HLHLP-041


<<kembali | lanjut >>

PRAJURIT yang membawa air itu mulai ragu-ragu. Sekali lagi melihat pintu yang terbuka. Namun kemudian ia berpaling kepada orang yang sudah mulai dapat duduk itu.

Orang yang duduk itu diam-diam mengepalkan tinjunya. Ternyata bahwa kekuatannya rasa-rasanya sudah mulai mantap. Sementara itu yang dihadapinya hanyalah seorang prajurit. Karena itu, maka timbullah niatnya untuk melumpuhkan prajurit itu dan kemudian berusaha melarikan diri dari istana Akuwu Lemah Warah.

Dengan sikap seorang yang masih sangat lemah maka ia-pun berkata perlahan-lahan, “Air. Tolong, beri aku air.”

Prajurit itu memang ragu-ragu. Namun melihat keadaan tawanan itu, maka rasa-rasanya ia masih belum akan dapat berbuat sesuatu. Karena itu, maka prajurit itu pun melangkah mendekat.

“Aku haus sekali,” berkata tawanan itu.

Prajurit itu pun kemudian memberikan mangkuk air itu kepada tawanan yang nampak kehausan itu.

Namun yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Tiba-tiba saja tawanan itu telah menangkap pergelangan tangan prajurit itu.

Prajurit itu terkejut. Suatu kekuatan yang besar telah menariknya dan melemparkannya ke arah dinding kayu yang kuat.

Benturan itu benar-benar menyakitinya. Namun nalurinya sebagai seorang prajurit segera mengguncang dadanya. Tiba-tiba pula ia telah meloncat bangkit dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Orang yang melemparkannya itu pun telah berdiri pula. Tetapi ia merasa heran bahwa prajurit itu masih sempat bangkit dan bersiap untuk bertempur melawannya.

“Setan alas,” geram tawanan itu.

Tetapi ia tidak mau gagal. Karena itu, maka ia pun segera menyerang prajurit itu dengan mengerahkan kekuatannya. Ia akan membunuh prajurit itu secepat dapat dilakukan agar ia segera dapat meninggalkan tempat terkutuk itu.

Ketika ia meloncat menyerang, maka prajurit itu tidak mempunyai kesempatan untuk menghindar. Bilik tahanan itu tidak terlalu luas sehingga karena itu, maka ia hanya mampu melindungi tubuhnya dengan tangannya.

Serangan tawanan itu telah menghantam tangan prajurit yang bersilang di dadanya. Terdengar keluhan tertahan. Namun prajurit itu sempat memperbaiki keadaannya. Ketika tawanan itu siap mengayunkan tangannya pula, maka prajurit itu telah memiringkan tubuhnya. Kakinya terjulur dengan cepat menghantam lawannya yang berdiri pada jarak yang terlalu dekat.

Sementara itu, tubuhnya telah tersandar pada dinding kayu yang kuat, sehingga justru menjadi tempat bertumpu. Dengan demikian maka dorongan kakinya seakan-akan menjadi semakin kuat.

Tawanan itu telah terdorong demikian kerasnya sehingga ia telah terlempar dan terbanting melintang di pembaringannya. Punggungnya terasa betapa sakitnya.

Namun ia merasa seorang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Karena itu, maka ia pun telah menghentakkan ilmunya. Ia tidak mau menunda-nunda waktu lagi. Jika orang itu dan bahkan seluruh bangunan itu akan terbakar menjadi hangus ia tidak mempedulikannya lagi. Karena itulah, maka ia pun telah menghentakkan ilmu puncaknya yang nggegirisi.

Dalam pada itu beberapa orang prajurit pengawal yang berada diluar telah mendengar keributan yang terjadi. Mereka segera menyadari, bahwa tawanan itu tentu berusaha untuk memberontak. Karena itu, maka mereka pun telah meloncat menuju ke pintu bilik yang tidak terlalu luas itu.

Namun mereka terkejut, ketika mereka melihat beberapa langkah dari pintu itu, Akuwu Lemah Warah bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri bagaikan membeku. Bahkan kemudian mereka pun telah memberi isyarat kepada para prajurit itu agar mereka mengurungkan niatnya.

Prajurit-prajurit itu kebingungan. Seorang di antara mereka dengan tergesa-gesa telah berlari mendekati Akuwu sambil berdesis, “Ampun Akuwu. Bukankah kawan hamba itu akan mati dicekik oleh tawanan yang mempunyai kemampuan tidak terbatas itu?”

“Kita akan melihatnya,” berkata Akuwu.

Prajurit itu menjadi heran. Namun ia menjadi terkejut ketika sesosok tubuh kemudian terlempar keluar dari bilik itu. Selagi tubuh yang terlempar keluar itu berusaha untuk bangkit, maka yang lain telah meloncat keluar dari pintu itu pula.

Ternyata mereka telah melanjutkan pertempuran di luar bilik yang sempit, yang agaknya kurang memberikan kesempatan mereka untuk bergerak.

Di luar bilik, pertempuran itu menjadi sangat seru. Keduanya saling menyerang dan bertahan. Sekali-sekali keduanya telah membenturkan kekuatan mereka dan keduanya terdorong beberapa langkah surut.

Adalah di luar dugaan, bahwa dalam pertempuran yang keras itu, prajurit Lemah Warah itu mampu mengimbangi kemampuan tawanan yang pernah disebut sebagai seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Namun ternyata bahwa tawanan itu sama sekali tidak lagi dapat bertahan lebih lama lagi. Perlahan-lahan ia menjadi semakin terdesak. Ketika sekali lagi ia menghentakkan kemampuan ilmunya, ternyata lawannya sama sekali tidak terpengaruh karenanya. Bahkan sebuah serangan yang kuat telah mengenai dadanya. Kaki lawannya yang tiba-tiba terjulur, sama sekali tidak mampu dihindarinya, sehingga karena itu, maka ia pun telah terlempar dan terbanting jatuh.

Betapa perasaan sakit telah menyumbat dadanya. Jantungnya rasa-rasanya telah retak karenanya.

Ketika ia bangkit sambil menyeringai, maka ia melihat lawannya, seorang prajurit yang tadi membawa air untuknya itu, telah siap pula untuk menyerangnya.

Sejenak orang yang pernah memimpin satu perguruan itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian menyadari, bahwa jika serangan itu datang lagi, maka ia tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Sebenarnyalah, serangan berikutnya datang membadai. Orang itu memang tidak dapat berbuat banyak. Kaki yang terjulur sekali lagi menghantam dadanya dan mendorongnya bahkan membantingnya jatuh di tanah.

Prajurit itu sudah siap menghancurkannya sebelum orang itu bangkit. Tetapi Akuwu Lemah Warah telah menahannya. Katanya, “Sudahlah. Ia sudah tidak berdaya.”

Prajurit itu tertegun. Namun ia pun kemudian melangkah surut ketika ia sadar, bahwa Akuwu telah berdiri beberapa langkah dari lawannya itu.

Perlahan-lahan orang yang pernah memimpin sebuah perguruan itu bangkit. Kemudian dipandanginya Akuwu Lemah Warah itu dengan sorot mata bagaikan membakarnya.

“Kau licik,” geram orang itu.

“Kenapa?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Kau rusakkan kemampuan ilmuku dengan merusakkan simpul-simpul perbendaharaan ilmuku di punggungku,” geram orang itu, “sehingga aku sama sekali tidak mampu lagi melepaskan ilmuku, karena ilmuku itu telah terhapus dari perbendaharaan kemampuanku. Ilmu yang aku pelajari bertahun-tahun, kini telah kau hancurkan. Semula aku mengira bahwa hal itu hanya karena tubuhku masih lemah. Tetapi ketika ternyata bahwa sama sekali tidak terungkap ilmuku itu. Serta punggungku yang terasa sakit, maka barulah aku sadar, bahwa ketika aku pingsan, kau telah berbuat licik. Sangat licik. Tidak layaknya dilakukan oleh seorang laki-laki. Apalagi seorang kesatria seperti kau Akuwu.”

Akuwu mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya, “Kau benar Ki Sanak, jika persoalannya kau lepaskan dari tingkah laku serta sikapmu. Tetapi kau harus ingat, bahwa aku melakukannya setelah aku mengenali tingkah laku serta sikapmu seutuhnya.”

“Bagaimana dengan sikapku?” bertanya orang itu.

“Jika kau bersikap wajar dan tidak mengingkari kenyataan, maka aku tidak akan berbuat sebagaimana aku lakukan,” berkata Akuwu Lemah Warah, “coba bayangkan apa yang telah terjadi di padepokan Suriantal. Kemudian bagaimana pula sikapmu ketika kau dibawa kemari. Bagaimana pula sikapmu setelah kau berada di sini, dihadapan Akuwu yang berkuasa di Lemah Warah, maka aku mengambil kesimpulan, bahwa orang seperti kau tidak pantas untuk mendapat perlakuan yang baik sebagaimana aku memperlakukan seorang kesatria, bahkan memperlakukan seorang hamba yang mengenal dirinya dan menerima kenyataan tentang dirinya itu.”

“Persetan,” geram orang itu.

“Nah, kau masih juga tidak tahu diri. Aku dapat memanggil prajurit-prajuritku untuk memperlakukan kau lebih buruk lagi. Kau sudah tidak memiliki ilmu apapun juga, kecuali sedikit ketrampilan berkelahi seperti anak-anak di Pakuwon ini. Kau tidak dapat lagi membangunkan tenaga cadangan di dalam dirimu, apalagi ilmumu yang mampu menyadap kekuatan api. Nah, apa lagi yang akan kau pergunakan untuk menyombongkan diri dengan sikap kasar dan umpatan-umpatan tidak pantas.”

Orang itu termenung sejenak. Berbagai perasaan telah bergejolak di dalam dirinya. Marah, kecewa, cemas dan bahkan ketakutan bercampur, baur. Namun dalam gejolak yang tidak dapat dikendalikannya maka tiba-tiba saja ia bangkit berdiri sambil berteriak, “Bunuh aku. Ayo, siapakah di antara kalian yang cukup jantan berani membunuhku he? Siapa?”

Para prajurit yang berkerumun termangu-mangu. Mereka sekali-sekali memandang Akuwu Lemah Warah yang berdiri di tempatnya tanpa berbuat sesuatu.

Sementara itu, orang itu pun masih saja berteriak, “Bunuh aku.”

Baru beberapa saat kemudian Akuwu Lemah Warah itu berkata, “Ki Sanak. Tidak ada orang yang akan bersedia membunuhmu di sini. Tetapi jika kau cukup mempunyai keberanian maka bunuhlah dirimu sendiri. Kau dapat meminjam pedang, keris atau jenis senjata lainnya yang kau inginkan. Nah, lakukanlah. Para prajurit akan menjadi saksi bahwa seorang laki-laki yang putus asa karena tidak mampu lagi menegakkan ilmunya yang nggegirisi telah membunuh diri.”

“Persetan,” orang itu masih menggeram.

Sementara itu Akuwu Lemah Warah berkata, “Nah, apakah sebenarnya yang kau inginkan sekarang.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun telah menundukkan kepalanya. Agaknya ia tidak lagi merasa perlu untuk mengingkari kenyataan yang terjadi atas dirinya. Bahkan ia pun merasa kecewa, bahkan dirinya telah mengalami perlakuan yang pahit justru karena sikapnya sendiri. Ia telah kehilangan segenap kemampuannya, sehingga ia tidak lebih dari seorang prajurit kebanyakan. Bahkan ketika ia berkelahi melawan prajurit pengawal itu terasa bahwa tenaganya tidak lagi mampu mengimbangi kekuatan prajurit itu.

Karena itu, maka orang itu tidak lagi berniat untuk berbuat apapun juga. Ia pun telah pasrah seandainya ia harus menjalani hukuman mati, atau perlakuan apa pun juga.

Akuwu yang melihat sikap orang itu pun kemudian melihat perubahan di dalam dirinya. Karena itu, maka Akuwu pun kemudian berkata kepada prajurit yang telah berkelahi melawan orang itu, “Bawa kembali ke biliknya.”

Prajurit yang telah bertempur melawan tawanan itu memang menjadi heran terhadap dirinya sendiri, bahwa ia mampu melawan dan bahkan mengimbangi kemampuan orang yang menurut keterangan yang diterimanya, berilmu sangat tinggi.

Namun akhirnya orang-orang termasuk para prajurit di istana Lemah Warah itu mengetahui, bahwa kemampuan orang yang berbahaya itu telah dihancurkan oleh Akuwu, sehingga orang itu tidak lagi memiliki ilmu yang nggegirisi.

Karena itu, maka tawanan itu tidak memerlukan pengawalan yang khusus lagi. Ia dimasukkan ke dalam biliknya yang kuat dan diselarak dari luar. Ia tidak lagi memiliki kemampuan untuk keluar dari bilik itu.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak terlalu lama berada di Lemah Warah. Ia berjanji akan segera kembali kepada Ki Bekel yang akan menyediakan kerbau yang dikehendakinya.

Karena itu, setelah menyerahkan tawanannya yang tidak memiliki kemampuan lagi untuk menengadahkan kepalanya dan menuntut agar padepokan Suriantal diserahkan, maka kedua anak muda itu telah minta diri.

“Baiklah,” berkata Akuwu Lemah Warah, “tetapi jika kau perlukan bantuan, aku tidak berkeberatan. Seandainya sepuluh ekor kerbau itu kau bawa dari sini, maka kau tidak perlu mencari di padukuhan itu.”

“Terima kasih. Tetapi untuk membawa sepuluh ekor kerbau dari Lemah Warah agaknya terlalu sulit karena jarak yang panjang,” berkata Mahisa Murti.

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Anak-anak muda, apakah rencanamu selanjutnya dengan batu hijau itu? Seperti yang kalian katakan, kalian ingin membentuk sesuatu dengan batu itu. Jika batu itu berada di padepokan Suriantal, maka agaknya untuk mengamankannya diperlukan kekuatan yang cukup besar. Apalagi jika batu itu akan dibentuk di padepokan itu.”

“Jadi bagaimana sebaiknya menurut Akuwu?” bertanya Mahisa Murti.

“Apakah tidak sebaiknya batu itu kalian bawa kemari saja. kemudian dikerjakan di sini sebagaimana kalian inginkan? Di sini batu itu akan lebih aman, karena kita akan mampu melindunginya. Tetapi di padepokan itu, kekuatan yang tertinggal tidak lagi cukup besar jika ada kekuatan yang ingin merampas batu itu. Apalagi nanti, jika ujud batu itu sudah dibentuk.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka mengerti keterangan Akuwu itu. Namun anak-anak muda itu agaknya mempunyai keinginan untuk melakukan sesuatu yang berarti. Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Akuwu. Kami mohon kali ini diijinkan untuk melakukan itu sendiri. Kami akan berbuat sesuatu yang barangkali akan dapat menjadi semacam kebanggaan di hati kami. Kami akan mempersembahkan sebuah patung dari batu yang berwarna kehijauan itu.”

Akuwu Lemah Warah tersenyum. Katanya, “Baiklah anak-anak. Lakukanlah jika kau memang menginginkannya. Aku sependapat, bahwa hal itu akan menjadi satu kebanggaan bagi kalian. Patung itu akan dapat kalian persembahkan kepada orang yang paling kalian hormati.”

“Kami ingin mempersembahkan kepada Sri Maharaja di Singasari,” berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng.

“Bagus,” jawab Akuwu, “kau dapat membuat sebuah patung yang indah dari Sepasang Ular di Satu Sarang.”

“Ya,” desis Mahisa Pukat, “Sepasang Ular Naga di Satu Sarang.”

