JDBK-25


<<kembali | lanjut >>


NAMUN Raden Sutawijaya pun menyahut, “Kau aku beri kesempatan untuk menemui kawan-kawanmu yang masih bersembunyi. Katakan kepada mereka, bahwa mereka akan diperlakukan wajar oleh para prajurit Pajang. Tetapi jika mereka tidak segera datang, sementara kami menjadi sangat buruk, maka tidak akan ada kesempatan untuk melarikan diri. Meskipun malam turun, semua jalan akan tertutup. Bahkan dinding yang melingkari padukuhan ini  pun akan diawasi dari sejengkal ke sejengkal”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun Raden Sutawijaya pun mengulanginya, “Pergi kepada kawan-kawanmu. Katakan kepada mereka, bahwa ini adalah kesempatan terakhir sampai saatnya kami bergerak. Malam nanti, padukuhan ini harus sudah bersih”

Orang itu mengangguk kecil. Meskipun dengan agak ragu, ia pun kemudian meninggalkan banjar untuk mencari kawan-kawannya.

Ternyata orang itu berhasil membujuk sekelompok pengikut Harya Wisaka untuk datang menyerah di banjar.

Ketika kemudian malam turun, maka Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi bersama Ki Lurah Sanggabaya telah menggerakkan lagi pasukannya untuk membersihkan padukuhan itu. Dengan obor di tangan, mereka menyisiri setiap jengkal tanah. Selain mereka membersihkan padukuhan itu dari sisa-sisa para pengikut Harya Wisaka yang masih bersembunyi, maka mereka  pun mencari kawan-kawan mereka yang terluka parah dan terbunuh untuk dibawa ke rumah Ki Bekel. Para prajurit itu pun telah menyertakan pula para pengikut Harya Wisaka yang menyerah untuk mengumpulkan kawan-kawan mereka dan membawanya ke banjar.

Ternyata para prajurit Pajang itu masih menemukan beberapa orang pengikut Harya Wisaka yang berusaha bersembunyi. Bahkan ada di antara mereka yang bersembunyi di atas dahan-dahan kayu. Seorang di antara mereka mencoba untuk melayang dengan pelepah kelapa sebagaimana pernah didengarnya dongeng naik pelepah kelapa. Tetapi orang itu telah terjatuh menghunjam di tanah dan mati seketika.

Malam itu Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa, Paksi dan Ki Lurah Sanggabaya telah membersihkan padukuhan itu dan menawan sisa-sisa para pengikut Harya Wisaka. Memang ada di antara mereka yang berhasil menyusup keluar dan melarikan diri. Namun jumlahnya hanya kecil sekali dibandingkan dengan jumlah mereka seluruhnya.

Namun dalam pada itu, Raden Sutawijaya tidak menjadi lengah. Meskipun para prajurit Pajang masih sibuk di dalam padukuhan itu, tetapi Raden Sutawijaya telah memerintahkan beberapa orang prajurit untuk mengawasi keadaan di luar padukuhan. Raden Sutawijaya dan para pemimpin prajurit Pajang itu sudah mendapat laporan, bahwa telah berkeliaran segerombolan orang yang tidak dikenal. Mungkin mereka adalah orang-orang yang masih bermimpi untuk mendapatkan cincin kerajaan yang mereka ketahui dibawa oleh Pangeran Benawa.

“Kita tidak boleh lengah, sehingga segerombolan orang itu memanfaatkan kesibukan kita sekarang ini atau mengira bahwa pasukan kita sudah tidak berdaya setelah terjadi pertempuran yang keras melawan para pengikut Harya Wisaka”

Dengan demikian, maka beberapa orang prajurit telah bertugas beberapa puluh patok di luar padukuhan itu.

Baru setelah tengah malam, Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa, Paksi dan Ki Lurah Sanggabaya sempat beristirahat meskipun mereka masih harus tetap berhati-hati.

Dalam pada itu, menjelang dini hari, para prajurit yang bertugas mengawasi jalan yang langsung menuju ke gerbang padukuhan telah menghentikan tiga orang berkuda yang berpacu menuju ke padukuhan itu.

“Siapakah kalian?” bertanya pemimpin kelompok prajurit yang bertugas itu.

Ketiga orang itu pun telah menunjukkan timang keprajuritan mereka, sehingga para petugas itu pun segera mengenali mereka sebagai petugas sandi prajurit Pajang.

“Kalian para prajurit yang berada di Prambanan?” bertanya prajurit yang bertugas.

“Tidak. Kami diperintahkan langsung oleh Ki Gede Pemanahan untuk menemui Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya”

“Baiklah. Silahkan. Temui prajurit yang bertugas di regol padukuhan”

Ketiga orang itu adalah petugas sandi yang ditugaskan oleh Ki Gede Pemanahan untuk menemui Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya untuk menyampaikan perintah Ki Gede, bahwa pasukan mereka harus ditarik kembali ke kotaraja.

Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi pun menerima mereka di rumah Ki Bekel.

“Darimana kalian mendengar bahwa kami ada disini?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Kami telah pergi ke Prambanan” jawab salah seorang dari para petugas sandi itu.

“Prambanan?”

“Kami sudah menduga, bahwa Raden telah membuat hubungan dengan pasukan Pajang yang berada di Prambanan ketika kami mendapat keterangan bahwa pasukan Raden menuju ke selatan. Beberapa tempat yang kami singgahi memang menuntun kami untuk pergi ke Prambanan. Dari para prajurit yang bertugas di barak, kami mendapat keterangan tentang pasukan Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa, karena pasukan Pajang di Prambanan yang dipimpin langsung oleh Ki Lurah Sanggabaya telah terlibat”

“Perintah apa yang kalian bawa?” bertanya Raden Sutawijaya kemudian.

Seorang di antara ketiga orang prajurit itu menjawab, “Ki Gede memerintahkan pasukan Raden kembali ke kotaraja”

“He? Bagaimana dengan tugas kami untuk memburu Paman Harya Wisaka?” sahut Pangeran Benawa. “Kami yang menyerang para pengikutnya disini ternyata tidak menemukannya. Kami masih harus bergerak lagi untuk mencarinya. Pada saatnya kami akan kembali sambil membawa Paman Harya Wisaka. Pasukannya yang kuat telah kami hancurkan disini bersama-sama dengan pasukan Pajang yang berada di Prambanan”

“Pangeran tidak perlu memburu Harya Wisaka sampai ke tempat yang lebih jauh lagi”

“Maksudmu?”

“Harya Wisaka ada di kotaraja”

“Jadi Paman Harya Wisaka sudah tertangkap?”

“Belum, Pangeran”

“Jadi Bagaimana?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Harya Wisaka sama sekali tidak lari keluar kota”

“Jadi ayah benar” desis Raden Sutawijaya.

“Ya. Ki Gede Pemanahan benar”

“Apa yang telah terjadi di kotaraja?” bertanya Pangeran Benawa.

Prajurit itu pun kemudian menceriterakan apa yang pernah terjadi di kotaraja. Apa pula yang telah dilakukan oleh Harya Wisaka dan beberapa orang kepercayaannya. Bagaimana mereka menebarkan sirep yang amat tajam. Kemudian menyerang langsung ke dalam bilik Kangjeng Sultan Hadiwijaya.

“Harya Wisaka itu sangat terkejut ketika ia melihat Ki Gede berada di dalam bilik itu pula”

“Jadi, Paman Harya Wisaka itu sudah tertangkap?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Belum, Raden”

“Belum? Jadi?”

Prajurit itu pun kemudian melanjutkan ceritanya tentang Harya Wisaka yang berhasil meloloskan dirinya meskipun ia sudah terluka.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam, sementara Pangeran Benawa menggeram, “Licik juga Harya Wisaka. Ia berhasil lolos dari tangan tiga orang berilmu sangat tinggi. Ayahanda Sultan, Paman Pemanahan dan Ki Waskita”

“Ya. Tetapi ketiga orang itu pun tertahan oleh tiga orang berilmu tinggi pula. Meskipun akhirnya ketiganya dapat dibinasakan, tetapi mereka sudah memberikan waktu kepada Harya Wisaka untuk melepaskan diri”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Ketiga orang itu ternyata sangat setia kepada Harya Wisaka, sehingga mereka bersedia mengorbankan jiwa mereka”

“Harya Wisaka memang memiliki pengaruh yang ajaib” berkata Raden Sutawijaya. “Para pengikutnya yang bergerak di luar kota pun sebagian merelakan hidup mereka bagi apa yang mereka sebut perjuangan untuk meluruskan mengalirnya kekuasaan dari tahta Majapahit”

Pangeran Benawa tertawa pendek. Katanya, “Apa yang dikatakan perjuangan oleh Paman Harya Wisaka itu ternyata telah menelan banyak sekali korban”

“Paman Harya Wisaka tidak pernah menghiraukannya” sahut Raden Sutawijaya. “Paman Harya Wisaka membenarkan segala cara untuk mencapai tujuannya, sehingga jiwa seseorang tidak berarti apa-apa baginya”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk Namun kemudian ia pun bertanya, “Jadi, apa yang akan kita kerjakan?”

