hlhlp-115


<<kembali | lanjut >>

KI BEKEL PUN kemudian telah memberi isyarat kepada para bebahu untuk melaksanakan perintahnya. Bahkan katanya kemudian, “Jika mereka melawan, buat mereka menjadi jera.’

“Kau tidak akan dapat bertindak apa-apa Ki Bekel. Orang-orangmu akan bangkit menentangmu.” sahut Mahisa Murti.

Tetapi Ki Bekel berteriak, “Siapa yang berani menentang aku, penguasa di padukuhan ini? Siapa?”

Ternyata sikap dan suara Ki Bekel benar-benar berpengaruh. Orang-orang yang semula telah nampak bangkit dan mendapatkan keberanian untuk menentukan sikapnya, tiba-tiba sudah berubah. Mereka justru terdiam dan berdiri seperti patung.

“He, kenapa kalian diam saja?” bertanya Mahisa Murti, “tunjukkan bahwa kalian sekarang sudah bersikap.”

Tetapi Ki Bekel berteriak, “Siapa yang ingin mati lebih dahulu?”

Tidak seorang pun yang berani bergerak. Bahkan ujung jari kakinya sekalipun.

Ki Bekel pun tertawa berkepanjangan. Katanya kepada pemilik kedai itu, “Nah, bukankah ketenangan kedaimu tidak akan diganggu oleh orang-orang itu?”

“Ya Ki Bekel” jawab pemilik kedai itu.

“Nah, sekarang, apa yang akan kau lakukan atas orang itu” bertanya Ki Bekel.

“Orang itu harus menjadi jera.” jawab pemilik kedai itu.

“Lakukan. Aku akan menungguimu. Jika orang itu mencoba untuk melawan, maka serahkan orang itu kepadaku.” berkata Ki Bekel kepada pemilik kedai itu.

“Serahkan kepadaku” geram pembuat tuak itu, “punggungku rasa-rasanya sudah dipatahkan oleh anak muda itu aku akan membalas, tetapi terhadap orang yang bertanggung jawab ini.”

Wajah-wajah pun menjadi tegang. Orang yang punggungnya bagaikan patah itu, sempat menyuruh seseorang, “Ambil cemeti kuda itu.”

Orang yang diperintahkan untuk mengambil cemeti kuda itu termangu-mangu. Ia tidak melihat cemeti yang dimaksudkan. Namun pembuat tuak itu berteriak, “Ambil itu, di sudut kedai.”

Barulah orang itu mengerti. Yang dimaksud cemeti kuda adalah sepotong bambu yang disandarkan di sudut kedai itu.

Dengan tanpa membantah lagi, maka orang itu pun telah melangkah ke sudut kedai itu untuk mengambil sepotong bambu yang panjangnya hampir sepanjang tubuhnya sendiri.

Dalam pada itu Mahisa Murti pun menjadi tegang. Ia menjadi bimbang, apakah sebaiknya dilakukan terhadap Ki Bekel dan beberapa orang bebahu itu. Mahisa Murti sama sekali tidak menjadi ketakutan untuk melawan mereka, tetapi apakah ia harus menundukkan mereka dengan kekerasan? Yang dipikirkan oleh Mahisa Murti justru orang-orang yang semula telah menyatakan tekadnya, namun dihadapan Ki Bekel mereka tidak berani berbuat sesuatu.

“Jangan-jangan Ki Bekel akan menumpahkan dendamnya kepada mereka.” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya.

Namun tiba-tiba Mahisa Murti mengerutkan dahinya. Agaknya lebih baik baginya apabila ia menakut-nakuti bukan saja pemilik kedai dan pembuat tuak itu. Tetapi juga Ki Bekel dan para bebahu, sehingga mereka tidak akan berbuat sesuatu yang dapat membuat orang-orang yang sudah terlanjur menyatakan sikapnya itu mengalami kesulitan di kemudian hari.

Karena itu, maka tiba-tiba saja Mahisa Murti pun berteriak kepada orang yang mengambil sepotong bambu itu, “He, kau yang akan mengambil cemeti kuda. Berhenti di tempatmu.”

Orang itu terkejut. Ia memang berhenti beberapa langkah dari sudut kedai itu.

“Jangan mengambil bambu itu.” berkata Mahisa Murti kemudian dengan nada tinggi.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang yang membuat tuak itu berteriak pula, “Cepat. Jangan dengarkan kata-katanya. Ia adalah orang yang akan menerima hukuman.”

Tetapi Mahisa Murti langsung menanggapi, “Jika kau maju lagi, maka kau akan mengalami kesulitan.”

“Omong kosong” ternyata Ki Bekel juga menjadi semakin marah, “ambil sepotong bambu itu.”

“Ki Bekel” berkata Mahisa Murti, “hentikan tingkahmu yang buruk itu. Atau aku harus berbuat sesuatu untuk meyakinkanmu?”

“Jangan membual lagi. Kau akan menjalani hukuman di sini, dihadapanku, orang yang berkuasa di padukuhan ini.” jawab Ki Bekel sambil menengadahkan wajahnya.

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak mempunyai pilihan lain.

Sementara itu sikap Ki Bekel, para bebahu dan pemilik kedai serta orang yang membuat tuak itu bagi Mahisa Murti sudah keterlaluan. Ki Bekel tahu bahwa banyak orang yang tidak sejalan dengan kebijaksanaannya tentang kedai dan tuak itu. Namun Ki Bekel sama sekali tidak menghiraukannya. Hatinya sama sekali tidak tergerak melihat anak-anak muda yang menjadi mabuk, muntah-muntah kemudian tidur dimana saja tubuhnya terbaring. Ki Bekel sama sekali tidak mau memikirkan masa depan anak-anak muda itu.

Karena itu, maka bulat niat Mahisa Murti untuk membuat hati Ki Bekel itu tergetar.

Karena itu, ketika orang yang akan mengambil sepotong bambu itu melangkah maju lagi, Mahisa Murti berkata, “Cukup. Kau sudah berdiri terlalu dekat. Mundurlah. Jika aku menghitung sampai tiga kau tidak mundur, maka kau akan mengalami bencana.”

Orang itu kembali menjadi ragu-ragu. Namun Ki Bekel berteriak pula, “Cepat lakukan. Orang ini harus dipukuli sampai jera. Pedangnya tidak akan kuasa mencegah keputusan itu, karena jika ia menarik pedangnya, maka artinya ia membunuh diri.”

Tetapi ketika orang itu akan bergerak lagi, Mahisa Murti mulai menghitung, “Satu, dua….”

Ternyata orang itu terpengaruh oleh hitungan yang diucapkan Mahisa Murti. Karena itu, maka ketika Mahisa Murti mulai menghitung, tanpa mengetahui apa yang akan terjadi, maka orang itu melangkah mundur. Bahkan dengan tergesa-gesa.

Sementara itu Mahisa Murti memang sudah kehabisan kesabaran menghadapi Ki Bekel. Sikapnya yang menjengkelkan serta jalan pikirannya yang pendek menjadi sangat memuakkan bagi Mahisa Murti.

Demikianlah ketika Mahisa Murti mengucapkan hitungan yang ketiga, maka Mahisa Murti pun telah menghentakkan tangannya ke arah sudut kedai tempat sepotong bambu itu bersandar. Tidak dengan mengerahkan segenap tenaga dan kekuatan yang ada di dalam dirinya. Yang dilontarkannya adalah kekuatan pada permukaannya saja.

Namun akibatnya sudah cukup menggemparkan. Bukan saja sepotong bambu itu yang hancur menjadi debu, tetapi tiang di sudut kedai itu pun telah hancur pula, sehingga atap di sudut kedai itu telah runtuh.

Terdengar derak kayu-kayu yang patah, kemudian tulang-tulang atap itu jatuh berserakan.

Orang yang sudah bergerak mundur itu ternyata masih juga tersentuh hentakan kekuatan ilmu Mahisa Murti. Orang itu telah terdorong beberapa langkah dan jatuh berguling di tanah. Untunglah bahwa ia sudah mengambil jarak, sehingga akibatnya tidak membahayakannya.

Meskipun demikian, kulitnya telah terluka pula tergores oleh batu-batu kerikil yang bertebaran.

Kuda-kuda yang ada di halaman kedai itu terkejut. Seekor di antaranya telah meringkik sambil berdiri pada kaki belakangnya, sementara yang lain berputar-putar dengan gelisah.

Ringkik kuda yang keras itu seolah-olah membuat getaran kekuatan Mahisa Murti semakin mencengkam.

Orang-orang yang melihat peristiwa itu berdiri mematung. Wajah mereka menjadi pucat, sementara tubuh Ki Bekel, para bebahu, pemilik kedai dan orang yang membuat tuak itu menjadi gemetar. Anak-anak yang meskipun mabuk, namun jantung mereka bagaikan berdentang semakin cepat di dalam dadanya.

Sejenak keheningan telah mencengkam. Ki Bekel berdiri tegak dengan mulut terkatub rapat. Sementara itu lutut pemilik kedai yang baru saja menengadahkan wajahnya itu bergetar dan beradu yang satu dengan yang lain.

Baru sejenak kemudian Mahisa Murti berkata, “Ki Bekel.”

Ki Bekel itu terkejut bukan kepalang. Suara itu seperti ledakan petir menyambar telinganya. Dengan gagap ia pun kemudian menjawab, “Ya, ya, anak muda.”

“Sekarang, kau dan para bebahu itu aku minta berdiri terpisah dari banyak orang.”

“Tetapi, tetapi, untuk apa anak muda” suaranya menjadi gagap.

“Aku akan melakukannya atas kalian. Jika kalian memang orang berilmu tinggi dan merasa berkuasa di sini berlandaskan ilmumu dan kekuatan pengikut-pengikutmu tanpa menghiraukan nurani rakyatmu, maka kalian tentu dapat menangkis atau menghindari seranganku.” berkata Mahisa Murti.

“Tidak. Jangan, jangan” minta Ki Bekel, “kami mohon maaf.”

“Seperti kau yang akan menghukum aku, maka akulah sekarang yang akan menghukummu tanpa menghiraukan paugeran yang berlaku. Aku membatalkan niatku untuk minta agar para prajurit Singasari menata kembali kehidupan di padukuhan ini. Tetapi aku sendiri akan bertindak sekarang, tanpa menghiraukan tatanan dan paugeran yang manapun. Aku dapat melakukannya karena aku memiliki ilmu yang dapat mengatasi kalian, bahkan jika semua orang di sini menentangku.” geram Mahisa Murti.

Ki Bekel menjadi semakin ketakutan. Demikian pula para bebahu, pemilik kedai dan pembuat tuak itu. Dengan suara memelas Ki Bekel memohon, “Kami mohon ampun anak muda.”

“Seandainya aku tadi minta ampun kepadamu, apakah kau juga akan mengampuniku dan tidak jadi menghukumku?” bertanya Mahisa Murti.

“Tentu, tentu anak muda” jawab Ki Bekel.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kau telah melakukan kesalahan lagi Ki Bekel.”

Wajah Ki Bekel semakin pucat. Dengan gagap ia bertanya, “Kesalahan apa lagi anak muda?”

“Kau telah mencoba menipuku. Kau tidak akan begitu mudah memaafkan seseorang menilik watakmu. Bukankah kau benar-benar akan menghukumku? Memukuliku dengan sepotong bambu? Bahkan kau telah menantangku, bahwa jika aku menarik pedangku itu berarti aku akan membunuh diriku sendiri.”

“Tidak anak muda, sungguh tidak. Aku mohon ampun, aku benar-benar mohon ampun.,” Ki Bekel itu bagaikan merintih.

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun bertanya, “Bagaimana dengan yang lain?”

Pemilik kedai dan pembuat tuak itu pun hampir berbareng berkata, “Aku juga mohon ampun.”

“Baiklah” berkata Mahisa Murti kemudian, “aku akan memaafkan kalian. Tetapi kalian tahu apa yang aku kehendaki.”

“Ya, ya, anak muda. Aku mengerti” jawab Ki Bekel.

“Bukan hanya kau” berkata Mahisa Murti kemudian.

“Ya, ya. Bukan hanya aku. Tetapi kami tahu maksudmu” jawab Ki Bekel pula.

“Baiklah” berkata Mahisa Murti, “aku kali ini percaya kepada kalian. Aku menghargai sikap beberapa orang yang telah berani menyatakan pendapat dan sikapnya, meskipun pada saat terakhir, mereka menjadi silau melihat kehadiran Ki Bekel. Pada saat-saat tertentu aku akan lewat jalan ini pergi dan kembali dari Singasari. Aku akan menepati kata-kataku, bahwa aku akan memberitahukan kepada prajurit Singasari, agar mereka ikut campur menata kembali kehidupan di Kabuyutan ini.”

Ki Bekel hanya menundukkan kepalanya. Ia tidak berani membantah lagi. Ia sudah melihat apa yang dapat dilakukan oleh anak muda yang dikiranya sekedar mempunyai kemampuan olah kanuragan itu. Namun yang ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Demikianlah maka Mahisa Murti pun kemudian telah mengajak Mahisa Semu dan Mahisa Amping meninggalkan tempat itu. Mereka sempat memperhatikan beberapa orang anak muda dalam keadaan yang berbeda. Ada yang benar-benar telah menjadi mabuk, ada yang baru mulai, tetapi ada juga yang sudah mulai dipengaruhi oleh tuak, tetapi kesadarannya masih utuh. Namun dalam keadaan kesakitan karena mereka telah berkelahi dengan Mahisa Semu.

“Nah Ki Bekel. Itulah anak-anakmu. Jika karena itu kau dapat menjadi seorang yang kaya raya, maka kau tahu, bahwa kau mendapatkan harta benda dengan mengorbankan anak-anakmu sendiri. Sementara anak-anak muda itu bermabuk-mabukan, maka anak-anak muda yang lain bekerja keras memeras keringat di sawah, pategalan dan di panggang di panasnya perapian pande besi. Sementara itu orang-orang tua mulai mengeluh melihat tingkah laku anak-anaknya yang menjadi harapan bagi masa depannya.”

Ki Bekel tidak menjawab. Namun wajahnya menjadi semakin menunduk. Sementara jantungnya menjadi berdebaran. Diluar sadarnya Ki Bekel mengerling kepada anak-anak muda itu. Dahinya pun menjadi berkerut. Seakan-akan baru saat itu ia melihat pertama kali akibat yang terjadi atas anak-anak muda itu.

“Renungkan Ki Bekel” berkata Mahisa Murti yang kemudian sudah duduk di atas kudanya. Sebelum kuda itu berlari, maka Mahisa Murti telah melemparkan beberapa keping uang sambil berkata kepada pemilik kedai itu, “Ambillah. Jika kurang, besok jika aku lewat lagi, aku akan singgah dan menambahinya. Jika lebih, kelebihannya aku belikan tuak. Seberapa dapatnya, buang tuak itu ke dalam parit di belakang kedai itu.”

Pemilik kedai itu tidak sempat menjawab. Mahisa Murti pun kemudian telah melarikan kudanya, diikuti oleh Mahisa Semu dan Mahisa Amping.

Ketiganya memang tidak memacu kuda mereka terlalu kencang, sementara Mahisa Murti berkata kepada kedua adik angkatnya, “Kau lihat akibat buruk dari minum tuak.”

Mahisa Semu dan Mahisa Amping mengangguk mengiakan. Sementara Mahisa Murti berkata selanjutnya, “Kita masih belum sempat melihat, betapa pahitnya hati orang tua mereka melihat keadaan anak-anaknya. Satu dua kita sudah mendengar keluhan semacam itu. Tetapi orang-orang yang berkerumun tadi ternyata tidak dapat berbuat sesuatu ketika Ki Bekel dan para bebahu datang.”

“Mereka menjadi ketakutan” berkata Mahisa Semu.

Mahisa Murti mengangguk. Namun ia tidak menjawab lagi.

