JDBK-33


<<kembali | lanjut >>

———- Maaf, gambar ilustrasi belum ada ———-

SEMENTARA itu, di luar bilik tahanan Wijang pun berkata kepada Paksi, “Ternyata kau benar, Paksi. Anak-anak muda itu tidak berada di padepokan itu lagi”

“Jika demikian, kita dapat segera mengambil keputusan tentang padepokan itu”

“Ya. Tidak ada pilihan lain. Padepokan itu harus segera dihancurkan. Kekalahan para pengikut di penginapan itu akan dapat mengusik kemapanan Ki Gede Lenglengan. Sebelum ia mengambil sikap, maka sebaiknya kita datang lebih dahulu kepadanya”

“Apakah sebaiknya kita menemui Ki Tumenggung Yudatama?”

“Aku sependapat. Hari pasaran mendatang, padepokan itu kita kepung dan mereka yang tidak bersedia menyerah, apaboleh buat”

Demikianlah, keduanya pun segera menemui Ki Tumenggung Yudatama. Untunglah bahwa Ki Tumenggung Yudatama berada
di barak pasukannya.

Dengan jelas dan terperinci sesuai dengan keterangan Wigati serta pengamatan Wijang dan Paksi selama ia mengamati padepokan itu, maka Wijang dan Paksi mengusulkan, agar secepatnya padepokan itu ditembus oleh pasukan yang telah dipersiapkan.

“Baiklah, Pangeran. Jika isyarat itu sudah diberikan, maka kita pun akan segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan”

“Pasaran mendatang tinggal dua hari lagi, Ki Tumenggung”

“Hari ini aku akan pergi ke penginapan itu. Namun sebelumnya kita akan menghadap Kangjeng Sultan untuk memberikan laporan tentang anak-anak muda itu, serta rencana kita mengepung Padepokan Watukambang”

Demikianlah, Ki Tumenggung Yudatama pun bekerja dengan cepat. Pada saat itu juga mereka bertiga telah menghadap Kangjeng Sultan Hadiwijaya, yang menerima mereka dengan baik.

“Lakukan apa yang baik menurut pertimbangan kalian bertiga” berkata Kangjeng Sultan.

“Hamba mohon restu, Sinuhun” desis Ki Tumenggung Yudatama.

“Berhati-hatilah dengan Lenglengan. Ia seorang yang sekarang tentu memiliki ilmu yang sangat tinggi”

“Hamba, Sinuhun. Hamba akan berhati-hati”

“Jangan hadapi Lenglengan seorang diri. Biarlah Benawa, Paksi dan satu dua orang pilihan lainnya bersama-sama Ki Tumenggung menghadapinya. Mungkin kalian memerlukan kemampuan bersama untuk mengalahkannya. Namun kalian juga harus menjaga agar Lenglengan tidak dapat melarikan diri”

“Hamba, Sinuhun”

“Aku tidak tahu, apakah ada orang lain yang berilmu tinggi di padepokan itu”

“Hamba sudah menjajagi kemampuan salah seorang kepercayaannya. Agaknya kepercayaan Ki Gede Lenglengan yang lain  pun tidak terpaut banyak dari orang itu”

“Tetapi kita tidak tahu, ada berapa orang kepercayaan Ki Gede
Lenglengan itu”

“Hamba akan berhati-hati sekali, Sinuhun. Hamba akan membawa orang-orang terbaik sebelum hamba memasuki padepokan itu”

“Waktumu tinggal sedikit, Ki Tumenggung”

“Masih ada dua hari, Sinuhun. Sementara itu sebagian dari kekuatan Pajang telah berada di Manjung, Nglungge dan di hutan sebelah Padukuhan Manjung”

Kangjeng Sultan Hadiwijaya pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah, Ki Tumenggung. Aku serahkan kepadamu, mana yang baik menurut pertimbanganmu, Benawa dan Paksi”

“Kami mohon restu, Sinuhun”

“Bawa orang-orang terbaik. Lenglengan adalah seorang yang tidak dapat dijajagi kemampuannya”

“Apakah ada orang yang mampu menjajagi kemampuan Pangeran Benawa?”

“Ah, Ki Tumenggung, aku bukan apa-apa”

“Mungkin Benawa memiliki dasar ilmu yang kuat” berkata Kangjeng Sultan, “tetapi ia masih terlalu muda untuk dapat mengetahui dan mengatasi, betapa liciknya Lenglengan”

“Hamba mengerti, Sinuhun”

Demikianlah, maka Ki Tumenggung itu pun segera minta diri. Waktunya memang sangat sempit untuk mempersiapkan serangan yang meyakinkan terhadap sebuah padepokan yang kuat sebagaimana Padepokan Watukambang.

Namun Ki Tumenggung adalah seorang prajurit pilihan. Bersama beberapa orang prajuritnya yang terpilih, maka Ki Tumenggung pun segera mempersiapkan pasukannya. Namun Ki Tumenggung harus sangat berhati-hati, agar persiapannya tidak diketahui oleh Ki Gede Lenglengan dan orang-orangnya.

Dalam pada itu, Wijang dan Paksi telah menghubungi Ki Ajar Permati. Bahkan mereka telah mempersilahkan Ki Ajar Permati untuk bertemu dan berbicara langsung dengan Ki Tumenggung Yudatama.

“Serahkan Lenglengan kepadaku, Ki Tumenggung” berkata Ki Ajar Permati.

“Ki Gede Lenglengan adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, Ki Ajar” sahut Ki Tumenggung.

“Aku tahu”

“Bahkan Kangjeng Sultan sendiri telah berpesan, agar Pangeran Benawa tidak seorang diri menghadapi Ki Gede Lenglengan”

“Aku  pun tentu akan berpesan seperti itu, jika aku sendiri tidak dapat menghadapinya. Tetapi bukan karena Pangeran Benawa tidak mampu mengimbangi ilmu Ki Gede Lenglengan”

“Karena apa menurut perhitungan Ki Ajar?”

“Kangjeng Sultan tentu mempertimbangkan kelicikan Ki Gede Lenglengan. Jika Pangeran Benawa tidak dibenarkan untuk menghadapinya sendiri, itu semata-mata untuk menutup kemungkinan Ki Gede Lenglengan itu melarikan diri”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk kecil. Sementara Ki Ajar pun berkata, “Seandainya Pangeran Benawa dan Angger Paksi bersedia aku  pun akan minta agar Pangeran Benawa dan Paksi ikut mengawasi agar Ki Gede Lenglengan tidak sempat lari.

Sementara itu, aku ingin membuat perbandingan ilmu dengan Ki Gede Lenglengan itu tanpa orang lain”

“Kami mengerti maksud Ki Ajar. Tetapi sebagai seorang senapati di medan perang, aku dapat mengambil kebijaksanaan sesuai dengan pertimbangan keadaan”

“Aku mohon. Selain itu, aku kebetulan bukan seorang prajurit”

“Meskipun Ki Ajar bukan prajurit, tetapi Ki Ajar akan berada di pihak pasukan Pajang. Sedangkan aku adalah senapati yang ditunjuk oleh Kangjeng Sultan Hadiwijaya”

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah, Ki Tumenggung. Aku menyadari sepenuhnya, bahwa Ki Tumenggung terikat pada sikap seorang senapati perang. Aku berjanji akan tunduk kepada perintah Ki Tumenggung”

“Terima kasih atas kesediaan Ki Ajar. Di medan pertempuran, hanya ada seorang senapati tertinggi yang memegang seluruh kendali atas pasukannya. Bahkan Pangeran Benawa dan Paksi berada di bawah perintah senapati yang mendapat wewenang dari Kangjeng Sultan”

“Aku mengerti” sahut Pangeran Benawa.

“Baiklah. Kita akan segera menyusun pasukan yang akan mengepung padepokan itu”

Ternyata bahwa Ki Ajar Permati banyak memberikan keterangan yang dapat memberikan gambaran kepada Ki Tumenggung Yudatama atas tugas yang sedang diembannya.

Demikianlah, maka segala sesuatunya pun telah disiapkan dengan sebaik-baiknya. Ketika hari pasaran tiba, maka pasar di Manjung itu nampak ramai sekali. Demikian pula penginapan di Nglungge pun pada hari itu menjadi penuh sebagaimana penginapan di Manjung.

Pasar di Manjung yang terasa sangat ramai itu memang menarik perhatian seorang yang dikirim oleh Ki Gede Lenglengan.

Namun kegagalan yang parah yang baru saja terjadi, telah membuat orang itu sangat berhati-hati. Bahkan orang itu tidak berani memberikan isyarat kepada Ki Gede Lenglengan, bahwa penginapan di Manjung nampak penuh dengan beberapa orang saudagar yang membawa harta yang banyak. Pada umumnya para saudagar itu membawa seorang atau dua orang pengawal.

