PdLS-59


<<kembali | lanjut >>

ANUSAPATI yang sudah sangat lelah itu, tiba-tiba saja tidak lagi dapat berdiri tegak. Dengan memejamkan matanya ia menjatuhkan dirinya ke lantai arena, tepat ketika rotan Tohjaya hampir menyentuh lehernya, sehingga dengan demikian tongkat itu sama sekali tidak mengenainya. Namun justru karena itu, Tohjaya sendiri telah diseret oleh ayunan tongkatnya dan jatuh pula berguling di lantai arena.

Keduanya, Anusapati dan Tohjaya. kini terbaring diam. Keduanya berusaha untuk bangkit dan duduk dengan nafas yang serasa akan putus.

Namun, bagaimana-pun juga, prajurit yang bertugas untuk memberikan latihan kepada keduanya naik juga ke atas arena. Sambil mengangkat Tohjaya ia membungkukkan badannya dalam-dalam menghadap Sri Rajasa. Dengan suara terputus-putus ia berkata, “Ampun Tuanku. Ternyata latihan kali Ini telah dimenangkan oleh Tuanku Tohjaya. Karena Tuanku Putera Mahkota atas kehendak sendiri telah meletakkan tongkat latihannya.

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia tersenyum meskipun ia diliputi oleh keragu-raguan atas latihan yang baru saja dilihatnya. Namun ada juga dugaan padanya, bahwa Tohjaya telah mencoba memenuhi pesannya, menahan diri untuk tidak membuat Anusapati malu dihadapan banyak orang.

Namun kadang-kadang kesannya atas wajah Tohjaya yang serasa membara itulah yang selalu meragukannya. Meskipun demikian untuk sementara ia mencoba berkesimpulan bahwa Tohjaya telah memenuhi pesannya, memenangkan latihan itu tanpa menyakiti hati Anusapati.

Kedua anak-anak muda yang kelelahan itu-pun kemudian dibimbing keluar dari arena. Seorang Senapati yang sudah agak tua, telah mengangkat Anusapati dan membawanya turun. Namun ia merasa heran, bahwa Anusapati masih juga sempat untuk tersenyum.

Apalagi ketika mereka menuruni tangga arena, ketika Senapati itu dalam keadaan yang agak sulit untuk membimbing Anusapati, maka seolah-olah Anusapati itu masih juga dapat tegak dan berjalan sendiri. Sedangkan saat itu Tohjaya benar-benar berada dalam keadaan yang payah.

Namun ketika Anusapati sudah berada di tanah, dan ketika ia dibimbing untuk menghadap ayahanda Sri Rajasa, maka langkahnya telah menjadi semakin gontai.

Dengan nafas yang terengah-engah Anusapati membungkukkan kepalanya dalam-dalam di samping Tohjaya di hadapan Sri Rajasa yang berkata kepada mereka, “Latihan-latihan semacam ini memang perlu kalian lakukan. Para Senapati akan dapat menilai, sampai dimana kemajuan kalian di dalam olah kanuragan. Sampai saat ini ternyata kalian sudah agak maju menjelang masa dewasa kalian. Namun sebagai seorang Putera Mahkota, yang kelak akan menjadi seorang Raja, Anusapati harus berlatih lebih baik lagi. Kau tidak dapat ingkar dari kenyataan, bahwa kau masih kalah meskipun hanya selapis dari adikmu Tohjaya.”

“Hamba Ayahanda,” jawab Anusapati dengan nafas terengah-engah, “hamba akan mencoba.”

“Itu-pun karena hamba selalu ingat pesan Ayahanda,” Tohjaya menyahut.

Anusapati mengerutkan keningnya. “Apakah pesan Ayahanda itu?” ia bertanya didalam hatinya.

Namun Tohjaya sudah menjelaskannya, “Kalau Ayahanda tidak berpesan agar hamba berusaha untuk tidak membuat kakanda Anusapati malu di arena, maka hamba sudah dapat mengalahkannya, begitu latihan ini dimulai.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Anusapati yang menegang sejenak. Namun kemudian Putera Mahkota itu menundukkan kepalanya.

“Hamba mendapat banyak kesulitan Tuanku,” pelatihnya-pun berkata pula.

“Kenapa?” bertanya Sri Rajasa.

“Tuanku Putera Mahkota terlampau sulit untuk mengikuti latihan-latihan yang hamba berikan. Jauh dari Adinda Putera Mahkota itu.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Sedang dada Anusapati menjadi berdesir karenanya. Ketika ia sempat memandang wajah pelatih itu, tiba-saja telah tumbuh perasaan muak yang hampir tidak tertahankan.

Para Senapati yang ada di sekitar arena itu-pun kemudian telah berdiri pula dan mengerumuni kedua putera Sri Rajasa itu.

Salah seorang Panglima yang berdiri di belakang keduanya berkata, “Tetapi ternyata bahwa seperti yang dikatakan oleh Tuanku Sri Rajasa, keduanya hanya berselisih selapis kecil.”

“Aku tidak bersungguh-sungguh,” teriak Tohjaya.

“Ya. Tuanku Tohjaya tidak bersungguh-sungguh,” ulang pelatihnya. “Akulah yang melihat keadaan keduanya setiap hari. Tuanku Anusapati memang agak lambat.”

“Sudahlah,” berkata Sri Rajasa, “yang kurang memang harus dicukupi. Berlatihlah baik-baik.”

“Hamba Ayahanda,” jawab Anusapati.

“Kalian berdua masih terlampau muda. Karena itu kalian berdua harus bekerja keras untuk masa depan kalian.”

“Hamba Ayahanda,” keduanya menjawab hampir bersamaan.

Namun kemudian Sri Rajasa itu berkata, “Kau jangan terlampau manja Anusapati. Kedudukanmu bukan kedudukan untuk bermanja-manja. Tetapi justru sebaliknya.”

Dada Anusapati berdesir karenanya. Setiap kali ayahandanya selalu membuatnya malu dihadapan banyak orang. Apa tagi ketika prajurit yang memberikan latihan kepadanya menyambung, “Hamba Tuanku. Ampunkan hamba kalau hamba menganggap, bahwa Tuanku Putera Mahkota memang terlampau manja, sehingga Putera Mahkota sama sekali tidak bersedia mengotori kulitnya dengan debu di arena latihan sehari-hari.”

Anusapati masih tetap menundukkan kepalanya. Tetapi ia mengumpat-umpat di dalam hati. Ia menjadi semakin muak kepada prajurit yang melatihnya, jauh melampaui kekecewaannya terhadap Ayahanda Sri Rajasa sendiri.

“Kalau aku mendapat kesempatan, akan aku bungkam saja mulutnya itu,” katanya di dalam hati.

“Baiklah,” berkata Sri Rajasa kemudian, “latihan ini sudah selesai. Masih jauh dari mencukupi. Kalian masih harus bekerja lebih berat lagi.”

“Hamba Ayahanda,” sahut kedua anak-anak muda itu hampir bersamaan.

Sejenak kemudian maka latihan itu-pun sudah berakhir. Kedua anak-anak muda itu-pun kemudian diantar ke bangsal masing-masing.

Di kejauhan, seorang juru taman berdiri sambil menggeliat. Perlahan-lahan ia berdesis, “Bukan main. Keduanya tangkas seperti sepasang garuda yang berlaga di langit.”

“Besok kita akan berlatih pula,” sahut kawannya yang telah setengah umur.

Juru taman yang masih muda itu tersenyum. Katanya, “Kalau kau mau memberi aku sedikit petunjuk, aku akan menjadi garuda pula.”

“Bukan, bukan seekor garuda. Tetapi seekor elang yang melihat anak ayam.”

Juru taman yang muda, yang bernama Sumekar itu tersenyum. Katanya, “beruntunglah kalau aku menjadi elang.”

“Kasianlah anak-anak ayam di seluruh Singasari.”

Sumekar tertawa. Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya, meninggalkan tempatnva masuk kembali ke dalam taman. Namun didalam hati ia masih saja memuji cara yang ditempuh Anusapati untuk mengakhiri latihan itu. “Karena Sri Rajasa tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya, agaknya ia tidak mencurigainya,” katanya di dalam hati.

Memang Sri Rajasa tidak langsung mencurigai Anusapati. Ia memang menjadi heran, kenapa Tohjaya tampaknya menjumpai kesulitan untuk menyelesaikan latihan itu, sehingga ia harus memeras tenaganya. Tetapi karena Tohjaya sendiri berkata kepadanya, bahwa ia sekedar menuruti perintah ayahandanya, maka Sri Rajasa-pun mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Tetapi di saat-saat terakhir aku melihat wajahmu menjadi sangat tegang. Matamu merah seperti bara. Tampaknya kau benar-benar sedang mengerahkan segenap kemampuan yang ada,” berkata Sri Rajasa kepada Tohjaya.

“Ampun Ayahanda,” sahut Tohjaya, “justru sebaliknya. Hamba sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri, jangan sampai hamba kehilangan pengendalian diri dan membuat kakang Anusapati malu di arena.”

“Dan kau kehabisan nafas karenanya?”

“Tentu Ayahanda. Hamba tidak dapat dengan leluasa mengalahkannya. Hamba harus menguasainya perlahan-lahan. Membiarkannya tetap bertahan sampai batas terakhir.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun meskipun ia mengangguk-anggukkan kepalanya, ia berkata didalam hati, “Memang selisih mereka yang sebenarnya tidak terlampau besar.”

Namun demikian, Sri Rajasa masih tidak menyangka, bahwa Anusapati lah yang sebenarnya harus menahan diri sekuat-kuatnya, karena ilmunya yang jauh lebih maju dari Tohjaya.

Ketika Tohjaya kemudian kembali kepada ibunya, maki Ken Umang-pun bertanya kepadanya, “Kenapa kau hiraukan pesan Ayahanda Sri Rajasa?”

Tohjaya tidak segera menyahut.

“Kau harus menunjukkan kelebihanmu. Kenapa kau tahan-tahan kemampuanmu? Seharusnya setiap orang menjadi yakin, bahwa kau jauh lebih baik daripada Anusapati. Bahkan kau harus meyakinkan mereka, bahwa Anusapati tidak berhak menjadi seorang Putera Mahkota.”

“Hamba takut kepada Ayahanda Sri Rajasa itu. Ayahanda sudah berpesan bersungguh-sungguh agar hamba memenangkan latihan itu tanpa menyakiti hatinya. Dan hamba sudah mencoba melakukannya.”

“Kau harus mencari kesempatan sekali lagi. Kau harus menundukkannya begitu latihan dimulai. Dengan demikian, kau dapat meyakinkan setiap orang yang menyaksikan latihan terbuka itu, bahwa sebenarnya Anusapati bukan apa-apa dibandingkan dengan kau.”

Tohjaya tidak menyahut. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. Bagaimana-pun ia mengatur jawaban kepada ibunya, namun ia tidak danat berbohong kepada diri sendiri, bahwa sebenarnya ia sama sekali tidak mampu melakukannya. Bahkan betapa ia memeras tenaganya, ia hanya dapat mendesak Anusapati selangkah demi selangkah. Sehingga kesan yang timbul dari latihan itu adalah, keduanya memiliki kemampuan yang hanya berselisih selapis.

“Apakah kau akan melakukannya untuk lain kali?”

Dada Tohjaya berdesir. Tetapi kemudian ia menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Baiklah Ibunda. Hamba akan melakukannya untuk lain kali. Tetapi bagaimana kalau Ayahanda Sri Rajasa marah kepada hamba. Kakanda Anusapati terlampau manja, sehingga kadang-kadang menjadi berlebih-lebihan.”

“Kalau sudah terlanjur kau lakukan di arena, dan semua orang sudah menyaksikannya, Ayahanda Sri Rajasa pasti tidak akan dapat marah lagi kepadamu. Semuanya sudah terlanjur dan setiap mata sudah terbuka.”

Sekali lagi Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah ibu. Hamba akan melakukannya.”

“Usahakan bahwa kau akan dapat melakukannya dalam waktu yang singkat. Aku akan mohon kepada Sri Rajasa, supaya latihan serupa itu segera diulangi lagi. Bukankah kau bersedia?”

Tohjaya menjadi ragu-ragu. Kepada dirinya sendiri ia harus mengakui, bahwa apabila ia salah langkah, ada kemungkinan Anusapatilah yang memenangkan latihan terbuka itu.

Tiba-tiba ingatan Tohjaya segera hinggap kepada prajurit pelatihnya yang telah ditunjuk oleh Sri Rajasa untuk memberikan bimbingan kepadanya dan kepada Anusapati.

“Apakah orang itu telah mengelabui aku,” katanya di dalam hati. Akhirnya Tohjaya bertekad untuk menggantungkan latihan-latihannya dan memberatkannya kepada gurunya yang lain. Gurunya yang khusus diberikan untuknya.

“Ia juga menyaksikan latihan terbuka itu,” desis Tohjaya.

Meski-pun demikian, ia masih juga selalu dibayangi oleh kecemasan, ia tidak dapat berterus-terang kepada ibunya, bahwa sebenarnya ia mendapat kesulitan. Namun untuk melakukan latihan yang serupa diwaktu yang singkat, ia masih juga agak ragu-ragu.

“Ibunda,” katanya kemudian, “meskipun hamba tidak berkeberatan, tetapi sebaiknya biarlah ada waktu sejenak. Mungkin sebulan atau dua bulan, sementara aku dapat menambah ilmuku. Latihan yang demikian, apabila terlampau sering diadakan, tentu akan menumbuhkan kecurigaan dan barangkali juga menumbuhkan kesan yang kurang baik.”

Ibunya yang terlampau bernafsu untuk menghinakan Anusapati di depan umum itu menjadi kecewa. Tetapi ia harus menerima pendapat Tohjaya, agar hal itu tidak menumbuhkan kecurigaan pada orang-orang lain dan para Senapati.

Dalam pada itu, Anusapati setelah membersihkan dirinya, menghadap pula kepada Ibunda Permaisuri yang dengan cemas menunggunya.

“Bagaimana dengan kau? “ Ken Dedes bertanya.

Anusapati yang masih tetap tampak segar itu berkata, “Suatu latihan yang menarik ibunda. meskipun hamba tidak memenangkan latihan itu, namun hamba dapat menarik banyak pengalaman daripadanya.”

“Kau tidak dapat mengimbangi adikmu Tohjaya?”

“Hampir saja. Tetapi masih ada selisih selapis. Tetapi itu tidak mengapa. Kami masing-masing tidak berhasil menyentuh tubuh lawan dengan rotan itu. Di saat-saat terakhir aku sengaja meletakkan rotanku, karena kami sudah kelelahan.”

Permaisuri Singasari itu memandang Puteranya dengan penuh iba. Terbayang di wajahnya, betapa anaknya itu merasa selalu tersisih dari keluarga istana. Dan kini, di arena, disaksikan oleh banyak orang, ia dapat dikalahkan oleh adiknya yang lebih muda.

Anusapati yang melihat wajah ibunya yang murung berkata sambil tersenyum, “Tetapi itu bukan berarti kekalahan Ibu. Lihat hamba masih segar. Tidak ada jalur sehelai-pun yang melekat di tubuh hamba, karena rotan adinda Tohjaya sama sekail tidak berhasil mengenai hamba, meskipun hamba juga tidak dapat mengenainya. Setiap orang akan mendapat kesan bahwa kemampuan kami berimbang.”

“Tetapi kau menyerah di akhir latihan itu?”

“Suatu sikap yang sebaik-baiknya hamba lakukan. Kami sudah tidak mampu lagi bergerak. Setiap kali kami hanya terhuyung-huyung saja, dan bahkan kadang-kadang kami terjatuh tanpa sebab. Sudah tentu Adinda Tohjaya yang masih belum dapat berpikir masak, tidak akan mau menghentikan latihan yang sudah tidak dapat berlangsung wajar itu. Hambalah yang harus menyatakan, bahwa sebaiknya latihan itu diakhiri, meskipun kesannya, hamba masih kalah selapis. Tidak dalam ilmu kanuragan, tetapi barangkali, nafas hambalah yang dianggapnya kalah panjang. Atau daya tahan hamba yang sedikit berada dibawah Adinda Tohjaya yang sedang tumbuh itu.” Anusapati berhenti sejenak, “tetapi itu tidak mengapa. Perbedaan itu tidak banyak artinya.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kau adalah Putera Mahkota Anusapati. Kau harus dapat menyesuaikan dirimu.”