Demikianlah, maka kuda mereka pun berlari terus. Perjalanan mereka sudah terhambat beberapa lama. Namun justru karena itu mereka sempat melihat sesuatu yang membuat orang-orang tua berprihatin. Kecuali satu dua orang tua yang membiarkan tabiat anak-anaknya yang tidak terawat justru untuk menutupi kekurangan mereka sendiri.

Sementara itu, angin yang lembut telah mengusap wajah mereka yang berkeringat. Dedaunan yang hijau bergerak dengan malasnya.

Mahisa Murti dan kedua orang adik angkatnya berkuda menyusuri jalan bulak yang panjang. Mereka tidak terlalu banyak berbicara. Sekali-sekali Mahisa Amping yang sudah berada di depan, berpaling kepada Mahisa Murti dan Mahisa Semu yang berkuda di belakangnya. Namun anak itu tetap berada di depan.

Untuk selanjutnya tidak ada hambatan apapun diperjalanan. Ketika menjelang senja mereka sempat singgah lagi di sebuah kedai.

Mereka memang terlalu malam sampai di Singasari. Ketika mereka memasuki pintu gerbang butulan halaman istana, maka para prajurit yang bertugas telah menghentikan mereka. Untuk beberapa saat lamanya Mahisa Murti harus menjawab pertanyaan-pertanyaan para prajurit itu.

Namun akhirnya pemimpin prajurit yang bertugas di pintu gerbang itu berkata, “Baiklah. Biarlah salah seorang dari antara kami mengantar Ki Sanak sampai ke rumah Ki Mahendra.”

“Terima kasih, Ki Sanak” jawab Mahisa Murti.

Demikianlah, maka Mahisa Murti pun telah diantar memasuki halaman belakang istana Singasari sampai ke rumah Mahendra. Ketika mereka mengetuk pintu yang sudah tertutup rapat, maka Mahendra memang terkejut.

Demikian ia membuka pintu, maka dilihatnya Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping diantar oleh seorang. prajurit yang bertugas.

Mahendra menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Kepada prajurit yang mengantar mereka, Mahendra berkata, “Terima kasih Ki Sanak. Mereka memang anak-anakku.”

Prajurit itu mengangguk hormat sambil berkata, “Maaf Ki Mahendra, bahwa diantara kami yang malam ini bertugas, kebetulan belum mengenal putra Ki Mahendra ini.”

“Bukankah kau kenal Mahisa Pukat?” bertanya Mahendra.

“Tentu Ki Mahendra.” jawab prajurit itu.

“Apakah diantara mereka tidak ada kemiripan?” bertanya Mahendra pula sambil tertawa.

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Ketika ia memandang Mahisa Murti sekilas, maka ia pun berkata, “Ya, ya. Mereka memang mirip.”

Demikianlah, maka prajurit itu pun telah minta diri untuk kembali ke tempat tugas mereka, sementara itu bukan saja Mahendra yang mengucapkan terima kasih, tetapi juga Mahisa Murti.

“Apakah kau juga terhambat di perjalanan?” bertanya Mahendra ketika mereka sudah duduk di ruang dalam.

“Ya ayah” jawab Mahisa Murti, “tetapi agaknya karena kami juga mencoba mencampuri persoalan orang lain.”

Mahendra tersenyum. Namun katanya, “Duduklah. Biarlah dibuat minuman bagi kalian. Nanti aku minta kau berceritera tentang perjalananmu.”

“Tidak usah ayah. Kami sudah makan dan minum” berkata Mahisa Murti kemudian.

“Biarlah pembantu di rumah ini membuat minuman hangat. Aku juga merasa haus” jawab Mahendra. Lalu katanya, “Jika kalian ingin berbenah diri, pergilah ke pakiwan.”

Setelah menambatkan kuda-kuda mereka di belakang dan membersihkan diri di pakiwan, maka mereka telah duduk di ruang dalam. Mahisa Amping lah yang kemudian berceritera tentang perjalanan mereka. Meskipun ceriteranya tidak lebih dari ceritera seorang remaja, namun Mahendra dapat menangkap persoalan yang ada di balik peristiwa itu.

Karena itu, maka setelah Mahisa Amping selesai berceritera, Mahendra itu pun berkata, “Memang kadang-kadang sulit bagi kita untuk menahan diri agar sama sekali tidak mencampuri persoalan orang lain. Jika kita melihat kepincangan dalam tatanan kehidupan terjadi di sekitar kita, maka sulit bagi kita untuk tidak mencampurinya.”

“Ya, ayah.” sahut Mahisa Murti, “apalagi bagi aku dan barangkali juga Mahisa Pukat yang pernah menjalani laku tapa ngrame. Rasa-rasanya selalu terdorong untuk berbuat sesuatu jika perasaan kami tersinggung oleh kepincangan dalam tatanan kehidupan ini.”

Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Bahkan ketika aku dan Empu Sidikara berniat untuk tidak mencampuri persoalan orang lain, maka justru kami tergelincir juga dalam persoalan yang menyangkut kami berdua.”

Mahisa Murti tersenyum. Namun katanya, “Tetapi rasa-rasanya aku tidak terlalu bersalah mencampuri persoalan yang terjadi di kedai itu.”

“Memang kadang-kadang datang masanya, bahwa kita justru sebaiknya mencampuri persoalan orang lain.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk, sementara Mahisa Amping bertanya, “Bukankah kita tidak berniat berbuat jahat?-

“Ya Amping” jawab Mahisa Murti, “ada bedanya antara berbuat jahat dan mencampuri persoalan orang lain. Jika kita mencampuri persoalan orang lain, mungkin justru kita berniat baik. Tetapi meskipun kita berniat baik, namun kita tetap saja mencampuri persoalan orang lain.”

Mahisa Amping mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia mengangguk-angguk. Ia mencoba memahami keterangan Mahisa Murti itu.

Demikianlah, maka pembantu di rumah Mahendra pun kemudian telah menghidangkan minuman hangat dan bahkan makan. Meskipun mereka sudah makan diperjalanan, tetapi Mahisa Semu dan Mahisa Amping rasa-rasanya memang masih ingin makan lagi.

Setelah makan dan beristirahat sejenak, maka Mahendra telah mempersilahkan Mahisa Murti dan kedua adik angkatnya beristirahat.

“Besok saja kita berbicara tentang hari-hari pernikahan Mahisa Pukat sepekan lagi” berkata Mahendra.

Mahisa Murti mengangguk sambil menjawab, “baik ayah. Bukankah tidak ada persoalan yang menyimpang?”

“Tidak” jawab Mahendra, “semua berjalan sebagaimana direncanakan.”

“Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya Syukurlah. Mudah-mudahan segalanya dapat berjalan dengan baik dan selamat.”

“Sejak besok Mahisa Pukat sudah tidak bertugas. Besok ia sudah berada di rumah ini. Ia mendapat waktu setengah bulan untuk melaksanakan pernikahannya.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Semu bertanya dengan nada yang jernih, “Jadi besok kakang Mahisa Pukat sudah tidak bertugas di Kasatrian lagi?”

“Untuk setengah bulan” jawab Mahendra.

Demikianlah, maka Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping pun pergi ke pembaringan. Meskipun malam sudah terlalu jauh, namun mereka masih mempunyai waktu untuk tidur barang sebentar.

Seperti yang dikatakan oleh Mahendra, maka di hari berikutnya Mahisa Pukat telah dibebaskan dari tugasnya

Bersama Empu Sidikara Mahisa Pukat pulang ke rumah Mahendra.

Mahisa Pukat menjadi sangat bergembira ketika ia melihat Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping telah datang. Bahkan kemudian ia pun bertanya, “Paman Wantilan jadi tidak datang?”

“Ya” jawab Mahisa Murti, “harus ada yang menunggui padepokan. Mudah-mudahan tidak ada kesulitan.”

Sejak hari itu, maka Mahisa Pukat sudah tidak lagi pergi ke Kasatrian. Berbagai persiapan sudah dilakukan di rumah Mahendra. Ketika matahari mulai naik, maka dua orang tua telah berada di rumah Mahendra untuk membantu melakukan persiapan-persiapan yang diperlukan.

Tetapi kesibukan di rumah Mahendra tidak nampak sebagaimana di rumah Arya Kuda Cemani.

Demikianlah, selama di Singasari, Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping ikut tenggelam dalam kesibukan. Ada saja yang harus mereka lakukan. Empu Sidikara meskipun harus tetap bertugas di Kasatrian, tetapi pada waktu-waktu luangnya, ia pun ikut sibuk di rumah Mahisa Pukat.

Bukan saja sibuk untuk menyiapkan saat-saat pernikahan. Tetapi Mahendra harus mempersiapkan tempat tinggal bagi Mahisa Pukat dan isterinya.

“Beruntunglah bahwa aku mendapat rumah yang memadai di bagian belakang istana ini” berkata Mahendra, “meskipun kecil, tetapi cukup lengkap, sehingga dapat dipergunakan bersama Mahisa Pukat nanti setelah berkeluarga. Aku juga sudah menyampaikan permohonan. Ternyata Sri Paduka Maharaja dengan perantara seorang pejabat rumah tangga istana tidak berkeberatan jika rumah ini aku pergunakan bersama Mahisa Pukat.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun terbersit di angannya, bahwa dengan demikian Mahisa Pukat masih belum benar-benar mapan, karena ia masih belum mempunyai tempat tinggal sendiri.

Menurut pendapat Mahisa Murti, rumah ayahnya itu adalah rumah yang disediakan oleh Sri Baginda Maharaja untuk ditempati. Tetapi tidak untuk dimiliki. Apalagi letaknya memang berada di dalam lingkungan dinding istana.

Setelah berkeluarga, Mahisa Pukat masih harus melengkapi dirinya. Ia harus berusaha untuk memiliki sebuah tempat tinggal betapapun kecilnya.

Di hari berikutnya, maka segala persiapan sudah hampir selesai. Rumah Arya Kuda Cemani sudah di hias dengan tarub. Jika senja turun, maka rumah dan halamannya nampak terang benderang. Lampu minyak dan oncor sudah dipasang dimana-mana.

Di hari berikutnya, barulah Mahisa Bungalan datang. Akuwu Sangling itu ingin menunggui adiknya yang akan menikah meskipun Mahisa Bungalan juga merasa heran, kenapa Mahisa Murti sama sekali belum tergerak hatinya untuk memilih seorang kawan hidup.

Baru setelah sehari berada di Singasari, diluar pengetahuan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, Mahendra telah menceriterakan hubungan yang rumit antara Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Sasi, seorang gadis cantik anak Arya Kuda Cemani

Mahisa Bungalan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Seperti ayahnya ia pun merasa iba terhadap Mahisa Murti. Tetapi ia tidak boleh menyatakannya, karena dengan demikian maka ia akan dapat menyinggung perasaannya. Juga ia tidak dapat berbicara tentang hal itu kepada Mahisa Pukat.

Dalam kesempatan itu, maka Mahisa Bungalan dapat bertemu dengan kedua adiknya yang baru. Adik yang diangkat oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat

Mahisa Bungalan senang melihat keduanya. Bahkan ketajaman penglihatannya langsung               dapat melihat kelebihan keduanya. Terutama Mahisa Amping yang memiliki ketajaman penggraita meskipun dalam usia mudanya kadang-kadang ia tidak tahu bahwa ia melihat satu isyarat.

“Kedua anak itu merupakan harapan di hari mendatang” berkata Mahisa Bungalan, ketika ia sempat berbicara dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat

“Aku akan mencoba membentuknya” berkata Mahisa Murti, “tetapi pada dasarnya anak-anak itu merupakan anak yang baik”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Dengan senang hati ia menawarkan agar keduanya bersedia datang ke Pakuwon Sangling.

“Lain kali aku akan mengajak mereka” berkata Mahisa Murti.

Dalam pada itu, maka hari yang ditunggu-tunggu itu pun akhirnya sampai juga. Sudah sampai pada hari yang ditentukan bagi Mahisa Pukat dan Sasi untuk melaksanakan pernikahan.

Bulan, pekan, hari dan bahkan saatnya sudah diperhitungkan dengan baik oleh orang-orang tua. Karena itu, orang-orang tua itu mempersiapkan segalanya untuk dapat dilaksanakan tepat pada waktunya.

Sebenarnyalah bahwa segalanya memang dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana. Tidak ada hambatan apapun yang mengganggu acara pernikahan Mahisa Pukat dan Sasi, anak perempuan Arya Kuda Cemani. Salah seorang Senapati yang berpengaruh di Singasari, terutama di bidang tugas-tugas sandi.

Namun dalam pada itu, ketika upacara terpenting dari pernikahan itu siap dilaksanakan sesuai dengan paugeran dasar, hubungannya dengan kepercayaan yang dianut oleh kedua orang yang siap dipersandingkan itu, justru telah terjadi keributan. Keluarga Arya Kuda Cemani serta beberapa orang kawan dekatnya dari lingkungan keprajuritan, bahkan utusan resmi Sri Maharaja di Singasari yang hadir di rumah Arya Kuda Cemani terkejut atas kehadiran seorang yang bertubuh tinggi dan besar. Rambutnya yang tergerak mencuat di bawah ikat kepalanya nampak sudah memutih. Tetapi tubuhnya masih nampak kuat dan tegar. Di kedua pergelangan tangannya nampak gelang-gelang akar-akaran di satu sisi, sedang di sisi yang lain, nampak terbalut oleh kulit yang tebal dan lebar hampir sampai ke siku.

Bersama orang itu nampak seorang anak muda yang bertubuh sedang. Wajahnya bersih dan tampan. Matanya tajam berkilat-kilat.

Kedua orang itu melangkah langsung menuju ke tangga pendapa. Namun ternyata keduanya berhenti dibawah tangga yang pertama.

Beberapa orang pun segera bangkit berdiri ketika mereka melihat sikap yang tidak sewajarnya dari kedua orang itu

Seorang Senapati dari pasukan berkuda yang juga hadir di tempat itu segera bangkit, turun dari tangga langsung berdiri dihadapan orang itu. Meskipun demikian Senapati itu masih bertanya dengan baik, “Ki Sanak. Apakah Ki Sanak juga akan menghadiri upacara pernikahan anak perempuan Arya Kuda Cemani? Jika demikian, marilah, silahkan naik dan duduk diantara kami. Upacara memang sudah hampir dimulai.”

Tetapi orang itu menjawab singkat, “Tidak. Aku akan berbicara dengan Kuda Cemani.”

Senapati itu mengerutkan dahinya. Namun ia pun menjawab, “Sayang Ki Sanak. Arya Kuda Cemani dan isterinya sudah siap mengikuti upacara pernikahan anak gadisnya.”

“Aku akan berbicara dengan orang itu, sekarang. Sebelum upacara itu berlangsung.”

“Tetapi mereka sudah siap untuk melakukan upacara itu”

“Aku tidak peduli” jawab orang itu yang kemudian justru berteriak, “Kuda Cemani. Aku datang untuk menagih janji”

Senapati dari pasukan berkuda itu mengerutkan dahinya. Katanya, “Ki Sanak. Aku minta Ki Sanak bersabar. Setelah upacara selesai, maka kau dapat berbicara dengan tenang”

Tetapi orang itu berteriak lantang, “Tidak, aku akan bicara sekarang .Justru sebelum upacara pernikahan, upacara itu harus dibatalkan”

“Kenapa?” bertanya Senapati itu.

“Sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Aku akan bertemu dengan Kuda Cemani.” jawab orang itu. Sebelum Senapati itu menjawab, maka orang itu berteriak lebih keras

“Kuda Cemani, apakah kau sekarang sudah menjadi pengecut? Keluarlah. Kita akan berbicara sebagai laki-laki. Jika kau sekarang menjadi pengecut seperti betina licik, aku sebagai saudara seperguruanmu akan ikut menderita malu. Karena itu, maka lebih baik aku membunuhmu saja.”

