JDBK-06


<<kembali | lanjut >>

PAKSI PUN kemudian kembali duduk di sebelah perempuan yang sedang menahan tangisnya itu. Terdengar perempuan itu berdesis, “Apa yang dapat aku lakukan? Jika Angger bersedia membeli kain lurik itu, maka sehari dua hari akan dapat makan. Tetapi sesudah itu, apalagi yang harus kami jual? Jika saat kelaparan itu datang, maka kemenakanku akhirnya akan pasrah. Tetapi apakah anak itu harus menjadi salah seorang dari isteri-isteri Bahu Langlang?”

Selain menjadi isteri Bahu Langlang, maka kemenakannya itu akan menjadi budak isteri utamanya yang garang dan sekasar Bahu Langlang sendiri. Ia akan melayaninya seperti seorang hamba. Mencuci pakaiannya, menyediakan makan dan minumnya, memijitnya jika perempuan itu merasa letih.

Bayangan-bayangan yang buruk itu telah menghantuinya. Apalagi perempuan itu telah melihat sendiri apa yang harus dilakukan oleh salah seorang isteri Bahu Langlang yang juga tinggal di rumah itu. Ia bukan saja harus bekerja keras, tetapi ia juga sering disakiti oleh isteri utama Bahu Langlang itu. Sedangkan Bahu Langlang sendiri tidak memperdulikannya apa yang terjadi atas perempuan malang itu. Baginya, asal perempuan itu tidak lari dari rumahnya, itu sudah cukup.

“Kemenakanku itu akan mengalami nasib seperti itu pula nantinya,” desis  perempuan  itu.   Seperti air yang mengalir, perempuan itu menumpahkan perasaannya kepada Paksi. Meskipun Paksi masih muda, tetapi seakan-akan mampu menampung kegalauan hatinya itu.

Paksi memang mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Perasaannya tergelitik untuk berbuat sesuatu. Ia tidak dapat membiarkan gadis itu mendapat malapetaka dan mengalami penderitaan hidup yang sangat panjang.

Namun Paksi sadar, untuk mengeluarkan gadis itu dari rumah Bahu Langlang memang harus ditempuh dengan jalan kekerasan.

“Apa boleh buat,” berkata Paksi di dalam hatinya. Bahkan kemudian ia pun teringat kepada kata-kata orang yang datang kepadanya untuk mencari benda di langit yang sekiranya jatuh di sekitar gubuknya, bahwa harus ada hubungan antara ilmu dan amal.

Karena itu, maka Paksi pun kemudian berkata kepada perempuan itu, “Bibi, aku ingin ikut bersama Bibi menemui orang yang bernama Bahu Langlang itu.”

Perempuan itu terkejut. Dengan gagap ia pun bertanya, “Untuk apa kau temui Bahu Langlang?”

“Kemenakan Bibi itu harus dibebaskan dari tangan laki-laki itu.”

“Bagaimana kau akan membebaskannya?” bertanya perempuan itu. Dari wajahnya membayang keraguan dan bahkan ketidakyakinannya atas pendengarannya.

“Bibi,” berkata Paksi kemudian, “aku akan berusaha. Aku tidak tahu apakah usahaku akan berhasil atau tidak.”

“Apa yang akan kau lakukan, Ngger?” perempuan itu masih bertanya pula.

“Aku akan menemui Bahu Langlang. Aku akan minta agar kemenakan Bibi itu diijinkan untuk pergi jika gadis itu tidak mau dijadikan isterinya.”

“Tidak akan ada artinya, Ngger. Bahkan mungkin kau akan membuatnya menjadi marah, sehingga ia akan dapat berbuat sesuatu yang dapat mencelakaimu.”

“Tetapi harus dilakukan sesuatu, Bibi,” jawab Paksi.”Tanpa berbuat sesuatu, tidak akan ada perubahan yang terjadi.”

“Tetapi aku tidak bermaksud menyeretmu ke dalam kesulitan, Ngger. Jika segala sesuatunya aku katakan kepadamu, semata-mata sekedar untuk mengurangi beban yang menyesak di hatiku.”

“Aku mengerti, Bibi. Tetapi perasaanku sendirilah yang telah mendorongku untuk melakukannya.”

Tetapi perempuan itu menggeleng. Katanya, “Jika terjadi sesuatu atasmu, maka beban di hatiku akan semakin bertambah. Sementara itu, gadis itu masih akan tetap berada di tangan Bahu Langlang yang garang itu.”

“Kita akan memohon kepada Yang Maha Agung sambil berusaha, Bibi. Semoga usaha ini akan ada artinya.”

Tetapi perempuan itu menyahut, “Kau masih sangat muda, Ngger. Hari-harimu masih panjang. Jangan karena keluhanku, masa depanmu itu akan kau patahkan.”

Paksi tersenyum. Katanya, “Satu keyakinan terpahat di hatiku, bahwa permohonan kita untuk melakukan niat yang baik akan didengar-Nya.”

“Tetapi menurut perhitungan naluriahnya, maka sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari tangan Bahu Langlang. Apalagi orang itu tidak segan-segan untuk melakukan kekerasan. Selama beberapa hari aku di rumahnya, aku sudah melihat Bahu Langlang membunuh dua orangnya sendiri yang dianggapnya berkhianat.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah setiap hari di rumah itu terdapat para pengikutnya?”

“Tidak, Ngger. Bahkan jarang-jarang pengikutnya itu datang. Jika mereka datang tentu sesuatu yang penting. Bahkan kematian.”

Tiba-tiba Paksi itu pun berkata, “Bibi, antarkan aku menemui Bahu Langlang.”

Perempuan itu menjadi tegang. Katanya, “Jangan, Ngger. Aku keberatan. Kau masih terlalu muda untuk mengalami perlakuan bengis Bahu Langlang. Tidak bermaksud mendahului kehendak Yang Maha Agung, kau masih terlalu muda untuk mati.”

Tetapi Paksi seakan-akan tidak mendengarnya. Katanya, “Mari, Bibi. Supaya aku tidak usah mencari rumah itu sendiri. Katakan, bahwa Bibi telah bertemu dengan anak Bibi yang akan mengantarkan Bibi ke padukuhan Kembang Arum.”

“Jangan bebani aku dengan penyesalan yang lebih dalam, Ngger. Jika kau mau membeli kain lurikku itu, aku sudah akan mengucapkan seribu kali terima kasih. Setidak-tidaknya kau akan menyelamatkan anakku untuk tiga hari.”

Tetapi Paksi yang telah berdiri itu berkata, “Jika Bibi tidak mau menunjukkan rumah Bahu Langlang, aku akan pergi sendiri. Tentu tidak sulit untuk mencari rumah itu.”

Perempuan itu tidak berdaya untuk menolak keinginan Paksi untuk menemui Bahu Langlang. Penyesalan telah menggores jantungnya. Seakan-akan dirinyalah yang telah menjerumuskan Paksi ke dalam neraka, justru karena perempuan itu sudah beberapa hari tinggal di rumah Bahu Langlang.

Tanpa dapat mengelak lagi, maka perempuan itu telah berjalan bersama Paksi menuju ke rumah Bahu Langlang.

Sambil berjalan Paksi bertanya, “Bibi, siapakah nama Bibi selengkapnya?”

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara yang hampir tidak terdengar ia menjawab, “Orang memanggilku Nyi Permati, Ngger.”

“Nama kemenakan Bibi?”

“Namanya Kemuning, Ngger.”

“Kemuning,” Paksi mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Bukankah kemuning itu nama sejenis bunga?”

“Ya, Ngger.”

Hampir di luar sadarnya Paksi pun berdesis, “Bibi, di halaman rumahku juga terdapat sebatang pohon kemuning. Jika pohon kemuning itu berbunga, maka aku sering memandanginya berlama-lama. Warna kuning yang anggun, bau semerbak, terasa menyentuh hati.”

“Tetapi kemuningku berwarna kusam. Baunya sama sekali tidak harum, apalagi semerbak.”

Paksi pun tersenyum. Tetapi ia pun kemudian terdiam. Ia mulai membayangkan orang yang bernama Bahu Langlang itu. Jika kesan yang pertama dapat menimbulkan kepercayaan Nyi Permati dan Kemuning, maka ujud itu tentu tidak menyeramkan sebagaimana namanya. Jika kemudian orang itu menjadi menyeramkan, tentu setelah Nyi Permati mengenali sifat, watak serta pamrihnya yang buruk.

Beberapa saat kemudian, maka mereka telah berbelok mengikuti jalan yang lebih kecil. Dengan suara yang bergetar penuh dengan ketegangan jiwa, Nyi Permati berkata, “Rumah Bahu Langlang ada di ujung jalan ini, Ngger. Tetapi sekali lagi aku mohon, urungkan niatmu. Aku mengucapkan beribu terima kasih atas kesediaanmu menolong kami. Tetapi aku mohon, jangan kau lakukan.”

Paksi tersenyum. Katanya, “Aku sudah sampai di sini, Bibi.”

Nyi Permati memandang Paksi itu sekilas. Anak muda itu bertubuh tegap. Wajahnya yang tampan dan bersih, rasa-rasanya mencerminkan kepribadiannya, meskipun ia baru saja terkecoh oleh ujud dan sikap manis Bahu Langlang. Namun Nyi Permati melihat perbedaan pada keduanya.

Sebenarnyalah bahwa bukan saja jiwa Paksi menjadi matang setelah ia menempa diri. Tetapi ujud Paksi berubah. Tubuhnya tidak lagi tinggi, pipih dan kekurus-kurusan. Tetapi tubuh Paksi berkembang dengan baik. Paksi menjadi anak muda yang tampan, tegap, dan kekar.

Nyi Permati menjadi semakin tegang ketika kakinya melangkah semakin dekat dengan pintu regol halaman rumah Bahu Langlang.

“Itulah rumahnya,” suara Nyi Permati menjadi gemetar.

Paksi mengangguk-angguk. Rumah itu terhitung rumah yang besar dan berhalaman luas.

Beberapa langkah dari pintu, Nyi Permati masih berkata, “Tolong Ngger, jangan masuk halaman rumah itu.”

Tetapi Paksi seakan-akan tidak mendengarnya. Bahkan ia pun berkata, “Katakan, bahwa Bibi telah bertemu dengan aku, anak Bibi. Jika Kemuning ternyata tidak mengenal aku, katakan bahwa aku sejak kecil ikut dengan paman di Kembang Arum.”

Nyi Permati memang tidak ingin berbuat apa-apa lagi. Justru Paksilah yang lebih dahulu melangkah memasuki halaman rumah itu.

Namun langkah Paksi tertegun. Demikian ia memasuki halaman rumah itu, maka ia melihat peristiwa yang membakar jantungnya. Seorang laki-laki yang bertubuh tegap sedang mencambuk perempuan yang tidak berdaya. Perempuan itu menggeliat dan berguling-guling kesakitan. Meskipun ia berteriak dan minta ampun, tetapi laki-laki itu masih saja mencambuknya.”Siapakah perempuan itu, Bibi?”

Nyi Permati sudah menjadi gemetar. Tetapi ia menjawab, “Salah seorang isterinya.”

Perempuan yang terguling kesakitan itu memang masih muda. Agaknya ia terhitung perempuan cantik jika rambutnya tidak terurai. Berkas-berkas darah di bibir dan baju yang sudah terkoyak.

“Kenapa perempuan itu dicambuk, Bibi?” bertanya Paksi.

“Entahlah, Ngger. Tetapi kekasaran seperti itu sering dilakukan oleh Bahu Langlang. Sudah aku katakan, bahwa selama beberapa hari aku di rumahnya, sudah dua orang pengikutnya yang dibunuhnya. Pembunuhan itu sendiri sama sekali tidak berkesan apa pun pada Bahu Langlang. Seakan-akan tidak ada sesuatu yang pernah terjadi.”

“Perbuatan itu harus dihentikan,” desis Paksi.

“Tetapi bukan kau, Ngger. Biarlah orang lain yang melakukan,” suara Nyi Permati bergetar.

Namun segala sesuatunya sudah terlambat. Orang yang mencambuk perempuan yang tidak berdaya itu melihat Nyi Permati datang bersama seorang anak muda.

Tiba-tiba wajah laki-laki itu berubah. Wajahnya yang nampak bengis itu larut dalam senyumnya yang menghiasi bibirnya.

“Marilah, Bibi. Nampaknya Bibi baru saja datang dari berpergian. Kemana saja Bibi pergi?”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tanpa melihat bagaimana ia mencambuk seorang perempuan yang tidak berdaya, maka Paksi tentu menyangka bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang ramah. Wajahnya  pun tidak nampak segarang orang-orang yang dianggap sebagai orang-orang jahat.

“Marilah, Bibi,” orang itu mempersilahkan tanpa menghiraukan perempuan yang masih saja merintih kesakitan sambil merangkak menggapai tangga.

Nyi Permati tidak menjawab. Sementara laki-laki itu berkata, “Apakah Kemuning ikut dengan Bibi?”

“Tidak, Ngger,” jawab Nyi Permati dengan suara gemetar.

“O, jadi di mana anak itu?” Bahu Langlang itu justru bertanya.

Seorang perempuan lain yang kemudian berdiri di tangga menyahut, “Anak itu ada di dapur. Aku mengajarinya masak. Nampaknya anak itu akan menjadi juru masak yang pandai.”

“O, aku kira ia ikut bersama Bibi. Sejak pagi aku belum melihatnya.”

Namun Bahu Langlang itu pun kemudian memandang Paksi dengan tajamnya. Namun laki-laki itu tersenyum pula sambil bertanya, “Siapakah anak ini, Bibi?”

Paksi menjadi berdebar-debar. Ia berharap Nyi Permati menjawab sebagaimana dikehendakinya.

Namun ternyata Nyi Permati itu menjawab, “Ia anakku, Ngger.”

“Anak Bibi?” Bahu Langlang terkejut.

Sementara Nyi Permati berkata selanjutnya, “Ia anakku yang sejak kecil dipelihara pamannya di Kembang Arum. Bukankah Angger ingat, bahwa aku akan pergi ke Kembang Arum? Nah, adalah kebetulan bahwa anakku itu berada di pasar ikut dengan pamannya membawa dagangan kelapa.”

Wajah Bahu Langlang menjadi merah. Namun kemudian dengan cepat ia berusaha untuk menghapuskan kesan bahwa hatinya bergejolak mendengar pengakuan Nyi Permati itu. Bahkan kemudian ia pun tersenyum pula sambil berkata, “Jika demikian, marilah, bawa anak itu naik ke pendapa, Bibi.”

Nyi Permati pun kemudian mengajak Paksi untuk naik ke pendapa dan duduk di atas tikar pandan yang putih di pringgitan.

Sementara itu, Bahu Langlang berkata kepada perempuan yang berdiri di tangga, “Biarlah perempuan keparat itu diseret ke kandang. Suruhlah orang-orang yang menjemur padi itu membawanya pergi.”

Dalam pada itu, Paksi sempat berdesis, “Siapakah perempuan yang berdiri di tangga itu?”

“Isterinya. Isteri utamanya. Ia adalah penguasa kedua di rumah ini. Sikap dan tabiatnya tidak berbeda dengan Bahu Langlang. Keras dan bengis,” jawab Nyi Permati berbisik.

Paksi mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Doakan saja, Bibi. Perbuatan mereka tidak dapat dibiarkan terus.”

Tetapi Paksi tidak dapat bertanya lebih banyak. Laki-laki yang baru saja mencambuk isterinya itu telah naik pula dan duduk di pringgitan menemui Nyi Permati dan Paksi.

