengan orang-orang yang berjiwa kerdil, yang hanya mengenal kepentingan diri daripada kepentingan bersama.”

Dengan demikian pekerjaan kalian hanya terbatas sampai hak atas tanah perdikan itu kembali. Seterusnya kalian tidak perlu berbuat apa-apa lagi, yang barangkali malah akan menyuramkan nama kalian. Yang harus kalian ingat pula, bahwa kecuali kalian dan orang-orang Pamingit itu masih ada orang-orang yang termasuk di dalam barisan golongan hitam.

Tidak mustahil kalau mereka akan mengambil setiap kesempatan, mengail di air keruh. Kalau kalian kemudian terlibat dalam permusuhan yang berlarut-larut, maka dengan senangnya mereka akan datang dan membangun istana kemenangan dia atas bangkai-bangkai kalian tanpa bersusah-payah lagi.”

Bantaran, Penjawi, Wanamerta beserta para pemimpin laskar Banyubiru menundukkan kepala mereka. Mereka mengerti sepenuhnya apa yang baru saja didengarnya. Di dalam hati mereka terbersitlah pengakuan atas kebenaran kata-kata itu. Tiba-tiba mereka menjadi sadar bahwa orang-orang Pamingit, lebih-lebih orang Banyubiru itu sendiri, adalah saudara-saudara mereka. Ada diantara mereka yang berkakak, beradik, berkemenakan dan bersepupu dengan orang-orang Pamingit.

Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar meneruskan, “Saudara-saudaraku… kalian harus dapat menempatkan diri kalian dalam tindakan kalian kali ini. Sekali lagi aku ingatkan, marilah kita ambil hak kita, milik kita sendiri. Selebihnya tidak. Apalagi apa yang dinamakan pembalasan dendam.”

Pemimpin-pemimpin Banyubiru itu masih tetap berdiam diri, namun tanpa mereka sadari, mereka telah mengangguk-anggukkan kepala mereka sebagai suatu pernyataan setuju atas segala uraian Mahesa Jenar. Sehingga kemudian Mahesa Jenar megakhiri pertemuan itu. Dengan minta doa restu kepada segenap laskar Banyubiru, ia minta diri untuk pergi ke Banyubiru. Beberapa orang dimintanya ikut serta untuk menyaksikan apa yang akan mereka bicarakan. Diantaranya adalah Wanamerta, Bantaran, Penjawi, dan Kebo Kanigara. Kali ini Mahesa Jenar menganggap belum waktunya membawa serta Arya Salaka. Rombongan ini tidak lebih daripada sebuah rombongan utusan dari Arya Salaka selaku orang yang berhak atas daerah perdikan Banyubiru, mengadakan pembicaraan pendahuluan mengenai hari kemudian Banyubiru. Mahesa Jenar masih menyangsikan apakah keselamatan Arya Salaka tidak terancam bila ia dibawanya serta bersama-sama dengan rombongan itu. Sebab ia masih belum dapat menggambarkan bagaimanakah tanggapan Lembu Sora, terutama Ki Ageng Sora Dipayana atas kehadiran Arya Salaka.

Demikianlah rombongan utusan itu dilepas dengan debaran hati segenap laskar Banyubiru yang terpaksa menyingkir ke daerah Candi Gedong Sanga. Meskipun ada diantara mereka yang meragukan keberhasilan pembicaraan mereka, namun cara itu merupakan cara yang terhormat sebelum cara-cara yang lain harus ditempuh. Arya Salaka sendiri sangat kecewa ketika Mahesa Jenar memintanya untuk tinggal di Candi Gedong Sanga. Sebenarnya ia ingin sekali untuk segera dapat melihat Banyubiru. Tanah tempat ia dilahirkan, tempat ia menerima kasih sayang ayah bunda. Ketika rombongan Mahesa Jenar lenyap di balik batang-batang liar di daerah hutan itu, tiba-tiba terasalah hatinya seperti tergores oleh sembilu. Tiba-tiba ia teringat kepada ayah dan bundanya. Kepada ayahnya yang terpaksa terpisah darinya karena pokal pamannya. Demikian juga ibunya. Terbayanglah di dalam otaknya, apakah yang kira-kira terjadi atas ibunya selama ini. Selama ia tidak pernah mencium pipinya seperti pada masa kanak-kanaknya. Karena itulah tiba-tiba hatinya meronta. Kenapa ia tidak berlari menyusul rombongan itu.

Tetapi dalam pada itu terasalah tangan halus menyentuh pundaknya. Ketika ia menoleh, dilihatnya Rara Wilis berdiri di belakangnya. Arya Salaka mengetahui hubungan apakah yang terjalin antara gadis itu dengan gurunya. Karena itu ia menghormati Rara Wilis seperti ia menghormati gurunya.

Dengan demikian ia tidak membantah ketika Rara Wilis mengajaknya dengan penuh pengertian untuk kembali ke dalam pondoknya.

Sebagai seorang gadis, hati Rara Wilis mulai tersentuh. Demikian juga ketika ia melihat betapa kecewa hati Arya Salaka, karena ia tidak diperkenankan ikut serta bersama gurunya. Hatinya menjadi iba.

“Jangan berduka, Arya…” nasihat Rara Wilis, “Besok atau lusa kau akan pergi juga ke sana. Kalau saat ini pamanmu tidak membawamu adalah semata-mata karena pertimbangan keselamatanmu.”

Arya menundukkan mukanya. Ia tahu benar alasan itu, tetapi perasaannya amatlah susah dikendalikan. Karena Rara Wilis bagi Arya tidak ubahnya dengan gurunya, dan orang tuanya sendiri. Maka kepadanya Arya Salaka pun berkata terus terang, “Bibi, aku dapat mengerti sepenuhnya kenapa Paman tidak membawa aku serta. Tetapi tiba-tiba saja perasaan rinduku kepada tanah kelahiran itu tak dapat aku kendalikan lagi. Lebih dari itu, betapa rinduku kepada Bunda, yang sejak lima tahun lalu tak pernah aku dengar khabar beritanya.” Dalam pada itu, betapa Arya Salaka berusaha sekeras-kerasnya, namun di kedua belah matanya mengembanglah air matanya yang bening, sebening hatinya.

Mendengar pernyataan Arya Salaka, Rara Wilis terdiam. Bahkan tiba-tiba iapun teringat kepada ibunya. Ibunya yang sudah tidak akan dapat dijumpainya lagi. Maka iapun menjadi berduka pula. Namun demikian ia masih mencoba untuk menghibur hati Arya, katanya, “Arya… meskipun tertunda beberapa waktu namun kau akhirnya akan dapat bertemu dengan bunda tersayang. Tetapi tidaklah demikian dengan aku, Arya. Kau masih harus mengucapkan terimakasih, bahwa kau masih menyimpan harapan di dalam dadamu. Sedang aku, sama sekali harapan itu telah padam sejak lama. Aku tidak akan bertemu lagi, sekarang, besok, lusa atau kapanpun dengan ayah bundaku.”

Kemudian keduanya terdiam. Masing-masing hanyut ke dalam dunia angan-angan. Kepada kerinduan yang menyentuh-nyentuh perasaan masing-masing. Sehingga ruangan itu kemudian menjadi hening sepi.

Tetapi keheningan itu tiba-tiba dikejutkan oleh suara Endang Widuri yang berlari-lari masuk. Katanya berderai dengan penuh kegembiraan. “Bibi… alangkah banyaknya bunga anggrek di hutan ini.”

Wilis tersadar dari angan-angannya. Dengan tersenyum kecil yang dipaksakan ia menjawab, “Adakah kau mendapatkannya, Widuri…?

“Inilah, Bibi…” sahut Widuri sambil menyerahkan setangkai bunga anggrek yang berbentuk seekor kala.

“Dari manakah kau dapatkan bunga ini?” tanya Wilis.

“Di lembah sebelah itu, Bibi…” jawab Widuri.

Rara Wilis menarik nafas. Lembah di sebelah adalah lembah yang terjal dan berbahaya. Agaknya Widuri memang anak yang benar-benar nakal. Katanya kemudian, “Jangan bermain-main di tempat yang berbahaya, Widuri. Di sana banyak ular-ular berbisa. Mungkin juga ada harimau yang buas.”

“Tidak Bibi,” sahut Widuri dengan nakalnya. “Tidak ada ular dan tidak ada harimau yang mengganggu. Tetapi tadi memang ada orang yang mencoba menangkap aku.”

Rara Wilis dan Arya Salaka terkejut seperti disengat kala. Dengan penuh perhatian Rara Wilis bertanya, “Ada orang yang akan menangkap kau…?”

Widuri mengangguk seenaknya, seolah-olah peristiwa itu sama sekali tidak penting baginya.

“Tahukah kau sebabnya…?” tanya Rara Wilis.

“Entah,” jawab Widuri. “Mungkin orang itulah yang menanam anggrek ini.”

“Mustahil,” sahut Arya Salaka. “Anggrek yang tumbuh di lembah itu tak seorangpun yang menanamnya.”

Widuri kemudian menjadi heran. Katanya, “Lalu kenapa ia akan menangkap aku?”

“Itulah yang ingin kami ketahui,” sela Rara Wilis. “Apakah katanya padamu mula-mula…?”

Widuri mengingat-ingat sebentar, lalu jawabnya, “Ia bertanya, kenapa aku berada di lembah itu.”

“Bagaimana kau menjawab?” selidik Arya.

Endang Widuri menjadi jengkel pada pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi ia menjawab pula, “Aku katakan kepadanya, bahwa aku ingin bunga anggrek ini.”

“Tidakkah ia bertanya tentang kau…?” tanya Wilis pula.

Karena pertanyaan-pertanyaan itu agaknya masih panjang, Widuri kemudian menjatuhkan dirinya di samping Rara Wilis. Dan dengan malasnya ia menjawab panjang, sebab ia tahu bahwa kemudian pertanyaan-pertanyaan masih akan mengalir seperti banjir. Katanya, “Ya, ia bertanya tentang aku. Ia bertanya siapakah namaku dan dari manakah aku datang. Aku datang bersama siapa dan untuk apa.”

Ketika Arya akan mengajukan pertanyaan lagi, Widuri sudah mendahului, “Aku jawab semuanya. Aku bernama Endang Widuri. Aku datang dari Karang Tumaritis. Aku datang bersama sahabatku yang bernama Arya Salaka putra kepala daerah perdikan Banyubiru, yang datang untuk mengambil haknya kembali dari tangan pamannya yang jahat.”

“Kau katakan itu semua?” sela Wilis dengan cemas.

“Ya, aku katakan semua itu. Aku katakan bahwa bersama-sama dengan kami datang pula ayah, Kebo Kanigara, Mahesa Jenar yang perkasa bersama Bibi Rara Wilis yang cantik.”

“Ssst…” potong Rara Wilis. “Jangan nakal,” bisiknya. Mau tidak mau ia harus tersenyum. Namun berita itu bagi Arya Salaka dan Rara Wilis merupakan berita yang cukup penting. Karena itu ia ingin kelanjutan cerita Widuri, meskipun ia tidak sabar mendengar cara Widuri berkisah. “Lalu, apakah yang dilakukannya?” tanya Arya Salaka.

“Orang itu tiba-tiba menjadi sangat menakutkan. Matanya terbelalak dan dengan marah ia memaksa aku untuk ikut serta bersamanya,” jawab Widuri.

Wilis menarik nafas sekali lagi. Pasti ada hal-hal yang sama sekali tidak pada tempatnya.

“Apakah orang itu bukan orang diantara kita di sini?” tanya Wilis.

Mendengar pertanyaan Rara Wilis, Endang Widuri tertawa, lalu jawabnya, “Pasti bukan, Bibi. Kalau orang itu salah seorang diantara kita pasti ia tidak akan bertanya tentang aku.”

Sekali lagi Rara Wilis terpaksa tersenyum. Katanya, “Maksudku adalah untuk menguatkan dugaanku bahwa orang itu pasti mempunyai kepentingan yang rahasia terhadap kita di sini. Terhadap seluruh kekuatan anak-anak Banyubiru.”

Endang Widuri mengerutkan keningnya. Agaknya baru sekarang ia sadar bahwa apa yang dilakukan oleh orang itu adalah jauh lebih berbahaya daripada seorang pemilik anggrek yang kehilangan bunganya. Karena itu tiba-tiba ia bercerita dengan penuh minat. “Bibi, memang agaknya orang itu sangat aneh. Ketika ia marah kepadaku, aku minta maaf bahwa aku memetik bunganya sebelum aku minta izin kepadanya. tetapi agaknya ia sama sekali tidak memperhatikan.” Endang Widuri berhenti sejenak untuk mengingat apa yang baru saja terjadi. Kemudian ia meneruskan, “Bahkan kemudian ia berusaha untuk menangkap aku. Tentu saja aku tidak mau. Maka ketika ia memaksa, aku terpaksa melawannya.” Kemudian tiba-tiba Endang Widuri tegak berdiri. Sambil menirukan beberapa gerak yang lincah, ia bercerita tentang perkelahiannya. Widuri sebenarnya seorang gadis yang memiliki ilmu tata beladiri jauh lebih dewasa dari sifat-sifatnya yang kekanak-kanakan. Dalam persoalan tata beladiri, Widuri telah dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh yang cukup mempunyai nama cemerlang. Tetapi karena ia tidak pernah meninggalkan padepokan, maka hampir tak seorang pun yang mengenalnya. Ditambah lagi dengan sifatnya sebagai gadis tanggung yang selalu dimanja oleh ayahnya. Dengan demikian perkelahian yang baru saja terjadi itu pun baginya seolah-olah hanya permainan yang tidak menyenangkan. Maka, katanya mengakhiri ceriteranya, “Tetapi ternyata orang itu hanya besar kepala saja. Tenaganya tidak lebih dari seekor kelinci. Meskipun demikian, karena aku tidak bersedia untuk berkelahi, maka aku mengenakan kain panjang ini. Dan ketika aku lupa, dan menyerangnya dengan kaki, kainku jadi sobek karenanya,” kata Endang Widuri mengakhiri ceritanya. Lalu dengan bersungut-sungut ia menunjukkan kain panjangnya yang sobek lebih dari dua cengkang di bagian belakang.

Endang Widuri kemudian duduk kembali di samping Rara Wilis. sedang Arya Salaka dan Rara Wilis terpaksa menggelengkan kepala. Kemudian bertanyalah Arya Salaka, “Kau apakan kemudian orang itu…?”

“Ia kemudian melarikan diri, dan lenyap di dalam gerumbul-gerumbul liar di lembah itu,” jawab Endang Widuri.

Berita itu bagi Rara Wilis dan Arya Salaka sangat penting artinya. Karena itu kemudian Arya minta diri untuk menemui Mantingan, Wirasaba dan Jaladri, yang selama Mahesa Jenar bersama-sama beberapa orang pergi ke Banyubiru, merekalah yang diserahi pimpinan atas anak-anak Banyubiru.

“Berita itu sangat penting, Angger,” kata Mantingan setelah dengan seksama mendengarkan cerita Arya Salaka tentang Endang Widuri. “Bagaimana mungkin penjagaan kita yang kuat dapat diterobos, kalau bukan oleh orang yang cukup tangguh. Meskipun demikian aku heran juga, bahwa Endang Widuri dapat mengalahkannya.”

Tiba-tiba Arya Salaka menjadi bangga atas pujian itu. Pujian untuk Endang Widuri. Karena itu tanpa dikehendakinya sendiri ia telah ikut serta memuji gadis tanggung itu.

Mantingan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Pantaslah kalau ia putri Kakang Kebo Kanigara. Apalagi selama ini Endang Widuri berada dalam lingkungan yang menguntungkan. Bersama-sama dengan Angger, gadis itu merupakan pasangan berlatih yang mengagumkan,” gumamnya kepada Arya Salaka.

Terasa wajah Arya Salaka menjadi panas. Maka berusahalah ia menjawab, “Apakah Paman pernah melihat aku atau Widuri berlatih?”

Mantingan tertawa lirih. Umurnya yang telah menjangkau lebih dari setengah abad itu telah menjadikannya orang yang cukup mengenal perasaan seseorang. Apalagi berhubungan dengan pekerjaannya sebagai seorang dalang. Karena itu ia tidak melanjutkan gurauannya. Apalagi persoalan yang dihadapinya cukup penting. Sehingga segera ia kembali pada persoalan berita yang dibawa oleh Endang Widuri.

Apakah yang sebaiknya kami lakukan?” Mantingan mencoba untuk mendapat pertimbangan dari Wirasaba, Arya Salaka dan Jaladri. Sesudah berpikir sejenak, berkatalah Wirasaba, “Satu hal yang patut menjadi pertimbangan adalah, orang itu telah mengetahui bahwa di sini ada Adi Mahesa Jenar, Kakang Kebo Kanigara, Angger Arya Salaka, dan yang dikenalnya langsung adalah Angger Widuri sendiri. Orang itu pasti akan mengatakan bahwa di sini ada seorang gadis kecil yang sangat berbahaya. Kalau gadis itu telah dapat mengalahkannya, apalagi orang-orang yang bernama Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan Arya Salaka.”

Mantingan mengangguk membenarkan. Padahal Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan beberapa orang lain sedang berada di perjalanan ke Banyubiru.

Kalau demikian…” sambung Jaladri, “Tempat kita ini berada dalam bahaya. Kalau mereka mengetahui bahwa orang-orang yang bernama Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar sedang berada di perjalanan, mungkin sekali mereka akan mempergunakan kesempatan itu. Mencegat mereka atau menyerang tempat ini.”

Baiklah adi Jaladri,” sahut Mantingan. “Apakah jeleknya kalau kita berhati-hati. Siapkan orang-orangmu dan perkuatlah penjagaan di sekitar tempat ini. Mungkin ada sesuatu yang tidak kita harapkan bisa terjadi.”

Jaladri segera melaksanakan tugas itu. Dipanggilnya beberapa orang pemimpin laskar Banyubiru dan diberinya mereka petunjuk-petunjuk. Mereka sejak saat itu harus sudah siaga tempur. Setiap saat bahaya dapat datang.

Maka sibuklah daerah perkemahan itu dengan berbagai persiapan. Beberapa orang menyiapkan perlengkapan-perlengkapan, beberapa orang lagi mengasah senjata-senjata mereka. Dengan demikian maka perkemahan itu diliputi oleh suasana yang tegang.

Ketika kemudian malam turun perlahan-lahan, seolah-olah tersembul dari hutan di sekitar perkemahan itu, anak-anak Banyubiru menjadi semakin siaga. Penjagaan mereka menjadi semakin rapat. Apalagi penjagaan atas pondok Rara Wilis dan Widuri. Sebab mereka mengira bahwa kedua gadis itu sangat memerlukan penjagaan. Kecuali Mantingan, Wirasaba dan Jaladri, yang kecuali sudah mendengar berita perkelahian antara Widuri dan orang yang mengandung rahasia itu, sebenarnya dari gerak-gerik kedua gadis itu mereka sudah menduga bahwa mereka bukanlah gadis seperti kebanyakan gadis-gadis yang lain.

