JDBK-02


<<kembali | lanjut >>

ANAK-ANAK berlari-larian di sekitar tratag. Beberapa orang sudah mulai berjualan makanan dan minuman untuk anak-anak. Tetapi mereka tidak membawa dagangan sebanyak biasanya jika ada keramaian, karena bagaimanapun juga mereka masih selalu dibayangi oleh ketakutan. Ceritera keranda yang dapat berjalan sendiri itu tidak dapat mereka lupakan begitu saja.

Ketika senja turun, maka beberapa buah oncor mulai dipasang. Tratag itu  pun menjadi terang benderang. Tetapi cahaya oncor itu hanya dapat menggapai sebatas pematang sekotak sawah. Selebihnya bulak itu tetap gelap.

Meskipun Ki Jagabaya dan Ki Bekel sudah mengatakan kepada seisi padukuhan bahwa keranda hantu itu tidak lebih dari sebuah dongeng, namun pengaruhnya masih tetap terasa. Yang kemudian datang ke tempat keramaian itu tidak sebanyak keramaian yang sebelumnya, pernah diadakan. Tayub bukan saja sekedar hiburan, tetapi merupakan bagian dari upacara merti desa. Merupakan bagian dari ucapan terima kasih atas keberhasilan panen di musim tanam yang lewat, serta mohon keberhasilan yang lebih besar lagi di musim tanam mendatang.

Ketika kemudian malam menjadi semakin dalam, maka anak-anak  pun mulai menjadi letih. Sebagian besar dari mereka telah diajak pulang setelah membeli gelali atau kacang rebus dan berondong. Tetapi sebagian yang lain tetap saja tidak mau pulang, karena mereka ingin melihat tari tayub. Remaja yang sudah mendekati masa dewasanya, ternyata ingin melihat para penari tayub itu menari bersama beberapa orang laki-laki. Jika malam bertambah malam, maka beberapa orang laki-laki mulai menjadi mabuk karena mereka terlalu banyak minum tuak. Dengan demikian tayubnya itu  pun menjadi semakin panas.

Tetapi, keramaian itu memang tidak seriuh biasanya. Laki-laki yang mengerumuni tratag dan berebut untuk dapat ikut menari tidak sebanyak keramaian tahun sebelumnya. Perempuan perempuan  pun masih harus berpikir tentang keranda yang berjalan sendiri itu.

Meskipun demikian, sekelompok perempuan, laki-laki dan remaja masih cukup banyak yang ikut meramaikan itu. Bahkan orang-orang dari padukuhan yang lain-pun telah berdatangan pula. Meskipun dihari-hari yang lain mereka dibayangi oleh ketakutan, tetapi mereka merasa lebih tenang, karena mereka berada di antara banyak orang.

“Hantu tidak akan datang ke tempat keramaian” berkata orang-orang yang datang dari padukuhan lain ke keramaian itu.

Selama mereka bergembira, mereka tidak mau memikirkan kemungkinan yang dapat terjadi nanti jika mereka pulang. Bahkan beberapa orang anak muda telah siap untuk tidur di tempat keramaian itu diadakan.

Namun sedikit lewat tengah malam, di kejauhan terdengar suara burung kedasih yang ngelangut. Orang-orang yang masih sibuk dengan tayub, tidak segera mendengar suara burung kedasih itu. Suara gamelan dengan gending-gending yang panas menggelitik telah menyumbat telinga mereka.

Tetapi mereka yang kelelahan, yang duduk-duduk di pematang sawah sambil menghirup wedang jae yang hangat untuk mengatasi dinginnya malam, mendengar suara burung kedasih yang bersahut-sahutan di kejauhan.

“Suara burung itu” desis seorang anak muda yang datang dari padukuhan sebelah sambil mengunyah serabi.

“Kau mulai ketakutan?” bertanya kawannya.

Tetapi anak muda itu tertawa. Katanya, “Aku hanya mengatakan tentang suara burung itu. Apakah begini banyak kawannya kita dapat menjadi ketakutan?”

Kawannya juga tertawa.

Namun suara burung kedasih itu tidak segera berhenti. Masih saja terdengar berkepanjangan. Jika terdengar angin gemerisik menggoyang daun pohon turi yang tumbuh dipematang, maka suara itu bagaikan hanyut terbang mengambang diudara.

Anak muda yang duduk di pematang itu mulai tergelitik oleh suara itu. Mereka yang mentertawakannya, mulai menjadi gelisah pula.

Tetapi seorang anak muda yang bertubuh agak gemuk justru bangkit berdiri sambil tertawa, “Siapa mulai menjadi ketakutan?”

Tidak seorang  pun yang menjawab. Namun anak muda yang agak gemuk itu berkata, “Aku akan menari lagi. Yang terdengar tentu hanya suara gamelan. Suara burung malam itu tidak akan terdengar lagi.”

Tetapi sebelum anak muda itu beranjak dari tempatnya, anak ini terhenti. Yang terdengar bukan saja suara burung kedasih. Tetapi di kejauhan juga terdengar suara burung bence.

Anak muda yang agak gemuk itu cepat-cepat mendekati tratag. Suara gamelan memang mengatasi suara burung kedasih dan burung bence itu.

Sejenak kemudian, seorang laki-laki berkumis lebat yang menari bersama seorang penari tayub yang tinggi semampai mulai goyah oleh tuak yang membuatnya agak mabuk. Tetapi ia mulai menjadi kasar. Tangannya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat mulai menarik-narik penari tayub itu.

Tetapi ketika penari itu mendorongnya, maka ia  pun terhuyung-huyung. Sulit baginya untuk mempertahankan keseimbangannya.

Ketika tertatih-tatih ia bangkit, ternyata anak muda yang agak gemuk itu telah menarik tangan penari itu ke sisi yang lain. Suara gamelan yang panas, mendorong mereka untuk menarikan tarian yang panas pula.

Orang berkumis tebal dalam setengah sadar, menjadi marah. Sambil mengumpat-umpat ia melangkah gontai mencari penari pasangannya yang telah hilang itu. Tetapi matanya sudah menjadi kabur. Ia tidak dapat lagi membedakan penari yang satu dengan yang lain.

Namun dalam pada itu, orang-orang yang duduk agak jauh dari tratag itu semakin gelisah. Suara burung kedasih yang ngelangut itu masih terdengar berbaur dengan suara burung bence yang terdengar dari arah yang berpindah-pindah.

Tiba-tiba saja bulu-bulu tengkuk mereka meremang ketika terdengar angin yang tertiup lebih kencang dari arah Selatan.

Malam terasa menjadi semakin dingin. Titik-titik embun terasa membasahi tubuh.

Ketika seekor kelelawar yang besar memburu mangsanya yang terbang merendah, seorang anak muda yang hampir saja tersambar, meloncat berdiri.

Beberapa orang kawannya terkejut. Seorang di antara mereka bertanya, “Ada apa?”

“Kelelawar itu besar sekali. Apakah itu kelelawar sesungguhnya atau bukan.”

“Ah, kau mulai mengigau. Lihat di wajah langit. Ada beberapa ratus kelelawar yang berterbangan. Nanti, jika fajar mulai menyingsing, kelelawar itu akan kembali ke sarangnya.

Anak muda yang berdiri itu memandang ke langit. Dilihatnya kelelawar berterbangan. Angin basah yang bertiup membuat seluruh wajah kulitnya meremang.

Namun tiba-tiba saja anak muda itu melihat sesuatu. Tidak begitu jelas. Di kejauhan ia melihat sesuatu yang bergerak.

Tiba-tiba saja wajahnya menjadi pucat. Tubuhnya gemetar. Dengan gagap ia mencoba untuk menjelaskan sesuatu kepada kawan-kawannya. Tetapi ternyata apa yang meloncat dari mulutnya tidak begitu jelas terdengar.

“Apa. Ada apa?” kawannya bertanya.

Mata anak muda itu bagaikan akan meloncat dari pelupuknya. Namun akhirnya ia dapat menunjuk sambil berkata tanpa arti, “Uh, itu, uh, uh.”

Beberapa orang kawannya serentak berpaling. Darah mereka tersirap sampai kekepala. Mereka  pun melihat sesuatu yang bergerak. Putih.

Anak-anak muda itu menjadi pucat. Mereka benar-benar telah melihat keranda yang seperti terbang di kejauhan. Tidak begitu cepat.

Beberapa orang yang ketakutan itu mulai bergeser serentak mendekati tratag. Bahkan satu dua orang menunjuk ke arah keranda yang berjalan sendiri itu dengan mengucapkan kata-kata yang tidak jelas.

Sikap itu ternyata menarik perhatian. Beberapa orang yang ada di sekitar tratag itu  pun mulai memperhatikan ke kejauhan, menembus keremangan malam.

Sebenarnyalah, dalam kegelapan, nampak keranda yang terbang melintas. Tidak mengarah ke tempat keramaian. Namun ketakutan tiba-tiba telah mencengkam mereka yang berada di sekitar tempat keramaian itu.

Keadaan  pun menjadi sulit dikendalikan. Orang-orang mulai berlari-lari menuju ke padukuhan. Bahkan para penari dan para penabuh gamelan  pun berlari-larian pula meskipun mereka belum melihat keranda yang berjalan sendiri itu, karena cahaya lampu yang terang benderang di sekitar tratag itu membuat mata mereka menjadi silau

Ki Bekel sudah menduga, bahwa hal seperti itu akan terjadi. Tetapi Ki Bekel memang sudah bersiap. Karena itu, demikian tempat itu ditinggalkan oleh orang-orang yang sedang merayakan keramaian itu, maka beberapa orang anak muda yang memang sudah dipersiapan segera bersiap mengamankan segala macam barang yang tertinggal di tempat itu. Gamelan dan juga sisa dagangan dari orang-orang yang berjualan di sekitar tempat keramaian itu.

Ki Bekel yang ada di antara mereka memperhatikan keranda yang berjalan itu dari kegelapan. Sebagaimana beberapa orang anak muda, maka Ki Bekel pun telah memakai pakaian serba hitam sehingga tidak mudah terlihat dari tempat yang agak jauh.

Tetapi keranda itu berjalan terus menuju ke kuburan. Dalam pada itu, Ki Pituhu dan Kebo Lorog bersama dua orang pengikutnya, menyaksikan pertunjukan itu dari kejauhan. Mereka melihat bagaimana orang-orang padukuhan itu berlari-larian sebagaimana mereka duga sebelumnya.

Ki Pituhu dan kedua orang pengikutnya tertawa tertahan menyaksikan tontonan itu. Sementara Kebo Lorog- pun tersenyum pula. Bagi Kebo Lorog tontonan itu memang merupakan tontonan yang lucu. Sekian banyak orang di sekitar tratag itu menjadi ketakutan melihat keranda yang mereka percaya dapat terbang sendiri.

“Pengecut” desis Kebo Lorog. Lalu katanya, “Rasa-rasanya aku ingin membunuh pengecut-pengecut yang hanya memenuhi jagad tanpa arti seperti orang-orang padukuhan itu. Aku kira membantai mereka yang sedang ketakutan itu akan dapat mendapat kepuasan tersendiri.

Wajah Ki Pituhu tiba-tiba menjadi tegang. Namun Kebo Lorog itu berkata, “Jangan cemas. Aku tidak ingin melakukannya sekarang. Yang ingin aku lakukan sekarang adalah melihat benda-benda yang telah kalian kumpulkan itu.”

“Baiklah kakang sahut Ki Pituhu, “kita akan segera melihatnya. Yang terjadi di tempat keramaian itu hanyalah sekedar tontonan yang barangkali menarik bagi kakang Kebo Lorog.”

“Aku senang melihat tontonan itu.” jawab Kebo Lorog.

Demikianlah, maka Ki Pituhu itu telah membawa Kebo Lorog ke kuburan. Mereka melintasi pematang yang tidak terlalu dekat dengan tempat keramaian yang masih nampak terang benderang. Tetapi sudah tidak ada seorang pun yang nampak dibawah cahaya lampu dan oncor.

Ketika Ki Pituhu dan Kebo Lorog bersama dua orang pengikutnya pergi ke kuburan, maka keranda itu sudah berada di kuburan. Tetapi saat itu keranda itu memang kosong, karena para pengikut Kebo Lorog tidak sedang memindahkan barang-barang simpanan mereka ke kuburan itu.

Dalam pada itu, beberapa orang yang sejak malam turun telah ditugaskan di kuburan untuk menggali beberapa lubang tempat menyimpan barang-barang yang berhasil mereka kumpulkan itu telah selesai. Didalam lubang itu terdapat beberapa peti barang-barang yang berharga, yang telah mereka rampok dari orang-orang kaya yang tinggal di beberapa Kademangan, justru bukan Kademangan mereka sendiri.

Ketika Kebo Lorog sampai ke tempat itu bersama Ki Pituhu, maka orang orang yang mengerumuni lubang tempat barang-barang itu disimpan telah menyibak.

Malam dikuburan itu rasa-rasanya menjadi terlalu gelap. Tetapi ketajaman mata Kebo Lorog dapat melihat, apa yang terdapat didalam peti-peti di lubang-lubang penyimpanan itu. Apalagi ketika kemudian ia meloncat turun dan meraba barang-barang itu. Maka sambil mengangguk-angguk Kebo Lorog itu berkata, “Kalian memang pantas mendapat pujian.”

“Terima kasih, kakang” sahut Ki Pituhu. Lalu katanya pula, “Kami sudah menyisihkan sesuatu yang terbaik buat kakang.”

“Yang mana?” bertanya Kebo I orog.

“Di peti yang kecil itu” jawab Ki Pituhu

Kebo Lorog sudah membuka dan melihat isi peti itu. Tetapi ketika Ki Pituhu mengatakan bahwa peti itu diperuntukkan baginya, maka Kebo Lorog ingin melihatnya sekali lagi.

Kebo Lorog mengangguk-angguk ketika ia melihat sebilah keris dengan pendok emas serta tretes berlian. Demikian pula pada ukiran keris itu, Meskipun malam gelap, tetapi malu Kebo Lorog melihat kilauan cahaya permata yang melekat pada keris itu.

Kebo Lorog pun kemudian telah menarik keris itu dari wrangkanya. Dalam kegelapan keris itu seakan-akan memancarkan cahaya kemerah-merahan.

Kebo Lorog tidak melihat dengan jelas pamor keris yang dipegangnya. Namun secara samar ia menduga bahwa keris itu memiliki pamor yang banyak dicari orang.

“Sekar Manggar” desis Kebo Lorog.

“Tepat” jawab Ki Pituhu, “kakang dapat melihat pamor keris itu dalam kegelapan?”

“Aku terbiasa bermain-main dengan keris” jawab Kebo Lorog.”Keris yang aku bawa ini adalah keris yang juga banyak dicari orang.”

“Bukankah keris itu memang milik kakang sejak semula?”

“Ya. Keris yang aku bawa ini tidak dihiasi dengan permata sebagaimana keris yang kalian berikan ini. Tetapi keris yang aku bawa ini seakan-akan tidak pernah terpisah dari tubuhku.”

“Apakah keris itu bertuah?” bertanya Ki Pituhu.

“Kerisku ini memang bukan keris dengan pamor Teja Bungkus ini membuat ayahku berwibawa sebagai seorang pemimpin. Ia juga disayangi oleh para pengikutnya disamping ayahku adalah seorang yang berilmu tinggi.”

Ki Pituhu mengangguk-angguk. Dengan nada rendah, Ki Pituhu berkata, “Keris yang baru itu akan melengkapi kumpulan keris di rumah kakang. Bukankah kakang mempunyai lebih dari dua belas buah keris?”

“Aku memang senang mengumpulkan dan menyimpan keris. Karena itu, terima kasih atas keris yang kalian berikan kepadaku ini.”

“Masih ada dua buah keris lagi yang dapat kami kumpulkan, tetapi bukan keris yang baik. Juga tidak dilengkapi dengan hiasan yang memadai” berkata Ki Pituhu kemudian.