Seperti pada saat perampokan yang gagal beberapa waktu sebelumnya, para pengawal itu bersama-sama orang-orang yang diupah untuk mengamankan penginapan itu, berhasil menghancurkan sekelompok orang yang dikirim oleh Ki Gede Lenglengan.

Orang yang dikirim oleh Ki Gede Lenglengan itu masih dibayangi oleh kegagalan yang terjadi. Beberapa orang terbaik dari Padepokan Watukambang itu telah hilang dan agaknya mereka tidak akan pernah kembali. Bahkan agaknya yang masih hidup dan berhasil melarikan diri  pun tidak berani lagi kembali ke padepokan, karena Ki Gede Lenglengan tentu akan menghukum mereka. Bahkan ada di antara mereka yang dihukum itu mati terikat pada tiang kayu di halaman bangunan utama Padepokan Watukambang.

Wira Sidat, salah seorang kepercayaan Ki Gede Lenglengan itu telah terbunuh. Wigati, yang bagaikan anak sendiri dari Ki Gede Lenglengan telah hilang pula.

Ketika orang yang dikirim oleh Ki Gede Lenglengan itu kembali ke padepokan setelah hari menjadi gelap, tidak mengisyaratkan agar Ki Gede Lenglengan mengirimkan orang ke Manjung.

“Kau menjadi ketakutan?” bertanya Wira Sampak, kepercayaan Ki Gede Lenglengan yang lain.

“Bukan begitu, Kang. Tetapi akibat buruk yang dapat timbul tidak seimbang dengan kemungkinan baik yang dapat terjadi. Yang menginap di penginapan Manjung hanyalah penjual kelapa, gerabah dan barang-barang anyaman”

“Kau bohong”

“Tidak”

“Tentu ada beberapa orang saudagar yang menginap”

“Aku memang melihat ada orang berkuda yang menginap di penginapan itu. Tetapi pada umumnya mereka membawa pengawalnya masing-masing”

“Kau menjadi silau dan berusaha untuk mencegah agar kita tidak datang ke Manjung”

“Bukan karena silau. Tetapi menurut perhitunganku, tidak baik jika kita malam ini datang ke Manjung. Orang-orang upahan itu masih nampak buas. Para Pengawal dari saudagar-saudagar berkuda itu pun benar-benar telah mempersiapkan diri”

“Aku tidak dapat kau takut-takuti”

“Kang, kau jangan kehilangan perhitungan. Maaf Kang, jika aku menganggap kau terlalu bernafsu untuk mendapat tempat terhormat di padepokan ini, tetapi kau tidak mau membuat pertimbangan-pertimbangan yang lebih dalam”

Orang itu terkejut. Tangan Wira Sampak telah menampar mulutnya, sehingga bibirnya terasa menjadi pedih. “Jaga mulutmu agar aku tidak mengoyakkannya”

Orang itu mengusap mulutnya yang berdarah. Katanya, “Terserah saja atas tanggapan Kakang Wira Sampak. Tetapi aku sudah berusaha untuk mencegah malapetaka. Sebenarnyalah memang ada beberapa orang yang nampaknya saudagar-saudagar kaya. Mereka datang berkuda dengan satu atau dua pengawal. Tetapi hari ini agaknya justru terlalu banyak orang di penginapan. Jika Kakang ingin juga pergi ke Manjung, maka Kakang harus mengerahkan terlalu banyak orang dari padepokan ini. Aku tidak yakin, bahwa Ki Gede Lenglengan akan menyetujuinya. Sedangkan jika yang Kakang bawa hanya sebanyak kebiasaan yang kita lakukan, maka akibat yang parah itu akan terjadi seperti Kakang Wira Sidat, maka agaknya Kakang Wira Sampak  pun tidak akan pernah kembali”

“Diam kau, pengecut” bentak Wira Sampak. “Aku bukan Wira Sidat yang dungu itu”

“Terserahlah kepadamu, Kang”

Namun tiba-tiba pembicaraan mereka terhenti. Seorang yang rambutnya ubanan datang mendekat.

“Mari, Kang” berkata Wira Sampak, “aku sedang menulari pengecut ini untuk sedikit mempunyai keberanian”

“Aku hanya memberikan pertimbangan kepada Kakang Wira Sampak. Terserah kepada Kakang Wira Sampak dan Kakang Sura Sangga”

Laki-laki yang rambutnya sudah mulai ubanan itu pun berkata, “Aku sependapat, bahwa malam ini bukan saat yang baik untuk turun ke Manjung”

“Kenapa, Kakang Sura Sangga?”

“Manjung memang terlalu ramai hari ini”

“Dari mana Kakang tahu? Dari ceritera tikus clurut ini?”

“Tidak. Ada orang lain yang menceriterakan kepadaku. Cakrawara juga baru saja masuk”

“Cakrawara?”

“Ya. Ia baru saja datang”

“Apa katanya?”

“Manjung terlalu ramai hari ini”

“Bukankah keadaan seperti itu yang kita tunggu?”

“Ya. Tetapi hari ini kesibukan di Manjung agak mencurigakan. Di Pajang, Cakrawara melihat kesibukan yang melebihi takaran”

“Apakah ada hubungannya?”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi kita harus berhati-hati. Aku sudah bertemu dan berbicara dengan Ki Gede Lenglengan. Ki Gede juga tidak berminat untuk memerintahkan sekelompok di antara kita pergi ke Manjung”

Wira Sampak itu menarik nafas panjang. Katanya, “Tentu tidak ada hubungannya antara kesibukan di Manjung dan kesibukan di barak prajurit itu. Jika hari ini Manjung menjadi semakin ramai, karena para pedagang, para saudagar dan orang-orang yang akan melintas merasa Manjung telah aman setelah orang-orang upahan di penginapan itu berhasil menggagalkan usaha saudara-saudara kita mengumpulkan dana bagi perjuangan masa depan kita”

“Mungkin kau benar, Sampak. Tetapi bukankah waktu kita masih panjang. Kita tidak terlalu tergesa-gesa sehingga menempuh jalan yang sangat berbahaya. Manjung yang baru saja merasa menang itu akan menyambut kedatangan kita dengan hangat jika kita datang malam ini. Seandainya kita berhasil juga, tetapi korban kita akan terlalu banyak dibandingkan dengan hasil yang akan kita peroleh”

Wira Sampak menjadi sangat kecewa. Tetapi ia tidak dapat memaksakan kehendaknya. Selain orang yang bertugas mengawasi keadaan di Manjung itu, Cakrawara juga telah memberikan beberapa pertimbangan sehingga Ki Gede Lenglengan tidak bermaksud memerintahkan sekelompok orang-orangnya untuk pergi ke Manjung.

Bahkan dalam pada itu, Cakrawara telah minta kepada Ki Gede Lenglengan untuk mempersiapkan orang-orangnya menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi di padepokannya.

“Padepokan kami tersekat dari dunia luar” berkata Ki Gede Lenglengan. “Tidak ada orang yang pernah menjamah daerah ini”

“Jangan menjadi lengah. Mungkin saja orang-orangmu yang tertangkap ketika kau gagal menguasai penginapan di Manjung itu berceritera tentang padepokanmu ini”

“Tidak ada yang akan berceritera. Mungkin ada orang-orangku yang tertangkap. Tetapi aku yakin, bahwa tidak seorang  pun di antara mereka yang akan berkhianat”

“Kau terlena dalam mimpimu itu, Ki Gede. Tetapi apa salahnya jika kita menjadi lebih berhati-hati?”

Ki Gede tertawa. Katanya, “Baik. Baik. Aku akan memerintahkan beberapa orang mengawasi jalan yang melintasi sekat itu. Jalan yang tidak pernah dikenal oleh siapa  pun kecuali orang-orangku sendiri”

“Bukankah kau tidak akan dirugikan jika kau perintahkan beberapa orang pergi ke sekat itu?”

“Ya. Ya. Aku mengerti”

Ki Gede Lenglengan memang memanggil seorang kepercayaannya. Seorang yang tubuhnya terhitung pendek.
Tetapi orang itu nampaknya sangat cekatan.

“He, Ajak Bungkik” berkata Ki Gede Lenglengan ketika orang yang bertubuh pendek itu datang menghadap, “pergilah ke sekat padepokan kita bersama dua atau tiga orang. Awasi. Kau tahu apa yang harus kau lakukan jika ada orang yang mendekat”

“Untuk apa sekat itu diawasi, Ki Gede?”