“Sebutan bagi Sri Maharaja dan Ratu Angabaya,” sahut Mahisa Murti.

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian rencana kalian itu merupakan rencana yang bagus sekali. Aku akan membantu apa pun yang dapat aku berikan. Mungkin kau memerlukan sekelompok prajurit yang akan dapat membantu menjaga batu itu. Atau mungkin bekal atau bahkan uang.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Namun kemudian Mahisa Murti itu pun berkata, “Kami mengucapkan terima kasih Akuwu. Kami memang memerlukan bantuan yang barangkali cukup banyak. Jika kami kelak mengundang seorang pemahat yang mumpuni, maka kami akan memerlukan perlindungan Akuwu dan barangkali juga uang. Jika Akuwu berkenan bermurah hati memberikannya kepada kami, maka kami tidak perlu mencarinya atau mengambil pulang ke Singasari.”

“Katakan apa yang kau perlukan,” berkata Akuwu, “kalian berdua adalah kemenakanku. Aku sudah mengaku kalian sebagai kemenakanku sejak kita bersama-sama bertugas di padepokan Suriantal itu.”

Demikianlah, maka ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bersiap-siap kembali ke padepokan Suriantal, maka Akuwu telah menugaskan duapuluh lima orang prajurit pilihan untuk menyertai mereka berdua. Para prajurit pilihan itu bertugas untuk membantu mengamankan batu yang akan disimpan di padepokan untuk selanjutnya dipahat menjadi sebuah patung yang akan dipersembahkan kepada Sri Maharaja di Singasari.

Di hari berikutnya, ketika fajar menyingsing, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meninggalkan Pakuwon Lemah Warah bersama duapuluh orang prajurit yang akan bertugas bergantian dalam waktu sebulan. Sekelompok pasukan berikutnya akan menggantikan para prajurit itu susul menyusul sampai mereka tidak diperlukan lagi. Atau justru malahan sepasukan yang lebih besar untuk mengawal patung yang akan dibawa ke Singasari.

Demikianlah, sebuah iring-iringan telah meninggalkan Lemah Warah memasuki perjalanan yang cukup panjang. Mereka memang harus bermalam di perjalanan. Baru di hari berikutnya mereka memasuki padepokan Suriantal.

Kedatangan sepasukan prajurit itu memang mengejutkan. Seisi padepokan itu dengan serta merta telah mempersiapkan diri. Namun ternyata yang datang adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Meskipun demikian pemimpin padepokan itu menjadi agak ragu juga. Ketika regol padepokan itu dibuka, maka pemimpin padepokan itu telah berdiri di pintu. Beberapa orang pemimpin kelompok telah bersiap di belakangnya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berada di paling depan dari iring-iringan itu tersenyum. Kemudian Mahisa Murti berkata, “Aku sudah menitipkan tawanan kita di Lemah Warah. Sementara itu Akuwu Lemah Warah telah mengirimkan beberapa orang prajurit yang akan membantu kita. Setiap kelompok akan berada di padepokan ini untuk sebulan. Mereka akan diganti oleh kelompok yang lain, berurutan di setiap bulan.”

Pemimpin padepokan itu mengangguk-angguk. Tetapi masih nampak keragu-raguan di wajahnya.

“Kau cemas bahwa kami telah berubah sikap?” bertanya Mahisa Pukat, “setelah kami menyingkirkan orang yang berniat untuk memiliki padepokan ini, maka kami datang untuk menggantikannya?”

Pemimpin padepokan itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Murti berkata, “Kelompok ini adalah prajurit Lengah Warah. Jika hal yang demikian itu kami kehendaki, maka kami akan membawa kekuatan yang lebih meyakinkan. Atau Akuwu Lemah Warah tidak akan meninggalkan padepokan setelah padepokan ini dipecahkannya dahulu.”

Pemimpin padepokan itu mengangguk-angguk. Karena itu, maka kemudian katanya, “Aku minta maaf. Aku telah diajar oleh pengalaman untuk berhati-hati.”

“Satu sikap yang baik,” berkata Mahisa Murti, “aku tidak berkeberatan atas sikapmu itu.”

Dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat-pun telah dipersilahkan masuk bersama duapuluh lima orang prajurit yang datang bersamanya. Orang-orang padepokan itu dengan tergesa-gesa telah membersihkan barak yang untuk beberapa lama sudah tidak dipergunakan lagi. Di barak itulah ke-dua puluh lima prajurit itu kemudian ditempatkan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memberikan pesan-pesan khusus kepada para prajurit itu, agar mereka berusaha untuk menyesuaikan diri hidup di lingkungan yang berbeda dari lingkungan mereka sebelumnya.

Tetapi Senapati yang memimpin sekelompok prajurit itu berkata, “Kami sudah ditempa untuk menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga. Kami akan berusaha untuk menjadikan diri kami bagian dari padepokan ini.”

“Terima kasih,” berkata Mahisa Murti, “kita akan membina bersama-sama. Bukan saja kehidupan dan kesejahteraan di padepokan ini, tetapi juga kemampuan dari orang-orang yang tinggal di padepokan ini.”

“Kami akan mencoba,” berkata Senapati itu.

Demikianlah, sejak hari itu, penghuni padepokan itu pun telah bertambah.

Namun seperti yang dikatakan oleh Senapati prajurit Lemah Warah, bahwa para prajurit itu akan segera menyesuaikan dirinya dengan para penghuni padepokan itu.

Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah menemui Ki Bekel sebagaimana pernah dikatakannya sebelumnya bersama beberapa orang penghuni padepokan itu untuk mengambil sepuluh ekor kerbau dan membawanya ke padepokan.

Meski pun dengan agak ragu, namun Ki Bekel telah melepaskan sepuluh ekor kerbau yang cukup kuat itu sebagaimana dijanjikan. Bahkan beberapa orang Bekel yang lain telah mengatakan bahwa seandainya kerbau-kerbau itu terpaksa tidak kembali, maka mereka tidak akan menuntutnya.

“Kenapa?” bertanya salah seorang Bekel.

“Mereka dapat berbuat apa saja. Sampai saat ini orang-orang padepokan itu tidak pernah secara sungguh-sungguh mengganggu kita. Karena itu, kita jangan membuat mereka kecewa, sehingga mereka akan melakukan apa yang tidak pernah mereka lakukan,” jawab Ki Bekel yang merelakan kerbaunya.

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka memang menyadari bahwa kekuatan yang ada di padepokan itu memang tidak akan terlawan. Mereka mengerti bahwa telah terjadi beberapa pergolakan di padepokan itu. Namun mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang mereka ketahui bahwa di padepokan itu masih terdapat kekuatan yang dapat memaksakan kehendak mereka kepada orang-orang di padukuhan jika mereka kehendaki.

Dengan sepuluh ekor kerbau itulah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah merencanakan untuk menarik batu yang berwarna kehijau-hijauan itu ke padepokan. Untuk itu maka ia memang harus berbicara dengan pemimpin padepokan itu, para pemimpin kelompok dan Senapati prajurit Lemah Warah.

Dari sorot matanya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat melihat kecemasan di hati pemimpin padepokan itu.

Karena itu maka Mahisa Murti pun telah bertanya, “Apakah yang membuatmu nampak ragu-ragu?”

Pemimpin padepokan itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Batu itu adalah batu yang penuh dengan rahasia. Tidak setiap orang dapat menyentuhnya. Bahkan kadang-kadang orang yang berani menyentuhnya akan mati.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Murti berkata, “Aku mengenal watak jenis-jenis bebatuan. Mudah-mudahan kita tidak mengalami sesuatu.”

“Bukan hanya itu,” berkata pemimpin padepokan itu, “tetapi banyak pihak yang mengingini batu itu. Karena itu, jika batu itu berhasil kita bawa ke padepokan ini, maka mereka merasa bahwa batu itu sudah tidak lagi berbahaya. Mereka akan datang untuk mengambilnya dari padepokan ini. Bahkan dengan kekerasan.”

Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Itulah sebabnya aku telah memohon bantuan Akuwu Lemah Warah dengan sekelompok prajurit yang kini ada bersama kita.”

Pemimpin padepokan itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menyadari, jika benar kedua anak muda itu akan mengambil batu yang berwarna kehijauan itu, maka mereka tidak dapat berharap bahwa padepokan itu akan menjadi tenang. Setiap saat akan datang orang-orang yang akan mengambil batu itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat kegelisahan itu. Bukan saja pada pemimpin padepokan, tetapi juga pada para pemimpin kelompok.

Karena itu Mahisa Murti pun berkata, “Aku berharap kalian tidak akan cemas. Para prajurit Lemah Warah akan berada di sini selama batu itu masih ada di sini.”

Pemimpin padepokan itu menarik nafas dalam-dalam. Kehadiran para prajurit Lemah Warah itu memang memberikan ketenangan, karena meskipun yang ada di padepokan itu hanya dua puluh lima orang, tetapi mereka adalah lambang keterlibatan seluruh Pakuwon Lemah Warah. Jika terjadi sesuatu dengan para prajurit itu, maka Akuwu tentu tidak akan tinggal diam.

Karena itu, maka pemimpin padepokan itu pun kemudian berkata, “Baiklah. Kami akan melakukan apa yang baik bagi kalian.”

Demikianlah, maka segala persiapan pun telah dilakukan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dibantu oleh orang-orang padepokan itu telah membuat tali dari sabut. Mereka telah mengumpulkan sabut kelapa bukan saja dari padepokan itu, tetapi mereka telah datang pula ke padukuhan untuk minta agar sabut kelapa yang ada di padukuhan itu dikumpulkan.

Dengan sabut kelapa itu mereka telah membuat tali-tali yang besar dan kuat. Bukan hanya satu dua depa, tetapi panjang sekali. Beberapa puluh gulung.

Sebelum usaha menarik batu itu dilakukan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah sekali lagi datang ke tempat batu yang kehijau-hijauan itu.

Mereka telah merencanakan cara yang paling baik untuk menarik batu itu. Mereka sadar, jika batu itu berguncang, maka binatang-binatang berbisa yang ada di celah-celah batu itu dalam jumlah yang tidak terhitung akan berjatuhan di sepanjang jalan. Binatang-binatang itu memang akan dapat berbahaya bagi orang lain. Namun agaknya binatang-binatang berbisa itulah yang telah menumbuhkan ceritera seolah-olah batu itu menjadi keramat dan dikeramatkan. Bahkan orang yang berani menyentuh batu itu akan mati.

Agaknya orang yang menyentuh batu itu telah disengat atau dipatuk oleh binatang berbisa yang ada di dalam dan di sekitar batu itu.

“Memang sulit,” berkata Mahisa Pukat.

“Binatang berbisa yang terjatuh di sepanjang jalan tentu akan segera berlari bersembunyi,” berkata Mahisa Murti, “hanya setelah mendekati padepokan kita harus berhati-hati terhadap binatang itu.”

“Orang-orang yang membantu menarik batu itu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Agaknya kita harus bekerja keras dengan penawar racun itu. Tetapi agaknya kita sendirilah yang harus mengikat batu itu, agar sentuhan bisa itu tidak mengambil korban,” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Nampaknya mereka berdua memang harus bekerja keras, sehingga batu itu sampai di padepokan.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih berada di tempat itu. Mereka mengamati tempat itu dengan saksama. Mereka mulai meneliti ke arah mana batu itu akan ditarik dan dibawa ke luar dari lingkungan hutan yang penuh dengan binatang berbisa itu.

Setelah keduanya mendapatkan kepastian tentang batu itu, maka keduanya pun segera kembali ke padepokan.

“Besok kita akan mulai,” berkata Mahisa Murti kepada Senapati prajurit dari Lemah Warah. Lalu katanya, “Salah satu hambatan adalah binatang berbisa.”

Tetapi Senapati itu berkata, “Kami dibekali dengan obat penawar racun meskipun hanya berlaku untuk sementara. Tetapi setidak-tidaknya dapat mencegah kami dibunuh oleh bisa apa pun juga dalam waktu satu hari. Karena itu, maka kami akan dapat melakukan tugas itu tanpa merasa takut terhadap berjenis-jenis binatang yang ada pada batu itu. Namun mungkin kulit kami memang akan dapat meremang jika kami menyaksikan retak-retak batu besar itu penuh dengan binatang yang bergerak-gerak dan siap menyerang.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Mahisa Pukat berkata, “Syukurlah. Pekerjaan kita akan jauh bertambah ringan. Ternyata Akuwu Lemah Warah mempunyai pandangan jauh ke depan. Apa yang tidak kita mohon, telah diberikannya.”

Dengan demikian, maka di malam hari, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengumpulkan semua isi padepokan itu termasuk para prajurit. Dengan singkat tetapi pasti, Mahisa Murti mengatakan kepada mereka, bahwa besok mereka akan mulai dengan kerja besar. Bukan saja mengambil batu itu. Tetapi tugas yang kemudian harus mereka lakukan adalah mempertahankan batu itu jika ada pihak lain yang menghendakinya.

Dengan nada berat Mahisa Murti berkata, “Aku mempercayakan batu itu kepada kalian semuanya. Dengan harapan bahwa batu itu kelak akan dapat menjadi sebuah patung yang berharga yang akan kita persembahkan kepada Sri Maharaja di Singasari.”

Bagaimanapun juga seisi padepokan itu merasa ikut berkewajiban untuk mempertahankan batu itu. Penjelasan yang diberikan oleh Mahisa Murti telah meyakinkan mereka. Termasuk para prajurit dari Lemah Warah.

Di keesokan harinya, sebelum matahari terbit, semua orang telah dipersiapkan. Jarak antara padepokan itu sampai ke batu yang berwarna kehijauan itu memang tidak terlalu dekat. Sehingga karena itu mereka harus mempersiapkan sebuah perjalanan.

Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memutuskan bahwa semua orang harus ikut serta. Jika ada sebagian yang tinggal, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sebagaimana pemimpin padepokan itu justru mencemaskan keselamatan mereka.

Sementara itu, maka telah dipersiapkan pula bekal untuk mereka makan di perjalanan. Bahkan bahan mentah yang mungkin diperlukan! Lembu-lembu yang masih belum dipergunakan itu dapat membantu membawa bekal bagi mereka.

Ternyata sambil menggiring sepuluh ekor lembu di perjalanan yang berat, mereka maju sangat lamban.

Namun mereka tidak mengeluh. Orang-orang yang ikut bersama mereka adalah orang-orang yang terlatih dan ditempa oleh pengalaman yang sangat berat pula.

Karena itu, maka mereka tidak dapat melakukan tugas mereka itu dalam sehari. Malam hari mereka harus bermalam tidak terlalu jauh dari batu yang kehijau-hijauan itu. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menasehatkan agar mereka membuat kelompok-kelompok dan menyalakan api.

“Biasanya binatang melata banyak di tempat ini,” berkata Mahisa Pukat, “kalian harus berhati-hati.”

Ternyata atas nasehat para prajurit, mereka telah membuat api di sekitar tempat mereka beristirahat kelompok-kelompok. Dengan demikian jika binatang melata seperti ular tidak akan melangkahi abu yang hangat dan menghindar.

Meskipun demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat selalu siap untuk melakukan pertolongan jika tiba-tiba saja salah seorang di antara mereka telah dipatuk ular.

Ketika fajar menyingsing, maka mereka pun telah menjadi sibuk. Para prajurit telah menelan obat yang diberikan kepada mereka untuk menawarkan racun dan bisa meskipun hanya untuk sementara.

Sementara itu, mereka yang bertugas untuk menyiapkan makan dan minum pun telah melakukannya dengan cermat dan mencukupi kebutuhan.

Hari itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berusaha membuat sebuah jaring raksasa dengan berpuluh-puluh gulung tambang sabut kelapanya. Jaring itu akan berisi batu yang berwarna kehijau-hijauan itu.