“Siapa namamu, anak muda?” bertanya Bahu Langlang.

“Orang memanggilku, Paksi.”

“Paksi,” Bahu Langlang mengulangi, “nama yang bagus. Sejak kapan kau tinggal di Kembang Arum?” bertanya Bahu Langlang.

“Sejak kecil. Sekitar enam atau tujuh tahun.”

“Sekarang berapa umurmu?” bertanya Bahu Langlang.

“Delapan belas tahun.”

“Kalian telah berpisah sepuluh tahun lebih. Apakah demikian kalian bertemu, kalian langsung dapat saling mengenal?”

“Nampaknya Ibu agak lupa kepadaku,” jawab Paksi.”Tetapi aku tidak akan pernah dapat melupakannya.”

Bahu Langlang mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah kau akan membawa ibumu bersamamu?”

“Ya. Aku akan membawa Ibu ke rumah paman. Bukankah Ibu memang sedang mencari rumah Paman?”

Bahu Langlang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Sayang sekali. Sebenarnya aku ingin mohon Bibi tinggal di sini. Aku sudah tidak mempunyai orang tua lagi. Bibi dapat menjadi pengganti orang tuaku. Menjadi pe punden di sini. Tetapi apaboleh buat. Jika Bibi ingin pergi, aku hanya ingin mohon agar Bibi sering datang untuk menengok Kemuning. Ia tentu sekali-sekali merasa rindu kepada bibinya. Meskipun ia merasa kerasan di sini dan tidak ingin meninggalkan rumah ini, tetapi Bibi akan tetap selalu dikenangnya, karena Bibilah yang telah membawanya kemari sehingga Kemuning menemukan satu ujud kehidupan yang didambakannya.”

Wajah Nyi Permati menjadi tegang. Ia tentu tidak akan dapat meninggalkan Kemuning di rumah itu meskipun seandainya ia akan menemukan kehidupan yang jauh lebih baik.

Paksi melihat ketegangan itu membayang di wajah Nyi Permati. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Ki Bahu Langlang, Ibu tentu tidak akan meninggalkan Kemuning di sini. Ibu tentu akan membawa Kemuning bersamanya.”

Wajah Bahu Langlang berkerut. Namun kemudian ia pun tersenyum, “Jangan merusak masa depan kanak-kanak. Kemuning sudah kerasan di sini. Ia sudah seolah-olah menjadi anak kandung kami sendiri. Isteriku mengasihinya dengan sepenuh hati.”

“Baiklah, Ki Bahu Langlang,” berkata Paksi.”Jika Kemuning memang sudah merasa kerasan di sini, biarlah kelak Ibu mengantarkannya kemari. Ibu hanya ingin membawa Kemuning kepada Paman agar Paman sempat melihatnya. Paman sudah terlalu tua. Ia akan sangat menyesal bahwa jika sampai hari akhirnya ia tidak sempat melihat Kemuning.”

“Tentu. Pamanmu tentu akan sempat melihatnya. Aku dapat membawa Kemuning ke Kembang Arum kapan saja.”

“Jika demikian, kenapa kami tidak membawa Kemuning sekarang saja, dan kemudian membawanya kembali sehari dua hari kemudian? Jika Ibu tidak sempat, akulah yang akan mengantarkannya kemari, karena setiap kali aku pergi ke pasar itu untuk membeli kelapa yang akan kami jual lagi di tempat lain. Terutama kepada mereka yang membuat minyak kelapa.”

“Sudahlah. Jangan pikirkan Kemuning. Aku dan isteriku akan mengurusnya. Tinggalkan Kemuning dengan tenang di sini. Bibi tidak perlu menjadi gelisah. Keadaannya akan baik-baik saja.”

“Maaf, Ki Bahu Langlang.” berkata Paksi.”Kami mohon kemurahan hati keluarga Ki Bahu Langlang. Yakinlah, bahwa aku akan membawanya kembali kemari jika ia memang sudah kerasan tinggal di sini.”

Tetapi Bahu Langlang tersenyum sambil berkata, “Jangan menyakiti hati anak itu. Kasihan. Ketenangannya akan terganggu.”

“Ki Bahu Langlang,” berkata Paksi kemudian, “biarlah ibuku berbicara sendiri dengan Kemuning. Jika Kemuning memang berkeberatan, apaboleh buat. Kami akan meninggalkannya di sini. Tetapi jika Kemuning ingin bertemu dan tinggal bersama pamannya barang satu dua hari, biarlah ia kami bawa serta.”

Wajah Bahu Langlang pun berkerut. Sambil menggeleng ia berkata, “Aku minta jangan ganggu Kemuning. Itu saja.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara Bahu Langlang pun berkata kepada Nyi Permati, “Bibi, sebaiknya Bibi memberitahukan kepada anak Bibi itu, agar ia tidak usah ikut mencampuri persoalan Kemuning. Aku tidak berkeberatan ia singgah di sini. Tetapi jangan membuat kegelisahan seisi rumahku termasuk Kemuning.”

Nyi Permati termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Sudahlah, Ngger. Biarlah besok atau lusa aku ajak Kemuning ke rumah pamanmu.”

“Tidak Ibu. Aku akan mengajak Kemuning sekarang. Alangkah senangnya hati Paman jika Kemuning tiba-tiba datang mengunjunginya. Rasa-rasanya aku tidak sabar lagi melihat, bagaimana Paman di saat-saat yang gawat itu tersenyum melihat kehadiran Kemuning.”

Agaknya Bahu Langlang telah kehabisan kesabaran. Pada dasarnya ia memang bukan orang yang sabar. Tetapi ia mencoba untuk memberikan kesan yang baik kepada anak Nyi Permati. Tetapi anak muda itu ternyata sangat menjengkelkannya.

Karena itu, maka dengan suara yang mulai bergetar Bahu Langlang itu berkata, “Anak muda, untuk terakhir kalinya aku memperingatkanmu, jangan ganggu Kemuning.”

“Niatku sudah tetap, Ki Bahu Langlang,” jawab Paksi mantap.

Bahu Langlang benar-benar tidak dapat menahan diri. Karena itu, maka ia pun membentak, “Cukup, anak muda. Aku minta kau meninggalkan rumahku ini. Bibi, aku mohon, sebelum aku bertindak menurut caraku.”

Nyi Permati menjadi semakin bingung. Dengan gelisah ia berkata, “Sudahlah. Tinggalkan rumah ini.”

Tetapi Paksi tetap bersikeras Katanya, “Tidak. Aku akan membawa Kemuning.”

Bahu Langlang benar-benar tidak lagi dapat mengekang diri. Sudah sejak semula ia berpura-pura menjadi penyabar. Tetapi ia tidak dapat bertahan terlalu lama.

Karena itu, maka Bahu Langlang itu pun kemudian berkata, “Aku sudah cukup memberimu kesempatan berbicara di sini. Sekarang, kau harus pergi. Jangan berbicara apa pun lagi.”

Tetapi hati Paksi pun keras seperti baja. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Aku akan pergi bersama Kemuning.”

“Cukup,” mata Bahu Langlang mulai menyala. Sementara Nyi Permati mulai menjadi ketakutan. ”Apakah aku harus memperlakukanmu seperti perempuan itu?”

“Seperti itulah yang pada suatu saat akan terjadi pada Kemuning. Pada saatnya kau menjadi jemu, maka kau akan menyakitinya setiap hari.”

Bahu Langlang itu pun bangkit berdiri sambil menggeram, “Kau memang tidak tahu diri. Jika kau terlambat keluar dari halaman rumahku, maka untuk selamanya kau tidak akan pernah dapat keluar lagi, karena tubuhmu akan terkubur di bawah rumpun bambu di kebun belakang rumah ini.”

“Tentu banyak tubuh yang kau kuburkan di bawah rumpun bambu itu,” jawab Paksi sambil bangkit berdiri pula.

Wajah Bahu Langlang menjadi merah. Dengan garang ia berkata, “Sekarang aku tahu apa yang kau maui anak muda. Kau datang dengan sengaja untuk merebut Kemuning dari tanganku. Baik. Jika kau memang sudah bersiap melakukannya, lakukan. Halaman rumahku cukup luas.”

Bahu Langlang tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun segera turun ke halaman.

Ketika Paksi melangkah, Nyi Permati menggamitnya sambil berdesis, “Sudahlah, anak muda. Aku mengucapkan terima kasih atas perhatianmu. Tetapi jangan korbankan dirimu.”

Paksi tidak menghiraukannya. Ia pun segera melangkah menuruni tangga.

Sejenak kemudian, Paksi pun telah berdiri berhadapan dengan Bahu Langlang di halaman.

Beberapa orang yang ada di halaman Bahu Langlang menjadi heran melihat anak muda yang dengan beraninya menantang Bahu Langlang.

“Apakah anak muda itu belum pernah mendengar nama Bahu Langlang?”

Dalam pada itu, Paksi yang sudah berdiri berhadapan dengan Bahu Langlang itu pun berkata, “Bahu Langlang, aku yakin bahwa kau adalah seorang laki-laki yang kata-katamu adalah kehormatan dan harga dirimu. Marilah kita membuat janji. Kita akan berkelahi sekarang ini. Jika aku kalah, maka aku sadari, bahwa aku akan terkubur di bawah rum pun bambumu. Aku sudah pernah mendengar namamu dan aku pun tahu tabiatmu. Ketika aku memasuki halaman rumah ini, kau sedang menghakimi salah seorang isterimu. Tetapi jika aku menang, maka kau harus melepaskan Kemuning dan ibuku. Aku akan membawa mereka dan menyelamatkan mereka dari keganasanmu.”

“Iblis kau. Aku hormati kau yang berani menantangku. Aku hormati kau yang mencintai ibu dan saudara sepu punya sehingga berani mempertaruhkan nyawamu. Tetapi kau akan segera ditelan oleh kesombonganmu sendiri.”

“Katakanlah bahwa kau berjanji.”

“Baik. Aku terima syaratmu. Aku janji.”

Demikianlah keduanya pun kemudian telah berhadapan. Paksi telah menyandarkan tongkatnya, karena ia melihat Bahu Langlang tidak bersenjata.

Sejenak kemudian keduanya telah bersiap. Mata Bahu Langlang bagaikan memancarkan nyala api oleh kemarahan yang membakar dadanya. Bahwa seorang anak muda berani menantangnya itu sudah merupakan satu penghinaan atas dirinya.

Sejenak kemudian, maka Bahu Langlang itu pun mulai bergerak. Tangannya terayun menggapai tubuh Paksi. Tetapi Bahu Langlang belum benar-benar menyerangnya.

Namun ketika Paksi bergeser menghindari, Bahu Langlang telah mempersiapkan serangan yang sebenarnya. Ia ingin menghancurkan dan benar-benar membunuh anak itu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya untuk menutup ketersinggungannya, bahwa seorang anak telah berani menantangnya.

Dengan mengakhiri perlawanan anak itu secepatnya, maka penilaian orang-orangnya yang melihat peristiwa itu terhadap dirinya tidak akan terguncang oleh kesombongan anak itu.

Karena itu, maka sejenak kemudian, serangan Bahu Langlang itu pun datang bagaikan angin prahara.

Paksi memang terkejut. Ia tidak menduga sebelumnya bahwa serangan Bahu Langlang akan datang demikian cepatnya langsung dalam tataran ilmu yang tinggi.

Paksi memang terdesak surut. Tetapi kemudian Paksi pun telah menemukan keseimbangannya, sehingga Paksi pun segera menempatkan diri pada batas kemampuan lawannya.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi seimbang. Paksi yang muda, namun yang telah menempa dirinya itu, tidak banyak mengalami kesulitan menghadapi orang yang namanya ditakuti oleh lingkungannya, Bahu Langlang.

Ketika dengan hentakannya Bahu Langlang mampu mendesak lawannya, maka ia sudah memastikan akan dapat dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu.

Tetapi ternyata dugaannya keliru. Anak muda itu semakin lama justru menjadi semakin mapan. Bahu Langlang tidak lagi mendesaknya. Apa yang dilakukannya, lawannya itu mampu mengimbanginya.

Karena itu, sambil menggeram marah Bahu Langlang mengerahkan kemampuannya sampai ke  puncak. Sebagai seorang yang mempunyai pengalaman yang luas dalam petualangannya di dunia olah kanuragan, maka Bahu Langlang tidak segera tenggelam dalam kecemasan menghadapi lawannya. Dengan hentakan-hentakan yang kuat, Bahu Langlang ingin mengguncang pertahanan Paksi.

Tetapi Paksi tidak segera dapat didesaknya. Semakin lama Paksi justru nampak menjadi semakin tegar. Serangan-serangannya menjadi semakin cepat sementara kakinya berloncatan semakin tangkas.

Bahu Langlang mulai menyadari, bahwa lawannya bukannya anak-anak muda kebanyakan. Sejak semula ia memang sudah curiga, bahwa anak muda itu bukan anak Nyi Permati. Bukan pula sepupu Kemuning.

Karena itu, maka Bahu Langlang pun tidak mau menanggung akibat yang paling buruk. Dengan tangkasnya ia meloncat surut sambil berteriak, “Berikan senjataku.”

Beberapa orang termangu-mangu. Namun isteri utamanyalah yang dengan cepat tanggap. Ia pun segera meraih sebuah kapak yang tergantung di tiang di atas tangga pendapa.

Dengan cepat kapak yang besar itu pun telah dilemparkan kepada Bahu Langlang yang telah mengambil jarak dari lawannya.

Bahu Langlang menangkup kapak besarnya itu. Kemudian terdengar orang itu tertawa. Keramah-tamahannya sama sekali tidak nampak lagi. Tidak ada lagi senyum di bibirnya. Yang nampak adalah pandangan matanya yang bengis.

Demikian Bahu Langlang memegang kapaknya, maka Paksi pun telah menggapai tongkatnya pula. Meskipun ternyata ilmu Bahu Langlang yang garang itu tidak setinggi sebagaimana dibayangkannya, namun kapaknya itu nampaknya sangat berbahaya.

“Jika orang-orang dari Goa Lampin atau orang-orang dari Perguruan Sad itu datang kemari, maka Bahu Langlang akan sulit untuk dapat mengatasinya,” berkata Paksi di dalam hatinya. Ternyata Bahu Langlang tidak lebih dari seorang pemimpin perampok yang garang. Tetapi kegarangannya tidak dilandasi dengan ilmu yang tinggi.

Sejenak kemudian, maka Bahu Langlang telah menyerang dengan kapaknya yang besar. Menilik ayunan kapaknya itu, maka tenaga Bahu Langlang memang sangat besar. Agaknya dengan tenaganya yang besar serta kegarangan sikap dan keberaniannya, Bahu Langlang menjadi seorang yang ditakuti oleh lingkungannya.

Tetapi  nampaknya  orang-orang dari  perguruan-perguruan yang namanya banyak dikenal, Bahu Langlang sama sekali tidak menarik perhatian.

Demikianlah, maka dengan tongkatnya Paksi telah melawan ayunan kapak Bahu Langlang yang garang itu. Getaran angin yang menampar tubuh Paksi karena ayunan kapak lawannya, memberikan peringatan kepada Paksi, bahwa tenaga lawannya memang sangat besar.

Tetapi jantung Paksi sama sekali tidak tergetar oleh ayunan senjata lawannya itu. Sehingga dengan demikian, maka perlawanan Paksi sama sekali tidak menjadi goyah.

