JDBK-18


<<kembali | lanjut >>

TETAPI kita dapat mengerti jalan pikiran Pangeran Benawa, Ki Gede. Dengan demikian, maka kita akan segera dapat menghancurkan mereka. Demikian pula dengan kekuatan yang dihimpun oleh Harya Wisaka. Kehadiran Ki Rangga Suraniti di Kotaraja ini agaknya juga sangat menarik perhatian Pangeran Benawa Ketika Pangeran Benawa mendengar bahwa Ki Rangga Suraniti ada di kota, maka Pangeran Benawa langsung memerintahkan untuk mengamatinya. Sebenarnyalah bahwa Ki Rangga Suraniti sudah berhubungan dengan Harya Wisaka”

“Ketika aku mendengar laporan itu, aku menjadi sangat prihatin. Ki Rangga Suraniti adalah seorang prajurit yang sangat baik. Tetapi aku tidak tahu, kenapa ia terjebak oleh bujukan Harya Wisaka. Semula aku mengira bahwa Ki Rangga Suraniti sengaja mencari keterangan tentang niat Harya Wisaka. Tetapi ternyata dugaan itu keliru. Apalagi setelah aku mendengar keterangan Pangeran Benawa yang melihat Ki Rangga Suraniti terlibat langsung dalam benturan dengan beberapa perguruan di lereng Gunung Merapi. Nampaknya Ki Rangga juga sedang memburu Pangeran Benawa pada waktu itu”

“Ya, Ki Gede. Beban tugas kita memang sangat berat kali ini. Tetapi aku menjadi sedikit tenang, karena Pangeran Benawa selalu bersama dengan Raden Sutawijaya dan Paksi Pamekas. Meskipun kita mencurigai ayah Paksi, tetapi Paksi sendiri benar-benar dapat dipercaya sebagaimana dikatakan oleh Ki Panengah dan Ki Waskita sendiri. Sedangkan Raden Sutawijaya, sebagaimana kita ketahui anak muda itu memiliki segala-galanya dalam olah kanuragan”

“Kau berkata begitu karena ayah Sutawijaya itu ada disini, Ki Tumenggung” berkata Ki Gede Pemanahan sambil tersenyum.

“Tidak, Ki Gede. Aku berkata sebenarnya” jawab Ki Tumenggung Wirayuda bersungguh-sungguh.

“Terima-kasih” Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk.

“Seandainya Raden Sutawijaya bukan seorang yang mumpuni, maka Raden Sutawijaya tentu sudah dilumatkan oleh Harya Penangsang di pinggir Bengawan itu”

Ki Gede Pemanahan tertawa. Katanya, “Sudahlah. Namun bagaimanapun juga, kita harus mempersiapkan kekuatan yang cukup untuk menghadapi gejolak yang bakal terjadi di hutan Jabung itu. Perang yang akan terjadi bukan sekedar perang baradu kekuatan pasukan, tetapi juga perang beradu kecerdikan dan ketepatan menghitung waktu”

“Ya. Ki Gede”

“Aku percaya kepadamu, Ki Tumenggung” berkata Ki Gede Pemanahan.

Ki Tumenggung Wirayuda pun kemudian telah minta diri. Sementara Ki Gede masih berpesan, “Berhati-hatilah”

Demikianlah, maka memenuhi pesan Ki Gede, maka Ki Tumenggung Wirayuda pun telah berbicara dengan beberapa orang kepercayaannya. Mereka harus mempersiapkan diri dengan diam-diam. Pasukan berkuda pun telah dipersiapkan untuk dapat bergerak setiap saat.

“Tingkatkan perondaan didalam kota” perintah Ki Tumenggung Wirayuda.

Ki Rangga Yudapranata yang memimpin pasukan berkuda yang telah dipersiapkan untuk bergerak dengan cepat, menjadi heran. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kenapa perondaan didalam kota yang ditingkatkan?”

“Kenapa bukan perondaan disekitar Alas Jabung?” Ki Tumenggung justru bertanya.

Ki Rangga itu pun tersenyum sambil mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku mengerti”

Sebenarnyalah Ki Rangga telah meningkatkan perondaan didalam kota. Setiap kali dua tiga orang prajurit berkuda berkeliling menelusuri jalan-jalan kota. Beberapa orang petugas sandi yang dikirim oleh beberapa buah perguruan yang telah mempersiapkan diri untuk menyerang Alas Jabung, dan bahkan juga petugas sandi yang bekerja bagi Harya Wisaka, menganggap bahwa orang-orang Pajang lelah salah menanggapi keadaan.

“Petugas sandi Pajang tentu melihat satu kegiatan yang tidak dimengerti. Karena itu, mereka meningkatkan pengawasan didalam kota” berkata salah seorang petugas sandi.

Sebenarnyalah, bahwa para prajurit berkuda yang meronda itu sendiri belum mendapat perintah yang sebenarnya, kenapa mereka harus berada dalam kesiagaan tertinggi. Mereka pun menduga, bahwa kota Pajang berada dalam bahaya, sehingga mereka harus meningkatkan kewaspadaan. Setiap saat kota Pajang akan mendapat serangan dari kekuatan yang cukup besar.

Harya Wisaka pun melihat meningkatnya pengawasan didalam kota. Tetapi Harya Wisaka dan orang-orangnya tidak melihat, bahwa bersamaan dengan pengiriman bahan-bahan bangunan dengan beberapa buah pedati, tetapi ikut pula beberapa kelompok prajurit yang akan memperkuat kedudukan kekuatan yang sudah terlebih dahulu berada di Alas Jabung.

Dalam pada itu, orang-orang yang berada di Alas Jabung bekerja sebagaimana biasa. Seakan-akan mereka tidak mengetahui, bahwa kekuatan yang besar dari beberapa perguruan sedang mengintip mereka.

Sementara itu, didalam barak sementara, Ki Panengah, Ki Waskita dan Ki Kriyadama selalu membicarakan perkembangan keadaan sesuai dengan laporan yang mereka terima.

“Waktunya tinggal dua hari” berkata Ki Rangga Suratapa, yang mendapat tugas untuk mempimpin para prajurit yang sudah berada di Alas Jabung.

“Kita akan berbicara dengan Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya” desis Ki Panengah.

“Aku akan mempersilahkan keduanya untuk datang kemari”

Sejenak kemudian, maka Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya telah duduk pula bersama dengan mereka. Namun Pangeran Benawa itu pun bertanya, “Dimana Paksi?”

“Hamba belum memanggilnya. Pangeran” jawab Ki Rangga Suratapa.

“Biarlah Paksi ikut berbicara bersama kita”

“Baik, Pangeran”

Sejenak kemudian, Paksi pun telah hadir pulan untuk ikut mendengarkan beberapa persoalan yang akan dibicarakan oleh para pimpinan perguruan serta prajurit yang diperbantukan kepada mereka untuk membangun sebuah padepokan.

“Kita akan menghadapi kekuatan yang besar, Ki Panengah” berkata ki Rangga Suratapa kemudian.

“Bukankah beberapa kelompok prajurit telah datang bersama dengan bahan-bahan bangunan itu?”

“Ya. Tetapi kita belum tahu pasti kekuatan lawan. Beberapa perguruan akan datang bersama-sama. Kita pun harus memperhitungkan kekuatan Harya Wisaka. Kita sudah mendapat berita, bahwa sebagian prajurit yang berada di Prambanan telah ditarik sebelum waktunya. Sementara itu, kelompok yang menggantikannya harus berangkat lebih capat sepekan dari yang seharusnya”

“Apa artinya itu, Ki Rangga?”

“Artinya, kekuatan Harya Wisaka akan bertambah. Sementara para prajurit yang tidak dapat diperalatnya telah disingkirkan”

“Siapakah yang mengaturnya?”

“Agaknya otak permainan itu adalah Ki Rangga Suraniti” jawab Ki Rangga Suratapa, “tentu saja bekerja bersama dengan beberapa perwira yang bertugas di kotaraja ini. Pada saatnya kita akan dapat menelusurinya”

“Bukankah pasukan berkuda tidak terguncang oleh arus bujukan Harya Wisaka?”

“Tentu tidak. Harya Wisaka tidak akan berani menembus dinding barak pasukan berkuda”

“Belum tentu” desis ki Panengah” selama ini kita menganggap kesetiaan Ki Rangga Suraniti demikian tinggi. Tetapi apa yang terjadi?”

“Tetapi didalam pasukan berkuda, kesetiaan itu mengikat beberapa orang perwira. Jika terjadi pengkhianatan harus dilakukan oleh semuanya. Tetapi itu adalah mustahil sekali”

“Aku percaya kepada pasukan berkuda, guru” berkata Raden Sutawijaya kemudian. Namun ia pun berkata, “Meskipun aku juga heran terhadap apa yang terjadi atas Ki Rangga Suraniti”

Ki Panengah mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah. Bukankah kita meletakkan tumpuan kekuatan terakhir kepada pasukan berkuda itu?”