Memang satu pekerjaan yang sulit. Namun beberapa orang prajurit yang telah menelan obat penawar bisa telah membantunya. Namun demikian, tengkuk mereka pun meremang jika mereka melihat jenis-jenis binatang berbisa di celah-celah batu itu. Di antara retak di kulit batu itu, bersembunyi berbagai jenis binatang yang bukan saja dapat membuat kulit tengkuk meremang, tetapi juga dapat membunuh dengan kejinya.

“Jangan hiraukan jika kau memang sudah menelan obat penawar bisa itu. Yakinkan dirimu, bahwa obat itu mempunyai arti bagi kalian,” berkata Mahisa Pukat.

Para prajurit itu mengangguk-angguk. Mereka pun menjadi semakin meningkatkan kerja mereka, justru karena mereka semakin yakin bahwa mereka tidak akan dibunuh oleh bisa.

Namun orang-orang padepokan yang lain sama sekali tidak berani mendekati batu itu. Satu dua orang yang melihat-lihat dari jarak yang terhitung dekat, tubuhnya bagaikan menggigil melihat binatang-binatang berbisa yang bergerak dan berdesakan di relung dan di retak-retak batu hijau itu.

Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat selalu mengingatkan kepada mereka, agar mereka memegang senjata mereka di tangan.

“Bukan karena kita akan diserang musuh,” berkata Mahisa Murti, “tetapi ular berbisa banyak berkeliaran di tempat ini. Jika kalian melihatnya mendekati siapa saja, jangan menunggu lebih lama lagi. Ular itu harus dibunuh.”

Demikianlah kerja itu memerlukan waktu yang lama. Namun akhirnya batu itu dapat juga diselubungi oleh jaring tambang sabut.

Dengan hati-hati tali itu disangkutkan pada bahu sepuluh ekor kerbau yang kuat. Menurut perhitungan Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan orang-orang yang ikut bersamanya, sepuluh ekor kerbau itu akan dapat menariknya dengan tidak terlampau banyak mengalami kesulitan.

Namun jalan yang akan mereka tempuhlah yang sulit. Karena itu maka untuk dapat membawa batu itu sampai ke padepokan memang diperlukan waktu yang lama.

Sementara Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan para penghuni padepokan termasuk para prajurit kemudian berusaha menarik batu itu, ternyata tiga orang tengah mengawasi dengan wajah berkerut-kerut.

Seorang di antara mereka berkata, “Gila orang-orang Suriantal itu.”

“Tidak semuanya orang Suriantal,” desis yang lain, “hitung saja di antara mereka yang membawa tongkat. Yang lain datang dari berbagai perguruan. Namun ternyata bahwa Suriantal telah pernah dihancurkan oleh Lemah Warah. Tetapi agaknya padepokan itu kini akan bangkit lagi. Agaknya Akuwu Lemah Warah meninggalkan padepokan itu begitu saja.”

“Tetapi tentu sudah tidak mempunyai kekuatan,” desis orang ketiga.

“Namun anehnya, justru sekarang mereka berani mengambil batu hijau itu,” berkata orang yang pertama.

Kawan-kawannya mengangguk. Dengan nada dalam seorang di antara mereka berkata, “Bagaimana mungkin mereka dapat mengatasi bisa dari binatang yang ada di batu itu.”

“Kedua orang anak muda itu sudah beberapa kali melakukannya. Menyentuh batu itu tanpa cidera. Keduanya tentu mempunyai penawar bisa,” berkata yang lain.

“Mungkin. Tetapi yang membantunya cukup banyak. Apakah mereka semua mempunyai penawar bisa seperti kedua orang anak muda itu?” bertanya kawannya.

Yang lain termangu-mangu. Namun ia tidak menjawab. Bahkan ia berdesis, “Satu kerja gila-gilaan yang dilakukan oleh anak-anak muda. Tetapi kita dapat bersyukur bahwa ada orang yang mengeluarkan batu itu dari lingkungan yang sangat berbisa. Mudah-mudahan batu itu kelak menjadi tawar di padepokan Suriantal, sehingga kita akan dapat mengambilnya dengan cara yang lebih mudah.”

“Aku tidak tahu, kenapa anak muda itu tidak memecah saja batu itu lebih dahulu,” berkata seorang yang lain.

Kedua kawannya tidak menjawab.

Demikianlah, maka kerja besar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun berlanjut. Hanya para prajurit yang berjumlah duapuluh lima orang itu sajalah yang membantunya dengan jarak yang pendek. Bahkan satu dua diantara mereka telah ikut menyentuh batu itu. Sementara itu orang-orang padepokan itu sendiri membantunya dari jarak yang agak jauh dengan menempatkan kerbau-kerbau itu berjajar dan berurutan.

Meskipun demikian ada saja diantara mereka, yang harus mempergunakan pedang atau tombaknya untuk membunuh ular yang berkeliaran.

Sejenak kemudian, dengan jaring raksasa dari tambang sabut yang sudah terpasang, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun selalu memberikan aba-aba. Sejenak kemudian terdengar cambuk meledak-ledak. Sepuluh ekor lembu yang besar itu pun bergerak terus.

Ternyata batu itu memang berat. Selain sepuluh ekor lembu itu beberapa puluh orang telah ikut pula menariknya. Sehingga lambat laun batu yang berwarna kehijauan itu pun mulai bergerak.

Namun dalam pada itu, setiap kali Mahisa Murti dan Mahisa Pukat selalu memperingatkan bahaya yang mungkin dapat mematuk mereka, terutama orang-orang padepokan. Bahkan para prajurit itu pun telah memperingatkan mereka pula.

Dengan demikian maka sejenak kemudian, bagian pinggiran hutan itu telah dipekakkan oleh teriakan-teriakan yang menggema. Teriakan-teriakan mereka yang menggerakkan kerbau untuk mau berjalan sambil menarik batu itu, tetapi juga teriakan-teriakan orang-orang padepokan yang ikut menarik batu itu pula. Diseling oleh teriakan-teriakan para prajurit yang memperingatkan binatang-binatang berbisa yang berkeliaran.

Ketika batu itu mulai berguling untuk pertama kalinya, maka ternyata tengkuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah meremang pula. Ternyata di bawah batu itu terdapat berpuluh-puluh ekor ular yang saling membelit dengan jenis-jenis binatang berbisa yang lain. Demikian batu itu berkisar, maka binatang-binatang itu telah berhambur ke segenap arah.

“Hati-hati,” teriak Mahisa Pukat.

Yang paling dekat dengan batu itu selain Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah para prajurit. Meskipun mereka telah makan obat penawar bisa untuk sementara, tetapi ternyata mereka lebih merasa aman dengan membunuh binatang berbisa yang mendekat.

Para prajurit itu pun merasa jantungnya berdebaran melihat berjenis-jenis binatang yang bergulat di bawah batu itu.

Demikianlah, setapak demi setapak batu itu beringsut terus. Orang-orang yang mencambuk kerbau-kerbau itu masih saja berteriak sementara kawan-kawannya membantu menarik batu itu pula.

Tiga orang yang memandang dari kejauhan dan dari tempat yang terlindung itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka tidak melihat jelas, binatang-binatang yang berada di bawah itu. Namun yang menjadi perhatian terbesar mereka adalah binatang berbisa yang ada di dalam batu itu.

Demikianlah, perlahan-lahan, namun batu itu ternyata bergerak. Dengan sangat berhati-hati Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan para prajurit mengarahkan gerak batu itu agar tidak masuk ke dalam lereng yang agak dalam, sehingga sulit untuk mengangkatnya keluar.

Tiga orang yang mengawasi kerja itu masih saja menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka seakan-akan melihat satu yang mustahil terjadi, namun ternyata telah terjadi.

“Tetapi satu keuntungan bagi kita,” berkata orang itu, “kita tidak harus bekerja keras seperti itu. Kita tinggal memasuki padepokan Suriantal dan mengambil batu itu.”

“Tetapi kau lihat, orang Suriantal terlalu banyak untuk dilawan,” berkata salah seorang di antara mereka.

“Tentu orang-orang Suriantal itu telah mengerahkan pula orang-orang padukuhan dengan paksa.” menyahut yang lain, “tetapi Suriantal sendiri kini telah menjadi lemah setelah dihancurkan oleh Lemah Warah. Sebagian dari orang-orangnya, terutama yang datang dari padepokan lain, telah meninggalkan padepokan itu. Sebagian lagi, justru orang-orang penting, telah dibawa ke Lemah Warah. Sekarang Suriantal tidak mempunyai pemimpin yang kuat. Agaknya kedua anak muda itulah yang kemudian memegang pimpinan.”

“Tetapi kedua anak muda itu harus diperhitungkan,” desis yang lain.

Ketiga orang itu kemudian mengangguk-angguk. Kedua orang anak muda itu nampaknya memang meyakinkan, sehingga atas mereka tidak dapat diperlakukan sebagaimana orang lain.

Sejenak kemudian ketiga orang itu pun telah meninggalkan tempat mereka itu. Mereka menyusuri pinggir hutan yang tidak terlalu lebat. Namun mereka mengambil arah lain dari yang ditempuh oleh orang-orang dari padepokan Suriantal itu.

Ternyata batu itu bergeser perlahan-lahan. Sepuluh ekor kerbau itu telah berusaha dengan sekuat tenaga. Beberapa kali punggungnya merasa sakit karena cambuk. Namun orang-orang padepokan itu tidak hanya mencambuki kerbau-kerbau itu saja. Tetapi mereka ikut pula menarik dengan sekuat tenaga.

Tetapi seperti yang dikatakan oleh pemimpin padepokan Suriantal, bahwa jika mereka mengambil batu itu, banyak perhatian akan tertuju kepada mereka.

Kerja yang dilakukan itu, adalah kerja yang memerlukan bukan saja kemauan dan ketekunan. Tetapi juga tenaga dan waktu. Batu itu hanya mampu bergeser perlahan-lahan. Dalam pada itu di setiap jengkal, binatang berbisa yang ada di batu itu berjatuhan satu demi satu. Namun sementara itu yang lain berpegangan sekuat tenaga di dalam retak dan relung-relung batu yang berwarna kehijauan itu.

Meskipun demikian, batu itu bergerak juga ke arah padepokan. Betapapun lambatnya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dan orang-orang yang membantunya itu kemudian yakin, bahwa batu itu pada akhirnya akan sampai di padepokan. Namun setelah itu, maka banyak hal yang akan dapat terjadi.

Tetapi kemajuan yang mereka capai ternyata sangat sendat. Baru beberapa ratus patok, maka mereka telah merasa terlalu payah. Demikian pula kerbau-kerbau yang menarik batu itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat cukup bijaksana, ia memang tidak terlalu tergesa-gesa. Bahkan kerbau-kerbau itu pun dapat dikembalikan agak lambat dengan menambah uang sewanya jika itu dikehendaki oleh orang-orang padukuhan.

Karena itu, maka orang-orang yang bertugas untuk menyiapkan makan dan minuman bagi orang-orang yang bekerja keras itu pun telah melakukan tugas mereka pula. Di samping iring-iringan itu beristirahat, maka mereka telah menyiapkan air minum yang hangat dan jika mereka menemukan tempat untuk bermalam, maka telah disiapkan pula makan bagi mereka. Di pagi hari kemudian, orang-orang yang bertugas itu pun telah menyiapkan makan mereka, bukan saja untuk pagi hari. Tetapi mereka juga menyiapkan makan untuk siang hari yang mereka bawa sepanjang perjalanan itu.

Itulah sebabnya, jarak yang tidak terlalu panjang itu harus ditempuh dalam beberapa hari.

Namun dalam pada itu, tiga orang seakan-akan selalu membayangi kerja yang besar itu. Bahkan ternyata bukan hanya ketiga orang itu saja. Dari arah lain, dua orang telah mengamati pula kerja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun agaknya kedua orang itu tidak merasa perlu untuk mengikuti gerak iring-iringan itu setiap hari. Tetapi mereka hanya menyaksikannya dua kali. Setelah itu, maka mereka menganggap bahwa segala sesuatunya akan dapat diselesaikan di padepokan Suriantal.

“Kita tinggal datang mengambilnya,” berkata seorang diantara mereka, “meskipun demikian, kita merasa kasihan juga kepada orang-orang yang telah dipaksa untuk ikut dalam kerja keras dan bodoh itu.”

“Tetapi padepokan itu memang padepokan yang besar,” sahut yang lain.

“Sebelum padepokan itu dihancurkan oleh Akuwu Lemah Warah. Beberapa perguruan yang bergabung menjadi satu, merupakan kekuatan yang sangat besar.”

“Tetapi kekuatan itu dihancurkan juga oleh Lemah Warah,” berkata kawannya.

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian mereka pun telah meninggalkan tempat itu. Seorang diantara mereka bergeremang, “Kita akan datang pada waktunya langsung di padepokan.”

Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tenggelam dalam kerja mereka. Namun bagaimanapun juga, keduanya yakin bahwa batu itu akan sampai juga ke padepokan.

Sebenarnyalah, dari hari ke hari berikutnya batu itu telah bergeser. Namun untuk sampai ke jalan yang agak rata menuju ke padepokan, diperlukan waktu lima hari.

Namun Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan orang-orang padepokan itu sempat menarik nafas dalam-dalam. Mereka yakin, bahwa dalam waktu sehari lagi, mereka akan dapat memasuki padepokan.

Rencana itu benar-benar dapat terpenuhi. Orang-orang yang bekerja keras menggeser batu itu, menjadi berdebar-debar ketika mereka mendekati pintu gerbang meskipun hari sudah senja.

“Apakah kita akan menunda kerja ini sampai besok?” bertanya Mahisa Murti.

“Tidak,” terdengar jawaban pemimpin padepokan, “kita akan menyelesaikannya malam ini juga meskipun sampai pagi.”

Beberapa orang telah mendahului memasuki padepokan untuk mengambil obor. Dengan obor-obor itu, maka orang-orang padepokan itu telah meneruskan kerja mereka, memasukkan batu yang berwarna kehijauan itu ke dalam padepokan.

Demikian batu kehijauan itu bergeser melalui pintu gerbang, maka orang-orang padepokan itu telah bersorak gemuruh. Satu kerja besar telah mereka selesaikan.

Meskipun kemudian batu telah masuk regol, tetapi mereka masih belum berhenti bekerja. Mereka telah menempatkan batu itu di tengah-tengah padepokan mereka.

Baru setelah batu itu ditempatkan di tempat yang mereka anggap paling baik, maka kerja itu baru dianggap selesai.

Namun orang-orang padepokan itu tidak segera beristirahat. Orang-orang yang bertugas, telah menyiapkan makanan dan minuman untuk menyatakan kegembiraan mereka, bahwa satu kerja yang besar telah mereka lakukan.

Tetapi ketika mereka mulai makan dan minum-minuman panas, maka Mahisa Murti berkata, “Satu kerja telah kita lakukan. Tetapi kerja lain yang tidak kalah beratnya masih menunggu. Mungkin ada pihak lain yang menginginkan batu itu. Tugas kita berikutnya adalah mempertahankannya.”

Seisi padepokan itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka-pun memang bertekad untuk mempertahankannya pula.

Tetapi di samping itu, Mahisa Pukat selalu memperingatkan kepada orang-orang padepokan, bahwa batu itu dihuni oleh binatang-binatang berbisa yang sangat berbahaya.