Bahkan dengan tongkat kayunya, Paksi dapat menangkis serangan kapak lawannya dengan benturan langsung. Paksi memang yakin bahwa tongkatnya tidak akan patah. Meskipun ujud tongkatnya adalah tongkat kayu, tetapi tongkat itu sudah teruji kekuatannya, sehingga dalam benturan seperti apa pun dengan jenis logam apa pun, tongkatnya tidak akan patah.

Bahu Langlang menjadi semakin heran. Anak itu benar-benar anak ajaib. Pada umurnya yang masih sangat muda, sebagaimana dikatakannya sendiri bahwa umurnya baru delapanbelas tahun, ia sudah memiliki ilmu yang tinggi, yang tidak terjangkau oleh ilmu Bahu Langlang yang namanya ditakuti oleh lingkungannya.

Dalam pada itu, kapak Bahu Langlang hampir tidak berdaya sama sekali. Bahkan tongkat Paksi sekali-sekali sudah mulai menggapai tubuh lawannya. Ketika tongkat Paksi berhasil mendorong  pundak Bahu Langlang, maka Bahu Langlang itu terdorong beberapa langkah surut. Hampir saja Bahu Langlang kehilangan keseimbangannya. Namun dengan susah payah Bahu Langlang dapat menguasai dirinya sehingga ia tidak jatuh terjerembab.

Dalam pada itu, isteri utama Bahu Langlang yang melihat keadaan suaminya telah menjadi marah pula. Ternyata isterinya bukan saja seorang yang garang. Tetapi ia juga seorang yang mampu turun ke medan.

Karena  itu, ketika Bahu Langlang mengalami kesulitan, isterinya yang garang itu telah meloncat ke gelanggang. Di tangannya digenggamnya sebilah pedang.

“Kita akan membunuhnya bersama-sama,” geram perempuan itu.

Paksi meloncat selangkah surut. Dengan nada tinggi ia berkata, “Kita sudah membuat janji, Bahu Langlang.”

Bahu Langlang memang menjadi bimbang. Tetapi isterinya telah memutar pedangnya sambil berkata, “Jangan ragu-ragu. Janji dengan anak-anak tidak perlu ditepati.”

Bahu Langlang masih saja bimbang ketika kemudian isterinya itu meloncat menyerang Paksi.

Paksi meloncat menghindar sambil berkata, “Bahu Langlang. Apa katamu jika kau tidak menepati janji, maka aku tidak akan hiraukan pula.”

“Persetan dengan janji itu,” teriak isterinya. Tetapi sebelum mulutnya terkatup rapat, tongkat Paksi telah terayun menyambar pedang perempuan itu. Tanpa dapat berbuat apa-apa, pedangnya telah terlempar beberapa langkah daripadanya.

“Bahu Langlang,” berkata Paksi kemudian, “jika kau ingkar janji, maka aku akan membunuh isterimu, membunuhmu dan membunuh siapa saja yang akan menghalangi aku.”

Bahu Langlang termangu-mangu sejenak. Tetapi ujung tongkat Paksi seakan-akan melekat di dada isterinya.

Dengan satu gerakan sederhana, isterinya itu memang akan dapat diselesaikan oleh anak muda itu. Tongkat itu dapat mendorong isterinya, tetapi mengingat kemampuan anak itu, maka tongkat itu akan dapat menghunjam di dada isterinya itu.

Isteri utama Bahu Langlang yang sudah kehilangan pedangnya itu baru yakin, bahwa anak muda itu memang tidak mungkin dilawannya meskipun ia bertempur bersama suaminya, seorang yang memiliki nama besar di lingkungannya dan ditakuti banyak orang.

Dalam pada itu, Paksi pun berkata, “Bahu Langlang, aku ingin memberimu peringatan. Jika kau mencoba berpijak pada nama besarmu, maka dalam waktu yang singkat kau akan binasa. Aku beritahukan kepadamu, bahwa di kaki Gunung Merapi ini sekarang berkumpul orang-orang dari perguruan besar yang berilmu tinggi. Bukan sekedar seorang pemimpin perampok yang merasa dirinya tidak terkalahkan karena dapat membunuh orang-orang tua dan anak-anak yang ketakutan. Atau mencegat penjual dawet atau blantik kuda yang pulang dari pasar. Di daerah ini berkeliaran orang-orang dari Perguruan Goa Lampin, orang-orang dari Perguruan Sad dan orang-orang perguruan di Alas Tegal Arang. Itu yang sudah aku lihat. Aku tidak tahu, apakah masih ada orang lain yang belum aku ketahui. Nah, camkan itu. Lihat wajahmu di permukaan kolam ikanmu. Kau tidak lebih dari seekor tikus kecil di antara sekelompok serigala yang buas.”

Bahu Langlang termangu-mangu mendengar kata-kata Paksi itu. Sementara Paksi itu pun berkata, “Ketika aku mendengar namamu, aku kira kau juga seorang yang berilmu tinggi. Tetapi ternyata kau bukan apa-apa. Nah, sekarang tempatkan dirimu di antara segerombolan serigala yang berkeliaran di kaki Gunung Merapi ini. Menurut pendapatku, dalam waktu yang dekat, tentu ada di antara mereka yang datang kepadamu untuk menguji kebesaran namamu.”

“Apakah kau tidak berbohong, anak muda?” bertanya Bahu Langlang.

“Buat apa aku berbohong kepadamu? Apalagi setelah aku tahu, siapa sebenarnya kau. Meskipun kau dengan tanpa berkedip membunuh pengikut-pengikutmu sendiri, dan bahkan dengan jantung yang sama sekali tidak tergetar mencambuk seorang perempuan yang tidak berdaya, tetapi kau bukan orang yang pantas aku perhitungkan. Apalagi dalam putaran perburuan pusaka sekarang ini.”

Bahu Langlang menundukkan kepalanya. Ia harus melihat kenyataan itu. Betapa kecilnya dirinya di hadapan anak muda itu, atau di hadapan orang-orang dari perguruan yang telah disebutnya.

Karena itu, maka Bahu Langlang itu pun berkata, “Aku akan menepati janjiku, anak muda. Tetapi aku minta kau mengatakan apa yang sebaiknya aku lakukan sekarang.”

“Bawa Kemuning keluar dan serahkan kepada bibinya.”

“Aku tahu. Aku akan menyerahkannya kepada bibinya. Tetapi setelah itu, apa yang sebaiknya aku lakukan? Apakah orang-orang dari perguruan besar itu benar-benar akan datang kemari?”

“Menurut dugaanku, mereka akan datang.”

“Apa yang harus aku lakukan?” bertanya Bahu Langlang.

“Jangan sebut lagi namamu. Kau harus mengatakan bahwa Bahu Langlang sudah pergi. Yang ada hanyalah orang-orang yang menunggui rumahnya. Beritahu pengikut-pengikutmu, jangan sebut lagi nama Bahu Langlang itu. Kecuali itu, hentikan tingkah lakumu. Kau belum terlambat untuk memperbaiki jalan hidupmu.”

Bahu Langlang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian diamatinya kedua telapak tangannya sambil berdesis, “Tangan ini telah bernoda darah. Berapa orang yang telah aku bunuh. Apakah aku masih pantas untuk mencari jalan baru dalam hidupku.”

“Selagi kau sempat, lakukan. Tetapi jika kau sudah mati, maka kesempatan itu tidak akan pernah kau dapatkan.”

Bahu Langlang itu mengangguk-angguk. ”Baiklah, anak muda, tetapi wawasanmu telah membuka mataku.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Paksi telah menarik tongkatnya. Sementara Bahu Langlang pun telah mempersilahkannya kembali naik ke pendapa.

Sejenak kemudian, maka Bahu Langlang dan isteri utamanya telah membawa seorang gadis ke pendapa itu pula. Seorang gadis yang matanya menjadi pengab. Nampaknya gadis itu tidak berhenti-henti menangis sejak ia berada di rumah itu.

Paksi hanya sempat memandang gadis itu sekilas. Tetapi yang sekilas itu telah memberi kesan kepadanya, bahwa gadis itu memang cantik. Kemuning masih saja selalu menunduk. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya.

Namun dalam pada itu, dengan suara yang berat, Bahu Langlang itu pun berkata, “Kemuning, aku minta maaf atas perlakuan yang sudah kau alami selama ini di rumahku. Sekarang aku akan menyerahkanmu kepada bibimu. Kau akan bebas. Kami tidak akan menghalangi lagi jika kalian akan pergi ke Kembang Arum.”

“Aku akan mengantarkannya,” desis Paksi.

“Kau akan aman di bawah perlindungannya, Kemuning.”

Kemuning menjadi bingung. Ia merasakan satu suasana yang jauh berbeda. Sikap Bahu Langlang terasa berbeda dengan sikapnya sehari-hari. Meskipun Bahu Langlang selalu bersikap manis kepadanya, tetapi setiap kali Kemuning mendengar desir langkah  kakinya, jantungnya serasa akan  runtuh dari tangkainya.

Tetapi saat itu, sikap Bahu Langlang memang berbeda. Ia merasakan perbedaan sikap itu dan sentuhan yang paling dalam dari tekanan kata-kata Bahu Langlang itu. Sikap manis Bahu Langlang rasa-rasanya tidak dibuat-buat seperti biasanya Kemuning tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Ketika ia memandang bibinya, maka dilihatnya perempuan itu berusaha menahan tangisnya.

Namun dalam pada itu, Paksi pun berkata, “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini. Aku antarkan kalian ke Kembang Arum.”

Kemuning termangu-mangu sejenak. Sementara Nyi Permati pun bertanya, “Apakah kami diperkenankan berbenah diri.”

“Tentu, Bibi,” sahut Bahu Langlang dengan serta-merta.”Lakukan apa yang ingin Bibi lakukan. Bibi tahu, bahwa sekarang aku sudah tidak berdaya.”

Nyi Permati masih ragu-ragu. Namun Paksi pun kemudian berkata, “Silahkan berbenah diri. Aku menunggu.”

Sejenak kemudian, maka Nyi Permati dan Kemuning pun telah selesai berbenah diri. Mereka membawa sebuah bungkusan kecil. Sebungkus barang-barang yang masih tersisa. Di antaranya adalah kain lurik yang telah ditawarkan kepada Paksi.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Paksi pun telah meninggalkan rumah Bahu Langlang bersama Nyi Permati dan Kemuning. Bahu Langlang dan isterinya mengantar mereka sampai di regol halaman rumahnya.

Demikian mereka meninggalkan halaman rumah itu, maka Kemuning merasa seakan-akan dirinya baru menapak ke dalam sebuah mimpi. Ia sudah tidak lagi berpengharapan untuk dapat keluar dari rumah itu. Kemuning yang masih terlalu muda itu rasa-rasanya sudah berada di antara kuku-kuku seekor harimau yang kelaparan.

Namun tiba-tiba ia sudah bergerak meninggalkan rumah itu.

Tetapi Kemuning yang tidak tahu apa yang terjadi masih belum percaya sepenuhnya bahwa ia akan benar-benar lepas dari tangan Bahu Langlang. Kemuning masih membayangkan, bahwa pada suatu saat nanti, Bahu Langlang akan memburunya dan membawanya kembali ke rumahnya.

Tetapi ketika mereka keluar dari padukuhan itu, Nyi Permati itu pun berkata, “Kita sudah lepas dari tangan hantu yang menakutkan itu, Kemuning. Yang Maha Agung telah bermurah hati mengirimkan anak muda itu untuk membebaskanmu.” Di luar sadarnya Kemuning berpaling. Namun ketika ia menyadari bahwa Paksi juga sedang memandanginya,  maka Kemuning pun segera melemparkan pandangan matanya ke kejauhan.

Paksi sendiri juga menggeser pandangan matanya. Namun yang sekilas itu mempertajam kesannya, bahwa Kemuning memang gadis yang cantik. Itulah sebabnya, maka Bahu Langlang ingin menjadikan gadis yang masih belum dewasa penuh itu sebagai isterinya, meskipun landasan keinginan itu semata-mata karena nafsu.

Demikianlah, maka ketiga orang itu berjalan semakin jauh. Paksi yang sudah mendapat ancar-ancar arah padukuhan Kembang Arum tidak terlalu sulit untuk menempuh perjalanan yang sudah tidak terlalu jauh itu.

Paksi memang mengajak mereka untuk berjalan melewati jalan pinggir hutan. Paksi sama sekali tidak menjadi takut. Sudah setahun ia tinggal di tepi hutan. Bahkan setiap kali ia telah menyusup memasuki hutan itu untuk berburu tanpa merasa takut mendengar aum harimau sekali pun.

Kemuning dan bibinya memang merasa ngeri untuk menempuh jalan sempit di pinggir hutan itu. Tetapi karena Paksi yang berjalan di depan itu sama sekali tidak nampak ragu, maka mereka pun berjalan saja mengikutinya.

Ketika mereka melalui jalan yang rumit, karena lereng yang menurun agak terjal dan berbatu-batu padas yang tajam, maka Paksi pun berkata, “Jika kita menempuh jalan melingkar, maka jaraknya akan menjadi jauh. Pedagang kelapa itu tentu membawa pedatinya melewati jalan melingkar itu. Tetapi jaraknya dapat berlipat.”

Kedua orang perempuan itu tidak menyahut. Dengan susah payah dibantu oleh Paksi, akhirnya keduanya berhasil melewati jalan yang terjal itu.

Paksi yang mengetahui bahwa kedua orang perempuan itu menjadi letih, telah mengajak mereka untuk beristirahat sejenak. Namun kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan mereka kembali.

Ketika mereka melewati sebuah sumber air kecil yang jernih, maka mereka pun telah berhenti untuk minum beberapa teguk untuk melepaskan haus mereka.

Demikianlah, maka Nyi Permati dan Kemuning telah menempuh sebuah perjalanan yang berat. Tetapi mereka memang sudah berniat melakukannya. Bahkan sebelumnya mereka juga sudah menempuh jalan yang panjang pula sebelum mereka jatuh ke tangan Bahu Langlang.

Namun ketika senja turun, mereka masih belum memasuki Padukuhan Kembang Arum. Tetapi mereka masih sempat bertanya kepada seseorang yang pulang dari sawahnya, tentang letak padukuhan itu.

“Sudah tidak jauh lagi, anak muda. Jika jalan ini nanti menyilang sebuah sungai kecil, maka berantara dua bulak lagi, kalian akan sampai.”

“Apakah kami akan sampai ke padukuhan itu wayah sepi bocah atau bahkan sebelumnya?” bertanya Paksi pula.

“Tergantung sekali kepada kecepatan jalan kalian,” petani itu tersenyum.

Paksi pun tersenyum pula. Katanya, “Ki Sanak benar.”

“Kau berjalan dengan dua orang perempuan yang tentu tidak akan dapat berjalan secepat jika kau sendiri,” berkata petani itu.

“Kau dapat bertanya kepada para peronda. Hampir di setiap padukuhan terdapat setidak-tidaknya sebuah gardu ronda di dekat banjar. Mudah-mudahan di Kembang Arum gardu itu terisi setiap malam. Atau mungkin sekali para peronda itu berada di banjar itu sendiri.”

“Terima kasih, Ki Sanak,” Paksi mengulang.

Demikianlah, maka Paksi pun telah melanjutkan perjalanannya bersama Nyi Permati dan Kemuning.

Seperti yang dikatakan oleh petani yang pulang dari sawahnya itu, maka beberapa saat kemudian mereka bertiga telah melintasi sebuah sungai. Dengan demikian, maka mereka tinggal menempuh perjalanan dua bulak lagi untuk sampai ke Padukuhan Kembang Arum.