“Ambillah” berkata Kebo Lorog. Tetapi kemudian Kebo Lorog itu berkata pula, “tetapi aku ingin berpesan kepada kalian, jika kalian menemukan sebuah cincin yang bermata tiga buah batu akik, maka aku memerlukannya.”

“Cincin dengan mata tiga buah batu akik?” bertanya Ki Pituhu.

“Bukankah hal itu tidak biasa? Biasanya sebuah cincin hanya mempunyai sebuah mata batu akik. Berbeda dengan cincin yang memakai hiasan intan, berlian, atau mutiara.”

“Ya. Tetapi ini lain. Cincin emas yang mempunyai mata tiga buah batu akik.”

“Apa saja jenis batu akik itu, kakang?” bertanya Ki Pituhu, “atau barangkali warna batu akik itu?”

Kebo Lorog termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Aku belum tahu. Tetapi dalam waktu dekat aku akan segera mengetahuinya.”

“Baiklah kakang. Jika kami menjumpai cincin bermata tiga buah batu akik, maka cincin itu akan kami serahkan kepada kakang.”

“Terima kasih” Kebo Lorog mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja, Kebo Lorog itu menjadi tegang. Diangkatnya wajahnya sambil berdesis perlahan, “Ada sesuatu yang tidak wajar disini.”

“Maksud kakang?”

“Ada orang lain.” jawab Kebo Lorog.

“Maksud kakang?”

“Siapkan orang-orangmu. Timbun kembali barang-barang ini,” perintah Kebo Lorog sambil menyelipkan keris yang diperuntukkan baginya itu dipinggangnya.

Ki Pituhu masih belum tanggap akan keadaan. Tetapi ia memang sudah memerintahkan kepada orang-orang yang bertugas menggalinya., “Timbun kembali barang-barang itu.”

Orang-orang itu pun dengan cepat menimbun kembali lubang-lubang yang telah digalinya setelah Kebo Lorog meloncat naik. Demikian ia berdiri disebelah Ki Pituhu, maka ia pun berkata “Beberapa orang ada di sekitar kita. Nah, ini juga akan menjadi tontonan yang menarik.”

“Aku tidak mengerti.”

“Aku sudah terlanjur memuji kalian. Tetapi keramaian itu tentu hanya sebuah jebakan. Bukan kita yang menjebak mereka, tetapi kitalah yang terjebak.”

“Maksud kakang?”

“Kau memang dungu. Kuburan ini sudah dikepung. Permainan kalian dengan keranda terbang yang kalian kira ditakuti orang itu ternyata telah ditertawakan banyak orang.”

“Tetapi kakang melihat sendiri, bagaimana orang-orang itu berlari-larian, bahkan saling bertubrukan. Anak-anak menangis ketakutan dan bahkan dagangan yang masih belum terjual telah ditinggalkan.”

“Tontonan yang telah dipersiapkan dengan baik oleh orang-orang padukuhan itu. Dan sekarang orang-orang padukuhan itu telah mempersiapkan tontonan yang lain di kuburan ini.”

Ki Pituhu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian telah memusatkan perhatiannya pada keadaan disekelilingnya.

Meskipun panggraita Ki Pituhu tidak setajam Kebo Lorog, namun Ki Pituhu pun akhirnya mengetahui juga, bahwa kuburan itu memang sudah dikepung. Beberapa orang mampu mendekat tanpa menimbulkan bunyi gemerisik. Tetapi anak-anak muda padukuhan yang tidak memiliki landasan ilmu yang cukup itu tidak dapat meredam sentuhan kakinya dengan dedaunan kering yang bertebaran di sekitar kuburan. Daun pohon kamboja dan daun sebatang pohon preh yang besar yang tumbuh di pinggir kuburan itu.

“Setan orang-orang padukuhan” geram Ki Pituhu, “mereka datang untuk menyerahkan nyawa mereka.”

“Apa pun yang akan terjadi, tetapi ternyata bahwa mereka sudah mengetahui permainanmu. Mereka tahu bahwa kerandamu tidak menakutkan mereka, bahkan justru telah menjadi olok-olok yang memalukan.”

“Tidak” sahut Ki Pituhu, “tentu ada yang berkhianat di antara orang-orang kita. Pada saatnya kita akan mengetahuinya. Tetapi sekarang, kita akan membabat mereka seperti membabat batang ilalang.” suara Ki Pituhu itu pun meninggi, “keinginan kakang Kebo Lorog akan terlaksana. Bukankah kakang ingin membantai mereka?”

Kebo Lorog pun menggeram. Sementara itu, orang-orang yang menimbun barang-barang hasil kejahatan yang disembunyikan itu sudah hampir selesai.

Namun dalam pada itu, orang-orang padukuhan memang telah mengepung kuburan itu. Ki Bekel yang semula berada di tempat keramaian bersama beberapa orang anak muda yang berpakaian serba hitam, telah berada di tempat itu pula.

Dalam ketegangan yang mencengkam, terdengar suara Adeg Panatas menggetarkan udara malam yang dingin, “Kebo Lorog. Kau tidak mempunyai kesempatan lagi. Menyerahlah. Kau dan orang-orangmu sudah dikepung.”

“Siapa yang telah mencoba untuk membunuh diri disini?” geram Kebo Lorog.

“Aku datang bersama banyak orang. Jauh lebih banyak dari orang-orangmu.”

“Jika kau ingin membunuh diri, jangan kau bawa orang-orang yang tidak bersalah. Biarlah mereka pergi sebelum mereka terbujur mati di kuburan ini.”

“Kami datang untuk menangkapmu. Menghentikan petualanganmu. Namamu yang menakutkan itu harus berakhir disini.”

“Katakan, siapa kau. Kenapa kau datang dan memperalat orang-orang padukuhan yang dungu itu? Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan dan dengan siapa mereka berhadapan.”

“Kami sadar sepenuhnya terhadap tugas kami kali ini. Selama ini kami dengan hati-hati mengamati permainan keranda terbangmu yang menarik itu. Orang-orang beberapa padukuhan yang lain telah benar-benar dicengkam ketakutan. Karena itu, sudah waktunya permainan kasarmu itu dihentikan.”

“Siapa kau?” teriak Kebo Lorog. Suaranya menggeletar mengguncang dedaunan. Gemanya terdengar susul-menyusul bersahut-sahutan.

Jantung orang-orang padukuhan yang mengepung kuburan itu telah tergetar pula. Teriakan Kebo Lorog itu terdengar seperti panggilan maut dari lubang-lubang kubur yang bertebaran di kuburan itu.

Tetapi terdengar Adcg  punalas tertawa pendek. Katanya, “Kebo Lorog. Kau ingin menakut-nakuti kami?”

“Kau belum menjawab. Siapakah kau?”

“Namaku Adeg Panatas. Aku juga penghuni padukuhan itu. Memang sudah agak lama aku pergi. Tetapi sekarang aku sudah kembali.”

“Kau memang berani. Kau sebut namamu yang tidak akan pernah aku lupakan.”

“Kenanglah namaku. Jika kau sempat hidup untuk waktu yang lebih panjang, aku berharap bahwa kita akan bertemu lagi.”

Kebo Lorog menggeram. Sementara Adeg Panatas berkata selanjutnya, “Kebo Lorog. Kenapa kau tidak mempertimbangkan kemungkinan yang lebih baik? Menyerah, misalnya.”

“Anak iblis kau” Ki Pituhu lah yang berteriak, “kau harus mati. Tetapi kau akan menjadi orang terakhir yang kami bantai malam ini agar kau sempat melihat bagaimana tetangga-tetanggamu mati sia sia di kuburun Ini.”

Adeg Panatas tertegun sejenak ketika ia mendengar suara yang lain. Tetapi Adeg Panatas yakin, bahwa orang pertama itulah yang bernama Kebo Lorog.

“Siapa pula kau ini Ki Sanak?” bertanya Adeg Panatas.

“Persetan dengan pertanyaan itu. Tetapi bersiaplah. Aku akan melumpuhkanmu dan memberi kesempatan kepadamu melihat korban kesombonganmu itu.”

“Aku atau kau yang akan menyesali kejadian ini.”

“Cukup” bentak Kebo Lorog, “Bersiaplah. Kami akan mulai membantai orang-orang dungu itu.”

Adeg Panatas pun segera memberi isyarat kepada Ki Jagabaya, agar para bebahu segera disiapkan. Mereka akan menebar dan mempimpin kelompok-kelompok laki-laki dan anak-anak muda dari padukuhan. Bahkan ada di antara mereka bekas prajurit yang sudah terbiasa bermain dengan senjata pula.

Ki Jagabaya yang tanggap akan isyarat itu pun segera menghubungi para pebahu untuk segera mempersiapkan diri.

Di antara mereka yang mengepung kuburan itu adalah Paksi Pamekas. Ia telah pernah berada di antara anak-anak muda padukuhan yang telah dikenalnya dengan baik. Selama ia berada di padukuhan itu dan selama Adeg Panalas mempersiapkan perlawanan lerhadap Kebo Lorog, maka Paksi sudah berada di antara anak-anak mudanya.

Tetapi Paksi sama sekali tidak menunjukkan kelebihannya. Ia berusaha untuk berada pada tataran yang sejajar dengan anak-anak muda padukhan itu.

Malam itu Paksi menjadi gelisah. Seorang di antara para perampok itu sebelumnya telah menemuinya dan bahkan berusaha untuk membunuhnya. Orang itu mengatakan kepadanya, bahwa ia sudah mengetahui bahwa Paksi telah melihat rahasia yang tersembunyi di kuburan ini. Tetapi nampaknya para perampok itu masih juga melakukan kesalahan, sehingga mereka telah terkepung oleh orang-orang padukuhan.

“Atau yang mereka lakukan itu justru sebuah jebakan?” pertanyaan itu telah mengganggu perasaan Paksi. Jika benar para perampok itu telah menjebak Ki Bekel dan Adeg Panatas serta orang-orang padukuhan, maka keadaannya akan menjadi sangat buruk, karena para perampok itu tidak lagi dapat mengendalikan diri.

Paksi memang menyesal, kenapa ia tidak berterus-terang bahwa seorang di antara para perampok itu telah menyadari bahwa rahasia mereka telah diketahui.

Tetapi menilik sikap dan pembicaraan antara Adeg Panatas dan Kebo Lorog, agaknya tidak tersirat, bahwa Kebo Lorog telah mengetahui bahwa kemungkinan seperti itu akan terjadi.

Tetapi Paksi tidak dapat sekedar berangan-angan.

Malam itu orang-orang padukuhan yang dipimpin langsung oleh Ki Bekel dan adiknya, Adeg Panatas telah berhadapan dengan para perampok yang seorang di antaranya adalah Kebo Lorog itu sendiri.

Dalam pada itu maka Ki Jagabaya pun telah memerintahkan para bebahu untuk bergerak. Anak-anak muda yang berada disisi lain telah mulai memasuki kuburan yang gelap. Mereka berjalan di antara batu-batu nisan yang terbujur membekuk Beberapa ekor burung malam yang terkejut berterbangan menggoyang dedaunan.

Kebo Lorog pun kemudian telah berteriak, “Jika orang-orang dungu itu habis kita bantai, bukan salah kita. Merekalah yang datang menyerahkan leher mereka. Karena itu, jangan ragu-ragu.”

Perintah itu tidak perlu diulangi. Mereka sUdah merasa terlalu lama menunggu. Darah mereka telah mendidih didalam jantung. Apalagi mereka mengetahui bahwa orang-orang yang mengepung kuburan itu sudah mulai bergerak masuk.

Jumlah para perampok itu memang tidak terlalu banyak. Tetapi mereka adalah orang-orang yang garang yang sudah terlalu akrab dengan senjata, darah dan kematian.

Sambil berloncatan, para perampok itu telah berteriak-teriak dan mengumpat-umpat. Suaranya menggelepar menggetarkan batu-batu nisan.

Jantung orang-orang padukuhan itu memang tergetar. Teriakan-teriakan itu membuat mereka menjadi ngeri. Untuk beberapa saat, beberapa orang anak muda justru bagaikan telah membeku.

Tetapi beberapa orang bekas prajurit yang ada di antara mereka sama sekali tidak menjadi gentar. Meskipun mereka telah mengundurkan diri karena umur mereka telah melampaui batas umur seorang prajurit, namun bagi mereka pengabdian tidak terhenti sampai batas yang ditentukan itu. Menghentikan kejahatan adalah satu di antara tugas yang diembannya tanpa mengenal batas waktu.

Seorang di antara bekas prajurit itu sempat berteriak, “Sayang bahwa selama ini aku tidak percaya terhadap keranda terbang itu, sehingga aku tidak pernah berminat untuk membuktikannya.”

“Belum terlambat” sahut kawannya, juga bekas seorang prajurit, “kita masih berkesempatan untuk menghentikan mereka.”

Sejenak kemudian, maka pertempuran pun tidak dapat dihindarkan. Seperti yang telah dipesankan kepada anak-anak muda padukuhan, maka mereka tidak bertempur seorang-seorang. Mereka harus berada didalam kelompok-kelompok kecil untuk melawan orang-orang yang memiliki pengalaman yang jauh lebih luas dalam olah senjata dan bahkan seolah-olah sudah tidak berjantung lagi.

Adeg Panatas ternyata memenuhi janjinya. Dengan sigap ia meloncat langsung menghadapi Kebo Lorog. Dengan sadar, Adeg Panatas ingin menguji kemampuan orang yang namanya sangat ditakuti orang itu.

Ki Pituhu yang sudah siap untuk bertempur pun telah menyerangnya. Sementara Ki Jagabaya tidak menunggu lagi. Ia pun segera berhadapan dengan orang yang bertubuh tinggi tegap, pengiring Kebo Lorog ketika ia datang kerumah Ki Pituhu.

Namun Ki Jagabaya itu dengan segera terdesak oleh lawannya. Tetapi seorang bebahu yang melihat kesulitan itu segera melibatkan dirinya membantu Ki Jagabaya, sehingga dengan demikian, orang itu harus bertempur melawan dua orang.

Tetapi orang itu benar-benar orang yang tangguh. Meskipun Ki Jagabaya bertempur bersama seorang bebahu, ternyata bahwa keduanya masih mengalami kesulitan. Keduanya pun telah terdesak pula.

Untunglah bahwa seorang bebahu yang lain melihatnya. Dengan sigap ia pun menempatkan dirinya dalam lingkaran pertempuran itu.

Dengan demikian, bertiga Ki Jagabaya mulai dapat menunjukkan perlawanan yang berarti.

Sementara itu, Ki Bekel pun telah bertempur dengan sengitnya. Ki Bekel yang dimasa mudanya banyak menempuh pengembaraan serta menimba ilmu itu, telah mengejutkan Ki Pituhu. Ia tidak mengira bahwa seorang dari padukuhan itu ternyata memiliki ilmu yang mapan dan sanggup mengimbangi ilmunya.

Dengan demikian, maka Ki Pituhu harus mengerahkan kemampuannya untuk menundukkan lawannya. Tetapi Ki Bekel pun telah meningkatkan kemampuannya pula, sehingga tidak mudah bagi Ki Pituhu untuk mengalahkannya.

Sementara itu, hampir di segala sudut kuburan telah terjadi pertempuran. Orang-orang padukuhan yang hampir tidak mempunyai pengalaman bertempur memang agak canggung ketika mereka harus benar-benar mengayunkan senjata mereka. Sementara itu para perampok menjadi sangat marah karena mereka telah terjebak.

Namun lawan terlalu banyak. Orang-orang padukuhan itu bermunculan dari balik nisan. Mereka mengacu-acukan senjata mereka. Seakan-akan di setiap langkah, para perampok itu menjumpai ujung senjata yang teracu kedadanya.