“Kembali ke Pajang” jawab Raden Sutawijaya.

“Besok pagi?”

“Tidak. Kita terpaksa kembali besok lusa. Besok kita selesaikan segala masalah disini. Kemudian kita akan kembali menelusuri jalan yang pernah kita tempuh untuk mengambil kawan-kawan kita yang kita titipkan di padukuhan-padukuhan.

Perjalanan kita memerlukan waktu yang lama. Sementara itu, kita masih harus berhati-hati terhadap pasukan yang tidak dikenal itu”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita tidak dapat begitu saja meninggalkan padukuhan ini meskipun disini ada pasukan dari Prambanan”

Karena itu, maka Raden Sutawijaya pun berkata kepada para petugas sandi itu, “Jika kalian telah cukup beristirahat, besok sebaiknya kalian mendahului kami. Kalian dapat melaporkan keberadaan kami disini. Mungkin kami memerlukan dua hari perjalanan pulang, karena kami harus singgah di beberapa padukuhan”

“Baiklah Raden. Besok pagi-pagi kami akan kembali ke Pajang”

“Kalian tidak perlu berangkat pagi-pagi. Kalian memerlukan waktu istirahat”

“Bukankah sekarang kami beristirahat?”

“Jangan paksakan diri kecuali keadaan juga memaksa”

Ketiga orang itu saling berpandangan. Seorang di antara mereka pun kemudian berkata, “Baiklah. Kami akan beristirahat sebentar, Raden”

Seorang prajurit kemudian membawa ketiga orang itu ke serambi samping rumah Ki Bekel. Mereka pun kemudian telah dipersilahkan untuk beristirahat di sebuah amben bambu yang cukup besar bagi mereka bertiga.

Ternyata ketiganya sempat juga tidur beberapa lama di dini hari. Namun justru karena itu, maka mereka terbangun pada saat bayangan cahaya fajar yang kekuning-kuningan telah nampak di lubang-lubang dinding.

Dengan tergesa-gesa mereka bangun. Kemudian membersihkan dan berbenah diri sebelum mereka bersiap untuk berangkat.

“Kalian belum cukup beristirahat” berkata Raden Sutawijaya yang juga sudah duduk di pringgitan sambil minum minuman hangat bersama Pangeran Benawa dan Paksi.

“Ternyata kami terlambat bangun. Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi telah bangun lebih dahulu”

“Kami tidak letih seperti kalian yang menempuh perjalanan panjang sehingga seakan-akan dalam sehari semalam kalian tidak berhenti”

“Tetapi kami terlalu sering berhenti. Jika bukan kuda-kuda kami yang letih, kami bertigalah yang letih dan perlu beristirahat. Bagi kami tidak ada masalah untuk beristirahat kapan saja kami inginkan. Tetapi pasukan yang berada disini harus bertempur tanpa dapat beristirahat, karena beristirahat akan dapat merubah segala-galanya dalam pertempuran”

Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, “Sebenarnya kita sama-sama merasa letih. Tetapi kami  pun menyadari, bahwa kewajiban telah mendorong kami untuk menjalankan tugas”

Ketiga orang prajurit dalam tugas sandi itu pun tertawa pula sebagaimana Raden Sutawijaya dan Paksi.

Dalam pada itu, setelah makan pagi, minum minuman hangat dan beristirahat sejenak, maka ketiga orang prajurit itu pun mohon diri untuk segera kembali ke Pajang dan memberikan laporan hasil perjalanan mereka.

Dalam pada itu, pasukan Pajang yang kecil serta pasukan Pajang yang berada di Prambanan itu masih sibuk mengurusi kawan-kawan mereka yang cidera, terluka dan yang gugur. Demikian pula mereka harus mengurusi para pengikut Harya Wisaka. Sehingga dengan demikian maka pada hari itu para prajurit dan para tawanannya itu pun masih harus bekerja keras.

Namun kerja itu mereka akhiri hari itu juga. Ketika matahari turun ke barat, maka semuanya telah mereka selesaikan.

Para prajurit, baik yang dipimpin oleh Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa serta membawa seseorang yang mereka sebut Ki Gede Pemanahan itu, maupun para prajurit dari Prambanan yang dipimpin oleh Ki Lurah Sanggabaya itu pun menyempatkan diri untuk beristirahat sebelum esok pagi mereka akan kembali ke arah berlawanan.

Dalam pada itu, para prajurit yang belum berpengalaman itu pun mulai menyadari kedudukan mereka yang sebenarnya. Pertempuran yang telah terjadi itu pun merupakan tempaan bagi jiwa keprajuritan mereka. Memang ada kawan mereka yang gugur. Tetapi apa yang mereka lihat pada kawan-kawan mereka yang sudah berpengalaman apalagi pada pasukan khusus yang datang dari Pajang itu, telah menimbulkan kepercayaan pada diri mereka, bahwa mereka pun akan dapat menjadi prajurit yang dapat dibanggakan seperti para prajurit yang lebih matang itu.

Pada kesempatan yang sempit itu, maka Ki Lurah Sanggabaya pun telah mengetahui apa yang telah terjadi di kotaraja. Karena itu, maka tidak akan ada gunanya lagi memburu Harya Wisaka di luar kota. Mereka tidak akan dapat menemukannya.

“Meskipun demikian, kemungkinan Harya Wisaka lolos itu masih ada. Terakhir ternyata Harya Wisaka juga tidak tertangkap lagi. Meskipun dalam keadaan terluka, orang yang licin itu masih tetap berbahaya” berkata Raden Sutawijaya.

“Karena itu, jangan lengah” pesan Pangeran Benawa pula, “jika tiba-tiba Harya Wisaka muncul di tengah-tengah barakmu”

Ki Lurah Sanggabaya tertawa. Tetapi ia menyadari, bahwa pesan itu tidak berlebih-lebihan. Harya Wisaka yang licik itu akan dapat berbuat apa saja yang sebelumnya tidak terduga-duga.

Ketika malam turun, maka kedua pasukan yang masih ada di padukuhan itu pun segera bersiap-siap. Para pemimpinnya pun telah menemui Ki Bekel yang sudah pulang ke rumahnya yang harus mereka tinggalkan.

“Besok kami akan mohon diri, Ki Bekel” berkata Raden Sutawijaya.

“Kami juga, Ki Bekel” sambung Ki Lurah Sanggabaya.

“Kenapa begitu tergesa-gesa?”

“Masih banyak yang harus kami kerjakan di Pajang, Ki Bekel”

“Kami mengucapkan terima kasih, bahwa kami telah terlepas dari kuasa pasukan yang ganas itu”

“Nampaknya sebagian besar kekuatan Harya Wisaka telah dihancurkan, Ki Bekel. Terutama di daerah ini. Meskipun mungkin di daerah utara para pendukungnya masih kuat, namun agaknya mereka tidak akan berkeliaran sampai kemari”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kami dapat hidup tenteram seperti sediakala”

“Jika terjadi sesuatu yang terasa gawat, Ki Bekel dapat memerintahkan dua tiga orang bebahu menghubungi aku di Prambanan” berkata Ki Sanggabaya. “Agaknya Prambanan lebih dekat daripada Ki Bekel harus pergi ke Pajang”

“Baik, Ki Lurah. Jika perlu, aku akan menghubungi Ki Lurah di Prambanan”

Malam itu, para bebahu pun telah mengucapkan terima kasih dan selamat jalan pula kepada para pemimpin pasukan yang akan kembali sebagian ke Pajang dan sebagian lagi ke Prambanan. Pasukan yang ke Prambanan yang lebih besar dari pasukan yang akan kembali ke Pajang, akan membawa para tawanan dalam keadaan terikat tangannya. Para prajurit dari Prambanan tidak mau mengalami akibat buruk jika terjadi kelengahan sehingga para tawanan itu melakukan tindakan yang dapat mengacaukan pasukan yang kembali ke Prambanan itu.