“Sebenarnya aku pernah pergi ke Kembang Arum,” berkata Nyi Permati, “tetapi sudah terlalu lama. Agaknya aku sudah sulit untuk mengingatnya. Bahkan jalan menuju ke padukuhan itu pun aku sudah lupa, sehingga kami tersesat.”

“Jadi Bibi sudah pernah ke Kembang Arum?” bertanya Paksi.

“Ya, Ngger. Tetapi aku memang sulit untuk mengingat sesuatu. Juga jalan ke Kembang Arum. Ketika aku berangkat mengantar Kemuning, aku kira aku dapat mengenali jalan-jalannya kembali. Tetapi ternyata tidak. Bahkan kami telah tersesat ke sarang serigala itu. Bersyukurlah kami, bahwa Yang Maha Agung masih berbelas kasihan, sehingga aku telah bertemu dengan Angger di pasar itu.”

Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Bertiga mereka berjalan menyusuri bulak di gelapnya malam. Nyi Permati dan Kemuning memang tidak dapat berjalan secepat Paksi. Karena itu, maka Paksi harus menyesuaikan diri. Berjalan lamban sekali.

Namun akhirnya dua bulak itu pun telah mereka lampaui. Tetapi mereka juga sudah melampaui wayah sepi bocah. Pada wayah sepi uwong, mereka telah memasuki sebuah padukuhan yang mereka duga adalah Padukuhan Kembang Arum.

Namun tiba-tiba Nyi Permati berkata, “Ya, kita telah sampai. Aku ingat tugu yang ada di dekat regol itu. Tugu itu pernah aku lihat ketika aku datang kemari waktu itu. Tugu yang dibuat dari batu itu memang sangat menarik perhatian, karena jarang sekali ada padukuhan yang mempunyai ciri seperti itu.”

Tiba-tiba saja Kemuning pun bertanya, “Jadi, kita benar-benar sampai ke Kembang Arum?”

“Ya, Kemuning. Kita sudah sampai di Padukuhan Kembang Arum. Yang Maha Agung telah menuntun perjalanan kita.”

Kemuning itu pun tiba-tiba saja telah memeluk bibinya. Ia tidak dapat menahan tangisnya. Sambil terisak ia berkata, “Aku hampir tidak percaya Bibi. Semua harapanku seakan akan telah pupus.”

“Sudahlah. Doa kita didengar-Nya. Kita wajib mengucap sukur bahwa akhirnya kita sampai juga di padukuhan ini.”

Paksilah yang kemudian berkata, “Baiklah. Marilah kita berjalan terus. Kita baru menemukan Padukuhan Kembang Arum. Kita masih harus menemukan rumah orang yang Bibi cari.”

“Setelah sampai di sini, mudah-mudahan aku dapat mengingat letak rumah itu, Ngger.”

“Marilah kita coba,” ajak Paksi.

Mereka pun kemudian melangkah memasuki padukuhan. Gelap malam memang agak membingungkan Nyi Permati. Namun demikian, perempuan itu masih dapat mengenali beberapa ciri yang masih ada di padukuhan itu.

Ketika mereka sampai di sebuah simpang empat di dalam padukuhan itu, Nyi Permati pun berkata, “Aku masih ingat, pohon beringin yang dipagari ini. Aku ingat benar. Kita harus berbelok ke kanan.”

Mereka bertiga pun telah berbelok ke kanan. Jalan menjadi lebih kecil dari jalan yang mereka lalui semula. Namun Nyi Permati semakin mengenali lingkungan di sekitarnya meskipun gelap malam rasa-rasanya menjadi semakin pekat di dalam padukuhan. Tetapi beberapa oncor yang ada di regol-regol halaman membantu Nyi Permati mengamati jalan yang dilaluinya itu.

Ketika mereka sampai di sebuah regol halaman rumah yang terhitung besar dan berhalaman cukup luas, Nyi Permati itu berhenti. Di sebelah regol terdapat sebuah gendi berisi air.

Sebuah siwur tergantung pada sebuah patok di dekat gendi itu.

Ketika ia mengunjungi rumah saudaranya beberapa tahun yang lalu, ia juga melihat sebuah gentong air di dekat regol halaman.

Beberapa saat ia mengingat-ingat. Namun kemudian katanya, “Aku yakin, bahwa rumah inilah rumah pamanmu, Kemuning.”

“Bibi benar-benar yakin?” bertanya Kemuning.

“Ya. Aku yakin. Rasa-rasanya aku memang mengenali lingkungan ini, karena aku berada di sini agak lama waktu itu.”

Ketika Kemuning nampak ragu-ragu, bibinya berkata, “Semuanya belum berubah, Kemuning. Aku masih mengenalinya, karena waktu itu aku berada beberapa pekan disini.”

“Jika Bibi yakin, marilah,” berkata Paksi kemudian. Ketika Paksi kemudian menyentuh pintu regol, ternyata pintu itu tidak diselarak dari dalam. Demikian pintu itu terbuka, maka perlahan-lahan mereka melangkah memasuki halaman itu.

Demikian mereka berada di halaman, maka Nyi Permati itu pun berdesis, “Ya. Aku semakin yakin. Rumah inilah rumah pamanmu, Kemuning. Rumah Kakang Pananggungan.”

Kemuning berdiri termangu-mangu di halaman. Dipandanginya rumah yang terhitung besar itu. Lampu minyak yang menyala di pendapa bergetar disentuh angin, seolah-olah menyampaikan selamat datang kepada Kemuning dan bibinya.

Selangkah-selangkah mereka mendekati pendapa yang sepi. Namun kemudian Paksi telah melihat pintu seketeng. Ternyata pintu seketeng tertutup dan selarak dari dalam. Sementara itu gandok kanan dan kiri nampak sepi.

“Jika demikian, Bibi harus mengetuk pintu pringgitan,” berkata Paksi.

Nyi Permati mengangguk kecil. Namun ketika kakinya menyentuh tangga pendapa, perempuan itu nampak menjadi ragu.

Kemuning berdiri termangu-mangu. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Namun akhirnya Nyi Permati itu telah memaksa diri naik ke pendapa dan melangkah ke pringgitan. Perlahan-lahan Nyi Permati mengetuk pintu pringgitan itu.

Sejenak Nyi Permati menunggu. Karena agaknya belum seorang pun yang mendengarnya, maka Nyi Permati telah mengulanginya kembali.

Baru kemudian terdengar suara seseorang dari dalam, “Siapa di luar?”

“Aku,” jawab Nyi Permati.

“Aku siapa?”

“Permati.”

“Permati?” terdengar suara itu menghentak. Nampaknya orang di dalam rumah itu terkejut mendengar nama Permati.

“Kau benar Permati?” bertanya orang yang di dalam.

Nyi Permati pun mengenali suara itu. Dengan suara bergetar ia menjawab, “Ya, Kakang. Aku Permati.”

Terdengar langkah tergesa-gesa. Tidak hanya seorang. Tetapi dua orang.

Sejenak kemudian, pintu pun terbuka. Dua orang suami isteri berdiri di pintu pringgitan yang terbuka itu.”Permati. Permati, kenapa kau?”

Nyi Permati hampir tidak dapat mengatakan sesuatu. Terasa matanya menjadi panas dan tenggorokannya bagaikan tersumbat.”Mbokayu,” desis Nyi Permati.

Nyi Pananggungan pun melangkah mendekatinya. Kedua orang perempuan yang mendekati usia tuanya itu berpelukan.

Dengan suara sendat Nyi Permati itu pun berkata, “Aku datang dengan kemenakanmu, Kemuning.”

“Kemuning? Kau bawa Kemuning kemari?”

Nyi Permati yang melepaskan pelukan Nyi Pananggungan itu pun kemudian berpaling. Sambil melambaikan tangannya ia berkata, “Kemarilah Kemuning. Ini pamanmu. Ia tidak akan lupa kepadamu, meskipun ketika paman dan bibimu mengunjungimu, kau masih kanak-kanak.”

“Kaukah itu Kemuning?” bertanya Nyi Pananggungan.

Kemuning pun melangkah naik ke pendapa dan langsung pergi ke pringgitan. Bibinya pun menyongsongnya pula.

Dalam pelukan bibinya, rasa-rasanya Kemuning menemukan ketenangan dan kedamaian hati. Karena itu, maka air matanya yang meleleh dari pelupuknya tidak terbendung lagi, bagaimanapun juga ia berusaha menahannya.

“Marilah. Masuklah,” Ki Pananggungan mempersilahkan. Namun kemudian ia pun bertanya, “Siapakah anak muda itu?”

“Anak itu telah menolong kami, Kakang. Tanpa anak muda itu, kami tidak akan sampai di sini.”

Ki Pananggungan memandang Paksi dengan tajamnya. Namun kemudian katanya, “Jika demikian, marilah. Naiklah anak muda.”

Paksi pun naik pula ke pendapa.

Demikianlah, sejenak kemudian mereka sudah duduk di ruang dalam rumah Ki Pananggungan. Tanpa tertahan-tahan lagi, Nyi Permati telah menceriterakan apa yang telah dialami oleh Kemuning di rumahnya dan di perjalanan menuju ke Kembang Arum.

“Apa sebenarnya yang terjadi dengan ayah dan ibu Kemuning?” bertanya Ki Pananggungan.

“Tidak ada yang tahu, Kakang. Tiba-tiba saja keduanya telah hilang.”

“Dan Kemuning jadi sendiri di rumah?” bertanya Nyi Pananggungan.

“Ya. Itulah sebabnya, kenapa aku mempunyai gagasan untuk membawanya kemari. Namun hampir saja Kemuning terjerumus ke dalam kenistaan sepanjang umurnya. Jika itu terjadi, maka aku adalah orang yang paling bersalah.”

“Ayah dan ibu Kemuning memang suka bertualang. Tetapi jika mereka sudah mempunyai seorang anak gadis, maka mereka tidak boleh memikirkan diri mereka sendiri,”

“Yang aku cemaskan, jika terjadi sesuatu atas mereka. Mungkin mereka pergi bukan karena niat mereka akan pergi. Tetapi ada sesuatu yang memaksa mereka. Jika hal itu tidak membahayakan mereka, syukurlah. Tetapi jika kepergian mereka itu justru karena mereka tidak dapat mengelakkannya, maka itu akan sangat memprihatinkannya.”

Ki Pananggungan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian Ki Pananggungan itu pun kemudian telah berpaling kepada Paksi sambil berkata, “Jadi kau sudah mengalahkan Bahu Langlang?”

“Mungkin satu kebetulan saja, Ki Pananggungan,” jawab Paksi.

Ki Pananggungan mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sudah mendengar nama Bahu Langlang. Ia seorang pemimpin perampok yang ditakuti di lingkungan sekitarnya. Apakah kau yang masih semuda itu mampu mengalahkannya?”

“Sudah aku katakan, Ki Pananggungan, mungkin satu kebetulan saja.”

“Anak muda, aku justru menjadi curiga kepadamu.”

Paksi terkejut. Nyi Permati dan Kemuning pun terkejut pula.

Hampir di luar sadarnya, Nyi Permati berkata, “Anak muda itu sudah membebaskan kami dari tangan Bahu Langlang.”

“Kau memang melihat seakan-akan peristiwa seperti itu sudah terjadi. Tetapi ini adalah sebuah permainan. Anak muda ini adalah salah seorang dari orang-orang Bahu Langlang itu sendiri.”

Wajah Permati menjadi berkerut.  Namun ia pun bertanya,

“Lalu, apakah keuntungannya dengan permainan itu? Apa pun yang mereka lakukan, tetapi kami sudah bebas dari tangan Bahu Langlang.”

“Kita memang tidak tahu, apa maksud yang sebenarnya. Tetapi aku menjadi tidak percaya kepada anak ini, bahwa ia telah dapat mengalahkan Bahu Langlang.”

Paksi menjadi bingung. Demikian pula Nyi Permati dan Kemuning.

“Anak muda,” berkata Ki Pananggungan sambil berdiri dan melangkah ke pintu. Kemudian Ki Pananggungan itu pun telah membuka pintu itu sambil berkata, “Pergilah. Katakan kepada Bahu Langlang, jika ia ingin mengambil Kemuning, maka ia harus melangkahi mayatku lebih dahulu.”

Paksi benar-benar tidak mengerti. Namun demikian ia pun telah bangkit pula sambil berkata, “Ki Pananggungan, aku tidak berkeberatan sama sekali jika aku harus pergi. Tetapi aku masih ingin menjelaskan, bahwa aku tidak mempunyai niat buruk, apalagi merupakan sebuah permainan yang digerakkan oleh Bahu Langlang itu sendiri.”

“Pergilah. Gerak bibirmu membuat darahku menjadi panas. Bau nafasmu membuat aku mual.”

Telinga Paksi menjadi panas. Tetapi ketika ia berpaling kepada Nyi Permati dan Kemuning, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Paksi mencoba untuk menenangkan perasaannya yang bergejolak di dadanya.

Dengan nada rendah, Paksi pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku mohon diri, Ki Pananggungan.” Lalu katanya, “Aku mohon diri Bibi dan juga kau Kemuning. Aku mohon maaf, jika kalian juga menganggap aku bersalah.”

“Sudahlah, pergilah. Jangan terlalu banyak bicara.”

Paksi pun kemudian melangkah keluar pintu. Ki Pananggungan bergeser mundur selangkah. Sementara itu Nyi Permati dan Kemuning menjadi kebingungan. Bahkan Nyi Pananggungan pun terheran-heran melihat sikap suaminya.

Tetapi ternyata kemarahan Ki Pananggungan tidak terhenti sampai sekian. Ketika kemudian Paksi turun ke halaman, Ki Pananggungan justru telah menyusulnya sambil berkata, “Anak muda, kau kira kau dapat pergi begitu saja?”

Paksi berhenti melangkah. Ia mundur setapak ketika Ki Pananggungan itu menyusulnya turun ke halaman.

“Aku tidak tahu maksud ki Pananggungan.”

“Kau adalah anak buah Bahu Langlang yang ganas itu. Kau telah melakukan satu permainan yang tidak aku ketahui maksudnya. Nah, sekarang, untuk apa kau berpura-pura dapat mengalahkan Bahu Langlang dan kemudian membawa Kemuning kemari? Apakah dengan demikian kau mendapat tugas dari Bahu Langlang untuk mengetahui rumahku, sehingga pada suatu saat ia akan datang untuk merampok Kemuning dan seluruh harta bendaku, karena Bahu Langlang mengetahui bahwa aku adalah seorang yang kaya.”

“Ki Pananggungan,” berkata Paksi kemudian, “kenapa Ki Pananggungan berprasangka demikian buruknya kepadaku? Seandainya saja aku menolong Kemuning, tetapi aku tidak menyesal. Aku sudah merasa puas bahwa aku telah berhasil membebaskan gadis itu dari penderitaan yang berkepanjangan.”

“Jangan mengigau,” potong Ki Pananggungan. ”Sekarang katakan, untuk apa sebenarnya kau antarkan Kemuning kemari?”

“Ki Pananggungan,” sahut Paksi, “aku tidak akan dapat menjawab pertanyaanmu.”

“Setan kau anak muda. Aku tahu bahwa tongkat itu adalah senjatamu. Tetapi itu sama sekali tidak menggetarkan aku. Sekarang kau boleh pilih. Kau jawab pertanyaanku, atau kau tidak akan pernah keluar dari halaman rumahku.”