“Ya” Pangeran Benawa lah yang menyahut, “bukankah segala sesuatunya sudah diatur sebaik-baiknya? Bahkan seandainya terjadi kelambatan, bukankah kita akan mampu bertahan untuk waktu yang diperlukan itu?”

“Baiklah” berkata Ki Panengah, “Tetapi kita harus berhati-hati mengawasi para cantrik yang belum mempunyai cukup pengalaman. Mereka harus tetap berada didalam batasan-batasan yang kita berikan kepada mereka”

“Aku, kakangmas Sutawijaya dan Paksi akan mengawasi mereka. Kita akan berada didalam satu kelompok tersendiri”

“Bukan maksud kami mengecilkan arti kemampuan para cantrik itu. Pangeran. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Ki Panengah bahwa pengalaman para cantrik itu masih sangat terbatas. Karena itu, kami sudah menyiapkan sekelompok prajurit pilihan dari Pasukan Khusus yang akan berada diantara para cantrik”

“Apakah itu perlu?” bertanya Pangeran Benawa

“Hal itu sama sekali tidak perlu bagi Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan juga bagi Paksi Pamekas. Tetapi hamba kira akan sangat perlu bagi para cantrik yang lain”

Pangeran Benawa tertawa. Katanya, “Ki Rangga sempat juga bergurau. Kehadiran prajurit dari Pasukan Khusus itu tentu karena Ki Rangga cemas, bahwa aku atau kakangmas Sutawijaya atau kedua-duanya terbunuh di pertempuran. Jika itu terjadi, Ki Rangga lah yang akan digantung oleh ayahanda Sultan”

Ki Rangga mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun tertawa sebagaimana juga orang-orang lain yang hadir di penemuan itu. Dengan nada tinggi Ki Rangga menyambut, “Memang sulit untuk berpura-pura dihadapan Pangeran Benawa”

“Tetapi tidak apa” sahut Raden Sutawijaya, “kehadiran prajurit dari Pasukan Khusus itu baik bagi kami. Setidak-tidaknya akan mengurangi beban kami”

“Baiklah. Hamba harus mengaku” sahut Ki Rangga Suratapa kemudian.

Demikianlah, dalam pertemuan itu, Ki Suratapa telah menguraikan rencana pertahanan yang disusunnya. Menurut laporan dari para petugas sandi, termasuk mereka yang telah berhasil menyusup, baik didalam pasukan Harya Wisaka, maupun diperguruan yang bernafsu untuk memiliki cincin yang dipakai oleh Pangeran Benawa itu, serangan akan datang dari semua arah. Mereka akan berebut lebih dahulu untuk menguasai Pangeran Benawa. Baru kemudiam, setelah menurut perhitungan kedua belah pihak kehabisan tenaga, Harya Wisaka akan datang untuk menghancurkan kekuatan yang tersisa.

Pangeran Benawa tiba-tiba saja memotong, “Aku boleh bangga karenanya. Ternyata aku adalah orang yang sangat penting, sehingga mereka telah memburuku”

“Bukan kau, Adimas” sahut Sutawijaya, “tetapi cincin itu”

Pangeran Benawa tertawa pula. Katanya kemudian, “Jika aku harus memiliki, harus jatuh ketangan siapa, aku akan memilih jatuh ke tangan orang-orang dari Goa Lampin”

Paksi yang lebih banyak berdiam diri mendengarkan, telah ikut tertawa pula, sehingga Pangeran Benawa berpaling kepadanya, “Bukankah kau sependapat, Paksi”

“Tetapi di tangan orang-orang Goa Lampin, Pangeran akan dipelihara didalam kerangkeng”

“Itu tergantung dari sikap kita”

“Kalau sikap kita berkenan dihati mereka?”

“Aku tidak akan tinggal di kerangkeng sendirian”

Yang hadir ditempat itu tertawa semakin keras. Pada umumnya mereka sudah tahu, siapakah yang berada didalam perguruan Goa Lampin itu. Apa pula yang sering dilakukan oleh orang-orang dari Goa Lampin.

Namun sejenak kemudian, Pangeran Benawa itu pun berkata, “Nah, bagaimana selanjutnya Ki Rangga Suratapa?”

“Tepat pada saat yang sudah diperhitungkan, penghubung kita akan memberikan isyarat beranting kepada pasukan berkuda yang sudah siap. Kita akan memberikan perlawanan terhadap pasukan Harya Wisaka sejauh dapat kami lakukan, sampai saatnya pasukan berkuda itu datang. Tetapi menurut perhitungan kami, Harya Wisaka tidak mempunyai waktu cukup untuk menghancurkan kita sampai saatnya pasukan berkuda itu datang”

“Kita bermain-main dengan waktu” berkata Raden Sutawijaya.

“Kita memang harus membuat perhitungan yang tepat. Selisih beberapa kejap saja, kita benar-benar akan hancur disini oleh pasukan Harya Wisaka. Tetapi jika kita tidak menyiapkan perlawanan itu sejak semula, maka kita tidak akan pernah dapat menangkap Harya Wisaka”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Sementara Ki Panengah pun berkata, “Kita percayakan waktu itu kepada Ki Suratapa dan para penghubungnya”

“Kami akan berusaha. Kami tahu, jika kami gagal, maka leher kami akan dapat menjadi taruhan”

“Baiklah” berkata Ki Panengah, “aku akan mempersiapkan para cantrik sebaik-baiknya. Aku minta, prajurit dan pasukan khusus yang akan menghadapi lawan bersama-sama para cantrik, dibiasakan lebih dahulu untuk menyatu, agar mereka menjadi saling mengenal lebih dalam lagi”

“Baiklah, Ki Panengah. Nanti aku akan membawa mereka ke barak para cantrik”

Demikianlah, maka Ki Rangga Suratapa pun telah melakukan persiapan-persiapan terakhirnya. Sambil menebas hutan, para prajurit itu pun telah menyiapkan pertahanan sebaik-baiknya. Mereka telah memasang hambatan-hambatan dan bahkan jerat dan jebakan dihutan yang masih terhitung lebat itu. Justru karena mereka sedang menebangi hutan, maka mereka dapat melakukan pertahanan sebaik-baiknya. Jerat, patok-patok bambu tajam, lubang-lubang dalam yang diatasnya ditutup dengan dedaunan. Dan berbagai macam hambatan yang lain pada jalur yang mereka perkirakan akan dilalui para penyerang.

Adanya jebakan itu telah diberitahukan pula kepada para perwira prajurit berkuda, agar jika pada saatnya mereka turun dimedan, mereka tidak usah memburu lawan yang melarikan diri.
“Biarlah itu dilakukan oleh para prajurit yang dapat mengenali pertanda dan isyarat jebakan-jebakan yang mereka buat sendiri”
Dihari berikutnya, maka segala sesuatunya telah siap. Esok, menjelang fajar, mereka harus sudah bersiap sepenuhnya untuk bertahan terhadap serangan yang bakal datang seperti banjir bandang.

Ketika malam turun, maka Harya Wisaka pun telah memerintahkan semua orangnya bersiap. Mereka harus keluar dari kota malam itu dengan diam-diam. Mereka akan berada tidak jauh dari Alas Jabung, tetapi diluar lingkungan yang bakal dipergunakan oleh beberapa perguruan yang akan menyerang esok. Sebenarnyalah Harya Wisaka juga harus memperhitungkan waktu sebaik-baiknya.

Harya Wisaka pun telah memerintahkan sekelompok orangnya untuk menutup jalur jalan memasuki kota esok pagi, agar permintaan bantuan dari para prajurit di Alas Jabung tidak sampai kepada mereka yang berwenang memerintahkan pasukan berkuda bergerak.

Sebenarnyalah malam itu, beberapa orang perguruan telah mempersiapkan diri untuk menyerang esok. Sebagian dari mereka telah mengirimkan orang-orangnya untuk mengamati keadaan. Tetapi mereka sama sekali tidak dapat mendekat. Mereka hanya dapat melihat dari kejauhan, apa yang dilakukan oleh mereka yang sedang sibuk membuka hutan.

Tetapi tidak seorang pun dari para pengawas dan petugas sandi itu yang menduga, bahwa diantara mereka yang bekerja keras menebangi pohon-pohon raksasa itu sedang sibuk membuat rintangan, hambatan dan bahkan jebakan atas mereka.

Menjelang fajar, maka segala-galanya harus telah siap. Semua orang yang telah berada di sekitar pesanggrahan di Alas Jabung itu telah menempatkan diri. Sasaran mereka adalah barak yang berada di tengah-tengah padang perdu di pinggir hutan itu. Sebagian dari mereka berniat untuk menyerang lewat daerah terbuka. Tetapi sebagian lagi ingin menyerang dari arah hutan yang masih tertutup oleh pepatnya pepohonan itu.