Sementara itu orang-orang Banyubiru telah dikejutkan oleh kedatangan sebuah rombongan kecil orang-orang berkuda. Dua orang yang di depan mempunyai perawakan yang sedang, tegap dan kuat. Seorang memakai baju hijau gadung, kain lurik hijau gadung pula. Di atas kuping kanannya terselip sekuntum bunga melati hutan. Sedang di sebelahnya, yang seorang lagi berbaju lurik bergaris-garis tebal berwarna coklat dan berkain lurik merah soga berikat kepala biru gelap.

Dengan wajah tengadah mereka memegangi kendali kuda-kuda mereka, yang dengan tegap berjalan ke arah pusat kota. Beberapa orang yang menyaksikan mereka berdua terpaksa menarik nafas dalam-dalam. Meskipun mereka belum pernah mengenalnya, namun mereka seolah-olah melihat dua ekor burung rajawali yang dengan megahnya terbang di udara. Sedang bagi mereka yang pernah mengenalnya lima tahun yang lalu, segera bergumam di dalam mulutnya, dengan mata terbelalak penuh keheranan. “Bukankah yang menyelipkan bunga di telinga kanannya itu pernah tinggal di Banyubiru beberapa tahun yang lalu, dan bernama Mahesa Jenar…?”  Tetapi segera mereka menjadi semakin heran, ketika mereka kemudian memandang tiga orang berkuda di belakang sepasang rajawali itu. Dan mereka segera meneruskan gumam mereka, “Dan bukankah mereka itu Ki Wanamerta, Penjawi dan Bantaran…?”

Mula-mula orang-orang Banyubiru itu hanya saling memandang diantara mereka. Tetapi ketika seorang diantara mereka tanpa disengaja menyebut nama Mahesa Jenar agak keras, terdengarlah mereka menjawab bersahutan, “Ya, orang itulah Mahesa Jenar.”

Tetapi kenapa tiba-tiba saja ia datang bersama Bantaran dan Penjawi, bahkan dengan Ki Wanamerta?” terdengar suara yang lain.

Tak seorangpun yang menyahut. Malahan mereka tiba-tiba menjadi bingung. Sebab Bantaran dan Penjawi bagi penduduk Banyubiru yang tetap tinggal di kampung halaman mereka serta tidak terlalu banyak mengerti tentang seluk-beluk tanah mereka sendiri, merupakan tokoh-tokoh yang membingungkan. Kadang-kadang penduduk Banyubiru itu mengharap-harap kedatangan mereka, namun kadang-kadang mereka tiba-tiba membencinya sebagai orang-orang yang selalu membawa bencana. Daerah-daerah, desa-desa dan pedukuhan-pedukuhan yang disinggahi oleh Bantaran dan Penjawi dalam saat-saat terakhir ini, merupakan tanda tidak baik bagi penduduknya. Sebab sesaat kemudian akan datanglah pasukan-pasukan dari Pamingit dan Banyubiru sendiri untuk mengadu dan menangkapi beberapa orang untuk diperiksa.

Sekarang penduduk Banyubiru itu melihat Bantaran dan Penjawi datang bersama-sama dengan Mahesa Jenar. Seorang yang dapat disejajarkan dengan pepunden mereka, Ki Ageng Gajah Sora. Malahan bagi orang-orang Banyubiru itu tampaklah Mahesa Jenar seperti Ki Ageng Gajah Sora itu sendiri, yang datang kembali ke kampung halamannya.

Tetapi sedemikian jauh, mereka hanya dapat saling berbisik diantara mereka sendiri. Tak seorangpun diantara mereka yang berani maju ke depan dan bertanya tentang teka-teki yang berputar-putar didalam benaknya.

Rombongan Mahesa Jenar itu pun merasakan, bahwa setiap orang yang melihat kedatangan mereka menjadi heran dan bertanya-tanya diantara mereka. Tetapi rombongan itu pun tetap berdiam diri seperti sama sekali tak ada orang yang melihat mereka.

Demikianlah rombongan itu dengan tenangnya terus berjalan, lewat jalan-jalan sempit diantara daerah-daerah persawahan, menembus jalan-jalan desa dan melintasi jembatan-jembatan bambu di atas parit-parit yang mengalirkan airnya yang jernih.

Kakang Kanigara…” tiba-tiba terdengar Mahesa Jenar berbisik. “Adakah Kakang melihat sesuatu yang tidak sewajarnya?

Ya” jawab Kanigara. “Tetapi itu sudah agak jauh lewat.”

Mahesa Jenar mengangguk. Katanya, “Kalau demikian apa yang Kakang lihat, aku lihat pula.

Kemudian kembali mereka berdiam diri. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara masih sibuk menduga-duga orang aneh yang dijumpainya sesaat sebelum mereka memasuki tlatah Banyubiru. Seorang berkuda, yang seolah-olah membayangi perjalanan mereka dari punggung-punggung perbukitan. Tetapi ketika rombongan itu memasuki daerah Banyubiru, segera orang itu lenyap di seberang bukit.

Tiba-tiba Mahesa Jenar, Kebo Kanigara beserta segenap orang dalam rombongan itu terkejut, ketika mereka mendengar derap beberapa ekor kuda yang berlari kencang ke arah mereka. Dan belum lagi mereka mengucapkan kata-kata, dari balik tikungan di depan mereka muncullah sebuah rombongan orang berkuda pula. Lebih dari limabelas orang.

Mahesa Jenar mengendorkan lari kudanya, diikuti oleh kawan-kawannya. Mereka masih belum mengetahui, apakah tujuan orang-orang berkuda itu. Maka ketika rombongan itu menjadi semakin dekat, dan tidak mengurangi kecepatan mereka, Mahesa Jenar beserta keempat kawannya segera menepi. Agaknya orang-orang berkuda itu tergesa-gesa. Demikianlah rombongan itu dengan cepatnya berlari melintas. Beberapa orang menoleh kepada Mahesa Jenar, tetapi beberapa orang yang lain agaknya tidak peduli. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara segera menutup hidung mereka, supaya tidak dimasuki debu yang berhambur-hamburan di belakang rombongan itu.

Tetapi ketika rombongan itu telah melampauinya, tiba-tiba terdengarlah sebuah aba-aba dari antara mereka. Dan dengan tiba-tiba pula rombongan itu berhenti bersama-sama, sehingga kuda-kuda mereka meringkik dan berputar-putar. Kemudian beberapa orang diantara mereka tiba-tiba memutar kuda mereka, dan berlari ke arah rombongan Mahesa Jenar.

Ketika Mahesa Jenar memandang Kanigara, Kanigara pun sedang memandangnya. Dengan kedipan mata, Kanigara memberi isyarat kepada Mahesa Jenar dan ketiga kawannya yang lain. Sebab bagaimanapun juga, sesuatu yang tak diharapkan dapat terjadi karena orang-orang itu masih belum mereka kenal sama sekali.

Wanamerta, Bantaran dan Penjawi segera mempersiapkan diri. Sebagi utusan yang bermaksud menempuh penyelesaian yang baik, mereka tak bersenjata, kecuali di punggung mereka terselip sebilah keris sebagai suatu kelengkapan yang lazim. Karena itu, ketika mereka melihat keadaan yang tidak menentu, segera mereka memutar keris mereka di lambung kiri.

Beberapa orang itu menjadi semakin dekat, dan ternyata yang lainpun mengikuti mereka pula. Dan semakin dekat mereka itu, Mahesa Jenar dan kawan-kawannya menjadi semakin bersiap pula untuk menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi.

Seorang yang bertubuh besar berkulit hitam mengkilap dan bermata tajam seperti mata serigala mengendarai kudanya paling depan dan langsung mengarah kepada Kebo Kanigara. Melihat orang itu datang kepadanya, Kanigara pun segera menyambutnya. Mula-mula orang itu menghentikan kudanya beberapa langkah dari Kebo Kanigara, kemudian memandangnya dengan tajam. Baru beberapa saat kemudian ia bertanya, “Ki Sanak, siapakah kalian ini, dan apakah keperluan kalian?”

Kanigara tidak segera menjawab. Tetapi dengan matanya ia minta pertimbangan kepada Mahesa Jenar yang sedikit banyak sudah mengenal daerah Banyubiru. Ketika Mahesa Jenar menggeleng kecil, tahulah Kebo kanigara, bahwa orang-orang itu bukanlah orang-orang Banyubiru. Karena itu segera ia menjawab, “Apakah Ki Sanak bukan orang Banyubiru?”

Orang itu mengerenyitkan keningnya. Ia tidak senang pertanyaannya dijawab dengan pertanyaan pula. Karena itu dengan kasar ia mengulangi pertanyaannya, “Aku bertanya kepadamu, siapakah kalian ini?”

Kebo Kanigara tidak ingin bertengkar. Karena itu ia menjawab, “Kalau kalian belum mengenal kami, pastilah kalian bukan orang Banyubiru, sebab kami adalah penduduk daerah ini.”

Orang itu memandang Kebo Kanigara dengan penuh kecurigaan. Kemudian dipandanginya Mahesa Jenar, Wanamerta, Bantaran dan Penjawi berganti-ganti. “Benarkah kalian penduduk Banyubiru…?” desaknya.

Wanamerta mendesak maju. Kemudian ia menyahut, “Sejak lahir aku tinggal di daerah ini. Kau curiga…?”

Tiba-tiba orang itu tertawa. Jawabnya, “Tidak kakek tua. Aku percaya kalau kau orang Banyubiru. Sebab bentuk kalian mengingatkan aku kepada bentuk-bentuk batu padas yang berbongkah-bongkah keras dan kasar.”

Wanamerta tersinggung oleh jawaban itu. Tetapi ia didahului oleh Kebo Kanigara yang mengenal gelagat. Katanya, “Sesudah kalian tahu bahwa kami adalah orang-orang Banyubiru, maka kami pun ingin mengetahui, siapakah kalian dan dari manakah kalian?”

Sekali lagi orang itu tertawa. Jawabnya, “Aku baru saja menemui kepala daerah perdikan kalian. Tetapi orang itu ternyata keras kepala.”

Kau benar,” sahut Mahesa Jenar. “Orang itu memang keras kepala. Tetapi apakah keperluan kalian?”

Tiba-tiba orang itu terdiam. Lalu ia mendorong kudanya beberapa tapak maju mendekati Kebo Kanigara. Dengan perlahan-lahan hampir berbisik ia bertanya, “Ki Sanak, aku lihat kalian bukanlah orang kebanyakan. Karena itu kalian pasti sudah tahu bahwa Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten berada di Banyubiru. Nah katakan kepadaku, siapakah yang menyimpan kedua keris itu.”

Mahesa Jenar, Kebo Kanigara beserta ketiga kawannya terkejut mendengar pertanyaan itu. Untunglah bahwa mereka segera dapat menguasai diri, sehingga perasaan itu tidak terlalu membekas di wajah mereka. Tetapi pertanyaan itu merupakan penegasan dari berita-berita yang mengatakan bahwa di Banyubiru tersebar desas-desus, yang menyatakan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten berada di tempat itu.

Karena itu tiba-tiba Kanigara ingin mengetahui dengan pasti, siapakah orang-orang itu. Demikian juga agaknya Mahesa Jenar dan bahkan ketiga kawan-kawannya. Maka bertanyalah kemudian Kebo Kanigara, “Dari manakah kalian mendengar berita tentang kedua keris itu?”

Orang berkulit hitam dan bermata serigala itu tertawa. “Apakah untungmu mengetahui dari mana aku mendengarnya?”

Kanigara menyahut, “Sayang, kau mimpi di siang hari. Tak ada keris di tanah perdikan Banyubiru, kecuali kerisku sendiri serta keris kawan-kawanku ini.”

“Jangan begitu, Ki Sanak,” potong orang itu. “Kalau kau mau menunjukkan kepadaku, kau akan menerima hadiah cukup.”

“Apakah hadiah itu?” sela Mahesa Jenar.

“Apa saja yang kau kehendaki. Uang? Emas atau permata?” jawab orang itu.

“Sayang kami tidak mengetahuinya,” desis Mahesa Jenar.

Pandangan orang bermata serigala itu menjadi semakin tajam. Sekali dua kali ia menengok kepada kawan-kawannya yang berada di belakangnya, seolah-olah ia ingin mengetahui kesiapsiagaan mereka.

“Memang orang-orang Banyubiru keras kepala,” gumam orang itu. “Seperti kepala daerah perdikannya.”

“Ki Sanak…” kata Kebo Kanigara kemudian, “Yang paling mengetahui segala sesuatu di Banyubiru ini adalah Ki Ageng Lembu Sora. Kalau kau tadi telah menemuinya, maka kenapa tidak kau tanyakan kepadanya? Atau barangkali kalau kau sudah menanyakannya dan dijawabnya kedua keris itu tidak berada di Banyubiru, maka jawaban itu pastilah benar.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya semakin menunjukkan ketidakpuasannya. Meskipun demikian ia masih mencoba untuk menyabarkan diri dan berkata ditahan-tahan. “Kalian tinggal memilih. Menunjukkan di mana keris itu berada dan menerima hadiah atau tidak mau menjawab, tetapi kalian binasa.

Kanigara masih tetap berkata dengan sabarnya, “Ki Sanak. Apakah yang akan kami katakan tentang kedua keris itu, kalau kami benar-benar tidak mengetahuinya?”

Orang berkulit hitam itu sekali lagi menengok kepada kawan-kawannya dan seperti orang minta pertimbangan ia berkata, “Apakah yang sebaiknya kami lakukan atas orang-orang ini?”

Terserah Ki Lurah,” jawab salah seorang diantara mereka.

Hem….” ia menarik nafas. “Ki sanak, kami merasa perlu untuk memberi pelajaran kepada kalian, sekaligus memberi peringatan kepada Ki Ageng Lembu Sora. Kalau ia akan tetap berkeras kepala, nasib rakyatnya akan tidak menyenangkan. Sekali lagi aku memberi kesempatan kepada kalian untuk menunjukkan kepada kami di mana kedua keris itu disimpan. Menilik sikap, pakaian dan keadaan kalian, kalian adalah orang-orang penting di Banyubiru ini. Tetapi kalau kalian tetap tidak mau bicara, maka kalian akan menjadi orang pertama yang akan kami jadikan korban. Kalian akan kami bunuh dengan cara yang mengerikan. Mata kalian akan kami copot dari batok kepala kalian. Dada kalian akan kami silang dengan pisau dan isi perut kalian akan kami tumpahkan keluar. Nah, bukankah itu mengerikan? Setiap hari akan kami lakukan hal yang serupa sampai kepala daerahmu atau seseorang mau mengatakan kepada kami, baik karena ketakutan maupun karena ia ingin hadiah, di mana kedua keris itu berada.”

Semua yang mendengar kata-kata itu terkejut. Apalagi Wanamerta, Bantaran dan Penjawi sebagai orang-orang Banyubiru yang sebenarnya.

Penjawi, yang paling muda diantara mereka, adalah orang yang berdarah paling panas. Ia segera mendesak maju. Sebenarnya ia dapat membiarkan saja hal itu berlaku di Banyubiru. Sebab itu adalah tanggungjawab Lembu Sora pada saat ini. Sedang mereka sendiri pada saat itu agaknya mungkin sekali untuk menyelamatkan diri. Tetapi sebagai seorang yang berangan-angan masa depan yang gemilang bagi rakyat Banyubiru, ia tidak dapat berpangku tangan. Terbayanglah di dalam otak Penjawi, masa yang mengerikan akan berlangsung di Banyubiru. Masa duka yang bersusun-susun. Beban yang berat, serta usaha-usaha penyingkiran yang dilakukan oleh Lembu Sora atas orang-orang yang setia kepada tanah tercinta, dengan berbagai macam cara. Bahkan kalau perlu dengan mengadakan pembunuhan. Akan ditambah lagi dengan pameran pembunuhan oleh pihak lain. Yang dapat dipastikan, orang-orang itu datang dari golongan hitam.

Maka berkatalah Penjawi dengan lantangnya, “Ki Sanak. Dengan semua keteranganmu dan caramu menakut-nakuti kami, kami dapat memastikan bahwa kalian datang dari daerah yang kelam. Dari dunia yang penuh dengan noda-noda dan dosa-dosa. Kalian adalah orang-orang yang kami namakan golongan hitam. Sebab hati kalian adalah hati yang berwarna hitam. Sekarang kalian mencoba menakut-nakuti kami, dan rakyat kami. Tetapi kami sama sekali tidak takut. Sebab kami berdiri diatas kebenaran. Meskipun demikian kami ingin menjelaskan kepadamu sekali lagi, bahwa sebenarnyalah keris-keris itu tidak ada pada kami. Tidak ada di Banyubiru. Karena itulah, baik kami maupun Lembu Sora tak akan dapat mengatakan di mana keris itu disimpan.”

Kata-kata Penjawi terpotong oleh suara tertawa yang mengerikan. Orang yang bermata serigala itu tiba-tiba menjadi buas. Matanya semakin lama semakin liar dan berwarna merah. Dengan marahnya ia berteriak, “Jangan mengigau. Aku tidak peduli apakah kau menganggap aku orang-orang hitam, merah, hijau atau apa saja. Tetapi kalau kau tetap berkeras kepala, kami akan melakukan rencana kami, dan mayat kalian akan kami sebarkan ke segenap sudut Banyubiru.”

Juga Penjawi menjadi marah. Wajahnya menjadi tegang dan berwarna darah. Bantaran dan Wanamerta kemudian segera mempersiapkan diri. Namun dalam ketegangan itu masih terdengar suara Kanigara tenang, “Ki Sanak. Apa yang akan kalian lakukan kepada kami, adalah tanggungjawab kami dan kewajiban kami untuk melindungi diri. Tetapi agaknya kalian sama sekali belum mengenal kami. Orang-orang Banyubiru yang berjiwa jantan. Nyawa kami telah lama kami letakkan di ujung pengabdian kami. Karena itu sebaiknya kalian mempertimbangkannya sekali lagi.”

Kembali terdengar orang yang berkulit hitam dan bermata serigala itu tertawa keras-keras seperti hampir gila. Dengan buasnya ia menjawab, “Apakah arti kejantanan orang Banyubiru bagi kami. Selama darah kalian masih merah, serta kalian masih belum dapat melenyapkan diri dalam satu kerdipan mata, maka kalian adalah korban-korban kami yang menyenangkan. Ketahuilah, bahwa kami datang dari Nusa Kambangan mengemban tugas dengan kekuasaan penuh.”

Meskipun orang-orang Banyubiru itu sudah menduga sebelumnya, bahwa gerombolan itu adalah gerombolan hitam, namun hati mereka tergetar pula. Bahkan kemudian terdengar Mahesa Jenar menyahut, “Apakah kalian anak buah Ular Laut?”

“Nah…” sahut orang itu. “Kau pasti pernah mendengar kebesaran namanya. Dengan tangannya ia akan dapat menyapu bersih segenap isi Banyubiru.

“Hem,” gumam Mahesa Jenar. “Agaknya pengetahuanmu terlalu sempit. Kau belum tahu betapa dahsyatnya tangan Ki Ageng Lembu Sora. Apakah artinya Jaka Soka baginya. Barangkali kau juga belum mendengar tentang putranya yang bernama Sawung Sariti.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia menjawab dengan kasarnya, “Omong kosong semuanya. Andaikata kau berkata benar, maka Kyai Nagapasa akan dapat menyelesaikan dengan sangat mudahnya.”