Demikianlah, sejak saat itu, batu yang berwarna kehijauan itu telah berpindah dari tempatnya ke padepokan Suriantal. Orang-orang Suriantal dengan sepenuh hati menjaga batu itu. Bahkan mereka telah membuat pagar bambu di seputar batu itu. Bukan maksudnya bahwa pagar itu dapat melindungi batu itu dari kekerasan. Namun sekedar tanda dan peringatan, bahwa batu itu cukup berbahaya.

Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah dapat meyakinkan pemimpin padepokan itu, bahwa batu itu tidak membunuh.

“Agaknya binatang-binatang itulah yang telah membunuhnya,” berkata pemimpin padepokan itu.

“Yaa,” jawab Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng. Kemudian Mahisa Pukat lah yang meneruskannya, “Agaknya orang yang menyentuh batu itu telah dipatuk oleh binatang-binatang berbisa itu, sehingga nyawanya tidak dapat diselamatkannya.”

Pemimpin padepokan itu mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tetapi biarlah kepercayaan tentang keramatnya batu itu tetap melindunginya, sehingga orang yang akan mengambilnya berpikir ulang.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak berkeberatan.

Namun demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tidak boleh menjadi lengah. Seisi padepokan itu benar-benar harus berjaga-jaga, karena setiap saat kekuatan asing akan datang menyerang padepokan itu.

Tetapi sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyerahkan sepuluh ekor kerbau yang dipinjamnya. Bahkan kemudian mereka pun membayar sebagaimana yang dijanjikan, sewa bagi kesepuluh ekor kerbau itu.

Ki Bekel memang merasa sangat beruntung bahwa kerbau yang sepuluh itu telah kembali. Karena itu, ketika ia ditanya oleh Mahisa Murti dan berapa ia harus membayar sewa, apalagi ia telah membawa kerbau itu melampaui waktu yang telah ditentukan.

Ki Bekel termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Segalanya terserah kepada kalian anak-anak muda. Aku belum pernah menyewakan kerbau-kerbau seperti ini.”

“Aku pun belum pernah menyewanya,” berkata Mahisa Murti.

Tetapi Ki Bekel sudah merasa berbahagia bahwa kerbau-kerbau itu telah kembali, maka ia tetap tidak mau menyebut jumlah tertentu.

Karena itu, maka Mahisa Murti telah memberinya upah itu seberapa saja ia mau.

Namun ternyata Ki Bekel telah terkejut melihat uang itu. Dengan suara bergetar ia berkata, “Sedemikian banyak?”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tersenyum. Sementara itu Mahisa Murti berkata, “Sudah cukup?”

“Terlalu banyak tuan,” jawab Ki Bekel.

Namun kedua anak muda itu hanya tersenyum saja.

Demikianlah maka orang-orang padukuhan itu merasa semakin tenang. Orang-orang padepokan itu sama sekali tidak mengganggu mereka, meskipun Ki Bekel dan Bekel-bekel yang lain mempunyai prasangka buruk pula terhadap isi padepokan itu. Mereka mengira bahwa uang yang cukup banyak itu didapat dengan mudah oleh orang-orang padepokan itu. Mereka menganggap bahwa orang-orang padepokan itu di tempat yang jauh sering melakukan kekerasan untuk merampas dan memiliki uang milik orang lain.

“Tetapi itu adalah dosa mereka,” berkata salah seorang Bekel, “kami mendapatkan uang ini dengan sewajarnya. Kami telah meminjamkan milik kami, dan kami mendapat imbalan dari mereka.”

Yang lain hanya mengangguk-angguk saja. Agaknya mereka pun sependapat bahwa uang itu dapat mereka terima dengan baik.

Dengan demikian, maka orang-orang padukuhan itu justru mengharap bahwa lain kali orang-orang di padepokan itu memerlukan sesuatu lagi dari mereka.

Dalam pada itu, padepokan Suriantal telah meningkatkan penjagaan di lingkungan padepokan itu. Para prajurit Lemah Warah pun telah ikut pula berjaga-jaga di malam hari. Tiga orang di antara mereka ikut serta bertugas di malam hari bergantian. Sementara itu panggungan yang ada di dinding padepokan telah disempurnakan pula. Mereka yang bertugas, tidak akan mudah dapat diintai dan diterkam lawan yang dengan diam-diam mendekat, meskipun di malam hari yang gelap sekalipun.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang ingin membuat batu itu menjadi patung, tidak dengan tergesa-gesa meninggalkan padepokan itu untuk mencari seorang pemahat. Mereka-pun menunggu sampai keadaan mengijinkan.

Sebenarnyalah pada saat itu, padepokan Suriantal memang menjadi gawat, justru karena batu berwarna kehijauan itu ada di dalamnya.

Tiga orang yang selalu mengawasi saat-saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengambil batu itu, masih selalu saja membayangi padepokan itu.

Namun dari arah lain, dua orang telah mengamati padepokan itu pula.

Namun sulit bagi mereka untuk mengetahui isi dari padepokan itu. Dinding yang kuat, yang mengelilingi padepokan itu telah melindungi pengamatan orang lain terhadapnya. Yang nampak dari orang-orang itu adalah justru panggungan tempat isi padepokan itu berjaga-jaga menatap keluar. Sedangkan di sebelah menyebelah pintu gerbang juga terdapat panggungan serupa. Justru dua buah, di sebelah menyebelah pintu gerbang.

“Sangat rapi,” desis salah seorang dari ketiga orang yang selalu mengamati orang-orang Suriantal itu.

“Sisa kewaspadaan orang-orang Suriantal,” sahut yang lain.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka memang melihat penjagaan yang rapat dan tertib. Seakan-akan tidak ada seujung duri pun di sekitar padepokan itu yang terlepas dari pengamatan. Karena itulah maka ketiga orang itu sama sekali tidak berusaha untuk mendekat.

Tetapi ketiga orang itu berkepentingan untuk dapat menduga, seberapa besar kekuatan yang ada di dalam padepokan itu. Sehingga meskipun dari kejauhan, beberapa kali mereka memerlukan untuk melihat-lihat padepokan itu. Hal itu selalu mereka lakukan di malam hari, karena kemungkinan buruk akan dapat terjadi jika mereka datang di siang hari.

Sementara itu, orang-orang padepokan itu memang selalu meningkatkan kewaspadaan mereka. Semakin lama menjadi semakin ketat, bukan sebaliknya.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih harus menunggu, kapan mereka mendapat kesempatan untuk menghubungi seorang pemahat. Keduanya masih belum sampai hati itu untuk meninggalkan padepokan itu. Jika justru pada saat keduanya pergi, datang pihak lain merampas batu itu, maka ia akan menjadi sangat kecewa.

Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan berada di padepokan itu sampai batas waktu pasukan Lembah Warah kelompok berikutnya datang. Ia akan minta agar kelompok yang pertama tidak meninggalkan padepokan itu lebih dahulu. Kedua kelompok yang ada di padepokan itu akan merupakan perlindungan yang kuat atas batu hijau itu, sementara ia akan pergi ke Singasari untuk mencari kemungkinan mendapat seorang atau lebih pemahat yang bersedia untuk waktu cukup lama tinggal di padepokan itu.

Karena itulah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus menunggu untuk waktu hampir sebulan. Sementara itu, maka orang-orang padepokan itu telah menyadap pengalaman dari kehadiran sekelompok prajurit dari Lemah Warah. Orang-orang padepokan itu melihat betapa para prajurit itu melakukan tugasnya dengan ikatan paugeran yang kuat. Namun sama sekali tidak nampak tekanan yang membuat mereka kehilangan pribadi mereka masing-masing.

Para pemimpin kelompok dari orang-orang padepokan itu telah mencoba untuk mengetrapkan tata cara kehidupan para prajurit itu bagi orang-orang padepokan itu. Meskipun tidak sepenuhnya, namun usaha itu ternyata membuat tatanan kehidupan di padepokan itu menjadi semakin baik.

Ternyata bahwa dalam waktu-waktu menunggu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk membuat hubungan yang lebih rapat dengan orang-orang padukuhaan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk meyakinkan, bahwa orang-orang padepokan itu tidak akan mengganggu orang-orang padukuhan.

“Sekelompok prajurit Lemah Warah akan mengambil tindakan jika mereka sekali saja mengganggu orang-orang padepokan,” berkata Mahisa Murti. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mengatakan bahwa sekelompok prajurit Lemah Warah telah berada di padepokan itu.

Namun dalam pada itu, kehadiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat di padukuhan, serta orang-orang padepokan yang kadang-kadang juga datang ke padukuhan untuk membeli kebutuhan sehari-hari yang tidak dapat dihasilkan oleh padepokan itu sendiri, tidak terlepas dari pengamatan beberapa pihak. Tiga orang yang selalu mengamati padepokan itu telah mengetahui hubungan antara isi padepokan itu dengan orang-orang padukuhan. Mereka mengetahui orang-orang padepokan yang kadang-kadang berada di pasar.

Tetapi di samping ketiga orang itu, ternyata dua orang dari pihak lain telah mengamati pula kehidupan orang-orang padepokan. Bahkan mereka berusaha untuk mendapat beberapa keterangan tentang padepokan itu. Tetapi tidak banyak yang dapat disadap oleh orang-orang itu. Bahkan tidak sepatah kata pun yang terluncur dari mulut orang-orang padepokan, bahwa sekelompok prajurit Lemah Warah ada di dalam padepokan itu. Yang justru terdengar adalah ungkapan yang bernada merendah dari orang-orang padepokan. Kadang-kadang justru mereka merasa seolah-olah cemas menghadapi kekerasan yang dapat timbul.

Bahkan seorang penjual gula kelapa berkata, “Sebenarnya salah mereka sendiri. Jika mereka tidak bernafsu memiliki batu keramat itu, mereka tidak akan selalu dicengkam oleh kecemasan. Agaknya kutuk dari batu itu akan menimpa mereka.”

Dengan demikian, maka orang-orang di luar padepokan itu berkesimpulan bahwa kekuatan padepokan itu tidak cukup besar untuk melindungi batu yang berwarna kehijauan itu.

Dalam pada itu, hari pun berjalan demi hari. Pada saatnya, maka sekelompok prajurit dari Lemah Warah telah datang, untuk menggantikan prajurit Lemah Warah yang berada di padepokan itu. Pada kesempatan itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengutarakan niatnya kepada kedua orang Senapati yang memimpin kedua kelompok pasukan Lemah Warah.

“Aku tidak akan terlalu lama,” berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Kedua Senopati itu ternyata tidak berkeberatan. Terutama Senapati yang memimpin pasukan yang datang lebih dahulu. Di padepokan itu ia justru merasa beristirahat. Tidak banyak persoalan yang harus diperhatikan selain berjaga-jaga.

Namun demikian Senapati itu berkata, “Tetapi kau harus singgah di Lemah Warah, agar Akuwu tidak menjadi cemas, karena pasukan ini tidak kembali pada waktunya.”

Namun dalam pada itu, selagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berniat untuk meninggalkan padepokan, mereka mendapat laporan bahwa ada beberapa orang tengah mengamati padepokan itu.

Laporan itu sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Orang-orang padepokan itu sudah mengira bahwa kemungkinan itu akan terjadi. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berharap bahwa jika terjadi juga, jangan terlalu cepat. Mereka sebenarnya memerlukan waktu untuk menghubungi seorang pemahat yang baik untuk mengerjakan batu yang berwarna kehijauan itu.

Namun jika mereka memang sudah datang, maka apa boleh buat.

Dalam pada itu seorang penghuni padukuhan itu telah datang kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk memberitahukan bahwa orang itu telah melihat kelainan yang terjadi di padukuhan.

“Kelainan apa?” bertanya Mahisa Pukat.

“Rasa-rasanya aku melihat orang-orang asing di padukuhan itu. Meskipun aku tidak terlalu banyak mengenal orang-orang padukuhan itu, tetapi rasa-rasanya aku melihat orang-orang yang belum pernah aku lihat berkeliaran di pasar. Bahkan aku merasa seseorang telah mengikuti dan mengamati aku beberapa lama,” jawab orang itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dalam pada itu Mahisa Murti pun berkata, “Tentu ada hubungannya dengan laporan tentang beberapa orang yang mengamati padepokan ini. Jika demikian maka tentu mereka berusaha mencari keterangan lewat beberapa cara. Dengan mengamati padepokan ini secara langsung, dan dengan cara mencari keterangan di padukuhan, karena mereka tahu bahwa ada di antara kita yang sering datang ke padukuhan untuk beberapa macam keperluan.”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Agaknya memang demikian. Karena itu, maka kemungkinan-kemungkinan yang lebih keras akan dapat terjadi di padepokan ini.”

“Kita akan siap menghadapinya dengan cara apa pun juga,” berkata Mahisa Pukat.

Dengan demikian maka pemimpin padepokan itu pun telah mengumpulkan para pemimpin kelompok dan dua orang Senapati dari Lemah Warah.

Mereka telah mendengarkan keterangan yang diberikan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk menanggapi perkembangan terakhir dari usaha beberapa perguruan yang ingin mengambil batu yang berwarna kehijauan itu.

“Nampaknya suasananya telah menjadi semakin panas. Karena itu aku telah menunda kepergianku. Setiap saat keadaan akan dapat meledak dan membakar padepokan ini,” berkata Mahisa Murti. “karena itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Meningkatkan kesiagaan jika setiap saat, kita mengalami tekanan kekerasan.”

Para pemimpin kelompok itu pun mengangguk-angguk. Mereka pun telah mendengar dari beberapa orang kawan mereka, tentang beberapa orang yang dianggap asing yang berkeliaran di padukuhan terdekat. Namun yang terakhir, beberapa orang penghuni padepokan itu melihat beberapa orang yang berkeliaran di sekitar lingkungan padepokan yang pernah disebut padepokan Suriantal itu.

Ternyata bahwa yang diperhitungkan oleh orang-orang padepokan itu tidak jauh dari kenyataan yang terjadi. Dalam waktu dekat, kesibukan di luar padepokan itu menjadi semakin jelas. Di padukuhan orang-orang yang dianggap asing semakin banyak. Ketika seorang di antara orang-orang padepokan itu membeli garam di pasar, maka ia pun telah berbicara dengan penjual garam itu.

“Apakah kau juga melihat orang-orang yang nampaknya tidak biasa berada di pasar ini?” bertanya orang padepokan itu.

“Ya,” jawab penjual garam itu, “semula aku mengira bahwa mereka adalah kawan-kawanmu, penghuni padepokan yang belum kami kenal. Namun agaknya menilik cara mereka berpakaian, agak berbeda dengan cara kalian berpakaian.”

“Hanya soal pakaian?” bertanya orang padepokan itu.

“Tidak. Juga tentang sikap dan tingkah laku,” jawab penjual garam itu.

Orang padepokan itu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia melihat seorang yang nampak asing berdiri beberapa langkah dari padanya. Meskipun orang itu tidak menghadap ke arahnya, tetapi orang padepokan itu menyadari bahwa orang itu sedang mengawasinya.

“Kau kenal orang itu?” bertanya orang padepokan itu kepada penjual garam.

Penjual garam itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Tetapi nampaknya memang menarik perhatian.”

Orang padepokan itu kemudian berdesis, “orang itu tentu mengikuti aku.”

“Agaknya memang demikian,” jawab penjual garam itu. “tetapi salah kalian sendiri. Kenapa kalian telah mengambil batu itu dan membawanya ke dalam padepokan? Banyak orang yang menginginkan batu itu. Tetapi batu keramat itu tidak pernah dapat beringsut dari tempatnya. Bahkan beberapa orang korban memang telah jatuh di antara mereka yang ingin memiliki batu itu. Namun kini batu itu sudah berkisar dari tempatnya dan berpindah ke padepokan kalian, agaknya orang-orang itu berpikir bahwa batu itu sudah tidak keramat lagi. Dengan demikian, maka nafsu mereka untuk memilikinya telah timbul kembali.”