Teriakan itu telah membuat beberapa orang tidak lagi dapat menahan diri. Beberapa orang serentak bangkit dan mendekatinya. Utusan resmi Sri Baginda Maharaja Singasari justru memerlukan menemui orang itu sambil berkata

“Ki Sanak. Aku berada di sini atas nama Sri Maharaja Singasari. Aku minta kau menangguhkan persoalanmu dengan Arya Kuda Cemani.”

“Aku hormati Raden sebagai utusan resmi Sri Baginda Maharaja. Tetapi persoalanku dengan Kuda Cemani adalah persoalan pribadi. Tidak ada orang lain yang dapat ikut mencampurinya. Sekali lagi, justru sebelum upacara pernikahan dilaksanakan.”

Sementara itu, justru karena ada utusan resmi Sri Baginda yang hadir dalam upacara itu, maka di halaman itu terdapat beberapa orang prajurit yang bertugas. Dua orang diantara mereka telah mendekat pula.

Namun orang itu berteriak pula, “Kuda Cemani. Tamu-tamumu yang sebagian adalah prajurit-prajurit Singasari tentu akan dapat mengusir aku dengan kekerasan. Tetapi dengan demikian, maka kau akan aku anggap sebagai orang yang paling licik, pengecut dan penakut di seluruh muka bumi.”

“Cukup Ki Sanak. Cukup” berkata Empu Sidikara yang juga menunggui pernikahan Mahisa Pukat, “marilah kita berbicara di tempat yang terpisah. Mungkin kita akan dapat menemukan persesuaian pendapat.”

“Tidak. Aku akan langsung berbicara dengan Kuda Cemani.” jawab orang itu dengan lantang.

Orang-orang yang kemudian mengerumuninya sudah siap untuk mengambil tindakan terhadap orang itu. Jika perlu dengan kekerasan, karena orang itu telah mengganggu upacara yang harus segera dimulai.

Namun tiba-tiba terdengar suara diantara mereka yang berkerumun, “Apa yang sebenarnya kau kehendaki, kakang.”

Mata orang itu pun menjadi berkilat ketika ia melihat Arya Kuda Cemani menyibak orang-orang yang mengerumuninya itu.

Orang bertubuh tinggi dan besar itu memandang Arya Kuda Cemani dengan mata yang menyala. Kemudian dengan geram orang itu berkata, “Kuda Cemani. Aku datang untuk menagih janji.”

“Kakang” berkata Arya Kuda Cemani, “Apakah aku mem­punyai hutang? Apalagi hutang janji?”

“Kau jangan ingkar. Meskipun kau sekarang Senapati pasukan sandi di Singasari, tetapi hubunganmu dengan aku secara pribadi tidak dapat kau hapuskan. Kau adalah adik seperguruanku, betapapun nasib kita berbeda.” berkata orang itu.

“Aku tidak pernah ingkar, kakang. Bahwa kau adalah saudara seperguruanku. Bahkan saudara tua. Nah, aku justru akan minta restumu. Bahkan hari ini aku akan menikahkan anakku.” sahut Arya Kuda Cemani. Namun kemudian dengan serta merta ia bertanya, “Atau barangkali kakang merasa tersinggung bahwa aku tidak memberitahukan pernikahan anakku ini sebelumnya kepada kakang.”

“Ya” jawab orang itu, “tetapi lebih dari sekedar tidak memberitahu”

“Sebenarnya aku sama sekali tidak melupakan kakang. Tetapi aku tidak tahu dimana kakang tinggal sekarang, sehingga aku tidak dapat memberitahukan kepada kakang, bahwa hari ini aku akan menikahkan anakku” sahut Arya Kuda Cemani.

“Aku tidak yakin kebenaran alasanmu. Aku tidak berada di tempat yang terlalu jauh.” berkata orang itu kemudian

“Meskipun tidak terlalu jauh, tetapi aku benar-benar tidak mengerti dimana kakang tinggal. Tetapi jika kemudian kakang mengetahui bahwa hari ini aku menikahkan anakku dan kakang bersedia hadir aku akan merasa senang sekali. Bahkan aku memang harus minta maaf kepada kakang, bahwa aku tidak dapat menghubungi kakang sebelumnya”

“Bukan sekedar bahwa aku tidak kau beritahu, Kuda Cemani. Tetapi kau harus ingat akan janjimu, bahwa persaudaraan kita tidak akan pernah terputus.”

“Ya, ya kakang. Aku memang berharap bahwa hubungan persaudaraan kita tidak akan pernah putus sampai kapan pun”

“Kenapa anakmu perempuan kau nikahkan dengan anak muda yang lain?” bertanya orang itu.

“Maksud kakang?” bertanya Arya Kuda Cemani.

“Aku mempunyai seorang anak laki-laki, Kuda Cemani. Dan kau mempunyai anak perempuan. Jika kau tidak ingkar akan janjimu, maka anak perempuanmu harus menjadi menantuku, sehingga persaudaraan kita tidak akan terputus. Tetapi karena kau sudah menjadi Senapati yang berpengaruh di Singasari, maka kau berusaha untuk mengkesampingkan aku. Anakmu kau nikahkan dengan seorang Pelayan Dalam yang bertugas di Kasatrian. Bahkan telah diangkat menjadi pelatih bagi para Kesatrian muda Singasari.”

Wajah Arya Kuda Cemani menjadi tegang. Sesaat Arya Kuda Cemani berusaha mengendalikan perasaannya. Namun demikian katanya, “Maaf kakang. Aku akan memberikan penjelasan tentang hal itu kepada kakang. Tetapi aku minta kakang duduk dahulu. Nanti sesudah aku selesai, maka penjelasanku tentu akan memuaskan kakang.”

“Tidak” jawab orang itu, “kau akan menjebak aku. Sesudah pernikahan berlangsung, maka anak gadismu sudah bukan hakmu lagi. Tetapi sekarang, sebelum pernikahan itu dilaksanakan, maka kau harus memenuhi janjimu. Berikan anak gadismu kepadaku. Ia akan menjadi menantuku. Itu adalah satu-satunya cara untuk melangsungkan persaudaraan kita seterusnya. Kecuali jika kau mempunyai dua anak perempuan.”

“Kakang, itu tidak mungkin. Kakang pun tidak dapat mengartikan niat kita untuk melangsungkan persaudaraan dengan menikahkan anak kita. Karena pernikahan itu biasanya justru dilakukan oleh dua orang yang tidak mempunyai sangkut paut persaudaraan.”

“Kau tidak usah mengatakan seribu macam alasan. Kau berikan anakmu atau tidak?” bertanya orang itu.

“Maaf kakang. Aku tidak dapat memberikannya.” jawab Arya Kuda Cemani.

“Kau tahu akibat dari sikapmu itu?” bertanya orang itu.

“Ya. Aku tahu. Aku harus mempertahankan sikapku dengan cara yang kakang kehendaki,” jawab Arya Kuda Cemani, “apapun yang kakang kehendaki, aku tidak akan ingkar.”

“Baik Kuda Cemani. Tetapi aku tidak akan menantangmu bertempur sekarang. Aku tahu bahwa ilmumu telah maju dengan pesat. Bahkan kau telah mampu menguasai Aji Panglimunan.” jawab orang itu.

“Jadi apa yang kakang kehendaki?” bertanya Arya Kuda Cemani.

“Aku ingin mengetahui, apakah bakal menantumu mampu mempertahankan bakal isterinya.”

“Maksud kakang?” bertanya Arya Kuda Cemani.

“Aku bawa anakku. Ia akan merebut kedudukannya sebagai bakal menantumu” berkata orang itu, “caranya adalah cara seorang laki-laki. Siapa yang menang, ia adalah calon menantumu yang akan melaksanakan pernikahannya hari ini.”

“Gila” geram Arya Kuda Cemani yang kehilangan kesabaran, “tidak. Ia sudah siap untuk melakukan upacara. Apa yang terjadi, akulah yang akan menghadapi. Kakang sendiri atau anakmu. Aku tidak peduli.”

“Kau cemaskan bakal menantumu bahwa ia tidak akan menang?” bertanya orang itu.

Wajah Arya Kuda Cemani memang terasa menjadi panas. Selangkah ia maju sambil berkata, “Kakang. Aku mohon kakang jangan mengganggu. Aku masih mencoba untuk menahan diri. Tetapi jika kakang masih memaksa untuk melakukan hal yang tidak masuk akal ini, maka aku dapat berbuat lebih jauh lagi. Kakang melihat, bahwa di sini sudah banyak tamuku yang hadir. Upacara pun sudah siap untuk dimulai.”

“Sudah aku katakan Kuda Cemani. Kau dapat mengusir aku dengan kekerasan. Di sini tentu banyak kawan-kawanmu, Senapati dan Panglima Perang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi jika kau gunakan kekerasan dengan cara seperti itu, maka harga dirimu akan terpelanting jatuh dan tidak berharga lagi. Apalagi harga diri calon menantumu itu Ia akan menjadi orang yang paling tidak berharga di Singasari.”

“Kakang” berkata Arya Kuda Cemani, “aku tidak pernah mengingkari persaudaraan kita. Tetapi dua orang bersaudara kadang-kadang memang dapat berbeda sikap dan kepentingan. Karena itu, aku akan mempertahankan diri”

“Itu tidak cukup. Anakku menantang bakal menantumu” berkata orang itu, “sekali lagi, anakku menantang calon mantumu. Jika anakku menang, maka ia akan mengambil alih kedudukan calon menantumu itu.”

Kemarahan Arya Kuda Cemani sudah sampai ke ubun-ubunnya. Namun sebelum ia bertindak sesuatu, terdengar suara seorang yang lain, “Bagus. Tetapi kau datang agak terlambat Ki Sanak. Sebelum kau datang, aku sudah melakukannya. Aku adalah cadangan utama calon menantu Arya Kuda Cemani. Seandainya anakmu dapat mengalahkan calon menantunya yang sudah siap melakukan upacara itu maka ia masih juga harus mengalahkan aku. Karena itu maka daripada ia harus bertanding melawan calon menantu yang sudah siap melakukan upacara, dan bahkan sudah berpakaian upacara pula, maka sebaiknya biarlah ia bertanding melawan aku lebih dahulu.”

Wajah saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu menjadi semakin tegang. Dengan nada geram ia bertanya, “Siapa kau anak muda. Kenapa kau mencampuri persoalanku dengan adik seperguruanku.”

“Sudah aku katakan. Aku datang untuk mengambil Sasi tetapi aku menunggu sampai upacara selesai. Aku tidak berkeberatan jika persoalanku dengan Sasi dilakukan sesudah upacara, karena upacara ini bagiku tidak berarti apa-apa selain untuk menghormati tamu-tamu yang sudah diundang. Aku juga tidak ingin mengecewakan para tamu serta merendahkan Arya Kuda Cemani di pandangan mata sahabat-sahabatnya. Tetapi jika itu yang akan kau lakukan maka aku terpaksa ikut campur juga.”

“Siapa kau?” desis saudara seperguruan Arya Kuda Cemani.

“Untuk apa kau bertanya?”

Wajah saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itulah yang kemudian menjadi merah. Namun ia masih berkata, “Kami tidak mempunyai persoalan dengan kau anak muda”

“Kau cemaskan bahwa anakmu tidak akan menang?”

Jantung saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu bagaikan akan meledak. Namun anaknyalah yang kemudian berkata dengan nada datar tanpa gejolak sama sekali, “Aku terima tantangannya. Aku akan menyelesaikan anak ini lebih dahulu. Baru kemudian calon menantu paman Arya Kuda Cemani. Sebenarnya aku sama sekali tidak menganggap penting Sasi. Tetapi aku tidak mau harga diri ayahku direndahkan. Itu saja.”

Orang-orang yang melihat sikap dan kata-kata anak muda itu memang menjadi berdebar-debar. Begitu yakin ia akan dirinya sendiri sehingga yang terjadi di sekitarnya itu seakan-akan tidak mempengaruhi gejolak jiwanya

Kedua saudara laki-laki Sasi yang juga ikut mendekat menjadi berdebar-debar. Sebagai prajurit mereka memiliki ketahanan jiwani yang telah ditempa. Tetapi seorang diantara mereka berdesis, “Mahisa Murti akan mendapat lawan yang tentu juga berilmu tinggi sebagaimana Mahisa Murti sendiri.”

Sebenarnyalah Mahisa Murti lah yang ingin menggantikan saudaranya menghadapi anak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu. Namun melihat sikap anak muda yang datang untuk bertanding itu, Mahisa Murti merasa bahwa ia memang harus berhati-hati.

Sementara itu saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu pun berkata, “Jadi akan kau layani anak ini?”

“Ia juga sudah merendahkan harga diri ayah dan harga diriku. Aku condong untuk menyelesaikan anak ini lebih dahulu. Sudah aku katakan, bahwa Sasi sama sekali tidak penting bagiku. Aku juga belum pernah mengenalnya dan apalagi tertarik kepadanya.”

Namun Arya Kuda Cemani lah yang menyahut, “Jadi kalian datang sekedar untuk mengacaukan upacara ini?”

“Tidak” jawab anak muda itu, “sudah aku katakan pula. Aku dan ayah tidak mau direndahkan, dikesampingkan dan sama sekali tidak dihargai. Itu saja.”

“Dengan cara yang menarik sekali” desis Mahisa Murti kemudian.

“Ya, itu adalah cara yang telah kami pilih” jawab anak muda itu masih dengan nada datar.”

“Baiklah, apapun alasanmu, aku tidak akan menarik kesediaanku untuk melayanimu. Tetapi sebaiknya kita tidak mengganggu upacara ini, maka jalan yang kau pilih itu akan kita lakukan di tempat lain. Bukankah kau tidak mempedulikan apa yang terjadi atas Sasi?” berkata Mahisa Murti.

Anak muda itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia menjawab, “Tidak. Semuanya harus terjadi di sini. Calon pengantin itu harus mengetahui, bahwa ia sebenarnya tidak berharga sama sekali di mata ayahku. Kau tidak akan dapat memancing aku pergi dari tempat ini. Kecuali sebagaimana dikatakan oleh ayahku, semua Senapati dan Panglima yang ada di sini dan berilmu tinggi bersama-sama mengusir kami berdua dengan kekerasan. Kami tentu akan pergi, namun dengan demikian harga diri keluarga ini akan terinjak-injak oleh langkah kami saat kami keluar regol halaman rumah ini.”

Wajah Mahisa Murti menjadi semburat merah oleh gejolak perasaan di dadanya. Namun ia masih berusaha menguasai perasaannya. Karena itu, maka ia pun bertanya, “Ki Sanak. Apakah menurut pendapatmu pantas jika di ruang dalam upacara pengantin sudah siap dilakukan sedang di halaman terjadi perkelahian?”

“Itulah yang menarik” jawab anak muda itu, “tetapi terserah kepada kalian.”

Mahisa Bungalan yang kemudian juga turun dari tangga pendapa menggeretakkan giginya. Hampir saja ia kehilangan kesabaran. Namun ia justru kagum melihat Mahisa Murti masih dapat menahan diri.

Tetapi Mahisa Murti pun kemudian berkata lantang, “Baiklah. Kami akan memberikan suguhan tontonan terbaik yang pernah diselenggarakan dalam upacara pengantin. Apa boleh buat.”

Orang-orang yang menyaksikan menjadi tegang. Mereka memang melupakan sepasang pengantin yang sudah siap melakukan upacara.

Dalam pada itu, Mahisa Pukat memang mendengar keributan yang terjadi. Bahkan ia sudah hampir meninggalkan tempatnya. Namun Empu Sidikara lah yang kemudian mendekatinya. Ia berterus terang mengatakan apa terjadi. Ia pun mengatakan keputusan yang sudah diambil oleh Mahisa Murti untuk mewakilinya

Mahisa Pukat menggeretakkan giginya. Tetapi beberapa orang telah mencegahnya, agar ia tidak meninggalkan tempatnya. Segala persiapan sudah dilakukan, sehingga karena itu, maka kedua orang pengantin itu harus dilindungi dari segala macam gangguan.

