JDBK-07


<<kembali | lanjut >>

PAKSI mendengarkan keterangan Ki Pananggungan dengan sungguh-sungguh. Sementara Ki Pananggungan berkata seterusnya, “Kau tentu tahu, kenapa aku menceriterakan hal ini kepadamu. Kau adalah seorang yang telah membebaskan Kemuning dari kemungkinan yang paling buruk yang hampir saja dialaminya. Selebihnya aku percaya kepadamu, bahwa kau tidak akan mengatakan hal ini kepada Kemuning itu sendiri. Ia tidak mengenal susunan keluarga yang lain kecuali sebagaimana diketahuinya sekarang.”

Paksi pun menjawab dengan sungguh-sungguh, “Tentu Ki Pananggungan, aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Aku tahu bahwa hal itu akan dapat membuatnya menjadi gelisah. Tidak hanya untuk satu bulan, tetapi tentu untuk waktu yang sangat panjang, sepanjang umur Kemuning sendiri.”

“Nah, sebenarnyalah aku masih mempunyai maksud lain bahwa aku berceritera tentang Kemuning. Jika pada suatu saat kau bertemu dengan tidak sengaja dengan kedua orang tua Kemuning, sementara kedua orang itu melakukan tindakan yang tidak terpuji, Kemuning jangan kau kaitkan dengan tingkah laku kedua orang yang dianggapnya orang tuanya itu. Karena sebenarnyalah aku tahu bahwa kedua orang tua Kemuning itu, kadang-kadang memang terdorong untuk melakukan apa yang tidak dilakukan orang lain.”

“Tetapi aku belum pernah melihat orang tua itu, Ki Pananggungan.”

“Kau mungkin akan melihatnya.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia mengangguk-angguk pula sambil berkata, “Aku akan mengingatnya jika aku bertemu sengaja atau tidak sengaja. Tetapi aku belum mengenal ciri-ciri kedua orang tua Kemuning itu.”

Ki Pananggungan pun kemudian telah menceriterakan ciri-ciri dari kedua orang suami isteri itu, sehingga jika Paksi bertemu dengan mereka, maka setidak-tidaknya ia akan dapat menduga, bahwa keduanya adalah orang yang disebut sebagai orang tua Kemuning.

Namun Paksi itu pun bertanya pula, “Tetapi Ki Pananggungan, apakah Kemuning mengetahui bahwa kedua orang yang dianggap orang tuanya itu sering melakukan tindakan-tindakan yang menurut tatanan kehidupan dianggap tidak baik?”

“Aku kira tidak, Paksi.”

“Bagaimana dengan Nyi Permati?”

“Aku kira Nyi Permati sudah mengetahuinya. Tetapi sikap kedua orang yang dianggap orang tua Kemuning itu di rumah cukup pantas. Di rumah mereka tidak menunjukkan sifat-sifatnya yang kurang baik. Ia mengajari Kemuning untuk menjadi orang yang baik, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik. Sehingga sifat-sifatnya yang tercela itu tidak nampak sama sekali. Tetapi jika keduanya sudah keluar dari rumah mereka dan apalagi menempuh petualangan panjang seperti sekarang ini, maka sifat-sifat itu akan nampak dimana-mana.”

“Tetapi apakah orang tua Kemuning itu berilmu tinggi?”

“Ya. Tetapi aku yakin, bahwa kemampuan mereka tidak akan dapat mengimbangi ilmumu, Ngger. Apalagi jika gejolak jiwamu sudah mapan dan dapat kau kendalikan, sehingga tidak akan terjadi bahwa ilmu itu sudah kau lontarkan pada saatnya kesiapan wadagmu belum sampai ke puncak.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih atas peringatan ini, Ki Pananggungan.”

“Jika pada suatu saat kau bertemu dengan gurumu, cobalah kau perbincangkan hal itu. Namun agaknya tanpa orang lain kau akan mampu melakukannya, membuat keseimbangan itu.”

Sementara itu, matahari pun menjadi semakin tinggi. Paksi mengulangi menyampaikan niatnya untuk mohon diri.

“Berhati-hatilah. Besok kau akan merambah jalan yang terjal, berbatu-batu runcing, dan beronak duri-duri dengan kaki telanjang. Mungkin kau akan menginjak tajamnya batu padas, atau menginjak ujung eri kemarung atau tunggak bambu yang patah.”

“Aku mohon doa restu, Ki Pananggungan.”

“Tetapi aku tidak akan mencemaskanmu. Ilmumu dapat dipercaya, apalagi bagi anak muda seumurmu. Dalam waktu singkat ilmumu akan berkembang semakin tinggi, sehingga orang-orang setua aku ini akan segera kau tinggalkan. Bahkan pada suatu saat kau akan menjadi orang yang sulit untuk dicari duanya.”

“Ki Pananggungan memuji aku. Tetapi jika aku tidak kuat menyangga pujian, maka aku justru akan runtuh.”

“Aku tidak memuji. Aku mengatakan apa yang sebenarnya. Tetapi kau tidak boleh memberi arti yang salah. Kau tidak boleh menjadi sombong dan besar kepala. Jika hal itu terjadi, maka kau benar-benar akan runtuh.”

Paksi mengangguk. Ia sama sekali tidak merasa tersinggung. Ki Pananggungan berkata dengan jujur kepadanya. Karena itu, Paksi itu justru menjawab, “Aku akan selalu mengingatnya, Ki Pananggungan.”

“Nah, aku tidak akan menahanmu lagi. Orang lain justru datang ke kaki Gunung Merapi, namun aku pun yakin, bahwa yang mereka cari itu tidak berada di sini. Kau pun jangan berharap untuk dapat menemukan cincin itu. Bukankah kau dapat memperhitungkan kemungkinan seperti itu? Bagaimana seseorang dapat menemukan cincin yang kecil itu di luasnya tanah ini? Mungkin memang terjadi satu kebetulan. Tetapi kau tidak perlu terlalu berharap. Menurunkan penguasa tanah ini bukannya satu-satunya kebahagiaan yang dapat menyertai hidup kita.”

Paksi mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Ki Pananggungan, bahwa masih terdapat banyak kemungkinan untuk menemukan kebahagiaan lahir dan batin.

Hari itu adalah hari terakhir Paksi berada di rumah Ki Pananggungan. Menjelang malam, Paksi duduk bersama seluruh keluarga Ki Pananggungan, termasuk Nyi Permati dan Kemuning. Kepada mereka Paksi minta diri, bahwa esok pagi ia akan meninggalkan rumah itu.

Terasa sesuatu bergetar di jantung Kemuning. Serasa sesuatu akan terlepas dari ikatannya. Tetapi Kemuning masih terlalu muda untuk dapat mengatakannya.

Dalam pada itu, dengan suara yang berat Nyi Permati pun berkata, “Aku tidak dapat membalas kebaikan hatimu, Ngger.

Demikian pula Kemuning. ”Hanya Yang Maha Agunglah yang akan memberikan imbalan sepantasnya kepadamu.”

“Apa yang aku lakukan tidak lebih dari apa yang seharusnya aku lakukan, Bibi,” jawab Paksi. “Karena itu, lupakan saja.”

“Kau juga akan melupakan kami?” bertanya Nyi Permati.

“Tidak,” jawab Paksi dengan serta-merta. “Aku akan selalu ingat kepada keluarga disini. Bukankah aku pernah tinggal disini meskipun hanya beberapa hari?”

“Syukurlah jika demikian,” berkata Ki Pananggungan. “Aku harap pada suatu saat kau akan menginjak halaman rumah ini lagi, Paksi.”

“Aku akan berusaha untuk datang lagi ke rumah ini, Ki Pananggungan.”

“Terima kasih. Kami akan selalu menunggu kehadiranmu.”

Rasa-rasanya Kemuning pun akan berpesan agar Paksi sering datang untuk menengok rumah itu. Tetapi ia tidak dapat mengucapkannya dengan bibirnya. Tetapi ketika Paksi sekilas memandang matanya, rasa-rasanya harapan Kemuning itu sudah terucapkan.

Malam itu Paksi berbaring di dalam biliknya, di gandok rumah Ki Pananggungan dengan gelisah. Ada dua dorongan yang kuat yang saling bertentangan menggetar di hatinya. Ada kerinduan terhadap gubuk kecilnya serta lingkungannya. Tetapi rumah Ki Pananggungan rasa-rasanya mempunyai jari-jari yang mencengkamnya.

“Mata Kemuning itu demikian jernihnya,” berkata Paksi di dalam hatinya. Namun kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri, “Umurku baru delapan belas. Sedangkan gadis kecil itu umurnya tentu baru sekitar lima belas.”

Karena itu, maka Paksi pun berusaha untuk menghapus perasaannya itu. Ia masih terlalu muda untuk menambatkan hatinya di pelabuhan cinta.

Lewat tengah malam Paksi baru dapat tidur. Tetapi juga tidak terlalu lama. Ayam jantan yang berkokok di dini hari telah membangunkannya.

Paksi pun kemudian pergi ke pakiwan. Mandi dan berbenah diri. Ia benar-benar akan meninggalkan rumah itu di saat matahari terbit nanti.

Sebelum Paksi berangkat, Nyi Pananggungan masih sempat menyediakan minuman hangat dan makan pagi seadanya. Sekali lagi seisi rumah itu berharap agar Paksi sering datang mengunjungi rumah itu.

Menjelang matahari terbit, Paksi sudah siap untuk berangkat. Sambil menjinjing tongkat kayunya, Paksi berdiri di pintu regol. Ki Pananggungan, Nyi Pananggungan, Nyi Permati dan Kemuning berdiri berjajar untuk melepasnya.

Adalah di luar dugaan, bahwa Kemuning tiba-tiba berdesis lirih, “Aku mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu.”

Paksi mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun tersenyum, “Itu adalah kewajibanku bagi sesama, Kemuning.”

Kemuning sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi. Kepalanya menunduk dan bibirnya terkatup rapat.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Paksi pun telah meninggalkan rumah itu. Ia menempuh perjalanan yang sebaliknya dari yang pernah dilakukannya untuk mengantar Kemuning ke Padukuhan Kembang Arum.

Sebagai seorang pengembara, maka Paksi dapat mengenali dengan baik jalan yang telah ditempuhnya, meskipun dilakukan di malam hari.

Dengan langkah-langkah langkah panjang Paksi menyusuri bulak-bulak yang masih basah oleh embun. Di ujung daun padi, butir-butir air yang menggantung berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari pagi.

Paksi mengayunkan tongkat kayunya. Di pepohonan burung-burung bernyanyi tumpang tindih berebut nada tinggi.

Perjalanan Paksi memang menjadi jauh lebih cepat dari perjalanannya bersama Kemuning dan Nyi Permati. Kecuali kedua orang perempuan itu menjadi letih dan kakinya terasa pedih, gelapnya malam semakin menghambat langkah mereka. Namun, sendiri, Paksi rasa-rasanya dapat berlenggang tanpa beban apapun.

Bulak demi bulak sudah dilaluinya. Sungai yang harus diseberangi dan jalan menyusur pinggir hutan. Tidak ada yang menghambat perjalanan Paksi.

Di perjalanan kembali itu pun Paksi telah memilih jalan melewati rumah Bahu Langlang. Tentu sudah berubah sepeninggal Bahu Langlang. Ia tidak tahu, siapakah yang kemudian menguasai atau yang diserahi untuk memelihara rumah yang terhitung besar itu.

Matahari pun memanjat semakin tinggi. Panasnya mulai terasa menggatalkan kulit. Semakin lama semakin panas.

Ketika matahari sampai di puncak langit, maka Paksi telah berada di depan regol halaman rumah Bahu Langlang. Halaman rumah itu nampak sepi. Lewat pintu regol yang terbuka, Paksi dapat melihat halaman dan pendapa rumah yang sepi. Ia tidak melihat seseorang. Tidak pula ada yang menjemur gabah. Tetapi Paksi masih mendengar lenguh seekor lembu di dalam lingkungan dinding rumah Bahu Langlang.

Tetapi Paksi tidak ingin singgah. Jika ada orang yang mengawasi rumah itu dengan diam-diam dan tersembunyi, maka kehadirannya akan dapat menarik perhatian. Sementara itu Paksi masih belum ingin bersentuhan dengan orang-orang yang datang dari beberapa perguruan yang sudah mempunyai nama.

Karena itu, maka Paksi pun telah berjalan terus.

Dari rumah Bahu Langlang, Paksi berjalan menuju ke pasar. Di pasar itulah ia bertemu dengan Nyi Permati yang ingin menjual kain luriknya untuk memberi makan Kemuning. Setidak-tidaknya untuk menunda derita yang akan dialami gadis itu. Tetapi ternyata Yang Maha Agung telah membebaskannya dari tangan Bahu Langlang dengan lantaran tangan Paksi.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bersyukur, bahwa Yang Maha Agung telah mempergunakannya membebaskan gadis yang masih sangat muda itu dari tangan Bahu Langlang yang garang.

Ketika Paksi sampai di pasar itu, maka pasar telah menjadi sepi. Tidak lagi ada orang yang berjual beli. Tidak ada pedati yang akan mengangkut kelapa. Yang ada di pasar itu hanya dua orang yang sedang membersihkan sampah dengan sapu lidi yang bertangkai panjang.

Paksi memandang berkeliling. Sebuah kedai masih separo terbuka. Dua orang sedang sibuk membenahinya. Namun ketika Paksi mendekat, pemilik kedai itu bertanya, “Apakah kau akan singgah, anak muda?”

“Bukankah kedai ini sudah akan ditutup?” bertanya Paksi.

“Aku masih menunggumu. Silahkan. Masih ada nasi, pecel lele dan ayung-ayung.”

Paksi mengangguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan singgah.”

Paksi pun kemudian telah masuk ke dalam kedai itu. Pintunya kembali terbuka lebar. Tetapi beberapa jenis makanan yang tinggal sedikit memang sudah dibenahi, dimasukkan ke dalam tenong bambu dan siap untuk dibawa pulang. Namun ketika Paksi duduk di sebuah lincak panjang, tenong itu telah dibuka kembali dan diletakkan di sebuah geledeg rendah di depan Paksi duduk.

“Pasar itu sudah sepi,” desis Paksi.

“Matahari sudah turun ke barat,” jawab pemilik kedai. Paksi mengangguk-angguk. Pembantu di kedai itu pun telah menghidangkan semangkuk minuman.

“Wedang sere,” desis pemilik kedai itu.

Paksi mengangguk sambil berdesis, “Terima kasih.”

“Anak muda akan makan?” bertanya pemilik kedai itu pula.

“Ya,” Paksi mengangguk.

Sambil menghidangkan nasi dan lauk-pauknya, pemilik kedai itu berkata, “Pasar memang agak sepi hari ini. Bahkan ketika matahari sampai ke puncak, para pedagang sudah menyimpan dagangannya. Para pedagang kelapa  pun meninggalkan pasar ini lebih awal.”

“Kenapa?” bertanya Paksi.

“Ada orang-orang yang kami anggap asing berkeliaran kemarin. Kija, yang oleh Ki Bekel mendapat tugas untuk menjaga ketertiban pasar ini hampir mati dianiaya.”

“Kenapa?” bertanya Paksi.

“Tidak apa-apa. Kija hanya bertanya, siapakah mereka itu. Namun tiba-tiba seorang di antara mereka telah memukulnya. Sebagai seorang yang diserahi tanggung jawab oleh Ki Bekel, maka Kija berusaha menangkap orang itu. Tetapi ia justru menjadi korban.”

“Kija dikeroyok oleh beberapa orang?”

“Tidak. Ia berkelahi melawan seorang di antara mereka. Tetapi ternyata Kija sama sekali tidak berdaya.”