“Darimana kau tahu tentang batu itu?” bertanya orang padepokan itu.

“Semua orang tahu. Dua orang anak muda dari padepokan itu telah menyewa kerbau-kerbau dari padukuhan. Seekor diantaranya adalah kerbauku. Dan aku pun telah mendengar apa yang terjadi di tempat batu hijau itu bersemayam untuk waktu yang tidak terhitung lamanya,” berkata penjual garam itu.

“Bagaimana dengan kerbaumu sekarang?” bertanya orang padepokan itu.

“Nampaknya sehat-sehat saja,” jawab penjual garam itu. Namun kemudian katanya, “Apakah kau memerlukan garam di tempat-tempat kecil lainnya?”

Orang padepokan itu pun kemudian telah membeli beberapa bungkus garam untuk keperluan beberapa hari. Sementara itu, orang yang mengikutinya masih saja berdiri sambil bersilang tangan di dada.

Namun agaknya orang padepokan itu cukup cerdik juga. Selagi orang itu memandang ke arah lain. ia justru menyelinap di belakangnya dan menuju ke arah yang sama sekali tidak diperhitungkannya.

Itulah sebabnya, maka orang yang mengikutinya itu justru kehilangan, sehingga untuk beberapa saat ia mencarinya. Tetapi sama sekali tidak diketemukannya lagi.

Namun dalam pada itu, maka di dalam padepokan itu persiapan dan kesiagaan benar-benar sudah sampai pada tataran tertinggi. Itulah sebabnya, maka ketika seorang pengamat melihat sekelompok orang lewat tidak terlalu jauh dari padepokan itu, telah melontarkan panah sendaren.

Orang-orang yang lewat itu terkejut. Panah sendaren biasanya merupakan isyarat bagi sasarannya. Tetapi yang dilakukan oleh pengamat itu sekedar memberitahukan bahwa orang-orang yang lewat itu telah dilihat oleh pengamat di padepokan.

Sekelompok orang yang lewat itu memang berhenti. Mereka melihat seorang petugas di atas panggungan.

Namun yang seorang itu pun kemudian telah bertambah menjadi dua, tiga, empat dan lima orang. Orang-orang padepokan yang mendengar panah sendaren itu pun telah keluar pula dengan senjata di tangan masing-masing.

“Aku baru memberi peringatan kepada mereka,” berkata pengawal yang melepaskan anak panah sendaren itu, “biarlah mereka mengetahui bahwa kami tidak senang akan kehadiran mereka di sekitar padepokan ini.”

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian melihat sekelompok orang itu memang bergeser pergi menjauhi padepokan itu.

“Gila,” geram salah seorang di antara orang-orang yang berjalan tidak jauh dari padepokan itu, “isi padepokan itu memang sekelompok orang-orang sombong.”

“Mereka telah menghina kita,” berkata yang lain.

“Besok kita akan datang lagi dan menghancurkan mereka. Kita memerlukan batu itu,” berkata seorang yang nampaknya adalah pemimpin dari sekelompok orang itu.

Sebenarnyalah, orang-orang itu berniat untuk mengambil batu yang berwarna kehijauan itu. Tetapi mereka tahu, bahwa untuk membawa batu itu diperlukan sepuluh ekor kerbau, tenaga manusia yang cukup banyak dan waktu yang panjang.

Tetapi pemimpin dari sekelompok orang itu berpendirian, bahwa mereka harus menduduki padepokan itu lebih dahulu baru memikirkan untuk menyingkirkan batu yang kehijauan itu.

Dari orang-orangnya yang disebar di padukuhan, maka diambil kesimpulan bahwa isi padepokan itu sama sekali tidak mengerahkan orang-orang padukuhan pada saat mereka mengambil batu itu. Karena itu, maka mereka berkesimpulan bahwa orang-orang yang mengambil batu itu sepenuhnya adalah orang-orang padepokan.”

“Padepokan itu memang termasuk sebuah padepokan yang besar,” berkata seorang di antara para pemimpinnya, “karena itu kita pun harus datang dengan kekuatan yang besar pula.”

“Jumlah kawan kita tidak akan sebanyak isi padepokan itu,” berkata salah seorang di antara mereka.

“Kita harus bekerja bersama dengan kelompok yang lain. Jika kita bergabung maka kekuatan kita akan melampaui kekuatan mereka. Kita akan dapat membagi hasil kerja keras kita yang mungkin akan menelan beberapa orang korban.”

Yang lain mengangguk-angguk, sehingga mereka pun kemudian sepakat untuk mengadakan hubungan dengan kelompok lain yang juga mengingini batu yang berwarna kehijauan itu.

Demikianlah, maka tiga orang yang selalu mengamati padepokan itu ternyata telah membuat hubungan dengan dua orang lainnya yang juga pernah melihat-lihat kegiatan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Ternyata dua kelompok itu memang memiliki kepentingan yang sama, sementara mereka merasa bahwa masing-masing kelompok itu tidak akan mampu mengalahkan padepokan yang pernah dihancurkan oleh kekuatan dari Lemah Warah.

Meskipun kelompok itu masing-masing mempunyai pengikut yang mungkin tidak kalah jumlahnya dari orang-orang padepokan itu, tetapi dengan demikian mereka tidak akan yakin akan dapat memenangkan pertempuran seandainya mereka harus menyerang dan memecahkan dinding padepokan itu.

“Kita harus memberikan korban yang cukup banyak pada saat-saat kita akan memasuki padepokan itu. Karena itu, maka kita harus yakin akan kekuatan kita,” berkata salah seorang dari ketiga orang pemimpin kelompok yang satu kepada para pemimpin kelompok yang lain.

Demikianlah maka kedua gerombolan itu telah menyusun satu kekuatan yang sangat besar menurut perhitungan mereka. Dengan kekuatan itu mereka yakin, bahwa mereka akan dapat menduduki padepokan Suriantal dan menguasai batu yang berwarna kehijauan itu.

Tetapi satu hal yang tidak mereka perhitungkan, bahwa sekelompok prajurit Lemah Warah yang akan menggantikan sekelompok prajurit yang terdahulu telah datang, sementara kelompok yang lama masih tetap berada di padepokan itu.

Demikianlah, dua gerombolan yang garang telah menentukan rencana mereka. Sesuai dengan imbangan kekuatan mereka, maka mereka akan membagi batu yang berwarna kehijauan itu.

“Orang-orang Suriantal telah menghilangkan keramat yang melekat pada batu itu. Agaknya orang-orang Suriantal lah yang akan terkena kutuk dan tumpas oleh kekuatan kita. Korban itu tentu sudah cukup, sehingga kita akan memiliki batu itu dengan aman dan tenang,” berkata salah seorang pemimpin di antara mereka.

Para pemimpin dari kedua belah pihak nampaknya sependapat bahwa mereka akan segera melakukan rencana mereka. Semakin cepat agaknya akan semakin baik. Kemudian mereka akan mencari jalan untuk menyingkirkan batu itu dari padepokan Suriantal. Mungkin dengan cara yang telah ditempuh oleh orang-orang padepokan itu.

“Untuk sementara kita dapat menyimpan batu itu di padepokan yang sebentar lagi akan kita duduki. Tetapi untuk selanjutnya batu itu harus disingkirkan. Jika Lemah Warah ikut campur, maka akibatnya akan berbeda,” berkata salah seorang diantara para pemimpin itu.

Yang lain mengangguk-angguk. Yang penting bagi mereka adalah menguasai batu itu lebih dahulu. Setelah itu mereka baru akan memikirkan, bagaimana mereka menyingkirkan batu itu.

“Jejak penyingkiran batu itu tentu akan mudah ditelusuri,” berkata seorang diantara mereka, “apalagi dengan cara sebagaimana ditempuh oleh orang-orang padepokan itu.

“Kita tidak mempunyai pilihan lain,” jawab pemimpin yang lain, “tetapi setidak-tidaknya kita dapat berusaha untuk menjauhkan batu itu dari padepokan, serta berusaha untuk menghapuskan jejaknya. Jika kemudian orang-orang Lemah Warah itu mencari kita juga akhirnya, maka apaboleh buat.”

Yang lain mengangguk-angguk. Memang tidak ada pilihan lain. Bahkan seorang diantara mereka berkata, “Lemah Warah terlalu jauh dari tempat ini. Jika para pemimpin Lemah Warah tertarik pada batu itu, maka sejak semula mereka tentu sudah berusaha untuk mengambilnya dengan cara apa pun juga. Jika mereka datang, tentu hanya untuk melindungi padepokan yang pernah dihancurkannya itu.”

Para pemimpin lainnya nampaknya memang sependapat. Karena itu, maka yang penting bagi mereka adalah menduduki padepokan itu dan kemudian baru memikirkan bagaimana mereka membawa batu itu pergi.

Dengan demikian, maka kedua gerombolan yang sepakat untuk bekerja bersama itu, telah mempersiapkan pasukan mereka untuk benar-benar memecahkan dinding padepokan itu. Mereka menyadari bahwa untuk melakukan hal itu, mereka akan memberikan korban yang tidak sedikit. Tetapi dengan jumlah yang dua kali lipat, maka mereka yakin akan dapat menghancurkan padepokan itu dan menguasai batu yang berwarna kehijauan itu. Batu yang tidak diketahui asal usulnya, yang bahkan ada yang mengatakan bahwa batu itu jatuh dari langit.

Pada hari-hari yang sudah ditentukan, maka orang-orang dari kedua gerombolan itu telah berada di sekitar padepokan. Mereka mengepung padepokan itu dari segala penjuru. Kepungan itu merupakan lingkaran yang rapat sehingga tidak mungkin seorang pun yang dapat lolos.

Demikian orang-orang itu muncul di saat matahari terbit, maka para pengawas di panggungan segera memberikan isyarat bahwa mereka telah melihat pasukan yang kuat telah mengepung padepokan itu.

Beberapa orang pemimpin dari padepokan itu pun kemudian telah naik pula keatas panggungan di sebelah menyebelah regol, termasuk Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan dua orang Senapati dari kedua pasukan Lemah Warah selain beberapa orang pemimpin kelompok dari padukuhan itu.

“Mereka benar-benar datang,” berkata Mahisa Murti.

“Jumlah mereka cukup banyak,” desis Mahisa Pukat.

“Memang cukup banyak,” sahut Mahisa Murti, “tetapi kita dalam kedudukan yang lebih baik. Apalagi kebetulan sekali bahwa sekelompok pasukan Lemah Warah sudah datang untuk menggantikan kedudukan pasukan yang ternyata masih tetap tinggal di sini.”

“Jumlah prajurit Lemah Warah tidak begitu banyak dibanding dengan jumlah mereka,” berkata Senapati yang datang kemudian.

“Tetapi jumlah seluruh isi padepokan ini cukup memadai,” berkata Mahisa Pukat. Lalu, “Seperti yang dikatakan oleh Mahisa Murti, kedudukan kita lebih baik. Kita akan mengurangi jumlah lawan kita pada saat mereka berusaha untuk memasuki padepokan ini.”

Para pemimpin di padepokan itu serta kedua orang Senapati prajurit Lemah Warah mengangguk-angguk. Mereka memang harus memanfaatkan saat-saat yang menguntungkan itu. Karena itu, maka Mahisa Murti pun telah memerintahkan untuk dengan cepat mempersiapkan busur dan anak panah.

“Agaknya mereka belum akan menyerang hari ini,” berkata Mahisa Murti, “menilik susunan pasukan mereka. Tetapi tidak ada salahnya jika kita sudah siap dengan busur dan anak panah itu.”

Sebenarnyalah dalam waktu yang singkat, orang-orang yang sudah diatur sebelumnya untuk menahan arus pasukan lawan dengan busur dan anak panah telah bersiap. Tetapi Mahisa Murti masih belum memerintahkan mereka untuk naik ke panggungan di sebelah menyebelah pintu gerbang dan di sudut-sudut dinding padepokan.

Seperti yang diperhitungkan oleh Mahisa Murti, orang-orang yang mengepung padepokan itu masih belum siap untuk menyerang pada hari itu. Namun mereka agaknya masih ingin melihat dengan lebih pasti, sasaran yang akan mereka kuasai kemudian.

Karena itulah, maka dengan dada tengadah, para pemimpin mereka telah berjalan mengelilingi padepokan itu pada jarak yang cukup dekat, seolah-olah mereka tidak menghiraukan para penjaga yang berada di panggungan. Mereka berjalan dengan langkah yang pasti sambil mengamati dinding padepokan itu.

Sikap itu memang telah menggelitik para penjaga dipadepokan itu. Karena itulah, maka para penjaga itu pun seolah-olah tidak melihat mereka lewat. Bahkan dua orang dengan serta merta telah duduk sambil membelakangi mereka, seolah-olah tidak ada seorang pun yang nampak, apalagi dalam keadaan berbahaya.

Sikap itu memang telah menyinggung perasaan orang-orang yang mengelilingi padepokan itu. Karena itulah maka seorang diantara mereka berteriak, “He, apakah kalian menjadi ketakutan melihat kami lewat.”

Dua orang penjaga itu berpaling. Namun mereka hanya tertawa saja tanpa menjawab teriakan itu.

“Setan,” orang yang lewat itu berteriak pula, “aku bunuh kau besok.”

Seorang diantara penjaga itu justru melambaikan tangannya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Keduanya masih saja tertawa seolah-olah semua yang dihadapi itu sekedar permainan saja.

Orang-orang yang mengelilingi padepokan itu melanjutkan langkah mereka. Beberapa diantara mereka mengumpat. Tetapi yang lain berkata, “Mereka pun merasa tersinggung melihat sikap kita. Seolah-olah kita sedang berjalan di pematang sawah kita untuk melihat-lihat apakah padi sudah cukup tua untuk dipotong.”

Kawan-kawannya tidak menjawab. Namun di luar sadar mereka, maka langkah mereka pun menjadi semakin cepat.

Namun, demikian mereka selesai dengan mengelilingi padepokan itu, maka mereka mulai membicarakan penyerangan yang benar-benar akan mereka lakukan.

Para pemimpin sependapat, bahwa usaha memasuki padepokan itu bukannya satu-satunya jalan lewat pintu gerbang dengan memecahkan pintu gerbang itu.

“Sebagian dari kita harus memasuki padepokan itu dengan meloncati dinding atau memecahkan pintu butulan,” berkata salah seorang diantara para pemimpin dari kedua gerombolan yang akan memasuki padepokan untuk menguasai batu yang berwarna kehijau-hijauan itu.

Dengan demikian, maka para pemimpin padepokan itu pun telah memberikan beberapa petunjuk kepada para pengikutnya, agar mereka mempersiapkan diri untuk memasuki padepokan lewat segala jalan.

“Memang kita akan menugaskan sebagian dari orang-orang kita untuk berusaha memecahkan pintu,” berkata seorang diantara para pemimpin itu, “tetapi, kita harus benar-benar bersiap dengan perlindungan yang baik, karena orang-orang padepokan itu tentu akan menghujani mereka yang berusaha memecahkan pintu gerbang dengan anak panah.”

Nampaknya memang tidak ada perbedaan pendapat antara para pemimpin dari kedua gerombolan itu. Banyak hal yang menurut perhitungan mereka ternyata harus diatasi dengan cara yang sesuai menurut pendapat para pemimpin dari kedua belah pihak.

Namun dalam pada itu, selagi mereka memperbincangkan rencana mereka itu, maka telah dikejutkan kehadiran seorang yang sudah menginjak hari-hari tuanya. Namun masih nampak tegap dan kekar. Rambutnya nampak hitam seperti jambangnya.