“Hamba akan berusaha ibu.”

“Sekarang beristirahatlah. Kau agaknya terlampau lelah.”

Anusapati-pun kemudian minta diri. Ketika ia berada di luar bilik ibunya, dilihatnya seorang juru taman sedang asyik menyiram pohon bunga-bungaan. Sedang di regol longkangan, dua orag prajurit berjalan dengan senjata dipundak.

“Peronda itu melihat latihan terbuka pula agaknya.” desisnya. Namun Anusapati tidak memperhatikannya lagi. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati juru taman yang sedang menuangkan air dari dalam lodong bambu.

“Aku lihat paman menonton juga,” desis Anusapati.

“Hamba tuanku. Hamba melihat bagaimana Tuanku mengakhiri latihan itu.”

“Bagimana kesanmu?”

“Itu adalah cara yang sebaik-baiknya.”

Anusapati tersenyum. Kemudian ia melangkah pergi sambil berkata, “Latihan yang menarik.”

Sumekar, juru taman itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia masih melihat Anusapati sekali lagi berpaling sambil tersenyum.

Di bangsalnya sendiri, Anusapati segera pergi ke biliknya. embannya telah menyediakan reramuan yang dibuatnya dari ukar-akar perdu, yang dapat mengurangi rasa lelah.

“Tuanku barangkali terlampau lelah.”

Anusapati menggeleng, “Tidak begitu lelah. Biarlah nanti malam saja aku menggosok kakiku dengan reramuan itu.”

Embannya megerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi nanti malam sendi-sendi tuanku akan merasa sakit.”

“Aku hanya bermain-main sedikit.”

Emban itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang melihat Anusapati masih saja segar, seolah-olah sama sekali tidak membekas pengerahan tenaga dan kekuatan di arena latihan itu.

Karena itu embannya tidak memaksakannya. Dibiarkannya saja Anusapati kemudian berbaring di pembaringannya.

Namun dalam nada itu, Tohjaya masih saja sibuk berpikir, bagaimana pada saat yang lain ia dapat berbuat lebih baik dari latihan yang baru saja dilakukannya.

“Aku harus dapat menghancurkan namanya,” ia menggumam.

Dihari berikutnya, Tohjaya langsung menegor prajurit yang melatihnya bersama dengan Anusapati. Ia tidak puas dengan latihan terbuka yang sudah berlangsung.

“Hamba memang tidak mengira tuanku,” jawab pelatih itu.

“Kau mengelabui aku. Atau kau memang sebangsa ular berkepala dua?”

“Ampun tuanku. Sama sekali bukan. Yang terjadi itu adalah di luar dugaan hamba.”

“Aku akan melihat perkembangan selanjutnya. Kalau kau masih tetap tidak mampu untuk menciptakan selisih yang besar, aku akan minta kepada Ayahanda Sri Rajasa, asal kau disingkirkan saja dari istana.”

“Ampun Tuanku. Hamba akan mencoba.”

Meskipun demikian, Tohjaya kini lebih menekankan latihan-latihannya pada pelatih yang khusus membimbingnya.

Tegoran itu telah membuat prajurit yang menuntun kedua putera Sri Rajasa itu menjadi bingung. Ia takut, apabila pada suatu saat, ia harus meninggalkan istana. Karena itu, maka tanpa memikirkan akibatnya, ia telah mencoba untuk menekan Anusapati, agar ia menjadi semakin berkecil hati dan kehilangan harapan untuk dapat memiliki ilmu yang lebih tinggi.

“Tuanku dapat berbangga dengan latihan terbuka itu,” ia berkata pada suatu latihan dengan Anusapati.

Anusapati menganggukkan kepalanya, “Aku berterima kasih kepadamu. Latihan dihari terakhir menjelang latihan terbuka di arena itu memang sangat bermanfaat. Aku akhirnya dapat mengimbangi Adinda Tohjaya meskipun akhirnya aku masih juga harus menyerah. Tetapi lain kali. mudah-mudahan aku benar-benar dapat menyamainya.”

“Itu harapan yang sangat berlebih-lebihan tuanku. Tuanku harus menyadari keadaan tuanku. Tuanku harus berterima kasih karena Adinda tuanku Tohjaya menaruh belas kasihan kepada tuanku di arena. Kalau tidak maka tuanku pasti akan segera tercemar, karena tuanku sama sekali tidak mampu berbuat apapun.”

Terasa dada Anusapati berguncang. Hampir saja ia kehilangan kesabaran. Untunglah bahwa ia masih dapat membawakan diri dan berkata, “Apakah kau sadari, dengan siapa kau berbicara?”

Bagaimana-pun juga, pertanyaan itu telah membuat hati prajurit itu berdebar-debar. Ternyata bahwa wibawa Putera Mahkota itu masih juga terasa. Sejenak itu termangu-mangu dan bahkan berdebar-debar. Namun sejenak kemudian ia menyadari keadaannya, ia sadar, bahwa ia berada di pihak Tohjaya yang lebih dekat dengan Sri Rajasa dari pada Putera Mahkota. Karena itu timbullah keberaniannya untuk menjawab, “Tuanku Putera Mahkota, hamba sadar sepenuhnya dengan siapa hamba berhadapan. Tetapi tuanku-pun harus sadar dengan siapa tuanku berhadapan.”

“Aku berhadapan dengan seorang prajurit.” jawab Anusapati.

“Tetapi hamba bukan prajurit itu. Hamba berdiri di sini tidak sekedar sebagai seorang prajurit. Hamba berdiri di sini sekarang sebagai seorang guru. Dan tuanku sehalusnya menyadari, bagaimana tuanku berhadapan dengan seorang guru. Siapa-pun tuanku, dan siapa-pun hamba di luar hubungan ini, sama sekali tidak berarti. Yang ada sekarang adalah guru dan murid. Seorang murid harus tunduk sedalam-dalamnya kepada seorang guru.”

Dada Anusapati telah benar-benar hampir meledak karenanya. Tetapi ia memang harus menahan dirinya. Ia tidak dapat berbuat apa-apa, karena ia memang sedang berhadapan dengan gurunya. Apalagi sejenak kemudian dilihatnya Tohjaya bersama dua orang pengawalnya telah datang pula ke latihan itu.

“Nah, lihat,” berkata prajurit itu, “yang datang itu-pun murid hamba. Tuanku Tohjaya-pun pasti akan tunduk sebagai seorang murid kepada gurunya meskipun ia jauh lebih dekat dengan Sri Rajasa daripada tuanku Putera Mahkota.” ia berhenti sejenak, lalu sambil berpaling ia bertanya kepada Tohjaya, “Bukankah begitu Tuanku Tohjaya?”

“Ya. Kau adalah guruku dan guru Kakanda Anusapati.”

“Nah tuanku dengar?” bertanya prajurit itu kepada Anusapati.

Dada Anusapati serasa hampir pecah menahan diri. Tetapi ia menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya. Aku dengar.”

“Baik. Sekarang marilah kita mulai. Kita akan mengadakan latihan bersama-sama.”

Anusapati tidak menyahut lagi. Ia hanya sekedar menurut saja perintah gurunya. Hari itu mereka akan mengadakan latihan bersama-sama. Kedua putera Sri Rajasa itu harus menirukan unsur-unsur gerak yang baru yang harus mereka pelajari untuk melengkapi tata gerak yang sudah mereka kuasai. Cara untuk mengelak dan sekaligus menyerang dalam keadaan yang sulit. Menjatuhkan diri sebagai suatu cara untuk menghindari serangan lawan, sekaligus melontarkan lawan keudara. Dan sebuah loncatan yang sulit untuk melepaskan diri dari serangan yang datang dari beberapa pihak.

“Nah, kalian sudah meningkat dewasa. Hamba akan menunjukkan kepada tuanku berdua, bahwa bahaya di dalam tata perkelahian itu datang setiap saat dan dari mana-pun juga. Apalagi apabila lawan yang kita hadapi adalah seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi dan gerak yang sangat cepat. Kadang-kadang seorang lawan terasa seolah-olah memiliki puluhan pasang tangan yang mematuk dari segala jurusan.”

Demikianlah maka kedua putera Sri Rajasa itu harus menirukan beberapa macam gerak dari pelatihnya. Dengan tekun keduanya memperhatikan latihan-latihan yang diberikan itu. Kemudian dengan bersungguh-sungguh kedua menirukannya pula.

“Bagus,” berkata pelatih itu, “kalian harus menirukan terus menerus, sampai gerak itu tuanku berdua kuasai bersungguh-sungguh. Sekali, dua kali. Sehingga pada suatu tataran tertentu tuanku berdua tidak akan canggung lagi. Tuanku akan bergerak dengan sendirinya apabila unsur-unsur itu diperlukan. Unsur itu akan luluh dengan unsur-unsur lain yang sudah tuanku kuasai sebelumnya.”

Baik Tohjaya maupun Anusapati telah mencoba untuk berlatih bersungguh-sungguh. Keringat mereka telah mengalir dari seluruh permukaan kulit, seakan-akan terperas dari dalam tubuh.

“Bagus, bagus,” berkata pelatih itu, “bagus sekali.” prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian didekatinya Anusapati sambil berkata, “Tuanku Anusapati agaknya tidak berminat pada latihan-latihan serupa ini.”

Anusapati mengerutkan keningnya, “Aku sudah mencoba bersungguh-sungguh. Lihat keringatku telah membasahi seluruh tubuhku.”

“Kalau begitu memang tuanku terlampau lamban menerima petunjuk-petunjuk hamba. Bagaimana mungkin tuanku dapat maju kalau cara tuanku berlatih seperti itu.”

“Bagaimana harus aku lakukan?” Anusapati bertanya, “aku merasa cukup berbuat. Aku kira aku sudah berhasil menirukan tata gerak itu.”

“He,” pelatihnya membelalakkan matanya, “jangan terlampau sombong. Tuanku tidak mampu menilai tata gerak ini. Ternyata tuanku merasa bahwa dengan demikian tuanku? sudah berhasil.” ia berhenti sejenak. Lalu, “baiklah. Sekarang kita akan melihat, trap-trapan dari tata gerak ini. Silahkanlah tuanku berdua mempergunakannya dalam suatu latihan pertarungan. Tetapi hati-hati dan ingat bahwa tuanku berdua hanya sekedar latihan.”

Tohjaya memandang pelatihnya sejenak. Lalu sambil tertawa ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Suatu ketika kita akan mengulangi latihan di arena terbuka Kakanda Anusapati.”

Anusapati tidak menyahut. Sejenak dilihatnya kedua pengawal Tohjaya maju sambil tersenyum-senyum. Sedang Anusapati sendiri tidak pernah memerlukan satu atau dua orang pengawal. Ia memang tidak mengajukan permintaan itu kepada Ayahanda Sri Rajasa, karena baginya pengawal hanya akan menyulitkan usahanya untuk keluar dari istana.

Atas perintah gurunya, maka mereka berdua-pun kemudian mengadakan latihan perkelahian. Tohjaya yang tidak puas dengan kemenangannya yang kecil di arena, berusaha untuk melepaskan ketidak-puasannya itu. Dengan segenap kemampuannya ia mulai menekan Anusapati. Seolah-olah ia mendapat kesempatan dari gurunya, untuk berbuat sewenang-wenang terhadap Anusapati.

Anusapati yang mengerti hal itu, tidak banyak mencoba melawan dan mencegah maksud adiknya, asal tidak terlampau menyakitinya.

Karena itu, maka setiap kali serangan Tohjaya seolah-olah berhasil mengenai sasarannya, sehingga Anusapati terhujung-hujung surut. Belum lagi Anusapati tegak kembali dan memperoleh keseimbangannya, maka Tohjaya sudah menyerangnya pula beruntun.

Namun sebenarnya, Anusapati yang sudah melatih dirinya dengan cara yang jauh lebih berat dari serangan-serangan Tohjaya itu, memiliki daya tahan yang jauh melampaui dari yang diperlukannya untuk menahan serangan-serangan adiknya, sehingga sebenarnya bagi Anusapati serangan-serangan itu tidak membahayakannya sama sekali.

Tetapi, bagaimana-pun juga, sentuhan-sentuhan yang sering mengenainya meskipun tidak menyakitinya, telah membuatnya agak panas juga. Apalagi apabila dilihatnya prajurit yang menunggui latihan itu. tampak tersenyum-senyum memuakkan.

“Kalau saja aku tidak sedang menjadi peranan di dalam ceritera yang sedih ini,” berkata Anusapati di dalam hatinya.

Namun ternyata Anusapati yang masih muda itu tidak juga dapat menahan hati sepenuhnya. meskipun tampaknya setiap kali ia dapat dikenai oleh serangan-serangan Tohjaya, namun setiap kali tanpa dapat diketahui oleh pelatihnya, Anusapati sempat juga menyakiti Tohjaya. Selagi Tohjaya berhasil memukul pundaknya, Anusapati yang membelakangi pelatihnya, sempat juga memukul pergelangan tangan Tohjaya, meskipun ia sendiri kemudian berpura-pura terlempar dan jatuh berguling-guling. Tohjaya merasakan sengatan yang tajam dipergelangan tangannya. Tetapi ia menyangka, bahwa hal itu hanyalah suatu kebetulan saja, dengan tidak sengaja Anusapati mengibaskan tangannya dan mengenainya, karena Anusapati-pun kemudian terlempar dan jatuh terguling.

Tohjaya ternyata tidak mau melepaskan lawannya. Dengan sigapnya ia meloncat dan menyerang dengan kakinya. Sekali lagi ia berhasil mengenai lambung Anusapati, selagi Anusapati masih belum sempat bangun. Dalam kesulitan Anusapati hanya sempat menahan kaki itu dengan tangannya. Tetapi Putera Mahkota itu harus menyeringai sambil berguling-guling menjauh.

Kali ini Tohjaya tidak mengejarnya, sehingga pelatihnya menjadi heran. Sebenarnya kesempatan terbuka baginya untuk sekali lagi menyerangnya sampai pada suatu saat Anusapati menyatakan kekalahan.

Tetapi Tohjaya tidak melakukannya. Ia menunggu Anusapati tertatih-tatih berdiri untuk mempersiapkan dirinya.

Namun dalam pada itu, Tohjaya telah menahan sakit dipergelangan kakinya. Ketika Anusapati mencoba menahan serangannya, ia merasa seolah-olah kakinya telah terkilir. Sakit dan panas serasa membakar mata kakinya.

Meski-pun demikian Tohjaya merasa malu untuk mengungkapkannya. Ditahannya perasaan sakit itu. Namun dengan demikian, ia tidak dapat menyerang Anusapati selagi Anusapati masih belum berhasil bangkit.

Ketika ia melihat wajah pelatihnya yang kecewa, maka dipaksakannya bibirnya untuk tertawa sambil bertanya, “Apakah kita masih akan melanjutkan latihan ini?”

Pelatihnya yang tidak mengetahui, apa yang terjadi atas Tohjaya segera menyahut, “Tentu tuanku. Tuanku baru saja mulai. Latihan yang sebenarnya masih jauh lebih berat dari latihan-latihan ini.”

“Kasihan Kakanda Anusapati,” berkata Tohjaya kemudian, “ia tampak begitu lelah. Apakah Kakanda Anusapati masih sanggup untuk berlatih terus?”

Dengan nafas terengah-engah Anusapati menjawab, “Terserahlah kepada guru kita. Apakah kita masih harus berlatih terus, atau latihan ini dianggapnya sudah cukup.”

“Belum cukup. Tentu belum cukup. Silahkanlah tuanku berdua mulai lagi. Aku sudah melihat kemajuan yang pesat dari latihan-latihan ini.”

Tohjaya yang masih tertawa berkata, “Baiklah. Kalau Kakanda Anusapati masih bersedia.”

Demikianlah maka kedua anak-anak muda itu-pun telah mulai lagi dengan latihan-latihan mereka. Seperti semula, maka Tohjaya tampaknya selalu berhasil menguasai Anusapati. Beberapa kali Anusapati terlempar dan terjatuh berguling-guling. Namun tidak seperti pada saat latihan ini dimulai, agaknya Tohjaya menjadi sangat berbaik hati. Tampaknya ia menjadi iba melihat Anusapati yang telah penuh dengan debu. Tubuhnya yang berkeringat telah dilekati oleh kotoran dan tanah, selagi ia jatuh berguling-guling ditanah.