“Kasihan,” desis Paksi. “Lalu bagaimana keadaannya sekarang ini? Apakah ia menjadi berangsur baik atau sebaliknya?”

“Seorang dukun yang pandai tengah mengobatinya. Dukun itu mengenal berbagai jenis dedaunan yang dapat dipergunakan untuk mengobati bagian luarnya, tetapi juga membuat obat-obat yang diminumnya.”

Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih banyak lagi. Jika ia nampak memperhatikan persoalan itu, maka pemilik kedai itu justru akan merasakan sesuatu yang lain padanya, sehingga ia akan menjadi semakin ingin lebih banyak mengetahui tentang dirinya atau bahkan dirinya akan dihitungnya sebagai orang-orang asing itu pula.

Tetapi di luar dugaan Paksi, pemilik kedai itulah yang kemudian berceritera atas kehendaknya sendiri, “Tetapi sebenarnya bukan hanya kemarin saja pasar ini didatangi oleh orang-orang yang tidak dikenal. Tidak seperti kau, anak muda. Meskipun aku belum pernah melihatmu sebelumnya, tetapi kau nampak wajar seperti orang lain. Bedanya, kau yang masih muda itu membawa tongkat. Jarang anak-anak muda membawa tongkat kemana-mana. Hanya orang-orang tua yang susah berjalan yang membawa tongkat.”

“Tongkat ini tongkat wasiat, Ki Sanak,” sahut Paksi sambil tersenyum.

“Tongkat wasiat?” pemilik kedai itu mengerutkan dahinya.

“Maksudku, tongkat ini tongkat kakekku yang karena sudah terlalu tua, sehingga susah berjalan. Ketika kakekku meninggal, maka tongkat ini selalu aku bawa kemana-mana. Kakek adalah orang yang sangat baik kepadaku.”

Pemilik kedai itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku kira tongkat wasiatmu adalah tongkat yang memiliki kekuatan yang luar biasa.”

“Ah, tidak Ki Sanak. Bagiku, dengan membawa tongkat ini, rasa-rasanya aku selalu dekat dengan kakekku yang sudah tidak ada lagi itu.”

Pemilik kedai itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, benda-benda yang khusus memang dapat menjadi lantaran untuk merasa selalu dekat dengan pemiliknya.”

Paksi mengangguk-angguk pula. Namun kemudian mulutnya sibuk mengunyah sehingga ia tidak berkata apa-apa lagi.

Pemilik kedai itu tidak mengganggunya pula. Dibiarkannya anak muda itu menikmati makan dan minum di kedainya.

Namun dalam pada itu, apa yang terjadi di pasar itu merupakan pertanda bagi Paksi, bahwa orang-orang dari berbagai perguruan itu telah semakin tersebar. Bukan saja nama Bahu Langlang yang telah memancing mereka, tetapi mereka memang telah merayap kemana-mana untuk mencari cincin bermata tiga butir batu akik yang mereka perkirakan jatuh di sekitar tempat itu setelah terbang mengarungi langit dengan memancarkan cahayanya yang terang seperti cahaya ndaru.

“Satu pertanda buruk bagi daerah ini,” berkata Paksi di dalam hatinya.

Tetapi Paksi pun telah teringat pula kepada rumah gubuknya. Jika orang-orang yang mencari cincin itu berkeliaran semakin jauh, maka ada kemungkinan satu dua orang sampai ke gubuknya. Jika demikian, maka mungkin sekali mereka akan melakukan sesuatu yang dapat merugikannya. Mungkin gubuknya, perabot-perabot dapurnya atau mungkin tanamannya akan rusak.

Karena itu, maka rasa-rasanya Paksi ingin segera sampai ke rumah gubuknya yang masih terhitung jauh.

Demikianlah, maka Paksi pun kemudian telah melanjutkan perjalanannya. Keinginannya untuk segera sampai di gubuknya, telah mendorongnya untuk berjalan terus, meskipun kemudian matahari tenggelam ditelan cakrawala.

Paksi yang memiliki ketahanan tubuh yang tinggi itu melangkah di dalam kegelapan. Ia tidak berjalan terlalu cepat. Tetapi seakan-akan tidak berhenti sama sekali.

Bulak demi bulak dilewatinya. Ia berusaha untuk menghindari padukuhan-padukuhan. Dalam keadaan yang menggelisahkan akan dapat timbul salah paham dengan para peronda.

Karena itu, maka kadang-kadang Paksi berjalan di atas pematang, tanggul, parit atau menyelusuri sungai-sungai kecil.

Tetapi suatu ketika Paksi memang ingin berjalan lewat sebuah padukuhan yang besar. Mungkin ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia sudah menyiapkan jawaban-jawaban jika para peronda menghentikannya dan bertanya banyak hal tentang dirinya.

Tetapi ternyata di padukuhan itu tidak terdapat seorang pun yang meronda. Gardu-gardu nampak sepi. Bahkan oncor pun tidak dinyalakan.

Paksi mencoba untuk mengerti, apa yang telah terjadi. Agaknya orang-orang asing itu pun telah mulai berkeliaran di padukuhan itu, siang atau malam. Karena itu, maka orang-orang padukuhan itu, terutama di malam hari, tidak ada yang berani keluar dari rumahnya. Dengan demikian, maka laki-laki di padukuhan itu tidak pula berani pergi ke gardu.

“Tentu pernah terjadi sesuatu yang membuat para penghuni padukuhan ini ketakutan,” berkata Paksi di dalam hatinya.

Di malam yang sepi itu Paksi melangkah lewat di depan regol yang satu ke regol yang lain. Semuanya tertutup rapat.

Dari celah-celah dinding rumah Paksi melihat cahaya lampu minyak yang suram. Tetapi rumah-rumah di pinggir jalan itu rasa-rasanya telah membeku. Mungkin satu dua penghuninya masih belum tidur. Namun padukuhan itu telah benar-benar dicengkam oleh kesepian.

Paksi berjalan terus. Ia tidak mau mengusik kediaman padukuhan itu. Ketika ia melewati sebuah gardu, maka ia melihat kentongan yang tergantung pada emper gardu itu. Tetapi kentongan itu seakan akan sedang beristirahat panjang dari tugas-tugas yang harus dipikulnya. Ketika Paksi sempat meraba kentongan itu, maka jari-jari tangannya merasakan debu yang tebal melekat pada kentongan itu.

“Sudah beberapa lama kentongan ini tidak dibunyikan?” bertanya Paksi kepada diri sendiri.

Tetapi Paksi tidak dapat menyalahkan para penghuni padukuhan itu. Mereka memang tidak akan dapat melawan orang-orang dari beberapa perguruan yang berkeliaran di padukuhan itu. Sehingga karena itu, maka jalan yang dapat mereka tempuh adalah sekedar menghindar, menutup pintu rumah dan regol halaman.

Paksi melangkah terus. Angin malam yang dingin mengusap wajahnya yang berkerut. Di sebelah menyebelah jalan, pepohonan berdiri tegak dengan kokohnya. Daun-daunnya bergerak lembut disentuh angin.

Paksi berjalan terus menapak di atas jalan padukuhan yang gelap dan sepi.

Paksi benar-benar berjalan terus malam itu. Hanya sekali-sekali ia berhenti sejenak, duduk sambil memandangi langit yang ditaburi bintang-bintang yang tidak terhitung jumlahnya. Tetapi Paksi tidak membiarkan angan-angannya menjadi ngelangut melihat luasnya langit.

Sekali-sekali Paksi melihat bintang yang meluncur menembus lengkung langit. Kecil saja dan sinarnya tidak sampai menguak malam seperti ndaru. Seleret, lalu hilang lagi.

“Apa sebenarnya yang ada di balik birunya langit itu?” bertanya Paksi kepada diri sendiri.

Tetapi Paksi tidak pernah menemukan jawabnya. Yang ia tahu adalah sifat dari beberapa bintang. Ki Marta Brewok pernah memberitahukan kepadanya tentang beberapa macam bintang yang ada di langit. Ada di antara bintang-bintang itu yang dapat menunjukkan arah, musim dan bahkan petunjuk bagi petani untuk mengerjakan sawahnya. Alangkah besarnya ciptaan Yang Maha Agung.

Namun Paksi tidak terlalu lama merenungi langit. Ia pun kemudian bangkit dan melanjutkan perjalanan. Rasa-rasanya ia ingin segera sampai ke gubuk kecilnya.

Ketahanan tubuh Paksi memang sangat tinggi. Ia berjalan terus memanjat kaki Gunung Merapi setelah melewati pasar yang sering dikunjungi. Tetapi pasar itu sepi. Bahkan tempat pemberhentian pedati dan penginapan dari para pedagang yang mencari dan menjual dagangannya di pasar itu nampak sepi pula, meskipun ada juga satu dua pedati di halaman yang becek berkubangan dan kotor. Para pemilik pedati itu mencuci pedatinya di halaman itu juga kemudian membersihkan sisa-sisa kotoran yang ada di dalamnya dan membuangnya di sembarang tempat. Sementara itu, halaman itu sendiri tidak terlalu sering dibersihkan.

Meskipun angin malam yang dingin terasa berhembus semakin deras di kaki gunung, tetapi pakaian Paksi menjadi basah oleh keringat. Semakin dekat dengan gubuk kecilnya, Paksi justru berjalan semakin cepat, sementara malam menjadi semakin dalam. Bahkan telah melampaui pertengahannya.

Dari padukuhan-padukuhan terdengar kokok ayam jantan bersahutan. Padukuhan-padukuhan yang telah dikenal dengan baik oleh Paksi.

Semakin tinggi Paksi memanjat kaki gunung, maka udara pun terasa menjadi semakin dingin. Tetapi Paksi sudah terbiasa dengan dinginnya udara pegunungan. Apalagi malam itu ia telah berjalan panjang, sehingga keringatnya membuat tubuhnya menjadi hangat

Paksi menjadi berdebar-debar ketika ia memasuki jalan setapak. Semakin jauh, jalan itu menjadi semakin sempit dan berbatu-batu padas yang sekali-sekali terasa menusuk telapak kaki. Jalan yang jarang sekali disentuh oleh kaki manusia.

Setelah melewati gumuk-gumuk kecil, maka Paksi pun menjadi semakin dekat dengan gubuk kecilnya.

Rasa-rasanya malam menjadi sangat gelap. Tetapi pandangan mata Paksi yang sangat tajam dapat melihat benda-benda yang ada di sekitarnya meskipun berada di kegelapan.

Paksi menjadi berdebar-debar ketika ia melangkah mendekati gubuknya.

Namun tiba-tiba langkahnya tertegun. Ia melihat cahaya di dalam gubuk kecilnya. Cahaya lampu minyak sebagaimana ia sering menyalakannya.

Paksi berhenti beberapa langkah dari gubuknya. Ia mulai menduga-duga, siapakah yang telah menyalakan lampu minyak itu.

“Mungkin Guru,” desis Paksi di dalam hatinya.

Namun akhirnya Paksi pun telah memaksa dirinya untuk mendekati gubuk itu.

Paksi terkejut ketika ia mendengar suara seseorang dari dalam gubuk itu, “Marilah. Jangan berhenti di situ. Pintunya tidak aku selarak.”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian didorongnya pintu gubuknya sehingga terbuka.

Paksi memang terkejut ketika ia melihat seorang yang masih terhitung muda duduk di dalam gubuknya. Di atas ajug-ajug, lampu minyaknya menyala menerangi ruangan yang tidak terlalu luas itu.

“Siapakah kau?” bertanya Paksi kepada orang yang duduk di dalam gubuknya itu.

Orang itu dengan pandangan mata yang tajam memandang

Paksi yang berdiri di depan pintu. Dengan tenangnya ia pun mempersilahkan Paksi, “Masuklah. Duduklah.”

“Siapakah kau?” Paksi mengulang.

“Duduklah. Kita akan berbicara.”

Suara orang itu mengandung wibawa yang besar, sehingga Paksi seakan-akan telah dicengkamnya tanpa dapat menolak.

Perlahan-lahan Paksi melangkah memasuki gubuk itu. Ia menjadi sangat berhati-hati. Ia belum mengenal orang itu. Karena itu, Paksi pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi menilik wajah dan pandangan matanya, orang yang masih terhitung muda itu bukan orang yang licik. Ketika Paksi duduk dua langkah di hadapannya orang itu beringsut setapak.

“Siapakah kau, Ki Sanak?” bertanya orang itu.

“Akulah yang berhak bertanya kepadamu. Rumah ini rumahku.”

“O,” orang itu mengerutkan dahinya. “Jadi rumah ini rumahmu? Maaf, aku tidak tahu. Dalam pengembaraanku aku menemukan rumah ini kosong, sementara ada beberapa macam perkakas dapur yang tertata rapi. Rumah ini sangat menarik bagiku. Aku menunggu pemiliknya sampai sehari-semalam. Tetapi tidak ada seorang pun yang datang. Bahkan sampai dua hari, tiga hari. Karena itu, akulah yang kemudian merasa diriku menjadi tuan rumah di gubuk ini.”

“Jadi, siapakah kau?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia pun berkata, “Namaku Wijang. Aku seorang pengembara yang menjelajahi satu tempat ke tempat yang lain.”

“Apakah yang kau cari dalam penjelajahanmu itu?”

Orang yang menyebut dirinya Wijang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Tidak ada.”

Tetapi tiba-tiba saja Paksi menebak, “Kau juga mencari sebentuk cincin bermata tiga butir batu akik?”

Orang itu nampak terkejut. Dipandanginya Paksi dengan kerut di dahinya. Tetapi yang meloncat dari mulutnya adalah sebuah pertanyaan, “Siapa namamu?”

“Namaku Paksi.”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi cincin itu ada padamu sekarang?”

“Aku sama sekali tidak tertarik pada cincin itu,” jawab Paksi.

“Jangan ingkar,” berkata orang yang mengaku bernama Wijang itu. “Cincin itu tentu ada padamu.”

Paksi lah yang kemudian memandang wajah orang yang mengaku bernama Wijang itu. Seorang laki-laki yang bertubuh tegap. Wajahnya bersih dan bahkan seakan-akan memancarkan sinar. Kedua matanya yang tajam, tetapi jernih itu nampak berkilat-kilat di bawah cahaya lampu minyak di ajug-ajug.

“Ada beberapa orang yang berkeliaran di sekitar tempat ini untuk mencari sebuah cincin,” berkata Paksi, “tentu termasuk kau, Ki Sanak.”

“Namaku Wijang,” desis orang itu.

“Ya,” Paksi mengangguk-angguk, “tetapi aku sendiri tidak merasa memerlukannya.”

“Kau bohong. Menilik lingkungan kecilmu, kau tentu sudah lama berada di sini. Kau tentu tidak hanya sekali ini saja siap memanen jagung dan bahkan padi gaga. Tanaman-tanaman yang lain memastikan keyakinanku itu.”

“Ya. Aku sudah setahun disini. Tetapi aku sama sekali tidak menginginkan cincin itu. Kehadiranku disini sama sekali tidak ada hubungannya dengan usaha untuk menemukan cincin itu. Aku baru mendengar bahwa ada sebuah cincin yang sedang diburu, justru dari orang-orang yang berdatangan disini.”

“Kau dapat berkata apa saja. Tetapi aku yakin, kaulah yang menyimpan cincin itu.”

“Terserah kepadamu. Tetapi aku melihat cincin itu pun belum pernah. Apalagi memilikinya.”

“Kebetulan sekali kau datang, Paksi,” berkata orang itu. “Kau tidak usah ingkar. Berikan cincin itu kepadaku. Kemudian aku tidak akan mengganggumu lagi.”

“Aku katakan sekali lagi Wijang, aku tidak membawa cincin itu.”

“Jika kau tidak mau menyerahkan cincin itu, maka aku akan mengambil sendiri.”