Karena itu, meskipun mereka mempunyai pengalaman yang luas, namun menghadapi lawan yang berlipat ganda, rasa-rasanya mereka menjadi berdebar-debar pula.

Dalam pada itu, Kebo Lorog yang marah telah berhadapan dengan Adeg Panatas, adik Ki Bekel yang belum lama kembali dari perantauan, berguru untuk mendapatkan ilmu yang tinggi.

Kebo Lorog memang menjadi heran. Bahwa di sebuah padukuhan ia akan menjumpai seorang yang berilmu tinggi. Bahkan dapat mengimbanginya.

Karena itu, maka Kebo Lorog itu pun telah menghentakkan ilmunya untuk memaksa lawannya dengan cepat dapat dikalahkannya. Kebo Lorog yang menyadari lawan demikian banyaknya, berusaha untuk tidak terikat dengan seorang lawan saja. Ia Ingin menghancurkan kalau tidak dalam arti kewadagan, keberanian orang-orang padukuhan itu. Dengan demikian, maka mereka akan menjadi ketakutan.

Tetapi tidak sia-sia Adeg Panatas berguru bertahun-tahun. Ternyata Kebo Lorog yang sangat ditakuti itu masih dalam tataran yang mungkin dapat diimbanginya.

Dalam pada itu, Paksi dengan sengaja tidak bertempur dalam kelompok-kelompok kecil bersama anak-anak muda itu. Sejak semula Paksi memang tidak bergabung kedalam kelompok yang mana pun. Meskipun ia berada di lingkungan anak-anak yang pada waktu itu sedang mempersiapkan diri untuk melawan para perampok, namun karena Paksi bukan anak muda dari padukuhan itu, nampaknya Paksi mendapat keleluasaan untuk memilih, apakah ia akan bertempur bersama anak-anak muda itu atau tidak.

Namun, sebenarnyalah Paksi tidak berdiam diri. Meskipun ia berdiri di tempat yang terpisah, di sela-sela beberapa batang pohon kamboja, ia telah bertempur melawan para parampok itu. Seorang perampok yang bertubuh pendek, tetapi tubuhnya nampak kekar dan kuat, harus dilawannya tanpa bantuan orang lain.

Tetapi Paksi Pumekas itu telah membawa bekal dari rumahnya, Ia adalah salah seorang murid terbaik dalam perguruannya. Selebihnya, Paksi termasuk anak muda yang disegani di antara kawan-kawannya dalam setiap permainan yang keras. Kakinya yang sering dipergunakannya untuk binten, seakan-akan telah mengeras. Sementara kebiasaannya bermain gulat di pasir tepian membuat tubuhnya menjadi lentur.

Karena itu, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, maka justru Paksi telah melumpuhkan lawannya. Ketika kakinya yang terayun deras sekali, tepat mengenai ulu hati lawannya, maka lawannya itu pun segera jatuh tersungkur sambil mengerang kesakitan.

Paksi sudah siap untuk membunuh orang itu. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Ketika terdengar orang itu merintih, Paksi justru telah meninggalkannya.

Namun dalam pada itu, seorang yang lain telah meloncat menghadapinya. Paksi tidak begitu menghiraukan, siapakah yang berdiri dihadapannya. Yang penting baginya, ia harus melumpuhkannya.

Sejenak kemudian, keduanya telah terlibat dalam perkelahian yang sengit.

Namun dalam pada itu, Paksi pun tertegun-tegun menghadapi lawannya yang kedua itu. Beberapa kali serangannya telah gagal. Lawannya itu seakan-akan tahu benar, apa yang akan dilakukannya.

Bahkan kemudian Paksi menjadi semakin heran, bahwa unsur-unsur gerak lawannya itu kadang-kadang memiliki ciri dan watak yang sama dengan unsur geraknya sendiri.

“Aneh” berkata Paksi didalam hatinya.

Tetapi ia tidak mau terpengaruh. Paksi menduga, bahwa secara kebetulan, orang itu menguasai unsur-unsur gerak yang sama dengan unsur gerak pada ilmunya.

Namun semakin lama, maka Paksi semakin mengenali lawannya. Matanya yang sudah terbiasa didalam kegelapan disela-sela batang kamboja itu mulai mengenali wajah lawannya. Orang itu adalah orang yang cacat.yang pernah bertempur melawannya di bulak persawahan. Yang berkata kepadanya, bahwa ia sudah mengerti bahwa Paksi sudah melihat rahasia yang disembunyikan oleh para perampok itu.

Agaknya orang itu pun menyadari, bahwa Paksi mulai mengenalinya. Karena itu, maka orang itu pun berkata, “Kita bertemu lagi anak muda. Kau termasuk orang yang sangat berbahaya, karena kau adalah orang yang pertama kali mengetahui rahasia kami.”

“Tetapi kenapa Kebo Lorog tidak mengetahui, bahwa ia bersama para pengikutnya telah terjebak disini, termasuk kau?”

Orang itu tertawa perlahan-lahan. Kakinya berloncatan di antara batu-batu nisan. Dengan garangnya orang itu justru telah mendesak Paksi sambil berkata, “Kami sama sekali tidak merasa terjebak, karena kami sudah mengetahui, bahwa kalian berusaha menjebak kami malam ini.”

“Tetapi kau lihat, kekuatan sekelompok kawan-kawanmu sangat kecil, sehingga dalam waktu dekat mereka akan digulung. Jangan menyesal, bahwa bagi siapa saja yang tidak mau menyerah akan dihukum. Mereka harus mati,” berkata Paksi dengan geram. Kemudian katanya pula, “Kau tidak usah mengigau. Orang-orang padukuhan yang dipimpin oleh Ki Bekel itu sendiri berhasil menguasai seluruh medan. Jumlah mereka terlalu banyak untuk dilawan oleh sejumlah kecil para pengikut Kebo Lorog itu.”

Tetapi orang itu tertawa. Kalanya, “Dengan jumlah yang kecil itu, kami akan dapat menghancurkan orang-orang padukuhanmu. Bahkan kami akan memasuki padukuhanmu, merampas dan merampok apa saja yang dapat kami bawa.”

“Tidak. Kau tentu dapat melihat, bahwa Kebo Lorog itu tidak dapat mengalahkan Adeg Panatas, adik Ki Bekel.

“Persetan dengan Adeg Panatas.”

Orang itu menjadi sangat marah. Tiba-tiba saja ilmunya telah meningkat dengan cepat, sehingga beberapa langkah Paksi harus bergerak mundur.

Namun Paksi pun kemudian telah menemukan kemampuannya sepenuhnya kembali, sehingga pertempuran itu pun menjadi semakin sengit.

Tetapi beberapa kali Paksi dikejutkan, ia kenali unsur gerak lawannya itu. Ia sadari bahwa sekali-sekali ia mengalami tekanan yang sangat berat, justru karena lawannya menguasai unsur-unsur gerak yang nampaknya lebih matang.

Bahkan Paksi mengalami kesulitan karena lawannya itu selalu berhasil memotong serangan-serangannya, seakan-akan orang itu tahu, apa yang harus dilakukan.

Tetapi dengan demikian, Paksi justru mendapat pengalaman baru. Ia melihat kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi ilmunya sebagaimana dilakukan oleh orang berwajah cacat itu. Diluar sadarnya Paksi justru mulai mengetrapkannya. Kakinya, tangannya, sikunya, lututnya dan bahkan jari-jarinya.

Tetapi serangan-serangan lawannya itu mulai mampu menembus pertahanannya. Ketika tangan lawannya terayun deras mengarah ke keningnya, Paksi sempat mengelak. Meskipun demikian, sisi telapak tangan orang itu masih menyentuh bahunya, sehingga Paksi harus meloncat mengambil jarak.

Perasaan nyeri yang tajam telah menggigit bahunya yang tersentuh serangan lawannya itu.

Paksi meloncat beberapa langkah surut. Ia sempat mengusap bahunya yang sakit. Namun lawannya tidak memberinya kesempatan terlalu lama. Dengan garangnya lawannya itu telah menyerangnya pula. Kedua tangannya terayun dengan derasnya. Sisi telapak tangannya mengarah keleher anak muda itu.

Tetapi dengan tangkas Paksi merendah, Ia justru menyerang kaki lawannya dengan sapuan

Lawan Paksi itu terkejut. Ia tidak sempat mengelak, sehingga kedua kakinya yang ditebas oleh kaki Paksi terdorong selangkah.

 Tetapi orang itu tidak terbanting jatuh. Ia justru berputar dengan menapak pada tangannya, sementara kakinya terangkat tinggi-tinggi. Dengan satu putaran, maka lawannya telah berada beberapa langkah daripadanya, di antarai oleh tiga buah nisan batu hitam.

Paksi mengerutkan keningnya. Ia tertarik melihat gerakan lawannya.

Tetapi Paksi tidak sedang melakukan latihan. Ia sedang bertempur habis-habisan sebagaimana orang-orang padukuhan yang lain.

Namun dituar sadarnya, ternyata Paksi telah terpancing semakin jauh dari arena pertempuran di kuburan itu

Meskipun hal itu kemudian disadari oleh Paksi, tetapi Paksi sama sekali tidak menjadi gentar. Semakin lama Paksi semakin percaya kepada kemampuan dirinya. Dengan cepat Paksi justru telah menyadap unsur-unsur gerak lawannya yang menurut pendapat Paksi merupakan perkembangan dari ilmu yang mempunyai sumber yang sama dari ilmunya.

Paksi tertegun ketika ia melihat lawannya meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak.

Paksi memang tidak dengan tergesa-gesa memburunya. Ia harus lebih berhati-hati menghadapi lawan yang memiliki pengalaman dan memiliki ilmu yang lebih mantap.

“He, kau anak iblis. Darimana kau memiliki ilmu seperti itu, yang mempunyai tatanan gerak mirip dengan ilmuku? Apakah kau telah mencurinya dari salah satu perguruan yang bersumber dari ilmu itu?”

Paksi memandang orang itu dengan tajamnya. Namun dalam kegelapan ia tidak dapat melihat dengan lebih jelas lagi selain ia dapat mengenali cacat diwajah orang itu.

“Kenapa kau tidak menjawab? Sebagai salah seorang murid yang mewarisi ilmu dari sumber ilmu yang aku junjung tinggi, maka aku mempunyai kewajiban untuk menghancurkan orang yang telah mencuri ilmu atau sebagian dari ilmu itu.”

Dengan lantang Paksi pun menjawab, “Tidak ada seorang pun murid dari jalur perguruanku menjadi seorang perampok. Jika kau menguasai ilmu dari jalur perguruanku, namun kau adalah seorang perampok, maka kau memang harus dimusnahkan, karena dengan demikian kau sudah mengotori nama perguruan kami.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Kau jangan memutar balik persoalan. Tetapi nampaknya kau memang seorang yang licik. Di umurmu yang masih sangat muda itu, kau sudah berhasil mencuri ilmu dari perguruan kami. Selebihnya kau sudah pandai berbohong.”

Kemarahan Paksi tidak dapat dibendung lagi. Karena itu, ia tidak menunggu lawannya menyelesaikan kalimatnya. Dengan serta-merta Paksi telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Pertempuran telah menyala kembali. Paksi telah mengerahkan segala kemampuan yang ada pada dirinya. Tanpa disadarinya, ia justru terpengaruh oleh lawannya yang telah mengembangkan unsur-unsur gerak dari perguruannya.

Ternyata serangan Paksi yang membadai itu telah membuat lawannya mengalami kesulitan. Apalagi ketika Paksi bertempur dengan memelihara jarak, karena nampaknya lawannya sering terhambat oleh jarak.

Dalam kemarahan yang memuncak, maka kemampuan Paksi justru menjadi semakin tinggi. Ia mampu bergerak semakin cepat dan kekuatannya menjadi semakin meningkat.

Dengan demikian, maka lawannya pun mulai terdesak. Sekali-sekali serangan Paksi telah mengenai sasarannya sehingga beberapa kali keseimbangan lawannya telah terguncang.

Karena itu, maka dalam keadaan yang paling sulit, maka lawan Paksi itu justru telah melenting menjauhinya. Kemudian dengan tangkasnya bertumpu pada kedua tangannya yang menapak, orang itu berputar dengan beberapa kali. Ketika Paksi menyadari dan meloncat memburunya, maka orang itu sudah melenting berdiri dan berlari menembus kegelapan, justru meloncat masuk kembali kedalam kuburan.

Paksi tertegun sejenak. Orang itu bagaikan hilang di antara gerumbul-gerumbul perdu disela-sela batang pohon kamboja.

Untuk beberapa saat Paksi berdiri termangu-mangu. Ternyata ia telah kehilangan lawannya.

Namun Paksi tidak dapat terlalu lama merenung. Sejenak kemudian ia pun menyadari, bahwa di kuburan itu telah terjadi perternpuran antara Kebo Lorog dan para pengikutnya melawan orang-orang padukuhan yang dipimpin oleh Ki Bekel sendiri bersama adiknya, Adeg Panatas.

Jika semula perhatian Paksi sepenuhnya tertuju kepada lawannya sehingga ia seakan-akan tidak mendengar hiruk pikuk pertempuran, maka demikian ia kehilangan lawannya itu, maka ia pun segera bergerak mendekati arena.

Dengan hati-hati Paksi merayap di antara batang pohon kamboja serta nisan nisan yang membujurke utara.  Dalam kegelapan, matanya yang tajam melihat pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Sekali sekali Ia mendengar teriakan-teriakan kasar. Umpatan-umpatan dan juga perintah-perintah di sela-sela pekik kesakitan.

Paksi pun bergeser semain dekat. Ia berhenti di belakang sebuah nisan yang besar. Beberapa langkah daripadanya, di tempat yang agak lapang, Adeg Panatas tengah bertempur melawan Kebo Lorog.

Ternyata keduanya memang berilmu tinggi. Keduanya saling menyerang, tetapi juga saling menangkis dan menghindar.

Ilmu mereka berdua agaknya telah meningkat semakin tinggi, sehingga benturan-benturan yang terjadi di antara mereka seolah-olah telah menggetarkan udara di kuburan itu.

Ketika Paksi berpaling ke arah yang lain, ia melihat Sura dan Mertawira juga sedang bertempur. Tetapi keduanya tidak bertempur seorang melawan seorang. Beberapa orang anak muda tengah membantu mereka menghadapi dua orang perampok yang semakin terdesak.

“Nampaknya kedua orang perampok itu sudah tidak banyak dapat memberikan perlawanan” berkata Paksi didalam hatinya.

Sejenak kemudian, maka Paksi pun bergeser lagi. Ia melihat Ki Bekel yang sedang bertempur. Ternyata Ki Bekel juga mampu bergerak cepat mengimbangi lawannya.

Ketika Paksi bergeser lagi, dilihatnya Ki Jagabaya juga bertempur bersama beberapa orang melawan seorang yang bertubuh tinggi tegap. Ia adalah pengiring Kebo Lorog ketika ia datang kerumah Ki Pituhu.

Orang yang bertubuh tinggi tegap dan berwajah garang itu memiliki bekal kanuragan yang cukup pula. Tetapi ia harus bertempur menghadapi beberapa orang, dan bahkan di antaranya adalah Ki Jagabaya, maka orang itu harus memeras kemampuannya untuk bertahan.

Dengan demikian, maka menurut pengamatan Paksi, orang-orang padukuhan yang dipimpin langsung oleh Ki Bekel dan adiknya, Adeg Panatas, akan segera dapat mengatasi lawan-lawanya. Karena itu, maka Paksi pun tidak dengan tergesa-gesa melibatkan diri. Ia masih bergeser lagi, justru mendekati lagi pertempuran yang sengit antara Kebo Lorog dan Adeg Panatas. Nampaknya keduanya sengaja bergeser menepi, di tempat yang masih agak lapang, sehingga kaki mereka tidak setiap kali harus menghindari batu-batu nisan yang tersebar.