Pelatihnya menjadi heran. Tohjaya ingin mendapat kesempatan semacam ini. Tetapi kesempatan ini tidak dipergunakannya sebaik-baiknya. Sebenarnya ia dapat menyakiti Anusapati sekehendak hatinya. Tidak akan ada seorang-pun yang menyalahkannya. Di dalam latihan yang berat, kadang-kadang seseorang mengalami cidera. Tetapi itu sudah lajim sekali terjadi.

Tetapi kali ini Tohjaya tampak ragu-ragu sekali. Setiap kali ia hanya berdiri saja memandangi kakandanya yang sedang memperbaiki keadaannya dan berusaha menemukan keseimbangannya.

Namun sebenarnyalah pelatihnya itu tidak mengetahuinya, bahwa Tohjaya telah diganggu oleh kesakitan-kesakitan yang meskipun tampaknya tidak menghambatnya, tetapi sebenarnyalah bahwa Tohjaya menjadi bimbang.

Di saat-saat Anusapati sudah tidak berdaya, tiba-tiba saja terasa seolah-olah ketukan batu pada mata kaki Tohjaya. Kemudian lututnya seperti diketuk oleh sebongkah besi baja. Selagi ia menahan sakit yang seakan-akan menjalari seluruh tubuhnya, ia terkejut karena jari kakinya seperti tersentuh bara.

“Apakah sebenarnya yang telah terjadi?” pertanyaan itu telah mengganggunya, “apakah Kakanda Anusapati tanpa disadarinya telah menyakiti aku?”

Tetapi Tohjaya menyimpan pertanyaan itu di dalam hatinya. Ia malu untuk mengakuinya, bahwa ia telah diganggu oleh perasaan-perasaan sakit yang tidak menentu itu. Bahkan perasaan sakit yang semakin lama semakin terasa di beberapa bagian dari tubuhnya.

Sejenak kemudian Tohjaya itu-pun berdiri sambil bertolak pinggang. Disela-sela suara tertawanya ia berkata, “Apakah Kakanda Anusapati masih sanggup berlatih terus?”

Anusapati berdiri dengan nafas terengah-engah. Sambil memijit lambungnya ia memandangi pelatihnya. Keringatnya telah memenuhi seluruh tubuhnya, dilekati pula oleh debu yang kotor.

“Bagaimana Kakanda Anusapati? “ Tohjaya mengulangi pertanyaannya.

Nafas Anusapati seakan-akan hampir terputus dihidungnya. Sambil mengusap keringat dikening ia menjawab, “Aku sudah lelah sekali. Sebaiknya latihan ini dihentikan dahulu.”

“Tidak mungkin,” sahut pelatihnya sambil melangkah maju, “latihan ini baru saja mulai. Kaki-kaki tuanku berdua baru saja melangkah setapak. Marilah, latihan ini akan kita teruskan.”

Yang menjawab adalah Tohjaya, “Lihatlah, bagaimana keadaan Kakanda Anusapati. Kita harus berbelas kasihan sedikit. Aku mungkin masih sanggup untuk mengadakan latihan sehari penuh. Tetapi nafas Kakanda Anusapati sudah hampir terputus. Kalau terjadi sesuatu dengan Kakanda Anusapati, nanti kita pula yang dipersalahkan oleh Ayahanda Sri Rajasa.”

Prajurit yang memberikan latihan itu mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah. Baiklah kita akhiri latihan bersama ini. Tetapi ini bukan berarti bahwa seluruh latihan telah selesai. Kita masih akan berlatih terus. Hamba akan menunjukkan kelemahan-kelemahan yang tuanku berdua lakukan berganti-ganti.”

Tohjaya memandang gurunya sejenak. Lalu, “Apakah yang harus kami lakukan?”

“Marilah, tuanku berdua berada disatu pihak, dan hamba di lain pihak. Tuanku berdua pasti akan merasakan, bahwa tuanku berdua masih mempunyai beberapa kelemahan.”

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah. Marilah Kakanda Anusapati. Kita berlatih bersama. Kita berdiri di satu pihak, melawan guru kita.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya meskipun nafasnya seakan-akan hampir terputus. “Kalau memang harus aku lakukan, apaboleh buat. Aku tidak dapat mengelak.”

“Marilah tuanku berdua. Bersiaplah.”

Tohjaya dan Anusapati-pun kemudian berdiri berjajar menghadapi ptelatihnya. Masing-masing kemudian segera bersiap. Dan sejenak kemudian pelatihnya berkata, “Apakah tuanku berdua sudah siap? Hamba akan segera mulai. Tuanku berdua harus berhati-hati. Hamba akan menyerang sejauh mungkin dapat mengenai tuanku berdua. Siapa yang lengah, akan tersentuh oleh serangan hamba, meskipun mungkin tidak berbahaya, tetapi kadang-kadang terasa sakit juga. Karena itu, tuanku berdua harus mencoba menghindar. Kalau tuanku berdua mendapat kesempatan, tuanku dapat menyerang hamba.”

Tohjaya mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah. Aku sudah siap.”

Pelatihnya melangkah selangkah ke samping. Namun Anusapati sudah mencurigainya melihat sudut pandangan matanya. Tentu dirinyalah yang akan dijadikan sasaran oleh prajurit itu. “Apakah aku akan membiarkan diriku menjadi merah biru dan bengkak-bengkak?” bertanya Anusapati kepada diri sendiri.

Sejenak kemudian, maka pelatihnya itu-pun sudah mulai. Ia meloncat dengan cepat sekali, mendekati Tohjaya sambil mengulurkan tangannya. Gerakan yang sama sekali tidak diduga-duga oleh Tohjaya sehingga ia tidak sempat menghindar. meskipun ia berusaha memiringkan tubuhnya, namun lambungnya tersentuh juga oleh tangan prajurit itu. Tetapi sentuhan itu sama sekali tidak menyakitinya.

“Nah. tuanku kena. Tuanku kurang berhati-hati.”

Tohjaya tidak menyahut. Tetapi ia-pun segera bersiap, dan bahkan dengan sigapnya pula ia melingkar sambil memutar tangannya, menyerang leher pelatihnya. Tetapi dengan mudahnya pelatihnya itu merendahkan dirinya, bahkan sambil memiringkan tubuhnya ia mengangkat kakinya, dan tumitnya masuk di bawah ketiak Tohjaya. Tetapi sentuhan tumit itu-pun tidak menyakitinya sama sekali, meskipun ia terdorong sedikit keaamping.

Anusapati sama sekali masih belum ikut di dalam latihan itu. Ia hanya bergeser saja setapak-setapak untuk menyesuaikan dirinya. Tetapi ia sadar, bahwa pada suatu saat serangan-serangan itu akan beralih kepadanya. Dan bukan sekedar sentuhan-sentuhan saja, tetapi pasti akan menyakitinya.

Dugaan itu ternyata segera terbukti. Selagi Anusapati memperhatikan sentuhan kaki gurunya pada lengan Tohjaya. Di serangan berikutnya, tiba-tiba prajurit itu melenting dan menyerangnya dengan serta merta. Sebuah serangan kaki yang cepat dan keras.

Anusapati yang terkejut itu-pun tidak sempat mengatur tata geraknya dengan teliti. Tiba-tiba saja ia-pun bergeser dengan tangkasnya dan dengan memiringkan tubuhnya ia merendah sedikit di atas lututnya. Dilipatnya sikunya di sisi kanan melekat pada tubuhnya sehingga lambungnya yang menjadi sasaran serangan gurunya terlindung karenanya.

Ketika serangan itu mengenainya, Anusapati menyadari, bahwa ia harus terpelanting jatuh. Itulah sebabnya, maka ia kemudian membiarkan dirinya terdorong oleh serangan meskipun ia berusaha agar benturan itu tidak menyakitinya. Anusapati yang seolah-olah hanyut oleh dorongan kaki gurunya, jatuh terpelanting di tanah. Beberapa kali ia berguling-guling. Ia tidak dapat segera melenting berdiri, karena peran yang dilakukannya tidak memungkinkannya.

“Gila,” ia berdesah di dalam hati ketika ia melihat gurunya menyerangnya terus. Agaknya gurunya tidak puas dengan serangannya yang pertama. Ia merasa bahwa benturan itu tidak menyakiti Anusapati, karena Anusapati segera menjatuhkan dirinya.

Kali ini gurunya mengulangi serangan kakinya langsung mengarah ke pahanya. Ia sadar, bahwa serangan ini tidak membahayakan dirinya, tetapi sakitnya pasti bukan main. Kalau tumit itu langsung mengenai pahanya, maka pahanya pasti akan menjadi merah biru. Tiga hari ia akan timpang.

Karena itu, maka Anusapati-pun segera mengerutkan dirinya, ia terpaksa menghindar. Ketika serangan itu tiba, Anusapati menarik kakinya, dan sekali melingkar pada kepalanya.

Dengan demikian maka serangan pelatihnya itu tidak mengenai sasarannya. Ketika tumitnya menghentak tanah, karena kaki Anusapati sudah menghindar, terasa sengatan yang panas merambati kakinya.

Sejenak prajurit itu justru tegak berdiri sambil menahan sakit. Tetapi lebih daripada itu ia menjadi heran, darimana Anusapati mendapat kemampuan bergerak begitu cepat sehingga serangannya tidak mengenai sasarannya.

Dalam pada itu Anusapati terhuyung-huyung mencoba untuk segera berdiri. Dengan nafas terengah-engah ia memandang gurunya yang masih dicengkam oleh keheranan.

“Apakah anak ini benar-benar mampu menghindar demikian cepatnya?” bertanya prajurit itu di dalam hatinya. Dengan demikian maka timbullah niatnya untuk membuktikannya.

Sejenak ia memandangi Anusapati yang telah berhasil berdiri. Namun sebelum Anusapati benar-benar siap menghadapi segala kemungkinan, maka gurunya telah meloncat dan menyerangnya dengan tangan yang mengarah kepundaknya.

Anusapati melihat serangan itu. Tetapi kini ia sudah sempat berpikir, bahwa apabila ia sekali lagi menghindar, dan serangan gurunya tidak mengena, maka akibatnya akan lain.

Karena itu, meskipun ia sadar, bahwa pundaknya akan menjadi sakit, namun ia tidak bergeser sama sekali, meskipun ia sempat apabila dikehendakinya. Yang dilakukannya adalah menenggangkan urat-urat nadinya di seputar sasaran serangan pelatihnya, untuk menahan benturan yang bakal terjadi.

Sejenak kemudian Anusapati memejamkan matanya. Ketika serangan itu mengenai pundaknya, terasa tubuhnya tergetar. Tetapi sebenarnya getaran itu tidak mampu menggojahkannya, kalau Anusapati tidak sengaja berbuat demikian. Dengan sebuah keluhan yang tertahan ia terdorong beberapa langkah surut, kemudian jatuh berguling di tanah. Tubuhnya melingkar seperti udang kepanasan. Dengan telapak tangan kirinya ia memegangi pundaknya yang telah dikenai oleh serangan pelatihnya.

Keluhan itu ternyata telah menghentikan serangan berikutnya. Seandainya Anusapati masih tetap berdiam diri, maka punggungnya pasti akan dikenai pula sebelum ia bangkit.

Tetapi kali ini Anusapati tidak segera bangkit. Terdengar ia merintih karena perasaan sakit yang membakar pundaknya.

“Bagaimana tuanku?” bertanya pelatihnya, “apakah hamba telah menyakiti tuanku?”

Anusapati tidak segera menjawab. Ia masih terbaring di tanah sambil mengeluh.

“Marilah, bangkitlah tuanku,” berkata pelatihnya sambil mencoba mengangkatnya.

Perlahan-lahan Anusapati bangkit. Ia masih memegangi pundaknya yang sakit karena serangan gurunya itu.

“Tuanku tidak boleh mengeluh. Seperti juga tuanku Tohjaya, hamba mengenai pula di beberapa tempat. Tetapi tuanku Tohjaya tidak mengeluh dan tidak merengek seperti tuanku.”

Anusapati tidak menjawab. Ketika ia memandang wajah Tohjaya dilihatnya sebuah senyum yang sangat pahit baginya.

“Ternyata tuan bukan seorang laki-laki,” desis gurunya.

Betapa sakit hati Anusapati. Hampir saja ia menampar mulut prajurit itu. Tetapi dengan sekuat tenaga ia masih mencoba mengekang hatinya.

“Jadi, apakah dengan demikian berarti latihan ini harus berhenti? “ prajurit itu bertanya.

Anusapati menganggukkan kepalanya, “Ya. Aku tidak dapat lagi berlatih,” berkata Anusapati. Ia sendiri tidak yakin, apakah apabila latihan semacam itu diteruskan, ia akan dapat menahan hati untuk selanjutnya.

“Baiklah,” berkata pelatihnya, “untuk kali ini hamba dapat menerima. Tetapi lain kali, hambalah yang akan menentukan, apakah latihan akan berhenti atau akan berlangsung terus.”

Anusapati tidak menyahut. Tetapi keringatnya mengalir semakin banyak dan nafasnya seakan-akan hampir terputus dikerongkongan.

“Sekarang, silahkan tuanku berdua beristirahat.”

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab, “Baiklah. Aku-pun tidak berkeberatan. Terus aku-pun sanggup walaupun sehari penuh.”

Pelatihnya tertawa, katanya, “Tuanku memang cukup memiliki kemampuan dan ketahanan. Tetapi tuanku Anusapati semakin lama tidak menjadi semakin kuat, bahkan sebaliknya. Kini tuanku Anusapati sudah menjadi seperti perempuan yang cengeng.”

Anusapati mengatupkan giginya rapat-rapat. Namun ia tidak menyahut sama sekali.

Sejenak kemudian maka kedua putera Sri Rajasa itu-pun meninggalkan arena latihan. Mereka pergi ke bangsal masing-masing yang terpisah. Sedang pelatihnya masih berdiri di tempatnya. Sejenak ia melihat Tohjaya yang diikuti oleh pengawalnya, sedang di arah yang lain, Anusapati berjalan seorang diri, tertatih-tatih.

Prajurit itu berdiri termangu-mangu. Ketika Anusapati sudah hilang dibalik regol, ia-pun menarik nafas dalam-dalam. Diam-diam ia merasa aneh menghadapi putera Mahkota itu. Sepercik keheranan telah merayapi hatinya. Apalagi setelah ia melihat suatu tata gerak yang mencurigakan. Dengan tangkasnya, Anusapati berhasil menghindarkan dirinya dari serangan kakinya. Dengan sigapnya anak muda itu mengangkat kakinya, melingkar di atas kepalanya. Kemudian ketika tangannya mengenai pundak Anusapati, terasa seolah-olah perlawanan yang kuat memancar dari pundak itu. Perasaan sakit yang tajam telah menggigit tangannya dan menjalari pundaknya, meskipun kemudian ia melihat Anusapati jatuh terguling-guling dan tidak mampu untuk bangkit kembali tanpa pertolongannya.

“Kekuatan apakah yang sebenarnya ada pada anak muda itu?”

Namun pelatihnya tidak mau mengatakan kepada siapa-pun juga. Ia merasa malu, bahwa ia-pun menjadi kesakitan pula di dalam latihannya melawan Anusapati. Muridnya. Karena itu, disimpannya saja pertanyaan-pertanyaan itu di dalam hatinya.

Demikian juga dengan Tohjaya. Seperti gurunya, ia menyimpan saja pertanyaan-pertanyaan tentang Anusapati itu di dalam hatinya. Bahkan kepada ibunya sekali-pun ia tidak mengatakannya. bahwa kakinya terasa seperti terkilir, lututnya dan pergelangan tangannya yang sakit dan jari-jari kakinya yang seperti tersentuh bara.

Kepada ibunya dan kepada orang-orang yang dekat dengannya ia masih dapat berkata sambil tertawa, “Kasihan Kakanda Anusapati. Di dalam latihan-latihan yang berat, ia sama sekali tidak mampu menyesuaikan dirinya, sehingga ia hampir saja menjadi pingsan karenanya.

Tetapi, dalam pada itu Anusapati yang kotor sedang duduk di bawah pohon sawo sambil mengipasi dirinya dengan ujung kainnya oleh panas yang terasa seperti membakar tubuh. Angin yang lemah sama sekali tidak terasa sejuknya. Ketika embannya datang dan bertanya kepadanya, apakah ia ingin mandi, Anusapati menjawab, “Nanti saja. Aku masih basah oleh keringat.”

Sejenak kemudian ia tersenyum ketika ia melihat seorang juru taman lewat sambil membungkuk di sampingnya.