“Dimana akan kau ambil?”

“Aku akan mencarinya. Tentu ada padamu. Mungkin di kantong ikat pinggangmu, mungkin di kampilmu atau justru kau sembunyikan di dalam tongkatmu itu. He, kenapa kau membawa tongkat?”

Dahi Paksi itu pun berkerut. Menilik ujudnya, orang itu tentu berbeda dengan orang-orang yang sering berkeliaran untuk mencari cincin bermata tiga butir batu akik itu. Seandainya orang ini juga mencarinya, tentu tidak dengan cara sebagaimana dilakukan oleh orang-orang dari berbagai perguruan itu.

Dalam pada itu, maka orang itu pun kemudian berkata, “Paksi. Sebaiknya kita berbaik hati, supaya kita tidak usah berselisih. Berikan saja cincin itu kepadaku. Mungkin kau memerlukan imbalan yang pantas. Aku akan berusaha memenuhinya.”

“Wijang,” berkata Paksi, “aku tidak perlu mengatakan dua tiga kali lagi. Cincin itu tidak ada padaku.”

Tetapi orang yang menyebut dirinya Wijang itu berkata, “Jangan mempersulit dirimu sendiri.”

Paksi pun kemudian bangkit berdiri. Ia melangkah mendekati lampu minyaknya untuk menarik sumbunya yang sudah hampir terbenam ke dalam minyak sehingga nyalanya terlalu kecil. Kemudian sambil berdiri di sebelah lampu minyak itu ia berkata, “Aku atau kau yang mempersulit diri.”

Wijang memandang Paksi dengan kerut di kening.

Namun dengan demikian, maka Wijang itu telah menghadap ke arah lampu minyak. Jika semula wajahnya tidak nampak jelas karena ia tidak menghadap ke arah lampu, maka kemudian Paksi dapat melihat wajah itu. Apalagi nyala lampunya telah dibesarkannya.

Sebenarnyalah Paksi terkejut. Ia merasa sudah pernah mengenal wajah itu meskipun ia belum pernah mengenalnya. Sebagai anak seorang tumenggung, maka sekali-sekali Paksi pernah berada di lingkungan istana.

Ketika di istana diselenggarakan satu upacara, ia pernah mendapat kesempatan untuk ikut bersama ayahnya. Beberapa orang kawannya juga ikut bersama ayah mereka.

Tetapi anak para tumenggung itu tidak diijinkan masuk ke paseban. Mereka berada di halaman dalam istana sambil menunggu ayah mereka yang berada di paseban. Anak-anak itu akan menyaksikan keramaian yang khusus diselenggarakan.

Pada saat itu Paksi melihat seorang anak muda menunggang kuda lewat di halaman dalam istana tanpa harus turun dari kudanya. Menurut ingatan Paksi, anak muda yang naik kuda itulah orang yang berada di dalam gubuknya itu. Tetapi satu hal yang Paksi tahu, bahwa orang itu tentu tidak mengenalnya.

Meskipun Paksi yakin bahwa ia tidak keliru, namun ia pura-pura tidak mengenalinya. Karena itu, maka ia pun kembali duduk. Meskipun demikian ia berusaha untuk sedikit membelakangi lampu minyak, sehingga orang yang ada di dalam gubuknya itu lebih banyak menghadap ke arah lampu minyak.

Semakin lama Paksi memandanginya, maka ia pun menjadi semakin yakin. Bahwa orang yang berkuda di halaman istana itulah orang yang sekarang duduk di hadapannya itu.

Untuk beberapa saat Paksi berdiam diri. Orang itulah yang kemudian berkata, “Paksi. Aku memberimu kesempatan untuk berpikir. Besok pagi-pagi aku ingin mendengar, apakah kau mau menyerahkan cincin itu atau tidak.”

“Jika tidak,” jawab Paksi.

“Sudah aku katakan, aku akan mengambilnya sendiri.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam.

Sementara itu, orang itu pun berkata, “Baiklah. Karena rumah ini rumahmu, maka aku akan keluar. Aku akan tidur di luar sambil menunggu matahari terbit. Aku akan mendengar jawabmu tentang cincin itu.”

“Sebenarnya kau tidak usah menunggu sampai esok. Sekarang aku sudah dapat memberi jawaban. Cincin itu tidak ada padaku.”

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Kau masih didera oleh gejolak perasaanmu. Kau masih terlalu muda untuk dapat menimbang langkah-langkahmu dengan jernih. Karena itu, aku menunggu sampai esok.”

Tetapi ketika orang itu bangkit, Paksi pun bertanya, “Kau akan pergi ke mana?”

“Aku akan tidur di luar,” jawab orang itu.

“Udara dingin di sini. Tidur sajalah di dalam. Aku tidak akan membunuhmu selagi kau tidur.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Aku percaya kepadamu, Paksi. Tetapi jika aku tidur di dalam, maka gubukmu ini akan terasa terlalu sempit.”

“Tidak,” jawab Paksi. “Aku akan mengatur perkakas dapur itu, agar ruangan ini dapat kita pergunakan untuk tidur berdua.”

“Kau tidak takut bahwa akulah yang membunuhmu?” bertanya orang yang mengaku bernama Wijang itu.

“Tidak. Kau tidak akan melakukannya.”

“Ternyata kau telah membuat satu kesalahan yang besar. Kau terlalu percaya kepada orang yang sebenarnya belum kau kenal. Dari mana kau mendapatkan satu keyakinan bahwa aku tidak akan membunuhmu?”

“Aku mencoba untuk menilai ujud, sikap dan tingkah lakumu.”

“Ujud seseorang tidak selalu mencerminkan sikap, tingkah laku dan wataknya, karena sikap dan tingkah laku itu dapat dibuat-buat, justru sangat bertentangan dengan wataknya yang sebenarnya.”

“Tetapi kenapa kau juga mempercayai aku, sedangkan kau juga belum mengenal aku yang sebenarnya.”

“Menurut nalarku, aku percaya kepadamu. Tetapi aku sadar, bahwa aku harus berhati-hati. Mungkin kau termasuk orang yang berpura-pura dapat dipercaya. Karena itu, aku akan tidur di luar. Kau tidur di dalam. Pintu harus kau selarak, sehingga aku tidak akan dapat masuk dengan diam-diam.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mencegah orang itu lagi ketika ia melangkah keluar pintu gubuknya.

Demikianlah, maka orang yang menyebut dirinya bernama Wijang itu benar-benar tidur di luar gubuk dalam cuaca yang dingin. Sedang Paksi pun telah menyelarak pintu. Bagaimanapun juga, ia memang harus berhati-hati. Seperti yang dikatakan sendiri oleh orang yang datang ke gubuknya itu, ia memang belum mengenal orang itu seutuhnya. Meskipun orang itu benar yang dilihatnya berkuda di halaman istana, namun ia tidak tahu pasti tentang sifat dan wataknya.

Malam itu Paksi tidur dalam gelap. Ia memadamkan lampu minyaknya, sehingga rasa-rasanya di dalam gubuk itu lebih gelap daripada di luarnya. Tetapi mata Paksi yang tajam, apalagi jika ia mempergunakan ilmu yang telah dipelajarinya, akan mampu melihat dalam kegelapan tidak terlalu jauh berbeda dengan penglihatannya di dalam terang.

Malam itu Paksi dapat tidur nyenyak. Pendengarannya yang tajam akan membangunkannya jika orang itu membuka pintu gubuknya dengan paksa, atau bahkan merusak dindingnya.

Sebenarnyalah malam itu tidak terjadi sesuatu. Orang yang menyebut dirinya bernama Wijang itu tidak berbuat curang sebagaimana Paksi juga tetap berada di gubuknya.

Menjelang pagi, seperti biasanya Paksi telah bangun. Setelah menyalakan lampu minyaknya, maka ia pun membuka pintu gubuknya dan melangkah keluar. Langit masih nampak hitam.

Tetapi suara burung liar telah menggema di hutan-hutan lereng pegunungan.

Seperti biasanya pula Paksi pun menyalakan perapian, menjerang air sebelum langit menjadi terang. Ketika ia melihat simpanan berasnya, ternyata sisanya masih tetap utuh. Karena itu, maka ia pun telah mencuci beras pula dan menanak nasi.

Sementara itu, maka Paksi pun telah pergi ke sungai untuk mandi dan kemudian berbenah diri.

Ketika cahaya fajar nampak di langit, maka Paksi pun telah memadamkan perapiannya. Nasi sudah masak dan air pun sudah mendidih. Paksi telah membuat wedang jahe yang dapat menghangatkan tubuhnya di dinginnya udara pegunungan.

Ketika kemudian Paksi keluar lagi dari gubuknya, ia melihat orang yang menyebut dirinya Wijang itu sudah duduk di atas sebuah batu yang besar. Di batu itu pulalah, Ki Marta Brewok sering duduk jika ia mengunjungi Paksi.

“Kau ternyata termasuk anak muda yang rajin. Kau bangun pagi-pagi sekali. Melakukan segala kewajibanmu dengan baik.”

“Dimana kau tidur semalam?” bertanya Paksi.

“Aku tidur di ladang jagungmu.  Nampaknya kau hampir panen. Ketela pohonmu juga sudah cukup umur untuk dicabut. Kau dapat membuat gaplek yang tahan lama disimpan.”

Paksi mengangguk. Katanya, “Ya. Dua tiga pekan lagi aku akan mencabutnya dan menjemurnya setelah dikuliti.”

“Nah, sekarang waktu yang aku berikan sudah sampai pada batasnya. Kau harus menjawab, apakah kau bersedia memberikan cincin itu kepadaku atau tidak.”

“Jangan tergesa-gesa. Aku akan pergi ke sungai untuk menangkap ikan. Kita akan memanggang ikan itu untuk makan pagi. Kita akan membicarakan persoalan kita setelah kita makan pagi. Kau dapat duduk sambil minum wedang jahe hangat sambil menunggu aku kembali dari sungai.”

“Sampai kapan kau akan menangkap ikan?” bertanya Wijang.

“Tidak terlalu lama. Di kedung kecil terdapat cukup banyak ikan yang mudah ditangkap.”

Wijang termangu-mangu sejenak. Sementara itu Paksi pun mempersilahkannya, “Masuklah. Kau tahu dimana letaknya mangkuk. Kau dapat menuang wedang jahe itu sendiri.”

“Kau akan pergi ke sungai?” bertanya Wijang.

“Ya,” jawab Paksi.

“Jika demikian, biarlah aku ikut.”

Paksi mengerutkan dahinya. Tetapi ia pun kemudian mengangguk sambil menjawab, “Silahkan jika kau inginkan.”

Keduanya pun kemudian telah pergi ke sungai. Di tikungan sungai itu terdapat sebuah kedung kecil. Di kedung kecil itu memang terdapat cukup banyak ikan, sehingga Paksi tidak memerlukan waktu yang lama untuk menangkapnya. Di tebing kedung kecil itu Paksi menyimpan sebuah lembing kecil yang panjang. Dengan lembing itu Paksi menangkap beberapa ekor ikan.

“Menyenangkan sekali,” berkata Wijang. “Berikan lembing itu. Aku juga akan menangkap ikan seperti kau lakukan.”

Paksi memberikan lembing itu. Wijang yang berdiri di bibir kedung itu pun kemudian telah menangkap ikan dengan lembing sebagaimana dilakukan oleh Paksi.

Namun selagi Wijang sibuk menangkap ikan, maka di luar sadarnya, seekor ular yang merambat di tebing telah mematuk kakinya.

Wijang terkejut. Paksi pun terkejut pula. Ia melihat ular itu dengan cepat menjalar dan hilang di dalam lebatnya rerumputan dan ilalang.

“Wijang,” berkata Paksi dengan cemas, “aku mempunyai obat penawar racun. Kau dapat mengobatinya untuk menawarkan racun ular itu jika tidak terlambat.”

Tetapi Wijang sendiri tersenyum. Sambil membidik seekor ikan kakap yang besar Wijang berkata, “Jangan hiraukan. Ular itu tidak akan menyakiti aku.”

Paksi mengerutkan keningnya. Sementara itu, Wijang telah melemparkan lembingnya tepat mengenai sasarannya.

Paksi masih berdiri termangu-mangu. Ternyata Wijang itu sama sekali tidak menghiraukan patukan ular belang yang racunnya sangat tajam itu.

Namun setelah memungut ikan kakap yang besar itu, Wijang duduk di atas rerumputan. Dipijitnya luka di kakinya itu. Darah yang hitam kebiru-biruan mengembun dari lukanya itu. Namun kemudian disusul dengan titik-titik darah merah yang segar.

Wijang tersenyum. Diusapkan darahnya yang merah itu. Katanya, “Racun itu tidak akan menggangguku.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian Wijang berdiri, Paksi pun bertanya, “Kau juga mempunyai obat penawar racun?”

Wijang mengangguk. Katanya, “Aku harus melengkapi bekal dalam pengembaraanku yang panjang ini.”

Paksi mengangguk-angguk pula. Namun tiba-tiba Wijang itu pun berkata, “Bukankah kita sudah mendapat ikan cukup banyak untuk makan pagi?”

Paksi memandang seonggok ikan di tepi kedung kecil itu. Jawabnya, “Ya. Marilah kita pulang.”

Keduanya pun kemudian kembali ke gubuk Paksi. Wijanglah yang kemudian membersihkan ikan itu, sementara Paksi membuat api.

“Di siang hari jarang sekali aku membuat api. Jika aku membuat api untuk memanggang ikan, maka aku mempergunakan arang agar asapnya tidak terlalu banyak. Asap akan dapat mengundang perhatian orang atas tempat ini. Tempat yang selama ini tidak pernah dikunjungi orang lain kecuali kau,” berkata Paksi kemudian.

“Jika aku tidak tersesat, maka aku tidak akan sampai kemari,” berkata Wijang kemudian.

Demikianlah, maka keduanya pun kemudian telah asyik memanggang beberapa ekor ikan yang telah digarami. Kemudian, selagi ikan itu masih hangat, serta nasinya pun ternyata masih hangat pula, mereka telah makan pagi.

“Aku belum pernah makan senikmat ini,” berkata Wijang. “Meskipun dihidangkan berbagai macam lauk, namun semuanya selalu terasa hambar. Baru sekarang aku benar-benar mendapat lauk yang sesuai dengan seleraku.”

Paksi mengerutkan dahinya. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah bagimu selalu dihidangkan berbagai macam lauk?”

Wijang terkejut. Tetapi dengan serta-merta ia pun menyahut, “Seandainya. Tetapi sekali-sekali aku memang pernah menghadapi beberapa macam lauk di saat aku bertamu.”

Paksi tersenyum. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Beberapa saat keduanya makan sambil berbincang tentang ikan gurami, kakap, bader dan bahkan wader bang dan wader pari. Rasa-rasanya mereka lupa, seberapa banyak nasi yang sudah mereka makan serta wedang jahe yang sudah mereka hirup.

Tiba-tiba saja Wijang menarik nafas dalam-dalam. Diletakkannya mangkuknya yang telah kosong sambil berdesah, “Aku terlalu banyak makan pagi ini.”

Paksi tertawa. Katanya, “Aku makan lebih banyak. Tetapi aku tidak merasa terlalu kenyang.”

“Kau makan berapa ekor ikan? Aku makan lebih dari tiga ekor ikan kakap yang besar itu.”

“Aku sudah sering makan ikan panggang.”

“Kau juga berburu rusa atau kijang di hutan itu?” bertanya Wijang.

“Kadang-kadang,” jawab Paksi.

“Menarik sekali. Aku menyenangi cara hidupmu,” berkata Wijang kemudian.

“Kau tidak akan dapat bertahan lama.”