Demikianlah, malam itu adalah malam terakhir bagi pasukan khusus yang dipimpin oleh Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa itu. Besok mereka akan kembali ke Pajang, karena orang yang mereka buru itu ternyata masih berada di kotaraja.

Ketika malam menjadi semakin dalam, maka para prajurit dan para pemimpinnya itu pun telah beristirahat kecuali mereka yang bertugas. Besok pagi-pagi benar mereka akan berangkat meninggalkan padukuhan itu ke arah yang berbeda-beda.

Dari Ki Bekel, Raden Sutawijaya meminjam beberapa ekor kuda untuk keperluan yang sangat khusus, terutama untuk mengangkut mereka yang terluka sangat parah dan tidak mungkin untuk berjalan kaki.

Dengan kuda, pasukan itu akan dapat berjalan lebih cepat daripada mereka mempergunakan pedati.

Sementara itu, di dini hari, beberapa orang yang bertugas di dapur telah bangun. Ki Bekel ingin menghidangkan makan yang terakhir kalinya bagi para prajurit yang telah membebaskan padukuhannya dari kerusuhan dan kekacauan yang ditimbulkan oleh para pengikut Harya Wisaka.

Karena itu, maka Ki Bekel telah menugaskan beberapa orang menyediakan makan yang khusus. Beberapa ekor kambing telah disembelih di samping ikan yang ditangkap dengan mengeringkan dua buah belumbang milik Ki Bekel. Beberapa kepis ikan gurameh dan tambra, ikan mas dan bader.

“Sebelum terang tanah, semuanya harus sudah masak” berkata Ki Bekel kepada orang-orang yang ditugaskan menyediakan makanan pagi bagi para prajurit yang akan meninggalkan padukuhan itu.

Ketika para prajurit terbangun, maka mereka tersentak oleh bau yang sedap yang menyengat hidung mereka. Beberapa orang prajurit justru merasa perutnya tiba-tiba menjadi lapar.

“Marilah kita segera mandi. Bau itu tidak tertahankan lagi. Siapa yang lebih cepat mandi dan berbenah diri, maka ia akan makan mendahului yang lain. Siapa yang lambat, mungkin tidak akan mendapat bagian lagi”

Tetapi seorang prajurit yang lain menyahut, “Aku tidak akan mandi. Aku akan mencuci muka, langsung pergi ke dapur”

Terdengar kawan-kawannya tertawa. Seorang berkata, “He, pemalas. Jika kau masuk ke dapur, kau tentu akan diusir. Ki Bekel sendiri menunggui orangnya yang sedang masak”

“He?”

Yang terdengar adalah suara tertawa.

Demikianlah, maka para pemimpin kelompok pun segera memerintahkan pasukan masing-masing untuk segera bersiap. Ki Lurah Sanggabaya memerintahkan untuk berangkat meninggalkan padukuhan itu sebelum matahari naik.

Ketika langit kemudian menjadi merah, maka nasi dan lauk serta sayurnya pun telah siap. Ki Bekel pun kemudian menemui Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Ki Lurah Sanggabaya untuk mempersilahkan para prajurit itu makan. “Nasi, lauk serta sayurnya telah kami sediakan di beberapa tempat. Di pendapa, di ruang dalam”

“Terima kasih, Ki Bekel” jawab Raden Sutawijaya yang kemudian memerintahkan para prajurit untuk makan pagi, kecuali yang bertugas.

Suasananya terasa menjadi gembira. Disana-sini terdengar gurau dan kelakar yang segar, disusul oleh suara tertawa yang meledak. Sementara itu, yang lain sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka lebih sibuk dengan daging kambing dan ikan gurameh bakar.

Bahkan mereka yang terluka pun dapat melupakan perasaan nyeri yang menggigit.

“He, kau tidak boleh makan daging kambing sebelum lukamu sembuh” desis seorang prajurit.

“Aku makan mangut lele”

“Juga tidak boleh. Ikan air akan dapat membuat luka-lukamu gatal dan semakin parah”

“Jika aku harus mati karena luka-lukaku, aku tidak akan menyesal setelah aku makan daging kambing dan mangut lele”

Terdengar suara tertawa berkepanjangan.

Menjelang matahari terbit, maka kedua pasukan itu pun sudah bersiap. Mereka yang semula bertugas sudah berada di dapur untuk makan pagi. Sedangkan sekelompok prajurit yang lain menggantikan tugas mereka di gerbang padukuhan.

Sejenak kemudian, maka semuanya pun telah bersiap. Para prajurit yang baru saja makan, masih berada di dapur. Mereka masih beristirahat sejenak sebelum berangkat menempuh perjalanan panjang, agar lambung mereka tidak terasa sakit.

Tepat pada saat matahari terbit, maka kedua pasukan pun segera meninggalkan padukuhan itu. Pasukan yang besar bersama para tawanan pergi ke Prambanan, sementara pasukan yang lebih kecil yang dipimpin oleh Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi berjalan menuju ke Pajang. Orang yang sebelumnya disebut Ki Gede Pemanahan telah memilih untuk menanggalkan sebutan itu setelah ia mengetahui bahwa Harya Wisaka tidak berada di luar kotaraja.

Demikianlah, pasukan kecil itu telah menempuh perjalanan sebagaimana mereka lalui ketika mereka berangkat. Selain menjemput kawan-kawan mereka yang terluka dan ditinggalkan di padukuhan-padukuhan yang dilewati, pasukan itu juga ingin singgah dan mengucapkan terima kasih kepada penghuni padukuhan yang telah menopang tugas mereka.

Seperti yang diperhitungkan, maka perjalanan mereka akan memakan waktu dua hari dua malam dengan waktu istirahat yang terhitung pendek.

Ketika pasukan itu berada di pintu gerbang kota, maka Raden Sutawijaya telah mengirimkan dua orang penghubung untuk memberikan laporan, bahwa pasukan itu telah datang.

Ki Gede Pemanahan dan Ki Waskita bersama beberapa orang senapati menyambut langsung kehadiran pasukan itu di sebuah barak yang disediakan khusus bagi mereka, sebelum mereka dikembalikan ke dalam kesatuan mereka masing-masing.

“Kalian akan berada di barak ini selama tiga hari” berkata Ki Gede Pemanahan setelah mengadakan sesorah penyambutan.

“Dalam kesempatan itu, kalian boleh pulang untuk menengok keluarga. Tetapi baru setelah itu, kalian mendapat waktu beristirahat sepekan. Namun sebelum kalian menengok keluarga kalian, lebih dahulu keluarga mereka yang gugur di dalam tugas akan mendapat pemberitahuan dan diundang untuk bertemu langsung dengan aku sendiri”

Para prajurit itu pun mengangguk-angguk. Mereka dapat membayangkan, betapa sedihnya keluarga yang kehilangan itu.

Mereka melepaskan suami atau anak atau saudara laki-laki dalam keadaan segar bugar bersama kawan-kawan dalam satu pasukan, namun ternyata ketika pasukan itu kembali, keluarga mereka tidak ada di antara para prajurit yang lain dalam pasukan itu.

Demikianlah, ketika para prajurit itu. beristirahat, maka beberapa orang penghubung telah mendapat perintah khusus kepada keluarga para korban untuk bertemu dengan Ki Gede Pemanahan di tempat yang lain. Tidak di dalam barak itu.

Bahkan Ki Gede telah minta mereka datang ke rumah Ki Gede Pemanahan sendiri. Bersama mereka telah diundang pula untuk hadir Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi, yang memimpin tiga kelompok prajurit khusus yang menjalankan tugas yang khusus pula.

“Aku persilahkan mereka datang besok pagi” berkata Ki Gede Pemanahan kepada para penghubung.

Menjelang pertemuan itu, Paksi merasa sangat gelisah. Ia harus menyaksikan betapa mereka yang hadir itu akan menumpahkan kesedihan. Betapapun tabahnya hati mereka, tetapi mereka tentu akan merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

“Yang terjadi itu adalah satu keharusan, Paksi” berkata Raden Sutawijaya. “Untuk menegakkan wibawa serta kekuasaan, maka setiap pemberontakan harus dipadamkan. Untuk memadamkan pemberontakan, kita harus melepaskan korban. Korban itu mungkin para prajurit, mungkin kau, mungkin aku atau Adimas Pangeran Benawa. Dan bahkan mungkin orang-orang yang tidak tahu-menahu sama sekali tentang terjadinya sebuah pemberontakan”

Paksi mengangguk kecil.