“Aku tidak akan memilih, Ki Pananggungan,” jawab Paksi.”Tetapi sudah tentu aku tidak akan melepaskan nyawaku begitu saja. Seandainya aku harus mati di sini, biarlah aku mati dalam mempertahankan hidupku ini.”

“Bagus,” sahut Ki Pananggungan, “bersiaplah. Pakailah tongkatmu. Aku akan memakai senjataku.”

Paksi menjadi berdebar-debar. Ia tidak pasti, apakah yang telah terjadi. Tetapi sudah tentu ia tidak akan membiarkan dirinya diperlakukan tidak adil.

Dalam pada itu, Ki Pananggungan pun telah mengurai senjatanya pula. Sebuah cambuk yang berjuntai panjang, yang nampaknya selalu dikenakannya sebagai ikat pinggangnya. Bahkan ketika ia tidur sekali pun.

Nyi Pananggungan, Nyi Permati dan Kemuning pun telah berdiri di pendapa pula. Mereka menjadi sangat tegang. Lebih-lebih Nyi Permati. Ia tahu benar bahwa Paksi tidak bersalah. Tetapi ia harus menghadapi Ki Pananggungan, seorang yang diketahui memiliki ilmu yang tinggi.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Mereka hanya dapat menyaksikan apa yang bakal terjadi dengan jantung yang berdebar-debar.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, cambuk Ki Pananggungan pun mulai bergetar. Satu ledakan yang tidak terlalu keras telah terdengar. Sementara itu, Ki Pananggungan itu pun berkata, “Aku tidak ingin membangunkan tetangga-tetanggaku karena ledakan cambukku ini.”

Namun telinga Paksi yang mendengar ledakan itu, serta jantung Paksi yang tersentuh getarannya, merasakan bahwa ledakan yang lunak itu justru mengandung tenaga yang sangat tinggi. Karena itu, maka ia pun berkata, “Kau tidak usah mengelabuhi aku, Ki Pananggungan.”

“Mengelabuhi apa?” bertanya Ki Pananggungan.

“Ledakan cambuk Ki Pananggungan bukan sekedar agar tidak membangunkan tetangga-tetangga.”

Wajah Ki Pananggungan berkerut. Hampir di luar sadarnya ia berdesis, “Jadi kau dapat menangkap getar ilmu cambukku?”

Paksi tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapi Ki Pananggungan betapa pun tinggi ilmu orang itu.

Ki Pananggungan pun kemudian telah mulai menyerang dengan cambuk itu tetapi tidak menggapainya. Bahkan Paksi pun sempat meloncat maju pula sambil menjulurkan tongkatnya.

Ki Pananggungan seakan-akan memang menunggu. Dengan cepat, Ki Pananggungan telah menghentakkan cambuknya sehingga juntainya telah membelit tongkat Paksi. Dengan sertamerta Ki Pananggungan menarik cambuknya untuk merenggut tongkat anak muda itu.

Tetapi Ki Pananggungan terkejut. Tongkat itu tidak terlepas dari tangan Paksi. Anak muda itu pun seakan-akan tidak goyah oleh tarikannya.

Untuk beberapa saat mereka mengadu tenaga. Keduanya pun telah mulai mengerahkan kekuatan mereka, bahkan mulai merambah ke tenaga dalam mereka masing-masing.

Ki Pananggungan benar-benar menjadi heran. Anak muda itu mempunyai kekuatan dan tenaga dalam yang sangat besar. Ki Pananggungan tidak mampu merenggut tongkat di tangan Paksi, meskipun Paksi yang berusaha untuk menghentakkan cambuk Ki Pananggungan juga tidak berhasil.

Namun Ki Pananggungan dengan kemampuan ilmu cambuknya terpaksa mengurai belitan ujung cambuknya pada tongkat Paksi, karena Ki Pananggungan tidak yakin bahwa ia akan dapat merampas tongkat itu.

Selanjutnya, Ki Pananggungan pun telah menyerang Paksi dengan hentakan-hentakan cambuk sendal pancing. Namun kemudian juntai cambuk itu telah menebas mendatar dengan derasnya. Bahkan kemudian juntai cambuk itu mampu terjulur lurus menikam seperti ujung sebatang tombak.

Paksi pun menyadari, Ki Pananggungan adalah seorang yang berilmu tinggi. Tidak seperti Bahu Langlang yang garang tetapi tidak mempunyai landasan yang cukup meyakinkan.

Karena itulah, maka perkelahian itu menjadi semakin seru. Tongkat Paksi berputaran dengan cepat. Namun sekali-sekali tongkat itu juga terjulur menyerang ke arah jantung.

Ujung cambuk Ki Pananggungan rasa-rasanya bergerak semakin cepat pula. Tetapi tongkat Paksi pun menjadi semakin berbahaya pula bagi lawannya.

Dalam pada itu, Paksi dengan serta-merta telah meloncat mengambil jarak ketika terasa lengannya menjadi panas. Ternyata ujung cambuk Ki Pananggungan itu telah menyengat kulitnya. Meskipun tidak terlalu dalam, tetapi Paksi sudah terluka karenanya.

Paksi memandang Ki Pananggungan dengan sorot mata yang membara. Di dalam hatinya ia pun berkata, “Apa sebenarnya yang dikehendaki orang ini? Tetapi ia sudah benar-benar melukai lenganku. Aku tidak peduli lagi, apa yang sebenarnya dikehendaki.”

Dengan demikian, maka Paksi pun telah menghentakkan kemampuannya pula. Sementara itu, terasa seakan-akan ujung cambuk Ki Pananggungan terdengar berdesing di telinganya. Namun tongkatnya pun sekali-sekali telah menyentuh pakaian Ki Pananggungan pula. Bahkan ketika ujung cambuk Ki

Pananggungan menggapai lambungnya, Paksi sempat meloncat menyamping. Tetapi demikian ujung cambuk itu terayun lewat, maka Paksi pun segera meloncat dengan cepatnya sambil menjulurkan tongkatnya.

Ki Pananggungan berusaha untuk menghindar dengan memiringkan tubuhnya. Tetapi Ki Pananggungan ternyata telah terlambat. Meskipun ujung tongkat Paksi tidak mengenai dadanya, tetapi ujung tongkat itu telah mendorong bahunya.

Ki Pananggungan berdesah tertahan. Selangkah ia terdorong surut. Namun Ki Pananggungan justru telah meloncat surut beberapa langkah untuk mengambil jarak.

Tetapi Paksi tidak memberinya kesempatan. Dengan tangkasnya ia meloncat memburu. Tongkatnya sesekali berputar. Namun kemudian terjulur mengarah lambung.

Pertempuran berikutnya menjadi semakin sengit. Keduanya telah menapak pada tataran ilmu tertinggi mereka. Cambuk Ki Pananggungan menggeliat dengan cepat, sementara tongkat Paksi berputar seperti baling-baling. Namun Ki Pananggungan tidak pernah berhasil merampas tongkat Paksi itu.

Namun pengalaman dan kematangan sikap Ki Pananggungan ternyata ikut menentukan keseimbangan dari pertempuran itu. Ketika mereka benar-benar sudah sampai ke  puncak, maka ternyata bahwa Paksi kadang-kadang masih terhambat oleh kelambatannya mengambil sikap. Dalam pertempuran yang keras dan cepat itu, setiap kejap dapat menentukan kelanjutannya. Kelambatan Paksi mengambil sikap dalam perkelahian itu, kadang-kadang sangat merugikannya. Lawannya memanfaatkan setiap keadaan sebaik-baiknya untuk mendesaknya. Bahkan kemudian sekali lagi ujung cambuk Ki Pananggungan telah menggores  pundaknya.

Paksi yang menjadi sangat marah itu masih sempat membuat pertimbangan. Ia yakin bahwa sulit baginya untuk dapat mengalahkan lawannya. Ternyata Ki Pananggungan memiliki ilmu lebih tinggi dari ilmu yang dimilikinya meskipun hanya selapis tipis.

Tetapi Paksi tidak akan menyerah. Ia akan dapat mengalami nasib yang sangat buruk di tangan Ki Pananggungan yang mencurigainya bahwa ia adalah pengikut Bahu Langlang.

Karena itu, maka Paksi tidak mempunyai pilihan lain. Dalam keadaan yang terdesak, maka Paksi telah meloncat mengambil jarak. Diangkatnya tongkat tinggi-tinggi. Sekali berputar, kemudian tongkat itu melekat di sisi tubuhnya, lurus mendatar menghadap ke arah lawannya. Tangan kirinya yang menyilang dadanya menggenggam tongkatnya pada sisi kanan tubuhnya, sementara tangan kanannya menggenggam tongkatnya lebih ke depan.

Paksi memang belum pernah mengetrapkan ilmu  puncak yang disalurkan lewat tongkatnya. Tetapi ia pernah mendapatkan petunjuk dari Ki Marta Brewok yang kemudian dikembangkannya menurut ketajaman penalarannya. Dalam keadaan yang rumit dan mendesak itu, unsur gerak yang siap mengungkapkan ilmunya itu seakan-akan telah hadir dengan sendirinya, seakan-akan tangan dan kakinya yang sedikit merendah pada lututnya itu, tiba-tiba saja telah bergerak sesuai dengan seharusnya yang dilakukan.

Tetapi satu hal yang dalam keadaan gawat itu tidak sempat diingatnya, Paksi memang pernah melihat lukisan di dinding gua itu, unsur geraknya sebagaimana dilakukannya itu.

Ki Pananggungan yang melihat sikap Paksi itu terkejut. Tiba-tiba ia pun meloncat surut untuk mengambil jarak. Sebelum Paksi melepaskan serangan yang dilandasi dengan ilmu pamungkasnya, maka Ki Pananggungan itu pun berkata, “Tahan anak muda. Berhentilah. Jangan kau lanjutkan ungkapan ilmumu itu.”

Paksi yang sudah siap untuk meloncat menyerang, memang menjadi tertegun karenanya. Tetapi ia tetap bersiap untuk meloncat menyerang dengan landasan ilmu  puncaknya itu.

“Kenapa Ki Pananggungan mencegah aku? Apakah Ki Pananggungan menganggap bahwa tidak sepantasnya aku mempergunakan ilmu  puncak yang aku miliki meskipun aku sudah terdesak dan tidak mungkin lagi bertahan tanpa landasan ilmu  puncak ini?”

“Sabarlah, anak muda,” suara Ki Pananggungan telah berubah. ”Kau memang anak muda yang luar biasa. Aku sama sekali tidak mengira bahwa kau telah berdiri di atas tataran ilmu yang demikian dahsyatnya. Bahkan kau telah mampu melandasi ilmumu dengan  puncak ilmu yang sangat berbahaya. Tetapi  puncak ilmumu itu tidak hanya berbahaya bagi lawanmu. Landasan  puncak ilmumu itu masih dapat membahayakan dirimu sendiri.”

“Kenapa?”

“Kau telah mempelajarinya dengan tuntas. Bahkan hampir sempurna. Tetapi pada saat terakhir, kau masih berkesan sangat tergesa-gesa. Kemapanan bagian dalam tubuhmu, nampaknya masih lamban dari gejolak kemarahanmu, sehingga saatnya untuk melepaskan ilmumu masih belum tepat. Seranganmu akan menjadi sangat berbahaya bagi lawanmu. Tetapi dengan perlawanan yang mapan, maka jantungmu sendiri akan terluka. Apalagi jika lawanmu memiliki kekuatan yang seimbang dengan kekuatan ilmu  puncakmu, tetapi karena pengalaman dan kematangan sikapnya lebih tinggi, maka kau mengalami kesulitan.”

“Kenapa Ki Pananggungan menghiraukan keadaanku. Jika Ki Pananggungan memiliki pengalaman dan kematangan ilmu lebih tinggi dari aku, kenapa Ki Pananggungan tidak mengetrapkannya dan tidak perlu mempedulikan aku, apakah aku akan menjadi debu atau adeg pengamun-amun.”

Ki Pananggungan tersenyum. Katanya, “Kau masih marah.”

Paksi mengerutkan dahinya. Tetapi ia menjawab, “Ki Pananggungan telah melukai aku.”

Ki Pananggungan tertawa. Katanya, “Bukankah luka itu tidak berbahaya. Kau juga sudah menyakiti aku.  pundakku rasa-rasanya telah pecah oleh ujung tongkatmu.”

“Aku tidak mengerti. Apa maksud Ki Pananggungan sebenarnya. Apakah Ki Pananggungan sekedar mempermainkan aku. Tetapi karena Ki Pananggungan melihat kemungkinan buruk, maka Ki Pananggungan lalu bersikap lain.”

“Aku mengerti bahwa kau akan marah. Tetapi jangan mulai menyombongkan diri. Itu sama berbahayanya dengan ketidakmapananmu untuk melepaskan ilmu pamungkasmu.”

Paksi tertegun sejenak. Peringatan Ki Pananggungan itu di telinganya terdengar seolah-olah gurunya, Ki Marta Brewok lah yang mengucapkannya. Jika ia terperosok ke dalam sikap sombong, maka jalannya menuju ke masa depannya akan menjadi suram.

“Paksi,” berkata Ki Pananggungan, “aku memang curiga, bahwa kau benar benar mampu mengalahkan Bahu Langlang. Bukan karena kau adalah salah seorang pengikutnya, tetapi aku menduga kau telah mengambil Kemuning dan bibinya dengan cara yang licik. Karena itu, aku mengujimu, apakah kau benar-benar memiliki ilmu yang pantas untuk mengalahkan Bahu Langlang. Namun ternyata ilmumu jauh lebih tinggi dari ilmu yang diperlukan untuk mengalahkan Bahu Langlang, karena aku tahu tataran kemampuannya meskipun aku belum pernah berhadapan dengan orang itu. Bahkan aku sempat menjadi jengkel, karena kau ternyata mampu mengimbangi ilmuku sendiri. Tetapi ketika kau akan melepaskan ilmu pamungkasmu, aku melihat kelemahanmu. Jika aku terpaksa bertahan akan terjadi benturan, maka aku mencemaskan bagian dalam tubuhmu. Nampaknya kau masih memerlukan pengalaman dan kemapanan. Meskipun demikian, aku sudah sangat mengagumimu. Aku belum pernah bertemu atau pun mendengar, bahwa anak muda seumurmu, sudah memiliki tataran ilmu sebagaimana kau miliki.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, ketiga orang perempuan yang menyaksikan pertempuran itu berhenti, menjadi sedikit lega. Tetapi mereka tidak mengerti, apa sebenarnya yang dikehendaki oleh Ki Pananggungan. Pembicaraan pendek itu memang sedikit membuka hati mereka, namun mereka masih memerlukan penjelasan.

“Marilah, Paksi,” berkata Ki Pananggungan.”Jika kau sudah tidak marah lagi, naiklah. Kita kembali duduk di ruang dalam. Barangkali ada yang perlu kita bicarakan.”

Paksi menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika ia memandang wajah Ki Pananggungan di bawah cahaya suram lampu minyak pendapa, rasa-rasanya Paksi dapat mempercayainya.

Karena itu, maka Paksi pun tidak menolak. Ia pun kemudian naik ke pendapa dan berjalan lewat pintu pringgitan masuk ke ruang dalam. Seperti ketika Paksi bersama Nyi Permati dan Kemuning baru datang, maka mereka pun duduk di ruang tengah itu.

Suasana memang masih agak tegang. Paksi belum dapat melepaskan gejolak perasaannya. Apalagi lukanya masih terasa pedih.