Di halaman Mahisa Murti sudah siap menghadapi anak muda yang berwajah bersih dan bermata tajam berkilat-kilat itu. Namun sikapnya dingin dan berbicara dengan nada yang datar.

Arya Kuda Cemani memang tidak dapat mencegahnya. Ia juga tidak mau dihinakan. Karena itu, maka ia berpengharapan bahwa Mahisa Murti akan berhasil mewakili saudaranya. Bahkan di dalam hati Arya Kuda Cemani sudah bertekad, jika Mahisa Murti gagal, maka ia akan menantang saudara seperguruannya itu dalam pertandingan yang sama sebagaimana dilakukan oleh anak saudara seperguruannya itu dengan Mahisa Murti.

Namun demikian, ketika halaman rumah Arya Kuda Cemani yang sedang melaksanakan upacara pernikahan anaknya itu berubah menjadi arena perang tanding, maka Arya Kuda Cemani sempat memberikan sedikit sesorah. Arya Kuda Cemani mohon maaf kepada orang-orang yang telah diundangnya untuk menghadiri upacara pernikahan anaknya. Bahkan termasuk utusan Sri Baginda Maharaja.

Namun para Senapati dan Panglima, serta para pejabat, yang hadir di tempat itu ternyata sama sekali tidak merasa berkeberatan. Bukan karena mereka senang menyaksikan perkelahian, tetapi mereka pun mengerti, bahwa Arya Kuda Cemani tidak mempunyai pilihan lain. Saudara seperguruannya sudah menyudutkannya, sehingga apa yang terjadi itu tidak dapat dihindari.

Meskipun demikian, orang-orang yang kemudian menyaksikan perkelahian itu menjadi berdebar-debar. Sikap anak muda yang menantang calon pengantin itu sangat meyakinkan. Sikapnya, wajahnya, pandangan matanya dan kata-kata yang meluncur dari mulutnya.

Tanpa-diminta, maka orang-orang itu telah berharap, bahkan berdoa agar Mahisa Murti dapat mengatasi anak muda itu.

Mahisa Murti sendiri memang menjadi berdebar-debar. Ia merasa bahwa ia harus sangat berhati-hati. Lawannya yang berilmu tinggi itu tentu tidak akan begitu saja mengaku kalah seandainya Mahisa Murti dapat mendesaknya.

Demikianlah, maka dengan sendirinya telah terbentuk satu arena di halaman rumah Arya Kuda Cemani. Para tamu telah turun dari pendapa dan berdiri melingkar di halaman. Mahendra yang berdiri di sebelah Arya Kuda Cemani juga menjadi tegang seperti Arya Kuda Cemani sendiri. Bahkan Mahisa Bungalan sempat menahan nafas. Sudah lama ia tidak bertemu dan menyaksikan kemampuan adiknya. Apalagi ketika ia melihat lawannya yang demikian yakin akan dirinya.

Sementara itu di ruang dalam, beberapa orang berusaha untuk menenangkan Mahisa Pukat yang gelisah. Ia sendiri ingin turun untuk menyatakan bahwa dirinya tidak hanya sekedar menumpang kemampuan orang lain, meskipun orang lain itu adalah saudaranya sendiri.

Dalam pada itu, maka perkelahian di halaman itu pun sudah dimulai. Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani justru berdiri di dalam arena. Ketika kedua anak muda itu mulai bergerak, maka orang itu pun berkata, “Buktikan, bahwa kau bukan cucurut yang pantas disingkirkan begitu saja. Tunjukkan kepada mereka, bahwa kau juga mempunyai harga. Selanjutnya, kau boleh saja. tidak peduli terhadap gadis itu jika kau menganggap gadis itu tidak berharga bagimu.”

Yang menggertakkan giginya adalah Mahisa Bungalan. Dengan lantang ia berkata, “Murti. Jika kau gagal, maka kaulah cucurut itu.”

Mahisa Murti mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Meskipun tidak terucapkan, ia berjanji kepada kakaknya Mahisa Bungalan, bahwa ia tidak ingin menjadi cucurut itu.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Justru ia menyadari, bahwa lawannya tentu seorang yang berilmu sangat tinggi.

Karena saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu tidak keluar dari arena, maka Mahisa Bungalan yang sulit untuk mengekang dirinya itu pun telah berada di dalam arena pula. Ia akan mengimbangi apapun yang akan dilakukan oleh saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu.

Namun di luar arena, Arya Kuda Cemani sendiri sudah bersiap sepenuhnya. Ia akan menghadapi saudara seperguruannya itu jika ia akan ikut campur.

Mahendra pun menjadi tegang. Ia bukan saja memikirkan Mahisa Murti. Tetapi ia juga memikirkan perasaan Mahisa Pukat. Namun Mahendra berharap bahwa Empu Sidikara yang masuk ke ruang dalam dapat menenangkan Mahisa Pukat.

Upacara yang sudah disiapkan itu memang tertunda. Tetapi Mahisa Pukat tidak beranjak dari tempat yang disediakan baginya.

Namun seandainya yang mewakilinya bukan Mahisa Murti, mungkin Mahisa Pukat tidak akan dapat dicegah lagi.

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan anak muda yang datang bersama ayahnya itu sudah bersiap untuk bertanding. Keduanya mulai bergeser berputaran. Orang-orang yang berada di luar arena mulai menahan nafas. Kedua anak muda itu seakan-akan memang telah disiapkan untuk turun ke gelanggang pertandingan. Kedua-duanya nampak meyakinkan. Besar tubuh mereka tidak terpaut banyak. Jika pandangan mata anak muda yang datang bersama ayahnya itu tajam berkilat-kilat, maka mata Mahisa Murti bagaikan bercahaya memandang lawannya itu.

Sejenak kemudian, maka kedua anak muda itu sudah mulai saling menyerang. Mereka masih berusaha untuk saling menjajagi. Karena itu, maka serangan-serangan mereka masih belum terasa berbahaya.

Namun sentuhan-sentuhan yang terjadi sudah mengisyaratkan bagi mereka berdua, bahwa mereka berhadapan dengan lawan yang memiliki kekuatan yang besar serta kemampuan yang tinggi.

Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani nampak terlalu yakin akan kemampuan anaknya.

Karena itu, maka sikapnya menjadi sangat meyakinkan pula. Ia sama sekali tidak menghiraukan kehadiran Mahisa Bungalan di dalam arena dan bahkan tidak mempedulikan sama sekali orang-orang yang berdiri di sekitar arena itu, termasuk utusan Sri Baginda Maharaja di Singasari.

Bahkan kemudian saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu berkata kepada anaknya, “Kau tidak usah bertenggang rasa. Jika kau dapat melumpuhkannya selama sekejap, lakukanlah. Biarlah orang-orang yang menyaksikan yakin, bahwa kau memang pantas untuk dihormati melampaui calon menantu Kuda Cemani yang sombong itu. Jika kemudian kau tidak mempedulikan anak Kuda Cemani, itu akan semakin meyakinkan mereka, bahwa kau datang dituntun oleh harga dirimu. Bukan oleh nafsu untuk merebut perempuan itu.”

Mahisa Bungalan hanya dapat menggeretakkan giginya. Namun ia benar-benar berharap bahwa Mahisa Murti jangan mengecewakan keluarganya dan keluarga Arya Kuda Cemani.

Dalam pada itu, perkelahian antara kedua orang anak muda itu semakin lama menjadi semakin cepat. Keduanya bergerak dengan tangkas dan cepat. Kemudian mereka nampak dalam setiap unsur di tataran gerak mereka.

Seperti dikehendaki oleh ayahnya, maka anak muda itu memang berniat untuk dengan cepat menyelesaikan Mahisa Murti. Semakin cepat, maka kemampuannya akan semakin nampak lebih tinggi.

Tetapi ternyata bahwa lawannya cukup liat. Mahisa Murti tidak dapat dengan mudah ditundukkan. Bahkan semakin lama justru menjadi semakin sulit, sehingga mereka telah memasuki tataran yang semakin tinggi.

Sikap saudara seperguruan Arya Kuda Cemani memang sangat menyakitkan hati Mahisa Murti. Karena itu, maka ia tidak membiarkan lawannya itu mendesaknya. Setiap kali lawannya itu meningkatkan ilmunya selapis, maka Mahisa Murti pun telah melakukannya pula.

Wajah-wajah yang ada di sekitar arena itu menjadi tegang. Apalagi Arya Kuda Cemani sendiri. Bahkan semakin lama ia menyaksikan pertempuran itu, maka wajahnya menjadi semakin tegang.

Mahendra melihat ketegangan itu. Hampir diluar sadarnya ia berdesis, “Mudah-mudahan Mahisa Murti memiliki kemampuan setidak-tidaknya mengimbangi kemampuan anak muda itu.”

“Aku tetap berpengharapan” jawab Arya Kuda Cemani, “angger Mahisa Murti memiliki kelebihan jauh diatas kebanyakan anak-anak sebayanya.”

“Tetapi anak muda itu sungguh meyakinkan” desis Mahendra.

“Yang menarik perhatian, ilmu anak itu bukan keturunan ilmu dari perguruan kami. Ia tentu tidak sekedar berguru kepada ayahnya. Aku kenal betul unsur-unsur dari ilmu perguruan kami sendiri. Aku mengenali kemampuan saudara seperguruanku itu seperti aku mengenali kemampuanku sendiri.” desis Arya Kuda Cemani.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Agaknya yang akan terlibat bukan sekedar saudara seperguruan Arya Kuda Cemani sendiri.

“Jika anak muda yang bertempur dengan Mahisa Murti itu berasal dari satu perguruan, maka perguruan itu akan dapat melibatkan diri ke dalam persoalan yang sebenarnya sangat terbatas dan pribadi itu.”

Ternyata bukan hanya Mahendra saja yang menjadi cemas karenanya. Arya Kuda Cemani pun kemudian berkata, “Salah-salah, perguruan anak muda itu akan dapat ikut tersinggung karenanya.”

“Apa boleh buat. Untungnya Mahisa Murti juga berpijak pada sebuah padepokan meskipun terhitung baru, sehingga belum melahirkan murid-murid yang berilmu tinggi.”

“Ki Mahendra. Bukan maksud kami melibatkan angger Mahisa Murti. Apalagi perguruannya yang sedang tumbuh itu.”

“Aku mengerti Raden. Tetapi memang tidak ada pilihan lain” jawab Mahendra.

Demikianlah, maka Mahisa Murti telah terlibat ke dalam satu pertempuran yang menjadi semakin sengit. Ternyata anak muda itu memang memiliki kelebihan dari anak-anak muda yang lain. Serangan-serangannya datang beruntun seperti ombak di tepian.

Sekali-sekali pertahanan Mahisa Murti memang terguncang. Namun setiap kali, Mahisa Murti menjadi kokoh kembali seperti batu karang yang tidak tergetar oleh debur ombak yang garang.

Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani mulai mengerutkan dahinya. Menurut penglihatannya, Mahisa Murti masih saja mampu mengimbangi kemampuan anaknya. Setiap kali anaknya meningkatkan ilmunya, maka lawannya itu pun telah melakukannya pula. Karena itu, demikian anaknya bergerak lebih cepat, maka lawannya pun seakan-akan menjadi lebih tangkas.

Beberapa kali anak muda itu kehilangan kesempatan. Serangannya yang nampaknya sangat mapan, namun sama sekali tidak mengenai sasaran. Bahkan setiap kali serangannya menjadi sia-sia saja.

Semakin lama darah anak muda itu rasa-rasanya menjadi semakin panas. Setelah berguru bertahun-tahun, maka ketika ilmunya diuji di arena, ternyata tidak dengan cepat dapat menyelesaikan lawannya.

Sementara itu, Mahisa Murti semakin lama semakin mengenali tataran kemampuan ilmu anak muda itu. Mahisa Murti memang harus mengakui, bahwa landasan ilmu anak muda itu memang sangat meyakinkan. Tetapi karena anak muda itu masih belum memiliki banyak pengalaman, maka ilmunya masih belum berkembang. Anak itu dengan setia mengikuti segenap tatanan dari unsur-unsur gerak yang dikuasainya. Namun berhadapan dengan Mahisa Murti yang sudah memiliki pengalaman yang sangat luas, maka anak muda itu mulai mengalami kesulitan.

Beberapa kali serangan-serangan yang sudah diperhitungkan dengan masak-sesuai dengan wewaton dari unsur-unsur gerak yang telah dipelajarinya, ternyata hasilnya tidak sebagaimana diperhitungkan.

Wajah saudara seperguruan Arya Kuda Cemani mulai berkerut. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, ia mengerti kelemahan anak-anak muda yang baru keluar dari perguruan. Ia sudah memberikan banyak sekali petunjuk. Bahkan latihan-latihan khusus bagi anaknya agar anaknya mampu mengetrapkan ilmunya dalam benturan yang sebenarnya terjadi. Bukan sekedar latihan-latihan yang teratur. Ia sudah memberikan berbagai macam pesan, bahkan ia sendiri telah bersama-sama berada di sanggar dengan anaknya untuk menempanya agar ilmu yang dimiliki anaknya itu dapat ditrapkan dalam benturan ilmu yang sebenarnya.

Namun saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu harus mengakui bahwa anak muda yang seakan-akan mewakili calon menantu Arya Kuda Cemani itu memiliki ilmu yang tinggi sekaligus pengalaman yang luas.

Karena itu, maka ia tidak akan dapat berharap anaknya dapat memenangkan pertempuran itu jika ia tidak mempergunakan ilmu puncaknya. Ilmu pada tataran tertinggi yang diwarisinya dari gurunya.

Ayahnya itu mengetahui betapa dahsyatnya ilmu itu. Karena itu, maka orang yang dikenai ilmu itu, jarang sekali yang akan mampu bertahan. Sentuhan tangan anaknya pada puncak ilmunya akan dapat mematahkan tulang dan melumatkan isi dada. Sedangkan pada sisi yang lain dari ilmunya itu dapat membuat telapak tangannya itu bagaikan membara. Sentuhan telapak tangannya akan dapat menghanguskan kulit daging lawannya. Bahkan jika tangannya itu sempat mencekik leher, maka lawannya tidak akan berharap untuk dapat menyelamatkan diri.

Untuk beberapa saat orang itu masih ingin meyakinkan seberapa jauh kemungkinan yang dapat digapai oleh anaknya. Namun ketika serangan-serangan Mahisa Murti mulai mengenai tubuhnya, maka orang itu yakin, bahwa anaknya harus mempergunakan ilmu puncaknya untuk melumpuhkan lawannya.

Sebenarnyalah bahwa serangan Mahisa Murti mulai mengenai tubuh lawannya. Kakinya sempat menyusup di sela-sela pertahanan anak muda itu yang terbuka, justru saat ia menyerang.

Mahisa Murti yang merendahkan diri untuk menghindari sambaran tangan lawannya melihat bahwa bagian samping dada lawannya itu terbuka. Karena itu, maka dengan cepat Mahisa Murti menyerang dengan kakinya menyamping.

Demikian kaki Mahisa Murti itu menghantam bagian samping dada lawannya, maka anak itu terputar sekali. Hampir saja ia kehilangan keseimbangannya.

Namun ternyata bahwa ia cukup tangkas untuk kemudian tegak kembali.

Tetapi, Mahisa Murti tidak memberinya kesempatan. Dengan cepat ia memburu lawannya. Demikian lawannya mengatasi goncangan keseimbangannya dan tegak kembali, maka Mahisa Murti telah menyerangnya pula.

Dengan demikian, maka lawan Mahisa Murti itu harus meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak, agar ia sempat memperbaiki kedudukannya.