Adeg Panatas sendiri merasa kurang mapan untuk berloncatan diatas onggokan tanah kuburan dan batu-batu nisan.

Paksi mengamati pertempuran dengan jantung yang berdebaran. Ia melihat keduanya semakin meningkatkan kemampuan mereka. Bahkan nampaknya mereka sudah merambah ke tenaga dalam sehingga tenaga mereka seakan-akan menjadi semakin besar.

Beberapa kali keduanya saling membenturkan kekuatan. Jika yang seorang menyerang dan yang seorang menangkis serangan itu, maka kedua-duanya tampak menjadi goyah.

Paksi mengangguk-angguk diluar sadarnya. Ia pun sudah menapak pada tataran sebagaimana disaksikannya itu meskipun sumber ilmunya berbeda. Meskipun baru pada tataran dasar, namun Paksi mampu mengungkapkan tenaga dalamnya sebagai tenaga yang besar.

Paksi sempat merenungi pertempurannya sendiri melawan orang berwajah cacat. Sesuatu tiba-tiba membersit di kepalanya. Ia teringat bagaimana lawannya berusaha memancing tenaga dalam yang masih belum terungkapkan dari dalam dirinya dengan unsur-unsur gerak yang pada dasarnya pernah dipelajarinya.

Paksi menjadi termangu-mangu sejenak, Ia merasa mampu untuk melakukannya. Tetapi tentu tidak dengan serta-merta, agar justru tidak menyakiti bagian dalam tubuhnya sendiri. Apalagi jika hal itu dilakukan tanpa tuntunan seorang guru atau orang yang memiliki ilmu yang sejalan, namun sudah berada pada tataran yang lebih tinggi.

Paksi yang merenung itu seperti terbangun ketika ia melihat Adeg Panatas terpelanting jatuh. Untunglah bahwa tubuhnya yang lentur masih sempat mengatur diri. sehingga dengan demikian Adeg Panatas itu tidak mengalami kesulitan ketika ia meloncat bangkit. Bahkan ketika Kebo Lorog meloncat menyerangnya, Adeg Panatas dengan tangkasnya bergeser selangkah kesamptng, namun yang dengan serta merta telah berputar dengan ayunan kakinya yang tepat mengenai dada lawannya.

Kebo Lorog terdorong beberapa langkah surut. Namun ketika Adeg Panatas memburunya, Kebo Lorog telah siap untuk menghadapinya.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia belum melihat, siapakah di antara mereka yang akan dapat memenangkan pertempuran itu.

Tetapi dengan demikian Adeg Panatas telah membuktikan, bahwa tidaklah sia-sia ia berguru untuk beberapa tahun lamanya. Nama Kebo Lorog sejajar dengan nama hantu yang menakutkan. Sementara itu, Adeg Panatas mengimbanginya.

“Untuk datang kembali ke padukuhan itu, Kebo Lorog harus berpikir ulang” berkata Paksi didalam hatinya.

Namun dalam pada itu, keadaan para pengikut Kebo Lorog menjadi semakin sulit. Setiap orang harus berhadapan dengan tiga atau ampat orang lawan. Meskipun mereka sudah terbiasa bertempur, namun mereka adalah orang-orang yang hanya berbekal keberanian, kekasaran dan kebengisan. Jarang di antara mereka yang benar-benar memiliki dasar-dasar kemampuan dalam olah kanuragan.

Karena itu, ketika mereka benar-benar berhadapan dengan beberapa orang dan bahkan ada di antaranya adalah bekas prajurit maka mereka pun mengalami kesulitan.

Kebo Lorog melihat kelemahan itu. Meskipun ia harus bertempur dengan mengerahkan tenaganya, tetapi Kebo Lorog sempat melihat sekilas apa yang terjadi di sekitarnya. Bahkan satu dua orang telah terluka meskipun mereka juga sempat melukai orang-orang padukuhan.

Karena itu, maka Kebo Lorog tidak mempunyai pilihan lain. Meskipun ia sendiri masih mampu bertahan dan bahkan masih belum merasa dikalahkan oleh lawan nya, tetapi ia sudah dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada akhir dari pertempuran itu jika masih lama tidak beranjak dari tempatnya.

Karena itu, maka terdengar Kebo Lorog itu memberi isyarat, Terdengat sebuah suitan tidak terlalu keras.

Para pengikutnya memang menjadi bingung. Mereka tidak tahu isyarat apa yang dimaksudkan oleh Kebo Lorog. Hanya seorang sajalah di antara orang-orangnya yang tahu pasti, apa yang harus dilakukannya. Orang yang tinggi tegap, yang bertempur melawan Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu itu.

Adeg Panatas sendiri sudah mencurigai isyarat itu. Tetapi yang terjadi, Kebo Lorog justru telah menghentak kan ilmunya dengan sebuah serangan yang sangat mengejutkan, sehingga Adeg Panatas telah terdesak beberapa langkah surut. Demikian pula yang dilakukan oleh pengiringnya yang bertubuh tinggi tegap itu. Bahkan hampir saja senjatanya menyambar dada Ki Jagabaya. Untunglah Ki Jagabaya sempat mengelak. Meskipun demikian, senjata orang itu telah menyentuh lengannya, sehingga bukan saja bajunya yang koyak, tetapi juga kulitnya.

Kesempatan yang sekejap itu telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh Kebo Lorog dan seorang pengiring nya.

Mereka seakan-akan telah meloncat menghilang ke-dalam gelap malam.

Adeg Panatas memang mencoba memburunya. Demikian pula Ki Jagabaya dan para bebahu yang bertempur bersamanya. Tetapi mereka telah kehilangan buruan mereka.

Karena itu, maka Adeg Panatas tidak membuang waktu. Ia pun segera kembali ke arena pertempuran. Ia mencoba untuk mencegah para pengikut Kebo Lorog, agar mereka tidak sempat melarikan diri.

Pertempuran itu tiba tiba menjadi kusut. Beberapa orang berlari-larian tidak menentu.

Beberapa orang padukuhan memang menjadi bingung. Ternyata cara yang dipergunakan oleh para pengikut Kebo Lorog yang sudah berpengalaman itu sebagian memang berhasil. Orang-orang padukuhan itu justru berlarian saling menghalangi, sehingga mereka telah kehilangan lawan lawan mereka yang berlari-larian berputaran.

Tetapi, Adeg Panatas tidak menjadi bingung. Dengan cepat ia bergabung dengan Ki Bekel. Ki Pituhu yang akan ikut serta dalam arus yang berputaran dan membingungkan itu, telah kehilangan kesempatan. Adeg Panatas tidak membiarkannya lepas dari tangannya.

Ketika kemudian pertempuran itu berakhir, maka hanya ampat orang pengikut Kebo Lorog yang tertangkap termasuk Ki Pituhu sendiri.

Namun atas perintah Adeg Panatas, maka keempat orang itu telah dipisahkan yang satu dengan yang lain.

“Kita ingin mendengar jawaban mereka esok. Kita akan bertanya kepada mereka seorang demi seorang.”

Beberapa saat kemudian, maka pertempuran benar-benar telah berhenti. Beberapa orang yang ada di kuburan itu telah menyalakan obor untuk mencari korban yang jatuh dalam pertempuran itu.

Beberapa orang memang telah terluka. Tiga di antara orang pedukuhan terluka berat. Sedangkan yang lain, luka-luka yang mereka derita tidak sampai membahayakan jiwa mereka.

Sementara itu, seorang di antara para perampok itu terluka parah. Seorang lagi diketemukan diluar kuburan, Orang itu bahkan telah pingsan, karena luka-lukanya. Nampaknya ia juga telah mencoba untuk melarikan diri, namun wadagnya tidak lagi dapat mendukungnya, sehingga ia terjatuh dan pingsan.

Ki Bekel yang juga telah terluka meskipun hanya beberapa goresan ditubuhnya, telah memerintahkan untuk membawa mereka yang terluka dan para tawanan ke padukuhan.

“Hati-hati dengan para tawanan.” pesan Ki Bekel.

Ki Jagabaya tidak mau membuat kesalahan sehingga tawanan itu dapat terlepas meskipun hanya seorang saja. Karena itu, maka mereka pun telah diikat tangannya. Dua orang memegangi kedua ujung tali pengikat dari setiap orang.

Malam itu, para tawanan telah dibawa ke banjar padukuhan. Demikian pula mereka yang terluka. Ki Bekel telah memanggil tabib yang ada di padukuhan itu untuk membantu merawat orang-orang yang terluka

Sementara itu, seperti yang dipesankan oleh Adeg Panatas, maka keempat orang itu telah di tempatkan di bilik yang terpisah. Mereka telah diikat dengan tiang yang ada didalam bilik itu. Bukan hanya tangannya, tetapi juga kakinya. Termasuk Ki Pituhu.

Dari orang-orang yang tertawan, Ki Bekel mengetahui, bahwa pemimpin mereka adalah Ki Pituhu.

“Kita akan berbicara dengan orang itu besok” berkata Ki Bekel kepada adiknya.

Adeg Panatas mengangguk. Namun ia memperingatkan, “Asal kita menjaganya dengan baik. Kawan kawannya dapat saja berusaha untuk membebaskan mereka. Tetapi ada kemungkinan yang lain. Mereka mengirim orang yang dengan diam-diam berusaha membunuhnya.”

Karena itu, maka Ki Bekel telah memberikan pesan kepada mereka yang berjaga-jaga di banjar itu, untuk sangat berhati hati.

“Beri isyarat jika perlu” berkata Ki Bekel, “Aku akan membicarakan dengan beberapa orang, apa yang sebaiknya kita lakukan dengan benda-benda berharga itu. Jika perlu sekali, pukul saja kentongan.”

Ki Bekel pun memberikan pesan yang sama kepada beberapa orang yang ditugaskannya untuk tetap berada di kuburan, mengawasi agar barang-barang berharga itu tidak diambil oleh siapa pun juga, sampai Ki Bekel mengambil satu keputusan.

Sepuluh orang yang berada di kuburan masih juga merasa, bulu tengkuk mereka meremang. Apalagi jika mereka memandangi sebatang pohon raksasa yang tumbuh di pinggir kuburan itu.

Namun di antara mereka terdapat dua orang yang berani. Sura dan Mertawira. Keduanya telah diserahi untuk memimpin kawan-kawannya yang berjaga-jaga di kuburan itu.

Paksi kemudian telah memilih untuk berada di kuburan bersama-sama dengan Sura. Sambil duduk bersandar sebatang pohon di pinggir kuburan, dekat tempat benda-benda berharga itu ditanam, Paksi sempat merenungi pertempuran yang baru saja terjadi. Ia memang merasa heran, bahwa ada di antara mereka yang memiliki jalur perguruan yang dianutnya. Sebagaimana Paksi mengenali unsur-unsur gerak pada orang itu, maka orang itu pun dapat mengenali unsur-unsur gerak yang dikuasai oleh Paksi.

Paksi pun kemudian berkata didalam hatinya, “Tidak semua bunga ditanam berbau harum.”

Namun Paksi bertekad untuk menemukan orang itu pada kesempatan lain.

“Aku harus memberitahukan hal ini kepada guru” berkata Paksi didalam hatinya.

Tetapi Paksi tidak tahu, kapan ia dapat bertemu lagi dengan gurunya, karena Paksi tidak tahu kapan ia akan pulang.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Di sekitarnya terdapat beberapa orang padukuhan yang berjaga-jaga. Seorang di antara mereka membawa sebuah kentongan kecil. Jika perlu kentongan itu akan dibunyikan untuk memanggil orang-orang dari padukuhan.

Tetapi menurut perhitungan Paksi, para pengikut Kebo Lorog itu tidak akan kembali. Bagi Kebo Lorog, maka sawah dilingkungan ini adalah sawah yang tandus. Tentu tidak ada artinya jika ia harus menggarapnya lebih lama lagi.

“Apalagi orang yang bernama Ki Pituhu itu sudah tertangkap. Tidak ada lagi orang yang menyiapkan landasan bagi kekuatannya di daerah ini” berkata Paksi kepada diri sendiri.

Namun beberapa saat kemudian, Paksi sempat merenungi dirinya sendiri. Setiap kali ia bertanya, “Kenapa aku harus pergi? Kenapa ibu menganggap bahwa ayah memang sengaja menyingkirkan aku dari rumah. Cincin itu hanya sekedar satu alasan.”

Sura yang berjalan hilir mudik untuk mengusir kantuk, justru telah mendekatinya. Sambil duduk di sebelahnya ia berkata, “Sebaiknya kau pulang saja ngger. Kau dapat beristirahat dan barangkali masih mempunyai waktu sedikit untuk tidur.”

Tetapi Paksi menjawab sambil tersenyum, “Aku tentu sudah tidak dapat tidur di sisa malam yang tinggal sedikit ini.”

“Kau tidak perlu tergesa-gesa bangun meskipun matahari sudah naik.”

“Aku sudah terbiasa bangun pagi-pagi, paman” jawab Paksi.

Sura tertawa. Sambil menepuk bahu Paksi ia berkata, “Kau tentu letih. Barangkali kau dapat tidur sambil duduk bersandar seperti itu.”

Paksi pun tertawa pula. Katanya, “Aku akan mencoba paman.”

Sura pun kemudian bangkit sambil berkata, “Jika demikian, biarlah aku tidak mengganggumu.”

Paksi masih saja tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Paksi memang berusaha untuk dapat beristirahat. Tetapi yang beristirahat hanyalah wadagnya. Angan-angannya pun kembali mengembara menyusuri perjalanan hidupnya dari waktu ke waktu.”

Paksi Pamekas itu pun mengambil kesimpulan, bahwa kehadirannya di rumah keluarganya memang tidak menyenangkan ayahnya. Ia tidak berada didalam hati ayahnya. Tidak sebagaimana kedua orang adiknya yang mendapat perhatian sepenuhnya.

“Apakah karena aku anak sulung, maka aku harus memikul beban terberat di antara saudara-saudaraku?” bertanya Paksi didalam hatinya.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Kakinya mulai merasa gatal. Nyamuknya cukup banyak, sehingga desing ditelinganya membuatnya tidak tenang berangan-angan.

Paksi akhirnya berdiri. Langit ternyata sudah mulai dibayangi cahaya kemerah-merahan.

Menjelang fajar Paksi baru merasa dinginnya embun yang bergayut di ujung dedaunan dan menitik satu-satu. Batu-batu nisan pun mulai menjadi basah.

Paksi menggeliat. Beberapa orang justru telah tertidur sambil bersandar pepohonan. Paksi melangkah keluar dari lingkungan kuburan. Ketika ia berdiri di pematang, dilihatnya sebuah parit yang dialiri oleh air yang jernih.

Diluar sadarnya Paksi turun kedalam parit untuk mencuci wajahnya, kakinya dan tangannya.

Terasa badannya menjadi sedikit segar meskipun semalam suntuk Paksi tidak tidur sekejap pun.

Dalam pada itu, Ki Bekel, Ki Jagabaya dan Adeg Panatas masih berbincang tentang benda-benda berharga itu. Apa yang akan mereka lakukan, karena mereka tahu, bahwa benda-benda berharga itu adalah barang yang panas.

“Bagaimana kita dapat mengembalikan barang-barang itu kepada pemiliknya” berkata Adeg Panatas.

“Kita akan berbicara dengan Ki Demang.” berkata Ki Bekel.

Ki Jagabaya menjadi agak ragu. Katanya, “Bukankah Ki Bekel tahu, bahwa Ki Demang sering memilih jalan pintas untuk memecahkan persoalan? Ki Demang kadang-kadang dengan tanpa berpikir panjang, mengambil keputusan dengan mudah. Ia tidak mau bersusah payah mencari jalan keluar terbaik.”