“Kyai Nagapasa…?” ulang Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara hampir bersamaan.

Orang itu tertawa kembali. Katanya, “Kau menjadi pucat seperti mayat mendengar nama itu.”

“Bagaimana aku menjadi pucat mendengar nama yang tidak berarti itu. Bahkan mendengar pun aku belum pernah,” jawab Mahesa Jenar.

“Itu pertanda kepicikan pendengaranmu.” Orang itu menjelaskan dengan bangga. “Kyai Nagapasa adalah nama ilmu pamungkas perguruan Nusa Kambangan. Dengan nama itu pula kami sebut orang yang memiliki dan mengembangkan. Ia adalah guru Jaka Soka.”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Agaknya benar-benar akan terjadi peristiwa-peristiwa yang menggemparkan. Kini yang berhadapan bukan saja tokoh-tokoh muda dari kalangan hitam, namun agaknya tokoh-tokoh tua, guru-guru merekalah yang mengambil alih persoalan. Dalam sepintas, membayanglah di dalam angan-angan Mahesa Jenar akan nama-nama Pasingsingan, Umbaran, Sima Rodra dari Lodaya, Bugel Kaliki dari Lembah Gunung Cerme, Sura Sarunggi yang telah kehilangan kedua muridnya dari Rawa Pening, dan sekarang terdengar lagi sebuah nama Kyai Nagapasa. Namun disamping itu ia menjadi puas karena pancingannya berhasil untuk mengetahui asal orang-orang itu.

Melihat Mahesa Jenar terdiam, orang itu mengangkat dadanya. Ia merasa bahwa orang-orang Banyubiru itu menjadi ketakutan. Karena itu sekali lagi ia menggertak, “Nah, adakah kalian mau berkata tentang kedua keris itu, setelah kalian mendengar nama-nama yang berdiri di belakang kami?”

Orang yang berwajah buas, bermata serigala itu menjadi terkejut sekali ketika ia mendengar Mahesa Jenar menjawab, “Sampaikan salamku kepada Jaka Soka, apabila kau sempat pulang kembali.”

Dengan mata terbelalak orang itu memandang Mahesa Jenar seperti ingin menelannya bulat-bulat. Sikapnya yang seolah-olah menganggap Jaka Soka tidak lebih dari dirinya, menyebabkan orang bermata serigala itu marah bukan kepalang. Ia menganggap Mahesa Jenar orang yang tak tahu diri. Dengan membentak-bentak ia berkata, “Ayo, mintalah maaf atas kelancangan mulutmu itu. Kalau tidak, kau akan mati dengan menderita.”

“Penderitaan bagi laki-laki bukanlah hal yang sangat menakutkan,” jawab Mahesa Jenar. Jawaban itu kembali sangat mengagetkan anak buah Jaka Soka, sehingga dengan demikian ia sudah tidak merasa perlu untuk berbicara lebih banyak. Dengan lantangnya ia berkata kepada anak buahnya, “Kepung kelinci-kelinci yang tak tahu diri ini.”

Agaknya orang-orang Nusa Kambangan itu telah benar-benar terlatih dan berpengalaman. Sebab demikian mereka mendengar aba itu, dalam waktu sekejap mereka telah bergerak dengan cepatnya membentuk sebuah gelang yang melingkari Mahesa Jenar beserta ke tempat kawan-kawannya.

Bersamaan dengan itu, ternyata Wanamerta, Bantaran dan Penjawipun telah siap pula dengan keris ditangan kanan dan kendali kuda ditangan kiri. Tetapi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tampak masih tenang-tenang saja. Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan seolah-olah mereka sedang mempertimbangan bersama apakah yang akan mereka lakukan. Tiba-tiba tampaklah Mahesa Jenar tersenyum. Dengan sangat tenangnya, seolah-olah tidak terjadi apapun pada saat itu ia berkata kepada orang yang berkulit hitam dan bermata serigala itu. “Ki Sanak, apakah yang akan kalian lakukan?”

Melihat ketenangan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, orang itu menjadi heran. Malahan kemudian ia merasakan betapa besarnya perbawa kedua orang itu. Namun demikian, untuk menutupi kekerdilan diri, ia berteriak lantang, :Aku akan melaksanakan kata-kataku. Mencincang kalian dan melemparkan ke segenap sudut Banyu Biru.”

Mahesa Jenar tertawa perlahan-lahan. Jawabnya, ”Kau salah hitung. Kau akan melakukan pekerjaan itu di atas kampung halamanku. Di sekitar sanak kadangku. Betapa tangguhnya kalian semuanya ini. Namun apabila seorang diantara para petani di sawah atau anak-anak yang sedang bermain melihat perkelahian ini, maka dengan memukul kentongan mereka akan mengerahkan segenap penduduk Banyubiru yang berjumlah ribuan orang, untuk mengepung kalian, dan justru kalianlah yang akan ditangkap oleh mereka. Meskipun demikian kalian tak usah cemas, bahwa kalian akan mengalami siksaan, apalagi dicincang. Sebab kami, penduduk Banyubiru mendasarkan watak kami kepada ketaatan. Kami mengagungkan nama Tuhan Yang Maha Esa, yang akan kami ujudkan dalam pengalaman kami dalam hidup sehari-hari.”

Perkataan Mahesa Jenar itu ternyata berkesan di hati orang bermata serigala itu. Tampaklah wajahnya yang buas itu menjadi tegang. Alisnya seolah-olah bertemu satu sama lain di atas hidungnya yang besar. Dengan liarnya ia memandang jauh-jauh ke sawah di sekitarnya, ke desa yang terdekat, dan ke segenap sudut dan persimpangan jalan.

Pematang-pematang di sawah, pagar-pagar batu yang mengelilingi desa-desa terdekat, gunduk-gunduk padas di tepi jalan, tiba-tiba di mata orang itu berubah menjadi orang-orang yang dengan cermatnya mengawasi segala gerak-geriknya. Apalagi ketika jauh-jauh dilihatnya beberapa orang, ya… orang yang sebenarnya sedang menggarap sawahnya.  Hati orang itu tiba-tiba menjadi kecut. Apalagi kemudian Mahesa Jenar berkata, “Ki Sanak… jangan ganggu kami di tanah sendiri. Kalian hanya dapat datang kemari dalam saat-saat tertentu dan dalam jumlah tertentu. Tetapi kami berada di tempat ini di segala waktu, dan jumlah kami tak akan terhitung olehmuu.”

Ternyata perkataan Mahesa Jenar itu merupakan sebuah pukulan terakhir yang benar-benar tak terlawan oleh orang bermata serigala itu. Apalagi ketika ia melihat kawan-kawannya menjadi gelisah. Gelisah oleh kata-kata Mahesa Jenar itu. Maka tiba-tiba terdengarlah ia berteriak nyaring dan bersamaan dengan itu, ia menarik kendali kudanya untuk kemudian lari secepat-cepatnya meninggalkan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara beserta Wanamerta, Bantaran dan Penjawi yang menjadi terheran-heran melihat peristiwa itu. Melihat orang berwajah serigala itu dengan pucat berlari sejadi-jadinya diikuti oleh seluruh anak buahnya. Meskipun demikian, untuk kepuasan perasaan mereka, orang-orang Nusa Kambangan itu masih menggemakan ancaman, “Awaslah kalian orang-orang Banyubiru. Aku akan datang pada waktunya dengan seluruh orang-orang kami.” Gema ancaman itu memukul lereng-lereng bukit kecil yang banyak berserakan di sekitar daerah itu dan bergulung-gulung berulang beberapa kali. Namun Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara hanya tersenyum saja.

Beberapa saat kemudian terdengar suara Wanamerta bergumam, “Angger, kenapa orang-orang itu dibiarkan saja pergi?”.

Mahesa Jenar menoleh. Dengan tenang ia menjawab, “Kami berada di daerah yang tak kami kenal. Kami tidak yakin bahwa apabila kami bertempur melawan orang-orang itu, Lembu Sora akan membenarkan sikap kami. Kalau kejadian ini dianggapnya akan dapat membahayakan ketenteraman Banyubiru, maka ia dapat mempergunakan persoalan ini sebagai alasan untuk melakukan hal-hal yang tidak kami inginkan. Karena itu sebaiknya kami menghindarkan diri dari segala peristiwa yang dapat merugikan perjalanan kami, meskipun kami nyata-nyata tidak memulainya.”

Wanamerta mengangguk-anggukkan kepala penuh pengertian. Demikian juga Bantaran dan Penjawi. Perlahan-lahan mereka menyarungkan keris-keris mereka kembali.

Kemudian rombongan itu meneruskan perjalanannya perlahan-lahan. Tetapi dengan demikian mereka jadi tertunda untuk beberapa waktu. Namun demikian sesuatu yang penting telah mereka alami. Yaitu, mereka tidak lagi dapat mengabaikan desas-desus tentang beradanya kedua pusaka Demak di Tanah Perdikan Banyubiru.

Semakin dekat dengan pusat kota, semakin rapatlah penduduk tanah perdikan itu. Dan dengan demikian semakin banyak pulalah orang-orang yang melihat kedatangan Mahesa Jenar, didampingi oleh seorang yang belum mereka kenal, dan di belakang mereka berdua, tampaklah Bantaran, Penjawi dan tetua tanah perdikan itu, Wanamerta.

Beberapa orang menjadi terharu karenanya. Dengan dada sesak, mereka melambaikan tangan mereka. Namun diantara mereka ada pula yang mengumpat di dalam hati, dan yang kemudian membenahi pakaian dan kekayaan mereka sambil menggerutu, “Kalau setan-setan itu lewat, akan celakalah daerah kami ini. Kenapa perampok-perampok itu tidak mati disambar petir atau tertangkap pada saat mereka merampok…?”

Tetapi ia tidak berani mengatakannya kepada seorangpun. Meskipun kepada anak atau adiknya. Sebab ia tahu benar, bahwa pemuda-pemuda Banyubiru memiliki kesetiaan yang tinggi terhadap tanah mereka, serta sedang berjuang memulihkan hak tanah itu kepada tempat yang sewajarnya. Laki-laki maupun wanita.

Demikianlah ketika mereka muncul di alun-alun Banyubiru, tampaklah dari rumah kepala daerah perdikan itu, beberapa orang berdiri berjajar di depan regol halaman. Mahesa Jenar tersenyum melihat sambutan itu. Agaknya seseorang telah melaporkan kedatangannya, sehingga Ki Ageng Lembu Sora dapat menyiapkan diri, menyambut kedatangan mereka, meskipun ujud sambutan itu sendiri masih belum diketahuinya. Karena itulah, meskipun wajah-wajah mereka mengulum senyum segar, namun mereka tidak meninggalkan kewaspadaan sepenuh-penuhnya.

———-oOo———-

 

 

 

 

III

Semakin dekat mereka dengan rumah kepala daerah itu, senyum Mahesa Jenar menjadi semakin suram. Sebab ia menjadi semakin jelas bahwa di belakang orang-orang yang berdiri di regol halaman, tampaklah ujung-ujung tombak yang berjajar-jajar rapat. Dan ketika Mahesa Jenar melayangkan pandangannya ke sudut-sudut pagar halaman di ujung alun-alun sebelah-menyebelah, tahulah ia bahwa halaman rumah kepala daerah perdikan Banyubiru itu dijaga rapat sekali. Beberapa orang siap dengan senjata di tangan mereka.

Mahesa Jenar menoleh kepada Kebo Kanigara. Agaknya orang itupun sedang memperhatikan keadaan dengan seksama. Lebih seksama lagi daripada Mahesa Jenar. Sebab kecuali ia melihat ujung-ujung senjata yang gemerlapan karena cahaya matahari, juga karena ia sama sekali belum pernah datang ke tempat itu sebelumnya. Karena itu sebagai seorang yang sudah cukup makan garam, maka untuk menghadapi setiap kemungkinan, ia perlu mengetahui keadaan di mana ia sedang berada.

Wanamerta, Bantaran dan Penjawi pun melihat suasana itu. Hati mereka menjadi berdebar-debar. Mereka adalah orang-orang yang termasuk dalam catatan Lembu Sora untuk dilenyapkan. Bahkan mereka adalah orang-orang yang pertama-tama. Dalam pada itu, mereka menjadi ragu. Apakah kedatangan mereka itu tidak hanya sekadar mengantarkan nyawa mereka. Dan bukankah mereka sudah mengusulkan kepada Mahesa Jenar, bahwa cara yang demikian itu sangatlah berbahaya.

Tetapi mereka sudah berada di depan hidung Lembu Sora. Apapun yang akan terjadi harus mereka hadapi sebagai seorang jantan. Apalagi ketika mereka melihat Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang masih tetap tenang, meskipun wajah-wajah mereka menjadi bersungguh-sungguh pula.

Rombongan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Beberapa orang yang berdiri di regol halaman itupun telah mulai bergerak maju untuk menyambutnya. Dan yang paling depan dari mereka adalah Lembu Sora sendiri dan Sawung Sariti.

Ketika mereka sudah lebih dekat lagi, segera Mahesa Jenar menghentikan kudanya dan langsung meloncat turun diikuti oleh kawan-kawannya. Beberapa orang anak buah Lembu Sora segera berlari-larian menerima kuda-kuda mereka.

Berbeda dengan pada saat Mahesa Jenar berjumpa untuk pertama kalinya dengan Lembu Sora, kali ini kepala daerah perdikan Pamingit itu menyambutnya dengan tertawa-tawa, meskipun sikapnya yang sombong itu masih saja memancar dari wajahnya yang tengadah.

“Marilah, Adi Mahesa Jenar…” sambutnya. “Aku merasa bergembira sekali mendapat kunjunganmu.”

Mahesa Jenar mengangguk hormat sambil menjawab, “Sebagai seorang yang pernah menerima kebaikan hati dari penduduk Banyubiru, sekali-kali aku ingin menengoknya kembali.”

“Bagus-bagus…” sahut Lembu Sora. “Marilah kami persilahkan kalian masuk dan naik ke pendapa yang memang telah kami persiapkan untuk menyambut kedatangan kalian.”

Maka berjalanlah mereka beriring-iring naik ke pendapa yang sudah direntangi tikar pandan yang putih bersih. Pendapa yang lima tahun lalu pernah dikenal pula oleh Mahesa Jenar sebagai tempat untuk duduk-duduk menghirup hawa sejuk yang mengalir di sepanjang lereng-lereng pegunungan Telamaya. Sebagai tempat untuk bermain-main Arya Salaka bersama-sama dengan ayahnya, Ki Ageng Gajah Sora. Juga sebagai tempat untuk memulai memberikan dasar-dasar ilmu tata berkelahi dan dasar-dasar tempaan jiwa oleh Gajah Sora kepada putra tunggalnya, Arya Salaka.

Sekarang ia kembali berada di pendapa itu sebagai tamu. Tamu yang membawa tugas berat dari anak Ki Ageng Gajah Sora untuk menyampaikan permintaan yang amat penting. Yaitu haknya kembali atas tanah perdikan ini.

Setelah mereka melingkar di atas tikar pandan itu, mulailah Lembu Sora mengucapkan selamat atas kedatangan tamu-tamunya itu. “Adi Mahesa Jenar, kami keluarga Banyubiru dan Pamingit mengucapkan selamat datang kepada Adi bersama-sama dengan rombongan, kepada kawan Adi yang belum aku kenal, dan kepada Wanamerta, Bantaran dan Penjawi.”

Mahesa Jenar mengangguk. Jawabnya, “Terimakasih Kakang. Mudah-mudahan segenap keluarga Pamingit dan keluarga Banyubiru selamat dan sejahtera. Kecuali itu perkenankanlah aku memperkenalkan kawanku ini. Ia adalah seorang Putut dari Karang Tumaritis, bernama Karang Jati.”

Lembu Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pernah mendengar nama tempat itu. Karang Tumaritis.

Sebelum Lembu Sora ingat nama Karang Tumaritis, tiba-tiba terdengar Sawung Sariti menyela, “Aku sudah pernah datang ke tempat itu. Karang Tumaritis tempat tinggal Panembahan Ismaya. Orang yang mengaku dirinya waskita tetapi tak sesuatu pun yang diketahuinya.”

“Ya, kepada Panembahan itulah aku menghambakan diri,” sela Kebo Kanigara.

Sawung Sariti memandang Kebo Kanigara dengan sikapnya yang khusus. Seperti juga ayahnya, ia mewarisi sikap sombong. Tetapi tiba-tiba sikapnya segera berubah. Ia melihat Kebo Kanigara justru tidak di Karang Tumaritis, tetapi di Gedangan ketika ia pada saat itu membawa laskarnya bersama-sama dengan Sima Rodra, Bugel Kaliki dan laskar sepasang Uling dari Rawa Pening. Tetapi untuk sementara ia tidak berkata apa-apa dan berusaha untuk menghilangkan kesan perasaannya itu dari wajahnya. Sebab mau tidak mau, dan meskipun ia tidak sempat menyaksikan Kebo Kanigara bertempur pada saat itu, karena ia sendiri segera terlibat dalam perkelahian dengan Arya Salaka, namun bahwa Bugel Kaliki, Sima Rodra tua, dan Jaka Soka dapat diusir dan malahan Janda Sima Rodra terbunuh pula, maka mau tidak mau kekuatan orang itu harus diperhitungkan, disamping kesaktian Mahesa Jenar yang mengagumkan. Disusul kemudian berita kematian sepasang Uling dari Rawa Pening.

Kemudian, setelah mereka tenang sejenak, kembali terdengar Lembu Sora berkata kepada Wanamerta, Bantaran dan Penjawi, “Paman Wanamerta, Bantaran dan Penjawi, sudah lama rakyat Banyubiru merindukan kalian. Kemanakah kalian? Kemanakah kalian pergi selama ini? Dan apakah keperluan kalian? Sebenarnya tenaga kalian sangat kami perlukan di sini untuk membantuku selama ini.”

Sambil mengangguk-angguk Wanamerta menjawab, “Anakmas Lembu Sora, aku semakin lama semakin menjadi tua. Dan apakah arti hidupku ini bagi Banyubiru, kalau tidak dapat berbuat sesuatu untuknya. Karena itu aku mencoba untuk menemukan putra Anakmas Gajah Sora, Arya Salaka.”

Warna merah membersit di wajah Ki Ageng Lembu Sora. Namun segera ia berusaha untuk menenteramkan hatinya. Bahkan kemudian ia bertanya seolah-olah ia sendiri mengharap kehadiran anak itu. “Lalu, adakah usaha Paman Wanamerta berhasil…?”

“Pangestu Angger, aku berhasil,” jawabnya.

Lembu Sora menarik nafas panjang untuk meredakan debar jantungnya. Kemudian ia berkata pula, “Aku tidak dapat mengerti, bagaimana Paman Wanamerta dapat bertemu dengan anak itu.”

“Mudah saja, Anakmas,” jawab Wanamerta, “Aku pergi ke tempat-tempat yang pernah dikunjungi oleh Cucu Sawung Sariti.”