“Paman melihat?” bertanya Anusapati.

“Hamba tuanku,” juru taman itu-pun kemudian berjongkok, “permainan yang menarik. Tetapi tuanku terlampau maju sedikit di dalam tata gerak, sehingga barangkali dapat menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan.”

“Aku tidak dapat menghindari paman. Pelatih itu agaknya telah menjadi gila. Ia ingin merusakkan bagian-bagian badanku, sehingga aku terpaksa menghindar dengan cara yang tidak seharusnya.”

“Mudah-mudahan ia tidak banyak menaruh perhatian. Tuanku telah mengakhiri dengan baik dan memberinya kepuasan.”

Anusapati tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan ia tidak menghiraukan aku lagi.”

“Tetapi di latihan berikutnya, tuanku akan bermain lebih berat lagi.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Gila benar orang itu. Aku akan dapat kehilangan kesabaran pada suatu saat.”

“Jangan. Jagalah diri tuanku baik-baik. Untuk latihan mendatang, agaknya tuanku dapat menghindari dengan alasan yang dapat diterimanya. Sebaiknya tuanku mengatakan bahwa tuanku lagi sakit.”

“Ya. Aku akan menghindari latihan pada latihan berikutnya, dua hari mendatang. Mungkin ia masih dikuasai oleh perasaannya yang meluap-luap. Dihari-hari berikutnya mungkin suasananya sudah lain.”

Juru taman itu-pun kemudian minta diri dan meninggalkan Anusapati duduk seorang diri.

Ketika dua orang prajurit yang sedang bertugas mengamat-amati seluruh bagian istana lewat, prajurit itu menganggukkan kepala mereka dalam-dalam. Tetapi mereka-pun segera pergi meninggalkannya, meneruskan langkahnya, mengawal istana Singasari seisinya.

Namun tiba-tiba Anusapati itu menyeringai sambil mengusap-usap pundaknya. Dari kejauhan ia melihat prajurit yang memberinya latihan berjalan perlahan-lahan mendatanginya.

“Tuanku,” berkata prajurit itu setelah ia berlutut disamping Anusapati, “apakah pundak tuanku masih terasa sakit?”

“Ya. Sakit sekali.”

Prajurit itu tersenyum. Katanya, “Tuanku harus berlatih menjadi seorang laki-laki.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Tetapi ia mengumpat di dalam hatinya. Kenapa prajurit itu menyusulnya, dan membuat hatinya semakin panas. Tetapi Anusapati tidak menjawab.

“Usahakanlah tuanku. Di dalam latihan mendatang, hamba akan melihat, apakah tuanku mendapat kemajuan.”

Tetapi Anusapati menggelengkan kepalanya, “Aku tidak akan dapat berlatih dua hari mendatang. Aku masih perlu menyembuhkan pundakku dan barangkali aku memang memerlukan beristirahat.”

“O, jadi tuanku akan menghindari latihan itu?”

“Bukan menghindari, tetapi aku tidak tahu, apakah tanganku ini sudah sembuh. Karena sakit di pundakku, rasa-rasanya tangan kananku menjadi lumpuh.”

“Tuanku memang terlampau cengeng.”

Anusapati tidak menyahut, meskipun ia mengatupkan giginya rapat-rapat.

“Sudahlah tuanku. Sebaiknya tuanku mematuhi ketetapan yang sudah hamba buat. Latihan itu akan hamba teruskan.”

“Aku akan berusaha.”

Prajurit itu-pun kemudian mengangguk dalam-dalam. Ditinggalkannya Anusapati seorang diri. Sekali-kali Anusapati memandanginya sampai ia hilang dibalik regol.

“Gila benar prajurit itu,” Anusapati mengumpatinya, “ia benar-benar berusaha menghancurkan aku. Kalau tidak tubuhku juga keberanianku menghadapi latihan-latihan serupa. Mungkin ia sedang mempersiapkan sebuah latihan terbuka seperti yang sudah terjadi. Ia ingin Tohjaya menang mutlak di dalam latihan itu.”

Anusapati-pun kemudian menghentakkan kakinya sambil berdiri. Dikibaskannya pakaiannya yang kotor. Kemudian karena keringatnya sudah kering, ia-pun minta kepada embannya agar disediakan pakaiannya yang bersih.

Tetapi satu hal yang Anusapati tidak mengerti, bahwa gurunya, prajurit itu, memang menaruh kecurigaan kepadanya. Diam-diam ia mencoba untuk mengamati, apakah yang sering dilakukan oleh Putera Mahkota itu, karena menurut pengamatannya, ada sesuatu yang agak aneh padanya. Tata gerak yang sulit dan sama sekali belum pernah diberikannya, telah tanpa sadar, dilakukan oleh Anusapati. Dalam hal ini agaknya Tohjaya kurang memperhatikan. Tetapi prajurit yang sudah lebih matang itu, dapat melihat kelebihan itu dan menumbuhkan persoalan didalam dirinya.

Demikianlah, maka ketika malam mulai turun dan membayangi istana Singasari, seperti biasanya, Anusapati-pun mempersiapkan dirinya untuk pergi keluar istana. Malam itu ia sudah berjanji dengan Sumekar, untuk bertemu ditempat yang sudah mereka tentukan, di bawah tebing sungai yang curam yang jarang sekali dikunjungi orang.

Kepada embannya, Anusapati tidak perlu terlampau berahasia lagi, meskipun ia tidak juga terbuka sama sekali. Tetap seperti juga Mahisa Agni ketika masih berada di istana, emban itu agak dipercayainya.

Tetapi kali ini Anusapati sama sekali tidak menyangka, bahwa gurunya yang mencurigainya selalu mengawasinya. Semua gerak-gerik Anusapati tidak terlepas dari pengamatannya. Semua orang yang berhubungan dengan Anusapati telah dicurigainya. Dan apalagi ketika prajurit itu melihat, Anusapati keluar dari bangsalnya dalam pakaian yang sangat sederhana.

“He. apakah yang akan dilakukannya?” prajurit itu bertanya di dalam hati.

Kali ini Anusapati telah benar-benar lengah. Baru saja ia menumbuhkan kecurigaan pada gurunya, sehingga sehari-harian gurunya telah membuang waktu untuk mengawasinya, kini ia sudah bersiap untuk keluar istana. Dengan demikian, maka prajurit itu-pun langsung dapat mengawasinya kemana ia pergi.

Dari kejauhan, prajurit itu dengan diam-diam mengikuti Anusapati. Hatinya menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat Anusapati pergi kesudut istana yang agak kegelapan. Dari jarak yang agak jauh ia-pun kemudian melihat Anusapati dengan lincahnya meloncati dinding keluar halaman.

“He, ternyata dugaanku benar. Anak itu pasti mendapat tuntunan dari orang lain,” berkata prajurit itu di dalam hatinya, “aku harus mendapatkannya. Aku harus menangkap kedua-duanya. Gurunya dan Anusapati sendiri. Ini pasti merupakan suatu jasa yang akan diperhitungkan oleh Sri Rajasa. Siapa tahu, bahwa hal ini merupakan persiapan dari perlawakan yang lebih besar, yang akan dilakukan oleh Putera Mahkota yang tidak puas kepada perlakuan Sri Rajasa, karena sebenarnyalah Putera Mahkota itu bukan putera Sri Rajasa sendiri.”

Demikianlah, maka niat prajurit itu menjadi bulat untuk mengikuti terus kemana Anusapati pergi. Dengan hati-hati ia-pun kemudian meloncati dinding batu istana.

Agaknya ia masih belum kehilangan jejak. Ia masih melihat Anusapati melangkah di dalam kegelapan malam.

Prajurit itu-pun berusaha untuk tetap mengikuti tanpa diketahui oleh Anusapati. Ia ingin menangkap Anusapati bersama orang-orang yang dihubunginya. Dengan demikian ia berharap bahwa ia akan dapat membongkar suatu himpunan rahasia. Apa-pun tujuannya, tetapi sudah tentu bahwa mereka melakukan sesuatu yang tidak berterus-terang. Seperti juga Anusapati, yang sebenarnya tidak sekedar Anusapati yang dilihatnya sehari-hari.

“Inilah sebabnya, maka tuanku Tohjaya tidak dapat mengalahkannya dengan mutlak di arena latihan. Ini pulalah agaknya yang menyebabkan tuanku Tohjaya menghentikan latihan. Agaknya ia menderita kesakitan juga, bahkan agak lebih parah lagi dari padaku ketika latihan itu berlangsung.”

Tetapi prajurit itu yakin akan dirinya. Ia adalah kepercayaan Sri Rajasa untuk melatih putera-puteranya. Karena itu ia akan dapat mengatasi setiap persoalan yang akan timbul. Bagaimana-pun juga Anusapati adalah anak ingusan yang pasti tidak akan banyak menimbulkan kesulitan.

“Tetapi bagaimana dengan orang lain yang dihubunginya itu? “ pertanyaan itu tumbuh didalam hatinya.

“Aku harus melihat,” pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “siapakah orang-orang itu. Kalau aku agaknya tidak mampu mengatasi mereka itu, maka aku akan memanggil beberapa orang untuk membantuku.”

Demikianlah, maka prajurit itu berhasil mengikuti Anusapati tanpa diketahuinya. Mereka berjalan di dalam gelapnya malam, menelusuri padang ilalang dan pohon-pohon perdu.

“Agaknya Anusapati akan pergi ketepian sungai yang curam itu,” berkata prajurit itu di dalam hatinya.

Ternyata dugaannya itu benar. Anusapati telah pergi mengikuti jalan sempit di antara batang-batang ilalang menuju ke bawah tebing yang curam.

“Ternyata anak itu masih terlampau bodoh,” desis prajurit itu, “ia sama sekali tidak mempunyai firasat, bahwa ada seseorang yang mengikutinya. Dengan tanpa kecurigaan apa-pun ia telah berjalan menuju ke sarang suatu lingkungan yang pantas mendapat pengawasannya.”

Demikianlah keduanya berjalan beriringan. Langkah mereka semakin lama menjadi semakin cepat, sedang malam-pun semakin lama menjadi semakin dalam.

Padang ilalang itu-pun rasa-rasanya bagaikan ruangan yang tidak berbatas. Lamat-lamat terdengar suara binatang malam bersahut-sahutan. Burung hantu yang terbang rendah berputar beberapa kali untuk kemudian menghilang kearah Barat.

Ketika Anusapati menengadahkan wajahnya, dilihatnya bintang yang bertaburan dilangit yang bersih. Selembar-selembar awan yang putih lewat didorong oleh angin yang lembut.

Anusapati masih saja berjalan dengan langkah yang tetap. Sekali-kali ia menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sama sekali tidak berpaling. Tatapan matanya seakan-akan tertancap pada garis cakrawala di kejauhan. Hanya sekali-kali ia mengangkat wajahnya, memandang langit yang biru kehitam-hitaman.

Prajurit yang mengikutinya masih tetap mengikutinya. Sebentar lagi mereka akan sampai ke tanggul diatas tebing. Terbayang di wajah prajurit itu, beberapa orang yang berkumpul di bawah tebing itu untuk membicarakan rencana mereka, bagaimanakah caranya untuk dapat dengan mudah menguasai takhta, dan menempatkan Anusapati sebagai seorang raja.

“Apakah yang dapat dilakukan oleh Anusapati,” prajurit itu bergumam di dalam hatinya.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya prajurit itu tersenyum. Ia merasa beruntung sekali dapat mengikuti Anusapati yang sama sekali tidak mengetahuinya, bahwa seseorang-telah mengikutinya dari jarak yang begitu dekat.

Dengan demikian prajurit itu menjadi semakin yakin, bahwa-sebenarnya ilmu yang dimiliki oleh Anusapati, juga selain yang didapat dari padanya, masih belum seberapa jauh. Karena itu, maka prajurit itu-pun menjadi semakin bernafsu untuk melihat, siapakah yang akan dihubungi oleh Putera Mahkota itu.

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Sebentar lagi mereka akan sampai ke tanggul. Ia harus bersembunyi sampai pertemuan itu dapat berlangsung.

“Tidak akan ada kesulitan apa-pun untuk menangkap mereka, meskipun seandainya mereka berjumlah tiga atau empat orang. Aku kira mereka akan dapat aku kenali. Orang-orang istana yang agak terlampau dekat dengan Anusapati dapat dihitung,” ia mengangguk-anggukkan kepalanya sejenak, namun kemudian, “tetapi mungkin juga ada orang-orang dari luar istana yang bergabung dengan mereka.”

Tetapi tiba-tiba prajurit itu tertegun. Sebuah pertanyaan melonjak dihatinya, “Bagaimana kalau sepuluh atau lima orang?”

“Persetan,” ia menggeram, “aku harus melihat pertemuan itu.”

Dengan demikian, prajurit itu menjadi semakin bernafsu. Dan ia masih saja merasa, bahwa ia dapat mengikuti Anusapati dengan aman.

Tetapi prajurit itu menjadi bingung sejenak, sehingga langkahnya terhenti. Ia yakin bahwa ia masih tetap mengikuti Anusapati pada jarak yang tidak terlampau jauh. Namun, tiba-tiba saja, tanpa disadarinya. Anusapati itu seolah-olah telah hilang begitu saja.

“Kemanakah anak itu? “ ia berdesis. “Sedang tanggul tebing sungai, masih berjarak beberapa langkah lagi. Tidak mungkin Anusapati telah berhasil menghilang, turun ke tebing.”

“Sejenak prajurit itu berdiri mematung. Dilihatnya batang-batang ilalang dan pohon-pohon perdu di sekitarnya.

“Ia pasti bersembunyi,” desisnya. Tetapi prajurit itu tidak melihat, kapan Anusapati menyelinap.

“Aku yakin, bahwa aku selalu mengawasinya,” ia berdesis.

Dengan demikian dada prajurit itu menjadi berdebar-debar. Dicobanya untuk memasang inderanya baik-baik. Kalau-kalau ia melihat sesuatu yang bergerak, atau mendengar sesuatu berdesir di sekitarnya.

Tetapi padang ilalang yang seakan-akan tidak berbatas itu tetap hening. Yang terdengar dikejauhan adalah suara binatang-binatang malam. Suara cengkerik dan bilalang. Lamat-lamat terdengar suara burung kedasih yang memelas, seperti seseorang menangisi kekasih yang pergi dan tidak akan kembali.

Prajurit itu menjadi termangu-mangu. Tiba-tiba saja ia merasa bahwa ia telah melemparkan dirinya kedalam suatu lingkungan yang berbahaya, sehingga tanpa sesadarnya ia telah meraba hulu padangnya.

Tetapi padang itu masih tetap hening. Tidak ada suara dan gerak yang dapat memberinya petunjuk, dimana Anusapati sedang bersembunyi.

“Apakah aku tidak sedang mengikuti tuanku Putera Mahkota?” ia bertanya kepada diri sendiri, “apakah agaknya aku telah diseret oleh hantu jadi-jadian yang membentuk dirinya seperti Putera Mahkota?”

Hati prajurit itu semakin lama menjadi semakin tegang. Diedarkannya pandangan matanya kesekelilingnya. Tetapi ia tidak melihat sesuatu kecuali batang-batang ilalang yang berayun-ayun lemah sekali karena sentuhan angin malam yang lembut.

“Gila,” prajurit itu menggeram.

Namun dengan demikian ia menjadi semakin tegang, sehingga ia tidak lagi dapat menahan dirinya. Tiba-tiba saja ia telah mencabut pedangnya.

Dengan hati-hati ia melangkah maju. Ia masih menyangka. Anusapati telah menjatuhkan dirinya dan bersembunyi di bawah batang-batang ilalang setelah ia menyadari bahwa seseorang telah mengikutinya.

Dengan pedangnya, prajurit itu menguakkan daun-daun ilalang yang tumbuh lebat setinggi paha. Bahkan sekali-sekali ia telah menusuk-nusuk onggokan batu padas dan daun-daun yang telah kering.

“Gila, permainan gila,” ia berkata kepada diri sendiri.

“Tetapi,” katanya di dalam hati pula, “tidak ada tanda-tanda, bahwa Anusapati mengetahui, seseorang telah mengikutinya.”

Dengan demikian prajurit itu menjadi semakin bingung. Bahkan kemudian ia tidak lagi sekedar menguak batang-batang ilalang, tetapi pedangnya telah diayun-ayunkannya seolah-olah ia sedang menebas batang-batang yang tumbuh liar itu.