Ki Bekel mengangguk-angguk, sementara Ki Jagabaya berkata selanjutnya, “Menurut dugaanku, Ki Demang akan menanggapi persoalan ini dengan ringan. Bahkan dengan tanpa memikirkan akibatnya” sambil sedikit kantuk, “Ki Demang akan mengatakan, bahwa sebaiknya barang-barang itu dimanfaatkan buat Kademangan.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti pendapat Ki Jagabaya. Tanpa berpikir panjang, Ki Demang akan berkata, “Barang-barang itu kita jual. Uangnya kita pergunakan buat keperluan Kademangan.”

Dengan nada dalam Ki Bekel bertanya, “Jadi bagaimana menurut Ki Jagabaya?”

“Kita menghadap Ki Tumenggung Wirayuda.” jawab Ki Jagabaya.

“Sejauh itu?” bertanya Ki Bekel.

“Bukankah Ki Tumenggung Wirayuda yang telah mendapat tugas untuk mengambil pelaksanaan pemerintahan Pajang di daerah ini meliputi satu lingkungan yang luas sampai ke Kwarasan.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun ia pun bertanya, “Tetapi bagaimanapun juga kita harus berbicara lebih dahulu dengan Ki Demang.”

“Aku setuju, Ki Bekel. Tetapi sebaiknya kita sudah membawa sikap sebelum kita bertemu dengan Ki Demang.”

“Besok kita temui Ki Demang.”

Tetapi yang mereka bicarakan bukan saja kepada siapa mereka harus melaporkan barang-barang berharga hasil rampokan itu. Tetapi perhatian Adeg Panatas lebih tertuju pada pengamanan barang-barang itu. Karena itu, maka Adeg Panatas itu pun berkata, “Kita harus mengatur, siapakah yang secara bergilir akan menjaga barang-barang itu.”

“Ya” Ki Jagabaya mengangguk-angguk, “barang-barang itu tidak boleh jatuh kembali ketangan para perampok itu.”

“Nanti, kita akan menyusun tugas bagi setiap laki-laki untuk bergantian berjaga-jaga di kuburan itu siang dan malam. Disiang hari kita akan menempatkan lima orang. Tetapi di malam hari, lebih dari itu. tujuh atau delapan orang.” berkata Ki Bekel, “mudah-mudahan Ki Tumenggung Wirayuda bergerak cepat atas nama Pajang sehingga tugas kita cepat selesaj.”

Demikianlah, dipagi hari itu Ki Bekel, Ki Jagabaya dan Adeg Panatas telah bersiap-siap pergi ke padukuhan induk untuk bertemu dengan Ki Demang. Namun mereka-pun sudah bersiap pula untuk pergi ke Kwarasan, menemui Ki Tumenggung Wirayuda.

Sebelum mereka berangkat, maka Ki Jagabaya telah menugaskan dua orang bebahu untuk membawa tiga atau ampat orang menggantikan mereka yang bertugas menunggui benda-benda berharga di kuburan itu.

“Untuk selanjutnya kita akan mengaturnya sebagaimana kita mengatur para peronda” berkata Ki Jagabaya.

Sementara itu, Ki Bekel, Ki Jagabaya dan Ades Panatas telah menemui Ki Demang uniuk membirikan laporan tentang peristiwa yang telah terjadi.

Sebenarnyalah seperti dugaan Ki Jagabaya, maka Ki Demang tidak menanggapi persoalan itu dengan bersungguh-sungguh. Laporan itu didengarnya sambil mengangguk-angguk. Ia seakan-akan tidak mendengar bahwa telah jatuh korban di antara orang padukuhan. Beberapa orang telah terluka dan di antaranya sangat parah.

Yang mula-mula ditanyakan, bukan keadaan orang-orang yang terluka itu, tetapi justru barang-barang yang masih berada di kuburan, “Apa saja yang kalian temukan?”

“Kami belum melihatnya satu demi satu, Ki Demang

“Nanti kita bongkar. Aku ingin melihat apa saja yang telah disembunyikan itu.”

“Kemudian?” bertanya Ki Bekel.

“Bukankah barang-barang itu tidak kita ketahui siapa pemiliknya?”

“Lalu?” belianya Adeg Panatas.

Ki Jagabaya menarik nafas panjang ketika ia mendengar Ki Demang menjawab, “Itu rejeki kita. Kademangan ini membutuhkan banyak beaya untuk membangun banjar yang lebih baik. Untuk membuat susukan di gumuk Pantong. Dan barangkali masih ada yang lain.”

“Ki Demang” berkata Ki Bekel, “barang-barang itu tentu ada pemiliknya meskipun kita tidak mengetahuinya. Seandainya pemiliknya tidak dapat kita ketemukan, maka kita tidak begitu saja dapat mempergunakannya untuk kepentingan kita sendiri.”

“Lalu, bagaimana menurut pertimbangan Ki Bekel?

“Kami akan melaporkannya kepada Ki Tumenggung Wirayuda.”

“Untuk apa?” bertanya Ki Demang.

“Biarlah Ki Tumenggung Wirayuda memberikan keputusan atas nama Pajang. Seandainya, sekali lagi seandainya, Ki Demang. Ki Tumenggung menyerahkan barang-barang berharga itu atau sebagian daripadanya kepada kita, barang itu akan menjadi sah.”

“Jadi kalian akan pergi ke Kwarasan?”

“Barangkali Ki Demang juga ingin pergi?”

“Kenapa kalian memilih penyelesaian yang rumit?”

Adeg Panatas pun kemudian berkata, “Ki Demang. Jika kita langsung memanfaatkan benda-benda berharga hasil rampokan itu, mungkin sekali kita akan terjebak kedalam kesulitan. Jika kita menjual benda-benda itu, mungkin pemiliknya dapat mengenalinya. Nah, jika ia sudah melaporkan bahwa ia kehilangan karena dirampok, maka kita akan dapat dituduh telah melakukan perampokan terhadap pemilik barang itu. Dengan demikian, kita akan mengalami kesulitan.”

“Tetapi mungkin Pajang akan mengambil barang? barang itu seluruhnya” berkata Ki Demang.

“Itu haknya” jawab Adeg Panatas.

“Tetapi apakah kau yakin, bahwa benda-benda itu akan dikembalikan kepada pemiliknya? Atau justru hanya akan memperkaya Ki Tumenggung Wirayuda?”

“Kemungkinan itu memang dapat terjadi, Ki Demang. Tetapi baiklah kita percaya kepada Ki Tumenggung. Jika kita sudah tidak mempercayai para petugas yang ditunjuk oleh Pajang, lalu apakah sebenarnya yang telah terjadi atas kita?” sahut Adeg Panatas.

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terserah kepada kalian jika kalian ingin menempuh julan penyelesaian yang rumit. Aku sendiri tidak sempat mengurusinya. Pekerjaan cukup banyak.”

“Jika Ki Demang sibuk, biarlah kami yang menyelesaikannya. Tetapi yang penting, Ki Demang mengetahui apa yang akan kami lakukan.”

Ketika ketiga orang itu kemudian kembali ke padukuhan, Ki Jagabaya pun berkata, “Bukankah kita sudah menduga?”

“Apakah benar bahwa Ki Demang sibuk sekali?” bertanya Adeg Panatas.

“Ya. Sibuk mengadu ayam” jawab Ki Jagabaya.

Adeg Panatas menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Apa yang terjadi jika Kebo Lorog itu kemudian memusuhi Kademangan ini? bukan hanya padukuhan kita?”

“Ki Demang tidak memberikan tanggapan dan kesan apa pun tentang Kebo Lorog.” sahut Ki Jagabaya.

“Apakah ia belum mengenalnya?” tanya Adeg Panatas.

“Tentu sudah” jawab Ki Bekel, “tetapi ia tidak tertarik untuk berbicara tentang Kebo Lorog. Mungkin Ki Demang juga mempunyai keyakinan diri.”

“Ada beberapa orang yang dianggap memiliki ilmu yang tinggi yang tinggal di padukuhan induk. Lebih dari itu, ada dua orang pengawal Ki Demang yang tangguh.” berkata Ki Jagabaya.

Adeg Panatas mengangguk-angguk. Tetapi ia mendapat kesan yang kurang mapan bagi seorang Demang. Nampaknya ia melakukan apa saja yang disenanginya, tetapi ia tidak menaruh perhatian terhadap sesuatu yang tidak langsung menyangkut dirinya.

Tetapi mereka bertiga tidak berbicara lebih panjang tentang Ki Demang. Mereka mulai membicarakan rencana kepergian mereka ke Kwarasan untuk menghadap Ki Tumenggung Wirayuda.

Ki Bekel tidak ingin persoalan benda-benda berharga itu berkepanjangan. Karena itu, maka mereka bertiga pun sepakat untuk segera pergi ke Kwarasan.

“Besok pagi-pagi Kita berangkat” berkata Ki Bekel, “dengan demikian kita akan dapat kembali di sore hari.”

Sementara itu, dua orang bebahu dan beberapa orang lain telah pergi ke kuburan, menggantikan Sura dan kawan-kawannya. Paksi pun telah ikut pulang pula bersama Sura ke rumahnya. Bahkan Sura telah meminjaminya lagi pakaian, karena Paksi harus mencuci pakaiannya yang kotor. Semalaman ia berada di kuburan, bertempur dan kemudian duduk-duduk di rerumputan berdebu.

Hari itu, Paksi sempat bermain-main dengan Salam. Anak itu memang anak yang cerdas.

Di siang hari, ketika Paksi diminta untuk makan siang bersama Sura, ia menyatakan keinginannya untuk meneruskan perjalanan.

“Aku sudah cukup lama terhenti disini, paman.”

“Aku masih minta kau menunggu, ngger. Setelah persoalan benda-benda berharga yang disembunyikan para perampok itu selesai, maka terserahlah kepadamu, meskipun aku ingin mencoba untuk menahanmu disini.”

“Bukankah aku sudah lidak mempunyai kepentingan lagi?”

“Tentu masih ada ngger bukankah Ki Bekel, Ki Jagabaya dan adi Adeg Panatas akan pergi ke Kwarasan untuk melaporkan penemuan ini kepada Ki Tumengung Wirayuda?”

“Bukankah aku tidak diperlukan lagi? Segalanya sudah jelas. Persoalan kemudian adalah persoalan unimu Ki Bekel, Ki Demang dan Tumenggung Wirayuda.”

“Tidak ngger” sahut Sura, “kau adalah orang yang pertama kali melihat dan kemudian berhasil membuktikan bahwa keranda itu adalah sekedar tipuan yang sengaja dibuat untuk menimbulkan keresahan, Kau pula lah yang melihat dimana orang-orang Itu menyembunyikan barang-barang hasil rampokan itu. Kau harus Ikut menyaksikan Ki Tumenggung Wirayuda membongkar benda-benda berharga itu. Kau harus melihat apa saja yang telah disembunyikan oleh para peiampok itu.”

“Bukankah itu tidak perlu, paman.” jawab Paksi.

Sura tersenyum. Katanya, “Aku tahu. Kau tidak ingin menonjolkan dirimu sendiri untuk mendapat pujian. Tetapi mungkin kau diperlukan untuk menjawab beberapa pertanyaan.”

Paksi terpaksa tinggal untuk beberapa hari lagi, Meskipun demikian, ia menjadi berdebar-debar, jika Ki Tumenggung Wirayuda itu mengenal ayahnya dan bahkan pernah datang kerumahnya, mungkin ia dapat mengenalinya.

Tetapi menurut ingatannya, ia tidak pernah mendengar nama itu.

Sementara itu, ternyata Salampun ikut menahannya pula. Kehadiran Paksi di rumahnya, membuat rumah itu tidak terlalu sepi baginya. Ia mempunyai kawan bermain tanpa harus keluar dari regol halaman rumahnya.

Dalam pada itu, dihari berikutnya, Ki Bekel, Ki Jagabaya dan Adeg Panatas telah memacu kudanya menuju ke Kwarasan untuk menghadap Ki Tumenggung Wirayuda.

Satu perjalanan yang agak panjang tapi berkuda, jarak itu terasa jauh lebih pendek

Laporan itu sangat menarik perhatian Ki Tumenggung. Tidak sebagaimana Ki Demang yang sekedar mengangguk-angguk. Tetapi Ki tumenggung telah menanyakan beberapa hal tentang para perampok itu Apalagi ketika disebut nama Kebo Lorog.

“Kami gagal menangkapnya, Ki Tumenggung” berkata Adeg Panatas.

Ternyata Ki Tumenggung pun bergerak cepat. Ketika Ki Bekel melaporkan bahwa orang-orang padukuhan terpaksa menunggui kuburan itu siang dan malam, maka Ki Tumenggung berkata, “Aku akan pergi bersama kalian. Aku akan membawa sekelompok prajurit untuk mengurus para tawanan.”

“Terima kasih Ki Tumenggung.” jawab Ki Bekel. Ki Tumenggung pun kemudian telah memerintahkan sekelompok prajurit untuk menyertainya. Kecuali kuda yang mereka tumpangi maka mereka pun telah membawa kuda-kuda tanpa penunggangnya.

Kuda-kuda itu akan dipergunakan untuk membawa para tawanan.

Namun atas permintaan Ki Bekel, maka Ki Tumenggung juga membawa kuda kuda yang akan menjadi kuda beban.

“Sebaiknya benda-benda berharga itu dibawa meninggalkan padukuhan kami, Ki Tumenggung. Kami tidak mempunyai kekuatan cukup untuk mempertahankannya, seandainya Kebo Lorog kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Tetapi jika ia tahu, bahwa benda-benda berharga itu serta orang-orangnya telah kami serahkan kepada Ki Tumenggung atas nama Pajang, maka mereka tentu tidak akan kembali lagi, karena tidak ada gunanya.

Ternyata Ki Tumenggung dapat mengerti permintaan Ki Bekel itu. Sehingga dengan demikian, ia telah membawa kuda lebih banyak lagi.

Hari itu juga Ki Tumenggung Wirayuda telah berada di padukuhan bersama Ki Bekel. Mereka memang tidak membuang waktu. Ki Tumenggung itu pun segera pergi ke kuburan dan memerintahkan menggali benda-benda hasil rampokan itu.

Seperti yang diduga oleh Sura, maka Paksi telah menjadi tempat bertanya bagi Ki Tumenggung. Ia harus menceriterakan kembali apa yang pernah dilihat dan didengarnya tentang hantu keranda dan benda-benda berharga yang di sembunyikan di kuburan itu.

Ki Tumenggung mengangguk-angguk ketika Paksi selesai berceritera. Anak muda itu sudah mengatakan apa yang diketahuinya sejak ia melihat keranda yang diusung oleh orang-orang berpakaian hitam itu sampai saat ia mendengar rencana kedatangan Kebo Lorog.

“Kami akan mencoba mengetahui siapakah orang-orang yang pernah dirampok oleh gerombolan ini” berkata Ki Tumenggung.

Dengan bantuan para bebahu padukuhan, maka benda-benda berharga yang disembunyikan di kuburan itu telah dibawa ke banjar.

Di banjar, Ki Tumenggung Wirayuda, Ki Bekel, Ki Jagabaya, Adeg Panatas, Paksi dan beberapa bebahu dapat melihat dengan jelas, apa yang tersimpan di kuburan itu.

Beberapa orang hampir tidak percaya kepada penglihatannya sendiri ketika mereka melihat perhiasan emas dan permata. Berlian, intan, mutiara dan batu batu mulia yang lain.

Selain perhiasan juga terdapat berbagai macam wesi aji, keris, tombak tanpa tangkainya dan benda benda lain yang dianggap bernilai tinggi.

Namun Paksi menjadi berdebar debar ketika Ia mendengar Ki Tumenggung Wirayuda itu bertanya, “Apakah di antara perhiasan-perhiasan itu tidak terdapat sebuah cincin dengan mata tiga buah batu akik.”