Ki Gede Lenglengan pun membentak, “He, dungu. Kita harus berhati-hati. Setelah kegagalan kita di Manjung, maka mungkin sekali ada satu atau dua orang yang tertangkap”

“Kenapa jika ada di antara kita yang tertangkap? Apakah kita mencemaskan kemungkinan bahwa di antara mereka ada yang berkhianat dengan menunjukkan rahasia sekat itu?”

“Ya” yang menyahut adalah Ki Cakrawara, “hal itu mungkin saja terjadi”

Orang bertubuh pendek yang disebut Ajak Bungkik itu tertawa. Tetapi suara tertawanya pun terputus ketika Ki Gede Lenglengan membentaknya, “Kenapa kau tertawa?”

Ajak Bungkik itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Gede, adakah seorang di antara kita yang berani menyebut rahasia tempat ini? Mereka yang berani menyebut rahasia ini akan terkutuk, bukan saja sepanjang hidupnya, tetapi di dunianya yang lain, ia  pun akan terkutuk sepanjang waktu. Tanpa henti”

Ki Gede Lenglengan mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar Bungkik. Tetapi jika ada di antara mereka itu orang-orang gila yang tidak yakin akan kutukan itu?”

“Baik, Ki Gede. Aku akan pergi ke sekat itu”

“Dengar, Bungkik” berkata Ki Cakrawara, “aku melihat kegiatan sekelompok prajurit di Pajang. Aku  pun melihat Manjung menjadi sangat ramai melebihi takaran”

“Pergilah, Bungkik. Mungkin ada gunanya kau berada di sekat itu. Tetapi ingat, jika kau bertindak, kau harus yakin bahwa tindakanmu itu tuntas. Jika kau ragu, lebih baik kau bersembunyi saja”

“Aku mengerti, Ki Gede”

Ajak Bungkik itu pun kemudian telah pergi menemui beberapa orang kawannya. Kepada mereka, Ajak Bungkik itu telah menyampaikan perintah Ki Gede Lenglengan untuk pergi ke sekat.

“Perintah seperti ini belum pernah diberikan oleh Ki Gede” berkata seorang kawannya.

“Ki Cakrawara yang mengusulkannya. Tetapi aku dapat mengerti kecemasan Ki Cakrawara itu. Ia baru saja datang dari Pajang. Ia seorang yang sangat berhati-hati”

“Baiklah. Tetapi siapa saja yang akan pergi bersama kita?”

“Tiga atau empat orang”

Tetapi ketika mereka menyampaikan perintah itu kepada seorang yang bertubuh tinggi besar dan berdada bidang, maka orang itu berkata, “Tunggu sebentar. Aku makan dulu. Sore tadi aku belum makan”

“Tetapi ini sudah hampir tengah malam. Kita akan sampai di sekat itu sedikit tengah malam”

“Biasanya juga tidak pernah diawasi. Tidak akan ada apa apa. Tidak ada orang yang pernah menyentuh lingkungan kita”

“Ki Cakrawara mencemaskan salah seorang di antara kita yang tertangkap akan membuka rahasia”

“Tidak akan terjadi. Tidak seorang  pun di antara kita yang akan membiarkan dirinya terkutuk selama-lamanya”

“Tetapi cepatlah sebelum Ki Gede Lenglengan tahu, bahwa kita masih berada di sini. Bukan karena rahasia sekat itu. Tetapi karena kita tidak segera melakukan perintahnya”

“Jika demikian, biarlah nasiku aku bawa saja. Aku dapat makan di mana saja”

Sebenarnyalah, ketika mereka berangkat meninggalkan padepokan untuk pergi ke sekat, malam  pun telah sampai ke pertengahannya. Embun  pun telah mulai menitik dari dedaunan.

Rumput-rumput yang tumbuh di tanggul-tanggul parit telah mulai basah. Di tengah-tengah sawah, di dedaunan padi, beribu kunang berkeredipan seperti beribu bintang yang bergayut di langit.

“Dinginnya” desah seorang yang berperut buncit.

Ajak Bungkik tertawa pendek. Katanya, “Kau sakit-sakitan saja selama ini”

“Aku tidak sakit-sakitan” jawab orang yang kedinginan.

“Justru kulitku masih peka terhadap perubahan cuaca”

Kawan-kawannya yang mendengarnya tertawa berbareng. Dalam pada itu, mereka yang mendapat tugas untuk mengawasi sekat itu berjalan dengan malas menuruni kaki Gunung Merapi. Di sebelah-menyebelah bulak yang luas membentang sampai ke ujung cakrawala.

Namun sebenarnyalah bahwa mereka telah terlambat. Menjelang tengah malam, orang terakhir dari kelompok terakhir prajurit Pajang telah memasuki lingkungan yang tersekat itu.

Mereka mengikuti Pangeran Benawa dan Paksi yang sudah mengenal lingkungan itu dengan baik.

Pasukan Pajang itu pun kemudian merayap di belakang gerumbul-gerumbul perdu, menyusuri sekat yang memanjang, menjauhi jalan utama di padepokan yang seakan-akan terpisah dari dunia di sekitarnya itu. Mereka pun kemudian berhenti di pategalan yang rimbun, mengatur diri.

Dengan jelas dan terperinci, Pangeran Benawa menguraikan
medan yang akan mereka hadapi.

Dengan demikian, maka Ki Tumenggung Yudatama pun segera memberikan perintah-perintah. Padepokan itu harus terkepung.

Tidak seorang  pun yang boleh lolos. Apalagi Ki Gede Lenglengan.

“Aku akan berada di dekat Ki Ajar Permati” berkata Ki Yudatama. “Demikian pula aku minta Pangeran Benawa dan Paksi juga ikut mengawasi agar Ki Gede Lenglengan tidak luput dari tangan kita”

Setelah memberikan perintah-perintahnya kepada para prajurit, maka Ki Yudatama pun kemudian berkata, “Sekarang, bergeraklah. Hati-hati. Kita tidak boleh kehilangan kesempatan terbaik ini”

Namun dalam pada itu, Paksi pun berkata, “Ki Tumenggung, meskipun menurut keterangan yang kami dapatkan, anak-anak muda yang dicadangkan bagi angkatan mendatang itu tidak ada di sini, namun aku minta agar para prajurit tetap melihat kemungkinan itu. Jika mereka menemui anak-anak muda dalam kelompok tertentu, aku mohon, agar mereka mendapat perlakuan yang khusus. Mungkin mereka adalah anak-anak muda yang sedang diracuni otaknya itu”

“Bukankah kau ingin mengatakan, bahwa kita jangan mengganggu adikmu?”

“Seperti itu, Ki Tumenggung. Tetapi tidak seutuhnya. Selain adikku, maka anak-anak muda itu juga harus mendapat perlakuan khusus”

“Baik. Aku akan memerintahkannya kepada setiap pemimpin kelompok”

Sejenak kemudian, maka pesan-pesan terakhir pun telah diberikan. Serentak, para prajurit itu pun mulai bergerak sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang telah mereka terima.

Di malam yang gelap, kelompok-kelompok prajurit itu telah merayap di sepanjang pematang, mendekati sebuah padepokan yang terhitung besar, justru berada di dunia yang seakan-akan terpisah dari dunia yang lain.

Mereka semuanya, termasuk Ki Tumenggung Yudatama belum pernah melihat lingkungan itu. Tetapi petunjuk dan ancar-ancar yang diberikan oleh Pangeran Benawa dan Paksi demikian jelasnya, sehingga seakan-akan mereka merasa pernah datang mengunjungi dunia yang terpisah itu.

Malampun semakin lama menjadi semakin dalam. Semua prajurit Pajang telah berada di tempatnya. Mereka tinggal menunggu isyarat sebagaimana disepakati. Panah sendaren. Ki Tumenggung Yudatama telah mengisyaratkan pula kepada para prajuritnya, bahwa mereka dapat memanfaatkan saat-saat terakhir untuk sekedar beristirahat menjelang fajar menyingsing.

Dalam pada itu, Ajak Bungkik dan kawan-kawannya yang berada di mulut sekat yang memisahkan dunianya dengan dunia di luarnya, duduk terkantuk-kantuk di atas sebongkah batu yang besar. Dengan mata yang separo terpejam, orang yang bertubuh tinggi, berbadan besar itu pun berkata, “Untuk apa kita berada di sini sampai fajar merekah? Kita bukan orang-orang yang menyempatkan diri mengagumi terbitnya matahari di pagi hari”

“Pada saat terang tanah, kita kembali” berkata orang yang perutnya buncit.