Sawung Sariti menjadi gelisah. Namun ia adalah anak yang cerdik. Secerdik ayahnya. Maka dengan berpura-pura terkejut ia menjawab, “Adakah Eyang Wanamerta pernah pergi ke tempat-tempat yang pernah aku kunjungi?”

“Benar Cucu Sawung Sariti,” jawab Wanamerta.

“Dan menemukan Kakang Arya Salaka…?”

Sambil mengangguk puas, Wanamerta menjawab, “Benar Cucu.”

Tiba-tiba Sawung Sariti menjawab sambil tertawa keras-keras. Katanya di sela-sela derai tawanya, “Sayang, Eyang…. Seperti aku juga mula-mula terjebak oleh suatu kecurangan yang hampir sempurna. Seorang anak muda yang sebaya dengan aku mengaku bernama Arya Salaka.”

Darah Wanamerta tersirat mendengar jawaban itu. Juga Bantaran dan Penjawi. Apalagi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Wajah mereka segera berubah merah dan jantung mereka berdentam seperti guruh yang menggelegak di dalam dada mereka. Bagaimanapun mereka mencoba menahan diri, namun terasa juga tangan-tangan mereka menjadi gemetar karenanya.

Tetapi sebelum mereka dapat mengatur perasaan mereka, terdengarlah suara Lembu Sora, “Adi Mahesa Jenar, aku memang pernah mendengar tentang seorang anak muda menamakan dirinya Arya Salaka. Tetapi aku belum pernah melihatnya. Sebagai seorang paman, aku pasti akan mengenalnya kembali meskipun sudah sejak kurang lebih lima tahun yang lalu tak melihatnya. Aku sejak kanak-kanak tidak akan melupakannya. Namun perlu Adi ketahui bahwa seorang anak muda yang bernama Arya Salaka itu pernah diketemukan mati terbunuh. Ia kehilangan pusakanya Kyai Bancak dan sebuah peniti yang barangkali dari emas, serta timangnya bertetes intan.”

Sekali lagi sebuah petir seolah-olah meledak di dalam pendapa itu. Bahkan jauh lebih dahsyat dari cerita Sawung Sariti. Penjawi yang paling tidak dapat menahan diri, dengan tergagap berteriak, “Bohong, semuanya bohong…!” Lalu suara Penjawi hilang tersumbat di kerongkongan. Seolah-olah berjejal-jejal berebut dahulu, sehingga dengan demikian malah tak sekata pun yang muncul seterusnya.

Mendengar kata-kata Penjawi yang terbata-bata itu, Lembu Sora tersenyum. Senyum yang sangat menyakitkan hati. Tetapi kemudian ia berkata dengan ramahnya, “Jangan berprasangka yang bukan-bukan, Penjawi. Aku sama sekali tak bermaksud membohongi kalian. Tetapi sebaiknya kalian dapat mempertimbangkan kejadian-kejadian yang pernah berlaku. Kalian jangan membabi buta atas kesetiaan kalian kepada Arya Salaka, sebagai ungkapan kesetiaan atas tanah yang sama-sama kita cintai.”

Penjawi bukanlah orang yang dapat banyak bicara. Karena itu semakin banyak yang akan diucapkan, semakin sulit kata-kata itu keluar dari mulutnya. Demikian juga Bantaran yang hanya dapat mengingsar-ingsar duduknya dan meraba-raba hulu kerisnya. Wanamerta sendiri menjadi bingung. Ia sama sekali tidak menduga bahwa ia akan mendapat jawaban yang demikian. Sedangkan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, meskipun menjadi gelisah, mereka masih tetap pada kesadaran yang penuh. Karena itu Mahesa Jenar masih dapat berkata las-lasan, “Kakang Lembu Sora, apakah yang Kakang katakan itu merupakan pendapat Kakang Lembu Sora?”

Lembu Sora mengernyitkan keningnya. Terhadap Mahesa Jenar ia harus berhati-hati. Karena itu ia mempertimbangkan setiap kata-katanya dengan baik. Maka setelah berfikir sejenak ia menjawab. “Adi, aku tidak mengatakan demikian. Tetapi aku wajib mempertimbangkan setiap keadaan, supaya aku tidak meletakkan keputusan yang salah”.

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Lalu katanya meneruskan, “Baik. Kalau demikian bagaimanakah kalau berita tentang kematian yang Kakang dengar itu salah…?”

Lembu Sora berpikir sekali lagi. Baru ia menjawab, “Mudah-mudahan berita yang aku dengar itu salah. Tetapi bagaimana aku tahu kalau berita itu tidak benar?”

“Kakang akan tahu bahwa berita itu tidak benar setelah Kakang nanti dapat bertemu dengan Arya Salaka,” sahut Mahesa Jenar.

Lembu Sora tersenyum. Katanya, “Bagaimanakah aku dapat percaya bahwa yang datang kemudian itu Arya Salaka?”

“Ia harus membawa tanda kebesaran Banyubiru,” jawab Mahesa Jenar. “Dan bukankah Kakang akan dapat mengenal kembali kemenakan Kakang itu?”

“Permainan yang bagus,” potong Sawung Sariti. “Aku pernah bertemu dengan Paman Mahesa Jenar di Gedangan bersama-sama dengan anak muda yang menamakan diri Arya Salaka, yang membawa tombak yang dinamainya Kyai Bancak.”

“Diam!” Tiba-tiba terdengar Bantaran membentak. Semua orang terkejut mendengar bentakan itu. Bahkan Bantaran sendiri terkejut. Sawung Sariti sama sekali tidak senang mendengar Bantaran membentaknya. Karena itu ia menjawab tajam, “Bantaran… kalau kau membentak aku sekali lagi, aku sobek mulutmu.”

Tetapi kata-kata bentakan itu sudah terucapkan. Sebagai laki-laki, Bantaran tidak mau dihinakan, meskipun ia tahu bahwa Sawung Sariti bukanlah lawannya. Tetapi mati atas landasan kesetiaan kepada Banyubiru adalah pengabdian yang didambanya selama ini. Dengan demikian tiba-tiba menengadahkan dadanya sambil berkata, “Aku akan berbuat sekali, dua kali, sepuluh kali lagi, sesuka hatiku.”

Hampir saja Sawung Sariti meloncat, kalau ia tidak ditahan Lembu Sora, yang agaknya kepalanya masih cukup dingin. Namun kata-katanya sangat menyakitkan hati. “Sawung Sariti, adakah cukup berharga bagimu untuk menyentuh tubuhnya?”

Sawung Sariti menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin memadamkan api yang berkobar-kobar di dalam dadanya. Namun dari matanya terpancarlah bara kemarahan yang tak terhingga.

Mahesa Jenar melihat keadaan berkembang ke arah yang tidak diharapkan, meskipun ia tidak dapat menyalahkan Bantaran, Wanamerta maupun Penjawi. Ia sebenarnya sama sekali tidak menduga bahwa sampai sedemikian jauh keingkaran Lembu Sora dan Sawung Sariti terhadap kemenakannya serta sepupunya sendiri. Terhadap kadang tuwa yang selalu bersikap baik kepada mereka, Gajah Sora. Mahesa Jenar pernah mendengar cerita tentang hubungan mereka. Lembu Sura dengan Gajah Sora sebagai kakak-beradik. Ia pernah mendengar bagaimana Gajah Sora sebagai saudara tua selalu melindungi dan membimbing adiknya dalam berbagai soal, dan banyak mengalah dalam berbagai hal. Namun akibatnya, kemanjaan Lembu Sora itu menjadi berlebih-lebihan dan menelan Gajah Sora sendiri. Kalau sekali dua kali, Gajah Sora pernah marah kepadanya, adalah wajar. Sebagai seorang kakak yang ingin melihat adiknya tidak berbuat kesalahan-kesalahan.

Mahesa Jenar berusaha untuk tetap memelihara suasana pertemuan itu agar tidak bertambah kusut, meskipun dadanya sendiri seperti hendak meledak. Maka berkatalah ia dengan setenang-tenangnya, seolah-olah tidak terjadi ketegangan sama sekali di dalam pertemuan itu. “Kakang Lembu Sora, baiklah kita berbicara mengenai beberapa soal yang penting. Biarlah kita singkirkan masalah-masalah kecil yang tidak berarti.”

Lembu Sora menelan ludahnya serta menggigit bibirnya. Ia kagum juga kepada Mahesa Jenar yang dapat menguasai perasaannya dengan baik. Tetapi ia sudah bertekad untuk menganggap bahwa Arya Salaka sudah tidak ada lagi di muka bumi ini.

Karena itu Lembu Sora menjawab, “Baiklah Adi, aku tidak pernah menolak berbicara dengan siapa saja, selama pembicaraan itu akan berguna. Berguna bagi Pamingit, bagi Banyubiru, dan berguna bagi kita semua.”

“Demikianlah harapan kami,” sahut Mahesa Jenar. “Kedatangan kami ini pun pada kepentingan Banyubiru. Bukan kepentingan kami sendiri.”

Lembu Sora tersenyum. Dengan penuh kesadaran akan kebesaran dirinya, ia menjawab, “Nah, katakanlah apa yang berguna bagi Banyubiru itu?”

“Aku membawa tugas dari Angger Arya Salaka, untuk menyampaikan baktinya kepada Kakang Lembu Sora,” sahut Mahesa Jenar.

Lembu Sora menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan mengerutkan keningnya ia menjawab, “Adi Mahesa Jenar, jangan mengada-ada. Kau bagiku adalah seorang yang pantas dihormati seperti Kakang Gajah Sora dahulu menghormatimu. Namun demikian hormat kami pun mengenal batas. Sebagai kepala daerah perdikan yang besar, yang terbentang dari Pamingit sampai Banyubiru, aku harus bersikap baik, namun tegas dalam garis kepemimpinan. Karena itu aku minta kepada Adi untuk tidak menyebut-nyebut nama Arya Salaka, seorang yang telah tidak ada lagi.”

Mahesa Jenar mengangkat dadanya seolah-olah ada sesuatu yang menyilang di dalamnya. Dengan sudut matanya ia melihat betapa wajah Wanamerta, Bantaran dan Penjawi sudah menjadi merah padam. Meskipun demikian Mahesa Jenar masih berkata, “Bukankah Kakang Lembu Sora tidak melihat sendiri, seorang anak muda yang disebut bernama Arya Salaka itu terbujur di tanah tak bernafas lagi?”

Perasaan tidak senang yang tajam terpercik di wajah Lembu Sora. Kemudian terdengarlah ia menjawab, “Aku tidak sempat untuk mengurusi masalah-masalah tetek bengek yang tidak berarti. Bukankah aku mempunyai petugas-petugas untuk keperluan itu…?”

“Kalau benar Kakang berbuat demikian, maka agaknya Kakang Lembu Sora telah berbuat suatu kesalahan. Persoalan Arya Salaka bukanlah persoalan tetek bengek yang tak berarti. Arya Salaka adalah putra kepala daerah perdikan Banyubiru, yang berhak untuk menggantikan kedudukan itu apabila ayahnya berhalangan melakukan tugasnya,” sahut Mahesa Jenar yang sudah mulai kehilangan kesabarannya.

Hemmm…” dengus Lembu Sora. Wajahnya pun telah mulai semburat merah. “Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan kepada Adi, bahwa aku tidak dapat mempercayaimu sejak perjumpaan kita yang pertama-tama. Sejak hilangnya pusaka Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dari Banyubiru.”

Dada Mahesa Jenar benar-benar seperti dihantam linggis, mendengar kata-kata itu. Sehingga tidak sesadarnya ia menggeretakkan giginya. Namun bagaimanapun juga dengan susah payah ia masih menahan diri, dan berkata, “Kakang, aku tidak keberatan terhadap sikapmu kepadaku. Tetapi bagaimanakah seandainya anak muda yang aku namakan Arya Salaka itu mendapat kesaksian dari segenap penduduk daerah perdikan ini, dan mereka menerimanya sebagai Arya Salaka yang sebenarnya?”

Pertanyaan ini sekali lagi menggelisahkan Lembu Sora. Sawung Sariti pun tidak tahan lagi untuk membiarkan pembicaraan yang tak disukainya itu berlarut-larut. Maka ia pun kemudian menyela, “Ayah, apakah gunanya pembicaraan ini kita layani? Sebaiknya biarlah tamu-tamu kita ini kita persilakan berdiam diri. Dengan rendah hati atau kalau perlu kita terpaksa memaksa mereka dengan cara kita.”

Mahesa Jenar memandang Sawung Sariti dengan sudut matanya. Sekali lagi ia merasa muak melihat wajah itu. Wajah yang tampan dan bersih namun di belakang wajah itu tersirat kelicikan hatinya. Tiba-tiba ia teringat kepada Jaka Soka dari Nusa Kambangan.

Angger…” kata Mahesa Jenar kemudian, “Biarlah kami berbicara secara orang tua. Sebaiknya Angger bermain-main saja di halaman, daripada mencampuri urusan ini.”

Bara yang mula-mula berkobar di dada Sawung Sariti masih belum padam, ditambah dengan kata-kata Mahesa Jenar yang cukup tajam itu. Maka semakin menyalalah hatinya. Tetapi sebelum ia menjawab, Lembu Sora telah mendahuluinya, “Adi Mahesa Jenar, aku tidak mau membicarakannya lagi. Aku sudah memutuskan untuk menganggap Arya Salaka telah mati, dan Kakang Gajah Sora pun telah dihukum mati di Demak, sebagai akibat dari pengkhianatannya, meskipun aku telah berusaha untuk mencegahnya.”

Maaf Kakang,” potong Mahesa Jenar, “Aku datang untuk membicarakannya. Bukan untuk sekadar menghadap yang dipertuan di Banyubiru sekarang.”

Cukup…!” potong Lembu Sora, “Tidak ada yang aku bicarakan.”

Mahesa Jenar benar-benar tersinggung karenanya, ditambah dengan perasaan muaknya sejak bertemu dengan orang itu untuk pertama kalinya. Karena itu ia menjawab lantang, “Kalau kau tidak mau berbicara, aku akan berbicara dengan rakyat Banyubiru, dan membuktikan kepada mereka bahwa Arya Salaka akan berada di tengah-tengah mereka.”

Mendengar ancaman Mahesa Jenar itu, Lembu Sora terperanjat. Tetapi kemudian ia pun menjadi marah dan menjawab, “Adi Mahesa Jenar, akulah kepala daerah perdikan ini. Akulah yang berwenang atas rakyat dan daerah ini. Tak seorang pun aku perkenankan melanggar wewenangku. Apalagi kau. Ayah Sora Dipayana pun tidak.”

Wanamerta mendengar kata-kata itu dengan dada yang berdentam-dentam. Telinganya serasa tersentuh api. Maka katanya lantang, meskipun ia langsung berhadapan dengan bahaya yang dapat saja merenggut jiwanya, “Anakmas Lembu Sora, akulah yang mula-mula minta kepada Anakmas untuk mengawasi daerah perdikan ini sepeninggal Anakmas Gajah Sora. Tetapi cerita tentang Anakmas Lembu Sora tak dapat ditutup-tutupi lagi. Cerita tentang hilangnya Anakmas Arya Salaka, yang untung dapat diselamatkan oleh Anakmas Mahesa Jenar. Cerita tentang laskar yang Anakmas namakan Laskar Pamingit dan Banyubiru yang ingin membebaskan Anakmas Gajah Sora dengan menyerang pasukan dari Demak. Seterusnya cerita tentang hilangnya Pandan Kuning dan Sawung Rana.”

“Cukup!” teriak Lembu Sora. “Ternyata rambutmu yang telah memutih itu sama sekali tidak mencerminkan hatimu yang putih. Kau ingin melihat darah mengalir di Banyubiru. Kalau dengan demikian kau akan dapat mengambil keuntungan, maka kaulah orang yang pertama-tama aku lenyapkan sekarang ini.”

“Tak seorang pun yang dapat melenyapkan kenyataan yang telah terjadi. Betapapun orang berusaha menutupi kebenaran dan menghapuskan. Namun kebenaran itu tak akan lenyap,” sanggah Wanamerta dengan berani.

Jangan menggurui aku,” bentak Lembu Sora. “Aku tahu, kau sudah berusia lanjut. Tetapi jangan berlagak lebih pandai daripada orang-orang muda. Bagiku tidak ada tempat bagi kalian di Banyubiru.”

Dalam pada itu, Mahesa Jenar sekali lagi mencoba untuk yang terakhir kalinya menempuh cara yang sebaik-baiknya bagi penyelesaian Banyubiru. Katanya, “Ki Ageng Lembu Sora, mumpung segala sesuatu belum telanjur, marilah kita tenangkan hati kita. Berilah aku kesempatan untuk menunjukkan kemauan kami yang sebenarnya. Bahwa tak ada artinya pertentangan antara kita sama kita. Biarlah kita cari jalan yang sebaik-baiknya untuk menyelesaikan masalah kita.”

“Hemm..,” dengus Lembu Sora, namun matanya benar-benar telah memancar merah bara. “Agaknya kaulah sumber dari keributan ini. Kau telah membuat seorang anak muda menggantikan kesempatan Arya Salaka untuk kepentinganmu. Kau cari seorang anak muda yang mirip dengan anak itu. Kau ajari dia menyebut aku paman dan menyebut nama ayahnya Gajah Sora. Kau ajari dia menuntut hak atas Banyubiru.”

“Ki Ageng Lembu Sora…” potong Mahesa Jenar, “Demi kehormatan kita masing-masing, jangan katakan yang bukan-bukan.”

“Nah…” jawab Lembu Sora berapi-api, “Bukankah kau takut melihat kenyataan itu? Kenyataan bahwa permainan kotormu telah aku ketahui.”

“Kau telah benar-benar tersesat. Kalau tanggapanmu itu jujur, maka kau benar-benar telah berdiri di atas alas yang gelap, yang sama sekali tak dipancari oleh kebijaksanaan.”

“Cukup!” teriak Lembu Sora dengan gemetar. “Jangan membuat aku kehilangan kesabaran.”

Mahesa Jenar adalah seorang jantan. Seorang perwira yang tak mengenal surut. Ketika ia mendengar teriakan-teriakan dan bentakan-bentakan itu, bagaimanapun sabarnya ia menjadi marah pula. Karena itu ia pun kemudian menjawab lantang, “Kakang Lembu Sora, kalau kau berbicara atas hak maka akulah yang memegang hak sekarang ini atas Banyubiru. Aku telah menerima wewenang langsung dari Kakang Gajah Sora sejak Kakang Gajah Sora meninggalkan daerah ini. Akulah yang mendapat tugas darinya untuk mengamankan Banyubiru dan putranya, Arya Salaka. Akulah sekarang yang mempunyai kewajiban untuk mengatur Banyubiru berdasarkan dan bersumberkan wewenang yang diberikan oleh Kakang Gajah Sora. Karena itu jangan mencoba membatasi usahaku memulihkan pemerintahan di Banyubiru.”