Mahisa Murti yang sudah siap meloncat memburunya terkejut. Ia melihat telapak tangan anak muda itu berasap tipis. Namun ketajaman penglihatan matanya serta landasan pengalamannya, segera menahannya untuk tidak segera meloncat menyerang.

Dengan tegang Mahisa Murti memandang telapak tangan anak muda itu. Ia melihat telapak tangan itu bagaikan menjadi bara. Kemerah-merahan dan asap tipis nampak mengepul dari telapak tangan itu.

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menyadari, bahwa sentuhan telapak tangan lawannya itu akan dapat membakar kulitnya. Namun berdasarkan atas pengalaman serta pengetahuannya tentang berbagai macam ilmu dari orang-orang berilmu tinggi yang dikenalnya, maka ilmu itu yang dapat melukai tubuh lawannya dengan sentuhan api hanyalah telapak tangannya saja.

Dengan demikian, maka Mahisa Murti harus menjadi sangat berhati-hati. Sebenarnya ia dapat menghentikan perlawanan anak muda itu dengan serangannya jarak jauh. Tetapi Mahisa Murti tidak ingin menghancurkannya. Anak itu belum tentu seorang yang berhati hitam. Mungkin ia terdorong oleh keinginannya untuk mencoba ilmunya. Dipanasi pula dengan sikap ayahnya yang agaknya memang tinggi hati itu. Maka anak muda itu telah langsung terjerumus ke dalam pertempuran melawan seorang yang memiliki ilmu yang tinggi serta pengalaman yang luas.

Namun Mahisa Murti tidak mau membiarkan dirinya terbakar oleh ilmu lawannya. Karena itu, maka Mahisa Murti telah mengetrapkan ilmunya yang mempunyai daya kemampuan menghisap ilmu lawannya.

Meskipun demikian, Mahisa Murti menyadari sepenuhnya bahwa tubuhnya tidak boleh tersentuh telapak tangan lawannya. Justru ialah yang harus berusaha sebanyak mungkin bersentuhan dengan tubuh anak muda itu, tetapi tidak di telapak tangannya yang menjadi kemerah-merahan itu.

Pertempuran selanjutnya menjadi semakin cepat. Mahisa Murti lebih banyak berloncatan menghindar. Namun kemudian dengan tiba-tiba saja menggapai lawannya untuk menyentuh bagian tubuhnya yang manapun juga.

Dengan sisi telapak tangannya, Mahisa Murti telah menerobos pertahanan anak muda itu mengenai pundaknya.

Pundaknya memang terasa sakit. Anak muda itu meloncat surut. Namun dengan cepat ia dapat mengatasi rasa sakit itu. Bahkan kemudian dengan garang ia telah meloncat menyerang dengan kedua telapak tangannya terbuka.

Orang-orang yang ada di sekitar arena itu menjadi berdebar-debar. Mereka seolah-olah melihat pertempuran yang tidak seimbang. Apalagi Mahisa Murti masih juga tidak menarik pedangnya meskipun lawannya sudah mengetrapkan ilmu puncaknya. Sementara itu, mereka masih belum melihat, bahwa Mahisa Murti juga mempergunakan ilmu andalannya.

Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani mulai dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat anaknya beberapa kali mendesak lawannya. Meskipun serangan-serangan lawannya sempat menyentuh tubuhnya, tetapi serangan-serangan itu sama sekali tidak berbahaya bagi anaknya.

Apalagi ketika telapak tangan anaknya sempat menyentuh lengan Mahisa Murti, sehingga Mahisa Murti terkejut karenanya. Dengan serta merta ia meloncat menjauh. Terasa lengannya menjadi sangat panas. Luka bakar membekas di lengannya. Kulitnya nampak terkelupas meskipun luka itu tidak terlalu besar.

“Telapak tangannya akan segera menyentuh wajahmu. Kemudian lehermu dan seluruh tubuhmu” berkata saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu.

Tetapi Mahisa Murti menjadi semakin berhati-hati. Meskipun ia sudah terluka, tetapi ia tidak menarik pedangnya. Ia masih akan menghentikan perlawanan anak muda itu dengan cara yang lain.

Pertempuran pun segera menyala lagi ketika anak muda itu meloncat menyerang Mahisa Murti. Kedua telapak tangannya menggapai-gapai. Bahkan anak muda itu berusaha untuk menangkap tubuh Mahisa Murti. Jika ia berhasil menangkap Mahisa Murti, maka untuk beberapa saat lamanya, telapak tangannya akan membakar tubuh lawannya itu, sehingga genggaman tangannya akan semakin membenam di tubuh lawannya itu sampai ke tulang.

Tetapi tidak mudah untuk menangkap Mahisa Murti. Meskipun lengan Mahisa Murti telah terluka, tetapi Mahisa Murti masih tetap dengan tangkas berloncatan. Sekali-sekali tangannya mengenai pundaknya, lengannya dan bahkan kadang-kadang kakinya yang menyapu dengan cepat, sempat mengenai paha anak muda itu.

Tetapi anak muda itu sama sekali tidak menjadi kesakitan. Meskipun sekali-sekali ia harus menyeringai karena serangan Mahisa Murti yang dapat mengenainya, tetapi dengan cepat perasaan sakit itu selalu dapat diatasinya.

Bahkan Mahisa Murti lah yang harus meloncat surut ketika serangan kakinya berhasil ditangkis oleh lawannya. Betisnya justru telah tersentuh telapak tangan anak muda itu, sehingga terluka.

Luka bakar itu memang tidak terlalu besar. Tetapi nyeri di lengannya dan di betisnya itu memang membuat Mahisa Murti bukan saja sakit kulitnya, tetapi juga sakit hatinya.

Itulah sebabnya, maka selain ilmunya yang mampu menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya, maka Mahisa Murti telah meningkatkan tenaga dalamnya, sehingga serangan-serangannya menjadi semakin garang. Sentuhan-sentuhan serangannya yang sempat menembus pertahanan anak muda itu bukan saja sekedar menyentuh, tetapi ketika kaki Mahisa Murti sempat mengenai lambungnya, anak itu benar-benar telah terlempar jatuh.

Dengan kerasnya anak muda itu terbanting. Sekali ia berguling di tanah. Dengan tangkasnya ia segera berusaha untuk meloncat bangkit.

Mahisa Murti sengaja tidak memburunya. Dibiarkannya anak muda itu tegak berdiri sambil mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan.

Namun tubuh anak muda itu mulai terasa aneh. Lambungnya memang merasa sakit sekali. Tendangan Mahisa Murti tidak sekedar menyentuhnya sebagaimana serangan-serangan sebelumnya. Tetapi serangan itu benar-benar menyakitinya.

Namun yang membuatnya gelisah bukannya perasaan sakit di lambungnya itu. Tetapi sendi-sendinya terasa mulai melemah. Tenaganya serasa dengan cepat susut, sehingga kekuatannya pun menjadi jauh berkurang.

Anak muda itu menjadi heran atas dirinya sendiri. Ia sudah ditempa di dalam sanggar dengan latihan-latihan yang berat. Ia sudah terbiasa berada di dalam sanggar dan berlatih sehari suntuk bahkan lebih tanpa berhenti. Tetapi di arena itu, ia baru bertempur beberapa lama, tenaganya sudah mulai menjadi susut.

Anak muda itu memang merasa telah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya untuk mengimbangi lawannya. Bahkan kemudian dengan ilmu puncaknya. Tetapi bahwa tenaganya dengan cepat susut, adalah diluar perhitungannya.

Namun selagi tangannya masih membara, maka ia masih merasa yakin, bahwa ia akan dapat mengalahkan lawannya betapapun lawannya itu bergerak dengan cepat dan dengan tenaga yang sangat kuat.

Namun ketika kemudian anak muda itu mulai bertempur lagi, ia menjadi semakin merasa, betapa tenaganya benar-benar telah menyusut dengan cepat.

Mahisa Murti pun mulai melihat keadaan lawannya. Meskipun anak muda itu masih berusaha untuk tetap garang, tetapi sebenarnya bahwa ia sama sekali sudah tidak berbahaya lagi. Warna bara ditangannya pun sudah mulai memudar, meskipun asap tipis masih nampak samar-samar. Meskipun demikian, Mahisa Murti masih harus menghindarinya karena telapak tangan itu masih akan dapat membakar kulitnya.

Ketika anak muda itu mulai bergeser mendekat, Mahisa Murti masih berdiri saja di tempatnya. Meskipun kulitnya sudah terluka serta panas dan nyeri telah menyengatnya, namun Mahisa Murti masih berusaha untuk menahan diri.

Sampai di batas perkelahian itu, beberapa orang mulai menarik nafas dalam-dalam. Arya Kuda Cemani yang mengetahui kelebihan Mahisa Murti pun mengangguk-angguk. Ia melihat luka di tubuh Mahisa Murti. Tetapi ia melihat bahwa tenaga lawannya telah jauh menyusut.

Arya Kuda Cemani yang mengenal Mahisa Murti dengan baik, benar-benar telah mengaguminya. Meskipun tubuhnya telah terluka, tetapi anak muda itu tidak membiarkan dirinya hanyut oleh arus perasaannya.

Sejenak kemudian pertempuran pun telah terjadi lagi. Anak muda itulah yang telah menyerang Mahisa Murti. Namun Mahisa Murti tidak lagi banyak mengalami kesulitan. Dengan tangkasnya ia menghindari setiap serangan. Namun kemudian dengan cepat pula ia justru telah menyerang. Beberapa kali Mahisa Murti berhasil menembus pertahanan lawannya sehingga beberapa kali pula ia dapat mengenainya. Sementara itu, telapak tangan lawannya yang semakin memudar tidak lagi mampu menggapai dan menyentuh tubuh Mahisa Murti.

Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani melihat perubahan yang tiba-tiba terjadi atas anaknya itu. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang luas, maka orang itu tiba-tiba telah berteriak, “He, ternyata kau telah berlaku curang.”

Mahisa Murti segera tanggap. Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu telah mengetahui bahwa ia telah mempergunakan ilmu yang mampu menghisap tenaga dan kemampuan lawannya.

Justru karena itu, maka Mahisa Murti pun telah meloncat surut untuk mengambil jarak dari lawannya.

Sementara itu, lawannya pun nampak menjadi semakin letih. Ia memang berusaha untuk memburu Mahisa Murti, tetapi langkahnya sudah mulai nampak gontai.

“Cukup, berhentilah” teriak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu

“Kenapa?” bertanya anaknya, “aku sudah hampir menguasainya. Ia akan segera menyadari kekalahannya.”

“Tidak” jawab ayahnya.

Wajah anaknya menjadi merah. Namun sebenarnyalah bahwa anak muda itu sudah menjadi semakin lemah. Ketika ia melangkah maju, maka langkahnya sudah menjadi goyah.

Beberapa orang yang berilmu tinggi yang hadir di pertemuan itu benar-benar merasa kagum terhadap Mahisa Murti. Mereka mengetahui, ilmu apa yang dimiliki oleh anak muda itu. Ilmu yang sudah jarang sekali terdapat di dunia olah kanuragan. Yang lebih mereka kagumi adalah, bahwa anak muda itu tidak mengetrapkan ilmunya dengan semena-mena. Ia tidak memperlakukan lawannya dengan sewenang-wenang, apalagi karena Mahisa Murti itu sudah dilukai. Mahisa Murti itu masih tetap dapat mengendalikan dirinya di saat ia berdiri di ambang kemenangan.

Dalam pada itu, maka saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu pun telah melangkah mendekati Mahisa Murti sambil berkata, “Ternyata kau bukan seorang yang jantan.”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Murti.

“Kau telah mempergunakan ilmu yang sangat licik. Kau curi perlahan-lahan kekuatan dan kemampuan anakku, sehingga sampai pada suatu saat anakku kehabisan tenaga dan kemampuan.” berkata saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu.

“Ki Sanak” berkata Mahisa Murti, “seorang pencuri mengambil milik orang lain dengan diam-diam, justru diluar pengetahuan pemiliknya yang mungkin sedang tidur atau sedang bepergian atau sedang melakukan satu hal sehingga ia tidak melihat pencuri itu. Tetapi yang aku lakukan adalah satu perbuatan yang langsung terjadi dihadapan pemilik kekuatan dan kemampuan itu. Ia tidak sedang tidur atau sedang lengah atau sedang berpaling sekalipun. Kita justru sedang bertempur, sementara anakmu telah membakar telapak tangan dengan inti kekuatan api yang diserapnya dari udara di sekelilingnya. Nah, apakah dengan demikian aku dapat disebut curang? Justru setelah kulitku terbakar di lengan dan betis sehingga terkelupas.”

“Apapun alasanmu, tetapi kau trapkan ilmumu tanpa setahu anakku,” jawab orang itu.

“Sebenarnya tergantung dari sisi mana kita memandang. Kau dapat menganggap aku licik. Tetapi orang lain dapat saja menganggap bahwa anakmulah yang terlalu dungu, sehingga ia tidak mengetahui bahwa ia sedang berhadapan dengan salah satu jenis ilmu yang dapat menghisap kekuatan dan kemampuannya.”

“Cukup” teriak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani, “apapun yang kau katakan, tetapi kecuranganmu harus dihukum.”

Wajah Mahisa Murti menjadi tegang. Dengan nada berat ia bertanya, “Apa maksudmu Ki Sanak. Apakah kau merasa berhak menghukum aku?”

“Tentu” jawab orang itu.

Tetapi terdengar jawaban Arya Kuda Cemani, “Tidak. Kau tidak berhak menghukumnya. Kecuali ia tidak bersalah, maka tempat ini adalah tempat tinggalku. Aku mempunyai wewenang lebih besar dari siapapun yang ada di sini.”

“Aku tidak peduli” jawab saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu. Lalu katanya, “Ada atau tidak ada wewenang, tetapi aku akan menghukumnya. Ia sudah menciderai anakku dengan licik. Bahkan tidak bertanggung jawab sama sekali, sehingga anakku kehilangan sebagian besar dari tenaganya.”

“Bukankah akibat yang demikian seharusnya sudah diperhitungkan sejak pertandingan akan dimulai? Salah seorang diantara mereka yang bertanding akan dapat kalah atau menang. Kemungkinan ketiga adalah tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Jadi, jika anak kakang kalah, itu adalah akibat wajar dari satu pertandingan.”

“Tetapi tidak dengan licik” teriak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani.

“Tidak ada yang licik,” jawab Arya Kuda Cemani, “aku tahu bahwa Angger Mahisa Murti mempunyai kemampuan jauh dari yang diperlihatkan saat ini. Bahkan seandainya kakang sendiri yang turun ke medan, maka kakang akan dapat dihancurkan jika ia mau. Tetapi ilmu yang telah dipergunakannya adalah ilmu yang paling lunak, meskipun akibatnya akan dapat menjadi dahsyat sekali. Tetapi Angger Mahisa Murti tidak berbuat lebih banyak dari menghentikan pertandingan.”

Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu termangu-mangu. Namun Arya Kuda Cemani pun berkata, “Kakang, sebaiknya kakang tidak melakukan apa-apa terhadap Angger Mahisa Murti. Jika kakang memang ingin turun ke gelanggang, maka biarlah aku yang melayaninya. Aku adalah saudara seperguruan kakang. Kita saling mengetahui kekuatan dan kelemahan kita masing-masing, sehingga satu diantara kita tidak akan berbahaya bagi yang lain. Tetapi jika kakang justru ingin melawan Angger Mahisa Murti, maka kakang tentu akan menyesalinya.”