“Apakah kau sama sekali tidak bergaul dengan orang lain?” bertanya Wijang.

“Tentu. Aku sering pergi ke pasar. Aku mempunyai beberapa orang sahabat di pasar. Di antaranya seorang anak kecil. Namanya Kinong.”

“Bagaimana kau tetap merahasiakan tempat tinggalmu terhadap sahabat-sahabatmu itu?”

“Ternyata aku dapat melakukannya. Tidak seorang  pun di antara mereka yang tahu, bahwa aku tinggal disini.”

Wijang mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja ia berkata, “Aku akan tinggal disini. Aku akan mengusirmu setelah kau serahkan cincin itu. Aku akan memiliki rumah ini, kebun jagung dan padi gaga.”

“Masih ada yang lain,” Paksi justru menambahkan, “kebun pisang, pohon kelapa yang tumbuh di sepanjang tepian sungai, rum pun pring cendani dan pring tutul.”

“Kau mempunyai rumpun pring tutul? Kenapa kau tidak membuat perabot gubukmu  ini dengan pring tutul? Lincak panjang atau geledeg.”

“Aku lebih senang tidur dengan ketepe.”

“Bagus. Jika demikian, aku akan mengambil alih gubuk ini. Tetapi aku memberi kesempatan kepadamu sampai kau memetik jagung yang sudah hampir waktunya itu.”

“Kau akan berhenti bertualangan?” bertanya Paksi.

“Aku akan bertualang dari tempat ini. Maksudku, setiap kali aku akan kembali kemari. Beristirahat untuk dua tiga hari, lalu pergi bertualang lagi.”

Tetapi jawab Paksi mengejutkan, “Ambillah.”

Dahi Wijang berkerut. Dengan ragu ia bertanya, “Kau tidak mempertahankan hakmu?”

“Aku tahu kau tidak akan kerasan tinggal disini sampai setengah musim. Jika hujan turun, maka segala-galanya akan berubah.”

Wijang memandang Paksi dengan tajamnya. Katanya, “Aku tahu bahwa kau sekedar menakut-nakuti aku, agar aku mengurungkan niatku.”

“Tidak. Aku tidak ingin mengurungkan niatmu. Sudah aku katakan, kau tidak akan bertahan setengah musim. Kau tentu merasa lebih senang tinggal di istana.”

Wijang terkejut. Dengan serta-merta ia pun bertanya, “Istana yang mana?”

Paksi termangu-mangu sejenak. Bahkan ia bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku terlalu cepat untuk berterus-terang?”

Paksi memandang Wijang sejenak. Wajahnya nampak tegang. Sementara Paksi yang sudah terlanjur menyinggung kenyataan tentang Wijang itu pun berkata selanjutnya, “Aku tidak tahu siapakah kau sebenarnya. Tetapi aku sudah mengenalmu sebelumnya.”

“Dimana?” bertanya Wijang.

“Aku sudah beberapa kali harus berkelahi dengan orang-orang yang tidak benar-benar ingin berkelahi. Meskipun dengan perkelahian itu aku selalu mendapat pengalaman baru serta petunjuk-petunjuk yang berharga. Namun sekarang aku tidak ingin berkelahi dengan kau. Sekali lagi, aku tidak tahu siapa sebenarnya kau ini. Tetapi jika aku salah menyebutmu dan aku keliru mengetrapkan unggah-ungguh, itu bukan karena aku bersikap deksura. Tetapi karena kebodohanku dan ketidak-tahuanku.”

“Kenapa kau tiba-tiba mengigau? Bangkit. Kita akan berkelahi. Sudah waktunya kau berikan cincin itu kepadaku.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku baru saja makan. Dan kau merasa terlalu kenyang. Tidak baik untuk banyak bergerak.”

“Kau memang iblis kecil,” geram Wijang. Tetapi wajahnya tidak menunjukkan gejolak kemarahan di dadanya.

Paksi menggeleng. Katanya, “Aku sedang malas untuk berkelahi sekarang.”

“Baik. Melawan atau tidak melawan, aku akan berkelahi.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia justru mengumpulkan mangkuk-mangkuknya yang kotor sambil berkata, “Aku sudah terlalu lama menahan diri untuk mengatakan, bahwa aku pernah melihat kau di istana. Hanya orang-orang berkedudukan tinggi atau bahkan hanya keluarga istana saja yang tetap duduk di punggung kudanya di halaman istana.”

Wajah Wijang menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia menjawab, “Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan. Aku belum pernah pergi ke istana. Bahkan aku belum pernah memasuki kotaraja. Aku pengembara yang menelusuri jalan-jalan pegunungan, lembah dan ngarai yang panjang. Berjalan seurut pantai berpasir, berendam di sungai, kedung dan rawa-rawa. Menyusup di antara semak-semak berduri di hutan-hutan yang lebat.”

“Aku percaya. Tetapi keluarga istana  pun ada yang melakukannya pula. Sebelum naik tahta Pajang, Kangjeng Sultan juga seorang pengembara.”

“Siapa yang mengatakannya kepadamu? Apakah kau mengenal Kangjeng Sultan?”

“Tidak. Tetapi banyak orang yang mengatakannya.”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Sementara Paksi berkata, “Aku tidak ingin berteka-teki. Aku harus bersikap benar. Karena itu, aku ingin tahu, dengan siapa aku berhadapan.”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ternyata aku juga terkelabuhi. Aku kira hanya aku sajalah yang telah mengetahui bahwa aku berhadapan dengan Paksi Pamekas, putera Ki Tumenggung yang hanya aku kenal dengan gelar Tumenggung Sarpa Biwada.”

Paksi lah yang menjadi sangat terkejut. Dengan suara yang bergetar ia pun berkata, “Dari mana kau tahu namaku dan bahkan keluargaku?”

Wijang tersenyum. Katanya, “Seorang pengemis tua berceritera kepadaku tentang seorang anak muda yang sedang mengembara. Ia sempat memberikan tongkat pusakanya kepada anak muda itu. Sementara itu orang yang wajahnya dikotori oleh rambut, jambang, kumis dan janggut, juga berceritera tentang Paksi Pamekas, anak seorang tumenggung yang mengembara karena mendapat perintah dari ayahnya untuk mencari sebuah cincin bermata tiga butir batu akik.”

“Aku tidak pernah berceritera kepada mereka, bahwa aku adalah anak seorang tumenggung. Aku adalah anak dari Padukuhan Banyuanyar.”

Orang yang menyebut dirinya bernama Wijang itu tertawa. Katanya, “Mungkin mereka bermimpi bertemu dengan ayahmu yang berkedudukan tinggi itu.”

Paksi memang menjadi bingung. Namun kemudian, Paksi itu pun bertanya, “Baiklah. Aku tidak ingkar. Nampaknya segala sesuatunya sudah nampak terang di pandanganmu. Sekarang, siapakah kau sebenarnya, yang tetap duduk di atas punggung kuda di halaman dalam istana Pajang.”

Orang yang masih terhitung muda itu tiba-tiba membuka kantong ikat pinggangnya. Paksi terkejut bukan kepalang ketika ia melihat orang yang menyebut dirinya bernama Wijang itu telah mengeluarkan sebentuk cincin. Cincin mas dengan tiga butir batu akik.

“Cincin itu,” Paksi hampir berteriak.

Orang yang menyebut dirinya Wijang itu tersenyum. Katanya, “Bukankah kau mendapat perintah untuk mencari cincin ini?”

“Ya,” jawab Paksi.

“Ambil cincin ini dari tanganku. Kau yang sudah ditempa oleh Ki Marta Brewok serta mendapat senjata yang tidak ada duanya itu tentu akan dapat mengalahkan aku.”

Wajah Paksi menjadi tegang. Ketika ia memandang wajah orang yang menyebut dirinya Wijang itu, ia melihat bibir yang tersenyum. Sama sekali bukan greget seorang yang sedang menantang untuk berkelahi.

“Tolong,” berkata Paksi, “sebutkan siapakah kau sebenarnya. Aku tidak ingin berteka-teki lebih lama lagi.”

Orang itu masih tersenyum. Dengan nada rendah ia pun berkata, “Namaku Benawa.”

Paksi terkejut sekali. Rasa-rasanya ia mendengar suara petir yang meledak di telinganya. Ia pernah mendengar nama itu. Benawa adalah putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya sendiri.

“Ampun, Pangeran,” Paksi membungkukkan kepalanya dalam-dalam, “hamba tidak tahu, bahwa hamba berhadapan dengan Pangeran Benawa. Yang hamba ketahui, bahwa orang yang menyebut dirinya Wijang ini adalah tentu keluarga istana dan berkedudukan tinggi, sehingga dapat tetap duduk di punggung kudanya di halaman dalam istana. Tetapi hamba tidak mengira bahwa Wijang itu adalah Pangeran Benawa itu sendiri.”

Pangeran Benawa tertawa pendek. Katanya, “Jangan panggil aku pangeran. Panggil aku Wijang. Kau tidak usah merubah sikapmu. Anggap aku kakakmu sendiri.”

“Tetapi Pangeran adalah putera Kangjeng Sultan.”

Wijang mengangguk. Tetapi katanya, “Siapa pun aku. Panggil aku Wijang.”

“Hamba, Pangeran,” Paksi mengangguk hormat.

Namun kemudian Wijang itu pun bertanya, “Kau percaya bahwa akulah Pangeran Benawa? Setiap orang dapat menyebut dirinya Pangeran Benawa. Apakah hanya karena kau melihat aku berkuda di halaman dalam istana, dan aku menyebut namaku Benawa kau langsung mempercayainya?”

“Pangeran membawa cincin yang sedang dicari itu. Selebihnya hamba mendengarkan kata nurani hamba.”

“Baiklah. Tetapi sekali lagi aku minta, panggil aku Wijang. Aku adalah kakakmu dalam pengembaraan ini. Atau jika kau tidak berkeberatan, aku akan ikut tinggal di gubuk ini untuk sementara sebelum aku memutuskan meneruskan pengembaraan ini.”

“Tetapi orang-orang yang mencari cincin itu berkeliaran disini, Pangeran.”

“Panggil aku Wijang.”

Paksi hanya menarik nafas panjang. Tetapi bibirnya tidak bergerak.

Wijanglah yang kemudian berkata, “Aku justru ingin melihat, apa saja yang mereka lakukan disini.”

“Tetapi jika mereka mengetahui bahwa cincin itu ada di tangan Pangeran, maka mereka akan menempuh segala cara untuk merebutnya, karena mereka menganggap bahwa cincin itu memiliki tuah. Siapa yang memiliki dan mengenakan cincin itu di jarinya, maka ia akan menurunkan penguasa di tanah ini.”

“Kau masih belum dapat menyebut namaku Wijang. Cobalah. Kau akan terbiasa.”

“Baik,” jawab Paksi.

“Apakah cincin ini benar-benar merupakan pertanda, bahwa seseorang akan dapat melahirkan penguasa di tanah ini, aku tidak akan mengatakan apa-apa. Tetapi jika beberapa orang keluarga istana memerintahkan orang-orang terpercaya mencarinya, sebenarnya bukan hanya karena cincin ini. Tetapi keluarga istana itu juga mencari aku. Mereka tahu bahwa akulah yang membawa cincin ini. Tetapi di samping itu ternyata ada juga yang menganggap bahwa petugas-petugas khusus itu telah memburu cincin yang hilang.”

“Kenapa Pangeran meninggalkan istana.”

“Aku harus memperingatkan kau lagi. Panggil aku Wijang.”

“Ya. Kenapa kau meninggalkan istana?”

“Udara di lingkungan istana menjadi sangat panas.”

“Maksudmu?”

“Kau tahu maksudku.”

“Aku mengerti. Tetapi apa sebabnya?” bertanya Paksi. “Apakah kau menjadi kecewa karena pelayanan yang kurang baik, atau karena alasan-alasan lain sehingga udara di istana itu merasa panas?”

“Orang-orang di dalam istana itu tidak lagi mengenal kehidupan yang sebenarnya yang terjadi di Pajang dan lingkungannya. Kakangmas Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar juga kecewa melihat tatanan kehidupan di istana.”

“Apa yang mengecewakan?”

“Sama sekali bukan karena kami merasa kurang mendapat pelayanan. Tetapi justru sebaliknya. Apa yang ada di istana sama sekali bertentangan dengan kenyataan hidup di luar dinding istana. Orang-orang yang sehari-harinya hidup di dalam dinding istana tidak pernah melihat, bahwa ada juga orang yang hidup melarat. Kekurangan dan bahkan lapar. Para penjabat keharakan di istana tidak tahu, bahwa para petugas pajak di daerah-daerah menjadi kehilangan kendali. Mereka berlomba untuk mendapatkan yang terbanyak agar mereka mendapat pujian atau naik pangkat. Tetapi mereka tidak menghiraukan, bahwa mereka yang dipungut pajak itu merasa mendapat beban yang sangat berat.”

“Tetapi bukankah pajak itu merupakan salah satu pilar yang mendukung tegaknya pemerintahan, karena pajak itu merupakan salah satu sumber dana untuk menjalankan roda pemerintahan?”

“Ternyata kesadaranmu sangat tinggi, Paksi. Mungkin karena kau anak seorang tumenggung. Jika orang-orang di sekitar lingkungan ini tidak mengeluh karena beban pajak yang tidak terpikul, maka aku menyatakan hormatku kepada para petugas disini.”

Paksi mengangguk-angguk kecil. Ia memang tidak pernah berbicara tentang pajak dengan orang-orang yang dikenalnya. Tetapi seandainya ada keluhan-keluhan itu, mereka tidak akan mengatakannya kepada setiap orang, apalagi orang yang tidak terlalu dikenal sebagaimana Paksi.

Namun dalam pada itu, Wijang itu pun berkata, “Bukan saja karena orang-orang di istana Pajang itu tidak mengenal kehidupan rakyat yang sebenarnya, tetapi aku juga kecewa atas sikap ayahanda Sultan Hadiwijaya.”

“Kenapa?” bertanya Paksi.

Wijang itu tersenyum. Katanya, “Sudahlah. Apakah seorang anak harus membuka rahasia dan kelemahan orang tuanya, betapa pun ia menjadi kecewa?”

Paksi menundukkan kepalanya. Katanya, “Memang tidak.”

“Bagus. Kau dapat mengerti jika aku tidak mengatakan alasannya, kenapa aku kecewa terhadap ayahanda.” Paksi mengangguk kecil.

“Nah, sekarang, aku minta sekali lagi untuk tinggal di gubuk ini. Setidak-tidaknya untuk sementara.”

“Dan aku harus meninggalkan gubuk ini?”

Wijang tertawa. Katanya, “Aku takut tinggal disini sendiri.”

Paksi pun tertawa pula.

Sejak hari itu, Paksi tidak tinggal sendiri di gubuk itu. Wijang yang tinggal bersamanya, dengan cepat telah menyesuaikan dirinya. Ia telah melakukan apa yang dilakukan oleh Paksi. Bahkan Wijang pun telah memanjat pohon kelapa pagi dan sore untuk mengambil legen. Seperti Paksi, ternyata Wijang pun melakukannya dengan tangkasnya.

Di hari-hari berikutnya, Paksi tidak sendiri pergi ke pasar. Ketika ia bertemu dengan Kinong, maka Paksi pun telah memperkenalkan Wijang kepadanya.

“Apakah ia saudaramu?” bertanya Kinong.

“Ya. Kakakku,” jawab Paksi.

“Tetapi baru kali ini ia pergi ke pasar ini.”

Paksi tertawa. Katanya, “Kakakku tinggal di tempat yang jauh. Baru kemarin ia datang menengok aku.”

“Dimana ia tinggal?”

Pertanyaan itu agak membingungkan Paksi. Namun kemudian ia pun menjawab, “Ia tinggal di Kembang Arum.”