Ki Bekel yang ikut mengeluarkan perhiasan-perhiasan dari petinya menggeleng sambil berkata “Tidak Ki Tumenggung. Tetapi apa yang Ki Tumenggung maksudkan, ada orang yang pernah melaporkan kehilangan cincin dengan mata tiga buah batu akik?”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak Namun kemudian katanya, “Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya pernah mendengar bahwa cincin yang demikian Itu adalah cincin yang baik.”

“Bukankah biasanya cincin hanya mempunyai matu satu batu akik?” bertanya Adeg Panatas.

“Ya. Cincin yang satu itu memang cincin yang, khusus.” jawab Ki Tumenggung.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Bekel bertanya “Cincin siapakah yang Ki Tumenggung maksudkan?”

“Seseorang mencari cincinnya yang hilang. Bukan dirampok. tetapi siapa tahu, cincin itu akhirnya jatuh ketangan para perampok.”

Adeg Panatas masih akan bertanya Tetapi Ki Tumenggung telah berkata, “Sudahlah. Cincin dengan mata tiga buah batu akik itu tidak penting.”

Dengan demikian, maka Ki Tumenggung itu mulai membicarakan, bagaimana ia akan membawa barang-barang berharga itu serta para tawanan. Bagi Ki Tumenggung, Ki Pituhu itu merupakan tawanan yang penting. Karena dari mulutnya akan dapat didengar, siapa saja yang pernah dirampoknya. Dengan demikian, maka Ki Tumenggung itu akan dapat menelusuri, siapakah pemilik benda-benda berharga itu. Meskipun tidak seluruhnya, tetapi para pemiliknya akan berterima kasih jika barang-barang yang masih dapat diketemukan itu kembali kepada mereka.

“Dalam hal ini, aku tidak dapat mengambil keputusan sendiri” berkata Ki Tumenggung Wirayuda, “aku harus memberikan laporan ke Pajang. Pajang tentu akan menugaskan seeorang yang menguasai kepastian paugeran dalam persoalan seperti ini untuk bersama-sama menyelesaikannya.”

Demikianlah, maka segala sesuatunya sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Ki Bekel dan para bebahu padukuhan itu, merasa bahwa kewajiban mereka telah mereka lakukan dengan baik, sehingga mereka tidak dibebani oleh kegelisahan.

Namun Ki Tumenggung Wirayuda itu berkata, “Tetapi setiap saat, kami mungkin masih akan menghubungi Ki Bekel untuk mendapat keterangan yung diperlukan.”

“Kami tidak berkeberatan, Ki tumenggung” jawab Ki Bekel.

Meskipun demikian, ternyata Ki Tumenggung itu juga bertanya tentang sikap Ki Demang yang seolah olah tidak ikut campur dalam persoalan yang termasuk penting ini.

“Ki Demang sudah mengetahui persoalannya, Ki Tumenggung” jawab Ki Bekel, “Ki Demang memnugaskan kami untuk menyelesaikan persoalan ini. Karena itu, kami telah datang menghadap Ki Tumenggung.”

“Baiklah Ki Bekel. Dengan demikian untuk selanjutnya kami akan selalu berhubungan dengan Ki Bekel saja.”

Demikianlah, malam itu, Ki Tumenggung dan pengiringnya telah bermalam di padukuhan itu. Ki Tumenggung sempat berbicara serba sedikit dengan Ki Pituhu.

Namun nampaknya Ki Pituhu tidak mudah unluk memberikan jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang diberikan oleh Ki Tumenggung. Meskipun demikian, Ki Tumenggung masih belum menekan Ki Pituhu agar menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Ketika Ki Tumenggung bertanya tentang Kebo Lorog, maka jawaban Ki Pituhu pun masih juga melingkar-lingkar. Bahkan seperti orang mengigau Ki Pituhu berkata, “Ki Kebo Lorog bukan seorang perampok. Ia datang sama sekali tidak ada hubungannya dengan benda-benda hasil rampokan itu. Ia sama sekali tidak menginginkan apa pun juga.”

“Jika saja ia tidak harus melarikan diri, ia tentu akan membawa sebagian besar dari benda-benda ini” berkata Ki Tumenggung.

“Tidak” jawab Ki Pituhu, “kami tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Kebo Lorog kecuali bahwa kami telah mengenalnya dengan baik. Ia datang untuk menanyakan pesanannya kepadaku, karena ia mengenal aku sebagai seorang saudagar perhiasan, wesi aji dan berbagai jenis pusaka.”

“Apa yang dipesankan kepadamu?” bertanya Ki Tumenggung.

Wajah Ki Tumenggung menegang ketika ia mendengar Ki Pituhu menjawab, “Sebuah cincin dengan mata tiga buah batu akik.”

Paksi yang juga mendengar pembicaraan itu menjadi tertarik pula untuk mendengarkan lebih jauh. Tetapi Ki Tumenggung justru menghentikan pertanyaan-pertanyaannya dan memerintahkan untuk membawa Ki Pituhu kembali ke bilik tahanannya.”

Meskipun Ki Bekel dan Adeg Panatas juga tertarik mendengar jawaban Ki Pituhu lenlang cincin bermata tiga buah batu akik Itu, tetapi mereka tidak terlalu lama memikirkannya. Mereka menganggap bahwa beberapa orang mempunyai kepercayaan bahwa cincin yang demikian itu adalah cincin yang dianggap bernilai tinggi. Tetapi mereka belum pernah mendengar bahwa cincin itu adalah cincin istana yang hilang.

Malam itu Paksi yang untuk beberapa lama tinggal di rumah Sura kembali merenungi dirinya. Demikian ia kembali dari banjar, telinganya masih saja mendengar pertanyaan Ki Tumenggung Wirayuda tentang cincin bermata tiga serta keterangan Ki Pituhu bahwa Kebo Lorog sekedar memesan cincin serupa itu pula. Meskipun Ki Pituhu itu berbohong dan mengingkari hubungannya dengan Kebo Lorog, namun bahwa ia juga menyebut cincin bermata tiga buah batu akik itu telah mengganggu pikirannya.

“Ternyata ayah tidak sendiri” berkata Paksi didalam hatinya, “Ki Tumenggung Wirayuda juga berusaha mencari cincin itu. Bahkan Kebo Lorog juga berbicara tentang cincin bermata tiga itu.”

Namun dengan demikian. Paksi makin menyadari bahwa tugas yang dihadapinya adalah juga yang semakin berat, terngiang kembali suara ibunya, “Kakang Tumenggung. Paksi masih terlalu muda untuk melakukan tugas yang begitu berat.”

Tetapi ayahnya membentak, “Kau selalu memanjakannya.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak pernah merasa terlalu dimanjakan oleh ibunya. Perhatian ibunya kepadanya dan kepada adik-adiknya tidak berbeda. Tetapi justru karena sikap ayahnya yang berbeda terhadapnya dari sikapnya kepada adik-adiknya, maka ayahnya selalu menyangka bahwa ia terlalu dimanjakan oleh Ibunya

Terasa sesuatu bergelar di hati Paksi, Justru setelah ia keluar dari rumahnya, maka ia sempat menilai apa yang pernah terjadi atas dirinya. Wajah ayahnya yang tidak pernah manis kepadanya sebagaimana kepada kedua orang adiknya.

Tetapi Paksi berusaha untuk menyingkirkan perasaannya itu. Ia tidak mau menuduh ayahnya bersikap emban cinde emban siladan. Ia tidak mau menganggap ayahnya tidak adil terhadap ketiga orang anaknya.

Paksi mencoba untuk dapat memejamkan matanya. Dengan susah payah ia menyingkirkan angan-angannya tentang keluarganya. Tetapi ia justru terjebak kedalam persoalan yang lain. Ia tidak melihat orang yang wajahnya cacat itu berada di antara orang-orang yang tertangkap bersama Ki Pituhu. Juga tidak ada di antara mereka yang terluka parah.

“Orang itu agaknya berhasil melarikan diri sebagaimana Kebo Lorog” berkala Paksi didalam hatinya.

Namun dengan demikian, orang yang sudah dapat mengenalinya itu akan selalu membayanginya. Setiap saat orang itu akan dapal muncul dihadapannya. Mungkin orang itu berusaha membayanginya. Tetapi mungkin orang itu menjumpainya dengan tidak sengaja dimanapun. Sebagai pengikut Ki Pituhu, maka orang itu tentu juga pernah mendengar tentang cincin bermata tiga buah batu akik itu. Jika orang itu juga memburu cincin itu, memang ada kemungkinan mereka akan dapat bertemu lagi.

Paksi tidak pernah merasa takut kepada orang itu. Beberapa kali ia sudah berhadapan langsung dan bertempur melawannya. Paksi selalu dapat mengusir orang itu.

Tetapi ada sesuatu yang terasa aneh bagi Paksi. Menurut pendapat Paksi, orang itu memiliki sumber ilmu yang sama dengan ilmunya. Bahkan unsur-unsur dari ilmu itu telah berkembang dan terasa lebih matang. Tetapi orang itu tidak mampu mengalahkannya dan bahkan orang itu setiap kali harus menyingkir dari medan.

Paksi pun merasa aneh, bahwa justru dalam setiap pertempuran, rasa-rasanya ia telah menemukan sesuatu yang baru, yang dapat membuat ilmunya semakin berkembang pula.

Tetapi persoalan itu tetap menjadi persoalan pribadinya. Ia tidak akan dapat minta pendapat apalagi pertimbangan kepada orang lain.

Namun angan-angan Paksi itu semakin lama memang menjadi semakin kabur, sehingga akhirnya Paksi itu pun telah tertidur disisa malam itu.

Seperti hari-hari sebelumnya selama ia berada di rumah Sura, maka pagi-pagi Paksi sudah bangun.

Salampun ternyata telah bangun pagi pagi pula dan bersama Paksi membersihkan halaman samping rumah

Ketika Paksi menimba air di sumur, maka Salampun ikut-ikutan pula ke sumur. Tetapi Paksi mencegahnya

“Kau akan justru terangkat oleh senggot timba itu” berkata Paksi.

“Aku sudah dapat menimba sendiri” berkata Salam,

“Jangan. Jika ayahmu melihatnya, maka ayahmu tentu akan marah. Kau masih terlalu kecil untuk menahan berat senggot itu.”

Salam memang nampak menjadi kecewa. Tetapi Paksi pun berkata, “Ambil bumbung itu. Kau isi gentong di dapur.”

Salampun segera berlari mengambil sebuah bumbung pring petung. Sepotong bumbung bumbu petung yang besar. Tetapi Paksi memilih yang tidak terlalu panjang.

Sura memperhatikan anaknya yang berlari-lari itu sambil tersenyum. Agaknya Salam menjadi lebih gembira setelah Paksi ada di rumah itu.

Tetapi Sura menyadari, bahwa Paksi tidak akan dapat terlalu lama di rumahnya. Jika nanti Ki Tumenggung Wirayuda meninggalkan padukuhan itu, maka Paksi pun tentu akan segera pergi untuk melanjutkan pengembaraannya.

Sebelum matahari terbit, Paksi memang telah berbenah diri. Ia sudah mengenakan pakaiannya sendiri Sudah mencuci pakaian yang dipinjamnya dari Sura. Paksi memang sudah berniat untuk melanjutkan perjalanannya melakukan perintah ayahnya. Pergi ke tempat yang tidak diketahuinya.

Tetapi dengan satu pengertian baru, bahwa banyak orang yang akan meramaikan perburuan itu. Bukan hanya para pemimpin prajurit dan lingkungan tertentu di istana. Tetapi orang-orang seperti Kebo Lorog pun telah ikut berburu pula.

Pagi itu Sura telah dipanggil ke banjar bersama Paksi. Juga Mertawira, selain Ki Bekel, Ki Jagabaya dan para bebahu.

Ki Tumenggung Wirayuda hari itu akan kembali ke Kwarasan.

“Atas persetujuan kalian, maka benda-benda berharga ini akan aku bawa ke Kwarasan. Kalian telah menyaksikan isi dari peti-peti itu, sehingga pada suatu saat mungkin para petugas dari Pajang ingin mendengar keterangan kalian.

“Baiklah.” jawab Ki Bekel, “setiap saat kami bersedia melakukan perintah apa pun juga. Kami akan menjadi saksi semua peristiwa yang telah terjadi.”

Namun Ki Wirayuda sempat juga bertanya, “Apakah kalian tidak akan mengulangi menyelenggarakan keramaian merti desa itu?”

“Keramaian itu sudah kami lakukan, Ki Tumenggung. Kami telah menyatakan sukur atas keberhasilan kami pada musim tanam padi yang lalu, meskipun keramaian itu sempat bubar di dini hari. Tetapi kami rasa kami tidak perlu mengulanginya, Ki Tumenggung.”

“Jika Ki Bekel ingin mengulanginya, serta Ki Bekel ingin mendapat perlindungan dari para prajurit, maka kami akan dapat melakukannya.”

“Terima kasih Ki Tumenggung. Kami merasa bahwa yang kami lakukan sudah cukup. Selain itu kami memang harus berhemat sampai musim panen mendatang.”

“Bagus” berkata Ki Tumenggung, “sebaiknya kalian memang mempergunakan nalar untuk mencapai keseimbangan dalam tatanan kehidupan kalian, “

“Ya, Ki Tumenggung. Kami sadari hal itu, justru karena pada umumnya orang-orang padukuhan kami bukan orang-orang yang kaya.”

Ki Tumenggung tersenyum. Kemudian katanya “Baiklah. Kami akan minta diri. Kami hargai kejujuran kalian meskipun padukuhan ini bukan sebuah padukuhan yang kaya. Mungkin pada suatu saat aku masih akan datang lagi kemari.” lalu katanya kepada Paksi, “kau akan menjadi kebanggaan padukuhan ini anak muda. Aku ingin kau sekali-sekali dalang ke Kwarasan sementara aku masih bertugas di sana.”

“Terima kasih Ki Tumenggung” jawab Paksi. Tetapi Paksi tidak menjawab lebih panjang lagi    Ia ingin Ki Tumenggung Wirayuda itu tidak terlalu banyak memperhatikannya, karena Paksi memang sudah merencanakan untuk segera meninggalkan padukuhan itu

Demikianlah, maka sejenak kemudian iring-iringan sekelompok prajurit yang dipimpin langsung oleh Ki Tumenggung Wirayuda itu telah meninggalkan padukuhan. Beberapa ekor kuda yang memang sudah dipersiapkan untuk para tawanan telah dipergunakan oleh para tawanan itu pula, termasuk Ki Pituhu. Selebihnya beberapa ekor kuda menjadi kuda beban untuk membawa barang-barang berharga yang dapat dirampas dari tangan sekelompok perampok yang dipimpin oleh Ki Pituhu dibawah bayangan kuasa Kebo Lorog.

“Kekuatan yang cukup untuk menguasai para tawanan dan melindungi benda-benda berharga itu” desis Adeg Panatas.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun katanya “Bukankah kau tidak akan segera meninggalkan padukuhan ini?”

Adeg Panatas tersenyum. Katanya, “Tidak kakang. Bukankah aku orang padukuhan ini? Aku memang sudah memutuskan untuk pulang dan tinggal di padukuhan ini.”

“Syukurlah” berkata Ki Bekel, “aku memperhitungkan, bahwa padukuhan ini tidak akan pernah dilupakan oleh Kebo Lorog. Jika pada suatu saat ia tidak mempunyai kesibukan, maka ia akan teringat kepada kekalahannya di padukuhan ini.”

Adeg Panatas tersenyum. Katanya, “Aku mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan diri. Juga mempersiapkan anak-anak muda padukuhan ini untuk menerima kedatangan Kebo Lorog dan para pengikutnya. Bersama orang-orang yang memiliki keberanian dan dua tiga orang bekas prajurit, aku akan dapat berbuat banyak di padukuhan ini.”

“Terima kasih” Ki Jagabaya lah yang menyahut, “kehadiran adi Adeg Panatas memang membuat hati kami menjadi tenang.”