Ketiga orang pemimpin dari salah satu gerombolan yang bergabung itu tiba-tiba saja bergumam dengan serta merta, “Guru.”

Orang yang berkumis dan berjambang tebal itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku telah mendengar rencanamu.”

“Silahkan guru,” salah seorang dari ketiga orang muridnya itu mempersilahkan.

Kepada kedua orang pemimpin dari gerombolan yang lain salah seorang dari ketiga murid orang berjambang itu memperkenalkan, “Guru kami. Empu Sepada.”

Kedua orang pemimpin dari gerombolan yang lain itu pun mengangguk. Seorang diantara mereka berkata, “Nama itu sudah pernah kami dengar. Mungkin Empu mengenal pula guru kami.”

“Siapa nama guru kalian?” bertanya Empu Sepada.

“Ki Buyut Bapang,” jawab seorang dari kedua orang itu.

“Ooo,” desis Empu Sepada,” jadi kau adalah murid Ki Buyut Bapang yang terkenal itu? Adalah kebetulan sekali kalian bekerja sama dengan muridku. Aku mengenal Ki Buyut Bapang, meskipun tidak terlalu rapat. Tetapi apakah gurumu tidak akan datang kemari?”

“Kami tidak mohon kepada Ki Buyut Bapang untuk datang,” jawab orang itu.

“Ketiga muridku ini juga tidak minta kepadaku,” berkata Empu Sepada, “tetapi demikian aku mendengar rencananya untuk menguasai batu itu, maka aku telah datang menemuinya.”

“Tetapi agaknya guru tidak datang,” jawab orang itu, “mungkin guru tidak mengetahui rencana kami.”

“Menurut pendapatku, sebaiknya kau panggil gurumu,” berkata Empu Sepada, “persoalan yang kalian hadapi adalah persoalan yang gawat. Jika seseorang mampu memindahkan batu itu, maka orang itu tentu bukan orang kebanyakan. Karena itu kita harus berhati-hati menghadapinya. Aku pun akan memberi peringatan kepada murid-muridku untuk tidak melakukan kesalahan seperti ini. Meskipun ia mempunyai pengikut yang cukup, apalagi bergabung dengan kalian, namun belum tentu kalian akan berhasil.”

“Tetapi kami memerlukan waktu paling sedikit dua hari untuk memanggil guru. Itu pun jika guru bersedia,” jawab salah seorang dari murid Ki Buyut itu.

“Aku tahu, bahwa kedudukan gurumu berbeda dengan kedudukanku. Aku adalah orang yang tidak terikat oleh kewajiban tertentu, sementara gurumu adalah seorang Buyut yang memerintah di satu lingkungan. Tetapi sebaiknya kalian mencoba. Katakan, bahwa Empu Sepada ada di padepokan Suriantal.”

“Dan kita akan kehilangan waktu lagi,” jawab seorang yang lain.

“Tidak apa-apa. Mundur dua atau tiga hari akan lebih baik jika kita mempunyai kepastian daripada kita lakukan hari ini tetapi gagal,” berkata Empu Sepada.

Kedua orang pemimpin gerombolan itu menjadi ragu-ragu. Namun Empu Sepada mendesaknya agar mereka menghubungi guru mereka. Dengan demikian maka mereka akan menjadi yakin, bahwa usaha mereka akan berhasil.

Kedua orang itu memang ragu-ragu. Gurunya adalah seorang Buyut yang memerintah satu lingkungan yang luas. Memang beberapa orang yang ada di dalam gerombolannya adalah orang-orang padukuhan yang termasuk daerah yang dipimpin oleh gurunya. Namun apakah gurunya akan bersedia langsung turun ke medan itulah yang masih dipertanyakan.

Namun Empu Sepada berkata, “Kalian dapat mencoba.”

Akhirnya kedua orang itu setuju. Mereka akan menghubungi gurunya dan minta agar gurunya datang ke padepokan Suriantal untuk mengambil batu yang berwarna kehijauan. Sebenarnyalah bahwa salah seorang yang menganjurkan untuk mengambil batu itu adalah memang gurunya itu.

Demikianlah, di hari berikutnya, sebelum matahari terbit, keduanya telah berangkat menuju ke Kabuyutan Bapang. Mereka harus mencapai Kabuyutan itu hari itu juga meskipun mungkin mereka akan menyelesaikan perjalanan mereka menjelang tengah malam.

Ternyata keduanya tidak menemui hambatan apa pun di perjalanan. Mereka sampai di Kabuyutan Bapang setelah malam turun, meskipun tidak sampai dekat tengah malam. Keduanya seakan-akan tidak beristirahat di perjalanan selain berhenti untuk makan di sebuah kedai dan sejenak duduk-duduk sambil minum minuman hangat.

Ki Buyut Bapang memang terkejut. Ia memang sudah mendengar usaha kedua muridnya untuk menguasai batu yang berwarna kehijauan yang menurut banyak orang, adalah batu yang jatuh dari langit itu.

Kepada gurunya, kedua muridnya berkata langsung tentang pesan Empu Sepada, agar gurunya bersedia hadir di padepokan Suriantal.

Ki Buyut itu tersenyum, Katanya, “Aku tahu. Empu Sepada hanya ingin melakukannya beramai-ramai. Ia dapat berbuat apa saja karena ia tidak mempunyai tanggung jawab sebagaimana tanggung jawabku atas Kabuyutan ini.”

“Tetapi Empu berpesan dengan sangat, agar guru bersedia datang,” berkata muridnya.

“Aku mengenal Empu Sepada,” jawab Ki Buyut, sejenak ia merenung. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan datang. Besok kita pergi bersama. Tetapi aku tidak dapat terlalu lama berada di padepokan Suriantal. Aku harus kembali di tengah-tengah orang Kabuyutan ini agar persoalan Kabuyutan ini dengan orang luar tidak menyulitkan kedudukan Kabuyutan ini.”

Demikianlah, maka Ki Buyut pun telah mempersiapkan dirinya untuk meninggalkan Kabuyutan itu beberapa lama. Malam itu juga dipanggilnya beberapa orang bebahu yang sebagian terbesar adalah orang-orang yang berpikiran sejalan dengan Ki Buyut itu sendiri. Sehingga sebenarnyalah bahwa seisi Kabuyutan itu sebagian besar adalah orang-orang yang mengikuti jejak Ki Buyut. Selain mengerjakan sawah ladang mereka sebagaimana kebiasaan orang-orang lain di lingkungan sebuah Kabuyutan, namun ternyata bahwa Ki Buyut dan terutama murid-muridnya adalah orang yang kadang-kadang melakukan tindakan tercela.

Tetapi karena hal itu dilakukan dengan tertib, maka persoalannya memang tidak banyak diketahui oleh orang lain.

Ternyata Ki Buyut tidak menunda keberangkatannya pada hari-hari berikutnya. Malam itu kedua muridnya diperintahkannya untuk segera beristirahat dan tidur nyenyak. Besok pagi-pagi sekali mereka akan berangkat kembali ke padepokan Suriantal.

Ternyata kedua muridnya adalah orang-orang yang memiliki ketahanan tubuh yang sangat tinggi. Ketika pagi-pagi mereka harus bangun dan berjalan kembali ke padepokan Suriantal, mereka tidak merasa terlalu letih. Mereka berjalan dengan langkah yang tetap sebagaimana mereka menempuh perjalanan sebaliknya sehari sebelumnya.

Seperti yang ditempuh di hari sebelumnya, maka mereka sampai di padepokan Suriantal menjelang tengah malam. Mereka disambut oleh Empu Sepada sebagai kawan yang telah lama tidak bertemu. Terasa kegembiraan di hati kedua orang tua itu. Dalam pembicaraan yang singkat, keduanya telah menemukan kesepakatan. Mereka berdua akan ikut serta memasuki padepokan untuk memastikan, bahwa usaha mereka akan berhasil.

Dalam pada itu, orang-orang padepokan Suriantal yang menjadi gelisah. Ternyata padepokannya yang telah dikepung untuk dua hari itu, masih belum disentuh sama sekali. Para penjaga memang melihat orang-orang yang hilir mudik. Tetapi mereka tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menyerang.

Tetapi Mahisa Murti agaknya melihat satu gejala yang dapat memberinya sedikit arah perhitungan. Dengan ragu ia berkata kepada Mahisa Pukat, “Agaknya masih ada yang mereka tunggu.”

“Maksudmu, saat yang baik atau perhitungan hari?” bertanya Mahisa Pukat.

“Bukan. Tetapi agaknya mereka menunggu satu atau sekelompok orang,” jawab Mahisa Murti, “mereka masih belum yakin bahwa mereka akan berhasil memecahkan padepokan ini.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Perlawanan kita tentu akan sangat berat. Kita harus mampu memanfaatkan saat-saat mereka berusaha memasuki dinding padepokan.”

“Agaknya jumlah busur, anak panah dan lembing cukup banyak untuk menahan mereka dan mengurangi kekuatan mereka,” jawab Mahisa Murti.

“Aku sependapat. Ketrampilan mereka pun nampaknya bertambah-tambah pula. Sementara itu telah disediakan pula obor-obor yang mungkin dapat dipergunakan menahan arus mereka.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi ia masih memperingatkan, “Hati-hatilah dengan obor-obor itu. Api obor itu memang mungkin akan dapat menahan gerak mereka, namun dapat juga menimbulkan niat di hati mereka untuk membakar dinding halaman dan apalagi barak-barak yang ada di padepokan itu.”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita akan mengutamakan penggunaan busur dan anak panah serta lembing-lembing yang sudah dipersiapkan di atas panggungan.”

Sebenarnyalah semua persiapan memang sudah dilakukan. Bahkan orang-orang padepokan itu hampir tidak sabar menunggu.

Tetapi Mahisa Murti berkata, “Kejemuan itu merupakan salah satu diantara senjata yang dipergunakan oleh orang-orang yang mengepung padepokan ini. Mereka memang menunggu agar kita kehabisan kesabaran dan tidak lagi dapat berpikir bening.”

Namun sebenarnyalah orang-orang yang mengepung itu sendiri menjadi hampir tidak sabar menunggu. Mereka sudah terlalu lama berkeliaran di sekitar padepokan itu tanpa berbuat apa-apa.

Demikianlah, akhirnya orang-orang di luar padepokan itu-pun mulai bergerak. Namun bukan seluruh pasukan bergerak memperpadat kepungan, tetapi hanya beberapa orang diantara mereka yang melangkah menuju pintu gerbang.

Para petugas di pintu gerbang pun segera memberikan isyarat kepada Mahisa Murti, Mahisa Pukat, pemimpin padepokan itu dan para Senapati dari Lemah Warah.

Sejenak kemudian mereka telah berdiri di panggungan menunggu kehadiran beberapa orang pemimpin dari gerombolan yang mengepung padepokan itu.

Beberapa langkah dari gerbang, orang-orang itu berhenti, sementara para pemimpin padepokan itu telah siap di panggungan.

“Selamat bertemu Ki Sanak,” berkata orang yang bernama Empu Sepada itu, “perkenankanlah aku memperkenalkan diri. Namaku Empu Sepada, sementara sahabatku ini adalah Ki Buyut dari Bapang. Jika berkenan kami ingin berkenalan dengan pemimpin padepokan itu.”

Pemimpin padepokan itu menjadi ragu. Ia ingin mendorong Mahisa Murti atau Mahisa Pukat untuk mengaku sebagai pemimpin padepokan itu. Namun Mahisa Murti sudah menggamitnya lebih dahulu.

Pemimpin padepokan itu terpaksa bergerak maju dan menjawab, “Akulah pemimpin padepokan ini. Aku terima salam perkenalan Ki Sanak. Tetapi perkenankanlah aku bertanya, apakah artinya tingkah laku Ki Sanak bersama para pengikut Ki Sanak itu.”

Empu Sepada tersenyum. Katanya, “Aku kira kau sudah mengetahuinya. Namun biarlah aku mengucapkannya. “ ia berhenti sejenak, lalu, “Ki Sanak. Kalian telah melanggar hak orang-orang yang mengagumi batu yang berwarna kehijauan itu, karena batu itu telah kalian bawa memasuki padepokan ini.”

“Ooo,” jawab pemimpin padepokan itu, “siapakah yang sebenarnya berhak atas batu itu? Kami atau kalian atau siapa? Karena batu itu sudah bertahun-tahun terletak di situ dan tidak ada orang yang berminat, maka apa salahnya jika kami mengambilnya. Kami memang tidak pernah berbicara tentang hak atas batu itu. Nah, jika kalian menginginkannya, kenapa tidak kalian ambil sebelumnya?”

“Ki Sanak,” berkata Ki Buyut, “batu itu memberikan kesejahteraan kepada lingkungannya. Jika batu itu kau ambil, maka lingkungan ini akan menjadi berubah. Sungai-sungai akan kering dan tanaman-tanaman di sekitarnya akan mati. Daerah ini akan menjadi gersang dan tanah menjadi cengkar.”

“Ooo,” pemimpin padepokan itu menjawab, “apakah begitu? Baiklah kita menunggu. Kita akan membuktikannya bahwa yang kalian katakan itu tidak benar. Batu itu tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Tetapi seandainya demikian, maka alangkah senangnya kami, karena batu itu akan berpengaruh baik bagi padepokan ini.”

“Kau terlalu mementingkan diri sendiri, Ki Sanak,” berkata Empu Sepada, “sebaiknya batu itu kalian serahkan saja kepada kami.”

“Kalian akan mengambil batu itu?” bertanya pemimpin padepokan itu.

Empu Sepada berpaling ke arah Ki Buyut Bapang sejenak. Namun kemudian katanya: “Ki Sanak. Maafkan kami. Tetapi hal ini terpaksa kami katakan karena kami memang tidak mempunyai jalan lain.”

“Tentang apa?” bertanya pemimpin padepokan itu.

“Kami memang menghendaki batu itu. Tetapi kami tidak ingin dengan tergesa-gesa membawanya pergi,” jawab Empu Sepada.

“Kalian titipkan kepada kami?” bertanya pemimpin padepokan itu.

“Juga tidak. Kami ingin batu itu beserta padepokan ini sekaligus. Kami ingin mempersilahkan kalian meninggalkan padepokan ini dan mencari tempat baru. Satu hukuman yang paling ringan yang dapat kami berikan kepada kalian, karena seharusnya kalian mendapat hukuman yang jauh lebih berat,” berkata Empu Sepada.

Pemimpin padepokan itu termangu-mangu. Sejenak ia berpaling kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ketika keduanya mengangguk kecil maka pemimpin padepokan itu pun berkata, “Ki Sanak. Kau tidak berhak menghukum kami. Seandainya kami berbuat salah dengan menyingkirkan batu itu, biarlah Akuwu Lemah Warah atau Sri Baginda di Kediri atau bahkan Sri Maharaja di Singasari menghukumku. Tetapi bukan kau.”

“Persetan,” Empu Sepada menjadi marah, “jadi kalian telah mengecilkan arti Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang?” geram Empu Sepada.

“Daerah ini bukan daerah Kabuyutan Bapang. Karena itu, maka aku tidak tunduk kepada Kabuyutan Bapang. Sementara Ki Buyut yang memiliki lingkungan ini sebagai daerahnya tidak mempersoalkannya,” jawab pemimpin padepokan itu.

Kedua orang pemimpin itu benar-benar menjadi marah. Dengan suara lantang Ki Buyut berkata, “Aku adalah Buyut di Bapang. Sudah terbiasa perintahku dilaksanakan oleh siapa pun juga. Tidak peduli apakah ia orang dari daerah Kabuyutan Bapang atau bukan. Karena itu, maka lakukan perintahku. Keluar dari padepokan ini atau kami akan memaksa kalian keluar.”