Malam menjelang hari serangan sebagaimana disepakati oleh beberapa perguruan itu adalah malam terang bulan meskipun bulan mesih belumn bulat benar. Beberapa orang cantrik ternyata tidak segera dapat tidur. Bahkan demikian pula Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi.

Mereka duduk diatas sebuah batu di halaman barak yang didirikan untuk sementara itu.

“Lihat” berkata Raden Sutawijaya, “bulan berkalang”

“Kenapa dengan bulan berkalang, kangmas?” bertanya Pangeran Benawa.

“Isyarat akan terjadi bencana di bumi. Besar atau kecil. Mungkin pertempuran esok adalah peristiwa yang sangat kecil bagi dunia ini. Tetapi bagi kita, peristiwa yang akan terjadi esok adalah peristiwa besar”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada rendah, “Seharusnya aku menuruti nasehat beberapa orang untuk berada di istana. Hanya karena aku keras kepala, maka esok akan terjadi perang. Perang itu sendiri tidak apa-apa, bahkan dapat memberikan kesegara kepada kita dan para prajurit. Tetapi yang kemudian menyedihkan adalah akibatnya. Kekerasan, kekejaman dan kematian.

Raden Sutawijaya justru tertawa. Katanya, “Kau aneh adimas. Seolah-olah ada perang yang tidak berakibat mengerikan. Justru karena akibatnya itulah, maka perang seharusnya dihindari”

Pangeran Benawa menarik nafas panjang, sementara Paksi pun tersenyum pula. Bahwa Paksi itu pun kemudian berdesis, “Dalam hal ini, bukanlah Pangeran telah memperhitungkan untung ruginya”

Pangeran Benawa mengangguk kecil sambil menjawab, “Ya. Tetapi sekarang aku menjadi ragu. Apakah perhitungan itu tepat untuk ditrapkan sekarang ini”

“Sudahlah” berkata Raden Sutawijaya, “jika dengan cara ini kita mendapat hasil sebagaimana yang kita kehendaki, maka cara ini adalah cara yang terbaik. Kita akan dapat menghisap kekuatan beberapa perguruan yang bagi Pajang seperti sebuah bisul yang semakin lama semakin membengkak. Kita tidak akan mau disiksa oleh perasaan sakit itu terus-menerus. Kita pecahkan bisul itu meskipun kita akan mengalami kesakitan yang memuncak. Tetapi sesudah itu, kita akan bebas dari perasaan sakit yang menyiksa dan bahkan pada suatu saat akan dapat meledak dengan akibat yang tidak dapat diduga. Jika saja mereka yang menjebak kita, akibatnya akan dapat menjadi jauh lebih parah”

“Jika kita gagal?”

“Ada dua akibat yang dapat terjadi esok. berhasil atau gagal. Jika kita selalu ketakutan dibayangi oleh kegagalan, maka kita tidak akan pernah berbuat sesuatu. Mungkin dengan berdiam diri, kita tidak akan mengalami kegagalan. Tetapi juga tidak akan pernah mengalami keberhasilan”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk pula. Katanya, “Ya. Yang harus kita usahakan, kita tidak boleh gagal”

“Kita sudah berbuat sejauh dapat kita lakukan. Kita sudah mengerahkan kemampuan para petugas sandi. Kita sudah berhubungan dengan orang-orang yang pantas kita yakini kemampuannya memperhitungkan langkah-langkah dan tujuan akhir peperangan. Kita sudah berusaha sejauh-jauhnya. Ki Panengah, Ki Waskita serta ayah telah berusaha pula untuk dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya”

“Apapun yang akan terjadi, sudah diperhitungkan dengan cermat. Meskipun demikian, apa yang terjadi mungkin tidak sesuai dengan perhitungan kita, karena keterbatasan kemampuan kita. Namun kita sudah berusaha. Sedangkan penentuan akhir ada di tangan Yang Maha Agung” Paksi pun menyela.

Raden Sutawijaya menepuk bahu Paksi, ”Bukan saja berdasarkan atas penglihatan pada permukaan. Tetapi kau sudah menukik kekedalaman”

“Ya” desis Pangeran Benawa, “kau benar Paksi. Kita memang harus berdoa disamping berusaha sejauh dapat kita lakukan”

“Nah, jika demikian, bukankah tidak akan ada kebimbangan lagi di hati adimas?” bertanya Raden Sutawijaya, “dalam saat-saat seperti ini, kebimbangan merupakan salah satu hambatan, justru pada saat-saat kita harus bertindak dengan pasti”

“Ya, kakangmas” Pangeran Benawa mengangguk, “aku mengerti. Aku harus menyingkirkan keragu-raguan itu tanpa mengingkari kenyataan yang dapat terjadi”

Ketiganya pun kemudian telah terdiam sejenak. Malam yang sepi menjadi semakin sepi. Di kejauhan terdengar suara-suara malam yang kadang-kadang menyentuh dasar jantung.

Sementara itu bulan pun memancar di langit. Esok bulan akan menjadi semakin bulat. Tetapi Pangeran Benawa tidak tahu, apakah esok malam ia masih akan berada di pinggir hutan itu.
Pangeran Benawa bukan seorang penakut. Tetapi ia membayangkan juga gerombolan-gerombolan orang yang memburunya sejak ia mengembara sampai malam itu. Orang-orang itu besok akan datang dengan senjata terhunus.

Namun ketiganya terkejut ketika mereka mendengar desir lembut mendekat. Dengan sikapnya ketiganya pun segera bangkit dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

“Hamba Pangeran” seseorang tiba-tiba saja muncul dari balik gerumbul.

“Siapa? Bulan, matahari atau bintang?”

“Hamba, kelapa gading bertangkai ijuk”

Ketiga orang itu menarik nafas dalam-dalam. Pangeran Benawa pun kemudian berkata, “kemarilah”

Orang itu pun mendekatidan berhenti beberapa langkah di hadapan Pangeran Benawa.

“Ada apa?”

“Ki Suratapa memerintahkan kepada hamba untuk menyampaikannya kepada Pangeran”

“Apa pesannya?”

“Pangeran bersama Raden Sutawijaya serta Paksi Pamekas dimohon untuk masuk kedalam barak”

“Kenapa?” bertanya Pangeran Benawa.

“Kami melihat dua orang yang berusaha menyusup ke dalam lingkungan ini”

“Kenapa tidak kalian tangkap saja orang itu?”

“Kami tidak ingin memberikan kesan kesiagaan Kami hanya mengawasi saja mereka. Menurut penglihatan kami. Mereka sudah menjauh. Tetapi mungkin ada orang lain yang melakukannya dan bahkan diluar pengamatan kami. Pangeran adalah sasaran utama dari gerombolan-gerombolan orang yang sudah mempersiapkan diri untuk menyerang esok fajar”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam dalam, ia pun kemudian berdesis, “Terima-kasih atas peringatanmu. Tetapi apakah aku boleh tahu keadaan kita sekarang?”

“Tempat ini sudah terkepung. Mereka berada di segala arah. Bahkan didalam hutan itu pula. Kekuatan mereka memang sangat besar”

“Bagaimana perbandingannya dengan kekuatan kita disini?”

“Jumlah mereka tentu lebih banyak. Pangeran. Memang diluar dugaan. Tetapi kila sudah memasang hambatan-hambatan. Para prajurit pun telah menyiapkan senjata lontar yang cukup. Bukankah Ki Suratapa sudah berpesan agar Pangeran, Raden Sutawijaya, Paksi dan para cantrik berada didalam pagar yang mengelilingi barak utama itu. Jika ada diantara mereka yang sempat mendekat, para cantrik bersama Ki Pangeran, Ki Waskita dan Ki Kriyadama, sebaiknya bertahan didalam dinding halaman barak bersama beberapa orang prajurit khusus itu”

“Jadi kami harus pergi ke barak utama itu?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ya Raden”

“Bukankah barak-barak yang lain juga mendapat pengamatan?”

“Tetapi sebaiknya Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi Pamekas berada di barak utama”

“Jadi kami akan diperlakukan sebagai gadis-gadis pingitan?”

“Bukan maksud kami, Pangeran”

“Jadi kami hanya akan bertempur jika ada musuh memasuki barak utama?”

Orang itu terdiam.

Namun Raden Sutawijayalah yang kemudian menjawab, “Baiklah. Kami akan pergi ke barak utama yang diberi pagar yang cukup rapat dan tinggi”

“Pagar itu membuat lingkungan itu menjadi pengab” desis Pangeran Benawa.

Tetapi Raden Sutawijaya pun telah mengajak Pangeran Benawa untuk pergi ke barak utama.