Lembu Sora telah benar-benar kehilangan pengamatan diri. Tiba-tiba ia berkisar maju dekat-dekat di muka Mahesa Jenar. Sambil menuding wajahnya, Lembu Sora berkata, “Kau adalah orang yang paling berbahaya bagi Banyubiru. Kau adalah sumber bencana sejak hilangnya Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Aku telah menasihatkan kepada kakang Gajah Sora untuk menangkapmu. Tetapi ia tidak mau. Dan sekarang ketika kau hadir kembali ke daerah ini, tersebarlah desas-desus bahwa keris itu berada di Banyubiru. Bukankah itu jelas? Jelas bahwa kau yang telah mencuri kedua pusaka itu.”

Juga Mahesa Jenar tiba-tiba juga kehilangan pengamatan diri. Ketika tangan Lembu Sora masih berada di depan wajahnya, tiba-tiba dengan kerasnya ia memukulnya ke samping. Dan kemudian dengan cepatnya, secepat getaran cahaya, ia meloncat turun dari pendapa, dan berkata kepada Lembu Sora dengan marahnya, “Lembu Sora… aku adalah laki-laki seperti kau.”

Lembu Sora pun kemudian meloncat tak kalah cepatnya. Dengan wajah yang bengis ia berdiri berhadapan dengan Mahesa Jenar. Sementara itu Wanamerta, Bantaran dan Penjawi pun segera berloncatan, dan tiba-tiba mereka sudah bersiap untuk bertempur.

Dalam pada itu, setiap laskar Banyubiru dan Pamingit yang berada di halaman itu segera mendesak maju. Dan dalam waktu yang singkat mereka telah mengepung pendapa itu. Apalagi ketika kemudian Lembu Sora berkata lantang kepada mereka, “Hai laskar Banyubiru…. Selamatkan daerahmu dari orang-orang yang ingin merampas milikmu. Sebab mereka masih belum melupakan, beberapa tahun yang lalu, mereka hampir mencincang kau ketika mereka menyadari bahwa kau telah mencuri pusaka-pusaka yang dengan susah payah diusahakan oleh kakang Gajah Sora. Tetapi Kakang Gajah Sora terlalu baik hati kepadamu.”

Laskar Banyubiru dan Pamingit itu pun kemudian semakin mendesak maju. Dan tiba-tiba terdengar diantara mereka suatu teriakan, “Bunuh…!

Mahesa Jenar memutar tubuhnya seperempat lingkaran. Dengan kaki renggang ia menghadapi setiap kemungkinan. Ketika dilihatnya laskar di sekitarnya semakin mendesak maju, ia pun berteriak kepada Lembu Sora, “Aku adalah orang terakhir yang mendapat kepercayaan Kakang Gajah Sora.”

Lembu Sora menyahut keras, “Omong kosong!”

Tetapi Mahesa Jenar tidak memperhatikannya sama sekali. Dengan lantang ia meneruskan kata-katanya, “Kalau ada diantara kalian laskar Banyubiru benar-benar laskar Banyubiru, dengarkanlah kata-kataku. Kalau kalian menyerang aku, adalah sama saja kalian menyerang Gajah Sora yang memberikan kepercayaan kepadaku untuk mengasuh dan mengamankan putranya, Arya Salaka. Dengan demikian kalian telah melupakan diri kalian sendiri sebagai pengawal-pengawal setia Banyubiru. Siapakah yang telah bekerja sepenuh hati untuk Banyubiru…? Siapakah yang telah membangun tempat-tempat ibadah yang tersebar di empat penjuru Banyubiru…? Siapakah yang telah menggali parit-parit untuk sawah-sawah kalian…? Dan siapakah yang paling bersedih hati pada saat Banyubiru dilanda oleh arus kejahatan dari gerombolan hitam dan menelan banyak korban, beberapa tahun yang lalu? Dan siapakah yang telah mempertaruhkan dirinya bagi ketenteraman rakyat Banyubiru ketika pasukan dari demak datang ke tempat ini karena desas-desus dan fitnah atas kebersihan hati rakyat Banyubiru, disamping kesetiaannya kepada panji-panji Gula Kelapa yang pernah dibelanya mati-matian. Siapa…? Dan siapakah diantara kalian yang pada saat itu ikut serta dengan Gajah Sora, dan hampir saja terjadi perlawanan tergadap Demak? Siapa? Dan apakah yang kalian lakukan sekarang? Kalian telah mengingkari diri kalian dan kesetiaan kalian atas tanah ini.”

Lembu Sora tidak mau mendengar Mahesa Jenar berkata terus. Dengan penuh kemarahan ia berteriak, “Jangan dengarkan orang ini mengigau di tengah hari. Dan jangan dibiarkan ia mengelabuhi mata rakyat Banyubiru. Nah, karena orang itu tidak mau menutup mulutnya, adalah tugas kalian untuk menyumbatnya.”

Beberapa orang Pamingit semakin merapatkan kepungan mereka. Tetapi beberapa laskar Banyubiru menjadi ragu-ragu. Tiba-tiba mereka ingat jelas, seperti baru kemarin saja terjadi, Ki Ageng Gajah Sora segelar sepapan dengan gelar perang Gajah Meta menyongsong kedatangan pasukan Demak dalam gelar Cakra Byuha. Jelas tergambar kembali dalam ingatan laskar Banyubiru, ketika pasukan Demak mengubah gelarnya menjadi gelar Garuda Nglayang. Diingat pula oleh mereka, bagaimana Gajah Sora menjadi gemetar ketika dilihatnya panji-panji yang berwarna gula kelapa melambai-lambai di atas ujung pasukan Demak. Pada saat itulah mereka melihat Gajah Sora menyerahkan putranya, Arya Salaka, kepada orang itu. Orang yang bernama Mahesa Jenar, yang sekarang berdiri di hadapan mereka.

Karena itulah, ketika orang-orang Pamingit bergerak maju, mereka tetap berdiri di tempat, seolah-olah terpaku di atasnya. Dengan demikian, tanpa dibuat terjadilah dua lingkaran pasukan di halaman itu. Pasukan Pamingit yang semakin mendesak maju, dan di luar lingkaran itu berdirilah dengan bimbang pasukan lembu Sora yang semula berasal dari laskar Banyubiru, yang tidak banyak mengerti tentang mereka sendiri, dan tentang tanah mereka.

Sedangkan orang-orang Pamingit yang menjadi semakin rapat itu pun kemudian ragu, ketika mereka melihat Mahesa Jenar siap dalam siaga tempur. Di sampingnya, berseberangan di tiga penjuru, terlihat Wanamerta yang tua, Bantaran yang kokoh kuat, dan Penjawi dengan wajah yang tegang namun penuh keikhlasan. Mereka memegang keris masing-masing, siap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi kemudian mereka menjadi sadar akan tugas mereka, ketika mereka melihat Lembu Sora dengan wajah berapi-api berdiri bertolak pinggang di dalam lingkaran itu. Apalagi ketika kemudian Lembu Sora tidak sabar lagi, tiba-tiba dengan suara berdesing menakutkan mencabut pedangnya. Pedang yang tidak berukuran lumrah.

Melihat pedang itu, hati Mahesa Jenar benar-benar melonjak didesak oleh kemarahannya. Agaknya Lembu Sora telah benar-benar ingin membunuhnya. Karena itu tiba-tiba ia bersiap dalam sikap terakhir. Apabila pedang itu ternyata benar-benar terayun ke arahnya, maka ia harus dalam waktu sesingkat-singkatnya memukul kembali. Pukulan yang menentukan. Sebab kemudian ia harus bertempur melawan jumlah yang besar.

Dan, apa yang ditunggunya benar-benar terjadi. Dengan suara berdesing panjang, pedang itu terayun deras sekali menyambar lehernya. Tetapi Mahesa Jenar telah benar-benar siap. Siap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu dengan lincahnya ia merendahkan diri dan meloncat ke samping. Dalam pada itu Wanamerta, Bantaran dan Penjawi segera berloncatan merenggang untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Sedang ujung-ujung tombak yang rapat berjajar di sekitar mereka telah menunduk mengarah ke dada mereka.

Mahesa Jenar pada saat itu telah benar-benar kehilangan pengamatan diri. Ia merasa bahwa tidaklah mungkin baginya bersama-sama dengan kawan-kawannya yang hanya berjumlah lima orang itu bertempur melawan segenap laskar yang berada di halaman itu, yang diantaranya ada orang-orang seperti Lembu Sora, Sawung Sariti, bahkan mungkin akan ikut campur pula Ki Ageng Sora Dipayana. Karena itu ketika pedang Lembu Sora dengan derasnya menyambar di atas kepala Mahesa Jenar, segera ia tegak di atas satu kakinya, dan hampir saja ia menyalurkan segenap kekuatannya pada sisi telapak tangan kanannya dalam ujud ilmunya yang luar biasa, Sasra Birawa. Beberapa orang berloncatan mundur, sedangkan Lembu Sora sendiri menjadi cemas. Ia tidak bisa berbuat lain daripada segera mempersiapkan dirinya atas lambaran ilmu saktinya, Lebur Sakethi.

Tetapi tiba-tiba melontarlah sesosok tubuh memasuki lingkaran itu. Dan dengan tenang berdiri di depan Mahesa Jenar, menepuk kedua pundaknya dan berkata lirih, “Tenangkan hatimu, Mahesa Jenar. Ilmumu sekarang adalah jauh lebih dahsyat daripada lima tahun yang lalu.”

Kata-kata itu bagi Mahesa Jenar seolah-olah setetes embun di atas relung-relung hatinya yang membara. Apalagi ketika ia melihat wajah orang itu, yang dengan senyum kecil memandangnya seperti seorang kakak dengan penuh kasih sayang. Maka tiba-tiba pandangan Mahesa Jenar jatuh di tanah di depannya. Mahesa Jenar menjadi malu kepada diri sendiri, dan kepada Kebo Kanigara. Orang yang telah membawanya kembali ke alam kesadaran. Apalagi ketika Kebo Kanigara berbisik, “Bukan demikian maksud kedatanganmu kali ini, Mahesa Jenar.”

Mahesa Jenar yang masih tertunduk itu berdesis perlahan-lahan, “Maaf Kakang. Aku kehilangan kesadaranku ketika Lembu Sora menyerangku.”

Angkatlah wajahmu…” Kebo Kanigara meneruskan, “Dan lihatlah siapa yang berdiri di depan Lembu Sora itu.”

Ketika Mahesa Jenar mengangkat wajahnya, dan memandang ke arah Lembu Sora, ia menjadi terkejut. Di depan orang itu telah berdiri seorang tua, yang sudah berambut putih dan berjenggot putih, memandangnya dengan mata sayu suram.

Tanpa disengaja Mahesa Jenar segera membungkuk hormat, sambil berkata dengan takzimnya. “Baktiku untuk Paman Sora Dipayana.”

Orang tua itu mengangguk pula. Jawabnya, “Salamku untukmu, Mahesa Jenar, dan untuk kalian yang datang bersamanya.”

Kebo Kanigara masih belum memutar tubuhnya. Ia masih menghadap kepada Mahesa Jenar. Dengan berbisik ia bertanya, “Nah, bukankah kau sudah mengenalnya? Apakah orang itu ayah Lembu Sora?”

“Ya,” jawab Mahesa Jenar perlahan.

Aku mengaguminya. Ia pasti seorang yang sakti, menilik geraknya yang luar biasa,” gumam Kebo Kanigara sambil membalikkan diri, dan kemudian membungkuk hormat pula.

Dengan wajah yang masih sesuram semula, Sora Dipayana berkata, “Aku menyesal bahwa sesuatu yang sama-sama tak kita kehendaki telah terjadi.”

Dengan suara yang dalam, Kebo Kanigara menjawab, “Demikian pula kami. Mudah-mudahan hal-hal yang tak dikehendaki itu tidak terulang kembali.”

Sora Dipayana mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian pandangan matanya berkisar kepada Penjawi, Bantaran, dan kemudian Wanamerta. “Adi Wanamerta… apakah kau sehat-sehat saja selama ini…?”

Wanamerta menjadi terharu mendengar sapaan Sora Dipayana itu. Sora Dipayana baginya adalah seorang pemimpin yang pada masa-masa menjalankan tugas menjadi kebanggaannya. Kebanggaan seluruh daerah perdikan yang dulu disebut Pangrantunan. Karena itu dengan hormat ia menjawab, “Kakang, sebagaimana Kakang, agaknya aku pun selamat. Demikian juga anak-anak Banyubiru yang pergi bersamaku.”

Sora Dipayana menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melihat berkeliling, matanya menjadi bertambah suram. Ia melihat dua lingkaran di halaman itu. Laskar Pamingit di lingkaran pertama, dan laskar Banyubiru di lingkaran kedua. Masing-masing masih erat memegang senjata mereka. Bagi Sora Dipayana, yang hampir seluruh hidupnya diserahkan kepada tanah perdikan itu, melihat peristiwa itu dengan sedih. Apa yang dilihatnya di halaman itu adalah lambang perpecahan yang terjadi saat itu. Perpecahan antara Pamingit dan Banyubiru. Dua daerah yang seharusnya dapat saling mengisi dan saling memperkuat ketahanan diri dalam segala bidang.

Kemudian kepada lembu Sora ia berkata, “Lembu Sora, bukankah lebih baik kalau kau persilahkan tamumu ini duduk kembali? Dan bukankah lebih akrab kalau kau jamu tamu-tamumu ini dengan sekadar pelepas haus, daripada kau suguhkan kepada mereka pameran kekuatan yang tak berarti?”

Lembu Sora tidak begitu senang mendengar kata-kata ayahnya. Tetapi ia tidak berani membantah. Karena itu ia hanya dapat menggigit bibir, sehingga sekali lagi Sora Dipayana berkata, “Lembu Sora, persilakan tamumu duduk kembali.”

Baik ayah,” jawabnya singkat. Tetapi Lembu Sora masih belum mempersilakan tamu-tamunya. Malah kemudian ada sesuatu yang dicarinya. “Sariti… Sariti….” panggilnya.

Ya, ayah…” jawab Sawung Sariti, masih duduk di tangga pendapa.

Kemarilah.

Sawung Sariti tidak menjawab. Tetapi bibirnya masih menyeringai kesakitan. Sehingga ketika Lembu Sora melihatnya, ia menjadi terkejut. “Kenapa kau?

Sawung Sariti tidak menjawab. Hanya matanya saja yang membentur wajah kakeknya. Lembu Sora kemudian tergopoh-gopoh datang kepadanya, dan sekali lagi ia bertanya, “Kenapa kau…?”

“Kakek…” jawab Sariti singkat.

Lembu Sora menoleh kepada ayahnya. Kemudian ia bertanya, “Kenapa dengan Sariti, ayah…?”

“Ah,” jawab Sora Dipayana sambil mengerutkan keningnya. “Aku hanya mencegahnya bermain-main dengan tombak.”

Semua mata segera tertuju kepada Sawung Sariti. Ia menjadi tidak senang, ketika seolah-olah dirinya menjadi tontonan. Tetapi ia tidak segera dapat berdiri dan pergi dari tempatnya. Kakinya terasa sakit bukan main, bahkan seolah-olah tidak dapat digerakkan sama sekali. Sedang tangannya menjadi semutan dan gemetar.

Ayah…” kata lembu Sora dengan nada menyesal, “Apakah Ayah akan membiarkannya demikian?”

Sora Dipayana perlahan-lahan berjalan mendekati cucunya. dengan sareh ia berkata, “Sariti, lain kali janganlah kau berbuat hal-hal yang berbahaya.”

Sawung Sariti hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala, meskipun hatinya mengumpat tidak habis-habisnya. Ia hanya dapat menyeringai dan berdesis-desis ketika kemudian Ki Ageng Sora Dipayana mengurut punggungnya.

“Nah, masuklah,” perintahnya kemudian. “Jangan campuri perkara orang tua-tua.”

Sawung Sariti kemudian berdiri dan terhuyung-huyung berjalan masuk ke dalam pringgitan. Di depan pintu, sekali lagi ia menoleh dan memandang Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Wanamerta, Bantaran dan Penjawi, dengan penuh dendam.

Ketika anak itu sudah lenyap di balik pintu, terdengar Sora Dipayana berkata, “Lembu Sora, apakah kau masih memerlukan laskar sebanyak itu untuk menyambut tamumu?”

Ayah…” jawab Lembu Sora, “Aku tidak menyiapkan laskar ini untuk menyambut kedatangan Adi Mahesa Jenar. Tetapi semula aku menyiapkan laskarku karena Banyubiru baru saja didatangi oleh orang-orang dari Nusa Kambangan untuk mencari kedua pusaka Demak yang hilang, yang katanya berada di Banyubiru ini.”

Sora Dipayana mengerutkan keningnya kembali. Jawabnya, “Baiklah, kalau demikian kau dapat membubarkannya.”

“Baiklah, Ayah,” jawab Lembu Sora singkat, dan kemudian dengan tangannya ia memberi isyarat kepada pemimpin laskar yang berada di halaman itu. Kemudian segera membubarkan laskar Pamingit dan Banyubiru. Sebentar kemudian halaman itu menjadi kosong, kecuali beberapa orang yang khusus bertugas sebagai pengawal-pengawal pribadi Lembu Sora.

Sekali lagi Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Wanamerta, Bantaran dan Penjawi dipersilahkan naik ke pendapa. Tetapi kali ini Lembu Sora sudah tidak tenang lagi duduk bersama. Karena itu ia berkata, “Ayah, biarlah untuk sementara ayah menemani tamu-tamu kita. Aku ingin menyelesaikan persoalan kecil dibelakang sebentar.”

Ki Ageng Sora Dipayana menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Baiklah Lembu Sora, tetapi sesudah pekerjaanmu itu selesai datanglah dan duduklah di sini bersama-sama.”

Lembu Sora tidak menjawab. Dengan langkah gontai ia berjalan meninggalkan tamu-tamunya yang duduk bersama dengan Ki Ageng Sora Dipayana.

Sepeninggal Lembu Sora, berkatalah Ki Ageng Sora Dipayana, “Angger berdua. Sebenarnyalah kedatangan kalian sangat mengejutkan kami dan rakyat Banyubiru. Sudah sejak bertahun-tahun mereka melupakan nama Mahesa Jenar bersama dengan lenyapnya nama Gajah Sora dan Arya Salaka.”

Mahesa Jenar mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia menyahut, “Adakah nama itu lenyap pula dari hati Tuan? Bukan Mahesa Jenar, tetapi Gajah Sora dan Arya Salaka.”

Ki Ageng Sora Dipayana menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Dan ketika Mahesa Jenar memandang wajahnya yang suram, ia menjadi terkejut. Membayanglah di dalam sepasang matanya yang sayu, seolah-olah mendung menyelimuti langit. Dengan tertahan-tahan ia menjawab, “Gajah Sora adalah harapan bagi masa kini, sedang Arya Salaka adalah harapan masa depan. Bagaimana aku dapat melupakan mereka?”

“Tetapi masa kini telah hilang dari tangannya,” sahut Mahesa Jenar meneruskan. Perlahan-lahan namun jelas.