“Bukan salahku,” ia menggeram pula, “seandainya seseorang terpenggal kepalanya.”

Tetapi padang itu masih tetap sepi.

Karena ketegangan yang tidak lagi dapat ditahankannya. maka tiba-tiba ia berloncatan sambil memutar pedangnya. Dengan suara parau tertahan-tahan ia berkata, “Ayo keluar. Jangan bersembunyi.”

Prajurit itu mengamuk tanpa lawan. Daun-daun ilalang berhamburan tersentuh tajam pedangnya, sedang pohon-pohon perdu telah berserakan. Ranting-rantingnya berparahan dan batangnya tertebas setinggi lambung.

Tetapi prajurit itu tidak menemukan seseorang. Dengan demikian hatinya menjadi semakin tegang, sehingga rasa-rasanya dadanya akan meledak karenanya.

Oleh kepepatan yang mencengkam prajurit itu bahkan berteriak, “Ayo keluar. Jangan bersembunyi. Keluar, kalau tidak, seluruh padang ini akan aku tebas.”

Suaranya terlontar didalam kesepian padang yang luas. sehingga sejenak kemudian lenyap didorong oleh angin malam yang berhembus perlahan-lahan.

“Ayo, siapa yang bersembunyi. Siapa saja?”

Masih tidak ada jawaban.

Ketegangan dihati prajurit itu-pun kemudian menjadi semakin memuncak. Tetapi ia tidak menemukan seorangpun. Bahkan sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang lain yang kini berada di tengah padang yang luas itu.

Tetapi prajurit itu tidak dapat mengingkari penglihatannya. Ia yakin bahwa dari istana ia mengikuti Putera Mahkota. Ia kenal benar akan Putera Mahkota ini, meskipun ia berpakaian sangat sederhana sekalipun. Ia yakin bahwa orang itu bukan orang lain. Apalagi ia melihat sendiri, bahwa orang itu telah keluar dengan diam-diam dari bangsal Putera Mahkota itu.

Rasa-rasanya jantung prajurit itu akan pecah. Putera Mahkota yang diikutinya itu kini seolah-olah telah hilang begitu saja. Seorang anak muda yang selama ani disangkanya bodoh dan dungu, bahkan yang disangkanya, sama sekali tidak mengetahuinya selagi ia diikuti pada jarak yang sangat dekat itu, kini tiba-tiba telah membuatnya sangat gelisah.

Kini, prajurit itu berdiri dengan tangan yang gemetar. Pedangnya masih tetap digenggamnya, sedang matanya mencoba untuk menangkap setiap gerak yang dapat menumbuhkan kecurigaan.

Dalam ketegangan itu tiba-tiba saja ia mendengar suara tertawa. Suara tertawa yang berkepanjangan, beberapa langkah di belakangnya.

Secepat kilat prajurit itu meloncat berbalik. Dengan jantung yang berdentangan ia melihat sesosok tubuh yang berdiri didalam keremangan malam.

“Siapakah yang kau cari?” ia mendengar bayangan itu bertanya.

Tidak salah lagi. Yang berdiri dihadapan itulah Putera Mahkota yang berpakaian sangat sederhana. Karena itu maka ia mengumpat di dalam hatinya. Agaknya Putera Mahkota itu telah bersembunyi di balik seonggok batu padas.

“Tetapi bagaimana ia dapat sampai ke tempat itu begitu cepatnya tanpa menggoncangkan batang ilalang dan pohon-pohon perdu di sekitannya? “ ia bertanya di dalam hatinya.

“Apakah kau mencari aku?” putera Mahkota itu bertanya lagi.

“Ya,” jawab Prajurit itu kemudian, “hamba memang mencari tuanku.”

“Kenapa kau cari aku?”

“Kenapa tuanku pergi keluar istana pada waktu yang tidak sewajarnya?”

“Tidak sewajarnya? Jadi kapan menurut kau waktu yang wajar bagi Putera Mahkota?”

“Di siang hari. Tidak sepantasnya Putera Mahkota pergi di malam begini, apalagi dalam keadaan seperti tuanku. Sendiri, tanpa pengawalan sama sekali.”

“Sudahlah. Jangan hiraukan aku. Biarlah aku pergi sesuka hatiku. Itu sama sekali bukan kewajibanmu.”

“Kenapa bukan? Tuanku adalah murid hamba. Karena itu hamba harus tahu segala sesuatu tentang tuanku.”

“Memang, aku adalah muridmu. Tetapi tidak semua tindak pribadiku harus kau ketahui. Juga saat-saat seperti ini.”

“Apakah yang akan tuanku lakukan di saat-saat seperti ini?”

“Aku akan pergi ke sungai. Aku senang sekali mendengar gemericik air yang mengalir di antara batu-batu yang besar itu, selain udara yang sejuk, tidak sepanas udara di dalam istana.”

“Tetapi kenapa tuanku mengenakan pakaian itu, dan seorang diri pula?”

“Dengan siapa aku harus pergi? Dengan Ibunda Permaisuri? Atau dengan Ayahanda Sri Rajasa? Atau dengan kau?”

“Setidak-tidaknya tuanku harus membawa pengawal demi kesalamatan tuanku. Apakah tuanku tidak menyadari bahwa tuanku adalah Putera Mahkota yang kelak akan menggantikan kedudukan Ayahanda Sri Rajasa?”

“O, hampir aku lupa, bahwa aku adalah Putera Mahkota,” sahut Putera Mahkota itu, “tetapi apakah artinya seorang Putera Mahkota seperti aku ini? Kau tidak usah meributkannya seandainya aku ditelan harimau sekalipun. Di istana masih ada Adinda Tohjaya yang dapat menggantikan aku menjadi Putera Mahkota. Bukankah menurut kau, ia mempunyai kemampuan jauh lebih baik daripadaku? Dengan demikian, kau akan menjadi lebih senang, dan kedudukanmu akan menjadi lebih baik, apabila Adinda Tohjayalah yang menjadi Putera Mahkota.”

“Tuanku,” potong prajurit itu, “tuanku ternyata menyimpan kedengkian di dalam hati. Adalah salah tuanku sendiri kalau tuanku Tohjaya memiliki beberapa kelebihan dari tuanku. Itu sama sekali di luar kehendak hamba. Itu karena tuanku sendiri yang tidak memiliki kemampuan seperti adinda tuanku itu.”

“Ya. Mungkin begitu. Karena itu, pulanglah. Aku akan pergi ke sungai mendengarkan gemericik air di antara bebatuan. Aku seakan mendengar sebuah kidung yang merdu beralun di sela-sela tebing yang tinggi, diiringi oleh desir angin dan gemerisik dedaunan. O, kau tidak pernah mendengarkannya. Suatu paduan lagu yang tidak ada bandingnya. Atau kau akan ikut bersamaku mendengarkan tembang jauh di seberang sungai, di padukuhan kecil sebelah? Aku pernah berjalan-jalan sampai ke dekat banjar di sudut padukuhan itu? Aku mendengar suara tembang yang indah sampai larut malam.”

“O, jadi tuanku memang sering sekali pergi keluar istana?”

“Tidak terlalu sering. Kalau udara terasa panas sekali di istana, aku pergi keluar.”

“Kenapa dalam pakaian yang begitu sederhana dan seorang diri?”

“Tidak pantas aku memakai pakaian kebesaran. Dan aku memang tidak mempunyai pengawal khusus.”

Prajurit itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak tuanku. Tuanku harus pulang ke istana.”

“Tentu, aku harus pulang ke istana. Kalau tidak, apakah aku akan tetap tinggal di sungai atau di banjar padukuhan sebelah?”

“Maksudku, tuanku harus pulang sekarang.”

“Ah, keringatku masih belum kering. Aku ingin pergi ke sungai itu.”

“Tidak. Tuanku harus pulang. Ini bukan kata-kata seorang prajurit, tetapi ini perintah seorang guru.”

“Bukankah aku seorang murid yang jelek? Relakanlah. Kau tidak akan dipecat kalau kau kehilangan aku. Apalagi hal ini sama sekali bukan salahmu.”

“Tuanku harus pulang. Tuanku sudah berbuat suatu kesalahan. Karena itu tuanku harus mempertanggung jawabkannya kepada Ajahanda Sri Rajasa.”

“He, hal-hal semacam ini harus disampaikan kepada ayahanda? Kau jangan mempersoalkan masalah kecil-kecil yang tidak berarti ini.”

Orang itu termenung sejenak. Dengan wajah yang masih saja tegang ia memandang Anusapati di dalam keremangan malam. Sementara angin malam yang dingin menyentuh tubuh-tubuh mereka yang berdiri dipadang ilalang. Tetapi dinginnya udara itu sama sekali tidak terasa, karena dada yang berdebaran. Bahkan tubuh prajurit itu telah dibasahi oleh keringat yang mengembun di seluruh tubuhnya.

“Jika kau berbuat demikian,” berkata Anusapati selanjutnya, “itu berarti bahwa kau telah meremehkan Ayahanda Sri Rajasa. Kau sangka Ayahanda Sri Rajasa itu seperti seorang penganggur yang tidak mempunyai kerja apapun?”

Prajurit itu masih belum menjawab. Tetapi dadanya kian bertambah tegang.

“Nah, karena itu, pulanglah sendiri. Jangan kau ributkan masalah ini. Anggaplah bahwa aku sekedar ingin memenuhi hasrat pemuasan rohaniah. Aku ingin mendengar suara yang tidak pernah aku dengar di istana. Gamelan yang betapapun merdunya, tidak akan dapat mengulang kembali gemericik air di sela-sela bebatuan itu.”

Prajurit itu masih merenung sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepala sambil berkata, “Tidak tuanku. Betapa tuanku pandai menyusun kalimat-kalimat yang tuanku pergunakan sebagai alasan, tetapi sebaiknya tuanku pulang saja keistana. Katakanlah semuanya itu kepada Tuanku Sri Rajasa. Ayahanda tuankulah yang akan menilainya kelak.”

“Jadi kau masih menganggap ayah sebagai seorang penganggur?”

“Terserahlah menurut penilaian tuanku. Tetapi hamba merasa bahwa hal itulah yang paling tepat harus aku lakukan.”

Kini Anusapati lah yang berdiam diri sejenak. Namun kemudian diangguk-anggukkannya kepalanya. Katanya, “Kau memang seorang hamba yang baik. Hamba yang setia kepada tuannya. Apalagi apabila kau mendapat sekedar upah tambahan dari kesetiaanmu.”

“Tuanku,” wajah prajurit itu menjadi merah, “tuanku telah menghina hamba.”

“Alangkah sakitnya mendapat penghinaan,” desis Anusapati, “tetapi aku sudah menjadi kebal. Sebaiknya kau-pun tidak usah bersakit hati.”

“Tuanku. Aku adalah seorang guru di hadapan muridnya. Penghinaan yang demikian sama sekali tidak wajar dan sangat menyakitkan hati.”

“Aku, sebagai seorang Putera Mahkota-pun sering mengalaminya. Aku-pun menjadi sakit hati. Tetapi aku tidak pernah berbuat apa-apa. Sekarang, anggaplah bahwa kita masing-masing adalah seorang Putera Mahkota dan seorang prajurit. Aku dapat berbuat apa saja atasmu, sebagai seorang Putera Mahkota. Sebagaimana di dalam hubungan antara guru dan murid, aku harus tunduk kepadamu.”

“Tuanku,” orang itu menggeram, “hubungan antar guru dan murid tidak akan dapat ditanggalkan.”

“Kali ini aku tidak mempergunakannya. Aku ingin menanggalkan sejenak. Aku adalah Putera Mahkota. Dengar he prajurit. Pergilah dari tempat ini!”

Betapa kemarahan telah mencengkam dada prajurit itu. Kalau saja yang berdiri dihadapannya itu bukan Putera Mahkota, maka ia sudah tidak akan lagi mengekang diri. Tetapi karena ia berhadapan dengan Anusapati, Putera Mahkota di Singasari, ia masih mencoba menahan hati dan membawa Putera Mahkota itu menghadap Sri Rajasa.

“Tuanku,” berkata prajurit itu, “tuanku jangan memperberat kesalahan tuanku. Hamba dapat bertindak atas nama Sri Rajasa karena hamba telah mendapat kepercayaan untuk membimbing tuanku dari Tuanku Sri Rajasa.”

“Sudah aku katakan. Sekarang, aku adalah Putera Mahkota. Kau adalah seorang prajurit. Seorang prajurit sama sekali tidak berarti apa-pun bagi putera Mahkota. Karena itu pergilah.”

“Tuanku, sudah tentu hamba tidak akan dapat menerima penghinaan ini.”

“Jangan sakit hati. Aku juga tidak pernah sakit hati kalau kau menghinaku. Kau pernah mengatakan bahwa aku bukan laki-laki? Bahwa aku tidak mampu untuk mempelajari ilmu yang kau berikan, padahal aku merasa bahwa aku sudah berbuat sebaik-baiknya? Dan apalagi yang pernah kau lontarkan kepadaku. Kepada Putera Mahkota dari Kerajaan Agung Singasari.”

Dada prajurit itu serasa benar-benar akan retak. Karena itu maka katanya kemudian, “Tuanku, hamba benar-benar tidak lagi dapat menahan diri. Karena itu, hamba akan memaksa tuanku kembali ke istana.”

“Jangan, kau jangan mencoba memaksa aku.”

“Apaboleh buat.”

Prajurit itu-pun kemudian menyarungkan pedangnya dan melangkah maju mendekati Anusapati.

“Tuanku, hamba mohon maaf, bahwa barangkali hamba akan mempergunakan kekerasan untuk memaksa tuanku. Kecuali kalau tuanku mengambil keputusan lain. bersedia bersama hamba kembali ke istana.”

“Kau benar-benar seorang prajurit yang tidak tahu diri. Kau telah menolak perintah Putera Mahkota. He, prajurit. Apakah kau tidak tahu, hukuman apakah yang akan kau terima? Kau bukan sepadanku. Kau adalah seorang hamba, sedang akulah Putera Mahkota.”

Penghinaan itu telah benar-benar meremas jantung prajurit itu, sehingga ia menjawab, “Tuanku dapat berkata apa-pun juga, tetapi tuanku akan menyesal. Hamba akan menangkap tuanku dan membawa ke hadapan Ayahanda Sri Rajasa. Tuanku akan menerima hukuman yang setimpal dengan kesalahan tuanku. Lari dari istana dan menghina gurunya yang sudah mendapat kepercayaan dari Ayahanda Sri Rajasa. Nah, sekarang apakah yang akan tuanku lakukan?”

“Jadi kau berkeras hati untuk memaksaku pulang?”

“Hamba tuanku.”

“Kalau begitu, kita akan berkelahi. Kau tetap pada pendirianmu dan aku akan tetap pada pendirianku.”

“Jadi tuanku berani melawan hamba? Melawan gurunya?”

“Kenapa tidak.”

“Ini adalah kesalahan yang ketiga.”

Anusapati tertawa. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dipandanginya wajah gurunya yang tegang. Sejenak kemudian ia berkata, “Kenapa kau menghitung kesalahanku dan tidak menghitung kesalahanmu sendiri.”

“Hamba tidak bersalah.”

“Didalam setiap latihan kau telah menghina aku, Putera Mahkota. Ini kesalahanmu yang pertama. Kau tidak berlaku adil terhadap murid-muridmu. Emban cinde emban siladan. Kedua. Dan ketiga, kau selalu mengawasi aku, ternyata kau mengetahui bahwa aku pergi keluar istana malam ini. Keempat, kau mengikuti aku. Dan kelima kau memaksaku pulang. Keenam kau tidak menghiraukan perintahku, perintah Putera Mahkota, yang kelak akan menjadi Maharaja di Singasari. Ketujuh… “

“Cukup,” gurunya memotong dengan suara lantang.

Sekali lagi Anusapati tertawa. Katanya, “Nah, bukankah aku juga dapat mengumpulkan angka-angka kesalahanmu?”

“Tetapi tuanku hanya sekedar mencari-cari.”

“Sudahlah. Selagi semuanya belum terlanjur. Besok aku akan menghadap Ayahanda Sri Rajasa. Kalau tindakanku ini dianggap bersalah, dan aku harus menjalani hukuman, biarlah aku jalani. Tetapi sekarang aku benar-benar ingin pergi ke sungai sekedar menenteramkan hati. Suara air itu dapat menumbuhkan kedamaian seperti suara kidung para dewa dari langit.”