Namun ketika ia benar-benar berada di tengah-tengah pertemuan yang berlangsung di pendapa rumah Ki Gede Pemanahan, maka jantung Paksi benar-benar terguncang.

Meskipun Ki Gede Pemanahan telah memberikan pengantar dengan hati-hati, namun ketika nama para korban disebutkan, tangis pun tidak tertahankan lagi. Ada yang tangisnya meledak. Tetapi ada yang mencoba menahan diri. Beberapa orang yang tabah pun harus mengusap air matanya yang meleleh di pelupuk matanya.

Paksi tidak ikut menangis. Tetapi jantungnya terasa pedih. Ia membayangkan, apa yang terjadi pada ibunya, jika ia hadir di tempat itu dan mendengar nama Paksi disebut sebagai salah seorang korban yang harus diserahkan untuk menegakkan wibawa Pajang.

Betapapun beratnya, Ki Gede Pemanahan memang harus segera menyampaikan berita duka itu sebelum mereka mendengar dari desas-desus atau sumber-sumber lain yang tidak jelas.

Demikianlah, setelah pertemuan itu selesai, maka para prajurit yang lain telah diperkenankan untuk menampakkan diri pada keluarga mereka. Namun waktu istirahat yang diberikan kepada mereka, baru tiga hari kemudian. Di dalam tiga hari itu, mungkin masih ada persoalan yang harus diselesaikan. Perintah-perintah khusus serta persoalan penempatan kembali mereka di kesatuan mereka semula harus diselesaikan.

Dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan pun telah memerintahkan Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi untuk menghadap Kangjeng Sultan bersamanya. Selain untuk memberikan laporan langsung tentang tugas yang mereka lakukan, juga untuk menerima perintah-perintah mirunggan bagi mereka bertiga.

Pada waktu yang telah ditentukan, keempatnya telah pergi menghadap ke istana. Kangjeng Sultan memang sudah siap menerima mereka, sehingga keempat orang itu pun langsung diterima di paseban dalam.

“Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian. Kalian telah mengemban tugas dengan sepenuh hati dan bahkan mempertaruhkan nyawa kalian untuk menegakkan wibawa Pajang”

Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi masih menundukkan kepala mereka. Sementara Kangjeng Sultan pun berkata, “Namun ternyata orang yang kalian cari itu masih berada di kotaraja sebagaimana perhitungan Kakang Pemanahan. Bahkan Harya Wisaka itu telah datang sendiri ke istana ini. Namun kamilah yang gagal untuk menangkapnya. Ternyata kemampuan orang-orang tua ini masih juga dalam keterbatasan”

Pangeran Benawa lah yang kemudian bertanya, “Bukankah Harya Wisaka itu terluka?”

“Ya. Kami telah berusaha memburunya. Tetapi kami telah gagal pula. Kami tidak dapat menemukan Harya Wisaka”

“Ayahanda” berkata Raden Sutawijaya kemudian, “jika saja belum menemukannya. Mudah-mudahan Paman Harya Wisaka masih berada di kotaraja”

Kangjeng Sultan Hadiwijaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Kita tidak akan dapat menemukannya”

“Kenapa, Ayahanda?” bertanya Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa hampir bersamaan.

“Harya Wisaka telah meninggal”

“Meninggal?”

“Ya” Kangjeng Sultan mengangguk angguk, “lukanya terlalu parah. Meskipun ia berhasil melarikan diri, tetapi darahnya terlalu banyak mengalir, sehingga Harya Wisaka tidak dapat bertahan lagi”

“Darimana Ayahanda tahu bahwa Paman Harya Wisaka sudah meninggal?”

“Seorang petugas sandi berhasil mencium upacara sederhana pemakamannya. Petugas sandi itu melihat isteri Harya Wisaka menangisinya saat tubuhnya dimasukkan ke dalam kubur dan yang kemudian ditimbun dengan tanah. Petugas sandi itu dengan cepat melaporkan kehadiran isteri Harya Wisaka. Perempuan itu ikut bersalah karena ia telah berusaha membebaskan suaminya dari penjara dan yang kemudian ternyata berhasil”

“Perempuan itu kemudian tertangkap?”

Kangjeng Sultan menggeleng. Katanya, “Ketika sekelompok prajurit datang menyergap, kuburan itu sudah sepi. Tidak ada seorang  pun yang tinggal. Petugas sandi itu  pun tidak tahu, kemana mereka pergi”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Licin juga mereka. Tetapi menurut Ayahanda, apakah sepeninggal Harya Wisaka, perlawanan para pengikutnya akan berhenti?”

“Jika tidak ada orang kuat yang tampil, perlawanan mereka memang akan berhenti. Para pengikut Harya Wisaka yang berada di sisi selatan menurut laporan telah kalian hancurkan. Tetapi masih ada pengikut Harya Wisaka di sisi utara yang cukup besar. Meskipun demikian, tanpa Harya Wisaka, mereka tidak akan bergerak lagi”

“Belum tentu, Ayahanda” sahut Pangeran Benawa. “Para pembantu Harya Wisaka yang sudah terlanjur basah tidak akan dengan mudah menyerah. Mereka tidak akan bersedia menyerahkan kedua pergelangan tangan mereka untuk diikat”

“Aku mengerti” berkata Kangjeng Sultan. “Tetapi perjuangan mereka akan terpecah-pecah. Kecuali jika tampil seseorang yang mampu mengikat mereka menjadi satu kesatuan yang utuh”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Tetapi Pangeran Benawa tidak bertanya lebih jauh.

Raden Sutawijayalah yang kemudian bertanya, “Apakah dengan demikian berarti bahwa penjagaan di jalan-jalan keluar kotaraja telah terbuka?”

“Tidak. Kami tidak akan membiarkan para pengikutnya yang ada di kotaraja melarikan diri keluar atau sebaliknya yang berada di luar kemudian justru masuk ke dalam. Terutama isteri Harya Wisaka itu sendiri”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Perempuan itu memang sangat berbahaya. Perempuan itu tidak boleh menjadi pengganti Harya Wisaka, menjadi pengikat kesatuan pasukan para pengikutnya. Tetapi perempuan itu juga seorang perempuan yang amat cantik di mata Kangjeng Sultan. Tetapi Pangeran Benawa tidak berkata apa-apa lagi tentang perempuan itu.

Demikianlah, beberapa saat kemudian Kangjeng Sultan menganggap bahwa pertemuan itu sudah cukup. Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi diperkenankan untuk mengundurkan diri bersama Ki Gede Pemanahan.

Di barak, Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi telah sepakat untuk melihat keadaan kuburan Harya Wisaka itu. Dari Ki Gede Pemanahan mereka tahu, dimana letak kuburan yang disebut sebagai kuburan Harya Wisaka.

“Paman adalah orang yang sangat licik” berkata Raden Sutawijaya. “Apakah kita percaya begitu saja, bahwa yang dikubur itu Paman Harya Wisaka?”

“Lalu? Maksud Kakangmas?”

“Nanti malam kita akan melihatnya”

“Maksud Kakangmas kita akan membongkar kubur itu?”

“Ya. Mumpung belum terlalu lama. Kita masih akan dapat mengenali tubuh yang terkubur itu, seandainya benar Paman Harya Wisaka”

“Nampaknya Ki Gede Pemanahan juga meragukannya. Dari sikap dan kata-katanya, Ki Gede menduga, bahwa yang dikuburkan itu tentu bukan Harya Wisaka” berkata Paksi kemudian.

“Ya. Karena itu, kita benar-benar akan membongkarnya”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi apakah tidak akan ada orang yang mengamati kuburan itu?”

“Jika kuburan itu benar-benar kuburan Harya Wisaka, tentu akan ada pengikutnya yang menungguinya. Jika bukan, mereka tidak akan menganggap perlu untuk mengawasinya”

“Belum tentu. Mungkin mereka pun memperhitungkan kemungkinan bahwa kuburan itu akan dibongkar”

“Memang mungkin. Karena itu, kita harus berhati-hati” desis Raden Sutawijaya kemudian.

Ketika kemudian malam turun, ketiga orang itu pun benar-benar mencari kuburan Harya Wisaka sebagaimana dikatakan oleh Ki Gede Pemanahan. Kuburan itu berada di kuburan tua di pinggir sebuah sungai kecil. Beberapa batang pohon besar tumbuh di sekitar kuburan tua itu, sehingga suasananya memang agak menyeramkan.

Tetapi ketiga orang itu tidak mengurungkan niatnya. Mereka menuruni tebing sungai kecil yang agak curam itu. Kemudian menyeberang dan memanjat naik di sisi seberang.