Kepada petugas yang menghubunginya itu Raden Sutawijaya berkata, “Kembalilah Ki Rangga Suratapa. Katakan, bahwa pesannya sudah sampai. Kami akan pergi ke barak utama”

“Baik Raden. Hamba mohon diri, Pangeran”

Orang itu pun kemudian segera beringsut dan kemudian seakan-akan telah hilang di bayangan gerumbul-gerumbul perdu.

“Jadi besok kita akan menjadi penonton saja kakangmas?” bertanya Pangeran Benawa.

“Orang itu hanya seorang petugas yang menyampaikan pesan Ki Rangga Suratapa. Kita mengiakan saja pesan itu, apa pun yang akan kita lakukan besok”

Pangeran Benawa mengerutkan dahinya. Namun ia pun kemudian tertawa sambil berdesis, “Kakangmas memang cerdik”
Raden Sutawijaya dan Paksi pun tertawa pula. Namun Paksi lah yang kemudian berkata, “Tetapi sebaiknya para cantrik itu pun dibatasi geraknya. Jika mereka terjun ke medan pertempuran yang paling liar, tentu akan sangat berbahaya. Bekal mereka belum cukup banyak. Apalagi pengalaman mereka”

“Ya. Aku sependapat” desis Pangeran Benawa.

Demikianlah, mereka bertiga pun kemudian telah pergi ke barak utama yang diberi berpagar. Di barak itu para cantrik dari perguruan Ki Panengah itu tinggal. Bukan hanya di saat-saat yang berbahaya. Tetapi mereka memang berada di barak itu. Sedangkan para pekerja yang lain, yang sebenarnya terdiri dari para prajurit, berada di barak-barak yang lain. Barak yang sederhana dan bahkan sebagian terbuka.

Sebenarnyalah bahwa pengamatan di sekitar barak-barak itu dilakukan dengan cermat. Tetapi disamarkan dengan baik. Tidak ada peronda yang berkeliling mengamati keadaan. Tidak ada kelompok-kelompok yang ditempatkan di sekitar tempat itu, kecuali beberapa orang yang berada di sebuah gubug kecil di depan barak penyimpanan bahan-bahan dan peralatan. Tempat yang dijaga dan diawasi sejak kerja itu dimulai.

Empat orang duduk di gubug kecil itu, dibawah sinar lampu minyak yang berkerdipan. Untuk menahan kantuk mereka bermain macanan dan bas-basan. Ketika salah seorang dari mereka menawarkan untuk bermain dadu, maka kawannya pun menolak.

“Jika kita bermain dadu, otak kita tidak terasah untuk menambah kecerdasan. Bermain dadu adalah sepenuhnya untung-untungan” kawanya menolak.

“Sekedar menahan kantuk”

“Ada cara lain yang lebih bagus”

Sementara itu, dua orang yang menyelinap memasuki lingkungan itu mengamati orang-orang yang berada di gubug itu dengan saksama. Namun kemudian seorang diantara mereka berdesis, “Penjaga barak itu, sama sekali tidak mengira bahwa esok pagi, demikian matahari terbit, lingkungan ini akan disapu oleh kekuatan yang tidak terlawan yang akan berebut menangkap Pangeran Benawa”

Kawannya tertawa pendek. Katanya, “Kitalah yang besok harus mencapai bangunan utama itu paling awal. Pangeran Benawa tentu berada di bangunan itu bersama orang-orang penting serta para cantrik dari perguruan yang sedang membangun padepokan itu. Sedangkan di barak-barak yang lain itu tentu merupakan barak bagi para pekerja”

“Sebelum matahari sepenggalah, kerja kita tentu sudah selesai. Persoalan yang kemudian timbul, siapa yang dapat menangkap Pangeran Benawa lebih dahulu”

“Bahkan mungkin Pangeran Benawa sudah tidak ada di barak itu”

“Masih ada. Kemarin sore, Pangeran Benawa masih ada di tempat ini. Sementara itu, tidak ada iring-iringan orang berkuda yang meninggalkan barak ini sampai malam turun”

“Kita tidak dapat mengamati isi barak ini dengan jelas. Sulit untuk dapat mendekati. Para pekerja bersama para cantrik menebar dilingkungan yang luas”

“Tetapi seorang diantara kawan-kawan kita meyakini”

“Apakah kawan kita itu sudah mengenal Pangeran Benawa
“Sudah. Kebetulan ia pemah melihat Pangeran Benawa di Pajang yang sedang berkuda dengan dua orang pengawalnya memasuki istana”

“Apakah dapat diyakini, bahwa yang dilihatnya memasuki istana itu adalah Pangeran Benawa?”

“Ya. Saat itu ia tidak sendiri. Kawannya yang sudah ubanan mengenal Pangeran Benawa dengan baik”

Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah bahwa Pangeran Benawa masih berada disini. Kita akan mendapat kesempatan terbaik. Orang-orang kita yang berada di hutan itu besok akan dengan serta-merta menghambur langsung ke bangunan utama itu”

Beberapa saat keduanya masih mengamati keempat orang penjaga barak penyimpan bahan-bahan bangunan dan hatikan bahan makan. Seorang diantara mereka bergumam, “Tempat yang dijaga oleh empat orang itu tentu tempat yang paling penting. Tidak ada barak yang dijaga sebagaimana barak yang satu ini”

“Jangan-jangan Pangeran Benawa ada di barak itu”

“Tentu tidak. Barak itu sangat sederhana meskipun nampaknya kuat. Mungkin di tempat itu disimpan barang-barang berharga bagi pembangunan padepokan itu. Mungkin pula bahan pangan atau alat-alat yang sering dipergunakan oleh para cantrik”

“Mungkin. Selain Pangeran Benawa, tempat itu juga penting untuk dikuasai”

Kawannya mengangguk-angguk. Namun kemudian ta pun berkata, “Marilah. Tugas kita sudah berhasil kita lakukan dengan baik. Besok kita akan memasuki lingkungan ini dari arah hutan yang sedang ditebang itu”

“Sebaiknya sekarang kita telusuri jalan yang besok pagi akan kita tempuh”

“Gelap sekali. Kita hanya berdua”

“Bukankah ada cahaya bulan?”

“Kita lewat jalan melingkar tetapi jauh lebih mudah dilalui itu”

Yang lain tidak menjawab. Namun mereka pun kemudian telah bergeser meninggalkan tempat itu. Keduanya sama sekali tidak tahu, bahwa keduanya justru berada dalam pengawasan. Dua orang prajurit yang bertugas, mengikuti mereka dengan diam-diam. Tetapi mereka memang tidak dibenarkan untuk menyerang atau menangkap orang-orang yang sedang menyusup mengamati keadaan.

“Untunglah mereka tidak menerobos masuk kedalam hutan” desis salah seorang prajurit yang mengawasi kedua orang yang menyusup kedalam lingkungan barak perkemahan itu.

“Ya. Jika mereka memasuki hutan itu, mungkin salah seorang dari mereka akan terkena jerat atau jebakan, sehingga esok mereka tidak akan mengambil arah itu”

Namun keduanya pun kemudian berhenti. Mereka tidak merasa perlu mengikuti keduanya sampai jauh keluar lingkungan barak perkemahan. Keduanya pun kemudian kembali untuk menghubungi keempat orang yang sedang berjaga-jaga di barak penyimpanan bahan-bahan itu.

“Kalian baru saja diamati oleh dua orang yang menyusup masuk kedalam lingkungan ini”

“Keduanya tidak akan melihat apa-apa disini” jawab salah seorang dari keempat petugas itu sambil bermain macanan.

“Ya. Yang mereka lihat adalah kalian berempat”

Yang tertua diantara keempat orang itu bertanya, “Kemana mereka sekarang?”

“Keduanya sudah pergi”

“Bagus” berkata orang tertua itu, “sebentar lagi, petugas disini akan berganti”

“Beritahu para prajurit yang mendapat giliran berikutnya. Jangan hiraukan jika ada orang yang berhasil menyelinap memasuki lingkungan ini dan mengawasi para penjaga disini”

“Baik” jawab orang tertua itu.

Demikianlah kedua orang itu pun meninggalkan keempat petugas itu. Tetapi mereka sempat membuka sedikit pintu barak itu dan menjenguk kedalam. Yang berada di barak itu bukan sekedar bahan-bahan bangunan dan bahan pangan. Tetapi beberapa kelompok prajurit sedang tidur nyenyak didalamnya. Dua orang diantara mereka bertugas untuk berjaga-jaga disudut barak.

Prajurit yang menjenguk itu melambaikan tangannya disambut oleh kedua orang yang berjaga-jaga didalam barak itu.

Malam pun menjadi semakin dalam. Bulan sudah beredar semakin jauh disisi Barat langit. Bintang-bintang gemerlapan mencoba mengimbangi sinar bulan yang terang.