“Tuanku. Hamba adalah seorang prajurit. Hamba tidak peduli dengan suara air. Bagiku, bunyi yang paling merdu adalah dentang senjata beradu di peperangan. Karena itu, tuanku harus kembali sekarang.”

“He, tidak selalu prajurit mendambakan suara pedang. Prajurit yang lembut hati-pun tidak kurang jumlahnya. Prajurit yang mengerti, betapa merdunva lagu dan betapa indahnya warna.”

“Tetapi hamba bukan termasuk prajurit yang demikian. Hamba minta tuanku kembali. Jangan membantah lagi.”

“Aku perintahkan kau kembali. Jangan membantah Putera Mahkota.”

Tubuh prajurit itu menjadi gemetar. Selangkah ia maju. Ditatapnya wajah Anusapati dengan sorot mata yang membara.

Tetapi Anusapati tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan ia masih sampat tertawa. Katanya, “Apakah kau benar-benar akan memaksa aku?”

“Seperti tuanku lihat. Hamba akan memaksa. Kalau tuanku melawan mungkin hamba akan mempergunakan kekerasan yang dapat menyakiti tubuh tuanku.”

“Baiklah. Aku harus melayani. Aku akan mencoba melihat, apakah sebenarnya kau sudah pantas untuk menjadi seorang guru di dalam olah kanuragan.”

Dada prajurit itu serasa akan meledak. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Selangkah demi selangkah ia mendekat. Ia sudah siap untuk menyerang Anusapati dan melumpuhkannya.

Kemudian menyeretnya ke istana dan menyerahkannya kepada Tuanku Sri Rajasa. meskipun ia tidak berhasil menemukan kumpulan orang-orang yang akan menentang Sri Rajasa, tetapi Sri Rajasa sendiri akan dapat memaksa anak itu untuk berbicara. Dengan demikian, maka ia-pun pasti akan dianggap telah berjasa kepada Singasari dan Tuanku Sri Rajasa.

Angan-angan itulah yang kemudian telah memaksanya untuk bertindak atas Putera Mahkota. Dengan serta-merta ia meloncat dan mengayunkan telapak tangannya ketengkuk Anusapati. Ia mengharap anak itu menjadi pingsan, agar ia dapat dengan mudah membawanya. meskipun agaknya berat juga mendukung Anusapati. Tetapi itu akan lebih baik daripada anak itu masih tetap sadar, dan berusaha melawannya.

Tetapi ternyata Anusapati berhasil mengelakkannya. Sambil memutar tubuhnya ia merendah, sehingga tangan prajurit itu meluncur disamping telinganya.

Belum lagi prajurit itu menyadari keadaannya, tiba-tiba ia merasa tangannya terseret oleh kekuatan yang tidak disangka-sangkanya. Tanpa dapat melawan lagi, apalagi ia memang tidak bersedia dan tidak menyangka hal itu akan terjadi, ia-pun terlempar beberapa langkah dan jatuh terjerembab.

Dengan lincahnya ia berguling sekali, kemudian melenting berdiri.

Namun demikian, apa yang terjadi telah membuat wajahnya merah padam. Oleh muridnya ia sudah dapat dijatuhkannya. Bahkan seakan-akan tanpa dapat berbuat apa-pun terjerembab mencium tanah.

Dengan kaki gemetar oleh kemarahan yang tidak terkatakan, prajurit itu melangkah maju. Dengan tangannya ia mengusap wajahnya yang kotor. Debu yang putih telah melekat pada keringatnya yang membasahi seluruh kulit tubuhnya.

“Hamba sudah menyangka,” geramnya, “bahwa tuanku telah belajar ilmu kanuragan kepada orang lain. Hamba tidak percaya bahwa hal itu dapat terjadi tanpa dasar. Itulah agaknya maka tuanku telah menjombongkan diri berani melawan hamba. Tetapi tuanku keliru. Hamba sama sekali tidak bersiaga menghadapi keadaan itu sehingga hamba menjadi lengah. Tetapi tuanku tidak akan dapat berbuat demikian sekali lagi.”

Namun baru saja mulutnya terkatub, ia terkejut bukan buatan. Ternyata Anusapati cukup cepat pula bergerak. Seperti bayangan tanpa bobot Anusapati melayang dengan cepatnya ke arahnya. Sebuah serangan yang tiba-tiba itu telah membual prajurit itu terkejut. Tidak ada kesempatan lagi baginya untuk mengelak. Karena itu, maka ia-pun segera bersiaga menangkisnya.

Maka kemudian terjadi suatu benturan yang keras. Namua benturan itu ternyata sama sekali tidak diduga pula oleh prajurit yang menggurui Anusapati di istana. Prajurit itu terpelanting tiga langkah, dan sekali lagi ia jatuh. Kali ini ia jatuh tertelentang di atas seonggok batang ilalang.

Meski-pun prajurit itu dengan cepatnya telah berhasil berdiri, namun dadanya telah dibakar oleh kemarahan yang hampir tidak tertanggungkan. Rasa-rasanya dadanya akan meledak karenanya. Apalagi ketika ia melihat Anusapati berdiri dihadapannya, seolah-olah sengaja memberinya kesempatan mengatur diri.

“Tuanku sudah mulai,” geram prajurit itu, “jangan menyesal. Selanjutnya hamba tidak akan mengekang diri lagi.”

Anusapati masih berdiri ditempatnya. Dipandanginya prajurit yang sedang dibakar oleh kemarahan itu. Namun demikian ia tidak kehilangan kewaspadaan. Karena seperti yang dikatakannya, prajurit yang merasa dirinya dihinakan itu, pasti tidak akan mengekang diri lagi.

Dengan demikian maka keduanya kini telah berdiri berhadapan dengan kesiagaan sepenuhnya. Sejenak mereka bergeser kesamping. namun sejenak kemudian prajurit yang marah itu-pun segera meloncat menyerang. Kini ia yakin, bahwa untuk melawan muridnya itu, ia memerlukan segenap kemampuannya, karena ternyata bahwa muridnya telah menyimpan kemampuan yang tidak diduganya.

Tetapi Anusapati-pun telah siap pula menghadapi setiap kemungkinan. Dengan sepenuh kesadaran kini ia menghadapi gurunya yang sedang marah. meskipun demikan, ternyata Anusapati memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi gurunya itu.

Demikianlah maka sejenak kemudian mereka berdua telah terlibat dalam perkelahian yang seru. Masing-masing memiliki kemampuan yang cukup. Sebagai seorang prajurit yang telah mendapat kepercayaan menggurui putera-putera Sri Rajasa, maka prajurit itu-pun ternyata memiliki kemampuan yang cukup pula. Apalagi ketika ia tidak lagi menganggap bahwa lawannya adalah sekedar muridnya yang dungu.

Semakin lama prajurit itu menjadi semakin yakin, bahwa Anusapati sebenarnya bukanlah Anusapati yang disangkanya Putera Mahkota ini bukan seorang yang bodoh, dungu, cengeng dan tidak seperti seorang laki-laki. Ternyata ia seorang anak muda yang tangguh, kuat, lincah dan cekatan.

Sejenak kemudian bahkan prajurit itu harus mengakui bahwa Anusapati adalah seorang anak muda yang luar biasa.

Serangan-serangan prajurit itu yang beruntun seperti datangnya ombak dipantai, sama sekali tidak dapat menyentuh sasarannya. Dengan kemarahan yang melonjak-lonjak prajurit itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Bahkan ia telah sama sekali tidak berhasil menguasainya muridnya. Kini ia merasa bahwa ia berdiri berhadapan dengan seorang lawan yang tangguh.

“Setan manakah yang telah memberi anak ini ilmu yang demikian dahsyatnya,” geram prajurit itu di dalam hatinya.

Namun ia sama sekali tidak menunjukkan perasaannya, bahwa semakin lama ia menjadi semakin meragukan kemampuannya sendiri untuk dapat mengalahkan Anusapati.

Telinganya serasa disentuh bara ketika ia mendengar Anusapati itu bertanya kepadanya sambil bertempur terus, “Bagaimana guru. Apakah aku cukup baik untuk menerima ilmu yang guru berikan ini, atau aku benar-benar seorang yang dungu dan cengeng.”

“Persetan,” ia menggeram, “kalau terpaksa, hamba tidak akan menanggung akibatnya, apabila tangan hamba terlanjur melukai tuanku.”

Anusapati tidak menjawab, karena serangan prajurit itu menjadi semakin deras. Namun bagaimana-pun juga ia masih selalu berhasil menghindarkan dirinya dan bahkan ketika tubuhnya telah mulai basah oleh keringat, maka serang-serangan balasannya mulai meluncur satu-satu.

Dalam pada itu, selagi mereka berdua bertempur dengan serunya, ternyata masih ada sepasang mata lagi yang sedang memperhatikannya. Sebenarnya orang yang sedang menyaksikan perkelahian itu sudah mengikuti prajurit itu sejak dari istana diluar pengetahuan prajurit itu sendiri. Selagi prajurit itu mengikuti Anusapati, ia sudah mengikutinya pula.

Tetapi ia tidak ingin segera mencampuri perkelahian itu. Ia yakin bahwa Anusapati pasti akan dapat mengatasi lawannya. Namun yang ia tidak mengerti, bagaimana cara Anusapati menyelesaikan perkelahian itu, dan bagaimana cara Anusapati untuk tetap menyembunyikan dirinya didalam pergaulan istana.

Karena itu, maka orang itu, yang tidak lain adalah Sumekar, justru bersembunyi di balik daun-daun ilalang, agar ia tidak mengganggu perkelahian yang sengit itu.

Sekali-sekali Sumekar mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia terpaksa tersenyum melihat prajurit yang sombong itu terpelanting dan jatuh berguling-guling.

“Setan manakah yang telah memberi tuanku ilmu iblis ini?” bertanya prajurit itu sambil menyerang.

“Bukankah aku muridmu?” sahut Anusapati.

“Persetan,” geram prajurit itu, “tuanku Sri Rajasa pasti akan sangat marah mendengar akan hal ini. Tuanku pasti akan mendapat hukuman yang sangat berat. Bahkan orang yang telah memberi tuanku ilmu iblis ini.”

“Ayahanda Sri Rajasa tidak melihat,” sahut Anusapati.

“Apakah tuanku sangka, hamba tidak dapat mengatakannya? Tuanku akan hamba bikin pingsan.”

“Apakah itu mungkin?”

“Bahkan seandainya terpaksa tuanku mengalami nasib yang paling jelek-pun hamba tidak akan mendapat hukuman.”

“Maksudmu?”

Prajurit itu tidak segera menjawab. Tetapi ia menyerang semakin dahsyat.

Meski-pun demikian, ternyata bahwa ia tidak berhasil mengatasi kemampuan Anusapati. Dengan lincahnya Anusapati selalu mengelakkan diri dan kemudian menyerangnya dengan tiba-tiba. Pukulan-pukulan Anusapati terasa bagaikan sentuhan-sentuhan gumpalan besi dihampir seluruh tubuhnya. Tulang-tulangnya serasa menjadi retak dan kulit-kulitnya membengkak.

“Gila. Anak ini agaknya sudah gila,” berkata prajurit itu didalam hatinya.

Karena itu, karena prajurit itu merasa bahwa ia tidak akan dapat mengimbangi kemampuan Anusapati, maka tidak ada jalan lain baginya kecuali mempergunakan senjatanya. Ia sudah tidak menghiraukan lagi, apakah dengan demikian ujung senjatanya dapat melukai dan bahkan membunuh Putera Mahkota. Hatinya telah benar-benar pepat oleh kemarahan yang tidak terkendali.

Sejenak kemudian maka ditangan prajurit itu telah tergenggam pedangnya. Cahaya bintang-bintang dilangit yang memantul pada daun pedang yang keputih-putihan itu berkilat-kilat di dalam keremangan malam.

Dengan nada gemetar prajurit itu berkata tanpa menghiraukan adat tata pergaulan istana lagi, “Anusapati,” katanya, “Ternyata kau memang seorang pengkhianat. Kalau aku terpaksa membunuhmu, maka aku pasti justru akan mendapat hadiah, dan Singasari sama sekali tidak akan kehilangan.”

“He,” sahut Anusapati, “ingat, aku adalah Putera Mahkota.”

“Tidak ada jabatan apa-pun yang pantas bagi seorang pengkhianat.”

“Apakah kau tidak sadar, bahwa perbuatanmu itu dapat menyeretmu ke dalam kesulitan?”

“Sama sekali tidak. Aku bahkan akan mendapat anugerah.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Dipandanginya daun pedang yang bergetar itu sejenak. Kini ia tidak boleh kehilangan kewaspadaan. Bagaimana-pun juga, dengan senjata, ditangan prajurit itu pasti akan cukup berbahaya.

“Nah, sekarang bersiaplah untuk menyesali perbuatanmu yang bodoh.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam, “Baiklah. Jadi kau hendak bersungguh-sungguh? Kau tidak menghiraukan lagi dengan siapa kau berhadapan. Dan bahkan kau sudah merencanakan suatu pembunuhan atas Putera Mahkota. Dengan demikian kau sudah menodai keputusan Ayahanda Sri Rajasa dan kau sudah tidak menghiraukan lagi kepentingan Singasari yang akan kehilangan Putera Mahkotanya. Apakah barangkali kau akan menggantikan menjadi Putera Mahkota itu?”

“Persetan,” geram prajurit itu, “kau memang harus mati.”

Prajurit itu tidak menunggu lebih lama lagi. Betapapun hatinya dibayangi oleh kemarahan dan kecemasan, namun ia masih merasa betapa Putera Mahkota itu selalu menghina dan menyakiti hatinya.

“Anak ini mencoba membalas sakit hatinya,” berkata Prajurit itu di dalam hati.

Demikianlah maka sejenak kemudian prajurit itu sudah mulai menyerang kembali. Kali ini ia telah mempergunakan senjatanya. Dengan tanpa mengekang diri ia mengayunkan pedangnya berputaran. Agaknya ia telah benar-benar berhasrat mengalahkan Anusapati apa-pun akibatnya.

Anusapati mundur selangkah. Prajurit itu agaknya benar-benar dapat menguasai senjatanya. Dengan tangkasnya ia mengangkat memutar dan menjulurkan pedang yang berkilat-kilat itu.

Sejenak kemudian maka prajurit itu telah berhasil mendesak Anusapati yang terpaksa meloncat-loncat menghindari serangan itu. Ia sendiri sama sekali tidak membawa senjata apapun, karena dengan demikian ia pasti akan segera dicurigai orang di sekitar istana. Namun kini ia terpaksa menghadapi gurunya yang mempergunakan senjata pedang.

Sumekar-pun memperhatikan perkelahian itu dengan hati yang cemas. Ia melihat Anusapati yang selalu terdesak. Prajurit itu bagaikan membabi buta mengayun-ayunkan pedangnya. Namun sebenarnyalah bahwa ia memang sudah menguasai ilmu pedang dengan baik, sehingga pedangnya seolah-olah menjadi perisai yang melingkari dirinya.

Dengan demikian, maka kesempatan Anusapati untuk menyerang menjadi semakin sempit. Lindungan pedang itu terlampau rapat. Sehingga untuk sejenak, Anusapati masih selalu terdesak.

Perlahan-lahan Sumekar bergeser maju. Kalau titik perkelahian itu bergeser lagi, Sumekar-pun mengikutinya pula. Semakin lama semakin jauh tempatnya semula.

Namun hati Sumekar itu-pun menjadi berdebar-debar ketika kedua orang yang berkelahi itu menjadi semakin mendekati tebing sungai yang curam. Keduanya sama sekali tidak sempat lagi menghiraukan, dimana dan kemana mereka bergeser. Perhatian mereka kini seolah-olah terpusat pada pedang prajurit itu. Pedang yang menyambar-nyambar seperti paruh seekor burung Rajawali yang melayang-layang diudara mengitari mangsanya.

Dalam pada itu Anusapati hanya dapat mempergunakan kelincahannya untuk menghindarkan diri. Sementara ia sedang berpikir, bagaimana mengatasi prajurit yang sudah kehilangan pengendalian diri itu.

Namun dalam pada itu. Anusapati semakin lama menjadi semakin terdesak. meskipun ia masih selalu dapat menghindarkan dirinya, tetapi ia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk menyerang.