“Tidak” sahut Ajak Bungkik, “kita akan berada di sini sampai matahari terbit. Setelah itu, baru kita yakin bahwa tidak ada orang yang menyusup memasuki lingkungan ini”

Yang lain tidak membantah. Tetapi orang yang bertubuh tinggi besar itu justru berbaring di atas baru yang besar meskipun sambil menggeramang, “Batunya basah. Apakah tadi di sini hujan?”

“Kau benar-benar bodoh. Batu itu tidak basah karena hujan. Tetapi oleh embun”

“O” orang itu tidak menghiraukannya. Hanya beberapa saat saja kemudian ia sudah mendengkur.

Ketika seorang kawannya akan membangunkannya, Ajak Bungkik itu berkata, “Biar saja. Bukankah kita tidak berbuat
apa-apa?”

“Apakah aku juga boleh tidur?” bertanya orang itu.

“Tidurlah” jawab Ajak Bungkik.

Orang itu memang benar-benar akan berbaring. Tetapi ternyata tidak ada tempat yang kering, sehingga akhirnya ia duduk saja sambil memeluk lututnya.

Dalam pada itu, langit pun mulai menjadi terang. Cahaya merah nampak membayang di atas cakrawala di sebelah timur.

“Sudah siang” berkata orang yang perutnya buncit.

“Kenapa kita harus tergesa-gesa” sahut Ajak Bungkik. Orang yang perutnya buncit itu tidak menyahut.

Dalam pada itu, Ki Tumenggung Yudatama yang sudah berada di tempat yang ditentukan, telah memanggil dua orang penghubungnya. Dari tempatnya, Ki Tumenggung telah melihat remang-remang padepokan yang terhitung besar itu dikelilingi oleh dinding yang kokoh.

“Fajar sudah menyingsing” berkata Ki Tumenggung Yudatama yang mengambil keputusan untuk menyerang padepokan itu setelah fajar. Ki Tumenggung mempertimbangkan, bahwa para penghuni padepokan itu tentu telah mengenal medan jauh lebih baik dari para prajuritnya, sehingga jika pertempuran terjadi malam hari, prajuritnya akan mengalami kesulitan menghadapi medan. Karena itu, untuk mencari keseimbangan atas medan, maka Ki Tumenggung telah menentukan bahwa serangan akan dimulai setelah fajar.

Setelah semuanya dianggap mapan, maka Ki Tumenggung pun bertanya kepada Ki Ajar Permati, “Bagaimana menurut pertimbangan Ki Ajar?”

“Aku kira saatnya sudah tepat, Ki Tumenggung”

“Baiklah. Aku akan memerintahkan para penghubung yang bertugas untuk melepaskan panah sendaren” Lalu katanya kepada Pangeran Benawa dan Paksi, “Aku mohon Pangeran Benawa mempersiapkan diri. Aku akan segera mulai”

“Baik, Ki Tumenggung”

“Dan kau juga, Paksi”

“Ya, Ki Tumenggung”

Ki Tumenggung pun kemudian telah mengangkat tangannya, sementara itu lima orang telah bersiap dengan busur dan panah sendarennya.

Ketika Ki Tumenggung Yudatama menurunkan tangannya, maka kelima anak panah sendaren itu pun telah meluncur dengan cepat ke udara.

Sejenak kemudian, dengung anak panah sendaren itu pun telah menggetarkan udara di atas padepokan yang letaknya terpencil itu.

Seluruh isi padepokan yang sudah terbangun terkejut mendengar suara sendaren itu. Yang masih tidur karena bertugas di malam hari telah terbangun pula.

“Ada apa ini?” bertanya Ki Gede Lenglengan yang juga sudah bangun.

Dengan tergesa-gesa Ki Cakrawara pun menemui Ki Gede sambil berkata, “Ki Gede, ternyata kecurigaanku atas kesibukan para prajurit serta kesibukan di Manjung yang melampaui takaran itu terbukti sekarang”

“Terbukti bagaimana?”

“Kau dengar suara panah sendaren?”

“Ya. Aku dengar”

“Apa artinya menurut pendapatmu?”

“Akan ada serangan”

“Kau benar”

Ki Cakrawara menarik nafas dalam-dalam, sementara Ki Gede Lenglengan itu pun berkata, “Lalu setelah aku mengakui kebenaranmu, maka kita akan bertempur melawan mereka”

“Ya. Tetapi apa kerja Ajak kerdil itu, he?”

“Mungkin Ajak Bungkik itu sudah mati dibunuh orang-orang yang datang itu”

“Mungkin” desis Ki Cakrawara.

Dalam pada itu, beberapa orang kepercayaan Ki Gede berlari-lari menemuinya.

“Bukankah suara itu suara panah sendaren?” bertanya Wira Sampak.

“Ya” jawab Ki Gede Lenglengan.

“Apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang, Ki Gede?”

“Pertanyaan yang bodoh. Bukankah kita semua sudah tahu, bahwa kita harus segera bersiap dan menghadapi mereka?”

“Apakah kita harus mengerahkan semua kekuatan, Ki Gede? Bagaimana dengan orang-orang yang selama ini kita pekerjakan di padepokan ini?” bertanya Sura Sangga.

“Bukankah sebagian dari mereka sudah mulai dapat kita percaya bahwa mereka akan bertempur untuk kita?”

“Ya. Sebagian”

“Mereka yang masih sangat meragukan, masukkan saja ke dalam bilik tahanan. Tutup semua pintu dan selarak dengan kuat”

“Baik, Ki Gede”

“Kita harus bergerak cepat, Ki Gede” berkata Ki Cakrawara.

“Ya. Tetapi orang-orangku tidak menduga bahwa hal seperti ini akan terjadi”

“Kita harus segera mengatur pertahanan sebaik-baiknya”

Ki Gede Lenglengan pun kemudian telah memberikan perintah-perintah kepada beberapa orang kepercayaannya yang datang menemuinya. Pada umumnya mereka merasa gelisah. Peristiwa itu demikian tiba-tiba saja dihadapkan di muka hidung mereka.

Namun pengalaman mereka yang luas telah dapat menuntun mereka untuk segera berada di tempat-tempat yang penting untuk mempertahankan padepokan mereka.

Tetapi para prajurit telah bergerak dengan cepat. Ketika sekelompok orang di dalam padepokan itu bergerak untuk menutup pintu gerbang yang terbuka, maka beberapa orang prajurit telah berada di pintu gerbang, sehingga pertempuran pun segera terjadi.

Sura Sangga yang berdiri di halaman depan itu pun telah meneriakkan aba-aba. Sementara Wira Sampak memimpin sekelompok orang di bagian belakang padepokannya. Sedangkan kepercayaan Ki Gede Lenglengan yang lain, telah berteriak-teriak di antara barak-barak di padepokan itu. Namun sebagian dari mereka telah memasukkan beberapa orang pekerja yang masih dianggap meragukan ke dalam bilik tahanan yang memanjang namun tertutup rapat. Pintu-pintunya pun telah diselarak dengan kuat. Beberapa orang masih juga mendapat perintah untuk menjaga orang-orang yang masih dianggap meragukan itu.

Dalam pada itu, Ajak Bungkik masih berada di sekat yang memisahkan padepokannya dengan dunia luar. Ia tidak mendengar suara panah sendaren yang dilontarkan oleh para penghubung prajurit Pajang itu. Karena itu, Ajak Bungkik itu masih saja berada di tempatnya.

Baru kemudian, setelah langit menjadi semakin terang, ia pun mengajak kawan-kawannya untuk kembali ke padepokan.

Namun seorang di antara kawan-kawannya itu pun bertanya, “Apakah tidak mungkin, seseorang atau sekelompok orang memasuki sekat ini di siang hari?”

“Tidak. Orang-orang tersesat mungkin saja memasuki lingkungan kita meskipun ia tidak gila. Namanya saja juga tersesat. Artinya, ia tidak tahu di mana ia berada dan ke mana ia harus pergi”

“Tetapi mereka tidak akan menemukan jalur jalan untuk melampaui sekat yang rumit itu”

“Mungkin justru tanpa disengaja”

“Kau tidak yakin, bahwa sekat itu telah memisahkan kita dari dunia luar?” Ajak Bungkik mulai menjadi jengkel.

Kawan-kawannya tidak menjawab. Jika Ajak Bungkik itu marah, maka ia tentu akan mengajak bertengkar dan kemudian menantang berkelahi. Di antara mereka, bahkan yang bertubuh raksasa itu, tidak akan ada yang dapat mengalahkan Ajak Bungkik.

Dengan demikian, maka pembicaraan mereka pun terputus. Mereka berjalan saja seenaknya sambil menikmati segarnya
udara pagi di kaki Gunung Merapi.