Di dini hari, beberapa orang petugas pun telah bangun. Mereka dengan siap yang wajar-wajar saja mulai menyalakan api di dapur. Mereka mulai merebus air dan menanak nasi.

Api dan asap didapur itu memang menarik perhatian. Tetapi beberapa orang yang berada didalam kelompok kelompok yang mengepung perkemahan itu berpendapat, bahwa hal itu wajar sekali. Bahkan orang yang mengawasi tempat itu untuk beberapa lama berkata, “Setiap hari dapur itu bangun lebih awal dari barak-barak yang lain. Mereka harus menyiapkan makan pagi para pekerja dan para cantrik yang jumlahnya lukim banyak”

Tetapi kawannya yang lain berdesis, “Tetapi tidak sepagi ini”

“Mereka agaknya memang terlalu awal bangun. Tetapi selisih waktu itu tidak banyak”

Api dan asap itu nampaknya memang diabaikan oleh orang-orang yang mengepung perkemahan itu. Apalagi barak-barak di perkemahan itu nampak sepi-sepi saja.

Namun sebenarnyalah, para prajurit yang tidak mengenakan ciri-ciri keprajuritan mereka telah bersiap didalam barak mereka masing-masing. Juga mereka yang berada di barak penyimpanan bahan-bahan bangunan dan bahan pangan. Senjata-senjata mereka pun telah diperiksa dengan cermat, bahwa senjata-senjata itu tidak akan mengecewakan di medan perang.

Dalam pada itu, beberapa orang memang sudah keluar dari barak mereka. Mereka adalah petugas-petugas yang akan memberikan isyarat-isyarat yang diperlukan sebelum mereka harus memasuki arena untuk bertahan.

Dalam pada itu, para pengamat telah melihat gerak pasukan yang mengepung perkemahan itu, yang kebetulan berada di tempat, terbuka. Mereka bergerak menebar. Bukan hanya satu kelompok. Tetapi dari arah lain telah bergerak pula kelompok yang lain.

Para petugas sandi pun segera melaporkan kepada Ki Rangga Suratapa.

Dengan cepat, Ki Rangga pun telah memerintahkan para penghubungnya untuk memberitahukan kepada para pemimpin kelompok.

Menjelang fajar, maka para prajurit telah dipersilahkan untuk makan di dalam barak masing-masing. Sementara itu, beberapa orang telah mulai berkeliaran di halaman dan di sekitar barak mereka. Ada diantara mereka yang mengambil air, mengamati pagar dan bahkan ada yang hanya duduk-duduk saja diatas kekayuan yang roboh.

Sementara itu, pasukan lawan pun bergerak semakin dekat.

“Mereka harus masuk arena yang telah kita siapkan” berkata Ki Rangga Suratapa.

Menjelang fajar, Ki Rangga sendiri telah berada diluar baraknya. Dua orang penghubung telah memberitahukan bahwa pasukan lawan sudah menjadi semakin dekat.

“Mereka benar-benar mengepung kita” berkata seorang penghubung, “jika mereka mulai bergerak dan menebar, maka kepungan itu akan menjadi temu gelang. Tidak ada selubang jarum pun yang dapat menjadi jalan untuk meloloskan diri jika kita berniat melakukannya”

“Bukankah kita tidak akan meloloskan diri?”

“Ya. Aku tahu”

“Nah, jika demikian kita tidak memerlukan lubang jarum”

Penghubung itu tersenyum.

Dalam pada itu, ketika langit menjadi semburat merah, maka kelompok-kelompok yang mengepung pakemahan itu pun telah mempersiapkan diri serta membuat acang-ancang.

Pada saat itulah, Ki Rangga Suratapa telah memerintahkan orang-orangnya untuk keluar dari barak.

Yang kemudian nampak adalah orang-orang yang keluar dari barak-barak itu dengan malasnya. Sisa malam masih gelap, tetapi wajah tanah yang terinjak kaki sudah dapat dilihat dengan mata tanpa oncor sekalipun.

Mereka sama sekali tidak menunjukkan gerak gerak sekelompok prajurit yang bersiap untuk bertempur. Telapi mereka bergerak menebar sebagaimana para pekerja yang akan pergi ke tempat kerja mereka masing-masing.

Namun orang-orang yang mengepung perkemahan itu sudah mulai curiga. Pada saat terang tanah, biasanya pekerjaan sebagaimana membangun padepokan itu tentu belum akan segera dimulai.

Karena itu, maka para pemimpin dari kelompok-kelompok pasukan yang mengepung perkemahan itu menjadi sangat tertarik kepada orang-orang yang menebar sebagaimana dilaporkan oleh para petugas mereka yang harus mengamati perkemahan itu.

“Mungkin mereka sudah mendapat laporan kehadiran kita” berkata salah seorang petugas yang mengamati perkemahan itu.

“Tidak ada pengaruhnya. Biarlah mereka menyusun pertahanan. Tetapi kita akan segera melumatkan mereka. Mereka tidak akan dapat memberikan perlawanan yang memadai. Meskipun mereka terbiasa mengayunkan kapak, telapi untuk menebang pohon. Tidak diayunkan kepada sasaran yang bergerak. Apalagi sasaran mereka sekarang adalah kita. Bukan hanya sekedar bergerak, tetapi kitalah yang justru akan membantai mereka”

Kawannya mengangguk-angguk. Ketika mereka menyampaikan laporan kepada pimpinan mereka, maka mereka pun melaporkan sebagaimana yang mereka katakan itu.

Dalam pada itu. maka para pemimpin dari perguruan serta gerombolan yang mengepung perkemahan itu tidak sempat membuat uraian yang panjang. Sejenak kemudian, ketika langit menjadi semakin terang, maka meluncurlah panah sendaren ke beberapa arah, bersamaan dengan panah api yang terbang menggores langit yang masih buram.

Isyarat itu sebagaimana mereka sepakati adalah isyarat untuk mulai melakukan penyerangan terhadap perkemahannya yang ada dipinggir hutan Jabung itu.

Namun ternyata Kebo Serut tidak melakukannya dengan jujur. Ia telah memerintahkan beberapa orangnya untuk tinggal di tempat mereka menunggu fajar. Kebo Serut justru telah bergerak lebih dahulu. Namun ia berpesan, bahwa beberapa saat kemudian, setelah kelompoknya mendekati sasaran, orang-orang ilu baru akan melepaskan isyarat itu.

Karena itu, maka ketika panah sendaren dan panah api itu meloncur ke udara, kelompok Kebo Serut sudah berada dijarak yang paling dekat dengan sasaran. Dengan serta-merta Kebo Serut pun telah memerintahkan orang-orangnya untuk segera bergerak. Orang-orang yang melepaskan isyarat itu akan segera menyusul mereka.

Kelompok yang dipimpin Kebo Serut itu adalah salah satu diantara kelompok-kelompok yang menyerang dari arah hutan Jabung. Menurut perhitungan, maka mereka akan dengan tiba-tiba muncul dari dalam hutan dan langsung menyerang ba-ngunan induk pada perkemahan yang dianggap tidak mempunyai kekuatan untuk melawan itu.

Tetapi ternyata yang telah bergerak lebih dahulu bukannya hanya sekelompok orang yang dipimpin oleh Kebo Serut, hampir semuanya telah bergerak lebih dahulu sebelum isyarat itu dilontarkan, sehingga mereka berada dijarak yang lebih dekat dari yang telah disepakati.

Demikianlah, ketika mereka melihat dan mencurigai isyarat panah sendaren dan panah api, maka serentak mereka pun telah berlari menyerang perkemahan di pinggir hutan Jabung itu. Sambil berlari mereka pun berteriak-teriak bagaikan akan meruntuhkan langit.

Namun bukan hanya mereka sajalah yang menghambur sambil mengacu-acukan senjata. Pada saat yang bersamaan, maka dari setiap barak, para prajurit pun berlari lari keluar dengan senjata telanjang, berdesakan seperti laron yang keluar dari lubang mereka dibawah tanah yang terendam air pada penghunjung musim hujan.

Meskipun nampaknya para prajurit yang tidak mengenakan ciri-ciri keprajuritan itu hanya berlari-larian di sekitar perkemahan, namun sebenarnyalah bahwa mereka telah mendapat perintah-perintah sebelumnya. Sehingga mereka melakukan satu gerakan yang pasti. Lawan dapat saja menjadi bingung melihat gerak orang-orang yang keluar dari peikemahan. Tetapi para prajurit itu sendiri sebenarnya sama sekali tidak menjadi kebingungan.

Dalam pada itu, orang-orang yang dengan tergesa-gesa berlari-lari menyerang perkemahan itu, tidak sempat memperhatikan hambatan, jerat atau jebakan-jebakan yang telah dibuat oleh para prajurit yang ikut dalam kerja yang besar, membangun padepokan di hutan Jabung itu.