Kinong mengangguk-angguk. Tetapi ia belum pernah mendengar nama padukuhan Kembang Arum.

Namun Kinong tidak sempat berbincang lebih lama. Ia pun segera berlari-lari membawa keranjang kecilnya. Ibunya telah melambaikan tangan memanggilnya, karena ada orang yang ingin minta bantuannya.

“Anak sekecil itu harus sudah mencari makan sendiri,” desis Wijang.

“Salah ayahnya,” desis Paksi.

Wijang berpaling kepadanya dengan dahi yang berkerut.

Namun kemudian ia pun bertanya, “Kenapa dengan ayahnya?”

“Ia seorang penjudi.”

Wijang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh.

Dalam pada itu, setelah beberapa kali Wijang pergi ke pasar, maka ia pun mulai melihat, orang-orang dari beberapa perguruan berkeliaran di pasar itu. Nampaknya orang-orang itu masih berusaha untuk saling mengekang diri, sehingga benturan di antara mereka dihindari. Benturan-benturan yang pernah terjadi, sama sekali tidak menguntungkan bagi mereka, karena kekuatan mereka hampir seimbang. Hanya pada saat-saat yang menentukan sajalah agaknya mereka akan mengambil sikap yang tegas.

Namun, perhatian Wijang dan Paksi sangat tertarik kepada pembicaraan dua orang dari Perguruan Sad yang kebetulan mereka dengar, bahwa ada di antara mereka yang seakan-akan telah melihat pelangi yang berdiri tegak di kaki bukit. Pelangi itu hanya terdiri atas tiga warna.

“Apakah ketajaman indera mereka mampu melihat keberadaan cincin yang aku bawa ini?” bertanya Wijang kemudian.

“Entahlah. Tetapi sebelum kau datang, orang-orang itu sudah berada disini.”

“Aku sudah agak lama disini,” berkata Wijang.

“Bukankah kau baru datang beberapa hari di saat aku pergi?”

Wijang menggeleng. Katanya, “Tidak. Jauh sebelum itu.”

“Jauh sebelum itu? Sebelum aku datang ke tempat ini?”

“Tidak. Jika kau sudah setahun disini, berarti bahwa kau datang lebih dahulu. Tetapi aku bukan baru berada disini di saat kau pergi.”

“Jadi di mana kau selama ini?”

Wijang tersenyum. Katanya, “Aku sudah berada disini kira-kira sebulan yang lalu. Aku tinggal bersama Paman Marta Brewok.”

“Ki Marta Brewok?” bertanya Paksi.

“Ya. Bukankah Ki Marta Brewok telah mengajarimu bermain loncat-loncat?”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Siapa sebenarnya orang yang menamakan dirinya Marta Brewok? Aku menganggapnya sebagai guruku. Ia pun mengakui aku sebagai muridnya. Tetapi aku tidak tahu, siapakah sebenarnya Ki Marta Brewok itu.”

“Bukankah kau sudah menyebutnya? Namanya Marta Brewok. Bukankah itu sudah cukup?”

Paksi memandang Wijang dengan tajamnya, sehingga Wijang itu pun bertanya, “Kenapa kau memandang aku seperti itu? Kau tidak percaya kepadaku atau justru kau menjadi curiga?”

“Tidak,” jawab Paksi, “aku sama sekali tidak menjadi curiga. Tetapi aku tahu bahwa ada sesuatu yang kau sembunyikan.”

Wijang tertawa. Katanya, “Sudahlah. Jangan mempersulit perasaanmu sendiri. Sekarang, marilah kita memperhatikan pendapat orang-orang dari Perguruan Sad itu.”

“Maksudmu?”

“Ada dua kemungkinan. Apakah orang dari Perguruan Sad itu mampu melihat cincin yang tersembunyi di balik kantong ikat pinggangku, atau memang cincin itu benar-benar memancarkan cahaya sebagaimana yang mereka lihat.”

Paksi mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian ia pun bergumam, “Cincin itu memang sangat menarik.”

“Setidak-tidaknya karena aku yang membawanya.”

Paksi mengerutkan dahinya. Namun Wijang itu pun tertawa. Katanya, “Kau tidak usah iri.” Paksi pun akhirnya tertawa pula.

Namun bagaimanapun juga, Wijang dan Paksi harus menjadi lebih berhati-hati. Jika ada orang yang melihat atau merasa melihat semacam pelangi yang mempunyai tiga warna berdiri tegak di kaki bukit, maka itu akan dapat berarti bahwa orang-orang yang mencari cincin itu akan menjelajahi kaki bukit. Mungkin mereka akan berkeliaran dan bersamadi di antara bebatuan, di pinggir sungai atau di goa-goa sambil menunggu isyarat. Mungkin cahaya seperti ndaru, atau seperti bintang yang jatuh dari langit, atau sinar yang memancar dari tempat-tempat yang tersembunyi atau semak-semak yang tiba-tiba terbakar.

Namun satu dua hari kemudian, tidak seorang pun yang pernah memanjat kaki gunung itu lebih tinggi.

Sementara itu, dalam waktu-waktu senggang, ternyata keduanya sempat pula melakukan latihan olah kanuragan bersama-sama. Mereka berdua memang tidak bersumber dari perguruan yang sama. Tetapi justru karena itu, maka latihan-latihan yang mereka lakukan dapat memperkaya ilmu mereka masing-masing. Namun dalam pada itu, Paksi harus mengakui, bahwa Pangeran Benawa yang menamakan dirinya Wijang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Namun bagi Wijang, Paksi adalah kawan berlatih yang cukup memadai.

Bahkan keduanya kadang telah berlatih di dalam goa di belakang air terjun. Semula Paksi tidak mengatakan kepada Wijang, bahwa di belakang air terjun itu terdapat sebuah goa. Namun ternyata Wijang sudah mengetahuinya.

“Ternyata apa yang diketahuinya jauh lebih banyak dan lebih luas dari yang aku ketahui,” berkata Paksi.

Bahkan Wijang itu pulalah yang telah mengajak Paksi berlatih sambil berendam di dalam air.

“Pada suatu ketika, mungkin sekali kita dipaksa untuk bertempur di dalam air,” berkata Wijang.

Paksi memang mendapat pengalaman baru. Ia dapat mengenali perbedaannya, apa yang harus dilakukan di darat dan apa yang harus dilakukan di dalam air. Ketrampilannya berenang  pun semakin bertambah. Ketahanan nafasnya  pun menjadi semakin panjang.

Namun ketenangan kedua orang itu pun akhirnya terganggu juga. Ketika keduanya sedang berlatih meningkatkan ketahanan tubuh dengan berjalan dan berlari di celah-celah bebatuan, pepohonan hutan lereng pegunungan, lembah dan tebing-tebing terjal, maka tiba-tiba saja Wijang memberi isyarat agar Paksi yang berlari di belakangnya untuk berhenti.

Paksi pun tertegun. Ia pun kemudian bergeser ke balik gerumbul perdu ketika Wijang memberikan isyarat kepadanya.

Keduanya pun kemudian melihat tiga orang perempuan berjalan menyusuri jalan setapak. Untunglah mereka tidak berjalan ke arah gubuk Paksi. Tetapi justru ke arah yang lain.

“Orang-orang dari Perguruan Goa Lampin,” desis Paksi.

Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Pemimpin perguruan itu adalah perempuan yang sangat berbahaya. Dengan pandangan matanya yang menembus mata seseorang, ia dapat mempengaruhi penalarannya sehingga orang itu dapat kehilangan pribadinya.”

Paksi mengangguk. Katanya, “Aku pernah melihatnya.”

“Bukankah Paman Marta Brewok pernah memberi petunjuk kepadamu, bagaimana kau harus mengatasinya?”

Paksi mengangguk.

“Bagus,” Wijang mengangguk-angguk. “Murid-muridnya pun ada yang sudah mencoba-coba kekuatan sihir itu. Tetapi kau tidak usah menjadi cemas. Kekuatan pribadimu akan dapat mengatasinya, sehingga kekuatan sihir itu tidak mempengaruhimu.”

Paksi masih mengangguk-angguk.

“Nah, satu peringatan buat kita. Mereka hari ini menyusuri lorong ke arah yang lain. Tetapi mungkin besok atau lusa, mereka akan pergi menyusuri jalan setapak menuju ke gubuk kita?”

“Bagaimana sikap kita jika hal itu terjadi?”

“Apa yang kau lakukan jika aku tidak bersamamu?” Wijang justru bertanya.

“Aku akan membiarkannya.”

“Merusak gubukmu, mengambil isinya dan barangkali memetik jagungmu dan mencabut ketela pohonmu?”

“Bukankah aku dapat menanamnya lagi?”

“Apa yang akan kau makan kemudian?”

“Bukankah aku selama ini menanak nasi beras, bukan nasi jagung?”

Wijang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Bukankah kau untuk sementara masih menghindari benturan dengan mereka?”

“Ya,” Paksi mengangguk-angguk.

Tetapi ketika keduanya hampir saja bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu, maka keduanya terkejut pula. Mereka melihat dua orang lain yang berjalan melalui lorong sempit berbatu batu ke arah yang sama sebagaimana ketiga orang perempuan dari Perguruan Goa Lampin itu.

“Siapakah mereka?” desis Paksi.

“Bukan orang-orang dari Perguruan Sad.”

“Jadi siapa? Apakah mereka orang-orang Tegal Arang?”

Wijang menggeleng.

“Apa yang terjadi? Apakah mereka ingin menjajagi kemampuan masing-masing? Tetapi hal itu sudah pernah mereka lakukan sebelumnya.”

Sebelum Wijang menjawab, maka di kejauhan mereka melihat tiga orang lainnya berjalan ke arah yang sama. Bahkan kemudian ada lagi yang menyusul.

“Nampaknya memang ada sesuatu yang akan terjadi,” desis Wijang.

“Mereka berkumpul untuk berkelahi atau untuk berbicara di antara mereka?” gumam Paksi.

“Lingkungan ini cukup terlindung oleh semak-semak belukar. Bahkan pepohonan. Kita akan dapat melihat, apa yang akan terjadi kemudian.”

“Bukankah kita tidak akan mencampuri persoalan mereka?”

“Tidak,” jawab Wijang.

Keduanya pun kemudian mulai beringsut. Dengan hati-hati keduanya merunduk dari balik gerumbul ke balik gerumbul. Dari balik batu-batu besar ke balik batu yang lain.

“Mereka agaknya akan pergi ke balik bukit itu,” berkata Paksi.

“Disana ada sebuah tempat yang agak lapang, di atas hamparan rumput yang hijau.”

Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Sebuah batu persegi yang agaknya dibuat oleh tangan seseorang, ada di tengah-tengahnya. Sebatang pohon preh tumbuh di sudut tempat yang lapang itu.”

“Kau pernah mengunjungi tempat itu?”

“Seperti kau, aku mengenal lingkungan ini dengan baik.”

Paksi mengangguk-angguk. Sementara itu keduanya merayap ke tempat yang mereka sebutkan itu.

Dengan sangat hati-hati Paksi dan Wijang kemudian menuruni tebing yang tidak terlalu tinggi yang ditumbuhi pepohonan dan semak-semak yang liar, sehingga karena itu, maka keduanya tidak mudah dapat dilihat dari tebaran tempat yang agak lapang yang ditumbuhi rerumputan dan seperti dikatakan oleh Wijang, di tengah-tengahnya terdapat sebuah batu besar persegi ampat. Batu yang nampaknya adalah bekas buatan tangan manusia.

Keduanya memang tidak dapat berada terlalu dekat dengan lapangan rumput itu. Namun dari tempat mereka berlindung, mereka dapat melihat apa yang terjadi dan serba sedikit pendengaran mereka yang tajam, dapat mendengar pembicaraan dari orang-orang yang seperti mereka duga, berkumpul di lapangan rumput itu.

Menurut penglihatan Wijang dan Paksi, maka di lapangan rumput itu telah berkumpul beberapa orang dari beberapa perguruan yang berbeda. Sedikitnya ada lima perguruan yang diwakili dalam pertemuan itu. Tetapi nampaknya tidak seorang pun dari para pemimpin tertinggi dari perguruan itu yang datang dalam pertemuan itu.

Wijang dan Paksi mendengarkan pembicaraan orang-orang itu dengan saksama. Mula-mula masing-masing menyebut perguruan mereka serta nama mereka yang ditugaskan untuk mewakili.

“Kau ikut mengingat nama mereka serta perguruan mereka,” desis Wijang.

“Aku akan mencoba,” sahut Paksi perlahan-lahan.

Baru kemudian, seorang di antara mereka, justru orang dari Perguruan Sad, berkata, “Aku mendapat perintah dari guru, menawarkan kerja sama di antara kita, permusuhan dan bahkan saling membunuh sama sekali tidak bermanfaat bagi kita semuanya dan bagi kita masing-masing.”

“Kerja sama yang bagaimana yang dimaksud oleh gurumu?” bertanya seorang perempuan dari Goa Lampin.

“Itulah yang harus kita bicarakan,” jawab orang dari Perguruan Sad itu.

Namun seorang yang datang dari perguruan yang lain lagi berkata, “Katakan, apakah kau sudah mempunyai rancangan dari ujud kerja sama yang dapat kita lakukan?”

Orang dari Perguruan Sad itu termangu-mangu sejenak.

Namun tiba-tiba saja orang itu menjadi gelisah. Bahkan beberapa orang yang lain pun nampak menjadi gelisah.

Tiba-tiba seorang di antara mereka, seorang yang agaknya datang dari perguruan yang lain lagi berkata lantang, “Jangan bersembunyi. Marilah, datanglah jika kalian akan ikut berbicara bersama kami.”

Seorang yang lain, yang bertubuh raksasa yang agaknya datang dari Perguruan Tegal Arang di pinggir Kali Praga tertawa sambil berkata, “Ada dua orang yang nampaknya ingin bermain sembunyi-sembunyian.”

Wijang dan Paksi terkejut. Mereka merasa bahwa mereka berada di tempat yang tersembunyi. Kemampuan mereka yang seakan-akan dapat menyerap bunyi yang timbul dari setiap sentuhan tubuh mereka dengan lingkungannya, melindungi mereka dari ketajaman pendengaran orang-orang yang sedang berbicara di lapangan rumput itu. Jika orang-orang itu mengetahui kehadiran mereka berdua, itu berarti bahwa mereka adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi.

“Tidak mungkin,” desis Paksi.

Wijang mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian ia pun berbisik, “Jika karena sesuatu hal mereka mengetahui kehadiran kita, maka apa boleh buat.”

Namun keduanya terkejut ketika mereka melihat sesuatu yang bergerak di sisi yang lain dari padang rumput itu. Dua orang muncul dari sela-sela gerumbul-gerumbul perdu.

“Kenapa kalian bersembunyi?” bertanya orang dari Perguruan Sad itu.

Kedua orang itu berdiri tegak memandang berkeliling seakan-akan menembus ke setiap biji mata dari orang-orang yang berada di padang rumput itu.

Sementara itu Wijang berdesis, “Kenapa panggraita kita begitu tumpul, sehingga kita tidak mengetahui kehadiran kedua orang itu?”

“Keduanya masih terlalu jauh dari kita berdua, karena keduanya berada di seberang lapangan rumput itu,” sahut Paksi. “Sementara itu, perhatian kita pusatkan kepada orang-orang yang ada di lapangan rumput itu sendiri. Aku sudah siap mengingat-ingat nama jika salah seorang dari mereka menyebutkannya lagi. Namun yang datang ada dua orang dari sisi seberang.”

Namun tiba-tiba wajah Paksi menjadi tegang. Hampir di luar sadarnya ia beringsut sehingga Wijang menggamitnya sambil berdesis, “Sst. Kau kenapa?”