Burung-burung liar pun terdengar berkicau dengan gembira. Suaranya mengumandang menyusup di antara dedaunan. Ajak Bungkik itu menarik nafas panjang. Jarang sekali ia sempat memperhatikan, betapa segarnya udara pagi di kaki Gunung Merapi itu. Bahkan tiba-tiba saja Ajak Bungkik itu terkejut melihat ujung Gunung Merapi yang menjadi merah menyala. Seakan-akan ujung gunung itu sedang membara.

“He, apa yang terjadi?”

“Ada apa?” bertanya kawannya.

“Kenapa ujung Gunung Merapi itu?”

“Apakah kau belum pernah melihatnya?”

Ajak Bungkik itu terdiam. Sementara kawannya berkata, “Sebentar lagi matahari akan terbit. Sinarnya sudah mulai terlempar ke ujung gunung itu. Warna merah itu akan menjalar menuruni tebing. Namun kemudian akan hilang dengan sendirinya jika matahari kemudian sudah mulai nampak”

Ajak Bungkik itu mengerutkan dahinya. Tiba-tiba saja jantungnya menjadi berdebar-debar. Menurut perasaannya, alam pagi itu menjadi sangat ramah kepadanya. Oleh hembusan angin pagi, daun padi yang hijau segar itu seakan-akan melambaikan tangannya, mengucapkan selamat jalan kepadanya.

“Aku tidak akan pergi ke mana-mana” tiba-tiba saja Ajak Bungkik itu berdesis.

“Apa yang kau katakan?” bertanya kawannya yang mendengar desis Ajak Bungkik itu, tetapi tidak jelas bunyinya.

“Tidak apa-apa” sahut Ajak Bungkik itu.

Semakin lama, mereka pun menjadi semakin dekat dengan padepokan mereka yang tertutup di tempat terpencil itu.

Dalam pada itu, pertempuran sudah berlangsung dengan sengitnya. Terutama di pintu gerbang. Sekelompok prajurit berusaha menembus pintu gerbang yang akan ditutup itu.

Namun para prajurit dengan cepat dapat mencegahnya, sehingga pertempuran telah terjadi.

Sementara itu, beberapa orang prajurit yang lain berusaha untuk memasuki padepokan itu dari pintu butulan. Ada beberapa pintu butulan yang sempat ditutup dan diselarak dari dalam.

Namun para prajurit itu berusaha untuk memecahkan pintu butulan itu.

Adalah satu kelengahan, bahwa orang-orang padepokan itu merasa bahwa tempatnya tidak akan terusik. Karena itu, maka pintu gerbang maupun pintu-pintu butulan tidak dibuat cukup kuat sehingga mudah dipecahkan.

Seorang prajurit yang bertubuh tinggi besar mengayunkan kapaknya untuk memecah pintu butulan itu. Sekali dua kali, kapaknya masih belum berhasil. Namun kemudian daun pintu regol butulan itu pun mulai pecah.

Dalam pada itu, sekelompok pengikut Ki Gede Lenglengan telah bersiap-siap di belakang pintu regol butulan itu untuk menyongsong para prajurit yang akan segera memasuki halaman samping padepokan yang untuk beberapa lama terpisah dari dunia di sekitarnya.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, pintu regol butulan itu pun benar-benar telah pecah. Demikian pintu itu roboh, maka ujung-ujung senjata pun telah mencuat dari belakang pintu yang roboh itu.

Tetapi para prajurit pun telah siap menghadapinya. Sekelompok prajurit yang membawa perisai di tangan kirinya, bergerak maju sambil melindunginya dirinya.

Ternyata bahwa para pengikut Ki Gede Lenglengan di pintu gerbang butulan itu sulit untuk membendung arus yang mendesak dari luar, yang datang melanda dengan derasnya seperti arus air yang meluap dari bendungan yang dadal.

Dengan demikian, maka pertempuran pun mulai merembes ke dalam lingkungan padepokan. Sementara para prajurit belum berhasil menembus pertahanan di pintu gerbang utama, karena para pengikut Ki Gede Lenglengan mempertahankan mati-matian, sekelompok prajurit yang lain telah berhasil masuk ke dalam padepokan lewat regol butulan.

Seorang penghubung pun segera memberitahukan kepada kelompok-kelompok yang lain, agar mereka memasuki pintu yang sudah berhasil dibuka itu.

Sekelompok prajurit yang memasuki regol butulan yang terbuka itu pun langsung berlari-larian ke pintu gerbang induk. Beberapa di antara mereka terhenti karena para pengikut Ki Gede Lenglengan telah menghambatnya. Namun sebagian yang lain telah berhasil mencapai pintu gerbang induk.

Dengan mengerahkan kekuatan yang ada, mereka telah menyerang para pengikut Ki Gede Lenglengan yang bertahan di pintu gerbang induk itu dari belakang.

Mereka yang mempertahankan pintu gerbang induk itu terkejut. Baru mereka sadari, bahwa salah satu pintu butulan tentu sudah terbuka, sehingga para prajurit itu dapat memasuki dinding padepokan. Bahkan semakin lama menjadi semakin banyak.

Sura Sangga yang memimpin para cantrik di halaman depan, masih saja berteriak-teriak memberikan aba-aba. Namun karena prajurit Pajang masih saja mengalir, maka para cantrik yang mempertahankan pintu gerbang utama itu telah mengalami kesulitan. Mereka harus bertempur melawan pasukan yang datang dari luar. Tetap mereka  pun harus menghadapi para prajurit yang sudah berhasil memasuki padepokan itu.

Apalagi ketika sekelompok prajurit telah berhasil membuka satu pintu butulan lagi dari dalam. Mereka mengangkat selarak yang berat dan kemudian membuka pintu regol butulan itu.

Ki Gede Lenglengan dan Ki Cakrawara tidak dapat tinggal diam. Setiap kali pengikutnya telah datang menemui mereka, memberikan laporan tentang arus prajurit Pajang yang tidak terbendung.

“Kau yakin, bahwa mereka adalah prajurit Pajang?”

“Ya, Ki Gede. Nampak beberapa tunggul yang dibawa oleh para prajurit. Ada pula kelebet lambang kelompok-kelompok di dalam kesatuan mereka lebih besar”

“Bagaimana mereka dapat mengetahui tempat ini?”

“Tentu ada pengkhianatan. Bukankah aku sudah memperingatkanmu, bahwa di antara mereka yang tertangkap, tentu akan dapat terungkap keterasingan padepokanmu ini?” sahut Ki Cakrawara.

“Pengkhianat itu tentu akan dikutuk sepanjang jaman”

“Kalau ia terkutuk sepanjang jaman, apa yang akan terjadi padanya?”

“Ia akan dibakar di api neraka”

“Apakah mereka percaya kepada neraka?”

“Tentu. Setiap orang harus mempercayainya”

“Kau juga percaya?”

Ki Gede Lenglengan termangu-mangu sejenak.

Namun sambil tertawa Ki Cakrawara itu pun berkata, “Jika kau percaya bahwa orang-orang yang terkutuk akan masuk neraka, maka kau tidak akan berbuat sebagaimana kau lakukan selama ini”

“Kau juga”

“Itulah anehnya” Namun Ki Cakrawara itu pun berkata, “Sudahlah. Waktu kita sedikit. Kita akan turun ke medan”

Ki Gede Lenglengan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita tidak perlu cemas. Tidak ada orang yang dapat mengimbangi ilmuku. Aku akan membunuh mereka seorang demi seorang sampai orang yang terakhir”

“Dan kau masih juga mengatakan, bahwa kau percaya bahwa orang-orang yang terkutuk akan dilemparkan ke neraka?”

“He?”

“Sudahlah. Turunlah ke medan. Kau tidak boleh terlalu sombong dan merendahkan lawan-lawanmu. Kau akan menyesal”

Tetapi Ki Gede Lenglengan tertawa. Katanya, “Aku tidak pernah merendahkan lawan-lawanku. Salah mereka jika mereka benar-benar rendah di mataku. Tidak akan ada orang yang mampu menyamai kemampuanku sekarang ini”

Ki Cakrawara pun kemudian telah beranjak dari tempatnya sambil berkata, “Aku akan melihat medan. Terserah kepadamu. Padepokan ini adalah padepokanmu. Jika kau masih akan duduk sambil melamun, lakukanlah. Tetapi kau akan terkejut jika tiba-tiba ujung sebilah keris melekat di lehermu”

Ki Gede Lenglengan tidak menjawab. Tetapi ia tertawa berkepanjangan.

Dalam pada itu, Ki Cakrawara pun telah turun ke longkangan di belakang bangunan utama Padepokan Watukambang. Bersama dengan dua orang pengawalnya, Ki Cakrawara itu pun melangkah ke samping. Dari longkangan sudah terdengar riuhnya pertempuran. Beberapa orang telah berteriak-teriak keras sekali.