Wajah saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu benar-benar menjadi tegang. Dipandanginya anaknya, Mahisa Murti dan Arya Kuda Cemani berganti-ganti. Bahkan kemudian diedarkannya pandangan matanya. Baru saat itu, seakan-akan saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu melihat, siapa saja yang ada di sekitarnya. Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu melihat beberapa pasang mata yang memandanginya dengan tajam. Dari sorot matanya, maka dapat diduga, bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Sementara itu, Arya Kuda Cemani sendiri sudah siap untuk melayaninya. Sedangkan orang yang berdiri di sebelah Arya Kuda Cemani, meskipun umurnya sudah lebih tua, namun dimatanya membayang kemampuannya yang sangat tinggi.

Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu berdiri termangu-mangu. Sementara itu anaknya sudah menjadi terlalu lemah untuk dapat bertempur lagi. Meskipun ia masih berdiri tegak, tetapi ia sudah bukan apa-apa lagi bagi Mahisa Murti.

Karena itu, maka penyesalan memang mulai merayapi jantung saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu. Ia memang tidak menyangka bahwa anaknya akan bertemu dengan anak muda yang memiliki ilmu yang lebih tinggi. Menurut pendapatnya, maka anaknya telah mampu mewarisi ilmu yang sulit dicari bandingnya. Dalam usianya yang masih muda, maka sulit ada anak muda sebayanya yang mampu mengimbanginya. Ia datang ke rumah Arya Kuda Cemani justru ingin memamerkan kelebihan anaknya itu. Tetapi yang didapatkannya justru sebaliknya.

Arya Kuda Cemani yang telah menyinggung perasaannya, karena ia sama sekali tidak memberitahukan kepadanya, bahwa ia akan menikahkan anaknya perempuan, akan dipermalukannya dihadapan orang banyak. Calon menantunya akan direndahkan dan dihinakan. Bahkan kemudian anak perempuan Arya Kuda Cemani itu pun akan direndahkannya pula dihadapan tamu-tamunya, karena ia sama sekali tidak mengingininya.

Selagi saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu termangu-mangu, maka Arya Kuda Cemani itu pun berkata, “Kakang. Baiklah aku memperkenalkan anak muda itu. Anak muda yang sudah menempatkan diri menjadi lawan anakmu itu adalah saudara laki-laki calon menantuku. Ia memiliki ilmu dan kemampuan yang seimbang dengan saudara laki-lakinya, calon menantuku itu. Semua orang akan menjadi saksi, bahwa seandainya calon menantuku sendiri yang turun ke gelanggang, maka akibatnya akan sama saja. Bahkan mungkin calon menantuku tidak mampu mengekang diri sebagaimana dilakukan oleh angger Mahisa Murti itu.”

Wajah saudara seperguruan Arya Kuda Cemani terasa menjadi sangat tebal. Namun kemudian tanpa berkata satu patah kata pun, ia telah menyambar tangan anaknya dan ditariknya untuk meninggalkan tempat itu.

Tetapi sekali lagi ia terkejut. Anaknya itu hampir saja jatuh tertelungkup. Ia tidak lagi mampu untuk berjalan terlalu cepat.

Ayahnya kemudian memang menyadari akan hal itu. Karena itu, maka ia pun menjadi lebih berhati-hati. Bahkan anak muda itu seakan-akan telah dipapah oleh ayahnya keluar dari regol halaman rumah Arya Kuda Cemani.

Beberapa saat setelah kedua orang itu hilang dari pandangan, maka Arya Kuda Cemani cepat mempersilahkan tamu-tamunya duduk kembali sambil minta maaf, bahwa telah terjadi sesuatu yang mengganggu pertemuan itu.

Meskipun kemudian para tamu itu memang duduk kembali, tetapi suasananya sudah jauh berubah. Arya Kuda Cemani memang tidak mempunyai cara untuk dapat memulihkan kembali suasana. Meskipun demikian serba sedikit, para tamu itu mulai memperhatikan upacara yang memang sudah disiapkan.

Meskipun terlambat, namun upacara itu pun diteruskan juga. Satu demi satu, tapak-tapak upacara itu pun berlangsung sesuai dengan ketentuan yang harus dilakukan.

Sementara itu, Mahisa Murti yang terluka telah dibawa ke ruang di gandok rumah Arya Kuda Cemani. Empu Sidikara lah yang menemaninya serta mengobatinya. Kulit Mahisa Murti telah terkelupas, sementara dagingnya nampak kemerahan. Luka bakar itu memang tidak terlalu besar, tetapi perasaan nyeri terasa semakin menyengat.

“Kau sudah mempertaruhkan nyawamu” berkata Empu Sidikara.

“Tetapi bukankah aku masih tetap hidup?” Mahisa Murti justru bertanya.

Empu Sidikara mengangguk-angguk. Katanya, “Lukamu juga tidak terlalu berbahaya meskipun tentu terasa sakit”

Mahisa Murti mengangguk kecil. Tetapi sambil tersenyum ia bertanya, “Empu, apakah luka ini akan membekas?”

Empu Sidikara pun tersenyum pula. Katanya, “Aku mempunyai obat terbaik untuk menghilangkan bekas luka bakar.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Bahkan ia pun kemudian tertawa sambil berdesis, “Jika ada noda-noda pada kulitku, maka aku akan semakin dijauhi gadis-gadis.”

Empu Sidikara pun tertawa pula sambil berkata, “Tetapi luka itu hanya terdapat di lengan dan di betis. Sementara itu wajahmu masih tetap bersih dan menarik.”

Mahisa Murti memang tertawa berkepanjangan. Namun di balik suara tertawanya terbersit perasaannya yang pahit. Bagaimanapun juga, sentuhan pernikahan Mahisa Pukat itu tetap terasa pedihnya di hati Mahisa Murti.

Meskipun dalam suasana yang sudah sedikit berbeda, namun upacara pernikahan itu pun dapat diselesaikan dengan selamat. Semua mata acara satu demi satu telah diselesaikan dengan baik meskipun terlambat.

Dengan demikian, maka sejak hari itu, Mahisa Pukat tidak lagi hidup sendiri. Ia sudah menginjak pada satu kehidupan berkeluarga.

Namun untuk sementara maka Mahisa Pukat dan isterinya akan tinggal bersama-sama dengan Mahendra yang mendapat tempat tinggal di bagian belakang istana. Sementara itu, Mahisa Pukat sendiri juga bertugas di bagian lain dari istana itu. Kasatrian.

Seperti yang dikatakan, bahwa Mahisa Murti memang tidak segera kembali. Bersama kedua orang adik angkatnya Mahisa Murti akan tinggal sepekan lagi di Singasari

Waktu yang sepekan itu sama sekali tidak menarik bagi Mahisa Murti. Meskipun Mahisa Pukat masih berada di rumah Arya Kuda Cemani, namun rasa-rasanya, udara Kotaraja itu terlampau panas. Hari-hari dilalui oleh Mahisa Murti dengan hati yang kosong. Untunglah ada Mahisa Semu dan Mahisa Amping yang dapat mengisi waktunya dengan berbagai macam kesibukan. Keduanya kadang-kadang minta Mahisa Murti berjalan-jalan. Pergi ke tempat-tempat yang menarik dan yang belum sempat dilihatnya sebelumnya.

Tetapi Mahisa Murti memenuhi janjinya. Ia berada di Singasari sampai batasnya. Sepekan. Bahkan hampir setiap hari Mahisa Murti pergi mengunjungi Mahisa Pukat meskipun hanya sebentar-sebentar.

Sambil menunggu batas waktu yang dijanjikan, Empu Sidikara telah berhasil menyembuhkan luka-luka bakar di tubuh Mahisa Murti. Meskipun masih nampak bekasnya lamat-lamat, namun Mahisa Murti memang yakin, bahwa luka itu tidak akan meninggalkan bekas di kulitnya.

“Kau memang tabib yang luar biasa, Empu” berkata Mahisa Murti.

“Sama sekali tidak,” jawab Empu Sidikara.

“Kau dapat menyembuhkan lukaku dalam waktu yang sangat pendek. Dalam tiga hari lukaku sudah hampir hilang sama sekali. Aku kira tabib yang manapun tidak akan dapat berbuat demikian. Luka-luka bakar sebagaimana aku alami itu, setidak-tidaknya memerlukan waktu sepuluh hari untuk menyembuhkannya. Belum lagi menghilangkan bekas-bekasnya.” berkata Mahisa Murti.

“Akulah yang seharusnya menjadi heran” berkata Empu Sidikara, “aku memang memerlukan waktu sepuluh hari untuk menyembuhkan luka sebagaimana yang kau alami. Tetapi kau memang aneh. Kulit dagingmu seakan-akan telah menyimpan kekuatan penyembuhan yang luar biasa. Bahkan tanpa aku obati pun dalam waktu tiga hari lukamu akan sembuh sendiri. Kekuatan penyembuhan yang belum pernah aku lihat sebelumnya.”

“Ah, kau jangan mengada-ada Empu” desis Mahisa Murti.

“Percayalah” jawab Empu Sidikara, “kau mempunyai banyak kelebihan dari orang lain. Sebenarnya aku justru ingin tahu, apa yang menyebabkan kau memiliki kekuatan penyembuhan seperti itu.”

“Kau membuat aku menjadi besar kepala” sahut Mahisa Murti.

“Yakinlah” jawab Empu Sidikara, “pada kesempatan yang panjang kelak, aku ingin mengamati cara hidupmu. Apa saja yang kau makan. Kebiasaan apa yang kau lakukan, jenis air di padepokanmu atau barangkali laku yang selalu kau jalani.”

“Tidak ada yang aneh, Empu. Semuanya sebagaimana orang lain. Aku makan nasi biasa. Minum air biasa. Kebiasaanku sehari-hari sudah Empu lihat. Sekali-sekali aku berada di sanggar. Lalu apa lagi?”

Empu Sidikara mengangguk-angguk. Katanya, “Jika segalanya berlangsung seperti biasa, seperti kebanyakan orang, maka kau memang memiliki keajaiban yang tidak dimiliki orang lain.”

“Ah, lagakmu seperti menimang anak-anak yang sedang belajar berjalan.” desis Mahisa Murti.

Empu Sidikara tertawa. Tetapi katanya, “Aku bersungguh-sungguh. Aku tidak tahu bagaimana aku harus mengatakannya. Tetapi sebenarnyalah demikian.”

“Sudahlah. Biarlah aku saja yang memuji Empu.” berkata Mahisa Murti.

“Tetapi pada suatu saat kau akan yakin akan kebenaran kata-kataku.” berkata Empu Sidikara selanjutnya.

“Terima kasih Empu. Jika apa yang Empu katakan benar, maka aku adalah orang yang paling berbahagia di dunia.” jawab Mahisa Murti sambil tertawa.

Empu Sidikara memang tidak dapat menahan tertawanya. Namun sebenarnyalah Empu Sidikara merasa heran bahwa dalam waktu yang sangat singkat, luka-luka bakar Mahisa Murti sudah dapat sembuh. Padahal obat yang dipergunakan adalah obat yang terbiasa dipergunakan juga. Sedangkan bagi orang lain, penyembuhan luka seperti yang dialami oleh Mahisa Murti itu diperlukan waktu sekitar sepuluh hari, meskipun pada hari kelima atau keenam luka itu sudah tidak terasa nyeri lagi.

Sebaliknya Mahisa Murti juga merasa heran, bahwa Empu Sidikara ternyata memiliki kemampuan pengobatan yang sangat tinggi. Dalam waktu yang pendek luka-lukanya telah dapat disembuhkan.

Demikianlah akhirnya Mahisa Murti memasuki hari-hari terakhir di Singasari. Pada malam terakhir, Mahisa Murti sempat berjalan-jalan dengan Empu Sidikara, sementara Mahisa Semu dan Mahisa Amping ditinggalkannya di rumah Arya Kuda Cemani untuk menemani Mahisa Pukat. Meskipun rumah Arya Kuda Cemani masih nampak ramai, namun keramaian itu sudah jauh menyusut, sehingga terasa menjadi semakin lengang.

Bersama Empu Sidikara, Mahisa Murti telah menyusuri jalan-jalan Kotaraja. Namun mereka berjalan terus bahkan melewati pintu gerbang kota.

Jalan memang menjadi semakin sepi dan gelap. Tidak lagi banyak terdapat obor di pintu-pintu regol halaman. Meskipun demikian, masih juga nampak kerelip obor di gardu-gardu perondan.

Sepinya malam itu terasa begitu tenang dan sejuk di hati Mahisa Murti Desah angin di dedaunan membuatnya semakin segar. Luka-lukanya benar-benar telah sembuh sama sekali.

Keduanya terhenti, ketika di depan mereka terbentang bulak yang panjang. Dengan nada rendah Empu Sidikara bertanya, “Apakah kita akan berjalan terus, atau kembali ke kota?”

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Marilah kita kembali saja. Mahisa Semu dan Mahisa Amping nanti terlalu lama menunggu.”

“Marilah” jawab Empu Sidikara, “bulak dihadapan kita itu agaknya sama saja dengan bulak-bulak yang lain. Apalagi dalam keremangan malam. Yang nampak hanyalah kunang-kunang yang berkeredipan di daun padi. Ratusan, bahkan ribuan sehingga kadang-kadang nampak seperti bongkah-bongkah bara yang kebiru-biruan.”

Namun ketika mereka sudah mulai berbalik, terdengar suara lembut, “Anak muda yang berilmu tinggi. Aku ingin minta kau meneruskan langkahmu. Kau dapat sendiri atau bersama kawanmu itu. Aku ingin berbicara dengan kau barang sejenak.”

Mahisa Murti dan Empu Sidikara termangu-mangu. Mahisa Murti pun kemudian berdesis, “Apakah kau berbicara dengan aku, Ki Sanak?”

“Ya. Aku berbicara dengan kau Mahisa Murti” jawab suara itu.

Mahisa Murti memandang Empu Sidikara sejenak. Namun sebelum ia menjawab terdengar suara itu, “Aku memang sedang menunggu kesempatan seperti ini. Karena itu, jangan segera kembali ke kota. Berjalanlah beberapa ratus langkah lagi ke tengah bulak yang sepi dan gelap itu.”

“Untuk apa?” bertanya Mahisa Murti, “kita sudah bertemu di sini. Apakah kau dapat berbicara di sini?”

“Tidak. Aku tidak dapat berbicara di sini. Tetapi aku ingin berbicara denganmu di bulak panjang itu.”

“Kalau aku tidak mau” jawab Mahisa Murti.

Orang yang berbicara itu tertawa pendek. Katanya, “Aku yakin kau akan mau meluangkan waktumu sedikit.”

“Jika saja aku tahu untuk apa” jawab Mahisa Murti, “kedua orang adikku sudah menunggu sejak sore hari.”

“Adikmu tidak akan merasa terlalu lama menungguku. Aku hanya memerlukan waktumu sebentar saja.” jawab suara itu.

Mahisa Murti memang ragu-ragu. Ia belum melihat orang yang berbicara itu. Namun ia pun kemudian berdesis kepada Empu Sidikara, “Aku akan memenuhinya.”

Ternyata Empu Sidikara juga ingin tahu, apa yang akan terjadi. Karena itu, maka katanya, “Baiklah. Aku ternyata juga telah tergelitik untuk mengetahui apa yang akan dilakukannya.”

Dengan demikian, maka Mahisa Murti itu pun berkata, “Baiklah. Aku akan berjalan beberapa ratus langkah lagi ke tengah-tengah bulak itu. Tetapi aku minta kau segera menampakkan dirimu. Orang yang berbicara sambil bersembunyi akan dapat menimbulkan prasangka buruk karena ada kesan tidak terbuka.

Terdengar suara tertawa. Katanya, “Jika aku tidak dengan sengaja menunjukkan diriku, apakah kau tidak dapat mengetahui dimana aku bersembunyi?, “

“Tidak” jawab Mahisa Murti.

“Jangan malas anak muda. Ilmumu sangat tinggi. Kau tentu memiliki ketajaman indera melampaui kebanyakan orang. Karena itu, jika kau mau, maka kau akan dapat menemukan aku.”