Tiba-tiba saja Paksi teringat sesuatu. Kata-katanya meluncur dengan nada datar, “Seorang laki-laki dan seorang perempuan.”

“Ya. Kenapa?” bertanya Wijang.

“Tentu ayah dan ibu Kemuning.”

“Siapakah Kemuning itu?” bertanya Wijang.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Wijang sekilas. Namun kemudian Paksi pun menjawab perlahan, “Nanti aku ceriterakan.”

Wijang mengangguk. Ia pun ingin memperhatikan apa yang dikatakan oleh kedua orang laki-laki dan perempuan itu.

Sementara itu Paksi pun berdesis, “Ciri-ciri keduanya tepat seperti yang dikatakan Ki Pananggungan.”

Wijang tidak menyahut. Tetapi ia memperhatikan laki-laki itu dari ujung kakinya sampai ke kepalanya. Laki-laki itu bertubuh tinggi tegap. Wajahnya keras, berkumis lebat. Hidungnya seakan-akan tenggelam dalam kelebatan kumis itu. Matanya sipit, tetapi alisnya hampir setebal kumisnya. Sedangkan perempuan yang bersamanya itu terhitung perempuan yang bertubuh tinggi semampai mengenakan pakaian yang khusus. Sepasang pedang tergantung di kedua lambungnya. Selempang kulit menyilang di dadanya menahan berat pedangnya yang menggantung pada ikat pinggang kulitnya.

Dalam pada itu, laki-laki itu pun kemudian berkata, “Kalian mengira bahwa kami mendekati tempat ini sambil bersembunyi? Buat apa aku bersembunyi jika yang datang kemari hanya tikus-tikus kecil seperti kalian. He, di manakah guru kalian? Kenapa mereka tidak datang?”

“Sejak semula guru memang tidak akan datang ke tempat ini. Justru kami baru mempersiapkan kemungkinan, agar guru-guru kami dapat bertemu.”

Laki-laki berkumis tebal itu termangu-mangu sejenak. Dengan nada berat ia pun kemudian berkata, “Aku ingin bertemu dan berbicara dengan guru-guru kalian.”

“Aku tidak tahu, apakah guru menganggap penting kalian berdua ikut berbicara tentang persoalan yang teramat penting. Mungkin guru bersedia menerima kalian untuk menghadap. Tetapi tidak untuk membicarakan sesuatu.”

“Jangan menghina aku. Mungkin kalian merasa kokoh karena kalian adalah bagian dari sebuah perguruan. Kalian menganggap guru kalian masing-masing adalah orang-orang terkuat di dunia kanuragan. Tetapi sebenarnyalah perguruan kalian tidak ada artinya apa-apa bagi kami.”

Tetapi seorang yang bertubuh raksasa dari perguruan Tegal Arang itu pun berkata, “Kiai Repak Rembulung. Selama ini kami memang menganggap kau berilmu sangat tinggi. Tetapi bahwa kehadiranmu yang diam-diam itu justru menimbulkan suara seperti lampor, maka kemampuanmu kami ragukan. Demikian pula Nyi Pupus Rembulung yang menurut pendengaran kami memiliki kemampuan yang jarang ada duanya, ternyata juga sangat mengecewakan. Kalian berdua yang digelari sepasang Alap-alap Elar Perak, ternyata telah mengejutkan kami. Bukan karena ketinggian ilmu tetapi justru sebaliknya.”

“Menurut cirimu, kau adalah murid dari Perguruan Tegal Arang di tepi Kali Praga. Terima kasih atas pengenalanmu terhadap kami berdua serta gelar yang kami sandang. Tetapi jangan mencoba kemampuan kami. Kami memang tidak pernah berniat untuk mendekat dengan diam-diam. Itulah sebabnya kami datang seperti lampor. Tetapi jika ada yang meragukan kemampuan kami, silahkan untuk mengatakannya berterus-terang.”

“Aku meragukan tataran ilmumu, Ki Repak Rembulung.”

Namun tiba-tiba saja orang itu menjerit. Ia tidak melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh Ki Repak Rembulung. Namun tiba-tiba saja dari dahinya telah mengucur darah. Sebuah batu sebesar telur puyuh telah mengenai dahinya itu.

“Jika kau anggap aku curang karena aku menyerang dengan tiba-tiba, maka marilah, siapa yang akan menjajagi ilmu dengan cara apa pun yang ingin kalian lakukan. Atau barangkali ada yang meragukan kemampuan isteriku, Pupus Rembulung.”

Orang-orang yang ada di lapangan rumput itu berdiri dengan tegang. Sementara Repak Rembulung yang digelari Alap-alap Elar Perak itu melangkah dengan tenangnya mengelilingi batu persegi yang ada di tengah-tengah lapangan rumput itu.

“Aku tidak sering menyombongkan diri. Tetapi jika perlu, aku memang melakukannya seperti apa yang aku lakukan sekarang,” berkata Repak Rembulung.

Tidak seorang pun yang menyahut. Karena itu, maka Repak Rembulung itu pun kemudian berkata, “Katakan kepada gurumu, aku ingin berbicara dengan mereka.”

Orang-orang yang berkumpul di lapangan rumput itu diam membeku ketika Repak Rembulung itu menunjuk mereka seorang-seorang. Bahkan kepada orang yang dahinya berdarah itu, ia pun berkata, “Kau dapat melaporkan apa yang terjadi atas dahimu itu kepada gurumu. Selebihnya, jika kau sekali lagi menghina aku, maka sebelah matamu akan menjadi buta, karena batu itu akan menghunjam masuk ke dalam matamu. Jika kau masih mengulanginya lagi, matamu yang lain akan menjadi buta pula.”

Orang yang dahinya terluka itu berdiri mematung di tempatnya. Ketika darahnya mengalir ke matanya, ia sama sekali tidak mengusapnya. Setiap gerak akan dapat menimbulkan kecurigaan pada Repak Rembulung atau Pupus Rembulung sehingga mereka dapat melakukan sesuatu yang dapat membahayakannya.

“Atau kalian semuanya dari perguruan yang berbeda-beda ini ingin mencoba bersama-sama? Kami sama sekali tidak berkeberatan. Tetapi untuk melawan kalian bersama-sama, sulit bagi kami untuk mengendalikan diri, sehingga jika ada yang mati di antara kalian, kami tidak bertanggung jawab.”

Orang-orang yang ada di lapangan itu masih berdiri mematung. Tidak seorang pun yang bergerak atau bahkan menjawab ancaman Repak Rembulung itu.

Dalam pada itu, tiba-tiba terdengar suara Pupus Rembulung,

“Sudahlah, Kakang. Marilah kita pergi. Tidak ada gunanya kita berlama-lama disini.”

Repak Rembulung mengangguk. Katanya, “Kami akan segera pergi. Tetapi aku juga ingin semua orang yang ada di lapangan rumput ini pergi. Kalian tidak usah berbicara tentang pertemuan antara pemimpin dan barangkali guru kalian. Biarlah mereka membicarakannya langsung di antara mereka. Ingat, beritahu kami berdua, kami akan datang dalam pertemuan itu.”

Tiba-tiba saja dengan suara yang bergetar salah seorang dari Goa Lampin bertanya, “Bagaimana kami memberitahukannya kepada Ki Repak Rembulung?”

“Pahatkan saat pertemuan itu pada beberapa batang pohon gayam yang ada di sepanjang jalan menuju ke Panjatan.”

“Ki Repak Rembulung tinggal di Panjatan?”

“Aku tinggal dimana-mana. Tetapi ingat, jangan mencoba menipu dan membohongi aku. Jika pertemuan itu berlangsung tanpa aku ketahui, serta tidak ada pahatan waktu di beberapa pohon gayam di jalan menuju ke Panjatan, maka kalian akan menyesal.”

Tidak seorang pun yang bertanya lagi. Mereka mengharap agar Sepasang Alap-alap Elar Perak itu segera meninggalkan tempat itu.

Namun ternyata Pupus Rembulung itu berkata lantang, “Cepat, tinggalkan tempat ini. Atau aku harus mengusir kalian.”

Orang-orang itu pun kemudian telah beringsut meninggalkan tempat itu sebelum mereka sempat menemukan kesepakatan apa-apa tentang rencana pertemuan antara para pemimpin dan guru mereka.

Sedangkan Repak dan Pupus Rembulunglah yang kemudian terakhir meninggalkan tempat itu.

Sepeninggal mereka, maka Wijang dan Paksi pun kemudian telah keluar dari persembunyiannya. Namun yang pertama-tama dikatakan oleh Wijang bukan tentang orang-orang yang berkumpul itu, tetapi justru tentang diri mereka berdua.

“Nah, bukankah kita sudah berhasil meredam suara yang timbul dari gerak-gerik kita. Geseran tubuh dan pakaian kita dengan benda-benda sekeliling kita tidak mampu menyentuh ketajaman telinga kedua orang suami isteri itu.”

Paksi mengangguk-angguk. Ia pun kemudian menyadari bahwa ia pun mampu menyerap bunyi geseran itu.

Namun Paksi pun kemudian berkata, “Kedua orang suami isteri itu menarik perhatian.”

“Yang kau sebut sebagai ayah dan ibu Kemuning itu.”

“Ya,” jawab Paksi.

“Nah, bukankah kau akan berceritera tentang Kemuning?”

“Nanti di rumah aku akan menceriterakannya.”

Sambil bergeser Wijang itu pun kemudian berkata, “Kita sudah mendengar bahwa orang yang disebut Repak Rembulung itu minta agar ia mendapat isyarat jika diselenggarakan pertemuan antara para pemimpin perguruan yang telah menurunkan orang-orangnya di daerah ini.”

Paksi mengangguk-angguk pula. Katanya, “Isyarat itu akan dapat kita lihat di pohon-pohon gayam di jalan yang menuju ke Panjatan. Dengan demikian, maka kita pun akan dapat hadir pula untuk melihat apa yang akan mereka bicarakan.”

“Mereka tentu akan berbicara tentang cincin istana yang hilang,” desis Wijang.

“Yang menarik, bagaimana mereka mengatur kerja sama di antara mereka itu.”

“Yang lebih menarik lagi adalah kehadiran Repak Dan Pupus Rembulung itu.”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja Wijang menarik Paksi sambil berkata, “Kita akan pulang. Kita akan melihat apakah ada satu dua orang yang tersesat ke gubuk kita. Selebihnya, kau akan berceritera tentang Kemuning yang kau sebut anak Repak dan Pupus Rembulung itu.”

Paksi tidak menjawab. Apalagi Wijang masih saja menariknya berjalan di lereng yang ditumbuhi pohon-pohon perdu itu.

Ketika mereka sampai di gubuk kecil yang tersembunyi itu, mereka pun berlega hati. Tidak seorang pun di antara orang-orang dari berbagai perguruan itu yang tersesat sampai ke gubuk kecil mereka.

Ketika mereka kemudian duduk di dalam gubuk itu sambil menghirup wedang sere yang sudah dingin, Paksi pun telah berceritera tentang seorang gadis yang bernama Kemuning. Menurut pamannya, Ki Pananggungan, kedua orang tua angkat Kemuning adalah petualang pula. Menurut ciri-cirinya, orang tua angkat Kemuning itu tentu Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung itu.

“Sayang,” berkata Wijang, “jika saja keduanya tidak terjerumus ke dalam petualangan yang dapat mengotori namanya.”

“Apakah kita dapat mencoba menghubunginya?” bertanya Paksi.

“Jangan tergesa-gesa. Yang terjadi mungkin justru sebaliknya dari yang kita inginkan,” desis Wijang. Meskipun demikian ia melanjutkan, “Tetapi pada saat yang tepat kita akan dapat mencobanya.”

Paksi menarik nafas panjang. Katanya, “Rasa-rasanya masih ada kemungkinan.”

“Kita belum tahu sifat-sifatnya lebih jauh. Kita baru melihat ujudnya sekilas dan sedikit keterangan dari Ki Pananggungan itu,” sahut Wijang.

Paksi tidak menjawab. Tetapi kepalanya mengangguk kecil.

“Nah, sebaiknya kita sekarang pergi ke goa itu. Bawa tongkatmu. Kita berlatih lebih bersungguh-sungguh.”

Paksi tidak membantah. Ia pun kemudian bangkit. Diraihnya tongkatnya yang disembunyikannya di antara kerangka gubuk kecilnya. Sementara itu, Wijang pun telah melangkah keluar dan gubuk itu.

Sejenak kemudian, keduanya telah berada di dalam goa. Dengan saksama keduanya memperhatikan pahatan yang ada di dalam goa itu. Beberapa kali mereka mencobanya sehingga dengan demikian, terutama bagi Paksi, ilmunya menjadi semakin matang. Tongkatnya menjadi semakin berbahaya di tangannya Sementara itu, jiwanya pun menjadi semakin mapan. Ia sudah berhasil menguasai keseimbangan antara perasaan dan penalarannya saat-saat ia mengetrapkan ilmu puncaknya.

Ternyata apa yang dilakukan Wijang, justru melengkapi apa yang pernah diwariskan oleh Ki Marta Brewok kepada Paksi.

Di hari berikutnya, maka keduanya telah pergi menyusuri jalan menuruni kaki Gunung Merapi. Mereka kemudian telah memasuki sebuah jalan yang agak lebih lebar dari jalan setapak. Jalan yang menuju ke Panjatan.

Memang ada beberapa batang pohon gayam. Tetapi mereka belum melihat isyarat apa pun yang terpahat pada pohon gayam itu.

Namun keduanya sadar, bahwa mereka harus berhati-hati, karena mereka akan dapat bertemu dengan Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung.

“Mungkin dua atau tiga hari lagi,” berkata Wijang. “Bukankah mereka harus membicarakannya lebih dahulu?”

“Atau para pemimpin perguruan yang tersinggung itu sengaja tidak mau memenuhi keinginan Repak dan Pupus Rembulung,” sahut Paksi.

“Kemungkinan itu memang dapat terjadi. Tetapi aku mengira bahwa para pemimpin perguruan itu akan memberitahukan rencana pertemuan itu justru untuk menjebaknya.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Setiap hari kita akan melihat, apakah mereka telah memahatkan pesan itu.”

“Dengan kemungkinan terburuk, kita akan bertemu dengan orang yang sedang memahatkan pesan itu atau suami isteri orang tua angkat Kemuning itu.”

Dengan serta-merta Paksi berpaling. Dipandanginya Wijang dengan dahi berkerut. Namun Wijang lah yang bertanya, “Kenapa? Bukankah Repak dan Pupus Rembulung itu orang tua angkat Kemuning sebagaimana kau katakan.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk ia menjawab, “Ya. Mereka adalah orang tua angkat Kemuning.”

“Jadi bagaimana?”

“Tidak apa-apa,” jawab Paksi.

Wijang tertawa. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Keduanya pun melanjutkan langkah mereka menyusuri jalan ke sebuah padukuhan. Padukuhan yang tidak terlalu besar. Bahkan letaknya agak jauh dari padukuhan-padukuhan yang lain. Tetapi padukuhan itu nampak subur. Di sekitarnya sawah nampak hijau ditumbuhi batang padi yang mulai berbunga. Di belakang dinding padukuhan, pohon nyiur berdiri berjajar dari ujung sampai ke ujung. Parit-parit yang mengaliri sawah bersusun seperti sebuah tangga raksasa mengalir sepanjang musim.

“Apakah kita akan pergi ke padukuhan itu?” bertanya Paksi

Wijang memang agak ragu. Namun kemudian katanya, “Kau yang sudah lama tinggal di sisi selatan kaki Gunung Merapi ini agaknya sudah mengetahui isi dari padukuhan itu.”