“Kita harus berhati-hati, apakah ada orang yang mengawasi kuburan itu atau tidak” desis Raden Sutawijaya.

Ketiganya telah mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu dan Sapta Pandulu. Mereka dapat melihat dengan lebih terang dan mendengar lebih jelas. Namun ketiganya sepakat, bahwa tidak ada orang di kuburan itu.

Demikianlah, maka mereka pun telah berusaha menemukan kuburan yang disebut kuburan Harya Wisaka itu.

“Tentu inilah kuburan itu” desis Raden Sutawijaya.

“Ya. Di dekat sebatang pohon cangkring tua ini” sahut Paksi.

“Kita akan membongkarnya?”

“Ya” sahut Raden Sutawijaya dengan tegas.

Ketiga orang itu memang sudah membawa cangkul yang akan mereka pergunakan untuk menggali kuburan itu.

Beberapa saat kemudian, maka ketiganya telah sibuk menggali gundukan tanah yang masih merah itu berganti-ganti.

“Hati-hati, jangan melukai sosok mayat yang ada di dalamnya, siapa pun orangnya”

Ketika mereka sampai pada potongan-potongan bambu yang melintang di atas tubuh yang terkubur itu, ketiga orang yang menggali kubur itu pun menjadi semakin berhati-hati.

Memang terdapat sosok mayat di kuburan itu. Tetapi ketiganya segera meyakini, bahwa sosok tubuh yang terbujur itu bukan Harya Wisaka. Meskipun mayat itu sudah hampir rusak, tetapi ketiganya pun segera memastikan, bahwa tubuh itu terlalu besar dan terlalu panjang.

Meskipun ketiganya tidak menyalakan obor, tetapi Aji Sapta Pandulu yang mereka trapkan membantu mereka melihat dengan jelas wajah orang yang terbujur itu. Apalagi orang itu sama sekali tidak terluka di tubuhnya.

“Mayat siapakah ini?” desis Pangeran Benawa.

“Apakah mereka sengaja mengorbankan seseorang, atau kebetulan seseorang telah meninggal?”

Pangeran Benawa menggelengkan kepalanya. Katanya, “Mudah-mudahan orang ini memang sudah meninggal. Kemudian menimbulkan gagasan untuk menyebut mayat itu adalah Harya Wisaka. Dengan demikian mereka berharap, bahwa Harya Wisaka tidak akan dikejar-kejar lagi”

“Satu usaha untuk menghilangkan jejak” gumam Paksi.

“Cara yang cerdik dan licik sekaligus”

Ketiganya pun kemudian sepakat untuk menimbun kembali kuburan itu. Mengembalikan sebagaimana sediakala tanpa menimbulkan kecurigaan. Mereka pun kemudian menyingkirkan cangkul mereka jauh-jauh. Baru kemudian mereka pun membersihkan tubuh mereka di sungai di sebelah kuburan itu.

Namun itu belum cukup. Ketiganya pun segera kembali ke barak untuk berganti pakaian. Di luar pengetahuan para prajurit, ketiganya pun telah berada di dalam barak itu. Tidak seorang  pun yang mengetahui bahwa ketiganya telah keluar dari barak, menggali kuburan dan kembali ke dalam bilik mereka masing-masing.

Namun mereka pun telah sepakat, esok pagi-pagi mereka akan pergi menghadap Ki Gede Pemanahan untuk memberikan laporan bahwa yang dikubur itu sama sekali bukan Harya Wisaka.

Laporan itu tidak mengejutkan Ki Gede Pemanahan. Ketika Raden Sutawijaya menceriterakan apa yang dikerjakannya bersama Pangeran Benawa dan Paksi, maka Ki Gede Pemanahan pun berkata, “Yang kalian kerjakan telah memastikan dugaanku. Itulah sebabnya maka penjagaan di sekeliling kota ini tidak mengendor meskipun diberitakan bahwa Harya Wisaka telah meninggal. Penjagaan ini kami nyatakan ditujukan kepada para pengikut Harya Wisaka dan terutama isteri Harya Wisaka itu”

“Selanjutnya apa yang harus kami lakukan, Ayah?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Aku akan memberikan pernyataan, bahwa aku akan pergi membuktikan keberadaan kuburan Harya Wisaka itu”

“Maksud Ayah, Ayah akan pergi ke kuburan tua itu?”, “Ya. Mudah-mudahan ada pengikut Harya Wisaka yang melihat kehadiranku. Aku harus bersikap seakan-akan aku mempercayainya bahwa Harya Wisaka memang sudah meninggal”

Pangeran Benawa tertawa pendek. Katanya, “Permainan Paman dengan Paman Harya Wisaka akan diulang kembali. Ketika Harya Wisaka lari keluar kotaraja, maka Paman telah memburunya. Namun akhirnya Paman telah berjumpa langsung dengan Paman Harya Wisaka justru di istana”

Raden Sutawijaya dan Paksi pun tertawa. Bahkan Ki Gede Pemanahan pun tertawa pula.

Sementara itu Pangeran Benawa pun bertanya, “Apakah Harya Wisaka percaya seandainya Paman bersikap seakan-akan Paman mempercayai bahwa Harya Wisaka telah mati? Harya Wisaka juga mempunyai pengalaman bahwa Paman Harya Wisaka telah Paman kelabuhi, sehingga hampir saja ia terjebak di istana”

“Kita sedang bermain macanan, Pangeran. Jika aku berhasil, maka aku akan dapat menangkap macannya. Tetapi jika macan itu lebih cerdik dan kuat, maka orang-orangku akan diterkamnya seorang demi seorang, sehingga akhirnya aku harus menyerah”

Raden Sutawijaya pun tertawa pula. Katanya, “Ayah tidak sedang bermain macanan atau bas-basan. Ayah sedang bermain binten. Permainan keras yang memerlukan pengerahan segenap akal dan kemampuan. Bahkan kekuatan tenaga dan ilmu”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Permainan ini adalah permainan yang keras. Nah, Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi, besok kita pergi ke kuburan itu. Aku akan membawa sekelompok prajurit. Sebelumnya sekelompok prajurit yang lain harus membersihkan kuburan tua itu dari para pengikut Harya Wisaka. Kemudian menjaga agar kehadiranku tidak diganggu oleh para pengikut Harya Wisaka itu”

Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi pun mengangguk-angguk. Mereka mengetahui bahwa Ki Gede Pemanahan bukan seorang penakut yang harus mendapat perlindungan sekian banyak orang. Tetapi gelar itu dibuat untuk memancing agar para pengikut Harya Wisaka mengetahui, setidak-tidaknya satu dua orang petugas sandinya, bahwa Ki Gede membuktikan keberadaan makam Harya Wisaka di kuburan tua itu.

Ketika Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi kembali ke barak, mereka sempat meragukan rencana Ki Gede Pemanahan. Bukan karena rencana itu merupakan rencana yang bodoh, tetapi mereka sadari bahwa permainan itu telah saling menguji ketajaman panggraita masing-masing. Tetapi Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi menduga, bahwa Harya Wisaka pun tidak mudah dikelabuhi. Karena itu, maka untuk menemukannya, jalan lain adalah mengerahkan pasukan sandi di samping penjagaan yang semakin diperkuat.

Tetapi ketiganya tidak mencegah rencana Ki Gede Pemanahan sebagai salah satu usaha untuk membuat Harya Wisaka lengah, sebagaimana pernyataan bahwa Harya Wisaka sudah mati dan dikuburkan di kuburan tua itu, ditangisi oleh isterinya serta beberapa orang pengikutnya yang setia.

Meskipun demikian, Ki Gede Pemanahan pun menyadari sepenuhnya, bahwa yang dilakukannya itu tidak pasti akan berhasil sebagaimana diinginkannya. Ki Gede pun menyadari bahwa yang dilakukannya itu bahkan justru ditertawakan oleh Harya Wisaka sebagaimana Ki Gede Pemanahan menertawakan permainan Harya Wisaka.

Demikianlah, seperti yang direncanakan, di keesokan harinya, Ki Gede Pemanahan telah bersiap untuk pergi ke kuburan tua itu. Sebelum Ki Gede berangkat, maka sekelompok prajurit telah mendahului untuk mengamankan kuburan tua itu dan sekitarnya dari penyerang gelap yang mungkin bersembunyi di sekitar kuburan, terutama adalah para pengikut Harya Wisaka.