Paksi mendengarkan pembicaraan itu sambil mengangguk-angguk kecil. Tetapi Paksi sendiri tidak mencampurinya sepatah kata pun juga. Sementara itu, orang-orang padukuhan itu juga masih belum sempat melihat kemampuan Paksi yang sebenarnya.

Baru kemudian ketika ada kesempatan, Paksi itu pun telah menyatakan niatnya untuk minta diri.

Ki Bekel dan orang-orang lain yang ada di banjar itu terkejut. Dengan dahi yang berkerut, Ki Bekel berkata, “Bukankah kau mendengar sendiri Paksi, bahwa kau diharapkan dapat datang ke Kwarasan?”

Paksi sambil menunduk berkata, “Mungkin pada suatu saat aku akan menghadap Ki Tumenggung di Kwarasan. Tetapi sebelumnya aku ingin melanjutkan pengembaraanku. Aku sudah bertekad untuk melakukannya”

Ternyata tidak seorang pun yang dapat menahan Paksi. Sura juga tidak.

Namun Sura masih minta agar Paksi menyempatkan diri untuk memberitahukan kepergiannya kepada Salam.

“Katakan bahwa kau akan pergi. Tetapi katakan juga bahwa kau akan kembali.”

“Apakah anak itu tidak akan selalu berharap?” bertanya Paksi.

“Bukankah kau memang akan kembali pada suatu saat?” bertanya Sura.

Paksi tidak segera menjawab. Namun akhirnya ia pun mengangguk. Katanya, “Ya, paman Puda suatu saat aku ingin kembali ke padukuhan ini”

Ki Bekel masih juga berkata “Kau adalah orang yang menjadi lantaran untuk memecahkan persoalan ini, Paksi. Jika kau bukan seorang anak muda yang berani, maka padukuhan ini dan beberapa padukuhan yang lain masih akan tetap dibayangi ketakutan karena hantu keranda yang dapat terbang sendiri itu.”

“Hanya satu kebetulan saja, Ki Bekel.”

“Mungkin memang satu kebetulan. Tetapi jika kebetulan itu terjadi pada orang lain, maka orang yang melihat keranda terbang itu tentu akan menjadi pingsan.”

Tetapi Paksi masih juga memenuhi permintaan Sura. Ia singgah di rumah Sura untuk minta diri kepada keluarga yang menurut pendapat Paksi adalah keluarga yang baik

Salam memang menjadi gelisah. Bahkan mulai merengek. Tetapi Paksi pun kemudian berkata, “Pada lain hari, aku akan datang lagi kemari, Salam”

“Kakang berkata sebenarnya?” bertanya Salam.

“Ya. Aku berkata sebenarnya” jawab Paksi. Salam menjadi sedikit tenang, meskipun nampak ragu-ragu.

Ibunyalah yang kemudian berusaha untuk meyakinkan Salam, bahwa ia tidak dapat menahan Paksi lebih lama lagi.

“Kakang Paksi mempunyai tugas yang penting. Jika ia tinggal disini terlalu lama, tugasnya tidak akan selesai.”

Meskipun Paksi tahu bahwa ibu Salam itu sekedar menenangkan anaknya, tetapi jantungnya menjadi berdebar-debar. Ia memang mempunyai tugas yang penting. Tugas yang tidak diketahui, bagaimana ia harus melakukannya.

Demikianlah, maka hari itu, Paksi akan meninggalkan rumah Sura. Paksi menolak kelika Sura menawarkan agar Paksi membawa sepengadeg pakaiannya.

“Kau memerlukan ganti pakaian diperjalanan” berkata Sura.

“Aku dapat mencucinya” jawab Paksi.

Sura memang tidak memaksanya, Tetapi ia sempat berdesis, “Kau berhak untuk mendapatkan hadiah, karena kau telah menemukan benda-benda yang nilainya tidak terhitung itu.”

“Barang-barang itu ada yang memilikinya, paman, Jika Ki Pituhu kelak memberi tahukan siapa saja yang telah dirampoknya, maka barang-barang itu akan dapat kembali kepada pemiliknya. Setidak-tidaknya sebagian”

“Hadiah itu tidak terdiri dari sebagian benda-benda berharga yang diketemukan itu. Tetapi hadiah itu seharusnya kau dapatkan dari Pajang.”

Paksi tersenyum. Katanya, “Aku belum memerlukan sekali, paman. Entahlah kelak. .”

Sura melihat kejujuran memancar dimata Paksi. Karena itu, maka ia pun berdesis” Mudah mudahan kejujuranmu akan dapat membawamu kepada kemujuran, meskipun dapat pula terjadi sebaliknya.”

“Maksud paman?” bertanya Paksi.

“Kejujuran justru dapat menjerat seseorang kedalam kesulitan” jawab Sura.

“Jadi maksud paman, sebaiknya orang tidak berlaku jujur?” bertanya Paksi.

“Tidak. Tidak. Bukan itu maksudku. Orang yang jujur adalah orang-orang yang terpilih. Aku bermaksud ingin mengatakan suatu kenyataan, bahwa di antara orang orang yang jahat, dengki dan iri hati, maka orang-orang jujur akan dianggap sebagai racun, sehingga mungkin sekali mereka yang jujur itu akan mengalami kesulitan. Namun bagaimanapun juga kejujuran adalah suatu mahkota yang tidak ternilai harganya. ‘“

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku mohon doa paman, bibi dan seluruh keluarga.”

“Semoga Yang Maha Agung akan selalu melindungimu di sepanjang perjalananmu. Semoga kau akan dapat mencapai keinginanmu dengan pengembaraanmu”

Paksi meninggalkan rumah Sura dengan han yang berat. Tetapi ia sudah memantapkan hatinya untuk berjalan terus. Jika ia tetap tinggal dirumuh Sura, maka akan sulit baginya untuk dapat menemukan cincin yang dicari nya itu.

Ketika Paksi keluar dari regol padukuhan, matahari sudah tinggi dilangit. Ia membayangkan, debu yang dilemparkan oleh derap kaki kuda sekelompok prajurit yang mengiringi Ki Tumenggung Wirayuda ke Kwarasan.

Tetapi arah perjalanan Paksi lain dengan arah perjalanan Ki Tumenggung Wirayuda.

Mendekati tengah hari, maka jalan-jalan terasa sepi di tengah-tengah bulak. Orang yang bekerja disawah pun mulai menjadi letih. Keringat membasahi kulit mereka yang terbakar oleh sengatan sinar matahari:

Sekali-sekali Paksi bertemu dengan perempuan yang membawa gendi berisi air, serta bakul berisi nasi dan kelengkapannya. Perempuan-perempuan itu membawa makanan bagi suami, ayah atau anak-anak mereka yang bekerja disawah dan tidak sempat pulang disiang hari untuk makan siang.

Ketika Paksi sampai di simpang ampat, maka Paksi berhenti sejenak dibawah sebatang pohon randu yang daunnya tidak begitu banyak. Tetapi di cabang-cabang dan rantingnya bergayutan buah randu yang sudah menjadi tua dan kering. Warnanya menjadi kecoklat-coklatan. Satu dua yang telah pecah, melontarkan kelentengnya dan menghamburkan kapuknya yang berwarna putih.

Paksi menarik nafas dalam-dalam.

Di tengah hari itu, leher Paksi memang terasa kering. Tetapi ia berharap untuk menjumpai sebuah kedai di padukuhan yang agak besar di ujung bulak itu.

Tetapi, untuk berjalan ke kedai itu rasa-rasanya kakinya menjadi berat. Paksi lebih senang duduk dibawah pohon randu yang meskipun daunnya tidak begitu lebat, tetapi dapat melindunginya dari teriknya matahari.

Paksi mengangkat wajahnya ketika ia melihat seorang gadis yang menggendong sebuah bakul kecil sambil menjinjing gendi lewat. Gadis itu sempat berpaling kepadanya.

Tetapi gadis itu berjalan terus.

Paksi mengerutkan dahinya, gadis itu berjalan dibawah matahari yang bertengger di puncak langit,

Paksi pun kemudian bangku berdiri dan meneruskan langkahnya menuju ke padukuhan diujung bulak itu

Keringatnya yang mengalir dengan derasnya lelah membasahi pakaiannya. Semakin dekat langkahnya dengan padukuhan didepan, maka Paksi melihat padukuhan itu bukan saja besar, tetapi tentu juga sebuah padukuhan yang terhitung mempunyai tataran kesejahteraan yang tinggi.

Regol padukuhan itu tidak sekedar memenuhi kebutuhan. Tetapi dibuat dengan bahan yang baik. Buatannya-pun nampak baik dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Demikian Paksi memasuki regol padukuhan itu, udara rasa-rasanya menjadi sejuk. Angin membelai lembut menyentuh dedaunan yang hijau.

Padukuhan itu memang sebuah padukuhun yang memiliki kesejahteraan yang tinggi bagi para penghuninya.

Pada regol padukuhan itu terukir huruf-huruf yang berbunyi, “Muncar.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia telah memasuki sebuah padukuhan yang bernama Muncar.

Seperti yang diduga, padukuhan itu nampak lebih ramai dari padukuhan-padukuhan yang pernah dilewatinya. Sambil melihat-lihat halaman rumah yang bersih di sebelah-menyebelah jalan, Paksi berjalan terus di jalan induk padukuhan itu. Halaman-halaman rumah yang pada umumnya terbentang luas di seputar rumah yang besar dan terawat, ditanami dengan beberapa batang pohon buah-buahan, sehingga suasananya menjadi sejuk.

Anak-anak kecil masih saja nampak bermain-main di halaman yang luas meskipun di tengah hari. Suaranya riuh memancarkan kegembiraan yang bebas.

Namun demikian, leher Paksi masih juga terasa kering. Ia masih membutuhkan sebuah kedai untuk mendapatkan minuman.

Beberapa saat kemudian maka Paksi pun telah sampai kesebuah pasar. Pasar itu agaknya sebuah pasar yang agak besar. Tetapi di saat matahari telah sampai ke puncak langit itu, pasar itu sudah nampak sepi.

Tetapi yang dicari oleh Paksi hanyalah sebuah kedai. Sedangkan di dekat pasar yang sudah sepi itu terdapat beberapa buah kedai yang masih membuka pintunya.

Beberapa orang masih berada di kedai itu. Mereka adalah orang-orang yang baru saja selesai berjualan di pasar itu. Setelah mengemasi sisa dagangan mereka, maka mcreka pun singgah barang sebentar untuk minum dan makan di kedai itu.

Paksi pun kemudian telah duduk di salah satu di antara kedai yang masih membuka pintunya itu, Dua orang masih berada didalam kedai yang terhitung cukup besar itu, yang mempunyai tempat duduk cukup banyak.

“Sehari-hari, di saat pasar ini masih ramai, kedai ini tentu ramai juga.” berkata Paksi didalam hatinya.

Demikian Paksi duduk, maka seorang pelayan telah mendekatinya dan bertanya, apa yang dipesannya.

Paksi pun kemudian telah memesan minuman untuk membasahi kerongkongannya.

Sambil meneguk minuman dan mengunyah makanan yang dihidangkan, maka Paksi telah mendengarkan kedua orang yang berada di kedai itu memperbincangkan ceritera tentang keranda yang terbang di malam hari memasuki kuburan. Keduanya juga sudah mendengar bahwa keranda itu tidak lebih dari sebuah tipuan.

Paksi sekali-sekali memandang kedua orang ini Tetapi tidak ada yang menarik perhatian selain cara mereka berceritera.

Bahkan kemudian pemilik kedai yang duduk di antara geledeg-geledeg rendah ikut berbicara pula tentang hantu hantuan itu.

Paksi memang belum jauh berjalan dari padukuhan yang pernah dicengkam oleh ketakutan itu,

“Pada waktu itu” berkata pemilik kedai Itu berita tentang keranda itu juga telah menakut kan kami di padukuhan Muncar ini. Aku sendiri memang bimbang antara percaya dan tidak percaya. Namun akhirnya terbukti bahwa hantu keranda itu adalah sekedar hantu-hantuan saja.”

Kedua orang itu tertawa. Di sela-sela derai tertawanya, seorang di antara mereka berkata Apakah tidak ada seorang saja yang mempunyai sedikit keberanian untuk membuktikan bahwa keranda itu sama sekali bukan hantu?”

Namun pemilik kedai itu menjawab, “Tentu ada, karena akhirnya hantu-hantuan itu telah terbongkar.”

“Tetapi sesudah berjalan untuk waktu yang lama” sahut seorang yang lain.

Tetapi pembicaraan itu terputus. Seorang yang bertubuh tinggi tegap dan berdada bidang memasuki kedai itu pula. Di lambungnya tergantung sebilah pedang didalam wrangkanya yang menarik. Wrangka kayu yang dihiasi dengan lilitan-lilitan tali yang beraneka warna. Juntai rambut yang hitam pada tangkai pedang yang berukir Itu.

Paksi memandang orang itu sekilas. Tetapi ia pun segera menunduk kembali memandangi nasi dengan lauk-pauknya yang telah dipesan pula.

Meskipun Paksi sebenarnya masih belum lapar, tetapi selagi ia berada di kedai, maka sekaligus ia telah memesan nasi disamping sekedar makanan dan minuman.

Orang itu memandangi kedua orang yang sudah lebih dahulu berada di kedai itu dengan tajamnya. Kemudian ia pun berpaling pula kepada pemilik kedai itu.

Sejenak kemudian, orang itu pun kemudian telah duduk pula di tengah-tengah kedai itu menghadap kedua orang yang telah lebih dahulu duduk dan menikmati minuman dan makanan itu.

“Orang ini menyeramkan” berkata Paksi kepada diri sendiri.

Karena orang itu tidak menghadap ke arahnya, maka Paksi sempat memandanginya pula. Dari samping, Paksi melihat wajah orang yang garang itu. Seleret kumis nampak diulas bibirnya yang tebal.

Paksi terkejut ketika orang itu tiba-tiba bertanya dengan suaranya yang berat menekan, “Apa yang kalian tertawakan?”

Paksi yang sudah mulai makan itu diluar sadarnya telah mengangkat wajahnya. Ternyata orang itu memandang kedua orang yang telah lebih dahulu duduk itu.

Kedua orang itu menjadi pucat. Karena mereka tidak segera menjawab, maka orang itu bertanya lebih keras, “He, apa kalian berdua tuli atau bisu? Apa yang kalian tertawakan?”

Kedua orang itu menjadi gagap. Seorang di antaranya menjawab dengan suara bergetar, “Tidak:” Kami tidak mentertawakan siapa-siapa. Kami sedang berkelakar.”

“Apakah kalian mentertawakan aku?” bertanya orang itu.

“Tidak. Sungguh tidak Ki Sanak.”

Orang itu mengangguk-angguk kecil. Kemudian ia pun memberi isyarat kepada pemilik kedai itu untuk mendekat.

Seorang pelayan dengan ragu-ragu melangkah mendekatinya sambil bertanya, “Apakah yang Ki Sanak pesan?”

“Nasi dengan lauk seekor ayam utuh.” Pelayan itu termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Kami tidak mempunyai ayam yang utuh, Ki Sanak. Yang ada hanyalah sepotong-sepotong.”

“Jangan dungu. Bukankah yang sepotong-sepotong itu dapat dibentuk menjadi seekor yang utuh. Dua buah paha, gending, sayap, dada, ekornya, lehernya dan kepalanya.”

“Baik, baik, Ki Sanak.” jawab pelayan itu.

Beberapa saat orang itu menunggu. Dengan tergesa-gesa pelayan dan pemilik kedai itu menyediakan pesanannya.

Ketika pelayan itu menghidangkannya, nasi dan potongan-potongan ayam goreng yang digenapi menjadi seekor ayam utuh, sambal serta lalaban, maka orang bertubuh tinggi, tegap dan berdada bidang serta berwajah garang itu berkata sambil menunjuk kedua orang itu, “Mereka yang akan membayar.”