Namun Ki Pananggungan itu pun berkata, “Biarkan Nyi Permati mengobati lukamu, Paksi. Barangkali kau belum mengetahui, bahwa Bibi Permati adalah seorang yang sangat menguasai ilmu obat-obatan.”

“Ah, tidak seperti itu. Tetapi barangkali aku dapat membantu membersihkan luka-lukamu itu,” sahut Nyi Permati.

Sementara Nyi Permati mengobati luka yang tidak terlalu dalam pada tubuh paksi, maka Nyi Pananggungan pun telah berada di dapur. Kemuning ikut pula membantunya.

Nyi Pananggungan telah menghidangkan minuman hangat dan makanan seadanya. Sayur yang dingin telah dihangatkan. Sementara itu, beberapa butir telur di petarangan, telah digoreng pula.

Setelah makan, Ki Pananggungan telah mempersilahkan tamu-tamunya untuk beristirahat. Kepada Paksi, Ki Pananggungan itu pun berkata, “Besok sajalah kau bercerita tentang macam-macam hal. Sekarang beristirahatlah. Kau dapat tidur di gandok.”

Paksi kemudian telah diantar sendiri oleh Ki Pananggungan ke gandok, setelah membersihkan dirinya di pakiwan.

Tetapi malam tinggal sejengkal. Demikian Paksi berbaring, maka terdengar suara ayam jantan berkokok menyambut fajar.

Paksi tidak sempat tidur malam itu. Beberapa saat kemudian, ia pun harus bangkit dari pembaringannya pula.

Ketika matahari terbit, Ki Pananggungan telah menyiapkan sepasang lembu dan bajaknya. Pagi itu ia akan pergi ke sawah untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tersisa sedikit kemarin. Seterusnya ia tinggal meratakan sawahnya dengan garu esok pagi sebelum lusa mulai ditanami padi.

Paksi yang juga sudah berbenah diri mendekati Ki Pananggungan sambil bertanya, “Ki Pananggungan melakukan kerja di sawah itu sendiri?”

“Aku mengerjakan sawah yang sekeping di luar padukuhan ini. Sementara sawahku yang ada di sebelah tanggul sungai itu dikerjakan oleh orang-orang kepercayaanku. Mereka adalah pekerja-pekerja yang baik, teliti dan jujur.”

“Apakah aku diperkenankan ikut ke sawah?” bertanya Paksi.

“Aku tidak lama berada di sawah. Aku tinggal menyelesaikan pekerjaanku kemarin yang tersisa, nanti aku segera kembali dan kita mempunyai banyak waktu untuk berbicara. Kecuali itu, apakah kau yakin bahwa Bahu Langlang benar-benar melepaskan Kemuning?”

Wajah Paksi berkerut. Tetapi menurut perhitungannya Bahu Langlang tidak akan berani lagi mengejarnya, karena apa pun yang dilakukan oleh Bahu Langlang, namun ia akan dapat mengalahkannya.

Namun Ki Pananggungan itu pun kemudian berkata, “Ingat Paksi, Bahu Langlang tidak sendiri. Ia mempunyai sebuah kelompok yang merasa terikat menjadi satu. Kecuali itu, Bahu Langlang juga mempunyai banyak kawan. Mungkin ia masih berniat untuk mengambil Kemuning. Karena itu, aku atau kau sebaiknya tinggal di rumah.”

Paksi mengerti maksud Ki Pananggungan. Karena itu, maka katanya, “Baiklah, Ki Pananggungan. Aku akan berada di rumah.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Pananggungan pun telah meninggalkan halaman rumahnya sambil membawa bajak dan sepasang lembu. Sementara Paksi pun telah naik ke serambi gandok.

Paksi pun kemudian duduk di atas sebuah amben yang panjang. Dalam kesendiriannya, Paksi sempat merenungi sikap Ki Pananggungan. Ternyata Ki Pananggungan adalah seorang yang berilmu tinggi. Tetapi dalam ujudnya sehari-hari sama sekali tidak ditampakkannya. Pada saat ia memanggul bajak dan menggiring sepasang lembu, Ki Pananggungan benar-benar nampak sebagai seorang petani kebanyakan.

“Apakah orang di sekitar tempat ini tidak tahu bahwa Ki Pananggungan adalah seorang yang berilmu tinggi? Padahal Ki Pananggungan sudah tinggal di sini bertahun-tahun,” bertanya Paksi dalam hatinya.

Tetapi Paksi tidak ingin duduk merenung di serambi gandok itu. Ia pun kemudian pergi ke pakiwan. Menimba air untuk mengisi jambangan. Seorang pembantu laki-laki di rumah Ki Pananggungan itu mendekatinya sambil berkata, “Sudahlah, anak muda. Biarlah nanti aku yang melakukannya.”

Tetapi Paksi tersenyum sambil berkata, “Tidak apa-apa, Ki Sanak. Aku sudah terbiasa melakukannya.”

Pembantu laki-laki itu tidak dapat mencegahnya. Bahkan ketika kemudian Paksi melihatnya membelah kayu, setelah Paksi selesai mengisi jambangan di pakiwan, telah mendekatinya pula. Katanya, “Apakah masih ada kapak sebuah lagi?”

Orang itu termangu-mangu. Sementara itu sambil tersenyum

Paksi mengambil kapak di tangan orang itu, “Kau cari kapak yang lain.”

Orang itu tidak sempat mencegahnya. Ketika kemudian Paksi mengayunkan kapak itu untuk membelah kayu, maka orang itu memang harus mencari kapak yang lain. Ia tidak sekedar menonton Paksi membelah kayu bakar itu sendiri.

Paksi membelah kayu bakar itu sendiri, sementara kayu itu masih seonggok.

Namun ketika mereka bersama-sama membelah balok-balok kayu sebatang pohon kayu yang tumbuh di sudut kebun belakang yang ditebang dua hari sebelumnya, orang itu menjadi heran. Orang itu tidak menyangka, bahwa Paksi dapat melakukan jauh lebih baik dan lebih cepat dari yang dilakukannya.

“Kau nampak sudah terbiasa membelah kayu balok, anak muda,” berkata orang itu.

“Pamanku seorang belandong kayu, Ki Sanak. Meskipun tidak selalu, aku sering membantunya jika satu dua orang membantunya berhalangan.”

Orang itu mengangguk-angguk sambil berdesis, “Pantas hasil kerjamu dua kali lipat dari hasil kerjaku, anak muda.”

Paksi tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Tangannya sajalah yang bergerak mengangkat kapak itu tinggi-tinggi. Kemudian terayun deras. Tajam kapaknya itu menghunjam ke tengah-tengah balok kayu dan kemudian membelahnya.

Di tengah hari, keduanya berhenti. Pembantu di rumah Ki Pananggungan itu berkata, “Tidak baik bekerja saat matahari tepat di atas kepala kita. Kita harus beristirahat barang sebentar.”

Paksi memang beristirahat. Keduanya duduk di bawah rum pun bambu yang rimbun. Sambil menyodorkan sebuah gendi berisi air dingin yang sejuk orang itu bertanya, “Kau haus?”

Paksi menerima gendi itu dan meneguk air dari dalamnya. Betapa segarnya. Sambil menarik nafas panjang Paksi pun menyerahkan gendi itu sambil berdesis, “Aku memang haus sekali.”

Paksi kemudian duduk bersandar sebatang pohon. Angin yang semilir lembut membuatnya agak mengantuk, justru karena semalam Paksi hampir tidak memejamkan matanya sama sekali.

Tetapi ketika matanya menjadi redup, ia mendengar suara memanggilnya, “Kakang Paksi.”

Paksi berpaling. Dilihatnya Kemuning berdiri termangu-mangu beberapa langkah daripadanya.

“O,” desah Paksi sambil bangkit dengan tergesa-gesa.

“Paman sudah pulang dari sawah. Paman memanggil Kakang.”

Paksi mengangguk kecil. Katanya, “Baik Kemuning. Aku akan menemuinya.”

“Paman ada di pringgitan.”

Ketika Kemuning kemudian meninggalkannya, maka Paksi pun membenahi baju dan kainnya, keringatnya sudah mulai kering.

“Aku dipanggil Ki Pananggungan,” berkata Paksi kepada pembantu rumah itu.

Orang itu mengangguk. Katanya, “Biasanya Ki Pananggungan belum pulang pada saat seperti ini. Jika sudah terlanjur berada di sawah, meskipun kerja sudah selesai, Ki Pananggungan terbiasa menunggui sawahnya sampai matahari turun.”

“Panasnya hari ini,” desis Paksi, “agaknya Ki Pananggungan sudah merencanakan sejak berangkat untuk pulang agak lebih cepat dari biasanya.”

“Ya,” berkata orang itu.”Tidak ada orang yang membawa makan dan minum ke sawah.”

Paksi tidak berbicara lagi. Ia pun kemudian melangkah menuju ke pakiwan. Setelah mencuci kaki dan tangannya, maka Paksi pun langsung pergi ke pringgitan menemui Ki Pananggungan yang telah duduk lebih dahulu. Dua buah mangkuk minuman ternyata sudah terhidang. Bahkan beberapa potong makanan.

“Aku sengaja pulang lebih awal,” berkata Ki Pananggungan.”Sisa kerja kemarin itu sudah selesai. Bahkan aku sempat memandikan sepasang lembu itu di sungai.”

“Ki Pananggungan melakukan semuanya itu sendiri?”

“Ya. Aku memang anak petani.”

“Tetapi bukan petani kebanyakan,” sahut Paksi.

Ki Pananggungan tertawa. Katanya, “Satu kebetulan bahwa aku tinggal bersama kakek. Juga bersama ayah Kemuning. Di samping mengajari kami bertani, kakek juga mempunyai kelebihan lain. Kami adalah murid-murid kakek.”

“Apakah sekedar kebetulan?” bertanya Paksi.

Ki Pananggungan tertawa berkepanjangan. Katanya, “Tetapi ada unsur kebetulan. Namun kemudian kami menjadi bersungguh-sungguh. Kami bekerja keras bersama kakek bertahun-tahun, sehingga akhirnya kami masing-masing berumah tangga sendiri. Meskipun demikian, kami masih selalu datang ke rumah kakek untuk mematangkan ilmu yang kami warisi dari kakek itu, sehingga saatnya wadag kakek tidak mengijinkan lagi bermain-main di dalam sanggar. Tetapi dalam keadaan wadagnya yang semakin lemah, kakek masih tetap membimbing kami.”

Paksi mengangguk-angguk. Dengan kerja keras Ki Pananggungan akhirnya menjadi seorang yang berilmu tinggi, meskipun penampilannya sehari-hari masih tetap sederhana dan tidak lebih dari seorang petani biasa.

Namun sekilas terngiang di telinganya kata-kata orang yang datang mencari ndaru yang dianggapnya jatuh di sekitar rumah kecilnya, hubungan antara ilmu dan amal.

“Apakah ilmu Ki Pananggungan itu memberikan arti kepada sesamanya, jika ia tidak pernah mengamalkannya?” bertanya Paksi di dalam hatinya, namun yang kemudian dijawabnya sendiri, “Tetapi setidak-tidaknya ilmu Ki Pananggungan yang tinggi itu tidak mengganggu orang lain atau bahkan dipergunakannya untuk niat buruk.”

Demikianlah, maka Ki Pananggungan pun kemudian telah mempersilahkan Paksi menghirup minuman hangat dan mencicipi makanan yang dihidangkan.

“Bibimu telah membuatnya sendiri,” berkata Ki Pananggungan.

Sambil makan makanan yang dihidangkan, maka Ki Pananggungan masih ingin mendengarkan ceritera Paksi tentang dirinya. Namun Paksi masih tetap menyembunyikan jatidirinya yang sebenarnya. Ia tidak menyebut siapakah ayah dan ibunya.

Paksi tidak mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang penjabat tinggi istana.

Tetapi di luar sadarnya Paksi telah memperbandingkan kemampuan ayahnya dengan Ki Pananggungan. Meskipun Ki Pananggungan tetap seorang petani yang setiap hari bekerja di sawah, namun orang itu tentu memiliki ilmu yang lebih tinggi dari ayahnya.

Namun tiba-tiba saja Paksi bertanya kepada diri sendiri, “Tetapi apakah ilmuku sudah lebih tinggi dari ilmu ayah?”

Paksi menarik nafas panjang. Tetapi ia tidak mau mencari jawab atas pertanyaannya itu.

Dalam pada itu, maka dalam pembicaraan selanjutnya, Ki Pananggungan tahu, bahwa pengalaman Paksi masih terlalu sempit. Ia masih belum mengenal nama-nama orang yang disegani dalam dunia olah kanuragan.

“Paksi,” berkata Ki Pananggungan selanjutnya, “aku yakin, bahwa sengaja atau tidak, jika pada suatu saat kau memasuki dunia olah kanuragan, maka kau tentu berada di lapisan teratas. Dalam satu dua tahun, jika ilmumu benar-benar matang, maka aku tidak akan mampu mengatasimu. Aku sudah melihat, bahwa kau sudah menyimpan ilmu andalan yang berbahaya yang akan dapat melepaskanmu dari kesulitan dalam keadaan terpaksa. Aku tidak mengatakan bahwa kau tidak dapat dikalahkan. Semua orang tentu dapat dikalahkan pada suatu saat. Aku  pun tidak mengatakan bahwa tidak ada orang yang memiliki ilmu pada tataran yang sama dengan ilmumu.”

Paksi mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Apa yang aku miliki adalah jauh dari tataran yang pantas.”

Ki Pananggungan tersenyum. Katanya, “Semula aku mengira bahwa kau adalah seorang anak muda yang berilmu tinggi dan agak sombong. Tetapi ternyata aku keliru.”

“Aku tidak mempunyai maksud apa-apa dengan sikapku, Ki Pananggungan.”

“Aku mengerti. Karena itu, aku justru mempercayaimu,” berkata Ki Pananggungan kemudian. Lalu katanya pula, “Karena itu, aku justru ingin memperkenalkan kau dengan beberapa orang yang namanya mencuat di atas rata-rata dalam dunia olah kanuragan, agar kau dapat berhati-hati jika kau bertemu dengan mereka. Seperti yang kau ceriterakan, kau pernah melihat orang-orang dari Perguruan Goa Lampin dengan ciri-cirinya dan kau  pun pernah melihat pemimpinnya yang juga dianggap mahagurunya. Kau juga pernah bertemu dengan orang-orang dari Perguruan Sad dan orang-orang dari Perguruan Alas Tegal Arang di pinggir Kali Praga. Tetapi kau belum pernah bertemu atau melihat kedua orang pemimpin tertinggi dari kedua perguruan yang terakhir itu. Juga orang lain yang nama dan ciri-cirinya pantas kau kenal.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan sangat berterima kasih, Ki Pananggungan. Mungkin dalam perjalananku mendatang, aku bertemu dengan mereka, sehingga aku dapat menghindar.”

Ki Pananggungan tersenyum. Menilik ilmu yang dimilikinya, Paksi tidak perlu menghindari mereka. Tetapi Ki Pananggungan tidak mengatakannya. Bagi Ki Pananggungan sendiri, menghindar bila masih mungkin, memang lebih baik dari benturan yang harus terjadi.

Demikianlah, maka Ki Pananggungan pun kemudian telah menyebut beberapa nama dan ciri-cirinya.