“Untuk apa sebenarnya kita main sembunyi-sembunyian? Ketika aku masih kanak-kanak aku memang senang melakukannya. Kawanku bersembunyi di tempat yang sulit diketemukan, tetapi aku dengan bersungguh-sungguh mencarinya. Namun waktu itu aku mempunyai kebanggaan dan kepuasan tersendiri jika aku berhasil menemukannya dan mendahuluinya berlari sampai ke tempat hinggap. Apakah sekarang aku masih juga harus berbuat demikian?” bertanya Mahisa Murti.

Jawaban orang itu memang tidak disangka-sangka, “Anak muda. Ternyata jiwamu sudah benar-benar masak. Jauh lebih masak dari sewajarnya saja. Tanpa tingkah laku yang aneh-aneh.”

“Kau membuat aku malu anak muda. Baiklah, aku benar-benar mengagumimu dengan sikapmu.”

Mahisa Murti tidak menjawab lagi. Tetapi ia mulai merasakan sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, Mahisa Murti melihat bayangan di kegelapan. Seseorang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Namun Mahisa Murti belum dapat melihat wajah orang itu dengan jelas. Tetapi satu hal yang diyakini, orang itu tentu orang yang berilmu sangat tinggi, sehingga Mahisa Murti tidak tahu, kapan orang itu meloncat ke tengah jalan yang dilaluinya itu.

Namun dengan demikian, maka Mahisa Murti pun mengajak Empu Sidikara untuk melangkah mendekat.

Tetapi jarak antara Mahisa Murti dan Empu Sidikara dengan orang itu tidak menjadi lebih dekat. Keduanya tidak melihat orang itu menapak mundur. Tetapi rasa-rasanya orang itu tidak dapat didekatinya.

Namun tataran ilmu Mahisa Murti dan Empu Sidikara yang juga cukup tinggi, tidak begitu menghiraukannya. Mereka melangkah terus di tengah-tengah jalan bulak yang gelap.

Tetapi setelah menurut pendapat Mahisa Murti cukup jauh, maka ia pun telah berhenti sambil berkata, “Aku hanya akan sampai di sini.”

“Tidak anak muda” berkata orang itu, “aku ingin kau lebih mendekat. Dengan demikian kita akan dapat saling melihat dan mendengar pembicaraan kita dengan lebih jelas.”

Tetapi Mahisa Murti menjawab, “Cukup Ki Sanak. Jika kau ingin melihat dan mendengar pembicaraan kami lebih jelas, maka kau sajalah yang mendekat.”

“Bukankah itu tidak pantas? Kaulah yang muda, datanglah mendekat lagi.”

Tetapi Mahisa Murti justru mengajak Empu Sidikara duduk diatas rerumputan sambil berkata, “Jika kau ingin mendekat, mendekatlah. Jika tidak, maka biarlah aku kembali ke kota.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kau memang keras anak muda. Tetapi baiklah. Aku akan mendekat.”

Sebenarnyalah bayangan itu telah bergeser beberapa langkah semakin dekat. Namun yang nampak di dalam kegelapan malam hanyalah ujudnya saja. Mahisa Murti masih belum dapat melihat dengan jelas wajah orang itu.

Namun Mahisa Murti dan Empu Sidikara pun telah berdiri tegak pula. Justru mereka sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.

“Anak muda” berkata orang itu, “ternyata kau adalah seorang yang memang benar-benar sudah matang. Bukan saja ilmumu, tetapi juga sikapmu.”

“Kau tidak usah memuji Ki Sanak. Sekarang, katakan, apa yang kau ingini.”

“Anak muda” jawab orang itu, “perkenankan aku memperkenalkan diri. Aku adalah orang yang sudah lama sekali menenggelamkan diri dalam ilmu kanuragan. Sejak kanak-kanak aku sudah berguru dengan tekun. Sehingga akhirnya aku memiliki ilmu yang cukup menurut penilaianku sendiri. Tetapi tiba-tiba saja aku melihat kemampuan ilmumu. Aku menjadi sangat iri karenanya.”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Murti, “bukankah kau sendiri sudah memiliki ilmu yang tinggi?”

“Aku menjadi kurang yakin akan ilmuku sendiri. Itulah sebabnya aku menemui sekarang ini.”

“Jadi, maksudmu?” bertanya Mahisa Murti.

“Aku hanya ingin sedikit membuat perbandingan ilmu. Aku ingin menantangmu.” jawab orang itu.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Darimana kau tahu dan kemudian menganggap bahwa aku berilmu tinggi?”

“Aku pernah melihat kau bertempur. Jika kau bertanya kapan dan dimana, maka aku sudah lupa.” jawab orang itu.

“Kau siapa?” bertanya Mahisa Murti.

“Aku kira, kau tidak perlu mengetahui siapa aku. Yang penting, marilah kita mencoba, ilmu siapakah yang lebih baik.”

“Apakah itu perlu?” bertanya Mahisa Murti, “jika kau ingin dianggap terbaik, maka biarlah aku nyatakan kaulah orang yang terbaik itu.”

“Tidak anak muda. Soalnya bukan yang terbaik atau bukan. Tetapi aku benar-benar ingin membuat satu perbandingan ilmu.” jawab orang itu, “ilmuku atau ilmumulah yang lebih baik. Itu saja.”

“Jika kau sudah mengetahui, apakah ada gunanya?”

“Tentu. Hal itu akan sangat berguna bagiku,” jawab orang itu.

“Tetapi tidak bagiku.” jawab Mahisa Murti.

“Bagimu tentu akan sangat berarti juga.”

“Aku tidak memerlukannya” jawab Mahisa Murti.

“Jika demikian, perlu atau tidak perlu, aku akan memaksakan kehendakku. Aku sangat memerlukannya” berkata orang itu.

Mahisa Murti tidak dapat berbuat lain. Dipandanginya Empu Sidikara sejenak untuk mendapat pertimbangannya.

“Bukan kau yang memaksakan kehendakmu” berkata Empu Sidikara tegas. Agaknya Empu Sidikara tidak begitu senang terhadap sikap orang itu.

“Baiklah” berkata Mahisa Murti, “meskipun aku tidak mengenalmu, yang karena itu tidak mempunyai persoalan apapun denganmu, tetapi jika kau memaksakan kehendakmu, maka apaboleh buat.”

“Bagus anak muda” berkata orang itu, “aku memang sangat berharap.”

Mahisa Murti pun kemudian telah melangkah maju. Tanpa mengetahui maksud sebenarnya dari orang itu, maka Mahisa Murti pun sudah bersiap menghadapinya.

“Bersiaplah anak muda” berkata orang itu, “aku tidak akan sekedar bermain-main. Dalam perbandingan ilmu, untuk mencapai kesimpulan yang paling baik adalah apabila kita bersungguh-sungguh. Jika salah seorang diantara kita mengalami kesulitan atau bahkan mati, itu adalah akibat wajar dari satu usaha untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya.”

Mahisa Murti mengerutkan dahinya. Ia merasa bahwa ia telah terlibat dalam satu persoalan yang belum dimengertinya.

Demikianlah, maka orang itu pun telah bersiap. Semakin lama, maka pandangan Mahisa Murti pun menjadi semakin jelas di dalam kegelapan. Ia mulai dapat melihat wajah orang itu. Apalagi ketika mereka berhadapan semakin dekat.

“Bersiaplah anak muda, aku akan mulai” desis orang itu.

Mahisa Murti telah bersiap sepenuhnya. Sementara Empu Sidikara pun telah bergeser menjauh.

Sejenak kemudian, orang itu mulai bergerak. Ia dengan serta merta telah menyerang. Bukan sekedar untuk menjajagi ilmu Mahisa Murti, tetapi serangan-serangannya datang beruntun dengan garangnya melanda Mahisa Murti yang memang agak menjadi terkejut.

Namun Mahisa Murti pun segera menyesuaikan diri. Ia sadar bahwa ia berhadapan dengan orang berilmu tinggi. Karena itu, maka anak muda itu merasa harus sangat berhati-hati.

Pada benturan-benturan yang terjadi kemudian, maka Mahisa Murti merasakan betapa besar tenaga dan kemampuan orang itu. Apalagi orang itu telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi.

Karena itulah maka Mahisa Murti pun harus dengan cepat meningkatkan ilmunya pula. Bahkan ada sedikit kesan tergesa-gesa.

Tetapi karena pada dasarnya Mahisa Murti memiliki ilmu yang tinggi, maka pertempuran itu pun dengan cepat telah menjadi semakin sengit. Keduanya telah menghentakkan tenaga dalam yang mereka miliki. Sehingga dengan demikian benturan yang terjadi pun menjadi semakin kuat dan keras.

Empu Sidikara yang melihat pertempuran itu menjadi cemas. Ia melihat seakan-akan keduanya adalah orang-orang yang sudah mendendam untuk waktu yang lama. Demikian mereka bertemu, maka benturan yang sangat sengit telah terjadi.

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti dengan cepat merasa betapa lawannya telah menekannya. Serangan-serangannya datang beruntun susul-menyusul. Tangan dan kaki orang itu menyambar-nyambar dengan cepat dilambari kekuatan yang sangat besar.

Mahisa Murti juga harus mengerahkan kekuatan dan kemampuannya untuk mengimbangi tekanan lawannya. Sebagai pewaris ilmu Bajra Geni, maka Mahisa Murti benar-benar meyakinkan. Ketika lawannya menekannya semakin berat, maka Mahisa Murti pun segera sampai ke puncak ilmunya.

Dengan demikian, maka pertempuran pun menjadi semakin mendebarkan. Dua kekuatan ilmu yang tinggi telah saling berbenturan.

Ketika keduanya benar-benar sampai ke puncak ilmu mereka, maka pertempuran itu pun menjadi semakin rumit. Sekali-sekali keduanya bagaikan tenggelam dalam satu pusaran yang cepat. Namun kemudian keduanya telah mengambil jarak. Mereka hanya berkisar sejengkal-sejengkal dengan gerak-gerak yang nampaknya sederhana.

Orang yang menantang Mahisa Murti itu ternyata masih juga berusaha menekan Mahisa Murti. Tetapi sentuhan tangan Mahisa Murti telah membuatnya sangat berhati-hati. Tangan Mahisa Murti yang dilambari ilmunya itu seakan-akan menjadi sekeras baja. Bahkan semakin mapan ilmunya, sentuhan ilmu Bajra Geni itu telah menjalarkan getaran yang tajam ke dalam tubuh lawannya.

Namun lawannya seakan-akan mampu meredam ilmu itu. Seakan-akan tubuh orang itu memiliki kekuatan penangkal, sehingga getaran yang menjalar itu tidak menyakitinya. Demikian pula tangan Mahisa Murti yang menjadi sekeras baja itu tidak menggoyahkan pertahanannya.

Bahkan lawannya itu justru telah semakin mendesaknya. Kekuatannya seakan-akan justru semakin lama semakin besar. Sentuhan tangan Mahisa Murti yang menjadi bagaikan sekeras baja ternyata telah membentur tubuh yang seolah-olah menjadi liat. Kekuatan yang besar dan keras itu telah mengenai sasaran yang mampu menelan kekuatan dan kekerasan serangan Mahisa Murti. Tubuh orang itu, bahkan tulang-tulangnya seakan-akan menjadi sangat lentur sehingga benturan yang terjadi kemudian telah berubah, karena lawan Mahisa Murti itu tidak lagi mengandalkan benturan kekerasan untuk melawan kekerasan.

Dengan demikian, maka Mahisa Murti telah mengalami kesulitan. Yang terkilas kemudian di kepalanya adalah mempergunakan ilmunya yang lain. Mahisa Murti telah mengetrapkan pula ilmunya yang mampu menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya.

Beberapa saat pertempuran itu masih berlangsung dengan sengitnya. Mahisa Murti berusaha untuk sebanyak-banyaknya membenturkan serangannya atau justru menangkis serangan lawannya. Namun lawannya seakan-akan menjadi semakin liat. Mahisa Murti merasa semakin sulit untuk menghindari serangan-serangan itu. Beberapa kali lawannya mampu menembus pertahanannya dan mengenai tubuhnya.

Dalam pada itu, semakin lama Mahisa Murti bertempur, maka ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Meskipun lawannya itu seorang yang berilmu tinggi, dengan tatanan dan unsur-unsur gerak yang sangat rumit dan berbahaya, namun ada yang dapat dikenalinya. Sekali-sekali Mahisa Murti merasakan kesamaan unsur gerak lawannya itu dengan unsur gerak anak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani. Karena itu, maka Mahisa Murti mulai menjadi curiga, bahwa orang itu adalah saudara seperguruan atau bahkan guru anak muda yang telah dikalahkannya itu.

Namun meskipun persamaan itu dikenalinya, tetapi tataran antara keduanya sangat jauh berbeda. Lawannya itu agaknya benar-benar telah mampu mengembangkan ilmunya sampai ke puncaknya.

Meskipun demikian, Mahisa Murti masih berpengharapan. Dengan ilmunya yang mampu menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya, ia akan dapat meredakan serangan-serangan lawannya itu.

Tetapi harapan Mahisa Murti itu tidak segera terjadi. Meskipun benturan demi benturan terjadi, namun Mahisa Murti masih saja menghadapi lawannya dengan kekuatan dan ilmunya yang justru seakan-akan menjadi semakin tinggi.

Ketika Mahisa Murti menjadi gelisah, maka terdengar lawannya itu berkata, “Ilmumu memang luar biasa anak muda. Tetapi kau tidak akan mampu menghisap kekuatan dan kemampuanku dengan ilmumu itu. Ilmu yang jarang dimiliki orang sekarang ini. Ilmu yang sangat ditakuti oleh banyak orang.”

Jantung Mahisa Murti memang berdebar semakin keras. Ternyata orang itu memang berilmu sangat tinggi. Ilmunya yang selalu mampu menghentikan perlawanan lawan-lawannya itu ternyata tidak dapat ditrapkan kepada lawannya itu.

Namun dengan demikian Mahisa Murti harus mulai memperhitungkan kemungkinan untuk mengetrapkan ilmu pamungkasnya. Jika tidak ada jalan lain, maka ia akan melontarkan ilmunya itu. Tetapi akibatnya tidak dapat diduganya.

Namun karena ilmunya untuk menghisap kekuatan lawannya serta ilmu Bajra Geninya tidak mampu menghentikan perlawanan orang yang tidak dikenalnya itu, maka Mahisa Murti pun harus mempersiapkan diri dengan ilmu pamungkasnya. Bahkan Mahisa Murti sudah berniat untuk mempergunakan pedangnya yang akan mampu mendukung kekuatan ilmu pamungkasnya.

Ketika lawannya menjadi semakin mendesaknya, maka Mahisa Murti itu pun telah menarik pedangnya yang berwarna kehijau-hijauan.

Lawannya yang melihat pedang itu pun meloncat surut. Dengan nada berat ia berkata, “Pedangmu adalah pedang yang jarang ada duanya. Darimana kau dapatkan pedang itu”

“Apakah kau perlu mengetahuinya?” bertanya Mahisa Murti.”

“Aku mengerti bahwa kau tidak akan mengatakannya. Tetapi sudah tentu bahwa aku tidak akan membiarkan leherku kau tebas dengan pedangmu itu.”

“Aku tidak akan pernah menanyakannya. Tetapi aku akan melakukannya kecuali jika kau menghentikan pertempuran ini.” geram Mahisa Murti.

“Tidak anak muda” jawab orang itu, “aku masih belum mengetahui kemampuanmu sampai tuntas. Karena itu, maka aku akan bertempur terus. Jika kau mati dalam pertempuran ini, itu adalah salahmu sendiri.”

Mahisa Murti tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun dengan serta merta telah menyerang orang itu. Pedangnya berputaran dengan cepat. Sehingga yang nampak kemudian seolah-olah sebuah gumpalan asap yang berwarna kehijau-hijauan.