Ternyata Sumekar-pun menjadi semakin berdebar-debar pula. Ternyata Anusapati memang agak menemui kesulitan. Namun Sumekar menjadi ragu-ragu, apakah ia dapat membantu? Jika demikian, apakah yang akan terjadi pada akhir perkelahian ini?

Prajurit itu tentu akan dapat mengatakan kepada para petugas di istana, dan bahkan kepada Sri Rajasa tentang Anusapati dan tentang dirinya. Dengan demikian maka segala yang dirahasiakan selama ini pasti akan segera terbuka. Anusapati pasti tidak akan dapat lagi bersembunyi di balik kedunguan, kebodohan dan kecengengan yang selama ini dilakukannva di dalam dinding istana. “Keadaan ini cukup berbahaya bagi Putera Mahkota. Bukan saja perkelahian itu. tetapi juga apa yang akan terjadi kemudian,” berkata Sumekar di dalam hatinya, “mungkin Sri Rajasa akan berbuat sesuatu. Dan lebih jauh dari pada itu. apabila Sri Rajasa berhasil memaksa Anusapati untuk mengaku, nama kakang Mahisa Agni-pun akan tersangkut pula.”

Sumekar menjadi semakin berdebar-debar karenanya. Kini Mahisa Agni berada di Kediri. Berada didalam satu lingkungan tersendiri. Apabila Mahisa Agni mendengar hal ini, dan ia merasa dirinya dilibatkan pula. suasana Singasari akan kembali diliputi oleh mendung yang tebal. Mahisa Agni dapat berbuat sesuatu di Kediri. Dan tidak seorang-pun yang dapat meramalkan, siapakah yang lebih tinggi ilmunya, Mahisa Agni atau Ken Arok yang kini bergelar Sri Rajasa.

Dalam pada itu perkelahian itu-pun berlangsung terus. Semakin lama Anusapati semakin terdesak ketepi jurang yang curam.

Dengan demikian maka Sumekar-pun menjadi semakin berdebar-debar. Banyak kemungkinan akan dapat terjadi. Kalau Anusapati merasa dirinya semakin terjepit, maka ia akan dapat berbuat jauh lebih banyak dari yang dilakukan sekarang. Apalagi apabila pada suatu saat Anusapati benar-benar telah kehilangan pengendalian diri. Maka apabila anak muda itu terpaksa melepaskan aji Gundala Sasra, maka nasib prajurit itu akan menjadi sangat jelek.

Dengan hati yang terguncang-guncang Sumekar mengikuti perkelahian itu dengan tegangnya. Semakin lama ia merayap semakin maju. Ia sama sekali masih belum dapat menduga, apa yang akan dilakukan oleh Anusapati untuk mengakhiri perkelahian itu.

Tetapi perkelahian itu sendiri semakin lama justru berlangsung semakin cepat. Anusapati agaknya telah menjadi semakin lincah. Sekali-sekali ia menyerang menyusup diantara ayunan pedang lawannya. Tetapi karena lawannya cukup menguasai senjatanya, maka serangan Anusapati-pun tidak membahayakannya.

Namun demikian, prajurit itu menjadi semakin terbakar oleh kemarahan yang memuncak. meskipun ia bersenjata, tetapi ia tidak segera dapat memenangkan perkelahian itu. Sehingga dengan demikian ia-pun menjadi semakin bernafsu. Serangan-serangannya menjadi semakin garang dan berbahaya.

Anusapati yang tidak bersenjata berusaha untuk menghindari setiap serangan. Tetapi agaknya Anusapati tidak hanya sekedar menghindar saja. Ia masih sempat sekali-sekali membuat lawannya bingung dengan loncatan-loncatannya yang cepat.

“Kau tidak akan dapat lari lagi,” geram prajurit itu. “kau tinggal memilih, mati karena ujung pedangku, atau mati terlempar ke jurang di belakangmu.”

Tanpa sesadarnya Anusapati berpaling sejenak. Ia memang sudah berdiri dekat di tepi jurang. Jurang yang gelap pekat.

Prajurit yang bersenjata pedang itu semakin mendesaknya. Dengan senjatanya ia berusaha mengurung Anusapati, agar anak muda itu tidak lagi dapat menghindarkan diri ke arah yang lain. Ia harus di desak terus ke tepi jurang. Kalau anak itu tergelincir dan jatuh ke dalamnya, itu akan lebih baik. Sama sekali tidak akan ada kesan pembunuhan.

Saat yang ditunggu-tunggu oleh prajurit itu-pun akhirnya datang. Anusapati benar-benar telah terpepet di pinggir tebing yang curam. Ia tidak akan mungkin dapat menghindar lagi.

“Nah. tamatlah riwayat Putera Mahkota yang bodoh, dungu, sombong dan cengeng. Aku sudah muak melihat tampangmu lagi. Kalau kau mati dan terkubur di bawah jurang itu. Singasari akan dapat mencari Putera Mahkota yang jauh lebih baik daripada kau.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Ia memang sudah tidak melihat jalan untuk lari. Karena itu maka ia mulai berpikir, apakah yang sebaiknya harus dilakukan. Tanpa sesadarnya ia telah menghentakkan tangannya. seakan-akan dari sanalah ia akan melakukan perlawanan terakhirnya. Sedang pada tangannya itu ia dapat menyalurkan kekuatan puncaknya, aji Gundala Sasra.

Tetapi ketika Anusapati melihat kemarahan yang menyala di wajah prajurit itu, maka ia mempunyai pertimbangan lain. Ia masih akan mencoba sekali lagi. Kalau kali ini ia gagal, maka ia tidak mempunyai jalan lain untuk menyelamatkan dirinya, selain dengan aji Gundala Sasra.

Ketika prajurit itu maju semakin dekat sambil mengayunkan senjatanya. Anusapati berdiri tegak di atas sepasang kakinya yang renggang. Dengan penuh kesiagaan ia menunggu lawannya mendekat.

Namun dengan tiba-tiba saja ia telah melenting, seakan-akan hendak meloncat jauh-jauh menghindari ujung pedang lawannya. Karena itu maka prajurit itu-pun segera meloncat pula menghalanginya. Namun pada saat yang demikian, Anusapati telah mengurungkan niatnya, dan berputar ke arah yang lain.

Prajurit itu tertegun sejenak. Namun kemudian ia-pun tertawa sambil berkata, “kau tidak akan dapat lari. Tidak akan. Kau tidak dapat menipu aku dengan cara apapun.”

Anusapati-pun kemudian mengurungkan niatnya pula. Kini ia berdiri tegak, selangkah di pinggir jurang. Dadanya di tengadahkan, sedang kedua tangannya tergantung disisi tubuhnya.

“Apakah yang akan kau lakukan?” ia bertanya.

“Membunuhmu.”

Anusapati menggeleng, “Kau tidak akan berani membunuh Putera Mahkota.”

“Persetan.”

“Inilah dadaku. Kalau kau memang berani melakukan, lakukanlah. Aku memang sudah tidak akan dapat lari lagi.”

Prajurit itu tertegun sejenak. Dipandanginya wajah Anusapati yang di dalam keremangan malam, tampak keras sekeras batu padas.

“Kau sudah menyerah?” bertanya prajurit itu.

“Siapa bilang aku menyerah. Aku tidak kenal menyerah. Inilah kemenanganku terakhir sebelum kau membunuhku. Aku bukan seorang laki-laki cengeng. Aku cukup jantan untuk menghadapi maut.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Sejenak ia merenungkan wajah Putera Mahkota itu. Tetapi semakin lama ia justru menjadi semakin muak.

Dalam pada itu Sumekar-pun menjadi bertanya-tanya di dalam hatinya. Apakah yang akan dilakukan oleh Putera Mahkota itu? Kalau ia merasa bahwa ia sudah tidak akan mampu menghadapi lawannya, ia pasti akan sampai pada cara pembelaan diri yang terakhir, yaitu aji Gundala Sasra yang dapat membuatnya menjadi manusia yang mempunyai banyak kelebihan dari manusia kebanyakan, karena dengan latihan-latihan dan pemusatan pikiran ia mampu membangunkan semua kekuatan cadangan yang ada di dalam dirinya. Dengan Gundala Sasra. Anusapati pasti akan jauh lebih lincah. Dengan kekuatan itu yang tersalur di seluruh anggauta tubuhnya, ia akan dapat melenting seperti bilalang, dan melepaskan pukulan yang sangat dahsyat. Batu-batu-pun akan pecah berserakan, apalagi tubuh manusia yang tidak melambari dirinya dengan kekuatan yang seimbang. Tetapi agaknya Anusapati masih belum sampai kepada ajinya itu.

Meski-pun Sumekar sadar, bahwa Putera Mahkota masih mempunyai pertimbangan lain, namun ia menjadi berdebar-debar pula. Anusapati pasti mempunyai perhitungan sendiri. Tetapi kalau perhitungan itu salah, maka keadaannya sudah menjadi kian berbahaya. Sedang kesempatan-pun menjadi kian lama kian sempit. Selangkah di belakang Anusapati adalah jurang yang dalam menganga di dalam kegelapan yang pekat.

Meski-pun karena kelamnya malam tidak seorang-pun yang dapat melihat jauh kedalam jurang itu, tetapi Sumekar yang sering menuruni tebing itu untuk berlatih bersama Anusapati mengerti, bahwa di bawah tebing itu banyak terdapat batu-batu padas yang tajam menjorok di sisi dan di dasar jurang.

Sumekar menahan nafasnya ketika ia melihat prajurit itu maju setapak demi setapak. Perlahan-lahan sekali seperti seekor kucing yang mengintai tikus.

Pedangnya yang tajam berkilat-kilat bergetar di tangannya. Kadang-kadang pedang itu bergerak-gerak, namun kemudian lurus-lurus mengarah kepada Anusapati.

Sejenak kemudian terdengar prajurit itu menghentak sambil berteriak nyaring. Pedangnya lurus-lurus terjulur ke depan menusuk langsung mengarah ke pusat jantung Anusapati.

Saat itulah yang ditunggu oleh Anusapati. Tepat pada saat pedang itu mematuk, ia-pun dengan cepatnya, secepat gerak ujung pedang itu mencondongkan tubuhnya ke samping, sambil merendah. Dengan demikian, maka ujung pedang itu sekali tidak menyentuh dadanya. meskipun demikian, ternyata untuk menghindarkan diri sepenuhnya dari hunjaman pedang dari jarak yang pendek itu sangatlah sulit. meskipun dadanya dapat diselamatkan, namun pundaknya masih juga tergores sedikit, sehingga terasa pedih yang tajam seakan-akan menggigit pundak itu.

Anusapati mengeluh tertahan. Namun ia tidak sempat meraba lukanya karena sejenak kemudian pedang itu telah ditarik oleh prajurit itu dan terayun deras sekali kelehernya.

Sekali lagi Anusapati harus bergerak cepat sekali. Dengan serta merta ia menjatuhkan dirinya justru ke arah lawannya. Kemudian dengan sebuah hentakan ia menarik satu kaki prajurit itu.

Betapa terkejutnya lawan Anusapati itu. Tertarik oleh ayunan pedangnya sendiri, serta keseimbangannya yang tiba-tiba saja terganggu karena kakinya yang tidak dapat dipertahankannya lagi tanpa diduga-duganya, maka prajurit itu-pun seakan telah didorong ke samping. Tanpa dapat berbuat sesuatu, ia-pun terjatuh di tanah dan berguling sekali. Adalah mengerikan sekali, bahwa ia justru terguling mendekati mulut jurang yang menganga.

Dengan sekuat tenaganya prajurit itu menahan dirinya. Dihunjamkannya pedangnya di tanah. kemudian dengan tangkasnya ia melenting berdiri.

Tetapi ada sesuatu yang tidak diperhitungkannya. Tanah yang diinjaknya adalah tanah yang rumpil. Oleh tusukan pedangnya dan kemudian injakan kaki. maka bibir jurang itu tiba-tiba saja menjadi retak.

Saat yang demikian itulah yang sebenarnya ditunggu oleh Anusapati. Tetapi ketika kesempatan itu datang, ia menjadi ragu-ragu. Kalau ia berguling sekali mendekat, kemudian dengan ujung jari kakinya ia menyentuh tubuh prajurit itu. maka ia pasti akan segera terlempar ke jurang yang dalam dan kelam itu.

Tetapi Anusapati tidak dapat melakukannya. Bahkan tiba-tiba saja ia serasa membeku di tempatnya. Ia masih berbaring di tanah, bertahan dengan sikunya sambil memandang prajurit yang kini telah berdiri.

Namun di dalam keragu-raguan itu ia sadar. Waktunya hanya sekejap. Kalau yang sekejap ini tidak dipergunakannya, maka keadaan akan segera berubah. Mungkin ia sendirilah yang nanti akan terlempar ke dalam jurang yang dalam itu.

Tetapi, selagi Anusapati menimbang-nimbang, maka wajahnya-pun menegang. Darahnya serasa berhenti mengalir. Dengan serta-merta ia berdiri tegak di atas kedua kakinya.

Namun Anusapati tidak sempat berbuat apa-apa, meskipun ia masih mencoba menjulurkan tangannya tanpa disadarinya.

Ia melihat tiba-tiba saja tubuh prajurit itu seolah-olah terguncang. Kemudian ia mencoba membuat keseimbangan dengan memutar tangannya di sampingnya. Namun sejenak kemudian prajurit itu seakan-akan telah terseret oleh tanah yang diinjaknya. Ternyata tanah yang retak itu menjadi runtuh. Prajurit yang berdiri di atasnya itu-pun tidak lagi sempat menyelamatkan diri. Sesaat kemudian terdengar pekik yang mengerikan melontar dari kegelapan. Semakin lama semakin jauh, semakin jauh.

“O,” Anusapati berpaling sambil menutup wajahnya. Seolah-olah ia melihat bagaimana prajurit itu melayang menukik ke dalam jurang yang dalam, penuh dengan batu-batu padas yang runcing.

Sesaat kemudian suara jerit yang mengerikan itu-pun terputus. Gemanya masih terdengar menyelusur tebing. Namun kemudian malam terlempar kembali ke dalam kesenyapan yang mengerikan.

Anusapati masih berdiri di tempatnya. Perlahan-lahan ia membuka wajahnya. Tetapi ia tidak melihat sesuatu selain keremangan malam, bintang-bintang dilangit dan dedaunan di sekitarnya yang seolah-olah menjadi hitam pula.

“Aku tidak menghendakinya,” ia berdesis perlahan-lahan.

Terbayanglah dirongga mata Anusapati, tubuh prajurit itu terkapar di dasar jurang, terhunjam pada ujung-ujung batu padas. Sepercik air telah menyapu darahnya yang memerah kehitam-hitaman. Dan tubuh itu sama sekali sudah tidak akan dapat dikenal lagi. Hancur seperti sebuah belanga yang jatuh di atas batu-batu hitam.

Sejenak Anusapati membeku. Angin malam yang lembut tidak terasa lagi mengusap tubuhnya yang basah oleh keringat.

“Orang itu tentu sudah mati,” ia berdesis kepada diri sendiri.

Anusapati terkejut ketika ia mendengar jawaban lirih dibelakangnya, “Ya. ia pasti sudah mati. Tidak akan ada manusia yang sempat apabila ia terlempar ke dalam jurang itu. Apalagi sama sekali tidak menyangka dan digelapnya malam seperti ini.”

Tetapi Anusapati-pun segera mengenal suara itu pula Suara Sumekar. sehingga karena itu, ia-pun segera berpaling sambil berkata, “Ya paman. Aku tidak sengaja membunuhnya.”

Sumekar tersenyum. Ia bukan anak-anak lagi, sehingga ia dapat mempertimbangkan apa yang sudah terjadi. Karena itu ia berkata, “Tetapi bukankah Tuanku sudah memperhitungkan bahwa hal itu akan terjadi? Dalam keadaan yang memaksa, tuanku masih mencoba bertahan dengan kekuatan wajar, justru ditepi jurang. Dengan demikian tuanku masih tetap berada di dalam kesadaran sepenuhnya. Kalau tuanku menjadi gelisah, cemas apalagi bingung, maka tuanku pasti akan segera mempergunakan kekuatan tertinggi yang ada di dalam diri tuanku.”

“Tetapi ia terseret oleh tanah yang retak itu.”