Sementara itu di sisi yang lain, sekelompok orang bersorak-sorak menyoraki kemenangan-kemenangan kecil yang mereka dapatkan di medan.

Langkah Ki Cakrawara tertegun. Ki Gede Lenglengan telah memanggilnya.

“Aku pergi bersamamu, Ki Cakrawara” berkata Ki Gede Lenglengan.

Ki Cakrawara memang menunggu Ki Gede Lenglengan yang diikuti oleh sepuluh orang pengawalnya yang terbaik.

“Di mana pemimpin mereka?” bertanya Ki Gede Lenglengan kepada orangnya yang memberikan laporan kepadanya itu.

“Kami tidak tahu, Ki Gede. Yang kami ketahui hanyalah pemimpin-pemimpin kelompok di antara mereka. Tetapi kami belum melihat senapati mereka yang memegang pimpinan tertinggi pasukan Pajang itu”

“Mungkin senapati itu mempergunakan ciri khusus. Tetapi mungkin pula tidak”

“Kita tidak usah mencarinya” berkata Ki Cakrawara. “Jika kita berada di halaman depan, membunuh lawan sebanyak-banyaknya, maka pemimpin mereka tentu akan menemui kita”

Ki Gede Lenglengan tertawa. Katanya, “Aku setuju. Aku  pun akan membunuh sebanyak-banyaknya. Bahkan prajurit Pajang yang ada di halaman depan itu akan mati semuanya jika kita berada di antara mereka”

Ki Cakrawara tidak menjawab. Tetapi ia melangkah semakin cepat menuju ke halaman depan Padepokan Watukambang. Tetapi langkah mereka tertegun. Sekelompok prajurit berlari-lari ke arah mereka.

Para pengawal Ki Gede Lenglengan dan Ki Cakrawara segera menyongsong para prajurit itu, sehingga mereka pun segera terlibat dalam pertempuran.

Ki Cakrawara dan Ki Gede Lenglengan sempat menyaksikan pertempuran itu sejenak. Namun mereka pun kemudian telah meninggalkan mereka. Berdua, tanpa seorang pengawal  pun keduanya pergi ke halaman depan.

Para prajurit yang bertempur dengan para pengawal Ki Gede dan Ki Cakrawara itu tidak sempat meninggalkan lawan-lawan mereka karena mereka segera terlibat dalam pertempuran yang sengit.

Para pengawal terpilih itu segera telah mendesak sekelompok prajurit yang menyerang mereka dengan hentakan-hentakan yang sempat mengejutkan.

Namun para prajurit itu pun segera bangkit. Mereka adalah prajurit yang telah mengalami latihan khusus untuk menghadapi tugas yang terberat sekalipun. Karena itu, maka sekelompok prajurit itu pun segera menghimpun kekuatan mereka mengimbangi hentakan-hentakan para pengawal Ki Gede Lenglengan dan Ki Cakrawara.

Dengan demikian, maka pertempuran pun menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak memiliki kelebihan dari yang lain, sehingga mereka saling menyerang, saling mendesak dan saling bertahan.

Dalam pada itu, Ki Cakrawara dan Ki Gede Lenglengan telah berada di halaman depan. Mereka menyaksikan pertempuran yang menjadi semakin seru. Prajurit Pajang yang memasuki halaman depan itu menjadi semakin banyak.

Ki Cakrawara termangu-mangu sejenak melihat kesigapan para prajurit Pajang. Mereka adalah prajurit-prajurit yang benar-benar telah terlatih dengan baik.

“Kau biarkan saja orang-orangmu semakin menyusut?” bertanya Ki Cakrawara.

“Gila, orang-orang Pajang. Mereka mengira bahwa hanya mereka sajalah yang mampu bertempur dengan garang”

“Jangan tunggu sampai orangmu yang terakhir”

Ki Gede Lenglengan pun menggeram. Ia pun kemudian melangkah memasuki medan pertempuran bersama Ki Cakrawara.

Kedua orang itu ternyata adalah orang-orang yang terlalu garang. Ketika para prajurit menyadari bahwa keduanya adalah orang yang berilmu tinggi, maka para prajurit itu pun segera bertempur di dalam kelompok-kelompok kecil untuk menghadapi Ki Cakrawara dan Ki Gede Lenglengan.

Namun kelompok-kelompok kecil itu ternyata tidak mampu menahan gerak Ki Cakrawara dan Ki Gede Lenglengan. Satu-satu prajurit yang bertempur dalam kelompok-kelompok kecil itu terlempar dari arena.

Ki Cakrawara dan Ki Gede Lenglengan memang benar-benar berniat melaksanakan niatnya untuk membunuh lawan sebanyak-banyaknya. Namun tiba-tiba saja Ki Gede Lenglengan tertegun. Seperti melihat hantu, ia melihat seorang tua yang menguak prajurit Pajang yang sedang bertempur itu.

“Apakah aku berhadapan dengan hantu?” desis Ki Gede Lenglengan.

Ki Cakrawara yang mendengar suara Ki Gede itu pun meloncat mendekatinya sambil bertanya, “Ada apa?”

“Orang itu”

“Kenapa dengan orang itu?”

Ki Gede Lenglengan tidak segera menjawab. Orang tua itulah yang melangkah semakin lama menjadi semakin dekat.

Orang itu berhenti beberapa langkah di depan Ki Gede Lenglengan yang telah ditinggalkan oleh sekelompok prajurit Pajang yang bertempur melawannya.

Ki Cakrawara pun telah berhenti bertempur pula. Ia melihat betapa wajah Ki Gede Lenglengan menjadi tegang seakan-akan Ki Gede itu benar-benar melihat hantu.

“Kau masih ingat kepadaku, Lenglengan?” bertanya orang yang melangkah mendekat itu.

Ki Gede Lenglengan menjadi sangat tegang. Dipandanginya orang itu dengan tajamnya, seakan-akan sorot matanya itu langsung menembus sampai ke jantung.

“Kau tentu tidak lupa kepadaku, Lenglengan. Aku memang bertambah tua dari tahun ke tahun. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir ini, aku tidak terlalu banyak berubah. Aku tahu itu, jika aku bercermin di belumbang”

“Iblis tua .Bukankah kau sudah mati?”

“Kaulah yang mengira bahwa aku sudah mati. Tetapi aku belum mati, Lenglengan. Jika aku sudah mati, maka tentu aku sekarang tidak akan berada di sini”

“Siapa orang ini, Ki Gede?” bertanya Ki Cakrawara.

“Ajar Permati. Namanya Ajar Permati. Ia sudah mati beberapa tahun yang lalu. Aku sendiri melemparkan mayatnya ke dalam jurang. Tetapi agaknya ia telah menjadi hantu atau iblis, sehingga ia sempat datang kepadaku pada waktu yang gawat seperti ini”

“Kau terlalu tergesa-gesa mengambil kesimpulan pada waktu itu, Lenglengan. Ternyata waktu aku kau lemparkan ke jurang itu, aku belum mati”

“Jadi, kaulah yang menjadi cecunguk para prajurit Pajang ini? Kau bawa mereka untuk membalas dendam kepadaku?”

“Bukan aku. Aku memang bekerja sama dengan para prajurit Pajang, Lenglengan. Tetapi tidak semata-mata untuk membalas dendam. Aku datang untuk menghentikan kegiatanmu, mempersiapkan kekacauan di masa depan. Para prajurit Pajang telah mencium usahamu meracuni anak-anak muda, bekerja sama dengan Harya Wisaka, untuk membentuk apa yang kalian namakan angkatan mendatang”

“Omong kosong. Kau tidak tahu apa-apa tentang angkatan mendatang”

“Aku memang tidak tahu apa-apa. Para prajurit Pajanglah yang tahu tentang angkatan mendatang itu. Karena itu, mereka telah datang kemari”

“Kau manfaatkan kesempatan ini untuk membalas dendam?”

“Lenglengan, jika kau mau menyerah kepada para prajurit Pajang, maka aku akan melupakan apa yang telah terjadi. Buat apa aku mendendammu?”