Paksi menggeleng. Katanya, “Aku tahu, bahwa padukuhan itu adalah Padukuhan Panjatan. Tetapi aku belum tahu isi padukuhan itu.”

“Apakah di pasar kau tidak pernah bertemu dengan orang Panjatan?”

“Mungkin sekali dua kali pernah. Tetapi aku tidak menyadari bahwa mereka adalah orang Panjatan.”

“Baik. Jika demikian, kita pergi saja ke pasar. Tentu masih belum sepi. Kita akan mencoba mencari keterangan tentang padukuhan ini.”

Keduanya pun kemudian telah berbelok menyusuri jalan sempit. Mereka tidak langsung pergi ke padukuhan yang belum mereka ketahui apakah isinya. Meskipun sebelumnya mereka jarang sekali berusaha untuk mengetahui isi sebuah padukuhan apabila mereka akan memasukinya, namun justru karena padukuhan itu disebut oleh Ki Repak Rembulung, maka mereka merasa perlu untuk berhati-hati.

Ketika keduanya yang berjalan cepat di sepanjang pematang dan lorong-lorong sempit sebelum mereka turun ke jalan yang lebih besar yang menuju ke pasar itu, membuat mereka menjadi haus. Karena itu, maka Paksi pun mengajak Wijang untuk membeli dawet cendol sebagaimana sering dilakukannya.

Ketika keduanya sedang menghirup dawet cendol yang segar itu, penjual dawet itu pun bertanya, “Keringat kalian seperti terperas dari tubuh kalian. Dari mana saja kalian berdua?”

Paksi tersenyum sambil menjawab, “Kami takut kalau kami kehabisan dawet cendol. Karena itu, kami berlari-lari sepanjang jalan.”

Penjual dawet itu tertawa. Sementara Paksi berkata selanjutnya, “Kami bangun kesiangan, sementara kami masih harus singgah di Panjatan.”

“Panjatan?” orang itu mengerutkan dahinya.

“Ya,” jawab Paksi.

“Untuk apa kalian pergi ke Panjatan?”

“Aku mempunyai seorang kawan di Panjatan.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Di wajahnya membayang kesan yang aneh. Bahkan penjual dawet itu kemudian bertanya, “Kau sering pergi ke Panjatan?”

“Ya. Kenapa?”

“Jika kau sering pergi ke Panjatan, kau tentu mengetahui keadaan padukuhan itu.”

“Aku tidak melihat sesuatu yang menarik perhatian di padukuhan itu.”

Penjual dawet itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun berkata, “Aku juga mempunyai seorang kenalan, bahkan masih terhitung kadang meskipun sudah jauh.”

“Paman juga sering pergi ke Panjatan?” bertanya Wijang kemudian.

“Tidak,” jawab orang itu. “Baru dua atau tiga kali sepanjang umurku.”

“Kenapa?” bertanya Wijang kemudian.

Penjual dawet itu menarik nafas panjang. Namun kemudian ia pun bertanya, “Jadi kalian benar-benar tidak tahu, kenapa Panjatan itu seakan-akan menjadi terpencil. Bukan saja letaknya, tetapi juga hubungan antar sesama.”

“Tidak,” Paksi lah yang menjawab.

Penjual dawet itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu

Paksi mengulurkan mangkuknya yang telah kosong sambil berkata, “Lagi, Paman. Aku haus sekali.”

Ternyata Wijang pun berbuat demikian pula.

Sambil menyerahkan semangkuk dawet kepada keduanya, maka penjual dawet itu pun berkata, “Sebenarnya orang-orang Panjatan adalah orang-orang yang ramah. Tetapi di padukuhan itu ada sebuah keluarga yang membuat nama padukuhan itu menjadi buram.”

“Hanya satu keluarga?” bertanya Paksi.

“Mula-mula, tetapi kemudian anak dan cucunya juga mewarisi sikap dan tingkah lakunya, sehingga yang satu keluarga itu telah membuat Panjatan menjadi daerah hitam.”

“Orang-orang Panjatan yang lain tidak berbuat sesuatu?”

“Tidak seorang  pun yang berani menegur mereka. Sementara itu, keluarga itu memang tidak pernah mengganggu orang-orang Panjatan sendiri.”

Paksi dan Wijang mendengarkan ceritera penjual dawet itu sambil mengangguk-angguk. Sementara itu penjual dawet itu pun berkata, “Terhadap orang yang mereka anggap asing, keluarga itu tidak menyukainya. Jika ada orang yang tidak mereka kenal, mereka segera menemuinya. Jika pertanyaan-pertanyaan mereka tidak dapat dijawab dengan baik dan meyakinkan, maka orang itu akan segera diusir dari padukuhan itu. Jika yang datang itu seorang tamu dari keluarga yang tinggal di padukuhan itu, mereka harus meyakinkan kebenarannya.”

“Apakah orang-orang Panjatan tidak pernah keluar dari padukuhannya, pergi ke pasar misalnya.”

“Ya. Mereka juga pergi ke pasar. Tidak ada masalah bagi mereka. Bahkan keluarga orang yang ditakuti itu pun juga pergi ke pasar. Rasa-rasanya mereka sama sekali tidak mempunyai beban apapun. Namun orang-orang lainlah yang biasanya membuat jarak dengan mereka.”

“Apakah mereka tidak merasa tersinggung.”

“Itulah yang menarik. Mereka tidak merasa tersinggung. Mereka seakan-akan mengerti, kenapa orang lain bersikap demikian terhadap mereka.”

Ketika kemudian mangkuk Paksi dan Wijang telah menjadi kosong, maka penjual dawet itu pun bertanya, “Lagi?”

Paksi menggeliat sambil berkata, “Perutku sudah tidak dapat memuat lagi, Paman.”

Penjual dawet itu pun tertawa. Katanya, “Kemarin seseorang membeli dawet ampat mangkuk sekaligus.”

“O, bukan main,” sahut Wijang.

Penjual dawet itu tertawa. Katanya, “Orang itu justru salah seorang di antara keluarga yang ditakuti di Panjatan. Seorang anak muda sebaya dengan Paksi.”

Paksi mengangguk-angguk. Sementara Wijang pun tertawa. Katanya, “Paksi juga dapat menelan dawet empat mangkuk sekaligus jika kebetulan ia lapar.”

Paksi pun kemudian tertawa pula.

Demikianlah keduanya pun kemudian pergi ke pande besi di sudut pasar itu. Ketika mereka menyinggung Padukuhan Panjatan, maka seorang di antara pande besi itu pun telah menceriterakan keadaan padukuhan itu sebagaimana ceritera penjual dawet itu.

Bahkan kemudian ia pun berkata, “Rumahku juga Panjatan. Tetapi aku jarang-jarang pulang. Siang malam aku berada disini. Hanya kadang-kadang saja aku pulang. Sebenarnya orang yang dianggap asing pun tidak usah takut. Jika keluarga Sangga Samodra itu tidak menyenangi kehadirannya, ia akan minta orang itu dengan baik-baik pergi. Jika orang itu melawan, baru akan terjadi kekerasan.”

“Kenapa keluarga Sangga Samodra itu tidak menyenangi kehadiran orang yang dianggap asing?” bertanya Paksi yang sudah terbiasa duduk-duduk di tempat pande besi itu bekerja.

“Mereka memang merasa curiga, bahwa orang-orang yang dianggap asing itu akan mengganggu keluarga mereka.”

Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Beberapa saat Paksi dan Wijang duduk menunggui pande besi yang dengan kawan-kawannya membuat sebuah kapak kecil pembelah kayu. Namun kemudian keduanya pun minta diri.

“Kau tidak memerlukan apa-apa hari ini, Paksi?” bertanya pande besi itu.

“Lain kali saja,” jawab Paksi sambil melangkah meninggalkan tempat itu bersama Wijang.

Sambil berjalan di antara banyak orang di pasar itu, Wijang pun berdesis, “Tentu ada hubungan antara Sangga Samodra itu dengan Ki Repak Rembulung.”

Paksi mengangguk sambil menjawab, “Ya. Aku pun berpendapat begitu. Dengan dukungan orang-orang Panjatan itulah agaknya Repak dan Pupus Rembulung berani bersikap menantang orang-orang dari perguruan yang sudah punya nama itu.”

“Kau kenal nama pande besi yang berasal dari Panjatan itu?” bertanya Wijang.

“Kenal, kenapa?”

“Kita pergi ke Panjatan. Kita akan mencari pande besi itu,” berkata Wijang kemudian. Namun demikian Wijang itu pun berkata selanjutnya, “Tetapi tidak sekarang. Besok atau lusa sambil melihat-lihat apakah sudah ada isyarat pada batang pohon gayam itu.”

Paksi mengangguk sambil menjawab, “Ya. Sementara itu, kita masih mempunyai waktu untuk meyakinkan keadaan padukuhan itu.”

Demikianlah, keduanya pun kemudian segera kembali ke gubuk mereka. Mereka merencanakan untuk pergi ke Panjatan dua hari lagi. Mereka berharap bahwa sudah ada isyarat tentang pertemuan yang akan diadakan oleh beberapa orang pemimpin perguruan.

Namun di hari berikutnya keduanya masih mendapat beberapa keterangan lagi tentang Panjatan. Tidak bertentangan dengan keterangan yang terdahulu. Namun seorang pedagang gula kelapa mengatakan bahwa di hari-hari terakhir nampaknya ada kesibukan khusus dari keluarga yang menyebut Trah Sangga Samodra itu.

“Trah Sangga Samodra. Jadi Sangga Samodra itu sendiri apa masih ada?” bertanya Paksi.

Pedagang gula itu menggeleng. Katanya, “Sudah lama Sangga Samodra itu meninggal. Yang ada adalah anak, cucu dan cicitnya yang meneruskan kegiatannya.”

“Siapakah yang sekarang menjadi pemimpinnya?” bertanya Paksi pula.

“Untuk apa kau bertanya tentang pemimpin Trah Sangga Samodra itu?”

“O, tidak apa-apa,” jawab Paksi dengan serta-merta. “Sekedar didorong oleh perasaan ingin tahu saja.”

Penjual gula kelapa itu tersenyum. Untunglah bahwa ia tidak menaruh perhatian lebih jauh karena pedagang gula itu segera sibuk dengan pekerjaannya.

Paksi dan Wijang yang kemudian meninggalkan pedagang gula itu pun telah duduk di depan penjual nasi tumpang bersama Kinong yang kebetulan sedang beristirahat.

“Makanlah,” berkata Paksi.

Kinong memandang Paksi dengan sepasang matanya yang bening. Dengan jujur ia berkata, “Aku memang belum makan sejak pagi. Tetapi aku sudah mendapat uang beberapa keping.”

“Simpanlah. Bukankah kau sedang menabung. Biarlah aku yang membayar nasi tumpang itu.”

Kinong memandang Paksi dan Wijang berganti-ganti. Sementara Wijang berkata, “Jangan malu. Aku juga akan membeli nasi tumpang itu. Aku juga belum makan.”

Ketiganya pun kemudian telah makan nasi tumpang. Tanpa menghiraukan orang yang berlalu-lalang di sekitarnya. Bahkan kemudian dua orang ayah dan anaknya sebesar Kinong juga duduk di sebelah mereka membeli nasi tumpang pula.

Kinong terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar suara ibunya yang sudah berdiri di belakangnya, “Kinong, sedang apa kau di situ, he?”

Kinong berpaling. Anak itu pun kemudian bangkit berdiri sambil memegangi pincuk nasi tumpangnya. Sambil mengunyah anak itu menjawab, “Kakang Paksi membelikan nasi tumpang.”

“Setiap kali kau dibelikan nasi tumpang, dawet, bahkan makanan.”

Paksi lah yang menjawab sambil tersenyum, “Ketika Kinong lewat, kebetulan kami sedang makan, Bibi.”

“Terima kasih, Ngger,” jawab ibu Kinong

“Bibi tidak makan?” bertanya Paksi.

“Terima kasih, Ngger. Terima kasih.”

Ibu Kinong itu pun kemudian beranjak pergi. Dihampirinya seorang perempuan yang sedang berbelanja. Tetapi dengan muka cemberut perempuan itu berkata, “Aku sudah mengajak pembantuku.”

Ibu Kinong itu pun bergeser surut. Ia sudah terbiasa mendapat jawaban seperti itu. Namun kemudian dengan berlari-lari kecil ibu Kinong itu mendekati seorang perempuan lain yang membawa dua kereneng di kedua tangannya.

Berbeda dengan orang yang pertama, maka perempuan itu tersenyum sambil berkata, “Aku kira kau tidak ada di pasar hari ini, Yu. Tanganku sudah pedih membawa kereneng itu.”

“Aku kira Nyi Peni tidak berbelanja hari ini.”

“Aku sedang memperbaiki rumah, Yu. Di rumah yang datang untuk sambatan kira-kira lima belas orang atau bahkan lebih.”

Ibu Kinong itu pun kemudian dengan cekatan memasukkan kedua kereneng itu ke dalam bakul yang diberinya serumbung. Kemudian ia pun melangkah mengikuti perempuan yang sedang belanja itu.

Kinong yang masih menghabiskan makanannya itu berkata, “Perempuan itu kalau berbelanja tentu banyak. Aku juga harus membantu ibu nanti.”

“Habiskan dahulu nasimu,” berkata Paksi, “atau kau mau tambah lagi?”

Kinong menggeleng. Katanya, “Aku sudah kenyang. Nanti aku tidak dapat bekerja membantu ibu jika aku terlalu banyak makan.”

“Justru kau akan menjadi kuat,” berkata Wijang.

Tetapi Kinong menjawab, “Aku akan mengantuk.”

Paksi dan Wijang tertawa. Sementara itu, Kinong telah membuang pincuknya dan berlari membawa keranjang kecilnya mendekati ibunya.

“Anak yang rajin,” berkata Wijang. “Aku senang kepada anak itu.”

“Pada suatu saat, kau dapat memanggilnya,” berkata Paksi.

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya ia pun bergumam, “Ada berapa orang Kinong yang tersebar di pasar Pajang. Aku juga pernah melihat perempuan dan kanak-kanak berkeliaran di pasar dengan bakul dan keranjang kecilnya. Bahkan mereka bukan anak seorang pemabuk. Tetapi mereka benar-benar tidak mempunyai cara lain untuk mencari makan. Sementara orang lain berbelanja berlebihan.”

Paksi mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab. Ia sadar, bahwa hal itu merupakan salah satu ungkapan ketidakpuasan Pangeran Benawa terhadap keadaan yang berkembang semasa pemerintahan Kangjeng Sultan Hadiwijaya. Ayahanda Pangeran Benawa itu sendiri.

Setelah membayar harga nasi tumpang, maka mereka berdua pun meninggalkan pasar itu. Dengan kerut di kening, Wijang sempat bertanya, “Kau mempunyai banyak uang?”

“Ibuku memberi bekal saat aku berangkat.”

“Ayahmu?” bertanya Wijang

“Ibu sudah memberi bekal. Tentu ayah tidak merasa perlu memberiku lagi.”

Wijang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Hari itu pun kemudian telah dihabiskan oleh kedua orang itu untuk berlatih. Wijanglah yang memperingatkan Paksi, bahwa pada suatu saat mereka akan terpaksa membenturkan kemampuan mereka dengan orang-orang yang berkeliaran mencari cincin itu.

Di keesokan harinya,  seperti yang direncanakan,  mereka berdua akan pergi ke Panjatan mencari seseorang yang bernama Lebak. Meskipun sebenarnya mereka mengetahui bahwa Lebak, seorang pande besi, jarang-jarang pulang.