Kesibukan itu ternyata memang berhasil menarik perhatian beberapa orang pengikut Harya Wisaka yang berkeliaran di kotaraja. Demikian mereka melihat kesibukan itu, maka mereka pun segera mengamati apa yang akan terjadi.

Mereka pun akhirnya mengetahui, bahwa Ki Gede Pemanahan akan pergi ke kuburan tua itu untuk membuktikan, apakah Harya Wisaka benar-benar telah dikubur di kuburan itu. Karena itu, maka jaringan sandi mereka pun segera bergerak, sehingga pagi itu juga, Harya Wisaka yang di persembunyiannya dalam keadaan luka cukup parah, memerintahkan para petugas sandinya untuk mengamati apa yang akan dilakukan oleh Ki Gede Pemanahan itu.

“Jika ada usaha untuk membongkar kuburan itu, kalian harus berusaha untuk menimbulkan kekacauan. Jika pengamanan di kuburan itu terlalu kuat, kalian dapat melakukannya di tempat lain yang tidak jauh dari kuburan itu.

Kalian dapat membakar banjar padukuhan atau menyerang pintu gerbang sebelah barat yang terletak tidak jauh dari kuburan tua itu”

Para pengikut Harya Wisaka yang setia pun segera menempatkan diri. Dua orang petugas sandi berusaha mengamati, apa yang akan dilakukan oleh Ki Gede nanti di kuburan tua itu.

Ketika matahari naik sepenggalah, maka sebuah iring-iringan mulai bergerak. Ki Gede Pemanahan berjalan diapit dua orang pengawal. Di belakangnya Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi mengikutinya. Kemudian sekelompok prajurit pilihan.

“Mereka baru datang dari perburuan yang menggelikan itu” desis seorang petugas sandi.

“Jangan bodoh. Kau kira Pemanahan mudah dikelabuhi? Kau kira Pemanahan benar-benar berada di dalam pasukan yang memburu Harya Wisaka keluar kotaraja?”

“Aku tahu. Tetapi Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa benar-benar melakukan perburuan yang bodoh itu”

“Kau yang bodoh. Gerakan itu perlu dilakukan untuk menjawab muslihat Harya Wisaka. Bukankah Harya Wisaka sendiri hampir saja terjebak di istana?”

Petugas sandi itu tidak menjawab. Apa yang diketahuinya memang tidak sebanyak apa yang diketahui oleh kawannya, seorang petugas yang lebih dekat dengan para pemimpin di lingkungan para pengikut Harya Wisaka.

Petugas sandi yang lebih banyak mengetahui itu pun kemudian berdesis, “Kita akan melihat, apakah Pemanahan itu cukup berhati-hati dan cukup cerdik untuk menggali kuburan itu?”

Kawannya mengangguk-angguk. Namun petugas sandi yang lebih banyak mengetahui itu pun berkata, “Tetapi kau  pun harus berhati-hati. Di lingkungan kita sendiri, hanya orang-orang tertentu sajalah yang boleh mengetahui bahwa yang berada di dalam kubur itu bukan Harya Wisaka”

“Kenapa lingkungan kita sendiri tidak boleh mengetahuinya apa yang sebenarnya terjadi atas Harya Wisaka?”

“Apakah kita yakin, bahwa kesetiaan kawan-kawan kita dapat dipercaya sepenuhnya? Apakah kau tahu sebatas mana mulut itu dapat disumbat?”

Kawannya itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku tahu”

“Kita, para petugas sandi nampaknya sudah mendapat tempat lahir dan batin. Kita yakini apa yang kita perjuangkan. Tetapi ada pula para pengikut Harya Wisaka yang tidak tahu pasti tujuan perjuangannya. Mereka itulah yang berbahaya”

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Orang-orang yang demikian itu sebaiknya disingkirkan saja dari lingkungan kita”

“Kita memerlukan mereka. Tentu saja dalam batas-batas tertentu”

Kawannya tidak menjawab. Perhatiannya tertuju kepada iring-iringan yang memasuki kuburan tua.

Beruntunglah mereka, bahwa selain para pengawal, beberapa orang ikut melihat pula. Mereka ingin tahu, apa yang akan dilakukan oleh panglima perang Pajang itu. Dengan demikian, maka para petugas sandi itu dapat membaurkan diri dengan orang-orang yang ikut berkerumun di kuburan tua itu.

Namun mereka tidak dapat mendekat. Para prajurit yang menjaga kuburan itu memaksa orang-orang yang ingin tahu itu berada pada jarak tertentu dengan Ki Gede Pemanahan.

Para petugas sandi yang dikirim oleh Harya Wisaka itu pun dapat ikut menyaksikan dengan jelas, apa yang dilakukan oleh Ki Gede Pemanahan di kuburan tua itu.

“Jika Ki Gede memerintahkan membongkar kuburan itu, maka para petugas sandi itu harus segera memberikan isyarat kepada para pengikut Harya Wisaka yang siap untuk menimbulkan kekacauan sehingga niat Ki Gede Pemanahan itu menjadi batal”

Beberapa saat Ki Gede Pemanahan mengamati kuburan itu. Ia pun berbicara dengan beberapa orang yang sejak semula dibawanya bersama dengan pasukannya.

Petugas sandi itu menarik nafas panjang ketika mereka melihat Ki Gede Pemanahan itu mengangguk-angguk. Agaknya ia sudah cukup yakin berdasarkan atas keterangan-keterangan yang didapatnya dari beberapa orang yang dianggapnya sebagai saksi.

Setelah beberapa lama Ki Gede Pemanahan berada di kuburan itu, maka ia pun memberi isyarat untuk segera meninggalkan kuburan tua itu.

“Ternyata Ki Gede Pemanahan bukan seorang yang teliti. Ia tidak memerintahkan membongkar kuburan itu” desis petugas sandi yang lebih banyak mengetahui dari kawannya itu.

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa nampaknya juga tidak mengusulkannya”

Kawannya terdiam.

Sejenak kemudian, para prajurit pun telah membuka jalan. Mereka mendorong orang-orang yang berkerumun di pinggir kuburan tua itu untuk menjauhi jalan yang akan dilalui oleh Ki Gede Pemanahan.

Demikian Ki Gede Pemanahan keluar dari kuburan, turun ke sungai, menyeberang dan naik di tebing sebelah, maka orang-orang yang berkerumun itu pun segera meninggalkan kuburan tua itu pula.

Beberapa saat kemudian, kuburan itu menjadi sepi. Tidak ada seorang pun lagi yang tinggal. Para prajurit yang mengamankan kuburan tua pun telah meninggalkan kuburan itu pula.

Namun beberapa saat kemudian, dua orang berdiri termangu-mangu di dekat gundukan tanah di dekat sebatang pohon cangkring tua. Seorang dari mereka yang kemudian berjongkok di samping gundukan tanah itu pun berdesis, “Liwung, baru setelah kau mati, kau dapat memberikan arti bagi perjuangan ini”

Kawannya yang tetap berdiri itu pun tertawa. Katanya, “Arti apakah yang telah diberikannya?”

“Bukankah orang ini dapat berperan sebagai Harya Wisaka?”

Kawannya itu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Aku senang mendengar guraumu yang segar itu”

“Aku tidak bergurau. Jika aku wenang, aku akan memberikan penghargaan kepadanya”

“Penghargaan apa yang dapat diberikan kepada orang mati?”

“Mengembalikan nama baiknya”

“Itu tidak mungkin. Ia telah berkhianat. Hukuman mati itu adalah hukuman yang sangat wajar baginya”

“Apakah Liwung sudah pasti berkhianat?”

“Jika ia tidak bersalah, maka ia akan selamat. Ketika ia memasukkan jari tangannya ke dalam kepis yang berisi ular itu, ularnya tidak akan menggigit sampai hitungan kesepuluh. Tetapi baru sampai ke hitungan keenam, jari Liwung sudah digigit ular bandotan sehingga ia mati”

“Aku tidak sependapat dengan cara Ki Lebdasarana menentukan apakah seseorang bersalah atau tidak. Pembuktian dengan memasukkan jari-jari ke kepis yang berisi ular, bukan cara yang dapat memberikan kepastian. Jika ular itu sedang tidur atau malas, betapapun besar kesalahan seseorang, ular itu tidak akan mematuk. Tetapi jika ular itu sedang menjadi ganas, maka gerakan sekecil apa pun akan menarik perhatiannya dan mematuknya. Bisa ular bandotan termasuk bisa yang paling tajam dari berbagai jenis ular berbisa. Karena itu, Liwung tidak akan dapat bertahan tanpa pengobatan apa pun juga. Apakah kau juga akan mengatakan, seandainya Liwung tidak bersalah, bisa itu tidak akan membunuhnya?”