“Kau licik, Permati. Kau hadapi aku dengan cara yang tidak pantas”

“Aku tidak tahu maksudmu, Lenglengan”

“Jika kau datang tanpa prajurit Pajang, aku akan menghormatimu. Jika kau ingin membuat penyelesaian antara dua orang laki-laki, aku akan melayanimu. Tetapi cara yang kau tempuh ini sangat memuakkan”

“Lenglengan, sudah aku katakan, bahwa prajurit Pajang itu datang karena kau berdiri di pihak Harya Wisaka. Bahkan kau sudah mempersiapkan apa yang kau sebut angkatan mendatang. Karena itu, maka Pajang merasa perlu untuk menghancurkan padepokan ini. Karena itu, sebelum pertumpahan darah ini menjadi semakin berlarut, menyerah sajalah. Jika kau menyerah, persoalan di antara kita  pun akan aku lupakan”

“Permati, kau akan melihat bahwa sebentar lagi orang terakhir dari prajurit Pajang itu akan mati. Aku akan membunuh mereka semuanya. Tidak seorang  pun akan tertinggal. Nah, kemudian kita akan menyelesaikan persoalan kita”

“Sudahlah. Jangan berbelit-belit. Sebaiknya kau segera menyerah. Dengan demikian, maka jumlah kematian akan dikurangi. Sementara itu persoalan di antara kita pun akan kita anggap sudah selesai”

“Cukup, Permati. Kau tidak usah banyak bicara. Jika kau memang datang untuk menjajagi kemampuanku, aku akan melayanimu”

“Baiklah, Lenglengan. Jika kau benar-benar mengeraskan hatimu”

“Aku selesaikan tugasku sebagai pemimpin padepokan ini dahulu, Permati. Baru akan melayanimu”

“Tidak. Aku tidak akan membiarkan kau membunuh lagi. Menurut pendapatku, kau sudah terlalu banyak membunuh”

“Tetapi aku masih akan membunuh lagi. Setidak-tidaknya seorang”

“Aku tahu. Tentu akulah yang kau maksud. Tetapi kau akan kecewa bahwa kau tidak akan berhasil melakukannya”

Ki Gede Lenglengan tertawa. Katanya, “Kau sedang berkhayal, Permati”

Namun Cakrawara tiba-tiba menyela, “Kenapa kau hanya berbicara saja, Lenglengan? Lakukan yang akan kau lakukan. Aku akan berada di antara mereka yang sedang bertempur. Jika kau tidak dapat melakukannya karena kau melayani orang itu, biarlah aku membunuh semua prajurit yang ada di halaman ini”

Ki Gede Lenglengan mengangguk. Katanya, “Biarlah. Biarlah Sura Sangga membantumu. Sebelum matahari sampai ke puncak, semua prajurit yang memasuki padepokan ini sudah akan mati. Ajar yang malang inilah yang justru akan mati lebih dahulu”

Ki Ajar Permati tidak menjawab. Tetapi ia tersenyum sambil bergeser selangkah surut.

Seperti yang dikatakannya, maka Ki Cakrawara pun segera meninggalkan Ki Gede Lenglengan terjun ke medan pertempuran. Dengan ilmunya yang sangat tinggi, maka Ki Cakrawara yakin, bahwa ia akan dapat membunuh seberapa saja yang ia kehendaki. Apalagi di halaman itu terdapat juga para pengikut Ki Gede Lenglengan yang dipimpin oleh Sura Sangga. Dengan garangnya, maka Ki Cakrawara itu bertempur menghadapi sekelompok kecil prajurit Pajang.

Dalam waktu yang singkat, dua di antara para prajurit terpilih dari Pajang itu telah terlempar dari arena. Meskipun mereka masih dapat bangkit berdiri, namun dari mulut mereka mengalir darah. Dada mereka terasa bagaikan terhimpit oleh sebongkah batu karang. Sehingga karena itu, maka keduanya sudah tidak mampu lagi untuk bertempur melawan Ki Cakrawara yang garang itu.

Sekejap kemudian, maka seorang prajurit Pajang menggeliat ketika lambungnya tersentuh tiga jari-jari tangan Ki Cakrawara.

Namun prajurit itu pun segera jatuh terbaring di tanah, sehingga hampir saja tubuhnya justru terinjak oleh kawannya sendiri.

Namun kawan-kawannya masih belum sempat mengangkat dan menyingkirkan tubuh itu menepi. Ki Cakrawara benar-benar menjadi sangat garang. Jari-jari tangannya yang kokoh mengembang, menerkam orang-orang terdekat. Ketika jari-jari itu sempat menyentuh pundak seorang prajurit, maka pundak itu pun terkoyak.

Namun Ki Cakrawara itu terkejut ketika di antara prajurit Pajang itu terdapat seorang yang masih terhitung muda, langsung menghadapinya. Bahkan orang itu  pun telah minta kepada para prajurit untuk meninggalkannya.

“Serahkan orang ini kepadaku” berkata orang yang masih terhitung muda itu.

Ki Cakrawara meloncat surut. Diamatinya orang itu dengan seksama. Namun tiba-tiba saja ia pun berdesis, “Kaukah Pangeran Benawa?”

“Kau pernah mengenal aku? Kapan dan di mana?” bertanya Pangeran Benawa.

“Kau dikenali setiap orang di kotaraja. Kau sering berkuda berkeliling kota. Kau sering bermain sodoran di alun-alun. Kau justru berada di mana-mana. Bahkan di pasar dan di pasar hewan”

“Kau kenali aku meskipun aku tidak mengenakan pakaian kepangeranan?”

“Mataku lebih tajam dari mata burung hantu di malam hari, Pangeran. Mungkin orang lain tidak dapat mengenalimu. Tetapi kau tidak dapat mengelabuhi aku”

“Baik. Aku tidak akan ingkar. Aku memang Benawa”

“Kenapa Pangeran berada di sini dalam keadaan yang buruk ini, bahkan akan dapat membahayakan jiwa Pangeran?”

“Aku berada di dalam pasukan Pajang yang datang untuk menangkap Ki Gede Lenglengan”

“Kenapa Ki Gede Lenglengan harus ditangkap?”

“Kau tentu tahu jawabnya” sahut Pangeran Benawa. Namun kemudian ia pun bertanya, “Kau siapa, Ki Sanak?”

“Namaku Cakrawara, Pangeran. Aku dikenali sebagai seorang yang memiliki ilmu siluman, meskipun sebenarnya tidak. Ilmuku adalah ilmu yang wajar-wajar saja. Tetapi karena aku ditempa oleh seorang yang ilmunya sangat tinggi dan kemudian aku berhasil menyadap sampai tuntas, maka aku  pun berilmu sangat tinggi”

“Mengagumkan. Karena itu agaknya maka kau dapat menghalau beberapa orang prajurit dalam waktu dekat”

“Ya. Dalam waktu yang pendek, prajurit-prajurit Pajang di padepokan ini akan mati. Apalagi setelah Ki Gede Lenglengan membunuh orang tua yang namanya Permati itu, maka para prajurit Pajang akan segera dilibat oleh angin pusaran yang dahsyat, sehingga boleh keluar dari padepokan yang tersekat ini hidup-hidup”

“Kau tentu bukan murid Ki Gede Lenglengan”

“Tentu bukan”

“Apa hubunganmu dengan Ki Gede Lenglengan?”

“Aku sahabatnya. Aku bekerja sama dengan Ki Gede Lenglengan untuk menangkap masa depan. Setelah Harya Wisaka ditangkap, maka kami harus menyusun rencana sendiri”

“Dalam mimpimu kau menganyam masa depan. Bangunlah, dan hadapi kenyataan ini. Kau tidak akan dapat berbuat banyak di hadapan para prajurit pilihan”

“Kau lihat, Pangeran. Dalam waktu sekejap aku telah menyingkirkan beberapa orang prajurit. Bukankah akan sangat mudah membunuh mereka? Para cantrik padepokan inilah yang akan menghabisi mereka yang sudah tidak berdaya”

“Aku akan menghentikanmu, Cakrawara”

“Pangeran akan melibatkan diri?”

“Aku sudah melibatkan diri. Aku adalah salah satu dari para prajurit Pajang itu”

“Baik. Kau pun memang harus dibunuh karena kau akan dapat membuka rahasia padepokan yang tersembunyi ini”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya ia berhadapan dengan seorang yang terlalu yakin akan ilmunya yang sangat tinggi.

Pangeran Benawa pun kemudian bergeser selangkah surut. Dipersiapkannya dirinya untuk menghadapi segala kemungkinan.

Pangeran Benawa pun menyadari, bahwa lawannya memang seorang yang berilmu tinggi.