Seorang tiba-tiba saja terpelanting jatuh, ketika kakinya menyentuh sulur pepohonan yang menyilang. Namun demikian tubuhnya terguling ditanah, maka senjatanya telah terlempar dan hilang di semak-semak.

Teriakan nyaring pun telah menggetarkan udara. Disusul dengan umpatan kasar, ketika dua orang bersama-sama telah terperosok ke dalam lubang yang cukup dalam karena mereka telah menginjak penutupnya yang disamarkan. Sementara itu, orang yang lain, yang berlari kencang sekali telah melanggar tali yang menyilang tepat dilehernya, sehingga orang itu pun telah tercekik hingga pingsan.

Banyak peristiwa yang telah terjadi di seputar barak itu. Yang terbanyak adalah mereka yang terperosok ke dalam lubang yang dalam, sehingga mereka mengalami kesulitan untuk dengan cepat naik lagi. Hambatan, jerat dan jebakan-jebakan itu ternyata mempunyai arti yang penting bagi para prajurit yang bertahan. Orang-orang yang datang menyerang seperti banjir bandang itu, tidak lagi dapat memusatkan perhatian mereka sepenuhnya kepada sasaran. Tetapi mereka harus memperhatikan tanah tempat mereka akan menginjakkan kaki mereka. Dengan demikian, maka arus serangan yang datang itu pun menjadi semakin lambat pula, sehingga para prajurit itu pun sempat menempatkan dirinya sebaik-baiknya.

Ketika kemudian pasukan para penyerang itu mulai berbenturan dengan para prajurit yang mempertahankan perkemahannya, mereka pun terkejut karenanya. Menilik cara mereka yang bertahan itu bersikap, maka para penyerang itu segera menyadari, bahwa mereka tidak sekedar berhadapan dengan para blandong penebang kayu yang hanya mampu mengayunkan kapak mereka untuk memotong dan membelah kayu. Tetapi ternyata orang-orang itu memiliki kemampuan mempergunakan senjata mereka dengan terampil.

Ketika kemudian matahari naik, maka pertempuran pun menjadi semakin seru. Orang-orang yang menyerang perkemahan itu mulai menyadari, bahwa mereka berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kemampuan yang mapan

Seorang yang berwajah garang berteriak nyaring, “Anak iblis. Dari siapa kalian belajar berkelahi?”

Tidak ada yang menjawab. Tetapi putaran pedang orang-orang yang bertahan itu menjadi semakin berbahaya. Serangan-serangan yang datang dari berbagai arah itu segera terhambat. Selain beberapa orang diantara mereka tidak mampu lagi bertempur karena jebakan-jebakan yang telah dipasang, maka mereka pun telah menghadapi lawan yang berbekal ilmu kanuragan.

Jika semula mereka mengira bahwa mereka akan dapat dengan cepat menyelesaikan pekerjaan mereka setepat orang yang menyapu halaman, ternyata mereka telah tertahan demikian benturan terjadi. Sebagian di bibir hutan, sedangkan yang lain dipadang perdu dan ilalang.

Kebo Serut yang membawa para pengikutnya menerobos hutan Jabung, menjadi sangat marah. Beberapa orangnya telah terjebak. Sementara itu, demikian mereka sampai di bibir hutan, maka mereka harus menghadapi perlawanan yang keras dari orang-orang yang memiliki bekal kemampuan yang memadai.

“Siapakah mereka sebenarnya?” bertanya Kebo Serut kepada diri sendiri. Tetapi Kebo Serut tidak mau terhambat oleh mereka. Kebo Serut ingin segera sampai ke bangunan utama perkemahan sementara itu. Menurut laporan orang-orangnya yang telah mengamati perkemahan itu sebelumnya, serta menurut perhitungannya, maka Pangeran Benawa tentu berada di bangunan utama itu.

Karena itu, bersama dengan beberapa orang kepercayaannya, Kebo Serut berusaha untuk menerobos pertahanan yang kuat itu, menyusup disela-sela pertempuran, menuju ke bangunan induk.

Ternyata bukan hanya Kebo Surut yang melakukannya. Setiap pemimpin kelompok, gerombolan serta perguruan yang ikut serta menyerang perkemahan itu, berpola pikir sama dengan Kebo Serut. Karena itu, maka beberapa orang diantara mereka telah berusaha untuk menyusup di sela-sela pertahanan yang kuat itu.

Dalam pada itu, para cantrik yang berada di bangunan utama pun telah bersiap seluruhnya. Beberapa diantara mereka berniat untuk keluar dari dinding bangunan utama itu. Tetapi Ki Lurah Yudatama, pimpinan prajurit dari Pasukan Khusus yang ditempatkan di barak utama perkembahan sementara itu melarang mereka.

“Kenapa?” bertanya salah seorang dari para cantrik itu.

“Itu perintah” jawab Ki Lurah singkat.

Jawaban itu tidak memuaskannya. Tetapi Ki Panengah pun kemudian menegaskan pula, “Kita akan tetap berada di barak utama ini. Kita belum akan turun ke halaman. Kita akan menunggu perkembangan selanjurnya”

Ketika hal itu dinyatakan oleh Ki Panengah, maka para cantrik pun tidak berani membantahnya. Meskipun mereka merasa kecewa, tetapi mereka mematuhinya.

Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya sendiri sebenarnya juga ingin keluar bahkan dari dinding yang memagari halaman barak utama itu. Tetapi ia tidak ingin memberi contoh buruk dengan melawan perintah gurunya. Karena itu, maka keduanya, bersama Paksi, tetap saja berada di bangunan utama perkemahan sementara itu.

Dalam pada itu, pertempuran semakin lama menjadi semakin sengit. Ki Rangga Suratapa langsung memimpin pasukannya mempertahankan perkemahan itu.

Ternyata kelompok-kelompok orang yang menyerang perkemahan sementara itu jumlahnya cukup besar. Jika saja jumlah prajurit yang berada di hutan Jabung itu tidak ditambah, maka para prajurit itu dengan cepat akam mengalami kesulitan.

Dalam pada itu, beberapa orang berilmu tinggi yang datang menyerang perkemahan itu, mampu menyusup disela-sela pertempuran menuju ke bangunan utama. Lapisan-lapisan pertahanan yang ada dapat mereka lewati. Beberapa orang pengawal mereka sempat mendesak para prajurit untuk membuka jalan para pemimpin mereka menuju ke bangunan induk.

Keberhasilan para pemimpin kelompok-kelompok serta perguruan-perguruan yang menyerang perkemahan itu menyusup pertahanan telah dilaporkan kepada Ki Rangga Suratapa yang dengan cepat bergerak ke bangunan induk. Ia pun segera memerintahkan Ki Lurah Yudatama untuk mempersiapkan pasukan khusus yang dipimpinnya.

“Mereka akan memasuki barak utama ini” desis Ki Rangga.

“Kami sudah siap, Ki Rangga”

“Awasi Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya, agar mereka tidak bergerak jauh dari beberapa orang prajurit yang sudah ditunjuk”

Ki Lurah Yudatama mengangguk. Katanya, “Masing-masing akan selalu dikawal oleh tiga orang prajurit dari Pasukan Khusus”

Ki Rangga pun kemudian berkata, “Aku ada diluar dinding bangunan utama ini”

“Sebagian dari Pasukan khusus dapat membantu Ki Rangga”

Ki Rangga mengangguk. Katanya, “Terima-kasih”

Ki Lurah pun kemudian telah memerintahkan beberapa orang prajuritnya untuk berada didepan regol bangunan utama perkemahan itu bersama Ki Rangga Suratapa dengan beberapa pengawalnya. Sementara pertempuran pun telah terjadi di mana mana.

Ternyata bahwa orang-orang yang tergabung dalam kelompok-kelompok dan perguruan-perguruan yang menyerang perkemahan itu, benar-benar harus bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuan mereka. Kerja yang mereka hadapi adalah kerja yang sangat keras dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Jauh dari dugaan sebelumnya, maka para blandong kayu tidak akan mampu berbuat banyak. Mereka yang datang menyerang itu akan membabat habis mereka seperu menebas batang ilalang saja.

Namun satu dua kawan mereka justru telah terpelanting jatuh. Yang lain mengerang kesakitan sambil terbaring diam. Yang lain lagi justru berguling-guling sambil berteriak teriak nyaring.

“Siapakah mereka sebenarnya?” pertanyaan itu pun mulai menggelitik mereka yang harus memeras kemampuan mereka menghadapi orang-orang yang dikira sekedar blandong kayu itu.

Sementara itu pertempuran semakin lama menjadi semakin seru. Beberapa orang yang berhasil menyusup disela-sela pertempuran itu telah mendekati pintu regol bangunan utama perkemahan sementara itu.