Kedua orang itu terkejut. Seorang di antara mereka bertanya, “Kenapa kami?”

Orang bertubuh tinggi itu bangkit berdiri sambil bertanya, “Kau berkeberatan?”

Orang itu menjadi ketakutan. Dengan tubuh gemetar orang itu menjawab, “Tidak. Kami sama sekali tidak berkeberatan. Aku hanya ingin menjelaskan saja.”

“Terima kasih” berkata orang bertubuh tinggi tegap itu, “jika kau berkeberatan, aku tidak akan menyentuh hidangan ini.”

“Tidak. Kami tidak berkeberatan sama sekali”

Orang itu pun kemudian duduk kembali, Sejenak kemudian maka ia pun telah sibuk dengan nasi, sambal, lalaban dan ayam goreng itu. Seekor utuh.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Hanya dalam waktu singkat, nasi dan ayam yung seekor itu telah habis dimakannya. Yang tinggal hanyalah sisa sambal dan lalaban serta tulang-tulang saja.”

Ketika Paksi sedang memandanginya dengan heran, diluar dugaan orang itu berpaling kepadanya. Dengan cepat Paksi menundukkan kepalanya.

Tetapi terlambat. Orang itu sempat melihat Paksi memperhatikan orang itu.

“He, kenapa kau membelalakkan matamu?” bertanya orang itu.

Paksi tidak mengangkat wajahnya, Ia masih saja menunduk.

“He, kenapa?” bertanya orang itu pula.

“Tidak apa-apa, paman. Aku tidak sengaja.” jawab Paksi.

Orang itu pun kemudian bangkit berdiri. Selangkah demi selangkah ia mendekati Paksi. Tangannya yang masih kotor dan berminyak itu tiba-tiba telah diusapkan pada ikat kepala Paksi sambil berkata, “Aku pinjam ikat kepalamu, anak muda.”

Paksi bergeser menjauh. Dengan sigapnya ia berdiri sambil menebas tangan orang itu.

Orang bertubuh tinggi dan berwajah garang itu membelalakkan matanya. Ia tidak mengira bahwa Paksi telah menebas tangannya dan bergeser menjauh.

“Kau berani menghindar, anak muda” geram orang itu.

“Aku tidak mempunyai ikat kepala lain kecuali yang aku pakai ini. Karena itu, aku tidak rela bahwa ikat kepalaku ini kau kotori.”

“Jadi kau berani melawan aku he? Kau lihat bahwa kedua orang itu dengan ikhlas telah bersedia membayar minuman dan makanan yang aku pesan. Kenapa kau berkeberatan hanya sekedar meminjamkan ikat kepalamu. Bukankah ikat kepalamu tidak akan menyusut atau menjadi koyak?”

“Lebih baik aku membayar pesananmu itu daripada aku harus menerima penghinaan ini.”

Wajah orang itu menjadi merah. Dengan lantang ia berkata, “Tundukkan kepala. Aku akan membersihkan tanganku.”

“Tidak” teriak Faksi, “aku masih mempunyai harga diri”

Dengan marah orang itu meloncat maju. Tangannya terayun deras menampar wajah Paksi. Tetapi Paksi tidak membiarkan wajahnya disakiti. Karena itu, maka ia telah menepis tangan orang yang bertubuh tinggi kekar itu.

Sekali lagi orang itu terkejut. Anak muda itu telah berani menepis tangannya. Bahkan tanpa ragu-ragu.

Karena itu, maka orang itu menjadi semakin marah. Didorongnya lincak tempat duduk serta geledeg rendah tempat meletakkan minuman dan makanan sehingga terguling. Dengan geram orang itu berkata, “Aku ingin mengoyak mulutmu. Tidak seorang pun yang pernah berani membantah kata-kataku.”

Tetapi Paksi pun telah mempersiapkan dirinya. Terngiang kata-kata ayahnya, “Umurnya sudah menginjak tujuhbelas tahun.”

Dan. Paksi pun sadar, bahwa ia memang sudah dewasa. Ia tidak boleh membiarkan seseorang menghinanya.

Yang terjadi justru sangat mengejutkan orang bertubuh tinggi kekar itu. Demikian lincak bambu dan geledeg itu terguling, belum lagi mulutnya terkatub rapat, Paksi sudah menyerangnya. Dengan cepat kakinya terjulur menyamping, mengarah ke dagunya.

Orang itu tidak sempat mengelak. Tetapi ia mencoba menahan serangan itu dengan tangannya.

Tetapi serangan Paksi demikian derasnya, sehingga tangan orang itu justru terdorong menimpa wajahnya, sehingga wajahnya itu pun terangkat tinggi.

Untunglah bahwa orang itu tidak jatuh terlentang Ia masih sempat menahan keseimbangannya.

Namun dalam pada itu, Paksi masih juga sempat memikirkan kerusakan yang dapat terjadi jika ia berkelahi didalam kedai itu. Karena itu, pada saat keseimbangan lawannya berguncang, Paksi justru tidak menyerangnya, tetapi ia telah melangkah kepintu sambil berkata, “Aku tidak akan lari. Aku menunggumu di luar.”

Orang bertubuh tinggi, tegap dan berdada bidang itu dengan cepat telah menyusulnya kehalaman pula sambil menggeram, “Kau memang seorang anak muda yang berani. Tetapi kau jangan cepat menjadi besar kepala. Kemenangan tidak ditentukan dengan kejutan kejutan kecil yang dapat mengguncang lawannya, tetapi dalam perkelahian, kemenangan ditentukan pada saat perkelahian itu berakhir.”

Paksi tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian, maka keduanya telah berhadapan di halaman kedai itu. Dua orang yang semula ada didalam kedai telah menghambur lari ketakutan selagi ada kesem patan. Sedangkan pemilik kedai itu dan para pelayannya menjadi gemetar.

Mereka memang tidak mengira bahwa anak itu dengan berani telah melawannya. Bahkan pada benturan benturan yang terjadi, anak itu menunjukkan bahwa pada dasarnya ia memiliki kemampuan.

Di halaman keduanya telah mulai berkelahi lagi. Orang yang bertubuh tinggi itu menyerang dengan garangnya. Kemarahannya telah mendorongnya untuk berkelahi dengan sungguh-sungguh melawan seorang anak muda.

Tetapi ternyata bahwa Paksi tidak mengecewakan. Ia menyadari, bahwa lawannya tentu seorang yang berilmu. Menilik sikapnya serta senjata yang tergantung dilambungnya, menunjukkan bahwa orang itu adalah orang yang memiliki kemampuan dalam olah kanuragan.

Dalam pada itu, perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin meningkat. Orang bertubuh tinggi tegap itu semakin meningkatkan ilmunya. Namun Paksi pun telah mengerahkan tenaga dan kemampuannya pula.

Ketika tangan Paksi menjadi basah oleh keringat, maka serang-serangannya menjadi semakin mapan. Sekali-sekali serangannya mampu menembus pertahanan lawannya itu.

Orang-orang yang ada di sekitar kedai itu telah bergeser menjauh, tetapi di tempat yang agak jauh, mereka memperhatikan perkelahian itu dengan saksama.

Ternyata Paksi yang masih sangat muda itu mampu mempertahankan dirinya. Serangan-serangan lawannya semakin sulit untuk menyentuh Paksi yang berloncatan dengan tangkasnya.

Orang yang bertubuh tinggi tegap dan berdada lebar itu menjadi semakin heran. Ia tidak mengira bahwa di tempat itu, tiba-tiba saja ia telah bertemu dengan seorang anak muda yang mampu mengimbangi ilmunya. Bahkan semakin lama, Paksi justru semakin mendesaknya.

Orang yang berwajah garang itu mengumpat kasar. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya ia berusaha untuk mengakhiri pertempuran. Tetapi ternyata ia tidak dapat melakukannya. Anak muda yang menginjak umur tujuhbelas tahun itu, justru semakin mendesaknya, sehingga serangan-serangannya mulai menembus pertahanannya. Tubuhnya yang tinggi besar itu mulai goyah ketika serangan Paksi menyentuh dadanya.

Ternyata orang yang bertubuh tinggi itu benar benar terdesak. Meskipun ia bertempur sambil berteriak-teriak kasar, namun usahanya untuk mengalahkan Paksi tidak berhasil.

Untuk menarik pedangnya, orang itu merasa ragu Anak muda itu nampaknya tidak bersenjata. Jika ia menarik pedangnya, orang-orang yang menyaksikannya akan menganggapnya pengecut, karena lawannya tidak bersenjata.

Namun dalam keadaan yang memaksa, maka orang itu tidak mempunyai pilihan lain. Setelah tubuhnya memar di beberapa tempat, serta wajahnya mulai pengab oleh serangan-serangan Paksi, maka orang itu telah meloncat mengambil jarak. Pada saat Paksi berusaha memburunya, maka langkahnya terhenti. Ujung pedang lawannya tiba-tiba saja telah teracu ke arah dadanya.

“Anak tidak tahu diri” geram orang itu, “kau kira kau dapat memenangkan perkelahian ini. Pada saat aku tidak bersungguh-sungguh, kau justru memanfaatkan keadaan itu untuk menyakiti aku. Tetapi kau terlambat untuk minta ampun. Aku benar-benar sudah kehabisan kesabaran.”

Paksi bergeser surut, Ujung pedang itu nampak berkilat-kilat kehitam hilaman. Pedang itu bukan pedang kebanyakan yang dibuat oleh pande besi betapa pun baiknya. Tetapi pedang itu dibuat khusus oleh seorang empu keris yang baik.

Ketika orang itu menggerakkan pedangnya, maka nampak pamornya yang berkeredip kemerah-merahan.

Ketika orang Itu maju selangkah, maka Paksi pun bergeser mundur.

“Jangan menyesali kesombonganmu” geram orang itu.

Paksi benar-benar harus mempersiapkan dirinya. Ia sadar, bahwa ia akan mengalami kesulitan melawan orang bersenjata pedang itu. Paksi harus bertumpu pada kemampuannya bergerak cepat untuk mengatasi senjata lawannya itu.

Sejenak kemudian, maka orang bertubuh tinggi besai itu benar-benar telah menyerangnya. Pedangnya berputaran dengan cepat. Sekali-sekali terjulur ke arah dadanya. Namun kemudian terayun mendatar menebas ke arah leher.

Paksi benar-benar harus bergerak cepat. Gerak pedang yang berputaran itu seakan-akan selalu memburunya kemana ia pergi.

Meskipun demikian, Paksi masih mampu memberikan perlawanan yang berarti. Ketika pedang itu terayun deras, Paksi justru meloncat maju. Dengan cepat kakinya telah menghantam pergelangan tangan lawannya yang sedang terayun itu.

Hampir saja pedang itu terlepas dari tangannya. Namun dengan genggaman tangan yang kuat, orang itu masih sempat menyelamatkannya. Tetapi ketika perhatian orang itu tertuju pada pedangnya, Paksi telah berputar sambil mengayunkan kakinya tepat mengenai dada orang itu.

Orang itu terdorong selangkah surut. Keseimbangannya pun tiba-tiba telah terguncang, sehingga orang itu jatuh berguling. Namun ketika Paksi meloncat memburunya, sebuah sabetan pedang yang deras hampir saja memutuskan kakinya.

Dengan sekuat tenaga Paksi meloncat surut menjauhi lawannya, sehingga pedang itu tidak dapat menggapainya.

Tetapi untuk selanjutnya, Paksi telah terdesak. Orang yang marah itu benar-benar tidak lagi mengekang diri. Matanya yang membara memancarkan kemarahan yang tidak terkendali.

Ternyata ilmu pedang orang yang bertubuh tinggi tegap itu sangat baik. Dengan berbagai macam gerak yang rumit, Paksi menjadi semakin kesulitan menghadapinya.

Namun pada saat yang paling gawat, seorang tua berjanggut putih dengan wajah yang berkeriput melangkah mendekati arena perkelahian itu. Orang itu berjalan terbungkuk-bungkuk bertelekan pada sebalang tongkat kayu yang agak panjang. Kayu yang nampaknya dipotong begitu saja dari dahannya dan dikeringkan. tetapi karena sepotong kayu itu sudah menjadi kehitam-hitaman.

Orang tua itu mengenakan caping bambu yang lebar, sebagaimana dipakai oleh para petani yang bekerja di sawah untuk mengurangi sengatan panas matahari.

Wajah orang tua itu tidak saja berkeriput. Tetapi semacam penyakit kulit telah mengotori wajahnya. Daging-daging yang tumbuh dikeningnya hampir menutupi sebelah matanya. Juga dibawah telinga kirinya.

Paksi dan orang bertubuh tinggi itu memang tertarik melihat kehadirannya, sehingga perkelahian itu telah terhenti sesaat.

Adalah diluar sadar, bahwa kedua orang itu telah berloncatan mengambil jarak.

Sekilas Paksi teringat kepada orang yang lelah menyerangnya di malam hari ketika ia berjalan jalan keluar padukuhan yang dibayangi ketakutan karena hantu-hantuan itu, dan yang telah menyerangnya pula di kuburan pada saat terjadi pertempuran antara orang-orang padukuhan dengan para pengikut Kebo Lorog.

Orang itu juga cacad diwajahnya.

Tetapi cacat diwajah orang itu tidak sama sebagaimana cacat diwajah orang tua yang berjalan terbungkuk-bungkuk dan mengenakan caping bambu itu.

Orang tua itu terbatuk-batuk sehingga langkahnya berhenti. Tetapi setelah batuknya reda, maka orang itu tertawa tertahan-tahan. Dengan nada suara seorang yang telah lanjut umurnya orang itu berkata, “Perkelahian yang tidak adil. Kau, yang dipanggil orang Jaran Demung dan ditakuti banyak orang, harus berkelahi melawan anak-anak dengan mempergunakan senjatamu yang mengerikan itu, sementara lawanmu tidak bersenjata.”

“Setan. Kau tahu namaku? Siapa kau?”

“Aku pengemis yang setiap hari berkeliaran di pasar sebelah. Kau tidak pernah memperhatikan aku tetapi aku dapat mengenalimu sebagaimana banyak orang mengenalmu, meskipun kau lebih terkenal di daerah Utara.”

“Bicaramu menunjukkan bahwa kau bukan sekedai seorang pengemis. Sebut gelarmu.”

Orang tua itu tertawa. Katanya, “Setiap hari aku ada disini. Kaulah yang jarang sekali datang ke tempat ini.”

“Seorang pengemis di tempat ini tidak akan mengenali gelarku dan apalagi kegiatanku di daerah Utara.”

“Aku tahu, bahwa kau akan melacak kegagalan para pengikut Kebo Lorog. Kenapa kau tidak mencari Kebo Lorog saja dan memilih menantangnya atau bergabung dengan Kebo edan itu.”

“Sebut namamu” orang itu hampir berteriak.

Tetapi orang tua itu berkata, “Aku tidak akan mengganggumu. Tetapi aku ingin perkelahian yang adil. Biarlah anak muda ini mempergunakan tongkatku. Mungkin akan ada sedikit keseimbangan.

“Setan. Berikan seribu macam senjata kepadanya.”

“Jaran Demung. Aku tahu bahwa kau seorang yang memiliki ilmu pedang yang sulit dicari tandingnya. Tetapi aku ingin melihat, apakah kau dapat mengalahkan anak muda itu atau tidak. Aku akan meminjamkan tongkatku. Hanya meminjamkan tongkatku. Jika ia terpaksa mati di-tanganmu setelah ia meminjam tongkatku, itu adalah salah sendiri. Tetapi jika kau yang mati, itu juga salahmu sendiri.”

-ooo00dw00ooo-

Diedit dari

naskah yang dikirimkan oleh Nyi Dewi KZ (Website Tirai Kasih)

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s