Sora Dipayana memandangi mata Mahesa Jenar dengan cermat. Ia melihat pertanyaan yang bergulat di dalamnya. Karena itu ia berkata, “Anakmas Mahesa Jenar, aku tidak pernah menolak kalau ada orang meletakkan tanggungjawab di dalam tanganku. Aku tidak pernah mengelakkan tuduhan bahwa aku seolah-olah membiarkan keadaan berkembang seperti apa yang terjadi kini. Tetapi aku ingin juga mengatakan, alasan-alasan apakah yang telah menyudutkan aku ke dalam keadaan ini.”

Ki Ageng Sora Dipayana berhenti sejenak. Dengan seksama ia mengawasi Kebo Kanigara. Dan tiba-tiba saja terlontar dari mulutnya, “Siapakah Angger ini?”

Aku adalah seorang Putut, Tuan. Yang menghambakan diri pada Panembahan yang tinggal di bukit Karang Tumaritis dan bernama Panembahan Ismaya,” jawab Kebo Kanigara.

Sebagai seorang Putut, aku bernama Putut Karang Jati,” lanjut Kanigara.

Sora Dipayana mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia bertanya pula, “Adakah Anakmas bergelar lain selain nama Angger sebagai seorang Putut?”

Kebo Kanigara ragu sejenak. Ketika ia menoleh kepada Mahesa Jenar, Mahesa Jenar pun agaknya bimbang hati. Akhirnya kepada orang tua itu Kebo Kanigara tidak merasa perlu untuk menyembunyikan diri. Karena itu ia menjawab, “Tuan, aku memang memiliki nama lain. Nama yang diberikan oleh ayah bunda pada saat aku dilahirkan nama itu adalah Kebo Kanigara.”

Mendengar nama itu Ki Ageng Sora Dipayana menegakkan kepalanya. Ia lupa-lupa ingat akan nama itu. Namun bagaimanapun juga orang yang bernama Kebo Kanigara itu sangat menganggumkannya. Ia melihat ketika orang yang bernama Kebo Kanigara itu menepuk pundak Mahesa Jenar untuk menenangkannya. Ia melihat betapa Mahesa Jenar tidak berani memandang wajah orang itu. Karena itu, orang yang bernama Kebo Kanigara itu pasti mempunyai pengaruh yang kuat atas Mahesa Jenar. Apalagi menilik sikapnya yang tenang penuh kepercayaan kepada diri sendiri, telah menyatakan betapa ia memiliki ilmu yang kuat dan meyakinkan pula. Kalau Kebo Kanigara itu seorang Putut yang bernama Karang Jati, dan memiliki ilmu yang cukup meyakinkan, bagaimanakah agaknya Panembahan yang bernama Ismaya itu? Dan apakah hubungannya dengan Mahesa Jenar, sehingga ia datang bersamanya? Tetapi Sora Dipayana merasa kurang pada tempatnya untuk menanyakannya.

Sementara itu Kebo Kanigara pun sedang memperhatikan Ki Ageng Sora Dipayana dengan seksama. Ia pernah mendengar nama itu dari ayahnya, Ki Ageng Pengging Sepuh. Dan ia pernah mendengar pula bahwa Ki Ageng Sora Dipayana itu adalah sahabat ayahnya dan memiliki ilmu yang setingkat. Agaknya apa yang dikatakan oleh ayahnya itu tidak berlebih-lebihan. Ia melihat dengan mata kepala sendiri apa yang baru saja terjadi. Ketika Sawung Sariti dengan diam-diam bersiap untuk melontarkan tombak ke punggung Mahesa Jenar, Kebo Kanigara telah bersiap untuk mencegahnya. Tetapi tiba-tiba ia melihat Sora Dipayana itu seperti melayang terbang ke arah anak muda itu. Dengan satu sentuhan di punggungnya, Sawung Sariti tiba-tiba gemetar dan jatuh terduduk di tangga tanpa dapat berdiri lagi.

Kemudian seperti berjanji, mereka masing-masing meloncat masuk kedalam lingkaran laskar Pamingit untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah. Kebo Kanigara berusaha untuk menenangkan Mahesa Jenar, sedang Sora Dipayana mencegah Lembu Sora untuk berbuat lebih banyak lagi.

Setelah mereka berdiam diri sejenak, mulailah Sora Dipayana melanjutkan kata-katanya, “Angger berdua, Wanamerta, Bantaran dan Penjawi. Anggaplah bahwa sebuah dongeng yang akan saya utarakan nanti sebagai suatu usaha untuk meringankan perasaanku dari himpitan tanggungjawab yang hampir tak dapat aku laksanakan. Atau barangkali dapat kalian artikan sebagai suatu usaha untuk meringankan kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan.”  Ki Ageng Sora Dipayana berhenti sejenak, kemudian ia melanjutkan, “Pada saat itu, aku baru saja datang kembali dari perjalananku mencari jejak kedua pusaka Demak yang hilang kembali, setelah diketemukan oleh Gajah Sora dan Mahesa Jenar bersama-sama. Aku datang kembali ke Banyubiru tanpa membawa kedua keris itu. Apalagi membawanya kembali, jejaknya pun tak dapat aku ketahui. Yang aku ketemukan di Banyubiru pada saat itu, adalah pemerintahan tanah perdikan ini telah beralih ke tangan Lembu Sora. Dari dia aku mendengar cerita tentang apa saja yang telah terjadi di tanah perdikan ini.
Dari Lembu Sora aku mendengar bahwa Gajah Sora dihukum mati oleh Sultan Demak karena pengkhianatannya. Dan darinya pula aku mendengar bahwa Arya Salaka telah diketemukan terbunuh dan kehilangan tombak pusakanya, Kyai Bancak.”

“Tidak benar,” potong Mahesa Jenar.

Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-angguk. Katanya,”Aku tidak percaya cerita itu sejak aku mendengarnya. Tetapi apakah yang aku hadapi seterusnya di sini ? Di tanah perdikan ini ? Lembu Sora adalah anakku pula. Anak terkasih dari ibunya. Sedang kepada ibunya aku tidak dapat melupakan duka derita yang disandangnya pada saat itu. Duka derita sebagai ungkapan kesetiaan seorang istri yang baik, pada saat aku sedang bekerja mati-matian membangun tanah perdikan ini, yang semula bernama Pangrantunan. Dan pada saat itulah Lembu Sora dilahirkan. Dengan Lembu Sora didalam embanan, ibunya membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan kami. Kadang-kadang Lembu Sora itu dibawanya menuai padi diterik panas matahari, menumbuk dan kemudian menanaknya sekali. Sedang Gajah Sora pada saat itu telah dapat berjalan mengikutinya kemana ia pergi, menggandengnya disepanjang pematang dan di jalan-jalan yang sama sekali belum berujud jalan seperti sekarang ini.”

Sora Dipayana berhenti sesaat. Pandangan matanya terlempar jauh, seolah-olah menerawang kembali kepada masa-masa silam. Masa-masa pahit yang pernah dialami. Setelah orang tua itu menelan ludahnya, maka mulailah ia meneruskan ceritanya, “Rupa-rupanya Tuhan berkenan kepada usahaku itu, sehingga beberapa tahun kemudian terwujudlah padepokan yang kemudian berkembang menjadi semakin ramai dan subur. Aku menjadi bangga ketika kemudian tanah ini dikuatkan dengan suatu piagam menjadi tanah perdikan. Tanah perdikan yang semakin lama menjadi semakin berkembang. Bersamaan dengan itu semakin berkembang pulalah perasaan iba dan kasih istriku kepada Lembu Sora. Ia selalu ingat kepada saat-saat bayi itu mengalami masa-masa pahit. Namun akibatnya adalah sifat-sifat manja pada anak itu. Bahkan kemudian sifat itu semakin menjadi-jadi.. Dan kesalahan itu barangkali yang telah menjerumuskannya kedalam keadaannya sekarang ini. Keadaan yang sama sekali tidak dapat dibenarkan.” Sekali lagi Ki Ageng Sora Dipayana berhenti, seolah-olah ia menjadi sangat lelah. Beberapa kaliia menarik napas dalam-dalam. Kedua tangannya ditekankan ke lantai yang dilambari tikar pandan,seolah-olah dengan demikian ia ingin mencari kekuatan untuk menahan berat badannya yang tidakseberapa besar itu. Beberapa saat kemudian ia mulai lagi dengan ceritanya, “Meskipun kemudian aku sadar bahwa akuharus berdiri diatas kebenaran dan keadilan, namun aku bermaksud untuk berlaku bijaksana. Aku ingin menyelesaikan masalahnya tanpa mengorbankan salah satu diantaranya. Karena itulah maka diam-diam aku pergi ke Demak untuk membuktikan ketidak benaran cerita Lembu Sora. Tetapi aku terbentur pada suatu kenyataan, bahwa Gajah Sora ternyata terlibat dalam suatu keadaan yang sulit. Ia dapat dilepaskan apabila kesalahannya nyata-nyata tidak terbukti, apabila Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten telah dapat diketemukan, dan ternyata benar-benar tidak disembunyikannya.” Kemudian dengan nada yang rendah dan sedih, Ki Ageng Sora Dipayana bergumam, “Lalu berapa tahunkah kedua keris itu dapat ditemukan ?” Mata orang tua itu menjadi sayu. Dan nada kata-katanya menjadi sangat rendah. “Apalagi umurku menjadi semakin tua. Berapa tahun lagi aku masih diperkenankan oleh Yang Maha Esa untuk dapat menikmati segarnya angin pegunungan Telamaya ini ? Apakah yang terjadi seandainya aku harus meninggalkan tanah ini menghadap Tuhan Yang Maha Esa, sedang Gajah Sora masih belum kembali ? Sedang Arya Salaka kemudian lenyap tanpa bekas, seolah-olah ia telah benar-benar mati terbunuh ?

Itulah sebabnya kenapa aku tidak mempunyai pilihan lain daripada untuk sementara mempergunakan tenaga yang ada untuk kepentingan tanah ini. Aku sadar bahwa dari berbagai penjuru dapat datang bahaya. Gerombolan kalangan hitam yang liar dari Gunung Tidar, Rawa Pening dan Alas Mentaok. Bahkan ternyata dari Nusa Kambangan pun bahaya itu dapat datang setiap saat.” Ki Ageng Sora Dipayana mengakhiri ceritanya dengan suatu tarikan napas kecewa. Ia melihat masa depan yang suram bagi tanah perdikannya yang dibangunnya dengan cucuran keringat.

Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Wanamerta, Bantaran dan Penjawi pun merasakan apa yang bergetar di dalam orang tua itu. Mereka ikut serta dihadapkan pada persimpangan jalan yang tidak dikenalnya. Jalan manakah yang harus dipilihnya. Ki Ageng Sora Dipayana tidak dapat membiarkan tanah perdikannya ditelan oleh kekuatan hitam yang ada disekitarnya. Sedang yang ada padanya pada saat itu tidak ada lain, kecuali Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti. Maka orang tua itu tidak dapat berbuat lain daripada membentengi Pamingit dan Banyubiru dengan menempa Lembu Sora dan Sawung Sariti.

Untuk sesaat pendapa Banyubiru itu menjadi sepi. Masing-masing berdiam diri dan membiarkan angan angan mereka merayapi daerah yang tak mereka kenal. Ki Ageng Sora Dipayana masih saja memandangi titik-titik di kejauhan. Menembus alam kasat mata dan hinggap ke dalam alam yang hanya dapat dicitakan. Banyubiru yang gemah ripah loh jinawi. Jauh dari sifat cecengilan dan fitnah. Jauh dari keirihatian dan ketamakan.

“Adakah kita akan sampai ke sana…?” Tiba-tiba terdengar Sora Dipayana bergumam.

Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan orang-orang lain yang mendengarnya menjadi terkejut. Bahkan Sora Dipayana sendiri seolah-olah menjadi tersadar oleh kata-katanya sendiri.

Sampai ke mana Ki Ageng?” tanya Wanamerta.

Ki Ageng Sora Dipayana menarik nafas panjang. Lalu ia melipat tangannya di dadanya. Tetapi ia harus menjawab pertanyaan Wanamerta itu. Maka katanya, “Wanamerta… kau adalah orang tertua yang pernah ikut serta membanting tulang, membina tanah ini. Bahkan sejak tanah ini masih bernama Pangrantunan. Seperti aku, agaknya kau mencita-citakan tanah ini menjadi tanah yang subur. Wadah dari masyarakat yang sejahtera lahir dan batin. Tetapi kau agaknya lebih beruntung daripadaku. Pada saat saat seperti sekarang ini kau berhasil menarik garis tegas.”

Wanamerta merasa, seolah-olah Ki Ageng Sora Dipayana sedang menyesali dirinya. Menyesali keadaan yang menghadapkannya kepada persoalan yang serba salah. Maju tatu, mundur ajur. Karena itu maka ia berusaha untuk memperingan beban orang tua itu. Katanya. “Ki Ageng, kalau dalam wawasan Ki Ageng aku dapat menarik garis tegas pada keadaan seperti sekarang ini, adalah karena aku mempunyai kesempatan yang lebih banyak. Aku dapat menilai Anakmas Gajah Sora dan Anakmas Lembu Sora dalam keadaan yang wajar, karena aku tidak tersangkut pada persoalan-persoalan yang ali-temali seperti Kakang Sora Dipayana.”

“Kau benar Wanamerta,” jawab Ki Ageng Sora Dipayana. “Kau lebih beruntung lagi, karena kau berhasil menemukan Arya Salaka.”

“Itu adalah karena doa dan pangestu Kakang,” sahut Wanamerta.

Kemudian Ki Ageng Sora Dipayana menoleh kepada Mahesa Jenar dan berkata
kepadanya, “Mahesa Jenar, adakah Arya Salaka itu sehat-sehat saja?”

Mahesa Jenar mengangguk-angguk sambil menjawab, “Baik Ki Ageng. Arya Salaka sekarang dalam keadaan segar bugar. Ia menyampaikan baktinya kepada Ki Ageng Sora Dipayana.”

Hem…” Sora Dipayana bergumam. “Ia pasti segagah ayahnya. Lima tahun yang lalu ia telah jauh lebih gagah dari kawan-kawan sebayanya. Apalagi sekarang.”

“Ia mirip benar dengan ayahnya, Paman.” Mahesa Jenar menyambung.

Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum puas. Tetapi hanya sesaat, sebab kemudian ia teringat kembali pada keadaan yang dihadapi kini. Di dalam rumah itu ada Sawung Sariti yang mewarisi sifat-sifat ayahnya. Meskipun demikian ia tidak mau membiarkan keadaan berkembang berlarut-larut kearah yang tak dikehendaki. Karena itu ia harus berbuat sesuatu. Menempatkan kembali segala sesuatunya pada tempat masing-masing. Karena itu ia berkata, “Mahesa Jenar, bawalah Arya Salaka kemari.”

Mendengar kata-kata Ki Ageng Sora Dipayana itu, Mahesa Jenar beserta segenap kawan-kawannya menjadi bergembira. Wajah-wajah mereka menjadi cerah dan bercahaya. Tetapi ketika mereka sadar bahwa kekuasaan Banyubiru pada saat itu seolah-olah berada sepenuhnya di tangan Lembu Sora, mereka menjadi ragu. Dan tanpa mereka sadari mereka segera memandang kearah pintu dimana Lembu Sora tadi masuk.

Sora Dipayana ternyata menangkap perasaan mereka. Perasaan yang sebenarnya berkecamuk juga di dalam rongga dadanya. Tetapi ia berpendapat bahwa keadaan di Banyubiru harus segera mendapat bentuk yang tegas. Apabila keadaan dibiarkan seperti saat itu maka kehidupan rakyatnya pun jadi mengambang tanpa pegangan. Mereka menjadi ragu-ragu untuk berbuat banyak, sebab mereka selalu dibebani oleh perasaan takut dan was-was. Mereka selalu dihadapkan pada keadaan yang tidak tetap, ang setiap waktu dapat berubah-ubah tanpa ketentuan.

Karena pendapat itulah maka kemudian Ki Ageng Sora Dipayana berkata, “Mahesa Jenar, aku kira kau sedang mempertimbangkan apakah yang akan terjadi apabila Arya Salaka kau bawa kemari?”

Mahesa Jenar mengangguk sambil menjawab, “Benar Paman. Memang aku menjadi bimbang akan nasib anak itu kelak.”

Sebenarnya aku pun bimbang. Tetapi aku menghendaki agar keadaan seperti sekarang ini segera berakhir. Karena itu aku akan mencoba agar segala sesuatu akan menjadi jelas dalam waktu yang dekat. Mudah-mudahan aku masih mempunyai pengaruh yang cukup atas anakku sendiri.” Jelas terasa dalam nada kata-katanya. Ki Ageng Sora Dipayana benar-benar sedang dihadapkan pada suatu persoalan yang sulit.

Mahesa Jenar akhirnya merasa bahwa pertemuan itu sudah cukup baginya. Ia sudah mendapat gambaran yang cukup jelas tentang keadaan di Banyubiru, yang sudah cukup pula dipergunakannya sebagai bekal untuk menentukan langkah-langkah seterusnya. Karena itu segera ia mohon diri untuk kembali ke daerah Candi Gedong Sanga. Tetapi Ki Ageng Sora Dipayana menahannya untuk beberapa saat karena ia masih ingin menjamu tamu-tamunya dengan sekadar minuman dan makanan.

Sebentar lagi hari akan malam, Paman, sebaiknya kami berangkat sekarang.” Mahesa Jenar mencoba untuk memaksa kembali. Tetapi Ki Ageng Sora Dipayana menjawab, “Apakah bedanya siang dan malam bagimu Anakmas Mahesa Jenar? Apalagi kau berjalan bersama dengan Angger Kebo Kanigara, selain masih ada Wanamerta, Bantaran dan Penjawi. Tak ada sesuatu yang akan dapat menghalangi perjalananmu.”

Mahesa Jenar tersenyum mendengar pujian itu. Sambil mengangguk ia menjawab, “Itu terlalu berlebihan, Paman. Kecuali apabila Paman Sora Dipayana mengantarkan kami.”

“Tetapi kemudian kau harus mengantar aku kembali Mahesa Jenar,” sahut Sora Dipayana, “Dengan demikian semalam suntuk kita akan saling mengantar”. Mahesa Jenar dan Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum mendengar kelakar itu, bahkan juga orang-orang lain yang mendengarnya, meskipun di dalam dada mereka masih tersimpan beberapa soal yang sukar dipecahkan.

Demikianlah, akhirnya mereka terpaksa menunggu sampai hidangan disajikan. Minum dan makan. Meskipun mereka duduk bersama menikmati hidangan itu dengan Lembu Sora dan Sawung Sariti, namun tidak banyak yang mereka percakapkan. Mereka menjadi kaku dan tegang, sehingga tidak banyak makanan yang dapat mereka makan, serta minuman yang dapat mereka minum.

Setelah selesai mereka menikmati jamuan itu, serta setelah mereka beristirahat sejenak, maka sekali lagi Mahesa Jenar memohon diri untuk kembali ke perkemahan anak-anak Banyubiru. Kali ini Ki Ageng Sora Dipayana tidak menahannya lagi. Dilepaskannya Mahesa Jenar beserta rombongannya sampai ke halaman untuk seterusnya meninggalkan rumah kepala daerah perdikan Banyubiru itu.