Tetapi lawan Mahisa Murti itu pun kemudian telah menarik senjatanya pula. Sepasang pisau belati panjang. Ternyata bahwa pisau belati panjang itu berwarna kehitaman. Kerelip-kerelip kecil nampak sepanjang daun pisau belati yang mirip dengan sebilah keris itu.

Bahkan ternyata orang itu berkata, “Yang aku pegang memang berbentuk pisau. Tetapi buatannya tidak lebih buruk dari membuat keris. Bahkan ketika pisau ini dibuat, Empu yang membuatnya sangat memperhatikan kekurangan-kekurangan yang terdapat pada sebilah keris jika dipergunakan untuk bertempur seperti yang sedang kau lakukan sekarang. Karena itu, maka Empu itu telah membuat senjata yang daunnya seperti keris dengan pamornya tetapi memiliki kemampuan tempur lebih baik daripada keris. Bahkan sebagai pusaka, kedua pisauku ini terbuat dari wesi aji yang bernilai tinggi.”

Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi pedangnya mulai menebas dengan cepat. Namun lawannya mampu menangkisnya. Bahkan kemudian ketika pedang itu berputar dan mematuk ke arah jantung. Lawannya itu telah meloncat surut dengan cepatnya.

Sejenak kemudian, maka pertempuran pun berlangsung semakin cepat. Benturan-benturan yang terjadi pun menjadi semakin keras. Namun terasa di tangan Mahisa Murti, bahwa kekuatan lawannya benar-benar tidak menyusut sama sekali.

Bahkan semakin lama kedua ujung pisau belati itu rasa-rasanya menjadi semakin dekat dengan kulit Mahisa Murti.

Mahisa Murti benar-benar tidak mempunyai pilihan lain. Sebelum kulit dagingnya disayat oleh pisau lawannya, maka Mahisa Murti memutuskan untuk menghentikan perlawanan orang itu dengan ilmu pamungkasnya.

Tetapi memang tidak mudah bagi Mahisa Murti untuk melepaskan ilmunya yang mungkin akan dapat menghancurkan tubuh lawannya. Meskipun ia tahu bahwa lawannya orang berilmu tinggi. Bahkan mungkin lawannya akan dapat melepaskan ilmunya yang jauh lebih berbahaya dari ilmu Mahisa Murti sehingga ia sendirilah yang akan hancur menjadi debu.

Namun saat-saat Mahisa Murti menjadi ragu ia telah dipergunakan lawannya sebaik-baiknya. Serangannya justru telah melibatnya dengan cepat, sehingga tidak sempat dihindarinya lagi.

Dua goresan pisau telah menyayat lengan dan pundaknya. Ketika perasaan pedih dan nyeri itu menyengatnya, maka Mahisa Murti segera meloncat mundur. Ia terkejut ketika ia merasa darah yang hangat telah meleleh dari luka-lukanya.

Dengan demikian, maka Mahisa Murti pun menjadi semakin yakin bahwa ia harus mempergunakan ilmu pamungkasnya. Jika lawannya juga mempergunakan ilmu yang lebih tinggi dari ilmunya, maka apaboleh buat. Ia sendiri akan lebur di gelapnya malam. Biarlah Empu Sidikara menjadi saksi kehancurannya.

“Mudah-mudahan Empu Sidikara dapat menyebut siapakah lawanku ini” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya, “jika Empu Sidikara melihat unsur-unsur geraknya yang sama tetapi dalam tataran yang jauh lebih tinggi dari anak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani, maka Empu Sidikara tentu akan dapat menyebut pula siapakah lawanku, sehingga ayah dan Arya Kuda Cemani mengetahui, bahwa kekalahan anak muda di halaman rumah Arya Kuda Cemani itu telah menimbulkan dendam bagi perguruannya. Meskipun Empu Sidikara tidak tahu apakah orang ini saudara seperguruannya atau bahkan gurunya sendiri.”

Demikianlah, maka Mahisa Murti tidak mempunyai pilihan lain. Ia tidak mau dikoyak-koyak oleh pisau-pisau belati lawannya. Karena itu, ketika keadaannya menjadi semakin sulit, maka Mahisa Murti pun telah meloncat mengambil jarak.

Mahisa Murti tidak memberi kesempatan menyerang. Demikian lawannya siap untuk meloncat memburunya, maka Mahisa Murti pun telah berdiri tegak dengan kedua belah tangannya memegangi hulu pedangnya. Dengan cepat ujung pedangnya telah terangkat, sedang ujungnya lurus mengarah ke dada lawannya.

Mahisa Murti tidak menunggu lagi. Dengan dilambari oleh segenap ilmu dan kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya, maka Mahisa Murti telah melontarkan serangannya dari jarak beberapa langkah dari lawannya.

Demikian ujung pedangnya yang berwarna kehijau-hijauan itu lurus mengacu ke arah dada lawannya, maka seleret sinar meluncur dengan cepat dari ujung pedangnya melampaui kecepatan anak panah yang lepas dari busurnya.

Namun ternyata lawannya benar-benar tangkas. Ia memang terkejut sesaat. Tetapi ternyata orang itu masih sempat meloncat dengan kecepatan yang tidak kasat mata, sehingga serangan Mahisa Murti itu tidak mengenainya. Namun Mahisa Murti tidak membiarkan orang itu terlepas. Karena itu, sesaat kemudian maka serangan berikutnya telah terlepas pula meluncur mengarah ke jantung orang itu.

Tetapi sekali lagi serangan Mahisa Murti tidak mengenai sasaran. Orang itu sempat menghindar dan bahkan meloncat semakin dekat.

Bahkan serangan ketiga Mahisa Murti pun tidak mengenainya pula. Lawan Mahisa Murti itu sudah berada dekat di sebelahnya. Dengan demikian, maka Mahisa Murti tidak sempat lagi menyerangnya. Apalagi ujung senjata lawannya itu telah terayun menggapai tubuhnya, sehingga Mahisa Murti harus meloncat menghindar. Ketika kemudian Mahisa Murti berusaha untuk mengambil jarak, maka orang itu benar-benar tidak memberinya kesempatan.

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti mengalami kesulitan. Meskipun orang itu belum mempergunakan ilmu yang mampu menggetarkan jantung, namun kecepatan geraknya serta kemampuannya menangkal ilmu Mahisa Murti yang dapat menghisap kekuatan dan kemampuannya, telah membuat Mahisa Murti berdebar-debar. Bahkan juga Empu Sidikara yang berdiri diluar arena.

Dengan demikian, maka Empu Sidikara memperhitungkan bahwa Mahisa Murti tidak akan mampu mengimbangi kemampuan orang itu. Padahal menurut pendapatnya, Mahisa Murti adalah seorang anak muda yang berilmu sangat tinggi, bahkan hampir tidak dapat digapai oleh penalarannya.

Tetapi lawannya itu ternyata mampu mengatasinya. Bahkan menjadi sangat berbahaya bagi Mahisa Murti.

Karena itu, tanpa berpikir panjang lagi, maka Empu Sidikara itu pun telah melangkah maju sambil berkata, “Ki Sanak. Kau datang dengan membawa dendam di hatimu. Aku melihat hubunganmu dengan anak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani. Karena itu, kedatanganmu tentu ada hubungannya dengan kekalahan anak itu yang telah bertempur melawan Mahisa Murti. Sekarang kau datang untuk membalas dendam. Sebenarnya aku tidak akan turut campur seandainya kedatanganmu itu bukan karena dendam. Sementara Mahisa Murti berdiri di pihak yang benar. Karena itu, sebagaimana kau membela anak muda itu, yang aku tidak tahu apakah ia saudara seperguruanmu atau muridmu, maka aku pun akan membela sahabatku. Aku pun telah dibakar oleh dendam sebagaimana menyala di hatimu.”

Orang itu ternyata meloncat surut. Dengan nada rendah ia berkata, “Ki Sanak. Aku tahu bahwa ilmumu masih belum setinggi ilmu Mahisa Murti. Tetapi jika kalian berdua bertempur bersama-sama maka aku tentu tidak akan dapat mengimbangi. Kalian berdua memiliki kemampuan menyerang dari jarak jauh. Aku masih mampu menghindar jika Mahisa Murti saja yang menyerangku, tetapi jika kalian berdua menyerang bersama-sama, maka aku tentu akan dapat kalian hancurkan. Sementara itu, aku tidak ingin melakukannya atas kalian. Baik kalian berdua maupun salah seorang diantara kalian.”

Empu Sidikara termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian berkata, “Jangan berbohong. Kau tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat demikian.”

“Aku sudah menduga bahwa kalian tidak akan mempercayainya. Tetapi jangan licik. Beri aku kesempatan menunjukkan kepada kalian apakah aku dapat berbuat demikian atau tidak.”

Mahisa Murti dan Empu Sidikara tidak menjawab. Sementara itu, ia melihat orang itu mengatupkan kedua telapak tangannya. Namun sejenak kemudian, orang itu telah menghentakkan tangannya ke arah sebatang pohon gayam yang tumbuh di atas tanggul parit di pinggir jalan.

Dari telapak tangannya yang terbuka itu seakan-akan telah meluncur bola api sebesar buah jeruk pecel meluncur dengan cepat ke arah pohon gayam itu. Bola api yang berwarna merah kebiru-biruan.

Namun demikian bola api itu menyentuh selembar daun pada pohon gayam itu, maka meledaklah bunga api sebesar gubug kecil yang terdapat di tengah-tengah sawah untuk berteduh para petani dari teriknya matahari yang menyengat punggung di saat mereka bekerja di sawah di tengah hari.

Mahisa Murti dan Empu Sidikara memang terkejut. Mereka menjadi semakin yakin, bahwa lawannya berilmu sangat tinggi.

Kedua orang itu bagaikan membeku ketika mereka melihat bunga api itu kemudian padam. Ternyata cabang daun pohon gayam itu telah habis terbakar. Sementara cabang dan ranting-ranting masih nampak membara. Namun kemudian cabang-cabang pohon gayam itu beruntuhan jatuh di tanah.

Namun dengan meledaknya bunga api itu, Mahisa Murti dan Empu Sidikara sempat melihat wajah orang itu sekilas. Bukan sekedar bayangan di kegelapan. Tetapi mereka dapat melihat wajah itu dengan jelas. Wajah seorang yang umurnya tentu sudah melampaui pertengahan abad.

Meskipun demikian, dengan kesadaran bahwa orang itu berilmu sangat tinggi, maka Mahisa Murti dan Empu Sidikara tidak dapat ingkar. Jika mereka masih harus bertempur, maka mereka telah bersiap menghadapi segala kemungkinan, apapun yang akan terjadi atas mereka.

Tetapi keduanya menjadi heran. Orang itu nampaknya tidak mempersiapkan dirinya untuk meneruskan pertempuran. Sambil melangkah surut orang itu berkata, “Sayang. Aku tidak dapat meneruskan pertempuran ini. Seperti sudah aku katakan, aku tidak ingin membinasakan kalian atau salah seorang dari kalian. Karena menurut pendapatku, kehadiran kalian ternyata sangat berarti bagi orang banyak. Telah banyak yang kalian lakukan untuk kepentingan sesama. Karena itu, maka keinginanku untuk membuat perbandingan ilmu sudah aku anggap cukup. Aku sudah tahu seberapa tinggi tingkat kemampuan Mahisa Murti. Karena itu, aku mohon diri. Aku minta maaf jika aku sudah melukaimu, Mahisa Murti. Tanpa melukaimu, maka kau tentu tidak akan sampai kepada puncak kemampuanmu. Salam buat Mahendra, Arya Kuda Cemani, Mahisa Pukat dan seluruh keluarga mereka termasuk para penghuni Padepokan Bajra Seta.”

Orang itu tidak menunggu jawaban. Sejenak kemudian, orang itu seakan-akan melayang mundur. Semakin lama semakin jauh, sehingga akhirnya hilang di dalam kegelapan.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun lukanya ternyata masih juga terasa nyeri.

Ketika Mahisa Murti berdesis menahan pedih luka di lengan dan pundaknya, maka Empu Sidikara pun berkata, “Lukamu perlu diobati. Mungkin luka itu berbahaya sehingga orang itu tidak merasa perlu untuk menyerangmu dengan ilmunya yang lain.”

“Aku tidak terpengaruh oleh racun” berkata Mahisa Murti.

“Mungkin ia mempunyai sejenis racun yang lain.” desis Empu Sidikara.

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Menilik titik-titik darah yang keluar dari luka, agaknya luka itu justru tidak beracun.”

Empu Sidikara mengangguk-angguk. Ketika ia melihat luka itu, ia memang menduga bahwa luka itu tidak dikotori oleh racun. Tetapi Empu Sidikara masih ingin melihat luka itu di tempat yang lebih terang.

Karena itu, maka ia pun mengajak Mahisa Murti untuk kembali memasuki kota. Di beberapa regol halaman terdapat oncor yang dapat menerangi luka itu.

Ketika Empu Sidikara melihat luka Mahisa Murti dibawah cahaya oncor di sebuah regol rumah yang besar, ternyata bahwa luka itu menurut pengamatan Empu Sidikara memang tidak beracun.

“Nampaknya orang itu memang tidak berniat buruk” desis Empu Sidikara kemudian,

Mahisa Murti mengangguk. Katanya, “Mungkin. Menurut perhitunganku, ia akan dapat berbuat lebih banyak dari yang dilakukannya itu. Agaknya orang itu benar-benar ingin menjajagi kemampuanku sampai ke puncak.”

“Lalu, menurut pendapatmu, apa maksudnya melakukan penjajagan sampai tuntas?” bertanya Empu Sidikara.

Mahisa Murti menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu. Ia datang dan pergi begitu saja.”

“Tetapi agaknya orang itu mempunyai hubungan dengan anak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani.” berkata Empu Sidikara.

“Aku juga melihat unsur itu.” jawab Mahisa Murti.

“Unsur itu jelas ada. Ketika kau berkelahi dengan anak itu, aku tidak dapat melihat dengan utuh. Tetapi aku dapat melihat kesamaan itu.” berkata Empu Sidikara.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Empu Sidikara waktu itu memang sibuk dengan Mahisa Pukat. Namun ia dapat segera mengenali kesamaan unsur yang ada diantara kedua lawan Mahisa Murti itu meskipun pada tataran yang jauh berbeda.

“Sudahlah” berkata Empu Sidikara, “kita akan pulang. Bukankah Mahisa Semu dan Mahisa Amping menunggumu di rumah Arya Kuda Cemani?”

“Dengan luka di bahu dan di pundak?”

“Lalu, apakah anak-anak itu dibiarkan di sana, sementara besok kau merencanakan kembali ke Padepokan Bajra Seta?”

“Aku ingin pulang ke rumah ayah lebih dahulu untuk sekedar membersihkan darah yang mengering di sekitar luka, agar bekasnya tidak nampak terlalu menarik perhatian.

“Tetapi luka itu sendiri tidak akan hilang dalam sekejap”, berkata Empu Sidikara.

0oo0dw0oo0

(Bersambung ke Jilid 116)

 

Koleksi buku: Ki Ismoyo
Scanning: Ki Ismooyo
Convert, Edit, Ebook by Dewi KZ
http://kangzusi.com/

<<kembali | lanjut >>

Satu Tanggapan

  1. Ini cerita sepertinya ada yg kurang dan rada janggal
    Pengarang/penulis ceritanya mungkin lupa atau emang sengaja menghilangkan tokoh cerita ini.
    Bukankah anak Ki Mahendra ada 3
    Mahisa Bungalan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
    Kenapa tiba2 tokoh Mahisa Bungan seperti raib ditelan bumi ? Padahal dalam babak – babak akhir diceritakan jika Mahisa Pukat akan menikah namun mengapa sebagai kakak tertua tokoh Mahisa Bungalan tidak muncul ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s