“Pangeran” berkata Ki Cakrawara, “kedatangan Pangeran agaknya memang sudah menjadi keharusan, bahwa Pajang akan kehilangan putera mahkotanya. Umur Pajang memang tidak akan lebih panjang dari umur Sultan Hadiwijaya sendiri”

Tetapi Pangeran Benawa itu tersenyum. Katanya, “Kau terlalu yakin akan kemampuanmu. Aku percaya, Cakrawara. Tetapi apa yang terjadi, tidak hanya tergantung kepadamu saja, tetapi juga tergantung kepada orang lain, tergantung kepada keadaan dan lingkungan dan yang menentukan adalah justru Yang Maha Agung”

Ki Cakrawara tertawa. Katanya, “Kau mencari sandaran karena kau mengakui akan kelemahanmu, Pangeran”

“Ternyata kau tidak mengerti apa yang aku katakan. Baiklah. Nanti kau akan mengerti, apa yang sebenarnya terjadi”

Ki Cakrawara masih saja tertawa. Sementara Pangeran Benawa sudah siap untuk bertempur.

“Sayang sekali, bahwa kau tidak akan berumur panjang, Pangeran. Tetapi itu adalah karena kesalahanmu sendiri. Seharusnya, seorang putera mahkota tidak berkeliaran bersama para prajurit yang sedang bertugas”

“Aku senang dapat bertemu dengan kau, Cakrawara” jawab Pangeran Benawa. “Kau telah melengkapi sifat-sifat orang yang selama ini aku kenal”

Cakrawara mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun berkata, “Jaga dirimu baik-baik, Pangeran”

Pangeran Benawa tidak menjawab lagi. Ketika kemudian Cakrawara itu menyerang, maka Pangeran Benawa pun bergeser menghindar.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah terlibat dalam pertempuran yang semakin lama semakin sengit. Namun dengan demikian, maka Pangeran Benawa tidak sempat untuk ikut menjaga agar Ki Gede Lenglengan tidak meninggalkan medan jika ia terdesak oleh Ki Ajar Permati.

“Mudah-mudahan Paksi dapat melakukannya” berkata Pangeran Benawa di dalam hatinya.

Namun Paksi pun ternyata harus bertempur menghadapi seorang yang memiliki kelebihan dari orang yang lain. Ketika ia melihat Sura Sangga mengamuk, maka Paksi tidak dapat membiarkannya.

Sura Sangga dengan beberapa orang cantrik dari Padepokan Watukambang itu bertempur dengan garangnya. Para cantrik itu sendiri tidak terlalu banyak dapat berbuat menghadapi para prajurit yang terlatih dengan baik. Tetapi agaknya Sura Sangga memiliki kelebihan. Sambil berteriak-teriak memberikan perintah-perintah yang dapat membesarkan hati para cantrik itu, Sura Sangga yang bersenjata sebuah golok yang besar telah mengaduk medan.

Ketika seorang anak muda tiba-tiba saja telah memasuki lingkaran pertempuran, maka Sura Sangga menjadi sangat marah. Dengan garang ia pun berkata, “Marilah, anak muda, jika kau ingin membunuh diri”

Kepada para prajurit Paksi pun berkata, “Biarlah aku mencoba menahannya”

Para prajurit yang mengenal Paksi dengan baik, segera bergeser menjauhi Sura Sangga. Mereka percayakan Sura Sangga yang garang itu kepada Paksi, anak muda yang membawa tongkat di medan pertempuran itu.

“Sebut nama ibu bapakmu, anak muda. Kau akan segera mati”

“Bapakku bernama Tumenggung Sarpa Biwada”

“He, kau anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada?”

“Ya”

“Omong kosong. Anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidak akan berada di antara prajurit Pajang. Ia adalah salah seorang pemimpin yang membantu perjuangan Harya Wisaka. Seorang anaknya berada di sini”

“Di mana ia sekarang?”

“Kau mau apa? Anak itu sudah terlindung dengan baik”

“Biarlah ia menyebut tentang diriku. Apakah aku anak Tumenggung Sarpa Biwada atau bukan”

“Jika kau benar anak Tumenggung Sarpa Biwada, maka kau tentu sudah mengkhianati ayahmu sendiri”

“Ya. Aku memang sudah mengkhianati ayahku sendiri”

“Jika demikian, buat apa kau cari saudaramu itu?”

“Aku memerlukannya”

“Persetan dengan kau, pengkhianat. Kau akan mati di sini”

Paksi tidak menjawab lagi. Apalagi Sura Sangga pun telah meloncat menyerang dengan garangnya. Goloknya yang besar dan panjang itu terayun-ayun mengerikan.

Namun Sura Sangga pun terkejut ketika goloknya yang besar itu membentur tongkat Paksi. Nampaknya anak muda itu tidak perlu mengerahkan tenaganya untuk menepis goloknya yang terayun ke arah lambungnya.

“Gila anak ini” geram Sura Sangga.

Paksi mendengar geram itu, tetapi ia tidak menyahut. Bahkan tongkatnya telah terjulur lurus mengenai lawannya.

Sura Sangga berteriak kesakitan. Ia pun terdorong beberapa langkah surut. Bahkan kemudian Sura Sangga itu pun berteriak-teriak mengumpat kasar.

Telinga Paksi pun terasa panas mendengarnya. Karena itu, maka ia pun segera menyerang lawannya dengan tangkasnya.

Namun justru itu, Sura Sangga itu mengumpat semakin kotor. Tetapi Sura Sangga itu terdiam ketika tongkat Paksi tepat mengenai tengkuknya. Sura Sangga itu terdorong beberapa langkah justru ke depan. Kemudian ia pun jatuh tertelungkup.

Wajahnya yang tersuruk ke tanah itu menjadi kotor oleh debu yang melekat pada keningnya yang basah oleh keringat. Bahkan wajah Sura Sangga itu pun menjadi terluka. Dahinya terkelupas, sehingga darah pun mengalir dari luka itu.

Tetapi Paksi tidak sempat menyelesaikan lawannya yang jatuh tersuruk itu. Beberapa orang cantrik dari padepokan itu hampir bersamaan telah menyerang Paksi serentak.

Namun Paksi cukup tangkas. Dengan cepat ia meloncat, melenting sambil memutar tongkatnya. Sebuah pedang terlempar dari tangan seorang cantrik. Ketika cantrik yang lain menyerangnya dengan tombak pendek, maka dengan cepat Paksi mengungkit tombak itu sehingga terlepas dari tangan cantrik yang lain itu, terlempar ke udara, jatuh beberapa langkah dari cantrik itu.

Ketika kemudian Sura Sangga bangkit berdiri, maka tulang-tulangnya pun seakan-akan telah menjadi retak. Tengkuknya terasa sakit sekali. Demikian pula luka di dahinya terasa pedih, sementara darah dari luka di dahinya itu mengalir membasahi wajahnya.

Kemarahan Sura Sangga telah membakar seluruh isi dadanya. Dengan geram ia pun berkata, “Aku bunuh kau, pengkhianat”

“Darahmu semakin banyak mengalir” berkata Paksi. “Kau nampak seperti seorang yang terluka parah. Padahal dahimu hanya lecet sedikit saja tergores batu padas”

“Persetan, kau” Mata Sura Sangga bagaikan menyala. Tetapi Sura Sangga tidak lagi setangkas sebelumnya. Namun beberapa orang cantrik telah membantunya.

Paksi memang sedikit mengalami kesulitan. Tetapi kesulitan itu membuatnya menjadi semakin panas. Tongkatnya berputar semakin cepat. Serangan-serangannya pun menjadi semakin garang.

Seorang demi seorang lawannya telah terlempar dari arena. Sementara Sura Sangga menjadi lamban.

Meskipun demikian. Sura Sangga itu masih saja mengumpat-umpat dan sekali-sekali berteriak, “Aku bunuh kau”

Paksi menjadi semakin marah ketika seorang cantrik telah melontarkan tombaknya. Dalam kesibukannya, Paksi terlambat mengelak. Tombak yang mengarah ke punggungnya itu sempat melukai lengannya sehingga lengannya itu berdarah.

Paksi yang sempat melihat cantrik yang melemparkan tombak itu tidak memaafkannya. Darahnya yang mulai panas, serta keringatnya yang telah membasahi seluruh pakaiannya, membuatnya sulit untuk mengendalikan dirinya. Karena itu, maka dengan cepatnya ia meloncat sambil mengayunkan tongkatnya.

Cantrik itu memang mencoba untuk mengelak dengan meloncat ke samping. Tetapi ayunan tongkat Paksi pun berputar.

Kemudian tongkat itu justru mematuk perutnya, sehingga cantrik itu pun terbungkuk kesakitan.

Paksi tidak membiarkannya. Dengan kerasnya Paksi memukul tengkuk cantrik itu, sehingga cantrik itu pun terjerembab jatuh. Daya tahan cantrik itu tidak sebesar daya tahan Sura Sangga.

Demikian cantrik itu jatuh menelungkup, maka nafasnya pun telah terhenti, sehingga ia tidak sempat menggeliat.

—- > Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s