Namun Ki Rangga Wirayuda telah siap untuk menahan mereka. Sementara di belakang regol Ki Lurah Yudatama dan beberapa orang prajurit dari Pasukan Khusus telah siap pula.

Dalam pada itu, para cantrik yang berada didalam barak justru menjadi gelisah. Mereka merasa lebih baik berada diluar berak daripada didalam. Jika mereka harus bertempur, maka bertempur di tempat yang lebih luas akan memberikan keleluasaan untuk bergerak.

“Apakah kami akan tetap dipenjara didalam barak ini?” bertanya salah seorang diantara mereka.

“Pertempuran itu sudah menjadi semakin dekat dengan barak utama ini”

“Justru karena itu, maka kami ingin keluar”

“Biarlah para prajurit menyelesaikan tugas mereka”

Para cantrik itu pun menjadi semakin gelisah. Sementara Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya hanya termangu-mangu saja.

Namun ternyata bahwa Ki Panengah dan Ki Waskita sependapat dengan murid-murid mereka. Bahkan Ki Kriyadama justru berbisik, “Berbahaya bagi mereka. Jika mereka tetap berada didalam barak ini”

“Ya. Jika ada diantara para penyerang yang melemparkan api, maka kalutlah keadaan didalam barak ini. Dalam kekalutan, maka akal tidak lagi bening. Tetapi akan menjadi keruh” sahut Ki Waskita.

Karena itu, maka Ki Panengah pun kemudian berkata kepada seorang prajurit, “Apakah aku dapat berbicara dengan Ki Lurah Yudatama?”

“Ki Lurah sudah dalam kesiagaan menghadapi lawan yang semakin dekat dengan regol bangunan ini”

“Jika demikian, biarlah aku menemuinya diluar”

Ternyata Ki Panengah berhasil meyakinkan Ki Lurah Yudatama bahwa sebaiknya para cantrik berada diluar.

“Baiklah” berkata Ki Lurah, “tetapi biarlah mereka berada di halaman belakang bersama para prajurit yang bertugas di bangunan induk ini”

Ketika hal itu disampaikan kepada para cantrik, maka mereka pun bersorak kegirangan. Seorang diantara mereka berteriak, “Kami memang bukan perawan-perawan pingitan”

Dengan cepat, para cantrik itu menghambur keluar. Tetapi seperti yang diperintahkan oleh Ki Luar Yudatama, mereka berada di halaman belakang bangunan utama itu.

Dari sela-sela dinding kayu yang mengelilingi berak induk itu, para cantrik melihat, bahwa disekelilingnya telah terjadi pertempuran. Para prajurit memang agak kesulitan menahan arus para penyerang. Karena jumlah para penyerang yang cukup banyak.

Tetapi seorang cantrik berdesis, “Aku berharap bahwa ada beberapa orang yang dapat lolos dan memasuki halaman ini. Mereka tentu dengan mudah meloncati dinding kayu itu. sebagaimana kita pun dengan mudah dapat melakukannya

Ki Panengah, Ki Waskita dan Ki Kriyadama menjadi berdebar-debar melihat pertempuran yang semakin sengit itu. Mereka pun memperhitungkan bahwa sebagian dari mereka tentu akan berhasil memasuki halaman bangunan induk itu. Mereka akan dengan mudah meloncati dinding kayu yang memang tidak terlalu tinggi dan udak terlalu rapat itu. Bahkan dinding kayu itu tidak akan terlalu sulit untuk dirobohkan.

Karena itu, maka Ki Panengah pun kemudian mendekati Pangeran Benawa yang berdiri tidak terlalu jauh dari Raden Sutawijaya dan Paksi Pamekas selain prajurit dan Pasukan Khusus yang bertugas mengawalnya, “Pangeran jangan meninggalkan halaman belakang ini. Keadaan sangat berbahaya”

Pangeran Benawa teisenyum. Katanya, “Baik guru. Aku tidak akan pergi kemana-mana”

Namun ketika Ki Panengah bergeser menjauh, Pangeran Benawa itu pun berkata, “Di lereng Selatan Gunung Merapi aku hanya berdua saja bersama Paksi menghadapi orang-orang itu”

“Keadaannya sudah berbeda, adimas” sahut Raden Sutawijaya.

“Ya” Pangeran benawa menarik nafas panjang.

“Saat itu, mereka tentu tidak tahu, bahwa adimas adalah Pangeran Benawa”

“Ya”

“Nah, sekarang mereka mengetahui, bahwa adimas inilah yang bernama Pangeran Benawa, yang mengenakan cincin bermata tiga”
“Aku tidak mengenakannya” jawab Pangeran Benawa sambil menengadahkan kesepuluh jari-jarinya”

“Adimas menyembunyikan cincin itu?”

“Ya”

“Itu sangat berbahaya. Cincin itu dapat benar-benar hilang dalam kekalutan seperti ini. Sementara itu, orang-orang yang memburu adimas Pangeran tidak mau tahu bahwa cincin itu sudah adimas sembunyikan”

Tetapi Pangeran Benawa tertawa. Katanya sambil menyentuh kantong ikat pinggangnya, “Aku sembunyikan disini”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Keadaan yang gawat itu bagi Pangeran Benawa tidak lebih menegangkan daripada bermain sembunyi-sembunyian di saat terang bulan.

Dalam pada itu, pertempuran pun menjadi semakin seru. Dinding halaman bangunan utama itu sudah mulai bergetar. Ternyata dibagian depan beberapa orang telah berloncatan masuk. Tetapi mereka seakan-akan telah memasuki kandang harimau yang buas dan lapar.

Demikian mereka meloncat turun didalam lingkungan dinding halaman bangunan utama, maka para prajurit yang sudah bersiap segera menyambut mereka. Tetapi jumlah mereka terlalu banyak. Sebagian dari mereka berusaha untuk dapat memecahkan pertahanan didepan pintu regol. Yang lain berebut memanjat naik untuk meloncati dinding halaman.

Namun Ki Rangga Suratapa yang bertahan di depan pintu regol telah bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Para prajurit pun telah bertempur dengan garangnya. Namun mereka tidak mampu mencegah orang-orang yang berlon-catan memasuki halaman bangunan utama.

Namun Ki Lurah Yudatama telah meneriakkan aba-aba untuk menyambut mereka.

Orang-orang yang dengan sangat bernafsu meloncati dinding halaman tanpa perhitungan, harus menebus ketergesa-gesaan mereka. Orang-orang itu pun segera terkapar bersandar dinding halaman tanpa dapat memberikan perlawanan lagi.

Tetapi yang lain telah berloncatan memasuki halaman bangunan utama itu. Bahkan dari arah belakang pula. Para pemimpin mereka yang pertama-tama meloncat me-masuki halaman dibagi an belakang dari halaman bangunan utama itu adalah justru Kebo Serut.

Tetapi Kebo Serut itu terkejut. Yang berdiri di hadapannya adalah seorang yang dengan serta-merta menyambutnya dengan menyebut namanya, “Kerbau tua. Kau masih saja bernafsu untuk menjadi Raja di Pajang?”

“Kau siapa?” bertanya Kebo Serut,

”Namaku Waskita, Kebo Serut. Apakah kau tidak mengenal aku lagi?”

“Aku belum pernah mengenalmu. Aku juga belum pernah mendengar namamu. Sebut gelarmu”

“Aku tidak punya gelar. Namaku Waskita. Hanya itu”

“Minggiriah. Aku ingin bertemu dengan Pangeran Benawa”

Adalah diluar dugaan, bahwa Pangeran Benawa justru mendekatinya sambil bertanya, “Kau ingin menemui aku?”

Wajah Kebo Serut menjadi tegang. Sementara itu ketiga orang prajurit pengawal Pangeran Benawa pun telah berdiri disekitamya.

“Kau membuat aku bingung” berkata Pangeran Benawa kepada ketiga orang pengawalnya itu.

Tidak scorang pun diantara mereka menjawab.

Sementara itu, pertempuran dihalaman belakang itu pun telah menjadi semakin ribut. Beberapa orang berloncatan masuk. Namun beberapa orang pula yang langsung terlempar dengan luka menganga ditubuh mereka.

Kebo Serut yang melihat Pangeran Benawa itu pun berteriak, “Tangkap anak itu, Aku memerlukannya”

Tetapi Ki Waskita pun berkata, “Kau tidak akan dapat menangkapnya, he. Kerbau tua”

“Kenapa tidak?” bertanya Kebo Serut.

“Pangeran Benawa memiliki kemampuan untuk menghindar” jawab Ki Waskita.

Namun Pangeran Benawa sendiri itu pun bertanya, “Untuk apa kau akan menangkap aku?”