Sumekar memandang Anusapati sejenak. Lalu katanya, “Bukankah terkilas di dalam angan-angan tuanku, bahwa pada suatu saat, prajurit itu akan terlempar ke dalam jurang karena kesalahannya sendiri? Dan bukankah tuanku telah berusaha memancingnya? meskipun hamba tahu, di saat terakhir tuanku menjadi ragu-ragu. Tuanku sama sekali tidak berbuat apa-apa untuk mendorongnya terjerumus ke dalam jurang.”

Anusapati tidak dapat mengingkari lagi. Kepalanya-pun kemudian terangguk kecil. Jawabnya, “Ya, aku memang menghendaki demikian. Tetapi seperti katamu, di saat terakhir aku ragu-ragu, sehingga aku tidak menyerangnya sama sekali, selagi ia berdiri tepat dibibir jurang itu. Seandainya ia tidak tergelincir oleh tanah yang retak, mungkin aku akan berbuat lain.”

“Apa yang kira-kira akan tuanku lakukan?”

Anusapati terdiam. Ia memang tidak mengerti, apa yang akan dilakukannya.

“Sudahlah tuanku. Semuanya itu sudah terjadi. Prajurit itu sudah mati terjerumus kedalam jurang. Lalu, apakah yang akan kita lakukan? Apakah kita akan meneruskan rencana kita untuk mengadakan latihan?”

Anusapati berpikir sejenak. Kemudian kepalanya terangguk. Katanya, “Baiklah. Kita meneruskan rencana kita. Tetapi jangan lebih dari tengah malam.”

“Baiklah tuanku,” sahut Sumekar.

Maka keduanya-pun kemudian menyusuri tanggul jurang itu. pergi kelereng yang biasa mereka pergunakan untuk turun dan mendaki. Dengan hati-hati mereka-pun kemudian menuruni tebing yang gelap. Tetapi karena mereka telah biasa maka mereka-pun dapat sampai kedasar dengan selamat.

“Tetapi, marilah kita lihat prajurit itu dahulu,” berkata Anusapati.

“Baiklah tuanku,” jawab Sumekar.

Meski-pun dari tanggul diatas jurang itu, tampaknya dasarnya gelap pekat tidak tertembus oleh mata, namun ketika mereka sudah ada didasar, mereka masih juga dapat melihat keadaan di sekitar mereka, meskipun remang-remang. Apalagi mata mereka yang sudah terlatih. Sehingga dengan demikian mereka-pun segera dapat menemukan prajurit yang terlempar itu.

Seperti yang mereka duga, prajurit itu sudah tidak bernyawa lagi. Senjatanya terlempar beberapa langkah daripadanya.”

“Kematian prajurit ini akan menumbuhkan berbagai persoalan di dalam istana,” berkata Anusapati.

“Tentu tuanku. Ia pasti akan dicari. Tidak mungkin ia begitu saja pergi dari istana tanpa sebab dan tanpa memberitahukan kepada siapa-pun juga.”

Anusapati merenung sejenak. Terbayang dirongga matanya beberapa orang prajurit yang pergi memencar di seluruh kota untuk mencari prajurit yang hilang ini.

“Apakah yang sebaiknya kita lakukan?” ia bertanya kepada Sumekar.

Sumekar tidak segera dapat menjawab. Ditatapnya saja mayat terbujur di atas batu-batu padas.

“Apakah kira-kira akan ada satu atau dua orang yang sampai ke tempat ini?”

“Tempat ini jarang sekali diambah kaki manusia tuanku. Tetapi bagaimana-pun juga kemungkinan itu tetap ada.”

“Bagaimana dengan binatang buas yang terdapat digerumbul-gerumbul di sepanjang lereng ini? Bukankah masih ada seekor dua ekor harimau yang sering menyelusuri sungai ini mencari minum?”

Sumekar masih belum menyahut.

Anusapati-pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia melangkah memungut pedang prajurit yang telah mati itu.

“Tuanku,” berkata Sumekar, “sebaiknya pedang itu dimasukkan kembali kedalam sarungnya.”

“Kenapa?”

“Biarlah kesan yang terdapat pada kematian ini, sekedar kecelakaan.”

Anusapati mengerutkan keningnya sejenak. Lalu, “Baiklah. Aku mengerti.”

“Tetapi, marilah, berikanlah kepada hamba.”

Anusapati ragu-ragu sejenak. Tetapi pedang itu-pun diberikannya kepada Sumekar.

“Hamba akan mencucinya lebih dahulu. Ujung pedang ini bernoda darah dari pundak tuanku. Kalau ada orang yang menemukannya, maka ia akan segera menghubungkannya dengan luka itu. Pedang ini dan luka dipundak tuanku.” Sumekar berhenti sejenak, lalu “apalagi adinda tuanku, Tuanku Tohjaya pasti akan dapat mengatakan bahwa hubungan tuanku dengan pelatih tuanku ini agak kurang baik.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi tanpa hubungan apapun, pasti tidak akan seorang-pun yang akan mencari kesalahan ini kepada tuanku. Tuanku adalah seorang murid yang bodoh. Sudah tentu tuanku tidak akan dapat berbuat apa-apa. Namun tuanku harus menyediakan jawaban, kenapa pundak tuanku terluka. “

“Aku akan menjatuhkan diriku dari sebatang pohon.”

“Sumekar mengerutkan keningnya. Menjatuhkan diri dari sebatang pohon tidak akan menimbulkan luka-luka semacam itu.”

Pundak Anusapati seakan-akan telah tersobek, meskipun tidak begitu dalam.

Agaknya Anusapati dapat menduga keragu-raguan dihati Sumekar, sehingga karena itu ia menjelaskan, “Aku akan memanjat sebatang pohon yang tidak perlu terlampau tinggi. Aku akan mematahkan sebatang ranting dan mengusap ujung potongan itu dengan darah.”

Sumekar mengangguk-angguk. Tetapi ia berkata, “Apakah besok pagi darah dipundak tuanku masih juga mengalir?”

“Aku dapat menggoresnya sedikit, dan luka ini akan berdarah lagi.”

Sumekar masih mengangguk-anggukkan kepalanya. “Memang hal itu dapat dilakukan untuk menghilangkan kesan yang dapat menghubungkan hilangnya pelatih tuanku dengan luka itu.”

Anusapati tidak menyahut. meskipun masih terbayang keragu-raguan di wajahnya, namun ia tidak mempunyai cara yang lebih baik dan aman dari rencananya itu.

Sumekar-pun kemudian mencuci pedang prajurit yang telah mati itu. Setelah dikeringkannya, maka pedang itu-pun disarungkannya kembali dengan hati-hati untuk menghilangkan kesan bahwa prajurit itu telah bertempur dengan seseorang sehingga ia telah mempergunakan senjatanya.

Setelah semuanya selesai, maka Sumekar-pun berkata, “Sudah selesai tuanku. Mudah-mudahan seandainya seseorang menemukannya orang itu tidak mencurigai siapa-pun lagi.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Mudah-mudahan,” katanya.

“Sekarang, apakah kita akan berlatih?”

Anusapati termenung sejenak. Tiba-tiba saja gairah untuk berlatih serasa begitu saja telah lenyap, sehingga jawabnya, “Aku menjadi malas paman. Bagaimana dengan kau?”

“Terserahlah kepada tuanku. Hamba hanya Sekedar melayani.”

“Hatiku tidak setenang malam-malam lampau karena peristiwa ini. Aku memang merasa bersalah, bahwa aku kurang berhati-hati. Prajurit itu agaknya mencurigai aku sejak latihan di siang hari sehingga timbul niatnya untuk mengawasi aku. Apalagi aku menjadi lengah sehingga ia berhasil mengikuti aku sampai kepinggir kota. Aku baru sadar ketika aku sudah sampai diluar kota. Tetapi aku tidak segera mendapat kesempatan untuk menghindarinya. Akhirnya ia sampai kepinggir jurang itu.”

“Hamba juga mengikutinya,” berkata Sumekar, “dan hamba juga tidak berhasil menemukan cara untuk mencegahnya. Kalau saja hamba dapat memisahkannya dari tuanku, ia tidak akan mengalami nasib seburuk ini.”

“Tetapi yang pertama-tama terlintas dikepalaku. bagaimana aku harus menyembunyikan diri setelah ini. Itulah yang mendorongku untuk memancingnya ke pinggir jurang, meskipun ternyata kemudian aku ragu-ragu dan bahkan kini aku menyesal sekali.”

“Sudahlah. Memang sebaiknya kita urungkan latihan hari ini. Kita kembali ke istana untuk menenangkan hati. Terutama tuanku.”

“Baiklah paman. Kita tidak akan dapat memusatkan pikiran kita pada latihan ini. Karena itu, memang sebaiknya kita kembali ke istana. Aku harus melukai diriku pada lukaku ini sebelum orang-orang di dalam istana, terutama kawan-kawan prajurit itu mencarinya.”

Demikianlah maka keduanva ternyata telah mengurungkan niat mereka untuk mengadakan latihan. Mereka-pun segera bersikap untuk kembali keistana.

Ketika Anusapati memasuki bangsalnya, ia masih melihat embannya duduk menunggunya. Ketika ia melihat Anusapati datang, maka dengan tergopoh-gopoh ia menyongsongnya sambil berdesis, “Pakaian tuanku telah hamba sediakan. Berikan pakaian itu kepada hamba, supaya segera hamba simpan.”

“Pakaian ini ternoda darah bibi.”

“He, apakah tuanku cidera didalam latihan?”

“Sst,” desis Anusapati, “jangan sebut-sebut itu. Besok kau akan mengerti apa yang telah terjadi. Tetapi ingat. Selama ini aku percaya kepadamu meskipun kehadiranmu disini membawa tugas-tugas tertentu. Kalau ada orang yang mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi, maka leherku pasti akan menjadi taruhan.”

“Kenapa? “

“Semuanya terjadi diluar kehendakku sendiri.”

Emban itu tidak bertanya lagi. Ia sadar, bahwa Anusapati tidak ingin mengatakan hal itu sekarang. Karena itu. maka ia-pun mencoba untuk bersabar sampai besok.

Dipagi-pagi benar, Anusapati sudah keluar dari bangsalnya. Di dalam taman, dihadapan beberapa juru taman, ia memanjat sebatang pohon sawo.

“Apakah yang akan tuanku ambil?” bertanya Sumekar.

“Jamur kenanga,” sahut Anusapati.

“Biarlah hamba yang mengambil untuk tuanku,” berkata Sumekar pula, yang disahut oleh yang lain, “Tuanku, pepohonan masih terlampau licin. Kenapa tidak siang nanti, atau tuanku menitahkan hamba untuk memanjat.”

“Jamur Kenanga tidak dapat diambil oleh orang lain.”

“Hamba ambil untuk tuanku.”

“Hanya mereka yang melihat dapat mengambilnya. Apakah kalian dapat melihat?”

Beberapa orang juru taman itu saling berpandangan. Seorang yang berkumis putih bertanya, “Apakah yang tuanku maksud dengan jamur Kenanga?”

“Nah, kau tidak tahu apa yang akan kau ambil seandainya kau yang akan memanjat keatas.”

Juru taman itu tidak menyahut. Tetapi ia menjadi berdebar-debar. Batang sawo itu masih basah oleh embun.

“Tuanku,” teriak salah seorang juru taman, “kenapa tuanku memanjat sampai pada ranting yang sangat kecil?”

“Batang sawo adalah batang yang kuat.”

“Tetapi ranting itu terlampau kecil.”

Tetapi Anusapati sama sekali tidak menghiraukan. Ia sedang mencari akal, bagaimana ia akan menjatuhkan dirinya dan melukai pudaknya.

Dalam pada itu para juru taman yang melihatnya menjadi semakin berdebar-debar. Salah seorang berteriak, “Tuanku, jangan maju lagi.”

“Jamur Kenanga itu ada diujung ranting ini.”

“Jangan. Aku tidak melihat sesuatu.”

Tetapi Anusapati merayap maju. Sesaat ia terayun-ayun di ujung ranting yang kecil. Betapa kuatnya ranting batang sawo, tetapi ranting itu memang terlampau kecil.

Sejenak kemudian, hampir setiap mulut terpekik, ketika mereka mendengar ranting itu retak. Kemudian Anusapati terayun sejenak, lalu seakan-akan ia terlempar bersama ranting kecil yang masih dipeganginya.

Untunglah bahwa ranting itu tidak begitu tinggi, sehingga dengan demikian, maka Anusapati-pun tidak mendapat cidera meskipun untuk beberapa lama ia terbaring sambil menyeringai menahan sakit dikerumuni oleh para juru taman yang melihatnya.

“Dimanakah yang sakit tuanku?” bertanya seorang juru taman yang telah ubanan.

Anusapati menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa,” desisnya.

“Tetapi punggung tuanku pasti sakit, atau barangkali tangan tuanku?” bertanya yang lain.

Sekali lagi Anusapati menggeleng, “Tidak apa-apa.”

“Tetapi darah itu,” berkata Sumekar gugup.

“O, darah,” sahut yang lain.

Perlahan-lahan Anusapati bangkit dan duduk ditanah. Dirabanya pundaknya. Kemudian dilihatnya tangannya merah oleh darahnya yang melelah dari luka.

“He. kenapa terluka dipundak,” desis seseorang.

“Ujung ranting yang patah itu,” sahut Anusapati.

“Jadi. jadi, apakah hamba harus mengatakannya kepada Ayahanda atau kepada ibunda Tuanku Permaisuri atau kepada tabib istana?”

Anusapati menggelengkan kepalanya, “Tidak usah. Aku tidak apa-apa. Luka ini tidak parah.”

“Lalu. apakah yang dapat hamba lakukan?”

“Panggillah bibi emban,” berkata Anusapati kepada Sumekar, “dan suruhlah ia membawa kain yang bersih.”

Sumekar-pun kemudian dengan tergesa-gesa mendapatkan emban Anusapati yang dengan gugup mengikutinya sambil membawa sehelai kain yang bersih.

“O, apakah tuanku terjatuh,” bertanya embannya dengan cemas ketika ia sudah sampai di taman.

Anusapati mencoba untuk tersenyum, “Tidak apa-apa. Sedikit luka di pundak.”

Dengan tangan gemetar embannya membersihkan luka di pundak itu dengan kain yang bersih. Kemudian katanya, “Marilah tuanku, kembali sajalah ke bangsal tuanku. Hamba akan membersihkannya dengan air hangat.”

Tertatih-tatih Anusapati-pun kemudian berdiri. Seorang juru taman melangkah maju sambil bertanya, “Apakah hamba diperkenankan membantu tuanku sampai kebangsal?”

Anusapati menatapnya. Katanya, “Terima kasih. Tetapi tidak usah. Nanti orang lain mengira aku terluka parah.”

“Jadi?”

“Biarlah aku pergi sendiri.”

Juru taman itu masih juga ragu-ragu. Tetapi Anusapati berkata pula, “Aku dapat berjalan sendiri. Terima kasih atas perhatian kalian.”

Juru taman itu menarik nafas. Ketika Anusapati melangkah, ia mengikuti di belakangnya. Namun agaknya Anusapati berhasil mengatasi rasa sakitnya.

Embannya yang kecemasan berjalan di belakangnya. Dengan suara gemetar ia bertanya, “Apakah tuanku masih merasa sakit?”

Anusapati tidak menyahut. Namun ketika ia naik tangga bangsalnya kemudian memasuki pintu, Putera Mahkota itu menggeliat sambil tersenyum, “Tidak begitu sakit.”

Emban itu berdiri keheranan.

“Ambillah air panas,” berkata Anusapati sambil duduk di atas pembaringan di dalam biliknya.

Embannya tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi ia-pun pergi dengan tergesa-gesa mengambil air panas.

Dalam pada itu, beberapa juru taman yang belum mulai dengan pekerjaan mereka karena hari masih terlampau pagi, saling berpandangan sejenak. Juru taman yang tua menggamit Sumekar sambil bertanya, “He, kenapa kau tampaknya acuh tidak acuh?”

“O, bukan maksudku.”

“Kasihan Putera Mahkota itu. Kau tahu bahwa Ayahanda Sri Rajasa agaknya tidak begitu dekat dengannya. Bahkan orang-orang yang lain di istana ini-pun mulai memusuhinya tanpa sebab. Apalagi mereka yang dekat dengan tuanku Tohjaya.”

“Hus,” desis juru taman yang lain, “jangan berkata begitu.”

“Kenapa?”

“Sebaiknya kau tidak membicarakan.”

(Bersambung jilid ke 60)

Koleksi & Scanning: Arema

Retype & Proofing: Raharga

Re-checking: Arema

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s