Kawannya mengerutkan dahinya. Katanya dengan nada tinggi, “Tetapi Harya Wisaka sudah menyetujui cara itu”

“Harya Wisaka yang terluka parah itu tidak sempat membuat pertimbangan yang jernih, sehingga dengan mudah ia menyetujui saja pendapat orang yang sedang merawatnya itu. Nah, seandainya Ki Lebdasarana yang tidak bersalah apa-apa itu kita minta memasukkan jari-jarinya ke kepis ular itu, apakah ia bersedia?”

“Tentu tidak, karena tidak ada alasannya, kenapa ia harus memasukkan jari-jarinya ke dalam kepis itu”

“Bukankah ia yakin bahwa dirinya tidak bersalah?

Seharusnya ia tidak berkeberatan memasukkan jarinya jika ia yakin tidak bersalah”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Sementara petugas sandi yang berjongkok itu berdesis, “Pada suatu saat, kita akan mendapat giliran untuk memasukkan jari-jari kita ke dalam kepis itu. Tetapi jika Harya Wisaka segera menjadi baik, maka ia akan menghapuskan cara yang tidak berlandaskan pada akal itu”

Kawannya tidak menyahut lagi. Tetapi ia mulai mengangguk-anggukkan kepalanya.

Petugas sandi yang berjongkok itu menepuk gundukan tanah itu beberapa kali sambil berkata, “Jika kau masih hidup, kau tidak akan dapat menggantikan sosok Harya Wisaka dalam kesempatan apa pun juga”

Demikianlah, sejenak kemudian orang itu pun bangkit berdiri dan bersama-sama dengan kawannya meninggalkan kuburan yang disebut sebagai kuburan Harya Wisaka itu.

Kuburan itu benar-benar menjadi sepi. Yang kemudian bergerak-gerak adalah dedaunan dari beberapa pohon raksasa yang rimbun di sekitar kuburan itu. Namun juga batang kamboja yang tumbuh di sela-sela batu nisan pun bergoyang perlahan-lahan dihembus angin.

Dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan pun telah berada di rumahnya. Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi berada di rumah Ki Gede itu pula.

“Kita memang tidak mempunyai pilihan lain” berkata Ki Gede.

“Kita harus mencarinya di seluruh sudut kotaraja”

“Bukankah itu sudah dilakukan, Paman?” sahut Pangeran Benawa. “Tetapi masih juga belum berhasil”

“Tetapi kita harus mencoba terus. Kita tidak dapat membiarkan Harya Wisaka tetap berkeliaran di Pajang. Ia adalah orang yang sangat berbahaya”

“Tentu, Ayah” berkata Raden Sutawijaya. “Tetapi yang dimaksud Adimas Pangeran Benawa mungkin cara yang kita tempuh yang harus berubah”

“Kakangmas benar” sahut Pangeran Benawa.

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk. Sementara Pangeran Benawa pun berkata, “Paman, sebaiknya pencaharian Paman Harya Wisaka tidak lagi ditekankan pada usaha pencaharian dari rumah ke rumah. Apalagi sekarang Harya Wisaka sudah mati. Kita harus menempuh cara lain. Kita harus mengandalkan ketajaman penglihatan para petugas sandi”

“Aku setuju, Pangeran” jawab Ki Gede Pemanahan. “Kita tidak lagi dapat mencari Harya Wisaka dengan memasuki rumah-rumah yang dicurigai. Tetapi kita masih mempunyai alasan untuk melakukannya. Kita akan mencari isteri Harya Wisaka dan beberapa orang pengikutnya. Namun aku  pun sependapat, bahwa pencaharian Harya Wisaka ditekankan kepada ketajaman penglihatan para petugas sandi. Namun, kita pun harus berhati-hati. Kita tidak boleh segan melihat ke dalam. Selama ini usaha kita selalu sia-sia. Kita harus berani menaruh kecurigaan, bahwa di dalam tubuh kita masih saja tersembunyi para pengikut Harya Wisaka yang setia”

Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi termangu-mangu sejenak. Mereka memang harus mengakui, bahwa kemungkinan sebagaimana dikatakan oleh Ki Gede Pemanahan itu masih ada.

Paksi, yang tidak dapat ingkar, bahwa ayahnya adalah salah seorang pengikut Harya Wisaka menundukkan kepalanya.

Bahkan sebuah pertanyaan tumbuh di dalam hatinya, “Apakah Ki Gede Pemanahan itu mencurigai aku?”

Namun dalam pada itu, Raden Sutawijaya pun berkata, “Aku sependapat, Ayah. Tetapi kecurigaan itu tidak boleh berlebih-lebihan sehingga akan dapat membuat kita sendiri saling mencurigai”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar, Sutawijaya. Keseimbangan itulah yang harus kita ciptakan. Karena itu, persoalan ini merupakan persoalan bagi orang-orang yang terbatas saja. Orang-orang yang benar-benar dapat dipercaya”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Sementara itu Pangeran Benawa pun berkata, “Kita harus segera mulai, Paman.

Kita harus memperhitungkan waktu. Paman Harya Wisaka yang terluka cukup parah itu tentu memerlukan waktu untuk menyembuhkannya. Jika Paman Harya Wisaka itu sudah sembuh, maka ia akan menjadi semakin sulit dicari”

“Baiklah. Aku akan segera mengatur pencaharian itu”

“Ayah” berkata Raden Sutawijaya, “kami mohon ijin untuk mencari Paman Harya Wisaka menurut cara kami. Mungkin kami akan bergerak di luar jaringan yang akan Ayah susun”

Ki Gede Pemanahan termangu-mangu sejenak. Ia nampak menjadi ragu-ragu.

Namun Raden Sutawijaya itu pun menjelaskan, “Kami akan selalu menyesuaikan diri. Maksudku kami tidak akan mengganggu tugas para petugas sandi dan para prajurit yang menurut gelarnya mencari Bibi Sekarsari itu”

Ki Gede Pemanahan akhirnya menganggukkan kepalanya sambil berdesis, “Baiklah. Tetapi kalian harus sangat berhati-hati. Kalian pun harus selalu memperhitungkan jejak penyelidikan kalian. Mungkin saja orang-orang yang sengaja dipasang oleh Harya Wisaka di antara kita memberikan keterangan-keterangan yang sangat penting, sehingga kalian justru akan terjebak. Bagaimanapun juga kalian harus menyadari, bahwa di antara para pendukung Harya Wisaka masih juga terdapat orang-orang berilmu tinggi. Harya Wisaka berhasil mempengaruhi beberapa orang yang berpengaruh di Jipang dan Demak yang tidak sependapat dengan keputusan untuk menetapkan Kangjeng Sultan Hadiwijaya ini menduduki tahta Pajang”

Paksi menjadi semakin menunduk. Jika Ki Gede Pemanahan meragukan salah seorang dari ketiga orang yang disebut Raden Sutawijaya untuk melakukan penyelidikan terpisah itu, tentulah dirinya. Adalah mustahil bahwa yang dimaksud adalah Raden Sutawijaya atau bahkan Pangeran Benawa.

Namun Raden Sutawijaya pun menjawab, “Kami akan melakukan sendiri. Kami tidak akan berhubungan apalagi memanfaatkan para petugas yang lain dalam penyelidikan kami. Karena itu, tidak ada yang harus diragukan. Berhasil atau tidak berhasil, kami akan melakukannya bertiga”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Apakah kalian tidak akan segera kembali ke padepokan di Hutan Jabung itu?”

Raden Sutawijaya mengangguk sambil menjawab, “Ya, Ayah. Setelah batas waktu tinggal di barak itu habis, kami akan segera kembali ke padepokan. Tetapi kami akan segera menentukan cara yang akan kami tempuh untuk ikut mencari Paman Harya Wisaka. Mungkin Ki Panengah dan Ki Waskita akan dapat membantu memberikan jalan kepada kami”

“Ki Waskita masih berada di istana sekarang”

“Ya. Ki Waskita sudah mengisyaratkan kepada kami untuk bersama-sama kembali ke padepokan”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Marilah kita lihat apa yang akan terjadi kemudian. Aku menghargai setiap usaha untuk membantu menangkap Harya Wisaka. Selama Harya Wisaka masih belum tertangkap, maka ia akan menjadi duri di dalam daging pemerintahan di Pajang”

Demikianlah, maka Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi pun telah minta diri untuk kembali ke barak. Ia masih harus tinggal sehari lagi di barak itu, sebelum seluruh pasukan itu kembali ke kesatuan mereka setelah menjalankan tugas khusus bersama Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi.

Dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan telah memerintahkan para prajurit untuk tetap mencari Sekarsari dan para pengikut Harya Wisaka dari rumah ke rumah. Namun di samping mereka, Ki Gede Juga memerintahkan para petugas sandi untuk lebih berperan.

Namun hanya beberapa orang sajalah yang secara khusus masih mendapat perintah untuk mencari Harya Wisaka.

“Harya Wisaka itu terluka parah. Ia tentu belum sembuh benar” pesan Ki Gede Pemanahan. Dalam pada itu, ketika Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi sudah berada di dalam baraknya, maka Paksi pun minta diri untuk mengunjungi ibunya. Bagaimanapun juga ibunya tentu memikirkannya.

“Hati-hatilah, Paksi” pesan Raden Sutawijaya.

“Ya, Raden”

Namun Pangeran Benawa justru menawarkan diri, “Aku akan menemanimu, Paksi”

“Terima kasih, Pangeran. Biarlah aku pergi sendiri”

Pangeran Benawa tidak memaksanya. Tetapi seperti Raden Sutawijaya ia pun berpesan, “Berhati-hatilah. Para pengikut Harya Wisaka tentu ada yang dapat mengenalimu. Bukan saja karena kau anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada, tetapi kau tentu lebih dikenal sebagai salah seorang di antara pemburu Harya Wisaka itu”

“Aku akan berhati-hati, Pangeran” sahut Paksi.

Demikianlah, maka Paksi pun telah meninggalkan baraknya untuk menengok ibu dan adik perempuannya.

Kedatangan Paksi disambut dengan gembira sekali oleh ibunya. Dipeluknya anak laki-lakinya itu sambil menitikkan air matanya. Demikian pula adik perempuan Paksi. Sambil berjongkok Paksi pun memeluk adik perempuannya pula.

“Sudah agak lama Kakang tidak menengok kami” berkata adik perempuannya itu.

“Kakang sedang bertugas” jawab Paksi.

“Itulah yang aku cemaskan, Paksi. Tetapi ketika aku tahu bahwa kau selamat, rasa-rasanya hatiku yang membeku itu pun telah mencair kembali”

Paksi pun kemudian dipersilahkan duduk di ruang dalam. Adiknya pun kemudian telah pergi ke belakang, minta kepada seorang pembantunya untuk menyiapkan minuman bagi kakaknya.

Ketika kemudian Paksi menanyakan tentang adik laki-lakinya, maka ibunya pun berkata, “Aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi”

“Apakah ayah belum pernah pulang lagi, Ibu?”

Ibunya menggeleng. Katanya, “Aku juga belum pernah mendengar kabarnya lagi. Sebenarnyalah aku menjadi cemas.

Perburuan atas Harya Wisaka dan para pengikutnya menjadi semakin bersungguh-sungguh. Bahkan meskipun Harya Wisaka sudah terbunuh, namun perburuan terhadap para pengikutnya dan terutama isteri Harya Wisaka masih berlanjut”

“Ibu mengetahuinya?”

“Sudah tiga kali rumah ini didatangi oleh para prajurit dan petugas sandi”

“Tiga kali?”

Ibunya mengangguk. Katanya, “Mereka mencari ayahmu atau mungkin para pengikut Harya Wisaka yang lain. bahkan mereka juga mencari Sekarsari di rumah ini. Seorang perempuan yang tidak aku kenal dengan baik, meskipun aku tahu bahwa Sekarsari itu adalah isteri Harya Wisaka”

“Mereka menggeledah rumah ini?”

Ibunya mengangguk.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tentunya para prajurit dan apalagi para petugas sandi itu tahu apa yang dilakukannya selama ini. Ia sudah mempertaruhkan nyawanya untuk membantu mencari Harya Wisaka dan para pengikutnya. Tetapi keluarganya masih saja dicurigai.

Tetapi Paksi pun berusaha untuk dapat mengerti dan tidak membebankan semua kesalahan kepada para prajurit dan para petugas sandi. Bagaimanapun juga harus diakui, bahwa ayahnya memang seorang pengikut Harya Wisaka yang setia. Bahkan bukan sekedar pengikut, tetapi ayahnya termasuk salah seorang pemimpin yang dekat dengan Harya Wisaka. Harya Wisaka yang diburu itu memang pernah bersembunyi di rumahnya, sehingga jika kecurigaan itu berkepanjangan, adalah satu hal yang dapat dimengerti.

Tetapi yang kemudian menjadi pertanyaan di hati Paksi adalah, apakah dirinya masih juga dicurigai?

Namun dalam pada itu, ibunya berkata, “Sudahlah, Paksi. Jangan kau risaukan. Ini adalah akibat ulah ayahmu”

Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bertanya, “Bukankah para prajurit dan petugas sandi yang menggeledah rumah ini memperlakukan Ibu dengan baik?”

“Ya. Mereka memperlakukan aku dan adikmu dengan baik. Mereka benar-benar hanya mencari ayahmu atau orang lain yang mungkin bersembunyi di rumah ini”

“Syukurlah” desis Paksi kemudian. “Mudah-mudahan untuk selanjutnya mereka tidak akan datang lagi”

“Mudah-mudahan, Paksi. Apalagi sepeninggal Harya Wisaka”

“Tetapi apakah Ibu sama sekali tidak mengetahui kemana adikku laki-laki itu dibawa oleh ayah?”

Ibunya menggeleng. Katanya, “Aku benar-benar tidak tahu, Paksi. Bahkan waktu itu aku mencoba untuk mencegahnya. Tetapi aku gagal”

“Jika keadaan sudah menjadi semakin baik, Ibu, aku berjanji untuk mencarinya”

“Sebaiknya tidak usah kau lakukan, Paksi. Kau tahu, bagaimana sikap ayahmu terhadapmu. Apalagi sekarang. Sikapmu berlawanan dengan sikap ayahmu terhadap Pajang”

Paksi mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Aku kasihan terhadap adikku itu. Mungkin ia berada di satu lingkungan yang sesat. Jika adikku itu terpengaruh, maka aku cemaskan masa depannya”

“Tetapi aku tidak mau kehilangan semuanya. Ayahmu, adikmu laki-laki dan kemudian kau sendiri”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja Paksi itu pun berkata kepada adik perempuannya yang duduk di sebelah ibunya, “Aku haus. Apakah kau dapat memberiku semangkuk minuman?”

Ibunya seakan-akan tersadar. Karena itu ia pun berkata, “Bukankah aku tadi sudah minta dibuatkan minuman untuk kakakmu?”

“Ya, Ibu. Mungkin airnya belum mendidih”

“Tolong anak manis” berkata Paksi, “aku haus”

“Lihatlah” berkata ibunya, “apakah air sudah mendidih”

Adik perempuan Paksi itu pun kemudian telah meninggalkan ruang dalam, menghambur berlari ke dapur.

Demikian adiknya pergi, maka Paksi itu pun kemudian bertanya, “Ibu, apakah sebabnya ayah begitu benci kepadaku? Bahkan ayah sudah benar-benar siap membunuhku. Seandainya aku anak yang sangat nakal sekalipun, apakah sudah sepantasnya seorang ayah menghendaki kematian anaknya? Padahal aku sudah berusaha untuk patuh. Untuk menjalankan segala perintahnya”

Ibu menundukkan kepalanya. Katanya dengan suara sendat, “Aku tidak tahu, Paksi. Kenapa ayahmu begitu membencimu”

“Apakah ada yang Ibu sembunyikan?”

“Tidak, Paksi. Tidak” tetapi mata ibunya menjadi basah lagi. Dengan lengan bajunya ibunya mengusap air matanya yang meleleh di pipinya.

Namun Paksi tidak mendesaknya. Apalagi kemudian adik perempuannya pun telah kembali masuk ke ruangan dalam sambil membawa minuman yang masih mengepul.

“Minuman baru saja dituang, Kakang” berkata adik perempuannya.

“Terima kasih”

“Masih panas”

“O” Paksi pun mengangguk-angguk, “aku harus menunggu sampai menjadi lebih dingin”

Adiknya kembali duduk di sebelah ibunya. Gadis kecil itu pun kemudian mulai bertanya tentang banyak hal.

Ketika minuman sudah menjadi agak dingin, maka Paksi pun mulai menghirupnya. Segar sekali.

Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s