“Aku memerlukanmu”

“Untuk apa? Jika yang berusaha menangkapku orang-orang dari Goa Lampin, aku masih dapat mengerti, karena itu merupakan kebiasaan mereka. Tetapi jika yang ingin menangkapku itu kau, kakek tua”

“Persetan” geram Kebo Serut. Orang tua itu tidak menyia-nyiakan waktu lagi. Ia adalah orang pertama yang memasuki halaman bangunan utama, serta berhasil bertemu dengan Pangeran Benawa. Karena itu, maka Kebo Serut itu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Beberapa orangnya pun segera mengepung Pangeran Benawa dan Ki Waskita, sementara di halaman belakang itu pun pertempuran sudah menjadi semakin sengit.

Tetapi Ki Waskita pun tidak tinggal diam. Ketika Kebo Serut itu mulai beranjak, maka Ki Waskita pun telah bergeser pula.

“Aku ingin memperingatkanmu, Ki Waskita. Minggirlah. Aku ingin menangkap Pangeran Benawa”

“Apakah aku harus membiarkan saja? Atau bahkan kau ingin aku membantumu menangkapnya?”

Justru Pangeran Benawa lah yang tertawa. Katanya, “Kau agaknya orang aneh, kakek tua”

“Baiklah” berkata Kebo Serut, “jika kau mencoba meghalangiku Ki Waskita, maka yang tertinggal hanyalah namamu saja”

Ki Waskita pun segera bersiap. Ia sadar, bahwa Kebo Serut adalah seorang yang berilmu tinggi. Namun dalam pada itu, Kebo Serut pun berteriak sekali lagi, “Tangkap Pangeran Benawa. Hidup atau mati”

Beberapa orang pun kemudian telah bergerak bersama-sama. Para pengikut Kebo Serut itu sama bernafsunya sebagaimana Kebo Serut sendiri, karena mereka telah mendengar bahwa cincin yang diburu oleh Kebo Serut itu ada pada Pangeran Benawa.

Tiga orang prajurit dari Pasukan Khusus yang mengawal Pangeran Benawa itu pun dengan tangkasnya menahan serangan itu. Dengan pedang ditangan, mereka bertempur dengan garangnya.

Tetapi lawannya terlalu banyak, sehingga beberapa orang diantara mereka, sempat mendekati dan menyerang langsung Pangeran Benawa dari beberapa arah.

Ketiga orang prajurit yang merasa dibebani tanggung-jawab atas keselamatan Pangeran Benawa itu menjadi gelisah. Tetapi lawan memang terlalu banyak, sementara Pangeran Benawa sendiri sulit untuk ditempatkan di tempat yang tidak ter-lalu berbahaya.

Sejenak kemudian. Pangeran Benawa sendiri harus bertempur menghadapi lawan-lawannya. Namun Pangeran Benawa tidak lagi mempergunakan sepasang pisau belati. Tetapi ditangan Pangeran Benawa itu tergenggam sebatang tombak pendek.

Dengan tombak pendek itu, Pangeran Benawa ternyata menjadi semakin garang. Mata tombaknya yang kehitam-hitaman dengan pamornya yang berkeredipan berputaran di tangannya yang terampil.

Namun Pangeran Benawa itu harus mengerahkan kemampuannya menghadapi beberapa orang yang mengepungnya, sementara ketiga orang prajurit pilihan yang mengawalnya harus berhadapan pula dengan beberapa orang pengikut Kebo Serut.

Dalam pada itu, orang-orang yang ingin memasuki halaman bangunan induk itu tidak lagi membuang-buang waktu dengan meloncati dinding halaman. Tetapi dinding halaman itulah yang kemudian telah mereka robohkan, sehingga dengan demikian, maka kelompok-kelompok orang telah memasuki halaman itu pula.

Namun para prajurit dan para cantrik pun telah menghadapi mereka. Para prajurit dari Pasukan Khusus yang berada di halaman itu, bersama para cantrik yang sudah memiliki bekal yang cukup, segera menyambut mereka.

Nampaknya Kebo Serut dan para pengikutnyalah yang mendapat kesempatan terbaik untuk dapat menangkap Pangeran Benawa. Namun ternyata tidak mudah untuk menangkap Pangeran Benawa.

Beberapa orang telah mengepungnya dan menyerangnya dari segala arah.

Namun justru setiap kali, justru diantara orang-orang yang mengepung itulah yang terdengar teriakan kesakitan. Seorang-seorang diantara mereka terlempar jatuh dan mengerang kesakitan.

Sementara itu, ketiga orang prajurit dari Pasukan Khusus yang terpilih untuk mengawal Pangeran Benawa itu pun telah mengerahkan segenap kemampuan mereka pula. Setiap kali senjata mereka telah menggores tubuh lawan mereka. Ujung senjata itu pun telah beberapa kali menghunjam di dada lawan.

Tetapi lawan memang terlalu banyak. Para pengikut Kebo Serut yang tidak menepati kesepakatan permainan saat mereka menyerang, memang mendapat kesempatan pertama menggapai bangunan utama itu.

Namun orang-orang yang mengepung Pangeran Benawa itu terkejut, ketika tiba-tiba saja seorang anak muda telah melibatkan diri untuk ikut melawan mereka. Seorang anak muda yang bersenjata tongkat. Dengan garangnya anak muda itu mengayun-ayunkan tongkatnya diantara serunya pertempuran.

Pangeran Benawa yang melihat kehadiran anak muda itu tersenyum. Katanya, “He, bagaimana dengan para cantrik yang lain, Paksi?”

“Mereka dapat menempatkan diri mereka dengan baik, Pangeran” jawab Paksi.

“Bagaimana dengan Ki Panengah?”

“Bersama Ki Kriyadama, mereka berada diantara para cantrik yang memberikan perlawanan dengan baik”

Pangeran Benawa tertawa. Ia tidak menanyakan Raden Sutawijaya, karena Pangeran Benawa yakin akan kelebihan saudara angkatnya itu.

Pertempuran pun semakin lama menjadi semakin seru. Ternyata tidak semua orang berilmu tinggi segera mampu mencapai bangunan utama. Kelompok-kelompok prajurit telah menahan mereka. Sementara itu, para prajurit terpilih dengan garangnya telah menepis setiap serangan dari gerombolan-gerombolan yang menginginkan memiliki cincin kerajaan yang berada di tangan Pangeran Benawa itu.

Pertempuran di belakang bangunan utama itu menjadi semakin sengit. Tetapi orang-orang yang datang menyerang itu harus melihat kenyataan, bahwa mereka mengalami kesulitan untuk dapat bergerak lebih jauh, apalagi menemukan Pangeran Benawa, kecuali Kebo Serut dan para pengikutnya.

Bahkan mereka harus memberikan korban yang semakin banyak. Ki Panengah, Ki Kriyadama dan bahkan Raden Sutawijaya bukan jenis pembunuh yang tidak berjantung. Meskipun di peperangan yang sengit, mereka masih mampu membuat pertimbangan untuk tidak membunuh lawannya, tetapi sekedar membuat mereka tidak berdaya. Namun jika senjata mereka pada satu saat menyentuh jantung, adalah satu hal yang memang sulit untuk dihindari.

Namun akhirnya bukan hanya Kebo Serut sajalah yang telah memasuki halaman di belakang bangunan utama itu. Ternyata para pemimpin dari gerombolan dan perguruan yang lainnya sampai juga ke halaman dibelakang bangunan utama itu.

“Ketika Gedhag Panunggal meloncati dinding yang roboh, maka ia pun segera melihat betapa orang-orangnya yang telah mendahului memasuki halaman itu mengalami kesulitan. Gedhag Panunggal pun menggeram. Ia pun segera mendekati seorang tua yang dengan mudahnya menghalau orang-orang yang datang menyerangnya dari arah mana pun juga.

“Luar biasa” desis Gedhag Panunggul, “siapa namamu?”

Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun berdesis, “Namaku Kriyadama”

“Kau tidak bertanya namaku?” justru Gedhag Panunggal lah yang bertanya.

Ki Kriyadama tersenyum. Namun ia pun kemudian bertanya, “Bukankah namamu tidak menakutkan sehingga aku akan dapat menjadi pingsan karenanya?”

“Namaku Gedhag Panunggal”

Ki Kriyadama menarik nafas dalam-dalam. Sementara Gedhag Panunggal itu pun bertanya, “Kenapa?”

“Untunglah, aku belum pernah mendengar namamu”

“Persetan dengan kau iblis tua. Minggirlah, atau bersiaplah untuk mati”

“Tidak” jawab Ki Kriyadama, “tugasku masih banyak. Aku masih belum bersiap untuk mati”

Gedhag Panunggal tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun segera bergeser dan bersiap untuk bertempur.

—- > Bersambung ke bagian 2

Satu Tanggapan

  1. Lanjut terus…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s