Jantung pemimpin padepokan itu memang menjadi berdenyut semakin cepat. Namun kemudian jawabnya memang menyakitkan hati Ki Buyut dan Empu Sepada, katanya, “Nah, kenapa kau tidak berkata begitu sejak semula. Sebenarnya kalian tidak usah berputar-putar. Aku sudah tahu bahwa pasukan kalian sudah siap dan pasukanku pun sudah siap sejak tiga hari yang lalu. Karena itu, marilah, datanglah mendekat. Kalian akan kami hancurkan di pintu gerbang ini.”

Ki Buyut Bapang menggeram. Dengan nada berat ia berkata, “Bagus. Aku hancurkan kalian. Padepokan ini akan kami miliki dengan memusnahkan kalian semuanya.”

“Marilah Ki Sanak. Kami sudah jemu menunggu,” geram pemimpin padepokan itu pula.

Ki Buyut itu pun kemudian mengumpat kasar. Bersama Empu Sepada mereka segera meninggalkan gerbang padepokan itu.

Hari itu mereka telah menyiapkan seluruh pasukan mereka yang ada. Jumlah mereka memang lebih banyak dari jumlah isi padepokan itu. Dengan demikian maka mereka yakin akan dapat menghancurkan isi padepokan itu.

Tetapi hari itu mereka masih belum menyerang. Pasukan yang mengepung padepokan itu masih mempunyai kesempatan untuk beristirahat semalam suntuk. Besok pagi-pagi mereka akan benar-benar menyerang dan menghancurkan padepokan itu.

Namun orang-orang di padepokan itu pun telah mempersiapkan diri. Busur dan anak panah serta lembing telah disiapkan. Mereka tidak perlu menghematnya jika pasukan itu datang. Mereka mempunyai persediaan cukup banyak dan sudah terletak di panggungan-panggungan di sekeliling halaman padepokan itu. Bukan hanya di sebelah menyebelah pintu gerbang.

Di malam hari, penjagaan memang ditingkatkan. Tetapi kedua belah pihak memberi kesempatan kepada pasukan masing-masing untuk beristirahat sebanyak-banyaknya, agar besok mereka dapat turun ke medan dengan kekuatan penuh dan tidak mudah menjadi letih seandainya mereka harus bertempur sehari penuh.

Menjelang dini hari, maka mereka yang bertugas untuk menyediakan makan dan minum telah dahulu bangun dan menyalakan perapian, makanan dan minuman itu harus siap sebelum matahari terbit, karena pada saat matahari terbit pasukan dari kedua belah pihak tentu sudah bergerak.

Sebenarnyalah, demikian pasukan di dalam padepokan itu selesai, maka mereka telah mendengar suara isyarat dari pasukan yang berada di sekitar padepokan itu. Karena itu, maka mereka pun harus segera mempersiapkan diri.

Para pemimpin kelompok segera dikumpulkan. Mahisa Murti masih memberikan beberapa pesan. Demikian juga para Senapati dari Lemah Warah telah menjatuhkan beberapa macam perintah kepada para pemimpin kelompok. Meskipun jumlah mereka hanya sedikit, tetapi mereka harus menunjukkan sikap sebagai prajurit Lemah Warah meskipun mereka tidak perlu menunjukkan diri sebagai seorang prajurit.

Sementara itu, ketika terdengar isyarat yang kedua di luar padepokan, maka para pemimpin kelompok itu pun diperintahkan untuk segera kembali ke pasukan masing-masing.

Sejenak kemudian, maka para pemimpin kelompok itu telah membawa pasukan masing-masing ke tempat yang sudah ditentukan. Sementara itu para penjaga pun telah memberikan isyarat, bahwa pasukan lawan telah mulai bergerak.

Tetapi pada saatnya, maka para prajurit dan isi padepokan itu pun telah berada di atas panggungan, sementara itu sekelompok prajurit yang lain tetap berada di halaman, karena mereka harus menyambut pasukan yang mungkin akan menyusup masuk setelah mereka berhasil memecahkan pintu regol.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sudah memperhitungkan, bahwa Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang itu akan dapat memecahkan pintu padepokan itu meskipun pintu itu sudah diperbaiki dan diperkuat. Selarak pintu itu pun telah diperbaharui dan beberapa batang untuk penahan desakan dari luar. Tetapi kedua orang pemimpin itu tentu akan memecahkan pintu itu dengan cara mereka sendiri.

Sejenak kemudian, maka orang-orang yang mengepung padepokan itu telah bergerak merapat. Semakin lama mereka menjadi semakin dekat dengan dinding padepokan.

Ternyata orang-orang itu pun telah memperhitungkan bahwa mereka tentu akan diserang oleh orang-orang padepokan itu dengan anak panah dan lembing.

Karena itu, maka sebagian di antara mereka pun telah mempersiapkan perisai secukupnya, terutama yang berada di paling depan.

Demikianlah, ketika jarak orang-orang itu menjadi semakin dekat dengan jarak jangkau anak panah, maka orang-orang padepokan itu pun telah menyiapkan busur dan anak panah mereka.

Seperti yang diperhitungkan oleh orang-orang yang mendekati padepokan itu, maka sejenak kemudian, maka anak panah pun mulai berhamburan.

Orang-orang yang mendekat itu telah melindungi diri mereka dengan perisai. Namun ternyata bahwa orang-orang padepokan itu mempunyai cara tersendiri. Mereka melontarkan anak panah tinggi-tinggi, sehingga anak panah itu seolah-olah meluncur dari langit. Dengan demikian mereka telah mengangkat perisai mereka hampir di atas kepala.

Namun ternyata bahwa padepokan itu telah menyiapkan pembidik-pembidik terbaik. Mereka mempergunakan busur dan anak panah yang khusus. Dengan bidikan yang mapan dan terarah, maka mereka telah menusuk dada orang-orang yang mendekat itu langsung menyentuh jantung.

Dengan demikian, maka serangan anak panah oleh orang-orang padepokan itu bukan sekedar untuk menahan gerak maju. Tetapi satu-satu korban telah jatuh diantara mereka yang telah menyerang itu.

Para pemimpin kelompok dari dua gerombolan yang menyerang padepokan itu mengumpat. Tetapi sebenarnyalah orang-orang padepokan itu telah mempergunakan cara yang sulit untuk diatasi. Jika mereka melindungi diri dari sasaran bidikan yang lurus dari para pembidik, maka anak panah yang bagaikan hujan itu tidak kurang berbahayanya. Seorang diantara mereka yang dipatuk ubun-ubunnya, ternyata tidak mampu melanjutkan langkahnya sampai ke dinding padepokan sebagaimana mereka yang tertusuk jantungnya.

Orang-orang padepokan itu telah menebarkan anak panah semakin banyak. Anak panah yang telah memungut korban bukan hanya satu dua.

Namun pasukan lawan itu tidak menghentikan gerak mereka. Mereka maju terus dengan meninggalkan korban yang telah jatuh.

Namun ketika mereka menjadi semakin dekat, bukan saja anak panah yang menghujan dari langit. Tetapi lembing-lembing pun mulai dilontarkan. Lembing yang terbuat dari pring cendani berujung bedor besi. Memang sederhana. Tetapi jika mengenai sasaran, maka yang dikenai lembing itu pun akan mati.

Tetapi orang-orang yang mengepung padepokan itu tidak menjadi gentar. Mereka yang tidak membawa perisai berusaha menangkis setiap anak panah dan lembing yang mengarah ke tubuhnya. Tetapi usaha itu tidak selalu berhasil, sehingga semakin lama maka mereka pun menjadi semakin berkurang.

Tetapi yang jatuh di tengah usaha mendekati dinding padepokan itu memang tidak terhitung banyak. Kekuatan mereka rasa-rasanya masih tetap utuh. Sehingga karena itu, maka mereka sama sekali tidak merasa cemas bahwa usaha mereka tidak akan berhasil.

Bahkan yang terjadi itu telah menumbuhkan dendam di hati. Orang-orang itu seakan-akan telah berjanji di dalam diri, bahwa jika mereka nanti memasuki padepokan itu, maka setiap orang akan dibantainya, sehingga orang yang terakhir.

“Aku tidak peduli,” geram seorang pemimpin kelompok, “dua orang di kelompokku telah terbunuh hampir bersamaan ketika ujung anak panah menembus dadanya.”

Dengan demikian maka kepungan itu semakin lama menjadi semakin rapat. Pasukan induk yang dipimpin langsung oleh Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang telah mendekati pintu gerbang. Seperti di tempat-tempat lain, maka perlawanan para penghuni padepokan itu pun telah menghambat gerak maju mereka. Korban pun telah jatuh pula satu-satu diantara mereka yang mendekati pintu gerbang itu.

Namun ternyata hal itu membuat Empu Sepada marah. Demikian pula Ki Buyut Bapang. Ketika anak panah itu masih saja menghujani orang-orangnya, maka Empu Sepada itu pun telah mengetrapkan ilmunya untuk melindungi orang-orangnya.

Sejenak ia bagaikan membeku. Namun kemudian, tiba-tiba saja ia telah mengangkat kedua tangannya merentang ke samping. Dengan gerak yang khusus, maka ia telah memutar tangannya dan kemudian menjulurkan kedua tangannya lurus ke depan.

Ternyata kekuatan yang besar telah berhembus dari telapak tangannya yang menghadap ke arah pasukan dari padepokan yang melontarkan anak panah mereka. Dengan kekuatan angin, maka Empu Sepada itu menyapu anak panah dan lembing sehingga terhembus dan terlempar jauh dari sasaran.

“Luar biasa,” geram pemimpin padepokan itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengerutkan keningnya. Ternyata lawannya telah mempergunakan ilmunya yang tinggi. Karena itu, maka kedua orang anak muda itu pun telah bersiap-siap untuk berbuat yang sama jika diperlukan.

Dalam pada itu, selagi Empu Sepada menyapu serangan anak panah yang tertuju kepada pasukannya, maka Ki Buyut Bapang lebih memperhatikan pintu gerbang padepokan itu sebagai sasaran.

Pada saat-saat anak panah dan lembing terhembus oleh kekuatan ilmu Empu Sepada, maka Ki Buyut tiba-tiba saja telah menghentakkan pula kekuatannya. Dengan cepat ia meloncat ke pintu gerbang itu. Tangannya yang sudah mulai berkeriput itu terayun dengan derasnya. Kemudian menghantam daun pintu gerbang yang tertutup diselarak itu.

Yang terdengar adalah derak yang keras sekali. Selarak yang besar itu pun tiba-tiba telah retak. Karena itu, ketika Ki Buyut mengulangi lagi ayunan tangannya, maka selarak itu pun benar-benar telah patah. Demikian pula congkok-congkok kayu yang sekedar untuk menambah kekuatan selarak yang telah patah itu.

Pada hantaman yang ketiga, maka pintu gerbang itu berderak dan bukan saja terbuka, tetapi beberapa lembar papan pintunya telah berpatahan dan terlepas.

Dengan demikian, maka pintu gerbang itu pun telah terbuka. Sementara itu, Mahisa Pukat pun telah meloncat turun dari panggungan di sisi pintu gerbang itu. Jika Ki Buyut langsung memasuki arena dengan ilmu puncaknya itu, maka Mahisa Pukat tidak akan tinggal diam.

Namun ternyata yang menghambur masuk ke dalam padepokan adalah justru orang-orangnya. Mereka berdesakan memasuki pintu gerbang tanpa menghiraukan, apa yang ada di dalam pintu gerbang itu.

Ternyata demikian mereka menghambur, maka telah menghambur pula anak panah dan lembing yang dilontarkan oleh para prajurit Lemah Warah yang memang sudah menunggu.

Orang-orang itu memang terkejut. Namun segalanya telah terjadi. Beberapa orang langsung jatuh tersungkur. Mati. Bahkan terinjak oleh mereka yang ada di belakangnya, yang terdorong pula oleh orang-orang yang tidak sabar lagi menunggu di luar.

Beberapa orang yang berperisai segera mengambil alih medan. Mereka menyibak kawan-kawannya dan berdiri di paling depan. Sehingga dengan demikian, maka korban pun dapat dikurangi.

Dalam pada itu, mereka yang berdiri di panggungan pun tidak tinggal diam. Ketika pintu pecah, dan gelombang orang-orang yang mengepung padepokan itu meluncur masuk, maka mereka pun telah melempari mereka dengan lembing. Sementara itu, serangan anak panah yang mereka lontarkan keluar, bagaikan telah dihembus angin karena kekuatan ilmu Empu Sepada.

Namun ketika kedua pasukan itu kemudian berbenturan, maka Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang, tidak dapat lagi mempergunakan ilmunya begitu saja. Kedua pasukan telah bertempur dalam perang brubuh, sehingga keduanya harus berhati-hati agar bukan justru menyambar para pengikut mereka sendiri.

Sementara itu, pecahnya pintu gerbang, nampaknya juga mempengaruhi pasukan yang mengepung padepokan itu. Ketika mereka menyadari bahwa sebagian dari kawan-kawan mereka telah memasuki padepokan lewat pintu gerbang, maka mereka pun justru telah kehilangan perhitungan. Mereka ingin dengan cepat memasuki pula padepokan itu. Karena itu, maka mereka pun telah mendesak maju dengan cepat tanpa menghiraukan tubuh-tubuh yang kemudian tersungkur jatuh di tanah.

Orang-orang padepokan telah memanfaatkan keadaan sebaik-baiknya. Ternyata seperti yang diperhitungkan, untuk memasuki padepokan itu memang harus ditaburkan korban yang tidak sedikit jumlahnya.

Namun demikian, betapa banyak korban jatuh, akhirnya orang-orang itu berhasil memanjat dinding padepokan dan meloncat-masuk.

Seperti yang diperintahkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta petunjuk dari para Senapati dan prajurit Lemah Warah, maka jika orang-orang yang mengepung padepokan itu mulai memanjat naik, maka para pengawal harus segera berloncatan turun dan menarik diri. Karena demikian orang pertama dari mereka yang mengepung itu meloncat turun, maka orang-orang padepokan yang sudah dipersiapkan akan menyerang mereka dengan anak panah dan lembing.

Namun demikian, sejenak kemudian pertempuran pun telah terjadi di seluruh sudut padepokan. Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, maka pertempuran itu pun menjadi semakin seru.

Meskipun orang-orang padepokan itu berhasil mengurangi jumlah lawan cukup banyak, namun jumlah mereka tetap lebih banyak dari orang-orang padepokan itu.

Namun di dalam padepokan itu terdapat prajurit Lemah Warah yang tangguh tanggon. Prajurit yang telah ditempa bukan saja oleh latihan-latihan yang berat, tetapi juga oleh pengalaman yang cukup luas, sehingga dengan demikian maka prajurit Lemah Warah benar-benar merupakan prajurit yang pilih tanding.

Karena itu, ketika terjadi benturan kekuatan, orang-orang yang menyerang padepokan itu terkejut. Mereka ternyata membentur sekelompok orang yang memiliki ilmu yang mapan serta kerja sama yang tertib.

Untuk beberapa saat, Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang hanya menyaksikan saja pertempuran yang terjadi. Mereka yang merasa bahwa jumlah orang-orangnya lebih banyak, akan mampu dengan cepat menguasai padepokan itu.

Namun ternyata bahwa yang terjadi agak berbeda dengan perhitungan itu. Ternyata tidak terlalu mudah untuk menguasai padepokan itu. Ada kekuatan yang sulit untuk ditembus oleh orang-orang mereka.

Tetapi Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang adalah dua orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Itulah sebabnya maka mereka-pun segera mengetahui, menilik sikap dan cara mereka bertempur, bahwa sebagian dari isi padepokan itu adalah prajurit.