Pagi-pagi mereka telah bersiap-siap. Mereka menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum mereka berangkat, sebagaimana jika mereka pergi ke pasar. Legen pun telah mereka tuang ke dalam kuali. Kayu yang kering sudah disimpan di dalam gubuk. Tidak ada jemuran di luar dan pintu gubuknya pun ditutup rapat-rapat.

Ketika matahari mulai memanjat langit, maka keduanya pun telah berangkat langsung menuju ke Panjatan.

Ketika mereka memasuki jalan menuju ke padukuhan itu maka mereka harus mulai mengamati apakah sudah ada isyarat yang terpahat pada batang pohon gayam yang tumbuh di pinggir jalan.

Tetapi keduanya harus berhati-hati. Keduanya harus menghindari kecurigaan orang sejauh dapat mereka lakukan.

Karena itu, maka ketika mereka sudah berada di jalan menuju ke Panjatan, mereka tidak langsung menilik setiap pohon gayam. Tetapi mereka mencoba melihat sambil berjalan perlahan-lahan. Baru setelah mereka melihat sesuatu yang menarik pada sebatang pohon gayam, maka mereka pun melangkah menepi.

“Tidak ada orang yang melihat kita disini,” desis Wijang.

Tetapi keduanya tidak semata-mata melihat goresan yang ada di batang pohon gayam itu. Keduanya sambil berpura-pura berteduh, mencoba untuk dapat memahami isyarat yang dipahatkan pada pohon gayam itu.

Sebagaimana yang mereka duga, goresan-goresan pada batang pohon gayam itu benar-benar isyarat. Wijang dan Paksi sempat membaca tulisan itu.

Mereka melihat pahatan sebuah lengkungan. Di bawahnya dipahatkan angka satu. Kemudian di bawah lagi terdapat tulisan ‘lewat tengah malam’.

Selain itu, mereka tidak menemukan isyarat lain. Paksi dan Wijang yang kemudian meneruskan langkah mereka pun telah membicarakan isyarat itu. Mereka sepakat bahwa isyarat itu menyatakan, bahwa pertemuan akan diselenggarakan pada saat bulan tanggal satu lewat tengah malam. “Tetapi dimana?” bertanya Paksi.

“Kita lihat, apakah ada isyarat lain pada batang pohon gayam berikutnya.”

Paksi mengangguk-angguk. Namun ternyata mereka tidak menemukan petunjuk yang lain. Pada sebatang pohon gayam yang lain justru hanya terpahat sebuah lengkungan dengan tulisan angka satu. Di pohon yang lain terdapat tulisan ‘lewat tengah malam’.

“Jika demikian, pertemuan itu akan diselenggarakan di tempat itu juga,” desis Wijang.

“Di lapangan rumput itu?”

“Ya.”

Paksi mengangguk-angguk.

Untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri. Mereka masih berjalan menuju ke Panjatan yang semakin lama menjadi semakin dekat.

Bagaimanapun juga kedua orang itu menjadi berdebar-debar ketika mereka memasuki padukuhan. Meskipun demikian, keduanya berusaha untuk menunjukkan sikap yang wajar.

Sebenarnyalah bahwa Padukuhan Panjatan tidak ada bedanya dengan padukuhan-padukuhan yang lain. Kesibukan menjelang siang juga tidak ada bedanya dengan kesibukan di padukuhan lain. Dari kejauhan terdengar suara orang menumbuk padi. Sementara itu, seorang ibu muda sedang menyuapi anaknya tanpa menghiraukan anaknya itu menangis meronta-ronta. Nasi cair yang dicampur dengan gula kelapa disuapkannya di mulut yang kecil itu.

Wijang dan Paksi tertegun sejenak melihat ibu muda yang duduk di tangga regol halaman rumahnya tanpa memperhatikan orang yang lewat sambil menyuapi anaknya itu.

Bukan saja anaknya yang menangis meronta-ronta yang berkeringat. Tetapi ibu muda itu pun berkeringat pula.

Paksi dan Wijang membatalkan niatnya untuk bertanya, di manakah letak rumah Lebak. Ibu muda itu nampak demikian sibuknya, sehingga ia tidak lagi menghiraukan apa pun juga.

Beberapa langkah kemudian, Paksi dan Wijang berjalan melewati sebuah gardu. Terdengar lenguh lembu dari halaman sebelah. Sedangkan dari halaman yang lain terdengar kokok bekisar yang melengking tinggi.

Paksi dan Wijang tertegun ketika mereka melihat seorang laki-laki yang berdiri di regol halaman rumahnya justru turun ke jalan. Ia memberi isyarat dengan tangannya, agar Paksi dan Wijang itu berhenti.

“Siapakah kalian, anak-anak muda?” bertanya orang itu.

“Namaku Wijang, Ki Sanak. Sedangkan adikku ini namanya Paksi.”

“Untuk apa kalian memasuki padukuhan ini?” bertanya laki-laki itu.

“Kami mencari seorang sahabat kami, Ki Sanak.”

“Namanya siapa?” bertanya laki-laki itu.

“Lebak,” jawab Wijang.

Laki-laki itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun menjawab, “Lebak jarang sekali pulang. Ia bekerja di Pasar Turi, pada seorang pande besi.”

“Apakah hari ini ia tidak ada di rumah?” bertanya Wijang pula.

“Tidak. Aku tidak melihat. Pergi sajalah ke Pasar Turi. Kau akan bertemu dengan Lebak.”

“Aku akan menunggu di rumahnya, Ki Sanak,” jawab Wijang.

Laki-laki itu menggeleng. Katanya, “Pergilah ke Pasar Turi.”

“Baiklah. Tetapi aku akan menemui keluarganya lebih dahulu. Aku akan memberikan beberapa pesan kepada keluarganya.”

Laki-laki itu mengerutkan dahinya. Dengan nada berat ia berkata, “Sudahlah, ia tidak akan segera pulang. Mungkin dua tiga pekan lagi. Pergilah.”

Wijang dan Paksi menyadari bahwa mereka berhadapan dengan seorang dari Trah Sangga Samodra. Karena itu, jika mereka tidak ingin berselisih, maka mereka harus meninggalkan padukuhan itu.

“Baik, Ki Sanak,” jawab Wijang, “kami akan pergi.”

Namun tiba-tiba saja dari pintu regol itu keluar seorang perempuan. Wijang dan Paksi tidak segera mengenali perempuan itu. Seorang perempuan yang mengenakan kain lurik hijau dan baju lurik hijau pupus pula. Meskipun perempuan itu sudah tidak muda lagi, tetapi bekas-bekas kecantikannya masih melekat di wajahnya yang bersih.

Namun Wijang dan Paksi terkejut ketika mereka menyadari, bahwa mereka berhadapan dengan Pupus Rembulung.

Meskipun demikian, Paksi dan Wijang mampu menyembunyikan kesan itu. Bahkan keduanya pun sempat mengangguk hormat kepada perempuan yang sama sekali tidak menunjukkan kesan kegarangannya sebagaimana ketika ia mengenakan pakaian khususnya bersama Repak Rembulung di hadapan beberapa orang murid dari perguruan yang sudah mempunyai nama.

Bahkan dengan ramah Pupus Rembulung itu bertanya, “Siapakah yang kalian cari, anak muda?”

“Kami mencari sahabat kami yang bernama Lebak, Bibi,” jawab Wijang.

“O,” lalu ia pun bertanya kepada laki-laki yang sudah lebih dahulu turun ke jalan. “Apakah kau tahu rumah Lebak?”

“Lebak tidak ada di rumah, Bibi.”

“Dari mana kau tahu?” bertanya Pupus Rembulung itu.

“Lebak berada di Pasar Turi. Ia bekerja sebagai pande besi disana.”

“O. Jika demikian, sebaiknya kalian pergi saja ke Pasar Turi. Kalian akan dapat menemuinya disana, Ngger.”

“Baik, Bibi,” jawab Wijang sambil mengangguk hormat.

Demikianlah keduanya pun meninggalkan Padukuhan Panjatan dengan kesan yang aneh.

Demikian keduanya keluar dari regol padukuhan, maka Wijang itu pun berkata, “Ternyata Pupus Rembulung itu mempunyai kepribadian rangkap. Ia seorang perempuan yang garang jika sepasang pedang tergantung di pinggangnya. Tetapi ia seorang perempuan yang ramah jika ia mengenakan baju dan kain lurik berwarna hijau muda.”

“Ya. Seperti ceritera Paman Pananggungan. Di rumah, Repak Rembulung adalah seorang ayah yang bijak, sementara Pupus Rembulung adalah seorang ibu yang lembut.”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Namun Paksi pun berkata, “Tetapi bukan hanya mereka berdua.”

“Siapa lagi?” bertanya Wijang.

“Di istana ia seorang pangeran yang berwibawa, tetapi di pasar ia duduk sambil memegang pincuk nasi tumpang.”

Wijang tertawa. Namun ia pun berkata, “Masih banyak contohnya. Kau ingin tahu?”

Tetapi Paksi menggeleng. Katanya, “Tidak.”

Keduanya pun tertawa.

Namun keduanya pun segera menghentikan tawa mereka ketika mereka melihat dua orang yang berjalan ke arah yang berlawanan.

Meskipun kedua orang itu berpakaian seperti petani kebanyakan, namun Paksi dan Wijang harus berhati-hati, justru karena mereka berada di jalur keluarga Sangga Samodra. Seandainya keduanya bukan Trah Sangga Samodra, dapat saja terjadi, keduanya adalah murid dari perguruan yang terlibat dalam pertemuan yang bakal datang.

Tetapi karena kedua orang itu nampaknya berjalan dengan mantap menuju ke Padukuhan Panjatan, maka Paksi dan Wijang menduga bahwa keduanya tentu orang Panjatan. Trah atau bukan Trah Sangga Samodra.

Ketika mereka berpapasan, maka kedua orang itu memandang Wijang dan Paksi dengan tajamnya. Namun kedua orang itu tidak menegur mereka.

Wijang dan Paksi menarik nafas panjang. Keduanya berjalan terus tanpa menoleh sama sekali.

Ketika keduanya kemudian berjalan semakin jauh, maka Wijang pun berkata, “Nah, kita sudah tahu, kapan mereka akan bertemu. Kita  pun harus benar-benar mempersiapkan diri untuk menonton pertemuan itu. Yang akan bertemu bukan sekedar para murid dari perguruan-perguruan itu. Tetapi justru para pemimpinnya. Tentu termasuk Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung.”

“Pertemuan itu akan berlangsung beberapa hari lagi,” desis Paksi.

“Mereka justru memilih malam yang paling gelap.”

“Tentu bukannya tanpa maksud,” sahut Wijang.

“Apakah mereka akan bersikap jujur?”

“Seandainya mereka tidak berniat jujur, namun mereka harus memperhitungkan banyak kemungkinan.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan melihat, apa yang akan terjadi.”

Dengan demikian, maka Paksi dan Wijang itu benar-benar telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi pertemuan yang mereka anggap penting itu. Mereka harus mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang paling buruk.

“Kita harus mengenal medan dengan sebaik-baiknya,” berkata Wijang.

“Maksudmu?” bertanya Paksi.

“Mungkin kita harus menghindar dari kemungkinan yang paling buruk, jika mereka mengetahui kehadiran kita. Kita harus tahu, kemana kita akan pergi. Kita tahu bahwa mereka adalah orang-orang berilmu tinggi.”

Paksi mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia pun berkata, “Jika pertemuan itu dilakukan di tempat lain?”

“Kita akan kehilangan jejak,” jawab Wijang. “Tetapi tidak ada isyarat lain yang menunjukkan tempat pertemuan itu.”

Paksi mengangguk-angguk. Ia pun kemudian bergumam, “Kita akan memanfaatkan waktu menjelang pertemuan itu untuk mengenali medan sebaik-baiknya sebagaimana kau katakan.”

Wijang mengangguk-angguk. Sementara itu langkah mereka tanpa persepakatan justru telah berbelok menuju ke pasar.

Keduanya saling berpandangan sejenak. Kemudian keduanya pun tertawa.

“Kita pergi ke pasar?” bertanya Paksi.

“Kau yang berbelok lebih dahulu ke kanan,” sahut Wijang. “Sebenarnya aku akan berbelok ke kiri.”

Keduanya masih tertawa, sementara langkah mereka menjadi semakin cepat.

Tanpa berjanji pula keduanya telah pergi ke sudut pasar, tempat beberapa orang pande besi membuka tempat kerja mereka.

Keduanya pun kemudian telah menemui Lebak yang sedang mengayunkan alat pemukulnya untuk menempa sebatang besi panjang. Agaknya Lebak dan seorang kawannya sedang membuat sebuah parang pemotong kayu.

Ketika Lebak kemudian beristirahat, maka Paksi pun berkata, “Aku baru saja pergi ke Panjatan.”

“Untuk apa?” bertanya Lebak.

“Ceriteramu menarik,” jawab Paksi. “Karena itu, aku ingin membuktikannya.”

“Apa yang kau temui disana?”

“Aku memang diminta meninggalkan Panjatan. Alasanku untuk mencarimu tidak dapat diterima karena kau tidak ada di rumah. Aku tidak tahu siapa yang telah mengusirku. Tetapi di rumah orang itu tinggal pula seorang perempuan cantik meskipun umurnya sudah tidak dapat disebut muda lagi. Saat itu ia mengenakan kain dan baju lurik hijau muda.”

“Perempuan cantik itu?” desis Lebak.

“Ya. Siapakah perempuan itu?”

Lebak menggeleng. Katanya, “Aku tidak mengenalnya. Ia jarang berada di Panjatan. Hanya sekali-sekali saja. Apalagi aku sendiri jarang sekali ada di rumah.”

“Nah, aku hanya memberitahukan hal ini kepadamu agar jika pada suatu saat kau pulang, kau mengaku mengenal kami berdua.”

Lebak mengangguk kecil. Tetapi ia pun bergeremang, “Untuk apa sebenarnya kau datang ke Panjatan? Jika kau manjakan sifat ingin tahumu, maka kau akan dapat mengalami kesulitan.”

Paksi tertawa. Sementara Wijang berkata, “Kami tidak akan mengulanginya.”

Namun dalam pada itu, Wijang itu pun tiba-tiba saja memutar tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di sela-sela kedua lututnya.

Semula Paksi tidak menghiraukannya. Ia mengira bahwa Wijang sekedar bergurau atau menyembunyikan tawanya. Namun ternyata Wijang itu pun berkata, “Marilah, Paksi. Kita tinggalkan tempat ini.”

“Kenapa?” bertanya Paksi.

“Lebak. Kami minta diri,” berkata Wijang singkat. “Besok kami akan datang lagi.”

Lebak mengangguk kecil sambil menjawab, “Datanglah besok. Aku besok akan membuat sebuah pedang. Bukan sekedar parang pembelah kayu.”

Wijang pun kemudian telah menarik Paksi meninggalkan Lebak.

“Ada apa?” bertanya Paksi kemudian.

Wijang berjalan semakin cepat. Kemudian ia pun berkata kepada Paksi, “Kau lihat laki-laki berbaju lurik hitam dengan berikat kepala wulung itu?”

Paksi memperhatikan orang itu. Tetapi orang itu membelakanginya, sehingga Paksi tidak melihat wajahnya.

“Kau tentu belum mengenal orang itu. Tetapi tolong, sejauh dapat kau kenali ujudnya atau kepentingannya datang ke pasar ini. Tetapi ingat, jangan sampai orang itu menyadari bahwa kau memperhatikannya.”

“Siapakah orang itu?”

“Kau akan mengetahuinya, atau jika tidak, nanti aku akan memberitahukanmu. Aku akan berada di luar pasar. Nampaknya aku harus menempatkan diri sebaik-baiknya.”

-ooo00dw00ooo-

Diedit dari

naskah yang dikirimkan oleh Nyi Dewi KZ (Website Tirai Kasih)

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s