Ketika rombongan kecil itu telah lenyap dibalik regol, serta derap langkah kudanya tidak terdengar lagi, berkatalah Lembu Sora menyesali ayahnya, “Ayah, kenapa ayah menyuruh orang itu membawa anak yang menamakan diri Arya Salaka itu kemari?”

“Apakah keberatanmu Lembu Sora?” tanya ayahnya pula.

Apakah ayah dapat menerimanya sebagai Arya Salaka yang sebenarnya? Dan apakah ayah masih mau memberi kepercayaan kepada orang yang bernama Mahesa Jenar itu?” desak Lembu Sora beruntun.

“Lembu Sora,” jawab ayahnya. “Biarlah kita buktikan bersama. Dengan demikian kita akan dapat mengetahui dan membuktikan bahwa orang yang bernama Mahesa Jenar ini memiliki sifat-sifat pengecut dan jahat, apabila anak muda yang dinamakan Arya Salaka itu benar-benar bukan cucuku. Tetapi sebaliknya, apabila anak muda itu benar-benar Arya Salaka, maka orang yang mengabarkan kepadamu bahwa Arya Salaka telah terbunuh, ternyata ia keliru, atau orang itu memang belum mengenal cucuku dengan baik.”

Mendengar kata-kata ayahnya, yang kedengarannya tegak di tengah-tengah itu, Lembu Sora mengatupkan giginya. Ia sama sekali tidak senang mendengar keputusan ayahnya mengundang Arya Salaka datang ke Banyubiru. Karena itu, ia harus berusaha untuk mencegahnya. Tetapi ia tidak berani mengemukakan keberatannya itu kepada ayahnya.

Ketika Lembu Sora kemudian pergi meninggalkan ayahnya, dan menengok ke alun-alun di hadapan rumah itu, ia masih melihat debu berserakan yang dilemparkan oleh kaki-kaki kuda Mahesa Jenar beserta rombongannya. Tetapi kuda-kuda itu sendiri sudah tidak begitu jelas kelihatan. Dari kejauhan, bayangan yang kelam seolah-olah datang menerkam daerah perdikan itu dengan perlahan-lahan. Sedang di ufuk barat, matahari yang kelelahan telah membenamkan dirinya dibalik punggung-punggung bukit. Sinarnya yang lamat-lamat untuk sesaat masih tersangkut di awan-awan yang mengalir lambat-lambat menyapu wajah langit yang berwarna biru tua. Tiba-tiba sesaat kemudian bermunculanlah bintang-bintang yang gemerlapan menggantung di awang-awang.

Sekali dua kali Mahesa Jenar memandang ke arah langit. Bintang-bintang yang semakin padat sangat mengagumkannya. Ia kagum kepada kebesaran alam, kepada benda-benda yang bertebaran di angkasa, kepada tata alam yang sempurna. Tetapi kekagumannya kepada alam, kepada benda-benda yang berkilat-kilat di angkasa itu akhirnya terdampar pada sumbernya. Yaitu kekagumannya kepada Yang Maha Sempurna, yang telah menjadikan semuanya ini. Tuhan Yang Maha Esa.

Demikianlah setiap kali hatinya tergetar oleh kekagumannya itu, setiap kali pula ia merasa semakin dekat pada-Nya. Dan setiap kali ia merasa bahwa ia harus meningkatkan kebaktian kepada-Nya, serta pengabdian kepada titah terkasihnya, yaitu manusia. Pengabdian yang bukan sekadar damba kasih dalam kidung-kidung atau kakawin-kakawin, tetapi pengabdian yang benar-benar diamalkan, dicerminkan dalam tindak-tanduk dan cara hidup sehari-hari.

———-oOo———-

IV

Demikianlah di dalam perjalanan itu hampir tak terdengar mereka bercakap-cakap. Masing-masing berdiam diri, kecuali memperhatikan jalan-jalan di hadapan mereka, agaknya mereka masih juga sibuk menilai peristiwa yang baru saja terjadi dan yang kira-kira akan terjadi.
Seperti juga ketika mereka datang di Banyubiru, pada saat itu yang berjalan di depan adalah Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, sedang di belakangnya Wanamerta dan seterusnya Bantaran dan Penjawi.

Dalam keheningan malam yang menjadi semakin dalam, hanya derak-derak batu-batu padas yang tersentuh kaki-kaki kuda itu sajalah yang terdengar disamping suara-suara belalang di kejauhan.
Di langit, kelelawar menari-nari dengan lincahnya, seolah-olah tak ada mahluk lain yang berani mengganggunya, sebab malam hari itu adalah milik mereka.

Ketika Mahesa Jenar beserta rombongannya sedang menempuh perjalanan itu di perkemahan anak-anak Banyubiru, di sekitar Candi Gedong Sanga tampaklah persiapan-persiapan dan penjagaan-penjagaan yang lebih ketat daripada biasanya. Apa yang diceriterakan Endang Widuri merupakan pertanda bahaya yang mengancam. Meskipun mereka belum yakin dari manakah bahaya itu datang.

Mantingan, Wirasaba dan Jaladri sama sekali tidak berani meninggalkan gardu pimpinan. Sebab mereka menduga bahwa setiap saat mereka akan dikejutkan oleh peristiwa yang tak mereka kehendaki. Ketika itu Arya Salaka pun merasa tidak tenang berbaring di dalam pondoknya. Perasaannya selalu saja mengganggu. Karena itu kemudian ia bangkit berdiri dan berjalan keluar. Di luar, ia berpapasan dengan beberapa orang penjaga yang menyapanya dengan hormat. “Angger, kemanakah Angger akan pergi?”

“Aku hanya ingin berjalan-jalan saja, Paman. Udara terlalu panas, dan aku masih belum berhasrat untuk tidur,” jawab Arya.

“Tetapi hati-hatilah Angger.” Orang itu melanjutkan, “Jangan meninggalkan lingkaran perkemahan ini.”

“Baik Paman,” jawab Arya Salaka.

Setelah orang itu menjauhinya, terdengar ia bergumam, “Agaknya orang itupun mendapat firasat yang kurang baik.”

Sejalan dengan itu, tiba-tiba ia teringat kepada Widuri yang tinggal bersama Rara Wilis dan Nyi Penjawi. Mula-mula ia menjadi cemas bahwa orang yang dikalahkan oleh gadis itu mendendamnya dan berusaha untuk membalasnya. Namun kemudian hatinya menjadi tenteram ketika ia sadar bahwa Widuri bukan anak-anak yang masih perlu mendapat perlindungan khusus. Tingkat ilmunya adalah jauh lebih tinggi dari setiap orang yang berada di luar pondok yang mencoba melindunginya. Apalagi dalam pondok itu berada pula Rara Wilis. Meskipun demikian Arya Salaka berhenti sejenak untuk mengawasi pondok itu. Pondok dimana tinggal di dalamnya Endang Widuri. Tetapi pondok itu nampaknya sepi saja, seolah-olah ikut tertidur dengan para penghuninya. Sedang di sekitar pondok itu ia melihat tiga orang berjaga-jaga. Ia menjadi lega. Kemudian Arya melangkah kembali menikmati udara malam yang sejuk. Sekali dua kali ia memandang ke arah langit. Bintang-bintang yang semakin padat sangat mengagumkannya. Ia, seperti juga gurunya, pada saat yang bersamaan itu, kagum kepada kebesaran alam, kepada benda-benda yang bertebaran di angkasa, kepada tata alam yang sempurna. Juga seperti gurunya yang sedang menuju ke perkemahan itu, kekagumannya kepada alam, kepada benda-benda yang berkilat-kilat di angkasa itu akhirnya terdampar kepada sumbernya, yaitu kekagumannya kepada Yang Maha Sempurna, yang telah menjadikan semuanya ini.

Dalam keadaan yang demikian, seolah-olah terngiang kembali segala nasehat dan petuah-petuah dari gurunya. Seakan-akan mendengung di dalam rongga telinganya kata-kata Mahesa Jenar. “Arya, yang penting dari setiap usahamu, adalah usaha-usaha dan perbuatan-perbuatan yang dapat banyak berarti bagi rakyatmu kelak, untuk mendatangkan kebahagiaan lahir dan batin. Tetapi yang lebih penting lagi adalah pertanggungjawabanmu sebagai seorang pemimpin yang akan dituntut kelak, apabila kau menghadap kembali kepada Yang Maha Esa. Karena itulah maka perbuatan-perbuatanmu sekarang harus dapat dinilai dari dua segi. Pengabdianmu pada sesama dan kebaktianmu kepada Tuhan.”

Sambil berangan-angan, tanpa disadari Arya Salaka telah berjalan sampai ke batas perkemahan. Ia masih melihat seorang penjaga berdiri tegak di tengah jalan, sedang di pinggir jalan itu duduk tiga orang yang lain. Tiba-tiba timbullah keinginannya untuk ikut serta duduk bersama mereka. Karenaitu perlahan-lahan ia mendatanginya.

Ketiga orang-orang itu melihat seseorang menghampirinya, hampir serentak mereka menyapa lirih, “Siapa?”

“Arya,” jawab Arya Salaka.

“O…” terdengar salah seorang dari mereka itu. “Akan kemanakah Angger?”

“Aku ingin duduk bersama-sama dengan Paman di sini,” jawab Arya.

“Ah,” sahut orang itu. “Di sini banyak nyamuk. Tidakkah Angger perlu beristirahat?”

“Aku belum ingin tidur, Paman,” jawab Arya pula, dan yang kemudian duduk di samping ketiga orang itu.

Ketika orang itu mengingsar duduknya, sedang orang yang tegak di tengah jalan itu menoleh pula kepadanya.

“Tidakkah Angger lebih enak duduk di gardu pimpinan bersama-sama Adi Mantingan?” tanya yang berdiri itu.

“Nanti aku akan ke sana juga,” jawab Arya.

Orang-orang itu tidak bertanya lagi. Tetapi mereka merasa bertambah beban. Karena mereka belum kenal kepada anak itu setelah beberapa tahun terpisah. Mereka merasa bahwa Arya Salaka itu masih saja seperti dahulu. Masih harus mendapat perlindungan dan perawatan. Karena itu maka seorang dari ketiga orang yang duduk itu kemudian tegak pula dan berjalan-jalan hilir-mudik. Sedang kedua orang yang lain, meskipun tidak berkata apa-apa, tetapi mereka mengingsar duduknya, sehingga seorang di sebelah kiri dan seorang lagi di sebelah kanan Arya. Arya tersenyum di dalam hati, tetapi ia juga bangga atas anak buahnya yang sangat hati-hati itu. Disamping itu, ia merasa bahwa agaknya Mantingan menganggap bahwa keadaan perkemahan itu benar-benar dalam bahaya.

Ketika Arya telah duduk diantara kedua orang itu, mulailah ia bertanya-tanya tentang beberapa hal. Tentang Banyubiru sepeninggalnya. Tentang pamannya Lembu Sora. Bahkan tentang pohon jambu di halaman yang dahulu ditanamnya.

“Pohon jambu itu luar biasa lebatnya,” jawab orang yang duduk di sebelah kirinya.

Arya Salaka kemudian mencoba membayangkan pohon itu. Alangkah rindangnya duduk di bawahnya apabila matahari yang terik sedang membakar seluruh halaman rumanya. Tetapi yang terakhir terbayang di dalam otaknya adalah orang yang paling dikasihinya. Orang yang telah melahirkannya dan mengasuhnya dengan penuh cinta kasih. Orang itu adalah ibunya. Nyai Ageng Gajah Sora. Terbayanglah wajah ibunya yang sayu pucat berdiri di regol halaman rumahnya. Dengan penuh harapan ia menanti kedatangan ayahnya. Gajah Sora dari Demak. Dan dengan penuh harapan pula ia menanti kedatangannya, satu-satunya anak yang dimilikinya. Tetapi kemudian dibayangkannya, bahwa ibunya akan menjadi putus asa kalau yang ditunggunya sekian lama tidak kunjung tiba. Maka yang dapat dilakukannya hanyalah menangis di ruang tidurnya dengan membenamkan wajahnya di bawah bantalnya yang telah basah oleh air mata.

Arya menarik nafas dalam-dalam. Sekali-kali ia memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayang-bayang yang mengganggu otaknya. Tetapi bayangan-bayangan itu menjadi semakin jelas dan seolah-olah ibunya itu melambai-lambai kepadanya dengan wajah sedih dan berkata, “Arya, aku sudah sedemikian rindunya kepadamu.”

Arya terkejut ketika terasa tetesan cairan yang hangat di pipinya. Cepat ia mengusapnya dengan lengan bajunya. Tetapi mau tidak mau, dadanya menjadi sesak oleh sesuatu yang seakan-akan menyumbat kerongkongannya.

“Hem….” Beberapa kali Arya menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali, untuk mengurangi himpitan perasaan yang menekan dadanya.

Semula ia ingin menanyakan kepada orang-orang Banyubiru itu tentang keadaan ibunya. Tetapi kemudian ia menjadi ketakutan. Ketakutan pada jawaban yang akan didengarnya. Jangan-jangan jawaban mereka atas pertanyaan itu akan dapat menambah sedih hatinya. Karena itu, maksudnya untuk bertanya tentang ibunya dibatalkan.

Sementara itu malam menjadi semakin jauh. Bintang-bintang telah berkisar dari tempatnya semula ke arah barat. Di ujung selatan, bintang Gubug Penceng telah melampaui garis tegak lurus.

Dalam pada itu tiba-tiba terasa sesuatu yang aneh. Angin yang silir bertiup perlahan-lahan. Begitu nyamannya sehingga tiba-tiba pula perasaan kantuk seolah-olah menyengat perasaannya. Dua orang yang berada di kedua sisinya itu telah beberapa kali menguap. Sedang orang yang berjalan hilir mudik itu pun merasakan pula serangan kantuk yang dalam. Demikian pula orang yang tegak berjaga-jaga di tengah jalan. Dengan tanpa mereka sadari, mereka jatuh terduduk.

Arya Salaka pun merasakan juga serangan kantuk itu. Tetapi karena pengalamannya selama ini, telah mempertajam nalurinya. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Tiba-tiba ia teringat ceritera gurunya tentang semacam ilmu yang dapat mempengaruhi kesadaran seseorang. Yaitu ilmu sirep. Dengan ilmu itu orang dapat memperlemah kesadaran orang lain yang tampaknya menjadi kantuk dan tertidur. Karena itu, pada saat itupun Arya segera memperkuat ketahanan diri. Dikerahkannya segala kekuatan batinnya untuk melawan pengaruh sirep yang dalam itu.

Arya Salaka, meskipun masih sangat muda, tetapi karena masa-masa pembajaan diri yang selama ini dialami, maka iapun telah menjadi anak muda yang perkasa lahir dan batin.

Karena itulah maka ia berhasil menyelamatkan dirinya dari pengaruh sirep yang tajam itu.

Beberapa kali ia mencoba membangunkan orang-orang jaga yang kemudian jatuh tertidur. Tetapi demikian mereka terbangun, menguap dan kembali jatuh tertidur. Arya Salaka menjadi heran. Demikian kuatnya pengaruh sirep terhadap kesadaran seseorang. Namun meskipun demikian, ia yakin, apabila ada sesuatu yang mengejut dan cukup kuat memberi mereka rangsang, maka orang-orang yang kena pengaruh sirep itupun akan dapat terlepas dengan sendirinya. Sebab apabila ia memukul paha salah seorang dari penjaga yang tertidur, orang itupun menjadi terkejut pula dan terbangun untuk kemudian jatuh tertidur kembali.

Bagi Arya Salaka, pengaruh sirep itu merupakan tanda bahaya. Ia tidak tahu siapakah yang menyebarkannya. Tetapi ia menjadi cemas, kalau kemudian sepasukan laskar akan diam-diam menyerbu perkemahan yang seolah-olah menjadi tertidur seluruhnya. Ia tidak tahu apakah semua orang mengalami nasib seperti kelima penjaga itu. Apakah orang yang berjaga-jaga di sekitar pondok Endang Widuri pun menjadi tertidur. Dan apakah Ki Dalang Mantingan, Wirasaba dan Jaladri tidak dapat membebaskan diri dari pengaruhnya. Arya Salaka menjadi kebingungan. Ia tidak sampai hati meninggalkan para penjaga yang tertidur itu. Kalau penyebar sirep ini menghendaki, maka dengan mudahnya mereka membunuh penjaga-penjaga itu.

Tetapi belum lagi ia mendapat keputusan, telinganya yang tajam mendengar kemersik daun tersentuh kaki. Cepat Arya Salaka menyiagakan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Tetapi suara itu tidak berhenti ketika sudah menjadi semakin dekat dari tempat duduknya. Bahkan kemudian terdengar suara berbisik lirih, “Siapa yang bertugas di sini?”

Arya sudah mengenal suara itu. Suara Wirasaba. Karena itu ia menjadi gembira karena setidak-tidaknya, ia sendiri dan Wirasaba dapat membebaskan diri dari pengaruh sirep ini. Maka dengan perlahan-lahan pula ia menjawab, “Aku, Paman, Arya.”

“Arya Salaka?” ulang Wirasaba agak terkejut.

“Ya,” jawab Arya pula.

Wirasaba beringsut mendekati Arya Salaka. “Kenapa Angger berada di sini?” tanya Wirasaba.

Aku hanya berjalan-jalan saja ketika aku tidak dapat tidur. Tetapi para penjaga inilah yang kemudian jatuh tertidur,” sahut Arya.

Mereka terkena pengaruh sirep,” jelas Wirasaba. “Untunglah Angger terbebas dari pengaruhnya.”

“Akupun merasakan pengaruhnya, Paman. Lalu bagaimanakah dengan yang lain-lain?” tanya Arya Salaka.

“Adi Mantingan sedang mengamati mereka,” jawab Wirasaba.

Hati Arya Salaka menjadi bertambah besar ketika ternyata Mantingan pun terbebas dari pengaruh sirep itu. Bahkan kemudian ia bertanya, “Siapa pulakah yang dapat menyelamatkan diri?”

“Adi Mantingan baru menyelidiki mereka. Tetapi Jaladri juga terbebas dari pengaruh sirep ini atas bantuan Adi Mantingan,” jawab Wirasaba.

Kemudian Arya Salaka tidak cemas lagi. Ada empat orang yang pasti terbebas dari pengaruh sirep itu. Namun ia bertanya pula, “Jadi dapatkah Paman Mantingan menolong orang lain membebaskan diri dari pengaruh sirep ini?”

“Demikianlah,” jawab Wirasaba. “Tetapi tidak kepada semua orang. Ia hanya dapat membantu seperlunya apabila orang itu sendiri cukup mempunyai daya tahan.”

“Syukurlah,” gumam Arya.

Ia adalah seorang dalang. Sebagai seorang dalang ia perlu memiliki berbagai macam ilmu. Sebab kadang-kadang ia memang berhadapan dengan gangguan-gangguan dari para penontonnya yang jahil.” Wirasaba menegaskan.

Tetapi kemudian Arya Salaka kembali membayangkan bagaimanakah kalau sepasukan laskar menyerbu perkemahan ini. Sedang sebagian besar dari laskar Banyubiru itu jatuh tertidur. Karena itu ia bertanya kembali, “Paman Wirasaba, bagaimanakah seandainya malam ini perkemahan kita ini diserbu oleh sepasukan laskar?”