Paksi mendengarkan dengan penuh perhatian. Tetapi sampai nama yang terakhir yang disebutnya beserta ciri-cirinya, Ki Pananggungan tidak menyebut Ki Marta Brewok serta ciri-cirinya. Seandainya ia dikenal dengan nama yang lain, namun ciri-ciri yang menonjol akan disebutkannya. Demikian pula orang yang telah datang kepadanya untuk mencari cincin yang dikatakannya jatuh dari langit itu. Ciri-ciri orang itu juga tidak disebut sama sekali. Ki Pananggungan yang mengenal orang berilmu tinggi yang tersebar luas di tanah ini juga tidak menyebut seorang pengemis yang telah memberikan tongkat itu kepadanya, meskipun Ki Pananggungan sempat menyebut nama Kebo Lorog.

Dengan demikian, Paksi menganggap bahwa setidak-tidaknya Ki Marta Brewok bukan orang yang mengagungkan kemampuan serta namanya. Demikian pula pengemis yang berilmu tinggi yang telah memberinya tongkat itu. Bagi Paksi orang yang datang mencari cincin itu juga mengherankannya. Jika saja saat itu Ki Marta Brewok tidak datang pada saat yang bersamaan, maka Paksi akan dapat mengira bahwa orang itu adalah Ki Marta Brewok.

Untuk beberapa saat lamanya mereka masih berbincang. Ki Pananggungan memberikan banyak petunjuk melengkapi petunjuk-petunjuk Ki Marta Brewok. Meskipun Paksi yakin bahwa ilmu Ki Marta Brewok tentu lebih tinggi dari Ki Pananggungan, namun Ki Marta Brewok nampaknya tidak sempat memberikan banyak petunjuk tentang dunia kanuragan serta orang-orang yang menghuninya.

Ki Marta Brewok tidak pernah menyebut nama-nama serta ciri-ciri orang yang dapat membahayakan dirinya.

Namun pembicaraan itu terhenti. Kemuning yang keluar dari pintu pringgitan memberitahukan kepada pamannya, bahwa makan siang telah tersedia.

Sejenak kemudian, maka Ki Pananggungan itu pun telah berada di ruang dalam bersama Paksi. Tetapi agaknya mereka akan makan siang berdua saja.

Demikian mereka selesai makan siang, maka Paksi pun telah menyatakan niatnya untuk melanjutkan perjalanannya. Dengan nada dalam Paksi itu pun berkata, “Aku sudah cukup lama berada di rumah ini, Ki Pananggungan. Aku mengucapkan terima kasih atas segala petunjuk Ki Pananggungan.”

Tetapi Ki Pananggungan itu menggeleng. Katanya, “Kau tidak boleh segera pergi. Kau akan tinggal di sini. Sedikitnya sepekan. Baru kita yakin, bahwa Bahu Langlang tidak akan menyusul Kemuning. Bukankah kau sudah menolong dan menyelamatkan Kemuning dari tangan Bahu Langlang. Nah, jika demikian, maka lakukanlah sampai tuntas.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ternyata ia tidak dapat memaksa untuk meninggalkan tempat itu.

Karena itulah, maka Paksi masih harus tetap tinggal sampai batas waktu yang diberikan oleh Ki Pananggungan sehingga kerjanya dapat disebutnya tuntas.

Di hari berikutnya, Ki Pananggungan pun telah pergi ke sawah pula. Sementara Paksi telah melakukan pekerjaan sehari-hari bersama pembantu laki-laki di rumah itu.

Dari pintu butulan Kemuning sering mengamati apa yang dilakukan oleh Paksi. Kepada bibinya Kemuning sudah memberitahukan, bahwa Paksi melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak dilakukannya karena ia seorang tamu di rumah itu.

Tetapi baik Nyi Pananggungan maupun Nyi Permati telah memberikan jawaban yang sama, “Paksi memang menghendakinya, Kemuning. Ia tidak dapat tinggal diam.”

Ketika panas matahari menjadi terik, maka Kemuning yang melihat keringat Paksi bagaikan terperas dari tubuhnya di saat ia membelah balok-balok kayu dengan kapak, bahkan Paksi telah menanggalkan bajunya pula, seolah-olah merasakan betapa kering tenggorokannya. Meskipun Paksi itu dapat pergi ke sumur mengambil air jika ia tidak tahan lagi atau air gendi yang terletak tidak jauh dari onggokan kayu-kayu gelondong yang dibelahnya, jika gendi itu belum menjadi kosong, namun Kemuning telah terdorong untuk membawa bukan hanya semangkok, tetapi sebuah teko yang agak besar berisi wedang sere.

“Minumlah, Kakang. Wedang sere dengan gula kelapa. Sudah dingin,” Kemuning mempersilahkan sambil tersenyum.

“Terima kasih, Kemuning,” sahut Paksi sambil meletakkan kapaknya. Untuk memuaskan Kemuning, maka Paksi pun kemudian telah menuang wedang sere itu ke dalam mangkuk dan kemudian menghirupnya sampai mangkuknya kering.

“Segar sekali, Kemuning. Terima kasih.”

Kemuning masih tersenyum. Namun kemudian ia pun beranjak pergi dan kembali ke dapur.

Sepeninggal Kemuning Paksi justru memungut gendi yang berisi air yang dingin sambil berkata, “Wedang sere membuat keringatku semakin banyak mengalir.”

Pembantu rumah yang bersama Paksi membelah kayu itu tertawa. Katanya, “Tentu lebih segar air dingin di dalam gendi itu.”

Tetapi Paksi tidak ingin mengecewakan Kemuning. Karena itu, maka ia sudah menuang lagi wedang sere itu ke dalam mangkuknya. Namun ketika ia yakin Kemuning tidak melihatnya, maka dituangnyalah wedang sere itu di tanah.

Seperti yang diminta oleh Ki Pananggungan, maka Paksi masih tetap tinggal di rumah itu di hari berikutnya. Namun Paksi sendiri tidak menyadari, bahwa ia telah menjadi kerasan tinggal di rumah itu. Apalagi ketika ia menyadari, bahwa Kemuning adalah gadis yang ramah. Yang menyapanya sambil tersenyum. Mempersilahkannya dengan kata-kata yang manis.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Kadang-kadang Paksi harus memperingatkan dirinya sendiri, “Umurmu baru delapan belas.”

Namun pada umur-umur itu, seorang anak muda memang sudah dapat mengenali kecantikan seorang gadis.

Di hari berikutnya, maka Ki Pananggungan tidak pergi ke sawah seperti hari-hari berikutnya. Pekerjaannya sudah selesai. Sawahnya sudah diratakan dengan garu, sehingga sudah siap untuk ditanami. Karena itu, maka Nyi Pananggunganlah yang pergi ke sawah bersama beberapa orang perempuan yang akan menanam padi. Sementara pembantunya akan mempersiapkan bibit padi yang akan ditanam.

Hari itu, Ki Pananggungan dapat lebih banyak berbincang dengan Paksi. Ketika Paksi akan melakukan pekerjaan sebagai dilakukannya di hari-hari sebelumnya, Ki Pananggungan telah mencegahnya. Katanya, “Duduk sajalah di serambi gandok, Paksi. Aku ingin menikmati hari istirahatku setelah membajak dan meratakan sawahku beberapa hari ini.”

Keduanya pun kemudian telah duduk di serambi. Mereka berbincang tentang berbagai macam hal. Dari cara menanam padi dan palawija di sawah sampai dengan dunia olah kanuragan.

Namun tiba-tiba saja mereka terkejut. Mereka melihat dua orang laki-laki dan perempuan memasuki halaman. Mereka berjalan tertatih-tatih. Agaknya laki-laki itu tidak dapat berjalan dengan baik, sehingga isterinya harus menolongnya.

Paksi yang kemudian bangkit berdiri berdesis, “Bahu Langlang.”

Ki Pananggungan pun bangkit pula. Di luar sadarnya ia pun mengulang, “Bahu Langlang.”

Keduanya pun turun ke halaman dengan hati-hati. Namun mereka melihat Bahu Langlang tidak sebagai seorang laki-laki yang perkasa. Tetapi orang itu lebih mirip dengan laki-laki yang cacat, yang berjalan dengan bantuan orang lain.

“Apa maksudmu datang kemari, Ki Bahu Langlang. Apakah kau akan mengambil Kemuning?” bertanya Paksi.

“Tidak. Tidak, Ngger. Aku sama sekali tidak akan berani menyebut nama gadis kecil itu lagi.”

“Jadi, apa maksudmu?” bertanya Paksi.

“Aku hanya ingin berceritera sedikit tentang keadaanku sepeninggalmu.”

“Dari mana kau tahu, bahwa kami berada di rumah ini?”

“Bukankah kau mengatakan bahwa kau akan pergi ke Padukuhan Kembang Arum. Aku menyusulmu ke Kembang Arum dengan harapan bahwa kau masih berada di sini.”

“Tetapi dari siapa kau tahu bahwa kami berada di rumah ini dan bukan rumah yang lain di Padukuhan Kembang Arum yang cukup luas ini?”

“Kami bertanya-tanya sepanjang jalan, tempat tinggal orang-orang yang baru saja datang di padukuhan ini.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang-orang Kembang Arum sudah mengetahui, bahwa di rumah Ki Pananggungan telah tinggal orang-orang baru yang datang dari jauh.

Tetapi itu tidak aneh, karena Kemuning dan Nyi Permati memang sering ikut pergi ke pasar bersama Nyi Pananggungan.

“Marilah, duduklah,” Ki Pananggungan mempersilahkan mereka naik ke pendapa.

Bahu Langlang memandang orang itu dengan kerut di dahi. Sementara Paksi pun berkata, “Ki Pananggungan ini adalah pemilik rumah ini. Paman Kemuning yang dicarinya itu.”

“O,” Bahu Langlang mengangguk hormat.”Kami mohon maaf, bahwa kami telah menyulitkan Kemuning dan Ny Permati. Tetapi kami sudah berjanji bahwa kami tidak akan mengganggunya lagi. Apalagi setelah kami mengalami malapetaka seperti sekarang ini.”

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Paksi.

Namun Ki Pananggungan pun berkata, “Marilah. Silahkan naik.”

Mereka berempat pun kemudian telah naik ke pendapa. Dengan nada penyesalan, Bahu Langlang masih mengulangi permohonan maafnya karena tingkah lakunya terhadap Kemuning.

Namun kemudian Paksi pun bertanya, “Tetapi apa yang terjadi kemudian atas diri Ki Bahu Langlang?”

“Peringatan yang telah kau berikan itu benar-benar terjadi, anak muda. Dua orang perempuan telah datang. Mereka mengaku dari Perguruan Goa Lampin. Tetapi karena peringatanmu, maka ketika mereka mencari Bahu Langlang, maka aku katakan bahwa Bahu Langlang tidak ada. Bahu Langlang telah pergi. Kedua orang perempuan itu telah memasuki rumahku dan melihat-lihat keadaan di dalamnya. Namun kemudian mereka pun pergi sambil berpesan, agar Bahu Langlang lain kali bersedia menemui mereka.” Bahu Langlang itu pun berhenti sejenak. Namun kemudian katanya selanjutnya, “Tetapi di hari berikutnya telah datang seorang laki-laki yang mengaku dari perguruan di hutan Tegal Arang, di pinggir Kali Praga. Aku juga mengatakan kepadanya, bahwa Bahu Langlang sedang pergi. Semula semua orang-orang di rumahku mengiakannya. Tetapi tiba-tiba di luar dugaan, perempuan yang aku sakiti di saat kau datang itulah yang mengatakan kepada laki-laki dari Tegal Arang itu, bahwa akulah sebenarnya Bahu Langlang. Aku memang tidak dapat menghindar lagi. Bagaimanapun juga aku merasa bahwa aku adalah seorang laki-laki. Karena itu, aku mencoba untuk melawannya. Tetapi perlawananku sama sekali tidak berarti. Aku justru berada dalam keadaan seperti ini.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Kau tentu tidak akan dapat melawan mereka. Nah, sekarang, apakah kau bermaksud mengungsi kemari?”

“Tidak, Ngger. Aku hanya lewat. Aku justru ingin memperingatkanmu, bahwa orang-orang yang pernah kau sebut itu berkeliaran sampai kemana-mana. Bahkan mungkin akan ampai ke Kembang Arum ini.”

“Tidak, Ki Bahu Langlang,” jawab Paksi.”Mereka tidak akan sampai ke Kembang Arum. Orang-orang itu mengira bahwa ndaru yang mereka duga akan membawa keberuntungan itu jatuh di sekitar lingkunganmu dan bahkan sedikit ke utara.”

“Ya. Nampaknya mereka memang mencari sesuatu,” sahut Bahu Langlang.

“Kemudian apa yang terjadi alas dirimu?” bertanya Paksi kemudian.

“Aku hampir mati, Ngger. Perempuan yang mengkhianati aku itu pun kemudian ikut pergi dengan laki-laki itu.” Bahu Langlang berhenti sejenak.

Sementara itu isterinya berkata, “Perempuan itu mendendam Kakang Bahu Langlang.”

“Aku dapat mengerti,” jawab Paksi.”Kau telah menyakitinya dengan sewenang-wenang, Ki Bahu Langlang.”

Ki Bahu Langlang mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Perempuan itu telah membalas dendam.  Ia merasa gembira melihat aku terbaring di halaman hampir mati. Tetapi itu bukan salahnya.”

“Sudahlah,” berkata Paksi.”Ki Bahu Langlang sudah selamat. Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Aku hanya ingin singgah, Ngger. Aku ingin mengungsi ke rumah salah seorang kawan baikku. Mudah-mudahan ia bersedia menerima aku.”

“Ki Sanak tidak usah tergesa-gesa,” berkata Ki Pananggungan.”Aku sudah banyak mendengar tentang Ki Sanak dari Paksi. Nampaknya Ki Sanak benar-benar sudah berubah. Jika Ki Sanak tidak berkeberatan, aku dapat menawarkan tempat bermalam bagi Ki Sanak sebelum Ki Sanak meneruskan perjalanan.”

“Terima kasih, Ki Pananggungan. Bahwa Ki Pananggungan sudah memaafkan aku, aku sudah berbesar hati. Dengan demikian aku akan pergi tanpa membawa beban.”

“Tetapi Ki Bahu Langlang masih nampak sulit untuk berjalan. Apalagi perjalanan jauh.”

“Tidak, Ki Pananggungan,” jawab Bahu Langlang.”Aku sudah sering mengalami kesulitan yang lebih parah dalam petualanganku. Seandainya di hari pertama ketika dua orang perempuan dari Goa Lampin itu datang, perempuan yang aku sakiti itu membuka rahasiaku, mungkin akibatnya akan lebih parah. Kedua orang perempuan itu agaknya tidak kalah garangnya dengan orang dari Tegal Arang itu. Sementara itu orang Tegal Arang itu menjadi agak lunak justru karena perempuan yang aku sakiti itu bersedia ikut bersamanya. Dengan demikian, maka laki-laki dari Tegal Arang itu pun segera pergi meninggalkan rumahku. Namun ternyata aku masih hidup. Tetapi aku sadar, bahwa aku harus melarikan diri. Namaku agaknya justru menjadi beban yang tidak terusung di atas  pundakku. Karena itu maka aku akan mempergunakan nama lain seperti yang Angger Paksi katakan dan selanjutnya melupakan masa lampauku yang gelap. Aku harus mengakui, bahwa sebenarnya aku bukan apa-apa dengan kehadiran orang-orang dari beberapa perguruan yang telah mempunyai nama itu.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Pananggungan pun berkata, “Syukurlah jika peristiwa yang terjadi pada Ki Sanak itu dapat membuka hati Ki Sanak.”