Karena itu, maka Empu Sepada pun tiba-tiba telah berteriak, “Hati-hatilah. Ternyata kalian telah dijebak oleh sekelompok prajurit. Tetapi agaknya mereka tidak sempat minta bantuan, sehingga jumlah mereka tidak begitu banyak.”

Meskipun tidak begitu banyak, namun ternyata para pengikut Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang harus berjuang dengan sekuat kemampuan mereka untuk dapat menekan orang-orang padepokan itu.

Tetapi orang-orang padepokan itu bertempur seperti banteng ketaton. Mereka telah berjuang dengan segenap kemampuan mereka untuk mempertahankan padepokan itu. Apalagi mereka telah berusaha untuk waktu yang meskipun terbatas, namun dengan langkah-langkah mapan meningkatkan ilmu mereka dalam olah kanuragan. Itulah sebabnya meskipun jumlah mereka lebih kecil, tetapi mereka mampu bertahan.

Dengan demikian maka pertempuran pun berlangsung dengan sengitnya. Meskipun jumlahnya tidak seimbang, tetapi ternyata orang-orang yang menyerang padepokan itu tidak mampu dengan serta merta menghancurkan penghuninya sebagaimana mereka inginkan. Mereka tidak dapat dengan serta merta membantai isi padepokan itu untuk membalaskan dendam sakit hati atas kematian kawan-kawan mereka pada saat mereka menyerang dan berusaha memasuki padepokan itu.

Bahkan yang terjadi, korban pun telah bertambah-tambah. Semakin lama semakin banyak.

Namun bukan berarti bahwa penghuni padepokan itu tidak memberikan pengorbanan pula. Orang-orang padepokan itu, bahkan prajurit Lemah Warah pun satu demi satu gugur dan jatuh di tanah setelah berjuang dengan segenap kemampuan mereka mempertahankan padepokan itu dari ketamakan para pengikut Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang.

Demikianlah pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Ternyata bahwa kemampuan orang-orang padepokan itu, apalagi para prajurit Lemah Warah, berada di atas kemampuan para pengikut Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang.

Karena itu, maka korban pun jatuh lebih banyak dari para penyerangnya daripada mereka yang mempertahankan. Apalagi jika dihitung sejak mereka mendekati dinding padepokan.

Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi gelisah. Ternyata yang terjadi itu tidak seperti yang diduganya. Keduanya menyangka bahwa dalam waktu dekat mereka akan segera menguasai padepokan itu. Membunuh orang-orang yang melawan dan kemudian pada saatnya mengambil batu yang kehijauan itu.

Namun ternyata rencana itu tidak mudah dilakukan. Orang-orangnya telah tertahan oleh kemampuan para penghuni padepokan itu meskipun jumlah mereka lebih sedikit. Karena itu, setiap kali keduanya memperingatkan orang-orangnya, bahwa mereka memang harus berhati-hati memilih lawan, karena di antara mereka terdapat beberapa orang prajurit.

“Kalian harus melawan setiap prajurit berpasangan,” berkata Empu Sepada.

Namun ternyata bahwa mereka pun harus melawan setiap orang yang bukan prajurit juga berpasangan.

Karena itulah, maka Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang telah bersepakat untuk ikut langsung dalam pertempuran itu. Dengan suara lantang Ki Buyut berkata, “Bukan salahku jika akan terjadi kematian yang tidak terhitung. Kalian telah memaksa aku untuk terjun ke medan. Karena itu maka yang akan terjadi adalah pembantaian sebagaimana aku membabat batang ilalang.”

Orang-orang padepokan itu menjadi berdebar-debar. Apalagi mereka yang mengetahui bahwa Ki Buyut itu telah mampu memecahkan pintu gerbang padepokan itu, sementara Empu Sepada mampu menyapu serangan anak panah seperti angin menyapu dedaunan kering.

Namun ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mau terlambat. Jika mereka membiarkan kedua orang berilmu tinggi itu bertindak atas para penghuni padepokan itu, maka yang terjadi tentu benar-benar sebagaimana dikatakan. Isi padepokan itu akan dibabatnya habis dengan ilmu mereka yang tinggi.

Karena itu, ketika Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang siap untuk bertindak lebih jauh, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendekati mereka.

Dengan lantang pula Mahisa Murti bertanya, “Apa yang akan kalian lakukan Ki Sanak?”

Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang berpaling kepada kedua orang anak muda itu. Keduanya tidak terlibat dalam pertempuran yang semakin sengit itu. Bahkan dengan sengaja mendatanginya.

“Apa yang akan kalian lakukan anak-anak muda,” bertanya Empu Sepada.

Mahisa Murti lah yang menjawab, “Ki Sanak. Kami tidak akan dapat membiarkan kalian membantai isi padepokan ini tanpa berbuat sesuatu.”

Ki Buyut lah yang kemudian mengangguk-angguk sambil berkata, “Agaknya kalianlah yang dikatakan sebagai anak-anak muda yang mengagumkan, yang memimpin pengambilan batu itu dari tempatnya dan membawanya kemari. Dengan demikian, maka dapat dipastikan bahwa kalian adalah anak-anak muda yang merasa berilmu tinggi dan mampu menghadapi kami. Memang mungkin kalian adalah anak-anak muda yang kebal bisa, bahkan mampu melepaskan diri dari kutuk batu kehijauan itu atas tingkah laku kalian. Namun ketahuilah, bahwa kedatangan kami termasuk dari rangkaian kutuk itu sendiri. Kalian akan mati.”

“Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti, “apapun yang kau, katakan. Tetapi kami berdua berniat mencegah kalian ikut melibatkan diri secara langsung dalam arena pertempuran ini. Kalian telah menunjukkan betapa tinggi ilmu kalian dengan menghembus anak panah yang menghujani para pengikut kalian seperti menghembus lembaran-lembaran kapuk randu. Sementara itu, pintu gerbang itu telah kalian pecahkan seperti mencabik selembar daun pisang. Karena itu jika kalian melibatkan diri, maka akibatnya dapat dibayangkan bagi seisi padepokan ini.”

“Aku mengerti,” berkata Empu Sepada, “kalian akan berusaha menghadapi kami. Sayang, kalian terlalu merasa diri kalian besar hanya kalian berhasil memindahkan batu itu.”

“Apa salahnya jika kami mencobanya. Murid-murid kalian telah mendapat lawannya masing-masing. Meskipun ada di-antara para penghuni padepokan ini harus bertempur berpasangan. Tetapi ternyata para pengikutmu yang lain sama sekali tidak berarti apa-apa di sini. Kesalahan dan tanggung jawab atas kematian yang tidak terhitung ini terletak pada kalian berdua.” berkata Mahisa Pukat.

Empu Sepada menggeram. Katanya, “Baiklah. Jika demikian, maka kalian berdualah yang memang harus dimusnahkan lebih dahulu, maka baru kemudian menunjukkan bangkai kalian kepada isi padepokan ini. Apakah mereka akan bertempur terus atau akan menyerah.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah melangkah saling menjauhi. Mereka telah bersiap menghadapi kedua orang yang berilmu tinggi itu. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang telah mengamati pertempuran di seluruh arena itu, menganggap bahwa seisi padepokan bersama dengan dua kelompok prajurit Lemah Warah akan mampu mengatasi para pengikut kedua orang berilmu tinggi itu.

Demikianlah sejenak kemudian Mahisa Murti telah berdiri berhadapan dengan Empu Sepada, sedangkan Mahisa Pukat bersiap untuk melawan Ki Buyut Bapang.

Diantara perang yang menelan semua sudut padepokan itu, Empu Sepada dan Mahisa Murti telah bersiap untuk bertempur. Sementara itu Mahisa Pukat pun telah bergeser untuk mengambil tempat yang memadai.

Di tengah-tengah padepokan itu, sekelompok prajurit Lemah Warah dan beberapa orang padepokan itu tengah bertempur dengan gigihnya dan di sekitar batu yang berwarna kehijauan itu.

Namun dalam pada itu, karena jumlah orang-orang yang menyerang padepokan itu jumlahnya lebih banyak, maka beberapa orang di antara mereka sempat menyusup dan dengan sengaja merusak pagar di seputar batu yang berwarna kehijauan itu. Pagar itu memang bukan pagar yang terlalu kuat, sehingga dengan mudah mereka merusak pagar itu.

Beberapa orang tanpa menghiraukan apa pun juga, telah menghambur berlari mendekat dan dengan jantung berdebaran mereka telah meraba batu yang berwarna kehijauan itu. Batu yang menjadi rebutan dari beberapa pihak.

Namun tiba-tiba terdengar dua orang yang meraba batu itu memekik keras-keras. Mereka dengan serta merta telah berlari seperti orang gila. Namun beberapa saat kemudian, mereka pun telah terjatuh dan berguling-guling sambil berteriak-teriak.

Para prajurit Lemah Warah dan penghuni padepokan itu segera mengetahui, bahwa kedua orang itu telah disengat oleh binatang-binatang yang berbisa tajam yang ada di sela-sela retak batu-batu itu. Meskipun sebagian telah berjatuhan ketika batu itu diseret dengan sepuluh ekor kerbau, tetapi yang tersembunyi di celah-celah retak batu itu masih tetap berpegangan erat-erat. Jumlahnya masih tetap menegakkan bulu tengkuk.

Beberapa orang dengan tergesa-gesa telah berlari-lari ke arah kedua orang yang terjatuh itu. Namun ketika mereka sedang berusaha untuk melihat apa yang terjadi, seorang di antara mereka telah menjerit pula. Ternyata beberapa ekor binatang berbisa itu telah melekat di tangan kedua orang itu. Orang ketiga yang meraba tubuh mereka, telah disengat pula oleh binatang yang melekat di tangan kedua orang itu.

Yang lain pun segera bangkit dan bergeser surut menjauhi kawan kawannya yang kemudian menjadi pingsan. Namun agaknya memang tidak ada kesempatan pada mereka untuk tetap hidup setelah mereka menjadi korban bisa binatang berbisa di batu yang kehijauan itu.

Sementara itu pertempuran pun masih berlangsung dengan sengitnya. Korban masih tetap berjatuhan seorang demi seorang. Semakin lama semakin banyak dari kedua belah pihak.

Empu Sepada yang berhadapan dengan Mahisa Murti telah mulai bergeser mendekat. Dengan nada dalam ia berkata, “Sayang, bahwa kau harus mati muda.”

“Bukan. Yang lebih tualah yang sepatutnya mati lebih dahulu. Jangan menyesal,” jawab Mahisa Murti.

Empu Sepada menggeram. Ia pun segera meloncat menyerang Mahisa Murti. Namun Mahisa Murti cepat mengelak, justru lebih cepat dari serangan Empu Sepada.

Empu Sepada menggeram. Tetapi ia tidak melepaskan sasarannya. Ketika Mahisa Murti bergeser mengelak, maka Empu Se-pada pun telah memburunya. Serangannya datang beruntun dengan derasnya, lebih cepat dari serangannya sebelumnya.

Tetapi Mahisa Murti pun dengan kecepatan yang lebih tinggi pula telah mengelak dan dengan demikian maka serangan-serangan itu pun sama sekali tidak mengenai sasaran. Bahkan ketika Empu Sepada siap untuk meloncat menyerangnya pula, Mahisa Murti telah mendahuluinya. Serangannya datang bertumpu pada satu kakinya, sementara kakinya yang lain berputar mendatar, menyongsong lawannya.

Tetapi Empu Sepada pun tanggap akan serangan lawannya. Ia pun segera menggeliat sehingga tubuhnya bagaikan melenting ke samping. Dengan demikian, maka serangan Mahisa Murti itu pun luput dari sasarannya.

Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin cepat. Kedua belah pihak telah meningkatkan tenaga cadangan di dalam tubuh mereka, sehingga mereka seakan-akan menjadi lebih cepat dan lebih kuat bergerak.

Sementara itu, Ki Buyut Bapang pun menjadi marah mengalami perlawanan yang keras dari Mahisa Pukat. Adalah di luar dugaannya, bahwa anak muda itu ternyata memiliki ilmu kanuragan yang mampu mengimbanginya.

Namun Ki Buyut yang marah itu pun kemudian menggeram, “Anak muda yang tidak tahu diri. Kau sangka kau benar-benar akan mampu mengimbangi aku he? Jika aku mulai merambah pada ilmuku yang sebenarnya, maka kau akan menyesal, bahwa kau akan mengalami kesulitan yang tidak teratasi lagi.”

“Jangan banyak bicara Ki Buyut tua,” geram Mahisa Pukat, “lakukan semuanya itu jika kau mampu.”

“Persetan,” geram Ki Buyut.

Sebenarnyalah Ki Buyut menjadi sangat marah. Ketika usahanya untuk menyerang Mahisa Pukat dengan tenaga wadagnya, meskipun didorong oleh kekuatan tenaga cadangannya tidak berhasil, maka ia benar-benar mulai merambah pada ilmunya. Ilmunya yang tinggi. Mahisa Pukat yang melihat sikap Ki Buyut menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa Ki Buyut Bapang itu mulai mengetrapkan ilmunya yang nggegirisi. Dengan ilmu itu pula ia dapat memecahkan pintu gerbang.

Itulah sebabnya, maka segala-galanya telah berubah. Sikap dan tingkah laku Ki Buyut pun seakan-akan berubah pula. Semuanya telah terjadi dengan sangat cepat. Tubuh Ki Buyut itu seakan-akan menjadi sangat berat, tetapi loncatan-loncatannya bagaikan tanpa bobot.

Mahisa Pukat yang melihat perubahan itu pun menjadi semakin berhati-hati. la sadar, bahwa Ki Buyut telah mengetrapkan ilmunya. Namun yang masih belum diketahui dengan pasti oleh Mahisa Pukat. Tetapi satu hal yang pasti, bahwa ilmu itu adalah ilmu yang luar biasa, yang mampu memecahkan pintu gerbang padepokan itu.

Beberapa saat kemudian, maka keduanya bertempur semakin sengit. Mahisa Pukat yang berhati-hati berusaha untuk mengatasi kesulitan yang mungkin timbul, dengan kecepatan geraknya.

Meskipun loncatan-loncatan kaki lawannya kadang-kadang mengejutkan, namun Mahisa Pukat masih mampu mengatasinya.

Dengan demikian maka pertempuran diantara mereka menjadi semakin cepat. Sementara itu, serangan-serangan Ki Buyut nampak semakin berbahaya.

Namun bukan berarti bahwa Mahisa Pukat tidak mendapat kesempatan. Ia pun dengan alas kecepatan geraknya, telah membalas menyerang pula. Ketika kesempatan itu didapatnya, maka ia pun telah melenting dengan kaki terjulur lurus. Dengan kekuatan yang sangat besar ia telah menghantam lawannya mengenai lambung.

Tetapi Mahisa Pukat terkejut sekali. Meskipun orang itu terdorong beberapa langkah ke samping, tetapi Mahisa Pukat sendiri telah mental beberapa langkah pula. Bahkan hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Untunglah dengan cepat ia menguasai dirinya kembali dan berdiri tegak menyambut kemungkinan yang akan datang.

Namun satu hal yang membuatnya menjadi berdebar-debar menghadapi lawannya. Kakinya yang menyentuh lambung itu justru menjadi sakit. Rasa-rasanya kakinya telah menghantam sebongkah baja.

“Apa yang terjadi?” bertanya Mahisa Pukat didalam hatinya.

(Bersambung ke Jilid 42).

oooOOOooo

(Bersambung ke Jilid ..)

Koleksi: Ki Ismoyo
Scanning: Ki Arema
Convert&Editing: Ki Raharga
Recheck: Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s