Meskipun Arya Salaka mempunyai daya tahan lahir batin yang cukup kuat, namun ternyata pengetahuannya belumlah seluas Wirasaba, yang menjawab pertanyaannya itu. “Tidak Angger, pasukan penyerbu itupun akan terkena pengaruh sirep ini pula. Sebab daya kekuatan sirep ini tidak dapat ditujukan kepada seorang atau serombongan orang. Tetapi dayanya seolah-olah memenuhi udara di sekitar penyebarnya. Sehingga apabila pada malam ini ada orang yang ingin memasuki perkembahan ini, pasti merekapun jumlahnya terbatas. Terbatas pada mereka yang atas kemampuan sendiri, atau atas bantuan orang lain membebaskan diri dari pengaruh sirep ini.”

Arya Salaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang ia sama sekali tidak perlu khawatir. Di dalam perkemahan itu ia cukup mempunyai kawan yang mempunyai ilmu cukup tinggi. Meskipun demikian ia masih ingin mengetahui bagaimanakah keadaan Endang Widuri dan Rara Wilis. Sebab tanpa setahunya, ia merasa bahwa nasib gadis kecil itu adalah sama dengan nasibnya sendiri. Maka kemudian setelah Wirasaba berada di tempat itu, ia tidak keberatan lagi meninggalkan para penjaga itu. Kepada Wirasaba ia berkata, “Paman, apabila Paman bersedia untuk tinggal di sini, aku minta ijin untuk menengok pondok Bibi Wilis dan Widuri.”

“Jangan Angger,” cegah Wirasaba. “Jangan pergi sendiri. Marilah aku antar Angger ke sana.”

Lalu bagaimana dengan para penjaga ini?” tanya Arya Salaka.

Biarlah mereka kita sisihkan. Aku kira orang-orang yang menyebar sirep itu tidak akan berkesempatan mengurusi para penjaga itu. Mereka pasti berhasrat untuk langsung menemukan kekuatan-kekuatan pokok dari perkemahan ini.”

Arya Salaka dapat mengerti keterangan Wirasaba itu. Karena itu iapun segera membantunya, mengangkat para penjaga yang tertidur itu ke tepi, ke atas rerumputan yang sudah mulai basah karena embun malam yang perlahan-lahan turun ke bumi.

Dingin malam musim bediding rasa-rasanya sampai menggigit tulang. Namun oleh ketegangan yang mengetuk-ngetuk dada, rasa itu sama sekali tak mempengaruhi mereka yang sedang berusaha menyelamatkan perkemahan itu.

Dengan mengendap-endap penuh kewaspadaan, Arya Salaka diantar oleh Wirasaba yang menggenggam sebuah kapak yang besar sekali menuju ke barak kecil tempat Rara Wilis dan Endang Widuri beristirahat selama mereka berada di perkemahan itu.

Meskipun sebenarnya Arya Salaka sama sekali tidak merasa perlu pengawalan, namun ia tidak mau menyakitkan hati orang lain. Karena itu ia tidak menolak. Ketika mereka lewat dekat gardu pimpinan, mereka melihat bahwa gardu itu kosong. Tetapi mata Arya Salaka yang tajam dapat melihat sebuah bayangan yang berdiri di belakang gardu itu. Agaknya Jaladri merasa perlu sekadar melindungkan dirinya untuk dapat mengadakan pengawasan di sekitar tempat itu dengan lebih seksama. Di tangannya tergenggam sebuat canggah, tombak bermata dua.

Arya dan Wirasaba berjalan terus. Dengan gerak tangan Wirasaba memberi isyarat kepada Jaladri, yang membalas dengan isyarat tangan pula. Beberapa langkah kemudian mereka sudah melihat pondok tempat tinggal Rara Wilis dan Endang Widuri. Ternyata para penjaga pondok itupun telah tertidur pula. Karena itu Arya Salaka menjadi cemas, jangan-jangan telah terjadi sesuatu atas penghuninya.

Perlahan-lahan ia menyusuri tempat-tempat yang gelap mendekati pondok itu.

“Marilah, kita lihat apakah mereka tidak mengalami sesuatu paman” ajak Arya Salaka berbisik perlahan sekali

“Marilah,” jawab Wirasaba.

Dengan sangat hati-hati mereka mendekati pintu pondok yang memang tidak pernah terkancing. Perlahan-lahan Arya menyingkapkan pintu itu. Meskipun demikian terdengar suatu gerit perlahan. Hanya perlahan. Tiba-tiba ketika pintu itu terbuka, terjulurlah ujung sehelai pedang yang tipis mengarah ke dada Arya Salaka.
Arya Salaka terkejut. Untunglah ia memiliki ketangkasan yang cukup. Meskipun pedang itu tidak membawa serangan maut, namun agaknya perlu juga ia menjaga dirinya dan menghindari. Melihat senjata itu Wirasaba pun terkejut. Ia segera meloncat maju untuk menangkis serangan itu. Tetapi ujung pedang itu sangat lincahnya di dalam kegelapan malam, bahkan dengan sekali putar hampir saja lengan Wirasaba tergores. Karena itu Wirasaba terkejut sekali dan meloncat mundur. Ketika ia kemudian mengangkat kapaknya untuk menyerang kembali terdengarlah Arya Salaka berdesis. “Paman, itu adalah pedang Bibi Wilis.

Wirasaba terhenti. Dan bersamaan dengan itu, tampaklah sebuah bayangan meloncat keluar dengan lincahnya, bahkan seperti terbang. Demikian bayangan itu menginjak tanah, demikian ia telah siap menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi juga bayangan itu terkejut ketika ia melihat Wirasaba dan Arya Salaka berdiri di dalam gelap. Karena itu terlontarlah dari mulutnya. “Kau, Arya…?”

“Ya, Bibi…” jawab Arya. “Kami minta maaf kalau kami mengejutkan Bibi.”

Rara Wilis menarik nafas. Katanya, “Suasana malam ini memaksa aku untuk sangat berhati-hati.”

Aku sebenarnya ingin melihat keadaan Bibi dan Widuri tanpa mengganggu,” sambung Arya.

Tak apalah,” jawab Rara Wilis. “Dan syukurlah kalau kalian juga berhasil membebaskan diri dari pengaruh sirep yang tajam ini.”

Wirasaba berdiri tegak dan bersandar pada tangkai kapaknya. Meskipun ia telah menduga bahwa Rara Wilis tidaklah sama dengan kebanyakan wanita, namun ia sama sekali tidak menduga bahwa sampai sekian gadis itu telah mencapai ilmunya. Sementara itu tiba-tiba terdengar suara dari tlundak pintu. “Untunglah dadamu tidak terlubang Kakang Arya.”

Arya menoleh. Dilihatnya Endang Widuri duduk dengan enaknya di atas tlundak pintu itu. Arya Salaka dan Wirasaba lebih terkejut melihat Endang Widuri duduk di situ daripada mendengar suaranya. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa gadis itupun berhasil membebaskan diri dari pengaruh sirep. Karena itu terdengar Arya bertanya perlahan, “Kau tidak tertidur…?”

“Aku belum ngantuk.” jawab Widuri seenaknya.

Aneh,” tiba-tiba terdengar Wirasaba bergumam.

Rara Wilis mendengar gumam itu. Dengan tersenyum ia menjawab, “Anak itu memang luar biasa.
Akupun harus berjuang untuk melawan pengaruh sirep ini sekuat tenaga. Tetapi Widuri memang seakan-akan sama sekali tidak disentuh oleh kekuatan sirep ini.”

Widuri merasa bahwa dirinyalah yang sedang dipercakapkan itu. Maka iapun segera menyahut, “Apakah kalian heran karena aku belum ngantuk? Bukankah ini masih belum terlampau malam?”.

Tak seorangpun menjawab. Mereka tahu sifat gadis itu. Nakal dan kadang-kadang suka menuruti perasaan sendiri.

Dalam pada itu, tiba-tiba di kejauhan terdengar suara siulan nyaring. Suara itu menggetar di seluruh perkemahan anak-anak Banyubiru itu, seolah-olah melingkar-lingkar menyusup ke setiap pondok. Rara Wilis dan kawan-kawannya terkejut mendengar suara itu. Suara yang belum pernah mereka dengar. Apalagi kemudian suara itu disusul dengan bunyi yang sama di arah yang berlawanan.

Tidak itu saja, suara siulan itu masih terdengar berturut-turut dari dua arah yang berbeda. Dengan demikian maka dapat diketahui bahwa orang yang bersiul, dan yang pasti, mereka pulalah yang menyebarkan sirep ini, berada di empat arah mata angin. Karena itulah, Rara Wilis dan kawan-kawannya itu mengetahui bahwa orang-orang itu telah berusaha mengepung perkembahan ini. Dengan demikian mereka harus enjadi lebih berhati-hati lagi.

Sementara itu mereka melihat Ki Dalang Mantingan dan Jaladri datang pula ke pondok itu. Dengan nafas yang terengah-engah ia berkata perlahan, “Aku cari Angger Arya Salaka setengah mati. Ketika aku menengok ke pondok Angger, aku menjadi gugup, karena Angger tidak ada di tempat. Aku coba mencari berkeliling, tetapi juga tidak aku jumpai. Akhirnya dari Jaladri aku mendengar bahwa Angger pergi kemari bersama-sama dengan Kakakng Wirasaba”

“Angger Arya Salaka berada di mulut perkemahan ini, Adi,” jawab Wirasaba.

Syukurlah kalau tidak terjadi sesuatu. Dan bukankah di sini juga tidak terjadi sesuatu?” tanya Mantingan pula.

“Tidak Kakang,” jawab Rara Wilis singkat.

Kakang Wirasaba, menilik suara yang mereka perdengarkan, mereka berada di empat arah mata angin di sekeliling perkemahan ini. Juga menilik tanda-tanda suara yang mereka berikan, mereka pasti mengira bahwa perkemahan ini telah terbenam seluruhnya dalam pengaruh sirepnya. Karena itu mereka pasti akan memasuki perkemahan ini dengan seenaknya.” Mantingan mulai memberi penjelasan. “Karena itu, maka adalah menjadi kewajiban kami untuk menyelamatkan perkemahan ini. Waktu kita agaknya tinggal sedikit. Sebab apabila mereka merasa bahwa jarak waktu yang mereka berikan untuk meresapkan sirepnya telah mereka anggap cukup, mereka pasti akan segera bertindak”

Wirasaba sependapat dengan keterangan Mantingan. Maka ia pun membenarkannya, “Lalu apakah yang harus kita lakukan Adi?” tanya Wirasaba.

Mantingan berpikir sejenak. Kemudian ia menjawab, “Kita yang telah berhasil membebaskan diri dari pengaruh jahat ini, harus memberikan perlindungan-perlindungan terhadap anak-anak Banyubiru yang lain. Aku kira mereka akan mencari orang-orang yang mereka anggap penting. Aku tidak tahu apakah mereka telah mengetahui keadaan perkemahan ini dengan baik. Tetapi disamping itu…” Mantingan berhenti sejenak. Matanya berkisar kepada Rara Wilis, Endang Widuri dan Arya Salaka.

Rara Wilis Segera menangkap perasaan Ki Dalang Mantingan. Karena itu ia menjawab, “Kakang, biarlah kami coba untuk melindungi diri kami masing-masing. Adalah sudah menjadi kewajiban Kakang Mantingan, Kakang Wirasaba dan Jaladri untuk mencoba melindungi anak-anak Banyubiru yang merupakan tenaga-tenaga inti dari laskar ini.”

Mantingan menjadi agak malu karena perasaannya dapat ditebak dengan tepat. Tetapi ia tidak akan sampai hati untuk membiarkan gadis-gadis itu dan anak semuda Arya Salaka untuk menjaga diri mereka sendiri terhadap penyerang-penyerang yang bersembunyi seperti ini. Apalagi jelas bahwa para penyerang itu memiliki ilmu yang cukup tinggi. Terbukti dengan sirepnya yang cukup tajam ini. Sedangkan Arya Salaka bagi laskar Banyubiru ternyata telah menjadi penguat tekad perjuangan mereka. Sehingga daripada yang lain-lain, Arya Salaka-lah yang pertama-tama wajib diselamatkan.

Maaf Adi Wilis…” kata Mantingan pula, “Aku wajib untuk berusaha menyelamatkan kalian. Karena itu, aku harap Kakang Wirasaba tetap berada di tempat ini, aku akan berada di pondok sebelah untuk mencoba melindungi anak-anak yang tertidur dengan nyenyaknya.”

“Baiklah Adi,” jawab Wirasaba.

Kau ikut dengan aku Jaladri,” sambung Mantingan. “Kita kosongkan gardu pimpinan.” Seterusnya kepada Rara Wilis ia berkata, “Keadaan menjadi semakin gawat. Kami silahkan kalian masuk. Sebaiknya Kakang Wirasaba pun berada di dalam pula. Kami masing-masing akan memberi tanda apabila keadaan kami sulit. Pukullah kentongan atau berteriaklah memanggil. Jarak kami tidak terlalu jauh.”

Selesai dengan kata-katanya, Mantingan pun segera bergerak meninggalkan tempat itu. Ia terpaksa membagi kekuatan mereka. Wirasaba untuk melindungi pondok Wilis, sedang ia sendiri dan Jaladri berusaha untuk melindungi kekuatan-kekuatan pokok laskar Banyubiru. Tetapi meskipun demikian, namun otaknya diganggu juga oleh teka-teki, bagaimana mungkin Arya Salaka dan Rara Wilis dapat membebaskan diri dari pengaruh sirep yang tajam ini. Apalagi ia sama sekali tidak tidak tampak kantuk. Sedangkan orang seperti Jaladri itupun masih memerlukan bantuannya untuk membebaskan diri dari pengaruh sirep ini. Meskipun ia telah menduga bahwa kedua gadis itu pasti memiliki kelebihan dari gadis-gadis lain, tetapi ia sama sekali belum dapat membayangkan sampai di mana ketinggian ilmu mereka itu. Dalam pada itu Rara Wilis seperti juga Arya Salaka, tidak mau mengecewakan Dalang Mantingan. Karena itu ia menerima Wirasaba untuk menjadi pelindung pondok itu, meskipun ia sadar bahwa sebenarnya tenaganya sangat diperlukan.

Sesaat kemudian, setelah mereka masuk kembali ke dalam pondok masing-masing, suasana perkemahan itu diliputi oleh kesunyian yang tegang.

Wirasaba duduk dengan gelisah di dalam pondok Rara Wilis. Sedang Rara Wilis sendiri selalu siap untuk setiap saat bertindak. Pedangnya yang tipis tersandang di pinggangnya. Ia duduk di bale-bale bambu menghadap pintu. Disampingnya duduk Arya Salaka. Kyai Banyak sudah tidak lagi bertangkai sependek tangkai belati. Tetapi ia telah memberinya tangkai hampir sedepa. Sedangkan Widuri dengan enaknya berbaring di bale-bale itu, seolah-olah tidak menghiraukan sama sekali kegelisahan orang-orang di sekitarnya. Namun demikian ternyata gadis tanggung itupun telah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Ternyata bahwa ia tidak mengenakan kain panjangnya, tetapi ia berpakaian seperti seorang laki-laki. Pakaian yang selalu dipakainya apabila ia sedang berlatih tata bela diri maupun latihan-latihan untuk ketahanan diri. Pertanda yang lain dari kesiap-siagaannya adalah sebuah karset perak berbentuk rantai sebesar itu jari yang melingkar di leher Widuri, yang ujungnya terjuntai tersangkut di ikat pinggangnya. Rantai perak itu tidak saja merupakan senjata yang berbahaya, tetapi di leher gadis itu, rantai itu dapat menjadi perhiasan yang menambah kecerahan wajahnya. Di pondok sebelah, Jaladri menunggu setiap kemungkinan dengan cemas pula. Ia tidak duduk atau berdiri bersiaga, tetapi ia berpura-pura tidur dalam jajaran para laskar Banyubiru yang benar-benar sedang tertidur dengan nyenyaknya. Seperti Arya Salaka, ia mencoba-coba untuk membangunkan beberapa orang. Namun demikian ia menggeliat, demikian ia kembali kehilangan kesadaran. Bahkan sesaat kemudian terdengarlah dengkurnya mengusik sepi malam. Tetapi meskipun ia berbaring, disampignya terletak senjata andalannya. Sebuah canggah bermata dua, yang tidak terlepas dari tangannya.

Mantingan, yang merasa bertanggungjawab atas keseluruhannya, tidak ikut serta masuk ke dalam pondok-pondok itu. Ketika semuanya telah menjadi sepi kembali, karena Wirasaba dan Jaladri telah lenyap di balik pintu-pintu pondok. Mantingan segera meloncat ke sebuah batang pohon yang daunnya cukup memberinya perlindungan. Di lambungnya terselip sebilah keris, sedang tangannya menggenggam senjatanya erat-erat. Trisula yang bertangkai kayu berlian, sebagai lambang kekuatannya yang dilambari ilmu gerak yang luar biasa lincahnya, Pacar Wutah.

 ———-oOo———-

 Bersambung ke Jilid 17

Koleksi Ki Arema

Editing oleh Ki Arema

<< kembali | lanjut >>

9 Tanggapan

  1. maturnuwun ki Arema … sampun ngunduh sampai jilid 16 tetapi nggak pernah ninggalin komen … he3 … nuwun sewu ingkang katah nggih ki …

    semoga selalu dilimpahi kesehatan dan semangat untuk mewedar nssi … sekalai lagi maturnuwun …

    salam

    • monggo Ki
      yang ada di sini memang untuk siapa saja penggemar karya ki SHM, dengan atau tanpa komen.
      tetapi kami memang mengharap adanya komen, agar kami lebih bersemangat dalam upload karya-karya beliau.

      Aaamiiiin….

      salam

  2. Salam Ki Arema, salam para cantrik…

    Salam kembali Ki/Nyi (ngapunten, saya lupa).

    waduh…, senangnya
    para dedengkot ADBM sudah mau hadir di blog ini. Kemarin mas Rizal, sekarang Ki/Nyi Aulianda.
    Kalau tidak salah Ki/Nyi Aulianda pernah ikut-ikutan gotong royong meramaikan ADBM pada waktu itu, nyecan atau retype (saya lupa). Hasilnya diupload di sini.
    Terima kasih

    Arema

  3. Terdorong hati untuk terus menulis cersil, terpaksa menjelajah kembali kisah2 beliau atas saran Ki Sukasrana…..akhirnya perjalanan tersangkut di jilid 16-17, saya seperti bocah kecil yang dituntun oleh Eyangnya sendiri……………..woww !!!

    Wow……

  4. https://polldaddy.com/js/rating/rating.jsHatur nuhun aki sudah berjuang mengkonversi cerita ini dari buku menjadi versi web, semoga manjadi amal ibadah

    Sami-sami.
    Aamiin…

  5. cerita silat jawa Ki SHM memang fenomenal, selain memupuk nasionalisme juga ikut menjaga warisan budaya leluhur seberapapun besarnya. Saya saluut (sugiharto purwokerto)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s