“Yang pertama memaksa aku mengakui bahwa aku tidak berarti apa-apa adalah Angger Paksi. Selanjutnya, peristiwa itu terjadi, sehingga rasa-rasanya aku memang tidak mempunyai pilihan lain,” berkata Bahu Langlang.

“Ki Sanak, aku masih ingin menawarkan, apakah Ki Sanak bersedia beristirahat di sini sebelum meneruskan perjalanan,” berkata Ki Pananggungan kemudian.

Tetapi Bahu Langlang itu pun menyahut, “Terima kasih, Ki Pananggungan. Terima kasih. Aku akan melanjutkan perjalanan. Aku hanya sekedar singgah dan ingin mengucapkan terima kasih kepada Angger Paksi atas peringatan yang telah diberikan kepadaku sebelum ia meninggalkan rumahku. Jika aku terlalu lama di sini, maka aku akan menakut-nakuti Kemuning. Ketenangannya akan terganggu. Adalah kebetulan sekali jika Kemuning tidak tahu bahwa aku singgah kemari.”

“Baiklah,” berkata Ki Pananggungan.”Jika Ki Sanak memang akan melanjutkan perjalanan, apa boleh buat, tetapi Kemuning tidak akan terganggu ketenangannya. Kami dapat memberitahukan kepadanya, bahwa semuanya sudah berubah.”

“Aku mohon diri, Ki Pananggungan. Aku akan melanjutkan perjalanan, tetapi aku masih ingin menyampaikan pesan kepada Paksi untuk berhati-hati. Nampaknya orang-orang yang berkeliaran itu memang mencari sesuatu yang mereka anggap sangat berharga. Jika mereka melihat ndaru itu jatuh di sekitar tempat itu, maka mereka tentu akan berusaha untuk menemukannya.”

“Sebenarnya tidak masuk akal jika mereka mencari ndaru yang jatuh dari langit. Tetapi mereka menganggap bahwa yang jatuh itu adalah sesuatu yang sangat berharga yang cahayanya memancar seterang ndaru. Kecemerlangan cahayanya itu menunjukkan betapa tingginya nilai benda yang jatuh itu.”

“Apa pun yang terjadi sebenarnya, namun orang-orang yang berkeliaran itu sangat berbahaya,” berkata Bahu Langlang. ”Angger Paksi sendiri dapat melihat sendiri apa yang terjadi pada diriku sekarang, meskipun Angger lah yang telah memperingatkan aku lebih dahulu sebelumnya.”

“Terima kasih, Ki Bahu Langlang. Mudah-mudahan mereka memang tidak akan sampai di sini.”

Demikianlah, maka Bahu Langlang telah minta diri untuk meneruskan perjalanannya untuk menemui sahabatnya.

Ki Pananggungan tidak dapat mencegahnya lagi. Bersama Paksi, Ki Pananggungan mengantar kedua orang suami istri itu sampai di regol.

Bahu Langlang memang agak mengalami kesulitan untuk berjalan. Tetapi seperti dikatakannya sendiri, ia sudah terbiasa mengalami keadaan seperti itu dalam petualangannya. Bahkan kadang lebih parah lagi.

Ketika Bahu Langlang menjadi semakin jauh, maka keduanya pun telah duduk. Tidak di pendapa, tetapi di serambi sebagaimana saat Bahu Langlang belum datang.

Namun baru saja mereka duduk, Nyi Permati telah datang menemui Ki Pananggungan sambil berdesis, “Kemuning menjadi ketakutan. Ia tahu bahwa Bahu Langlang telah datang kemari.”

“Dari mana ia tahu?” bertanya Paksi. ”Bukankah ia berada di belakang?”

“Ketika Bahu Langlang dan isteri utamanya itu datang, Kemuning sedang berada di pintu seketheng. Dengan demikian, ia melihat keduanya memasuki pintu regol halaman.”

“Anak itu seharusnya sudah tidak boleh ketakutan lagi.”

“Untunglah ia ikut mBokayu Pananggungan ke sawah,” berkata Nyi Permati.

“Kenapa?” bertanya Ki Pananggungan.

“Jika di sawah ia melihat Bahu Langlang lewat, maka anak itu akan dapat lari tanpa dikendalikan lagi.”

Ki Pananggungan kemudian tersenyum sambil bangkit berdiri. Kepada Paksi ia pun berkata, “Marilah kita temui anak itu.”

Paksi kemudian berdiri pula mengikut Ki Pananggungan masuk ke ruang belakang.

Kemuning benar-benar menjadi ketakutan. Sambil duduk di atas amben panjang, tubuh gadis itu menjadi gemetar. Keringat dinginnya membasahi pakaiannya.

“Kau tidak boleh menjadi ketakutan seperti itu, Kemuning,” pamannya duduk di sebelahnya sambil tersenyum. ”Kau sudah berada di rumah paman. Di sini masih ada Paksi. Apa yang kau takutkan? Sebenarnyalah Bahu Langlang memang tidak berniat buruk. Ia hanya ingin sekedar singgah menemui Paksi. Ia mengucapkan terima kasih, bahwa Paksi telah memberikan peringatan sebelumnya. Namun ia juga ingin memperingatkan Paksi apa yang dicemaskan itu benar-benar terjadi, sehingga Paksi harus berhati-hati. Hanya itu. Kemudian Bahu Langlang itu minta diri untuk meneruskan perjalanannya ke rumah sahabatnya. Aku bahkan menawarkan kepadanya untuk beristirahat di sini. Tetapi Bahu Langlang itu menolaknya, ia tahu bahwa kau akan menjadi ketakutan.”

Kemuning tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam.

“Nah, untuk selanjutnya jangan lagi dibayangi oleh tingkah laku dan sikap Bahu Langlang. Ia sudah berubah dan bahkan telah meninggalkan rumahnya. Ia tidak akan berani mengganggumu lagi.”

“Tetapi orang itu justru sudah mengetahui rumah ini, Paman.”

“Itu tidak apa-apa. Ia tidak akan berbuat apa-apa lagi.”

“Kau dengar, Kemuning?” bertanya Nyi Permati.

“Ya, Bibi.”

“Percayalah kepada pamanmu,” berkata Nyi Permati kemudian. Kemuning tidak menjawab, tetapi ia mengangguk kecil.

“Sudahlah. Beristirahatlah. Hari ini aku tidak pergi ke sawah. Mungkin besok aku akan melihat seberapa banyak tanah yang sudah ditanami oleh bibimu. Kalau kau mau, kau boleh ikut pergi ke sawah. Aku akan mengajak Paksi. Agaknya Paksi juga tidak akan berkeberatan.”

Paksi tidak menjawab lain kecuali mengangguk sambil mengiakan.

Kemuning pun kemudian menjadi tenang. Ia tahu bahwa pamannya dan Paksi benar-benar akan dapat melindunginya.

Karena itu, maka tubuhnya tidak akan menjadi gemetar dan keringat dinginnya tidak mengalir lebih banyak lagi.

Sedikit lewat tengah hari, Nyi Pananggungan pun telah pulang.

Wajahnya  menjadi  kehitam-hitaman  oleh  teriknya  matahari.

Tetapi Nyi Pananggungan kelihatan tetap segar setelah mencuci kaki, tangannya dan wajahnya di sungai.

Nyi Permatilah yang bercerita kepadanya, bahwa Bahu Langlang telah datang ke rumah itu.

“Apa yang dilakukannya?” bertanya Nyi Pananggungan.

“Ia tidak berbuat apa-apa. Tubuhnya nampaknya masih kesakitan karena Bahu Langlang hampir mati berkelahi dengan orang dari Perguruan Tegal Arang.”

Namun kemudian dari Ki Pananggungan, isterinya mendengar cerita tentang Bahu Langlang itu lebih jelas.

Di hari berikutnya, seperti yang dikatakan, Ki Pananggungan yang pergi ke sawah bersama Nyi Pananggungan telah mengajak Kemuning .

“Kelak kau pun harus dapat turun ke sawah,” berkata Ki Pananggungan.

“Aku sudah biasa melakukannya, Bibi,” jawab Kemuning. ”Aku juga sering pergi ke sawah bersama ibu, sebelum tiba-tiba ibu dan ayah menghilang.”

“Bagus,” berkata Nyi Pananggungan, “kau akan menjadi gadis yang terampil.”

Kemuning tidak menjawab. Ia berjalan saja di depan, di sebelah Nyi Pananggungan

Sementara itu, Ki Pananggungan pun telah mengajak Paksi pula pergi ke sawah. Karena Kemuning tidak ada di rumah, maka Paksi pun tidak perlu menunggui rumahnya. Apalagi Nyi Permati tidak menyatakan keberatan untuk berada di rumah hanya dengan para pembantu yang tinggal di rumah itu.

Udara terasa segar di bulak yang luas. Matahari yang mulai memanjat langit melontarkan sinarnya yang lembut. Titik-titik embun masih menyangkut di ujung daun-daun padi yang hijau subur. Di langit sekawanan burung terbang melintas ke selatan.

Segarnya udara pagi, hijaunya daun padi yang menyelimuti bulak, telah menyentuh hati Paksi. Tiba-tiba saja ia teringat gubuknya yang ditinggalkannya. Jagung dan kacang panjangnya yang tentu mendekati masanya dipetik. Paksi juga teringat pada beberapa batang pohon kelapa yang diambil niranya untuk dibuatnya menjadi gula. Jika terlalu lama pohon kelapa itu tidak dideresnya, maka ia harus mulai dari permulaan. Niranya akan menjadi sendat untuk beberapa pekan.

Hari itu, untuk beberapa lama Paksi berada di sawah.

Bersama Ki Pananggungan ia duduk di halaman gubuk kecil yang dibuatnya di belakang tanggul parit yang selalu mengalir di segala musim.

Hampir di luar sadarnya, maka Paksi pun kemudian berkata, “Aku sudah terlalu lama pergi, Ki Pananggungan.”

Ki Pananggungan yang sedang memperhatikan Kemuning ikut menanam benih padi berpaling. Dengan nada dalam Ki Pananggungan itu berkata, “Maksudmu?”

Paksi menarik nafas panjang. Namun kemudian katanya, “Ki Pananggungan, sudah saatnya aku mohon diri. Aku sudah sepekan berada di rumah Ki Pananggungan.”

Ki Pananggungan mengangguk-angguk kecil. Kemudian katanya, “Kau akan pergi ke mana Paksi?”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku seorang pengembara. Karena itu, maka aku ingin melanjutkan pengembaraanku.”

“Kemana?” bertanya Ki Pananggungan.

“Aku belum dapat mengatakan. Aku akan lebih banyak menganut langkah kakiku, karena ke mana pun aku pergi, agaknya tidak akan ada bedanya.”

“Paksi,” berkata Ki Pananggungan kemudian, “bahwa kau dapat memberikan beberapa peringatan kepada Bahu Langlang tentang kehadiran banyak orang di kaki Gunung Merapi itu tentu karena kau memperhatikan mereka. Jika mereka datang untuk mencari sesuatu, maka agaknya kau menaruh perhatian pula terhadap yang mereka cari.”

Paksi memandang Ki Pananggungan dengan tajamnya. Namun kemudian Paksi menggeleng. Katanya, “Tidak Ki Pananggungan. Jika banyak orang datang ke kaki Gunung Merapi untuk mencari sesuatu, maka aku justru akan pergi meninggalkan kaki gunung ini. Aku akan pergi ke barat, entah sampai kemana.”

Ki Pananggungan mengangguk-angguk kecil. Suaranya hampir tidak terdengar ketika ia bertanya, “Kau mencari cincin bermata tiga butir batu akik itu?”

Wajah Paksi terasa menjadi panas. Tetapi ia tidak dapat menggelengkan kepalanya meskipun ia tidak ingin mengiakannya. Karena itu, maka akhirnya Paksi hanya menundukkan kepalanya saja. Terasa ada ketegangan di dalam dadanya.

“Paksi,” berkata Ki Pananggungan, “meskipun kau tidak mengiakannya, tetapi aku menangkap getar perasaanmu. Baiklah. Jika kau tidak berkeberatan, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.”

Paksi memandang Ki Pananggungan dengan tajamnya. Namun kemudian ia pun mengangguk sambil menjawab, “Aku akan mendengarkannya, Ki Pananggungan.”

Ki Pananggungan itu terdiam sejenak. Namun kemudian ia pun mulai berceritera, “Paksi, justru karena aku percaya kepadamu, aku ingin mengatakan kepadamu bahwa sebelum pergi meninggalkan rumahnya, ayah Kemuning pernah datang kepadaku. Ia berceritera tentang cincin istana yang hilang. Ia pun berceritera bahwa siapa yang memiliki cincin itu, keturunannya akan dapat memegang kendali kekuasaan di tanah ini apa pun sebabnya. Mungkin karena perkawinan dengan para bangsawan, mungkin karena sebuah perjuangan yang gigih dan tidak mengenal menyerah, mungkin karena keajaiban dan kemungkinan-kemungkinan yang lain. Karena itu, maka cincin itu seakan-akan telah menjadi rebutan. Banyak orang yang mencarinya, termasuk kau, Paksi.”

Paksi mengerutkan dahinya. Tetapi Ki Pananggungan itu pun dengan serta-merta menyambung, “Tetapi aku tahu bahwa kau mencari cincin itu bukan karena ketamakanmu.”

Paksi menarik nafas panjang, hampir saja ia mengatakan, bahwa ia mendapat perintah untuk mencari cincin itu. Tetapi niatnya diurungkannya.

Sementara itu, Ki Pananggungan berkata, “Aku yakin bahwa ayah dan ibu Kemuning tentu juga sedang mencari cincin itu.”

“Tetapi kenapa mereka sampai hati meninggalkan Kemuning sendiri.”

“Tidak sendiri. Tetapi bersama Nyi Permati.”

“Namun yang terjadi kemudian, hampir sebuah malapetaka,” berkata Paksi.

“Itu agaknya tidak terpikirkan oleh orang tua Kemuning. Namun aku pun tidak ingin menyalahkan Nyi Permati. Ia sangat mencintai Kemuning. Karena itu, maka ia ingin membawa Kemuning kemari sepeninggal ayah dan ibunya.”

Paksi mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Pananggungan pun berkata, “Sebenarnyalah Kemuning bukan anak kedua orang yang dikenalnya sebagai ayah dan ibunya itu.”

Paksi mengerutkan dahinya. Dengan serta-merta ia pun bertanya, “Jadi, anak siapa?”

“Anak Nyi Permati itu sendiri.”

“O,” Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia justru tidak dapat mengatakan sesuatu.

“Anak itu tidak pernah melihat ayahnya yang sebenarnya, yang meninggal sebelum Kemuning dilahirkan.”

Paksi masih saja mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah Ki Pananggungan tahu, siapa ayah Kemuning yang sebenarnya?”

“Ya, aku tahu. Ayahnya seorang perwira prajurit. Tetapi ia gugur dalam tugasnya bersama-sama dengan orang yang harus diburunya. Seorang yang berilmu tinggi namun yang telah menyalahgunakan kemampuannya itu. Sedangkan ayah Kemuning juga seorang prajurit yang mumpuni, sehingga keduanya sampyuh, mati bersama-sama. Bedanya, tubuh ayah Kemuning mendapat perlakukan baik dan terhormat, sedangkan lawannya tidak.”

 

-ooo00dw00ooo-

Diedit dari

naskah yang dikirimkan oleh Nyi Dewi KZ (Website Tirai Kasih)

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s